Contoh Metode Penelitian

metode penelitian

Kumpulan Contoh Metode Penelitian Terbaik Dalam Berbagai Kasus

Metode penelitian memang belum banyak digunakan di bangku sekolah. Namun, kalau Anda lanjut kuliah dan ketemu skripsi, metode penelitian akan sangat berdampak terhadap hasil skripsi Anda. Bagi Anda yang akan lanjut belajar di universitas, tidak ada apa yang salah jika Anda cari tahu dari sekarang ya. Mari kita bersama mencari tahu apa itu metode penelitian serta cara membuatnya.

A. Pengertian Metode Penelitan

Definikasi metode penelitian

Pengertian Metode Penelitan

Metode penelitian atau metode riset (research method) itu apa ya? Secara umum, pengertian metode penelitian adalah suatu proses atau cara yang dipilih secara spesifik untuk menyelesaikan masalah yang diajukan dalam sebuah riset. Sedangkan pengertian metodologi penelitian adalah suatu ilmu yang menjelaskan bagaimana seharusnya sebuah penelitian dilakukan.

Pendapat lain mengatakan bahwa pengertian metodologi penelitian adalah serangkaian langkah-langkah yang sistematis/ terstruktur yang dilakukan oleh peneliti untuk menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan pada objek penelitian. Adapun langkah-langkah sistematis tersebut adalah:

  • Proses identifikasi dan merumuskan masalah
  • Penyusunan kerangka berpikir
  • Merumuskan hipotesis
  • Pembahasan masalah
  • Membuat kesimpulan dan saran

Mengapa para peneliti membutuhkan metodologi dalam melakukan penelitian? Tujuannya adalah agar peneliti bisa mendapatkan hasil penelitian yang tepat, dapat dipertanggungjawabkan, serta dapat menyelesaikan masalah yang diteliti.

B. Contoh Metode Penelitan

1. Metode Eksperimen

metode eksperimen

Contoh Metode Penelitan

1.1 Pengertian 

Menurut Tamir, Metode eksperimen merupakan cara penyajian pelajaran, melalui percobaan-percobaan untuk membuktikan sendiri sesuatu pertanyaan atau hipotesis tertentu ( Tamir, 1991: 14)

Sumantri mengatakan bahwa Metode eksperimen merupakan suatu tuntutan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar menghasilkan suatu produk yang dapat dinikmati masyarakat secara aman dan dalam pembelajaran melibatkan siswa dengan mengalami dan membuktikan sendiri proses dan hasil percobaan itu (Sumantri, 1999:157).

Dengan mengacu pada dua pendapat ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa metode eksperimen adalah metode pembelajaran dimana guru menyajikan materi ajar melalui peragaan proses ilmiah untuk membuktikan suatu pertanyaan atau hipotesis yang dilakukan oleh peserta didik secara langsung.

1.2 Tujuan

Penggunaan metode eksperimen dalam proses pembelajaran untuk memupuk sikap ilmiah peserta didik melalui peragaan materi ajar, selain itu penggunaan metode ini juga memiliki tujuan untuk mengkonkritkan materi ajar yang bersifat abstrak yang sebelumnya hanya di pahami sebagai teori tanpa pembuktian.

1.3 Karakteristik 

Karakteristik yang dapat terlihat dari metode eksperimen diantaranya adalah pada pelaku peragaan, dimana pada metode eksperimen peserta didiklah yang melakukan peragaan dengan mengikuti panduan atau tahap yang sudah dirumuskan oleh guru, hal ini berbeda pada metode demonstrasi dimana dalam metode demonstrasi pelaku peragaan adalah guru.

Selain itu ada karakteritik lain yang dapat terlihat dari metode pembelajaran ini dibandingkan metode pembelajaran lainnya yakni adanya alat peraga yang digunakan dalam proses pembelajaran, adanya panduan untuk peserta didik dimana panduan ini merupakan pedoman dalam melakukan eksperimen. Dan adanya hasil temuan yang didapatkan setelah dilakukannya eksperimen.

Karakteristik lain metode eksperimen adalah keaktifan peserta didik yang begitu tinggi dalam proses pembelajaran, hal ini terkait dengan pelaku peragaan pada metode ini adalah peserta didik sendiri sehingga penyerapan materi ajar dilakukan melalui peragaan.

1.4 Langkah

Guru mempersiapkan fasilitas, alat dan bahan yang akan digunakan dalam peragaan. Guru menyajikan sedikit materi ajar dimana dalam penyajian ini guru juga menjelaskan secara rinci tujuan akhir apa yang akan dicapai atau diharapkan. Setelah itu guru menjelaskan tahapan prosedural yang harus dilakukan peserta didik sebelum melakukan eksperimen. Peserta didik kemudian melakukan eksperimen di bawah pengawasan guru. Guru mengoptimalkan pengawasan dengan berkeliling dari satu peserta didik ke peserta didik lainnya. Pada akhir proses pembelajaran peserta didik diminta untuk melaporkan hasil dari peragaan yang sudah dilakukan. Dan guru menyimpulkan hasil dari peragaan yang sudah dilakukan.

