Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar anak terindikasi antisosial dan strategi pendampingan belajarnya : studi kasus - USD Repository

Gratis

0
1
96
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HASIL BELAJAR ANAK TERINDIKASI ANTISOSIAL DAN STRATEGI PENDAMPINGAN BELAJARNYA (Studi Kasus) Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling Disusun Oleh : Agung Hananto NIM: 101114088 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL………………………………………………..…......... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING……………………….….... ii HALAMAN PENGESAHAN………………………….………………….. . iii HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN……………………….….. . iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA………………………………..…... v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA...…... vi ABSTRAK…………………………………………………………………. . vii ABSTRACT ………………………………………………………………... viii KATA PENGANTAR………………………………………………….…... ix DAFTAR ISI……………………………………………………………….. . xi DAFTAR TABEL…………………………………………………………... xiv DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………….. xv BAB I PENDAHULUAN………………………………………………….. 1 A. Latar Belakang Masalah…………………………………………….. 1 B. Rumusan Masalah……………………………………………............ 4 C. Tujuan Penelitian……………………………………………….….... 4 D. Manfaat Penelitian…………………………………………………... 4 E. Definisi Operasional ……..………………………….……................ 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………... 6 A. Antisosial …………………………………………………………… 6 xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Definisi Antisosial ……………………………………………… 6 2. Ciri-ciri gangguan kepribadian antisosial ……………………… 7 3. Faktor-faktor yang membentuk kepribadian antisosial ………… 8 B. Hasil Belajar ………………………………………………………... 9 1. Definisi Hasil Belajar …………………………………………... 9 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar ……………… 10 C. Karakteristik Anak Didik Sekolah Dasar …………………………… 16 1. Masa Kelas-kelas Rendah Sekolah Dasar ……………………… 17 2. Masa Kelas-kelas Tinggi Sekolah Dasar ……………………….. 17 D. Strategi Pendampingan Belajar ……………………………………... 18 1. Definisi Strategi Pendampingan Belajar .……………………….. 18 2. Tujuan Bimbingan Belajar ……………………………………… 19 3. Strategi-strategi Pendampingan Belajar ..………………………. 20 BAB III METODE PENELITIAN ……………………………………….... 23 A. Metode Penelitian …………………………………………………... 23 B. Tempat Penelitian …………………………………………………… 25 C. Tahap-tahap Penelitian ……………………………………………… 26 D. Sampel Sumber Data ……………………………………………….. 27 E. Gambaran Singkat Subjek Penelitian ………………………………. 28 F. Teknik Pengumpulan Data …………………………………………. 31 G. Teknik Analisis Data ……………………………………………….. 33 H. Uji Validitas Data …………………………………………............... 35 xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN …………………. 37 A. Pelaksanaan Penelitian ……………………………………………... 37 B. Proses Reduksi Data ………………………………………………... 40 1. Data subjek terindikasi antisosial ………………………………. 42 2. Faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar subjek ………… 50 3. Strategi pendampingan belajar individual yang tepat …………... 64 C. Validitas Data ………………………………………………………. 69 BAB V PENUTUP …………………………………………………………. 71 A. Kesimpulan ………………………………………………………….. 71 B. Saran ………………………………………………………………… 72 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………. 73 LAMPIRAN ………………………………………………………………… 75 xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1. Agenda Kunjungan Rumah ……………………………… 39 Tabel 2. Denah Rumah ……………………………………………. 52 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Surat Ijin Penelitian ...……………………………………. 75 Lampiran 2. Lembar Persetujuan Menjadi Informan …………………. 76 Lampiran 3. Pedoman Wawancara ……………………………………. 80 Lampiran 4. Verbatim …………………………………………………. 81 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Dalam bab pendahuluan ini, dipaparkan latar belakang masalah mengenai gambaran singkat subjek penelitian. Rumusan masalah yang membahas mengenai masalah-masalah yang digali. Tujuan penelitian yang membahas mengenai hasil yang ingin diperoleh dari penelitian. Manfaat penelitian yang membahas mengenai kegunaan penelitian untuk pihak terkait, dan definisi operasional yang memaparkan batasan-batasan pembahasan penelitian. A. Latar Belakang Masalah Ketidakmampuan anak dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal dan sekolah membuat anak mengalami gangguan kepribadian. Salah satunya adalah gangguan kepribadian antisosial. Pola perilaku yang menandai gangguan kepribadian antisosial dimulai dari masa kanak-kanak atau saat remaja dan berlanjut hingga dewasa. Namun demikian, perilaku antisosial dan kriminal yang terkait dengan gangguan ini cenderung menurun seiring usia. Bahkan mungkin akan menghilang pada saat orang tersebut mencapai usia 40 tahun. Meskipun gangguan kepribadian antisosial menurun bahkan menghilang saat orang mencapai usia 40 tahun, namun menurut Harpun & Hare (dalam Nevid, Rathus & Greene, 2005), tidak demikian dengan trait kepribadian yang mendasari gangguan antisosial—trait. Seperti egosentrisitas; manipulatif; kurangnya empati; kurangnya rasa bersalah atau penyesalan; dan kekejaman kepada orang lain tersebut relatif stabil 1

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 meski terdapat penambahan usia. Sebagai contoh, memukul orang lain tanpa sebab, rasa curiga ketika ada orang lain mendekati, tidak bertanggung jawab atas pekerjaannya, memilih menganggur padahal ada banyak lowongan pekerjaan. Indikasi seorang anak mengalami gangguan kepribadian antisosial dalam lingkungan sekolah dasar kurang dipahami oleh sebagian masyarakat. Salah satu ciri perilaku yang disebabkan karena kepribadian antisosial seperti, tidak memiliki rasa bersalah ketika tidak mengerjakan tugas di sekolah. Melukai teman tanpa sebab dianggap sebagai perilaku nakal padahal hal tersebut merupakan salah satu ciri kepribadian antisosial. Hal ini nampak pada perilaku salah satu siswa di SD Maju (bukan nama sekolah sebenarnya) Sleman, Yogyakarta. Siswa kelas 3 yang sudah berusia 13 tahun ini sering berperilaku “aneh”. Misalnya, tanpa sebab melukai teman yang mencoba mendekati dia, tidak pernah mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Ketika diberi kesempatan untuk mengerjakan tugas hanya tersenyum dan cenderung mengulangi perilakunya tersebut. Siswa yang baru dua tahun berada di SD Maju ini tinggal bersama nenek dan kakeknya. Dia sejak kecil dirawat oleh kakek dan neneknya karena kedua orang tuanya berpisah sebelum dia dilahirkan. Setiap pagi siswa selalu diantar oleh neneknya ke sekolah. Neneknya terpaksa harus selalu mengantar karena kurang percaya dengan cucunya yang suka berbohong. Misalnya, siswa pernah membolos sekolah, pamit berangkat sekolah namun malah ke game net. Maka dari itu, neneknya

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 selalu menyempatkan diri setiap pagi mengantar serta menunggu di depan sekolah untuk memastikan bahwa cucunya masuk sekolah. Hasil belajar siswa di sekolah cenderung sangat rendah. Dibuktikan dengan hasil raport sejak taman kanak-kanak hingga SD kelas tiga. Siswa berada di TK yang seharusnya dua tahun menjadi tiga tahun. Tidak naik kelas dikelas satu, dan dikelas tiga dua kali. Pada waktu TK dicatatan akhir semester pertama wali kelas menulis: “jangan sering mogok sekolah, yang rajin ya”, “Lebih bagus apabila tidak marah/emosi, rajin mengerjakan tugas”. Dari petikan kata-kata wali kelas TK, dapat dilihat bahwa memang sejak TK siswa adalah anak yang malas ke sekolah dan sering emosi. Bertolak dari pemikiran bahwa adanya indikasi gangguan kepribadian antisosial yang dialami oleh subjek serta hasil studi kasus yang dilakukan sebelumnya, dipandang perlu untuk diteliti salah satu aspek yang berkaitan dengan bidang bimbingan di sekolah. Oleh karena itu, dilakukan penelitian mengenai: Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Anak Terindikasi Antisosial dan Strategi Pendampingan Belajarnya (Studi Kasus pada Seorang Siswa Kelas 3, di sebuah Sekolah Dasar, Sleman, Yogyakarta). Hasil penelitian ini bisa menghasilkan pengetahuan yang berguna bagi para guru dan orang tua. Selain itu juga untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar anak terindikasi antisosial dan strategi pendampingan belajar yang sesuai untuk anak terindikasi antisosial.

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi rendahnya hasil belajar anak yang terindikasi antisosial? 2. Strategi pendampingan belajar individual apakah yang cocok untuk anak terindikasi antisosial? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini memiliki tujuan yaitu : 1. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar anak terindikasi antisosial. 2. Mengetahui strategi bimbingan belajar individual yang cocok untuk anak terindikasi antisosial. D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan memberikan masukan sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini dimanfaatkan untuk menambah wacana yang berhubungan dengan hasil belajar dan strategi bimbingan belajar individual yang tepat untuk anak antisosial.

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 2. Manfaat Praktis. a. Bagi Peneliti Menambah pengetahuan mengenai anak terindikasi antisosial dalam hal hasil belajar dan strategi pendampingan belajar individual yang tepat. b. Bagi sekolah Manfaat bagi sekolah adalah memberi wawasan sekolah tentang faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya hasil belajar dan sekolah juga mendapat informasi mengenai strategi pendampingan belajar individual yang tepat untuk anak terindikasi mengalami gangguan kepribadian antisosial. E. Definisi Operasional 1. Antisosial adalah keadaan seseorang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik itu lingkungan sosial tempat tinggalnya maupun tempat seseorang mendapatkan pendidikan. 2. Hasil belajar adalah hasil dari usaha siswa selama di sekolah formal dibuktikan hasil tes harian atau nilai tertulis (raport). 3. Strategi pendampingan belajar adalah cara khusus dalam memberikan pendampingan belajar yang diberikan oleh konselor kepada individu (siswa) yang bertujuan membantu siswa mencapai hasil belajar optimal.

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini dijelaskan mengenai definisi antisosial, ciri-ciri anak antisosial, faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya anak antisosial. Definisi hasil belajar menurut beberapa ahli, faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar. Karakteristik siswa sekolah dasar dan definisi layanan bimbingan belajar serta strategi-strategi pendampingan belajar. A. Antisosial 1. Definisi Antisosial Menurut Clackley, (dalam Durand & Barlow, 2013). Gangguan kepribadian antisosial adalah sebuah perilaku pelanggaran hak-hak orang lain dan sering melanggar hukum. Mereka mengabaikan norma dan konvensi sosial, impulsif, serta gagal membina komitmen interpersonal dan pekerjaan. Meski demikian mereka sering menunjukkan karisma dalam penampilan luar mereka dan memiliki intelegensi rata-rata. Robert Hare (dalam Durand & Barlow, 2013) mendeskripsikan pribadi antisosial sebagai seorang yang diam-diam menghanyutkan. Orang yang sama sekali tidak memiliki hati nurani dan empati. Mereka dengan semena-mena mengambil apa saja yang mereka inginkan dari orang lain demi kesenangannya. Mereka melakukan apa saja yang mereka senangi, melanggar norma-norma dalam masyarakat tanpa secuil pun rasa bersalah atau penyesalan. 6

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 Pribadi antisosial sering dideskripsikan sebagai agresif karena, mengambil apa saja yang mereka inginkan tanpa peduli perasaan orang lain, menipu dan berbuat curang. Mereka sering tidak melihat perbedaan antara kebenaran dan menunjukkan kebohongan demi mencapai tujuan. Mereka tidak penyesalan atau peduli pada efek-efek tindakannya yang kadang-kadang sangat merusak (Durand & Barlow, 2013. hlm 195). 2. Ciri-ciri gangguan kepribadian antisosial Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders fifth edition (DSM 5, 2014). Ciri-ciri seseorang mengalami gangguan kepribadian antisosial yaitu: a. Perilaku antisosial terjadi sejak usia 15 tahun, seperti yang ditunjukkan oleh tiga (atau lebih) penjelasan dibawah ini: 1) Kegagalan untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma sosial yang berkaitan dengan perilaku yang sah, seperti berulangkali melakukan tindakan yang alasannya tidak logis. 2) Tipu daya, seperti yang ditunjukkan berulangkali berbohong, menipu orang lain untuk keuntungan atau kesenangan pribadi. 3) Impulsif atau kegagalan untuk merencanakan masa depan. 4) Mudah marah dan agresif, seperti sering berkelahi dan menyerang orang lain tanpa sebab. 5) Mengabaikan keselamatan diri sendiri atau orang lain.

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 6) Konsisten tidak bertanggung jawab dalam pekerjaan atau membayar tagihan. 7) Kurangnya penyesalan, seperti yang ditunjukkan dengan menjadi acuh tak acuh setelah melukai dan menganiaya. b. Individu setidaknya usia 18 tahun. c. Ada bukti dari gangguan perilaku sebelum usia 15 tahun. 3. Faktor-faktor yang membentuk kepribadian antisosial Ada beberapa hal yang mempengaruhi terbentuknya kepribadian antisosial yaitu: 1) Pengaruh Genetik Menurut Bock dan Goode (dalam Durand & Barlow, 2013). Twins studies, family studies, dan adoption studies semuanya menunjukkan adanya pengaruh genetik pada gangguan kepribadian antisosial maupun kriminalitas. Studi mengenai pola pewarisan keluarga menunjukkan adanya heritabilitas sederhana dari kriminalitas dan kepribadian antisosial. 2) Pengaruh Neurobiologis Menurut Hart, Forth, dan Hare (dalam Durand & Barlow 2013). Kerusakan pada otak secara umum tidak menjelaskan mengapa sebagian orang menjadi antisosial atau kriminal. Individu-individu ini tampaknya menunjukkan skor yang sama baiknya dengan kita pada tes-tes neuropsikologis.

