Hubungan antara intensitas penggunaan media sosial instagram dan materialisme pada remaja - USD Repository

Gratis

0
0
149
2 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL INSTAGRAM DAN MATERIALISME PADA REMAJA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Program Studi Psikologi Disusun oleh: I Gusti Bagus Gantih Sukmaraga NIM : 149114106 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2018

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN MOTTO Whenever you are in a hard situation, think that All is Well Kita mungkin dilahirkan untuk merasakan kekalahan, tapi kita tidak dilahirkan untuk menyerah Learning is not about memorizing the exact words from the book. Learning is understanding it and being able to explain it in your own words iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Untuk Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang selalu memberikan jalan dan kekuatan kepada saya Orang tua, adik-adikku, dan keluarga besar saya yang selalu memberi dukungan Dosen pembimbing skripsi yang tidak pernah berhenti memberi semangat, petunjuk, dan bimbingan kepada saya Dan terakhir untuk Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan banyak pelajaran hidup, sehingga saya belajar menjadi manusia yang lebih manusiawi. v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL INSTAGRAM DAN MATERIALISME PADA REMAJA I Gusti Bagus Gantih Sukmaraga ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas penggunaan media sosial Instagram dan materialisme pada remaja. Hipotesis penelitian ini adalah adanya hubungan yang positif dan signifikan antara intensitas penggunaan media sosial Instagram dan materialisme pada remaja. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 457 orang remaja yang berusia 14 sampai 24 tahun. Alat pengumpulan data yang digunakan ialah skala intensitas penggunaan media sosial Instagram dan skala materialisme. Skala intensitas penggunaan media sosial Instagram memiliki 4 item dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,885 dan skala materialisme memiliki 15 item dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,858. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji korelasi Spearman’s rho karena persebaran data pada kedua skala bersifat tidak normal. Penelitian ini menghasilkan r = 0,546 dan nilai signifikansi p = 0,00 < 0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara intensitas penggunaan media sosial Instagram dan materialisme pada remaja. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi intensitas penggunaan media sosial Instagram, maka semakin tinggi pula materialisme pada remaja. Sebaliknya, semakin rendah intensitas penggunaan media sosial Instagram, maka materialisme pada remaja menjadi semakin rendah. Kata kunci: intensitas penggunaan media sosial Instagram, materialisme, remaja vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI CORRELATION BETWEEN INTENSITY OF SOCIAL MEDIA INSTAGRAM USAGE AND MATERIALISM IN ADOLESCENT I Gusti Bagus Gantih Sukmaraga ABSTRACT This research aimed to determine the correlation between intensity of social media Instagram usage and materialism in adolescent. The hypothesis of this research was that there was a positive and significant correlation between intensity of social media Instagram usage and materialism in adolescent. The subjects in this research were 457 adolescent aged 14 to 24 years old. The instrument that used in this research were the intensity of social media Instagram usage scale and the materialism scale. The intensity of social media Instagram usage scale has 4 items with 0.885 reliability coefficient and the materialism scale has 15 items with 0,858 reliability coefficient. The data analysis technique which used in this study was Spearman's rho correlation test because the data distribution of both scale are not normal. This research yielded r = 0,546 correlation value and p = 0,00<0,05 significant value. The results of this research showed that there was a significant correlation between intensity of social media Instagram usage and materialism in adolescent. It means that the higher intensity of social media Instagram, the higher of the materialism in adolescent. Vice versa, the lower intensity of social media Instagram usage, the lower of the materialism in adolescent. Keywords: intensity of social media Instagram usage, materialism, adolescent viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji Syukur saya panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena atas tuntunan-Nya, saya dapat menjalankan proses penyusunan skripsi ini dengan seluruh kemampuan yang saya miliki. Saya juga menyadari bahwa banyak pihak yang telah berkontribusi dalam penelitian ini. Untuk itu, saya juga mengucapkan terimakasih kepada: 1. Ibu Dr. Titik Kristiyani, M.Psi., Psi. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah menandatangani lembar pengesahan skripsi ini. 2. Ibu Monica Eviandaru Madyaningrum Ph.D. selaku Kaprodi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 3. Ibu Dr. M. Laksmi Anantasari, M.Si. selaku dosen pembimbing akademik yang selalu memberikan motivasi dan semangat selama saya menempuh studi di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 4. P. Henrietta P. D. A. D. S., S. Psi., M.A selaku dosen pembimbing skripsi yang selalu memberi support dan arahan yang mudah untuk saya mengerti. Terimakasih dan semangat untuk studinya ya Mbak Etta semoga diberikan kemudahan, sehingga Mbak Etta bisa cepat kembali ke Fakultas kita tercinta untuk memajukan Fakultas ini. 5. Diana Permata Sari, S.Psi., M.Sc. dan Albertus Harimurti, S.Psi., M.Hum. sebagai dosen yang memberikan banyak masukan positif, sehingga skripsi ini jauh lebih baik dari sebelumnya. 6. Seluruh Bapak dan Ibu dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah membagi dan memberi ilmu pengetahuan, sehingga secara tidak langsung saya belajar bahwa ini semua bukan tentang kompetensi, tapi bagaimana kompetensi tersebut bisa berkontribusi nyata bagi sesama. 7. Seluruh staff Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma: Pak Sidiq, Mas Gandung, Bu Nanik, dan Mas Muji yang selalu menunjukkan kesediaannya untuk membantu kelancaran penyususnan skripsi ini. x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8. Seluruh subjek penelitian yang telah bersedia meluangkan waktu untuk mengisi skala penelitian saya. 9. Terimakasih buat Cik Mel dan El yang membantu saya untuk menerjemahkan skala. 10. Terimakasih kepada Atu Wayah, Ninik, dan Niang atas penyertaan dan doa-doanya. 11. Terimakasih kepada kedua orangtua saya, I Gusti Made Arsawan dan Pande Ni Ketut Rai Puspadewi, there’s no word can describe it. 12. Adik-adik yang sangat saya sayangi, Gilang Sukmaraga & Guna Sukmaraga. Kesuksesan tidak hanya didapat melalui pendidikan formal, tanpa pendidikan formal seperti berkuliah pun kalian bisa sukses asalkan kalian tau dan yakin dengan potensi yang kalian miliki. 13. Terimakasih buat keluarga saya, Bulik Desy dan Kak Jono yang mengenalkan Jogja diawal perkuliahan saya disini, semoga kalian hidup berbahagia selalu. 14. Kak Praba yang sangat-sangat membantu saya dalam memberikan ide, arahan, dan masukan. Makasi banyak ya Kak, kalau waktu itu nggak ketemu di depan sekre mungkin aku masih bingung topik skripsi apa yang bakal aku teliti. 15. Teman-teman seluruh angkatan 2014, terkhusus kelas psikohanam A. Aku sangat beruntung bisa ada dikelas ini. Kelas yang benar-benar kompetitif namun tetap tidak melupakan rasa kekeluargaan yang ada. Mereka yang mengajariku banyak hal disini. Tanpa mereka, kuliah di Psikologi terasa hampa. Makasi yaa Lur, beberapa akan kusebutkan Anus, Ridho, Yosta, David, Kuncung, Seno, Krisna, Garin, Lius, Wahyu, Dea, Grace, Intan, Dina, Angel, Ella, Olak, Anggi, Ayne, Noia, Yuka, Nindy, Btari, Yashinta, Vivi, Best, Cendri, Pipin, dan lainlainnya. 16. Ayam Pelakor Group (Johanes Unaradjan, Pande Ayu, Indri Drestyani) I love you guys. I hope in the future we can have our own business. xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17. My second family PBB (Mank, Deva, Dewa, Indri, Okta, Pande, Trisna) We’ve been together since 2014. Thanks for supporting and cheering me up when I’m in a bad condition. Aku tau kita punya tujuan yang sama, menemukan apa yang orang-orang sebut sebagai keluarga. 4 tahun bukan waktu yang sebentar. Aku berharap kalian bisa menemukan passion kalian masing-masing dan berguna bagi orang lain. 18. Terimakasih kakak tingkat Psikologi yang selalu bersedia membantu saya dalam kesusahan. 19. Seluruh anak-anak bimbingan Mbak Etta. Terimakasih selalu mendukung saya. Mari semangat untuk menyelesaikan apa yang sudah menjadi kewajiban kita sebagai mahasiswa akhir! See you on top guys! 20. Temen-temen ukf seni dan Papikustik (Kak SS, Kak Pipit, Bang Abiel, Kak Yogi, Kak Arma) yang memberi saya kesempatan untuk tampil disetiap event yang ada di kampus mulai dari awal perkuliahan hingga masa dimana saya harus meninggalkan Fakultas ini. Percayalah rekaman jingle aksi 2017 menjadi kenangan yang akan paling saya ingat sebagai sebuah bentuk kontribusi nyata atas hobi yang saya miliki ini. 21. KMHD Swastika Taruna yang selalu mengayomi keluarga Hindu di kampus ini terutama (Kak Ayik, Kak GM, Kak Bayu, Kak Putri, Kak Gungis, Kak Bincik, Kak Mita, Kak Putra, Pristi, adik-adik 2015, 2016). 