1.5 Kelebihan dan Kelemahan Penggunaan Metode Eksperimen

  • Kelebihan metode eksperimen

Kelebihan metode eksperimen dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain adalah informasi dan materi ajar akan jauh lebih lama tersimpan di dalam memori peserta didik, karena penyerapan materi ajar dilakuan dengan menggunakan keseluruhan indera dimana dalam metode eksperimen peserta didik melakukan peragaan secara langsung.

Penggunaan metode eksperimen dalam proses pembelajaran dapat melatih peserta didik untuk disiplin, teliti dan tekun. Kedisiplin, ketekunan dan ketelitian pada diri peserta didik akan terbentuk jika peserta didik mengikuti tahapan dan prosedur eksperimen dengan benar.

Tingkat keaktifan peserta didik jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan metode pembelajaran lain, namun dengan tingat keaktifan yang tinggi ini, guru juga harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk melakukan pengawasan agar kegiatan yang dilakukan peserta didik tetap terarah.

Variasi penggunaan metode eksperimen dalam proses pembelajaran akan meningkatkan rasa ketertarikan peserta didik dan tetap menjaga tingkat kejenuhan pada titik terendah, dengan demikian penggunaan metode eksperimen dalam proses pembelajaran dapat memberi pengaruh baik pada peserta didik secara keseluruhan jika dilakukan dengan benar.

  • Kelemahan Metode Eksperimen

Penggunaan metode eksperimen dalam proses pembelajaran ini dapat memunculkan potensi bahaya bagi peserta didik. Bahaya ini muncul ketika peragaan dilakukan dengan menggunakan bahan atau zat kimia yang berbahaya, meski peragaan dilakukan di bawah pengawasan guru namun potensi yang muncul tidaklah berkurang. Guru disarankan untuk menghindari melakukan eksperimen menggunakan bahan atau zat yang berbahaya.

Penggunaan metode eksperimen membutuhkan persiapan yang matang, untuk mecapai persiapan matang tersebut, guru harus melakukan penyesuaian dan persiapan seperti melakukan percobaan terlebih dahulu untuk menghindari kegagalan peragaan. Dan seluruh persiapan tersebut menuntut guru untuk menyiapkan tenaga dan waktu ekstra.

Metode ini tidak dapat diterapkan pada semua materi ajar, metode ini lebih sesuai dengan materi ajar yang membutuhkan proses ilmiah seperti sains.

Kegiatan yang dilakukan dalam metode eksperimen cenderung lama, sehingga dapat menyerap waktu pembelajaran yang terbatas, jika tidak diantisipasi dengan baik oleh guru, maka hasil akhir yang didapat adalah terputusnya proses peragaan karena waktu pembelajaran yang sudah habis.

Penggunaan metode pembelajaran ini sepenuhnya tergantung pada fasilitas yang tersedia, peragaan yang dilakukan tanpa fasilitas yang memadai hanya akan membuat peragaan tersebut gagal, kegagalan dalam proses peragaan akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda, sehingga akan melenceng dari hasil akhir yang diharapkan.

1.6 Bagaimana cara mengumpulkan data dalam metode satu ini

Penelitian menggunakan metode eksperimental akan mengumpulkan data dengan berbagai macam cara, mulai dari survei, observasi, hingga wawancara. Bedanya, metode ini akan membagi objek penelitiannya menjadi dua kelompok—kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Kedua kelompok diusahakan untuk memiliki karakteristik yang semirip mungkin. Kelompok eksperimen akan menerima perlakuan baru dari peneliti, misalnya kebijakan baru, sementara kelompok kontrol tidak. Bagaimana cara mengolah dan menganalisis data?

Nantinya, data akan terhimpun sesuai dengan cara pengumpulannya. Yang menjadi garis besar dari penelitian ini ialah hasil dari perlakuan baru terhadap kelompok eksperimen. Apabila hasilnya tidak memiliki perbedaan yang signifikan bila dibandingkan dengan kelompok kontrol, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perlakuan baru tersebut tidak memiliki pengaruh signifikan juga.

1.7 Seperti apa contoh dari penggunaan metode eksperimental?

Rancangan Penelitian Eskperimen digunakan untuk mengetahui hubungan sebab akibat antara dua variabel, dimana sebabnya merupakan intervensi peneliti.

Rancangan penelitian eksperimen terdiri dari :

(a)    Preexperiments

Pra Eskperimen adalah penelitian eksperimen yang hanya menggunakan kelompok studi tanpa menggunakan kelompok kontrol, serta pengambilan respondin tidak dilakukan randomisasi.Disebut preexperiments karena desain ini belum merupakan desain sungguh-sungguh. Masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel dependen. Hasil eksperimen yang merupakan variabel dependen itu ukan semata-mata dipengaruhi oleh variabel independen. Hal ini dikarenakan tidak adanya variabel kontrol dan sampel tidak dipilih secara random.

Dalam penelitian ini, kelompok diberikan tes awal sebelum perlakuan eksperimental. Setelah treatment selesai, tes akhir diberikan untuk melihat prestasi. Efektivitas perlakuan pembelajaran diukur dengan membandingkan skor rata-rata tes awal dan tes akhir. Ketika ternyata bahwa skor rata-rata tes akhir secara signifikan lebih tinggi dari skor rata-rata tes awal, maka disimpulkan bahwa perlakuan pembelajaran efektif.

