Instrumen tes

Top documents about Instrumen tes:

PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES FORMATIF FISIKA SMA NEGERI 2 SURAKARTA KELAS XI SEMESTER GENAP TAHUN 2013 | Arsita Sari | PROSIDING : Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika 3318 7363 1 SM

PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES FORMATIF FISIKA SMA NEGERI 2 SURAKARTA KELAS XI SEMESTER GENAP TAHUN 2013 | Arsita Sari | PROSIDING : Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika 3318 7363 1 SM

Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan instrumen tes formatif Fisika SMA tengah semester genap yang mempunyai karakteristik tes Fisika yang baik. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan (Research and Development). Pengumpulan data dilakukan melalui teknik tes dan non tes. Sumber data berupa respon siswa pada tes. Analisis data dilakukan secara kualitatif yang meliputi materi, konstruksi dan bahasa serta kuantitatif dengan menggunakan program MicroCat ITEMAN versi 3.00 untuk mengetahui taraf kesukaran, daya beda dan efektivitas pengecoh. Pengembangan tes dilakukan menggunakan tahapan: analisis kebutuhan, penyusunan spesifikasi tes, penulisan soal tes, penelaahan tes secara kualitatif, revisi I, uji kelompok kecil, analisis butir secara kuantitatif, revisi II dan uji kelompok besar. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa instrumen tes formatif Fisika SMA yang dikembangkan sudah sesuai dengan karakteristik tes Fisika yang baik karena instrumen tes yang dikembangkan sudah memenuhi syarat menjadi instrumen yang baik yaitu mempunyai reliabilitas yang tinggi dan cukup tinggi, daya beda soal cukup, taraf kesukaran sedang, dan pengecoh berfungsi secara efektif. Produk pengembangan tes formatif Fisika SMA kelas XI tengah semester genap menghasilkan soal yang memenuhi semua kriteria instrumen tes yang baik dengan rincian sebagai berikut: Untuk paket soal I dihasilkan 10 soal yang memenuhi kriteria soal yang baik, untuk paket soal II dihasilkan 15 soal yang memenuhi kriteria soal yang baik, untuk paket soal III 15 soal yang memenuhi kriteria soal yang baik dan sudah mencakup semua indikator.

9 Baca lebih lajut

Desti Ritdamayaa   Instrumen Tes Kritis

Desti Ritdamayaa Instrumen Tes Kritis

Penelitian ini bertujuan untuk mengonstruksi instrumen tes yang mengases keterampilan berpikir kritis siswa Sekolah Menengah Atas pada materi suhu dan kalor. Metode penelitian menggunakan mixed method dengan desain sequential exploratory yang terdiri atas: 1) tahap studi pendahuluan; 2) tahap perancangan dan penelaahan instrumen tes; 3) tahap pengujian instrumen tes yang melibatkan 187 siswa Sekolah Menengah Atas. Instrumen tes yang dikonstruksi dalam bentuk essai, terdiri atas 22 soal memuat 5 indikator dan 8 sub indikator keterampilan berpikir kritis yang dikemukakan oleh Ennis, dengan soal-soal yang bersifat kualitatif dan kontekstual. Kualitas instrumen tes yang dikonstruksi valid dan memiliki reliabilitas dengan kriteria tinggi. Berdasarkan hasil uji hipotesis beda 2 nilai rata-rata, diperoleh hasil yaitu instrumen tes yang dikonstruksi dapat membedakan keterampilan berpikir kritis antara siswa yang mendapatkan proses pembelajaran yang melatihkan keterampilan berpikir kritis dengan siswa yang mendapatkan proses pembelajaran yang tidak melatihkan keterampilan berpikir kritis.

10 Baca lebih lajut

instrumen tes instrumen tes matematika

instrumen tes instrumen tes matematika

1. Soal (tes hasil belajar) ini di edarkan kepada anda dengan maksud untuk mendapatkan informasi sehubungan dengan uji coba instrumen hasil beljar matematika siswa sekolah menengah pertama (SMP) dalam pelaksanaan kurikulum 2013.

21 Baca lebih lajut

PENYUSUNAN INSTRUMEN TES DAN NON TES SEB

PENYUSUNAN INSTRUMEN TES DAN NON TES SEB

Hasil tes bisa digunakan untuk memantau perkembangan mutu pendidikan. Hasil tes untuk tujuan ini harus baik, yaitu memiliki kesalahan pengukuran sekecil mungkin. Kesalahan pengukuran ini dapat dikategorikan menjadi dua yaitu kesalahan acak dan kesaahan sistematik. Kesalahan acak disebabkan karena kesalahan dalam memilih sampel isi tes, variasi emosi seseorang, termasuk variasi emosi pemeriksa jika lembar jawaban peserta tes diperiksa secara manual. Kesalahan sistematik disebabkan karena soal tes terlalu mudah atau terlalu sukar. Ada pendidik yang cenderung membuat tes yang sulit, sehingga estimasi kemampuan peserta didik underestimate , tetapi ada juga pendidik yang cenderung membuat tes terlalu mudah, sehingga estimasi kemampuan peserta didik overestimate. Hal ini tidak diinginkan karena tidak memberikan data tentang kemampuan peserta didik yang sebenarnya.

