Pengaruh perbandingan Surfaktan Tween 80 dan kosurfaktan PEG 400 dalam formulasi sediaan mikroemulsi askorbil palmitat dan alfa tokoferol untuk antiaging - USD Repository

Gratis

0
0
158
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGARUH PERBANDINGAN SURFAKTAN TWEEN 80 DAN KOSURFAKTAN PEG 400 DALAM FORMULASI SEDIAAN MIKROEMULSI ASKORBIL PALMITAT DAN ALFA TOKOFEROL UNTUK ANTIAGING SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) Program Studi Ilmu Farmasi Oleh: Elizabeth Sita Permata Sari Sucipto Putri NIM : 108114165 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGARUH PERBANDINGAN SURFAKTAN TWEEN 80 DAN KOSURFAKTAN PEG 400 DALAM FORMULASI SEDIAAN MIKROEMULSI ASKORBIL PALMITAT DAN ALFA TOKOFEROL UNTUK ANTIAGING SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) Program Studi Ilmu Farmasi Oleh: Elizabeth Sita Permata Sari Sucipto Putri NIM : 108114165 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Jangan mencari apa yang kamu takutkan melainkan carilah harapan dan impianmu. Jangan berpikir tentang frustasimu, tetapi tentang potensi yang belum kamu kembangkan. Perhatikan dirimu bukan pada apa yang telah kamu coba dan ternyata gagal, tetapi pada segala sesuatu yang masih mungkin bagimu untuk melalukannya. ~ Paus Yohanes XXIII ~ Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan. ~ Yesaya 55:8 ~ Karya ini kupersembahkan untuk : Tuhan Yesus Kristus, Bapak dan Ibu tercinta, Kedua Kakakku, Tia dan Vera Kedua Keponakanku tersayang, Nathan dan Nolan Sahabat-sahabatku, dan Almamaterku. iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kasih, berkat, dan penyertaan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Perbandingan Surfaktan Tween 80 dan Kosurfaktan PEG 400 dalam Formulasi Sediaan Mikroemulsi Askorbil Palmitat dan Alfa Tokoferol untuk Antiaging” dengan baik. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Selama proses perkuliahan, penelitian, penyusunan dan penyelesaian skripsi ini, penulis telah mendapatkan bantuan doa, dukungan, semangat, saran dan kritik dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada: 1. Orang tua atas doa, cinta, kasih sayang, perhatian, kebersamaan, kesabaran, inspirasi, motivasi, saran, dan kritik yang diberikan kepada penulis. 2. Ibu Aris Widayati, M.Si., Ph.D., Apt, selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 3. Bapak Dr. T. N. Saifullah S., M.Si., Apt., selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberikan waktu, bimbingan, diskusi, kritik, dan saran kepada penulis mulai dari proposal, penelitian, penyusunan hingga penyelesaian skripsi ini. 4. Ibu C.M. Ratna Rini Nastiti, M. Pharm., Apt., selaku dosen penguji atas kesediaannya meluangkan waktu untuk menjadi dosen penguji, serta memberikan pengarahan, saran, dan kritik kepada penulis. vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. Ibu Melania Perwitasari, M.Sc., Apt., selaku dosen penguji atas kesediaannya meluangkan waktu untuk menjadi dosen penguji, serta memberikan pengarahan, saran, dan kritik kepada penulis. 6. Segenap Dosen Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma yang telah mengajar dan membimbing Penulis selama perkuliahan. 7. Fransisca Kristi Astuti, dan Agrifina Akardias Mahalalita sebagai teman satu tim penelitian atas kerja sama, bantuan, dan kebersamaan selama proses skripsi ini. 8. Hendrika Putra Hastama atas perhatian, semangat, dukungan, saran dan kritik yang diberikan kepada penulis. 9. Sahabat-sahabatku : Astuti Malyawati Susesanto, Marcelina Widani Amanda Rompas, Rosalia Suryaningtyas, Eva Cristiana, Ayu Listiana, Rizki Nugrahanto dan Candra Widiantoro atas semangat, dukungan, dan doa yang diberikan kepada penulis. 10. Puspita Sari, Cindy Tiara Sari, Nita Rahayu dan teman-teman seperjuangan atas kebersamaan dan motivasi yang diberikan kepada penulis selama proses skripsi ini. 11. Pak Musrifin, Pak Suparlan, Mas Agung, Mas Kunto, Pak Wagiran, Mas Ottok, Bapak-bapak satpam dan seluruh laboran serta karyawan lain di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma yang telah banyak membantu penulis selama penelitian. 12. Teman-teman FST 2010 atas kebersamaannya baik selama proses perkuliahan maupun praktikum. viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13. Semua pihak yang telah banyak membantu selama proses skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Penulis sadar bahwa memiliki keterbatasan kemampuan dan pengetahuan pada skripsi ini. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang farmasi. Penulis ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL........................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................................. ii HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................... iv HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ..................................... v HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ....................... vi PRAKATA ....................................................................................................... vii DAFTAR ISI .................................................................................................... x DAFTAR TABEL ............................................................................................ xiv DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xv DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xvii INTISARI......................................................................................................... xix ABSTRACT ....................................................................................................... xx BAB I. PENGANTAR ..................................................................................... 1 A. Latar Belakang ........................................................................................ 1 B. Perumusan masalah ................................................................................ 4 C. Keaslian penelitian.................................................................................. 4 D. Manfaat penelitian .................................................................................. 5 E. Tujuan Penelitian .................................................................................... 6 BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA.............................................................. 7 A. Penuaan .................................................................................................. 7 x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. Antioksidan ............................................................................................ 11 1. Definisi Antioksidan ......................................................................... 11 2. Askorbil Palmitat Sebagai Antioksidan ............................................ 12 3. Alfa Tokoferol Sebagai Antioksidan ................................................ 14 4. Interaksi Askorbil palmitat dan Alfa tokoferol sebagai Antioksidan 15 C. Mikroemulsi............................................................................................ 16 1. Definisi Mikroemulsi ........................................................................ 16 2. Teori Pembentukan Mikroemulsi ..................................................... 17 3. Komponen Penyusun Mikroemulsi ................................................... 19 4. Kontrol Kualitas Mikroemulsi .......................................................... 21 D. Uji DPPH ................................................................................................ 24 E. Uji Iritasi ................................................................................................. 26 F. Pemerian Bahan ...................................................................................... 27 1. Askorbil Palmitat ............................................................................... 27 2. Dl- alfa Tokoferol ............................................................................. 28 3. Minyak Zaitun ................................................................................... 28 4. Tween 80 ........................................................................................... 29 5. PEG 400 ............................................................................................ 30 6. Aquadest ............................................................................................ 30 G. Landasan Teori ....................................................................................... 31 H. Hipotesis ................................................................................................. 32 BAB III. METODE PENELITIAN.................................................................. 33 A. Jenis dan Rancangan Penelitian .............................................................. 33 xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional......................................... 33 1. Variabel penelitian ............................................................................. 33 2. Definisi operasional ........................................................................... 34 C. Bahan Penelitian ..................................................................................... 35 D. Alat Penelitian ........................................................................................ 35 E. Tata Cara Penelitian................................................................................ 35 1. Formula Acuan Mikroemulsi ............................................................ 35 2. Percobaan Pendahuluan .................................................................... 36 3. Percobaan Utama .............................................................................. 39 4. Evaluasi Sifat Fisik Sediaan Mikroemulsi Hasil Percobaan Utama .. 41 5. Uji Stabilitas Fisik ............................................................................. 44 6. Uji Aktivitas Antioksidan .................................................................. 45 7. Uji Iritasi ............................................................................................ 50 F. Analisis Hasil .......................................................................................... 51 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................ 52 A. Percobaan Pendahuluan Basis Mikroemulsi ........................................... 52 B. Evaluasi Sifat Fisik Sediaan Mikroemulsi Hasil Percobaan Utama ...... 54 1. Pemeriksaan Organoleptis dan pH .................................................... 55 2. Pemeriksaan Tipe Mikroemulsi ......................................................... 57 3. Pengukuran Indeks Bias ..................................................................... 58 4. Pengukuran Bobot Jenis..................................................................... 59 5. Pengukuran Persen Transmitansi ...................................................... 60 6. Pengukuran Viskositas ...................................................................... 61 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7. Pengukuran Ukuran Droplet ............................................................. 62 C. Stabilitas Fisik Sediaan Mikroemulsi ..................................................... 63 1. Stabilitas Organoleptis Sediaan Mikroemulsi setelah Freeze Thaw .. 64 2. Stabilitas pH Sediaan Mikroemulsi setelah Freeze Thaw.................. 65 3. Stabilitas Transmitansi Sediaan Mikroemulsi setelah Freeze Thaw.. 66 4. Stabilitas Viskositas sediaan mikroemulsi setelah freeze thaw ......... 66 5. Stabilitas Ukuran Droplet Sediaan Mikroemulsi setelah Freeze Thaw 67 D. Aktivitas Antioksidan Sediaan Mikroemulsi .......................................... 68 1. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum ..................................... 68 2. Penentuan Operating Time (OT) ...................................................... 69 3. Aktivitas Antioksidan Sediaan Mikroemulsi .................................... 71 E. Uji Iritasi Sediaan Mikroemulsi ............................................................ 74 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN.......................................................... 76 A. Kesimpulan ............................................................................................. 76 B. Saran ....................................................................................................... 76 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 77 LAMPIRAN ..................................................................................................... 82 BIOGRAFI ...................................................................................................... 137 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel I. Tingkat kekuatan aktivitas antioksidan dengan metode DPPH .. 26 Tabel II. Hubungan iritation score dengan kategori iritasi ....................... 27 Tabel III. Formula acuan mikroemulsi ....................................................... 36 Tabel IV. Formula orientasi basis mikroemulsi .......................................... 36 Tabel V. Formula sediaan mikroemulsi ..................................................... 40 Tabel VI. Hasil uji pendahuluan ................................................................. 52 Tabel VII. Hasil pengamatan setelah uji heating and cooling .................... 53 Tabel VIII. Hasil pengamatan organoleptis dan pH sediaan mikroemulsi .... 55 Tabel IX. Hasil pengamatan indeks bias sediaan mikroemulsi................... 58 Tabel X. Hasil pengukuran ukuran droplet mikroemulsi formula A pada siklus ke-0 ................................................................................... 63 Tabel XI. Hasil pengukuran ukuran droplet mikroemulsi formula A pada siklus ke-0 dan siklus ke-3 .......................................................... 68 Tabel XII. Hasil uji aktivitas antioksidan ..................................................... 72 Tabel XIII. Hasil uji iritasi sampel mikroemulsi ........................................... 74 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Tipe sistem dispersi mikroemulsi ............................................... 16 Gambar 2. Struktur DPPH radikal (1), struktur DPPH non radikal ............. 25 Gambar 3. Struktur Ascorbyl Palmitate........................................................ 27 Gambar 4. Struktur Alpha Tocopherol ......................................................... 28 Gambar 5. Struktur Polysorbate 80 (tween 80) ............................................ 29 Gambar 6. Struktur PEG 400 ........................................................................ 30 Gambar 7. Hasil uji viskositas uji pendahuluan ........................................... 54 Gambar 8. a) Mikroemulsi yang dilarutkan dalam aquadest, (b) Mikroemulsi yang dilarutkan dalam minyak zaitun ......................................... 57 Gambar 9. Hasil uji bobot jenis sediaan mikroemulsi .................................. 59 Gambar 10. Hasil uji persen transmitansi sediaan mikroemulsi..................... 60 Gambar 11. Hasil uji viskositas sediaan mikroemulsi .................................... 61 Gambar 12. Grafik distribusi ukuran droplet sediaan mikroemulsi formula A 63 Gambar 13. Penampilan fisik seluruh formula sediaan mikroemulsi sesudah dan sebelum uji sentrifugasi ....................................................... 64 Gambar 14. Profil kurva pH sediaan mikroemulsi tiap siklus freeze thaw .... 65 Gambar 15. Profil kurva persen transmitansi sediaan mikroemulsi tiap siklus freeze thaw .................................................................................. 66 Gambar 16. Profil kurva viskositas sediaan mikroemulsi tiap siklus freeze thaw ............................................................................................. 67 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Gambar 17. Grafik distribusi ukuran droplet sediaan mikroemulsi formula A pada siklus ke-3 ......................................................................... 68 Gambar 18. Profil kurva operating time askorbil palmitat, alfa tokoferol serta campuran Askorbil Palmitat dan Alfa Tokoferol ............... 70 Gambar 19. Profil kurva operating time formula A, formula B, formula C, formula D, dan formula E ........................................................... 71 Gambar 20. Profil kurva operating time basis A, basis B, basis C, basis D, dan basis E .................................................................................. 71 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Sertifikat analisis Askorbil Palmitat dari CV.Privat Equipment 83 Lampiran 2. Sertifikat analisis Alfa Tokoferol dari CV. Cipta Anugerah .... 84 Lampiran 3. Sertifikat analisis Minyak zaitun dari CV. Sofa Mediteranian. 85 Lampiran 4. Sertifikat analisis Tween 80 dari PT. Brataco Chemika........... 86 Lampiran 5. Sertifikat analisis PEG 400 dari PT. Brataco Chemika ............ 87 Lampiran 6. Data Pengamatan Organoleptis Sediaan Mikroemulsi ............. 88 Lampiran 7. Dokumentasi Pengamatan Organoleptis Sediaan Mikroemulsi 89 Lampiran 8. Data Sifat Fisik dan Stabilitas Fisik Sediaan Mikroemulsi ...... 90 Lampiran 9. Hasil Pengamatan Ukuran Droplet Formula A ........................ 92 Lampiran 10. Analisis Statistika Sifat Fisik Mikroemulsi Menggunakan Program R. 3.0.1 ....................................................................... 94 Lampiran 11. Analisis Statistika Stabilitas Fisik Mikroemulsi Menggunakan Program R. 3.0.1 ....................................................................... 97 Lampiran 12. Perhitungan Irritation Score (IS).............................................. 102 Lampiran 13. Pengamatan Uji Iritasi Mikroemulsi Menggunakan Metode HET-CAM ................................................................................ 103 Lampiran 14. Pengujian Aktivitas Antioksidan standar Askorbil palmitat .... 104 Lampiran 15. Pengujian Aktivitas Antioksidan standar Alfa tokoferol.......... 107 Lampiran 16. Pengujian Aktivitas Antioksidan Campuran Askorbil palmitat dan Alfa tokoferol .................................................................... 109 Lampiran 17. Pengujian Aktivitas Antioksidan Mikroemulsi Formula A ...... 112 xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 18. Pengujian Aktivitas Antioksidan Mikroemulsi Formula B ...... 114 Lampiran 19. Pengujian Aktivitas Antioksidan Mikroemulsi Formula C ...... 117 Lampiran 20. Pengujian Aktivitas Antioksidan Mikroemulsi Formula D ...... 120 Lampiran 21. Pengujian Aktivitas Antioksidan Mikroemulsi Formula E ...... 122 Lampiran 22. Aktivitas Antioksidan Basis Mikroemulsi Formula A ............. 125 Lampiran 23. Aktivitas Antioksidan Basis Mikroemulsi Formula B ............. 127 Lampiran 24. Aktivitas Antioksidan Basis Mikroemulsi Formula C ............. 130 Lampiran 25. Aktivitas Antioksidan Basis Mikroemulsi Formula D ............. 132 Lampiran 26. Aktivitas Antioksidan Basis Mikroemulsi Formula E.............. 134 xviii

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI INTISARI Sifat fisik dan stabilitas fisik mikroemulsi dipengaruhi oleh surfaktan dan kosurfaktan sebagai penyusunnya serta komposisi keduanya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh perbandingan komposisi surfaktan dan kosurfaktan terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik mikroemulsi askorbil palmitat dan alfa tokoferol, serta daya antioksidan dan potensi iritasinya. Pada penelitian ini dibuat lima formula tengan perbandingan antara tween 80 : PEG 400 yaitu : 2:1, 3:1, 4:1, 5:1, dan 6:1. Seluruh formula diuji sifat fisik meliputi organoleptis, tipe mikroemulsi, bobot jenis, indeks bias, pH, transmitansi, viskositas, dan ukuran droplet. Stabilitas fisik diuji dengan metode sentrifugasi dan freeze thaw, mengamati perubahan organoleptis, pH, transmitansi, viskositas, dan ukuran droplet sebelum dan sesudah freeze thaw. Data dianalisis secara statistik menggunakan menggunakan uji ANOVA satu arah dengan taraf kepercayaan 95% dengan software R3.0.1.. Sediaan diuji HET-CAM untuk mengamati potensi iritasi, sementara aktivitas antioksidan diuji menggunakan metode DPPH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi perbandingan tween 80 dan PEG 400 berpengaruh signifikan pada viskositas dan pH, namun tidak berpengaruh signifikan terhadap organoleptis, bobot jenis, transmitansi, dan indeks bias sediaan mikroemulsi yang dihasilkan. Seluruh formula menghasilkan mikroemulsi yang stabil dan tidak mengiritasi. Sediaan mikroemulsi askorbil palmitat dan alfa tokoferol memiliki kemampuan antioksidan yang sangat kuat. Kata kunci : mikroemulsi, kosurfaktan askorbil palmitat, xix alfa tokoferol, surfaktan,

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Physical properties and physical stability of microemulsion can be affected by the surfactant and the cosurfactant constituent and composition of both of them. This study aimed to investigate the effect of surfactant and cosurfactant ratio on the physical properties and physical stability of the microemulsion ascorbyl palmitate and alpha tocopherol. It also aimed to observe the antioxidants activity and irritation risk of the microemulsion. In this study a comparison was made of five formulas between tween 80: PEG 400, the comparison are : 2: 1, 3: 1, 4: 1, 5: 1 and 6: 1. All formula were tested in terms of physical properties including organoleptic observation, microemulsion type, specific gravity, refractive index, pH, transmittance, viscosity, and droplet size. Physical stability was tested by using centrifugation and freeze thaw method, observing the changes in organoleptic parameter, pH, transmittance, viscosity, and droplet size before and after freeze thaw treatment. Data were statistically analyzed by one-way ANOVA with 95% level of confidence using the software of R3.0.1.. Irritation potential was tested by using HET-CAM method, while antioxidant activity by DPPH method. The results showed that the increase of the ratio of tween 80 and PEG 400 increased the viscosity and pH, but gave no significant effect on the organoleptic, specific gravity, transmittance, and the refractive index of the resulting microemulsion preparation. All formulas produce stable microemulsion without any irritation risk. Moreover the microemulsion of ascorbyl palmitate and alpha tocopherol showed very strong antioxidant activity. Key words : microemulsion, ascorbyl palmitate, alpha tocopherol, surfactant, cosurfactant xx

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Penuaan atau aging merupakan suatu proses fisiologis yang pasti akan dialami oleh setiap makhluk hidup dengan kecepatan yang berbeda, dikarenakan oleh faktor fisiologis tiap individu yang berbeda. Namun, hal ini dapat dipicu oleh hal-hal yang berasal dari luar yang dapat menyebabkan penuaan berjalan lebih cepat, salah satunya radikal bebas. Untuk melawan radikal bebas ini diperlukan suatu senyawa yang memiliki daya antioksidan, seperti askorbil palmitat and alfa tokoferol. Vitamin E atau alfa tokoferol merupakan salah satu antioksidan utama yang bekerja dengan memecah rantai radikal bebas di dalam membran sehingga mengakibatkan inaktivasi radikal peroksil di sekitar membran dan dengan demikian menghambat peroksidasi lipid. Vitamin E memiliki fungsi lain, yaitu fotoproteksi dan melembabkan kulit (Baumann, 2009). Askorbil palmitat memiliki aktivitas sama seperti asam askorbat yaitu merupakan antioksidan kuat karena dapat menyumbangkan atom hidrogen dan sebagai scavenger ROS dan RNS, efektif melawan ion radikal superoksida, dan hidrogen peroksida (Padayatty et al., 2003). Selain itu, juga berfungsi sebagai ko-faktor biosintesis kolagen sehingga dapat mengembalikan elastisitas kulit dan menyamarkan keriput. Kedua vitamin tersebut memiliki kerja yang saling mendukung dalam melawan radikal bebas. Namun menurut Bisset (2006), formulasi kedua vitamin dalam sediaan 1

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 topikal memiliki masalah kestabilan dan penetrasinya menembus barier kulit, serta kelarutannya yang sedikit berbeda. Sediaan yang sesuai untuk memformulasikan keduanya ialah sediaan emulsi. Namun, emulsi memiliki beberapa kelemahan diantaranya kurang mampu untuk menghantarkan zat aktif masuk kedalam lapisan kulit karena ukuran dropletnya yang cukup besar, hal ini kurang efektif bila digunakan untuk sediaan kosmetik yang ditujukan untuk anti penuaan dini serta sifatnya yang tidak stabil secara termodinamika. Perkembangan ilmu pengetahuan telah didapat suatu bentuk sediaan yang merupakan pengembangan dari bentuk emulsi itu sendiri yaitu mikroemulsi. Mikroemulsi memiliki sistem isotropik yang stabil secara termodinamika, yang terdiri dari dua fase cairan air dan minyak membentuk fase tunggal. Mikroemulsi memiliki kelebihan diantaranya adalah dapat meningkatkan kelarutan suatu senyawa karena dapat berperan sebagai super solven, stabil secara termodinamika, jernih dan dapat meningkatkan penetrasi suatu senyawa. Mikroemulsi dapat mencapai kestabilannya dengan bantuan surfaktan dan kosurfaktan. Surfaktan dalam mikroemulsi berperan dalam menurunkan tegangan antar muka hingga sangat rendah dan membuat energi bebas permukaan mendekati nol. Namun, dalam kebanyakan formulasi mikroemulsi, surfaktan saja belum mampu untuk membentuk suatu sistem mikroemulsi sehingga perlu ditambahkan suatu kosurfaktan. Kosurfaktan berperan membantu kerja surfaktan dalam mengurangi tegangan permukaan dan meningkatkan entropi dari sistem yang mengarah ke stabilitas termodinamika (Pathan et al., 2012). Surfaktan dan

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 kosurfaktan yang sering dipakai adalah tween, span, PEG, propilen glikol, dan alkohol rantai pendek. Surfaktan dan kosurfaktan yang dipilih dalam penelitian ini adalah tween 80 dan PEG 400. Tween 80 merupakan surfaktan yang paling sering digunakan, selain itu, tween 80 juga memiliki nilai toksisitas yang lebih rendah dari surfaktan lain serta tidak bersifat iritatif terhadap kulit. Selain itu, tween 80 memiliki kandungan asam oleat sama seperti minyak zaitun yang mengandung lebih dari 50% asam oleat, persamaan kandungan asam oleat ini membuat tween 80 dapat membentuk sistem mikroemulsi (Mahdi et al., 2011). PEG 400 dipilih sebagai kosurfakan karena senyawa ini mampu mengurangi teganggan permukaan, meningkatkan entropi sistem serta dapat meningkatkan kelarutan zat yang sukar larut dalam air. Kedua bahan tersebut sering digabungkan untuk membentuk suatu sediaan mikroemulsi yang baik dan stabil. Mikroemulsi sangatlah kompleks dengan sistem mikrostruktur yang dapat berubah bila terjadi sedikit penyimpangan dari formulasi yang sesuai untuk pembentukan mikroemulsi dapat menyebabkan perubahan yang drastis dari karakteristik fisiknya (Pathan et al., 2012). Proporsi antara surfaktan, kosurfaktan, minyak dan air dalam sediaan mikroemulsi sangat menentukan terbentuknya mikroemulsi yang stabil. Oleh karena itu, diperlukan suatu penelitian untuk mengetahui pengaruh komposisi tween 80 sebagai surfaktan dan PEG 400 sebagai kosurfaktan terutama terhadap formulasi sediaan mikroemulsi untuk menghasilkan sediaan mikroemulsi yang baik dan stabil. Penelitian pengaruh surfaktan tween 80 dan kosurfaktan PEG 400 dalam formulasi sediaan

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 mikroemulsi askorbil palmitat dan alfa tokoferol untuk antiaging diharapkan dapat diketahui pengaruh dari perbandingan surfaktan (tween 80) dan kosurfaktan (PEG 400) dalam menghasilkan sediaan mikroemulsi yang memenuhi syarat sifat fisik dan stabilitas fisik dalam kondisi ekstrim penyimpanan yang baik. B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dirumuskan permasalahan dalam penelitian sebagai berikut : 1) Apakah perbandingan tween 80 sebagai surfaktan dan PEG 400 sebagai kosurfaktan berpengaruh terhadap sifat fisik sediaan mikroemulsi askorbil palmitat dan alfa tokoferol serta bagaimanakah pengaruhnya ? 2) Apakah perbandingan tween 80 sebagai surfaktan dan PEG 400 sebagai kosurfaktan berpengaruh terhadap stabilitas fisik sediaan mikroemulsi askorbil palmitat dan alfa tokoferol dalam kondisi ekstrim penyimpanan serta bagaimanakah pengaruhnya ? 3) Apakah sediaan mikroemulsi askorbil palmitat dan alfa tokoferol memiliki aktivitas antioksidan ? 4) Apakah sediaan mikroemulsi askorbil palmitat dan alfa tokoferol memiliki potensi mengiritasi ? C. Keaslian Penelitian Sejauh penelusuran pustaka dari beberapa sumber yang dilakukan oleh peneliti, penelitian mengenai “pengaruh perbandingan surfaktan tween

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 80 dan kosurfaktan PEG 400 dalam formulasi sediaan mikroemulsi askorbil palmitat dan alfa tokoferol untuk angiaging “ belum pernah dilakukan. Penelitian terkait mengenai vitamin C dan vitamin E yang diformulasikan sebagai sediaan mikroemulsi yang pernah dilakukan dengan : Temperature-Sensitive Microemulsion Gel: An Effective Topical Delivery System for Simultaneous Delivery of Vitamins C and E (Rozman et al., 2008), serta Simultaneous absorption of vitamins C and E from topical microemulsions using reconstructed human epidermis as a skin model (Rozman et al., 2009). Penelitian terkait formulasi sediaan mikroemulsi dengan minyak zaitun, tween 80 dan PEG 400 yang pernah dilakukan adalah Design and Characterization of Self Emulsifying Drug Delivery System of Repaglinide (Kundarapu et al, 2013), serta Formulation Development & Characterization of Microemulsion Drug delivery systems Containing Antiulcer drug (Jha et al, 2010). D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah terhadap ilmu pengetahuan terutama mengenai pengaruh perbandingan tween 80 sebagai surfaktan dan PEG 400 sebagai kosurfaktan terhadap formulasi dan evaluasi sediaan mikroemulsi askorbil palmitat dan alfa tokoferol untuk anti aging.

