Analisis hasil persilangan Trihibrid (albino, snow, dan eclipse) pada Leopard Gecko (Eublepharis macularius) - USD Repository

Gratis

0
1
115
3 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ANALISIS HASIL PERSILANGAN TRIHIBRID (ALBINO, SNOW, DAN ECLIPSE) PADA LEOPARD GECKO (Eublepharis macularius) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Biologi Oleh : Avanda Frido Gyonada NIM : 131434025 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ANALISIS HASIL PERSILANGAN TRIHIBRID (ALBINO, SNOW, DAN ECLIPSE) PADA LEOPARD GECKO (Eublepharis macularius) SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Biologi Oleh : Avanda Frido Gyonada NIM : 131434025 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 i

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Filipi 4 : 13 He has made everything beautiful in it’s time. (Ecclesiastes 3 : 11) Karyaku ini kupersembahkan untuk: Tuhan Yesus Kristus yang selalu menyertai perjalanan hidupku Kedua orang tuaku tercinta, Yason Sugiharto dan Nini Trikarni Keluarga dan saudaraku Sahabat-sahabatku yang selalu memberikan dukungan dan doa Almamaterku Universitas Sanata Dharma Keluarga Besar Pendidikan Biologi 2013 iv

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ANALISIS HASIL PERSILANGAN TRIHIBRID (ALBINO, SNOW, DAN ECLIPSE) PADA LEOPARD GECKO (Eublepharis macularius) Avanda Frido Gyonada 131434025 Universitas Sanata Dharma ABSTRAK Leopard gecko (Eublepharis macularius) adalah jenis tokek yang hidup di permukaan tanah dan aktif pada fajar dan senja hari. Saat ini leopard gecko memiliki enam fenotip resesif, yaitu albino tremper, albino rainwater, albino bell, eclipse, patternless, dan blizzard, serta satu fenotip kodominan yaitu snow. Keenam fenotip resesif dan satu fenotip kodominan ini dapat diturunkan menjadi berbagai jenis corak dan warna pada leopard gecko. Proses pengembangbiakkan yang mudah merupakan alasan utama hewan ini menjadi komoditas budidaya. Untuk menghasilkan leopard gecko dengan harga yang lebih tinggi di pasaran dapat dilakukan dengan menyilangkan leopard gecko dengan fenotip yang berbeda untuk mendapatkan individu leopard gecko yang memiliki beberapa sifat beda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil persilangan trihibrid antara strain albino, snow dan eclipse serta mengetahui rasio fenotip yang muncul pada filial. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kualitatif dengan model rancangan eksperimental. Penelitian dilakukan dengan menyilangkan 4 ekor indukan leopard gecko (1 ekor jantan dan 3 ekor betina) yang memiliki 3 sifat pembeda (albino, snow dan eclipse). Penelitian dilakukan selama kurang lebih 6 bulan. Data yang diperoleh merupakan diagram hasil persilangan dan dianalisis secara deskriptif. Hasil persilangan yang didapatkan yaitu 25 ekor filial dan terdapat 13 ekor filial yang memiliki fenotip sama dengan parental serta 12 ekor filial yang memiliki fenotip berbeda dengan parental. Pada persilangan ini muncul 2 ekor leopard gecko dengan kombinasi ketiga gen yang seluruhnya bersifat resesif yaitu albino, snow (homozigot resesif) dan eclipse. Kata kunci : Leopard Gecko (Eublepharis macularius), trihibrid, resesif vii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI AN ANALYSIS OF TRIHYBRID RESULTS (ALBINO, SNOW, AND ECLIPSE) ON LEOPARD GECKO (Eublepharis macularius) Avanda Frido Gyonada 131434025 Sanata Dharma University ABSTRACT Leopard gecko (Eublepharis macularius) is a type of gecko that lives on the ground and active at dawn and dusk. Currently leopard gecko has six recessive fenotypes, namely albino tremper, albino rainwater, albino bell, eclipse, patternless, and blizzard, and one codominant fenotype, snow. The six recessive fenotypes and one codominant fenotype, various types of hues and colors were derived from leopard gecko. An easy breeding process is the main reason for this animal to be a cultivation commodity. To produce a leopard gecko with a higher price, the breeders usually crossing leopard geckos with different fenotypes to get offspring leopard gecko which have several different properties. This study aims to determine the results of trihybrid crosses between albino, snow and eclipse strains and find out the phenotypic ratio that appears in the filial. The type of research conducted was qualitative research with experimental design models. The study was carried out by crossing 4 leopard gecko sires (1 male and 3 females) which had 3 distinguishing features (albino, snow and eclipses). The study was conducted for approximately 6 months. The data obtained is a crossing diagram results and analyzed descriptively. The results of the crossing there were a total of 25 filials and 13 filials which had the same phenotype as parental and 12 filials which had a different phenotype from parental. In this cross, 2 leopard gecko appeared with a combination of all three genes which are all recessive, namely albino, snow (homozygot recessive) and eclipse. Keywords: Leopard Gecko (Eublepharis macularius), trihybrid, recessive viii

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur penulis haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Penyusunan skripsi dengan judul “Analisis Hasil Persilangan Trihibrid (Albino, Snow, dan Eclipse) pada Leopard Gecko (Eublepharis macularius)” diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma. Dalam penyusunan dan penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, dan bimbingan serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada: 1. Tuhan Yesus Kristus yang selalu memberkati dan menuntun penulis dalam penilitian baik perencanaan, proses, hingga akhir penulisan skripsi ini sehingga dapat berjalan dengan baik. 2. Universitas Sanata Dharma sebagai lembaga yang telah memberikan kesempatan kepada penulis dalam berkarya menyelesaikan program studi di Pendidikan Biologi. 3. Bapak Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. selaku Dekan FKIP dan Bapak Dr. Marcellinus Andy Ruditho, S.Pd. selaku Ketua Jurusan JPMIPA Universitas Sanata Dharma. 4. Bapak Drs. Antonius Tri Priantoro, M.For.Sc. selaku Kepala Program Studi Pendidikan Biologi serta Dosen Pembimbing Akademik yang telah membimbing penulis menyelesaikan pendidikan. 5. Ibu Retno Herrani Setyati, M.Biotech. selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Biologi yang selalu mengingatkan akan penyelesaian skripsi dan yang selalu memberikan masukan, saran, semangat serta dukungan. 6. Ibu Y.M Lauda Feroniasanti, M.Si. selaku dosen pembimbing yang selalu sabar dan tulus dalam membimbing, memberikan solusi, memberikan arahan, saran dan kritik, serta semangat dan dukungan setiap bimbingan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. ix

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7. Bapak Ibu Dosen Pendidikan Biologi yang telah membimbing dan memberikan ilmunya selama penulis mengikuti perkuliahan di Pendidikan Biologi. 8. Mas Arif selaku staff sekretariat JPMIPA yang telah memberikan kemudahan. 9. Kedua orang tuaku tercinta Bapak Yason Sugiharto dan Ibu Nini Trikarni, Adiku Kelvin yang selalu mendoakan dan memotivasi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 10. Segenap keluarga besar, yang selalu memberikan doa, dukungan, dan motivasi. 11. Teman- temanku tersayang, Dila, Hosea, Niken, Karlin, Ira, Val, Alex, Fredy, Gerald, Ko Ronny, Ko Willy, Michael, Jojo, dan Yoyo yang telah memberi dukungan, motivasi kepada peneliti, dan membantu mengatasi kesulitan dalam melakukan penelitian. 12. Teman- teman Pendidikan Biologi 2013 tercinta, terimakasih atas kebersamaan kita selama empat tahun ini, terimakasih untuk semua keakraban, dukungan dan kerjasamanya. 13. Kepada semua pihak, semua orang dan instansi yang tidak sempat penulis sebutkan yang telah memberikan doa, bantuan, dan dukungan kepada penulis. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat penulis harapkan demi perbaikan skripsi ini. Semoga skripsi ini memberikan sumbangan dalam ilmu pengetahuan. Penulis x

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................. ii HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ..................................................................... iv HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN ........................... v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ........................................ vi ABSTRAK ...................................................................................................... vii ABSTRACT ...................................................................................................... viii KATA PENGANTAR .................................................................................... ix DAFTAR ISI ................................................................................................... xi DAFTAR TABEL ........................................................................................... xiv DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xv DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xvi BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah ............................................................................ 1 B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 2 C. Tujuan Penelitian ...................................................................................... 3 D. Manfaat Penelitian .................................................................................... 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................... 5 A. Klasifikasi Leopard Gecko (Eublepharis macularius) ............................. 5 B. Habitat Leopard Gecko (Eublepharis macularius) ................................... 7 C. Variasi Fenotip pada Leopard Gecko (Eublepharis macularius) ............. 8 1. Resesif ................................................................................................. 8 2. Dominan .............................................................................................. 14 3. Kodominan .......................................................................................... 18 xi

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI D. Perawatan Leopard Gecko (Eublepharis macularius) .............................. 19 1. Kandang .............................................................................................. 20 2. Pencahayaan dan Suhu ........................................................................ 20 3. Substrat ................................................................................................ 21 4. Makan .................................................................................................. 21 5. Minum ................................................................................................. 22 E. Reproduksi Leopard Gecko (Eublepharis macularius) ............................ 22 F. Penelitian yang Relevan ............................................................................ 24 G. Kerangka Berpikir ..................................................................................... 24 H. Hipotesa ..................................................................................................... 26 BAB III METODOLOGI PENELITIAN ........................................................ 27 A. Jenis Penelitian .......................................................................................... 27 B. Tempat dan Waktu Penelitian ................................................................... 27 C. Batasan Penelitian ..................................................................................... 28 D. Alat dan Bahan .......................................................................................... 28 E. Cara Kerja ................................................................................................. 28 F. Metode Analisis Data ................................................................................ 30 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................ 31 A. Hasil Penelitian dan Pembahasan .............................................................. 31 1. Hasil Persilangan Pejantan M1 dengan Betina P1 .............................. 32 2. Hasil Persilangan Pejantan M1 dengan Betina P2 .............................. 36 3. Hasil Persilangan Pejantan M1 dengan Betina P3 .............................. 39 B. Keterbatasan Penelitian ............................................................................. 42 BAB V PENUTUP .......................................................................................... 43 A. Kesimpulan ............................................................................................... 43 B. Saran .......................................................................................................... 43 xii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB VI IMPLEMENTASI HASIL PENELITIAN UNTUK PEMBELAJARAN .......................................................................... 44 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 45 xiii

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Hasil Penelitian yang Relevan ........................................................ 24 Tabel 4.1 Morfologi Parental (P) .................................................................... 32 Tabel 4.2 Hasil Persilangan M1 x P1 .............................................................. 33 Tabel 4.3 Hasil Persilangan M1 x P2 .............................................................. 36 Tabel 4.4 Hasil Persilangan M1 x P3 .............................................................. 39 Tabel 4.5 Kumpulan Filial yang dihasilkan .................................................... 41 xiv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Leopard Gecko ............................................................................ 7 Gambar 2.2 Penyebaran Wilayah Habitat Leopard Gecko ............................. 7 Gambar 2.3 Tremper Albino (Texas Albino) .................................................. 9 Gambar 2.4 Rainwater Albino (Las Vegas Albino) ........................................ 10 Gambar 2.5 Bell Albino (Florida Albino) ....................................................... 11 Gambar 2.6 Eclipse ......................................................................................... 11 Gambar 2.7 Mata Leopard Gecko Eclipse ...................................................... 12 Gambar 2.8 Mata snake eye pada Leopard Gecko Eclipse ............................. 12 Gambar 2.9 Mata Leopard Gecko Marble Eye ............................................... 13 Gambar 2.10 Murphy Patternless ................................................................... 13 Gambar 2.11 Blizzard ..................................................................................... 14 Gambar 2.12 Enigma (1) ................................................................................. 15 Gambar 2.13 Enigma (2) ................................................................................. 15 Gambar 2.14 White and Yellow ....................................................................... 16 Gambar 2.15 Gem Snow (1) ............................................................................ 16 Gambar 2.16 Gem Snow (2) ............................................................................ 17 Gambar 2.17 TUG Snow ................................................................................. 17 Gambar 2.18 Mack Snow ................................................................................ 18 Gambar 2.19 Super Snow ................................................................................ 19 Gambar 2.20 Giant .......................................................................................... 19 Gambar 2.21 Jenis kelamin Leopard Gecko ................................................... 23 Gambar 2.22 Bagan Kerangka Berpikir .......................................................... 26 Gambar 4.1 Diagram Persilangan M1 x P1 .................................................... 34 Gambar 4.2 Diagram Persilangan M1 x P2 .................................................... 38 Gambar 4.3 Diagram Persilangan M1 x P3 .................................................... 40 xv

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Dokumentasi Penelitian ............................................................... 46 Lampiran 2 Silabus ......................................................................................... 47 Lampiran 3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ................................. 53 Lampiran 4 Materi Pembelajaran .................................................................... 61 Lampiran 5 Lembar Kerja Peserta Didik ........................................................ 76 Lampiran 6 Instrumen Penilaian ..................................................................... 83 xvi

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemampuan organisme berkembang biak atau menghasilkan keturunan merupakan salah satu karakteristik kehidupan. Perkembangbiakan dapat terjadi melalui suatu perkawinan, yang akan menghasilkan suatu keturunan. Keturunan mewarisi sifat parental, penerusan sifat dari satu generasi ke generasi berikutnya disebut pewarisan sifat atau hereditas (heredity, dari kata Latin here, pewaris). Bidang sains yang mempelajari hereditas dan variasi dalam penurunan sifat adalah genetika (Campbell, 2008). Leopard gecko atau Eublepharis macularius adalah jenis tokek yang hidup di permukaan tanah dan aktif pada fajar dan senja hari. (Mirza et al dalam Ramadhani, 2016). Leopard gecko dewasa memiliki panjang tubuh mencapai 18-27 cm. Leopard gecko termasuk insektivora dengan pakan utama serangga. Serangga yang paling umum sebagai pakan adalah jangkrik. Beberapa peternak juga menggunakan ulat hongkong, ulat jerman, cacing lilin, cacing sutra serta anak mencit sebagai variasi pakan untuk leopard gecko. 1

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 Dalam dunia industri reptil peliharaan di Indonesia, leopard gecko merupakan hewan peliharaan yang tergolong baru. Warna tubuh yang unik pada leopard gecko menjadi alasan utama sebagai hewan piara. Warna tubuh yang unik didapat dari perkawinan selektif. Selain itu, perawatan yang mudah dan dapat bertahan dengan pakan terbatas dalam waktu lama juga menjadi alasan hewan ini diminati (Deric, 2012). Bagi para peternak, proses mengembangbiakkan dan menetaskan telur yang mudah pada leopard gecko merupakan alasan utama hewan ini menjadi komoditas budidaya hewan kesayangan. Saat ini leopard gecko memiliki enam fenotip resesif, yaitu albino tremper, albino rainwater, albino bell, eclipse, patternless, dan blizzard, serta satu fenotip kodominan yaitu snow (Deric, 2012). Keenam fenotip resesif dan satu fenotip kodominan ini diturunkan berbagai jenis corak dan warna pada leopard gecko. Indonesia saat ini memiliki banyak peternak yang berpotensi menghasilkan leopard gecko dengan berbagai keragaman warna serta corak baru. Untuk menghasilkan leopard gecko dengan harga yang lebih tinggi di pasaran dapat dilakukan dengan menyilangkan leopard gecko dengan fenotip yang berbeda untuk mendapatkan satu individu leopard gecko yang memiliki beberapa sifat beda. Berdasarkan uraian permasalahan di atas, maka peneliti melakukan penelitian dengan judul “Analisis Hasil Persilangan Trihibrid (Albino, Snow, dan Eclipse) pada Leopard Gecko (Eublepharis macularius)”.

