Pengembangan alat peraga ala Montessori untuk keterampilan geometri matematika kelas III SDN Tamanan I Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
1
132
9 months ago
Preview
Full text

  PENGEMBANGAN ALAT PERAGA ALA MONTESSORI UNTUK KETERAMPILAN GEOMETRI MATEMATIKA KELAS III SDN TAMANAN I YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

  Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

  Oleh: Mukti Sari Putri NIM: 091134074

  PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2013

  PENGEMBANGAN ALAT PERAGA ALA MONTESSORI UNTUK KETERAMPILAN GEOMETRI MATEMATIKA KELAS III SDN TAMANAN I YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

  Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

  Oleh: Mukti Sari Putri NIM: 091134074

  PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2013

  HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

  HALAMAN PENGESAHAN

  HALAMAN PERSEMBAHAN Skripsi ini saya persembahkan kepada: 1. Tuhan Yesus yang selalu menunjukkan jalan terbaik dan menyertaiku.

  2. Bapak dan ibu tersayang yang selalu memberikan doa, kasih sayang, dan dukungan kepada saya.

  3. Teman spesial tercinta yang selalu memberi semangat dan doa kepada saya.

  4. Teman-teman seperjuanganku PGSD’09.

  5. Almamaterku.

  HALAMAN MOTTO Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.

  (Mazmur 119:105) Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada

  Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

  (Filipi 4:6) PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  PERNYATAAN PERSETUJUAN

  ABSTRAK Putri, Mukti Sari. (2013). Pengembangan alat peraga ala Montessori untuk keterampilan geometri matematika kelas III SDN Tamanan I Yogyakarta.

  Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma. Kata kunci: metode penelitian pengembangan, metode Montessori, alat peraga Montessori, keterampilan geometri, Matematika.

  Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran di Sekolah Dasar mempermudah siswa memahami konsep serta membuat pembelajaran lebih aktif dan menyenangkan karena membuat siswa lebih tertarik terhadap pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan alat peraga Montessori yang berkualitas untuk pembelajaran matematika keterampilan geometri kelas III SD semester genap. Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini mengadopsi metode Montessori karena kelebihannya yang terletak pada prinsip alat peraga Montessori yang meliputi (1) menarik, (2) bergradasi, (3) memiliki pengendali kesalahan, (4) membelajarkan siswa secara mandiri, dan (5) kontekstual. Penelitian ini dilakukan terhadap siswa kelas IIIA SDN Tamanan I Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 pada bulan Januari sampai April 2013.

  Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (R&D). Di akhir penelitian ini dilakukan uji coba lapangan terbatas. Prosedur pengembangan ini melalui empat tahap, yakni (1) kajian standar kompetensi dan materi pembelajaran, (2) analisis kebutuhan dan pengembangan perangkat pembelajaran, (3) produksi alat peraga Montessori untuk pembelajaran geometri, (4) validasi dan revisi produk, hingga menjadi prototipe pengembangan alat peraga untuk keterampilan geometri Matematika kelas III semester genap.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian dari pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga matematika, guru kelas III SDN Tamanan I, dan siswa kelas IIIA SDN Tamanan I memperoleh rerata skor 4,4 dan termasuk kategori “sangat baik”. Dengan demikian, alat peraga yang dikembangkan memiliki kualitas yang sangat baik untuk digunakan dalam pembelajaran matematika keterampilan geometri kelas III semester genap.

  ABSTRACT Putri, Mukti Sari. (2013). Developing a set of Montessori geometry materials for

  rd the 3 grade students of Tamanan I Primary School, Yogyakarta. A Thesis.

  Yogyakarta: Primary School Teacher Education Study Program, Sanata Dharma University. Keyword: research and development method, Montessori method, Montessori materials, geometry skill, mathematics.

  Media used in Primary School help students understand abstract concepts and make learning more active and fun because the students are interested in the learning process. The purpose of this research is to develop Montessori geometry

  rd

  materials for 3 grade students. The developed product adopted the Montessori’s method and was designed based on the four principals of Montessori’s materials namely: 1) attractive, 2) gradual, 3) auto-correction, and 4) auto-education. The research added another criterion – contextual into the foundation. This research

  rd

  was conducted on a group of 3 graders at Tamanan I Primary School, Yogyakarta during the second term in the academic year of 2012/2013.

  This research employed the Research and Development method (R & D) and a limited trial of the prototype was conducted at the end of this research. The development procedures took four steps: 1) examining the competency standard and the math concept, 2) analysis the students’ needs, 3) producing the Montessori geometry materials, and 4) validating and revising the prototype.

  The product’s quality assessment from a couple of experts in Math education, the class teacher and the group of students obtained a mean score of 4.4 in a scale of 5 which falls under the category of “very good”. In conclusion, the set of Montessori materials developed has excellent quality and was ready for a wider trial.

  PRAKATA Puji syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan berkat-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

  Peneliti menyadari penulisan skripsi ini tidak akan berhasil tanpa bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Karena itu, pada kesempatan ini perkenankanlah peneliti menyampaikan ucapan terima kasih dengan hati yang tulus kepada:

  1. Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

  2. Gregorius Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A. selaku Kaprodi PGSD sekaligus pembimbing I yang telah membimbing peneliti dengan penuh kebijaksanaan sehingga penulisan ini dapat selesai.

  3. E. Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed. D. selaku Wakaprodi PGSD.

  4. Ag. Kustulasari 81, S.Pd., M.A. selaku pembimbing II yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan dengan penuh kesabaran.

  5. Srini Supriyanti, S.Pd. SD. selaku Kepala SDN Tamanan I Yogyakarta yang telah memberikan ijin kepada peneliti untuk mengadakan penelitian di sekolah.

  6. S. K. Mawati, S.Pd. SD. selaku guru kelas IIIA SDN Tamanan I yang telah berpartisipasi dan memberikan bantuan selama penelitian di sekolah.

  7. Veronika Fitri Rianasari, M.Si. selaku pakar pembelajaran matematika yang telah memberikan kontribusi dan bantuan dalam penelitian pengembangan ini.

  8. Andri Anugrahana, M.Pd. selaku pakar alat peraga matematika yang juga telah memberikan kontribusi dan bantuan dalam penelitian pengembangan ini.

  9. Seluruh siswa kelas IIIA SDN Tamanan I Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 yang telah bekerjasama dengan peneliti selama penelitian berlangsung.

  DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................ ii HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................ iv HALAMAN MOTTO ........................................................................................ v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................ vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ............................................ vii ABSTRAK ....................................................................................................... viii ABSTRACT........................................................................................................ ix PRAKATA ......................................................................................................... x DAFTAR ISI .................................................................................................... xii DAFTAR BAGAN .......................................................................................... xvi DAFTAR TABEL .......................................................................................... xvii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xviii

  BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1

  1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1

  1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 4

  1.3 Tujuan Penelitian ...................................................................................... 5

  1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................... 5

  1.5 Spesifikasi Produk yang Dikembangkan ................................................... 5

  1.6 Definisi Operasional ................................................................................. 6

  BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................. 8

  2.1 Kajian Pustaka .......................................................................................... 8

  2.1.1 Pembelajaran Montessori .......................................................................... 8

  2.1.1.1 Pengertian Pembelajaran Montessori ........................................................ 8

  2.1.1.2 Tahap Perkembangan Anak ...................................................................... 9

  2.1.2 Alat Peraga Montessori............................................................................. 9

  2.1.2.1 Pengertian Alat Peraga ............................................................................. 9

  2.1.2.2 Pengertian Alat Peraga Montessori ........................................................ 10

  2.1.2.3 Ciri-Ciri Alat Peraga Montessori ............................................................ 11

  2.1.3 Keterampilan Geometri dalam Matematika ............................................. 13

  2.1.3.1 Pengertian Keterampilan Geometri ......................................................... 13

  2.1.3.2 Tujuan Keterampilan Geometri ............................................................... 13

  2.1.4 Kajian Penelitian yang Relevan .............................................................. 14

  2.1.4.1 Penelitian tentang Alat Peraga Matematika ............................................. 14

  2.1.4.2 Penelitian tentang Pengembangan Pembelajaran Montessori................... 15

  2.2 Kerangka Berpikir .................................................................................. 17

  2.3 Hipotesis ................................................................................................ 19

  BAB III METODE PENELITIAN .................................................................. 20

  3.1 Jenis Penelitian ........................................................................................... 20

  3.2 Setting Penelitian ........................................................................................ 20

  3.2.1 Objek Penelitian ....................................................................................... 20

  3.2.2 Subjek Penelitian ...................................................................................... 20

  3.2.3 Lokasi Penelitian ...................................................................................... 21

  3.2.4 Jadwal Penelitian ...................................................................................... 21

  3.3 Prosedur Pengembangan ............................................................................. 21

  3.4 Uji Validasi Produk ..................................................................................... 26

  3.4.1 Uji Validasi Ahli ....................................................................................... 26

  3.4.2 Uji Validasi Produk dengan Uji Coba Lapangan Terbatas ......................... 26

  3.5 Instrumen Penelitian ................................................................................... 26

  3.5.1 Jenis Data ................................................................................................. 26

  3.5.2 Instrumen Pengumpulan Data ................................................................... 27

  3.5.2.1 Instrumen Analisis Kebutuhan ................................................................ 27

  3.5.2.2 Instrumen Validasi Ahli .......................................................................... 27

  3.5.2.3 Instrumen Validasi Produk dengan Uji Coba Lapangan Terbatas ............ 28

  3.6 Teknik Pengumpulan Data .......................................................................... 29

  3.6.1 Analisis Kebutuhan ................................................................................... 29

  3.6.2 Validasi Ahli............................................................................................. 29

  3.6.3 Validasi Produk dengan Uji Coba Lapangan Terbatas ............................... 30

  3.7 Teknik Analisis Data ................................................................................... 30

  3.7.1 Analisis Kebutuhan ................................................................................... 30

  3.7.1.1 Kuesioner ............................................................................................... 30

  3.7.2 Analisis Validasi Produk ........................................................................... 31

  3.7.2.1 Kuesioner ............................................................................................... 31

  3.7.2.2 Tes ......................................................................................................... 32

  BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................................. 33

  4.1 Kajian Standar Kompetensi dan Materi Pembelajaran ................................. 33

  4.2 Analisis Kebutuhan dan Pengembangan Perangkat Pembelajaran ................ 33

  4.2.1 Data Analisis Kebutuhan Siswa Berdasarkan Kuesioner ........................... 34

  4.2.2 Data Analisis Kebutuhan Guru Berdasarkan Kuesioner ............................. 34

  4.2.3 Pengembangan Perangkat Pembelajaran ................................................... 35

  4.3 Produksi Alat Peraga Montessori untuk Pembelajaran Geometri ................. 35

  4.3.1 Rak 1 ........................................................................................................ 37

  4.3.2 Rak 2 ........................................................................................................ 37

  4.3.3 Rak 3 ........................................................................................................ 37

  4.3.4 Rak 4 ........................................................................................................ 37

  4.3.5 Rak 5 ........................................................................................................ 37

  4.3.6 Kartu Soal ................................................................................................. 38

  4.3.7 Lembar Kerja ............................................................................................ 38

  4.3.8 Album Pembelajaran ................................................................................. 38

  4.4 Validasi dan Revisi Produk ......................................................................... 38

  4.4.1 Deskripsi Validasi Pakar Pembelajaran Matematika .................................. 40

  4.4.2 Deskripsi Validasi Pakar Alat Peraga Matematika ..................................... 41

  4.4.3 Deskripsi Validasi Guru Kelas IIIA .......................................................... 42

  4.4.4 Revisi Produk ........................................................................................... 42

  4.4.5 Data Uji Coba Lapangan Terbatas ............................................................. 43

  4.4.5.1 Kuesioner ............................................................................................... 44

  4.4.5.2 Tes ......................................................................................................... 44

  4.4.6 Penilaian Akhir ......................................................................................... 46

  4.4.6.1 Guru Kelas IIIA ...................................................................................... 46

  4.4.6.2 Siswa Kelas IIIA .................................................................................... 47

  4.4.6.3 Peneliti ................................................................................................... 47

  BAB V PENUTUP ........................................................................................... 48

  5.1 Kesimpulan ................................................................................................. 48

  5.2 Keterbatasan Penelitian ............................................................................... 48

  5.3 Saran ........................................................................................................... 49 DAFTAR REFERENSI ................................................................................... 50 LAMPIRAN ..................................................................................................... 53

  DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Literature Map Penelitian yang Relevan ............................................ 17Bagan 3.1 Langkah-langkah penelitian dan pengembangan Sugiyono ................ 21Bagan 3.2 Model penelitian dan pengembangan Borg dan Gall .......................... 22Bagan 3.3 Prosedur Penelitian Pengembangan ................................................... 25

  DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Konversi Data Kuantitatif ke Data Kualitatif Skala Lima

  Menurut Sukardjo .............................................................................. 31

Tabel 4.1 Konversi Data Kuantitatif ke Data Kualitatif Skala Lima

  Menurut Sukardjo .............................................................................. 39

Tabel 4.2 Kriteria Skor Skala Lima .................................................................... 40Tabel 4.3 Komentar Pakar Pembelajaran Matematika dan Tindak Lanjut ........... 41Tabel 4.4 Hasil Pretest dan Posttest ................................................................... 45Tabel 4.5 Perolehan Skor Validasi Produk ......................................................... 46

  DAFTAR LAMPIRAN

  1. Lampiran 1. Instrumen Analisis Kebutuhan ................................................... 54

  1.1 Kisi-Kisi Kuesioner Analisis Kebutuhan ..................................................... 54

  1.2 Kuesioner Analisis Kebutuhan untuk Siswa ................................................ 54

  1.3 Rekapitulasi Hasil Analisis Kebutuhan Siswa.............................................. 56

  1.4 Kuesioner Analisis Kebutuhan untuk Guru .................................................. 58

  2. Lampiran 2. Instrumen Validasi Ahli ............................................................. 61

  2.1 Kisi-Kisi Kuesioner Validasi Ahli ............................................................... 61

  2.2 Kuesioner untuk Pakar Pembelajaran Matematika ....................................... 62

  2.3 Kuesioner untuk Pakar Alat Peraga Matematika .......................................... 64

  2.4 Kuesioner untuk Guru ................................................................................. 66

  3. Lampiran 3. Uji Coba Lapangan Terbatas dengan Tes ................................... 68

  3.1 Kisi Kisi Soal Tes Matematika .................................................................... 68

  3.2 Soal Pretest dan Posttest ............................................................................. 68

  3.3 Kunci Jawaban ............................................................................................ 71

  3.4 Hasil Pretest ............................................................................................... 73

  3.5 Hasil Posttest .............................................................................................. 76

  4. Lampiran 4. Kuesioner Uji Coba Lapangan Terbatas ..................................... 79

  4.1 Kisi-Kisi Kuesioner untuk Uji Coba Lapangan Terbatas ............................. 79

  4.2 Kuesioner untuk Siswa ................................................................................ 80

  4.3 Rekapitulasi Hasil Uji Coba Lapangan Terbatas .......................................... 81

  5. Lampiran 5. Surat Permohonan Ijin Penelitian ke SD .................................... 82

  6. Lampiran 6. Surat Keterangan telah Melaksanakan Penelitian dari SD .......... 83

  7. Lampiran 7. Dokumentasi Uji Coba Lapangan Terbatas ................................ 84

  8. Lampiran 8. Album Pembelajaran ................................................................. 88

  BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini dijelaskan (1) latar belakang, (2) rumusan masalah, (3) tujuan penelitian, (4) manfaat penelitian, (5) spesifikasi produk yang dikembangkan, dan (6) definisi operasional.

1.1 Latar Belakang

  Sudah menjadi kebenaran umum bahwa pembelajaran adalah suatu proses belajar yang dilakukan secara sengaja dan sadar antara guru dan siswa untuk mencapai suatu kompetensi tertentu. Pembelajaran dipandang sebagai suatu sistem yang terdiri dari komponen-komponen yang saling bergantung dan terorganisir antara kompetensi yang harus diraih siswa, materi pelajaran, pokok bahasan, metode dan pendekatan pengajaran, media pengajaran, sumber belajar, pengorganisasian kelas, dan penilaian (Suyono & Hariyanto, 2011:17). Pengertian tersebut mengandung arti bahwa keberhasilan suatu pembelajaran akan ditentukan oleh pemilihan dan penggunaan komponen pembelajaran. Komponen pembelajaran itu saling mempengaruhi dan memberikan kontribusi dalam pembelajaran sehingga ketika menyusun suatu rancangan pembelajaran perlu diperhatikan komponen-komponen tersebut. Pada anak usia sekolah dasar terutama untuk kelas bawah yang berumur 6-9 tahun, komponen penting yang diperlukan dalam sebuah pembelajaran adalah adanya media pembelajaran untuk menyampaikan materi seperti yang diungkapkan Munadi (2010:7-8) bahwa terciptanya proses belajar yang efektif dan efisien diperlukan adanya media pembelajaran karena media mampu menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga terbentuk lingkungan belajar yang kondusif. Media pembelajaran yang dibutuhkan adalah berupa alat peraga karena dalam hal ini pada umur 6-9 tahun diperlukan benda-benda konkret untuk membantu anak membentuk sebuah konsep. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Rathunde (2003:15) pembelajaran yang baik sesuai dengan teori Montessori yaitu pembelajaran yang lebih memperhatikan kualitas pengalaman yang dialami siswa daripada prestasi belajar yang diraih siswa.

  Sesuai dengan kurikulum yang digunakan di Indonesia yaitu KTSP, mata pelajaran pokok di Sekolah Dasar meliputi Matematika, Bahasa Indonesia, IPA,

  IPS, dan PKn. Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik yang khas, begitu pula dengan mata pelajaran Matematika. Menurut Walle (2008:13) matematika adalah ilmu tentang sesuatu yang memiliki pola keteraturan dan urutan yang logis. Sehubungan dengan hal tersebut, pembelajaran matematika yang baik dapat menghantarkan siswa sampai pada pembentukan diri yang teratur, menemukan arti dalam kehidupannya, dan berpikir logis. Salah satu tujuan mata pelajaran Matematika yang tertulis dalam standar isi dan standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar SD/MI adalah agar peserta didik menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. Tujuan dalam pembelajaran matematika tersebut dapat tercapai apabila didukung dengan komponen-komponen yang dapat mendorong siswa untuk memperoleh kompetensi yang diharapkan. Mata pelajaran Matematika juga menitikberatkan kompetensi dasar bilangan, geometri, dan pengukuran. Kompetensi tersebut akan tercapai apabila didukung dengan benda-benda nyata yang ada di sekitar siswa. Benda nyata tersebut dapat diwujudkan melalui alat peraga yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran. Alat peraga menjadi penting karena melalui alat nyata tersebut konsep terhadap suatu materi dalam pembelajaran matematika dapat tertanam pada diri anak.

