Model Pembelajaran POGIL

Top documents about Model Pembelajaran POGIL:

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN POGIL BERBANTUAN KIT PERCOBAAN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN KETERAMPILAN PROSES SISWA.

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN POGIL BERBANTUAN KIT PERCOBAAN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN KETERAMPILAN PROSES SISWA.

Fisika merupakan cabang ilmu sains yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang fenomena alam secara sistematis, sehingga fisika bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan, oleh karenanya fisika memerlukan model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam belajar. Penilitian ini menerapkan model pembelajaran POGIL berbantuan kit percobaan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar dan keterampilan proses siswa. Penelitian dilaksanakan dengan metode eksperimen. Pengambilan sampling menggunakan teknik sampling jenuh yaitu seluruh populasi dijadikan sebagai sampel karena jumlah populasi yang sedikit. Dari analisis data hasil belajar siswa dan keterampilan proses siswa didapat bahwa keduanya mengalami peningkatan. Hasil belajar kelas eksperimen lebih baik dibanding kelas kontrol. Hal ini dapat dilihat dari = 2,49. Nilai ini lebih besar dari = 1,99 dengan dk = 66 dan taraf signifikasi sebesar 5% yang berarti Ha diterima. Peningkatan keterampilan proses siswa dapat dilihat dari besar peningkatan nilai rata-rata melalui uji Gain didapatkan bahwa nilai gain untuk kelas eksperimen sebesar 0,66 dan kelas kontrol sebesar 0,56. Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah hasil belajar dan keterampilan proses siswa dapat ditingkatkan dengan pembelajaran model POGIL berbantuan kit percobaan pada pokok bahasan pemantulan cahaya.

1 Baca lebih lajut

PEMBELAJARAN KIMIA MENGGUNAKAN MODEL PROCESS-ORIENTED GUIDED INQUIRY LEARNING (POGIL) DAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DITINJAU DARI KEMAMPUAN MEMORI DAN KREATIVITAS PADA MATERI HIDROKARBON KELAS X SMA | Tyasning | Paedagogia 7520 15905 2 PB

PEMBELAJARAN KIMIA MENGGUNAKAN MODEL PROCESS-ORIENTED GUIDED INQUIRY LEARNING (POGIL) DAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DITINJAU DARI KEMAMPUAN MEMORI DAN KREATIVITAS PADA MATERI HIDROKARBON KELAS X SMA | Tyasning | Paedagogia 7520 15905 2 PB

kreativitas siswa. Munandar (1977) menye- butkan bahwa kreativitas berbanding terbalik dengan sikap siswa, siswa dengan reativitas tinggi akan memiliki nilai sikap yang rendah sedangkan siswa dengan kreativitas rendah akan memiliki nilai sikap yang tinggi. Namun dalam penelitian ini hal tersebut ternyata tidak memberikan hasil yang sama ketika variabel kreativitas tersebut dihubungkan dengan model pembelajaran POGIL dan PBL. Model pembelajaran PBL merupakan model pembelajaran yang dapat meningkatkan nilai sikap siswa pada pembelajaran kimia karena meningkatkan minat dan motivasi siswa terhadap pelajaran (Tosun dan Senocak, 2013). Karena adanya peningkatan minat dan motivasi siswa maka siswa yang meng- gunakan model pembelajaran PBL akan memiliki nilai sikap yang baik. Selain itu menurut Eberlein, et al. (2008) model pembelajaran POGIL merupakan model pembelajaran yang menggunakan bimbingan guru di dalam pelaksanaannya sehingga sikap siswa akan dapat lebih dikendalikan. Pendapat lain yang dikemukakan oleh Hanson (2006) bahwa tahapan eksplorasi dalam POGIL membuat siswa merasa materi tersebut penting untuk dipelajari, sehingga membuat siswa lebih tertarik untuk memahami materi yang dipelajarinya. Hal-hal tersebut mengakibatkan siswa yang menggunakan model pembelajaran POGIL dan PBL memiliki nilai sikap yang tidak berbeda secara signifikan.

