PERBANDINGAN KARAKTERISTIK REFRIGERAN R134a DAN R600a PADA UNJUK KERJA MESIN PENDINGIN DENGAN MENGGUNAKAN ETHYLEN GLYCOL SEBAGAI REFRIGERAN SEKUNDER SKRIPSI

Gratis

0
0
145
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERBANDINGAN KARAKTERISTIK REFRIGERAN R134a DAN R600a PADA UNJUK KERJA MESIN PENDINGIN DENGAN MENGGUNAKAN ETHYLEN GLYCOL SEBAGAI REFRIGERAN SEKUNDER SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat sarjana S-1 Teknik Mesin Program Studi Teknik Mesin Jurusan Teknik Mesin Diajukan oleh FX. PAMUNGKAS NIM : 125214103 PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii COMPARATION OF THE CHARACTERISTIC OF R134a AND R600a AT COP REFRIGERATOR WITH ETHYLEN GLYCOL AS SECOND REFRIGERANT FINAL PROJECT As partial fulfillment of the requirement to obtain the Sarjana Teknik degree in Mechanical Engineering Mechanical Engineering Study Program By FX. PAMUNGKAS Student Number : 125214103 MECHANICAL ENGINEERING STUDY PROGRAM DEPARTMENT OF MECHANICAL ENGINEERING FACULTY OF SCIENCE AND TECHNOLOGY SANATA DHARMA UNIVERSITY YOGYAKARTA 2014

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Dengan ini penulis menyatakan sesungguhnya bahwa dalam Skripsi ini, tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengetahuan penulis juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Yogyakarta, 15 Juli 2014 FX. Pamungkas

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, penulis mahasiswa Universitas Sanata Dharma : Demi Nama : FX. Pamungkas Nomor Mahasiswa : 125214103 pengembangan ilmu pengetahuan, penulis memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul : Perbandingan Karakteristik Refrigeran R134a dan R600a pada Unjuk Kerja Mesin Pendingin dengan Menggunakan Ethylen Glycol sebagai Refrigeran Sekunder Beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian penulis memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media yang lain, mengelolanya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari penulis maupun memberikan royalti kepada penulis selama tetap mencantumkan nama penulis sebagai penulis. Demikian pernyataan ini yang penulis buat dengan sebenarnya. Yogyakarta, 15 Juli 2014 Yang menyatakan, FX. Pamungkas

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vii INTISARI Pada saat ini kebutuhan akan mesin pendingin semakin meluas. Berbagai macam manfaat yang didapat dalam penggunaan mesin pendingin. Fungsi dari mesin pendingin antara lain mendinginkan, mendinginkan dan membekukan, serta mengkondisikan udara. Pada penelitian ini meneliti tentang perbandindingan karakteristik refrigeran R134a dan R600a serta unjuk kerja dari mesin pendingin. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan perpindahan energi kalor persatuan massa refrigeran pada evaporator, kondensor, menghitung kerja kompresor persatuan massa, mebandingkan COP aktual dan ideal mesin pendingin, mebandingkan efisiensi, mebandingkan daya yang dikonsumsi, serta mebandingkan laju aliran massa refrigeran. Mesin pendingin pada penelitian ini menggunakan kompresor hermetic dengan daya 124 watt, kondensor dengan jumlah U sebanyak 12 U, pipa kapiler berdiameter dalam 0,026 inch sepanjang 2 meter, serta menggunakan evaporator dengan pipa tembaga berdiameter dalam 0,25 inch sepanjang 8 meter. Penelitian ini memvariasikan refrigeran primer R134a dan R600a sebagai fluida kerja. Tekanan kerja yang menjadi acuan adalah tekanan kerja evaporator sebesar 0 psi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perpindahan energi kalor rata-rata persatuan massa pada evaporator dengan menggunakan R600a sebesar 304,99 kJ/kg, sedangkan energi kalor rata-rata dari R134a sebesar 180,97 kJ/kg Kerja kompresor persatuan massa rata-rata dengan meggunakan R600a sebesar 85,01 kJ/kg, sedangkan kerja persatuan massa rata-rata dari R134a sebesar 62,68 kJ/kg. Perpindahan energi kalor persatuan massa rata-rata pada kondensor dengan menggunakan R600a sebesar 395,27 kJ/kg, sedangkan untuk R134a sebesar 243,84 kJ/kg. Nilai COP aktual rata-rata untuk R600a sebesar 3,59; sedangkan untuk R134a sebesar 2,88. Nilai COP ideal rata-rata untuk R600a sebesar 3,92; sedangkan untuk R134a sebesar 3,55. Nilai rata-rata efisiensi mesin pendingin untuk R600a sebesar 0,92; sedangkan efisiensi rata-rata untuk R134a sebesar 0,81. Penggunaan daya rata-rata kompresor dengan menggunakan R600a sebesar 149,78 watt, sedangkan penggunaan daya rata-rata untuk R134a sebesar 145,75 watt. Laju aliran massa refrigeran rata-rata dengan menggunakan R134a sebesar 0,0024 kg/s sedangkan laju aliran massa refrigeran rata-rata menggunakan R600a sebesar 0,0018 kg/s. Kata kunci : refrigeran, R134a, R600a, COP, mesin pendingin, siklus kompressi uap.

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI viii ABSTRACT At the time the demand of refrigerator is getting wider. The advantages using refrigerator can be obtained. The function of refrigerator can be described such as cooling, cooling and freezing, and controlling humidity. By this research comparison of refrigerant R134a and R600a and coefficient of performance were research. The purpose of the research were calculating comparing heat transfer per mass unit refrigerant at evaporator and condenser, work per mass unit refrigerant at compressor, actual COP and ideal COP of refrigerator, efficiency, power, and mass flow rate refrigerant. The refrigerator in this research is using hermetic compressor with 124 watt, condenser with 12 U, capiler tube with inside diameter 0,026 inch and length of 2 meters, copper tube with inside diameter 0,25 inch and length 8 meters. The research varies primary refrigerant R134a and R600a as working fluid. Working pressure becoming reference is determine on evaporator by 0 psi. The result of research process that the average value of heat transfer per mass unit at evaporator with using R600a is 304,99 kJ/kg, on the contrary average heat energy from R600a is 180,97 kJ/kg. Average working compressor per mass unit with using R600a is 85,01 kJ/kg, on the contrary average of work per mass per mass unit from R134a is 62,68 kJ/kg. Average heat transfer per mass unit at condenser with using R600a is 395,27 kJ/kg, on the contrary from R134a is 243,84 kJ/kg. Actual COP average from R600a is 3,59; on the contrary for R134a is 2,88. Ideal COP average from R600a is 3,92; on the contrary for R134a is 3,55. Average of efficiency refrigerator for R134a is 0,92; on the contrary efficiency refrigerator for R134a is 0,81. Using power average compressor with using R600a is 149,78 watt, on the contrary average of power for R134a is 145,75 watt. Mass flow rate refrigerant average with using R134a is 0,0024 kg/s, on the contrary mass flow rate refrigerant average with using R600a is 0,0018 kg/s. Keyword : refrigerant, R134a, R600a, COP, refrigerator, vapor compression cycle

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR NOTASI Simbol Keterangan QC Energi kalor persatuan massa refrigeran pada evaporator (kJ/kg) QH Energi kalor persatuan massa refrigeran pada kondensor (kJ/kg) Win Kerja kompresor persatuan massa refrigeran (kJ/kg) COPaktual Coefficien of performance aktual mesin pendingin COPideal Coefficien of performance ideal mesin pendingin η Efisiensi mesin pendingin P Daya yang dikonsumsi kompresor (watt) m Laju aliran massa refrigeran (kg/s) h1 Nilai enthalpy refrigeran pada saat keluar evaporator (kJ/kg) h2 Nilai enthalpy refrigeran pada saat keluar kompresor (kJ/kg) h3 Nilai enthalpy refrigeran pada saat keluar kondensor (kJ/kg) h4 Nilai enthalpy refrigeran pada saat masuk evaporator (kJ/kg) T1 Temperatur keluar evaporator (oC) T3 Temperatur keluar kondensor (oC) T5 Temperatur air (oC) T6 Temperatur ethylen glicol (oC) T7 Temperatur lingkungan (oC) P1 Tekanan kerja kondensor (Bar) P2 Tekanan kerja evaporator (Bar) ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI x KATA PENGANTAR Puji syukur kami haturkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala berkat dan penyertaan kepada penulis sehingga Skripsi ini dapat selesai tepat waktu. Penulisan Skripsi ini sebagai salah satu syarat kelulusan studi di Prodi Teknik Mesin Fakultas Sains dan Teknologi Univesitas Sanata Dharma Yogyakarta. Adapun penulisan Skripsi ini berjudul : Perbandingan Karakteristik Refrigeran R134a dan R600a Pada Unjuk Kerja Mesin Pendingin Dengan Menggunakan Ethylen Glicol Sebagai Refrigeran Sekunder. Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan penelitian dan penyusunan Skripsi ini, penulis melibatkan banyak pihak. Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Paulina Heruningsih Prima Rosa, S.Si.,M.Sc., selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Ir. Petrus Kanisius Purwadi, M.T., sebagai Dosen Pembimbing Skripsi dan Dosen Pembimbing Akademik.. 3. Laboratorium Energi Universitas Sanata Dharma yang menyediakan temapat dan alat-alat penunjang penelitian ini. 4. A. Agus Dalyanto dan F. Sri Endarwati sebagai orang tua penulis yang telah memberikan dukungan, baik secara materi maupun spiritual. 5. Vincencia Prasetyanti, Hendrikus Mas Dinda Yudhiputro, Joseph Ch istopher Mario Diputro dan Alosius Prananto Adi serta seluruh keluarga yang memberi motivasi dalam penyelesaian studi.

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xi 6. Hilarion Aryo Sekar Prabhadamar dan Lorentius Nico Advery, sebagai teman kelompok Skripsi. 7. Fransisca Desiana Pranatasari sebagai kekasih yang selalu mendukung dan memberi semangat. Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan dan menyusunan Skripsi ini masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki, untuk itu penulis mengharapkan masukan, kritik, dan saran dari berbagai pihak untuk dapat menyempurnakan Skripsi ini. Semoga Skripsi ini dapat bermanfaat, baik bagi penulis maupun pembaca. Terima kasih. Yogyakarta, 15 Juli 2014 FX Pmungkas

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .................................................................................. i ................................................................................................ ii HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................... iii HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iv HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA v TITLE PAGE …………………... LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ........................................ vi INTISARI ...................................................................................................... vii ABSTRACT ………………………………………………………………. viii DAFTAR NOTASI ....................................................................................... KATA PENGANTAR DAFTAR ISI ix .................................................................................. x ……...................................................................................... xii DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL ................................................................................... xv ...................................................................................... xix BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1 1.1 Latar Belakang ………………………………………………... 1 1.2 Tujuan Penelitian …………………………………………….. 3 1.3 Batasan Masalah …………………………………………….. 4 1.4 Manfaat Pelaksanaan ………………………………………… BAB II DASAR TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar Teori 6 ......................... 7 ............................................................................ 7

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.1.1 Siklus Carnot .................................................................. 2.1.2 Siklus Kompresi Uap 2.1.3 Refrigeran 7 ...................................................... 10 ........................................................................ 16 2.1.4. Komponen Mesin Pendingin Refrigeran Kompresi Uap 2.2 Tinjauan Pustaka 18 ...................................................................... 22 .................................................................... 24 .................................................................................. 24 BAB III PEMBUATAN ALAT 3.1 Persiapan xiii 3.2 Komponen peralatan pada penelitian ........................................ 25 3.3 Perakitan alat ………………………………………………… 38 3.4 Pengujian alat ………………………………………………… 45 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Obyek uji ................................................. …………………………………………………….. 4.2 Skema alat penelitian 46 46 ………………………………………… 46 4.3 Peralatan Penelitian …………………………………………... 48 4.4 Alur penelitian 49 ………………………………………………... 4.5 Variasi penelitian …………………………………………….. 4.6 Cara mendapatkan data 4.7 Cara mengolah data ……………………………………… 51 ………………………………………….. 52 4.8 Cara mendapatkan kesimpulan ………………………………. 54 ...................................................... 55 ………………………………………………. 55 ………………………………………………….. 63 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil penelitian 5.2 Perhitungan 50 5.2.1 Perhitungan untuk refrigeran R134a …………………... 63

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5.2.2 Perhitungan untuk refrigeran R600a 5.3 Pembahasan ………………….. 66 ………………………………………………….. 73 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ………………………………… 96 …………………………………………………... 96 ………………………………………………………….. 98 6.1 Kesimpulan 6.2 Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xiv …………………………………………………….. ………………………………………………………………. 99 101

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xv DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 (a) Skema siklus Carnot (b) T-s diagram siklus Carnot Gambar 2.2 (a) Skema siklus Carnot balik (b) T-s diagram siklus Carnot balik Gambar 2.3 ... 8 .............................................................. 9 (a) Skema siklus kompresi uap. (b) Siklus kompresi uap dalam T-s diagram. 10 ............................................... Gambar 2.4 Siklus kompresi uap dalam P-h diagram. ......................... 11 Gambar 2.5 T-s diagram dari siklus kompresi uap ideal Gambar 2.6 T-s diagram dari siklus kompresi uap aktual Gambar 2.7 (a) Kompresor hermetic (b) Kompresor semi hermetic Gambar 2.8 (a) Kondensor tipe U (b) Kondensor tipe sirip Gambar 2.9 (a) katup ekspansi (b) pipa kapiler Gambar 2.10 (a) Evaporator tipe plat (b) Evaporator tipe pipa bersirip Gambar 3.1 Kompresor hermetic Gambar 3.2 Kondensor 12 U ……………………………………. 26 Gambar 3.3 Pipa kapiler ………………………………………... 26 Gambar 3.4 Evaporator ………………………………………... 27 Gambar 3.5 Cover ……………………………………………... 27 Gambar 3.6 Filter …………………………………………….. 28 Gambar 3.7 (a) High pressure gauge (b) Low pressure gauge Gambar 3.8 Pipa dengan bentuk T ……………………………… Gambar 3.9 Filler Hole Gambar 3.10 Niple Gambar 3.11 Nastro tenuta filettil .................... 15 16 .................. . 19 …………. 20 ……...…………….. 21 … 21 ………………………………... 25 ………. 29 29 …………………………………………. 30 ……………………………………………… ……………………………… Gambar 3.12 (a) Refrigeran primer R134a (b) Refrigeran primer R600a 30 31

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (c) Refrigeran sekunder ethylen glycol Gambar 3.13 Meja mesin pendingin Gambar 3.14 Gas las ……………….. 31 ………………………………. 32 ………………………………….................. 33 Gambar 3.15 Blander las gas 33 ……………………………………... Gambar 3.16 (a) Bahan tambah perak (b) Bahan tambah kuningan Gambar 3.17 Double pressure gauge Gambar 3.18 Selang xvi ...... 34 ……………………………… 35 ……………………………………………... 35 Gambar 3.19 Tube cutter …………………………………………. 36 Gambar 3.20 Silver brazing flux Gambar 3.21 Thamzone ………………………………….. 36 …………………………………………. 37 Gambar 3.22 Pompa Vakum Gambar 3.23 Tang meter ……………………………………… 37 …………………………………………. 38 Gambar 3.24 Diagram alur pembuatan mesin pendingin …………… 38 Gambar 3.25 (a) Pipa evaporator (b) houshing evaporator …………… 40 … 40 Gambar 3.26 (a) Pembuatan evaporator (b) Evaporator mesin pendingin Gambar 3.27 (a) Pemasangan kondensor dengan meja (b) bentuk jadi penggabungan kondensor dengan Gambar 3.28 … ................................. 41 (a) Sambungan low pressure gauge (b) Sambungan high pressure gauge ................................................... 42 Gambar 3.29 Proses penyambungan evaporator dengan kompresor ...... 43 Gambar 3.30 Proses pemvakuman Gambar 3.31 Proses pengisian refrigeran pada sistem Gambar 4.1 Skema mesin pendingin Gambar 4.2 Alur penelitian Alur penelitian Gambar 4.3 Cara pengambilan P-h diagram R134a ……………….. 53 Gambar 4.4 Cara pengambilan P-h diagram R600a ……………….. 53 ……………………………….. 44 ……………….. 44 ……………………………. 47 ………………………. 49

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Gambar 5.1 Ph diagram Gambar 5.2 Grafik perbandingan perpindahan energi kalor per satuan ……………………………………… massa pada evaporator dari waktu ke waktu. Gambar 5.3 ................... Grafik perpindahan energi kalor per satuan massa pada ................................................... 76 Grafik kerja kompresor per satuan massa dari waktu ke waktu pada refrigeran R134a. Gambar 5.7 ..................................... ......................... ................... 79 Grafik perpindahan energi kalor per satuan massa pada kondensor dari waktu ke waktu pada refrigeran R134a. Gambar 5.10 78 Grafik perbandingan perpindahan energi kalor per satuan massa pada kondensor dari waktu ke waktu. Gambar 5.9 77 Grafik kerja kompresor energi kalor per satuan massa dari waktu ke waktu pada refrigeran R600a. Gambar 5.8 .... 75 Grafik perbandingan kerja kompresor per satuan massa dari waktu ke waktu. Gambar 5.6 74 ... 74 evaporator dari waktu ke waktu pada refrigeran R600a. Gambar 5.5 59 Grafik perpindahan energi kalor per satuan massa pada evaporator dari waktu ke waktu pada refrigeran R134a. Gambar 5.4 xvii .... 80 Grafik perpindahan energi kalor per satuan massa pada kondensor dari waktu ke waktu pada refrigeran R600a. ...... 81 Gambar 5.11 Grafik perbandingan COP aktual dari waktu ke waktu. ….. 82 Gambar 5.12 Grafik COP aktual dari waktu ke waktu pada refrigeran R134a. Gambar 5.13 83 Grafik COP aktual dari waktu ke waktu pada refrigeran R600a. Gambar 5.14 ................................................................... .................................................................... 84 Grafik perbandingan COP ideal dari waktu ke waktu. ......................................................... 85

