Dinamika pengalaman krisis dalam kehidupan pastor - USD Repository

Gratis

1
1
182
7 months ago
Preview
Full text

  

DINAMIKA PENGALAMAN KRISIS DALAM KEHIDUPAN PASTOR

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

  

Program Studi Psikologi

Oleh :

David Widyantoro Try Wibowo

  

NIM : 07 9114 002

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

  

YOGYAKARTA

2013

HALAMAN MOTO DAN PERSEMBAHAN

  Skripsi ini saya persembahkan untuk: Tuhan Yesus teladan dari semua panggilan hidup,

  Mereka yang membaktikan diri dalam panggilan hidup selibat, Bapak, Ibu, Kakak, Adik, Keponakan yang lucu-lucu, Devi, dan

  Civitas akademi Univ.Sanata Dharma, khususnya Fakultas Psikologi

  

DINAMIKA PENGALAMAN KRISIS DALAM KEHIDUPAN PASTOR

David Widyantoro Try Wibowo

ABSTRAK

  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami dinamika pengalaman

krisis dalam kehidupan pastor pada beberapa pastor yang berkarya di Yogyakarta. Metode

pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode

wawancara untuk mendapatkan data narasi dari tiga subyek. Untuk mengetahui dan memahami

dinamika pengalaman krisis dalam kehidupan pastor analisis yang digunakan adalah analisis

naratif. Hal ini menunjukkan bahwa dapat dipahami bahwa pengalaman krisis dalam kehidupan

pastor merupakan sebuah masa dimana seorang pastor mencoba untuk mencari jawaban, pilihan,

atau tindakan dari konflik yang dihadapi berkaitan dengan kehidupannya menjadi seorang pastor.

Sumber konflik yang dialami dapat disebabkan oleh pengalaman masa lalu dan konsekuensi dari

interaksi dengan lingkungan sosial. Pengalaman masa lalu bisa menjadi pembelajaran untuk

menghadapi konflik selanjutnya. Sebagai usaha menemukan jawaban, menentukan pilihan, dan

tindakan dari konflik yang dihadapi sebagian besar cara yang dilakukan adalah dengan

menciptakan suasana hening untuk merenung atau merefleksikan pengalaman, sharing, serta

penyerahan diri kepada Tuhan. Kekuatan yang dihasilkan dari krisis tersebut adalah harapan,

kemauan, tujuan, keahlian, kesetiaan, dan kebijaksanaan.

  Kata kunci : Dinamika Pengalaman Krisis dalam Kehidupan Pastor

DYNAMICS OF EXPERIENCE IN LIFE CRISIS PASTOR

  

David Widyantoro Try Wibowo

ABSTRACT

The purpose of this study is to investigate and understand the dynamics of the life

experience of the crisis on several pastor who works in Yogyakarta. The data collection method

used in this research is to use the method of narrative interviews to obtain data from the three

subjects. To know and understand the dynamics of the crisis in the life experience of analysis is

pastor narrative analysis. This shows that it is understood that the experience of the crisis in the

life of a priest is a period where a priest trying to find an answer, choice, or action of the conflict

faced related to his life being a pastor. Sources of conflict that can be experienced due to past

experiences and the consequences of the interaction with the social environment. Past experience

can be a lesson for to further conflicts. An attempt to find answers, make choices, and actions of

the conflicts faced by most of the way is by creating an atmosphere of silence to contemplate or

reflect on the experience, sharing, and submission to God. Strength resulting from the crisis is the

hope, the will, purpose, skill, loyalty, and wisdom.

  Keywords: Dynamics of Crisis Experiences in Life Pastor

KATA PENGANTAR

  Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat perlindungan NYA tugas akhir ini dapat diselesaikan. Sebuah proses yang patut disyukuri karena penulis boleh merasakan dan mengalami dinamika penyusunan tugas akhir yang dibuat sebagai salah satu syarat kelulusan program sarjana.

  Proses penyusunan tugas akhir ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan pihak-pihak, baik yang terlibat secara langsung maupun yang tidak secara langsung. Oleh karena itu, penulis mengucapkan kepada.

  1. Tuhan Yesus Kristus yang selalu menguatkan, memberkati, dan melindungi.

  2. Bapak dan Ibu tersayang yang tiada hentinya mendukung dan memperhatikan dengan kasih sayang yang tiada habisnya.

  3. Mas Ari beserta keluarga, Mbak Ria beserta keluarga, dan Ave, kakak-kakak dan adik yang selalu memberikan semangat.

  4. My lovely Devi, yang menemani dan memberikan perhatian disaat suka, duka, sedih, senang, dan susah.

  5. Bapak Didik, dosen pembimbing akademik dan pembimbing skripsi yang dengan sabar membimbing penulis.

  6. Para pastor, baik yang berpartisipasi sebagai subyek, maupun rekan berbagi sharing, pengalaman para pastor memperkaya pengetahuan saya dalam penulisan tugas akhir ini.

  7. Civitas Akademika Universitas Sanata Dharma, tempat bernaung menjadi pribadi yang cerdas dan humanis

  8. Fakultas Psikologi, USD tempat penulis dapat memahami manusia lebih dalam.

  9. Dosen, karyawan, teman-teman seperguruan prodi Psikologi, kalian sahabat tempat berbagi suka dan duka.

  10. Teman-teman staf humas USD (Pak Budi, Mas Cahyo, Mbak Atiek, Krisna, Lusi, Ita, Wiena, Tatik, Anggita, Nana, Lia, Agus, Galih, Clay, Fajar, Adi, Daniel, Lola, Eka, Ketty, Glo, Okvi, Leza, Utik, Atik, Suharni, Nanda, Oscar, Yuan, Putra, Chiputra, Tri, Bayu, dkk) terimakasih motivasinya.

  Dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu, penulis ucapakan terimakasih kembali atas dukungannya.

  Pemahaman akan dinamika kehidupan pastor ditengah umat masih beragam. Ada yang mampu memahami ada pula yang tidak dapat memahami.

  Masalahnya adalah terkadang umat masih menilai pastor adalah pribadi yang istimewa dan lupa untuk melihat sisi manusiawinya. Sebagai manusia biasa pastor juga merasakan dan mengalami jatuh bangun sedih susah dan perjuangan hidup lainnya yang tentunya juga untuk mempertahankan panggilan suci yang telah dipilihnya. Pengalaman krisis menyangkut kehidupan pribadi, hal ini menjadi sebuah perbincangan yang mudah datang dan mudah pergi. Padahal jika dilihat dari sisi psikologisnya seorang pastor juga membutuhkan dukungan dan perhatian dari lingkungannya dalam kondisi apapun. Dukungan dan perhatian yang baik akan membantu seorang pastor dalam menjalankan kehidupan panggilannya hingga akhir hayat. Tugas akhir ini dibuat tidak untuk mendiskriminasikan atau menyudutkan sosok pastor, oleh karena itu penulis berusaha menyusun karya tulis

  

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................... i

HALAMAN PERSETUJUAN ................................................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... iii

HALAMAN MOTO DAN PERSEMBAHAN .......................................... iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................. v

ABSTRAK ................................................................................................... vi

ABSTRACT ................................................................................................. vii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ............ viii

KATA PENGANTAR ................................................................................. ix

DAFTAR ISI ................................................................................................ xii

BAB I PENDAHULUAN .........................................................................

  1 A. Latar Belakang Masalah .......................................................

  1 B. Rumusan Masalah ..................................................................

  6 C. Tujuan Penelitian ...................................................................

  6 D. Manfaat Penelitian .................................................................

  6 1. Manfaat Teoritis ...............................................................

  6 2. Manfaat Praktis .................................................................

  7 BAB II LANDASAN TEORI ....................................................................

  8 A. Krisis .......................................................................................

  8 1. Pengertian Krisis ...............................................................

  8 2. Psikologi Hidup Rohani (Psiko-Spiritual) .......................

  11

  3.

  16 Teori Aktualisasi .............................................................

  B.

  21 Kehidupan Pastor dan Dinamika Krisis ...........................

  C.

  26 Pertanyaan Penelitian .........................................................

  1.

  26 Central Question ..............................................................

  2.

  26 Subquestion ......................................................................

  BAB III METODE PENELITIAN .........................................................

  27 A.

  27 Strategi Penelitian ...............................................................

  B.

  28 Latar Belakang Peneliti ......................................................

  C.

  30 Pengumpulan Data ..............................................................

  D.

  31 Prosedur Analisis Data .......................................................

  E.

  32 Kredibilitas Penelitian ........................................................

  BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .......................

  34 A.

  34 Pengalaman Krisis Subyek 1 (YI) ......................................

  1. Krisis Relasi dengan Keluarga (Peran sebagai Anak Pertama) ..........................................................................

  35 2. Krisis Relasi dengan Instansi Formasi (Seminari Tinggi) ..............................................................................

  37 3.

  39 Krisis Fisik (Pengalaman Sakit) ....................................

  4.

  42 Kesimpulan......................................................................

  B.

  43 Pengalaman Krisis Subyek 2 (BM) ....................................

  1. Krisis Relasi dengan Keluarga (Status dan Pola Asuh) ................................................................................

  44 2.

  48 Krisis Karya ....................................................................

  3.

  51 Krisis Relasi dengan Lawan Jenis .................................

  4.

  53 Kesimpulan......................................................................

  C.

  53 Pengalaman Krisis Subyek 3 (YS) .....................................

  1.

  54 Krisis Relasi dengan Lawan Jenis ....................................

  2.

  56 Krisis Relasi dengan Mitra Paroki (Dewan Paroki).......

  3.

  57 Krisis Relasi dengan Rekan Pastor dalam Satu Paroki .

  4.

  59 Krisis Relasi dengan Pimpinan ........................................

  5.

  61 Kesimpulan.........................................................................

  D.

  62 Pembahasan ............................................................................

  BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................

  66 A.

  66 Kesimpulan .........................................................................

  B.

  67 Saran ....................................................................................

  1.

  67 Bagi Subyek .....................................................................

  2.

  67 Bagi Formator .................................................................

  3.

  68 Bagi Peneliti Selanjutnya ............................................... DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................

  69 LAMPIRAN .................................................................................................

  71

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Seorang pastor memiliki peran penting dalam kehidupan umat Katolik. Peran penting pastor dapat dilihat melalui tugas pastoralnya. Tugas pastoral

  seorang pastor menyangkut bidang kerygma (pewartaan, pengajaran, kenabian), liturgia (ibadat dan pengudusan), martyria (keberanian memberi kesaksian hidup imani), doakonia (pelayanan), dan koinonia (kepemimpinan yang mendamaikan) (Mgr J. Sunarka, SJ dalam Perjuangan dan Kebahagian Imam-Imam Muda).

  Fx. Indrapraja, OSF mengatakan bahwa salah satu dokumen Konsili Vatikan II, dekrit Presbyterorum Ordinis tentang pelayanan dan kehidupan imam (7 Desember 1965) menyebutkan dan menguiraikan secara singkat tiga aspek pelaksanaan pelayanan seorang imam. Ketiga aspek itu adalah: imam sebagai pelayan sabda Allah, imam sebagai pelayan ekaristi, dan imam sebagai pemimpin umat Allah. Tugas pastoral dan ketiga aspek pelaksanaan pelayanan seorang imam ini menunjukkan bahwa pentingnya peran imam atau pastor dalam kehidupan umat katolik.

  Bagi umat beragama Katolik, menjadi seorang pastor merupakan jalan panggilan yang mulia. Bahkan sebagian besar umat Katolik memiliki pandangan bahwa menjadi pastor atau biarawan-biarawati merupakan satu- satunya jalan terbaik dalam menuju kesempurnaan hidup (Djakarya dalam Ayu dan Satiadarma, 2005). Pandangan ini muncul, karena sosok pemuka agama seperti pastor merupakan panutan umat dalam menjalankan kehidupan khususnya dalam hal kerohanian, seperti mengajarkan bagaimana manusia hidup dengan baik sesuai ajaran agama. Oleh karena itu tidak jarang pula, umat berpendapat bahwa seorang pastor hidup suci karena berjanji untuk hidup selibat atau tidak menikah seumur hidup.

  Pandangan yang “berlebihan” tersebut mengakibatkan seorang selibater (pastor) dituntut untuk menampilkan kepribadian yang sempurna

  (Paige, 2001 dalam Ayu dan Satiadarma, 2005). Seperti halnya manusia biasa, seorang pastor juga memiliki sisi manusiawi yang dimiliki. Sisi manusiawi ini terlihat dari perjuangan seorang pastor dalam mempertahankan hidup panggilannya dan identitas yang disandang di tengah tantangan dunia yang dihadapi.

  Bukan suatu langkah yang mudah untuk memperjuangkan identitas yang melekat pada pribadi seorang pastor. Erik Erikson dalam Life-Span Development (edisi kelima, 2002) menjelaskan, bahwa perkembangan sosial manusia dalam mencari identitas diri akan melalui tahap atau masa krisis.

  Tahap krisis itu akan ditandai dengan adanya konflik yang harus dihadapi oleh individu. Setiap konflik yang dapat dilalui dalam satu tahap akan membantu individu dalam menghadapi konflik di tahap berikutnya. Jika ada konflik yang tidak terselesaikan, ada kemungkinan pada tahap berikutnya akan muncul kembali. Hal ini juga yang dialami seorang pastor dalam memperjuangkan identitas diri mereka. Seorang Pastor akan menjumpai masa krisis dalam perkembangan hidupnya.

  Beberapa literatur mengatakan bahwa krisis yang dialami seorang pastor atau kaum selibater (biarawan-biarawati) terjadi karena adanya krisis iman. Pastor B. Sumaryo SCJ dalam artikelnya yang berjudul Gugatan Panggilan (1998) mengatakan bahwa biarawan-biarawati serta pastor yang mengalami krisis iman tidak menyadari bahwa kaul dan tahbisan suci merupakan ikatan untuk seumur hidup yang menjadi sumber kesucian dan keselamatan serta kebahagian hidup. Kisah-kisah yang muncul berdasarkan pengalaman bagaimana kaum selibater mempertahankan identitasnya, seperti pergulatannya dalam memaknai kaul yang diucapkan. Salah satunya krisis iman dapat terjadi karena hanya mengejar karier, pengetahuan tanpa diimbangi dengan doa dan meditasi atau hening.

  Seorang pastor ketika mengalami krisis iman, hal ini akan berpengaruh dalam kehidupan pribadi, akibatnya pastor tersebut akan mengalami kebosanan, stres, depresi, karya pelayanan terganggu, bahkan dapat sampai mengakibatkan Pastor itu meninggalkan panggilannya. Semakin krisis iman, semakin krisis panggilan, untuk membenahi panggilan dibutuhkan iman (A. Setyawan, S.J dalam artikel Krisis Tengah Umur = Krisis Panggilan).

  Krisis iman bukan merupakan pusat atau sumber dari krisis yang dialami pastor. F. Mardi Prasetya SJ., Ph.L.Psych mengatakan dalam hidup iman, kadang-kadang dijumpai kesulitan dan hambatan yang muncul karena disposisi seseorang yang kurang sesuai. Kesulitan dan hambatan itu secara umum dapat digolongkan dalam kesulitan yang coraknya rohani, masalah yang muncul dari proses perkembangan pribadi, kesulitan yang muncul karena pengaruh motivasi bawah sadar, masalah-masalah dan kesulitan yang muncul dari dinamika patologis yang menyangkut bidang psikiatri.

  Pengalaman krisis dalam kehidupan seorang pastor dapat terjadi kapan saja, seperti orang pada umumnya. Menurut DSO. Widiantoro, SJ pengalaman krisis ini terjadi karena disebabkan oleh tiga faktor. Pertama, kurangnya kemampuan untuk tekun melatih dan membiasakan hidup dalam discernment.

  Kedua, faktor psikologis dari pribadi bersangkutan yang kerap mempengaruhi prilaku dan mentalitas seseorang. Ketiga, faktor eksternal yang turut memberikan stimulus seorang religius jatuh pada pengalaman krisis.

  Konsep krisis psikososial Erik Erikson dalam teori kepribadian dikatakan bahwa setiap tahap perkembangan memiliki konflik antara elemen sintonik (harmonis) dan elemen distonik (mengacaukan). Tiap tahap dicirikan oleh adanya dilema dalam kategori krisis psikososial (Deshi Ramadhani, SJ dalam Rohani, 2011). Konsep krisis psikososial Erik Erikson menunjukkan bahwa setiap manusia termasuk seorang pastor memiliki kemungkinan mengalami konflik atau krisis dalam hidupnya.

  Penelitian yang dilakukan oleh Tiara M. Ayu dan Monty P. Satiadarma (2005) memberikan pemahaman mengenai dinamika emosional kaum selibat dalam menghadapi mid-life crisis atau krisis tengah umur. Penelitian ini - menjelaskan dinamika krisis tengah umur para selibater yang menjadi subyek penelitian yang berfokus pada kondisi emosional dalam menghadapi mid-life

  crisis .Oleh karena itu, diharapkan penelitian berikutnya tidak hanya mengulas kondisi emosional, namun kondisi psikologis secara keseluruhan dan tidak hanya terfokus pada problematik yang dihadapi di usia pertengahan.

  Pengalaman-pengalaman krisis ini tidak bisa dihindari. Dalam melewati tahap-tahap itu ada serangkaian kekusutan yang bisa menimbulkan kebingungan luar bisa, jika tidak hati-hati kekusutan yang tidak sempat terurai lewat berbagai pendampingan yang tepat akhirnya akan membawa pada satu titik keputusan akhir, yaitu berhenti hidup selibat (Deshi Ramadhani, SJ dalam Rohani, 2011). Jika masalah ini dibiarkan begitu saja, berapa jumlah pastor yang akan tetap setia pada panggilannya?

  Beberapa cara dilakukan untuk membantu menyelesaikan masalah ini. Konsili Vatikan II tepatnya dalam Gaudium et Spes menganjurkan supaya dalam formasi (pembinaan) meminta bantuan ilmu lain, antara lain ilmu Psikologi. Psikologi membantu memahami kekayaan dan kedalaman pribadi calon beserta latar belakang dan kerumitannya, karena psikologi merupakan sebuah pendekatan yang secara khusus mendalami dinamika dan sistem motivasi pribadi serta proses psikososial yang berhubungan dengan dinamika tersebut (F. Mardi Prasetya, SJ dalam Psikologi Hidup Rohani, 1995)

  Oleh karena itu melalui penelitian ini, peneliti hendak melihat dinamika pengalaman krisis dalam kehidupan pastor. Dinamika pengalaman krisis yang hendak dilihat merupakan kisah perjalanan hidup dan pengalaman krisis yang dihadapi pastor. Berdasarkan kisah perjalanan hidup dan pengalaman krisis yang dihadapi pastor, diharapkan akan dapat diketahui gambaran dan informasi yang bisa membantu untuk lebih memahami pengalaman krisis dalam kehidupan pastor. Pengalaman krisis tersebut juga bukan hanya pada tahap usia tertentu. Melalui penelitian ini, penulis juga berharap dapat menjadi salah satu usaha dalam mengatasi ataupun menanggulangi krisis yang terjadi dalam kehidupan pastor.

  B. RUMUSAN MASALAH

  Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana dinamika pengalaman krisis dalam kehidupan pastor.

  C. TUJUAN PENELITIAN

  Penelitian naratif ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami dinamika pengalaman krisis dalam kehidupan pastor pada beberapa pastor yang berkarya di Yogyakarta.

  D. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat Teoritis a.

  Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pengembangan terhadap ilmu Psikologi terutama psikologi perkembangan, tentang perkembangan manusia yang secara khusus memilih jalan hidupnya untuk menjadi kaum religius, khususnya menjadi pastor. b.

  Selain bagi psikologi perkembangan, penelitian ini diharapkan pula dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk penelitian-penelitian lain yang relevan dengan penelitian ini.

2. Manfaat Praktis a.

  Penelitian ini bermanfaat untuk membantu pembaca mengetahui seluk- beluk kehidupan pastor berkaitan dengan pengalaman krisis yang dialaminya.

  b.

  Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan usaha preventif bagi dunia pendidikan calon pastor dalam membina calon pastor, sehingga bukan hanya pembinaan secara rohani dan akademis saja, tetapi secara psikologis juga dapat dikembangkan.

  c.

  Penelitian ini juga bermanfaat sebagai bahan evaluasi dan refleksi bagi para pastor dalam menghadapi krisis yang dialami, sehingga para pastor tetap dapat bersemangat dalam karya panggilannya.

BAB II LANDASAN TEORI A. KRISIS 1. Pengertian Krisis Istilah krisis mengacu pada suatu masa atau waktu yang

  menggambarkan kondisi yang bergejolak akibat adanya konflik. Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi keempat, 2011), mendefinisikan krisis sebagai keadaan yang genting, kemelut, atau keadaan suram. Pengalaman dalam kondisi genting, kemelut, atau keadaan suram tidak akan lepas dalam kehidupan.

  Erick Erikson menggunakan istilah krisis juga dalam teori perkembangan manusia. Teori perkembangan ini didasari oleh pembentukan identitas individu. Identitas adalah suatu proses restrukturasi segala identifikasi gambaran terdahulu, dimana seluruh identitas fragmenter yang dahulu (pun yang negatif) diolah dalam perspektif suatu masa depan yang diantisipasi (Agus Gremes dalam Identitas dan Siklus Hidup Manusia, 1989).

  Individu dalam membentuk identitas dirinya akan melalui tahap perkembangan. Erick Erikson membagi tahap perkembangan menjadi delapan tahap perkembangan. Kedelapan tahap perkembangan tersebut membutuhkan pemahaman terhadap beberapa point penting. a.

  Pertumbuhan terjadi berdasarkan prinsip epigenetik, yaitu satu bagian komponen yang tumbuh dari komponen lain dan memiliki pengaruh waktu tersendiri, namun tidak menggantikan komponen sebelumnya.

  b.

  Di dalam tiap tahapan kehidupan terdapat interaksi berlawanan, yaitu konflik antara elemen sintonik (harmonis) dengan elemen distonik (mengacaukan).

  c.

  Di tiap tahapan, konflik antara elemen distonik dan sintonik menghasilkan kualitas ego dan kekuatan ego, yang disebut sebagai kekuatan dasar (basic strength).

  d.

  Terlalu sedikitnya kekuatan pada satu tahap mengakibatkan patologi inti (core pathology) pada tahap tersebut. Setiap tahap memiliki potensi patologi inti.

  e.

  Erikson tidak pernah meninggalkan aspek biologis dalam perkembangan manusia, meskipun mengacu kedelapan tahapannya sebagai tahapan psikososial (psychosocial stages).

  f.

  Peristiwa-peristiwa ditahapan sebelumnya tidak menyebabkan perkembangan kepribadian selanjutnya. Identitas ego dibentuk oleh keanekaragaman konflik dan kejadian-kejadian masa lampau, sekarang, dan yang diharapkan.

  Selama tiap tahapan, khususnya sejak remaja dan selanjutnya, perkembangan kepribadian ditandai oleh krisis identitas yang Erikson (1

  968) sebut sebagai ”titik balik, yaitu periode krusial akan meningkatnya kerapuhan dan memuncaknya potensi”. Oleh karena itu, selama tiap krisis, seseorang rentan terhadap modifikasi utama dalam identitas, baik positif maupun negatif.

  Krisis merupakan suatu titik balik suatu masa gawat dari kerentanan dan sekaligus potensi yang semakin meningkat, karena itu krisis ini merupakan sumber otogenesis dari kekuatan generasional dan juga ketidakmampuan menyesuaikan diri (Identity, Youth, and Crisis, h.

  96).

  Tahapan perkembangan psikososial Erikson memiliki delapan tahapan. Setiap tahapan memiliki kualitas ego atau kekuatan dasar yang muncul dari konflik-konflik atau krisis psikososial yang menjadi ciri khas tiap periode. Kedelapan tahapan perkembangan tersebut adalah: a.

  Tahapan pertama, masa bayi dengan krisis psikososial utama adalah rasa percaya dasar versus rasa tidak tidak percaya dasar. Kekuatan dasar yang dihasilkan dari krisis atau konflik ini adalah harapan.

  b.

  Tahapan kedua, masa kanak-kanak awal dengan krisis psikososial utama adalah otonomi versus masa lalu, keraguan. Kekuatan dasar yang dihasilkan dari krisis atau konflik ini adalah kemauan.

  c.

  Tahapan ketiga, masa usia bermain dengan krisis psikososial utama adalah inisiatif versus rasa bersalah. Kekuatan dasar yang dihasilkan dari krisis atau konflik ini adalah tujuan.

  d.

  Tahapan keempat, masa usia sekolah dengan krisis psikososial utama adalah industri versus rasa rendah diri. Kekuatan dasar yang dihasilkan dari krisis atau konflik ini adalah keahlian. e.

  Tahapan kelima, masa remaja dengan krisis psikososial utama adalah identitas versus kebingungan identitas. Kekuatan dasar yang dihasilkan dari krisis atau konflik ini adalah kesetiaan.

  f.

  Tahapan keenam, masa dewasa muda dengan krisis psikososial utama adalah keintiman versus keterasingan. Kekuatan dasar yang dihasilkan dari krisis atau konflik ini adalah cinta.

  g.

  Tahapan ketujuh, masa dewasa dengan krisis psikososial utama adalah generativitas versus stagnasi. Kekuatan dasar yang dihasilkan dari krisis atau konflik ini adalah kepedulian.

  h.

  Tahapan kedelapan, masa usia lanjut dengan krisis psikososial utama adalah integritas versus keputusasaan, kejijikan. Kekuatan dasar yang dihasilkan dari krisis atau konflik ini adalah kebijaksanaan.

2. Psikologi Hidup Rohani (Psiko-Spiritual) F.

  Mardi Prasetya SJ dalam Psikologi Hidup Rohani menjelaskan konflik menurut teori Erikson. Konflik-konflik tersebut ada dalam delapan tahap krisis psikososial.

  a.

  Percaya – Tidak Percaya 1.

  Bersedia untuk percaya pada orang lain, kemampuan untuk menerima sesuatu dari orang lain dan tergantung pada mereka.

2. Sebaliknya.

  b.

  d.

  Punya keyakinan untuk mampu menjaga kesamaan dan kesinambungan dari dalam dirinya, dan solider akan system nilai yang riil yang terkandung dalam konteks sosial dan kebudayaan.

  Identitas – Kacau Peranannya 1.

  e.

  2. Takut gagal atau tak mampu bersaing dengan orang lain.

  Kemampuan untuk mempertahankan daya kekuatan yang terarah hingga tujuan tercapai atau hingga tugas selesai.

  Rajin – Rasa Kecil 1.

  Konflik seksual.

  Mandiri – Malu, Ragu-ragu 1.

  2. Menyalahkan diri sendiri dengan keras, kaku dan moral (rasa kesal).

  Rasa bertanggungjawab, mampu dan disiplin untuk mengarahkan daya kekuatan untuk suatu tujuan.

  Inisiatif – Menyesal 1.

  c.

  2. Kurang rasa harga diri yang tampak dalam rasa malu dan rasa kurang percaya diri yang terkandung dalam ragu-ragu pada diri sendiri.

  Kemampuan untuk menyatakan dan mengungkapkan diri, kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri tanpa kehilangan harga diri.

  2. Rasa tidak pasti akan gambaran diri sendiri dan taka da keterlibatan pada suatu sistem nilai. f.

  Kehangatan – Menyendiri 1.

  Kemampuan untuk berhubungan secara intim dan berarti dengan orang lain dalam interaksi timbal balik yang memuaskan dan produktif.

  2. Kebalikannya dari itu sebagai suatu kegagalan untuk menyadari penerimaan diri sendiri yang mantap dan dewasa.

  g.

  Murah Hati – Egois 1.

  Memperhatikan dan mampu untuk menggunakan kemampuan- kemamuan produktif demi kesejahteraan orang lain.

  2. Tiadanya perwujudan/tanda-tanda kemampuan yang produktif, atau justru menggunakan kemampuan-kemampuan tersebut untuk kepentingan diri sendiri yang egois.

  h.

  Integritas Diri – Putus Asa 1.

  Penerimaan akan diri sendiri dan segala segi kehidupan, dan integrasi unsur-unsur tersebut dalam pola hidup yang tetap.

  2. Kurang dapat menerima diri sendiri dan hidupnya, yang dikaitkan dengan sikap merendahkan diri dan takut akan kematian.

  Pengalaman krisis merupakan suatu titik balik, suatu masa gawat dari kerentanan dan sekaligus potensi yang semakin meningkat. Pada masa inilah individu berjuang untuk keluar dari masa krisis yang dialami. Perjuangan individu dapat dilihat melalui motivasi yang mendorong dirinya untuk melewati masa krisis yang dihadapi. Menurut F. Mardi Prasetya, S.J., Ph.L.Psych dalam Psikologi Hidup Rohani, dinamika motivasi didukung oleh tiga taraf hidup kejiwaan yang menyertai tiap pribadi, yaitu: a.

  Taraf Psikofisik Kemampuan yang berasal dari unsur-unsur bio-kimia, sensori motor dan instink dalam susunan organisme tubuh manusia. Bila terjadi kekurangan atau deficit dalam tubuh, maka muncul mekanisme yang mendorong tubuh untuk mencari pemuasannya, dan pribadi dapat merasa lapar, haus, lelah, mengantuk. Dorongan tersebut menciptakan kebutuhan biologis yang perlu untuk hidup somatis.

  b.

  Taraf Psikososial Kemampuan yang lahir dari kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial, seperti kebutuhan afeksi, cinta, kebutuhan menjalin hubungan dengan sesama, komunikasi timbal-balik, persahabatan, kebutuhan untuk menerima dan diterima, kebutuhan untuk mengenal dan dikenal, kebutuhan untuk mencintai dan dicintai, yang mendorong untuk membangun hidup sosial atau komunitas.

  c.

  Taraf Spiritual-Rasional Kemampuan khas manusiawi seperti membuat refleksi, penalaran, pertimbangan dan abstraksi, kemampuan yang memungkinkan pribadi mengatasi keterbatasan kesementaraan dan instinknya, kemampuan untuk mentransendensi-diri dan kemampuan untuk mengerti, melihat, dan mewujudkan apa yang bernilai. Jadi, kemampuan untuk bertanggungjawab atas perilaku yang dibuatnya.

  Tiga taraf kemampuan hidup kejiwaan ini membuat pribadi dapat memiliki tiga taraf motivasi dalam hidupnya. Motivasi-motivasi ini diarahkan oleh apa yang disebut nilai, kebutuhan psikologis, dan sikap hidup. (Psikologi Hidup Rohani. h. 107-108).

  Mardi Prasetya SJ dalam Psikologi Hidup Rohani menyebutkan ada empat macam golongan subyek dan kemampuan internalisasi a.

  Golongan yang tidak sekedar bersarang dalam biara Individu yang masuk dalam golongan ini adalah individu yang bertumbuh dalam penghendakan untuk menginternalisasikan nilai- nilai panggilan.

  b.

  Golongan yang bersarang dalam biara Individu yang masuk dalam golongan ini diam-diam dan secara bawah sadar mencari pemuasan kebutuhan psikologis di dalam institusi atau seminari yang dijalani, dan bukan bertumbuh di dalam internalisasi nilai-nilai panggilan. Ketekunan yang regresif dihadapan tugas pertumbuhan pribadinya sebagai manusia dan pertumbuhan panggilannya, apalagi dalam efektivitas kerasulan.

  c.

  Golongan yang mau berubah Golongan ini mempunyai kedewasaan dalam keputusannya untuk mengubah hidup (transformasi) seturut panggilannya. Ada perubahan dalam arah tindakan menghendaki (willing), sedangkan disposisi penghendakannya tetap terbuka untuk internalisasi nilai-nilai panggilan. d.

  Golongan yang tidak dapat mengendalikan diri Kemampuan untuk menghendaki (will) terbatasi oleh psikodinamika bawah sadar dalam hidupnya, maka juga tidak begitu terbuka untuk menghendaki (willing) nilai-nilai panggilan atau transendensi diri (tidak setia atas dasar alas an atau motivasi yang kurang dewasa). Dan akhirnya memutuskan keluar atau dikeluarkan.

3. Teori Aktualisasi

  Carl Roger dalam Psikologi Pertumbuhan (1991) mengungkapkan bahwa kepribadian yang sehat itu bukan merupakan suatu keadaan dari ada tapi suatu proses. Aktualisasi diri ialah suatu proses yang sukar dan kadang- kadang menyakitkan, suatu ujian, rentangan, pecutan terus menerus. Ciri- ciri orang yang mampu beraktualisasi diri atau berfungsi sepenuhnya, diantaranya :

1. Keterbukaan pada pengalaman Keterbukaan terhadap pengalaman merupakan lawan dari sikap defensif.

  Individu yang berfungsi sepenuhnya dapat dikatakan lebih “emosional” dalam pengertian bahwa dia mengalami banyak emosi yang bersifat positif dan negatif (misalnya, baik kegembiraan maupun kesusahan) dan mengalami emosi-emosi itu lebih kuat dari pada orang yang defensif.

  2. Kehidupan eksistensial Individu yang berfungsi sepenuhnya dapat menyesuaikan diri karena struktur diri terus-menerus terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru.

  3. Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri Individu yang terbuka terhadap pengalaman serta menghidupkan pengalaman tersebut, maka individu yang sehat dapat membiarkan seluruh organisme mempertimbangkan setiap segi dari suatu situasi. Semua faktor yang relevan diperhitungkan dan dipertimbangkan serta dicapai keputusan yang akan memuaskan semua segi situasi dengan sangat baik.

  4. Perasaan bebas Individu yang sehat dapat memilih dengan bebas tanpa adanya paksaan, memiliki perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya, tidak diatur oleh tingkah laku, keadaan, atau peristiwa-peristiwa masa lampau. Individu yang sehat melihat sangat banyak pilihan dalam kehidupan dan mampu melakukan apa saja yang mungkin ingin dilakukan.

  5. Kreativitas Individu yang terbuka terhadap pengalaman, yang percaya akan organisme mereka sendiri, yang fleksibel dalam keputusan serta tindakan mereka, yang akan mengungkapkan diri mereka dalam produk-produk yang kreatif dan kehidupan yang kreatif dalam semua bidang kehidupan mereka. Tingkah laku spontan, berubah, bertumbuh, dan berkembang sebagai respons atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka-ragam.

  Carl Roger dalam Psikologi Pertumbuhan (1991)Sifat-sifat khusus yang menggambarkan pengaktualisasi-pengaktualisasi diri a.

  Mengamati realitas secara efisien Kepribadian-kepribadian yang tidak sehat mengamati dunia menurut ukuran subyektif sendiri. Semakin obyektif indiviu mampu menggambarkan kenyataan, maka semakin baik kemampuan untuk berpikir secara logis, untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan yang tepat, dan pada umumnya untuk menjadi efisien secara intelektual b. Penerimaan umum atas kodrat, orang-orang lain dan diri sendiri

  Individu yang sehat begitu menerima kodrat mereka, maka tidak harus mengubah atau memalsukan diri mereka. Tidak defensif dan tidak bersembunyi di belakang topeng-topeng atau peranan sosial, menerima diri apa adanya dan menerima kelemahan-kelemahan orang lain.

  c.

  Spontanitas, kesadaran, kewajaran Pengaktualisasi-pengaktualisasi diri bertingkah laku secara terbuka dan langsung tanpa berpura-pura, namun tetap memiliki kebijaksanaan untuk mengungkapkannya dalam relasi sosial.

  d.

  Fokus pda masalah-masalah di luar diri mereka Individu yang mengaktualisasi diri mencintai pekerjaan mereka dan berpendapat bahwa pekerjaan itu tentu saja cocok. e.

  Kebutuhan akan privasi dan independensi Individu yang mengaktualisai diri memiliki suatu kebutuhan yang kuat untuk pemisahan dan kesunyian. Meskipun tidak menjauhkan diri dari kontak sosial, tetapi tidak tergantung dengan orang lain. Hal ini berarti individu memiliki kemampuan membentuk pikiran, mencapai keputusan dan melaksanakan dorongan dan disiplin mereka sendiri.

  f.

  Berfungsi secara otonom Kepribadian yang sehat dapat berdiri sendiri dan tingkat otonomi mereka yang tinggi menaklukkan mereka, agak tidak mempan terhadap krisis-krisis atau kerugian-kerugian.

  g.

  Apresiasi yang senantiasa segar Pengaktualisasi-pengaktualisasi diri senantiasa menghargai pengalaman-pengalaman tertentu bagaimanapun seringnya pengalaman-pengalaman itu terulang.

  h.

  Pengalaman-pengalaman mistik atau “puncak” Individu yang mengaktualisasikan diri mengalami ekstase, kebahagiaan, perasaan terpesona yang hebat dan , meluap-luap, sama seperti pengalaman-pengalaman keagamaan yang mendalam. i.

  Minat sosial Pengaktualisasi-pengaktualisasi diri memiliki perasaan empati dan afeksi yang kuat dan dalam terhadap semua manusia, juga suatu keinginan untuk membantu kemanusiaan. Meskipun kerapkali merasa tertekan atau marah karena tingkah laku orang lain, tetapi cepat memahami dan memaafkannya. j.

  Hubungan antarpribadi Pengaktualisasi-pengaktualisasi diri mampu mengadakan hubungan yang lebih kuat dengan orang-orang lain daripada orang-orang yang memiliki kesehatan jiwa yang biasa. k.

  Struktur watak demokratis Perbedaan-perbedaan tidak menjadi masalah bagi pengaktualisasi- pengaktualisasi diri. Mereka sangat siap mendengarkan atau belajar dari siapa saja yang dapat mengajarkan sesuatu kepada mereka. l.

  Perbedaan antara sarana dan tujuan, antara baik dan buruk Pengaktualisasi-pengaktualisasi diri membedakan dengan jelas antara sarana dan tujuan. Selain itu, sanggup membedakan antara baik dan buruk, benar dan salah. m.

  Perasaan humor yang tidak menimbulkan permusuhan Humor pengaktualisasi-pengaktualisasi diri bersifat filosofis, humor yang menertawakan manusia pada umumnya, tetapi bukan kepada seorang individu yang khusus. Humor ini kerapkali bersifat instruktif, yang dipakai langsung kepada hal yang dituju dan juga menimbulkan tertawa. n.

  Kreativitas Pengaktualisasi-pengaktualisasi diri memiliki sifat kreatif. Kreativitas disini lebih merupakan sikap, suatu ungkapan kesehatan psikologis dan lebih mengenai cara bagaimana kita mengamati dan bereaksi terhadap dunia dan bukan mengenai hasil-hasil yang sudah selesai dari suatu karya seni. o.

  Resistensi terhadap inkulturasi Pengaktualisasi-pengaktualisasi diri dapat berdiri sendiri dan otonom, mampu melawan dengan baik pengaruh-pengaruh sosial, untuk berpikir atau bertindak menurut cara-cara tertentu. Mereka mempertahankan otonomi batin, tidak terpengaruh oleh kebudayaan mereka, dibimbing oleh diri mereka bukan oleh orang-orang lain.

