HUBUNGAN ANTARA CITRA DIRI GENITAL DAN KEPUASAN SEKSUAL PADA PEREMPUAN

Gratis

0
0
104
2 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HUBUNGAN ANTARA CITRA DIRI GENITAL DAN KEPUASAN SEKSUAL PADA PEREMPUAN SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun oleh: Putriyani Setiabudi 139114066 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Scanned by CamScanner

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Scanned by CamScanner

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO DAN PERSEMBAHAN The sun will rise and you’ll be okay – anonymous When it gets hard I get a little stronger now I get a little braver now – New Empire (A Little Braver) – Dipersembahkan untuk : Tuhan Orangtuaku, Saudaraku, Kekasihku, Sahabat-sahabatku, Teman-teman seperjuanganku. iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Scanned by CamScanner

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HUBUNGAN ANTARA CITRA DIRI GENITAL DAN KEPUASAN SEKSUAL PADA PEREMPUAN Putriyani Setiabudi ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara citra diri genital dan kepuasan seksual pada perempuan. Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara citra diri genital dan kepuasan seksual. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 111 perempuan yang telah melakukan hubungan seksual. Citra diri genital dan kepuasan seksual diukur dengan skala Female Genital Self-Image Scale (FGSIS) yang dikembangkan oleh Herbenick, Schick, Recee, Sanders, Dodge, dan Fortenberry (2011) dan New Sexual Saisfaction Scale (NSSS) yang dikembangkan oleh Stulhofer, Busko, dan Brouillard (2010) dalam bentuk skala likert. Skala penelitian telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia oleh peneliti dengan panduan dari Guideline for The CrossCultural Adaptation Process oleh Beaton, Bombardier, Guillemin, dan Ferraz (2000). Skala FGSIS memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,623 dan skala NSSS memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,975. Teknik analisis data menggunakan uji korelasi Product Moment Pearson. Hasil penelitian diperoleh nilai korelasi sebesar 0,419 (p < 0,05) yang artinya ada hubungan yang cukup kuat antara citra diri genital dan kepuasan seksual. Kata kunci : citra diri genital, kepuasan seksual, perempuan, seksualitas vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI THE CORRELATION BETWEEN GENITAL SELF-IMAGE AND SEXUAL SATISFACTION IN WOMEN Putriyani Setiabudi ABSTRACT This study aims to determine the correlation between genital self-image and sexual satisfaction in women. The hypothesis of this study is that there is a correlation between genital self-image and sexual satisfaction. The subjects of this study amounted to 111 women who have had sexual intercourse. Genital self-image and sexual satisfaction are measured by the Female Genital Self-Image Scale (FGSIS) scale developed by Herbenick, Schick, Recee, Sanders, Dodge, and Fortenberry (2011) and New Sexual Saisfaction Scale (NSSS) developed by Stulhofer, Busko , and Brouillard (2010) in the form of a Likert scale. The research scale has been adapted into Indonesian by the researcher with guidance from the Guidelines for the Cross-Cultural Adaptation Process by Beaton, Bombardier, Guillemin, and Ferraz (2000). The FGSIS scale has a reliability coefficient of 0.623 and the NSSS scale has a reliability coefficient of 0.975. The data analysis technique applies Pearson Product Moment correlation test. The result of the study is obtained a correlation value of 0.419 (p <0.05) which means that there is a fairly strong corellation between genital self-image and sexual satisfaction. Keywords: genital self-image, sexual satisfaction, women, sexuality vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Scanned by CamScanner

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang selalu menyertai saya selama proses penelitian skripsi ini. Terima kasih karena Engkau memberikan jalan dan kekuatan sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi dengan lancar. Terima kasih untuk pengalaman-pengalaman selama proses pembuatan skipsi ini yang menambah wawasan dan pengetahuan saya. Ucapan terima kasih sebesar-besarnya saya berikan kepada keluarga saya. Kepada Bapak Siwa Matari Setiabudi dan Ibu Rahaju Anggorowati sebagai orangtua yang selalu mendukung dan menyemangati saya selama proses ini hingga akhir. Terima kasih atas segala perhatian dan motivasi yang diberikan. Terima kasih karena selalu mendukung saya dan memmenuhi seluruh kebutuhan saya. Terima kasih pula untuk kedua kakak saya Sutopo Juwono Setiabudi dan Indra Hernawan Setiabudi yang selalu menasehati saya untuk hidup mandiri dan bertanggung jawab. Saya selalu bersyukur memiliki kalian. Terima kasih kepada bapak C. Siswa Widyatmoko, M.Psi. selaku dosen pembimbing skripsi. Terima kasih untuk segala bimbingan, masukan, saran, dan pengalaman yang diberikan kepada saya. Terima kasih karena Bapak mau menjadi pendengar saat saya mengalami beberapa kesulitan dalam proses pembuatan skripsi ini. Terima kasih karena bapak memberikan pengalaman baru dan membuat saya menjadi lebih tangguh. Terima kasih sebanyak-banyaknya untuk Krispinus Yoga Prasetya yang sangat istimewa. Terima kasih karena mas Yoga tidak pernah lelah mendengar segala keluh kesah dan tidak pernah menyerah dengan perubahan suasana hati ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI saya. Terima kasih karena selalu siap siaga menjadi teman begadang saya untuk menyelesaikan skripsi ini dan teman jalan-jalan disaat saya membutuhkan waktu istirahat. Terima kasih karena mas Yoga selalu ada di sisi saya dan di hati saya. Terima kasih banyak juga untuk Betsyeba Irene Augustina Roest Tahalele selaku teman seperjuangan selama masa kuliah hingga proses penyelesaian skripsi. Semoga segala permasalahan yang pernah ada di antara kita berdua dan masalah yang kita alami bersama dapat mendewasakan kita. Terima kasih atas dukungan, saran, bantuan, pertengkaran, dan canda tawa yang membuat pertemanan serta proses penyelesaian skripsi ini menjadi tak terlupakan. Tidak lupa, terima kasih untuk Monica Yuka yang saya rindukan atas segala kebersamaan dan dukungannya. Semoga persahabatan kita bertiga tidak lekang oleh waktu. Terima kasih untuk Mas Engger yang telah meluangkan waktunya untuk membantu saya dan Irene dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih karena selalu menerima segala pertanyaan dan kesulitan saya. Terima kasih karena mas Engger telah menjadi penerang dan pemberi secercah harapan untuk skripsi ini. Terima kasih untuk Kinanti Sekar Rahina telah menjadi idola bagi saya. Bunda selalu menyemangati dan membuat saya rindu untuk menari. Terima kasih atas kesempatannya menari lagi di pertengahan pembuatan skripsi ini sehingga saya memperoleh semangat yang baru. Terima kasih juga untuk aak Bagas atas segala pengalaman dan obrolan santai yang memberikan berbagai pengetahuan. Teruntuk semua yang tidak pernah lelah mendukung dan mendoakan saya, keluarga di GKI Kabangan dan Adik kesayangan Rachel, terima kasih karena x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI selalu menanyakan kabar dan membuat saya rindu untuk segera kembali. Terima kasih untuk anak asisten ceria, Pao dan Jenny, karena selalu membawa tawa dalam segala suasana. Terima kasih untuk mbah-mbah nginang karo ngilo, mbak nata, widha, dita, monik, niken, vera, atas dinamika kita bersama dan semangat perjuangan mengejar kalian yang sudah lulus duluan. Terima kasih untuk Ojek, Luky, dan Eddy atas dukungan, bantuan, dan telepatinya saat saya mengalami kesulitan. Terakhir, saya berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membaca dan membutuhkan. Saya menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan sehingga saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dan pengembangan skripsi ini. xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ………………………………………………………..…… i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING …………………….… ii HALAMAN PENGESAHAN ……………………………………………….…. iii HALAMAN MOTTO ……………………………………………………….….. iv HALAMAN PERSEMBAHAN …………………………………………..…….. v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ………………………..… vi ABSTRAK ………………………………………………………………….….. vii ABSTRACT …………………………………………………………………….. viii HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA …………………….…... ix KATA PENGANTAR ………………………………………………………..…. x DAFTAR ISI …………………………………………………………………… xii DAFTAR TABEL ……………………………………………………………... xvi DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………. xviii BAB I. PENDAHULUAN ………………………………………………………. 1 A. Latar Belakang …………………………………………………………... 1 B. Rumusan Masalah ……………………………………………………….. 7 C. Tujuan Penelitian ………………………………………………………... 8 D. Manfaat Penelitian ……………...……………………………………….. 8 1. Manfaat Teoritis ……………………………………………………... 8 2. Manfaat Praktis ……………………………………………………… 8 BAB II. LANDASAN TEORI ……………………………………………….….. 9 A. Citra Diri Genital (Genital Self-Image) ……………………………….… 9 xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. Definisi Citra Diri Genital …………………………………………… 9 2. Faktor yang Memengaruhi Citra Diri Genital ……………………… 10 3. Manfaat Citra Diri Genital …………………………………………. 15 4. Dampak Citra Diri Genital Negatif ………………………………… 18 5. Pengukuran Citra Diri Genital ……………………………………... 19 B. Kepuasan Seksual (Sexual Satisfaction) ……………………………….. 20 1. Definisi Kepuasan Seksual …………………………………………. 20 2. Aspek Kepuasan Seksual …………………………………………... 22 3. Faktor yang Memengaruhi Kepuasan Seksual ……………………... 24 4. Pengukuran Kepuasan Seksual …………………………………….. 28 C. Dinamika antara Citra Diri Genital dan Kepuasan Seksual ……………. 29 D. Kerangka Berpikir …………………………………………………….... 35 E. Hipotesis ………………………………………………………………... 35 BAB III. METODE PENELITIAN ……………………………………………. 36 A. Jenis Penelitian …………………………………………………………. 36 B. Identifikasi Variabel Penelitian ………………………………………… 36 1. Variabel Bebas ……………………………………………………... 36 2. Variabel Terikat ……………………………………………………. 37 C. Defisini Operasional ……………………………………………………. 37 1. Citra Diri Genital …………………………………………………… 37 2. Kepuasan Seksual …………………………………………………... 38 D. Subjek Penelitian ……………………………………………………….. 38 E. Prosedur Penelitian ……………………………………………………... 39 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI F. Metode dan Alat Pengumpulan Data ……………………………...…… 41 1. Metode ……………………………………………….…………….. 41 2. Alat Pengumpulan Data ……………………………………………. 41 G. Validitas dan Reliabilitas ………………………………………………. 43 1. Validitas Alat Ukur ………………………………………………… 43 2. Reliabilitas Alat Ukur ………………………………………...……. 47 H. Metode Analisis Data ………………………………………………..…. 49 1. Uji Asumsi …………………………………………………………. 49 2. Uji Hipotesis ………………………………………………………... 50 BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ……………………… 51 A. Pelaksanaan Penelitian………………………………………………….. 51 B. Deskripsi Subjek Penelitian ……………………………………………. 53 C. Deskripsi Data Penelitian ………………………………………………. 55 D. Hasil Penelitian ………………………………………………………… 58 1. Uji Asumsi …………………………………………………………. 58 2. Uji Hipotesis ………………………………………………………... 60 E. Pembahasan …………………………………………………………….. 60 F. Keterbatasan Penelitian ………………………………………………… 64 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ……………………………………….. 66 A. Kesimpulan …………………………………………………………….. 66 B. Saran ……………………………………………………………………. 66 1. Bagi Subjek Penelitian ……………………………………………… 66 2. Bagi Praktisi ………………………………………………………… 67 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Bagi Penelitian Selanjutnya …………………………………………. 67 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………….. 68 LAMPIRAN ……………………………………………………………………. 77 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1. Perbandingan Mean Kepuasan Seksual 3 Kelompok Negara ………...... 2 Tabel 2. Perbandingan Mean Kepuasan Seksual Pada Kelompok 3 …………...... 2 Tabel 3. Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Usia ……………………...... 53 Tabel 4. Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Tingkat Pendidikan ……...... 54 Tabel 5. Deskripsi Subjek Penelitian Berdasarkan Frekuensi Berhubungan Seksual………………………………………………………………………… 54 Tabel 6. Deskripsi Data Penelitian ……………………………………………... 55 Tabel 7. Deskripsi Rata-rata Data Penelitian …………………………………... 56 Tabel 8. Uji One Sample T-test Citra Diri Genital dan Kepuasan Seksual …….. 57 Tabel 9. Kategorisasi Tingkat Citra Diri Genital dan Kepuasan Seksual ……… 57 Tabel 10. Uji Normalitas Citra Diri Genital dan Kepuasan Seksual …………… 58 Tabel 11. Uji Linearitas ………………………………………………………… 59 Tabel 12. Uji Korelasi Pearson ………………………………………………… 60 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Kerangka Berpikir ………………………………………………….. 35 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Uji Reliabilitas ……………………………………………………. 78 Lampiran 2. One Sample T-test ………………………………………………… 78 Lampiran 3. Uji Normalitas ……………………………………………………. 78 Lampiran 4. Uji Linearitas ……………………………………………………... 79 Lampiran 5. Uji Korelasi Pearson ……………………………………………… 79 Lampiran 6. Skala Citra Diri Genital …………………………………………... 80 Lampiran 7. Skala Kepuasan Seksual ………………………………………….. 81 Lampiran 8. Identitas Subjek …………………………………………………... 83 Lampiran 9. Informed Consent ………………………………………………… 86 xviii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kepuasan seksual merupakan hal yang penting bagi banyak pasangan karena dapat memberikan dampak bagi kualitas hidup seseorang. Secara seksual, banyak pasangan yang ingin memenuhi harapannya dan menjadi puas agar dapat memeroleh kebahagiaan dan kesejahteraan diri (Byers & Demon, 1999; Laumann dkk., 2006; Penhollow & Young, 2008; Rosen & Bachman, 2008). Memiliki kehidupan seksual yang menyenangkan juga merupakan tujuan umum dalam suatu hubungan (Hurlbert, Carol, & Rabehl, 1993). Ketika seseorang memiliki kehidupan seksual yang menyenangkan dan puas secara seksual, maka dirinya memiliki komunikasi dengan pasangan yang lebih baik, kepuasan relasi yang lebih baik, terhindar dari kebosanan seksual, dan dapat mencapai pelepasan seksual (Ashdown, Hackathorn & Clark, 2011; Byers, 2005; Haavio-Mannila & Kontula, 1997; Stulhofer, Busko & Brouillard, 2010). Sayangnya, Indonesia termasuk dalam lima negara dengan kepuasan seksual terendah, bersama dengan Cina, Jepang, Taiwan, dan Thailand (Laumann dkk., 2006). Kelima negara tersebut memiliki tingkat paling rendah dari empat aspek kesejahteraan seksual (kesenangan fisik, kesenangan emosional, kepuasan dengan fungsi seksual, dan pentingnya hubungan seks). Penelitian Laumann dkk. (2006) juga melaporkan bahwa 1

