Identifikasi pengetahuan guru fisika tentang siswanya pada 2 SMA di Yogyakarta sebagaimana terungkap melalui aktivitas guru dalam pembelajaran - USD Repository

Gratis

0
0
260
4 months ago
Preview
Full text

  IDENTIFIKASI PENGETAHUAN GURU FISIKA TENTANG SISWANYA PADA 2 SMA DI YOGYAKARTA SEBAGAIMANA TERUNGKAP MELALUI AKTIVITAS GURU DALAM PEMBELAJARAN Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Pendidikan FISIKA Oleh: ALBERTUS WAHYU SUWIDO NIM: 051424024 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

  

i

  IDENTIFIKASI PENGETAHUAN GURU FISIKA TENTANG SISWANYA PADA 2 SMA DI YOGYAKARTA SEBAGAIMANA TERUNGKAP MELALUI AKTIVITAS GURU DALAM PEMBELAJARAN Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

  Program Studi Pendidikan Fisika Oleh : Albetus Wahyu Suwido

  NIM. 051424024

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2010 ii

iii

  

iv

PERSEMBAHAN

  Karya yang sederhana ini kupersembahkan untuk semua orang yang telah hadir dalam hidupku dan mengajariku arti hidup .......

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  

v

  

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak

memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam

kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 30 Juni 2010 Penulis Albertus Wahyu Suwido

  

ABSTRAK

Indentifikasi Pengetahuan Guru Fisika Tentang Siswanya Pada 2 SMA di

YOGYAKARTA sebagaimana Terungkap Melalui Aktivitas Guru dalam

Pembelajaran

  

Albertus Wahyu Suwido

Universitas Sanata Dharma

2010

Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui pengetahuan guru tentang

konteks dan karakteritik siswa; (2) untuk mengetahui pengetahuan guru tentang motivasi

dan keaktifan siswa; (3) untuk mengetahui pengetahuan guru tentang miskonsepsi dan

kemampuan awal siswa; dan (4) untuk mengetahui pengetahuan guru tentang kesulitan

belajar siswa.

  Penelitian dilakukan pada dua Sekolah Menengah Atas Swasta di Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 24 Juli 2009

  • – 11 September 2009 dan 22 Juli 2009
  • – 25 November 2009. Subyek dalam penelitian ini adalah guru fisika dari kedua sekolah

    tersebut dan objek penelitian ini adalah PCK khususnya pengetahuan guru tentang siswa.

    Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dan instrumen pengumpulan data

    terdiri dari video hasil rekaman pada saat pembelajaran, fieldnotes, dan wawancara guru.

  Video hasil rekaman dilihat berulang-ulang dan ditranskrip, lalu dicari hal-hal

yang unik baik yang umum maupun yang khusus dan berkaitan dengan pengetahuan guru

tentang siswa. Dari hal-hal unik yang sama dari kedua guru digabungkan dalam satu tema

atau kategori. Dari setiap peristiwa yang diambil sebagai data mengenai pengetahuan

guru tentang siswa tersebut dibahas dengan didukung oleh hasil wawancara.

  Hasil penelitian guru A adalah: (1) guru mengetahui dan menyadari suasana kelas

yang hidup, selain itu kelas terbagi menjadi dua kelompok, guru mengetahui kemampuan,

serta guru hafal nama siswanya; (2) guru mengetahui dan menyadari motivasi dan

keaktifan siswanya cukup bagus dalam mempelajari fisika; (3) Miskonsepsi yang terjadi

pada siswa dalam penelitian ini tidak terungkap. Guru mengetahui konsep gaya normal,

gaya berat, dan gaya gesek merupakan kemampuan awal yang diperlukan siswanya untuk

mempelajari diagram bebas gaya jika dua benda dihubungkan oleh tali; (4) guru

mengetahui kesulitan siswanya dalam memahami konsep gaya gesek dan diagram bebas

gaya.

  Hasil penelitian guru B adalah: (1) guru mengetahui dan menyadari kemampuan

serta sifat siswa, guru hafal nama siswanya; (2) guru mengetahui dan menyadari motivasi

dan keaktifan siswinya yang rendah dalam mempelajari fisika; (3) Miskonsepsi yang

terjadi pada siswa dalam penelitian ini tidak terungkap. Guru mengetahui konsep

perpaduan gelombang datang dan dan pantul merupakan kemampuan awal yang

diperlukan siswinya untuk mempelajari diagram bebas gaya dan gelombang stasioner

dengan ujung terikat; (4) guru mengetahui kesulitan siswanya dalam menentukan letak

perut dan simpul gelombang stasioner. vi

  

ABSTRACT

Identification of Physics Teachers’ Knowledge about Students in 2 Senior High

Schools in Yogyakarta which is revealed through Their Teaching Activities.

  

Albertus Wahyu Suwido

Sanata Dharma University

2010

The goals of this research are: (1) to discover teachers’ knowledge about students’

context and characteristic; (2) to discover teachers’ knowledge about students’

motivation and liveliness; (3) to discover teachers’ knowledge about students’

misconception and initial knowledge; (4) to discover teachers

  ’knowledge about students’ learning difficulties.

The research was done in 2 private Senior High School in Yogyakarta. The research

was held on July 24

  • – September 11, 2009 and July 22 – November 25, 2009. The

    subjects of research were Physics teachers from those 2 schools and the object of

    research was PCK, especially teachers’ knowledge about students. This research was a

    qualitative descriptive research and the data collection instrument consisted of video

    recordings during learning process, fieldnotes, and teacher interviews.

    Video recording was watched repeatedly and analyzed, then it be sought the unique

    things either general or specific and related to teachers’ knowledge about students.

  

From the similar unique things from both teachers were combined into one theme or

category. From each event which was taken as data on teachers’ knowledge about

students was discussed and supported by results of interviews.

The research results of teacher A were: (1) teacher knew and realized the atmosphere of

a live classroom, other than that the class was divided into two groups, teachers knew

the ability of the students, and te achers memorized their students’ name; (2) teacher

knew and realized the motivation and liveliness of their students was good enough in

learning Physics; (3) Misconception that occurred in students was not revealed in this

research. Teachers knew that the concept of normal force, gravity, and friction was the

initial ability required by the students to learn free diagram of force if two objects were

connected by a rope; (4) teacher knew the students’ difficulties in understanding the

concept of friction and free diagram of force.

  

The research results of teacher B were: (1) teacher knew and realized the ability and

character of the students, and teacher memorized the students’ name; (2) teachers knew

and realized the motivation and liveliness of their students was low in learning Physics;

(3) Misconception that occurred in students was not revealed in this research. Teachers

knew the concept of fusion of incoming waves and reflection was an initial ability

required by the students to learn free diagram of force and stationary wave with the tip

attached; (4) Teacher knew their students difficulty in determining the location of the

stomach and a knot of stationer waves. vii

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis haturkan kepada Bapa di surga atas kekuatan dan

penyertaan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

  

Skripsi ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana

pendidikan di Program Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Matematika dan

  IPA, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

  Dalam penulisan skripsi ini, penulis menyadari ada banyak pihak yang

telah memberi bantuan berupa bimbingan dan dorongan kepada penulis dengan

segenap pikiran, waktu, dan tenaga. Oleh karena itu, dengan ketulusan dan

kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Bapak Drs. T. Sarkim, M.Ed., Ph.D. selaku dosen pembimbing dan dosen penguji, yang dengan segenap pikiran, waktu, dan tenaga memberikan bimbingan dan arahan yang sangat berharga bagi penulis.

  2. Bapak Drs. A. Atmadi, M.Si. selaku dosen penguji atas masukan yang berharga yang telah diberikan.

  3. Romo Dr. Paul Suparno. S.J., M.S.T. selaku dosen penguji atas masukan yang berharga yang telah diberikan.

  4. SMA KOLESE DE BRITO, SMA STELLA DUCE 1 YOGYAKARTA dan Ibu Dra. M. Th. Nanik Ismarjiati serta Bapak Linus Karyanto, S.Pd., M.Si. yang telah memberikan waktu dan kesempatan untuk melakukan penelitian.

viii

  

5. Segenap dosen Universitas Sanata Dharma, khususnya Program Studi

Pendidikan Fisika yang banyak berperan dalam proses belajar penulis di Universitas Sanata Dharma.

  

6. Bapak Sugeng, Mbak Heni, dan Mas Agus atas kerelaan dan kesabaran

dalam memberikan bantuan kepada penulis.

  

7. Keluargaku tercinta: Bapak Agustinus Sugiyo, Ibu C. Sudarmi, mbak

Fransiska Wahyu Sriwinarti, mbak Maria Wahyu Noviyanti, Bang Timbul, keponakku Audi dan Celi, atas cinta dan doa yang tiada batas, kesabaran, perhatian, kesempatan yang diberikan baik material maupun spiritual sehingga skripsi ini dapat selesai.

  

8. Agatha Ferry Wahyu Susanti, terima kasih atas cinta, dukungan, doa,

nasehat, kebersamaan, dan bantuan selama penulisan skripsi.

  

9. Saudara-saudaraku: Simbok, yu Ana, mas Heri, Riyan, Risal, lek Bud,

bulek Rose, Fembri, Penta, David, Bani, Danil, Handono dan Antok, atas dukungan semangat yang diberikan kepada penulis.

  10. Teman-teman Kos gang Alternatif 136 C atas semangat dan kegembiraan yang dihadirkan dalam hari-hari penulis.

  11. Teman-teman seperjuangan P.Fis’05: Cici, Prapti, Eni, Nita Kris, Nita Cicil, Irene, Asih, Melly, Arun, Dinar, Helen, Agus, Nuning, Khoti, Tutik, Nori, Maya, Yossy, Dini, Rita, Era, wega, Mas Wisnu, dan Ika, atas warna-warni yang dihadirkan dalam perjalan panjang di Universitas Sanata Dharma.

ix

  12. Teman-teman seperjuangan dari Lampung: Anton, Arsyad, dan kabib atas warna-warni dihadirkan dalam perjalanan di kota Yogyakarta ini.

  13. Danan, terima kasih atas bantuan pengambilan data selama penelitian.

  14. KMPKS (Keluarga Mahasiswa/i dan Pelajar Katolik Teman-teman Sumatera bagian Selatan) khususnya KMPKS Voice atas penghiburan dan warna-warni yang dihadirkan dalam perjalanan studi penulis.

  15. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah banyak berperan dalam penulisan skripsi ini dan perjalanan studi penulis.

  Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini.

Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran demi penyempurnaan

skripsi ini. Akhirnya, penulis mengharapkan semoga skripsi ini bermanfaat bagi

banyak pihak.

  Penulis Albertus Wahyu Suwido

x

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma :

Nama : Albertus Wahyu Suwido

  Nomor Mahasiswa : 051424024

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan

Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

Identifikasi Pengetahuan Guru Tentang Siswanya pada 2 SMA di Yogyakarta

Sebagaimana terungkap melalui Aktivitas Guru dalam Pembelajaran.

beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan

kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, me-

ngalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data,

mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media

lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun

memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai

penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal : 12 Juni 2010 Yang menyatakan (Agatha Ferry Wahyu Susanti

xi

  

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i

  

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................................ iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................................. v

ABSTRAK ............................................................................................................. vi

ABSTRACT .......................................................................................................... vii

KATA PENGANTAR ......................................................................................... viii

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ................... xi

DAFTAR ISI ......................................................................................................... xii

DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xiiii

  

BAB I. PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

A. Latar Belakang ............................................................................................... 1 B. Landasan teori ................................................................................................ 4

  1. Pedagogical Content Knowledge ............................................................... 4

  2. Pengetahuan Guru Tentang Siswa ........................................................... 13

  3. Pengakategorian Pengetahuan Guru tentang Siswa ................................. 25

  C. Perumusan Masalah ..................................................................................... 26

  D. Tujuan Penelitian ......................................................................................... 26

  E. Manfaat Penelitian ....................................................................................... 27

xii

  

BAB II. METODE PENELITIAN ........................................................................ 28

A. Jenis Penelitian ............................................................................................ 28 B. Subyek Penelitian ........................................................................................ 29 C. Waktu dan Pelaksanaan ............................................................................... 29 D. Instrumen Pengumpulan Data ..................................................................... 29 E. Metode Pengumpulan Data .......................................................................... 34 F. Metode Analisis Data ................................................................................... 34

BAB III. DATA, ANALISIS, DAN PEMBAHASAN ......................................... 37

A. Data .............................................................................................................. 37

  1. Deskripsi Penelitian ................................................................................. 37

  2. Hasil Penelitian ........................................................................................ 39

  B. Analisis dan Pembahasan ............................................................................ 43

  1. Topik Data ............................................................................................... 44

  2. Kategori Data ........................................................................................... 44

  3. Analisis .................................................................................................... 45

  4. Pembahasan ........................................................................................... 101

  

BAB IV. PENUTUP ........................................................................................... 134

A. Kesimpulan ................................................................................................ 134 B. Saran-saran ................................................................................................ 136 C. Keterbatasan Penelitian ............................................................................. 138 D. Catatan ....................................................................................................... 138

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 139

xiii

  

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Fieldnotes Guru A .......................................................................... 141

Lampiran 2. Fieldnotes Guru B ........................................................................... 143

Lampiran 3. Transkrip Data Guru A ................................................................... 146

Lampiran 4. Transkrip Data Guru B ................................................................... 168

Lampiran 5. Data Wawancara Guru A ................................................................ 186

Lampiran 6. Data Wawancara Guru B ................................................................ 196

Lampiran 7. Topik Data Guru A ......................................................................... 215

Lampiran 8. Topik Data Guru B ......................................................................... 231

Lampiran 9. Surat Ijin Penelitian ........................................................................ 241

xiv

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bangsa yang maju adalah bangsa yang pendidikanya unggul, mutu

  pendidikan yang unggul dapat mengatasi perkembangan zaman globalisai dan dapat bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Berbicara mutu pendidikan tentunya tidak terlepas dari berbagai aspek yang mempengaruhi di antaranya ialah guru, siswa, kurikulum, buku pelajaran, sarana pembelajaran, metodologi pembelajaran peraturan perundangan maupun berbagai input serta kondisi proses lainnya (Vitalis, 2004:1). Untuk meningkatkan kualitas tenaga pengajar yang professional dan memiliki kompetensi di bidang ilmu dan pedagogis, pemerintah telah memulai proses sertifikasi tenaga pendidik lewat pendidikan profesi (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No 18, 2007). Dalam kebijakan ini, secara tegas dipaparkan bahwa kualifikasi akademis dan pedagogis merupakan komponen utama dalam pendidikan nasional. Guru yang profesional harus memiliki dua keahlian, yaitu keahlian yang berkaitan dengan materi pembelajaran sesuai bidang studi (matapelajaran) yang diampunya (content knowledge) dan keahlian yang berkaitan dengan bidang keguruan (pedagogy knowledge) (Kartika Budi, 2005). Guru harus menguasai materi sesuai bidang studi yang diampunya, terampil dalam memilih metode pembelajaran yang tepat dan mempunyai pemahaman serta kemampuan untuk memadukan pengetahuan materi, kurikulum belajar, pengajaran dan siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Shulman (1986) menunjukkan adanya suatu pengetahuan yang secara esensial sangat berperan menentukan tindakan guru di dalam pembelajaran. Pengetahuan tersebut dikenal sebagai Pedagogical Content Knowledge (PCK) .

  Shulman merumuskan Pedagogical Content Knowledge (PCK) sebagai perpaduan dari pengetahuan tentang mata pelajaran dengan pengetahuan pedagogis yang memungkinkan guru menyajikan suatu topic pelajaran secara terorganisir dengan tujuan pembelajaran, tingkat perkembangan murid dan situasi tempat pembelajaran berlangsung (Shulman, 1986, dalam Sarkim, 2005).

  Pedagogical Content Knowledge (PCK) mencakup pengetahuan pengetahuan akan bahan ajar tapi juga merangkum pengetahuan pedagogis untuk membelajarkan materi/bahan ajar tersebut. Menurut Shulman (1986) PCK dikelompokkan dalam tiga kategori: 1. Pengetahuan tentang kurikulum 2. Pengetahuan tentang strategi pembelajaran 3. Pengetahuan tentang para siswa.

  Penelitian ini merupakan penelitian bersama dengan dosen, sehingga aspek-aspek yang membanguan PCK di bagi dalam penelitian ini. Peneliti tertarik untuk menggali aspek PCK tentang pengetahuan para siswa.

  Pengetahuan tentang para siswa membantu guru untuk memutuskan tindakan-tindakan mana yang sesuai diterapkan dalam kelas. Untuk membuat keputusan yang baik, guru harus waspada pada banyak hal yang menjadi pengembangan pembelajaran bagi murid dalam konteks pertumbuhan pikiran , variasi cara belajar, pengaruh bahasa dan budaya, watak individu, hobi dan . pendekatan belajar (Forrest 2008) Pengetahuan tentang pemahaman siswa bukan hanya pemahaman siswa terdahulu tapi juga pengetahuan siswa secara umum, termasuk latar belakang budaya mereka. Guru harus memiliki pengetahuan mengenai karakteristik- karakteristik tertentu dari para siswanya dan melakukan pendekatan- pedekatan baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Aspek-aspek karateristik siswa bisa berupa bakat, minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar, kemapuan berpikir, dan kemampuan awal (hasil belajar) yang telah dimilikinya. Karakteristik siswa akan sangat mempengaruhi dalam pemilihan strategi pembelajaran yang guru terapkan . Dengan memahami siswa, pembelajaran fisika akan sungguh mengena pada siswa dan menyenangkan siswa. Semakin banyak guru memahami setiap siswa, akan semakin kaya pengetahuan yang guru miliki sehingga guru akan dapat membantu pembelajaran secara lebih kotekstual, sesuai dengan karakter siswa.

  Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui apakah guru menggunakan metode kasus berbasis video. Sehingga peneliti mengambil judul: Identifikasi Pengetahuan Guru Fisika tentang Siswanya pada 2 SMA di Yogyakarta Sebagaimana Terungkap melalui Aktivitas Guru dalam Pembelajaran.

B. LANDASAN TEORI 1. Pedagogical Content Knowledge

   Sebagai sebuah Konsep dari pengetahuan isi pedagogis (PCK) pada awalnya diperkenalkan oleh Lee Shulman dalam 1986 di dalam artikelnya yang berjudul: “Those Who Understand: Growth of Knowledge in Teaching” (Mereka Yang Memahami: Pertumbuhan Pengetahuan dalam Pengajaran) (Shulman, 1986). Di dalam artikel tersebut, ia menulis:

   Jenis kedua dari pengetahuan isi adalah pengetahuan bersifat pendidikan, yang melampaui pengetahuan tentang pokok bahasan dalam dirinya menuju dimensi pengetahuan pokok untuk pengajaran (cetak miring sesuai aslinya). Saya masih berbicara tentang pengetahuan isi di sini, tetapi dari wujud khusus dari pengetahuan isi yang membubuhkan aspek-aspek isi

  Shulman, 1986: paling erat hubungannya dengan kemampuan mengajar. ( 9 , seperti dikutip dalam Sarkim, 2005) Dari kutipan artikel di atas Shulman membedakan pengetahuan isi untuk pengajaran, yang ia sebut pengetahuan isi bersifat pendidikan, dari pengetahuan isi yang ada di dalam dirinya. Pengetahuan isi ini termasuk pengetahuan tentang fakta-fakta, konsep-konsep dan struktur sintaktis dan pada cara di mana konsep-konsep dan prinsip-prinsip dasar dari disiplin ilmu itu diorganisir. Struktur sintaktik dari suatu disiplin ilmu adalah himpunan dari cara dimana pertimbangan, validasi, atau penetapan ditetapkan (Schwab, 1964; Grossman, 1987, dalam Sarkim, 2005).

  Sementara itu, pengetahuan isi untuk mengajar, menurut Shulman, adalah pengetahuan yang berwujud aspek dari isi paling berhubungan erat kepada sifat fleksibelnya untuk digunakan dalam mengajar. Menurutnya pengetahuan ini termasuk: topik-topik yang paling sering diajarkan di dalam area materi pokok, bentuk-bentuk paling bermanfaat dari berbagai representasi, analogi- analogi yang paling kuat, dan penjelasan-penjelasan formal. Termasuk juga disini pemahaman tentang apa yang membuat pembelajaran topik-topik spesifik menjadi sulit ataupun mudah.

  Setiap studi atau subyek pada prinsipnya mempunyai dua aspek: yang satu untuk ilmuwan sebagai seorang ilmuwan; yang lain untuk guru sebagai seorang guru. Dua aspek ini tidak dalam pengertian saling menentang ataupun berlawanan. Tetapi tidak juga dengan seketika menjadi serupa (Dewey, 1902, dalam Sarkim, 2005).

  Menurut Dewey (1902, dalam Sarkim, 2005), Bagi seorang ilmuwan ilmu pengetahuan lebih dipandang sebagai sebuah kebenaran dalam kerangka memahami fakta-fakta, merumuskan permasalahan baru, memadu penelitian dan mendapatkan pengetahuan baru. Bagi guru permasalahanya berbeda, guru tidak menaruh perhatian terhadap penambahan pengetahuan baru tentang ilmu, juga perhatiannya bukan pada merumuskan permasalahan baru dan melakukan penelitian terhadapnya. Akan tetapi, guru menaruh perhatian pada merepresentasikan pengetahuan yang dipahaminya kepada para muridnya, agar supaya dapat dipelajari dan dimengerti oleh para murid sesuai dengan tingkat perkembangan psikologisnya dan dalam konteks pembelajaran yang ada.

  Menurut Deng, ide-ide utama dalam ilmu fisika sekolah menengah mewakili struktur psikologis dari pokok materi, sedangkan ide-ide utama di dalam disiplin ilmu fisika mewakili struktur formal logis (Deng, 2001, dalam Sarkim, 2005). Deng (2001) membedakan antara pengetahuan isi/materi dengan pengetahuan pedagogis.

  Treagust dan Harrison, dalam Sarkim, 2005, membedakan antara pengetahuan isi/materi dengan pengetahuan pedagogis melalui model-model penjelasan. Treagust dan Harrison (1999) membagi penjelasan ke dalam tiga kategori: penjelasan-penjelasan ilmiah, penjelasan-penjelasan pedagogis efektif, dan penjelasan-penjelasan sehari-hari.

  Penjelasan-penjelasan ilmiah, menurut Treagust dan Harrison, dikenali lewat tiga fitur utama: nomologikal deduktif, statistik deduktif, dan statistik induktif. Penjelasan-penjelasan nomologikal deduktif termasuk penalaran masuk akal serta deduktif, dan dibatasi oleh peraturan umum. Penjelasan deductive-statistical menggunakan penalaran deduktif di dalam situasi-situasi yang memungkinkan. Di dalam penjelasan-penjelasan ini, interpretasi tidak diambil dari data, justru data ditafsirkan di dalam langkah-langkah logis dan masuk akal untuk menghasilkan pengetahuan yang paling sesuai. Penjelasan- penjelasan statistik induktif berasal dari generalisasi data.

  Sementara itu, penjelasan-penjelasan pedagogis ( Treagust & Harrison, 2000, dalam Sarkim, 2005) dirancang untuk membantu para siswa mempelajari ilmu pengetahuan, untuk mengembangkan pemahaman- pemahaman mereka dan untuk menimbulkan keingintahuan dan untuk memberikan motivasi. Berlawanan dengan penjelasan yang ilmiah, penjelasan-penjelasan pedagogis dipengaruhi oleh konteks-konteks di mana para siswa belajar.

  Pedagogi adalah ilmu atau seni dalam menjadi seorang guru. Pedagogi juga diartikan sebagai seni dan ilmu pengetahuan tentang mendidik anak

  • – anak dan sering digunakan sebagai sebuah sinonim untuk suatu pengajaran. Lebih tepatnya, pedagogi mewujudkan pendidikan yang berfokuskan guru. Dalam suatu model pedagogi, guru memikul tanggung jawab untuk membuat keputusan tentang apa yang akan dipelajari, dan kapan ia akan dipelajari. (http://klubhausbuku. wordpress.com/2008/06/07/). Dalam pendekatan pedagogi, gurulah yang memutuskan isi pelajaran dan bertanggung jawab terhadap proses
Kemampuan pedagogi juga termasuk bagaimana mengatur kelas

  • – kelas atau bekerja dengan anak – anak secara efektif.

  Menurut Sudulloh (2006) pedagogik adalah ilmu yang mempelajari masalah membimbing anak ke arah tujuan tertentu, yaitu supaya kelak ia “mampu secara mandiri menyelesaikan tugas hidupnya”. Jadi pedagogik adalah Ilmu Pendidikan Anak. Langveld, 1980 dalam Sadulloh 2006, membed akan istilah “pedagogik” dengan istilah “pedagogi”. Pedagogik diartikan dengan ilmu pendidikan, lebih menitik beratkan kepada pemikiran, perenungan tentang pendidikan. Suatu pemikiran bagaimana kita membimbing anak , mendidik anak. Sedangkan istilah pedagogi berarti pendidikan, yang lebih menekankan kepada praktek, menyangkut kegiatan mendidik, kegiatan membimbing anak.

  Guru bukan hanya sekedar terampil dalam menyampaikan bahan ajar, namun disamping itu ia juga harus mampu mengembangkan pribadi anak, mengembangkan watak anak, dan mengembangkan serta mempertajam hati nurani anak. Pedagogik merupakan ilmu yang mengkaji bagaimana membimbing anak, bagaimana sebaiknya pendidik berhadapan dengan anak didik, apa tugas pendidik dalam mendidik anak, apa yang menjadi tujuan mendidik anak.

  Kemudian di dalam artikel yang diterbitkan tahun 1987, Shulman tidak menggambarkan PCK sebagai suatu bentuk khusus dari pengetahuan isi, malahan menggambarkannya sebagai satu penggabungan pengetahuan isi dan pengetahuan bersifat pendidikan. Ia menulis: It (PCK) represents the blending of content and pedagogy into an understanding of how particular topics, problems, or issues are organised, represented, and adapted to the diverse interests and abilities of learners, and presented for instruction, ( Shulman 1987:8, seperti dikutip dalam Sarkim, 2005) PCK merepresentasikan campuran isi dan pedagogi ke dalam satu pemahaman bagaimana topik-topik tertentu, permasalahan, atau isu-isu diorganisir, direpresentasikan, dan disesuaikan dengan berbagai kepentingan dan kemampuan-kemampuan yang berbeda dari para siswa, dan yang diperkenalkan untuk instruksi.

  Berdasarkan pada definisi diatas, PCK adalah suatu campuran dari dua kategori pengetahuan: pengetahuan isi atau materi dan pengetahuan pedagogis. Guru yang profesional harus memiliki dua kategori pengetahuan dan mampu memadukanya. Hasil dari campuran itu adalah pemahaman tentang pokok materi pengajaran. Pokok materi dipahami dalam konteks pengajaran dan siap untuk dieksekusi dalam pengajaran.

  Menurut Bromme, haruslah dicatat bahwa PCK adalah suatu konstruksi psikologis dari pengetahuan guru (Bromme, 1995, dalam Sarkim, 2005). Ini berarti bahwa perpaduan tersebut mengacu pada proses kognitif, pengintegrasian atau perpaduan dari pengetahuan tentang isi dan pengetahuan pedagogis dieksekusi secara kognitif oleh para guru. pengintegrasian pengetahuan isi dan pengetahuan pedagogis adalah suatu adaptasi dari pengetahuan ini menuju keadaan yang spesifik dari pekerjaan para guru.

  Bromme mengidentifikasi proses adaptasi ini sebagai 'kontekstualisasi pengetahuan'.

  PCK mempunyai kaitan dengan cara para guru membuat pertimbangan secara pedagogis. Dengan didasarkan pada kebijaksanaan praktis, PCK melibatkan suatu pergeseran dramatis dalam pemahaman guru ''dari mampu untuk memahami materi pokok untuk diri mereka, menuju kondisi mampu untuk menerangkan materi pokok dalam cara yang baru, menyusun kembali dan membagi, mengungkapkan dalam aktivitas dan emosi, di dalam kiasan- kiasan dan latihan-latihan, dan di dalam contoh-contoh dan demonstrasi-

demonstrasi, sehingga dapat diserap oleh para siswa'' . (Bollough, 2001:656).

  PCK mengacu kepada interprestasi guru dan transformasi dari pengetahuan tentang subyek-materi dalam konteks memfasilitasi pembelajaran siswa.(Driel, dkk., 1998:674) PCK menyiratkan transformasi subjek-materi pengetahuan, sehingga dapat digunakan secara efektif dan fleksibel dalam proses komunikasi antara guru dan peserta didik selama praktek di kelas.(Driel dkk., 1998:675).

  Dengan demikian, guru dapat memperoleh PCK dari praktek mengajar mereka sendiri (misalnya, menganalisis kesulitan belajar siswa). Lebih penting, ketika berhadapan dengan materi pelajaran, tindakkan atau keputusan guru ditentukan dari PCK mereka.

  PCK dapat dipandang sebagai proses, hasil (pengetahuan), dan ketrampilan. Sebagai Proses, PCK dimaknai sebagai “the ways content and pedagogy are blended into an understanding of how particular topic are represented and adapted learners’ various interest and abilities” (Shulman, 1986: 5) Sebagai hasil (pengetahuan), PCK merupakan bangunan pengetahuan yang terdiri dari topik-topik khusus yang dikemas sebagai materi pembelajaran bagi siswa, yang merupakan integrasi materi dari materi pembelajaran dan metode pembelajarannya, yang tercermin dalam bagaimana topik-topik, dan masalah-masalah direpresentasikan dan diorganisasikan sesuai dengan minat dan kemampuan siswa (Kartika Budi, 2005:104).

  Sebagai kemampuan atau kete rampilan, PCK merupakan „ teacher‟s ability to convey the constructs underlying elements of the content knowledge in manner that assesible to students” (Kartika Budi, 2005: 104). Jadi PCK merupakan kemampuan atau ketrampilan guru mengintegrasikan materi pembelajaran dan ilmu keguruan untuk kepentingan pembelajaran bagi siswa tertentu sesuai dengan kondisi dan kerangka berpikir siswa dan strategi pembelajaran yang sesuai yang akan dipilihnya.

  Parr, 1988 dalam Bullough, 2001 menyatakan PCK: “adalah suatu pengetahuan khusus pada setiap subyek yang masuk instruksi pengetahuan khusus ini berbeda dari pengetahuan akademis. Perbedaanya ada dalam tujuan, dalam hubungan dengan fakta-fakta berbagai hal, dan dalam cara bagaimana itu diperolah pengetahuan khusus ini adalah pengetahuan pedagogis.

  Magnusson, Krajcik, dan Borko (1999) menyatakan: Pedagogical content knowledge is a teacher’s understanding of how to help students understand specific subject matter. It includes knowledge of how particular subject matter topics, problems, and issues can be organized, represented and adapted to the diverse interests and abilities of learners, and then presented for instruction. . . .The defining feature of pedagogical content knowledge is its conceptualization as the result of a transformation of knowledge from other domains. (Magnusson, Krajcik, dan Borko, 1999:96, seperti yang dikutip dalam Ball, 2008:394) PCK adalah pemahaman guru tentang bagaimana untuk membantu siswa memahami mata pelajaran tertentu. Ini mencakup pengetahuan tentang bagaimana topic subjek materi, masalah, dan masalah dapat diatur, diwakili dan disesuaikan untuk berbagai kepentingan dan kemampuan peserta didik, dan kemudian disajikan untuk instruksi. . . . Fitur yang menentukan bagian dari PCK adalah konseptualisasinya sebagai hasil dari transformasi pengetahuan dari domain lainnya.

  PCK merupakan pengetahuan eksplisit keterampilan yang diperlukan dalam rangka untuk mengajarkan kepada siswa (Chen, 2002; Rovegno, Chen

2. PENGETAHUAN GURU TENTANG SISWA

  PCK merupakan suatu konstruksi kognitif yang merepresentasikan suatu penggabungan beberapa jenis pengetahuan yang diakibatkan oleh sebuah pemahaman bahan-bahan pengajaran yang terkonstektualisasi (Brom, 1995, dalam Sarkim, 2005 ). Dengan kata lain, PCK merupakan perubahan bentuk beberapa komponen-komponen dari pengetahuan ke dalam suatu pengetahuan yang secara langsung berdampak pada praktek pengajaran (Gess-Newsome, 1999, dalam Sarkim, 2005).

  Shulman (1987) memperkenalkan pengkategorian yang berperan untuk pembentukan PCK:

  1. Topik-topik yang diajarkan secara reguler; 2. Bentuk-bentuk paling bermanfaat dari representasi; 3. yang paling kuat, ilustrasi-ilustrasi, contoh- Analogi-analogi contoh, penjelasan-penjelasan, dan demonstrasi-demonstrasi;

4. Prasangka-prasangka siswa sebagai komponen-komponen PCK (Shulman, 1986, dalam Sarkim, 2005).

  Menurut Sarkim (2005), Komponen-komponen ini dapat digolongkan ke dalam tiga kategori. Pertama adalah pengetahuan tentang kurikulum.

  Pengetahuan ini termasuk pengetahuan tentang isi atau materi pokok dan dimana perkara materi pokok diorganisir untuk tujuan pengajaran. Yang kedua adalah pengetahuan tentang strategi pengajaran. Pengetahuan ini tidak hanya terdiri dari pengetahuan prosedural atau teknis tentang presentasi isi tetapi juga mencakup pengetahuan tentang teori-teori yang mendasari prosedur-prosedur teknis. Sebagai contoh, pengetahuan tentang bagaimana cara memeriksa pengetahuan terdahulu dari siswa didasarkan pada teori kognitif. Kategori yang ketiga adalah pengetahuan tentang siswa.

  Pengetahuan adalah informasi yang seseorang miliki dalam bidang tertentu (Hamzah, 2006). Maksud dari pengetahuan (knowledge) adalah sesuatu yang hadir dan terwujud dalam jiwa dan pikiran seseorang dikarenakan adanya reaksi, persentuhan, dan hubungan dengan lingkungan dan alam sekitarnya.

  Pengetahuan ini meliputi emosi, tradisi, keterampilan, informasi, akidah, dan pikiran-pikiran. Pengetahuan seseorang terbentuk dari hubungan dan jalinan ia dengan realitas-realitas yang tetap dan yang senantiasa berubah (John Dewey, 1986, dalam Sadulloh, 2006).

  Von Glaserfeld dalam Suparno, 2007, menyatakan pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan (realitas). Pengetahuan bukanlah gambaran dari dunia kenyataan yang ada, tetapi selalu merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang (Bettencourt, 1989, dalam Suparno, 2007). Van Glasersfeld (1996) menjelaskan bahwa pengetahuan itu dibentuk oleh struktur konsepsi seseorang waktu seseorang

  Jadi dapat disimpulkan Pengetahuan guru tentang siswa adalah Pengetahuan akan suatu fakta atau kondisi mengetahui sesuatu dengan baik yang didapat lewat pengalaman dan pelatihan dan dapat terlihat dari interaksi guru dengan siswa saat pembelajaran.

  Komponen-komponen pengetahuan guru tentang siswa adalah sebagai berikut:

A. Pengetahuan tentang konteks dan karakteristik siswa

  Grossman (1990), mengidentifikasi pengetahuan tentang siswa sebagai bagian dari pengetahuan tentang konteks. Menurutnya, pengetahuan tentang konteks juga termasuk pengetahuan tentang sekolah, komunitas, dan daerah. Lebih dari itu, dia juga berpendapat bahwa pengetahuan tentang siswa tidak dibatasi pada pengetahuan tentang pemahaman siswa terdahulu tentang pengajaran isi. Ini mencakup juga pengetahuan tentang aspek yang berbeda dari pelajaran siswa (Grossman, 1990, dalam Sarkim, 2005)

  Konteks pengajaran mempunyai beraneka aspek berbeda termasuk fasilitas-fasilitas fisik, budaya, politis, dan sistem edukasi. Aspek-aspek ini berpengaruh pada pengajaran pendidikan yang diterima di sekolah melalui beberapa cara termasuk kebijakan-kebijakan edukasi seperti: sasaran hasil edukasi, penilaian kurikulum dan pembelajaran. Sebenarnya, pengetahuan mengenai kurikulum, pengetahuan penilaian pembelajaran, dan pengetahuan tentang sasaran hasil pengajaran dikenali ketika tiga kategori-kategori pengetahuan yang khusus berperan untuk PCK (Magnusson et al., 1999, dalam Sarkim, 2005).

  Mengidentifikasi tingkah laku dan karakteristik siswa sangat perlu dilakukan untuk mengetahui kualitas perseorangan untuk dapat dijadikan sebagai petunjuk dalam mendeskripsikan startegi pengelolaan pembelajaran (Hamzah, 2006). Sebenarnya, begitu banyak karakteristik yang bisa diidentifikasi dalam diri siswa yang dapat membawa pengaruh pada pelaksanaan dan hasi pengajaran secara keseluruhan. Dalam menyusun program pembelajaran untuk setiap bidang studi hendaknya guru kelas sudah memiliki data-data pribadi siswanya berkaitan dengan karakteristik khusus, kemampuan dan kelemahanya, kompetensi yang dimiliki dan tingkat perkembanganya. Aspek-aspek yang diungkap dalam

tingkah laku dan karakteristik siswa berupa bakat dan gaya belajar.

  Pengetahuan tentang para siswa membantu guru untuk memutuskan tindakan-tindakan mana yang sesuai diterapkan dalam kelas. Pengetahuan tentang pemahaman siswa bukan hanya pemahaman siswa terdahulu tapi juga pengetahuan siswa secara umum, termasuk latar belakang budaya mereka. Guru harus miliki pengetahuan mengenai karakteristik- karakteristik tertentu dari para siswanya dan melakukan pendekatan- pedekatan baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

  Untuk membuat keputusan yang baik menurut Forrest (2008), guru harus waspada pada banyak hal yang menjadi pengembangan pembelajaran bagi murid dalam konteks pertumbuhan pikiran , variasi cara belajar, pengaruh bahasa dan budaya, watak individu, hobi dan pendekatan

  .

  belajar Karakter-karakter murid seperti keterampilan, bakat, gaya mengajar, tingkat perkembangan dan kesiapan untuk mempelajari hal baru adalah sebagian dari pengetahuan penting yang harus guru miliki.

B. Pengetahuan Motivasi dan Keaktifan siswa

  Menurut McDonald “motivation is an energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reactions”.(seperti dikutip dari Hamalik 2009:h173) motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan. Menurut Ivor K.

  Davies (1987), motivasi merupakan kekuatan tersembunyi di dalam diri kita yang mendorong kita untuk berkelakuan dan bertindak dengan cara yang khas. Motivasi dapat berupa dorongan-dorongan dasar atau internal dan insentif di luar individu. Menurut Fores (2008), pemberian motivasi di luar individu dilakukan oleh guru dengan ciri-ciri:

   Bagaimana guru-guru menunjukkan persetujuan mereka kepada murid-murid?

   Kalimat-kalimat apa yang guru-guru gunakan dalam pujian mereka?

 Jenis penghargaan apa yang guru berikan?

 Peringatan-peringatan apa yang guru berikan?

   Hukuman apa yang diberikan kepada siswa?  Bagaiman guru membangkitkan kepedulian siswa?

   Bagaimana guru menaikan antusiasme dalam mengerjakan suatu tugas?  Bagaiman guru membangkitkan semangat kelas?

   Bagaiman guru-guru melibatkan murid-murid pendiam didalam diskusi-diskusi kelas?

   Bagaimana guru-guru melibatkan murid-murid yang tidak aktif dalam pekerjaan mereka?  Dengan cara-cara apa guru memberikan apresiasi pada pencapaian-pencapaian murid? Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa 7) :  Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik. Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional

  Khusus yang akan dicapainya kepada siwa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.

   Hadiah.

  Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi.

  Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.

   Saingan atau kompetisi.

  Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.

   Pujian. Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.

   Hukuman.

  Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.

   Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar.

  Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.

  

Membentuk kebiasaan belajar yang baik.

 Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok.

   Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

  Selain pemberian motivasi, guru dapat mengaktifkan siswa dalam belajar dengan membuat pelajaran itu menjadi menantang, merangsang daya cipta untuk menemukan serta mengesankan siswa. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran merupakan hal yang sangat penting dan perlu diperhatikan sehingga proses belajar yang ditempuh benar-benar memperoleh hasil yang optimal khususnya dalam proses belajar mengajar yang berlangsung di sekolah yang banyak dipengaruhi oleh komponen belajar mengajar, misalnya siswa, guru, sarana dan prasarana belajar. Prinsip-prinsip untuk mengaktifkan siswa adalah :

   prinsip motivasi ada dua jenis motivasi, yakni motivasi yang timbul dari dalam diri anak (intrinsik),motivasi ini dapat dilakukan dengan cara menggairahkan perasaan ingin tahu anak, kenginan untuk mencoba dan hasrat untuk sukses. Motivasi ekstrinsik dapat dilakukan dengan cara memberi ganjaran, hukuman, atau penugasan untuk berbagai perbaikan  prinsip latar atau konteks guru perlu mengetahui tentang pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan perasaan serta pengalaman yang dimiliki para siswanya. Perolehan ini perlu dihubungkan dengan pelajaran baru yang hendak diajarkan guru kepada siswa. Apa apa yang telah diketahui anak akan lebih menarik minat anak apabila dikaitkan dengan pelajaran baru, akibatnya siswa akan lebih mudah menangkap dan cepat memahami bahan pelajaran.

   Prinsip focus Hendaknya dalam pembelajaran difokuskan pada satu arah atau pola tertentu. Tanpa suatu pola pelajaran akan terpecah-pecah dan para siswa akan sulit memusatkan perhatian. Titik pusat itu akan tercipta melalui upaya merumuskan masalah yang hendak dipecahkan, merumuskan pertayaan yang hendak dijawab, atau merumuskan konsep yang hendak ditemukan.

   Prinsip sosialisasi

  Dalam pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar para siswa perlu dilatih untuk bekerja sama dengan rekan-rekan sebayanya. Dengan prinsip ini para siswa akan dapat membedakan hubungan dengan guru, dengan sesama temannya, dan hubungan dengan sesama masyarakat. Prinsip ini sangat penting dalam rangka pembentukan kepribadian anak.

   Prinsip individualis Setiap siswa pada hakikatnya memiliki perbedaan tersendiri baik dalam hal bakat, minat, kecerdasan, sikap, maupun kebiasaan. Maka hendaklah guru tidak memperlakukan siswa seolah-olah sama.

   Prinsip menemukan Guru sebenarnya tak perlu menjejalakan seluruh informasi kepada anak. Berilah kesempatan kepada mereka untuk mencari dan menemukan informasi tersebut. Informasi yang disamapikan guru hendaknya yang bersifat mendasar dan memancing siswa untuk mengail informasi selanjutnya. Sehingga, suasana kelas tidak membosankan bahkan sebaliknya akan menjadi bergairah.

  Sebagai motivator guru hendaknya senantiasa mendorong para siswanya untuk melihat masalah, merumuskan, serta berupaya memecahakan sesuai dengan taraf kemampuanya. Bila terjadi hal-hal tentang perbedaan pendapat dan penemuan mereka belum sesuai dengan tujuan yang diharapkan, maka guru hendaknya melengkapinya dengan tetap menghargai pendapat mereka (Uzer Usman, dkk., 1993: 88).

C. Pengetahuan miskonsepsi dan kemampuan awal siswa

  Siswa memasuki pelajaran fisika penuh dengan intuisi dan prakonsepsi yang telah terbentuk oleh pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Gagasan-gagasan atau ide-ide yang telah dimiliki oleh siswa sebelumnya ini disebut dengan prakonsepsi atau konsepsi alternatif. Prakonsepsi ini sering merupakan miskonsepsi (Gardner, 1991). Jika konsepsi siswa tersebut berbenturan dengan konsepsi fisika, maka akan terjadi miskonsepsi. Miskonsepsi harus diperhatikan sebelum guru memulai suatu pembelajaran agar tidak mengalami kesulitan dalam menanamkan konsep yang benar. Apabila diagnosis miskonsepsi dilakukan sebelum pembelajaran, maka guru dapat menggunakan berbagai model pembelajaran dalam upaya meremediasi miskonsepsi tersebut. Model pembelajaran yang tepat digunakan sesuai dengan karakteristik siswa dapat menghasilkan tujuan pembelajaran yang diharapkan.

  Selain miskonsepsi, guru perlu mengetahui kemampuan awal siswa yang berperan dalam meningkatkan kebermaknaan dalam pengajaran, yang selanjutnya membawa dampak dalam memudahkan proses internal yang berlangsung dalam diri siswa ketika belajar (Hamzah, 2006).

D. Pengetahuan tentang kesulitan belajar siswa

  Aktivitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang

  • – kadang lancar, kadang – kadang tidak, kadang
  • – kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang semangat tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi. Dalam hal dimana anak didik/ siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut dengan kesulitan belajar. Kesulitan belajar dapat diartikan juga sebagai hambatan yang dihadapi oleh siswa dalam proses belajar sehingga mereka memperoleh prestasi belajar di bawah rata-rata (Uzer dan Setiawati, 1993 :99). Masalah belajar diartikan juga dengan berbagai problema yang menghambat atau menganggu proses belajar atau pencapaian tujuan belajar (Sutadi
dkk., 1996: 77). Kesulitan belajar dapat berasal dari faktor internal dan faktor eksternal.

3. Pengkategorian pengetahuan guru tentang siswa

  Pengkategorian ini untuk menentukan dan mengelompokan bentuk-bentuk pengetahuan guru tentang siswa yang akan digunakan pada tahap kategorisasi data. Berdasarkan penguraian dasar teori di atas, peneliti dapat mengkategorikan pengetahuan guru tentang siswanya sebagai berikut:

  1. Konteks dan Karateristik siswa: berupa bakat, keterampilan, gaya belajar, sekolah, komunitas, daerah, kondisi sosial siswa, kemampuan dan kelemahan siswa.

  2. Motivasi dan Keaktifan siswa 3.

   Miskonsepsi dan Kemampuan awal siswa 4. Kesulitan belajar siswa:

   Guru melakukan penekanan konsep atau pengulangan materi-materi yang penting atau dirasa sulit

   Guru mengingatkan materi yang sudah dipelajari.

B. Perumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka didapat rumusan masalah:

  1. Bagaimana pengetahuan guru tentang konteks dan karakteristik siswa? 2.

   Bagaimana pengetahuan guru tentang motivasi dan keaktifan siswa? 3. Bagaimana pengetahuan guru tentang miskonsepsi dan kemampuan awal siswa? 4.

   Bagaimana pengetahuan guru tentang kesulitan belajar siswa? C. Tujuan Penelitian

  Penelitian ini bertujuan untuk: 1.

   Mengetahui pengetahuan guru tentang konteks dan karakteristik siswa.

  2. Mengetahui pengetahuan guru tentang motivasi dan keaktifan siswa.

  3. Mengetahui pengetahuan guru tentang miskonsepsi dan kemampuan awal siswa.

  4. Mengetahui pengetahuan guru tentang kesulitan belajar siswa.

D. Manfaat Penelitian 1.

   Bagi Guru Fisika dan calon Guru fisika Penelitian ini bermanfaat bagi guru fisika dan calon guru fisika karena dapat memberikan gambaran yang konkret mengenai pembelajaran fisika melalui pendekatan PCK khususnya pengetahuan guru tentang siswanya.

2. Bagi Peneliti

  Penelitian ini bermanfaat bagi peneliti karena sebagai sarana untuk menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah pada situasi yang sesungguhnya di lapangan. Hasil penelitian ini dapat dijadikam acuan bagi peneliti dalam mengajar di masa yang akan datang.

BAB II METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini mengenai pengetahuan guru tentang para siswa, ini

  merupakan penelitian lapangan, karena bertujuan untuk mencari kejelasan kemampuan Pedagogical Content Knowledge (PCK) khususnya pengetahuan guru tentang para siswa yang memerlukan keterlibatan guru sebagai subyek penelitian. Penelitian ini merupakan nonparticipant obsevation, secara khusus penelitian ini adalah natural observatioan yaitu peneliti meneliti subyek dalam seting yang natural. Peneliti tidak membuat manipulasi apapun, hanya mengamati, mencatat, dan merekam apa yang terjadi (Suparno, 2007) Hasil penelitian ini hanya berlaku sekolah tempat penulis melakukan penelitian dan guru sebagai subyek penelitian, sehingga kesimpulan atas hasil yang diperoleh dari penelitian ini tidak dapat digeneralisasi untuk sekolah lain dan guru yang lain.

  Apabila dilihat dari segi tujuan dilaksanakannya, maka penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang menekankan pada keadaan sebenarnya, peneliti tidak terlibat dalam kegiatan yang diteliti, tetapi lebih melihat dari luar, tidak membuat manipulasi apapun, hanya mengamati, mencatat, dan merekam apa yang terjadi (Suparno, 2007:155). Pada pengetahuan guru tentang para siswa, di mana data dan proses analsis data cenderung bersifat kualitatif.

  B. Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah 1 guru fisika dari SMA Kolese de Brito yang sudah berpengalaman 20 tahun dalam mendidik siswa dan 1 guru fisika dari SMA Stella Duce 1 yang sudah berpengalaman 20 tahun dalam mendidik siswa.

  C. Waktu dan Pelaksanakan Waktu : Juli- September 2009.

  Tempat : SMA Kolese de Brito dan SMA Stella Duce 1 D.

   Instrumen Pengumpulan Data Penelitian ini akan mengungkap PCK guru fisika khususnya terkait berbagai bentuk pengetahuan guru tentang siswanya dalam praktek pembelajaran fisika di SMA di Yogyakarta. Secara lebih khusus, dalam penelitian ini: Topik pembelajaran fisika yang dianalisa di kelas XI-IPA 1 SMA Kolese de Brito adalah Hukum Newton tentang gerak serta praktek pembelajaran fisika di kelas XII-IPA SMA Stella Duce 1 adalah Gelombang Stasioner. Pada topik ini ditentukan oleh guru sesuai dengan perencanaan dan alur pembelajaran yang sesunggguhnya di kelas. Instrumen pengumpulan data selain menggunakan ‘hand-cam’ peneliti juga mengunakan: a. Instrumen wawancara dengan guru SMA Kolese de Brito

  1. Pola mengajar yang ibu terapkan untuk materi hukum Newton tentang gerak didapat dari mana?

  2. Dalam pembelajaran kemarin ibu sering melakukan pendekatan ke siswa, tujuanya apa?

3. Bagaimana minat siswa terhadap pelajaran fisika?

  4. Dalam penggunaan sumber pengetahuan (dalam hal ini buku) ibu hampir tidak pernah melihat buku referensi dalam mengajar. Apakah materi yang diajarkan sudah hafal?

  5. Dalam data video ibu terlihat sering melakukan pendekatan, keliling dan membimbing siswa, bagaimana dengan pengelolaan waktu?

  6. Pada saat pembelajaran saat materi diagram bebas gaya selesai,apakah dengan cara memberi soal ibu dapat mengetahui apakah siswa sudah menguasi materi atau konsep yang ingin dicapai?

  7. Pada saat ibu memberi pertayaan,missal berapa gaya gesek jika gaya yang diberikan 10 N, lalu terlihat siswa banyak sekali yang ingin menjawab dengan mengacung. Untuk membiasakan hal tersebut bagaimana bu (mengaktifkan siswa)?

  8. Pada saat pembelajaran ibu melakukan penekanan konsep-konsep penting, lalu ada siswa ragu tentang gaya gesek, misal gaya 30 N benda masih diam lalu berapa gaya geseknya? ada yang menjawab 30,27, disini terlihat siswa merasa ragu dengan jawabannya, lalu ibu memberikan contoh dengan menarik meja di depan kelas apakah itu merupakan tindakan spontan?

  9. Ibu menjelaskan lagi bahwa konsep, diulang dan diulang lagi, apakah konsep ini benar-benar penting?

  10. Apakah siswa, dari pengalaman ibu mengajar mengalami kesulitan dalam memahami konsep yang selalu ibu ulang? Bagaimana ibu tahu bahwa siswa mengalami kesulitan? 11. Pada saat materi masuk dalam tegangan tali ibu memberi pertayaan kepada siswa, dan mencari jawaban tersebut ibu berkeliling apakah dengan cara itu ibu membiasakannya? 12. Saat hari sabtu, saat mengerjakan soal, guru membimbing seseorang, sedang siswa yang lain mengerjakan di depan kelas, bagaiman cara ibu untuk menyeimbangkan dengan siswa lain? 13. Untuk soal apakah ibu mengambil dari buku atau membuat sendiri? 14. karakter setiap siswa berbeda, gaya belajar mereka juga bebeda,lalu cara ibu untuk mengatasi hal tersebut?

  15. Berkenaan dengan alur yang ibu sampaikan apakah mengikuti buku atau ibu menyusun sendiri? b. Instrumen wawancara SMA Stela Duce 1 1. Pola yang Bapak terapkan dalam mengajar kelas X, XI, XII, apakah sama? Metode yang bapak gunakan? Perlakuannya sama atau berbeda?

  2. apa yang bapak hadapi? Untuk mengajar sekolah Kesulitan homogen? (siswa wanita semua)

  3. Bagaimana memotivasi siswa dalam pembelajaran fisika? 4. Bagaimana pengelolaan kelas untuk kelas yang cewek semua? 5. Dalam penggunaan sumber pengetahuan (dalam hal ini buku) bapak hampir tidak pernah melihat buku referensi dalam mengajar. Apakah materi yang diajarkan sudah hafal? 6. Bagaimana mengatasi kemampuan siswa yang heterogen? 7. Bagaimana Pendekatan belajar untuk siswa yang cewek semua? 8. cara bapak untuk mengaktifkan siswa dalam Bagaimana pembelajaran?

  9. Dalam pembelajaran di laboratorium bapak menggunakan metode demonstrasi, apakah metode ini cukup membantu siswa untuk memahami konsep? 10. Bagaimana cara bapak untuk mengenal siswa? 11. Bagaimana cara bapak untuk mengetahui perkembangan anak? 12. Dalam video pembelajaran kemarin saya melihat bapak meminta siswa untuk mengerjakan soal, maju kedepan. Apakah metode itu sudah lama bapak terapkan?

  13. Dalam pembelajaran tentang gelombang bapak menggunakan metode demonstrasi. Apakah alasan bapak menggunakan metode itu? 14. Bagaimana cara bapak mengetahui siswa secara keseluruhan memahami konsep yang diajarkan?

  15. Dalam video saya melihat saat bapak menjelaskan materi, ketika ada yang ingin bapak tanyakan, bapak cenderung langsung melemparkan ke seluruh kelas ya pak? Kenapa tidak ditunjuk? 16. Bagaimana bapak mengenali karakteristik siswa?

c. Fieldnotes

  Fieldnotes adalah catatan lapangan, semua catatan tertulis tentang segala sesuatu yang didengar, dilihat, dialami, dipikirkan, dan direfleksikan oleh peneliti (Suparno, 2007: 118).

  Peneliti menggunakan fieldnotes deskriptif dalam mengambil data. fieldnotes deskriptif menyajikan usaha peneliti yang secara obyektif merekam detail apa yang terjadi di lapangan. Tujuannya untuk menangkap gambaran yang hidup dari hal yang diteliti. Aspek deskriptif dapat meliputi: 1. Gambaran obyek 2. Jumlah kejadian khusus, siapa yang terlibat dan bagaiman keterlibatanya.

3. Deskripsi setting fisik.

4. Deskripsi kegiatan-kegiatan.

  E. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui observasi proses pembelajaran di kelas dengan perekaman video dan wawancara dengan guru. Rekaman proses pembelajaran oleh guru didahuli dengan observasi dan selanjutnya pengambilan data (dengan menggunakan alat bantu handycam) sebanyak tiga sampai empat kali pertemuan (satu pertemuan dua jam pelajaran dan satu jam pelajaran empat puluh lima menit). Kelas dalam penelitian ini adalah kelas

  XI-IPA 1 dengan banyak siswa 29. Pembelajaran dilakukan di dalam kelas dan di laboratorium dengan guru seorang wanita dan murid putra untuk SMA Kolese de Brito dan kelas XII-IPA 1 dengan banyak siswa 32. Pembelajaran dilakukan di dalam kelas dan di laboratorium dengan guru seorang pria dan murid putri untuk SMA Stella Duce. Selain itu, wawancara juga akan digunakan untuk pengumpulan data mengenai pengetahuan guru tentang berbagai bentuk pemahaman tentang siswa yang digunakan dalam praktek pembelajaran fisika di SMA Yogyakarta.

  F. Metode Analisis Data Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan kategori bentuk-bentuk pengetahuan guru tentang para siswa. Pengkategorian tersebut :

  1. Konteks dan Karateristik siswa: berupa bakat, keterampilan, gaya belajar, sekolah, komunitas, daerah, kondisi sosial siswa, kemampuan dan kelemahan siswa.

  2. Motivasi dan Keaktifan siswa 3. Miskonsepsi dan Kemampuan awal siswa 4. Kesulitan belajar siswa:

   Guru melakukan penekanan konsep atau pengulangan materi-materi yang penting atau dirasa sulit  Guru mengingatkan materi yang sudah dipelajari.

  Tahapan dalam proses analisa meliputi: 1. Transkripsi data rekaman video Proses transkripsi ini merupakan Penyajian kembali bagian-bagian tertentu dari rekaman video yang sesuai dengan topik-topik data yang akan diteliti dalam hal ini tentang bentuk-bentuk pengetahuan guru tentang para siswa yang digunakan dalam praktek pembelajaran fisika di SMA kedalam bentuk narasi.

  2. Kategorisasi Data Proses membandingkan topik-topik data satu sama lain sehingga menghasilkan suatu kategori-kategori data. Topik-topik data yang punya kesamaan kandungan makna kemudian dikumpulkan dan ditentukan suatu gagasan abstrak yang mewakili. Gagasan abstrak tersebut selanjutnya disebut kategorisasi data. Pengelompokan topik-topik data akan menghasilkan kategori-kategori data yang bersesuaian, dengan menggunakan pengkategorian PCK yang yang dirumuskan peneliti berdasarkan data.

  3. Penarikan Kesimpulan Berdasarkan proses analisis data maka dapat ditarik suatu kesimpulan yang dapat menjawab masalah yang akan diteliti, dalam hal ini bagaimana bentuk-bentuk pengetahuan guru tentang para siswanya yang digunakan dalam praktek pembelajaran fisika di SMA yang disimpulkan dari video pembelajaran guru dan bentuk-bentuk pengetahuan guru tentang para siswanya yang disimpulkan dari data wawancara. Selain itu data wawancara juga digunakan untuk menyimpulkan bentuk-bentuk pengetahuan guru tentang para siswa yang belum terekam dalam video pembelajaran.

BAB III DATA, ANALISIS, DAN PEMBAHASAN A. DATA

1. Deskripsi Penelitian

  Penelitian dilaksanakan di dua sekolah menengah atas swasta. Sebut saja sekolah pertama sekolah X dan sekolah kedua sekolah Y. Sekolah X dan sekolah Y merupakan sekolah homogen, sekolah X merupakan homogen putra dengan jumlah siswa 29 dan sekolah Y merupakan homogen putri dengan jumlah siswa 32. Sekolah X diajar oleh seorang Guru wanita (sebut saja A) dan sekolah Y diajar oleh seorang guru Pria (sebut saja B). Penelitian di sekolah X dilakukan di kelas XI dengan materi Hukum Newton tentang Gerak sedangkan sekolah Y penelitian dilakukan di kelas XII dengan materi Gelombang Stasioner.

  Pertimbangan peneliti memilih kelas XI karena guru yang akan diteliti untuk sekolah X dan kelas XII untuk sekolah Y hanya Guru A dan Guru B yang mau di ambil datanya pada saat pembelajaran. Subjek dari penelitian ini adalah guru dan objeknya adalah pengetahuan guru tentang siswanya dan alasan guru yang diduga mendasarinya, sehingga hasil penelitian tidak ditentukan oleh faktor siswa. Walaupun penelitian ini dilakukan di dua sekolah dengan dua guru dan dua kelas yang berbeda tetapi peneliti tidak bermaksud untuk membandingkan melainkan untuk memperbanyak siswanya. Sehingga hal tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi peneliti sebagai calon guru dalam melaksanakan tugas mengajar nantinya.

  Selain itu, yang menjadi pertimbangan peneliti untuk meneliti dua guru adalah faktor efisien waktu dan biaya. Apabila hanya meneliti satu guru, peneliti merasa data yang diperoleh belum cukup dan kurang bervariasi, sedangkan jika terlalu banyak maka akan membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang besar.

  Sebelum melakukan penelitian, pada tanggal 14 Juli 2009 peneliti melakukan observasi di sekolah X dan tanggal 15 dan 16 Juli 2009 observasi di sekolah Y tanpa handycam dengan tujuan untuk melihat situasi kelas dan proses pembelajaran yang berlangsung serta untuk membiasakan siswa dengan keberadaan peneliti di kelas. Selama observasi peneliti mengatur sudut-sudut yang tepat untuk mengambil data dengan handycam.

  Pelaksanaan penelitian di sekolah X pada tanggal 24, 25 Juli dan 5, 7 Agustus 2009. Penelitian tersebut dilakukan di kelas dan di laboratorium dengan kelas yang sama yaitu XI-IPA 1. Sedangkan di sekolah Y, penelitian dilaksanakan pada tanggal 22, 23 dan 25 Juli 2009. Penelitian dilakukan di kelas dan laboratorium dengan kelas yang sama yaitu XII-A3. Penelitian ini dilakukan secara kolaborasi dengan peneliti sebagai pengamat dan satu orang teman bertugas merekam proses pembelajaran. Pengamatan yang dilakukan oleh peneliti bertujuan untuk berjaga-jaga jika ada suatu peristiwa dalam proses pembelajaran tidak teramati oleh kamera.

  Setelah pengambilan data di kelas, peneliti kemudian memutar kembali

video rekaman secara berulang-ulang untuk menemukan bentuk-bentuk

pengetahuan guru tentang siswanya serta mentranskrip video tersebut.

Bentuk-bentuk pengetahuan tentang siswanya diidentifikasi melalui tindakan

guru selama proses pembelajaran. Setelah peneliti menemukan bentuk-bentuk

pengetahuan guru tentang siswanya, peneliti melakukan wawancara dengan

guru untuk memperoleh informasi tentang alasan dari tindakan guru. Proses

wawancara juga direkam dengan handycam sehingga peneliti dapat mencatat

hasil wawancara dengan lengkap. Wawancara dengan Guru A dilakukan dua

kali yaitu pada tanggal 8 dan 11 September 2009, sedangkan wawancara

dengan Guru B dilaksanakan tiga kali pada tanggal 11, 16 September 2009

dan 25 November 2009.