Dalam preexperimental design terdapat tiga alternatif desain sebagai berikut:

1.7.1 Studi Kasus Bentuk Tunggal (One-shot Case Study)

Jenis one-shot case study dimaksudkan untuk menunjukkan kekuatan pengukuran dan nilai ilmiah suatu desain penelitian. Dimana dalam rancangan penelitian ini terdapat suatu kelompok diberi treatment (perlakuan) dan selanjutnya diobservasi hasilnya (treatment adalah sebagai variabel independen dan hasil adalah sebagai variabel dependen). Dalam eksperimen ini subjek disajikan dengan beberapa jenis perlakuan lalu diukur hasilnya. Dalam penyelenggaraan rancangan ini subjek disajikan dengan beberapa perlakuan, hanya tidak terdapat kelompok pembanding dan tanpa skor tes awal.

Adapun bagan dari one-shot case study  adalah sebagai berikut:

Dengan X: kelompok yang akan diberi stimulus dalam eksperimen dan O: kejadian pengukuran atau pengamatan.

Bagan tersebut dapat dibaca sebagai berikut: terdapat suatu kelompok yang diberi perlakuan, dan selanjutnya diobservasi hasilnya.

Contoh: Pengaruh penggunaan Komputer dan LCD (X) terhadap hasil belajar siswa (O).

1.7.2 Tes Awal - Tes Akhir Kelompok Tunggal ( The One Group Pretest – posttest)

Dalam rancangan ini, pengaruhatau efek suatu tritmen diputuskan berdasarkan perbedaan antara pretest dengan posttes. Kalau pada rancangan “a” tidak ada pretest, maka pada rancangan ini terdapat pretest sebelum diberi perlakuan. Dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan.

Bentuk bagan desain tersebut adalah sebagai berikut:

 Pengaruh perlakuan: O1 – O2.

Desain ini mempunyai beberapa kelemahan, karena akan menghasilkan beberapa ukuran perbandingan. Kelemahan tersebut antara lain disebabkan oleh faktor historis (tidak menghasilkan perbedaan O1 dan O2), maturitation (subjek penelitian dapat mengalami kelelahan, kebosanan, atau kelaparan dan kadang enggan menjawab jika dinilai tidak sesuai dengan nilai yang berlaku), serta pembuatan instrument penelitian. Kejelekannya yang paling fatal adalah tidak akan menghasilkan apapun.

1.7.3 Perbandingan Kelompok Statis ( The Static Group Comparison Design)

Pada rancangan ini membandingkan suatu kelompok yang menerima tritmen eksperimental dengan kelompok lainnya yang tak mendapat tritmen.

Pada rancangan ini terdapat satu kelompok yang digunakan untuk penelitian, tetapi dibagi dua yaitu; setengah kelompok untuk eksperimen (yang diberi perlakuan) dan setengah untuk kelompok kontrol (yang tidak diberi perlakuan). Masalah yang akan muncul dalam desain ini adalah meyangkut resiko penyeleksian terhadap subjek yang akan diteliti. Oleh karena itu, grup tersebut harus dipilih secara acak.

Adapun bagan desain penelitian ini adalah sebagai berikut:

O1: hasil pengukuran satu grup yang diberi perlakuan, dan O2: hasil pengukuran satu grup yang tidak diberi perlakuan.

Pengaruh perlakuan: O1 – O2.

Ketiga bentuk desain preexperiment itu jika diterapkan untuk penelitian akan banyak variabel luar masih berpengaruh dan sulit dikontrol, sehingga validitas internal penelitian menjadi rendah.

(b)   True Experiment

True Experiment Design adalah penelitian experimen dimana kelompok studi dan kelompok kontrol pengambilan sample-nya dilakukan secara randomisasi, serta pada kelompok studi dilakukan intervensi variabel sebab sedang pada kelompok kontrol tidak dilakukan intervensi.

Disebut sebagai true experiments karena dalam desain ini peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi jalannya eksperimen. Dengan demikian, validitas internal (kualitas pelaksnaaan rancangan penelitian) menjadi tinggi. Sejalan dengan hal tersebut, tujuan dari true experiments menurut Suryabrata (2011 : 88) adalah untuk menyelidiki kemungkinan saling hubungan sebab akibat dengan cara mengenakan perlakuan dan membandingkan hasilnya dengan grup kontrol yang tidak diberi perlakuan.

True experiments ini mempunyai ciri utama yaitu sampel yang digunakan untuk eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol diambil secara random dari populasi tertentu. Atau dengan kata lain dalam true experiments pasti ada kelompok kontrol dan pengambilan sampel.

Berikut jenis penelitian yang termasuk dalam true experiments:

1.7.4 Rancangan Secara Acak dengan Tes dan Kelompok Kontrol (Posstest-Only Control Design )

Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random (R).

Kelompok pertama diberi perlakuan (X) dan kelompok lain tidak. Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol. Nilai tes akhir menjadi digunakan untuk mengukur hasil perlakuan. Rancangan ini dapat digambarkan sebagai berikut.

Bagan penelitian ini adalah sebagai berikut.

Pengaruh adanya perlakuan adalah (O1:O2). Dalam penelitian, pengaruh perlakuan dianalisis dengan uji beda menggunakan statistik t-test. Jika ada perbedaan yang signifikan antara grup eksperimen dan grup kontrol maka perlakuan yang diberikan berpengaruh secara signifikan

1.7.5. Rancangan Secara Acak dengan Tes Awal dan Tes Akhir  dengan Kelompok Kontrol ( The Pretest - Posttest Control Goup Design)

Dalam rancangan ini terdapat dua kelompok yang dipilih secara acak/random, kemudian diberi pretest untuk mengetahui keadaan awal adakah perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Bagan dari desain penelitian tersebut adalah sebagai berikut.