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 3) Pengaruh psikologis berdasarkan teori sosial Menyatakan bahwa harga diri yang rendah adalah sebuah faktor penyebab gangguan kepribadian antisosial. Ketika masa kanak-kanak, individu yang mengembangkan gangguan tersebut merasakan kebutuhan untuk membuktikan kemampuan mereka dengan terlibat dalam aktivitas kekerasan (Halgin & Krauss, 2010. hlm 89). 4) Pengaruh Sosiokultural Menurut Serbin & Karp (dalam Halgin & Krauss, 2010). Faktor keluarga, lingkungan awal, dan pengalaman sosialisasi yang dapat membuat orang mengembangkan gaya hidup antisosial. Anak-anak yang agresif sering kali gagal dalam pendidikan, akhirnya terlibat dalam perilaku berisiko tinggi termasuk kehamilan di masa remaja, kemudian menempatkan anak mereka pada risiko kemiskinan dan kurangnya pengasuhan. B. Hasil Belajar 1. Definisi Hasil Belajar Menurut Dimyati dan Mudjiono (2002) hasil belajar adalah hasil yang ditunjukkan dari suatu interaksi tindak belajar dan biasanya ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan guru. Sedangkan menurut Hutabarat (1995: 11-12), hasil belajar dibagi menjadi empat golongan yaitu :

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 a) Pengetahuan, yaitu dalam bentuk bahan informasi, fakta, gagasan, keyakinan, prosedur, hukum, kaidah, standar, dan konsep lainya. b) Kemampuan, yaitu dalam bentuk kemampuan untuk menganalisis, mereproduksi, mencipta, mengatur, merangkum, membuat generalisasi, berfikir rasional dan menyesuaikan. c) Kebiasaaan dan keterampilan, yaitu dalam bentuk kebiasaan perilaku dan keterampilan dalam menggunakan semua kemampuan. d) Sikap, yaitu dalam bentuk apresiasi, minat, pertimbangan dan selera. Dari pengertian ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil interaksi belajar yang meliputi pengetahuan, kemampuan, kebiasaan dan sikap yang ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan guru. 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Menurut Djamarah (2011: 176-205), ada berbagai faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar yaitu: a) Faktor Lingkungan Faktor lingkungan dibagi menjadi dua yaitu lingkungan alami dan lingkungan sosial budaya. 1) Lingkungan alami Udara yang bersih, suasana sekolah yang tenang jauh dari suara kendaraan bermotor membuat siswa merasa nyaman di sekolah atau pun dirumah. Pengalaman telah banyak membuktikan bahwa panasnya lingkungan kelas, membuat anak didik merasa gelisah dan memilih untuk

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 keluar kelas daripada mengikuti pelajaran di dalam kelas. Daya konsentrasi menurun akibat suhu udara yang panas. Daya serap semakin melemah akibat kelelahan yang tak terbendung. 2) Lingkungan Sosial Budaya Manusia hidup dalam kebersamaan dan saling membutuhkan akan melahirkan interaksi sosial. Saling memberi dan saling menerima merupakan kegiatan yang selalu ada dalam kehidupan sosial. Berbicara, bersenda gurau, memberi nasihat, dan bergotong royong merupakan interaksi sosial dalam tatanan kehidupan bermasyarakat. Sebagai anggota masyarakat, anak didik tidak bisa melepaskan diri dari ikatan sosial. Sistem sosial yang terbentuk mengikat perilaku anak didik untuk tunduk pada norma-norma sosial, susila, dan hukum yang berlaku dalam masyarakat. Demikian juga ketika di sekolah, maka anak didik berada dalam sistem sosial di sekolah. Peraturan dan tata tertib sekolah harus anak didik taati. Pelanggaran yang dilakukan anak didik akan dikenakan sanksi sesuai dengan jenis dan berat ringannya pelanggaran. Lahirnya peraturan sekolah bertujuan untuk mengatur dan membentuk perilaku anak didik yang menunjang keberhasilan belajar di sekolah.

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 b. Faktor Instrumental Faktor instrumental terdiri dari kurikulum, program, sarana dan fasilitas, guru. 1) Kurikulum Kurikulum adalah a plan for learning yang merupakan unsur substansial dalam pendidikan. Tanpa kurikulum kegiatan belajar mengajar tidak dapat berlangsung, sebab materi yang akan diajarkan guru belum terprogramkan. Itu sebabnya, untuk semua mata pelajaran, setiap guru memiliki kurikulum untuk mata pelajaran yang dipegang dan diajarkan kepada anak didik. Setiap guru harus mempelajari dan menjabarkan isi kurikulum ke dalam program yang lebih rinci dan jelas sasaran. Sehingga dapat diketahui dan diukur dengan pasti tingkat keberhasilan belajar mengajar yang telah dilaksanakan. 2) Program Setiap sekolah mempunyai program pendidikan. Program pendidikan disusun untuk dijalankan demi kemajuan pendidikan. Keberhasilan pendidikan di sekolah tergantung dari baik tidaknya program pendidikan yang dirancang. Program pendidikan disusun berdasarkan potensi sekolah yang tersedia, baik tenaga, finansial, dan sarana prasarana. Program bimbingan dan penyuluhan mempunyai andil yang besar dalam keberhasilan belajar anak didik di sekolah.

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 3) Sarana dan Fasilitas Sarana mempunyai arti penting dalam pendidikan. Salah satu persyaratan untuk membuat suatu sekolah adalah pemilikan gedung sekolah yang di dalamnya ada ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang dewan guru, ruang perpustakaan, ruang BP, ruang tata usaha, auditorium, dan halaman sekolah yang memadai. Semua bertujuan untuk memberikan kemudahan pelayanan anak didik. Fasilitas mengajar merupakan kelengkapan mengajar guru yang harus dimiliki oleh sekolah. Guru harus memiliki buku pegangan dan buku penunjang agar wawasan guru tidak sempit. Alat peraga yang guru perlukan harus tersedia di sekolah. 4) Guru Keadaan kekurangan guru banyak terjadi di daerah, sehingga ditemukan guru yang mengajar lebih dari ketentuan wajib mengajar. Guru yang professional lebih mengedepankan kualitas pengajaran daripada materiil oriented. Kualitas kerja lebih diutamakan daripada mengambil mata pelajaran yang bukan bidang keahliannya.

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 c. Kondisi Fisiologis Kondisi fisiologis seperti: 1) Anak didik yang kekurangan gizi Menurut Nasution (dalam Djamarah, 2011). Anak-anak yang kekurangan gizi ternyata kemampuan belajarnya di bawah anak-anak yang tidak kekurangan gizi; mereka lekas lelah, mudah mengantuk, dan sukar menerima pelajaran. 2) Kondisi panca indra Kondisi panca indra yang normal akan membantu anak didik dalam menerima informasi dari guru mata pelajaran. d. Kondisi Psikologis Belajar pada hakikatnya adalah proses psikologis. Terdiri dari: 1) Minat Menurut Nasution (Djamarah, 2011), minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi, sebaliknya minat belajar kurang akan menghasilkan prestasi belajar yang rendah. 2) Kecerdasan Menurut Dalyono (dalam Djamarah, 2011). Mengatakan bahwa seseorang yang memiliki intelegensi baik (IQ-nya tinggi) umumnya mudah belajar dan hasilnya pun cenderung baik.

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 3) Bakat Bakat memang diakui sebagai kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan atau latihan. Menurut Sunarto dan Hartono (dalam Djamarah, 2011). Mengatakan bahwa bakat memungkinkan seseorang untuk mencapai prestasi dalam bidang tertentu, akan tetapi diperlukan latihan, pengetahuan, pengalaman, dan dorongan atau motivasi agar bakat itu dapat terwujud. 4) Motivasi Kuat lemahnya motivasi belajar seseorang turut mempengaruhi keberhasilan belajar. Karena itu, motivasi belajar perlu diusahakan, terutama yang berasal dari dalam diri (motivasi intrinsik) dengan cara senantiasa memikirkan masa depan yang penuh tantangan dan harus dihadapi untuk mencapai cita-cita. Senantiasa memasang tekad bulat dan selalu optimis bahwa cita-cita dapat dicapai dengan belajar (Dalyono, dalam Djamarah, 2011). 5) Kemampuan Kognitif Ada tiga hal yang harus dikuasai untuk sampai pada penguasaan kemampuan kognitif, yaitu persepsi, mengingat, dan berpikir.

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 C. Karakteristik Anak Didik Sekolah Dasar Menurut Nasution (dalam Djamarah, 2011). Masa usia sekolah dasar sebagai masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kira sebelas atau dua belas tahun. Usia ini ditandai dengan mulainya anak masuk sekolah dasar, dan mulainya sejarah baru dalam kehidupannya yang kelak akan mengubah sikap-sikap dan tingkah lakunya. Para guru mengenai masa ini sebagai “masa sekolah”, oleh karena pada usia ini anak untuk pertama kalinya menerima pendidikan formal. Tetapi bisa juga dikatakan bahwa masa usia sekolah adalah masa matang untuk belajar maupun masa matang untuk sekolah. Disebut masa sekolah, karena anak sudah menamatkan taman kanak-kanak, sebagai lembaga persiapan bersekolah yang sebenarnya. Disebut masa matang untuk belajar, karena anak sudah berusaha untuk mencapai sesuatu tetapi, perkembangan aktivitas bermain yang hanya bertujuan untuk mendapatkan kesenangan pada waktu melakukan aktivitasnya itu sendiri. Disebut masa matang untuk bersekolah, karena anak sudah menginginkan kecakapan-kecakapan baru, yang dapat diberikan sekolah. Menurut Suryobroto (dalam Djamarah, 2011) masa usia sekolah sebagai masa intelektual atau masa keserasian bersekolah, Tetapi dia tidak berani mengatakan pada umur berapa tepatnya anak matang untuk masuk sekolah dasar. Suryobroto membagi masa anak-anak menjadi dua fase yaitu:

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 1. Masa Kelas-kelas Rendah Sekolah Dasar Masa kelas-kelas rendah sekolah dasar, kira-kira umur 6 atau 7 sampai 9 atau 10 tahun. Pada usia tersebut ada beberapa sifat khas anak-anak pada masa ini antara lain adalah seperti yang disebutkan dibawah ini: a. Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan kesehatan pertumbuhan jasmani dengan prestasi sekolah. b. Adanya sikap yang cenderung untuk mematuhi peraturanperaturan permainan yang tradisional. c. Ada kecenderungan memuji diri sendiri. d. Suka membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain kalau hal itu dirasanya menguntungkan untuk meremehkan anak lain. e. Kalau tidak dapat menyelesaikan sesuatu soal, maka soal itu dianggapnya tidak penting. f. Pada masa ini (terutama pada umur 6-8) anak menghendaki nilai (angka rapor) yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak. 2. Masa Kelas-kelas Tinggi Sekolah Dasar Masa kelas-kelas tinggi Sekolah Dasar kira-kira umur 9 atau 10 sampai kira-kira umur 12 atau 13 tahun. Beberapa sifat khas anak-anak pada masa ini adalah sebagai berikut:

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 a. Adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang kongkret, hal ini menimbulkan adanya kecenderungan untuk membandingkan pekerjaan-pekerjaan yang praktis. b. Amat realistis, ingin tahu, dan ingin belajar. c. Menjelang akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal dan mata pelajaran khusus. d. Sampai kira-kira umur 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang-orang dewasa lainnya. e. Anak-anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya untuk dapat bermain bersama-sama. Di dalam permainan ini biasanya anak tidak lagi terikat pada aturan permainan yang tradisional, mereka membuat peraturan sendiri. Anak diusia 9 sampai 13 tahun biasanya melihat nilai teman-temannya untuk melihat keadilan guru dan kekuatan dirinya sendiri dalam kelas, diantara teman-temannya. Diusia 9 sampai 13 tahun ini biasanya timbul persaingan diantara anak-anak dan biasanya persaingan itu terbatas pada sesama jenis kelamin. Pengalaman-pengalaman tersebut membantu anak dalam menumbuhkan rasa keadilan. D. Strategi Pendampingan Belajar 1. Definisi Strategi Pendampingan Belajar Menurut Surya (dalam Thohirin, 2007) menyatakan bahwa bimbingan belajar merupakan jenis bimbingan yang membantu para siswa dalam

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 menghadapi dan memecahkan masalah-masalah pendidikan. Selanjutnya menurut Thohirin (2007) bimbingan belajar bisa bermakna suatu bantuan dari pembimbing kepada terbimbing (siswa) dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah belajar. Lebih lanjut menurut Darmansyah (2011) strategi pembelajaran adalah cara pengorganisasian isi pelajaran, penyampaian pelajaran dan pengolahan kegiatan belajar dengan menggunakan berbagai sumber belajar yang dapat dilakukan guru untuk mendukung terciptanya efektivitas serta efisiensi proses pembelajaran. Romiszowski (dalam Darmansyah, 2011) menjelaskan bahwa strategi adalah sebagai titik pandang dan arah berbuat yang diambil dalam rangka memilih metode pembelajaran yang tepat, yang selanjutnya mengarah pada yang lebih khusus, yaitu rencana, taktik, dan latihan. Berdasarkan definisi para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa strategi pendampingan belajar atau akademik adalah cara khusus dalam memberikan pendampingan belajar yang diberikan oleh konselor kepada individu (siswa) yang bertujuan membantu siswa mencapai hasil belajar optimal. 2. Tujuan Bimbingan Belajar Menurut Juntika & Syamsu (2010), tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah sebagai berikut: a. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan membaca buku, disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 semua pelajaran, dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan. b. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat. c. Memiliki ketrampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti keterampilan membaca buku, menggunakan kamus, mencatat pelajaran dan mempersiapkan diri menghadapi ujian. d. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan, seperti membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas, memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu, dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas. e. Memiliki kesiapan mental untuk menghadapi ujian. 3. Strategi-strategi Pendampingan Belajar Strategi-strategi pendampingan belajar menurut beberapa sumber diantaranya: a. Strategi Penemuan (Discovery) Menurut Sund (dalam Roestiyah, 2001) strategi penemuan adalah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. Proses mental tersebut antara lain: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya. Sedangkan prinsip strategi pendampingan ini sendiri adalah siswa dibiarkan menemukan