  Pembelajaran konvensional yang terjadi saat ini kurang memandang penting adanya media pembelajaran yang berupa alat peraga. Pada umumnya pendidik cukup puas dengan buku-buku paket yang telah digunakannya. Sumber belajar yang berupa buku cetak tersebut dianggap telah mampu membentuk konsep pada diri anak. Penjelasan secara lisan melalui ceramah juga masih diandalkan oleh para pendidik untuk menyampaikan konsep yang membutuhkan media nyata untuk memahaminya. Hal-hal tersebut apabila terus terjadi akan menimbulkan dampak negatif pada diri anak. Salah satu dampaknya adalah ketika anak dihadapkan dengan masalah yang nyata, anak mengalami kesulitan dalam mengkorelasikan dan menyelesaikannya karena dari awal anak hanya mendengarkan penjelasan dan melihat secara grafis. Sejak awal anak tidak dihadapkan langsung dengan objek yang dimaksud sehingga anak mempunyai kendala dalam menerapkan konsep yang telah diperolehnya.

  Salah satu pembelajaran yang banyak memanfaatkan alat peraga untuk membentuk konsep siswa adalah pembelajaran Montessori (1870-1952). Montessori adalah seorang dokter wanita yang prihatin terhadap dunia anak dan pendidikan. Pembelajaran ala Montessori berawal dari hasil observasi yang dilakukan oleh Montessori sendiri terhadap anak didiknya yang kurang beruntung di suatu daerah kumuh di Roma. Montessori berhasil membimbing anak-anak didik tersebut lulus ujian nasional seperti yang dilakukan anak-anak di sekolah umum. Seiring dengan perkembangannya pembelajaran Montessori ini berkembang sampai ke Indonesia. Di Indonesia terdapat beberapa sekolah Montessori, misalnya Jakarta Montessori School, Bali Montessori School, sekolah Montessori di Bandung, Batam, dan Yogyakarta. Berdasarkan fenomena yang ada, anak-anak yang dapat bersekolah di sekolah tersebut terbatas pada anak-anak dari keluarga yang berkecukupan saja mengingat alat-alat peraga Montessori belum diproduksi di Indonesia dan bahan yang digunakan merupakan bahan khusus yang sudah di standarisasikan sehingga hal itu menjadi kendala untuk menerapkan pembelajaran Montessori di sekolah tradisional. Kendala tersebut dapat diatasi melalui pengembangan media pembelajaran Montessori yang disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki oleh penyelenggara pendidikan yaitu sekolah. Seperti yang dilakukan Montessori ketika mengawali pelayanan pendidikan, Montessori menggunakan alat seadanya yang disesuaikan dengan kesulitan belajar yang dialami siswa. Penggunaan alat peraga tersebut juga melatih kemandirian anak dan tanggung jawab atas apa yang dilakukan anak. Pembelajaran Montessori selalu berdasar pada kebebasan anak sehingga anak dapat berkembang secara optimal karena belajar sesuai dengan keinginannya dan dari hal tersebut, anak juga terbentuk menjadi pribadi yang menghargai lingkungan sekitar tanpa diajarkan (Koh, 2010:1).

  Berdasarkan hasil wawancara di sekolah dengan guru wali kelas IIIA SDN Tamanan I, pembelajaran matematika yang terjadi masih kurang memanfaatkan media untuk menyampaikan konsep yang dapat diterima oleh anak. Sumber belajar yang mereka gunakan adalah LKS dan buku-buku cetak. Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa siswa membutuhkan alat peraga untuk membentuk konsep khususnya untuk mata pelajaran matematika dalam hal pemahaman tentang geometri. Apabila melihat letak SDN Tamanan I yang beralamatkan di Kelurahan Tamanmartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, lokasi tersebut terletak tidak jauh dari Sungai Opak yang dilalui oleh lahar dingin dari Gunung Merapi. Sekolah yang tak jauh dari lokasi penambangan pasir tersebut membuat sekolah memiliki potensi lokal yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran. Potensi lokal yang dapat dimanfaatkan adalah hasil tambang pasir yang diambil dari Sungai Opak tersebut. Potensi lokal yang lainnya adalah kayu dan sumber daya manusia yang mengolah kayu tersebut juga tersedia di lingkungan sekolah tersebut.

  Kesenjangan yang terjadi antara pemanfaatan media yang kurang maksimal untuk pembelajaran dengan sumber daya yang memadai tersebut membuat peneliti berinisiatif untuk mengembangkan alat peraga ala Montessori yang bersifat ekonomis. Pengembangan alat peraga ini diharapkan dapat membantu pembelajaran yang masih bersifat konvensional melalui alat peraga Montessori yang memanfaatkan potensi lokal yang ada.

  Penelitian ini dibatasi hanya sampai pada pengembangan prototipe produk alat peraga Montessori yang diujicobakan secara terbatas untuk melatih keterampilan geometri matematika kelas IIIA standar kompetensi memahami unsur dan sifat-sifat bangun datar sederhana, kompetensi dasar mengidentifikasi berbagai bangun datar sederhana menurut sifat atau unsurnya, materi bangun datar sederhana pada semester genap tahun ajaran 2012/2013 di SDN Tamanan I Yogyakarta.

1.2 Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang tersebut maka dirumuskan masalah sebagai berikut:

  1.2.1 Bagaimana ciri-ciri alat peraga Montessori yang dikembangkan untuk melatih keterampilan geometri pada materi bangun datar kelas IIIA di SDN Tamanan I Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013?

  1.2.2 Bagaimana kualitas alat peraga Montessori yang dikembangkan untuk melatih keterampilan geometri pada materi bangun datar kelas IIIA di SDN Tamanan I Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013?

  1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk:

  1.3.1 Mengembangkan alat peraga Montessori sesuai dengan ciri-ciri yang ditentukan untuk melatih keterampilan geometri pada materi bangun datar kelas IIIA di SDN Tamanan I Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013.

  1.3.2 Mengembangkan alat peraga Montessori yang berkualitas untuk melatih keterampilan geometri pada materi bangun datar kelas IIIA di SDN Tamanan I Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013.

  1.4 Manfaat Penelitian

  1.4.1 Bagi Sekolah Penelitian ini dapat meningkatkan mutu sekolah melalui alat peraga yang telah dikembangkan.

  1.4.2 Bagi Guru Hasil penelitian dapat menambah referensi dalam penggunaan alat peraga untuk pembelajaran matematika dengan memanfaatkan potensi daerah di sekolah.

  1.4.3 Bagi Peneliti Mendapatkan pengalaman berharga dalam mengembangkan media pembelajaran matematika berupa alat peraga Montessori.

  1.5 Spesifikasi Produk yang Dikembangkan Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah alat peraga

  Montessori. Alat peraga Montessori dirancang dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada di lingkungan sekolah. Bahan utama yang dipilih adalah kayu dan pasir untuk membuat alat peraga Montessori. Alat peraga Montessori yang dibuat bernama “Papan Pasir Bangun Datar” dan dilengkapi dengan lembar kerja siwa, kartu soal terbuat dari kertas ivory sebanyak 72 soal, dan album pembelajaran yang berisi materi dan manual penggunaan alat peraga. Bangun datar yang akan dibuat pada papan pasir adalah persegi, persegi panjang, lingkaran, segitiga siku- siku, segitiga tumpul, segitiga lancip, segitiga sama sisi, segitiga sama kaki, segitiga sembarang, segi lima sampai segi sepuluh, trapesium siku-siku, trapesium sama kaki, trapesium sembarang, layang-layang, belah ketupat, dan jajar genjang. Setiap bangun tersebut memiliki bingkai yang berbentuk persegi yang berukuran 14x14 cm. Bangun tersebut akan diberi warna biru dan untuk bingkainya berwarna kuning. Setiap bangun dan bingkainya diletakkan di dalam rak. Terdapat 5 rak yang telah dikelompokkan, yaitu: rak 1 terdiri dari bangun persegi dan persegi panjang, rak 2 terdiri dari bangun segitiga, rak 3 terdiri dari bangun lingkaran, rak 4 terdiri dari bangun segi lima sampai segi sepuluh, rak 5 terdiri dari bangun trapesium siku-siku; trapesium sama kaki; trapesium sembarang; layang-layang; belah ketupat; dan jajar genjang. Proses pembuatan alat peraga dimulai dengan pencarian bahan berupa kayu, hasboard, lem kayu, dan pasir halus. Langkah selanjutnya adalah pembuatan bangun datar dan bingkainya sesuai dengan ukuran sampai pada pengecatan menggunakan warna yang disesuaikan dengan pilihan siswa serta penempelan pasir menggunakan lem kayu. Langkah terakhir adalah pembuatan rak untuk meletakkan bangun datar yang telah dirancang. Papan pasir bangun datar digunakan sebagai alat peraga pembelajaran matematika kelas IIIA standar kompetensi memahami unsur dan sifat-sifat bangun datar sederhana, kompetensi dasar mengidentifikasi berbagai bangun datar sederhana menurut sifat atau unsurnya, materi bangun datar sederhana pada semester genap tahun ajaran 2012/2013 di SDN Tamanan I Yogyakarta.

1.6 Definisi Operasional

  1.6.1 Pembelajaran ala Montessori adalah proses belajar mengajar yang dilakukan mengacu pada prinsip-prinsip pembelajaran yang dikemukakan oleh Maria Montessori.

  1.6.2 Alat peraga Montessori adalah media pembelajaran yang digunakan anak untuk memahami suatu materi pelajaran yang dirancang berdasarkan karakteristik alat peraga menurut Montessori.

  1.6.3 Album pembelajaran Montessori adalah penjelasan penggunaan alat peraga yang berisi materi, tema, tujuan, dan presentasi penggunaan alat peraga.

  1.6.4 Keterampilan geometri matematika adalah kemampuan yang akan dikembangkan pada siswa sekolah dasar kelas III yang meliputi pengidentifikasian bangun datar sederhana menurut sifat atau unsurnya.

  1.6.5 Mata pelajaran matematika adalah pelajaran yang mengembangkan kompetensi geometri siswa kelas IIIA semester genap SDN Tamanan I kompetensi dasar mengidentifikasi berbagai bangun datar sederhana menurut sifat atau unsurnya.

  1.6.6 Siswa Sekolah Dasar adalah siswa kelas IIIA di SDN Tamanan I, Tamanmartani, Kalasan, Yogyakarta.

  1.6.7 Kontekstual adalah pengembangan alat peraga yang memanfaatkan bahan- bahan yang berbasis dari potensi lokal di lingkungan sekolah.

  BAB II LANDASAN TEORI Dalam bab ini terdapat pembahasan tentang teori yang terbagi menjadi tiga bagian, yaitu (1) kajian pustaka, (2) kerangka berpikir, dan (3) hipotesis.

2.1 Kajian Pustaka

  Kajian pustaka dalam penelitian ini akan menjelaskan empat hal, yaitu (1) pembelajaran Montessori, (2) alat peraga Montessori, (3) keterampilan geometri dalam matematika, dan (4) kajian penelitian yang relevan.

2.1.1 Pembelajaran Montessori

2.1.1.1 Pengertian Pembelajaran Montessori

  Pembelajaran Montessori pada dasarnya menitikberatkan pengembangan kemandirian anak dan memberi kebebasan pada anak untuk memilih dan menentukan atas apa yang dilakukan sesuai dengan perkembangan anak. Pembelajaran yang dilakukan sambil bermain dan penggunaan panca indera secara maksimal selama pembelajaran menciptakan kesenangan pada anak ketika belajar (Montessori, 2003:33).

  Pendidikan Montessori merupakan pendidikan yang sistematis dan dalam pembelajarannya melibatkan sensorial yang dihubungkan dengan pengorganisasian saraf dan lingkungan anak (Lillard, 2005:324). Pembelajaran yang melibatkan sensorial tersebut dinyatakan dengan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran Montessori. Selama pembelajaran, lingkungan belajar anak juga berpengaruh terhadap proses belajar yang dialaminya.

  Montessori menjelaskan bahwa dalam pembelajarannya anak belajar dengan terstruktur, berfokus pada suatu proyek tertentu, dan anak juga memiliki kebebasan untuk kapan dan hal apa yang ingin mereka kerjakan. Pembelajaran Montessori juga merupakan belajar penemuan melalui alat peraga yang didesain secara eksplisit dapat memberikan makna bagi anak-anak (Lillard, 2005:328).

  Deskripsi tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran Montessori menekankan pada pembelajaran yang disesuaikan dengan perkembangan anak, mengembangkan kemandirian, menggunakan panca indera selama proses belajar, dan bersifat menyenangkan. Pembelajaran Montessori juga mendukung pengembangan pembelajaran aktif yaitu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk mendominasi aktivitas pembelajaran, aktif melibatkan mental, fisik, dan otak anak (Zaini, dkk, 2008:xiv).

2.1.1.2 Tahap Perkembangan Anak

  Montessori membagi tahap-tahap perkembangan anak menjadi umur 0-6, 6-12, dan 12-18 (Montessori, 2008:xxi). Tahap-tahap tersebut memiliki karakteristik sebagai berikut.

  1. Tahap umur 0-6 tahun Tahap ini merupakan periode untuk melakukan gerak, mengembangkan rasa keteraturan, mencintai lingkungan, dan sensitif terhadap detail serta bilangan atau angka.

  2. Tahap umur 6-12 tahun Periode 6-12 merupakan periode sensitif untuk logika dan pembenaran. Tahap perkembangan ini mengembangkan imaginasi, rasa berkelompok, menampilkan kekuatan fisik, dan mengembangkan mental dan moral yang cukup luas.

  3. Tahap umur 12-18 tahun Tahap ini mengarah pada kematangan fisik dan pencarian model ideal yang akan diikuti.

  Berdasarkan uraian tersebut karakteristik perkembangan anak usia 6-12 tahun yang termasuk di dalamnya anak usia kelas III ditandai dengan beberapa kemajuan dalam aspek motorik, bahasa, emosi, sosial, dan kognitif. Secara umum anak pada usia ini berada pada masa anak senang melakukan aktivitas motorik, memiliki rasa ingin tahu yang besar, memiliki keinginan untuk berkelompok, dan kemampuan kognitif anak dalam memecahkan masalah-masalah yang konkret menggunakan logika.

2.1.2 Alat Peraga Montessori

2.1.2.1 Pengertian Alat Peraga

  Alat peraga terdiri dari dua suku kata, yaitu alat dan peraga. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), alat adalah barang yang dipakai untuk mengerjakan sesuatu sedangkan peraga adalah alat media pengajaran untuk meragakan sajian pelajaran. Berdasarkan pengertian dari kedua suku kata tersebut dapat diartikan alat peraga adalah barang yang digunakan untuk meragakan sajian pelajaran. Sependapat dengan hal tersebut, Sudono mengungkapkan bahwa alat peraga adalah alat yang berfungsi untuk menerangkan suatu mata pelajaran tertentu dalam suatu proses belajar mengajar (Sudono, 2010:14).

  Anitah (2010:4) mengungkapkan bahwa istilah alat peraga menunjuk kepada suatu alat atau benda yang sama yang dapat mengantarkan pesan pembelajaran antara pemberi pesan kepada penerima pesan. Sependapat dengan hal tersebut, Sukayati dan Agus (2009:6) menjelaskan bahwa media pembelajaran merupakan semua benda yang menjadi perantara dalam terjadinya pembelajaran. Berdasar fungsinya media dapat berbentuk alat peraga dan sarana tetapi dalam keseharian tidak terlalu dibedakan antara media dan alat peraga. Sehubungan dengan itu fungsi utama alat peraga merujuk sebagai sumber belajar yang mengaktifkan siswa dan menyalurkan informasi (Munadi, 2010:37).

  Pengertian tersebut dapat diartikan bahwa alat peraga adalah barang yang digunakan untuk menjelaskan suatu materi pelajaran agar mencapai tujuan pembelajaran. Penggunaan alat peraga merupakan hal penting untuk mendukung keberhasilan suatu pembelajaran.

2.1.2.2 Pengertian Alat Peraga Montessori

  Lillard (1997:11) mengungkapkan bahwa alat peraga Montessori dirancang secara mendetail sampai yang terkecil sehingga anak dapat menggunakannya sendiri. Alat peraga Montessori terdiri dari tiga unsur yang selalu diperhatikan, yaitu membangun kemandirian anak dan membangun akamedik anak, memiliki nilai seni, dan mengembangkan rasa tanggungjawab serta bangga terhadap alat peraga yang ia miliki. Alat peraga yang dikembangkan memiliki prinsip kesederhanaan, daya tahan, keindahan, mengembangkan kreativitas dan anak belajar dari penemuan, dan memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk memperbaiki kesalahan mereka sendiri.

  Alat peraga matematika Montessori tidak dirancang untuk mengajar matematika namun untuk membantu mengembangkan pikiran matematika. Pikiran yang dikembangkan tersebut mencakup pikiran menjelajahi untuk memahami perintah, urutan, dan abstraksi, dan memiliki kemampuan untuk menempatkan bersama-sama tentang apa yang diketahui dan sampai pada kemampuan anak untuk menemukan hal baru secara mandiri (Lillard, 1997:137).

  Penjelasan tersebut dapat diartikan bahwa alat peraga Montessori adalah alat yang dirancang untuk pembelajaran yang mengembangkan potensi diri siswa baik dalam hal akademis maupun non akademis secara mandiri dan memiliki pengendali kesalahan. Secara khusus alat peraga matematika Montessori merupakan alat yang dirancang untuk mengembangkan cara berpikir matematika pada anak dan mengembangkan kemampuan belajar penemuan yang dimiliki oleh masing-masing anak.

2.1.2.3 Ciri-Ciri Alat Peraga Montessori

  Alat peraga Montessori sangat memperhatikan secara mendetail hal-hal yang berhubungan dengan perkembangan anak, misalnya pembuatan meja dan kursi yang disesuaikan dengan ukuran anak, berat kursi dan meja yang dapat dipindah-pindah oleh anak, dan dibedakan juga meja untuk kerja kelompok dan untuk bekerja secara individual (Montessori, 2003:81). Setiap pemilihan dan pembuatan alat dalam pembelajaran Montessori selalu memiliki arti dan alasan penggunaannya. Ciri-ciri dari alat tersebut dapat diperinci sebagai berikut:

  1. Menarik Montessori (2003:81) menjelaskan bahwa setiap media pembelajaran harus mengandung unsur keindahan. Unsur tersebut dapat dilihat dari segi warna sehingga mengundang minat siswa untuk belajar.

  2. Memiliki gradasi Alat peraga yang digunakan dalam pembelajaran mengandung unsur gradasi. Gradasi yang dimaksud adalah rangsangan rasional yang nampak pada penggunaan alat yang melibatkan beberapa indera.

  3. Memiliki pengendali kesalahan (auto correction) Pengendali kesalahan yang dimaksud dalam hal ini adalah setiap alat yang digunakan memiliki penunjuk bahwa sedang terjadi kesalahan terhadap apa yang dilakukan anak dalam penggunaan alat. Anak juga belajar dari kesalahan yang dilakukan dalam rangka membangun dirinya untuk lebih teratur, misalnya anak membuat gaduh ketika memindah kursi melalui suara yang ditimbulkan dari gesekan kursi dengan lantai, pengalaman tersebut dijadikan pelajaran untuk siswa agar dapat memindah kursi dengan hati-hati (Montessori, 2008:83-85).

  4. Membelajarkan siswa secara mandiri (auto education) Alat peraga dalam pembelajaran Montessori dirancang berdasarkan tahap perkembangan anak sehingga sesuai dengan kebutuhan anak. Alat peraga

  Montessori juga didesain untuk mudah dipindahkan oleh anak-anak sendiri sehingga anak dapat memilih kenyamanannya sendiri secara bebas untuk meggunakan alat peraga selama pembelajaran (Montessori, 2008:83-84).