22. Sahabat – sahabat SMA saya, terutama Oting, Nyame TA angkatan 48, Nyame GKSS. 23. Terimakasih kepada seluruh pihak yang belum dapat penulis ucapkan satu per satu. Kalian semua akan selalu tersimpan di hati saya. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga peneliti mengharapkan kritik dan saran dari seluruh pembaca untuk membantu menyempurnakan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memberi manfaat bagi pembaca. Mohon maaf jika terdapat kesalahan kata. Terimakasih. Peneliti xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING .................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. iii HALAMAN MOTTO ......................................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN .......................................................................... v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................ vi ABSTRAK ......................................................................................................... vii ABSTRACT ....................................................................................................... viii PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ................ ix KATA PENGANTAR ......................................................................................... x DAFTAR ISI ..................................................................................................... xiii DAFTAR TABEL ............................................................................................. xvi DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xvii BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1 A. Latar Belakang ......................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah .................................................................................... 9 C. Tujuan Penelitian ...................................................................................... 9 D. Manfaat Penelitian ................................................................................... 9 1. Manfaat Teoritis ................................................................................. 9 2. Manfaat Praktis .................................................................................. 9 BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................ 10 A. Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram ..................................... 10 1. Definisi Intensitas penggunaan ........................................................ 10 2. Media sosial Instagram .................................................................... 11 3. Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram ............................... 17 4. Dampak Penggunaan Media Sosial .................................................. 18 B. Materialisme ........................................................................................... 21 1. Definisi Materialisme ....................................................................... 21 2. Aspek Materialisme ......................................................................... 24 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Pengukuran Materialisme ................................................................. 25 4. Faktor-faktor yang Memengaruhi Materialisme .............................. 27 C. Remaja .................................................................................................... 33 D. Dinamika Hubungan Antara Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram dan Materialisme Pada Remaja ....................... 35 E. Skema Hubungan Antara Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram dan Materialisme Pada Remaja.............................................. 38 F. Hipotesis ................................................................................................. 49 BAB III METODE PENELITIAN ..................................................................... 40 A. Jenis Penelitian ....................................................................................... 40 B. Identifikasi Variabel Penelitian .............................................................. 41 1. Variabel Bebas ................................................................................. 41 2. Variabel Tergantung ......................................................................... 41 C. Definisi Operasional ............................................................................... 41 D. Subjek Penelitian .................................................................................... 43 E. Metode dan Alat Pengumpulan Data ..................................................... 43 1. Metode Pengumpulan Data ................................................................ 43 2. Alat Pengumpulan Data ..................................................................... 44 F. Validitas dan Reliabilitas ....................................................................... 49 1. Validitas ............................................................................................. 49 2. Seleksi Item ........................................................................................ 50 3. Reliabilitas ......................................................................................... 51 G. Metode Analisis Data ............................................................................. 53 1. Uji Asumsi ....................................................................................... 53 2. Uji Hipotesis .................................................................................... 54 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................... 56 A. Pelaksanaan Penelitian ........................................................................... 56 B. Deskripsi Subjek Penelitian ................................................................... 56 C. Deskripsi Data Penelitian ....................................................................... 57 D. Hasil Penelitian ...................................................................................... 60 1. Uji Asumsi ....................................................................................... 60 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Uji Hipotesis .................................................................................... 62 3. Analisis Tambahan ........................................................................... 63 E. Pembahasan............................................................................................. 66 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.............................................................. 70 A. Kesimpulan ............................................................................................ 70 B. Keterbatasan Penelitian .......................................................................... 70 C. Saran ....................................................................................................... 71 1. Bagi Subjek (Remaja) ...................................................................... 71 2. Bagi Peneliti Selanjutnya ................................................................. 71 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 73 LAMPIRAN ....................................................................................................... 80 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1 Sebaran Item Skala Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram Sebelum Uji Coba .................................... 45 Tabel 2 Skor Respon Variabel Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram Berdasarkan Frekuensi dan Durasi ....................... 46 Tabel 3 Sebaran Item Skala Materialisme Sebelum Uji Coba ..................... 48 Tabel 4 Pemberian Skor pada Skala Materialisme ....................................... 49 Tabel 5 Sebaran Item Skala Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram Setelah Uji Coba ............................................................. 51 Tabel 6 Sebaran Item Skala Materialisme Setelah Uji Coba ....................... 51 Tabel 7 Deskripsi Usia Subjek ..................................................................... 56 Tabel 8 Deskripsi Jenis Kelamin Subjek ...................................................... 56 Tabel 9 Deskripsi Konten yang Paling Sering Dilihat Subjek ..................... 57 Tabel 10 Data Empiris Skala Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram ................................................................... 58 Tabel 11 Data Empiris Skala Materialisme .................................................... 58 Tabel 12 Hasil Uji Normalitas ........................................................................ 61 Tabel 13 Hasil Uji Linearitas ......................................................................... 62 Tabel 14 Hasil Uji Hipotesis Spearman’s rho ................................................ 63 Tabel 15 Uji Normalitas Dalam Skala Materialisme Pada Kelompok Perempan Dan Kelompok Laki-laki ..................... 64 Tabel 16 Uji Homogenitas Dalam Skala Materialisme................................... 65 Tabel 17 Uji Two-Sample Kolmogorov-Smirnov Test ................................... 65 xvi

