IMPLEMENTASI PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF DALAM PEMBELAJARAN SISWA KELAS IVB SD KANISIUS SOROWAJAN SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2010 2011 SKRIPSI

Gratis

0
0
116
4 days ago
Preview
Full text

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

IMPLEMENTASI PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF

DALAM PEMBELAJARAN SISWA KELAS IVB SD KANISIUS

SOROWAJAN SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN

2010/ 2011

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Guru

  Sekolah Dasar Disusun oleh:

  Tiksna Purnamasari 071134011

  

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2013

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  PERSEMBAHAN Skripsi Ini Aku Persembahkan Kepada:  Tuhan Yesus Kristus yang selalu memberkati kehidupanku.  Bapak dan Ibuku (Purbohadi dan Sunarti) tersayang, yang senantiasa membimbing, mendukung, memenuhi kebutuhan materi dan doa dalam setiap hela nafas hidupku.

   Adikku satu-satunya, Aris Kristiana Putri.  Ade Prabowo dan Billy Tungtik.  Pembaca yang budiman

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

MOTTO

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi

kekuatan kepadaku”

  

FILIPI 4:13

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang

memelihara kamu”

  

1 Petrus 5:7

“ Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari

situlah terpancar kehidupan”

Amsal 4:23

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

ABSTRAK

  Tiksna Purnamasari.2007. Implementasi Paradigma Pedagogi Reflektif dalam

  

Pembelajaran Siswa Kelas IVB SD Kanisius Sorowajan Semester Genap

Tahun Pelajaran 2010/2011. Yogyakarta; Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu

  Pendidikan; Universitas Sanata Dharma.

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah penerapan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) di SD Kanisius Sorowajan kelas IVB semester genap Tahun Pelajaran 2010/ 2011. Serta dampak yang ditimbulkan dari penerapan Pendekatan Paradigma Pedagogi Reflektif tersebut.

  Subjek penelitian ini adalah kepala sekolah, wali kelas IVB, siswa kelas IVB dan orang tua murid. Metode penelitian kualitatif dengan wawancara dan pengamatan sebagai sumber data utama. Pengolahan data wawancara dilakukan dengan koding, yaitu cara mengorganisasikan dan sistematisasi data secara lengkap dan detail sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari.

  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa kelas telah menggunakan PPR, salah satunya adalah kelas IVB tetapi PPR belum bisa diterapkan pada semua materi pelajaran. Hal itu dikarenakan adanya faktor kesulitan yang dialami guru, antara lain: waktu persiapan, pengadaan media/alat peraga, tugas admistrasi guru yang banyak dan kurangnya pelatihan guru tentang PPR. Dampak yang ditimbulkan pasca pembelajaran PPR di kelas antara lain murid merasakan perubahan sikap positif dari hari ke hari dan prestasi akademik semakin meningkat. Tanggapan orang tua adalah mereka merasa senang dan terbantu dengan adanya PPR di SD K Sorowajan Yogyakarta.

  Kata Kunci; penerapan Paradigma Pedagogi Reflektif

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

ABSTRACT

  Tiksna Purnamasari.2007. Reflective Pedagogical Paradigm Implementation in

Class IVB SD Kanisius Sorowajan Semester Academic Year 2010/2011.

Yogyakarta, Faculty of Teacher Training and Education; Sanata Dharma University.

  This study aims to describe the application of Reflective Pedagogy Paradigm approach (PPR) in SD Kanisius Sorowajan IVB class semester academic year 2010/2011, and the impact of the application of the Reflective Pedagogical Paradigm Approach.

  The subject of this research was the principal, homeroom IVB, IVB grade students and parents. Qualitative research methods with interviews and observations as the primary data source. Interviews were conducted with the data processing coding, namely how to organize and systematize the data are complete and detailed picture so that the data can bring about the topic being studied. Results of this study showed that some classes have been using PPR, one of which was class IVB. But, PPR can not be applied to all subjects. It was due to the difficulty experienced by teachers, among others: the preparation, procurement of media/visual aids, teacher administration tasks are many and the lack of teacher training on PPR. The impact of post-learning PPR among other students in the class feel the positive attitude change from day to day and increasing academic achievement. Responses are their parents feel happy and helped with the PPR in SD K Sorowajan Yogyakarta.

  Keyword; application of Reflective Pedagogical Paradigm

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

PRAKATA

  Puji Syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat dan penyertaan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari bantuan beberapa pihak. Oleh karena itu izinkan penulis mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Tuhan Yesus Kristus atas penyertaanNya dalam setiap langkah hidupku.

  2. Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan lmu Pendidikan.

  Universitas Sanata Dharma.

  3. Gregorius Ari Nugrahanta, S.J., S.S., B.S.T., M.A. selaku Ketua Program Studi PGSD, dosen pembimbing akademik dan pembimbing 2.

  4. Drs. T. Sarkim, M.E.d., Ph.D. selaku pembimbing 1, terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan selama proses studi dan telah banyak memberikan bimbingan, saran, motivasi serta kesabaran selama penyelesaian skripsi.

  5. Segenap staf dan karyawan PGSD, terima kasih untuk setiap bantuan selama ini.

  6. Segenap warga SD K Sorowajan sebagai tempat penelitian. Bapak Suwardi, S.Pd. sebagai Kepala Sekolah, Ibu Wulan sebagai wali kelas

  IVB, siswa kelas IVB, dan orang tua siswa. Terima kasih karena sudah mau menjadi subjek penelitian.

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

DAFTAR ISI

  Halaman HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .................................................. ii HALAMAN PENGESAHAN

  ………………………………………………… iii HALAMAN PERSEMBAHAN

  ……………………………………………….. iv MOTTO ................... …………………………………………………………… v

  PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................................vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  ……………………………………… vii ABSTRAK ............... ………………………………………………………….. viii ABSTRACT ............... …………………………………………………………... ix

  PRA KATA ………………. ................................................................................... x DAFTAR ISI ........................................................................................................ xi DAFTAR TABEL ……………………………………………………………....xiii DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................xiv

  BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ........................................................................ 1 B. Pembatasan Masalah ............................................................................. 2 C. Rumusan Masalah ................................................................................ 2 D. Batasan Pengertian ............................................................................... 2 E. Tujuan Penelitian .................................................................................. 3

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  F.

  Manfaat Penelitian ................................................................................ 3

  BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Paradigma Pedagogi Reflektif……………………………………………..4 1. Sejarah Munculnya PPR………………………………………………4 2. Pengertian …………………………………………………………….5 3. Dinamika PPR…………………………………………………………6 4. Ciri-ciri PPR …………………………………………………………11 5. Pengembangan Pendidikan Melalui PPR……………………………13 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. JENIS PENELITIAN…………………………………………………….16 B. METODE PENGUMPULAN DATA …………………………………..16 C. METODE ANALISIS DATA ……………………………………….…20 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. PELAKSANAAN PENELITIAN ……………………………………….22 B. DATA ……………………………………………………………………22 C. ANALISIS DAN PEMBAHASAN ……………………………………..23 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan………………………………………………………………30 B. Saran ………………………………………………………………….. 31 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………...32 LAMPIRA N ……………………………………………………………………..33 DAFT AR RIWAYAT HIDUP ………………………………………………..102

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  

DAFTAR TABEL

halaman

Tabel 3.1 Panduan Wawancara ............................................................... 25Tabel 3.2 Panduan Pengamatan ................................................................ 26Tabel 3.3 Pelaksanaan Wawancara ......................................................... 27 Tabel 3.

4 Pelaksanaan Pengamatan ……………………………………. 28

Tabel 3.5 Pelaksanaan Pe nerapan PPR oleh Peneliti ……………...…… 28

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1: Pengamatan Guru Mengajar ............................................................ 45 Lampiran 2: Wawancara Kepala Sekolah ............................................................. 53 Lampiran 3: Wawancara Wali Kelas ..... .............................................................. 70 Lampiran 4: Wawancara Orang Tua Siswa .......................................................... 78 Lampiran 5: Wawancara Siswa .............. .............................................................. 82 Lampiran 6: Penerapan PPR oleh Peneliti ............................................................ 84 Lampiran 7: Surat Ijin Penelitian dari PGSD USD dan SD K Sorowajan ........... 94

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pedagogi sebagai seni dan ilmu dalam mengajar mengalami perubahan

  dari tahun ke tahun. Berdasarkan pengamatan peneliti pada 1 Mei 2010 di SD Kanisius Wirobrajan (saat probaling 2), guru cenderung menerapkan pembelajaran yang menitikberatkan pada pengalaman dan evaluasi. Murid dijejali berbagai ilmu pengetahuan, kemudian harus di evaluasi secara tertulis dengan tuntutan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) tertentu yang sudah ditentukan sekolah. Murid diforsir untuk belajar secara teoritis, tanpa melihat nilai-nilai moral dan kehidupan. Pengajaran seperti itu pada akhirnya hanya akan mencetak lulusan yang pintar dalam bidang akademik tanpa diimbangi dengan moralitas yang baik. Hal itu menjadi keprihatinan dalam dunia pendidikan saat ini.

  Paradigma Pedagogi Reflektif diangkat dalam dunia pendidikan di Indonesia sebagai angin segar yang membawa perubahan positif. Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) yang mengandung lima langkah yaitu konteks, pengalaman, refleksi, aksi, dan evaluasi, membimbing siswa untuk menjadi manusia yang utuh dalam perkembangan kehidupannya di dunia ini.

  Siswa dibimbing untuk mengembangkan diri dalam tiga ranah yaitu

  competence (kompetensi yang utuh), conscience (kepekaan dan ketajaman hati nurani) dan compassion (bela rasa bagi sesama) dalam pengalamannya.

  Pengalaman yang menunjukkan kegiatan kognitif dan afektif dalam pembelajaran. Kemudian dilanjutkan dengan refleksi sebagai ciri khas dalam PPR guna memperdalam makna dari sebuah pengalaman.

  Penerapan PPR saat ini diharapkan dapat mengubah pola ajar guru selama ini yang hanya mengedepankan aspek akademik, sehingga tercipta lulusan yang mengalami perubahan pribadi dan sosial.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  B.

  Pembatasan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, penelitian ini dibatasi pada Penerapan Paradigma Pedagogi Reflektif dalam pembelajaran di kelas

  IVB SD Kanisius Sorowajan Yogyakarta.

  C.

  Perumusan Masalah Dilandasi latar belakang masalah, masalah dan pembatasannya, masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

  Bagaimanakah implementasi Paradigma Pedagogi Reflektif dalam pembelajaran di kelas IVB SD Kanisius Sorowajan semester genap Tahun Pelajaran 2010/ 2011.

  D.

  Batasan Pengertian 1.

  Paradigma Pedagogi Reflektif Paradigma Pedagogi Reflektif adalah suatu pendekatan yang dilakukan pengajar untuk mendampingi siswanya dalam perkembangannya baik dalam segi berpikir dan bertindak dalam menerapkan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga siswa memiliki pribadi yang utuh dan manusiawi.

2. Pemecahan Masalah

  Seperti yang telah diuraikan pada latar belakang dan tersirat dalam rumusan masalah, masalah tentang pembelajaran yang hanya mengarah pada satu aspek (akademik), akan diatasi dengan pembelajaran yang menggunakan pendekatan Paradigma Pedagogi Reflektif yang mengarah pada suatu keutuhan (akademik dan non akademik), dan pelaksanaan pembelajarannya diusahakan sebanyak mungkin siswa terlibat.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  E.

  Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah penerapan pendekatan Paradigma Pedagogik Reflektif di SD Kanisius Sorowajan kelas

  IVB semester genap Tahun Pelajaran 2010/ 2011.

  F.

  Manfaat Manfaat penelitian: 1.

  Secara teoritis Hasil penelitian tersebut dapat menambah wawasan tentang salah satu model pembelajaran yang dapat membentuk keutuhan pribadi siswa terkait dengan menerapkan pendekatan Paradigma Pedagogi Reflektif.

2. Secara praktis

  a. Bagi peneliti sendiri, dapat memberikan pengalaman yang berharga dalam mempelajari dan menerapkan pendekatan Paradigma Pedagogi Reflektif dalam pembelajaran, sehingga dapat menerapkannya saat menjadi guru.

  b.

  Bagi rekan-rekan guru, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan inspirasi bahwa menggunakan pendekatan Paradigma Pedagogi Reflektif merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat dikembangkan untuk materi pokok/mata pelajaran yang disesuaikan.

  c. Untuk perpustakaan sekolah, laporan penelitian ini dapat menambah satu bahan bacaan yang dapat dimanfaatkan untuk teman-teman guru sebagai contoh skripsi studi deskriptif, tertama bagi yang masih mengalami kesulitan dalam menyusun skripsi studi deskriptif melakukan; sedangkan bagi yang sudah bisa menyusun dapat dijadikan sebagai bahan pembanding.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pendekatan Paradigma Pedagogik Reflektif (PPR) Pengertian PPR dalam BAB II ini hampir semuanya diambil dari buku Paradigma Pedagogi Reflektif yang merupakan terjemahan dari Ignatian Pedagogy, A Practical Approach (diterjemahkan oleh Rm. J. Subagya, SJ.) tahun 2010.

1. Sejarah munculnya PPR

  Awal mula terbentuknya istilah PPR yaitu ada seorang yang bernama Ignatius. Ia mendirikan Serikat Jesus tahun 1540. Kelompok religius ini tidak pertama-tama langsung menerapkannya di sekolah-sekolah, namun kepentingan masyarakat waktu itu menuntut Ignatius untuk mengambil keputusan memilih pendidikan sebagai cara yang efektif bagi pengembangan manusia-manusia yang unggul dalam imannya dan berkarakter. Keberhasilan sekolah-sekolah yang didirikan oleh para Jesuit, anggota Serikat Jesus, menjadi kekaguman banyak orang sehingga dengan cepat tersebar dan diminati negara Eropa, yang menjadi kunci keberhasilannya adalah adanya seperangkat Rencana Pengajaran sekolah Jesuit.

  Pada tahun 1581 pemimpin tertinggi Serikat Jesus, Claudius Aquaviva membentuk sebuah tim yang tugasnya mengumpulkan “best practices” dari sekolah- sekolah Jesuit itu, dan merumuskan sebuah “ Rencana Pengajaran”. Di

  Eropa dikenal dengan nama” Ratio Studiorum” yang disingkat dengan nama “

  Ratio atque Institutio Studiorum Societatis Iesu

  ” (Rencana Pengajaran untuk Lembaga Pendidikan Serikat Jesus). Tim itu menyelesaikan draft Ratio

  Studiorum tahun 1586 dan digunakan untuk dievaluasi di kemudian hari. Sejak

  itu dengan cepat lebih dari 1000 sekolah yang dikelola Jesuit di berbagai tempat selalu mengacu pada Ratio Studiorum untuk mengembangkan pendidikannya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Berabad-abad kemudian sampai abad ke-20, kehebatannya diterima dan diakui banyak orang. Pemimpin tertinggi Jesuit, P.H. Kolvenbach SJ, membuat tim untuk merumuskan ulang Ratio Studiorum agar sesuai dengan konteks zaman. Pada tahun 1993, di Roma ada tim yang betugas untuk menyebarluaskan Rencana Pengajaran itu di belahan dunia. Mereka selalu berkumpul dan berbagi pengalaman mengenai metode-metode kunci dalam penyelenggaraan pendidikan modern. Mereka sadar bahwa Ignatius telah mewariskan metode pedagogis yang berkembang dari spiritual Ignatian yang sangat mendalam. Maka dokumen yang dikembangkan dalam forum itu berjudul “Ignatian Pedagogy. A Practical Approach. Dari pertemuan itu, Paradigma Pedagogi Ignatian mulai menggema dan mengubah penyelenggaraan pendidikan disekolah-sekolah Jesuit di mana-mana.

2. Pengertian

  Menurut buku Paradigma Pedagogi Reflektif yang merupakan terjemahan dari Ignatian Pedagogy, A Practical Approach (yang diterjemahkan oleh Rm. J. Subagya, SJ.) tahun 2010, Paradigma Pedagogi Reflektif adalah

  “suatu pendekatan yang dilakukan pengajar untuk mendampingi siswanya dalam perkembangannya baik dalam segi berpikir dan bertindak dalam menerapkan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga siswa memiliki pribadi yang utuh dan manusiawi

  ”. Pengertian tersebut sesuai dengan esensi dari pendidikan yaitu sebagai suatu proses penanaman nilai-nilai kemanusiaan, ilmu pengetahuan dan keterampilan. Pendidikan itu sendiri seharusnya mendampingi peserta didik untuk berproses tumbuh dan berkembangnya kesadaran nilai-nilai kehidupan atau nilai kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusiaan yang diperoleh tersebut akan direfleksikan, dan hasil dari refleksi siswa akan diterapkan dalam kehidupannya sehingga akan tampak perubahan pola tingkah laku dan sikap yang utuh. Utuh di sini adalah siswa mampu memiliki sikap yang berbudi pekerti, berbela rasa pada sesama dan lingkungan, yakni sikap yang mengarah ke arah positif yang mampu dipertanggungjawabkan. Hasil dari pembentukan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  semacam itu merupakan kemauannya sendiri dalam mengambil keputusan- keputusan yang bertanggung jawab.

  Proses pembelajaran berbasiskan PPR di sekolah atau di kelas, tidak lain mengarah pada perkembangan pribadi yang semakin utuh. Namun jangan hanya terintegrasi dalam keutuhan pribadinya sebagai seorang manusia, tetapi PPR yang diintegrasikan dalam proses pembelajaran di sekolah adalah membantu peserta didik berkembang menjadi seorang pribadi yang kompeten, bersuara hati, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian pada sesama. Pribadi semacam itulah yang disebut pribadi yang utuh baik dari dalam dan luar dirinya.

3. Dinamika PPR

  Secara umum model pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pedagogik reflektif ini mencakup lima langkah pokok, antara lain (Tim Penyusun P3MP dan LPM, Universitas Sanata Dharma, 2008:20 dan Riyanto, 2009): 1)

  Konteks Tahap awal dari pembelajaran yang berbasis pedagogi reflektif ini adalah pengenalan konteks siswa. Siswa diajak mencermati konteks-konteks yang ada dalam hidupnya sehingga mereka mampu mengenali faktor-faktor yang berpotensi mendukung atau menghambat proses pembelajaran yang akan dialaminya. Guru akan memulai proses pembelajarannya dari diri siswa yaitu dengan memahami dunia siswa termasuk cara-cara hidup keluarga dan lingkungannya, kebudayaan dan adat, dan juga tekanan sosial, politik, agama, ekonomi yang terjadi di sekitarnya, dan hal lain yang mempengaruhi dunia siswa dan mempengaruhinya ke arah yang baik dan buruk. Hal ini dilakukan karena siswa adalah subjek yang akan ditantang, didorong, dan didukung untuk mencapai perkembangan pribadi yang utuh. Pemahaman konteks ini akan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  membantu guru dalam menciptakan suasana belajar yang berkualitas, yakni siswa akan lebih memahami bahwa orang lain merupakan teman sejati dalam belajar.

  Konteks-konteks yang perlu dipahami oleh guru: a.

  Konteks kehidupan nyata siswa. Kehidupan nyata siswa yang meliputi cara hidup keluarga, teman-teman, kelompok sebaya, keadaan sosial-ekonomi, kesenangan, lembaga pendidikan, susasana kebudayaan atau yang lain yang berdampak menguntungkan atau merugikan siswa. Selain itu, kadang berguna dan penting dalam mendorong para siswa berefleksi atas faktor-faktor kontekstual yang mereka alami dan bagaimana hal itu mempengaruhi sikap, tanggapan, penilaian dan pilihan mereka.

  1) Pengertian-pengertian yang dibawa siswa ketika memulai proses belajar. Pengertian dan pemahaman yang siswa peroleh dari studi sebelumnya atau dari lingkungan hidup siswa merupakan konteks belajar yang harus diperhatikan. Selain itu, perasan, sikap, dan nilai- nilai yang para siswa miliki termasuk konteks nyata proses belajar mereka.

  2) Konteks sosio-ekonomi, politik, kebudayaan, kebiasaan kaum muda, agama, media massa, dan lain-lain merupakan lingkungan hidup siswa yang dapat mempengaruhi perkembangan siswa dalam hubungannya dengan orang lain. Misalnya siswa yang status ekonominya rendah akan berdampak pada harapan siswa untuk berhasil dalam studi dan dalam mengembangkan kreativitas siswa secara bebas menjadi terhambat.

3) Situasi sekolah tempat proses belajar mengajar terjadi.

