MASYARAKAT TAMBANG TIMAH INKONVENSIONAL BANGKA SELATAN TAHUN 2003 – 2012 SKRIPSI Disusun untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Sastra Program Studi Sejarah

Gratis

0
0
114
2 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MASYARAKAT TAMBANG TIMAH INKONVENSIONAL BANGKA SELATAN TAHUN 2003 – 2012 SKRIPSI Disusun untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Sastra Program Studi Sejarah Oleh Tiur Angelina O B N NIM 144314013 PROGRAM STUDI SEJARAH FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2018 i

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO “Segala sesuatu yang bisa kau bayangkan adalah nyata” Pablo Picasso iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Skripsi berjudul “Masyarakat Tambang Timah Inkonvensional Bangka Selatan Tahun 2003-2012” ini saya persembahkan untuk kedua orangtua saya yang sudah berjuang untuk menguliahkan saya, dan juga untuk keluarga besar Op. Maroha dan R. Banjar Nahor yang selalu mendukung saya agar menjadi lebih baik. Karya ini juga dipersembahkan untuk masyarakat penambang timah di Bangka dan almamater Program Studi Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma. v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PER}TYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa slripsi ini merupokan karya sendiri dan belum pernah saya ajukan scbagai syarat untuk memperoleh gelar kesarjanaan di pergunran frbggi. Slcipsi ini tidak memuat karyra orang lain atau suatu lembaga, kecuali bagian-bagian tertentu yang dijadikaa sumber. Yogyakarta, .14 Desember 2018 Penulis M Tiur Angelina O vi BN

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERI\TYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH T]NTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan dibawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: : Nomor Tiur Angelina O B N Mahasiswa : 144314013 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata.Dharma karya ilmiah saya yang be{udul: MASYARAKAT TAMBAI{G TIMAH INKOIYVENSIONAL BAIIGKA SELATAI\ TAIIUN 2003-2012 beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan ke dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan mendistribusikannya secara terbatas dan mempublikasikannya di data, internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu memita izin dari dari saya sebagai penulis Demikian pemyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta, Pada 14 Desember 2018 Yang menyatakan w TiurAngelinaOBN v

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK Tiur Angelina O B N, Masyarakat Tambang Timah Inkonvensional Bangka Selatan Tahun 2003-2012. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, 2018. Skripsi ini bertujuan untuk menjawab dua permasalahan. Pertama, bagaimana sejarah penambangan timah inkonvensional oleh masyarakat Kecamatan Pulau Besar. Kedua, bagaimana kehidupan sosial ekonomi masyarakat Tambang Inkonvensional (TI) sejak diberlakukannya Peraturan Daerah (Perda) mengenai perizinan penambangan oleh Bupati Bangka Eko Maulana Ali pada tahun 2001. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan menggunakan metode pengumpulan data berupa wawancara dan studi pustaka. Analisis dilakukan dengan mengelompokkan, mengkaitkan, membandingkan, dan interpretasi terhadap data yang berhasil dikumpulkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tambang Inkonvensional terjadi di Bangka atas izin dalam Perda Nomor 6 Tahun 2001, dan kesempatan bekerja di sektor pertambangan ini ditanggapi oleh masyarat Kecamatan Pulau Besar untuk beralih pekerjaan dari petani menjadi penambang timah. Penambangan timah di Bangka membuahkan hasil bagi para pekerja, penghasilan dari pekerjaan tersebut mampu mencukupi kebutuhan primer, sekunder, dan tersier keluarga penambang. Kata Kunci: Tambang timah inkonvensional, masyarakat tambang, Pulau Besar, Bangka Selatan. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT Tiur Angelina O B N, Masyarakat Tambang Timah Inkonvensional Bangka Selatan Tahun 2003-2012. Thesis. Yogyakarta: History Study Program, Faculty of Letters, Sanata Dharma University, 2018. The objective of this thesis were to answer two problems. First, what was the history of unconventional tin mining by the people at Pulau Besar District. Second, how had the socio-economic life of the Unconventional Mining (TI) society since the enactment of Regional Regulation (Perda) concerning mining permitted by Eko Maulana Ali as Bangka Regent in 2001. This study used qualitative method, which used data collections such as interview and literature method. The analysis was done by grouping, linking, comparing, and interpreting the data collected. The result of the study showed that Unconventional mines occurred in Bangka with permission in Regional Regulation Number 6 of 2001, and the opportunity to work in the mining sector was responded by the society of Pulau Besar District which those switched job from farmer to tin miner. Tin mining in Bangka produced result for tin miners, income from this job was able to complete the primary, secondary, and tertiary needs of the miners family. Keywords: Unconventional tin mines, mine society, Pulau Besar, South Bangka. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan. Perlu proses yang panjang hingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan, yaitu dari pemilihan topik, sumber, proposal, penelitian lapangan sampai pada historiografi. Dari semua proses yang diusahakan untuk menyelesaikan skripsi ini, saya dibantu oleh orang tua, dan orang-orang disekitar saya. Mulai dari dukungan, doa, semangat, diskusi, hingga pelajaran tentang kesabaran, ketekunan, kegigihan, ketelitian, dan lainnya. Atas kebaikan dan pelajaran-pelajaran yang saya terima maka perkenankanlah saya mengucapkan rasa terimakasih kepada: 1. Kedua orangtua saya, bapak dan mama yang selalu mendoakan dan mendukung saya di perantauan. 2. Bapak Hb. Hery Santosa M. Hum., selaku Ketua Program Studi Sejarah dan sebagai dosen pembimbing akademik, terimakasih sudah membimbing dan mengajar dengan sabar. 3. Bapak Drs. Silverio R. L. Aji Sampurno M. Hum., selaku dosen pembimbing skripsi, terimakasih atas waktu yang bapak berikan, serta kebaikan, kesabaran, dan semangat bapak dalam memimbing agar kami dapat segera selesai. 4. Dosen-dosen pengajar akademik; Dr. Yerry Wirawan, Alm. Dr. Lucia Juningsih M. Hum, Drs. Ignatius Sandiwan Suharso, Dr. Hieronymus Purwanta M. A, Heri Priyatmoko M. A, Romo Heri Setyawan, S.J,, M.A., x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Romo Dr. Baskara Tulus Wardaya, S.J, Romo Dr. Gregorius Budi Subanar, S.J., Drs. Manu, Miss Siska, Mom Retno dan Prof. Dr. I. Praptomo Baryadi, M. Hum. Terimakasih sudah memberikan saya banyak ilmu, pengalaman, inspirasi dan motivasi selama berkuliah di Universitas Sanata Dharma. 5. Mas Doni dan Mas Tri selaku Staf Sekretariat Program Studi Sejarah, terimakasih sudah membantu dalam mengurus segala administratif saya selama kuliah. Tidak lupa juga terimakasih saya untuk seluruh Pegawai Sanata Dharma yang membuat suasana kampus terasa nyaman. 6. Narasumber penelitian yaitu keluarga Bapak Suroso, Bapak Suryani, Bapak Yakobus Dasar, Bapak Sugeng Prasetyo, Bapak Saudara, dan para penambang timah di Bangka, terimakasih sudah meluangkan waktu untuk menceritakan kembali kondisi pertambangan timah Bangka. 7. Pegawai di Dinas Transmigrasi Bangka Selatan, Badan Pusat Statistik (BPS) Bangka Selatan, Kearsipan Bangka dan Bangka Selatan, kantor Bupati Bangka Selatan, terimakasih atas diskusinya dan memperbolehkan saya mengakses data. 8. Ibu Atik, Pak Tjahyo, dan Pak Wardoyo, terimakasih atas dukungan dan semangatnya bagi saya untuk segera menyelesaikan skripsi 9. Semua teman-teman di Program Studi Sejarah, terutama teman seperjuangan angkatan 2014. Terimakasih atas semangat lulus bersama dan pengalamannya. xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10. Sabam Sariaman Siregar terimakasih untuk dukungan, motivasi dan kerjasama yang baik. ll. Soso, Edut, Rosma, Carolinq Oyon, Wulan, Yesi, Geka, Geleng, dan Firda Noftalinq terimakasih atas dukungan, keceriaan dan kebersamaannya. Saya menyadari, skripsi yang saya sunm berjudul Masyarakat Tambang Timah Kabupaten Bangka Seiitan Tahun 2003-2012 masih jauh dari s€mpuma, maka dari itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran membangun bagi penulisan sejarah di masa mendatang. Yogyakarta, 14 Desember 2018 Penulis @ Tiur Angelina OBN xI kara yang

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL....................................................................................... HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING.............................................. HALAMAN PENGESAHAN......................................................................... HALAMAN MOTTO...................................................................................... HALAMAN PERSEMBAHAN...................................................................... PERNYATAAN KEASLIAN KARYA.......................................................... LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ........................................ ABSTRAK....................................................................................................... ABSTRACT..................................................................................................... KATA PENGANTAR...................................................................................... DAFTAR ISI.................................................................................................... DAFTAR TABEL............................................................................................ DAFTAR GAMBAR........................................................................................ DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................... vii viii ix x xiii xv xvi xvii BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah............................................................................. B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah......................................................... C. Rumusan Masalah...................................................................................... D. Tujuan Penelitian....................................................................................... E. Manfaat Penelitian...................................................................................... F. Kajian Pustaka............................................................................................. G. Landasan Teori........................................................................................... H. Metode Penelitian....................................................................................... I. Sistematika Penelitian................................................................................... 1 5 7 7 7 8 12 14 17 BAB II GAMBARAN UMUM KECAMATAN PULAU BESAR A. Geografis Kabupaten Bangka Selatan........................................................ B. Geografis Kecamatan Pulau Besar............................................................. C. Masyarakat Kecamatan Pulau Besar.......................................................... D. Mata Pencaharian....................................................................................... 18 23 26 32 BAB III PERTAMBANGAN TIMAH BANGKA A. Penemuan Timah Bangka........................................................................... B. Pendirian Banka Tinwinning ...................................................................... C. PT Timah Bangka........................................................................................ 38 42 49 BAB IV TAMBANG INKONVENSIONAL (TI) A. Pelaksanaan Tambang Inkonvensional......................................................... B. Perkembangan Tambang Inkonvensional..................................................... 52 56 xiii i ii iii iv v vi

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT TAMBANG TIMAH A. Konsep Sosial Ekonomi............................................................................. 62 B. Masyarakat Tambang Timah di Kecamatan Pulau Besar.......................... 77 BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan................................................................................................. B.Saran............................................................................................................. 89 90 DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... DAFTAR NARASUMBER............................................................................. LAMPIRAN..................................................................................................... 92 94 95S xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 2.1. Perkembangan Penduduk Kecamatan Pulau Besar................... 24 Tabel 2.2. Penduduk Dalam Usia Produktif di Kecamatan Pulau Besar... 25 Tabel 2.3. Jumlah Murid Sekolah Negeri dan Swasta Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Pulau Besar Tahun 2008......... 31 Tabel 2.4. Produksi Komoditas Unggulan Subsektor Perkebunan Kecamatan Pulau Besar............................................................ 33 Tabel 2.5. Statistik Tabama Kecamatan Pulau Besar............................... 34 Tabel 2.6. Jumlah Pemilik Usaha Pertambangan Timah Inkonvensional dan Tenaga Kerja di Kecamatan Pulau Besar.......................... 37 Tabel 5.1. Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat Pulau Besar Sebelum dan Sesudah Berlakunya Perda Perizinan Tambang Timah Inkonvensional...................................................................... 75 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1. Peta Kabupaten Bangka Selatan........................................ 22 Gambar 2.2. Peta Kecamatan Pulau Besar............................................. 22 Gambar 4.1. Tambang Inkonvensional Darat......................................... 61 Gambar 4.2. Tambang Inkonvensional Apung/Rajuk............................ 61 Gambar 5.1. Lahan TI di Kemingking Bangka Tengah......................... 82 Gambar 5.2. Warung Sembako di Wilayah Penambangan TI................ 88 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1: Rumah Pondok atau Rumah Sementara Penambang (nge-camp). Lampiran 2: Rumah Pondok Untuk Penambang yang Tidak Nge-camp. Lampiran 3: Sampan Sebagai Transportasi Menuju Tempat Penambangan di Sungai. Lampiran 4: Pembuatan Ponton TI Apung /Rajuk. Lampiran 5: Perakitan alat-alat TI Apung/ Rajuk. Lampiran 6: Lahan bekas TI darat yang menjadi wisata danau biru. xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pulau Bangka merupakan salah satu jejak dari sejarah penjajahan kolonial yang telah menjadikan Pulau Bangka terkenal dengan timah sebagai hasil buminya. Bagi sejarah nasional, pulau ini sudah menghasilkan timah sejak pemerintahan kolonial Belanda dan menjadi produsen timah terbesar di Indonesia, juga sekaligus eksportir timah terbesar di dunia1. Timah adalah salah satu komoditas tambang yang sangat ramai diperjualbelikan sejak abad Ke-18 hingga sekarang abad Ke-21. Kegunaan timah sendiri yaitu sebagai bahan pendukung pelapis kaleng, pembuatan peluru, komponen otomotif, produksi kaca, pembuatan kemasan, dan lain-lain. Keberadaan timah di Kepulauan Bangka Belitung ini juga mendorong berdirinya industri timah dengan nama PT TIMAH2. Industri tersebut memiliki sejarah panjang, dimana PT TIMAH (Persero) Tbk resmi berdiri sejak 2 Agustus 1976 dan merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang pertambangan timah dan telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia sejak 1 PT Timah, pada http://www.timah.com/v2/ina/tentangkami/8410052012110526/sekilas-pt-timah/. Diakses pada 03 April 2018 pukul 18:59 WIB. 2 PT TIMAH merupakan produsen dan eksportir logam timah, dan memiliki segmen usaha penambangan timah terintegrasi mulai dari kegiatan eksplorasi, penambangan, pengolahan hingga pemasaran.

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 tahun 1995. Namun demikian sejarah pendirian perseroan telah dimulai sejak pengelolaan di bawah pemerintahan Belanda yakni penambangan mineral timah di Indonesia yang ditemukan secara tersebar di daratan dan perairan sekitar pulaupulau Bangka, Belitung, Singkep, Karimun dan Kundur. Pada masa itu, pertambangan timah di Bangka dikelola oleh badan usaha pemerintah kolonial, Banka Tinwinning Bedrijf (BTW). Sedangkan di Belitung dan Singkep usaha ini dilakukan oleh perusahaan swasta Belanda, Gemeenschappelijke Mijnbouwmaatschappij Biliton (GMB) di Belitung dan NV Singkep Tin Exploitatie Maatschappij (NV SITEM) di daerah Singkep. Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, pemerintah Indonesia mengambil alih kepemilikan perusahaan tersebut berdasarkan program nasionalisasi perusahaan oleh negara pada tahun 1958.3 Semua perusahaan milik pemerintahan Belanda yang ada di Bangka dinasionalisasikan atau diambil alih oleh pemerintah Indonesia. Ketiga perusahaan milik Belanda tersebut (BTW, GMB, dan SITEM) menjadi Perusahaan Negara (PN) yang terpisah. BTW menjadi PN Tambang Timah Bangka, GMB menjadi PN Tambang Timah Belitung, SITEM menjadi PN Tambang Timah Singkep. Pada tahun 1961 Pemerintah membentuk Badan Pimpinan Umum (BPU) perusahaan-perusahaan pertambangan timah negara. Tahun 1968 ketiga entitas perusahaan bersama dengan BPU dikonsolidasikan menjadi Perusahaan Negara 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 86 Tahun 1958 Tentang Nasionalisasi Perusahaan-perusahaan Milik Belanda. Pada pasal 1 menjelaskan bahwa “Perusahaan-perusahaan milik Belanda yang berada di wilayah Republik Indonesia yang akan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah dikenakan nasionalisasi dan dinyatakan menjadi milik penuh dan bebas Negara Republik Indonesia”.

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 (PN) Tambang Timah. Sesuai UU No.9 tahun 1969 dan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 1969, pada tahun 1976 status PN Tambang Timah dan Proyek Peleburan Timah Mentok diubah menjadi Perusahaan Persero, di mana seluruh sahamnya dimilliki oleh Pemerintah dan namanya diubah menjadi PT Tambang Timah (Persero) dengan Akta No.1 Tahun 1976 oleh Notaris Imas Fatimah, SH tertanggal 22 Agustus 1976. Kemudian pada tanggal 19 Oktober 1995, Pemerintah melakukan privatisasi dengan mencatatkan saham PT Tambang Timah di Bursa Efek dan merubah nama perusahaan menjadi PT TIMAH (Persero) Tbk.4 Keberadaan timah sebagai komoditas yang paling menguntungkan di Bangka membuat masyarakat menginginkan kepemilikan atas pasir timah termasuk teknologi yang dimiliki oleh perusahaan timah. Tetapi kontrol Pemerintah Pusat terhadap komoditas timah begitu kuat sehingga mereka menggunakan tangan-tangan militer untuk melakukan proteksi sebagaimana yang dikatakan oleh Erman Erwiza dalam penelitiannya tahun 2007, “Masyarakat lokal dilarang untuk menambang, menjual, bahkan menyimpannya walau satu kilogram”. Kondisi ini menjadi prakondisi bagi munculnya disharmonisasi dalam pengelolaan timah di daerah ini.5 Timah sebagai hasil bumi di Bangka berada dalam genggaman penguasa. Perusahaan-perusahaan timah memainkan 4 peran penting dalam Laporan Tahunan 2014 PT TIMAH (PERSERO) TBK. Citra Asmara Indra, 2014, ”Implikasi terbitnya Regulasi Tentang Pertimahan Terhadap Dinamika Pertambangan Timah Inkonvensional di Pulau Bangka”, Jurnal Society, Volume II, Nomor 1, Juni 2014, hlm. 26. 5

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 penambangan dan produksi di daerah kepulauan ini6. Dengan adanya peranan tersebut acap kali munculnya potensi untuk berbuat nepotisme. Hal tersebut terbukti dari seluruh karyawan PT TIMAH, hanya sebagian kecil yang merupakan masyarakat Bangka. Kemudian pada tahun 1998 pemerintah mengeluarkan surat keputusan mengenai ketentuan umum di bidang ekspor yang tidak memuat timah sebagai barang yang diatur dan diawasi ekspornya7. Kebijakan ini yang akan membuat perubahan secara drastis tentang pengelolaan timah sebagai barang strategis dan barang yang bebas bagi masyarakat dan negara. Surat Keputusan mengenai ketentuan umum di bidang ekspor yang tidak memuat timah sebagai barang yang diatur dan diawasi ekspornya segera mendapat respon dari bupati Bangka tiga tahun setelahnya. Bupati Eko Maulana Ali mengeluarkan Perda8 pada tahun 2001, isi dari Perda tersebut ialah mengizinkan masyarakat untuk dapat menambang bahan galian diluar gas bumi dan minyak. Tujuan diberlakukannya Perda tersebut dilatarbelakangi untuk peningkatan penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD)—yaitu dengan diberlakukannya Pajak Pertambangan Umum dan Mineral Ikutannya. Perda yang telah dibuat dan disetujui Bupati Eko tersebut menjadi titik tolak atau faktor utama pembentukan tambang-tambang bebas atau tambang- 6 Ibid. 7 Kepmenperindag Nomor 558/MPP/Kep/12/1998 tentang Ketentuan Umum di Bidang Ekspor. 8 Peraturan Daerah Kabupaten Bangka Nomor 6 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Pertambangan Umum.