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 sendiri atau mengalami proses mental itu sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan intruksi. b. Strategi Pembelajaran Tanpa Arah Menurut Aunurrahman (2011), strategi pembelajaran tanpa arah adalah strategi yang berfokus pada upaya menfasilitasi kegiatan pembelajaran. Lingkungan belajar diorganisasi sedemikian rupa untuk membantu siswa mengembangkan integritas kepribadian, meningkatkan efektivitas serta membantu merealisasikan harapan atau cita-cita siswa. Strategi pendampingan belajar ini didasari asumsi bahwa siswa memiliki rasa tanggung jawab terhadap aktivitas belajarnya, karena keberhasilan tergantung pada kemauan yang ada di dalam dirinya. Strategi pendampingan belajar ini pada prinsipnya adalah meletakkan peranan guru untuk secara aktif membangun kerjasama yang diperlukan dan memberikan bantuan yang dibutuhkan pada saat para siswa mencoba memecahkan masalah. c. Strategi Latihan Kesadaran Model latihan kesadaran (Aunurrahman, 2011) adalah strategi pembelajaran yang diarahkan untuk memperluas kesadaran diri dan kemampuan untuk merasa dan berpikir. Strategi ini berisikan rangkaian kegiatan yang mendorong timbulnya refleksi hubungan antar individu, citra diri atau “self image”, ekperimentasi dan penampilan diri. Latihan kesadaran ini dimulai dengan pengaturan

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 para siswa melalui berbagai bentuk arahan dari guru. Misalnya para siswa terlibat dalam aktivitas dan diskusi untuk mengidentifikasi berbagai reaksi-reaksi emosional. Prinsip strategi pendampingan belajar ini adalah membantu siswa agar lebih dapat merealisasikan diri sepenuhnya. Tujuan utamanya adalah membuka berbagai kemungkinan tumbuhnya kesadaran terhadap diri dan hubungan interpersonal. d. Strategi Unplanned Humor Unplanned humor menurut Sheinowitz (dalam Darmansyah, 2011) adalah humor yang tidak direncanakan, humor ini muncul secara spontan, baik yang bersumber dari guru maupun murid. Humor ini bersifat spontanitas dan dipicu oleh berbagai aktifitas dalam pembelajaran. Sedangkan menurut R. K. Cooper & Sawaf (dalam Darmansyah, 2011) menyatakan bahwa humor merupakan sumber mata air yang universal untuk memperbesar energi dan mengusir ketegangan dalam berinteraksi dengan orang lain. Memang tidak mudah menciptakan humor dalam suasana pembelajaran karena menggunakan sisipan humor di dalam kelas memerlukan kecerdasan khusus. Menurut Darmanto dan Najib (dalam Darmansyah, 2011) menyatakan: Lelucon cerdas dan berkelas, umumnya sanggup merangsang perasaan intelektual penikmatnya”.

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ini dijabarkan mengenai metode penelitian yang digunakan. Tempat peneliti melakukan penelitian. Tahap-tahap penelitian yang dilakukan dalam penelitian. Sumber data yang digunakan untuk penelitian. Gambaran mengenai subjek penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan. Teknik analisis data, dan rencana pengujian keabsahan data penelitian. A. Metode Penelitian 1. Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif (qualitative research). Menurut McMillan & Schumacher (dalam Sugiyono, 2010), mengatakan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu pendekatan yang juga disebut pendekatan investigasi karena biasanya peneliti mengumpulkan data dengan cara bertatap muka langsung dan berinteraksi dengan orang-orang di tempat penelitian. Sedangkan menurut Strauss & Corbin (Sugiyono, 2010), penelitian kualitatif juga bisa dimaksudkan sebagai jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Menurut Sugiyono (2010: 15; 285) penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik 23

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Dalam pandangan penelitian kualitatif, gejala itu bersifat holistik (menyeluruh, tidak dapat dipisah-pisahkan), sehingga peneliti kualitatif tidak akan menetapkan penelitiannya hanya berdasarkan variabel penelitian, tetapi keseluruhan situasi sosial yang diteliti yang meliputi aspek tempat (place) , pelaku (actor) dan aktivitas (activity) yang berinteraksi secara sinergis. 2. Studi kasus Studi kasus adalah salah satu bagian dari pendekatan penelitian kualitatif. Menurut Bogdan dan Bikien (dalam Sugiyono, 2010), studi kasus merupakan pengujian secara rinci terhadap satu latar atau orang subyek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu. Menurut Yin (2013: 4) studi kasus memungkinkan peneliti untuk mempertahankan karakteristik holistik dan bermakna dari peristiwaperistiwa kehidupan nyata, seperti siklus kehidupan seseorang, prosesproses organisasional dan manajerial. 3. Jenis Studi Kasus yang digunakan Jenis studi kasus yang digunakan adalah jenis studi kasus tunggal (Yin, 2013). Jenis studi kasus ini merupakan desain umum bagi penyelenggaraan studi kasus. Desain studi kasus bisa dibenarkan dalam kondisi-kondisi tertentu seperti : (a) kasus tersebut mengetengahkan suatu uji penting tentang teori yang ada, (b) merupakan suatu peristiwa yang

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 langka atau unik, atau (c) berkaitan dengan tujuan penyingkapan. Dipilihnya metode penelitian studi kasus karena peneliti merasa prihatin terhadap perilaku siswa sekolah dasar ketika peneliti melakukan kunjungan kesalah satu sekolah dasar di Yogyakarta. Peneliti melihat perilaku siswa yang melukai teman sebayanya tanpa alasan yang jelas serta tidak merasa bersalah terhadap perilakunya tersebut. Dari hasil observasi peneliti selama dua minggu, peneliti melihat gejala perilaku antisosial yang dialami siswa di sekolah dasar tersebut. Maka dari itu peneliti mengamati keseharian siswa, mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya hasil belajarnya. Dari hasil studi kasus ini, dapat diperoleh data yang akurat tentang siswa terindikasi antisosial dan hasil penelitian bisa mendapatkan hipotesis untuk dilakukan penelitian lanjutan. B. Tempat Penelitian Penelitian studi kasus ini dilaksanakan di sebuah sekolah dasar yang berada di Sleman, Yogyakarta. Status sosial ekonomi siswa yang bersekolah di SD Maju (nama disamarkan) ini rata-rata memiliki tingkat ekonomi menengah kebawah. Banyak orang tua siswa yang sibuk bekerja dan lupa memperhatikan perkembangan siswa baik di rumah dan di sekolah. Siswa yang bersekolah di SD Maju didominasi suku jawa, dan beragama islam.

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 C. Tahap-tahap Penelitian Dalam penelitian ini, agar pelaksanaannya terarah dan sistemastis maka disusun tahapan-tahapan penelitian. Menurut Moleong (2009: 127148), ada tiga tahapan dalam pelaksanaan penelitian yaitu sebagai berikut: 1. Tahap pra lapangan Pada tahap ini peneliti menentukan subjek, memilih lapangan penelitian serta mengurus perizinan kepada pihak terkait, serta menyiapkan perlengkapan penelitian. Dalam mengurus perizinan peneliti harus memiliki surat resmi dari institusi dimana peneliti bernaung untuk disampaikan kepada pihak sekolah dan responden pendukung penelitian. Perlengkapan penelitian yang meliputi, pedoman wawancara, peralatan elektronik yang mendukunng seperti tape recorder, serta surat pernyataan bersedia diwawancarai kepada beberapa responden dan objek penelitian. 2. Tahap pekerjaan lapangan Dalam hal ini peneliti mulai menggali data dengan membatasi latar terbuka dan tertutup. Latar terbuka yang merupakan tempat melakukan wawancara meliputi lingkungan sekolah, sedang latar tertutup untuk melakukan wawancara mendalam serta menjalin hubungan lebih dekat dengan objek maka dilakukan kunjungan rumah. Proses penelitian berlangsung dalam jangka waktu tiga bulan dan penelitian belum mendapatkan hipotesis yang cukup, peneliti memperpanjang proses penelitian hingga empat bulan. Peneliti juga

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 berpenampilan sesuai dengan adat istiadat tempat dimana dilakukan penelitian. Proses penelitian juga melakukan wawancara tidak terstruktur, mencatat perilaku objek yang mendukung data penelitian. 3. Tahap analisis data Tahapan yang ketiga dalam penelitian ini adalah analisis data. Menurut Bogdan & Biklen dalam Moleong (2009), Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasi data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Selanjutnya menurut Janice McDrury (dalam Moleong, 2009) tahapan analisis data kualitatif adalah sebagai berikut: 1) Membaca/mempelajari data, menandai kata-kata kunci dan gagasan yang ada dalam data, 2) Mempelajari kata-kata kunci itu, berupaya menemukan tematema yang berasal dari data. 3) Menuliskan „model‟ yang ditemukan. 4) Koding yang telah dilakukan. D. Sampel Sumber Data Sanafiah Faisal (1990) dalam buku Sugiyono (2010: 400-401) mengutip pendapat Spradley mengemukakan bahwa, situasi sosial untuk sampel awal sangat disarankan suatu situasi sosial yang didalamnya

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 menjadi semacam muara dari banyak domain lainnya. Selanjutnya dinyatakan bahwa, sampel sebagai sumber data atau sebagai informan sebaiknya yang memenuhi kriteria sebagai berikut: 1. Mereka yang menguasai atau memahami sesuatu melalui proses enkulturasi, sehingga sesuatu itu bukan sekedar diketahui, tetapi juga dihayati. 2. Mereka yang tergolong masih sedang berkecimpung atau terlibat pada kegiatan yang tengah diteliti. 3. Mereka yang mempunyai waktu yang memadai untuk dimintai informasi. 4. Mereka yang tidak cenderung menyampaikan informasi hasil “kemasannya”sendiri. 5. Mereka yang pada mulanya tergolong “cukup asing” dengan peneliti sehingga lebih menggairahkan untuk dijadikan semacam guru atau narasumber. Jadi siapa yang dijadikan sampel sumber data, dan berapa jumlahnya dapat diketahui setelah penelitian selesai. E. Gambaran Singkat Subjek Penelitian Gambaran singkat mengenai subjek penelitian adalah sebagai berikut. Adi (bukan nama sebenarnya) atau subjek penelitian adalah siswa sekolah dasar di SD Maju, Sleman, Yogyakarta. Adi dengan usia 13 tahun namun masih duduk dibangku kelas III. Adi baru dua tahun berada di SD Maju. Sebelumnya Adi bersekolah di SD Depok (bukan nama sekolah

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 sebenarnya), Sleman, Yogyakarta. Namun karena jarak antara sekolah dan rumahnya yang jauh, biaya sekolah yang mahal serta mata pelajaran di SD Depok terlalu banyak maka Adi oleh neneknya dipindahkan ke SD Maju. Adi sejak kecil diasuh oleh nenek dan kakeknya, kedua orang tua sudah berpisah sejak Adi belum dilahirkan. Keseharian Adi di rumah ketika siang hari dihabiskan untuk bermain di lingkungan sekolah dan ketika malam hari Adi menghabiskan waktu di dalam kamar sambil bermain komputer. Di rumah Adi hanya peduli dengan kebersihan diri dan kamar tidurnya, selebihnya seperti ruang tamu, dapur, ruang belajar ia biarkan berantakan. Selain itu, Adi jarang bermain dengan anak disekitar tempat tinggalnya. Nenek Adi yang bekerja sebagai buruh cuci pulang kerumah pukul 17.00. Sedangkan kakek dan pamanya belum pasti pulang setiap hari. Hal tersebut membuat Adi tidak memiliki teman untuk bercerita, berbagi keluh kesah karena ketika anggota keluarga Adi pulang sudah dalam keadaan lelah. Di sekolah Adi terkenal sebagai siswa yang nakal karena dia sering berkelahi dengan temannya, selalu tidak mengerjakan PR, selalu tidak selesai mengerjakan tugas. Hampir setiap minggu wali kelas mendapat laporan bahwa Adi berkelahi, membuat siswa lain menangis. Hasil belajar Adi pun termasuk sangat rendah. Adi sudah tiga kali tidak naik kelas sekolah dasar. Selain itu Adi juga sempat mogok sekolah pada waktu taman kanak-kanak. Adi mogok sekolah hampir satu tahun karena

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 neneknya malu dengan perilaku Adi yang sering memukul temannya, marah di kelas, berkelahi, dan merusak fasilitas sekolah. Dari hasil pengamatan dan wawancara peneliti dengan informan terkait serta Adi sendiri, diperoleh hasil bahwa Adi terindikasi mengalami gangguan kepribadian antisosial. Peneliti berani mengatakan bahwa Adi terindikasi mengalami gangguan kepribadian antisosial karena berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disordersfifth edition (DSM 5), hampir semua ciri-ciri menurut DSM 5 dimiliki oleh Adi. Selain itu, Menurut neneknya ibu Adi juga berperilaku hampir sama dengan anaknya, sering marah-marah sendiri. Seperti, melempar piring-piring, melempar pakaian dan perabotan rumah keluar rumah. Pengaruh sosiokultural menurut Serbin & Karp (Halgin & Krauss, 2010) faktor keluarga, lingkungan awal, dan pengalaman sosialisasi yang membuat orang mengembangkan gaya hidup antisosial. Adi yang hidup hanya dengan kedua neneknya, jarang diajak untuk bercerita, jarang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar memperkuat perilaku antisosial Adi semakin menguat. Selain itu menurut Halgin & Krauss (2010) pengaruh psikologi berdasarkan teori sosial menyatakan bahwa harga diri yang rendah adalah faktor penyebab gangguan antisosial. Perilaku Adi yang selalu berkelahi dengan teman, memukul tanpa sebab adalah salah satu wujud pembuktian kemampuan agar Adi diakui oleh teman-temannya akan keberadaannya.