  Pengalaman krisis yang hendak dilihat dalam tulisan ini, diambil dari sudut pandang teori Erik Erikson. Teori Erikson menjelaskan lebih banyak mengenai dinamika krisis yang dialami oleh manusia, sedangkan dinamika motivasi dan teori aktualisasi Carl Roger melengkapi dinamika pengalaman krisis ketika membahas bagaimana subyek menghadapi pengalaman krisis yang dialami.

B. KEHIDUPAN PASTOR DAN DINAMIKA KRISIS

  Sebagai seorang pastor sebelum ditahbiskan harus melalui masa formasi atau pendidikan. Masa pendidikan dimulai dari seminari menengah yang kemudian dilanjutkan pada jenjang seminari tinggi. Pada masa formasi ini seorang calon pastor akan dibimbing untuk memurnikan panggilannya. Mgr.

  Julianus Sunarka, SJ dalam Rohani No.8 th 1958 menjelaskan tentang tujuan yang ingin dicapai dalam proses formasi calon imam yaitu formandi atau peserta bina menemukan panggilan hidupnya. Sasaran dari formasi adalah formandi menjadi dewasa, sanggup taat, hidup murni, dan melarat seumur hidup. Formandi atau peserta bina berlaku dan bersemangat mengikuti kristus.

  Tantangan atau ancaman yang menghalangi tercapainya tujuan formasi adalah banyak para calon imam mengalami kegalauan hidup, Kegalauan itu bisa mengakar dalam alam bawah sadar dan menjadi gangguan hidup selanjutnya. Budaya sekular (materliasme, hedonisme, instanisme) menyebabkan pengalaman akan Allah tersingkir. Para calon imam dilahirkan, dibesarkan, dan dididik dalam masyarakat Indonesia yang multikultural, global, dan cybernetical, generasi ini hampir tidak pernah mengalami keheningan batin. Alasan orang muda tahun 2011 masuk biara atau mau menjadi imam adalah mencari alternatif atau mencari tempat untuk mapan, senang-senang berkat kelengkapan dan kepastian, serta adanya hiburan rohani.

  Hans Zollner dalam artikel Die Rolle der Psychologie in der Priesterausbildung yang diterjemahkan oleh Bernhard Kieser (2011) mengungkapkan bahwa dalam masa formasi program pendidikan menuntut keterlibatan para pendidik yang peka dan pandai mengenal orang, yang dilatih dalam psikologi dan dapat membantu calon pastor untuk menjernihkan panggilannya, kapanpun mereka melihat bahwa calon dilanda rintangan serta keragu-raguan. Setelah menempuh masa formasi di seminari menengah maupun seminari tinggi, seorang calon pastor yang telah mendapatkan persetujuan untuk ditahbiskan menjadi pastor akan menerima sakramen imamat.

  Krisis adalah suatu masa dimana individu mengalami titik balik dalam menghadapi konflik hidupnya. Pengalaman krisis ini terjadi tidak hanya sekali dalam perjalanan hidup seseorang, dan setiap individu pasti akan mengalami krisis dalam hidupnya.

  Seorang pastor pun yang memiliki peran dalam pembinaan iman umat Katolik juga tidak lepas dari pengalaman krisis ini. Kehidupan pastor atau kaum tertahbis juga tidak lepas dari aktivitas pelayanannya. Dalam aktivitas pelayanannya seorang pastor juga harus mampu membaca kebutuhan tanda- tanda zaman di dunia yang selalu dinamis. Pada Konsili Vatikan II (Presbyterorum Ordinis) diungkapkan di dunia zaman sekarang ini banyak sekali tugas yang harus dijalankan, dan masalah-persoalan yang sangat beraneka yang mencemaskan orang-orang serta sering kali perlu segera mereka pecahkan, sehingga tidak jarang mereka terancam bahaya terombang- ambingkan kian-kemari. Oleh sebab itu, para imam sendiri yang terlibat dalam tugas tanggung jawab yang bertubi-tubi dan terbagi-bagi perhatiannya, dengan cemas dan bertanya-tanya, bagaimana mereka mampu memadukan kehidupan batin dengan kegiatan lahiriah mereka.

  Mgr J. Sunarka, SJ mengatakan bahwa perkembangan seorang imam mengalami beberapa tahapan. Tahap umur minor (0-5 tahun), yunior (5-15 th), medior (15-25 tahun), mayor (25-40 tahun), senior (40-50 tahun), serta orator

  (50 tahun-dan seterusnya). Pada setiap tahap imamat terdapat kondisi perkembangan yang begitu unik, baik secara fisik, psikis, maupun rohani.

  Berdasarkan pengamatan Mgr J. Sunarka, SJ dalam Tantangan dan Peluang Formasi Calon Imam dan Religius Muda di Indonesia (2011) hampir semua pastor yang baru saja ditahbiskan menjadi imam memasuki masa imamat romantis. Masa imamat romantis biasanya ditandai dengan rasa “senang, mantap” berkat terpenuhinya harapan yang sudah mengiang di hati calon imam bertahun-tahun bahkan belasan tahun lamanya.

  Perjalanan sebagai pastor muda tentunya akan mengalami tantangan. Tantangan yang muncul dalam kehidupan pastor berkaitan dengan tugas, hidup bersama rekan kerja, hidup doa, dan penghayatan keutamaan injili.

  Aneka tantangan yang muncul dalam kehidupan pastor muda maka diperlukan sikap bijak untuk mengatasinya. Tantangan inipun tidak hanya berhenti pada tahapan pastor muda tetapi dapat terjadi kapanpun dalam kehidupan seorang pastor.

  Salah satu penelitian yang berkaitan dengan pengalaman krisis kaum selibater adalah penelitian yang dilakukan oleh Tiara M. Ayu dan Monty P.

  Satiadarma. Judul yang diangkat kedua peneliti ini adalah Dinamika Emosional Kaum Selibat Dalam Menghadapi Mid-life Crisis. Penelitian yang dilakukan terhadap 2 pastor, 1 bruder, dan 3 suster, memberikan pemahaman mengenai dinamika emosional kaum selibat dalam menghadapi mid-life crisis atau krisis tengah umur. Menurut Tiara M. Ayu dan Monty P. Satiadarma, seluruh subyek penelitiannya berusaha mengatasi konflik yang berkaitan dengan keinginan untuk memenuhi hasrat seksual melalui kegiatan sublimasi. Sedangkan konflik dengan masalah emosi (misalnya: perasaan kesepian, pemberontakan terhadap pimpinan tarekat, maupun ketakutan dalam menghadapi peristiwa kematian yang kelak dihadapi) diatasi dengan kepasrahan pada Tuhan. Tindakan sublimasi dan sikap pasrah pada Tuhan tersebut akhirnya membantu seluruh subyek menuju kesejahteraan emosional dalam menghadapi mid-life crisis.

  Tiara M. Ayu dan Monty P. Satiadarma juga menambahkan bahwa penelitian ini memiliki ruang lingkup yang terbatas. Hal tersebut terjadi karena penulis hanya memfokuskan kajian penelitiannya pada kondisi emosional dari para subyek penelitian dalam menghadapi mid-life crisis. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya diharapkan tidak hanya mengulas kondisi emosional dari para subyek penelitian namun juga kondisi psikologis secara keseluruhan.

  Selain itu, kedua peneliti tersebut juga menganjurkan agar peneliti selanjutnya tidak hanya terfokus pada problematik yang dihadapi di usia pertengahan dan disarankan pula untuk mengulas kehidupan kaum selibat pada masa kecil, masa remaja, masa muda, maupun lanjut usia.

  Pengalaman krisis seorang pastor dapat dilihat sebagai suatu proses perjalanan hidupnya. Bagaimana subyek dibesarkan? Pengalaman-pengalaman krisis apa yang dihadapi? Dan motivasi apa yang mendorong seorang pastor untuk menghadapi krisis hidupnya? Oleh karena itu, untuk mengetahui dinamika pengalaman krisis yang dihadapi pastor, dalam penelitian ini peneliti menggunakan kisah hidup pastor dan pengalaman-pengalaman krisis apa yang dialaminya. Pengalaman hidup dan pengalaman krisis menjadi satu perjalanan hidup yang dapat mengurai bagaimana seorang pastor dapat menghadapi krisis dalam hidupnya.

C. PERTANYAAN PENELITIAN

  Dalam penelitian kualitatif, pertanyaan penelitian adalah hal yang sangat penting dan mendasar untuk melakukan suatu penelitian. Ada dua macam penelitian pada penelitian kualitatif ini. Pertanyaan pertama adalah central question dan pertanyaan kedua adalah subquestion. Berikut adalah pertanyaan penelitian dalam penelitian kualitatif.

1. Central Question

  Central question adalah pertanyaan utama dalam penelitian ini. Central question pada penelitian ini adalah bagaimana pengalaman krisis dalam kehidupan subyek? 2.

   Subquestion

  Subquestion adalah pertanyaan yang mengarah pada pertanyaan penelitian utama. Subquestion pada penelitian kualitatif ini adalah: a.

  Bagaimana pengalaman masa lalu subyek sebelum mengikuti proses formasi? b.

  Bagaimana pengalaman masa formasi subyek? c. Pengalaman krisis apa yang pernah dialami? d.

  Bagaimana pengalaman krisis tersebut dihadapi?

BAB III METODE PENELITIAN A. STRATEGI PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

  kualitatif. Penelitian kualitatif digunakan untuk mengeksplorasi dan memahami suatu Central Phenomenon, suatu proses atau kejadian suatu fenomena, atau suatu konsep yang terlalu kompleks untuk diuraikan variabel- variabel yang menyertainya (Creswell, 1998). Penelitian kualitatif ini menggunakan penelitian psikologi naratif.

  Narasi berkaitan dengan cara-cara manusia membentuk makna terhadap dunia yang selalu berubah. Menurut Murray dalam Psikologi Kualitatif (2009) manusia terlahir ke dunia kisah, dan manusia menjalani hidup dengan cara mencipta dan mengubah narasi. Narasi dapat didefinisikan sebagai interpretasi terorganisir atas sekuensi peristiwa. Interpretasi tersebut merupakan suatu laporan yang memiliki tiga komponen: awal, tengah, dan akhir. Bettina Becker dalam Psikologi Kualitatif (2009) pernah menyatakan bahwa dalam dunia kita, angka tiga memiliki kualitas khusus, sehingga narasi memiliki struktur yang tuntas, tidak seperti wacana yang tak berujung- pangkal. Berdasarkan hal itulah, partisipan dapat menceritakan pengalaman dari awal hingga akhir cerita, sehingga cerita pengalaman partisipan tersebut dapat didefinisikan sebagai interpretasi terorganisir.

  Dalam penelitian ini, tujuan peneliti menggunakan narasi adalah agar memungkinkan partisipan untuk mendeskripsikan pengalaman dan mendefinisikan diri. Dalam membangun suatu narasi personal, partisipan dapat memilih beberapa aspek kehidupannya dan mengkaitkannya dengan yang lain. Proses demikian menegaskan bahwa kehidupan partisipan bukanlah suatu sekuensi peristiwa yang tidak berkaitan, melainkan memiliki suatu tatanan tertentu. Proses pembentukan identitas narasi tersebut bersifat dinamis dan terjadi dalam konteks sosial dan personal yang selalu berubah. Dengan demikian dinamika pengalaman krisis dalam kehidupan pastor dapat dilihat melalui peristiwa yang memiliki tatanan tertentu dan terjadi dalam konteks sosial ataupun personal yang selalu berubah.

B. LATAR BELAKANG PENELITI

  Penelitian kualitatif mengandalkan diri pada peneliti di dalam proses pengumpulan data maupun analisis data. Ada beberapa hal yang akan dilaporkan kepada pembaca, seperti yang direkomendasikan oleh Creswell. 2003. h. 184-185. Pertama, diskripsi pengalaman-pengalaman peneliti yang relevan dengan problem yang diteliti. Kedua, pendapat mengenai keterkaitan antara peneliti dengan lokasi maupun individu atau kelompok yang masyarakat yang diteliti. Ketiga, langkah-langkah yang digunakan oleh peneliti untuk dapat memasuki lokasi atau kelompok yang ditelitinya. Keempat, isu-isu etis apa yang mungkin timbul dalam proses penelitian.

  Diskripsi pengalaman peneliti yang relevan dengan problem yang diteliti. Latar belakang subyek yang relevan dengan problem yang diteliti adalah pengalaman pendidikan yang pernah ditempuh peneliti. Peneliti pernah mengalami pendidikan di Seminari Menengah sampai tahun ke 4. Namun satu bulan sebelum melanjutkan ke Seminari Tinggi, peneliti memutuskan untuk keluar atau mengundurkan diri.

  Keterkaitan antara peneliti dengan lokasi maupun individu atau kelompok masyarakat yang diteliti. Peneliti tidak memiliki keterkaitan apapun dengan individu yang menjadi subyek dalam penelitian. Individu yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah individu-individu yang baru dikenal peneliti. Begitu pula dengan lokasi tempat dimana subyek berada, peneliti memilih lokasi di daerah Yogyakarta karena selain kemampuan jarak yang mudah ditempuh, juga sebagai lokasi yang netral, karena peneliti berasal dari luar Yogyakarta.

  Proses penelitian ini juga melalui langkah-langkah untuk dapat memasuki lokasi atau kelompok yang diteliti. Langkah-langkah yang digunakan oleh peneliti untuk dapat memasuki lokasi atau kelompok yang ditelitinya adalah sebagai berikut: Pertama, semua pencarian subyek dilakukan dengan pengumpulan data (subyek adalah pastor dengan usia di atas 50 th dan mau berbagi dalam menceritakan pengalaman hidup dan krisisnya sebagai seorang pastor). Peneliti meminta bantuan teman, baik yang awam ataupun teman waktu di Seminari Menengah yang kini masih menempuh pendidikan di Seminari Tinggi. Kedua, menghubungi calon subyek yang sudah didapat untuk bertemu membicarakan mengenai penelitian. Ketiga, melakukan pertemuan dengan calon subyek. Pertemuan ini membicarakan mengenai perkenalan latar belakang peneliti, latar belakang penelitian beserta tujuan dan manfaat, apa yang diinginkan peneliti bagi calon subyek, bagaiman proses pengumpulan data dilakukan, termasuk menjelaskan kode etik penelitian. Keempat, mendapat persetujuan dari calon subyek untuk menjadi subyek penelitian. Kelima, membicarakan proses penelitian.

  Proses penelitian ini juga tidak lepas dari isu-isu etis yang mungkin timbul. Isu-su etis yang mungkin timbul adalah subyek melakukan mekanisme pertahanan diri untuk menutupi kisah dan ketidaksanggupan subyek dalam melanjutkan proses penelitian, sehingga dapat mengurangi kelengkapan data yang diinginkan. Akan tetapi, isu-isu yang mungkin akan timbul ini dapat diatasi dengan melakukan raport terhadap subyek. Raport yang diberikan kepada subyek adalah dengan meyakinkan subyek bahwa proses penelitian ini memiliki prosedur yang sesuai dengan kode etik penelitian psikologi, sehingga data pribadi subyek dapat dijamin kerahasiaannya oleh penulis. Hal ini yang menjadikan subyek bersedia untuk menceritakan pengalaman hidupnya.

  Sepanjang wawancara ada beberapa catatan yang dibuat oleh penulis untuk mengklarifikasikan kembali data yang diperoleh.

C. PENGUMPULAN DATA

  Dalam penelitian ini, wawancara naratif dibuat untuk menciptakan kesempatan bagi partisipan memberikan narasi terperinci mengenai suatu pengalamannya. Dalam penelitian ini wawancara yang digunakan adalah wawancara kisah kehidupan (life-story). Wawancara kisah kehidupan ini bertujuan untuk mendorong partisipan (subyek) menyampaikan uraian panjang lebar tentang kehidupannya. Pertanyaan yang diajukan adalah ceritakan tentang perjalanan hidup anda dari masa kecil hingga besar. Narasi bukan sekedar kisah kehidupan dalam artian umum, melainkan juga kisah-kisah tentang pengalaman, terutama permasalahan hidup sehari-hari. Kisah yang ingin dimunculkan adalah tentang pengalaman krisis dari konflik yang dihadapi, pertanyaan yang diajukan ceritakan konflik-konflik yang dihadapi anda sehingga memunculkan krisis. Dalam seting wawancara peneliti dapat mendorong partisipan untuk menceritakan kisah mengenai pengalaman- pengalaman perubahan atau gangguan dalam hidup mereka (Flick dalam Psikologi Kualitatif, 2009), misalnya dengan pertanyaan apa penyebab konflik itu? Bagaimana anda menghadapi krisis itu? Bagaimana anda memandang krisis yang anda alami saat itu?

  Dalam narasi, peneliti ditantang untuk meyakinkan partisipan bahwa partisipan tertarik terhadap uraian narasinya. Dengan demikian, peneliti harus menyampaikan pertanyaan-pertanyaan tambahan untuk mendapatkan klarifikasi.

D. PROSEDUR ANALISIS DATA

  Analisis uraian dapat dibagi ke dalam dua fase besar, fase pertama bersifat deskriptif dan fase kedua bersifat interpretatif. Menurut Michel Murray (2008) dengan membaca narasi yang telah ditranskripsi secara cermat mengawali kedua fase tersebut. Membaca uraian narasi memiliki tujuan agar peneliti menjadi familiar dengan struktur dan isinya. Analisis juga akan dapat mencermati sub-alur dalam narasi dan memperhatikan berbagai keterkaitan diantaranya. Ringkasan yang dibuat akan menyoroti ciri-ciri tertentu yang dirasa menarik bagi peneliti. Dengan membaca antar ringkasan, memungkinkan diperolehnya gagasan mengenai isu-isu utama yang muncul (Mishler dalam Psikologi Kualitatif, 2009). Melalui proses pembacaan secara ketat inilah kerangka coding dapat dikembangkan yang kemudian dapat diterapkan pada berbagai narasi.

  Tahap kedua adalah mengkaitkan narasi dengan literatur teoritis yang lebih luas yang digunakan untuk menginterpretasi kisah yang bersangkutan.

  Hal ini memerlukan familiaritas simultan dengan uraian narasi dan literatur yang relevan sehingga sesuatu dapat dikaitkan dengan yang lain secara memadai. Fase analisis ini mengarah pada pelabelan suatu uraian sebagai jenis tertentu, yang menggambarkan isi teoritisnya (Michael Murray, 2008).

E. KREDIBILITAS PENELITIAN

  Dalam penelitian kualitatif, istilah yang paling sering dipakai adalah kredibilitas (Poerwandari, 1998). Kredibilitas studi kualitatif terletak pada keberhasilannya dalam mencapai maksud mendeskripsikan setting, proses atau pola serta mengeksplorasi masalah. Dalam penelitian kualitatif konsep validitas dicapai tidak melalui manipulasi variabel melainkan melalui orientasinya dalam upayanya mendalami dunia empiris dengan menggunakan metode yang paling cocok untuk pengambilan dan analisis data (Sarantakos dalam Poerwandari, 1998).

  Konsep validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas komunikatif yang dilakukan dengan mengkonfirmasikan kembali data dan melakukan koreksi terhadap data yang dianggap tidak sesuai dengan pengalaman dan maksud subyek (Strauss & Corbin dalam Poerwandari, 2005). Peneliti menggunakan validitas ini, sebab melalui validitas ini akan didapatkan data yang terpercaya sesuai dengan apa yang dirasakan oleh subyek penelitian melalui verifikasi dan koreksi terhadap data yang ditulis peneliti.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. PENGALAMAN KRISIS SUBYEK 1 (YI) Subyek satu dengan inisial YI adalah pastor tarekat. YS merupakan

  anak pertama dari enam bersaudara. YI dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga Katolik. Kedua orang tua YI berasal dari Klaten, akan tetapi tinggal di daerah Majenang, Cilacap. Sebagai keluarga Katolik, YI sejak kecil mendapatkan pendidikan agama Katolik dari kedua orangtuanya. Maka dalam kehidupan menggereja YI terlibat aktif dalam pelayanan menjadi misdinar. Sebagai remaja, YI tumbuh seperti remaja pada umumnya, salah satunya adalah ketertarikan dengan lawan jenis. Akan tetapi, rasa tertarik itu tidak diungkapkan YI untuk menjalin sebuah hubungan.

  Pengalaman hidup menggerja YI yang cukup sulit, dimana saat itu para pastor yang melayani parokinya harus pulang ke negara asal masing- masing, sehingga pelayanan gereja menjadi terhambat. Kondisi ini kemudian menjadi motivasi awal YI yang tergerak hatinya untuk menjadi pastor.

  Setelah menyelesaikan SMA, YI meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk mendaftar ke Seminari. YI pun diterima dan masuk ke Seminari Menengah. Selama satu tahun YI merasakan pendidikan di Seminari Menengah dan kemudian melanjutkan studinya ke Seminari Tinggi.

  Berdasarkan hasil wawancara dalam data berupa narasi YI, ada tiga pengalaman krisis yang dialami. Dua pengalaman krisis terjadi ketika YI menempuh pendidikan (formasi) di Seminari Tinggi. Satu pengalaman krisis terjadi setelah YI ditahbiskan menjadi pastor. Pengalaman krisis yang dialami YI selama masa formasi berkaitan dengan relasi YI dengan keluarga dan relasi YI dengan institusi (Seminari Tinggi). Relasi YI dengan keluarga berkaitan dengan status YI sebagai anak pertama. Sedangkan pengalaman krisis setelah subyek ditahbiskan berkaitan dengan pengalaman sakit.

1. Krisis Relasi dengan Keluarga (Peran sebagai Anak Pertama)

  Narasi YI menceritakan bagaimana posisi dirinya sebagai anak pertama (sulung) dari 6 bersaudara mempengaruhi pemikirannya. Drs.

  Agus Sujanto, dkk dalam Psikologi kepribadian (2006) mengungkapkan bahwa anggapan umum yang kurang tepat ialah anak sulung tentu membawa beban terberat diantara saudara-saudaranya. Pendapat semacam itu timbul sehingga terkesan bahwa anak sulung nantinya akan memiliki tanggung jawab terhadap adik-adiknya setelah kedua orangtua tidak ada.

  “Ya mungkin, karena saya melihat dan merasakan tidak sampai hati perjuangan orang tua seperti itu, ada perasaan prihatin sebagai anak pertama. Sebagai anak pertama saya merasa tidak bisa hanya tinggal diam seperti ini, tergugah hati saya sebagai anak pertama untuk wajib membantu orang tua” Hal ini yang mempengaruhi pemikiran YI untuk keluar dari panggilannya menjadi Pastor.

  “Saya sebagai anak pertama dari enam bersaudara - keluarga guru SD merasa tergugah untuk ikut meringankan beban orang tua ketika melihat adik-adik saya sudah ada dua orang memasuki Perguruan Tinggi. Sering kali muncul pikiran niat untuk keluar dan bekerja membantu orangtua”

  Kondisi demikian memberikan dampak emosi kecemasan pada YI, sehingga memunculkan keinginan untuk menggundurkan diri sebagai calon

  Pastor dan ingin pulang untuk membantu orangtua. Selain itu, kondisi ini mempengaruhi hidup rohani subyek, misalnya mengganggu konsentrasi subyek dalam berdoa.

  Berdasarkan narasi pengalaman ini dapat diselesaikan subyek dengan cara mengambil waktu untuk merenung. Merenung sampai batas kesadaran dimana subyek mampu berefleksi mengenai langkah yang akan diambil.

  “Pikiran tersebut coba kuolah dalam permenungan dan doa…..” “Setelah melewati pergulatan yang cukup, akhirnya saya sampai kepada kesadaran berupa pertanyaan refleksif “Apakah ada jaminan, kalau saya keluar pasti akan menyelesaikan masalah yang dihadapai orang tua? Atau malah peristiwa keluarnya saya dari Seminari malah akan menambah beban orang tua?” “Proses pengolahan pertanyaan refleksif itu membawa saya kembali kemotivasi dasar dan pengalaman sebelumnya sewaktu saya ingin menjadi seorang Pastor….” “Dari motivasi itu juga yang mengarahkan kembali ke jalan atau tujuan saya menjadi imam, sehingga jika ada arah menyimpang dari tujuan itu, saya harus kembali ke tujuan itu”

  Disini terlihat bagaimana kondisi subyek ketika menghadapi konflik dengan dirinya. Ketika konflik terjadi subyek tidak membuat sebuah keputusan. Subyek mencoba mengambil waktu untuk hening (merenung). Proses hening yang terjadi disini merupakan komunikasi intrapersonal. Subyek menenangkan hatinya dan berbicara dengan dirinya mengenai kondisi yang mungkin terjadi seandainya subyek memutuskan untuk mengundurkan diri dari panggilannya. Ternyata proses hening ini membantu subyek untuk berbicara dan bertanya dalam diri sehingga memunculkan sebuah pilihan. Pilihan yang diambil subyek juga tidak Pastor. Selain itu, peran pembimbing rohani juga memberikan kekuatan subyek untuk mempertahankan panggilannya.

  Narasi YI mengenai peran sebagai anak pertama menggambarkan narasi progresif. Narasi progresif adalah narasi yang menggambarkan kehidupan sebagai suatu rangkaian tantangan yang mengandung kesempatan untuk maju. YI merefleksikan peristiwa yang dialaminya dan menjadikan kesempatan ini untuk menguatkan (melihat kembali motivasi awal) panggilannya sebagai pastor.

  Konflik dalam narasi ini masuk dalam krisis psikososial inisiatif versus rasa bersalah. YI merasa sebagai anak pertama ikut bertanggungjawab membantu kedua orangtuanya. Hal ini membuat YI merasa cemas dan ingin mengundurkan diri dari masa formasi. Kekuatan dasar dari konflik ini adalah tujuan. YI melihat kembali apa yang dialami melalui proses refleksi dan mengarahkan kembali tujuan (melihat motivasi awal) panggilannya menjadi pastor.

2. Krisis Relasi dengan Instansi Formasi (Seminari Tinggi)

  Narasi kedua menceritakan mengenai keraguan YI memilih seminari tinggi. YI merasa ragu ketika melihat dan merasakan perbedaan gaya hidup di seminari tinggi dengan seminari menengah.

  “Saya melihat kehidupan di Seminari menengah dan disini (Seminari Ti nggi) berbeda” “Kalau di Seminari menengah semua di atur secara tertib dan disiplin, sedangkan disini tidak, misalnya pulang harus minggu malam, tapi ada yang pulang senin pagi tapi tidak ditegur. Hal ini terjadi karena pendekatan Romo Rektor yang berbeda, beliau berprinsip “ya kalau ada teman-teman yang melanggar nggak pernah ditegur barangsiapa yang

  YI merasa ragu apakah pilihannya bergabung dengan tarekat OMI merupakan pilihan yang tepat atau tidak. Bahkan dalam hidup rohani subyek juga mengalami penurunan. Hidup rohani yang dimaksud seperti berdoa.

  “saya mulai merasa ragu-ragu” Lalu melihat kehidupan keteraturan yang berbeda itu membuat saya ragu- ragu, “apakah saya tidak salah pilih?” Saya m erasakan “kok hidup rohani rasanya turun ya dari seminari menengah?” Apa yang dialami, oleh YI dibicarakan kepada pembimbing rohani. Peran pembimbing rohani dalam memberikan masukkan cukup penting. YI tidak diberikan jawaban langsung oleh pembimbing rohani, namun diberikan pertanyaan untuk direfleksikan. YI pun membanya dalam permenungan, mengambil waktu hening untuk merenungkan permasalahan yang dihadapi.

  “Hal ini membawa saya pada permenungan” saya mulai berpikir membawa saya pada kesadaran ini “OMI ini hanya salah satu dari OMI dan jika saya memilih OMI terus berpikir seperti ini berarti hanya emosionalku saja, belum tentu semua OMI seperti yang aku rasakan” Kesadaran ini mengembalikan YI pada jalan panggilannya untuk menjadi Pastor. Agar semakin dikuatkan subyek juga berdoa. Melalui pengalaman ini YI juga berpikir bahwa diri pribadi memiliki peran penting dalam menghadapi situasi, tidak perlu menuntut orang lain. “Selain itu, masalah ini saya bawa juga dalam doa”

  “kalau mau memperbaharui kehidupan bersama, jangan menuntut orang lain tetapi mulailah dari diri sendiri, mulailah merubah dari dirimu sendiri

  ” waktu itulah saya mulai berubah dari dalam diri sendiri” Narasi YI mengenai relasi dengan instansi formasi menggambarkan narasi progresif. Narasi progresif adalah narasi yang menggambarkan kehidupan sebagai suatu rangkaian tantangan yang mengandung kesempatan untuk maju. YI merefleksikan peristiwa yang dialaminya dan menjadikan kesempatan ini untuk menguatkan panggilannya sebagai pastor misionaris. Pengalaman masa lalu YI mengenai kondisi hidup menggereja dan kesadaran bahwa peristiwa tersebut hanyalah emosi saja yang menjadikan YI semakin yakin akan panggilannya.

  Konflik dalam narasi ini masuk dalam krisis psikososial otonomi versus rasa malu. YI merasa ragu-ragu terhadap keputusannya mengambil jalan sebagai seorang calon pastor misionaris. Kekuatan dasar dari konflik ini adalah kemauan. Kemauan YI untuk berefleksi dengan mengingat kembali pengalaman hidup menggereja di masa lalu serta kemampuan YI untuk menyatakan diri bahwa peristiwa ini hanyalah emosi menjadikan YI dapat melalui konflik ini.

3. Krisis Fisik (Pengalaman Sakit)

  Narasi selanjutnya adalah pengalaman YI ketika mengalami ketidakberdayaan fisik. YI menderita sakit diawal masa-masa tahbisannya dan terjadi kembali beberapa tahun kemudian. Pada awal YI didiagnosa penyakit kanker masih merasa biasa saja. Hal ini karena semangat menjadi pastor baru masih tinggi dalam diri subyek. Seiring berjalannya waktu perubahan-perubahan fisikpun dialami subyek.

  “………..rambut rontok terus botak” “…….Lutut terasa lemah, kalau berdiri hanya bisa bertahan 10 menit dan berjalan 200 meter; mulut luka- sariawan berkepanjangan dan sulit untuk makan; setelah menerima kemoterapi hingga sampai 1 minggu, muntah- muntah sampai kram perut dan sulit tidur hingga 3.30 pagi. Ketika kemoterapi biasanya merasa tersiksa karena maunya muntah perut tidak terisi sampai keluar getah kuning, makan muntah, yang penting makan terus makan meskipun muntah, saat itu, saya dititipkan di stasi, malam tidak bisa tidur hampir seminggu, kalau sudah seperti itu saya hanya mendengarkan lagu, ada luka dibibir kalau makan sakit sampai keluar air mata” YI merasa perubahan fisik yang dialaminya membuat dirinya mengalami rasa kesepian, menginginkan sosok ibu untuk merawat, mudah menangis, merasa tidak berdaya, membutuhkan teman yang mengerti, memperhatikan, dan merawat.

  “Secara emosional saya pun labil, bila bertemu orang atau teman dekat atau dikunjungi orang, menangis dengan sendirinya dan bila menceritakan pengalaman sakit juga menangis. Dalam situasi yang demikian, saya merasa bahwa saya sungguh-sungguh tak berdaya dan tergantung dari belas kasih orang lain . “Lalu juga ketika keadaan sakit ada perasaan bahwa saya tidak berguna…” “membutuhkan figur seorang ibu yang merawat, memperhatikan dan mendengarkan. Saya senantiasa merindukan kehadiran orang yang dengan setia hadir menemani dan mendengarkan saya, merawat dan memperhatikan saya serta memenuhi kebutuhan psikologis saya. Kadang- kadang ingin diperhatikan dengan dikirimi makanan, dengan menceritakan atau mengungkapkan kesedihan, mengirimkan snack, jus, jadi seperti membutuhkan teman yang mampu mengerti, memperhatikan, merawat…” Perubahan fisik yang menyebabkan perubahan emosi pada YI dirasakan pada awal mengalami sakit. Setelah melewati masa pengobatan YI mengikuti retret. Retret ini dirasakan sebagai persiapan menerima sakit yang sama untuk kedua kalinya. Disinilah YI mencoba untuk merenungkan dan mendapat penguatan, sehingga subyek menjadi lebih siap menerima sakit untuk kedua kalinya. Penyerahan diri subyek kepada Tuhan menjadi salah satu hal yang tampak dalam masa permenungan ini. YI juga merasakan bahwa dukungan orang lain (umat) sangat berarti.

  “Sebelum terkena kanker kedua tahun 1998, saya ikut kursus pengolahan rohani, semacan persiapan menerima kanker kedua” “Retret ini juga membawa saya pada permenungan bahwa kasih Alllah yang tanpa syarat. Saya berpikir “oya disaat saya menderita ada umat yang datang memperhatikan, jadi dalam keadaan sakit pun pengolahan hidup rohani masih, jadi pengalaman sakit itu tidak merasa ditinggalkan Allah, orang-orang yang setia merawat itu masih” “akhirnya saya merasa dan muncul sikap penyerahan tentang apapun yang terjadi besok saya siap” “tapi toh bukannya umat lari tapi justru perhatian dengan membawa makanan, lalu dari situ saya berpikir bahwa Tuhan tidak pernah pergi, saya tidak ditolak, tidak dijauhkan…” Ketika melihat ketiga narasi pengalaman subyek yang berkaitan dengan pengalaman krisis dirinya sebagai seorang Pastor, subyek merasa bahwa pengalaman krisis merupakan pengalaman yang biasa terjadi pada semua orang termasuk para Pastor.

  “Dengan krisis, hal biasa yang terjadi dalam hidup, tinggal bagaimana cara menghadapinya, ada yang bisa meskipun harus bersusah-payah terlebih dahulu.” Subyek juga memandang bahwa krisis yang dialaminya sangat dibantu oleh kesetiaannya dalam berdoa dan berefleksi. Doa dan refleksi memampukan subyek berpikir jernih untuk menentukan pilihan dari permasalahan yang dihadapi.

  “Pergulatan saya yang bermuara pada kesadaran tersebut amat terbantu kesetiaan saya dalam hidup doa dan refleksi” “Saya mulai menyadari ketergantungan psikologis saya” “Maka diawali dengan kesadaran akan adanya ketergantungan psikologis itu, saya mulai berjuang untuk keluar dari kelekatan psikologis yang saya

  Dukungan orang lain, seperti pembimbing rohani atau rekan Pastor senior juga membantu YI dalam menghadapi krisis yang dialami.

  Narasi YI mengenai pengalaman menderita sakit menggambarkan narasi progresif. Narasi progresif adalah narasi yang menggambarkan kehidupan sebagai suatu rangkaian tantangan yang mengandung kesempatan untuk maju. Sakit kanker yang dialami YI merupakan kesempatan untuk maju dengan merefleksikan peristiwa yang dialaminya sehingga YI tetap bertahan dan berkarya sebagai pastor.

  Konflik dalam narasi ini masuk dalam krisis psikososial integritas versus keputusasaan. Pada awalnya YI merasa kurang dapat menerima diri sendiri dan hidupnya dalam menghadapi sakit yang dialaminya. Hal ini membuat YI merasa kesepian dan tidak berdaya. Kebiasaan YI berefleksi menjadikan dirinya dapat melihat hikmah dari sakit yang dialami melalui proses refleksi. Selain itu, pengalaman sakit sebelumnya menjadikan YI lebih siap dalam menghadapi sakit untuk kedua kalinya. Hal ini merupakan kekuatan dasar dari konflik pada tahap krisis psikososial yaitu kebijaksanaan.

4. Kesimpulan Ketiga narasi yang diceritakan menggambarkan narasi progresif.

  Narasi progresif menunjukkan bahwa pengalaman krisis merupakan suatu rangkaian tantangan yang mengandung kesempatan untuk maju.

  Kesempatan untuk mempertahankan panggilan sebagai seorang pastor.

  Berdasarkan tahap psikososialnya ada tiga krisis yang dialami, yaitu inisiatif versus rasa bersalah, otonomi versus rasa malu (keraguan), dan integritas versus keputusasaan. Kekuatan yang muncul dari tahap krisis psikososial ini adalah tujuan, kemauan, dan kebijaksanaan. Krisis merupakan kesempatan untuk melihat kembali konflik yang dihadapi. Refleksi merupakan kesempatan untuk melihat kembali konflik yang dihadapi. Refleksi didukung kuat oleh motivasi dan pembelajaran pada pengalaman sebelumnya.

B. PENGALAMAN KRISIS SUBYEK 2 (BM)

  Subyek kedua dengan inisial BM adalah seorang pastor projo. BM berasal dari Sleman, Yogyakarta. Kedua orang tua BM sudah bercerai sejak BM lahir. BM kemudian diasuh oleh ayahnya dan ayah BM menikah lagi hingga empat kali. Meskipun BM memiliki empat ibu tiri, tetapi BM adalah anak tunggal. Keluarga BM bukan keluarga Katolik. Kehidupan masa kecil BM diwarnai dengan relasi yang kurang harmonis dengan kedua orangtuanya.

  BM menceritakan bagaimana perlakuan ayahnya, manakala BM menyebut istilah ibu tiri. BM tidak merasakan kedekatan dengan orangtuanya.

  Meskipun dengan kelainan fisik yang dimiliki sejak kecil BM mampu menyesuaikan dan bergaul dengan orang-orang di sekitarnya.

  Kemampuan bergaul BM membawanya pada satu komunitas Katolik. Awalnya BM tidak tertarik untuk menjadi seorang Katolik, namun keterbukaan dan penerimaan orang-orang dalam komunitas itu, BM mulai tertarik dan perlahan-lahan belajar agama lalu dibaptis. Setelah menjadi seorang Katolik, BM tidak langsung termotivasi untuk menjadi pastor. BM menceritakan bahwa motivasi panggilannya menjadi pastor dapat dikatakan dangkal. Bahkan dengan kondisi fisik yang tidak mendukung, BM mengatakan banyak kendala untuk masuk Seminari. Akhirnya dengan usaha yang dilakukan, BM pun diterima di Seminari Menengah. Kehidupan di Seminari Menengah dilalui dua tahun, sebenarnya BM dapat menempuh pendidikan hanya satu tahun. Namun BM memilih dua tahun dengan alasan ingin lebih mempersiapkan diri sebelum masuk Seminari Tinggi. Kehidupan di Seminari Tinggi ternyata tidak sejalan dengan keinginan BM. BM memiliki harapan, namun harapan itu tidak ditemukan. Hingga akhirnya BM sempat mengundurkan diri dan hidup di luar Seminari. Kehidupan di luar ternyata tidak melupakan keinginannya untuk menjadi pastor, oleh karena itu BM kembali ke Seminari Tinggi dan meneruskan panggilannya menjadi pastor.

  Berdasarkan data wawancara, BM mengungkapkan 3 narasi pengalaman krisis. Krisis yang dialami BM adalah pengalaman relasi dengan keluarga berkaitan dengan pola asuh dan status dalam keluarga, pengalaman dalam karya atau tugas sebagai pastor, dan pengalaman relasi dengan lawan jenis.