  Alat peraga yang dikembangkan dalam penelitian ini mengandung empat ciri dan satu ciri tambahan. Empat ciri tersebut adalah (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto correction, dan (4) auto education. Satu ciri yang ditambahkan adalah kontekstual. Unsur menarik yang terdapat dalam alat peraga yang dikembangkan adalah warna alat peraga yang digunakan sesuai dengan keinginan siswa. Gradasi terdapat pada penggunaan alat peraga yang melibatkan lebih dari satu indera dan alat peraga dapat digunakan untuk materi pada kompetensi dasar selanjutnya. Pengendali kesalahan terletak pada bingkai dari setiap bangun datar dengan ukuran yang tepat sehingga bangun datar hanya bisa diletakkan pada bingkainya. Alat peraga dapat membelajarkan siswa secara mandiri, siswa dapat belajar menggunakan alat peraga sendiri ataupun dengan teman tanpa tergantung oleh keberadaan guru. Kontekstual yang dimaksud dalam alat peraga yang dikembangkan adalah bahan-bahan yang digunakan disesuaikan dengan kekhasan yang dimiliki suatu daerah. Seperti yang dilakukan Montessori ketika mengawali pelayanan pendidikan, Montessori menggunakan alat seadanya yang disesuaikan dengan kesulitan belajar yang dialami siswa maka dalam pengembangan alat peraga ini menggunakan alat yang terbuat dari bahan yang memanfaatkan kekhasan daerah. Bahan yang disesuaikan dengan kekhasan daerah untuk mengembangkan alat peraga dalam penelitian ini adalah kayu dan pasir.

  Penjelasan mengenai ciri-ciri alat peraga tersebut dapat dipahami bahwa prinsip dalam pembuatan alat peraga Montessori adalah (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto correction, (4) auto education, dan (5) kontekstual.

2.1.3 Keterampilan Geometri dalam Matematika

  2.1.3.1 Pengertian Keterampilan Geometri Geometri adalah cabang matematika yang menerangkan sifat-sifat garis, sudut, bidang, dan ruang (KBBI, 2008:442). Sehubungan dengan hal tersebut,

  Walle (2008:150) menyatakan bahwa keterampilan geometri merupakan kemampuan dalam penggambaran objek dalam pikiran dan hubungan keterkaitan ruang, disebutkan pula bahwa tanpa pengalaman akan geometri seseorang akan mengalami kendala dalam tingkat pemahaman dan logika ruang. Lebih jauh lagi, Walle (2008:149) menyebutkan bahwa keterampilan geometri merupakan keterampilan yang berpengaruh terhadap keterampilan yang lainnya. Geometri berhubungan dengan keterampilan berhitung, yaitu menghitung luas bangun. Pythagoras merupakan bukti adanya hubungan aljabar dan geometris. Selain itu geometri juga berhubungan dengan bilangan bulat, yaitu terkait dengan penjabaran posisi dalam bidang dan ruang melalui angka positif dan negatif. Pembelajaran geometri bukan dimulai dari pemberian definisi-definisi tentang suatu bangun kepada siswa namun lebih pada proses pengidentifikasian suatu bangun (Heruman, 2008:87)

  Pengertian tersebut dapat dipahami bahwa keterampilan geometri adalah salah satu keterampilan yang dikembangkan dalam matematika yang menitikberatkan pengidentifikasian suatu objek. Keterampilan geometri dapat memberikan pengaruh terhadap keterampilan matematika lainnya sehingga perlu dikembangkan secara maksimal. Keterampilan geometri yang dipelajari di kelas

  III adalah bangun datar sederhana yang terdiri dari persegi, persegi panjang, dan segitiga. Materi yang dipelajari adalah mengenai identifikasi ciri-ciri bangun datar yang dilihat dari sisi, sudut, titik sudut, dan sampai pada menggambar bangun datar.

  2.1.3.2 Tujuan Keterampilan Geometri Menurut Walle (2008:150) tujuan mempelajari geometri untuk anak adalah mengembangkan kompetensi anak dalam hal logika keruangan atau pemahaman ruang dan mengembangkan prinsip-prinsip dalam materi suatu bangun. Pemahaman ruang dalam hal ini penting karena berhubungan dengan cara pikir anak dalam memahami bentuk dan ruang. Prinsip-prinsip dalam materi suatu bangun berkaitan dengan konsep garis-garis sejajar dan kesimetrisan. Sejajar dalam hal ini berarti dua garis yang terletak pada satu bidang yang sama dan keduanya tidak mempunyai titik perpotongan meskipun diperpanjang. Kesimetrisan dalam hal ini dibatasi sampai pada bangun datar yang jika dilipat pada garis simetrinya semua pasangan titik sudut saling bertemu. Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa tujuan dari pengembangan keterampilan geometri terdiri dari dua aspek, yaitu pengembangan cara pikir anak dan penguasaan terhadap suatu materi.

2.1.4 Kajian Penelitian yang Relevan

2.1.4.1 Penelitian tentang Alat Peraga Matematika

  Hasil penelitian yang dilakukan Legowo (2006) menunjukkan alat peraga permainan dakon terbukti dapat meningkatkan penguasaan konsep operasi penjumlahan bilangan bulat. Penelitian tersebut menggunakan alat peraga berupa permainan dakon untuk diterapkan dalam suatu pembelajaran. Peningkatan penguasaan konsep operasi penjumlahan bilangan bulat itu dibuktikan dengan meningkatnya nilai rata-rata ulangan harian sebesar 3,6 dan dari data lembar refleksi, siswa menyatakan kesenangannya dan mudah memahami materi pelajaran.

  Penelitian tindakan kelas yang dilakukan Hasnahwati (2008) menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan alat peraga bangun ruang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, aktivitas, dan sikap siswa selama pembelajaran menggunakan alat peraga mengalami peningkatan karena siswa menjadi aktif bertanya dan mengungkapkan pendapat. Prestasi belajar siswa pada aspek kognitif setelah menggunakan alat peraga mengalami peningkatan dengan nilai rata-rata kelas pada siklus I sebesar 58.67 dan pada siklus II sebesar 63.84 sehingga peningkatannya sebesar 5.17 serta banyaknya siswa yang tuntas belajar dari siklus I ke siklus II sebesar 69.23%. Penggunaan alat peraga dalam penelitian tersebut memiliki relevansi dengan penelitian pengembangan yang dilakukan peneliti.

  Penelitian yang dilakukan oleh Kurniawan (2012) juga menunjukkan relevansinya dalam hal penggunaan alat peraga untuk pembelajaran matematika pokok bahasan bangun ruang sisi lengkung. Pengumpulan data yang digunakan sama halnya dengan pengumpulan data yang juga digunakan dalam penelitin ini yaitu menggunakan wawancara dan tes. Hasil dari penelitian tersebut adalah prestasi belajar dan keaktifan siswa menunjukkan peningkatan setelah menggunakan alat peraga dalam pembelajaran matematika yang ditunjukkan dari hasil wawancara dengan siswa.

2.1.4.2 Penelitian tentang Pengembangan Pembelajaran Montessori

  Lillard & Else-Quest (2006) meneliti perbandingan skor nilai akademik dan sosial siswa sekolah Montessori dan program pendidikan Sekolah Dasar lainnya. Penelitian ini dilakukan terhadap siswa Montessori umur 3-6 tahun dan 6- 12 tahun di Milwaukee, Wilsconsin. Sekolah tersebut sudah beroperasi selama sembilan tahun dan melayani anak-anak yang termarginalkan. Kelompok kontrol dalam penelitian ini adalah 40 siswa dari 27 public inner city schools dan 13 siswa dari 12 suburban public, private/voucher, atau charter school. Sebagian besar dari public school sudah menerapkan program pendidikan khusus seperti kurikulum untuk anak-anak berbakat dan bertalenta, language immersion, seni, dan pembelajaran discovery. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa (1) siswa Montessori umur 3-6 tahun menunjukkan hasil yang lebih baik dalam tes membaca dan matematika, memiliki dorongan yang positif dalam berinteraksi dengan orang lain, menunjukkan kemajuan dalam kesadaran sosial, dan peduli terhadap kejujuran serta keadilan, dan (2) siswa Montessori umur 6-12 tahun lebih kreatif dalam membuat essay dengan susunan kalimat yang lebih kompleks, selektif dalam memberikan respon positif tehadap masalah-masalah sosial dan menunjukkan perasaan yang peka terhadap komunitasnya di sekolah. Secara garis besar, kedua hasil tersebut menunjukkan pencapaian skor akademik dan sosial siswa Montessori lebih tinggi dari kelompok kontrol.

  Manner (2006) meneliti hubungan antara pendidikan berbasis Montessori dengan sekolah tradisional. Pengujian ditunjukkan dengan pencapaian skor tes Stanford dalam aspek membaca dan matematika. Perbedaan yang signifikan muncul pada tahun kedua dan ketiga yang menunjukkan bahwa program Montessori memberikan hasil yang unggul untuk aspek membaca. Penelitian tersebut juga memiliki relevansi dengan penelitian yang dilakukan peneliti, yaitu penggunaan metode Montessori dalam pembelajaran.

  Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan Koh & Frick (2010) yang meneliti penerapan kemandirian dan dampaknya terhadap motivasi intrinsik siswa dalam bekerja di kelas Montessori juga memiliki relevansi terhadap penelitian yang dilakukan peneliti. Penelitian ini dilakukan terhadap guru Montessori dan asistennya serta 28 siswa Montessori umur 9-11 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan guru dan asistennya memiliki strategi yang sesuai dengan filosofi Montessori dalam mendukung kemandirian siswa melalui pemberian kesempatan pada siswa untuk memilih sendiri jenis aktivitas yang akan dilakukannya dan teman bekerjanya. Guru mengembangkan kemandirian berpikir siswa melalui pemberian dorongan terhadap kebebasan berpikir siswa, inisiatif diri, dan menghormati pendapat siswa. Dalam menerapkan kontrol, guru dan asistennya mengakui dan menghargai perasaan siswa, mendukung rasional untuk tingkah laku yang diharapkan, dan menekan kecaman. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa siswa Montessori memiliki motivasi instrinsik dalam mengerjakan tugasnya. Siswa Montessori memiliki kecenderungan untuk mengerjakan setiap tugas belajarnya dikarenakan siswa menyadari pentingnya aktivitas tersebut untuk dirinya dan tujuan yang dicapai dari aktivitas tersebut.

  Penelitian yang telah dilakukan tersebut sama-sama menggunakan metode Montessori dalam pembelajaran namun penelitian tersebut belum ada yang mengembangkan alat peraga Montessori untuk pembelajaran matematika di SD.

  Penelitian yang ada lebih bersifat kuantitatif dengan menggunakan metode Montessori untuk meningkatkan prestasi belajar sehingga penelitian ini memberikan sumbangan baru tentang pengembangan alat peraga Montessori untuk melatih keterampilan geometri di SD. Secara ringkas kerangka penelitian dalam penelitian ini dapat dilihat literature map dalam bagan 2.1.

  

Metode pembelajaran Maria Penggunaan alat peraga

Montessori matematika dan prestasi belajar Lillard & Else-Quest (2006) Legowo (2006)

Perbandingan pencapaian skor Alat peraga dan pemahaman

akademik dan sosial siswa Montessori matematika dengan siswa sekolah non-Montessori

  Manner (2006) Hasnahwati (2008) Alat peraga bangun ruang dan Metode pembelajaran Montessori, prestasi belajar siswa pendidikan tradisional, dan prestasi akademis

  Kurniawan (2012) Koh & Frick (2010) Alat peraga bangun ruang, prestasi Metode pembelajaran Montessori, belajar, dan keaktifan siswa kemandirian, dan motivasi intrinsik

  

Yang diteliti

Pengembangan alat peraga

Montessori untuk keterampilan

geometri matematika

Bagan 2.1 Literature Map dari penelitian-penelitian sebelumnya

2.2 Kerangka Berpikir

  Tingkat keberhasilan suatu pembelajaran dipengaruhi oleh beberapa komponen pembelajaran. Komponen tersebut di antaranya adalah sumber belajar, metode, dan media pembelajaran. Guru sebagai seorang pendidik harus mampu memilih dan merancang komponen tersebut menjadi sebuah pembelajaran yang menarik. Siswa sebagai subjek pembelajaran memiliki porsi terbesar untuk diperhatikan dalam mempersiapkan pembelajaran. Anak usia Sekolah Dasar sendiri memiliki karakteristik yang unik. Pada usia tersebut, anak lebih senang bermain, lebih banyak mengembangkan psikomotoriknya, memiliki rasa ingin tahu yang besar, dan merasakan suatu hal melalui pengalamannya secara langsung.

  Kenyataan yang terjadi pada pembelajaran konvensional saat ini, guru masih mengandalkan penyampaian materi melalui ceramah yang membuat siswa bosan dan tidak tertarik mengikuti pembelajaran. Hal itu akan berdampak pada proses belajar siswa. Selain itu, tanpa adanya objek langsung yang membantu siswa untuk membentuk konsep terhadap suatu materi melalui proses identifikasi akan memberi dampak ketika anak dihadapkan dengan masalah yang nyata anak mengalami kesulitan dalam mengkorelasikan dan menyelesaikannya. Sehubungan dengan hal tersebut dalam sebuah pembelajaran diperlukan adanya alat peraga untuk mempermudah siswa dalam membentuk suatu konsep. Adanya objek nyata dalam bentuk alat peraga yang dapat digunakan siswa akan membangkitkan rasa ketertarikan siswa pada materi yang diajarkan dan lebih dari itu konsep yang didapat anak akan bertahan lama karena anak menghadapi langsung objek yang dipelajarinya.

  Salah satu pembelajaran yang memandang penting terhadap penggunaan alat peraga adalah pembelajaran Montessori. Pembelajaran Montessori berbasis pada panca indera dan perkembangan anak sehingga alat peraga sangat diperlukan dalam pembelajaran ini. Alat peraga yang digunakan bersifat kontekstual dan ciri khas dari alat peraga Montessori adalah adanya pengendali kesalahan sehingga kemandirian belajar anak dapat dikembangkan serta menarik bagi siswa.

  Berdasarkan alasan tersebut diperlukan pengembangan alat peraga yang menarik perhatian siswa dan dapat membantu siswa untuk menerapkan konsep yang dipelajari dari suatu materi yang disesuaikan dengan karakteristik siswa. Peneliti beranggapan bahwa pembelajaran matematika khususnya untuk keterampilan geometri masih kurang menggunakan alat peraga yang mendukung. Hal itu didukung dengan hasil wawancara dengan guru kelas III di SDN Tamanan

  I Yogyakarta yang menyebutkan kurangnya pengembangan alat peraga untuk keterampilan geometri sehingga hal itu berpengaruh terhadap keterampilan geometri yang dimiliki siswa. Karena itu, perlu adanya pengembangan alat peraga Montessori untuk keterampilan geometri matematika kelas III sehingga siswa mudah menerapkan konsep, lebih tertarik dengan pembelajaran yang dilakukan, dan dengan adanya pengendali kesalahan disetiap alat peraga dapat mengembangkan kemandirian dalam belajar.

2.3 Hipotesis Peneliti merumuskan hipotesis sebagai berikut.

  2.3.1 Alat peraga Montessori yang dikembangkan untuk melatih keterampilan geometri matematika untuk materi bangun datar pada siswa kelas IIIA SDN Tamanan I Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 mengandung lima ciri alat peraga, yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto correction, (4) auto education, dan (5) kontekstual.

  2.3.2 Alat peraga Montessori yang dikembangkan untuk melatih keterampilan geometri matematika kelas IIIA SDN Tamanan I Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 mempunyai kualitas yang “baik”.

  BAB III METODE PENELITIAN Dalam bab ini diuraikan (1) jenis penelitian, (2) setting penelitian, (3) prosedur pengembangan, (4) uji validasi produk, (5) instrumen penelitian, (6) teknik pengumpulan data, serta (7) teknik analisis data.

  3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian dan pengembangan atau

  Research and Development (R&D). Penelitian dan Pengembangan adalah suatu proses untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada yang dapat dipertanggungjawabkan (Sukmadinata, 2008:164). Penelitian ini mengembangkan alat peraga Montessori untuk pembelajaran matematika yang berfokus pada keterampilan geometri dengan memanfaatkan potensi lokal yang dimiliki. Produk yang akan dihasilkan dalam penelitian ini adalah prototipe produk alat peraga matematika Montessori berupa papan pasir bangun datar.

  3.2 Setting Penelitian

  3.2.1 Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah alat peraga matematika Montessori yang berupa papan pasir bangun datar.

  3.2.2 Subjek Penelitian Pada penelitian ini, subjek uji coba prototipe alat peraga papan pasir bangun datar adalah sekelompok siswa kelas IIIA dan seorang guru kelas IIIA

  SDN Tamanan I Yogyakarta untuk semester genap tahun ajaran 2012/2013. Sekelompok siswa kelas IIIA yang dimaksud adalah beberapa siswa yang memiliki nilai di bawah KKM. Guru yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah guru kelas IIIA yang bernama Ibu S.K. Mawati.

  3.2.3 Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di SDN Tamanan I, Kelurahan Tamanmartani,

  Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Propinsi Daerahh Istimewa Yogyakarta, 55571.

  3.2.4 Jadwal Penelitian Waktu penelitian dilaksanakan selama empat bulan yang dimulai dari bulan Januari sampai April 2013.

3.3 Prosedur Pengembangan

  Prosedur pengembangan dalam penelitian ini mengadaptasi dari dua model, yaitu model dari Sugiyono serta model Borg dan Gall yang mengadopsi dari Dick, Carey, dan Carey yang keduanya terdiri dari 10 langkah. Langkah- langkah prosedur pengembangan dari Sugiyono sebagai berikut (Sugiyono, 2010:409).

  Potensi dan Pengumpulan Validasi Desain Produk Masalah Data Desain Uji Coba Uji Coba

  Revisi Produk Revisi Desain Pemakaian Produk Produksi Revisi Produk

  Massal

Bagan 3.1 Langkah-langkah penelitian dan pengembangan Sugiyono

  Langkah penelitian dan pengembangan dari Sugiyono terlihat linear yang dimulai dari adanya suatu permasalahan kemudian dari suatu permasalahan tersebut dilakukan pengumpulan data terhadap hal-hal yang berhubungan dengan permasalahan. Setelah data terkumpul dimulai pembuatan produk yang melalui validasi, uji coba, dan tiga kali revisi. Langkah terakhir model penelitian dan pengembangan dari Sugiyono adalah sampai pada pembuatan produk secara massal.

  Model yang kedua adalah dari Borg dan Gall yang meliputi langkah- langkah sebagai berikut (Borg dan Gall, 2007:590).