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Gambar 5.15 Grafik COP ideal dari waktu ke waktu pada refrigeran R134a. Gambar 5.16 ................................................................... ................................................................... ................................................................... ............................................. ....................................................................... 90 Grafik daya kompresor dari waktu ke waktu pada refrigeran R134a. ..................................................... Gambar 5.22 .................................................... ....................................................... 93 Grafik laju aliran massa refrigeran dari waktu ke waktu pada refrigeran R134a. Gambar 5.25 92 Grafik perbandingan laju aliran massa refrigeran dari waktu ke waktu. Gambar 5.24 91 Grafik daya kompresor dari waktu ke waktu pada refrigeran R600a. Gambar 5.23 89 Grafik perbandingan daya kompresor dari waktu ke waktu. Gambar 5.21 88 Grafik efisiensi mesin pendingin dari waktu ke waktu pada refrigeran R600a Gambar 5.20 88 Grafik efisiensi mesin pendingin dari waktu ke waktu pada refrigeran R134a. ....................................................... Gambar 5.19 86 Grafik perbandingan efisiensi mesin pendingin dari waktu ke waktu. Gambar 5.18 86 Grafik COP ideal dari waktu ke waktu pada refrigeran R600a Gambar 5.17 xviii .............................................. 94 Grafik laju aliran massa refrigeran dari waktu ke waktu pada refrigeran R600a. ................................................ 94

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xix DAFTAR TABEL Tabel 4.1 Tabel pengisian data dalam penelitian Tabel 5.1 Data penelitian untuk refrigeran R134a pada hari pertama selama 6 jam. Tabel 5.2 .......................................................................... .......................................................................... .......................................................................... .......................................................................... .......................................... .............................................................. .......................................................... .......................................................... .......................................................... 61 61 62 62 hasil perhitungan untuk refrigeran R134a pada hari pertama dari waktu ke waktu. .................................................. Tabel 5.14 60 Data penelitian untuk enthalpy refrigeran R600a pada hari ketiga selama 6 jam. Tabel 5.13 60 Data penelitian untuk enthalpy refrigeran R600a pada hari sekunder selama 6 jam. Tabel 5.12 .............................................................. Data penelitian untuk enthalpy refrigeran R600a pada hari pertama selama 6 jam. Tabel 5.11 58 Data penelitian untuk enthalpy refrigeran R134a pada hari ketiga selama 6 jam. Tabel 5.10 58 Data penelitian untuk enthalpy refrigeran R134a pada hari sekunder selama 6 jam Tabel 5.9 57 Data penelitian untuk enthalpy refrigeran R134a pada hari. pertama selama 6 jam Tabel 5.8 57 Data penelitian untuk refrigeran R600a pada hari ketiga selama 6 jam. Tabel 5.7 56 Data penelitian untuk refrigeran R600a pada hari sekunder selama 6 jam. Tabel 5.6 .......................................................................... Data penelitian untuk refrigeran R600a pada hari pertama selama 6 jam. Tabel 5.5 56 Data penelitian untuk refrigeran R134a pada hari ketiga selama 6 jam. Tabel 5.4 .......................................................................... 52 Data penelitian untuk refrigeran R134a pada hari sekunder selama 6 jam. Tabel 5.3 …………………….. hasil perhitungan untuk refrigeran R134a pada hari 70

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sekunder dari waktu ke waktu. Tabel 5.15 .................................................. 71 hasil perhitungan untuk refrigeran R600a pada hari sekunder dari waktu ke waktu. Tabel 5.18 71 hasil perhitungan untuk refrigeran R600a pada hari pertama dari waktu ke waktu. .................................................. Tabel 5.17 70 hasil perhitungan untuk refrigeran R134a pada hari ketiga dari waktu ke waktu. Tabel 5.16 ............................................... xx ............................................. 72 hasil perhitungan untuk refrigeran R600a pada hari ketiga dari waktu ke waktu. .................................................. 72

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada masa kini kebutuhan akan mesin pendingin semakin meningkat. Berbagai macam mesin pendingin mudah ditemui di berbagai tempat. Dari rumah tangga, perkantoran, gedung bertingkat, rumah sakit, industri sampai dengan tempat umum. Berbagai macam mesin pendingin diciptakan manusia sesuai dengan kebutuhan. Dari kebutuhan untuk menjaga nutrisi pada makanan sampai menjaga suhu udara stabil sesuai dengan yang diinginkan. Efek yang ditimbulkan dari mesin pendingin dapat menyebabkan ketergantungan pengguna pada mesin pendingin. Banyak manfaat yang didapat dari mesin pendingin. Kandungan vitamin dalam makanan dapat terjaga ketika makanan tersebut dimasukkan ke dalam mesin pendingin. Contoh pemanfaatan mesin pendingin adalah untuk mendinginkan dan membekukan ikan yang ditangkap di laut. Meski berada di kapal berhari-hari, ikan tangkapan masih dalam kondisi segar ketika tiba di tempat pelelangan/penjual ikan. Hal tersebut dapat terjadi karena ikan-ikan yang ditangkap oleh para nelayan tidak mengalami proses pembusukan, karena bakteri tidak dapat hidup pada suhu yang rendah. Dalam bidang medis, mesin pendingin dimanfaatkan untuk mengawetkan jenazah yang tidak dikenal, yang kemudian digunakan sebagai obyek penelitian para mahasiswa kedokteran. 1

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 Pada dasarnya pembusukan adalah proses degradasi jaringan pada tubuh jenazah yang terjadi sebagai akibat proses autolisis dan aktivitas mikroorganisme. Pembusukan sangat optimal terjadi pada temperatur sekitar 70oF - 100oF atau pada temperatur 21,1oC - 37,8°C. Pembusukan akan melambat bila terperatur berada di bawah 50oF (10oC) atau di atas 100oF (37,8oC) menurut Ferryal Basbeth, (2005). Salah satu alasan mesin pendingin diciptakan adalah untuk mengawetkan jenazah. Pada dasarnya mesin pendingin dibedakan menjadi dua obyek pendinginan. Jenis mesin pendingin yang pertama adalah mesin pendingin yang mendinginkan dan atau membekukan obyek suatu fluida cair atau makanan. Jenis mesin pendingin yang sekunder adalah mesin pendingin yang di pregunakan untuk mengkondisikan udara. Contoh mesin pendingin untuk mendinginkan dan membekukan fluida cair atau makanan adalah freezer, chest freezer, kulkas, showcase, ice maker dan lain-lain. Contoh dari mesin pendingin yang dipergunakan untuk mengkondisikan udara adalah air conditioner, chiller, incubator dan lain-lain. Komponen utama dari mesin pendingin dengan siklus kompresi uap adalah kompresor, kondensor, pipa kapiler atau katub ekspansi dan evaporator. Komponen tambahan dalam mesin pendingin adalah filter dan thermostate. Masing-masing bagian tersebut saling berkaitan satu sama lain. Mesin pendingin juga membutuhkan fluida kerja. Fluida kerja mesin pendingin disebut dengan refrigeran. Refrigeran merupakan bagian yang penting dari mesin pendingin. Refrigeran menerima kerja dari kompresor sehingga tekanan dari refrigeran

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 menjadi naik. Naiknya tekanan refrigeran menyebabkan naiknya suhu dari refrigeran. Turunnya temperatur dan tekanan refrigeran terjadi pada pipa kapiler. Hal itu terjadi karena diameter dalam pipa kapiler sangat kecil sehingga tekanan dari refrigeran menjadi turun. Refrigeran terdiri dari berbagai macam. Salah satu dari refrigeran adalah R134a. Antonijevic, (2008) membandingkan penggunaan refrigeran R134a dengan CO2. CO2 bisa menjadi refrigeran yang ramah lingkungan tetapi daya kompresor dari mesin pendingin yang menggunakan CO2 memerlukan daya kompresor 10 kali lebih besar dari mesin pendingin yang menggunakan refrigeran R134a. Dengan daya kompresor 10 kali lebih besar, maka ukuran dari pipa yang dibutuhkan juga lebih tebal. Nasrudin, (2011) mencampurkan antara refrigeran R600a dengan CO2. Variabel yang dibandingkan adalah kadar dari CO2 dalam sistem refrigerasi autocascade. Beberapa penelitian di atas membuktikan bahwa refrigeran adalah hal yang menarik untuk diteliti. Peneliti tertarik untuk membandingkan refrigeran R134a dengan refrigeran R600a sebagai refrigeran primer. Fungsi utama dari mesin pendingin pada penelitian ini adalah mendinginkan ethylen glycol. Ethylen glycol adalah refrigeran sekunder yang berfungsi untuk mendinginkan beban yang diletakkan pada evaporator. Beban yang diletakkan di evaporator pada penelitian ini adalah air. 1.2 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 a. Membuat mesin pendingin yang dipergunakan untuk mendinginkan refrigeran sekunder yaitu ethylen glycol. b. Membandingkan refrigeran R134a dan R600a dengan menghitung perpindahan energi kalor per satuan massa refrigeran pada evaporator, menghitung kerja yang dilakukan kompresor per satuan massa, dan menghitung perpindahan energi kalor per satuan massa refrigeran kondensor, dengan menggunakan refrigeran R134a dan refrigeran R600a. c. Membandingkan refrigeran R134a dan R600a dengan menghitung coefficient of performance aktual (COP aktual) dan coefficient of performance ideal (COP ideal). d. Membandingkan refrigeran R134a dan R600a dengan menghitung efisiensi dari mesin pendingin. e. Mengukur arus dan tegangan listrik yang digunakan kompresor pada mesin pendingin setiap melakukan pencatatan tekanan saat menggunaka refrigeran R134a dan R600a. f. Membandingkan daya yang digunakan kompresor pada mesin pendingin saat menggunaka refrigeran R134a dan R600a. g. Membandingkan laju aliran massa refrigeran pada mesin pendingin saat menggunaka refrigeran R134a dan R600a. 1.3 Batasan Masalah Dalam mesin pendingin banyak aspek yang berpengaruh untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Maka dari itu, penulis memberikan batasan

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 permasalahan dalam skripsi ini. Batasan permasalahan dalam skripsi ini antara lain : a. Mesin pendingin ini dengan menggunakan siklus kompresi uap dalam bekerja. b. Refrigeran yang digunaka dalam mesin pendingin ini adalah R134a dan refrigeran yang digunakan sebagai pembanding adalah R600a. c. Mesin pendingin menggunakan refrigeran sekunder berupa ethylen glycol pada evaporator. d. Komponen yang terdapat dalam mesin pendingin terdiri dari beberapa komponen utama. Komponen utama dari mesin pendingin ini antara lain adalah :  Kompresor berjenis hermetic kompresor yang digunakan untuk refrigeran R-12. Kompresor yang digunakan berdaya 124 watt, arus listrik 0,92 ampere, beda potensial 220 VAC, frekuensi 50/60 Hz dan 1 phase.  Kondensor yang digunakan berjenis 12 U, kondensor standar yang digunakan pada mesin pendingin berdaya 124 watt.  Filter dengan jenis 1 banding 2. Jenis 1 banding 2 adalah 1 lubang masuk dan 2 lubang keluar.  Pipa kapiler berdiameter 0,026 inch dengan panjang 2 m.  Evaporator dengan pipa tembaga berdiameter 0.25 inch dengan panjang 8 m. e. Pada rangkaian mesin pendingin menggunakan satu high pressure gauge yang merupakan tekanan kerja kondensor. Kapasitas high pressure gauge adalah 0 psi sampai 500 psig.

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 f. Pada rangkaian mesin pedingin menggunakan satu low pressure gauge yang merupakan tekanan kerja evaporator. Kapasitas low pressure gauge adalah 0 psi sampai 250 psig. g. Coefficient of performance (COP) dihitung dari karakteristik yang didapat dari mesin pendingin didasarkan pada kondisi ideal kerja siklus kompresi uap. h. Tekanan kerja refrigeran di evaporator adalah 0 psig. 1.4 Manfaat Pelaksanaan Manfaat yang diharapkan dari penelitian skripsi ini adalah : a. Sebagai sumber informasi dari unjuk kerja mesin pendingin. b. Sebagai sumber inspirasi dalam memodifikasi mesin pendingin. c. Bagi penulis, memberi pengalaman bagaimana membuat mesin pendingin dengan siklus kompresi uap untuk ukuran skala rumah tangga. d. Bagi penulis, mampu memahami cara kerja mesin pengingin. e. Menjadi sumber referensi bagi masyarakat untuk meneliti mesin pendingin.

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II DASAR TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Dasar Teori Sistem refrigerasi merupakan sistem yang berfungsi sebagai penjaga suhu pada suatu tempat agar tetap dingin bila dibanding dengan suhu di sekitarnya. Pada dasarnya kalor mengalir secara alami dari suhu tinggi ke suhu yang lebih rendah. Dalam sistem refrigerasi kompresi uap, perpindahan kalor dipindahkan dari daerah bersuhu rendah ke daerah yang bersuhu lebih tinggi. Hal itu dapat terjadi dikarenakan adanya pemberian kerja pada sistem kompresi uap. 2.1.1. Siklus Carnot Siklus Carnot merupakan siklus yang yang bersifat reversibel internal. Dalam siklus ini terdiri dari empat proses, proses tersebut antara lain dua proses adiabatik dan dua proses isotermal. Pada siklus ini tedapat dua reservoir termal dan masing-masing temperatur tersebut bersuhu TH dan TC . Siklus pada Gambar 2.1 dan Gambar 2.2 merupakan diagram dari siklus Carnot :  Proses 1-2 : Gas dikompresi secara adiabatik ke titik 2 menuju temperatur TH. Proses ini disebut dengan kompresi adiabatik.  Proses 2-3 : Rangkaian diletakkan pada reservoir panas dengan temperatur TH. Gas berekspansi secara isotermal dan menerima energi QH dari reservoir panas melalui proses perpindahan kalor. Proses ini disebut dengan ekspansi isotermal. 7

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI  8 Proses 3-4 : Gas berekspansi secara adiabatik hingga temperatur menjadi turun ke TC dengan kondisi sistem yang terisolasi. Proses ini disebut dengan ekspansi adiabatik.  Proses 4-1 : Rangkaian diletakan pada reservoir dingin dengan temperatur TC. Gas terkompresi secara isotermal ke keadaan awal dengan melepaskan kalor QC ke reservoir dingin melalui proses sistem perpindahan panas. Proses ini disebut dengan kompresi isotermal. (b) (a) Gambar 2.1 (a) Skema siklus Carnot (b) T-s diagram siklus Carnot Siklus Carnot merupakan siklus yang reversibel maka pada proses 2-3 perbedaan temperatur antara refrigeran dan reservoir panas memiliki perbedaan yang sangat kecil. Demikian juga untuk proses 4-1. Siklus Carnot dapat dilakukan secara terbalik. Energi yang dipindahkannya pun selalu sama. Letak reservoir panas dan dingin berada pada tempat atau letak yang sama tetapi arah dari perpindahan energi tersebut

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 berlawanan atau terbalik. Maka siklus seperti ini disebut siklus refrigerator atau pompa kalor refrigerator. Siklus ini terdiri dari empat proses. Proses tersebut ialah:  Proses 1-2 : Gas berekspansi secara isotermal pada suhu TC. Proses ini menerima energi QC dari reservoir dingin dengan sistem perpindahan kalor. Proses ini disebut dengan ekspansi isotermal.  Proses 2-3 : Gas dikompresi secara adiabatik hingga mencapai tekanan TH. Proses ini disebut dengan kompresi adiabatik.  Proses 3-4 : Gas dikompresi secara isotermal pada TH. Proses ini melepaskan energi QH ke reservoir panas melalui proses sistem perpindahan panas. Proses ini disebut dengan kompresi isotermal.  Proses 4-1 : Gas berekspansi secara adiabatik sehingga temperatur dari proses ini menurun ke TC. Proses ini disebut dengan ekspansi adiabatik. (a) (b) Gambar 2.1 (a) Skema siklus Carnot balik (b) T-s diagram siklus Carnot balik

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 2.1.2. Siklus Kompresi Uap Sistem kompresi uap adalah siklus yang paling umum digunakan saat ini. Jika dibandingkan antara Gambar 2.3 dengan Gambar 2.2, sekunder gambar tersebut menunjukkan kesamaan antara siklus kompresi uap dengan Carnot balik. Perbedaannya adalah siklus Carnot balik menggunakan turbin, sedangkan siklus kompresi uap menggunakan katup ekspansi atau pipa kapiler. (a) (b) Gambar 2.3 (a) Skema siklus kompresi uap (b) Siklus kompresi uap dalam T-s diagram Dalam siklus kompresi uap, terdiri dari dua penukar kalor yaitu pada evaporator dan kondensor. Dalam kompresi uap terdiri dari empat komponen. Dua komponen yang lain adalah kompresor dan katup ekspansi atau pipa kapiler. Untuk menghitung setiap proses dalam kompresi uap, maka perhitungan menggunakan enthalpy. Enthalpy merupakan energi yang terdapat dalam sistem

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 dengan notasi h (kJ/kg). Enthalpy didapat dari P-h diagram yang menggambarkan hubungan antara pressure dengan enthalpy. Gambar 2.4 Siklus kompresi uap dalam P-h diagram Dalam siklus kompresi uap, sistem menggunakan refrigeran sebagai fluida kerja. Pada saat refrigeran melewati evaporator, beban energi kalor yang berada dalam evaporator atau dalam ruang refrigerasi menguapkan refrigeran. Maka energi kalor per satuan massa yang diserap evaporator dapat dihitung dengan persamaan (2.1) (Moran dan Howard, 2004) : QC  h1  h4 (2.1) Q C merupakan energi yang diserap oleh evaporator atau bisa disebut kapasitas refrigerasi (kJ/kg) . Setelah melewati evaporator, refrigeran dikompresi oleh kompresor. Diasumsikan di kompresor tidak ada energi yang keluar dari sistem. Maka kerja yang dilakukan per satuan massa yang dilakukan oleh kompresor dapat dihitung dengan persamaan (2.2) : Win  h2  h1 (2.2)