  Keberhasilan proses pendidikan sangat dipengaruhi oleh situasi sekolah yang bersifat kondusif. Sekolah seharusnya diberi perhatian lebih

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  sebagai tempat pengembangan moral dan pembentukan religius siswa. Secara konkret, unsur-unsur suasana sekolah dapat diwujudkan dalam perhatian pada mutu akademik, kepercayaan orang lain, perhatian dan penghargaan pada sesama, memperlakukan sesama secara jujur dan adil, usaha membantu siswa menjadi pribadi yang dewasa dan utuh baik dalam hal moral dan imannya. Tanpa unsur-unsur tersebut kekuatan khas pendidikan dan pengajaran akan melemah, karena kepercayaan dan persahabatan antara guru dan siswa merupakan prasyarat yang menunjang Paradigma Pedagogi Reflektif.

  Pemahaman konteks itu akan sangat membantu para guru dalam menciptakan hubungan yang dicirikan oleh autentisitas dan kebenaran. Jika suasana saling mempercayai dan saling menghargai terjadi, siswa akan mengalami bahwa orang lain merupakan teman sejati dalam proses belajar. Dalam suasana seperti itulah proses belajar akan berjalan lancar secara sekaligus berkualitas.

  b.

  Pengalaman Bagi Ignatius, pengalaman berarti “mengenyam sesuatu hal dalam batin”.

  Pengalaman yang didapat siswa (fakta, pengertian, asas) akan dianalisis dan dinilai ide-idenya untuk lebih memahami dan menghargai maknanya. Tahap pengalaman merupakan tahap yang sangat penting dalam menentukan tingkat pencapaian kompetensi yang dicapai baik dalam aspek kognitif, psikomotorik, maupun afektif. Selain itu, tahap ini juga menjadi bahan atau dasar bagi tahap refleksi dan aksi yang merupakan kelanjutan dari tahap pengalaman.

  Di dalam pembelajaran, pengalaman sama artinya dengan pengalaman belajar, atau dalam RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) disebut dengan kegiatan pembelajaran. Pengalaman di sini adalah pengalaman belajar yang dialami siswa untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Di dalam tahap

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  ini, siswa akan diajak mendalami materi belajar agar pada dirinya terbangun pemahaman dan menumbuhkan sikap positif terkait dengan pemahaman tersebut (keterampilan). Pengalaman yang akan dipelajari siswa berasal dari pengalaman langsung dan pengalaman tidak langsung. Pengalaman langsung didapat dari pengalaman interpersonal, misalnya saat diskusi, praktikum, kegiatan lintas alam, mengambil bagian dari olah raga, dan sebagainya. Sedangkan pengalaman tidak langsung bisa lewat membaca atau mendengarkan. Sesuatu hal yang siswa baca dan dengar akan ditantang guru untuk merangsang imajinasi dan indera siswa, sehingga mereka dapat dengan sunguh-sungguh memasuki kenyataan yang sedang dipelajari. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan metode role playing, pemakaian audio visual, dan sebagainya.

  c.

  Refleksi Refleksi merupakan unsur yang penting dalam Pendekatan Pedagogi

  Reflektif, karena menjadi penghubung antara pengalaman dan tindakan. Agar pengalaman belajar yang diperoleh siswa dapat bermakana maka perlu direfleksikan. Tujuan dari kegiatan refleksi adalah a) Siswa mampu menangkap nilai hakiki dari apa yang dipelajari; b) Menemukan keterkaitan antar unsur pengetahuan dan antara pengetahuan dengan realitasnya; c) Memahami implikasi pengetahuan dan seluruh tanggung jawabnya guna menemukan kebenaran dan kebebasan; dan d) Membentuk hati nurani siswa baik itu dalam hal keyakinan, nilai, sikap dan seluruh cara bernalar mereka.

  Istilah refleksi dipakai dalam arti: menyimak kembali penuh perhatian bahan studi tertentu, pengalaman, ide-ide, usul-usul, atau reaksi spontan supaya dapat menangkap maknanya lebih mendalam. Jadi refleksi adalah suatu proses yang memunculkan makna dalam pengalaman manusiawi. Di dalam proses ini guru membimbing siswa merefleksikan pengalaman belajarnya, dan siswa diberi kebebasan untuk berefleksi. Siswa mempertimbangkan pengalamannya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dari sudut pandang pribadi dan manusiawi, dengan tujuan agar siswa mampu memahami kebenaran yang dipelajari secara lebih baik, mengetahui reaksi perasaan yang dialami, agar siswa mampu menemukan maknanya bagi diri sendiri dan mulai memahami siapa dirinya serta bagaimana sikapnya terhadap orang lain. Ada kemungkinan siswa yang telah berefleksi tidak menunjukkan perubahan ke arah perkembangan. Hal ini bisa terjadi karena siswa baru dalam taraf perkembangan untuk menjadi dewasa, akan tetapi yang penting guru sudah menanamkan "benih" kehidupan ke dalam diri siswa dan benih itu pasti akan tumbuh pada saatnya.

  Refleksi dalam Pedagogi Ignasian harus bermuara pada keputusan dan tekad yang kuat untuk melakukan segala hal yang siswa rasakan, dan refleksi jangan menjadi mentah kalau hanya menghasilkan pemahaman dan reaksi afektif. Hal ini dikarenakan pengalaman harus bersifat positif dan memberikan perubahan pada diri siswa sehingga menjadi pribadi yang utuh.

  d.

  Tindakan Paradigma Pedagogi Ignasian tidak hanya berhenti pada refleksi, tetapi justru dari refleksi itu diharapkan siswa terdorong untuk mengambil keputusan atau komitmen dan kemudian melaksanakannya. Refleksi yang bermula dari pengalaman harus berakhir pada realitas pengalaman yang baru dalam wujud pengambilan sikap atau tindakan. Perwujudan pengalaman baru inilah yang disebut aksi.

  Di dalam proses pembelajaran, yang dimaksud dengan tindakan adalah memaknai hasil pembelajaran dengan pikiran dan hati untuk mewujudkan pengetahuannya dalam kehidupan nyata. Jika siswa tersebut mengalami keberhasilan atau kegagalan, ia akan kembali kepada Tuhan untuk bersyukur atau memohon kepada-Nya agar semuanya menjadi lebih baik lagi.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  e.

  Evaluasi Tahap terakhir dari pembelajaran yang berbasis pedagogi reflektif adalah evaluasi. Tahap ini dilakukan untuk memantau kemajuan akademik dan menilai kemajuan pembentukan pribadi siswa secara menyeluruh. Tes, ulangan, atau ujian merupakan alat evaluasi untuk menilai atau mengukur seberapa jauh pengetahuan sudah dikuasai dan keterampilan sudah diperoleh, yang tidak lain hal ini merupakan hasil dari evaluasi. Hasil evaluasi ini akan menjadi umpan balik bagi guru dan siswa. Bagi siswa, hasil evaluasi ini bermanfaat untuk memperbaiki cara belajarnya, sedangkan bagi guru merupakan masukan untuk memperbaiki cara dan metode pembelajaran yang digunakan.

  Di dalam pedagogi Ignasian, evaluasi dilakukan dalam aspek akademis dan aspek kemanusiaan. Evaluasi akan dilakukan secara periodik untuk mendorong guru dan siswa memperhatikan perkembangan pengetahuan, sikap dan tindakan-tindakan yang selaras dengan prinsip men and women for and

  with other .

2. Ciri-ciri PPR

  Paradigma Pedagogi Reflektif mempunyai ciri-ciri khas sesuai dengan pendidikan Jesuit (Paradigma Pedagogi Reflektif.2010:66), yaitu: a) Paradigma Pedagogi Reflektif dapat diterapkan kepada semua kurikulum. Paradigma ini tidak menuntut tambahan apapun selain pendekatan baru pada cara kita mengajarkan mata pelajaran yang ada.

  b) Paradigma Pedagogi Reflektif fundamental untuk proses belajar mengajar. Paradigma tersebut dapat diterapkan pada ranah akademik dan non-akademik (kegiatan ekstrakurikuler, olah raga, retret, dan sebagainya). Dalam bidang studi tertentu (sejarah, matematika, bahasa, sastra, fisika, dan kesenian),

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  paradigma ini dapat dijadikan sebagai panduan dalam mempersiapkan pengajaran, memilih bahan dan kegiatan-kegiatan lainnya. Paradigma ini dapat membantu peserta didik menemukan hubungan antara suatu bidang studi dengan bidang studi lain, selain itu dapat membantu menyaturagakan studi peserta didik dengan yang dahulu sudah dipelajari. Penerapan teratur dari pola ini dalam kegiatan belajar mengajar akan membantu pembentukan kebiasaan berefleksi dahulu sebelum bertindak.

  c) Paradigma Pedagogi Reflektif menjamin para pengajar menjadi pengajar yang lebih baik. Paradigma ini akan membantu para pengajar memperkaya isi materi maupun susunan kegiatan yang diajarkan. Para pengajar akan berusaha lebih keras menuntut para siswa untuk belajar lebih aktif dan menjadi lebih bertanggung jawab terhadap hasil studi. Paradigma ini membantu para pengajar memotivasi para siswa untuk menghubungkan apa yang mereka pelajari dalam pengalaman mereka.

  d) Paradigma Pedagogi Reflektif mempribadikan proses belajar dan mendorong siswa merefleksikan makna dan arti dari apa yang dipelajari.

  Pengalaman dalam hidup siswa akan membantu mereka menjadi lebih kritis dalam proses belajar mengajar serta meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. Pengalaman yang siswa peroleh direfleksikan lebih pribadi agar tercipta hubungan pengajar dan siswa yang lebih dekat.

  e) Paradigma pedagogi reflektif menekankan matra sosial belajar maupun mengajar. Para pengajar harus mendorong kerja sama yang erat dan berbagi pengalaman serta dialog reflektif antara para siswa. Serta mendorong siswa untuk bergerak maju kearah kegiatan yang berdampak baik bagi hidup orang lain. Pengalaman yang paling mendalam timbul dari hubungan manusiawi dengan sesama dan pengalaman bersama orang lain. Refleksi harus selalu mengantar siswa untuk makin menghargai hidup orang lain.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

3. Pengembangan Pendidikan Melalui PPR

  Penerapan PPR dapat membantu perkembangan pendidikan budaya yang ada di masyarakat. Beberapa kemungkinan yang masih terus dicoba dan dikembangkan lebih lanjut adalah sebagai berikut (Tim Redaksi Kanisius, 2008:45): a.

  Budaya antikorupsi, antikekerasan, antiperusakan lingkungan.

  Upaya yang dapat ditempuh untuk menumbuhkan budaya ini satu per satu, misalnya sebagai berikut.

  1) Antinyontek ≈ antikorupsi

  Menumbuhkan budaya antikorupsi pada siswa dapat dilakukan dengan cara siswa diajak membahas masalah korupsi dengan memperbincangkan misalnya, kejadiannya, dampaknya, siapa yang dirugikan, siapa yang diuntungkan, perasaan orang-orang yang terkena imbas negatifnya dan lain- lain. Cara ini kemudian direfleksikan dan siswa diminta untuk melakukan aksinya.

  Antikorupsi dapat diberikan dengan mengembangkan budaya antinyontek. Strategi yang bisa dilakukan oleh guru adalah diciptakannya suasana atau wacana (sebagai konteks) bahwa lebih bekerja sendiri daripada menyontek.

  Bila ada siswa kedapatan nyontek, guru tidak memarahinya tetapi mengajak berefleksi. Dengan metode kerja kelompok, siswa kan diajak bekerja keras sehingga tumbuh rasa percaya diri dan tidak takut mengikuti tes tanpa gagal. 2)

  Persaudaraan, solidaritas dan saling menghargai ≈ antikekerasan Hubungan antara persaudaraan, solidaritas dan menghargai sesama sangat erat. Cara pengembangan persaudaraan dan solidaritas akan mengurangi tindak kekerasan yang terjadi di masyarakat kita. Jika solidaritas tanpa disertai adanya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  penghargaan terhadap sesama, akan membuat persaudaraan menjadi kurang berarti. Persaudaraan akan mampu menumbuhkan cara pandang, sikap dan perilaku antikekerasan. Cara pengembangan ini akan berhasil jika pengalaman itu direfleksikan dan ditanggapi dengan aksi, dan selanjutnya seluruh proses dievaluasi. 3)

  Mencintai lingkungan hidup ≈ antiperusakan lingkungan Mencintai lingkungan di sini adalah mencintai kelas sehingga membuatnya nyaman. Pengalaman untuk mengembangkan cinta lingkungan dapat dilakukan praktik-praktik di sekolah misalnya dengan membersihkan kelas, membuat kelas nyaman, atau memelihara kebun di depan kelas masing-masing.

  b.

  Sikap kemanusiaan kritis Pendidikan tidak hanya menjadikan seorang siswa menjadi cerdas dalam hal akademik, tatapi harus cerdas dalam sikap kemanusiaan yang kritis.

  Maksudnya peserta didik yang cerdas dalam bersikap, memutuskan, memilih, menilai dan bertindak. Hal ini dapat diwujudkan dengan bantuan atau bimbingan guru yang selalu mengajak siswanya untuk melihat kejadian- kejadian aktual yang terjadi di mayarakat demi pembentukan sikap kritis dalam memberikan pendapat.

  c.

  Religiositas terbuka Di dalam pemberian materi ajar sebaiknya siswa tidak hanya menerimanya secara pasif, melainkan secara aktif yaitu siswa yang selalu diajak untuk berpikir dan bkerja secara aktif. Dengan adanya masalah yang dijadikan tantangan, siswa akan aktif bernalar, bereksplorasi dan berkreasi. Melalui pembelajaran religiositas siswa dibantu untuk memahami dan menghayati nilai-nilai kehidupan dan nilai-nilai keagamaan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  d.

  Penalaran, eksplorasi, kreativitas, dan kemandirian Siswa seharusnya diajak untuk melakukan perubahan sosial menuju kebersamaan yang damai (lawan korupsi, kekerasan, dan perusakan lingkungan hidup). Maka diperlukan kemampuan penalaran, eksplorasi, dan kemandirian dalam belajar.

  Untuk penalaran, siswa diajak untuk memecahkan permasalahan yang terjadi di masyarakat. Dengan demikian, siswa akan berusaha mencari jalan keluar dengan mencari data-data (eksplorasi), mengutak-ngatik solusi, dan mencari data untuk mengujinya (kreativitas).

  e.

  Kemahiran berbicara Siswa diharapkan untuk mampu berbicara logis, sistematis, manarik dan berisi dalam bahasa yang baik dan benar. Dengan memiliki kemampuan ini, diharapkan siswa akan memiliki sikap kepemimpinan yang mempunyai tujuan untuk memperjuangkan perubahan sosial.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Metodologi penelitian merupakan suatu hal yang sangat penting dalam

  suatu penelitian, karena semakin baik metode yang digunakan dalam penelitian, penelitian tersebut akan efektif dan efisien serta hasil yang dicapai akan semakin sempurna. Istilah metodologi penelitian berasal dari bahasa Yunani yaitu: “methodos” yang artinya metode atau cara, sedangkan logos artinya ilmu. Dari arti kata di atas dapat ditarik kesimpulan metodologi penelitian adalah ilmu pengetahuan tentang metode atau cara yang dapat ditempuh untuk mencapai suatu tujuan.

  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan dan mengolah data yang sifatnya deskriptif seperti transkrip wawancara, catatan lapangan, gambar, foto, rekaman video, dan sebagainya (Poerwandari, 1998).

  Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif yaitu penelitian yang berusaha menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data- data dengan menyajikan data, menganalisis, dan mengintrepretasikannya (Moleong, 2002).

B. Metode Pengumpulan Data

  Penelitian ini menggunakan wawancara dan pengamatan sebagai alat utama dalam pengumpulan data. Wawancara dilakukan kepada key informan dan pengamatan dilakukan kepada siswa-siswa kelas IVB pada saat kegiatan belajar berlangsung, yang direkam dengan menggunakan tape recorder, kamera foto, dan handycam.

  Wawancara adalah usaha untuk mengumpulkan informasi dengan mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan yang dilakukan antara pencari informasi dengan sumber informasi. Wawancara dilakukan untuk mengetahui

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Pola pikir (paradigma) untuk menumbuhkembangkan pribadi manusia menjadi pribadi yang utuh (kristiani)

  Selain itu, peneliti melakukan pengamatan terhadap guru IVB saat mengajar di kelas. Pengamatan dilakukan dua kali pertemuan sesuai dengan jadwal pelajaran kelas, dengan berbeda mata pelajaran (selama masing-masing

  Alternatif cara yang dipilh untuk mengatasi hambatan yang muncul Cara mengatasi hambatan

  4. Strategi pemecahan masalah

  Hambatan yang dialami informan

  3. Hambatan Faktor-faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhi perkembangan dari penerapan PPR

  2. Dampak Hasil yang akan diperoleh dari penerapan PPR Dampak positif dan negatif

  Penerapan PPR di SD Kanisius Sorowajan, yakni di kelas IVB

  pemahaman informan mengenai sesuatu hal baik itu pengalaman, perasaan, dan pemikiran individu (Poerwandari, 1998).

  Di dalam penelitian ini, wawancara dilakukan pada kepala sekolah SD Kanisius Sorowajan, wali kelas IVB, siswa-siswa kelas IVB, dan orang tua murid kelas IVB. Untuk mencari subjek penelitian, peneliti melakukan beberapa hal berikut: a.

  No. Pengalaman Deskripsi Fokus

  Panduan Wawancara

  IVB, siswa-siswa kelas IVB, dan orang tua murid meliputi hal-hal berikut: Tabel 3. 1

  Mengadakan janji waktu dan tempat untuk melakukan wawancara. Pengalaman-pengalaman yang diungkap dalam wawancara dengan calon subjek penelitian baik itu kepala sekolah SD Kanisius Sorowajan, wali kelas

  c.

  Mencari dua siswa kelas IVB SD Kanisius Sorowajan secara acak dengan kriteria dan karakter tertentu.

  b.

  Menghubungi secara langsung para calon subjek penelitian yang akan dimintai kesediaannya untuk diwawancara.

  1. Paradigma Pedagogi Reflektif

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  2JP alokasi waktu). Hal yang diamati selama kegiatan belajar mengajar adalah ingin mengetahui bagaimana guru menerapkan PPR dalam pembelajaran di kelas, yang menunjukkan langkah-langkah dari penerapan PPR.

  Tabel 3.2 Panduan Pengamatan

  No. Langkah- Deskripsi Fokus langkah PPR

  1. Konteks Pemahaman dunia siswa mengenali Konteks dari faktor-faktor yang berpotensi mendukung siswa atau menghambat proses pembelajaran yang akan dialaminya

  2. Pengalaman Pengalaman belajar yang dialami siswa Pemberian untuk mencapai tujuan yang sudah pengalaman ditetapkan atau pengetahuan pada siswa

  3. Refleksi Proses yang memunculkan makna dalam Pertanyaan pengalaman manusiawi refleksi, suasana dan keadaan saat refleksi berlangsung

  4. Tindakan Memaknai hasil pembelajaran dengan Aksi nyata pikiran dan hati untuk mewujudkan siswa setelah pengetahuannya dalam kehidupan nyata refleksi

  5. Evaluasi Memantau perkembangan akademik dan Hasil menilai kemajuan pembentukan pribadi akademik siswa secara menyeluruh yang siswa peroleh

  Sebelum melakukan wawancara dan pengamatan, peneliti mempersiapkan hal-hal yang diperlukan.

  a) Panduan wawancara dan pengamatan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

b) Alat untuk merekam atau handycam dengan durasi berbeda-beda.

  12.40 WIB (7 menit) Ruang kelas Tabel 3.4

  23 Mei 2011

  24 Mei 2011

  10.58 WIB (17 menit)

  16.04 WIB (14 menit) Rumah orang tua murid.

  4. Siswa kelas

  IVB (S)

  24 Mei 2011

  Pelaksanaan Pengamatan

  09.04 WIB (10 menit) Ruang kelas dan Ruang TU.

  No. Mata Pelajaran Tanggal Waktu Tempat 1.

  IPA (pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap daratan.)

  Senin,

  2 Mei 2011

  (07.00

  Ruang kelas

  IVB

  3. Orang Tua murid (OT)

  10.01 WIB (18.21 menit)

  Setiap melakukan wawancara dan pengamatan, peneliti mempersiapkan alat cadangan lain untuk merekan yaitu kamera digital dengan menggunakan 2 buah baterai dan cadangan 4 buah baterai.

  14.02 WIB ( 42 menit)

  c) Kertas atau alat tulis yang digunakan untuk mencatat hal-hal penting yang akan ditanyakan pada subjek penelitian untuk menggali informasi lebih dalam.