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 tambang rakyat yang sering disebut oleh masyarakat Bangka dengan sebutan TI (Tambang Inkonvensional). Bupati Bangka Eko Maulana Ali meminta PT TIMAH untuk mengijinkan masyarakat menambang di sebagian wilayah kuasa penambangan yang telah ditinggalkan. Sebagai konsekuensinya, masyarakat penambang timah haruslah menjual pasir timahnya hanya kepada PT TIMAH yang pada akhirnya berujung pada kerusakan lingkungan di Bangka. Penelitian ini akan berfokus pada sejarah terbentuknya TI dan kondisi sosial-ekonomi masyarakat tambang. Topik penelitian ini dipilih karena memiliki pengaruh yang luas dan penting terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Bangka Selatan, karena merupakan salah satu referensi untuk melihat perkembangan sosial ekonomi masyarakat tambang timah Bangka. B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah 1. Identifikasi Masalah Pokok bahasan dalam penelitian ini adalah TI (Tambang Inkonvensional) atau Tambang Rakyat yang menjadi sumber kehidupan mayoritas masyarakat di Bangka. Diangkatnya TI sebagai pokok bahasan penelitian disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya: 1. Belum ada tulisan yang membahas tentang kehidupan masyarakat TI Bangka Selatan secara mendalam.

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 2. Sejarah lokal kurang mendapatkan perhatian dalam historiografi Indonesia, termasuk sejarah Bangka dan tambang timahnya, sehingga pembahasan mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat tambang timah inkonvensional Bangka Selatan secara mendalam diharapkan dapat muncul dalam penelitian ini. 2. Pembatasan Masalah Alasan pemilihan periode 2003 sampai 2012 adalah untuk menunjukkan sejarah pembentukan TI, masyarakatnya dan perkembangannya dalam dua periode pemerintahan Bupati Eko Maulana Ali yang mendukung dan meresmikan berlakunya TI. Tahun 2003 dipilih sebagai awal penelitian karena pada tahun ini wilayah Bangka Selatan resmi disahkan menjadi kabupaten baru yang sebelumnya masuk dalam kabupaten Bangka Induk. Tahun 2012 dipilih sebagai akhir penelitian ini yaitu untuk melihat sejarah TI dan perkembangannya dalam waktu ± 10 tahun. Kurun waktu 10 tahun ini akan digunakan sebagai penjelas bagaimana sejarah TI dan kehidupan sosialekonomi masyarakat tambang timah inkonvensional Bangka Selatan. Ruang lingkup penelitian ini dilakukan di Kecamatan Pulau Besar, Kabupaten Bangka Selatan, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pemilihan lokasi ini berdasarkan tempat tinggal penambang timah atau masyarakat penambang timah yaitu di Kecamatan Pulau Besar.

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 C. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, penelitian ini merumuskan masalah sebagai berikut: a. Bagaimana sejarah penambangan timah inkonvensional oleh masyarakat Kecamatan Pulau Besar? b. Bagaimana kehidupan sosial-ekonomi masyarakat TI sejak diberlakukannya Perda mengenai perizinan penambangan oleh Bupati Bangka Eko Maulana Ali pada tahun 2001? D. Tujuan Penelitian a. Menjelaskan sejarah penambangan timah inkonvensional di Pulau Besar b. Memaparkan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat TI sejak di berlakukannya Perda Bupati Bangka Eko Maulana Ali pada tahun 2001 E. Manfaat Penelitian Penelitian yang membahas salah satu sejarah tambang timah inkonvensional Bangka ini memiliki beberapa manfaat. Pertama, secara keilmuan, penelitian ini memberi sumbangan terhadap penulisan sejarah lokal yang mengenai kehidupan sosial ekonomi masyarakat tambang timah. Kedua, bagi mahasiswa ilmu sejarah dan pemerhati sejarah, penelitian ini dapat menambah wawasan tentang pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat tambang timah. Ketiga, bagi masyarakat umum hasil penelitian dapat digunakan

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 untuk membantu mereka yang ingin memahami sejarah tambang inkonvensional pada periode 2003-2012. F. Kajian Pustaka Pelaksanaan penelitian ini akan berdasarkan hasil riset di lapangan berupa wawancara dan pengamatan. Sedangkan untuk mendukung data-data yang diperoleh dari lapangan, maka diperlukan sumber-sumber tertulis berupa bukubuku, laporan penelitian, majalah, koran, dan artikel-artikel di internet. Sampai penulisan ini dilakukan, tidak ada sebuah buku pun yang menuliskan tentang “Masyarakat Tambang Timah Inkonvensional Bangka Selatan Tahun 2003-2012” meski ada banyak kajian sejenis yang dilakukan oleh peneliti tentang timah Bangka, kebanyakan peneliti mengambil fokus penelitian pada kerusakan alam atau lingkungan Bangka bukan sejarah dari tambang inkonvensional atau tambang rakyat itu sendiri. Penelitian mengenai Pulau Bangka dan timah dipelopori oleh Mary Somers Heidhues yaitu dalam karangan berjudul Timah Bangka Dan Lada Mentok.9 Periode dan wilayah penelitian pada buku ini ialah pada awal ditemukannya hasil bumi berupa timah yaitu di Bangka pada abad Ke-18. Periode berikutnya yaitu pada abad Ke-19 pertambangan timah di Bangka mulai diusahakan dengan mengirimkan pekerja dari China ke Bangka dan terbentuklah masyarakat Tionghoa di Bangka serta pembukaan maskapai timah di Belitung 9 Heidhues, Mary Somers. Timah Bangka Dan Lada Mentok: Peran Masyarakat Tionghoa Dalam Pembangunan Pulau Bangka Abad XVIII s/d XX. Jakarta: Yayasan Nabil, 2008.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 terjadi di abad Ke-19. Kemudian pada Abad Ke-20 dibentuk sebuah perusahaan resmi milik pemerintah Belanda yang kemudian begeser menjadi milik Jepang dan ketika kemerdekaan Indonesia diraih, perusahaan pertambangan tersebut berganti menjadi milik pemerintah Indonesia. Pada bab pertama buku ini menjelaskan bagaimana perdagangan timah dunia bermula hingga abad Ke-18. Kebutuhan China terhadap timah membuat timah di Bangka di eksploitasi melalui Kesultanan Palembang hingga kekuasaan kolonial. Pada bab kedua menjelaskan bagaimana popularitas timah sebagai komoditas yang mahal dan penting. Sultan Palembang melakukan hubungan kerjasama dengan Inggris, dan pada tahun 1812 menyerahkan Bangka sebagai bagian dari kekuasaan Inggris. Sultan mendatangkan para buruh timah dari negeri Cina dimana kelak hasil timah akan diberikan kepada pemerintah Inggris dengan bayaran enam dolar mata uang Spanyol untuk setiap pikul timah. Pada bab ketiga menjelaskan penambangan timah yang dikuasai oleh orang Inggris. Dalam masa penguasaan Inggris tersebut, ada pembaruan teknologi dalam manufaktur penambangan yang ditindaklanjuti dengan pembukaan wilayah Belitung dan penemuan timah di Belitung dimana setelah itu menjadi penambangan Billiton. Pada bab keempat menggambarkan kehidupan orang Bangka yang pekerjaannya adalah bertani serta terjadinya konflik antara orang pendatang dan penduduk asli yaitu orang melayu Bangka, dimana pekerjaanya adalah petani lada.

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 Pada bab kelima hingga bab kedelapan, menggambarkan kehidupan kuli timah dalam masa setelah perang dunia kedua, perang nasionalis, dan perang antiJepang. Dalam delapan bagian yang dituliskan oleh Mary Somers Heidhues tidak ada pembahasan mengenai sejarah TI secara khusus dalam bagian bahasannya. Dalam buku Erwiza Erman yang berjudul Kesenjangan Buruh dan Majikan : Pengusaha, Koeli dan Penguasa : Industri Timah Belitung10 menjelaskan tentang kehidupan kuli timah di Belitung. Kuli timah dipekerjakan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk menambang timah di Belitung yang baru dibuka lahannya. Dalam buku ini menjelaskan bagaimana kehidupan kuli timah Belitung berada dibawah kuasa penguasa dan pemilik modal. Dalam bagianbagian bahasannya mengenai sejarah kehidupan kuli timah di Belitung, hanya ada sedikit bahasan mengenai sejarah timah Bangka, terutama yang berkaitan dengan TI tidak ada disebutkan dalam buku Erwiza Erman ini. Dalam buku Erwiza Erman yang berjudul Menguak Sejarah Timah Bangka-Belitung: Dari Pembentukan Kampung ke Perkara Gelap.11 Karangan tulisan Erwiza ini menjelaskan sejarah pembentukan kampung di Bangka dan peranan tokoh-tokoh lokal yang menentang penjajahan Belanda. Sejarah perusahaan timah milik kolonial juga diulas dalam buku ini, terlebih mengenai komoditas lada dan timah Bangka di balik tahun-tahun krisis Indonesia. Dalam bab terakhir dijelaskan mengenai perkara gelap, keuntungan diam: studi 10 Erwiza Erman. Kesenjangan Buruh dan Majikan: Pengusaha, Koeli dan Penguasa : Industri Timah Belitung. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1995. 11 2009. Erwiza Erman. Menguak Sejarah Timah Bangka Belitung. Yogyakarta: Ombak,

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 hubungan kekuasaan dalam bisnis pertimahan, menjelaskan sekilas mengenai kebijakan Bupati Eko Maulana Ali dalam Perda Bangka yang menjadi gejolak awal hadirnya TI. Akan tetapi mengenai kehidupan sosial-ekonomi masyarakat TI Bangka Selatan tidak disinggung dalam karyanya. Penelitian serupa mengenai pertambangan timah juga pernah dilakukan oleh seorang pegawai tambang di PT Tambang Timah Bangka pada tahun 19631993, bernama Sutedjo Sujitno, di masa pensiunnya beliau melakukan historiografi mengenai sejarah petambangan timah di Bangka. Tahun 1996 buku karangannya diterbitkan oleh PT Timah yang berjudul “Sejarah Penambangan Timah di Indonesia: Abad 18 – Abad 20”12 dan buku “Dampak Kehadiran Timah Indonesia Sepanjang Sejarah”13. Kedua buku karya Sutedjo Sujitno menjelaskan bagaimana sejarah penambangan timah di Indonesia bermula hingga pertambangan timah di Bangka dapat berlangsung. Tahapan perkembangan sejarah timah yaitu bermula dari penemuan timah di Indonesia, seperti Bangka, Riau, dan Belitung, kemudian dilakukanlah penambangan timah di darat dan penambangan timah di laut. Agar dapat menjadi komoditas internasional maka didirikan peleburan timah dan hingga pemasaran timah. Pada salah satu sub-bab dari buku Sutedjo Sujitno yang berjudul “Dampak Kehadiran Timah Indonesia Sepanjang Sejarah” menjelaskan bagaimana sejarah Tambang Inkonvensional di Bangka terjadi dan dalam cakupan yang luas yaitu Bangka, Sutedjo Sujitno. Sejarah Penambangan Timah Di Indonesia Abad Ke 18 – Abad Ke 20. Jakarta Selatan: Cempaka Publishing, 2007. 12 13 Sutedjo Sujitno. Dampak Kehadiran Timah Indonesia Sepanjang Sejarah. Jakarta Selatan: Cempaka Publishing, 2007.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 tetapi untuk menggambarkan kondisi sosial-ekonomi masyarakat Bangka terutama Bangka Selatan tidak dijelaskan dalam sub-bab ini. Pokok bahasan dalam tulisan ini adalah kondisi sosial ekonomi masayarakat TI Bangka Selatan dalam kurun waktu 2003-2012. Ini merupakan penelitian baru yang belum diteliti oleh sejarawan lain, sebagian besar penulis hanya menyinggung sedikit tentang TI dan Bangka, tetapi belum dilakukan penelitian secara mendalam. Penelitian ini tidak hanya membahas sejarah TI Bangka namun lebih pada kondisi masyarakat TI Bangka Selatan khususnya di Kecamatan Pulau Besar. Oleh sebab itu penelitian ini baru dan berbeda dengan penelitian sejarawan yang sudah ada. G. Landasan Teori Untuk menjelaskan fenomena mengenai pokok rumusan masalah di atas, maka diperlukanlah teori yaitu untuk memahami fakta, menjelaskan, dan memberikan ramalan yang valid sebagai penjelas. Berdasarkan fenomena penelitian yaitu kondisi sosial ekonomi masyarakat tambang timah Bangka Selatan dalam studi kasus di Kecamatan Pulau Besar tahun 2003 sampai 2012, maka teori yang berhubungan untuk menganalisa masalah pada rumusan masalah ialah teori stratifikasi sosial oleh Max Weber. Masyarakat Bangka Selatan ialah masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani. Hasil dari tani tersebut ialah lada dan karet yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan para petani. Pernah suatu

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 ketika, dimana para petani meraup untung yang sangat besar karena harga lada dan karet berada dimasa kejayaannya. Harga lada di pasar internasional tidak dapat seimbang dan mempengaruhi perekonomian petani lada. Terutama di tahun-tahun krisis atau Depresi Ekonomi Dunia yaitu pada tahun-tahun 1929, dan periode deflasi pada 1948, 1956-1958, 1997-1999. Lada menumpuk dalam gudang dan membusuk hingga para petani hanya dapat bergantung pada tauke lada. Ketika krisis lada, terutama setelah tahun 1999 yang disambut dengan kenaikan harga timah dan pembukaan tambang inkonvensional, maka sektor ekonomi timah dapat meyerap tenaga kerja petani di pertambangan atau para petani beralih membuka tambang-tambang timah, baik dengan modal mereka sendiri maupun dengan modal pengusaha timah selain PT Timah dan dan PT Koba Tin yang berkembang sejak adanya izin perdagangan pasir timah oleh pemerintah pusat.14 Max Weber menjelaskan bahwa stratifikasi dibagi menjadi 3 bagian yaitu, ekonomi, budaya, dan politik. Teori Weber ini merupakan perluasan dari teori Marx. Marx melihat ekonomi sebagai dasar struktur sosial, dan posisi-posisi orang dalam struktur ini dapat ditentukan terutama oleh apakah dia memiliki alat produksi atau tidak, serta pemilikan benda aau kekayaan menjadi dasar utama stratifikasi.15 14 Erwiza Erman. Menguak Sejarah Timah Bangka Belitung., op. cit., hlm.176. 15 Doyle Paul Jhonson. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: PT Gramedia, 1986., hlm. 223.

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 Sejalan dengan pernyataan Marx, Weber menyatakan bahwa stratifikasi ekonomi sebagai dasar yang fundamental untuk kelas. Menurut Weber kelas sosial terdiri dari semua mereka yang memiliki kesempatan hidup yang sama dalam bidang ekonomi. Kelas sosial yang dimaksudkan Weber ialah (1) sejumlah orang sama-sama memiliki suatu komponen tertentu yang merupakan sumber dalam kesempatan-kesempatan hidup mereka, sejauh (2) komponen ini secara eksklusif tercermin dalam kepentingan ekonomi berupa pemilikan benda-benda dan kesempatan-kesempatan untuk memperoleh pendapatan, dan (3) hal itu terlihat dalam kondisi-kondisi komoditi atau pasar tenaga kerja.16 Terjadinya kegiatan menambang yang dilakukan oleh rakyat atau tambang inkonvensional di Bangka merupakan stratifikasi sosial oleh petani dan pekerja harian lada untuk memperbaiki perekonomian keluarga dengan cara menambang timah melalui kesempatan-kesempatan yang telah diwujudkan dalam UU mineral oleh pemerintah pusat serta Perda oleh Bupati Bangka. H. Metode Penelitian Metode adalah cara atau prosedur untuk mendapatkan objek penelitian. Selain itu, metode juga dapat diartikan bagaimana cara untuk membuat atau mengerjakan sesuatu dalam suatu sistem yang terencana dan teratur, dalam metode penelitian sejarah, metode ini bertujuan agar penulisan sejarah menjadi lebih terstruktur dan sistematis. 16 Ibid.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 Terkait dengan hal diatas, maka penelitian ini akan menggunakan metode penelitian sejarah. Dalam penelitian sejarah secara umum terdapat empat tahapan yaitu, pengumpulan sumber, verifikasi (kritik sejarah, keabsahan sumber), interpretasi: analisis dan sintesis dan penulisan. Sebelum mencari data atau sumber, akan dilakukan pemilihan topik yang sesuai dengan minat dan kemampuan penulis. Pemilihan topik mengenai Masyarakat Tambang Timah Inkonvensional Bangka Selatan dengan studi kasus di Kecamatan Pulau Besar tahun 2003-2012 yaitu berawal dari kedekatan personal dengan daerah-daerah transmigrasi di Kecamatan Pulau Besar, sehingga ingin menulis sesuatu tentang tempat berkembang dan tempat tinggal. Kemudian, hal ini didukung oleh fakta keadaan masyarakat transmigrasi di Kecamatan Pulau Besar yang mencari penghidupan dari bertambang TI, membuat pemilihan topik mengerucut menjadi masyarakat tambang timah Bangka Selatan dengan ruang lingkup pada kondisi sosial ekonomi masyarakat tambang timah inkonvensional Kecamatan Pulau Besar. Setelah pemiihan topik, tahap berikutnya yang dilakukan ialah tahap pengumpulan sumber. Untuk mencari sumber yang terkait maka perlu dipastikan wilayah penelitian lapangan sesuai dengan topik. Penelitian ini dilakukan di Bangka Selatan dan Bangka Barat dengan narasumber para penambang TI yang tinggal di Kecamatan Pulau Besar. Pengumpulan sumber dilakukan dengan menggunakan sumber lisan dan sumber tertulis. Pengumpulan sumber sejarah lisan yaitu dengan cara melakukan wawancara terhadap narasumber yang mengetahui tentang tambang timah

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 Bangka, seperti penambang timah, bekas penambang timah, dan masyarakat setempat Kecamatan Pulau Besar. Setelah sumber lisan didapatkan, maka untuk melengkapi data-data ialah dengan cara mencari sumber tertulis atau studi pustaka seperti historiografi tentang bangka dan timah, surat kabar, laporan tahunan perusahaan timah, BPS Kabupaten Bangka Selatan dan Kecamatan Pulau Besar, jurnal, buku dan artikel yang terkait dengan topik penelitian. Setelah proses pengumpulan data dilakukan, maka langkah berikutnya adalah melakukan kritik sumber. Kritik sumber dibagi menjadi dua bagian, yang pertama ialah kritik eksternal. Maksud dari kritik eksternal adalah memperhatikan otensitas atau keaslian sumber, misalnya dengan melihat data-data dari lapangan Penelitian apakah sesuai dengan data yang telah diperoleh dari sumber tertulis dan lisan. Kemudian kritik yang kedua ialah kritik internal yaitu, memperhatikan kredibilitas isi sumber dengan peristiwa sejarah yang diteliti dapat percaya atau tidak. Data-data yang telah diverifikasi kemudian dibaca secara menyeluruh dalam tahapan interpretasi. Dari pembacaan tersebut baru kemudian diperoleh makna mengenai data-data yang telah didapat. Data-data yang diuji kebenarannya, kemudian diinterpretasikan dan dijadikan bahan penulisan sejarah atau disebut juga dengan tahap historiografi.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 I. Sistematika Penulisan Hasil penelitian ini dijabarkan ke dalam tulisan dengan sistematika sebagai berikut: Bab I Pendahuluan. Bab ini terdiri dari latar Belakang, identifikasi dan pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka teori, tinjauan pustaka, metode penelitian dan sistematika penulisan. Bab II Deskripsi Masyarakat Pulau Besar. Dalam bab kedua ini akan membahas mengenai letak geografis, demografi dan kondisi sosial ekonomi. Bab III Sejarah Pertambangan Timah Bangka. Dalam bab ketiga ini akan membahas tentang periodesasi penambangan timah di Bangka. Bab IV Tambang Inkonvensional. Dalam bab keempat ini akan membahas tentang pelaksanaan tambang inkonvensional dan perkembangannya. Bab V Perubahan Sosial Ekonomi Pasca Berlakunya Perda Tambang Inkonvensional. Pada bab kelima ini akan menjelaskan perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat tambang timah Pulau Besar setelah terbitnya perda bupati tentang perizinan penambangan timah. Bab VI atau bab terakhir berisi Kesimpulan atau Saran. Dalam bab enam ini akan dipaparkan kesimpulan dari penjelasan kondisi masyarakat tambang timah Pulau Besar Bangka Selatan (2003-2012).