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 kepuasan seksual perempuan lebih rendah dari laki-laki pada seluruh negara yang diteliti. Tabel 1 Perbandingan mean kepuasan seksual 3 kelompok negara (Laumann dkk, 2006) Negara Kesenangan fisik (physical pleasure) Kesenangan emosional (emotional pleasure) Kepuasan fungsi seksual (satisfaction with sexual function) Pria Wanita Pentingnya hubungan seks (importance of sex) Pria Wanita Pria Wanita Pria Wanita Kelompok 67,3 59,9 71,2 62,8 83,9 77,6 48,8 31,6 1* Kelompok 45,1 36,3 52,1 40,9 75,2 60,3 60,5 37,5 2** Kelompok 24,9 19,8 29,9 23,3 66,1 50,0 28,1 12,7 3*** *Australia, Austria, Belgia, Kanada, Prancis, Meksiko, Selandia Baru, Afrika Selatan, Spanyol, Swedia, Jerman, Inggris, Amerika Serikat **Algeria, Brazil, Mesir, Israel, Italia, Korea, Malaysia, Moroko, Filipina, Singapura, Turki ***Cina, Indonesia, Jepang, Taiwan, Thailand Tabel 2 Perbandingan mean kepuasan seksual pada kelompok 3 (Laumann dkk, 2006) Negara Cina Indonesia Jepang Taiwan Thailand Kesenangan fisik (physical pleasure) Pria 25,2 22,0 17,6 21,5 38,1 Wanita 24,4 24,7 9,8 19,4 21,0 Kesenangan emosional (emotional pleasure) Pria 36,0 18,5 23,6 28,7 42,6 Wanita 32,8 19,9 15,5 25,4 22,8 Kepuasan fungsi seksual (satisfaction with sexual function) Pria Wanita 68,7 45,5 73,8 61,0 60,3 39,7 60,0 42,3 67,6 61,3 Pentingnya hubungan seks (importance of sex) Pria 28,8 35,4 27,8 24,7 23,8 Wanita 17,5 16,6 12,0 7,3 10,1 Kepuasan seksual merupakan respon afektif dari evaluasi seseorang tentang hubungan seksualnya, termasuk persepsi tentang pemenuhan kebutuhan seksual, pemenuhan ekspektasi diri dan pasangan,

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 dan evaluasi positif dari keseluruhan hubungan seksual (Offman & Mattheson, 2005). Kepuasan seksual juga mencakup sensasi seksual, kesadaran seksual, pertukaran seksual, kedekatan emosional, dan aktivitas seksual (Stulhofer dkk., 2010). Tingkat kepuasan seksual seseorang dapat dipengaruhi oleh komponen seksual dan non-seksual (Barrientos & Paez, 2006). Komponen seksual, seperti frekuensi sanggama dan frekuensi orgasme berhubungan positif dengan kepuasan seksual. Sedangkan komponen non-seksual, seperti tingkat edukasi dan status ekonomi yang tinggi juga memrediksikan terciptanya kepuasan seksual. Selain itu, terdapat berbagai faktor lain yang memengaruhi kepuasan seksual, seperti usia, harga diri, citra diri, dukungan pasangan, pertukaran seksual, dukungan sosial, dan budaya (Sanchez-Fuentes, Santos-Iglesias & Sierra, 2014). Selanjutnya, bila ditinjau dari komponen non-seksual, perempuan memiliki kecenderungan kepuasan seksual yang rendah jika dihubungkan dengan aspek fisik (Laumann dkk., 2006; Sanchez-Fuentes dkk., 2014;). Penampilan fisik merupakan komponen penting dari pengalaman seksual perempuan (McClintock, 2011). Penampilan fisik juga memengaruhi penilaian perempuan terhadap dirinya sebagai pasangan seksual. Perempuan muda yang menganggap dirinya sebagai pasangan seksual yang baik, paling tidak juga mengalami kekuatiran tentang penampilan tubuhnya selama aktivitas seksual (Wiederman, 2000). Ditemukan pula kemungkinan jika perempuan menilai parasnya terlihat

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 lebih cantik maka mereka akan memiliki harga diri dan memiliki pengalaman seksual yang lebih memuaskan (Goodman, Fashler, Miklos, Moore & Brotto, 2011). Penilaian pada tubuh perempuan juga dipengaruhi oleh budaya yang memberikan berbagai penilaian tentang tubuh dan seksualitas perempuan, serta membuat perempuan khawatir tentang bagaimana penampilannya di mata orang lain, terlebih lagi di mata laki-laki (Wiederman, 2000). Selain itu, peran media juga penting dalam membentuk penampilan ‘ideal’ anak muda dan memromosikan tubuh yang sempurna sebagai tujuan untuk meraih kesuksesan dalam hal seksualitas (Penhollow & Young, 2008; Schick, Calabrese, Rima & Zucker, 2010; Simeon, 2018). Tampilan ideal yang digambarkan dalam media mengarahkan perempuan pada pemantauan tubuh yang terus-menerus dan meningkatkan rasa malu terhadap tubuh (Calogero & Thompson, 2009). Perempuan mungkin memertimbangkan penampilan yang menawan sama dengan menjadi bagus dalam urusan seksual (Meana & Nunnik, 2006). Laki-laki dan perempuan yakin bahwa penampilan genital penting untuk meningkatkan kemampuan perempuan dalam memuaskan pasangan (Amos & McCabe, 2016). Hal ini ditunjukkan oleh beberapa responden yang memberikan respon di media sosial twitter saat diberi pertanyaan tentang pentingnya genital (twitter.com, 2019). Genital dianggap sebagai sesuatu yang penting untuk dijaga kebersihan dan penampilannya, serta digunakan sebagai alat untuk berhubungan seksual.

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 Terlebih lagi, terdapat pemikiran bahwa gairah laki-laki bergantung pada bagaimana tampilan perempuan daripada apa yang mereka lakukan. Hal tersebut berakibat pada gangguan kognitif dan gangguan pemikiran tentang penampilan yang dialami perempuan selama aktivitas seksual (Meana & Nunnik, 2006; Pujols, Meston & Seal, 2010). Algars dkk. (2011) menemukan bahwa citra tubuh positif pada perempuan berhubungan dengan rasa puas terhadap vaginanya. Sebaliknya, perempuan dengan rasa tidak puas terhadap tubuh (khususnya genital) memiliki kemungkinan yang lebih besar melakukan operasi vagina untuk memeroleh kepuasan atau peningkatan dalam hal seksual (Goodman dkk., 2016). Berbagai iklan produk susu pelangsing, perawatan kecantikan vagina, dan pembersih organ kewanitaan mengungkapkan bahwa produk-produk tersebut membuat pasangan (laki-laki) bangga, memikat pasangan dengan kecantikan, dan dapat memenuhi selera pasangan (Simeon, 2018; Wiratmo & Gifari, 2008). Selain itu, genital merupakan salah satu bagian tubuh yang sering dicela karena bau dan tampilannya, terlebih lagi dalam kaitannya dengan aktivitas seksual (Fudge & Byers, 2016; Morrison, Bearden, Ellis & Harriman, 2005; Schick dkk., 2010). Hal-hal tersebut di atas menimbulkan persepsi negatif perempuan terhadap bagian-bagian tubuh, khususnya genital. Akibatnya, perempuan tidak puas dengan tampilan genitalnya sehingga memiliki citra diri genital negatif.

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 Persepsi terhadap genital dikenal dengan sebutan citra diri genital (genital self image). Citra diri genital merupakan perasaan dan kepercayaan perempuan terkait genital yang memengaruhi pengalaman seksualnya (Herbenick, Schick, Recee, Sanders, Dodge & Fortenberry, 2011). Perempuan dengan citra diri genital positif akan merasa puas dengan tampilan genitalnya. Hal tersebut berhubungan positif dengan rasa nyaman dan puas dengan pengalaman seksual dan berhubungan negatif dengan kegelisahan seksual dan rasa tidak puas terhadap tubuh (Morrison dkk., 2005). Cara perempuan menilai dirinya juga berpengaruh pada pikiran perempuan tentang penilaian orang lain. Jika perempuan berfikir bahwa pasangan tidak memeroleh kepuasan dari tubuhnya maka perempuan akan mengalami ketidakpuasan seksual (Holt & Lyness, 2007). Oleh karena itu, fokus untuk tampil menarik secara seksual dapat mengganggu kepuasan seksual perempuan dalam pengalaman seksualnya bersama pasangan (Calogero & Thompson, 2009). Pikiran yang tertuju pada tampilan fisik terbukti memengaruhi berbagai hal dalam kehidupan perempuan. Perempuan menjadi resah tentang penampilannya secara keseluruhan maupun pada bagian-bagian tertentu. Peneliti berasumsi bahwa pikiran yang terfokus pada tampilan ideal genital membentuk keyakinan bahwa perempuan memiliki genital yang buruk, dengan kata lain memiliki citra diri genital negatif. Selanjutnya, perempuan perlu menggunakan genitalnya untuk berhubungan seksual bersama pasangan sehingga perempuan merasa tidak

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 percaya diri dan tidak nyaman dengan situasi tersebut. Perempuan tidak mampu fokus pada aktivitas seksual, namun terfokus pada tampilan genital sehingga terjadi distraksi kognitif yang mengarahkan pada tidak tercapainya kepuasan seksual. Selain itu, perempuan juga memiliki kepuasan seksual yang lebih rendah dibandingkan laki-laki karena pengaruh dari penilaian terhadap tampilan fisiknya. Penelitian tentang citra tubuh dan kepuasan seksual telah banyak dilakukan (Algars dkk., 2011; Goodman dkk, 2016; Holt & Lyness, 2007; Penhollow & Young, 2008; Pujols dkk., 2010; Woertman & Brink, 2012), namun penelitian tentang citra diri genital dan kepuasan seksual masih sedikit dilakukan (Herbenick & Recee, 2010; Herbenick dkk., 2011; Reinholtz & Muehlenhard, 1995; Schick dkk., 2010). Sejauh pencarian peneliti, peneliti juga belum menemukan penelitian tentang citra diri genital di Indonesia. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti hubungan atara citra diri genital dan kepuasan seksual pada perempuan yang telah berhubungan seksual. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka peneliti merumuskan pertanyaan dari penelitian ini, yaitu: Apakah terdapat hubungan antara citra diri genital dan kepuasan seksual pada perempuan?

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 C. Tujuan Penelitian ini memiliki tujuan untuk menguji hubungan antara citra diri genital dan kepuasan seksual pada perempuan. D. Manfaat 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan pada bidang psikologi, khususnya psikologi seksual, mengenai citra diri genital dan kepuasan seksual. Penelitian ini juga diharapkan dapat menambah pemahaman tentang hubungan citra diri genital dengan kepuasan seksual pada perempuan yang telah berhubungan seksual. 2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi para perempuan mengenai seksualitas dalam kaitannya dengan citra diri genital dan kepuasan seksual. Pemahaman lebih akan citra diri genital diharapkan dapat meningkatkan pengalaman seksual yang lebih baik, sehingga kepuasan seksual tercapai. Penelitian ini juga diharapkan dapat menambah wawasan dan pengalaman peneliti untuk mengembangkan penelitian lanjutan.

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI A. Citra Diri Genital (Genital Self Image) 1. Definisi Citra Diri Genital Pembahasan tentang citra diri genital masih jarang (Berman, Berman, Miles, Polets & Powell, 2003; Herbenick & Recee, 2010) sehingga ditemukan berbagai sebutan yang memiliki makna selaras dengan citra diri genital, seperti genital perception (Morrison dkk., 2005; Reinholtz & Muehlenhard, 1995), genital body-image (Zielinski, Low, Miller & Sampselle, 2012), vaginal self-image (Fahs, 2014), dan women’s genital self perception (Fudge & Byers, 2016). Berbagai sebutan ini mengarah pada satu pemahaman, yaitu persepsi dan penilaian seseorang yang ditujukan pada genitalnya. Konsep citra diri genital (genital self-image) pertama kali dikenalkan oleh Waltner (1986) sebagai genital identity. Definisi genital identity adalah self-definition, self-attitudes, dan perasaan selanjutnya yang muncul dari interaksi spesifik dan pengalaman secara langsung atau tidak langsung yang melibatkan genital (Waltner, 1986). Genital identity dipandang oleh Waltner (1986) sebagai salah satu bagian dari diri yang merupakan produk sosial dan dipengaruhi oleh berbagai interaksi antar individu dalam berbagai seting sosial. 9

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 Selanjutnya, citra diri genital menurut Berman dkk. (2003) adalah pengalaman dan persepsi seseorang terhadap genital yang dipengaruhi oleh nilai sosial dan budaya. Citra diri genital juga diartikan sebagai perasaan dan kepercayaan seseorang terkait alat kelamin yang memengaruhi pengalaman seksualnya (Herbenick & Reece, 2010; Herbenick dkk., 2011). Terdapat kemungkinan lain bahwa ada pengaruh evaluasi positif dari pengalaman seksual terhadap citra diri genital. Hal ini berarti, citra diri genital dapat muncul dari interaksi seksual dan memengaruhi interaksi seksual (Herbenick & Reece, 2010; Herbenick dkk., 2011; Waltner, 1986). Sikap, persepsi, dan citra diri perempuan yang ditujukan pada genital memengaruhi bagaimana perempuan berinteraksi dan menentukan pilihan terhadap genitalnya secara pribadi maupun genital orang lain (Herbenick dkk., 2011). Dengan demikian, citra diri genital dapat diartikan sebagai persepsi dan keyakinan yang muncul dari pengalaman seseorang terhadap genital, melalui pengalaman langsung dan pengalaman tidak langsung yang melibatkan genital, yang memengaruhi pengalaman seksual. 2. Faktor yang Memengaruhi Citra Diri Genital Persepsi perempuan terhadap genitalnya dipengaruhi oleh pengalaman seseorang yang melibatkan genital (Waltner, 1986). Pengalaman secara langsung merupakan pengalaman yang langsung

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 melibatkan genital, seperti menilai genital kotor, memersilakan orang lain melihat genital, dan menganggap genital cantik atau menarik. Sedangkan pengalaman secara tidak langsung, seperti edukasi dan informasi tentang seksualitas atau terkhusus pada genital saja. a. Pengalaman tidak langsung Persepsi terhadap genital secara tidak langsung dapat muncul dari nilai sosial dan budaya serta visualisasi media (Fahs, 2014; Schick dkk., 2010). 1) Nilai sosial dan budaya Tubuh perempuan seringkali dilihat, dievaluasi, dan dipandang secara seksual, akibatnya perempuan cenderung meningkatkan kewaspadaan akan tampilan tubuhnya dihadapan orang lain, terutama dihadapan laki-laki (Penhollow & Young, 2008). Pandangan secara seksual biasanya dilakukan laki-laki dalam bentuk tatapan dan inspeksi secara visual pada tubuh perempuan. Penilaian pada bagian tubuh perempuan, tidak terkecuali pada genital yang merupakan salah satu bagian tubuh pada area seksual. Sejak kecil perempuan telah mengembangkan perasaan malu, jijik, dan terhina karena stereotip sosial yang mendefinisikan genital perempuan sebagai bagian tubuh yang tidak menyenangkan, berbau, dan kurang menarik (Braun & Wilkinson, 2001). Letak genital di bagian

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 tersembunyi dianggap jorok dan tidak perlu dibicarakan oleh orangtua kepada anak (Braun & Wilkinson, 2001; Hammers, 2006; Puspitaningrum, Suryoputro, & Widagdo, 2012). Ketika beranjak dewasa, perempuan berhadapan dengan nilai dan norma sosial yang mengharuskan perempuan menjadi istri yang baik dan mampu memberikan kepuasan seksual pada suami. Di Afrika Selatan, perempuan diharuskan untuk menjaga dan merawat genital agar dapat memuaskan pasangan dan diri sendiri selama aktivitas seksual (Scorgie dkk., 2009; Hull dkk., 2011). Akibatnya perempuan berusaha untuk melakukan berbagai macam praktik kevaginaan untuk memberikan dan meningkatkan kepuasan seksual pasangan. Di Indonesia, praktik kevaginaan juga digunakan secara turun temurun dengan motif seksual, seperti menjaga kebersihan genital untuk memuaskan pasangan dan diri sendiri (Hull dkk., 2011). Akibatnya, persepsi perempuan terhadap genital dapat terganggu karena adanya gangguan pikiran yang tertuju pada tampilan selama aktivitas seksual (Meana & Nunnik, 2006; Pujols dkk., 2010). 2) Visualisasi media Media memberikan sumbangan besar pada sikap masyarakat terhadap penampilan, kesehatan, dan seksualitas