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran A Skala Penelitian Uji Coba............................................................ 80 Lampiran B Hasil Uji Reliabilitas Skala Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram dan Seleksi Item ................................... 86 Lampiran C Hasil Uji Reliabilitas Setelah Seleksi Item Skala Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram .......................... 88 Lampiran D Hasil Uji Reliabilitas Skala Materialisme .................................. 90 Lampiran E Skala Penelitian ........................................................................... 92 Lampiran F Hasil Uji T Mean Teoritik dan Mean Empiris........................... 101 Lampiran G Hasil Uji Normalitas.................................................................. 103 Lampiran H Hasil Uji Linearitas.................................................................... 105 Lampiran I Hasil Uji Hipotesis .................................................................... 107 Lampiran J Hasil Uji Normalitas dan Uji Homogenitas Analisis Tambahan .................................................................... 109 Lampiran K Hasil Uji Two-Sample Kolmogorov-Smirnov Test ................... 111 Lampiran L Ijin dari Pemilik Skala Materialisme (print out e-mail) ............ 113 Lampiran M Surat Keterangan Penerjemahan Skala ke dalam Bahasa Indonesia ....................................................................... 115 Lampiran N Surat Keterangan Penerjemahan Skala ke dalam Bahasa Inggris ........................................................................... 117 xvii

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Beberapa tahun terakhir pengguna media sosial Instagram dihebohkan dengan tagar #RichKidsofInstagram yang berisi kontenkonten para anak muda memamerkan gaya hidup mewah di dalam media sosialnya (Hasan, 2018). Tagar tersebut juga meluas hingga bermunculan tagar serupa yang digunakan di berbagai belahan dunia seperti #RichKidsofBritain, #RichKidsofAmerica, dan #RichkidsofChina (Hasan, 2018). Bahkan di Indonesia, tagar #RichKidsofIndonesia juga sudah dapat ditemukan dalam media sosial Instagram (Jeko, 2017). Konten yang termuat di dalamnya adalah foto maupun video para remaja di Indonesia yang memamerkan liburan mewah, barang-barang mewah, serta perkumpulan sosial khusus remaja-remaja kaya di Indonesia (Jeko, 2017). Meluasnya tagar #RichKidsofInstagram di media sosial tersebut menunjukkan bahwa semakin besarnya potensi pengguna aplikasi Instagram terpapar pesan yang mengisyaratkan bahwa tujuan utama hidup ialah kenikmatan inderawi serta kesuksesan hidup bergantung pada pemerolehan barang-barang material (Dash, 2018). Ketika individu terpapar pesan-pesan tersebut, mereka akan meyakini bahwa kepemilikan harta benda bersifat material mampu membuat mereka mencapai kepuasan hidup (Guru, 2018). Keyakinan individu yang memandang kepuasan hidup terpenting berasal dari kepemilikan harta benda dan pemerolehannya disebut sebagai 1

