KONTRIBUSI STATUS SOSIAL EKONOMI, PARTISIPASI DAN PEMAHAMAN ANGGOTA TERHADAP TINGKAT KEBERHASILAN PEMBERDAYAAN EKONOMI DALAM PROGRAM CSR SARIHUSADA

Gratis

0
0
164
4 days ago
Preview
Full text

  

KONTRIBUSI STATUS SOSIAL EKONOMI, PARTISIPASI

DAN PEMAHAMAN ANGGOTA TERHADAP TINGKAT

KEBERHASILAN PEMBERDAYAAN EKONOMI

DALAM PROGRAM CSR SARIHUSADA

  

(Penelitian Survei di Rumah Srikandi, Kampung Badran, RW XI, Bumijo, DIY)

SKRIPSI

  

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Ekonomi

  

Oleh:

Yeni Nur Prilanita

NIM: 091324039

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

  

BIDANG KEAHLIAN KHUSUS PENDIDIKAN EKONOMI

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

  PERSEMBAHAN Kupersembahkan karya ini untuk:

  ALLAH SWT dan Nabi Muhammad SAW Bapak Isbani Pratama dan Ibu Sudariyah Syaiful Annas (Alm) dan Oksya Daffa Nararya Dreamers and Bongers Keluarga Besar Pendidikan Ekonomi 2009 Almamaterku Universitas Sanata Dharma

  MOTTO * * * * “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,

sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah

selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan)

yang lain dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berh arap.”

(QS (Al-Inshirah) 94:5-8)

  “Hidup ini tidak boleh sederhana.

Hidup ini harus besar, hebat, kuat, luas dan

bermanfaat.

  Yang sederhana itu adalah

sikapnya. Sehingga jika semakin besar yang

Anda inginkan, harus semakin sederhana

sikap Anda.

Sederhananya, lakukan yang harus

  

Anda Lakukan, hindari yang harus Anda

hindari, lalu perhatikan apa yang terjadi.”

  • Mario Teguh -

  

ABSTRAK

KONTRIBUSI STATUS SOSIAL EKONOMI, PARTISIPASI

DAN PEMAHAMAN ANGGOTA TERHADAP TINGKAT

KEBERHASILAN PEMBERDAYAAN EKONOMI

DALAM PROGRAM CSR SARIHUSADA

  Penelitian Survei di Rumah Srikandi, Kampung Badran, RW XI, Bumijo, DIY Yeni Nur Prilanita

  Universitas Sanata Dharma 2013

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi status sosial ekonomi, partisipasi dan pemahaman anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada.

  Penelitian ini adalah penelitian eksplanatif yang dilaksanakan di Rumah Srikandi, Kampung Badran, RW XI, Bumijo, Daerah Istimewa Yogyakarta pada bulan April 2013. Populasi dari penelitian ini adalah anggota Amal Srikandi dalam program CSR Sarihusada yang berjumlah 40 orang. Sampel diambil dengan teknik sampel jenuh. Data dikumpulkan menggunakan wawancara dan kuesioner.

  Uji instrumen berupa uji validitas dan reliabelitas hanya digunakan pada variabel partisipasi anggota. Analisis data menggunakan analisis regresi linier berganda.

  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) status sosial ekonomi anggota tidak berkontribusi secara signifikan terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada (nilai sig. 0,517 > = 0,05), (2) partisipasi anggota tidak berkontribusi secara signifikan terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada (nilai sig. 0,545 > = 0,05), (3) pemahaman anggota tidak berkontribusi secara signifikan terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada (nilai sig. 0,662 > = 0,05), (4) status sosial ekonomi, partisipasi dan pemahaman anggota secara bersama-sama dapat menjelaskan tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada sebesar 2,4% (R square = 0,024).

  

ABSTRACT

THE CONTRIBUTION OF ECONOMIC SOCIAL STATUS,

PARTICIPATION AND COMPREHENSION OF MEMBERS TOWARD

THE SUCCESS RATE OF ECONOMIC EMPOWERMENT IN CSR

SARIHUSADA PROGRAM

  A Survey in Rumah Srikandi, Kampung Badran, RW XI, Bumijo, DIY Yeni Nur Prilanita

  Sanata Dharma University 2013

  The purpose of this study is to find out the contribution of economic social status, participation and comprehension of members toward the success rate of economic empowerment in CSR Sarihusada program.

  This study is an explanatory study that was conducted in Rumah Srikandi, Kampung Badran, RW XI, Bumijo, Yogyakarta Special Territory in April, 2013. The population of this study are 40 members of Amal, Srikandi in CSR programs. The samples were taken by a saturated sample technique.The data were gathered by interview and questionnaire. Test instruments such as validity and reliability are used only on the variable participation of members. The data analysis technique is the regression linear analysis.

  The result of this study indicates that: (1) economic social status of members do not have a significant contribution to the success rate of economic empowerment in CSR Sarihusada program (sign value 0,517 > α= 0,05); (2) participation of members do not have a significant contribution to the success rate of economic empowerment in CSR Sarihusada program (sign value 0,545

  > α= 0,05); (3) the comprehension of members do not have a significant contribution to the success rate of economic empowerment in CSR Sarihusada program (sign value 0,662 > α= 0,05); (4) economic social status, participation and comprehension of member simultaneously can explain the success rate of economic empowerment in CSR Sarihusada program (2,4% (R square = 0,024).

KATA PENGANTAR

  Puji syukur kepada Allah SWT atas segala limpahan rahmat, kasih dan karunia-Nya yang tidak pernah putus sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

  Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pendidikan, program studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Dalam proses penulisan skripsi ini dari awal penyusunan hingga akhir, tidak sedikit pihak yang turut terlibat. Untuk itu perkenankanlah penulis dengan tulus mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk dukungan, bimbingan dan bantuan yang tidak terhingga dari:

  1. Allah SWT yang selalu membimbing dan menyertai setiap langkah penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini.

  2. Romo Dr. Ir. P. Wiryono Priyotamtama, SJ., Rektor Universitas Sanata Dharma yang memberikan kesempatan pada penulis untuk memperoleh pendidikan terbaik selama kuliah di Universitas Sanata Dharma.

  3. Romo C. Kuntoro Adi, SJ., M.A., M.Sc., Ph.D.,wakil rektor III Universitas Sanata Dharma, yang membimbing penulis selama berproses dalam kegiatan kemahasiswaan.

  4. Bapak Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  5. Bapak Indra Darmawan, S.E., M.Si. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu pengetahuan Sosial dan Ketua Program Studi Pendidikan Ekonomi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  6. Bapak Dr. Constantinus Teguh Dalyono, M.S. selaku Dosen Pembimbing I, yang telah membimbing dan meluangkan waktu dengan penuh kesabaran dalam memberikan bimbingan dan semangat.

  7. Bapak Indra Darmawan, S.E., M.Si. selaku Dosen Pembimbing II yang dengan penuh ketelitian dalam memeriksa skripsi ini.

  8. Bapak Y.M.V Mudayen, S.Pd., M.Sc. selaku dosen tamu penguji dalam skripsi ini.

  9. Bapak Drs. Joko Wicoyo, M.Si. yang telah meluangkan waktunya untuk mengoreksi abstract penulis.

  10. Bapak Joko Sularno selaku ketua RW Kampung Badran RW XI atas kesediaannya memberikan ijin penelitian.

  11. Mbak Titin yang selalu memberikan informasi dan membantu dalam kelancaran selama masa perkuliahan dan pembuatan skripsi penulis.

  12. Bapak Isbani Pratama dan Ibu Sudariyah, selaku orangtua saya. Terimakasih atas doa, semangat, dukungan serta kasih sayang yang telah diberikan selama ini.

  13. Ririska Vakta Ninda, Darmawati Susanti dan Atika Puspitasari Wijayanti, terimakasih atas waktu dan kesetiaannya dalam suka maupun duka selama ini.

  

DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL ................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .......................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................. iv HALAMAN MOTTO .................................................................................. v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ...................................................... vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA

  ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ..................................... vii ABSTRAK ................................................................................................... viii

  ABSTRACT ................................................................................................... ix

  KATA PENGANTAR ................................................................................. x DAFTAR ISI ................................................................................................ xiii DAFTAR TABEL ......................................................................................... xvi DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xviii

  BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1 A. Latar Belakang ........................................................................... 1 B. Identifikasi Masalah ................................................................... 4 C. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ............................ 5 D. Tujuan Penelitian ....................................................................... 7 E. Manfaat Penelitian ..................................................................... 8 BAB II KAJIAN PUSTAKA ....................................................................... 10 A. Kajian Pustaka ........................................................................... 10

  1. Corporate Social Responsibility .......................................... 10

  2. Status Sosial Ekonomi Anggota ........................................... 13

  3. Partisipasi Anggota .............................................................. 18

  4. Pemahaman Anggota ........................................................... 20

  5. Tingkat Keberhasilan Pemberdayaan Ekonomi dalam Program CSR Sarihusada .......................................... 22

  2. Hipotesis .............................................................................. 23

  a. Deskripsi Status Sosial Ekonomi Responden ................ 38

  c) Uji Autokorelasi ................................................. 55 2) Analisis Regresi Berganda ....................................... 56 3) Uji F ......................................................................... 57

  b) Uji Heteroskedastisitas ....................................... 55

  a) Uji Multikolinieritas ........................................... 54

  b. Uji Hipotesis .................................................................. 54 1) Uji Asumsi Klasik .................................................... 54

  a. Uji Prasyarat ................................................................... 52 1) Uji Normalitas .......................................................... 52 2) Uji Linieritas ............................................................ 53

  2. Uji Hipotesis ........................................................................ 52

  d. Deskripsi Tingkat Keberhasilan Pemberdayaan Ekonomi Responden ...................................... 51

  c. Deskripsi Pemahaman Responden .................................. 48

  b. Deskripsi Partisipasi Responden ..................................... 44

  1. Analisis Deskriptif ............................................................... 38

  BAB III METODE PENELITIAN .............................................................. 29 A. Jenis Penelitian ........................................................................... 29 B. Lokasi dan Waktu Penelitian ..................................................... 29 C. Populasi dan Sampel .................................................................. 30

  F. Teknik Analisis Data .................................................................. 38

  2. Pengumpulan Data Sekunder ............................................... 37

  1. Pengumpulan Data Primer ................................................... 31

  E. Teknik Pengumpulan Data .......................................................... 31

  2. Data Sekunder ...................................................................... 31

  1. Data Primer .......................................................................... 30

  D. Data yang Dicari ........................................................................ 30

  2. Sampel .................................................................................. 30

  1. Populasi ................................................................................ 30

  BAB IV GAMBARAN UMUM .................................................................. 61 A. Rumah Srikandi ......................................................................... 61 B. Pemberdayaan Ekonomi ............................................................ 65 C. Kampung Badran ....................................................................... 67

  BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN .................................... 75 A. Deskripsi Responden ................................................................. 76

  2. Pengujian Asumsi Klasik ..................................................... 92

  D. Pembahasan ................................................................................. 101

  C. Pengujian Hipotesis ................................................................... 96

  d. Rangkuman dari Hasil Uji Asumsi Klasik ..................... 96

  c. Uji Autokorelasi ............................................................. 95

  b. Uji Heteroskedastisitas ................................................... 94

  a. Uji Multikolieritas .......................................................... 92

  b. Uji Linieritas .................................................................. 91

  1. Deskripsi Data tentang Karakteristik Responden ................ 76

  a. Uji Normalitas ................................................................ 90

  1. Pengujian Prasyarat .............................................................. 90

  B. Analisis Data .............................................................................. 90

  5. Deskripsi Data tentang Tingkat Keberhasilan Program Pemberdayaan Ekonomi ...................................... 88

  4. Deskripsi Data tentang Pemahaman Responden .................. 87

  3. Deskripsi Data tentang Partisipasi Responden ..................... 83

  2. Deskripsi Data tentang Status Sosial Ekonomi Responden . 77

  BAB VI SIMPULAN, SARAN DAN KETERBATASAN ......................... 116 A. Kesimpulan ................................................................................ 116 B. Keterbatasan ............................................................................... 117 C. Saran .......................................................................................... 117 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 119 LAMPIRAN ................................................................................................. 121

  DAFTAR TABEL

  Tabel III.1 Kisi-kisi Instrumen Variabel Penelitian .................................. 32 Tabel III.2 Hasil Uji Validitas Variabel Partisipasi Anggota ................... 36 Tabel III.3 Hasil Uji Reliabelitas .............................................................. 37 Tabel III.4 Mean dan Standar Deviasi Variabel Status Sosial

  Ekonomi Responden ............................................................... 42 Tabel III.5 Interval Rata-rata Penilaian Responden Terhadap

  Status Sosial Ekonomi ............................................................ 43 Tabel III.6 Frekuensi Anggota Mengikuti Rapat atau Pertemuan ............ 44 Tabel III.7 Frekuensi Anggota dalam Memberikan Saran atau Usulan .... 45 Tabel III.8 Pengukuran Anggota dalam Memanfaatkan Fasilitas

  Tabungan ................................................................................. 45 Tabel III.9 Frekuensi Anggota dalam Memanfaatkan

  Fasilitas Tabungan .................................................................. 45 Tabel III.10 Pengukuran Anggota dalam Memanfaatkan

  Fasilitas Pinjaman .................................................................... 45 Tabel III.11 Frekuensi Anggota dalam Memanfaatkan Fasilitas

  Pinjaman ................................................................................. 46 Tabel III.12 Mean dan Standar Deviasi Variabel Partisipasi Responden ... 46 Tabel III.13 Interval Rata-rata Penilaian Responden

  Terhadap Partisipasi ................................................................ 47 Tabel III.14 Pengukuran Pemahaman Anggota ........................................... 48 Tabel III.15 Mean dan Standar Deviasi Variabel Pemahaman

  Responden ............................................................................... 49 Tabel III.16 Interval Rata-rata Penilaian Responden

  Terhadap Pemahaman ............................................................. 50 Tabel III.17 Skala Likert Pengukuran Keberhasilan Program .................... 51 Tabel IV.1 Jumlah Pendudukan RW 11 Badran ....................................... 70

  Tabel IV.3 Pendidikan Penduduk RW 11 Badran ..................................... 71 Tabel V.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ............ 76 Tabel V.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur .......................... 76 Tabel V.3 Distribusi Frekuensi mengenai Pendidikan Responden .......... 78 Tabel V.4 Distribusi Frekuensi mengenai Pekerjaan Responden ............ 78 Tabel V.5 Distribusi Frekuensi mengenai Penghasilan Responden ........ 80 Tabel V.6 Distribusi Frekuensi mengenai Status

  Kepemilikan Responden ......................................................... 81 Tabel V.7 Distribusi Frekuensi Kategori Status Sosial Ekonomi ............ 82 Tabel V.8 Distribusi Frekuensi Kategori Partisipasi ............................... 83 Tabel V. 9 Pemanfaatan Fasilitas Tabungan Oleh Responden ................. 85 Tabel V.10 Pemanfaatan Fasilitas Pinjaman Oleh Responden ................... 86 Tabel V.11 Distribusi Frekuensi Kategori Pemahaman ............................. 87 Tabel V.12 Distribusi Frekuensi Kategori Keberhasilan Program

  Pemberdayaan Ekonomi ......................................................... 89 Tabel V.13 Hasil Uji Normalitas ............................................................... 91 Tabel V.14 Hasil Uji Linieritas .................................................................. 91 Tabel V.15 Hasil Uji Multikolinearitas ...................................................... 93 Tabel V.16 Hasil Uji Heteroskedastisitas .................................................. 94 Tabel V.17 Hasil Uji Autokorelasi ............................................................ 95 Tabel V.18 Rangkuman Hasil Uji Asumsi Klasik ..................................... 96 Tabel V.19 Pengujian Hipotesis ................................................................ 96 Tabel V.20 Model Summary ...................................................................... 100 Tabel V.21 Anova ...................................................................................... 101

  DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1 Kuesioner ............................................................................. 122 Lampiran 2 Uji Validitas dan Reliabilitas ............................................... 127 Lampiran 3 Uji Prasyarat Normalitas dan Linieritas ............................... 129 Lampiran 4 Uji Asumsi Klasik ................................................................ 132 Lampiran 5 Uji Hipotesis ........................................................................ 134 Lampiran 6 Data Induk Penelitian ........................................................... 136 Lampiran 7 Surat Ijin Penelitian .............................................................. 143

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini, perusahaan memiliki peran yang penting dalam suatu

  negara. Bahkan dapat dikatakan bahwa peruhasaan yang besar merupakan sebuah icon bagi suatu negara yang maju pula. Tentu saja dalam menjalankan usahanya, suatu perusahaan tidak hanya bergerak di dalam perusahaan itu sendiri (lingkungan internal). Namun perusahaan pun membutuhkan lingkungan eksternal perusahaan seperti masyarakat luas khususnya konsumen yang menggunakan produk dari perusahaan tersebut dalam menyukseskan usahanya.

  Konsumen merupakan sektor terpenting dalam perusahaan. Tanpa adanya konsumen, produk yang perusahaan tawarkan tidak ada yang menampung atau membeli sehingga dapat dikatakan perusahaan tersebut tidak memiliki income yang digunakan untuk mengembangkan perusahaan. Dengan seperti itu, perusahaan tidak dapat mengembangkan usahanya bahkan akan terancam bangkrut.

  Selain itu perusahaan dalam menjalankan usahanya tersebut sedikit banyak mengambil hak masyarakat luas. Sebagai contoh, dalam mobilitas produksi, perusahaan menggunakan jalan umum yang sama dengan masyarakat luas sehingga mengakibatkan kemacetan di beberapa ruas jalan utama selain itu tidak jarang pula perusahaan juga merusak lingkungan atau

  Sebagai timbal balik atas “jasa” konsumen atau masyarakat pada umumnya, perusahaan memiliki tanggung jawab sosial atau sering disebut dengan Corporate Social Responsibility (CSR). Program tersebut ditujukan untuk masyarakat luas yang kurang mampu atau masyarakat yang dinilai membutuhkan bantuan dalam bentuk program CSR tersebut.

  Salah satu perusahaan yang memiliki program CSR adalah perusahaan susu Sarihusada. Program CSR perusahaan berada di beberapa wilayah antara lain Jakarta, Klaten dan D.I Yogyakarta. Program CSR Sarihusada yang biasa dikenal dengan Rumah Srikandi yang bergerak dibeberapa bidang yaitu bidang pendidikan, kesehatan masyarakat serta pemberdayaan ekonomi.

  Di Rumah Srikandi Badran, D.I Yogyakarta pun melakukan ketiga bidang program tersebut. Menurut ketua RW setempat, masyarakat yang menerima program tersebut adalah masyarakat yang memiliki latar belakang ekonomi menengah ke bawah. Dengan keterangan tersebut, mendukung opini awal bahwa penerima program adalah masyarakat yang membutuhkan atau masyarakat yang kurang mampu dalam hal finansial. Melihat kenyataan di lapangan tentu sesuai apabila program CSR tersebut salah satunya memberdayakan perekonomian masyarakat.

  Program pemberdayaan ekonomi di Rumah Srikandi, Badran tersebut pernah tersendat di tahun-tahun awal pelaksanaannya. Apabila dibandingkan dengan kebutuhan masyarakat yang kekurangan dalam hal finansial, sunguh “aneh” jika program tersebut tidak direspon dengan baik oleh masyarakat itu sendiri. Seperti yang dilangsir oleh edisi September 2012 yang diterbitkan oleh Rumah Srikandi. Rumah Srikandi sempat

  tidak terurus dikarenakan minimnya dana dan tidak ada pendampingan intensif yang mengakibatkan kapasitas masing-masing anggota tidak dapat digunakan secara maksimal.

  Saat ini program pemberdayaan ekonomi telah mengalami perkembangan ke arah yang positif. Walaupun program tersebut dapat dikatakan belum maksimal. Menurut pendamping program pemberdayaan ekonomi, Rahmadi, program pemberdayaan ekonomi memiliki kendala dalam pelaksanaannya yang timbul dari masyarakat itu sendiri. Kendala program pemberdayaan ekonomi antara lain kesadaran masyarakat, partisipasi serta persepsi masyarakat yang menganggap bahwa administrasi dalam program tersebut terlalu berbelit-belit. Tentu saja kendala-kendala program tersebut berkontribusi dengan tingkat keberhasilan atau tidaknya suatu program pemberdayaan ekonomi yang telah disusun.

  Penulis pun hanya fokus terhadap permasalahan pada program yang di sebabkan oleh masyarakat penerima program pemberdayaan ekonomi sebab keberhasilan program tidak terlepas dari usaha masyarakat itu sendiri. Masyarakat pun dapat dikatakan sebagai faktor penentu keberhasilan. Penyebab dari masyarakat pun dapat dibagi menjadi status sosial ekonomi anggota, partisipasi anggota serta pemahaman anggota terhadap tingkat keberhasilan program pemberdayaan ekonomi.

B. Identifikasi Masalah

  Keberhasilan program pemberdayaan ekonomi tidak terlepas dari peran masyarakat penerima program itu sendiri. Walaupun program telah disusun dengan rapi dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat tetapi masyarakat tidak merespon dengan baik maka program tersebut akan semakin menjauhi titik keberhasilan yang telah direncanakan.