  

Tahap 1

Identifikasi

tujuan

Tahap 2

  Tahap 3 Identifikasi keterampilan dan

  Analisis kebutuhan tugas belajar

Tahap 4

  

Pengolahan data

hasil analisis

kebutuhan

Tahap 5

  

Pengembangan

instrumen

penilaian

Tahap 9

Tahap 6

Pengembangan

  Revisi Produk

strategi

Tahap 7

Pemilihan bahan

dan pengembangan

produk

  

Tahap 8

Perancangan

evaluasi formatif

Tahap 10

  Perancangan evaluasi sumatif

Bagan 3.2 Model penelitian dan pengembangan Borg dan Gall Sama halnya dengan model penelitian dan pengembangan dari Sugiyono, model dari Borg dan Gall terdiri dari 10 langkah. Pada langkah-langkah penelitian dan pengembangan dari Borg dan Gall ini terlihat lebih kompleks dan revisi dilakukan dengan mengulangi tahapan. Tahap pertama dimulai dengan mengidentifikasi tujuan. Tahap ke 2 dan ke 3 terjadi secara bersama, tahap kedua mengidentifikasi keterampilan, proses, dan tugas belajar yang terlibat dalam upaya mencapai tujuan sedangkan tahap ketiga mengidentifikasi karakteristik peserta didik. Tahap ke 4 dilakukan pengolahan hasil analisis kebutuhan. Pada tahap ke 5 terjadi penyusunan instrumen penilaian sedangkan tahap ke 6 dilakukan pengembangan strategi pembelajaran untuk mecapai tujuan. Tahap ke 7 terjadi pemilihan bahan dan pengembangan produk. Pada tahap ke 8 dilakukan perancangan tes formatif. Pada tahap ke 9 dilakukan revisi produk yang didasarkan pada hasil tes formatif. Tahap revisi produk dalam model Borg dan Gall dilakukan dengan mengulangi pada tahapan sebelumnya yang dapat terlihat dari hasil tes formatif. Tahap terakhir dari model Borg dan Gall adalah dilakukannya tes sumatif.

  Dari kedua model penelitian dan pengembangan tersebut terlihat bahwa model Sugiyono memulai tahapan melalui identifikasi permasalahan sedangkan model Borg dan Gall memulai tahapan dengan identifikasi tujuan pengembangan produk. Tahap selanjutnya, kedua model sama-sama mengumpulkan data menggunakan analisis kebutuhan, dapat dilihat bahwa tahap 2 dari model Sugiyono merupakan ringkasan dari tahap 2-4 model Borg dan Gall. Langkah ke 3 dari model Sugiyono yaitu desain produk yang juga memuat penyusunan instrumen penilaian merupakan tahap ke 5-7 dari model Borg dan Gall. Tahap revisi dari model Sugiyono merupakan suatu tahap yang berdiri sendiri sedangkan dari model Borg dan Gall tahap revisi merupakan pengulangan atau koreksi dari tahap yang sebelumnya dan didasarkan dari hasil tes formatif.

  Kedua model penelitian dan pengembangan tersebut merupakan dasar dari model yang akan digunakan. Dari dua model tersebut tahapan dimodifikasi menjadi empat tahap karena terbatasnya waktu dan penyesuaian terhadap pelaksanaan materi pelajaran yang akan dilaksanakan. Keempat tahap tersebut adalah (1) kajian standar kompetensi dan materi pembelajaran, (2) analisis kebutuhan pengembangan program pembelajaran, (3) memproduksi alat peraga geometri Montessori, dan (4) validasi produk dan revisi produk. Berikut ini adalah penjelasan setiap tahapan dari keempat tahapan tersebut.

  Langkah pertama dari penelitian ini adalah peneliti melakukan pengkajian terhadap standar kompetensi dan materi pembelajaran yang dikembangkan. Peneliti mengambil materi pembelajaran matematika kelas III semester genap keterampilan geometri.

  Langkah kedua adalah analisis kebutuhan pengembangan perangkat pembelajaran. Analisis kebutuhan dilakukan pada 34 siswa kelas IIIA SDN Tamanan I Yogyakarta dan seorang guru matematika kelas III SDN Tamanan I Yogyakarta. Analisis ini ditujukan untuk mengetahui karakteristik dan kebutuhan siswa dalam mempelajari materi pembelajaran matematika semester genap keterampilan geometri. Analisis kebutuhan dilanjutkan dengan analisis perangkat pembelajaran yang berupa album dan evaluasi pembelajaran. Langkah ini memberi informasi pada peneliti sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan langkah selanjutnya.

  Langkah ketiga adalah memproduksi alat peraga geometri Montessori untuk pembelajaran matematika. Langkah ini dimulai dengan mendesain produk dan pengumpulan bahan yang akan menjadi produk pengembangan penelitian. Pada langkah ini juga dilakukan pembuatan album pembelajaran yang menjelaskan cara penggunaan alat peraga yang akan dirancang. Selanjutnya bahan yang telah dikumpulkan diproses dan diprogram sesuai dengan desain yang telah direncanakan.

  Langkah keempat adalah validasi dan revisi produk. Validasi produk dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama, produk divalidasi oleh pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga matematika, dan guru. Setelah validasi tahap pertama kemudian dilakukan analisis dan revisi produk berdasarkan komentar dan saran validator. Tahap selanjutnya adalah uji coba lapangan terbatas yang dilakukan pada sekelompok siswa di kelas IIIA SDN Tamanan I Yogyakarta yang mendapatkan nilai di bawah KKM.

Bagan 3.3 Prosedur Penelitian Pengembangan

  

Tahap I

Kajian Standar Kompetensi dan Materi Pembelajaran

Prototipe Alat Peraga Montessori untuk Keterampilan Geometri SD Kelas III Semester Genap

  

Tahap II

Analisis Kebutuhan & Pengembangan Perangkat Pembelajaran

Analisis Standar Kompetensi

  

Penetapan Kompetensi

Dasar dan Materi

Analisis

Sumber Belajar

Analisis

Karakteristik Siswa

  Pengembangan Perangkat Pembelajaran

Tahap III

  

Memproduksi Alat Peraga ala Montessori untuk Pembelajaran Geometri

Konsep Album Pembelajaran Kerangka Desain

  Alat Peraga Pengumpulan Bahan Pembuatan

  Alat Peraga

Tahap IV

Validasi & Revisi Produk

Validasi

  

Pakar Pembelajaran Matematika

Pakar Alat Peraga

Guru

Analisis I

  

Revisi Produk

Uji Coba Lapangan Terbatas Analisis II

3.4 Uji Validasi Produk

  Uji validasi produk oleh ahli ditujukan untuk mendapatkan tanggapan dan penilaian terhadap kelayakan produk yang telah dikembangkan. Uji validasi lapangan pada siswa ditujukan untuk mengetahui efektivitas produk dalam pembelajaran. Penjabaran dari uji validasi produk oleh ahli dan uji validasi lapangan terbatas sebagai berikut.

  3.4.1 Uji Validasi Ahli Pada tahap pertama dilakukan uji validasi produk oleh ahli. Uji validasi dilakukan oleh pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga matematika, dan guru kelas IIIA SDN Tamanan I Yogyakarta. Tanggapan yang diperoleh dari hasil penilaian pakar pembelajaran, pakar alat peraga, dan guru digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk merevisi produk pengembangan alat peraga Montessori untuk keterampilan geometri kelas III semester genap sebelum dilakukan validasi lapangan.

  3.4.2 Uji Validasi Produk dengan Uji Coba Lapangan Terbatas Pada tahap kedua dilakukan uji validasi lapangan terbatas untuk pembelajaran matematika di kelas IIIA SDN Tamanan I Yogyakarta. Setelah revisi terhadap produk pengembangan telah dilakukan, produk siap untuk diujicobakan kepada sekelompok siswa di kelas IIIA SDN Tamanan I Yogyakarta.

  Penilaian dan tanggapan dari siswa digunakan sebagai umpan balik apakah alat peraga Montessori yang dikembangkan telah layak untuk digunakan dalam pembelajaran matematika keterampilan geometri dengan kompetensi dasar mengidentifikasi berbagai bangun datar sederhana menurut sifat atau unsurnya, materi bangun datar sederhana.

3.5 Instrumen Penelitian

3.5.1 Jenis Data

  Jenis data dalam penelitian pengembangan ini adalah data kualitatif dan kuantitatif. Data kuantitatif diperoleh dari hasil analisis kebutuhan siswa berupa kuesioner serta wawancara terhadap guru kelas, dan hasil analisis validasi ahli dalam bentuk kuesioner, dan hasil analisis uji coba lapangan terbatas. Data kualitatif berupa tanggapan dan saran dari pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga matematika, guru, dan siswa.

3.5.2 Instrumen Pengumpulan Data

  Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa instrumen yang dibagi berdasarkan sumber perolehan data yang terdiri dari instrumen analisis kebutuhan siswa, instrumen validasi ahli, dan instrumen validasi dengan uji coba lapangan terbatas.

  3.5.2.1 Instrumen Analisis Kebutuhan Peneliti menggunakan instrumen jenis non tes yaitu kuesioner dan wawancara untuk menganalisis kebutuhan siswa.

  Kuesioner adalah suatu daftar pertanyaan tertulis yang terinci dan lengkap yang harus dijawab oleh responden tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahuinya (Masidjo, 2010:70). Kuesioner untuk analisis kebutuhan disusun guna memperoleh informasi tentang kebutuhan siswa dan guru serta karakteristik siswa yang penyusunannya didasarkan pada indikator-indikator seperti terlihat pada lampiran 1.1 (lihat halaman 54).

  Kuesioner analisis kebutuhan juga diberikan kepada guru untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan alat peraga yang digunakannya selama pembelajaran dapat dilihat pada lampiran 1.4 (lihat halaman 58). Kuesioner dari guru akan dikonfirmasi kembali melalui wawancara untuk memperdalam informasi yang diberikan. Menurut Arifin (2009:157) wawancara adalah percakapan dan tanya jawab untuk memperoleh informasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Subjek wawancara dalam penelitian ini adalah guru kelas IIIA SDN Tamanan I Yogyakarta.

  3.5.2.2 Instrumen Validasi Ahli Instrumen yang digunakan untuk validasi ahli adalah presentasi dan kuesioner. Presentasi dilakukan dengan pakar pembelajaran matematika dan pakar alat peraga sedangkan kuesioner diberikan kepada guru kelas IIIA SDN Tamanan I Yogyakarta.

  Presentasi dilakukan setelah alat peraga selesai dibuat. Alat peraga dipresentasikan kepada pakar pembelajaran matematika dan pakar alat peraga sehingga terdapat 2 pakar yang memvalidasi alat peraga tersebut. Tujuan dilakukannya presentasi alat peraga terhadap para pakar adalah untuk mengetahui kelayakan alat peraga jika digunakan dalam pembelajaran. Setelah melakukan presentasi, validator memberikan penilaian melalui kuesioner yang diberikan.

  Penelitian ini juga menggunakan instrumen kuesioner untuk validasi ahli yang ditujukan kepada guru kelas IIIA SDN Tamanan I Yogyakarta. Bentuk kuesioner yang dibuat mengadopsi model skala Likert (1-5). Peneliti mengeliminasi skala 3 pada kuesioner ini untuk menghilangkan kemungkinan responden memberikan jawaban ragu-ragu dan tidak objektif. Penyusunan kuesioner didasarkan pada kisi-kisi yang dapat dilihat di lampiran 2.1 (lihat halaman 61).

3.5.2.3 Instrumen Validasi Produk dengan Uji Coba Lapangan Terbatas

  Instrumen validasi produk dengan uji coba lapangan terbatas menggunakan dua macam instrumen yaitu menggunakan tes yang berupa ulangan harian. Instrumen yang kedua adalah jenis non tes berupa kuesioner yang diberikan kepada siswa.

  Tes adalah suatu alat pengukur yang berupa serangkaian pertanyaan yang dimaksudkan untuk mengukur kemampuan dan hasil belajar individu (Masidjo, 2010:38). Bentuk tes yang dipilih adalah tes uraian. Masidjo (2010:46) menjelaskan bahwa tes uraian memberi kesempatan siswa untuk mengorganisasikan jawabannya secara bebas dengan tuntutan jawaban yang benar, relevan, lengkap, berstruktur, dan jelas. Penyusunan soal didasarkan pada kisi-kisi yang dibuat dapat dilihat pada lampiran 3.1 (lihat halaman 68).

  Instrumen kuesioner juga digunakan untuk validasi produk dengan uji coba lapangan yang ditujukan kepada sekelompok siswa kelas IIIA SDN Tamanan I Yogyakarta. Bentuk kuesioner yang dibuat mengadopsi model skala Likert (1-5) yang dapat dilihat pada lampiran 4.2 (lihat halaman 80). Penyusunan kuesioner didasarkan pada kisi-kisi yang disesuaikan dengan kisi-kisi pada kisi- kisi uji validasi oleh ahli.

3.6 Teknik Pengumpulan Data

  3.6.1 Analisis Kebutuhan Pengumpulan data untuk menganalisis kebutuhan menggunakan kuesioner dan wawancara. Kuesioner ditujukan kepada seluruh siswa kelas IIIA SDN

  Tamanan I Yogyakarta yang berjumlah 34 anak dan guru kelas IIIA dengan tujuan untuk mengetahui kebutuhan siswa dan guru serta karakteristik siswa dalam pembelajaran matematika. Bentuk kuesioner yang diberikan kepada guru adalah kuesioner terbuka yang memberikan kesempatan pada guru untuk memberikan penjelasan atas jawaban yang diberikan sedangkan kuesioner untuk siswa berbentuk tertutup dengan pilihan jawaban yang sudah tersedia dan tidak menuntut penjelasan jawaban dari siswa.

  Jenis wawancara yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur. Menurut Herdiansyah (2010:233) wawancara semi terstruktur adalah tanya-jawab yang dilakukan dengan pertanyaan yang telah dirancang sesuai dengan tujuan dan jawaban yang diberikan juga sesuai dengan pedoman namun tetap memberikan kebebasan informan untuk memberikan alasan terhadap jawabannya. Wawancara dilakukan dengan seorang guru kelas IIIA SDN Tamanan I Yogyakarta dengan tujuan untuk mengetahui kebutuhan siswa terhadap alat peraga selama pembelajaran dan untuk mendapatkan konfirmasi dari kuesioner yang dikerjakan guru.

  3.6.2 Validasi Ahli Pengumpulan data yang berupa hasil validasi dari ahli menggunakan presentasi dan kuesioner. Presentasi dilakukan kepada pakar pembelajaran matematika dan pakar alat peraga. Tujuan dari presentasi ini adalah untuk mengetahui kelayakan alat peraga dalam pembelajaran.

  Pada uji validasi ini juga menggunakan kuesioner yang ditujukan kepada seorang guru kelas IIIA SDN Tamanan I Yogyakarta yang bertujuan untuk melihat kelayakan alat peraga yang telah dirancang dari sudut pandang guru. Bentuk kuesioner yang digunakan pada tahapan ini mengadopsi model skala Likert (1-5).

3.6.3 Validasi Produk dengan Uji Coba Lapangan Terbatas

  Pengumpulan data dari hasil validasi produk dengan uji coba lapangan terbatas ini dilakukan menggunakan tes dan kuesioner. Tes yang dilakukan menggunakan bentuk uraian yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas alat peraga terhadap tingkat pemahaman siswa. Tes diberikan kepada sekelompok siswa kelas IIIA SDN Tamanan I Yogyakarta setelah penggunaan alat peraga dilakukan.

  Uji validasi ini juga menggunakan kuesioner yang ditujukan kepada sekelompok siswa kelas IIIA SDN Tamanan I Yogyakarta yang telah menggunakan alat peraga dalam pembelajaran. Tujuan dari kuesioner ini adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan kelayakan alat peraga yang telah dirancang dalam pembelajaran matematika. Bentuk kuesioner yang digunakan pada tahapan ini mengadopsi model skala Likert (1-5).

3.7 Teknik Analisis Data

3.7.1 Analisis Kebutuhan

3.7.1.1 Kuesioner

  Teknik analisis data yang digunakan menggunakan kuesioner yang ditujukan kepada siswa dan guru. Kuesioner yang ditujukan untuk siswa berjumlah 10 item. Item nomor 1 dan 2 menanyakan penggunaan alat peraga yang telah digunakan guru dan kondisi siswa selama pembelajaran menggunakan alat peraga. Nomor 3 dan 4 menanyakan penggunaan alat peraga yang memanfaatkan benda-benda di lingkungan sekitar. Item 5 dan 6 menanyakan kepada siswa tentang ciri alat peraga yang menarik perhatian siswa. Item 7 sampai 10 menanyakan kepada siswa sejauh mana kemampuan alat peraga dapat memudahkan siswa untuk memahami konsep secara mandiri dan teknik penggunaan alat peraga.

  Kuesioner yang ditujukan untuk guru berjumlah 10 item. Setiap item yang ditanyakan untuk guru didasarkan pada indikator yang sama dengan kuesioner analisis kebutuhan yang ditujukan untuk siswa karena pada dasarnya tujuan yang akan dicapai adalah untuk mengetahui kebutuhan alat peraga yang digunakan untuk pembelajaran baik dari sudut pandang siswa maupun guru. Perbedaan kuesioner yang ditujukan untuk siswa dan guru adalah item yang menanyakan ciri alat peraga, kuesioner untuk guru terdapat item yang menanyakan biaya ideal yang digunakan untuk pembuatan alat peraga. Kuesioner yang ditujukan untuk guru juga lebih bersifat terbuka dengan memberikan tempat bagi guru memberikan penjelasan terhadap jawaban yang diberikan.

  Perhitungan hasil kuesioner yang diperoleh menggunakan persentase, sebagai berikut: x 100

  Perhitungan tersebut dilakukan untuk setiap masing-masing item pertanyaan dari kuesioner. Setelah dilakukan perhitungan, kebutuhan siswa dan guru terhadap alat peraga dalam pembelajaran dapat diketahui. Selain dari hasil perhitungan tersebut, dapat juga dilihat dari penjelasan secara lisan maupun tertulis yang diberikan oleh guru.

3.7.2 Analisis Validasi Produk

3.7.2.1 Kuesioner

  Skor yang diperoleh dari uji validasi berdasarkan kuesioner kemudian dikonversikan menjadi data kualitatif skala lima dengan acuan menurut Sukardjo (2008:101) sebagai berikut.

Tabel 3.1 Konversi Data Kuantitatif ke Data Kualitatif Skala Lima

  Menurut Sukardjo

  

Interval Skor Kategori

Sangat Baik X > i + 1,0 Sbi Baik i i + 0,60 SBi < X < + 1,80Sbi i - 0,60 SBi < X < i + 0,60Sbi Cukup Kurang i i - 1,80 SBi < X < + 0,60Sbi Sangat Kurang

  X < – 1,80Sbi i

  Keterangan: Rerata ideal ( i ) : (skor maksimal ideal + skor minimal ideal) Simpangan baku ideal (SB ) : (skor maksimal ideal - skor minimal ideal)

  i

  X : Skor aktual

  Skala penilaian terdiri dari lima pilihan untuk menilai alat peraga yang dikembangkan, yaitu sangat baik (5), baik (4), cukup baik (3), kurang baik (2), dan sangat kurang baik (1).

3.7.2.2 Tes Langkah-langkah analisis tes yang dilakukan adalah sebagai berikut.

  1. Penyekoran per item soal.

  2. Menjumlahkan skor yang didapatkan.

  3. Menghitung nilai setiap siswa dengan rumus: Nilai = jumlah skor yang didapatkan skor maksimal

  × 100

  4. Menghitung rata-rata nilai siswa dengan rumus: Nilai rata − rata = jumlah skor seluruh siswa jumlah siswa

  BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi uraian tentang (1) kajian standar dan kompetensi pembelajaran, (2) analisis kebutuhan dan pengembangan perangkat pembelajaran, (3) produksi alat peraga Montessori untuk pembelajaran geometri, dan (4) validasi dan revisi produk.