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 (Braun, 2005; Koning, Zeijlmans, Bouman, & Lei, 2009). Selanjutnya, gambaran yang diperoleh dari media diproses hingga memengaruhi keputusan atau pilihan perempuan terhadap genital. Sayangnya, media menunjukkan berbagai informasi tentang genital yang tidak realistis. Iklan berbagai produk kecantikan, video porno, hingga operasi genital mengisyaratkan bahwa terdapat standar tertentu bagi genital perempuan, mulai dari bentuk, bau, warna, dan sebagainya (Fudge & Byers, 2016; Koning dkk., 2009; Schick dkk., 2010; Llyod, Crouch, Minto, Liao, & Creighton, 2005). Bentuk-bentuk tertentu dari genital, seperti kencang, tidak berambut, tidak berbau, berwarna terang, simetris, dan sebagainya dianggap normal dan ideal (Fahs, 2014). Pandangan tersebut membuat perempuan memberikan evaluasi terhadap genitalnya (Schick dkk., 2011) dan membentuk persepsi bahwa genital yang tidak sesuai merupakan genital yang buruk dan tidak normal (Fahs, 2014; Fudge & Byers, 2016; Lloyd dkk., 2005; Shaw dkk., 2013; Smith dkk, 2017). Meningkatnya akses pornografi (menunjukkan bentuk genital yang tidak realistis) dan popularitas operasi genital (mempromosikan modifikasi genital untuk mencapai bentuk yang ideal) juga meningkatkan perasaan tertekan perempuan

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 akan tampilan genitalnya (Schick dkk., 2010). Para perempuan tidak jarang membandingkan genitalnya dengan genital perempuan lain di dalam video porno, sehingga mereka merasa memiliki genital yang buruk (Fahs, 2014). Akan tetapi, perempuan mengabaikan fakta bahwa mayoritas konten pornografi menyajikan orang-orang pilihan yang memiliki ciri genital tertentu dan gambar yang diperlihatkan merupakan hasil manipulasi data yang tidak realistis (Laan, Martoredjo, Hesselink, Snijders & Lunsen, 2016). Penampilan genital menjadi salah satu hal penting yang menarik perhatian perempuan karena pengaruh media. Bentuk, ukuran, bau, warna dan hal lain yang disajikan membentuk persepsi perempuan bahwa hal tersebut adalah normal atau ideal. Akibatnya, banyak perempuan merasa tidak puas dan tidak percaya diri dengan genitalnya karena pengaruh informasi dari media sehingga memiliki citra diri genital negatif (Fudge & Byers, 2016; Schick dkk., 2010; Smith dkk., 2017). b. Pengalaman langsung Perempuan menilai secara langsung apakah genitalnya baik atau buruk, membandingkan dengan genital orang lain, dan mempertanyakan apakah genitalnya layak dilihat oleh orang lain (Fudge & Byers, 2016). Informasi yang kurang tepat sejak dini

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 tentang seksualitas, terutama genital, memengaruhi pendapat pribadi perempuan dalam memberikan penilaian terhadap genital. Persepsi perempuan terhadap genital juga dipengaruhi oleh relasi dan pendapat orang yang melihat genitalnya secara langsung (tenaga medis atau pasangan) (Fahs, 2014; Fudge & Byers, 2016). Pasangan turut memberikan sumbangan pada persepsi negatif perempuan dengan membandingkan genital perempuan dengan gambar dalam konten pornografi (Lloyd dkk., 2005) dan menginginkan perempuan untuk selalu membersihkan genitalnya sebelum dan sesudah berhubungan seksual (Fahs, 2014). Hal tersebut menunjukkan penilaian negatif yang tertuju langsung pada genital perempuan. Perempuan percaya dengan penilaian pasangan terhadap penampilannya dan kepercayaan tersebut memengaruhi persepsi perempuan terhadap dirinya (Fudge & Byers, 2016). 3. Manfaat Citra Diri Genital Citra diri genital penting untuk dipahami karena merupakan salah satu faktor signifikan yang berhubungan dengan kesehatan genital perempuan dan kesejahteraan seksual (Fudge & Byers, 2016). Hal ini didukung oleh berbagai penelitian yang menemukan bahwa persepsi terhadap genital memengaruhi seksualitas perempuan dan keseluruhan pengalaman seksual (Herbenick & Recee, 2010;

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 Herbenick dkk., 2011; Reinholtz & Muehlenhard, 1995; Schick dkk., 2010). Citra diri genital positif terbukti memberi pengaruh pada banyak hal, terutama pengalaman seksual. Berbagai penelitian menemukan hubungan citra diri genital dengan pengalaman seksual, yaitu: a. Harga diri seksual (sexual esteem) Morrison dkk. (2005) menemukan bahwa persepsi terhadap genital berhubungan positif dengan harga diri seksual, yaitu semakin seseorang merasa puas dengan penampilan genital dan merasa genitalnya menarik maka semakin puas dan nyaman pula seseorang dengan pengalaman seksualnya. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Schick dkk. (2010) yang menemukan bahwa persepsi negatif terhadap genital akan mengurangi harga diri seksual perempuan. Oleh karena itu, peningkatan persepsi terhadap tampilan genital dapat meningkatkan harga diri seksual dan perasaan menarik secara seksual (Amos & McCabe, 2015). b. Kepuasan seksual (sexual satisfaction) Reinholtz dan Muehlenhard (1995) menemukan bahwa persepsi positif terhadap genital berhubungan dengan peningkatan pengalaman seksual dan kenikmatan seksual. Selaras dengan hasil tersebut, Schick dkk. (2010) juga menemukan bahwa persepsi

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 negatif terhadap genital berhubungan dengan penurunan kenikmatan atau kepuasan dalam aktivitas seksual. Selanjutnya, Herbenick dkk. (2011) menemukan bahwa citra diri genital berhubungan dengan peningkatan kepuasan seksual, yang merupakan bagian dari fungsi seksual. c. Fungsi seksual (sexual function) Berman dkk. (2003) menemukan bahwa citra diri genital positif berhubungan dengan peningkatan gairah seksual. Selain itu, citra diri genital positif dapat melindungi perempuan dari disfungsi seksual sehingga mengalami sedikit depresi dan sexual distress. Selanjutnya, Herbenick dan Recee (2010) menemukan bahwa citra diri genital berhubungan secara signifikan dengan seluruh domain fungsi seksual perempuan kecuali domain gairah seksual. Sedangkan penelitian Herbenick dkk. (2011) menemukan data bahwa citra diri genital berhubungan secara signifikan dengan keseluruhan fungsi seksual perempuan, yaitu keterangsangan seksual yang lebih tinggi, menjadi berhasrat secara seksual, lubrikasi/ perlendiran vagina yang terkontrol, berkurangnya masalah orgasme, menjadi lebih puas secara seksual, dan berkurangnya kondisi tidak nyaman secara seksual. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Fudge dan Byers (2016) yang menemukan bahwa persepsi terhadap genital yang kurang baik

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 memengaruhi keputusan perempuan tentang genitalnya dan menyebabkan penurunan fungsi seksual. Selain itu, Pakpour, Zeidi, Ziaeiha, dan Burri (2014) menemukan bahwa citra diri genital berhubungan dengan peningkatan kepercayaan diri dan apresiasi diri yang lebih baik. Persepsi yang baik terhadap genital juga meningkatkan perasaan menarik secara seksual sehingga perempuan merasa nyaman dengan tubuhnya dan bersedia memersilakan orang lain untuk melihat genitalnya (pasangan dan tenaga medis) (Herbenick dkk., 2011; Smith dkk, 2017). Citra diri genital yang tinggi juga berhubungan dengan kesediaan untuk memberi dan menerima seks oral (Morisson dkk., 2005; Reinholtz & Muehlenhard, 1995; Smith dkk, 2017). 4. Dampak Citra Diri Genital Negatif Rasa tidak puas terhadap tampilan genital memengaruhi aspek fisik dan psikologis dari kesejahteraan seksual (Schick dkk., 2010). Pengaruh tersebut, seperti peningkatan genital self-consciousness, penurunan kenikmatan/ kepuasan seksual, penurunan kepercayaan diri seksual, penurunan fungsi seksual, dan penurunan pengalaman dengan variasi aktivitas seksual (Herbenick & Recee, 2010; Herbenick dkk., 2011; Morrison dkk., 2005; Reinholtz & Muehlenhard, 1995; Schick dkk., 2010). Selain itu, persepsi terhadap tampilan genital tidak hanya

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 memengaruhi perasaan perempuan terhadap genitalnya secara pribadi tetapi juga persepsi perempuan tentang bagaimana pasangan menilai genitalnya (Fahs, 2014; Schick dkk., 2010). Pikiran dan perasaan negatif perempuan terhadap genital juga berhubungan dengan berbagai konsekuensi dalam hidup, seperti perilaku konformitas dengan norma sosial (mencukur rambut kemaluan), menyembunyikan genital dari publik maupun dalam situasi seksual, membatasi aktivitas seksual, dan melakukan praktik perawatan kebersihan (Fudge & Byers, 2016). Selanjutnya, persepsi negatif terhadap genital memengaruhi pengambilan keputusan perempuan terkait kesehatan genital, seperti kurangnya motivasi untuk menghindari perilaku seksual beresiko, jarang atau tidak melakukan pemeriksaan ginekologi atau pemeriksaan genital secara mandiri, dan berusaha memberikan alasan rasional untuk operasi genital yang tidak dibutuhkan (bukan keperluan medis) (Braun, 2010; DeMaria dkk., 2012; Herbenick dkk., 2011; Koning dkk., 2009; Smith dkk., 2017). 5. Pengukuran Citra Diri Genital Penelitian ini mengadaptasi skala Female Genital Self-Image Scale 4 item (FGSIS-4) yang dikembangkan oleh Debra Herbenick, Vanessa Schick, Michael Reece, Stephanie Sanders, Brian Dodge, dan J. Dennis Fortenberry. Skala FGSIS pertama terdiri dari tujuh item

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 yang memiliki validitas dan reliabilitas baik pada perempuan berusia 18-60 di Amerika Serikat (Herbenick & Reece, 2010). Penelitian selanjutnya oleh Herbenick dkk. (2011) dilakukan pada perempuan berusia 18-60 di Amerika Serikat dengan jumlah subjek yang lebih besar. Hasil penelitian ini menemukan skala FGSIS dalam versi lebih singkat yang terdiri dari 4 item. Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa FGSIS 4 item merupakan skala yang lebih baik dari versi 7 item, karena memiliki item yang lebih singkat, memiliki validitas dan reliabilitas yang lebih baik, berhubungan dengan seluruh aspek fungsi seksual, dan berhubungan dengan berbagai perilaku seksual perempuan. B. Kepuasan Seksual (Sexual Satisfaction) 1. Definisi Kepuasan Seksual Kepuasan seksual didefinisikan secara konseptual sebagai tingkat rasa puas yang dialami seseorang dengan pengalaman seks dalam hidupnya (Pinney, Gerrard, & Denney, 1987 dalam Lawrance & Byers, 1995). Lawrance dan Byers (1995) memperbaharui definisi kepuasan seksual sebagai respon afektif yang muncul dari evaluasi subjektif seseorang, baik positif maupun negatif, dalam hubungan seksualnya. Selaras dengan definisi tersebut, Offman dan Mattheson (2005) mendefinisikan kepuasan seksual sebagai respon afektif dari evaluasi seseorang tentang hubungan seksualnya, termasuk persepsi

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 tentang pemenuhan kebutuhan seksual, pemenuhan ekspektasi diri dan pasangan, dan evaluasi positif dari keseluruhan hubungan seksual. Kepuasan seksual tidak hanya dilihat dari aspek biologis melainkan juga aspek psikologis, yang berhubungan dengan perasaan dan curahan hati yang dinyatakan saat berhubungan seksual (Walgito, 2010). Kepuasan seksual juga dipahami dalam dua komponen, yaitu fisik dan afek/emosional (Haavio-Manila & Kontula, 1997). Kepuasan seksual secara fisik berhubungan dengan kepuasan atau kesenangan dari hubungan seks. Sedangkan kepuasan seksual secara emosional berhubungan dengan rasa bahagia dengan hubungan yang tetap dan tenang. Komponen seksual dan non-seksual memainkan peran penting dalam kepuasan seksual seseorang. Barrientos dan Paez (2006) menemukan bahwa tingkat edukasi dan status ekonomi yang tinggi lebih kuat berhubungan dengan kepuasan seksual dibandingkan dengan frekuensi sanggama dan orgasme. Stulhofer, Busko, dan Brouillard (2010) juga menjelaskan berbagai komponen dalam kepuasan seksual yang merupakan komponen seksual dan non-seksual, yaitu sensasi seksual, kesadaran seksual, pertukaran seksual, kedekatan emosional, dan aktivitas seksual. Berdasarkan definisi-definisi di atas, peneliti menyimpulkan bahwa kepuasan seksual diartikan sebagai respon afektif dari evaluasi positif maupun negatif yang berhubungan dengan pemenuhan harapan

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 dan kebutuhan, baik secara seksual maupun non-seksual, dari hubungan seksual seseorang dengan pasangannya. 2. Aspek Kepuasan Seksual Kepuasan seksual dibentuk oleh 3 aspek, yaitu aspek individual (fokus pada kepuasan pribadi), aspek interpersonal (fokus pada interaksi dengan pasangan), dan aspek behavioral (fokus pada perilaku-perilaku khusus yang memberi kepuasan). Selanjutnya, ketiga aspek tersebut digunakan untuk memperoleh lima dimensi kepuasan seksual, yaitu a. Aspek individual 1) Sensasi seksual (sexual sensations) Sensasi seksual berkaitan dengan kesenangan seksual karena sensasi seksual yang menyenangkan merupakan dasar dari ‘trance’ seksual dan menjadi motivasi utama dibalik pengulangan kontak seksual. Hal tersebut merupakan virtuous circle, yaitu kesenangan membawa lebih banyak seks dan seks yang lebih banyak membawa kesenangan yang lebih pula (Hubert & Apt, 1994 dalam Stulhofer dkk., 2010). 2) Kesadaran seksual (sexual presence/ awareness) Pentingnya kesadaran seksual telah terbukti dalam berbagai literatur klinis yang menunjukkan bahwa kemampuan

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 untuk fokus pada sensasi erotis dan seksual penting bagi sensasi seksual yang menyenangkan. Sedangkan, kurangnya kesadaran diri dapat berakibat pada monitor diri yang berlebihan selama aktivitas seksual (Zilbergeld, 1992 dalam Stulhofer dkk., 2010) atau tingginya tingkat distraksi (Heiman & LoPiccolo, 1998 dalam Stulhofer dkk., 2010). b. Aspek interpersonal 1) Pertukaran seksual (sexual exchange) Dimensi pertukaran seksual menekankan pada pentingnya hubungan timbal balik dalam kontak seksual. Perbedaan antara memberi dan menerima atensi seksual dan kesenangan seksual dapat menyebabkan ketidakpuasan seksual. 2) Kedekatan emosional (emotional connection/closeness) Ikatan emosional dan keintiman yang kuat dapat menghasilkan ketertarikan seksual dalam jangka panjang (Ellison, 2001; Schnarch, 1991 dalam Stulhofer dkk., 2010). Mekanisme dibalik kepuasan seksual adalah hubungan antara kedekatan emosi dan kepercayaan serta dengan pelepasan seksual (sexual letting go) (Heiman & LoPiccolo, 1988 dalam Stulhofer dkk., 2010).