2. Hasil Penelitian

  Berdasarkan pengamatan selama pengambilan data dan dari video

rekaman proses pembelajaran yang dilakukan di kelas Guru A dan Guru B,

bentu-bentuk pengetahuan guru tentang siswanya mempunyai kesamaan dan

perbedaan. Hasil penelitian akan disampaikan pada bagian berikut:

a. Data Penelitian

  Data penelitian berupa catatan lapangan (fieldnotes), transkrip rekaman video kegiatan pembelajaran dan transkrip wawancara dengan guru yang bersangkutan. Data tersebut diperoleh dari penelitian yang bentuk pengetahuan guru tentang siswanya sebagai objek penelitian. Pengambilan data di lakukan dengan observasi (peneliti mengamati kegiatan pembelajaran secara langsung) dan perekaman kegiatan pembelajaran dengan handycam. Dari data yang diperoleh, ternyata sebagian besar dari apa yang teramati dan dicatat oleh peneliti dalam field notes, telah terekam juga oleh handycam. Data yang diperoleh dari observasi (fieldnotes) dapat dilihat pada lampiran 1 dan 2.

  Data rekaman video proses pembelajaran yang dilakukan oleh Guru A diperoleh dari empat kali pertemuan, pertemuan I dan II terdiri dari 2 JP, pertemuan III terdiri dari 1 JP dilakukan di kelas, pertemuan IV terdiri

  2 JP dan dilakukan di laboratorium. Pertemuan tersebut yaitu:

  1. Pertemuan I (24 Juli 2009), membahas tentang gaya gesek dan diagram bebas gaya.

  2. Pertemuan II (25 Juli 2009), membahas diagram bebas gaya dan mengerjakan soal-soal latihan.

  3. Pertemuan III (5 Agustus 2009), membahas latihan soal.

  4. Pertemuan IV (7 Agustus 2009), pratikum di laboratorium.

  Sedangkan data rekaman video proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru B diperoleh dari tiga kali pertemuan, pertemuan I dan II terdiri dari 2 JP yang dilakukan di laboratorium dan pertemuan III terdiri dari 2 JP yang dilakukan di kelas. Pertemuan tersebut yaitu :

  1. Pertemuan I (22 Juli 2009), membahas tentang persamaan simpangan gelombang datang, gelombang pantul, pada gelombang stasioner.

  2. Pertemuan II (24 Juli 2009), membahas latihan gelombang stasioner.

  3. Pertemuan III (25 Juli 2009), membahas tentang macam gelombang secara teoritis.

  Guru

  • –guru yang terlibat dalam penelitian ini termasuk guru yang sudah berpengalaman karena sudah mengajar dalam waktu yang cukup lama. Dari hasil wawancara yang dilakukan pada tanggal 8 September, diperoleh informasi Guru A adalah seorang guru fisika wanita yang mengajar kelas homogen dengan anak didik putra. Latar belakang guru A sebelum mengajar fisika guru menempuh pendidikan calon guru di sebuah universitas swasta terkemuka di Jogjakarta pada fakultas keguruan program sarjana S1 pendidikan fisika. Setelah lulus dari pendidikan guru, beliau tidak langsung mengajar sebagai guru dengan alasan belum siap hal ini terungkap dalam sesi wawancara dan menjadi sekretaris sebuah
SMA swasta sebagai guru fisika di daerah terpencil dengan kondisi siswa heterogen dan minat untuk sekolah rendah. Selama mengajar 2 tahun di SMA tersebut guru mempunyai pengalaman yang banyak khususnya dalam memotivasi siswa. Kemudian guru pindah mengajar di Jakarta sebuah SMA swasta selama 2 tahun. Guru A lalu mengajar di SMA swasta Jogjakarta selama 1 tahun dan akhirnya guru menetap mengajar di SMA swasta terkemuka di Jogjakarta dengan kondisi siswa yang homogen laki- laki. Di SMA tersebut guru sudah mengajar selama 15 tahun, guru A selama mengajar di SMA yang diteliti selalu dirotasi dari kelas 1 sampai kelas 3. Guru A mempunyai pengalaman mengajar selama 19 tahun sejak 1990.

  Dari wawancara (11 September 2009), diperoleh informasi guru B mengajar kelas yang homogen dengan anak didik putri. latar belakang guru B sebelum menjadi guru adalah sebagi berikut, guru B mengajar mengajar hanya di satu sekolah selama 17 tahun. Guru mengajar semua kelas kelas dari kelas 1 sampai kelas 3. Pengalaman guru mengajar hanya

didapatkan dari selama menempuh calon sebagai guru dan studi S2.

b. Transkripsi

  Pembuatan transkripsi dilakukan sendiri oleh peneliti dengan mengamati rekaman video pembelajaran dan rekaman wawancara dengan guru yang bersangkutan. Apa yang tampak di rekaman video (aktivitas guru, tutur kata), yang memuat bentuk

  • –bentuk pengetahuan guru

  

tentang siswanya di salin dalam bentuk tulisan. Proses tersebut dilakukan

dengan melihat video secara berulang-ulang sampai peneliti yakin bahwa

data-data yang diperlukan telah di transkrip semua. Tidak semua kejadian

yang tampak dalam video di transkrip melainkan hanya kegiatan/peristiwa-

peristiwa yang berhubungan dengan bentuk-bentuk representasi bahan

ajar. Transkripsi data video proses pembelajaran Guru A dapat di lihat

pada lampiran 3, transkripsi data video proses pembelajaran guru B pada

lampiran 4, transkrip data wawancara Guru A dapat di lihat pada lampiran

5, transkrip data wawancara guru B pada lampiran 6.

B. ANALISIS DAN PEMBAHASAN Data dari penelitian ini akan dianalisis secara deskriptif kualitatif.

  Peristiwa atau tindakan guru yang yang menunjukkan bentuk-bentuk pengetahuan guru tentang siswanya, yang tampak dalam video rekaman proses pembelajaran akan di deskripsikan secara apa adanya. Peristiwa- peristiwa yang menunjukkan bentuk-bentuk pengetahuan guru tentang siswanya di buat topik data, kemudian topik-topik data yang memiliki makna sama dikelompokkan ke dalam satu kategori, setelah itu dilakukan pembahasan pada tiap kategori data dari peristiwa-peristiwa yang menunjukkan bentuk-bentuk pengetahuan guru tentang siswanya.

  Pembahasan di dasarkan pada hasil wawancara dengan guru yang bersangkutan dan teori yang ada, serta pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki oleh peneliti. Hasil wawancara juga digunakan untuk mengungkap pengetahuan-pengetahuan guru yang mendasari tindakannya sebagai pengetahuan guru tentang siswanya.

  1. Topik Data Dari transkripsi data kemudian di buat topik data yaitu deskripsi ringkas mengenai bagian data yang mengandung PCK guru yang meliputi bentuk-bentuk pengetahuan guru tentang siswanya. Tiap topik data diberi kode (koding) yang berupa suatu kata yang menunjukkan isi dari topik tertentu. Topik data dari video proses pembelajaran Guru A dan guru B dapat dilihat pada lampiran 7 dan lampiran 8.

  2. Kategori Data Topik data yang memiliki makna sama dikelompokkan ke dalam satu kategori data. Kategori data merupakan gagasan abstrak yang mewakili makna yang sama dalam sekelompok topik data. Kategori data dibuat sendiri oleh peneliti dengan membandingkan topik-topik data satu dengan yang lain. Pembuatan kategori data disesuaikan dengan teori dan data yang diperoleh. Kategori tersebut adalah sebagai berikut: a. Konteks dan Karateristik siswa: berupa bakat, keterampilan, gaya belajar, sekolah, komunitas, daerah, kondisi sosial siswa, kemampuan dan kelemahan siswa.

b. Miskonsepsi dan Kemampuan awal siswa

  d. Kesulitan belajar siswa: Guru melakukan penekanan konsep atau pengulangan

   materi-materi yang penting atau dirasa sulit Guru mengingatkan materi yang sudah dipelajari.

   3. Analisis

  Bentuk-bentuk pengetahuan guru tentang siswanya yang teramati dalam pembelajaran berbeda-beda, hal itu karena tiap-tiap guru memiliki pengetahuan tersendiri yang mendasari setiap tindakannya. Peneliti melihat adanya perbedaan bentuk-bentuk pengetahuan guru tentang siswa.

  Apa yang mendasari tindakan guru dalam penelitian ini ditelusuri melalui wawancara dengan guru yang bersangkutan. Dalam memberikan pertayaan wawancara, peneliti berusaha untuk tidak mengarahkan jawaban Guru Pada jawaban yang diinginkan oleh peneliti, sehingga alasan yang diberikan Guru Pada setiap tindakannya murni dari pengetahuan guru. Karena keterbatasan peneliti dalam wawancara (peneliti kurang bisa mengembangkan pertanyaan dan kurang bisa menggali jawaban dari guru), sehingga tidak semua tindakan yang dilakukan guru berhasil di cari tahu alasannya. Pertanyaan wawancara dapat dilihat pada lampiran 5 dan 6.

  Bentuk- bentuk pengetahuan guru tentang siswa dapat dilihat dalam tabel analisis sebagai berikut:

Tabel 3.1 Analsis Data

TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

  VIDEO

KONTEKS dan KARAKTERISTIK SISWA

Kemampuan

  1.

  25 Juli 2009 Dalam episode ini guru membantu siswa karena Menit 26.40 mengalami kesulitan dalam menggambarkan diagram dan Kelemahan

  (video 1 bagian 3) bebas gaya, guru terus membimbing dan memberi siswa

  Guru A contoh kepada siswa hingga siswa bisa mengerjakan gambar diagram bebas gaya.

  Guru :”Terus gambar bendanya tegak lurus bidang miring, ya terus sejajar bidang miring (menggambar komponen gaya) kalau belum bisa pake satu penggaris pake 2 penggaris untuk menggambarnya sekarang gambar berat bendanya nie dari sini dari titik ini, kemana arahnya? ” Siswa :”Ke bawah sini.”

  Guru :”Ya, terus sekarang dari ujung berat benda, sejajar bidang miring dari bidang vektor, nie sejajar bidang miring masih titik-titik gambarnya, terus kesana tegak lurus bidang miring, nah terus ditarik dari pusatnya tadi, memotong tadi sejajar bidang miring, ya tidak melebihi ingat semua catatan bu Nanik tidak ada yang melebihi semua, ini salah kalau melebihi, jangan beracuan pada rumus-rumus tetapi pada penjelasan bu Nanik kemarin, terus tarik dari pangkal sini sampai perpotonganya proyeksinya tegak lurus, sekarang kalau disini sudutnya

  α mana yan g sama dengan α, sisi mana? (karena siswa bingung guru memberi petunjuk) antara ini 1, 2, 3, dan

  4 mana yang α, ya itu α, kalau itu sudut α, yang ini

  47

TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

  VIDEO namanya w (berat benda).” Siswa : “ w cos α.”

  Guru : “Betu, yang komponen ini namanya apa? ” Siswa :”w sin α.” Guru : “Gaya normalnya mana? ” Siswa: “Kesini.” Guru: “Ya (siswa menggambarnya) ya itu gaya normal, ingat ya jangan beracuan pada buku yang salah, ya.oke.” 2.

  22 Juli 2009 Dalam episode ini guru meminta kedua siswinya Menit 18 untuk menggambarkan gelombang stasioner, alasan Guru B guru meminta dua siswinya karena guru ingin memadukan 2 siswi dengan sifat dan kemampuan yang berbeda. Kitin siswa aktif dengan kemampuan sedang dan Marla siswa pendiam dengan kemampuan rendah.

  Guru : ”Silahkan dicoba...Apa yang dilihat...Ya..bayanganmu seperti apa?Gambar saja..lalu yang kamu lihat seperti apa?Ya..betul seperti itu??coba yang lain? Siapa..?Yang lain yang punya pendapat lain?Marla coba...(menunjuk

  48

TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

  VIDEO siswa lain) coba digambarkan..yang kamu lihat itu seperti apa?pengamatannya sama ndak? ya coba digambarkan..Bisa thp menggambarkan ini?kelihatan kan?Gambarkan di bawahnya Kitin. Ya betul gambarkan dari kiri ke kanan...Betul begitu?selesai? Kamu tu lihatnya seperti apa?Kalau kamu gambarkan? Ya..memang..dua sampel beda-beda ya..mungkin Kitin ndak pakai kaca mata gambarnya cuma satu. Kalau kita

lihat yang betul-betul mirip yang mana?

  Siswa :”Yang bawah.” Guru :“Punya’e Marla tadi..tapi ini lebih mblenduk ya..Ini sebenarnya kalau ini diubah-ubah..kemungkinan akan ada kejadian lain. Kita coba ya..Kalau berat? tambah apa? Selain itu jaraknya kita tambah..apa yang terjadi?Kalau bebannya saya tambah lagi? Sekarang beda lagi.” Siswa

  :”Tambah kecil, tambah lebar.” Guru :”Sekarang beda lagi(guru menggeser alat) sekarang ada berapa?

  Siswa :”Tiga.”

  49

ILUSTRASI DATA

  

))+

boleh ditulis sama dengan apa? Supaya

  VIDEO 3.

  22 Juli 2009 Menit 28.56 dan

  30 Guru B Dalam episode ini, peneliti menduga guru mengetahui

kemampuan siswanya tentang matematika.

  Guru :”Kita perlu bantuan matematika ya..Sekarang y 2 = A sin (t

  • - kx
  • - kx ))+ atau
    • +180 menjadi apa?” Lulu : “A (-sin ( t

  • - kx )) ).” Menit 30.
    • +

      kx

  • - kx
    • + kx

  • - kx )).

   nya ilang persamaannya menjadi apa?

  Ahli matematik siapa?” Siswa :”Lulu..” Guru :”Kalo ini jadi apa ini, apa lu (menunjuk ke persamaan gelombang pantul), y 2 = A sin ( t

  50 TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

  Guru :”Y = A sin ( t

  )) dikurangi atau ple min, langsung min ya…-A sin ( t

  )). A nya bisa kita keluarkan, tinggal yang didalam sin (t

  ))- sin (t

  Lagi lagi kita butuh matematika..Lulu lagi...Ini kan sama saja sin A- sin B. Jadinya apa?” Lulu : “A kali 2 cos

  2

  1

  jumlah ini.” Menit 28.56 Menit 30

  

  51 TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

  ILUSTRASI DATA

  VIDEO 4.

  22 Juli 2009 Menit 47.51 Dalam episode ini peneliti menduga guru mengetahui kemampuan siswanya. Sehingga guru membimbing siswa dalam menyelesaikan persamaan gelombang stasioner dengan ujung bebas.

  Guru :”Ya..karena persamaannya sama saya minta tolong salah satu..siapa ...a hli matematika” (meminta salah seorang siswa untuk maju) Siswa :”Lia... (salah satu siswa menyebutkan nama seorang siswa) Guru

  :”Arum ya...silahkan Arum...silahkan maju ke depan (memanggil nama salah satu siswa untuk maju) Guru :”Pertama gelombang datangnya, gelombang merambat ke kiri (memberi petunjuk pada siswa,terutama untuk siswa yang maju) Guru :”Silahkan ditulis y 1 sama dengan apa? .A sin t

   ...ples atau min?kekiri?

TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

  VIDEO Siswa

:” min...(beberapa siswa menjawab)

Guru :”Kekiri?? Arum :”Ples.” Guru :”Ples...ya..kemudian yang gelombang pantul ..sama tapi ke kanan, tidak ada pembalikan fase karena A nya sudah positif. Ya betul, sekarang diselesaikan.

  Superposisinya. Di hapus paling kanan. Ditulis superposisi atau penjumlahan.(memberi arahan pada siswa yang maju)Ya judulnya superposisi atau penjumlahan.

  Guru :”y sama dengan apa tadi ....ya yang tadi ditulis..dijumlahkan...ya..Anya dikeluarkan pake kurung kotak. Kalo tadi sin itu min sin itu. Sekarang sin A +sin B . Ya bantu temannya jadinya apa? (meminta siswa yang lain untuk membantu). A kali apa? Karena Arum masih bingung guru membantu dengan memberi petunjuk

  52

TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

  VIDEO Guru : “ya setenga jumlah apa gitunya, tingal cos apa sin, kalau sin a + sin b jadinya apa? Arum masih bingung sehingga temanya membantu

  Guru :” ya sin ½ apo dijumlah ya..disederhanakan jadiinya, ya itulah persamaanya .”

  Pendekatan 1. 24 juli 2009 Guru mendekati siswa saat bertanya kemampuan kesiswa Menit 17 prasyarat sebelum mempelajari diagram bebas gaya Guru A kalau dua benda dihubungkan dengan tali, guru mendekati secara kelompok dan perseorangan.

  Guru :”Sekarang bagaimana diagram bebas gaya kalau benda dihubungkan dengan tali (guru menulis dipapan tulis) kita pakai untuk bidang datar dulu (guru menggambarkan benda ditarik oleh tali tanpa menggunakan penggaris tapi hasilnya bagus) gambarkan vector gayanya..(sambil berjalan kearah siswa guru bertanya) gaya apa dulu yang harus bekerja?” Siswa :”Gaya berat.”

  Guru :”Pada benda mana.” Siswa :”1 dan 2.”

  53

TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

  VIDEO Guru :”Terus?” Siswa :”Gaya normal.” Guru :”(saat siswa menjawab gaya normal guru spontan bertanya kepada siswa yang disampingnya) Pada benda mana gaya normalnya”?

  Siswa 1 :”(1 orang siswa) M .” 1 Guru :”Kenapa M 2 tidak ada gaya normalnya?” Siswa 1 :”Ditambah M

1 .”

Guru :”Ditambah M 1 ?”(meragukan jawaban siswa) Guru :”Kamu?”(menunjuk siswa lain) Siswa 2 :”Menggantung.” Guru :”Menggantung.”(menegaskan jawaban siswa benar) Guru :”Konsep gaya normal gimana?” Siswa 1 :”N = W.” Guru :”N= W, konsep gaya normal piye,masih ada yang ingat?”(bertanya kepada seluruh siswa) Siswa :”Tegak lurus,tegak lurus lintasan.” Guru :”Tegak lurus? gaya normal hanya dimiliki oleh apa sih?

  54

TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

  VIDEO oleh benda yang..terletak?” Siswa :”Pada bidang.”

  Guru :”Terletak pada suatu bidang atau pada benda lain.

  Sedang M disitu gimana?” 2 Siswa :” (salah satu siswa menjawab) Melayang.” Guru :”Kok melayang.” (guru menjawab sambil tertawa kecil dan siswa tertawa) Siswa :”Menggantung.” Guru :”Normal hanya dimiliki kalau bendanya terletak..ya kan

  (menegaskan) bagaimana cara menggambarnya dijawab dulu syarat tegak lurus bidang, titik tangkapnya pada bidang (saat guru berbicara guru berada ditengah-tengah siswa.”

  Guru :(guru menuliskan vector- vektor gaya) “Jadi kita gambarkan disini W ,kemudian W ,perhatikan cara 1 2 menggambar W ,ni ya titik tangkapnya (guru sambil 2 menunjukkan gambarnya dan memperhatikan siswanya),karena bendanya teratur berada dititik pusat simetri,karena kita belum berbicara titik berat,kemudian yang punya gaya normal,tadi apa?” Sisw a “M 1 .”

  55

ILUSTRASI DATA

  56 TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

  VIDEO

PENGETAHUAN GURU TENTANG MOTIVASI DAN KEAKTIFAN SISWA

Memotivasi siswa

  1. 24 juli 2009 Menit 3 Guru A

  Guru memberi pujian terhadap jawaban siswa dengan kalimat “bagus” Guru :”Setiap keadaan kita akan menyelidiki dahulu,bendanya masih diam atau bergerak,kita lihat pada diagram bebas gaya,ini ada suatu benda terletak pada suatu bidang datar(guru menggambar di papan tulis),dilihat

ada gaya apa saja disitu?”

Siswa :”Gesek, normal, berat.”

  Guru :”Bagus, nah sekarang kita lihat dulu,bagaimana men ggambarkan gaya beratnya”? Siswa :” Pada pusat simetri.” 2.

  24 juli 2009 Menit 9 Guru A Guru memberi lelucon

  :”kamu bag…kamu bagyo 1 yang

itu bagyo 2,kamu saya panggil bagyo 1

dengan tujuan membuat suasana kelas menjadi tidak tegang.

  Guru :”Kamu bag…kamu bagyo 1 yang itu bagyo 2,kamu saya panggil bagyo 1(saat guru memberi guyonan bagyo siswa tertawa sehingga mencairkan suasana karena siswa masih pada bingung)..kenapa?”

Bagyo :”Karena menariknya Cuma 10.”

TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

  VIDEO 3. 24 juli 2009 Guru memberi lelucon

  ”ora guya-guyu le..dong ora Menit 15 kowe”. Tujuan guru adalah membuat suasana

  Guru A Guru :”Dong ora?”(guru melihat dari semua sudut kelas hingga melihat salah satu siswa) Guru :”Ora guya-guyu le..dong ora kowe.” (semua siswa tertawa dalam situasi ini guru bercanda)

  4. 24 juli 2009 Guru memotivasi siswa dengan memberi lelucon :”yo Menit 16 gen ngerti kene ono genjik..e.” untuk membangkitkan

  Guru A semangat belajar siswa saat akan memasuki materi baru.

  Guru :”Jadi harus diselidiki apakah benda sudah bergerak atau..belum (guru dan siswa )..benda kalau sudah bergerak kalau melebihi gaya gesek statis maksimum..kalau sudah tolong dihapus.”

  Siswa :”Genjik..genjik..yang piket bu?” (Saat siswa menyebut nama temanya yang bukan nama sebenarnya dengan genjik dalam bahasa jawa guru memberi respon) Guru :”Yo gen ngerti kene ono genjik..e.” (siswa tertawa)

  57

TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

  VIDEO 5.

  24 Juli 2009 Pengetahuan guru tentang motivasi siswa terlihat saat Menit 10.29 guru memberi pujian

  ya bener, terus.” Guru A

  Guru :”Kamu tadi bingungnya dimana?” Siswa1 :”Tinggal masukin rumus kok bu.” Guru :”Jangan hanya masukin rumus kamu harus tahu prosesnya, itu persamaan bukan rumus, melihat keadaan dari benda.” 1 Sisw a1 :”Itu T 2 berarti cuma mepet pada ∑F=ma.” Guru :”Ia.”

  

Guru :”Bukan dia (persamaan) turun kebawah ya.”

Guru :”Itu merupakan suatu kesatuan to lee, persamaan tegangangan tali ya,satu tali ya, yang sudah ketemu berapa percepatanya?” 2 Siswa1 :” 2,5 m/s .” Guru :”Ya bener, terus.”

  58

TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

  VIDEO 6.

  25 Juli 2009 Dalam episode ini terungkap motivasi siswa yaitu Menit 13 dengan memberi “lelucon mulane (makanya) koe ora

  Guru A usah kokean(kebayakan) nonton dangdut neng purawisata.” Dengan tujuan memberi semangat kepada siswa saat mengerjakan di depan kelas. Guru juga menyentuh punggung siswa supaya tidak tersinggung.

  Guru :”Piye sup.” Usup :”Berkonsultasi Bu.” Guru :”Piye lek mu gambar kie?” Usup :”Masih drafnya Bu.” Guru :”Yo sisan wae ra go penggaris.”

lalu usup mengambil penggaris untuk menggambar.

Guru :”Mulane (makanya) koe ora usah kokean(kebayakan)

nonton dangdut neng purawisata.”

Siswa :”Ha ha.”(semua siswa tertawa) Guru :”Omah e neng cedak purawisata.”

  59

TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

  VIDEO 7.

  24 Juli 2009 Guru memotivasi siswa dengan membantu kesulitan siswa tentang memahami konsep tegangan tali dengan Menit 23 menarik tas.

  Guru A 1

1

Siswa :”Bu,T sama T (siswa menunjuk pada gambar) itu 1

2

memang arahnya berbeda bu”? Guru :”Lha tadi kamu sepakat mau bergerak kemana.” Siswa :”Kebawah.”

  Guru : ”Berarti kalau ini bergerak kebawah (menunjuk pada gambar) tali ini menaggung bebanya keatas atau kebawah, tegang kemana?” Siswa :”Kebawah..diatas wis.”

  Guru :”Ini bukan masalah perasaan..ini masalah logika…gimna, kamu kalau menjinjing tali, karena tidak ada tali aku pake tas wae(guru mengambil tas) (guru sambil mengangkat tas) berat dari masa ini (tas) kemana?” Siswa :” Kebawah.”

  Guru :”sekarang tegangan talinya kemana ini?”(sambil melihat kesiswa yang bertanya) Siswa :” Kebawah.” Guru :”Saya menarik ini, yang merasakan talinya ini ke atas

  60

TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

  VIDEO atau kebawah.” Siswa :”Kebawah.”

  Lalu siswa mencoba sendiri menarik tasnya Guru :”Tegangan talinya rasanya kemana keatas atau kebawah?” Siswa :”Keatas.Ooo.”

  Guru :”Maka kalau talinya tidak kuat apa yang terjadi?” Siswa :”Putus.” Guru :”Jelas.” Siswa :”Jelas.”

  8.

  25 Juli 2009 Pengetahuan guru tentang motivasi siswa terungkap Menit 08.28 saat guru membantu kesulitan siswa dalam (video 1 bagian 3) memahami soal.

  Guru A Siswa1 :” Jadi harus dicari satu satu gaya geseknya.” Guru :”Iya inikan tidak dikatakan dihitung keempat-empatnya kan, kecuali dikatakan ini untuk satu roda berarti kamu harus menghitung gaya geseknya empat kali gaya gesekan satu roda, dong?”

  61

TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

  VIDEO Siswa1 :”Ya.” Guru :”Jadi dihitung untuk satu roda saja, nah sekarang ditanyakan berapa gaya horizontal, itu gaya luar nah pertayaan saya ini bergerak dengan kecepatan tetap, artinya opo lek bergerak dengan kecepatan tetap.” Siswa1 :”e.”

  Siswa2 :”(disamping siswa 1) nol.” 9.

  5 Agustus 2009 Guru memotivasi siswa dengan membantu kesulitan Menit 1 (video 1

siswa karena belum bisa mengerjakan soal.

bagian 1) Guru :”Ada yang mau ditanyakan?” Guru A Siswa :“Semuanya bu?” Guru :“Saya akan membahas satu soal nanti yang laenya

  kalian pasti bisa.” Guru :”Oke saya akan membahas satu soal, soal seterusnya apa kamu akan bisa.” 1 Guru: “Ini adalah t (menulis pada gambar) dan ini t .” Guru :“Ini sama tidak?” (menunjukkan pada gambar tegangan tali) Siswa :“Sama bu.”

  62

TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

  VIDEO Guru :“Apa yang dapat kamu simpulkan?” Siswa :(s alah satu siswa) “Tnya sama bu?”

  =2T Guru :“T 1 2 terus, apa lagi?” =2a Siswa :“a 1 2 .” Guru :“Nah, kalau itu sudah kamu peroleh, ya kamu bisa mulai dari T =2T . Kita mulai dari benda 1 (guru menulis) 1 2 a

  ∑F=m 1 1 ya, ∑Fnya apa?” (guru menunjukkan pada benda 1) S -T iswa :“W 1 1 .” Guru :“Sama dengan.”

  • -T = m a Siswa :“W
  • 1 1 1 1 .” Guru menuliskan persamaan Guru :“Ya ndk. Ini persamaan 1, sekarang persamaan 2 (benda 2)persamaannya gimana?”
  • -w Guru :“T
  • 2 2 sama dengan?” Siswa :“m a .” 2 2 dulu (pada persamaan 1) T = m a + w Guru :“Ini dicari T 2 2 2 2 2 terus ini nanti dimasukkan kepersamaan 1, terus ketemu tegangan tali..yo masukan angkanya. jadi konsep yang =2T , a =2a ) utamanya disini mas.” (T 1 2 1 2

      63

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO 10.

    5 Agustus 2009 Guru memotivasi siswa dengan mendekati karena Menit 6 (video 1 siswa ragu dengan jawabanya.

      bagian 1) Guru :“Sudah ada yang ketemu, berapa cahyo?” Guru A Cahyo :“Angkanya jelek bu?” dan a Guru :“Ndk pa pa angkanya jelek. a 1 2 berapa?” Cahyo :“100/55.”

      Lalu guru mendekati cahyo karena ragu dengan jawabanya dan melihat garapan cahyo guru mengecek jawaban siswa dan

    cahyo maju kedepan untuk menuliskan jawabannya.

      11.

      5 Agustus 2009 Guru memotivasi siswa dengan membantu kesulitan Menit 11 (video 1 memahami konsep tegangan tali. Interaksi yang

      bagian 1) terjadi guru menyakinkan siswa dan menyuruh siswa Guru A untuk mengerjakan di depan kelas. Guru :“Tegangan tali disini 2 kali tegangan tali ini, ya kan maka Tnya ini, ya kan (siswa mengangukkan kepala) ini ada dua keadaan, menarik tali neng a sudah diketahui, kalau yang ini kecepatanya tetap berarti kecepatanya nol yo dicoba kedepan, ya konsep dari tegangan tali disini T ini adalah 2 kalinya sana, ini masih satu tali to” Siswa :“Ini masih satu tali to bu.”

      Guru :”Ia, ini kan masihn satu tali.”

      64

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO Siswa :“Bu ini berarti Fnya sama dengan T.” Guru :”Ia.” (lalu siswa maju kedepan)

      12.

      22 Juli 2009 Dalam episode ini guru akan melakukan demonstrasi, Menit 15.35 sebelum memulai demonstrasi guru memberi lelucon Guru B ini bisa menggetarkan ujung hatimu Guru :”Nah..hari ini kita akan melihat gelombang yang lain yang berdasarkan amplitudo...yakni gelombang

      Stasioner. Nah gelombang stasioner ini seperti apa? Ini kita sudah punya alatnya, kita coba. (Guru mengambil alat yang sudah dipersiapkan, dan menempatkan alat tersebut di depan kelas). Alatnya cukup sederhana. Ini namanya penggentar, ini bisa menggetarkan ujung hatimu (saat memberikan lelucon guru melihat kealah

    satu siswa dan siswa tertawa semua)

    Siswa :” Ye.”

      13.

      22 Juli 2009 Guru memberi lelucon “Seperti kalo masih remaja itu Menit 46.29 masih bebas...bisa kemana-mana masih bebas, tapi

      Guru B

    kalo nanti sudah menikah beda sudah

      sebelum memasuki materi gelombang stasioner dengan ujung bebas.

      65

      TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      ILUSTRASI DATA

      VIDEO Guru :”Nah kalo ada pemanatul ujung terikat atau tetap mestinya ada pemantul ujung...? Siswa :Bebas...(berapa siswa menjawab)

      Guru :”Bebas..(guru menulis dipapan tulis, gelombang stasioner ujung bebas) Guru :”Ini tidak bisa dipraktekkan tapi kita gambarkan saja, ujung bebbas seperti apa..Ujung bebas itu talinya dibuat logro ya..jadi ini dia bisa... naik turun. Nah ini kita namakan titik asal getaran (guru menggambar gelombang dengan ujung bebas dan memberi keterangan pada gambar)Kemudian disini ujung pemantul atau x = 0 ini gelombang datang y dan ini 1 gelombang pantul, y . 2 Guru :”Agak susah membuat peralatan gelombang stasioner ujung bebas.Tetapi untuk ujung bebas itu ini bebas, jadi bisa bergerak ke atas dan ke bawah (menunjuk pada gambar). Seperti kalo masih remaja itu masih bebas...bisa kemana-mana masih bebas, tapi kalo nanti sudah menikah beda sudah..(siswa tertawa)

      14.

      23 Juli 2009 Pengetahuan guru tentang motivasi siswa terungkap Menit 40 dengan apa yang membuat siswa menarik Guru B ”Waw...tik” guru mengikutinya sehingga pelajaran demonstrasi yang berikan menjadi menyenangkan dan

    siswa pun mudah menerima pejelasan guru.

      Guru :”Tadi ada bidang yang papa namanya...normal. Nah itu yang sudah memantul yang ada kotak-kotaknya

      66

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO itu...Nah kalau yang memantul itu adalah gelombang..muka gelombang, satuya tadi apa?datar..satunya melingkar.Kalau yang memantul itu gelombang melingkar..tapi kayaknya ini tidak mudah.

      Melihat ini justru kita jadi bingung ya..jelas ini yang mendatar yang memantul yang mana?Sulit untuk melihat, malah gak usah pakai penggetar...Kita timbulkan gelombang melingkar. Begini..tik (menyentuh permukaan air pada tank dengan ujung jari)Namanya apa tadi?

      Siswa :”Waw...tik.. (serempak siswa tertawa)

      Siswa : ’lagi-lagi pak.” Guru :”namanya tadi apa?”

      Siswa :”tik.” Lalu mempraktekanya lagi dan siswa tertawa

      15.

      25 Juli 2009 Guru memberi apresiasi terhadap jawaban siswa Menit 13.00 dengan memberi pujian “betul

      Guru B Guru :”Ya..kalo mengenai bidang pemantul...betul.(mencatat dipapan tulis). Untuk pemantulan gambarnya agak susah, makanya perhatikan betul. Kemarin melihatnya juga sangat susah, menggambarnya sekarang juga susah. Kita lihat, kita buat dulu front gelombang datang, untuk memudahkan kita gambar sinar gelombang dulu. Ingat nanti front muka gelombang dengan sinar muka gelombang harus bagaimana?

      

      67

    ILUSTRASI DATA

      68 TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO Mengaktifkan siswa 1.

      24 Juli 2009 Menit 01.00 Guru A Dalam episode ini, guru mengaktifkan siswa dengan melakukan tanya-jawab mengenai materi yang sudah dipelajari.

      Guru : ”Pertemuan yang lalu saya bicara tentang gaya gesekan (guru menulis di papan tulis), konsep gaya gesekan kemarin bagaimana?

      ”(Guru memberi pertanyaan kepada semua murid, guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menjawab, lalu guru membantu dengan memberi pancingan.)

      Guru : ”Terbentuk pada?” Siswa : ”Dua bidang.” G : ”Yang kedua terus (guru sambil berkeliling melihat kearah siswa) arahnya?

       S : ”Berlawanan dengan kencenderungan arah gerak benda.

       G : ”Sekarang persamaannya? F g (gaya gesek) kemarin bagaimana?

    S :

      “µ N.” G : “Karena kita mengenal suatu benda dalam kedudukan diam atau bergerak kemarin kita pisahkan dua kan, yang tepat akan bergerak berarti dia masih? ” S :

      ”Diam.” G : “Maka pada saat benda diam gaya gesek yang bekerja?

       S : ”Gaya gesek statis.” G :

    “Kalau sudah bergerak?”

    S : “Kinetis.”

    ILUSTRASI DATA

      69 TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO G : ”Perubahan dari statis ke kinetis terjadi secara?” S : ”Otomatis.” 2.

      24 Juli 2009 Menit 9 Guru A Guru mengaktifkan siswa dengan mengajukan pertayaan “pertayaan yang ke dua sekarang, kalau gaya tarikanya 10 N,perhatikan pertayaanya berapa besar gaya gesekan saat itu?ayo siapa?” (guru memberi tanda untuk siswa menjawab dengan mengacungkan tangan) Guru :”Pertayaan yang ke dua sekarang,kalau gaya tarikanya

      10 N,perhatikan pertayaanya berapa besar gaya gesekan saat itu?ayo siapa?” (guru memberi tanda untuk siswa menjawab dengan mengacungkan tangan) Guru :”Siapa yang 20,lebih dari 20.”

      Siswa :”20.” Guru :”Saya ulangi kita tadi sudah menghitung gaya gesek statis maksimumnya tadi

      20N kasusnya masih sama,sekarang benda ini akan saya tarik(guru menunjukkan gambar didepan papan tulis) gayanya saya ubah 10 N,pertayaan saya(guru memberi pertayaan sambil melihat keseluruh siswa)berapa besar gaya gesekan saat itu?” (siswa diam memikirkan jawaban dan guru melihat siapa siswa yang bisa menjawab,lalu guru memancing)

      Guru :”20.”(,sambil melihat satu siswa)

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO Si swa :”10.”

      3.

      25 Juli 2009 Guru mengaktifkan siswa dengan meminta siswa Menit 8 (video 1) mengerjakan ke depan. Guru A

      Guru :”Siapa yang masih bertanya coba selidiki yang B nanti maju.” Guru :”Kalau ditarik dengan gaya 30 N siapa yang mau maju?”

      Siswa1 :”(satu siswa)diitung lagi ndk bu?” Guru :”Diitung lg ndk (bertanya keseluruh kelas) F gsmax ?” Siswa :”Tidak usah.” Guru :”Karena bendanya tidak berubah bidangnya tetap jadi kekasaranya tetap, siapa yang mau maju kedepan rama?(nama sisw) ra sah gowo buku ma wong wis ono neng kene, siapa yang mau mencoba yang c (ada siswa yang maju) siapa yang mau mencoba no.2?”

      25 Juli 2009

      4. Guru mengaktifkan siswa dengan meminta siswa Menit 8.50 (video secara langsung untuk mengerjakan soal di depan

    1) Guru A kelas.

      

    Guru :”Sekarang no. 2 brani 2a sup.”(nama siswa)

      70

    ILUSTRASI DATA

      71 TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO Guru :”yo maju..(usup maju kedepan) ya maju. 2b koe frans.

      5.

      22 Juli 2009 Menit 1 Guru B Guru mengaktifkan siswa dengan melakukan tanya- jawab dengan siswa Guru : “Baik..kita sudah mempelajari berbagai macam gelombang. Berdasarkan arah getarnya dibagi menjadi gelombang apa dan apa?” Siswa :

      ”Longitudinal dan transversal.” (Siswa menjawab serempak) Guru : “Transversal dan longitudinal. Transversal kalo bagaimana?” Siswa : ”Tegak lurus.”(Siswa menjawab serempak) Guru : “Tegak lurus arah?”(Berhenti sejenak menunggu jawaban siswa)

    Siswa : “Getarnya.”(Beberapa siswa menjawab)

      Guru : “Tegak lurus arah getar atau arah rambat? Kalo longitudinal?” (Menunggu jawaban siswa) Siswa :

      ”Searah.” (Beberapa siswa menjawab) Guru : ”Terus yang kedua berdasarkan apa?” (Menunggu jawaban siswa)

    Siswa : “Medium” (Salah satu siswa menjawab)

      Guru : ”Medium yang dilalui apa saja? Gelombangnya?” Siswa : ”Mekanik.” Guru

      

    :”Yang ketiga berdasarkan apa?”

    Siswa :”Amplitudo.” Guru :”Amplitudo, yang kita pelajari tentang gelombang.

      Gelombang apa? ” Siswa :”Gelombang berjalan.”

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO 5.

      22 Juli 2009 Dalam episode ini terungkap guru mencoba Menit 18 mengaktifkan siswa dan kelas dengan meminta dua Guru B siswa aktif (Kitin) dan pendiam (Marla)

      Guru : ”Silahkan dicoba...Apa yang dilihat...Ya..bayanganmu seperti apa? Gambar saja..lalu yang kamu lihat seperti apa? Ya..betul seperti itu? coba yang lain? Siapa..? Yang lain yang punya pendapat lain?Marla coba...(menunjuk siswa lain) Coba digambarkan..yang kamu lihat itu seperti apa? pengamatannya sama ndak? ya coba digambarkan..Bisa thp menggambarkan ini? kelihatan kan?Gambarkan di bawahnya Kitin. Ya betul gambarkan dari kiri ke kanan...Betul begitu? selesai? Kamu tu lihatnya seperti apa? Kalau kamu gambarkan? Ya..memang..dua sampel beda-beda ya..mungkin Kitin ndak pakai kaca mata gambarnya Cuma satu. Kalau kita lihat yang betul- betul mirip yang mana?”

      Siswa :”Yang bawah.”(lalu guru menggambarkan yang benar) Guru :“Punya’e Marla tadi..tapi ini lebih mblenduk ya..Ini sebenarnya kalau ini diubah-ubah..kemungkinan akan ada kejadian lain. Kita coba ya..Kalau berat? tambah apa? Selain itu jaraknya kita tambah..apa yang terjadi?Kalau bebannya saya tambah lagi? Sekarang beda lagi.” Sis wa :”Tambah kecil, tambah lebar.”

      Guru :”Sekarang beda lagi(guru menggeser alat) sekarang ada

      72

      TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      ILUSTRASI DATA

      VIDEO berapa?” Siswa :”Tiga.”

      5.

      22 Juli 2009 Dalam episode ini terungkap cara guru mengaktifkan Menit 70 siswa, guru meminta siswa untuk maju ke depan Guru B mengerjakan soal dengan memancing siswa. Guru memancing siswa dengan mengerjakan sebagian soal.

      Guru :”Ya..siapa mau maju...?Ya kita coba dulu...diketahui apa? berarti panjang kata dari sini ke sini ya..dari ujung pemantul sampai sana ya...berarti ini l = frekuensinya = 8Hz, amplitudo, amplitudo gelombang yang datang atau yang pantul? v nya berapa? Merambat ke kanan yang lain ujung terikat ya...Tentukan : a apa? amplitudo gelombang hasil interferensi..apa?Tali pada persamaan ini kan kita ...ini namanya apa?A ini namanya apa? A (melingkari S S persamaan) Ini namanya amplitudo gelombang interferensi pada titik x . Ya tadi yang ditanya apa? A S untuk x = 61, x nya berapa? Ingat x tadi dihitung dari mana? Siswa :”Ujung pemantul..(salah satu siswa menjawab) Guru :”Ujung pemantul ya...jadi ujung pemantul terhadap titik tersebut. Lha kalo titiknya ini titik asal ini pemantul, terus...ini tadi titk awalnya kan setarus ya..jadi 100-61. Yang b apa? Letak simpul ke lima dan

      73

    ILUSTRASI DATA

      74 TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO letak perut keempat dihitung dari mana?Dari titik asal getaran..Ya sudah saya bantu..paling tidak yang a bisa diselesaikan, siapa yang mau maju?Erin coba?yang a saja...Nah jadi untuk ujung terikat yao berarti ini 2A sin kx berarti hraus cari k.

      (Salah seorang siswa maju untuk mengerjakan) Siswa :”Pak mencari simpul kelima dan keempat dari asal pemantul kan pak?

      Guru :”Ya pertayaannya apa disitu? Siswa :”Oh ya.” Guru

      :”Yang ditanyakan titik asal getaran tapi kalo x tadi apa? Siswa :Pemantul.. Guru :”Ya pemantul..dicari apa dulu? Siswa

      :”x.. Guru :”Ya nyari x dulu baru..dikurangi,betul sekali Guru

    :”Ya...k nya sudah tau belum?erin?

    Siswa :”Belum...

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO 6.

      23 Juli 2009 Guru meminta untuk siswa mengerjakan ke depan Menit 03.56 setelah guru melihat pekerjaan siswa. Dengan cara Guru B inilah guru mengaktifkan siswa.

      Guru : “ Ya Nopen no. 8.” (lalu Nopen maju ke depan untuk mengerjakan) 7.

      23 Juli 2009 Dalam episode ini guru mengaktifkan siswa dengan Menit 15.38 cara meminta siswa maju ke depan berdasarkan no Guru B absen.

      Guru : “Sekarang no. 11, yang maju no. Absen 11.. siapa?” Siswa : “Melly.” Guru

      : “ Ya meli maju.”

      75

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO

    PENGETAHUAN GURU TENTANG MISKONSEPSI DAN KEMAMPUAN AWAL SISWA

    Miskonsepsi

      TIDAK DITEMUKAN siswa Kemampuan 1. 24 juli 2009 Sebelum memasuki subbab baru yaitu diagram bebas awal siswa Menit 17 gaya dua benda dihubungkan dengan tali guru melihat Guru A kemampuan awal siswa dengan tanya jawab dan mendekati siswa.

      Guru :”Sekarang bagaimana diagram bebas gaya kalau benda dihubungkan dengan tali (guru menulis dipapan tulis) kita pakai untuk bidang datar dulu (guru menggambarkan benda ditarik oleh tali tanpa menggunakan penggaris tapi hasilnya bagus) gambarkan vector gayanya..(sambil berjalan kearah siswa guru bertanya) gaya apa dulu yang harus bekerja?’

      Siswa :”Gaya berat.” Guru :”Pada benda mana”.

      Siswa : ”1 dan 2”. Guru :”Terus?” Siswa :”Gaya normal”.

      Guru : ”(saat siswa menjawab gaya normal guru spontan bertanya kepada siswa yang disampingnya) Pada benda

      76

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO mana gaya normalnya”? Siswa 1 : ”(1 orang siswa) M . ” 1 tidak ada gaya normalnya

      Guru :”Kenapa M 2 ?” S . iswa 1 :”Ditambah M 1 ” Guru :”Ditambah M 1 ?”(meragukan jawaban siswa) Guru :”Kamu?”(menunjuk siswa lain)

      Siswa 2 :”Menggantung.” Guru :”Menggantung.”(menegaskan jawaban siswa benar) Guru :”Konsep gaya normal gimana?” Siswa 1 :”N = W.” Guru :”N = W? konsep gaya normal piye,masih ada yang ingat

      ?”(bertanya kepada seluruh siswa) Siswa :”Tegak lurus,tegak lurus lintasan.” Guru : ”tegak lurus? gaya normal hanya dimiliki oleh apa sih? oleh benda yang..terletak

      ?” Siswa :”Pada bidang.” Guru : ”terletak pada suatu bidang atau pada benda lain.

      Sedang M disitu gimana

    2 ?”

      77

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO

    Siswa :” (salah satu siswa menjawab) Melayang.”

    Guru,”kok melayang”. (guru menjawab sambil tertawa kecil dan siswa tertawa) Siswa,”menggantung”.

      2.

      22 Juli 2009 Dalam episode di bawah ini, guru mencoba Menit 18 mengetahui kemampuan awal siswinya dalam Guru B menggambarkan gelombang stasioner.

      Guru :”Silahkan dicoba...Apa yang dilihat...Ya..bayanganmu seperti apa? Gambar saja..lalu yang kamu lihat seperti apa?Ya..betul seperti itu? coba yang lain? Siapa..? Yang lain yang punya pendapat lain? Marla coba...(menunjuk siswa lain) Coba digambarkan..yang kamu lihat itu seperti apa? pengamatannya sama ndak? ya coba digambarkan..Bisa thp menggambarkan ini? kelihatan kan? Gambarkan di bawahnya Kitin. Ya betul gambarkan dari kiri ke kanan...Betul begitu? selesai? Kamu tu lihatnya seperti apa? Kalau kamu gambarkan? Ya..memang..dua sampel beda-beda ya..mungkin Kitin ndak pakai kaca mata gambarnya Cuma satu.

      78

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO Kalau kita lihat yang betul-betul mirip yang mana?

      Siswa :”Yang bawah.”(lalu guru menggambarkan yang benar) Guru :”Punya’e Marla tadi..tapi ini lebih mblenduk ya..Ini sebenarnya kalau ini diubah-ubah..kemungkinan akan ada kejadian lain. Kita coba ya..Kalau berat?tambah apa? Selain itu jaraknya kita tambah..apa yang terjadi? Kalau bebannya saya tambah lagi? Sekarang beda lagi.” Siswa

      :”Tambah kecil, tambah lebar.” Guru :”Sekarang beda lagi(guru menggeser alat) sekarang ada berapa? ” Siswa

      :”Tiga.”

      79

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO

    PENGETAHUAN GURU TENTANG KESULITAN BELAJAR SISWA

    Mengajukan

      1. 24 juli 2009 Guru mengajukan pertayaan :”kalau sekarang benda ini pertayaan Menit 3 saya tarik dengan gaya F kekanan (pada gambar),arahnya 1 Guru A bergerak kekanan,bagaimana dengan arah gaya geseknya?” untuk melihat pemahaman siswa mengenai konsep gaya gesek.

      Guru :”Setiap keadaan kita akan menyelidiki dahulu,bendanya masih diam atau bergerak,kita lihat pada diagram bebas gaya,ini ada suatu benda terletak pada suatu bidang datar(guru menggambar di papan tulis),dilihat ada gaya apa saja disitu

    ?”

      Siswa :”Gesek, normal, berat.” Guru :”Bagus, nah sekarang kita lihat dulu,bagaimana

    menggambarkan gaya beratnya?”

    Siswa :”Pada pusat simetri.”

      Guru :”Ya pada pusat simetrinya,itu kalau pada bendanya teratur, arahnya?” Siswa :”Menuju pusat bumi.”

      Guru :”Gaya normalnya terletak dmana?” Siswa :”Pada permukaan bidang.”(dan guru menggambarkan)

      80

    ILUSTRASI DATA

      81 TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO Guru :”Kalau sekarang benda ini saya tarik dengan gaya F 1 kekanan (pada gambar),arahnya bergerak kekanan,bagaimana dengan arah gaya geseknya?

       Siswa :”Berlawanan.” Guru :”Ya, berlawanan dengan kecenderungan arah gerak benda(guru menggambarkan),kalau sekarang seluruh diagram bebas gaya itu kita terapakan/masukan dalam hukum newton,yang mempertahankan benda ini dalam kedaan diam,kita menggunakan persamaan ∑F.” Siswa :” Sama dengan nol.”

      Guru :”Pada sumbu apa?” Siswa :”x,x..x(jawaban siswa salah dan guru memberi arahan/pancingan) Guru :”Pada sumbu apa yang mempertahankan benda dalam keadaan diam sumbu?” Siswa :”Y.”

      Guru :”Jadi ∑F y = 0.” (siswa menjawab bersama-sama) Guru :”Persamaanya ini gimana?”(guru siwa menjawab bersama hingga menemukan persamaan) Guru :”Sekarang pada sumbu x (guru dan siswa menjawab bersama-sama)dengan mengotaki persamaan ∑F x =0,guru memberi pertayaan)ini artinya bendanya

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO masih?” Sis wa :”Diam.”

      Guru : ”Kalau bendanya sudah begerak, kalau bergerak pada sumbu apa?” Siswa :”Sumbu x.”

      Guru :”Berarti.” Siswa :”∑F x = ma.” 2. 24 juli 2009 Guru mengajukan pertayaan :”pertayaan yang ke dua

      Menit 7 sekarang,kalau gaya tarikanya 10 N,perhatikan pertayaanya

      Guru A berapa besar gaya gesekan saat itu?

      Untuk melihat pemahaman siswa mengenai konsep gaya gesek secara individual, dengan bertanya mengenai konsep gaya gesek secara individual guru dapat mengetahui apakah siswanya paham konsep yang guru maksud, mulanya guru bertanya kepada kelas, lalu guru mendekati siswa secara person untuk melihat pemahaman siswa seperti yang terlihat dalam

      82

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO transkrip.

      Guru :”Misalkan di ketahui masa bendanya 10 kg,kemudian percepatan grafitasinya 10 m/s2,koefisien gesek statisnya 0.2,ditarik gaya F =50N,coba diselidiki bendanya sudah

    1

    bergerak atau belum?”(guru melontarkan pertayaan dan melihat kearah siswa,siswa masih ragu-ragu,ada yang menjawab sudah,ada yang belum)

      Guru :”Darimana kamu mengatakan sudah?”

    Sis wa :”Masanya (m) lebih besar dari f gesek statis.”

    dulu sama dengan Guru :”Kita selidiki dahulu, masuk ∑F y nol,berarti berapa?”(guru dan siswa menjawab bersama dengan Tanya jawab hingga menemukan f gesek maksimum = 20 N). Guru :”Benda ini mendapat gaya luar sebesar 50 N,tetapi gaya gesek maksimum yang mempertahankan bendanya 20

      N,jadi dia sudah bergerak atau belum?” Siswa :”Sudah.” lebih besar dari F gesek statis Guru :”Karena F 1 maksimum,maka kita bisa menyimpulkan,benda sudah bergerak.”(bersama murid)

      Pertayaan ubahan Guru :”pertayaan yang ke dua sekarang,kalau gaya tarikanya

    10 N,perhatikan pertayaanya berapa besar gaya

      83

    ILUSTRASI DATA

      84 TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO gesekan saat itu? ayo siapa?” (guru member tanda untuk siswa menjawab dengan mengacungkan tangan)

      Siswa :” 20.” Guru :”Siapa yang 20,lebih dari 20.” Guru :”Saya ulangi kita tadi sudah menghitung gaya gesek statis maksimumnya tadi

      20N kasusnya masih sama,sekarang benda ini akan saya tarik (guru menunjukkan gambar didepan papan tulis) gayanya saya ubah 10 N, pertayaan saya (guru memberi pertayaan sambil melihat keseluruh siswa) berapa besar gaya gesekan saat itu?” (siswa diam memikirkan jawaban dan guru melihat siapa siswa yang bisa

    menjawab,lalu guru memancing)

      Guru :”20?” Siswa :”10.” guru berjalan mendekati siswa. Guru :”Alasanmu apa frans kamu mengatakan 20.” (guru berada disamping siswa) Frans :”Kalau masih diam,gaya geseknya maksimum.”(dan guru mengulangi jawaban siswa,guru berjalan lagi mendekati siswa lain..) Guru :”Kamu bag…km bagyo 1 yang itu bagyo 2,kamu saya panggil bagyo 1(saat guru memberi guyonan bagyo siswa tertawa sehingga mencairkan suasana karena

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO

    siswa masih pada bingung)..kenapa?”

    Bagyo :”Karena menariknya Cuma 10.”(dan guru mengulangi jawaban siswa,guru berkeliling lagi mendekati siswa) Guru :”Ada pendapat yang lain,piye de,menurut kamu

    berapa?”(guru berada didekat siswa)

    De :”20.”

      Guru :”Alasanmu apa?” De :”Kalau masih belum bergerak masih pake yang tadi.” (guru mengulang jawaban siswa) Guru :”Yang tadi yang mana?”

      De :”Gaya gesek statis”. (guru terus memburu jawaban siswa) Guru :”Yang statis apa?” De :”Maksimum”.

      3. 24 juli 2009 Guru mengajukan pertayaan kalau..(sambil Menit 22.24 menunjukkan gambar) mejanya sampai bawah,ada

      Guru A gaya apa lagi?” untuk mengetahui konsep gaya gesek dan gaya normal.

      Guru :”Kalau..(sambil menunjukkan gambar) mejanya sampai bawah,ada gaya apa lagi?”

      85

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO Siswa :”Gaya gesek.”

    Guru :”Gaya gesek,kemana arah gaya geseknya?”

    Siswa :”Keatas.” Guru :”Lalu gaya apa lagi?” Siswa :”Normal.” Guru :”Kemana gaya normalnya?” Siswa :”Kekanan.” Guru :”Konsep gaya normal?” Siswa :”Tegak lurus bidang.” Guru :”Jadi apapun konstruksinya, kalau kamu memahami tadi.konsep-konsep dari hari pertama itu, gaya normal, gaya berat, bagaimana penentuan titik tangkap gaya normal,gaya berat.” 4.

      25 Juli 2009 Guru mengajukan pertayaan mengenai konsep gaya Menit 17.29 gesek Guru A Guru :”Coba perhatikan ini yang lain, perhatikan teman kamu menghitung fg kinetiknya 260 N fg statisnya 520, untuk menjaga benda bergerak dengan kecepatan tetap berapa gaya luar yang harus kita berikan (pertayaan

      86

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO untuk kelas) yo s emua berpikir?”

      Siswa :”(salah satu siswa) Sama dengan gaya gesek kinetic.” Siswa :”(siswa lain) 260 N.” Guru :”Lalu berapa lagi, cahyo berapa , berapa lee?” Siswa :”(siswa lain)260N.” Guru :”Fuad?” Fuad :”260.” Guru :”Kenapa tidak 520.” Siswa :”Karena bendanya sudah bergerak.” Guru :”Itu jawabanya, jadi meskipun statisnya 520 untuk dia (benda) bergerak memang harus melawan itu, tapi pertayaan disini adalah setelah dia (benda) bergerak maka setelah dia (benda) harus mengalahkan 260 N jelas.” Guru

      :”Jadi harus hati-hati ya, menyelidiki sebelum benda bergerak atau benda sudah bergerak, hati-hati konsepnya disitu.”

      87

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO Mengoreksi 1.

    25 Juli 2009 Guru mengoreksi jawaban siswa tentang gaya gesek jawaban siswa Menit 13 kinetis.

      Guru A Guru :”Ini huruf opo ini?”(menunjukkan tulisan siswa diatas) Siswa1 :”N.” Guru :”Untuk symbol apa ini?” Siswa1 :”Normal.” Guru :” n kecil opo N besar (lalu siswa memperbaiki) ini f geseknya yang mana yang kamu pakai?” Siswa1 :”Kinetis.” Guru :”Kinetis? alasanmu opo?” Siswa1 :”Bendanya bergerak.”

      Membimbing 1.

    25 Juli 2009 Guru membimbing siswa dalam menggambar siswa Menit 26.40 diagram bebas gaya.

      (video 1 bagian 3) Guru :”Terus gambar bendanya tegak lurus bidang miring, ya

      Guru A terus sejajar bidang miring (menggambar komponen gaya) sekarang gambar w nya kemana arahnya?”

      Siswa :”Kebawah sini.” Guru :”Ya, w itu tegak lurus pada bidang datar..ini dari titik

    tengah benda arahnya mana?”

      88

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO Guru :”Coba lihat catatan kamu, gambarnya seperti ini lho.” guru terus membimbing langkah demi langkah dan guru menunjukkan gambar yang dibuat guru yang terdapat didalm catatan siswa..

      Menggali 1.

    25 Juli 2009 Guru menggali pemikiran siswa tentang konsep gaya

      pemikiran siswa Menit 1(video 1 gesek.

    bagian 3) Guru :

      ”Nah saiki nek benda ini ditarik oleh gaya F cos 60= Guru A

      160 N padahal pertahananya 310 N kesimpulanmu opo? ” Usup : ”Tidak bergerak.” Guru : ”Jadi percepatanya saat itu.” Usup :

      ”Nol.” Guru : ”Sekarang kalau saya beri gaya 200 N wis gerak rung?” Usup : ”Belum.” Guru :

      ”Kalau saya beri gaya 310N sudah bergerak apa belum? Usup : ”Hampir gerak.”

      Guru : ”Berarti sudah bergerak apa belum?”

      89

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO Usup : ”Belum?” Guru : ” Kalau saya kasih 311N sudah bergerak belum?” Usup :

      ”Sudah.” Guru : ”Jadi kesimpulanya benda akan bergerak kalau?” Usup : ”Fgesek maks lebih kecil dari F yang diberikan.” Guru : ”Ya, gaya luar yang diberikan lebih besar dari F gesek, dong ra?

      Usup : ”Ya.” 2.

    5 Agustus 2009 Guru menggali pemikiran siswa tentang konsep Menit 13.43 tegangan tali.

      Guru A Guru :“Ada yang masih belum bisa?” Siswa :“Belum.” Guru :“Mana yang belum.” (guru mendekati siswa) Guru :“Kalau ini a nya turun, maka talinya yang disini akan 1 menarik benda 2 kemana?”

      Siswa: “Keatas.” Guru :“Sekarang prinsip dari hukum ke II Newton, searah dengan kecenderungan gerak benda Fnya diberi tanda?”

      90

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO Siswa :“Positif.” Guru :“Jadi T nya positif min W masanya yang tertarik disini 2 2 m , a juga a karena percepatan a ini tidak sama dengan 2 2 2 a , nah sekarang T ini aksen ini masih satu tali, aksi 1 2 reaksi kan.”

      Siswa :“Ia.” Guru :“Maka disini namanya juga masih T 2 .” Siswa :“O..iya ya.” atau a Guru :“Ya kan, kemana geraknya yang lebih cepat a 1 2 meluncurnya lebih cepat nah..makanya percepatan ini 2

    kalinya percepatan ini, dong ora?”

    Siswa :“Ia.”

      Guru :”Jadi hukum ke II dan hukum ke III, jangan lupa dari konsep kencenderugsn arah gerak benda kemana, gaya yang searah diberi tanda positif. Nah coba sekarang ditentukan persamaanya untuk W piye? 1 Siswa mengerjakan dan guru melihat Siswa :“W -T .” 1 1 G -T , terus hubunganya a dan a tadi uru :“Nah ini W 1

    1

    1 2 gimana, a berapa kalinya a .” 1 2 Siswa :“2 kalinya.”

      91

    ILUSTRASI DATA

      92 TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO Mengingatkan konsep penting 1. 24 juli 2009

      Menit 19 Guru A Guru mengingatkan siswa tentang konsep menggambar diagram bebas gaya.

      Guru :”(guru menuliskan vector-vektor gaya) Jadi kita gambarkan disini W 1 ,kemudian W 2 ,perhatikan cara menggambar W 2 ,ni ya titik tangkapnya (guru sambil menunjukkan gambarnya dan memperhatikan siswanya),karena bendanya teratur berada dititik pusat simetri,karena kita belum berbicara titik berat,kemudian yang punya gaya normal, tadi apa?”

      2. 24 juli 2009 Menit 21 Guru A

      Guru mengingatkan siswa tentang dikelas X kemarin bagaimana menggambarkan gaya tegangan talinya,tentukan dulu arah?” Guru :”Ini dihubungkan dengan katrol yang licin,saya masih membicarakan katrol yang licin,nanti disemester 2 baru katrolnya kasar,karena kita masih berbicara katrol licin maka tidak ada gesekan antara katrol dengan tali.,sekarang pada tegangan tali. dikelas X kemarin bagaimana menggambarkan gaya tegangan

    talinya,tentukan dulu arah?”

      Siswa :”Gerak benda.”

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO Guru :”Mau kemana gerak benda.” Siswa :”Atas.”

      3. 24 juli 2009 Guru mengingatkan konsep vektor di kelas X.

      Menit 27 Guru : ”Nah lihat arah geraknya, dulu dikelas X saya sudah

      Guru A mengatakan, gaya yang searah dengan kecenderungan gerak diberi tanda? ”

      Siswa : ”Positif.” 4. 24 juli 2009 Dalam episode ini pengetahuan mengenai kesulitan

      Menit 2 (video 2) belajar siswa terlihat dari cara guru mengingatkan Guru materi penting di kelas satu. Dengan mengingatkan materi lalu guru mengetahui kesulitan siswa dan guru mengingatkan agar siswa tidak terjebak dan mengalami kesulitan.