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 BAB II DESKRIPSI MASYARAKAT PULAU BESAR A. Geografis Kabupaten Bangka Selatan Kecamatan Pulau Besar yang menjadi wilayah penelitian ialah bagian dari Kabupaten Bangka Selatan. Kabupaten Bangka Selatan termasuk salah satu kabupaten dari 6 kabupaten di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sebelum terbentuk menjadi provinsi, wilayah Bangka dan Belitung termasuk dalam wilayah administrasi Sumatera Selatan. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung didirikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2000 Tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tanggal 21 Nopember 2000, yang terdiri dari Kabupaten Bangka, Kabupaten Belitung, dan Kota Pangkalpinang. Tahun 2003 Kabupaten Bangka Selatan diresmikan menjadi kabupaten baru yaitu berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003 tentang pemekaran wilayah. Sebelum Kabupaten Bangka Selatan terbentuk, wilayah Bangka Selatan menjadi wilayah adminstratif dari Kabupaten Bangka. Pada tanggal 25 Februari 2003 dilakukan pemekaran wilayah di Provinsi Bangka Belitung dengan penambahan 4 kabupaten yaitu Bangka Barat, Bangka Tengah, Bangka Selatan dan Belitung Timur. Maka dengan demikian wilayah

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 adminstrasi pemerintahan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terbagi dalam 6 kabupaten dan 1 kota.17 Secara geografis Kabupaten Bangka Selatan terletak pada 2º 26’ 27” sampai 3º 5’ 56 Lintang selatan dan 107º 14’ 31” sampai 105º 53’ 09” Bujur Timur. Kabupaten Bangka Selatan secara administratif wilayah mempunyai wilayah daratan ± 10. 640 Km². Meliputi 8 kecamatan yaitu Kecamatan Simpang Rimba, Payung, Air Gegas, Toboali, Lepar Pongok, Tukak Sadai, Pulau Besar, dan Kepulauan Pongok. Dari delapan kecamatan yang termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Bangka Selatan, wilayah yang menjadi penelitian untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi masyarakat tambang timah Bangka Selatan ialah wilayah Kecamatan Pulau Besar. Kabupaten Bangka Selatan memiliki batasan geografis sebagai berikut :  Bagian Barat dan Selatan berbatasan dengan Selat Bangka dan Laut Jawa  Bagian Timur berbatasan langsung dengan Selat Gaspar  Bagian Utara berbatasan langsung dengan Kecamatan Sungai Selan, dan Kecamatan Koba Kabupaten Bangka Tengah. Untuk dapat memahami keadaan geografis dan batasan wilayah Bangka Selatan, maka perlu dijabarkan pula keadaan alam daerah Bangka Selatan secara menyeluruh. Bangka Selatan memiliki iklim Tropis tipe A dengan variasi curah hujan antara 56,2 hingga 292,0 mm tiap bulan untuk tahun 2003, dengan curah hujan terendah pada bulan Agustus. Suhu rata-rata daerah Kabupaten Bangka 17 Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pada http://www.babelprov.go.id/content/wilayah-administrasi. Diakses tanggal pada tanggal 24 November 2018.

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 Selatan berdasarkan data dari Stasiun Meteorologi Pangkalpinang menunjukkan variasi antara 25,9 hingga 28,0º Celcius. Sedangkan kelembaban udara bervariasi antara 76 hingga 88 persen pada tahun 2003. Sementara intensitas penyinaran matahari pada tahun 2003 rata-rata bervariasi antara 2,4 hingga 7,6 jam dan tekanan udara antara 1009,2 hingga 1011,1 MBS. Tanah di daerah Kabupaten Bangka Selatan ini mempunyai PH rata-rata di bawah 5, didalamnya mengandung mineral biji timah dan bahan galian lainnya seperti: Pasir Kwarsa, Kaolin, Batu Gunung dan lain-lain. Bentuk dan keadaan tanahnya adalah sebagai berikut: a. 4% berbukit seperti Bukit Paku, Permis dan lain-lain. Jenis tanah perbukitan tersebut adalah Komplek Posdolik Coklat Kekuning-kuningan dan Litosil berasal dari Batu Plutonik Masam. b. 51% berombak dan bergelombang, tanahnya berjenis Asosiasi Podsolik Coklat Kekuning-kuningan dengan bahan induk Komplek Batu Pasir Kwarsit dan Batuan Plutonik Masam. c. 20% lembah atau datar sampai berombak, jenis tanahnya asosiasi Posdolik berasal dari Komplek Batu Pasir dan Kwarsit. d. 25% rawa dan bencah/datar dengan jenis tanahnya asosiasi Alluvial Hedromotiff dan Glei Humus serta Regosol Kelabu Muda berasal dari endapan pasir dan tanah liat.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 Geografi bagian Hidrologi, pada umumnya sungai-sungai di daerah Kabupaten Bangka Selatan berhulu di daerah perbukitan dan pegunungan dan bermuara di pantai laut. Sungai-sungai yang terdapat di daerah Kabupaten Bangka Selatan ini adalah: Sungai Kepoh, Bangka Kota dan lain-lain. Sungai-sungai tersebut berfungsi sebagai sarana transportasi dan belum bermanfaat untuk petanian dan perikanan karena para nelayan lebih cenderung mencari ikan ke laut. Pada dasarnya di Daerah Kabupaten Bangka Selatan tidak ada danau alam, hanya ada bekas penambangan bijih timah yang luas menyerupai danau buatan yang sering disebut kolong atau camoy. Flora yang terdapat di hutan Bangka Selatan yaitu, Kayu Ramin, Meranti, Kapuk dan Jelutung. Sedangkan fauna yang terdapat kawasan hutan ialah, Rusa, Beruk, Monyet, Babi, Tringgiling, Napuh, Musang, Murai, Tekukur, Pipit, Kalong, Elang, Ayam Hutan, dan tidak terdapat binatang buas seperti Gajah, Harimau, dan lain sebagainya.18 18 Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bangka Selatan Dalam Angka 2003.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 Gambar 2.1. Peta Kabupaten Bangka Selatan . Sumber: Kabupaten Bangka Selatan Dalam Angka 2017 Gambar 2.2. Peta Kecamatan Pulau Besar Sumber: Statistik Daerah Kecamatan Pulau Besar Tahun 2013

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 B. Geografis Kecamatan Pulau Besar Kecamatan Pulau Besar adalah salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Bangka Selatan. Kecamatan ini merupakan kecamatan baru, hasil pemekaran dari Kecamatan Payung yang terletak di Bagian Selatan Pulau Bangka. Secara administratif wilayah Kecamatan Pulau Besar mempunyai luas ± 169, 873 Km² yang meliputi lima desa yaitu: Desa Batu Betumpang, Desa Sukajaya, Desa Sumber Jaya Permai, Desa Fajar Indah, dan Desa Panca Tunggal. Secara umum wilayah administratif Kecamatan Pulau Besar memiliki batas-batas sebagai berikut:  Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Bedengung Kecamatan Payung  Sebelah Selatan berbatasan dengan Selat Bangka  Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Gudang dan Sebagin Kecamatan Simpang Rimba  Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Nyelanding, Sidoharjo dan Pergam Kecamatan Air Gegas. Kecamatan Pulau Besar yang berada dalam wilayah Kabupaten Bangka Selatan dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah (PERDA) Kabupaten Bangka Selatan Nomor 26 Tahun 2007 tentang pembentukan Kecamatan Tukak Sadai dan Kecamatan Pulau Besar berserta penataan kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan.19 19 Profil Kecamatan Pulau Besar tahun 2017.

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 1. Demografi Demografi penduduk perlu diuraikan dengan tujuan untuk melihat komposisi penduduk, distribusi penduduk, dan perubahan-perubahan yang terjadi melalui 5 komponen demografi yaitu kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), perkawinan, migrasi, dan mobilitas sosial. Kepadatan penduduk Kecamatan Pulau Besar selama periode 2008-2010 terus mengalami peningkatan jumlah penduduk. Pada tahun 2008 jumlah penduduk sebanyak 8.538 jiwa kemudian tumbuh sebesar 1,51 persen di tahun 2009 sehingga penduduk menjadi 8.667 jiwa. Terjadinya pertumbuhan penduduk di tahun 2009, menyebabkan kepadatan penduduk tahun 2009 meningkat 51 jiwa/km2 dibandingkan dengan tahun 2008 yaitu 50 jiwa/km2. Tahun 2010 jumlah penduduk bertambah menjadi sebanyak 8.883 jiwa dan kepadatan penduduk menjadi 52 jiwa/km, persentase pertumbuhan penduduk ini naik sebanyak 1,92 persen. Tabel 2.1. Perkembangan Penduduk Kecamatan Pulau Besar Jumlah Penduduk ( Jiwa) Tahun LakiPerempuan Jumlah Laki 2008 4.48 4.055 8.538 3 2009 4.59 4.073 8.667 4 2010 4.72 4.113 8.833 0 2011 4.61 4.159 8.778 9 Sumber: pengolahan data BPS Kecamatan Pulau Besar Dalam Angka Tahun 2009,2010,2011,2012

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 Komposisi penduduk Kecamatan Pulau Besar dapat dilihat dari komposisi penduduk menurut pekerjaan. Usia produktif penduduk untuk bekerja dibagi menjadi 3 yaitu; usia 1-14 tahun adalah usia belum produktif, usia 15-64 tahun adalah usia dewasa/usia kerja/usia produktif, usia 65 tahun keatas adalah usia tidak produktif/usia jompo. Di Kecamatan Pulau Besar, jumlah penduduk yang berada pada usia produktif ialah; pada tahun 2008 berjumlah 5656 jiwa, pada tahun 2009 berjumlah 6103 jiwa, dan di tahun 2010 berjumlah 6206 jiwa. Tabel 2.2. Penduduk dalam usia produktif di Kecamatan Pulau Besar Jumlah Penduduk ( Jiwa) Tahun LakiPerempuan Jumlah Laki 2008 3127 2529 5656 2009 3230 2873 6103 2010 3300 2906 6206 Sumber: pengolahan data BPS Kecamatan Pulau Besar Dalam Angka Tahun 2009,2010,2011 Dari data usia produktif penduduk Kecamatan Pulau Besar, dapat diketahui jumlah tertinggi penduduk berada pada usia dewasa atau usia produktif, dengan demikian dapat diketahui bahwa Kecamatan Pulau Besar merupakan kecamatan yang sedang mengalami pertumbuhan. Penduduk yang berusia produktif akan menanggung beban dari penduduk usia tidak produktif yaitu 1-14 tahun dan 65 tahun keatas. Mobilitas penduduk adalah perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerah lain. Mobilitas penduduk terbagi menjadi 2 yaitu, pertama mobilitas non permanen artinya perpindahan penduduk yang bersifat sementara seperti turisme baik nasional maupun internasional, kedua mobilitas penduduk permanen yang

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 artinya perpindahan penduduk bersifat menetap atau disebut juga dengan migrasi. Migrasi yang terjadi di Kecamatan Pulau Besar ialah migrasi ruralisasi dan transmigrasi. Migrasi ruralisasi adalah perpindahan penduduk dari kota ke desa. Perpindahan penduduk dari wilayah kota ke Kecamatan Pulau Besar dapat disebabkan karena tugas dari pekerjaan yang menempatkan untuk menetap di Kecamatan Pulau Besar, perkawinan, berkurangnya lapangan pekerjaan, dan sebagainya. Kemudian transmigrasi adalah perpindahan penduduk dari satu pulau ke pulau yang lain dan merupakan program dari pemerintah untuk mengurangi kepadatan penduduk di suatu daerah atau pulau. C. Masyarakat Kecamatan Pulau Besar Mengenai penduduk asli20 Pulau Bangka belum ada data pasti siapa yang mendiami Pulau Bangka pada mulanya dan bergenerasi. Tetapi tercatat dalam kujungan kolonial Belanda J. Van Bogart ke Bangka pada tahun 1803 bahwa penghuni Bangka terdiri dari empat kelompok suku.21 Penghuni Bangka yang dimaksudkan oleh van Bogart ialah; Suku Tionghoa, Suku Melayu, Orang Bukit atau Orang Gunung, dan Orang Laut atau Sekak22. 20 Penduduk asli menurut KBBI ialah :Orang-orang yang turun-temurun tinggal di suatu daerah (kampung dsb). 21 Mary Somers Heidhues. Timah Bangka Dan Lada Mentok: Peran Masyarakat Tionghoa Dalam Pembangunan Pulau Bangka Abad XVIII s/d XX. Jakarta: Yayasan Nabil, 2008., hlm. 87. 22 Orang Laut sama dengan Sekak, Sekah, atau Sakai. Mereka adalah orang yang tinggal di atas perahu dekat pantai, mencari nafkah sebagai nelayan dan perompak kecil. Di Bangka jumlah mereka tidak pernah mencapai lebih dari beberapa ratus orang sehingga posisinya mudah tergeser dengan arus pendatang dari luar Bangka.

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 Pada perkembangannya di abad Ke-19 arus pendatang di Pulau Bangka terus terjadi dalam jumlah besar. Sepanjang tahun 1834 hingga 1843 terjadi arus besar datangnya kuli China dari wilayah-wilayah pegunungan di provinsi Guangdong, diperkirakan jumlah mereka tiga perempat kuli yang ada di Bangka. Selain kedatangan kuli dari wilayah China, terjadi juga migrasi orang melayu dari berbagai tempat di Indonesia dan sejumlah orang Tionghoa dari Jawa, Sumatera, Riau datang turut mewarnai ragam penduduk Bangka.23 Pasca kedatangan orang-orang Tionghoa atau kuli tambang timah di abad 17 mereka menetap dan melanjutkan generasinya di Bangka. Sejak itu pula Pulau Bangka di tinggali dan menjadi tempat lahirnya generasi Tionghoa. Oleh sebab itu, Pulau Bangka dapat dikatakan sebagai pulaunya para pendatang atau pulau orang-orang perantau. Hal ini didukung dari sejarah awal mula Pulau Bangka mulai di tinggali. Derasnya arus pendatang ke Bangka, membuat pulau ini ditinggali beragam suku dan budaya. Salah satu desa di Kecamatan Pulau Besar termasuk wilayah pesisir, ialah Desa Batu Betumpang, daerah yang berbatasan langsung dengan pantai ini sangat memungkinkan terjadinya arus kedatangan orang asing melalui jalur laut ke desa Batu Betumpang dan menetap menjadi masyarakat asli Batu Betumpang. Faktor geografis Pulau Bangka yang di kelilingi oleh lautan membuat pulau ini selalu di datangi kapal-kapal asing dan menyebabkan terjadinya akulturasi budaya. 23 Heidhues, Mary Somers., op.cit., hlm. 44.

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 Hal menarik lainnya yang terjadi pada kedatangan penduduk dari wilayah lain ke Kecamatan Pulau Besar ialah, pada tahun 1990-1997 pemerintah melakukan transmigrasi dari Pulau Jawa ke Bangka, transmigran yang jumlahnya ratusan tersebut tersebar ke beberapa kecamatan di Bangka, menetap dan berakulturasi dengan budaya di Bangka. Transmigrasi dilakukan pemerintah bertujuan untuk mengurangi jumlah penduduk disuatu daerah yang padat ke daerah yang berpenduduk jarang. Daerah-daerah yang menjadi daerah transmigrasi di Bangka tersebut ialah, di Kabupaten Bangka Selatan (Trans Rias), di Kecamatan Pulau Besar (Desa Sidoharjo, Desa Sumber Jaya Permai, Desa Fajar Indah dan, Desa Panca Tunggal). Sebagian penduduk di Kecamatan Pulau Besar ini ialah penduduk transmigrasi dengan jumlah penduduk 1.256 jiwa pada saat penempatan transmigrasi. Penempatan transmigrasi di Bangka Selatan terjadi dalam 3 periode, yaitu pada tahun 1990 penempatan pertama di Desa Fajar Indah sejumlah 500 KK (Kepala Keluarga), penempatan kedua terjadi pada tahun 1995 di Desa Panca Tunggal sejumah 400 KK, dan penempatan ketiga yaitu pada tahun 1996-1997 di Desa Sumber Jaya Permai sejumlah 356 KK.24 Jenis transmigrasi yang dilakukan pemerintah ini merupakan transmigrasi umum. Setelah perpindahan penduduk secara besar ke Pulau Bangka yang dipelopori oleh pemerintah, terjadi juga transmigrasi spontan yaitu transmigrasi atas kemauan dan biaya sendiri ditahun-tahun berikutnya setelah masyarakat 24 Wawancara dengan Ibu Fiona Vellaka Sary di Kantor Dinas Transmigrasi Kabupaten Bangka Selatan pada tanggal 10 April 2018.

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 transmigrasi mampu hidup berkecukupan dan mengajak sanak saudaranya dari luar Bangka untuk tinggal di Bangka. Transmigrasi dari Pulau Jawa tidak hanya membawa orang-orang Jawa saja ke tanah Bangka, suku-suku lain juga turut mencari peruntungan di tanah Bangka seperti orang Bali, Madura, Batak, Sunda, Palembang dan Flores. Mereka hidup dan bergenerasi di Bangka. Keberagaman suku dan regenerasinya terjadi perlahan pada awal-awal pembentukan desa-desa di Pulau Besar, hal inilah yang menjadi alasan mengapa tidak ada penduduk asli di Bangka. Bukti yang paling nampak dari program transmigrasi oleh pemerintah yaitu terdapat pada nama-nama desa yang diawali dengan nama trans. Desa Fajar Indah dengan nama Trans 1, Desa Panca Tunggal menjadi Trans 3, dan Desa Sumber Jaya Permai menjadi Trans 4, terkecuali desa Batu Betumpang dan Suka Jaya yang tidak menjadi bagian dari wilayah transmigrasi pemerintah. Pada tahun 2008 pendataan statistik masyarakat dilakukan secara menyeluruh oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Hal ini bertepatan dengan terbentuknya kecamatan baru yaitu Pulau Besar. Terdapat gambaran kondisi masyarakat Pulau Besar tahun 2008 di bidang kesehatan, pendidikan, tenaga kerja, penduduk, dan agama. Tingkat kesehatan masyarakat Pulau Besar dapat dilihat dari sarana dan prasarana yang dibangun dalam desa-desa di Pulau Besar. Belum ada rumah sakit yang dibangun, baik milik pemerintah maupun swasta. Sarana yang telah di bangun yaitu terdapat 5 Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat), dan 2

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 Posyandu, 4 Pustu (Puskesmas Pembantu) dan 3 Polindes. Tenaga kesehatan yang membantu di Puskesmas ialah 5 Paramedis, 3 Bidan, dan belum terdapat dokter untuk menangani kesehatan masyarakat sampai tahun 2008. Selain itu, pelayanan untuk persalinan di bantu oleh dukun beranak yang berjumlah 10 orang dan tersebar di desa-desa Pulau Besar. Persalinan dilakukan di rumah-rumah warga yang sedang bersalin atau di Puskesmas, belum ada rumah bersalin yang dibangun. Agama yang dianut oleh masyarakat Pulau Besar beragam, serupa dengan keberagaman sukunya. Jumlah tempat peribadatan di Pulau Besar tahun 2008 dirinci sebagai berikut; 10 Masjid, 19 Langgar, 5 Surau, 2 Gereja Kristen, 1 Gereja Katolik, 3 Pura, dan 0 Vihara. Untuk penduduk yang beragama Buddha belum ada tempat peribadatan yang di bangun. Pendidikan di Pulau Besar dapat dikatakan termasuk maju hal ini dikarenakan pembangunan sarana sekolah yang merata disetiap desa dalam Kecamatan Pulau Besar. Sarana sekolah yang telah di bangun yaitu, terdapat 4 TK (Taman Kanak-kanak) milik swasta, kemudian 7 SD, 1 SMP dan 1 SMA merupakan sekolah negeri atau milik pemerintah. Selain sekolah negeri untuk umum dibangun juga yaitu sekolah Agama Islam di desa Batu Betumpang yaitu dengan tingkat pendidikan Ibtidaiyah (SD), Tsanawiyah (SMP), dan Aliyah (SMA) masing-masing sejumlah 1 sekolah. Untuk mengikuti pendidikan tingkat dasar TK dan SD pelajar masih bisa bersekolah di masing-masing desa, tetapi untuk SMP pelajar harus bersekolah ke desa Fajar Indah karena jumlah SMP hanya 1, sedangkan untuk tingkat SMA, pemerintah Kecamatan Pulau Besar

