Gaya bahasa kiasan dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut dan Atmo karya besar S.W. - USD Repository

Gratis

0
0
124
7 months ago
Preview
Full text

  GAYA BAHASA KIASAN DALAM KUMPULAN CERITA PENDEK RORO MENDUT & ATMO KARYA BESAR S.W. SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Disusun Oleh: Lilid Perwira Setya 074114003 PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA 2013

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tugas akhir yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 24 Mei 2013 Lilid Perwira Setya

  

Pernyataan Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah

Untuk Kepentingan Akademis

  Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Lilid Perwira Setya NIM : 074114003 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada

  Perpustakaan Universitas Sanata Dharma tugas akhir saya yang berjudul "Gaya Bahasa Kiasan dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut & Atmo karya Besar S.W." beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak menyimpan, mengalihkan dalam bentuk ini, mengelolahnya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikannya di internet atau media yang lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya ataupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

  Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Yogyakarta, 24 Mei 2013 Yang menyatakan, Lilid Perwira Setya

  T ulisan ini ku persembahkan untuk: B apakku, (Alm) D rs. B esar S ubagiyo W agimin, T erimakasih atas cinta dan kasih sayang yang kauberi M amaku, T risminafaati, T erimakasih atas kesabaran dan kekuatan yang selalu kauberikan K akakku tersayang, P radana Puspita Paramaningtyas dan adik kecilku, K inaton Ageng L aksono

  

ABSTRAK

  Setya, Lilid Perwira. 2013. "Gaya Bahasa Kiasan dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut & Atmo karya Besar S.W." Skripsi Strata 1 (S-l).

  Yogyakarta: Program Studi Sastra Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma. Dalam tugas akhir ini diteliti gaya bahasa kiasan dalam kumpulan cerita pendek

  

Roro Mendut & Atmo karya Besar S.W. Ada dua masalah yang dibahas: a) gaya

  bahasa kiasan apa saja yang terdapat dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut

  

& Atmo karya Besar S.W, dan b) apa saja fungsi gaya bahasa kiasan dalam

  kumpulan cerita pendek Roro Mendut & Atmo karya Besar S.W? Penelitian dilakukan melalui tiga tahap, yaitu pengumpulan data, analisis data, dan pemaparan hasil analisis data. Data diperoleh dari kumpulan cerita pendek Roro Mendut & Atmo. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dan teknik catat. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan metode padan dan metode agih. Metode padan yang digunakan adalah metode padan referensial yang alat penentunya adalah kenyataan yang ditunjukkan oleh bahasa atau referen bahasa. Metode ini dilanjutkan dengan metode agih yang menggunakan teknik dasar bagi unsur langsung. Setelah itu dilanjutkan dengan teknik ganti dan teknik baca markah. Pemaparan hasil analisis data dilakukan dengan metode formal dan informal.

  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gaya bahasa kiasan yang terdapat dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut & Atmo karya Besar S.W. terdiri atas delapan jenis, meliputi gaya bahasa persamaan atau simile, metafora, personifikasi, alusi, epitet, antonomasia, ironi, dan inuendo. Fungsi gaya bahasa kiasan dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut & Atmo terdiri dari lima macam fungsi, meliputi fungsi ironi, fungsi menghaluskan, fungsi melebihkan, fungsi keindahan, dan fungsi mengungkapkan sesuatu secara tidak langsung. Fungsi keindahan dibagi lagi menjadi tiga, yaitu bunyi, pencitraan, dan diksi. Bunyi dibagi menjadi lima jenis yaitu aliterasi, asonansi, anafora, eufoni, dan kakafoni. Pencitraan dibagi menjadi tiga jenis, yaitu citra penglihatan, citra gerakan, dan citraan lain-lain. Diksi dibagi menjadi dua jenis, yaitu kata arkaik serta kata bahasa daerah dan asing. Fungsi mengungkapkan sesuatu secara tidak langsung terdiri dari dua jenis, meliputi tindak tutur tidak langsung dan tindak tutur tidak literal.

  

ABSTRACT

  Setya, Lilid Perwira. 2013. "Figure of Speech in Roro Mendut & Atmo Short Stories Antology by Besar S.W." An Undergraduate Thesis. Yogyakarta: Indonesian Letters Study Programme. Department of Indonesian Letters.

  Faculty of Letters. Sanata Dharma University. This research is intended to analyze figure of speech in Roro Mendut & Atmo Short Stories Antology by Besar S.W. There were two problem formulations: a) what kind figure of speech that found in Roro Mendut & Atmo Short Stories Antology by Besar S.W, b) what is the function figure of speech in Roro Mendut

  & Atmo Short Stories Antology by Besar S.W?

  This research is conducted in three stages. They are collecting data, analyzing data, and describing of data analyzing result. The data is collected from the Roro Mendut & Atmo Short Stories Antology. The data is collected using listening and writing method. The data in this research is analyzed using padan (identity) method and agih (distributional) method. Padan (identity) method that used is referential (identity) method is the decisive factor in the fact that showed by language or language reference. This method continued by agih method that used direct divide unsure, basic technique. And next technique that used is change technique and baca markah technique. The describtion result of data analysis is carried on by formal and informal method.

  The result of this research showed that figure of speech in Roro Mendut &

  

Atmo Short Stories Antology by Besar S.W. consist of eight types, they are simile,

metaphor, personification, allusion, epithet, antonomasia, irony, and innuendo.

  Figure of speech function in Roro Mendut & Atmo Short Stories Antology consist of five function, they were irony function, refine sense meaning function, hyperbola function, poetical function, and pronounce something indirectly function. Poetical function divided in to three types, they are sounds, imagery, and diction. Sounds divided in to five types, they are alliteration, assonance, anaphora, euphony, and kakaphony. Imagery divided in to three types, they are seeing imagery, moving imagery, and various imagery. Diction divide in to two types, which is archaic word and foreign language and local dialect. Pronounce something indirectly function consist of two types, which is indirect speech act and unliterally speech act.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena perkenan-Nyalah skripsi yang berjudul "Gaya Bahasa Kiasan dalam kumpulan cerita pendek Roro karya Besar S.W." dapat diselesaikan. Skripsi ini disusun untuk

  Mendut & Atmo

  memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana S-l pada Program Studi Sastra Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma.

  Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini dapat diselesaikan berkat dukungan, nasihat, bantuan, dan doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan dan mengucapkan penghargaan sebagai rasa terima kasih kepada :

  1. Prof. Dr. I. Praptomo. Baryadi, M. Hum., selaku dosen pembimbing I yang dengan sabar, teliti, setia membimbing dan memberikan motivasi selama proses penyusunan skripsi ini,

  2. Drs. Hery. Antono, M. Hum., selaku dosen pembimbing II atas kesabarannya memberikan koreksi dan arahan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

  3. Dr. P. Ari Subagyo, M.Hum., S.E. Peni Adji, S.S., M.Hum., Dra. F.

  Tjandrasih Adji, M.Hum., Drs. B. Rahmanto, M. Hum., Drs. FX. Santosa, M.S., dan Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., atas bimbingan yang diberikan selama penulis belajar di Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma,

  4. Seluruh staf Sekretariat Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah membantu kelancaran pembuatan skripsi ini,

  5. Perpustakaan Universitas Sanata Dharma, tempat mencari sumber data bagi keperluan penulisan skripsi ini.

  6. Keluarga tercinta, bapakku (alm) Drs. Besar Subagiyo Wagimin, mamaku Trisminafaati, kakakku Pradana Puspita Paramaningtyas, dan adikku Kinaton Ageng Laksono.

  7. Sahabat-sahabatku, Diana Maria Adriana dan Agustina Tri Tresnaning Tyas untuk kebersamaan kita selama ini,

  8. Keluarga besar (alm) Damiri Djoko Poerwito dan (almh) Lasinah Djoko Poerwito,

  9. Teman terdekatku, Gregorius Joko Briyandewo yang selalu menemani dan meluangkan waktunya.

  Penulis menyadari bahwa segala sesuatu tiada yang sempurna. Demikian juga skripsi ini jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, segala kritik dan saran yang membangun penulis terima dengan terbuka. Penulis berharap semoga skripsi ini berguna dan bermanfaat bagi masyarakat.

  Yogyakarta, 24 Mei 2013 Penulis

  DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL ............................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING...................................... ii HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ............................................... iii PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................. iv LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI.............................................. v HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................. vi ABSTRAK ............................................................................................ vii

  

ABSTRACT ............................................................................................ vii

  KATA PENGANTAR ........................................................................... ix DAFTAR ISI ......................................................................................... xi DAFTAR TABEL ................................................................................. xiii BAB I: PENDAHULUAN .....................................................................

  1 1.1 Latar Belakang ....................................................................

  1 1.2 Rumusan Masalah ................................................................

  3 1.3 Tujuan Penelitian..................................................................

  3 1.4 Manfaat Penelitian................................................................

  4 1.5 Tinjauan Pustaka ..................................................................

  4 1.6 Landasan Teori.....................................................................

  6 1.6.1 Pengertian Gaya Bahasa ..........................................

  6 1.6.2 Jenis-jenis Gaya Bahasa ...........................................

  7 1.6.3 Kajian Stilistika........................................................

  14 1.7 Metode Penelitian.................................................................

  18 1.7.1 Metode dan Teknik Penyediaan Data .......................

  19 1.7.2 Metode dan Teknik Analisis Data.............................

  19 1.7.3 Metode Penyajian Hasil Analisis Data .....................

  21 1.8 Sumber Data.........................................................................

  22 1.9 Sistematika Penyajian ..........................................................

  22 BAB II: JENIS-JENIS GAYA BAHASA KIASAN DALAM KUMPULAN CERPEN RORO MENDUT & ATMO KARYA BESAR S. W ............................................................

  23 2.1 Pengantar .............................................................................

  23 2.2 Persamaan atau Simile..........................................................

  23 2.3 Metafora...............................................................................

  25 2.4 Personifikasi.........................................................................

  57 2.5 Alusi.....................................................................................

  64 2.6 Epitet....................................................................................

  67 2.7 Antonomasia ........................................................................

  69 2.8 Ironi .....................................................................................

  70 2.9 Inuendo ................................................................................

  74

  BAB III: FUNGSI GAYA BAHASA KIASAN DALAM KUMPULAN CERPEN RORO MENDUT & ATMO KARYA BESAR S. W ...........................................................

  76 3.1 Pengantar .............................................................................

  76 3.2 Fungsi Ironi ..........................................................................

  76 3.3 Fungsi Menghaluskan...........................................................

  79 3.4 Fungsi Melebihkan ...............................................................

  83 3.5 Fungsi Keindahan.................................................................

  86 3.5.1 Bunyi..........................................................................

  86 3.5.1.1 Aliterasi .........................................................

  87 3.5.1.2 Asonansi ........................................................

  87 3.5.1.3 Anafora ..........................................................

  89 3.5.1.4 Eufoni ............................................................

  90 3.5.1.5 Kakafoni ........................................................

  90 3.5.2 Pencitraan ....................................................................

  91 3.5.2.1 Citra Pengelihatan ..........................................

  92 3.5.2.2 Citra Gerakan .................................................

  93 3.5.2.3 Citraan lain-lain..............................................

  94 3.5.3 Diksi.............................................................................

  97 3.5.3.1 Kata Arkaik....................................................

  97

  3.5.3.2 Kata Bahasa Daerah dan Asing....................... 100

  3.6 Fungsi Mengungkapkan Sesuatu Secara Tidak Langsung ..... 103

  3.6.1 Tindak Tutur Tidak Langsung....................................... 103

  3.6.2 Tindak Tutur Tidak Literal............................................ 105

  BAB IV: PENUTUP .............................................................................. 107

  4.1 Kesimpulan .......................................................................... 107

  4.2 Saran .................................................................................... 108 Daftar Pustaka............................................................................................ 109 Tentang Penulis ..................................................................................... 111

  DAFTAR TABEL Tabel 1: Gaya Bahasa Metafora Hidup...................................................

  40 Tabel 2: Gaya Bahasa Metafora Mati .....................................................

  54 Tabel 3: Gaya Bahasa Personifikasi .......................................................

  64 Tabel 4: Gaya Bahasa Alusi ...................................................................

  66 Tabel 5: Fungsi Menghaluskan ..............................................................

  82

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Dalam skripsi ini dilaporkan hasil penelitian tentang gaya bahasa kiasan yang terdapat dalam kumpulan cerita pendek (cerpen) Roro Mendut & Atmo karya Besar S.W yang diterbitkan oleh penerbit Mediantara Semesta pada tahun 2006. Kumpulan cerita pendek ini terdiri atas 6 judul, yaitu “Roro Mendut Triman”, “Atmo Jogja”, “Menelusuri Jejak Si Korban”, “Akhir Cerita Pendek Ratri”, “Laisah Dipinang”, dan “Sosok yang Hilang”. Sampai saat ini Besar S.W telah menghasilkan beberapa buku, yaitu kumpulan puisi “Ning”, kumpulan cerita rakyat “Tabiat-tabiat”, dan biografi H. M. Qiyamuddin Saman yang berjudul “Si Gembala Pulang Kandang”.

  Salah satu hal yang menonjol dalam kumpulan cerita pendek ini adalah penggunaan bahasa yang tidak sesuai dengan zamannya. Gaya bahasa yang digunakan terlalu modern untuk latar abad ke-17 di Tanah Jawa. Hal ini kebanyakan terdapat dalam cerita pendek “Roro Mendut Triman”. Hal lain yang menarik adalah penggunaan gaya bahasa kiasan dalam kumpulan cerita pendek ini.

  Berikut ini adalah contoh tuturan dalam kumpulan cerita pendek tersebut, “Majulah, jangan hanya bersilat lidah!” (Roro Mendut & Atmo, hal 12). Pada contoh tersebut terdapat gaya bahasa metafora yang ditunjukkan dengan frasa

  

bersilat lidah . Frasa bersilat lidah mempunyai makna ‘berdebat’. Dalam Kamus

Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 669) kata lidah mempunyai arti

  ‘bagian tubuh dalam mulut yang dapat bergerak-gerak dengan mudah, gunanya untuk menjilat, mengecap, dan berkata-kata’. Kata bersilat mempunyai arti bermain atau berkelahi dengan menggunakan ketangkasan menyerang dan mempertahankan diri (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2002: 1065).

  Penulis lebih memilih menggunakan kata bersilat lidah karena kata tersebut lebih dapat mengungkapkan ketegangan situasi ketika Tumenggung Wiroguno terhadap kumpulan cerita pendek Roro Mendut & Atmo.

  Gaya bahasa kiasan yang berjenis personifikasi, yaitu “Dinding kamarnya

  

menatap Galang penuh kesangsian” (Roro Mendut & Atmo, hal 84). Pada contoh

tersebut unsur yang menunjukkan gaya bahasa personifikasi adalah kata menatap.

  Kata menatap merupakan sifat manusia dalam memperhatikan atau melihat suatu objek. Dalam kalimat tersebut menatap menunjukkan pengandaian bahwa dinding kamar memiliki mata sehingga dapat melihat dengan menggunakan matanya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 1149) kata menatap mempunyai arti melihat atau memperhatikan objek, biasanya dalam jarak dekat, dengan seksama dan durasi yang agak panjang. Dalam hal ini penulis lebih memilih menggunakan kata menatap karena dalam kalimat ini terlihat bahwa seluruh perhatian dinding kamar itu tercurah pada Galang karena sumpah yang diucapkannya. Hal ini dapat dilihat dari kalimat yang mendukungnya, yaitu “Ucapan lidahnya yang minta disaksikan oleh pihak lain, bahkan alam, adalah sumpah” (Roro Mendut & Atmo, hal 84).

  Dipilihnya topik penelitian tentang penggunaan gaya bahasa kiasan dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut & Atmo didasarkan atas alasan berikut.

  Pertama, perlu diungkap gaya bahasa kiasan apa saja yang digunakan dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut & Atmo. Kedua, belum adanya penelitian yang secara khusus mengkaji makna dan fungsi gaya bahasa kiasan dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut & Atmo ini. Penelitian ini dibatasi pada menimbulkan keindahan yang dimaksudkan

  1.2 Rumusan Masalah

  Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah, maka masalah yang akan diteliti sebagai berikut:

  1. Gaya bahasa kiasan apa saja yang digunakan dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut & Atmo karya Besar S.W?

  2. Apa saja fungsi gaya bahasa kiasan dalam kumpulan cerita pendek Roro karya Besar S.W?

  Mendut & Atmo

  1.3 Tujuan Penelitian

  Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Mendeskripsikan jenis-jenis gaya bahasa kiasan yang digunakan dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut & Atmo karya Besar S.W.

  2. Mendeskripsikan fungsi gaya bahasa kiasan dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut & Atmo karya Besar S.W.

  1.4 Manfaat Penelitian

  Hasil penelitian ini berupa jenis-jenis gaya bahasa kiasan dan apa saja fungsi gaya bahasa kiasan tersebut, diharapkan dapat memberikan manfaat teoretis dan praktis. Secara teoretis, hasil penelitian ini bermanfaat dalam bidang stilistika dan pragmatik. Dalam bidang stilistika, hasil penelitian ini bermanfaat untuk memperkaya khazanah kajian gaya bahasa kiasan. Dalam bidang pragmatik, diungkapkan dengan berbagai cara yang terwujud dalam gaya bahasa.

  Secara praktis, hasil penelitian tentang gaya bahasa kiasan dan fungsi gaya bahasa kiasan ini berguna bagi pengarang sebagai sarana agar karya yang diciptakan dapat menimbulkan efek keindahan. Selain itu, hasil penelitian ini juga bermanfaat bagi pembaca, yakni agar pembaca mengetahui gaya bahasa kiasan dan fungsi gaya bahasa kiasan dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut & Atmo karya Besar S.W.

  1.5 Tinjauan Pustaka

  Sejauh ini, peneliti belum menemukan adanya penelitian mengenai kumpulan cerita pendek Roro Mendut & Atmo karya Besar S.W ini ataupun mengenai gaya bahasa kiasannya. Oleh karena itu, untuk menambah penelitian tentang gaya bahasa, maka peneliti tertarik untuk meneliti mengenai gaya bahasa kiasan dalam kumpulan cerita pendek roro Mendut & Atmo karya Besar S.W. Namun peneliti menemukan bahwa telah ada tulisan tentang gaya bahasa, antara lain dalam skripsi yang berjudul ”Gaya Bahasa Kiasan dalam Wacana ”Ole Internasional” di Tabloid Bola Tanggal 3 Maret 2006 sampai dengan 22 September 2006”. Werokila membicarakan jenis gaya bahasa kiasan yang digunakan dalam suatu kalimat dalam wacana ”Ole Internasional” di tabloid Bola, dan mendeskripsikan fungsi gaya bahasa kiasan dalam wacana ”Ole Internasional”. Hasil penelitiannya berupa jenis-jenis gaya bahasa kiasan dalam wacana ”Ole Internasional” di tabloid Bola, terdiri atas gaya bahasa sinekdoke personifikasi, dan oksimoron. Ratna Yani Miarsari (2008) dalam skripsinya yang berjudul ”Analisis Medan Makna pada Gaya Bahasa Kiasan dalam Naskah Trilogi Film: Pirates of Carribbean”, membahas mengenai gaya bahasa kiasan apa saja yang digunakan dalam film tersebut dan menganalisis makna apa yang terkandung di dalamnya.

  Selain itu, Maria Franzisca Oki (2010) juga membahas gaya bahasa kiasan dalam skripsinya yang berjudul ”Penggunaan Gaya Bahasa Kiasan pada Novel

  

Sang Pemimpi karya Andrea Hirata”. Dalam skripsi tersebut dideskripsikan

  mengenai penggunaan gaya bahasa kiasan dan pengklasifikasiannya dalam novel

  

Sang Pemimpi karya Andrea Hirata berdasarkan buku Gorys Keraf yang berjudul

Diksi dan Gaya Bahasa . Gaya bahasa yang ditemukan juga mengacu pada

  kekhasan yang digunakan pengarangnya dan gaya bahasa yang memiliki hubungan dengan unsur intrinsik.

  Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan tersebut, peneliti memutuskan untuk mengadakan penelitian mengenai gaya bahasa kiasan dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut & Atmo karya Besar S.W. Dalam tugas akhir ini peneliti akan menganalisis gaya bahasa kiasan apa saja yang terdapat dalam kumpulan cerita pendek tersebut dan apa saja fungsi gaya bahasa kiasan tersebut.

1.6 Landasan Teori

  Untuk keperluan penelitian ini, perlu dikemukakan landasan teori tentang pengertian gaya bahasa dan jenis-jenis gaya bahasa.

1.6.1 Pengertian Gaya Bahasa

  Gaya bahasa, majas, kiasan, atau figure of speech adalah bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum. Pendek kata, penggunaan gaya bahasa tertentu dapat mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu (Tarigan, 1985: 5). Selain itu gaya bahasa adalah cara mempergunakan bahasa secara imajinatif bukan dalam pengertian yang benar-benar secara alamiah saja. Gaya bahasa merupakan bentuk retorik, yaitu penggunaan kata-kata dalam berbicara dan menulis untuk meyakinkan atau mempengaruhi penyimak dan pembaca. Di samping itu, gaya bahasa adalah cara mengungkapakan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Sebuah gaya bahasa yang baik harus mengandung 3 (tiga) unsur berikut: kejujuran, sopan santun, dan menarik (Keraf, 1984: 112). Gaya bahasa merupakan cara mengungkapkan diri sendiri baik melalui bahasa maupun tingkah laku dan sebagainya.

  Adapun cerita pendek adalah kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh di satu situasi (pada suatu ketika) (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008: 65). Edgar Allan Poe, sastrawan kenamaan dari Amerika, mengatakan bahwa cerita pendek adalah cerita yang habis dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam. Suatu hal yang kiranya tak mungkin macam. Cerita pendek yang hanya terdiri dari 500-an kata atau dikategorikan sebagai cerita pendek yang pendek (short-short-story). Selain itu ada juga cerita pendek yang panjang (long short story), yang terdiri dari puluhan (atau bahkan beberapa puluh) ribu kata (Nurgiyantoro, 2005: 10).

1.6.2 Jenis-Jenis Gaya Bahasa

  Teori tentang jenis-jenis gaya bahasa yang sering dipergunakan adalah pendapat Keraf dalam bukunya yang berjudul Diksi dan Gaya Bahasa (1984: 136- 145), yaitu gaya bahasa berdasarkan langsung atau tidaknya makna. Gaya bahasa ini biasanya disebut sebagai trope atau figure of speech. Gaya bahasa ini dibagi dalam dua kelompok, yaitu gaya bahasa retoris, yang semata-mata merupakan penyimpangan dari konstruksi biasa untuk mencapai efek tertentu, dan gaya bahasa kiasan yang merupakan penyimpangan yang lebih jauh, khususnya dalam bidang makna. Pada mulanya, bahasa kiasan berkembang dari analogi. Mula- mula, analogi dipakai dengan pengertian proporsi; sebab itu, analogi hanya menyatakan hubungan kuantitatif. Tapi sejak Aristoteles, kata analogi dipergunakan baik dengan pengertian kuantitatif maupun kualitatif. Dalam pengertian kuantitatif, analogi diartikan sebagai kemiripan atau relasi identitas antara dua pasangan istilah berdasarkan sejumlah besar ciri yang sama. Sedangkan dalam pengertian kualitatif, analogi menyatakan kemiripan hubungan sifat antara dua perangkat istilah. Dalam arti yang lebih luas ini, analogi lalu berkembang menjadi kiasan. Perbandingan dengan analogi ini kemudian muncul dalam bermacam-macam gaya bahasa kiasan, seperti diuraikan dibawah ini:

  Persamaan atau simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit. Yang dimaksud dengan perbandingan yang bersifat eksplisit ialah bahwa ia langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Untuk itu memerlukan upaya yang secara eksplisit menunjukkan kesamaan itu, yaitu kata-kata: seperti, sama, sebagai, bagaikan, laksana, dan sebagainya.

  b) Metafora

  Metafora adalah semacam analogi yang membandingakan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat: bunga bangsa yang bermakna pahlawan, buaya darat yang memiliki arti laki-laki yang suka berganti pasangan, buah hati yang bermakna anak, cindera mata yang bermakna kenang-kenangan, dan sebagainya.

  c) Alegori, Parabel, dan Fabel

  Bila sebuah metafora mengalami perluasan, maka metafora dapat berwujud alegori, parabel, atau fabel. Alegori adalah suatu cerita singkat yang mengandung kiasan. Makna kiasan ini harus ditarik dari bawah permukaan ceritanya. Dalam alegori, nama-nama pelakunya adalah sifat- sifat yang abstrak, serta tujuannya selalu jelas tersurat. Parabel (parabola) adalah suatu kisah singkat dengan tokoh-tokoh biasanya manusia, yang selalu mengandung tema moral. Istilah parabel dipakai untuk menyebut cerita-cerita fiktif di dalam Kitab Suci yang bersifat alegoris, untuk menyampaikan suatu kebenaran moral atau kebenaran spiritual. Fabel binatang-binatang bahkan mahluk-mahluk yang tidak bernyawa bertindak seolah-olah sebagai manusia. Tujuannya ialah menyampaikan ajaran moral atau budi pekerti, seperti dalam cerita-cerita dengan tokoh Si Kancil.

  d) Personifikasi atau Prosopopeia

  Personifikasi atau prosopopeia adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan, seperti dalam kalimat berikut: jam setengah dua belas, malam semakin diam.

  e) Alusi

  Alusi adalam semacam acuan yang berusaha mensugestikan kesamaan antara orang, tempat, atau peristiwa. Biasanya, alusi ini adalah suatu referensi yang eksplisit atau implisit kepada peristiwa-peristiwa, tokoh- tokoh, atau tempat dalam kehidupan nyata, mitologi, atau dalam karya- karya sastra yang terkenal. Misalnya sering dikatakan bahwa Bandung adalah Paris van Java .

  f) Eponim

  Adalah suatu gaya di mana seseorang yang namanya begitu sering dihubungkan dengan sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu. Misalnya: Hercules dipakai untuk menyatakan kekuatan; Hellen dari Troya untuk menyatakan kecantikan.

  g) Epitet

  ciri yang khusus dari seseorang atau suatu hal. Keterangan itu adalah suatu frasa deskriptif yang menjelaskan atau menggantikan nama seseorang atau suatu barang. Misalnya:

  Lonceng pagi untuk ayam jantan Puteri malam untuk bulan

  untuk singa, dan sebagainya.

  Raja rimba

  h) Sinekdoke

  Sinekdoke adalah suatu istilah yang diturunkan dari kata Yunani

  synekdechesthai yang berarti menerima bersama-sama. Sinekdoke adalah

  semacam bahasa figuratif yang mempergunakan sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto) atau mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian (totum pro parte). Misalnya:

  Setiap kepala dikenakan sumbangan sebesar Rp 1. 000,- Dalam pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Malaysia di

Stadion Utama Senayan, tuan rumah menderita kekalahan 3 – 4.

i) Metonimia

  Metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. Hubungan itu dapat berupa penemu untuk hasil penemuan, pemilik untuk barang yang dimiliki, akibat untuk sebab, sebab untuk akibat, isi untuk menyatakan kulitnya, dan sebagainya.

  Saya minum satu gelas, ia dua gelas. Ialah yang menyebabkan air mata yang gugur. Pena lebih berbahaya daripada pedang. Ia telah memeras keringat habis-habisan. j) Antonomasia

  Antonomasia merupakan suatu bentuk khusus dari sinekdoke yang berwujud penggunaan sebuah epiteta untuk menggantikan nama diri, atau gelar resmi, atau jabatan untuk menggantikan nama diri. Misalnya: Yang Mulia tak dapat menghadiri pertemuan ini.