  Tabel 3.3 Pelaksanaan Wawancara No.

  1. Subyek Kepala Sekolah (KS)

  Tanggal

  18 Mei 2011

  28 Mei 2011

  Waktu

  13.36 WIB (15:38 menit)

  Tempat

  11.55 WIB (10 menit)

  Ruang guru Ruang tamu

  2. Wali Kelas

  IVB (WK)

  26 Maret 2011

  29 Maret 2011

  29 April 2011

  2 Mei 2011

  11.31 WIB (13 menit)

  • – 08.20 WIB)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  2. IPS (masalah Selasa, 3 Mei (09.20 Ruang kelas

  • – 10.40 WIB) sosial) 2011

  IVB Tabel 3.5

  Penerapan PPR oleh peneliti

  No. Mata Tanggal Waktu Materi Pelajaran 1.

  IPS

  9 Mei 2011 09.20 - 10.40 WIB Masalah Sosial Jenis budaya Indonesia yang pernah ditampilkan

  2. PKN

  16 Mei 2011

  11.00

  • – 12.20 WIB dalam misi kebudayaan internasional

C. Metode Analisis Data

  Pengolahan atau analisis data dapat dimulai dengan mengorganisasi data dan koding. Highlen dan Finley (dalam Poerwandari, 1998), mengatakan bahwa organisasi data bertujuan untuk : 1)

  Memperoleh kualitas data yang baik

2) Mendokumentasikan analisis yang dilakukan.

  3) Menyimpan data dan analisis yang berkaitan dalam penyelesaian penelitian.

  Organisasi data dilakukan untuk mempermudah peneliti dan pihak lain dalam memeriksa ketepatan langkah-langkah yang telah diambil dan memungkinkan data tidak tercampur aduk. Organisasi data memungkinkan data tersusun rapi, sistematis dan selengkap mungkin (Poerwandari, 1998).

  Langkah selanjutnya yang sangat penting sebelum melakukan analisis adalah koding. Koding dilakukan untuk mengorganisasikan dan mengsistematisasi data secara lengkap dan detail sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari. Fokus topik yang akan dipelajari adalah implementasi pendekatan Paradigma Pedagogi Reflektif dalam pembelajaran di kelas dan dampak yang timbul pada perkembangan siswa. Dengan melakukan koding dari setiap tema yang muncul diharapkan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  peneliti nantinya dapat menemukan makna dari data yang dikumpulkan (Poerwandari,1998).

  Setelah melakukan proses wawancara, peneliti menyusun verbatim. Untuk proses koding, peneliti membuat 4 buah kolom yang berisikan kolom pertama untuk nomor, kolom kedua untuk pertanyaan peneliti, kolom ketiga untuk jawaban objek, dan terakhir kolom keempat untuk keterangan. Peneliti kemudian menemukan beberapa tema sementara yang muncul dari proses koding.

  Setelah melakukan pengorganisasian data dan koding, peneliti mulai melakukan analisis data. Smith (dalam Poerwandari, 1988), menjelaskan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk analisis data, yaitu sebagai berikut:

  1. Membaca transkip untuk mendapatkan pemahaman tentang suatu masalah dan menuliskan interpretasi sementara yang muncul dari bagian yang kosong.

  2. Menuliskan tema atau kata kunci yang dapat ditangkap yang mencerminkan isi dari teks tersebut pada bagian atau sisi lain yang kosong.

3. Mendaftar tema-tema yang muncul pada lembar lain dan mencari hubungan antara tema-tema tersebut.

  4. Menyusun daftar tema-tema atau kategori-kategori sehingga menampilkan pola hubungan antar kategori bukan lagi sebagai kasus tunggal (cross cases).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian 1. Tempat penelitian Penelitian dilaksanakan SD Kanisius Sorowajan, Jl. Sorowajan No. 111, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Provinsi Yogyakarta.

B. Data

  Ruang kelas

  IVB (lihat di lampiran 1)

  Ruang kelas

  (09.20

  IPS (masalah sosial) Selasa, 3 Mei 2011

  IVB 2.

  (07.00

  2. Subjek penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IVB, guru kelas IVB dan SD K Sorowajan Yogyakarta.

  2 Mei 2011

  Senin,

  IPA (pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap daratan.)

  No. Mata Pelajaran Tanggal Waktu Tempat 1.

  1. Data Hasil Pengamatan Data hasil pengamatan terdiri dari pengamatan guru mengajar sebanyak 2 kali, yaitu:

  4. Waktu penelitian Penelitian dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2010/2011, yaitu bulan Maret-Mei 2011.

  3. Objek penelitian Objek penelitian ini adalah penerapan pendekatan pembelajaran di kelas IVB SD K Sorowajan dengan menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif.

  • – 08.20 WIB)
  • – 10.40 WIB)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2. Data Hasil Wawancara

  Data Hasil Wawancara terdiri dari wawancara Kepala Sekolah, Wali Kelas, Orang Tua, dan Siswa, yaitu:

  

No. Subyek Tanggal Waktu Tempat

1.

  Kepala

  18 Mei 2011

  13.36 WIB (15:38 menit) Ruang Sekolah (KS) guru Ruang

  28 Mei 2011

  14.02 WIB ( 42 menit) tamu

  2. Wali Kelas

  26 Maret 2011

  11.31 WIB (13 menit) Ruang

  IVB (WK)

  29 Maret 2011

  11.55 WIB (10 menit) kelas dan

  29 April 2011

  10.01 WIB (18.21 menit) Ruang

  2 Mei 2011 09.04 WIB (10 menit) TU.

  3. Orang Tua

  23 Mei 2011

  10.58 WIB (17 menit) Rumah murid (OT)

  24 Mei 2011

  16.04 WIB (14 menit) orang tua murid.

  4. Siswa kelas

  24 Mei 2011

  12.40 WIB (7 menit) Ruang

  IVB (S) kelas

  (lihat di lampiran 2, 3, 4, 5) 3.

  Data Hasil Penerapan PPR oleh Peneliti Data Hasil Penerapan PPR oleh Peneliti terdiri dari mengajar menggunakan PPR sebanyak dua kali, yaitu:

  No. Mata Tanggal Waktu Materi Pelajaran 1.

  IPS

  9 Mei 2011 09.20 - 10.40 WIB Masalah Sosial Jenis budaya Indonesia yang pernah ditampilkan

  2. PKN

  16 Mei 2011

  11.00

  • – 12.20 WIB dalam misi kebudayaan internasional

  (lihat di lampiran 6) C.

   Analisis dan Pembahasan 1. SD Kanisius Sorowajan a.

  Deskripsi Sekolah SD Kanisius Sorowajan beralamat di Jl. Sorowajan No.111, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Provinsi Yogyakarta.

  Berdiri sejak tahun 1962. Sekolah ini adalah sebuah sekolah yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  mempunyai kelas paralel dari kelas 1-5 (A dan B), kecuali kelas 6 (hanya satu kelas). Terdiri dari seorang kepala sekolah (BS/bukan nama sebenarnya), 11 guru kelas, dua orang guru olah raga, seorang guru komputer, empat orang guru ekstrakurikuler (tari, taekwondo, menyayi, karawitan), dan tiga orang petugas tata usaha, serta seorang satpam. Sekolah yang memiliki visi ”Menjadi pendidik anak Indonesia agar cerdas, berkarakter, peduli terhadap sesama dan lingkungan” dan misi ”Menyelenggarakan pendidikan sekolah dasar dan menengah yang berkualitas berlandaskan Paradigma Pedagogi Reflektif dan mengoptimalkan sumber daya bersama mitra strategis” ini telah menerapkan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) sejak tahun 2008 dengan salah satu alasan sebagai berikut: pendidikan intelektual belaka ternyata tidak cukup berhasil membuat orang sukses dalam kehidupannya. Banyak orang pandai tetapi tidak sukses dan banyak juga yang kendati tidak menonjol di bidang pengetahuan, tapi sukses karir atau hidupnya. Sebelum penerapan PPR, di sekolah ini terlebih dahulu menerapkan pendidikan karakter MATIUS (MANDIRI, AKTIF, TAAT,

  INOVATIF, ULET, SANTUN) yang Multikultur dengan alasan bahwa pendidikan bukan hanya mengembangkan aspek intelektual saja, tetapi aspek yang lain juga dikembangkan, maka sekolah ini mencoba mengembangkan sekolah yang berwawasan lingkungan berbasis kearifan lokal yaitu dengan menerapkan pendekatan pendidikan karakter MATIUS yang Multikultur. (Selayang Pandang SD K Sorowajan.2010).

  Untuk kebijakan penerapan PPR di SD K Sorowajan ini, sejauh pengamatan tidak ditemukan bagaimana bunyi kebijakan tersebut dan bukti dokumennya. Yayasan Kanisius mengambil keputusan bahwa untuk saat ini PPR merupakan pola pembelajaran yang terbaik. PPR merupakan keputusan yang final untuk dilaksanakan di sekolah-sekolah Katholik, khususnya di Yayasan Kanisius.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  b.

  Guru Kelas IVB Penelitian ini difokuskan pada kelas IVB dengan wali kelas bernama R. Ibu R sudah mengajar di SD K Sorowajan selama satu setengah tahun. Sebelum ditempatkan di SD K Sorowajan, ia mengajar di SD K Demangan Baru. Ia tinggal bersama dengan orangtuanya karena masih berstatus lajang di daerah Samben RT 05/Argomulyo Sedayu Bantul, Yogyakarta. Jenjang pendidikan yang ia tempuh semuanya berada di Yogyakarta, antara lain di “SD N Gunung Mulyo Sedayu (1993-

  1998), SMP N Sedayu (1998-2001), SMA N 1 Godean (2001-2004), Universitas Sanata Dharma (th. 2004- 2008”) (WK/17-21/260311.) Ibu

  Roz ini memilih untuk jadi guru SD, walaupun ia lulusan dari Prodi Matematika karena arahan dari ibu kandungnya yang juga seorang guru sekolah dasar. Selain alasan tersebut, ia juga mempunyai keinginan yang kuat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pekerjaannya.

  c.

  Siswa Kelas IVB Subjek ketiga yaitu siswa kelas IVB SD K Sorowajan yang berjumlah 32 orang. Mereka berumur rata-rata 9-10 tahun. Jumlah siswa laki-laki 15 orang, sedangkan jumlah siswa perempuan yaitu 17 orang. Mereka mayoritas tinggal di sekitar lingkungan SDK Sorowajan. Latar belakang ekonomi keluarga cukup merata dari atas, menengah dan bawah, misalnya dokter, guru, buruh.

  Wawancara dilakukan kepada dua orang siswa yang dipilih secara acak yaitu K dan VR. Wawancara bertujuan untuk mengetahui dampak dari pendekatan pedagogi reflektif dalam setiap pembelajaran oleh Ibu R.

  d. Orang Tua Murid IVB Peneliti memilih secara acak subjek pendukung penelitian yaitu orang tua murid IVB, yang diwakili oleh bapak TT dan Ibu BD. Ibu BD adalah seorang kepala sekolah dari sebuah SMA swasta di Kabupaten

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Bantul Yogyakarta. Suaminya adalah seorang dokter di salah satu rumah sakit di Yogyakarta. Ibu BD cukup ramah dan terbuka dalam menceritakan anaknya (K). K bukan anak kandung dari Ibu BD, ia mempunyai kelainan pada salah satu organ (jantung) tubuhnya yang membuat orang tua kandung tidak bisa merawatnya. Meskipun demikian, K tetap tumbuh sebagai gadis yang ceria di tengah orang tua dan kakak-kakaknya di rumah. Bapak TT adalah seorang guru olah raga di SD K Sorowajan. Dia mempunyai seorang istri dan dua orang anak (R dan VR). Bapak TT sangat memperhatikan perkembangan anaknya, baik dalam sekolah maupun pergaulan di masyarakat.

2. Implementasi PPR

   Implementasi PPR di SD Kanisius Sorowajan belum optimal

  diseluruh kelas dan di semua mata pelajaran. Hanya beberapa kelas saja yang sudah menerapkan PPR dalam pembelajarannya yaitu kelas IVB dan

  VA. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Sekolah, guru masih kesulitan dalam menerapkan PPR dalam pembelajaran. Selain karena kurang mendapatkan pelatihan dan bimbingan, hal ini juga disebabkan karena hanya para guru yang mendapatkan pelatihan dan bimbingan PPR, sehingga pemberian pelatihan dan bimbingan PPR kepada para guru tidak merata.

  Dari pengamatan di kelas IVB, penerapan PPR sudah cukup maksimal. Guru telah menerapkan PPR dalam lima mata pelajaran pokok yaitu IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Matematika dan Pkn. Guru tidak menerapkan siklus utuh dalam setiap mata pelajaran, karena butuh banyak waktu untuk menerima PPR yang merupakan sesuatu hal yang baru, sehingga tugas admisnistrasi guru menjadi semakin banyak serta RPP yang berbeda dengan RPP yang lain telah menyita waktu berpikir guru. Maka untuk mengatasi kesulitan tersebut, para guru diberi sebuah pelatihan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  khusus tentang PPR. Hasil yang didapat masih saja guru merasa bingung tentang penerapan PPR, karena sesuatu hal yang baru dibutuhkan proses yang panjang untuk mempelajari serta menerapkannya.

  Walaupun tidak utuh penerapan tahapannya, yang terpenting adalah kekhasan dari PPR itu sendiri yaitu refleksi dan aksi, karena refleksi dan aksi dapat dilakukan dalam setiap metode pembelajaran yang guru gunakan. Hal yang dilakukan guru sudah baik, beliau masih berusaha menerapkan PPR sesuai dengan kemampuannya. Karena beliau menginginkan anak didiknya berkembang secara utuh dan maksimal, baik dalam prestasi, moral, dan sikapnya. Maka sebaiknya, dalam hal ini guru masih perlu banyak waktu untuk lebih memperdalam tentang PPR, agar hasil yang diperoleh sesuai dengan tujuan PPR itu sendiri serta anak didiknya dapat berkembang secara maksimal dan utuh.

  Penerapan yang dilakukan oleh Ibu Ros telah memberikan dampak positif bagi siswanya. Sejauh pengamatan dan wawancara, siswa menjadi lebih mandiri dan bertanggung jawab dengan apa yang menjadi tugasnya, baik di sekolah maupun di rumah. Dengan adanya PPR ini, siswa lebih mudah untuk mengerti materi yang guru berikan, karena guru menggunakan alat peraga yang akan membuat siswa antusias mengikuti pelajaran dan pembelajaran menjadi menyenangkan. Nilai-nilai pelajaran siswa pun sebagian besar sudah melebihi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Namun tidak dipungkiri, masih ada sebagian kecil siswa yang mendapatkan nilai di bawah rata-rata.

3. Dampak PPR

  Pembelajaran yang menggunakan PPR ini memberikan dampak yang positif bagi siswa. Siswa mengatakan bahwa mereka merasa senang dengan pembelajaran yang disampaikan Ibu R. Vr (siswa) menyadari bahwa ada perubahan sikap yang dilakuakan di sekolah dari hari ke hari,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  misalnya “semakin rajin mengerjakan PR dan tugas”.(S/14-19/24051). Demikian juga K (siswa) mengata kan bahwa ia “tidak mencontek teman,

  rajin belajar dan piket” pasca mendapatkan pendekatan PPR (S/18- 20/240511).

  Sedangkan di rumah, mereka (Vr dan K) juga semakin rajin dalam melakukan tugas mereka sebagai anak dalam membantu meringankan tugas orang tua

  . Misalnya, Vr biasanya “menyapu lantai” (S/44/240511) sedangkan K

  “bantu ibu cuci piring” (S/45/240511). Dampak juga

  dirasakan sendiri oleh guru kelas IVB. Ibu R mengatakan bahwa ada perubahan baik dari segi akademik maupun nonakademik. Menurut Ibu R misa lnya perubahan sikap (emosional) salah satu siswa, “Contohnya: N,

  dulu Ia sangat tomboy dan suka ngatur-ngatur temannya dengan bentak- bentak. Lambat laun Ia semakin feminine dan bisa mengalah dengan temannya” (WK/236-244/290411). Sedangkan dari segi akademik, Ibu R

  mengatakan bahwa pembelajaran PPR juga memberikan perubahan misalnya “T, rata-rata nilainya cenderung membaik” (WK/277-

  278/290411). Demikian juga yang dirasakan oleh orang tua dari siswa

  kelas IVB. Orang tua dari Vr mengatakan bahwa, “Vr mengalami

  perubahan sikap yang sangat terlihat jika dibandingkan sebelum mendapatkan PPR, yaitu sikap pemberani dalam setiap hal. Sekarang Vr berani untuk berkecimpung di dalam masyarakat, terutama dalam kegiatan gereja. Misalnya ikut Puteri Altar

  ” (OtV/1-9/230511). Sedangkan orang tua dari K mengatakan bahwa “secara keseluruhan, Kinanti belum

  mengalami perubahan yang signifikan dalam bersikap pasca mendapatkan PPR di sekolah, namun rasa empati terhadap teman sebaya saat bergaul di lingkungan rumah semakin terlihat saat ia memberi bantuan baik berupa materi (misalnya makanan dari rumah) maupun moril

  ” (OtK/87- 100/24051).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Pembelajaran yang menggunakan PPR ini memberikan pengaruh dan dampak yang sangat positif, dilihat dari hasil wawancara dengan guru, murid, dan orang tua. Mereka menyadari bahwa ada perubahan positif yang terus terjadi baik dari prestasi maupun sikap, setelah mendapatkan pembelajaran yang berbasis PPR ini secara berkelanjutan.

  Terakhir peneliti juga melakukan penerapan PPR dalam pembelajaran di kelas IVB sebanyak dua kali pada mata pelajaran IPS dan PKn. Hal itu difokuskan pada penerapan langkah-langkah PPR karena peneliti ingin menemukan pengalaman seperti yang dialami oleh guru. Dalam penerapannya peneliti telah mempersiapkan bahan ajar dan instrument pembelajaran (RPP, LKS, lembar refleksi dan aksi, media pembelajaran). Peneliti merasa senang telah melakukan penerapan PPR tersebut, walaupun masih mengalami kendala yaitu manajemen waktu.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB V KESIMPULAN A. Kesimpulan: 1. Penerapan PPR di SDK Sorowajan dilakukan dengan beberapa cara,

  yaitu: a.

  Sekolah menerapkan PPR di setiap kelas, akan tetapi belum maksimal di seluruh kelas dan di semua mata pelajaran karena guru masih perlu banyak waktu untuk lebih mempelajari dan mendapatkan pelatihan tentang cara penerapan PPR dalam kegiatan pembelajaran.

  b.

  Sekolah melakukan pemantauan yaitu dengan diadakannya rapat evaluasi PPR dan membentuk tim sukses PPR untuk mengatasi kendala- kendala yang dialami guru.

  2. Penerapan PPR yang dilakukan guru di kelas IVB adalah guru tidak menerapkan siklus PPR secara utuh dalam setiap mata pelajaran. Kadang- kadang hanya 1 atau 2 mapel yang menggunakan PPR secara utuh. Hal ini dikarenakan beberapa faktor yaitu: a.

  Penerapan PPR membutuhkan waktu persiapan kurang lebih seminggu per materi pelajaran.

  b.

  Untuk materi-materi yang tidak bisa diterapkan PPR secara utuh, guru hanya memberikan tahap refleksi dan aksi pada materi tersebut.

3. Dampak positif yang ditimbulkan adalah: a.

  SD K Sorowajan Sekolah dapat memberikan lulusan yang kompeten dan berguna bagi diri sendiri serta orang lain.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Siswa Siswa merasa senang dan mengalami perubahan yang positif dari hari ke hari baik dari segi akademik maupun nonakademik. Dari segi akademik dapat dilihat peningkatan nilai siswa. Dari segi nonakademik, siswa mengalami perubahan sikap yang positif baik di rumah maupun di sekolah.

  Guru semakin memahami hambatan yang mungkin terjadi dan dapat memberi solusi sehingga terlaksana pembelajaran yang optimal.

  c.

  Guru diharapkan dapat terus berlatih dan mempelajari PPR sehingga dapat mengembangkan pembelajaran di kelas secara maksimal.

  b.

  Sebaiknya guru lebih berinovasi dalam merangkai alat peraga guna mendukung menyampaian materi.

  Sebaiknya sekolah mengadakan pelatihan atau seminar mengenai PPR.

  b.

  Sebaiknya sekolah melengkapi alat peraga yang dibutuhkan guru, sehingga semakin mendukung pembelajaran.

  b.

  Sebaiknya sekolah semakin mengoptimalkan keterlibatan semua guru dalam tim sukses PPR dan dibimbing oleh guru yang paling berpengalaman dalam penerapan PPR.