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana hasil persilangan trihibrid antara strain albino, snow dan eclipse? 2. Berapakah rasio fenotip yang muncul pada filial? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk : 1. Mengetahui hasil persilangan trihibrid antara strain albino, snow dan eclipse. 2. Mengetahui rasio fenotip yang muncul pada filial. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan tentang pewarisan sifat pada leopard gecko (Eublepharis macularius) serta mendapatkan leopard gecko dengan fenotip trihibrid resesif. 2. Bagi Pendidikan Penelitian ini dapat menambah variasi contoh dalam pembelajaran biologi SMA kelas XII pada materi pokok genetika tentang bagaimana

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 rasio fenotip pada filial yang dihasilkan dari persilangan trihibrid serta dapat menjadi sumber referensi ilmiah untuk dijadikan landasan bagi penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan masalah penelitian ini. 3. Bagi Masyarakat Penelitian ini dapat dijadikan sumber referensi bagi masyarakat khususnya breeder dan pehobi leopard gecko tentang persilangan trihibrid pada leopard gecko (Eublepharis macularius) yang melibatkan strain albino, snow, dan eclipse.

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi Leopard Gecko (Eublepharis macularius) Leopard gecko adalah hewan krepuskular, yaitu hewan yang aktif pada waktu fajar dan senja (Mirza et al dalam Ramadhani, 2016). Leopard gecko memiliki tubuh yang panjang dan sempit dengan ekor lebar, pendek dan berlemak. Tubuhnya memiliki warna dasar kuning dan terdapat totoltotol atau bercak hitam. Leopard gecko hasil tangkaran memiliki berbagai macam pola dan warna yang berbeda. Tidak seperti kebanyakan tokek, leopard gecko memiliki kelopak mata yang dapat bergerak dan jari kaki yang tidak lengket karena leopard gecko memiliki lamellae lebih sedikit pada telapak kaki dibandingkan jenis tokek lain. Umur leopard gecko yang berada di alam liar ialah 15 tahun, sedangkan umur leopard gecko yang berapa dalam penangkaran ialah 20 tahun (catatan Ron Tremper menunjukkan umur tertua 29 tahun). Leopard gecko dewasa memiliki panjang sekitar 18-27 cm dan berat sekitar 45-65g sedangkan anakan yang baru menetas berukuran panjang 6,5-8,4 cm dan berat sekitar 3g (Anonim, 2006). Beberapa jantan yang berasal dari bloodline Super Giant dapat mencapai hampir 30 cm dan memiliki berat melebihi 160 gram (Anonim, 2011). 5

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 Leopard gecko merupakan pengumpan oportunistik (opportunistic feeders), yang berarti leopard gecko tidak akan pergi mencari mangsa namun menunggu mangsa lewat di depan mata. Leopard gecko banyak menghabiskan waktunya bersembunyi di kayu atau di bawah batu. Salah satu perilaku leopard gecko adalah sering menjilati bola matanya dengan alasan yang tidak diketahui. Leopard gecko tidak seagresif spesies lain, meskipun pejantannya bersifat teritorial dan bisa agresif pada pejantan lain (Anonim, 2006). Leopard gecko pertama kali digambarkan sebagai spesies oleh ahli zoologi Edward Blyth pada tahun 1854 sebagai Eublepharis macularius. Nama Eublepharis berasal dari kombinasi kata Yunani Eu (baik) dan blephar (kelopak mata) karena leopard gecko memiliki kelopak mata, sedangkan macularius berasal dari macula bahasa Latin yang berarti "bintik" atau "noda", mengacu pada hewan ini memiliki bintik atau totol atau noda pada tubuhnya (Abraham dalam Ramadhani, 2016). Taksonomi selengkapnya dari hewan ini ialah: Kerajaan : Animalia Filum : Chordata Kelas : Reptilia Bangsa : Squamata Keluarga : Eublepharidae Marga : Eublepharis Jenis : Eublepharis macularius (Blyth, 1854)

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 Gambar 2.1 Leopard Gecko Sumber: K&N Exotics (www.reptilecalculator.com) B. Habitat Leopard Gecko (Eublepharis macularius) Habitat leopard gecko adalah di daerah semi-gurun, padang rumput kering, dan daerah berbatu di wilayah selatan Asia seperti Iran, Irak, Afghanistan, Pakistan dan India. Leopard gecko hidup dapat ditemukan pada lantai dasar hutan yang meliputi bagian bawah kayu, bongkahan batu besar, tumpukan daun kering dan lubang dalam tanah (Anonim, 2006) Gambar 2.2 Penyebaran Wilayah Habitat Leopard Gecko Sumber: Anonim, 2006

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 Suhu musim dingin di daerah ini dapat sangat rendah, di bawah 10°C, sehingga memaksa hewan bawah tanah ini melakukan semi-hibernasi yang disebut brumation, yaitu hidup dengan cadangan lemak. Leopard gecko berada pada liang sepanjang hari tapi menjadi aktif saat fajar dan senja apabila suhu menguntungkan (hangat). Hewan ini biasa hidup secara soliter, sehingga dalam penangkaran biasanya satu kandang digunakan untuk satu ekor hewan (McLean and Vickaryous dalam Ramadhani, 2016). C. Variasi Fenotip pada Leopard Gecko (Eublepharis macularius) Saat ini leopard gecko memiliki enam fenotip resesif, yaitu albino tremper, albino rainwater, albino bell, eclipse, patternless, dan blizzard, serta satu fenotip kodominan yaitu snow (Deric, 2012). Keenam fenotip resesif dan satu fenotip kodominan ini diturunkan berbagai jenis corak dan warna pada leopard gecko, selain itu proses persilangan selective breed yang sudah dilakukan oleh banyak peternak sudah menghasilkan fenotip- fenotip baru di antaranya marble eye, enigma, white and yellow (w/y), giant dan masih banyak lagi. 1. Resesif a. Albino Saat ini terdapat 3 strain dari albino yaitu: Tremper Albino (Texas Albino), Rainwater Albino (Las Vegas Albino), dan Bell Albino (Florida Albino). Semua garis keturunan albino membawa

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 gen yang berbeda untuk mengendalikan sifat unik yang dimiliki oleh masing- masing tipe. Perkawinan silang antar tipe albino satu dengan yang lain akan menghasilkan keturunan yang normal dengan membawa kedua genetik albino yang berbeda. Menyilangkan leopard gecko antar tipe albino merupakan hal yang sudah dilarang oleh para breeder. Hal ini merupakan kode etik dalam menyilangkan leopard gecko karena akan mengakibatkan kerancuan genetik pada keturunan selanjutnya (Perez, 2011). (1.) Tremper Albino (Texas Albino) Tremper Albino atau Texas Albino merupakan strain albino pertama yang ditemukan pada tahun 1996 oleh Ron Tremper. Tremper albino memiliki warna yang beragam mulai dari cokelat tua hingga kuning muda, oranye dan merah muda. Mata dari strain albino ini cenderung berwarna perak dengan urat merah (Perez, 2011). Gambar 2.3 Tremper Albino (Texas Albino) Sumber: The Urban Reptil (www.reptilecalculator.com)

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 (2.) Rainwater Albino (Las Vegas Albino) Rainwater Albino atau Las Vegas Albino pertama kali ditemukan oleh Tim Rainwater pada tahun 1998 (Anonim, 2013). Gambar 2.4 Rainwater Albino (Las Vegas Albino) Sumber: The Urban Reptil (www.reptilecalculator.com) (3.) Bell Albino (Florida Albino) Bell Albino (dahulu sering disebut Florida Albino) adalah strain terbaru dari strain albino leopard gecko dan ditemukan oleh Mark Bell. Mata dari strain albino ini sangatlah mudah dibedakan dari strain albino lainnya yaitu berwarna merah muda. Bell albino cenderung memiliki pola totol- totol cokelat, selain itu, sering ditemukan warna lavender pada strain ini (Perez, 2011).

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 Gambar 2.5 Bell Albino (Florida Albino) Sumber: The Urban Reptil (www.reptilecalculator.com) b. Eclipse Sifat Eclipse adalah mutasi mata yang bersifat resesif, sifat ini menyebabkan pigmen mata menjadi hitam pekat, atau pada banyak kasus hanya mengakibatkan sebagian mata saja yang berwarna hitam. Istilah dari “snake eye” mengacu pada leopard gecko yang hanya memiliki setengah mata “eclipse” (Anonim, 2013). Gambar 2.6 Eclipse Sumber: The Urban Reptil (www.reptilecalculator.com)

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 Gambar 2.7 Mata Leopard Gecko Eclipse Sumber: H&K Geckos (www.reptilecalculator.com) Gambar 2.8 Mata snake eye pada Leopard Gecko Eclipse Sumber: Steve Sykes Geckos Etc. (www.reptilecalculator.com) c. Marble Eye Marble eye adalah sifat pigmen mata resesif yang berbeda dari gen eclipse. Hal ini telah dibuktikan oleh sendiri oleh penemunya Matt Baronak. Leopard gecko dengan sifat marble eye akan memiliki berbagai pigmen acak di seluruh mata, mata nampak “hancur” dengan warna (Anonim, 2013).

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 Gambar 2.9 Mata Leopard Gecko Marble Eye Sumber: Matt Baronak SaSobek Reptiles (www.reptilecalculator.com) d. Murphy Patternless Murphy Patternless pertama kali dihasilkan pada tahun 1991 oleh Pat Murphy. Murphy patternless pada umumnya berwarna abu-abu solid/ perak dengan tanda kuning muda dan tidak memiliki semua pola hitam dan kuning yang umumnya terkait dengan leopard gecko (Anonim, 2013). Gambar 2.10 Murphy Patternless Sumber: The Urban Reptil (www.reptilecalculator.com) Saat menetas, murphy patternless memiliki bintik- bintik dan bercak- bercak berwarna cokelat muda, kuning, dan abu-abu di

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 tubuh mereka, tetapi akan hilang seiring mencapai usia dewasa. Saat murphy patternless dewasa, mereka akan mengembangkan sedikit warna kuning pada tubuhnya (Anonim, 2008). e. Blizzard Blizzard ditemukan oleh Jay Villa dari Prehistoric Pets pada tahun 1995, gen ini sangatlah mirip dengan murphy patternless. Seperti murphy patternless, blizzard adalah gen resesif yang sangat sederhana. Saat menetas blizzard tidak memiliki pola dan warnanya bervariasi dari putih, kuning hingga ungu tua. Seiring bertambahnya usia, blizzard akan memiliki warna abu-abu solid (Anonim, 2008). Gambar 2.11 Blizzard Sumber: The Urban Reptil (www.reptilecalculator.com) 2. Dominan a. Enigma Enigma merupakan gen dominan pada leopard gecko, dan dapat dilihat dari keturunannya yang memiliki pigmen mata oranye di mata serta pola garis khusus di kepala dan hidungnya (Anonim, 2013).

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 Gambar 2.12 Enigma (1) Sumber: The Urban Reptil (www.reptilecalculator.com) Enigma memiliki totol/ pola yang berbeda dari leopard gecko pada umumnya. Enigma dewasa terkadang memiliki banyak pola campuran serta cenderung memiliki banyak titik (Anonim, 2008). Gambar 2.13 Enigma (2) Sumber: H&K Geckos (www.reptilecalculator.com) b. White and Yellow (W/Y) White and Yellow merupakan salah satu gen dominan yang terlihat sama dalam bentuk homozigot atau heterozigot. White and Yellow umunya terlihat sama dengan leopard gecko pada umumnya hal

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 yang membedakan ialah White and Yellow memiliki pigmen warna yang lebih cerah (Anonim, 2013). Gambar 2.14 White and Yellow Sumber: The Urban Reptil (www.reptilecalculator.com) c. Gem Snow Gem Snow merupakan salah satu gen dominan leopard gecko. Gem Snow berbeda dengan Mack Snow karena tidak memiliki bentuk homozigot resesif seperti yang terdapat pada Mack Snow (Anonim, 2013). Gambar 2.15 Gem Snow (1) Sumber: Bright Albino (www.reptilecalculator.com)

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 Gambar 2.16 Gem Snow (2) Sumber: Edwin EH-Gekko’s (www.reptilecalculator.com) d. TUG Snow TUG Snow merupakan gen dominan yang ditemukan dari sekelompok leopard gecko liar yang dibiakkan oleh Craig Stewart di The Urban Gecko. Leopard gecko dengan merek dagang ini memiliki warna putih bersih dan hanya memiliki sedikit totol hitam pada kepala dan tubuhnya (Anonim, 2013). Gambar 2.17 TUG Snow Sumber: The Urban Reptil (www.reptilecalculator.com)

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 3. Kodominan a. Mack Snow Mack Snow merupakan salah satu gen kodominan yang ditandai dengan warna hitam dan putih saat menetas. Seiring bertambahnya usia, mack snow akan menunjukkan warna kuning pada tubuhnya dan pada saat dewasa akan sangat sulit dibedakan dengan leopard gecko normal. Genetik homozigot resesif pada mack snow disebut super snow (Anonim, 2013). Gambar 2.18 Mack Snow Sumber: The Urban Reptil (www.reptilecalculator.com) Super Snow Super Snow merupakan versi homozigot resesif dari mack snow. Saat menetas super snow memiliki warna hitam/ abu-abu dengan garis- garis samar pada bagian punggungnya. Super snow juga memiliki warna mata hitam pekat (seperti pada genetik resesif eclipse). Saat dewasa super snow memiliki warna dasar putih dengan totol- totol hitam yang berjejer membentuk pola garis vertikal pada tubuhnya (Anonim, 2013).

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 Gambar 2.19 Super Snow Sumber: The Urban Reptil (www.reptilecalculator.com) b. Giant/ Super Giant Giant merupakan bentuk kodominan yang dikembangkan oleh Ron Tremper pada tahun 2000, Super Giant merupakan bentuk homozigot resesif dari Giant (Anonim, 2013). Gambar 2.20 Giant Sumber: The Urban Reptil (www.reptilecalculator.com) D. Perawatan Leopard Gecko (Eublepharis macularius) Leopard gecko (Eublepharis macularius) telah ditangkarkan di Amerika Serikat selama lebih dari 40 tahun dan merupakan salah satu kadal

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 yang paling sering dipelihara saat ini. Leopard gecko memiliki beragam warna, pola dan ukuran. Leopard gecko merupakan dinosaurus yang hadir dalam ukuran kecil dan merupakan salah satu spesies dari reptil yang cocok dijadikan hewan peliharaan (Anonim, 2011). 1. Kandang Akuarium 10 - 20 galon dapat menampung satu sampai dua leopard gecko dari menetas hingga dewasa. Tank yang lebih besar cenderung menyebabkan gecko tersesat dari properti penghangat dan kotak persembunyian. Sebagian besar orang menggunakan kotak plastik sebagai kandang leopard gecko, hal ini membuat leopard gecko jarang terlihat jika kotak tertutup. Apapun kandang yang digunakan minimal harus memiliki tinggi 30 cm dan memiliki ventilasi yang baik. Sebuah kotak persembunyian yang diisi dengan moss basah atau vermikulit sangat diperlukan leopard gecko agar dapat melancarkan proses pergantian kulitnya. Selain itu, peralatan ini juga diperlukan saat leopard gecko akan meletakkan telurnya (Anonim, 2011). 2. Pencahayaan dan Suhu Cara terbaik untuk menghangatkan leopard gecko adalah dengan menggunakan undertank heating pad yang diletakkan pada dasar kandang. Pemanasan satu ujung kandang sangatlah penting. Hal ini memungkinkan terjadinya variasi suhu yang dibutuhkan oleh leopard gecko. Batuan panas yang cenderung menjadi terlalu panas untuk