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 2. Manfaat praktis. Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan sediaan mikroemulsi anti aging dengan zat aktif askorbil palmitat dan alfa tokoferol yang memiliki sifat fisik dan stabilitas yang baik serta memiliki kemampuan antioksidan dan tidak bersifat iritatif yang bermanfaat bagi masyarakat. E. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui pengaruh perbandingan tween 80 sebagai surfaktan dan PEG 400 sebagai kosurfaktan terhadap sifat fisik sediaan mikroemulsi askorbil palmitat dan alfa tokoferol. 2. Untuk mengetahui pengaruh perbandingan tween 80 sebagai surfaktan dan PEG 400 sebagai kosurfaktan terhadap stabilitas fisik sediaan mikroemulsi askorbil palmitat dan alfa tokoferol dalam kondisi ekstrim penyimpanan. 3. Untuk mengetahui kemampuan antioksidan dalam bentuk IC50 dari sediaan mikroemulsi askorbil palmitat dan alfa tokoferol. 4. Untuk mengetahui sifat iritatif sediaan mikroemulsi askorbil palmitat dan alfa tokoferol.

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Penuaan (Aging) Penuaan adalah suatu proses menjadi tua, yang merupakan proses fisiologis yang pasti akan terjadi pada semua makhluk hidup dengan kecepatan yang berbeda, dan terjadi setelah masa pertumbuhan berhenti. Pada orang tertentu penuaan terjadi sesuai dengan usianya sedangkan pada orang lain datangnya lebih cepat, keadaan ini disebut penuaan dini (premature aging) (Jusuf, 2005). Cunnningham (2003) menjabarkan proses penuaan pada kulit terjadi dengan dua macam proses yang saling berkaitan satu sama lain, yaitu : a. Proses intrinsik (true aging, chronological aging) Proses ini merupakan proses fisiologis yang berjalan alami seiring dengan pertambahan usia seseorang yang disebabkan dan dipicu oleh faktor-faktor dari dalam tubuh, seperti faktor genetik dan hormonal. b. Proses ekstrinsik (entrinsic aging) Merupakan proses penuaan yang berjalan lebih cepat dan menjadikannya tidak sesuai dengan usia yang dipengaruhi oleh faktor dari luar tubuh, seperti sinar matahari, kelembaban udara dan radikal bebas. Proses serta mekanisme pasti terjadinya penuaan belum diketahui hingga saat ini. Namun, para ahli mengemukakan beberapa teori yang dapat menjelaskan 7

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 proses penuaan. Banyak teori penuaan yang berkembang seperti teori kerusakan DNA, teori endokrin, teori telomer, dan teori radikal bebas. a. Teori Kerusakan DNA Teori ini mengemukakan bahwa proses penuaan merupakan akibat akumulasi kesalahan pada replikasi DNA, sehingga mengakibatkan kematian sel (Jusuf, 2005). Mitokondrial DNA (mtDNA) yang berperan dalam mekanisme perbaikan DNA yang rusak banyak mengalami mutasi sehingga mekanisme perbaikan DNA yang rusak menjadi berkurang. Paparan kronis dari UVA dapat menyebabkan delesi pada mtDNA pada fibroblast dermis yang merupakan salah satu penyebab photoaging (Murina et al., 2012). b. Teori Telomer Telomer membentuk ujung kromosom dan melindungi kromosom serta membentuk cap dari protein. Pemendekan telomer pada setiap siklus pembelahan sel menstimulasi respon perbaikan DNA dan menyebabkan apoptosis. Radiasi UV meningkatkan gangguan telomer yang mengakibatkan telomer tidak dapat mengalami pemendekan sehingga proses perbaikan DNA dan apoptosis pada sel yang rusak terganggu seperti yang terjadi pada sel kanker (Makrantonaki et al., 2010). Namun, Murina et al., (2012) menyatakan bahwa hilangnya kemampuan telomer bukan faktor dominan dalam penuaan kulit. c. Teori Endokrin Teori ini mengatakan bahwa bertambahnya usia menyebabkan perubahan keseimbangan sistem hormonal atau penurunan produksi hormon-

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 hormon tertentu yang bertugas untuk meregenerasi sel-sel, seperti hormon pertumbuhan, hormon estrogen serta hormon progesteron (Jusuf, 2005). d. Teori Radikal Bebas Teori ini merupakan teori yang paling banyak diterima sebagai penyebab penuaan dini, karena akumulasi kerusakan oleh radikal bebas dalam sel. Radikal bebas adalah atom atau molekul yang mempunyai elektron yang tidak berpasangan pada orbital terluarnya dan dapat berdiri sendiri. Bahan radikal bebas dalam tubuh paling banyak berasal dari oksigen yang disebut sebagai senyawa oksigen reaktif (reactive oxygen species/ROS). Sebagian diantaranya berbentuk radikal seperti radikal hidroksil (●OH), radikal peroksil (●OOH), dan ion superoksida (O2-●). Sebagian yang lain bukan radikal, seperti singlet oksigen (1O2), hidrogen peroksida (H2O2) dan ion hipoklorit (ClO-) (Clarkson et al., 2000). Radikal bebas memiliki sifat reaktifitas tinggi dan dapat merubah molekul menjadi suatu radikal, sehingga menyebabkan kerusakan sel, gangguan fungsi sel, bahkan kematian sel. Radikal bebas ini akan merusak enzim superoksida-dismutase (SOD) yang berfungsi mempertahankan fungsi sel sehingga fungsi sel menurun dan menjadi rusak (Cunnningham, 2003). tekanan oksidatif (oxidative stress) merupakan suatu keadaan dimana tingkat oksigen reaktif yang toksik melebihi pertahanan antioksidan endogen. Keadaan ini mengakibatkan kelebihan radikal bebas, yang akan bereaksi dengan lemak, protein, asam nukleat dan transduksi sinyal. Lipid merupakan biomolekul yang paling rentan diserang oleh radikal bebas karena kandungan

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 poly unsaturated fatty acid (PUFA) (Birben et al., 2012). Proses peroksidasi lipid dapat menghasilkan produk yang bersifat toksik, seperti 4-HNE (4hidroksi -2- nonenal) yang mampu menyerang dan merubah molekul biologis penting seperti protein dan basa DNA yang dapat mengakibatkan berbagai gangguan dan penyakit (Nikki, 2010). Teori radikal bebas pada penuaan menunjukkan bahwa ROS mengaktifkan sejumlah phosphorylase-mediated kinases, yang mengakibatkan aktivasi jalur transduksi sinyal di seluruh epidermis. Jalur transduksi sinyal ini salah satunya adalah mitogen-activated protein kinases, seperti p38; c-jun N-terminal kinase; dan extracellular signal-regulated kinases, yang mengakibatkan pengaktifan kompleks activator protein 1 (AP1) nuklear transkripsi, yang merupakan heterodimer yang terdiri dari protein c-jun dan c-fos. AP 1 bertanggung jawab dalam aktivasi gen metalloproteinase matriks (MMP) (Murina et al., 2012). Matriks metalloproteinase (MMP) adalah suatu zinc-dependent endopeptidase yang terlibat dalam proses penyembuhan luka, turn over matriks ekstraseluler, angiogenesis, dan kanker. Sejumlah MMP mampu menimbulkan degradasi kolagen tipe I dan III, antara lain MMP-1, MMP-8, MMP13, MMP-14, MMP-15, dan MMP-16. Namun, pada kulit hanya MMP1 yang paling banyak dipicu pembentukannya oleh pajanan sinar UV dan yang paling bertanggung jawab terhadap pemecahan kolagen akibat paparan sinar matahari. Kolagenase ini memicu kejadian proteolitik yang menyebabkan degradasi kolagen dan pergantian matriks ekstraseluler secara

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 keseluruhan. Matriks metalloproteinase dapat dengan segera timbul hanya dengan dosis minimal sinar UV. Ada suatu hubungan dosis dan respon yang ditimbulkan antara paparan UV dan induksi MMP (Murina et al., 2012). Sinar ultra violet juga mengaktifkan nuclear factor kappa B (NF kB), yaitu faktor transkripsi yang mempengaruhi ekspresi berbagai protein serta memperburuk degradasi matriks kulit dengan cara meningkatkan kadar MMP-1 dan MMP-9. Degradasi matriks diperburuk dengan masuknya MMP8 (kolagenase) dari sumber neutrofil ke dalam kulit yang terpapar sinar UV setelah infiltrasi neutrofil (Brennan, 2003). Selain itu, radiasi sinar UV juga menganggu ekspresi gen dari prokolagen jenis I dan III dalam dermal fibroblas dengan 2 mekanisme. Pertama, radiasi UV menginduksi AP-1, sehingga menghambat transforming growth factor β (TGF-β), suatu sitokin profibrotik yang meningkatkan transkripsi gen-gen kolagen. Mekanisme kedua adalah membuat reseptor TGF-β tidak dapat menanggapi TGF-β dengan demikian menghasilkan lebih sedikit prokollagen tipe I (Murina et al., 2012). B. Antioksidan 1. Definisi antioksidan Antioksidan adalah zat yang dapat menetralkan radikal bebas dengan mendonorkan elektron, dengan demikian dapat memperlambat atau bahkan menghambat oksidasi dan melindungi tubuh dari beragam penyakit serta penuaan dini (Nikki, 2010). Antioksidan dapat digolongkan menjadi 2

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 kelompok, yaitu antioksidan enzimatik dan non-enzimatik. Antioksidan enzimatik berperan untuk pertahanan tubuh terhadap radikal bebas dengan menstabilkan atau deaktifasi radikal bebas, contoh dari antioksidan enzimatik adalah superoksida dismutase (SOD), glutation peroksidase, glutation reduktase, dan thioredoxin. Antioksidan non-enzimatik yang merupakan scavangers ROS dan RNS, contoh dari antioksidan non enzimatik adalah glutathione, vitamin A, C dan E (Birben et al., 2012). Menurut Noori (2012), berdasarkan mekanisme kerjanya, antioksidan dalam tubuh dikelompokkan menjadi 3 yakni: 1. Antioksidan primer, antioksidan ini bekerja untuk mencegah pembentukan senyawa radikal baru, sebelum radikal bebas ini sempat bereaksi. Contohnya: enzim SOD 2. Antioksidan sekunder, antioksidan ini bekerja menangkap senyawa serta mencegah terjadinya reaksi berantai. Contoh: vitamin E, vitamin C, betakaroten. 3. Antioksidan tersier, antioksidan ini berkerja memperbaiki kerusakan selsel dan jaringan yang disebabkan radikal bebas. Contoh: enzim metionin sulfoksidan reduktase untuk memperbaiki DNA pada inti sel. 2. Askorbil palmitat sebagai antioksidan Aktivitas antioksidan dari askorbil palmitat merupakan aktivitas dari asam askorbat itu sendiri, karena askorbil palmitat akan dimetabolisme tubuh dan mengalami hidrolisis sehingga akan kembali menjadi bentuk semula yaitu asam askorbat dan asam linoleat (United States Department of Agriculture,

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 2012). Asam askorbat memiliki fungsi sebagai kofaktor enzim klasik (hydroxylating enzymes), agen protektif (sebagai hidroksilase pada biosintesis kolagen), dan sebagai radikal askorbil dalam reaksi dengan metal ion transisi (Padayatty et al., 2003). Asam askorbat juga sebagai kofaktor untuk aktivitas enzimatik hidroksilase prolyl, sebuah enzim yang menghidrolisis residu prolyl di prokolagen, elastin, dan protein lain sebelum pembentukan triple helix, yang diperlukan untuk sintesis kolagen (Baumann, 2009). Asam askorbat mampu bereaksi dengan radikal bebas, mengalami oksidasi dengan kehilangan satu elektronnya. Oksidasi yang pertama menghasilkan radikal bebas askorbil dan kemudian membentuk asam dehidroL-askorbid. Hidrolisis asam dehidroaskorbat menghasilkan asam 2,3-diketo-Lglukonat dimana akan mengalami dekarboksilasi menjadi CO2. Asam askorbat dapat bereaksi dengan zat toksik, ROS anion superoksida (O2-) dan radikal hidroksil (OH-). Reaksi inilah yang merupakan dasar dari sebagian besar fungsi biologis esensial asam askorbat (Thiele et al., 2007). Radikal askorbil dapat diregenerasi dengan beberapa jalur enzimatik dan NADPH sebagai sumber energi. Tetapi, di dalam tubuh manusia, reduksinya hanya terjadi secara parsial, sehingga asam askorbat yang terlah teroksidasi tidak seluruhnya kembali (Padayatti, 2003). Asam askorbat dapat menjadi antioksidan untuk lipid, protein, dan DNA, dengan cara : (1) Untuk lipid, misalnya Low-Density Lipoprotein (LDL), akan beraksi dengan oksigen sehingga menjadi lipid peroksida. Reaksi berikutnya akan menghasilkan lipid hidroperoksida, yang akan menghasilkan

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 proses radikal bebas. Asam askorbat akan bereaksi dengan oksigen sehingga tidak terjadi interaksi antara lipid dan oksigen, dan akan mencegah terjadinya pembentukan lipid hidroperoksida. (2) Untuk protein, asam askorbat mencegah reaksi oksigen dan asam amino pembentuk peptida, atau reaksi oksigen dan peptida pembentuk protein. (3) Untuk DNA, asam askorbat akan mencegah reaksi DNA dengan oksigen akan menyebabkan kerusakan pada DNA yang akhirnya menyebabkan mutasi (Padayatti, 2003). 3. Alfa tokoferol sebagai antioksidan Vitamin E terdiri dari 2 jenis yaitu tokoferol dan tokotrineol. Terdapat enam jenis tokoferol, α (alfa), ß (beta), γ (gama), δ (delta), ρ (eta), λ (zeta) yang memiliki aktivitas bervariasi. Tokoferol yang memiliki aktifitas terbesar adalah tokoferol alfa. Secara kimia, vitamin E (tokoferol) merupakan turunan chromanol. Rantai hidrokarbon pada tokoferol berfungsi untuk orientasi tokoferol di tempat aksinya, sedangkan bagian chromanol memberikan sifat antioksidan dari tokoferol (Kretz et al., 2001). Alfa tokoferol memiliki fungsi utama adalah sebagai antioksidan alami pemecah rantai radikal bebas dan mencegah peroksidasi membran asam lemak tak jenuh (PUFAs), karena alfa tokoferol dapat bersaing dengan radikal peroksil lebih cepat dibanding PUFAs. Alfa tokoferol banyak digunakan untuk mengatasi kulit kering, serta sebagai produk tabir surya (Baumann, 2009). Riset membuktikan bahwa alfa tokoferol memberikan perlawanan terhadap kekeringan pada kulit dengan menjadi pelembab natural pada kulit, namun belum diketahui mekanisme secara pasti. Para ahli memperkirakan mekanisme

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 melembabkan dari vitamin E adalah dengan meningkatkan hidrasi pada kulit atau sebagai humektan serta dengan membentuk barier lipid (Alencastre et al., 2006). Vitamin E dalam menjalankan fungsinya sebagai antioksidan berubah bentuk menjadi suatu bentuk radikal semistabil, radikal tocopheroxyl. Tidak seperti radikal bebas yang dibentuk dari PUFAs, radikal tocopheroxyl relatif tidak reaktif sehingga dapat menghentikan proses penyebarluasan perusakan oleh peroksidasi lipid (Fennema et al., 2004). Tocopheroxyl radikal dapat mengalami beberapa kemungkinan reaksi, diantaranya : (1) radikal tocopheroxyl dapat diubah kembali menjadi tokoferol melalui reaksi redoks yang diperantarai oleh antioksidan lain seperti asam askorbat dan ubiquinon. (2) Bereaksi dengan yang radikal tocopheroxyl lain untuk membentuk produk non-reaktif seperti tokoferol dimer, (3) mengalami oksidasi lebih lanjut untuk membentuk tocopherylquinone yang dapat tereduksi menjadi α- tocopherylhydroquinone, yang dapat terkonjugasi dengan asam glukoronat disekresikan dalam empedu, dan kemudian diekskresikan dalam feses (eliminasi vitamin E), dan (4) bertindak sebagai prooksidan dan mengoksidasi lipid lainnya (Rigel et al., 2004) 4. Interaksi askorbil palmitat dan alfa tokoferol sebagai antioksidan Interaksi antar antioksidan bersifat sinergis dan mempunyai efek saling memberi dimana satu antioksidan melindungi yang lain melawan destruksi oksidatif. Askorbil palmitat mempunyai peran meregenerasi efek proteksi antioksidan alfa tokoferol pada area sel yang hidrofobik dengan cara

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 mendonorkan atom hidrogen pada radikal tocopheroxyl yang akan membentuk kembali bentuk aktif alfa tokoferol setelah berinteraksi dengan radikal bebas (Fennema et al., 2004) C. Mikroemulsi 1. Definisi Mikroemulsi Mikroemulsi adalah sistem dispersi minyak dan air yang secara termodinamika stabil, transparan atau jernih yang distabilkan oleh lapisan antarmuka dari molekul surfaktan (Pathan et al., 2012). Mikroemulsi terdiri dari empat komponen yaitu minyak, air, surfaktan dan kosurfaktan. Terdapat tiga tipe sistem dispersi yang dibentuk oleh mikroemulsi yaitu tipe minyak dalam air (M/A atau O/W), tipe air dalam minyak (A/M atau W/O) dan tipe bikontinu. Tipe sistem dispersi mikroemulsi tersebut terbentuk dipengaruhi oleh komposisi dari komponen mikroemulsi itu sendiri (Lawrence et al., 2000). Mikroemulsi memiliki banyak kelebihan bila dibandingkan dengan emulsi, antara lain stabil secara termodinamika (stabil dalam jangka waktu yang lama), jernih dan transparan, dapat disterilkan secara filtrasi, biaya pembuatan murah, mempunyai kelarutan yang tinggi serta dapat berpenetrasi dengan baik (Pathan et al., 2012). Gambar 1. Tipe sistem dispersi mikroemulsi (Wankhade et al.,2012).

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 Menurut Muzaffar et al. (2013) pembentukan mikroemulsi harus memperhatikan tiga kondisi penting, yaitu : a. Pemilihan surfaktan adalah hal yang sangat penting dalam mencapai tegangan antar muka yang sangat rendah antara minyak dan air yang merupakan syarat utama untuk menghasilkan mikroemulsi. b. Konsentrasi surfaktan harus cukup tinggi untuk menyediakan jumlah molekul surfaktan yang diperlukan untuk menstabilkan tetesan mikro yang akan diproduksi oleh sistem mikroemulsi. c. Sistem antarmuka harus cukup fleksibel untuk pembentukan mikroemulsi 2. Teori Pembentukan Mikroemulsi Menurut Singh et al. (2014) terdapat tiga teori pembentukan mikroemulsi, antara lain: a. Teori bauran lapisan (Mixed film) Teori ini menyatakan bahwa pembentukan mikroemulsi dapat terjadi dengan penurunan tegangan lapisan antar muka hingga sangat rendah (mendekati nol atau negatif). Pembentukan partikel mikroemulsi yang spontan berhubungan dengan pembentukan suatu lapisan yang kompleks pada antar muka minyak-air oleh surfaktan dan kosurfaktan. Hal ini menyebabkan penurunan tegangan antar permukaan minyak-air hingga nilai yang sangat rendah. b. Teori kelarutan (solubilisasi) Kelompok Shinoda dan Friberg menganggap mikroemulsi merupakan larutan monofase yang stabil secara termodinamika yang

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 terbentuk dari misel speris, air dan minyak. Karena surfaktan memiliki kecenderungan untuk berkelompok membentuk misel dan konsentrasi yang ditambahkan saat terbentuk kelompok misel yang disebut Criticall Micell Concentration (CMC). Sifat terpenting misel adalah kemampuannya untuk menaikkan kelarutan zat-zat yang biasanya sukar larut atau sedikit larut dalam pelarut yang digunakan. Proses ini disebut solubilisasi yang terbentuk antara molekul zat yang larut berasosiasi dengan misel dari surfaktan membentuk larutan yang jernih dan stabil secara termodinamika. c. Teori termodinamika Pembentukan Mikroemulsi bergantung kepada kemampuan surfaktan dalam menurunkan tegangan antar muka antara tetesan minyak dan perubahan entropi dari sistem. Teori termodinamika ini dapat dilihat dari persamaan berikut : ∆ = ∆ − ∆ Dimana, Gf adalah energi bebas pada pembentukan mikroemulsi, γ adalah tegangan permukaan antarmuka minyak-air, ΔA adalah perubahan luas antarmuka pada mikroemulsifikasi, ΔS adalah perubahan entropi dari sistem yang efektif dalam dispersi, dan T adalah temperatur. Pada makroemulsi energi antarmuka lebih besar dari entropi sistem dan proses pembentukannya tidak spontan, dibutuhkan energi dalam pembentukannya yang didapat dari mixer dengan kecepatan tinggi. Pada pembentukan sistem mikroemulsi, dispersi droplet pada fase kontinu

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 meningkatkan entropi sistem dan menghasilkan nilai negatif pada energi bebas permukaan. 3. Komponen Penyusun Mikroemulsi a. Fase Minyak Komponen minyak berpengaruh pada kemampuannya untuk menembus wilayah ekor dari surfaktan. Kriteria utama untuk pemilihan minyak adalah bahwa obat harus memiliki kelarutan yang tinggi di dalamnya (Pathan et al., 2012). b. Surfaktan Surfaktan memiliki struktur bagian kepala bersifat hidrofilik dan bagian ekor bersifat hidrofobik, menyebabkan surfaktan cenderung berada pada antarmuka antara fase yang berbeda derajat polaritas dan membentuk ikatan hidrogen dengan minyak dan air. Peran surfaktan dalam formulasi mikroemulsi adalah untuk menurunkan tegangan antar muka yang akhirnya akan memfasilitasi proses dispersi selama persiapan mikroemulsi. Pembentukan suatu mikroemulsi dibutuhkan surfaktan dalam jumlah banyak untuk dapat membentuk suatu mikroemulsi yang stabil, yaitu lebih dari 40% dari total formula (Pathan et al., 2012). Terdapat empat jenis surfaktan berdasarkan ionisasi dalam larutan air yaitu anionik, kationik, nonionik, dan amfoterik (Nielloud et al, 2000). 1) Surfaktan Anionik Surfaktan ini membawa muatan negatif pada bagian hidrofilik. Secara luas, surfaktan ini banyak digunakan karena harganya yang

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 murah. Namun, surfaktan ini dapat menyebabkan iritasi dan toksik sehingga hanya digunakan untuk sediaan luar. Surfaktan ini hanya menghasilkan emulsi A/M. Contoh surfaktan ionik yaitu: Sodium lauril sulfat; Triethanolamine; Sodium dioctylsulphosuccinate; dan sebagainya. 2) Surfaktan Kationik Surfaktan ini mengandung muatan positif pada bagian hidrofilik. Gugus terpenting pada surfaktan ini terdiri atas senyawa ammonium kuartener. Surfaktan ini bersifat toksik sehingga cenderung digunakan untuk formula krim antiseptik. Surfaktan kationik tidak dapat bercampur dengan surfaktan anionik dan anion polivalen, serta tidak stabil pada pH tinggi. Contoh surfaktan kationik yaitu: Cetrimide; Cetrimonium bromida; Benzalkonium chlorida; dan Cetylpyridinium chlorida. 3) Surfaktan Amfoterik Surfaktan ini memiliki dua sifat pada bagian hidrofiliknya, tergantung pH sistem. Surfaktan ini bersifat kationik jika pH rendah dan bersifat anionik jika pH tinggi. Contoh surfaktan amfoterik yaitu: Lecithin. 4) Surfaktan Nonionik Surfaktan nonionik tidak memiliki muatan pada bagian hidrofiliknya. Surfaktan nonionik mempunyai kemampuan melarutkan senyawa yang kurang larut dan memiliki toksisitas rendah. Contoh surfaktan nonionik yaitu: Glikol dan gliserol ester; Sorbitan ester; Polisorbat; PEG; dan Poloxalkol.

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 c. Kosurfaktan Dalam kebanyakan kasus, surfaktan sendiri belum dapat menurunkan tegangan antarmuka air-minyak hingga sangat rendah untuk menghasilkan sebuah mikroemulsi. Dibutuhkan penambahan korsurfaktan yang dapat berupa senyawa dengan molekul ampifiilik rantai pendek (seperti etanol) ataupun surfaktan kedua (seperti polietilen glikol) untuk membuat tegangan antarmuka mendekati nol. Kosurfaktan meningkatkan fluiditas rantai hidrokarbon surfaktan primer, membantu untuk mengurangi tegangan permukaan, yang meningkatkan entropi dari sistem yang mengarah ke stabilitas termodinamika (Pathan et al., 2012). Secara luas molekul yang dapat berfungsi sebagai kosurfaktan meliputi surfaktan nonionik, alkohol, asam alkanoat, alkanediol dan alkil amina, etanol, butanol (Lawrence et al., 2000). 4. Kontrol kualitas mikroemulsi a. Karakteristik mikroemulsi Menurut Muzaffar et al. (2013) terdapat beberapa uji untuk mengetahui karakteristik mikroemulsi, antara lain: 1) Organoleptis : uji ini dilakukan untuk melihat fisik mikroemulsi secara visual. Dalam uji ini yang diamati adalah warna, bau, pemisahan fase dan kejernihan mikroemulsi. 2) Tipe mikroemulsi dapat diketahui dengan melakukan uji pengenceran menggunakan fase minyak dan air yang digunakan, serta dapat dilakukan dengan cara pewarnaan fase.