12 Baca lebih lajut

KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN POGIL BERBANTUAN LEMBAR KEGIATAN PESERTA DIDIK (LKPD) TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN POGIL BERBANTUAN LEMBAR KEGIATAN PESERTA DIDIK (LKPD) TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

diberikan oleh guru. Pada fase ini peserta didik melakukan pencermatan ciri-ciri stimulus tersebut dan mengamati hal-hal yang dianggap menarik atau penting. Fase kedua adalah akuisisi, pada fase ini peserta didik melakukan akuisisi (pemerolehan atau penyerapan) terhadap berbagai fakta, konsep, keterampilan, atau prinsip yang menjadi sasaran dari pembelajaran tersebut. Fase ketiga adalah fase penyimpanan. Peserta didik menyimpan hasil-hasil kegiatan belajar yg telah diperoleh dlm ingatan jangka pendek (short-term memory) dan ingatan jangka panjang (long-term memory). Fase keempat adalah fase pemanggilan. Pada fase ini peserta didik memanggil kembali hasil-hasil dari belajar yang telah diperoleh dan disimpan, hasil tersebut berupa fakta, ketrampilan, konsep, maupun prinsip. Pemanggilan dilakukan pada saat peserta didik mengerjakan soal-soal latihan, dimana peserta didik harus mengingat kembali berbagai hal yang harus dikuasai untuk mengerjakan soal.

251 Baca lebih lajut

MODEL MFI DAN POGIL DITINJAU DARI AKTIVITAS BELAJAR DAN KREATIVITAS SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR.

MODEL MFI DAN POGIL DITINJAU DARI AKTIVITAS BELAJAR DAN KREATIVITAS SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR.

Penelitian ini bertujuan mengetahui: pengaruh penggunaan model Modified Free Inquiry (MFI) dan Process- Oriented Guided-Inquiry Learning (POGIL), aktivitas belajar dan kreativitas siswa, dan interaksinya terhadap prestasi belajar. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, dilakukan di MAN Parakan Temanggung Tahun Pelajaran 2012/2013. Sampel diperoleh dengan teknik Cluster Random Sampling yang terdiri dari dua kelas, yaitu: XII IPA-1 diberi pembelajaran model MFI dan XII IPA-2 diberi pembelajaran model POGIL. Teknik analisis data menggunakan analisis non parametrik Kruskal Wallis. Dari hasil analisis data disimpulkan: 1) ada pengaruh penggunaan model MFI dan POGIL terhadap prestasi belajar kognitif dan afektif, tetapi tidak memberikan pengaruh pada prestasi belajar psikomotorik, 2) tidak ada pengaruh aktivitas belajar tinggi rendah terhadap prestasi belajar kognitif maupun psikomotorik, namun ada pengaruh terhadap prestasi belajar afektif, 3) tidak ada pengaruh kreativitas tinggi rendah terhadap prestasi belajar kognitif dan afektif, namun ada pengaruh untuk prestasi belajar psikomotorik, 4) ada interaksi antara model pembelajaran POGIL dan MFI dengan aktivitas belajar terhadap prestasi belajar kognitif maupun afektif, namun tidak ada interaksi terhadap prestasi belajar psikomotorik, 5) ada interaksi antara model pembelajaran POGIL dan MFI dengan kreativitas siswa terhadap prestasi belajar kognitif, afektif, psikomotorik, 6) ada interaksi antara aktivitas belajar dan kreativitas siswa terhadap prestasi belajar afektif dan psikomotorik, tetapi tidak ada interaksi terhadap prestasi belajar kognitif, dan 7) ada interaksi antara model pembelajaran POGIL dan MFI, aktivitas belajar dan kreativitas siswa terhadap prestasi belajar kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

11 Baca lebih lajut

PERBEDAAN HASIL BELAJAR MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION (GI) DENGAN MODEL POGIL BERBANTUAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) DI KELAS XI MAN I MEDAN.