1. Krisis Relasi dengan Keluarga (Status dan Pola Asuh)

  BM memiliki perbedaan narasi dari YI dan YS. BM mengungkapkan lebih banyak narasi mengenai latar belakang keluarga, mulai dari status hingga pola asuh yang diterimanya. BM adalah anak tunggal, sejak lahir kedua orangtua sudah bercerai.

  “ketika saya masih di dalam kandungan bapak-ibu saya cerai…” Ayah BM pun menikah beberapa kali (kawin-cerai), sehingga BM memiliki beberapa ibu tiri.

  “…saya mengalami beberapa ibu tiri, paling ga 4 ibu tiri, dari ini tidak punya anak sela in saya…” Status anak tunggal menurut Drs. Agus Sujanto, dkk dalam Psikologi Kepribadian merupakan tumpuan harapan kedua orangtuanya. Anak tunggal memiliki perlakuan istimewa, namun juga mendapat tuntutan dari kedua orangtuanya. Namun dalam narasi, BM tidak menceritakan bagaimana pengalaman mengenai harapan dan perlakuan istimewa yang diberikan oleh kedua orangtuanya. Hal ini dikarenakan sejak kecil BM diasuh oleh neneknya.

  “….kemudian saya diambil bapak saya, diasuh oleh nenek saya.” Pola asuh yang diberikan oleh sang nenek dirasakan BM terlalu mengekang, banyak larangan yang diberikan kepada BM. BM merasa hal ini terjadi karena status sosial keluarganya termasuk golongan priyayi yang tidak memperbolehkan bergaul dengan sembarang orang. Namun BM tidak terpengaruh dengan larangan itu, BM pun bergaul dengan siapa saja.

  Kondisi BM yang mengalami pergantian ibu tiri, membuat BM bias akan sosok ibu. Bahkan BM mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari ayahnya, ketika BM mengatakan bahwa ibunya adalah ibu tiri.

  “Dulu memang ketika misalnya nanya siapa yang bilang kalo ibumu itu ibu tiri?saya ga mau jawab woooo itu saya ditempeleng, sampai saya dikencingi apa itu mulut saya, disuruh ngaku, tapi saya ga ngaku waktu itu, 3 SD wktu itu, sehingga saya keluarga itu ga, keluarga itu ga”

  Akibatnya BM mengalamai masa-masa sulit, yang dikatakan BM sebagai hilangnya rasa mesra dengan orang tua. BM merasa bahwa dirinya tidak memiliki rasa mesra dengan orang tua. Hal inilah yang mengganggu subyek selama masa formasi di Seminari Tinggi. Subyek berusaha untuk menunda masa pendidikannya karena merasa tidak pantas untuk menjadi Pastor jika tidak ada rasa mesra dengan orangtuanya.

  Bahkan jauh sebelum masuk Seminari subyek pada masa kecilnya pernah memiliki niat untuk membunuh ibu tirinya.

  “…Saya sejak SR ya Sekolah Rakyat sudah pernah mau membunuh ibu saya, ibu tiri saya…” “…sehingga saya harusnya tidak boleh ikut topper tahun orientasi pastoral itu” “saya berjuang untuk menunda tapi ternyata tidak bisa…” “…saya gelisah tapi saya bertahan ya sampai sekarang…” “…tapi karena mesra itu ukurannya mesra ya afektif ya, saya tidak ada.sampai sekarang…” Namun keinginan BM menjadi Pastor cukup kuat, sehingga dibantu dengan bimbingan para Pastor, BM mencoba secara perlahan untuk merenungkan dan mulai berdamai dengan masa lalunya. Meskipun diakui BM secara afeksi perasaan mesra dengan orang tua itu tidak ada.

  “…saya masih tidak bisa mesra dengan orang tua,tapi saya belajar untuk mencintai orang tua karena saya ingin menjadi imam…” “…lalu Rm.Mangun mengatakan cinta itu tidak melulu dengan orang tua,kalau tidak tau orang tuanya lalu dicariin itu wayang…ya ga mesti begitu ..ya saya selalu mendapa tkan bimbingan itu saya mencoba…ya begitu”

  Konflik BM dalam hubungannya dengan keluarga, merupakan hasil dari pengalaman hubungan BM dengan keluarga di masa lalu. BM yang merasa tidak memiliki kemesraan dengan kedua orangtuanya, menjadi beban pikiran ketika BM yakin untuk menjadi seorang Pastor. Sehingga sumber konflik yang dialami BM adalah tidak adanya hubungan mesra dengan orang tua. Hubungan yang kurang mesra ini mengganggu perasaan dan pikiran BM terlebih ada anggapan bahwa bagaimana bisa menjadi pastor jika hubungan dengan orang tua tidak mesra. Konflik ini dapat dibantu dengan bimbingan dari pastor senior, dimana BM mencoba membagi pengalamannya. BM pun merasa dikuatkan dan belajar terus untuk berdamai dengan masa lalu.

  Narasi BM mengenai status dan pola asuh menggambarkan narasi progresif. Narasi progresif adalah narasi yang menggambarkan kehidupan sebagai suatu rangkaian tantangan yang mengandung kesempatan untuk maju. Pola asuh dan status BM yang memiliki orangtua tiri menjadikan dirinya tidak memiliki kedekatan emosional. Kondisi ini berdampak pada perjalanan BM dalam panggilannya sebagai pastor. Awalnya BM merasa tidak pantas untuk menjadi pastor karena merasa dirinya tidak memiliki kedekatan dengan keluarga, akan tetapi dukungan pastor pembimbing BM merefleksikan peristiwa yang dialaminya dan menjadikan kesempatan ini perlahan untuk berdamai dengan pengalamannya bersama keluarga sehingga BM tetap memilih panggilannya sebagai pastor.

  Konflik dalam narasi ini masuk dalam krisis psikososial percaya versus rasa tidak percaya. Pola asuh yang dialami BM menjadikan dirinya sulit untuk percaya pada orang lain bahkan dengan keluarga intinya. Selain itu, kurangnya kemampuan menerima sesuatu dari orang lain menyebabkan dirinya mampu menjalankan hidup tanpa tergantung pada keluarganya. Kekuatan dasar dari konflik ini adalah harapan. Keinginan yang kuat untuk menjadi pastor menjadikan diri BM memiliki harapan yang lebih baik mengenai kondisi relasi dengan keluarganya. Hal ini yang mendorong BM untuk berdamai dan memperbaiki relasi dengan keluarganya.

2. Krisis Karya

  Narasi BM selanjutnya berkaitan dengan pengalaman karya. BM mengungkapkan pengalamannya menjalankan tugas sebagai Pastor. BM memiliki perbedaan fisik dengan para Pastor lainnya. Perbedaan fisik yang dimiliki BM sudah ada sejak kecil. Perbedaan fisik ini dikatakan BM secara liturgis menghambat karya sebagai seorang Pastor.

  “...apalagi kondisi saya yang pincang tidak sepereti yang lainnya,secara liturgis memang ada hambatan …“

  Konflik karya lainnya adalah tentang perbedaan pandangan antar sesama rekan Pastor. BM merasa bahwa pandangannya terkadang tidak disetujui oleh Pastor lain. BM memiliki prinsip ide yang sederhana tapi mudah dijalankan, sedangkan prinsip itu ada beberapa Pastor yang tidak suka.

  “lalu ketika saya merancang sesuatu,nanti dikatain kok cuman begitu saya kan terbentuk praktis,selalu ada ide yg lain cuma ikut2 nanti pas jadi kok cuma begitu,yang lain hanya berpikir konsepnya tapi tidak bisa dijalankan saya yan g praktis2aja dan bisa dijalankan..” Dalam kondisi ini BM hanya berpikir bahwa apa yang dilakukan merupakan bentuk tanggung jawab kepada Uskup sebagai pimpinannya, sehingga BM hanya patuh pada Uskup. BM juga lebih memfokuskan diri untuk pelayanan pada umat.

  “saya hanya ikut Uskup dan melayani umat…” BM pun menyadari dan mensyukuri apa yang ada dalam dirinya. Bahkan dalam sebuah permenungan BM memandang sebuah konflik itu sebagai derita dan frustasi. Ketika menghadapi konflik, BM berusaha untuk hening dan merenung melihat apa yang dialaminya, apakah derita atau frustasi.

  “…semakin mendalami bahwa small is beautyfull hehehehe…” “Lalu saya berpikir merenung itu, saya lalu melihat apakah masalah ini frustasi atau derita.Kalau penderitaan ini salib,itu yang dari karya, kalau frustasi itu hanya perasaan beban bukan karena karya.”

  Pada narasi pengalaman krisis BM berkaitan dengan karya, Sumber konflik yang dialami BM adalah kelainan fisik yang dialami sejak kecil.

  Kelaianan fisik mempengaruhi perjalanan panggilannya. Bahkan dalam menjalankan tugasnya sebagai pastor. Namun BM sejak kecil memiliki pengalaman dan terbiasa dengan kondisi fisik yang berbeda, BM pun dikuatkan oleh dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Pengalaman hidup yang bebas dan simple mempengaruhi cara pandang hidup BM ketika mendapatkan tugas pastoral. Namun hal ini juga tidak mudah diterima oleh rekan-rekan sesama Pastor. Sumber konfliknya adalah perbedaan pendapat atau cara pandang. BM dalam menghadapi konflik mengadopsi budaya dalam pewayangan neng, ning, nung. Dalam taraf spiritual-rasional kemampuan manusiawi BM dalam mengerti, melihat, konflik yang dialami menjadikan kemampuan untuk bertanggung jawab atas perilaku yang dibuatnya.

  Narasi BM mengenai karya menggambarkan narasi progresif. Narasi progresif adalah narasi yang menggambarkan kehidupan sebagai suatu rangkaian tantangan yang mengandung kesempatan untuk maju.

  Perbedaan pendapat dan kondisi fisik BM menjadi kesempatan dirinya untuk tetap berkarya. BM merefleksikan peristiwa yang dialaminya dan menjadikan kesempatan ini untuk menguatkan panggilannya sebagai pastor.

  Konflik dalam narasi ini masuk dalam krisis psikososial rajin (industri) versus rasa kecil (rendah diri). BM memiliki kemampuan untuk mempertahankan daya kekuatan yang terarah hingga tujuan tercapai atau hingga tugas selesai. Hal ini membuat BM merasa bahwa perbedaan pendapat dan kondisi fisik yang berbeda bukan menjadi penghalang dalam berkarya. Kekuatan dasar pada tahap ini adalah keahlian. Kondisi tersebut menjadikan BM yang memiliki keahlian dalam karyanya tetap dipercaya. Refleksi dan pemahaman kondisi yang dilakukan BM menjadi pendukung dalam menghadapi konflik ini.

3. Krisis Relasi dengan Lawan Jenis

  Pengalaman krisis BM berikutnya adalah pengalaman relasi dengan lawan jenis. Sebagai seorang Pastor relasi dengan lawan jenis atau wanita merupakan tantangan dalam hidup panggilan. Narasi BM menceritakan bagaimana pengalaman relasi dengan lawan jenis menjadi pengalaman krisis. BM mengungkapkan bahwa relasi yang dekat dan tidak disadari menjadi sebuah awal.

  “…Awalnya mulai diajak jajan, lalu ditawarin, mau saya bantu pijetin Romo?,ya gitupelan sekali tidak sa dar…” Ketika relasi itu berjalan berjalan terus muncul ketergantungan dari pihak wanita, disinilah BM merasa dikuasai oleh situasi. BM merasa si wanita ini menggganggu namun disatu sisi merasa kasihan. Dengan konsep derita dan frustasi BM mengatakan kondisi ini adalah frustasi. BM pun mengakui bahwa pengalaman ini terjadi tidak hanya sekali.

  “…nanti kalausudah gini saya mulai dikuasai satu sisi ga sampai hati nah inilah frustasi …”

  “Sampai kalau dipastoran itu ada yang tunggu saya, saya sengaja untuk ga pulang kepastoran dulu baru sampai dia pulang,ternyata belum pulan g…”

  “…itu konflik tidak hanya sekali tapi lebih…” BM dalam mengatasi konflik ini mencoba mengambil sikap meneng (neng) atau diam dan tidak menyalahkan pihak lain, wening (ning) dan dunung (nung) tepat mengambil tindakan. Sehingga BM memiliki kesadaran dan menjaga diri lebih baik.

  “ya itu neng ning nung….” “…lama kelamaan sadar saya harus bisa menjaga diri…” ya setelah apa itu mulai ambil jarak dari karya lebih banyak hening sebetulnya imamat ke 23 mulai peka ada kekebalan sekssologi”

  Pada pengalaman relasi BM dengan lawan jenis Ketertarikan BM dengan lawan jenis adalah hal wajar. Kebutuhan relasi dengan lawan jenis merupakan kemampuan yang lahir dari kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial. Sumber konfliknya adalah status BM sebagai pastor membuat kebutuhan relasi dengan laawan jenis harus dibatasi. Kedewasaan serta pola pikir BM dalam menghadapi konflik (konsep neng, ning, nung) menjadikan BM mampu berpikir dan merenungkan serta memperkuat panggilannya sebagai seorang Pastor. Disini terlihat bagaimana budaya dan pengalaman masa lalu BM mempengaruhi konflik dalam pengalaman krisis BM berkaitan dengan relasi lawan jenis.

  Narasi BM mengenai relasi dengan lawan jenis menggambarkan narasi progresif. Narasi progresif adalah narasi yang menggambarkan kehidupan sebagai suatu rangkaian tantangan yang mengandung kesempatan untuk maju. Pengalaman relasi dengan lawan jenis menjadikan pembelajaran bagi BM serta merefleksikan peristiwa yang dialaminya untuk menguatkan panggilannya sebagai pastor.

  Konflik dalam narasi ini masuk dalam krisis psikososial identitas lawan jenis terjalin biasa saja, namun relasi yang semakin dekat ternyata berpengaruh terhadap kehidupan pribadi sebagai seorang pastor. Kekuatan dasar dari konflik ini adalah kesetiaan. BM melihat kembali apa yang dialami melalui proses refleksi dan mengarahkan kembali pada identitas dirinya sebagai seorang pastor. Kesadaraan akan identitas dirinya sebagai pastor menguatkan kesetiaannya dalam menjaga panggilan imamat.

4. Kesimpulan Ketiga narasi yang diceritakan menggambarkan narasi progresif.

  Narasi progresif menunjukkan bahwa pengalaman krisis merupakan suatu rangkaian tantangan yang mengandung kesempatan untuk maju.

  Kesempatan untuk mempertahankan panggilan sebagai seorang pastor.

  Berdasarkan tahap psikososialnya ada tiga krisis yang dialami, yaitu percaya versus tidak percaya, rajin (industri) versus rasa kecil (rendah diri), dan identitas versus kebingungan identitas. Kekuatan yang muncul dari tahap krisis psikososial ini adalah harapan, keahlian, dan kesetiaan.

  Krisis merupakan kesempatan untuk melihat kembali konflik yang dihadapi. Refleksi merupakan kesempatan untuk melihat kembali konflik yang dihadapi. Refleksi didukung kuat oleh motivasi dan pembelajaran pada pengalaman sebelumnya.

C. PENGALAMAN KRISIS SUBYEK 3 (YS)

  Subyek ketiga dengan inisial YS adalah pastor projo yang selama menjadi pastor ditugaskan sebagai pastor paroki. YS anak kelima dari enam bersaudara. YS berasal dari keluarga katolik dan berasal dari sebuah desa di daerah Kulonprogo. Motivasi awal YS untuk menjadi pastor dikatakan tidak begitu jelas. YS hanya ditawarkan dan mencoba-coba untuk mencari informasi mengenai kehidupan pastor. Akhirnya YS mendaftar dan diterima di Seminari Menengah selepas lulus SMP.

  YS mengatakan bahwa kehidupan di Seminari Menengah dan Tinggi berjalan mengalir begitu saja. Tantangan yang terasa berkaitan dengan studi dirasakan ketika di Seminari Menengah maupun Seminari Tinggi. YS juga menambahkan ketika di Seminari Menengah, pernah merasa minder dengan teman-teman lainnya karena YS berasal dari desa sedangkan teman-temannya berasal dari kota. Tantangan pada masa formasi ini menjadikan YS memiliki keyakinan bahwa menjadi pastor adalah jalan panggilannya.

  Hasil data berupa narasi yang diperoleh dari YS, maka dapat ditemukan ada 4 pengalaman krisis yang dihadapi oleh YS. Pengalaman- pengalaman tersebut adalah pengalaman relasi dengan lawan jenis, pengalaman dengan mitra kerja paroki (Dewan Paroki), pengalaman relasi dengan sesama rekan pastor (dalam 1 Paroki), dan pengalaman relasi dengan pimpinan (Uskup).

1. Krisis Relasi dengan Lawan Jenis

  YS menceritakan pengalaman relasi dengan lawan jenis. Namun penyebab peristiwa ini tidak diceritakan secara jelas. YS mengungkapkan bahwa dirinya pernah mengalami relasi dengan lawan jenis yang mengakibatkan kehidupan pribadinya terganggu. Kehidupan pribadi yang terganggu mempengaruhi karya pelayanan ke umat “…itu bs mengganggu kehidupan pribadi…” …kalau kehidupan pribadi terganggu berarti bisa mengganggu ke karya kanini membuat doa jadi lemah, konsetrasi ga bisa, pelayanan umat jadi kurang karena harus memperhatikan orang itu,”

  Sumber konflik disini adalah kebutuhan untuk menjalin hubungan yang secara tidak disadari membuat ketergantungan pihak lawan jenis kepada YS. Sehingga relasi yang intim tidak disadari ternyata dapat mengganggu kehidupan pribadi dan karya pelayanan YS. Apalagi pengalaman-pengalaman ini terjadi tidak hanya sekali dan terjadi di setiap Paroki dimana YS bertugas.

  Narasi YS mengenai relasi dengan lawan jenis menggambarkan narasi progresif. Narasi progresif adalah narasi yang menggambarkan kehidupan sebagai suatu rangkaian tantangan yang mengandung kesempatan untuk maju. Pengalaman relasi dengan lawan jenis menjadikan pembelajaran bagi YS serta merefleksikan peristiwa yang dialaminya untuk menguatkan panggilannya sebagai pastor.

  Konflik dalam narasi ini masuk dalam krisis psikososial identitas versus kebingungan identitas. Awalnya relasi yang dibangun YS dengan lawan jenis terjalin biasa saja, namun relasi yang semakin dekat ternyata berpengaruh terhadap kehidupan pribadi sebagai seorang pastor. Kekuatan dasar dari konflik ini adalah kesetiaan. YS melihat kembali apa yang dialami melalui proses refleksi dan mengarahkan kembali pada identitas dirinya sebagai seorang pastor. Kesadaraan akan identitas dirinya sebagai pastor menguatkan kesetiaannya dalam menjaga panggilan imamat.

2. Krisis Relasi dengan Mitra Paroki (Dewan Paroki)

  Pengalaman YS dalam tugas sebagai seorang Pastor yang selama ini ditempatkan di paroki, memiliki cerita tersendiri berkaitan dengan kerjasama dengan mitra paroki dalam hal dewan paroki. YS menceritakan tentang pengalamannya di sebuah paroki.Penyebab konflik itu adalah perbedaan pendapat dan masalah-masalah kebijakan, seperti kebijakan keuangan.

  “umumnya karena ide yang tidak cocok,” “…masalah kebijakan-kebijakan keuangan rawan itu dengan dewan, biasa masalah disitu bentrok disitu.” Ketika itu, dewan paroki mengambil tindakan untuk mengundurkan diri dari kepengurusan. Hal ini membuat subyek merasa tersakiti.

  “karena pada waktu itu semua dewan paroki memgundurkan diri…” “…melalui surat tertulis mereka mengundurkan diri dan dengan dilengkapi alasan dan caci maki terhadap Romo, kemudian ditempelkan dipengumuman gereja dan disebarkan ke umat…” “…ini pengalaman paling pahit saya…” “….wah itu paling menyakitkan ini. Mundur dengan tulisan yang menyakitkan itu berat.” Agar subyek tidak terbebani oleh masalah yang dihadapi, subyek pun dipindahtugaskan ke lokasi yang cukup jauh.

  “…saya akhirnya pindah ke tempat yang jauh agar tidak membebani…”

  Interaksi YS dengan orang-orang dalam satu paroki dengan latar belakang yang berbeda-beda tidak jarang menimbulkan gesekan-gesekan.

  Perbedaan-perbedaan pendapat apalagi berkaitan dengan masalah yang sensitif dirasakan YS sebagai sumber konflik. Salah satu pengalaman dalam menghadapi konflik itu adalah menjauhkan YS dari sumber masalah, yaitu dengan memindah tugaskan YS ke tempat lain yang jauh dari tempat semula.

  Narasi YS mengenai relasi dengan mitra paroki menggambarkan narasi progresif. Narasi progresif adalah narasi yang menggambarkan kehidupan sebagai suatu rangkaian tantangan yang mengandung kesempatan untuk maju. Perbedaan pendapat dan masalah kebijakan menjadi kesempatan bagi YS untuk tetap berkarya sebagai pastor paroki.

  Konflik dalam narasi ini masuk dalam krisis psikososial otonomi versus rasa malu, keraguan. YS memiliki kesempatan untuk menyatakan dan mengungkapkan diri, dan mengendalikan diri sendiri tanpa kehilangan harga diri. Kemampuan ini dapat membantu YS untuk menghadapi konflik yang dialami. Kekuatan dasar pada tahap ini adalah kemauan.

3. Krisis Relasi dengan Rekan Pastor dalam Satu Paroki

  Pengalaman selanjutnya merupakan pengalaman relasi YI dengan sesama rekan pastor yang bertugas dalam satu paroki. YI mengatakan pengalaman ini terjadi di dua paroki yang pernah menjadi tempat tugasnya. Penyebab peristiwa itu tidak dijelaskan oleh YI. Dalam narasi YI menceritakan kondisis yang terjadi tiba-tiba tidak ada komunikasi antara subyek dengan rekan Pastor yang dimaksud.

  “dia cari cara sendiri, tidak berkomunikasi…” “misalnya satu contoh kita makan pagi, tiba-tiba dia ga ngomong tanpa kita tau sebab apa dia tidak ngomong, itu ga enak sama sekali makan bareng itu ga enak…” Subyek pun mengatakan, kondisi ini sangat tidak baik, bahkan umat mengetahui kondisi ini sehingga mempengaruhi karya pelayanan pada umat.

  “terus terang aja itu jelek untuk pelayanan umat karena umat itu tau Romo nya tidak klop umat tau merasa…” Pengalaman ini bagi subyek diselesaikan dengan berusaha sebisa mungkin menemukan kecocokan.

  “kl tidak cocok harus cocok dulu…” Rekan pastor merupakan agen yang dapat membantu untuk saling menguatkan panggilan. Namun tidak semua rekan pastor memiliki kecocokan. Pengalaman YS menceritakan bahwa perbedaan pendapat menjadi sumber konflik. Perbedaan pendapat ini mengganggu komunikasi antara YS dengan rekan pastor dalam satu paroki dan komunikasi pastor dengan umat. Sehingga pelayanan dan kehidupan di paroki juga mengalami gangguan. YS mengungkapkan perbedaan pendapat yang terjadi dapat diatasi dengan mencari kecocokan diantara rekan pastor. Paul Suparno, S.J dalam Rohani, th 2002 mengatakan perbedaan pendapat atau gagasan dapat dijembatani dengan keterbukaan untuk berbicara dan mengajukan argumentasi, sehingga argumentasi itula yang dibahas bersama untuk mencari titik temu.

  Narasi YS mengenai relasi dengan rekan pastor dalam satu paroki menggambarkan narasi progresif. Narasi progresif adalah narasi yang menggambarkan kehidupan sebagai suatu rangkaian tantangan yang mengandung kesempatan untuk maju. Perbedaan pendapat dengan rekan pastor dalam satu paroki menjadi kesempatan YS untuk tetap berkarya. YS merefleksikan peristiwa yang dialaminya dan menjadikan kesempatan ini untuk menguatkan panggilannya dan memperbaiki relasinya dengan rekan pastor tersebut.

  Konflik dalam narasi ini masuk dalam krisis otonomi versus rasa malu, keraguan. Kondisi yang mempengaruhi kehidupan bersama dan karya ini disebabkan karena tidak adanya kemampuan untuk menyatakan , mengungkapkan, dan mengendalikan diri tanpa kehilangan harga diri.

  Konflik dapat dihadapi karena adanya kekuatan dasar pada krisis ini, yaitu kemauan. Kemauan YS untuk memahami situasi dan mencari kecocokan dengan rekan pastor membantu dirinya dalam menghadapi konflik ini.

4. Krisis Relasi dengan Pimpinan

  Pengalaman YS berikutnya merupakan pengalaman relasi dengan pimpinan (Uskup). Dalam struktur hirarki, seorang pastor projo berada dibawah pimpinan seorang Uskup, begitu pula subyek 3. Karya pastoral gereja tidak lepas dari kebijakan-kebijakan pimpinan dalam hal ini Uskup.

  Namun, kebijakan-kebijakan itu tidak semuanya dapat diterima oleh para

  Pastor. Hal ini juga dialami YS, dirinya merasa ada beberapa kebijakan- kebijakan Uskup yang tidak satu pandangan dengan subyek.

  “ada kebijakan yang tidak cocok, tapi ya dijalankan, diem bukan berarti ga ada masalah” Kondisi ini tidak sampai mengakibatkan muncul pemberontakan diri subyek sebagai seorang pastor. YS mengatakan hubungan tetap baik dengan Uskup, hanya pandangan ide saja yang berbeda. Kebijakan tetap dijalankan meskipun setengah hati.

  “tapi ya kita baik-baik dengan uskup, ya kalau ga cocok ya jalani aja gitu to..tapi kita disini ga pernah berontak, walaupun ga cocok tp kita diem…” “ra cocok ya dilakoni, ngerasani, dilakoni tp ga sepenuh hati”…itu ada….” YS mengatakan bahwa saat tahbisan ada yang namanya janji imamat untuk taat pada pimpinan, sehingga jika terjadi ketidakcocokan dengan kebijakan pimpinan subyek harus tetap mendukung kebijakan tersebut.

  “…hanya saja kita telah janji untuk taat sama uskup waktu ditahbiskan kita harus taat…”

  Konflik yang terjadi adalah YS tidak memiliki pendapat yang sama dengan pimpinannya (Uskup), tetapi sebagai pastor YS harus taat (kaul ketaatan) untuk melaksanakan kebijakan yang telah dibuat oleh pimpinannya. Sumber konfliknya adalah perbedaan pendapat, YS dalam menghadapi konflik ini tidak menemukan titik temu, namun YS mencoba menerima perbedaan tersebut dan tetap menjalankan kebijakan tersebut

  Narasi YS mengenai relasi dengan pimpinan menggambarkan narasi sebagai suatu rangkaian tantangan yang mengandung kesempatan untuk maju. Pengalaman relasi dengan pimpinan menjadikan pembelajaran bagi YS serta merefleksikan peristiwa yang dialaminya untuk mengingatkan kembali kesetiaanya terhadap pimpinan.

  Konflik dalam narasi ini masuk dalam krisis psikososial identitas versus kebingungan identitas. YS mengatakan bahwa perbedaan pandangan terhadap kebijakan yang dibuat pimpinan tidak dapat dipungkiri keberadaannya. YS mencoba untuk melihat identitas dirinya sebagai anggota yang dipimpin. Kesetiaan YS terhadap pimpinan menjadi langkah yang dapat memperbaiki relasi dengan pimpinan.

5. Kesimpulan Ketiga narasi yang diceritakan menggambarkan narasi progresif.

  Narasi progresif menunjukkan bahwa pengalaman krisis merupakan suatu rangkaian tantangan yang mengandung kesempatan untuk maju.

  Kesempatan untuk mempertahankan panggilan sebagai seorang pastor.

  Berdasarkan tahap psikososialnya ada dua krisis yang dialami, yaitu otonomi versus rasa malu, keraguan dan identitas versus kebingungan identitas. Kekuatan yang muncul dari tahap krisis psikososial ini adalah kemauan dan kesetiaan. Krisis merupakan kesempatan untuk melihat kembali konflik yang dihadapi. Refleksi merupakan kesempatan untuk melihat kembali konflik yang dihadapi.

  Refleksi didukung kuat oleh motivasi dan pembelajaran pada pengalaman sebelumnya.

D. PEMBAHASAN

  Hasil uraian pengalaman-pengalaman krisis dari ketiga subyek maka dapat dilihat bagaimana dinamika pengalaman krisis dalam kehidupan pastor. Dinamika pengalaman krisis dalam kehidupan pastor merupakan suatu titik balik dalam menghadapi pengalaman konflik yang terjadi sepanjang rentang kehidupan pribadi (pastor) tersebut. Pengalaman krisis sebagai suatu titik balik dapat dilihat dari narasi ketiga subyek yang menjelaskan bahwa pengalaman krisis merupakan waktu untuk mengambil jarak dari permasalahan yang ada. Pengalaman krisis yang dialami merupakan pengalaman sepanjang rentang kehidupan, hal ini dapat dilihat berdasarkan pernyataan ketiga subyek yang mengatakan bahwa pengalaman krisis dalam kehidupan pastor merupakan pengalaman yang biasa terjadi, wajar, dan semua orang termasuk para pastor dapat mengalaminya.

  Ada enam tahap krisis yang dialami oleh ketiga subyek dan di setiap tahap krisis ditandai adanya konflik-konflik. Tahapan krisis tersebut adalah percaya versus tidak percaya dalam narasi pola asuh (subyek 2). Otonomi versus rasa malu dalam narasi relasi dengan institusi (subyek 1), relasi dengan dewan paroki (subyek 3), dan relasi dengan rekan pastor dalam satu paroki (subyek 3). Inisiatif versus rasa bersalah dalam narasi peran sebagai anak pertama (subyek 1). Rajin (industri) versus rasa kecil (rendah diri) dalam narasi konflik karya (subyek 2). Identitas versus kebingungan identitas dalam narasi relasi dengan lawan jenis (subyek 2 dan 3), relasi dengan pimpinan (subyek 2 dan 3). Integritas dan keputusasaan dalam narasi menderita sakit

  (subyek 1). Konflik yang diceritakan bersumber dari masa lalu, peran sebagai anak dan konsekuensi dari interaksi antara subyek dengan lingkungan sosialnya.

  Konflik yang bersumber dari masa lalu berkaitan dengan relasi keluarga (pola asuh). Pola asuh yang ditanamkan dalam diri seorang calon pastor, membentuk kepribadian dan cara berpikir dalam menghadapi permasalahan hidup. Peran sebagai anak pertama mempengaruhi kognisi (teringat orangtua dan sebagai anak pertama ada keinginan untuk menolong orangtua) dan afeksi (rasa cemas, bersalah) seorang calon pastor. Sedangkan konflik yang berkaitan dengan interaksi sosial yang menojol adalah pengalaman relasi dengan lawan jenis. Relasi dengan lawan jenis (wanita) memang merupakan tantangan bagi subyek sebagai seorang pastor. Pada umumnya manusia hidup untuk berkembang dan mempertahankan keturunan.

  Bagi para pastor pilihan hidup yang diambil adalah hidup selibat dan tidak menikah. Tentunya sangat sulit ketika kebutuhan untuk mencari pasangan hidup harus disesuaikan dengan pilihan hidup selibat, sehingga ketika relasi dengan wanita terjadi tentunya banyak godaan yang terjadi. Sebagai seorang pastor relasi diri pribadi dengan orang lain selalu terjadi. Perjumpaan dengan orang-orang yang memiliki karakter berbeda tidak jarang memunculkan perbedaan pendapat pula. Perbedaan pendapat ini juga yang akhirnya menimbulkan konflik.

  Pengalaman-pengalaman krisis yang dinarasikan oleh ketiga subyek menunjukkan bahwa pengalaman masa lalu berpengaruh terhadap terjadinya krisis. Pengaruh masa lalu bisa menjadi penyebab dan bisa menjadi pembelajaran ketika subyek menghadapi pengalaman krisis selanjutnya.

  Narasi salah satu subyek menceritakan bagaimana masa lalu menyebabkan krisis yang dihadapi. Begitu pula dengan bagaimana subyek menghadapi krisis, bahwa pengalaman masa lalu menjadi pembelajaran subyek untuk menghadapi krisis. Kekuatan yang dihasilkan dari krisis tersebut adalah harapan, kemauan, tujuan, keahlian, kesetiaan, dan kebijaksanaan.

  Penelitian sebelumnya menganjurkan untuk tidak hanya terfokus pada problematik di masa usia pertengahan. Oleh karena itu, penelitian ini mengulas kehidupan masa kecil, remaja, masa muda, hingga lanjut usia. Hasilnya adalah seperti pada penelitian sebelumnya seluruh subyek berupaya mengatasi konflik yang dialami untuk mempertahankan panggilannya.

  Semua narasi subyek ketika menghadapi konflik-konflik merupakan struktur narasi progresif. Struktur narasi progresif menunjukkan adanya keinginan subyek untuk perubahan yang lebih baik dari sebelumnya. Setiap subyek berusaha untuk beraktualisasi diri dalam menghadapi konflik. Setiap subyek terbuka terhadap pengalaman, berusaha dengan kemampuan diri, bebas, dan kreatif., memiliki kebutuhan akan privasi dan independensi, dan resistensi terhadap inkultursi. Aspek psikologi afeksi subyek muncul dalam perasaan-perasaan sedih, sepi, merasa dikuasai situasi, sakit, pahit, tidak nyaman, dan sebagainya. Apa yang dirasakan para subyek mencoba untuk dipikirkan dalam hal ini aspek kognisi (spiritual-rasional) berperan, subyek mengolah pengalaman dan perasaan dengan cara menciptakan keheningan. Keheningan menciptakan pikiran jernih dan memunculkan kesadaran dalam diri untuk melihat permasalahan yang ada, melalui renungan, refleksi, hal ini yang memungkinkan subyek untuk mengambil tindakan atau berkendak (aspek konasi). Doa, motivasi dasar, dukungan rekan pastor, serta umat menjadi penguat atas pilihannya tetap berjalan dalam panggilan sebagai pastor.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil wawancara berupa data narasi, dapat dipahami

  bahwa pengalaman krisis dalam kehidupan pastor merupakan sebuah masa dimana seorang pastor mencoba untuk mencari jawaban, pilihan, atau tindakan dari konflik yang dihadapi berkaitan dengan kehidupannya menjadi seorang pastor. Sumber konflik yang dialami dapat disebabkan oleh berbagai pengalaman, diantaranya pengalaman masa lalu, peran sebagai anak, dan konsekuensi dari interaksi dengan lingkungan sosial. Tahap krisis yang dihadapi adalah percaya versus tidak percaya, otonomi versus rasa malu, inisiatif versus rasa bersalah, rajin (industri) versus rasa kecil (rendah diri), identitas versus kebingungan identitas, integritas dan keputusasaan. Pengalaman-pengalaman dalam menghadapi konflik tersebut bisa menjadi pembelajaran untuk menghadapi konflik selanjutnya. Sebagai usaha menemukan jawaban, menentukan pilihan, dan tindakan dari konflik yang dihadapi sebagian besar cara yang dilakukan adalah dengan menciptakan suasana hening untuk merenung atau merefleksikan pengalaman, sharing, serta penyerahan diri kepada Tuhan. Kekuatan yang dihasilkan dari krisis tersebut adalah harapan, kemauan, tujuan, keahlian, kesetiaan, dan kebijaksanaan.

B. SARAN 1. Bagi Subyek

  Dengan melihat hasil yang didapatkan peneliti merasakan bahwa setiap subyek memiliki perkembangan kedewasaan dalam menghadapi konflik masing-masing. Kedewasaan ini terlihat dari cara subyek memandang permasalahan yang dihadapi. Oleh karena itu, peneliti menyarankan agar para subyek menjadikan pengalaman-pengalaman (terbuka terhadap semua pengalaman) terdahulu sebagai kekuatan dalam menghadapi tantangan di tahap selanjutnya. Pengalaman-pengalaman ini sangat berguna, terlebih bagaimana caranya subyek menghadapi konflik tersebut, sehingga peneliti merasa bahwa pengalaman para subyek dapat dibagikan kepada para pastor muda ataupun pastor yang mengalami konflik yang sama, sehingga para pastor dapat saling menguatkan dan mendukung panggilan melalui pengalaman-pengalaman bagaimana mempertahankan sebuah panggilan menjadi pastor.

2. Bagi Formator

  Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran dan masukkan kepada para formator. Formator sebagai penyelenggara pendidikan para calon pastor dapat melihat permasalahan yang dihadapi oleh para calon pastor. Pemahaman akan konflik yang dihadapi, pada tahap apa krisis yang dialami, dan melihat kekuatan apa yang dihasilkan dari konflik tersebut dapat membantu para calon pastor yang sedang menghadapi krisis. Selain itu, motivasi, kebebasan merasakan pengalaman, kebebasan memilih, refleksi, dan doa dapat menjadi pendukung dalam menghadapi konflik yang senantiasa dapat diingatkan dan diolah oleh para formator bagi calon pastor yang dibimbingnya.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

  Penelitian ini dapat dikatakan jauh dari sempurna, oleh karena itu peneliti menyarankan kepada para peneliti selanjutnya jika ingin mengembangkan penelitian ini, jumlah subyek perlu ditambah. Hal ini dilakukan agar dapat memperkaya data dan informasi, sehingga dapat membantu menjelaskan pengalaman krisis lebih dalam. Selain itu, untuk menambah wawasan peneliti juga bisa menggunakan metode partisipasi aktif yang merupakan salah satu teknik penelitian kualitatif. Dengan demikian diharapkan lebih memiliki peluang besar dibandingkan dengan penulis untuk menjalin rapport yang semakin baik dengan para subyek penelitian.

  

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. (1991). Psikologi Sosial. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

  Ayu, Tiara.,&Satiadarma,Monty.(2005). Dinamika Emosional Kaum Selibat dalam Menghadapi MIDLIFE CRISIS.Arkhe, 2, 59-75. Creswell, J. W. (1998). Qualitative inquiry and research design choosing among five traditions , California : Sage Publications, Inc. Gremes, Agus. (1989). Identitas dan Siklus Hidup Manusia Bunga Rampai I.

  Jakarta:PT. Gramedia. Indrapradja, FX, OFS. (2010). Imam sebagai Pelayan Sabda Allah. diunduh l 27 Juli 2013. Madya U, Ignatius. (2002). Tengah Umur: Kesempatan Menjadi Sang Pencipta.

  Religius dan Krisis Tengah Umur. Rohani, 5, 4-11. Poerwandari, Kristi. (1998). Pendekatan kualitatif dalam penelitian psikologi.

  Jakarta : Fak Psikologi UI. Prasetya, Mardi, SJ. 1993. Psikologi Hidup Rohani. Yogyakarta:Kanisius. Ramadhani, Deshi.(2011). Mengurai Kusutnya Rantai Tahap Hidup Selibat.

  Spiritualitas dan Kedewasaan Manusia, 22-29. Schultz, Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan Model-Model Kepribadian Sehat.

  Yogyakarta:Kanisius Setyawan, A. (2002). Krisis Tengah Umur=Krisis Panggilan?. Religius dan Krisis Panggilan. Rohani, 5, 12-19.