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 F. Teknik Pengumpulan Data Menurut Yin (2013: 103-118) ada enam sumber bukti yang dapat dijadikan fokus bagi pengumpul data studi kasus : 1. Dokumentasi Penggunaan dokumen yang paling penting adalah mendukung dan menambah bukti dari sumber-sumber lain. Pertama, dokumen membantu pemverifikasian ejaan dan judul atau nama yang benar dari organisasi-organisasi yang disinggung dalam wawancara. Kedua, dokumen menambah rincian spesifik lainnya guna mendukung informasi dari sumber-sumber lain; jika bukti dokumenter bertentangan dan bukannya mendukung, peneliti mempunyai alasan untuk meneliti lebih jauh topik yang bersangkutan. Tiga, inferensi dapat dibuat dari dokumen-dokumen. 2. Rekaman Arsip Pada studi kasus ini, rekaman arsip dalam bentuk komputerisasi dan merupakan hal yang relevan. Ini meliputi: a. Rekaman layanan, seperti jumlah klien yang dilayani dalam suatu periode waktu tertentu; b. Peta dan bagan karakteristik geografis suatu tempat; c. Daftar nama dan komoditi lain yang relevan; d. Data survey, seperti rekaman atau data sensus yang terkumpul. e. Rekaman-rekaman pribadi, seperti buku harian, kalender.

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 3. Wawancara Wawancara merupakan sumber informasi yang paling penting dalam penelitian studi kasus. Ada dua bentuk wawancara studi kasus, yaitu: a. Tipe open-ended Peneliti bertanya kepada responden kunci tentang faktafakta suatu peristiwa yang ada. Pada beberapa situasi, penelitian bahkan bisa meminta responden untuk mengetengahkan pendapatnya sendiri terhadap peristiwa tertentu dan bisa menggunakan proposisi tersebut sebagai dasar penelitian selanjutnya. b. Tipe terfokus Penelitian dimana responden diwawancarai dalam waktu pendek, satu jam misalnya. Wawancara open-ended dan mengasumsikan cara percakapan namun pewawancara tak perlu mengikuti serangkaian pertanyaan tertentu yang diturunkan dari protokol studi kasus (wawancara tidak terstruktur). 4. Observasi Langsung Dengan berasumsi bahwa fenomena yang diminati tidak asli historis, beberapa pelaku atau kondisi lingkungan sosial yang relevan akan tersedia untuk observasi. Observasi semacam itu berperan sebagai sumber bukti lain bagi suatu studi kasus. Selain

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 itu, untuk meningkatkan reliabilitas bukti observasi, prosedur yang umum ialah memiliki lebih dari satu pengamatan dalam membuat jenis observasi formal maupun kausal. 5. Observasi Partisipan Observasi partisipan adalah suatu bentuk observasi khusus dimana peneliti tidak hanya menjadi pengamat yang pasif, melainkan juga mengambil berbagai peran dalam situasi tertentu dan berpartisipasi dalam peristiwa-peristiwa yang akan diteliti. 6. Perangkat Fisik Perangkat fisik atau cultural yaitu peralatan teknologi, alat atau instrumen, pekerjaan seni, atau beberapa bukti fisik lainnya. Perangkat fisik mempunyai relevansi kurang potensial dalam studi kasus yang paling tidak lazim. Namun demikian, bilamana relevan perangkat tersebut bisa menjadi komponen penting dalam keseluruhan kasus bersangkutan. G. Teknik Analisis Data Analisis data menurut Patton (Moleong, 2009: 280) merupakan proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategorisasi, dan satuan uraian dasar. Menurut Bogdan dan Biklen (Moleong, 2009: 280) analisis data sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis kerja (ide) seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan hipotesis kerja itu. Selanjutnya

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 Moleong (2009) menyatakan bahwa analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengacu pada konsep Milles & Huberman (dalam Soegiyono, 2010), aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification. 1. Reduksi data (Data Reduction ) Reduksi data merupakan proses berpikir sensitif yang memerlukan kecerdasan dan keluasan dan kedalaman wawasan yang tinggi. Data yang diperoleh di lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu perlu dicatat secara teliti dan rinci. Semakin lama peneliti di lapangan, maka jumlah data akan semakin banyak, kompleks dan rumit. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu. 2. Penyajian data ( Display Data ) Data yang sudah berupa rangkuman , uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori. Penyajian data dalam penelitian kualitatif ini adalah dengan teks yang bersifat naratif.

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 3. Penarikan kesimpulan dan verifikasi (Conclusion Drawing and Verification) Kesimpulan awal biasanya bersifat sementara, dan akan berubah jika dalam perjalanannya tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat untuk mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan diawal didukung dengan bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Demikian kesimpulan bisa menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti telah dikemukakan bahwa masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian berada di lapangan. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif yang diharapkan adalah merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masing belum jelas atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas. H. UJI VALIDITAS DATA Dalam menguji keabsahan atau validitas data yang didapat sehingga benar-benar sesuai dengan tujuan dan maksud penelitian, maka peneliti menggunakan teknik triangulasi. (Moleong, 2009: 330). Adapun triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi dengan sumber dan metode, yang berarti membandingkan dan mengecek derajat

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 balik kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif (Patton dalam Moleong, 2009: 330). Hal ini dapat peneliti capai dengan jalan sebagai berikut: 1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara. 2. Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang dikatakannya objek peneliti secara pribadi. 3. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti orang yang berpendidikan lebih tinggi atau ahli dalam bidang yang sedang diteliti. Teknik uji keabsahan lain yang digunakan oleh peneliti adalah perpanjangan keikutsertaan. Menurut Moleong (2009: 327) perpanjangan keikutsertaan berarti peneliti tinggal di lapangan penelitian sampai kejenuhan pengumpulan data tercapai. Peneliti memperpanjang atau menambah waktu wawancara dan observasi terhadap subjek selama satu bulan agar data mencapai kejenuhan.

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab ini peneliti membahas mengenai pelaksanaan penelitian. Hasil penelitian berupa analisis data dari berbagai sumber. Proses trianggulasi data dari beberapa responden. Dalam bab ini juga, peneliti mendeskripsikan validitas data penelitian. A. Pelaksanaan Penelitian Pelaksanaan penelitian dimulai pada tanggal Senin, 28 0ktober 2013, dengan terjun ke sekolah untuk mengantarkan surat ijin penelitian dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Setelah itu, peneliti mempersiapkan perlengkapan penelitian berupa pedoman wawancara, hand phone untuk merekam proses wawancara, surat pernyataan menjadi subjek penelitian/informan. Peneliti memfokuskan kegiatan penelitian di rumah dan sekolah dimana Adi (subjek penelitian) bersekolah. Setelah surat ijin diterima pihak sekolah dan diijinkan untuk melakukan penelitian maka peneliti langsung melakukan observasi terhadap lingkungan sekolah. Tanggal 31 Oktober 2013, peneliti datang ke sekolah untuk menemui pihak terkait dalam rangka meminta kesediaannya sebagai informan. Dihari itu juga peneliti langsung melakukan observasi di kelas Adi dan wawancara terstruktur dengan informan terkait. Penelitian dilanjutkan pada tanggal 26, 27, 28 November 2013, yang masih memfokuskan kegiatan penelitian di sekolah, karena peneliti merasa banyak hal yang perlu digali mengenai rutinitas Adi di sekolah. 37

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 Sebelum melakukan penelitian lebih mendalam tentu peneliti sudah menjalin relasi yang baik dengan Adi. Meskipun demikian peneliti merasa takut dan waswas ketika dekat dengan Adi, hal tersebut dikarena Adi adalah anak yang terindikasi memiliki gangguan kepribadian antisosial. Berdasarkan cerita dan pengalaman beberapa informan seperti teman satu kelas Adi, cerita Adi, cerita nenek dan wali kelas, Adi sering memukul, marah tanpa sebab, hal tersebutlah yang menjadikan peneliti sedikit menjaga jarak dengan Adi. Merasa sudah cukup dekat relasi dengan Adi maka tanggal 5 Februari 2014 peneliti memutuskan untuk datang kerumah Adi dan bertemu neneknya. Peneliti menjelaskan maksud kedatangannya kerumah Adi kepada neneknya dan mendapatkan ijin untuk melakukan penelitian kepada Adi. Tanggal 20-21 Februari peneliti ke rumah Adi untuk melakukan wawancara dengan Adi dan neneknya, serta tidak lupa melakukan dokumentasi. Penelitian dilanjutkan kembali dengan berkunjung ke sekolah pada tanggal 24 April 2014. Dari hasil wawancara dengan informan didapatkan hasil bahwa Adi belum ada perubahan baik dari nilai atau pun perilakunya. Tanggal 26 April peneliti melakukan kunjungan rumah, peneliti melakukan wawancara kepada nenek dan Adi. Tanggal 2 Mei, dan 9 sampai 13 Juli peneliti kembali ke rumah Adi untuk melakukan pendampingan belajar. Proses penelitian berjalan dengan jeda waktu yang relatif lama. Hal ini dikarenakan peneliti melakukan penelitian disela-sela Program pengenalan lapangan (PPL) Sekolah dasar dan Sekolah menengah kejuruan. Selain itu peneliti juga memiliki kewajiban untuk melakukan kuliah kerja nyata (KKN) selama satu bulan penuh.

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 Agenda kunjungan rumah dan sekolah No hari dan tanggal Kegiatan 1. Senin, 28/10/2013 2. Kamis, 31/10/2013 Menyerahkan surat ijin penelitian dari Prodi. Observasi 3. Selasa, 26/11/2013 Wawancara 4. Rabu, 27/11/2013 Wawancara 5. Kamis, 28/11/2013 6. Rabu , 5/02/ 2014 7. Jumat, 21/02/ 2014 8. Sabtu, 22/02/ 2014 9. Kamis, 24/03/2014 10. Sabtu, 26/03/2014 11. Jumat, 2/05/2014 12. Rabu, 14/05/2014 13. 9-13/06/2014 Deskripsi kegiatan Ke SD Maju menyerahkan surat ijin penelitian dari Universitas dan Observasi. Observasi di kelas III, dan melakukan wawancara tidak terstruktur kepada guru mata pelajaran Wawancara guru mata pelajaran Wawancara wali kelas dan Yudi (teman satu kelas Adi) Wawancara Wawancara tidak terstruktur dengan Adi Observasi Datang ke rumah Adi dan menjelaskan maksud dan tujuan kepada neneknya. Wawancara dan Ke rumah Adi dan observasi dokumentasi pramuka , melakukan wawancara kepada nenek dan memotret rumah Adi. Wawancara Kerumah Adi, mengobrol dengan Adi dan neneknya (wawancara tidak testruktur). Observasi dan Ke sekolah bertemu wali kelas wawancara dan guru mata pelajaran Mengamati Ke rumah Adi, bertemu nenek keseharian Adi dan Adi. Melakukan wawancara tidak terstruktur. Ke rumah Adi Melakukan wawancara terstruktur kepada nenek Adi Menggali Mengamati lingkungan sekitar informasi rumah Adi. Pendampingan Kerumah Adi untuk belajar mendampingi belajar Adi

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 B. Proses Reduksi Data Setelah melakukan pengumpulan data dengan menggunakan teknik wawancara baik terstruktur maupun tidak terstruktur, observasi di rumah, dan sekolah maka peneliti melakukan proses reduksi data. Proses reduksi data ini untuk memilah-milah hal penting, merangkum data, mencari pola atau tema dan membuang data-data yang tidak perlu. Selanjutnya peneliti akan menyajikan data hasil penelitian dalam bentuk teks deskriptif. Banyaknya data hasil penelitian membuat peneliti cukup kerepotan dalam proses reduksi data hasil penelitian. Peneliti sedikit mengalami masalah ketika melakukan observasi dan wawancara dengan Adi, terutama jawaban dari Adi ketika diwawancarai. Salah satu aspek dalam ganguan kepribadian antisosial menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders fifth edition (DSM 5) adalah anak antisosial sering berbohong, hal itu pula yang muncul ketika peneliti melakukan wawancara tidak terstruktur dengan Adi. Misalnya pertama diwawancarai Adi mengatakan hanya memiliki satu teman di rumah namun ketika ditanya dilain hari Adi mengatakan memiliki banyak teman. Ada juga ketika ditanya mengenai cita-cita, wawancara pertama mengatakan ingin menjadi polisi tapi diwawancara kedua mengatakan tidak tahu ingin menjadi apa. Hasil wawancara mengenai cita-cita tersebut sesuai dengan ciri anak antisosial menurut DSM 5 yaitu anak antisosial mengalami kegagalan dalam mempersiapkan masa depan.