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 3) Ukuran droplet : pengukuran ini dilakukan untuk melihat apakah ukuran droplet dari sediaan sudah memenuhi ukuran droplet mikroemulsi sesuai dengan pustaka yang ada, yaitu kurang dari 100 nm. 4) Pengukuran pH : pengukuran pH dilakukan untuk melihat perubahan pH saat awal dan akhir uji stabilitas. Pengujian ini juga dilakukan untuk melihat apakah pH sediaan sesuai untuk kulit. Suatu sediaan topikal harus didesain agar memiliki pH yang mirip dengan pH kulit yaitu 4,5 – 6,5, apabila melebihi batas tersebut sediaan dapat membuat kulit kering, bila kurang dari rentang tersebut akan menimbulkan iritasi pada kulit. 5) Persen transmitansi : pengukuran persen transmitansi dilakukan untuk mengukur kejernihan suatu mikroemulsi. Pengujian dilakukan dengan spektrofotometer UV-Vis. 6) Indeks bias merupakan suatu nilai yang menunjukkan sifat isotropik suatu cairan. Pengujiannya menggunakan refraktometer dan dibandingkan dengan indeks bias aquadest (1,333). 7) Viskositas adalah suatu sifat dari fluida untuk mengalir serta dapat untuk mengetahui jenis misel yang terbentuk. Makin kental suatu cairan, makin besar kekuatan yang diperlukan untuk digunakan supaya cairan tersebut mengalir dengan laju tertentu. 8) Potensial zeta berguna untuk menilai flokulasi yang terjadi karena adanya muatan listrik pada partikel yang mempengaruhi laju flokulasi. Nilai potensial zeta yang baik adalah netral, yang mengindikasikan bahwa tetesan mikro emulsi tidak memiliki muatan yang membuat

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 sistem tersebut stabil. Potensial zeta ditentukan dengan menggunakan Zetasizer. 9) Bobot jenis berguna untuk mengetahui kerapatan partikel atau droplet pada suatu sediaan mikroemulsi. b. Stabilitas termodinamik Uji stablitas adalah proses yang memakan waktu relatif lama, sehingga uji stabilitas dipercepat lebih banyak dilakukan. Uji stabilitas dipercepat pada mikroemulsi dapat dilakukan dengan uji sentrifugasi dan uji freeze thaw seperti yang diungkapkan oleh Dawaba et al.(2010). 1) Uji sentrifugasi Metode sentrifugasi digunakan untuk menginduksi dan mempercepat ketidakstabilan yang disebabkan oleh gaya gravitasi. kondisi penyimpanan normal dapat diprediksi dengan cepat dengan mengamati pemisahan fase dispersi ketika mikroemulsi dikenakan sentrifugasi. Uji sentrifugasi dilakukan dengan kecepatan 5000 rpm selama 15 menit (Darole, et al., 2008). 2) Uji Heating-cooling Uji Heating-cooling menginduksi stres dalam sistem mikroemulsi dengan kondisi ekstrim suhu tinggi penyimpanan. Uji ini dilakukan untuk mengamati perubahan dalam stabilitas seperti pemisahan fase, inversi, agregasi, creaming dan cracking dari sampel mikroemulsi. Mikroemulsi disimpan pada 4°C selama 24 jam dan

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 diikuti oleh 24 jam pada 40°C, siklus diulang tiga kali dan perubahan yang terjadi dicatat. 3) Uji Freeze Thraw Uji freeze thaw menginduksi stres dalam sistem mikroemulsi dengan kondisi ekstrim suhu penyimpanan rendah. Uji ini dilakukan untuk mengamati perubahan dalam stabilitas seperti pemisahan fase, inversi, agregasi, creaming dan cracking dari sampel mikroemulsi. Mikroemulsi disimpan pada -20°C selama 24 jam dan diikuti oleh 24 jam pada 25°C, siklus diulang tiga kali dan perubahan yang terjadi dicatat. D. Uji DPPH Metode DPPH merupakan metode yang paling banyak digunakan dalam mengevaluasi aktivitas antioksidan suatu senyawa. Metode ini mudah, cepat, akurat dan murah untuk pengujian aktivitas antioksidan suatu senyawa. Metode DPPH menggunakan 2,2difenil-1-pikrilhidrazil sebagai sumber radikal bebas, yang dapat mendonorkan atom hidrogen (Marinova et al., 2011). DPPH merupakan radikal bebas nitrogen organik yang memiliki sifat sangat stabil, bereaksi dengan senyawa yang dapat menyumbangkan hidrogen atom dan memiliki penyerapan maksimum UV-Vis pada 515 - 517nm. Metode ini didasarkan pada penangkapan radikal DPPH oleh antioksidan melalui reaksi reduksi, dan dekolorisasi dari larutan DPPH dalam metanol atau etanol (Ndhlala et al., 2010). Ketika larutan DPPH dicampur dengan suatu zat yang dapat

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 menyumbangkan atom hidrogen, maka akan membuat warna violet pada larutan DPPH berkurang atau hilang. Perubahan ini dapat diukur secara stoikiometri sesuai dengan jumlah elektron atau atom hidrogen yang ditangkap oleh molekul DPPH akibat adanya zat antioksidan dengan menggunakan spektrofotometer UVVis (Molyneux, 2004). Spektrofotometer UV-Vis memiliki prinsip kerja penyerapan radiasi elektromagnetik pada panjang geombang UV-Vis oleh suatu molekul yang yang dapat menyebabkan eksitasi elektron dalam orbital molekul tersebut dari tingkat energi dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi. Syarat senyawa yang dapat diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis adalah mempunyai gugus kromofor dan auksokrom dan memiliki serapan pada panjang gelombang UV-Vis (Sastroamidjojo, 2001). Gambar 2. Struktur DPPH radikal (1), struktur DPPH non radikal (Molyneux, 2004) Aktivitas antioksidan merupakan kemampuan suatu senyawa untuk menghambat reaksi oksidasi yang dapat dinyatakan dengan persen penghambatan. Parameter yang dipakai untuk menunjukan aktivitas antioksidan adalah harga konsentrasi efisien atau efficient concentration (EC50) atau Inhibition Concentration (IC50) yaitu konsentrasi suatu zat antioksidan yang dapat menyebabkan 50% DPPH kehilangan karakter radikal atau konsentrasi suatu zat antioksidan yang memberikan %penghambatan 50%. Zat yang mempunyai

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 aktivitas antioksidan tinggi, akan mempunyai harga EC50 atau IC50 yang rendah (Molyneux, 2004). Tabel I. Tingkat kekuatan aktivitas antioksidan dengan metode DPPH (Arianyo, 2006). Aktivitas antioksidan Nilai IC50 < 50 µg/mL Sangat Kuat 50-100 µg/mL Kuat 101-150µg/mL Sedang > 150 µg/mL Lemah E. Uji Iritasi Iritasi kulit adalah proses peradangan pada kulit yang tidak dimediasi oleh sistem imun dan bersifat reversibel. Pada iritasi akan terjadi perubahan kulit yang dapat berupa eritema dan endema, dan disertai keluahan seperti gatal dan rasa kulit seperti terbakar. Produk yang dapat mengiritasi kulit salah satunya adalah kosmetik, dikarenakan kandungan bahan didalamnya. Uji iritasi menjadi penting untuk menghindari terjadinya kemungkinan iritasi dari penggunaan produk tersebut. Uji iritasi yang biasa digunakan menggunakan binatang sebagai hewan uji, namun banyak pihak yang mengkritik dan menolaknya sehingga perlu digunakan uji iritasi selain menggunakan hewan uji (Robinson et al., 2001). Metode Hen’s Egg Test-Chroallontoic (HET-CAM) merupakan salah satu uji iritasi alternatif yang mulai banyak digunakan sebagai penganti uji iritasi dengan menggunakan binatang sebagai hewan uji. Uji HET-CAM biasa digunakan dalam uji iritasi pada mata, namun uji ini dapat juga digunakan untuk iritasi pada kulit pada beberapa kasus seperti penggunaan surfaktan pada kosmetik (Bernardi et al., 2011). Kelebihan dari uji ini adalah mudah, dan dapat menggurangi waktu dan biaya dibanding iritasi lain (Cazedey et al., 2009).

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 CAM merupakan jaringan yang terdiri dari arteri, vena dan kapiler darah. CAM akan memberikan respon berupa perdarahan, lisis atau koagulasi bila terpapar bahan yang bersifat iritatif (Cazedey, et al., 2009). Iritation Score dihitung menggunakan persamaan : IS = x5+ x7 + x9 (1) (Cazedey, et al., 2009). Keterangan : Waktu perdarahan : waktu pertama kali terjadi perdarahan (detik) Waktu lisis : waktu pertama kali terjadi lisis pembuluh darah (detik) Waktu koagulasi : waktu pertama kali terjadi koagulasi protein (detik) Tabel II. Hubungan Iritation Score dengan kategori iritasi (Cazedey et al., 2009). kategori Iritation Score 0 – 0,9 1 – 4,9 5 – 8,9 atau 5 – 9,9 9 -21 atau 10 - 21 tidak mengiritasi iritasi lemah iritasi sedang iritasi kuat F. Pemerian Bahan 1. Askorbil Palmitat Gambar 3. Struktur Ascorbyl Palmitate (Rowe et al., 2009) Pemerian askorbil palmitat adalah sebagai berikut rumus molekul : C22H38O7, askorbil palmitat praktis tidak berbau, merupakan serbuk berwarna putih hingga kuning. Kelarutan dalam aseton 1 dalam 15 bagian, dalam etanol

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 1 dalam 8 bagian, dalam minyak zaitun 1 dalam 3300 bagain (Rowe et al., 2009). Sangat sukar larut dalam air (≤ 1.8 g/L at 20oC) (Aquilina et al., 2013). Asam askorbat sangat tidak stabil dan kurang diserap ke dalam kulit, askorbil palmitat merupakan turunan dari asam askorbat dengan sifat lebih lipofilik, lebih stabil serta lebih mudah diserap kulit karena memiliki bagian yang hidrofil di satu sisi dan lipofil di sisi lain (Baumann, 2009). 2. Dl-alfa Tokoferol Gambar 4. Struktur Alpha tocopherol (Rowe et al., 2009) Pemerian alfa tokoferol adalah sebagai berikut rumus molekul : C29H50O2, bobot molekul 430,72, alfa tokoferol merupakan larutan berminyak berwarna kuning jernih, kental. Alfa tokoferol larut dalam etanol 95%, miscible dengan aseton, kloroform, eter, dan minyak natural. Praktis tidak larut dalam air. Alfa tokoferol dapat digunakan dalam formulasi sediaan oral maupun topikal (Rowe et al., 2009). 3. Minyak Zaitun (Olea europaea) Minyak zaitun adalah minyak yang diambil dari buah pohon Olea europaea. Kandungan asam lemak dalam minyak zaitun berupa asam oleat 5685%, asam palmitat 7,5-20%, asam linoleat 3,5-20%, asam palmitooleat <3,6%, asam starat 0,5-5%, asam lemak jenuh dengan panjang rantai kurang dari C16 <0,1% (Stuchlik et al., 2001). Minyak zaitun mengandung beberapa senyawa antioksidan utamanya polifenol hydroxytyrosol dan oleuropein, serta

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 vitamin A dan E sehingga dapat menstabilkan sediaan dan minyak zaitun sendiri terhadap oksidasi dibandingkan dengan minyak nabati lainnya (Waterman et al, 2007). Minyak zaitun mengandung sejumlah besar asam oleat yang merupakan asam lemak kuat yang dapat meningkatkan penetrasi. Asam oleat juga berpengaruh terhadap proses metabolisme dalam kulit, meningkatkan aktivitas vitamin A dan E dan memulihkan sifat perlindungan dari stratum korneum serta memulihkan kondisi kulit yang kering. Minyak zaitun banyak digunakan sebagai shampo dan kondisioner untuk rambut, produk pembersih, serta krim dan lotion dalam bidang kosmetik (Alvarez et al., 2000). 4. Tween 80 Gambar 5. Struktur Polysorbate 80 (tween 80) (Mahdi et al., 2011) Polysorbate merupakan surfaktan non-ionik hidrofilik yang mengandung 20 unit oksietilena dan digunakan sebagai emulsifying agent pada emulsi tipe minyak dalam air. Nama kimia untuk tween 80 adalah polyoxyethylene 20 sorbitan monooleate dengan rumus kimia C64H124O26, berbentuk cairan berminyak berwarna kuning. Tween 80 memiliki toksisitas rendah sehingga dapat digunakan untuk penggunaan oral dan parenteral. Tween 80 berbentuk cairan berwarna kuning dengan bau khas lemah. Tween 80 memiliki bobot jenis 1,08 g/cm3 dan nilai HLB 15. Tween 80 larut dalam etanol dan air. Selain itu, tidak larut dalam minyak mineral dan minyak nabati.

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 Dalam farmasetik tween 80 digunakan sebagai agen pengemulsi, solubilisator, pembasah, dan agen pensuspensi atau pendispersi (Rowe et al., 2009). 5. PEG 400 Gambar 6. Struktur PEG 400 (Rowe et al., 2009) Polietilenglikol 400 adalah polietilenglikol H(O-CH2-CH2)n OH dimana harga n antara 8,2 dan 9,1. Pemerian : cairan kental jernih, tidak berwarna atau praktis tidak berwarna, bau khas lemah, agak higroskopik. Kelarutan : larut dalam air, dalam etanol (95%) P, dalam aseton P, dalam glikol lain dan dalam hidrokarbon aromatik, praktis tidak larut dalam eter P dan dalam hidrokarbon alifatik. Bobot molekul rata-rata : 380-420, kandungan lembab : sangat higroskopis (sifat higroskopis turun dengan meningkatnya bobot molekul), titik beku 4-80C (Raymond, 2006). PEG merupakan salah satu jenis bahan pembawa yang sering digunakan sebagai bahan tambahan dalam formulasi untuk meningkatkan pelarutan obat yang sukar larut. Bahan ini merupakan salah satu jenis polimer yang dapat membentuk komplek polimer pada molekul organik apabila ditambahkan dalam formulasi untuk meningkatkan kecepatan pelarutan yang dapat membentuk kompleks dengan berbagai obat (Sinko, 2006). 6. Aquadest Menurut Farmakope Indonesia III, aquadest yaitu cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak mempunyai rasa. Nama lain aquadest adalah

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 air suling. Aquadest dibuat dengan menyuling air yang dapat diminum. Fungsi aquadest sebagai pelarut. Rumus kimia dari aquadest adalah H2O dengan berat molekul 18,02 (Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1979). G. Landasan Teori Askorbil palmitat dapat berfungsi sebagai antioksidan, kofaktor dalam sintesis kolagen, dan bersifat fotoprotektif. Askorbil palmitat merupakan asam askorbat dengan penambahan ester yang menjadikannya lebih stabil terhadap oksidasi dan lebih mudah terabsorbsi. Alfa tokoferol dapat berperan sebagai antioksidan yang bekerja dengan memecah rantai pada radikal bebas dan melembabkan kulit. Kedua vitamin dapat bekerja secara sinergis menangkap radikal bebas sebagai antioksidan. Mikroemulsi merupakan sediaan yang sesuai untuk memformulasikan askorbil palmitat dan alfa tokoferol dalam suatu sediaan topikal, karena dalam sediaan ini dapat dicampurkan antara fase air dan fase minyak, menjadi satu fase yang stabil secara termodinamika. Mikroemulsi memiliki bebeberapa kelebihan dibandingkan dengan emulsi, antara lain stabil secara termodinamika, dapat meningkatkan kelarutan dan penetrasi suatu senyawa karena ukurannya yang sangat kecil. Sistem mikroemulsi terdiri dari fase air, fase minyak, surfaktan dan kosurfaktan. Surfaktan berperan untuk menurunkan teggangan permukaan, sedangkan kosurfaktan berfungsi untuk membantu kerja surfaktan agar dapat membentuk sediaan mikroemulsi dengan menurunkan teganggan permukaan hingga nol atau mendekati nol.

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 Dalam sistem mikroemulsi jumlah surfaktan dan kosurfaktan sangat berperan dalam pembentukan sediaan mikroemulsi yang memiliki sifat fisik dan stabilitas yang baik, sehingga jumlahnya harus cukup tinggi untuk memfasilitasi terbentuknya sistem mikroemulsi yaitu lebih dari 40% dalam sistem mikroemulsi tersebut. Tween 80 merupakan surfaktan non ionik sehingga cenderung akan membentuk mikroemulsi M/A. Tween 80 dan PEG 400 bersifat tidak toksik dan tidak iritatif sehingga aman digunakan sebagai sediaan topikal. H. Hipotesis 1. Peningkatan perbandingan tween 80 sebagai surfaktan dan PEG 400 sebagai kosurfaktan akan mempengaruhi sifat fisik sediaan mikroemulsi askorbil palmitat dan alfa tokoferol. 2. Semakin tinggi perbandingan tween 80 sebagai surfaktan dan PEG 400 sebagai kosurfaktan maka stabilitas fisik sediaan mikroemulsi askorbil palmitat dan alfa tokoferol akan semakin baik. 3. Sediaan mikroemulsi askorbil palmitat dan alfa tokoferol memiliki kemampuan antioksidan kuat. 4. Sediaan mikroemulsi askorbil palmitat dan alfa tokoferol tidak memiliki potensi iritasi.

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental murni dengan rancangan acak pola searah. B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 1. Variabel penelitian a. Variabel bebas. Variabel bebas pada penelitian ini adalah variasi perbandingan tween 80 sebagai surfaktan dan PEG 400 sebagai kosurfaktan. b. Variabel tergantung. Variabel tergantung pada penelitian ini adalah sifat fisik dan stabilitas sediaan mikroemulsi, serta sifat iritatif (irritation score) dan kemuampuan antioksidan sediaan mikroemulsi askorbil palmitat dan alfa tokoferol (IC50). c. Variabel pengacau terkendali. Variabel pengacau terkendali pada penelitian ini adalah lama dan kecepatan pengadukan pada saat pembuatan mikroemulsi serta suhu dan lama penyimpanan. d. Variabel pengacau tidak terkendali. Variabel pengacau tak terkendali pada penelitian ini adalah kualitas bahan yang digunakan. 33

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 2. Definisi operasional a. Sediaan mikroemulsi adalah suatu sediaan mikroemulsi dengan kandungan zat aktif askorbil palmitat dan dl-alfa-tokoferol yang dibuat sesuai dengan formula yang tertera dalam penelitian ini. b. Sifat fisik merupakan parameter yang digunakan untuk melihat kualitas sediaan mikroemulsi askorbil palmitat dan alfa tokoferol yang meliputi organoleptis, tipe mikroemulsi, pH, ukuran droplet, viskositas, indeks bias, bobot jenis, dan persen transmitansi. c. Stabilitas fisik adalah parameter yang digunakan utuk mengetahui tingkat kestabilan sediaan mikroemulsi dengan melihat perubahan pH, ukuran droplet, viskositas dan persen transmitansi yang diamati setelah sediaan melewati setiap siklus dalam uji freeze thaw. d. Surfactan Mix (Smix) adalah campuran tween 80 sebagai surfaktan dan PEG 400 sebagai kosurfaktan dengan rasio perbandingan sesuai dengan formula yang tertera dalam penelitian ini. e. Inhibition Concentration 50 (IC50) adalah nilai konsentrasi larutan uji yang menghasilkan penangkapan radikal DPPH hingga 50%. IC50 diperoleh dari persamaan regresi linear yang menyatakan hubungan antara konsentrasi larutan uji (sumbu x) dengan persen penangkapan radikal atau %IC (sumbu y).

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 C. Bahan Penelitian Bahan yang digunakan adalah askorbil palmitat (CV. Privat Equipment Pharmacy), dl-alfa-tokoferol (CV. Cipta anugrah), minyak zaitun (CV. Sofa Mediteranean), Tween 80 (PT. Brataco Chemika), PEG 400 (PT. Brataco Chemika), aquadestilata (PT. Brataco Chemika), Etanol p.a. (Merck Milipore), (DPPH) (Laboratorium Chemix Pratama). D. Alat Penelitian Peralatan yang digunakan adalah alat – alat gelas (Pyrex), botol kaca, cawan porselen, mortir dan stemper, timbangan analitik (OHAUS), magnetic stirrer, pH meter (Hanna Instrument HI 9042 C), Piknometer, Hot plate (Heidolph), Hand refractometer (Atago), Spektrofotometer UV-Vis (Shimadzu 1600), Viscotester Brookfield LVDV-II+P, Particle Size Analyzer Delta Nano C Beckman Coulter, Sentrifugator (Benchtop Centrifuge PLC-05), Freezer (Toshiba), Lemari Pendingin (Sanken Logic Cool), Oven (Memmert) (Laboratorium Teknologi Semisolid-liquid). E. Tata Cara Penelitian 1. Formula Acuan Mikroemulsi Formula acuan yang digunakan dalam pembuatan mikroemulsi askorbil palmitat dan dl-alfa-tokoferol dapat dilihat pada tabel III. Formula dimodifikasi pada fase minyak, serta surfaktan dan kosurfaktan. Fase minyak

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 yang digunakan adalah minyak zaitun, dengan surfaktan tween 80 dan kosurfaktan PEG 400. Tabel III. Formula acuan mikroemulsi (Rozman et al., 2008) Bahan Komposisi Tween 40 14,79 Imwitor 308 14,79 Isopropyl myristate 24,65 Purified water 44,37 Vitamin E 1,00 Vitamin C 0,40 2. Percobaan Pendahuluan a. Formula Orientasi Basis Mikroemulsi Formula orientasi basis mikroemulsi yang digunakan dapat dilihat pada tabel IV. Sampel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sampel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tabel IV. Formula Orientasi Basis Mikroemulsi Rasio Smix : 1:1 Berat Berat Berat Berat % minyak Smix air total % Smix minyak (g) (g) (g) (g) 1 9 1 11 9,1 81,8 1 9 2,5 12,5 8 72 1 9 4,5 14,5 6,9 62,1 1 9 7 17 5,9 52,9 1 9 10 20 5,0 45,0 1 9 15 25 4,0 36,0 1 9 25 35 2,9 25,7 1 9 40 50 1,8 16,4 1 9 100 110 0,9 8,2 Berat minyak (g) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Berat Smix (g) 9 9 9 9 9 9 9 9 9 Rasio Smix : 2:1 Berat Berat air total (g) (g) 1 11 2,5 12,5 4,5 14,5 7 17 10 20 15 25 25 35 40 50 100 110 % air 9,1 20,0 31,0 41,2 50,0 60,0 71,4 80,0 90,9 % minyak % Smix % air 9,1 8 6,9 5,9 5,0 4,0 2,9 1,8 0,9 81,8 72 62,1 52,9 45,0 36,0 25,7 16,4 8,2 9,1 20,0 31,0 41,2 50,0 60,0 71,4 80,0 90,9

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Sampel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sampel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sampel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Berat minyak (g) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Berat Smix (g) 9 9 9 9 9 9 9 9 9 Rasio Smix : 3:1 Berat Berat air total (g) (g) 1 11 2,5 12,5 4,5 14,5 7 17 10 20 15 25 25 35 40 50 100 110 Berat minyak (g) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Berat Smix (g) 9 9 9 9 9 9 9 9 9 Rasio Smix : 4:1 Berat Berat air total (g) (g) 1 11 2,5 12,5 4,5 14,5 7 17 10 20 15 25 25 35 40 50 100 110 Berat minyak (g) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Berat Smix (g) 9 9 9 9 9 9 9 9 9 Rasio Smix : 5:1 Berat Berat air total (g) (g) 1 11 2,5 12,5 4,5 14,5 7 17 10 20 15 25 25 35 40 50 100 110 % minyak % Smix % air 9,1 8 6,9 5,9 5,0 4,0 2,9 1,8 0,9 81,8 72 62,1 52,9 45,0 36,0 25,7 16,4 8,2 9,1 20,0 31,0 41,2 50,0 60,0 71,4 80,0 90,9 % minyak % Smix % air 9,1 8 6,9 5,9 5,0 4,0 2,9 1,8 0,9 81,8 72 62,1 52,9 45,0 36,0 25,7 16,4 8,2 9,1 20,0 31,0 41,2 50,0 60,0 71,4 80,0 90,9 % minyak % Smix % air 9,1 8 6,9 5,9 5,0 4,0 2,9 1,8 0,9 81,8 72 62,1 52,9 45,0 36,0 25,7 16,4 8,2 9,1 20,0 31,0 41,2 50,0 60,0 71,4 80,0 90,9 37

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Sampel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Berat minyak (g) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Berat Smix (g) 9 9 9 9 9 9 9 9 9 Rasio Smix : 6:1 Berat Berat air total (g) (g) 1 11 2,5 12,5 4,5 14,5 7 17 10 20 15 25 25 35 40 50 100 110 % minyak % Smix % air 9,1 8 6,9 5,9 5,0 4,0 2,9 1,8 0,9 81,8 72 62,1 52,9 45,0 36,0 25,7 16,4 8,2 9,1 20,0 31,0 41,2 50,0 60,0 71,4 80,0 90,9 38 b. Pembuatan Basis Mikroemulsi Minyak zaitun dan Smix pada setiap rasio perbandingan ditimbang secara terpisah, dicampur dan diaduk menggunakan magnetic stirrer dengan kecepatan 500 rpm hingga tercampur homogen. Campuran minyak-Smix tiap rasio perlahan-lahan dititrasi dengan aquadest dengan peningkatan jumlah aquadest antar formula bervariasi 9% sampai 11%. Penambahan aquadest dilakukan dengan kecepatan pengadukan konstan, dan campuran akhir diaduk dengan kecepatan pengadukan konstan selama 15 menit pada suhu kamar. c. Evaluasi Basis Mikroemulsi pada Percobaan Pendahuluan 1) Uji Organoleptis Uji Organoleptis dilakukan dengan mengamati karekteristik fisik dari sediaan yang terbentuk. Sediaan dikategorikan sebagai mikroemulsi apabila memiliki karakteristik transparan dan dapat mengalir dengan baik. Sediaan dikategorikan sebagai gel apabila memiliki karakteristik berkabut atau keruh dan tidak dapat mengalir

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 pada sudut 90O. Sediaan dikategorikan sebagai emulsi apabila memiliki karakteristik berkabut atau keruh serta dapat mengalir dengan baik. 2) Heating-Cooling Cycle Mikroemulsi masing-masing formula disimpan pada suhu 4oC selama 24 jam, dan suhu 40o C selama 24 jam yang merupakan satu siklus. Uji ini dilakukan dalam 3 siklus. Diamati perubahan fisik sediaan mikroemulsi secara organoleptis setiap siklusnya. 3) Uji sentrifugasi Mikroemulsi masing-masing formula di sentrifugasi dengan kecepatan 5000 rpm selama 15 menit. Setelah selesai, diamati perubahan yang terjadi pada sediaan mikroemulsi. 4) Pengukuran Viskositas Pengukuran viskositas dilakukan dengan menggunakan Viscotester Rion RT-04. Mikroemulsi yang akan diuji dimasukkan ke dalam cup viscotester hingga hampir memenuhi wadah. Rotor yang sudah terpasang pada alat dibenamkan ke dalam sediaan sampai batas tertentu, viscotester dihidupkan, rotor akan berputar, jarum penunjuk skala akan bergerak dan menunjukkan besaran nilai viskositas. 3. Percobaan Utama a. Formula Mikroemulsi Formula mikroemulsi hasil percobaan pendahuluan yang digunakan dapat dilihat pada tabel V.

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 Tabel V. Formula Mikroemulsi (100 g) Formula rasio Smix A B C D E 2:1 3:1 4:1 5:1 6:1 Tween 80 54,53 61,35 65,44 68,17 70,11 PEG 400 27,37 20,45 16,36 13,63 11,69 Bahan (g) Minyak alfa zaitun tokoferol 9,1 1,00 9,1 1,00 9,1 1,00 9,1 1,00 9,1 1,00 askorbil palmitat 0,40 0,40 0,40 0,40 0,40 Aquadest 9,1 9,1 9,1 9,1 9,1 b. Pembuatan mikroemulsi Pembuatan mikroemulsi dilakukan dengan semua bahan ditimbang sesuai dengan formula yang telah dimodifikasi. Surfaktan (tween 80) dan kosurfaktan (PEG 400) dimasukkan dalam beaker glass, kedua bahan dicampur untuk memberikan campuran surfaktan dengan diaduk menggunakan magnetic stirrer selama 5 menit hingga homogen dengan kecepatan 500 rpm. Minyak zaitun ditambahkan dengan terus diaduk menggunakan magnetic stirrer selama 5 menit hingga homogen dengan kecepatan pengadukan yang sama. alfa-tokoferol yang telah ditimbang dimasukkan dalam campuran dengan terus diaduk menggunakan magnetic stirrer selama 5 menit hingga homogen dengan kecepatann pengadukan yang sama. Aquadest ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam campuran hingga semua aquadest ditambahkan, pengadukan dilakukan terus menerus menggunakan magnetic stirrer selama 5 menit hingga homogen dengan kecepan pengadukan yang sama. Askorbil palmitat dimasukkan dalam campuran, pengadukan dilakukan terus menerus menggunakan magnetic stirrer selama 15 menit hingga homogen.

