BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian yang Relevan - Otih Nurhayati BAB II

0
0
41
5 days ago
Preview
Full text

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian yang Relevan Menurut pengamatan penulis, sudah ada beberapa penelitian yang telah

  Perbedaan dengan penelitianyang dilakukan yaitu data penelitian ini berupa teks yang mengandung wujud kebudayaan Jawa dalam kumpulan cerpen Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan yaitu penelitian inimembahas wujud kebudayaan Jawa dalam kumpulan cerpen Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi berikut konstruksi wujud kebudayaannya, sedangkan penelitian Novi Septiantika membahas wujud dan unsur kebudayaan Bali dalam kumpulan cerpen Perempuan yang Mengawini Keris.

B. Pengertian Cerpen

  Edgar Allan Poe (dalamNurgiyantoro, 2010: 9-11) mengatakan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang Liliweri (2014: 419-420) menguraikan bahwa cerpen adalah bentuk prosa yang menceritakan sebagian kecil dari kehidupan pelakunya yang terpenting dan palingmenarik. Maka kesimpulannya, bahwa cerpen adalah karya prosa fiksi yang dengan panjang sekitar 5000 kata dan dapatdibaca sekali duduk, serta merupakan kebulatan ide yang dapat membangkitkan efek tertentu dalam diri pembaca.

C. Kebudayaan 1. Pengertian Kebudayaan

  Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata. Semua itu ditujukan untuk membantumanusia dalam melangsungkan kehidupan masyarakatnya (Herimanto, 2010: 24-25) Sementara itu, Sulasman dan Setia Gumilar (2013:18-19) menyatakan bahwa kebudayaan adalah segala hal yang tercermin dalam realitas apa adanya dimasyarakat.

2. Wujud kebudayaan

  Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-sehari dan dapat diamati dan didokumentasikan (Sulasman dan Setia Gumilar, 2013: 36)Poerwanto (2000: 56- 57) menyatakan bahwa kebudayaan sebagai „pola dari perilaku‟adalah berupa gagasan yang mengacu pada sistem pengetahuan dankepercayaan, yang menjadi pedoman untuk mengatur tindakan mereka. Sebagai perwujudan gagasan dalam kebudayaan, perilaku dibagi menjadi perilaku Dari beberapa pendapat mengenai wujud kebudayaan, maka dapat disimpulkan bahwa wujud kebudayaan secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua, yaitukebudayaan material dan nonmaterial ada pula yang menyebutnya kebudayaan tangible dan intangible.

3. Kebudayaan Jawa

  Sulasman dan Setia Gumilar (2013: 271) menguraikan bahwa kebudayan daerah adalah kebudayaan dalam wilayah atau daerah tertentu yang diwariskan secaraturun temurun oleh generasi terdahlu kepada generasi berikutnya pada ruang lingkup Koentjaraningrat (1994:3-29) menguraikan bahwa pulau Jawa, yaitu suatu pulau yang panjangnya lebih dari 1.200 km, dan lebarnya 500 km. Berikut penjelasan masing-masing wujud kebudayaan Jawa, yang meliputi: (1)Wujud kebudayaan Jawa sebagai ide/gagasan, (2) Wujud kebudayaan Jawa sebagai suatu aktivitas, dan (3) Wujud kebudayaan Jawa sebagai hasil karya.

a. Wujud kebudayaan Jawa sebagai suatu ide

  Wujud ide tersebut menjadi pedoman bagi bentuk wujud kebudayaan Jawa lainnya yang berupa wujud kebudayaan Jawa sebagai suatu aktivitas yang kemudiandari aktivitas tersebut menghasilkan wujud kebudayaan Jawa sebagai suatu hasil karya. Kepercayaan masyarakatJawa tentang hal itu, dapat diperjelas berdasarkan pendapat Koentjaraningrat (1994:411-413) menguraikan bahwa seperti pada banyak kebudayaan di dunia, ilmu gaib (ngelmi) dan tenung pada orang Jawa merupakan tren dari religi, karena mengenai manusia yang berhubungan dengan kekuatan-kekuatan supernatural, dan karena itu dianggap keramat.

b. Wujud kebudayaan Jawa sebagai suatu aktivitas

  Wujud kebudayaan Jawa sebagai suatu aktivitas merupakan wujud kebudayaan sebagai tindakan berpola dari manusia Jawa dalam masyarakat itu. Sebagaiperwujudan gagasan dalam kebudayaan, aktivitas (perilaku) yang dihasilkan oleh masyarakat Jawa dibagi menjadi perilaku verbal (lisan dan tulisan) dan nonverbal(artefak dan alam).

c. Wujud kebudayaan Jawa sebagai suatu hasil karya (fisik)

  Wujud kebudayaan Jawa sebagai suatu hasil karya (fisik) adalah wujud kebudayaan fisik berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusiaJawa dalam masyarakat. Sumardi dkk (1992a:103) menguraikan bahwa berkenaan dengan pakaian maka masyarakat Jawa mengenal yang disebut pakaian Jawa jangkep (pakaian Jawa lengkap), yang berupa kelengkapan Sedangkan kaum wanitanya memakai kebaya panjang dengan kain batik dan perhiasan berupa subang, kalung gelang, dan cincin serta bersanggul yang disebut bokor mengkureb.