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 Banyaknya data hasil penelitian yang harus dicek validitasnya seperti hasil wawancara dengan Adi, maka dari itu peneliti untuk sementara menghentikan kegiatan observasi dan wawancara baik di sekolah atau pun rumah Adi untuk fokus menganalisis data. Setelah proses reduksi selesai maka peneliti terjun lagi ke lapangan untuk melengkapi data yang masih dibutuhkan. Proses memilah-milah data menurut peneliti cukup mudah, hal ini dikarenakan dari awal penelitian peneliti sudah membuat pedoman wawancara, paduan observasi yang berfokus pada hal yang akan digali yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya hasil belajar Adi. Hal yang penting langsung ditulis dibuku agenda penelitian, ditambah lagi dibuatlah verbatim dari hasil wawancara dengan informan terkait agar mempermudah dalam memilah data. Setelah proses memilah-milah, lalu hal yang tidak diperlukan langsung dibuang dalam arti dipisahkan dari hal yang penting. Setelah diperoleh hal-hal penting lalu peneliti merangkum hal penting dari penelitian sesuai dengan kebutuhan data. Misalnya data mengenai faktor lingkungan alami, peneliti mencari data dari hasil penelitian baik wawancara atau pun observasi untuk dirangkum menjadi poin-poin penting lalu dijelaskan dalam bentuk kalimat deskriptif. Peneliti juga mencari tahu pola-pola dari keseharian Adi di rumah dan sekolah. Seperti rutinitas Adi di sekolah dari pagi hari yang sulit untuk bangun, dilanjutkan berangkat sekolah diantar nenek, berlari-larian dengan adik kelas 2, berkelahi dengan siswa lain sebagai bentuk perilaku antisosial dan tidak piket kelas lalu mendapat hukuman membersihkan kamar mandi sekolah. Walau pun sering dihukum, Adi

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 masih saja tidak piket kelas. Keseharian Adi di rumah yaitu pulang sekolah, ganti baju lalu bermain komputer atau keluar rumah dengan sepeda di sekitar sekolahnya yang terletak hampir 2 km dari rumahnya. Malam harinya Adi menonton televisi dan belajar sekitar satu jam lalu kembali lagi menonton televisi. Dari hasil pengamatan pola keseharian Adi diperoleh kesimpulan bahwa waktu baik di rumah dan sekolah dihabiskan Adi untuk bermain dan ketika akan belajar sudah mengantuk karena kelelahan bermain seharian. Berikut ini hasil penelitian setelah melalui tahap-tahap reduksi data: 1. Data mengenai subjek terindikasi mengalami gangguan kepribadian antisosial Peneliti melakukan observasi dan wawancara terhadap Adi secara intens serta menggali informasi dari informan yang terkait maka didapatkan hasil sebagai berikut: a) Adi memiliki catatan dihampir semua rapotnya yang mengatakan bahwa Adi anak yang sering marah dan melamun, seperti: - Di Taman kanak-kanak: - “jangan sering mogok sekolah, yang rajin ya”, “Lebih bagus ababila tidak marah/emosi, rajin mengerjakan tugas”. Di Sekolah dasar: “Hindari perkelahian bengong!”. pupuklah persahabatan”.”Jangan suka Dari tiga pernyataan diatas dapat disimpulkan sejak Taman kanakkanak Adi sering berkelahi. Peneliti pernah menanyakan langsung kepada Adi alasan kenapa dia sering berkelahi. Adi selalu menyalahkan orang

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 lain, misalnya kejadian hari sabtu 26 April 2014. Adi berkelahi dengan temannya, dia mengatakan bahwa temannya mengejek dengan menjulurkan lidahnya. Menurut peneliti hal tersebut masih dibatas kewajaran untuk anak Sekolah Dasar. Namun ketika diklarifikasi kepada teman Adi yang berkelahi dan dipukul, teman Adi mengatakan bahwa awalnya secara tidak sengaja sedikit mencoret hasil karya Adi (gambar) karena tidak terima dengan perilaku temannya lalu Adi memukul temannya tersebut. b) Wawancara dengan teman subjek kelas IV, Peneliti juga melakukan wawancara tidak terstruktur kepada Rio (teman Adi) waktu kelas III. Mengatakan bahwa dia tidak lagi bermain dengan Adi karena pernah dipukul pelipis matanya hingga berdarah. Menurut Rio, waktu satu kelas dengan Adi hampir semua teman satu kelas pernah di “nakali” olehnya. Adi juga jarang mengerjakan PR. Peneliti : siapa saja yang pernah dinakali Adi? Rio :Semua, semua pernah dinakali, dia tidak pernah mengerjakan PR disuruh mbersihin kamar mandi. ET2 Di kelasnya yang sekarang, Adi duduk sendirian. Ketika dikonfirmasi kepada wali kelas, Adi terpaksa duduk sendiri karena tidak ada teman yang mau duduk dengannya. Ketika peneliti melakukan wawancara dengan Yudi teman satu kelas Adi sekarang (31 Oktober 2013), dia mengatakan tidak mau berteman dan duduk dengan karena takut dipukul lagi. Waktu ditanya kenapa bisa sampai dipukul, Yudi menjawab bahwa dia tidak melakukan apa-apa

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 langsung dipukul dan ditusuk menggunakan pulpen pada bagian pelipis matanya hingga berdarah. Selain itu, menurut Yudi yang sama pernah ada teman satu kelasnya juga dipukul perutnya dengan alasan tidak jelas. Namun ketika dikonfirmasi ke Adi, Adi mengatakan tidak pernah melukai temannya. Dari hasil wawancara dengan teman-teman Adi ini dapat disimpulkan bahwa Adi sering memukul temannya tanpa sebab dan berbohong karena tidak mengakui perbuatannya. c) Ke rumah subjek pada tanggal 21 Februari 2014. Peneliti melakukan wawancara tidak terstruktur kepada Adi. Peneliti melakukan wawancara mengenai sejarah/masalalu Adi pada waktu kelas I, II dan III di SD Depok (Samaran). Banyak perilaku Adi yang pada dasarnya untuk kesenangannya sendiri. Seperti pada waktu kelas II, Adi memutarmutar temannya di tiang bendera karena ingin gantian berputar-putar di tiang bendera tersebut (bercerita sambil tertawa). Kelas III, Adi ketika ingin menyapu dan jam waktu masuk kelas Adi dengan sengaja melempar sapu untuk mengenai kepala temannya dan Adi menyatakan “Itu sengaja”. Masih dikelas III, pada waktu jam olahraga Adi tidak mau olahraga karena lelah dan temannya mengingatkan untuk olahraga. Adi merasa dipaksa oleh temannya untuk olahraga sehingga waktu teman Adi yang mengingatkan berlari, dengan sengaja Adi memasang kakinya dan akhirnya temannya jatuh. Adi melakukan hal tersebut agar temannya tidak lagi menyuruhnya olahraga. Pernah juga ketika kelas III, Adi melihat balap liar di dekat sekolahnya. Ada satu

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 temannya mengingatkan bahwa jangan dekat-dekat melihatnya. Merasa tidak terima karena diingatkan oleh temannya Adi pun mengajak berkelahi temannya tersebut. Waktu kelas I Adi pernah dengan sengaja bermain menggunakan sabuk besinya ketika jam pelajaran agama dengan tujuan agar tidak pelajaran. Adi pun dimarahi guru dengan cara sabuk yang digunakan Adi dikencangkan sampai Adi muntah, karena merasa tidak terima dengan perlakuan guru maka kakek Adi pun kesekolah. Dari pengalaman selama kelas I, II dan III banyak sekali perilaku Adi yang dengan sengaja melukai temannya demi kesenangan diri sendiri. Hal tersebut nampak jelas dari raut muka yang sumringah ketika bercerita, tertawa, senyum-senyum dan lancar sekali menceritakan pengalamannya tersebut. d) Indikasi faktor genetik Menurut Bock dan Goode (dalam Durand & Barlow, 2013). Twins studies, family studies, dan adoption studies semuanya menunjukkan adanya pengaruh genetik pada gangguan kepribadian antisosial maupun kriminalitas. Pendapat tersebut terbukti pada Adi. Menurut hasil wawancara dengan nenek dan wali kelas Adi mengatakan bahwa ibunya sering marah-marah di rumah. Neneknya juga pernah dipanggil kepala RT dimana ibu Adi tinggal karena ibu Adi marah sehingga menggangu ketenangan warga sekitar. Ketika marah (menurut nenek), ibu Adi melemparkan semua isi rumah ke halaman.

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 Menurut wali kelas ketika mendengar cerita dari nenek Adi mengatakan bahwa ibu Adi juga seperti Adi yang sering marah-marah. Adi juga pernah mengatakan sendiri kepada peneliti ketika ditanyakan kepada Adi yang jarang kerumah ibunya. Adi menjawab bahwa ia takut ke rumah ibunya karena ibunya galak. Adi juga mengatakan bahwa adiknya pernah dibanting oleh ibunya, ayah tirinya sampai tidak bisa mendengar lagi karena ibunya selalu berteriak ditelinga ayahnya hingga gendang telinganya rusak. Dari keterangan nenek, wali kelas, Adi diindikasikan bahwa adanya faktor keturunan yang memperkuat indikasi bahwa Adi anak antisosial. Berdasarkan poin a, b, c dan d diatas serta berdasarkan DSM 5. Ada beberapa ciri-ciri seseorang mengalami gangguan antisosial sejak usia 15 tahun, ditunjukan minimal tiga (atau lebih) perilaku. Walau menurut DSM cirri-ciri ini muncul diusia 15 tahun, tapi pada kenyataannya Adi sudah berperilaku sejak usia 13 tahun. Perilaku tersebut yaitu: a. Kegagalan untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma sosial yang berkaitan dengan perilaku yang sah, seperti yang ditunjukkan berulang kali melakukan tindakan yang alasan tidak logis. Tindakan Adi sering tidak memiliki alasan yang logis dan hanya untuk kesenangannya sendiri. Seperti pada point b dan c, memukul teman tanpa alasan, memutar teman ditiang bendera karena Adi ingin bergantian berputar-putar ditiang bendera. Adi melempar batu untuk melukai temannya, melempar sapu agar temannya jatuh.

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 b. Tipu daya, seperti yang ditunjukkan berulang kali berbohong, menipu orang lain untuk keuntungan atau kesenangan pribadi. Nampak pada perilaku Adi ketika pertama kali bertemu dengan peneliti, ketika ditanya mengenai alasan kenapa tidak mengaji dan bermain dengan teman di lingkungannya, Adi menjawab bahwa dia tidak berkumpul dan mengaji karena letak rumah dan masjid jauh serta terpisahkan oleh sungai. Namun ketika penulis kerumah Adi, ternyata letak rumah Adi dan masjid hanya 20 meter saja dan letak rumah Adi berhimpitan dengan rumah warga yang lain. Walau sudah jelas-jelas dia berbohong namun Adi tetap biasa-biasa saja. Adi juga sering berbohong kepada guru dan neneknya. Sehingga akhirnya Adi selalu diantar oleh neneknya setiap pagi ke sekolah. Hal tersebut terjadi karena Adi pernah membolos sekolah dan tidak berangkat sekolah dengan alasan sakit padahal pamit berangkat. Wali kelas juga sering mendapat informasi jika Adi bermain di sekitar lingkungan sekolah padahal Adi tidak berangkat sekolah dengan alasan sakit. Adi juga berbohong ketika diwawancarai mengenai kehidupannya di rumah. Pada waktu pertama melakukan wawancara 31/10/2013. Adi mengatakan jika di rumah hanya memiliki satu teman wanita namun, ketika diwawancarai lagi di rumah pada tanggal 2 Mei 2014 Adi mengatakan bahwa dia memiliki banyak teman dan lelaki semua.

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 c. Impulsif atau kegagalan untuk merencanakan masa depan. Kegagalan merencanakan masa depan bisa dilihat dari percakapan wawancara dengan Adi. Pertama kali melakukan wawancara (10/31/13) dan membuat data diri, Adi mengatakan bahwa dia bercita-cita menjadi polisi. Namun ketika pada tanggal 2 Mei 2014, Adi ditanya mengenai cita-citanya dia menjawab tidak memiliki gambaran mengenai cita-cita. d. Mudah marah dan agresif, seperti sering berkelahi dan menyerang orang lain tanpa sebab. Point ini sudah sangat jelas tertulis pada point a,b, dan c. Adi sering marah karena mudah tersinggung, Adi juga suka mengejek temannya namun ketika diejek dia melakukan pemukulan. Melakukan penyerangan tanpa sebab seperti yang dialami Rio di kelas III dulu dan Yudi di kelas tiga sekarang. Kembali lagi menurut peneliti, perilaku Adi yang mudah marah sama dengan perilaku ibunya. e. Mengabaikan keselamatan diri sendiri atau orang lain. Sejauh pengamatan peneliti, Adi kurang memperdulikan keselamatan orang lain demi kesenangan pribadinya. Hal tersebut nampak ketika Adi sering mengajak temannya berkelahi hanya karena masalah sepele. Memukul temannya kelas III dan kelas IV. Semua perilaku tersebut hanya untuk kesenangan pribadi tanpa alasan yang jelas.

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 f. Konsisten tidak bertanggung jawab dalam pekerjaan atau membayar tagihan. Perilaku tidak bertanggung jawab Adi nampak jelas baik di sekolah ataupun di rumah. Di sekolah seperti, tidak pernah mengerjakan PR yang diberikan guru, tidak pernah piket kelas, menulis tugas tidak pernah selesai. Perilaku Adi yang tidak pernah mengerjakan PR dan tugas individu lain membuat Adi sering mendapatkan nilai nol. Seperti mata pelajaran agama, Adi hanya memiliki nilai pada pelajaran yang bersifat kelompok karena menurut guru agama Adi hanya mendompleng nama saja. Namun, ketika tugas individu pasti tidak pernah dikerjakan. Di rumah Adi juga tidak pernah merapikan tempat belajar, ruang tamu, dan pakaiannya sendiri. Sehingga setiap malam nenek Adi selalu menyempatkan diri membersihkan rumah dan menyiapkan makan untuk Adi. g. Kurangnya penyesalan, seperti yang ditunjukkan dengan menjadi acuh tak acuh setelah melukai, menganiaya, atau mencuri. Hampir semua perilaku Adi tidak pernah ada penyesalan. Hal tersebut nampak jelas seperti ketika tidak mengerjakan PR dan sampai perlunya dilakukan pendampingan belajar. Di kelas menurut wali kelas dan Adi sudah ada aturan jika ada yang berkelahi akan didenda Rp 5000-,. Namun walaupun sudah ada aturan Adi tetap saja berkelahi dengan berbagai alasan. Adi juga tidak pernah piket, ketika diingatkan temannya malah

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 temannya di pukul. Untuk perilaku mencuri, dari hasil wawancara dengan guru dan nenek Adi tidak memiliki riwayat mencuri. Namun dari keterangan Adi sendiri, dia sering mengambil penghapus temannya untuk sekedar usil dan di lakukan berulang kali. Dari pernyataan DSM 5, hampir semua pernyataan mengenai cirri-ciri anak antisosial muncul pada diri Adi. Oleh karena itu penulis berani menyimpulkan ada indikasi bahwa Adi mengalami gangguan kepribadian antisosial. 2. Faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar subjek. Setelah peneliti melakukan wawancara, mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa terhadap beberapa informan dan observasi peneliti, diperoleh hasil sebagai berikut: a. Faktor Lingkungan. Faktor lingkungan menurut Djamarah (2011) sebagai pedoman dalam melakukan penelitian terdiri atas dua faktor yaitu: 1) Lingkungan Alami Lingkungan alami meliputi lingkungan rumah dan lingkungan Adi bersekolah. Lingkungan rumah, Adi tinggal bersama kakek, nenek dan pamannya. Rumah Adi berukuran kurang lebih 9x4,5 m2. Terdiri dari satu kamar tidur, ruang tamu, ruang televisi, dapur dan kamar mandi. Paman dan kakek Adi jarang pulang ke rumah karena bekerja diluar kota. Adi

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 tidur di kamar dengan beralaskan spoon berukuran 2x1,5 m2 yang sudah tipis dan usang. Jarak ruang televisi dengan kamar Adi hanya dipisahkan oleh lemari besar, sehingga ketika Adi belajar menjadi tidak fokus. Terbukti ketika peneliti beberapa kali mengamati kegiatan belajar Adi, dia sering bolak-balik tempat tidur (ketika belajar di kamar) ke ruang televisi untuk menyaksikan acara di televisi. Di ruang televisi juga ada lemari es yang suara dengungannya terdengar sampai kamar Adi. Menurut peneliti, dengan ruang tamu hanya berukuran sekitar 2,5x2,5 m2 persegi yang pengap sungguh tidak layak untuk belajar. Ada lemari kotor, gantungan untuk baju yang masih basah, kasur yang sudah tidak dipakai, makanan, baju-baju yang berserakan. Selama tiga bulan peneliti melakukan penelitian ke rumah Adi, kondisi rumah Adi tetap saja sama dengan pertama peneliti ke rumah Adi. Menurut nenek, Adi juga termasuk anak yang malas untuk membersihkan rumah terutama ruang tamu. Hal tersebut nampak dari keseharian Adi yang bermain di luar rumah hingga sore hari, ditambah lagi setiap pulang kerja neneknya masih harus menyapu ruang tamu, melipat baju dan Adi hanya bermain komputer hingga larut malam. Keseharian Adi hanya digunakan untuk bermain.