  Pangeran yang meresmikan pembukaan seminar itu. k) Hipalase

  Hipalase adalah semacam gaya bahasa di mana sebuah kata tertentu dipergunakan untuk menerangkan sebuah kata, yang seharusnya dikenakan pada sebuah kata yang lain. Atau secara singkat dapat dikatakan bahwa hipalase adalah suatu kebalikan dari suatu relasi alamiah antara dua komponen gagasan. Misalnya:

  Ia berbaring di atas sebuah bantal yang gelisah (yang gelisah adalah manusianya, bukan bantalnya). l) Ironi, Sinisme, dan Sarkasme

  Sebagai bahasa kiasan, atau sindiran adalah suatu acuan yang ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dari apa yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya. Ironi akan berhasil kalau rangkaian kata-katanya. Misalnya:

  Tidak diragukan lagi bahwa Andalah orangnya, sehingga semua kebijaksanaan terdahulu harus dibatalkan seluruhnya! Saya tahu Anda adalah seorang gadis yang paling cantik di dunia ini yang perlu mendapat tempat terhormat!

  Terdapat juga istilah lain yaitu sinisme yang diartikan sebagai suatu sindiran berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. Walaupun sinisme dianggap lebih keras dari ironi, namun kadang-kadang masih sukar diadakan perbedaan antara keduanya. Bila contoh mengenai ironi di atas diubah, maka akan dijumpai gaya yang lebih bersifat sinis.

  Tidak diragukan lagi bahwa Andalah orangnya, sehingga semua kebijaksanaan akan lenyap bersamamu! Memang Anda adalah seorang gadis yang tercantik di seantero jagad ini yang mampu menghancurkan seluruh isi jagad ini.

  Sarkasme merupakan suatu acuan yang lebih kasar dari ironi dan sinisme. Ia adalah suatu acuan yang mengandung kepahitan dan celaan yang getir.

  Mulut kau harimau kau. Lihat sang Raksasa itu (maksudnya si Cebol). Kelakuanmu memuakkan saya.

  Uraian yang harus ditafsirklan lain dari makna permukaannya disebut satire. Satire adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu.

  Bentuk ini tidak perlu harus bersifat ironis. Satire mengandung kritik tentang kelemahan manusia. Tujuan utamanya adalah agar diadakan perbaikan secara etis maupun estetis. Misalnya:

  ”Tak ada yang berminat membaca tulisan jelekmu!” kata Ratri, ketua redaktur mading sekolah, pada Bram, anggota pengurus mading yang baru bergabung selama 3 hari. n) Inuendo

  Inuendo adalah semacam sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Ia menyatakan kritik dengan sugesti yang tidak langsung, dan sering tampaknya tidak menyakitnkan hati kalau dilihat sambil lalu. Misalnya:

  Setiap kali ada pesta, pasti ia akan sedikit mabuk karena terlalu kebanyakan minum.

  Ia menjadi kaya-raya karena sedikit mengadakan komersialisasi dengan jabatannya. o) Antifrasis

  Antifrasis adalah semacam ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan makna kebalikannya, yang bisa saja dianggap sebagai ironi sendiri, atau kata-kata yang dipakai untuk menangkal kejahatan, roh jahat,

  Engkau memang orang yang mulia dan terhormat! Lihatlah sang Raksasa telah tiba (maksudnya si Cebol). p) Pun atau paronomasia

  Pun atau paronomasia adalah kiasan dengan mempergunakan kemiripan bunyi. Ia merupakan permainan kata yang didasarkan pada kemiripan bunyi, tetapi terdapat perbedaan besar dalam maknanya.

  Tanggal dua gigi saya tanggal dua. ”Engkau orang kaya!” ”Ya, kaya monyet!”

1.6.3 Kajian Stilistika

  Stilistika (stylistic) adalah ilmu tentang gaya, sedangkan stil (style) secara umum adalah cara-cara yang khas, bagaimana segala sesuatu diungkapkan dengan cara tertentu, sehingga tujuan yang dimaksudkan dapat dicapai secara maksimal (Ratna, 2008: 3). Shipley dalam Ratna (2008: 8) mengatakan bahwa stilistika (stylistic) adalah ilmu tentang gaya (style), sedangkan style itu sendiri berasal dari arti kata stilus (Latin), semula berarti alat berujung runcing yang digunakan untuk menulis di atas bidang berlapis lilin. Pada dasarnya di sinilah terletak makna kata

  

stilus sehingga kemudian berarti gaya bahasa yang sekaligus berfungsi sebagai

  penggunaan bahasa yang khas. Dalam bidang bahasa dan sastra stil dan stylstic berarti cara-cara penggunaan bahasa yang khas sehingga menimbulkan efek tertentu (Ratna, 2008: 9).

  Tujuan utama gaya bahasa adalah menghadirkan aspek keindahan. Tujuan ini terjadi baik dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa sebagai sistem model dalam ruang lingkup kreativitas sastra. Meskipun demikian, menurut Wellek dan Warren dalam Ratna (2008: 67) kualitas estetis menjadi pokok permasalahan pada tataran bahasa kedua sebab dalam sastralah, melalui metode dan teknik diungkapkan secara rinci ciri-ciri bahasa yang disebut indah, sebagai stilistika. Menurut Wellek dan Warren ada dua cara yang dapat dilakukan untuk memahami timbulnya aspek-aspek keindahan tersebut, pertama, melalui analisis sistematis sistem linguistik karya sastra, dilanjutkan dengan makna total. Hasilnya adalah sistem linguistik yang khas karya tertentu, karya sastra seorang pengarang, atau sekelompok karya, sebagai periode. Kedua, dengan cara meneliti ciri-ciri estetis karya secara langsung sekaligus membedakannya dengan pemakaian bahasa biasa, seperti deviasi, distorsi, dan inovasi. Langkah-langkahnya, misalnya, mengamati terjadinya perulangan bunyi, inversi, hierarki klausa, yang secara keseluruhan berfungsi untuk menyembunyikan maksud yang sesungguhnya. Baik cara pertama maupun cara kedua sama-sama bertujuan untuk menemukan makna estetis (Ratna, 2008: 67- 68). Persamaan bunyi dalam pantun, seperti: //Berakit-rakit ke hulu, berenang- renang ke tepian// //Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian// bukan semata-mata konvensi tetapi ada kaitannya dengan struktur sosial yang melatarbelakanginya, sehingga sebuah karya di samping menampilkan ciri-ciri genesisnya juga terserap ke dalam kekinian pembacanya. Benar, sesuai dengan konvensi pantun harus ada persamaan bunyi antara ‘berakit-rakit’ dan bersakit- tepian’ dan ‘kemudian’. Tetapi, persamaan bunyi bukan semata-mata hiasan, tetapi memiliki makna yang sekaligus menopang kualitas persamaan bunyi tersebut. Pertama, pantun ini menunjuk situasi pedesaaan, pedalaman, di situ terdapat gunung, sungai, dan prasarana transportasi. Kedua, persamaan mengimplikasikan makna tekstual yang digali melalui semestaan tertentu di tempat karya tersebut lahir. Orang berakit-rakit ke hulu pasti menimbulkan kelelahan, kesakitan, sebaliknya, pada saat ketepian, menuju hilir, kita tinggal bersenang-senang, bahkan sambil bernyanyi dan bersiul. Ketiga, persamaan bunyi pada gilirannya mengevokasi kualitas estetis. Dari segi jumlah suku kata pada setiap baris, demikian juga permainan bunyinya, antara sampiran dan isi, pantun tersebut juga sangat baik. Pada tahap permukaan persamaan inilah memperoleh perhatian sehingga pantun tersebut sering digunakan dalam masyarakat. Di samping itu, persamaan bunyi juga berfungsi mempermudah untuk menghafalkannya (Ratna, 2008: 252-253).

  Di antara gaya, gaya bahasa, dan majas, dalam karya sastra jelas yang paling berperanan adalah gaya bahasa, cara-cara penggunaan medium bahasa secara khas sehingga tujuan dapat dicapai secara maksimal. Gaya lebih banyak berkaitan dengan karya seni nonsastra, sedangkan majas lebih banyak berkaitan dengan aspek kebahasaan. Dengan singkat, gaya bahasa meliputi gaya dan majas. Dalam hubungan ini tujuan yang dimaksudkan meliputi aspek estetis, etis, dan pragmatis. Oleh karena itulah, sebagai pendukung gaya bahasa, jenis majas yang paling dominan adalah penegasan. Untuk mencapai tujuan yang dimaksudkan, di Dominasi berikut ditunjukkan melalui majas perbandingan degan pertimbangan bahwa karya sastra adalah representasi kemampuan manusia untuk meresepsi keseluruhan aspek kehidupan dengan cara membandingkan. Pertentangan dan sindiran menduduki posisi terendah dengan pertimbangan bahwa dalam kehidupan ini kedua ciri tidak banyak dimanfaatkan oleh manusia (Ratna, 2008: 165-166).

  Metafora didefinisikan melalui dua pengertian, secara sempit dan luas. Pengertian secara sempit, metafora adalah majas seperti metonimia, sinekdoke, hiperbola, dan sebagainya. Pengertian secara luas meliputi semua bentuk kiasan, penggunaan bahasa yang dianggap ‘menyimpang’ dari bahasa baku. Dalam pembicaraan ini metafora lebih banyak ditinjau dalam kaitannya dengan pengertian kedua. Dikaitkan dengan pengertian gaya bahasa secara sempit, sebagai majas, yang secara tradisional sudah dikenal luas, yang dibedakan menjadi majas penegasan, perbandingan, pertentangan, dan majas sindiran, metafora termasuk salah satu unsur majas kedua, majas perbandingan. Dilihat dari hakikat karya sastra secara keseluruhan, sebagai kualitas estetis, perbandingan dianggap sebagai majas yang paling penting sebab semua majas pada dasarnya memiliki ciri-ciri perbandingan. Metaforalah yang paling banyak dan paling intens memanfaatkan perbandingan (Ratna, 2008: 181). Lebih lanjut menurut Scholes dalam Ratna (2008: 183), dengan mengadopsi pendapat Jakobson, semua bentuk kiasan pada dasarnya dapat disebutkan sebagai metafora.

  Dalam pengertian paling luas, stilistika dan estetika bekerja saling keindahan melibatkan berbagai sarana yang dimiliki gaya bahasa (Ratna, 2008: 251). Stilistika dan estetika jelas merupakan aspek penting dalam karya sastra. Stilistika berkaitan dengan medium utama, yaitu bahasa, keindahan berkaitan dengan hasil akhir dari kemampuan medium itu sendiri dalam menampilkan kekhasannya (Ratna, 2008: 253). Bahkan menurut Wellek dan Warren dalam Ratna (2008: 255) stilistika itulah, ilmu gaya dengan kualitas estetis yang dapat menjelaskan ciri-ciri khusus sastra. Stilistika dan estetika merupakan hubungan sebab akibat. Stilistika adalah bagaimana bahasa disusun, digunakan, bahkan dengan melakukan pelanggaran puitika, sehingga melahirkan keindahan. Dilihat dari segi keindahan itu sendiri, jelas pemahamannya tidak tetap, berubah sepanjang waktu, sesuai dengan proses hubungan antara karya sastra dengan subjek penikmat (Ratna, 2008: 255).

1.7 Metode Penelitian

  Penelitian ini meliputi 3 (tiga) tahap, yakni: (i) penyediaan data, (ii) analisis data, dan (iii) penyajian hasil analisis. Berikut diuraikan metode dan teknik untuk masing-masing tahap dalam penelitian ini.

  1.7.1 Metode dan Teknik Penyediaan Data

  Objek penelitian ini adalah gaya bahasa dalam kumpulan cerita pendek

  

Roro Mendut & Atmo karya Besar S.W. Objek penelitian berada dalam data yang

  berupa kalimat. Data diperoleh dari sumber tertulis, yaitu kumpulan cerita pendek

  

Roro Mendut & Atmo karya Besar S.W yang terdiri atas 6 cerpen, yaitu ”Roro

  Mendut Triman”, ”Atmo Jogja”, ”Menelusuri Jejak Si Korban”, ”Akhir Cerita dilakukan dengan menggunakan metode simak, yaitu menyimak penggunaan bahasa (Sudaryanto, 1993: 133). Dalam penerapan lebih lanjut, digunakan teknik catat yakni kegiatan mencatat data yang diperoleh dalam kartu data (Sudaryanto, 1993: 80). Kartu data berupa lembaran-lembaran kertas berukuran 20 cm x 16 cm. Tiap-tiap kartu data berisi beberapa kalimat yang mengandung gaya bahasa.

  1.7.2 Metode dan Teknik Analisis Data

  Langkah kedua adalah menganalisis data. Setelah data diklasifikasikan, kemudian dianalisis dengan menggunakan metode padan. Metode padan adalah metode yang alat penentunya di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan. Metode padan yang digunakan yaitu metode padan referensial yang alat penentunya adalah kenyataan yang ditunjukkan oleh bahasa atau referen bahasa (Sudaryanto, 1993: 13-14). Metode padan referensial digunakan untuk menentukan pengklasifikasian gaya bahasa. Karena gaya bahasa itu menyangkut masalah perbedaan makna unsur gaya bahasa dengan makna dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut & Atmo, maka metode padan dipandang sebagai metode yang tepat. Data yang sudah terkumpul lalu diklasifikasikan berdasarkan jenis gaya bahasa yang digunakan. Contoh gaya bahasa metafora, (1) Dasar anak ingusan tak tahu malu, wanita sudah ditriman masih dimau. Contoh gaya bahasa personifikasi,

  (2) Dan, dedaunan yang merimbunkan pepohonan di samping rumah Wijaya, sesaat menganga.

  Dalam penelitian ini juga digunakan metode agih, yaitu metode penelitian yang menggunakan bahasa itu sendiri sebagai alat penentunya (Sudaryanto, 1993: 31). Teknik yang digunakan dari metode agih ini adalah teknik bagi unsur langsung (BUL). Teknik BUL adalah teknik dasar metode agih yang membagi satuan lingual datanya menjadi beberapa bagian atau unsur; unsur-unsur yang bersangkutan dipandang sebagai bagian yang langsung membentuk satuan lingual yang dimaksud (Sudaryanto, 1993: 31).

  Teknik lanjutan dalam metode agih ini adalah teknik ganti dan teknik baca markah. Teknik ganti adalah teknik analisis data berupa penggantian unsur satuan lingual yang bersangkutan dengan unsur tertentu yang lain di luar satuan lingual yang bersangkutan. Teknik ini digunakan untuk membuktikan jenis gaya bahasa.

  Dalam contoh berikut terdapat dalam gaya bahasa metafora. Untuk lebih jelasnya lihat contoh berikut: (3) ”Kamu telah mengeksploitasi aku, lalu mengekspose hanya untuk keperluanmu. Ini tak bisa ditoleransi! Nah, dengar! Aku tidak jadi pergi ke pesta. Silakan berangkat sendiri! Biarkan aku disini!” aku kembali unjuk gigi.

  Sebagai bukti bahwa frasa unjuk gigi bermakna ’menunjukkan kemarahan’, kata tersebut dapat digantikan dengan frasa lain sebagaimana terdapat dalam contoh berikut:

  (3a) ”Kamu telah mengeksploitasi aku, lalu mengekspose hanya untuk keperluanmu. Ini tak bisa ditoleransi! Nah, dengar! Aku tidak jadi pergi ke pesta. Silakan berangkat sendiri! Biarkan aku disini!” aku kembali menunjukkan kemarahan .

  Teknik baca markah adalah teknik analisis data dengan cara ''membaca pemarkah" dalam suatu konstruksi. Istilah lain untuk pemarkah adalah penanda.

  Pemarkah itu adalah alat seperti imbuhan, kata penghubung, kata depan, dan artikel yang menyatakan ciri ketatabahasaan atau fungsi kata atau konstruksi (Kridalaksana dalam Kesuma 2007: 66). Untuk lebih jelasnya lihat contoh berikut:

  (4) Tapi, tampaknya pertanyaanku membuatnya terguncang. Bagai diterpa angin kencang, badan limbung dan bergoyang (Roro Mendut & Atmo, hal 79).

  Pada kalimat (4) pemarkah ditunjukkan dengan kata bagai. Di sini pemarkah tersebut berfungsi untuk membandingkan antara kondisi seseorang yang ditanyai mengenai sesuatu hal dengan kondisi seseorang yang diterpa angin kencang, badan limbung dan bergoyang.

1.7.3 Metode Penyajian Hasil Analisis Data

  Setelah tahap analisis data, tahap selanjutnya adalah tahap penyajian hasil analisis data. Metode yang digunakan adalah metode informal. Metode informal adalah metode penyajian hasil analisis data dengan menggunakan kata-kata biasa, dalam teori ini tidak menggunakan rumus atau lambang-lambang (Sudaryanto,

  1993: 145). Juga digunakan metode formal yaitu metode penyajian analisis data dengan menggunakan tabel-tabel sesuai keperluan.

  1.8 Sumber Data

  Sumber data dalam penelitian ini beupa Kumpulan Cerita Pedek Roro Mendut & Atmo karya Besar S.W. Buku yang diterbitkan di Jakarta oleh PT

  1.9 Sistematika Penyajian

  Penelitian ini terdiri dari empat bab. Bab I pendahuluan yang terdiri atas latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, sumber data, dan sistematika penyajian. Bab II dan III berisi pembahasan. Bab IV berisi penutup yang mencakup kesimpulan dan saran.

BAB II JENIS-JENIS GAYA BAHASA KIASAN DALAM KUMPULAN CERITA PENDEK RORO MENDUT & ATMO KARYA BESAR S.W.

  2.1 Pengantar

  Gaya bahasa kiasan ini pertama-tama dibentuk berdasarkan perbandingan atau persamaan. Membandingkan sesuatu dengan sesuatu hal yang lain berarti mencoba menemukan ciri-ciri yang menunjukkan kesamaan antara kedua hal tersebut. Perbandingan sebenarnya mengandung dua pengertian, yaitu perbandingan yang termasuk dalam gaya bahasa yang polos atau langsung, dan perbandingan yang termasuk dalam gaya bahasa kiasan. Berikut adalah gaya bahasa kiasan yang ditemukan dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut & Atmo karya Besar S.W.

  2.2 Gaya Bahasa Persamaan atau Simile

  Gaya bahasa persamaan atau simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit. Yang dimaksud dengan perbandingan yang bersifat eksplisit ialah bahwa ia langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Untuk itu memerlukan upaya yang secara eksplisit menunjukkan kesamaan itu, yaitu kata- kata: seperti, sama, sebagai, bagaikan, laksana, dan sebagainya (Keraf, 1984: 138). Gaya bahasa persamaan atau simile yang ditemukan dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut & Atmo karya Besar S.W, yaitu kata ibaratnya, memangnya, layaknya, dan bagai.

  (5) Wanita triman ibaratnya sebagai sebuah kado atau bingkisan (Roro Mendut & Atmo , hal 2).

  Gaya bahasa persamaan pada data (5) ditunjukkan dengan kata

  

ibaratnya . Objek yang diperbandingkan dan dinyatakan sama adalah wanita

triman dengan sebuah kado atau bingkisan. Berikut contoh lain dari kata

  ibaratnya: (6) Ia tahu siapa Wiroguno dan Pronocitro. Keduanya tidak bisa disamakan.

  (Roro Mendut & Atmo, hal 13).

  Pada data (6) dijumpai gaya bahasa persamaan dengan penggunaan kata

  

ibaratnya . Dalam kalimat tersebut yang diperbandingkan adalah pertarungan

  antara Wiroguno dan Pronocitro dengan seekor macan hutan yang bertarung

  

melawan kijang kurungan. Berikut contoh lain dari persamaan, yaitu kata

memangnya :

  (7) Hebat! Memangnya aku ini seorang dewa yang turun ke bumi untuk menolong orang dari kemalangan? (Roro Mendut & Atmo, hal 41).

  Gaya bahasa persamaan pada data (7) ditunjukkan dengan kata

  

memangnya . Pada kalimat tersebut penggunaan kata memangnya menggambarkan

  bahwa dirinya seolah-olah adalah seorang dewa. Pada kalimat tersebut digambarkan perbandingan antara tokoh aku dengan seorang dewa. Berikut contoh lain dari persamaan, yaitu kata layaknya:

  (8) Dengan gaun merah muda, aku malah melenggak-lenggok layaknya peragawati beraksi di atas catwalk (Roro Mendut & Atmo, hal 74).

  Kalimat (8) dijumpai gaya bahasa persamaan dengan penggunaan kata

  

layaknya. Pada kalimat tersebut digambarkan perbandingan antara tokoh aku dengan peragawati yang beraksi di atas catwalk. Berikut contoh lain dari persamaan, yaitu kata bagai: (9) Tapi, tampaknya pertanyaanku membuatnya terguncang. Bagai diterpa angin kencang, badan limbung dan bergoyang (Roro Mendut & Atmo, hal

  79). Pada kalimat (9) gaya bahasa perbandingan ditunjukkan dengan kata

  

bagai . Di sini digambarkan perbandingan antara kondisi seseorang yang ditanyai

badan limbung dan bergoyang.

2.3 Gaya Bahasa Metafora

  Gaya bahasa metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat misalnya: bunga bangsa, buaya darat, buah hati, cindera mata, dan sebagainya (Keraf, 1984: 139). Dari hasil penelitian ditemukan gaya bahasa metafora dalam kumpulan cerita pendek

  

Roro Mendut & Atmo. Gaya bahasa ini terdiri dari dua jenis yaitu metafora hidup

  dan metafora mati. Metafora hidup adalah metafora yang masih dapat ditentukan makna dasarnya dari konotasinya sekarang. Metafora mati adalah metafora yang sudah tidak dapat ditentukan konotasinya lagi. Metafora hidup yang terdapat dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut & Atmo, yaitu:

  (10) “Majulah, jangan hanya bersilat lidah!” (Roro Mendut & Atmo, hal 12).

  Pada contoh (10) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan kata bersilat lidah. Frasa bersilat lidah mempunyai makna ‘berdebat’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 669) kata

  

lidah mempunyai arti bagian tubuh dalam mulut yang dapat bergerak-gerak dengan mudah, gunanya untuk menjilat, mengecap, dan berkata-kata. Kata

  

bersilat mempunyai arti bermain atau berkelahi dengan menggunakan

  ketangkasan menyerang dan mempertahankan diri (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga , 2002: 1065).

  Penggunaan frasa bersilat lidah mengungkapkan tegangnya situasi pada waktu Tumenggung Wiroguno berhadapan dengan Pronocitro. Hal ini dapat berlagak sebagai sang pembantai. Kencangkan dulu kolor celanamu, kalau hendak berlaga dengan tuanmu. Ayo, jangan mundur meski selangkah karena pantang bagiku menyerah kalah!” tumenggung menerima tantangan (Roro Mendut &

  Atmo , hal 12). Berikut contoh penggantian frasa bersilat lidah:

  (10a) “Majulah, jangan hanya bertengkar!” Berikut ini contoh lain dari metafora, yaitu benang asmara:

  (11) Mereka pun kemudian menjalin benang asmara secara ilegal (Roro Mendut & Atmo , hal 8).

  Adapun pada contoh (11) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan frasa benang asmara. frasa benang asmara dalam kalimat ini mempunyai makna ‘menjalin kasih’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi

  

Ketiga (2002: 130) kata benang mempunyai arti tali halus yang dipintal dari kapas

  (sutra dsb) dipakai sebagai bahan untuk menjahit atau bahan untuk ditenun. Kata

  

asmara mempunyai arti perasaan senang kepada lain jenis (kelamin); (rasa) cinta

(Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2002: 71).

  Penggunaan frasa benang asmara dalam kalimat ini mengungkapkan hubungan yang dijalin antara sepasang muda-mudi yang saling mencintai. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu “Hubungan mereka dilakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan Wiroguno yang menjadi penguasa tunggal atas Roro Mendut.” (Roro Mendut & Atmo, hal 8). Berikut bentuk penggantian frasa benang asmara:

  (11a) Mereka pun kemudian menjalin kasih secara ilegal. Berikut ini contoh lain dari metafora, yaitu seenak udelnya sendiri: seenak udelnya sendiri (Roro Mendut & Atmo, hal 2).

  Pada contoh (11) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan frasa seenak udelnya sendiri. Frasa seenak udelnya sendiri dalam kalimat ini mempunyai makna ‘berbuat semaunya sendiri’. Dalam Kamus Besar

  

Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 300) kata seenaknya mempunyai makna

  semau hati; sesenang hati. Kata udelnya mempunyai makna pusar (lekuk kecil di pusat perut) (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2002: 1236).

  Penggunaan frasa seenak udelnya sendiri dalam kalimat ini mengungkapkan perbuatan yang dilakukan semau-maunya sendiri. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang sebelumnya, yaitu “Okelah kalau memang dirinya dikuasai pihak lain, lalu dihadiahkan pada sembarang orang. Dalam keadaan sangat terpaksa, bolehlah hal itu menimpa dirinya. Asalkan, si penerima hadiah menghormatinya sebagai seorang perawan.” (Roro Mendut & Atmo, hal 2).

  Berikut bentuk penggantian frasa seenak udelnya sendiri: (12a) Ia tidak boleh mentang-mentang punya kado penghargaan lalu berbuat semaunya sendiri.

  Berikut ini contoh lain dari metafora, yaitu medan laga:

  (13) “Awas, jangan pernah lari dari medan laga!” (Roro Mendut & Atmo, hal 12).

  Adapun pada contoh (13) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan frasa medan laga. Frasa medan laga dalam kalimat ini mempunyai makna ‘tempat pertempuran’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

  

Edisi Ketiga (2002: 726) kata medan mempunyai makna tanah lapang; tempat

  yang luas (untuk berpacu kuda dsb); alun-alun. Kata laga mempunyai makna perkelahian (tentang binatang) (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2002: 623).

  Penggunaan frasa medan laga dalam kalimat ini bertujuan untuk menggambarkan betapa seriusnya situasi yang dihadapi antara dua orang petarung tersebut. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu “Dua lelaki itu lalu maju setapak dan langsung memasang kuda-kuda. Pertarungan pun tak bisa terelakkan lagi karena tak lama kemudian mereka saling menyerang. Mereka menerapkan jurus-jurus yang paling mutakhir.” (Roro Mendut & Atmo, hal 12). Berikut bentuk penggantian frasa medan laga:

  (13a) “Awas, jangan pernah lari dari arena pertarungan!” Berikut contoh lain dari metafora, yaitu tuan rumah:

  (14) Tuan rumah menanyakan, “Koq, sendirian saja, mana Bu Atmonya, Pak?” (Roro Mendut & Atmo, hal 20).

  Adapun pada contoh (14) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan kata tuan rumah. Frasa tuan rumah dalam kalimat ini mempunyai makna ‘pemilik tempat’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

  

Edisi Ketiga (2002: 1213) kata tuan mempunyai makna yang memberi pekerjaan; majikan; kepala (perusahaan dsb); pemilik atau yang empunya (toko dsb). Kata

  

rumah mempunyai arti bangunan untuk tempat tinggal (Kamus Besar Bahasa

Indonesia Edisi Ketiga , 2002: 966).