  Smith, J.A. (Ed.).(2009).Psikologi Kualitatif: Panduan Praktis Metode Riset.

  Yogyakarta: Pustaka pelajar. Sujanto, Agus.,Lubis, Halem.,&Hadi, Taufiq. (2006). Psikologi Kepribadian.

  Jakarta: PT. Bumi Aksara. Suparno, Paul. (2002). Konflik Dalam Hidup Membiara. Kaul Biara. Rohani, 5, 31-35. Sunarka, J, SJ. 2011. Tantangan dan Peluang Formasi Calon Imam dan Religius Muda di Indonesia. Yogyakarta:Kanisius. Rohani no 08 th ke-58 Sunarka, J, SJ. 2013. Perjuangan dan Kebahagian Imam-Imam Muda.

  Yogyakarta:Kanisius. Rohani no 07 th ke-60 Wuryanto, R. (2010). Pedoman lengkap EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Yogyakarta: Penerbit UAJY. Zollner, Hans.,&Cucci, Giovanni.(2011). Peran Psikologi dalam Pendidikan Imam. Spiritualitas dan Kedewasaan Manusia, 4-7.

  69

  

LAMPIRAN

PENELITIAN

LAMPIRAN I:

A. SUBYEK 1

  Ceritakan bagaimana masa kecil Romo? Saya dilahirkan 21 Juli 1962, sebagai anak pertama dari enam bersaudara.

  Bapak dan ibu berasal dari Klaten, Jawa Tengah. Bapak, ibu tinggal dan bekerja sebagai guru SD di daerah majenang, cilacap, Jawa Barat sejak tahun 1955. Sejak kecil orangtua saya mengajarkan iman katolik. Waktu SD saya satu-satunya siswa yang beragama katolik, namun demikian bapak selalu mengajarkan doa dan menjadikan hari minggu sebagai hari khusus ke gereja. Setiap pagi saya diajarkan untuk doa pagi, kebiasaan ini mungkin terbawa oleh bapak yang lulusan asrama guru di ambarawa.

  Lalu bagaimana kehidupan menggereja Romo saat itu?

  Kehidupan menggereja saat itu memang sangat sulit. Paroki saya adalah paroki cilacap, dan saya biasanya gereja di stasi. Misa pun tidak setiap minggu diadakan di stasi. Saya juga aktif ikut misdinar dan sering ikut pastor ke stasi- stasi. Karena kebiasaan itu, saya memiliki kebiasaan untuk doa Malaikat Tuhan jam 6 pagi, jam 12 siang, dan jam 6 sore dan doa Rosario di sore hari juga.

  

Ceritakan bagaimana Romo awalnya merasakan panggilan untuk menjadi

Pastor?

  Kalau dibilang sejak SD tidak ya, hanya saya merasa dan kelihatannya dasar- dasar panggilan itu sudah ada di dalam keluarga yang diberikan kepada saya sejak kecil. Dengan diajarkan untuk rutin berdoa dan aktif mengikuti kegiatan gereja seperti misdinar. Kebiasan-kebiasan itu berjalan terus hingga saya duduk di SMP sampai SMA. Saya merasa terpanggil untuk menjadi pastor saat itu duduk dibangku SMA, kalau tidak salah kelas 1 SMA. Dan saat itu muncul SK menteri tahun 77. SK itu berbunyi kira-kira demikian , bagi para misionaris yang berasal dari luar negara Indonesia diharapkan untuk meninggalkan negara Indonesia, namun jika tetap ingin tinggal di Indonesia, misionaris yang bersangkutan harus mengurus untuk menjadi Warga Negara Indonesia. Karena adanya SK tersebut, banyak misionaris yang kembali ke negara asalnya, sedangkan saat itu paroki dan stasi-stasi di tempat saya dilayani oleh banyak misionaris yang berasal dari luar Indonesia. Otomatis dengan SK tersebut pelayanan di gereja dan stasi-stasi di tempat saya menjadi tidak terpenuhi akibat banyak misionaris yang kembali ke negara asalnya. Melihat keadaan ini, saya mulai bepikir dan merenungkan dalam hati “Stasi-stasi di tempat saya sudah misa hanya sebulan sekali, lalu para misionaris diminta untuk kembali ke negara asalnya, lalu bagaimana gereja dan stasi-stasi disini dapat dilayani? Apa yang bisa saya lakukan sebagai warga gereja?” saat itulah panggilan untuk menjadi pastor muncul. Apalagi saat itu ada minggu panggilan dan umat mendoakan agar pemuda gereja di tempat saya ada yang terpanggil untuk menjadi pastor, dengan adanya hal itu semakin terasa panggilan saya untuk menjadi pastor. Keinginan ini pun saya sampaikan kepada kedua orangtua saya.

  Bagaimana reaksi orang tua Romo ketika mengetahui keinginan Romo itu?

  Saat itu bapak hanya mengatakan “ya silakan kalau memang itu keinginanmu, bapak ibu mendukung dan mendoakanmu”.

  Bagaimana masa remaja Romo?apakah saat itu juga pernah jatuh cinta? Ya seperti biasanya seorang remaja, mengalami ketertarikan pada lawan jenis.

  Saya juga pernah merasakan hal itu, tertarik dengan teman lawan jenis. Ada perasaan ingin dekat dengan orang itu, namun saya tidak sampai untuk memiliki atau berpacaran. Saya ingin dekat dengan orang itu, tapi saya juga ingin dekat dengan teman-teman yang lain. Sehingga keinginan dekat dengan orang itu, saya bagikan juga dengan teman-teman yang lain. Kalau jalan-jalan ya bersama teman-teman. Kalau belajar kelompok ya bareng-bareng bersama teman-teman itu juga. Saya memang berusaha untuk tidak terfokus pada satu teman saja.

  

Ceritakan bagaimana kisah Romo di Seminari Menengah?adakah pengalaman

konflik saat itu, jika ada bisa diceritakan bagaimana terjadinya konflik itu?

  Setelah lulus dari bangku SMA, Saya memutuskan dan melanjutkan untuk masuk Seminari Menengah Petrus Canisius Mertoyudan tahun 1982-1983. Saya hanya satu tahun di Semianari Menengah karena saya masuk di KPA (Kelas Persiapan Atas). Kehidupan di Seminari Menengah berjalan mengalir begitu saja, tidak ada yang membuat saya mengalami konflik atau krisis dalam hidup atau panggilan saya. Perjalanan satu tahun yang tidak terasa, hanya saja pada retret untuk menentukan pilihan ada perasaan bingung untuk memilih. Waktu itu saya ingin memilih apakah melanjutkan ke SJ (Serikat Jesus) atau OMI (Oblat Maria Immaculata).Keinginan saya untuk menjadi Imam Misionaris baik OMI maupun SJ keduanya mendukung keinginan saya itu. Memang banyak teman saya yang memilih untuk masuk SJ, sebab dari Seminari banyak yang diarahkan kesitu.

  Tetapi figur OMI juga melekat dalam diri saya, karena di Paroki asal saya Pastor-pastornya dari OMI dan itu juga yang membuat saya terpanggil menjadi Pastor. Akhirnya saya pun diberikan kesempatan memilih dalam suasana retret.

  Dalam retret tersebut akhirnya saya memantapkan hati untuk masuk dan melanjutkan ke OMI, karena saya telah mengenal OMI mungkin juga semangat OMI sudah tertanam di dalam diri saya.

  

Ceritakan bagaimana kisah Romo di Seminari Tinggi hingga

ditahbiskan?adakah pengalaman konflik saat itu, jika ada bisa diceritakan

bagaimana terjadinya konflik itu?

  Tahun 1983 saya di Seminari Tinggi kongregasi OMI dan melanjutkan pendidikan di Seminari Tinggi-Fakultas Teologi Weda Bakti, Jogjakarta. Selama masa formasi ini tantangan mulai terasa. Memang pernah sebelum nofis, jadi masuk di awal belum memiliki pengalaman untuk hidup di masa formasi, saya mulai merasa ragu- ragu. Saya merasakan “kok hidup rohani rasanya turun ya dari seminari menengah?” Saya melihat kehidupan di Seminari menengah dan disini (Seminari Tinggi) berbeda. Kalau di Seminari menengah semua di atur secara tertib dan disiplin, sedangkan disini tidak, misalnya pulang harus minggu

  pendekatan Romo Rektor yang berbeda, beliau berprinsip “ya kalau ada teman- teman yang melanggar nggak pernah ditegur barangsiapa yang melanggar silahkan datang ngomong gitu dan mengakui kesalahan”. Lalu melihat kehidupan keteraturan yang berbeda itu membuat saya ragu- ragu, “apakah saya tida k salah pilih?” Keragu-raguan ini akhirnya saya bawa ke pembimbing rohani. Pembimbing rohani saat itu mengatakan “kalau kamu memang ada ketidakpuasaan atau kekecewaan dan tetap tidak ingin disitu ya berarti panggilanmu bukan disitu”. Hal ini membawa saya pada permenungan dan dari permenungan itu saya mulai berpikir membawa saya pada kesadaran ini “OMI ini hanya salah satu dari OMI dan jika saya memilih OMI terus berpikir seperti ini berarti hanya emosionalku saja, belum tentu semua OMI seperti yang aku ras akan”. Selain itu, masalah ini saya bawa juga dalam doa, dan doa ini juga memunculkan niat bahwa “kalau mau memperbaharui kehidupan bersama, jangan menuntut orang lain tetapi mulailah dari diri sendiri, mulailah merubah dari dirimu sendiri” waktu itulah saya mulai berubah dari dalam diri sendiri.

  Lalu ketika selesai filsafat, tepatnya memasuki tahun ketiga, tantangan semakin terasa Saya sebagai anak pertama dari enam bersaudara - keluarga guru SD merasa tergugah untuk ikut meringankan beban orang tua ketika melihat adik- adik saya sudah ada dua orang memasuki Perguruan Tinggi. Sering kali muncul pikiran niat untuk keluar dan bekerja membantu orangtua. Memang kedua orangtua saya tidak pernah mengatakan bahwa mereka ingin dibantu oleh saya, hanya saja hal ini terus muncul dan saya rasakan dalam pikiran. Di dalam pikiran selalu muncul dan keingat rumah, bahkan di dalam doa pun pikiran itu muncul. Ya mungkin, karena saya melihat dan merasakan tidak sampai hati perjuangan orang tua seperti itu, ada perasaan prihatin sebagai anak pertama. Sebagai anak pertama saya merasa tidak bisa hanya tinggal diam seperti ini, tergugah hati saya sebagai anak pertama untuk wajib membantu orang tua. Pikiran tersebut coba kuolah dalam permenungan dan doa serta dibicarakan dengan Pembimbing Rohani. Setelah melewati pergulatan yang cukup, akhirnya saya sampai kepada kesadaran berupa pertanyaan refleksif “Apakah ada jaminan, kalau saya keluar pasti akan menyelesaikan masalah yang dihadapai orang tua? Atau malah peristiwa keluarnya saya dari Seminari malah akan menambah beban orang tua?” Proses pengolahan pertanyaan refleksif itu membawa saya kembali kemotivasi dasar dan pengalaman sebelumnya sewaktu saya ingin menjadi seorang Pastor, saya yang tinggal dalam satu stasi dan paroki yang jaraknya 80 km, lalu karena ada SK menteri 77 dimana misionaris diharuskan keluar dari Indonesia atau memilih untuk menjadi WNI, waktu itu saya rajin berdoa, ikut Romo ke stasi-stasi, bahkan waktu itu hanya ada 2 romo, tapi yang satu cuti, juga merasakan keadaan umat tidak ada misa, lalu ada umat yang mendoakan doa panggilan di misa pagi, sehingga ada yang menggetarkan hati saya untuk menjadi imam. Berdasarkan pengalaman juga saya berpikir “kalau tidak ada Romo lalu siapa yang akan melayani umat untuk misa?” Pernah mengalami kesulitan misa, pengalaman itulah yang menguatkan saya untuk menjadi imam. Dari motivasi itu juga yang mengarahkan kembali ke jalan atau tujuan saya menjadi imam, sehingga jika ada arah menyimpang dari tujuan itu,

  tujuan awal. Selain itu, ada pembimbing rohani sehingga saya dapat mensharingkan pengalaman dan perhatian Seminari membantu kami (para frater) untuk tetap menjaga hubungan baik dengan keluarga juga sangat menguatkan saya dalam menjalankan panggilan. Pernah suatu ketika, saya diberi uang dari orangtua, waktu itu sudah dibicarakan dengan Romo Rektor juga dan formator saya, dan mereka mengatakan “ya diterima saja itu pemberian dan perhatian dari orang tua. Lalu yang lain, waktu itu setiap sebulan sekali ada waktu kunjungan keluarga, waktu itu uang saku Rp.5000 tidak cukup untuk pulang pergi ke rumah di cilacap, jadi saya tidak menggunakan waktu itu, sempat saya dipanggil ditanyakan kenapa tidak pulang? apakah ada masalah dengan keluarga? Akhirnya saya ceritakan bahwa “uang saku saya tidak cukup untuk pulang, kalau disini (seminari) mau menambahkan ya saya akan pulang”, akhirnya ya saya pulang, tapi dengan mengumpulkan uang saku terlebih dahulu, sehingga berapa bulan sekali saya baru bisa pulang, tapi kadang sini (seminari) juga menambahkan untuk ongkos pulang juga. Sedangkan dari keluarga sendiri, memang tidak ada tradisi rutin hanya kadang-kadang ketemu saja, malah kalau ada surat datang biasanya ada masalah, namun kedua orangtua tidak pernah menceritakan masalah yang sedang dihadapi, karena mereka takut mengganggu proses saya di seminari. Pernah waktu itu nenek saya meninggal, tetapi orang tua saya tidak memberikan kabar kepada saya, kebetulan saya memang dekat dengan nenek, namun karena alasan orang tua yang tidak mau mengganggu proses saya disini (seminari) orang tua saya tidak memberikan kabar kepada saya, baru beberapa minggu kemudian saya tahu kabar itu. Berkat pencerahan dan proses pengalaman saya tersebut, saya menjalani masa formasi lebih mantap. Bahkan saya ditahbiskan Imam satu tahun lebih dahulu dari teman seangkatanku.

  

Ceritakan bagaimana kisah Romo ketika sudah menjadi Pastor?adakah

pengalaman konflik saat itu, jika ada bisa diceritakan bagaimana terjadinya

konflik itu?

  Saya ditahbiskan 24 Juli 1991. Menjelang usia tahbisan ke 1 saya terkena kanker Kelenjar Getah Bening (Lymphoma Maglinam Non Hogkin) stadium II. Waktu itu saya merasa biasa aja dan dapat menjalankan misa seperti biasanya, lalu ada gejala bibir pecah, terus saya ceritakan ke romo di paroki. Lalu romo menyuruh saya untuk periksa ke dokter. Dari dokter tersebut saya diminta untuk periksa ke semarang Elisabeth. Saat itu saya berkata kepada suster yang merawat “wah saya masih ada acara suster” Tapi ya bagaimana lagi akhirnya setelah acara itu saya ke semarang dengan surat pengantar dokter langsung bertemu dengan dokter ahli bedah. Lalu dokter mengatakan “benjolan ini ada 3 kemunginan, pertama karena bakteri atau kelenjar, kedua karena virus, dan yang terakhir karena ada sel-sel kankernya. Untuk itu diambil sampel jaringan dan saya dioprasi. Hasilnya adalah diagnosa yang ketiga itu, tetapi mengingat keadaan saya saat itu, saya masih belum merasa sakit. Waktu itu romo paroki itu datang terus bertemu dengan direktur Rumah Sakit, memberitahukan efek dari gejala penyakit tersebut, lalu saya pulang ke paroki ya sesampainya disana saya biasa melakukan aktivitas seperti biasanya mimpin misa. Terdorong oleh masa bulan

  saya mati tetap sebagai i mam”. Maka saya ingin mempersembahkan waktu hidup saya sebaik mungkin dalam pelayanan imamat. Namun setelah kemoterapi kedua saya merasakan sakitnya. Orang-orang mulai tidak mengenali karena rambut rontok terus botak.

  Bisa ceritakan pengalaman Romo ketika menjalani kemoterapi?

  Ketika memasuki kemoterapi ke 2

  • – dari rangkaian 6 kali kemoterapi- saya mulai merasakan bahwa saya sakit. Rambut kepala rontok sampai tak dikenali oleh teman-teman; Lutut terasa lemah, kalau berdiri hanya bisa bertahan 10 menit dan berjalan 200 meter; mulut luka- sariawan berkepanjangan dan sulit untuk makan; setelah menerima kemoterapi hingga sampai 1 minggu, muntah-muntah sampai kram perut dan sulit tidur hingga 3.30 pagi. Ketika kemoterapi biasanya merasa tersiksa karena maunya muntah perut tidak terisi sampai keluar getah kuning, makan muntah, yang penting makan terus makan meskipun muntah, saat itu, saya dititipkan di stasi, malam tidak bisa tidur hampir seminggu, kalau sudah seperti itu saya hanya mendengarkan lagu, ada luka dibibir kalau makan sakit sampai keluar air mata. Ya waktu itu ada ibu-ibu bagian rumah tangga itu yang memperhatikan makan dan mengatur pola makan saya. Mau makan sulit itu sampe 6 periode bahkan saya mengalmi trauma pada penyembuhan keempat begitu masuk Rumah Sakit, bau alkohol, bau Rumah Sakit itu membuat saya mual muntah, ketika keluar dari Rumah Sakit ketika mencium sop berbau kaldu itu ya saya mual lagi, bau bakso saja saya mual, butuh waktu lama untuk bisa makan sop berkaldu lagi. Tapi saya paksa untuk makan, ada kehendak untuk sembuh. Kalau kemoterapi itu darah merah dan darah putih drop, kalau porsi ukuran darahnya rendah ya tidak bisa kemoterapi, kalau dalam keadaan drop dipaksakan dokter tidak berani, karena hal itu sama saja dengan membunuh pasien, lalu tahu akan hal seperti itu, saya berusaha untuk menaikan standar ukuran darah untuk kemoterapi. Ya itu semangat dari dalam saya untuk sembuh kuat.

  Bagaimana dengan reaksi emosional Romo?

  Secara emosional saya pun labil, bila bertemu orang atau teman dekat atau dikunjungi orang, menangis dengan sendirinya dan bila menceritakan pengalaman sakit juga menangis. Dalam situasi yang demikian, saya merasa bahwa saya sungguh-sungguh tak berdaya dan tergantung dari belas kasih orang lain . Maka misa ke Stasi saya diantar dan waktu memimpin misa, saya hanya membuka dengan tanda salib dan pengantar kemudian duduk. Prodiakon melanjutkan sampai doa umat. Saya mulai lagi ketika persembahan dan saat komuni, saya duduk kembali. Akhirnya doa sesudah komunita dan berkat perutusan. Lalu juga ketika keadaan sakit ada perasaan bahwa saya tidak berguna, tapi toh bukannya umat lari tapi justru perhatian dengan membawa makanan, lalu dari situ saya berpikir bahwa Tuhan tidak pernah pergi, saya tidak ditolak, tidak dijauhkan, ya kembali lagi pada idealisme saya diawal hidup mati tetap jadi imam. Bahkan saya belum boleh beraktifitas ke stasi, tapi saya tetap ke stasi lalu dokter berpesan “romo jaga kesehatan baik-baik jangan dekat-dekat dengan orang sakit dulu sebab daya tahan r omo masih belum kuat”. Tapi setelah

  tidak berani disuntik juga dan umat disana meminta memberkati air untuk yang sakit, lalu saya meminta air matang diberi garam dan didoakan. Tapi ada ketakutan kalau saya dekati takut tertular dan saya bisa mati, ada pergulatan itu, lalu akhirnya muncul keyakinan oke apapun yang terjadi saya siap menerima, dengan kesadaran apa yang terjadi besok biarlah terjadi, akhirnya saya dekati orang yang sakit itu dan beberapa hari kemudian orang itu sembuh. Secara kejiwaan saya pun lemah membutuhkan figur seorang ibu yang merawat, memperhatikan dan mendengarkan. Saya senantiasa merindukan kehadiran orang yang dengan setia hadir menemani dan mendengarkan saya, merawat dan memperhatikan saya serta memenuhi kebutuhan psikologis saya. Kadang-kadang ingin diperhatikan dengan dikirimi makanan, dengan menceritakan atau mengungkapkan kesedihan, mengirimkan snack, jus, jadi seperti membutuhkan teman yang mampu mengerti, memperhatikan, merawat ya lalu seperti semacan seorang laki-laki yang membutuhkan peranan seorang ibu yang melindungi merawat. Jadi di pastoran saya sendiri ada perasaaan kurang, sepi, dan membutuhkan orang yang bisa mendengarkan cerita. Saya terkena kanker 2 kali, di tahun 1992 dan tahun 1998. Sebelum terkena kanker kedua tahun 1998, saya ikut kursus pengolahan rohani, semacan persiapan menerima kanker kedua. Karena waktu itu retret agung saya diberi kesempatan untuk membayangkan bagaiman jika saya dalam beberapa waktu ke depan mati. Saya saat itu bisa membayangkan keadaan saya dalam keadaan hampir mati dan merasakan situasi tersebut, saya merasakan menderita sendiri, takut, bahkan memohon-mohon untuk diberi kesempatan untuk membereskan segala sesuatu yang belum beres, hingga akhirnya saya merasa dan muncul sikap penyerahan tentang apapun yang terjadi besok saya siap. Retret ini juga membawa saya pada permenungan bahwa kasih Alllah yang tanpa syarat. Saya berpikir “oya disaat saya menderita ada umat yang datang memperhatikan, jadi dalam keadaan sakit pun pengolahan hidup rohani masih, jadi pengalaman sakit itu tidak merasa ditinggalkan Allah, orang-orang yang setia merawat itu masih. Saat di Rumah Sakit itu saya juga merenungkan keadaan saya ibarat seperti matahari, kalau pagi indah siang panas sore indah lagi malam bahkan tidak ada, kadang hidup itu indah panas bahkan hilang hampir 12 jam, adakalanya indah adakalanya sepi, ya memang seperti itu pengolahan kehidupan. Kasih Allah tidak berhenti pada figur orang, namun itu bisa dirasakan ketika mendengarkan lagu dan merenung.

  

Bagaimana pengaruh peristiwa ini terhadap panggilan hidup Romo sebagai

seorang Pastor?

  Saya kira pengalaman sakit ini tidak membawa saya sampai pada keinginan untuk keluar dari imamat, karena orang-orang di sekitar saya menghargai saya dan mendukung saya dalam kondisi apapapun. Namun, karena sakit ini, saya pernah ingin menolak perintah penugasan yang diberikan kepada saya. Saya berpikir saat itu “saya yang dalam keadaan sakit bahkan hampir sembuh kok harus diberikan tugas yang berat?” ada penolakan, ada perasaan tidak mampu menerima tugas dalam kondisi sakit. Namun kembali saya sharingkan dengan

  untuk menerima tugas yang diberikan meskipun dalam keadaaan sakit sekali pun. Dengan krisis, hal biasa yang terjadi dalam hidup, tinggal bagaimana cara menghadapinya, ada yang bisa meskipun harus bersusah-payah terlebih dahulu.

  Bagaimana caranya Romo menyelesaikan konflik dalam peristiwa ini?

  Seiring dengan proses kesembuhan saya dan pulihnya kemandirian saya, Saya mulai menyadari ketergantungan psikologis saya. Pergulatan saya yang bermuara pada kesadaran tersebut amat terbantu kesetiaan saya dalam hidup doa dan refleksi. Maka diawali dengan kesadaran akan adanya ketergantungan psikologis itu, saya mulai berjuang untuk keluar dari kelekatan psikologis yang saya alami. Peranan rekan imam senior- rekan komunitas - yang mau mendengarkan dan pengalaman pribadi- sewaktu SMA bagaimana mengatasi kelekatan- sungguh membantu saya keluar dari ketergantungan psikologis tersebut.

B. SUBYEK 2

  Selamat pagi romo Selamat pagi Oke tadi sudah menanyakan kabar Hehehe…yaa Langsung saja romo, saya ingin kenal, siapa r omo….ini Hehehehe… Monggo romo Kalau biografi ini ya..

  Ya Eenngg saya lahir di dusun Berbah Kalasan ke selatan Oya Masuk kabupaten sleman, 30 januari 1951,eeee ketika saya masih di dalam kandungan bapak-ibu saya cerai,bukan dari keluarga katolik saya.

  Oo bukan dari keluarga katolik Bukan, nama saya kalau orang jawa ga normal situasi kondisinya lalu apa ya diberi nama yang aneh juga lalu nama saya sudarwanti gitu, terussss lalu diganti sudarwanto, artinya anak yang ditegakan seperti itu, lalu umur setahunan bisa jalan katanya dulu saya sakit panas terus disuntik eee lalu malah ga bisa jalan, kemudian saya diambil bapak saya, diasuh oleh nenek saya. Ibu saya dari desa tapi anak penewu waktu itu, lalu bapak saya ini di pojok benteng itu ya, masih keturunan ningrat, lalu saya diambil bapak saya, kemudian umur 5 tahun saya bisa jalan, lalu memang nama diganti, kalo di jawa kan…..lalu nama saya menjadi bambang sutrisno hingga sekarang, sehingga maksudnya menjadi anak yang dicintai mendapat kasih sayang yang lebih. Ya lalu saya menjadi anak tunggal, jadi bapak saya itu kawin cerai, jadi saya mengalami beberapa ibu tiri, paling ga 4 ibu tiri, dari ini tidak punya anak selain saya. Ya begini saya dibesarkan dikeluarga yang yaaa tidak harmonislah. Saya mengalami hidup konflik ya sejak kecil. Saya sejak SR ya Sekolah Rakyat sudah pernah mau membunuh ibu saya, ibu tiri saya..hehehe,ya ketahuan bapak saya saya dipukuli. Lalu ada tetangga saya memberikan sesuatu dan dia mengatakan ini dari ibu saya, ibu saya adalah tetangga saya, saya baru bertemu ibu saya itu setelah 17 tahun lamanya. Kalau legenda jawa itu, ibu tiri waaaa ibu tiri itu bisa nggodok waaaa . dengan nenek terlalu disayang, sehingga kalau saya main dengan anak umum itu dimarah, ya nenek ga mau, ya apa ya karena bangsawan itu ya ga boleh main dg anak kampung, tapi ya saya tetap nyemplung got, mandi dsungai dan pasti kena marah. Jadi saya sebetulnya mengalami itu, jadi saya SR itu Sekolah Rakyat mengalami itu ya, saya sudah disingkirkan dikaliurang, waktu itu saya sekolah itu di yogya naik bis didampingi psikiater saya masih ingat itu, saya mesti dipisah dari yang lain, lalu saya dititipkan ke orang lain.karena bapak saya pejabat jadi saya dititipkan orang lain sehingga saya SMP itu, ketika bapak saya menikah dengan ibu saya yang terakhir, lalu tanya ke saya apakah saya (bapak) boleh menikah lagi, lalu saya berkata boleh,lalu begitu menikah langsung ada 2 rumah, lalu saya bilang bapak mau tinggal dimana?kalau mau tinggal

  diambarukmo, pokoknya ga jadi satu gitu lo, lalu nenek saya dibawa jadi satu keluarga disana, sehingga saya sendiri. Lalu ya jadi anaknya tetangga, ya ini ini ee latarbelakang saya. Memang lalu bapak dan ibu saya yang terakhir itu akhirnya membangun keluarga katolik. Ya saya dulu semakin benci, kok jadi katolik padahal di agama saya yg lain saat itu sedang aktif. Lalu ada Rm.suto sering datang mengunjungi saya juga, lalu saya bilang kepada Romo. Saya tidak akan menjadi Kristen lo Romo. Lalu Romo mengatakan begini, ya ga pa2 kamu ikut agama apa saja, pokoknya ikut Tuhan itu bahagia. Lalu jawaban itu membuat saya terkejut, sebab di ajaran agama saya dulu, yang berbuat baik akan mendapatkan pahala surga, sedangkan yang buruk masuk neraka, neraka itu kan ngeri-ngeri, padahal saya tidak bisa tanpa keburukan. Kalau tidur itu mimpinya takut masuk neraka,maka saya bingung kenapa Rm mengatakan demikian. Lalu diam2 saya mengikuti pelajaran agama katolik, saat itu bapak saya ngajar agama juga. Ya ngikut2 gitu ya lama2 saya SMA dibaptis. Hampir 17 thun saya saat itu dipermandikan ya anatara kelas 1 atau kls 2 SMA. Jadi itu disini kekatolikan saya sudah gede, peljaran agama saya lama. Ya duluya pokonya dapet kumpulan2gitu. Karena saya cacat ya, saya cacat sejak kecil, kaki saya pincang, karena dulu waktu saya sakit tidak bisa jalan dokter bilang obat yang diberikan itu apa ya kadaluarsa sehingga membuat pertumbuhan kaki ga ga sehat. Lalu dulu dengan orang umum itu saya malu aaaa apa ya terlalu dibedakan ya, misalnya mau main pingpong,dibilang nanti ini untuk yang ga cacat dulu, mau bantu ngusung meja dibilang jangan nanti jatuh. Tapi waktu ikut kumpul2an itu waktu pelajaran agama itu, saya ikut, jadi ada pelaajaran agama dimana saya ikut. Ya dulu waktu itu saya hanya takut 2 hal satu tidak dihargai kepincangan saya itu, kedua kalau ditanya ibumu siapa to sebetulnya yg mana?ibumu itu yang mana? Dua hal ini yang cukup mewarnai saya, maka didalam dikomunitas katolik itu, di lingkungan saya merasa welcome, karena hal itu tidak pernah disoalkan. Klo itu kan mesti ditetangga selalu ditanya ibumu yg mana to?ibumu siapa?lalu itu kan semakin membuat saya malu, saya takut kalao jalan nanti diejek-ejek lalu diejek kayak musik gamelan eeeee tek tak tek ya itu dua hal itu. Tapi ya untungnya saya bukan orang yang introvert, saya kasar saya mungkin karena saya anak tunggal, begitu diluar ada rebut ya saya kelahi, apalagi jaman dulu jaman partai saya kebetulan ikut PNI marheans ya lalu ikut beladiri ya pokoknya saya kasar dulu, nghajar apa kalah ga jadi soal yang penting berani. Ini yang bentuk saya, saya bukan orang yang halus, santun, ya itu. Namun dalam gereja saya tidak kelahi2 seperti itu, mungkin ya itu tidak pernah disoalkan, sebetulnya sudah banyak orang yang tau lo ibu saya yang mana itu orang sudah tau, tapi di lingk. Itu tidak pernah, bahkan kaki pincang saya itu. Pokoknya kumpul saya dapat peran nanyi, dekte teks, jaman dulu ga ada alat itu jadi harus didekte teks lagunya, lalu saya jadi seksi dekte karena suara saya keras, suatu ketika justru saya tugas digereja, waktu itu belum baptis itu. Ya saya lakukan meski belum baptis Jaman dulu kan belum ada macem2. akhirnya waktu itu ketua lingkungan apa itu nanya saya dirumah, kamu ga mau tuk membaca digereja?akhirnya saya jujur, saya malu nanti dari bangku harus maju. Ya itu kalo jadi pemabaca atau lektor itu kan maju nanti kalo diliatin orang kaki saya, saya malu, ya akhirnya ketua lingkungan memahami, tapi yang

  baca, waktu itu yang misa Kardinal Darmojowono alm ya ini yang akhirnya kemudian menjadikan saya mau menjadi imam nanti. Klo inget Kardinal lah yang dulunya ngasih dispensasi saya masuk seminari, waktu itu ya saya sudah ditolak. Pas ada pemberkatan gedung puskat kota baru itu, ada uskup datang, saya main drama komedi waktu itu. Kemudian saya dipanggil dan ditanya kamu katanya mau jadi imam yak? Tidak boleh kq saya bilang waktu itu.lalu Kardinal hanya bertanya kamu bisa bersepeda? Teman saya yang biasa nyor2 njawab wooo dia biasa ngebut itu dibunderan di bulaksumur, waktu itu ya saya lek2an SMP saja saya nekat itu nyetir mobil. Jadi saya TK 2 tahun, SR di Bopkri tapi ya kerap dihukum lalu ya ga sekolah 2 bulan lalu dipindah ke negeri, SMP sebenarnya diterima di depan panti rapih itu, SMP N 1, tapi dulu itu to saya ga mau diantar maunya sendiri, akhirnya dicarikan sekolah dipinggiran sawah di kota gede, jaman dulu masih desa lewat sawah ya walaupun nanti pulang sekolah dolan ke malioboro juga, SMA di de brito. Ini ini ya latarbelakangnya. Romo kan mengalami merasakan ibu tiri yang tidak hanya satu, lalu apakah dari figur-figur yang banyak itu ada yang mempengaruhi kehidupan Romo selanjutnya? Saya…saya tidak merasa, saya itu hanya orang seneng dolan, tidak krasan di rumah, yang mempengaruhi ya lebih ke lingkungan, jadi maka apa ya saya setelah masuk jadi imam, ada omongan kl keluarganya tidak oke, nanti jadi imam tidak oke, itu lalu ada psikospiritualitas. Itu waktu itu saya berontak ada yang keluarganya tidak oke, tapi ka nada keluarga lain yang disini yang tidak apa ya, tidak nucleus family, extended bahkan tidak extended, tetangga itu keluarga, ini yang saat ini saya temukan itu, ya meski saat ini saya juga memperjuangkan keluarga, tapi saya sendiri lebih dibentuk oleh tetangga, saya itu baikan dengan kiri-kanan dengan anak2. Ya dulu malah pernah ada tetangga ya yang anak2nya ga boleh bgaul dengan saya, karena ya saya anak yang ga baik, tapi kan ya ada teman2 yang dekat dan saya tidak pernah sendirian di rumah itu, itu yang keluarganya juga tiri2 lalu ada tetangga di ambarukmo yang dekat yang lalu menganggap saya sebagai keluarganya sendiri. Dan bapak saya setelah bapak saya menjadi katolik ga pernah kasar kepada saya. Dulu memang ketika misalnya nanya siapa yang bilang kalo ibumu itu ibu tiri?saya ga mau jawab woooo itu saya ditempeleng, sampai saya dikencingi apa itu mulut saya, disuruh ngaku, tapi saya ga ngaku waktu itu, 3 SD wktu itu, sehingga saya keluarga itu ga, jkeluarga itu ga. Lalu saya pelan2 oke dengan keluarga itu, pelan2 itu juga karena saya masuk seminari. Kan wkt itu ada hari wajib tidur di rumah, di rumah orang tua maksudnya, di seminari itu di instruksi, supaya tinggal di rumah, ya sudah saya trauma dengan rumah saat itu, ya itu baru pelan2. Dulu ya masa kecil saya, dekat dengan siapa ya dengan tetangga ada yang ga suka ada yang sayang sekali. Sehingga waktu masih SMA itu ngliat ibu2 bapak2 rajin gereja pagi, wah rajin ya, bukan itu2 gara gara dia maksudnya saya yang mbangunin mereka untuk gereja pagi, lalu mereka nanti bantu saya nanak nasi, lalu pergi gereja, brangkat ke debrito, pulang beli lauk, ya seperti it uterus. Itu yang saya rasakan dulu katolik itu minoritas, jadi seperti satu saudara gitu, meski ada keluarga2 katolik yang tidak suka dengan saya, karena saya tidak santun, berani dengan orang

  tapi dulu ya diambarukmo itu saya sering antar anak2 ke sekolah, baru saya yang berangkat kesekolah, ya saya anggap seperti adik saya sendiri. Jadi saya baikan dengan keluarga itu, katakan ya berkat bimbingan gereja ya. Saya pun tahbisan itu tertunda-tunda, saya itu yang minta untuk ditunda. Lalu saya jujur katakan apakah seorang yang tidak punya cinta bisa jadi imam?ya saya tidak mencintai ibu saya, ya itu tu rasa mesra itu tidak ada, rasa mesra dengan orangtua itu tidak ada, untung pembimbing saya bilang ga, latar belakangmu kan lain tidak bisa dituntut untuk seperti itu, apa yang pernah kamu lakukan? Ya saya nulis surat, lalu pulang tapi itu basa-basi semua. Tapi apa itu kamu lakukan? Ya saya lakukan. Itu sudah baik, cinta itu tidak harus mesra. Lalu ya akhirnya saya jadi berani untuk menjadi imam. Perasaan takut akan 2 hal, bagaimana proses romo untuk menghadapi 2 ktakutan ini? Saya tidak tahu kapan2nya itu ya. Tapi saya hanya tahu setelah saya ikut Yesus. Ya prosesnya itukan alamiah. Kebetulan saya punya kebiasaan hening, sebagai anak yang dibesarkan dengan iklim kejawen ya. Hening, nang ning nung neng (24:25) Itu bawah sadar diajarkan meneng diam ada saat diam nanti ada saat hening, artinya jernih bisa mengingat segalanya, sadar apa yang dirasakan lalu nanti nung genaung tau, lalu setelah itu nang ngenang artinya itu mampu bertindak yang oke gt ini bawah sadar saya dibesarkan itu. Lalu ketika saya jadi katolik ya dulu ga tau apa2 , saya baca kitab suci, ya ini saya baca kitab suci, kebetulan saya itu dulu gat au apa2 jadi ya baca aja, nah entah saya selalu terkesan pada sikap yesus kepada yang buruk-buruk, pada yang dosa2, itu tidak disingkirin kan, di dalam injil itu sikap yesus yang simpati pada yang berdosa, ada yang zinah ketahuan tapi itu kan ga dihukum itu, nah itu saya terkesan, lebih2 nanti ketika ceritanya itu tentang orang lumpuh, ya saya senang dengan kisahnya, saya itu baca kitab suci itu senang. Nah ini yang mewarnai ya nanti ternyata dalam ajaran gereja juga seperti itu tidak sadis terhadap yang seperti itu (berdosa dan yg buruk2) itu yang akhirnya membuat saya pelan2menerima orang tua saya, menerima bapak saya, ibu yang sadis2 itu, ya perihal mengampuni itu kan 70 kali 7 kali gt to. Itu yang membentuk saya itu, lalu pada tahun 1977 ada pertemuan nasional pemuda cacat seluruh Indonesia, lalu saya ikut mewakili itu dalam panel diskusi, lalu malam hari itu kami berkumpul dan ada yang menanyakan sepertinya saya tidak mempermasalahkan kondisi fisik saya, saya katakan bahwa dulu saya sama awalnya takut tidak laku kerja, takut ga laku kawin iya to, sama sama, semenjak ikut Yesus, entah proses gimana saya tidak tahu, saya tidak bisa menelusuri sejak kapan itu, tapi ya berjalan begitu saja, kebaikan dan keburukan itu muncul tidak disadari, kalau orang baik itu sadar itu bukan orang baik, kalau orang itu buruk sadaar itu bukan orang buruk, ya saya tidak mempersoalkan kondsi saya, ya itu jika dilihat dari kerangka berpikir neng ning nung nang tadi itu, neng diam, ning hening, nung tau, nang menang, hening itu pusat dari segalanya, jika hening bisa doa lalu bisa kontak dengan Allah, lalu bisa menerima, lalu bisa mencinta. Ya lalu kalau banyak orang mengatakan bahwa saya berasal dari keluarga tidak harmonis lalu bisa berubah, padahal saya itu