      Guru : ”Gambar dulu harus ada gambarnya ni nanti lek ulangan tak salah ke.

      ” (menunjuk salah satu catatan siswa) Siswa : ”Mung latihan bu.” Guru : ”Latihan yo harus komplit.w cos w sin tetep digambar komplit, tidak ada dispensasi apapun ya konstruksi gayanya, diagram bebas gaya harus komplit, harus benar menggambar vektornya. harus dimulai dari sekarang menggunakan penggaris karena kamu belum bisa

      93

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO menggaris lurus..komponen gaya dari ujung vector itu teori tentang vector dikelas X cari proyeksinya .”

      5. 25 juli 2009 Saat siswa mengerjakan di depan guru mereview Menit 8 kejadian kemarin mengenai konsep gaya gesek sambil Guru A mendekati siswa. Dengan mereview kemabali materi konsep penting guru mengetahui kesulitan siswa.

      Guru : ”Gaya gesek statis maksimum benda tidak akan bergerak sehingga gaya gesek saat itu adalah..gaya luar yang diberikan ya kan kemarin saya contohkan menarik meja, mejanya tetap diam padahal sudah saya tarik sampai metekol tapi mejanya masih belum bergerak. berarti gaya gesek saat itu adalah sebesar..gaya yang saya berikan. ”

      6.

    22 Juli 2009 Guru mengingatkan agar tidak lupa letak perut dan Menit 64 simpul dengan cara memasukan nilai n.

      Guru B Guru :”Kalo tidak ada pertanyaan, kita review sebentar.

      Guru :”Eh..biar tidak lupa...ini letak perut atau letak simpul (menulis persamaan untuk x letak perut dan letak simpul terhadap ujung pemantul)Yang ini letak perut atau simpul?Cara mengingatnya bagaimana?Cara mengingatnya, kalo ujung apa ini tadi? Siswa :”Terikat.”

      94

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO Guru :”Terikat...simpul pertama x nya berapa?nol..kalo dimasukkan nol ini nol nggak? Siswa :”Nol.” Guru :”Kalo ini, nol nggak?”

      Siswa :”Nggak.” Guru :”Jadi kalo ini simpulnya,dimasukkan nol harus ketemu nol, kalo ini perutnya tidak nol ya..

      (menunjuk pada grafik gelombang stasioner ujung terikat) Berarti kalo yang ini yang perut yang mana? (menunjuk pada grafik gelombang stasioner ujung bebas.) Yang kalo dimasukkan n= 0 harus nol maka,yang ini jadi perut (menunjuk pada persamaan simpul pada gelombang stasioner ujung terikat). Ini grafiknya sinus maka sin kx cos . Ini grafiknya

       t cosinus maka cos kx sin .Ini persamaan ini dan n =

       t 0 pasti punya’e ujung terikat dan simpul. Karena kalo dimasukkan n =0 simpul pertama harus nol. Kalo ini persamaannya harus ini juga untuk perut supaya dimasukkan n = 0 harus ketemu nol. Soal yang sudah

    difotocopy tadi silahkan dibahas.

      95

      TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      ILUSTRASI DATA

      VIDEO 7.

      22 Juli 2009 Guru mengingatkan”Ingat x tadi dihitung dari mana” Menit 80

    nilai x selalu dihitung dari ujung pemantul

    Guru B

      Guru :”Ya..siapa mau maju...?Ya kita coba dulu...diketahui apa?berarti panjang kata dari sini ke sini ya..dari ujung pemantul sampai sana ya...berarti ini l = frekuensinya = 8Hz, amplitudo, amplitudo gelombang yang datang atau yang pantul? v nya berapa? Merambat ke kanan yang lain ujung terikat ya...Tentukan : a apa? amplitudo gelombang hasil interferensi..apa? Tadi pada persamaan ini kan kita ...ini namanya apa?A ini namanya apa? A (melingkari S S persamaan)Ini namanya amplitudo gelombang interferensi pada titik x . Ya tadi yang ditanya apa? A S untuk x = 61, x nya berapa?Ingat x tadi dihitung dari mana?

      Siswa :”Ujung pemantul..(salah satu siswa menjawab) Guru :”Ujung pemantul ya...jadi ujung pemantul terhadap titik tersebut. Lha kalo titiknya ini titik asal ini pemantul, terus...ini tadi titk awalnya kan setarus ya..jadi 100-61. Yang b apa? Letak simpul ke lima dan letak perut keempat dihitung dari mana? Dari titik asal getaran..Ya sudah saya bantu..paling tidak yang a bisa diselesaikan, siapa yang mau maju? Erin coba? yang a saja...Nah jadi untuk ujung terikat yao berarti ini 2A sin kx berarti hraus cari k. (Salah seorang siswa maju untuk mengerjakan) Siswa : ”Pak mencari simpul kelima dan keempat dari asal pemantul kan pak? Guru :”Ya pertayaannya apa disitu?

      Siswa :”Oh ya..

      96

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO Guru :”Yang ditanyakan titik asal getaran tapi kalo x tadi apa? Siswa : ”Pemantul.. Guru :”Ya pemantul..dicari apa dulu? Siswa

      :”x.. Guru :”Ya nyari x dulu baru..dikurangi,betul sekali Guru

      :”Ya...k nya sudah tau belum?erin?Sela(14:40) Siswa :”Belum...

      2 

      Guru (14) :”k nya kemarin itu sama dengan apa?8.

      23 Juli 2009 Guru mengingat letak simpul dan perut sebelum siswa Menit 1.56 mengerjakan soal Guru B Guru : “Simpul kelima n sama dengan berapa?(memberi petunjuk pada siswa yang mengerjakan didepan)

    yang lain silahkan dikerjakan.”

      Karena melihat siswa bingung guru bertanya kepada siswa lain. Guru : “Yang lain simpul kelima nnya berapa?” Siswa : “Empat.” Guru

      : “n kan selalu berkurang?” Siswa : “Satu.”

      97

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO

      23 Juli 2009 Guru mengingatkan bagaimana menghitung letak tiik Menit 1.56 perut dan simpul Guru B Guru : “Ya ada pertayaan, x itu selalu dihitung dari apa? Siswa

      : “7,0.” Guru :“Kalau ditanyakan terhadap atas bawah gimana, harus di?”

      Siswa : “Dikurang.” 9.

      23 Juli 2009 Pengetahuan guru mengenai kesulitan belajar siswa Menit 13.14 terlihat dari guru mengulangi untuk mengingatkan Guru B siswa agar tidak salah mengerjakan soal.

      Guru :“Panjang xnya berapa, simpul kelima nnya sama dengan berapa?” Guru : “Cepat rambat, amplitudo berapa?” Guru : “Saya ulangi lagi (menulis di papan tulis) ini adalah pemantul ini asal getaran sedangkan xnya selalu lurus, xnya 81 yang ditanyakan ini. Jadi ini dikurang ini.” Siswa

      : “ Ini 255 dikurangi 81.” Guru : “Ya betul.”

      98

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO Penekanan 1. 24 juli 2009 Guru memberi penekanan konsep penting “ kamu konsep penting Menit 30 harus melihat, arah gerak benda, arah gaya

      Guru A gesek,mana gaya yang searah dengan perpindahan

      Guru : ”Ini rumus?” Siswa : ”Bukan.” Guru : ”Bukan rumus, karena apa?kebetulan geraknya kerah

      W ,kalau geraknya kearah benda 1 bisa ndk ini ketarik ke 2 m ,bisa, wong kowe nimbo wae ember sing munggah 1 kowe sing kecemplung.

       Siswa : ”Haha.”(tertawa semua) Guru : ) persamaan ini sama

    ”Jika geraknya kesana (kearah m

    1 ndk? ”

      Siswa :”Tidak.” Guru : ”Beda, kamu harus melihat, arah gerak benda, arah gaya gesek,mana gaya yang searah dengan perpindahan, jadi tidak hafalan, brodol rambutmu lek dihafalke, sekarang kalau dah ketemu a(percepatan),kita bisa menghitung berapa tegangan talinya. ”

      99

    TOPIK NO. DATA VIDEO CONTOH TRANSKRIP DATA

      VIDEO 2. 24 juli 2009 Guru menekankan konsep diagram bebas gaya

      Menit 8 dengan kalimat “jadi”. Guru A

      Guru : ”Jadi..yang namanya sumbu x dan y ini lho bidang geraknya bidang miring to lee(menunjukkan pada gambar) sumbu y itu tegak lurus sumbu x jadi mana sumbu Y?

       Siswa : ”Lurus dengan N.” Guru :

      ”Berarti tali yang ini (yang menggantung) bergerak pada sumbu X apa sumbu Y? Siswa :

      ”Sumbu X.” 100

    4. Pembahasan

      Agar dapat menjadi guru yang profesional, seorang guru harus memiliki PCK yaitu memiliki pemahaman terhadap materi dan juga pedagogi.

      Trowbridge & Bybee, dalam Suparno 2007, mengungkapkan yaitu ada

    beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dilatih oleh guru fisika secara terus-

    menerus agar menjadi seorang guru fisika yang profesional. Hal-hal tersebut yaitu penguasaan bahan ajar, pengetahuan terhadap tujuan pembelajaran, dapat mengorganisasi pengajaran, mengerti situasi siswa, dapat berkomunikasi dengan siswa, serta menguasai berbagai metode pembelajaran.

      Dalam penelitian ini, peneliti tidak membuat penilaian terhadap pola mengajar guru atau membuat kesimpulan bahwa guru yang bersangkutan termasuk guru yang profesional atau tidak. Tujuan dari penelitian ini adalah hanya sebatas mengidentifikasi bentuk-bentuk pengetahuan guru tentang siswa dan mendalami pengetahuan yang mendasarinya melalui wawancara guna menambah wawasan dan sebagai salah satu sumber belajar bagi peneliti sebagai calon guru dan calon guru yang lain. PCK guru dapat dipelajari dengan mengamati situasi konkrit (situasi pembelajaran) di lapangan dan dapat dikembangkan dari pengalaman mengajar.

      PCK yang dimiliki guru dalam penelitian ini adalah pengetahuan guru tentang siswa. Pengetahuan guru tersebut terbagi menjadi dua bagian; PCK umum yang terdiri dari (1) pengetahuan guru tentang konteks dan karakteritik siswa, (2) pengetahuan guru tentang motivasi dan keaktifan siswa. PCK khusus yang terdiri dari: (3) pengetahuan guru tentang miskonsepsi dan kemampuan awal siswa, (4) pengetahuan guru tentang kesulitan belajar siswa.

    1. Pengetahuan Guru tentang Konteks dan Karakteristik Siswa a. Pengetahuan Guru A

      Berdasarkan pengamatan selama penelitian dan hasil wawancara, terungkap beberapa pengetahuan guru tentang konteks dan karakteristik siswa yaitu guru mengetahui suasana kelas yang hidup, kelas terbagi menjadi dua bagian yaitu siswa yang pintar dan yang kurang pintar, guru hafal nama siswanya, guru mengetahui kelemahan siswa, dan guru mengetahui tempat tinggal dan orang tua siswa.

      Dari hasil wawancara, guru berpendapat bahwa karakteristik siswa kelas

      XI IPA 1 adalah “hidup” dan “terbagi dua yang pinter-pinter banget, yang tidak-tidak, sehingga yang ambisius bagian depan (pecinan) yang jawa-jawa dibelakang cari aman, karena mereka merasa kalah dari segi otak, mereka guyonanya yang maju (J awa).” Pernyataan guru tersebut sama dengan hasil pengamatan peneliti. Dalam penelitian terungkap, suasana kelas yang hidup, siswa aktif menjawab pertanyaan guru, siswa aktif mengerjakan soal yang guru berikan tanpa guru meminta secara langsung untuk maju ke depan kelas, adanya interaksi yang terjadi antara guru dan siswa, siswa dengan siswa, serta adanya diskusi antara siswa dengan siswa saat mengerjakan soal.

      Selain itu, peneliti juga melihat adanya dua kelompok di dalam kelas, yang duduk dibagian depan sebagian besar anak etnis Cina dan bagian belakang sebagian besar anak etnis Jawa. Hal tersebut nampak saat mengerjakan soal, siswa yang bagian depan mempunyai inisiatif sendiri maju mengerjakan di depan kelas. Berbeda dengan siswa yang duduk di bagian belakang, mereka kurang berani atau minder dengan kemampuan mereka sehingga guru harus memancing siswa atau menunjuk langsung untuk maju ke depan mengerjakan soal.

      Dalam wawancara terungkap bagaimana cara guru mengatasi kondisi kelas yang terbagi menjadi dua kelompok, “Bagaimana fungsi kita (guru) menetralisir itu, bagaimana yang pinter ngajari, yang tidak pinter bertanya, maka kalau guru di depan terus mereka akan tersisih yang bodoh-bodoh tadi, maka dengan kita keliling seimbang suasananya, afeksi anak yang pinter siapa yang bisa, mereka maju.” Pernyataan tersebut terungkap dalam penelitian ini, guru selalu berkeliling dan mendekati siswanya baik pada saat menjelaskan materi maupun latihan soal seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini:

    Gambar 3.1. Guru berkeliling dan melakukan pendekatan-pendekatan ke siswa.

      Dalam video rekaman pembelajaran tanggal 24 Juli 2009 menit 17, terungkap bahwa guru berusaha mencairkan suasana dengan berkeliling saat bertanya kepada siswa mengenai materi prasyarat yang diperlukan dalam mempelajari diagram bebas gaya jika dua buah gaya dihubungkan dengan tali. Guru berkeliling mendekati siswa dan bertanya secara individual. Tujuan guru berkeliling adalah

      “Saya kalau berkeliling itu lebih untuk memecah jarak antara guru dan siswa, dia (siswa) kita sama-sama belajar, kita tidak menjadi sesuatu yang supel, itu yang pertama, yang kedua memberikan perhatian lebih pada siswa, yang ketiga membuat siswa lebih berkonsentrasi, sehingga siswa tidak lepas”. Guru berusaha untuk lebih dekat dengan siswa dan menetralisir kelas yang terbagi menjadi dua kelompok. Hal itu juga terlihat dalam rekaman pembelajaran tanggal 25 Juli 2009 menit 10 (video 1 bagian 3), guru memberi kesempatan dan mengawasi siswanya saat ada siswa yang membantu temanya mengerjakan soal, dengan begitu guru berharap suasanan kelas menjadi seimbang.

    Gambar 3.2. Guru mengawasi siswa dalam kelompok diskusi.

      Dalam penelitian terungkap cara guru mengatasi situasi kelas yang terbagi menjadi dua kelompok, cara tersebut ialah dengan mengubah posisi duduk siswa pada setiap pertemuan, guru membaurkan posisi duduk siswanya dengan harapan suasana kelas menjadi netral.

      Selain hal di atas, pengetahuan guru tentang konteks dan karakteristik siswa yang terungkap dalam penelitian ini adalah guru mengetahui kelemahan siswa, guru mengetahui tempat tinggal siswa dan orang tua siswa.

      Hal yang menguatkan peneliti bahwa guru mengetahui kelemahan siswanya adalah pada saat penelitian guru mengungkapkan kepada peneliti jika salah satu siswanya mempunyai kelemahan dalam menggambarkan diagram bebas gaya. Tindakan guru membantu siswanya dalam menggambar diagram bebas gaya terjadi pada pembelajaran 25 Juli 2009 Menit 26.40 (video 1 bagian 3) guru membimbing siswanya untuk menggambar diagram bebas gaya hingga siswa bisa menggambarnya.

      Guru :”Terus gambar bendanya tegak lurus bidang miring, ya terus sejajar bidang miring (menggambar komponen gaya) kalau belum bisa pake satu penggaris pake 2 penggaris untuk menggambarnya sekarang gambar berat bendanya nie dari sini dari titik ini, kemana arahnya? ”

      Siswa :”Ke bawah sini.” Guru :”Ya, terus sekarang dari ujung berat benda, sejajar bidang miring dari bidang vektor, nie sejajar bidang miring masih titik-titik gambarnya, terus kesana tegak lurus bidang miring, nah terus ditarik dari pusatnya tadi, memotong tadi sejajar bidang miring, ya tidak melebihi ingat semua catatan bu Nanik tidak ada yang melebihi semua, ini salah kalau melebihi, jangan beracuan pada rumus-rumus tetapi pada penjelasan bu Nanik kemarin, terus tarik dari pangkal sini sampai perpotonganya proyeksinya tegak lurus, sekarang kalau disini sudutnya α mana yang sama dengan α, sisi mana? (karena siswa bingung guru memberii petunjuk) antara ini 1, 2, 3, dan 4 mana yang α, ya itu α, kalau itu sudut α, yang ini namanya W (berat benda

      ).” Siswa : “W cos α.”

      Siswa :”W sin α.” Guru : “Gaya normalnya mana?” Siswa: “Ke sini.”

      Guru: “Ya (siswa menggambarnya) ya itu gaya normal, ingat ya jangan beracuan pada buku yang salah, ya.oke.” Dari transkrip di atas dan pengamatan peneliti, siswa tersebut memang lemah dalam menggambar diagram bebas gaya, sehingga guru membimbing terus hingga siswa dapat menyelesaikan gambarnya.

      Dalam rekaman pembelajaran tanggal 25 Juli 2009 menit 13, guru bercanda dengan siswa karena siswa lambat dalam mengerjakan soal, “mulane (makanya) koe ora usah kokean (kebanyakan) nonton dangdut neng Pura W isata.” Lalu ”omah e neng cedak Pura Wisata.” Dari lelucon tersebut jelas terlihat kalau guru mengetahui tempat tinggal siswa.

      Kemudian pada video rekaman tanggal 5 Agustus 2009 menit 12.18 guru menyebut nama orang tua siswa dengan bercanda “yo ngenteni koe dadi bose, kamu ngomong sama pak Arifin (bapaknya Rama) ” lelucon tersebut mengindikasikan kalau guru mengetahui orang tua siswanya. Hal tersebut sesuai, karena pada peneliti guru mengungkapkan dasar dari guru mengatakan hal tersebut, kalau Rama adalah anaknya Pak Arifin.

    b. Pengetahuan Guru B

      Berdasarkan pengamatan peneliti dan hasil wawancara, terungkap pengetahuan guru tentang konteks dan karakteritik siswi yaitu guru hafal nama siswi, guru mengetahui kemampuan dan sifat siswinya.

      Dalam penelitian ini terungkap bahwa Kitin siswa yang aktif dan mempunyai kemampuan yang cukup, Marla siswa yang pendiam dan mempunyai kemampuan kurang, Lulu siswa yang mempunyai kemampuan lebih dalam matematika, dan Arum siswa yang kemampuannya kurang dalam menyelesaikan persamaan.

      Guru: Kalo Kitin itu...termasuk apa..siswi yang apa itu...trengginas menurut saya... Meskipun kemampuannya tidak terlalu..Mereka berusaha menjawab apa yang ditanyakan oleh guru. Yang si Kitin itu. Kalo Marla itu terlalu agak pendiam. Jadi saya coba..meskipun si Marla itu pernah jadi sekretaris tapi karena dia pendiam terus si Marla itu kemampuannya agak jauh dibawah Kitin. Jadi saya padukan dua-duanya. Meskipun saya juga hanya menggambil secara acak saja. Tapi yang apa.. tujuan saya sebenarnya itu ya...Marla itu agak malu..kalo yang Kitin itu memang agak biasanya dia aktif, cerewet dan jawabannya juga sering betul juga dia, si Kitin itu. Pertimbangannya itu., pendiam tho Marla itu. Kecil terus orangnya kan agak kecil itu kurus.”

      Dari pernyataan guru tersebut, Kitin adalah siswa yang aktif dan mempunyai kemampuan yang lebih dibandingkan Marla yang pendiam. Hal tersebut terjadi dalam pembelajaran tanggal 22 Juli 2009 menit 18, guru memadukan kedua siswa untuk menggambarkan bentuk gelombang stasioner pada ujung terikat. Berdasarkan pengamatan, saat menggambar guru tidak memberii arahan terhadap Kitin berbeda dengan Marla, guru memberii arahan kepada Marla karena belum mengerti apa yang dimaksud guru. Arahan guru tersebut adalah

      :”Ya betul gambarkan dari kiri ke kanan...Betul begitu? dari selesai? Kamu tu lihatnya seperti apa? Kalau kamu gambarkan? ” penjelasan di atas guru pernyataan guru tentang kemampuan dan sifat dari Kitin dan Marla sesuai dengan hasil pengamatan peneliti.

      Pernyataan guru : “Siapa ahli matematika?” tentang Lulu, peneliti menduga guru mengetahui kemampuan yang dimilki siswinya. Hal yang menguatkan jika guru mengetahui kemampuan siswinya adalah pada pembelajaran tanggal 22 Juli 2009 menit 28.56 dan 30 peneliti melihat Lulu dapat menjawab pertanyaan guru:

      Guru :”Kalo ini jadi apa ini, apa Lu? (menunjuk ke persamaan gelombang pantul), 2t kx

    - y = A sin ( ))+ atau +180 menjadi apa?

    Lulu : “A (-sin (t kx )) ).”

    • - Dan
      • + - )). A nya bisa kita keluarkan, tinggal yang di dalam sin ( ))- sin

      )) dikurangi atau ple min, Guru :”Y = A sin (t kx langsung min ya…-A sin (t

    • + ( )). Lagi lagi kita butuh matematika..Lulu lagi...Ini kan sama saja sin A-

      kx t kx

      

       t kx

    • - sin B. Jadinya apa?

      1 Lulu : “A kali 2 cos jumlah ini.”

      2 Dari transkrip di atas guru meminta Lulu untuk menjawab pertanyaan guru

      tentang persamaan matematika dan Lulu dapat menjawabnya. Dari pernyataan guru dan hasil pemgamatan peneliti, Lulu memang siswi yang mempunyai kemampuan lebih dalam matematika.

      Dalam video pembelajaran tanggal 22 Juli 2009 menit 47.51, guru meminta salah satu siswinya untuk mengerjakan persamaan yp 2 A cos kx sin (  tkl ) tentang gelombang stasioner pada ujung bebas.

      Peneliti menduga bahwa dasar guru meminta siswinya untuk mengerjakan persamaan tersebut adalah guru mengetahui kurangnya kemampuan Arum dalam menyelesaikan persamaan, hal tersebut terbukti selama Arum melihat siswi selalu melihat ke arah guru dan temannya saat mengerjakan. Saat guru membimbing Arum dapat dilihat dari transkrip di bawah ini:

      Guru :”Silahkan ditulis y 1 sama dengan apa? .A sin t

      ...ples atau min? kekiri ?” Siswa :”Min..” .(beberapa siswa menjawab) Guru :”Ke kiri?” Arum

      :”Ples.” Guru :”Ples...ya..kemudian yang gelombang pantul ..sama tapi ke kanan, tidak ada pembalikan fase karena A nya sudah positif. Ya betul, sekarang diselesaikan. Superposisinya. Di hapus paling kanan. Ditulis superposisi atau penjumlahan (memberi arahan pada siswa yang maju.) Ya judulnya superposisi atau penjumlahan. ” Guru :”y sama dengan apa tadi ....ya yang tadi ditulis..dijumlahkan...ya..Anya dikeluarkan pake kurung kotak. Kalo tadi sin itu min sin itu. Sekarang sin A +sin B . Ya bantu temannya jadinya apa? (meminta siswa yang lain untuk membantu). A kali apa ?”

      (Karena Arum masih bingung guru membantu dengan memberi petunjuk.) Guru : “Ya setengah jumlah apa gitunya, tingal cos apa sin, kalau sin a + sin b jadinya apa? ” ( Arum masih bingung sehingga temannya membantu)

      Guru :”Ya sin ½ apo dijumlah ya..disederhanakan jadinya, ya itulah persamaannya.” Dari transkrip rekaman video di atas, guru selalu membimbing Arum untuk menyelesaikan persamaan gelombang stasioner pada ujung bebas hingga Arum mampu menyelesaikannya. Hal tersebut membuktikan Arum

    adalah siswi yang kemampuannya kurang dalam menyelesaikan persamaan.

    2. Pengetahuan Guru tentang Motivasi dan Keaktifan Siswa a. Pengetahuan Guru A

      Dari pengamatan peneliti dan hasil wawancara, pengetahuan guru tentang motivasi dan keaktifan siswa dalam penelitian ini terungkap. Pengetahuan tersebut ialah guru mengetahui siswanya mempunyai motivasi dan keaktifan yang cukup bagus dalam mempelajari fisika.

      Dalam wawancara guru mengungkapkan ”anak-anak kelas XI mempunyai kesadaran belajar yang cukup bagus.” Pernyataan guru tersebut sama dengan hasil pengamatan peneliti. Peneliti melihat selama pembelajaran siswa sangat antusias mengikuti pelajaran fisika, banyak siswa yang aktif dalam menjawab pertanyaan guru, siswa dengan suka rela maju ke depan mengerjakan soal tanpa diminta oleh guru, saat pratikum siswa aktif dan dengan cepat menyelesaikan pratikum dan guru hanya mengawasi saja hingga selesai.

      Walaupun siswanya mempunyai tingkat motivasi dan keaktifan yang cukup bagus, peneliti melihat guru melakukan tindakan untuk memotivasi dan mengaktifkan siswanya. Tindakan tersebut ialah: memberiikan pujian, memberiikan lelucon, membantu kesulitan yang dihadapi siswa (memotivasi

    siswa), melakukan tanya-jawab kepada siswa, dan memberikan soal latihan.

    1) Memotivasi siswa

      Memberiikan pujian terhadap hasil yang dicapai siswa. Kalimat-kalimat pujian yang guru berikan adalah “bagus” (pembelajaran 24 Juli 2009 menit 3), “ya bener. Terus” (24 Juli 2009 menit 11.46)

      “ya betul” (25 Juli 2009 menit 10) Kalimat-kalimat pujian yang guru berikan terhadap apa yang dicapai siswa membuat siswa menjadi percaya diri, merasa dihargai dan akhirnya menimbulkan semangat belajar tinggi pada diri siswa.

      Guru juga memotivasi siswanya dengan memberi lelucon. Tujuan guru memberi lelucon adalah untuk mengambil perhatian siswa untuk fokus kembali pada pembelajaran fisika dan membangkitkan semangat siswa untuk belajar lebih giat. Hal tersebut dimungkinkan karena siswa terlihat lelah, pelajaran menjenuhkan dan siswa mengalami kesulitan.

      Dalam rekaman video pembelajaran 25 Juli 2009 menit 13, terlihat guru mencoba memotivasi siswa saat mengerjakan soal di depan kelas karena siswa lama mengerjakannya. Dari data analisis terlihat guru dekat dengan siswa karena saat memberii lelucon guru memukul bahu siswa

      Guru : ”mulane (makanya) koe ora usah kokean(kebanyakan) nonton dangdut neng purawisata. ” Siswa :”ha ha.”(semua siswa tertawa)

      Guru :”omah e neng cedak purawisata.” Reaksi yang dtimbulkan siswa setelah guru memotivasinya, siswa terlihat semangat mengerjakan soal hingga selesai karena siswa merasa ada dorongan dan perhatian dari gurunya.

      Pemberian motivasi berupa membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok dalam penelitian ini juga terungkap. Guru dalam membantu kesulitan belajar siswa secara individual dengan mendekati siswa dan guru tidak langsung membantu siswa namun guru memberi pertanyaan-pertanyaan yang mengarah, sehingga siswa secara tidak langsung siswa sendirilah yang berpikir. Tujuan guru melakukan pendekatan secara individual adalah agar siswa merasa nyaman, kepercayaan diri siswa menjadi lebih, merasa dihargai dan kalau salah tidak didengar oleh siswa lain. Hal itu terungkap dalam wawancara: G :”dan kalau kita didekat siswa, kalau siswa menjawab salahkan cuma deket, sehinga untuk anak rasa percaya dirinya lebih. Dan dia merasa aman dan merasa dihargai karena kita dekati, itu Nampak di dalam refleksinya.”

      Dengan membantu kesulitan yang dihadapi siswa baik secara individual maupun kelompok, siswa menjadi terdorong untuk belajar lebih giat karena merasa apa yang menjadi kesulitannya terbantu oleh guru.

      Pada pembelajaran tanggal 24 Juli 2009 menit 23, guru membantu siswa untuk memahami konsep tegangan tali Hukum Newton III tentang aksi- reaksi. Guru membantu siswa memahami konsep tegangan tali dengan menarik tas di depan kelas.

      Siswa mengalami kesulitan: 1 1 sama T (siswa menunjuk pada gambar) itu memang arahnya berbeda Siswa :”bu, T 1 2 bu”?

      Guru :”lha tadi kamu sepakat mau bergerak kemana.” Siswa :”ke bawah.” Guru :”berarti kalau ini bergerak ke bawah (menunjuk pada gambar) tali ini menanggung bebannya ke atas atau ke bawah, tegangan kemana? ” Siswa :” ke bawah..diatas wis.”

      Karena siswa merasa ragu dengan jawabanya guru membantu siswa untuk memahami konsep tegangan tali dengan mengangkat tas di depan: Guru :”ini bukan masalah perasaan..ini masalah logika…gimana, kamu kalau menjinjing tali, karena tidak ada tali aku pake tas wae (guru mengambil tas) (guru sambil mengangkat tas) berat dari masa ini (tas) kemana?

      Siswa :” ke bawah.” Guru : ”saya menarik ini, yang merasakan talinya ini ke atas atau ke bawah.” Siswa :”ke bawah.”

      Lalu siswa mencoba sendiri menarik tasnya Guru : ”tegangan talinya rasanya kemana ke atas atau ke bawah?” Siswa :”ke atas.Ooo.”

      Guru : ”maka kalau talinya tidak kuat apa yang terjadi?” Siswa :”putus.” Guru :”jelas.” Siswa : ”jelas.” Setelah guru memberi contoh tegangan tali pada tas, siswa akhirnya mengerti dan kesulitan yang dihadapi siswa dapat teratasi. Saat guru membantu kesulitan yang dihadapi siswa, guru memberi contoh dan menjelaskan konsep tegangan tali di depan kelas. Tujuan guru adalah agar

    siswa yang lain dapat memperhatikan dan mengerti konsep tegangan tali.

      Dalam video rekaman pembelajaran tanggal 25 Juli 2009 menit 26.40,

    Guru membantu kesulitan siswa dalam menggambar diagram bebas gaya.

      Guru :”terus gambar bendanya tegak lurus bidang miring, ya terus sejajar bidang miring (menggambar komponen gaya) kalau belum bisa pake satu penggaris pake 2 penggaris untuk menggambarnya sekarang gambar berat bendanya nie dari sini dari titik ini, kemana arahnya?

       Siswa :”ke bawah sini.” Guru :”ya, terus sekarang dari ujung berat benda, sejajar bidang miring dari bidang vektor, nie sejajar bidang miring masih titik-titik gambarnya, terus kesana tegak lurus bidang miring, nah terus ditarik dari pusatnya tadi, memotong tadi sejajar bidang miring, ya tidak melebihi ingat semua catatan bu Nanik tidak ada yang melebihi semua, ini salah kalau melebihi, jangan beracuan pada rumus-rumus tetapi pada penjelasan bu Nanik kemarin, terus tarik dari pangkal sini sampai perpotonganya proyeksinya tegak lurus, sekarang kalau disini sudutnya α mana yang sama dengan α, sisi mana? (karena siswa bingung guru memberi petunjuk) antara ini 1, 2, 3, dan 4 mana yang α, ya itu α, kalau itu sudut α, yang ini namanya w (berat benda).”

      Siswa : “ w cos α.” Guru : “Betul, yang komponen ini namanya apa?”

      Guru : “Gaya normalnya mana?” Siswa: “Ke sini.” Guru: “Ya (siswa menggambarnya) ya itu gaya normal, ingat ya jangan beracuan pada buku yang salah, ya.oke.”

      Dengan membantu kesulitan yang dihadapi siswa, siswa merasa dihargai

    dan diperhatikan sehingga siswa menjadi terdorong untuk belajar lebih giat.

    2) Mengaktifkan siswa

      Selain pemberian motivasi, guru dapat mengaktifkan siswa dalam pembelajaran dengan membuat pelajaran itu menjadi menantang, merangsang daya cipta untuk menemukan serta mengesankan siswa. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran merupakan hal yang sangat

    penting dan perlu diperhatikan sehingga proses belajar yang ditempuh benar-

    benar memperoleh hasil yang optimal khususnya dalam proses belajar mengajar yang berlangsung di sekolah.

      Dalam penelitian ini terungkap bagaimana cara guru mengaktifkan siswa di kelas. Guru melakukan tanya-jawab dengan siswa dengan tujuan untuk membuat siswanya aktif, sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik dan

    hidup. Dalam video pembelajaran tanggal 24 Juli, guru melakukan tanya-

    jawab kepada siswa untuk mengetahui konsep yang telah dipelajari. Banyak

    hal menunjukkan dalam pembelajaran guru menggunakan metode tanya-

    jawab untuk mengaktifkan siswa. Selama pembelajaran terlihat metode yang guru gunakan efektif dalam mengaktifkan siswa.

      Selain itu, dalam rekaman video pembelajaran tanggal 24 Juli 2009 menit 9, guru mengaktifkan siswa dan membuat pelajaran menjadi lebih menantang dengan mengubah soal: Soal awal

      Guru :”misalkan diketahui massa bendanya 10 kg, kemudian percepatan grafitasinya 10 m/s2, koefisien gesek statisnya 0.2, ditarik gaya F =50N, coba diselidiki 1 ben danya sudah bergerak atau belum”

      Soal ubahan: Guru : ”pertanyaan yang ke dua sekarang, kalau gaya tarikanya 10 N, perhatikan pertanyaannya berapa besar gaya gesekan saat itu? ayo siapa?

      ” (guru memberi tanda untuk siswa menjawab dengan mengacungkan tangan) Guru :”siapa yang 20, lebih dari 20.” Siswa :”20.” Guru memancing siswa untuk menjawab dengan cara guru mengangkat

    tangan, reaksi yang ditimbulkan sebagian besar siswa mengangkat tangan.

    Gambar 3.3. Guru mengaktifkan siswa

      Guru juga mengungkap dalam wawancara bahwa cara ini digunakan untuk mengaktifkan siswa: P : ”Lalu pada saat ibu memberi pertanyaan, misal berapa gaya gesek jika gaya yang diberiakan 10 N, lalu terlihat siswa banyak sekali yang ingin menjawab dengan mengacung.untuk membiasakan hal tersebut bagaimana bu?

       G : “lebih pada keaktifan siswa, karena yang mau belajar kan itu siswa, bukan gurunya, jadi kita harus berusaha siswa merasa butuh, aku (siswa) butuh ngerti, jangan segera

      langsung kita kasih tau ini begini, begini itu nanti yang tambah pinter gurunya bukan muridnya kalau saya begitu .”

      Dalam video rekaman pembelajaran tanggal 25 Juli 2009 menit 8, Guru A mengaktifkan siswa untuk mengerjakan soal di depan kelas secara langsung tanpa melihat buku:

      Guru : ”karena bendanya tidak berubah bidangnya tetap jadi kekasaranya tetap, siapa yang mau maju ke depan? Rama? (nama siswa) ra sah gowo buku ma wong wis ono neng kene, siapa yang mau mencoba yang c (ada siswa yang maju) siapa yang mau mencoba no.2?

      Dengan cara meminta siswa untuk mengerjakan tanpa membawa buku, siswa menjadi merasa tertantang untuk berani mengerjakan soal dan siswa pun maju untuk mengerjakan soal.

    b. Pengetahuan Guru B

      Dari hasil pengamatan peneliti dan hasil wawancara, pengetahuan guru tentang motivasi dan keaktifan siswa dalam penelitian ini terungkap.

      Pengetahuan tersebut adalah guru mengetahui siswinya mempunyai motivasi dan keaktifan yang rendah dalam mempelajari fisika.

      Menurut guru dalam wawancara : “kesulitan justru dimotivasi mereka

      ” Kesulitan, kayaknya kalau dibandingkan dengan sekolah (siswi)” dan campur, cewek-cowok, kalau di sini motivasi untuk maju, terutama untuk fisika itu agak susah, itu karena ceweknya itu saya kira. Kayaknya itu bukan pelajarannya dia gitu kan. Fisika itu mungkin anggapannya untuk cowok- cowok. Dari pengamatan peneliti, selama pembelajaran siswi terlihat tidak terlalu aktif dalam mengikuti pembelajaran, tidak ada siswi yang mengerjakan soal secara suka rela untuk maju ke depan kelas, siswi akan maju jika guru yang meminta atau menunjuk secara langsung. Hal lain yang menunjukkan siswi mempunyai motivasi rendah adalah tidak adanya siswi yang bertanya secara langsung kepada guru selama pembelajaran dan siswi terlihat sibuk mencatat apa yang guru bicarakan dan guru tulis di papan tulis.

      Guru berusaha menumbuhkan motivasi dan keaktifkan siswi dengan memberi lelucon, memberi pujian dan melakukan tanya-jawab dengan siswa, serta memberi latihan soal.

      Rekaman video pembelajaran tanggal 22 Juli 2009 menit 1, menunjukkan metode tanya-jawab yang guru terapkan untuk mengaktifkan siswinya.

      Selama pembelajaran, metode yang guru terpakan terlihat efektif karena kelas menjadi lebih hidup dan aktif.

      Kemudian guru memberika lelucon untuk memotivasi siswinya. Sebelum demonstrasi dimulai, guru memberikan lelucon “ini bisa menggetarkan ujung hatimu” (pembelajaran tanggal 22 Juli 2009 menit 46.29) pemberian lelucon yang guru berikan tepat karena alat yang akan digunakan untuk demonstrasi menggunakan pengetar dan tali. Guru memberi lelucon dengan tujuan memotivasi siswa sebelum melakukan demonstrasi sehingga siswa menjadi

    terdorong dan tertarik untuk memperhatikan guru melakukan demonstrasi.

      Untuk membuat pelajaran menjadi menarik guru mempunyai strategi dengan cara apa yang membuat siswa menarik guru mengikutinya (pembelajaran tanggal 23 juli 2009 menit 40):

      Guru :”Begini..tik (menyentuh permukaan air pada tangki dengan ujung jari) Namanya apa tadi?

      Siswa :”Waw...tik.. (serempak siswa tertawa)

      Siswa : ”lagi-lagi pak.” Guru :”namanya tadi apa?”

      Siswa :”tik.” Dengan mengikuti apa yang menarik bagi siswa, guru menjaga fokus siswa dan memberi semangat atau dorongan kepada siswa.

      Guru perlu mengetahui tentang keterampilan, sikap, kebiasan, dan perasaan serta pengalaman yang dimiliki para siswanya. Prinsip konteks atau latar belakang siswa ini guru gunakan untuk mengaktifkan siswa. Dari pembelajaran tanggal 22 Juli 2009 menit 18 terungkap guru meminta dua siswa untuk maju ke depan menggambarkan hasil pengamatan mereka:

      Guru :”Silahkan dicoba...Apa yang dilihat...Ya..bayanganmu seperti apa? Gambar saja..lalu yang kamu lihat seperti apa? Ya..betul seperti itu? ? coba yang lain? Siapa..? Yang lain yang punya pendapat lain? Marla coba...(menunjuk siswa lain) Coba digambarkan..yang kamu lihat itu seperti apa? pengamatannya sama ndak? ya coba digambarkan..Bisa thp menggambarkan ini? kelihatan kan? Gambarkan dibawahnya Kitin

      Alasan guru terungkap dalam wawancara kenapa guru mengaktifkan ke dua siswa tersebut. Data wawancara: G :”Kalo Kitin itu...termasuk apa..siswi yang apa itu...trengginas menurut saya...

      Meskipun kemampuannya tidak terlalu..Mereka berusaha menjawab apa yang ditanyakan oleh guru. Yang si Kitin itu. Kalo Marla itu terlalu agak pendiam. Jadi saya coba..meskipun si Marla itu pernah jadi sekretaris tapi karena dia pendiam terus si Marla itu kemampuannya agak jauh dibawah Kitin. Jadi saya padukan dua-duanya.

      Guru mengetahui latar belakang belakang kedua siswa, Kitin menurut guru temasuk siswa yang aktif, sedangkan Marla termasuk siswa yang pendiam.

      Dengan memadukan kedua siswa guru ingin lebih mengaktifkan Marla. Dengan prinsip latar atau konteks pengetahuan guru tentang keaktifan siswa terungkap.

      Guru mempunyai cara yang unik dalam mengaktifkan siswa untuk mengerjakan soal di depan kelas. Guru melihat kerjaan siswa lalu guru meminta siswa untuk maju ke depan “ ya Nopen no. 8.” (pembelajaran tanggal

    23 Juli 2009 menit 3.56), lalu pembelajaran tanggal 23 Juli 2009 menit 15.38

      Guru : “sekarang no. 11, yang maju no. Absen 11.. siapa? ” Siswa : “Melly.” Guru : “ ya Melly maju.”

      Dengan urutan nomer absen guru mengaktifkan siswa untuk maju ke depan mengerjakan soal.

    3. Pengetahuan Guru tentang Miskonsepsi dan Kemampuan Awal Siswa

      Dalam penelitian ini, pengetahuan guru tentang miskonsepsi yang terjadi pada siswa tidak terungkap karena peneliti tidak menemukan miskonsepsi yang terjadi pada siswa dalam pembelajaran. Sedangkan pengetahuan guru

      a. Pengetahuan Guru A Dalam video pembelajaran tanggal 24 Juli 2009 menit 17, guru menggali kemampuan awal siswa tentang materi prasyarat sebelum memasuki materi diagram bebas gaya jika dua benda dihubungkan dengan tali. Peneliti menduga dari tindakan guru menggali kemampuan awal yang harus dimiliki siswa sebelum mempelajari hal baru adalah sebagai pengetahuan guru tentang kemampuan awal siswa. Peneliti melihat kemampuan awal yang guru gali seperti gaya berat, gaya normal dan gaya gesek adalah kemampuan awal yang harus siswa miliki sebelum memasuki materi baru.

      b. Pengetahuan Guru B Dalam video pembelajaran tanggal 22 Juli menit 18, terungkap bagaimana pengetahuan guru tentang kemampuan awal siswa. Peneliti melihat guru mencoba menggali kemampuan awal siswinya sebelum memasuki materi gelombang stasioner, guru meminta dua siswi Marla dan Kitin untuk maju ke depan menggambarkan gelombang datang dan gelombang pantul setelah guru melakukan demonstrasi. Kemampuan ini menurut peneliti sangat penting sebelum mempelajari gelombang stasioner pada ujung terikat, dengan siswi mengetahui bagaimana perpaduan gelombang datang dan gelombang pantul pada ujung terikat siswi akan menjadi mudah mempelajari gelombang stasioner pada ujung terikat. Hal inilah yang menguatkan peneliti jika guru mempunyai pengetahuan tentang kemampuan awal siswa.

    4. Pengetahuan Guru tentang Kesulitan Belajar Siswa.

    a. Pengetahuan Guru A

      Berdasarkan pengamatan peneliti dan hasil wawancara, pengetahuan guru tentang kesulitan belajar siswa dalam penelitian ini terungkap yaitu guru mengetahui siswa mengalami kesulitan memahami konsep gaya gesek dan diagram bebas gaya.

      Menurut guru siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep gaya gesek, guru mengungkap pentingnya konsep gaya gesek: P : “kenapa hal itu penting?” Guru : “alasannya gini, suatu benda itu kan memiliki pertahanan maksimum yang kita kenal dengan gaya gesek maksimum, setelah itu terlewatkan baru bendanya akan bergerak dan setelah dia (benda) bergerak gaya geseknya itu ada ndk? ada cuma otomatis berubah menjadi kinetis itu lebih kecil dari saat dia sebelum bergerak, maka dia harus tau persis bahwa yang diam maupun bergerak kalau bidangnya kasar itu ada gaya gesekanya.

       P : “apa siswa, dari pengalaman ibu mengajar mengalami kesulitan dalam hal ini?

       Guru :“ia, mereka kalau sekedar menerapkan hukum newton bahwa ∑f = 0, mereka lalu tidak tau kapan ini kita menggunakan kinetis, kapan ini menggunakan statis, kalau tidak menyelidiki dahulu apakah bendanya masih diam atau tidak, nah itu yang kadang kala kita hanya menggunakan F gs =µ.N tetapi ada F gs maksimum , jadi sebelum benda bergerak sudah ditarik gaya geseknya sebesar tarikan itu.

       P :”jadi untuk mengatasi kesulitan tersebut ibu lebih menekankan dan selalu meningatkan?

      

    Guru : “ia, maka harus diulang-ulang terus.” Diagaram bebas gaya P :”Kesulitan untuk topik ini apa Bu?” Guru :”kadang kala siswa..konsep diagram bebas gayanya..kadang kala itunganya ..menentukan arah tidak teliti.”

      Pernyataan guru di atas mengenai kesulitan belajar siswa memahami konsep gaya gesek dan diagram bebas gaya sesuai dengan hasil pengamatan peneliti. Dari hasil analisis ditemukan tindakan yang menunjukkan pengetahuan guru tentang kesulitan belajar siswa yaitu: guru melakukan penekanan konsep, mengulang konsep, mengajukan pertanyaan untuk Melihat pemahaman siswa mengenai konsep, menggali pemikiran siswa dan mengingatkan konsep penting.

      Dalam video rekaman pembelajaran tanggal 24 Juli 2009 menit 3, guru mengoreksi pemahaman siswa mengenai konsep gaya gesek dengan mengajukan pertanyaan

      1kalau sekarang benda ini saya tarik dengan gaya F kekanan (pada gambar), arahnya bergerak ke kanan, bagaimana dengan arah gaya geseknya?

      . Dengan mengajukan pertanyaan, guru ingin menggali pemahaman konsep gaya gesek dan guru menunjukkan gambar benda saat bertanya, sebagian besar siswa dapat menjawab. Kemudian pada menit ke 7 guru mengajukan pertanyaan lagi untuk mengetahui pemahaman siswa mengenai konsep gaya gesek. Pada awalnya guru membahas soal bersama- sama hingga selesai lalu guru mengajukan pertanyaan untuk mengetahui pemahaman siswa mengenai konsep gaya gesek. Diketahui benda ditarik mengajukan pertanyaan ”pertanyaan yang ke dua sekarang, kalau gaya tarikanya 10 N, perhatikan pertanyaannya berapa besar gaya gesekan saat itu?

      ”. Guru memancing siswa untuk menjawab, lalu guru secara individual mendekati siswa untuk mengetahui pemahaman siswa: Siswa :”10.” (Guru berjalan mendekati siswa.) Guru :

      ”alasanmu apa frans kamu mengatakan 20.” (guru berada disamping siswa) Frans : ”kalau masih diam, gaya geseknya maksimum.”(dan guru mengulangi jawaban siswa, guru berjalan lagi mendekati siswa lain..) Guru : ” kamu bag…km bagyo 1 yang itu bagyo 2, kamu saya panggil bagyo 1(saat guru memberii guyonan bagyo siswa tertawa sehingga mencairkan suasana karena siswa masih pada bingung)..kenapa? ”

      Bagyo :” karena menariknya cuma 10.”(dan guru mengulangi jawaban siswa, guru berkeliling lagi mendekati siswa) Guru :

      ” ada pendapat yang lain, piye de, menurut kamu berapa? ”(guru berada didekat siswa) De :”20.” Guru :”alasanmu apa?” De :

      ”kalau masih belum bergerak masih pake yang tadi.” (guru mengulang jawaban siswa) Guru :” yang tadi yang mana?” De :” gaya gesek statis”. (guru terus memburu jawaban siswa) Guru :”yang statis apa?” De :”maksimum” Dari transkrip di atas, guru menggali pemahaman siswa dengan mengetahui alasan jawaban siswa, hal ini terlihat jelas bahwa guru ingin mengetahui pemahaman siswa mengenai konsep gaya gesek. Kemudian pada menit ke 11.46 guru memberi ilustrasi dengan menarik meja untuk menunjukkan kosep gaya gesek dan setelah siswa menemukan jawaban

      “sebesar tarikannya” kemudian guru melakukan penekanan konsep gaya gesek “nah konsep ini yang sering kali menjebak kita.”.

      Dalam wawancara terungkap alasan guru melakukan ilustrasi menarik meja: Guru :”bukan, dikatakan spontan mungkin karena setiap kali saya mendapatkan kesulitan seperti itu dalam mengajar dengan cara itu anak itu anak lebih gampang melogika, kalau dikatakan kalau saya sudah lama mengajar, sent saya, ini saya memberikan contoh seperti itu dia gampang menangkapnya, contohnya kamu saya tarik seberapa besar kamu bisa sendiri, dengan begitu siswa bisa merasakan sendiri, saat menarik meja tangan masih tegang padahal meja belum bergerak, mereka suruh mencoba .”

      Guru mengetahui bahwa siswa sering mengalami kesulitan dalam memahami konsep gaya gesek sehingga guru melakukan ilustrasi menarik meja.

      Setelah siswa mengerti konsep gaya gesek dan mengetahui jawaban berapa besar gaya gesek yang bekerja guru mengulang lagi dengan mengajukan pertanyaan

      “tapi kalau 20,1 N ?” untuk memastikan siswa memahami konsep gaya gesek:

      G uru :” ya (guru sambil melihat siswa), kalau gaya tarikanya (guru kearah meja lagi) F 3

    20 N artinya gimana? ”(sambil melihat siswa)..

      Siswa :”tepat akan bergerak.” Guru :”sudah bergerak apa belum?” S iswa :”belum.” Guru :” tapi kalau 20,01 N?” Siswa :” bergerak.” Guru :

      ”sudah bergerak (mengulangi jawaban siswa), siapa yang belum jelas, jadi F gesek statis maksimumnya pertahanan maksimum dia supaya bergerak, kalau itu dilampaui baru bendanya akan bergerak, kalau belum ya tarikan itu besarnya sama dengan gaya gesek, kalau dia sudah bergerak boleh kah kita menggunakan gaya gesek statis?

      Siswa :”tidak.” Guru :”maka langsung?” Siswa :”gaya gesek kinetis.” Dari transkrip di atas terungkap guru menekankan kapan saat

    menggunakan gaya gesek statis dan kapan menggunakan gaya gesek kinetis.

      Selain itu, guru mereview tentang konsep gaya gesek pada pembelajaran tanggal 25 Juli 2009 menit 8, guru mereview dengan mengingat ilustrasi menarik meja yang telah dilakukan pada pembelajaran sebelumnya:

      Guru : ”gaya gesek statis maksimum benda tidak akan bergerak sehingga gaya gesek saat itu adalah..gaya luar yang diberikan ya kan kemarin saya contohkan menarik meja, mejanya tetap diam padahal sudah saya tarik sampai metekol tapi mejanya masih belum bergerak. berarti gaya gesek saat itu adalah sebesar..gaya yang saya berikan. ”

      Dalam rekaman video pembelajaran tanggal 25 Juli 2009 menit ke 13, terungkap lagi bagaimana konsep gaya gesek kinetis guru gali dengan mengoreksi jawaban siswa setelah mengerjakan soal.

      Guru : ” n kecil opo N besar (lalu siswa memperbaiki) ini f geseknya yang mana yang kamu pakai?

      Siswa1 :” kinetis.” Guru :”kinetis? alasanmu opo? ” Siswa1 :”bendanya bergerak.” Kemudian pada menit ke 17.29 guru menggali pemahaman siswa mengenai konsep gaya gesek dengan bertanya : “ coba perhatikan ini yang lain, perhatikan teman kamu menghitung fg kinetiknya 260 N fg statisnya

      520, untuk menjaga benda bergerak dengan kecepatan tetap berapa gaya

    luar yang harus kita berikan (pertanyaan untuk kelas) yo semua berpikir?

      Siswa : ”(salah satu siswa) sama dengan gaya gesek kinetik.” Siswa : ”(siswa lain) 260 N.” Guru : ”lalu berapa lagi, cahyo berapa, berapa lee?” Siswa :”(siswa lain) 260N.” Guru :”Fuad?” Fuad :”260.” Guru :”kenapa tidak 520.” Siswa :”karena bendanya sudah bergerak.” Guru : ”itu jawabanya, jadi meskipun statisnya 520 untuk dia (benda) bergerak memang harus melawan itu, tapi pertanyaan disini adalah setelah dia (benda) bergerak maka setelah dia (benda) harus mengalahkan 260 N jelas.

       Guru : jadi harus hati-hati ya, menyelidiki sebelum benda bergerak atau benda sudah bergerak, hati-hati konsepnya disitu.

       Guru mendekati siswa saat mencari jawaban dan guru menggali pemikiran siswa dengan bertanya alasan dari jawaban siswa, guru juga mengingatkan siswa

      :”jadi harus hati-hati ya, menyelidiki sebelum benda bergerak atau benda sudah bergerak, hati-hati konsepnya di situ.” Kemudian pada pembelajaran tanggal 25 menit 1 (video 1 bagian 3), terungkap lagi bagaimana guru menggali pemikiran siswa tentang konsep gaya gesek. Dalam menggali pemikiran siswa guru mengajukan pertanyaan kepada siswa secara detail sehingga pemahaman siswa mengenai konsep gaya

    gesek terungkap. Guru menggali pemikiran siswa dengan pertanyaan-

    pertanyaan seperti yang terungkap dalam transkrip dibawah ini:

      Guru : ”nah saiki nek benda ini ditarik oleh gaya F cos 60= 160 N padahal

      Usup : ”tidak bergerak.” Guru : ”jadi percepatanya saat itu.” Usup : ”nol.”

      Guru : ”sekarang kalau saya beri gaya 200 N wis gerak rung?” Usup : ”belum.” Guru :

      ”kalau saya beri gaya 310N sudah bergerak apa belum?” Usup : ”hampir gerak.” Guru : ”berarti sudah bergerak apa belum?” Usup : ”belum?” Guru :

      ” kalau saya kasih 311N sudah bergerak belum?” Usup : ”sudah.” Guru : ”jadi kesimpulanya benda akan bergerak kalau?” Usup : ”Fgesek maks lebih kecil dari F yang diberikan.” Dari transkrip di atas guru menggali pemikiran siswa dengan mengajukan pertanyaan yang terarah sehingga siswa dapat menjawab dan memahami konsep gaya gesek.

      Dari uraian diatas, aktivitas yang guru lakukan seperti: mengajukan pertanyaan, mengulang, penekanan, mengingatkan dan melakukan demonstrasi mengenai konsep gaya gesek, merupakan cara guru untuk mengatasi kesulitan yang selalu siswa hadapi. Alasan guru terungkap dalam wawancara di bawah ini bagaimana konsep gaya gesek penting dan kapan menentukan gaya gesek statis dan gaya gesek kinetis.

      G : “alasannya gini suatu benda itu kan memiliki pertahanan maksimum yang kita kenal dengan gaya gesek maksimum, setelah itu terlewatkan baru bendanya akan bergerak dan setelah dia (benda) bergerak gaya geseknya itu ada ndk? ada cuma otomatis berubah menjadi kinetis itu lebih kecil dari saat dia sebelum bergerak, maka dia harus tau persis bahwa yang diam maupun bergerak kalau bidangnya kasar itu ada gaya gesekanya.

      

    P :“apa siswa, dari pengalaman ibu mengajar mengalami kesulitan dalam hal ini?”

      G : “ia, mereka kalau sekedar menerapkan hukum newton bahwa ∑f = 0, mereka lalu tidak tau kapan ini kita menggunakan kinetis, kapan ini menggunakan statis, kalau tidak menyelidiki dahulu apakah bendanya masih diam atau tidak, nah itu yang kadang kala kita hanya menggunakan F =µ.N tetapi ada F , jadi sebelum gs gs maksimum benda bergerak sudah ditarik gaya geseknya sebesar tarikan itu. ”

      P: “jadi untuk mengatasi kesulitan tersebut ibu lebih menekankan dan selalu meningatkan? ” G :

      “ia, maka harus diulang-ulang terus.” P: “adakah cara lain untuk mengatasi hal tersebut.” G : ” cara lain dengan pratikum, dengan menguji dan menganalisis sendiri.” Selain aktivitas guru yang menunjukkan kesulitan siswa memahami konsep gaya gesek, pengetahuan guru tentang kesulitan siswa memahami konsep diagram bebas gaya juga terungkap dengan mengingatkan siswa saat menggambar diagram bebas gaya, mengingtakan konsep vektor di kelas X, dan membimbing siswa dalam menggambar diagram bebas gaya.

      Pembelajaran tanggal 24 Juli 2009 menit 19, guru mengingatkan bagaimana menggambar uraian diagram bebas gaya dengan memperhatikan titik tangkap gaya 2 , ni ya titik tangkapnya perhatikan cara menggambar W (guru sambil menunjukkan gambarnya dan memperhatikan siswanya), karena bendanya teratur berada dititik pusat simetri, karena kita belum berbicara titik berat, kemudian yang punya gaya normal ”. Guru menekankan untuk memperhatikan titik tangkap gaya saat menggambarkan diagram bebas gaya.

      Guru juga mengingatkan materi yang telah dipelajari di kelas X tentang vektor: “di kelas X kemarin bagaimana menggambarkan gaya tegangan talinya, tentukan dulu arah?

       (24 juli 2009 menit 21)

      “dulu di kelas X saya sudah mengatakan, gaya yang searah dengan kecenderungan gerak diberi tanda? (24 Juli 2009 menit 27) “komponen gaya dari ujung vector itu teori tentang vector di kelas X cari proyeksinya.”

      (24 Juli 2009 menit 2 video 2) Selain itu, guru juga membimbing siswa yang kurang mampu dalam menggambar diagram bebas gaya. Hal itu terjadi pada pembelajaran tanggal

      25 Juli 2009 menit 26.40 (video 1 bagian 3). Guru membimbing siswa untuk menggambar diagram bebas gaya hingga siswa bisa: Guru :”terus gambar bendanya tegak lurus bidang miring, ya terus sejajar bidang miring (menggambar komponen gaya) kalau belum bisa pake satu penggaris pake

      2 penggaris untuk menggambarnya sekarang gambar berat bendanya nie dari sini dari titik ini, kemana arahnya? Siswa :”ke bawah sini.”

      Guru :”ya, terus sekarang dari ujung berat benda, sejajar bidang miring dari bidang vektor, nie sejajar bidang miring masih titik-titik gambarnya, terus kesana tegak lurus bidang miring, nah terus ditarik dari pusatnya tadi, memotong tadi sejajar bidang miring, ya tidak melebihi ingat semua catatan bu Nanik tidak ada yang melebihi semua, ini salah kalau melebihi, jangan beracuan pada rumus-rumus tetapi pada penjelasan bu Nanik kemarin, terus tarik dari pangkal sini sampai perpotonganya proyeksinya tegak lurus, sekarang kalau disini sudutnya α mana yang sama dengan α, sisi mana? (karena siswa bingung guru memberi petunjuk) antara ini 1, 2, 3, dan 4 mana yang α, ya itu α, kalau itu sudut α, yang ini namanya w (berat benda).”

      Siswa : “ w cos α.” Guru : “Betul, yang komponen ini namanya apa?” Siswa

      :”w sin α.” Guru : “Gaya normalnya mana?” Siswa: “Kesini.” Guru: “Ya (siswa menggambarnya) ya itu gaya normal, ingat ya jangan beracuan pada buku yang salah, ya.oke.”

      Dengan melakukan tindakan membimbing siswa mengambar diagram bebas gaya, guru berusaha untuk mengatasi kesulitan belajar siswa tentang diagram bebas gaya.

    b. Pengetahuan Guru B

      Dari pengamatan peneliti dan hasil wawancara, terungkap bahwa guru mengetahui siswinya mengalami kesulitan dalam menentukan letak titik perut dan simpul gelombang stasioner.

      Guru berpendapat “Itu kebanyakan salahnya mereka di itu..letak simpul dan perut. Mereka kan letak simpul dan perut itu kan ada rumusnya ya..tapi kan dari pada susah ngapal rumus kan nggambar...Mereka bingung antara membedakan antara x dan yang bukan x

      .” Guru mengetahui siswa mengalami kesulitan menentukan letak titik perut dan simpul, pernyataan guru tersebut sesuai dengan hasil pengamatan peneliti.

      Peneliti menemukan aktivitas yang menunjukkan guru mempunyai pengetahuan tentang kesulitan belajar siswa yaitu guru melakukan demonstrasi untuk menunjukkan gelombang stasioner sehingga siswa dapat ditunjukkan secara langsung bagaimana menentukan letak perut dan simpul, guru mengingatkan bagaimana menentukan letak titik perut dan simpul, guru memberikan penekanan, dan mengulang konsep letak titik perut dan simpul.

      Dalam video rekaman pembelajaran tanggal 22 Juli 2009 menit 80, guru mengingatkan bagaimana menghitung nilai x (menentukan letak perut dan

      1

       simpul x = n ( ) ) dari ujung pemantul) “Ingat x tadi dihitung dari mana?”.

    2 Guru mengingatkan siswa sebelum siswa memulai mengerjakan soal. Saat

      siswi mengerjakan soal, siswi bertanya “ Pak mencari simpul kelima dan

      keempat dari asal pemantul kan pak? kemudian guru melakukan penekanan “yang ditanyakan titik asal getaran tapi kalo x tadi apa?” dan siswa pun mengerti kemudian mengerjakannya. Dengan mengingatkan dan menekankan, guru melakukan pencegahan agar siswa tidak salah dalam menentukan letak perut maupun letak simpul gelombang stasioner.

      Kemudian pada tanggal 23 Juli 2009, guru mengingatkan siswi lagi mengenai bagaimana menentukan letak perut dan letak simpul. Menit ke 1.56 “simpul kelima n sama dengan berapa” dan menit 13.14 “saya ulangi lagi (menulis di papan tulis) ini adalah pemantul ini asal getaran sedangkan xnya selalu lurus, x-nya 81 yang ditanyakan ini.

      Jadi ini dikurang ini.” Pada menit 13.14 guru mengulangi bagaimana menghitung nilai x (letak perut dan simpul) dengan menunjukkan dengan gambar agar siswa tidak terjebak menentukan letak perut dan simpul.

      Aktivitas guru dalam pembelajaran dengan mengingatkan, melakukan penekanan dan mengulangi penjelasan tentang menentukan letak simpul dan perut, merupakan tindakan guru untuk mengatasi kesulitan belajar yang dihadapi siswinya.

      Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan pengetahuan guru tentang siswa dapat disimpulkan kedalam tabel di bawah ini:

      132

    Tabel 3.2 pengetahuan guru tentang siswanya

      pengetahuan guru Guru A Guru B

      Konteks dan Karakteristik.