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 c. Aspek behavioral 1) Aktivitas seksual (sexual activity) Dimensi aktivitas seksual mencakup frekuensi, durasi, variasi, dan intensitas dari aktivitas seksual untuk memeroleh kepuasan seksual bagi perempuan maupun laki-laki. Meskipun kualitas kontak seksual dinilai lebih penting dari kuantitas, namun frekuensi sebagai bentuk kuantitas dari kepuasan seksual telah banyak diuji oleh berbagai penelitian. Selain itu, kurangnya variasi juga menyebabkan kebosanan seksual dan durasi aktivitas seksual berhubungan dengan terjadinya orgasme (Heiman & LoPiccolo, 1998 dalam Stulhofer dkk., 2010). 3. Faktor yang Memengaruhi Kepuasan Seksual Sanchez-Fuentes, Santos-Iglesias, dan Sierra (2014) mengadaptasi teori ekologi dari Bronfenbrenner (1994) untuk menjelaskan berbagai faktor yang memengaruhi kepuasan seksual. Teori ekologi menjelaskan bahwa perkembangan individu dipengaruhi oleh interaksi antara karakteristik individu, kondisi lingkungan, dan kondisi sosial. Interaksi tersebut terorganisir dalam empat level yang saling berhubungan, yaitu mikrosistem, mesosistem, eksosistem, dan makrosistem. Di dalam setiap level terdapat berbagai variabel yang berhubungan dengan kepuasan seksual. Beberapa diantaranya adalah:

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 a. Usia dan menopause (mikrosistem) Memasuki usia paruh baya, kepuasan seksual perempuan menjadi hal yang rumit karena pengaruh penuaan dan menopause. Hal tersebut berpengaruh pada turunnya hasrat, gairah, orgasme, dan dinamika hubungan dengan pasangan (Dundon & Rellini, 2010). Beberapa penelitian juga menemukan bahwa seiring bertambahnya usia, individu akan mengalami penurunan gairah seksual (DeLamater & Sill, 2005) dan merasa kurang puas secara seksual (Ashdown, Hackathorn, & Clark, 2011). Selanjutnya, kesejahteraan psikologis dan gejala-gejala mengalami menopause dapat secara kuat saat perempuan memprediksikan kepuasan seksual dengan keseluruhan kehidupan seksual (Dundon & Rellini, 2010). b. Harga diri, citra tubuh, dan citra diri genital (mikrosistem) Perempuan yang merasa positif dalam pengalamannya dengan tubuh akan merasa lebih puas dalam aktivitas seksual (Woertman & Brink, 2012). Citra tubuh berhubungan dengan harga diri dalam situasi seksual. Rendahnya citra tubuh berpengaruh pada rasa tidak puas terhadap bagian-bagian tubuh sehingga individu memiliki harga diri yang rendah dan mengalami ketidakpuasan seksual (Dove & Wiederman, 2000; Pujols dkk., 2010). Fokus pada tampilan agar dipandang menarik secara seksual

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 memengaruhi kepuasan seksual perempuan (Calogero & Thompson, 2009). Bagi perempuan, kepuasan terhadap genital yang tinggi berhubungan dengan fungsi seksual yang lebih baik (Algars dkk., 2011). Selain itu, kepuasan terhadap genital berhubungan dengan frekuensi perilaku seksual. Ketika genital menjadi perhatian utama, peningkatan citra tubuh (khususnya genital) akan meningkatkan kepuasan seksual perempuan (Goodman dkk., 2016). Dengan demikian, citra diri genital merupakan bagian dari citra tubuh dan keduanya berhubungan dengan harga diri dalam situasi seksual dengan pasangan serta berhubungan dengan kepuasan seksual. c. Dukungan pasangan dan komunikasi (mesosistem) Perempuan seringkali berpikir bahwa pasangan tidak memeroleh kepuasan dari tubuhnya sehingga perempuan akan mengalami ketidakpuasan seksual (Holt & Lyness, 2007). Sementara itu, percakapan seksual yang intim meningkatkan kepuasan seksual perempuan (Ashdown, dkk., 2011; Byers, 2005; Barrientos & Paez, 2006). Komunikasi yang efektif dengan pasangan berhubungan dengan pencapaian kepuasan seksual yang tinggi karena masing-masing dapat saling mengerti kebutuhan seksual pasangannya (Haavio-Mannila & Kontula, 1997).

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 d. Sexual reward and cost (mesosistem) Kepuasan seksual dipengaruhi oleh persepsi seseorang tentang keseimbangan antara sesuatu yang diterima dan dilakukan oleh dirinya dan sesuatu yang diterima dan dilakukan oleh pasangan (Byers, 1999). Keseimbangan tersebut tidak hanya dihitung dari aktivitas seksual tetapi juga perilaku non-seksual dalam suatu hubungan (Barrientos & Paez, 2006). Persepsi seseorang tentang bagaimana pendapat pasangan akan dirinya dapat memengaruhi kepuasan seksual orang tersebut (Holt & Lyness, 2007). Kondisi ini juga menciptakan adanya hubungan yang tidak seimbang karena perempuan hanya memikirkan pendapat laki-laki tanpa memikirkan pencapaian kepuasan bagi dirinya. Akibatnya, penurunan kepuasan seksual terjadi karena adanya ketidaksetaraan antara usaha yang dilakukan dan hasil yang diterima. e. Dukungan sosial dan diskriminasi (eksosistem) Lingkungan sosial yang suportif akan meningkatkan kualitas hubungan dengan pasangan. Orangtua, teman, dan pasangan yang memberikan komentar negatif dan ekspektasi tentang bentuk tubuh akan memengaruhi harga diri perempuan sehingga tidak berfungsi secara baik secara seksual (Holt &

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 Lyness, 2007). Hal tersebut berakibat pada rendahnya kepuasan seksual. f. Budaya (makrosistem) Budaya memberikan berbagai penilaian tentang tubuh dan seksualitas perempuan yang membuat perempuan khawatir tentang bagaimana penampilannya di mata orang lain, terlebih lagi di mata laki-laki (Wiederman, 2000). Perempuan berusaha meningkatkan kualitas fisiknya untuk meraih kesuksesan dalam hubungan seksual karena mereka memertimbangkan penampilan yang menawan sama dengan menjadi bagus dalam urusan seksual (Meana & Nunnik, 2006). Hal tersebut meningkatkan evaluasi perempuan terhadap diri sendiri sehingga perempuan tidak memeroleh tempat untuk memenuhi keinginan pribadi dan tidak mampu mencapai kepuasan seksual. 4. Pengukuran Kepuasan Seksual Penelitian ini mengadaptasi skala New Sexual Satisfaction Scale 20 item (NSSS) yang dikembangkan oleh Aleksandar Stulhofer, Vesna Busko, dan Pamela Brouillard. Skala NSSS awalnya terdiri dari 35 item dengan tiga aspek dan lima dimensi. Selanjutnya, dilakukan pengembangan pengukuran dengan tujuan untuk mengukur kepuasan seksual dengan dasar konsep yang jelas dan tidak dibatasi oleh kelas-

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 kelas tertentu, seperti orientasi, gender, atau latar belakang budaya (Stulhofer dkk., 2010). Pengembangan ini dilakukan pada subjek dengan dua budaya yang berbeda, yaitu Amerika Serikat dan Kroasia. Skala NSSS 20 item terbukti memiliki struktur yang lebih baik dan dasar umum yang lebih luas. NSSS 20 item terdiri dari dua subskala, yaitu ego-centered subscale dan partner/ sexual activity centered subscale. Kedua sub-skala tersebut tetap mencakup tiga aspek (individual, interpersonal, dan behavioral) dan lima dimensi (sensasi seksual, kesadaran seksual, pertukaran seksual, kedekatan emosional, dan aktivitas seksual) sebagai dasar terbentuknya skala NSSS. C. Dinamika antara Citra Diri Genital dan Kepuasan Seksual Kepuasan seksual merupakan hal yang penting karena dapat memengaruhi kesejahteraan diri dan kebahagiaan seseorang (Laumann dkk., 2006; Rosen & Bachman, 2008). Seseorang dengan kehidupan seksual yang menyenangkan dan memeroleh kepuasan secara seksual akan memiliki komunikasi yang baik dengan pasangan, puas dengan relasinya bersama pasangan, terhindar dari kebosanan seksual, dan mampu mencapai kepuasan seksual (Ashdown dkk., 2011; Byers, 2005; HaavioManilla & Kontula, 1997; Stulhofer dkk., 2010). Sementara itu, hasil penelitian Lauman dkk. (2006) menemukan lima negara dengan kepuasan seksual terendah dan Indonesia termasuk di dalamnya. Penelitian tersebut juga melaporkan bahwa kepuasan seksual

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 pada perempuan lebih rendah daripada laki-laki pada seluruh negara yang diteliti. Selaras dengan penelitian tersebut, penelitian lain juga menemukan kepuasan seksual yang rendah pada perempuan (Sanchez-Fuentes dkk., 2014). Kepuasan seksual merupakan respon afektif dari evaluasi seseorang tentang hubungan seksualnya, termasuk persepsi tentang pemenuhan kebutuhan seksual, pemenuhan ekspektasi diri dan pasangan, dan evaluasi positif dari keseluruhan hubungan seksual (Offman & Mattheson, 2005). Kepuasan seksual juga mencakup sensasi seksual, kesadaran seksual, pertukaran seksual, kedekatan emosional, dan aktivitas seksual (Stulhofer dkk., 2010). Kepuasan seksual dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti usia, harga diri, citra diri, dukungan pasangan, pertukaran seksual, dukungan sosial, dan budaya (Sanchez-Fuentes dkk., 2014). Faktor-faktor tersebut terbagi dalam dua komponen, yaitu seksual dan non-seksual (Barientos & Paez, 2006). Komponen seksual mencakup hal-hal yang berhubungan langsung dengan aktivitas seksual sedangkan komponen non-seksual mencakup hal-hal lain di luar aktivitas seksual yang dapat memengaruhi kepuasan seksual. Komponen seksual menjadi hal yang paling sering ditonjolkan dan diperhatikan, padahal komponen non-seksual juga memberikan kontribusi yang penting bagi kepuasan seksual seseorang. Salah satu contoh komponen non-seksual adalah tampilan fisik perempuan. Pikiran yang tertuju pada penampilan selama aktivitas seksual

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 memberikan pengaruh yang signifikan pada kepuasan seksual perempuan (Pujols dkk., 2010). Jika dihubungkan dengan aspek fisik, perempuan memiliki kecenderungan kepuasan seksual yang lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki (Laumann dkk., 2006; Sanchez-Fuentes dkk., 2014). Perempuan mungkin memertimbangkan penampilan yang menawan sama dengan menjadi bagus dalam urusan seksual (Meana & Nunnik, 2006). Selain itu, budaya dan media menunjukkan standar kecantikan dan perilaku yang tidak realistis, sehingga perempuan melakukan pemantauan terhadap tubuh dan merasa malu (Calogero & Thompson, 2009; Daniluk, 1993; Fredrickson & Roberts, 1997). Peninjauan penampilan tubuh tidak hanya pada bagian-bagian yang terlihat, melainkan juga genital yang merupakan alat langsung untuk berhubungan seksual. Citra tubuh yang positif pada perempuan berhubungan dengan rasa puas terhadap vaginanya (Algars dkk, 2011). Sayangnya, genital seringkali dicela karena bau dan tampilannya, terlebih lagi dalam kaitannya dengan aktivitas seksual (Fudge & Byers, 2016; Morrison dkk., 2005; Schick dkk., 2010). Penampilan genital juga menjadi hal penting bagi perempuan di Indonesia. Media memberikan sumbangan besar dengan berbagai iklan yang menawarkan produk-produk kecantikan untuk memperbaiki tampilan diri dan genital agar dapat memikat pasangan atau laki-laki (Simeon, 2018; Wiratmo & Gifari, 2008). Akibatnya, perempuan menilai genital secara

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 negatif dan merasa tidak puas dengan tampilan genitalnya. Persepsi terhadap genital yang negatif dapat mengarahkan perempuan pada citra diri genital negatif. Citra diri genital merupakan perasaan dan kepercayaan perempuan terkait genital yang memengaruhi pengalaman seksualnya (Herbenick dkk., 2011). Persepsi yang positif dapat menimbulkan rasa puas terhadap genital dan berhubungan positif dengan rasa nyaman dan puas dengan pengalaman seksual, serta berhubungan negatif dengan kegelisahan seksual dan rasa tidak puas terhadap tubuh (Morrison dkk., 2005). Perempuan dengan citra diri genital yang positif dapat memaksimalkan fungsi seksualnya, sehingga memeroleh kepuasan seksual (Herbenick dkk., 2011). Sebaliknya, rasa tidak puas terhadap tampilan genital dapat memengaruhi kesejahteraan seksual seseorang, terutama dalam hal psikologis karena perhatian berlebihan pada aspek fisik (Schick dkk., 2010). Bila dijabarkan, pengaruh tersebut termasuk peningkatan genital self-consciousness, penurunan kenikmatan/ kepuasan seksual, penurunan kepercayaan diri seksual, penurunan fungsi seksual, dan penurunan pengalaman dengan variasi aktivitas seksual (Morrison dkk., 2005; Herbenick & Recee, 2010; Herbenick dkk., 2011; Reinholtz & Muehlenhard, 1995; Schick dkk., 2010). Perhatian yang berlebihan terhadap tampilan fisik berakibat pada gangguan kognitif atau gangguan pemikiran tentang penampilan yang

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 dialami perempuan selama aktivitas seksual (Meana & Nunnik, 2006; Pujols, Meston & Seal, 2010). Peneliti berasumsi bahwa gangguan kognitif terjadi karena seseorang kurang mampu fokus pada aktivitas seksual yang sedang dilakukan. Kelly (1963, dalam Burger, 2011) mengungkapkan bahwa terdapat variabel kognitif-afektif yang merupakan bagian dari sistem kompleks yang menghubungkan suatu situasi yang dijumpai dengan perilaku selanjutnya atau respon. Variabel tersebut meliputi berbagai representasi mental, seperti harapan, nilai, dan tujuan yang berinteraksi satu dengan yang lain untuk menentukan bagaimana seseorang akan memberikan respon pada suatu situasi. Selaras dengan teori kognitif-afektif dari Kelly (1963, dalam Burger, 2011) peneliti menggabungkan mekanisme antara citra diri genital dan kepuasan seksual sehingga terjadi distraksi kognitif. Pikiran yang terfokus pada tampilan ideal genital membentuk keyakinan bahwa perempuan memiliki genital yang buruk, dengan kata lain memiliki citra diri genital negatif. Beberapa penelitian menemukan bahwa perempuan berusaha menjaga dan merawat genital untuk meningkatkan kepuasan pasangan dan diri sendiri (Scorgie dkk., 2009; Hull dkk., 2011). Hal ini berarti baik buruknya genital diasumsikan berhubungan dengan kepuasan seksual. Oleh karena itu, citra diri genital yang negatif diyakini dapat mengurangi kepuasan seksual. Selanjutnya, perempuan perlu menggunakan genitalnya untuk berhubungan seksual bersama pasangan sehingga berakibat pada timbulnya rasa tidak percaya diri dan tidak nyaman dengan situasi

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 tersebut. Perempuan tidak mampu fokus pada aktivitas seksual, namun terfokus pada tampilan genital yang dianggap buruk dan tidak mampu memuaskan pasangan. Oleh karena itu, perempuan tidak mampu mencapai tujuannya untuk mencapai kepuasan seksual. Sementara itu, menurut teori mindfulness perempuan dengan citra diri genital negatif cenderung berfokus pada penilaian negatif tentang genitalnya. Padahal, menurut teori mindfulness kesadaran saat ini dapat dicapai jika setiap pikiran, perasaan, atau sensasi yang muncul tidak dinilai dan ditambah-tambahkan tetapi diterima dan diakui (Bishop dkk., 2004 dalam Brown, Creswell & Ryan, 2015). Pada perempuan dengan citra diri genital negatif maka ia cenderung fokus pada penilaian negatifnya sehingga kurang bisa merasakan sensasi-sensasi ketika melakukan aktifitas seksual yang berhubungan dengan tercapainya kepuasan seksual. Penampilan fisik termasuk dalam perhatian utama perempuan. Penampilan genital dianggap penting karena genital merupakan alat langsung untuk berhubungan seksual dan mendukung tercapainya kepuasan seksual. Selain itu, banyak penelitian tentang citra tubuh dan kepuasan seksual tetapi masih sedikit penelitian tentang citra diri genital dan kepuasan seksual. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini ingin menguji seberapa besar hubungan antara citra diri genital dan kepuasan seksual pada wanita.