  Apabila melihat dari latar belakang masyarakat penerima program tersebut status ekonominya dapat digolongkan ke dalam menengah ke bawah sehingga masyarakat tersebut perlu dibantu untuk meningkatkan kondisi perekonomian mereka kearah yang lebih baik. Program yang diberikan oleh program CSR Sarihusada penulis rasa telah seseuai. Program tersebut berada di tengah masyarakat sehingga dalam pelaksanaanya pun mengajak masyarakat untuk ikut turun tangan secara langsung. Dari segi kebutuhan masyarakatnya, program tersebut pun dibutuhkan oleh masyarakat. Serta apabila masyarakat memanfaatkan program dengan baik maka ada persentase kemungkinan kondisi perekonomian masyarakat pun akan lebih baik.

  Namun sangat disayangkan, program yang telah dirasa sesuai dan baik untuk meningkatkan perekonomian masyarakat justru malah kurang diapresiasi oleh masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu keberhasilan program pun belum maksimal.

  Penulis pun mengidentifikasi keberhasilan program dapat optimal jika ada dukungan dari masyarakat atau sumber daya manusia yang ada di dalam program tersebut. Kesadaran dan dukungan dari masyarakat tersebut disebabkan oleh status sosial ekonomi masyarakat, partisipasi masyarakat serta pemahaman masyarakat terhadap program itu sendiri.

  Dari uraian di atas, maka penulis dapat merumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:

  1. Seberapa besar kontribusi dan signifikan status sosial ekonomi anggota jika ada, terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada?

  2. Seberapa besar kontribusi dan signifikan partisipasi anggota jika ada, terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada?

  3. Seberapa besar kontribusi dan signifikan pemahaman anggota jika ada, terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada ?

  4. Seberapa besar kontribusi dan signifikan status sosial ekonomi, partisipasi dan pemahaman anggota jika ada, terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada?

C. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

  Variabel penelitian adalah suatu atribut dari orang atau objek yang mempunyai variasi antara satu dengan yang lainnya dalam kelompok tersebut (Sugiyono, 2010). Variabel-variabel dan definisi operasional dalam penelitian ini adalah:

  1. Variabel bebas (Independen)

  a. Status Sosial Ekonomi Anggota (X1) Status sosial itu sendiri merupakan posisi atau kedudukan seseorang dalam suatu kelompok masyarakat. Unsur-unsur status sosial mencangkup pendidikan, pekerjaan, jabatan, penghasilan, jenis kelamin dan lain sebagainya yang dimiliki oleh seseorang di dalam suatu masyarakat. Indikator dalam status sosial ekonomi anggota sebagai berikut pendidikan anggota, pekerjaan anggota, penghasilan anggota, dan status rumah yang ditempati.

  b. Partisipasi Anggota (X2) Partisipasi masyarakat yaitu proses keikutsertaan masyarakat dalam kegiatan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR

  Sarihusada. Kegiatan dalam program tersebut berupa rapat atau pertemuan anggota, menabung dan meminjam sejumlah dana.

  Indikator dalam partisipasi masyarakat sebagai berikut frekuensi anggota mengikuti rapat atau pertemuan, frekuensi anggota dalam memberikan saran atau usulan, frekuensi anggota dalam memanfaatkan fasilitas tabungan dan frekuensi anggota dalam memanfaatkan fasilitas pinjaman.

  c. Pemahaman Anggota terhadap Program Pemberdayaan Ekonomi (X3) Pemahaman anggota terhadap program pemberdayaan ekonomi merupakan tingkat pengetahuan anggota tentang seluk beluk program baik itu dalam manfaat, tujuan dan fasilitas program yang diberikan.

  Adapun indikator dari pemahaman masyarakat sebagai berikut pengetahuan anggota tentang manfaat program, pengetahuan anggota tentang tujuan program dan pengetahuan anggota tentang fasilitas program yang diberikan.

  2. Variabel terikat (Dependen)

  a. Keberhasilan Program (Y) Kebehasilan program merupakan tingkat ketercapaian hasil atau tujuan dari program pemberdayaan ekonomi yang telah dirumuskan sebelumnya. Tujuan dari program perdayaan ekonomi itu sendiri adalah menyejahterakan masyarakat. Sehingga dapat dikatakan tingkat keberhasilan program sejalan dengan perkembangan tingkat kesejahteraan raktyat. Adapun indikator tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada adalah peningkatan pendapatan masyarakat.

D. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui kontribusi dan signifikan status sosial ekonomi anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada. Jika ada, seberapa besar dan signifikan kontribusi status sosial ekonomi terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada tersebut.

  2. Untuk mengetahui adanya kontribusi dan signifikan partisipasi anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR

  Sarihusada. Jika ada, seberapa besar dan signifikan kontribusi partisipasi masyarakat terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada tersebut.

  3. Untuk mengetahui adanya kontribusi dan signifikan pemahaman anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada. Jika ada, seberapa besar dan signifikan kontribusi pemahaman masyarakat terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada tersebut.

  4. Untuk mengetahui adanya kontribusi dan signifikan status sosial ekonomi, partisipasi dan pemahaman anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada. Jika ada, seberapa besar dan signifikan kontribusi status sosial ekonomi, partisipasi dan pemahaman masyarakat terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada tersebut.

E. Manfaat Penelitian

  1. Secara teoretis Hasil penelitian ini kiranya dapat menambah pengetahuan serta dapat digunakan acuan penelitian dimasa yang akan datang.

  2. Secara praktis

  a. Bagi Universitas Sanata Dharma Dapat menjadi kontribusi pengembangan pengetahuan khususnya dibidang Ekonomi mengenai status sosial ekonomi, partisipasi serta pemahaman dalam keberhasilan suatu program. Selain itu dapat menambah referensi bacaan ilmiah.

  b. Bagi Rumah Srikandi Badran Dapat mengetahui seberapa kontribusi status sosial ekonomi, partisipasi dan pemahaman masyarakat terhadap keberhasilan program pemberdayaan sehingga dapat menjadi masukan bagi rumah Srikandi dalam merancang suatu kebijakan atau program kedepannya.

  c. Bagi pembaca Diharapkan setelah selesai penulisan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dan sumber bagi setiap orang yang ingin melakukan penelitian yang lain.

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka

  1. Corporate Social Responsibility (Tanggung Jawab Sosial Perusahaan) Menurut H.R Bowen yang dikutip oleh Ismail Solihin dalam buku yang berjudul Corporate Sosial Responsibility tahun 2008 menyatakan bahwa para pelaku bisnis memiliki kewajiban untuk mengupayakan suatu kebijakan serta membuat keputusan dan melalukan berbagai tindakan sesuai dengan tujuan dan nilai-nilai masyarakat. Pendapat tersebut yang dijadikan acuan untuk membuat kerangka konsep tanggung jawab sosial perusahaan. Corporate Social Responsibility (tanggung jawab sosial perusahaan) itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu konsep bahwadan dalam segala aspek operasional perusahaan khususnya dalam segi sosial.

  Perusahaan tidak hanya mempunyai kewajiban-kewajiban ekonomis dan legal yang diberikan kepada pemegang saham atau shareholder saja.

  Namun perusahaan juga memiliki kewajiban kepada pihak-pihak lain yang berkepentingan (stakeholders) yang jangkauannya melebihi kewajiban- kewajiban di atas. Pihak-pihak lain yang berkepentingan misalnya seperti masyarakat luas yang secara tidak langsung juga memiliki dampak bagi

  Beberapa hal yang termasuk dalam CSR ini antara lain adalah tatalaksana perusahaan (corporate governance) yang sekarang sedang marak di Indonesia, kesadaran perusahaan akan lingkungan, kondisi tempat kerja dan standar bagi karyawan, hubungan perusahan-masyarakat, investasi sosial perusahaan (corporate philantrophy). Menurut Kotler dan Lee yang dikutip oleh Jatmiko (2011) menyebutkan enam kategori aktivitas CSR, yaitu: a. Promosi kegiatan sosial (Cause Promotions)

  Pada aktivitas CSR ini perusahaan menyediakan dana atau sumber daya lainnya yang dimiliki perusahaan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap suatu kegiatan sosial atau untuk mendukung pengumpulan dana, partisipasi dari masyarakat atau perekrutan tenaga sukarela untuk suatu kegiatan tertentu. Fokus utama dari kategori aktivitas CSR ini adalah komunikasi persuasif, dengan tujuan menciptakan kesadaran masyarakat terhadap suatu masalah sosial.

  b. Pemasaran terkait kegiatan sosial (Cause Related Marketing) Pada saat sebuah perusahaan menyatakan bahwa sebagian dari keuntungan atau penjualan produknya akan disumbangkan untuk kegiatan sosial tertentu, maka perusahaan tersebut sedang melakukan apa yang disebut sebagai cause related marketing (CRM). Kegiatan ini biasanya didasarkan kepada penjualan produk tertentu, untuk jangka waktu tertentu serta untuk aktivitas derma tertentu. c. Pemasaran kemasyarakatan perusahaan (Corporate Societal

  Marketing )

  Pada aktivitas CSR ini perusahaan mengembangkan dan melaksanakan kampanye untuk mengubah perilaku masyarakat dengan tujuan meningkatkan kesehatan dan keselamatan publik, menjaga kelestarian lingkungan hidup serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

  d. Kegiatan filatropi perusahaan (Corporate Philanthropy) Pada aktivitas CSR ini perusahaan memberikan sumbangan langsung dalam bentuk derma untuk kalangan masyarakat tertentu. Sumbangan tersebut biasanya berbentuk pemberian uang secara tunai, bingkisan/paket bantuan atau pelayanan secara cuma-cuma.

  e. Pekerja sosial kemasyarakatan secara sukarela (Commuity

  Volunteering )

  Pada aktivitas CSR ini perusahaan mendukung dan mendorong para karyawan, rekan pedagang eceran atau para pemegang franchise agar menyisihkan waktu mereka secara sukarela guna membantu organisasi-organisasi masyarakat lokal maupun masyarakat yang menjadi sasaran program.

  f. Praktik bisnis yang memiliki tanggung jawab sosial (Socially

  Responsible Business Practice )

  Pada aktivitas CSR ini perusahaan melaksanakan aktivitas bisnis melampaui aktivitas bisnis yang diwajibkan oleh hukum serta tujuan meningkatkan kesejahteraan komunitas dan memelihara lingkungan hidup. Komunitas dalam hal ini mencakup karyawan perusahaan, pemasok, distributor, organisasi-organisasi nirlaba yang menjadi mitra perusahaan serta masyarakat secara umum.

  Tujuan utama program CSR yang dilakukan adalah untuk kepentingan sosial. Kepentingan sosial tersebut antara lain yaitu dalam bidang pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi. Namun dalam prakteknya, program CSR tidak selalu berjalan mulus. Ada beberapa kendala yang dapat mengakibatkan ketidakberhasilan program CSR tersebut. Misalnya tidak ada pendampingan atau bimbingan dari pihak lain dalam program. Dengan tidak ada pendampingan tersebut wajar jika program CSR kurang berhasil. Mengingat penerima program CSR adalah masyarakat yang kurang mampu dari segi perekonomian serta dalam segi pendidikan masih kurang. Sehingga masyarakat disana kurang dapat mengerti dengan program yang telah ada.

  2. Status Sosial Ekonomi Anggota Status sosial dapat diartikan sebagai posisi atau kedudukan seseorang dalam suatu kelompok masyarakat. Status sosial ekonomi merupakan kombinasi dari status sosial dan status ekonomi yang dimiliki oleh seseorang (anggota) dalam suatu kelompok. Pendapat tersebut didukung oleh Hopkins yang menyatakan bahwa status sosial ekonomi merupakan hasil kombinasi dari status sosial dan status ekonomi dimana

  Posisi atau kedudukan seseorang ditentukan oleh yang dia miliki serta dipandang penting oleh masyarakat. Semakin tinggi tingkat pendidikan, pekerjaan, jabatan dan tempat tinggal seseorang maka semakin tinggi pula status sosial ekonomi di masyarakat.

  Melihat uraian di atas, dapat diuraikan unsur-unsur yang terdapat dalam status sosial ekonomi. Unsur-unsur tersebut antara lain: a. Pekerjaan

  Pekerjaan menjadi salah satu unsur sebab kebutuhan akan terpenuhi jika seseorang tersebut bekerja. Keterpenuhan kebutuhan tersebut dapat menentukan status sosial ekonomi seseorang. Selain mendapatkan pemenuhan kebutuhan, pekerjaan atau bekerja akan mendapatkan kepuasan jasmani. Menurut Soeroto (blog.ub.ac.id), pekerjaan merupakan kegiatan untuk menghasilkan barang atau jasa baik itu untuk dirinya sendiri atau orang lain, baik itu mendapatkan upah atau pun tidak. Bila dipandang dari segi ekonomis, mendapatkan pendapatan dari hasil bekerja tersebut dapat dijadikan pemenuhan kebutuhan sehingga status sosial ekonomi seseorang dapat meningkat.

  Menurut pedoman ISCO (International Standart Clasification of

  Oecupation ) pekerjaan dapat diklasifikasikan menjadi:

  1) Profesional ahli teknik dan ahli jenis 2) Kepemimpinan dan ketatalaksanaan 3) Administrasi tata usaha dan sejenisnya

  5) Petani 6) Produksi dan operator alat angkut

  Dari klasifikasi pekerjaan di atas, orang dapat memilih sesuai dengan pekerjaan yang diinginkan, kemampuan serta keterampilan yang dimilikinya. Namun dalam masyarakat muncul pekerjaan yang diakui bahwa pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan yang terhormat atau lebih dihargai bila dilihat dari sosial dan ekonomi, tetapi ada pula pekerjaan yang kurang dihargai oleh masyarakat. Sehingga status sosial ekonomi pun dapat dilihat dari jenis pekerjaan yang dimilikinya.

  b. Pendapatan Seperti yang diuraikan di atas, bahwa pemenuhan kebutuhan pun menjadi salah satu tolok ukur penilaian status sosial ekonomi oleh masyarakat. Tentu saja untuk memenuhi kebutuhan tersebut dibutuhkan pendapatan. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa pendapatan menjadi salah satu pengaruh status sosial ekonomi. Biro pusat statistik mengkategorikan pendapatan sebagai berikut: 1) Pendapatan berupa uang adalah segala penghasilan berupa uang yang sifatnya reguler dan diterima biasanya sebagai balas atau kontra prestasi, sumbernya berasal dari:

  a) Gaji dan upah yang diterima dari gaji pokok, kerja sampingan, kerja lembur dan kerja kadang-kadang b) Usaha sendiri yang meliputi hasil bersih dari usaha sendiri, komisi, penjualan dari kerajinan rumah c) Hasil investasi yakni pendapatan yang diperoleh dari hak milik tanah. Keuntungan serial yakni pendapatan yang diperoleh dari hak milik

  2) Pendapatan yang berupa barang, yaitu pembayaran upah dan gaji yang ditentukan dalam beras, pengobatan, transportasi, perumahan dan rekreasi.

  c. Pendidikan Di beberapa kasus, semakin tinggi status sosial ekonomi seseorang maka semakin tinggi pula tingkat pendidikan yang mereka tempuh. Hal tersebut mengingat bahwa untuk memiliki pendidikan yang tinggi, seseorang harus menyiapkan beberapa hal. Salah satunya adalah biaya. Biaya pendidikan akan semakin terpenuhi jika pendapatan yang diperoleh seseorang tersebut semakin tinggi.

  Untuk tren saat ini pun, pendidikan dapat dijadikan untuk meningkatkan harga diri. Masyarakat pun memandang apabila seseorang tersebut memiliki gelar sarjana lebih memiliki status sosial ekonomi yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan seseorang yang notabennya hanya lulusan SD, SMP ataupun SMA.

  d. Pemilikan atau kekayaan Selain pekerjaan, pendapatan dan pendidikan yang menjadi seseorang tersebut. Semakin seseorang memiliki barang yang berharga seperti rumah, maka dapat dikatakan bahwa seseorang tersebut memiliki status sosial ekonomi yang tinggi daripada orang yang belum memiliki rumah.

  Apabila dilihat dari sisi kepemilikan rumah, seseorang yang memiliki rumah sendiri dipandang lebih memiliki status sosial ekonomi lebih tinggi oleh masyarakat. Akan menjadi demikian, apabila pembandingkan dengan seseorang yang hanya memiliki rumah kontrakan, milik orang tua dan lain sebagainya.

  Status sosial ekonomi seseorang pun dapat berkontribusi terhadap pencapaian atau keberhasilan suatu program. Seperti penelitian sebelumnya yang berjudul Hubungan Antara Keikutsertaan Siswa dalam Program Bimbingan Belajar, Status Sosial Ekonomi Orangtua, Motivasi Belajar Siswa dengan Keberhasilan Siswa Menempuh Ujian Akhir Nasional yang ditulis oleh Fransisca dari Universitas Sanata Dharma.

  Pada penelitian tersebut menyatakan bahwa status sosial ekonomi berhubungan pada keberhasilan siswa menempuh ujian nasional. Dalam penelitian tersebut pun ditambahkan bahwa status sosial ekonomi memiliki hubungan yang positif dan signifikan. Sehingga dapat dikatakan, jika status sosial ekonomi orangtua tinggi maka keberhasilan siswa menempuh Ujian Akhir Nasional juga akan meningkat. Namun dalam karya tulis tersebut, tidak dijelaskan alasan status sosial ekonomi memiliki hubungan

  3. Partisipasi Anggota Secara harafiah, partisipasi dapat diartikan turut berperan serta dalam kegiatan, baik itu secara aktif maupun proaktif. Namun partisipasi pun dapat dikatakan secara luas yang berarti bentuk keterlibatan dan keikutsertaan masyarakat secara aktif dan sukarela, baik alasan dari dalam dirinya atau tekanan dari luar pada seluruh proses kegiatan yang bersangkutan. Adapun pengertian partisipasi menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut:

  a. Menurut Keith Davis yang dikutip oleh wikipedia.org, partisipasi adalah suatu keterlibatan mantal dan emosi seseorang kepada pencapaian tujuan dan ikut bertanggung jawab di dalam kegiatan tersebut. Dalam pendapat tersebut, ditekankan dua aspek yaitu keterlibatan mental dan emosi (as mental and emotional involment of

  persons of person in a group situation which encourages him to

contribute to group goals and share responsibility in them).

  b. Menurut Sastropoetro yang dikutip oleh Turindra (2009), partisipasi adalah keikutsertaan, peranserta atau keterlibatan dengan keadaan lahiriahnya.

  Beberapa hal pokok yang dapat diambil dari pengertian-pengertian partisipasi di atas adalah sebagai berikut: a. Keterlibatan mental dan emosi yang menyertai partisipasi

  b. Keterlibatan dengan keadaan lahiriah c. Peran serta diberikan seseorang sampai tujuan program atau kegiatan mencapai tujuan dan ikut bertanggung jawab secara sadar.

  Dari hal pokok di atas, dapat ditarik mengenai bentuk-bentuk partisipasi yang ada. Berikut bentuk-bentuk partsipasi: a. Partisipasi pasif merupakan seseorang yang hanya ikut saja dalam suatu kegiatan tanpa tanggung jawab penuh. Seseorang tersebut biasanya hanya sebagai peserta kegiatan sehingga seseorang tersebut cenderung kurang mengetahui kegiatan secara keseluruhan.

  b. Partisipasi aktif adalah tindakan seseorang yang menerima dan melaksanakan tugas dalam suatu kegiatan dengan tanggung jawab penuh. Seseorang pun mencurahkan pengetahuan, perasaan dan keterampilannya untuk mencapai suatu tujuan yang telah dirumuskan.

  Partisipasi anggota pun juga menjadi salah satu faktor tercapainya keberhasilan suatu anggota. Dengan adanya partisipasi anggota, kegiatan proaktif yang bersifat membangun pun diberikan oleh anggota tersebut. Dengan keterlibatan anggota seperti itu, maka keberhasilan program pun akan tercapai.

  Pendapat tersebut pun didukung oleh hasil penelitian yang ditulis oleh Hernida Kusuma Listya, ST dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember yang berjudul Pengaruh Partisipasi Masyarakat terhadap Tingkat Keberhasilan Proyek Pemberdayaan Masyarakat Di Kabupaten Banyuwangi. Penelitian tersebut menyatakan bahwa partisipasi di Kabupaten Bayuwangi. Bahkan dalam penelitian tersebut, partisipasi masyarakat paling dominan dalam mendukung keberhasilan proyek. Hal tersebut disebabkan pemerintah atau lembaga-lembaga masyarakat tidak dapat selalu mendorong atau menyediakan sarana prasara yang dibutuhkan masyarakat untuk mengembangkan diri mereka sendiri (pemberdayaan masyarakat), sehingga masyarakat itu sendiri yang harus mengembangkan dirinya. Apabila pemberdayaan masyarakat tersebut telah sesuai dengan target rencana awal proyek maka proyek dinyatakan berhasil.