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 leopard gecko harus dihindari karena dapat mengakibatkan luka bakar pada leopard gecko itu sendiri. Untuk display, penggunaan lampu pijar rendah watt dapat diletakkan di atas akuarium dan dibiarkan selama 12 jam sehari. Suhu yang ideal di dalam kotak berlindung adalah 30 - 32°C setiap waktu. Sedangkan suhu udara di sekitar ruangan tempat leopard gecko ditempatkan harus di atas 23°C (Anonim, 2011). 3. Substrat Koran/ kertas bekas, batuan kecil, kerikil, rumput sintetis, batu datar atau tidak ada alas penutup dapat digunakan pada kandang leopard gecko. Leopard gecko muda atau lemah mungkin mengonsumsi pasir atau partikel halus lain yang terdapat dikandang dapat menyebabkan impaksi pada usus (Castellanos, 2011). 4. Makan Serangga hidup adalah makanan pokok bagi leopard gecko, serangga yang menjadi pilihan terbaik untuk digunakan adalah mealworms (ulat hongkong) atau jangkrik. Penangkaran di Amerika Serikat telah menggunakan mealworms (Tenebrio molitor) tanpa masalah kesehatan sejak 1978 (Anonim, 2011). Semua serangga harus terlebih dahulu diberikan diet bernutrisi setidaknya selama 12 jam sebelum diberikan sebagai makan leopard gecko. Proses ini disebut “gut loading”, dan itu sangat penting bagi kesehatan leopard gecko. Cukup letakkan serangga pada tempat gut load

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 dengan sepotong kentang untuk dijadikan sumber air dan nutrisi. Gut loading akan memastikan semua serangga yang akan dijadikan pakan menjadi lebih sehat dan dalam jangka panjang akan berdampak pada kesehatan leopard gecko (Castellanos, 2011). Porsi makan yang tepat untuk leopard gecko ialah dua serangga untuk setiap inci panjang leopard gecko setiap dua hari sekali. Oleh karena itu, leopard gecko dengan panjang 4 inci akan menerima delapan mealworms tiga hingga empat kali seminggu (Anonim, 2011). 5. Minum Pemberian tempat minum dangkal dengan air tawar harus tersedia setiap saat. Pemberian air minum harus diperhatikan agar tidak sampai tumpah. Substrat kandang harus dijaga agar tetap kering. Vitamin tidak boleh ditambahkan pada air minum leopard gecko. (Anonim, 2011) E. Reproduksi Leopard Gecko (Eublepharis macularius) Perbedaan jenis kelamin pada leopard gecko terletak pada adanya pori- pori pra-anal berbentuk huruf “V” yang berada di antara kaki belakang pada leopard gecko jantan, selain itu terdapat pula tonjolan hemipenis yang terletak pada pangkal ekor (Castellanos, 2011).

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 Gambar 2.21 Jenis kelamin leopard gecko jantan (kiri) dan betina (kanan) Sumber: www.geckoboa.com Leopard gecko mencapai kematangan seksualnya pada usia 1,5 hingga 2 tahun. Musim kawin dari leopard gecko berlangsung pada saat musim panas yaitu januari hingga september. Leopard gecko betina dapat menyimpan spermatozoa di saluran telur mereka selama musim kawin. Setelah perkawinan, betina akan membutuhkan banyak kalsium untuk kesehatan dan produksi telur. Dalam satu musim bertelur, seekor betina dapat bertelur 4 hingga 8 kali, masing- masing dengan selang waktu 1 sampai 4 minggu. Pada satu kali bertelur, betina menghasilkan dua butir telur. Betina memulai masa kehamilan sekitar 21-28 hari. Telur akan menetas setelah 45-105 hari inkubasi (Anonim, 2006). Penentuan jenis kelamin pada leopard gecko bergantung pada suhu inkubasi. Penentuan jenis kelamin diyakini terjadi selama 2 minggu pertama proses inkubasi telur. Penelitian menunjukkan bahwa telur yang menetas menjadi leopard gecko jantan diinkubasi dalam suhu lebih tinggi sekitar 3032,5 °C sedangkan telur yang akan menetas menjadi leopard gecko betina pada suhu lebih rendah sekitar 26- 28 °C. Rata- rata suhu inkubasi untuk leopard gecko jantan berlangsung sekitar 35 hari dan leopard gecko betina

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 selama 69 hari. Leopard gecko jantan pada umumnya akan menetas lebih cepat dikarenakan proses inkubasi berlangsung dengan suhu yang lebih tinggi sedangkan proses inkubasi leopard gecko betina akan membutuhkan waktu yang lebih lama karena suhu yang lebih rendah (Castellanos, 2011). F. Penelitian yang Relevan Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya yang relevan dengan penelitian ini adalah: Tabel 2.1 Hasil Penelitian yang Relevan No. Penelitian Hasil Referensi 1. Implementasi Diagonalisasi Matriks untuk menyelidiki pewarisan autusomal pada generasi ke-n 2. Pengaruh Persilangan Strain Wild Type (N) dengan White (W) terhadap Jumlah Keturunan F2 Lalat Buat (Drosphila sp.) Pada persilangan induk yang mempunyai 2 bentuk persamaan akan memperoleh hasil peluang keturunan yang sama dengan peluang perkawinan silang ilmu genetika pada umumnya. Persilangan berbeda strain pada Droshopilla sp. normal dengan white berpengaruh terhadap jumlah keturunan F2 nya. Agustini, 2016 Amelia, 2016 G. Kerangka Berpikir Leopard gecko atau Eublepharis macularius adalah jenis tokek yang hidup di permukaan tanah dan aktif pada fajar dan senja hari. Dalam dunia

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 industri hewan peliharaan di Indonesia, leopard gecko merupakan hewan peliharaan yang tergolong baru. Warna tubuh yang unik pada leopard gecko menjadi alasan utama sebagai hewan peliharaan. Warna tubuh yang unik di dapat dari perkawinan secara selektif. Selain itu, perawatan yang mudah dan dapat bertahan dengan pakan terbatas dalam waktu lama juga menjadi alasan hewan ini diminati. Bagi para peternak, proses mengembangbiakkan dan menetaskan telur yang mudah pada leopard gecko merupakan alasan utama hewan ini menjadi komoditas budidaya hewan kesayangan. Saat ini leopard gecko memiliki enam fenotip resesif, yaitu albino tremper, albino rainwater, albino bell, eclipse, patternless, dan blizzard, serta satu fenotip kodominan yaitu snow. Keenam fenotip resesif dan satu fenotip kodominan ini diturunkan berbagai jenis corak dan warna pada leopard gecko. Indonesia saat ini memiliki banyak peternak yang berpotensi dalam menghasilkan leopard gecko dengan berbagai keragaman warna serta corak baru. Untuk menghasilkan leopard gecko dengan harga yang lebih tinggi di pasaran dapat dilakukan dengan menyilangkan leopard gecko dengan fenotip yang berbeda untuk mendapatkan satu individu leopard gecko dengan memiliki beberapa sifat beda.

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 Gambar 2.22 Bagan Kerangka Berpikir H. Hipotesa Berdasarkan rumusan masalah dan studi pustaka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: 1. Hasil persilangan trihibrid antara strain albino, snow dan eclipse akan memiliki persentase yang kecil untuk mendapatkan ketiga genotip resesif tersebut. 2. Rasio fenotip yang muncul pada filial 5 : 3 : 3 : 2 : 2 : 1 : 1 : 1 dengan kemungkinan kecil mendapat rasio fenotip baru.

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan model rancangan eksperimental. Dalam penelitian ini ada 3 jenis variabel yaitu : 1. Variabel bebas Pada penelitian ini variabel bebas yang digunakan adalah morfologi parental Leopard Gecko (Eublepharis macularius) yaitu strain Albino, Snow, dan Eclipse. 2. Variabel terikat Pada penelitian ini variabel terikat yang digunakan adalah morfologi anakan yang dihasilkan dari persilangan. 3. Variabel kontrol Variabel kontrol yang digunakan pada penelitian ini adalah kandang, substrat kandang, porsi makan, kotak inkubasi telur, serta media inkubasi telur (perlite). B. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Bener, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta. Bertempat di rumah peneliti. Penelitian ini dilaksanakan 27

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 dilaksanakan selama kurang lebih 6 bulan yaitu pada bulan Mei 2016 hingga Oktober 2016. C. Batasan Penelitian Adapun dalam penelitian ini memiliki batasan- batasan yakni sebagai berikut: 1. Leopard gecko (Eublepharis macularius) yang digunakan adalah strain Albino, Snow dan Eclipse. 2. Objek penelitian ini terbatas pada turunan F1 leopard gecko D. Alat dan Bahan 1. Alat Alat alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi kontainer plastik, kotak plastik, media untuk meletakkan telur (spaghnum moss), media untuk inkubasi telur (perlite), ember, kertas bekas, dan alat tulis. 2. Bahan Kertas label, Air, kapur dolomit, jangkrik, leopard gecko (Eublepharis macularius) E. Cara Kerja 1. Seleksi Indukan Tahap pertama yang dilakukan dalam proses persilangan leopard gecko ialah pemilihan indukan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan ialah

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 umur kedua indukan harus sudah lebih dari 7 bulan serta indukan betina yang digunakan harus dalam masa ovulasi. Ovulasi pada leopard gecko betina dapat diketahui dengan melihat tanda berupa lingkaran merah pada bagian bawah tubuhnya. Sedangkan birahi pada leopard gecko jantan ditandai dengan perilaku menggetarkan ekornya. 2. Penyatuan Kedua Indukan Kedua indukan leopard gecko dipasangkan pada kandang yang sama selama 3 hingga 7 hari, dan setelah terjadi kopulasi (perkawinan) kedua indukan leopard gecko kembali dipisah pada kandang yang berbeda. 3. Kehamilan Leopard Gecko Tahapan selanjutnya adalah proses kehamilan leopard gecko, proses kehamilan leopard gecko berlangsung selama 2 hingga 4 minggu. Saat leopard gecko hamil, dilakukan penambahan porsi makan dan diberi kalsium tambahan seperti kapur dolomit. Selain itu disediakan tempat dari kotak plastik yang di dalamnya berisi sphagnum moss lembab untuk leopard gecko bertelur. 4. Inkubasi Telur Proses inkubasi telur leopard gecko, tahap yang dilakukan saat setelah leopard gecko bertelur ialah inkubasi telur. Setelah leopard gecko bertelur, telur harus segera dipindahkan ke tempat inkubasi yang berupa kotak plastik tertutup yang di dalamnya diberi media berupa perlite lembab dan diletakkan di suhu 30 °C. Proses inkubasi telur berlangsung selama 21 hingga 105 hari.

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 5. Perlakuan pada Anakan Leopard Gecko Setelah menetas, leopard gecko dipindahkan ke kandang yang lebih besar dan diberi alas berupa tisu yang dibasahi dan diberi kapur dolomit. Leopard gecko akan mulai makan setelah berumur 3 hari/ setelah melakukan proses pergantian kulit/ shedding yang pertama kalinya. F. Metode Analisis Data Data yang diperoleh merupakan data mentah hasil penelitian yang terdiri dari persilangan leopard gecko dan akan diolah secara kualitatif menggunakan tabel serta grafik dan dianalisis secara deskriptif.

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian dan Pembahasan Seluruh parental yang digunakan termasuk dalam satu garis keturunan strain albino yang sama yaitu strain Albino Bell, sehingga jika sesama leopard gecko albino disilangkan satu dengan yang lainnya tidak akan menghasilkan keturunan yang normal non-albino dengan kerancuan genetik yaitu membawa dua sifat heterozigot dari strain albino yang berbeda. Alasan peneliti memilih parental ini ialah ketersediaan leopard gecko yang dimiliki oleh peneliti hanya satu garis keturunan strain albino bell saja dikarenakan peneliti tidak ingin mendapatkan leopard gecko yang memiliki gen yang rancu karena tercampur gen dari strain albino lainnya, selain itu peneliti ingin mendapatkan leopard gecko dengan genetik yang kompleks dan memiliki asal usul yang jelas (satu strain albino saja) karena dengan terciptanya leopard gecko yang memiliki genetik kompleks akan menjadikan leopard gecko itu sendiri semakin menarik dan unik secara morfologinya yang akan meningkatkan harga jualnya. Untuk memperoleh leopard gecko dengan morfologi yang menarik dan memiliki genetik yang kompleks bisa dilakukan persilangan dengan selektif gen. 31

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 Persilangan yang dilakukan dengan memijahkan 1 ekor induk jantan dengan 3 ekor induk betina yang memiliki fenotip/ morfologi yang berbeda. Morfologi parental yang digunakan dapat dilihat pada tabel 4.1. Tabel 4.1 Morfologi Parental (P) Jenis Kelamin Jantan Betina Fenotip Kode Parental Albino + Snow + Eclipse M1 Albino + Snow + Normal Non-Eclipse P1 Albino + Snow + Eclipse P2 Normal Non-Albino + Snow (homozigot resesif) + Eclipse (Gen Snow) P3 Persilangan Trihibrid yang peneliti lakukan ialah persilangan yang mengambil fenotip / morfologi dari leopard gecko albino, snow, dan eclipse. Karena peneliti menggunakan strain snow dalam penelitian ini, maka mata eclipse yang terdapat pada strain snow dengan genetik homozigot resesif (super snow) akan dituliskan menjadi eclipse (gen snow) mengingat hal ini merupakan ciri khusus yang dimiliki oleh super snow (genetik homozigot resesif) yaitu memiliki mata yang sama seperti eclipse namun bukanlah sebuah fenotip yang diturunkan seperti yang nampak pada tabel 4.1 morfologi parental betina dengan kode P3. 1. Hasil Persilangan Pejantan M1 dengan Betina P1 Hasil persilangan antara pejantan M1 dengan betina P1 menghasilkan 10 ekor anakan. Fenotip anakan hasil persilangan M1

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 dengan P1 dapat dilihat pada tabel 4.2 serta diagram persilangan antara M1 dengan P1 dapat dilihat pada gambar 4.1. Tabel 4.2 Hasil Persilangan M1 x P1 Tanggal Penetasan Fenotip Kode Kloter 05 Juli 2016 Albino + Normal Non-Snow + Eclipse A1 i 06 Juli 2016 Albino + Snow + Eclipse A1 ii 22 Juli 2016 Albino + Snow + Eclipse A2 i 23 Juli 2016 Albino + Snow + Normal Non-Eclipse A2 ii 11 Agustus 2016 Albino + Snow + Normal Non-Eclipse A3 i 12 Agustus 2016 Albino + Normal Non-Snow + Eclipse A3 ii 22 Agustus 2016 Albino + Snow (homozigot resesif) + Eclipse (Gen Snow) A5 i 23 Agustus 2016 Albino + Normal Non-Snow + Eclipse A5 ii Albino + Normal Non-Snow + Normal A4 i Non-Eclipse Albino + Normal Non-Snow + Normal 31 Agustus 2016 A4 ii Non-Eclipse Keterangan : A = Hasil persilangan M1 x P1 ; 1-5 = Kode kloter anakan ke-… ; i-ii = Kode anakan pada kloter yang sama 31 Agustus 2016 Hasil persilangan M1 x P1 menghasilkan 10 ekor anakan yang seluruhnya membawa sifat albino, sifat albino tersebut diperoleh dari kedua induknya yang juga albino mengingat genotip dari albino ialah homozigot resesif maka tidak akan ada yang menjadi normal non-albino pada persilangan M1 x P1 kali ini. Pada gen snow terdapat 4 ekor anakan yang membawa sifat kodominan snow dan muncul 1 ekor anakan yang menjadi super snow (snow dengan genotip homozigot resesif) sementara 5 ekor memiliki genotip homozigot dominan sehingga tidak menjadi snow dan merupakan normal non-snow. Gen snow merupakan sifat