PERBEDAAN HASIL BELAJAR MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION (GI) DENGAN MODEL POGIL BERBANTUAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) DI KELAS XI MAN I MEDAN.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan hasil belajar kimia siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI) dibandingkan dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif POGIL pada pokok bahasan Hidrolisis Garam. Penelitian dilakukan terhadap siswa kelas XI MAN 1 Medan T.A. 2014/2015. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI MAN 1 Medan yang terdiri dari 8 (delapan) kelas. Sampel ditetapkan dengan cluster random sampling yakni mengambil 2 kelas yang dijadikan kelas eksperimen. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen. Pengambilan data untuk hasil belajar siswa diperoleh dengan tes hasil belajar yang menggunakan instrumen yang valid sebanyak 20 soal dan reliabel (0,867). Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang signifikan dibelajarkan dengan model pembelajaran Group Investigation (GI) dibandingkan dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran POGIL. Peningkatan hasil belajar siswa pada kelas yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI) sebesar 77,38 % dan peningkatan hasil belajar siswa pada kelas yang dibelajarkan dengan model pembelajaran POGIL sebesar 82,28 %. Maka, dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI) dan Model POGIL.

20 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN SUPLEMEN PEMBELAJARAN BERBASIS POGIL PADA MATERI SISTEM PEREDARAN DARAH TINGKAT SMP

PENGEMBANGAN SUPLEMEN PEMBELAJARAN BERBASIS POGIL PADA MATERI SISTEM PEREDARAN DARAH TINGKAT SMP

Penelitian ini merupakan penelitian research and development (R & D). Langkah-langkah penelitian yang dilakukan adalah analisis potensi dan masalah, mendesain produk, validasi desain, revisi I, uji coba keterterapan, revisi II, uji coba pemakaian, revisi III, dan produk final. Suplemen pembelajaran yang dikembangkan terdiri atas LDS berbasis POGIL dan video pembelajaran, dilengkapi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sebagai panduan pelaksanaan. Validasi produk dilakukan oleh ahli materi dan kurikulum dari jurusan Biologi Universitas Negeri Semarang. Uji coba suplemen pembelajaran dilakukan pada siswa SMP N 1 Kalibawang Wonosobo. Uji coba keterterapan dilakukan terhadap 26 siswa kelas IX A. Uji coba pemakaian dilakukan pada 27 siswa kelas VIII A dan 26 siswa kelas VIII B menggunakan desain one shoot case study. Data yang diambil dalam penelitian ini adalah validitas suplemen pembelajaran oleh ahli materi dan ahli kurikulum, penilaian siswa terhadap suplemen pembelajaran, hasil belajar siswa, aktifitas siswa, dan tanggapan guru serta siswa. Data-data tersebut dianalisis secara deskriptif persentase.

122 Baca lebih lajut

PEMBELAJARAN HIDROLISIS GARAM MENGGUNAKAN MODEL INKUIRI TERBIMBING DAN PROCESS-ORIENTED GUIDED INQUIRY LEARNING (POGIL) DITINJAU DARI KEMAMPUAN ANALISIS DAN RASA INGIN TAHU | Fajri | Inkuiri 7746 16259 1 SM

PEMBELAJARAN HIDROLISIS GARAM MENGGUNAKAN MODEL INKUIRI TERBIMBING DAN PROCESS-ORIENTED GUIDED INQUIRY LEARNING (POGIL) DITINJAU DARI KEMAMPUAN ANALISIS DAN RASA INGIN TAHU | Fajri | Inkuiri 7746 16259 1 SM

Berdasarkan wawancara dengan guru kimia di SMA Batik 1 Surakarta, belum tercapainya hasil belajar kimia siswa kemungkinan disebabkan oleh hal-hal berikut, antara lain (1) Metode/model pembelajaran yang digunakan kurang bervariasi yang mengakibatkan kejenuhan pada siswa. (2) Kurang diikutsertakannya siswa dalam proses belajar mengajar, sehingga proses pembelajarannya hanya berlangsung satu arah yakni hanya dari guru saja seperti siswa tidak merespon pada saat guru memberikan waktu untuk bertanya. (3) Kurangnya penggunaan media dalam proses belajar mengajar sehingga siswa kurang dapat memahami materi kimia yang bersifat abstrak. (4) Penilaian guru hanya sebatas pada ranah kognitif saja, padahal seharusnya penilaian harus mencakup 3 ranah yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. (5) Terkadang penggunaan metode yang digunakan oleh guru tidak sesuai dengan karakteristik materi yang disampaikan, sehingga mengakibatkan penyampaian materi menjadi sulit diterima oleh siswa. (6) Pemanfaatan laboratorium kimia yang belum maksimal. (7) Kurangnya aktivitas siswa yang bersifat oral activities pada proses belajar mengajar, yaitu mengemukakan pendapat dan menjawab pertanyaan. (8) Kemampuan analisis yang merupakan bagian dari berpikir tingkat tinggi tidak pernah dilatih, sehingga pemahaman terhadap materi pelajaran tidak optimal dan akibatnya prestasi belajar siswa jauh di bawah KKM. (9) Salah satu materi pelajaran kimia yang sulit untuk dipahami yaitu materi hidrolisis garam. Jadi, dari berbagai uraian diatas yang menjadi penyebab belum tercapainya pembelajaran kimia secara maksimal pada materi hidrolisis garam yaitu penerapan metode pembelajaran yang kurang memperhatikan karateristik dari materi dan karakteristik siswa yang diduga menjadi penyebab utama masalah tersebut.