  4.1 Kajian Standar Kompetensi dan Materi Pembelajaran Kajian standar kompetensi dan materi pembelajaran dilakukan untuk mengetahui standar kompetensi dan materi pembelajaran matematika kelas III yang sesuai dengan alat peraga yang akan dirancang. Kajian ini diperlukan untuk mengetahui ruang lingkup standar kompetensi dan materi pembelajaran Matematika kelas III yang dapat termuat dalam alat peraga. Pengkajian tersebut dilaksanakan dalam bentuk wawancara pada tanggal 6 Oktober 2012 dengan guru kelas IIIA SDN Tamanan I yaitu Ibu S.K. Mawati. Hasil kajian menunjukkan bahwa standar kompetensi mata pelajaran Matematika kelas III semester 2 yang sesuai dengan alat peraga yang akan dirancang adalah tentang geometri, standar kompetensi 4. memahami unsur dan sifat-sifat bangun datar sederhana, kompetensi dasar 4.1 mengidentifikasi berbagai bangun datar sederhana menurut sifat atau unsurnya, dan materi bangun datar sederhana.

  4.2 Analisis Kebutuhan dan Pengembangan Perangkat Pembelajaran Analisis kebutuhan dilaksanakan untuk memperoleh data tentang kebutuhan siswa kelas III SDN Tamanan I terhadap pembelajaran matematika.

  Data diperoleh dari hasil kuesioner 34 siswa kelas IIIA dan satu guru matematika kelas IIIA yaitu Ibu S.K. Mawati. Pengisian kuesioner dilaksanakan pada tanggal

  13 Februari 2013. Hasil kuesioner ini dibutuhkan untuk memperoleh gambaran tentang hal-hal yang berhubungan dengan pembelajaran matematika kelas IIIA SDN Tamanan I. Data analisis kebutuhan siswa selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk membuat suatu produk yang berupa alat peraga ala Montessori.

  4.2.1 Data Analisis Kebutuhan Siswa Berdasarkan Kuesioner Kuesioner analisis kebutuhan siswa terdiri dari sepuluh pertanyaan dengan beberapa pilihan jawaban di setiap pertanyaan. Berdasarkan kuesioner yang telah diisi oleh 34 siswa, 100% siswa menjawab bahwa guru pernah menggunakan alat peraga ketika belajar Matematika namun siswa menyebutkan bahwa alat peraga yang digunakan hanya sebatas kertas, papan tulis, dan penggaris. Siswa merasa senang dan lebih mudah memahami materi ketika belajar menggunakan alat peraga. Sebanyak 91,17%, siswa menyatakan tidak pernah menggunakan alat peraga yang ada di sekitarnya. Hal itu menunjukkan bahwa kebutuhan siswa akan alat peraga yang memanfaatkan benda di sekitar masih kurang terpenuhi. Hal pertama yang menarik siswa dari sebuah alat peraga adalah bahan, kedua adalah bentuk, dan yang ketiga adalah warna. Berdasarkan hasil kuesioner, sebagian besar siswa memilih kayu sebagai benda yang dapat dimanfaatkan untuk alat peraga matematika. Sebanyak 94,11% siswa memerlukan alat peraga yang mudah dibawa dan sebanyak 91,17% siswa menyukai alat peraga yang dapat menunjukkan kesalahan secara mandiri sehingga alat peraga yang dikembangkan harus mudah dibawa dan memiliki pengendali kesalahan. Sebagian siswa menyatakan mampu menggunakan alat peraga tanpa bantuan guru dan sebagian lagi tidak mampu, maka perlu adanya alat peraga yang dimulai dari presentasi yang dilakukan guru kemudian langkah selanjutnya siswa mampu melakukannya secara mandiri. Rekapitulasi hasil analisis kebutuhan siswa dapat dilihat pada lampiran 1.3 halaman 56.

  4.2.2 Data Analisis Kebutuhan Guru Berdasarkan Kuesioner Hasil kuesioner menunjukkan bahwa selama mengajar matematika sudah menggunakan alat peraga namun alat peraga yang digunakan masih sederhana dan terbatas. Guru lebih sering menggunakan kertas dan benda seadanya di dalam kelas. Beliau dapat merasakan sendiri bahwa alat peraga memberikan kontribusi selama pembelajaran, yaitu (1) situasi kelas lebih menyenangkan; (2) siswa lebih mudah memahami konsep dari suatu materi dalam pembelajaran Matematika; (3) siswa lebih mudah untuk menemukan kesalahannya sendiri; dan (4) siswa dapat memahami konsep secara mandiri sehingga alat peraga untuk mata pelajaran Matematika memang sangat diperlukan. Guru juga menyatakan bahwa alat peraga yang digunakan sebaiknya berasal dari lingkungan sekitar sekolah, misalnya kayu, dengan alasan anak mudah mengenal dan mencarinya dengan biaya berkisar Rp 100.000,00 – Rp 300.000,00 dan memperhatikan kriteria alat peraga yang menarik, meliputi (1) bentuk yang bervariasi; (2) warna sesuai pilihan siswa; (3) bahan awet; (4) ukuran disesuaikan dengan siswa; dan (5) berat disesuaikan dengan kondisi siswa.

  Penjabaran analisis kebutuhan guru tersebut, dapat disimpulkan bahwa guru berpendapat, suasana pembelajaran yang menarik, lebih melibatkan siswa, dan inovatif dapat tercipta dengan adanya alat peraga pembelajaran yang terbuat dari bahan yang ada di lingkungan siswa dan memperhatikan kondisi siswa. Karena itu, perlu adanya pengembangan alat peraga Montessori yang dapat mengakomodasi kebutuhan siswa yang menggunakan bahan dari lingkungan sekitar siswa. Hasil analisis kebutuhan guru dapat dilihat pada lampiran 1.4 halaman 58.

4.2.3 Pengembangan Perangkat Pembelajaran

  Perangkat pembelajaran yang akan dikembangkan dalam penelitian ini adalah album pembelajaran. Istilah album yang dikenal dalam pembelajaran Montessori berisi tentang langkah-langkah secara rinci penggunaan alat peraga dan bukan album dalam pengertian buku yang digunakan untuk menyimpan foto- foto. Album pembelajaran yang dikembangkan dalam penelitian ini menjelaskan cara penggunaan alat peraga papan pasir bangun datar yang disesuaikan dengan kompetensi dasar 4.1 mengidentifikasi berbagai bangun datar sederhana menurut sifat atau unsurnya, dan materi bangun datar sederhana.

4.3 Produksi Alat Peraga Montessori untuk Pembelajaran Geometri

  Penelitian pengembangan ini diawali dengan menentukan mata pelajaran dan kompetensi dasar yang akan dikembangkan, yaitu matematika keterampilan geometri kelas III semester dua, dengan kompetensi dasar 4.1 mengidentifikasi berbagai bangun datar sederhana menurut sifat atau unsurnya. Berdasarkan kompetensi dasar tersebut, bangun datar sederhana yang dibuat adalah persegi, persegi panjang, dan berbagai macam segitiga namun alat peraga yang akan dibuat meliputi bangun persegi, persegi panjang, berbagai macam segitiga, segi lima sampai segi sepuluh, lingkaran, trapesium sama kaki, trapesium sembarang, trapesium siku-siku, layang-layang, jajar genjang, dan belah ketupat karena disesuaikan dengan prinsip alat peraga Montessori yang bergradasi (dapat digunakan untuk materi pelajaran di tingkat selanjutnya). Selanjutnya, dilakukan proses desain alat peraga yang terbuat dari hasboard, kayu, dan pasir. Alat peraga dirancang berdasarkan prinsip-prinsip alat peraga Montessori. Prinsip yang pertama adalah menarik, unsur menarik dari alat peraga yang dikembangkan adalah pemilihan warna yang disesuaikan dengan pilihan siswa langsung. Prinsip kedua adalah bergradasi, alat peraga digunakan dengan melibatkan lebih dari satu indera dan dapat digunakan untuk materi pada kelas selanjutnya. Prinsip ketiga adalah memiliki pengendali kesalahan, papan pasir bangun datar disertai dengan bingkai sebagai pengendali kesalahan. Prinsip keempat adalah alat peraga dapat digunakan secara mandiri oleh anak untuk belajar. Prinsip kelima adalah kontekstual, alat peraga dikembangkan menggunakan bahan-bahan berdasar kekhasan daerah, yaitu kayu dan pasir. Pembuatan alat peraga dikerjakan dengan memanfaatkan warga sekitar sekolah yang ahli dalam bidang pertukangan. Berbagai macam bentuk bangun datar tersebut diletakkan sesuai dengan kelompoknya dalam sebuah rak yang terdiri dari 5 rak. Pengelompokan didasarkan pada jumlah sisi dan jenis sudut. Rak 1 terdapat bangun yang memiliki empat sisi dan empat sudut siku-siku, yaitu bangun persegi dan persegi panjang. Rak 2 terdapat bangun yang memiliki tiga sisi dan berbagai macam sudut, yaitu bangun segitiga. Rak 3 terdapat bangun lingkaran. Rak 4 terdapat bangun segi banyak yang dimulai dari segi lima sampai segi sepuluh. Rak 5 terdapat bangun yang memiliki empat sisi dan memiliki sudut yang bermacam-macam, yaitu layang-layang, jajar genjang, trapesium, dan belah ketupat. Biaya yang dibutuhkan untuk mengembangkan sebuah alat peraga papan pasir bangun datar adalah Rp 250.000,00. Alat peraga yang dikembangkan juga disertai kartu soal, lembar kerja, dan album pembelajaran. Berikut ini penjelasan dari komponen- komponen tersebut.

  4.3.1 Rak 1 Pada rak 1 terdapat papan pasir bangun persegi dan persegi panjang. Bangun persegi terdiri dari tiga ukuran, yaitu 5 x 5 cm, 8 x 8 cm, dan 10 x 10 cm. Bangun persegi panjang juga terdiri dari tiga ukuran, yaitu 5 x 10 cm, 6 x 10 cm, dan 7 x 10 cm. Setiap bangun persegi dan persegi panjang berwarna biru dan di tepian bangun diberi pasir untuk menunjukkan sisinya. Bangun tersebut diletakkan pada bingkainya yang berbentuk persegi dengan ukuran 14 x 14 cm berwarna kuning.

  4.3.2 Rak 2 Rak 2 terdapat papan pasir bangun segitiga berdasarkan besar sudutnya, yaitu segitiga lancip, segitiga siku-siku, dan segitiga tumpul. Di rak 2 juga terdapat segitiga berdasarkan panjang sisinya, yaitu segitiga sama sisi, segitiga sama kaki, dan segitiga sembarang. Segitiga diberi warna biru dan pada bagian tepi diberi pasir untuk menunjukkan sisinya. Setiap segitiga diletakkan pada bingkainya masing-masing yang berbentuk persegi dengan ukuran 14 x 14 cm berwarna kuning.

  4.3.3 Rak 3 Pada rak 3 terdapat papan pasir bangun lingkaran yang terdiri dari enam macam ukuran, yaitu lingkaran dari diameter 5 cm sampai dengan 10 cm.

  Lingkaran diberi warna biru dan pada bagian tepi diberi pasir untuk menunjukkan sisinya. Setiap lingkaran diletakkan pada bingkainya masing-masing yang berbentuk persegi dengan ukuran 14 x 14 cm berwarna kuning.

  4.3.4 Rak 4 Rak 4 terdapat papan pasir bangun segi lima sampai segi sepuluh dengan diameter 10 cm. Pada bagian tepi setiap bangun diberi pasir untuk menunjukkan sisi-sisinya. Papan pasir bangun segi lima sampai segi sepuluh diberi warna biru dan diletakkan pada bingkai berbentuk persegi ukuran 14 x 14 cm berwarna kuning.

  4.3.5 Rak 5 Pada rak 5 terdapat papan pasir bangun trapesium sembarang, trapesium sama kaki, trapesium siku-siku, layang-layang, jajar genjang, dan belah ketupat.

  Papan pasir bangun tersebut diberi warna biru dan pada bagian tepi diberi pasir untuk menunjukkan sisinya. Setiap bangun diletakkan pada bingkainya masing- masing yang berbentuk persegi dengan ukuran 14 x 14 cm berwarna kuning.

  4.3.6 Kartu Soal Kartu soal terbuat dari kertas ivory yang berukuran 9 x 7 cm dan diletakkan di kotak yang terbuat dari kayu. Soal terdiri dari empat kategori, yaitu

  (1) menunjukkan bangun datar, (2) menunjukkan sisi bangun datar, (3) menunjukkan sudut dan titik sudut bangun datar, (4) menjiplak bangun datar. Semua kategori soal tersebut dibuat untuk setiap bangun datar.

  4.3.7 Lembar Kerja Lembar kerja ditujukan untuk siswa yang terdiri dari dua jenis. Lembar kerja yang pertama dibuat dalam bentuk kolom yang disesuaikan dengan kartu soal. Kolom dalam lembar kerja pertama memuat (1) nomor, (2) nama bangun, (3) banyak sisi, (4) banyak sudut, (5) banyak titik sudut. Lembar kerja kedua berbentuk kertas polos yang digunakan anak untuk menjiplak bangun datar menggunakan papan pasir bangun datar. Lembar kerja hanya berisi soal tentang persegi, persegi panjang, dan segitiga karena mengacu pada kompetensi dasar di kelas III yang hanya membahas bangun datar sederhana, yaitu terdiri dari bangun persegi, persegi panjang, dan segitiga.

  4.3.8 Album Pembelajaran Pembelajaran Montessori identik dengan alat peraga dan album pembelajaran. Album pembelajaran yang dimaksud dalam hal ini adalah langkah- langkah pembelajaran yang dilakukan menggunakan alat peraga. Komponen yang terdapat dalam album pembelajaran adalah (1) judul pembelajaran, (2) tujuan, (3) syarat kompetensi yang harus dimiliki anak, (4) umur, (5) alat peraga yang digunakan, (6) presentasi alat peraga yang disertai dengan foto. Album pembelajaran dapat dilihat pada lampiran 8 halaman 88.

4.4 Validasi dan Revisi Produk

  Produk yang telah dikembangkan selanjutnya dipresentasikan kepada pakar pembelajaran matematika, alat peraga matematika, dan guru kelas IIIA SDN Tamanan I untuk divalidasi. Validasi yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui kelayakan produk yang dikembangkan. Peneliti menggunakan pedoman penyekoran skala lima menurut Sukardjo (2008:101) untuk memvalidasi seperti dalam tabel berikut.

Tabel 4.1 Konversi Data Kuantitatif ke Data Kualitatif Skala Lima

  Menurut Sukardjo

  

Interval Skor Kategori

Sangat Baik X > + 1,0 Sbi i Baik i i + 0,60 SBi < X < + 1,80Sbi Cukup i i - 0,60 SBi < X < + 0,60Sbi i - 1,80 SBi < X < i + 0,60Sbi Kurang Sangat Kurang

  X < – 1,80Sbi i

  Keterangan: Rerata ideal ( i ) : (skor maksimal ideal + skor minimal ideal) Simpangan baku ideal (SB i ) : (skor maksimal ideal - skor minimal ideal) X : Skor aktual

  Rumus konversi di atas digunakan untuk memperoleh data kualitatif dari perhitungan data-data kuantitatif. Adapun penentuan rumus kualitatif pengembangan ini ditentukan dengan konversi sebagai berikut. Diketahui: Skor maksimal ideal : 5 Skor minimal ideal : 1 Rerata ideal ( i ) : (5+1) = 3 Simpangan baku ideal ( ) : (5-1) = 0,67

  i

  Ditanyakan: Interval skor kategori sangat baik, baik, cukup baik, kurang baik, dan sangat kurang baik.

  Jawaban: Kategori sangat baik = X > i + 1,80SBi

  = X > 3 + (1,80 . 0,67) = X > 3 + (1,21) = X > 4,21 Kategori baik = + 0,60SB < X < + 1,80SB

  i i i i

  = 3 + (0,60 . 0,67) < X < 3 + (1,80 . 0,67) = 3 + (0,40) < X < 3 + (1,21) = 3,40 < X < 4,21

  Kategori cukup baik = i - 0,60SB i < X < i + 0,60SB i = 3 - (0,60 . 0,67) < X < 3 + (0,60 . 0,67) = 3 - (0,40) < X < 3 + (0,40) = 2,60 < X < 3,40

  Kategori kurang baik = i - 1,80SB i < X < i – 0,60SB i = 3 - (1,80 . 0,67) < X < 3 - (0,60 . 0,67) = 3 - (1,21) < X < 3 + (0,40) = 1,79 < X < 2,60

  Kategori sangat kurang baik = X < - 1,80SBi

  i

  = X < 3 - (1,80 . 0,67) = X < 3 - (1,21) = X < 1,79

  Berdasarkan perhitungan tersebut, didapatkan konversi data kuantitatif menjadi data kualitatif skala lima sebagai berikut.

Tabel 4.2 Kriteria Skor Skala Lima

  

Interval Skor Kriteria

X > 4,21 Sangat Baik

3,40 < X < 4,21 Baik 2,60 < X < 3,40 Cukup 1,79 < X < 2,60 Kurang X < 1,79 Sangat Kurang

4.4.1 Deskripsi Validasi Pakar Pembelajaran Matematika

  Validator dari pakar pembelajaran dalam produk penelitian ini adalah Veronika Fitri Rianasari, M.Si. Beliau adalah dosen Matematika di program studi Pendidikan Matematika Universitas Sanata Dharma. Produk divalidasi sebanyak satu kali oleh pakar pembelajaran Matematika. Validasi dilaksanakan pada tanggal 18 Maret 2013 dengan cara mempresentasikan alat peraga yang telah dikembangkan di hadapan pakar pembelajaran. Aspek yang dinilai dari alat peraga disesuaikan dengan karakteristik alat peraga Montessori, yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto correction, (4) auto education, (5) kontekstual. Berdasarkan hasil validasi, kualitas alat peraga dinilai dari kelima aspek tersebut semuanya memperoleh skor rata-rata 4,6 dengan kategori “sangat baik” karena produk alat peraga yang dikembangkan sudah sesuai dengan kriteria menarik, bergradasi, memiliki pengendali kesalahan, membelajarkan siswa secara mandiri, dan kontekstual. Selain memberikan penilaian, pakar pembelajaran juga memberikan beberapa saran terkait dengan produk alat peraga yang berupa papan pasir bangun datar yang dikembangkan dan penggunaannya. Pakar pembelajaran matematika menyatakan bahwa alat peraga papan bangun datar yang dikembangkan telah layak untuk digunakan uji coba lapangan tanpa revisi. Hasil validasi produk oleh pakar pembelajaran matematika dapat dilihat pada lampiran 2.2 halaman 62.

Tabel 4.3 Komentar Pakar Pembelajaran Matematika dan Tindak Lanjut

  Komentar Pakar Pembelajaran No.

  Tindak Lanjut Matematika

  1. Perlu memperbanyak kesempatan Anak akan mendapatkan kesempatan untuk

kepada siswa untuk mengeksplorasi mengeksplorasi alat peraga setelah guru

sendiri alat peraga papan pasir bangun mengenalkan konsep dengan alat peraga.

datar.