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 kodominan dimana jika terdapat leopard gecko dengan genotip heterozigot akan menjadi snow sedangkan bentuk dari genotip homozigot dominan akan menjadi normal non-snow dan untuk genotip homozigot resesif akan menjadi super snow dengan morfologi yang berbeda dengan snow genotip heterozigot yaitu tidak dijumpainya pigmen kuning dan memiliki mata yang nampak seperti eclipse seperti yang terlihat pada gambar 4.1 dengan kode anakan A5i. Gambar 4.1 Diagram Persilangan M1 x P1 Persilangan M1 x P1 membuktikan bahwa genotip mata pada induk betina P1 terbukti karier/ heterozigot eclipse. Hal ini ditandai dengan munculnya 5 ekor anakan dengan gen eclipse sedangkan untuk satu anakan super snow/ snow dengan genotip homozigot resesif

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 merupakan suatu fenomena dimana setiap leopard gecko dengan genotip ini akan memiliki mata yang nampak seperti gen eclipse maka akan ditulis dengan eclipse (gen snow) mengingat parental betina P1 memiliki mata normal non-eclipse yang membawa/ karier gen eclipse. Pada persilangan M1 x P1 jarak menetasnya leopard gecko dalam kloter yang sama sangatlah dekat bahkan pada kloter keempat dengan kode A4 kedua anakan menetas pada hari yang sama hal ini dipengaruhi oleh suhu yang seimbang pada kotak inkubasi tiap- tiap kloter. Namun terdapat suatu keanehan yang terlihat pada tabel 4.2 dimana kloter kelima dengan kode A5 menetas lebih dulu daripada kloter sebelumnya (A4) dimana jarak antar kloter telur antara 2 hingga 4 minggu. Hal ini dapat dipengaruhi perbedaan suhu inkubasi antara kloter keempat (A4) dan kloter kelima (A5). Mengingat peneliti menginkubasi di wadah yang berbeda dan sering membasahi media penetasan yang dapat mengakibatkan perbedaan suhu dan kelembaban udara pada tiap kloter telur yang di inkubasi. Perbedaan rentang waktu penetasan biasanya juga dapat dijadikan patokan oleh breeder untuk memprediksi jenis kelamin anakan walaupun terkadang dapat meleset. Rentang waktu penetasan yang singkat dipengaruhi oleh suhu yang lebih hangat dan biasanya akan menjadikan anakan leopard gecko berjenis kelamin jantan dan sebaliknya. Secara umum, induksi suhu inkubasi memberikan pengaruh terhadap ekspresi gen determinasi seks sehingga pertumbuhan embrio

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 yang diinkubasi pada suhu jantan (30 – 32,5°C) memiliki kecenderungan lebih cepat dibandingkan dengan embrio yang diinkubasi pada suhu betina (26 - 28°C). Pada gambar 4.1 merupakan diagram persilangan antara M1 dengan P1, pada gambar tersebut hanya dicantumkan tiga ekor anakan hasil persilangan yaitu A1 i , A1 ii serta A5 i Ketiganya merupakan perwakilan fenotip trihibrid yang berbeda. 2. Hasil Persilangan Pejantan M1 dengan Betina P2 Dari hasil persilangan antara pejantan M1 dengan betina P2 menghasilkan 11 ekor anakan. Fenotip anakan hasil persilangan M1 dengan P2 dapat dilihat pada tabel 4.3 serta diagram persilangan antara M1 dengan P2 dapat dilihat pada gambar 4.2. Tabel 4.3 Hasil Persilangan M1 x P2 Tanggal Penetasan Fenotip Kode Kloter 09 Juli 2016 Albino + Normal Non-Snow + Eclipse B1 i 10 Juli 2016 Albino + Snow (homozigot resesif) + Eclipse B1 ii 26 Juli 2016 Albino + Snow + Eclipse B2 i 27 Juli 2016 Albino + Snow + Eclipse B2 ii 10 Agustus 2016 Albino + Snow + Eclipse B3 i 11 Agustus 2016 Albino + Normal Non-Snow + Eclipse B3 ii 26 Agustus 2016 Albino + Snow + Eclipse B4 i 26 Agustus 2016 Albino + Snow (homozigot resesif) + Eclipse B4 ii 10 September 2016 Albino + Snow + Eclipse B5 i

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 11 September 2016 Albino + Snow + Eclipse B5 ii 27 September 2016 Albino + Snow + Eclipse B6 i Keterangan : B = Hasil persilangan M1 x P2 ; 1-6 = Kode kloter anakan ke-… ; i-ii = Kode anakan pada kloter yang sama Hasil persilangan M1 x P2 menghasilkan 11 ekor anakan yang seluruhnya membawa sifat albino, sifat albino tersebut diperoleh dari kedua induknya yang juga albino. Pada gen snow terdapat 7 ekor anakan yang membawa sifat kodominan snow dan muncul 2 ekor anakan yang menjadi super snow (snow dengan genotip homozigot resesif) sementara 5 ekor tidak membawa gen snow dan menjadi normal non-snow. Persilangan M1 x P2 ini menghasilkan 2 anakan super snow/ snow dengan genotip homozigot resesif dengan mata eclipse yang merupakan gen eclipse itu sendiri karena kedua induknya membawa gen resesif eclipse, berbeda dengan persilangan M1 x P1 yang terdapat pada tabel 4.2 dimana gen eclipse yang muncul pada fenotip mata anakan super snow tersebut masih belum pasti karena salah satu induknya memiliki mata yang normal non-eclipse. Pada persilangan kali ini jumlah anakan yang dihasilkan di kloter ke-6 dengan kode B6 hanya 1 ekor diakibatkan karena salah satu telur yang dihasilkan oleh induk betina mengalami kegagalan saat proses inkubasi sehingga hanya 1 ekor yang berhasil menetas. Kegagalan telur saat diinkubasi dapat terjadi karena faktor internal dan eksternal. Faktor internal ialah telur tersebut slug atau tidak memiliki embrio, kebanyakan kasus seperti ini terjadi jika induk betina yang digunakan memiliki umur yang terlalu muda dan kekurangan asupan nutrisi sehingga telur yang dihasilkan

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 bersifat infertil. Selain itu asupan kalsium juga sangat penting bagi induk yang sedang hamil karena, jika terjadi kekurangan asupan kalsium telur yang dihasilkan memiliki morfologi yang buruk dengan kebanyakan kasus memiliki cangkang yang lembek. Pada saat leopard gecko meletakkan telurnya, telur yang dihasilkan mempunyai cangkang yang lembek namun beberapa saat kemudian telur akan mengeras. Leopard gecko hamil yang kekurangan asupan kalsium biasanya akan menghasilkan telur dengan cangkang yang lembek sehingga pada saat inkubasi telur akan mudah terkena jamur. Faktor eksternal yang memengaruhi kegagalan telur saat diinkubasi adalah kelembaban, jika jumlah uap air terlalu tinggi akan mengakibatkan munculnya jamur pada cangkang telur sehingga telur dapat tidak menetas. Gambar 4.2 Diagram Persilangan M1 x P2

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 3. Hasil Persilangan Pejantan M1 dengan Betina P3 Dari hasil persilangan antara pejantan M1 dengan betina P3 menghasilkan 4 ekor anakan. Fenotip anakan hasil persilangan M1 dengan P3 dapat dilihat pada tabel 4.4 serta diagram persilangan antara M1 dengan P3 dapat dilihat pada gambar 4.3. Tabel 4.4 Hasil Persilangan M1 x P3 Tanggal Penetasan Fenotip Kode Kloter 07 September 2016 Albino + Snow + Normal Non-Eclipse C1 i 08 September 2016 Normal Non-Albino + Snow + Eclipse C1 ii Normal Non-Albino + Snow + Normal C2 i Non-Eclipse Normal Non-Albino + Snow (homozigot 01 Oktober 2016 C2 ii resesif) + Eclipse (Gen Snow) Keterangan : C = Hasil persilangan M1 x P3 ; 1-2 = Kode kloter anakan ke-… ; i-ii = Kode anakan pada kloter yang sama 01 Oktober 2016 Hasil persilangan M1 x P3 hanya menghasilkan 4 ekor anakan (2 kloter) walaupun pada awalnya terdapat 8 butir telur yang dihasilkan namun gagal menetas karena terserang jamur saat proses inkubasi. Anakan yang dihasilkan pada persilangan ini 3 di antaranya memiliki fenotip normal non-albino dan 1 ekor albino. Hal ini membuktikan bahwa induk betina yang digunakan membawa (karier) gen albino. Pada gen snow seluruh anakan membawa sifat kodominan snow karena induk betina yang digunakan merupakan super snow/ snow dengan homozigot resesif sehingga apabila snow homozigot resesif disilangkan dengan normal non-snow maka anakan yang muncul 100% membawa gen snow begitu pula jika super snow disilangkan dengan snow akan

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 menghasilkan 50% snow dan 50% super snow. Fenotip parental P3 pada bagian mata ialah 100% mata normal yang nampak seperti mata dari gen eclipse karena fenomena super snow, namun membawa/ karier gen eclipse. Hal ini dibuktikan dengan adanya anakan dengan gen eclipse dan normal non-eclipse yang keluar. Gambar 4.3 Diagram Persilangan M1 x P3 Persilangan antara pejantan (M1) dengan ketiga betina (P1, P2, dan P3) menghasilkan 25 ekor anakan/ filial, dari seluruh anakan yang mewarisi sifat trihibrid adalah anakan yang berasal dari parental P1 dan P2 saja. Anakan yang berasal dari parental P3 belum mengeluarkan sifat tribrid karena anakan yang berhasil menetas hanya 4 ekor saja, sehingga jika dilihat

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 dari kuantitas anakan yang berhasil menetas maka kemungkinan untuk mendapatkan anakan dengan sifat trihibrid cukuplah sulit. Sifat trihibrid yang dihasilkan dari filial dapat dilihat pada tabel 4.5 Tabel 4.5 Kumpulan Filial yang dihasilkan Filial yang memilikiFenotip sama dengan parental Fenotip berbeda dengan parental Fenotip Albino – Snow – Eclipse Albino – Snow – Normal Non-Eclipse Normal Non-Albino – Snow (homozigot resesif) – Eclipse (Gen Snow) Albino – Normal Non-Snow – Eclipse Albino – Normal Non-Snow – Normal Non-Eclipse Albino – Snow (homozigot resesif) – Eclipse Albino – Snow (homozigot resesif) – Eclipse (Gen Snow) Normal Non-Albino – Snow – Eclipse Normal Non-Albino – Snow – Normal Non-Eclipse Total: Jumlah Filial Persentase (ekor) 9 36 % 3 12 % 1 4% 5 20 % 2 8% 2 8% 1 4% 1 4% 1 4% 25 100 % Keterangan: Rasio fenotip yang muncul pada filial ialah 9 : 3 : 1 : 5 : 2 : 2 : 1 : 1 : 1 Tujuan penulis dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan leopard gecko dengan kombinasi ketiga gen yaitu albino, snow (homozigot resesif) dan eclipse, dari persilangan yang telah dilakukan peneliti mendapatkan 2 ekor filial yang memiliki fenotip tersebut. Leopard gecko dengan fenotip trihibrid seperti itu memiliki harga pasaran yang lebih tinggi daripada leopard gecko lain yang dihasilkan dari penelitian ini. Selain itu peneliti juga ingin melakukan persilangan lebih lanjut dengan leopard gecko yang diinginkan tersebut untuk mendapatkan motif pied pada leopard gecko

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 dengan fenotip ini. Leopard gecko dengan motif pied merupakan leopard gecko snow homozigot resesif dan eclipse yang memiliki warna belang putih yang lebih banyak dari leopard gecko biasanya. Warna putih tersebut dapat timbul dari persilangan antar fenotip ini. B. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yaitu: 1. Jumlah keturunan yang dihasilkan oleh leopard gecko dalam sekali perkawinan cukup sedikit sehingga cukup sulit untuk mendapatkan variasi fenotip. 2. Jumlah literatur mengenai topik ini masih sangat kurang sehingga topik yang dibahas masih kurang mendalam.

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Hasil persilangan trihibrid antara strain albino, snow dan eclipse ialah: (Albino – Snow – Eclipse) (Albino – Snow – Normal Non-Eclipse) (Normal Non-Albino – Snow *homozigot resesif* – Eclipse *Gen Snow*) (Albino – Normal Non-Snow – Eclipse) (Albino – Normal NonSnow – Normal Non-Eclipse) (Albino – Snow *homozigot resesif* – Eclipse) (Albino – Snow *homozigot resesif* – Eclipse *Gen Snow*) (Normal Non-Albino – Snow – Eclipse) (Normal Non-Albino – Snow – Normal Non-Eclipse) 2. Rasio fenotip yang muncul pada filial ialah 9 : 3 : 1 : 5 : 2 : 2 : 1 : 1 : 1 B. Saran 1. Dalam persilangan perlu menggunaan jumlah parental dengan jumlah yang banyak untuk mendapatkan variasi fenotip pada filial yang dihasilkan. 2. Perlu adanya penelitian lanjutan dalam persilangan trihibrid leopard gecko dengan fenotip lain. 43

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB VI IMPLEMENTASI HASIL PENELITIAN UNTUK PEMBELAJARAN Hasil penelitian mengenai analisis hasil persilangan trihibrid (albino, snow, dan eclipse) pada leopard gecko (Eublepharis macularius) yang telah dilakukan ini dapat diimplementasikan dalam pembelajaran di sekolah khususnya untuk SMA kelas XII pada materi pokok Genetika. Hasil dari penelitian ini dapat diterapkan pada materi mengenai faktor- faktor yang mempengaruhi rasio fenotip yang muncul pada filial. Kompetensi Dasar dalam materi ini yaitu: KD 3.5 Memahami pola- pola Hukum Mendel KD 4.5 Mengaitkan pola- pola Hukum Mendel dengan peristiwa yang ditemukan sehari- hari Hasil dari penelitian tentang analisis hasil persilangan trihibrid (albino, snow, dan eclipse) pada leopard gecko (Eublepharis macularius) menghasilkan 2 ekor filial yang memiliki fenotip trihibrid resesif yang artinya ketiga sifat (albino, snow, dan eclipse) tersebut muncul pada satu individu. Atas dasar ini, penelitian yang telah dilakukan dapat menambah variasi pembelajaran biologi secara lanjut tentang bagaimana rasio fenotip pada filial. Perencanaan proses pembelajaran dapat dilihat dalam Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang terlampir pada lampiran 3, pembelajaran dirancang dalam 3 kali pertemuan sebanyak 9 jam pelajaran. 44

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 DAFTAR PUSTAKA Agustini, 2016, Implementasi Diagonalisasi Matriks untuk menyelidiki pewarisan autusomal pada generasi ke-n, Skripsi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Makassar. Anonim, 2006, Leopard Gecko, http://www.rosamondgiffordzoo.org/assets/uploads/animals/pdf/LeopardG ecko.pdf, diakses pada tanggal 20 Agustus 2018. Anonim, 2008, Leopard Gecko Geneticts, https://www.geckoboa.com/leopardgecko-genetics.html, diakses pada tanggal 04 Februari 2018. Anonim, 2011, Leopard Gecko Care – Basic, http://www.leopardgecko.com/leopardgeckocare101.html, diakses pada tanggal 04 Februari 2018. Anonim, 2013, Leopard Gecko Morphs – Eublepharis macularius, http://www.reptilecalculator.com/leopard-gecko-morphs/, diakses pada tanggal 03 Februari 2018. Amelia, Rumi, 2016, Pengaruh Persilangan Strain Wild Type (N) dengan White (W) terhadap Jumlah Keturunan F2 Lalat Buat (Drosphila sp.), Skripsi, Institut Agama Islam Negeri Palangkaraya, Palangkaraya. Campbell, N.A., 2008. Biologi Jilid 1 Edisi 8. Erlangga. Jakarta. Castellanos, Cody, 2011, Leopard Gecko Eublepharis macularius, https://www.professionalreptiles.com/caresheets/leos.pdf, diakses pada tanggal 13 September 2018. Deric. 2012. Memilih dan Memelihara 35 Jenis Reptil dan Amfibi yang digemari. Jakarta (ID): AgroMedia Pustaka. Perez, Donna J., 2011, Facts on the Albino Leopard Gecko, Pets: Reptiles Amphibians, http://ezinearticles.com/?Facts-on-the-Albino-LeopardGecko&id=5715062, diakses pada tanggal 24 Agustus 2018. Ramadhani, Muhammad Reza, 2016, Berat Badan dan Morfometrik Leopard Gecko (Eublepharis macularius) Pada Berbagai Umur, Skripsi, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 Lampiran 1 Dokumentasi Penelitian A B C Keterangan : A. Leopard gecko saat menetas di dalam kotak yang berisi media perlite. B. Pemindahan leopard gecko ke kandang yang lebih besar. C. Kandang pembesaran leopard gecko.