97 Baca lebih lajut

PENYUSUNAN INSTRUMEN TES FORMATIF FISIKA SMP.

PENYUSUNAN INSTRUMEN TES FORMATIF FISIKA SMP.

From the research finding, it could be be concluded that th e arranged test was “tes Formatif FisikaSMP Materi Cahaya, Tahun Pelajaran2011/2012”. The test was an objective test in multiple choices form with four answer choices of 50 problems. Time allocation of test doing was 90 minutes. The arranged test was equipped by direction how to do and key answer. Characteristics of arranged test were packet A problems with 25% easy category, 60% medium category, and 15% difficult category. From the difference capacity, it was obtained that problems with excellent difference capacity were 30%, good were 32,5%, satisfactory were 12,5%, poor were 12,5%, and rejected were 12,5%. From the effectivness distractor aspect, it was obtained that 85% of problems were four distractors functioned, and 15% problems were 3 distractors functioned, 0% problems were two distractors functioned, and 0% problems were one distractors functioned. Packet B problems, there were 10% of easy category, 57,5% of medium category, and 32,5% of difficult category. Based on the difference capacity, the problems with excellent were 25%, good were 32,5%, satisfactory were 10%, poor were 2,5%, and rejected were 30%. Whereas from the effectiveness distractors aspect, it was acquired that 85% of problems were four distractors funtioned, and 12,5% problems were 3 distractors functioned, 2,5% problems were two distractors functioned, and 0% problems were one distractor funtioned. From the last test instument, it was attained that there were 22% of easy category, 54% of medium category, and 24% difficult category. Problems with excellent difference capacity were 10%, good were 36%, satisfactory were 28%, poor were 18%, and rejected were 8%. From the effectiveness distractor aspect, it was gained that 68% problems were four distractors functioned, and 28% problems were 3 distractors functioned, 4% problems were two distractors functioned, and 0% problems were one distractor functioned. From the three packet of test, the test that had the best quality and characteristics was the last test.

9 Baca lebih lajut

PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES UNTUK MENGUKU

PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES UNTUK MENGUKU

Untuk mengatasi kelemahan yang dimiliki tes pilihan ganda, maka perlu dikembangkan agar bentuk pilihan ganda itu tetap memiliki kualitas yang baik. Menurut Azwar (2010:74), bentuk pilihan ganda juga dapat mengungkap kemampuan berpikir tingkat tinggi, karena bentuk ini memiliki variasi tingkat penguasaan yang paling luas, mulai dari yang sederhana sampai kepada yang paling tinggi. Selain itu, bentuk tes pilihan ganda juga dapat digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir tinggi seperti kemampuan penalaran statistik dengan syarat butir-butir soalnya harus memiliki tingkatan soal antara C4 sampai C6 yaitu tingkatan analisis, sintesis dan evaluasi. Hal ini seperti yang diungkapkan dalam Taxonomy Bloom dalam Betsy Moore & Tood Stanley (2010:35) bahwa “analysis question, sintesis, question, and evaluationquestion can also be asked using a multiple choice format”. Artinya soal yang berbentuk analisis, sintesis dan evaluasi dapat digunakan dengan bentuk soal pilihan ganda. Dalam Taksonomi Bloom, pada tingkatan soal C4 (analisis) kata kerja operasional yang digunakan adalah menganalisis, mengaudit, memecahkan, menyimpulkan, menelaah, mengaitkan, dan mendeteksi. Untuk tingkatan soal C5 (sintesis) kata kerja operasional yang digunakan adalah menggabungkan, merumuskan, mengkategorikan, menciptakan, merancang, dan menyusun. Sementara itu, untuk tingkatan C6 (evaluasi) kata kerja operasional yang digunakan adalah menimbang, mengkritik, membandingkan, menyimpulkan, menilai, memprediksi, dan menafsirkan (Azwar, 2010:64). Dengan demikian tes untuk mengukur kemampuan penalaran statistik dapat direpresentasikan dalam bentuk tes pilihan ganda. Langkah selanjutnya yaitu penyusunan produk dengan cara membuat kisi-kisi instrumen (dapat dilihat pada lampiran A.1) dan menyusun instrumen tes sebanyak 20 butir soal (dapat dilihat pada lampiran A.2).