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 4. Evaluasi Sifat Fisik Sediaan Mikroemulsi Hasil Percobaan Utama a. Uji Organoleptis Uji Organoleptis terhadap sediaan mikroemulsi yang telah terbentuk dilakukan dengan pengamatan terhadap bau, bentuk (kejernihan), warna, dan terjadinya pemisahan fase dari sediaan mikroemulsi pada 48 jam setelah pembuatan. b. Uji Pengenceran Penetuan tipe mikroemulsi dilakukan dengan uji pengenceran dengan melarutkan sediaan mikroemulsi dengan aquadest. Sebanyak 0,1 g mikroemulsi dilarutkan dalam 10 mL aquadest atau dengan perbandingan (1:100). Bila mikroemulsi yang dilarutkan dengan aquadest dapat larut dan tidak rusak atau membentuk emulsi maka tipe mikroemulsi adalah minyak dalam air (M/A). Apabila mikroemulsi yang dilarutkan dengan aquadest membentuk emulsi maka tipe mikroemulsi adalah minyak dalam air (M/A). Sediaan mikroemulsi juga dilarutkan dalam minyak zaitun dengan perbandingan yang sama. Apabila sediaan mikroemulsi larut pada pelarutan dengan aquadest dan minyak zaitun maka sediaan mikroemulsi memiliki tipe bikontinu. c. Pengukuran pH Pengukuran pH sediaan mikroemulsi menggunakan pH meter. Pengukuran pH sediaan mikroemulsi diawali dengan melakukan kalibrasi pada pH meter menggunakan buffer standar pH 4 dan pH 7. Kalibrasi pada pH meter dilakukan dengan cara tombol ON pada pH meter ditekan hingga

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 menyala, kemudian kedua elekroda pada pH meter yang sebelumnya dibilas dengan aquadest dimasukkan dalam buffer standar pH 4. Tombol CAL ditekan untuk memulai kalibrasi. Apabila nilai pH yang tertera pada layar sudah sesuai dengan pH buffer standar maka tombol CON ditekan hingga muncul perintah selanjutnya untuk memasukkan buffer standar yang kedua. Kedua elektroda dikeluarkan dan dibilas dengan aquadest, kemudian dimasukkan pada buffer standar pH 7. Tombol CON ditekan lagi apabila nilai pH yang tertera dilayar sudah sesuai dengan nilai pH buffer standar. Setelah pengkalibrasian pH meter selesai, selanjutnya kedua elektrode dikeluarkan dan dibilas dengan aquadest. Pengukuran pH sediaan dilakukan dengan cara elekroda pada pH meter dibilas dengan aquadest kemudian dimasukkan dalam sampel mikroemulsi. d. Pengukuran Viskositas Pengukuran viskositas dilakukan dengan menggunakan Viscotester Brookfield. Mikroemulsi yang akan diuji dimasukkan ke dalam beaker glass 250 mL dan dipasang pada portable viscotester. Viskotester diatur kecepatannnya 12 rpm serta jumlah putaran 6 kali putaran, dengan lama tiap putaran 30 detik. Rotor dibenamkan ke dalam sediaan hingga sampai batas tertentu, lalu viscotester dihidupkan, rotor akan berputar, jarum penunjuk skala akan bergerak dan menunjukkan besaran nilai viskositas. e. Pengukuran Distribusi Ukuran Droplet Pengukuran distribusi ukuran droplet dilakukan dengan menggunakan alat Particle size analyzer dengan prinsip dynamic light

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 scattering. Pengukuran distribusi ukuran droplet mikroemulsi dilakukan dengan penyiapan alat dengan cara berturut-turut mengklik pilihan aligment (untuk mengatur sinar laser agar dalam posisi lurus), measuring offsets (untuk menyiapkan dan mengatur detektor), meansurig background (untuk menyiapkan dan mengatur background), meansuring loading (untuk pengukuran sampel). Alat siap digunakan, sampel mikroemulsi dimasukkan pada wadah sampel, dan dimasukkan ke dalam alat hingga layar monitor menunjukkan keterangan OK atau High yang menandakan bahwa sampel siap untuk diukur. f. Pengukuran Bobot Jenis Pengukuran bobot jenis dilakukan dengan menggunakan piknometer. Pada suhu ruang, piknometer bersih dan kering ditimbang (A g). Piknometer diisi dengan aquadest, suhu piknometer diturunkan hingga 23oC dan dinaikkan kembali menjadi 25oC, selanjutnya piknometer berisi aquadest ditimbang (A1 g). Aquadest keluarkan dari piknometer dan dikeringkan. Mikroemulsi diisikan ke dalam piknometer, suhu piknometer diturunkan hingga 23oC dan dinaikkan kembali menjadi 25oC, selanjutnya piknometer berisi mikroemulsi ditimbang (A2 g). Bobot jenis mikroemulsi dihitung dengan persamaan berikut: Bobot jenis = (2) (Wihelmina, 2007). g. Pengukuran Persen Transmitansi Pengukuran persen transmitansi dilakukan dengan menggunakan Spektrofotometer UV-Vis. Mikroemulsi masing-masing formula ditimbang

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 sebanyak 1,0 gram, kemudian dilarutkan dengan aquadest dalam beaker glass, selanjutnya dimasukkan dalam labu takar 100 mL dan ditambahkan aquadest hingga tanda batas. Persen Transmitansi larutan sampel diukur menggunakan Spekrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 650 nm dengan menggunakan aquadest sebagai blangko. h. Pengukuran Indeks Bias Indeks bias mikroemulsi diukur menggunakan Hand Refractometer ATAGO. Kedua prisma dibuka dan lensa pada Hand Refractomneter dibersihkan menggunakan etanol dan tissue lensa hingga bersih. Sebanyak 2-3 tetes mikroemulsi masing-masing formula dimasukkan dalam lensa hand refractometer. Kemudian lensa ditutup dengan penutup lensa, dan kaca cahaya diatur dengan memutar dasar prisma sehingga penglihatan sebelah atas terang dan sebelah bawah gelap. indeks bias mikroemulsi diamati dengan mengarahkan hand refraktometer ke arah sumber cahaya sehingga dapat terlihat batas terang dan gelap. Indeks bias mikroemulsi diamati menggunakan skala pembacaan 2. 5. Uji Stabilitas Fisik Uji stabilitas termidinamik mikroemulsi dilakukan dengan uji sentrifugasi dan uji freeze thaw : a. Uji sentrifugasi Mikroemulsi masing-masing formula di sentrifugasi dengan kecepatan 5000 rpm selama 15 menit. Setelah selesai, diamati perubahan yang terjadi pada sediaan mikroemulsi. Bila mikroemulsi tidak mengalami

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 pemisahan fase maka sediaan mikroemulsi dinyatakan lolos dan dapat dilanjutkan dengan uji freeze thaw. b. Uji Freeze thaw Mikroemulsi masing-masing formula disimpan pada suhu -21o C selama 24 jam, dan suhu 25o C selama 24 jam yang merupakan satu siklus. Uji freeze thaw ini dilakukan dalam 3 siklus. Diamati perubahan fisik sediaan mikroemulsi secara organoleptis setiap siklusnya derta dilihat nilai persen transmitansi, pH, ukuran droplet dan viskositasnya. 6. Uji Aktivitas Antioksidan a. Pembuatan larutan uji dan larutan DPPH 1) Pembuatan Larutan DPPH 0,4 mM Sebanyak 15,8 gram DPPH ditimbang dan dilarutkan dengan etanol p.a. dalam beaker glass, dimasukkan dalam labu takar 100 mL, ditambahkan etanol p.a. hingga tanda batas. 2) Penyiapan Larutan Uji Askorbil Palmitat Sebanyak 1 mg askorbil palmitat ditimbang dan dilarutkan dengan pelarut etanol p.a. dalam beaker glass, dimasukkan dalam labu ukur 50 mL dan di tambahkan etanol p.a. hingga tanda batas, sehingga diperoleh konsentrasi baku askorbil palmitat 20 µg/mL. 5 mL diambil dari larutan stok dimasukkan dalam labu 10 mL lalu ditambahkan etanol sampai tanda batas, sehingga menghasilkan konsentrasi 10 µg/mL. Sebanyak 0,5; 1,0; 1,5; 2,0 dan 2,5 mL larutan baku askorbil palmitat diambil dan dimasukkan ke dalam labu takar 10 mL, kemudian

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 ditambahkan etanol p.a. sampai tanda batas, sehingga diperoleh konsentrasi larutan uji sebesar 0,5; 1,0; 1,5; 2,0 dan 2,5 µg/mL. 3) Penyiapan Larutan Uji Alfa Tokoferol Sebanyak 1 mg alfa tokoferol ditimbang dan dilarutkan dengan pelarut etanol p.a. dalam beaker glass, dimasukkan dalam labu ukur 25 mL dan di tambahkan etanol p.a. hingga tanda batas, sehingga diperoleh konsentrasi alfa tokoferol 1000 µg/mL. Sebanyak 0,2; 0,4; 0,6; 0,8 dan 1,0 mL larutan baku alfa tokoferol diambil dan dimasukkan ke dalam labu takar 10 mL, kemudian ditambahkan etanol p.a. sampai tanda batas, sehingga diperoleh konsentrasi larutan uji sebesar 20, 40, 60, 80, dan 100 µg/mL. 4) Penyiapan Larutan Uji Campuran Askorbil Palmitat dan Alfa Tokoferol Sebanyak 4 mg askorbil palmitat dan 0,01 mg alfa tokoferol ditimbang dan dilarutkan dengan pelarut etanol p.a. dalam beaker glass, keduanya dimasukkan dalam labu ukur 100 mL dan di tambahkan etanol p.a. hingga tanda batas, sehingga diperoleh konsentrasi campuran vitamin 0,14 mg/mL. Sebanyak 2,5 mL larutan induk campuran vitamin diambil dan dimasukkan dalam labu ukur 25 mL dan ditambahkan etanol p.a. hingga tanda batas hingga diperoleh konsentrasi baku campuran vitamin 0,014 mg/mL. Diambil sebanyak 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 mL dari larutan baku vitamin ke dalam labu takar 10 mL, kemudian ditambahkan etanol p.a. sampai tanda batas, sehingga diperoleh konsentrasi larutan uji sebesar 1,4; 2,8; 4,2; 5,6; 7,0 dan 8,4 µg/mL.

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 5) Penyiapan Larutan Uji Sampel Mikroemulsi Sebanyak 100 mg sampel mikroemulsi masing-masing formula ditimbang dan dilarutkan dengan pelarut etanol p.a. dalam beaker glass, dimasukkan dalam labu ukur 25 mL dan ditambahkan pelarut etanol p.a. hingga tanda batas sehingga diperoleh konsentrasi askorbil palmitat dan alfa tokoferol 56 µg/mL. Pada formula A sebanyak 5, 6, 7, 8, dan 9 mL larutan baku sampel mikroemulsi formula A diambil dan dimasukkan ke dalam labu takar 10 mL, ditambahkan etanol p.a. sampai tanda batas, sehingga konsentrasi larutan uji sebesar 28; 33,6; 39,2; 45; dan 50 µg/mL. Pada formula B, C dan D sebanyak 3, 4, 5, 6, dan 7 mL larutan baku sampel mikroemulsi masing-masing formula B, C, D dan E diambil dan dimasukkan ke dalam labu takar 10 mL, ditambahkan etanol p.a. sampai tanda batas, sehingga konsentrasi larutan uji sebesar 16,8; 22,4; 28; 33,6; dan 39,2 µg/mL. 6) Penyiapan Larutan Uji Basis Mikroemulsi Sebanyak 100 mg basis mikroemulsi masing-masing formula ditimbang dan dilarutkan dengan pelarut etanol p.a. dalam beaker glass, dimasukkan dalam labu ukur 25 mL sehingga diperoleh konsentrasi basis 0,4 mg/mL. Pada formula A sebanyak 5, 6, 7, 8, dan 9 mL larutan baku basis mikroemulsi formula A diambil dan dimasukkan ke dalam labu takar 10 mL, ditambahkan etanol p.a. sampai tanda batas, sehingga konsentrasi larutan uji basis sebesar 0,2; 0,24; 0,28; 0,32; dan 0,36 mg/mL. Pada formula B, C, D dan E sebanyak 3, 4, 5, 6, dan 7 mL

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 larutan baku basis mikroemulsi masing-masing formula B, C, D dan E diambil dan dimasukkan ke dalam labu takar 10 mL, ditambahkan etanol p.a. sampai tanda batas, sehingga konsentrasi larutan uji sebesar 0,12; 0,16; 0,2; 0,24; dan 0,28 mg/mL. b. Optimasi Metode Uji Aktivitas Antioksidan 1) Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Pada tiga labu ukur 10 mL, dimasukkan masing-masing 0,5; 1,0; dan 1,5 mL larutan DPPH, kemudian ditambahkan etanol p.a. hingga tanda batas, diperoleh konsentrasi DPPH 7,9; 15,8; dan 23,7 µg/mL. Larutan divorteks selama 30 detik, lalu dilakukan scanning panjang gelombang maksimum pada panjang gelombang 400-600 nm menggunakan spektrofotometer UV-Vis. 2) Penetuan Operating Time (OT) Penentuan operating time dilakukan dengan cara pada labu takar 10 mL dimasukkan 1,0 mL larutan DPPH 0,4 mM dan 1,0 mL konsentrasi tengah dari seri konsentrasi masing-masing larutan uji (askorbil palmitat murni, alfa tokoferol murni, campuran askorbil palmitat dan alfa tokoferol murni, sampel mikroemulsi formula A; B; C; D dan E serta basis mikroemulsi formula A; B; C; D dan E). Etanol p.a. ditambahkan hingga tanda batas dan divorteks selama 30 detik. Larutan diukur absorbansinya pada panjang gelombang maksimum yang telah didapat dengan interval waktu 5 menit selama 1 jam.

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 c. Uji aktivitas antioksidan 1) Pengukuran absorbansi larutan DPPH (kontrol) Sebanyak 1,0 mL larutan DPPH 0,4 mM dimasukkan dalam labu takar 10 mL ditambahkan etanol p.a. hingga tanda batas. Larutan dibaca absorbansinya pasa saat OT dan panjang gelombang maksimum. 2) Pengukuran absorbansi larutan uji, sampel mikroemulsi dan basis mikroemulsi Sebanyak 1,0 mL DPPH 0,4 mM dan 1,0 mL masing-masing seri konsentrasi larutan uji. Campuran selanjutnya divorteks selama 30 detik dan dibiarkan selama OT. Larutan ini selanjutnya diukur absorbansinya pada panjang gelombang maksimum yang telah diperoleh. Pengukuran absorbansi dilakukan pada askorbil palmitat murni, alfa tokoferol murni, campuran askorbil palmitat dan alfa tokoferol murni, sampel mikroemulsi serta basis mikroemulsi. 3) Pembuatan Kurva regresi linier Nilai absorbansi larutan uji dan blangko yang telah didapat digunakan untuk mendapatkan nilai %IC menggunakan persamaan 3. % IC = ( ) x 100% (3) (Rohman et al, 2005) Kurva regresi dibuat antara konsentrasi larutan uji (sumbu x) dan %IC (sumbu y) untuk masing masing larutan uji. Konsentrasi larutan uji untuk askorbil palmitat murni, alfa tokoferol murni, campuran askorbil palmitat dan alfa tokoferol murni, sampel

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 mikroemulsi formula A; B; C; D dan E serta basis mikroemulsi formula A; B; C; D dan E sama seperti seri konsentrasi pada pembuatan masingmasing larutan uji. Besarnya daya antioksidan (IC50) ditentukan dengan menggunakan persamaan regresi linier yang telah didapatkan. 7. Uji Iritasi a. Pembuatan Kontrol Positif (NaOH 0,1 N) Sebanyak 0,4 gram NaOH padat ditimbang dan dilarukan dengan aquadest, dimasukkan dalam labu takar 100 mL dan ditambah aquadest hingga tanda batas. b. Pembuatan Kontrol Negatif (0,9% NaCl) Sebanyak 0,9 gram NaCl padat ditimbang dan dilarukan dengan aquadest, dimasukkan dalam labu takar 100 mL dan ditambah aquadest hingga tanda batas. c. Uji HET-CAM Uji iritasi dilakukan dengan metode Hen’s Egg Test Choriallantoic Membrane (HET-CAM). Digunakan telur ayam berusia 10 hari. Cangkang telur dikupas dengan hati-hati pada bagian kantung udara. Membran luar dibilas dengan NaCl 0,9% sehingga terlihat bagian dalam membran telur dan membran luar dilepaskan dengan hati-hati. Membran dalam dipejankan dengan 0,3 mL NaCl 0,9% sebagai kontrol negatif. Kemudian 0,3 mL NaOH dipejankan sebagai kontrol positif. Mikroemulsi masing-masing formula diambil 0,3 mg dan dipejankan sebagai perlakuan. Diamati selama 5 menit (300 detik), dengan melihat apakah terjadi perdarahan (hemorage), lisis, atau koagulasi pada CAM. CAM dikatakan mengalami hemorrage

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 apabila terjadi pendarahan pada CAM, CAM mengalami lisis apabila terdapat pembuluh darah yang pecah pada CAM, dan koagulasi apabila terjadi koagulasi protein pada CAM. Nilai iritasi atau Irritation Score dihitung menggunakan persamaan 1. F. Analisis Hasil Data hasil pengamatan sifat fisik sediaan mikroemulsi yang diperoleh pada penelitian ini dianalisis menggunakan uji analisis varian (ANOVA) satu arah dengan menggunakan program R 3.0.1.. Sebelumnya data diuji normalitasnya menggunakan uji Shapiro-Wilk. Bila menunjukkan data yang normal, pengujian dilanjutkan dengan uji Levene untuk mengetahui kehomogenan data. Bila data homogen, dilanjutkan dengan uji ANOVA. Apabila dari uji tersebut menghasilkan suatu perbedaan, uji dilanjutkan dengan uji Tukey HSD untuk melihat data manakah yang berbeda. Namun, apabila data menunjukan hasil yang negatif pada uji Shapiro-Wilk, uji yang dilakukan adalah uji Kruskal-Wallis dan dilanjutkan dengan uji wilcoxon. Data hasil stabilitas fisik yang berupa data pH, viskositas, persen transmitasi dan ukuran droplet pada tiap siklus pada uji freeze thaw dianalisis menggunakan uji T berpasangan dengan program R 3.0.1.. Sebelumnya data diuji normalitasnya menggunakan uji Shapiro-Wilk. Bila menunjukkan data yang normal, pengujian dilanjutkan dengan uji variansi untuk mengetahui variansi data. Bila data memiliki variansi yang sama, dilanjutkan dengan uji T berpasangan.

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Percobaan Pendahuluan Basis Mikroemulsi Dalam pembuatan mikroemulsi ini dilakukan percobaan pendahuluan yang bertujuan untuk mengetahui komposisi bahan terbaik yang menghasilkan mikroemulsi yang jernih, homogen dan stabil. Hasil uji pendahuluan dapat dilihat pada tabel VI. Tabel VI. Hasil uji pendahuluan Sampel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1:1 Emulsi Gel Gel Gel Emulsi Emulsi Emulsi Emulsi Emulsi 2:1 mikroemulsi mikroemulsi Gel Gel Emulsi Emulsi Emulsi Emulsi Emulsi rasio Smix 3:1 4:1 mikroemulsi mikroemulsi mikroemulsi mikroemulsi mikroemulsi mikroemulsi Gel Gel mikroemulsi mikroemulsi Emulsi mikroemulsi Emulsi mikroemulsi Emulsi Emulsi Emulsi Emulsi 5:1 mikroemulsi mikroemulsi mikroemulsi Gel mikroemulsi mikroemulsi mikroemulsi mikroemulsi Emulsi 6:1 mikroemulsi mikroemulsi mikroemulsi Gel mikroemulsi mikroemulsi mikroemulsi mikroemulsi Emulsi Keterangan : Sampel 1 : mikroemulsi yang mengandung 10% aquadest, Sampel 2 : mikroemulsi yang mengandung 20% aquadest, Sampel 3 : mikroemulsi yang mengandung 30% aquadest, Sampel 4 : mikroemulsi yang mengandung 40% aquadest, Sampel 5 : mikroemulsi yang mengandung 50% aquadest, Sampel 6 : mikroemulsi yang mengandung 60% aquadest, Sampel 7 : mikroemulsi yang mengandung 70% aquadest, Sampel 8 : mikroemulsi yang mengandung 80% aquadest, Sampel 9 : mikroemulsi yang mengandung 90% aquadest. Berdasarkan hasil dari uji pendahuluan terdapat 3 macam sediaan yang terbentuk, yaitu mikroemulsi, emulsi dan gel. Mikroemulsi terbentuk karena tengangan antarmuka dikurangi ke tingkat yang sangat rendah dan membuat energi bebas permukaan sangat rendah yang membuat meningkatnya stabilitas termodinamik (Pathan et al., 2012). Emulsi terbentuk karena rasio smix belum mampu menggurangi tenggangan antarmuka hingga nilai yang sangat rendah dan energi bebas permukaan masih diatas 0 (nol) (Pathan et al., 2012). 52

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 Pembentukan gel bisa disebabkan oleh ikatan hidrogen antara gugus hidroksil dari air dengan gugus oxyethylene dari tween 80, yang mengakibatkan pembentukan jaringan-jaringan gel yang sangat lengket dan kental. Jaringan ikatan hidrogen ini secara bertahap pecah bila diencerkan dengan air (Mahdi et al., 2011). Seluruh sampel yang menghasilkan mikroemulsi yang jernih atau transparan pada tiap rasio smix kemudian diuji stabilitasnya dengan uji sentrifugasi dan uji heating and cooling selama 3 siklus. Tujuan uji ini adalah untuk melihat sampel mana yang stabil pada tiap formula. Pada uji sentrifugasi seluruh sampel dalam tiap perbandingan tidak mengalami pemisahan fase. Hasil pengamatan setelah uji heating and cooling dapat dilihat pada tabel VII. Tabel VII. Hasil pengamatan setelah uji heating and cooling Sampel 1 2 3 4 5 6 7 8 2:1 Stabil Stabil - 3:1 Stabil Stabil Stabil Tidak Stabil - Rasio Smix 4:1 Stabil Stabil Stabil Tidak Stabil Tidak Stabil Tidak Stabil - 5:1 Stabil Stabil Stabil Tidak Stabil Tidak Stabil Tidak Stabil Tidak Stabil 6:1 Stabil Stabil Stabil Tidak Stabil Tidak Stabil Tidak Stabil Tidak Stabil Keterangan : sediaan mikroemulsi dikatakan stabil bila tidak terjadi perubahan warna dan pemisahan fase, sediaan mikroemulsi dikatakan tidak stabil apabila terjadi pemisahan fase dan perubahan warna, (-) : sampel pada formula tersebut tidak diuji heating and cooling karena tidak membentuk sediaan mikroemulsi. Pada uji heating and cooling ini terdapat formula yang tidak stabil yang ditunjukkan dengan terjadinya pemisahan fase. Hal ini dapat terjadi karena adanya perubahan suhu yang drastis membuat droplet-droplet fase minyak memisah atau lepas dari ikatan dengan misel dan droplet-droplet tersebut menyatu menjadi emulsi dan kemudian dapat memisah menjadi lapisan minyak.