  Penggunaan frasa tuan rumah dalam kalimat ini menunjuk kepada pemilik tempat diadakannya pesta yang dihadiri oleh Atmo Jogja. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu “Anehnya, acara pesta sekali pun, suda jelas ditulis ‘bersama nyonya’, atau ‘Bapak dan Ibu Atmo’.” (Roro Mendut

  & Atmo , hal 19-20). Berikut bentuk penggantian frasa tuan rumah:

  (14a) Pemilik tempat menanyakan, “Koq, sendirian saja, mana Bu Atmonya, Pak?”

  Berikut contoh lain dari metafora, yaitu amit-amit jabang bayi: (15) Tapi, kalau ia harus dijadikan sebagai seorang triman, duh, amit-amit jabang bayi (Roro Mendut & Atmo, hal 2).

  Adapun pada contoh (15) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan frasa amit-amit jabang bayi. Frasa amit-amit jabang bayi dalam kalimat ini mempunyai makna ‘ketakutan seseorang apabila sesuatu hal terjadi pada dirinya’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 39) kata amit-amit berarti ungkapan yang menyatakan jangan sampai terjadi (menimpa) pada kita (tentang bahaya dsb). Kata jabang mempunyai arti cambang (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2002: 448). Kata bayi menurut

  

Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 118) memliki arti anak yang

belum lama lahir.

  Penggunaan frasa amit-amit jabang bayi dalam kalimat ini menunjuk kepada ketakutan Roro Mendut apabila dirinya dijadikan triman Tumenggung Wiroguno. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu “Roro Mendut agak kecut, hatinya pun kian menciut. Perasaan Mendut agak takut.

  Selama ini tak ada undang-undang yang bisa melindungi triman.” (Roro Mendut

  & Atmo, hal 2). Berikut bentuk penggantian frasa amit-amit jabang bayi: sampai itu terjadi padaku.

  Berikut contoh lain dari metafora, yaitu di atas amgin: (16) “Tuh, apa katanya? Ia mau ikut denganku. Menggung pun tidak boleh melakukan intimidasi. Jangan mentang-mentang punya kekuasaan, ngusir orang semau-maunya! Nanti malah bisa menyeret Menggung berurusan dengan komisi hak asasi, lho. Mau coba, gimana?” pemuda itu di atas

  angin (Roro Mendut & Atmo, hal 10).

  Adapun pada contoh (16) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan frasa di atas angin. Frasa di atas angin dalam kalimat ini mempunyai makna ‘keadaan lawan yang lebih menguntungkan’. Dalam Kamus

  (2002: 74) kata di atas mempunyai makna 1

  Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga

  bagian (tempat) yang lebih tinggi; 2 sehubungan dengan; akan; 3 berdasarkan; menurut; sesuai dengan; 4 dari; 5 dengan; 6 karena; disebabkan oleh; 7 menjadi; 8 tentang; terhadap. Kata angin mempunyai arti 1 gerakan udara dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan rendah; 2 hawa; udara; 3 kentut; 4 ki kesempatan; kemungkinan; 5 ki hampa; kosong; 6 ki kecenderungan yang agak menggembirakan (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2002: 49).

  Penggunaan frasa di atas angin dalam kalimat ini menunjuk kepada keadaan Pronocitro yang lebih memiliki peluang karena dibela oleh Roro Mendut . Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu “Jangan usir dia! Kalau dia pergi, aku akan mengikutinya kemana pun ia berada,” ancam Mendut (Roro Mendut & Atmo, hal 10). Berikut bentuk penggantian frasa di atas angin:

  (16a) “Tuh, apa katanya? Ia mau ikut denganku. Menggung pun tidak boleh melakukan intimidasi. Jangan mentang-mentang punya kekuasaan, ngusir orang semau-maunya! Nanti malah bisa menyeret Menggung berurusan dengan komisi hak asasi, lho. Mau coba, gimana?” pemuda itu lebih unggul.

  (17) Akhirnya, warga lebih membiarkan Atmo Jogja sebagai dirinya daripada memaksa ‘membuka’ mulutnya (Roro Mendut & Atmo, hal 21).

  Adapun pada contoh (17) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan kata membuka mulut. Frasa membuka mulut dalam kalimat ini mempunyai makna ‘berbicara mengenai sesuatu yang ditutup-tutupi’. Dalam

  

Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 171) kata membuka

  mempunyai makna 1 ark jarak; antara; lebar; 2 cak membuka; terbuka; 3 berjualan atau bekerja.

  Kata mulut mempunyai arti 1 rongga di muka, tempat gigi dan lidah, untuk memasukkan makanan (pada manusia atau binatang); 2 ki lubang, liang, atau apa saja yang rupanya sebagai mulut; bagian dari barang tempat masuknya sesuatu; 3

  

ki cakap; perkataan; 4 Fis lubang untuk meluahkan zat alir (Kamus Besar Bahasa

Indonesia Edisi Ketiga , 2002: 762).

  Penggunaan frasa membuka mulut dalam kalimat ini menunjuk kepada ketertutupan pribadi Atmo Jogja yang tidak pernah membicarakan sedikitpun mengenai keluarganya. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu “Ketertutupan Atmo Jogja sungguh tidak dimengerti warga. Untungnya, para tetangga pun memaklumi perangainya. Selama hal itu tidak menggangu pola kehidupan bermasyarakat, mengapa harus dipermasalahkan? (Roro Mendut &

  Atmo, hal 21). Berikut bentuk penggantian frasa membuka mulut:

  (17a) Akhirnya, warga lebih membiarkan Atmo Jogja sebagai dirinya daripada memaksanya untuk berbicara. Berikut contoh lain dari metafora, yaitu badan jalan:

  (18) Yang masih jelas kelihatan adalah pecahan kaca berserakan dan luka goresan di kulit badan jalan (Roro Mendut & Atmo, hal 34). adalah penggunaan frasa badan jalan. Frasa badan jalan dalam kalimat ini mempunyai makna ‘emperan jalan; pinggir jalan’.

  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 84) kata badan mempunyai makna 1 tubuh (jasad manusia keseluruhan); jasmani; raga; awak; 2 batang tubuh manusia; tidak termasuk anggota dan kepala; 3 bagian utama dari suatu benda; awak; 4 diri (sendiri); 5 sekumpulan orang yang merupakan kesatuan untuk mengerjakan sesuatu. Kata jalan mempunyai arti 1 tempat untuk lalu lintas orang (kendaraan dsb); 2 n perlintasan (dari suatu tempat ke tempat lain); 3 n yang dilalui atau dipakai untuk keluar masuk; 4 n lintasan; orbit (tentang benda di ruang angkasa); 5 n gerak maju atau mundur (tentang kendaraan); 6 n putaran jarum; 7 n perkembangan atau berlangsungnya (tentang perundingan, rapat, cerita, dsb) dari awal sampai akhir; 8 n cara (akal, syarat, ikhtiar, dsb) untuk melakukan (mengerjakan, mencapai, mencari) sesuatu; 9 n kesempatan (untuk mengerjakan sesuatu); 10 n lantaran; perantara (yang menjadi alat atau jalan penghubung); 11 v berjalan; 12 v melangkahkan kaki; 13 n kelangsungan hidup (tentang

  cak

  organisasi, perkumpulan, dsb); 14 a dapat dipahami; benar (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga , 2002: 452).

  Penggunaan frasa badan jalan dalam kalimat ini menunjuk kepada bagian jalan tempat Yuri mengalami kecelakaan. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu “Hanya itulah yang bisa menjadi pertanda, bahwa tadi ada kecelakaan lalu lintas.” (Roro Mendut & Atmo, hal 34). Berikut bentuk penggantian frasa badan jalan:

  (18a) Yang masih jelas kelihatan adalah pecahan kaca berserakan dan luka goresan di emperan jalan.

  Berikut contoh lain dari metafora, yaitu pembajak hati: (19) “Pembajak hati. Minta tebusan sebutir kasih suci,” Galang mendekatiku (Roro Mendut & Atmo, hal 90).

  Adapun pada contoh (19) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan frasa pembajak hati. Frasa pembajak hati dalam kalimat ini mempunyai makna ‘pencuri hati’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi

  

Ketiga (2002: 92) kata pembajak mempunyai makna orang yang melakukan

pembajakan.

  Kata hati mempunyai arti 1 Anat organ badan yang berwarna kemerah-merahan di bagian kanan atas rongga perut, gunanya untuk mengambil sari-sari makanan di dalam darah dan menghasilkan empedu; 2 daging dari hati sebagai bahan makanan (terutama hati dari binatang sembelihan); 3 jantung; 4 sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian (perasaan dsb); 5 apa yang terasa dalam batin; 6 sifat (tabiat) batin manusia; 7 bagian yang di dalam sekali (tentang buah, batang, tumbuhan, dsb) (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2002: 392).

  Penggunaan frasa pembajak hati dalam kalimat ini menggambarkan Galang berusaha merayu Reni yang sedang merajuk. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu “Kamu membajak namaku. Aku tidak terima,” “Lantas, mau apa? Menciumku? Ayo, kalau berani!” “Tidak terima! Aku menuntut balas.” “Balas cinta, kan?” (Roro Mendut & Atmo, hal 90). Berikut bentuk penggantian frasa pembajak hati:

  (19a) “Pencuri hati. Minta tebusan sebutir kasih suci,” Galang mendekatiku. Berikut contoh lain dari metafora, yaitu kembang kanji:

  (20) Ketika masih belia, hari ulang tahun merupakan saat yang penuh dengan

  kembang janji akan harapan masa depan. Tapi, ketika harapan tak lagi

  berada di depan pandang, semua menjadi tidak bermakna. Ketika ulang tahun menginjak yang ketiga puluh satu, semua menjadi tidak memiliki arti (Roro Mendut & Atmo, hal 65).

  Adapun pada contoh (20) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan frasa kembang janji. Frasa kembang janji dalam kalimat ini mempunyai makna ‘janji-janji indah’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

  

Edisi Ketiga (2002: 538) kata kembang mempunyai makna bunga (dipakai juga

untuk menyebut berbagai macam bunga).

  Kata janji mempunyai arti 1 ucapan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan persetujuan antara dua pihak (masing-masing menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu); 3 syarat; ketentuan (yang harus dipenuhi); 4 penundaan waktu (membayar dsb); penangguhan; 5 batas waktu (hidup) ajal (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2002: 458).

  Penggunaan frasa kembang janji dalam kalimat ini menggambarkan perasaan Laisah saat ini yang ketakutan menghadapi ulang tahunnya yang ketiga puluh satu. Ia merasa sudah kehilangan harapan. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu “Tapi, ketika harapan tak lagi berada di depan pandang, semua menjadi tidak bermakna. Ketika ulang tahun menginjak yang ketiga puluh satu, semua menjadi tidak memiliki arti.” (Roro Mendut & Atmo, hal 65). Berikut bentuk penggantian frasa kembang janji:

  (20a) Ketika masih belia, hari ulang tahun merupakan saat yang penuh dengan janji indah akan harapan masa depan. Tapi, ketika harapan tak lagi berada di depan pandang, semua menjadi tidak bermakna. Ketika ulang tahun menginjak yang ketiga puluh satu, semua menjadi tidak memiliki arti.

  Berikut contoh lain dari metafora, yaitu kursi kedudukan: (21) “Dan kamu memang mau dijepit, bukan? Ah, diberi anak perawan, dijanjikan kursi kedudukan, lelaki mana yang tak mau mengubah halauan perasaan?” kusemprot ia dengan kata-kata semauku (Roro Mendut & Atmo, hal 66). Adapun pada contoh (21) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan frasa kursi kedudukan. Frasa kursi kedudukan dalam kalimat ini mempunyai makna ‘jabatan dalam suatu organisasi’. Dalam Kamus Besar

  

Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 617) kata kursi mempunyai makna 1

  tempat duduk yang berkaki dan bersandaran; 2 ki kedudukan, jabatan (dalam parlemen, cabinet, pengurus, dsb). Kata kedudukan mempunyai arti 1 meletakkan cara dan namanya seperti bersila dan bersimpuh); 2 ada di (dalam peringkat belajar); 3 kawin atau bertunangan; 4 tinggal; diam (Kamus Besar Bahasa

  Indonesia Edisi Ketiga , 2002: 277).

  Penggunaan frasa kursi kedudukan dalam kalimat ini menunjuk pada kondisi Harman yang di berikan suatu posisi jabatan tertentu oleh atasannya. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu: “Apa kita? Kamu masih bisa mengucapkan kata kita, Man? Sedangkan kamu menerima tawaran perjodohan itu. Engkau tak pernah memikirkan dampaknya bagi kamu dan aku, bukan? Sekarang jangan sia-siakan waktumu! Jangan mengurusi hal-hal yang tak berhubungan dengan persiapan perkawinanmu! Urusi saja Neni, calon istrimu, yang menjanjikan sebuah kursi jabatan tinggi!” kataku benci (Roro Mendut & Atmo, hal 67). Berikut bentuk penggantian frasa kursi kedudukan:

  (21a) “Dan kamu memang mau dijepit, bukan? Ah, diberi anak perawan, dijanjikan jabatan, lelaki mana yang tak mau mengubah halauan perasaan?” kusemprot ia dengan kata-kata semauku. Berikut contoh lain dari metafora, yaitu mati kutu:

  (22) “Lho, kamu naksir sama bapaknya atau anaknya? Maumu apa, sih? Kamu bisa mati kutu karena memendam rindu. Kamu bisa ketinggalan kereta, hanya karena menyembunyikan rasa cinta. Sudah terbukti, Nico menganggapmu sepi. Apa kamu sudah bereaksi?” Jaya mengurus temannya dengan berapi-api (Roro Mendut & Atmo, hal 81).

  Adapun pada contoh (22) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora, yaitu mati kutu. Frasa mati kutu dalam kalimat ini mempunyai makna ‘tidak berdaya; tidak dapat berbuat apa-apa’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 723) kata mati mempunyai makna 1 sudah hilang nyawanya; tidak hidup lagi; 2 tidak bernyawa; tidak pernah hidup; 3 tidak berair (tentang mata air, sumur, dsb); 4 tidak berasa lagi (tentang kulit dsb); 5 padam (tentang lampu, api, dsb); 6 tidak terus; buntu (tentang jalan, pikiran, dsb); 7 tidak dapat berubah lagi; tetap (tentang harga, gerak atau kegiatan, seperti bubar (tentang perkumpulan dsb); 10 diam atau berhenti (tentang angin dsb); 11 tidak ramai (tentang pasar, perdagangan, dsb); 12 tidak bergerak (tentang mesin, arloji, dsb). Kata kutu mempunyai arti serangga parasit tidak bersayap yang mengisap darah binatang atau manusia (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2002: 619).

  Penggunaan frasa mati kutu dalam kalimat ini menggambarkan keadaan Galang yang tidak segera mengungkapkan perasaannya pada Reni. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu: “Perempuan kau salah-salahkan. Sikapmu itu hanya untuk menutup-nutupi kekuranganmu. Ngaku sajalah! Pantas, Nico yang berhasil membocengkan Reni. Nico itu orangnya tahu seni, bisa melukis, dan bisa membahasakan cinta lewat suratnya. Dengar! Kemarin Nico menemui Reni lalu memberinya selembar kertas. Nah, engkau harus segera bersikap. Terus teranglah pada Reni! Jangan gugup!” Jaya serius bicara (Roro Mendut & Atmo, hal 81).

  Berikut bentuk penggantian frasa mati kutu: (22a) “Lho, kamu naksir sama bapaknya atau anaknya? Maumu apa, sih?

  Kamu tidak berdaya karena memendam rindu. Kamu bisa ketinggalan kereta, hanya karena menyembunyikan rasa cinta. Sudah terbukti, Nico menganggapmu sepi. Apa kamu sudah bereaksi?” Jaya mengurus temannya dengan berapi-api.

  Berikut contoh lain dari metafora, yaitu membongkar dadanya: (23) Untunglah ia masih bisa membongkar dadanya sama Wijaya (Roro Mendut & Atmo , hal 80). Adapun pada contoh (23) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan frasa membongkar dada.

  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 162) kata

  

membongkar mempunyai arti 1 mengangkat ke atas; 2 menurunkan muatan dari

  kapal (kereta api); 3 merusak; merobohkan; 4 menceraikan bagian-bagian mesin;

  

5 membuka dengan paksa; 6 mencuri dengan merusak pintu (jendela dsb); 7

membuka rahasia.

  Kata dada berarti 1 bagian tubuh sebelah depan di antara perut dan leher; 2 Edisi Ketiga , 2002: 227).

  Frasa membongkar dada dalam kalimat ini bermakna membuka rahasianya. Penggunaan frasa membongkar dadanya dalam kalimat ini menggambarkan Galang yang menceritakan perasaannya pada sahabatnya, Wijaya. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu “Tapi, dasar Galang! Pemuda kuper alias kurang pergaulan. Masih lagi, mahasiswa kurin alias kurang informasi. Mengutarakan rasa cinta saja tidak bisa,

  

emangnya aku tahu tentang rasa cintanya? Apa sih beratnya mengungkapkan

  peasaan dengan terus terang? Mungkinkah ia tidak punya mulut?” (Roro Mendut , hal 79-80).

  & Atmo

  Berikut bentuk penggantian frasa membongkar dadanya: (23a) Untunglah ia masih bisa mengungkapkan rahasianya sama Wijaya.

  Berikut contoh lain dari metafora, yaitu kepalang basah: (24) Tapi, dasar sudah kepalang basah, aku masih saja melanjutkan sikap kurang manisku (Roro Mendut & Atmo, hal 87- 88).

  Adapun pada contoh (24) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan kata kepalang basah. Kata kepalang basah dalam kalimat ini mempunyai makna ‘sudah terlanjur (dalam keadaan tanggung)’. Dalam Kamus

  

Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 546) kata kepalang mempunyai makna 1 tanggung; tidak cukup; kurang; 2 sudah terlanjur (dalam keadaan tanggung).. baru; 3 cak banyak mendatangkan keuntungan (uang dsb) (Kamus

  

Besar Bahasa Indonesia , 2002: 110). Kata basah dalam Kamus Besar Bahasa

Indonesia Edisi Ketiga (2002: 110) berarti 1 mengandung air atau barang cair; 2

  belum dikeringkan; masih baru; 3 cak banyak mendatangkan keuntungan (uang dsb). sikap Reni yang sudah terlanjur bersikap kurang manis pada tamunya. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu “Huh! Kamu mau bicara dengan orang tuaku? Tak ada kaitannya dengan masalah ini,” (Roro Mendut &

  Atmo , hal 88). Berikut bentuk penggantian frasa kepalang basah:

  (24a) Tapi, dasar sudah terlanjur, aku masih saja melanjutkan sikap kurang manisku. Berikut contoh lain dari metafora, yaitu naik pitam:

  (25) “Orang edan, ngapain kamu berlama-lama berduaan dengan trimanku, ha?” pejabat itu naik pitam (Roro Mendut & Atmo, hal 9).

  Adapun pada contoh (25) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan frasa naik pitam. Frasa naik pitam dalam kalimat ini mempunyai makna ‘menjadi marah sekali (panas hati)’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 771) kata naik mempunyai makna 1 bergerak ke atas atau ke tempat yang lebih tinggi; 2 timbul (tentang matahari); 3 mendaki; menanjak; 4 masuk rumah (melalui tangga); masuk ke kendaraan (angkutan, tumpangan, dsb); 5 mengendarai; menuggang; menumpang (kapal, pesawat, dsb); 6 bertambah tinggi (mahal, besar, banyak, dsb); meningkat; 7 menjadi; 8 pergi ke: -- darat. Kata pitam mempunyai arti pusing kepala (karna darah naik ke kepala) (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga , 2002: 880).

  Penggunaan frasa naik pitam dalam kalimat ini menggambarkan Tumenggung Wiroguno yang sangat marah karena melihat Roro Mendut berduaan dengan Pronocitro. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu “Lancang kamu, Pron! Tak usah membawa-bawa hak asasi segala macam. Nah, bersiap-siaplah karena aku akan menghukummu,” darah Wiroguno mendidih (Roro Mendut & Atmo, hal 10). Berikut bentuk penggantian frasa naik pitam: trimanku, ha?” pejabat itu sangat marah.

  Berikut contoh lain dari metafora, yaitu memeras otaknya: (26) Namun, kini perempuan itu mencoba memeras otaknya (Roro Mendut & Atmo . hal 15).

  Adapun pada contoh (26) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan frasa memeras otak. Frasa memeras otak dalam kalimat ini mempunyai makna ‘berpikir keras’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi

  

Ketiga (2002: 855) kata memeras mempunyai makna 1 memijit (menekan dsb)

  supaya keluar airnya; memerah; 2 ki mengambil untung banyak-banyak dari orang lain; 3 ki meminta uang dsb dengan ancaman. Kata otak mempunyai arti 1 benda putih yang lunak terdapat di dalam rongga tengkorak yang menjadi pusat saraf; benak; 2 ki alat berpikir; pikiran; benak; 3 ki biang keladi; tokoh; gembong (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2002: 804).

  Penggunaan frasa memeras otak dalam kalimat ini mengambarkan situasi Roro Mendut dan Pronocitro yang telah terjepit dan hampir kalah, maka Roro Mendut pun harus memikirkan jalan keluar dari situasi ini. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu

  “Beberapa saat berpikir, ia tidak juga menemukan sesuatu yang dapat membantunya keluar dari permasalahan. Sementara itu, keris Wiroguno telah diacungkan tinggi-tinggi. Melihat ujung keris di tangan tumenggung yang mengancam jiwa kekasihnya, Roro Mendut segera melakukan sesuatu.” (Roro

  sendirian saja, mana Bu Atmonya, Pak?”

  16a

  “Tuh, apa katanya? Ia mau ikut denganku. Menggung pun tidak boleh melakukan intimidasi. Jangan mentang-mentang punya kekuasaan, ngusir orang semau- maunya! Nanti malah bisa menyeret Menggung berurusan

  16

  jangan sampai itu terjadi padaku.

  sebagai seorang triman, duh,

  15a Tapi, kalau ia harus dijadikan

  sebagai seorang triman, duh, amit-amit jabang bayi.

  15 Tapi, kalau ia harus dijadikan

  “Koq, sendirian saja, mana Bu Atmonya, Pak?”

  14a Pemilik tempat menanyakan,

  14 Tuan rumah menanyakan, “Koq,

  Mendut & Atmo . hal 15).

  13a “Awas, jangan pernah lari dari arena pertarungan!”

  13 “Awas, jangan pernah lari dari medan laga!”

  punya kado penghargaan lalu berbuat semaunya sendiri.

  12a Ia tidak boleh mentang-mentang

  punya kado penghargaan lalu berbuat seenak udelnya sendiri.

  12 Ia tidak boleh mentang-mentang

  Mereka pun kemudian menjalin kasih secara illegal.

  11 Mereka pun kemudian menjalin benang asmara secara illegal. 11a

  10a “Majulah, jangan hanya bertengkar!”

  Gaya Bahasa Metafora Hidup No. data Pengungkapan dengan Gaya Bahasa Metafora No. data Pengungkapan Biasa 10 “Majulah, jangan hanya bersilat lidah!

  Berikut bentuk penggantian frasa memeras otak: (26a) Namun, kini perempuan itu mencoba berpikir keras.

  “Tuh, apa katanya? Ia mau ikut denganku. Menggung pun tidak boleh melakukan intimidasi. Jangan mentang-mentang punya kekuasaan, ngusir orang semau- maunya! Nanti malah bisa menyeret Menggung berurusan dengan komisi hak asasi, lho. Mau coba, gimana?” pemuda itu diatas angin. dengan komisi hak asasi, lho. Mau coba, gimana?” pemuda itu lebih unggul.

  17 Akhirnya, warga lebih

  20a Ketika masih belia, hari ulang

  23 Untunglah ia masih bisa membongkar dadanya sama Wijaya.

  rindu. Kamu bisa ketinggalan kereta, hanya karena menyembunyikan rasa cinta. Sudah terbukti, Nico menganggapmu sepi. Apa kamu sudah bereaksi?” Jaya mengurus temannya dengan berapi-api.

  berdaya karena memendam

  bapaknya atau anaknya? Maumu apa, sih? Kamu bisa tidak

  22a “Lho, kamu naksir sama

  bapaknya atau anaknya? Maumu apa, sih? Kamu bisa mati kutu karena memendam rindu. Kamu bisa ketinggalan kereta, hanya karena menyembunyikan rasa cinta. Sudah terbukti, Nico menganggapmu sepi. Apa kamu sudah bereaksi?” Jaya mengurus temannya dengan berapi-api.

  22 “Lho, kamu naksir sama

  “Dan kamu memang mau dijepit, bukan? Ah, diberi anak perawan, dijanjikan jabatan, lelaki mana yang tak mau mengubah halauan perasaan?” kusemprot ia dengan kata-kata semauku.

  21a

  mau mengubah halauan perasaan?” kusemprot ia dengan kata-kata semauku.

  kedudukan , lelaki mana yang tak

  “Dan kamu memang mau dijepit, bukan? Ah, diberi anak perawan, dijanjikan kursi

  21

  tahun merupakan saat yang penuh dengan janji indah akan harapan masa depan. Tapi, ketika harapan tak lagi berada di depan pandang, semua menjadi tidak bermakna. Ketika ulang tahun menginjak yang ketiga puluh satu, semua menjadi tidak memiliki arti.

  tahun merupakan saat yang penuh dengan kembang janji akan harapan masa depan. Tapi, ketika harapan tak lagi berada di depan pandang, semua menjadi tidak bermakna. Ketika ulang tahun menginjak yang ketiga puluh satu, semua menjadi tidak memiliki arti.

  membiarkan Atmo Jogja sebagai dirinya daripada memaksa

  20 Ketika masih belia, hari ulang

  sebutir kasih suci,” Galang mendekatiku.

  19aPencuri hati. Minta tebusan

  sebutir kasih suci,” Galang mendekatiku.

  19Pembajak hati. Minta tebusan

  Yang masih jelas kelihatan adalah pecahan kaca berserakan dan luka goresan di emperan jalan.

  18a

  jalan .

  adalah pecahan kaca berserakan dan luka goresan di kulit badan

  18 Yang masih jelas kelihatan

  untuk berbicara.

  membiarkan Atmo Jogja sebagai dirinya daripada memaksanya

  17a Akhirnya, warga lebih

  ‘membuka’ mulut nya.

  23a Untunglah ia masih bisa mengungkapkan rahasianya sama Wijaya.

  24 Tapi, dasar sudah kepalang basah,

  26a Namun, kini perempuan itu mencoba berpikir keras.

  Kata kereta mempunyai arti 1 kendaraan yang beroda (biasanya ditarik oleh kuda); 2 kereta api (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2002: 552).

  (karna lupa dsb); 3 v terbelakang; tercecer; 4 v sudah ditinggalkan oleh (kereta api dsb); 5 v tidak sesuai dengan zaman (waktu dsb); 6 v ada yang kelupaan; ada yang kurang; ada yang terlangkahi; 7 v tidak -, tidak mau terlambat; tidak lupa; tidak lalai.

  

ketinggalan mempunyai makna 1 n sisa; kelebihan; tunggakan; 2 v tertinggi

  menganggapmu sepi. Apa kamu sudah bereaksi?” Jaya mengurus temannya dengan berapi-api (Roro Mendut & Atmo, hal 81). Adapun pada contoh (27) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora, yaitu ketinggalan kereta. Frasa ketinggalan kereta dalam kalimat ini mempunyai makna ‘sudah jauh tertinggal oleh lawan’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 1196) kata

  kereta , hanya karena menyembunyikan rasa cinta. Sudah terbukti, Nico

  Kamu bisa mati kutu karena memendam rindu. Kamu bisa ketinggalan

  Sementara itu gaya bahasa metafora mati yang terdapat dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut & Atmo karya Besar S.W, yaitu: (27) “Lho, kamu naksir sama bapaknya atau anaknya? Maumu apa, sih?