  seperti sampah yang didaur ulang bisa menjadi pupuk, keburukan saya bisa didaurulang menjadi keindahan, sehingga banyak orang mengatakan saya bisa, padahal saya buruk loh hehehehe, ya itu baik buruk dilihat adakah landasan kasihnya atau bukan, lalu ada penyerahan diri kepada (menunjuk keatas) yah itu rumusan saya sekarang, kalau dulu saya tidak merasa. Baik Romo, lalu awal Romo tertarik untuk menjadi pastor dan akhirnya memutuskan untuk masuk Seminari seperti apa Romo? Ya..ada yang mengatakan motivasi panggilan saya dangkal sekali. Ya mungkin seorang anak yang dibesarkan dengan keluarga seperti ini lalu dalam sini punya apa ya seks maniak dalam tanda kutip dipikiran hanya ada perempuan saja itu sudah saya katakan sejak smp moto wedokan, ya saya senang, lalu teman perempuan saya banyak ya dulu saya pincang gitu, saat SMA (33:55) Segala itu ada saudara sepupu saya ngejek saya, itu tahun 1968 itu saya kelas 2 SMA itu saya diejek pasti besok istrimu juga banyak, nanti seperti bapakmu yang punya istri banyak, ya seperti itulah, lalu saya bilang, saya katolik kalo punya istri ya hanya satu, waa itu lalu ditertawakan gitu, lalu saya bilang saya tidak punya istripun berani, saya berani menjadi Romo, lalu dia menanggapi serius Tidak Mungkin kalau kamu bisa, lalu saya Bisa..waa lalu dia taruhan sama saya, kalau saya masuk seminari gajinya dua bulan untuk saya, kalau saya tidak masuk kamar yang dia tempatin dia ambil, saat itu rumah dan tanah sudah diwariskan ke saya oleh nenenk saya, kalau jaman dulu bisa kalau sekarang kan gaya, karena dulu meskipun masih ada bisa langsung diberikan semua ke cucunya, dulu nenek saya takut nanti ada yang minta ini, mininta itu, jadi itu semua diberikan kepada saya, lalu akhirnya saya daftarkan diri pokoknya nekat, Romo paroki sudah oke, begtu pula Romo di sma juga, tapi setelah di Seminari ada Romo bilang kowe ra iso,lalu saya tanya kenapa?beliau bilang kowe ra iso, kowe pincang…oooo ya udah saya tidak gimana, ya uda yang jelas saya sudah berjuang, ya ga boleh kata gereja begitu..ya itu lalu suatu ketika Uskup menyuruh saya datang kekeuskupan lalu berkata kamu harus ikut ujian, nanti kalau kamu lulus kamu masuk, tapi harus lulus dulu, ya lalu saya ujian di mertoyudan, nilai saya dulu buruk semua, ya saya sebenarnya sekolah itu ga serius, hanya masuk budaya saja, nilai bahasa saja tidak bagus, lalu ketika masuk mertoyudan bahasa inggris dapet 3 plus, ya tapi kemampuan belajar dinilai tinggi ya IQ juga diatas rata2, lalu ada tes psikologi itu, nilai kepemimpinannya bagus, dilihat dari situ saya diterima, ya itu lalu saya masuk, bukan dengan semangat tinggi, tidak diterima ya sudah, diterima ya masuk begitu aja, ya mulanya hanya seperti itu, hanya karena taruhan, ya kakak saya itu tau bahwa bapak saya itu tidak akan kasih ijin, karena anaknya hanya satu, tapi itu diluar dari sepengetahuan bapak saya, saya buat itu surat pernyataan bahwa saya (menyebutkan nama) umur sanggup membiayai pendiidikan diseminari kesehatan dsb itu, ya itu lalu bapak saya liat itu, ini apa?tanda tangan pak, loh dibicarakan dulu, tanda tangan aja pak, kalau bapak ga mau tanda tangan, saya tanda tangan sendiri, aku hapal, karena sejak masa smp, ada urusan sekolahan saya minta orang lain tulis, lalu saya yang tanda tangan, lalu bapak saya bilang kalau hanya punya anak 1, dulu saya jawabnya buruk itu, yang goblok buat anak bapak to yo masak resikonya

  bisa kq, buat anak banyak masak ga bisa, malah saya yang harus ikut nanggung, bapak saya ya diam dan tanda tangan aja, hingga saya tidak tau bahwa bapak saya tidak pernah ikhlas, baru saya tau setelah saya tahbisan diakon tahun 1981- 1980 okt baru bapak saya setuju, saya diberitahu tante saya. Ya ini dulu motivasi saya begini DAV: ya tidak terlihat seperti yang lainnya, ya begitu bukan seperti mewartakan kabar apa gt Lalu ketika sudah diterima dan masuk ke seminari menengah apakah ada pergulatan lainnya? Ga kerasa…ga kerasa…ya diasrama itukan…ya saya biasa liar gitu kan,biasa, ya kalau diasrama itukan harus ikut acara jam sekian, lalu ada apa, lalu jam berapa harus tidur siang, susah saya, lalu kalau apa itu, eee remi ketahuan itu dosa, ya saya selalu kena hukuman yang saya tidak tahu menau kalau itu salah, ya remi sanatai jam 9 malam dikelas itu, kan waktu itu ada jam rekreasi sendiri, tapi saya sama teman2 remi dikelaas, jaman dulu ada masih ada pembagian gitu diasrama, yang gede, lalu madya, lalu yang kecil, gt di mertoyudan, kan ga boleh kl ke bagian yang lain, nah saya sering dulu ke bagian anak2yang kecil2, karena dulu saya sering mendampingi anak2kecil dirumah, nah ituuu dosa, lalu jalan itu sentuhan gitu ada aturan regula status namanya, gandengan itu ga boleh, karena ditakutkan aakan adanya persahabatan yang intim gitu ya, tapi ya saya ga mikir itu, saya jalan2 gandengan itu yaa dosa, ya itu akhirnya saya mendapatkan hukuman yang tidak jelas, lalu kalau menipu itu ya pernah gt, kalau ada undangan pesta dirumah teman, ijinnya pulang, padahal ga ada pesta, lalu ketika waktunya harus kembali, ternyata kembalinya ga bareng2 dan akhirnya ketahuan, ya di mertoyudan sebagai seorang remaja ya konfliknya sepertiitu, hal2 yang menurut saya biasa liar ya bebas lalu hidup dengan system (44:27) Hanya saja saya suka merasa apa ya, merasa sedih kalau ada teman yang keluar mengundurkan diri dari seminari. Padahal saya liat mereka yang keluar itu pinter2, rajin, tekun, sopan ya dibandingkan dengan saya. Makanya ketika ada yang keluar saya lalu lari ke kapel. Doa dan bertanya kenapa teman saya yg seperti itu bias keluar, sys ring melakukan pelanggaran tetapi teman saya yang baik seperti itu kenapa keluar? Suatu saat pernah saya tanyakan hal ini kepada salah satu staff, dan staff itu mengtakan bahwa saya memiliki ketaatan. Tapi saya tetap tidak mengerti Waktu di seminari mertoyudan berarti Romo KPA? Waktu itu BCA belum ada KPA kl yang dari SMA, kl yg dari SMP itu BCP, di BCA itu 2 th, tapi dulu kl yang nilainya oke oke itu bs 1 th, sy bs 1 th, tp saat itu saya merasa belum siap yak arena rohani saya belum siap, jd saya minta wktu itu ikut yang biasa2 saja. Ceritakan Romo ketika di seminari tinggi hingga Romo ditahbiskan? Saya mulai ditingkat satu wktu itu,masuk ya gitu…ya saya memang saya tidak suka dengan suasana disiplin ya begitu misalnya jam malam begitu,saya kan apa ya ga pernah puas begitu, tidak pernah puas dengan bimbingan, kuliah ya kuliah begitu saja,rohani ya renungan meditasi sendiri,semua ada jamnya, sehingga suatu saat saya punya kelompok, kelompok kecil bertiga orang, klo uda malam itu lampu mati, dulu belum ada listrik PLN jd cahaya menggunakan lilin, kami ambil lilin di

  itu,kami lalu membaca kitab suci, klo ketahuan itu pelanggaran lo kl jaman dulu,hehehe…padahal baca kitab suci,heeeehe,ya saya tidak puas dengan yang diberlakukan itu, jd saya tidak pernah puas dengan aturan yang diberlakukan disana itu,lalu dari segi fasilitas saya merasa kurang,ingin nuntut ini,nuntut itu…na ketika tingkat satu itu saya merasa kq hanya seperti ini, hanya itu saja, sehingga saya ingin apa…ingin sakit, sakit pakai opname..biar bebas gt,heheee..kl di mertoyudan dulu opname itu gara2sakit mata itu belekan,ya itu diasingkan,jd bebas dari rutinitas,saya juga pengen nah pas kebetulan saya sakit opname,jd sehari-hari jika teman2 kuliah saya hanya melihat mereka berangkat kuliah. Perasaan kurang itu membuat saya terus berpikir, saya tidak bisa hidup jika tidak dari keringat saya sendiri, jadi karena itu saya memiliki alasan kuat untuk mengundurkan diri. Saya ingin hidup dari kerja saya sendiri.lalu saya menghadap dan mengatakan saya keluar, jika selama 2 tahun saya tidak kembali ke seminari, berarti saya tidak terus melanjutkan di seminari. Dah saya keluar, sejak saat itu saya belajar hidup tidak dibantu orang tua, saya kembali ke paroki, sebetulnya saya keluar itu saya mengajar di SMA…saya mengajar di SMA itu,lalu bapak saya bertanya kepada saya,”kamu masih mau menjadi pastor ga?” lalu saya menjawab “masih”,lalu bapak saya bilang “kalau masih mau menjadi pastor, jangan jadi pegawai” nah saya akhirnya tidak mengajar lagi, karena bapak saya ga boleh,tp saya tetap aktif di paroki,lalu saya ikut training ancounser untuk rekaman2an sandiwara,lalu saya rekaman dan dapat uang,lalu ada pentas di ambarukmo, saya ikut pemain gamelannya, ikut aja gt lalu ada salah satu pemain yang kosong, saya ditanya kamu bisa, klo gamelan saya bisa, akhirnya saya main gamelannya. Lalu setelah itu ada wayangnya saya coba main2kan,ada orang bilang bisa main wayang dek, saya jawab bisa padahal waktu itu lakonnya asal2an, saya main fragmen 1 jam, lalu saya dijadikan dalang diberikan jadwal main,ya dalang yang asal2an aja, ya dari situ saya hidup saya ambil honor saya 30% ya saya bisa beli makan, beli kebutuhan sehari-hari, lama-lama saya hidup ya kaya sepeerti itu, tapi dari hidup yg seperti ini lama2 ada yang tidak bisa hilang, saya ingin kembali ke seminari. Padahal dulu saya asal2an,tertahan gitu,lalu karena itu setelah 2 tahun saya daftar lagi ke seminari, masuk lagi..dah ya setelah itu konfliknya itu biasa seperti berani dengan staf. Lalu konflik terbesar saya sadar saya itu adalah saya tidak punya cinta itu, karena saya dengan orang tua tidak bisa mesra, bawasanya saya konflik dengan teman dan staf itu biasa ya, tapi konflik batin terbesar ya itu saya tidak bisa mesra dengan orang tua, sehingga saya harusnya tidak boleh ikut topper tahun orientasi pastoral itu. Saya lalu mengalami kecelakan, saya tidak ikut ujian dan berharap ada penundaan tingkat setahun, ternyata eeee saya disuruh naik tingkat, ternyata ujian saya dibuat dobel, tingkat 5 dan tingkat 6, ya lulus aduuuuhh..saya berjuang untuk menunda tapi ternyata tidak bisa,ya saya masih tidak bisa mesra dengan orang tua, tapi saya belajar untuk mencintai orang tua karena saya ingin menjadi imam, tapi karena mesra itu ukurannya mesra ya afektif ya, saya tidak ada.sampai sekarang. Dengan bapak saya sekarang sudah meninggal dengan ibu saya…saya ga bisa.lalu pada akhirnya saya mendapatkan bimbingan bahwa cinta itu tidak perlu mesra, cinta itu tidak perlu romantic, cinta itu bisa egosistis, nanti

  dengan orang tua, kalau tidak tau orang tuanya lalu dicariin itu wayang…ya ga mesti begitu ..ya saya selalu mendapa tkan bimbingan itu saya mencoba…ya begitu,dan 2 bulan sebelum sy tahbisan bapak sy meninggal. Dan saya bau tau bahwa selama ini bapak saya tidak pernah setuju saya jadi Pastor, sampai pada tahbisan diakon beliau bilang pada tante saya ya sudah kalau memang itu panggilannya dia, saya rela. Sehingga kalau waktu itu libur saya tinggal di rumah bapak saya tidak mempersoalkan itu. Saya sebelum mau ditahbiskan sempat berkonflik dengan bapak saya, saat itu keluarga saya merancang untuk mengadakan pesta tahbisan saya,tapi saya tidak mau,padahal saya dari keluarga yang cukup mampu, tapi saya tidak mau, karena saya diajarkan bapak saya untuk hidup sederhana, merasakan kesulitan orang lain, saya punya teman2 itu sekolahnya tidak tinggi2..smpe saya itu dulu dibuatkan sepatu khusus, karena kaki saya pincang..tapi saya bisa lulus perguruan tinggi dan ditahbisakan..distu saya tidak sampe hati melihat teman2 saya, nah itu konfik besar dengan keluarga.

  Sampai bapak saya sebelum meninggal menitipkan surat kepada pembantu saya, isi surat itu ya bapak saya minta maaf, maaf kl selama ini suka marah, melakukan tindakan yg tidak menyenangkan, bapak saya juga mengatakan bahwa dirinya bangga kepada saya karena telah mampu mengambil jalan hidup seperti ini. Saya konflik dengan keluarga saya samapai berani dengan om tante kakek saya saya katakan sini uangnya saya terima, nanti akan saya bagikan kepada mereka yang membutuhkan,karena apa saya tidak mau menjadi Romo yang mencari uang nantinya. Ketika mau tahbisan ada rame gitu sehingga saya mesra tidak beres apa itu kerohanian, tidak mesra dengan keluarga selalu konflik tidak disiplin dengan keluarga ya sudah jadi keyakinan itu ya pasti konflik tapi saya bertahan ,meskipun ya saya gelisah tapi saya bertahan yg sampai sekarang menurut saya itu sering muncul dalam mimpi, mimpinya masih dikentungan gt dikentungan studi gitu mimpinya,habis ujian ga bs,atau saya keluar dari Imamat karena tidak layak jd imam itu sering, sering itu saya alami, itu klarena tdk puas banyak ketidakpuasan, sering m,impinya itu gioyah lagi, belum tahbisan heheheh sy merasa ini..nti setelah tahbisan itui perkaranya warisan kan sy anak tunggal jd tahun pertama tahbisan saya ngurusin rumah karena banyak saudara mau menempati rumah dikontrakan mereka butuh uang tapi rumah dibiarkan gitu aja lamupu mati, yaaaa…akhirnya rumah saya jual,lalu ibu tiri itu selalu itu anak saya,ada 2 yang katolik sy tidak pernah memaksakan, ya saya mau mengurus mereka kl mereka ada yang sakit diluar itu saya ga mau.secara hukum kan sudah ga ada tanggung jawab lagi karena sudah dicerai, tp mereka selalu mengaku itu anak saya itu anak saya. Lalu kalau secara hirarkis itu nanti larinya konflik dengan temankan saya itu tidak pernah puas ya, lalu ketika saya merancang sesuatu, nanti dikatain kok cuman begitu saya kan terbentuk praktis, selalu ada ide yg lain cuma ikut2 nanti pas jadi kok cuma begitu, yang lain hanya berpikir konsepnya tapi tidak bisa dijalankan saya yang praktis2aja dan bisa dijalankan..apalagi kondisi saya yang pincang tidak sepereti yang lainnya, secara liturgis memang ada hambatan, ya saya ubah akhirnya hehehe saya hanya ikut Uskup dan melayani umat, tahun 88 kuliah di Manila Sosiologi dan semakin mendalami bahwa small is beautyfull hehehehe…konflik karya misal projo

  musiografi umum, musiologi menekankan nilai2nya lalu saya banyak kerjaan yang diberikan kepada saya yang belum jelas jaman itu karya inkonvensional karya missioner kemasyarakatan. Lalu saya berpikir merenung itu, saya lalu melihat apakah masalah ini frustasi atau derita. Kalau penderitaan ini salib, itu yang dari karya, kalau frustasi itu hanya perasaan beban bukan karena karya. Lalu dari karya itu ada ekses krn sering tampil yang mengagumi banyak termasuk perempuan yang terlibat sejak frater itu ada wuaaa ya itu susah, lalu saya berpikir ini derita atau frustasi. Suatu ketika frustasi itu, keselahan saya kalau sudah dekat perempuan jawa itu matriarki bukan patriaki, sehingga anak itu lebih dekat dengan garis ibu, saya belajar dari itu saya mulai belajar dari situ. Awalnya mulai diajak jajan, lalu ditawarin, mau saya bantu pijetin Romo?,ya gitu pelan sekali tidak sadar nanti kalau sudah gini saya mulai dikuasai satu sisi ga sampai hati nah inilah frustasi. Sampai kalau dipastoran itu ada yang tunggu saya, saya sengaja untuk ga pulang kepastoran dulu baru sampai dia pulang, ternyata belum pulang, itu konflik tidak hanya sekali tapi lebih, ya awalnya dari kasihan it terus secara tidak sadar ya itu nang ning nungn lama kelamaan sadar saya harus bisa menjaga diri sampai 20 tahun imamat masih kacau balau soal ini,hihihi….ya setelah apa itu mulai ambil jarak dari karya lebih banyak hening sebetulnya imamat ke 23 mulai peka ada kekebalan sekssologi, karena memang saya senang hehehehe….23 itu saya mulai peka saya kan terkenal enak kalau kotbah kalau formal saya ga suka..dulu saya sering dapat surat kaleng, ternyata umat menerima saya apa adanaya Konflik bagi saya sudah ada bagian dala m hidup…kalau disuruh positif thingking, kalau ga bisa kenapa harus positif thingking..konflik itu sah dihadapan Y esus, konflik itu sah itulah hidup….kalau hidup searah seimbang itu pasti mandek…nah itulah dinamika orang harus sadar pada dirinya sendiri dulu orang harus sadar biasnya dulu..kalau sudah sadar bisa hadir sebagai prbadi dengan persona…sadar keunikannya sadar akan biasnya 26 tahun imamat sudah mulai pinter,hehehehe…….ya itu yang bisa saya sharingkan.

C. SUBYEK 3 Slamat pagi Romo

  Ya slamat pagi

  

terimakasihRomokarena telah menyediakan kesempatan utk wawancara kali

ini. Pada kesempatan ini, saya terlebih dahulu ingin bertanya ttg biografi

Romo, siapakah Rm kardi itu?lahir dimana, dibesarkan dalam lingkungan

keluarga yg seperti apa?Sekolah dimana?sampai akhirnya mau memutuskan

untuk menjadi pastor

  Ya nama saya Yulius Sukardi, lahir di sangit Kulon progo, tanggal 18 November 1942, waktu kecil saya SD negeri karenawaktu itu ga ada SD Katolik di tempat saya. Setelah tamat SD saya masuk SMP PL boro tahun… eee Agustus 1955, waktu itu saya sudah kost, jadisetelah SD dari SMP saya kost sama kakak saya. Selesai tahun1958 dari situ ikut tes masuk ke Seminari Mertoyudan dan masuk kesana tahun 58. Disana lulusan SMP mengikuti pelajaran persaman dengan mereka yang dari SD, karena waktu itu masih ada anak Seminari yang dari SD. Lalu saya jadi satu kelas denganteman-teman yang dari SD tadi, disana masih 4 tahun, distu juga masuk persamaan SMA, jadi ijasah negeri ijasah umum, ujiannya dimagelang waktu itu, dari situlah kami memilih, ada beberapa pilihan komunitas imam atau imam itu berbagai macam, seperti SJ MSF, trapisatau Projo, yang lainnya ga begitu nampak karena kami tidak diberi gambaran yang lain. Lalu saya memilih Projo, ber 9 lalu masuk ke Seminari Tinggi di jalan code waktu itu. Nah itu perjalanan umum saja, kemudian ada perubahan-perubahan situasi di tahun 65 dan sebagainya akhirnya kami th 67 pindah ke kentungan, selesai disana th 70 tapi waktu itu saya sakit. Akhirnya ber 4 yang selesai dari yang masuk ber 16, 9 dari Seminari Menengah, yang ditahbiskan cuma ber 4, setelah 7 th pendidikan…yang 2 ditahbiskan akhir th 70 yang dua ditahbiskan 25 agustus 71, saya ditahbiskan 25 agustus 71, itu perjalanan di Seminari Menengah sampai Seminari tinggi, itu hanya umum…tapi sebenarnya kami ada perjuangan- perjuangan yang kami alami…Seminari Menengah, perjuangan yang kami alami sebagian besar adalah masalah studi, masalah lainnya tidak begitu terasa, memang masalah studi yang terlihat sangat berat, sehingga ada “fak (faktor)” yang memang terasa berat, harus ada perjuangan lah istilahnya begitu, dalam pergaulan memang juga sedikit terasa, dalam pergaulan itu ada, saya kan anak ndeso dengan teman-teman yang dari kota, istilah minder itu ada, jadi mereka yang dari ndeso ada perbedaan-perbedaan fasilitas yang diberikan dari keluarga, meskipun tidak mencolok, meskipun kita sama, asrama sama, makan sama semua sama tapi tetap ada yang mencolok perbedaannya, ya karena dari asal nya itu ya.Ya saya kira perjuangannya yang mencolok adalah studi dan asal. Keluarga saya katolik semua, kami ber 6 (6 bersaudara), eee sebenarnya waktu itu ber7 tapi adik saya meninggal waktusaya di Seminari Menengah, jadi sekarang saya yang kelima.

  Kemudian masuk ke Seminari Tinggi hampir sama masalah studi butuh perjuangan, ya nilai saya dapat dikatakan tidak terlalu jelek tapi juga tidak

  tidak pernah mengalami meskipun nilai tidak baik, saya harus berubah. Tapi ada juga keluarga yang menggoda, adasalah satu anggota keluarga yang mengoda saya untuk tidak menjadi imam, saya tidak tau itu serius atau hanya lemparan untuk sayaagar berpikir, tapi itu yang membuat saya berpikir terus melanjutkan atau keluar. Tapi juga karena teman, ada ju ga teman yang mengajak “yo metu wae yo dari pada disini,ngapain disini?” tapi kalau keluar itu kan harus bertanggung jawab, meninggalkan panggilan itu kan harus bertanggung jawab.

  Memang ada waktu itu teman-teman yang mengajak keluar karena kehidupan di as rama itu waktu itu karena ga cocok dengan staff….ada kebijakan-kebijakan yang tidak disetujuikami itu ada …dari keluarga itu ada, meskipun tidak semua keluarga tapi ada salah satu dari keluarga, dan dari teman itu juga ada, tapi itu jadi pertimbangan, lalu lainnya ada, jadi waktu itu saya dipertengahan di Seminari Tinggi pada tahun orientasi ditempatkan pada pabrik 10 bulan, kami ber 2 orientasi tidak di paroki tapi di suatu lembaga untuk belajar tentang suatu kemasyarakatan nah temanku itu dibidang pertanian, sedangkan saya dibidang buruh, karena buruh saya harus kerja jumat sabtu, bekerja dipabrik seperti buruh itu, temanku bekerja di sawah, nah eeee rupanya saya ga tahan distu karena t4 kerja saya lembab saya tidak tahan distu dan menyerang paru-paru..diakhir tahun oreinatsi itu saya terkena sakit paru-paru, kemudian itu kembali pada akhir tahun studi, tahun terakhir studi saya kena sakit yang sama maka saya kena sakit yang sama 2x sehingga saya ditunda, itu masalah kesehatan yang mengganggu ataumenghambat saya. Masa penyembuhan itu membuat saya jenuh, karena disitu dokter selalu mengatakan kamu harus benar-benar sembuh, jadi ada flek di paru-paru itu, benar-benar penderitaan, begitu dan sangat mencolok yang membuat sedikit menghambat panggilan….Dari keluarga ada, dari teman ada, dari sakit yang aku alami.Kalau dari pergaulan tidak terlau mencolok.Saya punya kelompok membentuk kelompok dengan teman, yang pada akhirnya kelompok ini juga menguatkan panggilan.

  Kembali di awal apa yang memotivasi Romo untuk menjadi pastor?

  Awalnya tdk terlalu jelas, cuma pada waktu SMP saya kelas 2 SMP saya dipanggil Bruder Kepala sekolah, Bruder bertanya kamu pernah berpikir untuk masuk ke Seminari menjadi pastor ga? Ya lalu saya menjawab ga pernah, karena saya memang ga ada bayangan masuk ke Seminari, terus kelas 3 kembaliBruder bertanya kembali dan saya disuruh matur ke RomoParoki, lalu saya dipertemukan dengan RomoParoki dan distu saya bertanya apa itu Pastor? Bagaimana mejadi Pastor?dsb, tidak terlalu jelas cuma pada waktu SMP itu saya jadi misdinar itu senang ya pake jubah jalan di gereja waktu itu, ya begitu akhirnya saya daftar dan diterima saya masuk ya sudah saya masuk lama- kelamaan mengolah panggilan itu…ya saya hanya merasa kalau dipanggil ya bersyukur lah,awalnya begitu aja

  LalubagaimanaRomo yakin bahwa ini adalah panggilanku?

  Ya akhirnya saya merasa bahwa saya bisa menikmati, artinya gangguan- gangguan itu tidak terlalu menghalangi, kalau Tuhan tidak menghendaki ya pasti

  berhenti saya harus bertanggung jawab sebab apa saya keluar, tapi kalau tidak ada alasan kuat ya saya terus, kalau pimpinan itu tidak memberikan peringatan yang mempertimbangkan saya keluar ya saya tidak keluar, ya meskipun pada akhirnya membawa pemikiran ngapain jadi Romo ya ituterus aja berjalan, berjalan sama ada pendampingan gitu aja

  

Tadi waktudi Seminari Menengah sampai Tinggi itu ada halangan dari studi,

teman, keluarga, tidak cocok dengan staff…Bagaimana caraRomomengatasi

masalah tersebut?

  Ya mengatasinya kalau dikeluarga saya mempertimbangkan, saya bertanya siapa yang mengusulkan itu saya liat alasanya apa, sama teman juga gitu kita bicarakan alasan keluar apa?kita bicara akhirnya ga ketemu suatu alasan yang bisa dipertanggungjawabkan ya akhirnya karena rasa bosan, suasana yang begitu-begitu aja sepi ga ada tantangan ya gitu aja

  

Untuk semua seperti kebijakan dari staf dan studi apakah sama

menyelesaikanya?

  Ya gitu….sama saya liat kalau saya masih bisa terus dengan studi saya ya saya terus, memang ada yang karena masalah studi harus ada yang berhenti, ada yang karena masalah keluarga karena dia harus membantu keluarganya dan harus berhenti juga ada, terus ada yg kerja dulu keluar terus kembali lagi juga ada…ya kembali ada gayang bisa dipertanggungjawabkan dari alasan keluar dari Seminari itu? Biasanya ada pertimbangan dari teman dan pembimbing rohani, iu sangat mempenagaruhi terlebih pembimbing rohani, selain untuk itu juga untuk mengaku dosa, jadi harus ada pembimbing rohani.

  

Lalu saya pernah mendengar kalau saat sebelum tahbisan itu saat-saat

penting?

  Ya memang untuk sebelum tahbisan itu kita harus retret ya, karena memang harus memutuskan apakah iya atau tidak, ditahbiskan jadi daikon aja kita harus tahu bahwa penentuan selibat itu distu, itu biasanya gitu, itu juga dibantu dengan proses sebelumnya (proses di Seminari)…lalu kalau keluar juga ga hanya karena alasan selibat, meskipun akhirnya nanti kalau keluar ya menikah, tapi juga ada misalnya yang terlanjur akrab d an menikah…Ya itu dipersiapkan dengan retret…kami waktu itu ber 3 retret, kami lebihh dikuatkan dengan teman, yang 1 bruder, 2 imam kami lebih dikuatkan karena teman tapi memang harus kekuatan pribadi juga, tapi teman saat itu juga nampak.

  Sebagai Pastor, tugas-tugasapa yang pernah Romo lakukan?

  Saya selalu ditugaskan di Paroki, saya tidak pernah ditugaskan ditempat yang lain, jadi dari paroki ke paroki, dari satu paroki ke paroki lain, itu tugas saya. Jadi sampai sekarang saya itu sudah mengalami di 8 pa ya?mm wedi, kalasan, magelang, katedral….mmm ooo 9 sama yang sekarang ini.

  

Bisa diceritakan pengalaman di paroki yang membuat Romo harus bertahan

dengan imamat Romo?

  Ya kalau bertahan dari imam, memang ada gangguan banyak…kedekatan- kedekatan dengan wanita baik yang muda atau ibu- ibu…itu mengganggu kehidupan pribadi imam dan imamat dan pelayanan atau karya…kalau mau dibagi 2 ada hidup pribadi dan karya…kalau pergaulan dengan wanita itu rawan..saya selalu mengalami dekat dengan wanita, itu susah juga..saya juga berpikir kenapa kq mereka mau dekat? …disinilah jadi masalah…tapi saya belum pernah dipindah karena masalah itu, ini membuat doa jadi lemah, konsetrasi ga bisa, pelayanan umat jadi kurang karena harus memperhatikan orang itu, belum lagi isu gosip, sepanjang ini saya mengalami masalah-masalah itu, walaupun belum sampai saya dipindah karena kasus itu, tapi kalau mengalami saya mengalamai dan eeee memang tidak mudah ya untuk menghindar, berusaha menghindar tapi berat juga karena eman-eman punya kenalan baik begini, tapi dihindari gimana…setiap paroki itu ada…itu bs mengganggu kehidupan pribadi…kalau kehidupan pribadi terganggu berarti bisa mengganggu ke karya kan….itu saya akui ada dan cukup banyak….apalagi sekarang itu ada sms dsb itu sangat mengganggu…tapi ya itu pergaulan…kemudian kerja sama dengan mitra kerjaparoki misal dewan paroki…saya pernah mengalami disuatu paroki dengan dewan paroki..nah ini harus hati-hati menurut saya, karena pada waktu itu semua dewan paroki memgundurkan diri, ini pengalaman paling pahit saya, melalui surat tertulis mereka mengundurkan diri dan dengan dilengkapi alasan dan caci maki terhadapatRomo, kemudian ditempelkan dipengumuman gereja dan disebarkan ke umat….wah itu paling menyakitkan ini. Mundur dengan tulisan yang menyakit kan itu berat…saya akhirnya pindah ketempat yang jauh agar tidak membebani…itu bisa terjadi dengan dewan pengurus gereja, umumnya karena ide yang tidak cocok, masalah kebijakan-kebijakan keuangan rawan itu dengan dewan, biasa masalah disitu bentrok disitu.

  Itu dengan dewan, mmm lalu dengan rekan (sesama Pastor) dengan rekan ini eeee seharusnya kita dalam satu pastoran ini kompak seharusnya. Permasalahan yang paling berat diparoki adalah kalau dia tidak cocok dengan kawan…ini lebih berat dari pada dengan dewan tadi.. selama saya 9 paroki, saya pernah mengalami 1 paroki yang tidak nyaman…eeee 2 lah 2 paroki yang membuat saya tidak nyaman, dia cari cara sendiri, tidak berkomunikasi, saya waktu itu pastor pembantu, itu awal dulu 3,5 thn dari 1971-1975 an, lalu saya jadi pastor kepala paroki terus, sampai terakhir kemarin, saya diminta pindah ke sini, saya minta kepada Bapak Uskup agar tidak menjadi pastor kepala paroki di tempat yang baru. Sehingga saya di Mlati ini tidak menjadi pastor kepala paroki.

  Nah kembali tadi, meskipun saya jadi wakil kepala paroki, tetapi temanya tidak oke ini penderitaan disuatu paroki dan itu jelek, terus terang aja itu jelek untuk pelayanan umat karena umat itu tau Romonya tidak klop umat tau merasa, lalu kita membuat apa ya a saya dekat dengan ini, dia dekat dengan itu sehingga membuat umat bentrok karena diwarnai oleh Romo, ya saya kan kadang cerita ya karena kesel dan muncul di paroki..ini jelek tapi ini muncul..yang sana juga cerita dengan umat lain, akhirnya muncul cerita ini itu ya jeleknya disitu, lalu waktu diparoki tidak kompak sama sekali, ga enak di rumah ke yang lainnya juga. Jadi selama 9 paroki saya mengalami yang ekstrim 1 dan yang ga enak 1, ga enak

  sebab apa dia tidak ngomong, itu ga enak sama sekali makan bareng itu ga enak…itu beban yg berat bagi imam diparoki, ga kompak dengan temannya gaaaa uenak banget. Apalagi kalau jumlahnya sedikit 2 orang gitu…ngeri itu, ngeri…tapi kalau 3 yang ini cerita sama si a yang sini juga sama a, kasihan yang a itu..untung ditempat saya tadi itu yang dewan itu, pastornya kompak jadi masih aman…coba dewan ga kompak sesama teman ga kompak wuih ngeri itu…ya biasa nya tantangan seperti tu diparoki…bagaimana mengajak berpikir bersama, membuat kebijakan bersama, aturan bersama itu tidak mudah…kl tidak cocok harus cocok dulu…

  Ada lagiRomo…tantangan lainnya?

  Ya dengan pimpinan, kalau projo harus taat sama uskup ya, tapi ya kita baik-baik dengan uskup, ya kalau ga cocok ya jalani aja gitu to..tapi kita disini ga pernah berontak, walaupun ga cocok tp kita diem, ada kebijakan yang tidak cocok, tapi ya dijalankan, diem bukan berarti ga ada masalah, hanya saja kita telah janji untuk taat sama uskup waktu ditahbiskan kita har us taat,“ra cocok ya dilakoni, ngerasani, dilakoni tp ga sepenuh hati”…itu ada….

  Dari tantangan itu ada ga pengaruh dengan imamat??

  Ya Cuma dilakoni gitu aja karena ga cocok…imamat itu tidak diukung oleh lainnya…hidup imamat itu kan tumbuh juga karena didukung oleh hidup pribadi, teman-teman oleh pimpinan, itu kan semakin berserah imannya, semakin kuat imannya inilah jalan hidupku aku semakin bahagia itu kan seharusnya begitu….nah tapi dengan tantangan itu akhirnya jadi bosan “kq gt ya” nah kl ga kuat gitu kan akhirnya ditinggalkan ada orang (pastor) yang ga cocok dengan Uskupnya dia keluar itu ada, karena dengan pimpinan ga cocok

  Bagaimana Romo bisa kuat menghadapi permasalahan-permasalahan itu?

  Saya tidak tau mungkin karena banyak orang yang mendoakan…saya yakin mereka mendoakan, umat paroki juga sudah mendoakan imam nya itu yang dipercayai tiap Romo,bahwa umat paroki mendoakan imam atau pastornya dan juga pasti ada yang mendukung tidak semua yang membenci, pasti ada yang mendukung dikuatkan oleh mereka yang medukung Suatu contoh, waktu yang dewan paroki mengundurkan diri, tiba-tiba banyak orang yang datang dan memberikan bantuan kepada gereja untuk membangun gereja…kami heran kq begitu orang-orang itu mundur banyak yang datang membantu…jadi walupun ada masalah pasti ada juga mendukung…mungkin doa itu juga….atau juga pulang kerumah misalnya ada pemberkatan rumah saudara, pernikahan saudara itu juga, menguatkan ya ibaratnya masih ada pengakuan, jadi pasti doa…lalu orang-orang yang mendukung itu, ya saya kira umumnya itu saya sendiri yang mengalamai itu.

  

Berdasarkan pengalaman-pengalamn tersebut dan usia imamat hingga kini,

apa yang Romo dapatakam?

  Saya telah dikuatkan, saya sudah mencapai imamat yang kesekian…apalagi yang

  akhirnya bisa mengatasi…mau cari jalan apa lagi?bukan apa boleh buat?…tapi dari masalah yang bisa diatasi…berarti jalan ini jalan yang harus disempurnakan syukur sampe nanti dipanggil Tuhan, semoga mati tetap menjadi imam ya seperti itu…akhirnya kalau berpikir mau mencari jalan lain, dulu sudah pernah mengalami, kenapa ga dulu aja keluar ya to?kenapa kq sekian lama baru mau keluar…tetapi paling tidak sudah melewati bebarapa tahun ya harus kuat.

  Menuru Romo krisis panggilan itu apa sih Romo?

  Krisis panggilan suatu hal yang biasa terjadi hal inikarena kita kurang memelihara dengan tugasdan kewajiban yang harus dibuat, refleksi prbadi atau harian, perjumpaan dengan teman sharing dengan teman ini kadang-kadang menjadi apa ya kalau itu ga dipelihara krisis itu muncul…jadi kita ga kuat menjalankannya. Kalauuda imamat tahbisan itu harus yakinnn. Misalnya seperti menikah sebelum itu kan ada perisapan sehingga akhirnya yakin memutuskan untuk menikah, jika di tengah jalan ada sesuatu dan tidak diteruskan berarti kan dia tidak memelihara janji yang pernah diucapkan, sama seperti itu panggilan menjadi imam, maka sebenarnya kalau dipelihara dengan baik maka akan selamat…kenapa kq bs jatuh karena ya tidak dipelihara gitu…jadi saya kira masalahnya kurang merawat kurang memelihara, nah memeliharanya dengan macam-macam antaralain, misalnya punya teman untuk sharing, kumpul dengan teman itu karena ada ditempat kami, kalau sendiri kan ga didukung…kalau merasa ga didukung nanti cari pelampiasan ke yang lain, ya nantinya berpengaruh pada pelayanan, misa seadanya,cuma sekedar baca aja…ya semua pastor pasti mengalami hanya besar kecilnya krisis yang dialami…krisis imamat, iman nya penyerahan kepada Tuhan yang menjadi kurang, gitu.