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 Lampiran 2 SILABUS SMA IPA Satuan Pendidikan : SMA Budya Wacana Yogyakarta Matapelajaran : Biologi Peminatan Kelas/Semester : XII/1 Materi Pokok : Pola Pewarisan Sifat pada Hukum Mendel Alokasi Waktu : 9 JP (3 x 3 JP) Kompetensi Inti (KI) : KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. KI 2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. KI 3 : Memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. KI 4 : Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan. Kompetensi Dasar Materi Pokok Kegiatan Pembelajaran Penilaian Alokasi Waktu Media, Alat dan Bahan 3 JP • Buku Biologi siswa • Kotak kancing genetika • Lembar Kerja Siswa (LKS) 5. Pola Pewarisan Sifat pada Hukum Mendel 3.5 4.5 Memahami polapola Hukum Mendel Mengaitkan polapola Hukum Mendel dengan peristiwa yang ditemukan sehari- hari Hukum Mendel • Pewarisan Sifat • Genotip • Fenotip • Monohibrid • Dihibrid Mengamati • Mengamati keanekaragaman gen, dan jenis pada lingkungan sekitar (keluarga, teman sekolah, tetangga, dll). • Mengkaji literatur tentang istilah- istilah: alel, genotip, dan fenotip. • Pewarisan sifat menurut Mendel. Observasi Sikap Ilmiah (jujur, disiplin, bertanggung jawab gotong royong dan santun) Tes • Pemahaman konsep polapola pewarisan sifat dan penerapannya dalam kehidupan sehari- hari • Pemahaman perhitungan genotip dan fenotip

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 Menanya Siswa dimotivasi untuk bertanya tentang: • Variasi mahluk hidup • Ciri- ciri mahluk hidup yang diwariskan (misalnya ciri- ciri tubuh dalam anggota keluarga siswa) • Bagaimana pewarisan sifat itu terjadi • Hukum Mendel Eksplorasi / Eksperiment: • Melakukan simulasi persilangan monohibrid dan dihibrid menggunakan kancing genetika. • Mengkaitkan hasil demonstrasi dan simulasi dengan kajian literatur tentang pola penurunan sifat menurut Mendel (Hukum Mendel I dan II). • Membuat bagan persilangan monohibrid dan dihibrid mulai dari membuat simbul gen,

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 gamet, genotip dan menentukan fenotip induk dan menentukan ratio genotip dan fenotip F1 dan F2 nya menggunakan sistem papan catur atau sistem garpu. Mengasosiasikan • Latihan soal persilangan monohibrid dan dihibrid pada berbagai organisme (tumbuhan, hewan dan manusia). • Membuat kesimpulan tentang persilangan menurut pola Mendel. Mengkomunikasikan • Membuat laporan tertulis hasil percobaan persilangan dengan kancing genetika menurut pola Mendel

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 Penyimpangan Hukum Mendel Mengamati • Pewarisan sifat menurut penyimpangan semu Hukum • Atavisme Mendel. (Interaksi) • Kriptomeri • Polimeri • Epistasis dan Menanya Hipostasis • Komplementer Siswa dimotivasi untuk bertanya tentang: • • • • • Atavisme Kriptomeri Polimeri Epistasis dan hipostasis Komplementer Eksplorasi/ Eksperiment: • Melakukan demonstrasi penyilangan dihibrid menggunakan baling- baling genetika untuk mendapatkan data hasil persilangan. • Melakukan analisis pewarisan sifat menurut penyimpangan Observasi Sikap ( jujur, disiplin, bertanggung jawab, gotong royong dan santun) Tes • Pemahaman konsep penyimpangan Hukum Mendel • Pemahaman perhitungan hasil persilangan (genotip dan fenotip) 6 JP • Buku Biologi Siswa • Baling- baling genetika • Lembar Kerja Siswa (LKS)

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 Hukum Mendel dari hasil percobaan. Mengasosiasikan • Latihan soal persilangan : Interaksi, Kriptomeri, Polimeri, Komplementer, Epistasis dan Hipostasis. • Membuat kesimpulan tentang persilangan menurut pola Mendel dan penyimpangan Hukum Mendel. Mengkomunikasikan • Mempresentasikan hasil pembahasan soal persilangan di papan tulis.

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 Lampiran 3 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan : SMA Budya Wacana Matapelajaran : Biologi Peminatan Kelas/Semester : XII/1 Materi Pokok : Pola Pewarisan Sifat pada Hukum Mendel Alokasi Waktu : 9 JP (3 x 3 JP) A. Kompetensi Inti (KI) : KI 3 : Memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. KI 4 : Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi No 3.5 No Kompetensi Dasar Memahami pola- pola Hukum Mendel (C2) Indikator Penyampaian Kompetensi (IPK) No 4.5 No Kompetensi Dasar Mengaitkan pola- pola Hukum Mendel dengan peristiwa yang ditemukan sehari- hari. Indikator Penyampaian Kompetensi (IPK)

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 Mengetahui konsep dasar 3.5.1 tentang pewarisan sifat (C1) Menganalisis pola 3.5.2 persilangan monohibrid dan dihibrid (C4) Menjelaskan 3.5.3 penyimpangan semu pada Hukum Mendel (C2) Memecahkan persoalan 3.5.4 terkait Hukum Mendel (C4) Mempresentasikan 4.5.1 persilangan monohibrid dan dihibrid Mempresentasikan pola 4.5.2 penyimpangan semu Hukum Mendel C. Tujuan Pembelajaran Melalui kegiatan pembelajaran dengan pendekatan saintifik menggunakan model pembelajaran Kooperatif (Cooperative learning), peserta didik kelas XII dapat menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya dalam mempelajari pola pewarisan sifat pada Hukum Mendel dan mengaitkannya dengan peristiwa yang ditemukan sehari- hari dengan menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, kerjasama, dan santun. D. Materi Pembelajaran Konsep: Pengertian pewarisan sifat, genotip, fenotip monohibrid, dihibrid, atavisme, kriptomeri, polimeri, komplementer, epistasis dan hipostasis. Prosedur: Langkah- langkah membuat bagan persilangan monohibrid, dihibrid, atavisme, kriptomeri, polimeri, komplementer, epistasis dan hipostasis. E. Metode Pembelajaran Pendekatan : Saintifik Model : Pembelajaran Kooperatif (Cooperative learning) Metode : Discovery learning F. Alat/ Media Pembelajaran dan Sumber Belajar 1. Alat : LCD, Laptop 2. Media : Kancing genetika, baling- baling genetika 3. Sumber Belajar • Power point tentang Pola Pewarisan Sifat pada Hukum Mendel • Buku Paket: - Ferdinand P, Fictor dan Moekti Aribowo. 2009. Praktis Belajar Biologi 3 untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta: Pusat Perbukuan Depertemen Pendidikan Nasional

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 - Pratiwi D.A. dan Hinrina Perdhana Sari. 2015. Biologi untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)- Madrasah Aliyah (MA) Kelas XII. Jakarta: Erlangga G. Kegiatan Pembelajaran Pertemuan Pertama: 3 JP (3 x 45 menit) Deskripsi Kegiatan Pembelajaran Pendahuluan 1. a. Guru memberikan salam, meminta salah satu siswa memimpin doa. b. Guru melakukan presensi untuk mengecek kehadiran siswa serta meminta siswa membuang sampah yang ada di sekitar tempat duduknya dan membuang pada tempat sampah yang telah disediakan di depan kelas. c. Guru memberikan apersepsi dengan mengajak siswa mengamati teman sebelahnya. Kemudian mengajukan pertanyaan, yaitu: - Apakah yang menyebabkan dalam satu buah jagung terdapat ragam warna yang bervariasi? d. Guru mengecek kesiapan mental siswa dan memberikan motivasi dengan bertanya: - Perbedaan dan persamaan apa saja yang kalian dan teman kalian miliki? - Termasuk ke dalam apakah fenomena tersebut? - Apa saja yang menyebabkan terjadinya fenomena tersebut? e. Guru menyampaikan kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam pembelajaran yaitu memahami prinsip dan dasar pola pewarisan sifat. f. Guru menyampaikan garis besar materi ringkas yang akan dipelajari tentang pola pewarisan sifat. g. Guru membagi peserta didik dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari empat hingga lima orang. Kegiatan Inti 1. Stimulation (Pemberian Stimulus) a. Guru memberikan kasus tentang ciri- ciri makhluk hidup yang diwariskan misalnya ciri- ciri tubuh dalam anggota keluarga, siswa mengamati bagaimana proses dari pewarisan sifat tersebut. b. Salah satu kelompok mempresentasikan hasil pengamatannya di depan kelas. c. Guru memberikan klarifikasi di depan kelas. 2. Problem Statement (Identifikasi Masalah) a. Setiap kelompok diberikan soal tentang pewarisan sifat, persilangan monohibrid dan dihibrid. Alokasi Waktu 15’ 105’

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 b. Peserta didik mengerjakan soal- soal yang telah diberikan oleh guru dengan menggunakan kancing genetika. 3. Data Collection (Pengumpulan Data) a. Peserta didik mencari dan membaca berbagai referensi dari berbagai sumber guna melengkapi jawaban dari lembar kerja tersebut. 4. Data Processing (Pengolahan Data) a. Setiap kelompok diberikan waktu untuk mengerjakan soal persilangan monohibrid dan dihibrid pada lembar kerja yang didapatkan. 5. Verification (Verifikasi) a. Setiap peserta didik melakukan verifikasi data dengan santun melalui pendapat dengan teman kelompok lain yang mempresentasikan hasil olahan datanya. 6. Generalization (Menarik Kesimpulan) a. Peserta didik berdiskusi kembali untuk menyimpulkan hasil dari diskusi bersama guru secara tertulis dalam lembar kerja. b. Setiap kelompok menyampaikan kesimpulannya secara lisan. c. Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menanyakan mengenai materi tentang hukum Mendel: genotip, fenotip, monohibrid, dan dihibrid. d. Guru menampilkan hasil presentasi siswa di depan kelas. e. Guru memberikan klarifikasi terkait dengan materi yang telah dipresentasikan peserta didik. Kegiatan Penutup 15’ 1. a. Guru mengecek kelengkapan data yang dikerjakan siswa. b. Guru meminta siswa untuk mengumpulkan informasi mengenai penyimpangan semu hukum Mendel sebagai tindak lanjut Pertemuan Kedua: 3 JP (3 x 45 menit) Deskripsi Kegiatan Pembelajaran Pendahuluan 1. a. Guru memberikan salam, meminta salah satu siswa memimpin doa. b. Guru melakukan presensi untuk mengecek kehadiran siswa. Alokasi Waktu 15’

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 c. Guru memberikan apersepsi dengan bertanya tentang tugas yang diberikan yaitu mengumpulkan informasi mengenai penyimpangan semu hukum Mendel. d. Guru menayangkan gambar ayam yang memiliki bentuk jengger yang berbeda. Kemudian mengajukan pertanyaan, yaitu: - Apakah ada perbedaan antara variasi jengger ayam dengan variasi rambut yang kita miliki? e. Guru mengecek kesiapan mental siswa dan memberikan motivasi dengan bertanya: - Apakah fenomena tersebut sesuai dengan hukum Mendel? f. Guru menyampaikan kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam pembelajaran yaitu memahami prinsip penyimpangan semu hukum Mendel: atavisme, kriptomeri, polimeri. g. Guru menyampaikan garis besar materi ringkas yang akan dipelajari tentang pola penyimpangan semu hukum Mendel. h. Guru membagi peserta didik dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari empat hingga lima orang. Kegiatan Inti 1. Stimulation (Pemberian Stimulus) a. Guru memberikan berbagai kasus tentang penyimpangan semu hukum Mendel misalnya persilangan pada variasi bentuk jengger ayam, siswa mengamati bagaimana proses dari persilangan tersebut. b. Salah satu kelompok mempresentasikan hasil pengamatannya di depan kelas. c. Guru menayangkan jawaban yang tepat di depan kelas. 2. Problem Statement (Identifikasi Masalah) a. Setiap kelompok diberikan soal tentang persilangan penyimpangan semu hukum Mendel serta balingbaling genetika. b. Peserta didik memecahkan permasalahan soal- soal yang telah diberikan oleh guru menggunakan balingbaling genetika. 3. Data Collection (Pengumpulan Data) a. Peserta didik mencari dan membaca berbagai referensi dari berbagai sumber guna melengkapi jawaban dari lembar kerja tersebut. 4. Data Processing (Pengolahan Data) 105’

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 a. Setiap kelompok diberikan waktu untuk mengerjakan soal persilangan penyimpangan semu hukum Mendel pada lembar kerja yang didapatkan. b. Guru meminta siswa untuk memastikan bahwa setiap jawaban sudah sesuai dengan perhitungan. 5. Verification (Pembuktian) a. Peserta didik melakukan verifikasi data dengan santun melalui pendapat dengan teman kelompok lain yang mempresentasikan hasil olahan datanya. 6. Generalization (Menarik Kesimpulan) a. Peserta didik berdiskusi kembali untuk menyimpulkan dari hasil diskusi bersama guru secara tertulis dalam lembar kerja. b. Setiap kelompok menyampaikan kesimpulannya secara lisan. c. Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menanyakan mengenai materi tentang persilangan pada penyimpangan semu hukum Mendel: atavisme, kriptomeri, polimeri. d. Guru mengklarifikasi jawaban siswa terkait dengan materi penyimpangan semu hukum Mendel. Kegiatan Penutup 15’ 1. a. Peserta didik diminta menyimpulkan apa yang telah dipelajari. b. Guru melakukan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk meminta siswa untuk mengumpulkan informasi mengenai penyimpangan semu hukum Mendel lain yaitu epistasis, hipostasis dan komplementer. Pertemuan Ketiga: 3 JP (3 x 45 menit) Deskripsi Kegiatan Pembelajaran Pendahuluan 1. a. Guru memberikan salam, meminta salah satu siswa memimpin doa. b. Guru melakukan presensi untuk mengecek kehadiran siswa. c. Guru memberikan apersepsi dengan menayangkan contoh- contoh lain dari penyimpangan semu hukum Mendel yang telah dibahas pada minggu lalu. d. Guru memberikan kegiatan motivasi dengan bertanya: - Apa perbedaan atavisme, kriptomeri, polimeri, epistasis, hipostasis, dan komplementer? Alokasi Waktu 15’