  26 Namun, kini perempuan itu mencoba memeras otaknya.

  aku masih saja melanjutkan sikap kurang manisku.

  marah .

  berlama-lama berduaan dengan trimanku, ha?” pejabat itu sangat

  25a “Orang edan, ngapain kamu

  pitam .

  berlama-lama berduaan dengan trimanku, ha?” pejabat itu naik

  25 “Orang edan, ngapain kamu

  Tapi, dasar sudah terlanjur, aku masih saja melanjutkan sikap kurang manisku.

  24a

  Penggunaan frasa ketinggalan kereta dalam kalimat ini menunjuk kepada Galang yang sudah kalah oleh Nico dalam memperebutkan Reni. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu:

  “Perempuan kau salah-salahkan. Sikapmu itu hanya untuk menutup-nutupi kekuranganmu. Ngaku sajalah! Pantas, Nico yang berhasil membocengkan Reni. Nico itu orangnya tahu seni, bisa melukis, dan bisa membahasakan cinta lewat suratnya. Dengar! Kemarin Nico menemui Reni lalu memberinya selembar kertas. Nah, engkau harus segera bersikap. Terus teranglah pada Reni! Jangan gugup!” Jaya serius bicara (Roro Mendut & Atmo, hal 81).

  Berikut contoh lain dari metafora mati, yaitu kata hati: (28) Orang yang mengingkari kata hatinya hingga pergi begitu saja tak pernah bicara (Roro Mendut & Atmo, hal 75). adalah penggunaan frasa kata hatinya. Kata hatinya dalam kalimat ini mempunyai makna ‘perasaan yang timbul di hati; gerak hati’.

  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 513) kata mempunyai makna 1 unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan satuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa; 2 ujar; bicara; 3 Ling a morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas;

  

b satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal atau

  gabungan morfem. Kata hati memiiki makna 1 Anat organ badan yang berwarna kemerah-merahan di bagian kanan atas rongga perut, gunanya untuk mengambil sari-sari makanan di dalam darah dan menghasilkan empedu; 2 daging dari hati sebagai bahan makanan (terutama hati dari binatang sembelihan); 3 jantung; 4 sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian (perasaan dsb); 5 apa yang terasa dalam batin; 6 sifat (tabiat) batin manusia; 7 bagian yang di dalam sekali (tentang buah, batang, tumbuhan, dsb) (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2002: 392).

  Penggunaan metafora kata hati dalam kalimat ini menunjuk kepada perasaan yang timbul dari dalam hati tokoh Galang Wicaksana . Hal ini juga didukung oleh paragraf selanjutnya, yaitu: “Padahal, cintanya padaku selangit. Sampai ia mabuk kepayang. Bener nih, suer! Aku sih, cuma tahu dari gelagatnya saja. Memang aneh, ia tak pernah mengungkapkan isi hati. Dikiranya hal itu sudah lumrah dan tidak masalah. Menurutnya, cinta tak perlu diucapkan dalam love statement. Yang penting baginya adalah cinta dan perhatian, bukan pada kata-kata yang hanya tipu daya belaka. Kesimpulannya, application of love lebih penting, daripada sekedar rayuan romantis yang belum tentu terbukti manis.” (Roro Mendut & Atmo, hal 77).

  Berikut contoh lain dari metafora mati, yaitu anak kunci: (29) Di pintu aku memutar anak kunci perlahan-lahan ke arah kiri (Roro Mendut & Atmo , hal 76).

  Adapun pada contoh (29) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan frasa anak kunci. Frasa anak kunci dalam kalimat ini Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 41) kata anak mempunyai makna 1 keturunan yang kedua; 2 manusia yang masih kecil; 3 binatang yang masih kecil; 4 pohon kecil yang tumbuh pada umbi atau rumpun tumbuh-tumbuhan yang besar; 5 orang yang berasal dari atau dilahirkan di (suatu negeri, daerah, dsb); 6 orang yang termasuk dalam suatu golongan pekerjaan (keluarga dsb); 7 bagian yang kecil (pada suatu benda); 8 yang lebih kecil daripada yang lain. Kata kunci memiliki arti 1 alat untuk mengancing pintu, peti, dsb, terdiri atas anak kunci dan induk kunci; 2 alat yang dibuat dari logam untuk membuka atau mengancing pintu dengan cara memasukkannya ke dalam lubang yang ada pada induk kunci; anak kunci; 3 pengancing pintu, peti, dsb yang terpasang pada pintu, peti, dsb; 4 alat yang digunakan untuk membuka dan memasang sekrup dsb; 5 alat untuk menghidupkan atau menjalankan mesin (mobil dsb); 6 sendi (pertemuan) tulang; 7 ki jawaban yang disediakan atas pertanyaan ujian dsb; 8 ki kedudukan (tempat) yang sangat penting untuk menguasai sesuatu atau untuk mengenakan pengaruh; 9 Mus runtunan nada yang berhubugan satu dan lainnya, berdasar pada suatu nada utama; 10 Mus lambang yang digunakan untuk menunjukkan letak not tertentu pada balok not, seperti kunci G menunjukkan letak not ‘g’ pada garis kedua balok not; 11 ki alat untuk mencapai suatu maksud (seperti membongkar rahasia, memecahkan masalah, menentukan kalah menang, atau berhasil tidaknya sesuatu) (Kamus Besar Bahasa

  Indonesia Edisi Ketiga , 2002: 613).

  Penggunaan frasa anak kunci dalam kalimat ini menunjuk kepada benda kecil yang digunakan untuk membuka pintu. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang setelahnya, yaitu “Maka, daun pintu pun terkuak. Blak.” (Roro Mendut &

  Atmo , hal 76). Berikut contoh lain dari metafora mati, yaitu daun pintu: (30) Maka daun pintu pun terkuak (Roro Mendut & Atmo, hal 76).

  Adapun pada contoh (30) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan frasa daun pintu. Frasa daun pintu dalam kalimat ini mempunyai makna ‘bagian barang yang tipis lebar’. Dalam Kamus Besar Bahasa

  

Indonesia Edisi Ketiga (2002: 240) kata daun mempunyai makna 1 bagian

  tanaman yang tumbuh berhelai-helai pada ranting (biasanya hijau) sebagai alat bernapas dan mengolah zat makanan; 2 bagian barang yang tipis lebar; 3 barang masuk dan keluar; 2 (papan dsb) penutup (pintu); 3 penggolong benda bagi rumah; 4 palang (pada) jalan; 5 ki jalan (ke …); yang menjadi lantaran (untuk mendapat dsb) (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2002: 877).

  Penggunaan frasa daun pintu dalam kalimat ini menunjuk pada pintu yang akan dibuka. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang sebelumnya, yaitu “Di pintu aku memutar anak kunci perlahan-lahan ke arah kiri.” (Roro Mendut &

  Atmo , hal 76). Berikut contoh lain dari metafora mati, yaitu merah padam: (31) Muka Galang merah padam (Roro Mendut & Atmo, hal 79).

  Adapun pada contoh (31) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan frasa merah padam. Frasa merah padam dalam kalimat ini mempunyai makna ‘merah sekali (warna muka ketika marah atau malu sekali)’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 734) kata merah mempunyai makna 1 warna dasar yang serupa dengan warna darah; 2 a mengandung atau memperlihatkan warna yang serupa warna darah. Kata padam mempunyai arti 1 mati (tentang api); tidak menyala atau tidak berkobar lagi; 2 reda (tentang kemarahan); tenang kembali (tentang hawa nafsu, berahi, dsb); 3 aman kembali (tentang huru hara, kerusuhan, dsb); 4 menjadi lemah (tentang semangat) (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2002: 808).

  Penggunaan frasa merah padam dalam kalimat ini menggambarkan perasaan Galang yang begitu malu karena tidak dapat menjawab pertanyaan Reni.

  Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu “Tapi, tampaknya pertanyaanku membuatnya terguncang. Bagai diterpa angin kencang, badan

  Atmo , hal 79). Berikut contoh lain dari metafora mati, yaitu besar mulut:

  (32) “Hai, panglima kerajaan yang katanya selalu menang perang! Mengakumu saja sebagai ksatria, tapi nyatanya berlaku betina. Engkau hanya besar mulut menghadapi dua orang mengerahkan para pengikut.

  Perempuan bisanya hanya menjerit, masih kau takut-takuti dengan segenap prajurit.” Pronocitro memanas-manasi lawannya (Roro Mendut

  & Atmo , hal 11).

  Adapun pada contoh (32) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan frasa besar mulut. Frasa besar mulut dalam kalimat ini mempunyai makna ‘suka membual atau menyombong dengan perkataan’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 143) kata besar mempunyai makna 1 lebih dari ukuran sedang; lawan dari kecil; 2 tinggi dan gemuk; 3 luas; tidak sempit; 4 lebar; 5 ki hebat; mulia; berkuasa; 6 banyak; tidak sedikit (tentang jumlah); 7 menjadi dewasa; 8 lebih dewasa daripada sebelumnya;

  

9 penting (berguna) sekali. Kata mulut mempunyai arti 1 rongga di muka, tempat

  gigi dan lidah, untuk memasukkan makanan (pada manusia atau binatang); 2 ki lubang, liang, atau apa saja yang rupanya sebagai mulut; bagian dari barang tempat masuknya sesuatu; 3 ki cakap; perkataan; 4 Fis lubang untuk meluahkan zat alir (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2002: 762).

  Penggunaan frasa besar mulut dalam kalimat ini menggambarkan Pronocitro yang berusaha memanas-manasi lawannya. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu:

  “Maka, dikerahkanlah pasukan artilerinya untuk mengejar triman pujaan. Setelah menyisir setiap sudut wilayah, pasukan berkuda itupun menemukan dua sejoli. Keduanya lalu dikepung dari berbagai jurusan hingga tak ada jalan keluar. Mengetahui musuhnya telah terisolasi, Wiroguno pun tertawa-tawa.” (Roro Mendut & Atmo , hal 11).

  Berikut contoh lain dari metafora mati, yaitu gencatan senjata: (33) Maka, terjadilah gencatan senjata (Roro Mendut & Atmo, hal 16).

  Adapun pada contoh (33) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora ini mempunyai makna ‘penghentian aktivitas tembak-menembak dalam perang’.

  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 352) kata gencatan mempunyai makna penghentian. Kata senjata mempunyai arti 1 alat yang dipakai untuk berkelahi atau berperang (keris, senapan, dsb); 2 ki sesuatu (surat, kop surat, cap, memo, dsb) yang dipakai untuk memperoleh suatu maksud; 3 tanda bunyi pada tulisan Arab (fatah, kasrah, damah, dsb) (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga , 2002: 1038).

  Penggunaan frasa gencatan senjata dalam kalimat ini menggambarkan Wiroguno dan Pronocitro tidak lagi saling menyerang karena ancaman Roro Mendut. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu “Kedua lelaki itu pun tidak lagi saling menyerang. Tak ada yang melakukan gerakan.

  Namun, mereka tetap saling curiga. Keris Wiroguno masih digenggam, sedangkan Pronocitro masih terpojok dan tidak berdaya.” (Roro Mendut & Atmo, hal 16).

  Berikut contoh lain dari metafora mati, yaitu adem-ayem: (34) Rumah tangganya tergolong sebagai keluarga yang adem-ayem (Roro Mendut & Atmo , hal 21).

  Adapun pada contoh (34) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan kata adem-ayem. Kata adem-ayem dalam kalimat ini mempunyai makna ‘sejuk dan tenang tentram’. Dalam Kamus Besar Bahasa

  

Indonesia Edisi Ketiga (2002: 7) kata adem mempunyai makna 1 dingin; sejuk; 2

  tenteram (pikiran, hati); tenang; 3 hambar (rasa makanan); tawar . Kata ayem mempunyai arti tenteram dan damai di hati (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Penggunaan kata adem-ayem dalam kalimat ini menunjuk kepada kondisi rumah tangga Atmo Jogja yang tenang dan tenteram. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu “Ia dengan istrinya tidak pernah terdengar berantem. Ia termasuk mudah bergaul di luar rumah, meski tampaknya di dalam sebagai seorang diktator.“ (Roro Mendut & Atmo, hal 21). Berikut contoh lain dari metafora mati, yaitu celaka dua belas:

  (35) “Aduh, celaka dua belas!” seruku (Roro Mendut & Atmo, hal 40).

  Adapun pada contoh (35) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan frasa celaka dua belas. Frasa celaka dua belas dalam kalimat ini mempunyai makna ‘celaka sekali’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

  

Edisi Ketiga (2002: 201) kata celaka mempunyai makna 1 (selalu) mendapat

  kesulitan, kemalangan, kesusahan, dsb; malang, sial; 2 kas keparat, jahanam, bangsat; 3 cak kata seru menyatakan perasaan tidak senang, kecewa, dsb.

  Kata dua mempunyai arti 1 bilangan yang dilambangkan dengan angka 2 (Arab) atau II (Romawi); 2 urutan ke-2 sesudah pertama dan sebelum ke-3; 3 jumlah bilangan 1 ditambah 1 (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002: 276). Kata belas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 125) berarti satuan bilangan dari 11-19.

  Penggunaan frasa celaka dua belas dalam kalimat ini menggambarkan kepanikan dan keterkejutan Toben ketika mengetahui si korban dibawa ke rumah sakit. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu “Wah, cepatlah mengejar! Tadi ia bersama Hirun ke rumah sakit!“ kata anak tuan rumah yang mengetahui maksud kedatanganku (Roro Mendut & Atmo, hal 40). Berikut contoh lain dari metafora mati, yaitu hampa tangan: duka lara, tak ada kesepakatan ataupun penandatanganan MOU. Eh bukan, maksudku MOL alias memorandum of love. Pulang hampa

  tangan . Dan aku pun sebenarnya kurang menginginkan (Roro Mendut & Atmo , hal 80).

  Adapun pada contoh (36) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan frasa hampa tangan. Frasa hampa tangan dalam kalimat ini mempunyai makna ‘tidak membawa apa-apa (pulang dengan tangan kosong)’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 385) kata hampa mempunyai makna 1 tidak berisi; kosong; 2 ki tidak bergairah; sepi; 3 ki sia-sia; tidak ada hasilnya; 4 ki bodoh; tidak berpengetahuan. Kata tangan mempunyai arti

  

1 anggota badan dari siku sampai ke ujung jari atau dari pergelangan sampai

  ujung jari; 2 ki sesuatu yang digunakan sebagai atau menyerupai tangan; 3 kekuasaan; pengaruh; perintah (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2002: 1136).

  Penggunaan frasa hampa tangan dalam kalimat ini menunjuk kepada Reni yang sebenarnya menginginkan Galang megungkapkan perasaannya. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu “Pantaslah, pertemuan tidak diakhiri happy ending, meski bukan dengan duka lara. Tak ada kesepakatan ataupun penandatanganan MOU. Eh bukan, MOL alias memorandum of love.” (Roro Mendut & Atmo, hal 80). Berikut contoh lain dari metafora mati, yaitu

  ketinggalan jaman :

  (37) “Mataku jadi saksi, Lang. Sayang sekali, punya teman terlalu ketinggalan

  jaman . Oh ya, aku barusan dari rumah Pak Anto, si dosen bujang

  perlente. Biasalah, diskusi sambil rujakan. Eh, ternyata mereka ada di sana. Nah, apa kamu tidak berani bersaing dengan teman sendiri?” begitu kata Wijaya (Roro Mendut & Atmo, hal 82). adalah penggunaan frasa ketinggalan jaman. Frasa ketinggalan jaman dalam kalimat ini mempunyai makna ‘sudah tidak sesuai lagi dengan jaman’.

  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 1196) kata

  

ketinggalan mempunyai makna 1 masih tetap di tempatnya dsb; masih selalu ada

  (sedang yang lain sudah hilang, pergi, dsb); 2 sisanya ialah …; bersisa …; tersisa …; yang masih ada hanyalah …; 3 ada di belakang; terbelakang; 4 tidak naik kelas (tentang murid sekolah); 5 sudah lewat (lalu; lampau); 6 diam (di); 7 selalu; tetap (demikian halnya); 8 melupakan; 9 tidak usah berbuat apa-apa selain dari …;

  

10 bergantung kepada; terserah kepada; terpulang kepada; 11 (sebagai keterangan

  pada kata majemuk berarti) a yang didiami; b yang ditinggalkan (dikosongkan dsb). Kata zaman mempunyai arti 1 jangka waktu yang panjang atau pendek yang menandai sesuatu; 2 kala; waktu (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2002: 1279).

  Penggunaan frasa ketinggalan jaman dalam kalimat ini menggambarkan keadaan Galang yang tidak mengetahui mengenai Nico dan Reni. Hal ini dapat dilihat pada pertanyaan yang diajukan Galang pada Wijaya, ketika ia memberitahu Galang mengenai Nico dan Reni, yaitu “Darimana kau tahu?” Galang kurang semangat (Roro Mendut & Atmo, hal 82) . Berikut contoh lain dari metafora mati, yaitu mabuk kepayang:

  (38) Sampai ia mabuk kepayang (Roro Mendut & Atmo, hal 77).

  Adapun pada contoh (38) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan frasa mabuk kepayang. Frasa mabuk kepayang dalam kalimat ini mempunyai makna ‘tergila-gila karena cinta’. Dalam Kamus Besar Bahasa

  

Indonesia Edisi Ketiga (2002: 693) kata mabuk mempunyai arti berbuat di luar

  kesadaran; lupa diri. Kepayang mempunyai arti pohon, tinggi hingga 40 m, digunakan sebagai tuba ikan, buahnya mengandung biji yang memabukkan (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2002: 546).

  Penggunaan frasa mabuk kepayang dalam kalimat ini mengungkapkan perasaan seseorang terhadap lawan jenisnya. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu “Padahal cintanya padaku selangit. Bener nih, suer! Aku sih, Cuma tahu dari gelagatnya saja.” (Roro Mendut & Atmo, hal 77). Berikut contoh lain dari metafora mati, yaitu pemuda ingusan:

  (39) “Hai, kamu pemuda ingusan! Menurut laporan asistenku, kamu orang yang bernama Pronocitro brengsek itu, bukan?” (Roro Mendut & Atmo, hal 9). Pada contoh (39) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan frasa pemuda ingusan. Frasa pemuda ingusan dalam kalimat ini mempunyai makna ‘orang yang tidak berpengalaman’. Dalam Kamus Besar

  

Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 757) kata pemuda mempunyai makna

  orang muda (laki-laki). Kata ingusan mempunyai makna muda sekali; belum tahu apa-apa; belum punya pengalaman (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2002: 434).

  Penggunaan frasa pemuda ingusan dalam kalimat ini bertujuan untuk menghina lawan bicara yang dianggap belum punya pengalaman apa-apa. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat sesudahnya, yaitu “Enak saja, nambah-nambahin nama orang! Cuman Pronocitro saja. Nggak pakai brengsek, tuh,” jawab yang ditanya dengan tenang (Roro Mendut & Atmo, hal 9). Berikut contoh lain dari metafora mati, yaitu setengah hati:

  Adapun pada contoh (40) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan frasa setengah hati. Frasa setengah hati dalam kalimat ini mempunyai makna ‘tidak ikhlas, tidak rela, memiliki rasa keberatan ketika melakukan sesuatu’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 1172) kata setengah mempunyai makna 1 seperdua; separuh; 2 sebagian; sejumlah; 3 belum sempurna; 4 ki agak gila; kurang waras (pikiran, otak, akal).

  Kata hati mempunyai arti 1 Anat organ badan yang berwarna kemerah-merahan di bagian kanan atas rongga perut, gunanya untuk mengambil sari-sari makanan di dalam darah dan menghasilkan empedu; 2 daging dari hati sebagai bahan makanan (terutama hati dari binatang sembelihan); 3 jantung; 4 sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian (perasaan dsb); 5 apa yang terasa dalam batin; 6 sifat (tabiat) batin manusia; 7 bagian yang di dalam sekali (tentang buah, batang, tumbuhan, dsb) (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2002: 392).

  Penggunaan frasa setengah hati dalam kalimat ini menunjuk kepada perasaan seseorang yang merasa berat hati; tidak ikhlas; tidak sepenuh hati, ketika mengerjakan sesuatu hal. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu “Terpaksa aku menuju ruang tamu. Dengan malas dan rasa ogah aku melangkah. Setengah hati kuayunkan kaki. Sepertinya aku mau marah pada tamu yang datang ke rumah. Rasanya aku mau mengumpat habis-habisan pada tamu yang tak tahu adat” (Roro Mendut & Atmo, hal 76). Berikut contoh lain dari metafora mati, yaitu tanah perantauan: (41) Beberapa saat menjelang keberangkatannya ke tanah perantauan, ia datang lagi (Roro Mendut & Atmo, hal 66).

  Adapun pada contoh (41) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan frasa tanah perantauan. Frasa tanah perantauan dalam kalimat ini mempunyai makna ‘daerah lain tempat mencari penghidupan’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 1132) kata tanah mempunyai makna 1 permukaan bumi atau lapisan bumi yang di atas sekali; 2 keadaan bumi di suatu tempat; 3 permukaan bumi yang diberi batas; 4 daratan; 5 permukan bumi yang terbatas yang ditempati suatu bangsa yang diperintah suatu negara atau menjadi daerah negara; negeri; 6 bahan-bahan dari bumi; bumi sebagai bahan sesuatu (pasir, napal, cadas, dsb); 7 dasar (warna, cat, dsb). Kata perantauan mempunyai arti 1 negeri lain tempat mencari penghidupan dsb; 2 daerah yang didiami oleh orang yang berasal dari daerah lain (Kamus Besar

  , 2002: 930).

  Bahasa Indonesia Edisi Ketiga

  Penggunaan frasa tanah perantauan dalam kalimat ini menunjuk kepada daerah lain tempat Harman mencari penghidupan. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu “Itulah hari ulang tahun terakhirku bersamanya sebelum kemudian ia pergi dariku” (Roro Mendut & Atmo, hal 66).

  Berikut contoh lain dari metafora mati, yaitu bersaing sehat: (42) “Kukirim puisi. Itu berarti, aku telah memiliki rasa seni seperti halnya

  Nico. Ya, aku mampu bersaing sehat dengannya.” Galang menatap mataku lagi (Roro Mendut & Atmo, hal 86). Adapun pada contoh (42) unsur yang menunjukkan gaya bahasa metafora adalah penggunaan kata bersaing sehat. Kata bersaing sehat dalam kalimat ini mempunyai makna ‘atas-mengatasi, dahulu-mendahului dengan cara yang baik dan benar’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 978) kata bersaing mempunyai makna berlomba (atas-mengatasi, dahulu-mendahului).

  Kata sehat mempunyai arti 1 baik seluruh badan serta bagian-bagiannya (bebas dari sakit); 2 (yang) mendatangkan kebaikan pada badan; 3 sembuh dari sakit; 4 ki baik dan normal (tentang pikiran); 5 boleh dipercaya atau masuk akal (tentang pendapat, usul, alasan, dsb); 6 berjalan dengan baik atau sebagaimana mestinya (tentang keadaan keuangan, ekonomi, dsb); 7 dijalankan dengan hati-hati dan dan baik-baik (tentang politik dsb) (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2002: 1011). kecemburuan Galang pada temannya, Nico, sehingga iapun memutuskan untuk bersaing secara sportif. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat yang mendukungnya, yaitu “Oh, aku lupa. Bagaimana kabar Nico? Dulu kita sering bersamanya. Pasti ia sudah jadi pelukis ngetop. Kamu tahu kan, dimana dia sekarang?” tambahnya (Roro Mendut & Atmo, hal 86).

  

Tabel 2

Gaya Bahasa Metafora Mati

No. Pengungkapan Metafora Penjelasan Arti data

  “Lho, kamu naksir sama Kata ketinggalan kereta dalam

  27

  bapaknya atau anaknya? Maumu kalimat ini mempunyai makna sudah apa, sih? Kamu bisa mati kutu jauh tertinggal oleh lawan. karena memendam rindu. Kamu Penggunaan kata ketinggalan kereta bisa ketinggalan kereta, hanya dalam kalimat ini menunjuk kepada karena menyembunyikan rasa Galang yang sudah kalah oleh Nico cinta. Sudah terbukti, Nico dalam memperebutkan Reni. menganggapmu sepi. Apa kamu sudah bereaksi?” Jaya mengurus temannya dengan berapi-api.

28 Orang yang mengingkari kata Kata hatinya dalam kalimat ini

  hatinya hingga pergi begitu saja mempunyai makna perasaan yang tak pernah bicara. timbul di hati; gerak hati.

  Penggunaan metafora kata hati dalam kalimat ini menunjuk kepada perasaan yang timbul dari dalam hati tokoh Galang Wicaksana .

  29 Di pintu aku memutar anak kunci Kata anak kunci dalam kalimat ini

  perlahan-lahan ke arah kiri. mempunyai makna alat untuk membuka kunci. Penggunaan kata

  anak kunci dalam kalimat ini

  menunjuk kepada benda kecil yang digunakan untuk membuka pintu.

  30 Maka daun pintu pun terkuak. Kata daun pintu dalam kalimat ini

  mempunyai makna bagian barang yang tipis lebar. Penggunaan kata

  daun pintu dalam kalimat ini

  menunjuk pada pintu yang akan dibuka. Muka galang merah padam. Kata merah padam dalam kalimat ini

  31

  mempunyai makna merah sekali (warna muka ketika marah atau malu sekali). Penggunaan kata merah

  padam dalam kalimat ini

  menggambarkan perasaan Galang yang begitu malu karena tidak dapat menjawab pertanyaan Reni.

  32 “Hai, panglima kerajaan yang Kata besar mulut dalam kalimat ini

  katanya selalu menang perang! mempunyai makna suka membual Mengakumu saja sebagai ksatria, atau menyombong dengan perkataan. tapi nyatanya berlaku betina. Penggunaan kata besar mulut dalam Engkau hanya besar mulut kalimat ini menggambarkan menghadapi dua orang Pronocitro yang berusaha memanas- mengerahkan para pengikut. manasi lawannya. Perempuan bisanya hanya menjerit, masih kau takut-takuti dengan segenap prajurit.” Pronocitro memanas-manasi lawannya.

  33 Maka, terjadilah gencatan Kata gencatan senjata dalam kalimat senjata . ini mempunyai makna penghentian

  aktivitas tembak-menembak dalam perang. Penggunaan kata gencatan

  senjata dalam kalimat ini

  menggambarkan Wiroguno dan Pronocitro tidak lagi saling menyerang karena ancaman Roro Mendut.

  34 Rumah tangganya tergolong

  “Mataku jadi saksi, Lang. Sayang sekali, punya teman terlalu

  Menurut laporan asistenku, kamu orang yang bernama Pronocitro brengsek itu, bukan?”