  

LAMPIRAN II :

PEMBAGIAN

NARASI

A. SUBYEK 1 1. Narasi Keseluruhan

  RANGKUMAN Subyek diawal menceritakan pengalaman masa kecilnya.Subyek adalah anak pertama dari 6 bersaudara.Subyek dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga Katolik, meskipun di daerah tempat tinggal subyek, hanya keluarga subyek saja yang beragama Katolik.Sejak kecil oleh kedua orang tuanya subyek diajarkan bagaimana mengimani ajaran Katolik itu. Hal ini yang juga membawa subyek untuk mau terlibat dalam pelayanan- pelayanan di gereja tempat ia tinggal. Pengalaman terlibat dalam pelayanan menggereja, membuat subyek tertarik untuk menjadi seorang pastor, terlebih disaat itu, subyek merasakan bagaimana sulitnya mencari pastor untuk melayani umat di lingkungan sekitar tempat tinggal subyek. Dalam hal pergaulan, subyek merupakan sosok remaja pada umumnya yang tumbuh dan berkembang.Sebagai seorang laki-laki, subyek juga merasakan bagaimana dirinya tertarik dengan lawan jenis.Namun, perasaan-perasaan ini diolah subyek dan subyek memiliki pemikiran bahwa tidak ada teman yang diistimewakan, semua temannya adalah istimewa. Selepas menyelesaikan pendidikan SMA, subyek kembali teringat akan keiinginannya untuk menjadi seorang pastor, oleh karena itu, subyek meminta izin kepada orangtuannya untuk mendaftar ke Seminari. Orang tua subyek pun mengizinkan dirinya untuk menempuh pendidikan di Seminari. Lalu subyek megikuti tes seleksi dan diterima di Seminari Menengah Mertoyudan. Di Seminari Menengah, subyek masuk dalam tingkat Kelas Persiapan Atas. Pengalaman hidup di Seminari Menengah dilalui subyek mengalir begitu saja, tidak ada yang menghambat panggilannya untuk menjadi seorang pastor. Satu tahun subyek di Seminari Menengah dan subyek harus menentukan pilihan selanjutnya untuk memilih komunitas Imam apa. Disaat menentukan pilihan itu subyek merasa bingung, mau memilih SJ atau OMI.Subyek memiliki pemikiran, kalau dia memilih SJ, banyak teman yang hendak kesana apalagi memang diarahkan untuk masuk kesana. Sedangkan OMI, OMI sudah melekat dalam pengalaman hidup subyek sebelumnya ketika di rumah. Akhirnya subyek memilih OMI sebagai pilihannya. Selepas dari Seminari Menengah, subyek meneruskan pendidikan di Seminari Tinggi OMI.Di Seminari Tinggi inilah subyek merasakan tantangan dalam hidup pangilannya.

  Di awal tahun pendidikan di Seminari Tinggi, subyek mulai merasakan keraguan akan keberadaannya memilih OMI. Keraguan ini terjadi karena subyek membandingkan kehidupan yang berbeda antara Seminari Menengah dengan Seminari Tinggi.Ketika di Seminari Menengah, semua sudah terjadwal dan teratur, sedangkan di Seminari Tinggi semua sudah terjadwal namun terkesan bebas.Hal inilah yang mempengaruhi diri subyek, sehingga subyek merasa hidup rohaninya menurun dan menjadi ragu apakah OMI memang menjadi pilihannya.Kondisi ini dibawa subyek untuk disharingkan dengan pembimbing rohani yang kemudian direnungkan subyek. Pada akhirnya subyek dapat melalui keraguan ini.Memasuki tahun ketiga di Seminari Tinggi, subyek merasakan tantangan hidup panggilannya semakin besar. Subyek ingin keluar dari Seminari, hal ini didasari oleh keiinginan subyek untuk membantu kedua orangtuanya, manakala kedua adiknya sudah mulai masuk ke jenjang perguruan tinggi. Subyek merasa sebagai anak pertama, harus ikut membantu dan bertanggungjawab kepada keluarganya, meskipun orangtua subyek tidak pernah secara langsung menyampaikan kepada subyek bahwa ingin dibantu. Namun karena teringat akan keiinginannya menjadi seorang pastor dan bimbingan dengan pembimbing rohani, akhirnya subyek memutuskan untuk meneruskan panggilannya menjadi pastor. Setelah ditahbiskan menjadi pastor, awal kehidupan subyek sebagai pastor masih berjalan dengan baik, sampai suatu saat subyek mendapatkan vonis menderita kanker. Subyek menceritakan awalnya hanya sariawan biasa, namun setelah diperiksa ternyata subyek menderita kanker. Subyek pun menjelaskan proses kemoterapi yang dijalani, bagaimana pengaruh sakit yang dialami dalam menjalankan kehidupannya sebagai seorang Pastor dan menceritakan pula reaksi-reaksi emosional apa kembali mengalamai sakit yang sama untuk kedua kalinya. Pengalaman sakit pertama membuat subyek menjadi pribadi yang lebih siap menerima sakit untuk kedua kalinya, meskipun subyek juga menceritakan bagaimana sakit kedua mempengaruhi kehidupannya.

  Pada akhirnya pengalaman-pengalaman yang dihadapi subyek ini, membuat subyek menjadi pribadi yang dewasa dan kuat dalam menjalankan panggilannya sebagai seorang pastor. PEMBAGIAN CERITA AWAL Subyek diawal menceritakan pengalaman masa kecilnya.Subyek adalah anak pertama dari 6 bersaudara.Subyek dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga Katolik, meskipun di daerah tempat tinggal subyek, hanya keluarga subyek saja yang beragama Katolik.Sejak kecil oleh kedua orang tuanya subyek diajarkan bagaimana mengimani ajaran Katolik itu. Hal ini yang juga membawa subyek untuk mau terlibat dalam pelayanan- pelayanan di gereja tempat ia tinggal.

  “Saya dilahirkan 21 Juli 1962, sebagai anak pertama dari enam bersaudara.Bapak dan ibu berasal dari Klaten, Jawa Tengah.Bapak, ibu tinggal dan bekerja sebagai guru SD di daerah majenang, cilacap, Jawa Barat sejak tahun 1955.Sejak kecil orangtua saya mengajarkan iman katolik. Waktu SD saya satu-satunya siswa yang beragama katolik, namun demikian bapak selalu mengajarkan doa dan menjadikan hari minggu sebagai hari khusus ke gereja. Setiap pagi saya diajarkan untuk doa pagi, kebiasaan ini mungkin terbawa oleh bapak yang lulusan asrama guru di ambarawa.” Pengalaman terlibat dalam pelayanan menggereja, membuat subyek tertarik untuk menjadi seorang pastor, terlebih disaat itu, subyek merasakan bagaimana sulitnya mencari pastor untuk melayani umat di lingkungan sekitar tempat tinggal subyek.

  “Kehidupan menggereja saat itu memang sangat sulit.Paroki saya adalah paroki cilacap, dan saya biasanya gereja di stasi.Misa pun tidak setiap minggu diadakan di stasi. Saya juga aktif ikut misdinar dan sering ikut pastor ke stasi-stasi. Karena kebiasaan itu, saya memiliki kebiasaan untuk doa

  Malaikat Tuhan jam 6 pagi, jam 12 siang, dan jam 6 sore dan doa Rosario di sore hari juga.” “Kalau dibilang sejak SD tidak ya, hanya saya merasa dan kelihatannya dasar-dasar panggilan itu sudah ada di dalam keluarga yang diberikan kepada saya sejak kecil.Dengan diajarkan untuk rutin berdoa dan aktif mengikuti kegiatan gereja seperti misdinar.Kebiasan-kebiasan itu berjalan terus hingga saya duduk di SMP sampai SMA. Saya merasa terpanggil untuk menjadi Pastor saat itu duduk dibangku SMA, kalau tidak salah kelas 1 SMA. Dan saat itu muncul SK menteri tahun 77. SK itu berbunyi kira-kira demikian , bagi para misionaris yang berasal dari luar negara Indonesia diharapkan untuk meninggalkan negara Indonesia, namun jika tetap ingin tinggal di Indonesia, misionaris yang bersangkutan harus mengurus untuk menjadi Warga Negara Indonesia. Karena adanya SK tersebut, banyak misionaris yang kembali ke negara asalnya, sedangkan saat itu paroki dan stasi-stasi di tempat saya dilayani oleh banyak misionaris yang berasal dari luar Indonesia.Otomatis dengan SK tersebut pelayanan di gereja dan stasi-stasi di tempat saya menjadi tidak terpenuhi akibat banyak misionaris yang kembali ke negara asalnya.Melihat keadaan ini, saya mulai bepikir dan merenungkan dalam hati “Stasi-stasi di tempat saya sudah misa hanya sebulan sekali, lalu para misionaris diminta untuk kembali ke negara asalnya, lalu bagaimana gereja dan stasi-stasi disini dapat dilayani? Apa yang bisa saya lakukan sebagai warga gereja?” saat itulah panggilan untuk menjadi Pastor muncul. Apalagi saat itu ada minggu panggilan dan umat mendoakan agar pemuda gereja di tempat saya ada yang terpanggil untuk menjadi Pastor, dengan adanya hal itu semakin terasa panggilan saya untuk menjadi Pastor.Keinginan ini pun saya sampaikan kep ada kedua orangtua saya.” Dalam hal pergaulan, subyek merupakan sosok remaja pada umumnya yang tumbuh dan berkembang.Sebagai seorang laki-laki, subyek juga merasakan bagaimana dirinya tertarik dengan lawan jenis.Namun, perasaan-perasaan ini diolah subyek dan subyek memiliki pemikiran bahwa tidak ada teman yang diistimewakan, semua temannya adalah istimewa.

  “Ya seperti biasanya seorang remaja, mengalami ketertarikan pada lawan jenis.Saya juga pernah merasakan hal itu, tertarik dengan teman lawan jenis.Ada perasaan ingin dekat dengan orang itu, namun saya tidak sampai untuk memiliki atau berpacaran. Saya ingin dekat dengan orang itu, tapi saya juga ingin dekat dengan teman-teman yang lain. Sehingga keinginan dekat dengan orang itu, saya bagikan juga dengan teman-teman yang lain. Kalau jalan-jalan ya bersama teman-teman.Kalau belajar kelompok ya bareng- bareng bersama teman-teman itu juga.Saya memang berusaha untuk tidak terfokus pada satu teman saja.”

  Selepas menyelesaikan pendidikan SMA, subyek kembali teringat akan keiinginannya untuk menjadi seorang pastor, oleh karena itu, subyek meminta izin kepada orangtuannya untuk mendaftar ke Semianri. Orang tua subyek pun mengizinkan dirinya untuk menempuh pendidikan di Seminari. Lalu subyek megikuti tes seleksi dan diterima di Seminari Menengah Mertoyudan.

  Saat itu bapak hanya mengatakan “ya silakan kalau memang itu keinginanmu, bapak ibu mendukung dan mendoakanmu”.

  Di Seminari Menengah, subyek masuk dalam tingkat Kelas Persiapan Atas. Pengalaman hidup di Seminari Menengah dilalui subyek mengalir begitu saja, tidak ada yang menghambat panggilannya untuk menjadi seorang pastor. Satu tahun subyek di Seminari Menengah dan subyek harus menentukan pilihan selanjutnya untuk memilih komunitas Imam apa. Disaat menentukan pilihan itu subyek merasa bingung, mau memilih SJ atau OMI.Subyek memiliki pemikiran, kalau dia memilih SJ, banyak teman yang hendak kesana apalagi memang diarahkan untuk masuk kesana. Sedangkan OMI, OMI sudah melekat dalam pengalaman hidup subyek sebelumnya ketika di rumah. Akhirnya subyek memilih OMI sebagai pilihannya.Selepas dari Seminari Menengah, subyek meneruskan pendidikan di Seminari Tinggi OMI.Di Seminari Tinggi inilah subyek merasakan tantangan dalam hidup pangilannya.

  “Setelah lulus dari bangku SMA, Saya memutuskan dan melanjutkan untuk masuk Seminari Menengah Petrus Canisius Mertoyudan tahun 1982-1983. Saya hanya satu tahun di Semianari Menengah karena saya masuk di KPA (Kelas Persiapan Atas).Kehidupan di Seminari Menengah berjalan mengalir begitu saja, tidak ada yang membuat saya mengalami konflik atau krisis dalam hidup atau panggilan saya.Perjalanan satu tahun yang tidak terasa, hanya saja pada retret untuk menentukan pilihan ada perasaan bingung untuk memilih. Waktu itu saya ingin memilih apakah melanjutkan ke SJ (Serikat Jesus) atau OMI (Oblat Maria Immaculata).Keinginan saya untuk menjadi Imam Misionaris baik OMI maupun SJ keduanya mendukung keinginan saya itu. Memang banyak teman saya yang memilih untuk masuk SJ, sebab dari Seminari banyak yang diarahkan kesitu. Tetapi figur OMI juga melekat dalam diri saya, karena di Paroki asal saya Pastor-pastornya dari OMI dan itu juga yang membuat saya terpanggil menjadi Pastor. Akhirnya saya pun diberikan kesempatan memilih dalam suasana retret. Dalam retret tersebut akhirnya saya memantapkan hati untuk masuk dan melanjutkan ke OMI, karena saya

  telah mengenal OMI mungkin juga semangat OMI sudah tertanam di dalam diri saya .”

  TENGAH Di awal tahun pendidikan di Seminari Tinggi, subyek mulai merasakan keraguan akan keberadaannya memilih OMI. Keraguan ini terjadi karena subyek membandingkan kehidupan yang berbeda antara Seminari Menengah dengan Seminari Tinggi.Ketika di Seminari Menengah, semua sudah terjadwal dan teratur, sedangkan di Seminari Tinggi semua sudah terjadwal namun terkesan bebas. Hal inilah yang mempengaruhi diri subyek, sehingga subyek merasa hidup rohaninya menurun dan menjadi ragu apakah OMI memang menjadi pilihannya.Kondisi ini dibawa subyek untuk disharingkan dengan pembimbing rohani yang kemudian direnungkan subyek.Pada akhirnya subyek dapat melalui keraguan ini.Memasuki tahun ketiga di Seminari Tinggi, subyek merasakan tantangan hidup panggilannya semakin besar. Subyek ingin keluar dari Seminari, hal ini didasari oleh keiinginan subyek untuk membantu kedua orangtuanya, manakala kedua adiknya sudah mulai masuk ke jenjang perguruan tinggi. Subyek merasa sebagai anak pertama, harus ikut membantu dan bertanggungjawab kepada keluarganya, meskipun orangtua subyek tidak pernah secara langsung menyampaikan kepada subyek bahwa ingin dibantu.

  Namun karena teringat akan keiinginannya menjadi seorang pastor dan bimbingan dengan pembimbing rohani, akhirnya subyek memutuskan untuk meneruskan panggilannya menjadi pastor. Setelah ditahbiskan menjadi pastor, awal kehidupan subyek sebagai pastor masih berjalan dengan baik, sampai suatu saat subyek mendapatkan vonis menderita kanker. Subyek menceritakan awalnya hanya sariawan biasa, namun setelah diperiksa ternyata subyek menderita kanker. Subyek pun menjelaskan proses kemoterapi yang dijalani, bagaimana pengaruh sakit yang dialami dalam menjalankan kehidupannya sebagai seorang pastor dan menceritakan pula reaksi-reaksi emosional apa yang dialaminya. Setelah menjalankan rangkaian proses pengobatan, subyek kembali mengalamai sakit yang sama untuk kedua kalinya. Pengalaman sakit pertama membuat subyek menjadi pribadi yang lebih siap menerima sakit untuk kedua kalinya, meskipun subyek juga menceritakan bagaimana sakit kedua mempengaruhi kehidupannya.

  AKHIR Pada akhirnya pengalaman-pengalaman yang dihadapi subyek ini, membuat subyek menjadi pribadi yang dewasa dan kuat dalam menjalankan panggilannya sebagai seorang pastor.

  “Seiring dengan proses kesembuhan saya dan pulihnya kemandirian saya, Saya mulai menyadari ketergantungan psikologis saya. Pergulatan saya yang bermuara pada kesadaran tersebut amat terbantu kesetiaan saya dalam hidup doa dan refleksi. Maka diawali dengan kesadaran akan adanya ketergantungan psikologis itu, saya mulai berjuang untuk keluar dari kelekatan psikologis yang saya alami. Peranan rekan Imam senior- rekan komunitas - yang mau mendengarkan dan pengalaman pribadi- sewaktu SMA bagaimana mengatasi kelekatan- sungguh membantu saya keluar dari ketergantungan psikologis tersebut.”

2. Narasi Sub (Narasi Pengalaman Krisis) a. Pengalaman relasi dengan keluarga

  RANGKUMAN Selain konflik yang terjadi diawal masa pendidikan di Seminari Tinggi, subyek juga menceritakan konflik lainnya yang terjadi juga ketika menempuh pendidikan di Seminari Tinggi.Ketika subyek memasuki tahun ke tiga di Seminari Tinggi, diakui tantangan semakin terasa.Pada masa tersebut, subyek memiliki keinginan untuk keluar dari Seminari Tinggi.Subyek ingin keluar dari Seminari karena subyek ingin sekali membantu kedua orangtuanya. Subyek sebagai anak pertama merasa harus ikut bertanggung jawab dalam keluarganya.Apalagi melihat adik-adik subyek yang saat itu sudah memasuki jenjang pendidikan perguruan tinggi.Keinginan ini merupakan keinginan asli subyek, sebab kedua orang tua subyek tidak pernah mengatakan ingin dibantu oleh subyek.Sama seperti konflik yang terjadi sebelumnya, konflik ini dibawa subyek dalam sharing dengan pembimbing rohani.Hasilnya pun direnungkan subyek dan subyek akhirnya memutuskan untuk tetap berjalan dalam panggilan menjadi pastor.

  PEMBAGIAN CERITA AWAL Subyek menceritakan bahwa pada tahun ketiga di Seminari Tinggi, subyek merasakan tantangan yang dihadapi semakin terasa.

  “Lalu ketika selesai filsafat, tepatnya memasuki tahun ketiga, tantangan semakin teras a”.

  Ada keinginan subyek untuk keluar dari Seminari. Keinginan tersebut didasari pemikiran subyek yang ingin membantu orangtuanya.Apalagi subyek melihat adik-adiknya mulai memasuki pendidikan perguruan tinggi.Hal inilah yang membuat subyek sebagai anak pertama merasa harus ikut bertanggung jawab dalam keluarga. “Saya sebagai anak pertama dari enam bersaudara - keluarga guru SD merasa tergugah untuk ikut meringankan beban orang tua ketika melihat adik-adik saya sudah ada dua orang memasuki Perguruan Tinggi. Sering kali muncul pikiran niat untuk keluar dan bekerja membantu orangtua ”.

  TENGAH Sebenarnya kedua orangtua subyek tidak pernah mengatakan ingin dibantu oleh subyek, tetapi pemikiran ingin pulang dan membantu orangtua selalu muncul dalam pikiran subyek. Bahkan ada keinginan subyek untuk keluar dari Seminari.

  “Memang kedua orangtua saya tidak pernah mengatakan bahwa mereka ingin dibantu oleh saya, hanya saja hal ini terus muncul dan saya rasakan dalam pikiran. Di dalam pikiran selalu muncul dan keingat rumah, bahkan di dalam doa pun pikiran itu muncul. Ya mungkin, karena saya melihat dan merasakan tidak sampai hati perjuangan orang tua seperti itu, ada perasaan prihatin sebagai anak pertama.Sebagai anak pertama saya merasa tidak bisa hanya tinggal diam seperti ini, tergugah hati saya sebagai anak pertama untuk wajib membantu orang tua ”.

  Subyek pun membawa masalah ini untuk disharingkan dengan pembimbing rohani.” “Pikiran tersebut coba kuolah dalam permenungan dan doa serta dibicarakan dengan Pembimbing Rohani ”.

  Sama seperti konflik lainnya, subyek merenungkan hasil sharing dengan pembimbing rohaninya. Dari situ muncul pertanyaan reflektif yang direnungkan subyek. “Setelah melewati pergulatan yang cukup, akhirnya saya sampai kepada kesadaran berupa pertanyaan re fleksif “Apakah ada jaminan, kalau saya keluar pasti akan menyelesaikan masalah yang dihadapai orang tua? Atau malah peristiwa keluarnya saya dari Seminari malah akan menambah beban orang tua?” Proses pengolahan pertanyaan reflektif itu membawa subyek kembali pada motivasi awal. “Proses pengolahan pertanyaan refleksif itu membawa saya kembali kemotivasi dasar dan pengalaman sebelumnya sewaktu saya ingin menjadi seorang Pastor, saya yang tinggal dalam satu stasi dan paroki yang jaraknya 80 km, lalu karena ada SK menteri 77 dimana misionaris diharuskan keluar dari Indonesia atau memilih untuk menjadi WNI, waktu itu saya rajin berdoa, ikut Romo ke stasi-stasi, bahkan waktu itu hanya ada 2 romo, tapi yang satu cuti, juga merasakan keadaan umat tidak ada misa, lalu ada umat yang mendoakan doa panggilan di misa pagi, sehingga ada yang menggetarkan hati saya untuk menjadi imam. Berdasarkan pengalaman juga saya berpikir “kalau tidak ada Romo lalu siapa yang akan melayani umat untuk misa?”Pernah mengalami kesulitan misa, pengalaman itulah yang menguatkan saya untuk menjadi imam ”.

  AKHIR Motivasi awal itulah yang akhirnya menguatkan subyek untuk tetap melanjutkan panggilannya menjadi pastor.

  “Dari motivasi itu juga yang mengarahkan kembali ke jalan atau tujuan saya menjadi imam, sehingga jika ada arah menyimpang dari tujuan itu, saya harus kembali ke tujuan itu

  ”.

b. Pengalaman relasi dengan institusi (Seminari Tinggi)

  RANGKUMAN Subyek menceritakan pengalamannya ketika menempuh pendidikan di Seminari Tinggi.Diawal tahun pendidikan di Seminari Tinggi, subyek mulai merasakan keragu-raguan.Perasaan ragu-ragu yang dialami subyek ini dilihat dari kesadaran subyek yang merasa hidup rohaninya menurun.Subyek pun membandingkan kehidupan ketika di Seminari Menengah dengan Seminari Tinggi yang ternyata berbeda.Perasaan ragu- ragu ini juga membawa subyek merenung dan berpikir apakah subyek salah dalam memilih Seminari Tinggi.Pertanyaan atas permenungan ini akhirnya dibawa subyek untuk berkonsultasi dengan pembimbing rohaninya.Hasil sharing dengan pembimbing rohaninya tersebut digunakan subyek untuk merenung dan memantapkan panggilannya sebagai seorang calon misionaris OMI. PEMBAGIAN CERITA AWAL

  Saat subyek berumur 21 tahun, subyek melanjutkan pendidikan di Seminari Tinggi OMI, masa studi dilakukan di Fakultas Filsafat Teologi Wedabakti.

  “Tahun 1983 saya di Seminari Tinggi kongregasi OMI dan melanjutkan pendidikan di Seminari Tinggi-Fakultas Teologi Weda Bakti, Jogjakarta ”.

  Pada masa awal di Seminari Tinggi, subyek merasa ragu-ragu, karena subyek merasakan hidup rohaninya menurun dibandingkan ketika di Seminari Menengah.

  “jadi masuk di awal belum memiliki pengalaman untuk hidup di masa formasi, saya mulai merasa ragu- ragu. Saya merasakan “kok hidup rohani rasanya turun ya dari se minari menengah?”

  Subyek juga membandingkan antara kehidupan di Seminari Menengah dengan Seminari Tinggi yang ternyata berbeda, hal ini dilihat subyek berdasarkan pendekatan yang digunakan oleh Romo Rektor Seminari Tinggi.

  “Saya melihat kehidupan di Seminari menengah dan disini (Seminari Tinggi) berbeda. Kalau di Seminari menengah semua di atur secara tertib dan disiplin, sedangkan disini tidak, misalnya pulang harus minggu malam, tapi ada yang pulang senin pagi tapi tidak ditegur.Hal ini terjadi karena p endekatan Romo Rektor yang berbeda, beliau berprinsip “ya kalau ada teman-teman yang melanggar nggak pernah ditegur barangsiapa yang

  TENGAH Keraguan yang dirasakan subyek membuat subyek merasa apakah subyek salah memutuskan pilihannya.

  “Lalu melihat kehidupan keteraturan yang berbeda itu membuat saya ragu- ragu, “apakah saya tidak salah pilih?” Subyek pun memberanikan diri untuk sharing dengan pembimbing rohaninya.Dalam sharing tersebut pembimbing rohani memberikan masukan kepada subyek.

  “Keragu-raguan ini akhirnya saya bawa ke pembimbing rohani.

  Pembimbing rohani saat itu mengatakan “kalau kamu memang ada ketidakpuasaan atau kekecewaan dan tetap tidak ingin disitu ya berarti panggilanmu buka n disitu”.

  Hasil sharing dengan pembimbing rohaninya tersebut dibawa subyek dalam permenungan. “Hal ini membawa saya pada permenungan dan dari permenungan itu saya mulai berpikir membawa saya pada kesadaran ini “OMI ini hanya salah satu dari OMI dan jika saya memilih OMI terus berpikir seperti ini berarti hanya emosionalku saja, belum tentu semua OMI seperti yang aku rasakan”.

  Untuk memberikan kekuatan atas persoalan yang dihadapinya subyek pun membawanya dalam doa “Selain itu, masalah ini saya bawa juga dalam doa” AKHIR Permenungan inilah yang membuat subyek tetap yakin jalan panggilannya bersama OMI dan doa subyek pun memunculkan niat dan semangat dalam panggilan subyek. “dan doa ini juga memunculkan niat bahwa “kalau mau memperbaharui kehidupan bersama, jangan menuntut orang lain tetapi mulailah dari diri sendiri, mulailah merubah dari dirimu sendiri” waktu itulah saya mulai berubah dari dalam diri sendiri ”.

c. Pengalaman menderita sakit

  RANGKUMAN Subyek ditahbiskan menjadi pastor pada tanggal 24 Juli 1991, pada usia ke

  29. Setelah subyek menceritakan konflik yang dialami ketika masa pendidikan di Seminari Tinggi, subyek menceritakan pengalamannya ketika menjadi Pastor. Subyek menceritakan pengalamannya ketika harus menderita kanker kelenjar getah bening (Lymphoma Maglinam Non Hogkin).Subyek mengalami kanker tersebut dua kali, pada tahun 1992 dan 1998. Kanker yang pertama terjadi menjelang usia tahbisan ke 1 (tahun 1992). Awalnya subyek hanya merasakan sakit biasa, lalu setelah diperiksa ternyata subyek memiliki benjolan dan hasil diagnosa, benjolan itu adalah kanker. Pengalaman menderita sakit kanker yang pertama ini subyek tidak memiliki keinginan untuk keluar sebagai seorang pastor. Sakit kanker ini, justru memberikan semangat dalam panggilannya meskipun sisi manusiawi subyek sebagai seorang yang menderita sakit kanker tetap tampak. Sakit kanker ini tidak berhenti begitu saja, sekitar tahun 1998 subyek mengalami sakit yang sama untuk kedua kalinya. Akan tetapi subyek merasa lebih siap dalam menerima sakit kanker yang kedua ini, karena sebelumnya subyek telah mengalami sakit kanker pertama dan dibantu dengan pengolahan rohani dalam mempersiapkan menghadapi sakit kanker yang kedua. PEMBAGIAN CERITA AWAL Subyek menceritakan bagaimana awalnya subyek mengetahui bahwa dirinya menderita sakit kanker.

  “Menjelang usia tahbisan ke 1 saya terkena kanker Kelenjar Getah Bening (Lymphoma Maglinam Non Hogkin) stadium II. Waktu itu saya merasa biasa aja dan dapat menjalankan misa seperti biasanya, lalu ada gejala bibir pecah, terus saya ceritakan ke Romo di paroki.Lalu Romo menyuruh saya untuk periksa ke dokter. Dari dokter tersebut saya diminta untuk periksa ke semarang Elisabeth. Saat itu saya berkata kepada suster yang merawat “wah saya masih ada acara suster” Tapi ya bagaimana lagi akhirnya setelah acara itu saya ke semarang dengan surat pengantar dokter langsung bertemu dengan dokter ahli bedah. Lalu dokter

  kelenjar, kedua karena virus, dan yang terakhir karena ada sel-sel kankernya.Untuk itu diambil sampel jaringan dan saya dioprasi. Hasilnya adalah diagnosa yang ketiga itu, tetapi mengingat keadaan saya saat itu, saya masih belum merasa sakit. Waktu itu Romo paroki itu datang terus bertemu dengan direktur Rumah Sakit, memberitahukan efek dari gejala penyakit tersebut

  ”.

  Setelah subyek mengetahui dirinya menderita kanker kelenjar getah bening (Lymphoma Maglinam Non Hogkin) reaksi yang muncul dalam diri subyek adalah tetap bersemangat dalam menjalankan panggilannya.

  “lalu saya pulang ke paroki ya sesampainya disana saya biasa melakukan aktivitas seperti biasanya mimpin misa. Terdorong oleh masa bulan madu dan Idealisme, bahkan saya berniat “ Saya ditahbiskan Imam, maka kalau saya mati tetap seb agai Imam”. Maka saya ingin mempersembahkan waktu hidup saya sebaik mungkin dalam pelayanan Imamat ”.

  TENGAH Memasuki kemoterapi kedua, subyek mengalami perubahan fisik. Perubahan fisik ini mengakibatkan lingkungan sekitarnya mulai tidak mengenali subyek.

  “Namun setelah kemoterapi kedua saya merasakan sakitnya. Orang-orang mulai tidak mengenali karena rambut rontok terus botak ”.

  Subyek pun menceritakan pengalaman kemoterapinya itu “Ketika memasuki kemoterapi ke 2 – dari rangkaian 6 kali kemoterapi- saya mulai merasakan bahwa saya sakit. Rambut kepala rontok sampai tak dikenali oleh teman-teman; Lutut terasa lemah, kalau berdiri hanya bisa bertahan 10 menit dan berjalan 200 meter; mulut luka- sariawan berkepanjangan dan sulit untuk makan; setelah menerima kemoterapi hingga sampai 1 minggu, muntah-muntah sampai kram perut dan sulit tidur hingga 3.30 pagi. Ketika kemoterapi biasanya merasa tersiksa karena maunya muntah perut tidak terisi sampai keluar getah kuning, makan muntah, yang penting makan terus makan meskipun muntah, saat itu, saya dititipkan di stasi, malam tidak bisa tidur hampir seminggu, kalau sudah seperti itu saya hanya mendengarkan lagu, ada luka dibibir kalau makan sakit sampai keluar air mata. Ya waktu itu ada ibu-ibu bagian rumah tangga itu yang memperhatikan makan dan mengatur pola makan saya. Mau makan sulit itu sampe 6 periode bahkan saya mengalmi trauma pada penyembuhan keempat begitu masuk Rumah Sakit, bau alkohol, bau Rumah

  mencium sop berbau kaldu itu ya saya mual lagi, bau bakso saja saya mual, butuh waktu lama untuk bisa makan sop berkaldu lagi ”.

  Hal ini juga mempengaruhi kondisi emosi dan pribadi subyek.

  Secara emosional saya pun labil, bila bertemu orang atau teman dekat

  atau dikunjungi orang, menangis dengan sendirinya dan bila menceritakan pengalaman sakit juga menangis. Dalam situasi yang demikian, saya merasa bahwa saya sungguh-sungguh tak berdaya dan tergantung dari belas kasih orang lai n”.

  Secara kejiwaan saya pun lemah membutuhkan figur seorang ibu yang

  merawat, memperhatikan dan mendengarkan. Saya senantiasa merindukan kehadiran orang yang dengan setia hadir menemani dan mendengarkan saya, merawat dan memperhatikan saya serta memenuhi kebutuhan psikologis saya. Kadang-kadang ingin diperhatikan dengan dikirimi makanan, dengan menceritakan atau mengungkapkan kesedihan, mengirimkan snack, jus, jadi seperti membutuhkan teman yang mampu mengerti, memperhatikan, merawat ya lalu seperti semacan seorang laki- laki yang membutuhkan peranan seorang ibu yang melindungi merawat.Jadi di pastoran saya sendiri ada perasaaan kurang, sepi, dan membutuhkan orang yang bisa mendengarkan cerita.” Selain itu, karena sakit ini subyek juga merasakan adanya hambatan yang terjadi dalam tugas pelayanannya sebagai seorang pastor.

  “Maka misa ke Stasi saya diantar dan waktu memimpin misa, saya hanya membuka dengan tanda salib dan pengantar kemudian duduk. Prodiakon melanjutkan sampai doa umat. Saya mulai lagi ketika persembahan dan saat komuni, saya duduk kembali. Akhirnya doa sesudah komunita dan berkat perutusan

  ”.

  “Bahkan saya belum boleh beraktifitas ke stasi, tapi saya tetap ke stasi lalu dokter berpesan “Romo jaga kesehatan baik-baik jangan dekat-dekat dengan o rang sakit dulu sebab daya tahan Romo masih belum kuat”. Tapi setelah saya di stasi ada umat yang sakit sudah 2 hari umat yang sakit itu tidak makan, tidak berani disuntik juga dan umat disana meminta memberkati air untuk yang sakit, lalu saya meminta air matang diberi garam dan didoakan. Tapi ada ketakutan kalau saya dekati takut tertular dan saya bisa mati, ada pergulatan itu, lalu akhirnya muncul keyakinan oke apapun yang terjadi saya siap menerima, dengan kesadaran apa yang terjadi besok biarlah terjadi, akhirnya saya dekati orang yang sakit itu dan beberapa hari kemudian orang itu sembuh ”.

  Namun, subyek masih memiliki niat dan semangat untuk berjuang yang membantunya menjalankan pengalaman sakit ini dengan baik. Selain itu, dukungan orang-orang sekitar juga memberikan tambahan semangat bagi subyek. Tapi saya paksa untuk makan, ada kehendak untuk sembuh. Kalau kemoterapi itu darah merah dan darah putih drop, kalau porsi ukuran darahnya rendah ya tidak bisa kemoterapi, kalau dalam keadaan drop dipaksakan dokter tidak berani, karena hal itu sama saja dengan membunuh pasien, lalu tahu akan hal seperti itu, saya berusaha untuk menaikan standar ukuran darah untuk kemoterapi. Ya itu semangat dari dalam saya untuk sembuh kuat

  ”.

  “Lalu juga ketika keadaan sakit ada perasaan bahwa saya tidak berguna, tapi toh bukannya umat lari tapi justru perhatian dengan membawa makanan, lalu dari situ saya berpikir bahwa Tuhan tidak pernah pergi, saya tidak ditolak, tidak dijauhkan, ya kembali lagi pada idealisme saya diawal hidup mati tetap jadi imam

  ”.

  Setelah subyek mengalami sakit kanker yang pertama, pada tahun 1998 subyek mengalami sakit kanker untuk kedua kalinya. Namun sebelum subyek mengalami sakit kanker untuk yang kedua kalinya, subyek mendapatkan kesempatan mempersiapkan diri menghadapi sakit tersebut melalui pengolahan rohani (retret). “Saya terkena kanker 2 kali, di tahun 1992 dan tahun 1998. Sebelum terkena kanker kedua tahun 1998, saya ikut kursus pengolahan rohani, semacan persiapan menerima kanker kedua

  ”.

  Subyek menceritakan bagaimana proses pengolahan rohani yang dilakukannya sehingga subyek merasa lebih siap menghadapi sakit kanker untuk yang kedua kalinya. “Karena waktu itu retret agung saya diberi kesempatan untuk membayangkan bagaiman jika saya dalam beberapa waktu ke depan mati.

  Saya saat itu bisa membayangkan keadaan saya dalam keadaan hampir mati dan merasakan situasi tersebut, saya merasakan menderita sendiri, takut, bahkan memohon-mohon untuk diberi kesempatan untuk membereskan segala sesuatu yang belum beres, hingga akhirnya saya merasa dan muncul sikap penyerahan tentang apapun yang terjadi besok saya siap. Retret ini juga membawa saya pada permenungan bahwa kasih Alllah yang tanpa syarat.Saya berpikir “oya disaat saya menderita ada umat yang datang memperhatikan, jadi dalam keadaan sakit pun pengolahan hidup rohani masih, jadi pengalaman sakit itu tidak merasa

  Ketika di rumah sakit pun subyek juga mencoba memaknai pengalaman sakitnya ini dengan sebuah perumpamaan.

  “Saat di Rumah Sakit itu saya juga merenungkan keadaan saya ibarat seperti matahari, kalau pagi indah siang panas sore indah lagi malam bahkan tidak ada, kadang hidup itu indah panas bahkan hilang hampir 12 jam, adakalanya indah adakalanya sepi, ya memang seperti itu pengolahan kehidupan. Kasih Allah tidak berhenti pada figur orang, namun itu bisa dirasakan ketika mendengarkan lagu dan merenung ”.

  AKHIR Subyek mampu menghadapi pengalaman ini, dan tetap setia serta semakin mantap pada panggilannya menjadi seorang pastor.

B. SUBYEK 2 1. Narasi Keseluruhan

  RANGKUMAN Pada cerita awal, subyek menceritakan mengenai pengalaman masa kecilnya.Subyek banyak menceritakan mengenai pengalaman masa kecilnya di dalam keluarga dan lingkungan.Selain itu, subyek juga menceritakan bagaimana pengalaman tersebut mempengaruhi perkembangan dirinya. Sejak kecil subyek hidup dalam keluarga yang kurang harmonis, kedua orang tua subyek bercerai ketika subyek masih dalam kandungan, dan Ayah subyek juga melakukan kawin cerai, sehingga subyek memiliki banyak ibu tiri. Latar belakang agama, awalnya subyek dan keluarga bukan penganut agama Katolik.Kondisi demikian yang akhirnya membuat subyek mengalami konflik sejak masa kecilnya.Subyek menceritakan beberapa konflik masa kecil atau pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan dalam kehidupan masa kecilnya.Pola pengasuhan yang dirasakan oleh subyek pun tidak banyak bersumber dari keluarga intinya, subyek diasuh oleh nenek dan orang-orang yang ada di dalam lingkungan keseharian masa kecilnya.Perjumpaan dengan orang-orang di sekitarnya inilah yang mempertemukan subyek dalam lembar kehidupan yang baru. Subyek bertemu seorang pastor dan mulai merasakan kedekatan perhatian dengan orang-orang Katolik yang ada di lingkungannya.

  Namun, hal ini tidak langsung membuat subyek jatuh hati untuk menjadi seorang Katolik.Hingga pada akhirnya subyek secara perlahan mulai terpanggil untuk menjadi seorang Katolik.Pengalaman sebagai seorang Katolik, ternyata tidak serta merta membuat subyek langsung merasa terpanggil untuk menjadi Pastor.Subyek menceritakan bagaimana awalnya subyek memutuskan diri untuk masuk ke Seminari.Keputusan itu diakui subyek juga bukan karena motivasi yang tinggi, hanya motivasi biasa yang bahkan dikatakan subyek sebagai motivasi yang tidak jelas atau main- main.Keputusan itu juga tidaklah mudah dialami subyek, subyek menceritakan bagaimana tantangan yang dialaminya ketika dirinya hendak memutuskan untuk hidup di Seminari.Setelah subyek diterima dan akhirnya masuk di

  Seminari, subyek pun menjalankan kehidupannya sebagai seorang calon Pastor.Ketika di Seminari Menengah, tantangan dirasakan tidak terlalu berat, namun ketika di Seminari Tinggi, subyek merasakan bagaimana panggilannya ditempa. Pribadi subyek yang terbentuk sebagai seorang yang bebas dan keras membuat subyek merasa tidak kerasan dan kurang puas atas apa yang diterimanya di Seminari Tinggi, hal ini yang membuat subyek memutuskan untuk keluar dari Seminari selama hampir 2 tahun dan akhirnya kembali setelah merasakan kehidupan di luar selama 2 tahun tersebut. Tantangan yang terus dilalui subyek membawanya dalam jalan yang penting, dimana akhirnya subyek dapat ditahbiskan menjadi seorang pastor.