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 e. Guru menyampaikan kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam pembelajaran yaitu memahami prinsip penyimpangan semu hukum Mendel: epistasis, hipostasis, komplementer. f. Guru menyampaikan garis besar materi ringkas yang akan dipelajari tentang pola penyimpangan semu hukum Mendel. g. Guru membagi peserta didik dalam beberapa kelompok yang sama seperti pada pertemuan sebelumnya. Kegiatan Inti 1. Data Processing (Pengolahan Data) a. Peserta didik berdiskusi dalam kelompok untuk menyatukan dan mengolah data yang telah dikerjakan pada pertemuan sebelumnya. b. Peserta didik menuliskan hasil perhitungan ke dalam lembar kerja sesuai dengan hasil yang didapatkan. c. Dalam mengerjakan lembar kerja, peserta didik dapat membaca berbagai referensi dari berbagai sumber guna menambah pengetahuan dan pemahaman tentang materi penyimpangan semu hukum Mendel yang sedang dipelajari. d. Satu atau dua kelompok mengkomunikasikan atau mempresentasikan didepan kelas secara lisan hasil persilangan yang dikerjakan sedangkan kelompok lain menanggapi presentasi kelompok tersebut. e. Guru menampilkan hasil presentasi peserta didik di depan kelas. 2. Verification (Pembuktian) a. Peserta didik melakukan verifikasi data dengan sikap dan bahasa yang santun melalui pendapat dengan teman kelompok lain yang mempresentasikan hasil olahan datanya. b. Peserta didik diarahkan guru untuk mendokumentasikan data atau konsep hasil verifikasi. 3. Generalization (Menarik Kesimpulan) a. Peserta didik berdiskusi kembali untuk menyimpulkan dari hasil diskusi bersama guru secara tertulis dalam lembar kerja. b. Setiap kelompok menyampaikan kesimpulannya secara lisan. c. Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menanyakan mengenai materi tentang persilangan pada penyimpangan semu hukum Mendel: epistasis, hipostasis, komplementer. 105’

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 d. Guru mengklarifikasi jawaban siswa terkait dengan materi penyimpangan semu hukum Mendel. Kegiatan Penutup 15’ 1. a. Peserta didik diminta untuk menyimpulkan apa yang telah dipelajari. b. Peserta didik menjawab pertanyaan terkait materi yang telah dibahas. c. Peserta didik diminta untuk mengungkapkan apa manfaat yang diperoleh setelah mempelajari materi penyimpangan semu hukum Mendel. d. Peserta didik diberi tugas oleh guru untuk mengumpulkan informasi tentang materi selanjutnya tentang hereditas dan penyakit turunan. e. Guru memberitahu peserta didik bahwa di pertemuan berikutnya akan diadakan Ulangan Harian tentang Pola Pewarisan Sifat Hukum Mendel dan Penyimpangan Semu Hukum Mendel. H. Penilaian Proses dan Hasil Belajar 1. Teknik Penilaian: a. Penilaian sikap : Observasi/ pengamatan b. Penilaian pengetahuan : Tes tertulis (Ulangan Harian) c. Penilaian keterampilan : Unjuk kerja 2. Bentuk Penilaian: a. Observasi : Lembar pengamatan aktivitas peserta didik b. Tes tertulis : Uraian dan lembar kerja c. Unjuk kerja : Lembar penilaian presentasi 3. Instrumen Penelitian (terlampir) Yogyakarta, Mengetahui : Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 Lampiran 4 Materi Pembelajaran yang akan disampaikan A. Pewarisan Sifat Pada setiap proses perkawinan, tidak semua sifat yang ada pada induk atau orangtua diwariskan kepada anak-anaknya. Apabila salah satu orang tuamu memiliki rambut ikal (keriting) maka tidak semua anak akan memiliki rambut keriting. Hal ini karena sifat yang diwariskan berasal dari kedua orangtua, bukan hanya satu. Pada kasus rambut keriting, sifat rambut keriting ini bersifat lebih berkuasa dibandingkan dengan sifat rambut lurus sehingga anak akan lebih banyak memiliki rambut keriting dibandingkan dengan rambut lurus. Sifat lebih berkuasa rambut keriting ini dinamakan dengan dominan dan sifat rambut lurus dinamakan resesif. Rambut lurus disebabkan karena ada interaksi gen resesif dari ibu dan ayah. Dalam ilmu Genetika, bentuk rambut yang dihasilkan dari interaksi gen itu disebut dengan fenotip (penampakan), sedangkan interaksi gen di dalam tubuh diartikan sebagai genotip (penyebab penampakan sifat). Genotip biasanya dituliskan dalam suatu simbol-simbol yang menjelaskan suatu sifat. Sifat yang dominan ditulis dengan huruf besar dan sifat resesif ditulis dalam huruf kecil. Pada rambut keriting dan lurus, genotip yang dituliskan adalah KK atau Kk untuk keriting dan kk untuk rambut lurus. Kk tetap menghasilkan fenotip rambut keriting karena K dominan terhadap k penyebab rambut lurus. Apabila rambut kedua orangtua Anda adalah keriting, sedangkan Anda berambut lurus maka Anda jangan berpikir bahwa Anda adalah bukan keturunan orang tua Anda karena tidak memiliki kesamaan rambut dengan mereka. Hal ini dimungkinkan jika kedua orangtua memiliki gen heterozigot. Perhatikan Gambar 1 berikur. Keterangan: K = gen keriting (dominan) k = gen lurus (resesif) KK = homozigot dominan/ keriting Kk = heterozigot/ keriting kk = homozigot/ lurus Gambar 1 Pola distribusi gen- gen dari kedua orangtua kepada keturunannya.

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 Genotip dari suatu sifat dapat ditulis dalam dua bentuk. Apabila genotip rambut keriting tersebut adalah KK maka genotip ini disebut dengan homozigot (terdiri atas genotipe yang sama). Jika Kk disebut heterozigot, terdiri atas genotip yang berlainan, namun masih memengaruhi satu sifat. Dari gambar tersebut dapat disimpulkan bahwa seorang anak yang dilahirkan dari keluarga tersebut memiliki peluang 75% berambut keriting dan 25% berambut lurus. B. Pola- pola Hereditas Pewarisan sifat dari induk kepada turunannya mengikuti suatu pola hereditas (pewarisan sifat) tertentu. Pola pewarisan sifat pertama kali diamati oleh Mendel. Setelah diteliti lebih lanjut, para ilmuwan mendapati perbedaanperbedaan yang tidak sesuai dengan pola yang dikemukakan Mendel, antara lain penyimpangan semu hukum Mendel, pautan dan pindahan silang, determinasi seks, dan gen letal. 1. Hukum Mendel Pewarisan sifat dipelajari pertama kali oleh Gregor Johann Mendel (1822–1884). Mendel melakukan percobaan pewarisan sifat pada tanaman ercis (Pisum sativum) (perhatikanlah Gambar 2). Gambar 2 Percobaan yang dilakukan Mendel pada tanaman ercis (Pisum sativum) Ada beberapa alasan mengapa tanaman ercis dipilih oleh Mendel untuk memulai percobaannya ini, di antaranya sebagai berikut.

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 a. Tanaman ercis (Pisum sativum) memiliki variasi yang cukup kontras, di antaranya: • Warna biji : kuning dan hijau • Kulit biji : kisut dan halus • Bentuk buah/ polong : halus dan bergelombang • Warna bunga : ungu dan putih • Tinggi batang : panjang dan pendek • Posisi bunga : aksial (ketiak daun) dan terminal (ujung batang) b. Dapat melakukan penyerbukan sendiri. c. Cepat menghasilkan keturunan. d. Mudah dikawinsilangkan. Dalam percobaannya, Mendel selalu menuliskan perihal data yang diperolehnya dan menemukan suatu keteraturan jumlah perbandingan pada setiap sifat yang dikawinkannya tersebut (perhatikan Gambar 3). Gambar 3 Perbedaan sifat yang mencolok pada tanaman ercis (Pisum sativum) Seluruh hasil pengamatan terhadap percobaannya itu menghasilkan perbandingan 3 : 1. Dari percobaan pertamanya ini, Mendel kemudian merumuskan suatu hipotesis bahwa sifat yang ada pada organisme akan diturunkan secara bebas atau dikenal dengan Hukum I Mendel.

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 a. Persilangan Monohibrid Persilangan monohibrid merupakan persilangan yang hanya menggunakan satu macam gen yang berbeda atau menggunakan satu tanda beda. Anda telah mengetahui bahwa ada pasangan gen pada kromosom homolognya yang berpengaruh terhadap suatu sifat. Melalui percobaan yang dilakukan oleh Mendel maka Anda dapat lebih mengerti mengenai pengaruh alel yang memberikan variasi pada bentuk atau fenotip makhluk hidup. Mendel mengawinkan bunga ercis berwana ungu dengan bunga ercis berwarna putih. Perkawinan induk ini dinamakan dengan parental (P). Hasil perbandingan anakan yang diperoleh disebut dengan filial (F). Hasil perkawinan pertama adalah seluruhnya memiliki warna bunga ungu. Tumbuhan kacang ercis sesama bunga ungu ini lalu dikawinkan sesamanya dan diperoleh hasil 3 bunga ungu berbanding satu bunga putih. Perhatikan Gambar 4. Sumber: Biological cience, 1986 Gambar 4 Persilangan monohibrid menghasilkan rasio fenotip 3:1 Pada beberapa kasus, terdapat gen sealel yang tidak dominan terhadap lainnya. Keadaan ini disebut dominan tidak penuh. Pada dominan tidak penuh, individu heterozigot memiliki fenotip pencampuran dari kedua sifat gen sealel. Sifat ini disebut intermediet. b. Persilangan Dihibrid Persilangan dihibrid merupakan persilangan yang menggunakan dua tanda beda atau dua pasangan kromosom yang berbeda. Suatu sifat

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 dari organisme tidak hanya diturunkan melalui satu jenis alel saja, tetapi beberapa sifat juga dapat diturunkan oleh beberapa alel secara bersamaan. Sifat ini dipelajari oleh Mendel dalam percobaan kacang ercisnya. Mendel melihat adanya beberapa sifat kacang ercis yang disilangkan muncul dalam generasi selanjutnya. Ia mulai dengan menyilangkan dua sifat beda, seperti kacang ercis biji bulat warna kuning dengan biji kisut warna hijau. Jika kacang ercis biji bulat adalah BB dan kacang ercis biji warna kuning adalah KK maka kacang ercis biji bulat warna kuning adalah BBKK dan kacang ercis biji kisut warna hijau adalah bbkk. Dari persilangan parental kacang ercis biji bulat warna kuning (BBKK) dengan kacang ercis biji kisut warna hijau (bbkk), warna kuning seluruhnya (BbKk). Perkawinan antara F1 dapat dilakukan dengan perhitungan sebagai berikut. Dari metode di atas, diperoleh perbandingan fenotip = 9/16 biji bulat kuning, 3/16 biji bulat hijau, 3/16 biji kisut kuning, dan 3/16 biji kisut hijau. Dalam banyak persilangan antara organisme heterozigot dengan dua pasang gen, maka kombinasi perbandingan 9 : 3 : 3 : 1 adalah jumlah yang sangat umum ditemukan. Perhatikanlah Gambar 5. Dari percobaan ini, Mendel menemukan bahwa setiap sifat dari

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 kedua induk diturunkan secara bebas dan tidak terikat dengan sifat yang lainnya sehingga Mendel menamakannya hukum pemisahan secara bebas atau disebut Hukum II Mendel. Jika terdapat dua individu berbeda dalam dua sifat atau lebih maka sifat yang satu akan diturunkan tidak bergantung pada pasangan sifat lainnya. Gambar 5 Persilangan dihibrid yang dilakukan Mendel menghasilkan rasio fenotip 9 : 3 : 3 : 1 Pada banyak kejadian, para ilmuwan mendapatkan jumlah perbandingan anakan F2 yang berbeda perbandingan jumlah umum yang ditemukan oleh Mendel dalam percobaannya. Perbandingan tersebut adalah misalnya (15 : 1), (12 : 3 : 1 ), (9 : 3 : 4), atau (9 : 6 : 1). Namun, jika diperhatikan dengan saksama, perbandingan-perbandingan tersebut merupakan kombinasi dari perbandingan genotip yang ditemukan oleh Mendel 9 : 3 : 3 : 1. Karenanya, beberapa perbandingan lain yang

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 ditemukan sebagai hasil dari perkawinan organisme dengan dua sifat beda dinamakan dengan penyimpangan semu hukum Mendel. Selain itu, terdapat juga beberapa pengembangan dari dasar-dasar pengetahuan genetika Mendel yang digunakan untuk mengetahui berbagai macam pola pewarisan sifat yang akan Anda pelajari selanjutnya. 2. Penyimpangan Semu Hukum Mendel Pada tahun 1906, W. Bateson dan R.C Punnet menemukan bahwa pada persilangan F2 dapat menghasilkan rasio fenotip 14 : 1 : 1 : 3. Mereka menyilangkan kacang kapri berbunga ungu yang serbuk sarinya lonjong dengan bunga merah yang serbuk sarinya bulat. Rasio fenotip dari keturunan ini menyimpang dari hukum Mendel yang seharusnya pada keturunan kedua (F2) perbandingan rasionya 9 : 3 : 3 : 1. Tahun 1910 T.H. Morgan, seorang sarjana Amerika dapat memecahkan misteri tersebut. Morgan menemukan bahwa kromosom mengandung banyak gen dan mekanisme pewarisannya menyimpang dari Hukum II Mendel. Pada lalat buah, sampai saat ini telah diketahui kira-kira ada 5.000 gen, sedangkan lalat buah hanya memiliki 4 pasang kromosom saja. Berarti, pada sebuah kromosom tidak terdapat sebuah gen saja, melainkan puluhan bahkan ratusan gen. Pada umumnya, gen memiliki pekerjaan sendiri-sendiri untuk menumbuhkan sifat, tetapi ada beberapa gen yang berinteraksi atau dipengaruhi oleh gen lain untuk menumbuhkan sifat. Gen tersebut mungkin terdapat pada kromosom yang sama atau pada kromosom yang berbeda. Interaksi antargen akan menimbulkan perbandingan fenotip yang keturunannya menyimpang dari hukum Mendel, keadaan ini disebut penyimpangan semu hukum Mendel. Jika pada persilangan dihibrid, menurut Mendel perbandingan fenotip F2 adalah 9 : 3 : 3 : 1, pada penyimpangan semu perbandingan tersebut dapat menjadi (9 : 3 : 4), (9 : 7), atau (12 : 3 : 1). Perbandingan tersebut merupakan modifikasi dari 9 : 3 : 3 : 1. Interaksi gen yang menyebabkan terjadinya penyimpangan hukum Mendel terdapat 4 bentuk, yaitu atavisme, kriptomeri, polimeri, epistasis, hipostasis, dan komplementer. a. Atavisme (Interaksi) Atavisme atau interaksi bentuk pada pial (jengger) ayam diungkap pertama kali oleh W. Bateson dan R.C. Punnet. Karakter jengger tidak hanya diatur oleh satu gen, tetapi oleh dua gen yang berinteraksi. Pada beberapa jenis ayam, gen R mengatur jengger untuk

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 bentuk ros, gen P untuk fenotip pea, gen R dan gen P jika bertemu membentuk fenotip walnut. Adapun gen r bertemu p menimbulkan fenotip singel (Gambar 6). Sumber: Biological cience, 1986 Gambar 6 Bentuk jengger pada ayam (a) single, (b) pea, (c) walnut, dan (d) ros.

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 Berdasarkan hasil persilangan tersebut, kita mendapatkan rasio fenotip sebagai berikut: 9 Walnut : 3 Ros : 3 Pea : 1 Singel Berbeda dengan persilangan yang dilakukan oleh Mendel dengan kacang ercisnya maka sifat dua buah bentuk jengger dalam satu ayam sangatlah ganjil. Dengan adanya interaksi antara dua gen dominan dan gen resesif seluruhnya akan menghasilkan variasi fenotip baru, yakni ros dan pea. Gen dominan R yang berinteraksi dengan gen resesif p akan menghasilkan bentuk jengger ros dan gen resesif r yang bertemu dengan gen dominan P akan menghasilkan bentuk jengger pea. Perbedaan bentuk jengger ayam ini dinamakan dengan atavisme. b. Kriptomeri Salah satu penyimpangan dari hukum Mendel adalah adanya kriptomeri, yaitu gen dengan sifat dominan yang hanya akan muncul jika hadir bersama dengan gen dominan lainnya. Peristiwa ini pertama kali diamati oleh Correns pada saat pertama kali mendapatkan hasil perbandingan persilangan bunga Linaria maroccana dari galur alaminya yaitu warna merah dan putih. Hasil F1 dari persilangan tersebut ternyata menghasilkan bunga berwarna ungu seluruhnya.