  39 “Hai, kamu pemuda ingusan !

  dalam kalimat ini mengungkapkan perasaan seseorang terhadap lawan jenisnya.

  mabuk kepayang

  ini mempunyai makna ‘tergila-gila karena cinta’. Penggunaan kata

  38 Sampai ia mabuk kepayang. Kata mabuk kepayang dalam kalimat

  Kata ketinggalan jaman dalam kalimat ini mempunyai makna sudah tidak sesuai lagi dengan jaman. Penggunaan kata ketinggalan jaman dalam kalimat ini menggambarkan keadaan Galang yang tidak mengetahui mengenai Nico dan Reni.

  barusan dari rumah Pak Anto, si dosen bujang perlente. Biasalah, diskusi sambil rujakan. Eh, ternyata mereka ada di sana. Nah, apa kamu tidak berani bersaing dengan teman sendiri?” begitu kata Wijaya.

  ketinggalan jaman . Oh ya, aku

  37

  sebagai keluarga yang

  kepada Reni yang sebenarnya menginginkan Galang mengungkapkan perasaannya.

  tangan dalam kalimat ini menunjuk

  Kata hampa tangan dalam kalimat ini mempunyai makna tidak membawa apa-apa (pulang dengan tangan kosong). Penggunaan kata hampa

  hampa tangan . Dan aku pun sebenarnya kurang menginginkan.

  diakhiri happy ending, meski bukan dengan duka lara, tak ada kesepakatan ataupun penandatanganan MOU. Eh bukan, maksudku MOL alias memorandum of love. Pulang

  36 Pantaslah, pertemuan tidak

  Kata celaka dua belas dalam kalimat ini mempunyai makna celaka sekali. Penggunaan kata celaka dua belas dalam kalimat ini menggambarkan kepanikan dan keterkejutan Toben ketika mengetahui si korban dibawa ke rumah sakit.

  35 “Aduh, celaka dua belas!” seruku.

  Kata adem ayem dalam kalimat ini mempunyai makna sejuk dan tenang tentram. Penggunaan kata adem ayem dalam kalimat ini menunjuk kepada kondisi rumah tangga Atmo Jogja yang tenang dan tentram.

  adem- ayem.

  Kata pemuda ingusan dalam kalimat ini mempunyai makna ‘orang yang tidak berpengalaman’. Penggunaan kata pemuda ingusan dalam kalimat ini bertujuan untuk menghina lawan bicara yang dianggap belum punya pengalaman apa-apa. ku ayunkan kaki. Kata setengah hati dalam kalimat ini

  40 Setengah hati

  mempunyai makna ‘tidak ikhlas, tidak rela, memiliki rasa keberatan ketika melakukan sesuatu’.

  Penggunaan kata setengah hati dalam kalimat ini menunjuk kepada perasaan seseorang yang merasa berat hati; tidak ikhlas; tidak sepenuh hati, ketika mengerjakan sesuatu hal.

  

41 Beberapa saat menjelang Kata tanah perantauan dalam kalimat

  keberangkatannya ke tanah ini mempunyai makna ‘daerah lain perantauan , ia datang lagi. tempat mencari penghidupan’.

  Penggunaan kata tanah perantauan dalam kalimat ini menunjuk kepada daerah lain tempat Harman mencari penghidupan.

  

42 “Kukirim puisi. Itu berarti, aku Kata bersaing sehat dalam kalimat

  telah memiliki rasa seni seperti ini mempunyai makna ‘atas- halnya Nico. Ya, aku mampu mengatasi, dahulu-mendahului

  bersaing sehat dengannya.” dengan cara yang baik dan benar’.

  Galang menatap mataku lagi. Penggunaan kata bersaing sehat dalam kalimat ini menggambarkan kecemburuan Galang pada temannya, Nico, sehingga iapun memutuskan untuk bersaing secara sportif.

2.4 Gaya Bahasa Personifikasi

  Gaya bahasa personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan (Keraf, 1984: 140). Berikut ini gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut

  & Atmo:

  (43) Wanita itu berasal dari sebuah kadipaten yang mengobarkan bara pemberontakan (Roro Mendut & Atmo, hal 1).

  Kalimat (43) unsur yang menunjukkan gaya bahasa personifikasi adalah frasa kadipaten yang mengobarkan bara pemberontakan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 488) kata kadipaten mempunyai arti daerah yang dikuasai oleh adipati, yang lebih rendah daripada kesultanan. Kata mengobarkan memiliki arti 1 membakar hingga menyala-nyala; menjadikan berkobar; 2 membangkitkan semangat hingga berapi-api (Kamus

  

Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga , 2002: 577). Kata bara memiliki arti barang

  sesuatu (arang) yang terbakar dan masih berapi (Kamus Besar Bahasa Indonesia

  

Edisi Ketiga , 2002: 106). Kata pemberontakan menurut Kamus Besar Bahasa

Indonesia Edisi Ketiga (2002: 142) memiliki arti 1 orang yang melawan atau

  menentang kekuasaan yang sah; pendurhaka; 2 orang yang sifatnya suka memberontak (melawan).

  Frasa kadipaten yang mengobarkan bara pemberontakan menunjukkan pengandaian bahwa suatu kadipaten bisa membangkitkan semangat untuk menentang kekuasaan yang sah layaknya manusia. Hal ini dapat dilihat dari kalimat yang mendukungnya, yaitu: “Sebagai pampasan perang, Roro Mendut adalah milik sah penguasa kerajaan. Wanita itu berasal dari sebuah kadipaten yang mengobarkan bara pemberontakan. Karena berada di pihak yang kalah, gadis itu diboyong ke kotaraja Mataram. Di istana ia tak bisa menolak ketika sang raja memanfaatkannya sebagai seorang

  triman untuk kepentingan negara” (Roro Mendut & Atmo, hal 1).

  Berikut bentuk penggantian frasa kadipaten yang mengobarkan bara

  pemberontakan :

  (43a) Wanita itu berasal dari sebuah kadipaten yang mengawali pemberontakan. Berikut contoh lain dari personifikasi, yaitu api disintegrasi:

  (44) Ia dihadiahkan pada Tumenggung Wiroguno sebagai penghargaan atas jasa sang pahlawan perang yang mampu memadamkan api disintegrasi (Roro Mendut & Atmo, hal 1). Pada kalimat (44) unsur yang menunjukkan gaya bahasa personifikasi adalah frasa api disintegrasi. Frasa api disintegrasi dalam kalimat tersebut menunjukkan pengandaian bahwa api diibaratkan dapat menyebabkan situasi terpecah belah sehingga harus segera dipadamkan. Dalam Kamus Besar Bahasa

  

Indonesia Edisi Ketiga (2002: 60) kata api mempunyai arti 1 panas dan cahaya

  yang berasal dari sesuatu yang terbakar; 2 kebakaran; 3 ki perasaan yang menggelora (tentang cinta, perjuangan). Kata disintegrasi memiliki arti 1 keadaan tidak bersatu padu; keadaan terpecah belah; hilangnya keutuhan atau persatuan; perpecahan; 2 Fis sebarang transformasi, baik spontan maupun terimbas oleh radiasi, yang dibarengi dengan pemancuran zarah atau foton (Kamus Besar

  Penggunaan frasa api disintegrasi dalam kalimat ini mengungkapkan bahwa di suatu kadipaten telah terjadi pemberontakan terhadap penguasa Mataram, yang berhasil dipadamkan oleh Tumenggung Wiroguno. Hal ini dapat dilihat dari kalimat yang mendukungnya, yaitu “Sebagai pampasan perang, Roro Mendut adalah milik sah penguasa kerajaan. Wanita itu berasal dari sebuah kadipaten yang mengobarkan bara pemberontakan. Karena berada di pihak yang kalah, gadis itu diboyong ke kotaraja Mataram” (Roro Mendut & Atmo, hal 1). Berikut bentuk penggantian frasa api disintegrasi:

  (44a) Ia dihadiahkan pada Tumenggung Wiroguno sebagai penghargaan atas jasa sang pahlawan perang yang mampu memadamkan

  pemberontakan yang telah terjadi.

  Berikut contoh lain dari personifikasi, yaitu malam semakin diam: (45) Jam setengah dua belas, malam semakin diam (Roro Mendut & Atmo, hal 65).

  Pada kalimat (45) unsur yang menunjukkan gaya bahasa personifikasi adalah frasa malam semakin diam. Kata diam menunjukkan sifat manusia yang tidak bersuara (berbicara), tidak bergerak (tetap di tempat). Dalam kalimat tersebut kata diam menunjukkan pengandaian bahwa malam dapat bersuara

  (berbicara) dan bergerak selayaknya manusia. Kata diam memiliki makna ‘sunyi’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 261) kata diam mempunyai arti 1 tidak bersuara (berbicara); 2 tidak bergerak (tetap di tempat); 3 tidak berbuat (berusaha apa-apa).

  Penggunaan frasa malam semakin diam dalam kalimat ini mengungkapkan bahwa malam semakin sunyi, tidak bersuara (berbicara), dan tidak bergerak dilihat dari kalimat yang mendukungnya, yaitu: “Biasanya, seperti yang sudah-sudah, seperti tahun-tahun sebelumnya, tiap tanggal 19 Desember selalu kuterima kiriman selembar kartu dari seseorang. Kali ini aku takut berada pada tanggal 19 Desember untuk menerima kiriman kartu ucapan. Tidak! Aku tak ingin melihat sesuatu yang menakutkan itu” (Roro

  Mendut & Atmo , hal 64-65).

  Berikut bentuk penggantian kata diam: (45a) Jam setengah dua belas, malam semakin sunyi.

  Berikut contoh lain dari personifikasi, yaitu: (46) Ucapan lidahnya yang minta disaksikan pihak lain, bahkan alam, adalah sumpah. Tak ada yang berkata-kata, tak ada yang bersuara. Sekujur tubuh

  Wijaya merinding dan bergetar. Dinding kamarnya menatap Galang

  penuh kesangsian. Angin pun sejenak berhenti berkelana. Dan, dedaunan yang merimbunkan pepohonan di samping rumah Wijaya, sesaat menganga (Roro Mendut & Atmo, hal 84).

  Kalimat (46) unsur yang menunjukkan gaya bahasa personifikasi adalah kata disaksikan dalam kalimat “Ucapan lidahnya yang minta disaksikan pihak adalah sumpah”.

  lain, bahkan alam,

  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 981) kata saksi mempunyai arti 1 orang yang melihat atau mengetahui sendiri suatu peristiwa (kejadian); 2 orang yang dimintai hadir pada suatu peristiwa yang dianggap mengetahui kejadian tersebut agar pada suatu ketika, apabila diperlukan, dapat memberikan keterangan yang membenarkan bahwa peristiwa itu sungguh- sungguh terjadi; 3 orang yang memberikan keterangan di muka hakim untuk kepentingan pendakwa atau terdakwa; 4 keterangan (bukti pernyataan) yang diberikan oleh orang yang melihat atau mengetahui; 5 bukti kebenaran; 6 orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang didengarnya, dilihatnya, atau dialaminya sendiri.

  Kata disaksikan merupakan keadaan dimana seseorang menyaksikan sendiri suatu peristiwa dan juga bisa memberikan keterangan yang membenarkan bahwa peristiwa itu sungguh-sungguh terjadi. Dalam kalimat tersebut terdapat pengandaian bahwa alam diibaratkan seperti manusia sehingga bisa diminta untuk menjadi saksi atas sumpah yang diucapkan Galang, selayaknya manusia. Hal ini dapat dilihat dari kalimat yang mendukungnya, yaitu: “Tak ada lagi canda dan tawa. Galang berdiri menghentak. Kedua bola matanya menatap langit-langit kamar. Lalu, ia bicara dengan kerasnya. Kata-katanya begitu menggelegar. Suaranya memenuhi isi ruangan. “Saksikan engkau, hai Wijaya!” Galang mengangkat kedua tangannya. Lalu ia bicara lagi. “Demi Reni, akan kutulis berpucuk-pucuk surat cinta dan akan kugubah berjuta sajak cinta. Semua untuk dirinya. Suatu saat nanti, ketika telah kutulis suratnya, dan telah kugubah sajak cintanya, akan kutunjukkan padamu, pada dinding, angin, dan dedaunan, bahwa aku mampu menggandeng tangan Baiq Anggraeni.” (Roro Mendut & Atmo , hal 83-84)).

  Kalimat (46) unsur yang menunjukkan gaya bahasa personifikasi adalah kalimat Dinding kamarnya menatap Galang penuh kesangsian. Kata menatap merupakan sifat manusia dalam memperhatikan atau melihat suatu objek. Dalam kalimat tersebut menatap menunjukkan pengandaian bahwa dinding kamar tersebut memiliki mata selayaknya manusia sehingga dapat melihat dengan menggunakan matanya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 1149) kata menatap mempunyai arti memandangi.

  Penggunaan kata menatap dalam kalimat ini mengungkapkan bahwa dinding kamar itu memandangi Galang karena sumpah yang di ucapkannya. Hal ini dapat dilihat dari kalimat yang mendukungnya, yaitu: “Tak ada lagi canda dan tawa. Galang berdiri menghentak. Kedua bola matanya menatap langit-langit kamar. Lalu, ia bicara dengan kerasnya. Kata-katanya begitu menggelegar. Suaranya memenuhi isi ruangan. “Saksikan engkau, hai Wijaya!” Galang mengangkat kedua tangannya. Lalu ia bicara lagi. “Demi Reni, akan kutulis berpucuk-pucuk surat cinta dan akan kugubah berjuta sajak cinta. Semua untuk dirinya. Suatu saat nanti, ketika telah kutulis suratnya, dan telah kugubah bahwa aku mampu menggandeng tangan Baiq Anggraeni.” (Roro Mendut &

  Atmo , hal 83-84).

  Kalimat (46) unsur yang menunjukkan gaya bahasa personifikasi adalah kata menganga. Kata menganga menunjukkan sifat manusia yang kaget karena sesuatu hingga membuat mulut terbuka dan mata tercengang. Dalam kalimat tersebut menganga menunjukkan pengandaian bahwa dedaunan tersebut digambarkan dapat menganga selayaknya manusia. Kata menganga memiliki makna ‘tercengang’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 781) kata menganga mempunyai arti 1 membuka lebar (tentang mulut); terbuka lebar; 2 membuka mulut karena tercengang; 3 melihat saja.

  Penggunaan kata menganga dalam kalimat ini mengungkapkan bahwa dedaunan itu tercengang karena sumpah yang diucapkan Galang. Hal ini dapat dilihat dari kalimat yang mendukungnya, yaitu: “Tak ada lagi canda dan tawa. Galang berdiri menghentak. Kedua bola matanya menatap langit-langit kamar. Lalu, ia bicara dengan kerasnya. Kata-katanya begitu menggelegar. Suaranya memenuhi isi ruangan. “Saksikan engkau, hai Wijaya!” Galang mengangkat kedua tangannya. Lalu ia bicara lagi. “Demi Reni, akan kutulis berpucuk-pucuk surat cinta dan akan kugubah berjuta sajak cinta. Semua untuk dirinya. Suatu saat nanti, ketika telah kutulis suratnya, dan telah kugubah sajak cintanya, akan kutunjukkan padamu, pada dinding, angin, dan dedaunan, bahwa aku mampu menggandeng tangan Baiq Anggraeni.” (Roro Mendut & Atmo , hal 83-84).

  Kalimat (46) unsur yang menunjukkan gaya bahasa personifikasi adalah kata berkelana. Kata berkelana menunjukkan sifat manusia yang mengadakan perjalanan ke mana-mana tanpa tujuan tertentu. Dalam kalimat tersebut berkelana menunjukkan pengandaian bahwa angin dapat melakukan perjalanan kemana pun tanpa tujuan tertentu selayaknya manusia. Kata berkelana memiliki makna ‘mengembara’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 529) kata berkelana mempunyai arti pergi ke mana-mana; mengembara.

  Penggunaan kata berkelana dalam kalimat ini mengungkapkan bahwa angin tersebut berhenti mengembara karena sumpah yang diucapkan oleh Galang.

  Hal ini dapat dilihat dari kalimat yang mendukungnya, yaitu: “Tak ada lagi canda dan tawa. Galang berdiri menghentak. Kedua bola matanya menatap langit-langit kamar. Lalu, ia bicara dengan kerasnya. Kata-katanya begitu menggelegar. Suaranya memenuhi isi ruangan. “Saksikan engkau, hai Wijaya!” Galang mengangkat kedua tangannya. Lalu ia bicara lagi. “Demi Reni, akan kutulis berpucuk-pucuk surat cinta dan akan kugubah berjuta sajak cinta. Semua untuk dirinya. Suatu saat nanti, ketika telah kutulis suratnya, dan telah kugubah sajak cintanya, akan kutunjukkan padamu, pada dinding, angin, dan dedaunan, bahwa aku mampu menggandeng tangan Baiq Anggraeni.” (Roro Mendut & Atmo , hal 83-84).

  Berikut bentuk penggantian kalimat (46): (46a) Ucapan lidahnya yang minta diketahui oleh pihak lain, bahkan alam, adalah sumpah. Tak ada yang berkata-kata, tak ada yang bersuara.

  Sekujur tubuh Wijaya merinding dan bergetar. Dinding kamarnya

  memandangi Galang penuh kesangsian. Angin pun sejenak berhenti

  Dan, dedaunan yang merimbunkan pepohonan di mengembara.

  samping rumah Wijaya, sesaat tercengang.

  

Tabel 3

Gaya Bahasa Personifikasi No. data Pengungkapan Personifikasi No. data Pengungkapan Biasa

  46 Ucapan lidahnya yang minta disaksikan pihak lain, bahkan alam, adalah sumpah. Tak ada

  Mendut & Atmo:

  Berikut ini gaya bahasa alusi yang ditemukan dalam kumpulan cerita pendek Roro

  Gaya bahasa alusi adalah semacam acuan yang berusaha untuk mensugestikan kesamaan antara orang, tempat atau peristiwa (Keraf, 1984: 141).

  memandangi Galang penuh kesangsian. Angin pun sejenak berhenti mengembara. Dan, dedaunan yang merimbunkan pepohonan di samping rumah Wijaya, sesaat tercengang.

  Tak ada yang berkata-kata, tak ada yang bersuara. Sekujur tubuh Wijaya merinding dan bergetar. Dinding kamarnya

  46a Ucapan lidahnya yang minta diketahui oleh pihak lain, bahkan alam, adalah sumpah.

  Dinding kamarnya menatap Galang penuh kesangsian. Angin pun sejenak berhenti berkelana. Dan, dedaunan yang merimbunkan pepohonan di samping rumah Wijaya, sesaat menganga.

  yang berkata-kata, tak ada yang bersuara. Sekujur tubuh Wijaya merinding dan bergetar.

  45a Jam setengah dua belas, malam semakin sunyi .

  43 Wanita itu berasal dari sebuah kadipaten yang mengobarkan bara pemberontakan.

  45 Jam setengah dua belas, malam semakin diam.

  yang telah terjadi.

  Ia dihadiahkan pada Tumenggung Wiroguno sebagai penghargaan atas jasa sang pahlawan perang yang mampu memadamkan pemberontakan

  44a

  disintegrasi.

  Tumenggung Wiroguno sebagai penghargaan atas jasa sang pahlawan perang yang mampu memadamkan api

  44 Ia dihadiahkan pada

  43a Wanita itu berasal dari sebuah kadipaten yang mengawali pemberontakan.

2.5 Gaya Bahasa Alusi

  (47) “Maaf, saya tidak bersedia menuruti keinginan Menggung,” tolak gadis dari Kadipaten Pati (Roro Mendut & Atmo, hal 2). (48) “Saya sudah tahu status itu, Menggung,” kata perawan dari wilayah Pegunungan Kapur Utara (Roro Mendut & Atmo, hal 3). (49) Suatu hal yang wajar karena Prono mencintai gadis Pantai Utara itu (Roro Mendut & Atmo, hal 8).

  Kalimat (47), (48), dan (49) terdapat gaya bahasa alusi yaitu pada frasa

  

gadis dari Kadipaten Pati , perawan dari wilayah Pegunungan Kapur Utara, dan

gadis Pantai Utara. Penulis mempunyai praanggapan yaitu adanya pengetahuan

  bersama pada pembaca bahwa keempat bentuk gaya bahasa alusi tersebut dapat disugestikan sebagai Roro Mendut. Berikut bentuk penggantian keempat gaya bahasa alusi tersebut:

  (47a) “Maaf, saya tidak bersedia menuruti keinginan Menggung,” tolak Roro Mendut.

  (48a) “Saya sudah tahu status itu, Menggung,” kata Roro Mendut. (49a) Suatu hal yang wajar karena Prono mencintai Roro Mendut.

  Berikut contoh lain dari alusi, yaitu: (50) “Sekarang segeralah kalian, berlutut di kakiku!” lanjut Senopati perang (Roro Mendut & Atmo, hal 11). (51) Pronocitro yang dipihakinya, semakin tak berdaya menandingi arogansi (Roro Mendut & Atmo, hal 14).

  panglima perang negeri Mataram

  Kalimat (50) dan (51) terdapat gaya bahasa alusi yaitu pada frasa Senopati

  

perang dan panglima perang negeri Mataram. Penulis mempunyai praanggapan

  yaitu adanya pengetahuan bersama pada pembaca bahwa kedua bentuk gaya bahasa alusi tersebut dapat disugestikan sebagai Tumenggung Wiroguno. Berikut bentuk penggantian kedua gaya bahasa alusi tersebut:

  (50a) “Sekarang segeralah kalian, berlutut di kakiku!” lanjut Tumenggung Wiroguno. (51a) Pronocitro yang dipihakinya, semakin tak berdaya menandingi arogansi Tumenggung Wiroguno.

  Berikut contoh lain dari alusi, yaitu: (52) Mereka lebih suka memanggilnya dengan ‘Atmo Jogja’ (Roro Mendut & Atmo , hal 25).

  Kalimat (52) terdapat gaya bahasa alusi yaitu pada frasa Atmo Jogja. Penulis mempunyai praanggapan yaitu adanya pengetahuan bersama pada masyarakat Gang Dahlia, RT 06, bahwa Suratmo Hartono yang berasal dari Jogjakarta lebih dikenal dengan nama Atmo Jogja. Berikut bentuk penggantian

  Atmo Jogja : (52a) Mereka lebih suka memanggilnya Atmo yang berasal dari Jogja.

  Berikut contoh lain dari alusi, yaitu: (53) Menurut seorang saksi mata yang berjualan rokok di dekat situ, si korban sudah ditolong penduduk (Roro Mendut & Atmo, hal 35).

  Kalimat (53) terdapat gaya bahasa alusi yaitu pada frasa si korban. Penulis mempunyai praanggapan yaitu adanya pengetahuan bersama pada pembaca dan masyarakat dimana kecelakaan tersebut terjadi bahwa si korban dapat disugestikan sebagai Yuri. Berikut bentuk penggantian si korban:

  (53a) Menurut seorang saksi mata yang berjualan rokok di dekat situ, Yuri sudah ditolong penduduk.

  

Tabel 4

Gaya Bahasa Alusi

No. Pengungkapan Alusi No. Pengungkapan Biasa data data

  “Maaf, saya tidak bersedia “Maaf, saya tidak bersedia

  47 47a

  menuruti keinginan menuruti keinginan Menggung,” Menggung,” tolak gadis dari tolak Roro Mendut.

  Kadipaten Pati.

  semakin tak berdaya menandingi arogansi Tumenggung

  (54) Ia dihadiahkan pada Tumenggung Wiroguno sebagai penghargaan atas jasa sang pahlawan perang yang mampu memadamkan api disintegrasi (Roro Mendut & Atmo, hal 1). Kalimat (54) gaya bahasa epitet ditunjukkan oleh frasa sang pahlawan

  Epitet (epiteta) adalah semacam acuan yang menyatakan suatu sifat atau ciri yang khusus dari seseorang atau sesuatu hal. Keterangan itu adalah suatu frasa deskriptif yang menjelaskan atau menggantikan nama seseorang atau suatu barang (Keraf, 1984: 141). Berikut gaya bahasa epitet yang ditemukan dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut & Atmo karya Besar S.W:

  2. 6 Gaya Bahasa Epitet

  yang berjualan rokok di dekat situ, Yuri sudah ditolong penduduk.

  53a Menurut seorang saksi mata

  yang berjualan rokok di dekat situ, si korban sudah ditolong penduduk.

  53 Menurut seorang saksi mata

  Atmo yang berasal dari Jogja.

  memanggilnya

  52a Mereka lebih suka

  memanggilnya dengan ‘Atmo Jogja’.

  52 Mereka lebih suka

  Wiroguno.

  51a Pronocitro yang dipihakinya,

  48 “Saya sudah tahu status itu,

  perang negeri Mataram.

  semakin tak berdaya menandingi arogansi panglima

  51 Pronocitro yang dipihakinya,

  berlutut di kakiku!” lanjut Tumenggung Wiroguno.

  50a “Sekarang segeralah kalian,

  berlutut di kakiku!” lanjut Senopati perang.

  50 “Sekarang segeralah kalian,

  Suatu hal yang wajar karena Prono mencintai Roro Mendut.

  49a

  Prono mencintai gadis Pantai Utara itu.

  49 Suatu hal yang wajar karena

  48a “Saya sudah tahu status itu, Menggung,” kata Roro Mendut.

  wilayah Pegunungan Kapur Utara.

  Menggung,” kata perawan dari

  

perang. Dalam kalimat tersebut digambarkan bahwa Tumenggung Wiroguno berhasil memadamkan api disintegrasi sehingga ia disebut sebagai sang pahlawan

  perang . Berikut contoh lain dari epitet, yaitu sang pembantai:

  (55) “Lahirmu saja baru kemarin sore, sudah berlagak sebagai sang

  pembantai . Kencangkan dulu kolor celanamu, kalau hendak berlaga

  dengan tuanmu. Ayo jangan mundur meski selangkah karena pantang bagiku menyerah kalah!” Tumenggung menerima tantangan (Roro

  Mendut & Atmo , hal 12).

  Kalimat (55) gaya bahasa epitet ditunjukkan oleh frasa sang pembantai. kepada Pronocitro karena dianggap terlalu banyak berlagak. Berikut contoh lain dari epitet, yaitu mahasiswa krempeng yang nyentrik itu:

  (56) Yah, mahasiswa krempeng yang nyentrik itu akhirnya memang jadi buah simalakama bagi Galang (Roro Mendut & Atmo, hal 82).

  Kalimat (56) gaya bahasa epitet ditunjukkan dengan kalimat mahasiswa

  

kerempeng yang nyentrik itu . Sebutan itu menggambarkan keadaan Nico, saingan

  Galang dalam memperebutkan cinta Reni. Reni memberikan julukan itu karena sifat Nico yang memang nyentrik dan badannya yang kurus. Berikut contoh lain dari epitet, yaitu si dosen bujang perlente:

  (57) “Mataku jadi saksi, Lang. Sayang sekali, punya teman terlalu ketinggalan jaman. Oh ya, aku barusan dari rumah Pak Anto, si dosen bujang

  perlente . Biasalah, diskusi sambil rujakan. Eh, ternyata mereka ada di

  sana. Nah, apa kamu tidak berani bersaing dengan teman sendiri?” begitu kata Wijaya (Roro Mendut & Atmo, hal 82). Pada kalimat (57) gaya bahasa epitet ditunjukkan oleh si dosen bujang

  

perlente . Frasa tersebut menggambarkan keadaan Pak Anto yang belum menikah,

gagah, dan suka berpakaian rapi.

  (58) Padahal, kepasrahan sang triman adalah suatu keadaan yang diharap- harapkan oleh Pak Tumenggung (Roro Mendut & Atmo, hal 5).

  Pada kalimat (58) gaya bahasa epitet ditunjukkan oleh sang triman. Frasa tersebut menggantikan Roro Mendut yang akan ditriman oleh Tumenggung Wiroguno.

  2. 7 Gaya Bahasa Antonomasia

  Antonomasia juga merupakan bentuk khusus dari sinekdoke yang berwujud penggunaan sebuah epiteta untuk menggantikan nama diri, atau gelar resmi, atau jabatan untuk menggantikan nama diri (Keraf, 1984: 142). Berikut ini adalah gaya bahasa antonomasia yang ditemukan dalam kumpulan cerpen Roro

  Mendut & Atmo karya Besar S.W:

  (59) Di istana ia tak bisa menolak ketika sang raja memanfaatkannya sebagai seorang triman untuk kepentingan Negara (Roro Mendut & Atmo, hal 1).