Pengaruh perlakuan adalah: (O2 - O1) - (O4 - O3)

1.7.6 Rancangan Secara Acak Empat Kelompok Solomon ( The Solomon Four Group Design )

Dalam rancangan ini, dimana salah satu dari empat kelompok dipilih secara random. Dua kelompok diberi pratest dan dua kelompok tidak. Kemudian satu dari kelompok pratest dan satu dari kelompok nonpratest diberi perlakuan eksperimen, setelah itu keempat kelompok ini diberi posttes.

(c)    Factorial Design

Desain merupakan modifikasi dari design true experimental, yaitu dengan memperhatikan kemungkinan adanya variabel moderator yang mempengaruhi perlakuan terhadap hasil. Semua grup dipilih secara random kemudian diberi pretest. Grup yang akan digunakan untuk penelitian dinyatakan baik jika setiap kelompok memperoleh nilai pretest yang sama.

(d)   Quasy Experiment

Quasiexperiments disebut juga dengan eksperimen pura-pura. Bentuk desain ini merupakan pengembangan dari trueexperimental design yang sulit dilaksanakan. Desain ini mempunyai variabel kontrol tetapi tidak digunakan sepenuhnya untuk mengontrol variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen. Desain digunakan jika peneliti dapat melakukan kontrol atas berbagai variabel yang berpengaruh, tetapi tidak cukup untuk melakukan eksperimen yang sesungguhnya. Dalam eksperimen ini, jika menggunakan random tidak diperhatikan aspek kesetaraan maupun grup kontrol.

2. Metode Penelitian Kualitatif

metode penelitian kualitatif

Contoh Metode Penelitian Kualitatif

Kali ini 123dok.com akan membahas mengenai apa itu penelitian kualitatif dan kuantitatif lengkap beserta contohnya. Karena mungkin beberapa orang diantara kita masih banyak belum mengetahui akan pengertian kualitatif dan kuantitatif.

Pengertian dari penelitian kualitatif dan kuantitatif itu mempunyai perbedaan yang mencolok. Tidak usah panjang lebar mari bersama-sama kita simak pengertian, perbedaan dan contoh penelitian kulitatif dan juga kuantitatif berikut ini

Metode penelitian kualitatif merupakan sebuah metode yang menekankan pada aspek pemahaman lebih mendalam terhadap suatu masalah dari pada melihat sebuah permasalahan. Penelitian kualitatif adalah sebuah penelitian riset yang sifatnya deskripsi, cenderung menggunakan analisis dan lebih menampakkan proses maknanya.

Tujuan dari metode ini adalah untuk memahami secara luas dan mendalam terhadap suatu masalah secara detail pada suatu permasalahan yang sedang dikaji.

2.1 Ciri-Ciri Penelitian Kualitatif

Ciri-Penelitian-Kualitatif

Ciri-Ciri Penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif memiliki ciri-ciri tersendiri yang membedakannya dengan jenis penelitian yang lainnya. Apa saja ? Berikut ini adalah penjelasannya.

2.1.1. Menggunakan Lingkungan Sebagai Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah lingkungan alami. Kajian utama dalam penelitian kualitatif ini biasanya peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kondisi dan situasi sosial tertentu.

Penelitian dilaksanakan ketika berinteraksi langsung dengan tempat terjadinya peristiwa. Peneliti melakukan pengamatan, mencari tahu, mencatat, dan menggali sumber-sumber yang berkaitan dengan peristiwa yang sedang terjadi pada saat itu.

2.1.2. Mempunyai Sifat Deskriptif Analitik

Data yang sudah di dapat dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, baik berupa wawancara, dokumentasi, analisis, catatan di lapangan akan disusun oleh peneliti di lokasi penelitian, tidak dalam bentuk angka-angka.

Peneliti melakukan analisis data dengan cara memperbanyak informasi ke berbagai sumber dan kemudian informasi yang di dapat akan dibandingkan guna untuk menemukan hasil atau data yang sebenarnya.

2.1.3. Tekanan Pada Proses Bukan Hasil

Data dan informasi yang diperlukan dalam penelitian kualitatif berkaitan dengan pertanyaan untuk mengungkapkan proses dan bukan dari hasil akhirnya. Pertanyaan menuntut mengenai gambaran keadaan yang sebenarnya tentang kegiatan, tahapan-tahapan, prosedur, alasan, dan interaksi yang terjadi pada saat kejadian berlangsung.

2.1.4. Bersifat Induktif

Penelitian kualitatif diawali mulai dari lapangan, yakni fakta empiris. Peneliti langsung terjun ke lapangan untuk mempelajari suatu proses penemuan yang sedang terjadi dengan cara mencatat seluruh informasi, menganalisis, membuat laporan dan kemudian membuat sebuah kesimpulan dari proses berlangsungnya proses penelitian tersebut.

2.1.5. Mengutamakan Makna

Makna yang diungkapkan berkisar dari persepsi orang-orang dengan suatu kejadian yang akan diteliti. Mencari sebuah informasi dari pendapat orang-orang yang ada hubungannya dengan peristiwa yang sedang terjadi.