      Terungkap. Guru mengetahui dan meyakini suasana kelas yang hidup, serta kelas yang terbagi menjadi dua kelompok yang pintar dan yang kurang pintar, kemampuan siswa, tempat dan orang tua siswa serta guru hafal nama siswanya Kemampuan siswa: guru membimbing salah satu siswa karena lemah dalam menggambar diagram bebas gaya.

      Terungkap. Guru hafal nama, guru mengetahui dan meyakini kemampuan dan sifat siswinya. Kemampuan siswi: Arum siswi yang lemah dalam menyelesaikan persamaan, Kitin siswi yang kemampuan sedang, Marla siswi yang kemampuanya rendah, dan Lulu siswi yang pintar matematika. sifat siswi: marla siswi yang pendiam, Kitin siswi yang aktif. Miskonsepsi dan Kemampuan Awal.

      Pengetahuan guru tentang miskonsepsi yang terjadi pada siswa tidak terungkap, karena peneliti tidak menemukan miskonsepsi yang terjadi pada siswa saat pembelajaran. Pengetahuan tentang kemampuan awal siswa terungkap. Guru mengetahui dan meyakini konsep gaya normal, gaya berat, gaya gesek merupakan kemampuan awal yang diperlukan siswanya sebelum mempelajari diagram bebas gaya jika dua benda ditarik oleh tali.

      Pengetahuan guru tentang miskonsepsi yang terjadi pada siswa tidak terungkap, karena peneliti tidak menemukan miskonsepsi yang terjadi pada siswa saat pembelajaran. Pengetahuan guru tentang kemampuan awal siswa terungkap. Guru mengetahui dan meyakini konsep perpaduan gelombang datang dan gelombang pantul merupakan kemampuan awal yang dikuasai siswinya dalam mempelajari gelombang stasioner dengan ujung terikat. Motivasi dan Keaktifan.

      Terungkap. Guru mengetahui dan menyadari siswanya mempunyai motivasi dan keaktifan yang cukup bagus dalam mempelajari fisika. Walaupun siswanya mempunyai tingkat motivasi dan keaktifan yang cukup bagus, peneliti melihat banyak aktivitas/tindakan guru yang menunjukkan motivasi dan

      Terungkap. Guru mengetahui dan menyadari siswinya mempunyai motivasi dan keaktifan yang rendah dalam mempelajari fisika. Guru berusaha menumbuhkan: Motivasi siswa dengan:

      133 keaktifkan siswa.

      Motivasi:  Memberikan pujian atas pencapaian siswa.

       Memberikan lelucon.  Membantu kesulitan siswa. Keaktifan siswa:

       Memberikan soal latihan.  Melakukan tanya-jawab dengan siswa.

       Memberikan pujian atas pencapaian siswa  Memberikan lelucon.

      Keaktifan siswa dengan:  Memberikan soal latihan.

       Memadukan siswa yang pendiam dengan siswa yang aktif.

       Melakukan tanya-jawab dengan siswa.

      Kesulitan Belajar Terungkap. Guru mengetahui dan meyakini siswanya kesulitan dalam memahami konsep gaya gesek dan diagram bebas gaya. Tindakan guru mengatasi kesulitan belajar siswa dengan melakukan:

       Demonstrasi menarik meja untuk menunjukkan konsep gaya gesek.  Penekanan konsep

       Mengulang konsep  Mengingatkan konsep  Membimbing siswa dalam menggambar diagram bebas gaya secara individual

      Terungkap. Guru mengetahui dan siswinya kesulitan dalam menentukan letak titik perut dan simpul gelombang stasioner. Tindakan guru mengatasi kesulitan belajar siswa dengan melakukan:

       Demonstrasi gelombang stasioner.  Penekanan konsep

       Mengulang konsep.  Mengingatkan konsep

    BAB IV PENUTUP Dalam bab ini berisi paparan mengenai kesimpulan hasil penelitian, saran-

      

    saran dan keterbatasan penelitian. Ketiga hal tersebut diuraikan seperti pada

    subbab berikut.

    A. Kesimpulan 1. Pengetahuan Guru tentang Konteks dan Karakteristik Siswa

      Pengetahuan guru tentang konteks dan karakteristik siswa dalam penelitian ini terungkap. Guru A mengetahui dan menyadari suasana kelas yang hidup, selain itu kelas terbagi menjadi dua kelompok yang pintar dan yang kurang pintar, kemampuan siswa, tempat tinggal siswa dan orang tua siswa, dan guru hafal nama siswanya.

      Guru B mengetahui dan meyakini kemampuan dan sifat siswinya, serta guru hafal nama siswinya.

    2. Pengetahuan Guru tentang Motivasi dan Keaktifan Siswa.

      Pengetahuan guru tentang motivasi dan keaktifan siswa dalam penelitian ini terungkap. Guru A mengetahui dan menyadari motivasi dan keaktifan siswanya cukup bagus dalam mempelajari fisika. Guru berusaha menumbuhkan motivasi dengan memberi lelucon, membantu kesulitan siswa, dan memberikan pujian terhadap pencapaian siswa dan mengaktifkan siswa dengan melakukan metode tanya-jawab dengan siswa dan memberi latihan

      Guru B mengetahui dan meyakini motivasi dan keaktifan siswinya yang rendah dalam mempelajari fisika. Guru berusaha menumbuhkan motivasi dengan memberi lelucon dan memberikan pujian terhadap pencapaian siswi. Guru mengaktifkan siswa dengan memberikan soal latihan, menggunakan metode tanya-jawab dengan siswa, dan memadukan siswi yang pendiam dengan siswa yang aktif.

      3. Pengetahuan Guru tentang Miskonsepsi dan Kemampuan Awal Siswa.

      Pengetahuan guru tentang miskonsepsi yang terjadi pada siswa dalam penelitian ini tidak terungkap, peneliti tidak menemukan miskosepsi yang terjadi pada siswa dalam pembelajaran.

      Pengetahuan guru tentang kemampuan awal siswa dalam penelitian ini

      konsep gaya normal, gaya berat,

      terungkap. Guru A mengetahui dan meyakini

      gaya gesek merupakan kemampuan awal yang diperlukan siswanya sebelum mempelajari diagram bebas gaya jika dua benda ditarik oleh tali. Guru B

      mengetahui dan meyakini konsep perpaduan gelombang datang dan gelombang

      pantul merupakan kemampuan awal yang dikuasai siswinya dalam mempelajari gelombang stasioner dengan ujung terikat.

      4. Pengetahuan Guru tentang Kesulitan Belajar Siswa.

      Pengetahuan guru tentang kesulitan belajar siswa dalam penelitian ini terungkap. Guru A mengetahui dan menyadari siswanya mengalami kesulitan kesulitan dalam memahami konsep gaya gesek dan diagram bebas gaya. Tindakan guru untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi siswanya adalah menarik meja untuk menunjukkan gaya gesek, membimbing siswa dalam menggambar diagram bebas gaya, dan mengingatkan konsep penting.

      Guru B mengetahui dan meyakini siswinya mengalami kesulitan dalam menentukan letak perut dan simpul gelombang stasioner. Tindakan guru dalam mengatasi kesulitan siswa tersebut adalah guru melakukan penekanan, mengulang, mengingatkan konsep penting, dan guru melakukan demonstrasi gelombang stasioner dengan ujung terikat.

      Dari uraian di atas, dapat disimpulkan penelitian ini berhasil mengidentifikasi

    PCK yang dimiliki guru khususnya pengetahuan tentang siswa. Pengetahuan guru

    tersebut ialah konteks dan karakteristik siswa, motivasi dan keaktifan siswa,

    kemapuan awal siswa, serta kesulitan belajar siswa. Pengetahuan guru tentang

    miskonsepsi dalam penelitian ini tidak terungkap, karena peneliti tidak

    menemukan miskonsepi yang terjadi pada siswa selama pembelajaran.

    B. Saran-saran 1.

      Bagi Peneliti dan Calon Guru Bentuk-bentuk pengetahuan guru tentang siswa yang ditemukan dalam penelitian ini dapat dijadikan inspirasi atau sumber belajar bagi peneliti

    sebagai calon guru dan bagi calon guru yang lain untuk membangun PCK.

      2. Bagi Guru Untuk dapat mengembangkan PCK mereka dan menjadi guru yang profesional, para guru sebaiknya tidak lekas puas dengan hasil yang diperoleh. Guru perlu terus memahami siswanya agar pembelajaran fisika menjadi lebih menarik dan menantang.

      Guru harus waspada pada banyak hal yang menjadi pengembangan pembelajaran bagi siswa dalam konteks pertumbuhan pikiran , variasi cara belajar, pengaruh bahasa dan budaya, watak individu, hobi dan pendekatan . belajar Karakter-karakter murid seperti keterampilan, bakat, gaya mengajar, tingkat perkembangan, miskonsepsi, motivasi, keaktifan, dan kesiapan untuk mempelajari hal baru adalah sebagian dari pengetahuan penting yang harus guru miliki.

      3. Bagi Peneliti Selanjutnya Peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian tentang PCK yang lebih kompleks lagi. Misalnya, peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian yang mencakup bentuk-bentuk pengetahuan guru tentang siswa yang diamati di luar kelas, pengetahuan tentang bentuk-bentuk representasi, serta pengetahuan tentang faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa termasuk pengetahuan tentang tingkat kesulitan suatu topik, pra-konsepsi dan konsepsi yang dibawa oleh siswa dari berbagai tingkat usia, latar belakang terkait dengan materi ajar, pengetahuan tentang kurikulum dan pengetahuan tentang strategi pembelajaran. Melalui penelitian yang lebih kompleks, diharapkan para calon guru dan guru yang lain mendapat gambaran atau inspirasi yang lebih kompleks mengenai PCK.

      C. Keterbatasan penelitian.

      Keterbatasan dalam penelitian ini adalah kurangnya kemampuan peneliti melakukan wawancara yang lebih kompleks untuk menggali pengetahuan guru tentang siswa.

      D. Catatan Dalam penelitian ini ditemukan hal lain berkaitan dengan motivasi dan keaktifan siswa dalam mempelajari fisika. Peneliti menduga bahwa motivasi dan keaktifan siswa yang rendah dalam mempelajari fisika disebabkan oleh dua faktor yaitu siswa dan guru. Dalam wawancara guru B mengungkapkan pengalaman mengajar yang guru terapkan sebagian kecil guru adopsi dari pengalaman guru waktu SMP, menurut guru strategi mengajar dengan mengutamakan dokumentasi lebih efektif. Namun peneliti melihat strategi yang guru terapkan tidak membuat siswa menjadi lebih aktif dan termotivasi untuk mempelajari fisika, karena siswa cenderung lebih sibuk mencatat apa yang guru bicarakan dan guru tulis. Peneliti melihat tidak interaksi yang khusus antara guru dan siswa yang berhubungan dengan motivasi dan keaktifan. Faktor guru inilah menurut peneliti yang menyebabkan tidak ditemukannya tindakan guru untuk melakukan motivasi dan mengaktifkan siswa.

    DAFTAR PUSTAKA

      

    Andi, Vitalis. 2004. Persepsi Siswa Terhadap kecenderungan Penerapan Gaya

    Kepemimpinan Guru Bimbingan Konseling dalam bimbingan klasikal . Skripsi. Yogyakarta: USD.

      

    Ball, Deborah Loewenberg. 2008. Content Knowledge for Teaching, dalam

    Journal of Teacher Education Volume

      59 Number 5 November/December 2008 389-407, hal. 372-400.

    Bollough Jr, Robert. V. 2001. Pedagogical Content Knowledge Circa 1907 and

    dalam Journal of Teaching

      1987: a studyin the historyof an idea, and Teacher Education Volume 17, hal. 655-666.

      

    Dharma, Surya. 2008. Strategi Pembelajaran dan Pemilihanya, dalam httpwww.t

    eknologipendidikan.netwp-contentuploads20091014-KODE-03- B5-Strategi-Pembelajaran-dan-Pemilihannya.pdf. Diakses tanggal 01 Maret 2010.

      

    Forrest. 2008. Menjadi Seorang Guru. Jakarta: PT MACANAN JAYA

    CEMERLANG.

    Gardner, H. 1991. The unschooled mind: How children think and how scools

    should teach . New York: Basicbooks.

      Hamalik, Oemar. 2009. Psikologi Belajar & Mengajar. Bandung: Sinar Baru.

      

    Hamalik, Oemar. 1990. Metode Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar.

      Bandung: Tarsito.

      Hamzah. 2006. Orientasi dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

    Kartika Budi, Fr. Y. 2005. Pelaksanaan kuliah Listrik magnet dengan Pendekatan

      Pedagogical Content knowledge dan Efektivitasnya , dalm Widya Dharma, Vol.17. No. 1, Oktober.

      

    Misbah. 2005. Kesulitan Belajar. httpmuhmisbah.blogspot.com200703kesulitan-

    belajar.html. Diakses tanggal 02 Februari 2010.

      

    Munirah. 2009. Pengertian dan Perlunya Pedagogik. http://7691an. wordpress.

    com/2009/03/08/pengertian-dan-perlunya-pedagogik/. Diakses tanggal 02 Februari 2010.

      Nasution. 1982. Didakti Asas-asas Mengajar. Bandung: jemmars.

    Sadulloh. 2006. Konsep Dasar Pedagogig, dalam http://www. rezaervani.

    com/artikel/pendidikan/konsep_dasar_pedagogik_1.pdf . Diakses tanggal 11 juni 2010.

    Sarkim, T. 2005. Investigesting Pedagogical Content Knowledge of Secondary

      Scholl Phhysics Teacher Education Indonesia. Australia: The University of Melboure.

      

    Sugianto, Ike . 2009. Identifikasi Gaya Belajar anak, dalam Diakses tanggal 12 Februari 2010.

      

    Suparno, Paul. 2007. Metode Penelitian Pendidikan Fisika. Universitas Sanata

    Dharma. Yogyakarta.

      

    Supriadi. 2006. Andragogig , dalam kses tanggal 11 juni 2010.

      

    Sutikno, Sobry. 2010. Peran Guru Dalam Membangkitkan Motivasi Belajar

    Siswa , dalam Diakses tanggal 02 Februari 2010.

      

    Uzer & Setiawati. 1993. Upaya Optimalisasi kegiatan Belajar Mengajar.

      Bandung: Pt Remaja Rosdakarya. Van Driel, Jan. 1998. Developing Science Tea chers’ Pedagogical Content Knowledge , dalam Journal of Research in Science Teaching vol. 35, NO.

      6, PP. 673 –695. Utrecht University, Utrecht, The Netherlands.

      Lampiran 1 Data Feildnotes Guru A Rabu, 22 Juli 2009

       Peneliti melakukan observasi di kelas XI- AI untuk mempersiapkan pengambilan data, tujuannya untuk melihat situasi dan kondisi dalam kelas dan mengatur penempatan handycam, sudud-sudut yang tepat untuk diambil. Jum’at, 24 Juli 2009  Pengambilan data di kelas XI-AI. Guru mengajar mengenai materi gaya gesek diagram bebeas gaya.Guru menggunkakan metode ceramah. Guru banyak memberi penegasan-penengasan konsep dan menjelaskan mengenai gaya gesek dengan ilustrasi, menarik meja ke depan. Pada konsep tegangan tali, guru memberi contoh tas yang diangkat oleh tangan . Kelas sangat kondusif karene guru selalu mobile dan keliling kelas untuk melihat siswa apakah sudah mengerti atau belum. Sabtu, 25 Juli 2009  Kelas XI-AI ( 2 jam pelajaran) materi dan pembahasan soal. Pada saat pembahasan soal, siswa terlihat aktif, tanpa disuruh siswa mengerjakan semua soal dan maju ke depan untuk mengerjakan. Saat membimbing siswa secara person, jika ada konsep yang penting,langsung mengingatkan keseluruhan. Guru menceritakan kepada peneliti untuk salah satu yang kemampuannya kurang dalam penggambaran vektor dan siswa ini dulunya kelas 1 tidak diajar oleh guru. Lalu guru membimbing siswa. Rabu, 5 Agustus 2009  Pembahasan soal dan materi sebelumnya karena akan diadakan ulangan.Siswa masih kuruang mengerti penggambaran vektor-vektor gaya. Guru menjelaskan kembali dan memeberi contoh serta langkah-langkah dalam menentukan gaya- gaya yang bekerja. Jum’at, 7 Agustus 2009  Praktikum di laboratorium fisiska. Siswa mengerjakan pratikum dengan cepat.

      Lampiran 2 Data Fieldnotes Guru B

      144

      Observasi Penelitian PCK tanggal 15 Juli 2009 (Tanpa merekam) Materi : Gejala Gelombang Jumlah siswa 32 orang.

      Kelas XII A3  Awal pembelajaran guru menyampaikan silabus (menjelaskan materi)

       Memasuki materi, guru menyampaikan indikator pembelajaran.  Guru membuat peta konsep mengenai materi yang akan dipelajari pada semester ini .  Saat menjelaskan materi gejala gelombang, guru menggunakan slinki, dan meminta 2 orang siswa bereksperimen dengan menggunakn slinki, untuk menunjukkan gelombang.

       Setelah siswa selesai melakukan eksperimen (demonstrasi), guru memberikan pertanyaan berdasarkan eksperimen tersebut (yang dilakukan siswa)

       Saat siswa tidak tepat atau kurang tepat dalam melakukan ekperimen guru tidak langsung menyatakan bahwa yang dilakukan salah, tetapi dengan membuat siswa berpikir ulang dengan jawaban yang diberikan. Misal : “Benar?seperti itu?”  Pada akhir pelajaran guru melakukan refleksi mengenai materi yang telah dipelajari dengan memberikan pertanyaan pada siswa. NB : Jam pelajaran tidak penuh, terpotong kegiatan MOS. Siswa diminta berkenalan dengan siswa kelas X yang baru . Observasi II tanggal 16 Juli 2009  Melanjutkan materi yang kemarin (sebelumnya)/ lanngsung ke materi  Masuk ke materi gelombang berjalan.

       Guru terlalu cepat saat menjelaskan, tapi siswa tidak ada yang bertanya. (berarti sudah jelas ?!)  Pengelolaan kelasnya kurang, siswa yang duduk dibelakang, asyik dengan kegiatannya sendiri, ada yang nyanyi-nyanyi.

       Sebelum pelajaran berakhir,guru membagikan soal-soal sebagai bahan evaluasi (lembaran soal, tiap siswa dapat ` Penelitian I tanggal 22 Juli 2009 (dengan handycam)

       Kegiatan pembelajaran dilakukan di laboratorium Fisika  Melanjutkan membahas soal latihan, siswa diminta mengerjakan di papantulis.  Memasuki materi baru, Gelombang Stasioner.

       Melakukan demonstrasi dengan alat berupa tali, beban, statip, catu daya.  Siswa memperhatikan, diminta untuk menggambar bentuk gelombang yang dihasilkan di papan tulis.

       Saat siswa ada yang salah, guru bertanya : ”Benar?seperti itu?ada pendapat lain?”Kemudian meminta siswa lain untuk maju.

       Mulai menjelaskan mengenai persamaan-persamaan yang digunakan dalam gelombang stasioner.

       Guru menjelaskan sambil menuliskan persamaannya di papan tulis, sesekali bertanya pada kelas (keseluruhan siswa)  Guru tidak hanya di depan kelas, tapi juga berkeliling .  Saat ada salah satu siswa yang bertanya, tidak dijelaskan ke seluruh siswa, tetapi hanya pada siswa yang bersangkutan.

      145

      Penelitian II tanggal 23 Juli 2009  Apersepsi, pembelajaran masih dilakukan di laaboratorium Fisika.

       Mengerjakan soal-soal latihan mengenai materi ssebelumnya.  Salah satu siswa maju, guru membimbing.  Sementara ada siswa yang mengerjakan di depan, siswa lain tetap mengerjakan.

       Guru membantu siswa saat siswa yang sedang mengerjakan di depan, mengalami kesulitan dengan menuntun langkah-langkahnya.  Siswa tidak segan untuk bertanya, guru langsung menjelaskan pada siswa yang bersangkutan.

       Setelah selesai membahas soal, guru mengadakan kuis selama 15 menit.  Guru berkeliling, siswa ada yang larak-lirik.  Soal kuis dibahas, tapi hanya jawabannya saja.

       Guru melanjutkan materi (menjelaskan contoh gelombang, cara kerja gelombang)  Guru melakukan demonstrasi mengenai sifat-sifat gelombang sambil memberikan pertanyaan- pertanyaan.

       Siswa diminta maju melihat dari dekat.

      Penelitian III tanggal 25 juli 2009  Pembelajaran dlakukan di kelas.  Guru melanjutkan ke materi berdasarkan kegiatan di laboratorium pada pertemuan sebelumnya.

       Guru menjelaskan gelombang dengan membuat gambar di papan tulis.  Siswa diperingatkan, kalau gambarnya susah jadi harus hati-hati menggambarnya  Saat menggambar, guru menggunakan spidol warna-warni

       Guru berkeliling, mengecek gambar yang dibuat siswa.  Sebelum bel, guru mengulang sebentar materi yang sudah dipelajari.

      146

    Lampiran 3

    Transkrip Data

      

    Guru A

      147

      ”Statis.” G : ”Lalu kita bisa menghitung berapa gaya gesek statisnya?” S :

      “Pada permukaan bidang” (Guru menggambarkan) G : “Kalau sekarang benda ini saya tarik dengan gaya F 1 ke kanan (pada gambar), arahnya bergerak ke kanan, bagaimana dengan arah gaya geseknya?

      “Ya, pada pusat simetrinya, itu kalau pada bendanya teratur. Arahnya?” S : “Menuju pusat bumi.” G : “Gaya normalnya terletak dimana?” S :

      “Bagus, nah sekarang kita lihat dulu, bagaimana menggambarkan gaya beratnya?” S : “Pada pusat simetri.” G :

      ” S : “Gesek, normal, berat.” G :

      di papan tulis ), dilihat ada gaya apa saja disitu?

      “Setiap keadaan kita akan menyelidiki dahulu, bendanya masih diam atau bergerak. Kita lihat pada diagram bebas gaya ini ada suatu benda terletak pada suatu bidang datar (guru menggambar

      ” (persamaan diberi kotak) G : “Kemudian F gesek kinetisnya?” S : “µ k N ” (persamaan diberi kotak lagi) G :

      “µ s N

      ”Otomatis.” G : ”Jadi saat benda diam, gaya geseknya adalah gaya gesek apa?” S :

      Pembelajaran tanggal 24 Juli 2009 di kelas Materi : Hukum Newton tentang Gerak. Guru :

      “Kinetis.” G : ”Perubahan dari statis ke kinetis terjadi secara?” S :

      “Maka pada saat benda diam gaya gesek yang bekerja?” S : ”Gaya gesek statis.” G : “Kalau sudah bergerak?” S :

      ” S : ”Diam.” G :

      “µ N.” G : “Karena kita mengenal suatu benda dalam kedudukan diam atau bergerak kemarin kita pisahkan dua kan, yang tepat akan bergerak berarti dia masih?

      ”Berlawanan dengan kencenderungan arah gerak benda.” G : ”Sekarang persamaannya? F g (gaya gesek) kemarin bagaimana? ” S :

      ”Dua bidang.” G : ”Yang kedua terus (guru sambil berkeliling melihat kearah siswa) arahnya?” S :

      Guru : ”Terbentuk pada?” Siswa :

      memberi kesempatan kepada siswa untuk menjawab, lalu guru membantu dengan memberi pancingan. )

      ”Pertemuan yang lalu saya bicara tentang gaya gesekan (guru menulis di papan tulis), konsep gaya gesekan kemarin bagaimana? ”(Guru memberi pertanyaan kepada semua murid, guru

      ” (Menit 03:34) S : “Berlawanan.”

      148

      (Guru menuliskan soal di papan tulis, guru membuat soal spontan tanpa melihat buku) G :

      dengan mengacungkan tangan ) (Dalam situasi ini siswa mengangkat tangan..)

      “Pertanyaan yang ke dua, sekarang kalau gaya tarikannya 10 N, perhatikan pertanyaannya, berapa besar gaya gesekan saat itu? Ayo siapa ?” (Guru memberi tanda untuk siswa menjawab

      ” (bersama murid guru menuliskan kesimpulan) (Menit 09:01) Menit 09:07 G :

      S : “Sudah!” G : “Karena F 1 lebih besar dari F gesek statis maksimum, maka kita bisa menyimpulkan, benda sudah bergerak

      G : “Benda ini mendapat gaya luar sebesar 50 N, tetapi gaya gesek maksimum yang mempertahankan bendanya 20 N, jadi dia sudah bergerak atau belum? ”

      

    menjawab bersama dengan Tanya jawab hingga menemukan f gesek maksimum = 20 N .)

      “Massanya (m) lebih besar dari f gesek statis.” G : “Kita selidiki dahulu, masuk ∑F y dulu sama dengan nol, berarti berapa? ” (Guru dan siswa

      G : “Darimana kamu mengatakan sudah?” S :

      ada yang menjawab sudah, ada yang belum )

      “Misalkan diketahui massa bendanya 10 kg, kemudian percepatan gravitasinya 10 m/s 2 , koefisien gesek statisnya 0,2, ditarik gaya F 1 = 50N, coba diselidiki bendanya sudah bergerak atau belum? ” (Guru melontarkan pertanyaan dan melihat ke arah siswa, siswa masih ragu-ragu,

      mencoba menggali pikiran siswa dengan mengubah soal )

      G : “Ya, berlawanan dengan kecenderungan arah gerak benda (guru menggambarkan), kalau sekarang seluruh diagram bebas gaya itu kita terapkan/masukkan dalam hukum Newton, yang mempertahankan benda ini dalam kedaan diam, kita menggunakan persamaan ∑F?”

      “Sumbu x.” G : “Berarti..?” S : “∑F x = ma .” (Guru dan siswa mengerjakan persaman bersama-sama hingga menemukan persamaan) G : “Mari kita terapkan dalam soal.” Menit 06:12 (Guru mencoba melihat apakah siswa mengerti konsep yang diajarkan dengan memberi soal dan guru

      G : “Kalau bendanya sudah bergerak, kalau bergerak pada sumbu apa?” S :

      S : “Diam.”

      pada persamaan ) ∑F x =0, (guru memberi pertanyaan) ini artinya bendanya masih? ”

      G : “Sekarang pada sumbu x (guru dan siswa menjawab bersama-sama dengan memberi kotak

      persamaan )

      “Persamaannya ini gimana?” (Guru dan siswa menjawab bersama hingga menemukan

      “Jadi?” S : “ ∑F y = 0 ” (Siswa menjawab bersama2) (Persamaan diberi kotak lagi) G :

      “x, x..x” (Jawaban siswa salah dan guru memberi arahan/pancingan) G : “Pada sumbu apa yang mempertahankan benda dalam keadaan diam, sumbu?” S : “Y,Y” G :

      G : “Pada sumbu apa?” (Menit 04:30) S :

      S : “Sama dengan nol.”

      S : “20”

      149

      “20..” G : “Alasanmu apa?” De :

      G : “Pertanyaan saya, berapa gaya gesek yang bekerja saat ini?” S :

      S : “Belum.”

      G : “Saya praktekkan ya? Meja ini punya pertahanan maksimum, kalau sekarang saya tarik, aku wis narik le (sambil menunjukkan tangannya) tanganku wis kaku, wis methekol (siswa tertawa) nah tapi mejanya sudah bergerak apa belum? ”

      siswa dalam memahami gaya gesek. Ini juga ada guyonan .)

      “Maksimum..” Menit 11:46 (Guru berjalan ke depan kelas untuk mendemonstrasikan gaya gesek, dengan tujuan membantu kesulitan

      G : “Yang statis apa?” De :

      De : “Gaya gesek statis” (Guru terus memburu jawaban siswa)

      menggali terus, walaupun jawaban siswa ditertawai teman-teman lain, guru mendekati siswa )

      “Kalau masih belum bergerak masih pake yang tadi.” (Guru mengulang jawaban siswa) G : “Yang tadi yang mana?” Menit 11:30 (Jawaban alasan siswa tidak jelas, dari hal ini jelas siswa tidak memperhatikan betul, dan guru mencoba

      G : “Ada pendapat yang lain, piye De, menurut kamu berapa?” (Guru berada didekat siswa) De :

      G : “Siapa yang 20, lebih dari 20?” G :

      mendekati siswa )

      Bagyo : “Karena menariknya cuma 10 (dan guru mengulangi jawaban siswa, guru berkeliling lagi

      guyonan Bagyo siswa tertawa sehingga mencairkan suasana karena siswa masih pada bingung )..kenapa? ”

      Menit 10:40 (Guru memberi guyonan) G : “Kamu Bag…kamu Bagyo 1 yang itu Bagyo 2, kamu saya panggil Bagyo 1 (saat guru memberi

      berjalan lagi mendekati siswa lain.. )

      “Alasanmu apa Frans kamu mengatakan 20?” (Guru berada disamping siswa)(Menit 10:30) Frans : “Kalau masih diam, gaya geseknya maksimum” (Guru mengulangi jawaban siswa, guru

      ) G : “20?” S : “10” Menit 10:28 (Akhirnya guru berjalan mendekati siswa..)(Belum masuk analisis) G :

      siswa ) berapa besar gaya gesekan saat itu? ” (Siswa diam memikirkan jawaban dan guru melihat siapa siswa yang bisa menjawab, lalu guru memancing

      “Saya ulangi, kita tadi sudah menghitung gaya gesek statis maksimumnya tadi 20N kasusnya masih sama, sekarang benda ini akan saya tarik (guru menunjukkan gambar di depan papan tulis) gayanya saya ubah 10 N, pertanyaan saya (guru memberi pertanyaan sambil melihat ke seluruh

      “Sebesar tarikannya.” Menit 12:00 (Dalam transkrip dibawah ini guru mengungkapkan alasaan pentingnya konsep gaya gesek.)

      150

      “Belum” G : “Tapi kalau 20,01 N” S :

      Menit 15:26 (Guru mengulang lagi/ memperingatkan siswanya lagi) G :

      mencatat. )

      “Dong ora?” (Guru melihat ke semua sudut kelas hingga menemukan salah satu siswa) G : “Ora guya-guyu le..dong ora kowe..?” (Semua siswa tertawa dalam situasi ini guru bercanda) G : “Siapa yang mau bertanya?” (Guru sambil berjalan mendekati siswa/berkeliling dan guru memberi kesempatan kepada siswa untuk

      Menit 15:00 (Guru memberi guyonan) G :

      siswa untuk memahami konsep yang ada sambil bertanya )

      “Gaya gesek kinetis.” (Guru mengulang jawaban siswa, guru memberi kesempatan kepada

      G : “Maka langsung?” S :

      S : “Tidak.” (Guru mengulang jawaban siswa)

      “Bergerak.” G : “Sudah bergerak (mengulang jawaban siswa), siapa yang belum jelas? Jadi, F gesek statis maksimumnya pertahanan maksimum dia supaya bergerak, kalau itu dilampaui baru bendanya akan bergerak, kalau belum, ya tarikan itu besarnya sama dengan gaya gesek, kalau dia sudah bergerak boleh kah kita menggunakan gaya gesek statis .”

      “Tepat akan bergerak.” (Guru mengulang jawaban siswa) G : “Sudah bergerak apa belum?” S :

      G : “Sebesar tarikannya, dia (meja, sambil memukul meja) akan bergerak kalau melebihi gaya gesek maksimumnya, nah konsep ini (dengan suara keras dan mantap guru menegaskan) yang sering kali menjebak kita apalagi nanti kalau kamu dikelas XII, atau mengerjakan soal tes masuk perguruan tinggi, kadang kala terkacau ini gaya gesek maksimum (sambil menunjukkan dipapan

      20 N, artinya gimana? ” (Sambil melihat siswa) S : (Salah satu siswa)

      “10 N” Menit 13:54 (Guru bertanya lagi memastikan apakah siswa sudah mengerti apa belum (mengecek)) G : “Ya, (guru sambil melihat siswa) kalau gaya tarikannya (ke meja lagi) F 3

      “Diam.” (Guru menuliskan) G : “Sehingga gaya gesek yang bekerja saat itu besarnya berapa?” (Guru menuliskan dipapan tulis) S :

      G : “Bendanya masih apa?” S :

      jawaban siswa )

      ” (Guru menulis sambil melihat siswa) S : “F 2 < Fgesek statis maksimum .” (Dalam hal ini guru tidak langsung menulis tetapi menunggu

      S : “20 N” (Guru mengulangi jawaban siswa) G : “20 N (guru menuliskan di papan tulis) ternyata kita itu baru memberi F 2 sebesar 10 N maka kita bisa menyimpulkan bagaimana?

      gesek statis maksimumnya, tadi berapa newton? ”

      tulis ) dengan gaya gesek yang bekerja pada benda saat itu, ya kan? Jadi, kalau tadi kita hitung F

      “Jadi harus diselidiki apakah benda sudah bergerak atau belum (guru dan siswa). Benda kalau sudah bergerak kalau melebihi gaya gesek statis maksimum..kalau sudah tolong dihapus.. ”

      151

      “Ditambah M 1 .” G : “Kamu!” (Menunjuk siswa lain) S 2 :

      Menit 19:36 (Guru mengingatkan pengetahuan/konsep apa saja yang diperlukan untuk memasuki materi baru) G : (Guru menuliskan vektor-vektor gaya)

      berbicara guru berada ditengah-tengah siswa )

      .” (Saat guru

      “Kok melayang?” (Guru menjawab sambil tertawa kecil dan siswa tertawa) S : “Menggantung.” G : “Normal hanya dimiliki kalau bendanya terletak, ya kan? (menegaskan) Bagaimana cara menggambarnya? Dijawab dulu syarat tegak lurus bidang, titik tangkapnya pada bidang

      S : (Salah satu siswa menjawab) “Melayang.” G :

      kepada seluruh siswa )

      “Pada bidang.” G : “Terletak pada suatu bidang, atau pada benda lain. Sedang M 2 disitu gimana? ” (Pertanyaan

      “Tegak lurus? Gaya normal hanya dimiliki oleh apa sih? Oleh benda yang..(memancing siswa) terletak ?” S :

      “N = W” G : (Bertanya kepada seluruh siswa) “N = W? Konsep gaya normal piye, masih ada yang ingat?” S : “Tegak lurus, tegak lurus lintasan.” G :

      “Menggantung.” Menit 18:39 (Guru bertanya kepada siswa sambil memegang kepala siswa) G : “Konsep gaya normal gimana?” S 1 :

      “Pada benda mana gaya normalnya?” S : (1 orang siswa) “M 1 ” G : “Kenapa M 2 tidak ada gaya normalnya ?” S 1 :

      S : “Genjik..Genjik piket.” (Saat siswa menyebut nama temannya yang bukan nama sebenarnya dengan genjik dalam bahasa jawa

      “Gaya normal.” G : (Saat siswa menjawab gaya normal guru spontan bertanya kepada siswa yang disampingnya)

      “1 dan 2” G : “Terus?” S :

      G : “Pada benda mana?” S :

      S : “Gaya berat.”

      dipapan tulis ), kita pakai untuk bidang datar dulu (guru menggambarkan benda ditarik oleh tali tanpa menggunakan penggaris tapi hasilnya bagus ), gambarkan vektor gayanya! (sambil berjalan kearah siswa guru bertanya ) Gaya apa dulu yang harus bekerja ?”

      ) G : “Sekarang bagaimana diagram bebas gaya kalau benda dihubungkan dengan tali (guru menulis

      memasuki materi baru, cara guru dengan bertanya

      (Pada materi berikutnya guru memulai dengan melihat kemampuan awal siswa yang digunakan dalam

      G : “Yo gen ngerti kene ono genjik..e” (Siswa tertawa)

      guru memberi respon. )

      “Jadi kita gambarkan disini W 1 , kemudian W 2 , perhatikan cara menggambar W 2 , ni ya titik tangkapnya (guru sambil menunjukkan gambarnya

      152 dan memperhatikan siswanya ), karena bendanya teratur berada dititik pusat simetri, karena kita

      S : “Kanan.” G :

      “Ke bawah.” G : “Berarti kalau ini bergerak ke bawah (menunjuk pada gambar) tali ini menanggung bebannya ke atas atau ke bawah, tegangan kemana?

      “Jadi apapun konstruksinya, kalau kamu memahami tadi, konsep-konsep dari hari pertama itu, gaya normal, gaya berat, bagaimana penentuan titik tangkap gaya normal, gaya berat ?” Menit 23 S : “Bu, T 1 sama T 2 (siswa menunjuk pada gambar) itu memang arahnya berbeda Bu? ” G : “Lha tadi kamu sepakat mau bergerak kemana?” S :

      “Konsep gaya normal?” S : “Tegak lurus bidang.” G :

      “Kemana gaya normalnya?” S : “Ke kanan.” G :

      “Ke atas.” G : “Lalu gaya apa lagi?” S : “Normal.” G :

      “Gaya gesek.” G : “Gaya gesek. Kemana arah gaya geseknya?” S :

      ?” S : “Ke kiri.” Menit 22:24 G : “Kalau...(sambil menunjukkan gambar) mejanya sampai bawah, ada gaya apa lagi?” S :

      “Kemudian T 1 , meluncurnya ke kanan untuk benda M 1 maka gaya geseknya

      bawah ), lalu T 1 arahnya kemana ?” (Guru masih dalam posisi siap menggambar)

      belum berbicara titik berat, kemudian yang punya gaya normal tadi apa? ”

      ) disini ada reaksinya, kita berbicara hukum ke III Newton (gambar ke arah

      melihat siswa

      “Kita sepakati, benda 1 ke kanan, benda 2 ke bawah (guru menuliskan di papan tulis), sekarang arah tegangan talinya, kita mulai dari benda 2, ini pada tali T 2 (menggambar ke arah atas, sambil

      “Mau kemana gerak benda?” S : “Atas.” G :

      ?” S : “Gerak benda.” G :

      Menit 21 G : “Ini dihubungkan dengan katrol yang licin, saya masih membicarakan katrol yang licin, nanti di semester dua baru katrolnya kasar, karena kita masih berbicara katrol licin maka tidak ada gesekan antara katrol dengan tali. Sekarang pada tegangan tali, dikelas X kemarin bagaimana menggambarkan gaya tegangan talinya,tentukan dulu arah

      S : “Gaya gesek.”

      “Ya (sambil menggambarkan gaya normal), yang bersentuhan dengan meja atau bidang adalah M 1 , anggap saja bidangnya kasar. Maka akan ada? ”

      S : “M 1 ” G :

      ” S : “Ke bawah...di atas wis.”

      153

      S : “µ N” G : “Dong ra?” S :

      ’

      “Mana yang searah dengan kecenderungan gerak?” (Menunjuk pada gambar) S : “W 2 ,T 2

      “Yang berlawanan?” S : “Negatif.” G :

      ?” S : “Positif.” G :

      ” S : “Bergerak.” G : “Nah lihat arah geraknya, dulu dikelas X saya sudah mengatakan, gaya yang searah dengan kecenderungan gerak diberi tanda

      “Ke dua.” G : “Berarti, kita ikuti hukum ke 2 Newton (guru dan siswa menyelesaikan persamaan),untuk hukum ke dua berlaku untuk benda yang sudah?

      “Bergerak.” G : “Maka pakai hukum ke berapa?” S :

      “Dong.” G : “Sekarang karena ada beban W 2 , bendanya bergerak ndak tadi ?” S :

      G : (Guru menuliskan jawaban siswa) (Guru menuliskan persamaan ) “Pada ∑F y =0, yang punya gaya gesekan (sambil menunjuk benda M 1 ), benda 1 kan? Berarti f g nya berarti ?”

      G : “Ini bukan masalah perasaan..ini masalah logika…gimana, kamu kalau menjinjing tali, karena tidak ada tali aku pake tas wae (guru mengambil tas, kemudian guru mengangkat tas) berat dari massa ini (tas) kemana? ”

      S : “N 1 dan W 1 ”

      “Untuk benda 2 merasa ditarik ke atas, ke atas to? (Sambil melihat siswa yang bertanya tadi) Beratnya ke bawah, dong ra? (Masih melihat kesiswa yang bertanya) Nah, sekarang kita masukkan ke hukum satu Newton lagi (guru menuliskan di papan tulis), yang mempertahankan benda ini diam pada sumbu y gaya apa saja? ”

      S : “Kanan.” G :

      “Jelas.” G : “Sekarang pada katrolnya (menunjuk gambar) hukum ke tiga Newton menyatakan aksi reaksi kan? Aksi reaksi pada katrol atas bawah, kebalikannya pada benda ini (pada gambar) dia tidak atas bawah, kebalikannya kanan-kiri, dia (benda M 1 ) merasa ditariknya kemana ini? ”

      “Putus.” G : “Jelas?” S :

      “Ke atas. Ooo..” G : “Maka kalau talinya tidak kuat apa yang terjadi?” S :

      “Ke bawah.” G : “Saya menarik ini, yang merasakan talinya ini ke atas atau ke bawah?” S : “Ke bawah.” (Lalu siswa mencoba sendiri menarik tasnya.) G : “Tegangan talinya rasanya kemana? Ke atas atau ke bawah?” S :

      G : “Sekarang tegangan talinya kemana ini?” (Sambil melihat ke siswa yang bertanya) S :

      S : “Ke bawah.”

      , T 1 ”

      154

      “m apa?” S : “m total” (Menit 28:30) G : “m total m 1 +m 2 , karena kedua benda ini bergerak .” (Guru dan siswa menyelesaikan persamaan) G : “Kenapa W 1 tidak mempengaruhi? (Guru menunggu jawaban siswa) Karena bergeraknya kan pada sumbu x, sedang W 1 dan N 1 bergerak pada sumbu y

      “Jika geraknya ke sana (ke arah m 1 ) persamaan ini sama ndak

      .” (Menit 30:38) S : “Hahaha....” (Tertawa semua) G :

      kecemplung

      “Bukan rumus, karena apa? Kebetulan geraknya ke arah W 2 , kalau geraknya ke arah benda 1 bisa ndak ini ke tarik ke m 1, bisa? Wong kowe nimbo wae ember sing munggah kowe sing

      Menit 30 G : “Ini rumus?” S : “Bukan.” G :

      persamaan )

      “Saling menghilangkan, maka persamaannya tinggal?” (Guru dan siswa menyelesaikan

      S : “Berlawanan” G :

      , hukum ke tiga kan aksi reaksi, besarnya sama arahnya ?”

      ’

      “Sup dong rung?” Usup : “Dong” G : “Frans dong ra kowe?” Frans : ”Dong”. G : “Oke, sekarang kita lihat disini, min T 2 dengan ples T 2

      .” Menit 29 G : “Siapa yang belum dong? Itu dulu sebelum nanti bablas.” G :

      “Sama dengan?” S : “m kali a” G :

      G : “Yang searah itu kan?” S :

      “Terus?” S : “Min Fgesek.” G :

      “Min !!!” S : “Ples T 1 ” G :

      “Min.” G : “Ples opo min?” S :

      .” G : “Min atau ples?” S :

      ’

      ,min T 1

      ’

      ?” (Menunjukkan pada gambar benda 2) S : “Min T 2 , ples T 2

      ,dan f g ” G : “Jadi, kalau kita masukkan persamaannya, W 2 (guru berhenti menunggu jawaban siswa), ayo gayanya

      ’

      “T 2 ,T 1

      “Ya” G : “Yang berlawanan?” S :

      ?” S : “Ndak.”

      155

      .” (Menunjukkan pada papan tulis persamaan yang sudah didapat) G : “Setiap konstruksi itu tidak dihafalkan, pemahaman kamu tentang diagram bebas gaya, lalu masuk ke hukum Newton, sekarang kalau saya tanya berapa kecepatannya saat t sekon

      ” (Menit 37:16) Menit 37.20 (Guru berkeliling melihat siswa saat mengerjakan soal) G : “Siapa yang mau mencoba maju?” S :

      “s = v t+1/2 at 2 , tandanya positip karena dipercepat, kalau diperlambat negatip, ya, ada yang mau bertanya ?” G : “Kalau tidak saya masukkan disini angkanya, m 1 = 25 kg, m 2 = 15 kg, µ=0,2. Hitung percepatan tegangan tali, saat t = 2 s, berapa s, v t yo digarap.

      “v x t, ini geraknya apa ini?” S : (Semua siswa) “GLBB” G : (Guru menuliskan persamaan)

      S : (Salah satu siswa menjawab) “v x t” G :

      gimana? ”

      persamaan ) V t = V +at, itu bisa dicari, berapa jauh benda berpindah, masuk s, rumusnya

      “GLBB, ini mula-mula bendanya diam, sekarang ditanyakan V t -nya gimana? (guru menuliskan

      S : (Salah satu siswa menjawab) “GLBB” G :

      menunggu reaksi/jawaban siswa )

      ?..” (Guru

      “Ndak ada.” G : “Maka di sini, hukum 2 Newton, ∑F= m 1 a (guru dan siswa menyelesaikan hingga selesai) a- nya mana? Ya ini

      G : “Beda, kamu harus melihat arah gerak benda, arah gaya gesek, mana gaya yang searah dengan perpindahan, jadi tidak hafalan, mbrodol rambutmu lek dihafalke, sekarang kalau dah ketemu a (percepatan),kita bisa menghitung berapa tegangan talinya. ”

      “Ada” G : “Seandainya bendanya licin?” S :

      “Maka, gaya positif?” S : “T 1 ” G : “Ada gaya gesek?” S :

      S : “Ke kanan” G :

      G : “Kalau untuk benda 1 piye? Ini saya katakan (menunjuk pada gambar) seolah ini kamu potong, benda 1 bergerak kemana ?”

      a, jadi T 2 = W 2 - m 2 a ini baru untuk benda 2 .”

      : ”Jadi (guru menulis di papan tulis), W 2 –T 2 = m 2

      ” S : ”T 2 ” G

      ”W 2 , ya kan, yang negatif?

      : ”Mana yang positif?” S : ”W 2 ” G :

      a, ∑Fnya mana? Kalau kita lihat konstruksi ini arahnya? ” S : ”Ke bawah.” G

      G : “Sekarang kita mau menghitung tegangan tali, kita lihat masing-masing benda, pada benda 2, pada benda 1, nah kita lihat benda 2, caranya ini kita lihat seolah-olah kita putus, kita lihat konstruksi pada benda 2 saja. Kita masukkan ke rumus hukum 2 Newton, ∑F= m 2

      “Genjik” (Salah satu siswa) (Lalu guru menegor dengan memegang kepala anak tersebut)

      156

      ’

      “Ya” G : “Bukan dia (persamaan) turun kebawah ya?” G :

      berarti c uma mepet pada ∑F=ma?” G :

      ’

      .” S 1 : “Itu T 2

      “Kamu tadi bingungnya dimana?” (Menit 10:29) S 1 : “Tinggal masukin rumus kok Bu.” G : “Jangan hanya masukin rumus, kamu harus tahu prosesnya, itu persamaan bukan rumus, melihat keadaan dari benda

      ” (Saat siswa mengerjakan soal guru berkeliling) G :

      G : “Siapa lagi yang belum dong? Ini masih sederhana kalau kamu menguasai bagaimana konstruksinya kamu akan bisa.

      bebas gaya, saya tidak mau terjebak menerangkan fisika secara matematis .”

      dan arah gerak benda ) Karena ini adalah cara berpikir setelah melihat dan menganalisis diagram

      Cahyo : “O..ya” (Menganggukkan kepala) G : “Kamu juga bisa membuat persamaan matematis ya kan, tapi kenapa saya menggunakan persamaan ini? (Persamaan yang dikerjakan guru dan siswa berdasarkan analisis pada ganbar

      “Jadi, kamu hitung T 2 dulu ya kan ?”

      Cahyo : “Tidak.” G :

      sama tidak ?”

      “T 2 dan T 2

      G : “Aku ngene ki ra sayang le karo koe (memegang kepala siswa) tapi meng ngelap.” (Semua siswa

      dipakai Bu? ” G :

      ’

      “Maka kecenderungan arah gerak itu diperhatikan.” Cahyo : (Siswa lain) “Bu, T 2

      S 1 : “T 2 - W 2 ” G :

      yang bertanya )

      S 1 : “W 2 ” G : “W 2 maka ples W 2 min T 2 , kalau benda 2 bergerak ke atas persamaane piye? ” (Menunjuk siswa

      G : “Ke bawah, turun kan? Berarti yang positip kemana? Gaya yang searah gerak benda yang mana? ”

      S 1 : “Ke bawah”

      (benda 2) ada dia pakai T 2 - W 2 bukan W 2 -T 2 , persamaan ini ∑F to mas, resultan gaya nah pada benda ini yang bekerja gaya apa to, tadi sudah saya katakan benda ini seolah-olah saya potong (menunjuk pada gambar) gayanya apa? (Menunjuk siswa yang bertanya) W 2 dan T 2 lalu lihat bendanya tadi bergerak kemana? ”

      “Arah geraknya?” G : “Ini ada salah satu temanmu tanya (guru maju kedepan)(Menit 38:20), pada tegangan talinya ini

      “Dong ra kowe, yang mana?” S 1 : “Itu lho Bu.” (Menunjukkan pada gambar) G : “Tegangan talinya, berarti kamu secara matematisnya apa arah geraknya?” S 1 :

      “No wani maju ra Yo” (Nama siswa Cahyo) (Guru mencoba melihat pekerjaan siswa) G :

      (Lalu guru keliling lagi) G :

      tertawa )

      “Itu merupakan suatu kesatuan to lee? (Menit 11:13) Persamaan tegangangan tali ya, satu tali ya, yang sudah ketemu berapa percepatannya ?”

      157

      G : “Lha ini kok N-nya (normal) sudah tegak lurus bidang miring sudutnya 90 kok bisa diuraikan menjadi N cos dan N sin, jadi yang diuraikan yang N atau yang W ?”

      G : “Sumbu Y” Cahyo :

      Cahyo : “Yang miring”

      gambar di papan tulis )

      “Salah yo ra popo, ini geraknya ke sana berarti sumbu x-nya yang mana?” (Menunjuk pada

      ?” G : “Ya” Cahyo : “Salah je bu.” G :

      Cahyo : “∑F y ya Bu

      memanggil salah satu siswa ) Kamu Cahyo ?”

      “Sekarang persamaannya siapa yang mau menghitung? (Guru menunggu siswa maju lalu guru

      (Guru bertanya kepada semua siswa) S : “Miring” Menit 05:54 (Guru memeriksa pekerjaan siswa yang mengerjakan di papan tulis) G :

      (Lalu siswa membetulkan pekerjaannya) G : “Perhatikan ya? Pada bidang miring, yang menjadi acuannya bidang atau bidang miring?”

      S : “Yang W”

      diwalik , jadi uraian W itu terhadap bidang miring ?”

      S 1 : “2,5 m/s 2 .” G :

      “Lha kamu menguraikannya kok dari bidang datar? Hayo, bidangnya kan miring ngene lho

      S : “Miring” G :

      G : “Gimana ini uraian dari W 1 (sambil menunjukkan gambar yang dibuat siswa di buku tulis) yang menjadi bidangnya yang mana? Yang datar apa yang miring? ”

      memegang kepala siswa )

      “Sekarang untuk bidang miring. Gambarkan komponen gayanya! Wis lee?” (Guru sambil

      Menit 01:52 (Setelah guru melihat siswa didepan tidak menemui kesulitan guru berkeliling untuk mengecek siswanya) G :

      melihat sambil membimbing dengan bertanya )

      “Mana W 1 mana W 2 ? Gaya yang bekerja ?” (siswa mengambarkan diagram bebas gaya, guru

      VIDEO KE DUA MASIH TANGGAL 24 Menit awal guru menyuruh salah satu siswa maju ke depan untuk mengerjakan soal Menit 00:32 G :

      “2,5” Menit 11:43 G : “Gambar yang bener ini gambar teknik ya, gambar pakai penggaris!”

      “Kowe bener.” (Guru mendekati siswa saat menayakan guru tidak menyebut nama) G : “Piye Sup tempatmu?” Usup :

      “Ya bener terus?” (Lalu guru mengecek) G :

      “Yang tegak lurus bidang” G : “∑F y = 0 (guru membimbing siswa menulis). Apa saja pada ∑F y ?”

      158

      ”Ya gimana betul?” (Bertanya kepada kelas) S : ”Betul” G :

      ”Dicoba dulu? Kalau langsung nyoba di depan gimana? Ra sah gowo buku wong wis ono

      ?” (Yohanes) Yo : ”Sek dicoba dulu Bu” G :

      G : ”Ya, lalu (siswa diam) kedua kecenderungan arah?” Ant : ”Arah gerak” 03:45 G : ”Masuk ke hukum II Newton. Toni (karena Toni diam guru memangil siswa lain), Yo kamu bisa Yo

      Ant. : ”Dipotong dulu”

      mengerjakan untuk maju ke depan ) Bisa Anthoni persamaan tegangan talinya? (Siswa masih berpikir ) Tadi persamaan tegangan talinya gimana ?” (Bertanya kepada Anthoni)

      “Jelas” G : ”Bagaimana persamaan tegangan talinya? (Guru memberi kesempatan kepada siswa yang bisa

      ”Ada yang mau bertanya? Sudah cukup jelas? (Sambil menunjukkan gambar) Kenapa disini W cos W sin ?” S :

      “Meskipun dengan susah payah kita membaca tulisannya” S : (Salah satu siswa) “Dihargai Bu.” G : “Ya dihargai jelas.” G :

      ”Konsepnya tadi gimana?” (Siswa pun selesai mengerjakan dengan benar) G :

      Cahyo : “N - W 1 terus. ” G :

      ”N 1 satunya apa? Itu (siswa bingung dan guru menunjukan persamaan yang sudah ada N 1 ) N 1 satunya tadi gimana ?” (Lalu siswa menemukan) G :

      Bagian 2 video 2 Menit 1 G : ”Sekarang bagaimana persamaan pada sumbu X, kalian tadi memilih meluncur kearah sini. Ada yang mau mencoba ke depan ?” G :

      ”Dong ora?” S : ”Dong

      ”Berarti tali yang ini (yang menggantung) bergerak pada sumbu X apa sumbu Y?” S : ”Sumbu X” G :

      S : ”Lurus dengan N” G :

      (Menunjukkan pada gambar) Sumbu y itu tegak lurus sumbu x jadi mana sumbu Y ?”

      “Siapa yang mau bertanya?” Menit 8 G : ”Jadi, yang namanya sumbu x dan y ini lho bidang geraknya bidang miring to lee?

      “Ya” Cahyo : “N - W 1 cos α = 0” G :

      “Coba perhatikan ini tadi sumbu yang x terus yang ini sumbu y jadi W 1 ” Cahyo : “W 1 cos α” G :

      gambare kok

      159

      Newton. Slamat siang .” S :

      dan mana yang kinetis Anthony ?” Ant :

      soal nomer 1 dan menuliskan di papan tulis ) pertanyaan saya, mana yang koefisien gesek statis

      ”Sudah” G : ”Frans?” Frans : ”Jelas” Menit 3 G : ”Oke, sekarang kita lanjutkan latihannya, sekarang no 1 (guru memulainya dengan membaca

      G : ”Bo?” (Nama siswa) Bo : ”Ya”. G : ”Yohanes, sudah jelas yang kemarin?” Yo :

      Be : ”Sudah”

      ”Tali” G : ”Tali katrol bendanya di bidang datar, maupun di bidang miring, bagaimana menghitung kecepatan, gaya gesekan, jarak yang ditempuh menggunakan persamaan hukum I, II, III Newton serta GLBB. Ada yang mau ditanyakan sebelum nanti masuk ke latihan soal? Apakah sudah cukup jelas? Be ?” (Nama siswa)

      ”Ya kita lanjutkan yang kemarin diagram bebas gaya antara dua gaya yang dihubungkan dengan apa? ” S :

      “Siang.” Tanggal 25 Juli Menit 1 G :

      ” G : “Untuk 1-10 untuk PR. Ingat tadi dari konsep gaya gesek, masukkan ke hukum I, II, dan III

      (Yohanes maju ke depan) G :

      Harus dimulai dari sekarang menggunakan penggaris karena kamu belum bisa menggaris lurus. Komponen gaya dari ujung vektor itu teori tentang vektor dikelas X cari proyeksinya.

      G : ”Latihan yo harus komplit. W cos W sin tetep di gambar komplit, tidak ada dispensasi apapun ya, konstruksi gayanya, diagram bebas gaya harus komplit, harus benar menggambar vektornya.

      S : ”Mung latihan Bu”

      catatan siswa )

      ”Gambar dulu, harus ada gambarnya ini nanti lek ulangan tak salah ke” (Menunjuk salah satu

      “Meluncur dengan waktu 2,5 sekon apanya itu?” S : “t-nya” G :

      “Massa” G : “Diam berarti kecepatannya?” S : “Nol” G :

      Bagian 3 video 2 (Bagian ini siswa mengerjakan soal-soal yang ada di buku.) G : “Nomer 6 kita lihat sebuah balok 6 kg diam, berarti yang diketahui itu apa?” S :

      ”Ya ∑F N-nya N berapa? Ya N 1 ∑F opo le?”

      ”0.3 statis 0.2 kinetis” G : ”Alasan kamu gimana?”

      160

      ” G : ”Sekarang nomer 2. Berani 2a Sup?” (Nama siswa) G :

      ”Ya 30N” S 1 : ”Berarti sama dengan gaya yang diberikan jika tidak bergerak.” G :

      ”Pertanyaan yang baik.” S 2 : ”Karena gaya yang bekerja 30 N.” G :

      ”Konsepnya kemarin begitu sudah melewati gaya gesek statis maksimum otomatis kalau bendanya sudah bergerak menjadi gaya gesek kinetis. Siapa yang belum jelas ?” S 1 : ”Berarti yang nomer b gaya gesek yang bekerja saat itu kenapa 30 N?” G :

      “Ora (menit 09:56) nitip.” (Semua siswa tertawa dan Rama maju ke depan untuk memperbaiki) G :

      “Lah ini mana?” Rama : “Titip Bu.” G :

      “Jadi, percepatan saat itu piro?” S : “Nol” G :

      S : “Belum” G :

      “F 2 = 30 N, f gesek maksnya 30 N sehingga f gesek saat itu sama dengan F 2 maka benda dikatakan tepat akan bergerak, sudah bergerak apa belum? ”

      ”Yo maju (Usup maju ke depan), ya maju. 2b koe Frans!” (Salah satu siswa sudah selesai (Rama), guru membahas/mengecek) G :

      G : ”Gaya gesek statis maksimum benda tidak akan bergerak sehingga gaya gesek saat itu adalah gaya luar yang diberikan ya kan kemarin saya contohkan menarik meja, mejanya tetap diam padahal sudah saya tarik sampai metekol tapi mejanya masih belum bergerak. Berarti gaya gesek saat itu adalah sebesar gaya yang saya berikan.

      Ant : ”Kalau benda bergerak kan gaya geseknya otomatis semakin berkurang.” G :

      “Ndak usah” G : ”Karena bendanya tidak berubah bidangnya tetap jadi kekasarannya tetap, siapa yang mau maju ke depan Rama? (Nama siswa) Ra sah gowo buku ma wong wis ono neng kene, siapa yang mau mencoba yang c? (Ada siswa yang maju) Siapa yang mau mencoba nomer 2 ?”

      “Dihitung lagi ndak bu?” G : “Dihitung lagi ndak (bertanya keseluruh kelas) F gsmax ?” S :

      “Siapa yang masih bertanya coba selidiki yang B nanti maju.” G : “Kalau ditarik dengan gaya 30 N? Siapa yang mau maju?” S : (Satu siswa)

      “Percepatannya karena masih diam?” S : “Nol” G :

      “Benda diam.” G : “Ya, benda masih diam berarti F gs saat itu ?” S : “15 N” G :

      30N kita bisa menyimpulkan gimana ?” S :

      “Berlawanan dengan F 1 .” G : “Kalau F 1 -nya 15 N padahal F gsmax

      15 N ke kanan, kemana arah gaya geseknya? ” S :

      “Jadi, koefisien gesek statis lebih besar dari pada kinetis. Jika benda ditarik F 1

      ”Ya, jadi besarnya selama masih diam sama dengan gaya luar saat itu, gaya luarnya berapa?” S 1 : ”30 N”

      161

      ”Nol” G : ”Sekarang kalau saya beri gaya 200 N wis gerak rung?” Usup : ”Belum” G :

      G : “Ada yang mau ditanyakan? Jadi, soal nomer 1 dan nomer 2 itu adalah untuk menyelidiki benda sudah bergerak atau belum. Ok, nomer 3 siapa yang mau mencoba ke depan ?”

      sampai menit 7:39)

      ”Ya” (Menit berikutnya siswa maju 2 orang dan guru membimbing dan melihat guru berada di dekat siswa

      ”Jadi, kesimpulannya benda akan bergerak kalau?” Usup : ”Fgesek maks lebih kecil dari F yang diberikan.” G : ”Ya, gaya luar yang diberikan lebih besar dari F gesek, dong ra?” Usup :

      ”Kalau saya kasih 311 N sudah bergerak belum?” Usup : ”Sudah” G :

      ”Berarti sudah bergerak apa belum?” Usup : ”Belum” G :

      ”Kalau saya beri gaya 310 N sudah bergerak apa belum?” Usup : ”Hampir gerak” G :

      G : ”Jadi, percepatannya saat itu?” Usup :

      G : ”Besarnya itu sama dengan gaya gesek maksimum?” S 1 :

      Usup : ”Tidak bergerak”

      Bagian 3 video 1 Menit 1 G : ”Nah, saiki nek benda ini ditarik oleh gaya F cos 60 = 160 N padahal pertahananya 310 N kesimpulanmu opo ?”