4. Konstruksi Kebudayaan a. Pengertian Konstruksi Kebudayaan Konstruksi kebudayaan terdiri dari dua kata, yaitu konstruksi dan kebudayaan

  Sementara itu,Liliweri (2014:5-9) menguraikan bahwa banyak antropolog dan sosiolog yang mendefinisikan kebudayaan sebagai deposit dari pengetahuan, pengalaman,kepercayaan, nilai-nilai, sikap, makna, hirarki, agama, pengertian waktu, peran, hubungan spasial, konsep alam semesta dan benda-benda materi dan harta benda yangdiperoleh oleh sekelompok orang dalam perjalanan generasi melalui perjuangan individu dan kelompok. Ruth Benedict (dalam Poerwanto, 2000: 55-56) menguraikan bahwa ia menganjurkan agar dalam melihat kebudayaan manusia tidak hanya sekedar melihathimpunan dari unsur-unsur yang satu dengan lainnya saling terlepas; tetapi lebih dipandang sebagai suatu kompleks jaringan yang mempunyai arti, watak dan jiwa.

b. Pengertian Konstruksi Kebudayaan dalam Teks Sastra

  Untukpenegasan, yang dimaksud dengan konstruksi kebudayaan dalam teks sastra dalam pembahasan ini sama halnya dengan istilah „hal-hal yang menyusun kebudayaan yang terdapat dalam karya sastra atau hal-hal yang melatarbelakangi adanya kebudayaandalam teks sastra‟. Untuk mempertegas makna konstruksi kebudayaan dalam teks sastra dalam hal ini, berkaitan dengan ilmu atau pendekatan yang digunakan untuk membedah Ratna (2011: 270) menguraikan bahwa hubungan paling dekat antara antropologi sastra dengan kajian budaya jelas penggunaan aspek-aspek kebudayaanitu sendiri.

c. Jenis-jenis Konstruksi Kebudayaan

  Sedikit mengulas kembali, bahwa yang dimaksud konstruksi adalah konsep- konsep yang mencakup, mengandung atau menangkap suatu peristiwa gambaranmental terhadap objek yang kemudian jika konsep tersebut sudah diaplikasikan dan membentuk jaringan maka disebut dengan konsep. Disesuaikandengan penulisan ilmiah ini, maka yang dimaksud dengan kebudayaan sesungguhnya tersebut berupa kebudayaan Jawa dalam kehidupan nyata (di luar teks).

1) Konstruksi Religi Orang Jawa

  Konstruksi Religi orang Jawa merupakan salah satu jenis konstruksi berbentuk kebudayaan dikehidupan nyata (diluar teks) yang melatarbelakangi kebudayaan Jawadi dalam teks sastra. Religi Orang Jawa (dikehidupan nyata) tidak lepas dari agama dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Jawa.

a) Konstruksi Agami Jawi

  Keyakinan Agami atau biasa disebut dengan Kejawen merupakan keyakinan yang dimiliki Jawi masyarakat Jawa dengan dasar utamanya yaitu agama Islam, namun terpengaruh dengan keyakinan animisme, dinamisme atau ajaran agama Hindu-Budha. Geertz (dalam Purwadi, 2005: 60) menguraikan bahwamasyarakat Jawa memiliki pelapisan sosial berdasarkan kepercayaan yang dianut.(Islam), yaitu: golongan santri, yaitu mereka yang beragama Islam yang benar-benar mengikuti ajaran Islam.

b) Konstruksi Agami Santri

  Konstruksi Agami Santri merupakan salah satu konstruksi yang masuk ke dalam bagian religi orang Jawa dan melatarbelakangi kebudayaan dalam teks sastra. Sebagaimana diketahui bahwa santri merupakan salahsatu golongan agama Islam di Jawa dalam kehidupan nyata, sebagai golongan yang lebih condong untuk melaksanakan ajaran agama sesuai syariat-syariat yang benar.

c) Konstruksi Ilmu Gaib, Ilmu Sihir dan Ilmu Petangan

  Koentjaraningrat (1994: 410-413) menguraikan bahwa seperti pada banyak kebudayaan di dunia, ilmu gaib (ngelmi) dan tenung orang Jawa merupakan subsistemreligi karena mengenai manusia yang berhubungan dengan kekuatan-kekuatan supranatural, dan karena itu dianggap keramat. Banyak tindakan ilmu gaib Jawa jugaditentukan oleh keyakinan tentang adanya suatu kekuatan sakti (kasekten) yang bisa ditemukan dalam bagian-bagian tertentu dari tubuh, dalam tubuh binatang dantumbuh-tumbuhan yang berkhasiat atau yang aneh rupa atau bentuknya, dalam barang-barang keramat serta pusaka, dalam jimat dan dalam benda-benda lain yangtidak lumrah.