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN MOTTO Whenever you are in a hard situation, think that All is Well Kita mungkin dilahirkan untuk merasakan kekalahan, tapi kita tidak dilahirkan untuk menyerah Learning is not about memorizing the exact words from the book. Learning is understanding it and being able to explain it in your own words iv

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Untuk Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang selalu memberikan jalan dan kekuatan kepada saya Orang tua, adik-adikku, dan keluarga besar saya yang selalu memberi dukungan Dosen pembimbing skripsi yang tidak pernah berhenti memberi semangat, petunjuk, dan bimbingan kepada saya Dan terakhir untuk Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan banyak pelajaran hidup, sehingga saya belajar menjadi manusia yang lebih manusiawi. v

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL INSTAGRAM DAN MATERIALISME PADA REMAJA I Gusti Bagus Gantih Sukmaraga ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas penggunaan media sosial Instagram dan materialisme pada remaja. Hipotesis penelitian ini adalah adanya hubungan yang positif dan signifikan antara intensitas penggunaan media sosial Instagram dan materialisme pada remaja. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 457 orang remaja yang berusia 14 sampai 24 tahun. Alat pengumpulan data yang digunakan ialah skala intensitas penggunaan media sosial Instagram dan skala materialisme. Skala intensitas penggunaan media sosial Instagram memiliki 4 item dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,885 dan skala materialisme memiliki 15 item dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,858. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji korelasi Spearman’s rho karena persebaran data pada kedua skala bersifat tidak normal. Penelitian ini menghasilkan r = 0,546 dan nilai signifikansi p = 0,00 < 0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara intensitas penggunaan media sosial Instagram dan materialisme pada remaja. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi intensitas penggunaan media sosial Instagram, maka semakin tinggi pula materialisme pada remaja. Sebaliknya, semakin rendah intensitas penggunaan media sosial Instagram, maka materialisme pada remaja menjadi semakin rendah. Kata kunci: intensitas penggunaan media sosial Instagram, materialisme, remaja vii

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI CORRELATION BETWEEN INTENSITY OF SOCIAL MEDIA INSTAGRAM USAGE AND MATERIALISM IN ADOLESCENT I Gusti Bagus Gantih Sukmaraga ABSTRACT This research aimed to determine the correlation between intensity of social media Instagram usage and materialism in adolescent. The hypothesis of this research was that there was a positive and significant correlation between intensity of social media Instagram usage and materialism in adolescent. The subjects in this research were 457 adolescent aged 14 to 24 years old. The instrument that used in this research were the intensity of social media Instagram usage scale and the materialism scale. The intensity of social media Instagram usage scale has 4 items with 0.885 reliability coefficient and the materialism scale has 15 items with 0,858 reliability coefficient. The data analysis technique which used in this study was Spearman's rho correlation test because the data distribution of both scale are not normal. This research yielded r = 0,546 correlation value and p = 0,00<0,05 significant value. The results of this research showed that there was a significant correlation between intensity of social media Instagram usage and materialism in adolescent. It means that the higher intensity of social media Instagram, the higher of the materialism in adolescent. Vice versa, the lower intensity of social media Instagram usage, the lower of the materialism in adolescent. Keywords: intensity of social media Instagram usage, materialism, adolescent viii

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji Syukur saya panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena atas tuntunan-Nya, saya dapat menjalankan proses penyusunan skripsi ini dengan seluruh kemampuan yang saya miliki. Saya juga menyadari bahwa banyak pihak yang telah berkontribusi dalam penelitian ini. Untuk itu, saya juga mengucapkan terimakasih kepada: 1. Ibu Dr. Titik Kristiyani, M.Psi., Psi. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah menandatangani lembar pengesahan skripsi ini. 2. Ibu Monica Eviandaru Madyaningrum Ph.D. selaku Kaprodi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 3. Ibu Dr. M. Laksmi Anantasari, M.Si. selaku dosen pembimbing akademik yang selalu memberikan motivasi dan semangat selama saya menempuh studi di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 4. P. Henrietta P. D. A. D. S., S. Psi., M.A selaku dosen pembimbing skripsi yang selalu memberi support dan arahan yang mudah untuk saya mengerti. Terimakasih dan semangat untuk studinya ya Mbak Etta semoga diberikan kemudahan, sehingga Mbak Etta bisa cepat kembali ke Fakultas kita tercinta untuk memajukan Fakultas ini. 5. Diana Permata Sari, S.Psi., M.Sc. dan Albertus Harimurti, S.Psi., M.Hum. sebagai dosen yang memberikan banyak masukan positif, sehingga skripsi ini jauh lebih baik dari sebelumnya. 6. Seluruh Bapak dan Ibu dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah membagi dan memberi ilmu pengetahuan, sehingga secara tidak langsung saya belajar bahwa ini semua bukan tentang kompetensi, tapi bagaimana kompetensi tersebut bisa berkontribusi nyata bagi sesama. 7. Seluruh staff Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma: Pak Sidiq, Mas Gandung, Bu Nanik, dan Mas Muji yang selalu menunjukkan kesediaannya untuk membantu kelancaran penyususnan skripsi ini. x