  4. Pemahaman Anggota Pemahaman berasal dari kata dasar „paham‟. Menurut kamus besar bahasa Indonesia paham berarti pengertian, pendapat pikiran dan mengerti benar. Sedangkan pemahaman diberi imbuhan pe- dan

  • –an sehingga berarti sesuatu hal yang kita pahami dan mengerti dengan benar. Adapun pengertian pemahaman menurut beberapa yang dikutip oleh Muhammad Zainal Abidin (2011) sebagai berikut:

  a. Menurut Sadiman, pemahaman adalah suatu kemampuan seseorang dalam mengartikan, mengartikan, menerjemahkan atau menyatakan sesuatu dengan caranya sendiri tentang pengetahuan yang pernah diterimanya.

  b. Menurut Suharsimi, pemahaman adalah bagaimana seseorang mempertahankan, membedakan, menduga, menerangkan, memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasikan, memberikan merupakan pemahaman untuk siswa dalam belajar. Namun apabila ditarik kedalam pemahaman anggota suatu organisasi dapat diartikan sebagai mengerti secara menyeluruh tentang organisasi sehingga dapat mengambil tindakan untuk menangani permasalahan atau memajukan organisasi tersebut.

  Dengan adanya pemahaman mengenai suatu hal, maka seseorang akan mengerti dan memahami secara menyeluruh mengenai hal tersebut.

  Sehingga apabila ada suatu permasalahan dalam organisasi, dapat cepat menemukan problem solving. Keberhasilan program atau organisasi pun tentu tidak sulit dicapai.

  Pendapat tersebut didukung oleh artikel yang berjudul Hubungan antara Pemahaman Pemerintah tentang Realitas Sosial Masyarakat dengan Keberhasilan Program Pengentasan Kemiskinan di Kabupaten Diok-Diok. Di dalam artikel tersebut diuraikan bahwa penanganan kemiskinan di kabupaten Diok-Diok tidak maksimal atau dapat dikatakan tidak sesuai dengan sasaran. Penanggulangan kemiskinan yang tidak sesuai mengakibatkan program penanggulangan tersebut pun menjadi gagal.

  Salah satu faktor yang mengakibatkan kegagalan program adalah pemahaman pemerintah yang masih kurang. Dengan tidak adanya pemahaman dari pemerintah, program yang telah dicanangkan dirasa kurang menyentuh segala lini kehidupan sehingga program pengentasan kemiskinan kurang memiliki makna dan berdaya guna. Oleh karena itu dapat disimpulkan ada hubungan positif antara variabel pemahaman pemerintah dengan keberhasilan program.

  5. Tingkat Keberhasilan Pemberdayaan Ekonomi Dalam Program CSR Sarihusada

  Menurut kamus besar bahasa In donesia, „hasil‟ merupakan sesuatu yang diadakan (dibuat, dijadikan, dan sebagainya) dengan usaha usaha. Melihat pengertian tersebut,

  „hasil‟ dapat didefinisikan sebagai tujuan yang akan dicapai dengan melakukan berbagai usaha. Oleh karena itu, berhasil dapat diartikan sebagai tercapainya suatu tujuan dengan melakukan berbagai usaha.

  Melihat uraian di atas, keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada adalah tercapainya tujuan utama program tersebut. Tujuan utama program adalah peningkatan pendapatan masyarakat. Dengan seperti itu, program dapat dikatakan berhasil jika telah mampu meningkatkan pendapatan masyarakat.

  Dalam program ini, terdapat berbagai cara untuk mengusahakan program tersebut antara lain peminjaman modal usaha, kegiatan program pembimbingan, serta pertemuan rutin yang dilakukan oleh seluruh anggota pemberdayaan ekonomi. Program-program tersebut dirasa telah mampu melayani kebutuhan anggota dalam usaha meningkatkan pendapatan mereka. Dengan adanya program peminjaman modal usaha, anggota diharapkan dapat mengembangkan atau membuka usaha baru sehingga pendapatan pun anggota tidak dibiarkan berjalan sendiri. Mereka memiliki fasilitas bimbingan yang dapat dimanfaatkan pada saat mereka mengalami kesulitan dan biasanya pada setiap pertemuan rutin pembimbing hadir sehingga anggota dapat memanfaatkannya. Selain itu, setiap bulannya terdapat pertemuan rutin yang memungkinkan setiap anggota mengungkapkan apa yang menjadi hambatan mereka dalam meningkatkan pendapatannya tersebut.

B. Hipotesis

  1. Kerangka Berpikir Dari hipotesis-hipotesis di atas, dapat ditarik kerangka berfikir yang terkait dengan hal tersebut. Adapun kerangka berfikir sebagai berikut:

  Status Sosial Anggota

  Tingkat keberhasilan Partisipasi pemberdayaan ekonomi dalam

  Anggota program CSR Sarihusada Pemahaman

  Anggota

  2. Hipotesis Dari beberapa uraian di atas, dapat ditarik beberapa hipotesis yang terkait dengan hal tersebut yaitu: a. Kontribusi status sosial ekonomi anggota terhadap tingkat keberhasilan

  Status sosial ekonomi masyarakat merupakan kedudukan atau posisi seseorang dalam suatu kelompok masyarakat itu sendiri.

  Seseorang memiliki kedudukan pasti memiliki kelebihan bila dibandingkan dengan orang lain di suatu kelompok masyarakat tersebut. Kelebihan tersebut dapat berupa memiliki pengetahuan atau pendidikan yang lebih bila dibandingkan orang lain, pendapatan yang lebih banyak, jabatan yang lebih tinggi dan lain sebagainya. Dengan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya seseorang akan terlihat berbeda.

  Hal tersebut yang menciptakan di dalam masyarakat terdapat status sosial yang berbeda.

  Seseorang yang memiliki kedudukan lebih tinggi biasa akan bertindak lebih dominan dalam suatu masyarakat sebab mereka lebih mengerti apa yang harus mereka lakukan. Hal tersebut dapat terjadi karena mereka memiliki kelebihan-kelebihan seperti yang diungkapkan diawal. Apabila dalam suatu organisasi masyarakat pun, biasanya seseorang lebih aktif mengeluarkan pendapat-pendapat yang membangun. Dengan kedudukan seseorang tersebut pun dapat mempengaruhi orang lain untuk mengikuti suatu organisasi. Dengan seperti itu, tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada akan meningkat apabila status sosial masyarakat semakin meningkat pula.

  Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ada kontribusi antara status sosial ekonomi masyarakat terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada. H a : ada kontribusi dan signifikan antara status sosial ekonomi anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada.

  b. Kontribusi partisipasi anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada.

  Partisipasi masyarakat merupakan salah satu pendukung suatu keberhasilan program di dalam masyarakat itu sendiri. Tanpa adanya partisipasi masyarakat, program yang dari awal telah ditujukan untuk masyarakat tersebut tidak akan terwujud. Tanpa partisipasi masyarakat pun sama halnya tidak ada yang menjalankan program tersebut.

  Sebaliknya jika ada partisipasi masyarakat atau peran serta masyarakat dalam program tersebut maka ada penggerak program sehingga program tidak stagnan. Misalnya saja program yang telah disiapkan untuk masyarakat namun masyarakat tersebut tidak merespon atau tidak mau berpartisipasi maka program tersebut tidak akan berjalan. Namun hal yang terjadi berbeda bila masyarakat ikut berpartisipasi dalam program tersebut, ada kemungkinan program tersebut akan lebih berhasil. Dengan partisipasi masyarakat tersebut, masyarakat yang menjadi objek program mau mengembangkan masyarakat dapat meningkatkan tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada.

  Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ada kontribusi antara partisipasi masyarakat terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada. Ha: ada kontribusi dan signifikan antara partisipasi anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR

  Sarihusada.

  c. Kontribusi pemahaman anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada.

  Setiap orang pasti memiliki pemahaman masing-masing terhadap suatu hal. Seseorang yang memiliki suatu pemahaman terhadap suatu hal tersebut pasti akan melakukan apa yang menguntungkan bagi mereka serta akan menjauhi kegiatan yang akan merugikan bagi mereka. Sebab seseorang yang memiliki suatu pemahaman apabila akan melakukan sesuatu tindakan selalu berdasarkan pemikiran yang logis. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa pemahaman seseorang terbentuk juga dari pengetahuan seseorang tersebut.

  Seseorang kurang memiliki pengetahuan, dia pun akan kurang memiliki dasar berfikir sehingga keputusan yang mereka ambil sering melenceng dari apa yang seharusnya dia pilih. Misalnya saja, program perekonomian mereka sehingga seharusnya mengikuti program tersebut. Namun kenyataannya program tersebut “sepi” dengan peminat. Ada indikasi bahwa tingkat pemahaman orang-orang disana masih rendah. Sebaliknya apabila masyarakat penerima program pemberdayaan ekonomi tersebut memiliki tingkat pemahaman yang tinggi, maka mereka akan memanfaatkan program tersebut. Sebab program tersebut akan memberikan keuntungan seperti akan meningkatkan kesejahteraan dalam sektor finansial setiap masyarakat.

  Melihat uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pemberdayaan ekonomi akan semakin tercapai apabila pemahaman yang dimiliki masyarakat juga semakin tinggi. Sehingga ada kontribusi antara pemahaman masyarakat terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada. H a : ada kontribusi dan signifikan antara pemahaman anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR

  Sarihusada.

  d. Kontribusi status sosial ekonomi, partisipasi dan pemahaman anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program

  CSR Sarihusada

  Tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program

  CSR Sarihusada dipengaruhi oleh sikap masyarakat penerima program

  itu sendiri. Sikap tersebut pun didapat dari status sosial ekonomi dalam mengikuti program tersebut. Semakin baik atau tinggi status sosial ekonomi, partisipasi dan pemahaman masyarakat, semakin baik atau tinggi pula tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada tersebut. Sebab dengan adanya ketiga faktor tersebut, masyarakat akan lebih merespon positif dan berperan proaktif terhadap program.

  Dengan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ada kontribusi status sosial ekonomi, partisipasi dan pemahaman masyarakat terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada.

  H : ada kontribusi dan signifikan status sosial ekonomi, partisipasi dan

  a

  pemahaman anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada.

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian eksplanatif yaitu

  penelitian yang bertujuan untuk memperoleh keterangan, informasi, data mengenai hal-hal yang belum diketahui.

  Peneliti menyiapkan beberapa pertanyaan sebagai penuntun untuk memperoleh data primer berupa keterangan, informasi, sebagai data awal yang diperlukan.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

  1. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di Rumah Srikandi, RW XI Kampung Badran,

  Kelurahan Bumijo, Jetis, Yogyakarta . Tempat tersebut dirasa sesuai

  dengan apa yang akan diteliti penulis karena memiliki program pemberdayaan ekonomi sebagai salah satu program CSR Sarihusada yang masih dalam tahap perkembangan. Oleh karena itu lokasi penelitian tersebut diharapkan akan memberikan data yang akan digunakan untuk penelitian yang relevan dengan apa yang akan penulis teliti.

  2. Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 15 – 25 April 2013.

  C. Populasi dan Sampel

  1. Populasi Dalam penelitan ini yang menjadi populasi adalah seluruh anggota program pemberdayaan ekonomi di Rumah Srikandi, Badran yang berjumlah 40 orang. Yang notabennya seluruh anggota tinggal di Kampung Badran, RW XI, Kelurahan Bumijo, Jetis, Yogyakarta.

  2. Sampel Menimbang dari jumlahnya populasi yang relatif kecil, maka penulis menggunakan teknik sampling jenuh. Walaupun menurut Sugiyono (2010) sampling jenuh dilakukan jika populasi kurang dari 30 orang namun jumlah populasi tidak terlalu jauh dari angka tersebut dan relatif kecil.

  Oleh karena itu penulis merasa bahwa sampling jenuh sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan.

  D. Data yang Dicari

  Berdasarkan variabel-variabel yang diteliti, maka data yang dibutuhkan dalam penelitian ini sebagai berikut:

  1. Data Primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung dari subjek penelitian (responden). Adapun data yang akan dicari yaitu: a. Pendidikan anggota

  b. Pekerjaan anggota

  c. Penghasilan anggota e. Frekuensi anggota mengikuti rapat atau pertemuan

  f. Frekuensi anggota dalam memberikan saran atau usulan

  g. Frekuensi anggota dalam memanfaatkan fasilitas tabungan

  h. Frekuensi anggota dalam memanfaatkan fasilitas pinjaman i. Pengetahuan anggota tentang manfaat program j. Pengetahuan anggota tentang tujuan program k. Pengetahuan anggota tentang fasilitas program yang diberikan l. Peningkatan pendapatan masyarakat

  2. Data Sekunder, yaitu data yang tidak diperoleh secara langsung dari subjek penelitian (responden), tetapi diperoleh dari monografi dusun/desa/kecamatan, pejabat tingkat dusun/desa/kecamatan. Adapun data yang akan dicari adalah : a. Keadaan geografis

  b. Keadaan demografis

  c. Data anggota Rumah Srikandi E.

   Teknik Pengumpulan Data

  1. Pengumpulan data primer dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik sebagai berikut : a. Wawancara

  Wawancara digunakan untuk mencari informasi awal sebelum melakukan penelitian lebih lanjut atau dengan kata lain wawancara ini tersebut berupa kondisi perekonomian anggota, kondisi program pemberdayaan ekonomi dan lain sebagainya. Wawancara tersebut ditujukan kepada ketua RW setempat yang sekaligus menjadi ketua program.

  Selain untuk mencari informasi awal, teknik pengumpulan data tersebut juga digunakan untuk mencari data-data yang relevan lainnya pada saat bertemu dengan sampel dari penelitian ini. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga keakuratan data yang diperoleh.

  b. Angket (Kuesioner) Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik pengumpulan data berupa kuesioner yang bertujuan untuk mencari data primer.

  Kuesioner tersebut berisi daftar pertanyaan kepada anggota pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada yang berkaitan dengan status sosial ekonomi, partisipasi dan pemahaman anggota tersebut. Tipe kuesioner yang dipakai penulis adalah kuesioner tipe tertutup sehingga kuesioner tersebut hanya berisi pertanyaan- pertanyaan alternatif jawaban yang telah disediakan sehingga responden hanya memilih jawaban yang telah disediakan.

  c. Instrumentasi 1) Kisi-kisi instrumen

  Tabel III.1 Kisi-kisi Instrumen Variabel Penelitian Jumlah No. Nama Variabel Indikator Item

  2. Pekerjaan pokok

  1 anggota

  3. Jumlah penghasilan

  1 anggota setiap bulannya

  4. Status rumah atau

  1 tempat tinggal anggota tempati

  2. Partisipasi

  1. Frekuensi anggota

  1 anggota mengikuti rapat/pertemuan

  2. Frekuensi anggota

  1 dalam memberikan saran/usulan

  3. Frekuensi anggota

  2 dalam memanfaatkan fasilitas tabungan

  4. Frekuensi anggota

  2 dalam memanfaatkan fasilitas pinjaman

  3. Pemahaman

  1. Pengetahuan anggota

  5 anggota tentang tentang manfaat program program pemberdayaan

  2. Pengetahuan anggota

  3 ekonomi tentang tujuan program

  3. Pengetahuan anggota tentang fasilitas 4 program yang diberikan

  4. Tingkat

  1. Peningkatan pendapatan

  1 keberhasilan anggota setelah pemberdayaan mengikuti program ekonomi dalam program CSR Sarihusada

  2) Uji instrumen penelitian

  a) Uji Validitas Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu koesioner. Suatu koesioner dikatakan valid jika pertanyaan di dalamnya mampu untuk mengungkapkan sesuatu validitas dapat dilakukan dengan melakukan korelasi antar skor butir pertanyaan dengan total skor konstruk atau variabel.

  Untuk menguji validitas digunakan rumus korelasi product

  moment (Sugiyono, 2010), yaitu:

  Dimana: r xy : koefisien korelasi antara variabel x dengan y X : nilai tiap variabel Y : nilai semua variabel N : jumlah sampel

  Dengan taraf signifikan ( ) = 5 % dan jumlah sampel sebesar 40 orang maka r tabel product moment dari penelitian

  • – ini yaitu 0,312. Sehingga untuk mengetahui skor masing masing item pertanyaan valid atau tidak, maka ditetapkan kriteria statistik sebagai berikut: (1) Jika r hitung > r tabel dan bernilai positif, maka variabel tersebut valid.

  (2) Jika r hitung < r tabel, maka variabel tersebut tidak valid. (3) Jika r hitung > r tabel tetapi bertanda negatif, maka H akan tetap ditolak dan H diterima.

  

a

  b) Uji Reliabilitas Uji reliabilitas digunakan untuk mengukur suatu konstruk. Suatu kuisioner dinyatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (keajegan).

  Dalam penelitian ini , uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS, yang akan memberikan fasilitas untuk mengukur reliabilitas dengan uji statistik

  Cronbach Alpha

  ( α ). Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbanch Alpha > 0,60 (Ghozali, 2005). Jadi apabila nilai Cronbanch Alpha dari variabel partisipasi masyarakat lebih dari 0,60 maka variabel tersebut dinilai reliabel.

  c) Hasil Pengujian Validitas Instrumen Pengujian tingkat validitas koesioner dilakukan dengan menggunakan teknik Product Moment antar masing-masing item yang mengukur suatu variabel dengan skor total variabel tersebut (Corrected Item-Total Correlation). Kriteria yang digunakan dalam pengujian validitas adalah bila nilai koefisien

  Corrected Item-Total Correlation suatu item bernilai positif

  dan lebih besar dari r-tabel pada taraf signifikansi = 0,05, berarti item tersebut valid. Dengan N = 40, = 0,05 sehingga diperoleh nilai r tabel sebesar 0,312 (Tabel Nilai-nilai r Product

  Moment , Sugiyono, 2010). Jadi koefisien Corrected Item-Total

  Correlation harus lebih besar dari 0,312 untuk menyatakan suatu item adalah valid.

  Uji validitas hanya dapat digunakan pada variabel partisipasi anggota. Hal tersebut disebabkan variabel lain seperti status sosial ekonomi anggota, pemahaman anggota tentang program pemberdayaan ekonomi serta tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada memiliki skala penilaian yang berbeda-beda. Hasil uji validitas sebagai berikut:

  Tabel III.2 Hasil Uji Variabel Partisipasi Anggota Butir R-hitung R-tabel Kesimpulan Pertanyaan

  1 0,513 0,312 Valid 2 0,459 0,312 Valid 3 0,336 0,312 Valid 4 0,449 0,312 Valid

  Sumber: data diolah, 2013

  d) Hasil Pengujian Reliabilitas Instrumen Uji reliabilitas dimaksudkan untuk menentukan apakah instrumen tersebut reliabel atau tidak. Pedoman yang digunakan sebagai berikut: jika r hitung lebih besar dari r tabel pada

  = 0,05 maka instrumen dikatakan reliabel, dan jika r hitung lebih kecil dari r tabel pada = 0,05 maka instrumen dikatakan tidak reliabel. Uji reliabilitas dilakukan dengan melihat

  Cronbach’s Alpha apabila > 0,6 maka butir pertanyaan

  Uji reliabelitas pun hanya dapat digunakan pada variabel partisipasi anggota. Berikut ini adalah hasil rangkuman variabel penelitian setelah diolah menggunakan program Statistical

Package for Social Sciences (SPSS) versi 16.

  Tabel III.3 Hasil Uji Reliabelitas Alpha Koef. Variabel Kesimpulan Cronbach Alpha

  Partisipasi 0,655 0,600 Reliabel anggota

  Sumber: data diolah, 2013

  Berdasarkan hasil dari tabel III.3 maka dapat disimpulkan bahwa dari bahwa dari 4 butir pertanyaan pada variabel partisipasi anggota diperoleh nilai r hitung sebesar 0,655. Pengambilan kesimpulan dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung dengan r tabel . Dengan jumlah data (N) sebanyak 40 responden dan derajat keyakinan sebesar 0,05 sehingga dapat dikatakan penelitian ini reliabel. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai r hitung > r tabel (0,655 > 0,600). Hal ini berarti bahwa butir-butir pertanyaan pada variabel partisipasi anggota dapat dikatakan handal.

  2. Pengumpulan Data Sekunder

  Data sekunder diperoleh dari data yang diberikan oleh pengelola rumah Srikandi, Badran serta pejabat setempat.

F. Teknik Analisis Data

  1. Analisis Deskriptif Untuk membuat generalisasi pada penelitian analisis data terhadap 40 responden yang meliputi status sosial ekonomi, partisipasi dan pemahaman responden terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada menggunakan analisis deskriptif.

  a. Deskripsi Data Status Sosial Ekonomi Responden Status sosial ekonomi merupakan posisi atau kedudukan seseorang dalam suatu kelompok masyarakat. Indikator dalam status sosial ekonomi anggota sebagai berikut pendidikan anggota, pekerjaan anggota, penghasilan anggota, dan status rumah yang ditempati.