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 Untuk menentukan formula yang digunakan pada percobaan utama dilakukan uji sifat fisik yaitu viskositas, untuk mengetahui viskositas dari sampel mana yang paling mendekati viskositas mikroemulsi pada teori, yaitu yang memiliki viskositas terendah. Hasil uji viskositas uji pendahuluan ini dapat dilihat Viskositas (cPs) pada gambar 7. 9000 8000 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 Sampel 1 Sampel 2 Sampel 3 smix 2:1 smix 3:1 smix 4:1 smix 5:1 smix 6:1 Rasio Smix Gambar 7. Hasil uji viskositas uji pendahuluan Hasil viskositas ini menunjukkan bahwa sampel 1 untuk seluruh perbandingan Smix menghasilkan viskositas terendah, dan sampel 3 yang menghasilkan viskositas tertinggi. Viskositas tiap sampel ini berbeda signifikan (p < 0,05), sehingga untuk uji selanjutnya dipilih sampel 1 dengan viskositas terendah. Hal ini berdasarkan teori yang menyatakan bahwa mikroemulsi memiliki viskositas yang rendah. Selanjutnya Smix 2:1, 3:1, 4:1, 5:1, dan 6:1 disebut formula A, B, C, D, dan E. B. Evaluasi Sifat Fisik Sediaan Mikroemulsi Hasil Percobaan Utama Sediaan yang berkualitas adalah sediaaan yang memenuhi kriteria sifat fisik dan dapat mempertahankan sifat fisiknya selama penyimpanan. Evaluasi sifat

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 fisik pada siklus ke-0 ini dilakukan untuk membandingkan keadaan mikroemulsi sebelum dan sesudah uji stabilitas. Sifat fisik mikroemulsi yang diuji meliputi organoleptis, tipe mikroemulsi, bobot jenis, indeks bias, pH, persen transmitansi, viskositas, serta ukuran droplet. 1. Pemeriksaan Organoleptis dan pH Pemeriksaan penampilan sediaan mikroemulsi memiliki peran penting terhadap estetika dan penerimaan dari konsumen, selain itu dapat diamati secara langsung adanya ketidakstabilan dari mikroemulsi seperti pemisahan fase, perubahan warna serta bau. Suatu sediaan topikal harus memiliki pH yang hampir sama dengan kulit, yaitu 4,5 - 6,5. Hal ini dimaksudkan agar sediaan yang diaplikasikan pada kulit bertersebut tidak mengiritasi. Hasil pengamatan organoleptis dan pH dari mikroemulsi dapat dilihat pada Tabel VIII. Tabel VIII. Hasil pengamatan Organoleptis dan pH Sediaan Mikroemulsi Kriteria Formula A Formula B Formula C Formula D Formula E Warna Kuning Kuning Kuning Kuning Kuning Kejernihan Jernih Jernih Jernih Jernih Jernih Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Pemisahan fase Memisah Memisah Memisah Memisah Memisah Bau Khas Khas Khas Khas Khas Homogenitas Homogen Homogen Homogen Homogen Homogen pH 5,33±0,01 Pada siklus 5,41±0,026 ke-0 5,51±0,036 seluruh formula 5,63±0,025 5,73±0,015 menghasilkan sediaan mikroemulsi yang jernih, berwarna kuning muda, homogen secara fisik, berbau khas dan tidak mengalami pemisahan fase. Hal ini menunjukkan

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 bahwa semua perbandingan tween 80 dan PEG 400 mampu menghasilkan mikroemulsi yang jernih, homogen dan tanpa pemisahan fase. Sediaan mikroemulsi yang dihasilkan memiliki karakteristik jernih atau transparan karena ukuran droplet yang dihasilkan jauh lebih kecil dari panjang gelombang cahaya tampak (Laksmi et al., 2013). Ukuran droplet yang kecil pada mikroemulsi disebabkan surfaktan dan kosurfaktan yang digunakan. Surfaktan dan kosurfaktan ini melapisi droplet-droplet dalam sediaan sehingga teganggan antarmuka menjadi sangat rendah sehingga energi bebas permukaan menjadi 0 (nol) bahkan negatif, serta gaya tarik menarik antar droplet yang sejenis menjadi rendah sehingga halangan stearik menjadi besar. Energi bebas permukaan yang bernilai 0 atau negatif dan halangan stearik antar droplet yang tinggi akan menyebabkan ukuran droplet menjadi semakin kecil hingga berukuran nanometer (Mahdi et al., 2011). Hasil pengukuran pH menunjukkan bahwa kelima formula memiliki pH pada rentang 4,5 – 6,5, sehingga dapat dikatakan bahwa kelima formula sediaan mikroemulsi memiliki pH yang hampir sama dengan pH kulit, sehingga meniminalkan resiko iritasi dari penggunaan sediaan mikroemulsi. Perbedaan perbandingan tween 80 dan PEG 400 ini mempengaruhi pH sediaan mikroemulsi, dari data pada tabel VIII dapat dilihat bahwa semakin tinggi perbandingan tween 80 dan PEG 400 menghasilkan pH sediaan yang semakin tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pH sediaan

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 mikroemulsi ini dipengaruhi oleh perbandingan surfaktan tween 80 dan kosurfaktan PEG 400. Hal ini didukung dengan data analisis statistik pH sediaan mikroemulsi pada masing-masing formula yang menunjukkan perbedaan signifikan (p < 0,05) untuk tiap formula. 2. Pemeriksaan Tipe Mikroemulsi Pemeriksaan tipe mikroemulsi dilakukan untuk mengetahui tipe mikroemulsi yang terbentuk tipe minyak dalam air (M/A), tipe air dalam minyak (A/M) atau bikuntinu. Pemeriksaan tipe mikroemulsi dilakukan dengan metode pengenceran, mikroemulsi diencerkan dengan dengan aquadest dan fase minyak yang digunakan dengan perbandingan masingmasing 1:100, apabila mikroemulsi larut dalam aquadest dan fase minyak maka mikroemulsi memiliki tipe bikontinu. (a) (b) Gambar 8. (a) Mikroemulsi yang dilarutkan dalam aquadest, (b) Mikroemulsi yang dilarutkan dalam minyak zaitun Hasil yang didapat dari pengenceran ini menunjukkan bahwa kelima formula larut sempurna dalam aquadest dan minyak zaitun serta tidak membentuk emulsi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kelima formula mikroemulsi memiliki tipe bikontinu. Mikroemulsi yang dihasilkan memiliki tipe bikontinu, hal ini didukung oleh pernyataan Talegaonkar (2008) yang menyebutkan bila jumlah surfaktan dan kosurfaktan yang digunakan jauh lebih besar dari fase

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 lain serta jumlah fase air dan fase minyak yang digunakan sama banyak dalam suatu formula maka mikroemulsi akan cenderung membentuk sistem bikontinu. Hal ini sesuai dengan formula yang digunakan dalam penelitian ini, dimana Smix yang digunakan dalam formula ini mencapai 81,8 %, sedangkan fase air dan fase minyak masing-masing hanya 9,1% dari keseluruhan formula. Selain itu, karena surfaktan dan kosurfaktan yang digunakan adalah surfaktan nonionik yang sensitif terhadap suhu dan cenderung akan membentuk tipe mikroemulsi bikontinu bila pembuatannya dilakukan pada suhu ruangan. 3. Pengukuran Indeks Bias Pengukuran indeks bias dilakukan dengan menggunakan hand refractometer. Pengukuran indeks bias ini bertujuan untuk melihat sifat isotropik dari sediaan mikroemulsi, dengan dibandingkan dengan indeks bias air (1,333) (Pathan, et al., 2012). Tabel IX. Hasil pengamatan Indeks bias Sediaan Mikroemulsi Formula A B C D E Indeks Bias 1,466 ± 1,466 ± 1,466 ± 1,466 ± 1,466 ± 0,00 0,00577 0,00577 0,00 0,00577 ( ± SD) Hasil pengamatan menunjukan bahwa semua formula mikroemulsi memiliki nilai indeks bias 1,446. Hasil ini menunjukkan bahwa kelima formula mikroemulsi menghasilkan sediaan mikroemulsi yang jernih dan transparan karena indeks bias yang dihasilkan tidak lebih dari 1,476 (Gina et al., 2012). Hasil uji indeks bias ini lebih tinggi dibanding dengan nilai indeks bias aquadest (1,333). Hasil tersebut menandakan bahwa indeks bias

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 sediaan mikroemulsi ini tidak dipengaruhi oleh perbandingan surfaktan tween 80 dan kosurfaktan PEG 400. 4. Pengukuran Bobot jenis Bobot jenis merupakan perbandingan massa suatu zat terhadap massa air dengan volume yang sama pada suhu 4oC atau pada suhu lain yang ditetapkan (Sinko, 2006). Bobot jenis mikroemulsi diukur Bobot Jenis (g/mL) menggunakan piknometer, dengan dibandingkan dengan bobot jenis air. 1,085 1,08 1,075 1,07 1,065 A B C D E Formula Gambar 9. Hasil uji bobot jenis sediaan mikroemulsi Hasil bobot jenis yang didapat menunjukkan hasil bahwa bobot jenis kelima formula yang tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan bobot jenis air yang memiliki bobot jenis 0,993 g/mL, hal ini menunjukkan bahwa sediaan mikroemulsi dari seluruh formula dapat mengalir dengan baik dan mudah dituang. Namun, bila dibandingkan dengan bobot jenis tween 80 (1,080 g/mL), seluruh formula mikroemulsi memiliki nilai bobot jenis yang hampir sama. Hal ini terjadi karena komposisi tween 80 yang sangat besar yaitu 51,53 % hingga 70,11 % dalam seluruh formula mikroemulsi.

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi perbandingan tween sebagai surfaktan dan PEG 400 sebagai kosurfaktan nilai bobot jenis sediaan makin kecil. Namun, perbedaan tersebut tidak berbeda bermakna menurut statistik (p > 0,05) untuk tiap formula. Hal ini menunjukkan bahwa bobot jenis sediaan mikroemulsi tidak dipengaruhi oleh perbandingan surfaktan tween 80 dan kosurfaktan PEG 400. 5. Pengukuran Persen Transmitansi Persen transmitansi diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan aquadest sebagai blangko. Persen transmitansi dapat digunakan untuk menunjukkan tingkat kejernihan dari sediaan mikroemulsi, apabila suatu sediaan mikroemulsi memiliki nilai persen transmitansi mendekati 100% maka dapat disimpulkan bahwa sediaan mikroemulsi tersebut jernih Transmitansi (%) secara optis (Pathan et al., 2012). 99,5 99 98,5 98 97,5 97 96,5 96 A B C D E Formula Gambar 10. Hasil uji persen transmitansi sediaan mikroemulsi Dari hasil percobaan didapat hasil persen transmitansi yang tinggi yang berkisar antara 97 – 99%, hasil ini menunjukkan bahwa kelima formula mikroemulsi memiliki karakteristik transparan dan jernih karena memiliki nilai persen transmitansi yang mendekati 100%.

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Perbedaan persen transmitansi dari kelima formula tidak signifikan menurut statistik (p >0,05). Hal ini menunjukkan bahwa persen transmitansi sediaan mikroemulsi ini tidak dipengaruhi oleh perbandingan surfaktan tween 80 dan kosurfaktan PEG 400. 6. Pengukuran Viskositas Viskositas dari mikroemulsi diukur menggunakan viskotester brookfield. Viskositas berfungsi untuk melihat sifat alir dari suatu sediaan, yang merupakan suatu parameter penting dalam meneliti sifat fisik dan viskositas (c.Ps) kestabilan suatu sediaan (Sharma, 2012). 500 400 300 200 100 0 A B C D E Formula Gambar 11. Hasil uji viskositas sediaan mikroemulsi Hasil penelitian menunjukkan bahwa viskositas mikroemulsi yang dihasilkan cukup besar, berbeda dengan mikroemulsi tipe M/A maupun A/M yang memilki viskositas yang rendah. Hal ini karena surfaktan yang digunakan cukup tinggi, dimana surfaktan tween 80 memiliki viskositas yang agak kental. Selain itu, diduga karena sistem mikroemulsi tipe bikontinu yang dihasilkan memiliki sistem kubik yang memiliki viskositas tinggi dibandingkan dengan mikroemulsi tipe A/M atau M/A yang memiliki

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 misel berbentuk speris yang cenderung memiliki viskositas yang rendah (Texter, 2001). Peningkatan perbandingan tween 80 sebagai surfaktan dan PEG 400 sebagai kosurfaktan menghasilkan viskositas mikroemulsi yang semakin tinggi seperti terlihat pada Gambar 11. Peningkatan ini menurut data analisis statistik viskositas sediaan mikroemulsi pada masing-masing formula menunjukkan perbedaan signifikan (p < 0,05) untuk tiap formula. Hal ini menunjukkan bahwa viskositas sediaan mikroemulsi ini dipengaruhi oleh perbandingan surfaktan tween 80 dan kosurfaktan PEG 400. 7. Pengukuran Ukuran Droplet Pengukuran ukuran droplet sampel mikroemulsi menggunakan partikel size analysis dengan prinsip dynamic ligt scatering. Pengukuran ukuran droplet, distribusi ukuran droplet dan indeks polidispersi merupakan parameter penting untuk mengetahui sifat dan kestabilan serta bioavailabilitas emulsi dan mikroemulsi (Sharma, 2012). Ukuran droplet dari mikroemulsi menurut Pathan et al., (2012) adalah 10nm – 100nm. Pengukuran dilakukan hanya terhadap formula A sebelum dan sesudah uji freeze thaw, dengan asumsi bahwa keempat formula lainnya memiliki ukuran droplet yang lebih kecil atau kurang lebih sama dengan formula A ini, hal imi karena perbandingan tween sebagai surfaktan dan PEG 400 sebagai kosurfaktan yang digunakan paling kecil. Hasil pengukuran ukuran droplet mikroemulsi formula A pada siklus ke-0 dapat dilihat pada Tabel X.

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 Tabel X. Hasil pengukuran ukuran droplet sediaan mikroemulsi formula A pada siklus ke-0 Ukuran droplet 28,13±5,216 Indeks polidispersi 0,561±0,041 Gambar 12. Grafik distribusi ukuran droplet sediaan mikroemulsi formula A Hasil pengukuran menunjukkan bahwa rata-rata ukuran droplet pada formula A adalah 28,13 nm. Ukuran droplet ini masuk dalam rentang ukuran droplet mikroemulsi yaitu antara 10-100 nm. Indeks polidispersi yang dihasilkan menunjukkan nilai kurang dari 1,0; hal ini menunjukkan bahwa ukuran droplet pada mikroemulsi formula A memiliki karakteristik monodispersi (Waman, 2014). Namun, pada Gambar 12 terlihat bahwa ukuran droplet tidak terdistribusi nornal, dan condong ke arah kiri. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran droplet terpusat pada ukuran yang kecil. C. Stabilitas Fisik Sediaan Mikroemulsi dalam kondisi ekstrim penyimpanan Stabilitas fisik sediaan mikroemulsi diuji menggunakan metode uji sentrifugasi dan uji freeze thaw selama 3 siklus. Sifat fisik sediaan mikroemulsi diuji setiap siklusnya untuk melihat perubahan yang terjadi. Sifat fisik yang

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 diamati dalam uji stabilitas fisik ini meliputi organoleptis, pH, persen transmitansi, viskositas, serta ukuran droplet. 1. Stabilitas Organoleptis Sediaan Mikroemulsi setelah Freeze Thaw Pemeriksaan penampilan sediaan mikroemulsi setelah uji sentrifugasi dan pada tiap siklus selama uji freeze thaw bertujuan untuk melihat adanya perubahan penampilan karena pengaruh perubahan suhu yang drastis selama uji freeze thaw dan tekanan yang tinggi pada uji sentrifugasi. Hasil pengamatan organoleptis dari mikroemulsi pada saat sebelum dan sesudah uji sentrifugasi dapat dilihat pada Gambar 13. Sebelum uji sentrifugasi Setelah uji sentrifugasi Gambar 13. Penampilan fisik seluruh formula sediaan mikroemulsi sesudah dan sebelum uji sentrifugasi Hasil pengamatan organoleptis pada saat sebelum dan sesudah uji sentrifugasi menunjukkan bahwa kelima formula tidak menunjukkan perubahan warna dan bau, serta tidak terjadi pemisahan fase ataupun pembentukan kabut. Hasil ini menunjukan bahwa seluruh perbandingan surfaktan dan kosurfaktan yang digunakan sudah dapat memberikan sediaan mikroemulsi yang stabil. Hasil pengamatan organoleptis pada tiap siklusnya menunjukkan bahwa kelima formula stabil setelah memalui setiap siklus dalam uji freeze

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 thaw. Penampilan fisik sediaan tidak menunjukkan perubahan warna dan bau, serta tidak terjadi pemisahan fase ataupun pembentukan kabut. Hasil ini menunjukan bahwa seluruh perbandingan surfaktan dan kosurfaktan yang digunakan sudah dapat memberikan sediaan mikroemulsi yang stabil. 2. Stabilitas pH Sediaan Mikroemulsi setelah Freeze Thaw Uji stabilitas pH bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan suhu yang drastis terhadap pH sediaan mikroemulsi selama uji freeze thaw. Hal ini karena pH merupakan salah satu faktor penentu sifat iritatif dari sediaan, karena apabila pH sediaan tidak sesuai dengan kulit dapat mengakibatkan iritasi saat mengaplikasian sediaan. Profil Kurva pH sampel mikroemulsi pH seluruh formula tiap siklus dapat dilihat dalam pada Gambar 14. 5,8 5,6 5,4 5,2 5 Formula A Formula B Formula C 0 1 2 3 Siklus Ke- Formula D Formula E Gambar 14. Profil Kurva pH mikroemulsi tiap siklus Freeze Thaw pH sediaan mikroemulsi untuk tiap formula mengalami sedikit perubahan dalam tiap siklus pada uji freeze thaw. Namun, perubahan tersebut tidak signifikan secara statistik (p > 0,05) untuk kelima formula serta perubahannya masih dalam rentang pH kulit. Hasil ini menunjukkan bahwa kelima perbandingan surfaktan tween 80 dan kosurfaktan PEG 400 dapat menghasilkan sediaan mikroemulsi yang memiliki pH stabil dan tidak mempengaruhi stabilitas sediaan mikroemulsi.

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 3. Stabilitas Persen Transmitansi Sediaan Mikroemulsi setelah Freeze Thaw Uji stabilitas persen transmitansi bertujuan untuk melihat kestabilan sediaan mikroemulsi pada tiap siklus pada uji freeze thaw. Pada uji freeze thaw ini karena perbedaan suhu yang drastis dapat membuat sediaan mikroemulsi menunjukkan ketidakstabilan dengan terbentuknya kristal atau kabut tipis yang tidak selalu teramati oleh mata. Hal tersebut dapat diketahui dengan nilai T (%) persen transmitansi yang menenunjukkan penurunan hingga dibawah 90%. 100 99 98 97 96 Formula A Formula B Formula C 0 1 2 3 Siklus Ke- Formula D Formula E Gambar 15. Profil Kurva persen transmitansi mikroemulsi tiap siklus Freeze Thaw Profil kurva persen transmitansi sampel mikroemulsi seluruh formula tiap siklus dapat dilihat dalam pada Gambar 15. Persen transmitansi sediaan mikroemulsi untuk tiap formula mengalami sedikit perubahan dalam tiap siklus pada uji freeze thaw. Namun, perubahan tersebut tidak signifikan secara statistik (p > 0,05) untuk kelima formula. Hasil ini menunjukkan bahwa kelima formula memiliki persen transmitansi yang stabil serta tetap jernih dan transparan karena nilai persen transmitansi untuk kelima formula masih >90%. 4. Stabilitas Viskositas Sediaan Mikroemulsi setelah Freeze Thaw Pengaruh freeze thaw terhadap viskositas penting diamati karena viskositas sediaan dapat mempengaruhi kemudahan pengaplikasian sediaan serta berhubungan dengan dosis atau jumlah zat aktif yang terkandung

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 didalamnya. Grafik Viskositas sampel mikroemulsi seluruh formula tiap siklus Viskositas (c.Ps) dapat dilihat dalam pada Gambar 16. 600 500 400 300 200 100 0 Formula A Formula B Formula C Formula D 0 3 Formula E Siklus keGambar 16. Profil Kurva Viskositas mikroemulsi tiap siklus Freeze Thaw Pada grafik viskositas dapat dilihat bahwa viskositas kelima formula mengalami kenaikan. Pengukuran viskositas yang dilakukan pada siklus ke-0 dan siklus ke-3 dalam uji freeze thaw ini menunjukkan perubahan yang signifikan secara statistik (p < 0,05). Pada hasil ini meskipun nilai viskositas kelima formula mengalami peningkatan yang signifikan, namun hal ini tidak menunjukkan bahwa sediaan mikroemulsi yang dihasilkan tidak stabil. Hal ini karena peningkatan viskositas sediaan mikroemusi menunjukkan kestabilan mikroemulsi, dimana dengan meningkatnya viskositas akan mencegah droplet droplet untuk mengendap atau memisah (Jufri et. al., 2004). 5. Stabilitas Ukuran Droplet Sediaan Mikroemulsi setelah Freeze Thaw Ukuran droplet penting untuk diteliti kestabilannya, karena ketidakstabilan sistem emulsi mula-mula terjadi peristiwa pengabungan droplet droplet. Grafik distribusi ukuran droplet sampel mikroemulsi dapat dilihat dalam pada Gambar 17. Pengukuran ukuran droplet yang dilakukan sebelum dan setelah uji freeze thaw menunjukkan peningkatan terlihat pada Tabel XI.

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 Namun, perubahan ukuran droplet sediaan tidak signifikan secara statistik (p > 0,05) serta nilai ukuran droplet masih dalam rentang ukuran droplet sediaan mikroemulsi. Gambar 17. Grafik distribusi ukuran droplet sediaan mikroemulsi formula A pada siklus ke-3 Tabel XI. Hasil pengukuran ukuran droplet mikroemulsi formula A pada siklus ke-0 dan siklus ke-3 Ukuran droplet (nm) Indeks polidispersi Siklus ke-0 Siklus ke-3 Siklus ke-0 Siklus ke-3 0,561±0,041 0,656±0,152 28,13±5,216 29,33±3,092 D. Aktivitas Antioksidan Sediaan Mikroemulsi 1. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Penentuan panjang gelombang maksimum dimaksudkan untuk memperoleh daerah serapan maksimum dari DPPH. Hal ini dilakukan agar sedikit perubahan konsentrasi saat pengambilan tidak akan menyebabkan perubahan absorbansi yang besar sehingga akan didapatkan kepekaan analisis yang maksimum. Penentuan panjang gelombang maksimum dilakukan pada 3 konsentrasi DPPH 7,9; 15,8; dan 23,7 µg/mL. Hal ini bertujuan agar data yang diperoleh dapat merepresentasikan panjang gelombang maksimum yang sama walaupun berbeda konsentrasi. Pengukuran dilakukan dengan melakukan scanning panjang gelombang pada 400-600 nm.

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 Hasil pengukuran panjang gelombang menunjukkan bahwa seluruh sampel uji memiliki serapan maksimum pada panjang gelombang 517 nm. Hal ini sesuai dengan teori, menurut Ndhlala et al. (2010) bahwa DPPH memberikan serapan kuat pada panjang gelombang 515 - 517 nm. 2. Penentuan Operating Time (OT) Penentuan operating time bertujuan untuk menentukan rentang waktu saat larutan uji mereduksi radikal DPPH dengan sempurna sehingga diperoleh absorbansi yang stabil. Penentuan operating time perlu dilakukan agar dapat diketahui waktu pengukuran yang tepat dari suatu senyawa, dimana reaksi terjadi secara optimal. Pengukuran dilakukan pada saat operating time dimaksudkan untuk meminimalkan kesalahan dalam hal pengukuran. Penentuan operating time dilakukan dengan mereaksikan DPPH dengan masing-masing larutan uji, dan diamati absorbansinya setiap 5 menit selama 1 jam. Penentuan operating time didasarkan pada waktu saat absorbansi larutan uji dan reagen DPPH mulai stabil atau menghasilkan selisih absorbansi yang kecil. Pengukuran dilakukan pada panjang gelombang maksimum yang didapatkan, yaitu 517 nm. Operating time askorbil palmitat yang diperoleh adalah antara 25 sampai 35 menit, karena pada menit tersebut dua hingga tiga replikasi menghasilkan nilai absorbansi yang stabil. Operating time untuk alfa tokoferol adalah 45 sampai 60 menit. Baku pembanding campuran operating time yang didapat adalah antara 10 hingga 30 menit.

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 Operating time formula A yang diperoleh dari percobaan adalah antara 35 sampai 60 menit, karena pada menit tersebut dua hingga tiga replikasi menghasilkan nilai absorbansi yang stabil, untuk formula B operating time yang didapat adalah antara 30 hingga 45 menit. Pada formula C ketiga replikasi tidak menghasilkan operating time yang sama, sehingga diambil operating time yang berada pada 2 replikasi, yaitu mulai dari menit ke-20 sampai menit ke-35. Operating time formula D adalah antara 25 sampai 30 menit, dan operating time untuk formula E adalah 15 sampai 35 menit. Operating time basis formula A yang diperoleh dari percobaan adalah antara 20 hingga 35 menit. Pada basis formula B operating time yang didapat adalah antara 30 hingga 55 menit. Pada basis formula C operating time yang didapat adalah antara menit ke-25 sampai menit ke-40. Operating time basis formula D adalah antara 35 sampai 50 menit, dan operating time untuk formula E adalah 25 sampai 40 menit. 0,6 Absorbansi 0,5 0,4 Askorbil Palmitat 0,3 Alfa Tokoferol 0,2 Campuran Askorbil Palmitat dan Alfa Tokoferol 0,1 0 0 20 40 60 80 Menit keGambar 18. Profil Kurva Operating Time Askorbil Palmitat, Alfa Tokoferol serta Campuran Askorbil Palmitat dan Alfa Tokoferol

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 0,6 Absorbansi 0,5 0,4 Formula A 0,3 Formula B Formula C 0,2 Formula D Formula E 0,1 0 0 10 20 30 40 50 60 70 Menit ke- Gambar 19. Profil Kurva Operating Time formula A, formula B, formula C, formula D, dan formula E 0,59 Absorbansi 0,58 0,57 0,56 Basis A 0,55 Basis B Basis C 0,54 Basis D 0,53 Basis E 0,52 0 10 20 30 40 50 60 70 Menit keGambar 20. Profil Kurva Operating Time basis A, basis B, basis C, basis D, dan basis E 3. Aktivitas Antioksidan Sediaan Mikroemulsi Metode DPPH dipilih untuk mengetahui aktivitas antioksidan karena metode ini mudah, cepat serta sensitif. DPPH digunakan untuk aktivitas perendaman aktivitas radikal bebas. Pengamatan pada uji ini dengan melihat perubahan intensitas warna DPPH. DPPH akan tereduksi oleh proses donasi hidrogen atau elektron, warnanya akan berubah dari violet menjadi kuning.

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Aktivitas antioksidan dengan metode ini diukur menggunakan parameter IC50 yaitu konsentrasi senyawa uji yang dibutuhkan untuk mengurangi radikal DPPH sebesar 50%. Semakin tinggi nilai IC50 maka aktivitas antioksidannya semakin rendah. Nilai IC50 diperoleh dari regresi linier yang menyatakan hubungan antara konsentrasi larutan uji dengan persen penangkapan radikal. Penentuan konsentrasi untuk masing-masing larutan uji dilakukan dengan percobaan pendahuluan atau uji orientasi untuk menentukan konsentrasi larutan uji yang dapat memberikan persen penghambatan antioksidan mencapai 50%. Hasil pengukuran aktivitas antioksidan sampel mikroemulsi dapat dilihat pada Tabel XII. Persamaan regresi linier untuk askorbil palmitat dapat dilihat pada Lampiran 14, persamaan regresi untuk alfa tokoferol pada Lampiran 15, dan persamaan regresi untuk campuran vitamin askorbil palmitat dan alfa tokoferol dapat dilihat pada lampiran 16. Persamaan regresi linier untuk formula A, B, C, D, dan E berturut-turut dapat dilihat pada Lampiran 17, 18, 19, 20, dan 21. Tabel XII. Hasil uji aktivitas antioksidan (mg/mL)± SD Keterangan (Arianto, 2006) Larutan Uji Askorbil Palmitat Sangat Kuat 2,344 ± 0,003 Alfa tokoferol Kuat 79,81 ± 0,361 askorbil palmitat dan Sangat Kuat 7,105 ± 0,0164 alfa tokoferol Formula A Sangat Kuat 29,584 ± 0,227 Formula B Sangat Kuat 29,513 ± 0,061 Formula C Sangat Kuat 30,731 ± 0,144 Formula D Sangat Kuat 31,174 ± 0,268 Formula E Sangat Kuat 32,445 ± 0,341

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Hasil aktivitas antioksidan tersebut menunjukkan bahwa campuran askorbil palmitat dan alfa tokoferol membuat aktivitas antioksidan menurun dibanding askorbil palmitat murni dan naik dibanding alfa tokoferol murni, sehingga dapat dikatakan aktivitas antioksidan oleh campuran askorbil palmitat dan alfa tokoferol berada di tengah aktivitas antioksidan dari masingmasing vitamin dalam bentuk murni. Berdasarkan data dapat dilihat bahwa aktivitas antioksidan dari sampel mikroemulsi dari seluruh formula lebih rendah dibandingkan dengan aktivitas antioksidan dari baku pembanding campuran askorbil palmitat dan alfa tokoferol. Hal ini terjadi karena askorbil palmitat dan alfa tokoferol yang ada dalam formula mikroemulsi terikat dengan makromolekul seperti surfaktan dan kosurfaktan yang dalam formula jumlahnya besar, meskipun begitu aktivitas antioksidan sampel seluruh formula masih dalam kategori sangat kuat menurut Arianto (2006). Data tersebut juga menunjukkan bahwa semakin tinggi perbandingan Smix nilai IC50 semakin tinggi yang berarti aktivitas antioksidan semakin turun. Penurunan aktivitas antioksidan ini signifikan secara statistik (p < 0,05), dan hasil uji Tukey HSD formula A dan B tidak berbeda signifikan secara statistik. Pada pengukuran basis tidak dapat diketahui nilai IC50, hal ini karena semua konsentrasi tidak menghasilkan persen penghambatan mencapai 50% dan hanya berkisar dari 0-10%. Hal ini juga menunjukkan bahwa pengukuran aktivitas antioksidan pada sampel mikroemulsi tidak ada penambahan oleh

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 aktivitas antioksidan dari basis, sehingga murni aktivitas antioksidan dari askorbil palmitat dan alfa tokoferol. E. Uji Iritasi Sediaan Mikroemulsi Uji iritasi dilakukan dengan metode Hen’s Egg Test Choriallantoic Membrane (HET-CAM). Uji iritasi ini dipilih untuk mengantikan uji Draize yang menggunakan kelinci sebagai hewan uji, dimana diketahui bahwa sekarang sudah tidak diperbolehkan untuk penggunaan hewan uji untuk pengujian sediaan kosmetik. Dalam uji ini diamati waktu terjadinya reaksi perdarahan (hemorrhage), lisis (lysis), dan koagulasi (coagulation) pada Choriallantoic Membrane (CAM) akibat dari pemaparan sampel uji. Dalam uji iritasi ini digunakan NaOH 0,1 N sebagai kontrol positif dan NaCl 0,9% sebagai kontrol negatif terhadap uji iritasi HET-CAM terhadap sampel mikroemulsi. Hasil uji iritasi pada mikroemulsi dapat dilihat pada Tabel XIII. Tabel XIII. Hasil uji iritasi sampel mikroemulsi Perlakuan Irritation Score Kontrol positif Kontrol negatif Formula A Formula B Formula C Formula D Formula E 9,267 ± 0,57 0±0 0±0 0±0 0±0 0±0 0±0 Keterangan Iritasi kuat Tidak mengiritasi Tidak mengiritasi Tidak mengiritasi Tidak mengiritasi Tidak mengiritasi Tidak mengiritasi Hasil uji iritasi dengan metode HET – CAM menunjukkan bahwa permaparan NaOH terhadap CAM mengakibatkan iritasi kuat berdasarkan klisifikasi Irritation Score oleh Cazedey (2009). Hasil pengamatan pada CAM

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 menunjukkan bahwa CAM yang menerima paparan NaOH terjadi perdarahan dan lisis pada CAM, dan tidak terjadi koagulasi. Hasil uji iritasi terhadap NaCl 0,9% sebagai kontrol negatif menunjukkan tidak terjadi perubahan pada CAM, sehingga dapat disimpulkan bahwa kontrol negatif ini tidak mengiritasi. Hasil uji iritasi terhadap kelima formula mikroemulsi juga menunjukkan tidak terjadi perubahan pada CAM, sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh formula sampel mikroemulsi ini tidak mengiritasi. Hasil yang ada menunjukkan bahwa peningkatan perbandingan surfaktan tween 80 dan PEG 400 tidak berpengaruh terhadap sifat iritatif dari sediaan mikroemulsi yang dihasilkan.