  2. Perlu penambahan busur pada salah satu Sesuai dengan kompetensi dasar yang

papan untuk mengenalkan konsep 90 dikembangkan, penggunaan busur derajat

pada bangun segitiga. dilakukan pada kompetensi dasar selanjutnya sehingga tidak dilakukan penambahan busur derajat pada papan. Hal itu didukung dengan pendapat siswa yang menyatakan bahwa penambahan busur derajat mempersulit pemahamannya tentang segitiga.

4.4.2 Deskripsi Validasi Pakar Alat Peraga Matematika

  Pakar alat peraga matematika yang menjadi validator dalam produk alat peraga ini adalah Andri Anugrahana, M.Pd. Beliau adalah dosen Matematika di program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma. Validasi dilakukan pada tanggal 22 Maret 2013. Aspek yang dinilai dari alat peraga disesuaikan dengan karakteristik alat peraga Montessori, yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto correction, (4) auto education, (5) kontekstual. Hasil validasi menunjukkan kualitas alat peraga dinilai dari kelima aspek tersebut semuanya memperoleh skor rata-rata 4,3 dengan kategori “sangat baik” karena produk alat peraga yang dikembangkan sudah sesuai dengan kriteria menarik, bergradasi, memiliki pengendali kesalahan, membelajarkan siswa secara mandiri, dan kontekstual. Pakar alat peraga menyatakan bahwa alat peraga papan bangun datar yang dikembangkan sudah baik dan layak untuk uji coba lapangan tanpa revisi. Hasil validasi produk oleh pakar alat peraga matematika dapat dilihat pada lampiran 2.3 halaman 64.

  4.4.3 Deskripsi Validasi Guru Kelas IIIA Guru kelas IIIA yang menjadi validator dalam produk penelitian ini adalah

  S. K. Mawati, S.Pd. SD. Beliau merupakan guru wali kelas IIIA SDN Tamanan I Yogyakarta. Produk divalidasi satu kali oleh guru kelas IIIA pada tanggal 21 Maret 2013. Aspek yang dinilai dari alat peraga disesuaikan dengan karakteristik alat peraga Montessori, yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto correction, (4) auto education, (5) kontekstual. Hasil validasi menunjukkan kualitas alat peraga dinilai dari kelima aspek tersebut semuanya memperoleh skor rata-rata 4 dengan kategori “baik” karena produk alat peraga yang dikembangkan sudah sesuai dengan kriteria menarik, bergradasi, memiliki pengendali kesalahan, membelajarkan siswa secara mandiri, dan kontekstual. Guru kelas IIIA menyatakan bahwa alat peraga papan bangun datar yang dikembangkan sudah baik dan layak untuk digunakan uji coba lapangan tanpa revisi. Beliau juga memberi komentar bahwa alat peraga mampu menarik perhatian siswa, mempermudah siswa untuk memahami konsep bangun datar, dan bahan juga mudah didapatkan di lingkungan sekitar. Hasil validasi produk oleh guru kelas

  IIIA dapat dilihat pada lampiran 2.4 halaman 66.

  4.4.4 Revisi Produk Ada beberapa saran yang diberikan untuk melengkapi alat peraga yang dikembangkan berdasarkan hasil uji validasi produk yang dilakukan oleh pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga matematika, dan guru kelas IIIA. Saran yang diberikan misalnya dari pakar pembelajaran matematika yaitu alat peraga pada papan segitiga agar ditambahi busur untuk menunjukkan besar sudut.

  Setelah mendapatkan saran tersebut, peneliti kembali mengkonfirmasikan kepada anak dengan bertanya menurut mereka apakah alat peraga perlu dilakukan perubahan atau tidak. Peneliti melakukan hal tersebut karena sesuai dengan pendekatan Montessori yang menekankan perlunya memahami dinamika kejiwaan anak sebagai dasar bagi pendidikan yang tepat dan memberi kesempatan anak untuk berekspresi secara merdeka sealamiah mungkin sehingga segala sesuatu kembali pada anak untuk menentukan pembelajaran sesuai dengan dunianya (Montessori, 2002:10). Berdasarkan hasil konfirmasi dengan anak tidak perlu dilakukan perubahan pada alat peraga karena anak merasa lebih mudah menggunakan alat peraga papan pasir bangun datar, lebih tertarik, dan lebih memahami materi tentang bangun datar dengan alat peraga tanpa perubahan.

4.4.5 Data Uji Coba Lapangan Terbatas

  Setelah dilakukan validasi produk oleh pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga, dan guru kelas III selanjutnya dilakukan validasi lapangan atau penerapan pembelajaran matematika untuk materi mengidentifikasi bangun datar sederhana menurut sifat atau unsurnya menggunakan alat peraga papan pasir bangun datar di kelas IIIA SDN Tamanan I Yogyakarta. Validasi lapangan dilakukan dalam empat pertemuan, pada hari Kamis tanggal 4 sampai 8 April 2013. Kegiatan validasi dilaksanakan setelah jam pelajaran selesai dan berlangsung selama 60 menit. Validasi dilakukan dengan enam siswa yang dipilih oleh guru kelas IIIA. Pemilihan siswa didasarkan pada hasil ulangan harian siswa yang berada di bawah KKM untuk materi bangun datar. Pembelajaran menggunakan alat peraga papan pasir bangun datar dilakukan oleh peneliti secara langsung.

  Validasi lapangan dilakukan di dalam kelas, pada awalnya penggunaan alat peraga dilakukan di atas meja namun ternyata hal tersebut membuat siswa kurang leluasa dan kurang maksimal dalam penggunaan alat peraga, sehingga validasi selanjutnya dilakukan di lantai dengan menggunakan alas karpet. Pembelajaran dimulai dengan presentasi yang dilakukan oleh peneliti kepada salah satu siswa dan siswa lain memperhatikan kemudian siswa melanjutkan berlatih secara mandiri dengan alat peraga papan pasir bangun datar. Peneliti melakukan presentasi dengan siswa di awal pembelajaran pada sub materi baru yang disesuaikan dengan kartu soal. Selama pembelajaran menggunakan alat peraga papan pasir bangun datar respon yang diberikan siswa sangat baik. Hal ini terlihat dari sikap siswa yang ditunjukkan penuh keceriaan, antusias, dan semangat mengikuti pembelajaran. Siswa merasa senang selama pembelajaran menggunakan alat peraga papan pasir bangun datar yang ditunjukkan melalui fokus perhatian siswa ketika menggunakan alat peraga yang tidak terpengaruh oleh gangguan yang ada di sekitar. Siswa juga merasa senang karena mereka dapat belajar sambil bermain dengan alat peraga dan saling mengkoreksi kesalahan yang dilakukan oleh teman.

  4.4.5.1 Kuesioner Pada akhir kegiatan pembelajaran, kuesioner dibagikan pada siswa untuk mengetahui penilaian siswa terhadap alat peraga papan pasir bangun datar yang telah digunakan selama pembelajaran. Aspek yang dinilai sama dengan kuesioner yang digunakan untuk validasi ahli yang meliputi (1) tampilan alat peraga yang menarik, (2) gradasi yang ditunjukkan alat peraga, (3) auto correction, (4) auto education, dan (5) kontekstual yang ditunjukkan dari alat peraga yang dikembangkan. Berdasarkan hasil kuesioner yang telah diisi oleh siswa, alat peraga yang dikembangkan mendapat skor 4,7 dengan kategori “sangat baik”, yang berarti alat peraga menarik perhatian siswa untuk belajar dan mempermudah siswa untuk memahami materi tentang bangun datar. Kuesioner hasil uji coba lapangan terbatas dapat dilihat pada lampiran 4.2 halaman 78 dan rekapitulasi hasil uji coba lapangan terbatas dapat dilihat pada lampiran 4.3 halaman 81.

  4.4.5.2 Tes Penelitian pengembangan ini juga menggunakan pretest dan posttest untuk mengukur kemampuan alat peraga dalam menyampaikan materi. Soal pretest dan posttest dibuat sama berjumlah 20 butir dapat dilihat pada lampiran 3.2 halaman

  68. Soal diberikan kepada enam siswa yang telah dipilih guru berdasarkan nilai ulangan harian yang berada di bawah KKM untuk materi bangun datar. Hasil pretest dan posttest sebagai berikut.

Tabel 4.4 Hasil Pretest dan Posttest

  No. Nama Siswa Pretest Posttest

  1. A 65 100

  2. RAS

  55

  90

  3. BK 50 100 4.

  IAW

  65

  95 5.

  IYP 55 100

  6. REY

  50

  95 Rata-Rata 56,7 96,7 Persentase Kenaikan 70,54%

  Hasil perbandingan skor pretest dan posttest juga disajikan dalam bentuk diagram sebagai berikut.

  Hasil perbandingan skor pretest dan posttest menunjukkan bahwa setelah siswa menggunakan alat peraga papan pasir bangun datar, nilai yang diperoleh siswa meningkat. Rata-rata dari pretest dan posttest yang mengalami kenaikan dari 56,7 menjadi 96,7 menunjukkan adanya peningkatan prestasi setelah pembelajaran menggunakan papan pasir bangun datar. Persentase peningkatan skor pretest dan posttest sebesar 70,54% memperlihatkan bahwa alat peraga papan pasir bangun datar dapat digunakan untuk pembelajaran mengidentifikasi bangun datar sederhana menurut sifat atau unsurnya.

  Dari hasil validasi pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga matematika, dan guru kelas IIIA SDN Tamanan I, dan 6 siswa kelas IIIA SDN Tamanan I Yogyakarta, dapat disimpulkan bahwa alat peraga papan pasir bangun datar dinilai sudah memenuhi kriteria kelayakan yang sangat baik digunakan sebagai alat peraga dalam kegiatan pembelajaran bangun datar matematika. Hal itu dibuktikan dengan perolehan skor pada validasi sebagai berikut.

Tabel 4.5 Perolehan Skor Validasi Produk

  Alat Peraga No. Penilaian

  Skor Kategori

  1. Pakar Pembelajaran Matematika 4,6 “Sangat Baik”

  2. Pakar Alat Peraga 4,3 “Sangat Baik”

  3. Guru Kelas IIIA 4 “Baik”

  4. Siswa Kelas IIIA 4,7 “Sangat Baik” Rerata Skor 4,4

  Kategori “Sangat Baik” Hasil keseluruhan validasi produk tersebut diperoleh rerata skor 4,4 dengan kategori “sangat baik”. Berdasarkan hasil validasi tersebut, produk yang dikembangkan dapat dikatakan memiliki kualitas sangat baik dan layak untuk digunakan dalam pembelajaran matematika keterampilan geometri dengan materi bangun datar kelas III SD semester genap.

4.4.6 Penilaian Akhir

  Penilaian akhir dilakukan dengan teknik triangulasi pendapat dari guru, siswa, dan peneliti untuk mengonfirmasi klaim perolehan skor validasi produk yang termasuk dalam kategori “sangat baik”. Rangkuman pendapat guru, siswa, dan peneliti setelah uji coba lapangan terbatas menggunakan alat peraga akan dipaparkan sebagai berikut.

4.4.6.1 Guru Kelas IIIA

  Guru melakukan pendampingan ketika pelaksanaan uji coba lapangan terbatas. Selama pendampingan berlangsung, guru memberikan komentar mengenai tingkat perhatian siswa. Beliau menyampaikan bahwa siswa memiliki perhatian yang penuh terhadap pembelajaran menggunakan papan pasir bangun datar. Hal itu dibuktikan ketika siswa menggunakan papan pasir bangun datar untuk memahami materi, ia tidak menghiraukan gangguan yang ada di sekitarnya maupun ajakan dari teman lainnya untuk melakukan kegiatan lain. Kondisi tersebut berbeda ketika siswa mengikuti pembelajaran selama jam sekolah berlangsung. Siswa lebih mudah terpengaruh oleh gangguan yang ada di sekitarnya maupun ajakan dari teman untuk melakukan aktivitas lain dan ada juga siswa yang terlihat pasif selama pembelajaran ketika jam sekolah berlangsung.

  Guru menyampaikan bahwa keenam siswa mengalami kemajuan dalam hal memahami sifat dan ciri-ciri bangun datar sederhana. Beliau tampak heran dengan peningkatan hasil posttest yang diperoleh siswa karena keenam siswa tersebut termasuk siswa yang mendapatkan nilai di bawah KKM.

  4.4.6.2 Siswa Kelas IIIA Peneliti melakukan wawancara dengan keenam siswa setelah pembelajaran menggunakan alat peraga papan pasir bangun datar. Siswa mengungkapkan kesenangannya selama pembelajaran menggunakan alat peraga papan pasir bangun datar. Pertama, siswa merasa senang menggunakan alat peraga papan pasir bangun datar karena mempermudah mereka untuk memahami materi bangun datar. Kedua, siswa senang karena dapat menentukan warna sesuai pilihan untuk alat peraga yang digunakan sesuai dengan keinginannya dan alat peraga juga terbuat dari bahan-bahan yang mudah ditemui siswa. Ketiga, siswa merasa senang ketika dapat memberikan contoh yang benar penggunaan alat peraga kepada temannya.

  4.4.6.3 Peneliti Peneliti menilai bahwa produk yang dikembangkan memiliki kualitas yang sangat baik, terbukti dari pendapat yang diungkapkan oleh guru kelas IIIA dan siswa kelas IIIA. Lalu, meski baru diuji secara terbatas produk ini bukan hanya memiliki kualitas yang sangat baik tetapi juga sangat efektif untuk pembelajaran yang dibuktikan dengan peningkatan nilai posttest. Penilaian tersebut menunjukkan bahwa alat peraga papan pasir bangun datar berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut melalui uji coba yang lebih luas.

  BAB V PENUTUP Pada bab ini diuraikan tentang (1) kesimpulan, (2) keterbatasan penelitian, dan (3) saran.

  5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, kesimpulan yang diperoleh sebagai berikut.

  5.1.1 Alat peraga Montessori yang dikembangkan untuk melatih keterampilan geometri matematika untuk materi bangun datar pada siswa kelas IIIA SDN Tamanan I Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 mengandung lima ciri alat peraga, yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto correction, (4) auto education, dan (5) kontekstual.

  5.1.2 Alat peraga Montessori yang dikembangkan untuk melatih keterampilan geometri matematika kelas IIIA SDN Tamanan I Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013 mempunyai kualitas yang “sangat baik” ditinjau dari aspek tampilan produk yang menarik, bergradasi, auto correction, auto education, dan kontekstual yang terkandung dalam alat peraga. Hal tersebut ditunjukkan dari hasil penilaian produk dengan skor rerata 4,4. Alat peraga yang dikembangkan terbukti dapat mengatasi kesulitan belajar siswa dalam mengidentifikasi berbagai bangun datar sederhana menurut sifat atau unsurnya yang ditunjukkan dari hasil posttest siswa.

  5.2 Keterbatasan Penelitian Alat peraga papan pasir bangun datar siap untuk diujicobakan dalam skala yang lebih luas. Meskipun demikian masih terdapat keterbatasan sebagai berikut.

  5.2.1 Tidak adanya pakar pembelajaran Montessori yang memvalidasi karena tidak adanya ahli Montessori yang mempunyai pengalaman di bidang pembelajaran Montessori.

  5.2.2 Langkah penelitian pengembangan ini belum sampai pada uji efektivitas dengan metode eksperimental yang dilakukan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, instrumen pretest dan posttest belum diuji untuk memastikan validitas dan reliabilitasnya secara empiris.

  5.2.3 Uji validasi produk hanya dilakukan sekali.

  5.2.4 Uji coba lapangan hanya terbatas pada sekelompok siswa yang memiliki nilai di bawah KKM.

5.3 Saran

  Saran untuk peneliti selanjutnya yang akan mengembangkan alat peraga Montessori dalam pembelajaran adalah sebagai berikut.

  5.3.1 Alat peraga yang dikembangkan sebaiknya divalidasi oleh pakar pembelajaran Montessori agar lebih mendapat masukan yang mendalam sesuai dengan pembelajaran Montessori.

  5.3.2 Langkah penelitian pengembangan agar sampai pada uji efektivitas produk sehingga lebih terlihat efektivitas produk jika digunakan dalam pembelajaran.

  5.3.3 Uji validasi alat peraga dilakukan lebih dari sekali supaya alat peraga yang dikembangkan lebih teruji dan mendapatkan hasil yang maksimal.

  5.3.4 Uji coba lapangan dilakukan menggunakan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen untuk lingkup penelitian yang lebih luas.

  DAFTAR REFERENSI Anitah, S. (2010). Media pembelajaran. Surakarta: Yuma Pressindo.

  Arifin, Z. (2009). Evaluasi pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya. Badan Standar Nasional Pendidikan. (2006). Standar isi dan standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar . Jakarta: BP. Cipta Jaya.

  Frick, T. W., & Joyce Hwee Ling Koh. (2010). Implementing autonomy support: insight from a Montessori classroom. International Journal of Education

  2.2. Gale Education, Religion and Humanities Lite Package. Diakses tanggal 3 Mei 2013, dari http://go.galegroup.com/ps/i.do?id=GALE%7CA246254348&v=2.1&u= kpt05011&it=r&p=GPS&sw=w

  Hasnahwati, Y. (2008). Pembelajaran bangun ruang dengan menggunakan alat peraga untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V SD Muhammadiyah Sambisari Purwomartani Kalasan Sleman. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

  Hariyanto, S. D. (2011). Belajar dan pembelajaran: teori dan konsep dasar.

  Bandung: Remaja Rosdakarya. Heruman. (2007). Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

  Kurniawan, E. (2012). Upaya meningkatkan prestasi belajar dengan menggunakan alat peraga sebagai media pembelajaran matematika pokok bahasan bangun ruang sisi lengkung (siswa kelas IX D MTSN Ngemplak Sleman). Skripsi. Tidak dipublikasikan. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

  Legowo, S. (2006). Penggunaan alat peraga permainan dakon untuk meningkatkan penguasaan konsep operasi penjumlahan bilangan bulat di SD Sompok 03 Semarang. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Malang: Universitas Negeri Malang.

  Lillard, A. S. (2005). Montessori the science behind the genius. United States: Oxford University Press. Lillard, A. S. (2006). Evaluating Montessori education. AAAS Journal. Education Forum 313.

  Diakses tanggal 3 Mei 2013, dari www.sciencemag.org/cgi/content/full/313/5795/1893/DC1 Lillard, P. P. (1997). Montessori in the classroom. New York: Schocken Books. Manner, J. C. (2007). Montessori vs. traditional education in the public sector: seeking appropriate comparisons of academic achievement. Forum on

  Public Policy: A Journal of the Oxford Round Table. Gale Education, Religion and Humanities Lite Package. Diakses tanggal 3 Mei 2013, dari http://go.galegroup.com/ps/i.do?id=GALE%7CA191817971&v=2.1&u= kpt05011&it=r&p=GPS&sw=w Masidjo, I. (2010). Penilaian pencapaian hasil belajar siswa di sekolah.

  Yogyakarta: Kanisius. Meredith, D. G., Joyce P. G., Walter R. B. (2007). Educational research: an

  th introduction (8 edition). Boston: Pearson Education, Inc.

  Montessori, M. (2008). The absorbent mind. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Montessori, M. (2003). The montessori method. United States: Schocken Books Inc.