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8. Seluruh subjek penelitian yang telah bersedia meluangkan waktu untuk mengisi skala penelitian saya. 9. Terimakasih buat Cik Mel dan El yang membantu saya untuk menerjemahkan skala. 10. Terimakasih kepada Atu Wayah, Ninik, dan Niang atas penyertaan dan doa-doanya. 11. Terimakasih kepada kedua orangtua saya, I Gusti Made Arsawan dan Pande Ni Ketut Rai Puspadewi, there’s no word can describe it. 12. Adik-adik yang sangat saya sayangi, Gilang Sukmaraga & Guna Sukmaraga. Kesuksesan tidak hanya didapat melalui pendidikan formal, tanpa pendidikan formal seperti berkuliah pun kalian bisa sukses asalkan kalian tau dan yakin dengan potensi yang kalian miliki. 13. Terimakasih buat keluarga saya, Bulik Desy dan Kak Jono yang mengenalkan Jogja diawal perkuliahan saya disini, semoga kalian hidup berbahagia selalu. 14. Kak Praba yang sangat-sangat membantu saya dalam memberikan ide, arahan, dan masukan. Makasi banyak ya Kak, kalau waktu itu nggak ketemu di depan sekre mungkin aku masih bingung topik skripsi apa yang bakal aku teliti. 15. Teman-teman seluruh angkatan 2014, terkhusus kelas psikohanam A. Aku sangat beruntung bisa ada dikelas ini. Kelas yang benar-benar kompetitif namun tetap tidak melupakan rasa kekeluargaan yang ada. Mereka yang mengajariku banyak hal disini. Tanpa mereka, kuliah di Psikologi terasa hampa. Makasi yaa Lur, beberapa akan kusebutkan Anus, Ridho, Yosta, David, Kuncung, Seno, Krisna, Garin, Lius, Wahyu, Dea, Grace, Intan, Dina, Angel, Ella, Olak, Anggi, Ayne, Noia, Yuka, Nindy, Btari, Yashinta, Vivi, Best, Cendri, Pipin, dan lainlainnya. 16. Ayam Pelakor Group (Johanes Unaradjan, Pande Ayu, Indri Drestyani) I love you guys. I hope in the future we can have our own business. xi

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17. My second family PBB (Mank, Deva, Dewa, Indri, Okta, Pande, Trisna) We’ve been together since 2014. Thanks for supporting and cheering me up when I’m in a bad condition. Aku tau kita punya tujuan yang sama, menemukan apa yang orang-orang sebut sebagai keluarga. 4 tahun bukan waktu yang sebentar. Aku berharap kalian bisa menemukan passion kalian masing-masing dan berguna bagi orang lain. 18. Terimakasih kakak tingkat Psikologi yang selalu bersedia membantu saya dalam kesusahan. 19. Seluruh anak-anak bimbingan Mbak Etta. Terimakasih selalu mendukung saya. Mari semangat untuk menyelesaikan apa yang sudah menjadi kewajiban kita sebagai mahasiswa akhir! See you on top guys! 20. Temen-temen ukf seni dan Papikustik (Kak SS, Kak Pipit, Bang Abiel, Kak Yogi, Kak Arma) yang memberi saya kesempatan untuk tampil disetiap event yang ada di kampus mulai dari awal perkuliahan hingga masa dimana saya harus meninggalkan Fakultas ini. Percayalah rekaman jingle aksi 2017 menjadi kenangan yang akan paling saya ingat sebagai sebuah bentuk kontribusi nyata atas hobi yang saya miliki ini. 21. KMHD Swastika Taruna yang selalu mengayomi keluarga Hindu di kampus ini terutama (Kak Ayik, Kak GM, Kak Bayu, Kak Putri, Kak Gungis, Kak Bincik, Kak Mita, Kak Putra, Pristi, adik-adik 2015, 2016). 22. Sahabat – sahabat SMA saya, terutama Oting, Nyame TA angkatan 48, Nyame GKSS. 23. Terimakasih kepada seluruh pihak yang belum dapat penulis ucapkan satu per satu. Kalian semua akan selalu tersimpan di hati saya. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga peneliti mengharapkan kritik dan saran dari seluruh pembaca untuk membantu menyempurnakan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memberi manfaat bagi pembaca. Mohon maaf jika terdapat kesalahan kata. Terimakasih. Peneliti xii

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING .................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. iii HALAMAN MOTTO ......................................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN .......................................................................... v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................ vi ABSTRAK ......................................................................................................... vii ABSTRACT ....................................................................................................... viii PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ................ ix KATA PENGANTAR ......................................................................................... x DAFTAR ISI ..................................................................................................... xiii DAFTAR TABEL ............................................................................................. xvi DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xvii BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1 A. Latar Belakang ......................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah .................................................................................... 9 C. Tujuan Penelitian ...................................................................................... 9 D. Manfaat Penelitian ................................................................................... 9 1. Manfaat Teoritis ................................................................................. 9 2. Manfaat Praktis .................................................................................. 9 BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................ 10 A. Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram ..................................... 10 1. Definisi Intensitas penggunaan ........................................................ 10 2. Media sosial Instagram .................................................................... 11 3. Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram ............................... 17 4. Dampak Penggunaan Media Sosial .................................................. 18 B. Materialisme ........................................................................................... 21 1. Definisi Materialisme ....................................................................... 21 2. Aspek Materialisme ......................................................................... 24 xiii