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 Dengan Win merupakan laju energi yang diberikan kompresor per satuan massa refrigeran. Setelah melewati kompresor, refrigeran mengalir ke kondensor. Di kondensor, refrigeran megalami kondensasi atau pengembunan. Refrigeran melepas kalor dari sistem ke lingkungan. Maka perpindaan energi kalor per satuan massa pada kondensor dapat dihitung dengan persamaan (2.3) : QH  h2  h3 (2.3) Dengan Q H merupakan energi yang dilepas ke lingkungan. Tahap terakhir dari proses pada sistem yaitu ketika refrigeran melewati pipa kapiler. Tekaan dari refrigeran akan turun sehingga tekanan refrigeran berada pada tekanan evaporator. Pada proses ini, terjadi proses isoenthalpy. Maka dari itu nilai enthalpy di pipa kapiler dinyatakan dengan persamaan (2.4) : h3  h4 (2.4) Aliran dari refrigeran yang berada dalam sistem, mengalir terus menerus selama refrigeran yang menjadi fluida kerja tersebut mendapatkan kerja dari kompresor. COP aktual dari sistem dapat dihitung dengan persamaan (2.5) : COPaktual  QC h1  h4  Win h2  h1 (2.5) Dengan COPaktual merupakan COP refrigeran dari sistem. Untuk menghitung ukuran kinerja maksimum atau COP ideal dalam suatu sistem dapat menggunakan persamaan (2.6) : COPideal  TC TH  TC (2.6)

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 Dengan TC merupakan temperatur yang ada di evaporator dan TH merupakan temperatur yang ada di kondensor. Temperatur tersebut ditunjukkan dengan Kelvin scale atau skala Kelvin K  . Penggunaan skala Kelvin dikarenakan skala Kelvin mempunyai rasio yang sama dengan nilai perpindahan kalor yang diserap dan kalor yang dilepas dari sistem. Temperatur 0 derajat Kelvin merupakan temperatur terendah dan temperatur ini disebut sebagai zero absolute atau nol absolut. Konversi Celcius ke Kelvin sebagai (2.7) : K  O C  273,16 (2.7) Maka dari itu, dari persamaan (2.5) dan (2.6) dapat diperoleh efisiensi dari sistem dapat dihitung dengan persamaan (2.8) :  COPaktual COPideal  h1  h4    h2  h1     TC     TH  TC  (2.8) Dengan  merupakan efisiensi dari sistem. Dalam siklus kompresi uap, siklus yang terjadi dalam suatu sistem dapat berupa siklus kompresi uap ideal dan siklus kompresi uap actual. Persamaanpersamaan diatas dapat digunakan untuk menghitung energi yang masuk dalam sistem Q C dan energi yang keluar dari sistem ke lingkungan QH . Pada sistem ini, penggunaan energi atau daya yang diserap oleh sistem dapat ditinjau dari arus dan tegangan yang dikonsumsi kompresor. Penggunaan energi tersebut dapat dinyatakan dengan persamaan (2.9) (Tipler, 1991) : P  I V (2.9)

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 Dengan P merupakan daya (watt), I merupakan arus (ampere), dan V merupakan tegangan (volt). Persamaan (2.9) dapat menunjukan daya yang dikonsumsi oleh kompresor. Refrigeran mendapat kerja dari kompresor sehingga refrigeran mengalir dari proses yang satu ke proses yang lain. Laju aliran massa dari refrigeran dapat dihitung dengan persamaan (2.10) (Cengel, 2006) : m  Dengan P (h2  h1 ) (2.10) merupakan laju aliran massa dari refrigeran merupakan besarnya daya yang diperlukan kompresor untuk melakukan kerja . 2.1.2.1. Siklus Kompresi Uap Ideal Siklus kompresi uap ideal merupakan siklus kompresi uap yang mengabaikan irreversibilitas dalam evaporator, kondensor, dan kompresor. Diabaikannya irrversibilitas dalam kondensor dan evaporator akan hilangnya penurunan tekanan akibat gesekan yang terjadi. Sedangkan irreversibilitas di kompresor diabaikan maka tidak ada perpindahan kalor yang terjadi akibat panas yang disebabkan kerja yang dilakukan oleh kompresor kelingkungan sistem.

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 Gambar 2.5 T-s diagram dari siklus kompresi uap ideal  Proses 1-2 : kompresi isentropic refrigeran dari posisi 1 ke tekanan kondensor di titik 2.  Proses 2-3 : perpindahan panas dari refrigeran saat mengalir ketika tekanan konstan di kondensor. Refrigeran berubah phase menjadi cair di posisi 3.  Proses 3-4 : proses penghambatan dari posisi 3 menuju campuran 2 phase cair dan gas di posisi 4.  Proses 4-1 : perpindahan panas ke refrigeran terjadi pada tekanan konstan melewati evaporator untuk mengahkiri siklus. Semua proses yang terjadi merupakan proses bersifat internal reverbel terkecuali pada preoses penghambatan. Walaupun melibatkan sifat irreversible, siklus ini umumnya disebut siklus kompresi uap ideal. 2.1.2.2. Siklus Kompresi Uap Aktual Siklus kompresi uap merupakan siklus kompresi uap yang sebenarnya. Siklus ini melibatkan sifat irreversible dari sistem. Pada Gambar 2.6 ditunjukkan bahwa suhu dari evaporator lebih rendah dari suhu sekitar evaporator TC dan suhu

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 di kondensor lebih tinggi dari suhu sekitar kondensor TH . Hal ini menunjukkan bahwa terjadi perpindahan kalor dari lingkungan ke sistem Q C dan dari sistem ke lingkungan QH . Gambar 2.6 T-s diagram dari siklus kompresi uap aktual Pada gambar ditunjukkan bahwa terjadi perubahan entropy pada kompresor. Hal ini menunjukkan bahwa proses 1-2 merupakan proses polyentropy. Dengan kata lain, ada energi yang hilang dari kompresor ke lingkungan. Pada Gambar 2.5 juga memperlihatkan adanya pendinginan lanjut yang ada di kondensor dan juga ada pemanasan lanjut di evaporator. 2.1.3. Refrigeran Refrigeran dalam mesin pendingin digunakan sebagai fluida kerja. Refrigeran itu sendiri merupakan fluida yang dipakai untuk menghisap panas dari suatu tempat atau suatu benda. Jika bertitik tolak pada pendingin dengan menggunakan siklus kompresi uap (vapor compression cycle), refrigeran merupakan media kerja yang berubah phase secara bolak balik (Ricky Gunawan, 1988). Pada mesin pendingin kompresi uap, refrigeran menerima kerja dari

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 kompresor. Komponen dari mesin pendingin yang menggunakan siklus kompresi uap menyebabkan refrigeran mengalami perubahan phase. Pada saat refrigeran keluar dari compresor, phase refrigeran berupa gas. Pada saat refrigeran berada di kondensor, refrigeran mengalami perubahan phase menjadi cair jenuh. Beban suhu yang ada di evaporator digunakan untuk menguapkan refrigeran, sehingga phase refrigeran menjadi uap kembali. 2.1.3.1. Refrigeran Primer Refrigeran primer merupakan refrigeran yang digunakan dalam sistem kompresi uap (Stoecker dan Jones, 1989). Refrigeran primer menerima kerja pada mesin pendingin siklus kompresi uap. Tekanan refrigeran naik saat keluar dari compresor. Dengan naiknya tekanan maka uhu refrigeran juga mengningkat. Tekanan refrigeran menurun ketika melewati katup ekspansi atau pipa kapiler. Suhu refrigeran juga menurun ketika tekanan refrigeran menurun. Pada penelitian ini, refrigeran primer yang digunakan adalah refrigeran R134a dan refrigeran R-600a. Sekunder refrigeran itu dibandingkan untuk mencari nilai COP. COP didapat dari laju aliran kalor QC  dibagi dengan daya compresor Win  yang digunakan. Fungsi utama dari refrigeran primer adalah mendinginkan refrigeran sekunder. Refrigeran primer menyerap kalor dari beban refrigeran sekunder sehingga refrigeran sekunder dapat mendinginkan beban yang ada di evaporator. a. Refrigeran R134a Refrigeran R134a merupakan refrigeran yang mempunyai rumus kimia CH2FCF3. Refrigeran ini mempunyai titik didih normal pada tekanan 1 atm

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 sebesar -26,06oC. Temperatur dan pressure kritis dari refrigeran R600a adalah 101,08oC dan 4060 kPa pada pengukuran absolut. b. Refrigeran R600a Refrigeran R600a merupakan refrigeran dengan nama lain Isobutana. Rumus kimia dari refrigeran R600a adalah (CH3)3CH. Refrigeran ini mempunyai titik didih normal pada tekanan 1 atm sebesar 260oK – 264oK. Temperatur dan pressure kritis dari refrigeran R600a adalah 135oC dan 3.65 MPa. 2.1.3.2. Refrigeran Sekunder Refrigeran sekunder adalah fluida yang mengangkut kalor dari bahan yang sedang didinginkan ke evaporator pada mesin refrigerasi (Stoecker dan Jones, 1989). Refrigeran sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah ethylen glycol. Fungsi ethylen glycol dalam penelitian ini adalah sebagai bendingin dari beban yang ada dalam evaporator. Ethylen glycol merupakan senyawa alkohol yang memiliki satu gugus hidroksi (-OH). Alkohol yang memiliki satu gugus –OH disebut senyawa polialkohol. Senyawa kimia ethylen glycol adalah merupakan fluida yang mempunyai titik beku kurang dari 0oC. Beban yang didinginkan adalah berupa air. 2.1.4. Komponen Mesin Pendingin Refrigeran Kompresi Uap Mesin pendingin kompresi uap merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa proses. Proses-proses utama dari mesin pendingin kompresi uap adalah proses kompresi yang berada di kompresor, proses kondensasi yang berada di kondensor, proses penurunan yang tekanan berada di pipa kapiler atau katup ekspansi, dan proses evaporasi yang berada di evaporator.

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 a. Kompresor Compresor adalah bagian dari mesin pendingin yang berfungsi untuk menaikkan tekanan refrigeran (Sumanto, 1989). Phase refrigeran ketika masuk dan keluar dari compresor berupa gas. Kondisi refrigeran yang keluar dari compresor berupa gas panas lanjut. Suhu gas refrigeran yang keluar dari compresor lebih tinggi dari suhu kerja yang berada di kondensor. Jenis compresor yang biasa digunakan di freezer adalah compresor dengan tipe semi hermetic. Hal tersebut dikarenakan torak dengan motor listrik berada di dalam satu ruangan yang sama dan antara torak dan motor listrik terdapat transmisi. (a) (b) Gambar 2.7 (a) Kompresor hermetic (b) Kompresor semi hermetic b. Kondensor Kondensor berfungsi sebagai tempat kondensasi atau pengembunan refrigeran (Sumanto, 1989). Kalor yang berada di kondensor di lepaskan ke lingkungan. Proses yang berlangsung pada kondensor terdiri dari dua proses.

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 Proses yang pertama adalah proses penurunan suhu refrigeran dari gas panas lanjut menuju ke gas jenuh. Proses yang sekunder ialah perubahan phase refrigeran dari phase gas ke phase cair. Pada proses penurunan suhu refrigeran dari gas panas lanjut ke gas jenuh dan proses perubahan phase dari gas jenuh ke cairan jenuh berlangsung pada tekanan yang tetap. Perubahan phase tersebut juga dalam suhu yang tetap. Berikut adalah macam-macam dari kondensor : (a) (b) Gambar 2.8 (a) Kondensor tipe U (b) Kondensor tipe sirip c. Pipa kapiler atau katup ekspansi Katup ekspansi atau pipa kapiler mempunyai fungsi yang sama yaitu untuk menurunkan tekanan refrigeran (Sumanto, 1989). Perbedaan dari katup ekspansi dengan pipa kapiler adalah katup ekspansi dapat diatur seberapa besar refrigeran yang dihambat sedangkan pipa kapiler tidak bisa di atur. Perangkat tersebut dipasangkan antara kondensor dan evaporator. Ketika refrigeran mengalir kedalam pipa kapiler, refrigeran mengalami penurunan tekanan karena adanya gesekan dengan bagian dalam pipa kapiler.

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (a) 21 (b) Gambar 2.9 (a) katup ekspansi (b) pipa kapiler d. Evaporator Evaporator berfungsi untuk menguapkan refrigeran (Sumanto, 1989). Di evaporator terjadi perubahan phase refrigeran dari cair dan gas ke phase gas. Pada saat perubahan phase tersebut energi yang digunakan berasal dari beban kalor yang berada di evaporator. Pada saat perubahan phase, entalpy dari refrigeran meningkat. Tekanan untuk perubahan phase berada pada tekanan yang tetap atau disebut isobaric. Suhu pada saat perubahan phase berada pada suhu yang tetap. (a) (b) Gambar 2.10 (a) Evaporator tipe plat (b) Evaporator tipe pipa bersirip

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 2.2. Tinjauan Pustaka Berdasarkan pada Kyoto Protocol dan keputusan dari European Commission Refrigeran R134a, sering digunakan pada penggunaan sistem pendingin udara, perlu untuk dihilangkan sedikit demi sedikit. Saat ini industri otomotif melihat CO2 (R744) menjadi refrigeran yang digunakan. Selain dari keuntungan yang didapat oleh lingkungan, karakteristik teknik dari siklus refrigeran CO2 dan penggunaan sistem air conditioner dibandingkan dengan refrigeran R134a. untuk menganalisis, tantangan yang muncul dari penggunaan CO2 sebagai refrigeran dan kesempatan meningkatkan anggapan untuk meningkatkan performa dan efisiensi. Yang perlu ditingkatkan adalah menampilkan keuntungan dari penggunaan CO2 untuk sector otomotif heat pump sistem (Antonijevic, 2008). Sistem refrigeran yang digunakan saat masih banyak menggunakan refrigeran yang mengandung zat perusak ozon atau penyebab pemanasan global. Karena itu, diperlukan alternatif yang salah satunya adalah CO2. Namun tingginya tekanan CO2 membatasi penggunaan sistem refrigeran konvensional. Solusi untuk mengatasi hal itu dengan biaya investasi yang relatife rendah adalah dengan menggunakan sistem refrigeransi autocascade. Penelitian ini mempelajari sistem refrigerasi autocascade yang menggunakan variasi campuran CO2 (R744) dengan R600a. Parameter yang dianalisa antara lain (1) suhu evaporasi, (2) suhu kondensasi, (3) suhu suction, (4) suhu discharge, (5) tekanan suction, dan (6) tekanan discharge. Hasil pengujian menunjukkan bawa penambahan komposisi CO2 sebesar 10% atau lebih dalam sistem refrigerasi autocascade dapat

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 menaikkan tekanan kerja sistem. Oleh karena itu, pemanbahan komposisi CO2 tersebut harus masih dalam batas-batas toleransi tekanan kerja kompresor yang diijinkan (Nasrudin, 2011). Pada pelitian ini berfokus pada campuran refrigeran yang ramah lingkungan. Refrigeran yang akan dikombinasikan antara lain R600a (butane) R134a (tetrafluoroethane), dan R406 (55% R22, 4% R600a, dan 41% R142b) dipelajari pada penelitian ini. Ketiga refrigeran tersebut dicampur dengan rasio yang bervariasi, dipelajari, dan dibandingkan dengan refrigeran R12 (dichlorodifluoromethane) yang mana digunakan sebagai tolak ukur dari penelitian. Mesin pendingin yang digunakan adalah mesin pendingin rumah tangga dengan kapasitas kompresor 2 hp. Rancangan penelitian berdasarkan pada tekanan kondensor dan evaporator. Selama penelitian, kedua temperatur pada kondensor dan evaporator diukur dan dicatat. Hal tersebut dilakukan untuk menentukan panas yang diserap pada evaporator dan panas yang dibuang pada kondensor. Hasil menunjukkan bahwa campuran R134a dan R600a dengan rasio 50:50 dapat menggantika R12 pada mesin pendingin rumah tangga tanpa mengganti pelumas yang ada pada kompresor. COP dari R12 sebesar 2,08 dan COP dari campuran R134a dan R600a sebesar 2,30 pada keadaan yang sama. Akintunde (2013).

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III PEMBUATAN ALAT 3.1. Persiapan Dalam pembuatan alat, aspek yang paling penting adalah memilih refrigeran primer. Refrigeran primer merupakan refrigeran yang akan dibandingkan COP dalam penelitian. Berdasarkan refrigeran yang dipakai, maka dapat ditentukan peralatan apa saja yang diperlukan untuk membuat suatu sistem/mesin refrigeran kompresi uap. Bagian-bagian dari mesin peendingin kompresi uap yang ditentukan adalah sebagai berikut : a. Aspek yang paling mempengaruhi refrigeran adalah kemampuan kompresor dalam melakukan kompresi. b. Langkah kedua yaitu menentukan tipe dan ukuran kondensor. Kondensor disebut baik jika energi kalor dapat secara mudah dilepas ke lingkungan dari sistem. c. Penentuan filter yang dipakai untuk menyaring kotoran yang terdapat dari sistem. d. Langkah yang ketiga yaitu penentuan panjang dari pipa kapiler dan diameter dalam dari pipa kapiler. e. Langkah yang keempat yaitu penentuan tipe dan ukuran dari evaporator. f. Langkah yang ke lima adalah penentuan alat ukur tekanan refrigeran dan temperatur refirgeran. 24

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 Beberapa hal diatas dapat disebut merupakan uraian yang diperlukan dalam merancang sistem sebagai persiapan awal membuat mesin pendingin. 3.2 Komponen peralatan pada penelitian Komponen peralatan pada penelitian terdiri dari dua bagian, yaitu komponen utama mesin pendingin dan komponen pendukung. Komponen utama mesin pendingin antara lain : a. Kompresor Kompresor pada mesin pendingin refrigeran ini menggunakan kompresor dengan jenis hermetic kompresor yang digunakan untuk refrigeran R-12. Kompresor yang digunakan berdaya 124 watt, arus listrik 0,92 ampere, beda potensial 220 VAC, frekuensi 50/60 Hz dan 1 phase. Gambar 3.1 Kompresor hermetic b. Kondensor Kondensor yang digunakan menggunakan jenis U. Pada mesin pendingin ini kondensor yang digunakan mempuyai jumlah U sebanyak 12 U. Kondensor

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 jenis ini mempunyai sirip. Bahan pipa dari kondensor terbuat dari besi. Bahan sirip dari kondensor juga terbuat dari besi. Gambar 3.2 Kondensor 12 U c. Pipa kapiler Panjang pipa kapiler yang digunakan adalah 2 m. Diameter dalam dari pipa kapiler yang digunakan adalah 0,026 inch. Gambar 3.3 Pipa kapiler

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 d. Evaporator Evaporator yang digunakan pada mesin pendingin ini menggunakan evaporator berbentuk pipa. Diameter dalam pipa evaporator adalah 0,25 inch (0,63 cm) dan panjang evaporator pada mesin pendingin ini adalah 8 m. Bahan dari evaporator terbuat dari pipa tembaga. Gambar 3.4 Evaporator Pada evaporator juga terdapat juga terdapat houshing atau tempat yang terdiri dari dua tempat makanan yang terbuat dari plastik. Kapasitas dari cover tersebut adalah 4 liter dan 5 liter. Gambar 3.5 Houshing

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 e. Filter Filter yang digunakan pada mesin pendingin ini menggunakan filter dengan tipe 1 2 . Yang dimaksud dengan tipe 1 2 adalah 1 lubang masuk dan 2 lubang keluar. 1 lubang yang besar berfungsi untuk masuknya refrigeran kerja dari kondensor dan 2 lubang yang lebih kecil adalah sebagai saluran buang refrigeran dan saluran untuk menuju ke pipa kapiler. Di dalam filter terdapat saringan yang berfungsi sebagai penyaring kotoran yang terdapat dalam sistem. Bahan filter terbuat dari tembaga. Gambar 3.6 Filter Gambar 3.1 sampai dengan Gambar 3.6 menunjukkan komponen utama dari mesin pendingin. Dalam komponen utama tersebut, terdapat dua komponen lain yang digunakan untuk mengukur tekanan refrigeran. Komponen tersebut ialah high pressure gauge dan low pressure gauge. Kapasitas dari pressure gauge yang digunakan adalah 250 psi untuk low pressure gauge dan 500 psi untuk high pressure gauge. Low pressure gauge digunakan untuk mengukur tekanan refrigeran pada evaporator dan high pressure gauge digunakan untuk mengukut tekanan kerja pada kondensor.