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 Denah Rumah Adi Kamar Mandi 1 Tempat tidur 2 S Lemari 10 3 Kompor kompor gas Tembok U Tempat sepeda dan pakaian 4 5 7777777 8 6 7 Ket: No 1: Mesin cuci No 2: Computer No 3: Kulkas No 4: Televisi No 5: Lemari No 6 : Gantungan baju No 7 : Meja belajar No 8 : Spoon tempat tidur No 9: Pintu keluar rumah No10: Rak Piring 9

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 Salah satu ciri dari gangguan kepribadian antisosial muncul ketika Adi ada pekerjaan rumah (PR) dari guru sering tidak dikerjakan. Hal tersebut menurut Durand & Barlow, 2013 dalam Intisari Psikologi Abnormal adalah salah satu bentuk perilaku yang tidak memiliki penyesalan karena PR tersebut terus menerus tidak dikerjakan dan ketika dihukum oleh guru tetap tidak ada perubahan. Setiap ditanya oleh neneknya Adi berbohong dengan mengatakan tidak ada PR. Perilaku tersebut terjadi berulang-ulang sehingga neneknya curiga dan mencoba mencari informasi mengenai PR kepada teman satu kelas Adi. Berikut petikan wawancara peneliti dengan nenek dan wali kelas mengenai Adi yang berbohong tentang PR: 1. Nenek “Adi iki yo cok ngapusi mas, nek ditakoni rak ono PR, terus aku karang ra percoyo aku langsung nang umahe kancane daerah kidul kono kae. Tak catet PR e, halamane, nek ra dingunoke ra ngaku mas”. (Adi ini ya sering berbohong kak, kalau ditanya tidak ada PR, terus karena aku tidak percaya aku langsung ke rumah temannya daerah selatan sana. Tak catat Prnya, halamanya, kalau tidak dibegitukan tidak mengaku mas). N2M-1 2. Wali kelas ”Iya kemarin mbahnya sampai tanya ke Rio dan Anto(bukan nama sebenarnya) teman satu kelas Adi. Mbahnya kerumah mereka cuma tanya PR, la terus mereka berdua diajak kerumah Adi untuk belajar kelompok”. WL15M-2 Selain itu ketika belajar tanpa ditemani neneknya Adi pasti langsung pergi ke kamar untuk bermain komputer atau tidur. Menurut peneliti perilaku Adi diatas merupakan ciri khas dari anak yang mengalami gangguan

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 kepribadian antisosial menurut DSM 5 yaitu berbohong, tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap kewajibannya sebagai pelajar. Jarak rumah Adi dengan sekolah kurang lebih 2 km. Sekolah Adi terletak tepat disebelah jalan raya yang ramai kendaraan. Suara kendaraan seperti truk dan sepeda motor sedikit mengganggu konsentrasi siswa dan guru. Seperti yang diungkapkan oleh wali kelas Adi berikut: “Ya terganggu. bisa iya bisa tidak mas, biasanya kalo memang ujian bisa dibuat kelas satu- tiga disebelah barat dan kelas 6 di utara” Dari petikan wawancara peneliti dengan wali kelas Adi dapat katakan suara kendaraan akan terasa sangat menggangu ketika ada ujian sekolah/ ujian nasional untuk kelas 6. Untuk mengatasi agar siswa kelas 6 fokus dengan ujian maka ketika ujian kelas 6 diposisikan disebelah utara yang jauh dari jalan raya. Kamar mandi yang kotor membuat Adi tidak pernah cuci tangan setiap selesai olahraga atau pun jajan. Di sekolah Adi menunjukan perilaku antisosialnya yang menurut peneliti mempengaruhi hasil belajarnya ,seperti di sekolah Adi terkenal sebagai anak yang nakal, karena suka berkelahi, marah tanpa sebab dan tidak pernah mengerjakan PR. Guru kelas terpaksa membuat aturan jika Adi berkelahi atau marah di kelas maka dia akan mendapat denda sebesar Rp 5000-,. Namun seperti yang dijelaskan dalam DSM 5, anak antisosial memiliki ciri yaitu secara

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 konsisten tidak tanggung jawab dalam pekerjaan dan mudah marah serta agresif. Maka dari itu sudah pasti aturan denda bagi Adi sama sekali tidak mempengaruhi perilakunya. Berikut pernyataan langsung wali kelas pada tanggal 15 Mei 2014, mengenai aturan jika Adi marah di kelas: Wali : “itu kemarin Adi ngepel WC” Peneliti : “ La kenapa bu?” Wali : “Tidak piket dan mengerjakan PR. La sudah disepakati jika tidak mengerjakan PR atau Adi berbuat onar akan didenda lima ribu tapi ya seperti itu mas, sama saja, heheh”WL15M-3 Walaupun wali kelas sudah membuat aturan tersebut Adi tetap sering berkelahi dan marah di kelas. Di kelas Adi duduk sendirian, hal tersebut dilakukan wali kelas karena pengalaman wali kelas waktu Adi memiliki teman satu bangku pasti akan berkelahi. Selain itu menurut Yudi (teman satu kelas) tidak mau duduk satu bangku karena Adi anak nakal dan pernah memukulnya. Peneliti pun mewawancarai Yudi secara tidak terstruktur dan bentuk wawancaranya sebagai berikut: Peneliti: “Kalo dikelas Adi diduduk dengan siapa?” Yudi :”Sendiri,” Peneliti :”Kamu nggak mau nemenin?” Yudi :”Tidak soalnya nakal.” 2) Lingkungan Sosial Budaya Lingkungan sosial budaya di tempat tinggal Adi walaupun daerah perumahan namun tetap menjunjung tinggi kebersamaan. Hal tersebut terjadi karena sebagian besar warga perumahan masih warga asli daearah

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 tersebut. Selain itu, kebersamaan nampak ketika warga mengadakan hajatan atau pun sholat berjamaah yang diikuti banyak warga. Namun keluarga Adi sejauh diamati, sangat kurang dalam hal berkomunikasi dengan warga sekitar. Nenek Adi yang berangkat pukul 07.00 dan pulang pukul 17.00, kakek yang tidak pasti pulang membuat komunikasi dengan warga sekitar kurang. Adi yang juga jarang di rumah membuat hubungan Adi dengan teman satu kompleksnya kurang dekat, hal tersebut wajar karena memang Adi anak antisosial yang cenderung menyendiri dan menjauh dari masyarakat. Nenek Adi mengatakan bahwa dulu waktu Adi kelas 1, 2 dan 3 (ketika masih di SD Depok) sering mendapatkan teguran dari warga sekitar karena perilaku Adi yang melukai, berkelahi dengan anak mereka. Oleh sebab itu karena malu dengan perilaku cucunya tersebut nenek Adi menjadi jarang keluar rumah untuk bersosialisasi dengan warga sekitar. Pernyataan nenek Adi mengenai perilaku Adi di rumah peneliti tuangkan lewat verbatim sebagai berikut: “Ndisik wes tau mas, jamane sekolah nang Depok(samaran) tonggone podo moro rene. Wadul nek anake dinakali Adi. Aku yo isin to mas” (Dulu sudah pernah kak, jaman sekolah di Depok, tetangga pada datang kesini. Mengadu kalau anaknya dinakali Adi, Aku ya malu to mas). N2M-1 Aturan sekolah yang wajib dipatuhi oleh semua warga sekolah justru tidak dipatuhi oleh Adi. Contoh perilaku Adi yang tidak mematuhi

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 peraturan sekolah adalah tidak pernah mengerjakan PR, datang terlambat padahal diantar oleh neneknya, dan berkelahi dengan temannya. Petikan wawancara peneliti dengan ibu Ani (bukan nama sebenarnya) guru mata pelajaran agama dan wali kelas mengenai PR adalah sebagai berikut: Peneliti : Apakah Adi selalu mengerjakan PR? Ibu Ani : Tidak, ya tak suruh mengerjakan diluar kelas.GA29F Wali :Tidak, sama sekali.WL29F Sesuai dengan pendapat Djamarah (2011) yang mengatakan bahwa peraturan sekolah bertujuan untuk mengatur dan membentuk perilaku anak didik yang menunjang keberhasilan belajar di sekolah. Berarti jelas bahwa salah satu penyebab rendahnya hasil belajar Adi karena dia tidak mematuhi peraturan sekolah. b. Faktor Instrumental Menurut Djamarah terdiri atas kurikulum, program, sarana prasarana dan guru yang hasilnya akan dibahas dibawah ini. 1) Kurikulum Sekolah masih menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan belum menerapkan kurikulum 2013. Kurikulum yang digunakan sekolah pada kenyataan di lapangan bisa diikuti oleh semua siswa. Hal tersebut bisa dilihat dari tingkat kenaikan kelas siswa yang hampir 100% tiap kelasnya. Menurut wali kelas III, sebelum ada Adi tingkat kenaikan kelas III selalu 100%. Hal ini membuktikan bahwa Adi belum bisa mengikuti kurikulum yang digunakan oleh sekolah.

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 2) Program Menurut guru mata pelajaran dan wali kelas, setiap guru memilliki program mengajar yang jelas baik Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) ataupun nilai program pengembangan diri. 3) Sarana dan Prasarana Sarana dan prasarana yang sekolah miliki menurut peneliti sudah lengkap. Lapangan yang cukup luas, perpustakaan yang lengkap, mushola, dan ruang kelas yang sejuk membuat siswa betah berada di sekolah. Hanya saja kamar mandi sekolah terlihat kotor. Guru mata pelajaran juga sudah memiliki buku pengangan sesuai dengan mata pelajaran yang mereka emban. Dokumentasi mengenai sarana dan prasarana sekolah terlampir dalam bentuk foto. 4) Guru Secara keseluruhan guru di SD Maju (bukan nama sebenarnya) sudah mencerminkan guru yang profesional. Profesionalitas guru nampak dari setiap guru yang mengampu mata pelajaran sesuai keahliannya. Ada juga guru yang mengampu pramuka dan juga mata pelajaran matematika, namun hal tersebut tidak mengurangi profesionalitasnya. Terbukti guru tersebut membawa sekolah menjuarai kejuaraan pramuka baik tingkat kecamatan atau pun kabupaten.

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 c. Kondisi Fisiologis 1) Anak didik yang kekurangan gizi Menurut Nasution dalam Djamarah (2011) mengatakan bahwa anak yang kekurangan gizi ternyata kemampuan belajarnya dibawah anak-anak yang tidak kekurangan gizi. Menurut peneliti, Adi secara kebutuhan gizi sudah tercukupi karena Adi tipe anak yang pilih-pilih soal makanan. Ketika peneliti ke rumah Adi, nenek Adi sedang menggorengkan ikan bandeng sesuai dengan keinginan Adi. Makanan yang dihidangkan oleh nenek Adi selalu apa yang diinginkan Adi, dan makanan itu pasti bergizi seperti telur goreng, ikan, dan ayam. 2) Kondisi panca indra Kondisi panca indra yang normal membantu anak didik dalam menerima informasi dari guru (Djamarah, 2011). Menurut peneliti pernyataan Djamarah tersebut tidak sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan peneliti kepada Adi. Walaupun secara umum Adi memiliki kondisi panca indra yang sempurna, tidak ada permasalahan pada panca indranya. Namun pada kenyataannya Adi tidak mampu menerima informasi dari guru dengan baik, salah satunya ketika guru memberikan informasi mengenai PR tidak pernah dikerjakan oleh Adi.