2) Konstruksi Kebudayaan Petani Jawa

  Konstruksi kebudayaan petani Jawa merupakan salah satu konstruksi yang melatarbelakangi kebudayaan dalam teks sastra. Koentjaraningrat(1994: 98) menguraikan bahwa sebagian besar yaitu 82,54%, dari penduduk Jawa dalam tahun 1970 masih tergolong dalam sektor ekonomi primer, maka bagikehidupan para para petani dalam komuniti-komuniti pedesaan, hal-hal yang bersangkutan dengan pertanian untuk penggunaan sendiri, merupakan unsur utamadalam kebudayaan Jawa.

a) Konstruksi Pernikahan, Rumah Tangga dan Keluarga Inti

  Sementara itu yang dimaksud konstruksi rumah tangga adalah hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga masyarakat Jawa, baik dalam halberhubungan atau berkomunikasi dengan keluarga maupun tentang sebuah rumah yang digunakan sebagai tempat berlindung. Orang Jawa sebenarnya juga menganggapbahwa keadaan yang ideal adalah untuk mempunyai suatu rumah tangga sendiri yang neolokal (somah), sedangkan keluarga inti, merupakan keluarga yang terdiri dari ayah,bapak, ibu, kakak dan adik.

b) Konstruksi Para Petani Jawa

  Konstruksi para petani Jawa merupakan salah satu konstruksi yang melatarbelakangi wujud kebudayaan Jawa dalam teks cerpen. Jadi konstruksi para petani Jawa sebenarnya merupakan kebudayaan yang biasa dilakukan oleh para petani Jawa dalam kehidupan nyata.

c) Konstruksi Pasar Desa

  Konstruksi pasar desa merupakan salah satu konstruksi yang melatarbelakangi wujud kebudayaan dalam teks cerpen. Sebagaimana diketahui, bahwa selain bermata pencaharian sebagai petani, ada beberapa masyarakat Jawa yang memiliki mata pencahariansebagai pedagang.

d) Konstruksi Sosialisasi dan Enkulturasi Keluarga Inti

  Konstruksi sosialisasi dan enkulturasi keluarga inti petani merupakan salah satu konstruksi yang melatarbelakangi kebudayaan Jawa dalam teks cerpen. Poerwanto (2000: 88-89) menguraikan bahwa proses belajar kebudayaan yang berlangsung sejak dilahirkan sampai mati, yaitu dalam kaitannya denganpengembangan perasaan, hasrat, emosi dalam rangka pembentukkan kepribadiannya,; sering dikenal sebagai proses internalisasi.

3) Konstruksi Ajaran Hindu-Budha

  Konstruksi ajaran Hindu-Budha merupakan salah satu konstruksi yang melatarbelakangi wujud kebudayaan Jawa dalam teks cerpen. Kitab-kitab yang dibawa orang Hindu yang beragama Budha tentunya juga ktiab-kitab yang memuat hal ikhwal kebudhaan sepertikitab yang isinya diwujudkan dengan gambar yang berbidang-bidang pada candiBorobudur.

4) Konstruksi Bahasa Jawa

  Konstruksi bahasa Jawa merupakan salah satu konstruksi yang melatarbelakangi wujud kebudayaan Jawa dalam teks cerpen. Sebagaimana diketahui, bahasa Jawa memiliki beberapa varian berdasarkan dialeknya, diantarayaitu: bahasa Jawa dialek Jogja, Solo sebagai pusat kebudayaan, dialek bahasa JawaNgapak (Eks wilayah Banyumas), dialek bahasa Jawa pesisir pantai utara sebelah barat meliputi (Tegal, Brebes, dan Cirebon), dialek bahasa Jawa pesisir pantai utarasebelah timur (Semarang-Surabaya), maupun dialek bahasa Jawa Timur.

5. Antropologi Sastra

  Dengan membaca karya sastra dapat Paling tidak ada dua kedekatan sastra dan antropologi, yaitu (1) sastra dan antropologi memiliki kedekatan objek penelitian yang mengarah ke fenomena realitashidup manusia; (2) sastra dan antropologi memiliki kedekatan metodologis, artinya keduanya banyak memanfaatkan tafsir-tafsir fenomena simbolis; (3) sastra danantropologi cenderung memeliharan konsep kekerabatan (trah) sebagai simbol konteks kehidupan (Endraswara, 2013: 9). Karyasastra dalam bentuk apapun, temasuk karya-karya yang dikategorikan sebagai bersifat relais tidak pernah secara eksplisit mengemukakan muatan-muatan yang ditampilkan,ciri-ciri antropologis yang terkandung di dalamnya.

Dokumen baru