      Bagian 2 video 1 G : “∑F y sama dengan nol opo wae : ∑F y ” (Sampai selesai membimbingnya)

      “Haha, yeah hi.” (Menit 13:45) (Guru terus membimbing/melihat gambar yang dibuat siswa langkah demi langkah)

      ”Omah e neng cedak purawisata.” (Saat menggambar guru terus melihat) G : “Nie pake kapur putih. Ra sah degdegan, mung ditonton karo Anthoni kok degdegan.” S :

      ”Mulane (makanya) koe ora usah kokean (kebanyakan) nonton dangdut neng purawisata.” S : ”Haha” (Semua siswa tertawa) G :

      ”Masih drafnya Bu.” G : ”Yo sisan wae ra go penggaris.” (Lalu usup mengambil penggaris untuk menggambar.) G :

      ”Ya” G : ”Piye Sup?” Usup : ”Berkonsultasi Bu”. G : ”Piye lek mu gambar kie?” Usup :

      S 1 : “Saya”

      162

      ”Ya, sekarang yang tetap a apa v nya?” S 1 : ”v G :

      ”Normal” G : ”N kecil opo N besar (lalu siswa memperbaiki) ini f geseknya yang mana yang kamu pakai?” S 1 :

      ”N” G : ”Untuk simbol apa ini?” S 1 :

      ”Jadi, disitu (menunjuk papan tulis) salah. Yang ditulis tetap itu apanya?” S 1 : ”v-nya” G : ”Ini, huruf opo ini?” (Menunjukkan tulisan siswa di atas) S 1 :

      ”Sehingga a-nya?” S 1 : ”Nol” G :

      ”Kok sama dengan v, tadi a delta v per delta t, kamu tadi setuju v-nya tetap berarti delta v-nya?” S 1 : ”Nol” G :

      ”Akibatnya a-nya sama dengan?” S 1 : ”Sama dengan v G :

      G : ”Sehingga yang tetap itu apanya?” S 1 : ”v G :

      S 1 : ”Nol”

      ”Kalau v-nya tetap, berarti delta v-nya piro? (Siswa bingung dan guru memberi arahan) Misalkan v 1 = 10 m/s v 2 = 10 maka delta v-nya ?”

      ”Nah, sekarang apa konsep dari percepatan itu?” S 1 : ”Perubahan kecepatan terhadap waktu.” G :

      G : “Ya boleh” S 1 :

      S : ”v” (Semua siswa menjawab) G :

      G : ”a (percepatan) -nya sama dengan tetap sama dengan nol maksudnya piye itu? Mana yang soalnya mengatakan a-nya tetap? (Guru mendekati siswa) Bergerak dengan ketetapan tetap, apa simbol dari kecepatan ?”

      guru mencoba menggali pemikiran siswa dimana salahnya )

      ”Ya teruskan temennya dibantu, ya betul.” Menit 13:00 (Guru membahas pekerjaan siswa yang mengerjakan di depan namun guru menemukan kesalahan dan

      S 2 : (Disamping siswa 1) “Nol” G :

      S 1 : “Ee..”

      “Jadi, dihitung untuk satu roda saja, nah sekarang ditanyakan berapa gaya horizontal, itu gaya luar. Nah, pertanyaan saya ini bergerak dengan kecepatan tetap, artinya opo lek bergerak dengan kecepatan tetap ?”

      ?” S 1 : “Ya” G :

      “Jadi, harus dicari satu-satu gaya geseknya?” G : “Iya, inikan tidak dikatakan dihitung keempat-empatnya kan? Kecuali dikatakan ini untuk satu roda berarti kamu harus menghitung gaya geseknya empat kali gaya gesekan satu roda. Dong

      ”Kinetis.” G : ”Kinetis? Alasanmu opo?”

      163

      .” (Semua siswa

      G : “Apakah bendanya tidak memiliki gaya normal?”

      ”Coba lihat catatan kamu, gambarnya seperti ini lho.” (Guru terus membimbing langkah demi langkah dan guru menunjukkan gambar yang dibuat guru yang terdapat di dalam catatan siswa, setelah itu guru memeriksa pekerjaan siswa yang di depan.

      ”Ke bawah sini.” G : ”Ya, W itu tegak lurus pada bidang datar. Ini dari titik tengah benda arahnya mana?” G :

      (menggambar komponen gaya). Sekarang gambar W-nya kemana arahnya ?” S :

      G : ”Terus gambar bendanya tegak lurus bidang miring, ya terus sejajar bidang miring

      mampu dan guru membimbingnya, guru melihat cara menggambar diagaram bebas gaya. )

      Menit 26:40 (Saat ada siswa mengerjakan di depan guru mengecek salah satu siswa yang menurut guru kurang

      tertawa )

      menggunakan tangan guru menegur ). Wo, mbok nganggo klambimu sisan yo

      S 1 : ”Bendanya bergerak.” G :

      “Siapa yang mau bertanya? Jangan diam kalau belum tahu! Nomer 4, 5 siapa yang mau mencoba maju ke depan ?” (Ada siswa yang maju tanpa dipanggil namanya) Menit 23:33 (Saat siswa yang mengerjakan di depan mau menggambar guru memperingatkan dan menegur.) G : “Yo (Yohanes) ojo terlalu tegak, nanti lek gawe bendanya repot (pada saat Yo menghapus

      ” G : ”Jadi harus hati-hati ya! Menyelidiki sebelum benda bergerak atau benda sudah bergerak, hati- hati konsepnya di situ. ” G :

      ”Itu jawabannya, jadi meskipun statisnya 520 untuk dia (benda) bergerak memang harus melawan itu, tapi pertanyaan disini adalah setelah dia (benda) bergerak maka setelah dia (benda) harus mengalahkan 260 N jelas.

      ”Kenapa tidak 520?” S : ”Karena bendanya sudah bergerak.” G :

      ”Fuad?” Fuad : ”260.” G :

      ”Lalu berapa lagi, Cahyo berapa, berapa le?” S c : (Siswa lain) “260N.” G :

      ” S a : (Salah satu siswa) “Sama dengan gaya gesek kinetik.” S b : (Siswa lain) “260 N.” G :

      ”Coba perhatikan ini yang lain, perhatikan teman kamu menghitung fg kinetiknya 260 N fg statisnya 520, untuk menjaga benda bergerak dengan kecepatan tetap berapa gaya luar yang harus kita berikan (pertanyaan untuk kelas) yo semua berpikir?

      ”Bendanya bergerak dengan?” S 1 : ”Kecepatan tetap.” G :

      S : “O, iya Bu.” (Lalu siswa memperbaikinya.) (Guru memperingatkan) Menit 31:37

      164

      S 1 : “Ya.” (Menit 01:23)

      ”Bisa” G : “Sampai sejauh ini siapa yang belum tau sama sekali, tunjuk jari saya akan memberi pendampingan khusus, sore hari, siang hari, nanti kalau malu istirahat menemui saya. Nomer 7, nomer 8 ya? Kae disik sing cah cilik .” (Semua siswa tertawa)

      ?” S : ”Boleh” G : ”Di situ kalau tidak ada massanya bisa dikerjakan to?” S :

      massa ) ruas kanan ruas kiri ada massa, boleh to kalau massanya saya coret

      ”Kalau tidak diketahui massanya, bisa dikerjakan tidak? Sekarang kamu lihat ke sini (menunjukkan persamaan di papan tulis), ini ada massa (ruas kanan dan kiri persamaan ada

      Menit 07:08 (Ada siswa yang bertanya) G :

      penggambaran vektor ) (Menit 03:40)

      “Normalnya mana? Gaya geseknya mana itu yo?” (Saat guru memeriksa jawaban siswa pada

      G : ”Yo dicoba.” G : “Saya membantu nomer 7 ya?” (Menit 01:57) G :

      “Setengah-setengah ya Bu?” G : “Ya, tegangan talinya m 2 + m 1 itu nanti sama dengan T 1 , kamu bisa mencari dari ini dulu bisa ini juga, anggap ini m 1 dan ini m 3 ini kan satu katrol meskipun massanya berbeda tegangan talinya sama le .”

      G : “Perhatikan baik-baik! Dalam melukis diagram bebas gaya, vektor gaya vektor komponen tidak boleh salah harus menggunakan penggaris kalau belum bisa lurus, komponen vektor tidak boleh melebihi proyeksinya, itu sudah aturan yang baku .”

      VIDEO 2 Menit 00:00 (Ada siswa yang bertanya dan guru mendekati siswa) G : “Ini kan satu, jadi beban yang ditanggung katrol 1, lalu yang kedua ini dibagi dua.” S 1 :

      G : ”Gene koe dong neng kene alfa.”

      Usup : ”Yang ini.”

      to ini? Jika segitiga ini sebangun mana yang sama dengan alfa? Ndi Sup ?”

      G : ”Kita punya segitiga ini (guru menggambar di catatan siswa) ini alfa, kalau ini saya perpanjang menjadi suatu segitiga a, b, c siku-siku di b, sekarang kalau saya punya ini, proyeksinya ke sana

      hingga tuntas. )

      “Ini yang dibuat katrol 1 apa 2 dulu? S 2 : “Ya dua-duanya.” (Dalam situasi ini siswa lain mengerjakan di bangku masing-masing dan ada yang bekerja berdua-dua) Menit 02:47 (Siswa tidak mengerti penentuan W cos dan W sin itu didapatkan dari mana dan guru membimbing siswa

      Bagian empat video 1 (Ada siswa yang berdiskusi) S 1 :

      VIDEO TGL 5 AGUSTUS 2009 1 JAM PELAJARAN

      Menit 07:21 (Cahyo maju ke depan untuk menuliskan jawabannya.) Menit 08:18 (Guru berkeliling mengecek pekerjaan siswa.) Menit 08:40 (Ada siswa yang maju mendekati guru dan bertanya tentang soal. Sampai menit 09:09.) Menit 09:24

      G : “Nah, kalau itu sudah kamu peroleh, ya kamu bisa mulai dari T 1 =2T 2 . Kita mulai dari benda 1 (guru menulis)

      siswa .)

      “100/55” (Lalu guru mendekati Cahyo dan melihat pekerjaan Cahyo) (Menit 06:31, guru mengecek jawaban

      : “Angkanya jelek Bu?” G : “Ndak pa pa angkanya jelek. a 1 dan a 2 berapa? ” Cahyo :

      (Lalu siswa mengerjakan soal.) Menit 06:23 G : “Sudah ada yang ketemu? Berapa Cahyo?” Cahyo

      1, terus ketemu tegangan tali. Yo, masukkan angkanya! Jadi, konsep yang utamanya di sini mas (menunjukkan pada T 1 =2T 2 , a 1 =2a 2 dan guru melingkarinya)(Menit 05:34)

      “m 2 a 2 ” G : “Ini dicari T 2 dulu (pada persamaan 1) T 2 = m 2 a 2 + w 2 terus ini nanti dimasukkan ke persamaan

      : “Ya ndak. Ini persamaan 1, sekarang persamaan 2 (benda 2) persamaannya gimana?” G : “T 2 -W 2 sama dengan ?” S :

      “W 1

      S : “W 1 -T 1 ” G : “Sama dengan?” S :

      ∑F=m 1 a 1 ya , ∑Fnya apa?” (Guru menunjukkan pada benda 1)

      “a 1 =2a 2 ”

      165

      “t-nya sama Bu.” G : “T 1 = 2T 2 terus, apa lagi ?” S :

      “Sama Bu.” G : “Apa yang dapat kamu simpulkan?” S : (Salah satu siswa)

      .” G : “Ini sama ndak?” (Menunjukkan pada gambar tegangan tali) S :

      ’

      : “Ini adalah t (menulis pada gambar) dan ini t

      G : “Oke, saya akan membahas satu soal, soal seterusnya apa kamu akan bisa?” G

      membahas satu soal dan yang lainnya nanti siswanya mengerjakan di kelas. Setelah guru selesai

    menggambarkan soal di papan tulis, guru mencoba membahas soal dengan tanya jawab. )

      “Saya akan membahas satu soal nanti yang lainnya kalian pasti bisa.” (PR yang diberikan guru pada pertemuan sebelumnya siswa tidak bisa dan guru mencoba

      “Ada yang mau ditanyakan?” S : “Semuanya Bu?” G :

      (Melanjutkan soal pada pertemuan 25 7 2009) G :

    • T
    • 1 = m 1 a 1 ” (Guru menuliskan persamaan.) G untuk W 1 piye? Persamaannya jadi ?”

        kemana? Gaya yang searah diberi tanda positif . Nah, coba sekarang ditentukan persamaanya

        .” Rama : “Buat Bu!” G

        : “Ya.” G : “Jadi hukum ke II dan hukum ke III, jangan lupa dari konsep kencenderugan arah gerak benda

        : “Ya kan, kemana geraknya yang lebih cepat a 1 atau a 2 meluncurnya lebih cepat. Nah, makanya percepatan ini 2 kalinya percepatan ini, dong ora? ” S

        : “Ya” G : “Maka di sini namanya juga masih T 2 ?” S : “O0, iya ya.” G

        : “Jadi T 2

        ?” S : “Positif” G

        : “Ke atas” G : “Sekarang prinsip dari hukum ke II Newton, searah dengan kecenderungan gerak benda F-nya diberi tanda

        : “Belum” G : “Mana yang belum?” (Guru mendekati siswa) G : “Kalau ini a 1 nya turun, maka talinya yang di sini akan menarik benda 2 kemana? ” S

        : “Yo ngenteni koe dadi bos’e, kamu ngomong sama Pak Arifin (Bapaknya Rama).” G : “Ada yang masih belum bisa?” S

        G : “Ya, a 1 kan terbagi 2 tali maka punya a 2 dibagi 2, bahasa yang paling gampang a 1 bergerak lebih banyak dari pada a 2 .” G : “Nah, prinsip katrol seperti ini digunakan pada apa le? Ya, pada keren di kapal-kapal itu digunakan untuk menaikkan kontainer, memangnya mau diangkat, kalau dirumah kamu punya piano dinaikan di lantai 2 ya pakai susunan katrol-katrol, akhirnya usaha kita menjadi kecil, keuntungan mekaniknya lebih besar, di SMP kamu hanya mempelajarinya pada tuas, nah, sekarang dengan sistem katrol. Maka kemarin saya melihat teman bapak-bapak karyawan itu menaikan meja-meja bekas laboratorium bahasa ke lab fisika diangkut waduh, maka seharusnya sekolah mengusahakan adanya katrol itu

        166

        : “Bu, a 2 lebih banyak bu? ”

        : “Bu ini berarti F-nya sama dengan T.” G : “Ya” (Lalu siswa maju ke depan) S

        G : “Ya, ini kan masih satu tali?” S

        S : “Ini masih satu tali to Bu.”

        ) ini ada dua keadaan, menarik tali neng a sudah diketahui, kalau yang ini kecepatannya tetap berarti kecepatannya nol yo dicoba ke depan, ya konsep dari tegangan tali di sini T ini adalah 2 kalinya sana, ini masih satu tali to ?”

        menganggukkan kepala

        . Terus yang nomer 3?” Menit 11 (Ada siswa yang bertanya) G : “Tegangan tali di sini 2 kali tegangan tali ini, ya kan maka T-nya ini, ya kan (siswa

        G : “Ayo, yang sudah memikirkan soal nomer 2 yo maju (siswa maju), prinsipnya hampir sama (guru menunjukkan persamaan soal 1)

      • nya positif min W
      • 2 massanya yang tertarik di sini m 2 , a juga a 2 karena percepatan a 2 ini tidak sama dengan a 1 . Nah, sekarang T 2 ini aksen ini masih satu tali, aksi reaksi kan ?” S

        • T 1 ”

          “a 1 2 kali a 2 , saat ini (pada benda 1) bergerak sepanjang x kedua tali ini bergesernya berapa ?”

          : “Ya udah 5 biar nanti satu salah masih ada 4, gambar komponen gaya dinilai?” S : “Dinilai bu sebagai tambahan.” G : “Ya dinilai.” G :

          : “Ya tiga” S : “Yang gampang-gampang bu, jangan susah-susah, 5 saja Bu.” G

          : “Berapa soal? Materinya bidang datar, bidang miring dan katrol.” S : “3 Bu” G

          S : “3, 4” G

          G : “Minggu depan kita ulangan, mau berapa soal? Ayo saya tawarkan?”

          : “Sekarang persamaan 2 (benda 2) konsep yang utama ini lho (menunjukkan dan melingkarinya) T 2 =2T 1 kemudian a 2 -nya berapanya a 1 ? Setengah a 1 , mari dipahami dulu yang belum jelas akan saya bantu lagi .”

          “Jadi konsep itu, kenapa ini satu kali dan ini setengahnya itu harus nangkap dulu. Kalau itu sudah tau ini gampang .” G

          : “Dong ra?” S : “Dong!” G :

          ?” S : “Naik setengah x” G

          2 ), kalau benda 1 bergerak ke kiri sejauh x maka benda 2

          : “Setengah, maka 1 dibagi 2, konsep itu jelas ndak?” S : “Jelas” G : “Saat ini bergeser sejauh x maka talinya ini, yang ini turun ½ x dan yang ini ½ x (pada benda

          S : “½ x” G

          pertanyaan saya T 2 terhadap T 1 bagaimana? T 2 nya dua kali T 1 ya kan? Maka percepatanya a 2 nya terhadap a 1 ? S : “a 1 2 kali a 2 ” G :

          167

          ’

          , T 1

          ’

          : “Dong!” G : “Semua diagram bebas gaya digambarkan, disini T 2

          ” G : “Maka gaya geseknya ke kiri. Dong ora?” S

          1, benda 2. Benda 2 bergerak ke bawah karena ini turun maka benda 1 bergerak kemana? ” S : Ke kanan

          ) G : “Semua mengerti pekerjaan Cahyo? Frans jelas? Kemudian untuk yang kedua kita lihat, benda

          menunjukkan untuk benda 1 dan benda 2

          “2 kalinya.” G : “Jawaban teman kamu ini kurang lengkap, seharusnya untuk benda 1 terus benda 2.” (lalu guru

          G : “Nah, ini W 1 -T 1 , terus hubungannya a 1 dan a 2 tadi gimana? a 1 berapa kalinya a 2 ?” S :

          “W 1

          (Siswa mengerjakan dan guru melihat) S :

          “Oke, waktu habis, kita doa dulu, ayo dipimpin.”

          Lampiran 4 Transkrip Data Guru B

          169

          ”Siapa mau maju?” Siswa : ”Kitin.” (Menyebut salah satu nama siswa) Guru :

          ”Iya.” (Selama salah satu siswa mengerjakan dipapan tulis, guru memperhatikan sambil mengoreksi) Guru :

          Siswa : ”Simbolnya y ya pak?” (Siswa yang maju,bertanya pada guru) Guru :

          mengerjakan dipapan tulis, sambil mengarahkan )

          Guru : ”Persamaan umum simbolnya apa saja? Biar semua jelas.” (Bertanya pada siswa yang

          maju mengerjakan dipapan tulis )

          Guru : ”Silahkan dikerjakan di depan..Diketahui, ditanyakan, jawab ya.” Guru : ”Ya..silahkan dicoba, yang lain memperhatikan dan mencocokkan.” (Siswa yang bersangkutan, maju untuk menuliskan jawabannya) Guru : ”Mulai dari sebelah kiri, biar bagus...diketahui, ditanya, dijawab.” (Mengarahkan siswa yang

          Siswa : ”Sudah.” (Lulu, siswa yang ditunjuk menjawab)

          Lulu )

          ”Kitin sudah...Lulu..(menunjuk satu orang siswa lainnya). Sudah selesai belum?” (Bertanya pada

          ”Kalo gak ada kita lanjutkan, kalo ada kita bahas dulu.” Siswa : ”Dibahas dulu.”(Serempak menjawab) Guru :

          Pembelajaran tanggal 22 Juli dilakukan di laboratorium Fisika. Materi pembelajaran: gelombang stasioner Guru : “Baik..kita sudah mempelajari berbagai macam gelombang. Berdasarkan arah getarnya dibagi menjadi gelombang apa dan apa?

          ” Siswa : ”Ada.” (Beberapa siswa menjawab) Guru :

          ”Gelombang berjalan.” Guru : ”Gelombang berjalan...yang kemarin demonstrasinya di papan tulis adalah penggetar yang dihubungkan dengan tali. Sesudah kita latihan soal, masih ada satu soal yang belum kita bahas, apakah ada permasalahan?

          ”Amplitudo.” Guru : ”Amplitudo, yang kita pelajari tentang gelombang. Gelombang apa?” Siswa :

          : ”Mekanik.” Guru : ”Yang ketiga berdasarkan apa?” Siswa :

          : “Medium” (Salah satu siswa menjawab) Guru : ”Medium yang dilalui apa saja? Gelombangnya?” Siswa

          : “Tegak lurus arah getar atau arah rambat? Kalo longitudinal?” (Menunggu jawaban siswa) Siswa : ”Searah.” (Beberapa siswa menjawab) Guru : ”Terus yang kedua berdasarkan apa?” (Menunggu jawaban siswa) Siswa

          : “Tegak lurus arah?”(Berhenti sejenak menunggu jawaban siswa) Siswa : “Getarnya.”(Beberapa siswa menjawab) Guru

          : “Transversal dan longitudinal. Transversal kalo bagaimana?” Siswa : ”Tegak lurus.”(Siswa menjawab serempak) Guru

          ” Siswa : ”Longitudinal dan transversal.” (Siswa menjawab serempak) Guru

          ”Simpangan, kecepatan dan percepatan..ya y p , kecepatan v p x dan t-nya sama, t nya berapa? Pada x dan t nya berapa? ”

          170

          Siswa : ”Berjalan.” Guru

          Guru : ”Sekarang beda lagi (guru menggeser alat) sekarang ada berapa?” Siswa :

          Siswa : ”Tambah kecil, tambah lebar.”

          Guru : ”Punya’e Marla tadi..tapi ini lebih mblenduk ya? Ini sebenarnya kalau ini diubah- ubah..kemungkinan akan ada kejadian lain. Kita coba ya? Kalau berat? Tambah apa? Selain itu jaraknya kita tambah..apa yang terjadi? Kalau bebannya saya tambah lagi? Sekarang beda lagi?”

          Siswa : ”Yang bawah.”(Lalu guru menggambarkan yang benar)

          ” Guru : ”Silahkan dicoba...Apa yang dilihat?..Ya..bayanganmu seperti apa? Gambar saja..lalu yang kamu lihat seperti apa? Ya..betul seperti itu? Coba yang lain? Siapa..? Yang lain yang punya pendapat lain? Marla coba...(menunjuk siswa lain) Coba digambarkan..yang kamu lihat itu seperti apa? Pengamatannya sama ndak? Ya coba digambarkan..Bisa tahap menggambarkan ini? Kelihatan kan? Gambarkan di bawahnya Kitin. Ya betul gambarkan dari kiri ke kanan...Betul begitu? Selesai? Kamu tu lihatnya seperti apa? Kalau kamu gambarkan? Ya..memang..dua sampel beda- beda ya..mungkin Kitin ndak pakai kaca mata gambarnya, cuma satu. Kalau kita lihat yang betul- betul mirip yang mana ?”

          ”Penggetarnya dari mana? Dari kanan...Berarti dari kanan ke kiri...Sekarang kita coba ya..Penggetarnya kita getarkan dengan frekuensi PLN. Frekuensi PLN itu berapa? Tegangannya betul 220, tapi frekuensinya berapa? 50hz. Kita coba, lalu lihat apa yang terjadi? Kelihatan ndak? Kelihatan ndak dari belakang? Kalau yang nggak kelihatan ya bisa maju..Nah..coba Kitin (menunjuk salah satu siswa) kamu gambarkan ke depan apa yang kamu lihat?

          : ”Berjalan..Dari mana ke mana ini? Kalau ini bergetar ke arah kamu?” Siswa : ”Kanan.” Siswa : ”Kiri” Guru :

          Guru : ”Ya..gelombang berjalan. Jadi karena ini bergetar (menunjuk pada penggetar). Ini tali..mestinya nanti ada gelomba ng yang?”

          Guru : ”Eee...perlu diubah ke meter atau nggak? Bisa tapi sebaiknya tidak usah..karena sudah centi semua tho .”

          Siswa : ”Gelombang berjalan.”

          (Saat memberikan lelucon guru melihat kealah satu siswa dan siswa tertawa semua) Siswa : ”Yee.” Guru : ”Ini ada benang, ini dimasukkan ke ujung yang ini, kemudian ditali. Tetapi tidak dibuat tali mati supaya beban dapat diubah-ubah sehingga getarannya juga bisa berubah. Sekarang kita lihat, akan kita coba getarkan tali ini. Ingat getaran yang merambat kemarin namanya apa? ”

          kelas ) Alatnya cukup sederhana. Ini namanya penggetar, ini bisa menggetarkan ujung hatimu .”

          ”Nah..hari ini kita akan melihat gelombang yang lain yang berdasarkan amplitudo... yakni gelombang stasioner. Nah gelombang stasioner ini seperti apa? Ini kita sudah punya alatnya, kita coba! (Guru mengambil alat yang sudah dipersiapkan, dan menempatkan alat tersebut di depan

          ”45˚" Menit 15:35 Guru :

          ”0.25 π itu dijadikan apa?” Guru : “0.25 π itu berapa?” Siswa :

          Guru : ”Supaya lebih mudah mungkin mencari besaran, mencari 4π/T” Siswa :

          ”Tiga.” Guru : ”Kira-kira apa yang menyebabkan tali yang satu tadi menjadi kelihatan dua seperti itu? Ada yang tahu ?”

          171

          “Maka kelihatannya ini diam yang menunjukan kira-kira fungsi apa ini? Jadi, gelombang stasioner itu tadi apa? Hasil perpaduan antara?” Siswa :

          Gelombang datang yang ini ke arah kiri (sambil menunjuk pada gambar). Persamaannya kita namakan y 1 . y 1 sama dengan apa? Persamaan gelombang datang...merambat ke mana dia? ”

          anggap x = 0. Kita buat tadi, misalnya tiga gelombang ya? Kita anggap gelombang datang, y 1 , yang satunya y 2 . Memang kita tidak bisa mencermati secara detail. Nah kita bahas bersama-sama.

          menjelaskan ) titik asal getaran. Ini tadi kita namakan ujung pemantul. Ujung pemantul ini kita

          Nah yang kita peragakan tadi apa? Adalah gelombang stasioner ujung...pemantul ujung tetap. Kita gambar dulu, hasil kita. Ini adalah penggetar, atau boleh kita namakan (guru menggambar sambil

          Siswa : ”Stasioner.” Guru : ”Stasioner. Ini faktanya, ini kenyataannya..nah sekarang kita harus membuat persamaannya. Kita lihat sekarang untuk persamaannya. Perhatikan ya? Gelombang stasioner atau berhenti atau diam .

          ”Sama..” Guru : ”Sama. Jadi, gelombang yang frekuensi dan amplitudonya sama, arahnya berlawanan akan terbentuk gelombang?”

          : ”Berlawanan?” Guru : ”Berlawanan, frekuensinya bagaimana?” Siswa :

          ”Gelombang yang datang dan gelombang yang dipantulkan.” Guru : “Tetapi apakah cukup begitu? Bagaimana dengan gelombang pantul? Arahnya bagaimana?” Siswa

          Siswa : ”Gelombang diam.” Guru :

          Siswa : ”Beban ama panjang tali.”

          ”Pada saat yang sama...apa yang terjadi? Ya ditunjukkan seperti ini...gelombang yang terjadi karena gelombang datang, terus ada gelombang yang dipantulkan...pada saat yang sama dijumlahkan atau berinterferensi. Nah itulah namanya gelombang stasioner atau gelombang henti, atau?”

          Siswa : ”Saat yang sama..” Guru :

          ”Kiri” Guru : ”Ada yang ke sana..ada yang ke sini..(menunjuk dari kiri ke kanan). Tapi bareng-bareng atau sendiri-sen diri, atau pada saat yang sama?”

          ”Dipantulkan...” Guru : ”Dipantulkan..siapa yang memantulkan? Ujung pemantul ini memantulkan gelombang. Nah kalau begitu ada gelombang yang ke mana? Ke arah mana? ” Siswa :

          “Dari kanan ke kiri dari penggetar ke arah kiri, lha kalau sampai di sini terus diapakan kira-kira gelombang yang sampai sini ?” (Menunjuk ujung tali, sebelah kiri) Siswa :

          ”Ya karena ini digetarkan..Kalau digetarkan ada gelombang..dari mana ke mana?” Siswa : “Dari kanan ke kiri..” Guru :

          ”Beban.” Guru : ”Ndak ada yang tahu satu pun. Kita lihat dari depan..awalnya terjadi...gelombang ini karena apa?” Siswa : ”Digetarkan.” Guru :

          Siswa : ”Kecepatan.” Guru : “Kira-kira ada yang pernah melihat, membaca ada yang tahu?” Siswa :

          Siswa : ”Kiri.”

          172

          Guru : ”Kalau ke kiri, kemarin apa ya?”

          Siswa : ”Ples.” Guru : =A sin( 1  t kx ) Gelomba ng pantulnya yang ke sana ya…kita lihat saja, gelombang

        • pantulnya y sama dengan apa? Karena dia merambat ke kanan..berarti y = A sin (
        • 2

            ”Ples... y

          • 2  t kx )).

            Tetapi dalam peristiwa pemantulan gelombang, berlaku, kalau ini ujung tetap, atau ujung terikat itu gelombangnya memantul sebesar atau 180, maka disini ples . Kita tahu bahwa fisika tanpa

             

            matematika gelap gulita ya? Kita perlu bantuan matematika ya? Sekarang y 2 = A sin ( t kx ))+

            

            boleh ditulis sama dengan apa? Supaya  nya ilang persamaannya menjadi apa? Ahli matematik siapa? ” Siswa :

            ”Lulu.” Guru : ”Kalo ini jadi apa ini (menunjuk ke persamaan gelombang pantul), y - 2 = A sin ( t kx ))+  atau

            

          • 180 menjadi apa? ”
            • Guru :
            • 2 = -A sin ( ”Ini menjadi A (-sin (  t kx )) ) atau bisa ditulis y  kx )). Nah gelombang d
            • t

            dengan gelombang pantul kita superposisikan atau kita jumlahkan. Sehingga bentuk gelombang itu tadi dinamakan superposisinya atau jumlahnya, y1 + y2 sama dengan apa? Y = A sin (  t kx )) + dikurangi atau ple min, langsung min ya…-A sin ( 

          • t kx )). A nya bisa kita keluarkan, tinggal
            • yang di dalam sin (

             t kx ))- sin (  t kx )). Lagi-lagi kita butuh matematika. Lulu lagi. Ini kan

            sama saja sin A-sin B. Jadinya apa? ”

            Lulu : ” A kali 2 cos 1 jumlah ini.”

          2 Guru : ”Jadi kita sederhanakan jadinya y = 2A sin kx cos t .

            

            Superposisi (jumlah) : Y = y + y 1 2 Y = A sin ( t kx ) - A sin ( t kx ). + -

             

            Y = A [sin ( t kx ) - A sin ( t kx )] - +

             

            1

            1  sin

            Y = 2 cos 2 t 2 kx

            

            2

          2 Y = 2A cos  t sin kx

            Y = 2A sin

            kx cos  t

            (Guru bersama-sama dengan siswa memformulasikan persamaan untuk gelombang stasioner ujung

            terikat y = 2A sin kx cos t .) 

            Guru : “Ada pertanyaan?” (Bertanya pada semua siswa, kemudian berkeliling mengecek catatan siswa)

            Guru : “Selesai?” Siswa :

            “Belum pak?” Guru : “Persamaan simpangan gelombang stasioner ujung terikat atau tetap.” Guru :

            ”Kalo kita perhatikan di sini, talinya tadi satu menjadi seperti itu. Ada tempat-tempat tertentu disini dengan disini .” (menunjuk pada tali yang bergetar membentuk gelombang stasioner,

            kemudian menunjuk pada gambar gelombang pada papan tulis )

            Guru : ”Kemudian ini dengan ini juga sama (menunjuk pada gambar). Nah titik ini, pernah mendengar titik apa? (Menunjuk pada tali dan menunggu kalo-kalo ada siswa yang menjawab,namun tidak

            ada siswa yang menjawab ) Titik ini namanya simpul (guru menjelaskan, setelah menunggu

            173 jawaban siswa

            Guru : ”Tiga simpul dan dua perut, ada lagi yang lain? Arum? (Menujuk salah satu siswa lainnya)

            yang dianggap sebagai ujung pemantul )

            ”Simpul pertama disini jaraknya terhadap ini ya.”(Menunjuk pada gambar,tepatnya pada garis

            ?” Siswa : ”Nol..” (Salah satu siswa menjawab) Guru :

            Guru : ”Sekarang kita bahas letak simpul terhadap ujung pemantul. Nah letak simpulnya pada x sama dengan berapa? Pada x sama dengan berapa lamda saja? Simpul atau s. Simpul pertama x nya berapa? Terhadap ujung pemantul

            tulis )

            ” (Guru bertanya pada siswa kemudian menghapus papan

            : “Tiga perut.” Guru : ”Tiga perut dua simpul, kalo dari sini tadi tiga simpul dua perut. Ini namanya satu lamda untuk gelombang stasioner (memberi simbol lamda pada gambar). Ya betul ya. Jadi simpul atau perutnya dihitung dari mana? Dari ujung pemantul. Jadi ini ujung penggetar, titik asal getaran...ini namanya pemantul atau titik pemantul ujung tetap. Nah sekarang dimanakah letak simpul dan perutnya... sudah selesai mencatatnya?

            ”Ada gini (menunjuk pada gambar perut) jadi 2 perut kalo dua perut berarti tiga simpul. Kalau dimulai dari sini dan sini? ” (Menunjuk pada gambar) Siswa

            ” Menit 39 Guru :

            ”Sama? Tiga simpul dan dua perut. Dalam gelombang berjalan yang dinamakan satu lamda itu adalah ini (sambil menggambar) atau kalau dari puncak ya...(sambil menggambar). Kalo pada gelombang stasioner ya betul tadi..yang dikatakan, total ada berapa?

            Siswa : ”Tiga simpul dan dua perut” (Jawab siswa yang ditunjuk) Guru :

            tidak jelas )

            ). Yang blenduk-blenduk seperti orang hamil, namanya perut .” (guru menunjuk

            (Guru sedikit mendekat pada siswa yang ditunjuk tadi dengan menyodorkan telinga karena jawaban siswa

            Siswa : ”Tiga simpul dan dua perut.”(Salah satu siswa yang ditunjuk,menjawab)

            di papan tulis) (Guru menunggu jawaban siswa, siswa banyak yang menjawab, namun tidak berani menunjukkan jari. Akhirnya guru menunjuk salah satu siswa )

            ” (Menunjuk pada alat percobaan dan gambar

            ”Empat.” Guru : ”Satu..dua..tiga..empat...Nah sekarang yang dinamakan satu panjang gelombang atau satu lamda itu yang mana? Tunjukkan dari sini atau dari sini?

            ” Siswa : ”Dua.” Guru : ”Perutnya ada..satu...dua..tiga..(sambil menunjuk pada tali percobaan). Simpulnya ada?” Siswa :

            Guru : ”Kalo ini ujung pemantul (menunjuk pada gambar), maka ini simpul pertama, simpul ke-2, simpul ke-3 dan seterusnya. Ini perut pertama, perut kedua, ketiga dan seterusnya. Kalo begitu pada percobaan ini ada berapa simpul, ada berapa perut?

            : ”Perut...Jadi kita beri nama..ini tadi simpul..simpul...simpul..perut..perut..ini juga perut.” (Memberi keterangan s untuk simpul dan p untuk perut, pada gambar)

            ” Siswa : ”Perut...” (Beberapa siswa menjawab) Guru

            gambar di papan tulis ). Yang mblenduk itu boleh disini, boleh disini...namanya apa?

            Guru : ”Ini namanya simpul..ini namanya simpul...ini namanya simpul (menunjukkan letak simpul pada

            pada gelombang yang dihasilkan tali pada alat percobaan )

          (Kemudian guru menunjuk pada gambar, untuk menunjukkan letak simpul dan perut. Dan memberi tanda

          pada gambar untuk membedakan antara simpul dan perut)

            Siswa : ”Nol...” (Beberapa siswa menjawab serempak)

            174

            ”Berarti persamaannya ini..tadi keliru saya (membuat kotak pada persamaan untuk memperjelas) Guru : ”n = 0 beararti simpul ke satu, n = 1 berarti simpul kedua dan seterusnya. Letak simpul terhadap ujung pemantul ya. Boleh menghafalkan ini (menunjuk pada persamaan x +2n ¼ lamda ) boleh menghafalkan ini saja, kalo ini ya tinggal ngitung saja(menunjuk persamaan umum). Jarak simpul dan perut berapa lamda?

            ”Satu, dua, tiga...(menunjuk pada gambar, letak perut). 3/4 lamda. Perut ketiga? Satu, dua, tiga, empat, lima . Lima kali ¼ lamda = 5/4 lamda.” Guru :

            Siswa : ”Tiga.” Guru :

            Guru : ”Kita lihat digambar, sama saja. Perut kedua..berapa kali ¼ lamda?”

            di papan tulis )

            ”Sekarang letak perut..letak simpul sudah..Letak perut terhadap ujung pemantul” (guru menulis

            ”2 kali seperempat lamda ..sama nggak dengan ini? (Menunjuk pada persamaan umum) Boleh menghafalkan ini..Kalo hafalannya cukup mateng dan cukup kuat ya..ndak papa .” Guru :

            Siswa : ”Setengah.” Guru :

            ”Seperempat..jadi kalo simpul kalo simpul kedua ada berapa kali ¼ lamda? Simpul kedua? Seperempat tambah seperempat?”

            ” Siswa : ”Seperempat.” (Salah seorang siswa menjawab) Guru :

            ”Satu.. 2 kali 1 kali ¼ lamda...?” Siswa : “Setengah.” Guru :

            (Guru setuju dengan jawaban siswa menulis keterangan x = 0) Guru : ”Simpul kedua? Simpul kedua adalah disini.(Menunjukkan letak x untuk simpul kedua pada

            “Nol.” Guru : ”Simpul kedua...harus ketemu berapa? Setengah lamda...simpul kedua masukkan n nya berapa?” Siswa : ”Satu.” Guru :

            Simpul pertama n nya harus nol maka nnya masukkan nol berarti harus ketemu berapa? ” Siswa :

            Siswa : ”Nol.” (Salah seorang siswa menjawab) Guru : ”Keliru berarti ya...sori bukan ini ya...simpul harus nol berarti rumusnya keliru... 2n. ¼ lamda.

            arah siswa, guru sadar, merasa ada kekeliruan )

            ”Satu setengah.” Guru : ”Satu setengah, atau 3/2 lamda. Nah, kalo ini dibuat sebagai persamaan matematika lagi x sama dengan apa? (Diam sejenak,menunggu siswa menjawab) Supaya simpul satu masukkan ketemu, simpul dua masukkan ketemu..kan ini ada persamaan umumnya ya..saya berikan saja 2n+1. ½ lamda (guru langsung memberikan persamaan umum untuk x) ...nanti bisa tanya Pak Boidi atau Pak Heri (menyebut nama guru-guru matematika). Kita cocokkan..n nya mulai dari 0,1,2,dst....Simpul pertama x- nya harus berapa?” (Bertanya pada siswa,namun tidak melihat ke

            ”Satu setengah.” (beberapa siswa menjawab) Guru : ”Berapa?” Siswa :

            ”Satu.” (Salah seorang siswa dengan cepat menjawab) Guru : ”Satu...mestinya simpul keempat?” Siswa :

            Guru : ”Setengah. (Memberi keterangan pada gambar untuk simpul kedua). Simpul ketiga?” Siswa :

            Siswa : ”Setengah.”(Beberapa siswa menjawab kompak)

            gambar ) Berapa lamda? ”

            ”Nah kalo ada pemanatul ujung terikat atau tetap mestinya ada pemantul ujung?” Siswa : ”Bebas.” (Beberapa siswa menjawab) Guru : ”Bebas.” (Guru menulis di papan tulis, gelombang stasioner ujung bebas)

            175

            ”Ples. Ya, kemudian yang gelombang pantul sama tapi ke kanan, tidak ada pembalikan fase karena A nya sudah positif. Ya betul, sekarang diselesaikan. Superposisinya. Di hapus paling kanan. Ditulis superposisi atau penjumlahan. (Memberi arahan pada siswa yang maju)Ya judulnya supe rposisi atau penjumlahan.”

            ” (Menunjuk pada gambar simpul satu) Siswa : ”Seperempat.” (Siswa menjawab) Guru :

            “Simpul, ini satu, dua,tiga, dst. Ini berarti perut satu, dua, tiga, dst. Sekarang masalahnya letaknya dimana? Letak simpulnya dulu, selalu terhadap ujung pemantul. Ujung pemantul yang bebas ini, x sama dengan berapa? Simpul? Segini berapa lamda?

            .” Guru : ”Ya sama dengan gelombang stasioner ujung terikat, titik ini namanya apa mestinya?” Siswa : “Simpul.” Guru :

            ”Lha ini persamaan gelombang stasioner ujung bebas.2 A cos t kx  sin . Nah tadi lupa yang ini, yang A s ya? Amplitudo gelombang stasioner. Yang tadi yang depan tadi juga yang ada sin kx nya juga gini. Persamaannya mirip dengan yang tadi ya? Hati-hati makanya! sin kx itu amplitudo gelombang stasioner ujung itu (bebas)

            ...kalo sin a +sin b jadinya apa? Ya terimakasih.” Guru :

            1

            2

            Guru : “2 cos

            maju di depan )

            (Meminta siswa yang lain untuk membantu) A kali apa? ”(Siswa yang lain membantu siswa yang

            Guru : ”y sama dengan apa tadi? Ya yang tadi ditulis. Dijumlahkan. Ya, A-nya dikeluarkan pake kurung kotak. Kalo tadi sin itu min sin itu. Sekarang sin A + sin B . Ya bantu temannya jadinya apa?

            ”Min” (Beberapa siswa menjawab) Guru : ”Ke kiri?” Arum : ”Ples.” (Siswa yang maju menjawab) Guru :

            Guru : ”Ini tidak bisa dipraktekkan tapi kita gambarkan saja, ujung bebas seperti apa? Ujung bebas itu talinya dibuat logro ya, jadi ini dia bisa naik turun. Nah, ini kita namakan titik asal getaran (guru

            Guru : ”Silahkan ditulis y 1 sama dengan apa? A sin t  . Ples atau min? Ke kiri? ” Siswa :

            terutama untuk siswa yang maju )

            Guru : ”Pertama gelombang datangnya, gelombang merambat ke kiri.” (Memberi petunjuk pada siswa,

            maju )

            : ”Arum, ya, silahkan Arum. Silahkan maju ke depan.” (Memanggil nama salah satu siswa untuk

            Siswa : ”Lia.” (Salah satu siswa menyebutkan nama seorang siswa) Guru

            ”Ya, karena persamaannya sama saya minta tolong salah satu, siapa? Ahli matematika?” (Meminta salah seorang siswa untuk maju)

            ”Ya, dari sini bisa kita lihat, gelombang datang atau y 1 sama dengan apa? Gelombang pantul, y 2 sama dengan apa?” (Sambil menulis dipapan tulis) Guru :

            .” (Memberi guyonan) Siswa : ”Hahahaa.” Guru :

            ” Guru : “Agak susah membuat peralatan gelombang stasioner ujung bebas.Tetapi untuk ujung bebas itu ini bebas, jadi bisa bergerak ke atas dan ke bawah (menunjuk pada gambar). Seperti kalo masih remaja itu masih bebas, bisa kemana-mana masih bebas, tapi kalo nanti sudah menikah beda sudah

            disini ujung pemantul atau x = 0 ini gelombang datang y 1 dan ini gelombang pantul, y 2 .

            menggambar gelombang dengan ujung bebas dan memberi keterangan pada gambar ). Kemudian

            ”Jadi simpul pertama, berapa lamda?” Siswa : ”1/4 lamda.”

            176

            ditulis dipapan tulis, kemudian memperhatian keseluruh siswa menunggu ada jawaban dari siswa ). Kalo ini sin kx cos t  , yang ini cos kx sin t  . Lagi-lagi matematika, grafik sin fungsi x .

            ”Kalo ini, nol nggak?” Siswa : ”Nggak.” Guru : ”Jadi kalo ini simpulnya, dimasukkan nol harus ketemu nol, kalo ini perutnya tidak nol ya?

            ”Terikat...simpul pertama x nya berapa? Nol. Kalo dimasukkan nol ini nol nggak?” Siswa : ”Nol.” Guru :

            Siswa : ”Terikat.” Guru :

            bagaimana? Cara mengingatnya, kalo ujung apa ini tadi? ”

            letak simpul terhadap ujung pemantul ) Yang ini letak perut atau simpul? Cara mengingatnya

            ”Eh, biar tidak lupa, ini letak perut atau letak simpul (menulis persamaan untuk x letak perut dan

            Siswa : (Tertawa) Guru :

            Guru : ”Ujung tetap. Kalo ini cos kx? Ditambahi ini jadi apa? Ujung bebas. Dilihat sin kx atau cos kx? Ini mesti apa? Tinggal t  (menunjuk pada persamaan). Kalo depan sudah sin belakang cos, kalo depan sudah cos belakang mesti sin. Nggak mungkin cos cos atau sin sin ya? Nah, sekarang kalo biar tidak hafal.”

            Siswa : ”Ujung tetap.” (Beberapa siswa menjawab)

            pada grafik sin x) Ujung apa ini kalo ditambahi gini? ”

            Siswa : ”Nol.” Guru : ”Nol (sambil menggambar grafik sinus). Kalo cos? (langsung menggambar grafiknya) Ini bentuknya mestinya sin x atau sin kx . Kalo ini bentuknya sin kx maka ini begini tho? (menunjuk

            y =sin x grafiknya seperti apa? Dari nol apa dari satu? ”

            . Kalo disini mungkin tidak terbalik-balik karena apa? Hanya dua tapi besok kalo sudah ulangan banyak yang dihafalkan ada kemungkinan terbalik. Bagaimana cara mengingat dengan mudah bahwa ini ujung terikat ini ujung bebas (menunjuk pada 2 persamaan yang sudah

            Guru : ”Simpul kedua? 1, 2, 3, 3/4 lamda.Simpul ke tiga?”

            

            ”2A cos kx sin t  .” (Beberapa siswa menjawab) Guru : ”2A cos kx sin t

            ” (Sambil mencatat di papan tulis) Siswa :

            ”y = 2A sin kx cos t  . Terus ujung bebas, y sama dengan?

            ” Guru :

            ”2 Asin kx cos t  .

            ” Siswa :

            ” (Guru berkeliling sambil menunggu siswa selesai mencatat) Guru : ”Kalo tidak ada pertanyaan, kita review sebentar. Persamaan gelombang stasioner ujung terikat tadi apa? y sama dengan apa?

            ” Guru : ”Dengan mudah, letak perutnya mestinya apa? Apa? Sekarang letak perut terhadap ujung pemantul x nya sama dengan nol. Ya, perut pertama kan nol, perut kedua? Setengah lamda ya, ketiga 1 lamda, dst. x = 2n kali ¼ lamda.Tinggal dibolak-balik saja kalo yang tadi jadi simpul sekarang jadi perut. Ada pertanyaan?

            1 , n= 0,1,2,3,..dst n = 0 : simpul pertama dst.

            4

            Sama dengan yang perut yaitu (2n+1)1/4 lamda, n= 0,1,2,3,..dst. Ini namanya simpul ke satu, ini simpul kedua. (2n+1) 

            Siswa : ”Lima.” Guru : ”Satu, dua, tiga, empat, lima (sambil menghitung pada gambar). Ini sama dengan yang apa tadi?

            (Menunjuk pada grafik gelombang stasioner ujung terikat) Berarti kalo yang ini yang perut yang mana? (Menunjuk pada grafik gelombang stasioner ujung bebas.) Yang kalo dimasukkan n= 0

            177

            ”Ya pertayaannya apa disitu?” Siswa : ”Oh ya.” Guru :

            ”Dua.” Guru : ”Ujung bebas dan ujung terikat, pada setiap gelombang stasioner mesti berlaku ada apa dan apa?” Siswa :

            Guru : ”Kemarin kita telah mempelajari tentang gelombang stasioner. Ada berapa macam?” Siswa :

            Pembelajaran Tanggal 23 Juli 2009 (Di Laboratorium)

            ” Siswa : ”Siang pak.”

            (Guru membimbing siswa saat siswa mengerjakan soal didepan) Guru : ”Paling tidak kita dapat mengerjakan satu soal, yang lain bisa dikerjakan dirumah. Ya untuk hari ini kita sudah belajar. Hari ini sampai sekian dulu, selamat siang.

            2 ” (Menit 15)

             

            ”k nya kemarin itu sama dengan apa?

            ”Ya nyari x dulu baru..dikurangi, betul sekali.” Guru : ”Ya...k nya sudah tau belum? Erin? Sela?” (Menit 14:40) Siswa : ”Belum.” Guru :

            ”Ya pemantul. Dicari apa dulu?” Siswa : ”x.” Guru :

            ”Yang ditanyakan titik asal getaran tapi kalo x tadi apa?” Siswa : “Pemantul.” Guru :

            ” (Salah seorang siswa maju untuk mengerjakan) Siswa : “Pak mencari simpul kelima dan keempat dari asal pemantul kan pak?” Guru :

            harus nol maka, yang ini jadi perut (menunjuk pada persamaan simpul pada gelombang stasioner

            ”Ujung pemantul ya, jadi ujung pemantul terhadap titik tersebut. Lha kalo titiknya ini titik asal ini pemantul, terus, ini tadi titik awalnya kan setarus ya? Jadi 100-61. Yang b apa? Letak simpul ke lima dan letak perut ke empat dihitung dari mana? Dari titik asal getaran. Ya sudah saya bantu, paling tidak yang a bisa diselesaikan, siapa yang mau maju? Erin coba? Yang a saja. Nah jadi untuk ujung terikat yao berarti ini 2A sin kx berarti haruss cari k.

            ” Siswa : ”Ujung pemantul.” (Salah satu siswa menjawab) Guru :

            Guru : ”Ya, siapa mau maju? Ya, kita coba dulu. Diketahui apa? Berarti panjang kata dari sini ke sini ya, dari ujung pemantul sampai sana, ya, berarti ini l = frekuensinya = 8Hz, amplitudo, amplitudo gelombang yang datang atau yang pantul? v nya berapa? Merambat ke kanan yang lain ujung terikat ya. Tentukan : A apa? Amplitudo gelombang hasil interferensi, apa? Tali pada persamaan ini kan kita, ini namanya apa? A S ini namanya apa? A S (melingkari persamaan) Ini namanya amplitudo gelombang interferensi pada titik x . Ya tadi yang ditanya apa? A S untuk x = 61, x nya berapa? Ingat x tadi dihitung dari mana?

            apakah siswa benar-benar mengerjakan atau tidak. )

            (Siswa berdiskusi mengerjakan soal yang sudah dibagikan dalam bentuk lembaran, guru mengecek,

            simpul pertama harus nol. Kalo ini persamaannya harus ini juga untuk perut supaya dimasukkan n = 0 harus ketemu nol. Soal yang sudah d ifotocopy tadi silahkan dibahas!”

            punya’e ujung terikat dan simpul. Karena kalo dimasukkan n = 0

            Ini persamaan ini dan n = 0 pasti

             t .

            . Ini grafiknya cosinus maka cos kx sin

            ujung terikat ). Ini grafiknya sinus maka sin kx cos  t

            ”Simpul dan Perut”

            178

            : “Ya, ada pertayaan, x itu selalu dihitung dari apa?” Siswa : “7,0.” Guru

            “Ke bawah.” Guru : “Apa Tin? Partikel tersebut sedang bergerak ke?” Titin

            : “Masalahnya saya tanya kenapa itu min? (Menunggu jawaban siswa) Ya, maksudnya ketemu min,min itu maksudnya apa?” Siswa :

            : “Ya. Melly maju!” Menit 23:17 Guru

            : “Ini 255 dikurangi 81.” Guru : “Ya betul.” Menit 15:38 Guru : “Sekarang no. 11, yang maju nomer absen 11. Siapa?” Siswa : “Melly.” Guru

            : “Saya ulangi lagi (menulis di papan tulis) ini adalah pemantul ini asal getaran sedangkan x-nya selalu lurus, x-nya 81 yang ditanyakan ini. Jadi ini dikurang ini.” Siswa

            : “Cepat rambat, amplitudo berapa?” Menit 13:14 Guru

            : “Kalau ditanyakan terhadap atas bawah gimana, harus di?” Siswa : “Dikurang.” Menit 08:15 (Guru menyuruh salah satu siswa untuk maju mengerjakan soal di depan.) Guru : “Panjang x-nya berapa, simpul kelima n-nya sama dengan berapa?” Guru

            : “Ya ditulis.” Menit 05:46 Guru

            Guru : ”Persamaannya masih ingat?”

            : “Ya, Nopen itu perut ke berapa tadi?” Nopen : “Tujuh.” Guru

            : “Satu.” Menit 03:56 Guru : “Ya, Nopen no. 8” Guru

            : “Empat.” Guru : “n kan selalu berkurang?” Siswa

            (Karena melihat siswa bingung guru bertanya kepada siswa lain.) Guru : “Yang lain simpul kelima n-nya berapa?” Siswa

            depan ) yang lain silahkan dikerjakan.”

            : “Simpul kelima n sama dengan berapa? (Memberi petunjuk pada siswa yang mengerjakan di

            Siswa : ”2A sin kx” (Sela 00:40) Guru : ”Ya, hari ini kita masih melanjutkan itu. Kita akan melanjutkan soal-soalnya.” (Guru meminta salah satu siswi untuk mengerjakan soal di papan tulis.) Menit 1:56 Guru

            : “Ke bawah.” Guru : “Ya ke bawah, maka partikelnya bergeraknya turun atau ke bawah artinya ia kecepatannya searah dengan sumbu y negatif.” Menit 28 Guru : “Ya kita kuis dengan sisa waktu 15 menit.”

            179

            Siswa : “Yah.”

            Guru : “Ya semua buku ditutup, mengerjakannya di sini, nanti diketahui ditanya di depan terus jawabann ya dibelakangnya.” Menit 32:45 Guru : ”Kita sudah sejak dahulu kala, pertemuan pertama membahas tentang gelombang ya? Ada gelombang transversal, longitudinal, dan yang terakhir gelombang stasioner. Nah perhatikan ke depan. Nah, gelombang itu nanti dalam kehidupan sehari-hari fungsinya untuk apa? Banyak sekali fungsinya ya? Kalau gelombang cahaya ya untuk hidup, fotosintesis, kalau gelombang, misalnya gelombang yang lain? ”

            Siswa : ”Telepon.”

            Guru : ”Telepon, TV. Pernah membaca atau melihat bagaimana cara mencari minyak di bawah permukaan bumi? Ini kok tahu di bawah sana ada kandungan minyak? Atau di sana ada minyaknya? Pernah melihat, atau pernah tahu? Atau bapaknya dari perindustrian minyak? Nah, salah satu yang dipakai adalah gelombang itu ditimbulkan dengan suatu pembangkit gelombang. Kalau kamu pernah melihat orang mencari minyak biasanya mempergunakan apa? Meledakkan ya, meledakkan itu membangkitkan gelombang, terus gelombang nanti akan melewati suatu lapisan di bawah bumi terus ditangkap dengan kalo tidak salah, salah satu alat penangkapnya itu sekumeter itu ditangkap. Berdasarkan sifat-sifat gelombang, nanti bisa tahu, o.., ini ada minyaknya. Nah, hari ini kita akan mempelajari sifat-sifat gelombang atau gejala gelombang. Disini ada alat yang namanya Lippletank atau pembangkit gelombang ya? Ini bisa memperagakan misalnya gelombang itu mengalami pembiasan, pemantulan dan sebagainya. Alatnya ya cukup ini, penggetar, ini adalah hambatan geser ini lampu untuk menyorot gelombang yang ada di air, nah nanti akan terlihat di bawah. Kita lihat dulu, misalnya gelo mbang datar dulu.”

            (Siswa mengeliling alat, guru menjelaskan bagaimana cara merangkai dan cara kerjanya.) Guru : ”Ini akan berputar, akan timbul gelombang dan akan disinari dengan sinar ekstra terang, sehingga akan terlihat di bawah itu.”

            Siswa : ”Wah.” Guru :

            ”Nah, itu gelombang berjalan datar ya. Nah, yang berjalan itu apa? Ini yang dinamakan muka gelombang (sambil menunjukkan letak muka gelombang pada bayangan yang dihasilkan). Muka gelombangnya berbentuk garis-garis. Nah, sekarang muka gelombangnya gelombang datar dibangkitkan oleh ini yang mendatar. Bisa kita lihat muka gelombang melingkar. Ini penggetarnya pakai yang ini. Itu muka gelombang melingkar. Kalau muka gelombang melingkar itu pusatnya dimana tadi? Ditengah-tengah ini ya? (Sambil menunjuk bayangan muka gelombang) Arahnya kemana geraknya? Kalau yang muka gelombang datar tadi, arahnya kemana? Kesana, nah, ini yang dinamakan sinar gelombang, arah gelom bangnya ke sana.”

            Siswa : ”Oo..” Guru :

            ”Kalau yang tadi yang melingkar, arah gelombangnya ke mana? Ya, segala arah. Ingat, muka gelombang itu sebenarnya apa? Yang kita amati, yang namanya muka gelombang itu adalah? Kalau kemarin kita menggambarkan muka gelombang bentuknya begini, muka gelombangnya ini (guru menggambar di papan tulis). Jadi, jarak muka gelombang yang satu dengan yang lain, ayo, perhatikan sebelah sini (menegur siswa yang tidak memperhatikan). Ini jarak dari muka gelombang yang satu terhadap yang lain, berapa? Satu lamda (menunjuk pada alat peraga). Nah, sekarang kalau ini mengenai bidang pemantul, kita lihat! Ini berarti kan dia gelombangnya mengalir, nggak nabrak apa-apa. Sekarang kita buat disini ada bidang pemantul. Apa yang terjadi?

            180

            Guru : ”Pembiasan, apa yang kamu lihat? Bedanya?” Siswa :

            ”Membelok. Atau dengan kata lain?” Siswa : ”Membias.” Guru :

            ”Sehingga kalau gelombang melewati medium yang berbeda maka akan?” Siswa : “Berbelok.” Guru :

            Lurus ke sana juga?” Siswa : ”Tidak.” Guru :

            ”Ke bawah.” Guru : ”Ke sana ya? Gelombang biasnya yang mana? arahnya kemana? Yang ini, arahnya kemana?

            ”Kalau bengkong itu tandanya apa? Yang berbeda?” Siswa : ”Sudut, kemiringan.” Guru : “Sudut apa? Ingat ini tadi gelombang datar arahnya ke mana bergeraknya?” Siswa :

            ”Bengkong.” Menit 44:33 Guru :

            Siswa : ”Pembiasan.”

            Jadi, muka gelombang mengenai bidang pemantul. Kita lihat, arah gelombang datang kemana? Ke sana ya? Arah gelombang pantul kemana? Sesuai hukum pemantulan, bunyinya apa? ” Siswa : ”Sudut datang sama dengan sudut pantul” Menit 40 Guru : ”Tadi ada bidang yang papa namanya, normal. Nah, itu yang sudah memantul yang ada kotak- kotaknya itu. Nah, kalau yang memantul itu adalah gelombang, muka gelombang, satuya tadi apa?

            ”Dari udara ke air.” Guru : ”Usulmu membuat gelombang di udara. Mari, yo, kita buat. Ya, nggak bisa ya? Sekarang menggunakan kaca, ditaruh dimana? Di dalam air. Nah, ini medium dalam yang ini adalah bidang dangkal. Nah, jadi dari tempat yang dalam ke tempat yang dangkal. Gelombang mengalami apa? ”

            ”Mediumnya berbeda.” Guru : ”Kalau mediumnya beda. Sekarang kita ingin membuat medium yang berbeda. Caranya bagaimana? Ada yang tahu? ” Siswa :

            ”Pembelokan.” Guru : ”Nah, gelombang akan mengalami pembiasan kalau apa?” Siswa :

            Kalau tadi yang ini gelombangnya datar memantulnya juga datar juga ya? Nah, sekarang itu namanya pemantulan gelombang. Sekarang kita lihat yang namanya pem biasan atau?” Siswa :

            : “Lagi? Lagi pak?” Guru : ”Namanya tadi apa?” Siswa : ”Tik.” (Lalu mempraktekannya lagi dan siswa tertawa) Guru : ”Yang kalau muka gelombangya melingkar yang memantul bentuknya kayak apa? Melingkar.

            ” Siswa : ”Waw, tik.” (Serempak siswa tertawa) Siswa

            Datar, satunya melingkar. Kalau yang memantul itu gelombang melingkar, tapi kayaknya ini tidak mudah. Melihat ini justru kita jadi bingung ya? Jelas ini yang mendatar yang memantul yang mana? Sulit untuk melihat, malah gak usah pakai penggetar. Kita timbulkan gelombang melingkar. Begini, tik (menyentuh permukaan air pada tank dengan ujung jari). Namanya apa tadi?

            ”Bagaimana dengan panjang gelombangnya? Panjang gelombang tadi apa?” Siswa : ”Lamda”

            181

            Siswa : ”Ada.”

            Guru : ”Ya, muka gelombang ada berapa?” Siswa :

            Siswa : ”Muka gelombang.”

            Guru : ”Kita sudah mempelajari tentang berbagai macam gelombang. Persamaannya sudah, kuis juga sudah. Terakhir kemarin melihat berbagai macam peristiwa. Apa saja disana yang kita lihat? ”

            Pembelajaran Tanggal 25 Juli di Kelas

            ”Ada.” Guru : ”Berarti beberapa bagian, bedanya dengan yang labil dan yang satunya? Yang ini, kan gak ada apa-apanya. Berarti disitu gak ada gelombang. Sedangkan disini? Ada. Nah, berarti bisa kita lihat, hasil interferensi ada dua macam, ada yang gelombang ada yang tidak ada yang menguatkan ada yang melemahkan. Titik-titik ini melemahkan, titik ini menguatkan. Begitu. Jadi, gejala gelombang yang sudah kita amati apa saja? Pemantulan, pembiasan, interferensi. Ya, untuk hari ini cukup. ”

            : ”Ada.” Guru : ”Yang ini?” Siswa :

            Guru : ”Deretan ini?” Siswa

            Nah ini pemantulnya berbetuk setengah li ngkaran.” Guru : ”Nah, masih ada satu lagi, kalau gelombang dengan gelombang berpadu, namanya apa tadi? Kalo kamu dalam satu pesta pernikahan, terus pegang halo, halo, halo, tahu-tahu bunyi nging. Interfensi, interfensi bisa saling menguatkan bisa saling melemahkan. Kita lihat sekarang, kita coba gelombang, dua gelombang yang berinterferensi. Kita lihat kalau satu gelombang seperti ini. Kalo dua gelombang pada saat yang sama bertemu, apa yang nampak disitu? Nah, dideretan ini ada gelombangnya ndak? ”

            Guru : ”Muka gelombang ke muka gelombang yang berdekatan. Kita lihat, ini yang putih, di kertas putih ini?”