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI (a) 29 (b) Gambar 3.7 (a) High pressure gauge (b) Low pressure gauge Dalam pembuatan mesin pendingin, dibutuhkan komponen lain untuk membuat mesin pendingin. Komponen pendukung untuk menyatukan komponenkomponen utama dari mesin pendingin antara lain : a. Pipa dengan bentuk T Pipa dengan bentuk T ini berfungsi untuk menggabungkan antara pressure gauge dengan sistem. Hal ini dikarenakan bagian dari pressure gauge tidak tahan terhadap panas dari semburan api saat penggabungan antar pipa. Bahan dari pipa dengan bentuk T terbuat dari tembaga. Gambar 3.8 Pipa dengan bentuk T

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 b. Filler hole Filler hole biasa disebut dengan pentil. Fungsi dari komponen ini ialah sebagai jalur pengisian dan pembuangan dari refrigeran. Gambar 3.9 Filler Hole c. Niple Niple merupakan komponen dari sistem yang berfungsi sebagai pasangan ulir pressure gauge. Hal ini bertujuan agar pressure gauge dapat terpasang dengan baik pada sistem. Gambar 3.10 Niple d. Nastro tenuta filettil Nastro tenuta filettil merupakan komponen yang berfungsi sebagai pencegah kebocoran antara pressure gauge dengan sistem. Nastro tenuta filettil

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 dililitkan pada ulir yang di pressure gauge kemudian dipasangkan pada niple. Pada saat pengisian dan pemvakuman refrigeran, nastro tenuta filettil juga dipakai agar proses pengisian dan pemvakuman dapat dilakukan tanpa mengalami kebocoran. Gambar 3.11 Nastro tenuta filettil e. Refrigeran Dalam sistem ini, refrigeran pada mesin pendingin ini menggunakan refrigeran primer dan refrigeran sekunder. Refrigeran primer menggunakan jenis refrigeran R134a dan R600a. Sedangkan refrigeran sekunder pada mesin pendingin ini menggunakan refrigeran ethylen glycol. Ethylen glycol dipilih karena mempunyai sifat tidak bekupada temperatur 0oC dan aman. Fungsi ethylen glycol dalam penelitian ini adalah sebagai bendingin dari beban yang ada dalam evaporator (a) (b)

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 (c) Gambar 3.12 (a) Refrigeran primer R134a (b) Refrigeran primer R600a (c) Refrigeran sekunder ethylen glycol f. Meja Meja dalam pembuatan mesin pendingin ini berfungsi sebagai dasar atau tempat untuk meletakkan komponen-komponen utama mesin pendingin. Meja terbuat dari kayu sehingga meja dapat di lubangi. Lubang tersebut digunakan untuk mengunci komponen tersebut sehingga tidak bisa bergerak. Mor dan baut digunakan untuk mengunci komponen-komponen mesin pendingin. Gambar 3.13 Meja mesin pendingin Komponen pendukung yang digunakan untuk menyatukan komponenkomponen utama mesin pendingin antara lain sebagai berikut:

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 a. Gas las Gas las dalam pembuatan mesin pendingin ini berfungsi untuk melelehkan bahan tambah yang berupa perak atau kuningan. Kemasan dari gas las ini berupa kaleng. Gambar 3.14 Gas las b. Gas torch Gas torch berfungsi sebagai nozzel sehingga nyala api las bisa menjadi fokus. Fungsi blander las yang lain sebagai pengatur debit las gas yang digunakan. Gambar 3.15 Gas torch

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 c. Kuningan Penggunaan kuningan dalam pembuatan mesin pendingin berfungsi untuk sebagai bahan tambah pengelasan. Kuningan mempunyai titik lebur lebih rendah dari tembaga maupun besi. Sehingga sebelum tembaga maupun besi melebur, kuningan yang digunakan sudah melebur dan membuat sambungan pipa tembaga menyambung. (a) (b) Gambar 3.16 (a) Bahan tambah perak (b) Bahan tambah kuningan d. Double pressure gauge Double pressure gauge terdiri dari dua pressure gauge yang berbeda. Pressure gauge yang terdapat dalam komponen ini terdiri dari low pressure gauge dan high pressure gauge. Fungsi dari alat ini ialah untuk mengetahui tekanan evaporator saat proses mengisian pengisian. Pada saat mekakukan pemvakuman, double pressure gauge juga digunakan. Hal ini berguna untuk memastikan bahwa refrigran yang ada dalam mesin pendingin dapat dikeluarkan dengan sempurna. Dengan kata lain, mesin pendingin tervakum dengan sempurna dan tidak ada refrigeran yang terdapat dalam mesin pendingin.

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 Gambar 3.17 Double pressure gauge e. Selang Selang digunakan untuk memperpudah pengisian refrigeran kedalam sistem. Selang dipasangkan dengan double pressure gauge sehingga mempermudah posisi pengisian refrigeran. Gambar 3.18 Selang f. Tube cutter Tube Cutter berfungsi untuk memotong pipa tembaga. Pemotongan pipa tembaga bertujuan agar semua pipa yang ada dalam sistem dapat dibentuk sesuai dengan bentuk yang diharapkan. Hasil potongan dari tube cuter ini relatif halus,

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 gampang dipakai, dan sisa pemotongan relatif tidak ada. Penggunaan gergaji tidak dilakukan dikarenakan hasil dari gergajian akan kasar dan bisa masuk ke pipa kapiler. Gambar 3.19 Tube cutter g. Silver brazing flux Silver brazing flux sering disebut dipasaran dengan borak. Silver brazing flux berfungsi sebagai katalis saat penggabungan pipa tembaga dengan pipa besi. Jika pada saat pengelasan antara tembaga dengan besi tidak menggunakan silver brazing flux maka bahan tambah tidak dapat merekat dengan sempurna. Gambar 3.20 Silver brazing flux h. Thamzone Thamzone biasa disebut di pasaran dengan metil. Pemberian metil dilakukan sebelum refrigeran kerja dimasukkan dalam sistem. Hal ini bertujuan

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 agar uap air yang terkandung dalam udara dapat dihilangkan. Jika didalam sistem masih terdapat kandungan uap air, dikawatirkan uap air akan membeku didalam pipa kapiler atau di evaporator dan menyumbat aliran refrigeran kerja dalam sistem. Gambar 3.21 Thamzone i. Pompa vakum Pompa vakum dalam pembuatan mesin mendingin berfungsi untuk memvakumkan sistem dari udara yang terdapat di dalam sistem. Hal ini bertujuan agar udara tidak berada didalam sistem dan refrigeran yang ada dalam sistem adalah fluida kerja. Hal penting lainnya adalah tidak adanya kandungan uap air yang ada dalam sistem. Jika uap air ikit dalam sistem, maka air yang terkandung dalam sistem akan membeku dan menyumbat aliran refrigeran. Gambar 3.22 Pompa Vakum

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI j. 38 Tang meter Tang meter bertujuan untuk mengetahui arus masuk yang digunakan kompresor. Dengan diketahuinya arus yang digunakan oleh kompresor maka daya yang dikonsumsi oleh kompresor dapat diketahuti. Dengan catatan, tegangan yang berasal dari PLN yang dipergunakan juga diketahui. Gambar 3.23 Tang meter 3.3 Perakitan alat Perakitan mesin pendingin dimulai dari perancangan mesin pendingin, kemudian melalui beberapa tahap. Setelah melalui beberapa tahap, perakitan diakhiri dengan uji coba alat. Diagram alir berikut menunjukkan tahap pembuatan mesin pendingin. Mulai Perancangan Mesin Pendingin Persiapan Komponen Komponen Mesin Pendingin A

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 A Pembuatan mesin pendingin Pemeriksaan Sambungan Pemvakuman M esin Pendingin Pengisian Refrigeran R134a tidak baik Uji Coba baik Selesai Gambar 3.24 Diagram alur pembuatan mesin pendingin Langkah pertama sebelum perakitan adalah perancangan mesin pendingin yang akan dibuat. Hal itu bertujuan untuk mengetahui gambaran tentang masin pendingin yang akan dibuat. Dengan rancangan tersebut, maka dapat diketahui seberapa panjang pipa evaporator yang dibutuhkan, jenis kondensor yang digunakan, peletakan pressure gauge pada sistem, serta bentuk dari mesin pendingin itu sendiri. Gambaran mesin pendingin yang akan dibuat juga dapat mempermudah dalam tahap penyambungan komponen-komponen mesin pendingin. Langkah kedua yaitu pembentukan komponen-komponen mesin pendingin yang perlu dibentuk. Komponen mesin pendingin yang harus dibentuk dalam

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 pembuatan mesin pendingin ini adalah evaporator. Hal itu dikarenakan evaporator dalam mesin pendingin ini menggunakan pipa tembaga. Pipa tembaga dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai rancangan evaporator yang dikehendaki. (a) (b) Gambar 3.25 (a) Pipa evaporator (b) houshing evaporator Evaporator pada mesin pendingin ini terdiri dari pipa tembaga dengan panjang 8 meter dan menggunakan dua houshing evaporator yang terbuat dari dua tempat makanan dari plastik dengan kapasitas 4 liter dan 5 liter. Kedua komponen tersebut dijadikan satu sehingga dapat berfungsi sebagai evaporator mesin pendingin. (a) (b) Gambar 3.26 (a) Pembuatan evaporator (b) Evaporator mesin pendingin

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 Penggunaan dua housing evaporator bertujuan agar udara yang ada di dalam houshing evaporator menjadi isolator termal. Sehingga kalor yang ada di lingkungan tidak masuk kedalam evaporator. Setelah evaporator sudah selesai dirakit, langkah ketiga adalah pemasangan kondensor pada rancangan sistem. Kondensor dipasangkan pada samping meja. Hal ini bertujuan agar kondensor dapat membuang energi kalor ke lingkungan dengan mudah. Tujuan lain peletakan kondensor berada di samping adalah agar mesin pedingin yang dibuat terlihat rapi. (a) (b) Gambar 3.27 (a) Pemasangan kondensor dengan meja (b) bentuk jadi penggabungan kondensor dengan Langkah keempat adalah pemasangan kompresor pada meja. Kompresor diletakkan di antara evaporator dan kondensor. Hal ini bertujuan agar penyambungan ke tiga komponen tersebut dapat dilakukan dengan mudah. Langkah pemasangan kompresor pada meja sama dengan pemasangan kondensor dan evaporator pada meja. Setelah kompresor, evaporator, dan kondensor terpasang pada meja, langkah kelima ialah mempersiapkan pressure gauge yang akan digunakan

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 sehingga pressure gauge dapat dipasang pada mesin pendingin. Pressure gauge yang digunakan menggunakan empat pressure gauge. Komponen yang digunakan ialah niple, pipa tembaga, dan pressure gauge itu sendiri. (a) (b) Gambar 3.28 (a) Sambungan low pressure gauge (b) Sambungan high pressure gauge Langkah keenam ialah penyambungan semua komponen menjadi satu sehingga sistem dapat bekerja dengan baik. Penggabungan komponen dimulai dari kompresor menuju ke kondensor. High pressure gauge disambungkan antara kompresor dengan kondensor. Dalam hal ini pressure gauge berfungsi untuk mengetahui tekanan yang keluar dari kompresor. Pengelasan antara pipa kompresor dengan kondensor memerlukan borak sebagai katalis. Hal ini bertujuan menurunkan titik lebur dari pipa kondensor sehingga bahan tambah dapat melekat dengan sempurna. Setelah kondensor dengan kompresor tersambung, langkah ketuju adalah menyambung kondensor dengan pipa kapiler. Diantara pipa kapiler dan kondensor terdapat high pressure gauge dan filter yang telah disambungkan dengan sistem. Pressure gauge berfungsi untuk mengetahui tekanan refrigeran yang keluar dari

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 kondensor. Sedangkan filter berfungsi untuk menyaring kotoran yang ada dalam sistem. Langkah kedelapan adalah penyambungan antara pipa kapiler dengan evaporator. Antara pipa kapiler dengan evaporator terdapat low pressure gauge yang berfungsi untuk mengetahui tekanan refrigeran yang masuk kedalam evaporator. Langkah kesembilan ialah penyambungan evaporator dengan kompresor. Antara evaporator dengan kompresor terdapat low pressure gauge, untuk mengetahui tekanan refrigeran yang masuk kedalam kompresor. Gambar 3.29 Proses penyambungan evaporator dengan kompresor Langkah kesepuluh adalah proses pemvakuman. Dalam mesin pendingin ini, refrigeran yang di pakai adalah refrigeran R134a dan R600a. Maka dari itu, mesin pendingin ini perlu divakumkan terlebih dahulu. Sehingga refrigeran yang ada dalam sistem merupakan refrigeran yang murni refrigeran R134a atau refrigeran R600a.

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 Gambar 3.30 Proses pemvakuman Setelah proses pemvakuman selesai, langkah kesebelas adalah pegisian refrigeran. Proses pengisian refrigeran dilakukan hampir bersamaan dengan proses pemvakuman. Proses ini menggunakan manivol yang terdiri dari dua pressure gauge. Pressure gauge tersebut terdiri dari high pressure gauge dan low pressure gauge. Setelah pemvakuman selesai, kran yang ada di sisi high pressure gauge ditutup kemudian kompresor mesin pendingin dinyalakan. Setelah kompresor menyala, kran yang ada di tabung refrigeran dibuka sedikit demi sedikit. Pemberian refrigeran diberikan sesuai dengan tekanan yang diinginkan. Tekanan yang diinginkan didasarkan pada P-h diagram sesuai dengan refrigeran yang digunakan. Gambar 3.31 Proses pengisian refrigeran pada sistem

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 3.4 Pengujian alat Pengujian alat terdiri dari beberapa hal yaitu pengujian kebocoran pada sistem, tekanan dan suhu yang dicapai pada evaporator, dan tekanan dan suhu yang dicapai pada condensser. a. Pengujian kebocoran pada sistem Pengujian kebocoran dilakukan bertujuan agar refrigeran yang ada pada sistem tidak hilang atau keluar dari sistem. Hal ini terkait dengan tekanan yang ada di evaporator dan kondensor. Pengujian kebocoran dilakukan dengan menggunakan media gelembung sabun. Pengujian kebocoran dilakukan pada sambungan antar komponen di mesin pendingin. Sistem diberi tekanan dari luar melalui niple kompresor. Besar tekanan yang diberikan  150 Psi. Jika sambungan kebocoran, maka sambungan tersebut akan di las kembali. b. Tekanan dan suhu yang dicapai evaporator Pengujian tekanan dan suhu pada evaporator menggunakan low pressure gauge yang terpasang pada mesin pendingin dan termometer. Pengujian ini bertujuan mengetahui kesamaan antara data yang didapat dengan P-h diagram dari refrigeran primer yang digunakan. c. Tekanan dan suhu yang dicapai kondensor Pengujian tekanan dan suhu pada kondensor menggunakan high pressure gauge yang terpasang pada mesin pendingin dan termometer. Pengujian ini bertujuan mengetahui kesamaan antara data yang didapat dengan P-h diagram dari refrigeran primer yang digunakan. Yang paling penting adalah temperatur kondensor harus lebih tinggi dari temperatur lingkungan mesin pendingin.