Selain mencari informasi, peneliti juga harus mencari bahan perbandingan agar dapat membuat kesimpulan dari persepsi-persepsi orang yang sudah dimintai keterangan mengenai perisitwa yang sedang terjadi.

Nah berdasarkan ciri-ciri diatas bisa kita simpulkan bahwa penelitian kualitatif ini diawali dari lapangan terlebih dahulu berdasarkan lingkungan alamiah dan bukan pada teori. Data serta informasi yang diperoleh dari lapangan ditarik konsep dan maknanya dengan melalui pemaparan secara deskriptif analitik dan tanpa menggunakan angka, karena lebih mementingkan prosesnya.

2.2 Contoh Penelitian Kualitatif

  • Analisis Peran Kepala Sekolah Dalam Menerapkan Manajemen Mutu Pendidikan
  • Cara Belajar Siswa SD Dalam Menghadapi Ujian Nasional
  • Eksploitasi Anak Jalanan
  • Evaluasi Kebijakan Pendidikan Inklusif
  • Kebiasaan Membaca Siswa Sekolah Dasar
  • Kinerja Dan Profesionalisme Guru SD
  • Kompetensi Guru Dalam Perencanaan Pembelajaran
  • Metode Pembelajaran Yang Efektif Dalam Membentuk Karakter
  • Model Pembelajaran Yang Efektif Dalam Pembelajaran
  • Pentingnya Keterampilan Membaca Bagi Siswa SD
  • Peran Orang Tua Terhadap Anak Dalam Bidang Akademik
  • Persepsi Dan Perilaku Merokok Mahasiswa PGSD
  • Persepsi Masyarakat Terhadap Penggunaan Metode Inkuiri
  • Pola Belajar Siswa Dalam Menghadapi Ujian Nasional
  • Upaya Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa SD

3. Metode Penelitian Kuantitatif

penelitian kuantitatif

Contoh Metode Penelitian Kuantitatif

3.1 Pengertian Metode Penelitian Kuantitatif

Penelitian Kuantitatif adalah metode penelitian yang lebih menekan pada aspek pengukuran dengan cara yang obyektif terhadap fenomena social. Untuk bisa melakukan pengukuran, pada setiap fenomena social di jabarkan kedalam beberapa komponen masalah, variable dan indikator.

Ini adalah metode penelitan yang bersifat deskriptif dan lebih banyak menggunakan analisis. Penelitan kuantitatif bertujuan mencari hubungan yang menjelaskan sebab-sebab dalam fakta-fakta sosial yang terukur, menunjukan hubungan variabel serta menganalisa.

Setiap variable yang ditentukan dan diukur dengan memberikan symbol-symbol dan angka yang berbeda – beda sesuai dengan kategori pada informasi yang berkaitan dengan variable tersebut. Dengan menggunakan symbol-symbol atau angka tersebut, teknik perhitungan secara kuantitatif matematik bisa di lakukan sehingga bisa menghasilkan suatu kesimpulan yang belaku umum di dalam suatu parameter.

PERBEDAAN PENELITIAN KUALITATIF Dan KUANTITATIF – Dalam sebuah penelitian punya dua buah metode yakni kualitatif dan termasuk kuantitatif. Apakah perbedaan kualitatif dan kuantitatif didalam sebuah metode penelitian tersebut. Kedua metode penelitian selanjutnya pada dasarnya punya obyek yang sama, yakni sama-sama digunakan untuk mengumpulkan data.

Selain itu bersama dengan metode tersebut, peneliti termasuk sanggup mempertanggung jawabkan datanya yang telah dikumpulkan, serta segera lakukan penelitian dan observasi. 

3.2 Contoh Judul Penelitian Kuantitatif

  • Hubungan Antara Minat Baca Dan Motivasi Terhadap Hasil Belajar
  • Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Prestasi Belajar
  • Pengaruh Bimbingan Belajar Dan Motivasi Terhadap Prestasi Belajar
  • Pengaruh Keluarga Dan Minat Baca Dengan Prestasi Belajar
  • Pengaruh Media Pembelajaran Dan Kecerdasan Emosional Terhadap Hasil Belajar
  • Pengaruh Metode Pembelajaran Dan Kecerdasan Emosional Terhadap Hasil Belajar
  • Pengaruh Model Pembelajaran Dan Minat Belajar Terhadap Hasil Belajar
  • Pengaruh Motivasi Orang Tua Dan Intensitas Belajar Terhadap Hasil Belajar
  • Perbandingan Hasil Belajar Antara Pemberian Tugas Kooperatif Dengan Tugas Individu
  • Perbandingan Metode Pembelajaran Ditinjau Dari Minat Terhadap Hasil Belajar
  • Perbedaan Metode Kerja Kelompok Dan Pemberian Tugas Individu Terhadap Hasil Belajar
  • Perbedaan Model Konvensional Dengan Konstruktivisme Terhadap Hasil Belajar
  • Perbedaan Model Membaca Bawah Atas Dan Interaktif Dalam Pemahaman Membaca
  • Perbedaan Model Pembelajaran Kooperatif Dalam Meningkatan Prestasi Belajar
  • Perbedaan Pembelajaran Kontekstual dan Konvensional Ditinjau dari Motivasi Belajar

4. Metode Deskriptif

metode deskriptifContoh Metode Deskriptif

4.1 Definisi Metode Deskriptif 

Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subjek atau objek dalam penelitian dapat berupa orang, lembaga, masyarakat dan yang lainnya yang pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau apa adanya.