19 Baca lebih lajut

INSTRUMEN TES PERSEPSI SISWA TERHADAP MO

INSTRUMEN TES PERSEPSI SISWA TERHADAP MO

2. Angket ini bukan suatu tes. Tidak ada pertanyaan yang mengandung pengertian benar atau salah. Tanggapan yang diberikan tidak akan mempengaruhi nilai kimia pada rapor anda. Oleh karena itu anda diharapkan memberikan tanggapan sejujurnya, tanggapilah semua pertanyaan tanpa perlu minta bantuan teman-teman anda.

7 Baca lebih lajut

Pendapat Siswa tentang Pelaksanaan Instrumen Non-Tes

Pendapat Siswa tentang Pelaksanaan Instrumen Non-Tes

yaitu instrumen tes dan berdasarkan benar salah iperiksa bukan atas benar lam memberikan bantuan mengungkapkan kondisi n perlu diungkap melalui nakan untuk memberikan s dapat digunakan untuk ada pada diri siswa. Hasil g diberikan kepada siswa. pa yang sedang dihadapi sebagai pedoman dalam gan dan konseling dalam on-tes harus direncanakan i dengan petunjuk yang erencanakan pelaksanaan menatasi non-tes dengan dan konseling mengolah unakan hasil pelaksanaan gan dan konseling kurang ang tidak menyampaikan at pelaksanaan instrumen strumen non-tes sehingga sanaan instrumen non-tes iatan layanan bimbingan siswa. Oleh karena itu nar.

6 Baca lebih lajut

D MTK 1103917 Chapter3

D MTK 1103917 Chapter3

Meskipun secara statistik para penimbang menyatakan seragam terhadap tiap butir tes KAS, namun terdapat perbaikan redaksi sebagai penyusun butir soal tes KAS. Perbaikan-perbaikan tersebut secara konsep tidak mengubah makna substansial instrumen, melainkan mengarahkan kalimat instrumen menjadi semakin jelas dan mudah dipahami oleh mahasiswa. Hasil revisi tentang soal tersebut dapat dilihat pada (lampiran B.1.1), selanjutnya instrumen tes KAS diuji cobakan kepada 26 mahasiswa semester IV program studi pendidikan matematika yang telah mempelajari mata kuliah statistika dasar pada salah satu perguruan tinggi di Maluku Utara.

42 Baca lebih lajut

s fis 0801301 chapter3

s fis 0801301 chapter3

Data hasil uji coba kemudian dianalisis yang meliputi uji validitas, tingkat kesukaran, daya pembeda dan reliabilitas. Sehingga diperoleh instrumen tes yang baik dan layak untuk dijadikan instrumen penelitian. Analisis validitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda dilakukan pada setiap butir soal dengan menggunakan software Microsoft Excel .

17 Baca lebih lajut

MODUL : PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES

MODUL : PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES

Penyekoran pada soal uraian kadang menggunakan pembobotan. Pembobotan soal adalah pemberian bobot pada suatu soal dengan membandingkan terhadap soal lain dalam suatu perangkat tes yang sama. Dengan demikian, pembobotan soal uraian hanya dapat dilakukan dalam penyusunan perangkat tes. Apabila suatu soal uraian berdiri sendiri maka tidak dapat dihitung atau ditetapkan bobotnya. Bobot setiap soal ditentukan mempertimbangkan faktor-faktor yang berkaitan dengan materi dan karakteristik soal itu sendiri, seperti luas lingkup materi yang hendak dibuatkan soalnya, esensialitas dan tingkat kedalaman materi yang ditanyakan serta tingkat kesukaran soal. Hal yang juga perlu dipertimbangkan adalah skala penyekoran yang hendak digunakan, misalnya skala 10 atau skala 100. Apabila digunakan skala 100, maka semua butir soal dijawab benar, skornya 100; demikian pula bila skala yang digunakan 10. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan perhitungan skor. Skor akhir mahasiswa ditetapkan dengan jalan membagi skor mentah yang diperoleh dengan skor mentah maksimumnya kemudian dikalikan dengan bobot soal tersebut. Rumus yang

70 Baca lebih lajut

t mtk 0908383 chapter3

t mtk 0908383 chapter3

Tahapan penelitian dimulai dari sejak pembuatan proposal, kemudian melaksanakan seminar proposal untuk memperoleh koreksi dan masukan dari tim pembimbing tesis, menyusun instrumendan merancang pembelajaran. Setelah melalui tahapan-tahapan bimbingan dan perbaikan selanjutnya instrumen diuji cobakan. Hasil uji coba dianalisis untuk diketahui validitas, reliabilitas dan tingkat kesukaran serta daya pembeda instrumen.

24 Baca lebih lajut

MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN DAN KOMUNIKASI MATEMATIK MELALUI MODEL THINK-PAIR-SHARE BERBANTUAN GEOMETER’S SKETCHPAD.

MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN DAN KOMUNIKASI MATEMATIK MELALUI MODEL THINK-PAIR-SHARE BERBANTUAN GEOMETER’S SKETCHPAD.

Pedoman pemberian skor dimaksudkan agar hasil penilaian yang diperoleh obyektif. Hal ini dikarenakan pada setiap langkah jawaban yang dinilai pada jawaban siswa selalu berpedoman pada patokan yang jelas sehingga mengurangi kesalahan pada penilaian. Sebelum tes dijadikan instrumen penelitian, tes tersebut akan diukur face validity dan contentvalidity oleh ahli (expert) dalam hal ini dosen pembimbing dan rekan sesama mahasiswa. Langkah selanjutnya adalah tes diujicobakan untuk memeriksa validitas item, reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukarannya. Analisis instrumennya menggunakan software SPSS kemudian masing-masing hasil yang diperoleh dikonsultasikan menggunakan ukuran tertentu. Perhitungan disajikan pada lampiran, secara ringkas hasil penghitungan daya beda butir soal tes penalaran dan komunikasi matematik dari lampiran disajikan dalam Tabel 3.8 dan Tabel 3.9.

49 Baca lebih lajut

BAB III METODE PENELITIAN - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pengaruh Penggunaan Metode Pembelajaran Make A Match terhadap Hasil Belajar IPA pada Siswa Kelas IV SD Negri Kesongoii Kec.Tuntang Kab.Semarang Tahun Ajaran 2014/201

BAB III METODE PENELITIAN - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pengaruh Penggunaan Metode Pembelajaran Make A Match terhadap Hasil Belajar IPA pada Siswa Kelas IV SD Negri Kesongoii Kec.Tuntang Kab.Semarang Tahun Ajaran 2014/201

Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes dengan bentuk pilihan ganda untuk mendapatkan data besarnya pengaruh penggunaan metode Make a Match dalam pembelajaran terhadap hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Berikut ini adalah kisi-kisi evaluasi soal pilihan ganda yang akan digunakan untuk membuat instrument soal evaluasi

12 Baca lebih lajut

MENGEMBANGKA N TES SEBAGAI INSTRUMEN EVA

MENGEMBANGKA N TES SEBAGAI INSTRUMEN EVA

Validitas tes juga dapat dicapai dengan jalan membandingkan hasil pengukuran dari tes-tes yang lain, baik yang berasal dari guru lain atupun dengan tes yang sudah diketahui valid. Cara ini akan menghasilkan suatu tes yang memiliki empirical validity, atau statistical validity.

3 Baca lebih lajut

makalah instrumen penilaian dengan teknik non tes

makalah instrumen penilaian dengan teknik non tes

Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang telah disebutkan diatas, maka diperlukan suatu langkah-langkah untuk penyusunan dan pengembangan instrument nontes. Hal ini juga dapat digunakan untuk memperoleh tes yang valid, sehingga hasil ukurnya dapat mencerminkan secara tepat hasil belajar atau prestasi belajar yang dicapai oleh masing-masing individu peserta tes setelah selesai mengikuti kegiatan pembelajaran.

19 Baca lebih lajut

INSTRUMEN PENILAIAN TES PENGUASAAN BAHAN

INSTRUMEN PENILAIAN TES PENGUASAAN BAHAN

Dalam rangka penyusunan Tesis dengan judul: Pengembangan Model Pembelajaran Matematika Berbasis Budaya Rakyat Kota Bengkulu Untuk Meningkatkan ??????????, peneliti mengembangkan instrumenTes Penguasaan Bahan Ajar Matematika”. Untuk itu peneliti meminta Bapak/Ibu untuk memberikan penilaian terhadap instrumen yang dikembangkan tersebut. Penilaian dilakukan dengan memberi tanda cek (  ) pada kolom yang sesuai dengan masing-masing aspek yang dinilai. Penilaian menggunakan rentang penilaian sebagai berikut:

9 Baca lebih lajut

Penyusunan dan Pengembangan Instrumen Penelitian

Penyusunan dan Pengembangan Instrumen Penelitian

Instrumen memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan mutu suatu penelitian, karena validitas atau kesahihan data yang diperoleh akan sangat ditentukan oleh kualitas instrumen yang digunakan, disamping prosedur pengumpulan data yang ditempuh. Hal ini mudah dipahami karena instrumen berfungsi mengungkapkan fakta menjadi data, sehingga jika instrumen yang digunakan mempunyai kualitas yang memadai dalam arti valid dan reliabel maka data yang diperoleh akan sesuai dengan fakta atau keadaan sesungguhnya di lapangan. Sedang jika kualitas instrumen yang digunakan tidak baik dalam arti mempunyai validitas dan reliabilitas yang rendah, maka data yang diperoleh juga tidak valid atau tidak sesuai dengan fakta di lapangan, sehingga dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru.

28 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...