  Bagi SD K Sorowajan a.

  Beberapa saran peneliti adalah sebagai berikut: 1.

  Guru Guru terbantu dengan adanya pendekatan (PPR) yang sangat dibutuhkan siswa saat ini, yaitu pendekatan yang dapat mengembangkan pribadi siswa menjadi lebih bertanggung jawab, peduli terhadap sesama dan mandiri.

  c.

B. Saran

  c.

2. Bagi Guru a.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Bukti acara Pengantar Sekolah dalam Rangka Sosialisasi Program Sekolah Tahun Ajaran 2009/2010.

  Moleong, L.J., 2002. Methodology Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

  Pedoman Penulisan Skripsi.2004. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Poerwandari, E. 1998. Pendekatan Kualitatif dalam Penelitian Psikologi. Jakarta:

  Lembaga Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3). Fakultas Universitas Indonesia.

  P3MP USD. 2008. Pedoman Model Pembelajaran Berbasis Pedagogi Ignasian.

  Yogyakarta: P3MP USD. Sarkim, T. April 2011. Artikel EDUCARE “Pengalaman Belajar dan Pemanfaatan Buku Pelajaran”. Jakarta: Komisi Pendidikan KWI.

  SD Kanisius Sorowajan, (2011/2012). Draf Visi, Misi dan Strategi Sekolah.

  Yogyakarta. SD Kanisius Tegalmulyo. Panduan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Berpola Paradigma Pedagogi Reflektif. Yogyakarta.

  Sekolah Dasar Kanisius Sorowajan. 2009. Paradigma Pedagogi Reflektif.

  Yogyakarta. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD, MI dan SDLB. 2010. Paradigma Pedagogi Reflektif. Yogyakarta: Kanisius. 2010. Selayang Pandang SD Kanisius Sorowajan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  LAMPIRAN

  1 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Lampiran 1: Pengamatan Guru Mengajar

  Pengamatan Penerapan PPR oleh Wali Kelas IVB

  Peneliti melakukan pengamatan terhadap guru dalam penerapan PPR di kelas sebanyak dua kali pada mata pelajaran yang berbeda. Pengamatan ini dilakukan dengan maksud untuk mengetahui cara guru dalam menerapkan PPR pada mata pelajaran dengan langkah: konteks, pengalaman, refleksi, aksi, dan evaluasi.

  Pengamatan I : IPA

   Mata pelajaran

  : Pengaruh perubahan lingkungan fisik

   Materi terhadap daratan.

  : 2JP (07.00-08.20WIB).

   Alokasi waktu : ceramah singkat, tanya-jawab dan diskusi. Metode Pembelajaran

  : 2 Mei 2011

   Waktu pengamatan

  :

   Langkah PPR 1.

   Konteks

  Pada tahap konteks ini guru menilik kesiapan siswa dalam memulai pelajaran. Guru melakukan tanya-jawab dengan murid mengenai keadaan alam di sekitar rumah mereka. Contoh pertanyaan dari guru adalah ”ada apa saja di lingkungan sekitar rumahmu?”, ”Bagaimana keadaannya?”. Contoh jawaban dari murid yaitu ” ada rumah, kali, kebon, sungai, gunung”, ”keadaannya bersih, rapi, kotor, indah, bau tidak enak”. Pada tahap konteks ini guru mencoba mendalami seberapa jauh pemahaman siswa mengenai keadaan di sekitar rumah siswa yang merupakan kenampakan alam. Respon siswa terhadap pertanyaan guru ini sangat antusias dalam menjawab, karena berhubungan dengan keadaan sekitar rumah. Pertanyaan yang diajukan guru secara terbuka sehingga terkesan kelas ramai.

2. Pengalaman

  Pada langkah pengalaman ini guru melakukan ceramah singkat sambil menuliskan materi di papan tulis, kemudian siswa mencatat di buku tulis

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  masing-masing. Selesai mencatat, siswa melakukan diskusi dengan teman sebangkunya. Mereka melakukan diskusi mengenai satu pertanyaan dari guru yaitu ” Bagaimana dampak perubahan lingkungan bagi kehidupan manusia?”. Mereka mendiskusikan pertanyaan tersebut dan menuliskan jawaban di buku tulis masing-masing. Selesai berdiskusi, siswa membahas jawabannya dengan bimbingan guru. Guru memillih secara acak siswa yang harus menjawab pertanyaan diskusi tersebut. Siswa yang dipilih menjawab pertanyaan dari guru, membacakan hasil diskusi di tempat duduknya. Kemudian siswa dari kelompok diskusi lain mencocokkan hasil diskusinya. Dari beberapa kelompok diskusi mengungkapkan bahwa perubahan lingkungan mempunyai dampak yang sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia, misalnya tsunami, banjir, tanah longsor. Semua hal tersebut dapat mengubah kelayakan hidup manusia. Sebagian besar siswa di kelas IV B tersebut mengerti bahwa perubahan lingkungan tersebut memberikan dampak yang nyata bagi kehidupan manusia. Hal itu terlihat dari jawaban-jawaban siswa, baik yang mendapat giliran mengungkapkan di depan kelas maupun tidak.

Gambar 2.1 Guru menuliskan materi 3.

   Refleksi

  Kegiatan refleksi menuntun siswa untuk mengungkapkan hasil pemaknaan dari pengalaman yang telah siswa lalui. Guru melakukan tahap refleksi dengan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  cara menulis pertanyaan refleksi di papan tulis. Kemudian siswa menuliskan refleksinya di buku refleksi masing-masing. Pertanyaan refleksi dari guru yaitu ” Apakah sikap kita selama ini sudah menjaga kelestarian lingkungan atau justru malah merusak lingkungan?”. Setelah menuliskan refleksinya, siswa kemudian mengumpulkan buku refleksi masing-masing di meja guru untuk meminta tanda tangan guru serta komentar. Buku refleksi tersebut nantinya dibawa pulang ke rumah untuk diperlihatkan kepada orang tua dan dimintakan tanda tangan. Hasil refleksi siswa ini tidak diungkapkan kepada siswa lain di kelas. Baik dibacakan atau pun di ceritakan secara langsung di depan siswa. Refleksinya pun tanpa dibantu menggunakan media agar siswa lebih mudah untuk melakukan pemaknaan pengalaman dari materi yang telah dipelajari.

Gambar 3.1 Siswa melakukan refleksi 4.

   Aksi

  Tahap aksi dilakukan siswa setelah melakukan refleksi guna membuat komitmen terhadap diri mereka sendiri dalam menindaklanjuti refleksi yang baru saja mereka lakukan. Siswa menuliskan aksi mereka di buku tulis masing- masing dengan bantuan pertanyaan dari guru yang tertulis di papan tulis.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Pertanyaan aksi tersebut yaitu ”Usaha apa saja yang dapat dan akan kamu lakukan untuk menjaga lingkungan di sekolah maupun di rumah?”. Dari pertanyaan tersebut, siswa mulai terbantu untuk merumuskan tindakan yang akan dilakukan guna menindaklanjuti

5. Evaluasi

  Guru melakukan tahap evaluasi ini dengan memberikan soal yang sudah tertera di dalam buku paket halaman 167-169, A dan B. Siswa menjawab soal- soal tersebut di buku tugas masing-masing. Setelah selesai mengerjakan evaluasi, guru dan siswa membahasnya bersama-sama. Siswa secara bergantian membacakan jawaban mereka dan guru mengoreksi jawaban tersebut. Siswa lain juga mengoreksi jawaban mereka masing-masing.

Gambar 5.1 Siswa melakukan evaluasi

  Pengamatan II : IPS

   Mata pelajaran

  : Masalah Sosial

   Materi

  : 2 JP (09.20-10.40WIB)

   Alokasi Waktu : ceramah singkat, tanya-jawab, diskusi. Metode Pembelajaran

  : 3 Mei 2011

   Waktu pengamatan

  :

   Langkah-langkah PPR

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  1. Konteks

  Tahap konteks pada pengamatan kedua ini, seperti pada pengamatan pertama, guru melakukan tanya-jawab dengan siswa mengenai pengetahuan awal siswa yang berkaitan dengan materi (masalah sosial). Contoh pertanyaannya yaitu ” apa yang kalian ketahui tentang masalah sosial?”

  2. Pengalaman

  Guru memberikan materi melalui ceramah singkat dan dilanjutkan dengan diskusi berkelompok. Setiap kelompok terdiri dari empat siswa. Guru membagikan LKS(Lembar Kerja Siswa) yang berisi pertanyaan-pertanyaan kasus sosial di sekitar kita yang harus dijawab oleh kelompok diskusi tersebut. Contoh pertanyaannya yaitu ”Sebutkan beberapa penyebab kenakalan remaja?

  ”. Setelah diskusi selesai, maka hasil diskusi tersebut dibahas dengan bimbingan guru. Perwakilan setiap kelompok maju untuk menuliskan jawaban hasil diskusi di papan tulis, kemudian kelompok lain mencocokkan hasil pekerjaannya.

Gambar 2.1 Siswa diskusi kelompok

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Gambar 2.2 Lembar Kerja Siswa 3.

   Refleksi

  Siswa melakukan refleksi dengan bantuan pertanyaan dari guru yang tertulis dalam selembar kertas. Kertas tersebut berisi pertanyaan beserta gambar yang berkaitan dengan masalah sosial. Misalnya: gambar anak jalanan, maka siswa diminta untuk memberikan tanggapan atas sikap yang seharusnya siswa lakukan. Hasil refleksi tersebut dikumpulkan di meja guru, kemudian secara lisan guru menanyai siswa yang ditunjuk untuk menceritakan hasil refleksinya. Tidak semua siswa mendapatkan giliran mengungkapkan refleksinya karena keterbatasan waktu. Contoh refleksi tersebut yaitu gambar peristiwa anak jalanan. Sikap yang dituliskan siswa yaitu berusaha untuk menolongnya.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Gambar 3.1. Siswa melakukan refleksi 4.

   Aksi

  Aksi yang terlihat di lingkungan sekolah yaitu membuang sampah pada tong sampah, meminjamkan teman yang tidak membawa alat tulis.

5. Evaluasi

  Tidak ada evaluasi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  LAMPIRAN

  2 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  29.

  22.

  23.

  24.

  25.

  26.

  27.

  28.

  30.

  20.

  31.

  32.

  33.

  34.

  35.

  36. Sebelumnya saya mohon maaf dulu Pak sudah menggangg u. Ini kami untuk keperluan penelitian mau bertanya sedikit tentang PPR. Yang pertama, apakah disekolahan ini itu sudah menerapkan PPR (paradigma pedagogi reflektif), itu sejak kapan digunakan Pak? Sebelumnya Pak, menggunak an apa

  Baik… untuk Sorowajan itu mengawali PPR sebenarnya mulai tahun 2008. Sebenarnya pada waktu itu bersamaan dengan penerapan pendidikan karakter yang kami disebut namanya pada waktu itu pendidikan karakter MATIUS. Nah bersamaan tu kami undang dari yayasan, dari tim PPR percetakan pendidikan Kanisius yang dokumennya sebenarnya masih ada tahun 2008/2009. Cuma dalam perjalanannya memang PPR ini kan sebuah proses yang sebuah pembelajaran inovasi yang setiap saat dievaluasi lalu dikembangkan, evaluasi dikembangkan. Nah.. ini secara keseluruhan sekolah ini sudah melaksanakan PPR hanya ada hal- hal yang menjadi kendala… ada kendala yang ehm… jadi PPR itu kan sebuah inovasi yang mengembangkan sebenarnya menggali kembali apa ya...? Pendidikan Yesuit pada dokumen Yesuit yang sekian ribu tahun yang lalu digali lalu di Indonesiakan. Lalu tentu ini perlu banyak sosialisasi karna ini pendidikan Yesuit sedangkan pelaksanaan pendidikan ini awam sehingga kendalanya ini persoalan Yesuit, mengolah hati, padahal komunitas yang kita terapkan adalah komunitas awam. Nah maka ini perlu sosialisasi dan terus ada inovasi-inovasi yang dilakukan dan evaluasi setiap berakhirnya tahun pelajaran begitu. Sebelum ada PPR ya kami kan tentu untuk pembelajaran saya kira secara umum ya untuk kelas 1,2,3 tematik, yang 4,5,6 ya terpadu. Pembelajarannya dulu saya kira

  Lampiran 2: Wawancara

  21.

  Subyek 1: Kepala Sekolah

  

No. Pertanyaan Jawaban Kode

  8.

  Wawancara 1 Tanggal: Rabu, 18 Mei 2011

  Kode: KS/Pg/180511 1.

  2.

  3.

  4.

  5.

  6.

  7.

  9.

  18.

  10.

  11.

  12.

  13.

  14.

  15.

  16.

  17.

  19.

  37.

  70.

  62.

  63.

  64.

  65.

  66.

  67.

  68.

  69.

  71.

  61.

  72.

  73.

  74.

  75.

  76.

  77.

  78.

  79. sebelum PPR? Apakah PPR ini sudah di sosialisasika n pada orang tua juga Pak? Kemudian kekhasan dulu Pak, kekhasan PPR itu kira-kira menurut Bapak? Apakah pada penerapan di sekolah ini ada kesulitan- kesulitan? itu. Cuman ee…kita sebagai sekolah swasta harus melihat apa ya..? sebuah proses yang seiring dengan perkembangan global. Jadi kami terus ada inovasi pembelajaran yang tematik seperti apa, yang terpadu seperti apa, lalu kurikulum berbasis kompetensi, yang kami terapkan seperti itu.

  PPR sudah kami sosialisasikan pada awal tahun ajaran. Semua program untuk termasuk buku refleksi pendidikan karakter yang setiap orang tua tanda tangan dan sebagainya, cuma ee...berapa persen PPR ini dapat diserap oleh orang tua? dan tidak semua orang tua memahami ee...apa itu PPR. Itu senang sekali kalo orang tua paham. Bahkan pada waktu itu ada workshop apa itu PPR. Jadi seluruh wali murid awal mulanya itu kita undang workshop 1 hari, dari kelas 1 sampai kelas 6 kita undang di area ini. Itu awalnya, cuman Mbak juga harus tahu bahwa daya pikir, latar belakang pendidikan dari orang tua itu sangat heterogen. Maka kami yakin bahwa orang tua memahami sekian persen ee…sudah ada 50% itu sudah luar biasa, tapi saya pikir paling banyak 60% yang memahami tentang PPR itu sendiri. Ciri khas PPR itu sebenarnya adanya pembelajaran yang ditandai oleh adanya refleksi. Refleksi dan aksi setiap ee...berakhirnya pembelajaran. kemudian kekhasannya begitu. Jadi yang diolah adalah tidak hanya daya nalarnya tapi mengolah hati melalui refleksi lalu ada tindakannya yang kita namakan aksi, itu ciri khasnya. Jadi saya pikir sekolah- sekolah yang lain ee...memahami bahwa PPR ini memang ee...sebuah paradigma yang dikembangkan di sekolah Kanisius, belum meluas, belum semua yayasan. Di Yogyakarta saja baru Yayasan Kanisius yang yang memulai PPR, lah kekhasannya itu tadi saya katakan kekhasannya adalah ada ee…refleksi setiap akhir pembelajaran

  61.

  60.

  38.

  48.

  39.

  40.

  41.

  42.

  43.

  44.

  45.

  46.

  47.

  49.

  59.

  50.

  51.

  52.

  53.

  54.

  55.

  56.

  57.

  58.

  PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  92.

  Bagaimana penerapan PPR disekolah ini? Apakah sudah sesuai dengan,… maksudnya sudah full PPR? Kemudian ini Pak, dampaknya penerapan PPR ini bagi siswa, guru dan orang tua? Kemudian dampak dalam prestasi belajar siswa itu bagaimana? atau setiap akhir kegiatan atau ketika anak itu ada sesuatu pelanggaran, jadi pelanggaran tidak berupa sanksi tetapi anak disuruh menulis merefleksikan misalnya ”kalau bertengkar itu coba apa untungnya kamu tuliskan” lalu ”apa yang mau kamu bangun setelah itu” ee… bertengkar begitu “iya” sebentar ya… (mengangkat telepon). Standar ya… standar, saya kira belum. Ya karna ini kan merupakan suatu hal yang baru ya…full artinya semua kelas sudah menjalankan dan semua mata pelajaran, Cuma memang ee... Belum semua artinya yang sudah full 5 mapel, lalu yang lain juga masih proses. Kemudian kendalanya apa? Sesuatu hal yang baru pasti ada kendala. Kendalanya adalah ya itu tadi masalah suatu yang baru guru butuh beradaptasi. Memang kok setiap saat ada refleksi, aksinya apa, dan sebagainya. Tentu ini butuh waktu menjalankan 100%. Jadi ini sesuatu hal yang baru pun, sembari mengevaluasi maka kita terus berjalan. Ya, yang pertama prestasi tidak dimaknai semata-mata akademik. Prestasi dalam artian prestasi budi pekerti, perubahan sikap, perubahan perilaku. Itu sebuah prestasi. Nah dampaknya, dampak positif tentu, ini adalah sekolah ee…dalam hal memberikan sanksi tidak perlu adanya sanksi yang ee…apa ya? Tata tertib yang berlebihan ya. Tetapi dengan refleksi anak akan semakin menyadari apa yang menjadi kekurangan, apa yang menjadi kesalahannya. Jadi anak muncul kesadaran dari dalam bukan karna paksaan atau tekanan, tapi ada refleksi berarti ada melihat kembali kekurangan dalam dirinya, ee...orang tua pun mulai senang karna ee…karna ada perubahan sikap, perubahan perilaku anak-anak ketika ada tugas, ada pekerjaan dan tangung jawab dirumah. Itu dampak yang ee..ini kami buktikan pada ee...beberapa ora ng tua yang sudah…

  99. 100. 101. 102. 103. 104. 105. 106. 107. 108. 109. 110. 111. 112. 113. 114. 115. 116. 117. 118. 119. 120. 121. 122. 123.

  98.

  97.

  96.

  95.

  94.

  93.

  80.

  81.

  90.

  89.

  88.

  87.

  86.

  85.

  84.

  83.

  82.

  91.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131. 132. 133. 134. 135. 136. 137. 138. 139. 140. 141. 142. 143. 144. 145. 146. 147. 148. 149. 150. 151. 152. 153. 154. 155. 156. 157. 158. 159. 160. 161. 162. 163. 164. 165. 166. 167.

  Kemudian ee… penerapan PPR ini apakah sudah mengarah pada tujuan PPRnya Pak, mungkin terbukti dalam hal apa? Ini sebenarnya mengapa kok dituntut menggunak an PPR Pak? Apakah ada yang salah dengan sistem sebelumny? sudah merasakan artinya ada beberapa orang tua yang ditanya atau diwawancara, itu menurut orang tua seperti itu. Ya tentu, PPR ini setiap kami melakukan ee…tindakan mesti kita tidak lepas dari tujuan. Tujuan itu tidak lepas juga dari visi dan misi yaitu untuk ee…sebagai sekolah yang kita visinya mencerdaskan peserta didik atau menjadi guru yang mendidik anak-anak Indonesia untuk menjadi anak yang cerdas, peduli lingkungan dan sesama, itu yang menjadi tujuan ke depan. Nah PPR ini sudah relevansi, jadi kemudian apa buktinya, buktinya yang pertama dalam visi tadi peduli pada lingkungan, kita juga kemarin anak-anak memberikan sebagian dari sembako kita bagian kepada masyarakat yang membutuhkan. Ini kan ee...artinya perilaku anak diubah untuk kepedulian sosialnya, begitu. Lalu juga lingkungannya yang secara fisik anak-anak juga memelihara lingkungan yang ada disekolah. Mungkin juga memperhatikan pada lingkungan. Nah tujuannya adalah menjadi manusia yang cerdas, yang peduli terhadap ee...sesama dan lingkungannya..sebentar (kring…bunyi telepon).

  Ya tentu pendidikan itu kan mengalami perubahan inovasi, trus ada evaluasi kemudian ada evaluasi. Hasil pendidikan ee...sistem pendidikan yang sebelumnya itu kan dinilai bahwa yang diukur adalah kemampuan akademik saja, padahal manusia yang utuh, itu kan mansia yang cerdas…cerdas akademiknya, cerdas hatinya, cerdas rasanya. Nah maka dari tahun ke tahun kan hasil pendidikan ini ee…yang diukur itu akademiknya, buktinya apa? buktinya masih ada UNAS, lalu orang tolok ukurnya ketika anak ini nilainya bagus berarti sekolahnya hebat. Padahal tujuan pendidikan itu adalah tidak sekedar mencerdaskan akademik maka lalu

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  168. 169. 170. 171. 172. 173. 174. 175. 176. 178. 179. 180. 181. 182. 183. 184. 185. 186. 187. 188. 189. 190. 191. 192. 193 194.