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 d. Kondisi Psikologis 1) Minat Nasution berpendapat (dalam Djamarah, 2011) bahwa minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi dan sebaliknya. Nampaknya pendapat Nasution tersebut sesuai dengan keadaan Adi. Hasil wawancara dengan wali kelas, guru mata pelajaran , nenek dan observasi diperoleh kesimpulan bahwa minat Adi dalam mengikuti pelajaran sangat rendah. Rendahnya minat Adi dikarenakan perilaku antisosialnya seperti tidak pernah mengerjakan PR, tugas sekolah tidak pernah diselesaikan, tidak mematuhi peraturan sekolah masih dominan. Adi selalu mengatakan tidak ada PR kepada neneknya padahal ada PR dari guru bidang studi . Minat Adi rendah juga nampak pada perilaku Adi di kelas yang selalu melamun ketika guru mengajar. Seperti pernyataan wali kelas mengenai minat Adi yang kurang: “Tidak, kurang, ya itu tadi. . . asal berangkat, tugas tidak pernah selesai, pokoknya santai. . .” 2) Kecerdasan Menurut Djamarah (2011) Mengatakan bahwa seseorang yang memiliki intelegensi baik (IQ-nya tinggi) umumnya mudah belajar dan hasilnya pun cenderung baik. Peryataan Djamarah tersebut sesuai dengan apa yang dialami Adi yang IQ-nya rendah sehingga berpengaruh pada rendahnya hasil belajar Adi. Adi memiliki IQ hanya 78 yang menurut

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 skala Wechsler tergolong kategori borderline. Borderline menurut Weschler (Depdikbud) yang tertulis di Balipost (2004) tergolong anak lambat belajar. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa rendahnya hasil belajar Adi dipengaruhi oleh nilai IQ yang rendah. 3) Bakat Sejauh pengamatan peneliti Adi tidak memiliki bakat atau potensi yang memungkinkan Adi memperoleh prestasi dibidang tertentu. Misalnya ketika mata pelajaran menari, Adi tidak membawa peralatan menari. Pramuka sendiri Adi sering melakukan kesalahan, seperti ketika peneliti mengamati Adi waktu mengikuti kegiatan pramuka. Adi dihukum karena tidak mendengarkan perintah kakak pembina namun seperti yang dijelaskan dalam DSM 5 bahwa anak antisosial tidak memiliki penyesalan atas kesalahan yang dia buat maka Adi hanya tersenyum tanpa ada rasa menyesal atau pun malu ketika mendapat hukuman. Peneliti juga pernah ngobrol dengan Adi dan ditanya mengenai kemampuan yang dimiliki Adi menjawab bahwa dia merasa bisa mengoperasikan komputer. Namun ketika menulis materi mata pelajaran dia tidak mau menulis, dia lebih berminat praktek daripada menulis. 4) Motivasi Menurut Djamarah (2011), motivasi belajar seseorang mempengaruhi keberhasilan belajar. Karena itu menurut Djamarah motivasi belajar perlu diusahakan, terutama yang berasal dari diri (motivasi intrinsik) dengan

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 cara memikirkan masa depan yang penuh tantangan. Dari pendapat Djamarah tersebut penulis melihat motivasi intrinsik yang dimiliki Adi sangatlah rendah sehingga berdampak pada hasil belajar Adi menjadi rendah. Kurangnya motivasi dari orang terdekat seperti nenek, kakek dan paman membuat Adi tidak termotivasi untuk meraih prestasi. Menurut guru mata pelajaran, ibu Ani (bukan nama sebenarnya) mengatakan bahwa faktor yang membuat Adi tidak termotivasi untuk sekolah yaitu tidak adanya orang tua (ayah dan ibu) yang mendampingi kegiatan belajarnya. Nenek Adi hanya memenuhi segala kebutuhan Adi tanpa menanyakan apa yang dirasakan Adi. Kakeknya sibuk dengan pekerjaannya dan jarang pulang. Hal tersebut membuat Adi tidak ada yang menuntun, memberi gambaran mengenai masa depan yang akan dituju. Ditambah lagi Adi adalah anak terindikasi antisosial yang lebih suka menyendiri daripada berkumpul dengan orang lain, sehingga Adi tidak memiliki teman untuk menumbuhkan motivasi belajarnya. Awal peneliti bertemu dengan Adi (bulan Oktober, 2013), Adi mengatakan bahwa dia memilliki cita-cita menjadi polisi. Namun ketika ditanya lagi (bulan April, 2014) dia mengatakan bahwa dia tidak tau mau jadi apa. Hal mengenai cita-cita tersebut membuat Adi tidak memiliki motivasi untuk belajar karena tidak memiliki cita-cita yang jelas. Selain itu, cita-cita Adi yang tidak jelas mempertegas pernyataan dari DSM 5 yaitu anak antisosial tidak memiliki perencanaan masa depan yang jelas.

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 Rendahnya motivasi Adi juga nampak pada malam hari ketika hendak menjadwal pelajaran hariannya. Menurut neneknya Adi tidak pernah menjadwal pelajaran sehingga neneknyalah yang mengecek jadwal dan menaruh buku sesuai jadwal ditas Adi. Begitu pula ketika pagi hari, menurut neneknya Adi sulit sekali untuk bangun pagi. Sering neneknya menyeret Adi dari kamarnya agar mau bangun untuk sekolah. Berikut petikan wawancara keluhan nenek terhadap kebiasaan Adi: “Yo memang bocahe ke ora biso mandiri, Isuk yo,, angele dikon tangi, nganti tak seret-seret” (Ya memang anaknya tidak bisa mandiri. Pagi juga ….susahhnya untuk bangun, sampai saya seret-seret).N25-11 Walaupun sekolah diantar neneknya, Adi masih saja datang terlambat ke sekolah. Hal tersebut tentu memperjelas bahwa motivasi Adi untuk bersekolah sangatlah rendah. 5) Kemampuan Kognitif Kemampuan kognitif Adi dari hasil observasi peneliti masih rendah. Ketika peneliti berbicara dengan Adi mengenai kesulitan-kesulitan yang menghambat belajarnya Adi menjawab bahwa dia sulit untuk mengingat, hal tersebut juga dikuatkan oleh pengakuan dari wali kelas yang mengatakan bahwa Adi sulit untuk mengingat. Adi juga selalu beralasan “pengen”(ingin) tidak menulis, pengen tidak mengerjakan PR. Alasanalasan tersebut menurut peneliti adalah hal yang wajar karena memang Adi adalah anak terindikasi antisosial yang salah satu cirinya menurut

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 DSM 5 adalah sering melakukan tindakan dengan alasan yang tidak logis. Adi juga memiliki persepsi yang negatif terhadap mata pelajaran agama hal tersebut terjadi karena waktu di SD lamanya dia kesulitan menulis dan membaca aquran. Hal tersebut mengakibatkan nilai harian mata pelajaran agama Adi nyaris nol semua. 3. Strategi pendampingan belajar individual yang tepat Hasil dari observasi dan wawancara peneliti kepada Adi mengenai faktorfaktor yang mempengaruh rendahnya hasil belajar Adi. Peneliti mendapatkan hasil bahwa faktor fisiologislah yang paling berpengaruh pada hasil belajar Adi. Motivasi belajar yang rendah, minat dan IQ yang rendah adalah faktor yang berasal dari diri individu/Adi sendiri. Peneliti lebih meniti beratkan pada motivasi diri (intrinsik) dan minat belajar Adi. Hasil penelitian Gottfried dalam Educational Psychologist 1991 mengatakan bahwa korelasi positif yang signifikan antara motivasi intrinsik dan prestasi belajar. Vallerand dalam Educational Psychologist 1991 menemukan bahwa siswa yang memiliki motivasi intrinsik yang lebih besar dan regulasi diidentifikasi menunjukkan emosi yang lebih positif di dalam kelas, lebih menikmati karya akademisnya. Peneliti melihat bahwa Adi kurang mendapatkan motivasi dari keluarganya, keluarga hanya menyuruh Adi berangkat sekolah tanpa menanyakan keinginan-keinginan, harapan Adi. Seperti pernyataan dari wali kelas:

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 “Menurut saya ya, agak malas,, ya malasnya itu mungkin,,, apa itu dirumah terlalu dikerasi atau dimana karena memang kelihatannya tuntutan dari neneknya dan kakek anak ini harus menurut apa yang diinginkan nenek dan kakeknya, sering melamun pendiam disekolah”.WL1-3 Dari hasil wawancara, observasi yang dilakukan peneliti disimpulkan bahwa faktor psikologis mengenai motivasi intrinsiklah yang menjadi faktor utama penyebab hasil belajar Adi rendah. Maka dari itu, Adi membutuhkan seorang pembimbing dalam belajarnya baik di rumah atau pun di sekolah. Pembimbing tersebut tentu mengetahui cara yang tepat dalam mendampingi Adi untuk meningkatkan motivasi belajarnya. Menurut pengalaman peneliti selama membimbing Adi, peneliti pun mencoba strategi-strategi pembelajaran discovery, tanpa arah, latihan kesadaran dan unplanned humor. Setelah mencoba strategistrategi pembelajaran diatas peneliti memperoleh hasil. Awalnya strategi bimbingan belajar discovery merupakan strategi bimbingan belajar yang paling tepat. Namun setelah berproses lebih lama ternyata strategi unplanned humor yang paling tepat untuk mendampingi belajar anak antisosial. Pada tanggal 5 Februari Juli 2014, ketika mendampingi Adi dengan menggunakan strategi pendampingan discovery, serasa kehadiran peneliti tidak dihargai. Peneliti berharap Adi mampu menemukan kesalahan, dan ada kemauan dalam membaca soal tapi pada kenyataannya Adi tetap mengerjakan soal tanpa memperhatikan masukan dari peneliti. Misal, ketika Ada bacaan dan Adi menjawab pertanyaan tanpa membaca bacaan lalu peneliti mengingatkan dengan

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 ungkapan “seko ndi kui jawabane?”(Dari mana itu jawabannya?). Adi tidak mengindahkan sama sekali kata-kata peneliti. Peneliti juga pernah mencoba strategi pembelajaran kesadaran pada tanggal 22 Februari 2014 yang meniti beratkan pada kegiatan diskusi untuk mengetahui reaksi-reaksi emosionalnya. Namun seperti yang peneliti tahu, bahwa Adi adalah anak terindikasi antisosial yang tidak memungkinkan melakukan diskusi dan berpikir untuk menganalisis perasaannya secara mendalam. Hal tersebut terjadi karena ketika Adi menganalisis perasaannya dia malah binggung tentang apa yang dia rasakan dan cenderung menyerah. Menyerah dalam arti tidak mau melanjutkan kegiatan belajarnya. Strategi pendampingan belajar tanpa arah juga peneliti coba pada tanggal 26 Maret 2014, namun karena memang tidak memungkinkan untuk dipraktekkan dalam pendampingan Adi yang seorang anak terindikasi antisosial karena berdasarkan inti dari pendampingan model pembelajaran yang berpatokan bahwa siswa memiliki tanggung jawab terhadap aktivitas belajarnya. Adi yang terindikasi antisosial dan pengalaman peneliti selama mendampingi Adi serta keterangan informan terkait, ketika belajar di rumah Adi cenderung ketika diawasi akan tertib belajarnya namun ketika ditinggal atau tidak diawasi akan pergi entah keluar rumah atau menonton televisi. Seperti yang diceritakan nenek Adi pada waktu peneliti mendampingi belajarnya: “Iyo kui mas, la kan isih sinau. La tak tinggal mengarep umah deknen wes embuh lungo nang ndi, sering ngunu kui mas”

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 (Iya itu mas, la kan masih belajar. La saya tinggal mengarep umah dia sudah entah pergi kemana, sering seperti itu mas) Rendahnya motivasi Adi ketika belajar nampak pada saat mengerjakan soal pilihan ganda tanpa membuka/melihat bacaan sebelumnya. Pada saat peneliti mendampingi belajar dari hari Jumat, 2 Mei 2014 pukul 19.00 WIB sampai 20.00 WIB ketika mengerjakan tugas bahasa jawa mengenai Pandawa lima, Adi langsung menyilang jawaban tanpa melihat kembali bacaan di lembar sebaliknya. Sehingga ketika peneliti mengecek hasil pekerjaan Adi, hasilnya jelas bahwa soal mengenai Pandawa lima tersebut jawabanya salah semua. Peneliti awalnya cenderung membiarkan kebiasaan tidak membaca bacaan sebelum mengerjakan tugas dari guru, hal tersebut dilakukan sesuai dengan strategi pembelajaran discovery agar Adi bisa menemukan kekurangannya sendiri. Peneliti menyadari bahwa Adi bukanlah anak biasa, Adi mengalami gangguan kepribadian antisosial yang akan konsisten berperilaku seperti itu (langsung menjawab pertanyaan tanpa membaca bacaan terlebih dahulu). Maka dari itu, ketika pendampingan hari Senin, 9 Juni 2014 pukul 19.00-20.00 WIB. Malam itu Adi belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia, ada banyak bacaan dalam soal pilihan ganda. Adi masih tetap tidak membaca bacaan namun langsung mengerjakan soal, dan peneliti mencoba mengingatkan Adi agar mau membaca bacaan sebelum mengerjakan. Peneliti menggunakan strategi pendampingan belajar unplanned humor untuk mengingatkan Adi, seperti : “Aku mbok duduhi carane mas, ben biso garap soal tanpa membaca bacaanne mas, ko nek salah kabeh maneh piye ja?l”

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 (Aku dikasih tahu caranya mas, biar bisa mengerjakan soal tanpa membaca bacaanya, nanti kalau salah semua gimana coba?) Strategi pendampingan belajar ini peneliti pilih agar Adi tidak tersinggung dan marah. Hal tersebut peneliti lakukan karena peneliti menyadari bahwa Adi adalah anak yang terindikasi memiliki gangguan kepribadian antisosial yang salah satunya disebabkan faktor keturunan dari ibunya. Ibu Adi yang ketika marah membanting barang disekitarnya, mengusir orang yang ada di rumah, memukul orang disekitarnya. Tujuan mengunakan humor ketika mendampingi Adi adalah meminimalisir perilaku agresif Adi sebagai anak yang memiliki gangguan kepribadian antisosial. Digunakannya strategi unplanned humor maka proses pendampingan belajar menjadi lebih menyenangkan. Misalnya ketika Adi mulai mengantuk peneliti pun mencoba secara spontan nyeletuk: “Kowe ngantuk yo?mau nang sekolah nguli po?po rewangi pak bun(tukang kebun)”. Artinya,”kamu ngantuk ya?di sekolah kerja berat ya?apa membantu bapak tukang kebun?”. Ungkapan-ungkapan spontan tersebut membuat Adi tertawa dan kembali bersemangat dalam belajar. Menurut peneliti, humor dalam kegiatan pembelajaran sangatlah penting untuk membantu pendidik dan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Sejak tanggal 9 Juni tersebut hingga tanggal 13 Juni 2014, peneliti melakukan pendampingan belajar dengan Adi dengan menggunakan strategi unplanned humor sehingga motivasi Adi untuk belajar pun semakin meningkat. Meningkatnya hasil belajar Adi terbukti ketika peneliti menjalin komunikasi