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. Pengukuran Materialisme ................................................................. 25 4. Faktor-faktor yang Memengaruhi Materialisme .............................. 27 C. Remaja .................................................................................................... 33 D. Dinamika Hubungan Antara Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram dan Materialisme Pada Remaja ....................... 35 E. Skema Hubungan Antara Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram dan Materialisme Pada Remaja.............................................. 38 F. Hipotesis ................................................................................................. 49 BAB III METODE PENELITIAN ..................................................................... 40 A. Jenis Penelitian ....................................................................................... 40 B. Identifikasi Variabel Penelitian .............................................................. 41 1. Variabel Bebas ................................................................................. 41 2. Variabel Tergantung ......................................................................... 41 C. Definisi Operasional ............................................................................... 41 D. Subjek Penelitian .................................................................................... 43 E. Metode dan Alat Pengumpulan Data ..................................................... 43 1. Metode Pengumpulan Data ................................................................ 43 2. Alat Pengumpulan Data ..................................................................... 44 F. Validitas dan Reliabilitas ....................................................................... 49 1. Validitas ............................................................................................. 49 2. Seleksi Item ........................................................................................ 50 3. Reliabilitas ......................................................................................... 51 G. Metode Analisis Data ............................................................................. 53 1. Uji Asumsi ....................................................................................... 53 2. Uji Hipotesis .................................................................................... 54 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................... 56 A. Pelaksanaan Penelitian ........................................................................... 56 B. Deskripsi Subjek Penelitian ................................................................... 56 C. Deskripsi Data Penelitian ....................................................................... 57 D. Hasil Penelitian ...................................................................................... 60 1. Uji Asumsi ....................................................................................... 60 xiv

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Uji Hipotesis .................................................................................... 62 3. Analisis Tambahan ........................................................................... 63 E. Pembahasan............................................................................................. 66 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.............................................................. 70 A. Kesimpulan ............................................................................................ 70 B. Keterbatasan Penelitian .......................................................................... 70 C. Saran ....................................................................................................... 71 1. Bagi Subjek (Remaja) ...................................................................... 71 2. Bagi Peneliti Selanjutnya ................................................................. 71 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 73 LAMPIRAN ....................................................................................................... 80 xv

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1 Sebaran Item Skala Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram Sebelum Uji Coba .................................... 45 Tabel 2 Skor Respon Variabel Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram Berdasarkan Frekuensi dan Durasi ....................... 46 Tabel 3 Sebaran Item Skala Materialisme Sebelum Uji Coba ..................... 48 Tabel 4 Pemberian Skor pada Skala Materialisme ....................................... 49 Tabel 5 Sebaran Item Skala Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram Setelah Uji Coba ............................................................. 51 Tabel 6 Sebaran Item Skala Materialisme Setelah Uji Coba ....................... 51 Tabel 7 Deskripsi Usia Subjek ..................................................................... 56 Tabel 8 Deskripsi Jenis Kelamin Subjek ...................................................... 56 Tabel 9 Deskripsi Konten yang Paling Sering Dilihat Subjek ..................... 57 Tabel 10 Data Empiris Skala Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram ................................................................... 58 Tabel 11 Data Empiris Skala Materialisme .................................................... 58 Tabel 12 Hasil Uji Normalitas ........................................................................ 61 Tabel 13 Hasil Uji Linearitas ......................................................................... 62 Tabel 14 Hasil Uji Hipotesis Spearman’s rho ................................................ 63 Tabel 15 Uji Normalitas Dalam Skala Materialisme Pada Kelompok Perempan Dan Kelompok Laki-laki ..................... 64 Tabel 16 Uji Homogenitas Dalam Skala Materialisme................................... 65 Tabel 17 Uji Two-Sample Kolmogorov-Smirnov Test ................................... 65 xvi

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran A Skala Penelitian Uji Coba............................................................ 80 Lampiran B Hasil Uji Reliabilitas Skala Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram dan Seleksi Item ................................... 86 Lampiran C Hasil Uji Reliabilitas Setelah Seleksi Item Skala Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram .......................... 88 Lampiran D Hasil Uji Reliabilitas Skala Materialisme .................................. 90 Lampiran E Skala Penelitian ........................................................................... 92 Lampiran F Hasil Uji T Mean Teoritik dan Mean Empiris........................... 101 Lampiran G Hasil Uji Normalitas.................................................................. 103 Lampiran H Hasil Uji Linearitas.................................................................... 105 Lampiran I Hasil Uji Hipotesis .................................................................... 107 Lampiran J Hasil Uji Normalitas dan Uji Homogenitas Analisis Tambahan .................................................................... 109 Lampiran K Hasil Uji Two-Sample Kolmogorov-Smirnov Test ................... 111 Lampiran L Ijin dari Pemilik Skala Materialisme (print out e-mail) ............ 113 Lampiran M Surat Keterangan Penerjemahan Skala ke dalam Bahasa Indonesia ....................................................................... 115 Lampiran N Surat Keterangan Penerjemahan Skala ke dalam Bahasa Inggris ........................................................................... 117 xvii

