BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian yang Relevan - Otih Nurhayati BAB II

Gratis

0
0
41
3 months ago
Preview
Full text

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian yang Relevan Menurut pengamatan penulis, sudah ada beberapa penelitian yang telah

  dilakukan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto FKIP Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia khususnya tentang kebudayaan. Penelitian tersebut dilakukan oleh Evi Noviana pada tahun (2007) yang berjudul Unsur-unsur

  

Kebudayaan Jawa dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari

(Tinjauan Antropologi Sastra). Hasil penelitian Evi Noviana ini yaitu ada tiga unsur

  kebudayaan Jawa yang terdapat dalam CBE. Tiga unsur kebudayaan Jawa tersebut yaitu sistem pengetahuan, sistem religi, dan kesenian. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan yaitu data penelitian ini berupa teks yang mengandung wujud kebudayaan Jawa dalam kumpulan cerpen Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi.

  Penelitian ini akan membahas wujud budaya serta konstruksi wujud budaya Jawa tersebut dalam kumpulan cerpen Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Evi Noviana yaitu membahas unsur kebudyaan Jawa. Kebudayaan Jawa tersebut khususnya budaya Jawa daerah Banyumas dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk.

  Penelitian kedua dilakukan oleh Novi Septiantika mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan pada tahun (2014). Penelitian tersebut berjudul Wujud dan Unsur Kebudayaan Bali dalam

  

Kumpulan Cerpen Perempuan Yang Mengawini Keris Karya Wayan Sunarta

  10

  

(Studi Antropologi Sastra). Hasil penelitiannya yaitu tiga wujud kebudayaan dan

  tujuh unsur kebudayaan Bali dalam kumpulan Cerpen Perempuan yang Mengawini

  

Keris . Tiga wujud kebudayaan tersebut yaitu ide, aktivitas, dan hasil karya. Wujud Ide

di antaranya yaitu gagasan tentang nyentana, ngaben,balian, leak dan sebagainya.

  Wujud aktivitas di antaranya yaitu aktivitas tentang rapat adat, nyentana, sesaji, seni patung, seni lukis, seni tari dan ngaben. Wujud hasil karya di antaranya yaitu

  

pengerupak, tombak, patung, leak, bade, lukisan dan sebagainya. Sedangkan tujuh

  unsur kebudayaan tersebut yaitu: (1) Bahasa, contoh penggunaan kata bli; (2) Sistem pengetahuan, contohnya pengetahuan alam flora terhadap kayu, daun lontar, dan pengerupak; (3) Organisasi sosial, contohnya nyentana, klian, rapat adat, dan kelompok janger; (4) Sitem peralatan hidup dan teknologi, contohnya sistem persenjataan meliputi tombak, keris dan panah; (5) Sistem mata pencaharian contohnya membuat patung dan menjual manik-manik; (6) Sitem religi contohnya

  

leak, balian, karmapala dan ngaben; dan (7) Kesenian contohnya seni patung, seni

lukis dan seni musik.

  Penelitian yang dilakukan oleh Novi Septiantika berbeda dengan penelitian yang dilakukan. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan yaitu penelitian ini membahas wujud kebudayaan Jawa dalam kumpulan cerpen Pelajaran Pertama bagi

  

Calon Politisi berikut konstruksi wujud kebudayaannya, sedangkan penelitian Novi

  Septiantika membahas wujud dan unsur kebudayaan Bali dalam kumpulan cerpen

  

Perempuan yang Mengawini Keris. Dengan demikian, penelitian ini berbeda dengan

  penelitian yang dilakukan oleh Novi Septiantika maupun Evi Noviana. Oleh karena itu, peneliti berpendapat bahwa penelitian ini perlu dilakukan.

B. Pengertian Cerpen

  Sastra merupakan bagian intergral dari kebudayaan, menceritakan berbagai aspek kehidupan dengan cara imajinatif kreatif, sekaligus masuk akal. Bentuk karya sastra yaitu prosa dan puisi. Cerpen merupakan salah satu genre sastra yang berbentuk prosa. Graff (dalam Liliweri, 2014: 416) menyatakan bahwa prosa adalah suatu bentuk bahasa yang memiliki sintaksis biasa sebagaimana terdengar dalam pidato alami, prosa tidak terlalu memerlukan struktur ritme karena lebih mengutamakan standar ukuran dalam kalimat daripada puisi yang tergantung pada garis sebagai penentu irama.

  Noor (2007:26-29) menguraikan bahwa prosa dalam sastra modern lebih dikenal dengan isilah cerita rekaan (cerkan). Macam-macam cerita rekaan dalam sastra modern antara lain novel, cerita pendek (cerpen), dan novela (cerita pendek yang panjang. Setiap karya sastra mengandung unsur-unsur instrinsik, yaitu unsur- unsur yang membangun karya sastra dari dalam. Misalnya dalam cerita rekaan berupa tema, amanat, alur (plot), tokoh, latar (setting), dan pusat penceritaan (point of view).

  Setiap karya sastra juga mengandung unsur ekstrinsik, yaitu unsur-unsur dari luar yang mempengaruhi isi karya sastra. Unsur-unsur ekstrinsik itu misalnya psikologi, sosiologi, agama, sejarah, filsafat, idiologi, politik, dan lain-lain.

  Salah satu karya sastra prosa baru yaitu cerpen. Nurgiyantoro (2010: 9) menguraikan bahwa novel dan cerita pendek merupakan dua bentuk karya sastra yang sekaligus disebut fiksi. Cerpen sesuai namanya adalah cerita pendek. Akan tetapi, berapa ukuran panjang pendek itu memang tidak ada aturannya, tak ada satu kesepakatan di antara para pengarang dan para ahli. Edgar Allan Poe (dalam Nurgiyantoro, 2010: 9-11) mengatakan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam- suatu hal yang kiranya tidak mungkin dilakukan untuk sebuah novel. Panjang cerpen bervariasi ada cerpen yang pendek (short story), bahkan mungkin pendek sekali: berkisar 500-an kata; ada cerpen yang panjangnya cukup (middle short story), serta ada cerpen yang panjang (long short story), yang terdiri dari puluhan (atau bahkan beberapa puluh) ribu kata. Kelebihan cerpen yang khas adalah kemampuannya mengemukakan secara lebih banyak, secara implisit dari sekedar apa yang diceritakan.

  Liliweri (2014: 419-420) menguraikan bahwa cerpen adalah bentuk prosa yang menceritakan sebagian kecil dari kehidupan pelakunya yang terpenting dan paling menarik. Di dalam cerpen boleh ada konflik atau pertikaian, akan tetapi hal itu tidak menyebabkan perubahan nasib pelakunya. Cerita pendek merupakan suatu bentuk prosa naratif fiktif yang cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalakan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang.

  Sedangkan Sayuti (2000: 9) menyatakan bahwa cerpen merupakan karya prosa fiksi yang dapat selesai dibaca dalam sekali duduk dan ceritanya cukup dapat membangkitkan efek tertentu dalam diri pembaca. Maka kesimpulannya, bahwa cerpen adalah karya prosa fiksi yang dengan panjang sekitar 5000 kata dan dapat dibaca sekali duduk, serta merupakan kebulatan ide yang dapat membangkitkan efek tertentu dalam diri pembaca. Berdasarkan beberapa definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa cerpen merupakan salah satu prosa fiksi yang padat dan langsung pada tujuannya, menceritakan sebagian kecil dari kehidupan pelakunya yang terpenting dan paling menarik.

C. Kebudayaan 1. Pengertian Kebudayaan

  Koentjaraningrat (2009: 144-145) menerangkan bahwa menurut ilmu antropologi, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Hal tersebut berarti bahwa hampir seluruh tindakan manusia adalah “kebudayaan” karena hanya amat sedikit tindakan manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang tak perlu dibiasakannya dengan belajar. Bahkan berbagai tindakan manusia yang merupakan kemampuan nalurinya (seperti misalnya makan, minum atau berjalan dengan kedua kakinya) juga diubah olehnya menjadi tindakan berkebudayaan.

  Kebudayaan sebagai sistem pengetahuan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia sehingga dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya berupa perilaku dan benda- benda yang bersifat nyata. Misalnya pola-pola perilaku bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni dan lain-lain. Semua itu ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan masyarakatnya (Herimanto, 2010: 24-25)

  Sementara itu, Sulasman dan Setia Gumilar (2013:18-19) menyatakan bahwa kebudayaan adalah segala hal yang tercermin dalam realitas apa adanya di masyarakat. Dengan demikian, kebudayaan dalam pengertian luas, adalah makna, nilai, adat, ide, dan simbol yang relatif. Kebudayaan mewakili pandangan bahwa kebudayaan merupakan kenyataan objektif, sehingga kenyataan budaya itu bisa ditemukan di dalam institusi dan tradisi. Adapun dalam pengertian sempit, kebudayaan adalah memiliki kandungan spiritual dan intelektual yang tinggi. Dari beberapa pendapat yang sudah dipaparkan, maka dapat disimpulkan bahwa kebudayaan merupakan seluruh aspek kehidupan manusia, yang diperoleh dengan cara belajar mencakup pengetahuan, kepercayaan, adat-istiadat, moral, pengetahuan, kesenian, kemampuan-kemampuan, kebiasaan-kebiasaan dan hasil karya.

2. Wujud kebudayaan

  Kebudayaan dapat dibedakan dalam dua wujud, yaitu material culture (kebudayaan materiil) dan nonmaterial culture (kebudayaan nonmateriil). Untuk istilah yang kedua nonmaterial culture ada pula yang menyebutnya immaterial

  

culture . Cateora (dalam Sulasman dan Setia Gumilar, 2013: 38) menguraikan bahwa

kebudayaan materiil mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret.

  Termasuk dalam kebudayaan materiil adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhiasan, senjata, dan seterusnya.