Menurut Nazir (1988: 63) dalam Buku contoh metode penelitian, metode deskriptif merupakan suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki.

Menurut Sugiyono (2005: 21) menyatakan bahwa metode deskriptif adalah suatu metode yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas.

Menurut Whitney (1960: 160) metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat.

Dapat dikatakan bahwa penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa yang terjadi pada saat sekarang atau masalah aktual.

4.2.  Ciri - ciri Metode Deskriptif 

Terdapat ciri-ciri yang pokok pada metode deskriptif, antara lain adalah:

  • Memusatkan perhatian pada permasalahan yang ada pada saat penelitian dilakukan atau permasalahan yang bersifat aktual
  • Menggambarkan fakta tentang permasalahan yang diselidiki sebagaimana adanya, diiringi dengan interpretasi rasional yang seimbang.
  • Pekerjaan peneliti bukan saja memberika gambaran terhadap fenomena-fenomena, tetapi juga menerangkan hubungan, menguji hipotesis, membuat prediksi, serta mendapatkan makna dan implikasi dari suatu masalah.

4.3. Langkah - langkah umum dalam Metode Deskriptif 

  • Secara singkat dapat diketahui terdapat beberapa langkah-langkah dalama metode penelitian deskriptif, yakni
  • Mengidentifikasi adanya permasalahan yang signifikan untuk dipecahkan melalui metode deskriptif;
  • Membatasi dan merumuskan permasalahan secara jelas;
  • Menentukan tujuan dan manfaat penelitian;
  • Melakukan studi pustaka yang berkaitan dengan permasalahan;
  • Menentukan kerangka berfikir dan pertanyaan penelitian dan atau hipotesis penelitian;
  • Mendesain metode penelitian yang hendak digunakan termasuk menentukan populasi, sampel, teknik sampling, instrument pengumpulan data, dan menganalisis data;
  • Mengumpulkan, mengorganisasi, dan menganalisis data dengan menggunakan teknik statistik yang relevan;
  • Membuat laporan penelitian.

Untuk lebih rincinya, Nazir (1988: 73-74) mengungkapakan terdapat berbagai langkah yang sering diikuti adalah sebagai berikut:

  1. Memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada
  2. Menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. Tujuan dari penelitian harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah
  3. Memberikan limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. Termasuk di dalamnya daerah geografis di mana penelitian akan dilakukan, batasan-batasan kronologis, ukuran tentang dalam dangkal serta sebarapa utuh daerah penelitian tersebut akan dijangkau
  4. Pada bidang ilmu yang telah mempunyai teori-teori yang kuat, maka perlu dirumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual yang kemudian diturunkan dalam bentuk hipotesa-hipotesa untuk diverifikasikan. Bagi ilmu sosial yang telah berkembang baik, maka kerangka analisa dapat dijabarkan dalam bentuk-bentuk model matematika
  5. Menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan
  6. Merumuskan hipotesa-hipotesa yang ingin diuji, baik secara eksplisit maupun secara implisit
  7. Melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data, gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian
  8. Membuat tabulasi serta analisa statistik dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan. Kurangi penggunaan statistik sampai kepada batas-batas yang dapat dikerjakan dengan unit-unit pengukuran sepadan
  9. Memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi sosial yang ingin diselidiki serta dari data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan
  10. Mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan serta hipotesa-hipotesa yang ingin diuji. Berikan rekomendasi-rekomendasi untuk kebijakan-kebijakan yang dapat ditarik dari penelitian
  11. Membuat laporan penelitian dengan cara ilmiah

4.4. Contoh Penelitian Deskriptif

4.4.1 Metode survei

Metode survei adalah penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual, baik tentang institusi sosial, ekonomi, atau politik dari suatu kelompok ataupun suatu daerah. (Nazir, 1988: 65)

Kerlinger mengemukakan bahwa metode survei adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif distribusi, dan hubungan antar variabel. Sosiologi, maupun psikologis.

Survei pada dasarnya tidak berbeda dengan research (penelitian). Pemakaian kedua istilah ini kerap kali hanya dimaksudkan untuk memberikan penekanan mengenai ruang lingkup. Research memusatkan diri pada salah satu atau beberapa aspek dari objeknya. Sedangkan survei bersifat menyeluruh yang kemudian akan dilanjutkan secara khusus pada aspek tertentu bilamana diperlukan studi yang lebih mendalam (Zulnaidi, 2007: 11)

Lebih lanjut lagi Zulnaidi (2007: 11-12) mengemukakan beberapa studi yang termasuk dalam metode survei yakni:

  • Survei kelembagaan (institutional survei)
  • Analisis jabatan/ pekerjaan (job analysis)
  • Analisis dokumen (documentary analysis)
  • Analisis isi (content analysis)
  • Survei pendapat umum (public oppinion survey)
  • Survey kemasyarakatan (community survey)

Nazir (1988: 65) dalam bukunya Metode Penelitian, mengemukan terdapat banyak sekali penelitian yang dapat dilakukan dengan menggunakan metode survei, diantaranya adalah survei masalah kemasyarakatan, survei komunikasi dan pendapat umum, survei masalah politik, survei masalah pendidikan, dan lain sebagainya.