            ” Guru : ”Tadi pemantulnya adalah bidang datar, sekarang kalau bidang lengkung kita lihat seperti apa?

            ”Kecil.” Guru : ”Jadi, kalau kamu berenang di tempat yang dalam itu bisa lebih cepat dari pada yang dangkal. Cobalah kalau tidak percaya.

            ”Makin kecil, sedangkan f nya tetap, bagaimana dengan v disini dengan disini?” Siswa : ”Berbeda.” Guru : ”Makin kecil atau makin besar?” Siswa :

            ” Siswa : ”Makin kecil.” Guru :

            ”Berubah.” Guru : ”Berubah, berubah bagaimana? Untuk yang ini tadi? Panjang gelombangnya dari sana ke sini makin apa?

            ”Panjang gelombangnya semakin kecil. Kita kan punya v = λ f kemarin. Kalau f nya ini tidak berubah-ubah, kalau λ nya berubah v nya bagaimana?” Siswa :

            ”Jadi, panjang gelombangnya dari sana ke sini?” Siswa : ”Makin kecil” Guru :

            Siswa : ”Lebih rapet.” Guru :

            ”Dua. Melingkar dan sejajar atau mendatar.” Guru : ”Ada lagi sifat yang kita amati?” Siswa : ”Pembiasan.”

            182

            Guru : ”Pembiasan. Terus apa lagi?”

            Siswa : ”Interferensi.” Guru : ”Yang lain? Pemantulan. Satu lagi sebenarnya masih ada yang namanya difraksi. Tetapi, nah, sekarang kita akan mempelajarinya secara teoritis. Gejala gelombang (menulis di papan tulis) atau sifat-sifat gelombang, ada empat kemarin yang pertama pemantulan atau bahasa kerennya apa refleksi, kemudian pembiasan atau bahasa kerennya refraksi, ada lagi pelenturan atau difraksi, perpaduan atau interferensi. Ya ini paling tidak yang bisa kita amati kemarin. Sebenarnya masih ada gejala gelombang lain yang kita pelajari tapi nanti belakangan, itu adalah dispersi. Ada lagi nanti namanya polarisasi. Kalo d iberi nomer berapa ini kemarin?”

            Siswa : ”Delapan.”

            Guru : ”Ya, ada pertanyaan tentang ini? Tidak, ya. Kemudian kita lanjutkan. Kita gambar tentang muka gelombang .”

            Siswa1 : ”Pak, nomer enam pak.” Siswa2 : ”Lima pak.” Siswa3 :

            ”Limanya gelombang stasioner.” Guru : ”Ya, gelombang stasioner ada dua tho itu?” Guru :

            ”Ya, muka gelombang kemarin kita lihat ada muka gelombang datar. Kalo kita gambar seperti apa? Ya, kita gambar muka gelombang datar (sambil menggambar muka gelombang datar), kemarin ya, ini muka gelombang datar. Nah, antara muka gelombang yang satu dengan yang lain, itu namanya apa kemarin? Dari sini ke sini? Tempat-tempat yang fasenya sama namanya apa? Panjangnya berapa lamda?

            ” Siswa : ”Satu.” Guru : ”Ya, satu lamda. Kemarin pembangkitnya disini maka gelombang itu merambat kemana? Nah, maka arah rambatnya adalah ke kanan. Ya, kita gambar! Di sini arah rambatnya ke kanan, nah, ini kita namakan sinar gelombang (menulis di papan tulis) kalo yang ini tadi namanya apa? Front atau muka gelombang. Itu muka gelombang datar. Ini pembangkitnya kemarin adalah kayu yang datar (guru menunjuk pada gambar yang dibuat di papan tulis). Kalo yang pembangkitnya kemarin titik berarti akan timbul muka gelombang melingkar (guru mencatat dipapan sambil memberi clue).

            Gambarnya seperti apa? (Guru menngambar muka gelombang lingkaran) Nah, ini adalah lamda, ini lamda (memberi keterangan pada gambar muka gelombang melingkar). Kalo ini kemarin berjalannya atau merambatnya ke sana (sambil menunjuk arah kanan) kalo ini arahnya kemana? (Menunjuk pada gambar muka gelombang melingkar)

            Siswa : ”Segala arah.” Guru : ”Ke segala arah. Maka front gelombang melingkar arah getarnya atau arah geraknya ke segala arah, kita gambarkan (guru menggambar arah gerak dari muka gelombang melingkar). Ini ada yang ke sana, ada yang ke sana. Nah, tang ini juga namanya sinar gelombang (memberi keterangan

            pada gambar ). Kalo kamu punya jangka silahkan pakai jangka (menghimbau siswa untuk menggunakan jangka ) Ini front atau muka gelombang (memberi keterangan pada gambar muka gelombang. Guru berkeliling sambil mengecek catatan siswa. )

            Guru : ”Waktu mencatatnya agak cepat dan rapi ya karena sudah ada pekerjaan yang lain.” Siswa :

            ”Pekerjaan apa e pak?” Guru : ”Malam mingguan.” Siswa

            : “Ha ha.” (Siswa tertawa) Guru : ”Hasil kuisnya lumayan. Anita Veronika (guru membagikan hasil kuis), Deta Ani Deta, Anita,

            Alberta Ayu Nita.” (Guru membagikan dan menyebut nama siswa hingga selesai)

            183

            Guru : ”Kuis-kuis, ulangan dan sebagainya disimpan dijadikan syarat nilai portofolio. Nah, sekarang pemantulan gelombang terjadi kapan? (Menunggu siswa menjawab) Kapan gelombang akan dipantulkan? ”

            Siswa : ”Kalo mengenai pemantul.”

            Guru : ”Ya, kalo mengenai bidang pemantul, betul (mencatat di papan tulis). Untuk pemantulan gambarnya agak susah, makanya perhatikan betul. Kemarin melihatnya juga sangat susah, menggambarnya sekarang juga susah. Kita lihat, kita buat dulu front gelombang datang, untuk memudahkan kita gambar sinar gelombang dulu. Ingat nanti front muka gelombang dengan sinar muka gelombang harus bagaimana? Ini dengan ini harus? (Guru menunjuk pada gambar muka

            gelombang datar )

            Siswa : ”Tegak lurus” Guru :

            ”Saling tegak lurus, maka kalo kita gambar dulu front gelombangnya, front gelombang datang atau sinar gelombangnya ya. Sinar gelombang datang (memberi keterangan pada gambar). Maka untuk mebuat frontnya bagaimana? Front gelombang selalu apa? ”

            Siswa : ”Tegak lurus”

            Guru : ”Tegak lurus ya, kita buat tegak lurus kesana, tegak lurus itu menggambar garis tegak lurus terhadap sinar gelombang. Nah, itu front gelombang datang. Jadi, ini kemarin gelombang datang, jadi ini akan dipantulkan ke mana? Ke sana? Sudut datang dengan sudut pantul, pastinya sama. Sudut pantul dan sudut datang dihitung terhadap apa?

            ” Siswa : ”Garis normal.” Guru :

            ”Garis normal, garis normal itu apa?” Siswa : ”Garis yang tegak lurus bidang pantul.” Guru : ”Garis yang tegak lurus bidang pantul, makanya ini kita buat garis nomal dulu. Garis normal, tegak lurus bidang pantul (membuat garis normal ,dibuat garis putus-putus). Kalo gitu sudut ini harus sama dengan sudut apa? Sinar gelombang yang dipantulkan (menggambar sudut-sudutnya). Ini sinar gelombang pantul (memberi keterangan pada gambar). Sinar datang, sinar pantul. Front gelombang datar itu selalu tegak lurus apa? Tegak lurus sinar, kalo begitu, kalo ini sinar gelombang pantul, maka frontnya yang mana? Front gelombang sinar pantulnya harus tegak lurus ini (menunjuk pada gambar sinar gelombang, dan membuat garis tegak lurus pada sinar

            gelombang ). Tegak lurus dengan panjang gelombang yang sama, tegak lurus lagi (menggambar garis tegak lurus sinar pantul ). Jadi, ini sinar datang, ini frontnya, ini sinar pantul ini front

            gelombang pantulnya. Kalo ini tadi lamda maka kemarin lamdanya juga sama, maka ini juga lamda (memberi keterangan simbol lamda pada muka gelombang pada sinar datang dan pada

            muka gelombang sinar pantul ). Ini yang dinamakan pemantulan, ini dinamakan sudut datang dan

            ini sudut pantul (memberi simbol i pada sudut datang dan simbol r pada sudut pantul). Jadi, i sudut datang, r sudut pantul, dan N garis normal (memberi keterangan gambar). Yang merah itu yang datang, yang gelombang pantul yang biru (menjelaskan gambar). i sudut datang antara sinar datang dengan garis normal, r sudut pantul antara sinar gelombang pantul dengan garis normal (guru menjelaskan gambar). Garis normal tadi, garis yang tegak lurus bidang pantul.”

            Guru : ”Pelenturan atau difraksi, kemarain lupa kita amati. Tapi dalam partikel kita sudah melihat difraksi cahaya. Difraksi cahaya kemarin apa? (Menunggu jawaban siswa) Sinar putih datang, maka pada layar muncul titik-titik. Eh, kalo sinar laser datang muncul titik-titik, kalo sinar putih atau dari lampu pijar muncul apa?

            ” Siswa : ”Warna-warni.”

            184

            Guru : ”Ya, spektrum warna mejikuhibiniu. Maka dari kemarin bisa dikatakan terjadi karena apa?

            Terjadi karena gelombang melewati celah sempit. Jadi gelombang melewati celah sempit maka terjadi difraksi. Kalo disini gambarnya, kita gambar celah, celah yang sempit (menggambar celah

            sempit menggunakan spidol biru ). Kita gambar front gelombang datang (menggambar front gelombang datang menggunakan spidol merah ). Maka pada celah itu seakan-akan sebagai titik

            bagi front gelombang melingkar. Ini adalah peristiwa difraksi. Ini celah sempit (memberi

            keterangan pada gambar celah, menggunakan spidol merah ). Jadi, gelombang yang mula-mula

            gelombang datar, seakan-akan menjadi sumber front gelombang melingkar. Nah, peristiwa dari sini ke sini namanya difraksi (menunjuk pada gambar). Terakhir sekali pembiasan, yang interferensi dibayangkan saja. Pembiasan atau refraksi (mencatat di papan tulis dan

            menggambar ). Pembiasan terjadi karena melewati tempat yang kerapatannya berbeda (menulis di

            ). Kemarin yang kerapatannya berbeda itu dangkal dan dalam. Berarti ada bidang batas,

            papan tulis daerah dalam, kemarin yang satunya, daerah dangkal. (Memberi keterangan pada gambar).

            (Guru berkeliling, sambil mengecek catatan siswa). Guru :

            ”Untuk pembiasan selalu melewati bidang batas. Supaya keliatan kita gambar dulu, front sinar gelombang datang (menggambar front gelombang datang). Maka front gelombangnya mestinya tegak lurus ini. Nah, kalo kemarin begini pada tempat yang dangkal jadi bagaimana kemarin? Kemarin kan ini menggunakan kaca. Ini jadi ke sana apa ke sini? ”

            Siswa : ”Kesana.”

            Guru : ”Melewati bidang batas mestinya kemarin, sinar gelombangnya membelok. Kalo membelok berarti ini membeloknya ke sana. Berarti front gelombang biasnya tegak lurus kemana? Yang ini.

            Tetapi kemarin kayaknya ini bergandengan. Ini front gelombang datang tegak lurus sinar gelombang datang, front gelombang bias juga tegak lurus sinar gelombang bias (menggambar

            front gelomban

            g). Kalo ini kita namakan lamda 1 maka ini lamda 2 (memberi simbol pada front

            gelombang datang sebagai lamda 1 dan lamda 2 pada front gelombang bias ). Beda gak kemarin?

            Rapat mana ini dan ini? (Menunjuk pada front gelombang bias dan front gelombang datang) Siswa : ”Bawah.” Guru :

            ”Ya, rapat yang ini. Sehingga kalo ini dinamakan sinar gelombang datang, ini adalah sinar bias (memberi keterangan pada gambar). Sinar datang, tadi diukur terhadap apa? Garis normal, maka kalo ingin mengetahui sudut datang, maka kita buat garis normal. Garis nornal tadi itu apa?

            ” Siswa : ”Tegak lurus bidang pantul.” Guru :

            ”Tegak lurus bidang pantul, kalo ini tegak lurus bidang batas. Ini adalah garis normal (menggambar garis normal). Berarti sinar datang dengan garis nomal kita namakan sudut datang (i). Garis nomal dengan sinar bias kita namakan sudut bias (r). Bagaimana sudut i dan r? Tidak sama. i lebih besar daripada sudut r. Jadi, sinar datang dari tempat yang dalam ke tempat yang dangkal dibiaskan menjauhi atau mendekati garis normal? ”

            Siswa : ”Mendekati.”

            Guru : ”Mendekati garis normal, kalo dia tidak dibiaskan sinar itu harusnya kemana? Kesana (lurus) tapi dia dibelokkan mendekati garis normal, gitu ya? Jadi, kalo kita SMP dulu, kalo tempat yang dalam identik dengan yang rapat atau kurang rapat? ”

            Siswa : ”Kurang.”

            Guru : ”Ya, kurang rapat, kalo dangkal itu adalah rapat. Itu pembiasan atau refraksi. Ada pertanyaan?” (Berkeliling, melihat catatan siswa). Menit 32:45

            185

            Guru : ”Masih satu namanya. Interferensi. Nah, interferensi sebagai tugas saja. Tugasnya apa? Membuat tulisan atau mencari artikel atau tulisan yang berkaitan dengan interfernsi gelombang. Ya, ini bahannya boleh dari mana saja, dari buku boleh, radio boleh, internet juga bisa. Satu halaman hvs kuarto saja. Dikumpul kapan 2 minggu lagi. Ingat bobot nilai kuis berapa?

            ” Siswa : “Satu.” Guru :

            ”Bobot nilai tugas?” Siswa : ”Dua.” Guru :

            ”Bobot nilai ulangan?” Siswa : ”Empat.” Guru :

            ”Karena ini yang terakhir, bahan sudah selesai. Sehingga kita perjanjian ulangan. Bahan gejala gelombang sampai hari ini ya, karena sudah mendekati UAN maka soalnya PG .” (Pilihan Ganda) (Melakukan perjanjian, menentukan hari untuk ulangan). Guru : ”Ya kita telah beberapa kali pertemuan membahas tentang gelombang. Kita ingat lagi sekilas, gelombang dibedakan berdasarkan arah getarnya, atau arah rambatnya? Transversal, longitudinal.

            Mediumnya? Mekanik, elektromagnetik. Trus satu lagi berdasarkan amplitudo stasioner dan berjalan. Stasioner ada gelombang ujung terikat dan ujung bebas. Nah, dari sifat-sifat gelombang tadi yang bisa dilihat di lab. Antara lain apa? Front gelombang datar, melingkar, pemantulan, difraksi, pembiasan. Interferensi bisa dilihat di internet. Ya kita sudah selesai, minggu depan kita mulai lagi bab berikutnya gelombang bunyi. Hari ini sampai sekian dulu.

            ”

            186 Lampiran 5 Data Wawancara

            Guru A Wawancara 8 September 2009 Peneliti : ”Berapa lama ibu mengajar di SMA de brito?” Guru:

            ”Sejak 1990/1991, kelas selalu berpindah tapi paling lama di kelas 3,de Brito guru selalu dirotasi sehingga guru diharap menguasai semua materi,dan untuk guru yang kurang mampu atau guru baru biasanya ditempatkan di kelas satu. Sebelum mengajar di de Brito saya mengajar di SMA Yos Sudarso jeruk legi cilacap. 2 tahun mengajar. Di Jakarta sang timur 2 tahun, Sang timur Jogja,nyambi atau membantu mengajar .”

            P : ”Pola mengajar yang ibu terapkan atau digunakan didapat dari mana?”

            G : ”Belajar dari kesulitan sendiri waktu di SMA, lalu saya mulai menyenangi fisika di Sanata Dharma. Sebelum masuk fisika minat dibahasa, saya menyadari indahnya mekanika atau fiiska itu dari dosen-dosen SADHAR belajar yang menyenangkan waktu di Sanata Dharma”.

            P : ”Jadi pola mengajar itu didapatkan di Sanata Dharma?”

            G : ”ia, kurang lebih di SADHAR, mencontoh dosen-dosen di sadhar. Dosen mengajarkan bahwa fisika itu bukan hafalan tetapi berdasarkan dari konsep.

            ” P : ”Tujuan ibu melakukan pendekatan kepada siswa?” G :

            ”Anak itu seneng dulu pelajaran baik itu matematika atau fisika.contoh kecil ½ x 1/3 aja mereka tidak tau apalagi dikasih konsep-konsep fisika yang sulit. Tujuananya anak seneng dulu dengan fisika sehingga siswa nantiya akan mudah belajar fisika. ”

            P : ”Lalu bagaimana dengan siswa di de Brito?”

            G : ”Anak-anak di de Brito itu multikultur pokoknya komplit. Yang mempunyai kesadaran belajar yang cukup bagus (awal siswa) berbeda dengan sekali dengan kondisi murid di Yos Sudarso.lalu bagaimana mengajarkan siswa yang sudah mempunyai potensi,sayang sekali jika mengajarkan siswa yang sudah mempunayi potensi tadi.tanpa tau apa-apa yang dipelajari.kondisi ini membuat saya tergerak bagaimana sih dulu waktu saya mengajarkan siswa-siswa yang bodoh itu supaya memahami newton itu diajarkan vektornya dulu dan pemahaman diagram bebas gaya jadi anak tau dulu konsep-konsep yang akan diajarakan sehingga soal mau dibalik kayak apapun anak tidak bingung itu diajarkan dari kelas satu(X), kalau itu sudah dpahami sehingga di kelas 2 tinggal mengikuti dan dari sekolah guru mengikuti dari kelas satu

            .” P : ”Lalu keuntungan lain mengikuti siswa dari kelas satu dalam mengenali karakter siswa?” G :

            ”Lebih mengenali karakter siswa dan siswa juga mengenali style gurunya. Anak sudah mengerti pola mengajar guru, guru menjadi lebih mengenali siswanya. misal dengan mendengar suaranya saja sudah tau ini siapa? pola kelas sudah sangat mengetahui,mana kelas yang malas,ribut dan sebagainya. Jadi guru sudah tidak perlu mengenali konteks dari anak. Maka waktu dikelas X pada saat saya mengajar terutama hari pertama, saya akan menayakan kepada siswa,sekolah asal,tempat tinggal,lalu saya mencari data-data tentang anak ke sekolah, misal murid ini berasal dari mana? contoh, sebagian besar dari SMP STC. Meskipun dengan cara guyonan/bercanda.contoh: misal dalam kelas siswa sebagian besar berasal dari SMP STC,disini bagaimana saya harus bisa menghendel agar siswa-siswa ini tidak terlalu dominan.dan siswa dari SMP yang kurang bermutu atau kurang mampu untuk menaikan mereka dalam hal ini memotivasi agar siswa-siswa ini tidak minder.dan guru mempunyai cara untuk menyeimbangkan kelas dengan cara menaikkan dari bawah. Agar harga dirinya tumbuh.tugas guru-guru senior membentuk anak-anak dari kelas satu sesuai dengan visi n misi sekolah. ”

            P : ”Apakah tugas-tugas untuk membentuk karakter siswa (sesuai visi dan misi sekolah ) dilakukan diluar jam sekolah? ”

            G : ”Tidak,ini dilakukan terintegrasi dengan sesuai dengan jam sekolah,justru itu,jadi saya tidak sekedar menerangkan fisika,tapi dari fisika anak harus mengenal Tuhan. Saya tidak hanya mengajarkan anak untuk belajar fisika tetapi mengenal Tuhan bersosial dengan teman,maka saat mengajar dan menerangkan kamu diam memperhatikan itu kotmitmen pertama, nanti saat mengerjakan soal sya memberikan kebebasan, supaya mereka bersosialisasi dengan temanya,yang pinter mengajari yang ndak pinter,itu hal kita inginkan di de Brito,tapi nanti ulangan saya ndk maen-maen,ada sanksi tegas jika mencontek ”.

            P : ”Sejauh ini kelas yang ibu pegang, minat mereka (siswa) terhadap fisika sendiri bagaimana?”

            G : ”Dari awalkan kita ada buku refleksi, dari pertama mereka masuk, yaitu apa yang mereka kehendaki, apa kesulitan siswa. Nah dari buku refleksi itu. Setelah mid nilainya jelek, itu tidak semata-mata itu karena pengajaran saya jelek,karena memang di SMP dulu mereka tidak suka fisika,mengatakan fisika susah, disatu pihak di SMA kan materinya lebih susah, ini bukan untuk pembenaran, nanti setelah kenaikan kelas, saya bisa menjaring siswa masuk IPA 4-5 kelas, ini membuktikan minat mereka masih tinggi, jadi guru menanamkan kepada siswa kalau nilai saya jelek itu bukan menyalahkan orang lain, tidak punya buku, gurunya, tetapi dia lebih, saya sudah memenuhi persyaratan awal belum,bahwa untuk belajar fisika saya harus tekun,harus memiliki buku, harus belajar sebelumnya, saat diterangkan harus memperhatikan,mereka harus selalu diajak untuk selalu begitu (hal diatas),diakhir pelajaran ada refleksi tentang bagaimana besaran dan satuan diperoleh menurut kamu bermanfaat tidak

            .” P : ”Untuk kelas XI gimana?” G :

            ”Kelas XI juga begitu, sehingga kalau kelas XI ini ulangan kemarin ada yang dapat poin 100 nyaris tak ada kesalahan sedikit pun, ini yang saya idealkan bagaimana anak harus penguraian gaya-gayanya, titik tangkap gaya,(masih dalam poin 100 tadi), ini anak menggunakan pendekatan fisis , hebatnya belajar fisika di SADHAR adalah kita tidak terjebak menerangkan fisika secara matematis, saya disitu, saya tidak ingin terjebak menerangkan fisika secara matematis harus diterangkan secara konsep, memang itu susah tapi kalau itu di pegang anak-anak enak sekali. Dengan menerangkan secara fisis gerak parabola cepat selesai itu hal yang dirasakan oleh siswa. Lalu untuk mendongkrak mereka saya mengatakan “anak laki-laki itu di hargai pertama kali karena pinter, walau kamu jelek lama-lama kalau kamu pinter diperhatikan menjadi bagus. Dengan memberi semangat ini guru membuat siswanya senang lalu siswa mempelajari gerak parabola tidak susah.dari sini guru menyadari kalau dari dulu di SMA saya fisika menghafal.maka dari itu bahwa belajar fisika dari konsep secara fisis,itu mudah dipahami siswa.(dalam pembahasan hasil ujian) ada jawaban siswa yang mendapatkan nilai jelek gambar vektornya tidak berbunyi,karena waktu di kelas X dulu saya tidak mengajar dia,dan baru pertama kali dengan saya,dan dia kaget,dan anak seperti ini harus saya dampingi,misal siswa menulis tegangan tali itu masih t kecil,hal ini tidak akan kamu(peneliti) dapatkan pada anak-anak yang dulu saya ajar meskipun nilainya jelek.jeleknya itu tidak sama dengan yang tidak saya ajar dikleas X, itu bedanya kita menerangkan konsep dengan menerangkan secara matematis .”

            P : ”Lalu untuk siswa yang perlu dibimbing apakah perlu bimbingan khusus?”

            G : ”Dia perlu bimbingan khusus.” P :

            ”Bimbinganya pada saat dikelas atau?” G : ”Kita masukkan dulu pada pelajaran tambahan, kalau dia tidak bisa lalu sendiri.” P :

            ”Mungkin dalam arti maksudnya bu?” G : ”Dia (siswa) akan saya panggil sendiri lalu saya bimbing, ini saya lakukan dikelas XI beda kalau di kelas X karena kelas X tidak semua berminat dan punya potensi masuk ke IPA, sehingga untuk yang khusus itu saya melihat bahwa anak ini masih bisa saya perkembangkan, kalau yang sudah habis dalam artian tidak bisa dikembangkan lagi…tapi minimal mereka dalam hal tuntas dulu.

            Tapi ini (siswa yang veteran dengan nilai jelek dan guru berbeda saat kelas X) akan membebani nantinya, dia tidak bisa nanti dengan bertambahnya materi,akan terus-terus tidak bisa dan resikonya dikelas XII,bisa tidak lulus.jadi ini membebani.karena sudah penjurusan,beda dengan kelas X kalau memang tidak mampu ya sudah tidak bisa dipakasakan sehingga penanganan berbeda (guru juga mencari mengenai siswanya) saya juga bertanya dengan guru biologi, kimia, matematika mengenai siswa tersebut.kalau memang tidak bisa dicapai lagi ya sudah,dalama artian guru memberi keputusan bersama, cuman dalam hal nilai saya tu segala-galanya saya tidak akan mematikan siswa, artinya begini,batas tuntasnya 60 ,nilai siswa misal 20 saya tidak bisa membohongi teman-temanny yang dengan memberi nilai 60,baik nilai 20,40,50 itu semua terbaca tidak tuntas,saya memberi nilai 20, dengan nilai 40 itu lebih berkembang sama dia tidak bisa,nanti akan kita panggil akan kita beri tugas,nanti akan saya katakan kamu belum tentu tuntas,tergantung?tapi siswa masih punya harga diri dengan nilai 20, seandainya pun nanti dia tidak naik dan pindah sekolah,nilai itu tetep di hargai, sesuai dengan kenyataan siswa tetap tidak saya tuntaskan, misal nilai 50,55 jika memang siswa bodoh sekali. Dia tidak bisa masuk ke

            IPA,tetapi dia bisa masuk ke IPS jika memang bakatnya ke sana,tetapi kita(guru) tidak curang ya,karena kita memberi dia tugas,tidak sekedar mengkatrol nilai ”. P :

            ”Jadi menurut ibu dapat saya simpulkan untuk mengikuti siswa dari kelas satu?” G : ”Lebih ideal, terutama pada anak kalau kita lebih flexsibel. Ya kalau anaknya begini ya kita begini dalam artian menyesuaikan, yang selalu saya lakukan adalah hari pertama masuk, membuat kotmitmen, memberikan silabus sederhana,menjelaskan isi silabus. Dimungkinkan siswa mengerti pokok bahasan yang akan dibahas.

            ” P :

            ”Selama melakuakn pengambilan data,kami tidak pernah melihat ibu membuka buku saat mengajar ?” Guru :

            ”Ya kadang membuka juga ya, kalau untuk materinya sih sudah diluar kepala itu jeleknya guru itu lalu tidak berkembang. Tapi bukan berarti saya tidak membaca atau apa tidak. Malam sebelum pembelajaran untuk kelas pertama yang saya ajar saya tetep menyiapakan diri, saya tetep punya tanggung jawab itu sejelek-jeleknya saya, misal hari ini mau masuk gerak lurus itukan sudah saya ajarkan tahun lalu untuk kelas yang dulu meskipun tidak saya baca detail malamnya mesti saya buka untuk kelas pertama yang saya ajar, saya tetep nyiapkan dulu terus nanti misalkan dikelas itu ada sesuatu yang menurut saya yang masih kurang tadi saya ngomong disitu kok anaknya banyak yang tidak ngerti, nanti dikelas laen saya akan mencoba lagi membuka lagi dibagian itu lalu dikelas laen sepertinya ada mek up ada revisi, dengan metode laen untuk masuk ke materi yang sama. Salah satu contoh dikelas materi trigonometri saya sudah menerangkan komplit ternyata masih ada anak yang tetep belum bisa, misalkan sudut 135˚ kok sama dengan sudut 45˚,waktu itu sudah saya terangkan cara seperti ini, tapi anak itu tetep…saya melihat dari matanya mereka, mereka tetep masih bingung mungkin sudah malu nanya atau takut maka saya dikelas laen sebelum anak itu Tanya itu akan saya terangkan dulu, setelah saya melihat siswa mengerti nanti dikelas yang tadi bingung saya review lagi disitu. Jadi kita harus peka ya atau dikelas ada anak tanya kebetulan pertayaannya baik,itu nanti mesti akan saya bawa kekelas laen.

            ” P : ”Jadi pola mengajar ibu disetiap kelas nanti akan berbeda?” G : ”Ia, saya kira ada standarnya ya, tetapikan tetap konteks masing-masing kelas kan berbeda nantikan kita bisa merasakan saat kita mengajar misal dikelas ini yang ribut ada lima dan macam- macam permasalahan lalu bagaimana kita menghendel kelas tersebut sehingga kelas kondusif dan guru harus bisa melihat kondisi kelas .”

            P : ”Jadi pengelolaan kelas sangat penting ya bu?”

            G : ”Ia, ya saya kira pengelolaan kelas tadi, ya itu tadi power/kekuatan kita terletak pada penguasaan materi pengenalan pada konteks siswa itu yang utama pada saat di kelas konteksnya dulu,itu yang mendasari pengelolaan kelas adalah mengenali konteks siswanya

            .” P : ”Lalu waktu di kelas XI IPA 1 kemarin pola mengajar yang ibu terpakan sudah tepat/ideal?” G :

            ”Menurut saya itu ya sudah cukup efektif tapi ya saya sadar bahwa yang saya anggap baik belum tentu baik buat mereka buktinya juga masih ada beberapa siswa nilainya masih belum tuntas. Waktu mereka ulangan mereka tanya kapan bu remidi lho..belum ulangan kok dah tanya remidi, tadi(siswa) saya salahnya disini, saya kurang waktu disini..jadi mereka sudah tau persis..makanya saya bisa mengatakan saya bisa berbangga diri mengatakan bahwa..o..kalau begitu mengajar saya efektif..nanti saat remidi saya memberikan soal remidi notaben soalnya masih berimbang kalau anak yang sudah tuntas mau ikut lagi ya saya biarkan, nanti akan saya ambil nilai yang terbaik, saya hargai itu karena anak mau berkembang..jika itu tidak menggangu dan itu merupakan permintaan mereka sendiri way not bagi saya. selama itu menguntungkan siswa kita tetep …itu kurikulum..tetep ada celah-celah yang bisa kita pakai

            .” P : ”Dari hasil ujian berapa persen yang tuntas?” G :

            ”75% anak tuntas..dan yang tidak tuntas pun menurut saya tidak parah-parah sekali ya..sebernya dia (siswa) itu ngerti kesalahan menghitung..ini menunjukkan meraka tidak tau sama sekali to..paling tidak alur berpikir dia itu sudah masuk ”. P : ”Kesulitan untuk topik ini apa Bu?” G :

            ”Kadang kala siswa..konsep diagram bebas gayanya..kadang kala itunganya..menentukan arah tidak teliti ”.

            P : ”Dalam video saya melihat bahwa rumus yang ada bukan suatu patokan?” G :

            ”Ia..makanya justru disitu itu..lalu kemampuan mereka terlihat disitu..dia tidak menghafalkan bener..dari yang saya terangkan/jelaskan kemarin 50% itu sudah terekam ke siswa..begitu siswa menghadapi soal dan menganalisis sendiri..masih ada hal lain dia tidak nyangkut..kita bisa membandingkan nilai 59 dengan 100..terlihat hanya salah hitung yang nilai 59. ”

            P : ”Secara konsep?”

            G : ”Mereka sudah masuk/mengerti..makanya saya katakan saya masih cukup efektif..kecuali saya membandingkan dengan yang veteran dan bukan anak yang saya ajar waktu kelas satu .”

            P : ”Lalu untuk pendekatan-pedekatan siswa..dari pengalaman ibu mengajar di beberapa sekolah untuk siswa cowok maupun cewek beda tidak Bu? ” G :

            ”Kalau dikatakan berbeda ya ada sedikit..kalau siswanya cewek,siswa cewek itu lebih maen rasa..saya ngomongnya harus hati-hati, style saya juga harus hati-hati nah kalau di de Brito harus mengikuti siswa..katakanlah disini saya pake bando ,pakai kalung..mereka seneng-seneng saja.

            ” P : ”Tidak meras terganggu siswa?” G :

            ”Tidak merasa terganggu malah mereka..memuji gurunya..afeksi siswa cukup bagus mereka seneng, tapi kalau disekolah Yos Sudarso, Sang Timur waktu itu,..siswa cewek merasa sebagai saingan dengan gaya saya.pernah saya alami waktu itu di Yos Sudarso. ceritanya panjang..dalam memotivasi siswa Cilacap itu saya sering mengatakan kamu harus pede .” G : ”Saya kemarin baru memanggil orang tua siswa. Kemarin tu saya baru memanggil siswa kelas XI

            A1 dulu kelas 1 saya juga mengajar dia..sebenarnya anaknya pinter..namun kurang diterima sama teman-temannya..saya memanggil orang tua. saya menunjukkan data-data dan dengan begini anak tau persis kalau ia tidak hanya didampingi oleh sekolah tetapi juga oleh orang tuanya. ”

            P : ”Apakah hal ini karena siswa merasa dekat dengan ibu”?

            G : ”Ya saya memperlakukan mereka secara adil dan merata ya, karena berdasarkan pengalaman jika ada yang disenengi dosen apa guru saya itu jeles kok, makanya saya memperhatikan biasa aja ndk ada yang istemewa entah itu gateng cantik pinter semua saya perhatikan sama meskipun saya hanya memberi sentuhan tangan saya tonjok tapi anak merasa saya(siswa) diperhatikan sama makanya saat dia sudah keluar(lulus) mereka akan datang lagi karena merasa dihargai.

            ” P : ”Masuk kedalam pembelajaran karena pengalaman ibu kan sudah lama, sebelumnya ibu sudah mengalami kesulitan dalam mengelola waktu untuk proses pembelajaran

            ?” G : ”Kalau mengelola waktu menurut saya masih wajar-wajar aja ya, target kurikulum seberapa saya masih bisa tepat/tercapai, cuman saya mengajar kelas 1,2,3 saya lebih menekankan konsep dikelas

            1 dan 2 dulu apalagi kelas 2 IPA, tapi kalau kelas 3 saya acuanya adalah pada soal. Misalnya pengukuran rumus umum saya katakan dibuku sudah ada konsepnya ini baru kita pakai untuk mengerjakan soal karena dikelas 1 kan keterbatasan waktu ya supaya waktu selesai anak sudah punya bekal. setiap saya mengajar baik kelas 1,2,3 saya selalu melingkari hal-hal yang ini akan dipakai terus. misalkan saya menerangkan gelombang bunyi rumus yang penting dan sering keluar mesti saya suruh untuk melingkari yang gede dan saya menunjukkan soal tahun kemarin dan saya tunjukkan hal-hal yang sering keluar.

            ” P : ”Kami simpulkan bahwa disini yang lebih ditekankan adalah proses. Ibu tadikan mengatakan akan tercapai tapikan mungkinkan suatu waktu tidak tercapai, misalnya ada satu materi yang tidak sempat diajarkan kemudian cara menyiasati itu bagaimana ?”

            G : ”Sejauh ini selalu materi saya tercapai itu yang pertama, yang kedua saya seringkali mendapatkan materi dari guru lain saya mengajar kelas 2 kadang materi kelas 1 tidak tercapai sehingga dititipkan kepada saya. Saya jujur kepada anak ini bukan kewenangan saya tapi kalau waktunya sampai saya terangkan kalau tidak saya akan minta tolong guru yang kemarin untuk menerangkan.

            Biasanya kalau saya mengajar dikelas 3 satu pokok bahasan 1 minggu kalau yang besar 1,5 minggu itu bulan januari harus sudah selesai karena banyak kehilangan waktu saya biasanya bulan februari tapi kalau kelas 1 dan 2 selesai semua jadi masing-masing stylenya harus berbeda kalau mengajar saya tidak bisa mengajar cewek sekasar di de Brito, kecuali kalau saya mengajar sudah lama,guyonan di de Brito saya berikan mereka seneng, saat di Sang Timur saya terangkan seperti di sini mereka seneng, pede dan terangkat. Justru saya mengajar di Sang Timur itu untuk mengakat harga diri Sang Timur .”

            P : ’Jadi menurut ibu lebih mudah mengajar sekolah homogen atau heterogen?” G :

            ”Sama ya, saya merasa sama.” P : ”Mungkin punya keunikan masing-masing.” G :

            ”Ia, karena konteks berbeda-beda, saya merasa tidak kesulitan saya aja dulu mengajar orang bodo (Cilacap) aja bisa apalagi orang pinter (JB) itu kan tergantung pada materinya justru mengajar yang paling sulit itu pengelolaan waktunya bukan pada materinya, pengelolaan kelas didasarkan melihat konteks siswa kalau konteks siswa kita pegang udah kita jalan..nah kalau kelas 1 melihat konteks lalu kita harus membentuk mereka,maka kalau boleh saya simpulkan ya,di kelas 1 kita ngajar didepan,harus begini..juga harus banyak refresifnya karena harus membentuk pola itu ya nanti di kelas 2 saya di tengah-tengah mereka dikelas 3 kita dibelakang untuk mendorong mereka .” P :

            ”Jadi untuk melihat konteks siswa itu melakukan pendekatan itu penting ya Bu?” G : ”Ia, selain itu modal kita ialah materi, kalau memperahatikan itu bukan dari yang pinter dari dari tengah ke bawah, kalau yang pinter dilepas sajakan dah bisa..misal jika ada anak yang bisa menjelaskan di depan saya suruh agar jati dirinya tumbuh .”

            Wawancara kedua 11 september 2009 P : ”Pada saat pembelajaran saat materi diagram bebas gaya selesai, apakah dengan cara memberi soal ibu dapat mengetahui apakah siswa sudah menguasi materi atau konsep yang ingin dicapai?

            ” G : ”Dasarnya dulu dikelas X sudah saya berikan konsep gaya-gaya yang ada pada suatu bidang, keuntungan kelas itu kan(XI-A1),saya mengikuti, jadi saya mereview kembali konsep yang sudah ia terima di kelas X, kapan suatu benda dikatakan diam, tepat akan bergerak dan sudah bergerak itu konsepnya..nah dari situkan dulu dikelas X sudah saya terangkan bahwa kalau benda dalam kedaan diam terletak pada suatu bidang itukan minimal bekerja 2 gaya: gaya berat, gaya normal. Nah siswa sudah mengerti bagaimana cara kita membuat gaya berat, gaya normal..konsep itukan sudah ada dikelas X, dikelas X saya juga sudah memberikan introduksi tentang benda diam, tepat akan bergerak, dan benda bergerak.maka sekarang dikelas XI karena saya masih mengikuti dia(siswa) saya langsung bisa masuk ke soal.

            ” P : ”Jadi lebih mengingatkan kembali?” G :

            ”Ia, lebih meningatkan kembali, tapi itu masih ada yang ragu-ragukan.” P : ”Lalu pada saat ibu memberi pertayaan, missal berapa gaya gesek jika gaya yang diberiakan 10 N, lalu terlihat siswa banyak sekali yang ingin menjawab dengan mengacung.untuk membiasakan hal tersebut bagaimana bu? ”

            G : ”Lebih pada keaktifan siswa, karena yang mau belajar kan itu siswa bukan gurunya, jadi kita harus berusaha siswa merasa butuh, aku(siswa) butuh ngerti jangan segera langsung kita kasih tau ini begini, begini itu nanti yang tambah pinter gurunya bukan muridnya kalau saya begitu .”

            P : ”Pada saat pembelajaran ibu melakukan penekanan konsep, lalu ada siswa ragu tentang gaya gesek, missal gaya 30 N benda masih diam lalu berapa gaya geseknya? ada yang menjawab 30,27

            ,disini siswa merasa ragu dengan jawabannya, lalu ibu memberikan contoh dengan menarik meja di depan kelas apakah itu merupakan tindakan spontan? ” G

            :”Bukan, dikatakan spontan mungkin karena setiapkali saya mendapatkan kesulitan seperti itu dalam mengajar dengan cara itu anak itu anak lebih gampang melogika, kalau dikatakan kalau saya sudah lama mengajar sent saya, ini saya memberikan contoh seperti itu dia gampang menangkapnya, contohnya kamu saya tarik seberapa besar kamu bisa sendiri dengan begitu siswa bisa merasakan sendiri, saat menarik meja tangan masih tegang padahal meja belum bergerak mereka suruh mencoba. Contoh ini akan nyata dengan neraca pegas itu terjadi pda kehidupan mereka sehari-hari. ”

            P : ”Lalu, ibu menjelaskan lagi bahwa konsep ini, diulang dan diulang lagi apakah konsep ini benar- benar penting ?”

            G : ”Penting.”

            P : ”Kenapa hal itu penting?” G :

            ”Alasanya gini suatu benda itu kan memiliki pertahanan maksimum yang kita kenal dengan gaya gesek maksimum, setelah itu terlewatkan baru bendanya akan bergerak dan setelah dia(benda) bergerak gaya geseknya itu ada tidak? ada cuma otomatis berubah menjadi kinetis itu lebih kecil dari saat dia sebelum bergerak,maka dia harus tau persis bahwa yang diam maupun bergerak kalau bidangnya kasar itu ada gaya gesekanya.

            ” P : ”Apa siswa dari pengalaman ibu mengajar mengalami kesulitan dalam hal ini?” G :

            ”Ia, mereka kalau sekedar menerapkan hukum newton bahwa ∑f = 0, mereka lalu tidak tau kapan ini kita menggunakan kinetis,kapan ini menggunakan statis, kalau tidak menyelidiki dahulu apakah bendanya masih diam atau tidak,nah itu yang kadang kala kita hanya menggunakan F gs =µ.N tetapi ada F , jadi sebelum benda bergerak sudah ditarik gaya geseknya sebesar tarikan itu. gs maksimum

            ” P : ”Jadi untuk mengatasi kesulitan tersebut ibu lebih menekankan dan selalu mengingatkan?” G :

            ”Ia,maka harus diulang-ulang terus.” P : ”Adakah cara lain untuk mengatasi hal tersebut?” G :

            ”Cara lain dengan pratikum dengan menguji dan menganalisis sendiri.” P : ”Kemudian dari mana ibu tahu bahwa siswa mengalami kesulitan?” G :

            ”Nah, kalau siswa di kelas yang lebih rendah konsep itu tidak jelas maka nanti begitu kita sudah dikelas XII saat kita mendapatkan soal yang lebih kompleks, mereka lalu benda ditarik gaya berapa gaya geseknya mereka menjawab ya gaya gesek statis maksimum itu, bukan gaya tarik yang kita berikan. Jadi sebetulnya anak itu mengerti, tapi karena tidak mendalami konsepnya lalu jadi tidak mengerti dan kesalahan itu ternyata berulang dikelas XII, maka karena materi itu dikelas

            XI harus bener-bener ditekankan anak harus bisa menyelidiki benda masih diam, tepat akan bergerak atau sudah bergerak. Termasuk resultan antara gaya gesek dengan gaya normal sebetulnya yang ada gaya yang miring dulu, lalu kita uraikan menjadi komponen vector F dengan F gesek,begitu digeser Nnya itukan bergerak, maka kalau benda tepat akan bergerak,dia akan tepat di pinggir(kalau bidangnya kubus) iakan itu yang kadang kala dilupakan,koknya ditengah terus,ndk,anak yang cerdas akan mengatakan berarti benda bergerak ndk ada normal,kalau konstruksi gayanya bener Nnya akan titik..kalau bergerak sebenarnya masih ada dengan ganabr titik2,itukan abstrak sekali maka saya tidak pernah menjelaskan sampai disitu nanti anaknya tidak jadi bingung. ”

            P : ”Lalu pada saat materi masuk dalam tegangan tali ibu memberi pertayaan kepada siswa,dan mencari jawaban tersebut ibu berkeliling apakah dengan cara itu ibu terbiasa? ”

            G : ”Ia, saya kalau berkeliling itu lebih untuk,memecah jarak antara guru dan siswa, dia(siswa) kita sama-sama belajar kita tidak menjadi sesuatu yang supel itu yang pertama, yang kedua memberikan perhatian lebih pada siswa, yang ketiga membuat siswa lebih berkonsentrasi,sehingga siswa tidak lepas.dan merupakan keuntungan bagi kita siswa mana yang sudah paham dan belum paham dan kalau kita didekat siswa kalau siswa menjawab salahkan cuma deket, sehinga untuk anak rasa percaya dirinya lebih. Dan dia merasa aman dan merasa dihargai karena kita dekati,itu Nampak didalam refleksinya. ”

            P : ”Saat hari sabtu, saat mengerjakan soal, Ibu membimbing seseorang sedang siswa yang lain mengerjakan di depan, untuk membimbing satu orang ini,cara ibu untuk menyeimbangkan dengan siswa lain bagaimana Bu?

            ” G : ”Saya saat keliling jika saya membimbing satu, yang saya lewatikan sudah jalan yang ini belum jalan, nah ini yang harus diperhatikan lebih dulu. Bukan berarti yang laen saya lepas karenakan banyak soal begitu selesaikan saya akan keliling lagi, kalau mereka membutuhkan mereka pasti akan memanggil saya berarti kalau dia tidak memanggil dia sudah bisa berjalan, tetapi ada anak juga yang tidak tau tetapi juga tidak mau tanya, maka tugas kita dengan berjalan itu akan tau,persis ada refleksinya:kalau saya lagi mengerjakan soal kalau pas ada bu nanik,saya merasa malu,kalau tidak bisa,jadi dari releksi terlihat,mereka sadar,malu kalau tidak bisa. ” P :

            ”Kemudian berkenaan dengan yang tadi itu ya Bu(kelling dan membimbing) kan membutuhkan waktu lebih ya bu,lalu bagaimana dengan pengelolaan waktunya, apakah ibu merasa terhambat? ” G :

            ”Tidak, buktinya juga sesuai dengan RPP, saya selesaikan dalam berapa jam semua tetap berjalan, maka kalau dalam mengerjakan soal saya tidak pernah otoritas, ini semua harus begini, tidak saya berikan beberapa soal mana yang menurut mereka tidak bisa, itu pun saya menghargai peran tutor sebayakan siapa yang bisa ada temenya yang maju ya sudah biar temenya yang pinter yang maju dulu. ”

            P : ”Lalu untuk soal apakah ibu mengambil dari buku atau membuat sendiri?”

            G : ”Ada yang buat sendiri untuk ulangan, untuk latihan saya ambilkan dari buku dan soal ujian, jadi variatif. Jika dibuku saya melihat soal yang dibuat antara apa yang saya ajarkan dengan konsep yang ingin dicapai seimbang maka saya akan mengambil dari buku .”

            P : ”Kemudian pada awal pengamatan yang kami lakukan, Ibukan sering memberikan soal secara lisan, itu sudah dibiasakan seperti itu bu? ”

            G : ”Ia.”

            P : ”Kemudian apakah mereka bisa mengikutinya.”

            G : ”Bisa, sejak kelas X saya biasakan seperti itu, apalagi nanti dikelas 3 saya tuntut 1 soal 3 menit.” P :

            ”Lalu, karakter siswa kan berbeda, gaya belajar mereka juga bebeda lalu cara ibu untuk mengatasi hal tersebut? ” G:

            ”Variasi pembelajaran tergantung pokok pembahasanya terkadang kita cerita dulu terus masuk, kadang saya memberikan kesempatan untuk yang mikir matematisnya agak lama gitu nanti pada saat mengerjakan soal. Pada saat saya menerangkan konsep saya anggap semua kemampuanya sama, karena saya punya target misalkan ini saya terangkan dalam waktu 45 menit,nah nanti yang kedua (45menit yang kedua) saya pakai buat latihan soal to nah dari situ saya sambil berkeliling saya menambahkan untuk anak-anak yang kurang, lalu memberi tanggung jawab untuk anak-anak yang lebih, nah sambil mengerjakan atau sambil mereka maju,lalu kita beberapa dagelan-dagelan itu, maka suasananya tetep cair. Maka diawal ada kotmitmen saya menerangkan konsep mereka memperhatikan saat mereka mengerjakan soal mereka mau jalan-jalan atau apa terserah mereka asal masih dalam lingkup mengerjakan soal, bahkan kalau sudah dikelas XI itu saya mencoba ulangan missal ulangan gravitasi saya beri waktu lalu saya tinggal pergi tidak ada kok mereka yang bergerak untuk mencontek, karena mereka tau tanggung jawabnya mengerjakan soal sekian dalam waktu ini dan resikonya mencotek begini dan sekolah pun juga ada peraturanya ya sudah gengsi mereka mencontek, tapi saat latihan soal kalau ada yang salah y dipoyoki sama mereka. Sedikit demi sedikit menumbuhkan harga diri mereka, kejujuran dan memasukan visi misi sekolah dan itu terlihat saat mereka mengerjakn soal .”

            P : ”Dalam buku refleksi itu apa saja yang terangkum?”

            G :Pertayaan refleksi saya apakah yang kamu dapatkan dari mempelajari bab 1, dari refleksi mereka akhirnya fisika itu bukan merupakan hal yang menakutkan.

            ” P : ”Untuk mendiagnosa kesulitan siswa ibu dapatkan dari refleksi siswa?” G

            :”Ia, dengan keliling di depan kelas saja kita sudah tau kok dengan melihat mata mereka. Kalau mengajar itu sebetulnya penguasaan kelas itu menurut saya sebagai guru atau kita pandang matanya anak dan setiap kali kita mengajar kita memang didepan tapi mata kita keliling,kita ngomong sambil mata kita keliling dan melihat terus yang ramai missal, nah nanti jika tetap ramai kita dekati, menegurnya kasih pertayaan..kalau ndk bisa baru di..kenthel. Nah kita mencairkan suasana itu begitu diluar jam pelajaran atau pada saat latihan soal tadi..guyonan dengan selera mereka, dielus-elus kepalanya,kasih tonjokan pelan..dia akan tau diluar pelajaran ndk kok..guru saya ndk galak. ”

            P : ”Cara seperti itu ibu dapatkan dari mana?”

            G : ”Sejak dari menjadi siswa itu rasanya mendapatkan afeksi tersebut rasanya senang..misal kamu jalan dengan seorang dosen walaupun bukan dosen kamu, kamu ditanya jurusan apa mas padahal dia ndk kenal dan ndk ngajar kamu.kmau sudah respeck kok..misal kita makan dikantin…kapan pinternya kok cuma makan mie..itu sentuhan-sentuhan..jadi kita tau persis.kapan kita menarik sebagai guru, kapan sebagai orang tua kapan sebagai teman..kalau siswa merasa ini ibu saya nanti dikelas pasti dia merasa kita tidak berjarak..kalau sudah di IPA diusik kamu besok masuk jurusan mana?

            ” P : ”Fisika itu kan banyak rumus..apa ibu punya jurus-jurus tertentu?” G :

            ”Ini yang selalu saya katakan fisika tidak usah dihafalkan, supaya tidak dihafalkan ini lho kita melihat dimana ada titik yang harus tidak dihafalkan dan dalam refleksi itu muncul..oo bener.setelah bu nanik mengatakn konsepnya disini..mengenal diagram bebas gaya,lalu kemana kecenderungan geraknya jadinya gampang kita cm butuh kemampuan matematis,mereka bisa mengatakan begitu…jadi yang kita berikan kepada mereka itu yang bukan sesuatu yang tidak bisa mereka lakukan..lalu mereka berfleksi..jadi saya tidak tuntas itu salah saya sendiri..itu hebatnya disitu..saya tidak tuntas karena saya..yang terjadikan anak selalu melempar .”

            P : ”Misalkan ada konsep yang cm pengertian ibu memberikannya dengan cara apa?misal konsep gaya gesek .”

            G : ”Kalau itu memang pengertian ya harus dihafal tetapi dalam menghafal..contohnya..bagaimana bunyi hukum 1 newton ∑F= 0 itu bunyi apa rumusan matematik..artinya apa?..siswa harus tau persis apa bedanya F =0 d engan ∑F= 0..jadi hukum 1 newton berlaku unutk apa benda yang diam atau benda yang bergerak lalu kembalikan lagi..bergerak yang gimana? kecepatanya tetap..lalu disitu mereka menghubungkan dengan kemampuan bhasa dia..penyampaiannya dengan guyonan, missal gerak lintas planet itu akan selalu begitu..apa pernah mundur..beli minum..ia selalu tetap pergerakanya..jadi mempelajari sesuatu saya selalu mengatakan perlunya apa? ini merupakan salah satu untuk memotivasi siswa dalam belajar fisika..saya itu memberi les anak stc ada fungsinya..gosip dari mereka missal ini pacarnya sana? makanya disekolah nilainya jelek atau apa saya bisa menganalisis salah satu penyebabnya dengan bertanya apa patah hati? kamu tak kasih tau kesemua siswa apa maju..maju mereka .”

            P :”Apakah menurut ibu fakor guru sangat penting dalam pembelajaran selain dari sisi siswa?”

            G :”Ia dong, cara mengatasi RSBI.” P : ”Menurut ibu karakteristik siswa kelas XI IPA 1 bagaiamana secara keseluruhan”? G

            :”hidup, terbagi 2 yang pinter-pinter banget, yang tidak-tidak.sehingga yang ambisius bagian depan(pecinan) yang jawa dibelakang cari aman,karena mereka merasa kalah dari segi otak, mereka guyonanya yang maju(jawa), bagaiamana fungsi kita menetralisir itu,bagaimana yang pinter ngajari yang tidak pinter bertanya. Maka kalau guru didepan terus mereka akan tersisih yang bodoh2 tadi,maka dengan kita keliling seimbang suasananya,afeksi anak yang pinter siapa yang bisa maju,missal yang bodoh bertanya itu kok bisa begitu to bu?saya tidak segera menjawab..wan coba tolong terangkan maju..begitu nanti ulangan sendiri-sendiri..menurut saya proses belajar itu utama bukan sekedar nilai kognitif .”

            

          Lampiran 6

          Data Wawancara

          Guru B

            197

            P : ”Kemudian kesulitan yang bapak hadapi? Inikan sekolah homogen ya pak, cewek semua, itu apa? ”

            P :”Jadi bener-bener murni dari minat siswa itu sendiri Pak?”

            IPA, atau karena otrang tua, saya ingin masuk IPA.Jadi tidak ada perlakuan khusus.Ini anak-anak yang ingin masuk IPA terus diperhatikan secara khusus. Nah mereka juga nanti dibantu dengan orang tua juga, orang tua kan tanda tangan, jurusannya apa...Kemudian juga ada tes TPA mereka. Jadi IPA ragu-ragu atau cukup atau bagus kan ada kriterianya. Kalau nggak salah dengan Sanata Dharma juga. Jadi tidak ada persiapan khusus”

            : “Di kelas X itu sebenarnya tidak ada memotivasi mereka untuk masuk IPA. Mereka sudah punya bayangan sendiri, besok kuliah mau masuk apa?sekarang saya harus masuk

            : “Sebelum, jadi di kelas X” G

            G : ”Sebelum atau sesudah masuk IPA?” P

            P : ”Lalu tindakan bapak untuk memotivasi mereka biar minat masuk IPA?”

            G : ”Kesulitan, kayaknya kalau dibandingkan dengan sekolah campur,cewek cowok, kalau di sini motivasi untuk maju, terutama untuk fisika itu agak susah, itu karena ceweknya itu saya kira. Kayaknya itu bukan pelajarannya dia gitu kan. Fisika itu mungkin anggapannya untuk cowok-cowok. Tapi menurut saya ya ada beberapa yang ya..memang semangat sekali belajar, tapi ada juga yang lainnya ya..yang penting ngikutin alur.”

            G : ”Berbeda, kelas X masih sangat umum, anak-anak masih sangat heterogen. Masih ada yang mau masuk IPA, IPS dan Bahasa. Metode yang digunakan cenderung ceramah, demonstrasi tidak sampai ada praktikumnya, jadi hanya demonstrasi dan kadang mencoba sendiri tetapi tidak sampai praktikum seperti kelas XI . Kelas XI, XII kan sudah khusus IPA . Jadi mereka agak dibebaskan, kita hanya memberi point-pointnya saja, mereka akan mengembangkan sendiri. Harapannya begitu. dan ada kalanya mencoba sendiri.”

            Sesi Wawancara I tgl 11 Sept’09 Peneliti : “Mengenai..berkenaan dengan pengambilan data yang sudah dilakukan, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan. Biasa saja sih pak..ya ngobrol, begitu..Kalau boleh saya tahu, su dah berapa lama Bapak mengajar?”

            Metode yang bapak gunakan? Perlakuannya sama atau berbeda? ”

            ”1,2,3 atau kelas X, XI, XII.” P : ”Lalu, pola yang Bapak terapkan dalam mengajar kelas X, XI, XII, apakah sama?

            ”Saat ini, apakah bapak hanya mengajar kelas XII?.” G :

            ”Jadi sebelumnya tidak pernah mengajar di sekolah lain ya pak? Jadi pengalaman mengajar murni disini ya pak? ” G : Iya, betul. P : Pertama mengajar kelas berapa pak? G : Saya dulu kelas I, yang sekarang dikenal dengan kelas X P :

            ” P :

            “Iya, Juli 1992 itu mengajar di sini.Tapi sebelumnya itu tiga bulan mengajar di sini dulu, menggantikan Pak Ganjar. Pak Ganjar pergi, saya menggantikan tiga bulan, mengajar disini, trus tidak ke sini lagi. Juli dipanggil lagi suruh ngajar disini

            “Sebelum di sini,mungkin.. jadi akumulasi, menjadi guru tepatnya?” G : “Saya mengajar di sini mulai mengajar dari 1992.” P : “Langsung ke sini ya pak?” G :

            Guru : “Mengajar di sini?” P :

            G :”Iya..iya..” G :”Itu jadi masalah kalau yang mereka tidak mau masuk IPA, belajar fisika atau yang unsur IPA kan jadi...kurang, wong saya tidak mau masuk IPA kok. Tapi kalau yang mau masuk IPA ya memang serius, kalau saya mau masuk IPA ya saya harus belajar bener-

            198

            bener..gitu. Itu kan jadi ada kontradiksi tho..karena kelas X itu masih tiga jurusan sebenarnya. Ada yang mau IPA, Bahasa, IPS. Kalau mau IPS pelajaran yang IPA ya mesti agak diabaikan. Kalau yang mau IPA ya yang penting saya masuk IPA dulu. Kalau saya mengamati selama ini lho

            ” P :

            “Bapak kan mengajar 3 level,otomatis yang dulunya di ajar bapak di kelas X, kemungkinan bertemu dengan bapak di kelas XI, XII. Apakah ada keuntungan tersendiri di situ?”

            G : “Untuk murid yang naik justru sangat beruntung karena sudah paham betul gaya saya dan langkah-langkah saya dan cara saya mengajar mereka sudah istilahnya sudah menyesuaikan. Jadi tinggal meneruskan saja

            .” P : “Jadi, untuk bapak juga menguntungkan?” G

            : “Iya, saya jadi sudah hafal, tapi harus tidak subyektif.Wah ini sejak kemarin ini saja..sebaiknya dihindarkan, meskipun kadang-kadang kepikiran juga ya Misalnya wah anak ini dulu gini, remidi... terus sudah punya image,oh ya ini remidi oh.. wangun..kelas 2 dulu juga remidi.Keuntungannya ya itu tadi, saya tahu anak , anak sudah paham betul gaya- gaya saya. Jadi tidak usah adaptasi lagi.”

            P : “Untuk pengelolaan kelas?bagaimana pak?susah tidak?kan cewek-cewek..” G

            : “Untuk kelas X,ya perlu kerja keras. Untuk kelas XI dan XII mereka sudah paham siapa saya. Kalau saya tidak memperhatikan ya berarti saya nanti gak bisa, kalau gak bisa ya sudah tahu sendiri,kemungkinan kalo memperhatikan. Kalau kelas X ya gitu heterogen tidak semua masuk IPA.”

            P : ”Jadi untuk kelas XI, XII lebih dikembalikan ke siswa.Sedikit masuk ke dalam hasil analisis video kami, kemarin pada saat mengajar, bapak hampir tidak pernah melihat buku...”

            G : ”Setiap kali mengajar, saya selalu mempersiapkan dulu. Kalau mbak liat catatan tahun lalu dan tahun ini, itu berbeda. Karena melihat buku referensi yang berbeda. Sekali, dua kali ya kadang buka buku. membuka itu kadang-kadang buka karena urutannya kan, dan untuk memastikan lagi itu betul atau ndak ”

            P : ”Kadang ada guru yang karena sudah lama mengajar,tidak perlu melihat buka, sepertinya sudah di luar kepala .”

            G : ”Saya mempersiapkan dulu,belajar dulu, saya menyarikan, merangkum, kata-kata yang harus saya pilih yang mana supaya catatan mereka itu simpel. Karena kan mengajar itu, ya level kita, level sekolah ini kan sangat heterogen,muridnya memang homogen, tapi kemampuannya sangat heterogen, nuwun sewunya ada yang agak di bawah ada yang tinggi. Nah, saya harus merangkum biar mereka itu bisa terima oleh semua. Kalau yang pinter kan disuruh pakai buku atau handout saja sudah bisa. Tapi kalau yang kemampuannya agak di bawah harus dicarikan yang simpel yang meskipun saat diterangkan tidak dong, tapi saat dibaca ulang bisa, bisa ingat kemarin saat Pak Linus menerangkan oh maksudnya seperti ini...Saya yakin tidak sampai 30% saat diterangkan langsung dong. Mereka dong saat sudah mempelajari lagi. Atau bahkan ada yang ketika ulangan mereka baru bener-bener dong maksudnya. Ya..memang agak gimana ya..ya seperti itu..”

            P : ”Nah,berati itu tadi salah satu cara bapak mengatasi kemampuan siswa yang heterogen.

            Selain itu apalagi Pak?Apakah ada perhatian-perhatian khusus,apalagi misalnya sudah masuk IPA dan kemampuan mereka masih sangat dibawah, apakah itu ada bimbingan khusus, atau bapak memperhatikan dia secara khusus pak?”. G

            : ”Yang kelas X itu,perhatiannya ya hanya dengan remidi saja.Kalau kelas XI biasanya dilaporkan ke wali kelas.Itu yang kelas 2, tapi tetap masih remidi. Lalu yang kelas XII itu biasanya kalau remidi terus, beberapa kali tidak tuntas, misalnya 2 kali atau 3 kali atau lebih masih tidak tuntas, biasanya mereka dipanggil, saya tanya kok kamu remidi terus. Nanti untuk tingkat sekolah itu, untuk anak yang kemampuannya agak dibawah itu akan

            199

            dijadikan satu.Baik dari kelas saya maupun guru yang lain dijadikan satu, kemudian diberikan tambahan. Kemarin sudah dilaksanakan, tapi ketika, tidak sempat waktunya, karena nanti semester 2 itu, kelas 3 pulang sekolah itu mesti sudah mulai ada tambahan. Nah,kemarin yang sudah dilaksanakan yaitu memanggil,misalnya ditanya..kamu kok remidi terus, di rumah belajar tidak, sudah les apa belum? Paling ga perhatiannya seperti itu, Paling kendalanya yaa masalah waktu ”. P

            : ”Kemudian selama ini, selama bapak mengajar, apakah bapak pernah mengalami kesulitan dalam, ya tadi bapak sudah mempersiapkan ya sebelumnya memang, tapi kan kondisi di lapangan tidak selalu seseuai dengan teori ya, mengelola waktu, misalnya dalam menyusun materi,misalnya sudah disusun seperti ini tapi kayaknya ada materi yang keteteran. Apa yang bapak lakukan?Apa memberi materi susulan di luar kelas,atau bagaimana Pak?”