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 D. Kerangka Berpikir Citra diri genital negatif Citra diri genital positif Persepsi dan evaluasi negatif terhadap genital Persepsi dan evaluasi positif terhadap genital Pikiran tertuju pada tampilan genital selama aktivitas seksual Pikiran fokus pada aktivitas seksual dan berbagai variasinya Tidak mampu mencapai kepuasan seksual Mampu mencapai kepuasan seksual Kepuasan seksual rendah Kepuasan seksual tinggi E. Hipotesis Hipotesis penelitian yang diujikan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara citra diri genital dan kepuasan seksual.

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif merupakan metode penelitian yang menekankan analisisnya pada data-data kuantitatif (angka) yang dikumpulkan melalui prosedur pengukuran dan diolah dengan metode analisis statistika (Azwar, 2017). Penelitian kuantitatif bertujuan untuk menguji teori secara objektif dengan memeriksa atau meneliti hubungan antar variabel (Supratiknya, 2015). Penelitian ini menggunakan jenis penelitian korelasi untuk mencari apakah ada hubungan atau kaitan antara dua variabel (Suparno, 2011). Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui hubungan antara citra diri genital dan kepuasan seksual pada perempuan. B. Identifikasi Variabel Penelitian 1. Variabel Bebas Variabel bebas adalah variabel yang variasinya memengaruhi atau menyebabkan perubahan pada variabel lain (Azwar, 2017). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah citra diri genital. 36

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 2. Variabel Terikat Variabel terikat adalah variabel penelitian yang diukur untuk mengetahui besarnya efek atau pengaruh dari variabel lain (Azwar, 2017). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kepuasan seksual. C. Definisi Operasional 1. Citra Diri Genital Citra diri genital diartikan sebagai perasaan dan kepercayaan seseorang terkait alat kelamin yang memengaruhi pengalaman seksualnya (Herbenick, & Reece, 2010; Herbenick dkk., 2011). Persepsi tersebut mencakup rasa puas terhadap tampilan genital, bau genital, rasa nyaman saat genital dilihat oleh orang lain, dan tidak malu pada genitalnya sendiri. Persepsi tersebut dipengaruhi oleh pengalaman seseorang dengan genitalnya, secara langsung dan tidak langsung, dan memengaruhi pengalaman seksualnya. Citra diri genital pada perempuan diukur menggunakan skala Female Genital Self-Image Scale (FGSIS-4). Semakin tinggi skor subjek pada skala FGSIS-4 maka semakin tinggi pula tingkat citra diri genital yang dimiliki oleh subjek. Sebaliknya, jika skor subjek pada skala FGSIS-4 rendah maka tingkat citra diri genital yang dimiliki subjek tersebut juga rendah.

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 2. Kepuasan Seksual Kepuasan seksual adalah respon afektif dari evaluasi positif seseorang terhadap pengalaman seksual dalam kaitannya dengan pemenuhan harapan dan kebutuhan, baik secara seksual maupun nonseksual, dari hubungan seksual seseorang dengan pasangannya. Kepuasan seksual mencakup sensasi seksual, kesadaran seksual, pertukaran seksual, kedekatan emosional, dan aktivitas seksual (Stulhofer dkk., 2010). Kepuasan seksual pada subjek diukur menggunakan skala New Sexual Satisfation Scale (NSSS). Semakin tinggi skor subjek pada skala NSSS maka semakin tinggi pula tingkat kepuasan seksual yang dimiliki oleh subjek. Sebaliknya, jika skor subjek pada skala NSSS rendah maka tingkat kepuasan yang dimiliki oleh subjek juga rendah. D. Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah perempuan yang aktif berhubungan seksual dengan rentang usia antara 17 sampai 40 tahun. Perempuan dalam usia ini diasumsikan telah mencapai batas minimum usia perkawinan dan masih aktif berhubungan seksual. Batas minimum usia subjek disesuaikan dengan batas minimun usia perkawinan di Indonesia, yaitu 17 tahun. Dengan batas tersebut diasumsikan perempuan telah siap untuk melakukan hubungan seksual. Sedangkan batas maksimal usia subjek adalah 40 tahun, hal ini disesuaikan dengan perkiraan batas

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 usia perempuan belum mengalami menopause untuk menghindari terjadinya perubahan suasana hati, penurunan aktivitas seksual, dan gejalagejala lain pada perempuan yang telah atau sedang mengalami menopause (Brown, Gallicchio, Flaws, & Tracy, 2009; DeLamater & Friedrich, 2002; Spencer, Godsland, & Stevenson, 1997; Williams, Kalilani, DiBenedetti, Zhou, Fehnel, & Clark, 2007;). Subjek dalam penelitian ini ditentukan dengan mengunakan teknik convenience sample, yaitu pemilihan subjek berdasarkan kemudahan atau ketersediaan untuk mengakses (Supratiknya, 2015). E. Prosedur Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian payung yang dilakukan bersama rekan serta dosen yang memiliki ketertarikan yang sama. Sebelum penelitian dilaksanakan, peneliti terlebih dahulu meminta izin kepada pemilik skala untuk memakai dan mengadaptasi skala Female Genital Self-Image Scale (FGSIS) dan skala New Sexual Satisfaction Scale (NSSS). Peneliti mengirim surel kepada Debra Herbenick, Ph.D., MPH. selaku penanggung jawab skala FGSIS dan Dr. Alexandar Stulhofer selaku penanggung jawab skala NSSS dan memperoleh izin untuk memakai dan mengadaptasi skala. Selanjutnya peneliti melakukan serangkaian tahap adaptasi dengan panduan dari Guideline for The Cross-Cultural Adaptation Process (Beaton, Bombardier, Guillemin, & Ferraz, 2000).

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 Skala penelitian disebar pada perempuan yang telah berhubungan seksual dan bersedia mengisi skala. Peneliti membagikan skala penelitian yang dikemas dalam sebuah amplop. Skala penelitian memuat informed consent dan data demografi. Selain itu, terdapat pula surat pengantar penelitian yang disediakan di dalam amplop. Pembagian skala dilakukan melalui beberapa cara. Pertama, peneliti mengunggah skala penelitian ke dalam satu situs survey online di internet lalu menyebarluaskan melalui media sosial, seperti whatsapp dan line. Subjek dapat mengisi skala tersebut melalui komputer atau smartphone yang dimilikinya kapan saja dan di mana saja tanpa menyebutkan identitas diri sehingga data tetap bersifat rahasia. Kedua, tim peneliti menyebarkan skala secara personal kepada setiap orang. Selanjutnya, tim peneliti menjelaskan prosedur pengisian skala, seperti pengisian skala dapat dilakukan di rumah agar subjek merasa lebih nyaman dan santai, kemudian skala yang terisi dapat dimasukkan kembali ke dalam amplop dan diberikan kepada peneliti. Ketiga, peneliti memilih beberapa orang yang disebut dengan key person. Tim peneliti menitipkan skala kepada beberapa key person dan menjelaskan prosedur pengisian skala untuk diteruskan pada subjek di berbagai daerah. Salah satu key person merupakan orang tua peneliti yang bekerja di bidang medis. Setelah data dari skala dan survey online terkumpul, tim peneliti akan memeriksa kembali seluruh data yang telah diisi oleh subjek. Jika seluruh item dalam skala telah terisi dengan baik dan lengkap, maka tim

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 peneliti akan memberikan reward. Reward berupa pulsa sejumlah Rp20.000,- diberikan pada seluruh subjek yang memberikan jawaban dengan lengkap tanpa melewati satu nomor dan instruksi. F. Metode dan Alat Pengumpulan Data 1. Metode Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara menyebarkan skala penelitian kepada subjek. Skala adalah alat ukur psikologi yang digunakan untuk mengungkap data mengenai variabel psikologi (Azwar, 2017). 2. Alat Pengumpulan Data a. Female Genital Self-Image Scale (FGSIS) Penelitian ini mengadaptasi skala Female Genital SelfImage Scale 4 item (FGSIS-4) yang dikembangkan oleh Debra Herbenick, Vanessa Schick, Michael Reece, Stephanie Sanders, Brian Dodge, dan J. Dennis Fortenberry. Skala Female Genital Self-Image (FGSIS) pertama terdiri dari tujuh item yang memiliki validitas dan reliabilitas baik pada perempuan berusia 18-60 di Amerika Serikat (Herbenick & Reece, 2010). Penelitian selanjutnya oleh Herbenick dkk. (2011) dilakukan pada perempuan berusia 18-60 tahun di Amerika Serikat dengan jumlah subjek yang lebih besar. Hasil penelitian ini

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 menemukan skala FGSIS dalam versi lebih singkat, yaitu terdiri dari 4 item. Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa FGSIS 4item merupakan skala yang lebih baik dari versi 7 item, memiliki item yang lebih singkat, serta memiliki reliabilitas dan validitas baik. Skala FGSIS-4 merupakan skala Likert yang terdiri dari empat respon jawaban. Respon jawaban tersebut adalah Sangat Tidak Setuju (STS), Tidak Setuju (TS), Setuju (S), Sangat Setuju (SS). Respon netral ditiadakan untuk meminimalisir kecenderungan subjek memilih respon ditengah. Rentang skor pada skala FGSIS mulai dari 4-16, skor tinggi mengindikasikan citra diri genital yang positif. b. New Sexual Satisfaction Scale (NSSS) Penelitian ini mengadaptasi skala New Sexual Satisfaction Scale (NSSS) yang terdiri dari 20 item. Skala NSSS dikembangkan oleh Dr. Alexandar Stulhofer, Vesna Busko, dan Pamela Brouillard. Skala NSSS bertujuan untuk mengukur kepuasan seksual dengan dasar konsep yang jelas dan tidak dibatasi oleh kelas-kelas tertentu, seperti orientasi, gender, atau latar belakang budaya (Stulhofer dkk., 2010). NSSS terdiri dari dua sub-skala, yaitu ego-centered subscale yang mengukur kepuasan seksual dari pengalaman atau

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 sensasi seksual pribadi dan partner/ sexual activity centered subscale yang mengukur kepuasan seksual dari persepsi individu tentang perilaku dan reaksi seksual pasangan dan keragaman dan/atau frekuensi aktivitas seksual. Skala NSSS terdiri dari tiga aspek yang dikembangkan menjadi 5 dimensi kepuasan seksual, yaitu aspek individual yang terdiri dari dimensi sensasi seksual dan kesadaran seksual, aspek interpersonal yang terdiri dari dimensi pertukaran seksual dan kedekatan emosional, dan aspek behavioral yang terdiri dari aspek aktivitas seksual. Skala NSSS berjumlah 20 item dan merupakan skala Likert yang terdiri dari lima respon jawaban. Respon jawaban tersebut adalah Sama Sekali Tidak Puas, Sedikit Puas, Cukup Puas, Sangat Puas, Amat Sangat Puas. Rentang skor pada skala NSSS mulai dari 20-100, skor tinggi mengindikasikan adanya kepuasan seksual. G. Validitas dan Reliabilitas 1. Validitas Alat Ukur Validitas adalah ketepatan atau kecermatan suatu instrumen dalam mengukur apa yang ingin diukur (Priyatno, 2008). a. Female Genital Self-Image Scale (FGSIS) Pada penelitian sebelumnya, skala FGSIS telah diuji validitasnya dengan metode validitas konstruk. Validitas konstruk didasarkan pada penilaian terhadap kesesuaian antara konstruk

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 yang diukur dengan kinerja atau respon yang diberikan oleh subjek (Supratiknya, 2004). Skala FGSIS memiliki hubungan antar item yang baik. Hubungan antara satu item dan keseluruhan item total berkisar dari 0,55 hingga 0,77 (melebihi 0,30). Hasil perhitungan ini menunjukkan bahwa item-item pada skala FGSIS telah mewakili konsep yang akan diukur. Selain itu, skala FGSIS berhubungan positif signifikan dengan Female Sexual Function Scale pada ranah keterangsangan seksual, kepuasan seksual, dan kondisi tidak nyaman/ sakit tetapi tidak berhubungan signifikan dengan ranah hasrat seksual. Pada validasi skala FGSIS selanjutnya oleh Herbenick, Schick, Reece, Sanders, Dodge, dan Fortenberry (2011) dilakukan modifikasi item untuk meningkatkan ketepatan item dengan apa yang ingin diukur. Peneliti menemukan adanya dua item yang mengukur konstruk yang sama atau mengukur konstruk yang kurang sesuai. Selanjutnya, peneliti menggunakan panduan teori dan statistik untuk menghilangkan item 1, 5, dan 6. Hasil perhitungan statistika menemukan bahwa FGSIS-4 memiliki validitas skala yang baik. Perhitungan Root Mean Square Error of Approximation (RMSEA) memperoleh hasil 0,05 mengindikasikan adanya close fit, merupakan model yang baik. Hasil tersebut menunjukkan bahwa FGSIS-4 merupakan model skala yang lebih baik dibandingkan dengan FGSIS versi original. Selain itu, skala

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 FGSIS-4 berhubungan positif signifikan dengan pemeriksaan ginekologis, frekuensi masturbasi, penggunaan vibrator, dan keseluruhan domain pada Female Sexual Function Scale. b. New Sexual Satisfaction Scale (NSSS) Pada penelitian sebelumnya, skala NSSS telah diuji validitasnya dengan metode validitas konstruk (Stulhofer dkk., 2010). Validitas konstruk didasarkan pada penilaian terhadap kesesuaian antara konstruk yang diukur dengan kinerja atau respon yang diberikan oleh subjek (Supratiknya, 2004). Korelasi zeroorder dilakukan antara skor NSSS dan pengukuran konstruk yang berhubungan dengan kepuasan seksual. Skala NSSS terbukti berhubungan positif signifikan dengan pengukuran kepuasan hidup secara umum. Selanjutnya, NSSS berhubungan negatif dengan kebosanan seksual dan berhubungan positif dengan keintiman hubungan, komunikasi seksual dengan pasangan, dan status relasi. Hasil tersebut telah terbukti signifikan pada sampel pelajar lakilaki dan perempuan di Kroasia dan Amerika Serikat. Skala NSSS juga ditunjang dengan uji validitas konvergen yang menunjukkan asosiasi signifikan antara pengukuran kepuasan seksual secara umum dengan skor NSSS pada kedua sampel (r = 0.44 – 0.67).

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 Pada penelitian kali ini, skala FGSIS dan NSSS divalidasi dengan metode validitas isi. Validitas isi adalah kesesuaian isi skala dengan konstruk yang diukur oleh skala yang bersangkutan (Supratiknya, 2014). Kesesuaian isi dan konstruk skala pada penelitian ini dikaji dengan expert judgement yang dilakukan oleh dosen pembimbing. Sebelumnya, peneliti melakukan adaptasi skala menggunakan Guideline for the Cross-Cultural Adaptation Process (Beaton dkk., 2000). Proses penerjemahan dilakukan dalam empat tahap, yaitu: a. Tahap pertama adalah penerjemahan. Skala FGSIS dan NSSS diterjemahkan dari bahasa asli (bahasa Inggris) ke dalam bahasa Indonesia. Proses penerjemahan ini dilakukan oleh dua pihak, yaitu pihak yang memiliki pengetahuan tentang konten dalam skala yang diterjemahkan dan pihak yang tidak memiliki pengetahuan tentang konten skala yang diterjemahkan. b. Tahap kedua adalah sintesis. Hasil terjemahan skala dari kedua pihak (pada tahap pertama) disintesis atau disesuaikan oleh tim peneliti dan kedua pihak penerjemah untuk mendapatkan hasil yang lebih mewakili maksud dan tujuan dari pembuatan skala. Tujuan dari tahap ini adalah menyesuaikan dan memutuskan penggunaan bahasa yang tepat yang akan digunakan dalam skala Bahasa Indonesia.