  195. 196. 197. 198. 199. 200. 201. 202. 203. 204. 205. 206. 207. 208. 209. 210. 211. 212.

  Ini Pak..terus apakah guru disini tu dalam menggunak an PPR tu merasa senang atau malah keberatan? kecerdasan, kecerdasan yang SQ, EQ, dan kecerdasan yang lain yang menjadi manusia utuh. Sehingga manusia yang tumbuh dewasa seiring dengan pertumbuhan harkat dan martabat manusia. Bukan soal otak yang cerdas. Itu berdasarkan penilaian hasil kajian dari penerapan sistem pendidikan yang lampau. Maka Yayasan Kanisius menilai mengevaluasi lalu mencari solusi agar kedepan genarasi muda ini tidak hanya soal cerdas akademik tapi cerdas hatinya, peduli pada sesama, lingkungan. Jadi terbukti dengan banyaknya ee…negara, warga negara, pejabat yang korupsi, banyaknya lingkungan yang dirusak oleh mereka- mereka. Ini kan tu hasil pendidikan. Tu karna soal kecerdasan saja. Jadi kecerdasan untuk mencerdasi orang lain, sisinya negatif. Maka lalu PPR lah yang jawabannya sekarang ini. Ya sesuatu yang baru menbutuhkan profesional, itu sesuatu yang lebih sempurna tentu saja banyak membutuhkan banyak menyita waktu, kemudian butuh sarana dan prasarana yang lebih banyak. Disatu sisi memang tuntutan untuk bisa memenuhi, disisi lain memang guru sendiri, karena guru swasta kan otomatis ee..disni hari juga pertimbangkan hal-hal lain nah yang perlu dipikirkan yang pertama guru memang dikatakan senang atau susah ya mungkin awalnya susah karna ada tambahan pekerjaan yang luar biasa tapi kalau melihat dari tujuan PPR itu sendiri saya kira juga ee…nanti lama-lama harapan kami guru juga menyadari semakin menyadari bahwa pekerjaan fungsinya itu ee…. semakin berat tetapi juga outputnya diharapkan semakin bagus kalau soal senang dan susah karna guru memang fungsinya mendidik sehingga banyak pekerjaan kadang-kadang manusiawinya muncul ya...karena tambah pekerjaan maka

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  16.

  30. Baik teman-teman mahasiswa, yang sedang melakukan penelitian. Kita akan memperdalam tentang beberapa hal mengenai wawancara dengan kepala sekolah, kita akan menyampaikan berusaha dengan ee…mengupayakan supaya dapat dipakai sebagai data untuk penyelesaian masalah penelitian. Yang pertama masalah pendidikan karakter MATIUS yang seperti apa maksudnya?. Sebelum pemerintah menggelontorkan masalah pendidikan karakter bangsa, sekolah ini sudah berfikir soal pendidikan karakter itu. Dimulai tahun 2009/ 2010 ee..2008 sebenarnya..2009. lalu baru kita sosialisasikan kepada orang tua juga kita mengundang psikolog itu awal tahun 2009/ 2010. Buktinya ada disini (menunjukkan bukti acara workshop) ada bukti yang waktu itu acaranya ini tentang pendidikan karakter dan PPR pada waktu 2009, tetapi lebih dulu PPR dengan pendidikan karakter, Sorowajan lebih dulu pendidikan karakternya. Nah karakter yang kita kembangkan di sekolah ini pada awalnya gagasan ini, pendidikan karakter yang kita sebut dengan pendidikan karakter MATIUS (sambil melihat buku selayang pandang SDK Sorowajan), MATIUS itu sebenarnya merupakan akronim dari…M-nya itu Mandiri, A-nya aktif, T-nya taat, kemudian I-nya inovatif, U-nya ulet, kemudian S- nya itu santun…santun atau sopan. Nah kemudian latar belakangnya bahwa kurikulum kita kurikulumnya adalah sebelumnya KBK (kurikulum berbasis kompetensi) dan KTSP ini merupakan peluang untuk meluangkan pendidikan dalam satuan pendidikan di sekolah ini. Pada waktu KBK itu banyak anak-anak dijejalkan masalah ee...hal-hal yang sifatnya akademik

  29.

  28.

  27.

  26.

  25.

  24.

  23.

  22.

  21.

  20.

  19.

  18.

  17.

  213. 214. 215. 216. 217. 218. 219. 210. 211. 212. 213.

  Kemudian ehm..siapa saja Pak yang sudah mendapatka n pelatihan khusus PPR? menjadi susah tetapi bukan suatu beban ya kan? Lain kan beban dengan susah begitu itu..ya Ya..ada disini kami sendiri kepala sekolah lalu ada Bu Susan, Bu Ririn, Bu Yuli, ada kemudian yang dah mendapatkan pelatihan dua kali ada, baru yang satu kali ada, bersama-sama belajar juga ada, sehingga semua sudah mengenal. Cuma pelatihan tingkat ketiga itu memang baru beberapa guru ya…ada 40. Wawancara 2 Tanggal: Jumat, 27 Mei 2011

  14.

  13.

  12.

  11.

  10.

  9.

  8.

  7.

  6.

  5.

  4.

  3.

  2.

  Kode: KS/Pg/270511 1.

  15.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  64.

  57.

  58.

  59.

  60.

  61.

  61.

  62.

  63.

  65.

  55.

  66.

  67.

  68.

  69.

  70.

  71.

  72.

  73. tidak memberikan ruang gerak pada anak untuk mengasah kemampuan aspek yang lain sehingga para lulusan hanya memiliki kecerdasan verbal, logika dan matematik, dan kemampuan intelegensi saja sebagai tolok ukur output dari sekolah ini. Nah padahal orang hidup tidak cukup hanya cerdas intelegensinya tetapi justru aspek yang lain, maka kita perlu mengubah paradigma pendidikan yang mana para lulusan tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual saja tetapi juga memiliki penguasaan diri, Emotional Question (EQ), nanti bisa di ambil disini (menunjuk pada buku selayang pandang SDK Sorowajan), penguasaan spiritual atau SQ-nya, dan memiliki karakter Indonesia. Ini yang, yang penting sebagai jati diri bangsa Indonesia kita harus mendidik anak-anak harus berkarakter Indonesia. Nah KTSP memberikan ruang gerak pada satuan pendidikan untuk mengembangkan sekolah. Maka Sorowajan berfikir bagaimana anak-anak ini tidak hanya memiliki kecerdasan intelek, tetapi juga ada keseimbangan antara EQ dan SQ, kemudian juga intelegentsi questionnya jalan, maka sebelum pemerintah menggelontorkan program pendidikan karakter bangsa, SD ini sudah mencoba memikirkan, mengambil bagian dari pendidikan karakter yang kami singkat dengan matius. Sasarannya adalah membangun kepribadian yang utuh, berkarakter Indonesia. Nah secara fisikal mengembangkan perilaku bersih dan sehat, secara fisikalnya itu. Secara intelektual memberdayakan kompetensi kecerdasan yang dimiliki peserta didik, memberikan pengetahuan dasar melalui proses yang benar, maka sangat besar kemampuan peserta didik untuk mencari, menemukan serta memupuk bakat minat yang mampu menjawab kebutuhannya sendiri. Jadi yang memikirkan kebutuhannya sendiri. Kemudian mengembangkan daya pikir , kritis, analitis, untuk memecahkan masalah dan berani mengambil keputusan.

  Secara sosial, tadi yang kita sebut dengan kecerdasan sosialnya ya...kecerdasan sosialnya, meningkatkan keterampilan komunikasi. Jadi anak-anak dilatih untuk berkomunikasi dengan baik dan benar, mengembangkan kemampuan yang benar dengan sesama, kemudian meningkatkan tanggung jawab kepedulian sosial. Secara spiritual, memberikan dan mewariskan nilai-nilai luhur menurut peserta didik yang dapat membantu tujuan hidup agar dapat menjai hidup yang semakin bermakna. Ini

  56.

  31.

  32.

  42.

  33.

  34.

  35.

  36.

  37.

  38.

  39.

  40.

  41.

  43.

  53.

  44.

  45.

  46.

  47.

  48.

  49.

  50.

  51.

  52.

  54.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  89.

  Apa yang disebut dengan matius ? Matius adalah akronim dari Mandiri, Aktif, Taat, Inovatif, Ulet, Santun atau Sopan . Itu disingkat dengan matius itu. Apa pengertian madiri, disini kita sudah uraikan dalam buku ini nanti bisa dikutip, dalam selayang pandang yang dulu pernah dipakai studi banding tentang pendidikan karakter dari Solo. Pada dasarnya manusia adalah mahkluk inividu secara hakiki tumbuh dan berkembang menjadi mahkluk mandiri yang hidup dan menghidupi diri sendiri. Maka pendidikan karakter, jiwa mandiri harus kita berikan sedini mungkin pada peserta didik. Mandiri artinya dengan bantuan yang minimal mendapat hasil yang maksimal. Jadi ini pengertian mandiri. Aktif, saya kira nanti saya berikan, silahkan nanti dicopy atau dikutip untuk pendidikan karakter. Lalu tahun 2009/2010 tepatnya tahun 2010/2011 ini pemerintah ternyata menggelontorkan program adanya pendidikan budaya dan karakter banngsa. Yang pemerintah itu ada 18 karakter di pemerintah. Kemudian di sekolah sudah mendahului karakter pemerintah itu: jenius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, kritis dan saling tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai dan lain sebagainya nanti bisa dicopy, sampai dengan 18, tanggung jawab. Ini yang, ternyata apa yang dipikrkan oleh SD Kanisius Sorowajan ternyata ibarat tumbuhlah tutup, jadi tumbuhlah tutup yang dimaksud adalah tatkala Sorowajan sudah melaksanakan bagian dari karakter bangsa, maka ee….negara kita juga mempunyai program seperti ini. Mempunyai program yang dimaksud adalah pendidikan budaya dan karakter bangsa yang pada mulanya. Ya ini, di Kabupaten Bantul menjadi pilar ya…menjadi pilar dari ee…pendidikan yang ada di negara kita. Jadi bangkitnya Bantul menjadi salah satu pilar pendidikan karakter diangkat supaya anak-anak kembali memiliki karakter bangsa. Itu ya... ini masalah pendidikan karakter. Bagaimana bentuk pembelajarannya? Pembelajarannya terinteg rasi… diintegrasikan dalam pembiasaan- pembiasaan, dan terintegrasi dengan semua mata pelajaran yang relevan, yang cocok ya...yang cocok atau yang relevan. Semuanya terintegrasi. Tidak bisa pendidikan karakter dikhususkan, tetapi suatu ketika pendidikan

  99. 100. 101. 102. 103. 104. 105. 106. 107. 108. 109. 110. 111. 112. 113. 114. 115. 116. 117. mengenai sasaran. Lalu tujuannya saya kira nanti bisa di lihat.

  98.

  97.

  96.

  95.

  94.

  93.

  92.

  91.

  90.

  74.

  75.

  87.

  86.

  85.

  84.

  83.

  82.

  81.

  80.

  79.

  78.

  77.

  76.

  88.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  118. 119. 120. 121. 122. 123. 124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131. 132. 133. 134. 135. 136. 137. 138. 139. 140. 141. 142. 143. 144. 145. 146. 147. 148. 149. 150. 151. 152. 153. 154. 155. 156. 157. 158. 159. 160. 161. karakter juga bisa terjadwal khusus melalui pembinaan rohani dalam rohaniawan seperti plater, seperti juga suster. Setiap hari Sabtu ada pembinaan karakter melalui pendidikan ee…yang disisipkan dalam pembelajaran agama. Bahwa prinsipnya ini semua terintegrasi gitu ya..terintegrasi dalam semua pelajaran yang relevan. Ini prinsipnya. Mengenai pendidikan karakter, bagaimana bentuk pembelajarannya saya kira terintegrasi kesemua pelajaran yang relevan. Tapi sekolah ini menerapkan suatu pembinaan pengembangan soal karakter ini yang.. yang dilaksanakan. Apa bedanya dengan PPR? PPR ini kan sebuah pola pembelajaran, pendekatannya menggunakan sebenarnya pendidikan karakter dengan PPR ini berbeda, konteksnya berbeda. Kalo PPR itu sebuah pola pembelajaran yang dikembangkan oleh Yayasan Kanisius yang ingin menggali pendidikan Yesuit, maka apa PPR itu? Maka kepanjangannya PPR disini Paradigma Pedagogi Refleksi, sebuah pola pembelajaran yang mengintegrasikan pemahaman masalah dunia serta masalah kehidupan dan pengmbangan nilai-nilai kemanusiaan dalam sebuah proses yang terpadu yang dirancang sehingga nilai kemanusiaan ditunjukan dari konteks peserta didik sendiri melalui proses refleksi . nanti panjenengan bisa fotocopy supaya bisa untuk mengenai pola. Jadi kalo mau melihat pola PPR disini. Okey,, jadi silahkan dipinjam nanti dicopy ( menunjukkan handout berjudul PPR milik Sorowajan). Matius juga, yang 18 karakter bangsa sebagai pembanding tapi ini harus terjadi. Jadi beda pendidikan karakter dengan PPR, berbeda. Pendidikan karakter itu sebuah kepribadian, tetapi kalo PPR itu pola pembelajaran yang dikembangkan dari pendidikan yesuit. Yang dalam pengembangan dalam pendidikan yesuit ini sekarang baru digalakkan di yayasan kanisius atau di pendidikan karakter katolik, tapi kalo pendidikan karakter di semua sekolah akan digalakkan. Nah sorowajan sudah mendahului sebagian dari karakter yang dicanangkan oleh pemerintah. Sehingga pendidikan karakter itu sangat berbeda konteksnya karna pendidikan karakter itu mendidik supaya anak-anak kita pinter, tetapi kao PPR ini merupakan pola pembelajaran yang mengintegrasikan masalah-masalah dunia dengan kehidupan, dan juga yang dipadukan dengan ee…nilai-

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  162. 163. 164. 165. 166. 167. 168. 169. 170. 171. 172. 173. 174. 175. 176. 178. 179. 180. 181. 182. 183. 184. 185. 186. 187. 188. 189. 190. 191. 192. 193. 194. 195. 196. 197. 198. 199. 200. 201. 202. 203. 204. 205. 206. nilai kemanusiaan yang kemudian mengolah hati supaya anak-anak menjadi ada kesadaran untuk menjadi anak- anak yang baik, mengalami perubahan perilaku kehidupan sehari-hari melalui penyadaran dirinya sendiri. Tapi kalo karakter itu memang dipolakan, kalo ini melalui model refleksi. Kalo karakter itu melalui proses pembiasaan yang berulang-ulang maka akan terbentuk karakter. Misalnya anak supaya punya karakter hidup bersih, ya sudah kita kembangkan PHBSnya pola hidup bersih dan sehatnya, berulang sehari, di ulang diulang terus, kamu menjadi sebuah pembiasaan yang nanti akan membentuk karakter siswanya. Mengapa sekolah yayasan Kanisius pilih PPR? Ada alasannya. Yakni disini ada, nanti tolong dicopy (menunjukkan handout berjudul PPR milik Sorowajan) Tujuan PPR apa? Disini ada (menunjukkan handout berjudul PPR milik Sorowajan), nanti kami berikan. Jadi kalo menjelaskan mungkin kami nanti…lama. Kemudian nilai-nilai yang diperjuangkan apa? Lalu langkah-langkahnya apa? Disini ada langkah-langkah PPR, daripada kami menerangkan, membaca, disini kan ada. (menunjukkan handout berjudul PPR milik sorowajan). Jadi kami beri datanya supaya lebih jelas. Kemudian, apakah ada pedoman tentang pendidikan karakter ? Ada. Siasat Kanisius juga menerbitkan buku tentang pedoman pendidikan karakter. Jadi buku rohnya itu ada. Jadi bukunya seperti ini (menunjukkan buku PPR) ini nanti bisa dipinjam. Okey.. ini buku roh dari PPR itu sendiri.

  Apakah ada bukti tentang pendidikan karakter? buktinya kami…sekolah ini kan KTSP, buktinya ada disini, ada latar belakangnya, jadi gitu ya…(menunjukkan buku selayang pandang SDK Sorowajan). Adakah bukunya? Ada. Kanisius sudah mencetak buku pendidikan karakter yang tidak sekolah ada. Tetapi kenapa setelah PPR nanti akan terus di… dengan buku pendidikan karakter yang baru. Tapi sekolah sudah menulis disini. Pedoman dan yang lain. Nanti bisa di anu ya,,,ini PPRnya dan ini buktinya, ini karakter bangsa yang akan dibangun dinegara kita... silahkan. Proses budaya mutunya ini, silahkan teman-teman mahasiswa untuk membawa ini.

  Kami berikan bukti dan sumbernya. Awal mula adanya Pendidikan Karakter Matius? Ya itu tadi. Latar belakangnya itu ada. Jadi nanti bisa dibaca,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  207. 208. 209. 210. 211. 212. 213. 214. 215. 216. 217. 218. 219. 220. 221. 222. 223. 224. 225. 226. 227. 228. 229. 230. 231. 232. 233. 234. 235. 236. 237. 238. 239. 240. 241. 242. 243. 244. 245. 246. 247. 248. 249. 250. mengapa Sorowajan mengambil awal mula pendidikan ini, bisa diambil dari latar belakang. Ini kan jelas awal mula..gitu ya…jadi ini latar belakang atau sebab awal mulanya (menunjukkan buku selayang pendang SDK Sorowajan). Apa bukti kebijakan sekolah mengenai PPR secara tertulis? Ya ini.. kebijakannya adalah bahwa Yayasan Kanisius itu mengambil keputusan bahwa untuk saat ini bahwa PPR merupakan pola pembelajaran yang terbaik.