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Peningkatan perbandingan tween 80 sebagai surfaktan dan PEG 400 sebagai kosurfaktan menyebabkan peningkatan viskositas dan pH. Namun, tidak menyebabkan perubahan organoleptis, indeks bias, bobot jenis dan transmitansi. 2. Peningkatan perbandingan tween 80 sebagai surfaktan dan PEG 400 sebagai kosurfaktan tidak mempengaruhi stabilitas fisik sediaan mikroemulsi dalam kondisi ekstrim penyimpanan. 3. Sediaan mikroemulsi memiliki aktivitas sangat kuat dalam meredam aktivitas radikal bebas. Nilai IC50 formula A, B, C, D, dan E berturut-turut 29,584 µg/mL ± 0,227; 29,513 µg/mL ± 0,061; 30,731 µg/mL ± 0,144; 31,174 µg/mL ± 0,268; 32,445 µg/mL ± 0,341. 4. Sediaan mikroemulsi tidak memiliki potensi mengiritasi. B. Saran 1. Sebaiknya uji ukuran droplet untuk seluruh formula agar dapat dipastikan efek dari perbandingan surfaktan dan kosurfaktan terhadap ukuran droplet. 2. Dilakukan uji penetrasi untuk melihat pengaruh perbandingan surfaktan dan kosurfaktan terhadap kemampuan penetrasi sediaan mikroemulsi menembus membran kulit. 76

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Alencastre, J. B., Bentley, M. V. L. B., Garcia, F. S., Moragas, M., Viladot, J. L., and Marchetti, J. M., 2006, A study of the characteristics and in vitro permeation properties of CMC/chitosan microparticles as a skin delivery system for vitamin E, RBCF, 42(1), 69-76. Alvarez, A. M. R. and Rodríguez, M. L. G., 2000, Lipids in pharmaceutical and cosmetic preparations, Grasas y Aceites, 51(1), 74-96. Ariyanto, 2006, Uji Aktivitas Antioksidan, Penentuan Kandungan Fenolik dan Fraksi Air Ekstrak Metanolik Pegagan (Centella asiatica L. Urban), Skripsi, 68, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Aquilina, G., Bach, A., Bampidis, V., Bastos, M.D.L., Flachowsky, G., GasaGasó, J., et al., 2013, Scientific Opinion on the safety and efficacy of vitamin C (ascorbic acid, sodium ascorbate, calcium ascorbate, ascorbyl palmitate, sodium calcium ascorbyl phosphate and sodium ascorbyl phosphate) as a feed additive for all animal species based on a dossier submitted by DSM Nutritional Products Ltd, EFSA Journal, 11(2), 19. Baumann, L. (Ed), 2009, Cosmetic Dermatology : Principles and Practice, second edition, Mc Graw Hill Medical, New York, pp. 293-299. Bernardi, D. S., Pereira, T. A., Maciel, N. R., Bortoloto, J., Viera, G. S., Oliveira, G. C., et al., 2011, Formation and stability of oil-in-water nanoemulsions containing rice bran oil: in vitro and in vivo assessments, J Nanobiotechnology, 9(1), 44. Birben E., Sahiner, U. M., Sackesen, C., Erzurum S., and Kalayci, O., 2012, Review article : Oxidative Stress and Antioxidant Defense, WAO Journal, 5:9–19. Bissett, D. L., 2006, Anti-aging Skin Care Formulations, in Draelos Z. D., and Thaman, L. A. (Eds.), 2006, Formulation on skin care product, 2nd edition, Taylor & Francis Group, New York, pp. 174- 176. Cazedey, E., Calvalho, F., Fiorentino, F., Gremiao, M., and Salgado, H., 2009, Corrositex, BCOP dan HET-CAM as alternative methods to animal experimentation, Braz J Med Biol Res, 34 (2), 1-23. Clarkson, P. M., and Thompson, H. S., 2000, Antioxidants: what role do they play in physical activity and health?, Am J Clin Nutr, 72, 637–646. 77

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 Cunningham, W. 2003, Aging and photo-aging, in: Baran R, Maibach HI, (eds). Textbook of Cosmetic Dermatology, 2nd edition, Martin dunitz, London, pp. 455-467. Dawaba, H. M., Abd-Allah, F. I., and Ahmed M. S., 2010, Development of AMicroemulsion-based Formulation to Improve The Availability of Poorly Water-soluble Drug, Drug Discov. Ther., 4 (4), 257-266. Darole, P. S., Hegde, D. D., Nair, H. A., 2008, Formulation and Evaluation of Microemulsion Based Delivery System for Amphotericin B, AAPS PharmSciTech, 9(1), 123-124. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1979, Farmakope Indonesia, Edisi III, Departemen Kesehatan RI, p. 79. Fennema, O. R., Hui, Y. H., Karel, M., Walstra, P., and Whitaker, J. R., (Eds), 2004, Vitamin E : Food Science and Thechnology, Marcel Dekker, Inc., New York, pp : 2-5, 89-127. Gina, E. S., Sherif, A.E.K., and Fathy, A.A.I., 2012, Microemulsion versis Niosome for the Transdermal Delivery of Repaglinide, Asian J. Pharm. Hea. Sci., 2 (4), 526-534. Jusuf, N. K., 2005, Kulit menua, Majalah Kedokteran Nusantara, Medan, 3(2), pp :1-2. Jufri, M., Djajadisastra, J., dan Maya, L., 2009, Pembuatan Mikroemulsi dari Minyak Buah Merah, Majalah ilmu kefarmasian, 4(1), 18-27. Kretz, A., and Moser, U., 2001, Vitamins, in Barel, A. O., Paye, M., and Maibach, H. I. (Eds.), 2001, Handbook of Cosmetic Science and Technology, Marcel Dekker, Inc., New York, pp. 463-470. Kundarapu, S., Srinivas, M., Srilalitha, G., and Sharma, J.V.C., 2014, Design and Characterization of Self Emulsifying Drug Delivery System of Repaglinide, Int. J. Pharm. Sci. Rev. Res., 25(1), 41-46. Lakshmi, J., Kumar, B. A., and Gupta, S., 2013, Review Article : Investigation of Microemulsion as a Potential Carrier for Advanced Transdermal Delivery: An Overview, Int. J. Pharm. Sci. Rev. Res., 20(2), 51-59. Lawrence ,M. and Rees, G. D., 2000, Reviews : Microemulsion-based media as Novel Drug Delivery Systems, Adv. Drug Deliv. Rev., 45(1), 89-121.

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Mahdi, E. S., Sakeena, M. H. F., Abdulkarim, M. F., Abdullah, G. Z., Sattar, M. A., and Noor, A. M., 2011, Effect Of Surfactant And Surfactant Blends On Pseudoternary Phase Diagram Behavior Of Newly Synthesized Palm Kernel Oil, Drug Des. Devel. Ther., 11 (5), 311-323. Makrantonaki, E., and Zouboulis, C. C., 2010, Pathomechanisms of Endogenously Aged Skin, in : Farrage, M. A., Miller, K. W., Maibach, H. I., 2010, Textbook of Aging Skin, Springer, Verlag Berlin Heidelberg, pp: 346-360. Marinova, G., and Batchvarov, V., 2011, Evaluation of The Methods of Determination of The Free Radical Scavenging Activity by DPPH, BJAS, 17(1), 11-24. Molyneux, P., 2004, The use of the stable free radical diphenylpicrylhydrazyl (DPPH) for estimating antioxidant activity, Songklanakarin J. Sci. Technol., 26 (2), 211-219. Murina, A.T., Kerisit, K. G., and Boh, E. E., 2012, Mechanism of Skin Aging, Cosmet Dermatol., 25, 399-402. Muzzafar, F., Singh, U.,K., and Chauhan, L., 2013, Review On Microemulsion As Futuristic Drug Delivery, Int J Pharm Pharm Sci, 5 (3), 39-53. Ndhlala, A. R., Moyo, M., and Staden, J. V., 2010, Review : Natural Antioxidants: Fascinating or Mythical Biomolecules?, Molecules, 15, 6905-6930. Nielloud, F. and Marti, G., 2000, Pharmaceutical Emulsions and Suspensions, Marcel Dekker Inc, New York, pp : 1-13. Nikki, E., 2010, Review Article : Assessment of Antioxidant Capacity in vitro and in vivo, FRBM, 49 : 503-515. Noori, S., 2012, An Overview of Oxidative Stress and Antioxidant Defensive System, Open Access Scientific Report, 1 (8), 1-9. Padayatty, S J., Katz, A., Wang, Y., Eck, P., Kwon, O., Le, J.H., et al., 2003, Vitamin C as an antioxidant: evaluation of its role in disease prevention, J Am Col Nutr, 2, 18-35. Pathan, M., Zikriya, A, and Quazi, A., 2012, Microemulsion: As Excellent Drug Delivery System, IJPRS, 1(3), 199-210.

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 Robinson, M. K., Osborne, R., and Perkins, M. A., 2001, In Vitro Tests for Skin Irritation, in Barel, A. O., Paye, M., and Maibach, H. I. (Eds.), 2001, Handbook of Cosmetic Science and Technology, Marcel Dekker, Inc., New York, pp. 95-97. Rohman, A., dan Riyanto, S., 2005, Daya Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Kemuning (Murraya paniculata (L) Jack) secara In Vitro, Majalah Farmasi Indonesia, 16 (3), 136-140. Rowe, R.C., Sheskey, P.J., and Quinn, M.E., 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients, 6th edition, Pharmaceutical Press and American Pharmacists Association, Washington, DC, pp.110-113, 441-445, 549-553, 596-598, 675-681, 754-755. Rozman, Zvonar, Falson, and Gasperlin, 2008, Temperature-Sensitive Microemulsion Gel: An Effective Topical Delivery System for Simultaneous Delivery of Vitamins C and E, AAPS PharmSciTech, 10 (1), 1-8. Sorg, O., Antille, C., and Saurat, J.H., , 2004, Retinoids, Other Topical Vitamins, and Antioxidants, in Rigel, D.S., Weiss, R.A, Lim, H.W., and Dover, J.S., (Eds), 2004, Photoaging, Marcel Dekker, Inc., New York, pp : 89-105. Sastroamidjojo, H., 2001, Spektroskopi, Liberty, Yogyakarta, pp. 1-39. Sharma, B., Sharma, A., Arora, S., Gupta, S., and Bichnol, M., 2012, Formulation, Optimization and Evaluation of Atorvastatin Calcium Loaded Microemulsion, J Pharm Drug Deliv Res., 1(3), 1-7. Singh, P.K., Iqubal, M.K., Shukla, V.K., and Shuaib, M., 2014, Microemulsions: Current Trends in Novel Drug Delivery Systems, RJPBCS, 1(1):39-51. Sinko, J.S., (Eds), 2006, Martin’s Physical Pharmacy and Pharmaceutical Sciences : Physical Chemical and Biopharmaceutical Principles in the Pharmaceutical Sciences, Lippincott William and Wilkins, USA, p. 5. Stuchlík, M., and Žák, S., 2001, Lipid Based Vehicle For Oral Drug Delivery, Biomed. Paper, 145(2), 17-26. Talegokar, S., Azeem, A., Ahmad, F., Khar, R.K., Patham, S. A., and Khan, Z. I., 2008, Microemulsions: A Novel Approach to Enhanced Drug Delivery, Recent Pat. Drug Deliv. Formul., 2, 238-157. Texter, J., (Ed.), 2001, Reactions And Synthesis In Surfactant Systems, Marcel Dekker, New York, p. 527.

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Thiele, J. J., 2007, Review : Vitamin E in human skin: Organ-specific physiology and considerations for its use in dermatology, MOL ASPECTS MED., 28 (1), 646–667. Traber, M.G., 2006, Vitamin E Bioavailability, Biokinetics, and Metabolism, in Draelos Z.D., and Thaman, L.A. (Eds.), Cosmetics sience and technology, 2nd edition, Taylor & Francis Group, New York, pp. 113- 115. United States Department of Agriculture, 2012, Technical Evaluation Report : Ascorbyl Palmitate, http://www.ams.usda.gov/AMSv1.0/getfile?dDocName=STELPRDC5099594, diakses tanggal 21 Oktober 2014. Wankhade, R.P., Pundir, A.R., and Bhalerao, S.S., 2013, Microemulsion as Novel Cosmeceutical Drug Delivery System, IJPI’s Journal of Pharmaceutics and Cosmetology, 2 (9), 78-92. Waman, N., Ajjage, R., Kendre, P.N., Kasture, S.B., and Katsure, V., 2014, Improved Release Oral Drug Delivery of Metaxalone, Int J Pharm, 4(1), 417-424. Waterman, E., and Lockwood, B., Active Components and Clinical Applications of Olive Oil, ALTERN MED REV, 12(4), 331-339. Wihelmina, C.E., 2007, Pembuatan dan Penentuan Nilai SPF Nanoemulsi Tabir Surya Menggunkan Minyak kencur (kaempferia galangal L.) Sebagai Fase Minyak, Skripsi, Universitas Indonesia, Jakarta.

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 82

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 Lampiran 1. Sertifikat analisis Askorbil palmitat dari CV. Privat Equitment

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 2. Sertifikat analisis Alfa tokoperol dari CV. Cipta Anugerah 84

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 3. Sertifikat analisis Minyak zaitun dari CV. Sofa Meditetranian 85

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4. Sertifikat analisis Tween 80 dari PT. Brataco Chemika 86

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 5. Sertifikat analisis PEG 400 dari PT. Brataco Chemika 87

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 Lampiran 6. Data Pengamatan Organoleptis Sediaan Mikroemulsi Formula A B C D E Pengamatan Warna Kejernihan Pemisahan fase Bau Homogenitas Warna Kejernihan Pemisahan fase Bau Homogenitas Warna Kejernihan Pemisahan fase Bau Homogenitas Warna Kejernihan Pemisahan fase Bau Homogenitas Warna Kejernihan Pemisahan fase Bau Homogenitas 0 Kuning Jernih Tidak Memisah Khas Homogen Kuning Jernih Tidak Memisah Khas Homogen Kuning Jernih Tidak Memisah Khas Homogen Kuning Jernih Tidak Memisah Khas Homogen Kuning Jernih Tidak Memisah Khas Homogen Siklus ke- 1 Kuning Jernih Tidak Memisah Khas Homogen Kuning Jernih Tidak Memisah Khas Homogen Kuning Jernih Tidak Memisah Khas Homogen Kuning Jernih Tidak Memisah Khas Homogen Kuning Jernih Tidak Memisah Khas Homogen 2 Kuning Jernih Tidak Memisah Khas Homogen Kuning Jernih Tidak Memisah Khas Homogen Kuning Jernih Tidak Memisah Khas Homogen Kuning Jernih Tidak Memisah Khas Homogen Kuning Jernih Tidak Memisah Khas Homogen 3 Kuning Jernih Tidak Memisah Khas Homogen Kuning Jernih Tidak Memisah Khas Homogen Kuning Jernih Tidak Memisah Khas Homogen Kuning Jernih Tidak Memisah Khas Homogen Kuning Jernih Tidak Memisah Khas Homogen

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 7. Dokumentasi Pengamatan Organoleptis Sediaan Mikroemulsi 1. Pengamatan Setelah 48 jam (siklus ke-0) Formula A Formula B Formula C Formula D Formula E Formula D Formula E 2. Pengamatan Setelah Freeze Thaw Siklus Ke -1 Formula A Formula B Formula C 3. Pengamatan Setelah Freeze Thaw Siklus Ke – 2 Formula A Formula B Formula C Formula D Formula E 4. Pengamatan Setelah Freeze Thaw Siklus Ke – 3 Formula A Formula B Formula C Formula D Formula E 89

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 Lampiran 8. Data Sifat Fisik dan Stabilitas Fisik Sediaan Mikroemulsi 1. Bobot Jenis Formula A B C D E 2. Bobot Jenis (g/mL) Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3 1,078 1,079 1,073 1,077 1,078 1,076 1,078 1,074 1,075 1,076 1,075 1,073 1,075 1,076 1,072 Indeks Bias Formula A B C D E Replikasi 1 1,466 1,466 1,467 1,466 1,466 Indeks Bias Replikasi 2 1,466 1,466 1,466 1,466 1,466 3. Pengamatan pH Formula Rep. A 1 2 3 ± SD B ± SD C ± SD D ± SD E ± SD 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 0 5,32 5,34 5,33 5,33±0,01 5,40 5,44 5,39 5,41±0,026 5,50 5,48 5,55 5,51±0,036 5,60 5,63 5,65 5,63±0,025 5,74 5,71 5,73 5,73±0,015 Replikasi 3 1,466 1,467 1,466 1,466 1,467 ± SD 1,077 ± 0,0032 1,077 ± 0,001 1,076 ± 0,0021 1,075 ± 0,0015 1,074 ± 0,0021 ± SD 1,466 ± 0,00 1,466 ± 0,00577 1,466 ± 0,00577 1,466 ± 0,00 1,466 ± 0,00577 Siklus ke1 2 5,34 5,33 5,33 5,30 5,31 5,35 5,33±0,015 5,33±0,025 5,41 5,44 5,46 5,41 5,47 5,43 5,45±0,032 5,43±0,015 5,52 5,55 5,53 5,50 5,55 5,53 5,53±0,015 5,53±0,025 5,62 5,63 5,65 5,65 5,63 5,66 5,63±0,015 5,65±0,015 5,72 5,73 5,73 5,72 5,75 5,75 5,73±0,015 5,73±0,015 3 5,32 5,35 5,34 5,34 ±0,015 5,41 5,44 5,45 5,44±0,026 5,55 5,57 5,56 5,56±0,01 5,62 5,61 5,63 5,62 ±0,01 5,75 5,76 5,73 5,75±0,015

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Transmitasi (%) Formula Replikasi 1 2 3 A ± SD 1 2 3 B ± SD 1 2 3 C ± SD 1 2 3 D ± SD 1 2 3 E ± SD 5. 0 98,7 98,8 98,5 98,67± 0,15 99,1 98,9 99,2 99,07±0,15 98,3 98,7 98,6 98,53±0,21 98,3 98,5 98,4 98,4± 0,1 98,0 97,7 97,3 97,67± 0,35 Siklus ke1 2 98,7 98,8 98,9 98,7 98,5 98,9 98,7± 0,2 98,8± 0,1 99,2 99,4 99,0 99,0 99,1 99,1 99,1± 0,1 99,17±0,21 99,4 98,9 99,1 99,0 98,9 98,6 99,13±0,25 98,83±0,21 98,9 99,0 98,8 98,9 98,6 98,5 98,77±0,15 98,8± 0,26 98,1 97,7 98,0 97,9 97,7 97,6 97,93±0,21 97,73±0,15 Viskositas (C.ps) Formula A ± SD B ± SD C ± SD D ± SD E ± SD Replikasi 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 Siklus ke0 3 347,4 346,9 346,4 346,9±0,5 391,9 390,4 390,9 391,07±0,76 401,9 400,4 403,4 401,9±1,5 432,4 427,9 430,9 430,4±2,29 462,9 461,4 460,9 461,73±1,04 391,4 389,9 390,9 390,73±0,76 400,4 400,9 398,4 399,9±1,32 438,9 430,2 431,4 433,5±4,71 465,4 464,9 464,4 464,9±0,5 494,9 494, 4 493,9 494,4±0,5 91 3 98,8 98,7 99,0 98,83±0,15 99.3 99,4 99,5 99,4± 0,1 98,9 98,8 98,7 98,8± 0,1 98,9 98,7 98,8 98,8± 0,1 97,6 97,7 97,5 97,6±0,1

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6. 92 Ukuran partikel Formula Repetisi A 1 2 3 ± SD Ukuran partikel (nm) Siklus ke-0 Siklus ke-3 22,4 30,2 29,4 25,9 32,6 31,9 28,13±5,216 29,33±3,092 Indeks polidispersi Siklus ke-0 Siklus ke-3 0,564 0,690 0,518 0,788 0,600 0,490 0,561±0,041 0,656±0,152 Lampiran 9. Hasil Pengamatan Ukuran Droplet Formula A 1. Sebelum Freeze Thaw A. Repetisi 1 B. Repetisi 2

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI C. Repetisi 3 2. Setelah Freeze Thaw A. Repetisi 1 B. Repetisi 2 93

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 C. Repetisi 3 Lampiran 10. Analisis Statistika Sifat Fisik Mikroemulsi Menggunakan Program R. 3.0.1 Contoh uji statistik sifat fisik 1. Pengamatan pH A. Uji normalitas (Shapiro-Wilk Test) Formula A

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 Formula B Formula C Formula D Formula E Keterangan : seluruh formula memiliki nilai p > 0,05 menunjukkan bahwa data tiap siklus terdistribusi normal B. Uji variansi data (Levene’s test) Keterangan : nilai p value > 0,05 menunjukkan bahwa kesamaan variansi data memiliki C. Uji ANOVA Keterangan : nilai p > 0,05 menunjukkan bahwa data berbeda bermakna

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 D. Uji Tukey HSD Keterangan : nilai p value < 0,05 menunjukkan bahwa semua data berbeda secara bermakna Data Uji Statistik Bobot Jenis, pH, Pertsen Transmitansi dan Viskositas 1. Uji Normalitas Data (Shapiro – Wilk Test) p value Bobot Jenis pH Persen transmitansi Viskositas A 0,2983 1,0 0,6369 1,0 B 1,0 0,3631 0,6369 0,6369 C 0,4633 0,5367 0,4633 1,0 D 0,6369 0,7804 1,0 0,6369 E 0,4633 0,6369 0,8428 0,4633 Keterangan : p < 0,05 (data terdistribusi nornal); p > 0,05 (data tidak terdistribusi nornal) Formula 2. Uji Variansi Data (Levene’s Test) Sifat Fisik Bobot Jenis pH Persen transmitansi Viskositas Keterangan : p < 0,05 (data bermakna) p value Keterangan 0,883 Data Homogen 0,776 Data Homogen 0,6183 Data Homogen 0,5416 Data Homogen berbeda bermakna); p > 0,05 (data tidak berbeda

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 3. Uji ANOVA Sifat Fisik p value Keterangan Bobot Jenis 0,483 Data Tidak Berbeda Bermakna pH 1,44e-08 *** Data Berbeda Bermakna Persen transmitansi 0,0613 Data Tidak Berbeda Bermakna Viskositas 2,57e-15 *** Data Berbeda Bermakna Keterangan : p < 0,05 (data berbeda bermakna); p > 0,05 (data tidak berbeda bermakna) . 4. Uji Tukey HSD p value pH Viskositas Formula A vs Formula B 0,0161478 0,00e+00 Formula A vs Formula C 0,0000302 0,00e+00 Formula A vs Formula D 0,0000003 0,00e+00 Formula A vs Formula E 0,0000000 0,00e+00 Formula B vs Formula C 0,0036472 1,67e-05 Formula B vs Formula D 0,0000056 0,00e+00 Formula B vs Formula E 0,0000002 0,00e+00 Formula C vs Formula D 0,0011534 0,00e+00 Formula C vs Formula E 0,0000056 0,00e+00 Formula D vs Formula E 0,0036472 0,00e+00 Keterangan : p < 0,05 (data berbeda bermakna); p > 0,05 (data tidak berbeda bermakna) Kelompok Komparasi Lampiran 11. Analisis Statistika Stabilitas Fisik Mikroemulsi Menggunakan Program R. 3.0.1 Contoh uji statistik sifat fisik 1. Persen Transmitansi Formula A

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 A. Uji Normalitas Siklus 0 Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 Keterangan :Formula A memiliki nilai p > 0,05 menunjukkan bahwa data tiap siklus terdistribusi normal B. Uji T berpasangan Siklus 0 dan siklus 1 Siklus 0 dan siklus 2

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 Siklus 0 dan siklus 3 Siklus 1 dan siklus 2 Siklus 1 dan siklus 3 Siklus 2 dan siklus 3 Keterangan : Data perbandingan tiap siklus pada Formula A menghasilkan p value > 0,05 menunjukkan bahwa data persen transmitansi tiap siklusnya tidak berbeda bermakna secara statistik. Data Uji Statistik stabilitas fisik persen transmitansi, pH, dan Viskositas 1. Stabilitas Uji Persen Transmitansi a. Uji Normalitas Data (Shapiro – Wilk Test) p value Siklus keFormula A Formula B Formula C Formula D Formula E 0 0,6369 0,6369 0,4633 1,0 0,8428 1 1,0 1,0 0,7804 0,6369 0,4633 2 1,0 0,4633 0,4633 0,3631 0,6369 3 0,6369 1,0 1,0 1,0 1,0 Keterangan : p < 0,05 (data terdistribusi nornal); p > 0,05 (data tidak terdistribusi nornal)