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 c. Tahap ketiga adalah penerjemahan kembali (Back Translate). Penerjemahan kembali dilakukan oleh beberapa pihak, yaitu pihak yang fasih berbahasa inggris, pihak yang terlibat dalam tahap pertama dan kedua sekaligus sebagai pihak yang memiliki pengetahuan tentang skala yang diterjemahkan, dan tim peneliti. Tahap ini bertujuan untuk membandingkan dan mencocokkan kesesuaian hasil penerjemahan dengan bahasa pada skala asli. d. Tahap keempat adalah peninjauan dari pakar/ahli. Peninjauan skala dilakukan oleh seorang expert judgement yang memiliki pengetahuan tentang organ seksual. Pada penelitian ini peninjauan dilakukan oleh dosen pembimbing selaku ahli yang memahami bidang seksual. 2. Reliabilitas Alat Ukur Reliabilitas adalah konsistensi hasil pengukuran (Supratiknya, 2014). Reliabilitas digunakan untuk mengetahui apakah alat pengukur yang digunakan dapat diandalkan dan tetap konsisten jika pengukuran tersebut diulang (Priyatno, 2008). a. Female Genital Self-Image Scale (FGSIS) Pada penelitian sebelumnya oleh Herbenick dkk. (2011), reliabilitas skala FGSIS diukur dengan konsistensi internal (Cronbach’s alpha) dan tes ulang (test-retest reliability). Koefisien Cronbach’s alpha pada FGSIS original 7 item cukup tinggi, yaitu

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 0,91. Setelah dilakukan pengurangan item, koefisien Cronbach’s alpha turun menjadi 0,86. Hasil perhitungan Cronbach’s alpha mengkonfirmasi adanya pengurangan kelebihan diantara item-item. Selanjutnya, dilakukan pendekatan tes-ulang (test-retest) pada skala FGSIS-4 dan memperoleh hasil r = 0,78. Perubahan skor antara tes pertama dan kedua menunjukkan perbedaan yang minimal. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa FGSIS-4 merupakan skala yang memiliki reliabilitas baik. Uji reliabilitas skala pada penelitian ini juga diukur dengan konsistensi internal (Cronbach’s alpha). Berdasarkan analisis yang dibantu dengan program IBM SPSS Statistics 23, koefisien reliabilitas diperoleh sebesar 0,623. Hasil ini menunjukkan bahwa skala ini memiliki reliabilitas yang cukup baik. b. New Sexual Satisfaction Scale (NSSS) Pada penelitian sebelumnya oleh Stulhofer dkk. (2010), reliabilitas skala NSSS diukur dengan konsistensi internal (internal consistency) dan tes ulang (test-retest reliability). Koefisien Cronbach’s alpha pada seluruh skala NSSS cukup tinggi, yaitu 0,94 – 0,96. Sedangkan pada kedua sub-skala, yaitu 0,91 – 0,93 dan 0,90 – 0,94. Selanjutnya, hasil tes ulang (test-retest) stabil pada rentang 0,72 – 0,84. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa NSSS merupakan skala yang memiliki reliabilitas baik.

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 Uji reliabilitas skala pada penelitian ini juga diukur dengan konsistensi internal (Cronbach’s alpha). Berdasarkan analisis yang dibantu dengan program IBM SPSS Statistics 23, koefisien reliabilitas diperoleh sebesar 0,975. Hasil ini menunjukkan bahwa skala NSSS memiliki reliabilitas yang baik. H. Metode Analisis Data 1. Uji Asumsi a. Uji normalitas Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah populasi data berdistribusi normal atau tidak (Priyatno, 2008). Uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji One Sample Kolmogorov-Smirnov. Data akan dinyatakan berdistribusi normal jika signifikansi lebih besar dari 0,05 (Priyatno, 2008). b. Uji linearitas Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah dua variabel mempunyai hubungan yang linear atau tidak secara signifikan (Priyatno, 2008). Uji linearitas dilakukan dengan menggunakan test for linearity pada IBM SPSS Statistics 23. Dua variabel dikatakan memiliki hubungan yang linear bila signifikansi kurang dari 0,05 (Priyatno, 2008).

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 2. Uji Hipotesis Uji hipotesis adalah pengujian yang bertujuan untuk mengetahui apakah kesimpulan pada sampel dapat berlaku untuk populasi (dapat digeneralisasi) (Priyatno, 2008). Pengujian hipotesis pada penelitian ini menggunakan metode korelasi Pearson dengan menggunakan IBM SPSS Statistics 23. Metode korelasi Pearson digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel dan untuk mengetahui arah hubungan yang terjadi (Priyatno, 2008), yaitu citra diri genital dan kepuasan seksual. Nilai korelasi (r) berkisar antara 1 sampai -1, nilai semakin mendekati 1 atau -1 berarti hubungan antara dua variabel semakin dekat, sebaliknya nilai mendekati 0 berarti hubungan antara dua variabel semakin lemah (Priyatno, 2008). Nilai positif menunjukkan hubungan searah dan nilai negatif menunjukkan hubungan terbalik.

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian payung yang dilakukan bersama rekan dan dosen yang memiliki ketertarikan yang sama. Sebelum penelitian dilaksanakan, terdapat beberapa hal yang dipersiapkan oleh peneliti, seperti proses adaptasi skala dan proses penyebaran skala. Peneliti terlebih dahulu meminta izin kepada pemilik skala, Debra Herbenick, Ph.D., MPH. dan Dr. Alexandar Stulhofer untuk memakai dan mengadaptasi skala Female Genital Self-Image Scale dan New Sexual Saisfaction Scale. Setelah proses adaptasi selesai, peneliti memersiapkan skala untuk dilanjutkan ke dalam proses pengambilan data. Proses pengambilan data penelitian ini dilakukan dari akhir bulan Maret hingga bulan Mei 2018. Secara spesifik peneliti dan key person menyebarkan survey online dan skala dalam bentuk booklet kepada subjek secara personal (dibagikan satu per satu). Hal ini dilakukan karena topik penelitian tentang seksualitas dinilai cukup tabu dan tidak bisa dibicarakan dihadapan umum. Sebelum menyebarkan angket, peneliti dan rekan menyampaikan bahwa skala penelitian bersifat sensitif dan tidak ada paksaan kepada subjek apabila ingin berhenti di tengah pengisian skala. Selain itu, skala penelitian dapat 51

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 dibawa pulang dan dikembalikan setelah subjek selesai mengisi agar subjek merasa aman dan nyaman dalam mengisi data yang bersifat pribadi. Peneliti dan rekan menyebarkan skala di daerah Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Bali. Pengumpulan data di daerah Jawa mengalami kesulitan karena topik seksualitas yang dianggap tabu sehingga peneliti mencoba alternatif cara untuk menambah jumlah subjek di daerah Bali yang dianggap lebih terbuka dengan topik tersebut. Peneliti dan key person juga beberapa kali mengalami penolakan dari subjek, dengan menolak mentahmentah untuk mengisi skala, skala dikembalikan dalam kondisi kosong, skala dikembalikan tidak lengkap, bahkan skala tidak dikembalikan sama sekali. Hasil terbanyak diperoleh dari salah satu key person yang bekerja di bidang medis. Peneliti menduga, hal ini mungkin terjadi karena perempuan yang bekerja di bidang medis lebih mampu menerima topik penelitian tentang seksualitas sehubungan dengan pekerjaan mereka yang sedikit banyak menyangkut bidang tersebut. Akan tetapi, tidak semua perempuan yang bekerja di wilayah medis mau mengisi skala karena alasan tabu dan perbedaan jenis pekerjaan, seperti bidang administrasi dan koperasi yang tidak berhubungan langsung dengan tindakan medis. Total jumlah responden dalam penelitian ini adalah 111 subjek yang memiliki rentang usia dari 21 tahun hingga 40 tahun.

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 B. Deskripsi Subjek Penelitian Subjek pada penelitian ini adalah 111 subjek yang berjenis kelamin perempuan dan telah berhubungan seksual. Usia subjek dalam penelitian ini berkisar dari 21 sampai 40 tahun. Perhitungan data demografik subjek dilakukan untuk mengetahui persebaran data subjek penelitian. Berikut adalah rangkuman data subjek: Tabel 3 Deskripsi subjek penelitian berdasarkan usia Rentang Usia 21 – 25 tahun 26 – 30 tahun 31 – 35 tahun 36 – 40 tahun Tidak diketahui Total Jumlah 11 17 38 44 1 111 Persentase 10% 15,32% 34,23% 39,64% 0,9% 100% Berdasarkan tabel 4.1, subjek didominasi oleh usia 36 hingga 40 tahun dengan jumlah 44 orang dan persentase sebesar 39,64%. Jumlah subjek terbanyak kedua adalah subjek dengan usia 31 hingga 35 tahun dengan jumlah 38 orang dan persentase sebesar 34,23%. Selanjutnya diikuti oleh subjek dengan rentang usia 26 hingga 30 tahun dan 21 hingga 25 tahun masing-masing sebesar 15,32% dan 10%. Terdapat pula satu subjek yang tidak diketahui usianya karena subjek tidak mengisi informasi tentang usia dengan persentase sebesar 0,9%.

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 Tabel 4 Deskripsi subjek penelitian berdasarkan tingkat pendidikan Tingkat Pendidikan SMP SMA/SMK D1-D3 D4/S1 S2 Tidak diketahui Total Jumlah 2 24 43 39 2 1 111 Persentase 1,8% 21,62% 38,74% 35,13% 1,8% 0,9% 100% Berdasarkan tabel 4.2, jenjang pendidikan dengan subjek terbanyak adalah DI-D3 (38,74%), lalu D4/S1 (35,13%), dan SMA/SMK (21,62%). Sedangkan subjek pada jenjang pendidikan SMP dan S2 masing-masing memiliki persentase sebesar (1,8%). Selanjutnya, terdapat satu subjek yang tidak diketahui tingkat pendidikannya dengan persentase sebesar (0,9%). Tabel 5 Deskripsi subjek penelitian berdasarkan frekuensi berhubungan seksual Frekuensi Hub Seks 1x sebulan 2-3x sebulan 1x seminggu 2-3x seminggu 4-5x seminggu 5-6x seminggu Tidak diketahui Total Jumlah 4 14 19 66 4 2 2 111 Persentase 3,60% 12,61% 17,18% 59,46% 3,60% 1,8% 1,8% 100% Berdasarkan tabel 4.3, mayoritas subjek berhubungan seksual sebanyak 2-3x dalam seminggu dengan persentase sebesar (59,66%). Selanjutnya, terdapat 17,18% subjek yang berhubungan seksual sebanyak 1x seminggu dan 12,61% subjek yang berhubungan seksual sebanyak 2-3x

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 sebulan. Subjek yang berhubungan seksual sebanyak 1x sebulan dan 4-5x seminggu memiliki persentase yang sama, yaitu 3,60%. Selain itu, subjek yang berhubungan 5-6x seminggu dan subjek yang tidak diketahui data dirinya memiliki persentase yang sama, yaitu 1,8%. C. Deskripsi Data Penelitian Peneliti menyajikan data tingkat citra diri genital dan kepuasan seksual, yaitu mean, median, modus, dan standar deviasi yang ditinjau dari pengalaman perempuan yang telah berhubungan seksual. Hasil tingkat citra diri genital dan kepuasan seksual subjek dapat dilihat pada tabel: Tabel 6 Deskripsi data penelitian Citra diri genital Kepuasan seksual Mean Median Modus Standar deviasi 12,52 12 12 1,54 75,37 78 60 14,13 Tabel 4.4 menunjukkan bahwa seluruh subjek pernah berhubungan seksual memiliki rata-rata citra diri genital sebesar 12,52 dan kepuasan seksual sebesar 75,37. Peneliti kemudian mencoba membandingkan antara nilai rata-rata teoritis dan nilai rata-rata empiris dari seluruh respon data penelitian yang telah didapatkan. Hasil rata-rata tersebut ditunjukkan dalam tabel berikut:

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 Tabel 7 Deskripsi rata-rata data penelitian Pengukuran Citra diri genital Kepuasan seksual Teoritis Min Max Mean 4 16 10 Empiris Min Max Mean 8 16 12 SD Kategori 1,54 Tinggi 20 100 60 31 100 65,5 14,13 Skala citra diri genital terdiri dari 4 item dengan rentang skor 1 sampai 4. Oleh karena itu, diketahui bahwa skor terendah skala adalah 1 x 4 = 4 dan skor tertinggi adalah 4 x 4 = 16. Sedangkan skala kepuasan seksual terdiri dari 20 item dengan rentang skor 1 sampai 5. Selanjutnya, diketahui bahwa skor terendah adalah 1 x 20 = 20 dan skor tertinggi adalah 5 x 20 = 100. Dengan demikian, rentang skor citra diri genital dimulai dari 4 hingga 16 dan rentang skor kepuasan seksual dimulai dari 20 hingga 100. Mean teoritis diperoleh dari nilai terendah + nilai tertinggi dibagi 2, yaitu 4+16 2 = 10 untuk citra diri genital dan 20+100 2 = 60 untuk kepuasan seksual. Berdasarkan hasil tersebut, ditemukan bahwa nilai rerata empiris lebih besar daripada rerata teoritis (citra diri genital 12 > 10, kepuasan seksual 65,5 > 60). Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa subjek dalam penelitian ini memiliki citra diri genital dan kepuasan seksual yang tinggi.

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 Tabel 8 Uji one sample t-test citra diri genital dan kepuasan seksual TOTAL_GSI TOTAL_NSSS t 84.642 60.908 One-Sample Test Test Value = 10; 60 95% Confidence Interval of the Difference Sig. Mean df (2-tailed) Difference Lower Upper 110 .000 12.53153 12.2381 12.8249 110 .000 76.00901 73.5359 78.4821 Berdasarkan uji t, skala citra diri genital dan kepuasan seksual memeroleh skor masing-masing t(111) = 84,642 dan t(111) 60,908 (p = 0,000; p = 0,000). Melalui hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa rerata empiris memiliki perbedaan yang signifikan dengan rerata teoritis karena memiliki signifikansi < 0,05 atau p = 0,000. Tabel 9 Kategorisasi tingkat citra diri genital dan kepuasan seksual Variabel N Kategori Tinggi Ketentuan x ≥ 10* Jumlah (n) 108 Persentase 97,3% Citra diri genital 111 Rendah Tinggi x ≤ 10* x ≥ 60* 3 107 2,7% 96,4% Kepuasan seksual 111 Rendah *nilai persebaran data x ≤ 60* 4 3,6% Berdasarkan tabel 4.7 dapat dilihat bahwa persentase tingkat citra diri genital dan kepuasan seksual dihitung berdasarkan persebaran data kelompok. Hasil persentase sebesar 97,3% pada subjek penelitian menunjukkan hasil citra diri genital yang tinggi, sementara persentase 2,7% termasuk dalam kategori rendah. Sedangkan hasil persentase sebesar

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 96,4% menunjukkan hasil kepuasan seksual yang tinggi dan persentase 3,6% termasuk dalam kategori rendah. Hasil ini menunjukkan bahwa mayoritas subjek pada penelitian ini memiliki tingkat citra diri genital dan kepuasan seksual yang tergolong tinggi. D. Hasil Penelitian Semua data yang terkumpul dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan program IBM SPSS Statistics versi 23. Langkah pertama yang dilakukan peneliti adalah melakukan uji asumsi, selanjutnya peneliti melakukan uji hipotesis. 1. Uji Asumsi a. Uji normalitas Uji normalitas digunakan untuk melihat sebaran data terdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov Smirnov pada IBM SPSS Statistics versi 23. Data dikatakan terdistribusi normal jika p > 0,05. Data tersebut ditunjukkan dengan tabel berikut: Tabel 10 Uji normalitas citra diri genital dan kepuasan seksual Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Statistic df Sig. TOTAL_GSI .201 111 .000 TOTAL_NSSS .083 111 .059 a. Lilliefors Significance Correction

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa nilai signifikansi dari citra diri genital (GSI) sebesar 0,201 (p>0,05) dan kepuasan seksual (NSSS) sebesar 0,083 (p>0,05). Berdasarkan hasil tersebut. Dapat disimpulkan bahwa data penelitian terdistribusi normal. b. Uji linearitas Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah dua variabel mempunyai hubungan yang linear atau tidak. Uji linearitas menggunakan test for linearity pada IBM SPSS Statistics 23. Dua variabel dikatakan memiliki hubungan yang linear jika p < 0,05. Data tersebut ditunjukkan dengan tabel berikut: Tabel 11 Uji linearitas ANOVA Table Sum of Squares df TOTAL Between (Combined) 4324.769 8 _NSSS Groups Linearity 3339.978 1 * Deviation TOTAL from 984.791 7 _GSI Linearity Within Groups 14690.222 102 Total 19014.991 110 Mean Square 540.596 3339.978 140.684 F Sig. 3.754 .001 23.191 .000 .977 .452 144.022 Hasil uji linearitas menunjukkan hubungan antar variabel yang bersifat linear. Hal ini ditunjukkan oleh nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05).