  Maka PPR merupakan keputusan yang final untuk dilaksanakan disekolah-sekolah katolik atau khususnya di yayasan Kanisius. Ya buktinya adalah penerbitan buku dokumen, bukti tertulisnya (menunjukan buku PPR), kemudian melalui sosialisasi yang..ee..ada pembinaan- pembinaan dan pelatihan-pelatihan para guru yang materinya yang dari awal seperti ini. Jadi apa saja bisa digali dari ini.. tidak terlalu banyak bicara. Secara tertulis jadi sudah ada keputusan yayasan dan penerbitan buku sumber. Kemudian seluruh buku ajar sudah disesuaikan d engan format RPP. Termasuk buku… ini dicetak sendiri oleh kanisius dan dibuat oleh guru-guru Kanisius. Apakah ada rapat atau workshop, kapan? Ini kami punya bukti rapat awal tahun 2009/2010. Untuk foto saya lupa apa ada gak. Kemudian untuk..apakah ada pedoman khusus dalam sosialisasi tersebut? Yang namanya sosialisasi tentu menggunakan dasar atau pedoman dari latar belakang sampai proses. Ini pedoman PPR, sosialisasinya ya..(menunjukkan handout PPR milik Sorowajan) Kemudian bagaimana tanggapan guru pasca sosialisasi PPR? Tanggapan guru, tentu karna guru merupakan sekelompok guru-gurunya adalah guru yang besar mau tidak mau suka tidak suka apa yang diambil kebijakan oleh yang sah wajib melaksanakan, itu jadi tidak bisa ditawar. Nah, perkara ada keluhan semakin tambah administrasi, tambah pekerjaan ini sifat individu yaitu biasa yang orang ee…guru yang kurang ee.. professional arti masih banyak kegiatan aktifitas misalnya masih belajar juga merasa mengeluh karna aktivitas PPR ini tinggi administrasinya cukup b anyak ee… RPPnya juga berbeda dengan yang lain sehingga mengalami ee…apa ya…ya tanggapannya maksudnya secara penugasan menerima tetapi prakteknya ya…karna membutuhkan proses ya..pelan-pelan tetapi prinsipnya kalau PPR tidak

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  251. 252. 253. 254. 255. 256. 257. 258. 259. 260. 261. 261. 262. 263. 264. 265. 266. 267. 268. 269. 270. 271. 272. 273. 274. 275. 276. 277. 278. 279. 280. 281. 282. 283. 284. 285. 286. 287. 288. 289. 290. 291. 292. 293. bisa ditawar oleh siapapun ee….bila sudah masuk pada komunitas sekolah kanisius. Tanggapan orang tua sangat senang karna ee… yang diharapkan adalah selain anaknya berkarakter juga melalui pengolahan refleksi melalui ini maka mengalami perubahan dari perilaku ee…karakter dan juga ee…apa ya..kedewasaan dan kemandiriannya mulai dirasakan, maka ada yang bertanya-tanya mengenai kebijakan PPR tersebut, tentu ada ee…yang bertanya orang tua mengapa polanya berbeda setiap tahun harus membeli buku. Pertanyaan yang muncul kenapa setiap tahun membeli buku? Karena setiap tahun mengalami dievaluasi lalu disesuaikan dengan ee.. proses PPR. Jadi setiap tahun nanti buku yang kemarin dah dimasukkan perpus, lalu sekarang membeli lagi kayaknya sudah ada edisi-edisi lagi. Sehingga antara buku ajar dengan ee…proses yang langsung tiap tahun dievaluasi jadi evaluasinya secara berkala tidak ee…setiap hari dievaluasi tetapi evaluasinya setiap semester setiap tahun itu PPR dievaluasi. Lalu buktinya apa? Buktinya ya..dari evaluasi ada perubahan mengenai buku ajarnya, buku ajarnya disesuaikan dengan ee..proses yang berkembang karna sedang berproses ya..mau tidak mau harus dievaluasi setiap saat dan mencari solusinya, gak mungkin sesuatu yang dari berproses menjadi terus baik, tetapi mengalami kendala, hambatan itu pasti. Mungkin dalam prosesnya hasilnya kolomisasinya berubah-berubah ya..itu pasti karena berubah menjadi lebih sempurna. Yang menjadi khas PPR sebenarnya ada refleksi, ada aksi lalu bagaimana anak ini ee… terbentuk dari kesadaran bukan dipaksa melalui tata tertib yang begitu kuat tetapi bedanya disini. Kalau dulu kan ee… kami membuat tata tertib semacam ini membangun komunikasi bareng prestasi ini dulu, ini buku tata tertib yang kami ee… punya sekolah, sekolah-sekolah keputusan. Setelah ada PPR, maka kita berharap ini ada tetapi ini dibalik dibelakang saja, karna yang dikedepankan adalah bagaimana anak menyadari dari proses itu sendiri ada perubahan tetapi dari dalam dirinya sendiri, bukan karna dipaksa aturannya seperti ini kalau tidak mau ya.. sudah kamu harus begini dan sebagainya. Ini sebuah harapan yang diharapkan dari PPR ini berbeda dengan yang lain sehingga orang sadar ketika dipaksa, tapi kalu PPR bagaimana menyadari dirinya sendiri ada perubahan. Apakah ada guru yang bingung dan mengalami kesulitan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  294. 295. 296. 297. 298. 299. 300. 301. 302. 303. 304. 305. 306. 307. 308. 309. 310. 311. 312. 313. 314. 315. 316. 317. 318. 319. 320. 321. 322. 323. 324. 325. 326. 327. 328. 329. 330. 331. 332. 333. 334. 335. 336. 337. dal am penggunaan PPR? Berikan buktinya! satu ya…tadi saya katakan bahwa ini sebuah proses yang sedang berjalan baru masuuk tahun kedua. Guru bingung karna belum mendapatkan pelatihan walaupun sudah sosialisasi tetapi masih toh ini berkembang, maka sekolah pada bulan Desember mengadakan mengundang.... dari yayasan untuk belajar buku prog ini buku PPR ini. Nah… sebelum yayasan memprogramkan maka kemarin bulan Mei ee.. Maret di KSK Bantul belajar bersama tentang ini.

  Nah… bingung pasti ada ya…, kemudian kesulitan pasti ada, itu tidak lepas karna sebuah hal yang baru berproses. Seperti kita melewati jalan yang terjal, jalan baru maka tentu ada stimunak dan berproses pasti ada. Gitu ya…? Jadi ini, tetapi pada prinsipnya setelah mengalami pelatihan-pelatihan ada yang guru dilatih beberapa kali lalu guru ini mensosialisasi maka sub untuk menjembatani supaya ee…. Guru yang bingung yang mengalami kesulitan ini terjawab maka sekolah membentuk tim sukses PPR. Sekolah ini tim ketua timnya anggota ini guru yang sudah dilatih atau melalui workshop pelatihan. Sekolah ini Bu Nuki sebagai ketua tim sukses PPR. Kemudian format RPP disini ada jadi nanti tinggal lihat saja, pelajari, didalami. Kemudian tim PPR apa fungsinya… ya…. Menggerakan proses supaya berproses terus jangan sampai sesuatu yang baru ini mengalami stucknasi atau berhenti tanpa ada perjalanan berlanjut. Yang terakhir, apakah penerapan PPR selalu dievaluasi dari hari ke hari? Tadi saya katakanan evaluasinya dari hari ke hari ya… dievaluasi kemudian dari hal yang kecil misalnya refleksi seperti apa kemajuan anak seperti apa nanti dievaluaasi nanti pada semester, lalu pada akhir tahun bukti evaluasi ini mengalami perubahan-perubahan tentang format refleksinya, apa aksinya, lalu bagaimana tingkat kenakalan anak apakah mengalami perubahan ataukah yang paling ee…. Bukti riilnya, buku ajarannya mengalami revisi atau edit setiap tahun, mudah-mudahan nanti setelah PPR sudah sempurna, sudah sesuai harapan buku yang sudah regist terakhir itu bisa dimanfaatkan terus, tidak merevisi buku lagi, merevisi buku lagi, merevisi buku lagi. Ini yang, yang bisa kami sampaikan, sungguh kalau ini belum jelas dari mahasiswa saya beri dokumennya baik dokumen tentang pendidikan karakter yang dikembangkan disekolah, karakter yang menjadi proyek pemerintah, 18 karakter bangsa maupun

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  338. 339. 340. 341. 342. 343. 344. 345. 346. 347. 348. 349. 350. 351. 352. 353. 354. 355. 356. 357. 358. 359. 360. 361. 361. 362. 363. 364. 365. 366. 367. 368. 369. 370. 371. 372. 373. 374. 375. 376. 377. 378. 378. 379. pemahaman PPR, buku sumber, buku bukti dan lain sebagainya buku karakter matius yang dikembangkan disekolah ini maka nanti sebagai sumber tertulisnya kami sampaikan dan sosialisasi itu pasti tahun 2009-2010 kemarin kita mengundang psikolog untuk meyakinkan bahwa pendidikan karakter yang mau dijalankan sorowajan itu seperti ini supaya orang tua yakin. Nah….

  Buktinya ada disini kami mengundang psikolog dan tim dari percetakan pada ee…. awal tahun ajaran 2009-2010. Ia Pak, sedikit tentang tim sukses PPRnya itu mekanismenya seperti apa Pak? Yang pertama ee…keputusan tentang mekanisme bagaimana “tim sukses” dan mengapa tim sukses ada? Ini keputusan pertama mekanisme dari yayasan, mengevaluasi telah dilapangan ditemukan kendala-kendala prosesnya bukan hiasan melatih guru-guru yang kemudian sekolah disuruh membentuk tim sukses PPR supaya terus ini berproses. Gitu…nah….!! Sekolah secara demokratis memilih guru- guru yang sudah dilatih matang untuk mengembangkan dan mendampingi para guru yang belum mendapatkan pelatihan sama sekali. Karna keterbatasan tidak... sama guru itu tiap dilatih karna keterbatasan waktu, dana, dan juga ee….financial lainnya atau….yang lain.sehingga tim inilah yang menjadi ee…pendamping berjalannya PPR disebuah sekolah. Tim nya ada ketua, lalu ada sekretaris, ada anggota, bendaharanya tidak ada, tidak menyimpan uang. Nah…lalu tim mengadakan evaluasi setiap ee….akhir semester, setiap akhir tahun mestinya supaya apa yang menjadi kekurangan tetapi ee….yayasan terus berkembang karna form yang pasti form yang sudah baku PPR itu seperti apa ini sedang proses…waktu terus berjalan jadi belum menemukan ini lho…form yang pasti itu, toh….pendidikan itu semua berproses dilapangan semua harus mengalami dulu, melakukan aksi dan tidak mungkin kita menunggu dari atas tetapi semua berproses, dilapangan berproses, yayasan berproses, terus jadi semua mengalami proses untuk melakukan itu sehingga menuju hal yang lebih baik. Nanti PPR ini disekolah menjadi penggeraknya, motivatornya untuk supaya program yang digelontorkan oleh yayasan ini dapat berjalan dengan sesuai dengan… boleh tahu Pak siapa ketuanya, wakilnya?. ketuanya Nuki Sulistiyani ee…Cicilia Nuki

  Sulistiyani sarjana pendidikan, dibantu oleh Miss Yuli sekretaris. Lalu anggotanya Bu Susan, Bu Ririn. Yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  380. 381. 382. 383. 384. 385. 386. 387. 388. 389. 390. 391. 392. 393. 394. 395. 396. 397. 398. 390. 391. 392. 393. 394. 395. 396. 397. 398. 399. 400. 401. 402. 403. 404. 405. 406. 407. 408. 409. 410. 411. 412. 413. 414. lain anggota ya Pak? Ya..srukturnya hanya ada ketua, sekretaris, dan anggota. Jadi tidak ada seksi-seksi yang lain-lain, bendahara gak ada. Lalu nanti akobolarasinya dengan pembagian tugas sekolah, pelajaran tambahan atau les tambahan. Ada yang lain?. Ini Pak, apakah ada perbedaan antara pendidikan karakter yang sudah dibuat oleh Sorowajan dengan yang digelontorkan pemerintah tadi, perbedaanya?. Ee….secara substansinya tidak ada perbedaan, cuma secara factual artinya dari segi nama karakter yang mau dikembangkan ini isinya sama, cuma misalnya religious, terus kita mengambil yang pertama- tama anak dididik mandiri sebenarnya, lalu ada aktif juga, ada kreatif, ada disiplin, ada… sebenarnya tidak ada.

  Kami hanya mengambil mana yang lebih menjadi organ buat anak di sekolah dasar. Kalo anak di sekolah dasar kan bagaimana kita mendidik aktif, taat, lalu uletnya bagaimana, santunnya bagaimana, tapi ini kan karakter yang dimaksud adalah karakter bangsa, bagaimana mau bekerja keras, nah anak kecil ini kan pemahaman kerja keras, semangar kebangsaannya, cinta tanah air tu kan masih abstrak. Tapi kalo mandiri, dirumah dididik untuk ini, setelah kelas satu bangunnya lebih pagi, lalu mau melipat selimut sendiri, bar itu apa. Lalu kita berikan kartu. Ooh…bulan ini yang dikembangkan adalah ini mandiri soal bangun pagi, mandi, makan sendiri dan sebagainya.

  Itu yang..ini konkret. Kalo ini kan ee…cukup cukup apa ya? Terlalu luas, sehingga anak SD ya ini. Nanti kami kawatir kabur lagi. Tapi kalo kami kan mandiri tu seperti apa, oh ya itu kelas satu dengan mandirinya kelas lima lain. kalo kelas satu bisa mandi sendiri, makan sendiri itu kan indikasinya mandiri. Tapi kalo kelas lima itu kan gak cocok. Masa kelas lima iso adus dewek dibilang wis mandiri. Ini kan lain. Maka dulu kita kembangkan ya ini, kemandirian ini berbeda-beda, ingat usia dan kebutuhannya. Jadi secara substansi memang ini lebih luas, karna namanya saja karakter bangsa. Jadi stoknya lebih luas, tapi kalo ini lebih ke individu yang nantinya output dari SDK Sorowajan ini berbeda dengan output SD lain. walaupun nanti disana ketemu, oohh…karakter bangsa tapi ada khas yang digarap oleh SD ini. Oohh..nek lulusan Sorowajan ini ternyata bocah-bocahne mandiri, ra sah dikandani kon negerti, ra sah di anu wis ngerti..tu harapan kita, supaya ada khas, karakter khas yang dirasakan oleh orang tua,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  415. 416. 416. 417. 418. 419. 420. 421. 422. 423. 424. 425. 426. 427. 428. 429. 430. 431. 432. 433. 434. 435. 436. 437. 438. 439. 440. 441. 442. 443. 444. 445. 446. 447. 448. 449. oleh orang tua, oleh masyarakat Ooh beda. anak usia SD Negeri sini dengan sana ternyata setelah sama-sama lulus berbeda. Kok ini mandiri banget, kok iki wong dekil opo neng iki dableg, ora dikon ato ora di table, kok ora jalan, misalnya. Lah ini yang mau kita perjuangkan melalui pendidikan karakter MATIUS itu yang sudah kita upayakan. Maka lalu ada program untuk mendukung Matius, yaitu ada kelas mandiri. Kelas mandiri itu ya kelas yang diharapkan dari pengelolaan kelas, managemen kelas itu bisa mandiri. Misalnya dari sisi financial, anak- anak menyisihkan uang jajannya untuk menghidupi kelas.

  Beli sula sendiri, beli sapu sendiri, beli penggaris sendiri, beli pel sendiri misalnya. Ini salah satu daya dukung mandiri, dari MATIUS tadi. Itu diterapkan disemua Kanisius apa di Sorowajan saja?. Kami mencoba di Sorowajan. Itu berarti idenya dari Bapak? Ya dari kami. Karna KTSP lalu tidak bisa semua sekolah bisa ikut. Sekolah punya kreatifitas, kreasi untuk mengembangkan terutama sekolah itu punya kekhasan, jadi tidak menunggu sendiri dari atas, tapi ini yang kami cita- citakan sebenarnya Sorowajan itu punya khas. Ketika lulus itu bedho ya, sama-sama satu keluarga kekhasannya bisa dibedakan. Lho ini kok setelah lulus anak ini punya jiwa mandiri, punya kreatifitas yang tidak uasah menunggu perintah sudah mau. Ini yang kami idolakan, kami inginkan seperti itu. Tapi dulu Yayasan juga pernah, bahkan ketika ini di langsir oleh sebuah media elektronik, Romo Yasan juga ikut tayang, live lalu ikut menjawab pertanyaan ketika ada interaktif disalah satu stasiun televisi di Jogja, tentang pendidikan karakter ini sudah kami buat makalah di Kabupaten Bantul ketika saya mengikuti tes menjadi nominasi kepala sekolah berprestasi, ternyata juga sangat bagus, menarik. Dan yang aneh lagi itu yang, ketika ini sudah dijalankan, pemerintah keluarin kebijakan ini. Jadi kita harus lebih dahulu. Mungkin itu Mbak.

  LAMPIRAN

  

3

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  33.

  25.

  26.

  27.

  28.

  29.

  30.

  31.

  32.

  34.

  23.

  35.

  36.

  37.

  38. Siapa nama panjangIbu? Kapan dan dimana Ibu dilahirkan? Anak keberapa dari berapa bersaudara? Apakah status Ibu? Dimanakah alamat rumah Ibu? Tinggal dengan siapa? Apa cita-cita Ibu dulu? Dimana saja Ibu pernah bersekolah dan kuliah? Apakah alasan Ibu menjadi guru sd? Sudah berapa lama ibu mengajar? Dimana saja? Apakah ada dukungan dari keluarga dengan pekerjaan Ibu sebagai guru SD? Apa wujudnya? Apakah Ibu pernah ikut pelatihan PPR? Menurut Ibu, mengajar itu apa? Menurut ibu, tugas guru itu apa saja? Kegiatan sehari-hari setelah mengajar di sekolah apa? Kira-kira apa kesulitan Rosalia Septi Wulansari, S.Pd.

  Bantul, 1 September 1986 Anaka ke-2 dari 2 bersaudara.

  Belum menikah Tinggal dengan orang tua di daerah Samben RT

  05 Argomulyo Sedayu Bantul Yogyakarta.

  Jadi dokter umum. SD N Gunung Mulyo, Sedayu (1993-1999),SMP N Sedayu (1999-2001), SMA N 1 Godean (2001-2004), Universitas Sanata Dharma (2004-2008).

  Pertama, karena saya ingin berbagi ilmu dengan anak-anak, melatih sabar, dan berbagi pengalaman. Kedua, karena ibu saya juga seorang guru SD. Saya mengajar baru 1,5 tahun di SD K Demangan Baru Yogyakarta kemudian pindah ke SD K Sorowajan sampai sekarang(satu semester). Tentu saja sangat didukung, apalagi Ibu saya juga seeorang guru SD, jadi baik Ibu dan keluarga besar saya sangat mendukung. Buktinya, saya dan ibu saya sering diskusi mengenai RPP dan pembelajaran di SD.

  24.

  

No. Pertanyaan Jawaban Kode

  Wawancara I (26 Maret 2011/ 11.30 WIB)

  10.

  Kode: WK/PG/260311 1.

  2.

  3.

  4.

  5.

  6.

  7.

  8.

  9.

  11.

  21.

  12.

  13.

  14.

  15.

  16.

  17.

  18.

  19.

  20.

  22.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  75.

  66.

  67.

  68.

  69.

  70.

  71.

  72.

  73.

  74.

  76.

  64.

  77.

  78.

  79.

  80.

  81.

  82. yang dihadapi sebagai guru kelas di SD? Untung dan rugi sebagai guru sd apa Bu? Apakah gaji yang Ibu dapatkan sebagai guru SD sudah sebanding dengan usaha Ibu? Metode apa yang biasanya Ibu gunakan saat pembelajaran? Cara Ibu dalam memantau kemajuan prestasi siswa? Pernahkah Ibu kunjungan ke rumah anak untuk monitoring? Apakah ke semua anak? Bagaimana sikap Ibu terhadap anak yang bermasalah? Contohnya masalah apa? Bagaimana cara mengatasinya?

  Pernah ikut sekabupaten Bantul. Menurut saya, mengajar itu tidak hanya menransfer ilmu pengetahuan, namun membimbing anak didik agar tidak hanya pintar dalam akademik saja tapi juga sikapnya. Tugas guru itu ya mengajar, membimbing anak didik, kemudian menyelesaikan administrasi guru. Memberikan les privat kepada beberapa anak.

  Kadang anak-anak sangat ngeyel untuk diatur. Kalau kerugiannya, saya belum mendapatkannya sampai saat ini, tapi keuntungannya banyak, antara lain mengenal banyak orang/komunitas, mendapatkan kepuasan batin saat mengajar anak-anak dengan baik. Menurut saya sebenarnya belum sebanding ya…namun saya tetap menjalankannya dengan penuh tanggungjawab.

  Saya menggunakan banyak metode ya, kadang diskusi, tanya jawab, ceramah, permainan….sesuai dengan materi yang disampaikan. Dengan ulangan harian, kemudian saya memberi les seminggu 3 kali sepulang sekolah.

  Tidak, saya hanya monitoring melalui orangtua murid. Perkembangan anak kan tidak

  65.

  39.

  40.

  50.

  41.

  42.

  43.

  44.

  45.

  46.

  47.

  48.

  49.

  51.

  62.

  52.

  53.

  54.

  55.

  56.

  57.

  58.

  59.

  60.

  61.

  63.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  83.

  84.

  85.

  86.

  87.

  88.

  89.

  90.

  91. hanya tugas guru di sekolah, tapi juga butuh kerjasama dari pihak orang tua.

  Saya mencoba melakukan pendekatan terhadap anak tersebut. Berbicara dari hati ke hati. Anak tidak mau mengerjakan tugas, kemudian saya dekati dia, saya tanya apa yang dia mau. Saya memberikan pilihan padanya, mengerjakan atau tidak dapat nilai.

  Wawancara II (29 Maret 2011 / 11.55 WIB)

  Kode : Wk/Pg/290311

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Di dalam PPR, ada tahap refleksi, menurut Ibu, refleksi itu apa? Apakah setiap akhir

  ” Siswa menjawab kadang lisan, kadang tertulis di buku refleksi yang sudah ada. Kadang sama, kadang tidak, sesuai dengan materi yang disampaikan. Disesuaikan dengan materi yang saya sampaikan. Saya memberikan arahan kepada anak untuk melakukan tindak lanjut setelah refleksi, misalnya membuang sampah pada tempatnya. Kekhasan dari format PPR yaitu terletak pada tahap refleksi dan aksi. Tentu saja yang membedakan pada tahap refleksi dan aksi. Karena dalam pembelajaran sebelumnya tahap itu tidak ada.

  ” “Apa yang kalian dapatkan?

  “bagaimana perasaan kalian setelah mempelajari materi tadi?