  Kebudayaan materiil juga mencakup barang-barang seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit dan mesin cuci. Sedangkan kebudayaan nonmateriil adalah ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat atau lagu tradisional.

  Ogburn dan Nimkoff (dalam Liliweri, 2014: 12-14) menguraikan bahwa kebudayaan dibedakan menjadi dua wujud, yaitu kebudayaan material dan kebudayaan non-material. Kebudayaan material terdiri dari benda-benda konkret yang nyata seperti peralatan, furniture, mobil, buku, bangunan, bendungan sebagai benda nyata buatan manusia. Kebudayaan material mengacu pada benda-benda fisik, sumber daya, dan ruang yang digunakan orang untuk mendefinisikan budaya mereka.

  Kebudayaan non-material terdiri dari benda-benda abstrak yang tidak berwujud, misalnya adat istiadat, tradisi, kebiasaan, perilaku, sikap, kepercayaan, bahasa, sastra, seni, hukum, agama dan lain-lain. Semua bentuk non material tersebut bersifat internal karena mencerminkan sifat batin manusia dari kelompok atau komunitas tertentu.

  Kebudayaan non-material mengacu pada ide-ide nonfisik yang dimiliki oleh sekelompok orang, misalnya tentang keyakinan, nilai-nilai, aturan, norma, moral, bahasa, organisasi, dan pranata sosial.

  Dua komponen kebudayaan berupa material culture dan nonmaterial culture, adapula yang menyebutnya dengan istilah budaya tangibel dan intangible. Sedyawati (2006: 160-164) menguraikan bahwa budaya tangible yaitu budaya yang berwujud dapat disentuh berupa benda konkret, pada umumnya berupa benda hasil buatan manusia, dan dibuat untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Namum pada khususnya, terdapat pula di mana suatu benda alami, tidak diberi pengerjaan apa pun oleh tangan manusia, menjadi warisan budaya karena pada masa berfungsinya benda tersebut diberi makna budaya oleh manusia. Sedangkan budaya intangble adalah budaya yang tidak berwujud, tidak dapat diraba, bersifat abstrak, seperti konsep dan nilai.

  Aspek-aspek intangible atau “takbenda” itu dapat berkenaan dengan : 1). Konsep mengenai benda itu sendiri; 2). Perlambangan yang diwujudkan melalui benda itu; 3). Kebermaknaan dalam kaitan dengan fungsi atau kegunaannya; 4). Isi pesan yang terkandung di dalamnya, khususnya apabila terdapat tulisan padanya; 5). Teknologi untuk membuatnya; ataupun 6). Pola tingkah laku yang terkait dengan pemanfaatannya. Bagaimanapun, suatu benda budaya yang bersifat tangible karena sifat budayanya itu tentu mempunyai juga sesuatu atau sejumlah aspek intangible (tak dapat diraba) yang melekat padanya. Misalnya “meja”; konsep mengenainya adalah : perabotan rumah tangga, permukaan datar di bagian atasnya untuk meletakkan benda- benda yang lebih kecil, berkaki (bisa rendah atau tinggi).

  Koentjaraningrat (2009: 150) menguraikan bahwa kebudayaan itu ada tiga wujudnya, yaitu:

  1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai, norma, peraturan dan sebagainya.

  2. Wujud kebudayaan sebagai suaut kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.

  3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

  Wujud pertama adalah wujud ide dari kebudayaan. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai, norma, peraturan dan sebagainya. Sifatnya abstrak, tidak dapat diraba atau difoto. Lokasinya ada di dalam kepala-kepala, atau dengan perkataan lain, dalam alam pikiran warga masyarakat di mana kebudayaan yang bersangkutan hidup. Kalau warga masyarakat tadi menyatakan gagasan mereka dalam tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ide sering berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat bersangkutan. Sekarang kebudayaan ide banyak tersimpan dalam disk, arsip, koleksi microfilm dan microfish, kartu komputer, silinder, dan pita komputer. Ide-ide dan gagasan manusia banyak yang hidup bersama dalam suatu masyarakat, memberi jiwa kepada masyarakat itu. Gagasan itu tidak berada lepas satu dari yang lain, melainkan selalu berkaitan, menjadi suatu sistem. Para ahli antropologi dan sosiologi menyebut sistem ini sistem budaya atau cultural system (Koentjaraningrat, 2009: 151).

  Kebudayaan ide ini dapat kita sebut adat tata kelakuan, atau secara singkat

  

adat dalam arti khusus atau adat-istiadat dalam bentuk jamaknya. Sebutan tata-

  kelakuan, maksudnya bahwa kebudayaan ide biasanya berfungsi sebagai tata kelakuan yang mengatur, mengendali, dan memberi arah kepada kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat (Koentjaraningrat, 2004: 5). Adat dibagi lebih khusus dalam empat tingkat, ialah : (i) tingkat nilai-budaya, (ii) tingkat norma-norma, (iii) tingkat hukum, (iv) tingkat aturan khusus (Koentjaraningrat, 2004: 11).

  Sulasman dan Setia Gumilar (2013: 35-36) menguraikan bahwa wujud ide adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide, gagasan, nilai, norma, peraturan dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud ide dapat pula disebut sebagai ideologi. Istilah ideologi mengacu pada kawasan ideasional dalam suatu budaya. Istilah ideologi meliputi nilai, norma, falsafah dan kepercayaan religius, sentimen, kaidah etis, pengetahuan atau wawasan tentang dunia, etos, dan semacamnya.

  Kedua, wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. Wujud yang kedua dari kebudayaan sering disebut sistem sosial atau social system, mengenai kelakuan berpola dari manusia itu sendiri. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia-manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan lain, dari detik ke detik, dari hari ke hari, dari tahun ke tahun selalu mengikuti pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata-kelakuan. Sebagai rangkaian aktivitas manusia dalam suatu masyarakat, sistem soial itu bersifat konkret, terjadi di sekeliling kita sehari-hari, bisa diobservasi, difoto, dan didokumentasi (Koentjaraningrat, 2009: 151).

  Aktivitas adalah wujud kebudayan sebagai tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Sebagai perwujudan gagasan dalam kebudayaan, aktivitas (perilaku) dibagi menjadi perilaku verbal (lisan dan tulisan) dan nonverbal (artefak dan alam). Wujud perilaku sering berbentuk sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri atas aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakukan.

  Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-sehari dan dapat diamati dan didokumentasikan (Sulasman dan Setia Gumilar, 2013: 36) Poerwanto (2000: 56-

  57) menyatakan bahwa kebudayaan sebagai „pola dari perilaku‟adalah berupa gagasan yang mengacu pada sistem pengetahuan dan kepercayaan, yang menjadi pedoman untuk mengatur tindakan mereka. Sementara itu,

  C. Kluchohn (dalam Poerwanto, 2000: 88-89) menguraikan bahwa makhluk manusia adalah bagian dari sistem sosial, maka setiap individu harus belajar mengenai pola- pola tindakan, agar ia dapat mengembangkan hubungannya dengan individu-individu lain di sekitarnya. Proses belajar ini lebih dikenal dengan sosialisasi.

  Ketiga, wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Wujud ketiga dari kebudayaan disebut kebudayaan fisik, dan memerlukan keterangan banyak.

  Karena merupakan seluruh total dari hasil fisik dari aktivitas perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat, maka, sifatnya paling konkret, dan berupa benda- benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan difoto. Ada benda-benda yang amat besar seperti: suatu pabrik baja; ada benda-benda yang amat kompleks seperti suatu komputer berkapasitas tinggi; atau benda-benda yang besar dan bergerak seperti suatu perahu tangki-minyak; ada benda-benda yang besar dan indah seperti suatu candi yang indah; atau ada pula benda-benda kecil seperti kain batik; atau yang lebih kecil lagi, yaitu kancing baju (Koentjaraningrat, 2009: 151). Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat, berupa benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan (Sulasman dan Setia Gumilar, 2013: 37)

  Tiga wujud kebudayan terurai di atas, dalam kenyataan kehidupan masyarakat tidak terpisah satu dengan lain. Kebudayaan ide dan adat-istiadat mengatur dan memberi arah kepada perbuatan dan karya manusia. Baik pikiran-pikiran dan ide-ide maupun perbuatan dan karya manusia, menghasilkan kebudayaan fisiknya. Sebaliknya kebudayan fisik itu membentuk suatu lingkungan hidup tertentu yang makin lama makin menjauhkan manusia dari lingkungan alamiahnya, sehingga mempengaruhi pula pola-pola perbuatannya, bahkan juga mempengaruhi cara berpikirnya (Koentjaraningrat, 2009: 152).

  Sementara itu, Sulasman dan Setia Gumilar (2013: 37) menguraikan bahwa dalam kehidupan masyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak dapat dipisahkan dari wujud kebudayan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ide mengatur dan memberi arah pada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

  Sebagai perwujudan gagasan dalam kebudayaan, perilaku dibagi menjadi perilaku verbal (lisan dan tulisan) dan nonverbal (artefak dan alam). Keduanya membentuk kebudayaan material. Materi dalam yang dimaksud dalam kebudayan material meliputi benda-benda tak bergerak yang disebut artefak itu.

  Dari beberapa pendapat mengenai wujud kebudayaan, maka dapat disimpulkan bahwa wujud kebudayaan secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kebudayaan material dan nonmaterial ada pula yang menyebutnya kebudayaan

  

tangible dan intangible. Kebudayaan material (tangible) adalah kebudayaan fisik yang

  konkret bisa dilihat, diraba dan bersifat jasmani. Wujud kebudayaan material

(tangible) berupa wujud kebudayaan fisik dan wujud kebudayaan aktivitas.