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 belum membangun gedung sekolah karena tingkat pendidikan terakhir siswa ratarata di jenjang pendidikan SMP. Beberapa pelajar yang ingin melanjutkan hingga jenjang SMA harus bersekolah di Madrasah Aliyah di desa Batu Betumpang yang berarti pelajar harus seorang muslim agar dapat bersekolah di lingkup Kecamatan Pulau Besar. Sedangkan pelajar yang beragama non-muslim harus bersekolah di kecamatan lain, seperti Kecamatan Payung, Kecamatan Air Gegas atau di Kabupaten Bangka Selatan di kota Toboali. Berdasarkan uraian di atas kondisi pendidikan masyarakat di Kecamatan Pulau Besar dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2.3. Jumlah Murid Sekolah Negeri dan Swasta menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Pulau Besar Tahun 2008 TK SD SMP Neg eri Swa sta 0 1 23 2 0 280 0 0 0 0 1 0 0 1 40 1 0 127 0 0 0 0 0 0 0 1 22 2 0 274 1 0 329 0 0 0 Suka Jaya 0 0 0 1 0 143 0 0 0 0 0 0 Sumber Jaya Permai 0 1 19 1 0 183 0 0 0 0 0 0 Jumlah 0 4 104 7 0 100 7 1 0 329 0 1 0 Desa Batu Betum pang Panca Tungga l Fajar Indah Neg eri Swa sta Juml ah Mur id Neg eri SMA Juml ah Mur id Swa sta Juml ah Mur id Nege ri Swa sta Juml ah Mur id Sumber: Kecamatan Pulau Besar dalam Angka 2009

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 D. Mata Pencaharian Mata pencaharian penduduk Kecamatan Pulau Besar terdiri dari petani, pekerja industri, konstruksi, pedagang, transportasi, PNS, ABRI, pensiunan PNS, buruh bangunan, peternak sapi, peternak itik, dan nelayan. Wilayah daratan Kecamatan Pulau Besar lebih luas dibandingkan dengan wilayah perairan menyebabkan kecamatan ini secara ekonomi menggunggulkan penggunaan daratan sebagai lahan penyokong ekonomi mereka. Keadaan wilayah agraris ini membuat mayoritas masyarakat di Kecamatan Pulau Besar menjadi petani. Wilayah perairan atau pantai yang luas hanya terdapat di Desa Batu Betumpang, hal ini jugalah yang menyebabkan masyarakat Batu Betumpang mayoritas berprofesi sebagai nelayan, pekerjaan tersebut juga diselingi dengan berdagang, dan bertani. Daratan dengan luas tanah 169,87 Km² menjadikan masyarakat Kecamatan Pulau Besar mayoritas bekerja di sektor pertanian. Dalam data BPS mengenai penduduk dan tenaga kerja Kecamatan Pulau Besar, jumlah pekerjaan tertinggi di wilayah ini ialah petani dengan jumlah 3.785 jiwa pada tahun 2008, pada tahun 2009 berjumlah 4408 jiwa, pada tahun 2010 sejumlah 4427 jiwa dan mengalami peningkatan pada tahun 2011 sejumlah 4441 jiwa. Jenis tanaman petani ialah, palawija, padi, sayur-sayuran, berkebun karet (Hevea brasiliensis), berkebun lada (Piper nigrum), dan berkebun sawit (Elaeis). Lada dan karet merupakan komoditas unggulan pada subsektor perkebunan di Kecamatan Pulau Besar. Dalam pendataan tahun 2008 hingga 2010 produksi karet selalu meningkat, namun untuk lada produksinya terus menurun.

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 Tabel 2.4. Produksi Komoditas Unggulan Subsektor Perkebunan Kecamatan Pulau Besar (Ton) Komoditas 2008 2009 2010 Lada 3,6 3,3 2,7 Karet 111 119 134 Sumber : Statistik Daerah Kecamatan Pulau Besar tahun 2011 Pada subsektor tanaman bahan makanan (tabama), masyarakat di Kecamatan Pulau Besar memiliki 3 jenis tanaman yaitu, padi sawah dan ladang, ketela pohon, dan jagung. Pada tahun 2009 masyarakat memiliki lahan pertanian padi sawah 914 Hektar dan hasil panen sebanyak 1364 Ton. Pertanian padi ladang menghasilkan 2,3 Ton padi dari 15 Hektar ladang pada tahun 2008, kemudian terjadi peningkatan produksi di tahun 2009, dari 35 Hektar ladang menghasilkan 20 Ton padi, di tahun 2010 masyarakat panen padi sebanyak 18 Ton padi dari 17 Hektar ladang. Hasil tabama jenis ketela pohon ialah, 9,5 Ton dari 16 Hektar lahan di tahun 2008, 10,0 Ton dari 19 Hektar lahan di tahun 2009, 11 Ton dari 20 Hektar lahan di tahun 2010. Hasil tabama jenis jagung ialah, pada tahun 2008 menghasilkan 2,3 Ton jagung dengan luas lahan 15 Hektar, pada tahun 2009 menghasilkan 1,8 Ton jagung dengan luas lahan 14 Hektar, dan pada tahun 2010 menghasilkan 1,3 Ton jagung dengan luas lahan 13 Hektar.

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 Tabel 2.5. Statistik Tabama Kecamatan Pulau Besar Uraian 2008 2009 Padi Sawah Luas Panen (Ha) 914 Produksi (Ton) 1.364 Padi Ladang Luas Panen (Ha) 15 35 Produksi (Ton) 2,3 20 Ketela Pohon Luas Panen (Ha) 16 19 Produksi (Ton) 9,5 10,0 Jagung Luas Panen (Ha) 15 14 Produksi (Ton) 2,3 1,8 2010 17 18 20 11 13 1,3 Sumber: Statistik Daerah Kecamatan Pulau Besar tahun 2011 Hasil panen dari tabama tidaklah sebanyak hasil dari perkebunan karet dan lada, hal ini terjadi karena sedikitnya masyarakat yang menanam tabama. Menanam tabama memiliki resiko kegagalan panen yang besar dan harga komoditas dari tabama rendah sehingga masyarakat cenderung menanam karet dan lada. Di bidang peternakan masyarakat memelihara ayam, bebek, sapi, kambing, dan babi. Hasil peternakan masyarakat hanya bisa di perjualbelikan dalam satu kecamatan saja, jarang sekali hasil peternakan dapat dijual keluar dari kecamatan, misalnya ke kecamatan lain atau ke kabupaten, hal ini terjadi karena peternakan masyarakat merupakan peternakan berskala kecil. Desa Batu Betumpang yang merupakan wilayah pesisir yaitu berbatasan dengan pantai Batu Betumpang mayoritas penduduknya menjadi nelayan dan pedagang, juga bekerja sebagai petani sahang25 atau lada (Piper Nigrum) dan karet (Havea Brasiliensis). Pada tahun 2010 jumlah nelayan di Desa Batu Betumpang berjumlah 480 orang dan menghasilkan produksi ikan laut sebanyak 25 Bahasa daerah Bangka untuk menyebut lada.

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 2.453 ton. Sedangkan Desa Panca Tunggal, Desa Fajar Indah, dan Desa Sumber Jaya Permai wilayahnya merupakan daratan luas dan merupakan lahan agraris, penduduk dari desa tersebut mayoritas bekerja di sektor pertanian, pedagang, dan penambang timah. Dalam perkembangan perekomian masyarakat, terjadi pasang surut dari hasil produksi mereka, harga kebutuhan pokok naik, panen gagal, hasil tangkapan ikan kurang, dan lain sebagainya membuat masyarakat mencari peluang sumber penghasilan yang baru. Seiring dengan perkembangan dalam teknologi membuat masyarakat Pulau Besar mulai meninggalkan kehidupan dan kebiasaan lama mereka. Mereka sudah tidak lagi sepenuhnya bergantung pada alam. Mata pencaharian masyarakat Pulau Besar tidak hanya sebagai petani, nelayan, pedagang saja, kebutuhan ekonomi membuat masyarakat harus lebih ulet dan cekatan mencari peluang pekerjaan yang menguntungkan dan memperkuat perekonomian keluarga mereka. Desakan akan pemenuhan kebutuhan hidup membuat mereka mencari peluang-peluang untuk pemenuhan ekonomi, sedangkan untuk bekerja di sektor-sektor selain petani, pedagang, dan nelayan mereka harus mempunyai pengetahuan dan keterampilan. Semua desakan itu membuat mereka harus belajar ilmu pengetahuan dan teknologi Selain menjadi petani masyarakat Kecamatan Pulau Besar memiliki pekerjaan sampingan atau pekerjaan sambilan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka yaitu dengan bekerja sebagai penambang timah, misalnya di waktu pagi bertani atau berladang, tiba saat siang dilanjutkan dengan menambang timah. Tidak jarang juga pekerjaan menjadi penambang timah sebagai pekerjaan utama

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 dibandingkan menjadi petani. Hal ini dikarenakan masa panen dalam bertani yang lama dan hasil panen ketika dijual, penghasilannya tidak sebesar yang dihasilkan dari menambang timah.26 Usaha pertambangan timah inkonvensional (TI) sudah dilakukan masyarakat Kecamatan Pulau Besar sejak diberlakukannya perizinan tambang oleh Bupati Bangka melalui perda, saat perizinan tersebut berlaku masyarakat Bangka marak membuka TI di berbagai tempat. Pada awal maraknya TI di Kecamatan Pulau Besar yaitu pada tahun 2001-2003, dimana masyarakat mulai beralih profesi menjadi tenaga kerja di TI bersama patner kerja (teman dan keluarga) di luar daerah Pulau Besar. Setelah tahun-tahun pembukaan TI berlalu, masyarakat mulai mengusahakan untuk membuka tambang sendiri dan bekerjasama dengan tenaga kerja TI. Dari data BPS tahun 2009-2013 dapat diketahui jumlah pemilik tambang dan tenaga kerja tambang sebagai berikut, pada tahun 2008 pemilik usaha TI berjumlah 10 dengan tenaga kerja berjumlah 38 orang, pada tahun 2009 pemilik usaha TI berjumlah 23 dengan tenaga kerja berjumlah 90 orang, pada tahun 2010 mengalami peningkatan yaitu pemilik usaha TI berjumlah 92 dengan tenaga kerja berjumlah 276 orang, pada tahun 2011 dan 2012 dalam jumlah yang sama, pemilik usaha TI berjumlah 67 dengan tenaga kerja 201 orang. 26 Wawancara dengan Bapak Yakobus Dasar pada tanggal 14 April di desa Sumber Jaya Permai.

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 Tabel 2.6. Jumlah Pemilik Usaha Pertambangan Timah Inkonvensional dan Tenaga Kerja di Kecamatan Pulau Besar (Orang) Uraian Tambang 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah pemilik TI 10 23 92 67 67 Tenaga kerja TI 38 90 276 201 201 Sumber: Pengolahan data BPS Kecamatan Pulau Besar dalam Angka 2009, 2010, 2011, 2012, 2013

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 BAB III PERTAMBANGAN TIMAH BANGKA A. Penemuan Timah Bangka Tahun penemuan dan penambangan timah di Bangka tidak dapat dipastikan pada tahun berapa bermula, berbagai versi dari peneliti timah Bangka sebelumnya menuliskan pada tahun 1709, 1710, 1711 sebagai tahun penemuan dan penambangan timah. Begitu pula dengan tempat awal ditemukan penambangan timah Bangka, beberapa catatan peneliti mewakili sejarah awal penambangan timah Bangka yaitu di Sungai Ulim atau Olim di Toboali pada tahun 1709, Kampung Calin Merawang pada tahun 1709, dan Bangka pada tahun 1710 yang tidak diketahui nama daerahnya. Penduduk yang sudah akrab dengan lingkungannya lebih mengetahui keadaan lingkungannya, termasuk sumber daya alam yang dapat mereka manfaatkan, termasuk penemuan timah dan pemanfaatannya bagi penduduk asli. Diperkirakan penemu timah pada mulanya ialah penduduk asli daerah penghasil timah itu sendiri. Penduduk asli yang menemukan timah Bangka yang dimaksudkan adalah orang laut atau suku Sekak yang tinggal diatas perahu dan bibir pantai Bangka. Orang laut ini datang dari Johor dan kemudian mendiami Pulau Bangka. Pengetahuan Orang laut mengenai timah 27 diketahui dari penambangan timah yang sudah ada di Semenanjung Malaya sebelum permulaan 27 Pengetahuan suku Sekak tentang Timah ini diketahui dari pergaulan mereka dengan orang-orang China. Sementara bahasa lokal tentang Timah hingga kini belum diketahui.

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 abad Ke-18. Dari pengetahuan Orang Laut inilah penduduk Bangka yang tinggal di daratan mengerti bahwa timah merupakan komoditas yang dapat dijual.28 Penduduk daratan Bangka ialah Orang Melayu dan Orang Gunung, penemuan timah bermula dari ditemukannya butiran-butiran logam timah, butiran-butiran logam tersebut berwarna putih keperak-perakan berada di permukaan tanah bekas suatu hutan yang terbakar. Kebakaran hutan yang dimaksud adalah pembakaran hutan yang disengaja oleh penduduk. Tujuan dari pembakaran hutan tersebut adalah untuk membuka lahan perkebunan yang baru. Cara pembukaan lahan perkebunan dengan menebang pohon dianggap tidak efektif karena mengeluarkan tenaga yang besar dan waktu yang lama. Tradisi membakar hutan untuk lahan perkebunan ini merupakan kebiasaan penduduk Bangka. Setelah pembakaran hutan selesai dilakukanlah pembersihan lahan perkebunan, disaat yang bersamaan pula penduduk menemukan pasir berwarna keperak-perakan. Penduduk daratan Bangka yaitu Suku Melayu dan Suku (orang) Gunung pada awalnya tidak mengetahui bahwa pasir tersebut adalah timah, namun seiring perjalanan waktu, pengetahuan dari Suku Laut atau Sekak mengenai timah telah diterima oleh penduduk daratan Bangka dan timah mulai diusahakan. Ketika pembakaran hutan berlangsung, terjadilah reaksi kimia yang dapat melebur pasir timah menjadi timah murni dengan nama Stannum (Sn). Diperlukan temperatur yang tinggi untuk mencapai titik lebur pasir timah yaitu hingga 28 Heidhues, Mary Somers., op. cit., hlm. 88.

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 231.97ºC. Pembakaran hutan di Bangka diperkirakan mencapai suhu panas hingga 231.97ºC atau lebih sehingga pasir timah dapat melebur. Reaksi kimia yang terjadi saat pembakaran tersebut ialah: SnO² + CO  Sn + CO². Pembakaran hutan untuk pembukaan lahan baru di Bangka menunjukkan bahwa pada awalnya penduduk hanya bekerja sebagai petani dan bergantung pada kebaikan alam. Hasil hutan yang dapat dimanfaatkan yaitu seperti damar, buahbuahan, madu lebah, kayu, rotan, mencari binatang buruan dan sebagainya. Ketika istirahat atau senggang dari bertani, petani mulai mengusahakan timah dengan menggalinya didalam tanah.29 Pasir timah dapat ditemukan dalam jumlah cukup banyak dengan cara menggali tanah kemudian mendulang tanah tersebut dengan air, hingga pasir timah dapat terlihat. Cara mendulang atau memisahkan tanah pasir dan pasir timah yang dilakukan oleh penduduk ialah, tanah yang diduga mengandung pasir timah digali dan dikumpulkan di suatu tempat yang dekat dengan sumber air. Sebagian demi sebagian tanah tersebut dituang ke sebuah dulang, kemudian pasir timah yang berwarna hitam dan berat dipisahkan dari tanah liat dan bahan kotoran lainnya dengan cara membasuhnya dengan air. Dulang digoyang-goyang sambil diputarputar, sehingga bahan-bahan yang lebih ringan terlempar keluar bersama dengan aliran air yang mengandung larutan tanah liat. Bahan yang berat yakni butir-butir 29 Sutedjo Sujitno. Dampak Kehadiran Timah Indonesia Sepanjang Sejarah, 2007., op. cit., hlm. 43.

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 timah terkumpul di tengah dulang, dan timah yang telah terkumpul inilah yang menjadi tambahan penghasilan penduduk.30 Untuk melebur timah menjadi timah murni atau cair, penduduk asli Bangka telah mempelajarinya dengan cara mengikuti cara peleburan besi yang sudah ada lebih dulu pada abad Ke-17. Peleburan besi ini terdapat di daerah Paku, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan. Pada tahun-tahun awal penemuan timah Bangka yaitu pada tahun 1709 hinga tahun 1711 terjadi perkembangan dalam perdagangan timah di Asia Timur dan Asia Tenggara. Permintaan untuk timah di Tiongkok dan untuk perdagangan Tiongkok meningkat. Permintaan timah yang meningkat di China disebabkan karena meningkatnya produksi perlengkapan agama yang membutuhkan timah sebagai bahan campurannya. Perlengkapan keagamaan tersebut ialah tempat lilin logam, bejana untuk altar leluhur, patung-patung, kertas dupa atau kertas timah dan sebagainya. Pasir timah yang didapatkan penduduk dijual kepada tengkulak, dan melalui para tengkulak tersebut timah Bangka dibawa ke China dan India untuk memenuhi kebutuhan produksi negara tersebut. Di abad Ke-18 perusahaanperusahaan penempaan timah China di Kiangsu dan Chekiang membutuhkan sekitar 70.000 lempeng timah setiap tahun untuk membuat kertas timah bagi persembahan. Selain sebagai bahan untuk membuat perlengkapan keagamaan, 30 Ibid.31Nawiyanto dan Eko Crys Endrayadi. Kesultanan Pelembang Darussalam: Sejarah Dan Warisan Budayanya . Jember: Jember University Press, 2016., hlm. 36.

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 timah juga dapat dipergunakan sebagai bahan pelengkap pembuatan kaca, cangkir teh, untuk pembuatan uang logam, pelapis kemasan dan sebagainya. B. Pendirian Banka Tinwinning (BTW) 1. Penguasaan Bangka oleh Kesultanan Palembang Kepulauan Bangka dan Belitung berada di bawah kekuasaan Kesultanan Palembang sejak abad Ke-17. Kesultanan Palembang yang dipimpin oleh Sultan Abdurrachman dapat menguasai Bangka karena terjadinya perkawinan politik antara Sultan dengan seorang putri dari penguasa Bangka. Setelah pernikahan tersebut Sultan Abdurrachman yang akhirnya mendapatkan warisan atas Kepulauan Bangka.31 Sejak saat itu, tahun 1671, Bangka menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Kesultanan Palembang. Setelah Sultan Abdurrachman wafat pada tahun 1702, kesultanan di pimpin oleh anak pertama sultan yaitu Dipati Anum Muhammad Mansur. Pemerintahan oleh Sultan Anum Mansur sangatlah singkat, yaitu kurang dari 15 tahun (1703-1714). Pada tahun 1714 sebelum wafat Sultan Anum Mansur menitipkan wasiatnya agar pemimpin kesultanan berikutnya adalah anak dari sultan tersebut yaitu Dipati Anum Badarrudin32. Setelah Sultan Anum Muhammad Mansur wafat, terjadi perebutan kekuasaan di Kesultanan Palembang. Saudara kandung Sultan Anum Muhammad 31 Nawiyanto dan Eko Crys Endrayadi. Kesultanan Pelembang Darussalam: Sejarah Dan Warisan Budayanya . Jember: Jember University Press, 2016., hlm. 36. 32 Dipati Anum merupakan anak dari istri kedua Sultan Anum Mansur. Heidhues, Mary Somers., op.cit., hlm. 7.