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 b. Uji t berpasangan p value Kelompok Komparasi Formula Formula Formula Formula Formula A B C D E Siklus ke-0 vs Siklus ke-1 0,4226 0,6667 0,1399 0,09274 0,09418 Siklus ke-0 vs Siklus ke-2 0,4557 0,4778 0,2254 0,1472 0,7538 Siklus ke-0 vs Siklus ke-3 0,444 0,06341 0,2507 0,07418 0,7418 Siklus ke-1 vs Siklus ke-2 0,622 0,4226 0,1217 0,6667 0,1835 Siklus ke-1 vs Siklus ke-3 0,5784 0,09547 0,06341 0,7418 0,06341 Siklus ke-2 vs Siklus ke-3 0,4226 0,2965 0,7418 1,0 0,05719 Keterangan : p < 0,05 (data berbeda bermakna); p > 0,05 (data tidak berbeda bermakna) 2. Stabilitas Uji pH a. Uji Normalitas Data (Shapiro – Wilk Test) p value Siklus keFormula A Formula B Formula C Formula D Formula E 0 1,0 0,3631 0,5367 0,7804 0,6369 1 0,6369 0,2983 0,6369 0,6369 0,6369 2 0,7804 0,6369 0,7804 0,6369 0,6369 3 0,6369 0,4633 1,0 1,0 0,6369 Keterangan : p < 0,05 (data terdistribusi nornal); p > 0,05 (data tidak terdistribusi nornal) b. Uji t berpasangan p value Formula Formula Formula Formula Formula A B C D E Siklus ke-0 vs Siklus ke-1 0,8075 0,2354 0,2495 0,6667 0,6667 Siklus ke-0 vs Siklus ke-2 0,874 0,5492 0,4975 0,07418 0,5286 Siklus ke-0 vs Siklus ke-3 0,1835 0,3356 0,1628 0,6667 0,3206 Siklus ke-1 vs Siklus ke-2 1,0 0,5101 0,7538 0,2697 1,0 Siklus ke-1 vs Siklus ke-3 0,5799 0,1835 0,09418 0,4226 0,5076 Siklus ke-2 vs Siklus ke-3 0,6667 0,7538 0,2419 0,09418 0,5286 Keterangan : p < 0,05 (data berbeda bermakna); p > 0,05 (data tidak berbeda bermakna) Kelompok Komparasi

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 3. Stabilitas Uji Viskositas a. Uji Normalitas Data (Shapiro – Wilk Test) p value Siklus keFormula A Formula B Formula C Formula D Formula E 0 1,0 0,6369 1,0 0,6369 0,4633 3 0,6369 0,3631 0,2437 1,0 1,0 Keterangan : p < 0,05 (data terdistribusi nornal); p > 0,05 (data tidak terdistribusi nornal) b. Uji t berpasangan p value Kelompok Komparasi Formula A Formula B Formula C Formula D Formula E Siklus ke-0 vs 0,0001012 0,009821 0,007486 0,001328 0,0001041 Siklus ke-3 Keterangan : p < 0,05 (data berbeda bermakna); p > 0,05 (data tidak berbeda bermakna) 4. Stabilitas Uji Ukuran Droplet a. Uji Normalitas Data (Shapiro – Wilk Test) Siklus ke- p value Formula A 0 0,5954 3 0,5318 Keterangan : p < 0,05 (data terdistribusi nornal); p > 0,05 (data tidak terdistribusi nornal) b. Uji t berpasangan p value Formula A Siklus ke-0 vs Siklus ke-3 0,577 Keterangan : p < 0,05 (data berbeda bermakna); p > 0,05 (data tidak berbeda bermakna) Kelompok Komparasi

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 Lampiran 12. Perhitungan Irritation Score (IS) Irritation Score (IS) diukur dengan menggunakan persamaan 2. = 301 − 301 − 5 + 300 7 + 300 301 − 300 Contoh perhitungan Irritation Score : 1. Kontrol positif A. Replikasi 1 = 301 − 11 300 5 + 301 − 72 300 7 + 301 − 301 300 9 5 + 301 − 99 300 7 + 301 − 301 300 9 = 4,83 + 5,43 + 0,0 = 10,26 B. Replikasi 2 = 301 − 17 300 = 4,73 + 4,71 + 0,0 = 9,11 C. Replikasi 3 = 301 − 5 300 5 + 301 − 13 300 = 4,93 + 6,72 + 0,0 = 11,65 7 + 301 − 301 300 Perlakuan Irritation Score Kontrol positif Kontrol negatif Formula A Formula B Formula C Formula D Formula E 10,34 ± 1,272 0±0 0±0 0±0 0±0 0±0 0±0 9 Keterangan Iritasi kuat Tidak mengiritasi Tidak mengiritasi Tidak mengiritasi Tidak mengiritasi Tidak mengiritasi Tidak mengiritasi 9

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 Lampiran 13. Pengamatan Uji Iritasi Mikroemulsi Menggunakan Metode HET-CAM Nama Formula A Formula B Formula C Formula D Formula E Kontrol negatif Kontrol Positif Sebelum uji Setelah uji

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 Lampiran 14. Pengujian Aktivitas Antioksidan Standar Askorbil Palmitat A. Konsentrasi Larutan DPPH = 0,0158 100 = 15,8 100 = 158 μ / B. Konsentrasi seri DPPH untuk penentuan panjang gelombang Contoh perhitungan : C1 x V1 = C2 x V2 158 µg/mL x 0,5 mL = C2 x 10 mL C2 = 7,9 µg/mL Jumlah yang diambil (mL) Konsentrasi (µg/mL) 0,5 1,0 1,5 7,9 15,8 23,7 C. Konsentrasi Stok Askorbil Palmitat Konsentrasi Stok Askorbil Palmitat = D. Konsentrasi pengenceran larutan stok , = = 20 μ / C1 x V1 = C2 x V2 20 µg/mL x 5,0 mL = C2 x 10 mL C2 = 10 µg/mL E. Konsentrasi seri larutan stok vitamin C Palmitat Contoh perhitungan : C1 x V1 = C2 x V2 10 µg/mL x 0,5 mL = C2 x 10 mL C2 = 0,5 µg/mL Jumlah yang diambil (mL) 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 Konsentrasi Seri (µg/mL) 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI F. Data Operating Time (OT) Waktu (menit) 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 Replikasi 1 0,369 0,373 0,372 0,372 0,373 0,372 0,372 0,372 0,372 0,372 0,372 0,371 1,5 µg/mL Replikasi 2 0,354 0,350 0,349 0,348 0,347 0,347 0,347 0,346 0,346 0,345 0,345 0,344 OT hasil optimasi 25 - 35 menit Replikasi 3 0,341 0,339 0,337 0,336 0,336 0,336 0,336 0,335 0,335 0,334 0,333 0,333 ± SD 0,355 ± 0,014 0,354 ± 0,017 0,353 ± 0,018 0,352 ± 0,018 0,352 ± 0,019 0,352 ± 0,018 0,352 ± 0,018 0,351 ± 0,019 0,351 ± 0,019 0,350 ± 0,019 0,350 ± 0,02 0,349 ± 0,019 G. Hasil Scanning panjang gelombang 1. 0,5 mL 517,0 nm ; 0,431 2. 1,0 mL 517,0 nm ; 0,720 3. 1,5 mL 517,0 nm ; 1,017 105

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 H. Data absorbansi seri konsentrasi larutan askorbil palmitat Absorbansi 0, 5 1,0 1,5 2,0 µg/mL µg/mL µg/mL µg/mL 0,533 0,462 0,406 0,335 0,533 0,462 0,405 0,335 0,532 0,461 0,409 0,336 0,533 ± 0,462 ± 0,406 ± 0,335 ± 0,000577 0,000577 0,002082 0,000577 Absorbansi kontrol (DPPH) = 0,568 Replikasi 1 2 3 ± SD 2,5 µg/mL 0,257 0,257 0,256 0,257 ± 0,000577 I. Perhitungan %IC seri konsentrasi menggunakan persamaan 3. Contoh perhitungan = Seri konsentrasi (µg/mL) 0, 5 1,0 1,5 2,0 2,5 = , , , Replikasi 1 6,16 18,69 28,52 41,02 54,75 100% = 6,16% IC(%) Replikasi 2 6,16 18,69 28,7 41,02 54,75 100% ± SD Replikasi 3 6,34 18,84 27,99 40,85 54,93 6,22 ± 0,103 18,74 ± 0,009 28,40 ± 0,369 40,96 ± 0,098 54,81 ± 0,104 J. Persamaan regresi %IC untuk mendapatkan IC50 Y = bx + a, dimana y merupakan nilai IC50 Replikasi 1 2 3 Persamaan regresi y = 23,902x – 6,025 y = 23,902x – 5,989 y = 23,838x – 5,967 r 0,9986 0,9987 0,9976 IC50 (µg/mL) 2,344 2,342 2,348 ± SD 2,344 µg/mL ± 0,003 K. Kurva persamaan regresi linier aktivitas antioksidan askorbil palmitat IC (%) 60 y = 23,902x -6,025 R = 0,9987 40 20 0 0 0,5 1 1,5 konsentrasi (µg/mL) 2 2,5 3

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 15. Pengujian Aktivitas Antioksidan standar Alfa Tokoferol A. Konsentrasi Larutan DPPH = 0,0158 100 = 15,8 100 = 158 μ / B. Konsentrasi seri DPPH untuk penentuan panjang gelombang Jumlah yang diambil (mL) Konsentrasi (µg/mL) 0,5 1,0 1,5 7,9 15,8 23,7 C. Konsentrasi Stok Alfa Tokoferol Konsentrasi Stok alfa tokoferol = , = D. Konsentrasi seri larutan stok alfa tokoferol Jumlah yang diambil (mL) 0,2 0,4 0,6 0,8 1,0 = 1000 µ / Konsentrasi Seri (µg/mL) 20 40 60 80 100 E. Data Operating Time (OT) Waktu (menit) 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 Replikasi 1 0,506 0,477 0,458 0,458 0,450 0,447 0,440 0,438 0,436 0,434 0,433 0,432 60 µg/mL Replikasi 2 0,473 0,470 0,468 0,465 0,462 0,460 0,458 0,455 0,453 0,453 0,453 0,453 OT hasil optimasi 35 - 60 menit Replikasi 3 0,451 0,448 0,445 0,442 0,439 0,434 0,431 0,429 0,428 0,427 0,426 0,426 ± SD 0,477 ± 0,028 0,465 ± 0,015 0,457 ± 0,011 0,455 ± 0,012 0,450 ± 0,011 0,447 ± 0,013 0,443 ± 0,014 0,441 ± 0,013 0,439 ± 0,013 0,438 ± 0,013 0,437 ± 0,014 0,437 ± 0,014 107

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 F. Hasil Scanning panjang gelombang 1. 0,5 mL 517,0 nm ; 0,431 2. 1,0 mL 517,0 nm ; 0,720 3. 1,5 mL 517,0 nm ; 1,017 G. Data absorbansi seri konsentrasi larutan alfa tokoferol Replikasi 1 2 3 20 µg/mL 0,627 0,627 0,627 Absorbansi 40 60 80 µg/mL µg/mL µg/mL 0,524 0,464 0,327 0,524 0,463 0,327 0,523 0,463 0,327 Absorbansi kontrol (DPPH) = 0,704 100 µg/mL 0,270 0,270 0,270 H. Perhitungan %IC seri konsentrasi alfa tokoferol menggunakan persamaan 3. Seri konsentrasi (µg/mL) 20 40 60 80 100 Replikasi 1 10,94 25,57 34,09 53,55 61,65 IC (%) Replikasi 2 10,94 25,57 34,23 53,55 61,65 Replikasi 3 10,94 25,71 34,23 53,55 61,65 ± SD 10,94 ± 0,00 25,62± 0,081 28,40 ± 0,081 53,55 ± 0,00 61,65 ± 0,00

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 I. Persamaan regresi %IC untuk mendapatkan IC50 Y = bx + a, dimana y merupakan nilai IC50 Replikasi 1 2 3 Persamaan regresi y = 647x – 1,66 y = 647x – 1,632 y = 646,3x – 1,562 r 0,9925 0,9928 0,9926 IC50 (µg/mL) 79,85 79,80 79,78 ± SD 79,81 µg/mL ± 0,361 IC (%) J. Kurva persamaan regresi linier aktivitas antioksidan standar vitamin E 80 60 40 20 0 y = 647x -1,632 R = 0,9928 0 20 40 60 80 100 120 konsentrasi (µg/mL) Lampiran 16. Pengujian Aktivitas Antioksidan Campuran Askorbil Palmitat dan alfa tokoferol A. Konsentrasi Larutan DPPH = 0,0158 100 = 15,8 100 = 158 μ / B. Konsentrasi seri DPPH untuk penentuan panjang gelombang Jumlah yang diambil (mL) Konsentrasi (µg/mL) 0,5 7,9 1,0 15,8 1,5 23,7 C. Konsentrasi Stok Askorbil Palmitat dan alfa tokoferol Konsentrasi Stok = , = , = 140 μ / D. Konsentrasi pengenceran larutan stok C1 x V1 = C2 x V2 140 µg/mL x 2,5 mL = C2 x 25 mL C2 = 14 µg/mL

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI E. Konsentrasi seri larutan stok Vitamin C Palmitat dan Vitamin E Jumlah yang diambil (mL) Konsentrasi Seri (µg/mL) 1,0 1,4 2,0 2,8 3,0 4,2 4,0 5,6 5,0 7,0 6,0 8,4 F. Data Operating Time (OT) 5,6 µg/mL Waktu (menit) Replikasi 1 Replikasi 2 5 0,372 0,361 10 0,372 0,359 15 0,359 0,371 20 0,359 0,371 25 0,359 0,371 0,358 30 0,371 0,356 35 0,371 0,356 40 0,371 0,355 45 0,371 0,370 0,354 50 0,370 0,354 55 0,370 0,353 60 OT hasil optimasi 10 - 30 menit Replikasi 3 0,353 0,351 0,350 0,349 0,348 0,347 0,345 0,340 0,338 0,335 0,334 0,332 ± SD 0,362 ± 0,009 0,361 ± 0,011 0,360 ± 0,010 0,360 ± 0,011 0,359 ± 0,011 0,359 ± 0,012 0,357 ± 0,013 0,356 ± 0,015 0,355 ± 0,016 0,353 ± 0,017 0,353 ± 0,018 0,352 ± 0,019 G. Hasil Scanning panjang gelombang 1. 0,5 mL 517,0 nm ; 0,307 2. 1,0 mL 517,0 nm ; 0,613 110

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 3. 1,5 mL 517,0 nm ; 0,859 H. Data absorbansi seri konsentrasi larutan Askorbil Palmitat dan alfa tokoferol Absorbansi 1,4 2,8 4,2 5,6 µg/mL µg/mL µg/mL µg/mL 0,531 0,512 0,437 0,390 0,534 0,512 0,438 0,390 0,540 0,512 0,438 0,389 Absorbansi kontrol (DPPH) = 0,606 Replikasi 1 2 3 7,0 µg/mL 0,312 0,312 0,312 8,4 µg/mL 0,226 0,225 0,224 I. Perhitungan %IC seri konsentrasi memakai persamaan 3. Seri konsentrasi (µg/mL) 1,4 2,8 4,2 5,6 7,0 8,4 IC (%) Replikasi 2 11,88 15,51 27,72 35,64 48,51 62,87 Replikasi 1 12,38 15,51 27,89 35,64 48,51 62,71 ± SD Replikasi 3 10,89 15,51 27,72 35,81 48,51 63,04 11,72 ± 0,758 15,51± 0,00 27,78 ± 0,098 35,7 ± 0,098 48,51 ± 0,00 62,87 ± 0,165 J. Persamaan regresi %IC untuk mendapatkan IC50 Y = bx + a, dimana y merupakan nilai IC50 Replikasi 1 2 3 r 0,987 0,988 0,990 Persamaan regresi y = 7,314x – 0,2067 y = 7,385x – 2,499 y = 7,506x – 3,204 IC50 (µg/mL) 7,119 7,109 7,087 ± SD 7,105 µg/mL ± 0,0164 K. Kurva persamaan regresi linier aktivitas antioksidan vitamin C dan E IC (%) 80 60 40 y = 7,507x -3,204 R = 0,990 20 0 0 2 4 6 konsentrasi (µg/mL) 8 10

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 Lampiran 17. Pengujian Aktivitas Antioksidan Mikroemulsi Formula A A. Konsentrasi Larutan DPPH = 0,0158 100 = 15,8 100 = 158 μ / B. Konsentrasi seri DPPH untuk penentuan panjang gelombang Jumlah yang diambil (mL) 0,5 1,0 1,5 Seri Konsentrasi (µg/mL) 7,9 15,8 23,7 C. Konsentrasi Stok Mikroemulsi Formula A Konsentrasi stok Mikroemulsi Formula A= , = , = 56 μ / (1 gram mikroemulsi mengandung 14 mg askorbil palmitat- alfa tokoferol) D. Konsentrasi seri larutan stok Mikroemulsi Formula A Jumlah yang diambil (mL) 5,0 6,0 7,0 8,0 9,0 Seri Konsentrasi (µg/mL) 28 33,6 39,2 44,8 50,4 E. Data Operating Time (OT) Waktu (menit) 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 0,0392 mg/mL Replikasi 1 Replikasi 2 0,351 0,448 0,338 0,444 0,332 0,443 0,326 0,441 0,322 0,399 0,319 0,399 0,316 0,399 0,314 0,399 0,397 0,312 0,396 0,310 0,395 0,308 0,394 0,306 Replikasi 3 0,333 0,331 0,327 0,325 0,323 0,322 0,321 0,319 0,319 0,319 0,319 0,319 ± SD 0,377 ± 0,062 0,371 ± 0,063 0,367 ± 0,066 0,364 ± 0,067 0,348 ± 0,044 0,347 ± 0,045 0,345 ± 0,047 0,344 ± 0,048 0,343 ± 0,047 0,342 ± 0,047 0,341 ± 0,047 0,340 ± 0,048 OT Mikroemulsi Formula A hasil Optimasi : 35 menit – 60 menit

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 F. Hasil Scanning panjang gelombang 1. 0,5 mL 517,0 nm ; 0,453 2. 1,0 mL 517,0 nm ; 0,828 3. 1,5 mL 517,0 nm ; 1,177 G. Hasil Scanning Larutan Stok Mikroemulsi Formula A Hasil scanning menunjukkan bahwa larutan sampel mikroemulsi formula A tidak memberikan serapan pada panjang gelombang 517 nm. H. Data absorbansi seri konsentrasi larutan Mikroemulsi Formula A Replikasi 1 2 3 Absorbansi 28 33,6 39,2 44,8 µg/mL µg/mL µg/mL µg/mL 0,440 0,378 0,300 0,238 0,448 0,367 0,311 0,246 0,450 0,370 0,321 0,250 Absorbansi kontrol (DPPH) = 0,839 50,4 µg/mL 0,201 0,211 0,218

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI I. Perhitungan %IC seri konsentrasi Mikroemulsi Formula A menggunakan persamaan 3. Seri konsentrasi (µg/mL) 28 33,6 39,2 44,8 50,4 J. 114 IC (%) Replikasi 2 46,6 56,26 62,93 70,7 74,85 Replikasi 1 47,56 54,95 64,24 71,63 76,04 Replikasi 3 46,36 55,90 61,74 70,2 74,02 ± SD 46,84 ± 0,635 55,7 ± 0,677 62,97 ± 1,25 70,84 ± 0,726 74,97 ± 1,015 Persamaan regresi %IC untuk mendapatkan IC50 Y = bx + a, dimana y merupakan nilai IC50 Replikasi 1 2 3 Persamaan regresi y = 1,315x + 11,336 y = 1,267x + 12,61 y = 1,243x + 12,91 r 0,994 0,992 0,992 IC50 (µg/mL) 29,402 29,511 29,839 ± SD 29,584 µg/mL ± 0,227 IC (%) K. Kurva persamaan regresi linier aktivitas antioksidan mikroemulsi formula A 100 80 60 40 20 0 y = 1,315x + 11,336 R = 0,994 0 10 20 30 40 50 60 Konsentrasi (µg/mL) Lampiran 18. Pengujian Aktivitas Antioksidan Mikroemulsi Formula B A. Konsentrasi Larutan DPPH = 0,0158 100 = 15,8 100 = 158 μ / B. Konsentrasi seri DPPH untuk penentuan panjang gelombang Jumlah yang diambil (mL) 0,5 1,0 1,5 Seri Konsentrasi (µg/mL) 7,9 15,8 23,7

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 C. Konsentrasi Stok Mikroemulsi Formula B Konsentrasi stok Mikroemulsi Formula B= , = , = 0,056 / (1 gram mikroemulsi mengandung 14 mg askorbil palmitat - alfa tokoferol) D. Konsentrasi seri larutan stok Mikroemulsi Formula B Jumlah yang diambil (mL) 3,0 4,0 5,0 6,0 7,0 E. Data Operating Time (OT) Waktu (menit) 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 Replikasi 1 0,543 0,541 0,539 0,538 0,536 0,535 0,534 0,534 0,534 0,533 0,531 0,530 Seri Konsentrasi (µg/mL) 16,8 22,4 28 33,6 39,2 0,0392 mg/mL Replikasi 2 0,471 0,469 0,467 0,466 0,465 0,465 0,465 0,465 0,464 0,464 0,463 0,462 Replikasi 3 0,510 0,507 0,505 0,504 0,502 0,501 0,501 0,501 0,501 0,501 0,499 0,497 OT Mikroemulsi Formula B hasil Optimasi : 30- 45 menit ± SD 0,508 ± 0,036 0,506 ± 0,036 0,504 ± 0,036 0,503 ± 0,036 0,501 ± 0,035 0,500 ± 0,035 0,500 ± 0,034 0,500 ± 0,034 0,500 ± 0,035 0,499 ± 0,034 0,498 ± 0,034 0,496 ± 0,034 F. Hasil Scanning panjang gelombang 1. 0,5 mL 517,0 nm ; 0,453

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 2. 1,0 mL 517,0 nm ; 0,828 3. 1,5 mL 517,0 nm ; 1,177 G. Hasil Scanning Larutan Stok Mikroemulsi Formula B Hasil scanning menunjukkan bahwa larutan sampel mikroemulsi formula B tidak memberikan serapan pada panjang gelombang 517 nm. H. Data absorbansi seri konsentrasi larutan Mikroemulsi Formula B Replikasi 1 2 3 Absorbansi 16,8 22,4 28 33,6 µg/mL µg/mL µg/mL µg/mL 0,605 0,540 0,466 0,356 0,616 0,548 0,454 0,340 0,618 0,554 0,443 0,347 Absorbansi kontrol (DPPH) = 0,836 39,2 µg/mL 0,244 0,254 0,259 I. Perhitungan %IC seri konsentrasi Mikroemulsi Formula B menggunakan persamaan 3. Seri konsentrasi (µg/mL) 16,8 22,4 28 33,6 39,2 Replikasi 1 27,63 35,41 44,26 57,42 70,81 IC (%) Replikasi 2 26,32 34,45 45,69 59,33 69,62 Replikasi 3 26,08 33,73 47,01 58,49 69,02 ± SD 26,68 ± 0,834 34,53 ± 0,843 45,65 ± 1,375 58,41 ± 0,962 69,82 ± 0,911

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117 J. Persamaan regresi %IC untuk mendapatkan IC50 Y = bx + a, dimana y merupakan nilai IC50 Replikasi 1 2 3 Persamaan regresi y = 1,935x - 7,079 y = 1,991x – 8,658 y = 1,976x –8,454 IC50 (µg/mL) 29,50 29,46 29,58 r 0,9943 0,9969 0,9974 ± SD 29,513 µg/mL ± 0,061 IC (%) K. Kurva persamaan regresi linier aktivitas antioksidan mikroemulsi formula B 80 60 40 20 0 y = 1,976x - 8,454 R = 0,997 0 10 20 30 40 50 Konsentrasi (µg/mL) Lampiran 19. Pengujian Aktivitas Antioksidan Mikroemulsi Formula C A. Konsentrasi Larutan DPPH = 0,0158 100 = 15,8 100 = 158 μ / B. Konsentrasi seri DPPH untuk penentuan panjang gelombang Jumlah yang diambil (mL) 0,5 1,0 1,5 Seri Konsentrasi (µg/mL) 7,9 15,8 23,7 C. Konsentrasi Stok Mikroemulsi Formula C Konsentrasi stok Mikroemulsi Formula C= , = , = 56 μ / (1 gram mikroemulsi mengandung 14 mg askorbil palmitat-alfa tokoferol) D. Konsentrasi seri larutan stok Mikroemulsi Formula C Jumlah yang diambil (mL) 3,0 4,0 5,0 6,0 7,0 Seri Konsentrasi (µg/mL) 16,8 22,4 28 33,6 39,2

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI E. Data Operating Time (OT) Waktu (menit) 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 5 60 Replikasi 1 0,315 0,317 0,316 0,315 0,314 0,314 0,314 0,312 0,311 0,310 0,309 0,308 0,0168 mg/mL Replikasi 2 0,403 0,400 0,398 0,397 0,397 0,397 0,397 0,397 0,396 0,396 0,395 0,394 Replikasi 3 0,333 0,332 0,332 0,332 0,331 0,329 0,329 0,328 0,327 0,327 0,325 0,324 ± SD 0,350 ± 0,046 0,350 ± 0,044 0,349 ± 0,043 0,348 ± 0,043 0,347 ± 0,044 0,347 ± 0,044 0,347 ± 0,044 0,346 ± 0,045 0,345 ± 0,045 0,344 ± 0,045 0,343 ± 0,046 0,342 ± 0,046 OT Mikroemulsi Formula C hasil Optimasi replikasi: 20- 35 menit F. Hasil Scanning panjang gelombang 1. 0,5 mL 517,0 nm ; 0,358 2. 1,0 mL 517,0 nm ; 0,505 3. 1,5 mL 517,0 nm ; 0,761 G. Hasil Scanning Larutan Stok Mikroemulsi Formula C 118

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 Hasil scanning menunjukkan bahwa larutan sampel mikroemulsi formula C tidak memberikan serapan pada panjang gelombang 517 nm. H. Data absorbansi seri konsentrasi larutan Mikroemulsi Formula C Replikasi 1 2 3 Seri konsentrasi 16,8 22,4 28 µg/mL 33,6 µg/mL µg/mL µg/mL 0,401 0,368 0,308 0,266 0,411 0,374 0,303 0,272 0,409 0,378 0,315 0,270 Absorbansi kontrol (DPPH) = 0,578 39,2 µg/mL 0,212 0,210 0,204 I. Perhitungan %IC seri konsentrasi Formula C menggunakan persamaan 3. Seri Konsentrasi (µg/mL) 16,8 22,4 28 33,6 39,2 IC (%) Replikasi 2 28,89 35,29 47,58 52,94 63,67 Replikasi 1 30,62 36,33 46,71 53,98 63,32 ± SD Replikasi 3 29,24 34,6 45,5 53,29 64,71 29,58 ± 0,915 35,41 ± 0,871 46,6 ± 1,045 53,40 ± 0,529 63,9 ± 0,723 J. Persamaan regresi %IC untuk mendapatkan IC50 Y = bx + a, dimana y merupakan nilai IC50 Replikasi 1 2 3 IC50 (µg/mL) 30,568 30,784 30,841 r 0,997 0,994 0,994 Persamaan regresi y = 1,483x + 4,667 y = 1,557x + 2,069 y = 1,600x + 0,653 ± SD 30,731 µg/mL ± 0,144 IC (%) K. Kurva persamaan regresi linier aktivitas antioksidan mikroemulsi formula C 80 60 40 20 0 y = 1,483x + 4,667 R = 0,997 0 10 20 30 Konsentrasi (µg/mL) 40 50