  Sedangkan kebudayaan imaterial (intangible) merupakan kebudayaan yang bersifat rohani atau tidak dapat dilihat bersifat abstrak, misalnya kepercayaan, tradisi, keyakinan, adat-istiadat, perilaku, sikap dan lain-lain. Wujud kebudayaan imaterial berupa wujud kebudayaan ide. Wujud kebudayaan ide merupakan motor atau penggerak bagi wujud kebudayaan aktivitas dan fisik. Seseorang akan melakukan suatu aktivitas setelah memiliki gagasan tentang aktivitas tersebut. Seseorang juga akan menghasilkan wujud kebudayaan fisik setelah memiliki ide/gagasan tentang fisik atau hasil karya yang akan dihasilkan.

3. Kebudayaan Jawa

  Kebudayaan Jawa merupakan salah satu kebudayaan daerah yang ada di Indonesia. Sulasman dan Setia Gumilar (2013: 271) menguraikan bahwa kebudayan daerah adalah kebudayaan dalam wilayah atau daerah tertentu yang diwariskan secara turun temurun oleh generasi terdahlu kepada generasi berikutnya pada ruang lingkup daerah tersebut. Budaya daerah ini muncul saat penduduk suatu daerah telah memiliki pola pikir dan kehidupan sosial yang sama sehingga menjadi suatu kebiasaan mereka yang membedakan mereka dengan penduduk lain.

  Koentjaraningrat (1994:3-29) menguraikan bahwa pulau Jawa, yaitu suatu pulau yang panjangnya lebih dari 1.200 km, dan lebarnya 500 km. Orang Jawa hanya mendiami bagian tengah dan timur dari seluruh Pulau Jawa; sebelah baratnya (yang hampir seluruhnya merupakan Dataran Tinggi Priangan), seperti kita ketahui, adalah daerah Sunda. Kebudayaan Jawa memiliki keanekaragaman regional budaya. Menurut pandangan orang Jawa, kebudayaannya tidak merupakan suatu kesatuan yang homogen. Keanekaragaman regional kebudayaan Jawa ini sedikit banyak cocok dengan daerah-daerah logat bahasa Jawa, dan tampak juga dalam unsur-unsur seperti makanan, upacara-upacara rumah tangga, kesenian rakyat,dan seni suara.

  Sulasman dan Setia Gumilar (2013: 28-29) menyatakan bahwa kebudayaan melekat dengan diri manusia. Artinya, manusia adalah pencipta kebudayaan. Pada tataran yang lebih tinggi, kebudayaan tidak dapat dilepaskan dari masyarakat. Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem, adat istiadat tertentu yang berkesinambungan dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu. Amin (dalam Warsito, 2012: 98) menguraikan bahwa masyarakat Jawa atau tepatnya suku bangsa Jawa, secara Antropologi Budaya adalah orang-orang yang dalam hidup kesehariannya menggunakan bahasa Jawa dengan berbagai ragam dialeknya secara turun temurun.

  Menurut Koentjaraningrat (1999:329-347) daerah kebudayaan Jawa luas, yaitu meliputi seluruh bagian tengah dan timur dari pulau Jawa. Sungguhpun demikikan ada daerah-daerah yang secara kolektif sering disebut kejawen. Sebelum terjadi perubahan wilayah, daerah tersebut yaitu Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Malang dan Kediri. Di luar daerah tersebut dinamakan Pesisir dan Ujung timur. Bahasa yang digunakan sehari-hari maupun perhubungan sosial menggunakan bahasa Jawa. Sistem kekerabatan mereka berdasarkan prinsip keturunan bilateral. Mata pencaharian sebagai penghidupan masyarakat Jawa di antaranya yaitu kepegawaian, pertukangan, perdagangan dan bertani. Orang Jawa percaya kepada suatu kekuatan yang melebihi segala kekuatan di mana saja yang pernah dikenal, yaitu kasekten, kemudian arwah atau ruh leluhur, dan makhluk-makhluk halus seperti memedi, lelembut, tuyul, demit, serta jin dan lainnya.

  Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat Jawa adalah penghasil atau pencipta utama kebudayaan Jawa. Karena itu, antara masyarakat Jawa dan kebudayaan Jawa tidak mungkin dapat dipisahkan. Kebudayaan Jawa terdiri atas sejumlah pola kelakuan yang meliputi berbagai tindakan dan pola berpikir Jawa. Jadi kebudayaan Jawa merupakan kebudayaan yang dihasilkan oleh masyarakat Jawa berupa ide, aktivitas dan fisik (hasil karya) diwariskan secara turun temurun sebagai salah satu budaya yang khas.

  Berikut penjelasan masing-masing wujud kebudayaan Jawa, yang meliputi: (1) Wujud kebudayaan Jawa sebagai ide/gagasan, (2) Wujud kebudayaan Jawa sebagai suatu aktivitas, dan (3) Wujud kebudayaan Jawa sebagai hasil karya.

a. Wujud kebudayaan Jawa sebagai suatu ide

  Wujud kebudayaan Jawa sebagai suatu ide/gagasan yaitu wujud kebudayan yang berbentuk kumpulan ide, gagasan, nilai, norma, peraturan dan sebagainya yang sifatnya abstrak, tidak dapat diraba atau disentuh yang dihasilkan oleh masyarakat Jawa. Wujud ide tersebut menjadi pedoman bagi bentuk wujud kebudayaan Jawa lainnya yang berupa wujud kebudayaan Jawa sebagai suatu aktivitas yang kemudian dari aktivitas tersebut menghasilkan wujud kebudayaan Jawa sebagai suatu hasil karya. Wujud kebudayaan Jawa sebagai suatu ide dapat pula disebut sebagai ideologi masyarakat Jawa. Istilah ideologi mengacu pada kawasan ideasional meliputi nilai- nilai, norma, falsafah dan kepercayaan religius, sentimen, kaidah etis, pengetahuan atau wawasan tentang dunia, etos, dan semacamnya.

  Untuk memperjelas, salah satu contohnya yaitu masyarakat Jawa memiliki kepercayaan terhadap Tuhan dan kekuatan gaib lainnya, baik itu roh-roh halus, lelembut, jin maupun kekuatan yang dihasilkan oleh benda. Kepercayaan masyarakat Jawa tentang hal itu, dapat diperjelas berdasarkan pendapat Koentjaraningrat (1994: 411-413) menguraikan bahwa seperti pada banyak kebudayaan di dunia, ilmu gaib

  

(ngelmi) dan tenung pada orang Jawa merupakan tren dari religi, karena mengenai

  manusia yang berhubungan dengan kekuatan-kekuatan supernatural, dan karena itu dianggap keramat. Orang Jawa menganggap ngelmi itu bagian dari religi dan memang

  

ngelmi itu bertautan erat dengan religi. Orang yang melakukan upacara religi

  menyerahkan dirinya sepenuhnya kepadaTuhan, kepada para dewa, atau kepada mahluk-mahluk gaib yang lain, dan berdoa agar permintaanya bisa terkabul

  

(nyenyuwun). Masyarakat Jawa juga percaya pada suatu kekuatan yang melebihi

  segala kekuatan, yaitu kasekten (kesaktian), kemudian arwah atau roh leluhur, dan makhluk-makhluk halus seperti misalnya memedi, lelembut, dan lain-lain yang menempati alam sekitar tempat tinggal mereka.

b. Wujud kebudayaan Jawa sebagai suatu aktivitas

  Wujud kebudayaan Jawa sebagai suatu aktivitas merupakan wujud kebudayaan sebagai tindakan berpola dari manusia Jawa dalam masyarakat itu. Sebagai perwujudan gagasan dalam kebudayaan, aktivitas (perilaku) yang dihasilkan oleh masyarakat Jawa dibagi menjadi perilaku verbal (lisan dan tulisan) dan nonverbal (artefak dan alam). Wujud perilaku sering berbentuk sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri atas aktivitas seorang masyarakat Jawa yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan anggota masyarakat lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakukan masyarakat Jawa. Sifat wujud kebudayaan tersebut yaitu konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-sehari dan dapat diamati dan didokumentasikan.

  Sebagaimana sudah diketahui bahwa wujud kebudayaan Jawa sebagai ide/gagasan merupakan landasan masyarakat Jawa untuk melakukan aktivitas.

  Aktivitas yang dihasilkan oleh masyarakat Jawa disebut sebagai perwujudan budaya. Salah satu contohnya yaitu tentang aktivitas bermasyarakat. Sebagaimana diketahui, masyarakat Jawa merupakan yang lebih senang hidup rukun, berusaha menjaga hubungan baik dengan sekitarnya. Masyarakat Jawa juga memiliki norma-norma daerah yang kental. Hal itu merupakan salah satu wujud untuk saling berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakat menurut sistem kesatuan hidup di daerahnya.

  Salah satu kerukunan yang terdapat dalam masyarakat Jawa yaitu aktivitas gotong royong. Gotong royong merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa berdasarkan pandangan hidup yang mereka anut berupa hidup rukun. Koentjaraningrat (1994:151-152) menguraikan bahwa suatu rumah tangga di Jawa terutama harus berusaha menjalin suatu hubungan yang baik dengan para tetangganya.