  Pengalaman dan tantangan pada masa pembentukan atau formasi di Seminari ternyata tidak menjauhkan subyek dari usahanya mempertahankan imamat sebagai seorang pastor. Pengalaman sebagai seorang pastor, subyek menceritakan beberapa kisah yang membuat dirinya berusaha mempertahankan imamatnya di tengah tantangan yang dialami.Tantangan terberat subyek adalah pengalaman masa lalu subyek, masa lalu subyek yang dirasakan dan diakuinya kurang mendapatkan kasih sayang dari keluarga, sehingga membuat dirinya belum bisa berdamai dengan keluarganya. Hal ini yang membuat subyek berpikir apakah subyek dengan masa lalu yang kurang baik dapat menjadi seorang pastor yang baik? Pertanyaan ini yang menjadi permenungan terberat subyek. Namun hal ini tidak dibiarkan begitu saja oleh subyek, subyek mencoba untuk perlahan-lahan berdamai dengan masa lalu dan keluarganya, tentunya dengan bimbingan dari orang yang dapat dipercaya oleh subyek. Dalam aktivitas sebagai seorang pastor, subyek juga merasakan bagaimana karya yang dilakukan subyek mendapat tentangan dari pihak lain, bahkan dengan kondisi fisik subyek yang berbeda dengan para pastor lainnya, membuat subyek mendapatkan masukkan dari teman-teman sesama pastor.

  Namun hal ini, dapat dilalui subyek dengan prinsip hidup yang dimilikinya. Sebagai seorang pastor dan dengan tipe pribadi yang bebas, terkadang subyek juga tergoda dengan jalinan relasi dengan lawan jenis (wanita). Hal inilah

  Subyek menceritakan mengenai relasinya dengan lawan jenis (wanita). Subyek merasa awalnya biasa saja, tetapi tanpa disadari ternyata membawa pengertian yang salah dari pihak wanita. Akibatnya mulai terjadi ketergantungan dari pihak wanita kepada subyek. Pengalaman ini dialami tidak hanya sekali, karena subyek merasa kasihan pada awalnya. Tetapi subyek mulai menyadari ketika kondisi seperti ini subyek merasakan bagaimana dirinya dikuasi oleh situasi. Subyek pun mencoba untuk mengambil jarak dan merenungkan apa yang terjadi. Perlahan dalam situasi merenung subyek mengambil sikap untuk mengatasi permasalahan ini dan setiap pengalaman serupa muncul kembali subyek dapat mengatasinya.

  Pengalaman-pengalaman yang telah dilalui subyek, menjadikan subyek lebih dapat menyelesaikan permasalahan hidup panggilannya dengan baik.Diusia panggilan yang ke 23 diakui subyek mulai dapat menguasai diri terlebih dalam permasalahan mengenai hubungannya dengan lawan jenis.

  PEMBAGIAN CERITA AWAL Pada cerita awal, subyek menceritakan mengenai pengalaman masa kecilnya.Subyek banyak menceritakan mengenai pengalaman masa kecilnya di dalam keluarga dan lingkungan.Selain itu, subyek juga menceritakan bagaimana pengalaman tersebut mempengaruhi perkembangan dirinya. Sejak kecil subyek hidup dalam keluarga yang kurang harmonis, kedua orang tua subyek bercerai ketika subyek masih dalam kandungan, dan Ayah subyek juga melakukan kawin cerai, sehingga subyek memiliki banyak ibu tiri. Latar belakang agama, awalnya subyek dan keluarga bukan penganut agama Katolik.Kondisi demikian yang akhirnya membuat subyek mengalami konflik sejak masa kecilnya.

  “Eenngg saya lahir di dusun Berbah Kalasan ke selatan” “Masuk kabupaten sleman, 30 januari 1951,eeee ketika saya masih di dalam kandungan bapak- ibu saya cerai,bukan dari keluarga katolik saya.”

  “nama saya kalau orang jawa ga normal situasi kondisinya lalu apa ya diberi

  sudarwanto, artinya anak yang ditegakan seperti itu, lalu umur setahunan bisa jalan katanya dulu saya sakit panas terus disuntik eee lalu malah ga bisa jalan, kemudian saya diambil bapak saya, diasuh oleh nenek saya. Ibu saya dari desa tapi anak penewu waktu itu, lalu bapak saya ini di pojok benteng itu ya, masih keturunan ningrat, lalu saya diambil bapak saya, kemudian umur 5 tahun saya bisa jalan, lalu memang na ma diganti, kalo di jawa kan…..lalu nama saya menjadi bambang sutrisno hingga sekarang, sehingga maksudnya menjadi anak yang dicintai mendapat kasih sayang yang lebih. Ya lalu saya menjadi anak tunggal, jadi bapak saya itu kawin cerai, jadi saya mengalami beberapa ibu tiri, paling ga 4 ibu tiri, dari ini tidak punya anak selain saya. Ya begini saya dibesarkan dikeluarga yang yaaa tidak harmonislah.Saya mengalami hidup konflik ya sejak kecil.” “Jadi saya TK 2 tahun, SR di Bopkri tapi ya kerap dihukum lalu ya ga sekolah 2 bulan lalu dipindah ke negeri, SMP sebenarnya diterima di depan panti rapih itu, SMP N 1, tapi dulu itu to saya ga mau diantar maunya sendiri, akhirnya dicarikan sekolah dipinggiran sawah di kota gede, jaman dulu masih desa lewat sawah ya walaupun nanti pulang sekolah dolan ke malioboro juga, SMA di de brito. Ini ini ya latarbelakangnya.” Subyek menceritakan beberapa konflik masa kecil atau pengalaman- pengalaman tidak menyenangkan dalam kehidupan masa kecilnya.Pola pengasuhan yang dirasakan oleh subyek pun tidak banyak bersumber dari keluarga intinya, subyek diasuh oleh nenek dan orang-orang yang ada di dalam lingkungan keseharian masa kecilnya.

  “Saya sejak SR ya Sekolah Rakyat sudah pernah mau membunuh ibu saya, ibu tiri saya..hehehe,ya ketahuan bapak saya saya dipukuli. Lalu ada tetangga saya memberikan sesuatu dan dia mengatakan ini dari ibu saya, ibu saya adalah tetangga saya, saya baru bertemu ibu saya itu setelah 17 tahun lamanya. Kalau legenda jawa itu, ibu tiri waaaa ibu tiri itu bisa nggodok waaaa .dengan nenek terlalu disayang, sehingga kalau saya main dengan anak umum itu dimarah, ya nenek ga mau, ya apa ya karena bangsawan itu ya ga boleh main dg anak kampung, tapi ya saya tetap nyemplung got, mandi dsungai dan pasti kena marah. Jadi saya sebetulnya mengalami itu, jadi saya SR itu Sekolah Rakyat mengalami itu ya, saya sudah disingkirkan dikaliurang, waktu itu saya sekolah itu di yogya naik bis didampingi psikiater saya masih ingat itu, saya mesti dipisah dari yang lain, lalu saya dititipkan ke orang lain.karena bapak saya pejabat jadi saya dititipkan orang lain sehingga saya SMP itu, ketika bapak saya menikah dengan ibu saya yang terakhir, lalu tanya ke saya apakah saya (bapak) boleh menikah lagi, lalu saya berkata boleh,lalu begitu menikah langsung ada 2 rumah, lalu saya bilang bapak mau tinggal dimana?kalau mau tinggal diambarukmo, saya tinggal di kemetiran, kalau

  nenek saya dibawa jadi satu keluarga disana, sehingga saya sendiri. Lalu ya jadi anaknya tetangga, ya ini ini ee latarbelakang saya.Memang lalu bapak dan ibu saya yang terakhir itu akhirnya membangun keluarga katolik.” “saya sendiri lebih dibentuk oleh tetangga, saya itu baikan dengan kiri-kanan dengan anak2. Ya dulu malah pernah ada tetangga ya yang anak2nya ga boleh bgaul dengan saya, karena ya saya anak yang ga baik, tapi kan ya ada teman2 yang dekat dan saya tidak pernah sendirian di rumah itu, itu yang keluarganya juga tiri2 lalu ada tetangga di ambarukmo yang dekat yang lalu menganggap saya sebagai keluarganya sendiri. Dan bapak saya setelah bapak saya menjadi katolik ga pernah kasar kepada saya. Dulu memang ketika misalnya nanya siapa yang bilang kalo ibumu itu ibu tiri?saya ga mau jawab woooo itu saya ditempeleng, sampai saya dikencingi apa itu mulut saya, disuruh ngaku, tapi saya ga ngaku waktu itu, 3 SD wktu itu, sehingga saya keluarga itu ga, jkeluarga itu ga.” Perjumpaan dengan orang-orang di sekitarnya inilah yang mempertemukan subyek dalam lembar kehidupan yang baru.Subyek bertemu seorang pastor, awalnya tidak ada ketertarikan dengan ajaran katolik dan tidak langsung membuat subyek jatuh hati untuk menjadi seorang Katolik. Tetapi perjumpaan dan percakapan dengan seorang pastor menggerakan keinginan subyek untuk mengikuti pelajaran agama katolik dan dibaptis. Setelah itu, subyek merasakan kedekatan perhatian dengan orang-orang Katolik yang ada di lingkungannya yang berbeda dari suasana relasi dengan lingkungan sebelumnya.

  “Ya saya dulu semakin benci, kok jadi katolik padahal di agama saya yg lain saat itu sedang aktif. Lalu ada Rm.suto sering datang mengunjungi saya juga, lalu saya bilang kepada Romo. Saya tidak akan menjadi Kristen lo Romo.

  Lalu Romo mengatakan begini, ya ga pa2 kamu ikut agama apa saja, pokoknya ikut Tuhan itu bahagia. Lalu jawaban itu membuat saya terkejut, sebab di ajaran agama saya dulu, yang berbuat baik akan mendapatkan pahala surga, sedangkan yang buruk masuk neraka, neraka itu kan ngeri- ngeri, padahal saya tidak bisa tanpa keburukan. Kalau tidur itu mimpinya takut masuk neraka,maka saya bingung kenapa Rm mengatakan demikian. Lalu diam2 saya mengikuti pelajaran agama katolik, saat itu bapak saya ngajar agama juga.Ya ngikut2 gitu ya lama2 saya SMA dibaptis.Hampir 17 thun saya saat itu dipermandikan ya anatara kelas 1 atau kls 2 SMA.Jadi itu disini kekatolikan saya sudah gede, pelajaran agama saya lama.Ya duluya pokonya dapet kumpulan2gitu. Karena saya cacat ya, saya cacat sejak kecil, kaki saya pincang, karena dulu waktu saya sakit tidak bisa jalan dokter bilang obat yang diberikan itu apa ya kadaluarsa sehingga membuat pertumbuhan

  terlalu dibedakan ya, misalnya mau main pingpong,dibilang nanti ini untuk yang ga cacat dulu, mau bantu ngusung meja dibilang jangan nanti jatuh. Tapi waktu ikut kumpul2an itu waktu pelajaran agama itu, saya ikut, jadi ada pelaajaran agama dimana saya ikut. Ya dulu waktu itu saya hanya takut 2 hal satu tidak dihargai kepincangan saya itu, kedua kalau ditanya ibumu siapa to sebetulnya yg mana?ibumu itu yang mana? Dua hal ini yang cukup mewarnai saya, maka didalam dikomunitas katolik itu, di lingkungan saya merasa welcome, karena hal itu tidak pernah disoalkan. Klo itu kan mesti ditetangga selalu ditanya ibumu yg mana to?ibumu siapa?lalu itu kan semakin membuat saya malu, saya takut kalao jalan nanti diejek-ejek lalu diejek kayak musik gamelan eeeee tek tak tek ya itu dua hal itu. Tapi ya untungnya saya bukan orang yang introvert, saya kasar saya mungkin karena saya anak tunggal, begitu diluar ada ribut ya saya kelahi, apalagi jaman dulu jaman partai saya kebetulan ikut PNI marheans ya lalu ikut beladiri ya pokoknya saya kasar dulu, nghajar apa kalah ga jadi soal yang penting berani. Ini yang bentuk saya, saya bukan orang yang halus, santun, ya itu.Namun dalam gereja saya tidak kelahi2 seperti itu, mungkin ya itu tidak pernah disoalkan, sebetulnya sudah banyak orang yang tau lo ibu saya yang mana itu orang sudah tau, tapi di lingk.Itu tidak pernah, bahkan kaki pincang saya itu.Pokoknya kumpul saya dapat peran nanyi, dekte teks, jaman dulu ga ada alat itu jadi harus didekte teks lagunya, lalu saya jadi seksi dekte karena suara saya keras, suatu ketika justru saya tugas digereja, waktu itu belum baptis itu. Ya saya lakukan meski belum baptis Jaman dulu kan belum ada macem2. akhirnya waktu itu ketua lingkungan apa itu nanya saya dirumah, kamu ga mau tukmembaca digereja?akhirnya saya jujur, saya malu nanti dari bangku harus maju. Ya itu kalo jadi pembaca atau lektor itukan maju nanti kalo diliatin orang kaki saya, saya malu, ya akhirnya ketua lingkungan memahami, tapi yang baca tetap kamu ya, suaramu keras, kan baca tidak pake kaki.” Pengalaman sebagai seorang Katolik, ternyata tidak serta merta membuat subyek langsung merasa terpanggil untuk menjadi pastor. Subyek menceritakan bagaimana awalnya subyek memutuskan diri untuk masuk ke Seminari. Keputusan itu diakui subyek juga bukan karena motivasi yang tinggi, hanya motivasi biasa yang bahkan dikatakan subyek sebagai motivasi yang tidak jelas atau main-main.

  “Ya..ada yang mengatakan motivasi panggilan saya dangkal sekali. Ya mungkin seorang anak yang dibesarkan dengan keluarga seperti ini lalu dalam sini punya apa ya seks maniak dalam tanda kutip dipikiran hanya adaperempuan saja itu sudah saya katakan sejak smp moto wedokan, ya saya senang, lalu teman perempuan saya banyak ya dulu saya pincang gitu, saat SMA”

  “Segala itu ada saudara sepupu saya ngejek saya, itu tahun 1968 itu saya kelas 2 SMA itu saya diejek pasti besok istrimu juga banyak, nanti seperti bapakmu yang punya istri banyak, ya seperti itulah, lalu saya bilang, saya katolik kalo punya istri ya hanya satu, waa itu lalu ditertawakan gitu, lalu saya bilang saya tidak punya istripun berani, saya berani menjadi Romo, lalu dia menanggapi serius Tidak Mungkin kalau kamu bisa, lalu saya Bisa..waa lalu dia taruhan sama saya, kalau saya masuk seminari gajinya dua bulan untuk saya, kalau saya tidak masuk kamar yang dia tempatin dia ambil, saat itu rumah dan tanah sudah diwariskan ke saya oleh nenenk saya, kalau jaman dulu bisa kalau sekarang kan gaya, karena dulu meskipun masih ada bisa langsung diberikan semua ke cucunya, dulu nenek saya takut nanti ada yang minta ini, mininta itu, jadi itu semua diberikan kepada saya,”

  Keputusan itu juga tidaklah mudah dialami subyek, subyek menceritakan bagaimana tantangan yang dialaminya ketika dirinya hendak memutuskan untuk hidup di Seminari, pengalaman ditolak karena kondisi fisik hingga akhirnya merasa mendapat dukungan untuk memantapkan panggilan.

  “lalu akhirnya saya daftarkan diri pokoknya nekat, Romo paroki sudah oke, begtu pula Romo di sma juga, tapi setelah di Seminari ada Romo bilang kowe ra iso,lalu saya tanya kenapa?beliau bilang kowe ra iso, kowe pincang…oooo ya udah saya tidak gimana, ya uda yang jelas saya sudah berjuang, ya ga boleh kata gereja begitu..ya itu lalu suatu ketika Uskup menyuruh saya datang kekeuskupan lalu berkata kamu harus ikut ujian, nanti kalau kamu lulus kamu masuk, tapi harus lulus dulu, ya lalu saya ujian di mertoyudan, nilai saya dulu buruk semua, ya saya sebenarnya sekolah itu ga serius, hanya masuk budaya saja, nilai bahasa saja tidak bagus, lalu ketika masuk mertoyudan bahasa inggris dapet 3 plus, ya tapi kemampuan belajar dinilai tinggi ya IQ juga diatas rata2, lalu ada tes psikologi itu, nilai kepemimpinannya bagus, dilihat dari situ saya diterima, ya itu lalu saya masuk, bukan dengan semangat tinggi, tidak diterima ya sudah, diterima ya masuk begitu aja, ya mulanya hanya seperti itu, hanya karena taruhan, ya kakak saya itu tau bahwa bapak saya itu tidak akan kasih ijin, karena anaknya hanya satu, tapi itu diluar dari sepengetahuan bapak saya, saya buat itu surat pernyataan bahwa saya (menyebutkan nama) umur sanggup membiayai pendiidikan diseminari kesehatan dsb itu, ya itu lalu bapak saya liat itu, ini apa?tanda tangan pak, loh dibicarakan dulu, tanda tangan aja pak, kalau bapak ga mau tanda tangan, saya tanda tangan sendiri, aku hapal, karena sejak masa smp, ada urusan sekolahan saya minta orang lain tulis, lalu saya yang tanda tangan, lalu bapak saya bilang kalau hanya punya anak 1, dulu saya jawabnya buruk itu, yang goblok buat anak bapak to yo masak resikonya saya yang harus tanggung, bapak ibu gawe ra ngukur2 ndisik, garuk2 kepala aja bisa kq, buat anak banyak masak ga bisa, malah saya yang harus ikut nanggung, bapak

  tidak pernah ikhlas, baru saya tau setelah saya tahbisan diakon tahun 1981- 1980 okt baru bapak saya setuju, saya diberitahu tante saya. Ya ini dulu motivasi saya begini.” “Akhirnya saya baca, waktu itu yang misa Kardinal Darmojowono alm ya ini yang akhirnya kemudian menjadikan saya mau menjadi imam nanti.Klo inget Kardinal lah yang dulunya ngasih dispensasi saya masuk seminari, waktu itu ya saya sudah ditolak. Pas ada pemberkatan gedung puskat kota baru itu, ada uskup datang, saya main drama komedi waktu itu. Kemudian saya dipanggil dan ditanya kamu katanya mau jadi imam yak?Tidak boleh kq saya bilang waktu itu.lalu Kardinal hanya bertanya kamu bisa bersepeda?Teman saya yang biasa nyor2 njawab wooo dia biasa ngebut itu dibunderan di bulaksumur, waktu itu ya saya lek2an SMP saja saya nekat itu nyetir mobil.” Setelah subyek diterima dan akhirnya masuk di Seminari, subyek pun menjalankan kehidupannya sebagai seorang calon pastor. Ketika di Seminari Menengah, tantangan dirasakan tidak terlalu berat, Ga kerasa…ga kerasa…ya diasrama itukan…ya saya biasa liar gitu kan,biasa, ya kalau diasrama itukan harus ikut acara jam sekian, lalu ada apa, lalu jam berapa harus tidur siang, susah saya, lalu kalau apa itu, eee remi ketahuan itu dosa, ya saya selalu kena hukuman yang saya tidak tahu menau kalau itu salah, ya remi sanatai jam 9 malam dikelas itu, kan waktu itu ada jam rekreasi sendiri, tapi saya sama teman2 remi dikelaas, jaman dulu ada masih ada pembagian gitu diasrama, yang gede, lalu madya, lalu yang kecil, gt di mertoyudan, kan ga boleh kl ke bagian yang lain, nah saya sering dulu ke bagian anak2yang kecil2, karena dulu saya sering mendampingi anak2kecil dirumah, nah ituuu dosa, lalu jalan itu sentuhan gitu ada aturan regula status namanya, gandengan itu ga boleh, karena ditakutkan aakan adanya persahabatan yang intim gitu ya, tapi ya saya ga mikir itu, saya jalan2 gandengan itu yaa dosa, ya itu akhirnya saya mendapatkan hukuman yang tidak jelas, lalu kalau menipu itu ya pernah gt, kalau ada undangan pesta dirumah teman, ijinnya pulang, padahal ga ada pesta, lalu ketika waktunya harus kembali, ternyata kembalinya ga bareng2 dan akhirnya ketahuan, ya dimertoyudan sebagai seorang remaja ya konfliknya sepertiitu, hal2 yang menurut saya biasa liar ya bebas lalu hidup dengan system. Hanya saja saya suka merasa apa ya, merasa sedih kalau ada teman yang keluar mengundurkan diri dari seminari. Padahal saya liat mereka yang keluar itu pinter2, rajin, tekun, sopan ya dibandingkan dengan saya.Makanya ketika ada yang keluar saya lalu lari ke kapel.Doa dan bertanya kenapa teman saya yg seperti itu bias keluar, sy se ring melakukan pelanggaran tetapi teman saya yang baik seperti itu kenapa keluar? Suatu saat pernah saya tanyakan hal ini kepada salah satu staff, dan staff itu mengtakan bahwa saya memiliki

  “Waktu itu BCA belum ada KPA kl yang dari SMA, kl yg dari SMP itu BCP, di BCA itu 2 th, tapi dulu kl yang nilainya oke oke itu bs 1 th, sy bs 1 th, tp saat itu saya merasa belum siap yak arena rohani saya belum siap, jd saya minta wktu itu ikut yang biasa2 sa ja.” namun ketika di Seminari Tinggi, subyek merasakan bagaimana panggilannya ditempa. Pribadi subyek yang terbentuk sebagai seorang yang bebas dan keras membuat subyek merasa tidak kerasan dan kurang puas atas apa yang diterimanya di Seminari Tinggi, hal ini yang membuat subyek memutuskan untuk keluar dari Seminari selama hampir 2 tahun dan akhirnya kembali setelah merasakan kehidupan di luar selama 2 tahun tersebut. Tantangan yang terus dilalui subyek membawanya dalam jalan yang penting, dimana akhirnya subyek dapat ditahbiskan menjadi seorang pastor.

  “Saya mulai ditingkat satu wktu itu,masuk ya gitu…ya saya memang saya tidak suka dengan suasana disiplin ya begitumisalnya jam malam begitu,saya kan apa ya ga pernah puas begitu,tidak pernah puas dengan bimbingan,kuliah ya kuliah begitu saja,rohani ya renungan meditasi sendiri,semua ada jamnya,sehingga suatu saat saya punya kelompok,kelompok kecil bertiga orang,klo uda malam itu lampu mati,dulu belum ada listrik PLN jd cahaya menggunakan lilin,kami ambil lilin dikapel,lalu pergi kebawah meja lalu kami tutupi dengan kain dan cahaya lilin itu,kami lalu membaca kitab suci,kloketahuan itu pelanggaran lo kl jaman dulu,hehehe…padahal baca kitab suci,heeeehe,ya saya tidak puas dengan yang diberlakukan itu, jd saya tidak pernah puas dengan aturan yang diberlakukan disana itu,lalu dari segi fasilitas saya merasa kurang,ingin nuntut ini,nuntut itu…na ketika tingkat satu itu saya merasa kq hanya seperti ini,hanya itu saja,sehingga saya ingin apa…ingin sakit,sakit pakai opname..biar bebas gt,heheee..kl dimertoyudan duluopname itu gara2sakit mata itu belekan,ya itu diasingkan,jd bebas dari rutinitas,saya juga pengen nah pas kebetulan saya sakit opname,jd sehari- hari jika teman2 kuliah saya hanya melihat mereka berangkat kuliah. Perasaan kurang itu membuat saya terus berpikir,saya tidak bisa hidup jika tidak dari keringat saya sendiri,jadi karena itu saya memiliki alasan kuat untuk mengundurkan diri.Saya ingin hidup dari kerja saya sendiri.lalu saya menghadap dan mengatakan saya keluar,jika selama 2 tahun saya tidak kembali ke seminari,berarti saya tidak terus melanjutkan di seminari. Dah saya keluar, sejak saat itu saya belajar hidup tidak dibantu orang tua, saya kembali ke paroki, sebetulnya saya keluar itu saya mengajar di

  SMA…saya mengajar di SMA itu,lalu bapak saya bertanya kepada saya,”kamu masih mau menjadi pastor ga?” lalu saya menjawab “masih”,lalu bapak saya bilang

  tidak mengajar lagi,karena bapak saya ga boleh,tp saya tetap aktif diparoki,lalu saya ikut training ancounser untuk rekaman2an sandiwara,lalu saya rekaman dan dapat uang,lalu ada pentas diambarukmo, saya ikut pemain gamelannya, ikut aja gt lalu ada salah satu pemain yang kosong,saya ditanya kamu bisa,klo gamelan saya bisa,akhirnya saya main gamelannya. Lalu setelah itu ada wayangnya saya coba main2kan,ada orangbilang bisa main wayang dek,saya jawab bisa padahal waktu itu lakonnya asal2an,saya main fragmen 1 jam, lalu saya dijadikan dalang diberikan jadwal main,ya dalang yang asal2an aja, ya dari situ saya hidup saya ambil honor saya 30% ya sayabisa beli makan, beli kebutuhan sehari-hari, lama-lama saya hidup ya kaya sepeerti itu,tapi dari hidup yg seperti ini lama2 ada yang tidak bisa hilang,saya ingin kembali ke seminari. Padahal dulu saya asal2an,tertahan gitu,lalu karena itu setelah 2 tahun saya daftar lagi ke seminari,masuk lagi..dah ya setelah itu konfliknya itu biasa seperti berani dengan staf. Lalu konflik terbesar saya sadar saya itu adalah sayatidak punya cinta itu,karena saya dengan orang tua tidak bisa mesra, bawasanyasaya konflik dengan teman dan staf itu biasa ya,tapi konflik batin terbesar ya itu saya tidak bisa mesra dengan orang tua, sehingga saya harusnya tidak boleh ikut topper tahun orientasi pastoral itu. Saya lalu mengalami kecelakan,saya tidak ikut ujian dan berharap ada penundaan tingkat setahun, ternyata eeee saya disuruh naik tingkat, ternyata ujian saya dibuat dobel, tingkat 5 dan tingkat 6, ya lulus aduuuuhh..saya berjuang untuk menunda tapi ternyata tidak bisa,ya saya masih tidak bisa mesra dengan orang tua,tapi saya belajar untuk mencintai orang tua karena saya ingin menjadi imam, tapi karena mesra itu ukurannya mesra ya afektif ya, saya tidak ada.sampai sekarang. Dengan bapak saya sekarang suda h meninggal dengan ibu saya…saya ga bisa.lalu pada akhirnya saya mendapatkan bimbingan bahwa cinta itu tidak perlu mesra, cinta itu tidak perlu romantic, cinta itu bisa egosistis,nanti kalau ga cocok nanti ga mau lalu Rm.Mangun mengatakan cinta itu tidak melulu dengan orang tua,kalau tidak tau orang tuanya lalu dicariin itu wayang…ya ga mesti begitu ..ya saya selalu mendapatkan bimbingan itu saya mencoba…ya begitu,dan 2 bulan sebelum sy tahbisan bapak sy meninggal. Dan saya baru tau bahwa selama ini bapak saya tidak pernah setuju saya jadi Pastor,sampai pada tahbisan diakon beliau bilang pada tante saya ya sudah kalau memang itu panggilannya dia,saya rela.Sehingga kalau waktu itu libur saya tinggal dirumah bapak saya tidak mempersoalkan itu. Saya sebelum mau ditahbiskan sempat berkonflik dengan bapak saya, saat itu keluarga saya merancang untuk mengadakanpesta tahbisan saya,tapi saya tidak mau,padahal saya dari keluarga yang cukup mampu,tapi saya tidak mau,karena saya diajarkan bapak saya untuk hidup sederhana, merasakan kesulitan orang lain, saya punya teman2 itu sekolahnya tidak tinggi2..smpe saya itu dulu dibuatkan sepatu khusus,karena kaki saya pincang..tapi saya bisa lulus perguruan tinggi dan ditahbisakan..distu saya tidak sampe hati melihat teman2 saya, nah itu konfik besar dengan keluarga. Sampai bapak saya sebelum meninggal menitipkansurat kepada pembantu saya,isi surat itu

  tindakan yg tidak menyenangkan, bapak saya juga mengatakan bahwa dirinya bangga kepada saya karena telah mampu mengambil jalan hidup seperti ini. Saya konflik dengan keluarga saya samapai berani dengan om tante kakek saya saya katakan sini uangnya saya terima,nanti akan saya bagikan kepada mereka yang membutuhkan,karena apa saya tidak mau menjadi Romo yang mencari uang nantinya.” TENGAH Pengalaman dan tantangan pada masa pembentukan atau formasi di Seminari ternyata tidak menjauhkan subyek dari usahanya mempertahankan imamat sebagai seorang pastor. Pengalaman sebagai seorang pastor, subyek menceritakan beberapa kisah yang membuat dirinya berusaha mempertahankan imamatnya di tengah tantangan yang dialami.Tantangan terberat subyek adalah pengalaman masa lalu subyek, masa lalu subyek yang dirasakan dan diakuinya kurang mendapatkan kasih sayang dari keluarga, sehingga membuat dirinya belum bisa berdamai dengan keluarganya.Hal ini yang membuat subyek berpikir apakah subyek dengan masa lalu yang kurang baik dapat menjadi seorang pastor yang baik? Pertanyaan ini yang menjadi permenungan terberat subyek. Namun hal ini tidak dibiarkan begitu saja oleh subyek, subyek mencoba untuk perlahan-lahan berdamai dengan masa lalu dan keluarganya, tentunya dengan bimbingan dari orang yang dapat dipercaya oleh subyek. Dalam aktivitas sebagai seorang pastor, subyek juga merasakan bagaimana karya yang dilakukan subyek mendapat tentangan dari pihak lain, bahkan dengan kondisi fisik subyek yang berbeda dengan para Pastor lainnya, membuat subyek mendapatkan masukkan dari teman-teman sesama Pastor. Namun hal ini, dapat dilalui subyek dengan prinsip hidup yang dimilikinya. Sebagai seorang pastor dan dengan tipe pribadi yang bebas, terkadang subyek juga tergoda dengan jalinan relasi dengan lawan jenis (wanita). Hal inilah yang juga menjadi pengalaman subyek dalam mempertahankan panggilannya.Subyek menceritakan mengenai relasinya dengan lawan jenis (wanita).Subyek merasa awalnya biasa saja, tetapi tanpa disadari ternyata membawa pengertian yang salah dari pihak wanita.Akibatnya mulai terjadi ketergantungan dari pihak wanita kepada subyek.Pengalaman ini dialami tidak mulai menyadari ketika kondisi seperti ini subyek merasakan bagaimana dirinya dikuasi oleh situasi. Subyek pun mencoba untuk mengambil jarak dan merenungkan apa yang terjadi. Perlahan dalam situasi merenung subyek mengambil sikap untuk mengatasi permasalahan ini dan setiap pengalaman serupa muncul kembali subyek dapat mengatasinya. AKHIR Pengalaman-pengalaman yang telah dilalui subyek, menjadikan subyek lebih dapat menyelesaikan permasalahan hidup panggilannya dengan baik.

  “Konflik bagi saya sudah ada bagian dalam hidup…kalau disuruh positif thingking,kalau ga bisa kenapa harus positif thingking..konflik itu sah dihadapan Y esus, konflik itu sah itulah hidup….kalau hidup searah seimbang itu pasti mandek…nah itulah dinamika orang harus sadar pada dirinya sendiri dulu orang harus sadar biasnya dulu..kalau sudah sadar bisa hadir sebagai prbadi denga n persona…sadar keunikannya sadar akan biasnya, 26 tahun imamat sudah mulai pinter,hehehehe…….ya itu yang bisa saya sharingkan.”

3. Narasi Sub (Narasi Pengalaman Krisis) d. Pengalaman relasi masa lalu dengan keluarga

  RANGKUMAN Konflik terberat dalam hidup subyek adalah hubungan yang kurang harmonis dengan orang tua subyek. Konflik ini bermula dari awal ketika subyek dilahirkan dan dibesarkan. Sejak lahir kedua orang tua subyek bercerai. Diasuh dan dibesarkan kurang mengalamai keharmonisan dalam suasana hangatnya keluarga ini, membuat subyek memiliki pribadi yang tidak memiliki kedekatan emosional dengan kedua orang tuanya. Hal ini yang terus mengganggu subyek dalam menempuh jalan panggilan sebagai seorang Pastor. Di satu sisi subyek melihat bahwa untuk menjadi seorang Pastor harus pernah merasakan kehangatan dalam keluarga, sedangkan di sisi lain hal itu tidak pernah dialami subyek. Pergulatan itu terus membayangi kehidupan subyek. Dengan bimbingan dari para pembimbing dan keinginan yang kuat dari subyek untuk menjadi seorang Pastor, akhirnya perlahan-lahan subyek mencoba untuk berdamai dengan

  PEMBAGIAN CERITA AWAL Konflik terberat dalam hidup subyek adalah hubungan yang kurang harmonis dengan orang tua subyek. Konflik ini bermula dari awal ketika subyek dilahirkan dan dibesarkan. Sejak lahir kedua orang tua subyek bercerai. Diasuh dan dibesarkan kurang mengalamai keharmonisan dalam suasana hangatnya keluarga ini, membuat subyek memiliki pribadi yang tidak memiliki kedekatan emosional dengan kedua orang tuanya.

  “ketika saya masih di dalam kandungan bapak-ibu saya cerai,bukan dari keluarga katolik saya.Oo bukan dari keluarga katolik. Bukan, nama saya kalau orang jawa ga normal situasi kondisinya lalu apa ya diberi nama yang aneh juga lalu nama saya sudarwanti gitu, terussss lalu diganti sudarwanto, artinya anak yang ditegakan seperti itu jalan, kemudian saya diambil bapak saya, diasuh oleh nenek saya. Ibu saya dari desa tapi anak penewu waktu itu, lalu bapak saya ini di pojok benteng itu ya, masih keturunan ningrat, lalu saya diambil bapak saya, kemudian umur 5 tahun saya bisa jalan, lalu memang nama diganti, kalo di jawa kan…..lalu nama saya menjadi bambang sutrisno hingga sekarang, sehingga maksudnya menjadi anak yang dicintai mendapat kasih sayang yang lebih. Ya lalu saya menjadi anak tunggal, jadi bapak saya itu kawin cerai, jadi saya mengalami beberapa ibu tiri, paling ga 4 ibu tiri, dari ini tidak punya anak selain saya. Ya begini saya dibesarkan dikeluarga yang yaaa tidak harmonislah.Saya mengalami hidup konflik ya sejak kecil. Saya sejak SR ya Sekolah Rakyat sudah pernah mau membunuh ibu saya, ibu tiri saya..hehehe,ya ketahuan bapak saya saya dipukuli. Lalu ada tetangga saya memberikan sesuatu dan dia mengatakan ini dari ibu saya, ibu saya adalah tetangga saya, saya baru bertemu ibu saya itu setelah 17 tahun lamanya. Kalau legenda jawa itu, ibu tiri waaaa ibu tiri itu bisa nggodok waaaa”

  “Dulu memang ketika misalnya nanya siapa yang bilang kalo ibumu itu ibu tiri?saya ga mau jawab woooo itu saya ditempeleng, sampai saya dikencingi apa itu mulut saya, disuruh ngaku, tapi saya ga ngaku waktu itu,

3 SD wktu itu, sehingga saya keluarga itu ga, jkeluarga itu ga”

  TENGAH Hal ini yang terus mengganggu subyek dalam menempuh jalan panggilan sebagai seorang Pastor. Di satu sisi subyek melihat bahwa untuk menjadi seorang Pastor harus pernah merasakan kehangatan dalam keluarga, sedangkan di sisi lain hal itu tidak pernah dialami subyek. Pergulatan itu terus membayangi kehidupan subyek.

  “Lalu konflik terbesar saya sadar saya itu adalah sayatidak punya cinta itu,karena saya dengan orang tua tidak bisa mesra, bawasanyasaya konflik dengan teman dan staf itu biasa ya,tapi konflik batin terbesar ya itu saya tidak bisa mesra dengan orang tua, sehingga saya harusnya tidak boleh ikut topper tahun orientasi pastoral itu” “saya berjuang untuk menunda tapi ternyata tidak bisa,ya saya masih tidak bisa mesra dengan orang tua,tapi saya belajar untuk mencintai orang tua karena saya ingin menjadi imam, tapi karena mesra itu ukurannya mesra ya afektif ya, saya tidak ada.sampai sekarang. Dengan bapak saya sekarang suda h meninggal dengan ibu saya…saya ga bisa.lalu pada akhirnya saya mendapatkan bimbingan bahwa cinta itu tidak perlu mesra, cinta itu tidak perlu romantic, cinta itu bisa egosistis,nanti kalau ga cocok nanti ga mau lalu Rm.Mangun mengatakan cinta itu tidak melulu dengan orang tua,kalau tidak tau orang tuanya lalu dicariin itu wayang…ya ga mesti begitu ..ya saya selalu mendapatkan bimbingan itu saya mencoba…ya begitu,dan 2 bulan sebelum sy tahbisan bapak sy meninggal. Dan saya baru tau bahwa selama ini bapak saya tidak pernah setuju saya jadi Pastor,sampai pada tahbisan diakon beliau bilang pada tante saya ya sudah kalau memang itu panggilannya dia,saya rela.Sehingga kalau waktu itu libur saya tinggal dirumah bapak saya tidak mempersoalkan itu.“

  “Ketika mau tahbisan ada rame gitu sehingga saya mesra tidak beres apa itu kerohanian, tidak mesra dengan keluarga selalu konflik tidak disiplin dengan keluarga ya sudah jadi keyakinan itu ya pasti konflik tapi saya bertahan ,meskipun ya saya gelisah tapi saya bertahan yg sampai sekarang menurut saya itu sering muncul dalam mimpi, mimpinya masih dikentungan gt dikentungan studi gitu mimpinya,habis ujian ga bs,atau saya keluar dari Imamat karena tidak layak jd imam itu sering,sering itu saya alami, itu klarena tdk puas banyak ketidakpuasan, sering m,impinya itu gioyah lagi, belum tahbisan heheheh sy merasa ini..” “nti setelah tahbisan itui perkaranya warisan kan sy anak tunggal jd tahun pertama tahbisan saya ngurusin rumah karena banyak saudara mau menempati rumah dikontrakanmereka butuh uang tapi rumah dibiarkan gitu aja lamupu mati, yaaaa…akhirnya rumah saya jual,lalu ibu tiri itu selalu itu anak saya,ada 2 yang katolik sy tidak pernah memaksakan,ya saya mau mengurus mereka kl mereka ada yang sakit diluar itu saya ga mau.secara hukum kan sudah ga ada tanggung jawab lagi karena sudah dicerai, tp mereka selalu mengaku itu anak saya itu anak saya. Lalu kalau secara hirarkis itu na nti larinya konflik dengan temankan saya itu tidak”

  AKHIR Dengan bimbingan dari para pembimbing dan keinginan yang kuat dari subyek untuk menjadi seorang pastor, akhirnya perlahan-lahan subyek mencoba untuk berdamai dengan permasalahan ini.