9 Baca lebih lajut

T KIM 1402037 Bibliography

T KIM 1402037 Bibliography

Mahayana, I. M. H., Margunayasa, I. G., & Wibawa, I. M. C. 2016. Pengaruh Model Pembelajaran POGIL dan Minat Belajar terhadap Pemahaman Konsep IPA Siswa Kelas IV. e-Journal PGSD Universitas Pendidikan Ganesha , 4(1). hlm. 1-11.

6 Baca lebih lajut

Model Pembelajaran Ekspositori

Model Pembelajaran Ekspositori

Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran ekspositori yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengkombinasikan metode caramah, tanya jawab dan pemberian tugas. Pemberian tugas diberikan guru berupa soal-soal (pekerjaan rumah) yang dikerjakan secara individual atau kelompok. Adapun hasil belajar yang dievaluasi adalah luas dan jumlah pengetahuan, keterampilan dan nilai yang dikuasai peserta didik. Pada umumnya alat evaluasi hasil belajar yang digunakan adalah tes yang telah dibakukan atau tes buatan guru.

2 Baca lebih lajut

Model Pembelajaran Integratif

Model Pembelajaran Integratif

R.Gagne (Slameto, 2003:13) mendefinisikan belajar sebagai ?proses untuk memperoleh informasi dan pengetahuan, keterampilan, kebiasaan dan tingkah laku?. Pembelajaran integratif menerapkan teori belajar Gagne yaitu siswa yang meneruskan sosialisasi tanpa pertentangan untuk membantu memenuhi kebutuhan konsiderasi siswa serta menggunakan simbol-simbol yang menyatakan keadaan sekelilingnya seperti gambar, huruf, angka, diagram dan sebagainya.

5 Baca lebih lajut

Brown   Model Pogil

Brown Model Pogil

The Gatton College of Pharmacy at East Tennessee State University (ETSU) has defined 29 learning outcome expectations that must be addressed in various points throughout the curriculum. A key learning outcome ex- pectation applicable to the medicinal chemistry course is: ‘‘Apply basic knowledge and principles of pharmaceuti- cal sciences, clinical sciences, and socio-behavioral sci- ences to engage in critical thinking and solve problems.’’ The integration of POGIL-style exercises into the course was meant to address this outcome, specifically for the process skills of critical thinking and problem solving. This modification in content delivery operated under a dual-hypothesis model. The primary hypothesis was that the integration of POGIL-style exercises would result in equivalent outcomes on the standard multiple-choice exam- inations. The secondary hypothesis was that students would prefer the student-centered classroom over an instructor- centered classroom due to the better and more extensive development of process skills as mandated by the College’s learning outcome expectations. The ultimate goal of incor- porating these POGIL-style exercises into the course was to improve the quality of the content delivery, including the quality of students’ experience with the content, without sacrificing the depth of the content.

7 Baca lebih lajut

Semarang, Indonesia Email: kulliyah11gmail.com Abstrak - Tingkat Penguasaan Konsep dan Retensi Peserta Didik pada Materi Hidrolisis Melalui Model POGIL (Process Oriented Guided Inquiry Learning) Bermuatan Multiple Level Representation

Semarang, Indonesia Email: kulliyah11gmail.com Abstrak - Tingkat Penguasaan Konsep dan Retensi Peserta Didik pada Materi Hidrolisis Melalui Model POGIL (Process Oriented Guided Inquiry Learning) Bermuatan Multiple Level Representation