  1) Pendidikan anggota Pendidikan anggota merupakan tingkat pendidikan formal terakhir yang ditempuh oleh anggota hingga mendapatan bukti kelulusan. Tingkat pendidikan yang dicapai oleh anggota antara lain: a) Tidak bersekolah (1)

  b) Tamat SD (2)

  c) Tamat SMP (3)

  d) Tamat SMA (4)

  e) Tamat Perguruan Tinggi (DIII, S1, S2, S3) (5)

  2) Pekerjaan anggota Pekerjaan anggota merupakan kegiatan pokok yang dilakukan oleh anggota untuk memperoleh penghasilan.

  Menurut Spillane yang dikutip oleh Chatrin Fanni Ambaria dalam penelitian tahun 2012, pekerjaan atau jabatan seseorang dikelompokan sebgai berikut:

  a) Golongan A: Pensiunan, Tidak mempunyai pekerjaan

  b) Golongan B: Buruh nelayan, Buruh tani, Petani kecil, Penebang kayu

  c) Golongan C: Petani penyewa, Buruh tidak tetap, Penarik becak d) Golongan D: Pembantu, Penjual keliling, Tukang cuci

  e) Golongan E: Seniman, Buruh tetap, Montir, Pandai besi, Penjahit, Sopir bus/colt, Tukang kayu, Tukang listrik dan Tukang mesin

  f) Golongan F: Pemilik bus/colt, Pengawas keamanan, Petani pemilik tanah, pegawai sipil (ABRI), Mandor, Pemilik perusahaan/toko/pabrik, Pedagang, Pegawai kantor, Peternak, Tuan tanah

  g) Golongan G: ABRI (Tamtama s/d Bintara), pegawai badan hukum, Kepala kantor pos cabang, Manajer perusahaan kecil, Supervisor/pengawas, Pamong Praja, Guru SD,

  Kepala bagian, Pegawai negeri sipil (Golongan I A s/d I

  D)

  h) Golongan H: Guru SMA/SMP, Perawat, Pekerja sosial, Perwira ABRI (Letda, Lettu, Kapten), PNS (Golongan II A s/d II D), Kepala sekolah, Kontraktor, Wartawan. i) Golongan I: Ahli hukum, Manager perusahaan, Ahli ilmu tanah, Apoteker, Arsitek, Dokter, Dosen/guru besar,

  Gubernur, Kepala kantor, Menteri PNS (golongan III A ke atas), Pengarang, Peneliti, Pilot, Walikota/Bupati, Kontraktor besar.

  Berdasarkan penggolongan di atas, penulis membagi menjadi 5 golongan, yaitu: Golongan 1: A diberi skor 1 Golongan 2: B diberi skor 2

  • – D Golongan 3: E diberi skor 3 Golongan 4: F diberi skor 4 Golongan 5: G diberi skor 5
  • – I 3) Penghasilan anggota

  Pendapatan anggota merupakan jumlah total penerimaan anggota dari penghasilan pokok, penghasilan sampingan dalam bentuk uang selama satu bulan. Untuk melihat tinggi atau rendahnya pendapatan yang diterima anggota, diberikan 5 pendapatan minimum (UMK) yang telah berlaku di Yogyakarta tahun 2013, yaitu Rp 1.065.247,00. Adapun alternatif pilihan jumlah penghasilan tersebut antara lain:

  a) Penghasilan kurang dari Rp 1.100.000,00 (diberi skor 1)

  b) Penghasilan antara Rp 1.100.000,00

  • – Rp 1.650.000,00 (diberi skor 2)

  c) Penghasilan antara Rp 1.650.000,00

  • – Rp 2.200.000,00 (diberi skor 3)

  d) Penghasilan antara Rp 2.200.000,00

  • – Rp 2.750.000,00 (diberi skor 4)

  e) Penghasilan lebih dari Rp 2.750.000,00 (diberi skor 5) 4) Status rumah yang ditempati

  Status rumah yang ditempati merupakan status kemilikan rumah yang ditempati tersebut. Adapun status rumah yang ditempati adalah sebagai berikut:

  a) Sewa diberi skor 1

  b) Kontrak diberi skor 2

  c) Rumah Dinas diberi skor 3

  d) Milik Keluarga diberi skor 4

  e) Milik Sendiri diberi skor 5 Dalam penelitian ini, peneliti menghitung skor rata-rata (Mean) dan standar deviasi untuk setiap item pertanyaan. Analisis dilakukan pada masing-masing item pertanyaan. Rumus yang digunakan dalam mencari mean dan standar deviasi adalah sebagai berikut: (Sumber: Sugiyono) Keterangan:

  = rata-rata (Mean) = jumlah skor = jumlah responden

  Namun dalam penelitian ini , untuk mencari jumlah mean dan standar deviasi dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS. Mean dan standar deviasi dalam variabel ini sebagai berikut:

  Tabel III.4 Mean dan Standar Deviasi Variabel Status Sosial Ekonomi Responden Variabel N Mean Standar Deviasi

  Status Sosial Ekonomi 40 11,22 2,315

  Sumber: data diolah, 2013

  Untuk mengetahui penilaian status sosial ekonomi terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada, dapat ditunjukkan dengan memasukkan nilai mean dan standar deviasi yang diperoleh dengan interval di bawah ini:

  Tabel III.5 Interval Rata-rata Penilaian Responden Terhadap Status Sosial Ekonomi Status Sosial Ekonomi Rumus Interval Interval

  Rendah X < mean - SD

  7

  • – 9 Sedang Mean - SD < x <

  10

  • – 13 mean + SD

  Tinggi Mean + SD < x

  14

  • – 19 Kategori status sosial ekonomi dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu: 1) Status sosial ekonomi tinggi

  Status sosial ekonomi tinggi dalam penelitian ini berarti anggota-anggota dalam program pemberdayaan ekonomi tersebut memiliki pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan status kepemilikan rumah yang tinggi. Oleh karena itu, anggota yang berada dalam kelompok ini lebih dapat memberikan pengaruh positif terhadap keberhasilan program.

  2) Status sosial ekonomi sedang Status sosial ekonomi sedang dalam penelitian ini berarti anggota-anggota dalam program pemberdayaan ekonomi tersebut memiliki pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan status kepemilikan rumah yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Atau dengan kata lain, anggota kelompok ini memiliki status sosial ekonomi yang biasa saja.

  3) Status sosial ekonomi rendah Status sosial ekonomi rendah dalam penelitian ini berarti anggota-anggota dalam program pemberdayaan ekonomi tersebut memiliki pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan status kepemilikan rumah yang rendah atau menengah kebawah. Oleh karena itu, anggota kelompok ini cenderung berpengaruh negatif terhadap tingkat keberhasilan program.

  b. Partisipasi responden Partisipasi dalam penelitian ini merupakan proses keikutsertaan masyarakat dalam kegiatan pemberdayaan ekonomi dalam program

  CSR Sarihusada. Indikator dalam partisipasi sebagai berikut frekuensi anggota mengikuti rapat atau pertemuan, frekuensi anggota dalam memberikan saran atau usulan, frekuensi anggota dalam memanfaatkan fasilitas tabungan dan frekuensi anggota dalam memanfaatkan fasilitas pinjaman. 1) Frekuensi anggota mengikuti rapat atau pertemuan

  Tabel III.6 Frekuensi anggota mengikuti rapat atau pertemuan Pernyataan Skor

  Tidak Pernah

  1 Pernah

  2 Kadang-kadang

  3 Sering

  4 Selalu

  5

  2) Frekuensi anggota dalam memberikan saran atau usulan

  Tabel III.9 Frekuensi Anggota Dalam Memanfaatkan Fasilitas Tabungan Pernyataan Skor

  Memanfaatkan fasilitas tabungan

  Tabel III.10 Pengukuran Anggota Dalam Memanfaatkan Fasilitas Pinjaman Peningkatan Pendapatan Skor

  5 4) Frekuensi anggota dalam memanfaatkan fasilitas pinjaman

  4 Selalu

  3 Sering

  2 Kadang-kadang

  1 Pernah

  Tidak Pernah

  1 Tidak memanfaatkan fasilitas tabungan

  Tabel III.7 Frekuensi anggota dalam memberikan saran atau usulan Pernyataan Skor

  Memanfaatkan fasilitas tabungan

  Tabel III.8 Pengukuran Anggota Dalam Memanfaatkan Fasilitas Tabungan Peningkatan Pendapatan Skor

  5 3) Frekuensi anggota dalam memanfaatkan fasilitas tabungan

  4 Selalu

  3 Sering

  2 Kadang-kadang

  1 Pernah

  Tidak Pernah

  1 Tidak memanfaatkan fasilitas tabungan

  Tabel III.11 Frekuensi Anggota Dalam Memanfaatkan Fasilitas Pinjaman Pernyataan Skor

  Tidak Pernah

  1 Pernah

  2 Kadang-kadang

  3 Sering

  4 Selalu

  5 Dalam penelitian ini, peneliti menghitung skor rata-rata (Mean) dan standar deviasi untuk setiap item pertanyaan. Analisis dilakukan pada masing-masing item pertanyaan. Rumus yang digunakan dalam mencari mean dan standar deviasi adalah sebagai berikut: (Sumber: Sugiyono) Keterangan:

  = rata-rata (Mean) = jumlah skor = jumlah responden

  Namun dalam penelitian ini , untuk mencari jumlah mean dan standar deviasi dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS. Mean dan standar deviasi dalam variabel ini sebagai berikut:

  Tabel III.12 Mean dan Standar Deviasi Variabel Partisipasi Responden Variabel N Mean Standar Deviasi

  Partisipasi 40 16,70 3,212 Untuk mengetahui penilaian partisipasi terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada, dapat ditunjukkan dengan memasukkan nilai mean dan standar deviasi yang diperoleh dengan interval di bawah ini:

  Tabel III.13 Interval Rata-rata Penilaian Responden Terhadap Partisipasi Partisipasi Rumus Interval Interval

  Rendah X < mean

  10

  • – SD – 13 Sedang Mean - SD < x <

  14

  • – 20 mean + SD

  Tinggi Mean + SD < x

  21

  • – 22 Kategori status sosial ekonomi dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu: 1) Partisipasi tinggi

  Partisipasi tinggi dalam penelitian ini berarti anggota- anggota dalam program pemberdayaan ekonomi tersebut mengikuti kegiatan rapat atau pertemuan, aktif memberikan saran atau usulan, memanfaatkan fasilitas tabungan dan pinjaman. Semakin sering responden mengikuti program maka semakin tinggi pula partisipasi. Oleh karena itu, keberhasilan program akan lebih cepat tercapai dengan adanya partisipasi anggota yang tinggi. 2) Partisipasi sedang

  Partisipasi sedang dalam penelitian ini berarti anggota- anggota dalam program pemberdayaan ekonomi tersebut tidak selalu mengikuti kegiatan rapat atau pertemuan, aktif memberikan namun masih dalam koridor sedang. Oleh karena itu, keberhasilan program akan mengalami hambatan untuk mencapainya.

  3) Partisipasi rendah Partisipasi rendah dalam penelitian ini berarti anggota- anggota dalam program pemberdayaan ekonomi tersebut jarang mengikuti kegiatan rapat atau pertemuan, aktif memberikan saran atau usulan, memanfaatkan fasilitas tabungan dan pinjaman. Oleh karena itu, keberhasilan program akan sulit tercapai.

  c. Pemahaman terhadap program pemberdayaan ekonomi responden Pemahaman terhadap program pemberdayaan ekonomi responden merupakan tingkat pengetahuan anggota tentang seluk beluk program baik itu dalam manfaat, tujuan dan fasilitas program yang diberikan. Indikator dari pemahaman masyarakat sebagai berikut pengetahuan anggota tentang manfaat program, pengetahuan anggota tentang tujuan program dan pengetahuan anggota tentang fasilitas program yang diberikan.

  Pemahaman anggota terhadap progran pemberdayaan ekonomi dapat diukur menggunakan skala likert. Adapun skala likert yang diterapakan dalam pengukuran tersebut sebagai berikut:

  Tabel III.14 Pengukuran Pemahaman Anggota Pernyataan Positif Negatif Jawaban Skor Jawaban Skor

  Benar

  1 Benar Dalam penelitian ini, peneliti menghitung skor rata-rata (Mean) dan standar deviasi untuk setiap item pertanyaan. Analisis dilakukan pada masing-masing item pertanyaan. Rumus yang digunakan dalam mencari mean dan standar deviasi adalah sebagai berikut: (Sumber: Sugiyono) Keterangan:

  = rata-rata (Mean) = jumlah skor = jumlah responden

  Namun dalam penelitian ini , untuk mencari jumlah mean dan standar deviasi dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS. Mean dan standar deviasi dalam variabel ini sebagai berikut:

  Tabel III.15 Mean dan Standar Deviasi Variabel Pemahaman Responden Variabel N Mean Standar Deviasi

  Pemahaman 40 10,80 1,506

  Sumber: data diolah, 2013

  Untuk mengetahui penilaian pemahaman terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada, dapat ditunjukkan dengan memasukkan nilai mean dan standar deviasi yang diperoleh dengan interval di bawah ini:

  Tabel III.16 Interval Rata-rata Penilaian Responden Terhadap Pemahaman Pemahaman Rumus Interval Interval

  Rendah X < mean - SD

  6

  • – 9 Sedang Mean - SD < x <

  10

  • – 12 mean + SD

  13 Kategori status sosial ekonomi dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu: 1) Pemahaman anggota terhadap progran pemberdayaan ekonomi tinggi

  • – Tinggi Mean + SD < x

  Pemahaman anggota tinggi dalam penelitian ini berarti anggota mengetahui tentang seluruh seluk beluk program baik itu manfaat, tujuan dan fasilitas yang diberikan dalam program tersebut. Dalam kelompok ini, anggota dapat memahami program sehingga keberhasilan program pun dapat tercapai. 2) Pemahaman anggota terhadap progran pemberdayaan ekonomi sedang

  Pemahaman anggota sedang dalam penelitian ini berarti anggota mengetahui tentang seluk beluk program baik itu manfaat, tujuan dan fasilitas yang diberikan dalam program tersebut. Namun pemahaman dalam kelompok ini masih dibawah kelompok anggota yang memiliki pemahaman tinggi, sehingga keberhasilan program pun akan kurang tercapai.

  3) Pemahaman anggota terhadap progran pemberdayaan ekonomi rendah Pemahaman anggota rendah dalam penelitian ini berarti anggota mengetahui tentang kurang mengerti seluk beluk program baik itu manfaat, tujuan dan fasilitas yang diberikan dalam program tersebut. Dalam kelompok ini, anggota kurang dapat memahami program sehingga keberhasilan program pun terhambat.

  d. Tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi Kebehasilan program merupakan tingkat ketercapaian hasil atau tujuan dari program pemberdayaan ekonomi yang telah dirumuskan sebelumnya. Indikator tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada adalah peningkatan pendapatan masyarakat.

  Tabel III.17 Skala Likert Pengukuran Keberhasilan Program Peningkatan Pendapatan Skor

  Pendapatan Meningkat

  1 Pendapatan Tidak Meningkat Untuk mengetahui penilaian tingkat keberhasilan program tersebut dapat melihat kategori tingkat keberhasilan program yang dilihat dari peningkatan pendapatan responden. Kategori tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:

  1) Pendapatan meningkat Dengan ada program pemberdayaan ekonomi tersebut pendapatan anggota meningkat maka program tersebut dapat dikatakan berhasil. Oleh karena itu, semakin banyak responden yang menyatakan pendapatannya meningkat semakin tinggi pula tingkat keberhasilan program tersebut. 2) Pendapatan tidak meningkat

  Dengan ada program pemberdayaan ekonomi tersebut pendapatan anggota tidak meningkat maka program tersebut dapat dikatakan tidak berhasil. Oleh karena itu, semakin banyak responden yang menyatakan pendapatannya tidak meningkat semakin rendah pula tingkat keberhasilan program tersebut.

  2. Uji Hipotesis

  a. Uji Prasyarat 1) Uji Normalitas

  Uji asumsi normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak. Jika nilai asymtot memiliki signifikansi lebih dari = 0,05 maka distribusi dapat dikatakan normal, dan jika nilai asymtot memiliki signifikansi lebih kecil dari = 0,05 berarti distribusi tersebut tidak normal.

  Dalam penelitian ini, uji normalitas dilakukan dengan

  5% atau 0,05. Jika signifikansi > 0,05 maka regresi yang digunakan memiliki data residual yang berdistribusi normal.

  Menurut Imam Ghozali dalam buku yang berjudul Statistik Non- Parametrik, rumus uji Kolmogrov-Sminov untuk normalitas sebagai berikut: Dimana: D : Deviasi maksimum

  Fo(Xi) : Fungsi distribusi frekuensi kumulatif yang ditentukan S N (Xi) : Distribusi frekuensi kumulatif yang diobservasi

  2) Uji Linieritas Uji linearitas digunakan untuk melihat apakah model yang dibangun mempunyai hubungan yang linear atau tidak. Model dibentuk berdasarkan tinjauan teoritis bahwa hubungan antara variabel independen dengan variabel dependennya adalah linear.

  Uji linearitas digunakan untuk mengkonfirmasi apakah sifat linear antar dua variabel yang diidentifikasikan secara teori sesuai dengan hasil observasi yang ada. Untuk menguji linieritas dapat melihat menggunakan Test for Linearity .

  Dua variabel dikatakan mempunyai hubungan yang linear bila signifikansi ( Deviation from Linearity ) lebih dari 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan apabila sig. Deviation from Linearity

  > 0,05 maka kedua variabel mempunyai hubungan yang linear sedangkan apabila sig. Deviation from Linearity < 0,05 maka

kedua variabel tidak mempunyai hubungan yang linear.

  b. Uji Hipotesis 1) Uji Asumsi Klasik

  Uji asumsi klasik bertujuan untuk mendeteksi ada tidaknya pelanggaran dalam regresi berganda. Uji asumsi klasik yang dilakukan adalah sebagai berikut:

  a) Uji Multikolinieritas Multikolinieritas merupakan suatu perselingkuhan atau hubungan antara variabel bebas yang satu dengan yang lain.

  Dalam hal ini variabel tersebut disebut variabel yang bersifat tidak ortogonal. Variabel yang bersifat tidak ortogonal tersebut merupakan variabel bebas yang korelasinya tidak sama dengan nol. Untuk mendeteksi masalah multikolinieritas dapat menggunakan rumus korelasi. Adapun rumus korelasi sebagai berikut (Sugiyono, 2010):

  Selanjutnya dengan program SPSS diadakan analisa

  collinerity statistics . Dari analisis collinerity statistics akan

  memperoleh VIF (Variance Inflation Factor). Dasar analisis yang digunakan yaitu jika tolerance lebih dari 0,1 dan VIF b) Uji Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas adalah suatu keadaan dimana varians dari kesalahan pengganggu tidak konstan untuk suatu variabel bebas. Untuk mendeteksi ada tidaknya masalah heteroskedastisitas digunakan uji Glejser dengan cara meregresikan antara variabel independen dengan nilai absolut residualnya. Jika signifikansi antara variabel independen dengan nilai absolut residualnya > 0,05 maka tidak terjadi masalah heteroskedastisitas, tetapi jika < 0,05 maka terjadi masalah heteroskedastisitas.

  c) Uji Autokorelasi Autokorelasi adalah suatu keadaan dimana keselahan pengganggu dari satu observasi terhadap observasi selanjutnya yang berurutan tidak berpengaruh atau tidak terjadi korelasi. Untuk mendeteksi ada tidaknya masalah autokorelasi dapat digunakan uji Durbin Watson dengan rumus sebagai berikut:

  Dimana: DW : nilai Durbin Watson e t : gangguan estimasi t : observasi terakhir t - 1 : observasi sebelumnya

  Untuk memperoleh kesimpulan apakah ada masalah autokorelasi atau tidak, hasil hitungan statistik DW harus dibandingkan dengan tabel statistik. Namun secara umum dapat diberi patokan sebagai berikut: (1) dU < DW < 4 diterima (tidak ada

  • – dU maka H autokorelasi)

  (2) DW < dL atau DW > 4 ditolak (terjadi

  • – dL maka H autokorelasi)

  (3) dL < DW < dU atau 4

  • – dU < DW < 4 – dL maka tidak ada keputusan yang pasti

  Apabila tidak ada penyimpangan satu atau lebih asumsi klasik, maka analisis regresi linier berganda dapat dilanjutkan.

  Namun apabila terjadi penyimpangan satu atau lebih asumsi klasik, maka analisis regresi linier berganda tidak dapat dilanjutkan. 2) Analisis Regresi Berganda

  Analisis regresi berganda digunakan untuk mengetahui ada tidaknya kontribusi antara status sosial masyarakat, partisipasi masyarakat dan pemahaman masyarakat terhadap keberhasilan program pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada.

  Untuk mencari persamaan regresi adalah sebagai berikut (Sugiyono, 2010):

  Keterangan: Y : keberhasilan program pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada b

  1 ,b 2 ,b

3 : koefisien garis regresi

  X

  1 : status sosial masyarakat

  X

  2 : partisipasi masyarakat

  X : pemahaman masyarakat

  3

  a : konstanta 3) Uji F

  Pengujian signifikansi terhadap koefisien korelasi ganda dapat menggunakan uji F dengan rumus (Sudjana, 2005): Keterangan:

  F = koefisien korelasi ganda k = jumlah variabel independen n = banyaknya anggota sampel

  a) Pembuktian hipotesis ini dengan menggunakan teknik regresi dengan bantuan program SPSS versi 16.