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 Dari hasil persilangan antara generasi F1 berwarna ungu ini, dihasilkan generasi Linaria maroccana dengan perbandingan F2 keseluruhan antara bunga warna ungu : merah : putih adalah 9 : 3 : 4. Setelah dilakukan penelitian, warna bunga merah ini disebabkan oleh antosianin, yakni suatu pigmen yang berada dalam bunga. Bunga berwarna merah diidentifikasi sebagai bunga yang tidak memiliki antosianin. Dari penelitian lebih jauh, ternyata warna merah disebabkan oleh antosianin yang hadir dalam kondisi sel yang asam dan jika hadir dalam kondisi basa akan dihasilkan bunga dengan warna ungu. Bunga tanpa antosianin akan tetap berwarna putih jika hadir dalam kondisi asam ataupun basa. Bunga merah ini bersifat dominan terhadap bunga putih yang tidak berantosianin. Jika kita misalkan bunga dengan antosianin adalah A dan bunga tanpa antosianin adalah a, sedangkan pengendali sifat sitoplasma basa adalah B dan pengendali sitoplasma bersuasana asam adalah b, persilangan antara bunga putih dengan bunga merah hingga dihasilkan keturunan kedua adalah sebagai berikut.

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 c. Polimeri Salah satu tujuan dari persilangan adalah menghasilkan varietas yang diinginkan atau hadirnya varietas baru. Dari persilangan yang dilakukan oleh Nelson Ehle pada gandum dengan warna biji merah dengan putih, ia menemukan variasi warna merah yang dihasilkan pada keturunannya. Peristiwa ini mirip dengan persilangan dihibrid tidak dominan sempurna yang menghasilkan warna peralihan seperti merah muda. Hanya saja, warna yang dihasilkan ini tidak hanya dikontrol oleh satu pasang gen saja, melainkan oleh dua gen yang berbeda lokus, namun masih memengaruhi terhadap sifat yang sama. Peristiwa ini dinamakan dengan polimeri. Pada contoh kasus persilangan antara biji gandum berwarna merah dengan biji gandum berwarna putih dapat Anda perhatikan pada bagan berikut. Hasil persilangan di atas menghasilkan perbandingan fenotip 15 kulit biji berwarna merah dan hanya satu kulit biji berwarna putih. Warna merah dihasilkan oleh gen dominan yang terkandung di dalam gandum tersebut, baik M1 maupun M2. Pada kenyataannya, warna merah yang dihasilkan sangat bervariasi, mulai dari warna merah tua, merah sedang, merah muda, hingga merah pudar mendekati putih. Semakin banyak gen dominan

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 yang menyusunnya, semakin merah juga warna kulit gandum tersebut. Peristiwa polimeri ini melibatkan beberapa gen yang berada di dalam lokus berbeda namun memengaruhi satu sifat yang sama. Pada kasus warna kulit biji gandum ini, efek dari hadirnya gen dominan bersifat akumulatif terhadap penampakan warna merah. Jadi, semakin banyak gen dominan pada organisme, akan semakin merah juga dihasilkan warna kulit biji gandumnya. d. Epistasis dan Hipostasis Dalam interaksi beberapa gen ini, kadang salah satu gen bersifat menutupi baik terhadap alelnya dan alel lainnya. Sifat ini dikenal dengan nama epistasis dan hipostatis. Epistasis adalah sifat yang menutupi, sedangkan hipostasis adalah sifat yang ditutupi. Pasangan gen yang menutup sifat lain tersebut dapat berupa gen resesif atau gen dominan. Apabila pasangan gen dominan yang menyebabkan epistasis, prosesnya dinamakan dengan epistasis dominan, sedangkan jika penyebabnya adalah pasangan gen resesif, prosesnya dinamakan dengan epistasis resesif. Peristiwa epistasis ini dapat ditemukan pada pembentukan warna biji tanaman sejenis gandum dan pembentukan warna kulit labu (Cucurbita pepo). Pada pembentukan warna kulit biji gandum, Nelson Ehle menyilangkan dua varietas gandum warna kulit biji hitam dengan warna kulit biji kuning. Nelson Ehle adalah seorang peneliti yang pertama kali

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 mengamati pengaruh epistasis dan hipostatis pada pembentukan warna kulit biji gandum. Hasil pengamatannya menunjukkan bahwa 100% warna kulit biji yang dihasilkan adalah hitam. Pada persilangan sesama F2, dihasilkan gandum dengan kulit biji berwarna hitam, kuning, dan putih. Perbandingan fenotipnya dapat diperhatikan pada diagram persilangan berikut ini. Dari diagram tersebut dapat kita peroleh perbandingan fenotipnya, yaitu 12 hitam : 3 kuning : 1 putih. Dapat dilihat pada persilangan ini, setiap kemunculan gen H dominan maka fenotip yang dihasilkannya adalah langsung warna biji hitam. Warna biji kuning hanya akan hadir apabila gen dominan K bertemu dengan gen resesif h, sedangkan warna putih disebabkan oleh interaksi sesama gen resesif. Dengan demikian, gen dominan H bersifat epistasis terhadap gen K sehingga peristiwa ini dinamakan dengan epistasis dominan. Peristiwa epistasis lainnya dapat ditemukan pada pembentukan warna rambut tikus. Warna hitam pada rambut tikus disebabkan oleh adanya gen R dan C bersama, sedangkan warna krem disebabkan oleh rr dan C. Apabila terdapat gen cc, akan dihasilkan warna albino. Perhatikan diagram berikut.

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 Persilangan antartikus berwarna hitam homozigot dengan tikus berwarna albino menghasilkan generasi pertama F1 tikus berwarna hitam semua. Berdasarkan hasil persilangan kedua, ternyata dihasilkan rasio fenotip 9 hitam : 3 krem : 4 albino. Kita dapat melihat, adanya gen resesif cc menyebabkan semua warna rambut tikus albino. Adapun kombinansi gen dominan menyebabkan warna hitam. Hadirnya gen dominan C menyebabkan warna rambut tikus krem. e. Komplementer Salah satu tipe interaksi gen-gen pada organisme adalah saling mendukung munculnya suatu fenotip atau sifat. W. Bateson dan R.C. Punnet yang bekerja pada bunga Lathyrus adoratus menemukan kenyataan ini. Mereka melakukan persilangan sesama bunga putih dan menghasilkan keturunan F2 bunga berwana ungu seluruhnya. Pada persilangan bunga- bunga berwarna ungu F2, ternyata dihasilkan bunga dengan warna putih dalam jumlah yang banyak dan berbeda dengan perkiraan sebelumnya, baik hukum Mendel atau sifat kriptomeri. Penelitian lebih lanjut yang dilakukan oleh keduanya mengungkapkan ada dua gen yang berinteraksi memengaruhi warna bunga, yakni gen yang mengontrol munculnya bahan pigmen (C) dan gen yang mengaktifkan bahan tersebut (P). Jika keduanya tidak hadir bersamaan, tentu tidak saling melengkapi antara sifat satu dengan yang lainnya dan menghasilkan bunga dengan warna putih (tidak berpigmen).

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 Apabila tidak ada bahan pigmen, tentu tidak akan muncul warna, meskipun ada bahan pengaktif pigmennya. Begitupun sebaliknya, apabila tidak ada pengaktif pigmen maka pigmen yang telah ada tidak akan dimunculkan dan tetap menghasilkan bunga tanpa pigmen (berwarna putih). Persilangan yang dilakukan oleh Bateson dan Punnet dapat diamati pada diagram berikut ini. Sifat yang dihasilkan oleh interaksi gen yang saling melengkapi dan bekerja sama ini dinamakan dengan komplementer. Ketidakhadiran sifat dominan pada suatu pasangan gen tidak akan memunculkan sifat fenotip dan hanya akan muncul apabila hadir bersama-sama dalam pasangan gen dominannya.

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 Lampiran 5 LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK I Pola Pewarisan Sifat pada Hukum Mendel Nama Kelompok: 1…………………… 2…………………… 3…………………… 4…………………… 1. Tujuan Pembelajaran 1. Siswa dapat menjelaskan aplikasi Hukum Mendel I dalam persilangan monohibrid dengan benar 2. Siswa dapat menjelaskan aplikasi Hukum Mendel I dalam persilangan dihibrid dengan benar 2. Alat dan Bahan 1. Persilangan Monohibrid - Toples (2 buah) - 5 Pasang kancing berwarna merah - 5 Pasang kancing berwarna putih 2. Persilangan Dihibrid - Toples (4 buah) - 5 Pasang kancing berwarna merah - 5 Pasang kancing berwarna putih - 5 Pasang kancing berwarna hijau - 5 Pasang kancing berwarna kuning 3. Cara Kerja Persilangan Monohibrid 1. Pada masing- masing toples masukkan 5 kancing berwarna merah dan 5 kancing berwarna putih. Dua toples tersebut mewakili dua individu pada generasi F1 pada percobaan, kancing berwarna merah mewakili gen dominan (M) dan kancing berwarna putih mewakili gen resesif (m). 2. Kocok masing- masing stoples hingga semua kancing tercampur. 3. Masukkan satu tangan ke dalam satu toples dan tangan satunya ke toples lain. Ambil kancing tersebut secara bersamaan dan acak (jangan memilih waktu mengambil). Letakkan kedua kancing tersebut di atas meja (kancing mewakili zigot). Catat hasilnya apakah kombinasi kancing berupa merahmerah, merah-putih, atau putih-putih. 4. Ulangi proses ini sebanyak 10 kali.

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 Persilangan Dihibrid 1. Pada tiap toples masukkan: - Toples 1: 5 kancing berwarna merah dan 5 kancing berwarna putih - Toples 2: 5 kancing berwarna merah dan 5 kancing berwarna putih - Toples 3: 5 kancing berwarna hijau dan 5 kancing berwarna kuning - Toples 4: 5 kancing berwarna hijau dan 5 kancing berwarna kuning 2. Toples 1 sampai 4 mewakili dua individu yang memiliki dua sifat beda pada generasi F1 pada percobaan, kancing berwarna merah mewakili gen dominan (M), kancing berwarna putih mewakili gen resesif (m) serta kancing berwarna hijau mewakili gen dominan (H), kancing berwarna kuning mewakili gen resesif (h) 3. Kocok masing- masing stoples hingga semua kancing tercampur. 4. Masukkan satu tangan ke dalam toples 1 dan tangan satunya ke toples 2. Minta bantuan temanmu untuk melakukan hal yang sama pada toples 3 dan 4. Ambil kancing tersebut secara bersamaan dan acak (jangan memilih waktu mengambil). Letakkan keempat kancing tersebut di atas meja (kancing mewakili zigot). Catat hasilnya apakah kombinasi kancing berupa merah-merah, merah-putih, atau putih-putih. 5. Ulangi proses ini sebanyak 10 kali. Tabel Hasil Pengamatan Persilangan Monohibrid Pengambilan ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah: Kancing yang terambil MM (Merah) Mm (Merah) mm (Putih)

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 Pertanyaan: 1. Hitunglah frekuensi fenotip dan genotipnya dari 10 kali pengambilan, bandingkan pula dengan perbandingan menurut Mendel! 2. Buatlah diagram persilangannya! Jawab: ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 Persilangan Dihibrid Pengambilan keMMHH 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah: MMHh MMhh Kancing yang terambil MmHH MmHh Mmhh mmHH mmHh mmhh Pertanyaan: 1. Hitunglah frekuensi fenotip dan genotipnya dari 10 kali pengambilan, bandingkan pula dengan perbandingan menurut Mendel! 2. Buatlah diagram persilangannya!

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 Jawab: ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK II Pola Pewarisan Sifat pada Hukum Mendel Nama Kelompok: 1…………………… 2…………………… 3…………………… 4…………………… A. Tujuan Pembelajaran 1. Siswa dapat membuktikan salah satu penyimpangan Hukum Mendel: Kriptomeri B. Alat dan Bahan 1. Baling- baling genetika 2. Alat tulis C. Cara Kerja 1. Gunakanlah sepasang baling- baling genetika. Berilah di bagian ujungujung kayu sebuah kode, tandai dengan kertas dan tulis dengan spidol, kode- kodenya yaitu: AB, Ab, aB, ab 2. Pertemukanlah kedua ujung bagian kayu dengan kode sama (AB bertemu dengan AB) setelah itu putar secara bersamaan 3. Hentikan secara acak baling- baling tersebut, lalu catat di lembar kerja yang sudah disediakan 4. Ulangi langkah ketiga sebanyak 95 kali. Pastikan hasil dicatat dengan baik di atas kertas secara rapi dan tersusun 5. Setelah mendapat hasilnya secara keseluruhan, tentukan perbandingan genotip dan fenotipnya. Hasil Pengamatan Genotip Fenotip Frekuensi Jumlah

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 Pertanyaan: 1. Berapakah perbandingan fenotip pada F1? 2. Samakah perbandingan tersebut dengan perbandingan yang dikemukakan Mendel? Jawab: ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………………

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 Lampiran 6 KISI- KISI SOAL ULANGAN Jenjang Pendidikan Mata Pelajaran Kelas/ Semester Bentuk Soal Jumlah Soal Alokasi Waktu : SMA Budya Wacana Yogyakarta : Biologi Peminatan : XII / I : Pilihan Ganda : 10 soal : 3 x 45 menit No Kunci Indikator C1 C2 C3 C4 C5 Soal Jawaban 3.5.1 Mengetahui 1 c √ konsep dasar tentang pewarisan sifat 3.5.2 Menganalisis pola 2 a √ persilangan monohibrid dan 3 d √ dihibrid 6 c √ 3.5.3 Menjelaskan penyimpangan semu Hukum Mendel 3.5.4 Memecahkan persoalan terkait Hukum Mendel √ 4 e √ 5 c √ 9 e √ 10 b √ 7 c √ 8 c Bentuk Soal Pilihan Ganda Pilihan Ganda Pilihan Ganda Pilihan Ganda Pilihan Ganda Pilihan Ganda Pilihan Ganda Pilihan Ganda Pilihan Ganda Pilihan Ganda

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 KISI- KISI SOAL ULANGAN Jenjang Pendidikan Mata Pelajaran Kelas/ Semester Bentuk soal Jumlah soal Alokasi Waktu : SMA Budya Wacana Yogyakarta : Biologi : XII / I : Uraian : 3 soal : 3 x 45 menit No Kunci Indikator C1 C2 C3 C4 C5 Soal Jawaban 3.5.1 Mengetahui 1 Terlampir √ konsep dasar tentang pewarisan sifat 3.5.5 Menganalisis pola 2 Terlampir √ persilangan monohibrid dan dihibrid 4.5.1 Menjelaskan 3 Terlampir √ penyimpangan semu Hukum Mendel Bentuk Soal Uraian Uraian Uraian

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 Soal Tes Tertulis Pilihan Ganda SOAL ULANGAN I. Pilihlah salah satu jawaban dengan memberi tanda silang (x) pada huruf A, B, C, D atau E dengan benar! 1. Individu bergenotip AABbccDd merupakan individu dengan jumlah sifat beda … a. Monohibrid b. Dihibrid c. Trihibrid d. Tetrahibrid e. Polihibrid 2. Persilangan ercis bentuk buah bulat dominan galur murni dengan ercis bentuk buah kisut galur murni akan menghasilkan F1 … a. Semua bulat b. Semua kisut c. ½ keturunannya galur murni d. ¼ keturunannya galur murni e. Bulat, kisut = 3:1 3. Apabila rambut lurus adalah sifat resesif, maka dari perkawinan dua orangtua yang keduanya berambut keriting heterozigotik kemungkinan anak-anaknya adalah … a. Semua berambut keriting b. 25% berambut keriting, 75% berambut lurus c. 50% berambut keriting, 50% berambut lurus d. 75% berambut keriting, 25% berambut lurus e. Semua berambut lurus 4. Peristiwa penyimpangan semu hukum Mendel muncul dalam bentuk … a. Kriptomeri jika terdapat beberapa pasang gen yang mempengaruhi sifat yang sama, perbandingan F2 = 15 : 1 b. Polimeri jika ekspresi dua pasang gen dominan saling melengkapi, perbandingan F2 = 9 : 3 : 4 c. Epistasis hipostasis jika suatu gen dominan ekspresinya bergantung pada gen dominan lain, perbandingan F2 = 9 : 7 d. Komplementer jika suatu gen dominan ekspresinya menutupi gen dominan lain, perbandingan F2 = 12 : 3 : 1 e. Atavisme jika ekspresi suatu gen dominan akan dipengaruhi adanya suatu gen dominan lain, perbandingan F2 = 9 : 3 : 3 : 1