  Iya Misalnya

  Kegiatan dalam PPR untuk mengingat kembali apa yang telah anak-anak dapat dalam belajar.

  pelajaran Ibu selalu melakukan refleksi dengan anak-anak?Pertanyaan seperti apa yang biasanya Ibu ajukan? Bagaimana cara siswa menjawab refleksinya? Lisan atau tertulis? Apakah pertanyaan refleksi yang ibu ajukan sama dari hari ke hari? Apakah alasan Ibu memilih pertanyaan tersebut? Setelah refleksi apa yang Ibu lakukan? Menurut Ibu, apakah ada kekhasan dari format RPP PPR? Dimana cirri khasnya? Menurut Ibu dalam kegiatan pembelajaran dari awal hingga akhir, dimana letak PPRnya dan apa perbedaannya dengan pembelajaran biasa? Apakah Ibu senang dengan PPR atau tidak? Jika tidak pembelajaran seperti apa yang Ibu senangi? Berapa lama ibu menyiapkan pembelajaran dengan menggunakan PPR? Apakah ibu selalu menerapkan PPR setiap hari dan semua pelajaran? Apakah ada kesulitan

  91.

  92.

  98.

  97.

  96.

  95.

  94.

  93.

  99. 100. 101. 102. 103. 104. 105. 106. 107. 108. 109. 110. 111. 112. 113. 114. 115. 116. 117. 118. 119. 120. 121. 122. 123. 124. 125. 126. 127. 128. 129. 130. 131. 132. 133. 134.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  135. 136. 137. 138. 139. 140. 141. 142. 143. 144. 145. 146. 147. 148. 149. 150. 151. 152. 153. 154. 155. 156. 157. 158. 159. 160. dalam menerapkan PPR? Seberapa jauh keberhasilan siswa dalam prestasi belajarnya jika menggunakan PPR? Faktor pendukung apa yang membuat PPR berhasil di kelas Ibu?

  Yaaa… Saya merasa senang saja.

  Kira-kira saya menyiapkannya selama seminggu.

  Sebisa mungkin saya terapkan setiap hari, walaupun tidak secara penuh dan ada mata pelajaran yang tidak menggunakan PPR, misalnya matematika pada materi tertentu. Ada, tapi masih bisa diatasi. Misalnya tidak semua mata pelajaran bisa diterapkan PPR. Perubahan itu pasti ada, namun tidak langsung nampak. Kalau prestasi belajar, rata-rata meningkat, namun ada juga anak yang masih biasa-biasa saja.

  Selain anak itu sendiri, ada guru dan orang tua murid yang mendukung keberhasilan PPR. Wawancara III (29 April 2011 / 10.00 WIB)

  Kode: Wk/Pg/290411 171.

  172. 173. 174. 175. 176. 177. 178.

  Di dalam PPR pasti ada aktivitas refleksi, berapa lama siswa melakukan refleksi? Secara tertulis/lisan? Jika refleksi tertulis, apakah semua anak menulis? Apakah ada bukti

  Kurang lebih 15 menit, kadang lisan, kadang tertulis, bergantung ketersediaan waktu.

  Iya, semua anak menulis di buku refleksi mereka masing- masing. Karena anak kelas empat ini

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  179. 180. 181. 182. 183. 184. 185. 186. 187. 188. 189. 190. 191. 192. 193. 194. 195. 196. 197. 198. 199. 200. 201. 202. 203. 204. 205. 206. 207. 208. 209. 210. 211. 212. 213. 214. 215. 216. 217. 218. 219. 220. 221. 222. tulisannya? Jika refleksi lisan, apakah semua anak menjawab pertanyaan bimbingan guru/mensharingkan langsung? Apakah anak mensharingkan dengan sukarela atau perintah guru? Apakah semua anak mensharingkan, atau anak- anak tertentu? Apakah dari hasil refleksinya itu, siswa merasa hal itu penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari atau sebaliknya, hanya sekedar tahu bahwa itu penting dan tidak dilakukan? Apakah pertanyaan dalam setiap refleksi berbeda? Apa bedanya? Berikan buktinya! masih malu-malu, maka mereka harus dengan perintah guru untuk bisa mensharingkan refleksi mereka.

  Kadang dengan duduk di kursi mereka masing-masing, kadang berdiri di depan kelas. Tidak semua anak kebagian waktu untuk mensharingkan refleksi mereka, sehingga hanya anak-anak tertentu saja.

  Ya anak tahu bahwa itu penting, namun karena mungkin masih anak-anak jadi kadang mereka tidak melakukan dan butuh teguran dari guru.

  Iya, berbeda, sesuai dengan mata pelajaran dan materi yang diajarkan. Misalnya: Misalnya pada mata pelajaran IPA, antara perubahan lingkungan dengan lternative. Pada perubahan lingkungan guru memberikan pertanyaan s eperti “ apakah tindakanmu sekarang lebih sering merusak lingkungan atau malah menjaga lingkungan?, apa yang kamu lakukan?, bagaimana dampaknya?, apa tindakanmu selanjutnya?”. Kemudian pada lternative, pertanyaannya berupa “ bagaimana perasaanmu setelah mempelajari materi ini? Bagaimana menurutmu penggunaan alternative? Apa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  223. 224. 225. 226. 227. 228. 229. 230. 231. 232. 233. 234. 235. 236. 237. 238. 239. 240. 241. 242. 243. 244. 245. 246. 247. 248. 249. 250. 251. 252. 253. 254. 255. 256. 257. 258. 259. 260. 261. 262. 263. 264. 265. 266.

  Apakah refleksi yang Ibu lakukan dengan bantuan media? Medianya apa? Dalam materi apa? Atau sebaliknya(tidak menggunakan media apapun) Aksi sebagai tindak lanjut dari refleksi siswa, apakah dapat dilihat bahwa siswa semakin baik/rajin? Siswa yang mana? Siapa namanya? Berapa orang? Semakin rajin anak dalam indikator apa? Apakah hal itu berlangsung lama atau hanya seketika? Misalnya apa? Apa contoh aksi yang dilakukan siswa? Apakah aksi tersebut dilakukan dengan terpaksa atau sukarela? Dalam hal evaluasi, ibu lakukan dengan apa? Menurut Ibu, ukuran prestasi itu apa? Bagaimana cara mengukurnya? Dalam pemberian soal apa standar soal sama atau tindakanmu selanjutnya?”. Dari kegiatan refleksi ini siswa tahu bahwa hasil refleksinya tersebut penting untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Saya lakukan tanpa bantuan media seperti video, tape, dll., hanya saja terkadang menggunakan selembar kertas yang berisi gambar-gambar untuk membantu kepekaan anak. Misalnya dalam materi masalah sosial, saya menggunakan gambar-gambar contoh masalah sosial.

  Iya, dapat dilihat, namun tidak secara langsung. Butuh proses dari hari ke hari. Contohnya:

  Naha, dulu Ia sangat tomboy dan suka ngatur-ngatur temannya dengan bentak-bentak. Lambat laun Ia semakin feminine dan bisa mengalah dengan temannya.

  Ada juga yang masih tetap nakal dan sulit diatur, dulu kalau mengerjakan tugas atau bahkan ulangan, kalau dia tidak mau ya tidak mau. Istilahnya moody. (Jalu) Kira-kira 50% lebih anak yang mengalami perubahan menjadi baik. Iya. Misalnya dalam hal bersikap, beberapa dari mereka sudah bisa menyadari bahwa tugas piket dilaksanakan bergiliran. Hal itu berlangsung dengan butuh proses, jadi terkadang anak masih butuh teguran atau perlu diingatkan. Misalnya membuang sampah pada tempatnya, menyirami tanaman, menyapu.

  WK/236- 244/290411

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  267. 268. 269. 270. 271. 272. 273. 274. 275. 276. 277. 278. 279. 280. 281. 282. 283. 284. 285. 286. 287. 288. 289. 290. 291. 292. 293. 294. 295. 296. tidak? Apakah ada bukti peningkatan di dalam diri siswa? Siswa yang mana? Dalam hal media, Ibu menggunakan yang sudah jadi atau membuat sendiri? Alasannya apa? Berikan contohnya!

  Dengan sukarela namun kadang harus diingatkan.

  Ulangan harian, pengamatan sehari-hari. Dapat dilihat dari akademik dan nonakademik. Akademik dengan ulangan dan test. Nonakademik dengan pengamatan sehari-hari. Tidak, ada yang sulit, sedang, mudah. Diratakan.

  Ada. Misalnya Tasya, rata-rata nilainya cenderung membaik.

  Kadang menggunakan yang sudah jadi(matematika: kubus dan bangun ruang lainnya), kadang menggunakan buatan sendiri misalnya IPA. Anak-anak membawa alat sendiri dari rumah untuk praktek, seperti botol.

  WK/277- 278/290411

  Wawancara IV (2 Mei 2011 / 09.00 WIB)

  Kode: Wk/Pg/020511 289.

  290. 291. 292. 293. 294. 295. 296. 297. 298.

  Menurut Ibu, apakah tujuan PPR itu? Apakah PPR yang Ibu terapkan sudah mengarah pada tujuan? Buktinya apa? Apakah PPR mempunyai

  PPR mempunyai tujuan untuk membantu siswa agar bisa memahami dan menerapkan apa yang mereka dapat dari suatu pembelajaran melalui refleksi dan aksi. Sudah sedikit banyak mengarah kepada tujuan di atas. Hal itu terbukti dari kegiatan refleksi dan aksi yang selalu saya terapkan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  299. 300. 301. 302. 303. 304. 305. 306. 307. 308. 309. 310. 311. 312. 313. 314. 315. 316. 317. 318. 319. 320. 321. 322. 323. perbedaan dengan metode lain? Jika ada, apa? Misalnya beda PPR dengan diskusi, praktikum, ceramah, cbsa, ctl, pemberian tugas? PPR itu apa sehingga Menurut Ibu, yang paling penting dalam dapat membedakan dengan metode lain? Apakah pendekatan dan metode itu sama pengertiannya? Atau pendekatan lebih tinggi kedudukannya atau sebaliknya? dalam setiap pembelajaran. Ada. Perbedaannya yaitu terletak pada refleksi dan aksi. Kalau metode yang lain tidak ada aktivitas tersebut. Misalnya diskusi, hanya membahas masalah secara berkeompok.

  Praktikum, hanya praktek dalam lab, ceramah hanya guru yang ceramah, cbsa hanya membaca, ctl cenderung hanya di sekolah, pemberian tugas hanya mengerjakan tugas. Ya itu tadi, jika dalam PPR ada lima langkah pokok dan yang membedakan adalah refleksi dan aksinya.

  Pendekatan dengan metode hampir sama, namun berbeda, karena metode lebih condong kepada cara guru untuk memberikan materi sedangkan pendekatan merupakan kegiatan guru untuk menangani siswa, misalnya apa kesulitan anak dalam belajar.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  LAMPIRAN

4 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  17

  Lampiran 4: Wawancara

  OtV/1- 9/230511

  TT: Vr mengalami perubahan sikap yang sangat terlihat jika dibandingkan sebelum mendapatkan PPR, yaitu sikap pemberani dalam setiap hal. Sekarang Vr berani untuk berkecimpung di dalam masyarakat, terutama dalam kegiatan gereja. Misalnya ikut Puteri Altar. BD: Perubahan sikap positif yang dialami Kn tidaklah terlalu terlihat. Masih seperti biasanya. TT: Ya, ketika bermain dengan teman sebayanya, Ia menghampiri teman untuk pergi bersama-sama ke gereja.BD: Kinanti termasuk anak yang responsif, misalnya terhadap teman yang kurang mampu dalam hal ekonomi, Ia langsung mau memberi bantuan. Namun menurut Bu BD terkadang temannya tersebut malah memanfaatkan kebaikan Kinanti, misalnya Kinanti disuruh ke rumah untuk mengambil uang atau makanan yang kepada mereka.

  28 Apakah ada perubahan sikap pada anak yang menjadi lebih baik dari hari ke hari? Perubahan sikap seperti apakah itu? (ceritakan secara singkat) Apakah anak di rumah selalu membantu teman atau tetangga tanpa disuruh? Berikan contohnya! Apakah anak di rumah selalu membantu pekerjaan orang tua? Berikan contohnya Apakah anak sudah bisa bertanggungjawab akan tugasnya sebagai pelajar dari hari ke hari?

  27

  26

  25

  24

  23

  22

  21

  20

  19

  18

  Subyek 3: Orang Tua Siswa Tanggal wawancara: 23 Mei 2011 Orang Tua 1: Bapak TT Kode wawancara: OtV/Pg/230511 Tanggal wawancara: 24 Mei 2011 Orang Tua 2: Ibu BD Kode wawancara: OtK/Pg/240511

  

No. Pertanyaan Jawaban Kode

  7

  1

  2

  3

  4

  5

  6

  8

  15

  9

  10

  11

  12

  13

  14

  16

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  64

  55

  56

  57

  58

  59

  60

  61

  62

  63

  65

  53

  66

  67

  68

  69

  70

  71

  72 Apakah anak bisa menyadari setiap kesalahan yang dia perbuat setiap harinya dengan meminta maaf ? dalam hal apa? Berikan contohnya! Apakah ada perubahan dalam hal tutur kata (bicara) di setiap percakapan dengan orang-orang di rumah dan sekitarnya? Berikan contohnya! Apakah perubahan- perubahan pada no. 2-6 tersebut nampak pada hari ke hari atau hanya pada saat tertentu saja? Apakah saat menemukan masalah yang sama (no. 2-6), anak akan melakukan tindakan yang sama dalam penyelesaiannya? Apakah pelajaran yang telah diterima anak di sekolah langsung diterapkan anak di rumah dan lingkungan sekitarnya? Berikan contohnya! (bukan mengulang pelajaran namun melakukan/mempraktek

  TT: Karena masih kelas IV SD, maka Vera hanya mengerjakan pekerjaan yang ringan, misalnya meletakkan piring ke rak- rak’an. BD: Berhubung di rumah ini sudah ada pembantu, jadi pekerjaan rumah dikerjakan oleh pembantu rumah tangga. Anak tidak pernah membantu pekerjaan rumah. TT: Sudah sangat bertanggungjawab. Malahan Vr lebih bisa mengerti mana hal yang lebih penting antara bermain dulu atau belajar. BD: Dalam keluarga kami sudah mengajarkan bahwa belajar sebagai kebutuhan pribadi, jadi anak sudah tahu tugas mereka sebagai pelajar. TT: Sejauh ini anak saya tidak pernah melakukan kesalahan yang berarti, jadi tidak perlu minta maaf kepada saya. Vera adalah anak yang baik. BD: Saat melakukan suatu kesalahan dalam bertindak misalnya, Ia belum bisa mengakui kesalahannya dengan meminta maaf secara langsung terhadap mamanya. TT: Iya, Vr cenderung sopan saat bertutur kata. BD: Dalam bertutur kata, Ia masih membawa kosata yang kadang kurang baik yang Ia dapat dari teman-teman sekitar rumah, walaupun Ia tidak begitu paham dengan arti dari kosakata tersebut. TT: Iya, Ver semakin mengalami perubahan yang positif. BD: Secara keseluruhan, Kinanti belum mengalami

  OtK/87- 100/240511

  54

  29

  30

  40

  31

  32

  33

  34

  35

  36

  37

  38

  39

  41

  51

  42

  43

  44

  45

  46

  47

  48

  49

  50

  52

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  89

  TT: Iya, misalnya tahu tanggungjawab untuk belajar, membantu teman, ikut kegiatan bergereja, mengerjakan pekerjaan rumah yang ringan- ringan. BD: Aksi yang dilakukan Kn di rumah terlihat saat Ia bergaul dengan teman-temannya di sekitar rumah. Ia mau membantu teman yang sedang butuh pertolongannya, misalnya mengantar/menemani teman ke toko, memberi makanan pada teman yang lapar.

  TT: iya. BD: cenderung iya.

  99 100 kan materi yang telah dipelajari). perubahan yang signifikan dalam bersikap pasca mendapatkan PPR di sekolah, namun rasa empati terhadap teman sebaya saat bergaul di lingkungan rumah semakin terlihat saat Ia memberi bantuan baik berupa materi(misalnya makanan dari rumah) maupun moril.

  98

  97

  96

  95

  94

  93

  92

  91

  90

  73

  74

  87

  86

  85

  84

  83

  82

  81

  80

  79

  78

  77

  76

  75

  88

  

LAMPIRAN

  

5

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  36 Apakah kamu pernah mendengar istilah PPR? Apa itu? Apakah Ibu Wulan selalu melakukan refleksi disetiap akhir pelajaran? Menurutmu Ibu Wulan itu bagaimana, baik atau galak, atau bagaimana? Apakah selama dibimbing Ibu Wulan kamu mengalami perubahan? misalnya semakin rajin, baik, atau apa? Apakah kamu senang belajar (menggunakan PPR)dengan Ibu Wulan? Bagaimana perasaanmu setelah melakukan refleksi? Aksi apa yang biasanya kamu lakukan di sekolah? Apa kamu melakukan aksi itu tiap hari? Apa yang kamu rasakan saat melakukan aksi? Kenapa? I: tidak. II: tidak.

  27

  28

  29

  30

  31

  32

  33

  34

  35

  I: kadang-kadang. II: iya. I: baik, sabar banget. II: baik, sabar, tidak galak.

  25

  I: Iya, semakin rajin mengerjakan PR dan tugas.

  II: Iya, tidak mencontek teman, rajin belajar dan piket. I: Iya, senang, Bu Wulan baik.

  II: iya, senang. I: Senang, karena bisa tahu pelajaran tadi lebih dalam.

  II: Senang, karena bisa crita ke teman-teman tentang apa yang dirasakan dan di dapat. I: Menyapu, piket

  II: Menyirami tanaman, buang sampah pada tempatnya. I: Kadang-kadang.

  II: Iya, tapi kalau menyirami kadang-kadang. I: Senang, karena menyenangkan.

  II: Senang, karena tidak susah. I: Menyapu lantai.

  II: Bantu ibu cuci piring.

  S/14-19/240511 S/21-24/240511

  Lampiran 5: Wawancara

  26

  Subyek: 2 Orang Siswa Tanggal wawancara: 24 Mei 2011 Kode wawancara: S/Pg/240511

  

No. Pertanyaan Jawaban Kode

  23

  1

  2

  3

  4

  5

  6

  7

  8

  9

  10

  11

  12

  13

  14

  15

  16

  17

  18

  19

  20

  21

  22

  24

S/45-47/240511

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  37

  38

  39

  40

  41

  42

  43 Aksi apa yang kamu lakukan di rumah? Contohnya? Bagaimana perasaanmu melakukan aksi tersebut?

  I: Senang, karena jadi bersih.

  II: Senang, karena bisa bantu ibu.

  

LAMPIRAN

  

6

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Penerapan PPR oleh Peneliti

  Peneliti melakukan penerapan PPR dengan mengajar di kelas IVB pada mata pelajaran IPS dan PKn. Setiap mata pelajaran memiliki alokasi waktu 2 JP.

  Pertemuan pertama

  Materi : masalah sosial (IPS) Metode pembelajaran : ceramah singkat, tanya-jawab, diskusi. Media pembelajaran : LKS, video masalah sosial(tawuran anak sekolah). Alat : laptop, viewer.

  Konteks

  Konteks yang peneliti sampaikan melalui kegiatan awal yang berupa apersepsi, yaitu tanya-jawab tetang pengertian masalah sosial. Dari kegiatan tanya-jawab tersebut dapat diketahui pengetahuan awal siswa mengenai materi yang akan dipelajari.

  Pengalaman

  Pengalaman dilakukan pada tahap kegiatan ini. Pengalaman tidak langsung diberikan dengan diskusi mengenai masalah-masalah sosial yang ada dan pernah dialami oleh siswa. Peneliti memberikan gambaran masalah-masalah sosial tersebut melalui contoh video masalah sosial(tawuran), dengan harapan siswa lebih bisa memahami materi ajar.

  Refleksi

  Refleksi dilakukan siswa dengan menuliskan jawaban-jawaban atas pertanyaan yang menuntun siswa melakukan refleksinya. Setiap siswa menuliskan refleksinya pada selembar kertas yang telah disediakan. Kemudian beberapa siswa

  Lampiran 6 : Penerapan PPR oleh

  Peneliti

1. Langkah-langkah

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  ditunjuk untuk maju di depan teman-temannya guna mengungkapkan refleksinya. Cara mereka mengungkapkan yaitu dengan membaca kertas refleksi mereka.

  Tindakan/aksi

  Tindakan dilakukan dengan merumuskan rencana tindakan yang akan mereka lakukan sebagai tindak lanjut dari refleksi. Mereka menuliskannya pada selembar kertas kemudian membacakannya secara bergantian.

  Evaluasi

  Evaluasi dilakukan di kegiatan akhir dengan mengerjakan 10 buah soal pilihan ganda. Setelah selesai mengerjakan soal tersebut kemudian dicocokkan bersama-sama.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Rencana Pelaksanaan Pembelajaran PPR

  Satuan Pendidikan : SD K Sorowajan Mata Pelajaran : IPS Terpadu Pertemuan Ke- : 1 Kelas/Semester : IVB/II Cabang IPS Terkait : Sosiologi dan antropologi Alokasi Waktu : 2 X 40 menit

  I. Standar Kompetensi

  2. Mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi, dan kemajuan teknologi di lingkungan kabupaten/kota dan provinsi.