Kimia adalah ilmu yang mempelajari tentang materi dan perubahannya [1]. Konsep kimia dapat bersifat konkret dan abstrak. Banyaknya konsep kimia yang bersifat abstrak menimbulkan kesulitan bagi peserta didik untuk menyerap ilmu kimia dalam waktu yang terbatas, sehingga ilmu kimia dianggap salah satu mata pelajaran yang sulit bagi peserta didik. Hal tersebut sangat berhubungan dengan penerjemahan masalah kimia ke dalam tiga level representative, yaitu makroskopik, mikroskopik dan simbolik. Salah satu materi kimia yaitu hidrolisis membutuhkan pemahaman dari segi makroskopik, mikroskopik, maupun simbolik. Materi hidrolisis menuntut peserta didik untuk berpikir kritis, karena kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik diantaranya menentukan jenis garam yang mengalami hidrolisis dalam air dan mengukur serta menghitung pH larutan garam [2]. Menghitung pH larutan garam dapat dilakukan dengan strategi pembelajaran inkuiri, karena melalui strategi ini peserta didik dituntut untuk mencari dan meyelidiki secara sistematis, kritis, logis dan analitis, sehingga mereka dapat merumuskan konsep yang ditemukannya. Oleh karena itu, pembelajaran inkuiri sesuai jika diterapkan dalam materi hidrolisis.

9 Baca lebih lajut

PENGARUH MODEL PROCESS ORIENTED GUIDED INQUARY LEARNING (POGIL) TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS (KPS) DAN KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA PADA MATERI LAJU REAKSI.

PENGARUH MODEL PROCESS ORIENTED GUIDED INQUARY LEARNING (POGIL) TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS (KPS) DAN KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA PADA MATERI LAJU REAKSI.

Said Idrus (NIM. 8146142031). Influence Model inquary Process Oriented Guided Learning (POGIL) Against Science Process Skills (KPS) and Cognitive Ability Students to Content Reaction rate. Thesis. Terrain: Graduate School, State University of Medan (UNIMED). 2016.

19 Baca lebih lajut

65 MODEL PEMBELAJARAN

65 MODEL PEMBELAJARAN

Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif, siswa tidak bisa menghindar dari proses pembelajaran, setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. Kemungkinan akan terjadi suasana tegang, namun demikian bisa dibiasakan. Untuk mengurangi kondisi tersebut, guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah, suara menyejukkan, nada lembut. Ada canda, senyum, dan tertawa, sehingga suasana menjadi nyaman, menyenangkan, dan ceria. Jangan lupa, bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar, ia telah berpartisipasi

21 Baca lebih lajut

T KIM 1402037 Chapter1

T KIM 1402037 Chapter1

Dilihat dari jenis konsepnya, materi koloid ini sangat abstrak dan sulit untuk dipahami tanpaadanya model untuk menggambarkan materi ini. Koloid sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari namun tidak jarang ada beberapa siswa masih merasa asing dengan materi koloid (Asmara, 2015). Gazali (2015) menyatakan bahwa konsep-konsep dalam materi koloid sebagian besar merupakan konsep konkrit. Contoh fenomena yang berkaitan dengan koloid adalah sorotan lampu mobil pada malam yang berkabut dan berkas sinar matahari melalui celah daun pohon-pohon pada pagi hari yang berkabut. Dua fenomena tersebut menunjukkan adanya efek pembiasan cahaya oleh partikel koloid yang biasa disebut efek Tyndall.

10 Baca lebih lajut

T KIM 1402037 Chapter3

T KIM 1402037 Chapter3

Pada tahap persiapan ini, peneliti mengkaji teori-teori yang berkaitan dengan penguasaan konsep dan efikasi diri siswa, serta pembelajaran POGIL, menentukan tujuan diadakannya penelitian, menentukan materi yang akan diajarkan, menyiapkan rencana pembelajaran, menyusun instrumen dan memvalidasi instrumen serta merevisinya. Instrumen yang telah disusun dan divalidasi kemudian diuji cobakan untuk dihitung reliabilitasnya. Uji coba dilakukan di luar sampel penelitian.