  Hubungan baik ini mereka nyatakan dengan berbagai cara bergotong-royong. Dalam adat sopan santun Jawa, gotong royong ini dilakasnakan menurut berbagai kewajiban tertentu yang harus ditaati oleh setiap kepala keluarga. Salah satu contohnya yaitu pada waktu seorang tetangga mengalami kematian salah seorang keluarganya, maka para tetangga lainnya pun diharapkan bantuannya untuk menyiapkan segala-galanya untuk menguburkan jenazahnya. Contoh lain dalam menjaga hubungan baik dengan tetangga yaitu sesuatu keluarga tetangga seringkali memerlukan bantuan untuk melakukan berbagai perbaikan rumahnya, misalnya memperbaiki atap, mengganti dinding bilik, membasmi tikus, membuat sumur, atau menumbuk padi untuk slametan.

c. Wujud kebudayaan Jawa sebagai suatu hasil karya (fisik)

  Wujud kebudayaan Jawa sebagai suatu hasil karya (fisik) adalah wujud kebudayaan fisik berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia Jawa dalam masyarakat. Wujud kebudayaan tersebut berupa benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan dan memilik sifat paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan Jawa. Salah satu contohnya yaitu berupa pakaian. Masyarakat Jawa memiliki pakaian atau kain khas berupa batik Jawa. Berkenaan pakaian khas masyarakat Jawa sebagai unsur kebudayaan berupa sistem teknologi dan perlatan hidup dapat dipertegas dengan pendapat Sumardi dkk. Sumardi dkk (1992a: 103) menguraikan bahwa berkenaan dengan pakaian maka masyarakat Jawa mengenal yang disebut pakaian Jawa jangkep (pakaian Jawa lengkap), yang berupa kelengkapan berpakaian dengan menggunakan tutup kepala (kuluk), berbaju jas sikepan (atola), sabuk dan kain batik serta memakai keris berikut alas kakik bagi kaum pria.

  Sedangkan kaum wanitanya memakai kebaya panjang dengan kain batik dan perhiasan berupa subang, kalung gelang, dan cincin serta bersanggul yang disebut

  

bokor mengkureb. Adapun jenisnya kemudian beraneka ragam, disesuaikan dengan

kebutuhan sesuatu upacara, misalnya jagongan ataupun keperluan lainnya.

4. Konstruksi Kebudayaan a. Pengertian Konstruksi Kebudayaan Konstruksi kebudayaan terdiri dari dua kata, yaitu konstruksi dan kebudayaan.

  Konstruksi memiliki makna yaitu cara membuat atau menyusun. Selain itu, dalam istilah bahasa, kata „konstruksi‟ memiliki arti sebagai susunan dan hubungan kata dalam kalimat atau dalam kelompok kata (Poerwadarminta, 2007: 612). Sebanding dengan pendapat Poerwadarminta, Dagun (2013: 845) menyebutkan bahwa konstruksi

  

(construction) dari segi Linguistik berarti susunan dan hubungan kata dalam kalimat

  atau kelompok kata. Dalam istilah umum, konstruksi berarti susunan model, tata letak suatu bangunan jembatan, rumah dan sebagainya.

  Sementara itu, konstruksi bisa disebut juga dengan konstruk. Ratna (2013a: 236-238) menguraikan bahwa definisi konstruk dapat dilihat pada definisi konsep.

  Konsep, dari kata concipere (Latin), berarti mencakup, mengandung, menangkap. Secara luas konsep adalah abstraksi suatu peristiwa gambaran mental suatu objek. Setiap kata, bahkan setiap simbol yang memiliki makna tertentu dapat dianggap sebagai konsep. Konsep dibangun atas dasar data, bukan sebaliknya. Hakikat konsep ada dua macam, yaitu: a) konsep konkret (rumah meja, dan sebagainya), dan b) konsep abstrak (pikiran, ineraksi sosial, dan sebagainya). Dalam penerapan konsep juga dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: a) konsep leksikal (teoretis, konstitutif, nominal, denotatif, normatif), dan b) konsep operasional. Yang lebih berperan dalam penelitian adalah konsep operasional. Kerlinger dan Danesi (dalam Ratna, 2013a: 237) menguraikan bahwa konsep yang sudah diaplikasikan dan telah membentuk jaringan dengan konsep lain disebut konstruk (constructs). Konsep juga dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: a) konsep superordinat, seperti binatang, b) konsep dasar seperti kucing, dan c) konsep subordinat seperti kucing hutan.

  Dari beberapa definisi yang sudah dipaparkan maka dapat disimpulkan bahwa konstruksi merupakan susunan dan hubungan bagian-bagian dari suatu objek.

  Konstruksi bisa juga disebut dengan konsep yang berarti mencakup, mengandung, menangkap dan secara luas „konsep‟ disebut juga sebagai abstraksi suatu peristiwa gambaran mental suatu objek. Konsep-konsep yang sudah diaplikasikan dan membentuk jaringan disebut dengan konstruk.

  Untuk mengetahui maksud dari konstruksi kebudayaan, maka kata kedua yang perlu dicari definisinya yaitu, kebudayaan. Menurut Harris (dalam Ratna, 2007: 5) menguraikan bahwa kebudayaan adalah seluruh aspek kehidupan manusia dalam masyarakat, yang diperoleh dengan cara belajar dan tingkah laku. Sementara itu, Liliweri (2014:5-9) menguraikan bahwa banyak antropolog dan sosiolog yang mendefinisikan kebudayaan sebagai deposit dari pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai-nilai, sikap, makna, hirarki, agama, pengertian waktu, peran, hubungan spasial, konsep alam semesta dan benda-benda materi dan harta benda yang diperoleh oleh sekelompok orang dalam perjalanan generasi melalui perjuangan individu dan kelompok. Menurut Geerts (dalam Liliweri, 2014: 8-9) kebudayaan terdiri dari “sistem belajar makna” yang dikomunikasikan dengan menggunakan bahasa alami dan sistem simbol lain yang memiliki representasional, direktif, dan fungsi afektif, dan mampu menciptakan entitas budaya dan indera tertentu. Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa kebudayaan merupakan seluruh kehidupan manusia yang diperoleh dengan cara belajar dan tingkah laku meliputi pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai-nilai, sikap, makna, hirarki, agama, pengertian waktu, peran, hubungan spasial, konsep alam semesta dan benda- benda materi dan harta benda dalam masyarakat.

  Beracuan menurut pendapat Ratna bahwa konstruksi bisa juga disebut dengan konsep, maka sedikit sejalan dengan pendapat Poerwanto tentang konsep kebudayaan.

  Sementara itu, pembicaraan dalam hal ini yaitu konstruksi kebudayaan. Poerwanto (2000: 55) menguraikan bahwa metode analisis yang memandang kebudayaan sebagai suatu keseluruhan yang terintegrasi, akan memudahkan memahami keterkaitan setiap unsur-unsur kecil dalam kebudayaan. Demikian pula bagaimanakan keterkaitan lebih lanjut dari unsur-unsur kecil tadi dalam rangka keseluruhannya seperti tampak pada konsep patterns of culture dari Ruth Benedict (1934).

  Ruth Benedict (dalam Poerwanto, 2000: 55-56) menguraikan bahwa ia menganjurkan agar dalam melihat kebudayaan manusia tidak hanya sekedar melihat himpunan dari unsur-unsur yang satu dengan lainnya saling terlepas; tetapi lebih dipandang sebagai suatu kompleks jaringan yang mempunyai arti, watak dan jiwa.

  Karenanya tugas seorang ahli antropologi harus mampu menyelami jiwa dari suatu kebudayaan dengan memperhatikan gagasan-gagasan, perasaan-perasaan dan emosi- emosi para individu suatu masyarakatkar. Selain itu, disamping seorang penelti haru mampu mendeskripsikan sampai dengan unsur-unsur terkecil dari suatu kebudayaan, ia juga harus mampu menganalisis berbagai gagasan, perasaan dan emosi yang melatarbelakanginya. Karenanya, pengertian konsep patterns dari Ruth Benedict ialah keseluruhan jaringan emosi-emosi yang hidup dalam suatu kebudayaan yang seolah- olah memberikan jiwa dan watak suatu kebudayaan.

  Dari pembahasan yang sudah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa konstruksi kebudayaan adalah susunan, hubungan atau konsep berupa abstraksi suatu persitiwa terhadap suatu objek (budaya) yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang diperoleh dengan cara belajar dan tingkah laku, baik berupa pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai-nilai, sikap, makna, hirarki, agama, pengertian waktu, peran, hubungan spasial, konsep alam semesta dan benda-benda materi dan harta benda dalam masyarakat. Selanjutnya keseluruhan jaringan abstraksi tersebut seolah-olah memberikan jiwa dan watak suatu kebudayaan.

b. Pengertian Konstruksi Kebudayaan dalam Teks Sastra

  Konstruksi kebudayaan dalam teks sastra sedikit berbeda dengan konstruksi kebudayaan secara umum, seperti yang sudah dikemukakan di awal. Untuk penegasan, yang dimaksud dengan konstruksi kebudayaan dalam teks sastra dalam pembahasan ini sama halnya dengan istilah

  „hal-hal yang menyusun kebudayaan yang terdapat dalam karya sastra atau hal-hal yang melatarbelakangi adanya kebudayaan dalam teks sastra‟. Sebagaimana diketahui bahwa karya sastra merupakan representasi kehidupan nyata dengan segala kompeksitasnya, salah satunya yaitu kebudayaan.

  Untuk mengetahui konstruksi wujud kebudayaan dalam teks sastra, maka pembahasan dimulai dengan menjelaskan beberapa hubungan karya sastra. Hubungan tersebut yaitu berupa hubungan karya sastra dengan pengarang; hubungan karya sastra dengan masyarakat; dan hubungan karya sastra dengan kebudayaan.

  Karya sastra merupakan salah satu produk budaya berupa karya seni dengan medium bahasa. Karya sastra merupakan hasil olah cipta pengarang sebagai salah satu anggota masyarakat yang menyerap dan merepresentasikan budaya di kehidupan nyata ke dalam bentuk imajiner. Dengan kata lain, fakta imajiner dalam sastra dikonstruksi oleh fakta realitas yang sudah diolah oleh pengarang sebagai subjek kreator. Fakta realitas berupa kebudayaan yang melingkupi kehidupan pengarangnya menjadi objek kreatifitas yang ditransmisikan menjadi fakta imajiner sastra. Hal ini dapat dikatakan bahwa isi karya sastra adalah kebudayaan, yang dimediasi oleh pengarang sebagai subjek kreator atau penghasil kebudayaan dalam kehidupan nyata. Ini menandakan bahwa karya sastra memiliki hubungan atau kaitan dengan pengarang.