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120 Lampiran 20. Aktivitas Antioksidan Mikroemulsi Formula D A. Konsentrasi Larutan DPPH = 0,0158 100 = 15,8 100 = 158 μ / B. Konsentrasi seri DPPH untuk penentuan panjang gelombang Jumlah yang diambil (mL) 0,5 1,0 1,5 Seri Konsentrasi (µg/mL) 7,9 15,8 23,7 C. Konsentrasi Stok Mikroemulsi Formula D Konsentrasi stok Mikroemulsi Formula D= , = , = 56 μ / (1 gram mikroemulsi mengandung 14 mg askorbil palmitat – alfa tokoferol) D. Konsentrasi seri larutan stok Mikroemulsi Formula D Seri Konsentrasi (µg/mL) Jumlah yang diambil (mL) 16,8 3,0 22,4 4,0 28 5,0 33,6 6,0 39,2 7,0 E. Data Operating Time (OT) 0,028 mg/mL Waktu ± SD (menit) Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3 0,467 ± 0,012 5 0,469 0,478 0,455 0,466 ± 0,010 10 0,467 0,476 0,455 0,464 ± 0,011 0,453 15 0,464 0,475 0,463 ± 0,011 20 0,462 0,475 0,452 0,462 ± 0,012 25 0,475 0,452 0,460 0,462 ± 0,012 30 0,475 0,452 0,459 0,461 ± 0,011 0,473 35 0,452 0,458 0,460 ± 0,011 0,473 0,451 40 0,457 0,460 ± 0,010 0,472 0,451 45 0,456 0,458 ± 0,011 0,471 0,450 50 0,454 0,457 ± 0,011 0,470 0,449 55 0,453 0,457 ± 0,011 0,470 0,449 60 0,452 OT Mikroemulsi Formula D hasil Optimasi: 20- 35 menit

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 121 F. Hasil Scanning panjang gelombang 1. 0,5 mL 517,0 nm ; 0,453 2. 1,0 mL 517,0 nm ; 0,828 3. 1,5 mL 517,0 nm ; 1,177 G. Hasil Scanning Larutan Stok Mikroemulsi Formula D Hasil scanning menunjukkan bahwa larutan sampel mikroemulsi formula D tidak memberikan serapan pada panjang gelombang 517 nm. H. Data absorbansi seri konsentrasi larutan Mikroemulsi Formula D Replikasi 1 2 3 Absorbansi 16,8 22,4 28 33,6 µg/mL µg/mL µg/mL µg/mL 0,598 0,536 0,450 0,377 0,600 0,530 0,447 0,389 0,611 0,539 0,455 0,386 Absorbansi kontrol (DPPH) = 0,836 39,2 µg/mL 0,320 0,316 0,325

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 122 I. Perhitungan %IC seri konsentrasi Formula D menggunakan persamaan 3. Seri Konsentrasi (µg/mL) 16,8 22,4 28 33,6 39,2 IC (%) Replikasi 2 28,23 36,6 46,53 53,47 62,2 Replikasi 1 28,47 35,88 46,17 54,9 61,72 Replikasi 3 26,91 35,53 45,57 53,83 61,12 ± SD 27,87 ± 0,84 36,0 ± 0,546 54,07 ± 0,744 54,07 ± 0,744 61,68 ± 0,541 J. Persamaan regresi %IC untuk mendapatkan IC50 Y = bx + a, dimana y merupakan nilai IC50 Replikasi 1 2 3 Persamaan regresi y = 1,527x + 2,668 y = 1,514x + 3,001 y = 1,549x + 1,232 IC50 (µg/mL) 30,997 31,043 31,483 r 0,9979 0,9989 0,9985 ± SD 31,174 µg/mL ± 0,268 IC(%) K. Kurva persamaan regresi linier aktivitas antioksidan mikroemulsi formula D 80 60 40 20 0 y = 1,514x + 3,001 R = 0,9989 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 Konsentrasi (µg/mL) Lampiran 21. Pengujian Aktivitas Antioksidan Mikroemulsi Formula E A. Konsentrasi Larutan DPPH = 0,0158 100 = 15,8 100 = 158 μ / B. Konsentrasi seri DPPH untuk penentuan panjang gelombang Jumlah yang diambil (mL) 0,5 1,0 1,5 Seri Konsentrasi (µg/mL) 7,9 15,8 23,7 C. Konsentrasi Stok Mikroemulsi Formula E Konsentrasi stok Mikroemulsi Formula E= , = , = 56 μ / (1 gram mikroemulsi mengandung 14 mg askorbil palmitat – alfa tokoferol)

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI D. Konsentrasi seri larutan stok Mikroemulsi Formula E Seri Konsentrasi (µg/mL) Jumlah yang diambil (mL) 16,8 3,0 22,4 4,0 28 5,0 33,6 6,0 39,2 7,0 Data Operating Time (OT) 0,0168 mg/mL Waktu ± SD (menit) Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3 5 0,472 0,435 0,451 0,453 ± 0,019 10 0,468 0,433 0,449 0,450 ± 0,017 0,448 ± 0,017 15 0,466 0,447 0,432 20 0,447 ± 0,015 0,432 0,446 0,463 0,447 ± 0,016 25 0,432 0,445 0,463 30 0,430 0,446 ± 0,017 0,463 0,444 35 0,429 0,445 ± 0,017 0,463 0,443 40 0,461 0,428 0,444 ± 0,017 0,442 45 0,458 0,428 0,440 0,442 ± 0,015 0,457 0,427 0,439 0,441 ± 0,015 50 55 0,456 0,426 0,437 0,440 ± 0,015 60 0,455 0,426 0,335 0,439 ± 0,015 OT Mikroemulsi Formula E hasil Optimasi: 15 - 35 menit E. Hasil Scanning panjang gelombang 1. 0,5 mL 517,0 nm ; 0,453 2. 1,0 mL 517,0 nm ; 0,828 123

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 124 3. 1,5 mL 517,0 nm ; 1,177 F. Hasil Scanning Larutan Stok Mikroemulsi Formula E Hasil scanning menunjukkan bahwa larutan sampel mikroemulsi formula E tidak memberikan serapan pada panjang gelombang 517 nm. G. Data absorbansi seri konsentrasi larutan Mikroemulsi Formula E Seri konsentrasi Replikasi 16,8 22,4 28 33,6 39,2 µg/mL 1 2 3 µg/mL µg/mL µg/mL 0,633 0,555 0,499 0,392 0,624 0,564 0,495 0,394 0,630 0,554 0,485 0,388 Absorbansi kontrol (DPPH) = 0,833 µg/mL 0,322 0,329 0,315 H. Perhitungan %IC seri konsentrasi Formula E dengan persamaan 3. Seri konsentrasi (µg/mL) 16,8 22,4 28 33,6 39,2 Replikasi 1 24,01 33,37 40,1 52,94 61,34 IC (%) Replikasi 2 25,09 32,29 40,58 52,70 60,50 Replikasi 3 24,36 33,49 41,78 53,42 62,18 ± SD 24,4867 ± 0,551 33,05 ± 0,661 40,82 ± 0,865 53,02 ± 0,367 61,34 ± 0,84 I. Persamaan regresi %IC untuk mendapatkan IC50 Y = bx + a, dimana y merupakan nilai IC50 Replikasi Persamaan regresi 1 2 3 y = 1,683x – 4,763 y = 1,618x – 2,956 y = 1,707x – 4,739 r 0,9961 0,9965 0,9987 IC50 (µg/mL) 32,539 32,729 32,067 ± SD 32,445 µg/mL ± 0,341

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 125 J. Kurva persamaan regresi linier aktivitas antioksidan mikroemulsi formula E IC (%) 80 60 40 y = 1,707x - 4,739 R = 0,9987 20 0 0 10 20 30 40 Konsentrasi (µg/mL) Lampiran 22. Aktivitas Antioksidan Basis Mikroemulsi Formula A A. Konsentrasi Larutan DPPH = 0,0158 100 = 15,8 100 = 0,158 / B. Konsentrasi seri DPPH untuk penentuan panjang gelombang Jumlah yang diambil (mL) 0,5 1,0 1,5 Seri Konsentrasi (mg/mL) 0,0079 0,0158 0,0237 C. Konsentrasi Stok Basis Formula A Konsentrasi stok basis formula A= , = D. Konsentrasi Seri Larutan Stok Basis Formula A Jumlah yang diambil (mL) 5,0 6,0 7,0 8,0 9,0 = 0,4 Seri Konsentrasi (mg/mL) 0,2 0,24 0,28 0,32 0,36 50

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI E. Data Operating Time (OT) Waktu (menit) 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 Replikasi 1 0,578 0,578 0,577 0,576 0,575 0,574 0,574 0,574 0,580 0,578 0,578 0,577 0,28 mg/mL Replikasi 2 0,566 0,564 0,563 0,561 0,560 0,560 0,558 0,558 0,557 0,556 0,555 0,555 Replikasi 3 0,575 0,573 0,570 0,569 0,569 0,569 0,569 0,568 0,568 0,567 0,566 0,565 ± SD 0,573 ± 0,006 0,572 ± 0,007 0,570 ± 0,007 0,569 ± 0,007 0,568 ± 0,007 0,568 ± 0,007 0,567 ± 0,008 0,567 ± 0,008 0,568 ± 0,011 0,567 ± 0,011 0,566 ± 0,011 0,566 ± 0,011 OT Basis Mikroemulsi Formula A hasil Optimasi : 20 - 35 menit F. Hasil Scanning panjang gelombang 1. 0,5 mL 517,0 nm ; 0,353 2. 1,0 mL 517,0 nm ; 0,610 3. 1,5 mL 517,0 nm ; 0,772 126

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 127 G. Hasil Scanning Larutan Stok Basis Mikroemulsi Formula A Hasil scanning menunjukkan bahwa larutan basis mikroemulsi formula A tidak memberikan serapan pada panjang gelombang 517 nm. H. Data absorbansi seri konsentrasi larutan Basis Mikroemulsi Formula A Replikasi 1 2 3 Absorbansi 0,2 0,24 0,28 0,32 mg/mL mg/mL mg/mL mg/mL 0,554 0,524 0,528 0,508 0,564 0,514 0,532 0,518 0,569 0,520 0,535 0,510 Absorbansi kontrol (DPPH) = 0,564 0,36 mg/mL 0,508 0,504 0,500 I. Perhitungan %IC pada seri konsentrasi Basis Mikroemulsi Formula A menggunakan persamaan 3. Seri konsentrasi (mg/mL) 0,2 0,24 0,28 0,32 0,36 Replikasi 1 1,77 7,09 6,38 9,93 9,93 IC (%) Replikasi 2 0 8,87 5,67 8,16 10,64 Replikasi 3 -0,887 7,80 5,14 9,57 11,35 ± SD 0,294 ± 1,353 7,92 ± 0,896 5,73 ± 0,622 9,22 ± 0,935 10,64 ± 1,004 Lampiran 23. Aktivitas Antioksidan Basis Mikroemulsi Formula B A. Konsentrasi Larutan DPPH = 0,0158 100 = 15,8 100 = 0,158 / B. Konsentrasi seri DPPH untuk penentuan panjang gelombang Jumlah yang diambil (mL) 0,5 1,0 1,5 Seri Konsentrasi (mg/mL) 0,0079 0,0158 0,0237

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI C. Konsentrasi Stok Basis Formula B Konsentrasi stok basis formula B= , = D. Konsentrasi Seri Larutan Stok Basis Formula B Jumlah yang diambil (mL) 3,0 4,0 5,0 6,0 7,0 = 0,4 Seri Konsentrasi (mg/mL) 0,12 0,16 0,2 0,24 0,28 E. Data Operating Time (OT) Waktu (menit) 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 Replikasi 1 0,574 0,573 0,573 0,572 0,571 0,570 0,569 0,569 0,568 0,568 0,567 0,567 0,28 mg/mL Replikasi 2 0,571 0,569 0,566 0,565 0,560 0,560 0,560 0,560 0,559 0,559 0,558 0,557 Replikasi 3 0,575 0,573 0,570 0,569 0,567 0,567 0,566 0,566 0,566 0,566 0,566 0,565 ± SD 0,573 ± 0,002 0,572 ± 0,002 0,570 ± 0,003 0,569 ± 0,003 0,566 ± 0,006 0,566 ± 0,005 0,565 ± 0,005 0,565 ± 0,005 0,564 ± 0,005 0,564 ± 0,005 0,564 ± 0,005 0,563 ± 0,005 OT Basis Mikroemulsi Formula B hasil Optimasi : 30-55 menit F. Hasil Scanning panjang gelombang 1. 0,5 mL 517,0 nm ; 0,353 2. 1,0 mL 517,0 nm ; 0,610 128

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 129 3. 1,5 mL 517,0 nm ; 0,772 G. Hasil Scanning Larutan Stok Basis Mikroemulsi Formula B Hasil scanning menunjukkan bahwa larutan basis mikroemulsi formula B tidak memberikan serapan pada panjang gelombang 517 nm. H. Data absorbansi seri konsentrasi larutan Basis Mikroemulsi Formula B Replikasi 1 2 3 Absorbansi 0,12 0,16 0,2 0,24 mg/mL mg/mL mg/mL mg/mL 0,545 0,549 0,541 0,540 0,549 0,547 0,544 0,547 0,550 0,547 0,540 0,548 Absorbansi kontrol (DPPH) = 0,565 0,28 mg/mL 0,538 0,536 0,539 I. Perhitungan %IC pada seri konsentrasi Basis Mikroemulsi Formula B menggunakan persamaan 3. Seri konsentrasi (mg/mL) 0,12 0,16 0,2 0,24 0,28 Replikasi 1 3,54 2,831 2,4 4,425 4,779 IC (%) Replikasi 2 2,831 3,186 3,717 3,186 5,133 Replikasi 3 2,655 3,186 4,425 3,009 4,602 ± SD 3,009 ± 0,468 3,068 ± 0,205 3,514 ± 1,028 3,54 ± 0,771 4,838 ± 0,270

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 130 Lampiran 24. Aktivitas Antioksidan Basis Mikroemulsi Formula C A. Konsentrasi Larutan DPPH = 0,0158 100 = 15,8 100 = 0,158 / B. Konsentrasi seri DPPH untuk penentuan panjang gelombang Jumlah yang diambil (mL) 0,5 1,0 1,5 Seri Konsentrasi (mg/mL) 0,0079 0,0158 0,0237 C. Konsentrasi Stok Basis Formula C Konsentrasi stok basis formula C= , = = 0,4 D. Konsentrasi Seri Larutan Stok Basis Formula C Jumlah yang diambil (mL) 3,0 4,0 5,0 6,0 7,0 E. Data Operating Time (OT) Waktu (menit) 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 Replikasi 1 0,548 0,548 0,546 0,546 0,545 0,544 0,544 0,544 0,544 0,543 0,543 0,543 Seri Konsentrasi (mg/mL) 0,12 0,16 0,2 0,24 0,28 0,28 mg/mL Replikasi 2 0,546 0,544 0,543 0,541 0,540 0,540 0,540 0,540 0,540 0,539 0,538 0,538 Replikasi 3 0,535 0,533 0,530 0,529 0,529 0,529 0,529 0,528 0,528 0,527 0,526 0,525 ± SD 0,543 ± 0,007 0,542 ± 0,008 0,540 ± 0,008 0,539 ± 0,009 0,538 ± 0,008 0,538 ± 0,008 0,538 ± 0,008 0,537 ± 0,008 0,537 ± 0,008 0,536 ± 0,008 0,535 ± 0,009 0,535 ± 0,009 OT Basis Mikroemulsi Formula C hasil Optimasi : 25 - 40 menit

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 131 F. Hasil Scanning panjang gelombang 1. 0,5 mL 517,0 nm ; 0,353 2. 1,0 mL 517,0 nm ; 0,610 3. 1,5 mL 517,0 nm ; 0,772 G. Hasil Scanning Larutan Stok Basis Mikroemulsi Formula C Hasil scanning menunjukkan bahwa larutan basis mikroemulsi formula C tidak memberikan serapan pada panjang gelombang 517 nm. H. Data absorbansi seri konsentrasi larutan Basis Mikroemulsi Formula C Absorbansi Replikasi 0,12 0,16 0,2 0,24 0,28 mg/mL mg/mL mg/mL mg/mL mg/mL 1 0,543 0,540 0,541 0,534 0,531 2 0,540 0,544 0,538 0,533 0,533 3 0,544 0,544 0,539 0,530 0,530 Absorbansi kontrol (DPPH) = 0,560

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 132 I. Perhitungan %IC pada seri konsentrasi Basis Mikroemulsi Formula C menggunakan persamaan 3. Seri konsentrasi (mg/mL) 0,12 0,16 0,2 0,24 0,28 IC (%) Replikasi 2 3,571 2,857 3,929 4,821 4,821 Replikasi 1 3,036 3,571 3,393 4,643 5,179 Replikasi 3 2,857 2,857 3,75 5,357 5,357 ± SD 3,155 ± 0,371 3,095 ± 0,412 3,691 ± 0,273 4,940 ± 0,372 5,119 ± 0,273 Lampiran 25. Aktivitas Antioksidan Basis Mikroemulsi Formula D A. Konsentrasi Larutan DPPH = 0,0158 100 = 15,8 100 = 0,158 / B. Konsentrasi seri DPPH untuk penentuan panjang gelombang Jumlah yang diambil (mL) 0,5 1,0 1,5 Seri Konsentrasi (mg/mL) 0,0079 0,0158 0,0237 C. Konsentrasi Stok Basis Formula D Konsentrasi stok basis formula D= , = D. Konsentrasi Seri Larutan Stok Basis Formula D Jumlah yang diambil (mL) 3,0 4,0 5,0 6,0 7,0 = 0,4 Seri Konsentrasi (mg/mL) 0,12 0,16 0,2 0,24 0,28

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI E. Data Operating Time (OT) Waktu (menit) 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 Replikasi 1 0,558 0,557 0,555 0,550 0,548 0,547 0,546 0,545 0,545 0,545 0,544 0,543 0,28 mg/mL Replikasi 2 Replikasi 3 0,556 0,545 0,554 0,543 0,553 0,540 0,551 0,539 0,550 0,539 0,559 0,539 0,548 0,539 0,548 0,539 0,548 0,539 0,537 0,548 0,536 0,548 0,535 0,547 133 ± SD 0,553 ± 0,007 0,552 ± 0,007 0,549 ± 0,008 0,547 ± 0,007 0,546 ± 0,006 0,548 ± 0,010 0,544 ± 0,005 0,544 ± 0,005 0,544 ± 0,005 0,543 ± 0,006 0,543 ± 0,006 0,543 ± 0,006 OT Basis Mikroemulsi Formula D hasil Optimasi : 35 - 50 menit F. Hasil Scanning panjang gelombang 1. 0,5 mL 517,0 nm ; 0,351 2. 1,0 mL 517,0 nm ; 0,558 3. 1,5 mL 517,0 nm ; 0,701 G. Hasil Scanning Larutan Stok Basis Mikroemulsi Formula D Hasil scanning menunjukkan larutan basis mikroemulsi formula D tidak memberikan serapan pada panjang gelombang 517 nm.

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 134 H. Data absorbansi seri konsentrasi larutan Basis Mikroemulsi Formula D Replikasi 1 2 3 Absorbansi 0,12 0,16 0,2 0,24 mg/mL mg/mL mg/mL mg/mL 0,531 0,524 0,515 0,516 0,534 0,526 0,514 0,515 0,533 0,523 0,517 0,510 Absorbansi kontrol (DPPH) = 0,545 0,28 mg/mL 0,513 0,514 0,510 I. Perhitungan %IC pada seri konsentrasi Basis Mikroemulsi Formula D menggunakan persamaan 3. Seri konsentrasi (mg/mL) 0,12 0,16 0,2 0,24 0,28 Replikasi 1 2,569 3,853 5,505 5,321 5,872 IC (%) Replikasi 2 2,018 3,486 5,688 5.505 5,688 Replikasi 3 2,202 4,037 5,138 6,422 6,422 ± SD 2,263 ± 0,28 3,792 ± 0,28 5,444 ± 0.28 5,749 ± 0,59 5,994 ± 0,382 Lampiran 26. Aktivitas Antioksidan Basis Mikroemulsi Formula E A. Konsentrasi Larutan DPPH = 0,0158 100 = 15,8 100 = 0,158 / B. Konsentrasi seri DPPH untuk penentuan panjang gelombang Jumlah yang diambil (mL) 0,5 1,0 1,5 Seri Konsentrasi (mg/mL) C. Konsentrasi Stok Basis Formula E Konsentrasi stok basis formula E= 0,0079 0,0158 0,0237 , = D. Konsentrasi Seri Larutan Stok Basis Formula E Jumlah yang diambil (mL) 3,0 4,0 5,0 6,0 7,0 Seri Konsentrasi (mg/mL) 0,12 0,16 0,2 0,24 0,28 = 0,4

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI E. Data Operating Time (OT) Waktu (menit) 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 Replikasi 1 0,554 0,553 0,552 0,552 0,551 0,550 0,550 0,550 0,549 0,549 0,548 0,547 0,28 mg/mL Replikasi 2 Replikasi 3 0,546 0,555 0,544 0,553 0,543 0,550 0,541 0,549 0,540 0,547 0,540 0,547 0,540 0,546 0,540 0,545 0,539 0,544 0,538 0,543 0,537 0,542 0,535 0,540 ± SD 0,552 ± 0,005 0,550 ± 0,005 0,548 ± 0,005 0,547 ± 0,006 0,546 ± 0,006 0,546 ± 0,005 0,545 ± 0,005 0,545 ± 0,005 0,544 ± 0,005 0,543 ± 0,005 0,542 ± 0,005 0,541 ± 0,006 OT Basis Mikroemulsi Formula E hasil Optimasi : 25 - 40 menit F. Hasil Scanning panjang gelombang 1. 0,5 mL 517,0 nm ; 0,351 2. 1,0 mL 517,0 nm ; 0,558 3. 1,5 mL 517,0 nm ; 0,701 135

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 136 G. Hasil Scanning Larutan Stok Basis Mikroemulsi Formula E Hasil scanning menunjukkan larutan basis mikroemulsi formula E tidak memberikan serapan pada panjang gelombang 517 nm. H. Data absorbansi seri konsentrasi larutan Basis Mikroemulsi Formula E Absorbansi Replikasi 0,12 0,16 0,2 0,24 0,28 mg/mL mg/mL mg/mL mg/mL mg/mL 0,533 0,535 0,536 0,535 0,535 1 0,535 0,534 0,533 0,533 0,533 2 0,533 0,535 0,532 0,532 0,531 3 Absorbansi kontrol (DPPH) = 0,546 I. Perhitungan %IC pada seri konsentrasi Basis Mikroemulsi Formula E menggunakan persamaan 3. Seri konsentrasi (mg/mL) 0,12 0,16 0,2 0,24 0,28 Replikasi 1 2,015 2,381 2,015 1,831 2,015 IC (%) Replikasi 2 2,381 2,015 2,198 2,381 2,381 Replikasi 3 2,747 2,381 2,015 2,564 2,564 ± SD 2,381 ± 0,366 2,259 ± 0,211 2,076 ± 0,106 2,259 ± 0,381 2,32 ± 0,279

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 137 BIOGRAFI PENULIS Elizabeth Sita Permata Sari Sucipto Putri, dilahirkan pada tanggal 29 November 1992 di Batang, Jawa Tengah. Putri dari pasangan Agustinus Sucipto dan Veronika Nunik Tutik Hartini, dan memiliki dua saudara kandung bernama Valleria Tiara Ciptaningtyas Surya Putri dan Verania Puspitaningtyas Cipta Putri. Penulis telah menempuh pendidikan di SD Negeri Keteleng 1, Batang pada tahun 1998 sampai dengan tahun 2004, SMP Negeri 1 Blado, Batang pada tahun 2004 sampai dengan 2007, SMA Negeri 4 Yogyakarta pada tahun 2007 sampai dengan tahun 2010, dan kuliah di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2014. Selama menempuh pendidikan di Fakultas Farmasi penulis pernah mengikuti kepanitiaan Pekan suci pada tahun 2011 sebagai sie dekorasi, Paingan Festifal pada tahun 2012 sebagai sie P3K, Pagelaran Tari “Dewi Sri” pada tahun 2013 sebagai sie p3K. Penulis mengikuti kegiaan keorganisasian berperan sebagai koordinator seksi operasional pada UKM KSR Unit VI Universitas Sanata Dharma periode 2011/2012. Penulis mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat yang lolos didanai DIKTI pada tahun 2013 dengan judul “Sehari Bersama ODHA (Orang Dengan HIV/Aids)”.

(159)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Optimasi formulasi mikroemulsi sediaan hormon testosteron undekanoat
1
39
85
Pembuatan nanokrim kojic acid dipalmitate dengan kombinasi surfaktan tween 80 dan kosurfaktan polietilen glikol 400 menggunakan mixer.
6
42
85
Formulasi sediaan tablet liquisolid Glibenklamid dengan pelarut PEG 400 dan Laktosa sebagai Carrier Material.
20
98
160
Pengaruh Tween 80 sebagai emulsifying agent dan gliserin sebagai humektan dalam sediaan krim ekstrak batang Jarak Cina (Jatropha Multifida L.) dengan aplikasi desain faktorial.
2
9
111
Laju Disolusi Suppositoria Asetosal Basis PEG 400 dan PEG 4000 - Ubaya Repository
0
0
1
Pengaruh Komposisi PEG 400 dan PEG 6000 Sebagai Basis Suppositoria Terhadap Laju Disolusi Parasetamol - Ubaya Repository
1
5
1
Studi Disolusi Asetosal dalam Suppositoria Basis PEG 400 dan - Ubaya Repository
0
0
1
Pengaruh Komposisi PEG 400 dan PEG 4000 Sebagai Basis Suppositoria Terhadap Laju Disolusi Parasetamol - Ubaya Repository
0
0
1
Studi Disolusi Asetosal dalam Suppositoria Basis PEG 400 dan - Ubaya Repository
1
1
1
839.11i 71,7j - Pengaruh beberapa kombinasi antioksidan sodium metabisulfit dan askorbil palmitat terhadap stabilitas kadar ketokonazol dalam sediaan suspensi - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
15
839.11i 71,7j - Pengaruh beberapa kombinasi antioksidan sodium metabisulfit dan askorbil palmitat terhadap stabilitas kadar ketokonazol dalam sediaan suspensi - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
1
15
Pengaruh beberapa kombinasi antioksidan askorbil Palmitat dan a tokoferol terhadap stabilitas kimia Ketokonazol dalam krim vanising nonionik - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
14
Pengaruh beberapa kombinasi antioksidan askorbil Palmitat dan a tokoferol terhadap stabilitas kimia Ketokonazol dalam krim vanising nonionik - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
20
Optimasi formula span 80 dan tween 80 dalam sediaan cold cream ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (ten.) Steenis.) dengan metode desain faktorial - USD Repository
0
1
102
Evaluasi efek tween 80 dan span 80 dalam sediaan krim dengan minyak wijen sebagai fase minyak : aplikasi desain faktorial - USD Repository
0
2
146
Show more