  II. Kompetensi Dasar 2.4. Mengenal permasalahan sosial di daerahnya.

  III. Indikator a.

  Competence (Akademik dan atau Keterampilan):  Siswa dapat menjelaskan pengertian masalah sosial.

   Siswa dapat membedakan antara masalah sosial dengan masalah pribadi.  Siswa dapat menceritakan masalah sosial yang ada di lingkungan.

  b.

  Conscience (Hati Nurani) :  Memilih nilai-nilai sikap yang pantas dilakukan dalam menghadapi masalah sosial.

  c.

   Compassion (kepedulian sosial):

   Merumuskan niat-niat yang akan dilakukan untuk melakukan sikap yang pantas dilakukan saat menghadapi masalah-masalah sosial.  Merencanakan tindakan untuk melakukan sikap yang pantas untuk menghadapi masalah sosial.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

   Melakukan tindakan secara spontan (misalnya: mematikan lampu saat siang hari, membuang sampah pada tong sampah, tidak meminta uang teman dengan paksa, tidak ikut tawuran anak sekolah ).

  IV. Materi Ajar: Masalah sosial di lingkungan sekitar V. Metode Pengajaran: Ceramah singkat, Tanya jawab.

  VI. Nilai-Nilai kemanusiaan: peka terhadap berbagai masalah social.

  VII. Langkah-langkah Pembelajaran 1.

  Kegiatan awal Salam pembuka

  • Apersepsi (Tanya jawab: guru ingin mengetahui pemahaman siswa
  • mengenai masalah sosial.
  • 2.

  Guru menyampaikan tujuan dan materi pembelajaran

  Kegiatan inti Siswa menyimak penjelasan singkat guru mengenai masalah sosial

  • yang ada di lingkungan sekitar.
  • siswa.

  Siswa dibagi dalam 8 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4

  • pertanyaan dalam LKS dengan kelompok.

  Siswa menerima LKS dari guru dan mendiskusikan pertanyaan-

  • kemudian ditanggapi oleh kelompok lain.

  Siswa mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas (perwakilan),

  • 3.

  Siswa membuat kesimpulan dengan bimbingan guru.

  Kegiatan akhir Evaluasi

  • Refleksi dan aksi
  • Kesimpulan -

  Salam penutup

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  VIII. REFLEKSI: Siswa merefleksikan masalah sosial berdasarkan pengalaman pribadi masing-masing, dengan bantuan beberapa pertanyaan tertulis dan siswa mampu mengambil nilai-nilai kemanusiaan tersebut untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

  AKSI: Siswa merumuskan dan melaksanakan niat-niat yang akan dilakukan berdasarkan refleksi yang dibuat siswa dengan bantuan beberapa pertanyaan dari guru

  Yogyakarta, 9 Mei 2011

  Mengetahui, Kepala Sekolah

  Guru Suwardi, S.Pd. Tiksna Purnamasari

  EVALUASI

  Berilah tanda silang pada pilihan yang kamu anggap benar! 1.

  Manusia adalah mahkluk sosial, artinya ... .

  a. manusia adalah seorang pribadi b. manusia mampu hidup tanpa orang lain c. manusia harus hidup bersama orang lain d.

manusia tidak bisa berkembang bersama orang lain

2.

  Masalah pribadi berbeda dengan masalah sosial. Berikut ini yang merupakan masalah pribadi adalah ... .

  a. perampokan

  c. kebakaran b. kemacetan lalu lintas

  d. tidak naik kelas 3. Berikut ini yang merupakan sifat masalah sosial adalah ... .

  a. dampaknya dirasakan oleh masyarakat luas b. dapat diselesaikan sendiri c.

hanya merugikan diri sendiri jika tidak diselesaikan

d. terjadi karena kelalaian pribadi 4.

  Kemiskinan dan pengangguran dapat menyebabkan terjadinya masalah berikut ... .

  a. pencurian dan perampokan b. rendahnya mutu penduduk c. rendahnya tingkat pendidikan d. majunya suatu bangsa 5.

  Salah satu masalah kependudukan adalah rendahnya kualitas penduduk.

  Salah satu penyebab masalah ini adalah ... .

  a. penduduk sudah peduli pendidikan anak b. banyak lulusan sarjana yang menganggur c. penduduk rajin belajar sendiri d. tingkat pendidikan penduduk rendah 6.

  Lembaga yang bertugas mengelola sampah adalah ... .

  

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  a.

  Dinas Kesehatan

  c. Dinas Kehutanan b. Dinas Perhubungan

  d. Dinas Kebersihan 7. Tingginya pertumbuhan penduduk disebabkan oleh ... .

  a. angka kelahiran lebih besar dari angka kematian b. banyak penduduk yang pindah ke negara lain c. banyak turis yang datang melancong d. keberhasilan program KB 8.

  Tindakan yang harus diambil kalau rumah warga mengalami kebakaran adalah ... .

  a. menonton petugas pemadam kebakaran bekerja b. menutup jalan masuk ke lokasi kebakaran c. membantu memadamkan api d. menggunakan kesempatan untuk mencuri 9.

  Ada bermacam-macam fasilitas umum. Contohnya adalah ... .

  a.

  Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) b. mobil pribadi c. kolam renang pribadi d. rumah penduduk 10. Bagaimana sikap kita jika diajak teman tawuran? a.

  Menolak

  c. Mau ikut b. Tidak tertarik, tapi mencoba.

  d. Melihat saja

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

KUNCI JAWABAN 1.

  C 2. D 3. A 4. A 5. D 6. D 7. A 8. C 9. A 10. A Skor setiap nomor = 1 PENILAIAN = jumlah benar x 1

  = N

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Satuan Pendidikan : SD K Sorowajan Mata Pelajaran : IPS Terpadu Hari / Tanggal : Senin, 9 Mei 2011 Kelas / Semester : IV / II Cabang IPS Terkait : Antropologi dan Geografi Alokasi Waktu : 2 x 40 menit A.

   Indikator Competence (Akademik dan atau Keterampilan):  Siswa dapat menjelaskan pengertian masalah sosial.

   Siswa dapat membedakan antara masalah sosial dengan masalah pribadi.  Siswa dapat menceritakan masalah sosial yang ada di lingkungan rumah.

B. Petunjuk Kerja

   Tuliskan namamu di pojok kanan atas LKS!  Lakukan kegiatan belajar di bawah ini!  Tuliskan jawabanmu pada tempat yang telah tersedia!  Kumpulkan LKS dengan rapi! C.

   Kegiatan Belajar 1

  Diskusikan pertanyaan-pertanyaan berikut ini dengan kelompokmu! 1.

  Apakah yang dimaksud dengan masalah sosial? Jawab: …………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2. Jelaskan perbedaan masalah sosial dan masalah pribadi!

  Jawab: …………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………… 3.

  Apa sajakah masalah sosial yang ada di sekitar kita? Jawab: …………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………

  Kegiatan Belajar 2

  Ceritakan pengalamanmu secara singkat dalam menghadapi masalah sosial di sekitarmu! ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……...............(di sebaliknya)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  MATA PELAJARAN : ILMU PENGETAHUAN SOSIAL KELAS/SEMESTER : IV/2 STANDAR KOMPETENSI : 2. Mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi, dan kemajuan teknologi di lingkungan kabupaten/kota dan provinsi.

  KOMPETENSI DASAR : 2.4 Mengenal permasalahan sosial di daerahnya. MATERI : Masalah Sosial Nama No. Absen/Kelas :

  : ……………………… ..

  ……………………… 1. Hal-hal apa saja yang mengganggumu dalam kegiatan belajar tadi?

  Jawab: ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 2.

  Bagaimana caramu mengatasi hal yang mengganggumu dalam kegiatan belajar tadi? Jawab: ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  3. Jelaskan menurut pendapatmu, mengapa kita merasa perlu mempelajari materi masalah sosial tadi ? Jawab: ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 4. Bagaimana sikap kita dalam menghadapi segala bentuk masalah sosial di sekitar kita?

  Jawab: ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Nama No. Absen/Kelas : : ………………………

  ……………………………

   Tuliskan apa saja yang akan kamu lakukan dalam menghadapi masalah sosial yang ada di lingkunganmu ! (misal, jika menonton sepak bola harus tertib, tidak ikut-ikutan tawuran. Dll.)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Pertemuan kedua

1. Langkah-langkah

  Materi: Jenis budaya Indonesia yang pernah ditampilkan dalam misi kebudayaan internasional (PKN). Metode pembelajaran : ceramah singkat, tanya-jawab, diskusi. Alat : laptop, viewer. Media pembelajaran : kertas HVS

  Konteks

  Konteks dilakukan dengan cara meminta siswa untuk menggambar diri mereka sendiri di atas selembar kertas kosong yang telah disediakan, tanpa dilihat oleh teman. Mereka harus mengetahui ciri-ciri khusus yang ada pada diri mereka sehingga orang lain bisa mengenali mereka. Setelah menggambar, siswa mengumpulkan hasil gambarannya tersebut kepada guru dan guru membagikan kertas itu secara acak kepada para murid. Dari situ murid diajak untuk mengenali siapa nama siswa yang ada pada gambar tersebut. Kemudian guru melakukan tanya-jawab dengan murid mengenai gambar diri tersebut. Dari kegiatan tersebut diharapkan siswa dapat mengenali diri sendiri dan teman lain yang berbeda warna kulitnya, bentuk anggota badannya, tingginya, dll. Sebagai bentuk keanekaragaman sara yang ada di Indonesia. Murid diharapkan sejak kecil mengerti dan memahami bahwa Bangsa Indonesia adalah Bangsa yang multikultural.

  Pengalaman

  Kegiatan guru dalam memberikan pengalaman dilakukan dengan melakukan tanya-jawab mengenai berbagai budaya yang ada di Indonesia dan mendatangkan narasumber dari suatu daerah(Kuningan, Jawa Barat). Setelah melakukan tanya-jawab mengenai berbagai budaya yang dimiliki narasumber, gantian guru dengan para siswa melakukan tanya-jawab mengenai budaya yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  dimiliki tiap siswa, mulai dari bahasa daerahnya, makanan daerah, lagu daerah, dll. Ternyata siswa kelas IVB berasal dari beranekaragam budaya yang dibawa dari orang tua mereka. Ada yang dari Jogjakarta, NTB, Manado, Wonogiri, Solo, dll.

  Setelah melakukan tanya-jawab, guru menampilkan slide show gambar- gambar budaya Indonesia, antara lain baju daerah, rumah adat, makanan khas, alat perang. Dari kegiatan tersebut siswa diharapkan untuk menghargai budaya sendiri dan menghormati budaya orang lain sebagai wujud toleransi antar sesama.

  Refleksi

  Refleksi dilakukan siswa dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari guru sebagai penuntun anak untuk mengungkapkan refleksinya. Mereka menjawab pertanyaan refleksi tersebut pada selembar kertas yang telah disediakan kemudian membacakannya di tempat duduk mereka, karena mereka malu untuk membacakan di depan teman-teman mereka.

  Tindakan/aksi

  Aksi mereka lakukan dengan merumuskan rencana tindakan mereka pada sebuah kertas sebagai tindak lanjut dari kegiatan refleksi. Kemudian beberapa murid yang ditunjuk mengungkapkan rumusan aksi mereka di depan teman-teman mereka secara bergantian.

  Evaluasi

  Evaluasi diberikan dengan pekerjaan rumah dengan tugas siswa untuk mencari contoh-contoh budaya yang ada di sekitar rumah mereka. Mereka bisa mencari melalui internet atau bertanya pada tokoh masyarakat di sekitar tempat tinggal mereka.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Rencana Pelaksanaan Pembelajaran PPR

  Satuan Pendidikan : SD K Sorowajan Mata Pelajaran : PKN Pertemuan Ke- : 1 Kelas/Semester : IVB/II Hari,Tanggal : Senin,16 Mei 2011 Alokasi Waktu : 2 X 40 menit

  I. Standar Kompetensi 4.Menunjukkan sikap terhadap globalisasi di lingkungannya.

  II. Kompetensi Dasar 4.2.

  Mengidentifikasi jenis budaya Indonesia yang pernah ditampilkan dalam misi kebudayaan internasional.

  III. Indikator  Competence (Akademik dan atau Keterampilan): a. Siswa dapat menjelaskan pengertian budaya.

  b. Siswa dapat memberikan contoh hasil budaya bangsa Indonesia.

  c. Siswa dapat memberikan contoh sikap menghargai budaya orang lain.  Conscience (Hati Nurani) :

  Memilih nilai-nilai sikap yang pantas dilakukan dalam menghargai budaya orang lain.  Compassion (kepedulian sosial):

  a. Merumuskan niat-niat yang akan dilakukan untuk melakukan sikap yang pantas dilakukan saat menemukan budaya orang lain yang berbeda.

  b. Merencanakan tindakan untuk melakukan sikap yang pantas untuk menghargai budaya orang lain.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  c. Melakukan tindak lanjut dari rumusan menghargai budaya lain(misal: tidak mengejek logat bahasa lain, mempelajari sebuah tarian daerah, dll.).

  IV. Materi Ajar: menghargai kebudayaan Indonesia dan Mancanegara.

  V. Metode Pengajaran: Ceramah singkat, Tanya jawab.

  VI. Nilai-Nilai kemanusiaan: menghargai budaya orang lain.

  VII. Langkah-langkah Pembelajaran 4.

  Kegiatan awal Salam pembuka

  • Apersepsi ( Siswa dibagikan sebuah kertas. Guru meminta agar
  • setiap siswa menggambarkan dirinya sendiri tanpa memberi nama. Kemudian kertas dikumpulkan kepada guru. Guru membagikannya kembali kepada murid secara acak. Lalu, guru melalukan Tanya jawab tentang gambar wajah teman mereka. Itulah salah satu contoh perbedaan ras)
  • 5.

  Guru menyampaikan tujuan dan materi pembelajaran

  Kegiatan inti Siswa menyimak penjelasan singkat guru mengenai budaya yang

  • ada di lingkungan sekitar.
  • siswa.

  Siswa dibagi dalam 8 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4

  • pertanyaan dalam LKS dengan kelompok.

  Siswa menerima LKS dari guru dan mendiskusikan pertanyaan-

  • kemudian ditanggapi oleh kelompok lain.

  Siswa mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas (perwakilan),

  Siswa membuat kesimpulan dengan bimbingan guru.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

6. Kegiatan akhir

  Evaluasi

  • Refleksi dan aksi
  • Kesimpulan -
  • VIII. REFLEKSI: Siswa merefleksikan cara menghargai budaya orang lain berdasarkan pengalaman pribadi masing-masing, dengan bantuan beberapa pertanyaan tertulis dan siswa mampu mengambil nilai-nilai kemanusiaan tersebut untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. AKSI: Siswa merumuskan dan melaksanakan niat-niat yang akan dilakukan berdasarkan refleksi yang dibuat siswa dengan bantuan beberapa pertanyaan dari guru

  Salam penutup

  Yogyakarta, 16 Mei 2011 Mengetahui, Kepala Sekolah

  Guru, Suwardi, S.Pd.

  Tiksna Purnamasari

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Satuan Pendidikan : SD K Sorowajan Mata Pelajaran : PKn Hari / Tanggal : Senin, 16 Mei 2011 Kelas / Semester : IV / II Alokasi Waktu : 2 x 40 menit D.

   Indikator Competence (Akademik dan atau Keterampilan):  Siswa dapat menjelaskan pengertian budaya.

   Siswa dapat memberikan contoh hasil budaya bangsa Indonesia.  Siswa dapat memberikan contoh sikap menghargai budaya orang lain.

E. Petunjuk Kerja

   Tuliskan namamu di pojok kanan atas LKS!  Lakukan kegiatan belajar di bawah ini!  Tuliskan jawabanmu pada tempat yang telah tersedia!  Kumpulkan LKS dengan rapi! F.

   Kegiatan Belajar 1

  Diskusikan pertanyaan-pertanyaan berikut ini dengan kelompokmu! 1. Apakah yang dimaksud dengan budaya?

  Jawab: …………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………… 2.

  Sebutkan keanekaragaman budaya milik bangsa indonesia! Jawab: …………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

3. Berikan contoh sikap mencintai budaya Indonesia!

  Jawab: …………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………

  Kegiatan Belajar 2

  Jelaskan bentuk-bentuk sikap menghargai budaya bangsa Indonesia dan Bangsa lain di dunia!

  ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……...............(di sebaliknya)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  MATA PELAJARAN : PKN KELAS/SEMESTER : IV/2 STANDAR KOMPETENSI : 4.Menunjukkan sikap terhadap globalisasi di lingkungannya

  KOMPETENSI DASAR :4.2. Mengidentifikasi jenis budaya Indonesia yang

  pernah ditampilkan dalam misi kebudayaan internasional MATERI : menghargai kebudayaan Indonesia dan mancanegara.

  Nama No. Absen/Kelas : : ………………………

  …………………………… 1.

  Hal-hal apa saja yang mengganggumu dalam kegiatan belajar tadi? Jawab: ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 2. Bagaimana caramu mengatasi hal yang mengganggumu dalam kegiatan belajar tadi?

  Jawab: ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 3.

  Jelaskan menurut pendapatmu, mengapa kita harus mencintai budaya bangsa Indonesia? Jawab: ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 4. Bagaimana sikap terhadap teman dari suku yang berbeda?

  Jawab: ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… 5.

  Mengapa kita harus menghormati budaya bangsa lain? Jawab: ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  TULISKAN NIAT-NIATMU DALAM RANGKA MENGHARGAI BUDAYA DAERAH/ORANG LAIN!

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (116 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

ANALISIS IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF (PPR).
0
2
29
LATIHAN SOAL TIK UKK KELAS 8 SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2010 2011
0
0
7
PENINGKATAN KETERLIBATAN SISWA DENGAN MEDIA LKS DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V SD KANISIUS KALASAN YOGYAKARTA SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 20092010
0
0
138
PENERAPAN PRINSIP EVALUASI KEMAJUAN BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN DALIL PYTHAGORAS BERPARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF DI SMP KANISIUS TIRTOMOYO
0
0
168
KEGIATAN GURU MEMFASILITASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF PADA SISWA KELAS IV SD KANISIUS WIROBRAJAN SEMESTER 2 Tahun Ajaran 20102011 Skripsi
0
0
101
PROSES BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF DI KELAS IV SD KANISIUS WIROBRAJAN Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan PGSD
0
0
118
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MENGGUNAKAN METODE EKSPERIMEN DALAM MATA PELAJARAN IPA MATERI SIFAT-SIFAT CAHAYA SISWA KELAS V SD KANISIUS KLEPU SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 20102011 SKRIPSI
0
0
129
PENELITIAN TINDAKAN KELAS EFEKTIVITAS PENGEMBANGAN KOMPETENSI MATEMATIKA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF PADA PESERTA DIDIK KELAS VB SD KANISIUS SENGKAN SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 20102011 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuh
0
0
132
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR DENGAN TEKNIK PEMBELAJARAN MIND MAP MATA PELAJARAN PKn BAGI SISWA KELAS IV SD KANISIUS KADIROJO SLEMAN SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 20102011
0
0
227
HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS V SD KANISIUS SOROWAJAN TAHUN PELAJARAN 20102011
0
0
184
PENINGKATAN KEAKTIFAN, CARA BELAJAR DAN PRESTASI BELAJAR IPA TENTANG MATERI KONDUKTOR DAN ISOLATOR PANAS MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI EKSPERIMEN BERBASIS PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF PADA SISWA KELAS VI A SEMESTER I SD KANISIUS SOROWAJAN TAHUN PELAJARAN
0
0
150
HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF DI KELAS IV SD KANISIUS WIROBRAJAN TAHUN PELAJARAN 20102011
0
0
128
EFEKTIVITAS PERKEMBANGAN NILAI KEMANUSIAAN DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF PADA SISWA KELAS IV SD KANISIUS WIROBRAJAN Skripsi
0
0
105
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF UNTUK TOPIK SISTEM PERSAMAAN LINEAR DI KELAS X2 SMA KANISIUS HARAPAN TIRTOMOYO WONOGIRI TAHUN AJARAN 2011 2012 PADA ASPEK NILAI KEMANUSIAAN SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Sat
0
0
223
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MELALUI METODE BERMAIN PERAN MATA PELAJARAN PKn SISWA KELAS V SD KANISIUS MANDING, BANTUL SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 20112012 SKRIPSI
0
0
182
Show more