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 Mansur yang bernama Sultan Anum Kamaruddin menginginkan tahta kesultanan. Sultan Anum Kamaruddin dengan segera memproklamirkan dirinya sebagai pengganti kakaknya untuk menjadi Sultan Palembang. Wasiat dari Sultan Anum Muhammad Mansur tidak dijalankan oleh Sultan Anum Kamaruddin dan membuat pegawai pemerintah terpecah menjadi dua golongan. Pendukung Sultan Anum Kamarudin dan pendukung Dipati Anum Badarrudin. Pengikut Dipati Anum Badarrudin adalah pegawai pemerintahan dan rakyat Palembang yang mengikuti wasiat Sultan sebelum wafat bahwa Dipati harus menjadi pemimpin selanjutnya. Ketika itu terjadilah perang saudara, antara kedua belah pihak dibantu dengan pasukannya masing-masing. Setelah perang saudara terjadi berlarut-larut, Dipati Anum Badaruddin dan pengikutnya mengalah dan mengasingkan diri ke Pulau Bangka dan mendarat di Permis. Setelah mengasingkan diri ke Pulau Bangka, Dipati Anum Badarrudin melakukan perjalanan ke Riau, Johor dan Siantan untuk mencari dukungan agar dapat merebut kembali Kesultanan Palembang. Pengasingan Dipati Anum Badarrudin diikuti oleh saudaranya Raden Lembu atau Sultan Lemabang, yang kemudian menjadi Sultan Mahmud Badaruddin. Dalam pengasingannya di Johor hingga Riau, sebuah pusat perdagangan timah dan pusat penyelundupan, memberikan kesempatan bagi Dipati Anum Badaruddin dan saudaranya untuk mengenal barang dagangan dan melihat bahwa timah diperjualbelikan. Untuk bertahan hidup di Pulau Bangka, Johor dan Siantan,

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 Sultan Mahmud Badaruddin dan pengikutnya menggali timah Bangka33 dan menjualnya secara sembunyi-sembunyi. Keinginan untuk menyerang Palembang masih membara di hati Sultan Mahmud Badarrudin I dan pengikutnya. Oleh karena itu diaturlah siasat kerjasama yang dilakukan ialah dengan membuat perjanjian antara Sultan dan Wan Akup.34 Pada tahun 1733 pasukan dari Sultan Mahmud Badaruddin menyerang Kesultanan Palembang dengan 40 kekuatan kapal dan dibantu oleh rakyat Pelembang yang masih berpihak padanya. Dengan cepat pertahanan Kesultanan Palembang runtuh dan Sultan Anum Kamaruddin melarikan diri. Kesultanan Palembang telah kembali kepada Sultan Mahmud Badarrudin dan perjanjian dengan Wan Akup ditepati. Didirikanlah sebuah kampung kecil (Mentok) dan diperuntukkan kepada Wan Akup dan keturunannya sebagai tempat tinggalnya. Tidak hanya sebatas tempat tinggal, Sultan memberikan kekuasaan kepada Wan Akup untuk menjadi pemegang kekuasaan di Mentok sebagai ibukota pemerintahan sekaligus sebagai kepala urusan penambangan bijih timah di Bangka, dan diberi gelar Datok Rangga Setiya Agama.35 33 Pengetahuan mengenai timah didapatkan oleh Sultan Anum Badarrudin dari pertemuan dengan perdagangan dan pertambangan di Johor dan Siantan. 34 Wan Akup adalah Kepala Negeri Siantan yang mendukung Sultan Mahmud Badarrudin untuk merebut kembali Kesultanan Palembang, dan imbalan yang diberikan Sultan bagi Wan Akup ialah memberikan sebagian Pulau Bangka. Wilayah dari Pulau Bangka yang dijanjikan yaitu sebuah kampung kecil di bagian barat Pulau Bangka. Pada perkembangannya kampung tersebut menjadi Kota Mentok atau Muntok. 35 Sutedjo Sujitno, Dampak Kehadiran Timah Indonesia Sepanjang Sejarah, 2007., op. cit., hlm. 51.

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 Ketika Wan Akup menjadi Kepala Kota Mentok, para Patih, Batin, dan Orang-orangnya dikerahkan untuk mencari timah secara besar-besaran. Mereka menemukan banyak tempat yang kaya kandungan timah dan kemudian membuka parit-parit penggalian timah di banyak tempat. Atas laporan Wan Akup mengenai cadangan timah Bangka, maka Sultan menetapkan peraturan untuk menambang timah. Peraturan ini disebut peraturan Timah Tiban, isi peraturan tersebut demikian: “...bahwa semua lelaki yang sudah kawin, kecuali orang Melayu, diharuskan menyerahkan timah seberat 50 kati. Sebagai imbalan Sultan akan menganugerahi sepotong kain hitam dan sepotong kain tjukal. Timah-timah agar diserahkan pada Wan Akup untuk dikumpulkan dan pada akhir tahun akan diserahkan pada Sultan di Palembang. Sedangkan timah yang dikerjakan Wan Akup dan orang-orang Melayu dan Penduduk Bangka di bagian barat (Mentok) diperbolehkan dimiliki Wan Akup dan keluarganya sendiri.”36 Wan Akup sebagai Kepala kampung (Mentok) merasa perlu mengembangkan pertambangan Bangka, maka diutuslah saudaranya yaitu Wan Seren dari Siantan untuk mencari orang-orang Siam, Malaysia dan China yang sudah berpengalaman menambang timah. Tenaga kerja dari Siam, Malaysia, dan China berdatangan dan dipekerjakan oleh Sultan di bawah pimpinan Wan Akup dengan sistem kongsi. Pengiriman tenaga kerja dari Siam, Malaysia dan China inilah yang akan merangkai sistem penambangan timah Bangka. 36 Ibid., hlm. 52.

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 2. Perusahaan Banka Tinwinning (BTW) Karena di bawah Kesultanan Palembang, Bangka menjadi pemasok timah bagi pemerintahan Palembang. Timah-timah tiban dan timah dari Wan Akup dipergunakan Kesultanan sebagai komoditas yang diperjualbelikan kepada VOC. Barang dagang yang dibeli VOC dari Palembang adalah komoditas lada dan timah milik Bangka. Perjanjian hubungan dagang antara VOC dan Palembang terjadi pada tahun 1722, seorang komisaris VOC bernama Abraham Patras menandatangani kontrak pengiriman timah dan lada Bangka dengan Sultan Palembang. Kesultanan Palembang menyetujui kontrak tersebut karena perjanjian dengan VOC, bahwa VOC akan membantu Kesultanan melawan Dipati Anum.37 Sejak ditandatanganinya kontak tersebut, lada dan timah Bangka hanya dijual kepada Belanda. 90 tahun perjalanan kontrak timah antara Palembang dan VOC, kontrak tersebut putus pada tahun 1812. Pada tahun 1812 Inggris datang ke Palembang dan Bangka. Inggris memberhentikan Sultan Mahmud Badarrudin II dan menggantikannya dengan saudaranya yang bernama Ahmad Najamudin. Sultan baru Palembang yaitu Sultan Ahmad Najamudin menyepakati untuk menyerahkan Bangka kepada Inggris pada bulan Mei 1812, dan akan menerima pembayaran tiap tahunnya sebagai kompensasi atas hilangnya pendapatan dari timah.38 37 38 Heidhues, Mary Somers., op. cit., hlm. 8. Ibid., hlm. 29.

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 Sejak penguasan Inggris di Bangka, Bangka berada di bawah kewenangan langsung kekuasaan kolonial dan secara administratif dipisahkan dari urusan Palembang dan ditangani langsung dari Batavia. Pembaharuan di bidang pertambangan dilakukan oleh pihak Inggris melalui residen di Bangka bernama Court. Pembaruan tersebut diantaranya adalah transisi kekuasaan langsung, pengiriman tenaga buruh untuk pertambangan dan pertanian, pengiriman tenaga tukang atau ahli, mengekang perompakan. Disaat pembaruan pertambangan diusahakan agar hasil timah dapat maksimal, perjanjian London terjadi di London pada tanggal 13 Agustus 1814. Salah satu isi perjanjian tersebut adalah mengharuskan Britania Raya menyerahkan Pulau Bangka kepada Belanda untuk ditukar dengan Cochin di India. Sejak saat inilah era kekuasaan Inggris dan Palembang atas Bangka berakhir dan dikuasai langsung oleh pemerintahan Belanda. Pada tahun 1913 Pemerintah Belanda mendirikan perusahaan pertambangan timah di Bangka dengan nama Banka Tinwinning (BTW). Sebuah Badan Usaha Milik Negara yang menjadi tonggak pertama sejarah berdirinya perusahaan pertambangan di Indonesia. BTW dibentuk sebagai usaha perbaikan adminstratif dan teknologi penambangan. Dalam usaha administratif, adanya peraturan bagi buruh-buruh Tionghoa, dalam usaha teknologi ada pembaharuan mesin-mesin pertambangan. Setelah pembentukan perusahaan Banka Tinwinning pada tahun 1913, pemerintah Belanda merasa perlu didirikan sebuah kantor untuk mengurus seluruh

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 administrasi penambangan. Didirikanlah kantor Banka Tinwinning pada tahun 1915 di Kota Mentok. Sejak berdirinya kantor dagang tersebut dimulailah eskpor timah dalam jumlah besar dibandingkan sebelum perusahaan ini dibentuk. Pengiriman timah dalam jumlah besar didukung karena pekerjaan buruh dalam menambang tidak terlalu berat lagi dan telah dibantu mesin-mesin penambangan sehingga menghasilkan jumlah timah yang maksimal dari para penambang. Pembentukan perusahaan BTW ini sebagai cara Belanda memperkenalkan generasi mesin, yang akan menggantikan kerja berat buruh dan memperbaiki kondisi buruh tambang.39 Mesin-mesin baru yang membantu pertambangan seperti, mesin penggerak dan pengangkut tanah, alat pengangkut biji timah, pompa gravel, dan penggunaan kapal keruk. Selain pembentukan perusahaan Belanda di Bangka, pembentukan badanbadan pertambangan juga dilakukan di Singkep dengan nama Singkep Tin Exploitatie Maatschappij (SITEM) pada tahun 1887 dan di Belitung dengan nama Gemeenschappelijeke Maatschapij Billiton (GMB) pada tahun 1923. 39 ibid., hlm. 134.

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 C. PT TIMAH Bangka PT Timah di Bangka merupakan perusahaan lanjutan dari perusahaan milik Belanda yang bernama Banka Tinwinning (BTW). Perusahaan Belanda ini mengalami gejolak pasang dan surut selama perjalanannya. Saat pasang yaitu ketika perjanjian London disepakati dan Bangka dikembalikan oleh pihak Inggris, Belanda membangun BTW dengan pembaharuan-pembaharuannya. Saat surut yang dialami BTW ialah ketika Jepang mengambil alih pertambangan milik Belanda termasuk tambang timah dan pekerjanya, kemudian ketika kemerdekaan Republik Indonesia dicapai dan perusahaan milik asing (Belanda) harus diserahkan menjadi milik Negara Indonesia. Setelah Jepang menyerah pada Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945, Indonesia sedang bergegas mempersiapkan kemerdekaan sebelum pihak Sekutu datang dan mengambil alih kekuasaan. Pada tanggal 17 Agustus 1945 kemerdekaan Indonesia di proklamasikan oleh Presiden Indonesia Ir. Soekarno. Proklamasi kemerdekaan tersebut sebagai tanda bahwa seluruh rakyat Indonesia menolak penjajahan kembali dari pihak Sekutu. Setelah mencapai kemerdekaanya, Bangsa Indonesia banyak mengalami perubahan dalam organisasi pertambangan timah di Bangka. Pemerintah Belanda yang telah meninggalkan Indonesia saat perebutan kekuasaaan dengan Jepang pada tahun 1942 ternyata kembali ke Bangka untuk membicarakan hak konsesi perpanjangan tambang timah. Tambang timah di Bangka, Belitung dan Singkep diusahakan agar berproduksi kembali. Pihak pemerintah Belanda meminta konsesi perpanjangan

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 waktu untuk mengurus tambang di Indonesia, tetapi permintaan tersebut tidak disetujui oleh Dewan Kepala-Kepala Pemerintahan. Atas kesepakatan bersama maka diberikanlah waktu konsesi bagi Belanda selama 5 tahun terhitung sejak 1 Maret 1948, dan akan selesai pada tahun 1953.40 Pada tahun 1953 masa hak konsesi Belanda atas tambang di Indonesia telah habis, oleh sebab itu tambang-tambang yang semula dikelola oleh perusahaan Belanda yang di dalamnya terdapat saham Belanda diambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia (RI). Perusahaan-perusahaan yang diambil alih menjadi milik RI ialah BTW, GMB, SITEM, Tambang Batubara Loa Kulu di Mahakam, Tambang Bauxite di Kijang Bintan.41 Tahun 1958 pemerintah Indonesia mengambil alih kepemilikan atas perusahaan Belanda menjadi milik Indonesia. kebijakan tersebut diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 86 Tahun 1958 Tentang Nasionalisasi Perusahaan-Perusahaan Milik Belanda. Setelah terbitnya UU tentang nasionalisasi perusahaan Belanda, posisi perusahaan tambang BTW semakin diperkuat dengan UU tersebut dengan status menjadi milik Negara Indonesia. Di tahun 1959 dibentuklah Biro Urusan Perusahaan Tambang Negara (BUPTAN) sebagai koordinator yang mengurusi ketiga tambang timah dalam satu kesatuan, perusahaan BTW, GMB, dan SITEM dirubah namanya menjadi Perusahaan Pertambangan Timah Bangka (TTB), Perusahaan Pertambangan Sutedjo Sujitno. Sejarah Penambangan Timah di Indonesia: Abad Ke-18 – Abad Ke 20, 2007., op. cit., hlm. 179. 40 41 Ibid.

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 Timah Belitung (PPTBel), dan Perusahaan Pertambangan Timah Singkep (PPTS). Pada tahun 1961 BUPTAN dibubarkan dan diganti menjadi Badan Pimpinan Umum (BPU) untuk mengatasi Perusahaan-perusahaan Negara. BPU dikelompokkan sesuai bidangnya yaitu; 1. BPU Pertambangan Timah Negara, 2. BPU Pertambangan Batubara, 3. BPU Pertambangan Umum Negara. BPU Pertambangan Timah Negara membawahi PN. Tambang Timah Bangka, PN. Tambang Timah Belitung, dan Tambang Singkep. Pada tahun 1967, Presiden mengeluarkan Instruksi Presiden No. 7 Tahun 1967 tentang Pengarahan dan Penyederhanaan Perusahaan Negara Kedalam Tiga Bentuk Usaha Negara, dengan demikian mengartikan bahwa BPU yang telah dibentuk harus dibubarkan. Dilanjutkan dengan Keputusan Pemerintah No. 21 tahun 1968, dibentukah PN. Tambang Timah yang merupakan leburan dari BPU. Berdasarkan UU No. 9 tahun 1969 dan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 1969, pada tahun 1976 status PN Tambang Timah dan Proyek Peleburan Timah Mentok diubah menjadi Perusahaan Persero, dimana seluruh sahamnya dimiliki oleh Pemerintah dan mengubah nama perusahaan tersebut dengan nama PT Tambang Timah.42 Setelah menjadi perusahaan terbuka, PT Tambang Timah melakukan privatisasi dengan mencatatkan saham PT Tambang Timah di Bursa Efek dan merubah nama perusahaan menjadi PT Timah (Persero) Tbk.43 42 Ibid., hlm. 190. 43 Ibid., hlm. 194.

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 BAB IV TAMBANG INKONVENSIONAL (TI) A. Pelaksanaan Tambang Inkonvensional Pada tahun 1997-1998 Indonesia mengalami krisis ekonomi yang menjadikan perekonomiannya rapuh. Krisis ekonomi ini disebabkan karena hutang swasta dan persoalan perbankan, dan diiringi dengan pengunduran diri oleh Soeharto sebagai presiden. Krisis ekonomi ini berakibat pada semua sektor kehidupan. Dampak dari krisis tersebut terlihat pada jumlah pengangguran yang meningkat akibat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di berbagai sektor pekerjaan. Harga kebutuhan pokok meningkat sedangkan upah penghasilan dari sektor pertanian, pertambangan, dan industri menurun. Penduduk Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan meningkat. Mengalami kondisi ekonomi yang lemah pada tahun 1998 berbagai cara untuk memulihkan keadaan ekonomi ditempuh oleh pemerintah. Salah satu usaha tersebut yaitu dengan diterbitkannya Kepmenperindag Nomor 558 pada tahun 1998. Pada tahun 1998 Menteri Perindustrian dan Perdagangaan (Menperindag) membuat sebuah kebijakan di bidang ekspor. Kebijakan ini tertulis dalam Keputusan Menteri Perindustrian dan Pedagangan Nomor 558/MPP/Kep/12/1998 Tentang Ketentuan Umum di Bidang Ekspor.

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 Tujuan diberlakukannya kebijakan oleh Menperindag adalah sebagai pembaharuan dalam rangka reformasi ekonomi nasional dan untuk meningkatkan daya saing. Isi dari keputusan Menperindag ini yaitu bahwa timah merupakan komoditas yang bebas ekspornya. Pengertian dari barang yang bebas ekspornya adalah barang yang bebas diekspor oleh siapapun dan tidak diawasi oleh Menperindag. Setelah Kepmenperindag diterbitkan, satu tahun kemudian diterbitkan keputusan dari Pemerintah Pusat mengenai otonomi daerah. Keputusan tersebut tertulis dalam UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Peraturan tersebut menjelaskan bahwa Pemerintah Pusat memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah (Pemda) untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan (otonomi daerah), termasuk bertanggung jawab dalam mengatur dan memanfaatkan sumber-sumber potensi yang ada di daerah masing-masing. Sejak otonomi daerah diberlakukan dari pemerintahan pusat, wilayah kepulauan Bangka Belitung secara administrasi berada dalam pimpinan langsung otonomi gubernur dan bupati daerah. Pada saat otonomi daerah tersebut diberikan, pemerintahan daerah Kabupaten Bangka di pimpin oleh Bupati Eko Maulana Ali. Masa jabatan beliau sejak tahun 1998 hingga tahun 2006. Tahun 1999 adalah periode setelah krisis ekonomi mulai membaik. Ketika tahun-tahun perbaikan ekonomi sedang diusahakan, harga lada sebagai komoditas

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 utama pertanian di Bangka menurun. Sejak tahun 1999 harga lada berkisar ratarata 20.000 per kilogram dan tidak pernak naik.44 Melihat keadaan ekonomi Kabupaten Bangka yang terpuruk karena jatuhnya harga komoditas utama pertanian yaitu lada, maka bupati Eko berinisiatif memperbaiki keadaan perekonomian tersebut. Komoditas timah dianggap dapat menyamai keuntungan yang di dapatkan masyrakat ketika bertani lada. Sejalan dengan otonomi daerah dari pemerintah pusat untuk bertanggung jawab mengatur daerah masing-masing, maka jalan yang ditempuh bupati ialah dengan cara menerbitkan perda bagi pertambangan agar timah dapat memulihkan perekonomian masyarakat Bangka. Pada tahun 2001 diterbitkanlah Perda Kabupaten Bangka Nomor 6 Tahun 2001 yang mengatur tentang Pengelolaan Pertambangan Umum. Tujuan utama dari perda ini adalah agar usaha pertambangan rakyat dapat menaikkan pendapatan masyarakat Bangka yang merosot akibat turunnya harga lada. Tidak hanya sampai disitu, perda juga bertujuan agar pertambangan dapat menaikkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Bangka melaui pajak dan retribusi. Dengan diterbitkannya perda Bupati mengenai pertambangan umum pada tahun 2001, mengartikan bahwa pertambangan timah dapat diakses masyarakat umum. Sejak saat ini pula komoditas timah menjadi incaran bagi masyarakat umum Bangka dan menjadi ancaman bagi PT Timah sebagai pemegang monopoli timah sejak masa kolonial. 44 164. Erwiza Erman. Menguak Sejarah Timah Bangka Belitung, 2009., op. cit., hlm.