  Selain memiliki hubungan atau kaitan dengan pengarang, karya sastra juga memiliki hubungan dengan masyarakat. Ada dua jenis hubungan karya sastra dengan masyarakat. Ratna (2011: 194) menguraikan bahwa hubungan antara sastra dengan masyarakat menampilkan dua pengertian, yaitu: (1) karya sastra itu sendiri dengan masyarakat tertentu yang menghasilkannya, (2) karya sastra dengan aspek-aspek kemasyarakatan yang terkandung di dalamnya. Wellek dan Warren (dalam Ratna, 2011: 194) menguraikan bahwa model hubungan pertama menghasilkan analisis ekstrinsik, sedangkan model hubungan yang, kedua menghasilkan analisis instrinsik.

  Dari dua model tersebut, penulis menegaskan bahwa yang lebih difokuskan dalam pembahasan ini, yaitu model hubungan pertama sebagai analisis ekstrinsik.

  Hubungan karya sastra dengan masyarakat sebagai model pertama lebih lanjut penulis uraikan berdasarkan pendapat Kurniawan dalam bukunya Teori, Metode, dan

  

Aplikasi Sosiologi Sastra. Kurniawan (2012: 2-3) menguraikan bahwa dari aspek

  kulturnya, sastra sebagai hasil cipta berupa “pikir” dan “rasa” dalam bentuk artefak tulisan (secara general) merupakan perwujudan budaya. Wujud budaya yang berupa sistem nilai, sistem pikiran, dan sistem tindakan ada dalam sastra sebagai artefak budaya. Oleh karena itu, sastra secara kolektif adalah hasil budaya manusia yang secara umum diwujudkan melalui sistem bahasa, dan bahasa sendiri adalah unsur kebudayaan. Sastra menjadi disiplin objek kajian budaya karena sastra adalah sistem budaya sebagai representasi pikiran manusia yang mewakili kolektivitasnya dalam kehidupan sosial masyarakat. Sastra pun menjadi hidup dan dihidupi oleh sistem masyarakat yang ada. Sebagai produk budaya, maka sastra merupakan manifestasi pikiran dan perasaaan manusia yang dievokasi dengan daya fantasi dan imajinasi.

  Karena sastra merupakan produk budaya, maka sastra selain menggambarkan ide dan gagasan penulisnya, sastra juga menggambarkan sistem sosial dan sistem budaya sebagai tempat penulis itu hidup.

  Sastra dan kebudayaan memiliki hubungan. Ratna (2007: 10-12) menguraikan bahwa hubungan antara sastra dan kebudayaan dipicu oleh lahirnya perhatian terhadap kebudayaan sebagai studi kultural. Sastra merupakan hasil imajinasi, rekaan dan kreativitas, termasuk pemakaian bahasa metaforis konotatif. Imajinasi bukanlah narasi dengan khayalan kosong, imajinasi didasarkan atas kenyataan. Pada gilirannya kenyataan itulah yang berbeda sebab kenyataan dalam karya sastra bukanlah kenyataan dalam ruang dan waktu tertentu, seperti sejarah, juga bukan kenyataan yang dapat dibuktikan secara langsung seperti dalam ilmu kealaman. Dalam hubungan inilah disebutkan bahwa kenyataan dalam karya sastra sebagai kenyataan yang mungkin tejadi. Karya sastra adalah rekaman peristiwa-peristiwa kebudayaan.

  Ratna, (2007: 14-15) menguraikan bahawa teks dianggap sebagai representasi suatu kejadian tertentu. Dalam hubungan inilah dikatakan teks sebagai gejala kedua.

  Sebaliknya, sastra selalu mentransformasikannya terlebih dahulu ke dalam teks, dari bahasa formal ke dalam bahasa sastra, dari kejadian ke dalam plot, dari karakterologi ke dalam karakterisasi. Oleh karena itu, sastra disebut sebagai „dunia dalam kata‟, bukan dunia manusia. Sastra bukanlah rangkaian kata dan kalimat, melainkan sudah berubah menjadi wacana, menjadi teks. Lotman (dalam Ratna, 2007: 14-15) menguraikan bahwa oleh karena itu pula, karya seni disebut sebagai sistem model yang kedua, sebagai rekonstruksi, dan harus dipahami secara tak langsung, yaitu dengan memanfaatkan mediasi.

  Karya sastra membangun dunia melalui kata-kata, sebab kata-kata memiliki energi. Melalui energi itulah terbentuk citra tentang dunia tertentu, sebagai dunia baru.

  Melalui kualitas hubungan paradigmatis, sistem tanda dan sistem simbol, kata-kata menunjuk sesuatu di luar dirinya, sehingga peristiwa baru hadir secara terus-menerus.

  Kata-kata itu pun memiliki aspek dokumenter yang dapat menembus ruang dan waktu, melebihi kemampuan aspek-aspek kebudayaan yang lain. Pengetahuan mengenai masa lampau dapat diketahui melalu kata-kata. Informasi kekayaan alam, dengan keanekaragam kebudayaannya, dapat disebarluaskan dari individu ke individu yang lain, dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain, dan sebagainya (Ratna, 2007: 15).

  Hubungan karya sastra dan kebudayaan juga diuraikan kembali oleh Ratna (2011: 188-189) bahwa secara akademis keseluruhan aspek kebudayaan merupakan kompetensi studi antropologi, khususnya antropologi kebudayaan. Kebudayaan memiliki objek yang sangat luas. Objek yang sangat luas itu dibedakan menjadi tiga jenis yaitu: artifact, sociofact, dan mentifact. Artifact adalah semua jenis benda sebagai hasil keterampilan manusia, seperti: bangunan, jalan, senjata dan berbagai bentuk perlengkapan lain dalam rangka mempermudah kehidupan manusia. Sociofact adalah bentuk-bentuk hubungan sosial, tingkah laku sepanjang hari, sistem sosial yang relatif baku seperti sistem kekerabatan, struktur organisasi, dan sebagainya. Mentifact adalah semua bentuk ide dan pikiran manusia, khususnya bentuk-bentuk kreativitas seperti karya seni. Dominasi sastra terkandung dalam aktivitas yang terakhir. Dengan kalimat lain, budaya merupakan bagian, hasil, segala sesuatu yang diperbuat oleh kebudayaan. Hasil-hasil inilah yang menjadi objek langsung ilmu-ilmu baru seperti antropologi sastra, antropologi linguistik, kajian budaya dan kajian lain yang berkaitan dengan kebudayaan.

  Kaitan antara sastra dan kebudayaan dapat dilihat melalui ciri yaitu sebagai karya seni, baik lisan maupun tulisan, karya sastra adalah hasil kreativitas kebudayaan dengan kualitas imajinatif. Sastra dan kebudayaan berkaitan secara dialektik. Dengan alat bahasa, baik lisan maupun tulisan, baik bahasa sehari-hari maupun ilmiah, sama dengan karya tulis yang lain, sastra berfungsi untuk melegimitasikan berbagai aspek kultural yang dihasilkan melalui interaksi manusia. sebaliknya, kebudayaan sebagai hasil aktivitas manusia itu sendiri menjadi sarana utama untuk diceritakan. Pada gilirannya tanpa aktivitas budaya, karya sastra tidak akan ada. Dengan singkat sastra dan kebudayaan bersifat saling melengkapi, berkaitan secara dialektis (Ratna, 2011: 190-191).

  Untuk mempertegas makna konstruksi kebudayaan dalam teks sastra dalam hal ini, berkaitan dengan ilmu atau pendekatan yang digunakan untuk membedah kebudayaan dalam teks sastra. Sebagaimana diketahui, bahwa objek kajian kebudayaan dalam teks sastra dapat dianalisis melalui beberapa pendekatan di antaranya yaitu pendekatan antropologi sastra dan kajian budaya. Kata „konstruksi‟ yang dimaksud dalam hal ini lebih condong dalam penggunaannya ke dalam hakikat analisis menggunakan pendekatan antropologi sastra secara ekstrinsik. Lebih lanjut dapat dijabarkan melalui penjelasan menurut Ratna pada paragraf berikut.

  Ratna (2011: 270) menguraikan bahwa hubungan paling dekat antara antropologi sastra dengan kajian budaya jelas penggunaan aspek-aspek kebudayaan itu sendiri. Perbedaannya, dalam antropologi sastra kebudayaan menduduki posisi sekunder, sedangkan dalam kajian budaya kebudayaan merupakan objek primer.