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 materialisme (Richins & Dawson, 1992). Materialisme merupakan suatu nilai yang tercermin melalui pandangan akan pentingnya proses memperoleh harta benda bersifat material sebagai dasar untuk mencapai tujuan yang diharapkan (Fournier & Richins, 1991). Kasser (2016) juga memandang materialisme terdiri dari nilai-nilai serta tujuan yang berfokus pada sesuatu yang bersifat material (harta benda dan kekayaan), gambaran diri, serta status sosial. Richins (1999) menyatakan bahwa materialisme yang dimiliki individu dapat dibedakan berdasarkan pandangan mereka terkait nilai yang diterima melalui harta yang dimiliki serta harapan mereka mengenai harta benda yang akan diperoleh. Individu dengan materialisme rendah cenderung memandang nilai atau manfaat yang diperoleh sebagai manfaat pribadi, seperti kesenangan pribadi saat menggunakan barang atau kenyamanan yang diberikan saat menggunakan barang tersebut (Richins, 1999). Sedangkan individu materialis lebih menilai barang yang dimiliki sebagai sarana untuk menunjukkan penampilan, menyampaikan status, kesuksesan, dan prestise (Browne & Kaldenberg, 1997). Lebih lanjut, individu materialis juga meyakini bahwa barang yang dimiliki mampu membentuk, menjaga, dan mengekspresikan identitas secara sosial (Dittmar, 1992). Harta benda yang dapat mencerminkan materialisme individu terdiri dari berbagai macam salah satunya pakaian, sepatu, mobil, alat elektronik, dan gadget (Hartney, 2018). Untuk meninjau bagaimana

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 materialisme yang dimiliki individu, peneliti melakukan wawancara pada tanggal 10 dan 11 Maret 2018 dengan 10 orang remaja yang memiliki rentang usia 15-22 tahun. Peneliti memilih pakaian sebagai objek yang menjadi fokus karena pakaian relatif sering dibeli oleh masyarakat (Browne & Kaldenberg, 1997), sehingga peneliti ingin mengetahui bagaimana pandangan narasumber terkait pakaian yang dibeli. Hasil wawancara menunjukkan bahwa delapan dari sepuluh narasumber meyakini bahwa pakaian yang dibeli mampu memberikan nilai tersendiri bagi individu seperti meningkatkan kepercayaan diri serta menunjukkan status sosial. Beberapa narasumber merasa bahwa pakaian yang dibeli juga dapat membuat mereka terlihat lebih keren, mengikuti trend, dan fashionable di depan orang lain. Hasil tersebut menunjukkan bahwa delapan dari sepuluh narasumber tergolong dalam individu materialis karena mereka lebih memandang pakaian sebagai sarana mengekspresikan identitasnya serta menyampaikan status sosial disamping melihat manfaat pribadi yang diterima oleh individu (Richins, 1999). Richins dan Dawson (1992) menyatakan bahwa materialisme dapat ditinjau melalui tiga aspek meliputi kepercayaan bahwa harta benda berfungsi dalam menilai kesuksesan individu dan orang lain, kepercayaan akan harta benda dan pemerolehannya sebagai pusat kehidupan, serta kepercayaan bahwa harta benda dan pemerolehannya menjadi penentu kebahagiaan dan kepuasan hidup.

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 Ketika individu memiliki materialisme yang tinggi mereka cenderung akan mengalami berbagai dampak diantaranya meningkatkan stress serta menurunkan kepedulian individu terhadap lingkungannya (Dittmar & Kapur, 2014; Kilbourne & Picket, 2008). Menurunnya kepedulian tersebut disebabkan oleh menurunnya kepercayaan individu terkait masalah yang ada di dalam lingkungannya akibat dari proses persepsi dan distorsi selektif (Killbourne & Picket, 2008). Selain itu, penelitian lainnya menemukan bahwa remaja yang materialis tertarik pada produk terbaru dan sangat responsif terhadap upaya promosi dan iklan, sehingga mereka cenderung susah dalam menabung dan gemar untuk berbelanja (Goldberg, Gorn, Peracchio, & Bamossy, 2003). Kasser, Ryan, Couchman, dan Sheldon (2004) menemukan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan individu menjadi pribadi yang materialis yaitu saat mereka mendapat informasi dari lingkungan sekitar seperti orangtua, teman sebaya, masyarakat, serta media yang menunjukkan bahwa materialisme itu penting. Ketika para remaja mendapat informasi bahwa materialisme itu penting, mereka cenderung akan berfokus pada kepemilikan harta benda dan pemerolehannya (Richins & Dawson, 1992). Para remaja yang seharusnya mampu mengembangkan nilai yang sesuai dengan budaya dan lingkungannya, justru akan mengalami berbagai permasalahan karena mereka kesulitan dalam menemukan suatu komitmen dan identifikasi yang mampu memberi gambaran mengenai apa yang baik atau penting dan apa yang tepat

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 dilakukan maupun sebaliknya (Carballo dalam Sarwono, 1985; Taylor dalam Fearon, 1999). Ketika paparan pesan dalam sebuah media dapat menyebabkan individu menjadi pribadi yang lebih materialis (Kasser dkk., 2004), penelitian yang dilakukan oleh Ahluwalia dan Sanan (2015) juga menyatakan bahwa salah satu media massa, yaitu internet menjadi agen yang dapat menyebarkan materialisme. Hal ini disebabkan oleh gambarangambaran ideal di dalam media yang kerap mengaitkan kepemilikian uang dan harta benda sebagai tanda kesuksesan, status sosial, serta kepuasan hidup individu (Dittmar & Kapur, 2011). Meskipun keberadaan internet juga memiliki dampak positif seperti pengguna dapat melakukan transaksi komunikasi dan bisnis, melakukan penelitian, serta berinteraksi dengan relasi sosial, namun internet juga dipandang sebagai sumber yang dapat menggambarkan gaya hidup mewah serta meninggikan kepemilikan harta bersifat material (Alam, Hashim, Ahmad, Wel, Nor, & Omar, 2014; Ahluwalia & Sanan, 2015). Seseorang yang lebih sering menggunakan internet akan mempelajari gaya hidup mewah melalui gambaran-gambaran ideal yang dilihatnya, sehingga individu akan mengutamakan kepemilikan harta benda material diatas kepentingan lainnya. (Ahluwalia & Sanan, 2015; Richins & Dawson, 1992; Dittmar & Kapur, 2011). Ahluwalia dan Sanan (2015) menyatakan bahwa frekuensi penggunaan internet dijabarkan melalui beberapa kegiatan salah satunya