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Obyek uji Obyek uji dalam penelitian ini adalah mesin pendingin berupa freezer. Mesin pendingin di uji karakteristiknya menggunakan dua refrigeran primer yang berbeda yaitu refrigeran R134a dengan refrigeran R600a. Tekanan kerja yang digunakan sebagai acuan adalah tekanan kerja pada evaporator. Tekanan kerja evaporator sebesar 0 psig. Tekanan 0 psig diterapkan pada kedua refrigeran yang akan dibandingkan. Beban pada mesin pendingin berupa cairan ethylen glycol. Ethylen glycol merupakan refrigeran kedua yang digunakan untuk membekukan air sebanyak 0,5 liter. 4.2 Skema alat penelitian Skema mesin pendingin yang digunakan sebagai objek dalam penelitian disajikan pada Gambar 4.1 : 46

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Gambar 4.1 Skema mesin pendingin Keterangan Gambar: 1 : kompresor 8 : high pressure gauge 2 : kondensor 9 : low pressure gauge 3 : filter 10 : thermocouple (T3) 4 : pipa kapiler 11 : thermocouple (T1) 5 : evaporator 12 : thermocouple (T5) 6 : filler hole 13 : thermocouple (T6) 7 : tang meter 14 : thermocouple (T7) 47

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 4.3 Peralatan Penelitian Peralatan-peralatan penelitian yang dipergunakan di dalam penelitian ini meliputi: stopwatch, thermometer, thermocouple, tang meter, low pressure gauge, dan high pressure gauge. Sedangkan alat ukur waktu adalah stopwatch. a. Thermocouple Thermocouple berfungsi sebagai sensor suhu yang perdiri dari 2 kabel yang disatukan. Thermocouple diletakkan atau ditempelkan pada bagian yang akan dicatat temperaturnya. Thermocouple diletakkan pada pipa input kompresor, output kompresor, output kondensor, input evaporator, pada air, dan pada ethylen glycol. b. Thermometer Thermometer adalah alat baca dari input thermocouple. Thermometer menunjukkan nilai dari temperatur yang diukur. Jadi besarnya temperatur dapat diketahui. c. Tang meter Tang meter berfungsi sebagai pengukur arus yang digunakan kompresor. Cara pemakaian tang meter adalah meletakkan kabel kedalam rongga dalam tang meter. Sehingga bersarnya arus dapat diketahui. d. Low pressure gauge Low pressure gauge berfungsi untuk mengetahui tekanan terukur refrigeran pada input dan output evaporator. Fungsi dari mengetahui tekanan terukur refrigeran pada evaporator maka dapat diketahui temperatur dari refrigeran yang ada pada evaporator.

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 e. High pressure gauge High pressure gauge berfungsi untuk mengetahui tekanan terukur refrigeran pada input dan output kondensor. Fungsi dari mengetahui tekanan terukur refrigeran pada kondensor maka dapat diketahui temperatur dari refrigeran yang ada pada kondensor. 4.4 Alur penelitian Alur penelitian dimulai dari mempersiapkan mesin pendingin yang sudah dirakit sampai dengan pengambilan data yang mencakup data menggunakan refrigeran R134a dan data menggunakan refrigeran R600a. Gambar 4.2. menyajikan tahap alur penelitian. Mulai Persiapan: Materi dan komponen alat Pembuatan Mesin Pendingin Pemvakuman Pengisian refrigeran R134a Uji coba masin pendingin A Tidak baik

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 A baik Pengambilan data Pengosongan refrigeran R134a Pemvakuman Pengisian R600a baik Uji coba mesin pendingin Perbaikan Alat Tidak baik Pengamilan data Pengambilan data Pembahasan Kesimpulan Selesai Gambar 4.2. Alur penelitian 4.5 Variasi penelitian Pada penelitian ini, variasi yang diterapkan dalam penelitian ini adalah variasi refrigeran primer. Refrigeran primer yang dibandingkan adalah refrigeran

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 R134a dengan refrigeran R600a. Banyaknya refrigeran yang digunakan berdasarkan pada tekanan evaporator pada mesin pendingin yaitu sebesar 0 psig. 4.6 Cara mendapatkan data Pada penelitian ini, data yang didapat adalah tekanan yang ada pada sistem dan temperatur yang ada pada sistem. Tekanan yang digunakan sebagai data adalah tekanan keluar dari kompresor serta tekanan yang masuk pada evaporator. Temperatur yang digunakan sebagai data adalah temperatur keluar kondensor, temperatur yang keluar ke evaporator, temperatur ethylen glycol, temperatur air yang ada dalam evaporator, temperatur ruangan, dan kuat arus yang digunakan oleh kompresor. Untuk mempermudah dalam pengambilan data, tekanan dan temperatur ditunjukkan dalam simbol :  P1 : tekanan refrigeran keluar kompresor (psig)  P2: tekanan refrigeran masuk evaporator (psig)  T1 : temperatur refrigeran masuk kompresor (oC)  T2 : temperatur refrigeran keluar kompresor (oC)  T3 : temperatur refrigeran keluar kondensor (oC)  T4 : temperatur refrigeran masuk evaporator (oC)  T5 : temperatur air dalam evaporator (oC)  T6 : temperatur ethylen glycol (oC)  T7 : temperatur ruangan sekitar (oC)  I : kuat arus yang digunakan kompresor (ampere)

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 Pengambilan data dilakukan setiap 30 menit selama 6 jam. Data setiap refrigeran diambil selama 3 kali. Jadi total penambilan data dilakukan selama 6 kali. 3 kali penambilan data R600a dan 3 kali untuk pegambilan data R134a. Data-data penelitian yang diperoleh dari hasil yang ditunjukkan alat-alat ukur seperti tekanan, temperatur, arus, dan lain sebagainya yang ditempatkan pada titik-titik terukur yang telah dipilih saat penelitian dilakukan. Data dicatat dalam tabel setiap 30 menit sekali. Berikut adalah tabel penulisan data : Tabel 4.1 Tabel pengisian data dalam penelitian 1 2 3 4 5 Waktu menit 0 30 60 90 120 13 360 No Temperatur (Celcius) T1 T3 T5 T6 T7 Tekanan (Bar) P1 P3 Daya Ampere 4.7 Cara mengolah data Data-data yang didapat dari pengamatan dipergunakan untuk menggambarkan proses kompresi uap di dalam P-h diagram. Dari P-h diagram dapat diketahui nilai-nilai enthalpy di setiap titik yang ditujukan. Dari nilai-nilai enthalpy yang didapat tersebut, dapat dihitung perpindahan kalor per satuan massa dalam evaporator, kerja yang dilakukan per satuan massa yang dilakukan oleh kompresor, perpindahan kalor per satuan massa dalam kondensor, COPaktual, menghitung COPideal dan menghitung efisiensi mesin pendingin. Sedangkan untuk menghitung laju aliran massa refrigeran, maka arus listrik yang digunakan

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 kompresor harus diukur dengan tang meter. Berikut adalah P-h diagram dari refrigeran R134a dan refrigeran R600a serta enthalpy yang didapat. P1 P2 h 3=h 4 h1 h2 Gambar 4.3 Cara pengambilan P-h diagram R134a P1 P2 h 3=h 4 h1 h2 Gambar 4.4 Cara pengambilan P-h diagram R600a

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 4.8 Cara mendapatkan kesimpulan Cara mendapatkan kesimpulan didasarkan pada hasil pengolahan data dan pembahasan yang telah dilakukan. Kesimpulan yang dibuat juga harus menjawab tujuan penelitian yang telah dikemukakan di BAB I.

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil penelitian Tabel 5.1 sampai dengan Tabel 5.6 adalah data penelitian pada mesin pendingin yang didapat dengan memvariasikan refrigeran primer sebagai refrigeran kerja. Refrigeran primer yang digunakan adalah refrigeran R134a dengan refrigeran R600a. Dalam data yang didapat, terdapat notasi yang menjelaskan apa yang terdapat didalam kolom. Penjelasan notasi tersebut adalah sebagai berikut :  T1 merupakan temperatur refrigeran primer yang masuk kompresor.  T3 merupakan temperatur refrigeran primer yang keluar dari kondensor.  T5 air merupakan temperatur air yang berada pada evaporator.  T6 etilen merupakan temperatur dari etilen glikol di evaporator.  T7 lingkungan merupakan temperatur ruangan tempat pengambilan data dilakukan.  P1 merupakan tekanan kerja refrigeran pada kondensor.  P3 merupakan tekanan kerja refrigeran pada evaporator. Data hasil penelitian mesin pendingin dengan R134a dan R600a yang didapat dari waktu ke waktu, disajikan pada Tabel 5.1 sampai dengan Tabel 5.6 : 55

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 Tabel 5.1 Data penelitian untuk refrigeran R134a pada hari pertama selama 6 jam. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Waktu menit 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 T1 27,2 35,6 34,6 34,4 33 33,4 33,1 37,7 31,5 32,2 34 31,4 36,3 Temperatur (Celcius) T3 T5 T6 T7 26,6 27,3 26,3 27 35,8 19 15,7 27 36,4 12 7,5 28 37,3 6,6 1,7 28 37,5 3,5 -3,7 28 37,7 1,1 -7,8 28 37,8 0,5 -10,1 28 36,5 -1,0 -13,5 28 36,8 -2,4 -15,7 28 36,3 -3,7 -16,1 28 36,1 -3,8 -16,7 28 37,4 -4,8 -17,4 28 35,7 -5,8 -17,9 28 Tekanan (Bar) P1 P3 60 60 11,36 1,01 11,70 1,01 11,36 1,01 11,70 1,01 11,70 1,01 11,70 1,01 11,36 1,01 11,36 1,01 11,36 1,01 11,01 0,98 11,36 0,98 11,01 0,98 Arus listrik Ampere 0,68 0.68 0,66 0,65 0,66 0,66 0,65 0,65 0,66 0,67 0,66 0,67 Tabel 5.2 Data penelitian untuk refrigeran R134a pada hari kedua selama 6 jam. No Waktu menit 1 0 2 30 3 60 4 90 5 120 6 150 7 180 8 210 9 240 10 270 11 300 12 330 13 360 T1 27,2 35,1 36,8 38 36,1 35,2 34,8 33,5 32,3 31,5 32,6 32,1 32,8 Temperatur (Celcius) T3 T5 T6 T7 26,6 27,3 26,3 27 35,7 23,3 16 27 36,4 17,7 7,4 28 36,7 12,1 0,9 28 36,7 7,2 -4,1 28 37,1 3,5 -8,2 28 36,6 2,2 -10,9 28 36,8 0,3 -13,8 28 37,4 -0,7 -15,9 28 36,5 -1,3 -15,7 28 36,1 -2,8 -16,6 28 37,5 -4,1 -17,4 28 36 -4,6 -17,7 28 Tekanan (Bar) P1 P3 60 60 11,01 1,01 11,01 1,01 11,36 1,01 11,36 1,01 11,36 1,01 11,36 1,01 11,36 1,01 11,36 0,98 11,01 1,01 11,01 1,01 11,36 1,01 11,01 1,01 Arus listrik Ampere 0,66 0,65 0,67 0,67 0,68 0,68 0,67 0,69 0,65 0,71 0,7 0,69

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 Tabel 5.3 Data penelitian untuk refrigeran R134a pada hari ketiga selama 6 jam. No Waktu menit 1 0 2 30 3 60 4 90 5 120 6 150 7 180 8 210 9 240 10 270 11 300 12 330 T1 27,2 36,9 38,3 35,6 36,8 34 33 32,2 33,2 32,1 33,3 33,3 13 33.4 360 Temperatur (Celcius) T3 T5 T6 T7 26,6 27,3 26,3 27 34,9 23,5 15,8 27 36 18 8,9 28 38,1 12,3 2 28 37,4 7,4 -3 28 37 2,7 -7,3 28 36,8 1,6 -10 28 36,9 0,0 -12,2 28 36,5 -1,1 -14,3 28 36,8 -1,4 -15,8 28 36,7 -2,6 -15,1 28 37,6 -3,7 -15,4 28 37.4 -4.2 -15.9 28 Tekanan (Bar) P1 P3 60 60 11,01 1,01 11,22 1,01 11,36 1,01 11,36 1,01 11,36 1,01 11,36 1,01 11,36 1,01 11,36 1,01 11,36 1,01 11,36 1,01 11,36 1,01 11.36 1.01 Arus listrik Ampere 0,68 0,68 0,68 0,68 0,67 0,69 0,68 0,68 0,67 0,69 0,69 0.68 Tabel 5.4 Data penelitian untuk refrigeran R600a pada hari pertama selama 6 jam. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Waktu menit 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 T1 27,2 33,4 27,1 20,9 14,9 14,2 11,2 8,6 9,7 8,3 7,4 8,3 9,4 Temperatur (Celcius) T3 T5 T6 T7 26,6 27,3 26,3 27 32,6 20,7 11,2 27 33,1 10,7 -2,8 28 32,2 5 -5,9 28 32,1 1,9 -6,7 28 32,7 0,6 -7,2 28 32,7 -0,2 -7,4 28 32,5 -1,6 -7,8 28 32,5 -3,4 -8,2 28 32,7 -4,6 -8,5 28 33 -5,6 -8,7 28 32,6 -6,1 -8,9 28 32,7 -6,6 -9 28 Tekanan (Bar) P1 P3 60 60 8,60 1,08 8,25 1,08 7,91 1,08 7,77 1,01 7,91 1,01 7,91 1,01 7,91 1,01 7,77 1,01 7,77 1,01 7,77 1,01 7,56 1,01 7,56 1,01 Arus listrik Ampere 0,68 0,68 0,68 0,68 0,67 0,69 0,68 0,68 0,67 0,69 0,69 0,68

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 Tabel 5.5 Data penelitian untuk refrigeran R600a pada hari kedua selama 6 jam. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Waktu menit 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 T1 27,2 32,3 28,8 24,4 18,7 14,9 13,3 11,8 7,6 7,5 7,5 8,6 6,9 Temperatur (Celcius) T3 T5 T6 T7 26,6 27,3 26,3 27 31,1 22,6 5,4 27 32,1 14,8 -4,4 28 32,8 8,8 -6,8 28 32,5 5 -7,4 28 33,1 3,8 -8 28 32,4 1,3 -8,5 28 31,9 -1,1 -8,8 28 32,3 -2,9 -8,9 28 32,5 -3,8 -9 28 32,7 -5 -9,1 28 33,4 -5,7 -9,2 28 33 -6,1 -9,1 28 Tekanan (Bar) P1 P3 60 60 7,91 1,01 7,56 1,08 7,56 1,01 7,91 1,01 7,63 1,01 7,56 1,01 7,56 1,01 7,77 1,01 7,77 1,01 7,77 1,01 7,56 1,01 7,91 1,01 Arus listrik Ampere 0,68 0,68 0,68 0,68 0,67 0,69 0,68 0,68 0,67 0,69 0,69 0,68 Tabel 5.6 Data penelitian untuk refrigeran R600a pada hari ketiga selama 6 jam. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Waktu menit 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 T1 27,2 32,3 26,6 21,7 16 14,2 11,4 11,6 8,3 6,8 8,4 6,7 7,6 Temperatur (Celcius) T3 T5 T6 T7 26,6 27,3 26,3 27 32 24,8 5,8 27 33,1 17,9 -2,4 28 32,2 11,4 -4,6 28 32,7 6,3 -6 28 32,6 3,3 -6,6 28 32,9 0,4 -7,5 28 33,6 -1,9 -8 28 33 -3,7 -8,4 28 32,9 -4,8 -8,6 28 32,4 -5,5 -8,8 28 33,3 -6,1 -9 28 32,3 -6,5 -8,5 28 Tekanan (Bar) P1 P3 60 60 7,91 1,01 7,91 1,08 7,91 1,01 7,56 1,01 7,56 1,01 7,56 1,01 7,56 1,01 7,56 1,01 7,56 1,01 7,60 1,01 7,56 1,01 7,91 1,01 Arus listrik Ampere 0,68 0,68 0,68 0,68 0,67 0,69 0,68 0,68 0,67 0,69 0,69 0,68 Data-data yang ditunjukkan pada Tabel 5.1 sampai dengan Tabel 5.6 merupakan data yang diambil dari alat ukur yang digunakan. Alat ukur yang

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 digunakan adalah low pressure gauge, high pressure gauge, dan thermocouple. Dari data yang telah didapat, data-data tersebut digunakan untuk menentukan enthalpy yang terdapat dalam P-h diagram. Gambar 5.1 P-h diagram Pada data enthalpy yang telah didapat ditunjukkan pada notasi sebagai berikut :  h1 merupakan nilai enthalpy refrigeran yang ditunjukkan di titik 1.  h2 merupakan nilai enthalpy refrigeran yang ditunjukkan di titik 2.  h3 merupakan nilai enthalpy refrigeran yang ditunjukkan di titik 3.  h4 merupakan nilai enthalpy refrigeran yang ditunjukkan di titik 4.  a merupakan pendinginan lanjut.  b merupakan pemanasan lanjut.

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Notasi tersebut berlaku untuk kedua refrigeran yang akan dibandingkan. Tabel 5.7 sampai dengan Tabel 5.12 adalah data enthalpy refrigeran R134a dan refrigeran R600a yang ditunjukkan dari waktu ke waktu : Tabel 5.7 Data penelitian untuk enthalpy refrigeran R134a pada hari pertama selama 6 jam. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Waktu menit 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 h1 kJ/kg 434,81 436,07 433,64 434,72 432,2 431,3 430,58 431,48 430,49 431,57 431,57 431,66 h2 kJ/kg 498,7 499,5 496,9 499,1 496,9 495,8 493,23 493,6 492,16 493,6 493,6 491,09 h3 kJ/kg 248,35 250 253,15 252,1 251,5 251,2 251,35 250,75 251,2 251,05 252,4 252,1 h4 kJ/kg 248,35 250 253,15 252,1 251,5 251,2 251,35 250,75 251,2 251,05 252,4 252,1 Tabel 5.8 Data penelitian untuk enthalpy refrigeran R134a pada hari ketiga selama 6 jam. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Waktu menit 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 h1 kJ/kg 433,19 434,72 435,8 434,09 433,28 432,92 431,75 430,67 429,95 430,94 430,49 431,12 h2 kJ/kg 497,6 498,7 498 499,1 495,8 496,9 493,23 493,6 490,08 492,34 492,16 491,21 h3 kJ/kg 249,55 250,6 251,05 251,05 251,65 250,9 251,2 252,1 250,75 250,15 252,25 250 h4 kJ/kg 249,55 250,6 251,05 251,05 251,65 250,9 251,2 252,1 250,75 250,15 252,25 250

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Tabel 5.9 Data penelitian untuk enthalpy refrigeran R134a pada hari ketiga selama 6 jam. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Waktu menit 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 h1 kJ/kg 434,81 436,07 433,64 434,72 432,2 431,3 430,58 431,48 430,49 431,57 431,57 431,66 h2 kJ/kg 498,7 499,5 496,9 499,1 496,9 495,8 493,23 493,6 492,16 493,6 493,6 491,09 h3 kJ/kg 248,35 250 253,15 252,1 251,5 251,2 251,35 250,75 251,2 251,05 252,4 252,1 h4 kJ/kg 248,35 250 253,15 252,1 251,5 251,2 251,35 250,75 251,2 251,05 252,4 252,1 Tabel 5.10 Data penelitian untuk enthalpy refrigeran R600a pada hari pertama selama 6 jam. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Waktu menit 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 h1 kJ/kg 614,033 603,166 592,298 582,57 581,452 576,658 572,431 574,245 571,937 570,453 571,937 573,751 h2 kJ/kg 711,1 692,6 679,3 667,0 670,9 665,6 658,2 654,42 652,36 650,3 650,77 652,78 h3 kJ/kg 277,045 278,283 276,055 275,808 277,293 277,293 276,798 276,798 277,293 278,035 277,045 277,293 h4 kJ/kg 277,045 278,283 276,055 275,808 277,293 277,293 276,798 276,798 277,293 278,035 277,045 277,293

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 Tabel 5.11 Data penelitian untuk enthalpy refrigeran R600a pada hari kedua selama 6 jam. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Waktu menit 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 h1 h2 h3 h4 kJ/kg kJ/kg kJ/kg kJ/kg 615,608 706,3 273,333 273,333 606,146 692,3 275,808 275,808 600,47 686,1 277,54 277,54 588,643 675,1 276,798 276,798 582,57 669,3 278,283 278,283 580,013 660,8 276,55 276,55 577,616 665,0 275,313 275,313 570,782 671,34 276,303 276,303 570,618 673,452 276,798 276,798 570,618 671,34 277,293 277,293 572,431 650,77 279,025 279,025 569,628 652,056 278,035 278,035 Tabel 5.12 Data penelitian untuk enthalpy refrigeran R600a pada hari ketiga selama 6 jam. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Waktu menit 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 h2 h1 kJ/kg kJ/kg 615,608 706,3 602,29 687,6 594,487 683,5 584,328 669,3 581,452 667,2 576,977 656,8 577,297 660,82 571,937 652,78 569,463 646,75 572,102 650,75 569,298 646,75 570,782 654,117 h3 kJ/kg 275,56 278,283 276,055 277,293 277,045 277,788 279,52 278,035 277,788 276,55 278,778 276,303 h4 kJ/kg 275,56 278,283 276,055 277,293 277,045 277,788 279,52 278,035 277,788 276,55 278,778 276,303 Dengan data enthalpy yang didapat, maka dapat dilakukan perhitungan untuk mengetahui karakteristik mesin pendingin.