  Perbedaan yang lain, antropologi sastra cenderung memperhatikan budaya masa lampau, sedangkan kajian budaya pada budaya masa kini. Sebagai karya ilmiah dalam analisis, baik antropologi sastra maupun kajian budaya menggunakan teori yang sama, teori-teori postrukturalisme. Perbedaannya sesuai dengan hakikat objeknya antropologi sastra dibantu dengan memanfaatkan teori-teori lama, seperti mitos, struktur fungsi, dan strukturalisme pada umumnya,

  Dari beberapa hal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa karya sastra merupakan hasil olah cipta pengarang yang berisi perwujudan budaya. Sastra menggambarkan sistem budaya tempat pengarang itu hidup. Karya sastra merupakan „dunia dalam kata‟, bukan berarti sastra hanyalah imajinasi yang bersifat kosong/khayalan akan tetapi dikonstruksi oleh dunia yang sebenarnya ada (dunia diluar teks). Sastra merupakan teks yang merekam peristiwa-peristiwa kebudayaan melaui bahasa konotatif. Teks (karya sastra) dianggap sebagai representasi suatu kejadian. Sastra mentransformasikan peristiwa budaya dalam kehidapan nyata ke dalam teks. Hal itu dapat dikatakan bahwa kebudayaan yang terdapat di dalam karya sastra dikonstruksi atau disusun oleh kebudayaan nyata yang berada diluar teks. Jadi kesimpulan dari konstruksi kebudayaan dalam teks sastra adalah susunan, hubungan atau konsep berupa abstraksi suatu peristiwa terhadap objek kebudayaan yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, baik berwujud ide (mentifact), aktivitas (sociofact), dan hasil karya (aritfact), kemudian ditransmisikan ke dalam teks sastra sehingga membentuk kebudayaan dalam teks sastra. Kebudayaan di luar teks memberikan jiwa dan watak bagi kebudayaan di dalam teks sastra.

c. Jenis-jenis Konstruksi Kebudayaan

  Sedikit mengulas kembali, bahwa yang dimaksud konstruksi adalah konsep- konsep yang mencakup, mengandung atau menangkap suatu peristiwa gambaran mental terhadap objek yang kemudian jika konsep tersebut sudah diaplikasikan dan membentuk jaringan maka disebut dengan konsep. Untuk penegasan, maka yang dimaksud dalam pembahasan ini, yaitu jenis-jenis konstruksi kebudayaan yang ditemukan dalam karya sastra. Sebagaimana diketahui, bahwa kebudayaan teks sastra dikonstruksi atau dilatar belakangi oleh kebudayaan di kehidupan nyata (di luar teks). Oleh sebab itu, yang dimaksud dengan jenis-jenis konstruksi kebudayaan dalam pembahasan ini yaitu kebudayaan sesungguhnya di kehidupan nyata. Disesuaikan dengan penulisan ilmiah ini, maka yang dimaksud dengan kebudayaan sesungguhnya tersebut berupa kebudayaan Jawa dalam kehidupan nyata (di luar teks).

  Berikut empat jenis konstruksi kebudayaan, tepatnya kebudayaan Jawa dalam kehidupan nyata yang menjadi konstruksi kebudayaan dalam teks sastra, yaitu:

1) Konstruksi Religi Orang Jawa

  Konstruksi Religi orang Jawa merupakan salah satu jenis konstruksi berbentuk kebudayaan dikehidupan nyata (diluar teks) yang melatarbelakangi kebudayaan Jawa di dalam teks sastra. Religi Orang Jawa (dikehidupan nyata) tidak lepas dari agama dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa seperti masyarakat di daerah lainnya, menganut berbagai macam agama, seperti Islam, Hindu, Budha, Konghucu, dan Kristen. Salah satu agama yang dianut oleh masyarakat Jawa yaitu agam Islam. Selain menganut agama, masyarakat Jawa juga memiliki berbagai macam keyakinan yang mengarah kepada animisme dan dinamisme serta terpengaruh ajaran Hindu-Budha. Agama Islam yang dianut oleh masyarakat Jawa yang terpengaruh keyakinan tersebut menimbulkan adanya keyakinan Agami Jawi. Konstruksi religi orang Jawa terdiri dari: a) Konstruksi Agami Jawi, b) Konstruksi dan c) Ilmu gaib, Ilmu sihir, dan ilmu petangan.

  Agami Santri

a) Konstruksi Agami Jawi

  Konstruksi Agami Jawi merupakan salah satu jenis konstruksi yang melatarbelakangi kebudayaan Jawa dalam teks sastra. Konstrukis Agami Jawi terdiri dari keyakinan (ajarannya) maupun upacara yang biasa dilakukan. Keyakinan Agami atau biasa disebut dengan Kejawen merupakan keyakinan yang dimiliki

  Jawi

  masyarakat Jawa dengan dasar utamanya yaitu agama Islam, namun terpengaruh dengan keyakinan animisme, dinamisme atau ajaran agama Hindu-Budha. Hal ini selaras dengan pendapat Suyono (2007: 2) bahwa kepercayaan atau ritual yang dilakukan oleh orang Jawa disebut sebagai “kejawen”. Ajaran kejawen merupakan keyakinan dan ritual campuran dari agama-agama formal dengan pemujaan terhadap kekuatan alam. Sedangkan animisme menurut Suyono (2007: 75) merupakan kepercayaan bahwa semua yang berada di alam mempunyai jiwa. Jiwa atau roh bebas dan tidak terikat kepada sesuatu, dan dapat menggerakkan semua benda di alam.

  Konstruksi Agami Jawi berupa upacara merupakan salah satu konstruksi yang melatarbelakangi kebudayaan dalam teks sastra. Upacara Agami Jawi, sebenarnya sama halnya dengan upacara keagamaan pada umumnya. Hanya saja, upacara Agami

  

Jawi merupakan upcara yang biasa dilakukan oleh golongan Islam (Kejawen) dalam

  masyarakat Jawa. Upacara Agami Jawi dilakukan berdasarakan ajaran agama Islam yang masih kental dengan animisme dinamismenya maupun ajaran Hindu Budha.

  Upacara keagamaan mengandung unsur-unsur sebagai berikut, yaitu : bersaji, berkorban, berdoa, makan bersama yang telah disucikan dengan doa (selamatan), menari tarian suci, menyanyi nyanyian suci, berprosesi atau berpiawai, memainkan seni drama suci, berpuasa, intoxikasi atau mengaburkan pikiran dengan obat bius, benda-benda dan alat upacara, bersemedi. Diantara unsur-unsur upacara keagamaan tersebut ada yang dianggap penting sekali dalam satu agama, tetapi tidak dikenal dalam agama lain, dan demikian juga sebaliknya (Koentjaraningrat, 2009: 296).

  Berkaitan dengan upacara keagamaaan, maka masyarakat Jawa mengenal beberapa macam selamatan. Sumardi (1992a: 96-97) menguraikan bahwa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa mengenal beberapa jenis upacara selamatan yang sesuai dengan peristiwa atau kejadian alam dalam kehiduan manusia sehari-hari, yakni (1) selamatan dalam rangka lingkaran hidup seseorang; (2) selamatan yang bertalian dengan bersih desa, penggarapan tanah pertanian,dan setelah panen padi; (3) selamatan berhubung dengan hari-hari dan bulan-bulan besar Islam; dan (4) selamatan pada saat-saat tertentu, atau yang berkenaan dengan kejadian-kejadian; seperti mengadakan perjalanan jauh, menempati rumah kediaman baru, menolak bahaya

  (ngruwat), janji kalau sembuh dari sakit (kaul), dan lain-lain. Selamatan dalam lingkaran hidup meliputi peristiwa hamil tujuh bulan, kelahiran (mitoni), upacara potong rambut pertama (kekah), upacara menyentuh tanah untuk pertama kali (tedhak siten), upacara menusuk telinga, upacara sunat, perkawinan, dan kematian serta saat- saat sesudah kematian.

  Golongan Islam Jawa yang masuk ke dalam Agami Jawi biasa disebut dengan golongan islam abangan. Geertz (dalam Purwadi, 2005: 60) menguraikan bahwa masyarakat Jawa memiliki pelapisan sosial berdasarkan kepercayaan yang dianut. (Islam), yaitu: golongan santri, yaitu mereka yang beragama Islam yang benar-benar mengikuti ajaran Islam. Golongan abangan pada umumnya masih melakukan upacara-upacara seperti slametan yang dilengkapi sajian, misalnya selamatan kematian, kelahiran dan lain sebagainya

b) Konstruksi Agami Santri

  Konstruksi Agami Santri merupakan salah satu konstruksi yang masuk ke dalam bagian religi orang Jawa dan melatarbelakangi kebudayaan dalam teks sastra.

  Konstruksi Agami Santri meliputi keyakinan (ajaran Agami Santri) dan upacara yang dilakukan dalam agama santri. Sebagaimana diketahui bahwa santri merupakan salah satu golongan agama Islam di Jawa dalam kehidupan nyata, sebagai golongan yang lebih condong untuk melaksanakan ajaran agama sesuai syariat-syariat yang benar.

  Baik konstruksi Agami Jawi dan Agami Santri sebagai kebudayaan dikehidupan nyata yang melatarbelakangi kebudayaan dalam teks sastra, dikemukakan oleh Geertsz.

  Geertsz (dalam Koentjaraningrat, 1994:312) menguraikan bahwa suatu deskripsi mengenai agama, orang Jawa harus membedakan antara dua buah manifestasi dari agama Islam Jawa yang cukup banyak berbeda, yaitu Agami Jawi dan Agama Islam Santri.

  Sebutan yang pertama berarti “Agama orang Jawa”, sedangkan yang kedua berarti “Agama Islam yang dianut orang santri.” Bentuk agama Islam orang Jawa yang disebut Agami Jawi atau Kejawen itu adalah suatu kompleks keyakinan dan konsep-konsep Hindu-Budha yang cenderung ke arah mistik, yang tercampur menjadi satu dan diaku sebagai agama Islam. Varian Agami Islam Santri, yang walaupun juga tidak sama sekali bebas dari unsur-unsur animisme dan unsur- unsur Hindu-Budha, lebih dekat pada dogma-dogma ajaran Islam yang sebenarnya. Geertz (dalam Purwadi, 2005: 60) menguraikan bahwa masyarkat Jawa memiliki pelapisan sosial berdasarkan kepercayaan yang dianut. (Islam), yaitu: golongan santri dan abangan. Di antara mereka yang masuk golongan santri ini, menganggap penting adanya upacara terutama sembahyang,

c) Konstruksi Ilmu Gaib, Ilmu Sihir dan Ilmu Petangan

  Konstruksi Ilmu gaib, ilmu sihir dan ilmu petangan merupakan salah satu konstruksi yang melatarbelakangi kebudayaan dalam teks sastra. Ilmu gaib, ilmu sihir dan ilmu petangan merupakan salah satu ilmu yang dipercayai oleh masyarakat Jawa dalam hal religi mereka. Ilmu gaib merupakan ilmu yang berkenaan dengan hal-hal gaib, misalnya mempercayai akan kekuatan gaib. Kekuatan gaib tersebut bisa saja ditimbulkan oleh makhluk gaib baik dan makhluk gaib jahat. Dalam hal ilmu gaib, kekuatan gaib tersebut lebih diperuntukkan untuk hal-hal baik dengan bantuan makhluk gaib baik.