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 Atas izin penambangan dalam Perda dari Bupati inilah masyarakat Bangka dengan sigap menanggapi kebijakan tersebut dan membuka lahan-lahan baru yang jauh dari permukiman warga untuk membuat lahan tambang. Usaha pertambangan rakyat ini disebut dengan Tambang Inkonvensional (TI). Untuk dapat memahami tentang Tambang Inkonvensional (TI), maka perlulah diketahui pengertian kata inkonvensional, menurut KBBI inkonvensional ialah penggalian tanah yang dilakukan dengan cara yang tidak sesuai dengan adat kebiasaan, menyimpang atau tidak lazim. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa tambang inkonvensional merupakan tambang yang menyimpang atau tidak lazim dilakukan seperti kegiatan menambang pada umumnya. Pengertian mengenai TI ini ternyata memiliki banyak versi, pemahaman mengenai TI dari PT Timah yaitu sebuah kegiatan penambangan yang di lakukan diluar kontrol PT Timah atau bisa dimaksudkan sebagai tambang ilegal karena diluar kontrol penambangan pusat, sedangkan pengertian TI menurut Perda Bupati Bangka Nomor 21 Tahun 2001, TI ialah kegiatan penambangan timah yang dilakukan tanpa izin, baik di dalam daerah wilayah kuasa penambangan ataupun diluar kuasa wilayah penambangan daerah Bangka. Karena situasi pro dan kontra diantara pihak aparat dan masyarakat pekerja tambang tentang pertambangan rakyat tersebut maka masyarakat Bangka memberi istilah bagi pertambangan tersebut yaitu sebagai Tambang Ilegal (TI). Dalam wawancara yang dilakukan, masyarakat lebih umum atau terbiasa dengan kata Tambang Ilegal dibandingkan dengan kata Tambang Inkonvensional yang asing dan kaku bagi mereka, sehingga kemudian dipersingkat menjadi TI.

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 Dalam waktu yang singkat setelah perizinan TI dilaksanakan, PAD yang diharapkan dapat meningkat telah terwujud di tahun awal perizinan TI. Sumbangan untuk PAD antara bulan Januari–September 2001 mencapai Rp. 9 miliar. Sumbangan tersebut melebihi angka PAD sebelum terlaksananya TI, sumbangan dari PT Timah ke daerah pertahunnya adalah Rp. 2 milyar sampai Rp. 3 milyar saja.45 B. Perkembangan Tambang Inkonvensional Tambang Inkonvensional menjadi usaha pertambangan rakyat sejak tahun 2001 setelah Perda Bupati diterbitkan. Pada awalnya TI hanya dikerjakan oleh masyarakat di Kabupaten Bangka saja, tetapi dalam waktu singkat kabupatenkabupaten lain di Bangka ingin turut bekerja sebagai penambang timah. Di Bangka Selatan pada tahun 2001 wilayah awal yang menjadi lahan pertambangan yaitu Tanjung Sangkar, Tukak Sadai dan Nyelanding. Wilayah Kecamatan Pulau Besar belum tersentuh oleh aktivitas pertambangan timah— kecamatan ini belum terbentuk dan masih menjadi bagian desa-desa dari Kecamatan Payung. Meskipun di Kecamatan Pulau Besar belum ada usaha TI, petani-petani di kecamatan ini mencoba mencari peruntungan dengan merantau sementara ke Tanjung Sangkar dan Nyelanding untuk bekerja menjadi penambang TI. 45 Henk Schulte Nordholt dan Gerry van Klinken. Politik lokal di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007., hlm. 234.

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 Menurut jenis penambangan timah oleh TI, usaha TI terbagi menjadi 2 jenis yaitu: 1. TI darat TI darat adalah penambangan timah yang dilakukan di darat dengan sistem pengambilan timah yaitu, menggunakan cangkul untuk menggali tanah, kemudian dilakukan penyemprotan menggunakan pipa air, agar pasir dan tanah terpisah dari batuan. Pasir dan tanah yang didapatkan dikumpulkan, lalu dicuci agar timah dan pasir terpisah. 2. TI apung atau rajuk TI apung atau rajuk adalah penambangan timah yang dilakukan di atas permukaan air seperti sungai, rawa, atau pantai dengan sistem pengambilan timah menggunakan mesin hisap yaitu melalui pipa besi penyedot pasir dan kemudian tanah yang dihisap dibersihkan di tempat pencucian timah. Diberi nama TI apung karena penambangan dilakukan dengan mengapung dari atas air. Jenis usaha TI yang dikerjakan oleh penambang pada permulaan tambang di tahun 2001 adalah TI darat. Alat-alat pertambangan dapat dirakit oleh beberapa penambang. Perakitan alat-alat sederhana untuk menambang di perkirakan mengadaptasi alat-alat pertambangan milik PT Timah. Untuk TI darat yaitu menggunakan mesin semprot atau monitor sedangkan PT Timah menggunakan mesin semprot dengan ukuran besar. Pada tahun 2002 penggalian timah oleh TI sudah banyak memasuki daerah dengan deposit yang memiliki kedalaman lebih dari 6 meter, sehingga tidak

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 mungkin lagi dikerjakan dengan alat yang sederhana. Perkembangan selanjutnya ialah TI dikerjakan dengan alat berat seperti buldozer, shovel yang dalam istilah lokal disebut dengan Produksi Caterpillar (PC). Jenis TI darat dikerjakan oleh masyarakat hingga tahun 2006, kemudian teknologi menambang diganti dengan TI rajuk. Menurunnya jenis TI darat, diperkirakan karena TI darat lebih berisiko terhadap kecelakaan-kecelakan dalam penambangan di bandingkan dengan TI Rajuk. Meskipun begitu usaha TI darat masih dikerjakan oleh beberapa masyarakat. Jenis usaha TI rajuk mulai marak dan cenderung dipakai penambang timah sejak tahun 2006. Pemilihan TI rajuk dikarenakan anggapan penambang bahwa TI rajuk risiko kecelakaannya lebih kecil dan sedikit. Selain itu reklamasi yang dilakukan tidak seberat reklamasi di TI darat. Sistem rajuk ini diadaptasi penambang TI dari sistem penambangan timah di laut atau sungai yang dikerjakan oleh PT Timah. Lahan yang dipilih menjadi wilayah TI yaitu lahan yang berada di hutan atau merupakan tanah tidur46 yang jauh dari pemukiman warga atau jalan umum. Pemilihan lahan yang demikian dimaksudkan agar warga sekitar tidak terganggu dari proses penambangan, dan juga agar limbah TI tidak sampai ke permukiman warga setempat. Tetapi pada perkembangannya, lahan TI di hutan menyusut dan TI merambat ke wilayah-wilayah terlarang untuk ditambang seperti; hutan bakau, kawasan hutan lindung, pemukiman warga, sungai dan pantai tanpa izin. Hingga 46 Tanah tidur adalah tanah yang bukan merupakan milik penduduk dan tidak diolah oleh penduduk

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 pada tahun 2004-2010, terhitung lahan kritis di Bangka seluas 810.059,87 ha atau sekitar 79,91 persen47. Persediaan SDA timah di Bangka tidak dapat diperkirakan secara pasti kapan akan menipis dan habis, tetapi faktor kelimpahan inilah yang menjadi faktor utama timah tetap digali. Baik dari perusahaan timah maupun masyarakat penambang menjadikan timah sebagai komoditas unggul yang menguntungkan bagi mereka. Dalam suatu wawancara dengan Bapak Suroso48, beliau mengatakan bahwa tanah Bangka merupakan suatu tanah yang dianugerahi harta karun berupa timah yang melimpah. Jumlah usaha TI tidak dapat diketahui secara pasti, hal ini dikarenakan usaha TI yang berpindah-pindah dan surat Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang jarang di administrasikan oleh pemilik TI. Dalam perhitungan kasar jumlah TI yang dapat diketahui yaitu:  Bulan Desember tahun 2001 ada sekitar 1.320 TI yang memiliki badan usaha, dan sebanyak 4.671 sebagai usaha perorangan.  Bulan Januari tahun 2002 ada sekitar 10.000 unit mesin TI dan diperkirakan sekitar 130.000 orang penambang.49 Bangka Pos, “Hasil Kajian Walhi, 64,12 Persen Daratan Babel Rusak Parah Aki bat Tambang”. 30 Januari 2017, pada http://bangka.tribunnews.com/2017/01/30/hasil-kaji an-walhi-6412-persen-daratan-babel-rusak-parah-akibat-tambang. 47 48 Seorang penambang Bangka Selatan, pada tanggal 12 April 2018 di Desa Sidoharjo (tran 2). 49 Perhitungan jumlah TI di pulau Bangka secara keseluruhan. Ibid., hlm. 236.

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 Masa jabatan Eko Maulana dalam pemerintahannya di Bangka ialah 3 kali menjabat. Pada tahun 1998 hingga tahun 2006 Bapak Eko Maulana Ali sebagai Bupati Bangka. Tahun 2007 sampai tahun 2012 beliau terpilih melanjutkan pemerintahan sebagai Gubernur Bangka Belitung, karirnya tersebut berlanjut dalam pemilihan gubernur berikutnya. Beliau terpilih menjadi gubernur kembali yaitu sejak tahun 2012 hingga tahun 2017.50 Selama masa pemerintahan Bupati hingga Gubernur Eko Maulana Ali, belum ada peraturan yang melarang TI untuk ditutup atau diberhentikan. 11 tahun perjalanan TI yaitu sejak tahun 2001-2012 diikuti dengan pergantian kepala daerah, tetapi belum ada perda pembaharuan untuk TI, melihat kebijakan pemerintah yang demikian maka rakyat Bangka menganggap bahwa pemerintahan setelah Gubernur Eko tetap setuju dengan TI. 50 Masa jabatan gubernur ialah 5 tahun, tetapi beliau meninggal pada tahun 2013 dan kemudian jabatan pemerintahannya digantikan oleh Wakil Gubernur.

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 Gambar 4.1. Tambang Inkonvensional Darat Sumber: Dokumentasi pribadi. Gambar 4. 2. Tambang Inkonvensional Apung atau Rajuk Sumber: Dokumentasi pribadi.

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 BAB V PERUBAHAN SOSIAL EKONOMI PASCA BERLAKUNYA PERDA TAMBANG INKONVENSIONAL A. Konsep Sosial Ekonomi Kondis i sosial ekonomi merupakan kondisi yang menggambarkan situasi kehidupan sosial dan perekonomian individu atau masyarakat tertentu. Kondisi sosial ekonomi suatu individu atau masyarakat bersifat tidak tetap dan akan mengalami perubahan-perubahan melalui proses sosial. Agar dapat memahami pengertian kondisi sosial ekonomi masyarakat Pulau Besar, maka perlu diketahui terlebih dahulu pengertian dari kondisi sosial ekonomi tersebut. Menurut para ahli sosiologi, pengertian dari kondisi sosial ekonomi adalah51; 1. FS Chapin mengartikan bahwa kondisi sosial ekonomi berkaitan dengan status sosial ekonomi. Status sosial ekonomi yang dimaksudkan ialah posisi yang ditempati individu atau keluarga yang berhubungan dengan ukuran rata-rata yang umum berlaku tentang kepemilikan kultural, pendapatan efektif, pemilikan barang dan partisipasi dalam aktivitas kelompok dari komunitasnya. StudiNews, “Pengertian Sosial Ekonomi, Faktor dan Kondisi Sosial”24 Oktober 2017, pada https://www.studinews.co.id/2017/10/pengertian-sosial-ekonomi-faktor-yangmenentukan-kondisi-sosial.html#1FS_Chapin_Kaare_198926. 51

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 2. Melly G Tan mengemukakan sosial ekonomi adalah kedudukan sosial ekonomi meliputi tiga faktor yaitu pekerjaan, pendidikan, dan penghasilan. 3. Santrock mengemukakan sosial ekonomi adalah pengelompokan orangorang berdasarkan kesamaan karakteristik pekerjaan, pendidikan, dan ekonomi. 4. Abdulsyani mengemukakan bahwa sosial ekonomi adalah kedudukan atau posisi seseorang dalam kelompok menusia yang ditentukan oleh jenis aktivitas ekonomi, pendapatan, tingkat pendidikan, jenis rumah tinggal, dan jabatan dalam organisasi. 5. Soerjono Soekanto mengemukakan sosial ekonomi adalah posisi seseorang dalam masyarakat berkaitan dengan orang lain dalam arti lingkungan pergaulan, prestasinya, dan hak-hak serta kewajibannya dalam hubungannya dengan sumber daya. Dari kelima pengertian mengenai kondisi sosial ekonomi menurut para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa kondisi sosial ekonomi adalah suatu kondisi yang menggambarkan kedudukan (status) individu atau masyarakat yang ditentukan oleh jenis aktivitas ekonomi dan pendapatan, tingkat pendidikan, jenis rumah tinggal dan alokasi pendapatan. Manusia dalam masyarakatnya terbagi dalam kelompok-kelompok status atau lapisan-lapisan status. Lapisan-lapisan masyarakat mulai ada sejak manusia mengenal adanya kehidupan bersama dalam suatu organisasi sosial. Max Weber berpendapat, bahwa di dalam setiap kondisi kehidupan masyarakat, warga-warga masyarakat terbagi dalam kelas-kelas (ekonomis), kelompok status (sosial), dan

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 partai-partai (politik). Hubungan antara ketiganya bersifat timbal balik; dan menurut Marx, bahwa dimensi ekonomis yang menentukan dimensi-dimensi lainnya. Status dalam masyarakat ada karena kondisi sosial, ekonomi, dan ukuranukuran lain yang ditetapkan suatu masyarakat untuk mengelompokkan masyarakat dalam kelas-kelas. Pengelompokan ke dalam kelas-kelas disebut dengan stratifikasi sosial. Menurut Pitirim A. Sorokin bahwa stratifikasi sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (secara hierarkis). Perwujudannya adalah adanya kelas-kelas tinggi dan kelas lebih rendah. Stratifikasi dapat terjadi pada setiap masyarakat bahkan terjadi pada masyarakat yang paling sederhana sekalipun. Hanya jarak dan tingkatan antara lapisan-lapisan itu yang berbeda. Menurut Soerjono Soekanto, secara teoritis semua manusia dapat dianggap sederajat, akan tetapi sesuai dengan kenyataan kehidupan dalam kelompok-kelompok sosial, halnya tidaklah demikian. Pembedaaan atas lapisan-lapisan merupakan gejala universal yang merupakan bagian dari sistem sosial setiap masyarakat.52 Ukuran atau kriteria yang biasanya dipakai untuk menggolong-golongkan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan tersebut adalah sebagai berikut53: 52 Soekanto, Soejono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali, 1982., hlm. 53 Ibid., hlm. 230. 222.

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 1. Ukuran kekayaan. Ukuran kekayaan atau kebendaan dapat dijadikan suatu ukuran; barang siapa yang memiliki kekayaan paling banyak, termasuk dalam lapisan teratas. Kekayaan tersebut misalnya dapat dilihat dari bentuk rumah yang bersangkutan, mobil pribadinya, cara-cara mempergunakan pakaian serta bahan pakaian yang dipakainya, kebiasaan untuk berbelanja barang-barang mahal dan seterusnya. 2. Ukuran kekuasaan. Barang siapa tang memiliki atau yang mempunyai wewenang terbesar, menempati lapisan tertinggi. 3. Ukuran kehormatan. Ukuran kehormatan tersebut mungkin terlepas dari ukuran kekayaan dan kekuasaan. Orang yang paling disegani dan dihormati, mendapat tempat teratas. Ukuran semacam ini, banyak dijumpai pada msyarakat tradisional. Biasanya mereka dalah golongan tua atau mereka yang pernah berjasa besar kepada masyarakat. 4. Ukuran ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan sebagai ukuran dipakai oleh masyarakat-masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Akan tetapi ukuran tersebut kadang-kadang menyebabkan terjadinya akibat-akibat yang negatif, oleh karena kemudian ternyata bahwa bukan mutu ilmu pengetahuan yang dijadikan ukuran, akan tetapi gelar kesarjanaannya. Sudah tentu hal itu mengakibatkan segala macam usaha dilakukan untuk mendapatkan gelar tersebut, walaupun secara tidak halal.

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 Status dicapai dengan tujuan untuk merubah status seseorang dan ada status yang merupakan status pemberian yang sifatnya tertutup dan tidak dapat berubah. Status dalam masyarakat Pulau Besar merupakan status terbuka. Artinya status tersebut dapat diusahakan melalui ukuran ekonomi masyarakat. Menurut Weber bahwa suatu kelas mencakup orang-orang yang mempunyai peluang-peluang kehidupan yang sama, dipandang dari sudut ekonomis. Dengan peluang-peluang kehidupan dimaksudkan sebagai kondisi hidup, pengalaman hidup dan kesempatan mendapatkan benda dan jasa, termasuk kemampuan membeli rumah dan seterusnya.54 Kondisi ekonomi dan sosial menjadi penting dalam masyarakat Kecamatan Pulau Besar. Dari kondisi sosial ekonomi masyarakat dapat tergambar lapisan-lapisan yang ada di dalam masyarakat tersebut. Untuk melihat kondisi sosial ekonomi masyarakat Pulau Besar, faktorfaktor penentu haruslah dijabarkan sebagai gambaran atau penunjuk kedudukan masyarakat. 1. Aktivitas ekonomi Aktivitas ekonomi masyarakat Kecamatan Pulau Besar didukung oleh keadaaan geografis wilayahnya, yaitu memungkinkan masyarakatnya bekerja pada sektor pertanian, perikanan, peternakan dan penambangan. Masyarakat di Kecamatan Pulau Besar mayoritas bekerja pada sektor petanian dan pertambangan, maka 2 sektor sumber mata pencaharian ini akan diuraikan. 54 Ibid., hlm. 252.

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 a. Pada sektor pertanian Profesi sebagai petani pada awalnya sangat menjanjikan kemakmuran pada masyarakat Bangka, khususnya masyarakat Pulau Besar. Pada tahun-tahun tertentu kenaikan harga komoditas pertanian membuat masyarakat menikmati masa kejayaannya. Di tahun 1998 harga lada melonjak hingga berada pada harga 90.000 rupiah/Kg, tetapi di tahun 1999 harga lada turun drastis menjadi 20.000 rupiah/Kg55. Keterpurukan harga lada ini turut membuat masyarakat harus beralih profesi agar dapat bertahan di kondisi yang sangat merugikan bagi para petani. Jatuhnya harga lada membuat banyak peluang-peluang pekerjaan baru bagi masyarakat untuk tetap memiliki penghasilan yang mencukupi. Perlahanlahan komoditas lada ditinggalkan. Masyarakat beralih profesi menjadi petani sawit dan karet. Harga sawit dan karet memiliki grafik yang stabil, tidak seperti grafik harga lada. Dalam artian bahwa permintaan karet dan sawit masuk dalam kategori permintaan yang tidak langka atau sedang. Tidak semua masyarakat Bangka dan Pulau Besar beralih profesi menjadi petani karet dan sawit, hal ini dikarenakan modal bertani karet dan sawit yang besar, dan beberapa masyarakat masih tetap mempertahankan komoditas lada sebagai mata pencaharian mereka sembari menunggu naiknya harga lada kembali. Kebijakan pemerintah Bangka mengenai izin penambangan timah juga turut memberikan peluang bagi masyarakat Bangka untuk beralih menjadi Kompas, ”Lada Putih Bangka Tergusur”. 08 Februari 2010, pada https://nasion al.kompas.com/read/2010/02/08/05050255/Lada.Putih.Bangka.Tergusur 55

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 penambang-penambang rakyat. Belum diketahui jelas siapa pelopor pertama yang mengetahui cara penambangan timah dengan alat-alat sederhana yang dapat dirakit sendiri. Pada awal tahun 2001 tambang-tambang inkonvensional sudah dibuka di Tanjung Sangkar Toboali. Salah satu penambang yang terlibat adalah Sugeng Prasetyo56 dan keluarganya. Sugeng Prasetyo mengetahui adanya tambang timah di Toboali berdasarkan informasi dari rekannya. Hal yang sama diutarakan oleh pekerja TI yang lainnya, Suroso, Yakobus Dasar, dan Suryani bahwa mereka tidak mengetahui bagaimana sejarah TI secara pasti, tetapi keterlibatan mereka di TI karena diajak rekannya yang sudah lebih dulu menjadi penambang. b. Pada sektor pertambangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan wilayah yang kaya akan bahan tambang seperti timah. Komoditas timah ini telah dimanfaatkan oleh penduduk Bangka dan Belitung selama ± 2 abad. Kepemilikan atas komoditas timah inipun bergulir seiring bergantinya kebijakan-kebijakan mengenai pertambangan dari pihak yang berwenang. Sebagian besar masyarakat Bangka telah menggantungkan perkonomiannya pada aktivitas TI. Sebesar 60 persen masyarakat Bangka 56 Narasumber penelitian TI mayoritas tidak mengetahui sejarah TI, informasi yang mereka dapat dari rekan kerja TI ialah bahwa timah bisa digali bebas atau untuk umum, sehingga pada akhirnya mereka ikut menggali timah dan dibeli oleh kolektor timah dengan harga mahal.