  (1) Kontribusi status sosial ekonomi anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada

  H : tidak ada kontribusi dan signifikan antara status sosial ekonomi anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada

  H a : ada kontribusi dan signifikan antara status sosial ekonomi anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada.

  (2) Kontribusi partisipasi anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada

  H : tidak ada kontribusi dan signifikan antara partisipasi anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada

  H a : ada kontribusi dan signifikan antara partisipasi anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada. (3) Kontribusi pemahaman anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR

  Sarihusada H : tidak ada kontribusi dan signifikan antara pemahaman anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada

  H

  a

  : ada kontribusi dan signifikan antara pemahaman anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada. (4) Kontribusi status sosial ekonomi, partisipasi dan pemahaman anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada H : tidak ada kontribusi dan signifikan antara status sosial ekonomi, partisipasi dan pemahaman anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada

  H

  a

  : ada kontribusi dan signifikan antara status sosial ekonomi, partisipasi dan pemahaman anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada.

  b) Menentukan level of significant (a) = 5% dengan level of

  confidance sebesar 95% dengan degree of freedom (df) = n-k

  c) Menentukan daerah penerimaan dan penolakan hipotesis dengan kriteria sebagai berikut: H ditolak jika = F hitung < F tabel

  a, n-k H a diterima jika = F hitung < F tabel

  a, n-k

  d) Menarik kesimpulan dengan membandingkan hasil dari, kemudian tentukan daerah penerimaan dan penolakannya. partisipasi dan pemahaman anggota berkontribusi positif terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada.

  

BAB IV

GAMBARAN UMUM A. Rumah Srikandi Pada awalnya, Rumah Srikandi adalah program dari Corporate Sosial Responsibility PT. Sarihusada. Namun terdapat perbedaan yang ada Rumah Srikandi Badran. Rumah Srikandi Badran merupakan program sinergis antara Corporate Sosial Responsibility PT. Sarihusada dengan Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU. Program CSR Sarihusada lebih berperan sebagai pemberi bantuan berupa

  dana untuk kelancaran program tersebut. Secara periodik, CSR Sarihusada memberikan pengawasan terhadap kelancaran program dengan cara ikut dalam beberapa program dan lain sebagainya. Sedangkan Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU lebih berperan untuk memberikan pendampingan program guna kelancaran program tersebut. Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU tidak hanya mendampingi salah satu kegiatan dalam Rumah Srikandi, namun Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU mendampingi di seluruh kegiatan dalam program tersebut.

  Dalam program tersebut terdapat tiga pilar utama CSR PT. Sarihusada, yaitu peningkatan kualitas gizi balita serta peningkatan keilmuan dan kesadaran tentang gizi balita bagi orangtua dan Kader Posyandu PKK RW XI Badran (bidang kesehatan), pengkapasitasan program pendidikan Anak Usia

  1. Bidang Kesehatan Bentuk nyata dalam bidang ini adalah peningkatan kualitas gizi balita serta peningkatan keilmuan dan kesadaran tentang gizi balita bagi orangtua dan Kader Posyandu. Kegiatan tersebut dilakukan sekali dalam sebulan yang biasanya dilaksanakan pada tanggal 18 setiap bulannya bertempat di Rumah Srikandi. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh balita yang ada di Kampung Badran RW XI.

  2. Bidang Pendidikan Program tersebut berbentuk pengkapasitaan program pendidikan

  Anak Usia Dini (PAUD). Kegiatan dilakukan sekali dalam satu minggu yang biasanya dilakukan pada hari minggu dan bertempat di balai RT 48.

  Pengajar dalam kegiatan tersebut sebagian adalah ibu-ibu PKK RW XI serta didampingi oleh Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU.

  3. Bidang Perekonomian Program tersebut difokuskan untuk penguatan kapasitas koperasi atau lembaga keuangan mikro yang ada di kampung Badran.

  Diharapkan dengan adanya progam tersebut dapat mengembangkan potensi ekonomi dan usaha lokal yang telah ditekuni oleh masyarakat.

  Namun ketiga pilar utama CSR tersebut tidak dilaksanakan secara bersama-sama. Dalam pelaksanaan program, terdapat beberapa tahapan program yaitu:

  1. Rumah Srikandi Tahap I Tahap ini berjalan pada tahun 2010-2011. Dalam tahap ini, berhasil memetakan kondisi masyarakat Kampung Badran, memberikan pelayanan gizi, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Kegiatan dalam tahapan ini seperti pelayanan gizi, demo masak, pelatihan kader posyandu, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), pelatihan pengelolaan PAUD, proses pembelajaran PAUD. Secara keseluruhan kegiatan tersebut diminati masyarakat terutama kaum ibu. Mereka menyadari akan pentingnya asupan gizi balita, PAUD bagi anak-anak pra sekolah.

  2. Rumah Srikandi Tahap II Kegiatan ini dilaksanakan tahun 2011- 2012, kegiatan ini bertujuan untuk meyiapkan kemandirian bagi pengelola maupun masyarakat setempat. Pada tahap ini, telah memiliki tiga bidang pengembangan, yaitu pendidikan, gizi dan pemberdayaan ekonomi. Kegiatan tersebut berlangsung di RW 11 Badran, Bumijo Kota Yogyakarta.

  Pada program pendidikan, Rumah Srikandi memfokuskan pada perbaikan kualitas pembelajaran dan pengelolaan PAUD. Program tersebut dilaksanakan melalui beberapa program seperti FGD, Diklat PAUD, studi banding, magang, parenting education dan lain sebagainya. Rumah Srikandi mengarahkan dan melakukan pendampingan secara intensif dan kontinyu terhadap kader-kader PAUD. Kader-kader yang terjun dalam pembelajaran namun belum memiliki skill mengajar dan keilmuan di intensif. Oleh karena itu diharapkan kader-kader PAUD akan lebih baik dan terampil.

  Program pemberian gizi rumah Srikandi difokuskan pada pendampingan pelaksanaan Posyandu dan pemanfaatan bahan pangan lokal. Program tersebut berisi pemberian PMTP dan susu, Pelatihan kader gizi, Demo masak, pendampingan balita gizi buruk dan gizi kurang, edukasi dan pendampingan pemanfaatan potensi pangan lokal untuk mengatasi permasalahan gizi. Selain itu, berbagai program gizi juga mendorong ibu-ibu balita untuk mengenal tumbuh kembang anak melalui program demo masak mengolah bahan pangan lokal di daerah Badran dan penyuluhan gizi. Melalui berbagai program tersebut diharapkan dapat mengurangi gizi balita yang berstatus buruk dan kurang.

  Dalam bidang pemberdayaan ekonomi difokuskan kepada penguatan kapasitas koperasi atau lembaga keuangan mikro yang sebelumnya telah dirintis. Namun pemberdayaan ekonomi tersebut sempat tidak terurus dikarenakan minimnya dana dan tidak ada pendamingan intensif yang mengakibatkan kapasitas masing-masing anggota tidak dapat digunakan secara maksimal. Oleh karena itu, melalui program tersebut diharapkan penguatan koperasi dapat mengembangkan potensi ekonomi dan usaha lokal yang telah ditekuni oleh masyarakat.

B. Pemberdayaan Ekonomi

  Pemberdayaan ekonomi merupakan salah satu program yang dicanangkan oleh Rumah Srikandi Badran. Program ini termasuk dalam pelaksanaan program tahap II. Oleh karena itu wajar jika dalam pencapaiannya masih di bawah program-program lain yang notabennya lebih dulu dilaksanakan.

  Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat melalui pemberian pinjaman dengan bunga pinjaman yang kecil. Untuk kedepannya, bunga pinjaman dapat digunakan menambah kuota pinjaman atau membangun sarana prasarana warga sehingga kesejahteraan masyarakat meningkat. Namun pada kenyataannya terdapat beberapa kredit macet sehingga kuota pinjaman pun semakin kecil. Kredit macet tersebut disebabkan pemahaman anggota tentang pinjaman belum sepenuhnya mengerti. Mereka menganggap bahwa pinjaman tersebut dihibahkan kepadanya sehingga tidak ada kewajiban untuk mengembalikan.

  Setiap anggota dalam pemberdayaan ekonomi tersebut mendapatkan pinjaman. Namun ada pula anggota yang tidak memanfaatkan pinjaman tersebut sehingga pinjaman yang seharusnya mereka miliki dapat dialihkan oleh anggota lainnya. Dalam penyaluran pinjaman tersebut pengurus atau pengelola pemberdayaan ekonomi tidak mempertimbangkan karakter responden. Pengurus atau pengelola hanya berpatokan apabila orang tersebut adalah anggota program maka orang tersebut layak untuk memperoleh

  Untuk saat ini program hanya diperuntukkan untuk para kader RW XI. Namun untuk kedepannya program tersebut akan bisa dimanfaatkan oleh seluruh warga RW XI. Adanya wacana untuk mengabungkan beberapa kelompok perekonomian yang ada pada RW XI tetapi hal tersebut belum dapat direalisasikan sebab masih terdapat berbagai tentangan dari masyarakat sendiri.

  Pertemuan anggota dilakukan setiap tanggal 25 pada setiap bulannya. Pada pertemuan tersebut biasanya dilakukan pencicilan pinjaman dan menabung. Oleh karena itu, anggota yang tidak berangkat dalam pertemuan cenderung tidak memberikan cicilan dan menabung. Untuk mengembangkan program ini, akan dilaksanakan percepatan layanan, cicilan dapat dilalukan secara harian dan mengajak warga untuk semakin banyak menabung. Hal tersebut bertujuan untuk menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan ke masyarakat lain.

  Dalam pemberdayaan ekonomi tersebut terdapat program pendampingan yang dilakukan oleh Lembaga Kemanusian Nasional PKPU.

  Pendampingan tersebut dilakukan pada saat pertemuan. Pada saat pertemuan tersebut, petugas dari Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU juga ikut menghadiri dan memberikan masukan mengenai perkembangan program. Namun dirasa pendampingan seperti tersebut masih kurang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Masyarakat membutuhkan pendampingan secara menyeluruh tidak hanya pada saat pertemuan.

  Anggota dalam program pemberdayaan ekonomi ini terdiri dari para kader dan pejabat setiap RT di kampung Badran RW XI. Pada awal pendirian terdapat 43 anggota, namun saat ini tercatat jumlah anggota sebanyak 40. Perbedaan jumlah anggota tersebut disebabkan penggantian anggota selama program berjalan seperti pengunduran diri dan pemasukkan anggota baru serta terdapat anggota yang meninggal.

C. Kampung Badran

  1. Letak dan Luas Wilayah Kampung Badran terletak 2,45 KM di sebelah barat laut Kraton

  Yogyakarta, dan termasuk dalam kelurahan Bumijo, kecamatan Jetis, kotamadya Yogyakarta. Di sebelah utara dibatasi oleh Kampung Pingit, di sebelah timur dibatasi oleh Jalan Tentara Rakyat Mataram, di sebelah barat dibatasi oleh sungai Winongo, dan di sebelah selatan dibatasi oleh rel kereta api yang memisahkannya dari kelurahan Pringgo Kusuman.

  Kampung Badran terdiri dari 4 RW, yaitu RW 09, RW 10, RW 11dan RW 12. Wilayah RW 11 sendiri termasuk wilayah utara dari kampung Badran, di mana dua RW lainnya menjadi batas selatan dari RW ini. Secara administratif, RW 11 terdiri dari 5 RT, yaitu RT 47 – RT 51. Terdapat penggolongan wilayah secara informal yang dilakukan penduduk setempat, yaitu RT bawah yang terdiri dari RT-RT yang secara geografis berbatasan langsung dengan sungai Winongo (meliputi RT 47, RT 48, dan dengan Sungai Winongo dan lebih dekat dengan jalan raya (meliputi RT 50 dan RT 51).

  Beberapa gedung pemerintah (BPPM, BKPMD, BLH) dan lembaga pendidikan (AKPER, Universitas Janabadra) berdiri di sepanjang Jalan Tentara Rakyat Mataram yang merupakan jalan raya padat lalu lintas terdekat dengan wilayah RW 11. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah RW 11 merupakan wilayah yang strategis bagi perkantoran. Adapun luas RW 11 Badran mencakup ± 12,34 Ha.

  2. Topografi dan Keadaan Tanah RW 11 Badran merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian

  118 –141 m dari permukaan laut dan curah hujan 2000 – 3000 mm/tahun. Tanah di wilayah RW 11 Badran cukup gembur dan tergolong cocok untuk bercocok tanam. Daerah ini juga sebagian besar berada di wilayah bantaran sungai Winongo, khususnya termasuk daerah hulu yang mempunyai karakteristik tepian berupa terbing terjal. Maka, tidak heran jika pembangunan yang tampak di sekitar bantaran sungai adalah pembangunan talud/tebing beton, walaupun hal ini baru terlaksana di sebagian wilayah saja.

  3. Kepengurusan Pengurus RW 11 Badran periode 2012

  • – 2015 ( hasil pemilihan langsung tanggal 18 Maret 2012 ) sebagai berikut :

  a. Ketua RW : Joko Sularno c. Bendahara I : Partini Susilo d. Sie Keamanan : Sutrisno, Supriyadi, S.H.

  e. Sie Pembangunan dan LH : Narjo Utomo, Mujayakir, Slamet Swasto dan Wiyono

  f. Sie Kesejahteraan Sosial : Daliyo, Edi Mugiarto

  g. Sie Seni dan Budaya : Bintoro, Ngadimin

  h. Sie Pemuda dan OR : Tejo Imam Sadewo, Eksa Saputra i. Sie HUMAS : Rusmiyatun j. Sie Pemberdayaan Potensi Wilayah : Heni Prasetiani dan Maryani

  4. Perhubungan RW 11 Badran terletak persis di sebelah barat Jalan Tentara Rakyat

  Mataram yang merupakan salah satu jalan utama di kotamadya Yogyakarta. Jalan raya ini merupakan jalur penghubung utama RW 11 dengan wilayah lain, sehingga arah mobilisasi utama cenderung ke arah timur. Penduduk yang hendak menjangkau wilayah di sebelah barat sungai Winongo biasanya melewati sebuah jembatan kayu kecil satu jalur yang hanya dapat dilalui dengan jalan kaki. Alternatif lainnya adalah harus memutar jauh ke utara terlebih dahulu jika hendak bepergian dengan kendaraan bermotor. Jembatan kecil yang tidak memungkinkan bagi penduduk untuk berjalan berpapasan serta rute jalan darat yang merepotkan menyebabkan kurangnya aksesibilitas bagi warga di timur dan

  Jalan di RW 11 Badran sebagian besar berupa gang-gang yang hanya dapat dilalui kendaraan roda dua dan roda tiga. Gang-gang inilah yang menjadi jalur perhubungan utama antar RT. Sedangkan, jalan yang dapat dilalui kendaraan roda empat hanya sebanyak 3 buah dengan panjang masing-masing sekitar 100 m. Sisanya adalah jalan kecil antar rumah yang hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki. Kondisi ini akan sangat menghambat seandainya terjadi bencana (misalnya kebakaran), yaitu pada proses penanganan dan evakuasi, karena daerah pinggir sungai relatif sulit terjangkau dari jalan raya. Upaya perangkat wilayah dan beberapa lembaga yang sedang menggalakkan adanya ruang terbuka hijau (RTH) di pinggir sungai juga dikhawatirkan tidak mencapai hasil yang optimal karena keterjangkauan wilayah yang rendah ini tentunya akan menghambat warga luar yang hendak berkunjung ke RW 11.

  5. Penduduk Jumlah penduduk RW 11 Badran sebanyak 1.074 orang dengan 342 kepala keluarga dengan rincian yang digolongkan menurut jenis kelamin sebagai berikut :

  Tabel IV.1 Jumlah Penduduk RW 11 Badran Jenis Kelamin RT 47 RT 48 RT 49 RT 50 RT 51 Jumlah

  Laki-laki 113 119 131 31 67 511

  Perempuan 132 119 145 68 99 563

  Total 245 238 276 149 166 1074

  RW 11 Badran terdiri dari 342 KK (kepala keluarga) dengan jumlah anggota keluarga 3

  • – 4 orang per KK.

  6. Mata Pencaharian Pada umumnya, mata pencaharian penduduk RW 11 Badran adalah pegawai swasta, tetapi sebagian kecil ada yang berwiraswasta dan buruh.

  3

  1

  15 Masih SMA

  15

  26

  57

  19

  8 Tamat SMP

  10

  7

  13

  3

  27 Masih SMP

  11

  46

  26

  17

  8 Tamat SD

  8

  12

  21

  5 Tamat kuliah

  1

  26

  3

  16 Tidak pernah sekolah

  33

  17

  7

  1

  8

  6 Tamat SMA

  7

  3

  1

  38 Masih kuliah

  31

  51

  53

  21

  1

  31

  Hal ini dapat dilihat dalam tabel di bawah ini :

  45

  18

  3 Usaha sendiri 166 27 144

  6

  3

  3

  21 Petani Nelayan Pensiunan

  22

  3

  28

  17

  4 Pegawai swasta

  13

  6

  1

  3

  Pegawai pemerintah

  Tabel IV.2 Mata Pencaharian Penduduk RW 11 Badran Pekerjaan RT 47 RT 48 RT 49 RT 50 RT 51

  15 Tidak bekerja 35 122

  70

  9

  22

  16 Tidak tamat SD

  14

  25

  22

  6

  23 Masih SD

  17

  24

  11

  81 Lain-lain

  Belum sekolah

  Tabel IV.3 Pendidikan Penduduk RW 11 Badran Pendidikan RT 47 RT 48 RT 49 RT 50 RT 51

  7. Pendidikan Tingkat pendidikan masyarakat RW 11 Badran relatif baik, sebagaimana terlihat pada tabel berikut :

  42

  20

  53

  89

  21

  3

  8. Sosial, Budaya, dan Ekonomi Kehidupan sosial warga RW 11 Badran termasuk aktif dan banyak kegiatan. Kelompok yang paling utama adalah PKK yang terdapat di tingkat RW maupun RT. Kegiatan kelompok PKK terwujud melalui Dasawisma, PAUD (setiap hari Minggu, bertempat di balai RT 48), Posyandu lansia (2 bulan sekali), Posyandu anak-anak (setiap tanggal 18, bertempat di Rumah Srikandi), serta kelompok KB Apsari (Aseptor Lestari) yang mempunyai jadwal rutin sebulan sekali.

  Untuk menangani masalah sampah dan lingkungan, telah berdiri kelompok Lintas Winongo yang salah satu kegiatannya adalah pengelolaan sampah secara mandiri melalui bank sampah di kantor BKKKS. Kelompok ini mempunyai jadwal pertemuan rutin setiap tanggal 4 dengan tempat yang ditentukan secara bergilir tiap RT.

  Di bidang pendidikan dan a gama, terdapat PKBM “Griya Mandiri”, “Perpustakaan Bodronoyo”, serta kelompok pengajian dan TPA.

  Kelompok pengajian terdiri dari tiga kelompok, yaitu kelompok Khaerunnisa (di masjid At Taqwa, setiap Jumat sore), kelompok Thoriqul Zannah (di masjid Al Huda, setiap Kamis malam), dan kelompok Al Ma’wa (bergilir antara masjid At Taqwa dan masjid Al Huda, setiap Selasa malam). Adapun kelompok TPA yang ada di RW 11 Badran adalah kelompok TPA “Jampi Stress” yang berkegiatan setiap hari, mulai Senin hingga Jumat.

  Di RW 11 Badran terdapat minimal 2 kelompok seni yang aktif dalam bidang seni musik dan tari. Pertama, kesenian jathilan yang beranggotakan ± 10 orang dan telah mempunyai jadwal tetap untuk bermain di area benteng Vredeburg setiap hari Sabtu, serta selebihnya mengamen keliling pada hari-hari biasa. Kedua, kesenian siteran dengan anggota 5

  • – 6 orang yang telah mempunyai jadwal tetap untuk bermain di Mirota Batik setiap hari Sabtu, dan selebihnya juga mengamen keliling pada hari-hari biasa. Ketiga, kesenian gejlog lesung yang beranggotakan ibu-ibu dan anak-anak RW 11.

  Ada pula kelompok kegiatan yang bergerak dalam bidang ekonomi, misalnya kelompok Panca Arta dan Griya Rumpun yang mengakomodasikan usaha simpan-pinjam dan mempunyai agenda pertemuan setiap 1 bulan sekali. Selain itu, ada pula kelompok jahit “Sartika” yang mempunyai jadwal kegiatan setiap hari Sabtu dan jadwal pertemuan setiap tanggal 7.

  9. Sarana Publik Sejauh pengamatan, RT yang mempunyai balai sebagai pusat kegiatannya adalah RT 47, RT 48, dan RT 49. RT 50 dan RT 51 tidak mempunyai balai, namun kegiatannya biasanya dilaksanakan di kantor BKKKS yang berlokasi di RT 51, yang juga sering digunakan sebagai balai RW.