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 5.2 Perhitungan Dalam pengolahan data yang didapat, perhitungan dilakukan untuk dua refrigeran yang dibandingkan. Data kedua refrigeran diambil dengan tekanan evaporator yang sama yaitu 0 psig. Perhitungan ditujukan untuk refrigeran R134a dan refrigeran R600a. 5.2.1 Perhitungan untuk refrigeran R134a Data yang digunakan untuk perhitungan refrigeran R134a menggunakan data Tabel 5.1 pada menit ke 30. Data yang akan dihitung adalah data dari data hari pertama. Perhitungan dilakukan terhadap QC , Win , Q H , COPaktual , COPideal , efisiensi, dan m : a. Perpindahan energi kalor per satuan massa refrigeran pada evaporator ( Q C ) Perpindahan energi kalor per satuan massa massa pada evaporator dapat dihitung menggunakan persamaan (2.1) : QC  h1  h4 QC  433,64 kJ kg  249,7 kJ kg QC  183,94 kJ kg Jadi perpindahan energi kalor per satuan massa refrigeran pada evaporator adalah 183,94 kJ/kg. b. Kerja kompresor per satuan massa refrigeran ( W in ) Kerja yang dilakukan per satuan massa refrigeran pada kompresor dapat dihitung menggunakan persamaan (2.2) : W in  h 2  h1

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 W in  499 ,1 kJ kg  433 ,64 kJ kg W in  65,5 kJ kg Jadi kerja yang dilakukan per satuan massa refrigeran pada kompresor adalah 65,5 kJ/kg. c. Perpindahan energi kalor per satuan massa refrigeran pada kondensor ( Q H ) Perpindahan energi kalor per satuan massa refrigeran pada kondensor dapat dihitung menggunakan persamaan (2.3) : Q H  h 2  h3 Q H  499 .1 kJ kg  249 ,7 kJ kg Q H  249 ,4 kJ kg Jadi perpindahan energi kalor per satuan massa refrigeran pada kondensor adalah 249,4 kJ/kg. d. COP aktual COP aktual dari mesin pendingin tersebut dapat dihitung menggunakan persamaan (2.5) : COPaktual  QC h1  h4  Win h2  h1 COPaktual  183,94 kJ kg 65,5 kJ kg COPaktual  2,809 Jadi COP aktual dari mesin pendingin adalah 2,809.

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 e. COP ideal COP ideal dari mesin pendingin tersebut dapat dihitung menggunakan persamaan (2.6) : COPaktual  TC TH  TC COPaktual   26,4  273,16K 43,5  273,16K   26,4  273,16K COPaktual  3,547 Jadi COP ideal dari mesin pendingin adalah 3,547. f. Efisiensi mesin pendingin (  ) Efisiensi dari mesin pendingin tersebut dapat dihitung dengan persamaan (2.8) :  COPaktual COPideal  2,809 3,547  h1  h4    h h    2 1  TC     TH  TC    0,792 Efisiensi dari mesin pendingin tersebut adalah 0,792. g. Daya kompresor (P) Daya kompresor dari mesin pendingin diambil dari arus listrik yang dikonsumsi oleh kompresor menggunakan tang meter. Tegangan listrik yang dikonsumsi adalah 220 volt. Maka, daya kompresor dari mesin pendingin dapat menggunakan persamaan (2.9) :

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 P  I V P  0,68 ampere  220 volt P  149,6 watt Jadi daya yang dikonsumsi kompresor adalah 149,6 watt. h. Laju aliran massa refrigeran ( m ) Laju aliran massa refrigeran dapat dihitung menggunakan persamaan (2.10) : m  P (h2  h1 ) m  149,6 watt 65,5 kJ kg m  149,6 J s 65500 J kg   0,0023kg s m Maka laju aliran massa refrigeran pada mesin pendingin adalah 0,0023 kg/s. 5.2.2 Perhitungan untuk refrigeran R600a Data yang digunakan untuk perhitungan refrigeran R600a menggunakan data Tabel 5.10 pada menit ke 30. Data yang akan dihitung adalah data dari data hari pertama. Perhitungan dilakukan terhadap QC , Win , Q H , COPaktual , COPideal , efisiensi, dan m :

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 a. Perpindahan energi kalor per satuan massa refrigeran pada evaporator ( QC ) Perpindahan energi kalor per satuan massa refrigeran pada evaporator dapat dihitung menggunakan persamaan (2.1) : QC  h1  h4 QC  614 ,033 kJ kg  277 ,045 kJ kg QC  336,98 kJ kg Jadi perpindahan energi kalor per satuan massa refrigeran pada evaporator adalah 336,98 kJ/kg. b. Kerja kompresor per satuan massa refrigeran ( Win ) Kerja yang dilakukan per satuan massa refrigeran pada kompresor dapat dihitung menggunakan persamaan (2.2) : W in  h 2  h1 W in  711,1 kJ kg  614 ,033 kJ kg W in  97 ,04 kJ kg Jadi kerja yang dilakukan per satuan massa refrigeran pada kompresor adalah 97,04 kJ/kg. c. Perpindahan energi kalor per satuan massa refrigeran pada kondensor ( Q H ) Perpindahan energi kalor per satuan massa refrigeran pada kondensor dapat dihitung menggunakan persamaan (2.3) : Q H  h 2  h3 Q H  711,1 kJ kg  277 ,045 kJ kg Q H  434 ,05 kJ kg

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 Jadi perpindahan energi kalor per satuan massa refrigeran pada kondensor adalah 434,05 kJ/kg. d. COP aktual COP aktual dari mesin pendingin tersebut dapat dihitung menggunakan persamaan (2.5) : COPaktual  QC h1  h4  Win h2  h1 COPaktual  336,988 kJ kg 97,04 kJ kg COPaktual  3,472 Jadi coefficient of perfrmance aktual dari mesin pendingin adalah 3,472. e. COP ideal COP ideal dari mesin pendingin tersebut dapat dihitung menggunakan persamaan (2.6) : COPaktual  TC TH  TC COPaktual   10,8  273,16K 58,5  273,16K   10,8  273,16K COPaktual  3,779 Jadi COP ideal dari mesin pendingin adalah 3,779. f. Efisiensi mesin pendingin (  ) Efisiensi dari mesin pendingin tersebut dapat dihitung dengan persamaan (2.8) :

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI  COPaktual COPideal  3,472 3,779 69  h1  h4    h2  h1     TC     T T C   H   0,918 Efisiensi dari mesin pendingin tersebut adalah 0,918. g. Daya kompresor (P) Daya kompresor dari mesin pendingin diambil dari arus listrik yang dikonsumsi oleh kompresor menggunakan tank meter. Tegangan listrik yang dikonsumsi adalah 220 volt. Maka, daya kompresor dari mesin pendingin dapat menggunakan persamaan (2.9) : P  I V P  0,68 ampere  220 volt P  149,6 watt Jadi daya yang dikonsumsi kompresor adalah 149,6 watt. h. Laju aliran massa refrigeran ( m ) Laju aliran massa refrigeran dapat dihitung menggunakan persamaan (2.10) : m  P (h2  h1 ) m  149,6 watt 97,04 kJ kg

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI m  70 149,6 J s 97040 kJ kg   0,0016kg s m Maka laju aliran massa refrigeran pada mesin pendingin adalah 0,0016 kg/s. Untuk data-data yang lain, dengan cara yang sama maka dapat diketahui nilai QC , Win , Q H , COPaktual , COPideal , efisiensi, dan m dari waktu ke waktu baik untuk refrigeran R134a maupun refrigeran R600a : Tabel 5.13 hasil perhitungan untuk refrigeran R134a pada hari pertama dari waktu ke waktu. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Waktu menit 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 COP COP P m efisiensi kJ/kg kJ/kg kJ/kg aktual ideal watt kg/s 183,94 249,4 65,5 2,81 3,55 0,79 149,6 0,0023 182,14 245,6 63,5 2,87 3,51 0,82 149,6 0,0024 180,61 241,7 61,0 2,96 3,55 0,83 145,2 0,0024 179,05 242,9 63,8 2,81 3,51 0,80 143 0,0022 179,11 243,7 64,5 2,78 3,51 0,79 145,2 0,0022 178,69 241,3 62,6 2,85 3,51 0,81 145,2 0,0023 184,78 246,2 61,4 3,01 3,55 0,85 143 0,0023 178,75 241,0 62,2 2,87 3,55 0,81 143 0,0023 180,13 242,8 62,7 2,88 3,55 0,81 145,2 0,0023 182,05 243,3 61,3 2,97 3,61 0,82 147,4 0,0024 177,76 240,1 62,3 2,85 3,52 0,81 145,2 0,0023 184,72 248,1 63,3 2,92 3,61 0,81 147,4 0,0023 QC QH Win Tabel 5.14 hasil perhitungan untuk refrigeran R134a pada hari kedua dari waktu ke waktu. No 1 2 3 4 5 Waktu menit 30 60 90 120 150 COP COP P m efisiensi kJ/kg kJ/kg kJ/kg aktual ideal watt kg/s 183,64 248,1 64,4 2,85 3,64 0,78 145,2 0,0023 184,12 248,1 64,0 2,88 3,64 0,79 143 0,0022 184,75 247,0 62,2 2,97 3,55 0,84 147,4 0,0024 183,04 248,1 65,0 2,82 3,55 0,79 147,4 0,0023 181,63 244,2 62,5 2,91 3,55 0,82 149,6 0,0024 QC QH Win

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 Tabel 5.14 hasil perhitungan untuk refrigeran R134a pada hari kedua dari waktu ke waktu lanjutan. No 6 7 8 9 10 11 12 Waktu menit 180 210 240 270 300 330 360 P m COP COP efisiensi kJ/kg kJ/kg kJ/kg aktual ideal watt kg/s 182,02 246,0 64,0 2,84 3,55 0,80 149,6 0,0023 180,55 242,0 61,5 2,94 3,55 0,83 147,4 0,0024 178,57 241,5 62,9 2,84 3,52 0,81 151,8 0,0024 179,2 239,3 60,1 2,98 3,64 0,82 143 0,0024 180,79 242,2 61,4 2,94 3,64 0,81 156,2 0,0025 178,24 239,9 61,7 2,89 3,55 0,81 154 0,0025 181,12 241,2 60,1 3,01 3,64 0,83 151,8 0,0025 QC QH Win Tabel 5.15 hasil perhitungan untuk refrigeran R134a pada hari ketiga dari waktu ke waktu. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Waktu menit 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 COP COP P m efisiensi kJ/kg kJ/kg kJ/kg aktual ideal watt kg/s 186,46 250,4 63,9 2,92 3,64 0,80 149,6 0,0023 186,07 249,5 63,4 2,93 3,57 0,82 149,6 0,0024 180,49 243,8 63,3 2,85 3,55 0,80 149,6 0,0024 182,62 247,0 64,4 2,84 3,55 0,80 149,6 0,0023 180,7 245,4 64,7 2,79 3,55 0,79 147,4 0,0023 180,1 244,6 64,5 2,79 3,55 0,79 151,8 0,0024 179,23 241,9 62,7 2,86 3,55 0,81 149,6 0,0024 180,73 242,9 62,1 2,91 3,55 0,82 149,6 0,0024 179,29 241,0 61,7 2,91 3,55 0,82 147,4 0,0024 180,52 242,6 62,0 2,91 3,55 0,82 151,8 0,0024 179,17 241,2 62,0 2,89 3,55 0,81 151,8 0,0024 179,56 239,0 59,4 3,02 3,55 0,85 149,6 0,0025 QC QH Win Tabel 5.16 hasil perhitungan untuk refrigeran R600a pada hari pertama dari waktu ke waktu. No 1 2 3 4 5 Waktu menit 30 60 90 120 150 QC QH Win kJ/kg 336,99 324,88 316,24 306,76 304,16 kJ/kg 434,0 414,3 403,3 391,2 393,6 kJ/kg 97,04 89,41 87,03 84,43 89,42 P m COP COP efisiensi Actual ideal watt kg/s 3,47 3,78 0,92 149,6 0,0015 3,63 3,85 0,94 149,6 0,0017 3,63 3,95 0,92 149,6 0,0017 3,63 3,95 0,92 149,6 0,0018 3,40 3,87 0,88 147,4 0,0016

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Tabel 5.16 hasil perhitungan untuk refrigeran R600a pada hari pertama dari waktu ke waktu lanjutan. No 6 7 8 9 10 11 Waktu menit 180 210 240 270 300 330 QC QH Win kJ/kg 299,37 295,63 297,45 294,64 292,42 294,89 kJ/kg 388,3 381,4 377,6 375,1 372,3 373,7 kJ/kg 88,93 85,81 80,17 80,42 79,85 78,83 P m COP COP efisiensi aktual ideal watt kg/s 3,37 3,87 0,87 151,8 0,0017 3,45 3,87 0,89 149,6 0,0017 3,71 3,95 0,94 149,6 0,0019 3,66 3,95 0,93 147,4 0,0018 3,66 3,95 0,93 151,8 0,0019 3,74 4,01 0,93 151,8 0,0019 Tabel 5.17 hasil perhitungan untuk refrigeran R600a pada hari kedua dari waktu ke waktu. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Waktu menit 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 QC QH Win kJ/kg 342,28 330,34 322,93 311,85 304,29 303,46 302,30 294,48 293,82 293,33 293,41 291,59 kJ/kg 433,0 416,5 408,5 398,3 391,0 384,3 389,7 395,0 396,7 394,0 371,7 374,0 kJ/kg 90,7 86,1 85,6 86,5 86,7 80,8 87,4 100,6 102,8 100,7 78,3 82,4 COP COP P m efisiensi aktual ideal watt kg/s 3,77 3,87 0,97 149,6 0,0016 3,84 4,09 0,94 149,6 0,0017 3,77 4,01 0,94 149,6 0,0017 3,61 3,87 0,93 149,6 0,0017 3,51 4,00 0,88 147,4 0,0017 3,76 4,01 0,94 151,8 0,0019 3,46 4,01 0,86 149,6 0,0017 2,93 3,95 0,74 149,6 0,0015 2,86 3,95 0,72 147,4 0,0014 2,91 3,95 0,74 151,8 0,0015 3,75 4,01 0,93 151,8 0,0019 3,54 3,87 0,91 149,6 0,0018 Tabel 5.18 hasil perhitungan untuk refrigeran R600a pada hari ketiga dari waktu ke waktu. No 1 2 3 4 5 Waktu menit 30 60 90 120 150 COP COP P m efisiensi kJ/kg kJ/kg kJ/kg aktual ideal watt kg/s 0,97 149,6 0,0016 340,05 430,7 90,7 3,75 3,87 0,96 149,6 0,0018 324,01 409,3 85,3 3,80 3,95 318,43 407,4 89,0 3,58 3,87 0,92 149,6 0,0017 0,90 149,6 0,0018 307,04 392,0 84,9 3,61 4,01 304,41 390,1 85,7 3,55 4,01 0,89 147,4 0,0017 QC QH Win

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Tabel 5.18 hasil perhitungan untuk refrigeran R600a pada hari ketiga dari waktu ke waktu lanjutan. No 6 7 8 9 10 11 Waktu menit 180 210 240 270 300 330 P m COP COP efisiensi kJ/kg kJ/kg kJ/kg aktual ideal watt kg/s 0,94 151,8 0,0019 299,19 379,0 79,8 3,75 4,01 297,78 381,3 83,5 3,57 4,01 0,89 149,6 0,0018 0,91 149,6 0,0019 293,90 374,7 80,8 3,64 4,01 291,68 369,0 77,3 3,77 4,01 0,94 147,4 0,0019 295,55 374,2 78,6 3,76 4,71 0,80 151,8 0,0019 0,94 151,8 0,0020 290,52 368,0 77,5 3,75 4,01 QC QH Win 5.3 Pembahasan Pembahasan dari penelitian ini berdasarkan dari data dan hasil perhitungan yang dilakukan. Beberapa hal yang dibandingkan antara lain perpindahan energi kalor per satuan massa pada evaporator, kerja kompresor per satuan massa, perpindahan kalor per satuan massa pada kondensor, COP aktual, COP ideal, efisiensi, daya kompresor yang digunakan, dan laju aliran massa refrigeran. dari hasil tersebut maka didapat kecenderungan dari refrigeran yang diteliti dari setiap pembahasan. Berikut adalah pembahasan dari perbandingan penggunaan refrigeran R134a dan R600a : a. Perpindahan energi kalor per satuan massa refrigeran pada evaporator ( Q C ) Perbandingan perpindahan energi kalor per satuan massa pada evaporator antara refrigeran R134a dan refrigeran R600a ditunjukkan pada Gambar (5.1) :