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 Belitung bekerja di tambang inkonvensional untuk menghidupi keluarga, ungkap Noor Nedi Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Babel57. Usaha-usaha untuk melegalkan TI terus dilakukan agar masyarakat kecil dan menengah tetap dapat sejahtera dari hasil menambang. Gubernur Eko dalam pernyataannya mengungkapkan bahwa semua TI akan dilegalkan dalam upaya membantu perkonomian masyarakat ditengah terjadinya krisis ekonomi global. Hanya itu yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pendapatan daerah, perkebunan sawit, karet dan lada belum memiliki basis di perdagangan dunia, dan untuk perdagangan di pasar lokal membutuhkan waktu lama dan tidak menjanjikan dengan perdagangan internasional yang dapat dilakukan dengan perdagangan timah58. Ketika kepemilikan timah bergulir menjadi milik rakyat, peluang-peluang mobilitas sosial dirasakan oleh penduduk Bangka, termasuk penduduk Kecamatan Pulau Besar Kabupaten Bangka Selatan. Tambang millik rakyat ini disebut dengan Tambang Inkonvensional (TI) dimana peralatan untuk menambang timah menggunakan alat-alat sederhana dan melakukan pendulangan dengan cara sederhana pula, seperti pendulangan di sungai atau menggunakan mesin semprot dengan tenaga yang kecil. Pekerjaan penambangan dan pendulangan dilakukan oleh penduduk Kecamatan Pulau Besar melibatkan orang tua sampai anak-anak Kompas,“60 Persen Warga Babel Hidup Dari Tambang Inkonvesional”. 16 Nov ember 2008, pada https://tekno.kompas.com/read/2008/11/16/00170457/60.persen.warga. babel.hidup.dari.tambang.inkonvensional. 57 Kompas, “Wuih..Semua Tambang Timah Dilegalkan”. 10 November 2008, pada https://ekonomi.kompas.com/read/2008/11/10/21315732/wuih.semua.tambang.timah.dile galkan. 58

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 sekolah. Pemasaran produksi pasir timah dapat melalui tengkulak, kolektor timah atau bos timah di sekitar tempat tinggal penduduk atau di wilayah penambangan. 2. Pendidikan Ketika masih berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Payung, akses pembangunan di desa-desa ini terlambat dibandingkan dengan desa yang lebih dekat dengan kecamatan. Jarak antara Kecamatan Payung dan desa-desa didekat pesisir ini terbilang jauh, dan akibatnya proses pembangunan prasarana pendidikan dan lainnya menjadi melambat. Dari kelima desa di Kecamatan Pulau Besar, prasarana pendidikan yang dibangun pemerintah adalah; berdiri 6 Sekolah Dasar Negeri (SDN), 1 Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN), dan belum berdiri Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN). Sejak berdirinya Kecamatan Pulau Besar menjadi kecamatan mandiri pada tahun 2007, pendidikan di wilayah Kecamatan Pulau Besar sudah mulai berkembang dan terbilang sedang bertumbuh untuk maju. Di tahun 2009 pemerintah membangun Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN). Tahun 2015 membangun SMAN 1 Pulau Besar, dan tahun 2016 membangun gedung SMPN 2 Pulau Besar. Bekerja menjadi petani lada dan menjadi nelayan adalah sumber terpenting untuk melanjutkan kehidupan keluarga mereka. Setelah adanya program transmigrasi pada tahun 1995 dan 1996, daerah-daerah masyarakat Melayu Bangka yang berada di pesisir pantai ikut merasakan proses akulturasi

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 budaya. Begitu pula sebaliknya dengan pendatang dari Pulau Jawa yang tinggal di daerah trans. Proses akulturasi budaya tidak terjadi dalam waktu yang cepat, perlu waktu lama untuk mengenal dan mengerti budaya baru. Proses akulturasi tersebut terjadi dalam 7 unsur budaya yaitu bahasa, sosial, ekonomi, religi, teknologi, kesenian, dan pendidikan. Proses akulturasi kebudayaan terjadi sampai pada pemahaman pendidikan bagi masyarakat Melayu Bangka. Sebelum tahun 1995 hanya sedikit masyarakat Melayu Bangka yang menempuh pendidikan di wilayah ini. Faktor ekonomi masyarakat menentukan tingkat pendidikan seseorang.Tetapi setelah adanya program transmigrasi, pandangan masyarakat Melayu Bangka perlahan-lahan berubah mengenai pendidikan. Pendidikan di sekolah mulai diterapkan pada anak-anak mereka untuk masuk Sekolah Dasar atau Madrasah Ibitiidiah. Setelah Perda Bupati diterbitkan, pendidikan di Kecamatan Pulau Besar memiliki dampak yang positif dan negatif. Dampak positifnya adalah, masyarakat yang berhasil banyak dalam menambang dapat menyekolahkan anak mereka hingga jenjang SMA dan bahkan hingga perguruan tinggi. Kemudian dampak negatif yang terjadi adalah, ketika anak memilih untuk membantu orangtua bekerja di pertambangan, dan tidak melanjutkan pendidikannya. Ekonomi keluarga menentukan keberlanjutan pendidikan anak-anak di Kecamatan Pulau Besar.

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 3. Alokasi Pendapatan Alokasi pendapatan adalah penentuan banyaknya uang (pendapatan) yang disediakan untuk suatu keperluan. Hasil dari bekerja TI akan digunakan oleh masyarakat TI untuk keperluan primer, sekunder dan tersier. Pengalokasian pendapatan terbagi menjadi 3 yaitu; kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Kebutuhan primer yaitu pangan, sandang dan papan. Kebutuhan sekunder yaitu alat elektronik seperti televisi, smartphone, sepeda motor. Kebutuhan yang terakhir yaitu kebutuhan tersier, kebutuhan ini seperti rumah mewah, kendaraan mewah, perhiasan, dan sebagainya. Sebelum bekerja pada sektor pertambangan, penduduk Kecamatan Pulau Besar menghidupi kebutuhan keluarga dari bekerja di sektor pertanian, dan beberapa penduduk yang tinggal pesisir bekerja di sektor perikanan. Kebutuhan penduduk masih terbilang sederhana, kebutuhan pokok (primer) tercukupi yaitu pangan, sandang dan papan. Setelah pekejaan masyarakat berallih ke sektor pertambangan, maka penghasilan yang didapatkan juga bertambah. Penghasilan yang didapatkan penambang yaitu Rp3.200.000 hingga Rp6.000.000 per bulannya, dibandingkan dengan penghasilan ketika bertani yaitu berkisar antara Rp1.000.000 hingga Rp 2.500.000 per bulannya. Sumber pangan dipenuhi masyarakat dengan cara bertani dan mengandalkan kekayaan hutan. Beberapa masyarakat yang tidak bertani dapat membeli bahan pangan dari petani terdekat. Pemakaian kompor gas untuk memasak masih sedikit dan mayoritas menggunakan kompor minyak tanah dan

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 tungku kayu bakar. Tetapi pada perkembangannya setelah pelaksanaan TI, masyarakat sudah banyak yang menggunakan kompor gas dan sudah berdiri beberapa warung makan. Kebutuhan sandang dipenuhi masyarakat dengan membelinya di pusat kota atau di kabupaten dan kecamatan. Masyarakat di wilayah ini tidak memanfaatkan hasil alam sebagai pemenuhan kebutuhan sandang, misalnya seperti pembuatan baju atau kain dari pelepah kayu dan kulit binatang. Kebutuhan sandang belum bisa dipenuhi secara mandiri, harus membelinya di suatu toko penjualan baju. Perkembangan yang terjadi setelah perda yaitu, beberapa warga desa membeli mesin jahit guna memenuhi kebutuhan sandang di masyarakat tersebut. Kebutuhan papan dapat dicukupi masyarakat di wilayah kecamatan Pulau Besar. Seperti halnya rumah yang dimiliki masyarakat terbuat dari papan dan anyaman bambu. Kondisi lantai rumah masih beralaskan tanah, tetapi sudah banyak juga masyarakat yang mampu membeli semen sebagai alas rumah mereka. Di dalam rumah belum memiliki kamar mandi sendiri, sehingga masyarakat harus pergi ke luar rumah untuk buang air maupun mandi dan sumber penerangan rumah warga didapatkan dari lampu teplok. Setelah munculnya TI, terjadi perkembangan yang pesat dalam memenuhi kebutuhan papan contohnya yaitu rumah-rumah sudah banyak beralih menjadi rumah batu dan setiap rumah sudah memiliki kamar mandi sendiri. Sumber penerangan berallih dari lampu teplok ke penerangan lampu yang berasal dari diesel bersama milik warga. Lantai rumah sudah beralih ke lantai keramik.

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 Transportasi dilakukan dengan bersepeda atau berjalan kaki. Kendaraan roda empat sudah ada, yaitu truk dan bis umum. Truk digunakan sebagai transportasi guna membawa hasil pertanian ke wilayah lain untuk dijual. Bis digunakan sebagai alat transportasi penduduk ke ibukota provinsi atau ke kabupaten. Setelah TI berlangsung, jumlah kendaraan di kecamatan ini meningkat. Sudah ada mobil pribadi milik kolektor-kolektor timah, jumlah bis dan truk bertambah, jumlah sepeda motor berlimpah ruah. Hampir setiap keluarga memilik motor, satu anggota keluarga dapat memiliki 1-2 motor dan penggunaan sepeda sudah sangat jarang ditemui. Kemajuan pemenuhan kebutuhan terjadi pada masyarakat tambang timah di Kecamatan Pulau Besar. Kebutuhan primer, sekunder hingga tersier sudah dapat dapat dipenuhi. Kebutuhan tersier yang dapat dipenuhi masyarakat yaitu: televisi, smartphone, sepeda motor, rekreasi, inventasi dalam bentuk tanah dan tabungan.

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 Tabel 5.1. Tabel Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat Sebelum dan Sesudah diberlakukannya Perda Perizinan Tambang Timah Inkonvensional No 1 2 Faktor Pembanding Pekerjaan dan penghasilan Alokasi pendapatan Sebelum Munculnya TI Sesudah Munculnya TI Masyarakat hanya bekerja sebagai nelayan dan/atau petani dan/atau peternak dengan penghasilan rata-rata sekitar Rp1.000.000. sampai Rp2.500.000 Pekerjaan masyarakat beralih dan didominasi ke pekerjaan menambang dengan penghasilan Rp3.200.000 sampai Rp6.000.000. Pendapatan masyarakat hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan primer seperti sandang, pangan dan papan. Pendapatan masyarakat sudah dapat memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier seperti pendidikan, televisi, smartphone, sepeda motor, rekreasi, investasi tanah, dan tabungan.

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76  3 Kondisi tempat tinggal 4 Pendidikan 5 Teknologi Rumah masih terbuat dari  Rumah terbuat dari batu dengan luas papan dan anyaman bambu bangunan yang cukup besar. dengan luas bangunan yang  Lantai rumah berupa keramik dan atap kecil. rumah berupa seng.  Lantai rumah masih berupa  Tiap rumah sudah memiliki kamar mandi tanah atau semen dan atap sendiri. rumah berasal dari daun kelapa.  Belum memiliki kamar mandi sendiri Rata-rata pendidikan anak hingga jenjang SD Pendidikan anak hingga jenjang SMA/SMK dan perguruan tinggi.   Penerangan masyarakat dari lampu teplok/minyak  Alat masak menggunakan tungku kayu bakar.  Transportasi sehari-hari masyarakat dilakukan dengan berjalan kaki dan bersepeda. Penerangan sudah menggunakan lampu dari diesel.  Alat masak sudah menggunakan kompor gas.  Masyarakat sudah memiliki kendaraan bermotor.

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 B. Masyarakat Tambang Timah di Kecamatan Pulau Besar Para penambang yang bekerja di sektor pertambangan timah, dahulu merupakan seorang petani lada, baik sebagai pekerja atau memiliki kebun lada sendiri. Bertani lada menjadi usaha pertanian turun menurun dari nenek moyang orang Bangka. Bekerja di pertanian lada memang menguntungkan, harga lada terus meningkat. Pada tahun 1998 harga jual lada hingga 90.000 rupiah per kilogram, komoditas pertanian lainnya seperti sayur dan buah-buahan tidak dapat menyamai harga jual lada, sehingga masyarakat Bangka terkhusus Pulau Besar mayoritas memilih bertani lada atau menjadi pekerja-pekerja harian di kebun milik orang lain. Masa-masa kejayaan komoditas lada tidak dapat diprediksi, setahun setelah harga lada melonjak, tahun 1999 harga lada menjadi sangat jatuh. Panen dari kebun lada tidak lagi menggiurkan, petani merugi. Di samping itu pertanian lada membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai masa panen yaitu 2 tahun hingga 3 tahun sebagai panen pertama. Usia 5 tahun sebagai panen kedua, dan usia 7 tahun untuk panen terakhir. Terkadang musim yang tidak menentu membuat panen lada gagal. Hal inilah yang menjadi faktor utama masyarakat untuk beralih mencoba peruntungan di sektor pertambangan.

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 Solusi dari rendahnya harga lada yaitu bertahan pada perkebunan lada dan berharap harganya dapat naik kembali. Beberapa masyarakat juga memilih mengganti komoditas pertanian mereka dengan bertani sayur mayur, sawit, dan karet. Faktor ekonomi inilah yang membuat masyarakat Bangka dengan sigap menyambut pertambangan TI sebagai jalan keluar tercepat dari perekonomian yang sulit. Tahun 2001 TI mulai diusahakan oleh pemilik-pemilik modal. Pemilik modal tersebut mayoritas orang kota. Pemodal menyediakan alat-alat tambang kemudian membuka tambang secara kecil-kecilan, tenaga kerjanya ialah orangorang dari desa yang mencari kerja ke kota. Alat-alat tambang dibeli pemodal dari daerah Pangkal Pinang dan dirakit di tempat penambangan oleh pekerja TI. Sebagian besar pekerja tambang tidak mengetahui bagaimana sejarah TI ini bermula hingga ke Kecamatan Pulau Besar. Menurut mereka TI menjadi usaha umum rakyat sejak lengsernya kekuasaan Soeharto sehingga berakibat pada perubahan peraturan penambangan, ada juga yang mengatakan bahwa Bupati telah mengizinkan penambangan timah bagi rakyat Bangka. Pelopor penambangan TI di Pulau Besar berawal dari orang-orang desa yang mencari pekerjaan ke kota, di kota mereka belajar cara menambang dari rekan-rekan sekerjanya yang sudah lebih dulu menambang timah. Hasil dari bekerja tambang yang menggiurkan membuat masyarakat di Kecamatan Pulau Besar ingin turut bekerja di TI. Lambat laun pekerjaan bertani di tinggalkan dengan menjadi perantau TI di daerah lain.

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 Pada awal penambangan TI, tambang yang dikerjakan adalah TI darat. TI darat adalah penambangan timah yang dilakukan didarat atau ditanah, cara pengambilan timah dari tanah ialah dengan cara menggali tanah dengan cangkul sampai lapisan tanah yang mengandung timah terlihat, setelah itu timah dipisahkan dari tanah menggunakan selang penyemprot atau monitor agar pasir terbawa arus air karena lebih ringan dan timah yang berat tinggal ditempat. TI dikerjakan oleh laki-laki usia dewasa maupun muda yang berada dalam usia produktif, karena butuh tenaga besar untuk mengoperasikan alat-alat TI. Tetapi dalam perkembangannya perempuan dewasa dan anak sekolahpun ikut membantu bekerja di TI. Pekerja TI berada di wilayah penambangan di tentukan dari jarak antara lokasi penambangan dan rumah. Jika jarak antara wilayah penambangan dan rumah semakin jauh, maka semakin jarang pula pekerja pulang ke rumah. Pekerja yang jauh dengan rumah tinggal dan memerlukan waktu 5 jam lebih untuk perjalanan, dan akan tinggal di penambangan (ngecamp) sementara dalam waktu 2-3 bulan. Kemudian kembali lagi ke wilayah penambangan sesuai dengan persetujuan bos TI dan teman sekerja (pron)59. Jika jarak rumah dan tempat penambangan tidak terlalu jauh, dapat ditempuh dalam waktu 1-4 jam maka penambang akan pulang ke rumah dalam waktu 2-3 minggu sekali. Untuk penambangan yang tidak nge-camp atau tidak 59 Pron yaitu istilah yang sering digunakan pekerja tambang untuk menyebut satu tim yang terdiri dari 3-4 orang. Pron berasal dari kata Front, kemudian menjadi pron agar lebih mudah pengucapannya.