  Untuk sarana kebersihan, secara total RW 11 Badran mempunyai 5 dan RT 49. MCK umum di RT 47 sebanyak 1 buah dan digunakan oleh sekitar 10 KK; MCK umum di RT 48 sebanyak 2 buah dan digunakan oleh sekitar 30 KK; sedangkan MCK umum di RT 49 sebanyak 2 buah dan digunakan oleh sekitar 10 KK. Ketiganya terkelola dengan baik, terutama MCK umum di RT 48 karena ada iuran untuk membayar biaya listrik juga. Dua RT sisanya (RT 50 dan RT 51) tidak mempunyai MCK umum karena telah mempunyai sarana MCK pribadi di masing-masing rumah.

  Untuk tempat bermain anak, sejauh ini hanya dua RT yang mempunyai ruang untuk kebutuhan tersebut, yaitu di RT 49 yang merupakan halaman samping dari PKBM, serta di RT 47 yang tepatnya berlokasi di taman pinggir kali dan kolam renang anak. RW 11 Badran mempunyai 3 buah perpustakaan, yaitu di RT 49 (atas nama PKBM), dan di RT 51 TBM Bodronoyo (atas nama RW 11) pengelolaannya cukup baik.

  Untuk sarana publik lainnya, RW 11 Badran memiliki 2 buah masjid (At Taqwa dan Al Hijrah) serta sebuah musholla (Al Huda). Mengenai mading atau tempat baca koran umum, hanya tiga RT yang memiliki fasilitas tersebut, yaitu RT 47, RT 48, RT 49 dan RT 50. Untuk RT 51 akses informasinya dapat melalui RT yang terdekat misalnya di wilayah RT 47 dan 50.

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April dengan objek penelitian

  program pemberdayaan ekonomi di Rumah Srikandi. Responden dalam penelitian ini adalah seluruh anggota dalam program pemberdayaan ekonomi tersebut.

  Kuesioner yang disebarkan sebanyak 40 eksemplar kepada 40 anggota pemberdayaan ekonomi Rumah Srikandi. Kuesiner tersebut dapat dikatakan reprosentase 100%. Berdasarkan jawaban 40 responden, semua pernyataan diisi secara lengkap.

  Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui ada atau tidak kontribusi status sosial ekonomi (X1), partisipasi (X2) dan pemahaman anggota (X3) terhadap tingkat keberhasilan program pemberdayaan ekonomi (Y). Berdasarkan koesioner yang diisi oleh responden dapat dilakukan analisis kuantitatif yang terdiri dari karakteristik responden meliputi jenis kelamin dan usia. Serta analisis kuantitatif yang terdiri dari uji validitas instrumen, uji reliabilitas, uji prasyarat, uji asumsi klasik dan uji analisis regresi berganda.

A. Deskripsi Responden

  Berdasarkan kuesioner yang disebar, diperoleh data mengenai beberapa karakteristik yaitu jenis kelamin, umur, alamat, status sosial ekonomi, partisipasi, pemahaman dan tingkat keberhasilan program pemberdayaan ekonomi.

  1. Deskripsi Data tentang Karakteristik Responden

  Tabel V.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Persentase

  Pria 10 25% Wanita 30 75%

  Total 40 100% Sumber: data primer,2013

  Berdasarkan tabel di atas, jumlah anggota wanita lebih mendominasi dalam program tersebut. Jumlah anggota yang berjenis kelamin wanita sebanyak 30 atau setara dengan 75% dari total seluruh anggota. Sedangkan sisanya yang berjumlah 10 atau setara dengan 25% adalah anggota yang berjenis kelamin pria. Terdapat kemungkinan bahwa program tersebut ditujukan kepada para wanita karena sebagian besar pria atau kepala rumah tangga bekerja dan telah memiliki penghasilan. Oleh karena itu program tersebut dirasa kurang cocok.

  Tabel V.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Umur Jumlah Persentase

Responden Responden

  26 2 5%

  • – 35

  36 17 42,5%

  • – 45

  Total 40 100% Sumber: data primer, 2013

  Berdasarkan tabel di atas, sebagian besar responden berumur antara

  36

  • – 45 tahun yang berjumlah 17 responden atau setara dengan 42,5% dari
  • – total keseluruhan responden. Namun jumlah responden yang berumur 46 55 tahun pun banyak, yaitu berjumlah 16 responden atau setara dengan 40% dari total keseluruhan responden.

  Melihat penjabaran di atas, dapat dikatakan bahwa seluruh responden berada dalam umur produktif sehingga dianjurkan memiliki penghasilan. Dengan adanya program tersebut diharapkan dapat dapat menambah penghasilan tersebut. Namun sebagian besar responden hampir berada dalam usia produktif tingkat akhir. Oleh karena itu dibutuhkan regenerasi untuk kelanjutan program tersebut.

  2. Deskripsi tentang Status Sosial Ekonomi Responden Status sosial ekonomi merupakan posisi atau kedudukan seseorang dalam suatu kelompok masyarakat. Indikator dalam status sosial ekonomi meliputi: pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan status rumah yang ditempati.

  Hasil perhitungan dengan bantuan komputer SPSS menunjukan tabel distribusi frekuensi mengenai pendidikan responden dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

  Tabel V.3

Distribusi Frekuensi mengenai Pendidikan Responden

  82.5 Perguruan Tinggi (D3, S1, S2, S3)

  40.0

  40.0

  16

  Pekerjaan Responden Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid Pensiunan, Tidak mempunyai pekerjaan

  Tabel V.4

Distribusi Frekuensi mengenai Pekerjaan Responden

  Tabel distribusi frekuensi mengenai pekerjaan responden dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

  Melihat tabel distribusi mengenai pendidikan responden menyatakan bahwa sebagian besar responden tamat Sekolah Menengah Atas (SMA). Responden yang tamat SMA sebanyak 24 responden atau sebesar 60% dari total responden. Hal tersebut menggambarkan responden telah memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi. Sebagian besar responden telah menamatkan 12 tahun wajib belajar yang telah dirintis oleh pemerintah.

  Sumber: data diolah, 2013

  17.5 17.5 100.0 Total 40 100.0 100.0

  

7

  60.0

  Pendidikan Responden Frequency Percent Valid Percent Cumulative

  60.0

  

24

  22.5 Sekolah Menengah Atas (SMA)

  15.0

  15.0

  

6

  7.5 Sekolah Menengah Pertama (SMP)

  7.5

  7.5

  

3

  Percent Valid Sekolah Dasar (SD)

  40.0 Buruh nelayan, Buruh tani, Petani kecil, Penebang kayu, Petani penyewa, Buruh tidak

  1

  2.5

  2.5

  42.5 tetap, Penarik becak, Pembantu, Penjual keliling, Tukang cuci Seniman, Buruh tetap, Montir, Pandai besi, Penjahit, Sopir

  1

  2.5

  2.5

  45.0 bus/colt, Tukang kayu, Tukang listrik dan Tukang mesin Pemilik bus/colt, Pengawas keamanan, Petani pemilik tanah, pegawai sipil (ABRI), Mandor, Pemilik

  16

  40.0

  40.0

  85.0 perusahaan/toko/pabrik, Pedagang, Pegawai kantor, Peternak, Tuan tanah ABRI (Tamtama s/d Bintara), pegawai badan hukum, Kepala kantor pos cabang, Manajer perusahaan kecil, Supervisor/pengawas, Pamong

  6

  15.0 15.0 100.0 Praja, Guru SD, Kepala bagian, Pegawai negeri sipil (Golongan

  I A s/d I D), Guru SMA/SMP, Perawat, Pekerja sosial, Perwira ABR Total

  40 100.0 100.0 Sumber: data diolah, 2013

  Melihat tabel distribusi frekuensi di atas menyatakan bahwa sebagian besar responden pensiunan atau tidak memiliki pekerjaan berjumlah 16 responden atau sebesar 40 % dari total responden. Nilai tersebut sama dengan responden yang bekerja sebagai Pemilik bus/colt, Pengawas keamanan, Petani pemilik tanah, pegawai sipil (ABRI), Mandor, Pemilik perusahaan/ toko/ pabrik, Pedagang, Pegawai kantor, Peternak atau Tuan tanah yang memiliki frekuensi sebanyak 16 responden.

  Hal tersebut menunjukkan banyak responden yang sudah memiliki pekerjaan namun masih banyak pula responden yang tidak memiliki pekerjaan. Dengan demikian wajar jika kesejahteraan masyarakat khususnya responden cenderung berada pada tingkat menengah kebawah.

  Apabila dilihat dari segi penghasilan yang diterima responden setiap bulannya, mereka memiliki penghasilan yang sangat rendah. Sebab sebagian besar responden memiliki pendapatan di bawah UMK (upah minimum Kota/Kabupaten) DI. Yogyakarta. Hal tersebut terlihat dari tabel distribusi frekuensi sebagai berikut:

  Tabel V.5

  Distribusi Frekuensi mengenai Penghasilan Responden Penghasilan Responden Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid < Rp 1.100.000,00

  25

  62.5

  62.5

  62.5 Rp 1.100.000,00 - Rp

  7

  17.5

  17.5

  80.0 1.650.000,00 Rp 2.200.000,00 - Rp

  1

  2.5

  2.5

  82.5 2.750.000,00 > Rp 2.750.000,00

  7

  17.5 17.5 100.0 Total 40 100.0 100.0

  Sumber: data diolah, 2013

  Tabel tersebut menyatakan bahwa sebanyak 25 responden menyatakan memiliki jumlah penghasilan kurang dari Rp 1.100.000,00 responden memiliki penghasilan di bawah UMK sehingga dapat disimpulkan bahwa mereka masih mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan minimumnya. Oleh karena itu kesejahteraan mereka pun dapat dikatakan masih rendah.

  Melihat dari status kepemilikan rumah yang ditempati oleh responden, sebagian besar responden menyatakan rumah tersebut adalah milik responden. Hal tersebut dapat terlihat dari tabel distribusi frekuensi sebagai berikut:

  Tabel V.6 Distribusi Frekuensi mengenai Kepemilikan Rumah Responden Status Kepemilikan Rumah Responden Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid Sewa

  

1

  2.5

  2.5

  2.5 Kontrak

  

2

  5.0

  5.0

  7.5 Rumah Dinas

  

2

  5.0

  5.0

  12.5 Milik Keluarga

  12

  30.0

  30.0

  42.5 Milik Sendiri

  23

  57.5 57.5 100.0 Total 40 100.0 100.0

  Sumber: data diolah, 2013

  Sebanyak 23 responden atau sebesar 57,5% dari total responden menyatakan bahwa rumah yang mereka tempati adalah milik mereka sendiri. Oleh karena itu mereka tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar sewa atau kontrak setiap bulannya sehingga tidak ada pengurangan pendapatan yang di poskan untuk pengeluaran tersebut.

  Melalui indikator-indikator tersebut dapat dilihat status sosial ekonomi yang dimiliki oleh responden. Hasil perhitungan dengan bantuan komputer SPSS versi 16 menunjukan bahwa distribusi frekuensi dan penilaian variabel status sosial ekonomi dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

  Tabel V.7 Distribusi Frekuensi Kategori Status Sosial Ekonomi SSE Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid Rendah

  

8

  20.0

  20.0

  20.0 Sedang

  

26

  65.0

  65.0

  85.0 Tinggi

  

6

  15.0 15.0 100.0 Total 40 100.0 100.0

  Sumber: data diolah, 2013

  Berdasarkan tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden memiliki status sosial ekonomi sedang. Hal ini ditunjukkan dari jumlah responden yang menunjukkan bahwa memiliki status sosial ekonomi sedang berjumlah 26 responden atau sebesar 65%.

  Sedangkan jumlah responden yang menyatakan memiliki status sosial ekonomi rendah berjumlah 8 responden atau 20% dan responden yang memiliki status sosial ekonomi tinggi berjumlah 6 responden atau 15%.

  Sebagian besar responden memiliki status sosial ekonomi sedang. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa sebagian besar responden anggota- anggota dalam program pemberdayaan ekonomi tersebut memiliki pendidikan, pekerjaan, penghasilan dan status kepemilikan rumah yang

  Melihat uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa anggota pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada cenderung memiliki status sosial ekonomi menengah ke bawah. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah anggota yang memiliki status sosial ekonomi tinggi lebih sedikit. Padahal program CSR khususnya pemberdayaan ekonomi pada awalnya ditujukan bagi masyarakat yang memiliki status sosial ekonomi rendah. Oleh karena itu, program tersebut dapat dikatakan salah sasaran.

  3. Deskripsi tentang Partisipasi Responden Partisipasi merupakan proses keikutsertaan masyarakat dalam suatu kegiatan baik secara aktif maupun pasif. Indikator dalam variabel ini adalah frekuensi anggota mengikuti rapat atau pertemuan, frekuensi anggota dalam memberikan saran atau usulan, frekuensi anggota dalam memanfaatkan fasilitas tabungan dan frekuensi anggota dalam memanfaatkan fasilitas pinjaman.

  Hasil perhitungan dengan bantuan komputer SPSS versi 16 menunjukan bahwa distribusi frekuensi dan penilaian variabel partisipasi responden dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

  Tabel V.8 Distribusi Frekuensi Kategori Partisipasi Partisipasi Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid Rendah

  6

  15.0

  15.0

  15.0 Tinggi

  5

  12.5 12.5 100.0 Total 40 100.0 100.0

  Sumber: data diolah, 2013

  Berdasarkan tabel di atas, sebagian besar responden menyatakan bahwa memiliki partisipasi sedang. Hal tersebut ditunjukkan dengan jumlah responden yang menyatakan memiliki tingkat partisipasi sedang berjumlah 29 responden atau setara dengan 72,5% dari total responden.

  Sedangkan responden yang memiliki partisipasi rendah berjumlah 6 responden atau 15% dan responden yang memiliki partisipasi tinggi berjumlah 5 responden atau 12,5% dari total responden.

  Sebagian besar responden menyatakan bahwa memiliki partisipasi sedang. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa mereka tidak selalu mengikuti kegiatan rapat atau pertemuan, kurang aktif memberikan saran atau usulan, kurang memanfaatkan fasilitas tabungan dan pinjaman namun masih dalam koridor sedang.

  Beberapa responden menyatakan bahwa mereka memiliki partisipasi tinggi dan rendah. Namun hal tersebut hanya berjumlah kecil sebab kurang dari setengah total responden. Responden yang menyatakan memiliki partisipasi rendah pun lebih kecil daripada responden yang menyatakan memiliki partisipasi tinggi. Responden yang masuk dalam kategori tersebut dapat dideskripsikan sebagai responden yang memiliki partisipasi dalam hal mengikuti kegiatan rapat atau pertemuan, memberikan saran atau usulan, memanfaatkan fasilitas tabungan dan

  Sebagian besar anggota pemberdayaan ekonomi dalam program

  CSR Sarihusada masih memiliki partisipasi yang sedang. Tentu saja

  partisipasi tersebut masih dapat ditingkatkan sampai dengan memiliki partisipasi yang tinggi. Usaha yang dapat ditempuh dengan cara mengajak para anggota untuk lebih aktif sehingga keberhasilan program pun akan lebih maksimal. Oleh karena itu, keberhasilan program saat ini belum maksimal dan masih bisa dioptimalkan lagi.

  Dalam pemberdayaan ekonomi tersebut, ada dua fasilitas yang ditawarkan bagi anggotanya. Fasilitas tersebut adalah tabungan dan pemberian tabungan bagi anggota. Dengan adanya fasilitas tersebut diharapkan kesejahteraan masyarakat khususnya anggota semakin meningkat. Namun dalam prakteknya, ada beberapa anggota yang tidak memanfaatkan fasilatas tersebut. Adapun output yang menunjukkan pemanfaatan fasilitas oleh anggota adalah sebagai berikut:

  Tabel V.9 Pemanfaatan Fasilitas Tabungan Oleh Responden Memanfaatkan Tabungan Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid Tidak Menabung

  3

  7.5

  7.5

  7.5 Menabung

  37

  92.5 92.5 100.0 Total 40 100.0 100.0

  Sumber: data diolah, 2013

  Berdasarkan tabel di atas, sebagian besar responden menyatakan memanfaatkan fasilitas tabungan. Hal tersebut ditunjukkan dengan jumlah responden yang menyatakan memanfaatkan fasilitas tabungan berjumlah responden yang tidak memanfaatkan fasilitas tabungan berjumlah 3 responden atau setara dengan 7,5% dari total keseluruhan responden.

  Melihat data tersebut, dapat disimpulkan bahwa anggota merespon positif keberadaan program tersebut. Mereka antusias dalam memanfaatkan program sebab program tersebut dirasa akan mendatangkan manfaat di kemudian hari.

  Tabel V.10 Pemanfaatan Fasilitas Pinjaman Oleh Responden Memanfaatkan Pinjaman Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid Tidak Meminjam

  7

  17.5

  17.5

  17.5 Meminjam

  33

  82.5 82.5 100.0 Total 40 100.0 100.0

  Sumber: data diolah, 2013

  Berdasarkan tabel di atas, sebagian besar responden menyatakan memanfaatkan fasilitas pinjaman. Hal tersebut ditunjukkan dengan jumlah responden yang menyatakan memanfaatkan fasilitas pinjaman berjumlah 33 responden atau setara dengan 82,5% dari total responden. Sedangkan responden yang tidak memanfaatkan fasilitas pinjaman berjumlah 7 responden atau setara dengan 17,5% dari total keseluruhan responden.

  Fasilitas pinjaman pun direspon positif oleh para anggota. Pinjaman yang mereka terima dimanfaatkan untuk membuka usaha, menambah modal usaha serta konsumsi harian.

  4. Deskripsi tentang Pemahaman Responden Pemahaman responden terhadap program pemberdayaan ekonomi merupakan tingkat pengetahuan anggota tentang seluk beluk program baik itu dalam manfaat, tujuan dan fasilitas program yang diberikan. Indikator dalam variabel ini adalah pengetahuan anggota tentang manfaat program, pengetahuan anggota tentang tujuan program dan pengetahuan anggota tentang fasilitas program yang diberikan.

  Hasil perhitungan dengan bantuan komputer SPSS versi 16 menunjukan bahwa distribusi frekuensi dan penilaian variabel pemahaman responden dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

  Tabel V.11 Distribusi Frekuensi Kategori Pemahaman Pemahaman Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid Rendah

  5

  12.5

  12.5

  12.5 Sedang

  35

  87.5 87.5 100.0 Total 40 100.0 100.0

  Sumber: data diolah, 2013

  Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingka pemahaman program sedang. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan jumlah responden sebanyak 35 responden atau sebesar 87,5% dari total responden. Sedangkan sisanya atau sebanyak 5 responden (12,5% dari total responden) memiliki tingkat pemahaman rendah. Dalam hal ini, tidak ada responden yang memiliki pemahaman yang tinggi tentang pemberdayaan ekonomi.

  Sebagian besar responden menyatakan bahwa memiliki pemahaman tentang program pemberdayaan ekonomi sedang. Oleh karena itu, responden memiliki pengetahuan tentang seluk beluk program baik itu manfaat, tujuan dan fasilitas yang diberikan dalam program.

  Dalam variabel ini, tidak ditemukan responden yang memiliki pemahaman yang tinggi tentang program pemberdayaan ekonomi. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa responden kurang tahu dengan pasti tentang program pemberdayaan ekonomi tersebut.

  Namun dalam variabel ini, terdapat responden yang memiliki pemahaman yang rendah. Responden yang memiliki pemahaman rendah hanya bejumlah 12,5% dari total responden. Responden dalam kategori ini dapat dikatakan bahwa kurang mengerti seluk beluk program baik itu manfaat, tujuan dan fasilitas yang diberikan dalam program tersebut.

  Apabila suatu anggota kurang mengetahui tujuan, manfaat dan fasilitas program maka mereka cenderung kurang dapat menggunakan program tersebut secara maksimal. Ada kemungkinan pula, program tersebut akan salah sasaran atau melenceng dari tujuan awal. Dan berakibat pada ketidakberhasilan program tersebut.

  5. Deskripsi tentang Tingkat Keberhasilan Program Pemberdayaan Ekonomi Kebehasilan program merupakan tingkat ketercapaian hasil atau tujuan dari program pemberdayaan ekonomi yang telah dirumuskan sebelumnya. Indikator dalam variabel ini adalah peningkatan pendapatan

  Hasil perhitungan dengan bantuan komputer SPSS versi 16 menunjukan bahwa distribusi frekuensi dan penilaian variabel tingkat keberhasilan program pemberdayaan ekonomi responden dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

  Tabel V.12 Distribusi Frekuensi Kategori Keberhasilan Program Pemberdayaan Ekonomi keberhasilan_program Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent

  Valid Tidak Berhasil

  7

  17.5

  17.5

  17.5 Berhasil

  33

  82.5 82.5 100.0 Total 40 100.0 100.0

  Sumber: data diolah, 2013

  Berdasarkan tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden memiliki menganggap bahwa program pemberdayaan ekonomi tersebut berhasil. Hal itu dapat dibuktikan dengan jumlah responden sebanyak 33 atau setara dengan 82,5% dari total responden menjawab pendapatan mereka meningkat. Sedangkan sisanya atau sebanyak 7 responden (17,5% dari total responden) menjawab pendapatan tidak meningkat sehingga mereka menganggap bahwa program tidak berhasil.