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 2. Uji Hipotesis Penelitian ini menggunakan metode korelasi Pearson dengan bantuan program IBM SPSS Statistics versi 23. Metode korelasi Pearson digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel dan untuk mengetahui arah hubungan yang terjadi. Nilai korelasi (r) berkisar antara 1 sampai -1, nilai semakin mendekati 1 atau -1 berarti hubungan antara dua variabel semakin dekat, sebaliknya nilai mendekati 0 berarti hubungan antara dua variabel semakin lemah. Hasil uji korelasi Pearson dapat dilihat pada tabel berikut ini Tabel 12 Uji korelasi Pearson Correlations TOTAL_GSI TOTAL_NSSS TOTAL_GSI Pearson Correlation 1 .419** Sig. (2-tailed) .000 N 111 111 TOTAL_NSSS Pearson Correlation .419** 1 Sig. (2-tailed) .000 N 111 111 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan nilai korelasi (r) sebesar 0,419. Hasil tersebut menunjukkan adanya hubungan antara citra diri genital dan kepuasan seksual. Citra diri genital dan kepuasan seksual memiliki hubungan yang cukup kuat. E. Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang signifikan antara citra diri genital dan kepuasan seksual

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 pada perempuan. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data korelasi Pearson yang memeroleh nilai signifikansi (2-tailed) sebesar r = 0,419 dan p = 0,000 (p < 0,05). Hasil ini menunjukkan adanya hubungan yang positif dan signifikan antara citra diri genital dan kepuasan seksual pada perempuan yang telah berhubungan seksual. Oleh karena itu, hipotesis pada penelitian ini yang menyatakan ada hubungan antara citra diri genital dan kepuasan seksual diterima. Berdasarkan hasil mean empiris, tingkat citra diri genital dan kepuasan seksual pada subjek masing-masing sebesar 10 dan 60. Jika dibandingkan dengan mean teoritis, citra diri genital dan kepuasan seksual masing-masing sebesar 12 dan 65,5, maka nilai mean empiris lebih besar dari mean teoritis. Hal ini berarti tingkat citra diri genital dan kepuasan seksual pada subjek cenderung tinggi. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan kesesuaian antara teori dan fakta yang terjadi pada subjek penelitian. Hasil penelitian ini mendukung penelitian-penelitian lain yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara citra diri genital dan kepuasan seksual (Reinholtz & Muehlenhard, 1995; Schick dkk., 2010; Herbenick dkk., 2011). Pengetahuan dan pemahaman tentang hubungan citra diri genital dengan kepuasan seksual penting untuk diketahui. Hal tersebut didukung oleh hasil penelitian ini yang menemukan bahwa terdapat hubungan antara citra diri genital dan kepuasan seksual pada perempuan. Kondisi ini membuktikan bahwa tingkat citra diri genital dan kepuasan seksual

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 perempuan perlu dipahami lebih lanjut karena persepsi dan evaluasi perempuan terhadap genitalnya berhubungan dengan berbagai hal yang mengarah pada pencapaian kepuasan seksual. Pikiran yang tertuju pada genital secara terus-menerus, terutama tentang tampilan genital, dapat membuat perempuan terdistraksi dan tidak mampu meraih kepuasan seksual (Meana & Nunnik, 2006; Pujols dkk., 2010). Selaras dengan penelitian tersebut, rasa tidak puas terhadap tubuh (khususnya genital) mengarahkan perempuan pada perilaku operasi vagina dengan tujuan memeroleh kepuasan atau peningkatan dalam hal seksual (Goodman dkk, 2016). Kepuasan seksual merupakan respon afektif dari evaluasi seseorang tentang hubungan seksualnya, termasuk persepsi tentang pemenuhan kebutuhan seksual, pemenuhan ekspektasi diri dan pasangan, dan evaluasi positif dari keseluruhan hubungan seksual (Offman & Mattheson, 2005). Sedangkan citra diri genital merupakan perasaan dan kepercayaan perempuan terkait genital yang memengaruhi pengalaman seksualnya (Herbenick dkk., 2011). Perempuan dengan citra diri genital positif akan merasa puas dengan tampilan genitalnya, hal ini berhubungan positif dengan rasa nyaman dan puas pula dengan pengalaman seksualnya dan berhubungan negatif dengan kegelisahan seksual dan rasa tidak puas terhadap tubuh (Morrison dkk., 2005). Sebaliknya, persepsi negatif terhadap genital berhubungan dengan meningkatnya rasa tidak puas

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 terhadap tubuh, berkurangnya kepercayaan diri seksual, dan penurunan kepuasan seksual (Schick dkk., 2010). Hasil penelitian ini menunjukkan persentase tingkat kepuasan seksual subjek penelitian sebesar 96,4%. Hasil tersebut menunjukkan hampir seluruh subjek penelitian memiliki tingkat kepuasan seksual yang baik. Hasil tersebut kurang sesuai dengan penelitian Lauman dkk. (2006) yang menjadi latar belakang peneliti memilih kesuasan seksual sebagai salah satu variabel penelitian. Hal ini mungkin terjadi karena data yang dimiliki oleh peneliti kurang mewakili perempuan Indonesia. Selain itu, perbedaan daerah dan budaya juga dapat memengaruhi hasil penelitian. Bila dilihat dari hasil r2, citra diri genital memberikan sumbangan sebesar 17,5% bagi kepuasan seksual. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian yang menemukan bahwa terdapat hubungan antara citra diri genital dan kepuasan seksual meskipun dalam taraf sedang atau cukup. Pengaruh citra diri genital bagi kepuasan seksual yang tergolong sedang dapat terjadi karena masih banyak faktor-faktor lain yang memengaruhi kepuasan seksual, seperti yang dijabarkan oleh Sanchez-Fuentes dkk. (2014). Citra diri genital merupakan persepsi terhadap genital yang terfokus pada salah satu bagian tubuh saja, yaitu genital. Sementara itu, tubuh terdiri dari berbagai bagian yang salah satunya atau secara keseluruhan dapat menjadi objek penilaian. Bagian-bagian tubuh lainnya, seperti paras wajah, bentuk dan ukuran badan juga dianggap berpengaruh

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 terhadap penampilan seksual seseorang (Wiederman, 2000; Penhollow & Young, 2008; Goodman dkk., 2011; McClintock, 2011). Media juga menjadi faktor utama yang mengembangkan penilaian dan rasa malu terhadap tubuh dan berakibat pada rendahnya tingkat kepuasan seksual seseorang (Calogero & Thompson, 2009). Oleh karena itu, kepuasan seksual tidak hanya dipengaruhi oleh genital, namun terdapat faktor lain yang memengaruhi dari komponen non-seksual maupun seksual. Kesimpulannya, penelitian ini menemukan adanya hubungan antara citra diri genital dan kepuasan seksual. Penelitian ini mampu menambah informasi tentang citra diri genital yang sejauh pencarian peneliti masih sangat jarang dibahas di Indonesia. Selain itu, pembahasan mengenai seksualitas juga masih dianggap tabu sehingga informasi tentang kepuasan seksual di Indonesia perlu untuk dipahami karena kepuasan seksual memiliki berbagai pengaruh bagi kesejahteraan hidup manusia. F. Keterbatasan Penelitian Peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna, tidak lepas dari kekurangan dan keterbatasan. Terdapat beberapa keterbatasan dalam penelitian ini, yaitu: 1. Topik penelitian tentang seksualitas, yaitu genital dan kepuasan seksual, masih dinggap tabu dan sangat sensitif sehingga beberapa perempuan yang diminta untuk mengisi skala menolak mentahmentah.

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 2. Terdapat kemungkinan faking pada subjek yang bersedia mengisi skala penelitian agar tidak dinilai buruk atau terlalu antusias dengan topik yang tabu. 3. Penelitian ini hanya mengukur citra diri genital dan kaitannya dengan kepuasan seksual saja. Pada penelitian selanjutnya diharapkan dapat diteliti juga beberapa variabel lain yang berhubungan dengan citra diri genital. 4. Peneliti telah berusaha untuk memberikan penjelasan pada bagian pendahuluan skala kepuasan seksual dan menyediakan nomor telepon yang bisa dihubungi oleh responden bila mengalami kesulitan dalam mengisi skala. Namun, peneliti tidak melakukan uji coba pemahaman tentang aitem skala sehingga terdapat kemungkinan responden tidak memahami beberapa aitem pada skala kepuasan seksual. Pada penelitian selanjutnya diharapkan dapat melakukan uji coba pemahaman aitem sebelum dilakukan pengambilan data penelitian.

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara citra diri genital dan kepuasan seksual pada perempuan dengan nilai signifikansi sebesar 0,419 (p < 0,05). Nilai mean empiris citra diri genital dan kepuasan seksual masing-masing sebesar 10 dan 60. Sementara itu, nilai mean teoritis citra diri genital dan kepuasan seksual masing-masing sebesar 4 dan 20. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa tingkat citra diri genital dan kepuasan seksual perempuan pada penelitian ini tergolong tinggi. B. Saran 1. Bagi Subjek Penelitian Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara citra diri genital dan kepuasan seksual pada perempuan. Oleh karena itu, perempuan diharapkan dapat mengetahui bahwa tampilan fisik, terutama genital, dapat memengaruhi persepsi dan berpengaruh pula pada pencapaian kepuasan seksual. Perempuan juga diharapkan lebih terbuka dengan topik mengenai genital dan seksualitas agar memeroleh informasi yang tepat, sehingga tidak memandang genital buruk dan dapat mencapai kepuasan seksual. 66

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 2. Bagi Praktisi Memberikan informasi ilmiah bahwa citra diri genital dapat memengaruhi persepsi perempuan dan berhubungan dengan pencapaian kepuasan seksual. Oleh karena itu, peningkatan komponen non-seksual juga penting bagi kepuasan seksual seseorang. 3. Bagi Penelitian Selanjutnya Penelitian ini membuktikan bahwa ada hubungan antara citra diri genital dan kepuasan seksual pada perempuan. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti faktor-faktor lain dari komponen nonseksual yang dapat menambah wawasan mengenai kepuasan seksual. Peneliti selanjutnya juga dapat meneliti citra diri genital dalam kaitannya dengan faktor-faktor yang memengaruhi, seperti budaya dan media.

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Ålgars, M., Santtila, P., Jern, P., Johansson, A., Westerlund, M., & Sandnabba, N. K. (2011). Sexual body image and its correlates: A population-based study of Finnish women and men. International Journal of Sexual Health, 23(1), 26-34. Amos, N., & McCabe, M. (2016). Positive perceptions of genital appearance and feeling sexually attractive: Is it a matter of sexual esteem?. Archives of Sexual Behavior, 45(5), 1249-1258. Ashdown, B. K., Hackathorn, J., & Clark, E. M. (2011). In and out of the bedroom: Sexual satisfaction in the marital relationship. Journal of Integrated Social Sciences, 2(1), 40-57. Azwar, Saifuddin. (2017). Metode penelitian psikologi edisi ii. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Barrientos, J. E., & Páez, D. (2006). Psychosocial variables of sexual satisfaction in Chile. Journal of sex & marital therapy, 32(5), 351-368. Beaton, D. E., Bombardier, C., Guillemin, F., & Ferraz, M. B. (2000). Guidelines for the process of cross-cultural adaptation of self-report measures. Spine, 25(24), 3186-3191. Berman, L. A., Berman, J., Miles, M., Pollets, D., & Powell, J. A. (2003). Genital self-image as a component of sexual health: Relationship between genital self-image, female sexual function, and quality of life measures. Journal of Sex & Marital Therapy, 29(sup1), 11-21. 68

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 Braun, V. (2005). In search of (better) sexual pleasure: Female genital ‘cosmetic’ surgery. Sexualities, 8(4), 407-424. Braun, V., & Wilkinson, S. (2001). Socio-cultural representations of the vagina. Journal of Reproductive and Infant Psychology, 19:1, 17-32. Bronfenbrenner, U. (1994). Ecological models of human development. International encyclopedia of education, 3(2), 37-43. Brown, J. K., Creswell, D., & Ryan, R. M. (2015). Handbook of Mindfulness: Theory, Research, and Practice. New York: The Guilford Press. Brown, J. P., Gallicchio, L., Flaws, J. A., & Tracy, J. K. (2009). Relations among menopausal symptoms, sleep disturbance and depressive symptoms in midlife. Maturitas, 62(2), 184-189. Burger, J. M. (2011). Introduction to Personality, Eight Edition, International Edition. Canada: Wadsworth, Cengange Learning. Byers, E. S. (1999). The interpersonal exchange model of sexual satisfaction: implications for sex therapy with couples. Canadian Journal of Counselling, 33(2), 95-111. Byers, E. S. (2005). Relationship satisfaction and sexual satisfaction: a longitudinal study of individuals in long‐term relationships. Journal of sex research, 42(2), 113-118. Calogero, R. M., & Thompson, J. K. (2009). Potential implications of the objectification of women's bodies for women's sexual satisfaction. Body Image, 6(2), 145-148.

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 Daniluk, J. C. (1993). The meaning and experience of female sexuality a phenomenological analysis. Psychology of Women Quarterly, 17(1), 5369. DeLamater, J., & Friedrich, W. N. (2002). Human sexual development. Journal of sex research, 39(1), 10-14. DeLamater, J. D., & Sill, M. (2005). Sexual desire in later life. Journal of sex research, 42(2), 138-149. DeMaria, A. L., Hollub, A. V., & Herbenick, D. (2012). The Female Genital Self‐Image Scale (FGSIS): Validation among a sample of female college students. The journal of sexual medicine, 9(3), 708-718. Dove, N. L., & Wiederman, M. W. (2000). Cognitive distraction and women's sexual functioning. Journal of Sex &Marital Therapy, 26(1), 67-78. Dundon, C. M., & Rellini, A. H. (2010). More than sexual function: Predictors of sexual satisfaction in a sample of women age 40–70. The journal of sexual medicine, 7(2), 896-904. Fahs, B. (2014). Genital panics: Constructing the vagina in women's qualitative narratives about pubic hair, menstrual sex, and vaginal self-image. Body Image, 11(3), 210-218. Fudge, M. C., & Byers, E. S. (2017). “I have a nice gross vagina”: Understanding young women’s genital self-perceptions. The Journal of Sex Research, 54(3), 351-361. Goodman, M., Fashler, S., Miklos, J. R., Moore, R. D., & Brotto, L. A. (2011). The sexual, psychological, and body image health of women undergoing

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 elective vulvovaginal plastic/cosmetic procedures: A pilot study. The American Journal of Cosmetic Surgery, 28(4), 219-226. Goodman, M. P., Placik, O. J., Matlock, D. L., Simopoulos, A. F., Dalton, T. A., Veale, D., & Hardwick-Smith, S. (2016). Evaluation of body image and sexual satisfaction in women undergoing female genital plastic/cosmetic surgery. Aesthetic surgery journal, 36(9), 1048-1057. Haavio-Mannila, E., & Kontula, O. (1997). Correlates of increased sexual satisfaction. Archives of sexual behavior, 26(4), 399-419. Herbenick, D., & Reece, M. (2010). Outcomes assessment: Development and validation of the female genital self-image scale. The Journal of Sexual Medicine, 7(5), 1822-1830. Herbenick, D., Schick, V., Reece, M., Sanders, S., Dodge, B., & Fortenberry, J. D. (2011). The Female Genital Self‐Image Scale (FGSIS): Results from a nationally representative probability sample of women in the United States. The Journal of Sexual Medicine, 8(1), 158-166. Holt, A., & Lyness, K. P. (2007). Body image and sexual satisfaction: Implications for couple therapy. Journal of Couple & Relationship Therapy, 6(3), 45-68. Hull, T., Hilber, A. M., Chersich, M. F., Bagnol, B., Prohmmo, A., Smit, J. A., Widyantoro, N.....Temmerman, M., on behalf of the WHO GSVP Study Group. (2011). Prevalence, motivations, and adverse effects of vaginal practices in Africa and Asia: findings from a multicountry household survey. Journal of Women's Health, 20(7), 1097-1109.