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 menginap di tempat penambangan, rata-rata waktu tempuh antara rumah dan tempat penambangan hanya 30 menit sampai 1 jam. Penambang yang menginap atau nge-camp menyiapkan segala perlengkapan yang dibutuhkan seperti sandang dan papan dan pangan untuk tinggal di wilayah penambangan. Wilayah hutan sangat dingin dan tempat tinggal yang berdindingkan plastik membuat para penambang harus menahan dingin, maka dari itu kebutuhan sandangnya seperti pakaian dan selimut atau sarung harus dipersiapkan. Kebutuhan papan yang harus dipenuhi ialah membuat rumah sementara bagi pekerja tambang yang menginap. Rumah sementara tersebut disebut pondok. Rumah pondok terbuat dari papan, triplek, dan plastik atau terpal untuk menutupi bagian dinding rumah. Atap rumah terbuat dari plastik dan terpal, beberapa rumah mengunakan atap daun dan seng. Ketika pekerjaan menambang selesai dan pindah lokasi menambang, atap dari rumah tersebut di ambil dan dipakai ulang di rumah yang baru, beberapa rumah juga di biarkan tertinggal dengan atap utuh di lokasi penambangan. Untuk kebutuhan pangan, bos TI sudah membuatkan makanan untuk penambang dengan jatah makan 3 kali sehari, makan pagi, makan siang dan makan malam. Makanan disajikan sesuai dengan waktu makan di pondok khusus untuk makan yang berdekatan dengan dapur. Orang yang mengolah makanan di tambang ialah istri dari beberapa penambang yang ikut juga nge-camp dengan suaminya. Saat waktu luang dan istirahat dari mengolah makanan, maka istri dari penambang tersebut dapat

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 membantu suami dengan cara melimbang. Melimbang atau ngelimbang adalah kegiatan mengumpulkan tanah-tanah limbah dari cucian TI, kemudian di cuci lagi dengan mendulangnya dan timah akan tertinggal di tempat pendulangan karena berat timah lebih besar dibandingkan dengan pasir dan tanah yang tercampur dengan timah sebelumnya. Hasil timah tersebut nantinya akan dijual kepada bos TI bersamaan dengan pengupahan dari memasak yang telah dilakukan istri penambang. Lokasi penambangan yang dilakukan oleh masyarakat Pulau Besar sangat beragam, hampir semua kabupaten di Bangka telah menjadi lahan garapan mereka. Di Kota Pangkal Pinang yaitu Bukit Merapin, di Bangka yaitu Sungailiat dan Belinyu, di Bangka Barat seperti Mentok dan Jebus, di Bangka Tengah seperti Lubuk Besar, Bemban, Kemingking, di Bangka Selatan seperti Tanjung Sangkar, Nyelanding, Ranggung, Tepus, Pergam, Sidoharjo, Sumber Jaya Permai dan sebagainya. Lokasi penambangan berpindah-pindah sesuai dengan arahan bos TI atau menambang didaerah baru yang diperkirakan banyak mengandung sumber timah. Penentuan lokasi penambangan tidaklah sembarangan. Agar hasil timah yang diperoleh memuaskan, maka perlu pengamatan kadar timah yang terkandung didalam tanah terlebih dahulu. Pengamatan ini dilakukan oleh pemilik-pemilik tambang untuk menentukan lokasi penambangan. Alat yang digunakan untuk mengukur kadar timah di wilayah penambangan seperti, bor, dan Global Positioning Sytem (GPS). Tidak semua pengamatan lokasi penambangan dilakukan dengan sistem bor dan GPS, beberapa pemilik TI menggunakan jasa

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 orang pintar atau dukun untuk memprediksi keberadaan timah di lahan yang akan di tambang. Selain itu beberapa pemilik TI juga tidak mengeluarkan biaya untuk membeli alat atau jasa pengukuran kadar timah, untuk memprediksi kadar timah tersebut, pemilik tambang memperkirakan keberadaan timah berdasarkan “piling” (feeling). Daerah yang telah selesai ditambang oleh TI seharusnya di reklamasi kembali agar tanah tersebut dapat berfungsi kembali menjadi lahan pertanian dan sebagainya. Tetapi yang terjadi ialah lahan-lahan bekas penambangan dibiarkan terbuka dan meninggalkan kolong-kolong atau danau buatan hasil pengerukan tanah yang sering disebut dengan camoy. Gambar 5.1. Lahan TI di Kemingking Kabupaten Bangka Tengah Sumber: Google Maps 2018, terletak pada 2º25’22.3”S, 106º07’01.6E.60 60 Google Maps 2018, pada 2.4184894,106.1173976,3182m/data=!3m1!1e3. https://www.google.com/maps/@-

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 Menurut masyarakat tambang timah lebih menguntungkan menjadi penambang timah di bandingkan dengan bekerja sebagai petani. Jika bertani membutuhkan modal yang besar untuk membeli lahan dan bibit, perawatan yang rutin, harga komoditas pertanian rendah, membutuhkan waktu yang lama untuk panen, itupun belum pasti panen, adakalanya panen rusak dan petani merugi. Sedangkan pekerjaan menambang dilihat masyarakat sebagai kebalikan dari pekerjaan bertani, menambang tidak perlu modal besar, hasil timah pasti ada walaupun sedikit, proses menambang yang singkat untuk mendapatkan panen timah, harga timah tinggi dan hampir selalu untung dalam bertambang. Pandangan untung dan rugi antara bekerja TI atau bertani tergantung pada masyarakat yang mengalami proses bekerja di masing-masing sektor. Beberapa penambang juga memilih untuk mengakhiri kegiatan pertambangan dan memilih bertani karena beberapa alasan tertentu misalnya, bertani lebih sedikit resikonya kecelakannya dari pada bertambang. Hasil tani meskipun harga jualnya rendah tetapi akan menghasilkan panen walaupun sedikit di bandingkan dengan bertambang yang akan menguras tenaga banyak dan kadang tidak menemui timah dalam penambangannya, dan terkadang resiko kecelakaan yang sangat tinggi di penambangan. Hasil dari bertambang dapat dikatakan membuat masyarakat TI cukup sejahtera. Tidak hanya dapat mencukupi kebutuhan hidup primer seperti pangan. Sandang dan papan, tetapi dapat memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier keluraga penambang, misalnya hasil pengupahan TI dapat dipergunakan untuk membeli motor, biaya sekolah anak, modal usaha, membeli kebun, membeli

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 handphone, membangun rumah batu bata hingga mendirikan TI sendiri dan sebagainya. Jumlah pendapatan yang diperoleh dari penambang TI tergantung dari hasil timah yang dapat dikumpulkan. Pembayaran uang kontan akan langsung diberikan oleh bos timah setiap seminggu sekali atau dua minggu sekali sesuai dengan kesepakatan. Pasir timah dari 1 pron akan dikumpulkan dan ditimbang. Hasil 1 kilogram timah dihargai sesuai dengan kesepakatan dengan pemilik timah, mulai Rp.30.000 hingga Rp. 100.000 per kilogram sesuai dengan harga timah di pasaran Bangka. Jika hasil timah melimpah, hasil pekerja tambang perorang dapat mencapai 800.000 rupiah hingga 1.500.000 rupiah per sekali pengupahan. Hal ini juga tergantung dari harga timah di pasaran Bangka, jika harga timah menurun, maka menuruh pula hasil pengupahan mereka dan sebaliknya. Ketika hasil timah sedikit atau tidak memuaskan dan kebutuhan ekonomi keluarga penambang sedang naik, maka pekerja dapat meminjam uang kepada pemilik TI atau bos TI. Sistem hutang atau pinjaman ini dilunasi berdasarkan kesepakatan bersama dengan pemilik timah atau bos. Sistem hutang ini tidaklah mengikat pekerja tambang harus bekerja dan mengabdi dengan pemberi pinjaman atau bos TI. Pekerja tambang dapat berganti wilayah TI hingga bos TI tanpa ikatan apapun, dan perjanjian hutang akan tetap berlaku selama hutang belum di lunasi. Jam kerja di TI tidak ada, pekerja dalam satu tim atau pron (front) bebas menggunakan waktu untuk memulai dan menyudahi pekerjaan. Jika ingin hasil timah banyak, maka penambang akan lebih pagi mulai menghidupkan mesin dan

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 mencari timah, perhitungan hasil atau upah ditentukan dari hasil timah yang dapat dikumpulkan, bukan dari jam kerja. Pekerjaan menambang di mulai pagi hari atau ketika 1 tim sudah siap untuk menambang. Biasanya penambang mulai bekerja antara pukul 06:00 sampai 08:00 pagi hingga 17:00 sore, tetapi jika merasa hasil pencarian timah kurang banyak dalam satu hari maka penambang akan lembur hingga pukul 21:00. Para penambang tidak bekerja sepanjang waktu dari pagi hingga sore dan malam, mereka juga bisa beristirahat sesuai dengan kesepakatan 1 pron. Ada waktu untuk istirahat termasuk waktu untuk makan. Sejak pagi hingga sore bekerja, di malam hari penambang dapat istirahat malam dengan tidur atau menggunakan waktu malam untuk bersantai bersama pekerja lainnya dengan bermain kartu atau gaple dan bernyanyi yang diiringi gitar. Sistem pembagian kerja di TI adalah penambang 1 pron yang terdiri dari 3-4 orang saling mengisi pekerjaan satu sama lain, bersifat luwes atau fleksibel. Semua anggota dapat saling bergantian dalam memegang tugas kerjanya. Hal ini pulalah yang menjadi salah satu faktor terjaganya relasi sosial yang baik antar sesama penambang. Berada dalam posisi yang sama yaitu sebagai buruh penambang timah yang bekerjasama demi mendapatkan timah sebanyak mungkin untuk dibagi dalam satu tim. Tanggungjawab ekonomi yang besar dirasakan mereka, ketika harus beralih profesi dari petani menjadi penambang timah, peruntungan demi peruntungan di wilayah penambangan dicoba guna memperbaiki perekonomian keluarga. Seperasaan dan sepenanggungan menjadi

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 buruh tambang timah itulah yang dirasakan mereka sehingga konflik antar penambang sangat jarang sekali terjadi. Dalam kerjasama satu pron harus terjadi komunikasi yang baik agar pekerjaan menambang lancar dan dapat saling bergantian tugas. Tugas-tugas pekerjaan di TI darat yaitu, dalam 1 pron terdapat 1 orang sebagai pencangkul, 1 orang sebagai penyemprot, 1 orang yang mengurus mesin, dan 1 orang yang membuang sampah dan batu-batu. Sedangkan pada TI rajuk atau apung tugas pekerjaannya ialah, 1 orang mengurusi mesin, 1 orang menaiki tower dan memasukkan pipa besi ke dasar tanah, 1 orang mencangkul membersihkan hasil cucian timah. Di dalam penambangan inkonvensional, pekerja tambang rentan tehadap risiko kesehatan dan keselamatan. Air di penambangan yang tercampur oli dan solar mesin sering menjadi penyakit bagi pekerja, alergi gatal-gatal dan iritasi di kulit badan sehingga menjadi memerah, selain itu wilayah pertambangan atau hutan sangatlah dingin, pekerja rentan sakit karena kedinginan. Kecelakaankecelakaan dalam penambangan juga sering terjadi seperti tangan tergulung tali dari mesin win, jatuh dari tower saat mendorong pipa besi, dan tertimpa tanah longsor, akan sulit untuk menggali korban jika sudah tertimpa tanah longsor. Tidak ada jaminan kesehatan dan keselamatan dalam penambangan. Maka dari itu, selain harus selalu waspada dalam penambangan, pekerja juga harus mempersiapkan obat-obatan pribadi agar langsung dapat dikonsumsi dan tidak menunggu pemulihan dari paramedis yang letaknya jauh dari wilayah penambangan.

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 Suasana kehidupan di TI beragam-ragam, ada yang lingkungannya ramai dan sepi, hal ini ditentukan dari luasnya daerah pertambangan yang sedang berlangsung. Di daerah pertambangan yang luas seperti di Kemingking dan Bemban terdapat pemukiman atau rumah pondok dalam jumlah yang banyak. Penambang yang merantau sudah melebihi hitungan puluhan orang. Di wilayah pertambangan tidak hanya berisikan peralatan tambang dan pekerja tambang, terdapat juga penjual-penjual kebutuhan para penambang yang sifatnya sementara di wilayah itu, seperti warung sembako yang menjual bahan makanan, perlengkapan mandi dan cuci, hingga warung makan yang juga menyediakan teh dan kopi. Para pedagang di daerah tambang ikut merasakan dampak dari hadirnya TI, kegiatan berdagang dapat diselingi dengan kegiatan melimbang sebagai tambahan pendapatan. Ketika TI di daerah tersebut telah selesai dan tinggalkan oleh penambang, maka pedagang sembako dan pedagang lainnya juga ikut meninggalkan lokasi penambangan dan mencari daerah tambang yang baru.

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 Gambar 5.2. Warung sembako di wilayah penambangan TI Sumber: Dokumentasi Pribadi (diambil pada April 2018). Dalam wawancara dengan penambang, diketahui bahwa jumlah penambang di Kemingking dan Bemban berkisar ribuan orang yang tak dapat diketahui secara pasti. Hal ini dikarenakan tidak ada pendataan apapun mengenai masuknya orang-orang dalam wilayah TI dan bebasnya akses keluar masuk daerah tambang. Ada juga orang-orang yang merantau dari daerah lain mencari kerja sebagai penambang di Bangka, seperti dari pulau Jawa, dari Palembang dan sebagainya. Hubungan solidaritas dan kerjasama antara masyarakat Bangka dan pendatang dari luar Bangka terjalin baik, hal ini dikarenakan kesamaan profesi sebagai penambang timah di Bangka demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan penelitian tentang Kondisi Masyarakat Tambang Timah Bangka Selatan pada Tahun 2003-2012, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Terjadinya penambangan timah Tambang Inkonvensional (TI) di Kepulauan Bangka Belitung berawal dari Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Kepmenperindag) Nomor 558/MPP/Kep/12/1998 Tahun 1998 Tentang Ketentuan Umum di Bidang Ekspor. Peraturan tersebut berisi tentang pengawasan barang-barang yang dapat di ekspor. Timah tidak menjadi bagian dalam Kepmenperindag tersebut, sehingga mengartikan bahwa timah merupakan komoditas yang bebas dan tidak diawasi ekspornya oleh pemerintah. Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998-1999 membuat Bupati Bangka mengambil langkah perbaikan ekonomi bagi masyarakatnya, maka dari itu diterbitkanlah Perda Kabupaten Bangka Nomor 6 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Pertambangan Umum. Perda dari bupati mengartikan bahwa pertaambangan rakyat diizinkan oleh pemda. Setelah Perda tersebut terbit, tambang-tambang inkonvensional mulai diusahakan. Di Bangka Selatan tahun 2001 usaha TI bermula di Tanjung Sangkar, Tukak Sadai, dan Nyelanding. Pekerja penambangan TI adalah masyarakat Pulau

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 Besar yang hendak mencoba peruntungan ekonomi di sektor penambangan. Mereka dapat bekerja di sektor pertambang karena ajakan dari teman atau kenalan yang sudah lebih dulu bekerja di TI. 2. Terjadi perubahan sosial ekonomi pada masyarakat tambang timah setelah diberlakukannya Perda bupati mengenai perizinan tambang timah. perekonomian menjadi lebih baik, kebutuhan primer, sekunder hingga tersier dapat terpenuhi oleh masyarakat. Tidak hanya itu, para penambang yang sering mendapatkan timah banyak lebih disegani dan digemari oleh masyarakat penambang yang lainnya. B. Saran Berikut ini beberapa saran yang dapat saya sampaikan kepada Pemerintah Daerah Bangka (Pemda), masyarakat tambang timah dan bagi para pembaca pada umumnya, yaitu: 1. Perlunya bagi pemerintah mengadakan sensus masyarakat penambang TI, agar ada data mengenai pertambangan timah Bangka. 2. Perlunya kerjasama antara pemda dan masyarakat untuk menyelenggarakan penyuluhan mengenai izin penambangan, prosedur penambangan timah, pelatihan kerja, dan reklamasi lahan pertambangan oleh pemilik TI. 3. Haruslah diperkirakan alternatif pekerjaan masyarakat Bangka, ketika cadangan timah di Bangka sudah menipis dan habis.

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 4. Ekologi Bangka harus tetap diperhatikan dan dilestarikan agar tetap dapat menjadi pijakan bagi anak cucu di generasi mendatang. 5. Saran bagi peneliti selanjutnya agar dapat melakukan penelitian di daerah Kemingking dan Bemban yang menjadi lahan TI terbesar di Bangka.

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 DAFTAR PUSTAKA BUKU Anton Haryono. Sejarah (Sosial) Ekonomi : Teori Metodologi Penelitian dan Narasi Kehidupan. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2011. Erwiza Erman, Kesenjangan Buruh-Majikan : Pengusaha, Koeli dan Penguasa: Industri Timah Belitung, 1852-1940. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1995. ______. Menguak Sejarah Timah Bangka Belitung. Yogyakarta: Ombak, 2009. Heidhues, Mary Somers. Timah Bangka Dan Lada Mentok: Peran Masyarakat Tionghoa Dalam Pembangunan Pulau Bangka Abad XVIII s/d XX. Jakarta: Yayasan Nabil, 2008. Jhonson, Doyle Paul. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: PT Gramedia, 1986. Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah.Yogyakarta: Bentang, 2001. Mubyarto, dkk. Kajian Sosial-Ekonomi Desa-Desa Perbatasan di Kalimantan Timur. Yogyakarta: Aditya Media, 1991. Nawiyanto dan Eko Crys Endrayadi. Kesultanan Pelembang Darussalam: Sejarah dan Warisan Budayanya . Jember: Jember University Press, 2016. Selo Soemarjan. Perubahan Sosial di Yogyakarta. Jakarta: Komunitas Bambu, 2012. Soerjono Soekanto. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: CV. Rajawali, 1982. ______. Teori Sosiologi Rajawali, 1984. Tentang Struktur Masyarakat. Jakarta: CV. Susanto, Phil Astrid S. Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial. Binacipta, 1985. Sutedjo Sujitno. Dampak Kehadiran Timah Indonesia Sepanjang Sejarah. Jakarta Selatan: Cempaka Publishing, 2007. ______. Sejarah Penambangan Timah di Indonesia: Abad Ke 18 – Abad Ke 20. Jakarta Selatan: Cempaka Publishing, 2007.

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 ARSIP Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 558/MPP/Kep/12/1998 Tentang Ketentuan Umum di Bidang Ekspor. Laporan Tahunan 2014 PT Timah. Peraturan Daerah Kabupaten Bangka Nomor 6 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Pertambangan Umum. Profil Kecamatan Pulau Besar Tahun 2017. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 86 Tahun Nasionalisasi Perusahaan-perusahaan Milik Belanda. 1958 Tentang JURNAL Jurnal Society,Volume II, Nomor 1, Juni 2014. Citra Asmara Indra. 2014. ”Implikasi terbitnya Regulasi Tentang Pertimahan Terhadap Dinamika Pertambangan Timah Inkonvensional di Pulau Bangka. INTERNET http://www.timah.com/v2/ina/tentang-kami/8410052012110526/sekilas-pt-timah/ http://www.babelprov.go.id/content/wilayah-administrasi https://www.studinews.co.id/2017/10/pengertian-sosial-ekonomi-faktor-yangmenentukan-kondisi-sosial.html#1FS_Chapin_Kaare_198926. https://www.google.com/maps/@2.4184894,106.1173976,3182m/data=!3m1!1e3http://bangka.tribunnews.com/201 7/01/30/hasil-kajian-walhi-6412-persen-daratan-babel-rusak-parah-akibattambang. https://nasional.kompas.com/read/2010/02/08/05050255/Lada.Putih.Bangka.Terg usur https://tekno.kompas.com/read/2008/11/16/00170457/60.persen.warga.babel.hidu p.dari.tambang.inkonvensional. https://ekonomi.kompas.com/read/2008/11/10/21315732/wuih.semua.tambang.ti mah.dilegalkan.

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 DAFTAR NARASUMBER No Nama Umur Pekerjaan Alamat Kecamatan Pulau Besar 1 Suroso 46 Penambang timah dan Petani 2 Suryani 42 Petani Kecamatan Pulau Besar 3 Sugeng Prasetyo 57 Penambang timah dan Petani Kecamatan Pulau Besar 4 Yakobus Dasar 45 Penambang timah Kecamatan Pulau Besar 5 Saudara 32 Penambang timah Kecamatan Pulau Besar

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 LAMPIRAN Rumah Pondok atau rumah sementara penambang (nge-camp) Sumber: Dokumentasi Pribadi. Rumah Pondok Untuk Penambang yang Tidak Nge-camp Sumber: Dokumentasi Pribadi.

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 Sampan Sebagai Transportasi Menuju Tempat Penambangan di Sungai. Sumber: Dokumentasi Pribadi. Pembuatan Ponton TI Apung /Rajuk. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 Perakitan Peralatan TI Apung/Rajuk Sumber: Dokumentasi Pribadi. Lahan bekas TI darat yang menjadi wisata danau biru. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

(115)

Dokumen baru

Download (114 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

ditulis dan diajakan untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar sarjana sains mataematika
0
26
19
SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar Sarjana Komputer Disusun oleh: Dwi Prasetyo NIM: 125150207111104
0
0
79
SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat-syarat guna memperoleh gelar Sarjana Komputer
0
0
93
Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Magister Program Studi Agronomi
0
0
12
SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan mendapatkan gelar Strata Satu Program Studi Informatika
0
0
13
K7413014 Skripsi diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Ekonomi
0
0
12
K4212051 SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapat gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa
0
0
17
K4413012 Skripsi diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Sejarah
0
0
17
K4313007 Skripsi diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapat gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Biologi
0
0
16
K7413151 Skripsi diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Ekonomi
0
0
16
Penghawaaan Alami, Pencahayaan Alami, dan Pengolahan Limbah Pasar Tradisional Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar Sarjana Teknik Arsitektur Disusun oleh :
0
0
23
TUGAS AKHIR Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Teknik Program Studi Teknik Elektro
0
0
107
TUGAS AKHIR Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Teknik Mesin Program Studi Teknik Mesin
0
0
77
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Teknik pada Program Studi Teknik Elektro
0
0
48
TUGAS AKHIR Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Teknik Program Studi Teknik Mesin
0
0
54
Show more