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 dengan wali kelas Adi dan wali kelas Adi menyampaikan pesan singkat melalui SMS kepada peneliti pada tanggal 8 Juli 2014 yaitu : ”Adi naik mas, nilainya juga meningkat” Adi naik kelas dan nilainya meningkat adalah salah satu bentuk indikator bahwa Adi mengalami peningkatan hasil belajar. Penggunaan strategi pendampingan belajar unplanned humor kepada Adi yang terindikasi anak antisosial terbukti efektif. Menurut Darmansyah (2011) Kajian tentang humor dalam pembelajaran dirasakan masih sangat langka, terutama dalam konteks ilmiah dan akademis di Indonesia. Padahal penggunakan humor dalam kegiatan pembelajaran seperti yang dilakukan peneliti kepada Adi terbukti sangat efektif dalam meningkatkan motivasi belajar. Selain itu peneliti menyadari pentingnya kemampuan peneliti dalam membangun komunikasi antar pribadi dengan Adi. Sejak awal penelitian, peneliti sudah membangun komunikasi yang baik dengan Adi, dan neneknya. Dengan begitu, maka proses penelitian dan pendampingan belajar pun berjalan dengan baik. Strategi pendampingan belajar unplanned humor adalah strategi pendampingan yang tepat untuk Adi anak terindikasi memiliki gangguan kepribadian antisosial. C. Validitas Data Validitas data agar sesuai dengan tujuan dan maksud penelitian, maka peneliti menggunakan teknik trianggulasi. Dalam penelitian ini peneliti membandingkan data dari hasil observasi dan wawancara dengan guru bidang studi, nenek Adi, Adi, wali

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 kelas, teman Adi dengan teori yang digunakan dalam penelitian. Setiap peneliti terjun kelapangan dan memperoleh hasil yang berhubungan dengan teori yang digunakan sebagai pedoman penelitian, peneliti langsung membandingkan antara hasil di lapangan dengan teori yang digunakan. Tidak semua teori dari Djamarah (2011) mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa sesuai dengan keadaan di lapangan. Seperti faktor instrumental mengenai kurikulum, program, guru dan sarana prasarana. Hasil di lapangan menunjukan bahwa faktor instrumental sepenuhnya sesuai dengan teori dalam menjamin hasil belajar siswa tinggi namun pada kenyataannya hasil belajar Adi tetap rendah. Faktor Lingkungan, dari hasil observasi peneliti didapatkan hasil bahwa teori yang digunakan dan hasil penelitian di lapangan cocok. Lingkungan rumah yang tidak mendukung membuat hasil belajar Adi rendah. Walaupun sekolah sudah membuat aturan yang tegas namun Adi yang seorang antisosial tetap saja melanggar aturan tersebut dengan tetap tidak mengerjakan PR, dan berkelahi. Hal tersebut mengakibatkan nilai hasil belajar Adi tetap rendah. Setelah peneliti melakukan observasi dan wawancara kepada informan terkait, didapatkan kecocokan faktor psikologis menurut Djamarah dengan hasil penelitian di lapangan. Motivasi intrinsik yang rendah, minat yang rendah dan kemampuan kognitif Adi memang dibawah rata-rata. Hal tersebut yang membuat peneliti menyarankan untuk memberikan pendampingan belajar kepada Adi.

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Dari hasil studi kasus dan analisa data, maka dapat diambil kesimpulan dan saran sebagai berikut : A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tentang Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Anak Terindikasi Antisosial dan Strategi Pendampingan Belajarnya, diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Faktor psikologi meliputi motivasi intrinsik, minat, bakat dan kecerdasan yang rendah merupakan faktor utama yang mempengaruhi rendahnya hasil belajar anak terindikasi antisosial. 2. Unplanned humor merupakan strategi pendampingan belajar yang tepat untuk anak yang terindikasi antisosial. 3. Pada dasarnya, untuk membimbing anak antisosial diperlukan kemampuan menjalin komunikasi antar pribadi yang baik. Rasa percaya, menerima apa adanya serta mampu merasakan apa yang dirasakan anak antisosial akan membuat anak antisosial merasa diterima dan nyaman untuk bercerita serta memudahkan konselor dalam mendampinginya. 71

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 B. Saran Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah: 1. Untuk peneliti selanjutnya perlu mencari strategi-strategi pendampingan belajar yang lain. 2. Ditinjau lebih jauh mengenai strategi pendampingan belajar dengan humor.

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman, 2006. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosdakarya. American Psychiatric Association, 2014.Diagnostic And Statistical Manual Of Mental Disorders (fifth Edition), Washington, DC: Author. Aunurrahman, 2010. Belajar dan Pembelajaran, Bandung: Alfabeta. Darmansyah, 2011. Strategi Pembelajaran Menyenangkan dengan Humor, Jakarta: Bumi Aksara. Durand & Barlow, 2013. Intisari Psikologi Abnormal, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Dimyati dan Mudjiono, 2002. Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta. Djamarah, 2011. Psikologi Belajar (Edisi Revisi), Jakarta: Rineka Cipta Educational Psychologist, 1991. Determination Perspective. Motivation and Education: The Self- Gibson & Mitchell, 2011. Bimbingan dan Konseling, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Halgin, R.P. & Whitbourne, S.K., 2010. Psikologi Abnormal, Jakarta: Salemba Humanika. Hutabarat, 1995. Cara Belajar, Jakarta: BPK Gunung Mulia. http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2004/10/24/ce4.html,IQ-nya''Borderline'', Apa Itu? , diunduh pada tanggal 21-05-2014, pukul 20.00 WIB. Jeffrey, Spencer & Greene, 2002. Psikologi Abnormal, Jakarta: Erlangga. Moleong, 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi), Bandung: Remaja Rosdakarya. Nevid, Rathus & Greene, 2005. Psikologi Abnormal, Jakarta: Erlangga.

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 Prayitno & Amti, 2004. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling (Edisi Revisi), Jakarta: Rineka Cipta. Roestiyah, 2001. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta. Sugiyono, 2010. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D), Bandung: Alfabeta. Sukardi & Kusmawati, 2008. Proses Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Jakarta: Rineka Cipta. Sukmadinata, 2007. Bimbingan dan konseling dalam praktek (Mengembangkan potensi dan kepribadian siswa), Bandung: Maestro. Syamsu & Juntika, 2010. Landasan Bimbingan dan Konseling, Bandung: Remaja Rosdakarya Thohirin, 2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi), Jakarta: Raja Grafindo Persada. Yin, 2013. Studi Kasus (Desain & Metode), Jakarta: Raja Grafindo Persada.

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI INFORMAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bersedia menjadi Informan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa : Nama : Agung Hananto. Program Studi : Program Studi Bimbingan dan Konseling. Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan . Universitas : Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Judul Penelitian : Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Hasil Belajar Anak Terindikasi Antisosial dan Strategi Pendampingan Belajarnya Saya sudah mendapatkan penjelasan bahwa penelitian ini tidak menimbulkan dampak negatif terhadap diri saya. Data mengenai diri saya akan dijaga kerahasiaannya oleh peneliti. Semua data yang mencantumkan identitas saya hanya akan digunakan untuk keperluan pengolahan data dan bila sudah tidak digunakan akan dimusnahkan. Hanya peneliti yang dapat mengetahui kerahasiaan data-data penelitian. Demikian, tanpa ada unsur pemaksaan dari siapapun dan dengan suka rela saya bersedia berperan serta dalam penelitian ini. Jogyakarta, 31 Oktober 2014 Tanda tangan informan (tanpa ditulis nama)

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pedoman Wawancara Faktor Hasil Belajar 1. Faktor Lingkungan NO Daftar Pertanyaan 1. Apakah udara disekitar sekolah bersih? 2. Apakah sekolah terganggu dengan suara kendaraan? 3. Apakah lingkungan sekolah nyaman untuk belajar? 4. Apakah K pernah melanggar aturan lingkungan? 5. Apakah K sering berkumpul dengan warga sekitar? 6. Apakah K memiliki teman di rumah? 7. Apakah K memiliki teman di sekolah? 8. Secara umum, apakah K mematuhi peraturan sekolah? 9. Secara umum, apakah K mematuhi peraturan lingkungan tempat tinggal? 10. Apakah K pernah melanggar aturan sekolah? Jawaban 77

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Faktor Instrumental NO 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Daftar wawancara Apakah anak-anak mampu mengikuti kurikulum yang digunakan sekolah? Apakah setiap guru mata pelajaran memiliki program kerja yang terstuktur? Apakah guru mata pelajaran memiliki batasan nilai? Apakah jumlah ruang kelas ada 6? Apakah sekolah memiliki ruang kepala sekolah? Apakah sekolah memiliki ruang guru? Apakah sekolah memiliki ruang BP? 8. Apakah sekolah memiliki perpustakaan? 9. Apakah guru memiliki buku pegangan untuk mengajar? 10. Apakah sekolah memiliki lapangan yang luas? 78

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Kondisi Fisiologi NO Daftar wawancara 1 Apakah K sering tidur di kelas? 2 Apakah K sulit menerima pelajaran? 3 Apakah K memiliki riwayat sakit pada paca inderanya? 4 Apakah minat belajar K tinggi? 5 Apakah K siswa yang cerdas? 6 Apakah K memiliki bakat tertentu? 7 Apakah K memiliki motivasi belajar yang tinggi? 8 Apakah K mudah dalam mengingat pelajaran? 9 Apakah K selalu mengerjakan PR? 10 Apakah K pernah membolos? 79

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DW1 Tadi kamu berkelahi ya? Iya DW2 Gara2-gara apa? Temannya DW3 Teman?temannya kenapa? Ya membantu teman DW4 Pernahkah kamu berkelahi gitu? Dulu itu pas tidak naik kelas itu lho, DW5 Ngapain kamu, La nggak tau DW6 Kelas 1 malas nulis? DW7 Mudah menurutmu ya? Iya, DW8 Kalo pelajaran sulit kamu malas menulis? Iya, DW9 Kelas dua kamu malas menulis nggak? Nggak, pelajaran umum aku menulis, kayak mtk nilaiku 60. Kelas 1 tu yang mudah tu olahraga aku dapat 80 sama seni budaya DW10 Kelas … nya, menurutmu kenapa bisa tidak naik? Malas menulis males belajar. DW11 Waktu itu kenapa kok males? Ya waktu itu lagi kepengen” DW12 Lagi kepengen males? Soalnya kelas 3 itu matematikanya sulit, pas sulit keluar pas mudah masuk kelas. 80

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Daftar angket Wawancara Faktor Lingkungan NO Daftar pertanyaan GA21L. Apakah udara disekitar sekolah bersih? Bersih GA22L. Apakah sekolah terganggu dengan suara kendaraan? Iya tidak ya iya, anak2 jadi tidak fokus GA23L. Apakah lingkungan sekolah nyaman untuk belajar? Nyaman GA24L. Apakah K pernah melanggar aturan lingkungan? Tidak GA25L. Apakah K sering berkumpul dengan warga sekitar? Jika dikelas suka mengganggu GA26L. Apakah K memiliki teman di rumah? tidak GA27L. Apakah K memiliki teman di sekolah? Tidak GA28L. Secara umum, apakah K mematuhi peraturan sekolah? Iya mematuhi GA29L. Secara umum, apakah K mematuhi peraturan lingkungan tempat tinggal? Tidak tau GA210L. Apakah K pernah melanggar aturan sekolah? Sering terlambat padahal diantar neneknya

(97)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Faktor-faktor kualitas pelayanan parkir yang mempengaruhi kepuasan konsumen : studi kasus pada parkir Jalan Malioboro.
0
1
68
Faktor-faktor yang mempengaruhi mahasiswa dalam memilih program studi di perguruan tinggi : studi kasus pada mahasiswa angkatan 2004 dan 2005, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan USD Yogyakarta.
1
4
207
Faktor yang mempengaruhi hasil belajar
0
0
2
Faktor-faktor yang mempengaruhi brand switching konsumen dalam pembelian produk laptop : studi kasus pada mahasiswa fakultas teknik dan fakultas ekonomika dan bisnis Universitas Gajah Mada yang menggunakan laptop - USD Repository
0
0
154
Faktor-faktor yang mempengaruhi ketepatan waktu pelaporan keuangan : studi empiris pada perusahaan manufaktur di bursa efek jakarta - USD Repository
0
2
207
Faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi petani dalam menjual hasil pertaniannya : studi kasus pada UD. Jaya Tani Tentena - USD Repository
0
0
144
Faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan profesi guru : studi kasus pada mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
1
153
Faktor-faktor yang mempengaruhi mahasiswa dalam memilih program studi di perguruan tinggi : studi kasus pada mahasiswa angkatan 2004 dan 2005, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan USD Yogyakarta - USD Repository
0
0
205
Faktor-faktor yang mempengaruhi minat konsumen untuk melakukan pembelian : studi kasus pada Toko Buku Gramedia Jl. Jend. Sudirman No. 54 Yogyakarta - USD Repository
0
0
115
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan nasabah terhadap produk asuransi Pru-Link Assurance Account Plus : studi kasus pada Pru AINI General Agency Merbaumas Medan - USD Repository
0
0
166
Faktor-faktor yang mempengaruhi minat konsumen untuk berbelanja : studi kasus pada Gardena Department Store dan Supermarket jalan Urip Sumoharjo 40 Yogyakarta - USD Repository
0
1
141
Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen untuk berpindah merek (Brand Switching) kartu prabayar GSM : studi kasus mahasiswa Universitas Sanata Dharma - USD Repository
0
1
171
Faktor-faktor yang mempengaruhi minat mahasiswa untuk mengikuti pendidikan profesi akuntansi : studi kasus di Universitas Sanata Dharma - USD Repository
0
1
153
Faktor-faktor yang mempengaruhi minat beli ulang konsumen terhadap produk fashion : studi kasus pada konsumen Post Mode, Gejayan, Sleman, Yogyakarta - USD Repository
0
0
172
Konsep diri anak yang diasuh oleh seorang waria : studi kasus - USD Repository
0
0
90
Show more