  Responden memperoleh peningkatan pendapatan dari adanya pinjaman yang diberikan oleh pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada. Padahal pinjaman tersebut bukanlah tambahan penghasilan sebab untuk kedepannya pinjaman tersebut malah akan menjadi beban pengeluaran sehingga penghasilan yang digunakan untuk

  Sebagian responden menganggap pinjaman tersebut terlalu kecil untuk membuka usaha baru atau menambah modal usaha. Pada umumnya pinjaman tersebut mereka pergunakan untuk konsumsi seperti untuk membayar kontrakan dan konsumsi harian. Oleh karena itu, pinjaman kurang bersifat produktif namun lebih bersifat konsumtif. Namun tidak semua responden menyatakan hal demikian. Ada beberapa responden yang memanfaatkan pinjaman tersebut untuk menambah modal usaha.

B. Analisis Data 1. Pengujian Prasyarat

a. Uji Normalitas

  Uji asumsi normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak. Jika nilai asymtot memiliki signifikansi lebih dari = 0,05 maka distribusi dapat dikatakan normal, dan jika nilai asymtot memiliki signifikansi lebih kecil dari = 0,05 berarti distribusi tersebut tidak normal.

  Dalam penelitian ini, uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji kolmogorof-smirnov dengan tingkat kepercayaan 5% atau 0,05. Jika signifikansi > 0,05 maka regresi yang digunakan memiliki data residual yang berdistribusi normal. Output dari hasil olah data menggunakan SPSS adalah sebagai berikut:

  Tabel V.13 Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test SSE_angka Partisipasi_angka Pemahaman_angka N

  40

  40

  40 Normal Mean a

  11.22

  16.70

  10.80 Parameters Std. Deviation 2.315 3.212 1.506 Most Extreme Absolute .144 .175 .303 Differences

  Positive .144 .175 .213 Negative -.098 -.113 -.303 Kolmogorov-Smirnov Z .910 1.105 1.915 Asymp. Sig. (2-tailed) .379 .174 .001

a. Test distribution is Normal.

  Sumber: data diolah, 2013

  Dari output di atas, dapat diketahui bahwa nilai signifikansi

  Asymp . Sig (2-tailed) Status Sosial Ekonomi (X1) sebesar 0,379, Partisipasi (X2) sebesar 0,174 dan pemahaman (X3) sebesar 0,001.

  Apabila dibandingkan dengan signifikansi > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa residual berdistribusi normal.

b. Uji Linieritas

  Uji linearitas bertujuan mengetahui apakah masing-masing variabel bebas mempunyai hubungan linier atau tidak dengan variabel terikatnya. Hasil uji linearitas dapat dilihat dari output berikut ini:

  Tabel V.14 Hasil Uji Linearitas Sig. (Deviation

No. Variabel Kesimpulan

from Linearity)

  1 Status Sosial 0,906 Linier, karena Ekonomi nilai signifikansi

  0,906 > 0,05

  2 Partisipasi 0,532 Linier, karena

  3 Pemahaman 0,192 Linier, karena nilai signifikansi 0,192 > 0,05

  Sumber: data diolah, 2013

  Pada tabel ANOVA diketahui nilai signifikansi (Deviation from Linearity) pada variabel status sosial ekonomi sebesar 0,906. Apabila dibandingkan dengan signifikansi > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa hubungan antara variabel status sosial ekonomi dengan keberhasilan program pemberdayaan ekonomi dinyatakan linier.

  Pada variabel partisipasi diketahui nilai signifikansi (Deviation from Linearity) sebesar 0,532. Apabila dibandingkan dengan signifikansi > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa hubungan antara variabel partisipasi dengan keberhasilan program pemberdayaan ekonomi dinyatakan linier.

  Begitu juga pada variabel pemahaman, diketahui nilai signifikansi (Deviation from Linearity) sebesar 0,192. Apabila dibandingkan dengan signifikansi > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa hubungan antara variabel pemahaman dengan keberhasilan program pemberdayaan ekonomi dinyatakan linier.

2. Pengujian Asumsi Klasik a. Uji Multikolinieritas

  Multikolinieritas merupakan suatu perselingkuhan atau hubungan antara variabel bebas yang satu dengan yang lain. Dalam hal ini variabel tersebut disebut variabel yang bersifat tidak ortogonal. bebas yang korelasinya tidak sama dengan nol. Untuk mendeteksi masalah multikolinieritas dapat menggunakan rumus korelasi. Adapun rumus korelasi sebagai berikut (Sugiyono, 2010):

  Selanjutnya dengan program SPSS diadakan analisa collinerity

  statistics . Dari analisis collinerity statistics akan memperoleh VIF

  (Variance Inflation Factor). Dasar analisis yang digunakan yaitu jika

  tolerance lebih dari 0,1 dan VIF kurang dari 5 maka tidak terjadi

  masalah multikolinieritas. Hasil output dari uji multikolinearitas sebagai berikut:

  Tabel V.15 Hasil Uji Multikolinearitas a Coefficients

  Collinearity Statistics

Model Tolerance

  VIF

  1 SSE_angka .897 1.115 Partisipasi_angka .918 1.089 Pemahaman_angka .875 1.142

a. Dependent Variable: keberhasilan_program

  Sumber: data diolah, 2013

  Berdasarkan output di atas, dapat diketahui bahwa nilai

  tolerance dari ketiga variabel yaitu: status sosial ekonomi (0,897), partisipasi (0,918) dan pemahaman (0,875) lebih besar dari 0,1.

  Sedangkan nilai VIF dalam ketiga variabel tersebut pun lebih dari 5.

  VIF dari ketiga variabel yaitu: status sosial ekonomi (1,115),

  VIF < 5 sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi tidak terjadi masalah multikolinearitas.

b. Uji Heteroskedastisitas

  Heteroskedastisitas adalah suatu keadaan dimana varians dari kesalahan pengganggu tidak konstan untuk suatu variabel bebas.

  Untuk mendeteksi ada tidaknya masalah heteroskedastisitas digunakan uji Glejser dengan cara meregresikan antara variabel independen dengan nilai absolut residualnya. Jika signifikansi antara variabel independen dengan nilai absolut residualnya > 0,05 maka tidak terjadi masalah heteroskedastisitas, tetapi jika < 0,05 maka terjadi masalah heteroskedastisitas. Hasil output adalah sebagai berikut:

  Tabel V.16 Hasil Heteroskedastisitas a Coefficients

  Standardized Unstandardized Coefficients Coefficients Model B Std. Error Beta t Sig. 1 (Constant) .523 .336 1.559 .128

  SSE_angka .023 .018 .216 1.284 .207 Partisipasi_angka -.017 .013 -.218 -1.311 .198 Pemahaman_angka -.020 .028 -.122 -.718 .478

a. Dependent Variable: ABRES

  Sumber: data diolah, 2013

  Berdasarkan tabel di atas, signifikansi (p-value) dari ketiga variabel yaitu: status sosial ekonomi (0,207), partisipasi (0,198) dan pemahaman (0,478). Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa nilai signifikansi (p-value) > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi tidak terjadi masalah heteroskedastisidas.

c. Uji Autokorelasi

  Autokorelasi adalah suatu keadaan dimana keselahan pengganggu dari satu observasi terhadap observasi selanjutnya yang berurutan tidak berpengaruh atau tidak terjadi korelasi. Dalam penelitian ini uji autokorelasi menggunakan metode Durbin Watson.

  Cara mendeteksi masalah autokorelasi dengan metode Durbin Watson adalah sebagai berikut: 1) dU < DW < 4-dU maka H diterima (tidak terjadi autokorelasi) 2) DW < dL atau DW > 4-dL maka H ditolak (terjadi autokorelasi) 3) dL < DW < dU atau 4-dU < DW < 4-dL maka tidak ada keputusan yang pasti

  Dari hasil data yang telah diolah melalui program SPSS 16.0 for

  windows , diperoleh output sebagai berikut: Tabel V.17 Hasil Uji Autokorelasi b

  Model Summary Adjusted R Std. Error of the Model R R Square Square Estimate Durbin-Watson a 1 .155 .024 -.057 .396 1.711 a. Predictors: (Constant), Pemahaman_angka, Partisipasi_angka, SSE_angka

  b. Dependent Variable: keberhasilan_program Sumber: data diolah, 2013

  Berdasarkan output di atas dapat diketahui bahwa nilai Durbin pada signifikansi 0,05; jumlah responden (n) = 40 dan jumlah variabel independen (k) = 3 didapat dL = 1,3384 dU = 1,6589. Maka didapat hasil dU < DW < 4-dU (1,6589 < 1,711 < 2,3411). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi tidak terjadi masalah autokorelasi.

  d. Rangkuman dari Hasil Uji Asumsi Klasik Tabel V.18 Rangkuman Hasil Uji Asumsi Klasik Uji Asumsi Klasik Kesimpulan

  Uji Multikolinearitas Tidak Terjadi Uji Heteroskedastisitas Tidak Terjadi Uji Autokorelasi Tidak Terjadi

  Sumber: data diolah, 2013

  C. Pengujian Hipotesis Tabel V.19 Pengujian Hipotesis a Coefficients

  Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Model B Std. Error Beta t Sig. 1 (Constant) .613 .532 1.152 .257 SSE_angka -.019 .029 -.114 -.655 .517

  Partisipasi_angka .013 .021 .105 .612 .545 Pemahaman_angka .020 .045 .078 .441 .662

a. Dependent Variable: keberhasilan_program

  Sumber: data diolah, 2013

  Jumlah total nilai Beta seluruh variabel - 0,114 + 0,105 + 0,078 = 0,297.

  1. ) Status Sosial Ekonomi (X

1 Rumusan masalah dalam variabel status sosial ekonomi sebagai

  berikut: H : tidak ada kontribusi positif antara status sosial ekonomi anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program

  CSR Sarihusada

  H a : ada kontribusi positif antara status sosial ekonomi anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada.

  Kolom Standardized Coefficient menunjukkan Nilai Beta ( ) pada variabel status sosial ekonomi sebesar -0,114 namun angka tersebut dianggap konstan sehingga menjadi 0,114 yang artinya bahwa status sosial ekonomi responden berkontribusi terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada sebesar (0,114 : 0,297) x 100% = 38,38% sedangkan untuk menguji apakah kontribusi tersebut signifkan atau tidak dengan membandingkan nilai dalam kololm Sig.

  Untuk mengetahui signifikan atau tidak hipotesis di atas, dilihat kolom Sig. Probabilitas variabel status sosial ekonomi pada tabel

  Coefficients . Kolom Sig. Probabilitas menunjukkan nilai 0,517 yang berarti nilai ini berada di atas signifikansi 5% (0,05). Oleh karena itu Sig.

  > 0,05 (0,517 > 0,05) maka dapat dikatakan H diterima dan H a ditolak antara status sosial ekonomi anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada.

2. Partisipasi (X 2 )

  Rumusan masalah dalam variabel status sosial ekonomi sebagai berikut: H : tidak ada kontribusi positif antara partisipasi anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada H a : ada kontribusi positif antara partisipasi anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada.

  Kolom Standardized Coefficient menunjukkan Nilai Beta ( ) pada variabel partisipasi anggota sebesar 0,105 yang artinya bahwa partisipasi responden berkontribusi terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada sebesar (0,105 : 0,297) x 100% = 35,35% sedangkan untuk menguji apakah kontribusi tersebut signifkan atau tidak dengan membandingkan nilai dalam kololm Sig.

  Untuk mengetahui signifikan atau tidak hipotesis di atas, dilihat kolom Sig. Probabilitas variabel partisipasi pada tabel Coefficients. Kolom Sig. Probabilitas menunjukkan nilai 0,545 yang berarti nilai ini berada di atas signifikansi 5% (0,05). Oleh karena itu Sig. > 0,05 (0,545 > 0,05) maka dapat dikatakan H diterima dan H a ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada kontribusi secara signifikan antara partisipasi anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam

  3. ) Pemahaman (X

3 Rumusan masalah dalam variabel status sosial ekonomi sebagai

  berikut: H : tidak ada kontribusi positif antara pemahaman anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR

  Sarihusada H a : ada kontribusi positif antara pemahaman anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada.

  Kolom Standardized Coefficient menunjukkan Nilai Beta ( ) pada variabel pemahaman anggota sebesar 0,078 yang artinya bahwa pemahaman responden berkontribusi terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada sebesar (0,078 : 0,297) x 100% = 26,27% sedangkan untuk menguji apakah kontribusi tersebut signifkan atau tidak dengan membandingkan nilai dalam kololm Sig.

  Untuk mengetahui signifikan atau tidak hipotesis di atas, dilihat kolom Sig. Probabilitas variabel pemahaman pada tabel Coefficients.

  Kolom Sig. Probabilitas menunjukkan nilai 0,662 yang berarti nilai ini berada di atas signifikansi 5% (0,05). Oleh karena itu Sig. > 0,05 (0,662 > 0,05) maka dapat dikatakan H diterima dan H a ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada kontribusi secara signifikan antara pemahaman anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan

4. Status Sosial Ekonomi, Partisipasi dan Pemahaman Kerja Secara Bersama-sama

  Rumusan masalah dalam variabel status sosial ekonomi sebagai berikut: H : tidak ada kontribusi positif antara status sosial ekonomi, partisipasi dan pemahaman anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada. H a : ada kontribusi positif antara status sosial ekonomi, partisipasi dan pemahaman anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada.

  Tabel V.20 Model Summary Adjusted R Std. Error of the Model R R Square Square Estimate a 1 .155 .024 -.057 .396 a. Predictors: (Constant), Pemahaman_angka, Partisipasi_angka, SSE_angka

  Sumber: data diolah, 2013

  Hasil perhitungan yang dilakukan dengan berdasarkan program SPSS menunjukkan bahwa nilai adjusted R square sebesar -0,057 namun angka tersebut dianggap konstan sehingga menjadi 0,057. Hal ini berarti status sosial ekonomi, partisipasi dan pemahaman anggota secara bersama- sama berkontribusi sebesar 5,7% terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada.

  Tabel V.21 b ANOVA Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. a

  1 Regression .139 3 .046 .297 .828 Residual 5.636 36 .157 Total 5.775

  39

  a. Predictors: (Constant), Pemahaman_angka, Partisipasi_angka, SSE_angka

  b. Dependent Variable: keberhasilan_program Sumber: data diolah, 2013

  Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh harga F hitung sebesar 0,297 sementara F tabel pada df (3:36) sebesar 2,86. Melihat kriteria pengujian hipotesis apabila F lebih kecil daripada F maka H diterima, jika

  

hitung tabel

  terjadi sebaliknya F hitung lebih besar daripada F tabel maka H ditolak. Dalam pengujian hipotesis kelima ini, F hitung lebih kecil daripada F tabel (0,297 < 2,86) maka H diterima dan H a ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada kontribusi secara signifikan status sosial ekonomi, partisipasi dan pemahaman anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada.

D. Pembahasan

  

1. Kontribusi Status Sosial Ekonomi terhadap Tingkat Keberhasilan

Pemberdayaan Ekonomi dalam Program CSR Sarihusada

  Hasil pengujian hipotesis pertama mengenai kontribusi status sosial ekonomi terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam ada kontribusi secara signifikan terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada. Kesimpulan tersebut didukung hasil perhitungan statistik yang menunjukkan nilai sig. (probabilitas) sebesar 0,517 lebih besar dari 0,05. Oleh karena itu H diterima dan H a ditolak artinya tidak ada kontribusi secara signifikan antara status sosial ekonomi anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada.

  Walaupun status sosial ekonomi tidak berkontribusi secara signifikan terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada. Namun variabel tersebut berkontribusi memiliki kontribusi sebesar 38,38%.

  Berdasarkan analisis deskripsi data responden yang menujukkan bahwa sebagian besar responden memiliki status sosial ekonomi sedang.

  Hal ini ditunjukkan dari jumlah responden yang menunjukkan bahwa memiliki status sosial ekonomi sedang berjumlah 30 responden atau sebesar 75% dari total keseluruhan 40 responden.

  Sedangkan analisis deskripsi data tentang tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada menunjukkan bahwa sebagian besar responden termasuk dalam kategori berhasil. Hal ini ditunjukkan dari jumlah responden yang masuk dalam kategori berhasil berjumlah 33 responden atau sebesar 82,5% dari total kesuluruhan responden. Responden yang menyatakan bahwa program tidak berhasil keseluruhan responden. Sehingga dapat dikatakan jumlah tersebut sedikit apabila dibandingkan dengan responden yang menyatakan berhasil.

  Dengan demikian, pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada dapat dikatakan berhasil.

  Melihat hasil dari analisis deskripsi di atas yang menyatakan bahwa sebagian besar responden memiliki status sosial ekonomi sedang sedangkan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada dapat dikatakan berhasil. Dengan demikian kontribusi antara status sosial ekonomi terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada lemah sehingga tidak ada kontribusi positif antara kedua variabel tersebut.

  Menurut ketua RW setempat, masyarakat kampung Badran RW XI mayoritas memiliki status sosial ekonomi menengah ke bawah. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa masyarakat memiliki status sosial ekonomi sedang.

  Program pemberdayaan ekonomi yang diterapkan dalam CSR Sarihusada adalah dengan memberikan hibah atau dana segar kepada para anggota tersebut. Dengan harapan hibah tersebut dikelola dengan baik sehingga kedepannya menjadi dana estafet yang dapat digunakan oleh seluruh warga kampung Badran. Selama ini, hibah tersebut hanya digunakan oleh para anggota bukan untuk seluruh warga.

  Hibah yang diberikan oleh program CSR Sarihusada tersebut membutuhkan. Untuk memudahkan dalam pemberian modal awal bagi anggota, dana hibah tersebut dibagikan sama rata bagi seluruh anggota pemberdayaan ekonomi. Dengan adanya pemberian modal atau pinjaman tersebut tentu saja akan meningkatkan pendapatan secara nominal para anggota. Oleh karena itu program dianggap berhasil sebab ada peningkatkan dalam segi pendapatan.

  Sebelum memberikan pinjaman kepada pihak lain, biasanya suatu lembaga keuangan mempertimbangkan beberapa hal yang dimiliki oleh pihak lain tersebut. Salah satunya yang harus diperhatikan adalah status sosial ekonomi yang dimiliki. Hal tersebut berguna untuk bahan acuan pemberian pinjaman atau jumlah kredit yang diharapkan tidak akan terjadi kredit macet dalam lembaga tersebut. Berbeda dalam pemberian modal atau pinjaman di pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada. Pengelola tidak mempertimbangkan status sosial ekonomi yang dimiliki oleh anggota.

  Setiap anggota seperti diberi “jatah” untuk memanfaatkan atau tidak.

  Oleh karena itu status sosial ekonomi tidak memiliki kontribusi positif terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada. Sebab dalam praktinya variabel tersebut tidak dipertimbangkan dalam menjalankan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada di kampung Badran.

2. Kontribusi Partisipasi terhadap Tingkat Keberhasilan Pemberdayaan Ekonomi dalam Program CSR Sarihusada

  Hasil pengujian hipotesis kedua mengenai kontribusi partisipasi terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada menunjukkan bahwa partisipasi tidak ada kontribusi secara signifikan terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada. Kesimpulan ini didukung hasil perhitungan yang menunjukkan nilai sig. (probabilitas) sebesar 0.545 lebih besar dari 0,05. Oleh karena itu H diterima dan H a ditolak yang artinya tidak ada kontribusi secara signifikan antara partisipasi anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada.

  Walaupun partisipasi tidak berkontribusi secara signifikan terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada. Namun variabel tersebut berkontribusi memiliki kontribusi sebesar 35,35%.

  Berdasarkan analisis deskripsi data responden yang menunjukkan sebagian responden memiliki partisipasi sedang. Hal ini ditunjukkan dari jumlah responden yang menunjukkan bahwa responden yang memiliki partisipasi sedang berjumlah 24 responden atau setara dengan 60% dari keseluruhan responden.

  Sedangkan analisis deskripsi data tentang tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada menunjukkan ditunjukkan dari jumlah responden yang masuk dalam kategori berhasil berjumlah 33 responden atau sebesar 82,5% dari total kesuluruhan responden. Responden yang menyatakan bahwa program tidak berhasil hanya berjumlah 7 responden atau setara dengan 17,5% dari total keseluruhan responden. Sehingga dapat dikatakan jumlah tersebut sedikit apabila dibandingkan dengan responden yang menyatakan berhasil.

  Dengan demikian, pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada dapat dikatakan berhasil.

  Pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada dapat dikatakan berhasil karena dapat meningkatkan pendapatan anggota dalam program tersebut. Peningkatan pendapatan tersebut disebabkan adanya pemberian pinjaman yang dilakukan oleh program tersebut. Oleh karena itu anggota yang memanfaatkan pinjaman merasa pendapatannya meningkat sehingga program dianggap berhasil. Sedangkan anggota yang tidak memanfaatkan pinjaman tersebut merasa pendapatannya tidak meningkat sehingga menganggap program tidak berhasil.