  Munadi, Y. (2010). Media pembelajaran sebuah pendekatan baru. Jakarta: Gaung Persada Press. Pusat Bahasa. (2008). KBBI. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Rathunde, K. A. (2003) Comparison of Montessori and traditional middle schools: motivation, quality of experience, and social context. The NAMTA

  Journal 28.3: 15-20. Diakses tanggal 3 Mei 2013, dari http://www.montessori-namta.org/PDF/rathundecompar.pdf

  Sudono, A. (2010). Sumber belajar dan alat permainan: untuk pendidikan anak usia dini. Jakarta: Grasindo. Sugiyono. (2010). Metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Suharjana & Sukayati, A. (2009). Pemanfaatan alat peraga matematika dalam pembelajaran di sekolah dasar. Yogyakarat: PPPPTK. Sukardjo. (2008). Kumpulan materi evaluasi pembelajaran. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Sukmadinata, N. S. (2008). Metode penelitian pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

  Walle, J. A. (2008). Matematika sekolah dasar dan menengah: pengembangan pengajaran . Jakarta: Erlangga. Zaini, H. dkk. (2008). Strategi pembelajaran aktif. Yogyakarta: Insan Madani.

  

LAMPIRAN Lampiran 1. Instrumen Analisis Kebutuhan

  1.1 Kisi-Kisi Kuesioner Analisis Kebutuhan Indikator Nomor Item Menunjukkan adanya penggunaan alat peraga pembelajaran selama ini. 1,2,3,4

  Adanya karakteristik alat peraga yang digunakan. 5,6 Menunjukkan adanya hubungan penggunaan alat peraga dengan konsep 7,8,9,10 matematika.

  1.2 Kuesioner Analisis Kebutuhan untuk Siswa

1.3 Rekapitulasi Hasil Analisis Kebutuhan Siswa No.

  Jumlah Pertanyaan Persentase Item

  Responden

  1 Apakah gurumu pernah menggunakan alat peraga ketika mengajar matematika? Pernah

  34 100% Tidak pernah

  2 Manakah yang lebih kamu sukai? Belajar matematika menggunakan alat peraga 34 100% Belajar matematika tanpa menggunakan alat peraga

  3 Apakah kamu pernah menggunakan benda-benda yang ada di sekitarmu untuk belajar matematika? Pernah

  3 0,08% Tidak pernah 31 91,17%

  4 Menurutmu, manakah benda di sekitar yang dapat digunakan untuk belajar matematika? Kayu

  17 50% Batu 10 29,41% Pasir 10 29,41% Lainnya: penggaris, buku, kertas, lidi, kelereng 10 29,41%

  5 Urutkan ciri-ciri alat peraga dari yang paling menarik sesuai dengam kesukaanmu! Berilah nomor 1 sampai 3 pada tempat yang disediakan, 1 untuk ciri yang paling kamu sukai. Warna

  6 17,64% Bentuk 11 32,35% Bahan 17 50% Warna 10 29,41% Bentuk 13 38,23% Bahan 11 32,35% Warna 18 52,94% Bentuk 10 29,41% Bahan

  6 17,64%

  6 Apakah kamu memerlukan alat peraga yang mudah dibawa? Perlu

  32 94,11% Tidak perlu 2 5,88%

  7 Menurutmu, apakah alat peraga memudahkanmu belajar matematika? Ya

  34 100% Tidak No.

  Jumlah Pertanyaan Persentase Item

  Responden

  8 Manakah yang lebih kamu suka saat belajar matematika? Mengetahui kesalahanmu sendiri dari alat peraga saat 31 91,17% belajar matematika Mengetahui kesalahanmu karena diberitahu guru atau teman ketika belajar matematika menggunakan alat 3 8,82% peraga.

  9 Apakah kamu dapat menggunakan alat peraga tanpa bantuan guru atau teman untuk belajar matematika? Dapat

  14 41,17% Tidak dapat 20 58,82%

  10 Manakah yang lebih kamu sukai? Menggunakan alat peraga secara individu untuk 16 47,05% belajar matematika

  Menggunakan alat peraga secara berkelompok untuk 12 35,29% belajar matematika Menggunakan alat peraga secara klasikal untuk

  6 17,64% belajar matematika

1.4 Kuesioner Analisis Kebutuhan untuk Guru

  2.1 Kisi-Kisi Kuesioner Validasi Ahli No. Karakteristik Alat Peraga Indikator Nomor

  5

  9

  b. Alat peraga dapat diproduksi oleh masyarakat sekitar.

  5. Kontekstual a. Bahan mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

  8

  7

  b. Memahami konsep secara mandiri

  4. Auto-education a. Berlatih secara mandiri.

  6

  b. Mengoreksi kesalahan sendiri.

  Item

  3. Auto-correction a. Mengetahui kesalahan sendiri.

  4

  3

  b. Menunjukkan alat peraga dapat digunakan pada jenjang kelas yang berbeda.

  2. Bergradasi a. Memiliki rangsangan terhadap beberapa indera.

  2

  1

  b. Menunjukkan bentuk yang menarik.

  1. Menarik a. Menunjukkan warna yang menarik.

  10 Lampiran 2. Instrumen Validasi Ahli

2.2 Kuesioner untuk Pakar Pembelajaran Matematika

2.3 Kuesioner untuk Pakar Alat Peraga Matematika

2.4 Kuesioner untuk Guru

  Lampiran 3. Uji Coba Lapangan Terbatas dengan Tes

3.1 Kisi Kisi Soal Tes Matematika

  Indikator Nomor Item Memberi nama bangun datar (persegi, persegi panjang, segitiga siku-

siku, segitiga tumpul, segitiga lancip, segitiga sama sisi, segitiga sama 1,2,3,4,5,6,7,8

kaki, dan segitiga sembarang). Menyebutkan jumlah sisi bangun datar (persegi, persegi panjang, segitiga

siku-siku, segitiga tumpul, segitiga lancip, segitiga sama sisi, segitiga 9,10,11,12,13

sama kaki, dan segitiga sembarang). Menyebutkan jumlah sudut dan titik sudut bangun datar (persegi, persegi panjang, segitiga siku-siku, segitiga tumpul, segitiga lancip, segitiga 14,15,16 sama sisi, segitiga sama kaki, dan segitiga sembarang). Menggambar bangun datar (persegi, persegi panjang, segitiga siku-siku, segitiga tumpul, segitiga lancip, segitiga sama sisi, segitiga sama kaki, 17,18,19,20 dan segitiga sembarang).

  3.2 Soal Pre-test dan Post-test Isilah titik-titik di bawah ini dengan benar!

  1. Gambar di samping merupakan bangun ….

  2. Gambar di samping merupakan bangun ….

3. Dilihat dari besar sudutnya maka nama bangun di samping adalah ….

  4. Dilihat dari besar sudutnya maka nama bangun di samping adalah ….

  5. Dilihat dari besar sudutnya maka nama bangun di samping adalah ….

  6. Bangun di samping memiliki tiga sisi sama panjang yang disebut bangun….

  7. Bangun di samping memiliki dua sisi sama panjang yang disebut bangun….

  8. Bangun di samping memiliki tiga sisi tidak sama panjang yang disebut bangun….

  9. Persegi mempunyai … sisi.

  10. Semua sisi persegi memiliki ukuran yang ….

  11. Persegi panjang mempunyai … sisi.

  12. A B Sisi AB sama panjang dengan sisi ….

  Sisi AD sama panjang dengan sisi …. D C 13. Segitiga mempunyai … sisi.

  14. Jumlah sudut dan titik sudut pada bangun persegi adalah ….

  15. Jumlah sudut dan titik sudut pada bangun persegi panjang adalah ….

  16. Jumlah sudut dan titik sudut pada bangun segitiga adalah ….

  17. Gambarlah sebuah bangun persegi! ............................................................................................................................

  ............................................................................................................................ ............................................................................................................................ ............................................................................................................................ ............................................................................................................................ ............................................................................................................................ ............................................................................................................................

  18. Gambarlah sebuah bangun persegi panjang! ............................................................................................................................

  ............................................................................................................................ ............................................................................................................................ ............................................................................................................................ ............................................................................................................................ ............................................................................................................................ ............................................................................................................................

  

19. Gambarlah bangun segitiga siku-siku, segitiga lancip, dan segitiga tumpul

masing-masing satu bangun! ............................................................................................................................ ............................................................................................................................ ............................................................................................................................ ............................................................................................................................ ............................................................................................................................ ............................................................................................................................ ............................................................................................................................

  

20. Gambarlah bangun segitiga sama sisi, segitiga sama kaki, dan segitiga sembarang

masing-masing satu bangun! ............................................................................................................................ ............................................................................................................................ ............................................................................................................................ ............................................................................................................................ ............................................................................................................................ ............................................................................................................................

  3.3 Kunci Jawaban

  1. Persegi

  2. Persegi Panjang

  3. Segitiga Siku-Siku

  4. Segitiga Tumpul

  5. Segitiga Lancip

  6. Segitiga Sama Sisi

  7. Segitiga Sama Kaki

  8. Segitiga Sembarang 9. 4 sisi

  10. Sama 11. 4 sisi

  12. DC, BC 13. 3 sisi 14. 4

  15. 4 16. 3

  17.

  18.

  19.

  20.

3.4 Hasil Pretest

3.5 Hasil Protest

  4.1 Kisi-Kisi Kuesioner untuk Uji Coba Lapangan Terbatas No. Karakteristik Alat Peraga Indikator Nomor

  5

  9

  d. Alat peraga dapat diproduksi oleh masyarakat sekitar.

  5. Kontekstual c. Bahan mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

  8

  7

  d. Memahami konsep secara mandiri

  4. Auto-education c. Berlatih secara mandiri.

  6

  d. Mengoreksi kesalahan sendiri.

  Item

  3. Auto-correction c. Mengetahui kesalahan sendiri.

  4

  3

  d. Menunjukkan alat peraga dapat digunakan pada jenjang kelas yang berbeda.

  2. Bergradasi c. Memiliki rangsangan terhadap beberapa indera.

  2

  1

  d. Menunjukkan bentuk yang menarik.

  1. Menarik c. Menunjukkan warna yang menarik.

  10 Lampiran 4. Kuesioner Uji Coba Lapangan Terbatas

4.2 Kuesioner untuk Siswa

4.3 Rekapitulasi Hasil Uji Coba Lapangan Terbatas

  Skala No. Aspek yang Dinilai

  1

  2

  4

  5 1. Warna papan bangun datar menarik perhatian saya untuk belajar.

  1

  5 2. Bentuk papan bangun datar menarik minat saya untuk menggunakannya.

  2

  4 Saya menggunakan indera penglihatan dan peraba saat berlatih dengan 3.

  1

  5 papan bangun datar. Saya dapat menggunakan papan bangun datar untuk materi bangun datar 4.

  2

  4 di kelas selanjutnya. Saya dapat mengetahui kesalahan yang saya lakukan saat menggunakan 5.

  2

  4 papan bangun datar tanpa diberitahu oleh guru dan teman. Saya dapat membetulkan kesalahan yang saya lakukan saat menggunakan 6.

  1

  5 papan bangun datar tanpa diberitahu oleh guru atau teman.

  7. Saya dapat menggunakan alat peraga tanpa dibantu guru atau teman.

  1

  5 Saya dapat mengenali bangun datar menggunakan papan bangun datar 8.

  2

  4 tanpa dibantu guru atau teman.

  9. Saya mudah menemukan pasir di lingkungan sekitar saya.

  6 10. Saya mudah menemukan kayu di lingkungan sekitar saya.

  2

  4 Skor Siswa per Skala 15 46 Jumlah Skor 286 Rerata Skor 4,7 Kategori “Sangat Baik” Lampiran 5. Surat Permohonan Ijin Penelitian ke SD

  Lampiran 6. Surat Keterangan telah Melaksanakan Penelitian dari SD

  

Gambar 1. Desain Alat Peraga Papan Pasir Bangun Datar

Gambar 2. Alat Peraga Papan Pasir Bangun Datar

  

Gambar 3. Kartu Soal

Lampiran 7. Dokumentasi Uji Coba Lapangan Terbatas

  

Gambar 4. Siswa mengerjakan soal pretest secara individu tanpa alat peraga

(Sabtu, 30 Maret 2013)

Gambar 5. Siswa menggunakan papan pasir bangun datar untuk megidentifikasi sisi

persegi dan persegi panjang (Kamis, 4 April 2013)

  

Gambar 6. Siswa menggunakan papan pasir bangun datar untuk megidentifikasi

sudut, titik sudut, dan menjiplak persegi dan persegi panjang (Jumat, 5 April 2013)

Gambar 7. Siswa menggunakan papan pasir bangun datar untuk megidentifikasi ciri-

ciri segitiga berdasarkan panjang sisi (Sabtu, 6 April 2013)

  

Gambar 8. Siswa menggunakan papan pasir bangun datar untuk megidentifikasi ciri-

ciri segitiga berdasarkan besar sudut (Senin, 8 April 2013)

Gambar 9. Siswa mengerjakan soal posttest secara individu tanpa alat peraga

(Selasa, 9 Maret 2013)

  Lampiran 8. Album Pembelajaran ALBUM PEMBELAJARAN PAPAN PASIR BANGUN DATAR

  A. Satuan Pendidikan : Sekolah Dasar

  B. Kelas/Semester : III/Genap

  C. Mata Pelajaran : Matematika

  D. Standar Kompetensi : Geometri dan Pengukuran 4. Memahami unsur dan sifat-sifat bangun datar sederhana.

  E. Kompetensi Dasar :

  4.1 Mengidentifikasi berbagai bangun datar sederhana menurut sifat atau unsurnya.

  F. Indikator :

  4.1.1 Menunjukkan bangun datar persegi dan persegi panjang

  4.1.2 Menunjukkan bangun datar segitiga siku-siku, segitiga lancip, segitiga tumpul, segitiga sama sisi, segitiga sama kaki, dan segitiga sembarang

  4.1.3 Menghitung jumlah sisi persegi dan persegi panjang

  4.1.4 Menghitung jumlah sisi segitiga siku-siku, segitiga lancip, segitiga tumpul, segitiga sama sisi, segitiga sama kaki, dan segitiga sembarang

  4.1.5 Menghitung jumlah sudut dan titik sudut persegi dan persegi panjang

  4.1.6 Menghitung jumlah sudut dan titik sudut segitiga siku-siku, segitiga lancip, segitiga tumpul, segitiga sama sisi, segitiga sama kaki, dan segitiga sembarang

  4.1.7 Menjiplak bangun datar persegi dan persegi panjang

  4.1.8 Menjiplak bangun datar segitiga siku-siku, segitiga lancip, segitiga tumpul, segitiga sama sisi, segitiga sama kaki, dan segitiga sembarang

  MENGENAL SIFAT-SIFAT BANGUN DATAR DENGAN “PAPAN PASIR BANGUN DATAR”

  A. Tujuan : Mengenal sifat-sifat bangun datar (persegi, persegi panjang, dan segitiga) B. Syarat : Anak sudah mengenal bangun datar sederhana

  C. Umur : Mulai dari 8 tahun

  D. Alat Peraga : Rak Papan Pasir Bangun Datar Kartu Soal Pulpen Warna Hitam dan Merah Lembar Kerja

  E. Presentasi : Pengenalan Persegi dan Persegi Panjang 1. Direktris menyiapkan karpet dan mengambil alat peraga.

  2. Direktris mengundang anak untuk bermain mengenal sifat-sifat bangun datar dengan mengatakan “Mari bermain papan pasir bangun datar bersama ibu!” 3. Meminta anak duduk di samping kanan direktris.

  4. Direktris mengambil rak 1 dan diletakkan di depan anak.

  5. Direktris mengeluarkan persegi dan persegi panjang warna biru yang ukurannya paling kecil dan diletakkan di depan anak dan rak 1 diisolasikan di depan direktris.

  6. Direktris menunjukkan kepada anak persegi warna biru lalu meraba bagian pasir pada bangun dan berkata “semua sisi sama“ dan menamai bangun dengan berkata “persegi“ lalu anak diminta meraba bangun tersebut dan berkata “persegi.“

  7. Direktris menunjukkan kepada anak persegi warna biru lalu meraba bagian pasir pada bangun dan berkata “persegi panjang“ lalu anak diminta meraba bangun tersebut dan berkata “persegi panjang“.

  8. Direktris meraba dua sisi yang panjang pada persegi panjang lalu mengatakan “panjangnya sama“ lalu direktris meraba sisi yang pendek dan berkata “lebarnya sama“.

  9. Direktris meminta anak untuk menunjukkan bangun persegi dengan berkata “Mana persegi?” kemudian anak menunjuk bangun persegi.

  10. Direktris meminta anak untuk menunjukkan bangun persegi panjang dengan berkata “Mana persegi panjang?” kemudian anak menunjuk bangun persegi panjang.

  11. Direktris menunjuk bangun persegi lalu bertanya “Ini bangun apa?”

  12. Direktris menunjuk bangun persegi panjang lalu bertanya “Ini bangun apa?”

  13. Direktris mengisolasikan persegi dan persegi panjang kecil di sebelah kiri anak.

  14. Direktris mengambil persegi dan persegi panjang yang berukuran sedang warna biru dan diletakkan di depan anak.

  15. Direktris menunjukkan kepada anak persegi warna biru yang berukuran sedang lalu meraba bagian pasir pada bangun dan berkata “semua sisi sama“ dan menamai bangun dengan berkata “persegi“ lalu anak diminta meraba bangun tersebut dan berkata “persegi.“

  16. Direktris menunjukkan kepada anak persegi warna biru lalu meraba bagian pasir pada bangun dan berkata “persegi panjang“ lalu anak diminta meraba bangun tersebut dan berkata “persegi panjang.“

  17. Direktris meraba dua sisi yang panjang pada persegi panjang lalu mengatakan “panjangnya sama“ lalu direktris meraba sisi yang pendek dan berkata “lebarnya sama“.

  18. Direktris meminta anak untuk menunjukkan bangun persegi dengan berkata “Mana persegi?” kemudian anak menunjuk bangun persegi.

  19. Direktris meminta anak untuk menunjukkan bangun persegi panjang dengan berkata “Mana persegi panjang?” kemudian anak menunjuk bangun persegi panjang.

  20. Direktris menunjuk bangun persegi lalu bertanya “Ini bangun apa?”

  21. Direktris menunjuk bangun persegi panjang lalu bertanya “Ini bangun apa?”

  22. Direktris mengisolasikan persegi dan persegi panjang sedang di sebelah bawah persegi dan persegi panjang kecil.

  23. Direktris mengambil persegi dan persegi panjang yang berukuran besar warna biru dan diletakkan di depan anak.

  24. Direktris menunjukkan kepada anak persegi warna biru yang berukuran besar lalu meraba bagian pasir pada bangun dan berkata “semua sisi sama“ dan menamai bangun dengan berkata “persegi“ lalu anak diminta meraba bangun tersebut dan berkata “persegi.“

  25. Direktris menunjukkan kepada anak persegi warna biru lalu meraba bagian pasir pada bangun dan berkata “persegi panjang“ lalu anak diminta meraba bangun tersebut dan berkata “persegi panjang.“

  26. Direktris meraba dua sisi yang panjang pada persegi panjang lalu mengatakan “panjangnya sama“ lalu direktris meraba sisi yang pendek dan berkata “lebarnya sama“.