  Sementara itu, ilmu sihir merupakan salah satu ilmu gaib yang dipergunakan masyarakat Jawa untuk melakukan hal-hal yang kurang baik atau mencelakakan orang lain, contohnya tenung, santet dan lainnya. Ilmu sihir biasanya digunakan oleh masyarakat Jawa untuk memenuhi kehendak dirinya dengan jalan pintas atau disebabkan karena dendam. Ilmu yang berkaitan dengan hal gaib dalam masyarakat Jawa lainnya yaitu ilmu petangan. Ilmu petangan merupakan ilmu untuk menghitung hari atau waktu-waktu yang baik dalam kehidupan masyarakat Jawa. Ilmu gaib, ilmu sihir dan ilmu petangan merupakan satu pembahasan dalam hal ilmu gaib yang diyakini dan dilakukan oleh masyarakat Jawa sesungguhnya.

  Koentjaraningrat (1994: 410-413) menguraikan bahwa seperti pada banyak kebudayaan di dunia, ilmu gaib (ngelmi) dan tenung orang Jawa merupakan subsistem religi karena mengenai manusia yang berhubungan dengan kekuatan-kekuatan supranatural, dan karena itu dianggap keramat. Banyak tindakan ilmu gaib Jawa juga ditentukan oleh keyakinan tentang adanya suatu kekuatan sakti (kasekten) yang bisa ditemukan dalam bagian-bagian tertentu dari tubuh, dalam tubuh binatang dan tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat atau yang aneh rupa atau bentuknya, dalam barang-barang keramat serta pusaka, dalam jimat dan dalam benda-benda lain yang tidak lumrah.

  Serupa dengan banyak masyarakat tradisional lain dalam negara-negara berkembang di dunia, dalam masyarakat Jawa illmu gaib destruktif dan ilmu sihir masih sering dilakukan. Para pelakunya adalah dukun yang secara khusus mempelajari cara-cara untuk menyakiti atau merugikan orang lain. Dalam masyarakat Jawa lebih dikenal dengan ilmu tenung-menenung, sebagai satu rumpun ilmu yang berdekatan dengan ilmu sihir dan termasuk ke dalam kategori ilmu gaib destruktif.

  Ilmu tenung menenung biasanya dilakukan dengan cara membinasakan suatu benda (biasanya boneka) yang melambangkan korban. Cara lain yaitu dengan membuat jimat yang sudah “diisi” dengan kutukan. Jimat itu kemudian disembunyikan di suatu tempat dekat dengan tempat tinggalnya. Ilmu tenung juga sering digunakan oleh orang Jawa untuk mencuri dengan cara membuat korbannya tertidur lelab (dipunsirep), yang biasanya dilakukan dengan memakai jimat sebagai alat, atau kadang-kadang pasir yang telah dikutuk dengan mantera, yang ditaburkan di atas atap rumah korban (Koentjaraningrat, 1994: 419-420)

  Ilmu meramal dan ilmu petangan. Dalam ilmu gaib Jawa ada dukun yang memiliki kepandaian khusus, yaitu sebagai peramal (dukun petangan). Beberapa teknik ilmu meramal yaitu dilakukan dengan cara menghitung hubungan antara bintang-bintang, meramal berdasar letak tulang belulang yang disebarkan berserakan, meramal dengan menghitung jatuhnya usus ayam yang diterbangkan secara berserakan, maupun meramal dengan mengamati arah terbang dan suara burung.

  Buku-buku pegangan mengenai ilmu gaib dan ilmu meramal, yaitu dalam buku-buku primbon, ilmu meramal Jawa rupa-rupanya menggunakan semua teknik yang sudah disebutkan. Suatu seni yang seringkali digunakan dalam ilmu gaib dan ilmu meramal adalah ilmu petangan. Petangan adalah cara menghitung saat-saat serta tanggal- tanggal yang baik, dengan memperhatikan kelima hari pasar, tanggal-tanggal penting yang ditentukan pada sistem-sistem penanggalan yang ada, yang memang dimanfaatkan orang Jawa untuk berbagai tujuan (Koentjaraningrat, 1994: 421).

2) Konstruksi Kebudayaan Petani Jawa

  Konstruksi kebudayaan petani Jawa merupakan salah satu konstruksi yang melatarbelakangi kebudayaan dalam teks sastra. Sebagaimana diketahui sebagian besar masyarakata Jawa (diluar teks) bermata pencaharian sebagai petani. Hal itu disebabkan pulau Jawa merupakan daerah agararis. Hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan petani Jawa menjadi unsur utama dalam kebudayaannya. Koentjaraningrat (1994: 98) menguraikan bahwa sebagian besar yaitu 82,54%, dari penduduk Jawa dalam tahun 1970 masih tergolong dalam sektor ekonomi primer, maka bagi kehidupan para para petani dalam komuniti-komuniti pedesaan, hal-hal yang bersangkutan dengan pertanian untuk penggunaan sendiri, merupakan unsur utama dalam kebudayaan Jawa. Konstruksi kebudayaan petani Jawa, beberapa di antaranya yaitu: a) Pernikahan, rumah tangga dan keluarga inti, b) Para petani Jawa, c) Pasar Desa, d) Sosialisasi dan Enkulturasi Keluarga Inti Petani Jawa.

a) Konstruksi Pernikahan, Rumah Tangga dan Keluarga Inti

  Konstruksi pernikahan, rumah tangga dan keluarga inti merupakan salah satu konstruksi yang melatarbelakangi wujud kebudayaan dalam teks sastra. Konstruksi ini termasuk ke dalam jenis konstruksi petani Jawa. Konstruski pernikahan, rumah tangga dan keluarga inti membicarakan hal-hal yan berkaitan dengan kebiasaan, tradisi yan dilakukan dalam pernihakah, rumah tangga dan keluarga inti masyarakat Jawa. Sebagaimana diketahui dalam masyarkat Jawa mengenal beberapa tahapan upacara pernikahan, yang salah satunya dalam masyarakat Jawa mengenal adanya upacara tunangan, maupun midodareni.

  Sementara itu yang dimaksud konstruksi rumah tangga adalah hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga masyarakat Jawa, baik dalam hal berhubungan atau berkomunikasi dengan keluarga maupun tentang sebuah rumah yang digunakan sebagai tempat berlindung. Koentjaraningrat (1994: 136) menguraikan bahwa dalam keluarga Jawa tidak ada aturan khusus mengenai tempat di mana sepasang pengantin baru harus diam. Orang Jawa sebenarnya juga menganggap bahwa keadaan yang ideal adalah untuk mempunyai suatu rumah tangga sendiri yang neolokal (somah), sedangkan keluarga inti, merupakan keluarga yang terdiri dari ayah, bapak, ibu, kakak dan adik.

b) Konstruksi Para Petani Jawa

  Konstruksi para petani Jawa merupakan salah satu konstruksi yang melatarbelakangi wujud kebudayaan Jawa dalam teks cerpen. Konstruksi ini masuk ke dalam subbab konstruksi kebudayaan petani Jawa. Sebagaimana diketahui, bahwa masyarakat Jawa sebagain besar bermata pencaharian sebagai petani. Maksud dari petani, tidak hanya berupa petani padi di sawah seperti pemahaman pada umumnya, akan tetapi bisa pula petani yang biasa mengolah tanah tegalan maupun tanah pekarangan. Aktivitas petani tanah tegalan menghasilkan beberapa hasil tanaman berupa palawija (jagung dan gandum). Sementara itu, aktivitas mengolah tanah pekarangan baik yang disekitar rumah maupun pekarangan luas dinamakan berkebun. Para petani Jawa biasanya mengolah dan menanami tanah pekarangan dengan pohon buah-buahan, tumbuhan bumbu dapur, pohon kelapa, dan sebagainya.

  Jadi konstruksi para petani Jawa sebenarnya merupakan kebudayaan yang biasa dilakukan oleh para petani Jawa dalam kehidupan nyata. Kebudayaan petani Jawa tersebut dapat berupa sistem pemilikan tanah, baik cara pemakaian tanah, tenaga kerja dalam usaha tani padi di sawah, menyimpan dan menumbuk padi, palawija maupun peternakan (Koentjaraningrat, 1994: 168-186).

c) Konstruksi Pasar Desa

  Konstruksi pasar desa merupakan salah satu konstruksi yang melatarbelakangi wujud kebudayaan dalam teks cerpen. Konstruksi tersebut masuk ke dalam subbab kebudayaan petani Jawa. Sebagaimana diketahui, bahwa selain bermata pencaharian sebagai petani, ada beberapa masyarakat Jawa yang memiliki mata pencaharian sebagai pedagang. Aktivitas berdagang tersebut dilaksanakan di pasar desa. Para petani Jawa biasanya menjual hasil panennya maupun hasil kebunnya kepada para pedagang. Di pasar desa, ada berbagai macam pedagang , baik pedagang besar, pedagang kecil, maupun tengkulak.