  Kalimat (59) gaya bahasa antonomasia ditunjukkan dengan frasa sang

  

raja . Sang raja di kalimat tersebut menggantikan Raja Mataram. Berikut contoh

  lain dari antonomasia, yaitu seorang perawan: (60) Asalkan, si penerima hadiah menghormatinya sebagai seorang perawan (Roro Mendut & Atmo, hal 2).

  Kalimat (60) gaya bahasa antonomasia ditunjukkan oleh frasa seorang

perawan . Seorang perawan dalam kalimat ini menggantikan Roro Mendut.

  Berikut contoh lain dari antonomasia, yaitu pejabat kerajaan: (61) “Jangan khawatir, Ndut! Aku akan menjamin kehidupan yang sangat layak untuk masa depanmu. Kamu akan hidup mewah bergelimang harta di ibukota Negara. Juga bergaul dengan kalangan elite. Tinggal di sebuah rumah mewah dilayani banyak abdi dan jongos. Punya kendaraan tak bermotor, lengkap dengan kusirnya. Bagaimana Cah Ayu?” pejabat

kerajaan itu menjanjikan segalanya (Roro Mendut & Atmo, hal 3).

  Kalimat (61) gaya bahasa antonomasia ditunjukkan oleh frasa pejabat

  

kerajaan . Dalam kalimat ini, pejabat kerajaan menggantikan Tumenggung

Wiroguno . Berikut contoh lain dari antonomasia, yaitu dedengkot:

  (62) Dedengkot majalah dinding sekolah itu bahkan menilainya sebagai kisah murahan yang tidak punya konflik (Roro Mendut & Atmo, hal 57-58).

  Kalimat (62) gaya bahasa antonomasia ditunjukkan oleh kata dedengkot. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 244), kata dedengkot berarti orang yang menjadi tokoh (pemimpin) dalam suatu perkumpulan dsb, baik dalam arti yang baik maupun yang buruk. Kata dedengkot dalam kalimat ini menggantikan Ratri, karena Ratri adalah ketua mading sekolah.

  2. 8 Gaya Bahasa Ironi

  Sebagai bahasa kiasan, atau sindiran adalah suatu acuan yang ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dari apa yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya. Ironi akan berhasil kalau pendengar juga sadar akan maksud yang disembunyikan di balik rangkaian kata-katanya (Keraf, 1984: 143).

  Terdapat juga istilah lain yaitu sinisme yang diartikan sebagai suatu sindiran berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. Walaupun sinisme dianggap lebih keras dari ironi, namun kadang- kadang masih sukar diadakan perbedaan antara keduanya. Bila contoh mengenai ironi di atas diubah, maka akan dijumpai gaya yang lebih bersifat sinis (Keraf, 1984: 143).

  Sarkasme merupakan suatu acuan yang lebih kasar dari ironi dan sinisme.

  Ia adalah suatu acuan yang mengandung kepahitan dan celaan yang getir. Sarkasme dapat juga bersifat ironis, dapat juga tidak, tetapi yang jelas adalah bahwa gaya ini akan selalu menyakiti hati dan kurang enak didengar. Kata

  

sarkasme diturunkan dari kata Yunani sarkasmos, yang lebih jauh diturunkan dari

  kata kerja sakasein yang berarti “merobek-robek daging seperti anjing”, 143). Berikut ini gaya bahasa ironi, sinisme, dan sarkasme yang ditemukan dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut dan Atmo karya Besar S.W:

  (63) “Wah-wah kamu bilang pelanggan. Tapi dari tadi kamu berbisik-bisik

  dan saling tersenyum berdua. Jangan kira, baru sekarang aku mengetahui hubunganmu ini, Mendut. Kamu memang wanita tidak tahu diuntung. Kalau tidak kuselamatkan, mungkin engkau telah mati keterjang senjata nyasar di kancah peperangan.” Wiroguno marah (Roro Mendut & Atmo,

  hal 8). Kalimat (63) terdapat gaya bahasa ironi dan sarkasme. Kalimat Wah-wah

  

kamu bilang pelanggan. Tapi dari tadi kamu berbisik-bisik dan saling tersenyum

berdua yang diucapkan oleh Wiroguno mengandung ironi. Dalam kalimat tersebut

  Wiroguno menyindir kedekatan antara Roro Mendut dan Pronocitro. Wiroguno menyindir Roro Mendut karena wanita tersebut merupakan trimannya. Karena itulah ia merasa memiliki hak atas Roro Mendut dan tidak senang apabila wanita tersebut berdekatan dengan lelaki lain. Sedangkan pada kalimat Kamu memang

  

wanita tidak tahu diuntung. Kalau tidak kuselamatkan, mungkin engkau telah

mati keterjang senjata nyasar di kancah peperangan merupakan sarkasme.

  Kalimat yang diucapkan oleh Wiroguno tersebut bermaksud untuk mencela Roro

  Mendut yang kelakuannya membuat Wiroguno marah. Kalimat tersebut sangat menyakitkan hati dan tidak enak didengar. Berikut contoh lain dari ironi, yaitu: (64) “Hai, kamu pemuda ingusan! Menurut laporan asistenku, kamu orang yang bernama Pronocitro brengsek itu, bukan?” (Roro Mendut & Atmo, hal 9). (65) “Orang edan, ngapain kamu berlama-lama berduaan dengan trimanku, ha?” pejabat itu naik pitam (Roro Mendut & Atmo, hal 9). (66) “Tahukah kamu, Prono gemblung, kalau sebentar lagi ia akan menjadi selirku?” Wiroguno mengintrogasi (Roro Mendut & Atmo, hal 9). (67) “Jangan ikut campur urusanku dengan Prono menying ini, Ndut!” (68) “Pasukan! Tangkap pemuda gembel jelek itu!” komando Panglima Wiroguno pada anak buahnya (Roro Mendut & Atmo, hal 10). (69) “Hai para begundal! Mau pada lari kemana lagi kalian, ha? Tempat ini sudah saya blokade. Ha… ha ha ha …!” Wiroguno merasa menang (Roro

  Mendut & Atmo , hal 11).

  (70) “Dasar anak ingusan tak tahu malu, wanita sudah ditriman masih di

  mau. Sebaiknya engkau pulang menyusu pada ibumu karena yang kuhadapi belum banyak ilmu. Lalu, belajarlah mencuci paras muka kalau ingin dihinggapi rasa cinta,” kata-kata Wiroguno tak kalah menyakitkan hati lawan (Roro Mendut & Atmo, hal 12).

  (71) “Lahirmu saja baru kemarin sore, sudah berlagak sebagai sang

  pembantai. Kencangkan dulu kolor celanamu, kalau hendak berlaga

  Ayo jangan mundur meski selangkah karena pantang dengan tuanmu. bagiku menyerah kalah!” Tumenggung menerima tantangan (Roro Mendut & Atmo , hal 12).

  Kalimat (64) sampai dengan kalimat (71) seluruhnya mengandung sarkasme. Hal ini ditunjukkan dengan kata-kata yang diucapkan oleh Wiroguno yaitu pemuda ingusan, Pronocitro brengsek, orang edan, Pronocitro gemblung,

  

Pronocitro menying, pemuda gembel jelek , para begundal, Dasar anak ingusan

tak tahu malu, wanita sudah ditriman masih di mau. Sebaiknya engkau pulang

menyusu pada ibumu karena yang kuhadapi belum banyak ilmu. Lalu, belajarlah

mencuci paras muka kalau ingin dihinggapi rasa cinta, Lahirmu saja baru

kemarin sore, sudah berlagak sebagai sang pembantai. Kencangkan dulu kolor

celanamu, kalau hendak berlaga dengan tuanmu . Semua kata-kata yang diucapkan oleh Wiroguno tersebut bermaksud untuk mengejek dan memanas- manasi lawannya, Pronocitro. Pronocitro dianggap masih anak kecil yang belum tahu apa-apa. Kalimat-kalimat tersebut begitu menyakitkan hati dan tidak enak didengar. Berikut contoh lain dari ironi, yaitu:

  (72) “Hai, panglima kerajaan yang katanya selalu menang perang!

  Mengakumu saja sebagai ksatria, tapi nyatanya berlaku betina. Engkau hanya besar mulut menghadapi dua orang mengerahkan para pengikut.

  Perempuan bisanya hanya menjerit, masih kau takut-takuti dengan & Atmo , hal 11).

  Kalimat (72) mengandung ironi. Hal ini ditunjukkan dengan kalimat Hai,

  

panglima kerajaan yang katanya selalu menang perang! Mengakumu saja

sebagai ksatria, tapi nyatanya berlaku betina. Engkau hanya besar mulut

menghadapi dua orang mengerahkan para pengikut yang diucapkan oleh

  Pronocitro. Kalimat yang diucapkan oleh Pronocitro ini bermaksud untuk membalas ejekan-ejekan yang diucapkan oleh Wiroguno. Wiroguno dikatakan berkelakuan seperti wanita. Tetapi dalam kalimat tersebut tidak digunakan kata

  

wanita melainkan kata betina yang berarti kelakuan Wiroguno disamakan dengan

  hewan betina. Berikut contoh lain dari ironi, yaitu: (73) “Tak ada yang berminat membaca tulisan jelekmu!” kata gadis itu acuh tak acuh (Roro Mendut & Atmo, hal 49). (74) “Biar saja! Sudut pandangnya juga kaku, kayak wayang,” Ratri mulai tidak menghadap kearah lain (Roro Mendut & Atmo, hal 60).

  Kalimat (73) dan (74) mengandung sarkasme. Hal ini ditunjukkan dengan kalimat Tak ada yang berminat membaca tulisan jelekmu dan Sudut pandangnya

  

juga kaku, kayak wayang yang diucapkan oleh Ratri. Kata-kata yang diucapkan

  oleh Ratri tersebut bermaksud untuk memberikan pelajaran pada Bramanto karena ia terlalu keras kepala. Sudut pandang dalam cerita yang ditulis oleh Bramanto disamakan dengan wayang yang begitu kaku. Berikut contoh lain dari ironi, yaitu: (75) “Jangan asal menilai karya orang, ya! Apresiasi senimu rendah. Cerpen baik dibilang jelek,” bantahku (Roro Mendut & Atmo, hal 52). (76) “Kamu yang kaku kayak tulang.” Aku panas (Roro Mendut & Atmo, hal 60).

  Kalimat (75) dan (76) mengandung sarkasme. Hal ini ditunjukkan dengan kalimat Apresiasi senimu rendah dan Kamu yang kaku kayak tulang yang diucapkan oleh Bramanto. Kata-kata yang diucapkan oleh Bramanto tersebut bermaksud untuk membalas ejekan Ratri atas tulisannya. Ratri yang merupakan seorang redaktur mading di sekolah dianggap memiliki apresiasi seni yang rendah oleh Bramanto.

  2. 9 Gaya Bahasa Inuendo

  Inuendo adalah semacam sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Ia menyatakan kritik dengan sugesti yang tidak langsung, dan sering tampaknya tidak menyakitkan hati kalau dilihat sambil lalu (Keraf, 1984: 144). Berikut ini adalah gaya bahasa inuendo yang ditemukan dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut & Atmo karya Besar S.W:

  (77) “Wah-wah kamu bilang pelanggan. Tapi dari tadi kamu berbisik-bisik

  dan saling tersenyum berdua. Jangan kira, baru sekarang aku mengetahui hubunganmu ini, Mendut. Kamu memang wanita tidak tahu diuntung.

  Kalau tidak kuselamatkan, mungkin engkau telah mati keterjang senjata nyasar di kancah peperangan.” Wiroguno marah (Roro Mendut & Atmo, hal 8). Kalimat (77) Wiroguno mengecilkan kenyataan dengan menyebut bahwa

  Pronocitro dan Roro Mendut adalah pelanggan. Dalam kumpulan cerpen Roro

  

Mendut & Atmo karya Besar S.W (2006: 8), tertulis “Ia dan pemuda Pronocitro sama-sama menaruh perhatian. Kedua orang muda itu sering bertemu, lalu saling jatuh hati. Harkat dan martabatnya dihargai, dihormati, dan diperlakukan sebagai sesamanya. Mereka pun kemudian menjalin benang asmara secara illegal,” Penulis cerpen menggambarkan bahwa Pronocitro dan Roro Mendut memiliki hubungan yang spesial. Berikut contoh lain dari inuendo, yaitu:

  (78) “Pasukan! Tangkap pemuda gembel jelek itu!” komando Panglima Wiroguno pada anak buahnya (Roro Mendut & Atmo, hal 10).

  Kalimat (78) Wiroguno mengecilkan kenyataan yang sebenarnya dengan mengatakan bahwa Pronocitro adalah pemuda gembel jelek. Dalam kumpulan cerpen Roro Mendut & Atmo karya Besar S.W (2006: 6), tertulis “Ndut, ngomong-ngomong, hari ini kamu harus setor upeti berapa?” Tanya pelanggan yang tak lain adalah pemuda ganteng Pronocitro”. Penulis cerpen menggambarkan bahwa Pronocitro adalah seorang pemuda ganteng.

BAB III FUNGSI GAYA BAHASA KIASAN DALAM KUMPULAN CERITA PENDEK RORO MENDUT & ATMO KARYA BESAR S.W.

  3.1 Pengantar

  Dalam bab ini akan dibahas mengenai fungsi-fungsi gaya bahasa kiasan, di antaranya fungsi ironi, fungsi menghaluskan, fungsi melebihkan, fungsi keindahan, dan fungsi mengungkapkan sesuatu secara tidak langsung.

  3.2 Fungsi Ironi

  Subagyo (2004: 67), menyatakan bahwa gaya bahasa ironi merupakan cara yang ramah untuk menyinggung perasaan orang, atau sopan santun yang mengejek. Berbicara atau bertutur merupakan tindakan yang berorientasi pada maksud atau tujuan (goal oriented activity). Melalui ironi, maksud atau tujuan yang sama dapat dikemukakan dengan beberapa tuturan yang berbeda-beda. Sekadar contoh, seorang ibu sudah berkali-kali menyuruh anak gadisnya menyapu lantai ruang tamu. Apalagi kuliah libur sehingga anaknya punya banyak waktu luang untuk memenuhi harapan ibunya. Namun si anak gadis tetap saja tidak beranjak dari depan televisi. Perintah sang ibu tidak juga dilaksanakan. Situasi itu membuat sang ibu marah. Lalu dengan nada geram dia berkata kepada anak gadisnya, Dasar anak malas, sudah disuruh berkali-kali tetap saja tak bergeming. Di samping itu, sang ibu dapat mengemukakan maksudnya dengan tuturan ini,

  

Anakku memang rajin, disuruh sekali saja langsung semua beres. Tuturan

semacam itulah yang disebut sebagai tuturan yang memiliki fungsi ironi.

  Berikut contoh fungsi ironi dalam gaya bahasa metafora: (79) “Hai, panglima kerajaan yang katanya selalu menang perang!

  Mengakumu saja sebagai ksatria, tapi nyatanya berlaku betina . Engkau hanya besar mulut menghadapi dua orang mengerahkan para pengikut.

  Perempuan bisanya hanya menjerit, masih kau takut-takuti dengan & Atmo , hal 11).

  Pronocitro memanas-manasi Wiroguno dengan menyebutnya besar mulut,

mengakumu saja sebagai ksatria, tapi nyatanya berlaku betina pada data (79).

  Tuturan Pronocitro tersebut memiliki fungsi ironi karena menyindir Wiroguno secara tidak langsung dengan cara menyamakan kelakuan Wiroguno dengan binatang yang bejenis kelamin betina. Berikut fungsi ironi dalam gaya bahasa epitet:

  (80) “Lahirmu saja baru kemarin sore, sudah berlagak sebagai sang

  pembantai. Kencangkan dulu kolor celanamu, kalau hendak berlaga dengan tuanmu. Ayo jangan mundur meski selangkah karena pantang

  bagiku menyerah kalah!” Tumenggung menerima tantangan (Roro Mendut & Atmo , hal 12). Dari data di atas terlihat bahwa fungsi ironi ditunjukkan dalam tuturan yang diucapkan oleh Wiroguno. Lahirmu saja baru kemarin sore, sudah berlagak

  

sebagai sang pembantai. Kencangkan dulu kolor celanamu, kalau hendak berlaga

dengan tuanmu , Wiroguno menyebut lawan bicaranya, Pronocitro, sebagai anak

  yang baru lahir kemarin sore dan harus mengencangkan dulu kolor celananya apabila hendak bertarung dengan dirinya. Tuturan tersebut selain bersifat menyindir juga menyakitkan hati lawan bicaranya. Berikut fungsi ironi dalam gaya bahasa ironi: (81) “Tahukah kamu, Prono gemblung, kalau sebentar lagi ia akan menjadi

selirku?” Wiroguno mengintrogasi (Roro Mendut & Atmo, hal 9).

  Wiroguno menyebut Pronocitro sebagai Prono gemblung (81) dan menanyakan pertanyaan yang bersifat retorik pada Pronocitro. Frasa tersebut menunjukkan fungsi ironi karena bersifat kasar dan bertujuan untuk mengejek dan menghina lawan bicaranya.

  (82) “Dasar anak ingusan tak tahu malu, wanita sudah ditriman masih di

  mau. Sebaiknya engkau pulang menyusu pada ibumu karena yang kuhadapi belum banyak ilmu. Lalu, belajarlah mencuci paras muka kalau ingin dihinggapi rasa cinta,” kata-kata Wiroguno tak kalah menyakitkan hati lawan (Roro Mendut & Atmo, hal 12).

  Tuturan Dasar anak ingusan tak tahu malu, wanita sudah ditriman masih

  

di mau. Sebaiknya engkau pulang menyusu pada ibumu karena yang kuhadapi

belum banyak ilmu. Lalu, belajarlah mencuci paras muka kalau ingin dihinggapi

rasa cinta, pada data (82) memiliki fungsi ironi karena secara terang-terangan

  menyindir dan menghina lawan bicaranya. Berikut fungsi ironi dalam gaya bahasa inuendo: (83) “Wah-wah kamu bilang pelanggan. Tapi dari tadi kamu berbisik-bisik

  dan saling tersenyum berdua. Jangan kira, baru sekarang aku mengetahui hubunganmu ini, Mendut. Kamu memang wanita tidak tahu diuntung. Kalau tidak kuselamatkan, mungkin engkau telah mati keterjang senjata nyasar di kancah peperangan.” Wiroguno marah (Roro Mendut & Atmo,

  hal 8). Wiroguno menyindir dengan mengatakan bahwa Pronocitro hanyalah salah satu pelanggan Roro Mendut pada data (83). Pada kenyataannya Wiroguno sendiri tahu bahwa Pronocitro bukanlah sekedar pelanggan biasa bagi Roro Mendut. Selain itu Wiroguno juga mengungkapkan tuturan yang kasar dengan menyebut Roro Mendut sebagai wanita tidak tahu diuntung.

3.3 Fungsi Menghaluskan

  Fungsi menghaluskan ini bertujuan untuk melembutkan atau memperhalus sesuatu yang kasar atau jelek yang disebut juga eufimisme. Tujuannya untuk menutupi kelemahan, kekurangan, atau hal-hal yang menurut pandangan masyarakat “jelek”. Dalam hal ini ungkapan yang halus atau lembut digunakan untuk menutupi hal yang sebenarnya kasar (Baryadi, 2012: 30). Fungsi menghaluskan ini berkenaan dengan gaya bahasa metafora dan personifikasi.

  Berikut ini fungsi menghaluskan yang terdapat dalam gaya bahasa metafora: (84) “Majulah, jangan hanya bersilat lidah!” (Roro Mendut dan Atmo, hal 12).

  Contoh (84) frasa bersilat lidah digunakan karena lebih halus apabila dibandingkan dengan berdebat dan bertengkar. Berikut bentuk penggantian frasa

  bersilat lidah apabila diganti dengan bentuk pengungkapan tanpa penghalusan:

  (84a) “Majulah, jangan hanya bertengkar!” Berikut contoh lain dari fungsi menghaluskan, yaitu:

  (85) “Awas, jangan pernah lari dari medan laga!” (Roro Mendut dan Atmo, hal 12).

  Contoh (85) frasa medan laga dirasakan lebih halus dibanding dengan arena pertarungan. Berikut bentuk penggantian frasa medan laga apabila diganti dengan bentuk pengungkapan tanpa penghalusan:

  (85a) “Awas, jangan pernah lari dari arena pertarungan!” Berikut contoh lain dari fungsi menghaluskan, yaitu:

  (86) Yang masih jelas kelihatan adalah pecahan kaca berserakan dan luka goresan di kulit badan jalan (Roro Mendut dan Atmo, hal 34).

  Contoh (86) frasa badan jalan merupakan pengungkapan yang lebih halus dibandingkan dengan emperan jalan. Berikut bentuk penggantian frasa badan

  jalan apabila diganti dengan bentuk pengungkapan tanpa penghalusan:

  (86a) Yang masih jelas kelihatan adalah pecahan kaca berserakan dan luka goresan di emperan jalan.

  (87) “Orang edan, ngapain kamu berlama-lama berduaan dengan trimanku, ha?” pejabat itu naik pitam (Roro Mendut dan Atmo, hal 9).

  Naik pitam pada contoh (87) merupakan pengungkapan yang lebih halus

  dari marah sekali. Berikut bentuk penggantian frasa naik pitam apabila diganti dengan bentuk pengungkapan tanpa penghalusan: (87a) “Orang edan, ngapain kamu berlama-lama berduaan dengan trimanku, ha?” pejabat itu sangat marah sekali.

  Berikut contoh lain dari fungsi menghaluskan, yaitu: (88) “Hai, panglima kerajaan yang katanya selalu menang perang!

  Mengakumu saja sebagai ksatria, tapi nyatanya berlaku betina. Engkau hanya besar mulut menghadapi dua orang mengerahkan para pengikut. Perempuan bisanya hanya menjerit, masih kau takut-takuti dengan segenap prajurit.” Pronocitro memanas-manasi lawannya (Roro Mendut

  dan Atmo, hal 11).

  Contoh (88) frasa besar mulut dirasakan lebih halus dari sombong, membual, dan banyak bicara. Berikut bentuk penggantian frasa besar mulut apabila diganti dengan bentuk pengungkapan tanpa penghalusan:

  (88a) “Hai, panglima kerajaan yang katanya selalu menang perang! Mengakumu saja sebagai ksatria, tapi nyatanya berlaku betina.

  Engkau hanya membual menghadapi dua orang mengerahkan para pengikut. Perempuan bisanya hanya menjerit, masih kau takut- takuti dengan segenap prajurit.” Pronocitro memanas-manasi lawannya. Berikut contoh lain dari fungsi menghaluskan, yaitu: (89) Maka, terjadilah gencatan senjata (Roro Mendut & Atmo, hal 16).

  Gencatan senjata pada contoh (89) merupakan bentuk halus dari

  ‘penghentian aktivitas tembak-menembak dalam perang’. Berikut bentuk penggantian frasa gencatan senjata apabila diganti dengan bentuk pengungkapan tanpa penghalusan:

  (89a) Maka, terjadilah penghentian aktivitas tembak-menembak dalam perang.

  Berikut contoh lain dari fungsi menghaluskan, yaitu: (90) Pantaslah, pertemuan tidak diakhiri happy ending, meski bukan dengan duka lara, tak ada kesepakatan ataupun penandatanganan MOU. Eh bukan, maksudku MOL alias memorandum of love. Pulang hampa

  tangan . Dan aku pun sebenarnya kurang menginginkan (Roro Mendut & Atmo , hal 80). Hampa tangan pada contoh (90) merupakan bentuk halus dari ‘tidak

  membawa apa-apa (pulang dengan tangan kosong)’. Berikut bentuk penggantian frasa hampa tangan apabila diganti dengan bentuk pengungkapan tanpa penghalusan:

  (90a) Pantaslah, pertemuan tidak diakhiri happy ending, meski bukan dengan duka lara, tak ada kesepakatan ataupun penandatanganan MOU. Eh bukan, maksudku MOL alias memorandum of love. Pulang tanpa membawa apa-apa . Dan aku pun sebenarnya kurang menginginkan.

  Berikut gaya bahasa personifikasi yang berfungsi menghaluskan: (91) Ia dihadiahkan pada Tumenggung Wiroguno sebagai penghargaan atas jasa sang pahlawan perang yang mampu memadamkan api disintegrasi

  (Roro Mendut dan Atmo, hal 1). Contoh (91) api disintegrasi merupakan pengungkapan halus dari pemberontakan yang terjadi. Berikut bentuk penggantian frasa api disintegrasi apabila diganti dengan bentuk pengungkapan tanpa penghalusan:

  (91a) Ia dihadiahkan pada Tumenggung Wiroguno sebagai penghargaan atas jasa sang pahlawan perang yang mampu memadamkan pemberontakan

  pitam.

  Maka, terjadilah penghentian

  89 Maka, terjadilah gencatan senjata . 89a

  katanya selalu menang perang! Mengakumu saja sebagai ksatria, tapi nyatanya berlaku betina. Engkau hanya membual menghadapi dua orang mengerahkan para pengikut. Perempuan bisanya hanya menjerit, masih kau takut-takuti dengan segenap prajurit.” Pronocitro memanas-manasi lawannya.

  88a “Hai, panglima kerajaan yang

  Perempuan bisanya hanya menjerit, masih kau takut-takuti dengan segenap prajurit.” Pronocitro memanas-manasi lawannya.

  mulut menghadapi dua orang mengerahkan para pengikut.

  katanya selalu menang perang! Mengakumu saja sebagai ksatria, tapi nyatanya berlaku betina. Engkau hanya besar

  88 “Hai, panglima kerajaan yang

  marah sekali.

  berlama-lama berduaan dengan trimanku, ha?” pejabat itu

  87a “Orang edan, ngapain kamu

  berlama-lama berduaan dengan trimanku, ha?” pejabat itu naik

  yang telah terjadi.

  87 “Orang edan, ngapain kamu

  jalan.

  adalah pecahan kaca berserakan dan luka goresan di emperan

  86a Yang masih jelas kelihatan

  jalan.

  adalah pecahan kaca berserakan dan luka goresan di kulit badan

  86 Yang masih jelas kelihatan

  85a “Awas, jangan pernah lari dari arena pertarungan!”

  85 “Awas, jangan pernah lari dari medan laga!”

  84a “Majulah, jangan hanya bertengkar!”

  Fungsi Menghaluskan No. data Pengungkapan dengan Fungsi Menghaluskan No. data Pengungkapan tanpa Penghalusan 84 “Majulah, jangan hanya bersilat lidah!

  aktivitas tembak-menembak

  dalam perang.

  91a Ia dihadiahkan pada

  seorang peragawati dan tidak sedang berada di atas catwalk. Terlihat bahwa tokoh tersebut merasa bangga pada dirinya sendiri. Berikut adalah fungsi melebihkan yang terdapat dalam gaya bahasa ironi:

  

peragawati di atas catwalk , padahal sebenarnya tokoh aku tersebut bukanlah

  Contoh (92) tokoh aku digambarkan melenggak-lenggok layaknya

  (92) Dengan gaun merah muda, aku malah melenggak-lenggok layaknya

peragawati beraksi di atas catwalk (Roro Mendut & Atmo, hal 74).