  27. Direktris meminta anak untuk menunjukkan bangun persegi dengan berkata “Mana persegi?” kemudian anak menunjuk bangun persegi.

  28. Direktris meminta anak untuk menunjukkan bangun persegi panjang dengan berkata “Mana persegi panjang?” kemudian anak menunjuk bangun persegi panjang.

  29. Direktris menunjuk bangun persegi lalu bertanya “Ini bangun apa?”

  30. Direktris menunjuk bangun persegi panjang lalu bertanya “Ini bangun apa?”

  31. Direktris mengambil bangun persegi dan persegi panjang biru yang telah dipelajarinya.

  32. Direktris meminta anak menunjukkan bangun-bangun persegi dengan kartu soal 1.01.

  33. Direktris meminta anak menunjukkan bangun-bangun persegi panjang dengan kartu soal 1.02.

  34. Direktris mengambil kartu soal 2.01 untuk mengetahui jumlah sisi persegi.

  35. Direktris mengambil persegi panjang dengan ukuran yang paling besar lalu meraba setiap sisi yang berpasir satu per satu sambil membilang “satu, dua, tiga, empat” dan meminta anak untuk melakukannya.

  36. Direktris meminta anak untuk menuliskan jawaban jumlah sisi persegi di lembar kerja.

  37. Direktris meminta anak untuk mengembalikan persegi pada bingkainya.

  38. Direktris mengambil kartu soal 2.02 untuk mengetahui jumlah sisi persegi panjang.

  39. Direktris meminta anak menghitung jumlah sisi persegi panjang dengan mengambil persegi panjang yang berukuran paling besar dengan cara meraba dan membilang seperti saat mengerjakan kartu soal 2.02.

  40. Direktris meminta anak untuk menuliskan jawaban jumlah sisi persegi di lembar kerja.

  41. Direktris meminta anak untuk mengembalikan persegi pada bingkainya.

  42. Direktris mengambil kartu soal 3.01 untuk mengetahui jumlah sudut dan titik sudut persegi dan berkata “sekarang kita akan menghitung jumlah sudut dan titik sudutnya.”

  43. Direktris mengambil persegi dengan ukuran yang paling besar lalu meraba sisi yang berpasir dengan membentuk sudut sambil berkata “sudut” dan membilang “satu, dua, tiga, empat” dan meminta anak untuk melakukannya.

  44. Direktris menunjuk setiap pojok pada persegi sambil megatakan “titik sudut” dan membilangnya “satu, dua, tiga, empat” dan meminta anak melakukannya.

  45. Direktris meminta anak untuk menuliskan jawaban jumlah sudut dan titik sudut di lembar kerja.

  46. Direktris meminta anak untuk mengembalikan persegi panjang pada bingkainya.

  47. Direktris mengambil kartu soal 3.02 untuk mengetahui jumlah sudut dan titik sudut persegi panjang dan berkata “sekarang kita akan menghitung jumlah sudut dan titik sudutnya.”

  48. Direktris meminta anak menghitung jumlah sudut dan titik sudut persegi panjang dengan mengambil persegi panjang yang berukuran paling besar dengan cara meraba dan membilang seperti saat mengerjakan kartu soal 3.01.

  49. Direktris meminta anak untuk menuliskan jawaban jumlah titik sudut dan sudut di lembar kerja.

  50. Direktris meminta anak untuk mengembalikan persegi pada bingkainya.

  51. Direktris mengeluarkan kartu soal 4.01.

  52. Direktris mengambil persegi panjang berwarna biru beserta bingkainya yang berwarna kuning dengan ukuran yang paling kecil dan diletakkan di depan anak.

  53. Direktris mengambil persegi biru dan mengisolasikan di sebelah kiri siswa.

  54. Direktris menjiplak bangun persegi dengan bingkai yang berwarna kuning menggunakan pulpen hitam di lembar kerja.

  55. Direktris mengambil persegi yang berwarna biru lalu meletakkan di atas hasil jiplakan dengan bingkai yang berwarna kuning sambil mengatakan “tepat” lalu menjiplak kembali segitiga biru yang diletakkan di atas jiplakan menggunakan pulpen merah.

  56. Direktris meminta anak untuk menjiplak dua persegi lainnya dengan mengatakan “mau melanjutkan?”

  57. Direktris meminta anak mengembalikan persegi ke dalam rak.

  58. Direktris mengeluarkan kartu soal 4.02.

  59. Direktris mengambil persegi panjang berwarna biru beserta bingkainya yang berwarna kuning dengan ukuran yang paling kecil dan diletakkan di depan anak.

  60. Direktris mengambil persegi panjang warna biru dan mengisolasikan di sebelah kiri siswa.

  61. Direktris menjiplak bangun persegi panjang dengan bingkai yang berwarna kuning menggunakan pulpen hitam di lembar kerja.

  62. Direktris mengambil persegi panjang yang berwarna biru lalu meletakkan di atas hasil jiplakan dengan bingkai yang berwarna kuning sambil mengatakan “tepat” lalu menjiplak kembali segitiga biru yang diletakkan di atas jiplakan menggunakan pulpen merah.

  63. Direktris meminta anak untuk menjiplak dua persegi panjang lainnya dengan mengatakan “mau melanjutkan?”

  64. Direktris mengembalikan rak 1.

  Pengenalan Segitiga 1. Direktris mengambil rak 2 dan diletakkan di depan anak.

  2. Direktris mengeluarkan segitiga siku-siku, segitiga lancip, dan segitiga tumpul warna biru kemudian diletakkan di depan anak dan rak 2 diisolasikan di depan direktris.

  3. Direktris menunjukkan kepada anak segitiga siku-siku warna biru lalu meraba setiap sisi bangun bagian pasir dan meminta anak untuk merabanya.

  4. Direktris mengambil salah satu bingkai segitiga yang berwarna kuning.

  5. Direktris menempatkan segitiga siku-siku pada pojok bingkai yang berbentuk persegi lalu mengatakan “tepat, 90 derajat” dan meminta anak untuk merabanya.

  6. Direktris memutar ke kanan sehingga segitiga warna biru terlihat tidak memenuhi tepat di pojokan bingkai kuning lalu mengatakan “lebih kecil, kurang dari 90 derajat” dan meminta anak untuk merabanya.

  7. Direktris memutar ke kanan lagi sehingga segitiga warna biru terlihat tidak memenuhi tepat di pojokan bingkai kuning lalu mengatakan “lebih kecil, kurang dari 90 derajat” dan meminta anak untuk merabanya.

  8. Direktris memberi nama dengan mengatakan “segitiga siku-siku, memiliki satu sudut 90 derajat dan dua sudut kurang dari 90 derajat.”

  9. Direktris mengisolasi segitiga siku-siku di sebelah kiri anak.

  10. Direktris menunjukkan kepada anak segitiga lancip warna biru lalu meraba setiap sisi bangun bagian pasir dan meminta anak untuk merabanya.

  11. Direktris menempatkan segitiga lancip pada pojok bingkai yang berbentuk persegi lalu mengatakan “lebih kecil, kurang dari 90 derajat” dan meminta anak untuk merabanya.

  12. Direktris memutar ke kanan sehingga segitiga warna biru terlihat tidak memenuhi tepat di pojokan bingkai kuning lalu mengatakan “lebih kecil, kurang dari 90 derajat” dan meminta anak untuk merabanya.

  13. Direktris memutar ke kanan lagi sehingga segitiga warna biru terlihat tidak memenuhi tepat di pojokan bingkai kuning lalu mengatakan “lebih kecil, kurang dari 90 derajat” dan meminta anak untuk merabanya.

  14. Direktris memberi nama dengan mengatakan “segitiga lancip, memiliki tiga sudut yang kurang dari 90 derajat.”

  15. Direktris mengisolasi segitiga lancip di sebelah segitiga siku-siku.

  16. Direktris menunjukkan kepada anak segitiga tumpul warna biru lalu meraba setiap sisi bangun bagian pasir dan meminta anak untuk merabanya.

  17. Direktris menempatkan segitiga tumpul pada pojok bingkai yang berbentuk persegi lalu mengatakan “lebih besar, lebih dari 90 derajat” dan meminta anak untuk merabanya.

  18. Direktris memutar ke kanan sehingga segitiga warna biru terlihat tidak memenuhi tepat di pojokan bingkai kuning lalu mengatakan “lebih kecil, kurang dari 90 derajat” dan meminta anak untuk merabanya.

  19. Direktris memutar ke kanan lagi sehingga segitiga warna biru terlihat tidak memenuhi tepat di pojokan bingkai kuning lalu mengatakan “lebih kecil, kurang dari 90 derajat” dan meminta anak untuk merabanya.

  20. Direktris memberi nama dengan mengatakan “segitiga tumpul, memiliki satu sudut yang lebih dari 90 derajat dan dua sudut kurang dari 90 derajat.”

  21. Direktris mengambil kembali segitiga siku-siku, segitiga lancip, dan segitiga tumpul dan meletakkan kembali di depan anak.

  22. Direktris meminta anak untuk menunjukkan bangun segitiga siku-siku dengan berkata “Mana segitiga siku-siku?” kemudian anak menunjuk bangun segitiga siku-siku.

  23. Direktris meminta anak untuk menunjukkan bangun segitiga lancip dengan berkata “Mana segitiga lancip?” kemudian anak menunjuk bangun segitiga lancip.

  24. Direktris meminta anak untuk menunjukkan bangun segitiga tumpul dengan berkata “Mana segitiga tumpul?” kemudian anak menunjuk bangun segitiga tumpul.

  25. Direktris menunjuk bangun segitiga siku-siku lalu bertanya “Ini bangun apa?”

  26. Direktris menunjuk bangun segitiga lancip lalu bertanya “Ini bangun apa?”

  27. Direktris menunjuk bangun segitiga tumpul lalu bertanya “Ini bangun apa?”

  28. Direktris meminta anak menunjukkan bangun segitiga siku-siku dengan kartu soal 1.03.

  29. Direktris meminta anak menunjukkan bangun segitiga lancip dengan kartu soal 1.04.

  30. Direktris meminta anak menunjukkan bangun segitiga tumpul dengan kartu soal 1.05.

  31. Direktris meminta anak mengembalikan segitiga siku-siku, segitiga lancip, dan segitiga tumpul ke dalam bingkainya.

  32. Direktris mengeluarkan segitiga sama sisi, segitiga sama kaki, dan segitiga sembarang warna biru kemudian diletakkan di depan anak.

  33. Direktris menunjukkan kepada anak segitiga sama sisi warna biru lalu meraba setiap sisi bangun bagian pasir dan mengulangi meraba sisi yang sama panjang sambil mengatakan “semua sisi sama“ dan meminta anak untuk merabanya kemudian direktris memberi nama dengan mengatakan “segitiga sama sisi.“ 34. Direktris mengisolasi segitiga sama sisi di sebelah kiri anak.

  35. Direktris menunjukkan kepada anak segitiga sama kaki warna biru lalu meraba dua sisi bangun bagian pasir yang ukurannya sama sambil mengatakan “kedua sisi sama“ dan meminta anak untuk merabanya kemudian direktris memberi nama dengan mengatakan “segitiga sama kaki.“ 36. Direktris mengisolasi segitiga sama kaki di sebelah segitiga sama sisi.

  37. Direktris menunjukkan kepada anak segitiga sembarang warna biru lalu meraba setiap sisi bangun bagian pasir sambil mengatakan “ketiga sisi tidak sama“ dan meminta anak untuk merabanya kemudian direktris memberi nama dengan mengatakan “segitiga sembarang.“

  38. Direktris mengambil kembali segitiga sama sisi, segitiga sama kaki, dan segitiga sembarang dan meletakkan kembali di depan anak.

  39. Direktris meminta anak untuk menunjukkan bangun segitiga sama sisi dengan berkata “Mana segitiga sama sisi?” kemudian anak menunjuk bangun segitiga sama sisi.

  40. Direktris meminta anak untuk menunjukkan bangun segitiga sama kaki dengan berkata “Mana segitiga sama kaki?” kemudian anak menunjuk bangun segitiga sama kaki.

  41. Direktris meminta anak untuk menunjukkan bangun segitiga sembarang dengan berkata “Mana segitiga sembarang?” kemudian anak menunjuk bangun segitiga sembarang.

  42. Direktris menunjuk bangun segitiga sama sisi lalu bertanya “Ini bangun apa?”

  43. Direktris menunjuk bangun segitiga sama kaki lalu bertanya “Ini bangun apa?”

  44. Direktris menunjuk bangun segitiga sembarang lalu bertanya “Ini bangun apa?”

  45. Direktris meminta anak menunjukkan bangun segitiga sama sisi dengan kartu soal 1.06.

  46. Direktris meminta anak menunjukkan bangun segitiga sama kaki dengan kartu soal 1.07.

  47. Direktris meminta anak menunjukkan bangun segitiga sembarang dengan kartu soal 1.08.

  48. Direktris mengambil kartu soal 2.03 untuk mengetahui jumlah sisi segitiga siku-siku.

  49. Direktris mengambil segitiga siku-siku lalu meraba setiap sisi yang berpasir satu per satu sambil membilang “satu, dua, tiga” dan meminta anak untuk melakukannya.

  50. Direktris meminta anak untuk menuliskan jawaban jumlah sisi segitiga sama sisi di lembar kerja.

  51. Direktris meminta anak untuk mengembalikan segitiga siku-siku pada bingkainya.

  52. Direktris mengambil kartu soal 2.04 dan meminta anak untuk mengerjakannya seperti yang sudah dilakukan saat mengerjakan kartu soal 2.03 dengan berkata “Mau melanjutkan?” langkah ini dilakukan sampai pada kartu soal 2.08.

  53. Direktris mengambil kartu soal 3.03 untuk mengetahui jumlah sudut dan titik sudut segitiga lancip.

  54. Direktris mengambil segitiga siku-siku lalu meraba sisi yang berpasir dengan membentuk sudut sambil berkata “sudut” dan membilang “satu, dua, tiga” dan meminta anak untuk melakukannya.

  55. Direktris menunjuk setiap pojok pada segitiga siku-siku sambil megatakan “titik sudut” dan membilangnya “satu, dua, tiga” dan meminta anak melakukannya.

  56. Direktris meminta anak untuk menuliskan jawaban jumlah sudut dan titik sudut di lembar kerja.

  57. Direktris meminta anak untuk mengembalikan segitiga lancip pada bingkainya.

  58. Direktris mengambil kartu soal 3.04 dan meminta anak untuk mengerjakannya seperti yang sudah dilakukan saat mengerjakan kartu soal 3.03 dengan berkata “Mau melanjutkan?” langkah ini dilakukan sampai pada kartu soal 3.08.

  59. Direktris mengeluarkan kartu soal 4.03.

  60. Direktris mengambil segitiga siku-siku berwarna biru beserta bingkainya yang berwarna kuning dengan ukuran yang paling kecil dan diletakkan di depan anak.

  61. Direktris mengambil segitiga siku-siku warna biru dan mengisolasikan di sebelah kiri siswa.

  62. Direktris menjiplak bangun persegi panjang dengan bingkai yang berwarna kuning menggunakan pulpen hitam di lembar kerja.

  63. Direktris mengambil persegi panjang yang berwarna biru lalu meletakkan di atas hasil jiplakan dengan bingkai yang berwarna kuning sambil mengatakan “tepat” lalu menjiplak kembali segitiga biru yang diletakkan di atas jiplakan menggunakan pulpen merah.

  64. Direktris mengambil kartu soal 4.04 dan meminta anak untuk mengerjakannya seperti yang sudah dilakukan saat mengerjakan kartu soal 4.03 dengan berkata “Mau melanjutkan?” langkah ini dilakukan sampai pada kartu soal 4.08.

  65. Direktris mengembalikan rak 2.

  CURRICULUM VITAE Mukti Sari Putri lahir di Yogyakarta, 9

  September 1991. Pendidikan dasar di SDN Randusari Yogyakarta dari tahun 1997 dan tamat pada tahun 2003. Pendidikan menengah pertama diperoleh di SMP Negeri I Ngemplak Yogyakarta dari tahun 2003, tamat pada tahun 2006. Pendidikan menengah atas diperoleh di SMA Negeri I Kalasan Yogyakarta dari tahun 2006, tamat pada tahun 2009.

  Pada tahun 2009, peneliti tercatat sebagai mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Selama menempuh pendidikan di PGSD, peneliti mengikuti berbagai kegiatan di luar perkuliahan. Kegiatan tersebut meliputi, Parade Gamelan Anak Se DIY-Jateng sebagai sekretaris, mengikuti setiap workshop Montessori yang digelar di PGSD, dan peneliti juga berhasil menjuarai lomba rancangan pembelajaran permainan tradisional yang diselenggarakan oleh PGSD. Peneliti juga aktif dalam kegiatan karawitan gereja dan kepengurusan organisasi kepemudaan baik di desa maupun di gereja. Masa pendidikan di Universitas Sanata Dharma diakhiri dengan menulis skripsi sebagai tugas akhir yang berjudul “Pengembangan Alat Peraga Ala Montessori untuk Keterampilan Geometri Matematika Kelas III SDN Tamanan I Yogyakarta.”

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengembangan alat peraga montessori materi perkalian untuk siswa kelas II SD.
0
38
299
Pengembangan alat peraga pembelajaran Matematika untuk siswa kelas III SD materi perkalian berbasis metode Montessori.
2
18
357
Implementasi alat peraga pembagian berbasis metode Montessori pada pembelajaran matematika materi pembagian kelas II SD Kanisius Kenalan Magelang.
4
14
253
Pengembangan alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung matematika kelas IV SDN Tamanan 1 Yogyakarta.
1
22
138
Pengembangan alat peraga perkalian ala Montessori untuk siswa kelas II SD Krekah Yogyakarta.
1
30
135
Pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan ala Montessori untuk siswa kelas I SD Krekah Yogyakarta.
3
40
152
Pengembangan alat peraga matematika materi perkalian untuk siswa dengan lambat belajar di SD Muhammadiyah Sagan Yogyakarta
0
3
200
Pengembangan alat peraga montessori materi perkalian untuk siswa kelas II SD
0
6
297
Pengembangan multimedia interaktif untuk keterampilan berbicara bahasa Indonesia kelas V SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta - USD Repository
0
0
178
Pengembangan multimedia interaktif untuk keterampilan menyimak unsur-unsur cerita bahasa Indonesia kelas V SD Kanisius Sorowajan Yogyakarta - USD Repository
0
1
200
Pengembangan multimedia interaktif untuk keterampilan membaca bahasa Indonesia kelas V SD Kanisius Sorowajan Yogyakarta - USD Repository
0
1
135
Pengembangan multimedia interaktif untuk keterampilan membaca sekilas bahasa Indonesia kelas V SD Kanisius Gayam Yogyakarta - USD Repository
0
0
199
Pengembangan alat peraga penjumlahan dan pengurangan ala Montessori untuk siswa kelas I SD Krekah Yogyakarta - USD Repository
0
2
150
Pengembangan multimedia interaktif untuk keterampilan berbicara bahasa Indonesia kelas V SD Kristen Kalam Kudus Yogyakarta - USD Repository
0
0
168
Pengembangan alat peraga perkalian ala Montessori untuk siswa kelas II SD Krekah Yogyakarta - USD Repository
1
6
133
Show more