4.4.2 Metode deskriptif kesinambungan

Metode deskriptif dapat diartikan sebagai penelitian yang dilakukan secara terus menerus atau berkesinambungan sehingga diperoleh pengetahuan yang menyeluruh mengenai masalah, fenomena, dan kekuatan-kekuatan sosial yang diperoleh jika hubungan-hubungan fenomena dikaji dalam suatu periode yang lama.

Menurut Nazir (1988: 65) mendefinisikan metode deskriptif berkesinambungan atau continuity descriptive research sebagai kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. Salah satu contoh metode penelitian deskriptif berkesinambungan ini dilakukan oleh Whitney dan Milholland (1930) yang mempelajari status akademis dari mahasiswa tingkat persiapan dari Colorado State College of Education  pada tahun 1930. Penelitian dilakukan dalam waktu empat tahun, dengan menelusuri status akademis sejak tingkat persiapan sampai dengan lulus sarjana muda.

4.4.3 Penelitian studi kasus

Penelitian studi kasus memusatkan diri secara intensive terhadap satu objek tertentu, dengan cara mempelajari sebagai suatu kasus. Berbagai unit sosial seperti seorang murid menunjukkan kelainan, sebuah kelompok keluarga, sebuah kelompok anak nakal, sebuah desa, sebuah lembaga sosial dan lain-lain dapat diselidiki secara intensive, baik secara menyeluruh maupun mengenai aspek-aspek tertentu yang mendapat perhatian khusus. (Zulnaidi, 2007: 13)

Menurut Bogdan dan Bikien (1982) merupakan pengujian secara rinci terhadap satu latar atau satu orang  subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu.

Menurut Maxfield (1930: 117-122) dalam Nazir (1988: 66) mendefinisikan penelitian studi kasus adalah penelitian tentang status subjek penelitian yang berkenan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang, sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus, ataupun status dari individu, yang kemudian, dari sifat-sifat khas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umum.

Penelitian studi kasus menurut Stake (2005) terdapat 3 jenis penelitian studi kasus yang dibagi berdasarkan karakteristik dan fungsinya, yakni:

  • Penelitian studi kasus mendalam
  • Penelitian studi kasus instrumental
  • Penelitian studi kasus jamak

Tidak berbeda jauh, Creswell (2007) juga membagi penelitian studi kasus menjadi 3 jenis. Dalam penelitian studi kasus tentunya terdapat langkah-langkahnya. Menurut Yin (1994), terdapat langkah-langkah dalam melakukan penelitian studi kasus yakni secara singkat seperti di bawah ini:

  1. a)  Merancang studi kasus

Dalam merancang studi kasus, terdapat dua langkah yakni melakukan pembekalan pengetahuan dan keterampilan serta melakukan pengembangan dan pengkajian ulang penelitian.

  1. b)  Melakukan studi kasus

Dalam langkah kedua ini terdapat tiga langkah yakni 1) penentuan teknik pengumpulan data; 2) penyebaran alat pengumpulan data; dan 3) penganalisisan bukti studi kasus yang terkumpul.

  1. c)   Melakukan pengembangan, implikasi, dan saran

Tahap ini merupakan tahap akhir dari setiap penelitian sebagai upaya melaporkan hasil penelitiannya kepada semua orang.

Nazir (1988: 68) mengemukakan bahwa langkah-langkah pokok dalam meneliti kasus adalah sebagai berikut: 1) menemukan rumusan tujuan penelitian; 2) tentukan unit-unit studi, sifat-sifat serta proses-proses apa yang akan menuntun penelitian; 3) tentukan rancangan serta pendekatan dalam memilih unit-unit dan teknik pengumpulan data mana yang digunakan. Sumber-sumber data apa yang tersedia; 4) kumpulkan data; 5) organisasikan informasi serta data yang terkumpul dan analisa untuk membuat interpretasi serta generalisasi; 6) susun laporan dengan memberikan kesimpulan serta implikasi dari hasil penelitian.

4.4.4 Penelitian analisa pekerjaan dan aktivitas

Menurut Nazir (1988: 71) dalam buku Metode Penelitian mengemukakan bahwa penelitian analisa pekerjaan dan aktivitas merupakan penelitian yang ditujukan untuk menyelidiki secara terperinci aktivitas dan pekerjaan manusia, dan hasil penelitian tersebut dapat memberikan rekomendasi-rekomendasi untuk keperluan masa yang akan datang.

Lebih lanjut Nazir mengemukakan bahwa studi yang mendalam dilakukan terhadap kelakuan-kelakuan pekerja, buruh, petani, guru, dan lain sebagainya terhadap gerak-gerik mereka dalam melakukan tugas, penggunaan waktu secara efisien dan efektif.