  Gaya ini digunakan untuk membesar-besarkan atau membanggakan diri pribadi dan di balik itu sebenarnya mengecilkan orang lain. Di balik itu juga gaya bahasa ini dimanfaatkan untuk menyembunyikan kelemahan-kelemahan atau kekurangan-kekurangan yang ada pada diri pribadi (Baryadi, 2012: 29). Berikut adalah fungsi melebihkan yang ditemukan dalam gaya bahasa persamaan atau simile:

  yang telah terjadi.

  Tumenggung Wiroguno sebagai penghargaan atas jasa sang pahlawan perang yang mampu memadamkan pemberontakan

  Tumenggung Wiroguno sebagai penghargaan atas jasa sang pahlawan perang yang mampu memadamkan api disintegrasi.

  90 Pantaslah, pertemuan tidak

  91 Ia dihadiahkan pada

  aku pun sebenarnya kurang menginginkan.

  tanpa membawa apa-apa . Dan

  diakhiri happy ending, meski bukan dengan duka lara, tak ada kesepakatan ataupun penandatanganan MOU. Eh bukan, maksudku MOL alias memorandum of love. Pulang

  90a Pantaslah, pertemuan tidak

  sebenarnya kurang menginginkan.

  hampa tangan . Dan aku pun

  diakhiri happy ending, meski bukan dengan duka lara, tak ada kesepakatan ataupun penandatanganan MOU. Eh bukan, maksudku MOL alias memorandum of love. Pulang

3.4 Fungsi Melebihkan

  (93) “Hai, kamu pemuda ingusan! Menurut laporan asistenku, kamu orang yang bernama Pronocitro brengsek itu, bukan?” (Roro Mendut & Atmo, hal 9). Frasa pemuda ingusan pada contoh (93) memiliki fungsi melebihkan karena Pronocitro adalah pria dewasa, bukan anak kecil yang masih ingusan.

  (94) “Orang edan, ngapain kamu berlama-lama berduaan dengan trimanku, ha?” pejabat itu naik pitam (Roro Mendut & Atmo, hal 9).

  Orang edan pada contoh (95) memiliki fungsi melebihkan karena Pronocitro adalah pemuda yang waras sifatnya.

  (95) “Tahukah kamu, Prono gemblung, kalau sebentar lagi ia akan menjadi selirku?” Wiroguno mengintrogasi (Roro Mendut & Atmo, hal 9). (96) “Jangan ikut campur urusanku dengan Prono menying ini, Ndut!” Wiroguno memperingatkan trimannya (Roro Mendut & Atmo, hal 9).

  Prono gemblung pada contoh (95) dan Prono menying pada contoh (96)

  merupakan gaya bahasa ironi yang memiliki fungsi melebihkan karena bertujuan untuk mengecilkan dan mengejek Pronocitro.

  (97) “Pasukan! Tangkap pemuda gembel jelek itu!” komando Panglima Wiroguno pada anak buahnya (Roro Mendut & Atmo, hal 10).

  Pemuda gembel jelek pada contoh (97) merupakan gaya bahasa ironi yang

  memiliki fungsi melebihkan karena oleh penulis telah dinyatakan bahwa Pronocitro adalah pemuda yang tampan.

  (98) “Hai para begundal! Mau pada lari kemana lagi kalian, ha? Tempat ini sudah saya blokade. Ha… ha ha ha …!” Wiroguno merasa menang (Roro Mendut & Atmo, hal 11). Contoh (98) frasa para begundal memiliki fungsi melebihkan karena bermaksud untuk mengecilkan Roro Mendut dan Pronocitro selain itu mereka berdua bukanlah para penjahat seperti yang dituduhkan oleh Tumengung Wiroguno.

  (99) “Dasar anak ingusan tak tahu malu, wanita sudah ditriman masih di mau. Sebaiknya engkau pulang menyusu pada ibumu karena yang kuhadapi belum banyak ilmu. Lalu, belajarlah mencuci paras muka

  kalau ingin dihinggapi rasa cinta,” kata-kata Wiroguno tak kalah menyakitkan hati lawan (Roro Mendut & Atmo, hal 12).

  Contoh (99) yaitu pada kalimat Dasar anak ingusan tak tahu malu dan

  

belajarlah mencuci paras muka, memiliki fungsi melebihkan karena frasa anak

ingusan merupakan ungkapan yang digunakan untuk mencela seseorang yang

  meskipun orang tersebut sudah tidak muda lagi. Frasa belajarlah mencuci paras

  

muka, memiliki fungsi melebihkan karena itu berarti Tumenggung Wiroguno

  menganggap lawan bicaranya memiliki wajah yang jelek padahal penulis telah menyatakan bahwa Pronocitro adalah pemuda tampan.

  (100) “Lahirmu saja baru kemarin sore, sudah berlagak sebagai sang

  pembantai. Kencangkan dulu kolor celanamu, kalau hendak berlaga

  dengan tuanmu. Ayo jangan mundur meski selangkah karena pantang bagiku menyerah kalah!” Tumenggung menerima tantangan (Roro

  Mendut & Atmo , hal 12).

  Contoh (100) Lahirmu saja baru kemarin sore, sudah berlagak sebagai

  

sang pembantai, Kencangkan dulu kolor celanamu, yang diucapkan oleh

  Tumenggung Wiroguno memiliki fungsi melebihkan karena Pronocitro bukanlah pemuda yang baru lahir kemarin sore.

  (101) “Jangan asal menilai karya orang, ya! Apresiasi senimu rendah. Cerpen baik dibilang jelek,” bantahku (Roro Mendut & Atmo, hal 52).

  Contoh (101) yaitu pada kalimat Apresiasi senimu rendah, memiliki fungsi melebihkan karena Ratri tidak akan terpilih menjadi ketua pengurus mading sekolah apabila tidak memiliki apresiasi terhadap karya seni dan sastra yang tinggi.

  (102) “Kamu yang kaku kayak tulang.” Aku panas (Roro Mendut & Atmo, hal 60).

  Contoh (102) pada kalimat Kamu yang kaku kayak tulang yang diucapkan oleh tokoh Bram kepada Ratri ketika sedang kesal. Ungkapan tersebut berlebihan karena Ratri bukanlah orang yang kaku, apalagi sekaku tulang. Ungkapan kekesalan Bram tersebut bertujuan untuk mengecilkan lawan bicaranya sekaligus untuk menyembunyikan kekurangannya yang tak mau diakuinya.

3.5 Fungsi Keindahan

  Fungsi keindahan disebut juga fungsi poetik (Suwarna, 2009: 334). Sama dengan keindahan, kepuitisan berkaitan dengan pikiran, perasaan, pengetahuan, dan pengalaman seseorang. Kepuitisan itu bersifat subjektif. Sesuatu yang bersifat puitis bagi seseorang belum tentu puitis bagi orang lain. Puitis adalah suasana tertentu yang berada dan dimunculkan oleh karya sastra; puitis adalah efek tertentu yang ditangkap pembaca atau pendengar di dalam karya sastra (Atmazaki, 1993: 14). Dalam fungsi keindahan ini terdiri dari tiga aspek yaitu, bunyi, pencitraan, dan diksi.

3.5.1 Bunyi

  Bunyi di samping sebagai hiasan dalam puisi, juga mempunyai tugas yang lebih penting lagi, yaitu untuk memperdalam ucapan, menimbulkan rasa, dan menimbulkan bayangan angan yang jelas, menimbulkan suasana yang khusus, dan sebagainya (Pradopo, 2005: 22).

  3.5.1.1 Aliterasi

  Aliterasi adalah perulangan bunyi konsonan pada suatu tuturan (Suwarna, 2009: 261). Aliterasi ini ditemukan dalam gaya bahasa persamaan atau simile:

  (103) Ia tahu siapa Wiroguno dan Pronocitro. Keduanya tidak bisa

  disamakan . Ibaratnya seekor macan hutan yang bertarung melawan kijang kurungan (Roro Mendut & Atmo, hal 13).

  Data (103) aliterasi ditunjukkan oleh bunyi konsonan /n/ pada dan,

  macan , dan melawan. Aliterasi dalam gaya bahasa personifkasi:

  (104) Jam setengah dua belas, malam semakin diam (Roro Mendut & Atmo , hal 65).

  Data (104) aliterasi /m/ terdapat pada kata jam, malam, semakin, dan diam. Aliterasi atau perulangan bunyi konsonan tersebut berfungsi untuk membangun keindahan tutur, intensitas makna, dan ekspresivitas makna. Keindahan tutur yang dibangun dengan aliterasi membuat tuturan tersebut terasa ritmis dan dinamis. Aliterasi cenderung terjadi di awal atau di tengah kata

  3.5.1.2 Asonansi

  Suwarna (2009: 263) dalam bukunya mengatakan bahwa asonansi adalah perulangan bunyi vokal. Asonansi ini ditemukan dalam gaya bahasa metafora: (105) “Pembajak hati. Minta tebusan sebutir kasih suci,” Galang mendekatiku (Roro Mendut & Atmo, hal 90).

  Data (105) asonansi /i/ ditunjukkan oleh kata hati, suci, minta, sebutir, dan

  kasih . Asonansi dalam gaya bahasa epitet:

  (106) “Lahirmu saja baru kemarin sore, sudah berlagak sebagai sang pembantai. Kencangkan dulu kolor celanamu, kalau hendak berlaga dengan tuanmu. Ayo jangan mundur meski selangkah karena pantang

  bagiku menyerah kalah!” Tumenggung menerima tantangan (Roro Mendut & Atmo , hal 12).

  Data (106) asonansi /u/ terdapat pada lahirmu, baru, sudah, dulu,

  

celanamu, kalau, tuanmu, mundur , dan bagiku. Asonansi dalam gaya bahasa ironi:

  (107) “Dasar anak ingusan tak tahu malu, wanita sudah ditriman masih di

  mau. Sebaiknya engkau pulang menyusu pada ibumu karena yang kuhadapi belum banyak ilmu. Lalu, belajarlah mencuci paras muka kalau ingin dihinggapi rasa cinta,kata-kata Wiroguno tak kalah menyakitkan hati lawan (Roro Mendut & Atmo, hal 12).

  Data (107) asonansi /u/ ditunjukkan oleh kata ingusan, tahu, malu, sudah, mau, engkau, pulang, menyusu, ibumu, dan ilmu.

  (108) “Lahirmu saja baru kemarin sore, sudah berlagak sebagai sang pembantai. Kencangkan dulu kolor celanamu, kalau hendak berlaga dengan tuanmu. Ayo jangan mundur meski selangkah karena pantang

  bagiku menyerah kalah!” Tumenggung menerima tantangan (Roro Mendut & Atmo , hal 12).

  Data (108) asonansi /u/ terdapat pada lahirmu, baru, dulu, celanamu, kalau, tuanmu, dan bagiku.

  (109) “Hai, panglima kerajaan yang katanya selalu menang perang! Mengakumu saja sebagai ksatria, tapi nyatanya berlaku betina. Engkau hanya besar mulut menghadapi dua orang mengerahkan para pengikut.

  Perempuan bisanya hanya menjerit, masih kau takut-takuti dengan segenap prajurit.” Pronocitro memanas-manasi lawannya (Roro Mendut

  & Atmo , hal 11).

  Data (109) asonansi /a/ terdapat pada panglima, katanya, saja, ksatria,

  

nyatanya, dan betina. Fungsi asonansi tidak berbeda dengan aliterasi yaitu untuk

  keindahan, intensitas makna, dan ekspresif tutur. Ada kecenderungan asonansi terjadi pada suku kata akhir terbuka. Asonansi suka kata terbuka pada akhir kata lebih produktif daripada asonansi pada suku kata tertutup.

3.5.1.3 Anafora

  Anafora adalah perulangan bunyi, kata, atau struktur sintaksis pada larik- larik atau kalimat-kalimat yang berurutan untuk memperoleh efek tertentu (Kridalaksana dalam Atmazaki, 1993: 86). Anafora ini ditemukan dalam gaya bahasa metafora:

  (110) Ketika masih belia, hari ulang tahun merupakan saat yang penuh dengan kembang janji akan harapan masa depan. Tapi, ketika harapan Ketika ulang tahun menginjak yang ketiga puluh satu, semua menjadi tidak memiliki arti (Roro Mendut & Atmo, hal 65). Data (110) anafora terdapat pada kata ketika dan frasa ulang tahun dalam kalimat Ketika masih belia, hari ulang tahun merupakan saat yang penuh dengan

  

kembang janji akan harapan masa depan dan kalimat Ketika ulang tahun

menginjak yang ketiga puluh satu, semua menjadi tidak memiliki arti . Anafora

  juga ditunjukkan oleh perulangan kata harapan dalam kalimat Ketika masih belia,

  

hari ulang tahun merupakan saat yang penuh dengan kembang janji akan

  dan kalimat Tapi, ketika harapan tak lagi berada di depan

  harapan masa depan

  . Selain itu anafora pada data (110) juga

  pandang, semua menjadi tidak bermakna

  ditunjukkan oleh kalimat semua menjadi tidak bermakna yang memiliki struktur sintaksis yang sama dengan kalimat semua menjadi tidak memiliki arti. Anafora yang ditemukan dalam gaya bahasa personifikasi:

  (111) Ucapan lidahnya yang minta disaksikan pihak lain, bahkan alam, adalah sumpah. Tak ada yang berkata-kata, tak ada yang bersuara. Sekujur tubuh Wijaya merinding dan bergetar. Dinding kamarnya menatap Galang penuh kesangsian. Angin pun sejenak berhenti berkelana. Dan, dedaunan yang merimbunkan pepohonan di samping rumah Wijaya, sesaat menganga (Roro Mendut & Atmo, hal 84).

  Data (111) anafora terdapat dalam kalimat Tak ada yang berkata-kata yang memiliki struktur sintaksis yang sama dengan kalimat Tak ada yang

  

bersuara . Penggunaan anafora bertujuan untuk mempertegas efek retorik dalam

  tuturan, memberikan penekanan bahwa sesuatu yang diulang itu adalah sesuatu yang penting dalam tuturan tersebut.

  3.5.1.4 Eufoni

  Eufoni adalah kombinasi suara indah dan merdu, menggambarkan ekspresi riang gembira, rasa kasih sayang, dan hal-hal yang membahagiakan ‘pleasing

  

sound’. Eufoni dibentuk dengan kombinasi bunyi vokal /a, i, u, e, o/ dan bunyi

  konsonan bersuara /b, d, g, j/ dan konsonan liquida /r, l/ dan sengau /ny, m, ng, n/ (Suwarna, 2009: 265). Bunyi-bunyi eufoni merupakan bunyi-bunyi yang merdu dan musikal. Eufoni ini ditemukan dalam gaya bahasa persamaan atau simile:

  (112) Tapi, tampaknya pertanyaanku membuatnya terguncang. Bagai diterpa

  angin kencang , badan limbung dan bergoyang (Roro Mendut & Atmo, hal 79).

  Data (112) eufoni vokal /a/ yang berkombinasi dengan bunyi sengau /ng/ terdapat pada terguncang, angin, kencang, dan bergoyang. Eufoni juga terdapat pada kata limbung yang merupakan gabungan vokal /u/ dan sengau /ng/. Pada kalimat Tapi, tampaknya pertanyaanku membuatnya terguncang, terdapat eufoni vokal /a/ dan sengau /ny/ pada kata tampaknya, pertanyaanku, dan membuatnya.

  3.5.1.5 Kakafoni

  Kakafoni merupakan kebalikan dari eufoni. Kakafoni dibentuk melalui kombinasi bunyi-bunyi konsonan /k, p, t, s/, mengesankan bunyi-bunyi parau, tidak merdu, tidak menyenangkan, mengharukan (Suwarna, 2009: 266). Kakafoni ini ditemukan dalam gaya bahasa metafora: (113) “Dan kamu memang mau dijepit, bukan? Ah, diberi anak perawan,

  dijanjikan kursi kedudukan , lelaki mana yang tak mau mengubah

  halauan perasaan?” kusemprot ia dengan kata-kata semauku (Roro Mendut & Atmo, hal 66). Data (113) kakafoni /k/ terdapat pada kata bukan, anak, djanjikan, kursi,

  

kedudukan, lelaki, kusemprot, kata-kata . Kakafoni yang ditemukan dalam gaya

  bahasa ironi: (114) “Hai, panglima kerajaan yang katanya selalu menang perang!

  Mengakumu saja sebagai ksatria, tapi nyatanya berlaku betina. Engkau hanya besar mulut menghadapi dua orang mengerahkan para pengikut. Perempuan bisanya hanya menjerit, masih kau takut-takuti dengan segenap prajurit.” Pronocitro memanas-manasi lawannya (Roro Mendut

  & Atmo , hal 11).

  Data (114) kakafoni /t/ terdapat pada kata mulut, pengikut, menjerit, takut-

  

takuti, dan prajurit. Kakafoni bertujuan untuk menimbulkan bunyi-bunyi berat,

  kasar, dan tidak musikal. Kombinasi bunyi-bunyi parau dan kasar digunakan untuk menimbulkan kesan kaku, garang, tidak menyenangkan, kacau-balau, dan lain-lain. Kakafoni berperan untuk menyampaikan perasaan tidak senang.

3.5.2 Pencitraan

  Citraan ialah gambar-gambar dalam pikiran dan bahasa yang menggambarkannya (Altenbernd dalam Pradopo, 2005: 12), sedang setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji (image). Altenbernd dalam Pradopo (2005: 89) mengemukakan bahwa citraan adalah salah satu alat kepuitisan yang terutama yang dengan itu kesusastraan mencapai sifat-sifat konkret, khusus, mengharukan, dan menyaran.

3.5.2.1 Citra Penglihatan

  Citra penglihatan adalah citraan yang timbul oleh penglihatan. Citra penglihatan memberi rangsangan kepada inderaan penglihatan, hingga sering hal- hal yang tak terlihat jadi seolah-olah terlihat (Pradopo, 2005: 81). Citra pengelihatan dalam gaya bahasa metafora:

  (115) Yang masih jelas kelihatan adalah pecahan kaca berserakan dan luka goresan di kulit badan jalan (Roro Mendut & Atmo, hal 34).

  Melalui tuturan pada data (115) pembaca seakan-akan bisa ikut melihat bahwa masih terdapat pecahan kaca yang berserakan dan luka goresan di kulit badan jalan.

  (116) “Mataku jadi saksi, Lang. Sayang sekali, punya teman terlalu ketinggalan jaman. Oh ya, aku barusan dari rumah Pak Anto, si dosen bujang perlente. Biasalah, diskusi sambil rujakan. Eh, ternyata mereka ada di sana. Nah, apa kamu tidak berani bersaing dengan teman sendiri?” begitu kata Wijaya (Roro Mendut & Atmo, hal 82). Melalui tuturan pada data (116) pembaca seakan bisa ikut melihat apa yang dilihat oleh Wijaya. Citra pengelihatan dalam gaya bahasa personifikasi:

  (117) Ucapan lidahnya yang minta disaksikan pihak lain, bahkan alam, adalah sumpah. Tak ada yang berkata-kata, tak ada yang bersuara. Sekujur tubuh Wijaya merinding dan bergetar. Dinding kamarnya menatap Galang penuh kesangsian. Angin pun sejenak berhenti berkelana. Dan, dedaunan yang merimbunkan pepohonan di samping rumah Wijaya, sesaat menganga (Roro Mendut & Atmo, hal 84). Data (117) citra pengelihatan digambarkan melalui tuturan dinding

  

kamarnya menatap Galang penuh kesangsian . Melalui tuturan tersebut pembaca

juga bisa merasakan kesangsian yang dirasakan oleh si dinding kamar tersebut.

3.5.2.2 Citra Gerakan

  Citraan gerak ini membuat hidup dan gambaran menjadi dinamis. Imagery ini menggambarkan sesuatu yang sesungguhnya tidak bergerak, tetapi dilukiskan sebagai dapat bergerak, ataupun gambaran gerak pada umumnya (Pradopo, 2005: 87). Citra gerakan ini ditemukan dalam gaya bahasa persamaan atau simile:

  (118) Tapi, tampaknya pertanyaanku membuatnya terguncang. Bagai diterpa angin kencang, badan limbung dan bergoyang (Roro Mendut & Atmo, (119) Dengan gaun merah muda, aku malah melenggak-lenggok layaknya peragawati beraksi di atas catwalk (Roro Mendut & Atmo, hal 74).

  Data (118) digambarkan bahwa sebuah pertanyaan bisa membuat terguncang sampai badan menjadi limbung dan bergoyang seakan-akan habis diterpa angin kencang. Dari data (119) pembaca bisa mendapat bayangan melalui citra gerakan. Melalui data tersebut digambarkan bagaimana si tokoh tengah melenggak-lenggok layaknya seorang peragawati dengan menggunakan gaun berwarna merah muda. Pembaca bisa mengetahui apa yang tengah dilakukan oleh si tokoh. Citra gerakan ini juga ditemukan dalam gaya bahasa metafora:

  (120) Di pintu aku memutar anak kunci perlahan-lahan ke arah kiri (Roro Mendut & Atmo , hal 76).

  Data (120) citraan gerak digambarkan melalui gerakan tokoh aku yang secara perlahan memutar anak kunci ke kiri.

  (121) Maka daun pintu pun terkuak (Roro Mendut & Atmo, hal 76).

  Pada data (121) citraan gerak digambarkan melalui daun pintu yang begerak membuka. Dalam gaya bahasa personifikasi juga ditemukan citra gerakan:

  (122) Ucapan lidahnya yang minta disaksikan pihak lain, bahkan alam, adalah sumpah. Tak ada yang berkata-kata, tak ada yang bersuara. Sekujur tubuh Wijaya merinding dan bergetar. Dinding kamarnya menatap Galang penuh kesangsian. Angin pun sejenak berhenti berkelana. Dan, dedaunan yang merimbunkan pepohonan di samping rumah Wijaya, sesaat menganga (Roro Mendut & Atmo, hal 84). Data (122) citraan gerak digambarkan melalui tuturan dedaunan yang merimbunkan pepohonan disamping rumah Wijaya, sesaat menganga, angin pun sejenak berhenti berkelana.

3.5.2.3 Citraan Lain-Lain

  Selain citraan-citraan di atas terdapat juga citraan-citraan lain, seperti, citraan sikap atau perbuatan, citraan situasi, citraan fisik dan citraan latar.

  Kesemua citraan ini berfungsi untuk membantu pembaca agar bisa ikut merasakan, mendengar, melihat, dan mengetahui bagaimana hal-hal yang ingin disampaikan oleh pengarang. Citraan sikap atau perbuatan dalam gaya bahasa metafora:

  (123) Tapi, dasar sudah kepalang basah, aku masih saja melanjutkan sikap kurang manisku (Roro Mendut & Atmo, hal 87- 88).

  Data (123) citraan sikap atau perbuatan digambarkan melalui tuturan sikap

  

kurang manisku . Melalui tuturan tersebut pembaca bisa mengetahui sikap si tokoh

dalam menghadapi lawan bicaranya.

  (124) “Orang edan, ngapain kamu berlama-lama berduaan dengan trimanku, ha?” pejabat itu naik pitam (Roro Mendut & Atmo, hal 9).

  Data (124) citraan sikap atau perbuatan digambarkan melalui tuturan

  

pejabat itu naik pitam . Melalui tuturan tersebut pembaca bisa membayangkan

bagaimana kemarahan pejabat tersebut.

  (125) “Hai, panglima kerajaan yang katanya selalu menang perang! Mengakumu saja sebagai ksatria, tapi nyatanya berlaku betina. Engkau hanya besar mulut menghadapi dua orang mengerahkan para pengikut.

  Perempuan bisanya hanya menjerit, masih kau takut-takuti dengan segenap prajurit.” Pronocitro memanas-manasi lawannya (Roro Mendut

  & Atmo , hal 11).

  Data (125) citraan sikap atau perbuatan digambarkan melalui tuturan

  

Pronocitro memanas-manasi lawannya . Citraan sikap atau perbuatan dalam gaya

  bahasa personifikasi: (126) Ia dihadiahkan pada Tumenggung Wiroguno sebagai penghargaan atas jasa sang pahlawan perang yang mampu memadamkan api disintegrasi

  (Roro Mendut & Atmo, hal 1). Data (126) citraan sikap atau perbuatan digambarkan melalui tuturan sang

  

pahlawan perang yang mampu memadamkan api disintegrasi . Melalui tuturan

tersebut pembaca bisa membayangkan seperti apa jasa sang pahlawan perang.

  Citraan sikap atau perbuatan dalam gaya bahasa antonomasia: (127) “Jangan khawatir, Ndut! Aku akan menjamin kehidupan yang sangat layak untuk masa depanmu. Kamu akan hidup mewah bergelimang harta di ibukota Negara. Juga bergaul dengan kalangan elite. Tinggal di sebuah rumah mewah dilayani banyak abdi dan jongos. Punya kendaraan tak bermotor, lengkap dengan kusirnya. Bagaimana Cah Ayu?” pejabat kerajaan itu menjanjikan segalanya (Roro Mendut & Atmo , hal 3).

  Data (127) citraan sikap atau perbuatan digambarkan melalui tuturan pejabat kerajaan yang menjanjikan segalanya pada lawan bicaranya. Terdapat juga citraan situasi dalam gaya bahasa metafora: (128) Maka, terjadilah gencatan senjata (Roro Mendut & Atmo, hal 16).

  Data (128) citraan situasi digambarkan melalui tuturan gencatan senjata. Melalui tuturan tersebut pembaca bisa mengetahui situasi yang tengah terjadi yaitu kedua belah pihak yang sedang bertikai menghentikan serangan.

  (129) Rumah tangganya tergolong sebagai keluarga yang adem-ayem (Roro Mendut & Atmo , hal 21).

  Data (129) menggambarkan situasi dan kondisi rumah tangga yang tenang. (130) Pantaslah, pertemuan tidak diakhiri happy ending, meski bukan dengan duka lara, tak ada kesepakatan ataupun penandatanganan MOU. Eh bukan, maksudku MOL alias memorandum of love. Pulang hampa tangan. Dan aku pun sebenarnya kurang menginginkan (Roro Mendut &

  Atmo , hal 80).

  Data (130) digambarkan situasi setelah pertemuan antara dua orang yang sama-sama saling mencintai. Tetapi pertemuan tersebut tidak menghasilkan apa- apa. Citraan situasi dalam gaya bahasa personifikasi:

  (131) Wanita itu berasal dari sebuah kadipaten yang mengobarkan bara pemberontakan (Roro Mendut & Atmo, hal 1).

  Citraan situasi disuatu daerah digambarkan melalui data (131). Melalui tuturan tersebut pembaca bisa mengetahui bahwa di suatu kadipaten tengah terjadi pemberontakan.

  (132) Jam setengah dua belas, malam semakin diam (Roro Mendut & Atmo, hal 65).

  Data (132) digambarkan bagaimana tenang, sunyi, dan sepi keadaan di waktu malam melalui tuturan jam setengah dua belas, malam semakin diam.

  Citraan fisik dalam gaya bahasa epitet: (133) Yah, mahasiswa krempeng yang nyentrik itu akhirnya memang jadi buah simalakama bagi Galang (Roro Mendut & Atmo, hal 82).