(94) Kalor yang di serap evaporator (kJ/kg) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 400 350 300 250 200 150 R134a 100 R600a 50 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 Waktu, t (menit) Gambar 5.2 Grafik perbandingan perpindahan energi kalor per satuan massa pada evaporator dari waktu ke waktu. Pada Gambar 5.1 menunjukkan bahwa refrigeran R600a mampu menyerap kalor lebih tinggi dari pada refrigeran R134a pada tekanan evaporator sebesar 0 psig. Pada Gambar 5.3 dan Gambar 5.4 menunjukkan kecenderungan dari kalor yang diserap oleh refrigeran R134a dan R600a. Kalor yang di serap evaporator (kJ/kg) 350 300 250 200 150 100 50 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 Waktu (menit) Gambar 5.3 Grafik perpindahan energi kalor per satuan massa pada evaporator dari waktu ke waktu pada refrigeran R134a. Pada Gambar 5.3 menunjukkan energi kalor yang diserap pada evaporator untuk refrigeran R134a. Refrigeran R134a dalam menyerap kalor pada evaporator

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 mempunyai kecenderungan setabil dalam menyerap. Waktu penelitian berawal dari menit ke 30 sampai menit ke 360. Perpindahan kalor yang terendah bernilai 177,76 kJ/kg dan nilai tertinggi 184,78 kJ/kg serta nilai rata-rata dari perpindahan Kalor yang di serap evaporator (kJ/kg) kalor yang terjadi pada evaporator mesin pendingin adalah 180,97 kJ/kg. 500 400 300 200 100 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 Waktu (menit) Gambar 5.4 Grafik perpindahan energi kalor per satuan massa pada evaporator dari waktu ke waktu pada refrigeran R600a. Pada Gambar 5.3 menunjukkan energi kalor yang diserap pada evaporator untuk refrigeran R600a. Refrigeran R600a dalam menyerap kalor pada evaporator mempunyai kecenderungan setabil dalam menyerap kalor. Waktu penelitian berawal dari menit ke 30 sampai menit ke 360. Perpindahan kalor yang terendah dari lingkungan ke sistem bernilai 292,42 kJ/kg dan nilai tertinggi 336,99 kJ/kg serta nilai rata-rata dari perpindahan kalor yang terjadi di evaporator mesin pendingin adalah 304,99 kJ/kg. Dari hasil rata-rata perbandingan diatas, menunjukkan bahwa rata-rata kalor yang diserap oleh sistem dengan menggunakan refrigeran R134a adalah 180,97 kJ/kg dan rata-rata dari kalor yang diserap oleh sistem dengan menggunakan refrigeran R600a adalah 304,99 kJ/kg. Dari hasil rata-rata

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 penyerapan kalor pada evaporator menunjukan bahwa, nilai enthalpy yang diserap oleh sistem dengan menggunakan refrigeran R600a mempunyai nilai lebih tinggi bila dibandingkan dengan R134a pada tekanan kerja evaporator yang sama yaitu 0 psig. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan refrigeran R600a mempunyai kemampuan menyerap kalor lebih baik dari refrigeran R134a pada tekanan kerja 0 psig pada evaporator. b. Kerja kompresor per satuan massa massa refrigeran ( W in ) Tekanan kerja yang menjadi dasar adalah tekanan kerja evaporator yang sama antar refrigeran R134a dan R600a. Kompresor bekerja pada tekanan kerja evaporator sebesar 0 psig. Perbandingan kerja kompresor per satuan massa antara refrigeran R134a dan refrigeran R600a ditunjukkan pada Gambar 5.5. Kerja compressor (kJ/kg) 120 100 80 60 R134a 40 R600a 20 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 Waktu, t (menit) Gambar 5.5 Grafik perbandingan kerja kompresor per satuan massa dari waktu ke waktu. Pada gambar 5.5 menunjukkan bahwa dengan menggunakan kapasitas kompresor yang sama, refrigeran R600a mampu menghasilkan kerja lebih tinggi

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 dari pada refrigeran R134a pada tekanan 0 psig pada evaporator. Pada Gambar 5.6 dan Gambar 5.7 menunjukkan kecenderungan dari kerja yang dilakukan kompresor oleh refrigeran R134a dan R600a. Kerja compressor (kJ/kg) 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 Waktu (menit) Gambar 5.6 Grafik kerja kompresor per satuan massa dari waktu ke waktu pada refrigeran R134a. Pada Gambar 5.6 menunjukkan kerja kompresor pada mesin pendingin dengan menggunakan refrigeran R134a. Kerja kompresor pada mesin pendingin ini menujukkan kecenderungan bekerja secara setabil. Kesetabilan kerja yang diberikan kompresor, ditunjukkan dari 30 menit pertama sampai proses pengambikan data selesai. Waktu penelitian berawal dari menit ke 30 sampai menit ke 360. Kerja kompresor terendah yang diberikan ke sistem bernilai 61 kJ/kg dan nilai tertinggi 65,5 kJ/kg serta nilai rata-rata dari kerja kompresor yang diberikan oleh kompresor pada mesin pendingin adalah 62,68 kJ/kg untuk refrigeran R134a pada tekanan kerja 0 psig pada evaporator.

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 180 Kerja compressor (kJ/kg) 160 140 120 100 80 60 40 20 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 Waktu (menit) Gambar 5.7 Grafik kerja kompresor per satuan massa dari waktu ke waktu pada refrigeran R600a. Pada Gambar 5.7 menunjukkan kerja yang dilakukan kompresor pada saat menggunakan refrigeran R600a. Kerja kompresor pada mesin pendingin ini menujukkan kecenderungan memberikan kerja ke sistem secara setabil. Waktu penelitian berawal dari menit ke 30 sampai menit ke 360. Kerja kompresor terendah yang diberikan ke sistem bernilai 78,83 kJ/kg dan nilai tertinggi 97,04 kJ/kg serta nilai rata-rata dari kerja kompresor yang diberikan oleh kompresor pada mesin pendingin adalah 85,01 kJ/kg. Dari hasil rata-rata perbandingan diatas, menunjukkan bahwa rata-rata kerja yang diberikan kompresor ke sistem dengan menggunakan refrigeran R134a adalah 62,68 kJ/kg dan rata-rata dari kerja kompresor ke sistem dengan menggunakan refrigeran R600a adalah 85,01 kJ/kg. Dari hasil rata-rata kerja kompresor menunjukkan bahwa, enthalpy pada saat menggunakan refrigeran R600a lebih besar dari pada R134a. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 penggunaan refrigeran R600a memberikan kerja ke sistem lebih besar dari pada penggunaan refrigeran R134a pada tekanan kerja 0 psig pada evaporator. c. Perpindahan energi kalor per satuan massa refrigeran pada kondensor ( Q L ) Perbandingian perpindahan energi kalor per satuan massa pada kondensor dari sistem kelingkungan antara refrigeran R134a dan refrigeran R600a Kalor yang di serap condenser (kJ/kg) ditunjukkan pada Gambar 5.8 : 500 450 400 350 300 250 200 R134a 150 R600a 100 50 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 Waktu, t (menit) Gambar 5.8 Grafik perbandingan perpindahan energi kalor per satuan massa pada kondensor dari waktu ke waktu. Pada Gambar 5.8 menunjukkan bahwa refrigeran R600a mampu melepas kalor lebih tinggi dari pada refrigeran R134a pada tekanan 0 psig pada evaporator. Pada Gambar 5.9 dan Gambar 5.10 menunjukkan kecenderungan dari kalor yang dilepas oleh refrigeran R134a dan R600a ke lingkungan dari sistem.

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 Kalor yang di serap condenser (kJ/kg) 500 450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 Waktu (menit) Gambar 5.9 Grafik perpindahan energi kalor per satuan massa pada kondensor dari waktu ke waktu pada refrigeran R134a. Pada Gambar 5.9 menunjukkan energi kalor yang dilepas dari sistem ke lingkungan pada kondensor untuk refrigeran R134a. Kemampuan refrigeran R134a dalam melepas kalor pada kondensor mempunyai kecenderungan setabil. Kesetabilan R134a dalam melepas kalor kelingkungan ditunjukkan pada saat 30 menit pertama sampai dengan penganbilan data selesai. Perpindahan kalor dari sistem ke lingkungan yang terendah dengan menggunakan refrigeran R134a bernilai 240,1 kJ/kg dan nilai tertinggi 249,4 kJ/kg serta nilai rata-rata dari perpindahan kalor dari sistem ke lingungan yang terjadi pada kondensor mesin pendingin adalah 243,84 kJ/kg.

(101) Kalor yang di serap condenser (kJ/kg) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 800 700 600 500 400 300 200 100 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 Waktu (menit) Gambar 5.10 Grafik perpindahan energi kalor per satuan massa pada kondensor dari waktu ke waktu pada refrigeran R600a. Pada Gambar 5.10 menunjukkan energi kalor yang dilepas dari sistem ke lingkungan pada kondensor untuk refrigeran R600a. Kemampuan refrigeran R600a dalam melepas kalor pada kondensor mempunyai kecenderungan setabil. Waktu penelitian dilakukan berawal dari menit ke 30 sampai menit ke 360. Perpindahan kalor yang terjadi dari sistem ke lingkungan yang terendah bernilai 373,7 kJ/kg dan nilai tertinggi 434 kJ/kg serta nilai rata-rata dari perpindahan kalor yang terjadi dari sistem kelingkungan pada kondensor mesin pendingin adalah 395,27 kJ/kg. Dari hasil rata-rata perbandingan diatas, menunjukkan bahwa rata-rata kalor yang dilepas sistem ke lingkungan dengan menggunakan refrigeran R134a adalah 243,84 kJ/kg dan rata-rata dari kalor yang dilepas sistem ke lingkungan dengan menggunakan refrigeran R600a adalah.395,27 kJ/kg. Dari hasil rata-rata yang didapat pada penelitian menunjukkan nilai enthalpy yang dilepas oleh

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 kondensor dengan menggunakan refrigeran R600a mempunyai nilai enthalpy lebih besar dibanding dengan penggunaan refrigeran R134a. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan refrigeran R600a mempunyai kemampuan melepas kalor lebih baik dari refrigeran R134a pada tekanan kerja 0 psig pada evaporator. d. COP aktual Perbandingian COP aktual dari sistem antara refrigeran R134a dan refrigeran R600a ditunjukkan pada gambar (5.10). COP aktual didapat dari energi yang masuk dibagi dengan kerja kompresor yang berdasarkan pada P-h diagram refrigeran R134a dan refrigeran R600a : 6 5.5 5 4.5 COP aktual 4 3.5 3 2.5 R134a 2 R600a 1.5 1 0.5 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 Waktu, t (menit) Gambar 5.11 Grafik perbandingan COP aktual dari waktu ke waktu. Pada Gambar 5.11 menunjukkan bahwa refrigeran R600a mempunyai nilai COP aktual lebih tinggi dari pada refrigeran R134a pada tekanan kerja evaporator

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 sebesar 0 psig. Pada Gambar 5.12 dan Gambar 5.13 menunjukkan kecenderungan dari COP aktual dari mesin pendingin dengan menggunakan refrigeran R134a dan R600a. 5 4.5 4 COP aktual 3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 Waktu, t (menit) Gambar 5.12 Grafik COP aktual dari waktu ke waktu pada refrigeran R134a. Pada Gambar 5.12 menunjukkan COP aktual dari sistem dengan menggunakan refrigeran R134a. Penggunaan refrigeran R134a mempunyai kecenderungan COP aktual yang setabil. Kesetabilan daari COP aktual dari penelitian ini terlihat dari 30 menit pertama sampai dengan pengambilan data selesai. Kerja yang diberikan oleh kompresor ke sistem dari waktu ke waktu juga tidak memiliki perbedaan yang jauh. Waktu penelitian dilakukan berawal dari menit ke 30 sampai menit ke 360. COP aktual terendah yang ditunjukkan mesin pendingin bernilai 2,78 dan nilai tertinggi dari COP aktual mesin pendingin adalah 3,01 serta nilai rata-rata dari COP aktual mesin pendingin selama pengambilan data berlangsung adalah 2,88.

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 5 4.5 4 COP aktual 3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 Waktu, t (menit) Gambar 5.13 Grafik COP aktual dari waktu ke waktu pada refrigeran R600a. Pada Gambar 5.13 menunjukkan COP aktual dari sistem dengan menggunakan refrigeran R600a. Penggunaan refrigeran R600a mempunyai kecenderungan COP aktual yang setabil. Waktu penelitian berawal dari menit ke 30 sampai menit ke 360. COP aktual terendah yang ditunjukkan mesin pendingin bernilai 3,37 dan nilai COP aktual tertinggi yang ditunjukkan mesin pendingin bernilai tertinggi 3,75 serta nilai rata-rata dari COP aktual mesin pendingin adalah 3,59. Dari hasil rata-rata perbandingan diatas, menunjukkan bahwa rata-rata COP aktual dari sistem dengan menggunakan refrigeran R134a adalah 2,88 dan rata-rata dari COP aktual dari sistem dengan menggunakan refrigeran R600a adalah 3,59. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan refrigeran R600a untuk mesin pendingin mempunyai nilai COP aktual lebih tinggi dari penggunaan refrigeran R134a pada tekanan kerja 0 psig pada evaporator.

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 e. COP ideal Perbandingian perpindahan COP ideal dari sistem antara refrigeran R134a dan refrigeran R600a ditunjukkan pada Gambar 5.14 : 7 6 COP ideal 5 4 3 R134a 2 R600a 1 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 Waktu, t (menit) Gambar 5.14 Grafik perbandingan COP ideal dari waktu ke waktu. Pada Gambar 5.14 menunjukkan bahwa refrigeran R600a mempunyai nilai COP ideal lebih tinggi dari pada refrigeran R134a pada tekanan 0 psig pada evaporator. Pada Gambar 5.15 dan Gambar 5.16 menunjukkan kecenderungan dari COP ideal dari mesin pendingin dengan menggunakan refrigeran R134a dan R600a. COP ideal didapat dari temperatur evaporator dibagi dengan temperatur kondensor dikurangi dengan temperatur evaporator. Temperatur yang digunakan dihitung dalam Kelvin.

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 7 6 COP ideal 5 4 3 2 1 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 Waktu, t (menit) Gambar 5.15 Grafik COP ideal dari waktu ke waktu pada refrigeran R134a. Pada gambar 5.15 menunjukkan COP ideal dari sistem dengan menggunakan refrigeran R134a. Penggunaan refrigeran dengan menggunakan refrigeran R134a mempunyai kecenderungan mempunyai COP ideal yang setabil. Waktu penelitian berawal dari menit ke 30 sampai menit ke 360. COP ideal terendah dari mesin pendingin bernilai 3,51 dan nilai tertinggi 3,61 serta nilai ratarata dari COP aktual mesin pendingin adalah 3.55. 7 6 COP ideal 5 4 3 2 1 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 Waktu, t (menit) Gambar 5.16 Grafik COP ideal dari waktu ke waktu pada refrigeran R600a.

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 Pada Gambar 5.16 menunjukkan COP ideal dari sistem dengan menggunakan refrigeran R600a. Penggunaan refrigeran dengan menggunakan refrigeran R600a mempunyai kecenderungan mempunyai COP ideal yang setabil. Waktu penelitian berawal dari menit ke 30 sampai menit ke 360. COP ideal terendah dari mesin pendingin bernilai 3,78 dan COP ideal tertinggi dari mesin pendingin nilai tertinggi 4,01 serta nilai rata-rata dari COP ideal dari mesin pendingin adalah 3,92. Dari hasil rata-rata perbandingan diatas, menunjukkan bahwa rata-rata COP ideal dari sistem dengan menggunakan refrigeran R134a adalah 3,55 dan rata-rata dari COP ideal dari sistem dengan menggunakan refrigeran R600a adalah 3,92. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan refrigeran R600a mempunyai nilai COP ideal lebih tinggi dari refrigeran R134a pada tekanan kerja 0 psig pada evaporator. f. Efisiensi mesin pendingin (  ) Efisiensi didapat dari COP aktual dibagi dengan COP ideal. Jika nilai efisiensi dari mesin pendigin mendekati 1 maka penggunaan refrigeran R134a atau R600a dari mesin pendingin menghasilkan efisiensi yang baik. Perbandingian efisiesnsi dari sistem yang menggunakan refrigeran antara refrigeran R134a dan refrigeran R600a ditunjukkan pada Gambar 5.17 :

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 2 1.8 1.6 Efisiensi 1.4 1.2 1 0.8 R134a R600a 0.6 0.4 0.2 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 Waktu, t (menit) Gambar 5.17 Grafik perbandingan efisiensi mesin pendingin dari waktu ke waktu. Pada Gambar 5.17 menunjukkan bahwa refrigeran R600a mempunyai nilai efisiensi lebih tinggi dari pada refrigeran R134a pada tekanan 0 psig pada evaporator. Pada Gambar 5.18 dan Gambar 5.19 menunjukkan kecenderungan dari efisiensi mesin pendingin dengan menggunakan refrigeran R134a dan R600a. 2 Efisiensi 1.5 1 0.5 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 Waktu, t (menit) Gambar 5.18 Grafik efisiensi mesin pendingin dari waktu ke waktu pada refrigeran R134a.