37 Baca lebih lajut

Model Pembelajaran Inovatif

Model Pembelajaran Inovatif

Masalah autentik juga sangat menarik minat peserta didik sebagai subyek belajar, karena terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari dan bermanfaat bagi dirinya. Dengan mengangkat masalah-masalah autentik ke dalam kelas, maka pembelajaran akan lebih bermakna.Untuk mewujudkan ini diperlukan landasan teoritik dan empirik model pengajaran berdasarkan masalah adalah gagasan dan ide-ide para ahli seperti Dewey dengan kelas demokratisnya, Piaget yang berpendapat bahwa adanya rasa ingin tahu pada anak akan memotivasi anak untuk secara aktif membangun tampilan daya otak mereka tentang lingkungan yang mereka hayati, Vygotsky yang merupa-kan tokoh dalam pengembangan konsep konstruktivisme yang merupakan konsep yang dianut dalam model pengajaran berdasarkan masalah.

11 Baca lebih lajut

APLIKASI SINTAK DISAIN MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF

APLIKASI SINTAK DISAIN MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF

Masalah autentik juga sangat menarik minat peserta didik sebagai subyek belajar, karena terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari dan bermanfaat bagi dirinya. Dengan mengangkat masalah-masalah autentik ke dalam kelas, maka pembelajaran akan lebih bermakna.Untuk mewujudkan ini diperlukan landasan teoritik dan empirik model pengajaran berdasarkan masalah adalah gagasan dan ide-ide para ahli seperti Dewey dengan kelas demokratisnya, Piaget yang berpendapat bahwa adanya rasa ingin tahu pada anak akan memotivasi anak untuk secara aktif membangun tampilan daya otak mereka tentang lingkungan yang mereka hayati, Vygotsky yang merupa- kan tokoh dalam pengembangan konsep konstruktivisme yang merupakan konsep yang dianut dalam model pengajaran berdasarkan masalah.

26 Baca lebih lajut

EFEKTIVITAS MODEL PROBLEM BASED LEARNING TERINTEGRASI INKUIRI TERBIMBING DENGAN MEDIA KOMPUTER UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN NILAI KARAKTER TDKPDMP SISWA PADA PELAJARAN KIMIA LARUTAN DI SMA KELAS XI.

EFEKTIVITAS MODEL PROBLEM BASED LEARNING TERINTEGRASI INKUIRI TERBIMBING DENGAN MEDIA KOMPUTER UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN NILAI KARAKTER TDKPDMP SISWA PADA PELAJARAN KIMIA LARUTAN DI SMA KELAS XI.

Selanjutnya Jalaludin (2012) mengemukakan bahwa tujuan pendidikan selama ini diarahkan untuk mencetak anak pandai secara kognitif ( menekankan pengembangan otak kiri) yang menimbulkan materi pelajran yang berkaitan dengan pengembangan otak kanan kurang mendapat perhatian. Seterusnya dikatakan pembelajaran yang hanya menekankan kognitif saja akan menguah orientasi belajar peserta didik menjadi semata- mata untuk meraih nilai tinggi. Hal ini dapat mendorong peserta didik untuk mengejar nialai dengan cara yang tidak jujur, seperti menyontek, menjiplak dan lain sebagainya.

25 Baca lebih lajut

PERBEDAAN HASIL BELAJAR KIMIA YANG DIBELAJARKAN DENGAN MENGGUNKAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DAN PROCESS ORIENTED GUIDED INQUIRY LEARNING PADA MATERI HIDROKARBON.

PERBEDAAN HASIL BELAJAR KIMIA YANG DIBELAJARKAN DENGAN MENGGUNKAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DAN PROCESS ORIENTED GUIDED INQUIRY LEARNING PADA MATERI HIDROKARBON.

Perbedaan yang paling mencolok dalam model pembelajaran Process Oriented Guided Inquiry Learning dan Problem Based Learning terletak pada masalah yang diberikan guru. Model pembelajaran POGIL diberikan sedikit informasi yang kemudian guru memberikan pertanyaan sehingga siswa yang mencari dan menemukan jawaban yang di ajukan guru secara mandiri. Sedangkan Problem Based Learning yaitu guru memberikan masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan materi pelajaran. Siswa di tuntut untuk berfikir kritis dalam menjawab masalah yang di berikan guru guna memecahkan masalah yang di berikan dan kalau memungkinkan siswa diarahkan untuk memecahkan masalah-masalah tersebut dengan solusi terhadap masalah yang di berikan.

20 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...