            G :”Itu terjadi biasanya pada kelas X ya, salah satu cara terus karena kita dikejar target,ya itu sebenarnya tidak harus begitu, tapi karena kurikulum mengharuskan seperti itu ya dipercepat. Tapi tetap prinsip saya anak harus punya dokumen.Tapi bukan berarti saya menggunakan handout atau tulis tangan lalu dibagikan. Pengalaman kami disini itu untuk anak yang rentangnya begitu banyak itu mereka tidak akan dong.”

            P : ”Mengejar jam di luar kelas gak itu pak?”

            G : ”Kalau sangat terpaksa nanti bisa ngambil jamnya yang lain. Biasanya jam yang bisa dipakai jam BK.Itupun kalau sudah sangat kepepet sekali karena banyak sekali acara.

            Seperti di kelas 10 kemarin itu dari semester awal itu sudah kehilangan 2x4, 2 jam kali 4 itu berapa?padahal cuma 2 jam per minggunya. Ada libur, ada 17an. MOS, nanti itu ada tes TPA. 2 x 4, 8jam.Ya itu biasanya dipercepat. Kadang-kadang dipercepat saja tidak mungkin, jadi minta waktu guru yang lainnya.

            ” P

            : ”Kalau misalkan dipercepat,mungkin ada konsep atau materi yang kita inginkan ternyata tidak tersampaikan,yang aka diulang di kelas 2. Nah pada saat kelas satu mungin bukan bapak yang mengajar,kemudian dikelas 2 bapak yang mengajar, siswa ini masih keketeran, cara mengatasinya bagaimana pak?

            G : ”Nggak,biasanya meskipun dipercepat kan ada dokumen tadi, catatan tadi. Mereka punya catetan, yang namanya catetan kan bisa dibuka lagi. Jadi dipercepat tidak waton diterangkan terus sudah selesai. Makanya dokumen ini,catetan yang pentingkan. P :”Jadi untuk pengalaman mengajar benar-benar murni disini ya pak?di luar belum?” G

            : ”Ho..oh..” P : ”Kemudian kalau pola mengajar yang bapak terapkan itu diperoleh dari mana?

            Ataukah..oh di kelas ini yang kurang ini, maka dikelas lain harus ditambah ini,tambal sulam begitu pak?” G : ”Untuk pola mengajar pertama kali kelas X dulu, saya masih awal mengajar dulu, itu terbawa oleh siapa guru yang kita favoritkan ketika di SD, atau SMP atau SMA, pertama kali saya mengajar pakai itu kok kayaknya berhasil, tapi dalam perkembangannya ya tidak selalu itu. Saya memperoleh dari MGMP, memperoleh dari pengalaman teman yang lain, yang lain saya peroleh dari membaca-baca buku. Tetapi yang utama ya pengalaman saya mengajar sendiri. Kalau kemarin pakai cara seperti ini susah, pakai cara lain.Masukan banyak,tapi mengalir dari diri saya sendiri, sehingga bisa dibedakan kalau Pak linus seperti ini, kalau Pak Ganjar seperti ini.Kemudian nanti terintegrasi ke diri sendiri.”

            P : ”Kalau mengenai pendekatan terhadap siswa itu sendiri, kan karena semua cewek, biasanya bagaimana untuk mengetahui perkembangan mereka dalam belajar fisika? ”

            G :”Itu, guru cowok terlalu dekat dengan cewek kan enggak ya..jadi ya pendekatannya hanya kalau di kelas saja. Di kelas saja kan kadang-kadang harus melihat anak, ini karena belum ya..biasanya nanti pada akhir semester catatan akan saya kumpulkan dan saya nilai. Saya tahu perkembangan anak ya itu dari catatan-catatan itu atau tiba-tiba suatu saat

            200

            catatan saya kumpulkan saya nilai Terus untuk yang pendekatan harian ya biasa saja kalau ada kesulitan tanya nggak sampai face to face, kecuali ada beberapa yang memang keinginan belajarnya tinggi, rasa ingin tahunya tinggi, biasanya bertanya langsung pada saya.”

            P :”Kemarin itu di video saya melihat, bapak meminta siswa untuk mengerjakan soal, maju, mengerjakan di depan. Apakah m etode itu sudah lama bapak terapkan?”

            G :”Metode itu saya terapkan sejak era terbit KTSP, nah untuk yang KTSP itu kan yang untuk materinya dikurang, tapi untuk kelas XI dan XII metode itu masih memungkinkan waktunya. Dan untuk model itu relatif lambat, jadi anak yang lain itu relatif mudah menangkap. Daripada saya menerangkan selesai, itu hanya berapa anak yang dong pada saat itu tapi kalau sambil ada yang maju terus kita memberi tahu itu lebih jelas. Itu pengalaman saya sendiri saya adopsi dari saya kuliah di S2 itu kan ada yang semester 1 ngulang, nggak lulus semester 1 terus ngulang semester 2 tapi modelnya begitu,anak satu per satu suruh maju, gurunya dibelakang sambil mengoreksi..misalnya..ya itu kalau begitu gimana..nah lalu itu anak yang lain kan memperhatikan, secara tidak langsung mereka menggantikan saya, meskipun mereka lebih lambat karena masih saya bimbing, masih ditanya-tanyai gak langsung dilepas mereka langsung dong, kalau langsung dong kan mereka bisa langsung cepet saja mengerjakan tapi kan masih ada yang bingung harus bagaimana. Nah dengan begitu menambah daya dong anak, meskipun waktunya agak lambat.”

            P : ”Kemudian dalam penyampaian bahan ajar, apakah selalu urut sesuai dengan silabus yang bapak susun atau sesuai kondisi waktu dan sebagainy a?”

            G :”Nek perencanaannya sesuai RPP tho? Tapi dalam waktunya itu yo tergantung dengan kondisi, tapi secara umum memang sudah ada patokannya mengajarkannya ini dulu baru itu, ya itu sudah ada. Nanti kadang-kadang ya itu sudah dipatok, ini.. ini ..ini..ternyata waktunya nggak selesai. Tapi secara umum sudah ada patokannya. Jadi ya itu RPP dan silabus itu. Dan itu biasanya juga nggak selalu sama dengan buku ya urutannya, yang jelas misalnya, yang bagus tu ini dulu, baru ini... ini..Kalau seperti yang gelombang stasioner itu kan berbeda, ada yang ngambil gelombang datang dari kiri, saya ngambilnya dari kanan trus balik ke kiri. Ya itu nyoba sendiri, persamaannya supaya cocok. Dulu pertama kali ya memang teks book. Kalau sebelah kanan kan x nya plus, lebih mudah. Merambat ke kiri kan min, eh merambat ke kiri plus ke kanan kan min. Nah dalam buku- buku kayaknya ke kanan semua.Lha saya nyoba sendiri itu.Untuk persamaan matematinya juga mereka mudah, pakai sin a+sin b jadi apa itu kan mudah ”

            P 1 : ”Kemudian sebelum mengajar, bapak selalu menyampaikan materi apa yang dipelajari pada hari itu, misalnya, hari ini kita akan belajar ini..apakah hal itu selalu bapak lakukan?”

            G :”Paling tidak dalam satu bab itu iya..kalau gak paling gak satu bagian yang akan kita ajarkan hari itu atau minggu itu. Misalnya hari ini kita akan belajar gelombang stasioner, kalau hari itu tidak selesai saya jelaskan, bahwa besok kita masih akan belajar tentang gelombang stasioner.Paling tidak kalau lupa pada awal bab sudah saya sampaikan.”

            P : ”Alasan khususnya mungkin, tujuannya khususnya itu apa?apakah agar siswa tahu bahwa hari itu kita akan belajar itu atau...”

            G :”Biar siswa punya gambaran yang apa..terintegrasi untuk materi yang akan kita pelajari, diharapkan nanti siswa juga punya tujuan yang sama terus anak juga bisa menyiapkan.

            Kadang-kadang kalau pelajaran tentang praktikum ada yang sms, besok materi praktikumnya apa? Jadi mereka memang, anak IPA jadi memang tidak perlu dikageti, mereka tanya ya tidak semua..Tapi ada beberapa yang tanya, karena mereka ingin mempelajari dulu.Atau mereka mengharap persiapan dulu kalau tiba-tiba kuis, itu mereka sudah bisa. Ada mereka yang sudah les dan mereka minta guru les menjelaskan lebih

            201

            dahulu. Jadi saya belum sampai dia sudah sampai. Begitu saya sampai dia sudah kedua, nah itu” P : ”Itu yang bener-bener minat sekali dengan fisika” G

            :”Iya, betul” P :

            ”Ya, untuk bapak sendiri..apakah awalnya sangat berminat pada fisika sehingga bapak menjadi guru fisika,atau bagaimana ini pak?” G

            :”Oh, tidak..saya itu yang namanya pelajaran fisika di SMP itu menjadi sesuatu hal yang sangat menakutkan ya..sangat menakutkan, sampai-sampai kalau mau pelajaran fisika itu cari-cari alasan gimana biar gak ikut. Sangat takut saya dengan fisika dulu itu, SMP. Nah SMA kelas 1,trus kelas 2 kan masih pakai jurusan A1, A2, A3. Yang A1 itu kan yang

            IPA, A2 yang biologi, A3 yang IPS. SMA dulu saya gak ada yang bahasa. Dulu namanya SMA ya nggleleng tho masuk A1. Ya saya masuk A1 saja. Tapi suka fisika itu ya masuk kelas 3 itu, liat guru itu kok ngajarnya enak, ulangan dapat bagus ya jadi seneng. Ya sejak kelas 3 itu baru seneng fisika”.

            P :”Karena gurunya ya pak?” G

            :”Iya, karena gurunya. Makanya saya tadi, pertama mengajar yang saya tiru ya guru yang paling disenangi, guru yang paling favorit, sampai saya ngambil jurusan fisika. Jadi bukan saya modalnya pitar fisika itu ndak. Tidak seperti yang olimpiade-olimpiade itu nggak. Saya justru berangkat dari sangat tidak suka fisika, akhirnya yo seperti ini.”

            P : ”Kalau praktikum itu di luar jam ini ya Pak, pelajaran?.” G

            :”Di luar jam pelajaran, di sore hari..tetapi nilainya masuk ke nilai pagi, nilai pelajaran.Ya, yang laporan itu kan masuk kognitif nanti digabung dengan nilai responsif. Terus yang ketika praktikum diamati satu per satu, nilai psikomotorik. Nah kan ada nilai kognitif, psikomotorik dan afektif..jadi ketiga hal itu harus ada.”

            P : ”Itu memang sudah diatur oleh sekolah?”

            G :”Sini punya kelebihan khusus bidang itu, mungkin kalau sekolah lain praktikumnya kalau gak ambil jam pagi ya sporadif saja. Nek sini terprogram setiap tahun. Jadi diawal tahun ya rapat..rapat mengenai pembagian penggunaan lab.kimia, fisika, biologi itu yang

            IPA kemudian ada pergantian koordinator, membuat LKS, terus nanti setiap kali ada. Ya kalau sini memang khusus, jadi kadang-kadang kalau ada kunjungan ya di kesinikan. Misal dari luar kota mau study banding kemana, biasanya kesini. Biasanya nanti pulang bawa LKS. LKSnya ya kita buat sendiri, menyadur dari beberapa sumber terus kita buat sendiri atau ya memang ada yang murni bikinan guru sendiri”. P : ”Oh iya ini, tadi berkaitan dengan LKS saya mau tanya, kemarin itu kan bapak menggunakan soal-soal yang sudah diketik kemudian dibagikan kepada siswa. Apakah selalu begitu, atau seringnya begitu, ya Pak?”

            G :”Yang..kan ada buku teksnya mereka nah dari buku teksnya mereka untuk awal-awal ini, saya merasa soal-soalnya ini belum..disamping mereka belum punya bukunya, soal- soalnya itu kurang. Nah saya ketik sendiri terus saya bagikan. Nanti kalau untuk materi yang soalnya sudah cukup komplit ya sudah dari buku saja. Tidak selalu tapi kalau melihat materinya itu kok soalnya kurang tidak sesuai dengan gambaran saya, saya mesti ngetik sendiri”

            P : ”Itu diambil dari buku lain atau mungkin bapak buat murni sendiri?”. G

            : ”Iya atau saya buat murni sendiri atau kadang-kadang dari dokumen UNAS itu. Buat latihan, paling nggak sudah kulino lah..Dan itu kalau tidak diketik, dicatet, mereka jadi sangat lama. Nyatet satu lembar saja berapa lama?Satu jam pelajaran saja belum tentu selesai mereka, nyatet sambil liat papan tulis..gini-gini...Jadi gurunya harus rela ngetik dulu”. P : ”Menurut bapak dengan metode demonstrasi itu yang kemarin itu sangat menarik ya pak? Apakah mereka memang lebih dong kalau disampaikan dengan demonstrasi?”

            202

            G :”Ya, mereka kan di demonstrasi kan tahu..o yang sebenarnya itu seperti itu. Jadi demonstrasi itu kan hanya sebagian kecil dari sistem pengajaran. Kalau yang bagus memang demonstrasi itu dilakukan anak per kelompok atau sendiri-sendiri. Jadi mereka tahu, tapi untuk kasus kita kan sangat tidak mungkin itu ya, untuk setiap demonstrasi, anak melakukan sendiri satu per satu. Tapi mereka jadi tahu bener, yang namanya getaran searah dengan atau sejajar dengan apa..kalau yang transversal itu kan arah rambatnya tegak lurus, tegak lurus seperti apa...kalau searah seperti apa. Itu jadi malah mereka tidak hanya teori atau hanya membaca buku saja,membayangkan itu nggak. Demonstrasi kalau tiap hari sebenarnya sangat bagus”

            P : ”Kalau tidak salah bapak wali kelas dari kelas yang saya teliti kemarin, bapak sudah cukup mengenal siswa- siwa..sudah cukup hafal.”

            G :”Kemarin itu kan baru awal ya, belum begitu mengenal baru sekitar ¾ nya saja, kan ada sebagian yang kelas 1 nya saya ajar, jadi saya hafal betul. Untuk menghafalkan satu per satu itu sangat susah. Menghafalkannya biasanya saya suruh maju satu per satu. Saya langsung hafal, nah ini misalnya raden roro maju..mereka mengerjakan.Terus besoknya saya hafal. Tapi kalua menghafalkan orangnya, ini..ini..lupa. Jadi kemarin itu belum semua hafal”.

            P : ”Jadi maju itu juga salah satu cara untuk menghafalkan siswa ya Pak?”

            G :”Iya, betul”. P : ”Ada satu bagian dimana bapak itu mengulang penjelasan. Jadi, bapak sudah menjelaskan kemudian belum ada siswa yang bertanya tapi bapak sudah langsung mengulang penjelasan. Apakah memang bapak merasa siswa masih kesulitan atau bagaimana Pak?”

            G :”Maksudnya biar mereka benar-benar paham betul dan kan tidak semua yang saya ulang, agak ditekankan pada bagian-bagian tertentu. Kadang-kadang yang ada hubungan dengan yang lain itu yang saya tekankan betul-betul . Kalau yang biasa nggak saya ulang, atau yang saya ulang itu yang materi kemarin yang berhubungan dengan hari itu sehingga pola berpikir mereka itu biar bisa terintegrasi. Seperti kalau nek setelah ini kan mengajar kisi

             

            difraksi celah tunggal, celah ganda nah itu kan hampir semua pakai d sin n . Tapi dicermati d sin  n  untuk celah ganda teranga tatu gelap, kisi terang atau gelap, celah tunggal terang atau gelap. Semua kan d sin  kan harus mengulang terus, menekankan terus. Jadi bener-bener mereka harus bisa membedakan . Oh..meskipun pakai persamaan d sin  untuk yang ini gelap, untuk yang ini terang.”

            P : ”Jadi sebelumnya bapak memang sudah mengetahui tingkat kesulitan siswa memang dititik itu ya pak?”

            G :”Bukan, saya..dari saya membaca itu maka dari sekian itu alur yang harus saya tekankan ya disitu itu, letaknya di situ itu jadi bukan, mungkin anak juga yang pinter sudah tahu tapi kalu saya tekankan lagi,itu mereka lebih dong. Jadi bukan selalu itu kesulitan anak.

            Tapi alur pola berpikirnya memang disitu itu. Maka sering saya tekankan, saya ulang- ulang berkali-kali. Kalau mereka sudah bosan dengan persamaan kan berarti dia sudah dong. Setiap kali mengerjakan soal ketemu persamaan ini lagi,ngerjakan soal ketemu persamaan ini lagi, bosan..berarti mereka sudah paham betul. Supaya bosan kan harus diulang-ulang. Kalau hanya sekali saya yakin itu belum. P : ”Untuk mengetahui apakah siswa yang bapak ajar sudah memahami materi yang bapak ajar i tu bagaimana?secara keseluruhan?”

            G :”Secara keseluruhan itu dari ulangan, kalo kelas..jadi beda ya perlakuannya, kalau kelas X ,XI hampir semuanya essay karena saya bisa tahu polanya mereka, ya pola mengerjakannya, mereka sudah dong atau belum, kita tahu. Tetapi kalau kelas 3 itu karena, ya sekali lagi karena mau ke UNAS, saya menggunakan pilihan ganda tetapi pakai cara mereka, pakai cara sehingga tahu sampai mana mereka tingkat kedongannya.

            203

            Di situ itu yang paling gampang, jelas essay semua pola pikirnya akan kelihatan. Wo ini sama sekali gak dong, yang diketahui dan ditanyakan nggak nyambung sama sekali, ya berarti nggak dong. Tapi ada yang rintik-rintik, nah dari situ. Kalau tidak menggunakan ya tidak tahu. Kalau hanya..seperti ngajar di kelas, ni apa nanti ada yang ngomong, itu tidak mewakili kelas, hanya orang-orang tertentu yang memang aktif supaya kelas ini hidup. P :

            ”Kemudian cara bapak mengaktifkan siswa yang tidak aktif tadi itu, disuruh maju atau bagaimana?” G :”Ya banyak cara, kalau kita sering memeriksa catatan kan tahu, anak yang aktif atau tidak.Terus kalau yang tidak aktif sama sekali ya kadang disuruh maju. Itu yang biasa saya lakukan gitu. Kalau mereka sangat tidak aktif karena hal lain. Itu BK yang menagani. Ternyata mereka ada masalah yang lain kan itu jadi mempengaruhi yang lain. Saya sudah angkat tangan masalah itu kecuali saya wali kelasnya, saya akan contact ke hp nya.

            Wawancara Sesi II 16 September 2009 P :

            ”Begini pak, untuk yang kemarin itu kan yang materi belum sempat saya tanyakan, untuk materi gelombang stasioner kemarin kan bapak memilih metode demonstrasi ya pak? Alasannya?alasan memilih metode demonstrasi?”

            G :”E..gelombang stasioner itu..kalau tidak di demonstrasikan, mereka tidak bisa membayangkan. Kalau gelombang berjalan masih memungkinkan seperti slinki atau air, itu gampang ya..Tapi nek simpul perut kan susah. Simpul perut kan harus ditunjukkan.

            Lha itu..demonstrasinya memang begitu. Kalau lebih baik metode praktikum, tapi waktunya terlalu panjang tho? Praktikum berarti tiap kelompok ada satu, anak

          • –anak suruh mengukur bisa jarak simpul-perut, bisa panjang gelombang, bisa nanti panjangnya diubah-ubah atau frekuensinya diubah- ubah.”

            P : ”Tetapi untuk materi yang gelombang bunyi itu tidak didemonstrasikan?” G :”Ndak dipraktikumkan, nggak di demonstrasikan. Sebenarnya kemarin setiap kali saya ngajar itu pakai alat” P : ”Kemudian ini pak, kemarin saat bapak menjelaskan materi, ketika ada yang ingin bapak tanyakan, bapak cenderung langsung melemparkan ke seluruh kelas ya pak?tidak ditunjuk?”

            G :”Karena ini anak IPA. mereka kadang-kadang sudah punya..apa..gambaran tersendiri maka saya tujukan ke umum. Nah di samping itu untuk umum paling ndak kan bisa mengetahui tingkat afektifnya mereka untuk menilai, meskipun dalam hati nanti ditransfer ke..untuk anak ini untuk afektif di kelasnya, keseriusan belajar atau perhatiannya nilainya bagus. Untuk yang ditunjuk satu per satu itu sebenarnya kalau maju mengerjakan soal, nanti ada penilaian tersendiri., termasuk tagihan lisan”

            P : ”Nah, dalam memilih siswa apakah ada alasan tertentu mungkin? Saya sering melihat K itin itu sering sekali maju ya pak?”

            G :”Itu hanya sebagai trik kelas saja supaya kelihatan agak hidup tapi dia memang juga aktif dan agak lumayan. Dan dia memang lebih aktif dibanding yang lain. Kalau ada pertanyaan mesti jawab. Kadang-kadang meskipun salah tetap jawab, jadi agar susana juga tidak ter lalu tegang.”

            P : ”Pak, apakah kalau menjelaskan dengan gambar itu ada kesulitan tertentu pak? Kan harus detail” G :”Kesulitan menggambar ke anaknya sebenarnya yang sulit . Kalau kita harus belajar dulu, terus nyoba dulu. Gambar-gambar juga harus yang komunikatif jadi anak kalau melihat gambar menjadi jelas bukan malah menjadi tidak jelas. Seperti yang sangat sulit kan menggambar pembiasan pada tempat yang dalam atau dangkal itu, nah itu kan cukup

            204

            susah itu. Nah itu perlu latihan juga. Tapi kalau tidak digambar mereka tidak punya dokumen itu. Harapan kita, kita mencatat itu kan punya dokumen, sehingga kalau di rumah atau dimana, biar dipelajari atau diulang lagi..Prinsipnya itu ya.. P :

            ”Oh ya pak kemarin kesulitan yang bapak hadapi saat mengajar?” G :

            ”Kesulitan tentang fisika ya?atau secara umum? P : ”Secara umum, mengajar?” G

            :”Untuk yang anak sekarang itu mungkin untuk kesulitan motivasi mereka, untuk blajar keras, untuk mendapat nilai yang bagus itu menurut saya tidak seperti jaman kita dulu. Terutama untuk mereka yang semuanya sudah kelimpahan ya tv ada, handphone ada,apa- apa ada.Motivasinya itu tidak seoptimal kita dulu.Kita kan kalau dulu belajar yang giat biar berhasil, jadi ini, jadi itu . Mereka itu disitu letaknya, jadi mereka tidak lalu berusaha sekali untuk menjadi lebih baik, optimal tu ndak. Tapi mereka juga terus tidak sama sekali. Sebenarnya nek mereka itu motivasinya sangat tinggi, nilai yang lebih tinggi lebih baik pasti bisa dicapai. Motivasi masih agak kurang ya.Kalau dari gender atau homogen cewek atau cowok ya..saya tidak pernah membandingkan dengan yang cowok cewek ya jadi ndak tahu yang cowok dan cewek, kalau yang cewek tu ya sebenarnya sudah tidak masalah, karena tiap hari ketemu dan apa istilahnya sudah biasa. Jadi tidak ada kesulitan yang berarti.Kesulitannya justru dimotivasi mereka itu.”

            P : ”Lalu langkah-langkah bapak untuk mengatasi?mungkin melakukan apa untuk mengatasi hal tersebut?”

            G :”Banyak,saya harus selalu bilang semangat-semangat, mari semangat. Biar mereka juga disadarkan. Apalagi kelas XII sudah mau ujian Nasional. Itupun mereka tidak begitu...ah..masih lama begitu lho. Kalau kita tidak tiap kali menyadarkan nanti mereka susah. Kalau dari sekolah ada retreat itu juga menyadarkan. Wali kelas juga mendampingi sehingga tahu betul , jadi semakin memotivasi mereka untuk belajar bukan sekedar lulus tetapi mendapat nilai yang lebih baik lagi. Terus nanti di kelas XII juga ada bimbingan sore itu juga mengatasi kesulitan itu.”

            P : ”Kalau retreat gitu, apakah salah satu cara mengenali karakter juga pak?” G :”Iya, kan karena dilatih nanti cara bekerja sama, cara dalam kelompok membantu dengan yang lain, terus nanti problem dengan orang tua, problem dengan teman itu nanti juga dibahas. Sehingga diharapkan setelah bekal itu mereka jadi putih. Jadi dari segi keimanan,atau agama itu”.

            P : ”Sudah menjadi program dari sekolah ya pak?”

            G :”Iya program.” P : ”Kemudian untuk beberapa hal itu, ketika ada siswa yang bertanya, bapak langsung menjawab pada siswa yang bersangkutan, berarti itu alasannya apa pak?kalau misalnya saya tanya, langsung dijawab ke saya tidak dibawa ke depan. Itu alasannya apa? .”

            G : ”Kalau yang kadang-kadang langsung ke anak itu karena mungkin merasa bahwa itu problem dia. Terus yang kedua masalah waktu juga.Masalah waktu, mereka segera ingin tahu. Kan kadang-kadang harus ada pertanyaan yang sifatnya umum kadang-kadang ada yang kasuitif. Kalau yang kasuitif langsung ke anaknya saja. Nah misalnya ini, menyangkut umum..harus saya jelaskan ke semua.”

            P : ”Oh..Berarti harus dipilah-pilah ya pak?” G

            :”Iya...kita yang..spontan pertanyaan itu ya..langsung. Kadang-kadang juga saking banyaknya pertanyaan harus segera dijawab juga. Kadang-kadang kan dalam setiap pertemuan kan banyak pertanyaan, nah itu harus segera dijawab juga tidak harus melemparkan lagi menanggapi lagi,juga masalah waktu juga. Tapi sebenarnya kita lihat pertanyaannya kalau itu menyangkut umum, misalny seperti saat menerangkan nah itu..ke anak. Atau kadang-kadang langsung dijawab, tapi kalau yang khusus seperti soal- soal itu memang harus dijelaskan khusus atau kelompoknya saja. Biasanya gitu.” :”Karena sudah di IPA jadi sudah kebutuhan secara personal.”

            205

            P : ”Satu hal lagi pak, kemarin itu saat menyampaikan materi gelombang stasioner bapak menggunakan demonstrasi dulu, baru kemudian dibawa ke materi.Tidak materi dulu baru demonstrasi, itu yang melatarbelakangi apa pak?”

            G : ”Itu sebenarnya hanya teknis saja.Jadi kalu untuk demonstrasi, demonstrasi kan untuk kasus itu kan anak sudah melihat. Sudah melihat langsung bisa diterapkan ke teorinya.

            Bayangkan kalau itu hanya teori dulu kan anak akan bertanya-tanya..apa ini...Apalagi itu matematis banget kan stasioner itu. Nah maka demonstrasi dulu baru di jelaskan ke itu, itu alasannya. Sebenarnya ya bisa antara teori dulu kemudian dengan demonstrasi. Tapi saya milih yang demonstrasi dulu karena terlalu matematis sekali ya. Kalau matematis sekali kan ..apa ini..Pertimbangannya itu”

            P : ”Jadi kesulitan materi tersebut, bagaimana pak?” G

            :”Kesulitan yang bagaimana?” P :

            ”Siswa untuk memahami materi itu pak?” P : ”Kesulitan dari materi tersebut, kalau menurut bapak, bagian yang mana?” G : ”Kalau kita lihat ulangannya kemarin..yang IPA 4 tuntas semua, yang IPA 3 itu ada 7 kalau nggak salah yang nggak tuntas. Itu kebanyakan salahnya mereka di itu..letak simpul dan perut. Mereka kan letak simpul dan perut itu kan ada rumusnya ya..tapi kan dari pada susah ngapal rumus kan nggambar...Mereka bingung antara membedakan antara x dan yang bukan x. Kan sini ada penggetar terus sini bidang pantul atau ujung pemantul, terus mbalik. Nah..mereka itu lupa x itu yang mana. Kan harus jelas dulu antara titik getaran, misalnya ditanyakan simpul ke 10 terhadap titik asal getaran. mereka langsung pakai x, padahal x itu kan titik terhadap ujung pemantul. Nah yang banyak salah disitu...Tapi kalau persamaan gelombang, terus memasukkan nggak begitu masalah..Asal nanti ketemu sin atau cos nya tidak tidak terlalu besar.Kalau mereka sudah ketemu cos 300 berapa itu juga masalah. Kalau ketemu cos dibawah 360, mereka masih lancar. Tapi kalau sudah diatas itu kan mereka harus mikir ini sudah n kali berapa, sisanya berapa, itu sudah banyak kesalahan. Itu kalau menghafal rumus mereka nggak masalah. Terus mencari panjang gelombang, nggak masalah karena gelombang berjalan kan sudah..tinggal ketemu A ya itu, ketemu ya itu nggak masalah banget. Nah ketika

            

            sampai ke simpul perut itu mereka banyak yang salah. Karena mereka tidak paham betul, mana x mana bukan x ya. Padahal kan saya sudh membuat gelomabng itu dari kanan merambat ke kiri denagn harapan x itu selalu positif .Jadi pada jarak x samadengan kan positif, wong nol nya disini, gelomabang merambat kekanan kan x nya disini. Kalau merambat ke kanan kan ujung pantulnya x nya sini lho kok ga negatif? Itu kan lebih susah Jadi saya membayangkannya begitu. Dibuku juga jarang yang menggunakan kebalikkannya kayaknya, banyak yang ke kanan semua. Kalau kanan semua..ini ujung pemantul..x nya kan berarti kekiri lah kok gak

          • –x ? Saya dari sini..sini ujung pemantul nah titiknya disini, itu namanya x. Karena x terhadap ujung pemantul. Saya tanyakan juga pada ujung getaran. Ujung getaran berati mestinya panjang tali dikurangi x nya, nyari x nya dulu..ndak mereka kadang-kadang x langsung dianggep itunya. Banyak yang salah disitu.

            P : ”Tapi untuk hasil ulangan keseluruhan..rata ya pak?atau ada yang rata-ratanya 80, 70 tapi ada yang bawah sekali..misalnya dapat 3, rentangnya...untuk hasil..?” G :

            ”Saya ambil nilainya dulu...3IPA 3 ya mbak...” G :”Nah ini, yang pertama 12 IPA 3 tho..yang nggak tuntas ada 4 orang.” P : ”Dan nilainya pun tidak ada yang 3 itu ya.. G :”Iya nggak sampai, jadi paling rendah itu 50..Nah itu kebanyakan mereka itu disimpul perut itu. Karena simpul perut itu kan bagian tertentu dari soal sehingga mengurangi.

            Bahkan tidak ada yang sampai 100 tho...oh..ada yang 100. Wo..ini soale susulan dia.Susulan kan mungkin persiapannya beda. P : ”Ini untuk kuis yang kemarin itu ya pak?”

            206

            G :”Iya...kalau mereka memperhatikan, mereka bisa,tapi hanya sedikit yang betul-betul paham pada saat itu. Sekitar hanya 30% saja selain itu yo iso-isonan. Karena ini nilainya tidak...salah semua sudah saya nilai sekitar 50an. Jadi tidak membunuh..gitu ya.. Tidak seperti ulangan kalau salah semua ya..sudah jelek. Kuis itu salah satu point saja bisa 90.

            Salah satu 90, salah 2, 80, dan sebagainya. Tapi kalau salah semua..kalau nggak salah malah tuntas ini..67. Nggak ada yang dibawah itu tho..nah penilaiannya seperti itu. Jadi tidak membunuh anak, karena mereka juga sudah mempelaja ri. ”

            P : ”Nah untuk ini..setiap siswa kan mempunyai karakter yang berbeda, ada yang senang gurunya mengajar dengan bercerita, mungkin ada yang dengan demonstrasi. Jadi kan setiap siswa kan berbeda-beda gaya belajarnya. Untuk mengatasi hal tersebut?atau untuk mengatahui hal tersebut, bapak melakukan apa pak?”

            G :”Kalau...dalam proses belajar mengajar itu sebenarnya yang berperan itu guru. Nah siswa itu menyesuaikan sebenarnya. Jadi sangat susah kalau guru menyesuaikan karakter siswa apalagi individu. Nah..supaya mengatasi tidak ada kebosan dan sebagainya ya itu..variasi itu tadi..Ada yang demonstrasi..ada yang praktikum..ada yang 2 jam full teori itu juga ada”

            P : ”Jadi dibikin umum” G

            :”Apanya...?” P :

            ”Metodenya..” G : ”Iya..nggak bisa saya mengikuti satu per satu…susah. Tapi sebenarnya ada metode demonstrasi itu secara umum mereka senang. Senang melihat apalagi kalau bias mencoba, lebih senang lagi mereka . Kalau mungkin seperti yang stasioner itu mereka mencoba kan ya hanya melihat, terus mengubah-ubah massanya dan sebagainya. Tapi kalau misalnya bunyi, mereka bisa nyoba.”

            P : ”Jadi untuk mengatasi variasi siswa, bapak juga memberikan variasi juga, tetapi tidak bisa mengikuti satu per satu ya pak”

            G :”Susah ya..karena mereka banyak..saya hanya satu..mereka sekitar 33..”

            P : ”33 ya pak?” G :”Iya, yang satunya 32.Saya IPA 3 dan 4, 1 dan 2 Pak Ganjar.Tapi dua kelas full materi, kalau dulu kan dibagi ”

            Wawancara Sesi 3 (25 November 2009) P : ”Pada saat pertemuan pertama, bapak kan lebih pada pembahasan soal, nah pada pembahasan soal itu kan bapak meminta siswa untuk maju ke depan, saat itu juga bapak membimbing, dari awal siswa itu mengerjakan hingga selesai. Yang saya ingin tanyakan maksud dan tujuannya apa pak?”

            G :”Untuk yang pertama kali memang dalam fisika itu kan tidak selalu begitu mereka diberi teori kan langsung jelas begitu perlu diberi contohnya dulu dan kalo tidak gurunya yang mengerjakan ya siswa yang mengerjakan tapi dibimbing oleh guru ya. Karena itu untuk pertama kali, pertama kali memang harus seperti itu.

            P : ”Tapi di pembelajaran berikutnya,setiap ada latihan soal, bapak memang selalu membimbing. Nah ini kenapa yang ingin saya tanyakan kenapa siswa tidak dibiarkan mengerjakan sendiri baru nanti bapak membahasnya setelah siswa itu selesai dan membahasnya bersama-sama. Jadi bapak melakukan ..membahasnya itu pada saat siswa mengerjakan saat itu juga. Jadi begitu siswa selesai ya selesai..begitu pak.”

            G :”O..itu maksudnya bareng-bareng gitu?

            P : ”Iya..” G :”Itu maksud saya supaya anak dapat melihat kalo guru mengerjakan nanti kalo mereka mau ulangan mereka diberi waktu sendiri dirumah. Kalo model yang mas inginkan itu waktunya akan menjadi sangat lama. Karena siswa dibiarkan mengerjakan sendiri belum

            207

            tentu bisa terus guru berkeliling itu waktunya jadi sangat lama sekali jadi kadang-kadang yang mengerjakan gurunya kadang-kadang anak tapi atas bimbingan guru ya...Maksud saya memang terbentur waktu..yang jelas itu alasan utamanya kalo yang pertama kali memang harus diberi contoh dulu untuk soal itu. Biasanya mereka karena gradenya terlalu tinggi ada yang nuwun sewu agak rendah dan menengah, meskipun di stece 1 kemampuannya heterogen.Jadi tidak bisa melepaskan begitu saja. Meskipun mungkin untuk soal-soal yang sangat mudah. Lha nanti kalo sudah akhir semester itu mereka diberi soal terus biasanya mereka coba sendiri. Bab-bab tertentu, sub bab sub bab dalam pembelajaran itu, menurut saya harus menggunakan itu. Jadi tidak dibiarkan sendiri. Idealnya memang harusnya begitu tapi mengingat waktu apa lagi kelas tiga itu yang berkali-kali saya katakan. P :

            ”Lalu kemudian ada permasalahan nggak dengan mungkin dengan siswa lain pak?Kan misalnya ada salah seorang siswa yang maju ke depan kemudian mengerjakan, bapak membimbing otomatis konsentrasi bapak akan terfokus pada siswa yang mengerjakan di depan. Siswa yang lain apakah bisa dikendalikan atau cenderung ribut sendiri atau bagaimana?Memang saya lihat ada yang memperhatikan ada yang tidak. Untuk mengatasi misalnya suatu saat misalnya suatu kondisi dimana siswa ribut tetapi bapak harus mengkonsentrasikan diri pada siswa yang didepan. Itu cara mengelola kelasnya bagaimana

            ?” G :”E...anak cenderung..e..kalo pelajaran saya begini biasany mereka tidak terlalu..spaneng gitu ya...ya memang saya mengerti bahwa fisika itu sungguh-sungguh sulit maka mengerjakannya juga jangan secara spaneng. Nah kalo tidak spaneng, kecenderungan ribut itu sangat besar.Nah harus berkali-kali saya mengingatkan itu untuk mereka ..karena seperti mbak katakan betul bahwa itu saya memfokuskan ke situ tapi yang lain bisa memperhatikan bener ya... Nah itu setiap kali harus mengingatkan itu. Apalagi untuk kelas tiga itu sudah sungguh-sungguh mengingatkan kalo ingat ujian nasional sudah sangat dekat. Nah biasanya mereka..e apa dengan sendirinya sadar..tapi saya yakin tidak semua..masih ada beberapa yang tidak memperhatikan. Kalo ributnya masih bisa ditekan tapi untuk fokus kesana saya nggak begitu bisa tahu persis. Karena meskipun memperhatikan kan bisa saja ngalamun dan sebagainya..Nah itu makanya, tapi kondisi kelas menurut saya e...sudah tidak terlalu sunyi senyap. Yang saya harapkan memang nggak sunyi senyap tu karena kalo sunyi senyap kan kesannya seperti hantu..gurunya hantu matapelajarannya hantu..yo tho..lha itu..Jadi dibuat supaya memang..itu saya menyadari bahwa fisika itu memang sangat sulit. Apalagi mereka cewek-cewek, kalo belum mulai saja saya sudah pasang muka masam ya...apa yang akan terjadi kan....itu ”.

            P : ”Lalu kemarin kan bapak menggunakan metode demonstrasi...” G :”Ya..betul..

            P : ”Kalo tidak salah sebanyak dua kali...”

            G :”Ya... P : ”Nah ini yang menjadi pertimbangan bapak pada saat demonstrasi kan ada yang harus dilakukan oleh guru sendiri dan kalo misalkan memungkinkan denagn murid.Tapi dari 2 kali demonstrasi tersebut bapak cenderung melakukan sendiri tidak melibatkan siswa secara langsung. Baik memegang alat atau sekedar membantu. Disini yang menjadi pertimbangan bapak..?”

            G :”Pertimbangannya yang pertama masalah praktis saja. Karena itu menyusunnya kan agak susah juga tho?Gelombang stasioner kan juga amat susah tho ..mencari sesuatu yang..kan tidak selalu muncul itu gelombangnya..Saya kan persiapan dulu sehingga harus pas begitu. Itu tidak mungkin dilakukan oleh anak. Terus untuk gelombang..apa yang gejala-gejala gelombang itu susah kalo anak yang melakukan karena untuk melihat..paling diminta bantuan untuk mengecopkan stop kontak atau menyalakan lampu saja itu masih bisa. Tapi kalo untuk kasus seperti itu tidak akan mungkin. Dan lagi juga

            208

            mereka untuk bekerja sendiri itu nanti ada wadahnya tersendiri..praktikum..makanya itu. Jadi demonstrai itu memang dibuat secepat mungkin, supaya waktu tadi..supaya tidak terlalu lama. Kalo anak ikut terlibat menurut saya itu terlalu lama..Dan wadah untuk mengembangkan kraetivitas itu pada prak tikum udah ada. Pertimbangannya itu.”

            P : ”Dengan hal yang sama pak?”

            G :”Tidak selalu..Jadi maksudnya supaya anak terlibat itu ada wadahnya sendiri itu dipraktikum. Maka untuk pembelajaran dikelas itu biasanya yang mendemonstrasikan adalah gurunya. Kecuali tidak bisa gurunya sendiri seperti slinki itu kan harus ada dua orang, itu kan juga tidak sulit.”

            P : ”Untuk praktikum ada petunjuknya ya pak untuk setiap kasusnya..?”

            G :”Setiap....pratikum kelas tiga itu kalo nggak salah itu ada tiga tambah satu, tiga di semester satu dan 1 disemester dua. Kelas tiga itu da empat kelas tho..satu bulan satu judul.” P : ”Satu bulan satu judul?”.

            G :”Iya..karena sekarang kisi difraksi, IPA 1 minggu depan IPA 2, minggu depannya IPA 3, minggu depannya lagi IPA 4. Sebulan. Soalnya mereka tidak hanya praktikum fisika saja.

            Sekarang fisika, minngu depan biologi, minngu depan kimia, minggu depan libur. Karena empat kelas. Kalo yang kelas sebelas kan ada tiga kelas jadi pas..nggak usah nunggu.” P

            :”Satu lagi pak, jadi kan kemarin setelah bapak melakukan demonstrasi yang kedua kalo nggak salah, tentang gelombang stasioner ya ya. Jadi bapak menunjukkan gelombang itu terus bapak meminta dua siswa kalo nggak salah itu si Marla namanya sama Kitin. Nah disitu kan setelah bapak melakukan demostrasi, siswa suruh melihat, bapak menunjuk dua orang tersebut untuk maju ke depan menggambar sesuai dengan apa yang mereka lihat.Tujuan bapak memanggil mereka berdua ke depan, memilih siswa itu ..pertimbangannya?

            G :”Kalo Kitin itu...termasuk apa..siswi yang apa itu...trengginas menurut saya... Meskipun kemampuannya tidak terlalu..Mereka berusaha menjawab apa yang ditanyakan oleh guru.

            Yang si Kitin itu. Kalo Marla itu terlalu agak pendiam. Jadi saya coba..meskipun si Marla itu pernah jadi sekretaris tapi karena dia pendiam terus si Marla itu kemampuannya agak jauh dibawah Kitin. Jadi saya padukan dua-duanya. Meskipun saya juga hanya menggambil secara acak saja. Tapi yang apa.. tujuan saya sebenarnya itu ya...Marla itu agak malu..kalo yang Kiti itu memang agak biasanya dia aktif,cerewet dan jawabannya juga sering betul juga dia, si Kitin itu. Pertimbangannya itu., pendiam tho Marla itu. Kecil terus orangnya kan agak kecil itu kurus.”

            P : ”Itu kan termasuk salah satu cara bapak untuk mengaktifkan siswa, jadi mereka suruh maju ke depan. Terus ada yang bertanya secara spontan, bapak mengecek..berkeliling.

            Terus cara lain bapak untuk mengaktifkan siswa pada saat pembelajaran,bagaimana?” G

            :”Selain itu untuk kelas tiga...agak jarang untuk yang mengaktifkan sampai aktif sekali itu. Ya karena masalah itu tadi...pertimbangan waktu. Pikir kami itu, materi itu selesai secepat mungkin. Jadi untuk inovasi-inovasi yang untuk mengaktifkan anak sampai mendetail itu nggak saya lakukan memang. P :

            ”Karena sudah kelas tiga ya pak..?” G :”Iya..itu pertimbangannya.Kelas tiga itu lagi-lagi memang waktu.apalagi ini maju satu bulan kan cukup...itu..Dulu belum tahu tapi memang mau-tidak mau agak cepat. Jadi untuk mengaktifkan anak ya itu...tidak terlalu spesifik sekali lah....Paling nggak maju itu sudah termasuk mengaktifkan menurut saya.Apalagi maju pun itu tidak bisa satu per satu tho itu...Tidak seperti kelas sebelas. Kalo kelas sebelas masih maju satu per satu bergiliran atau ditunjuk berurutan. Sehinnga guru tahu betul yang dikerjakan anak. Kelas dua belas nggak akan mungkin. P :

            ”Mengejar waktu ya...” G :”Iya....”

            209

            P : ”Tadi kan bapak juga keliling, yang saya lihat itu apa hanya mengecek ...dalam hal ini bapak mengecek catatan siswa atau mengecek siswa itu bener-bener terlibat atau gimana pak?”

            G :”Dua-duanya...jadi saya lihat catatannya juga, karena catatan juga masuk ke perhitungan ke nilai akhir. Terus juga melihat anak itu mencata atau tidak...Karena dalam satu kelas itu meskipun pura-pura mencatat ada juga yang tidak mencatat. Nah saya istilahnya saya keliling itu bukan terus ingin mengecek satu per satu tidak mungkin. Hanya istilahnya ngaruhke...bagian sana kok tidak pernah didatangi...bagian sana...Untuk penguasaan kelas kan mestinya seluruh bagian sebisa mungkin itu di capai ya...Meskipun tidak lalu mengamati seperti orang bimbingan atau privat kan nggak mungkin.”

            P : ”Lalu kalo bapak menemukan ternyata siswa tidak mencatat, apa yang bapak lakukan terhadap siswa tersebut.” G

            :”Ditanya...kenapa tidak mencatat?Mereka biasanya pertama tidak membawa catetan, biasa yang utama itu. Nah mestinya kan dicatat di kertas kan bisa. Terus kalo mereka,kadang-kadang juga belajar yang lain. Masih mungkin itu, nah mereka dengan sendirinya mengakui kesalahan, kemudian mengeluarkan catatan. Nah itu kalo tidak dikelilingi, meskipun sekilas mereka tenang-tenang saja. Karena 35an siswi jadi...mata kita hanya dua. Konsentrasi ke papan tulis, ke siswa.

            Lha itu...” P :

            ”Kemarin itu kan bapak, setelah demonstrai kan masuk ke kelas, setelah dua kali di lab terus dikelas masuk ke teori. Nah disitu kan bapak sedikit mengulang. Nah untuk mengulang tersebut, saya melihat bapak, mengulangnya itu, dengan sedikit tanya jawab dengan siswa dan mencatatnya di papan tulis.Terus hal lain yang mungkin bapak lakukan untuk mengulang, jadi untuk mengetahui apakah siswa itu tahu kemarin apa yang dipelajari itu, bertanya secara langsung atau cenderung seperti tadi mencatat di papan tulis? ”. G :”Saya kalo mengulang sekedar mengingatkan saja, mengingatkan bahwa kemarin kita sudah ini...maka selanjutnya ini...Saya belum masuk ke anak itu paham betul atau tidak.

            Karena anak biasanya juga tidak akan lalu memahami secara khusus sebelum mereka ulangan. Sebenernya pemahaman yang utama itu kalo ulangan mereka jadi tahu ini nggak bisanya dimana? Kalo awalnya itu mengulang saya sekedar mengingatkan yang kemarin...ini. Itupun mungkin hanya beberapa yang menjawab karena seperti saya katakan dalam pembelajaran di kelas paling banter kan hanya 30% saja yang bener-bener tahu dan dong. Lha yang lain apa?. Yang lain ya cuma mencatat, mendengarkan pernyataan. Ketika mereka belajar lagi, di rumah, mereka...oh kemarin yang dikatakan pak Linus..ini...Mereka baru..oh menyadari ....Sementara ketika diajari mereka nggak...ya pokoknya mencatat dan melihat misalkan ada yang tertawa ya tertawa...Ya sekitar 30%yang bener-bener dong saya kira sekitar 30 % itu, itupun menurut saya nggak sampe. Jadi lebih ke mengulang ya...Nah kemarin kita sudah ini, kan nyambung logikanya. Nah kemarin dengan yang sekarang tidak terus terputus. Meskipun, mengulangnya bisa nulis, maksud saya mereka melihat dengan mata dan mendengar dengan ucapan saya. Tapi kadang- kadang sok lah mereka tidak bisa membayangkan tho...”

            P : ”Gini..kemarin kan waktu diakhir, setelah pembelajaran tanggal 25, 25 itu kan teori itu terus besoknya mau ada ujian. Disitu bapak memberikan tugas, yaitu untuk sifat gelombang yang interferensi. Alasan bapak memberikan tugas kenapa interferensi dijadikan sebagai tugas atau paper. Mereka mencari informasi sendiri mengenai interferensi itu gimana?”

            G :”Interferensi itukan gejala-gejala gelombang yang baru disinggung saja. Interferensi nanti masuk pada interferensi gelombang cahaya pada bab berikutnya, mereka akan masuk pada perhitungan dan sebagainya. Nah maksud saya, interferensi untuk gejala gelombang itu mereka kalo membuat itu pikiran saya ya kan sebenarnya mereka membaca, kalo membaca paling tidak sedikit-sedikit mengerti, kalo mengerti banyak ya

            210

            oke lah....sebenarnya mereka sebagai prolog untuk masuk ke interferensi. Mereka kan hanya mendengar interfernsi itu apa tho?Ya..setelah mereka masuk ke internet ya ternyata mereka dalam tugasnya itu yang dikumpulkan itu bisa macem-macem. Ada yang interferensi bunyiada yang interferensi gelombang sinus yang amplitudonya beda tapi fasenya sama yang menjadi dua kalinya itu, ada yang..lain. Itu..pikir saya mereka sudah punya bekal untuk masuk ke materi berikutnya. Itu memang disitu disinggung untuk daripada saya menngambarkan, lebih baik mereka kasih tugas dulu. Toh itu materi yang teorinya masih dipelajari setelah itu, nanati yang gelomabang cahaya. Interferensi pada percobaan Young. Istilahnya dari situ..kalo gejala itu gejala sederhana dulu. P :

            ”Lalu tindak lanjut tugas tersebut, hanya sekedar paper apa nanti bapak hanya menilai dari hasil papernya, atau mereka nanti mempresentasikan tugasnya. ” G

            :”Tidak, mereka hanya saya suruh mengumpulkan, saya baca nanti ada nilainya” P :

            ”Follow upnya berarti nanti masuk ke dalam materi bab yang baru itu ya pak? G :”Ya..nanti dari beberapa yang agak cocok itu saya sampaikan..oh kemarin ternyata kamu sudah mencari tugas interferensi seperti ini” P :

            ”Berarti hanya untuk pengantar saja ya pak..” G :”Iya, tidak sampai dipresentasikan nanti waktu lagi...Biar nanti pemerintah juga baca bahwa guru itu ditekan-tekan oleh waktu. Jadi untuk kreativitas yang lebih jauh itu dibatasi itu lho... P :”Kemudian ini pak, pada saat memasuki materi pembahasan tentang menentukan letak apa..simpul terhadap ujung pemantul itu, bapak kan memeberikan persamaan umum kan ada ya...Nah disitu kami melihat, bahwa bapak langsung ya saya berikan saja persamaan umumnya ya...itu mengapa pak bapak langsung berikan, ini lho persamaannya...”

            G :”Itu persamaan yang mana ya?” P :”Yang 2n.1/4  ...

            G :”Yang pertama saya bahas,itu kan untuk ujung terikat ya...satu persatu kan udah dapat, prinsip saya analog dengan itu. Analognya maksudnya sepenalaran..dengan cara yang sama maka didapat itu. Jadi saya tidak harus menjabarkan lagi. Karena didepan kan sudah saya jabarkan dulu tho, kalo nggak salah gelombang datang, gelombang pantul, terus superposisinya. Itu pertama..lah yang kedua, saya biasanya tidak. Untuk kasus- kasus yang lain juga gitu. Nanti kalo nggak lagi-lagi waktu itu tadi. Toh mereka sudah tahu jalan pikirannya. Oh..ternyata ada gelombang, gelombang datang, gelombang pantul berinterferensi. Meskipun yang satu kan ujung bebas satuny ujung terikat. Tidak dua- duanya. Alasannya ya itu pokoknya...karena di depan sudah saya...jadi tinggal analog saja. Jadi tidak harus tiap kali begitu. P

            :”Lalu mengenai pengenalan karakter siswa. Jadi kan dari video pembelajaran itu kan saya melihat, bapak melakukan pendekatan. Kalo ini menurut tafsiran saya, yaitu dengan mengajak siswa untuk maju, mengerjakan. Terus memanggil siswa ada yang dua contoh tadi yang Marla, membandingkan dua tadi. Lalu bapak juga memberi sebuah lelucon untuk mencairkan suasana, dan mengecek berkeliling lalu pemberian tugas dan kuis. Lalu juga ada ujiannya...itu kan diamati di dalam kelas, apa itu juga diamati di luar kelas, misalnya becanda di luar kelas atau melihat di kantin jadi untuk lebih mengenali karakter siswa itu sendiri?

            ” G :”Ya..kebetulan kan yang IPA 3 kan walinya saya, jadi saya harus lebih dekat itupun kalo mas mbak lihat saya ketemu di bukan di kelas ya...kadang-kadang bilangnya tidak pak...papi..iya...saya lewat di sini teriak-teriak papi..saya masuk di sini mereka diatas bilangnya papi...itu Untuk di luar kelas ya..sapaan, sapaan aja...Tapi nek selalu dekat, ndak..Untuk beberapa siswi memang saya undang. Kan ada beberapa dari mereka yang naiknya ke kelas tiga karena remidi, maksudnya gini, kalo nilai semester dua langsung diterapkan ke kriteria kenaikan kelas langsung mereka belum naik. Nah mereka yang kalo belum naik itu untuk kelas dua itu diberi kesempatan remidi. Kalo remidinya

            211

            memungkinkan ya mereka naik kalo tidak ya tetep tinggal di kelas. Ada lima..biasanya mereka itu saya amati betul. Orangtuanya juga saya perhatikan ketika ketemu. Pendekatan khusus terutama yang itu...em.. sama yang ada yang sering tidak masuk. Karena saya walinya maka saya tanya..kenapa kok sering tidak masuk?males e pak...iya ...iya..mungkin karena mereka sudah agak jenuh..mereka itu nyadar kalo udah mau ujian nasional.Tapi kok yo masih begitu tu lho...Tapi tidak semua, hanya beberapa yang memang kasusnya khusus. Nah yang lima itu terutama yang karena remidi itu. P : ”Ini kan yang kasusnya kalo bapak wali kelasnya, untuk kelas-kelas yang lain yang kebetulan wali kelasnya bukan bapak apakah ada pend ekatan khusus lainnya?” G

            :”Pendekatan khususnya nanti ke..saya serahkan ke wali kelasnya ya...Ini kan dalam rangka persiapan UAN juga dalam proses pembelajaran kan, guru mata pelajaran harus tahu mana - mana yang lemah. Lha yang lemah itu saya serahkan ke wali kelas, wali kelas nanti akan menyerahkan ke pengajaran. nanti ada bimbinagn sore..kebetulan sudah dimulai...beberapa anak yang seperti itu itu diambil itu atas laporan guru mata pelajaran, guru mata pelajaran dan wali kelas. Nah kalo saya guru fisika saya menyerahkan dokumen-dokumen yang itu ke wali kelas. Tapi tidak untuk semua ya...Hanya yang bermasalah-bermasalah ..yang menonjolnya jelek ..nah kan biasany menonjol bagus. Nah mereka dianggap bisa, karena apa yang biasa-biasa ke atas itu kan dibiarkan sudah bisa sendiri. Kalo ini harus, karena bagian dari pendekatan dan perhatian juga.”

            P :”Tidak ada perhatian khusus lainnya...Pak..?” G

            :”Tidak ada..” P :”Kemudian dalam setiap proses pembelajaran yang kami amati, saat bapak mengajar.

            Bapak selalu memberikan umpan kepada siswa, misalnya melontarkan pertanyaan, memberikan pertanyaan, secara apa ya..kayak peluru itu ya dibrondongini..siswa nanti menjawab, bapak langsung tanya lagi...kominikatuf sekali itu,apakah ada pertimbangan khusus?bapak mengambil la ngkah seperti itu?”

            G :”Pertimbangan saya, mengecek anak itu tahu atau sekedar tahu...terus dikejar...Misalkan saya tanya ini sudah selesai ya sudah tho..kebetulan mereka bisa tahu. Kadang kebetulan pas betul kan bisa jadi, maka saya kadang-kadang, tidak selalu tho...kadang-kadang tak telusur terus, kalo salah ya saya telusur terus. Kalo betul,saya telusur terus. Kalo betul ya sudah, kalo salah kan..dilihat, sampai disini kesalahannya. Maksud saya gitu...Tapi tidak selalu. Karena untuk membuat brondongan pertanyaan yang begitu itu sungguh tidak mudah.”

            P :”Berarti sangat berpengaruh terhadap pemahaman siswa ya pak?” G :”Iya, tapi tidak semua siswa mampu menjawab seperti itu ya...hanya beberapa. Kadang- kadang ini diteruskan sana, diteruskan sana...Tapi audience kelas kan tahu urutannya.Itu maksud saya. P :”Apakah karakter siswa, kan bisa mempengaruhi tindakan bapak saat mengajar dikelas.

            Bisa mempengaruhi strategi pembelajaran bapak. Nah apakah karakter siswa dalam hal ini secara umum yang khususnya kelas yang bapak ajar itu, menjadi pertimbangan bapak untuk melakukan strategi kemarin yaitu demostrasi 2 kali dan ceramah di kelas?”

            G :”Untuk yang kelas IPA itu meskipun saya bilang tadi rentangnya kemampuannya sangat tinggi tapi sudah dianggap homogen, karena mereka IPA. Jadi tidak ada strategi khusus..menurut saya strategi apapun bisa diterapkan ke mereka itu. Jadi untuk kelas sepuluh masih mungkin ya...tingkat heterogennya sangat tinggi.IPA, IPS Bahasa ..kelas satu kan masih belum ada penjurusan, kelas sebelas, dua belas kan sudah heterogen dari penjurusannya. Jadi mereka diberi apapun, diberi metode apapun mau tidak mau mereka mau. Karena heterogen IPA nya sudah masuk. Merata..meskipun kemampuannya tidak merata juga. Homogen Ipa nya kan memang sudah mau tidak ma u ya begitu..”

            212

            P :”Secara global itu menurut bapak, letak kesulitan untuk bapak sendiri dalam menyampaikan itu dimananya?Kemudian letak dari segi siswanya sendiri kesulitannya dimana pak?”

            G :”Kalo untuk saya itu kesulitannya justru pada ujung bebasnya itu,. Ujung bebasnya itu mendemonstrasikannya tau membayangkannya itu gimana kan agak susah. Kalo untuk anak meskipun saya udah berkali-kali mengingatkan cara menghafalkannya ini..untuk masalah persamaan ini..mereka masih kebalik-kebalik. Yang 2 A cos kx sin itu

             t

            mereka kebolak-balik. Meskipun udah tak ajari oh..ini sin kx meskinya gelombang sin nya..mulainya dari nol ya..ujung terikat. Nah kalo cos kx kan dari..cos sendiri kan dari satu tho..nah mereka ujung bebas. Itu masih kebolak-kebalik. P

            :”Jadi kalo dari segi siswanya bapak merasa siswa kesulitan dipersamaan yang ada didalammya ya pak? G :”Kalo melihatnya ndak tapi mengingatnya iya...itu masih pake yang ini apa ini tu lho.. P

            :”Kalo misalnya itu diterapkan ke soal ya pak..” G

            :”Iya..kalo saya itu..susah menerangkannya itu..lah gimana lha wong nek gelombang stasioner ujung terikat kan jelas, ini jelas ada. Slinki gelombang transversal longitudinal bisa didemonstrasikan. Lha nek yang ujung bebas kan susah. Itu kan dibuat bebas nggak bisa itu nyoba pake ruji. Yang ujung satunya itu ruji trus diberi lubang seperti pada gambar itu susah. Nah makanya hany diterangkan secara teori saja.”

            P :”Berarti untuk kelas yng bapak pegang itu secara umum, bapak mengetahui karakter siswa.?

            G :”Secara umum yang agak lebih tahu ya yang ini bawah dan yang atas. Jadi yang atas-atsa tu tau o..yang ini..ini..Kalo yang bawah itu..ini..Yang lainnya hanya hafal nama. Tapi untuk secara khusus kemampuan mereka saya nggal begitu paham sekali. Karena nek sing pinter kan jelas keliatan ya..apa ya..ulangan ya apik..nek sing elek itu,ulangan ya jelek.. sok ora nggateke barang. Nah ya itu...keliatan .Kalo yang menengah..itu ya hafal karena saya wali kelasnya harus hafal..tapi tidak hafal sekali kemampuannya ya..Mereka kan rata-rata bagus. Kalo ulangan ya dapat 70 atau tuntas gitu...Nek karakteristik satu- satu nggak hafal.”

            P :”Jadi lebih mengenal kalo siswa itu menonjol baik dan menojol buruk?” G

            :”Betul...Itu sangat cepat tahu ya...” P

            :”Dari pembicaraan kita tadi, berarti bapak menghalalkan siswa untuk menghafal ya pak..menghafal persamaan? G :”Iya, karena kalo tidak hafal terus gimana ya..? P

            :”Biasanya kan ada guru yang pokoknya ini jangan dihafal... ini harus dikuasai konsepnya. Tapi kalo bapak, nggak papa di hafal asal kalian punya hafalan yang kuat. Jadi bapak tidak masalah dengan itu ya?”

            G :”Tidak masalah menurut saya...Untuk toh..hafalan saya itu bukan sekedar hafalan tho...hafalan yang menggunakan anu...cara khusus tho. Gelombang y =sin x itu kan mesti begini?(membuat gelombang sin dengan jari). Dari nol, diterapkan disitu sin 2 kx kan ya sama...Jadi menghafalkannya tidak menghafal Terus seperti sejarah itu ndak..justru menghafal dengan konsep..itu menurut saya. Fisika kalo tidak hafal terus piye..Beberapa bisa tidak dihafal dengan pemahaman seperti Yohanes Surya, itu kan gerak lurus itu tidak pake vt = dengan percepatan itu tapi tidak semua bisa masuk disitu. Kebetulan ya yang gelombang itu yang nggak bisa masuk. Ya yang gelombang, seperti Pak Yohanes Surya kalo ditanya tentang masalah fisika modern itu juga bingung. Pas di Magelang itu ada..ditanyakan itu juga nggak bisa. Yo karena untuk konteks-konteks tertentu tidak sama. Nah kebetulan gelombang itu, mnurut saya, persamaan itu harus dihafal. Tapi ngapalnya tidak o..ada persamaan ini, kamu hafal..ndak. Saya mengajarkannya kan pakai

            213

            gelombang yang satu kan y = sin itu kan berjalan. Saya tinggal nambahi yang

             t cos kx amplitudonya.