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 Hurlbert, D. F., Apt, C., & Rabehl, S. M. (1993). Key variables to understanding female sexual satisfaction: An examination of women in nondistressed marriages. Journal of sex & marital therapy, 19(2), 154-165. Koning, M., Zeijlmans, I. A., Bouman, T. K., & van der Lei, B. (2009). Female attitudes regarding labia minora appearance and reduction with consideration of media influence. Aesthetic Surgery Journal, 29(1), 65-71. Laan, E., Martoredjo, D. K., Hesselink, S., Snijders, N., & van Lunsen, R. H. (2017). Young women’s genital self-image and effects of exposure to pictures of natural vulvas. Journal of psychosomatic obstetrics & gynecology, 38(4), 249-255. Laumann, E. O., Paik, A., Glasser, D. B., Kang, J. H., Wang, T., Levinson, B.....Gingell, C. (2006). A cross-national study of subjective sexual wellbeing among older women and men: findings from the Global Study of Sexual Attitudes and Behaviors. Archives of sexual behavior, 35(2), 143159. Lawrance, K. A., & Byers, E. S. (1995). Sexual satisfaction in long‐term heterosexual relationships: The interpersonal exchange model of sexual satisfaction. Personal Relationships, 2(4), 267-285. Lloyd, J., Crouch, N. S., Minto, C. L., Liao, L. M., & Creighton, S. M. (2005). Female genital appearance:‘normality’unfolds. BJOG: An International Journal of Obstetrics & Gynaecology, 112(5), 643-646.

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 McClintock, E. A. (2011). Handsome wants as handsome does: Physical attractiveness and gender differences in revealed sexual preferences. Biodemography and Social Biology, 57(2), 221-257. Meana, M., & Nunnink, S. E. (2006). Gender differences in the content of cognitive distraction during sex. Journal of Sex Research, 43(1), 59-67. Morrison, T. G., Bearden, A., Ellis, S. R., & Harriman, R. (2005). Correlates of genital perceptions among Canadian post-secondary students. Electronic Journal of Human Sexuality, 8, 1-22. Offman, A., & Matheson, K. (2005). Sexual compatibility and sexual functioning in intimate relationships. Canadian Journal of Human Sexuality, 14(1/2), 31. Pakpour, A. H., Zeidi, I. M., Ziaeiha, M., & Burri, A. (2014). Cross-cultural adaptation of the Female Genital Self-Image Scale (FGSIS) in Iranian female college students. The Journal of Sex Research, 51(6), 646-653. Penhollow, T. M., & Young, M. (2008). Predictors of sexual satisfaction: the role of body image and fitness. Electronic Journal of Human Sexuality, 11. Priyatno, Duwi. (2008). Mandiri belajar SPSS (Statistical Product and Service Solution) untuk analisis data dan uji statistik. Yogyakarta: Mediakom. Pujols, Y., Meston, C. M., & Seal, B. N. (2010). The association between sexual satisfaction and body image in women. The journal of sexual medicine, 7(2), 905-916. Puspitaningrum, D., Suryoputro, A., & Widagdo, L. (2012). Praktik perawatan organ genitalia eksternal pada anak usia 10-11 tahun yang mengalami

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 menarche dini di Sekolah Dasar Kota Semarang. The Indonesian Journal of Health Promotion (Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia), 7(2), 126135. Reddishaine. (2019). Diakses pada tanggal 19 Januari 2019. https://twitter.com/reddishaine/status/1086511754765512704?s=19 Reinholtz, R. K., & Muehlenhard, C. L. (1995). Genital perceptions and sexual activity in a college population. Journal of Sex Research, 32(2), 155-165. Sánchez-Fuentes, M. D. M., Santos-Iglesias, P., & Sierra, J. C. (2014). A systematic review of sexual satisfaction. International Journal of Clinical and Health Psychology, 14(1). Schick, V. R., Calabrese, S. K., Rima, B. N., & Zucker, A. N. (2010). Genital appearance dissatisfaction: Implications for women's genital image selfconsciousness, sexual esteem, sexual satisfaction, and sexual risk. Psychology of Women Quarterly, 34(3), 394-404. Scorgie, F., Kunene, B., Smit, J. A., Manzini, N., Chersich, M. F., & Preston‐Whyte, E. M. (2009). In search of sexual pleasure and fidelity: vaginal practices in KwaZulu‐Natal, South Africa. Culture, health & sexuality, 11(3), 267-283 Shaw, D., Lefebvre, G., Bouchard, C., Shapiro, J., Blake, J., Allen, L., & Cassell, K. (2013). Female genital cosmetic surgery. Journal of Obstetrics and Gynaecology Canada, 35(12), 1108-1112. Simeon, N. P. B. (2018). Pemaknaan khalayak terhadap konstruksi vagina dalam iklan produk feminine hygiene resik v. Interaksi Online, 21(1).

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 Smith, N. K., Butler, S., Wagner, B., Collazo, E., Caltabiano, L., & Herbenick, D. (2017). Genital self-image and considerations of elective genital surgery. Journal of sex & marital therapy, 43(2), 169-184. Spencer, C. P., Godsland, I. F., & Stevenson, J. C. (1997). Is there a menopausal metabolic syndrome?. Gynecological Endocrinology, 11(5), 341-355. Štulhofer, A., Buško, V., & Brouillard, P. (2010). Development and bicultural validation of the new sexual satisfaction scale. Journal of sex research, 47(4), 257-268. Suparno, Paul. (2011). Pengantar statistika untuk pendidikan dan psikologi. Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma. Supratiknya, Augustinus. (2014). Pengukuran psikologis. Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma. Supratiknya, Augustinus. (2015). Metodologi penelitian kuantitatif dan kualitatif dalam psikologi. Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma. Waltner, Richard. (1986). Genital identity: A core component of sexual and selfidentity. The Journal of Sex Research, 222:3, 399-402. Wiederman, M. W. (2000). Women's body image self‐consciousness during physical intimacy with a partner. Journal of sex research, 37(1), 60-68. Williams, R. E., Kalilani, L., DiBenedetti, D. B., Zhou, X., Fehnel, S. E., & Clark, R. V. (2007). Healthcare seeking and treatment for menopausal symptoms in the United States. Maturitas, 58(4), 348-358. Wiratmo, L. B., & Gifari, M. (2008). Representasi Perempuan dalam Majalah Wanita. Yin Yang, 3(1), 101-109.

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 Woertman, L., & Van den Brink, F. (2012). Body image and female sexual functioning and behavior: a review. Journal of Sex Research, 49(2-3), 184211. Yulevitch, A., Czamanski‐Cohen, J., Segal, D., Ben‐Zion, I., & Kushnir, T. (2013). The Vagina Dialogues: Genital Self‐Image and Communication with Physicians About Sexual Dysfunction and Dissatisfaction Among Jewish Patients in a Women's Health Clinic in Southern Israel. The Journal of Sexual Medicine, 10(12), 3059-3068. Zielinski, R. E., Kane-Low, L., Miller, J. M., & Sampselle, C. (2012). Validity and reliability of a scale to measure genital body image. Journal of Sex & Marital Therapy, 38(4), 309-324.

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 Lampiran 1 Uji Reliabilitas GSI NSSS Reliability Statistics Cronbach's Alpha .623 .975 N of Items 4 20 Lampiran 2 One Sample T-test TOTAL_GSI TOTAL_NSSS t 84.642 60.908 One-Sample Test Test Value = 10; 60 95% Confidence Interval of the Difference Sig. Mean df (2-tailed) Difference Lower Upper 110 .000 12.53153 12.2381 12.8249 110 .000 76.00901 73.5359 78.4821 Lampiran 3 Uji Normalitas Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df TotalGSI .201 111 .000 .917 111 TotalNSSS .083 111 .059 .967 111 a. Lilliefors Significance Correction Sig. .000 .000

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 Lampiran 4 Uji Linearitas ANOVA Table Sum of Squares TotalGSI * TotalNSSS Between Groups Mean Square df (Combined) 4324.769 8 Linearity Deviation from Linearity 3339.978 1 984.791 7 140.684 14690.222 19014.991 102 110 144.022 Within Groups Total Lampiran 5 Uji Korelasi Pearson Correlations TotalGSI TotalNSSS Pearson Correlation 1 .419** Sig. (2-tailed) .000 N 111 111 TotalNSSS Pearson Correlation .419** 1 Sig. (2-tailed) .000 N 111 111 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). TotalGSI 540.596 F Sig. 3.754 .001 3339.978 23.191 .000 .977 .452

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 Lampiran 6 Skala Citra Diri Genital Perasaan Terhadap Alat Kelamin Bagian ini menanyakan tentang perasaan Anda mengenai alat kelamin Anda (vulva dan vagina). Sebelum menjawab, mohon perhatikan beberapa hal berikut: Vulva adalah organ eksternal alat kelamin wanita (bagian yang bisa Anda lihat dari luar seperti klitoris dan bibir vagina). Vagina adalah bagian dalam, juga kadang disebut dengan “jalan lahir” (vagina juga merupakan bagian dimana penis bisa masuk atau dimana pembalut bisa dimasukkan). STS TS : Sangat Tidak Setuju : Tidak Setuju S SS : Setuju : Sangat Setuju Berilah tanda silang (X) pada salah satu angka yang mewakili jawaban Anda. No Pernyataan 1. Saya puas dengan wujud atau tampilan alat kelamin saya. 2. Saya tidak keberatan pasangan saya melihat alat kelamin saya. 3. Menurut saya alat kelamin saya berbau wajar. 4. Saya tidak malu dengan alat kelamin saya. 1 STS 2 TS 3 S 4 SS

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 Lampiran 7 Skala Kepuasan Seksual Kepuasan Seksual Bagian ini menanyakan tentang reaksi dan perasaan seksual Anda. Sebelum menjawab, mohon perhatikan beberapa hal berikut: Kontak seksual merupakan segala bentuk tindakan yang berkaitan dengan sentuhan seksual Aktivitas seksual merupakan segala bentuk sikap dan tindakan yang berkaitan dengan interaksi seksual Sanggama/ hubungan seks merupakan kegiatan seksual yang dilakukan oleh pria dan wanita dengan memasukkan alat kelamin pria ke dalam alat kelamin wanita Berilah tanda silang (X) pada salah satu angka yang mewakili jawaban Anda. No Pernyataan 1. Dalamnya rasa terangsang yang saya rasakan Kualitas orgasme yang saya alami Rasa lepas dan pasrah pada kenikmatan seksual yang saya alami Terpusatnya perhatian saya selama aktivitas seksual Respon seksual saya pada pasangan Keseimbangan antara apa yang saya berikan dan saya peroleh dalam aktivitas seksual 2. 3. 4. 5. 6. 1 Sama sekali tidak puas 2 Sedikit puas 3 Cukup puas 4 Sangat puas 5 Amat sangat puas

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. Keterbukaan/kejujuran pasangan saya selama aktivitas seksual Sikap dan tindakan pasangan saya saat memulai aktivitas seksual Kemampuan pasangan saya untuk mencapai orgasme Rasa lepas dan pasrah pada kenikmatan seksual yang dialami pasangan saya Cara pasangan saya memperhatikan dan menanggapi kebutuhan seksual saya Kreativitas seksual pasangan saya Kesediaan pasangan saya untuk berhubungan seksual Variasi aktivitas seksual Kemampuan saya untuk bergairah, terangsang, dan menikmati seks Keterbukaan/kejujuran perasaan saya selama aktivitas seksual Suasana hati saya setelah aktivitas seksual Frekuensi aktivitas seksual Frekuensi saya mengalami orgasme Kenikmatan yang saya berikan pada pasangan

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 Lampiran 8 Identitas Subjek Informasi Diri 1. Usia : 2. Jenis kelamin : Wanita Terlahir sebagai pria, tetapi saat ini menjadi wanita karena operasi medis 3. Selama ini Anda merasa tertarik secara romantis dan seksual dengan: Pria Wanita Pria dan wanita 4. Tinggi badan : 5. Berat badan : 6. Agama/ kepercayaan : 7. Suku : 8. Kota/ Kabupaten tempat tinggal : 9. Pendidikan saat ini/ pendidikan terakhir jika Anda tidak sedang studi: SD S1/D4 SMP S2 SMA/SMK S3 D1-D3 10. Status pekawinan : Menikah Belum/ tidak menikah (silakan menjawab pertanyaan di bawah sesuai dengan status perkawinan Anda saat ini)

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 Menikah a. Sudah berapa lama Anda menikah? (sebutkan tahun dan bulan) ………………………………………………………………… b. Seberapa sering Anda berhubungan seksual? Tidak pernah/ sangat jarang 1x (sekali) dalam sebulan 2-3x dalam sebulan 1x (sekali) dalam seminggu 2-3x dalam seminggu 5-6x dalam seminggu 1x (sekali) dalam sehari atau lebih c. Alat kontrasepsi apa yang Anda gunakan? Pil KB Suntik IUD (Spiral) Susuk Tubektomi/ vasektomi Diafragma KB alami/ Kalender Kondom Lainnya ............................................................................ d. Dalam 6 (enam) bulan ini, apakah Anda berhubungan seksual dengan lebih dari 1 (satu) orang? YA TIDAK e. Apakah suami Anda disunat? YA TIDAK f. Apakah Anda sudah pernah melahirkan? Belum pernah melahirkan Pernah melahirkan …… kali. Normal……. kali Cecar……… kali

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 Belum / tidak menikah a. Apakah Anda berhubungan seksual? YA TIDAK (Jika Anda menjawab YA, silakan lanjutkan ke pertanyaan di bawah ini. Jika Anda menjawab TIDAK, silakan lanjut ke halaman selanjutnya) b. Seberapa sering Anda berhubungan seksual? Tidak pernah/ sangat jarang 1x (sekali) dalam sebulan 2-3x dalam sebulan 1x (sekali) dalam seminggu 2-3x dalam seminggu 5-6x dalam seminggu 1x (sekali) dalam sehari atau lebih c. Dalam 6 (enam) bulan ini, apakah Anda berhubungan seksual dengan lebih dari 1 (satu) orang? YA TIDAK d. Apakah pasangan seksual Anda disunat? YA TIDAK

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 Lampiran 9 Informed Consent Pernyataan Kesediaan Dengan ini, saya menyatakan secara sukarela dalam mengisi skala penelitian tanpa ada paksaan agar penelitian dapat terlaksana sebagaimana mestinya. Saya menjawab pertanyaan ini sesuai dengan kondisi saya saat ini dan bukan berdasarkan jawaban masyarakat pada umumnya. Saya mengijinkan jawaban yang saya berikan digunakan sebagai data dalam penelitian ini. YA, saya dengan sadar setuju dan bersedia TIDAK, saya tidak bersedia

(105)

Dokumen baru

Download (104 Halaman)
Gratis

Tags