  Melalui tuturan mahasiswa krempeng yang nyentrik itu pada data (133) pembaca bisa mengetahui kondisi fisik dan karakter seseorang, sehingga pembaca bisa memperoleh gambaran dan dapat membayangkanya. Melalui citraan ini digambarkan bagaimana karakter fisik seseorang. Citraan latar dalam gaya bahasa antonomasia: (134) Di istana ia tak bisa menolak ketika sang raja memanfaatkannya sebagai seorang triman untuk kepentingan Negara (Roro Mendut & Atmo, hal

  1). Data (134) terdapat kata sang raja dan di istana. Melalui kedua kata tersebut pembaca bisa langsung mengetahui bagaimana dan dimana latar cerita

3.5.3 Diksi

  Barfield dalam Pradopo (2005: 54), mengemukakan bahwa bila kata-kata dipilih dan disusun dengan cara yang sedemikian rupa hingga artinya menimbulkan atau dimaksudkan untuk menimbulkan imajinasi estetik, maka hasilnya itu disebut diksi puitis. Jadi, diksi itu untuk mendapatkan kepuitisan, untuk mendapatkan nilai estetik. Hal-hal yang tercakup dalam diksi ini, yaitu kata arkaik dan kata bahasa daerah dan asing.

3.5.3.1 Kata Arkaik

  Salah satu keunggulan sastrawan adalah kemampuannya menghidupkan kata-kata yang telah mati, menemukan kata-kata yang telah hilang, atau menggunakan kata-kata yang tidak digunakan lagi dalam pertuturan sehari-hari. Kadang-kadang kata itu digunakan dengan artinya yang lama, tetapi kadang- kadang juga digunakan dengan memberikan arti baru kepadanya. Penggunaan kata-kata lama archaic (bahasa Indonesia arkaik) bertujuan untuk menimbulkan suasana kembali ke masa lalu atau nostalgia, atau sebaliknya membawa masa lalu ke masa kini (Atmazaki, 1993: 38). Berikut ini adalah kata-kata arkaik yang ditemukan dalam gaya bahasa metafora: (135) “Dan kamu memang mau dijepit, bukan? Ah, diberi anak perawan, dijanjikan kursi kedudukan, lelaki mana yang tak mau mengubah

  halauan perasaan?” kusemprot ia dengan kata-kata semauku (Roro Mendut & Atmo, hal 66).

  (136) Hai, panglima kerajaan yang katanya selalu menang perang! Mengakumu saja sebagai ksatria, tapi nyatanya berlaku betina. Engkau hanya besar mulut menghadapi dua orang mengerahkan para pengikut.

  Perempuan bisanya hanya menjerit, masih kau takut-takuti dengan & Atmo , hal 11). (137) “Mataku jadi saksi, Lang. Sayang sekali, punya teman terlalu ketinggalan jaman. Oh ya, aku barusan dari rumah Pak Anto, si dosen

  bujang perlente. Biasalah, diskusi sambil rujakan. Eh, ternyata mereka

  ada di sana. Nah, apa kamu tidak berani bersaing dengan teman sendiri?” begitu kata Wijaya (Roro Mendut & Atmo, hal 82). Data (135), (136), dan (137) secara berturut-turut menunjukkan kata-kata arkaik yaitu, halauan, ksatria, dan bujang perlente. Kata-kata tersebut sudah tidak biasa lagi digunakan dalam percakapan saat ini. Untuk para pembaca modern kata-kata tersebut seakan memberikan kesan kembali lagi ke masa silam.

  Mungkin kata-kata tersebut masih hidup di masa muda kehidupan pengarang. Berikut adalah kata-kata arkaik yang ditemukan dalam gaya bahasa personifikasi:

  (138) Wanita itu berasal dari sebuah kadipaten yang mengobarkan bara pemberontakan (Roro Mendut & Atmo, hal 1).

  Kata kadipaten adalah kata yang sudah tidak lagi digunakan di masa sekarang ini. Kadipaten erat kaitannya dengan hal-hal yang berhubungan dengan kerajaan ataupun pakualaman. Kata tersebut sering digunakan di era pemerintahan kerajaan Mataram. Saat ini kata tersebut sudah tidak sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Berikut adalah kata-kata arkaik yang ditemukan dalam gaya bahasa alusi:

  (139) Padahal, kepasrahan sang triman adalah suatu keadaan yang diharap- harapkan oleh Pak Tumenggung (Roro Mendut & Atmo, hal 5). (140) “Sekarang segeralah kalian, berlutut di kakiku!” lanjut Senopati perang (Roro Mendut & Atmo, hal 11).

  Kata triman, tumenggung dan senopati merupakan kata-kata yang sering digunakan pada masa kerajaan-kerajaan. Sama halnya dengan kadipaten, kata

  

triman , tumenggung dan senopati bukanlah kata yang populer di masa sekarang

  ini. Kata tersebut lebih sering digunakan pada masa pemerintahan kerajaan Mataram. Berikut adalah kata-kata arkaik yang ditemukan dalam gaya bahasa antonomasia:

  (141) “Jangan khawatir, Ndut! Aku akan menjamin kehidupan yang sangat layak untuk masa depanmu. Kamu akan hidup mewah bergelimang harta di ibukota Negara. Juga bergaul dengan kalangan elite. Tinggal di sebuah rumah mewah dilayani banyak abdi dan jongos. Punya kendaraan tak bermotor, lengkap dengan kusirnya. Bagaimana Cah Ayu?” pejabat kerajaan itu menjanjikan segalanya (Roro Mendut & Atmo , hal 3). (142) Dedengkot majalah dinding sekolah itu bahkan menilainya sebagai kisah murahan yang tidak punya konflik (Roro Mendut & Atmo, hal 57-

  58). Kata jongos berasal dari bahasa Jawa yang bermakna pembantu laki-laki dan kata dedengkot yang berarti otak dari suatu organisasi, kedua kata tersebut tidak terlalu sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Berikut adalah kata- kata arkaik yang ditemukan dalam gaya bahasa ironi:

  (143) “Wah-wah kamu bilang pelanggan. Tapi dari tadi kamu berbisik-bisik dan saling tersenyum berdua. Jangan kira, baru sekarang aku mengetahui hubunganmu ini, Mendut. Kamu memang wanita tidak tahu diuntung. Kalau tidak kuselamatkan, mungkin engkau telah mati keterjang senjata nyasar di kancah peperangan.” Wiroguno marah (Roro Mendut & Atmo, hal 8). (144) “Hai para begundal! Mau pada lari kemana lagi kalian, ha? Tempat ini sudah saya blokade. Ha… ha ha ha …!” Wiroguno merasa menang

  (Roro Mendut & Atmo, hal 11).

  (145) “Dasar anak ingusan tak tahu malu, wanita sudah ditriman masih di mau. Sebaiknya engkau pulang menyusu pada ibumu karena yang kuhadapi belum banyak ilmu. Lalu, belajarlah mencuci paras muka kalau ingin dihinggapi rasa cinta,” kata-kata Wiroguno tak kalah menyakitkan hati lawan (Roro Mendut & Atmo, hal 12). (146) “Lahirmu saja baru kemarin sore, sudah berlagak sebagai sang pembantai. Kencangkan dulu kolor celanamu, kalau hendak berlaga dengan tuanmu. Ayo jangan mundur meski selangkah karena pantang bagiku menyerah kalah!” Tumenggung menerima tantangan (Roro

  Mendut & Atmo , hal 12).

  (147) “Hai, panglima kerajaan yang katanya selalu menang perang! Mengakumu saja sebagai ksatria, tapi nyatanya berlaku betina. Engkau Perempuan bisanya hanya menjerit, masih kau takut-takuti dengan segenap prajurit.” Pronocitro memanas-manasi lawannya (Roro Mendut

  & Atmo , hal 11).

  Kata kancah, begundal, paras muka, berlaga, dan ksatria merupakan kata- kata dalam bahasa Indonesia yang sudah jarang digunakan sekali digunakan.

  Meskipun demikian, karena karya satra tidak pernah mengenal istilah usang, terus dibaca dan diberi makna, maka kata-kata arkaik tersebut tetap mampu memberikan nuansa baik kepada pembaca ataupun kepada karya sastra itu sendiri.

3.5.3.2 Kata Bahasa Daerah dan Asing

  Bahasa yang paling akrab dengan seseorang adalah bahasa daerahnya masing-masing, atau yang sering disebut dengan bahasa ibu. Oleh sebab itu penggunaan kata bahasa daerah dalam sajak adalah suatu yang wajar. Bahasa daerah jauh lebih memungkinkan bagi seorang penyair untuk mengungkapkan perasaan, pemikiran, dan pengalamannya dibanding dengan bahasa resmi (Atmazaki, 1993: 40). Di samping kata-kata bahasa daerah, penyair juga sering menggunakan kata-kata bahasa asing atau sesuatu yang tidak bersifat Indonesia.

  Demikian juga halnya kata-kata bentukan baru ‘neologism’. Kata-kata seperti itu biasanya memberikan efek kehidupan modern dan sesuatu yang realistis (Atmazaki, 1993: 44). Berikut adalah kata bahasa daerah yang ditemukan dalam gaya bahasa persamaan atau simile:

  (148) Wanita triman ibaratnya sebagai sebuah kado atau bingkisan (Roro Mendut & Atmo , hal 2).

  Triman pada data (148) merupakan kata dalam bahasa jawa yang berarti

  470). Berikut adalah kata bahasa daerah yang ditemukan dalam gaya bahasa metafora: (149) “Orang edan, ngapain kamu berlama-lama berduaan dengan trimanku, ha?” pejabat itu naik pitam (Roro Mendut & Atmo, hal 9).

  Edan pada data (149) berarti gila. Kata edan merupakan kata yang lazim

  digunakan pada bahasa Jawa saat ini. Berikut adalah kata bahasa daerah yang ditemukan dalam gaya bahasa antonomasia: (150) “Jangan khawatir, Ndut! Aku akan menjamin kehidupan yang sangat layak untuk masa depanmu. Kamu akan hidup mewah bergelimang harta di ibukota Negara. Juga bergaul dengan kalangan elite. Tinggal di sebuah rumah mewah dilayani banyak abdi dan jongos. Punya kendaraan tak bermotor, lengkap dengan kusirnya. Bagaimana Cah

  Ayu?” pejabat kerajaan itu menjanjikan segalanya (Roro Mendut & Atmo , hal 3). Cah ayu merupakan kata sapaan dalam bahasa Jawa yang berarti anak

  cantik. Dalam bahasa Jawa abdi berarti pegawai keraton (Kamus Besar Bahasa

  

Indonesia Edisi Ketiga , 2002: 2). Berikut adalah kata bahasa daerah dan asing

  yang ditemukan dalam gaya bahasa ironi: (151) “Tahukah kamu, Prono gemblung, kalau sebentar lagi ia akan menjadi selirku?” Wiroguno mengintrogasi (Roro Mendut & Atmo, hal 9).

  Gemblung berarti dungu, tolol, linglung, bodoh (Kamus Jawa-Indonesia; Indonesia- Jawa , 2005: 89).

  (152) “Jangan ikut campur urusanku dengan Prono menying ini, Ndut!” Wiroguno memperingatkan trimannya (Roro Mendut & Atmo, hal 9).

  Menying berasal dari kata menyunyang yang berarti nakal, bengal, kurang

  ajar, tidak patuh (Kamus Lengkap Jawa- Indonesia, 2009: 244). Gemblung dan

  

menying merupakan kata dalam bahasa Jawa. Berikut adalah kata bahasa asing

  yang ditemukan dalam gaya bahasa persamaan atau simile: (153) Dengan gaun merah muda, aku malah melenggak-lenggok layaknya peragawati beraksi di atas catwalk (Roro Mendut & Atmo, hal 74).

  Catwalk pada data (153) merupakan kata dalam bahasa Inggris yang

  berarti panggung berbentuk titian yang digunakan untuk peragaan busana oleh peragawan dan pergawati; titian peraga (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi

  

Ketiga , 2002: 1293). Kata catwalk menunjukkan kemodernan, fashionable, dan

  stylish. Berikut adalah kata bahasa asing yang ditemukan dalam gaya bahasa metafora: (154) “Sudah complain,” jawab Galang. “Ia mengakui semuanya. Jadi,

  Renilah yang salah. Dialah yang tidak tahu adat,” Galang mengclearkan masalah seperti pengakuanku (Roro Mendut & Atmo, hal 81).

  Complain dan clear pada data (154) merupakan kata dalam bahasa Inggris.

  Kata complain dan clear bermaksud untuk menunjukkan bahwa tokoh tersebut merupakan mahasiswa yang suka bergaul dan intelektual. Berikut adalah kata bahasa asing yang ditemukan dalam gaya bahasa antonomasia:

  (155) “Jangan khawatir, Ndut! Aku akan menjamin kehidupan yang sangat layak untuk masa depanmu. Kamu akan hidup mewah bergelimang harta di ibukota Negara. Juga bergaul dengan kalangan elite. Tinggal di sebuah rumah mewah dilayani banyak abdi dan jongos. Punya kendaraan tak bermotor, lengkap dengan kusirnya. Bagaimana Cah

  Ayu?” pejabat kerajaan itu menjanjikan segalanya (Roro Mendut & Atmo , hal 3). Elite pada data (155) merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Inggris yang berarti orang-orang terpandang dan berderajat tinggi.

  Penggunaan kata dalam bahasa Jawa lebih banyak ditemukan dalam cerpern Roro Mendut Triman, hal ini dikarenakan cerpen tersebut berlatar belakang di kerajaan Mataram. Penggunaan kata dalam bahasa Inggris banyak terdapat dalam cerpen Sosok yang Hilang, hal ini sesuai dengan latar cerita yang tokoh-tokohnya merupakan mahasiswa yang aktif di kampus mereka.

3.6 Fungsi Mengungkapkan Sesuatu Secara Tidak Langsung

  Dalam usaha utuk mengungkapkan diri mereka, orang-orang tidak hanya menghasilkan tuturan yang mengandung kata-kata dan struktur-struktur gramatikal saja, tetapi mereka juga memperlihatkan tindakan-tindakan melalui tuturan-tuturan itu (Yule, 2006: 81). Tindakan-tindakan yang ditampilkan lewat tuturan biasanya disebut tindak tutur. Dalam banyak hal, sifat peristiwa tuturlah yang menentukan penafsiran terhadap suatu tuturan ketika menampilkan suatu tindak tutur khusus (Yule, 2006: 82). Tindak tutur dapat berwujud langsung dan tidak langsung, dan literal maupun tidak literal (Nadar, 2009: 17).

3.6.1 Tindak Tutur Tidak Langsung

  Tindak tutur langsung adalah tuturan yang sesuai dengan modus kalimatnya, sedangkan tindak tutur tidak langsung adalah tuturan yang modusnya berbeda dengan fungsinya (Nadar, 2009:18). Berikut adalah tindak tutur tidak langsung yang ditemukan dalam gaya bahasa metafora, epitet, dan ironi: (156) “Lho, kamu naksir sama bapaknya atau anaknya? Maumu apa, sih?

  Kamu bisa mati kutu karena memendam rindu. Kamu bisa ketinggalan kereta, hanya karena menyembunyikan rasa cinta. Sudah terbukti, Nico menganggapmu sepi. Apa kamu sudah bereaksi?” Jaya mengurus temannya dengan berapi-api (Roro Mendut & Atmo, hal 81). (157) “Mataku jadi saksi, Lang. Sayang sekali, punya teman terlalu ketinggalan jaman. Oh ya, aku barusan dari rumah Pak Anto, si dosen bujang perlente. Biasalah, diskusi sambil rujakan. Eh, ternyata mereka sendiri?” begitu kata Wijaya (Roro Mendut & Atmo, hal 82).

  Data (156) dan (157) menunjukkan bahwa Wijaya sedang berusaha menyemangati temannya dalam memperebutkan cinta kekasih hatinya. Wijaya menyemangati dengan cara mengecilkan temannya dan memberitahukan hal-hal yang telah dilakukan oleh saingannya. Galang, adalah teman Wijaya yang tengah menyukai gadis bernama Reni. Sayangnya saingan Galang adalah temannya sendiri, yang juga merupakan anggota dari trio kampusnya, Nico.

  (158) “Hai, panglima kerajaan yang katanya selalu menang perang! Mengakumu saja sebagai ksatria, tapi nyatanya berlaku betina. Engkau hanya besar mulut menghadapi dua orang mengerahkan para pengikut.

  Perempuan bisanya hanya menjerit, masih kau takut-takuti dengan segenap prajurit.” Pronocitro memanas-manasi lawannya (Roro Mendut

  & Atmo, hal 11).

  Data (158) menunjukkan bahwa Pronocitro dengan sengaja menyindir lawannya agar mau melawannya satu lawan satu, tanpa mengerahkan pengikut.

  Pronocitro dan Roro Mendut ketika itu tengah berusaha melarikan diri, tetapi gagal dan terkepung oleh pasukan Tumenggung Wiroguno.

  (159) “Orang edan, ngapain kamu berlama-lama berduaan dengan trimanku, ha?” pejabat itu naik pitam (Roro Mendut & Atmo, hal 9).

  Data (159) secara tidak langsung pejabat tersebut menyuruh lawan bicaranya untuk pergi. Pejabat tersebut adalah Wiroguno yang memergoki Roro Mendut tengah berduaan dengan Ponocitro.

  (160) “Tahukah kamu, Prono gemblung, kalau sebentar lagi ia akan menjadi selirku?” Wiroguno mengintrogasi (Roro Mendut & Atmo, hal 9).

  Data (160) Wiroguno sengaja memberi tahu bahwa Roro Mendut akan menjadi selirnya, padahal Pronocitro telah mengetahui situasi tersebut. Wiroguno bermaksud menggertak Pronocitro sehingga apabila Pronocitro akan menjalin hubungan dengan salah satu selirnya maka ia akan berhadapan dengan pasukan kerajaan.

  (161) “Lahirmu saja baru kemarin sore, sudah berlagak sebagai sang pembantai. Kencangkan dulu kolor celanamu, kalau hendak berlaga dengan tuanmu. Ayo jangan mundur meski selangkah karena pantang bagiku menyerah kalah!” Tumenggung menerima tantangan (Roro

  Mendut & Atmo, hal 12).

  (162) “Dasar anak ingusan tak tahu malu, wanita sudah ditriman masih di mau. Sebaiknya engkau pulang menyusu pada ibumu karena yang kuhadapi belum banyak ilmu. Lalu, belajarlah mencuci paras muka kalau ingin dihinggapi rasa cinta,” kata-kata Wiroguno tak kalah menyakitkan hati lawan (Roro Mendut & Atmo, hal 12). Data (161) dan (162) menunjukkan bahwa Wiroguno sengaja memanas- manasi Pronocitro dengan tujuan apabila ia perang tanding melawan Pronocitro ia tahu pasti bahwa ia akan menang. Wiroguno tahu betul seperti apa kemampuan Pronocitro.

3.6.2 Tidak Tutur Tidak Literal

  Wijana dalam Nadar (2009: 19) menjelaskan bahwa tindak literal adalah tindak tutur yang maksudnya sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya, sedangkan tindak tutur tidak literal adalah tindak tutur yang maksudnya tidak sama dengan atau berlawanan dengan makna kata-kata yang menyusunnya. Berikut adalah tindak tutur tidak literal yang ditemukan dalam gaya bahasa metafora dan personifikasi:

  (163) Pembajak hati. Minta tebusan sebutir kasih suci,” Galang mendekatiku (Roro Mendut & Atmo, hal 90).

  Tuturan Galang pada data (163) tidaklah benar karena profesi Galang bukanlah seorang ‘pembajak’ dan tidak benar-benar meminta ‘sebutir’ kasih suci.

  Tuturan tersebut digunakan Galang untuk meluluhkan hati Reni, gadis pujaannya.

  (164) Ucapan lidahnya yang minta disaksikan pihak lain, bahkan alam, adalah sumpah. Tak ada yang berkata-kata, tak ada yang bersuara. Sekujur tubuh Wijaya merinding dan bergetar. Dinding kamarnya menatap Galang penuh kesangsian. Angin pun sejenak berhenti berkelana. Dan, dedaunan yang merimbunkan pepohonan di samping rumah Wijaya, sesaat menganga (Roro Mendut & Atmo, hal 84). Dinding kamar pada data (164) tidaklah menatap Galang penuh kesangsian. Angin tidak sedang berkelana dan tidak berhenti berkelana. Daun pepohonan tidak menganga. Tuturan tersebut digunakan penulis untuk mendramatisir suasana.

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

  Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kumpulan cerita pendek Roro Mendut & Atmo karya Besar S.W. memiliki banyak gaya bahasa kiasan terutama metafora. Gaya bahasa kiasan yang terdapat pada kumpulan cerita pendek tersebut, yaitu gaya bahasa persamaan atau simile, gaya bahasa metafora yang terdiri dari dua bagian yaitu (1) metafora hidup dan, (2) metafora mati, gaya bahasa personifikasi, alusi, epitet, antonomasia, ironi dan innuendo. Dari analisis tersebut, gaya bahasa persamaan atau simile ditemukan sebanyak lima buah, gaya bahasa metafora sangat dominan, yaitu sebanyak 30 buah, personifikasi sebanyak empat buah, alusi sebanyak delapan buah, epitet sebanyak empat buah, antonomasia sebanyak empat buah, ironi sebanyak 14 buah, dan inuendo sebanyak dua buah.

  Gaya bahasa kiasan dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut & Atmo karya Besar S.W. memiliki fungsi ironi, fungsi menghaluskan, fungsi melebihkan, fungsi keindahan, dan fungsi mengungkapkan sesuatu secara tidak langsung. Fungsi keindahan terdiri dari bunyi, pencitraan, dan diksi. Bunyi terdiri dari aliterasi, asonansi, anafora, eufoni, dan kakafoni. Pencitraan terdiri dari citra pengelihatan, citra gerakan, dan citraan lain-lain yang berisi mengenai citraan citra perasaan, citra sikap atau perbuatan, citraan situasi, citraan fisik, dan citraan latar. Diksi terdiri dari kata arkaik dan kata daerah dan asing. Fungsi mengungkapkan sesuatu secara tidak langsung terdiri dari tindak tutur tidak langsung dan tindak tutur tidak literal. Secara keseluruhan semua gaya bahasa tersebut berfungsi untuk memperindah pengungkapan dalam kalimat.

4.2 Saran

  Masih banyak aspek yang belum diteliti dalam kumpulan cerita pendek ini, seperti kajian kuantitatifnya, kohesi dan koherensinya, atau membahas variasi penggunaan kata. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan. Harapan penulis semoga penelitian ini dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan cakrawala pembaca.

DAFTAR PUSTAKA

  Alwi, Hasan (Pemimpin Redaksi). 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga . Jakarta: Balai Pustaka. Atmazaki. 1993. Analisis Sajak: Teori, Metodologi, dan Aplikasi. Bandung: Angkasa. Baryadi, I. Praptomo. 2012. Bahasa, Kekuasaan, dan Kekerasan. Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma. Keraf, Gorys. 1984. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia. Kesuma, Tri Mastoyo Jati. 2007. Pengantar (Metode) Penelitian Bahasa.

  Yogyakarta: Carasvatibooks. Miarsari, Ratna Yani. 2008. “Analisis Medan Makna pada Gaya Bahasa Kiasan

  dalam Naskah Trilogi Film: Pirates of Carribbean”. Semarang: Skripsi Jurusan Satra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro.

  Nadar, F. X. 2009. Pragmatik & Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu. Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

  Oki, Maria Franzisca. 2010. Penggunaan Gaya Bahasa Kiasan pada Novel Sang

  Pemimpi Karya Andrea Hirata . Malang: Skripsi Universitas Negeri Malang.

  Pradopo, Rachmat Djoko. 2005. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Purwadi. 2005. Kamus Jawa-Indonesia; Indonesia-Jawa. Yogyakarta: Bina Media. Ratna, Nyoman Kutha. 2008. Stilistika: Kajian Puitika, Bahasa, Sastra, dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Subagyo, P. Ari. 2004. ”Ironi dan Prinsip Ironi dalam Komunikasi”. Dalam

  Yoseph Yapi Taum, I. Praptomo Baryadi, dan S.E. Peni Adji (Ed.) Bahasa

  Merajut Sastra Merunut Budaya . Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma. Halaman 67-79.

  Sudaryanto. 1993. Metode dan Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

  Sudiati. 2002. “Analisis Stilistika Cerita Pendek ‘Saksi Mata’ Karya Seno Gumira Ajidarma”. Dalam Sujarwanto, Jabrohim (Ed.) Bahasa dan Sastra Indonesia: Menuju Peran Transformasi Sosial Budaya Abad XXI .

  Yogyakarta: Universitas Ahmad Dahlan. Halaman 287-304. Sugono, Dendy (Pemimpin Redaksi). 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat

Bahasa Edisi Keempat . Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Utama.

  Suwarna. 2009. Bahasa Pewara. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Tarigan, Henry Guntur. 1985. Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Angkasa.

  Kanisius. Werokila, Setiawan. 2007. ”Gaya Bahasa Kiasan dalam Wacana ”Ole

  Internasional” di Tabloid Bola Tanggal 3 Maret 2006 sampai dengan 22 September 2006” . Skripsi di Program Studi Sastra Indonesia, Jurusan

  Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma. Yule, George. 2006. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

  Sumber data:

  S.W, Besar. 2006. Kumpulan Cerpen Roro Mendut & Atmo. Jakarta: Mediantara Semesta.

TENTANG PENULIS

  Lilid Perwira Setya lahir di Sleman, 19 Agustus 1989. Putri kedua dari pasangan (alm) Drs. Besar Subagiyo Wagimin dan Trisminafaati. Pendidikan formalnya yang dimulai sejak taman kanak-kanak sampai dengan SMA dihabiskan di Desa Aikmel, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dimulai dari TK Dharma Wanita, SD Negeri 4 Aikmel, SMP Negeri 1 Aikmel, dan SMA Negeri 1 Aikmel, ia lalu melanjutkan kuliahnya pada tahun 2007 di Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Analisis wacana pesan cinta dalam kumpulan cerita pendek emak ingin naik Haji karya Asma Nadia
1
46
73
Gaya bahasa perbandingan dalam kumpulan Cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma serta implikasinya terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah
18
164
84
Pesan dalam cerita pendek Shiro dan Hana karya Akutagawa Ryuunosuke.
0
10
14
Gaya bahasa kiasan dalam lirik lagu Iwan Fals.
25
192
175
Gaya bahasa kiasan dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut dan Atmo karya besar S.W.
6
113
126
Gaya bahasa kiasan dalam lirik lagu Iwan Fals
3
12
173
Roro Jonggrang cerita dongeng durhaka
0
5
19
Gaya bahasa dan nilai estetis dalam kumpulan cerpen lukisan kaligrafi karya a. Mustofa bisri: Sebuah Pendekatan Stilistika
1
1
17
Gaya bahasa kiasan dalam wacana ``Ole Internasional`` di tabloid Bola tanggal 3 Maret 2006 sampai dengan 22 September 2006 - USD Repository
0
0
84
Gaya bahasa berdasarkan makna kata dalam kumpulan cerita pendek Sang Presiden karya Herry Gendut Janarto - USD Repository
0
0
72
Analisis struktur cerita novel perampok karya W.S. Rendra - USD Repository
3
26
93
Kemampuan siswa kelas XI jurusan IPA dan IPS SMA Negeri 1 Depok, Sleman, Yogyakarta tahun 2005/2006 dalam memahami cerita pendek ``harga seorang perempuan`` karya Ida Ayu Oka Rusmini - USD Repository
0
0
153
Wujud perjuangan perempuan dalam pendidikan pada antologi cerita pendek Seribu Impian Perempuan Buru : sebuah pendekatan sosiologi sastra - USD Repository
0
0
69
Analisis struktural kumpulan cerpen Meutia Sudah Henti Bertanya karya T.I. Thamrin dan implementasinya dalam pembelajaran sastra di SMA - USD Repository
0
5
415
Nilai-nilai budi pekerti dalam kumpulan cerita anak dan remaja ``Pangeran Kodok`` karya Ch. Deveral - USD Repository
0
0
80
Show more