  “Lalu saya pelan2 oke dengan keluarga” b.

   Pengalaman karya

  RANGKUMAN Setelah subyek ditahbiskan, subyek tidak lepas dari konflik. Salah satu konflik yang dialami subyek ketika menjadi pastor adalah konflik karya.

  Konflik karya ini terjadi karena perbedaan pendapat dengan rekan sesama Pastor dan hambatan subyek secara fisik dimana subyek memiiki penampilan fisik yang berbeda dengan teman-teman pastor lainnya.

  Kemudian hal itu dibawa subyek dalam permenungan dan mencoba memahami kondisi yang dialami, sehingga subyek dapat menemukan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapinya. PEMBAGIAN CERITA AWAL Setelah subyek ditahbiskan, subyek tidak lepas dari konflik. Salah satu konflik yang dialami subyek ketika menjadi pastor adalah konflik karya.

  TENGAH Konflik karya ini terjadi karena perbedaan pendapat dengan rekan sesama pastor dan hambatan subyek secara fisik dimana subyek memiiki penampilan fisik yang berbeda dengan teman-teman pastor lainnya.

  “lalu ketika saya merancang sesuatu,nanti dikatain kok cuman begitu saya kan terbentuk praktis,selalu ada ide yg lain cuma ikut2 nanti pas jadi kok cuma begitu,yang lain hanya berpikir konsepnya tapi tidak bisa dijalankan saya yang praktis2aja dan bisa dijalankan..apalagi kondisi saya yang pincang tidak sepereti yang lainnya,secara liturgis memang ada hambatan, konflik karya misal projo denganSJ karya museum tenaga dari keuskupan karya SJ,jadi rebutan musiografiumum, musiologi menekankan nilai2nya lalu saya banyak kerjaan yang diberikan kepada saya yang belum jelas jaman itukarya inko nvensional karya missioner kemasyarakatan”

  AKHIR Kemudian hal itu dibawa subyek dalam permenungan dan mencoba memahami kondisi yang dialami, sehingga subyek dapat menemukan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapinya.

  “saya hanya ikut Uskup dan melayani umat, tahun 88 kuliah di Manila Sosiologi dan semakin mendalami bahwa small is bea utyfullhehehehe…” “Lalu saya berpikir merenung itu, saya lalu melihat apakah masalah ini frustasi atau derita.Kalau penderitaan ini salib,itu yang dari karya, kalau frust asi itu hanya perasaan beban bukan karena karya.”

c. Pengalaman kebutuhan/ relasi dengan lawan jenis

  RANGKUMAN Selain konflik karya dalam tugasnya menjadi pastor, subyek juga mengalami bagaimana bertemu dengan lawan jenis (wanita). Perjumpaan dengan lawan jenis ini bukan sekedar perjumpaan yang biasa, namun ternyata sang wanita juga punya rasa kagum yang berlebihan terhadap subyek. Awalnya subyek tidak menyadari, namun seiring berjalannya waktu subyek menyadari dan mencoba merenungkan sehingga mampu untuk bertindak keluar dari permasalahan ini. Dengan pengalaman ini subyek pun mulai menjaga sikap, agar tidak terjadi lagi pengalaman serupa.

  Hal ini dilakukan subyek untuk menjaga panggilannya sebagai seorang Pastor.

  PEMBAGIAN CERITA AWAL Selain konflik karya dalam tugasnya menjadi pastor, subyek juga mengalami bagaimana bertemu dengan lawan jenis (wanita). Perjumpaan dengan lawan jenis ini bukan sekedar perjumpaan yang biasa, namun ternyata sang wanita juga punya rasa kagum yang berlebihan terhadap subyek. Awalnya subyek tidak menyadari “Lalu dari karya itu ada ekses krn sering tampil yang mengagumi banyak termasuk perempuan yang terlibat sejak frater itu ada wuaaa ya itu susah, lalu saya berpikir ini derita atau frustasi. Suatu ketika frustasi itu,

  patriaki,sehingga anak itu lebih dekat dengan garis ibu, saya belajar dari itu saya mulai belajar dari situ. Awalnya mulai diajak jajan, lalu ditawarin, mau saya bantu pijetin Romo?,ya gitupelan sekali tidak sadar nanti kalausudah gini saya mulai dikuasai satu sisi ga sampai hati nah inilah frustasi. Sampai kalau dipastoran itu ada yang tunggu saya, saya sengaja untuk ga pulang kepastoran dulu baru sampai dia pulang,ternyata belum pulang, itu konflik tidak hanya sekali tapi lebih, ya awalnya dari kasihan it terus secara tida k sadar”

  TENGAH namun seiring berjalannya waktu subyek menyadari dan mencoba merenungkan sehingga mampu untuk bertindak keluar dari permasalahan ini. “ya itu neng ning nung lama kelamaan sadar saya harus bisa menjaga diri sampai 20 tahun imamat masi h kacau balau soal ini,hihihi…” AKHIR Dengan pengalaman ini subyek pun mulai menjaga sikap, agar tidak terjadi lagi pengalaman serupa. Hal ini dilakukan subyek untuk menjaga panggilannya sebagai seorang pastor. “ya setelah apa itu mulai ambil jarak dari karya lebih banyak hening sebetulnya imamat ke 23 mulai peka ada kekebalan sekssologi”

C. SUBYEK 3 1. Narasi Keseluruhan

  RANGKUMAN Subyek menceritakan mengenai latar belakang kehidupan keluarganya. Subyek seharusnya 6 bersaudara, akan tetapi ketika subyek berada di Seminari Menengah, adiknya meninggal, sehingga subyek kini menjadi anak ke 5.

  Subyek berasal dari keluarga Katolik dan sejak SMP sudah tinggal di kos bersama kakaknya. Subyek berasal dari sebuah desa di daerah Kulonprogo.

  Awal panggilannya diakui tidak begitu jelas, sebab subyek sejak awal belum berpikir untuk menjadi pastor, bahkan informasi mengenai seluk beluk Pastor belum banyak didapatkan. Hanya karena tawaran dan pertanyaan dari seorang Bruder yang juga Kepala Sekolah subyek, akhirnya subyek dipertemukan dengan pastor paroki. Pertemuan inilah subyek mendapatkan informasi mengenai seluk beluk menjadi pastor. Meskipun demikian subyek memang masih belum mengerti panggilannya, hanya saja subyek saat itu merasa senang jika tugas misdinar dan mengenakan jubah. Pada akhirnya subyek pun mencoba untuk mendaftarkan diri dan diterima di Seminari Mertoyudan. Subyek memang merasa motivasi awal untuk menjadi seorang Pastor biasa saja, dan mencoba untuk mensyukuri jika memang panggilan itu ada dalam dirinya.

  Subyek masuk sebagai seorang seminaris (sebutan untuk para siswa di Seminari Menengah).Kehidupan sebagai seorang seminaris dirasakan subyek memiliki tantangan. Sekian banyak tantangan yang dihadapi, subyek menceritakan dua tantangan terbesar yang dialaminya ketika di Seminari Menengah. Tantangan yang dihadapi subyek adalah tentang studi da nasal atau latar belakang kehidupan subyek. Subyek menceritakan bagaimana dirinya mengalami kesulitan dalam hal studi, akan tetapi nilai yang rata-rata tersebut selalu menjadi usaha subyek untuk terus berusaha. Sedangkan latar belakang kehidupan subyek diceritakan bahwa ada perasaan minder, karena subyek yang berasal dari desa bertemu dengan teman-teman yang dari kota. Subyek merasa ada perbedaan fasilitas yang diberikan keluarga masing-masing, membuat subyek merasa minder dengan teman-teman seminaris yang berasal dari kota. Tantangan yang dialami subyek di Seminari Menengah ini tidak menyurutkan panggilan subyek untuk tetap melanjutkan studinya ke Seminari Tinggi. Di Seminari Tinggi, tantangan yang dirasakan subyek juga tidak banyak berbeda ketika di Semniari menengah. Masalah studi tetap dirasakan subyek, sebagai suatu tantangan yang menjadi usaha subyek untuk dapat diperbaiki.Selain itu, relasi subyek dengan teman-teman sepanggilan dan adanya salah satu keluarga yang menggoda untuk mengajak subyek keluar dari panggilannya juga mewarnai perjalanan di Seminari Tinggi. Subyek juga menceritakan bagaimana panggilannya pernah terhambat karena subyek mengalami sakit radang paru-pari.Namun hal ini, dapat disikapi subyek dengan kemampuan dirinya, dukungan teman dan bimbingan dari pembimbing rohani. Langkah subyek untuk menjadi seorang pastor pun semakin jelas. Jika awalnya subyek belum memilki motivasi yang jelas untuk menjadi seorang pastor, perjalanan dan tantangan pada masa formasi (Seminari Menengah dan Seminari Tinggi) menjadikan subyek memiliki keyakinan bahwa menjadi pastor adalah jalan panggilan subyek. Akhirnya subyek pun ditahbiskan menjadi pastor.

  Setelah ditahbiskan subyek pun menjalankan kehidupannya sebagai seorang pastor. Sepanjang perjalanan hidup menjadi seorang pastor, subyek selalu berkarya di Paroki.Hingga saat ini, sudah ada 9 Paroki yang pernah menjadi tempat berkarya subyek. Subyek menceritakan bagaimana karya yang dilakukannya memiliki tantangan berat yang membuatnya terus berusaha untuk mempertahankan panggilannya. Ada 4 tantangan yang dirasakan oleh subyek dalam karyanya di paroki yaitu, relasi dengan lawan jenis (wanita), relasi dengan dewan paroki, relasi dengan sesama rekan pastor, dan relasi dengan pimpinan (Uskup). Relasi dengan lawan jenis (wanita), menurut subyek ini merupakan tantangan yang cukup mengganggu, karena di setiap Paroki pasti ada, apalagi dengan kemajuan teknologi saat ini. Relasi dengan dewan paroki, subyek menceritakan salah satu pengalamannya di sebuah dengan pastornya. Relasi dengan sesama rekan pastor di satu paroki, perbedaan ide, tidak adanya kesepakatan, dan komunikasi yang kurang mempengaruhi pelayanan di paroki tersebut.Begitu pula yang terjadi dengan relasi kepada pimpinan (uskup).Tantangan yang dialami subyek ini, terkadang membuat suasana hidupnya menjadi bosan, dan hanya menjalankan sesuatu begitu saja. Hal ini yang mungkin juga dirasakan oleh para pastor. Subyek mengatakan jika hal ini dibiarkan begitu saja, ada kemungkinan seorang pastor akan mencari pelampiasan rasa bosannya dan keluar dari imamatnya. Tantangan yang begitu berat ini dapat dilalui subyek, namun subyek tidak tau apa yang membuatnya dapat bertahan dalam panggilannya sebagai seorang pastor. Subyek hanya meyakini bahwa masih ada umat yang mendoakan, mendukung, dan membantu dirinya. Menurut subyek hal ini juga yang diyakini para pastor lainnya ketika mengalami krisis dalam hidupnya.

  Di akhir cerita Subyek juga menjelaskan apakah krisis dalam kehidupan pastor itu, berdasarkan dari pengalaman dirinya dan pengalaman dari beberapa rekan pastor lainnya. Apa yang dialami dan dirasakan subyek, kini dalam benaknya tidak memikirkan “apa yang perlu dicari?” Pengalaman hidup yang telah dialami menjadikan subyek semakin kuat dalam panggilan dan semakin ingin menyempurnakan panggilan yang disyukurinya.

  PEMBAGIAN CERITA AWAL Subyek menceritakan mengenai latar belakang kehidupan keluarganya. Subyek seharusnya 6 bersaudara, akan tetapi ketika subyek berada di Seminari Menengah, adiknya meninggal, sehingga subyek kini menjadi anak ke 5. Subyek berasal dari keluarga Katolik dan sejak SMP sudah tinggal di kos bersama kakaknya. Subyek berasal dari sebuah desa di daerah Kulonprogo.

  “Ya nama saya Yulius Sukardi, lahir di sangit Kulon progo, tanggal 18 November 1942, waktu kecil saya SD negeri karena waktu itu ga ada SD Katolik di tempat saya. Setelah tamat SD saya masuk SMP PL boro tahun… eee Agustus 1955, waktu itu saya sudah kost, jadi setelah SD dari SMP saya kost sama kakak saya.”

  “Keluarga saya katolik semua, kami ber 6 (6 bersaudara), eee sebenarnya waktu itu ber 7 tapi adik saya meninggal waktu saya di Seminari Menengah, jadi sekarang saya yang kelima.” Awal panggilannya diakui tidak begitu jelas, sebab subyek sejak awal belum berpikir untuk menjadi pastor, bahkan informasi mengenai seluk beluk pastor belum banyak didapatkan. Hanya karena tawaran dan pertanyaan dari seorang bruder yang juga kepala sekolah subyek, akhirnya subyek dipertemukan dengan pastor paroki. Pertemuan inilah subyek mendapatkan informasi mengenai seluk beluk menjadi pastor.

  “Awalnya tdk terlalu jelas, cuma pada waktu SMP saya kelas 2 SMP saya dipanggil Bruder Kepala sekolah, Bruder bertanya kamu pernah berpikir untuk masuk ke Seminari menjadi pastor ga? Ya lalu saya menjawab ga pernah, karena saya memang ga ada bayangan masuk ke Seminari, terus kelas 3 kembali Bruder bertanya kembali dan saya disuruh matur ke Romo Paroki, lalu saya dipertemukan dengan Romo Paroki dan distu saya bertanya apa itu Pastor? Bagaim ana mejadi Pastor?dsb, tidak terlalu jelas”

  Meskipun demikian subyek memang masih belum mengerti panggilannya, hanya saja subyek saat itu merasa senang jika tugas misdinar dan mengenakan jubah.

  “cuma pada waktu SMP itu saya jadi misdinar itu senang ya pake jubah jalan di gereja waktu itu,” Pada akhirnya subyek pun mencoba untuk mendaftarkan diri dan diterima di Seminari Mertoyudan. Subyek memang merasa motivasi awal untuk menjadi seorang pastor biasa saja, dan mencoba untuk mensyukuri jika memang panggilan itu ada dalam dirinya.

  “ya begitu akhirnya saya daftar dan diterima saya masuk ya sudah saya masuk lama- kelamaan mengolah panggilan itu…ya saya hanya merasa kalau dipanggil ya bersyukur lah, awalnya begitu aja” Subyek masuk sebagai seorang seminaris (sebutan untuk para siswa di Seminari Menengah).Kehidupan sebagai seorang seminaris dirasakan subyek memiliki tantangan.Sekian banyak tantangan yang dihadapi, subyek

  Menengah.Tantangan yang dihadapi subyek adalah tentang studi danasal atau latar belakang kehidupan subyek. Subyek menceritakan bagaimana dirinya mengalami kesulitan dalam hal studi, akan tetapi nilai yang rata-rata tersebut selalu menjadi usaha subyek untuk terus berusaha. Sedangkan latar belakang kehidupan subyek diceritakan bahwa ada perasaan minder, karena subyek yang berasal dari desa bertemu dengan teman-teman yang dari kota. Subyek merasa ada perbedaan fasilitas yang diberikan keluarga masing-masing, meskipun dalam kehidupan di asrama semuanya sama. Hal inilah yang membuat subyek merasa minder dengan teman-teman seminaris yang berasal dari kota. Tantangan yang dialami subyek di Seminari Menengah ini tidak menyurutkan panggilan subyek untuk tetap melanjutkan studinya ke Seminari Tinggi.

  “Selesai tahun 1958 dari situ ikut tes masuk ke Seminari Mertoyudan dan masuk kesana tahun 58. Disana lulusan SMP mengikuti pelajaran persaman dengan mereka yang dari SD, karena waktu itu masih ada anak Seminari yang dari SD. Lalu saya jadi satu kelas dengan teman-teman yang dari SD tadi, disana masih 4 tahun, distu juga masuk persamaan SMA” “Seminari Menengah, perjuangan yang kami alami sebagian besar adalah masalah studi, masalah lainnya tidak begitu terasa, memang masalah studi yang terl ihat sangat berat, sehingga ada “fak (faktor)” yang memang terasa berat, harus ada perjuangan lah istilahnya begitu, dalam pergaulan memang juga sedikit terasa, dalam pergaulan itu ada, saya kan anak ndeso dengan teman-teman yang dari kota, istilah minder itu ada, jadi mereka yang dari ndeso ada perbedaan-perbedaan fasilitas yang diberikan dari keluarga, meskipun tidak mencolok, meskipun kita sama, asrama sama, makan sama semua sama tapi tetap ada yang mencolok perbedaannya, ya karena dari asal nya itu ya. Ya saya kira perjuangannya yang mencolok adalah studi dan asal.” Di Seminari Tinggi, tantangan yang dirasakan subyek juga tidak banyak berbeda ketika di Semniari menengah. Masalah studi tetap dirasakan subyek, sebagai suatu tantangan yang menjadi usaha subyek untuk dapat diperbaiki.

  “Kemudian masuk ke Seminari Tinggi hampir sama masalah studi butuh perjuangan, ya nilai saya dapat dikatakan tidak terlalu jelek tapi juga tidak terlalu bagus, ya butuh perjuangan tapi yang namanya her atau remidial saya

  Selain itu, relasi subyek dengan teman-teman sepanggilan dan adanya salah satu keluarga yang menggoda untuk mengajak subyek keluar dari panggilannya juga mewarnai perjalanan di Seminari Tinggi.

  “Tapi ada juga keluarga yang menggoda, ada salah satu anggota keluarga yang mengoda saya untuk tidak menjadi imam, saya tidak tau itu serius atau hanya lemparan untuk saya agar berpikir, tapi itu yang membuat saya berpikir terus melanjutkan atau keluar. Tapi juga karena teman, ada juga teman yang mengajak “yo metu wae yo dari pada disini,ngapain disini?” Subyek pun memiliki cara sendiri untuk menanggapi situasi ini.

  “tapi kalau keluar itu kan harus bertanggung jawab, meninggalkan panggilan itu kan h arus bertanggung jawab.”

  “Ya mengatasinya kalau di keluarga saya mempertimbangkan, saya bertanya siapa yang mengusulkan itu saya liat alasanya apa, sama teman juga gitu kita bicarakan alasan keluar apa? kita bicara akhirnya ga ketemu suatu alasan yang bisa dipertanggungjawabkan ya akhirnya karena rasa bosan, suasana yang begitu- begitu aja sepi ga ada tantangan ya gitu aja” “Ya gitu….sama saya liat kalau saya masih bisa terus dengan studi saya ya saya terus, memang ada yang karena masalah studi harus ada yang berhenti, ada yang karena masalah keluarga karena dia harus membantu keluarganya dan harus berhenti juga ada, terus ada yg kerja dulu keluar terus kembali lagi juga ada…ya kembali ada ga yang bisa dipertanggungjawabkan dari alasan keluar dari Seminari itu? Biasanya ada pertimbangan dari teman dan pembimbing rohani, iu sangat mempenagaruhi terlebih pembimbing rohani, selain untuk itu juga untuk mengaku dosa, jadi harus ada pembimbing rohani.” Subyek juga menceritakan bagaimana panggilannya pernah terhambat karena subyek mengalami sakit radang paru-paru.Namun hal ini, dapat disikapi subyek dengan kemampuan dirinya, dukungan teman dan bimbingan dari pembimbing rohani.

  “lalu lainnya ada, jadi waktu itu saya dipertengahan di Seminari Tinggi pada tahun orientasi ditempatkan pada pabrik 10 bulan, kami ber 2 orientasi tidak di paroki tapi di suatu lembaga untuk belajar tentang suatu kemasyarakatan nah temanku itu dibidang pertanian, sedangkan saya dibidang buruh, karena buruh saya harus kerja jumat sabtu, bekerja di pabrik seperti buruh itu, temanku bekerja di sawah, nah eeee rupanya saya ga tahan distu karena t4

  tahun oreinatsi itu saya terkena sakit paru-paru, kemudian itu kembali pada akhir tahun studi, tahun terakhir studi saya kena sakit yang sama maka saya kena sakit yang sama 2x sehingga saya ditunda, itu masalah kesehatan yang mengganggu atau menghambat saya. Masa penyembuhan itu membuat saya jenuh, karena disitu dokter selalu mengatakan kamu harus benar-benar sembuh, jadi ada flek di paru-paru itu, benar-benar penderitaan, begitu dan sangat mencolok yang membuat sedikit menghambat panggilan…” Langkah subyek untuk menjadi seorang pastor pun semakin jelas. Jika awalnya subyek belum memilki motivasi yang jelas untuk menjadi seorang pastor, perjalanan dan tantangan pada masa formasi (Seminari Menengah dan Seminari Tinggi) menjadikan subyek memiliki keyakinan bahwa menjadi pastor adalah jalan panggilan subyek. Akhirnya subyek pun ditahbiskan menjadi pastor.

  “Ya akhirnya saya merasa bahwa saya bisa menikmati, artinya gangguan- gangguan itu tidak terlalu menghalangi, kalau Tuhan tidak menghendaki ya pasti akan ada sesuatu, tapi kalau tidak ada ya jalan terus apapun itu. Kalau saya berhenti saya harus bertanggung jawab sebab apa saya keluar, tapi kalau tidak ada alasan kuat ya saya terus, kalau pimpinan itu tidak memberikan peringatan yang mempertimbangkan saya keluar ya saya tidak keluar, ya meskipun pada akhirnya membawa pemikiran ngapain jadi Romo ya itu terus aja berjalan, berjalan sama ada pendampingan gitu aja” “Ya memang untuk sebelum tahbisan itu kita harus retret ya, karena memang harus memutuskan apakah iya atau tidak, ditahbiskan jadi daikon aja kita harus tahu bahwa penentuan selibat itu distu, itu biasanya gitu, itu juga dibantu dengan proses sebelumnya (proses di Seminari)…lalu kalau keluar juga ga hanya karena alasan selibat, meskipun akhirnya nanti kalau keluar ya menikah, tapi juga ada misalnya yang terlanjur akrab dan menik ah…Ya itu dipersiapkan dengan retret…kami waktu itu ber 3 retret, kami lebihh dikuatkan dengan teman, yang 1 bruder, 2 imam kami lebih dikuatkan karena teman tapi memang harus kekuatan pribadi juga, tapi teman saat itu juga nampak.” TENGAH Setelah ditahbiskan subyek pun menjalankan kehidupannya sebagai seorang Pastor.Sepanjang perjalanan hidup menjadi seorang Pastor, subyek selalu berkarya di Paroki. Hingga saat ini, sudah ada 9 Paroki yang pernah menjadi tempat berkarya subyek. Subyek menceritakan bagaimana karya yang untuk mempertahankan panggilannya. Ada 4 tantangan yang dirasakan oleh subyek dalam karyanya di paroki yaitu, relasi dengan lawan jenis (wanita), relasi dengan dewan paroki, relasi dengan sesama rekan pastor, dan relasi dengan pimpinan (Uskup). Relasi dengan lawan jenis (wanita), menurut subyek ini merupakan tantangan yang cukup mengganggu, karena di setiap Paroki pasti ada, apalagi dengan kemajuan teknologi saat ini. Relasi dengan dewan paroki, subyek menceritakan salah satu pengalamannya di sebuah paroki, dimana dewan parokinya tidak memiliki kesepahaman yang sama dengan pastornya. Relasi dengan sesama rekan pastor di satu Paroki, perbedaan ide, tidak adanya kesepakatan, dan komunikasi yang kurang mempengaruhi pelayanan di paroki tersebut. Begitu pula yang terjadi dengan relasi kepada pimpinan (uskup). Tantangan yang dialami subyek ini, terkadang membuat suasana hidupnya menjadi bosan, dan hanya menjalankan sesuatu begitu saja. Hal ini yang mungkin juga dirasakan oleh para pastor. Subyek mengatakan jika hal ini dibiarkan begitu saja, ada kemungkinan seorang Pastor akan mencari pelampiasan rasa bosannya dan keluar dari imamatnya. Tantangan yang begitu berat ini dapat dilalui subyek, namun subyek tidak tau apa yang membuatnya dapat bertahan dalam panggilannya sebagai seorang pastor. Subyek hanya meyakini bahwa masih ada umat yang mendoakan, mendukung, dan membantu dirinya. Menurut subyek hal ini juga yang diyakini para pastor lainnya ketika mengalami krisis dalam hidupnya. AKHIR Di akhir cerita Subyek juga menjelaskan apakah krisis dalam kehidupan pastor itu, berdasarkan dari pengalaman dirinya dan pengalaman dari beberapa rekan pastor lainnya.

  “Krisis panggilan terjadi karena kita kurang memelihara dengan tugas dan kewajiban yang harus dibuat, refleksi prbadi atau harian, perjumpaan dengan teman sharing dengan teman ini kadang-kadang menjadi apa ya kalau itu ga dipelihara krisis itu muncul…jadi kita ga kuat menjalankannya. Kalau uda imamat tahbisan itu harus yakinnn. Misalnya seperti menikah sebelum itu kan ada perisapan sehingga akhirnya yakin memutuskan untuk menikah, jika di

  memelihara janji yang pernah diucapkan, sama seperti itu panggilan menjadi imam, maka sebenarnya kalau dipelihara dengan baik maka akan selamat…kenapa kq bs jatuh karena ya tidak dipelihara gitu…jadi saya kira masalahnya kurang merawat kurang memelihara, nah memeliharanya dengan macam-macam antara lain, misalnya punya teman untuk sharing, kumpul dengan teman itu karena ada ditempat kami, kalau sendiri kan ga didukung…kalau merasa ga didukung nanti cari pelampiasan ke yang lain, ya nantinya berpengaruh pada pelayanan, misa seadanya, cuma sekedar baca aja…ya semua pastor pasti mengalami hanya besar kecilnya krisis yang dialami…krisis imamat, iman nya penyerahan kepada Tuhan yang menjadi kurang, gitu.” Apa yang dialami dan dirasakan subyek, kini dalam benaknya tidak memikirkan “apa yang perlu dicari?” Pengalaman hidup yang telah dialami menjadikan subyek semakin kuat dalam panggilan dan semakin ingin menyempurnakan panggilan yang disyukurinya.

  “Saya telah dikuatkan, saya sudah mencapai imamat yang kesekian…apalagi yang saya cari?? Ya dengan segala perjuangan masalah-masalah yang saya lewatkan akhirnya bisa mengatasi…mau cari jalan apa lagi? bukan apa boleh buat?…tapi dari masalah yang bisa diatasi…berarti jalan ini jalan yang harus disempurnakan syukur sampe nanti dipanggil Tuhan, semoga mati tetap menjadi imam ya seperti itu…akhirnya kalau berpikir mau mencari jalan lain, dulu sudah pernah mengalami, kenapa ga dulu aja keluar ya to? kenapakq sekian lama baru mau kelaur…tetapi paling tidak sudah melewati bebarapa tahun ya harus kuat.”

  Narasi Sub (Narasi Pengalaman Krisis) a. Pengalaman relasi dengan lawan jenis (wanita)

  RANGKUMAN Subyek menceritakan bahwa relasi dengan lawan jenis membawa tantangan yang besar dalam kehidupannya sebagai pastor. Subyek mengakui bahwa pengalaman ini sering dijumpai dan dialami.Relasi pribadi yang dialami subyek ini membuat tidak mudah dihindari, hal ini dikarenakan subyek juga merasa relasi ini baik adanya, sehingga muncul rasa bimbang dalam hati subyek. Kondisi ini membuat subyek bimbang, hingga mengganggu hidup karyanya sebagai pastor.Beratnya tantangan yang dialami, diakui subyek dirinya belum pernah dipindah tugas karena masalah ini.

  PEMBAGIAN CERITA

  Subyek menceritakan bahwa relasi dengan lawan jenis membawa tantangan yang besar dalam kehidupannya sebagai pastor.

  “kalau pergaulan dengan wanita itu rawan..saya selalu mengalami dekat dengan wanita, itu susah juga..saya juga berpikir kenapa kq mereka mau dekat? “ Subyek mengakui bahwa pengalaman ini sering dijumpai dan dialami ….itu saya akui ada dan cukup banyak….

  …setiap paroki itu ada… TENGAH Relasi pribadi yang dialami subyek ini membuat tidak mudah dihindari, hal ini dikarenakan subyek juga merasa relasi ini baik adanya, sehingga muncul rasa bimbang dalam hati subyek. tapi kalau mengalami saya mengalamai dan eeee memang tidak mudah ya untuk menghindar, berusaha menghindar tapi berat juga karena eman- eman punya kenalan baik begini, tapi dihindari gimana… Kondisi ini membuat subyek bimbang, hingga mengganggu hidup karyanya sebagai pastor.

  …disinilah jadi masalah… itu bs mengganggu kehidupan pribadi…kalau kehidupan pribadi terganggu berarti bisa mengganggu ke karya kan ini membuat doa jadi lemah, konsetrasi ga bisa, pelayanan umat jadi kurang karena harus memperhatikan orang itu, belum lagi isu gosip, AKHIR Beratnya tantangan yang dialami, diakui subyek dirinya belum pernah dipindah tugas karena masalah ini. tapi saya belum pernah dipindah karena masalah itu, sepanjang ini saya mengalami masalah-masalah itu, walaupun belum sampai saya dipindah karena kasus itu,

b. Pengalaman relasi dengan dewan paroki

  RANGKUMAN Pengalaman yang dialami selanjutnya adalah relasi bersama mitra kerja paroki, yaitu dewan Paroki. Menurutnya konflik itu terjadi karena perbedaan pendapat dan masalah kebijakan keuangan.Subyek pernah mengalami konflik berat dengan dewan paroki di salah satu paroki tempat subyek berkarya.Pengalaman konflik yang dialami memang tidak diceritakan secara lengkap penyebabnya.Subyek menceritakan mengenai kondisi konflik saat itu. Akhirnya untuk menyelesaikan masalah tersebut subyek dipindah tugaskan ke paroki lain.

  PEMBAGIAN CERITA AWAL Pengalaman yang dialami selanjutnya adalah relasi bersama mitra kerja paroki, yaitu dewan Paroki.Menurutnya konflik itu terjadi karena perbedaan pendapat dan masalah kebijakan keuangan.

  …kemudian kerja sama dengan mitra kerja paroki misal dewan paroki…. itu bisa terjadi dengan dewan pengurus gereja, umumnya karena ide yang tidak cocok, masalah kebijakan-kebijakan keuangan rawan itu dengan dewan, biasa masalah disitu bentrok disitu.

  Subyek pernah mengalami konflik berat dengan dewan paroki di salah satu paroki tempat subyek berkarya.

  …saya pernah mengalami di suatu paroki dengan dewan paroki… …saya pernah mengalami di suatu paroki dengan dewan paroki..nah ini harus hati-hati menurut saya, TENGAH Pengalaman konflik yang dialami memang tidak diceritakan secara lengkap penyebabnya.Subyek menceritakan mengenai kondisi konflik saat itu. karena pada waktu itu semua dewan paroki memgundurkan diri, ini pengalaman paling pahit saya, melalui surat tertulis mereka mengundurkan diri dan dengan dilengkapi alasan dan caci maki terhadap Romo, kemudian ditempelkan dipengumuman gereja dan disebarkan ke

  umat….wah itu paling menyakitkan ini. Mundur dengan tulisan yang menyakitkan itu berat AKHIR Akhirnya untuk menyelesaikan masalah tersebut subyek dipindah tugaskan ke Paroki lain.

  …saya akhirnya pindah ke tempat yang jauh agar tidak membebani… c.

   Pengalaman relasi dengan sesama rekan pastor (dalam 1 paroki)

  RANGKUMAN Subyek menceritakan pengalaman lainnya, yaitu pengalaman relasi dengan rekan sesama pastor dalam satu paroki. Setidaknya dua pengalaman serupa dialami subyek. Pengalaman relasi yang tidak cocok dengan sesama rekan pastor dalam satu paroki, dikatakan sebagai tantangan yang lebih berat dari pengalaman relasi dengan mitra kerja paroki (dewan paroki). Subyek menceritakan pengalamannya ketika awal ditugaskan di sebuah paroki, dimana subyek dipercaya untuk menjadi wakil pastor paroki. Subyek juga menceritakan bagaimana kondisi tersebut mempengaruhi pelayanan umat.

  Permasalahan ini, menurut subyek harus dimulai dari bagaimana mencari kecocokan satu sama lain.

  PEMBAGIAN CERITA AWAL Subyek menceritakan pengalaman lainnya, yaitu pengalaman relasi dengan rekan sesama pastor dalam satu paroki. Setidaknya dua pengalaman serupa dialami subyek. Pengalaman relasi yang tidak cocok dengan sesama rekan pastor dalam satu paroki, dikatakan sebagai tantangan yang lebih berat dari pengalaman relasi dengan mitra kerja paroki (dewan paroki).

  “Itu dengan dewan, mmm lalu dengan rekan (sesama pastor) dengan rekan ini eeee seharusnya kita dalam satu pastoran ini kompak seharusnya. Permasalahan yang paling berat di paroki adalah kalau dia tidak cocok dengan kawan…ini lebih berat dari pada dengan dewan tadi.. selama saya 9 paroki, saya pernah mengalami 1 paroki yang tidak nyaman…eeee 2 lah 2 paroki yang membuat saya tidak nyaman,”

  “ya biasa nya tantangan seperti tu di paroki…bagaimana mengajak berpikir bersama, membuat kebijakan bersama, aturan bersama itu tidak mudah…kl tidak cocok harus cocok dulu…” TENGAH Subyek menceritakan pengalamannya ketika awal ditugaskan di sebuah paroki, dimana subyek diercaya untuk menjadi wakil pastor paroki.

  “dia cari cara sendiri, tidak berkomunikasi, saya waktu itu pastor pembantu, itu awal dulu 3,5 thn dari 1971-1975 an, meskipun saya jadi wakil kepala paroki, tetapi temannya tidak oke ini penderitaan di suatu paroki dan itu jelek” “misalnya satu contoh kita makan pagi, tiba-tiba dia ga ngomong tanpa kita tau sebab apa dia tidak ngomong, itu ga enak sama sekali makan bareng itu ga enak…itu beban yg berat bagi imam di paroki, ga kompak dengan temannya gaaaa uenak banget. Apalagi kalau jumlahnya sedikit 2 orang gitu…ngeri itu, ngeri…tapi kalau 3 yang ini cerita sama si a yang si ni juga sama a, kasihan yang a itu..”

  Subyek juga menceritakan bagaimana kondisi tersebut mempengaruhi pelayanan umat.

  “terus terang aja itu jelek untuk pelayanan umat karena umat itu tau Romo nya tidak klop umat tau merasa, lalu kita membuat apa ya a saya dekat dengan ini, dia dekat dengan itu sehingga membuat umat bentrok karena diwarnai oleh Romo, ya saya kan kadang cerita ya karena kesel dan muncul di paroki..ini jelek tapi ini muncul..yang sana juga cerita dengan umat lain, akhirnya muncul cerita ini itu ya jeleknya disitu, lalu waktu di paroki tidak kompak sama sekali, ga enak di rumah (pastoran paroki) ke yang lainnya juga.” AKHIR Permasalahan ini, menurut subyek harus dimulai dari bagaimana mencari kecocokan satu sama lain.

  “kl tidak cocok harus cocok dulu…” b.

   Pengalaman relasi dengan pimpinan (Uskup).

  RANGKUMAN Subyek juga mengatakan bahwa relasi dengan pimpinan (Uskup) juga memiliki tantangan tersendiri. Penyebabnya sekitar kebijakan pimpinan

  (uskup) yang kadang tidak cocok dengan subyek dan beberapa pastor. Namun karena janji (kaul) ketaatan terhadap uskup membuat subyek dan beberapa pastor menerima saja kebijakan tersebut, meskipun berpengaruh pada pelayanan yang dilakukan dengan sikap biasa atau mengalir begitu saja.

  PEMBAGIAN CERITA AWAL Subyek juga mengatakan bahwa relasi dengan pimpinan (uskup) juga memiliki tantangan tersendiri.

  “Ya dengan pimpinan, kalau projo harus taat sama uskup ya,” TENGAH Penyebabnya sekitar kebijakan pimpinan (uskup) yang kadang tidak cocok dengan subyek dan beberapa pastor.

  “ada kebijakan yang tidak cocok, tapi ya dijalankan, diem bukan berarti ga ada masalah” AKHIR Namun karena janji (kaul) ketaatan terhadap uskup membuat subyek dan beberapa pastor menerima saja kebijakan tersebut, meskipun berpengaruh pada pelayanan yang dilakukan dengan sikap biasa atau mengalir begitu saja.

  “tapi ya kita baik-baik dengan uskup, ya kalau ga cocok ya jalani aja gitu to..tapi kita disini ga pernah berontak, walaupun ga cocok tp kita diem,hanya saja kita telah janji untuk taat sama uskup waktu ditahbiskan kita harus taat, “ra cocok ya dilakoni, ngerasani, dilakoni tp ga sepenuh hati”…itu ada….”

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Akhlak dalam kehidupan berbangsa
0
4
10
Dinamika pengelolaan krisis sumberdaya h
0
8
23
Dinamika pengalaman krisis dalam kehidupan pastor.
0
1
184
peranan guru bk dalam penanganan krisis
0
0
8
Kehidupan dan pengalaman krisis (1)
0
0
1
Manajemen krisis PT. PLN (Persero) Tbk Nusa Tenggara Timur dalam menangani krisis listrik - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
2
19
Manajemen krisis PT. PLN (Persero) Tbk Nusa Tenggara Timur dalam menangani krisis listrik - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
15
Anak-anak tiri ibu pertiwi : ruang waktu garinian dan molekularitas pengalaman dalam Puisi Tak Terkuburkan - USD Repository
0
0
196
Studi deskriptif gambaran pengalaman aborsi pada remaja dalam kasus kehamilan pranikah - USD Repository
0
1
140
Studi deskriptif tentang pengalaman kepemilikan hand phone pada mahasiswa di Yogyakarta - USD Repository
0
1
105
Menggereja dalam masyarakat konsumsi : studi atas pengalaman orang beribadah di Gereja Mal - USD Repository
0
0
186
Betawi tumbuh seperti pohon salak : studi pengalaman akulturasi orang Betawi Condet Balekambang dalam perspektip psikologi - USD Repository
0
0
197
Kinerja karyawan PT. Indotirta Jaya Abadi berdasarkan tingkat pendidikan dan pengalaman kerja - USD Repository
0
2
148
Studi fenomenologi tentang pengalaman kekerasan dalam pacaran pada perempuan - USD Repository
0
3
145
Hubungan antara krisis identitas, afek negatif dan perilaku indisiplin pada siswa SMA Kristen 1 Magelang - USD Repository
0
0
102
Show more