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 Pada Gambar 5.18 menunjukkan efisiensi mesin pendingin dengan menggunakan refrigeran R134a. Penggunaan refrigeran R134a mempunyai kecenderungan nilai efisiensi yang setabil. Hal ini dapat terjadi dikarenakan selisih antara COPaktual dengan COPideal tidak terlalu banyak. Waktu penelitian berawal dari menit ke 30 sampai menit ke 360. Efisiensi dari mesin pendingin terendah bernilai 0,79 dan nilai tertinggi 0,85 serta nilai rata-rata dari efisiensi Efisiensi mesin pendingin adalah 0,81. 2 1.8 1.6 1.4 1.2 1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 Waktu, t (menit) Gambar 5.19 Grafik efisiensi mesin pendingin dari waktu ke waktu pada refrigeran R600a. Pada Gambar 5.19 menunjukkan efisiensi mesin pendingin dengan menggunakan refrigeran R600a. Penggunaan refrigeran R600a mempunyai kecenderungan nilai efisiensi yang setabil. Hal ini dapat terjadi dikarenakan selisih antara COPaktual dengan COPideal tidak terlalu banyak. Waktu penelitian berawal dari menit ke 30 sampai menit ke 360. Efisiensi dari mesin pendingin terendah bernilai 0,87 dan nilai tertinggi 0,94 serta nilai rata-rata dari efisiensi mesin pendingin adalah 0,92.

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 Dari hasil rata-rata perbandingan diatas, menunjukkan bahwa rata-rata efisiensi dari sistem dengan menggunakan refrigeran R134a adalah 0,81 dan ratarata dari efisiensi dari sistem dengan menggunakan refrigeran R600a adalah 0,92. Hasil perbandingan rata-rata efisiensi dengan menunjukkan bahawa refrigeran R600a mempunyai nilai lebih tinggi dari R134a. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan refrigeran R600a lebih efisiensi dari penggunaan refrigeran R134a pada tekanan kerja 0 psig pada evaporator. g. Daya kompresor yang digunakan Daya yang dipergunakan kompresor didapat dari arus yang digunaka dikali dengan tegangan dari sumber listrik. Perbandingian daya kompresor yang digunakan pada saat menggunakan refrigeran antara refrigeran R134a dan refrigeran R600a ditunjukkan pada Gambar 5.20 : 200 180 160 Daya (watt) 140 120 100 80 R134a 60 R600a 40 20 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 Waktu, t (menit) Gambar 5.20 Grafik perbandingan daya kompresor dari waktu ke waktu.

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 Pada Gambar 5.20 menunjukkan bahwa refrigeran R600a mempunyai nilai daya kompresor lebih tinggi dari pada refrigeran R134a pada tekanan 0 psig pada evaporator. Pada Gambar 5.21 dan Gambar 5.22 menunjukkan kecenderungan dari daya yang dipergunakan oleh kompresor untuk melakukan kerja dengan menggunakan refrigeran R134a dan R600a. 200 180 Daya (watt) 160 140 120 100 80 60 40 20 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 Waktu, t (menit) Gambar 5.21 Grafik daya kompresor dari waktu ke waktu pada refrigeran R134a. Pada Gambar 5.21 menunjukkan daya kompresor dengan menggunakan refrigeran R134a. Penggunaan refrigeran R134a mempunyai kecenderungan daya yang setabil. Kesetabilan daya dari kompresor ditunjukkan dari 30 menit pertama sampai pengambilan data selesai. Waktu penelitian berawal dari menit ke 30 sampai menit ke 360. Daya kompresor dari mesin pendingin terendah bernilai 143 watt dan daya kompresor mesin pendingin yang tertinggi bernilai 149,6 watt serta nilai rata-rata dari daya kompresor mesin pendingin adalah 145,75 watt.

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 200 180 160 Daya (watt) 140 120 100 80 60 40 20 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 Waktu, t (menit) Gambar 5.22 Grafik daya kompresor dari waktu ke waktu pada refrigeran R600a. Pada Gambar 5.22 menunjukkan daya kompresor dari mesin pendingin dengan menggunakan refrigeran R600a. Penggunaan refrigeran R600a mempunyai kecenderungan daya yang setabil. Kesetabilan daya dari kompresor ditunjukkan dari 30 menit pertama sampai pengambilan data selesai. Waktu penelitian berawal dari menit ke 30 sampai menit ke 360. Daya kompresor dari mesin pendingin terendah bernilai 147,4 watt dan nilai tertinggi 151,8 watt serta nilai rata-rata dari daya kompresor dari mesin pendingin adalah 149,78 watt. Dari hasil rata-rata perbandingan diatas, menunjukkan bahwa rata-rata daya kompresor dari sistem dengan menggunakan refrigeran R134a adalah 145,75 watt dan rata-rata dari daya kompresor dari sistem dengan menggunakan refrigeran R600a adalah 149,78 watt. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan refrigeran R600a mempunyai nilai daya yang dikonsumsi oleh

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 kompresor lebih tinggi dari refrigeran R134a pada tekanan kerja 0 psig pada evaporator. h. Laju aliran massa refrigeran ( m ) Perbandingian laju aliran massa refrigeran pada saat menggunakan refrigeran R134a dan refrigeran R600a ditunjukkan pada Gambar 5.23 : 0.004 0.0035 Massa refrigean (kg/s) 0.003 0.0025 0.002 R134a 0.0015 R600a 0.001 0.0005 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 Waktu, t (menit) Gambar 5.23 Grafik perbandingan laju aliran massa refrigeran dari waktu ke waktu. Pada Gambar 5.23 menunjukkan bahwa refrigeran R134a mempunyai nilai laju aliran massa refrigeran lebih tinggi dari pada refrigeran R600a pada tekanan 0 psig pada evaporator. Pada Gambar 5.24 dan Gambar 5.25 menunjukkan kecenderungan dari laju aliran massa refrigeran dengan menggunakan refrigeran R134a dan R600a.

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 Massa refrigean (kg/s) 0.004 0.003 0.002 0.001 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 Waktu, t (menit) Gambar 5.24 Grafik laju aliran massa refrigeran dari waktu ke waktu pada refrigeran R134a. Pada Gambar 5.24 menunjukkan laju aliran massa refrigeran dengan menggunakan refrigeran R134a. Aliran massa refrigeran dengan menggunakan refirgeran R134a cenderung tetap. Kesetabilan dari laju aliran massa dapat dilihat dari 30 menit pertama sampai dengan selesainya pengambilan data. Laju aliran massa refrigeran dari mesin pendingin terendah bernilai 0,0023 kg/s dan nilai tertinggi 0,0025 kg/s serta nilai rata-rata dari laju aliran massa refrigeran mesin pendingin adalah 0,0024 kg/s. Massa refrigean (kg/s) 0.004 0.003 0.002 0.001 0 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 Waktu, t (menit) Gambar 5.24 Grafik laju aliran massa refrigeran dari waktu ke waktu pada refrigeran R600a.

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 Pada Gambar 5.23 menunjukkan laju aliran massa refrigeran dengan menggunakan refrigeran R600a. Aliran massa refrigeran dengan menggunakan refirgeran R134a cenderung tetap. Waktu penelitian berawal dari menit ke 30 sampai menit ke 360. Laju aliran massa refrigeran dari mesin pendingin terendah bernilai 0,0015 kg/s dan nilai tertinggi 0,0019 kg/s serta nilai rata-rata dari laju aliran massa refrigeran mesin pendingin adalah 0,0018 kg/s. Dari hasil rata-rata perbandingan diatas, menunjukkan bahwa rata-rata laju aliran massa refrigeran dari sistem dengan menggunakan refrigeran R134a adalah 0,0024 kg/s dan rata-rata dari daya kompresor dari sistem dengan menggunakan refrigeran R600a adalah 0,0018 kg/s. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan refrigeran R134a mempunyai nilai laju aliran massa refrigeran lebih tinggi dari refrigeran R600a pada tekanan kerja 0 psig pada evaporator.

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Hasil penelitian yang telah dilakukan untuk mesin pendingin dengan fluida kerja yaitu refrigeran primer R134a dan refrigeran primer R600a, serta ethylene glycol sebagai refrigeran sekunder dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : a. Perpindahan energi kalor per satuan massa refrigeran pada evaporator Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan refrigeran R600a pada mesin pendingin dapat menyerap kalor lebih banyak dibanding dengan penggunaan refrigeran R134a. Nilai enthalpy rata-rata untuk R600a pada evaporator adalah 304,99 kJ/kg, sedangkan R134a adalah 180,97 kJ/kg. b. Kerja kompresor per satuan massa refrigeran Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan refrigeran R600a memberi kerja kompresor lebih tinggi dibanding dengan penggunaan refrigeran R134a. Nilai kerja kompresor per satuan massa rata-rata untuk R600a adalah 85,01 kJ/kg, sedangkan R134a adalah 62,68 kJ/kg. c. Perpindahan energi kalor per satuan massa refrigeran pada kondensor Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan refrigeran R600a pada mesin pendingin dapat membuang kalor kelingkungan lebih banyak dibanding refrigeran R134a. Nilai enthalpy rata-rata untuk R600a pada kondensor adalah 395,27 kJ/kg, sedangkan R134a adalah 243,84 kJ/kg. 96

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 d. Coefficient of performance aktual mesin pendingin Dari hasil penelitian, penggunaan refrigeran R600a mempunyai nilai coefficient of performance aktual lebih besar untuk mesin pendingin dibanding dengan refrigeran R134a. Nilai coefficient of performance aktual rata-rata mesin pendingin untuk R600a adalah 3,59; sedangkan R134a adalah 2,88. e. Coefficienr of performance ideal mesin pendingin Dari hasil penelitian, penggunaan refrigeran R600a mempunyai nilai coefficient of performance ideal lebih tinggi dibanding dengan refrigeran R134a. Nilai coefficient of performance ideal rata-rata mesin pendingin untuk R600a adalah 3,92; sedangkan R134a adalah 3,55. f. Efisiensi mesin pendingin Dari hasil penelitian, dalam penggunaan refrigeran R600a mempunyai nilai efisiensi lebih tinggi dari penggunaan refrigeran R134a. Nilai efisiensi ratarata mesin pendingin untuk R600a adalah 0,92; sedangkan R134a adalah 0,81. g. Daya yang digunakan oleh kompresor Dari hasil penelitian menunjukkan daya kompresor yang digunakan pada saat menggunakan refrigeran R600a lebih tinggi dari pada refrigeran R134a. Daya rata-rata kompresor untuk R600a adalah 149,78 watt, sedangkan R134a adalah 145,75 watt. h. Laju aliran massa refrigeran Dari hasil penelitian, laju aliran massa refrigeran dengan menggunakan refrigeran R134a mempunyai nilai lebih tinggi dari refrigeran R600a. Laju aliran

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 massa refrigeran rata-rata untuk R134a adalah 0,0024 kg/s, sedangkan R600a adalah 0,0018 kg/s. 6.2 Saran Hasil penelitian yang telah dilakukan untuk mesin pendingin, penulis memberikan saran sebagai berikut : a. Pemanfaatan ethylene glycol untuk mendinginkan obyek diluar evaporator. ethylene glycol dialirkan ke luar evaporator dan diarahkan kembali menggunakan pompa. b. Pemanfaatan panas kondensor untuk memanaskan obyek lain. Hal ini dikarenakan dengan tekanan kerja kondensor yang rendah untuk R600a dapat menghasilkan temperatur kondensor yang tinggi.

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Antonijevic, DragiLj. (2008). Carbon Dioxide as The Replacement for Synthetic Refrigerant in Mobile Air Conditioning. Thermal Science.12 (3) 55- 64. Serbia Cengel, Yunus A and Michael A. Boles, 2006, Thermodynamics Engineering Approach. The McGraw-Hill Companies Ferryal Basbeth, 2005, http://dekomposisi_posmortem.webs.com/ diakses pada tanggal 14 Januari 2014 Gunawan, Drs. Ricky, 1998, Pengantar Teori Teknik Pendinginan (Refigerasi). Departemen Pendidikan dan kebudayaan: Jakarta. Jones, J.B and R.E. Dugan, 1996, Engineering Thermodynamics. Prentice-Hall, Inc: New Jersey Kumar, R.Reji; K. Sridhar,M. Narasimha (2013). Heat Transfer Enhancement in Domestic Refrigerator Using R600a/ Mineral oil/ Nano-Al2O3 as Working Fluid. International Journal of Computational Engineering Research. 3 (4) 42-50. Ethiopia. M.A, Akintunde (2013), Experimental Study of R134a, R406A and R600a Blends as Alternative To Freon 12. IOSR Journal of Mechanical and Civil Engineering (IOSR-JMCE). 7(1) 40-46. The Federal University of Technology: Nigeria Moran, Michael J. and Shapiro, Howard N, 2004, Fundamentals of Engineering Thermodynamics. The McGraw-Hill Companies: Hoboken 99

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 Nassaruddin, Ardi Yuliono dan Darwin Rio Budi Syaka (2011). Performa Sistem Autocascade dengan Menggunakan Karbondioksida sebagai Refrigeran Campuran. Jurnal Rekayasa Proses. 5 (1) 17-23. Universitas Indonesia: Indonesia Stoecker, Wilbert F. And Jerold W.Jones, 1989, Refrigerasi dan Pengkondisian Udara (Edisi Kedua). Erlangga: Jakarta. Sumanto, Drs, 1989, Dasar-dasar Mesin Pendingin. Andi Offset: Yogyakarta Tipler, Paul.A, 1991, Physics for Scientist and Engineers. Worth Publisher,Inc: Jakarta

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 101

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 1. Grafik P-h diagram R134a pada menit ke 30 di hari 1

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 2. Grafik P-h diagram R134a pada menit ke 60 di hari 1

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 3. Grafik P-h diagram R134a pada menit ke 90 di hari 1

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 4. Grafik P-h diagram R134a pada menit ke 120 di hari 1

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 5. Grafik P-h diagram R134a pada menit ke 150 di hari 1

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 6. Grafik P-h diagram R134a pada menit ke 180 di hari 1

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 7. Grafik P-h diagram R134a pada menit ke 210 di hari 1

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 8. Grafik P-h diagram R134a pada menit ke 240 di hari 1

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 9. Grafik P-h diagram R134a pada menit ke 270 di hari 1

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 10. Grafik P-h diagram R134a pada menit ke 300 di hari 1

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 11. Grafik P-h diagram R134a pada menit ke 330 di hari 1

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 12. Grafik P-h diagram R134a pada menit ke 360 di hari 1

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 13. Grafik P-h diagram R600a pada menit ke 30 di hari 1

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 14. Grafik P-h diagram R600a pada menit ke 60 di hari 1

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 15. Grafik P-h diagram R600a pada menit ke 90 di hari 1

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117 16. Grafik P-h diagram R600a pada menit ke 120 di hari 1

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118 17. Grafik P-h diagram R600a pada menit ke 150 di hari 1

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 18. Grafik P-h diagram R600a pada menit ke 180 di hari 1

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120 19. Grafik P-h diagram R600a pada menit ke 210 di hari 1

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 121 20. Grafik P-h diagram R600a pada menit ke 240 di hari 1

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 122 21. Grafik P-h diagram R600a pada menit ke 270 di hari 1

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 123 22. Grafik P-h diagram R600a pada menit ke 300 di hari 1

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 124 23. Grafik P-h diagram R600a pada menit ke 330 di hari 1

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 125 24. Grafik P-h diagram R600a pada menit ke 360 di hari 1

(146)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

ANALISIS PENGARUH VARIASI DIAMETER PIPA KAPILER TERHADAP PRESTASI KERJA PADA MESIN REFRIGERATOR BERBASIS LPG SEBAGAI REFRIGERAN
1
46
20
ANALISIS PENGARUH VARIASI MASSA LPG SEBAGAI REFRIGERAN TERHADAP PRESTASI KERJA DARI MESIN PENDINGIN KOMPRESI UAP
0
34
23
ANALISIS PENGARUH VARIASI MASSA REFRIGERAN HIDROKARBON TERHADAP PRESTASI KERJA MESIN PENDINGIN RUANGAN
0
41
21
ANALISIS VARIASI JUMLAH FAN PADA KONDENSOR BERTINGKAT TERHADAP PRESTASI KERJA MESIN PENDINGIN MENGGUNAKAN REFRIGERAN LPG
3
32
77
PENGUJIAN UNJUK KERJA SISTEM AC MOBIL STATIK EKSPERIMEN MENGGUNAKAN REFRIGERAN CFC 12 DAN HFC 134A DENGAN VARIASI PUTARAN (RPM) KOMPRESOR
8
34
92
ANALISIS PENGARUH PEMANASAN LANJUT TERHADAP UNJUK KERJA TERMAL MESIN PENDINGIN UNTUK PEMAKAIAN MESIN REFRIGERAN R11, R12 DAN R22
0
3
6
OPTIMISASI KAPASITAS PENGISIAN REFRIGERAN R134a TERHADAP PRESTASI KERJA AC MOBIL.
0
0
3
KAJI EKSPERIMENTAL PERBANDINGAN PERFORMANSI PERANGKAT PENGKONDISIAN UDARA KOMPRESI UAPHIBRIDA DENGAN MENGGUNAKAN REFRIGERAN HIDROKARBON (HCR-22) DAN REFRIGERAN HALOKARBON (R-22).
0
0
6
STUDI EKSPERIMENTAL PERFORMA REFRIGERAN HIDROKARBON HCR-134 SEBAGAI PENGGANTI REFRIGERAN HALOKARBON R-134a PADA AC KENDARAAN DENGAN MENGGUNAKAN KOMPRESOR HERMETIK.
0
0
16
PENGUJIAN REFRIGERAN ALTERNATIF RAMAH LINGKUNGAN PADA MESIN PENDINGIN JENIS KOMPRESI UAP
0
0
9
STUDI LITERATUR TENTANG SISTEM PENDINGIN DENGAN PERTUKARAN LANGSUNG (DIRECT EXCHANGE) GEOTERMAL DAN AIR SEBAGAI REFRIGERAN
0
0
8
UJI PRESTASI MESIN PENDINGIN MENGGUNAKAN REFRIGERAN LPG
0
1
7
MODIFIKASI AC SPLIT MENJADI AC SISTEM GEOTERMAL MENGGUNAKAN AIR SEBAGAI REFRIGERAN SEKUNDER
0
0
10
KARAKTERISTIK MESIN PENDINGIN UNTUK MENDINGINKAN REFRIGERAN SEKUNDER
0
0
87
PERBANDINGAN R-134a DAN R-502 SEBAGAI REFRIGERAN PRIMER PADA EFEKTIFITAS KERJA MESIN PENDINGIN DENGAN ETHYLENE GLYCOL SEBAGAI REFRIGERAN SEKUNDER SKRIPSI
0
1
145
Show more