  Suatu pasar desa di Jawa atau peken (krami) letaknya biasanya ditepi jalan besar kira-kira tiga sampai lima kilometer saja. Semua pasar desa di Jawa biasa buka seminggu sekali pada hari-hari tertentu. Untuk dapat berdagang di pasar, para pedagang harus membayar pajak untuk memperoleh izinnya. Menurut Dewey (dalam Koentjaraningrat, 1994: 188) di pasar-pasar di Jawa ada beberapa jenis pedagang, yaitu: (1) Petani atau tenggkulak pertama yang membawa hasil bumi atau kerajinan sebanyak yang dapat mereka angkut ke pasar; (2) Para tengkulak bakul yang membeli hasil bumi maupun industri rumah dari para petani atau tengkulak pertama tersebut, kemudian mereka jual secara eceran atau borongan kepada tengkulak dua, (3) Tengkulak dua yang membeli dagangan secara borongan dari para bakul, (4) Para makelar yang berkeliaran di daerah-daerah pedesaan untuk membeli dan menghimpun hasil pertanian yang kadang-kadang mereka simpan sementara (5) Pemilik pedati dan opelet, yang menyewakan kendaraan mereka, (6) Para penjaja berkeliling yang membeli barang dagangan dari bakul dan menjajakannya ke rumah-rumah penduduk, (7) Para pemilik toko keturunan Tionghoa yang membeli barang dagangan dari para tengkulak, bakul, makelar untuk dijual di kota yang jauh letaknya, (8) Para pemilik warung makan, (9) Para tukang yang terdiri dari tukang cukur, tukang jahit, tukang sepatu dan sebagainya.

d) Konstruksi Sosialisasi dan Enkulturasi Keluarga Inti

  Konstruksi sosialisasi dan enkulturasi keluarga inti petani merupakan salah satu konstruksi yang melatarbelakangi kebudayaan Jawa dalam teks cerpen.

  Sebagaimana diketahui bahwa kebudayaan merupakan suatu proses. Untuk menjadi manusia yang berbudaya masyarakat Jawa memiliki proses sosialisasi dan enkulturasi.

  Proses ini biasanya diterapkan oleh mereka (orang tua) kepada anak cucunya dalam keluarga inti. Proses mengenalkan kebudayaan yang dilakkan oleh orang tua bisa dikatakan sebagai proses sosialisasi. Sementara itu, proses seorang anak untuk menyesuaikan kebudayaan yang diajarkan oleh para orang tuannya disebut sebagai proses enkulturasi. Dari proses enkulturasi itulah, diharapkan kebudayaan tersebut menginternal dalam diri ini, karena hal itu dilakukan dari semenjak mereka kecil hingga dewasa nantinya bahkan hingga mereka meninggal.

  Poerwanto (2000: 88-89) menguraikan bahwa proses belajar kebudayaan yang berlangsung sejak dilahirkan sampai mati, yaitu dalam kaitannya dengan pengembangan perasaan, hasrat, emosi dalam rangka pembentukkan kepribadiannya,; sering dikenal sebagai proses internalisasi. Karena makhluk manusia adalah bagian dari suatu sistem sosial, maka setiap individu harus selalu belajar mengenai pola-pola tindakan, agar ia dapat mengembangkan hubungannya dengan individu-individu lain di sekitarnya. Proses belajar inil lebih dikenal dengan sosialisasi. Selanjutnya, proses belajar kebudayaan lainnya dikenal dengan istilah enkulturasi atau „pembudayaan‟ yaitu seorang harus mempelajari dan menyesuaikan sikap dan alam berpikirnya dengna sistem norma yang hidup dalam kebudayaannya.

3) Konstruksi Ajaran Hindu-Budha

  Konstruksi ajaran Hindu-Budha merupakan salah satu konstruksi yang melatarbelakangi wujud kebudayaan Jawa dalam teks cerpen. Purwadi (2005: 8-9) menguraikan bahwa adapun bangsa Hindu yang datang pertama ke tanah Jawa adalah bangsa yang beragama Siwa. Bangsa yang menganggap Trimurti sebagai Tuhannya, yakni Batara Brahma, Wisnu, Siwa. Di antara ketiga orang dewa itu yang dianggap penghulu ialah Sang Hyang Siwa. Bangsa Hindu yang datang selanjutnya ialah bangsa yang beragama Budha Mahayana. Kitab-kitab yang dibawa orang Hindu yang beragama Budha tentunya juga ktiab-kitab yang memuat hal ikhwal kebudhaan seperti kitab yang isinya diwujudkan dengan gambar yang berbidang-bidang pada candi Borobudur. Kitab-kitab pembawaan orang Hindu yang beragama Siwa seperti MAHABARATA dan RAMAYANA. Kitab Ramayana termasuk kitab suci suku yang beragama Wisnu, sedang Mahabharata kita suci suku yang beragama Siwa.

  Purwadi (2005: 12) menguraikan bawa kebudayaan asli Jawa yang bersifat transedental lebih cenderung pada paham animisme dan dinamisme. Perubahan besar pada kebudayaan Jawa terjadi setelah masuknya agama Hindu-Budha yang berasal dari India. Kebudayaan India secara riil mempengaruhi dan mewarnai kebudayaan Jawa, meliputi sistem kepercayaan, kesenian, kesusasteraan, astronomi, mitologi, dan pengetahuan umum

4) Konstruksi Bahasa Jawa

  Konstruksi bahasa Jawa merupakan salah satu konstruksi yang melatarbelakangi wujud kebudayaan Jawa dalam teks cerpen. Bahasa Jawa merupakan bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi oleh masyarakat Jawa. Sebagaimana diketahui, bahasa Jawa memiliki beberapa varian berdasarkan dialeknya, diantara yaitu: bahasa Jawa dialek Jogja, Solo sebagai pusat kebudayaan, dialek bahasa Jawa Ngapak (Eks wilayah Banyumas), dialek bahasa Jawa pesisir pantai utara sebelah barat meliputi (Tegal, Brebes, dan Cirebon), dialek bahasa Jawa pesisir pantai utara sebelah timur (Semarang-Surabaya), maupun dialek bahasa Jawa Timur.

  Selain memiliki beberapa varian dialek, bahasa Jawa juga memiliki tingkatan penggunaan bahasa Jawa. Tingkatan yang biasa dikenal oleh masyarakat Jawa pada umumnya yaitu tingkatan bahasa Jawa ngoko, Krama, dan Krama Inggil. Tiga tingkatan tersebut juga dibagi lagi dalam beberapa subbab lagi. Dalam hal ini tidak akan dibahas lebih lanjut. Mengenai bahasa Jawa yang ada dalam kehidupan nyata dapat diperjelas dengan pendapat Koentjaraningrat.

  Koentjaraningrat (1994: 21-22) menguraikan bahwa kecuali tiga gaya yang paling dasar, yaitu gaya tidak resmi, gaya setengah resmi, dan gaya resmi (yaitu

  

Ngoko , Madya dan Krami). Selain itu juga ada penggunaan bahasa Jawa Krama

Inggil yang dipakai untuk berbicara kepada orang kedua yang sederajat atau orang ketiga yang lebih tinggi. Seperti dalam semua bahasa lain, tentu ada juga (tembung kasar) yang dipakai apabila orang sedang marah atau menghina orang lain.

5. Antropologi Sastra

  Endraswara (2013: 1-2) menguraikan bahwa konsep atnropologi sastra dapat dirunut dari kata antropologi dan sastra. Yang menjadi bahan penelitian antropologi sastra adalah sikap dan perilaku manusia lewat fakta-fakta sastra dan budaya. Sastra dan antropologi selalu dekat. Keduanya bersimbiosis dalam mempelajari manusia lewat ekspresi budaya. Sastra banyak menyajikan fakta-fakta imajinatif. Antropologi bergerak dalam fakta imajinatif disebut antropolog sastra. Antropologi sastra tampaknya merupakan pengembangan antropology experience yang digagas oleh Turner dan Benson.

  Secara definitif, antropologi sastra adalah studi mengenai karya sastra dengan relevansi manusia (anthropos). Dengan melihat pembagian antropologi menjadi dua macam, yaitu antropologi fisik dan antropologi kultural, maka Antropologi sastra dibicarakan dalam kaitannya dengan antropologi kultural, dengan karya-karya yang dihasilkan oleh manusia (Ratna, 2013b: 351). Antropologi sastra berfungsi untuk meperkenalkan kekayaan khazanah kultural bangsa sehingga masing-masing kebudayaan menjadi milik bagi yang lain.

  Antropologi sastra mempermasalahkan karya sastra dalam hubungannya dengan manusia sebagai penghasil kebudayaan. Manusia yang dimaksudkan adalah manusia dalam karya, khususnya sebagai tokoh-tokoh. Dalam hubungannya inilah karya sastra merupakan studi multikultural sebab melalui karya sastra dapat dipahami keberagaman manusia dengan kebudayaannya. Dengan membaca karya sastra dapat dipahami kebudayan Sunda, Jawa, Bali, Lombok, dan sebagainya (Ratna, 2013b: 356- 357).

  Paling tidak ada dua kedekatan sastra dan antropologi, yaitu (1) sastra dan antropologi memiliki kedekatan objek penelitian yang mengarah ke fenomena realitas hidup manusia; (2) sastra dan antropologi memiliki kedekatan metodologis, artinya keduanya banyak memanfaatkan tafsir-tafsir fenomena simbolis; (3) sastra dan antropologi cenderung memeliharan konsep kekerabatan (trah) sebagai simbol konteks kehidupan (Endraswara, 2013: 9).

  Antropologi sastra memiliki tugas yang sangat penting untuk mengungkapkan aspek-aspek kebudayaan, khususnya kebudayaan tertentu masyarakat tertentu. Karya sastra dalam bentuk apapun, temasuk karya-karya yang dikategorikan sebagai bersifat relais tidak pernah secara eksplisit mengemukakan muatan-muatan yang ditampilkan, ciri-ciri antropologis yang terkandung di dalamnya. Semata-mata kemampuan penelitilah yang dapat menunjukkan suatu karya sastra sebagai mengandung dan dengan demikian didominasi oleh aspek tertentu, yang secara keseluruhan disebut sebagai tema, pesan, pandangan dunia menurut pemahaman lain (Ratna, 2011: 41).

  Maka dapat disimpulkan bahwa antropologi sastra merupakan ilmu yang mempelajari sastra dengan relevansinya sebagai manusia. Manusia dalam karya sebagai penghasil kebudayaan. Antropologi sastra memiliki tugas yang sangat penting untuk mengungkapkan aspek-aspek kebudayaan, khususnya kebudayaan tertentu masyarakat tertentu.

Dokumen baru