  Apabila dilihat dari tabel V.11 mengenai pemanfaatan fasilitas pinjaman oleh responden terdapat 7 responden atau setara dengan 17,5% dari total keseluruhan responden. Melihat jumlah responden yang menyatakan program tidak berhasil berjumlah 7 responden atau setara dengan 17,5% dari total keseluruhan responden. Apabila dibandingkan dari kedua data tersebut, terdapat kemungkinan 7 responden tersebut memanfaatkan pinjaman, mereka juga menganggap program tersebut tidak berhasil. Hal tersebut disebabkan mereka tidak mendapatkan peningkatan pendapatan yang diperoleh dari pemanfaatan pinjaman.

  Pemanfaatan tabungan merupakan salah satu indikator dalam partisipasi anggota di program pemberdayaan ekonomi tersebut. Indikator lain dalam penentuan tingkat partisipasi anggota yaitu frekuensi anggota mengikuti rapat atau pertemuan, frekuensi anggota dalam memberikan saran atau usulan, frekuensi anggota dalam memanfaatkan fasilitas tabungan dan frekuensi anggota dalam memanfaatkan fasilitas pinjaman.

  Indikator-indikator di atas tentu dapat menjadi pertimbangan dalam pemberian pinjaman kepada anggota. Misalnya saja, apabila seorang anggota memiliki frekuensi menabung yang tinggi dapat dijadikan pertimbangan untuk mendapatkan pinjaman lebih apabila ia meminta pinjaman. Dan apabila ada anggota yang kurang tertib dalam memberi angsuran maka dapat menjadi pertimbangan untuk mengurangi jumlah pinjaman atau bahkan tidak memberi pinjaman untuk kedepannya jika ia meminta pinjaman.

  Hal tersebut dapat dilakukan jika suatu lembaga sudah memiliki data atau riwayat anggotanya mengenai sikap atau partisipasi mereka di dalam program tersebut. Dengan berpegang pada riwayat anggota tersebut dapat menjadi pertimbangan untuk kedepannya. Namun bagi lembaga yang masih baru dalam pendiriannya, misalnya mereka masih di tahun- anggotanya. Oleh karena itu, mereka tidak memiliki pegangan atau dasar pertimbangan untuk melepaskan pinjaman.

  Pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada di Kampung Badran RW XI pun baru menginjak tahun kedua dalam pendiriannya. Serta dalam pemberian pinjaman baru memasuki putaran pertama sehingga program tersebut belum memiliki riwayat anggota dalam berpartisipasi. Dalam program tersebut, seluruh anggota mendapatankan jumlah pinjaman yang sama tanpa ada pembeda seperti berbedaan frekuensi partisipasi mereka. Namun setiap anggota dibebaskan untuk mengambil keputusan untuk memanfaatkan pinjaman tersebut atau tidak.

  Menurut pengelola pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada tersebut untuk saat ini masih masuk dalam masa penjajakan partisipasi anggota. Apabila dalam putaran pertama pemberian pinjaman ini anggota memiliki tingkat partisipasi yang baik untuk peminjaman berikutnya akan diberikan prioritas dalam pemberian pinjaman.

  Sebaliknya jika ada anggota yang kurang berpartisipasi dan dalam pengembalian angsuran kurang lancar akan dikurangi bahkan ada kemungkinan tidak akan diberikan pinjaman pada pemberian pinjaman berikutnya.

  Oleh karena itu saat ini, belum ada kontribusi positif antara partisipasi anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada. Namun tidak menutup kemungkinan akan pertimbangan-pertimbangan dalam pemberian pinjaman yang didasarkan pada tingkat partisipasi anggota.

3. Kontribusi Pemahaman terhadap Tingkat Keberhasilan Pemberdayaan Ekonomi dalam Program CSR Sarihusada

  Hasil pengujian hipotesis ketiga mengenai kontribusi pemahaman terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada menunjukkan bahwa pemahaman tidak ada kontribusi secara signifikan terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada. Kesimpulan tersebut didukung hasil perhitungan statistik yang menunjukkan nilai sig. (probabilitas) sebesar 0,662 lebih besar dari 0,05. Oleh karena itu H diterima dan H ditolak artinya tidak

  a

  ada kontribusi secara signifikan antara pemahaman anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada.

  Walaupun pemahaman tidak berkontribusi secara signifikan terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada. Namun variabel tersebut berkontribusi memiliki kontribusi sebesar 26,27%.

  Berdasarkan analisis deskripsi data responden yang menunjukkan sebagian responden memiliki pemahaman sedang. Hal ini ditunjukkan dari jumlah responden yang menunjukkan bahwa responden yang memiliki pemahaman sedang berjumlah 35 responden atau setara dengan 87,5% dari

  Sedangkan analisis deskripsi data tentang tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada menunjukkan bahwa sebagian besar responden termasuk dalam kategori berhasil. Hal ini ditunjukkan dari jumlah responden yang masuk dalam kategori berhasil berjumlah 33 responden atau sebesar 82,5% dari total kesuluruhan responden. Responden yang menyatakan bahwa program tidak berhasil hanya berjumlah 7 responden atau setara dengan 17,5% dari total keseluruhan responden. Sehingga dapat dikatakan jumlah tersebut sedikit apabila dibandingkan dengan responden yang menyatakan berhasil. Dengan demikian, pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada dapat dikatakan berhasil.

  Melihat tabel V.14 mengenai distribusi frekuensi kategori pemahaman anggota pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada belum terdapat anggota yang memiliki pemahaman tinggi. Para anggota hanya memiliki pemahaman rendah dan sedang. Oleh kerana itu dapat dikatakan bahwa anggota belum mengetahui secara keseluruhan tentang manfaat, tujuan dan fasilitas program yang diberikan.

  Tujuan utama pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pendapatan yang diterima masyarakat. Cara yang ditempuh oleh pengelola program tersebut adalah memberikan pinjaman kepada anggota. Dan untuk kedepannya dapat dimanfaatkan oleh seluruh warga

  Pemberian pinjaman tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk membuka usaha baru sehingga akan menambah pendapatan mereka secara berkelanjutan. Walaupun dengan menerima pinjaman dapat meningkatkan pendapatan, namun hal itu hanya berlaku saat itu. Untuk kedapannya belum dapat dipastikan apakah akan dapat meningkatkan pendapatan lagi atau tidak. Bahkan ada kemungkinan akan mengurangi pendapatan mereka di kemudian hari sebab mereka harus mengembalikan pinjaman tersebut.

  Pada kenyataannya menurut beberapa anggota, sebagian anggota menggunakan pinjaman tersebut untuk konsumsi harian seperti membayar kontrakan rumah, listrik bahkan makan sehari-hari. Oleh karena itu pinjaman tersebut dirasa kurang produktif sebab tidak dapat menghasilkan manfaat di kemudian hari. Walaupun tujuan awal program telah tercapai, yaitu meningkatkan pendapatan anggota. Namun anggota tersebut kurang memahami memanfaatkan program dan fasilitas yang ada.

  Anggota cenderung menggunakan pinjaman tersebut untuk konsumsi harian sebab pinjaman yang diberikan terlalu kecil untuk membuka suatu usaha baru. Sebab lainnya adalah para anggota masih belum memiliki pemahaman secara keluruhan terhadap manfaat, tujuan dan fasilitas program. Sehingga mereka cenderung melakukan sepengetahuan mereka. Hal tersebut dirasa wajar sebab program tersebut tergolong masih baru untuk para anggota.

  Dalam pemberian pinjaman kepada anggota, pengelola mempertanyakan alasan anggota melakukan pinjaman. Sehingga semua anggota mendapatkan pinjaman dari dana hibah amal srikandi tersebut walaupun pinjaman akan digunakan untuk hal yang kurang produktif. Apabila pengelola mempertanyakan apa motif anggota meminjam dana hibah tersebut maka akan lebih tepat sasaran serta akan lebih mengetahui seberapa tinggi pemahaman anggota mengenai manfaat, tujuan dan fasilitas yang diberikan.

  Oleh karena itu, pemahaman anggota tentang pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada belum memiliki kontribusi positif dalam keberhasilan program tersebut. Namun tidak menutup kemungkinan seiring perkembangan program dan meningkatnya pemahaman anggota akan memberikan kontribusi bagi keberhasilan program.

4. Kontribusi Sosial Ekonomi, Partisipasi dan Pemahaman Anggota Terhadap Tingkat Keberhasilan Pemberdayaan Ekonomi dalam Program CSR Sarihusada

  Hasil pengujian hipotesis keempat menunjukkan bahwa status sosial ekonomi, partisipasi dan pemahaman kerja secara bersama-sama tidak ada kontribusi positif terhadap terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada. Kesimpulan tersebut didukung hasil perhitungan statistik yang menunjukkan nilai F lebih kecil

  hitung

  daripada F tabel (0,297 < 2,86). Oleh karena itu H diterima dan H a ditolak partisipasi dan pemahaman anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada.

  Walaupun status sosial ekonomi, partisipasi dan pemahaman anggota tidak berkontribusi secara signifikan terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada. Namun variabel tersebut berkontribusi memiliki kontribusi sebesar 26,27%. Walaupun pemahaman tidak berkontribusi secara signifikan terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada.

  Namun variabel tersebut berkontribusi memiliki kontribusi sebesar 5,7 %.

  Program dapat dikatakan berhasil apabila tujuan dari program tersebut telah berhasil dilaksanakan. Tujuan dari program pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada adalah meningkatkan kesejahteraan melalui peningkatan pendapatan anggota. Oleh karena itu keberhasilan program dalam penelitian ini diukur dari keberhasilan meningkatkan pendapatan. Anggota yang menerima pinjaman beranggapan bahwa memiliki peningkat pendapatan. Sebab secara nominal, para anggota tersebut memiliki peningkatan jumlah uang yang dimiliki. Padahal peningkatan jumlah uang tersebut ditopang dari pinjaman. Penambahan jumlah uang yang dimiliki yang ditopang dari pinjaman tersebut tidak dapat dikatakan sebagai penambahan pendapatan sebab pinjaman bukanlah pendapatan. Malah untuk kedepannya, pinjaman tersebut berdampak pada pengurangan pendapatan. Oleh karena itu

  Dalam pemberian pinjaman, umumnya lembaga-lembaga keuangan dalam memberikan pinjaman mempertimbangan 5c yang dimiliki calon peminjam. Apabila calon peminjam tersebut memiliki 5c dan dinyatakan layak untuk menerima pinjaman, lembaga keuangan baru akan mencairkan pinjaman tersebut. Pertimbangan 5c tersebut adalah character (karakter),

  capacity (kemampuan membayar kewajiban), capital (modal), conditions (kondisi ekonomi), dan collateral (agunan).

  Dalam pemberian pinjaman di program pemberdayaan ekonomi belum mempertimbangkan 5c tersebut. Asalkan mereka merupakan anggota dari program pemberdayaan ekonomi, mereka akan dapat mengakses pinjaman tersebut. Unsur dari 5c tersebut termasuk dalam status sosial ekonomi, partisipasi dan pemahaman anggota. Hal tersebut terbukti pada saat memiliki status sosial ekonomi yang tinggi unsur 5c seperti capacity (kemampuan membayar kewajiban), capital (modal), conditions (kondisi ekonomi), dan collateral (agunan) dapat terpenuhi.

  Begitu pula apabila anggota memiliki partisipasi yang tinggi, anggota akan mencetak character (karakter) yang tinggi pula serta pemahaman yang membungkus mereka untuk melakukan pengajuan pinjaman.

  Dalam pemberdayaan ekonomi ini, ada lembaga lain yang membantu pendampingan program CSR Sarihusada itu sendiri. Lembaga tersebut adalah Lembaga Kemanusian Nasional PKPU yang bertugas sebagai pendamping setiap program CSR. Khususnya dalam menghadiri pertemuan yang diadakan. Pihak lembaga tersebut memberikan masukan apabila terjadi suatu masalah. Sampai saat ini lembaga tersebut hanya melakukan pendampingan pada saat ada pertemuan. Padahal masyarakat membutuhkan pendampingan secara menyeluruh seperti evaluasi yang berkelanjutan dan lain halnya. Pendampingan tersebut pun dapat diisi mengenai pengaturan keuangan, peluang berwirausaha.

  Seperti yang telah diungkapkan dalam pembahasan-pembahasan sebelumnya bahwa status sosial ekonomi, partisipasi dan pemahaman belum dijadikan tolok ukur dalam pemberian pinjaman. Oleh karena itu ketiga variabel tersebut belum memiliki kontribusi secara signifikan terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada.

BAB VI SIMPULAN SARAN DAN KETERBATASAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data, pengujian hipotesis dan pembahasan

  masing-masing masalah penelitian yang telah diuraikan pada bab V, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Dari hasil analisis data yang pertama dapat disimpulkan bahwa status sosial ekonomi anggota tidak berkontribusi secara signifikan terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada. Hal ini dikarena status sosial ekonomi anggota belum dijadikan pertimbangan dalam pemberian pinjaman.

  2. Dari hasil analisis data yang kedua dapat disimpulkan bahwa partisipasi anggota tidak berkontribusi secara signifikan terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada. Hal ini disebabkan partisipasi anggota pun belum dijadikan pertimbangan atau persyaratan dalam pemberian pinjaman.

  3. Dari hasil analisis data yang ketiga dapat disimpulkan bahwa pemahaman anggota tidak berkontribusi secara signifikan terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada. Hal ini disebabkan pemahaman anggota belum dijadikan pertimbangan dalam pemberian pinjaman.

  4. Dari hasil analisis data yang keempat dapat disimpulkan bahwa status sosial ekonomi, partisipasi dan pemahaman anggota tidak berkontribusi secara signifikan terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada. Hal ini disebabkan ketiga variabel tersebut belum dijadikan pertimbangan dalam pemberian pinjaman.

  B. Keterbatasan

  Dalam penelitian ini tidak dapat dihindari berbagai kelemahan yang kemungkinan dapat menyebabkan temuan penelitian bukan merupakan gambaran sesungguhnya dari subjek penelitian, yaitu:

  1. Keresahan beberapa responden dalam menjawab pertanyaan dalam kuesioner sehingga hasil yang diperoleh kurang memberikan gambaran yang relevan.

  2. Beberapa responden dalam menjawab pertanyaan kurang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya yang mereka lakukan sehingga kurang memberikan gambaran yang sesungguhnya.

  3. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner sehingga terdapat kemungkinan data bersifat subjektif.

  C. Saran

  Berdasarkan kesimpulan yang diberikan diatas, maka peneliti memberikan saran yang mungkin dapat berguna bagi kemajuan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada.

  1. Bagi pengelola pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada Sejalan dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa tidak ada kontribusi secara signifikan status sosial ekonomi, partisipasi dan pemahaman anggota terhadap tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada yang disebabkan belum dijadikannya dasar pertimbangan dalam pemberian pinjaman. Penulis merasa untuk kedepannya prosedur peminjaman perlu dijadikan pertimbangan sebelum memberikan pinjaman. Agar pinjaman yang diberikan dapat tepat sasaran sehingga kesejahteraan masyarakat khususnya anggota pemberdayaan dapat meningkat.

  2. Bagi anggota pemberdayaan ekonomi dalam program CSR Sarihusada Hendaknya anggota menggunakan pinjaman digunakan untuk hal- hal yang lebih produktif sehingga dapat dijadikan investasi untuk kedepannya. Tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya para anggota pun akan lebih tercapai.

  

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

  Ambaria, Chatrin Fanni. 2012. Pengaruh Status Sosial Ekonomi Keluarga, Prestasi Belajar, dan Akses Informasi terhadap Minat Berwirausaha .

  Yogyakarta: -. Ghozali, Imam. 2002. Statistik Non-Parametrik: Teori dan Aplikasi dengan

  Program SPSS . Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang.

  Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariat dengan Program SPSS.

  Semarang: Badan Penerbit Universitas Dipenogoro. Solihin, Ismail. 2008. Corporate Sosial Responsibility: From Charity to Sustainability . Jakarta: Penerbit Salemba Empat.

  Sugiyono. 2010. Statistik untuk Penelitian. Bandung: Penerbit Alfabeta.

  Internet: Abidin, Muhammad Zainal. 2011. Definisi Pemahaman Menurut Para Ahli.

  Diakses dari al 11 Juli 2013. Fransisca. 2004. Hubungan Antara Keikutsertaan Siswa dalam Program

  Bimbingan Belajar, Status Sosial Ekonomi Orangtua, Motivasi Belajar Siswa dengan Keberhasilan Siswa Menempuh Ujian Akhir Nasional .

  Diakses dari http://www.library.usd.ac.idData%20PDF/F.%20 Keguruan%20dan%20Ilmu%20Pendidikan/Pendidikan%20Akuntansi/ 991334111.pdf tanggal 4 Maret 2013.

  Heriyadi, Dhana Septa. 2012. Status Sosial Ekonomi. Diakses dari l 6 Maret 2013. Listya, Herninda Kusuma. - . Pengaruh Partisipasi Masyarakat Terhadap

  Tingkat Keberhasilan Proyek Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Banyuwangi. Diakses dari

   Nn. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Diakses dari Nn. 2011. Partisipasi. Diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Partisipasi tanggal 6 Maret 2013. Nn. 2012. Kabar Srikandi. Diakses dari l 7 Desember 2012. Nn. 2012. Penelitian Eksplanatori. Diakses dal 5 Maret 2013. Nn. 2012. Hubungan antara Pemahaman Pemerintah tentang Realitas Sosial

  Masyarakat dengan Keberhasilan Program Pengentasan Kemiskinan di Kabupaten Diok-Diok . Diakses dari

   %20ANTARA%20PEMAHAMAN%20PEMERINTAH%20TENTAN G%20REALITAS%20SOSIAL%20MASYARAKAT%20DENGAN%

  20KEBERHASILAN%20PROGRAM%20PENGENTASAN%20KE MISKINAN%20DI%20KABUPATEN%20DIOKDIOK.html tanggal 5 Maret 2013.

  Nn. 2013. Status Sosial. Diakses dari Nn. 2013. Daftar UMR, UMP, UMK tahun 2013. Diakses dari tanggal 19 Maret

  2013. Turindra. 2009. Pengertian Partisipasi. Diakses dari blogspot.com /2009/06/pengertian-partisipasi.html tanggal 6 Maret 2013.

  Jatmiko, Indra. 2011. Kajian Citra Perusahaan Melalui Kegiatan Corporate

  Social Responsibility

  pada Bank “X” Bogor. Diakses dari ggal 18 Juni 2013.

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (164 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

KAJIAN SOSIAL EKONOMI BUDAYA DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM
0
11
11
PEMBERDAYAAN EKONOMI ANGGOTA
0
2
1
PENDAHULUAN KONTRIBUSI STATUS SOSIAL EKONOMI, LINGKUNGAN KERJA DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP KINERJA GURU SD (Studi di SD Negeri Segugus Wijaya Kusuma Kecamatan Sukodono Kabupaten Sragen).
0
1
8
PENGARUH PARTISIPASI ANGGOTA TERHADAP KEBERHASILAN KOPERASI SERBA USAHA DI KOTA DENPASAR.
0
0
12
PENGARUH STATUS SOSIAL EKONOMI, DAN BIMBINGAN BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA MATA PELAJARAN EKONOMI DI SMAN 1 JOGONALAN.
1
1
142
PENGARUH KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI PENYULUH TERHADAP TINGKAT KEBERHASILAN PELAKSANAAN TUGAS POKOK PENYULUH PERTANIAN
0
0
16
DAMPAK STATUS SOSIAL DAN TINGKAT EKONOMI
0
0
13
PROGRAM PEMBERDAYAAN SOSIAL EKONOMI MASY
0
0
44
PERAN PENGURUS KELOMPOK TANI HARAPAN MAKMUR DALAM MENGUBAH STATUS SOSIAL EKONOMI ANGGOTA
0
0
12
PENGARUH PARTISIPASI ANGGOTA TERHADAP KEBERHASILAN KOPERASI
0
0
9
PENGARUH KEADAAN SOSIAL EKONOMI, GAYA HIDUP, STATUS GIZI, DAN TINGKAT STRES TERHADAP TEKANAN DARAH
0
0
6
PENGUKURAN TINGKAT PARTISIPASI ANGGOTA DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEBERHASILAN KOPERASI
0
0
17
PENGARUH STATUS SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT NELAYAN TERHADAP TINGKAT KESEJAHTERAANNYA DI KODYA PADANG
0
0
122
KONTRIBUSI KUALIFIKASI MANAGER DAN PARTISIPASI ANGGOTA TERHADAP KEBERHASILAN KUD D1 PADANG PA' [AN
0
0
61
ANALISIS PERBEDAAN SIKAP DAN PERILAKU PARTISIPASI ANGGOTA TERHADAP PELAYANAN CREDIT UNION DITINJAU DARI KARAKTERSISTIK STATUS SOSIAL ANGGOTA CREDIT UNION BANURI HARAPAN KITA SKRIPSI
0
0
272
Show more