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 5. Ayam berpial walnut (RrPp) bila disilangkan dengan ayam berpial pea (rrPP), maka keturunannya yang berpial pea adalah … a. 100% b. 75% c. 50% d. 25% e. 0% 6. Tanaman jeruk berukuran besar rasa asam disilangkan dengan tanaman jeruk berukuran kecil rasa manis. Masing-masing pasangan sifat merupakan turunan galur murni. Bila ukuran besar dan rasa asam dominan terhadap ukuran kecil dan rasa manis, maka rumusan genotip yang sesuai untuk kedua induk adalah … a. bbAA x BBaa b. bbAA x bbAA c. BBAA x bbaa d. BBAA x bbAa e. BbAa x BbAa 7. Gandum berbiji hitam disilangkan dengan gandum berbiji kuning, diperoleh keturunan dengan rasio 2 hitam : 2 kuning. Kemungkinan genotip kedua parental tersebut adalah … a. HHKk x hhKk b. HhKk x hhKk c. HhKK x hhKk d. HHKK x hhKk e. HHKK x hhKK 8. Pada tanaman semangka bentuk buah bulat (B) dominan terhadap buah lonjong (b) dan warna kulit buah hijau (H) dominan terhadap kulit buah bergaris-garis. Tanaman semangka bentuk buah bulat warna hijau heterozigot (BbHh) melakukan penyerbukan sendiri dan menghasilkan keturunan sebanyak 320 batang. Berapa batang keturunan yang berfenotip bentuk buah bulat kulit bergaris-garis? a. 20 b. 40 c. 60 d. 120 e. 180

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 9. Pada persilangan tanaman dengan sifat kriptomeri antara tanaman berbunga ungu (AABb) dengan tanaman merah (Aabb), akan menghasilkan perbandingan keturunan tanaman dengan warna bunga ... a. Ungu : merah : putih = 9 : 3 : 4 b. Ungu : merah : putih = 12 : 3 : 1 c. Ungu : merah = 9 : 7 d. Ungu : merah = 15 : 1 e. Ungu : merah = 3 : 1 10. Pada bunga Lathyrus odorotus gen C dan gen P merupakan gen komplementer. Apabila gen C bertemu gen P akan menghasilkan bunga warna ungu. Bunga Lathyrus odorotus warna putih (CCpp) disilangkan dengan bunga warna putih (ccPP), kemudian F1 disilangkan sesamanya maka akan dihasilkan perbandingan fenotip sebagai berikut ... a. Ungu : putih = 12 : 4 b. Ungu : putih = 9 : 7 c. Ungu : putih = 1 : 15 d. Ungu : putih = 7 : 9 e. Ungu : putih = 15 : 1 II. Uraian Jawablah pertanyaan- pertanyaan berikut dengan tepat! 1. Pada tanaman kacang gen B (biji bulat) dominan terhadap gen b (biji kisut). Jelaskan genotip parental apa yang dapat menghasilkan rasio fenotip kacang biji bulat : kacang biji kisut = 1 : 1 pada keturunannya … 2. Pada bunga Anthurium majus gen A menentukan adanya antosinin. A dominan terhadap a. Gen B menentukan sifat basa pada cairan sel sedangkan alel resesifnya b menentukan cairan sel bukan basa. Jika bunga Anthurium majus merah (AAbb) disilangkan dengan yang berbunga putih (aaBB) dan F1 disilangkan dengan sesamanya, tentukan: a. Gamet F1 b. macam genotip dan fenotip F2 3. Sebut dan jelaskan 6 penyimpangan semu hukum Mendel!

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 KUNCI JAWABAN I. Pilihan Ganda 1. 2. 3. 4. 5. II. b a d e c 6. 7. 8. 9. 10. c c c e b Uraian 1. Gen B biji bulat Gen b biji kisut Agar didapatkan fenotip biji bulat : biji kisut = 1 : 1, maka genotip parentalnya Biji bulat (BB) atau (Bb) Biji kisut (bb) Jadi terdapat dua kemungkinan persilangan yaitu, BB x bb atau Bb x bb. Persilangan yang akan menghasilkan perbandingan fenotip 1 : 1 ialah Bb dengan bb Maka, genotip parentalnya adalah P Bb x bb 2. Bunga Merah (AAbb) x Bunga Putih (aaBB) a. Fenotip: Bunga Merah x Bunga Putih Genotip: AAbb x aaBB Gamet: Ab aB F1: AaBb (Bunga Ungu) Fenotip: Bunga Ungu Genotip: AaBb Gamet: AB, Ab, aB, ab b. Diagram Persilangan ♂/♀ AB Ab AB Ab aB x x Bunga Ungu AaBb AB, Ab, aB, ab aB ab AABB AABb AaBB AaBb (ungu) (ungu) (ungu) (ungu) AABb Aabb AaBb Aabb (ungu) (merah) (ungu) (merah) AaBB Aabb aaBB aaBb (ungu) (ungu) (putih) (putih)

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 ab AaBb Aabb aaBb Aabb (ungu) (merah) (putih) (putih) 3. Penyimpangan Semu Hukum Mendel: a. Atavisme (Interaksi) : Merupakan interaksi antara dua gen dominan dan gen resesif seluruhnya akan menghasilkan variasi fenotip baru. Rasio fenotip = 9 : 3 : 3 :1 b. Kriptomeri : Gen dengan sifat dominan yang hanya akan muncul jika hadir bersama dengan gen dominan lainnya. Rasio fenotip = 9 : 3 : 4 c. Polimeri : Merupakan peristiwa yang melibatkan beberapa gen yang berada di dalam lokus berbeda namun memengaruhi satu sifat yang sama. d. Epistasis : Merupakan sifat yang menutupi dalam interaksi beberapa gen. e. Hipostasis : Merupakan sifat yang ditutupi dalam interaksi beberapa gen. f. Komplementer : Merupakan sifat yang dihasilkan oleh interaksi gen yang saling melengkapi dan bekerja sama.

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 Rubrik Penilaian Kognitif No. Jawaban 1. Gen B biji bulat Gen b biji kisut Agar didapatkan fenotip biji bulat : biji kisut = 1 : 1, maka genotip parentalnya Biji bulat (BB) atau (Bb) Biji kisut (bb) Jadi terdapat dua kemungkinan persilangan yaitu, BB x bb atau Bb x bb. Persilangan yang akan menghasilkan perbandingan fenotip 1 : 1 ialah Bb dengan bb Maka, genotip parentalnya adalah P: Bb x bb 2. F1 : AaBb (Bunga Ungu) Gamet : AB, Ab, aB, ab Skor 10 5 0 5 2 0 3. AABB : ungu AABb : ungu AaBB : ungu AaBb : ungu AAbb : merah Aabb : merah aaBB : putih aaBb : putih aabb : putih Penyimpangan Semu Hukum Mendel: a. Atavisme (Interaksi) : Merupakan interaksi antara dua gen dominan dan gen resesif seluruhnya akan menghasilkan variasi fenotip baru. Rasio fenotip = 9 : 3 : 3 :1 b. Kriptomeri : Gen dengan sifat dominan yang hanya akan muncul jika hadir bersama dengan gen 15 8 0 30 18 Aspek yang Dinilai Siswa mampu menjawab dengan tepat Siswa menjawab kurang benar Siswa tidak memberikan jawaban Siswa mampu menjawab dengan tepat Siswa menjawab kurang benar Siswa tidak memberikan jawaban Siswa mampu menjawab dengan tepat Siswa menjawab kurang benar Siswa tidak memberikan jawaban Siswa mampu menjawab 6 macam penyimpangan semu hukum Mendel dengan tepat dan lengkap. (setiap penyimpangan benar poin 5) Siswa mampu menjawab 6 macam penyimpangan semu hukum Mendel dengan benar namun kurang tepat dan lengkap (setiap penyimpangan poin 3)

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 c. d. e. f. dominan lainnya. Rasio fenotip = 9 : 3 : 4 Polimeri : Merupakan peristiwa yang melibatkan beberapa gen yang berada di dalam lokus berbeda namun memengaruhi satu sifat yang sama. Epistasis : Merupakan sifat yang menutupi dalam interaksi beberapa gen. Hipostasis : Merupakan sifat yang ditutupi dalam interaksi beberapa gen. Komplementer : Merupakan sifat yang dihasilkan oleh interaksi gen yang saling melengkapi dan bekerja sama. 6 0 Siswa hanya menyebutkan penyimpangan semu hukum Mendel (setiap jawaban poin 1) Siswa tidak memberikan jawaban

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 PENILAIAN TES No. 1. 2. 3. 4. 5. dst Nama Siswa 1 2 3 Siswa A Siswa B Siswa C …… Jumlah skor maksimum = 100 Nilai = 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 x 100 Butir Soal Pilihan Ganda 4 5 6 7 8 Skor 9 10 Uraian 1 2 3 Jumlah Skor Nilai Siswa

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 PENILAIAN AFEKTIF Pengamatan Perilaku/ Sikap Ilmiah Materi : Kelas/ Semester : XII/I Lembar Penilaian/ Sikap Ilmiah Aspek yang Dinilai No. Nama Siswa 1 1. 2. 3. 4. 5. Dst 2 3 4 5 Jumlah Skor Nilai Siswa A Siswa B Siswa C …… Rubrik Penilaian Perilaku/ Sikap Ilmiah No. 1. 2. 3. 4. 5. Aspek yang Dinilai Jujur Disiplin Tanggung Jawab Kerjasama Santun 1 2 3 Keterangan

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 Rubrik Penilaian Perilaku/ Sikap Ilmiah No 1. 2. 3. 4. 5. Aspek yag Dinilai Jujur Disiplin Tanggung Jawab Kerjasama Santun Kategori Penilaian Skor Tidak menyontek dalam mengerjakan tugas, melaporkan data atau informasi apa adanya, dan mengakui kesalahan atau kekurangan yang dimiliki Jika hanya 2 aspek yang tercapai 3 Jika hanya 1 aspek yang tercapai Mengikuti praktikum sesuai dengan langkah yang ditetapkan, memakai seragam sesuai tata tertib, dan mengumpulkan tugas tepat waktu Jika hanya 2 aspek yang tercapai 1 3 Jika hanya 1 aspek yang tercapai 1 Melaksanakan tugas individu/ kelompok dengan baik, mengembalikan barang yang dipinjam, dan meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan Jika hanya 2 aspek yang tercapai 3 Jika hanya 1 aspek yang tercapai 1 Aktif dalam kerja kelompok, suka menolong teman/ orang lain, dan bersedia melakukan tugas sesuai kesepakatan Jika hanya 2 aspek yang tercapai 3 Jika hanya 1 aspek yang tercapai 1 Menggunakan bahasa santun saat menyampaikan pendapat dalam diskusi kelompok, memperlakukan orang lain sebagaimana diri sendiri ingin diperlakukan, dan tidak menyela pembicaraan pada waktu yang tidak tepat Jika hanya 2 aspek yang tercapai 3 Jika hanya 1 aspek yang tercapai 1 Keterangan: Jumlah skor maksimum = 15 Nilai yang dicapai : Nilai = 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 x 100 2 2 2 2 2

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 Kriteria nilai : 76  100 =A 51  75 =B 26  50 =C 1  25 =D

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 LEMBAR OBSERVASI PSIKOMOTORIK Lembar Penilaian Observasi Presentasi No. 1. 2. 3. 4. 5. dst Aspek yang Dinilai 1 2 3 Nama Siswa Jumlah Skor Nilai Siswa A Siswa B Siswa C …… Lembar pengamatan Observasi No. 1. 2. 3. Aspek yang Dinilai Tingkat Kemampuan 1 2 3 Keterampilan berkomunikasi dalam menjelaskan hasil diskusi kelompok Kecakapan dalam menganalisis hasil diskusi (perluasan materi) saat presentasi berlangsung Kemampuan dalam menjawab pertanyaan Jumlah: Rubrik Penilaian Presentasi No. Aspek yang Dinilai 1. Keterampilan berkomunikasi dalam menjelaskan hasil diskusi kelompok 2. Kecakapan dalam menganalisis hasil diskusi (perluasan materi) saat presentasi berlangsung 3. Kemampuan dalam menjawab pertanyaan Kategori Penilaian Menjelaskan dengan benar, jelas, dan tidak sekedar membaca slide Jika hanya 2 aspek yang tercapai Jika hanya 1 aspek yang tercapai Cepat, tepat dan mampu memecahkan masalah sesuai dengan konteks permasalahan Jika hanya 2 aspek yang tercapai Jika hanya 1 aspek yang tercapai Menjawab pertanyaan dengan baik, yakin, tegas dengan berdiskusi Skor 3 2 1 3 2 1 3

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 bersama teman kelompok terlebih dahulu Jika hanya 2 aspek yang tercapai Jika hanya 1 aspek yang tercapai Keterangan: Jumlah skor maksimum = 9 Nilai yang dicapai : Nilai = Kriteria nilai : 76  100 =A 51  75 =B 26  50 =C 1  25 =D 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 x 100 2 1

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98

(116)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Uji daya hasil 8 galur harapan kedelai hasil persilangan kultivar Slamet dan Nokonsawon
0
4
40
Uji daya hasil delapan galur harapan kedelai hasil persilangan Kultivar Slamet dengan Nokonsawon
0
10
43
Analisis keragaman fenotipe dan korelasi pada hasil seleksi tanaman kedelai (Glycine max L. Merrill) persilangan varietas slamet X Nokonsawon
0
8
297
Karakteristik kualitatif dan kuantitatif hasil persilangan ayam pelung dan arab
1
10
72
Dinamika ovarium pada kuda hasil persilangan pejantan thoroughbred dengan induk lokal Indonesia
0
5
85
Daya gabung dan heterosis komponen hasil serta keragaan tomat (Lycopersicon esculentum Mill) hasil persilangan half diallel
0
8
60
Menganalisis Jenis Leopard Gecko Menggunakan Content Based Image Retrieval Berbasis Color Histogram.
0
4
6
Perancangan Buku Panduan Beternak dan Berbisnis Leopard Gecko | Halim | Jurnal DKV Adiwarna 530 947 1 SM
0
0
4
Analisis pola pewarisan karakter, Heritabilitas hasil dan komponen hasil generasi f2 kedelai hasil persilangan varietas mallika x varietas wilis - Repository Universitas Bangka Belitung
1
1
7
Analisis sumber-sumber dan penggunaan dana [KAS] - USD Repository
0
0
185
Analisis cluster dan aplikasinya - USD Repository
0
0
128
Optimasi konsentrasi molase dan ph terhadap produksi etanol hasil fermentasi pada suhu 28ºC oleh Saccharomyces cerevisiae - USD Repository
0
0
93
Perencanaan, pelaksanaan dan hasil pembelajaran matematika di kelas RSBI - USD Repository
0
0
213
Analisis kepuasan konsumen dan loyalitas konsumen - USD Repository
0
0
119
Analisis pengukuran kinerja keuangan dan nonkeuangan pada organisasi sektor publik - USD Repository
0
0
167
Show more