4.4.5 Penelitian tindakan (action research)

Penelitian tindakan merupakan penelitian yang berfokus pada penerapan tindakan yang dengan tujuan meningkatkan mutu atau memecahkan permasalahan pada suatu kelompok subjek yang diteliti dan diamati tingkat keberhasilannya atau dampak dari tindakannya. Menurut Grundy dan Kemmis (1990: 322) mengemukakan bahwa penelitian tindakan memiliki dua tujuan pokok, yaitu meningkatkan (improve) dan melibatkan (involve). Maksudnya, penelitian tindakan bertujuan meningkatkan bidang praktik, meningkatkan pemahaman praktik yang dilakukan oleh praktisi, dan meningkatkan situasi tempat praktik dilaksanakan. Penelitian tindakan juga berusaha melibatkan pihak-pihak terkait, jika penelitian tindakan dilaksanakan di sekolah, maka pihak terkait antara lain adalah kepala sekolah, guru, siswa, karyawan, dan orang tua siswa.

Penelitian ini sering digunakan oleh para peneliti di bidang pendidikan yang sering disebut sebagai penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research).

Menurut Kemmis dan McTaggart (1982) mengungkapkan bahwa dalam penelitian tindakan kelas ini terdapat model yang digunakan yakni siklus yang akan selalu berputar, seperti pada gambar berikut ini:

Dari gambar tersebut dapat kita ketahui bahwa model di atas merupakan model siklus yang akan selalu berputar. Di awali oleh langkah perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Bilamana peneliti belum puas dengan hasil yang diperoleh, maka dapat dilanjutkan pada siklus yang kedua, ketiga, dan seterusnya dengan langkah-langkah yang sama sampai peneliti tersebut puas dengan hasil yang diperoleh.

4.4.6 Penelitian Perpustakaan

Penelitian perpustakaan merupakan kegiatan mengamati berbagai literatur yagn berhubungan dengan pokok permasalahan yang diangkat baik itu berupa buku, makalah ataupun tulisan yang sifatnya membantu sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam proses penelitian. Menurut Kartini Kartono (1986: 28) dalam buku Pengantar Metodologi Research  Sosial mengemukakan bahwa tujuan penelitian perpustakaan adalah untuk mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan bermacam-macam material yang ada di perpustakaan, hasilnya dijadikan fungsi dasar dan alat utama bagi praktek penelitian di lapangan.

4.4.7 Penelitian Komparatif

Menurut Sugiono (2005: 11) penelitian komparatif adalah suatu penelitian yang bersifat membandingkan.

Dalam buku metode penelitian karangan M. Nazir (1988: 69-70) terdapat keunggulan dan kelemahan dari metode penelitian komparatif. Keunggulannya adalah sebagai berikut:

  • Metode komparatif dapat mensubtitusikan metode eksperimental karena beberapa alasan: 1) jika sukar diadakan kontrol terhadap salah satu faktor yang ingin diketahui atau diselidiki hubungan sebab akibatnya; 2) apabila teknik untuk mengadakan variabel kontrol dapat menghalangi penampilan fenomena secara normal ataupun tidak memungkinkan adanya interaksi secara normal; 3) penggunaan laboratorium untuk penelitian untuk dimungkinkan, baik karena kendala teknik, keuangan, maupun etika dan moral.
  • Dengan adanya teknik yang lebih mutakhir serta alat statistik yang lebih maju, membuat penelitian komparatif dapat mengadakan estimasi terhadap parameter-parameter hubungan kausal secara lebih efektif.
  • Sedangkan kelemahannya adalah sebagai berikut:
  • Penelitian komparatif yang bersifat ex post facto, mengakibatkan penelitian tersebut tidak mempunyai kontrol terhadap variabel bebas
  • Sukar memperoleh kepastian, apakah faktor-faktor penyebab suatu hubungan kausal yang diselidiki benar-benar relevan.
  • Interaksi antarfaktor-faktor tunggal sebagai penyebab atau akibat terjadinya suatu fenomena menjadi sukar untuk diketahui.
  • Ada kalanya dua atau lebih faktor memperlihatkan adanya hubungan, tetapi belum tentu bahwa hubungan yang diperlihatkan adalah hubungan sebab akibat.
  • Mengkategorisasikan subjek dalam dikhotomi untuk tujuan perbandingan dapat menjurus pada pengambilan keputusan dan kesimpulan yang salah, akibatnya kategori dikhotomi yang dibuat mempunyai sifat kabur, bervariasi, samar, menghendaki value judgement dan tidak kokoh.

Lebih lanjut lagi Nazir (1988: 70) menjabarkan beberpa langkah pokok dalam studi komparatif, yaitu: 1) rumuskan dan definisikan masalah; 2) jajaki dan teliti literatur yang ada; 3) rumuskan kerangka teoritis dan hipotesa-hipotesa serta asumsi-asumsi yang dipakai; 4) buatlah rancangan penelitian dengan cara memilih subjek yang digunakn dengan teknik pengumpulan data yang diinginkan, dan mengkategorikan sifat-sifat atau atribut-atribut atau hal-hal lain yang sesuai dengan masalah yang ingin dipecahkan, untuk mempermudah analisa sebab akibat; 5) uji hipotesa, membuat interpretasi terhadap hubungan dengan teknik statistik yang tepat; 6) membuat generalisasi, kesimpulan, serta implikasi kebijakan; dan 7) menyusun laporan dengan cara penulisan ilmiah.

Download

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung
84
2156
16
PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung
31
554
43
PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung
30
482
23
PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung
12
311
24
PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung
22
428
23
KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung
36
682
14
KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung
31
591
50
KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung
11
383
17
KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung
16
562
30
KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung
27
682
23