            P :”Kemudian pada saat ada sebuah pembahasan gelombang ujung terikat itu tadi, kan siswa diberikan pertanyaan untuk melihat lagi, tapi mereka tidak bisa menjawab, kemudian bapak mengajak, ya sudah mari kita lihat dari awal lagi... Jadi bapak mengulangi lagi..mengajak lagi..ini lho kita ulang dari awal lagi..apakah disitu berarti bapak menemukan oh siswa ini kok belum dong..atau apa yang melatarbelakangi bapak mengajak siswa untuk diulang lagi dari depan.?”

            G :”Itu kan masih ada alatnya peraganya ndak ya?” P :”Iya..masih ada..” G

            :”Ya..karena lebih memudahkan..kalo mengulang daripada menjelaskan secara teori alatnya ada kenapa nggak diulang saja. Nah itu pertimbangan saya. Kalo alatnya ada dan bisa diulang lagi kenapa tidak. Itupun sudah pakai demonstrasi ya..apalagi kalo hanya pake kata-kata membayangkan..repot..lebih repot lagi. P :”Berarti memang siswa masih belum bisa ya pak?” G

            :”Iya....” P

            :”Kan waktu itu bapak akhirnya bertanya ..kira-kira apa yang menyebabkan tali yang satu tadi menjadi keliatan dua?Kemudian dilihat disistu bahwa siswa itu diam masih bingung..Lalu bapak ya sudah kita lihat lagi...berarti memang bapak merasa siswa belum dong?”

            G :”Dan itu kan prosesnya sungguh susah ya, talinya satu kok iso jadi dua, itu kan susah banget kalo dilihat lagi pun mereka masih tetep kayaknya sulit ya.. ya bisanya yo itu terus kalo nggak salah saya langsung masuk ke dalam persamaannya. Karena kita telusur gelombang berdiri itu seperti apa?Tapi diulang ulang itu maksud saya supaya kalo ada alatnya ya pakailah itu saja. Biar mereka juga liat engan seksama..”

            P :”Jadi metode demonstrasi ini bener-bener membantu siswa memahami konsep yang bapak sampaikan ya...?” G

            :”Ya..paling nggak memahami tingkat awal atau kejadian yang terjadi kalo mereka langsung paham dengan segala persamaan saya kira tidak bisa” P :”Jadi dilihat dari fakta dulu ya..” G

            :”Iya...jadi melihat fakta dulu kemudian mereka..kalo itu sebenarnya pancingannya cukup bagus, kalo mereka ditanya tidak bisa, diulang juga tidak bisa. Berarti harus masuk ke persamaan matematis. Nah itulah juga fungsi matematika difisika. Klao sebenarnya kalo kita itu tidak bisa berdiri sendiri. Istilahnya gitu...Itu sebenarnya idealismenya kesana tapi kan ternyata anak tidak domg dengan ini ya...diulang, diulang nggak dong yo..harus denagn ini. Dengan ini pun saya yakin tidak bisa kemudian mengatakan kenapa jadi dua itu. Talinya satu. ”

            P :”Kemudian untuk dokumentasi catatan bapak kan selalu memberi nomer ya pak ya...itu apakah karana ..alasannya kenapa pak?” G

            :”Alasan pertama saya memberi nomer kalo yang bab kan jelas ya..Supaya kalo membaca catatan itu mereka bisa runtut dan jelas. Bayangkan catatan hanya ini terus judul, terus ini..lha ini masuk mana?ini masuk mana?Mreka belajar tidak hanya dengan saya ketika di sekolah saja. Justru pemahaman paling terutama itu di rumah, membaca lagi sambil teringat apa yang dikatakan oleh gurunya disekolah itu. Meskipun sudah lama mereka belajar..maksudnya sudah lama saya menerangkannya di rumah mereka kadang-kadang masih ingat..o..pak linus bilang gitu. Lha itu jadi catetan itu saya usahakan serapi mungkin seruntut mungkin terus sesingkat mungkin catetan itu. Jadi mereka punya dokumen dan kenapa kalo dilihat, kenapa tidak handout saja. Itu karena pertimbangan saya, mereka itu belajar menulis rumus-rumus itu. Bagaimana mereka mau hafal kalo mereka tidak pernah menulis. Lha itu...jadi..mungkin masih dianggap secara manual

            214

            ya..primitip masih menulis..Tapi untuk SMA saya itu menurut saya masih sangat relevan. SMA yang favorit yang NEM nya sangat tinggi, diberi buku saja mereka bisa. Kita nggak. ”

            P :”Jadi bapak mengusahakan penyajiannya itu lebih simpel?Bahasa penulisannya.

            Kemarin itu kan bapak memulai dengan soal lalu menyelipkan konsep, oh jadi kalo ini di bikin persamaannya seperti ini jadi lebih mudah. Jadi bapak memperpaiki persamaan- persamaan untuk siswa agar lebih simpel begitu ya pak?

            ” G :”Iya..simpel.Saya usahakan sesimpel mungkin, sistimatis mungkin, makanya harus pakai nomer kalo ndak gimana?Kan jelas ini anggotanya ini, ini anggotanya ini. Itu memang saya sengaja itu...Nah sya tidak tahu sekolah lain catetannya seperti apa?ada yang pakai nomer atau nd ak..saya selalu pakai nomer itu.”

            P :”Ada satu hal lagi pak, waktu menggambar di papan tulis, waktu itu bapak mengingatkan, hati-hati di dalam menggambar,sebenarnya apa tujuan yang ingin dicapai?sedetail itu mengingatkan siswa untuk berhati- hati dalam menggambar?” G :”Untuk gambar yang semuanya atau......

            P :”Yang pembiasan itu pak, kan menggambar muka gelombang...” G :”Ya..untuk pemantulan kan mudah, untuk pembiasan itu sungguh susah.

            Lampiran 7 Topik Data Guru A

            

          Kemampuan dan Kelemahan siswa

            

          25 Juli 2009

          Menit 26.40 (video 1 bagian 3)

          Guru :”terus gambar bendanya tegak lurus bidang miring, ya terus sejajar bidang miring (menggambar

          komponen gaya) sekarang gambar w nya kemana arahnya?” Siswa :”kebawah sini.” Guru :”ya, w itu tegak lurus pada bidang datar..ini dari titik tengah benda arahnya mana?” Guru :”coba lihat catatan kamu, gambarnya seperti ini lho.” guru terus membimbing langkah demi langkah dan guru menunjukkan gambar yang dibuat guru yang terdapat didalm catatan siswa.

            

          Pendekatan siswa

          24 juli 2009

          Menit 17

            

          Guru :”Sekarang bagaimana diagram bebas gaya kalau benda dihubungkan dengan tali (guru menulis

          dipapan tulis) kita pakai untuk bidang datar dulu (guru menggambarkan benda ditarik oleh tali tanpa menggunakan penggaris tapi hasilnya bagus) gambarkan vector gayanya..(sambil berjalan kearah siswa guru bertanya) gaya apa dulu yang harus bekerja?”

            Siswa :”Gaya berat.” Guru :”Pada benda mana.” Siswa :”1 dan 2.” Guru :”Terus?” Siswa :”Gaya normal.”

          Guru :”(saat siswa menjawab gaya normal guru spontan bertanya kepada siswa yang disampingnya) Pada

          benda mana gaya normalnya”? Siswa 1 :”(1 orang siswa) M 1 .” Guru :”Kenapa M tidak ada gaya normalnya?” 2 Sisw a 1 :”Ditambah M 1 .” Guru :”Ditambah M ?”(meragukan jawaban siswa) 1 Guru :”Kamu?”(menunjuk siswa lain) Siswa 2 :”Menggantung.”

            Guru :”Menggantung.”(menegaskan jawaban siswa benar) Guru :”Konsep gaya normal gimana?” Siswa 1 :”N = W.” Guru :”N= W, konsep gaya normal piye,masih ada yang ingat?”(bertanya kepada seluruh siswa)

            Guru :”Tegak lurus? gaya normal hanya dimiliki oleh apa sih? oleh benda yang..terletak?” Siswa :”Pada bidang.” Guru :”Terletak pada suatu bidang atau pada benda lain. Sedang M 2 disitu gimana?” Siswa :” (salah satu siswa menjawab) Melayang.” Guru :”Kok melayang.” (guru menjawab sambil tertawa kecil dan siswa tertawa) Siswa :”Menggantung.”

          Guru :”Normal hanya dimiliki kalau bendanya terletak..ya kan (menegaskan) bagaimana cara

          menggambarnya dijawab dulu syarat tegak lurus bidang, titik tangkapnya pada bidang (saat guru berbicara guru berada ditengah- tengah siswa.”

            Guru :(guru menuliskan vector- vektor gaya) “Jadi kita gambarkan disini W 1 ,kemudian W 2 ,perhatikan cara menggambar W ,ni ya titik tangkapnya (guru sambil menunjukkan gambarnya dan memperhatikan 2 siswanya),karena bendanya teratur berada dititik pusat simetri,karena kita belum berbicara titik berat,kemudian yang punya gaya normal,tad

          i apa?”

            Siswa “M .” 1 Memberikan pujian

          24 juli 2009

          Menit 3

            

          Guru :”Setiap keadaan kita akan menyelidiki dahulu,bendanya masih diam atau bergerak,kita lihat pada

          diagram bebas gaya,ini ada suatu benda terletak pada suatu bidang datar(guru menggambar di papa n tulis),dilihat ada gaya apa saja disitu?” Siswa :”Gesek, normal, berat.”

            Guru :”Bagus, nah sekarang kita lihat dulu,bagaimana menggambarkan gaya beratnya”? Siswa :” Pada pusat simetri.”

          Memberi lelucon

            

          24 juli 2009

          Menit 9

          Guru :”Kamu bag…kamu bagyo 1 yang itu bagyo 2,kamu saya panggil bagyo 1(saat guru

          memberi guyonan bagyo siswa tertawa sehingga mencairkan suasana karena siswa masih pada bingung)..kenapa?” Bagyo :”Karena menariknya Cuma 10.”

            

          Memberi lelucon

          24 juli 2009

          Menit 15

            Guru :”Dong ora?”(guru melihat dari semua sudut kelas hingga melihat salah satu siswa) Guru :”Ora guya-guyu le..dong ora kowe.” (semua siswa tertawa dalam situasi ini guru bercanda)

            

          Memberi lelucon

          24 juli 2009

          Menit 16

            

          Guru :”Jadi harus diselidiki apakah benda sudah bergerak atau..belum (guru dan siswa )..benda kalau

          sudah bergerak kalau melebihi gaya gesek statis maksimum..kalau sudah tolong dihapus.” Siswa :”Genjik..genjik..yang piket bu?”

          (Saat siswa menyebut nama temanya yang bukan nama sebenarnya dengan genjik dalam bahasa jawa guru

          memberi respon) Guru :”Yo gen ngerti kene ono genjik..e.” (siswa tertawa)

            

          Memberikan pujian

            

          24 Juli 2009

          Menit 10.2

          Guru :”Kamu tadi bingungnya dimana?” Siswa1 :”Tinggal masukin rumus kok bu.”

          Guru :”Jangan hanya masukin rumus kamu harus tahu prosesnya, itu persamaan bukan rumus, melihat

          keadaan dari benda.” 1 Sisw a1 :”Itu T berarti cuma mepet pada ∑F=ma.” 2 Guru :”Ia.” Guru :”Bukan dia (persamaan) turun kebawah ya.”

            

          Guru :”Itu merupakan suatu kesatuan to lee, persamaan tegangangan tali ya,satu tali ya, yang sudah

          ketemu berapa percepatanya?” 2 Siswa1 :” 2,5 m/s .” Guru :”Ya bener, terus.”

          Memberi lelucon

            

          25 Juli 2009

          Menit 13

          Guru :”Piye sup.” Usup :”Berkonsultasi Bu.” Guru :”Piye lek mu gambar kie?” Usup :”Masih drafnya Bu.” Guru :”Yo sisan wae ra go penggaris.” lalu usup mengambil penggaris untuk menggambar.

            Guru :”Mulane (makanya) koe ora usah kokean(kebayakan) nonton dangdut neng purawisata.” Siswa :”Ha ha.”(semua siswa tertawa)

            

          Membantu kesulitan siswa (motivasi)

            

          24 Juli 2009

          1 1 Menit 23 sama T Siswa :”Bu,T 1 2 (siswa menunjuk pada gambar) itu memang arahnya berbeda bu”? Guru :”Lha tadi kamu sepakat mau bergerak kemana.”

            Siswa :”Kebawah.”

          Guru : ”Berarti kalau ini bergerak kebawah (menunjuk pada gambar) tali ini menaggung bebanya keatas

          atau kebawah, tegang kemana?” Siswa :”Kebawah..diatas wis.”

            

          Guru :”Ini bukan masalah perasaan..ini masalah logika…gimna, kamu kalau menjinjing tali, karena tidak

          ada tali aku pake tas wae(guru mengambil tas) (guru sambil mengangkat tas) berat dari masa ini (tas) kemana?” Siswa :” Kebawah.”

            Guru :”sekarang tegangan talinya kemana ini?”(sambil melihat kesiswa yang bertanya) Siswa :” Kebawah.” Guru :”Saya menarik ini, yang merasakan talinya ini ke atas atau kebawah.” Siswa :”Kebawah.” Lalu siswa mencoba sendiri menarik tasnya Guru :”Tegangan talinya rasanya kemana keatas atau kebawah?” Siswa :”Keatas.Ooo.” Guru :”Maka kalau talinya tidak kuat apa yang terjadi?” Siswa :”Putus.” Guru :”Jelas.” S iswa :”Jelas.”

            

          Membantu kesulitan siswa (motivasi)

            

          25 Juli 2009

          Menit 08.28 (video 1 bagian 3)

          Siswa1 :” Jadi harus dicari satu satu gaya geseknya.”

          Guru :”Iya inikan tidak dikatakan dihitung keempat-empatnya kan, kecuali dikatakan ini untuk satu roda

          b erarti kamu harus menghitung gaya geseknya empat kali gaya gesekan satu roda, dong?” Siswa1 :”Ya.”

            Siswa1 :”e.” Siswa2 :”(disamping siswa 1) nol.”

          Membantu kesulitan siswa (motivasi)

            

          5 Agustus 2009

          Menit 1 (video 1 bagian 1)

          Guru :”Ada yang mau ditanyakan?” Siswa :“Semuanya bu?” Guru :“Saya akan membahas satu soal nanti yang laenya kalian pasti bisa.” Guru :”Oke saya akan membahas satu soal, soal seterusnya apa kamu akan bisa.” 1 Guru: “Ini adalah t (menulis pada gambar) dan ini t .” Guru :“Ini sama tidak?” (menunjukkan pada gambar tegangan tali)

            Siswa :“Sama bu.” Guru :“Apa yang dapat kamu simpulkan?” Siswa :(salah satu siswa) “Tnya sama bu?” Guru :“T =2T terus, apa lagi?” 1 2 =2a

            Siswa :“a 1 2 .” Guru :“Nah, kalau itu sudah kamu peroleh, ya kamu bisa mulai dari T 1 =2T 2 . Kita mulai dari benda 1 (guru a menulis) ∑F=m 1 1 ya, ∑Fnya apa?” (guru menunjukkan pada benda 1) Siswa :“W -T .” 1 1 Guru :“Sama dengan.” Siswa :“W -T = m a .” 1 1 1 1 Guru menuliskan persamaan Guru :“Ya ndk. Ini persamaan 1, sekarang persamaan 2 (benda 2)persamaannya gimana?”

          • -w Guru :“T
          • 2 2 sama dengan?” Siswa :“m a .” 2 2 dulu (pada persamaan 1) T = m a + w terus ini nanti dimasukkan kepersamaan 1, Guru :“Ini dicari T 2 2

            2

            2 2 =2T , a =2a ) terus ketemu tegangan tali..yo masukan angkanya. jadi konsep yang utamanya disini mas.” (T 1 2 1 2 Memotivasi dengan mendekati siswa

              

            5 Agustus 2009

            Menit 6 (video 1 bagian 1)

            Guru :“Sudah ada yang ketemu, berapa cahyo?” Cahyo :“Angkanya jelek bu?” dan a

              Lalu guru mendekati cahyo karena ragu dengan jawabanya dan melihat garapan cahyo guru mengecek jawaban siswa dan cahyo maju kedepan untuk menuliskan jawabannya.

              

            Membantu kesulitan siswa (motivasi)

              

            5 Agustus 2009

            Menit 11 (video 1 bagian 1)

            Guru :“Tegangan tali disini 2 kali tegangan tali ini, ya kan maka Tnya ini, ya kan (siswa mengangukkan

            kepala) ini ada dua keadaan, menarik tali neng a sudah diketahui, kalau yang ini kecepatanya tetap berarti kecepatanya nol yo dicoba kedepan, ya konsep dari tegangan tali disini T ini adalah 2 kalinya sana, ini masih sa tu tali to” Siswa :“Ini masih satu tali to bu.”

              Guru :”Ia, ini kan masihn satu tali.” Siswa :“Bu ini berarti Fnya sama dengan T.” Guru :”Ia.” (lalu siswa maju kedepan)

              

            Metode tanya-jawab dengan siswa (keaktifan siswa)

              

            24 Juli 2009

            Menit 01.00

            Guru : ”Pertemuan yang lalu saya bicara tentang gaya gesekan (guru menulis di papan tulis), konsep gaya gesekan kemarin bagaimana? ”(Guru memberi pertanyaan kepada semua murid, guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menjawab, lalu guru membantu dengan memberi pancingan.)

              Guru : ”Terbentuk pada?” Siswa : ”Dua bidang.” G : ”Yang kedua terus (guru sambil berkeliling melihat kearah siswa) arahnya?” S : ”Berlawanan dengan kencenderungan arah gerak benda.” G : ”Sekarang persamaannya? F (gaya gesek) kemarin bagaimana? ” g S :

              “µ N.” G : “Karena kita mengenal suatu benda dalam kedudukan diam atau bergerak kemarin kita pisahkan dua kan, yang tepat akan bergerak berarti dia masih? ”

              S : ”Diam.” G : “Maka pada saat benda diam gaya gesek yang bekerja?” S :

              ”Gaya gesek statis.” G : “Kalau sudah bergerak?” S : “Kinetis.”

              G : ”Perubahan dari statis ke kinetis terjadi secara?” S : ”Otomatis.”

              

            Metode tanya-jawab dengan siswa (keaktifan siswa)

              

            24 Juli 2009

            Menit 9

            Guru :”Pertayaan yang ke dua sekarang,kalau gaya tarikanya 10 N,perhatikan pertayaanya berapa besar

            gaya gesekan saat itu?ayo siapa?” (guru memberi tanda untuk siswa menjawab dengan mengacungkan tangan) Guru :”Siapa yang 20,lebih dari 20.”

              

            Guru :”Saya ulangi kita tadi sudah menghitung gaya gesek statis maksimumnya tadi 20N kasusnya masih

            sama,sekarang benda ini akan saya tarik(guru menunjukkan gambar didepan papan tulis) gayanya saya ubah 10 N,pertayaan saya(guru memberi pertayaan sambil melihat keseluruh siswa)berapa besar gaya gesekan saat itu?” (siswa diam memikirkan jawaban dan guru melihat siapa siswa yang bisa menjawab,lalu guru memancing) Guru :”20.”(,sambil melihat satu siswa)

              Siswa :”10.”

            Memberikan latihan soal (mengaktifkan siswa)

              

            25 Juli 2009

            Menit 8 (video 1)

            Guru :”Siapa yang masih bertanya coba selidiki yang B nanti maju.” Guru :”Kalau ditarik dengan gaya 30 N siapa yang mau maju?”

              Siswa1 :”(satu siswa)diitung lagi ndk bu?” Guru :”Diitung lg ndk (bertanya keseluruh kelas) F gsmax ?” Siswa :”Tidak usah.” Guru :”Karena bendanya tidak berubah bidangnya tetap jadi kekasaranya tetap, siapa yang mau maju

            kedepan rama?(nama sisw) ra sah gowo buku ma wong wis ono neng kene, siapa yang mau mencoba yang c

            (ada siswa yang maju) siapa yang mau mencoba no.2?”

              

            Memberikan latihan soal (mengaktifkan siswa)

              

            25 Juli 2009

            Menit 8.50 (video 1)

            Guru mengaktifkan siswa dengan meminta siswa secara langsung untuk mengerjakan soal

            di depan kelas.

              Guru :”Sekarang no. 2 brani 2a sup.”(nama siswa) Guru :”yo maju..(usup maju kedepan) ya maju. 2b koe frans.

              

            Kemampuan awal siswa

            24 juli 2009

            Menit 17

              

            Sebelum memasuki subbab baru yaitu diagram bebas gaya dua benda dihubungkan dengan

            tali guru melihat kemampuan awal siswa dengan tanya jawab dan mendekati siswa.

              Guru :”Sekarang bagaimana diagram bebas gaya kalau benda dihubungkan dengan tali (guru menulis dipapan tulis) kita pakai untuk bidang datar dulu (guru menggambarkan benda ditarik oleh tali tanpa menggunakan penggaris tapi hasilnya bagus) gambarkan vector gayanya..(sambil berjalan kearah siswa guru bertanya) gaya a pa dulu yang harus bekerja?’ Siswa :”Gaya berat.”

              Guru :”Pada benda mana”.

              Guru :”Terus?” Siswa :”Gaya normal”. Guru : ”(saat siswa menjawab gaya normal guru spontan bertanya kepada siswa yang disampingnya) Pada benda mana gaya normal nya”? Siswa 1 : .

              ”(1 orang siswa) M 1 ” Guru :”Kenapa M 2 tidak ada gaya normalnya ?” . Siswa 1 :”Ditambah M 1 ” Guru :”Ditambah M ?”(meragukan jawaban siswa) 1 Guru :”Kamu?”(menunjuk siswa lain) Siswa 2 :”Menggantung.”

              Guru :”Menggantung.”(menegaskan jawaban siswa benar) Guru :”Konsep gaya normal gimana?” Siswa 1 :”N = W.” Guru :”N = W? konsep gaya normal piye,masih ada yang ingat?”(bertanya kepada seluruh siswa) Siswa :”Tegak lurus,tegak lurus lintasan.” Guru : ”tegak lurus? gaya normal hanya dimiliki oleh apa sih? oleh benda yang..terletak?” Siswa :”Pada bidang.” Guru : ”terletak pada suatu bidang atau pada benda lain. Sedang M disitu gimana ?” 2 Siswa :” (salah satu siswa menjawab) Melayang.” Guru,”kok melayang”. (guru menjawab sambil tertawa kecil dan siswa tertawa)

              Siswa,”menggantung”.

              

            Mengajukan pertayaan (kesulitan belajar siswa)

            24 juli 2009

            Menit 3

              

            Guru A

            Guru :”Setiap keadaan kita akan menyelidiki dahulu,bendanya masih diam atau bergerak,kita lihat pada

            diagram bebas gaya,ini ada suatu benda terletak pada suatu bidang datar(guru menggambar di papan tulis),dilihat ada gaya apa saja disitu ?”

              Siswa :”Gesek, normal, berat.” Guru :”Bagus, nah sekarang kita lihat dulu,bagaimana menggambarkan gaya beratnya?” Siswa :”Pada pusat simetri.” Guru :”Ya pada pusat simetrinya,itu kalau pada bendanya teratur, arahnya?”

              Guru :”Gaya normalnya terletak dmana?” Siswa :”Pada permukaan bidang.”(dan guru menggambarkan) kekanan (pada gambar),arahnya bergerak

              Guru :”Kalau sekarang benda ini saya tarik dengan gaya F 1 kekanan,bagaimana dengan arah gaya geseknya?

               Siswa :”Berlawanan.”

            Guru :”Ya, berlawanan dengan kecenderungan arah gerak benda(guru menggambarkan),kalau sekarang

            seluruh diagram bebas gaya itu kita terapakan/masukan dalam hukum newton,yang mempertahankan benda ini dalam kedaan diam,kita menggunakan persamaan ∑F.” Siswa :” Sama dengan nol.”

              Guru :”Pada sumbu apa?” Siswa :”x,x..x(jawaban siswa salah dan guru memberi arahan/pancingan) Guru :”Pada sumbu apa yang mempertahankan benda dalam keadaan diam sumbu?” Siswa :”Y.” Guru :”Jadi ∑F = 0.” (siswa menjawab bersama-sama) y Guru :”Persamaanya ini gimana?”(guru siwa menjawab bersama hingga menemukan persamaan)

            Guru :”Sekarang pada sumbu x (guru dan siswa menjawab bersama-sama)dengan mengotaki persamaan

            ∑F x =0,guru memberi pertayaan)ini artinya bendanya masih?” Siswa :”Diam.” Guru :

              ”Kalau bendanya sudah begerak, kalau bergerak pada sumbu apa?” Siswa :”Sumbu x.” Guru :”Berarti.” Siswa :”∑F = ma.” x

              

            Mengajukan pertayaan (kesulitan belajar siswa)

            24 juli 2009

            Menit 7

              

            Guru :”Misalkan di ketahui masa bendanya 10 kg,kemudian percepatan grafitasinya 10 m/s2,koefisien

            gesek statisnya 0.2,ditarik gaya F =50N,coba diselidiki bendanya sudah bergerak atau 1 belum?”(guru melontarkan pertayaan dan melihat kearah siswa,siswa masih ragu-ragu,ada yang menjawab sudah,ada yang belum) Guru :”Darimana kamu mengatakan sudah?”

              Siswa :”Masanya (m) lebih besar dari f gesek statis.”

            Guru :”Kita selidiki dahulu, masuk ∑F y dulu sama dengan nol,berarti berapa?”(guru dan siswa menjawab

            bersama dengan Tanya jawab hingga menemukan f gesek maksimum = 20 N).

            Guru :”Benda ini mendapat gaya luar sebesar 50 N,tetapi gaya gesek maksimum yang mempertahankan

            bendanya 20 N,jadi dia sudah bergerak atau belum?”

               lebih besar dari F gesek statis maksimum,maka kita bisa menyimpulkan,benda sudah Guru :”Karena F 1 bergerak.”(bersama murid) Pertayaan ubahan

            Guru :”pertayaan yang ke dua sekarang,kalau gaya tarikanya 10 N,perhatikan pertayaanya berapa besar

            gaya gesekan saat itu? ayo siapa?” (guru member tanda untuk siswa menjawab dengan mengacungkan tangan)

              Siswa :” 20.” Guru :”Siapa yang 20,lebih dari 20.”

            Guru :”Saya ulangi kita tadi sudah menghitung gaya gesek statis maksimumnya tadi 20N kasusnya masih

            sama,sekarang benda ini akan saya tarik (guru menunjukkan gambar didepan papan tulis) gayanya saya ubah 10 N, pertayaan saya (guru memberi pertayaan sambil melihat keseluruh siswa) berapa besar gaya gesekan saat itu?” (siswa diam memikirkan jawaban dan guru melihat siapa siswa yang bisa menjawab,lalu guru memancing) Guru :”20?”

              Siswa :”10.” guru berjalan mendekati siswa. Guru :”Alasanmu apa frans kamu mengatakan 20.” (guru berada disamping siswa)

            Frans :”Kalau masih diam,gaya geseknya maksimum.”(dan guru mengulangi jawaban siswa,guru berjalan

            lagi mendekati siswa lain..)

            Guru :”Kamu bag…km bagyo 1 yang itu bagyo 2,kamu saya panggil bagyo 1(saat guru memberi guyonan

            bagyo siswa tertawa sehingga mencairkan suasana karena siswa masih pada bingung)..kenapa?”

              

            Bagyo :”Karena menariknya Cuma 10.”(dan guru mengulangi jawaban siswa,guru berkeliling lagi

            mendekati siswa) Guru :”Ada pendapat yang lain,piye de,menurut kamu berapa?”(guru berada didekat siswa) De

              :”20.” Guru :”Alasanmu apa?” De :”Kalau masih belum bergerak masih pake yang tadi.” (guru mengulang jawaban siswa) Guru :”Yang tadi yang mana?” De :”Gaya gesek statis”. (guru terus memburu jawaban siswa) Guru :”Yang statis apa?” De :”Maksimum”.

              

            Mengajukan pertayaan (kesulitan belajar siswa)

            24 juli 2009

            Menit 22.24

              Guru :”Kalau..(sambil menunjukkan gambar) mejanya sampai bawah,ada gaya apa lagi?”

              Guru :”Gaya gesek,kemana arah gaya geseknya?” Siswa :”Keatas.” Guru :”Lalu gaya apa lagi?” Sis wa :”Normal.” Guru :”Kemana gaya normalnya?” Siswa :”Kekanan.” Guru :”Konsep gaya normal?” Siswa :”Tegak lurus bidang.”

            Guru :”Jadi apapun konstruksinya, kalau kamu memahami tadi.konsep-konsep dari hari pertama itu, gaya

            normal, gaya berat, bagaimana penentuan titik tangkap gaya normal,gaya berat.”

              

            Mengajukan pertayaan (kesulitan belajar siswa)

              

            25 Juli 2009

            Menit 17.29

            Guru :”Coba perhatikan ini yang lain, perhatikan teman kamu menghitung fg kinetiknya 260 N fg

            statisnya 520, untuk menjaga benda bergerak dengan kecepatan tetap berapa gaya luar yang harus kita berikan (pertayaan untuk kelas) yo semua berpikir?”

              Siswa :”(salah satu siswa) Sama dengan gaya gesek kinetic.” Siswa :”(siswa lain) 260 N.” Guru :”Lalu berapa lagi, cahyo berapa , berapa lee?” Siswa :”(siswa lain)260N.” Guru :”Fuad?” Fuad :”260.” Guru :”Kenapa tidak 520.” Siswa :”Karena bendanya sudah bergerak.”

            Guru :”Itu jawabanya, jadi meskipun statisnya 520 untuk dia (benda) bergerak memang harus melawan itu,

            tapi pertayaan disini adalah setelah dia (benda) bergerak maka setelah dia (benda) harus mengalahkan 260 N jelas.”

            Guru :”Jadi harus hati-hati ya, menyelidiki sebelum benda bergerak atau benda sudah bergerak, hati-hati

            konsepnya disitu.”

              

            Mengoreksi jawaban siswa (kesulitan belajar siswa)

              

            25 Juli 2009

            Menit 13

              Siswa1 :”N.” Guru :”Untuk symbol apa ini?” Siswa1 :”Normal.” Guru :” n kecil opo N besar (lalu siswa memperbaiki) ini f geseknya yang mana yang kamu pakai?” Siswa1 :”Kinetis.” Guru :”Kinetis? alasanmu opo?” Siswa1 :”Bendanya bergerak.”

              

            Guru membimbing siswa dalam menggambar diagram bebas gaya.

              

            25 Juli 2009

            Menit 26.40 (video 1 bagian 3)

            Guru :”Terus gambar bendanya tegak lurus bidang miring, ya terus sejajar bidang miring (menggambar komponen gaya) sekarang gambar w nya kemana arahnya?” Siswa :”Kebawah sini.” Guru :”Ya, w itu tegak lurus pada bidang datar..ini dari titik tengah benda arahnya mana?” Guru :”Coba lihat catatan kamu, gambarnya seperti ini lho.” guru terus membimbing langkah demi langkah dan guru menunjukkan gambar yang dibuat guru yang terdapat didalm catatan siswa..

              

            Guru menggali pemikiran siswa tentang konsep gaya gesek.

              

            25 Juli 2009

            Menit 1(video 1 bagian 3)

            Guru : ”Nah saiki nek benda ini ditarik oleh gaya F cos 60= 160 N padahal pertahananya 310 N kesimpulanmu opo?

              Usup : ”Tidak bergerak.” Guru : ”Jadi percepatanya saat itu.” Usup : ”Nol.” Guru : ”Sekarang kalau saya beri gaya 200 N wis gerak rung?” Usup :

              ”Belum.” Guru : ”Kalau saya beri gaya 310N sudah bergerak apa belum?” Usup : ”Hampir gerak.” Guru : ”Berarti sudah bergerak apa belum?”

              Guru : ” Kalau saya kasih 311N sudah bergerak belum?” Usup : ”Sudah.” Guru :

              ”Jadi kesimpulanya benda akan bergerak kalau?” Usup : ”Fgesek maks lebih kecil dari F yang diberikan.” Guru : ”Ya, gaya luar yang diberikan lebih besar dari F gesek, dong ra?” Usup : ”Ya.”

            Guru menggali pemikiran siswa tentang konsep tegangan tali.

              

            5 Agustus 2009

            Menit 13.43

            Guru :“Ada yang masih belum bisa?” Siswa :“Belum.” Guru :“Mana yang belum.” (guru mendekati siswa) Guru :“Kalau ini a

            1 nya turun, maka talinya yang disini akan menarik benda 2 kemana?”

            Siswa: “Keatas.”

            Guru :“Sekarang prinsip dari hukum ke II Newton, searah dengan kecenderungan gerak benda Fnya diberi

            tanda?” Siswa :“Positif.” nya positif min W masanya yang tertarik disini m , a juga a karena percepatan a ini tidak Guru :“Jadi T 2 2 2 2 2 sama dengan a , nah sekarang T ini aksen ini masih satu tali, aksi reaksi kan.” 1 2 Siswa :“Ia.”

              Guru :“Maka disini namanya juga masih T 2 .” Siswa :“O..iya ya.” atau a meluncurnya lebih cepat nah..makanya Guru :“Ya kan, kemana geraknya yang lebih cepat a

            1

            2 percepatan ini 2 kalinya percepatan ini, dong ora?”

              Siswa :“Ia.” Guru :”Jadi hukum ke II dan hukum ke III, jangan lupa dari konsep kencenderugsn arah gerak benda kemana, gaya yang searah diberi tanda positif. Nah coba sekarang ditentukan persamaanya untuk W 1 piye?

              Siswa mengerjakan dan guru melihat

            • -T Siswa :“W
            • 1 1 .” Guru :“Nah ini W -T , terus hubunganya a dan a tadi gimana, a berapa kalinya a .” 1 1 1 2 1 2 Siswa :“2 kalinya.”

                

              Guru mengingatkan siswa tentang konsep menggambar diagram bebas gaya.

                

              24 juli 2009

              Menit 19

              ,kemudian W ,perhatikan cara Guru :”(guru menuliskan vector-vektor gaya) Jadi kita gambarkan disini W 1 2 menggambar W ,ni ya titik tangkapnya (guru sambil menunjukkan gambarnya dan 2 memperhatikan siswanya),karena bendanya teratur berada dititik pusat simetri,karena kita belum berbicara titik berat,kemudian yang punya gaya normal,tadi apa?

                

              Guru mengingatkan siswa

                

              24 juli 2009

              Menit 21

              Guru A

                Guru :”Ini dihubungkan dengan katrol yang licin,saya masih membicarakan katrol yang licin,nanti disemester 2 baru katrolnya kasar,karena kita masih berbicara katrol licin maka tidak ada gesekan antara katrol dengan tali.,sekarang pada tegangan tali. dikelas X kemarin bagaimana menggambarkan gaya tegangan talinya,tentukan dulu arah?”

                Siswa :”Gerak benda.” Guru :”Mau kemana gerak benda.” Siswa :”Atas.”

              Guru mengingatkan konsep vektor di kelas X.

                

              24 juli 2009

              Menit 27

              Guru : ”Nah lihat arah geraknya, dulu dikelas X saya sudah mengatakan, gaya yang searah dengan

              kecenderungan gerak diberi tanda?

                 Siswa : ”Positif.”

                

              Guru mengingatkan konsep penting

              24 juli 2009

              Menit 2 (video 2)

                Guru : ”Gambar dulu harus ada gambarnya ni nanti lek ulangan tak salah ke.” (menunjuk salah satu catatan siswa) Siswa : ”Mung latihan bu.”

                Guru :

              ”Latihan yo harus komplit.w cos w sin tetep digambar komplit, tidak ada dispensasi apapun ya

              konstruksi gayanya, diagram bebas gaya harus komplit, harus benar menggambar vektornya. harus dimulai dari sekarang menggunakan penggaris karena kamu belum bisa menggaris lurus..komponen gaya dari ujung vector itu teori tentang vector dikelas X cari proyeksinya .”

                

              Guru mereview konsep penting

              25 juli 2009

              Menit 8

                

              Guru : ”Gaya gesek statis maksimum benda tidak akan bergerak sehingga gaya gesek saat itu adalah..gaya

              luar yang diberikan ya kan kemarin saya contohkan menarik meja, mejanya tetap diam padahal

              sudah saya tarik sampai metekol tapi mejanya masih belum bergerak. berarti gaya gesek saat itu

              adalah sebesar..gaya yang saya berikan.

                

              Guru memberi penekanan konsep penting

                

              24 juli 2009

              Menit 30

              Guru : ”Ini rumus?” Siswa : ”Bukan.” Guru : ”Bukan rumus, karena apa?kebetulan geraknya kerah W ,kalau geraknya kearah benda 1 bisa ndk 2 ini ketarik ke m ,bisa, wong kowe nimbo wae ember sing munggah kowe sing kecemplung. 1

                 Siswa : ”Haha.”(tertawa semua) Guru : ) persamaan ini sama ndk? ”Jika geraknya kesana (kearah m

              1 ”

              Siswa

                :”Tidak.” Guru : ”Beda, kamu harus melihat, arah gerak benda, arah gaya gesek,mana gaya yang searah dengan

              perpindahan, jadi tidak hafalan, brodol rambutmu lek dihafalke, sekarang kalau dah ketemu

              a(percepatan),kita bisa menghitung berapa tegangan talinya. ”

                

              Guru menekankan konsep diagram bebas gaya

              24 juli 2009

              Menit 8

                Guru : Jadi..yang namanya sumbu x dan y ini lho bidang geraknya bidang miring to lee(menunjukkan pada gambar) sumbu y itu tegak lurus sumbu x jadi mana sumbu Y? ” Siswa :

                ”Lurus dengan N.” Guru : ”Berarti tali yang ini (yang menggantung) bergerak pada sumbu X apa sumbu Y?” Siswa : ”Sumbu X.”

                Lampiran 8 Topik Data Guru B

                

              Kemampuan dan kelemahan Siswa

                

              22 Juli 2009

              Menit 18

              Guru : ”Silahkan dicoba...Apa yang dilihat...Ya..bayanganmu seperti apa?Gambar saja..lalu yang kamu

              lihat seperti apa?Ya..betul seperti itu??coba yang lain? Siapa..?Yang lain yang punya pendapat lain?Marla coba...(menunjuk siswa lain) coba digambarkan..yang kamu lihat itu seperti apa?pengamatannya sama ndak? ya coba digambarkan..Bisa thp menggambarkan ini?kelihatan kan?Gambarkan di bawahnya Kitin. Ya betul gambarkan dari kiri ke kanan...Betul begitu?selesai? Kamu tu lihatnya seperti apa?Kalau kamu gambarkan? Ya..memang..dua sampel beda-beda ya..mungkin Kitin ndak pakai kaca mata gambarnya cuma satu. Kalau kita lihat yang betul-betul mirip yang mana? ”

                Siswa :”Yang bawah.”

              Guru :“Punya’e Marla tadi..tapi ini lebih mblenduk ya..Ini sebenarnya kalau ini diubah-

              ubah..kemungkinan akan ada kejadian lain. Kita coba ya..Kalau berat? tambah apa? Selain itu jaraknya kita tambah..apa yang terjadi?Kalau bebannya saya t ambah lagi? Sekarang beda lagi.” Siswa

                :”Tambah kecil, tambah lebar.” Guru :”Sekarang beda lagi(guru menggeser alat) sekarang ada berapa?” Siswa

                :”Tiga.”

              Kemampuan dan kelemahan Siswa

                

              22 Juli 2009

              Menit 28.56 dan 30

              Dalam episode ini, peneliti menduga guru mengetahui kemampuan siswanya tentang

              matematika.

                 2 t - = A sin ( ))+ boleh ditulis sama Guru :”Kita perlu bantuan matematika ya..Sekarang ykx

              dengan apa? Supaya nya ilang persamaannya menjadi apa? Ahli matematik siapa?”

                 Siswa :”Lulu..” Guru 2t kx = A sin ( ))+ :”Kalo ini jadi apa ini, apa lu (menunjuk ke persamaan gelombang pantul), y

              • - atau +180 menjadi apa?”

                Lulu : “A (-sin (t kx )) ).”

              • - Menit 30.
                • + - keluarkan, tinggal yang didalam sin ( t ))- sin ( t )). Lagi lagi kita butuh
                • + -

                )). A nya bisa kita Guru :”Y = A sin (t kx )) dikurangi atau ple min, langsung min ya…-A sin (t kx

                 kxkx matematika..Lulu lagi...Ini kan sama saja sin A- sin B. Jadinya apa?”

                1 Lulu : “A kali 2 cos jumlah ini.”

                2

                

              Kemampuan dan kelemahan Siswa

                

              22 Juli 2009

              Menit 47.51

              Dalam episode ini peneliti menduga guru mengetahui kemampuan siswanya. Sehingga

              guru membimbing siswa dalam menyelesaikan persamaan gelombang stasioner dengan

              ujung bebas.

                Guru :”Ya..karena persamaannya sama saya minta tolong salah satu..siapa ...ahli matematika” (meminta salah seorang siswa untuk maju) Siswa :”Lia... (salah satu siswa menyebutkan nama seorang siswa) Guru :”Arum ya...silahkan Arum...silahkan maju ke depan (memanggil nama salah satu siswa untuk maju)

                

              Guru :”Pertama gelombang datangnya, gelombang merambat ke kiri (memberi petunjuk pada

              siswa,terutama untuk siswa yang maju) Guru :”Silahkan ditulis y 1 sama dengan apa? .A sin t

                

              ...ples atau min?kekiri? Siswa :” min...(beberapa siswa menjawab)

                Guru :”Kekiri?? Arum :”Ples.” Guru :”Ples...ya..kemudian yang gelombang pantul ..sama tapi ke kanan, tidak ada pembalikan fase karena A nya sudah positif. Ya betul, sekarang diselesaikan. Superposisinya. Di hapus paling kanan. Ditulis superposisi atau penjumlahan.(memberi arahan pada siswa yang maju)Ya judulnya superposisi atau penjumlahan.

                Guru :”y sama dengan apa tadi ....ya yang tadi ditulis..dijumlahkan...ya..Anya dikeluarkan pake kurung kotak. Kalo tadi sin itu min sin itu. Sekarang sin A +sin B . Ya bantu temannya jadinya apa? (meminta siswa yang lain untuk membantu). A kali apa?

                 Karena Arum masih bingung guru membantu dengan memberi petunjuk Guru : “ya setenga jumlah apa gitunya, tingal cos apa sin, kalau sin a + sin b jadinya apa? Arum masih bingung sehingga temanya membantu Guru :” ya sin ½ apo dijumlah ya..disederhanakan jadiinya, ya itulah persamaanya.”

                Memberi Lelucon

                

              22 Juli 2009

              Menit 15.35

              Dalam episode ini guru akan melakukan demonstrasi, sebelum memulai demonstrasi guru

              memberi lelucon

                ini bisa menggetarkan ujung hatimu

              Guru :”Nah..hari ini kita akan melihat gelombang yang lain yang berdasarkan amplitudo...yakni gelombang

              Stasioner. Nah gelombang stasioner ini seperti apa? Ini kita sudah punya alatnya, kita coba. (Guru mengambil alat yang sudah dipersiapkan, dan menempatkan alat tersebut di depan kelas). Alatnya cukup sederhana. Ini namanya penggentar, ini bisa menggetarkan ujung hatimu (saat memberikan lelucon guru melihat kealah satu siswa dan siswa tertawa semua) Siswa :” Ye.”

                

              Memberi Lelucon

                

              22 Juli 2009

              Menit 46.29

              Guru memberi lelucon “Seperti kalo masih remaja itu masih bebas...bisa kemana-mana masih bebas, tapi kalo nanti sudah menikah beda sudah

                sebelum memasuki materi gelombang stasioner dengan ujung bebas.

                Guru :”Nah kalo ada pemanatul ujung terikat atau tetap mestinya ada pemantul ujung...? Siswa :Bebas...(berapa siswa menjawab) Guru :”Bebas..(guru menulis dipapan tulis, gelombang stasioner ujung bebas) Guru

                :”Ini tidak bisa dipraktekkan tapi kita gambarkan saja, ujung bebbas seperti apa..Ujung bebas itu talinya dibuat logro ya..jadi ini dia bisa... naik turun. Nah ini kita namakan titik asal getaran (guru menggambar gelombang dengan ujung bebas dan memberi keterangan pada gambar)Kemudian disini ujung pemantul atau x = 0 ini gelombang datang y 1 dan ini gelombang pantul, y 2 . Guru :”Agak susah membuat peralatan gelombang stasioner ujung bebas.Tetapi untuk ujung bebas itu ini bebas, jadi bisa bergerak ke atas dan ke bawah (menunjuk pada gambar). Seperti kalo masih remaja itu masih bebas...bisa kemana-mana masih bebas, tapi kalo nanti sudah menikah beda sudah..(siswa tertawa)

                

              Memberi Lelucon

                

              23 Juli 2009

              Menit 40

              Pengetahuan guru tentang motivasi siswa terungkap dengan apa yang membuat siswa

              menarik

                ”Waw...tik” guru mengikutinya sehingga pelajaran demonstrasi yang berikan menjadi menyenangkan dan siswa pun mudah menerima pejelasan guru.

                

              Guru :”Tadi ada bidang yang papa namanya...normal. Nah itu yang sudah memantul yang ada kotak-

              kotaknya itu...Nah kalau yang memantul itu adalah gelombang..muka gelombang, satuya tadi apa?datar..satunya melingkar.Kalau yang memantul itu gelombang melingkar..tapi kayaknya ini tidak mudah. Melihat ini justru kita jadi bingung ya..jelas ini yang mendatar yang memantul yang mana?Sulit untuk melihat, malah gak usah pakai penggetar...Kita timbulkan gelombang melingkar.

                Begini..tik (menyentuh permukaan air pada tank dengan ujung jari)Namanya apa tadi? Siswa :”Waw...tik.. (serempak siswa tertawa) Siswa :

                ’lagi-lagi pak.” Guru :”namanya tadi apa?” Siswa

                :”tik.” Lalu mempraktekanya lagi dan siswa tertawa

                

              Memberi Pujian

                

              25 Juli 2009

              Menit 13.00

              Guru memberi apresiasi terhadap ja waban siswa dengan memberi pujian “betul Guru :”Ya..kalo mengenai bidang pemantul...betul.(mencatat dipapan tulis). Untuk pemantulan

              gambarnya agak susah, makanya perhatikan betul. Kemarin melihatnya juga sangat susah, menggambarnya

              sekarang juga susah. Kita lihat, kita buat dulu front gelombang datang, untuk memudahkan kita gambar

              sinar gelombang dulu. Ingat nanti front muka gelombang dengan sinar muka gelombang harus

              bagaimana?

                

              Mengaktifkan Siswa

                

              22 Juli 2009

              Menit 1

              Guru mengaktifkan siswa dengan melakukan tanya-jawab dengan siswa Guru : “Baik..kita sudah mempelajari berbagai macam gelombang. Berdasarkan arah getarnya dibagi menjadi gelombang apa dan apa?” Siswa :

                ”Longitudinal dan transversal.” (Siswa menjawab serempak) Guru : “Transversal dan longitudinal. Transversal kalo bagaimana?” Siswa : ”Tegak lurus.”(Siswa menjawab serempak) Guru : “Tegak lurus arah?”(Berhenti sejenak menunggu jawaban siswa) Siswa :

                “Getarnya.”(Beberapa siswa menjawab) Guru : “Tegak lurus arah getar atau arah rambat? Kalo longitudinal?” (Menunggu jawaban siswa) Siswa : ”Searah.” (Beberapa siswa menjawab) Guru : ”Terus yang kedua berdasarkan apa?” (Menunggu jawaban siswa) Siswa :

                “Medium” (Salah satu siswa menjawab) Guru : ”Medium yang dilalui apa saja? Gelombangnya?” Siswa : ”Mekanik.” Guru :”Yang ketiga berdasarkan apa?” Siswa

                :”Amplitudo.” Guru :”Amplitudo, yang kita pelajari tentang gelombang. Gelombang apa?” Siswa :”Gelombang berjalan.”

                

              Mengaktifkan Siswa

                

              22 Juli 2009

              Menit 18

              Dalam episode ini terungkap guru mencoba mengaktifkan siswa dan kelas dengan

              meminta dua siswa aktif (Kitin) dan pendiam (Marla)

              Guru : ”Silahkan dicoba...Apa yang dilihat...Ya..bayanganmu seperti apa? Gambar saja..lalu yang kamu

              lihat seperti apa? Ya..betul seperti itu? coba yang lain? Siapa..? Yang lain yang punya pendapat lain?Marla coba...(menunjuk siswa lain) Coba digambarkan..yang kamu lihat itu seperti apa? pengamatannya sama ndak? ya coba digambarkan..Bisa thp menggambarkan ini? kelihatan kan?Gambarkan di bawahnya Kitin. Ya betul gambarkan dari kiri ke kanan...Betul begitu? selesai? Kamu tu lihatnya seperti apa? Kalau kamu gambarkan? Ya..memang..dua sampel beda-beda ya..mungkin Kitin ndak pakai kaca mata gambarnya Cuma satu. Kalau kita lihat yang betul-betul mirip yang mana?”

                

              Guru :“Punya’e Marla tadi..tapi ini lebih mblenduk ya..Ini sebenarnya kalau ini diubah-

              ubah..kemungkinan akan ada kejadian lain. Kita coba ya..Kalau berat? tambah apa? Selain itu jaraknya kita tambah..apa yang terjadi?Kalau bebannya saya tambah lagi? Sekarang beda lagi.”

                Sis wa :”Tambah kecil, tambah lebar.” Guru :”Sekarang beda lagi(guru menggeser alat) sekarang ada berapa?” Siswa :”Tiga.”

                

              Mengaktifkan Siswa

                

              22 Juli 2009

              Menit 70

              Dalam episode ini terungkap cara guru mengaktifkan siswa, guru meminta siswa untuk

              maju ke depan mengerjakan soal dengan memancing siswa. Guru memancing siswa

              dengan mengerjakan sebagian soal.

                Guru :”Ya..siapa mau maju...?Ya kita coba dulu...diketahui apa? berarti panjang kata dari sini ke sini ya..dari ujung pemantul sampai sana ya...berarti ini l = frekuensinya = 8Hz, amplitudo, amplitudo gelombang yang datang atau yang pantul? v nya berapa? Merambat ke kanan yang lain ujung terikat ya...Tentukan : a apa? amplitudo gelombang hasil interferensi..apa?Tali pada persamaan ini kan kita ...ini namanya apa?A ini namanya apa? A (melingkari persamaan) Ini namanya S S amplitudo gelombang interferensi pada titik x . Ya tadi yang ditanya apa? A untuk x = 61, x nya S berapa? Ingat x tadi dihitung dari mana?

                Siswa :”Ujung pemantul..(salah satu siswa menjawab) Guru :”Ujung pemantul ya...jadi ujung pemantul terhadap titik tersebut. Lha kalo titiknya ini titik asal ini pemantul, terus...ini tadi titk awalnya kan setarus ya..jadi 100-61. Yang b apa? Letak simpul ke lima dan letak perut keempat dihitung dari mana?Dari titik asal getaran..Ya sudah saya bantu..paling tidak yang a bisa diselesaikan, siapa yang mau maju?Erin coba?yang a saja...Nah jadi untuk ujung terikat yao berarti ini 2A sin kx berarti hraus cari k.

                (Salah seorang siswa maju untuk mengerjakan) Siswa :”Pak mencari simpul kelima dan keempat dari asal pemantul kan pak? Guru :”Ya pertayaannya apa disitu?

                Siswa :”Oh ya.” Guru :”Yang ditanyakan titik asal getaran tapi kalo x tadi apa? Siswa :Pemantul..

                Guru :”Ya pemantul..dicari apa dulu? Siswa :”x..

                Guru :”Ya nyari x dulu baru..dikurangi,betul sekali Guru :”Ya...k nya sudah tau belum?erin?

                

              Mengaktifkan Siswa

                

              23 Juli 2009

              Menit 03.56

              Guru meminta untuk siswa mengerjakan ke depan setelah guru melihat pekerjaan siswa.

              Dengan cara inilah guru mengaktifkan siswa.

                Guru : “ Ya Nopen no. 8.” (lalu Nopen maju ke depan untuk mengerjakan)

              Mengaktifkan Siswa

                

              23 Juli 2009

              Menit 15.38

              Dalam episode ini guru mengaktifkan siswa dengan cara meminta siswa maju ke depan

              berdasarkan no absen.

                Guru : “Sekarang no. 11, yang maju no. Absen 11.. siapa?” Siswa : “Melly.” Guru

                : “ Ya meli maju.”

              Kemampuan Awal Siswa

                

              22 Juli 2009

              Menit 18

              Dalam episode di bawah ini, guru mencoba mengetahui kemampuan awal siswinya dalam

              menggambarkan gelombang stasioner.

                

              Guru :”Silahkan dicoba...Apa yang dilihat...Ya..bayanganmu seperti apa? Gambar saja..lalu yang kamu

              lihat seperti apa?Ya..betul seperti itu? coba yang lain? Siapa..? Yang lain yang punya pendapat lain? Marla coba...(menunjuk siswa lain) Coba digambarkan..yang kamu lihat itu seperti apa? pengamatannya sama ndak? ya coba digambarkan..Bisa thp menggambarkan ini? kelihatan kan? Gambarkan di bawahnya Kitin. Ya betul gambarkan dari kiri ke kanan...Betul begitu? selesai? Kamu tu lihatnya seperti apa? Kalau kamu gambarkan? Ya..memang..dua sampel beda-beda ya..mungkin Kitin ndak pakai kaca mata gambarnya Cuma satu.

                Kalau kita lihat yang betul-betul mirip yang mana ?” Siswa :”Yang bawah.”(lalu guru menggambarkan yang benar)

              Guru :”Punya’e Marla tadi..tapi ini lebih mblenduk ya..Ini sebenarnya kalau ini diubah-ubah..kemungkinan

                Siswa :”Tambah kecil, tambah lebar.” Guru :”Sekarang beda lagi(guru menggeser alat) sekarang ada berapa?” Siswa :”Tiga.”

                

              Mengingatkan Siswa tentang Konsep penting

                

              22 Juli 2009

              Menit 64

              Guru mengingatkan agar tidak lupa letak perut dan simpul dengan cara memasukan nilai n.

                Guru :”Kalo tidak ada pertanyaan, kita review sebentar. Guru :”Eh..biar tidak lupa...ini letak perut atau letak simpul (menulis persamaan untuk x letak perut dan letak simpul terhadap ujung pemantul)Yang ini letak perut atau simpul?Cara mengingatnya bagaimana?Cara mengingatnya, kalo ujung apa ini tadi?

                Siswa :”Terikat.” Guru :”Terikat...simpul pertama x nya berapa?nol..kalo dimasukkan nol ini nol nggak? Siswa

                :”Nol.” Guru :”Kalo ini, nol nggak?” Siswa :”Nggak.”

              Guru :”Jadi kalo ini simpulnya,dimasukkan nol harus ketemu nol, kalo ini perutnya tidak nol ya..

                

              (menunjuk pada grafik gelombang stasioner ujung terikat) Berarti kalo yang ini yang perut yang mana?

              (menunjuk pada grafik gelombang stasioner ujung bebas.) Yang kalo dimasukkan n= 0 harus nol maka,yang

              ini jadi perut (menunjuk pada persamaan simpul pada gelombang stasioner ujung terikat). Ini grafiknya

              sinus maka sin kx cos t

                 . Ini grafiknya cosinus maka cos kx sin t

                 .Ini persamaan ini dan n = 0 pasti

              punya’e ujung terikat dan simpul. Karena kalo dimasukkan n =0 simpul pertama harus nol. Kalo ini

              persamaannya harus ini juga untuk perut supaya dimasukkan n = 0 harus ketemu nol. Soal yang sudah

              difotocopy tadi silahkan dibahas.

                

              Mengingatkan Siswa tentang Konsep penting

                

              22 Juli 2009

              Menit 80

              Guru mengingatkan”Ingat x tadi dihitung dari mana” nilai x selalu dihitung dari ujung

              pemantul Guru :”Ya..siapa mau maju...?Ya kita coba dulu...diketahui apa?berarti panjang kata dari sini ke sini ya..dari ujung pemantul sampai sana ya...berarti ini l = frekuensinya = 8Hz, amplitudo, amplitudo gelombang yang datang atau yang pantul? v nya berapa? Merambat ke kanan yang lain ujung terikat ya...Tentukan : a apa? amplitudo gelombang hasil interferensi..apa? Tadi pada persamaan ini kan kita ...ini namanya apa?A S ini namanya apa? A S (melingkari persamaan)Ini namanya amplitudo gelombang interferensi pada titik x . Ya tadi yang ditanya apa? A S untuk x = 61, x nya berapa?Ingat x tadi dihitung dari mana?

                Siswa :”Ujung pemantul..(salah satu siswa menjawab) Guru :”Ujung pemantul ya...jadi ujung pemantul terhadap titik tersebut. Lha kalo titiknya ini titik asal ini

                bantu..paling tidak yang a bisa diselesaikan, siapa yang mau maju? Erin coba? yang a saja...Nah jadi untuk ujung terikat yao berarti ini 2A sin kx berarti hraus cari k. (Salah seorang siswa maju untuk mengerjakan) Siswa :

                ”Pak mencari simpul kelima dan keempat dari asal pemantul kan pak? Guru :”Ya pertayaannya apa disitu? Siswa :”Oh ya..

                Guru :”Yang ditanyakan titik asal getaran tapi kalo x tadi apa? Siswa : ”Pemantul.. Guru :”Ya pemantul..dicari apa dulu? Siswa :”x.. Guru :”Ya nyari x dulu baru..dikurangi,betul sekali Guru :”Ya...k nya sudah tau belum?erin?Sela(14:40) Siswa :”Belum...

                

              2 Guru (14)

                :”k nya kemarin itu sama dengan apa?

                

              Mengingatkan Siswa tentang Konsep penting

                

              23 Juli 2009

              Menit 1.56

              Guru mengingat letak simpul dan perut sebelum siswa mengerjakan soal Guru : “Simpul kelima n sama dengan berapa?(memberi petunjuk pada siswa yang mengerjakan didepan) yang lain silahkan dikerjakan.” Karena melihat siswa bingung guru bertanya kepada siswa lain.

                Guru : “Yang lain simpul kelima nnya berapa?” Siswa : “Empat.” Guru : “n kan selalu berkurang?” Siswa : “Satu.”

                

              Mengingatkan Siswa tentang Konsep penting

                

              23 Juli 2009

              Menit 1.56

              Guru mengingatkan bagaimana menghitung letak tiik perut dan simpul Guru : “Ya ada pertayaan, x itu selalu dihitung dari apa? Siswa

                : “7,0.” Guru :“Kalau ditanyakan terhadap atas bawah gimana, harus di?” Siswa : “Dikurang.”

                

              Mengingatkan Siswa tentang Konsep penting

                

              23 Juli 2009

              Menit 13.14

              Pengetahuan guru mengenai kesulitan belajar siswa terlihat dari guru mengulangi untuk

              mengingatkan siswa agar tidak salah mengerjakan soal.

                Guru :“Panjang xnya berapa, simpul kelima nnya sama dengan berapa?” Guru : “Cepat rambat, amplitudo berapa?”

              Guru : “Saya ulangi lagi (menulis di papan tulis) ini adalah pemantul ini asal getaran sedangkan xnya

              selalu lurus, xnya 81 yang ditanyakan ini. Jadi ini dikurang ini.” Siswa : “ Ini 255 dikurangi 81.” Guru

                : “Ya betul.”

                

              Lampiran 9

              Surat Ijin Penelitian

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pemanfaatan internet dalam meningkatkan pengetahuan guru di SMA Muhammadiyah 1 Tangerang
0
3
86
Penyiapan calon guru fisika SMA yang saintifik dan berkarakter melalui praktikum.
0
0
5
Pendidikan karakter dalam pembelajaran fisika dengan pendekatan guru sebagai model di SMA Santa Maria Yogyakarta.
1
8
192
Hubungan persepsi guru tentang sertifikasi dengan kualitas pembelajaran di SMA negeri 2 Klaten.
0
2
147
Hubungan persepsi guru tentang sertifikasi dengan kualitas pembelajaran di SMA negeri 2 Klaten
0
0
145
kuliah umum tentang keterampilan guru dalam pembelajaran
0
0
35
Hubungan pengetahuan guru tentang manajemen pembelajaran kinerja guru di Mts Negeri 2 Medan - Repository UIN Sumatera Utara
0
0
3
Hubungan pengetahuan guru tentang manajemen pembelajaran kinerja guru di Mts Negeri 2 Medan - Repository UIN Sumatera Utara
1
1
203
Hubungan persepsi guru tentang supervisi akademik dengan kinerja guru di SMA Yos Sudarso Sokaraja - USD Repository
0
1
122
Pemanfaatan komputer oleh guru fisika dalam pembelajaran fisika di SMA Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta [sebuah survei pada tahun 2008] - USD Repository
0
0
190
Kesiapan guru dalam menghadapi program sertifikasi guru dalam jabatan survey pada guru-guru sekolah menengah kejuruan program akuntansi, dan penjualan di wilayah kabupaten Bantul Yogyakarta - USD Repository
0
0
128
Perbedan pengaruh ceramah dengan ceramah dan testimoni tentang kanker serviks dan papsmear terhadap pengetahuan guru wanita sekolah dasar di kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
136
Rangkaian kegiatan guru dalam pembelajaran matematika yang mengintegrasikan penumbuhan kecakapan vokasional pada siswa SMP - USD Repository
0
0
212
Pengetahuan 2 orang guru fisika mengenai siswanya pada 2 SMA di Yogyakarta yang diduga berpengaruh terhadap aktivitas pembelajarannya - USD Repository
0
0
233
Pengaruh Persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru fisika terhadap prestasi belajar siswa - USD Repository
0
0
97
Show more