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 menggunakan jejaring sosial. Frekuensi penggunaan internet menjadi variabel yang memiliki hubungan positif dan signifikan dengan materialisme yang dimiliki individu di India (Ahluwalia & Sanan, 2015). Penelitian lain yang dilakukan oleh Masood, Musarrat, & Mazahir (2016) kepada remaja di Pakistan juga menemukan bahwa media sosial menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan materialisme pada remaja. Menurut survei dari We Are Social, Negara Indonesia saat ini menduduki peringkat ketiga sebagai negara dengan pertumbuhan pengguna media sosial tertinggi di dunia (We Are Social [WAS], 2018). Peningkatan pertumbuhan pengguna media sosial tersebut juga sejalan dengan peningkatan rata-rata waktu yang dihabiskan masyarakat dalam mengakses media sosialnya. Pada tahun 2018 pengguna media sosial di Indonesia menghabiskan waktu rata-rata 3 jam 23 menit dalam sehari, dimana rata-rata tersebut meningkat dari tahun 2016 yang hanya 2 jam 51 menit dalam sehari (WAS, 2018; We Are Social, 2016). Kaplan dan Haenlein (dalam Kaplan & Haenlein, 2014) memandang media sosial sebagai sekumpulan aplikasi internet yang dibangun melalui teknologi “Web 2.0”, dimana teknologi tersebut memberi izin penggunanya untuk membuat dan bertukar konten. Menurut Osterrieder (2013), kemampuan membagikan konten antarsesama pengguna merupakan prinsip inti dari media sosial. Penggunaan media sosial dapat ditinjau melalui intensitas penggunaan individu terhadap media sosialnya. Intensitas didefinisikan

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 sebagai keadaan tingkatan atau ukuran intensnya (Depdiknas, 2011). Sedangkan penggunaan berasal dari kata ‘guna’ yang diartikan sebagai proses, cara, perbuatan menggunakan sesuatu atau pemakaian (Depdiknas, 2011). Tubb dan Moss (dalam Nurjan, Tjahjono, & Yamin, 2016) menyatakan bahwa intensitas dapat diukur berdasarkan frekuensi dan durasi dari penggunaan media sosial. Penelitian ini memilih Instagram sebagai media sosial yang akan diteliti karena media sosial Instagram hanya berfokus pada fitur foto dan video yang berdurasi singkat, sehingga lebih mudah untuk dinikmati dan digunakan jika dibandingkan dengan media sosial lainnya (Manampiring, 2017). Selain itu, media sosial Instagram juga didominasi oleh pengguna remaja dengan rentang usia 18-24 tahun, sehingga hal tersebut dipandang sesuai dengan subjek yang ada di dalam penelitian ini (WAS, 2018). Para remaja memilih Instagram karena media sosial ini terus memperbarui fitur-fitur dengan mengekspansi fungsinya dan mengadopsi layanan aplikasi lain seperti membuat fitur story yang mirip dengan fitur pada aplikasi Snapchat serta fitur IGTV yaitu layanan yang memungkinkan pengguna untuk membuat dan menonton video yang berdurasi panjang seperti yang ditemukan pada aplikasi Youtube (Bohang, 2018). Ho, Shin, dan Lwin (2017) menyatakan bahwa sejak generasi muda mengandalkan situs media sosial untuk mencari berita, hiburan, informasi pemasaran, serta dukungan sosial, jaringan media tersebut dapat memengaruhi perilaku penggunanya. Bahkan, Valkenburg, Peter, dan

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 Walther (2016) menyatakan bahwa penggunaan media sosial secara tidak sadar juga dapat mengubah keyakinan yang dimiliki individu. Individu dengan intensitas penggunaan media sosial yang tinggi akan menggunakan media sosialnya dalam jangka waktu lama berdasarkan durasi dan frekuensi penggunaan (Tubb & Moss dalam Nurjan dkk., 2016). Melalui tingginya penggunaan media sosial, para remaja akan semakin berpotensi terpapar berbagai informasi mengenai pentingnya kepemilikan harta benda material serta gaya hidup mewah (Ahluwalia & Sanan, 2015). Paparan informasi tersebut berasal dari gambaran-gambaran ideal di dalam media sosial yang sering mengaitkan kepemilikan harta benda sebagai tanda kebahagiaan, status sosial, kesuksesan, dan kepuasan hidup seseorang (Dittmar & Kapur, 2011). Ketika individu semakin sering terpapar informasi tersebut, kemungkinan individu akan semakin meyakini bahwa harta benda merupakan hal yang penting di dalam hidup, sehingga mereka akan berfokus pada kepemilikan harta benda serta pemerolehannya (Richins & Dawson, 1992). Keyakinan individu akan pentingnya kepemilikan harta benda bersifat material serta pemerolehannya di dalam kehidupan disebut materialisme (Richins & Dawson, 1992). Sebaliknya, apabila individu memiliki intensitas penggunaan media sosial yang rendah, kemungkinan individu akan jarang menggunakan media sosialnya, sehingga tidak akan mengalami perubahan nilai akibat paparan informasi yang berhubungan dengan

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 pentingnya memiliki harta benda material dan gaya hidup yang lebih mewah (Ahluwalia & Sanan, 2015). B. Rumusan Masalah Berdasarkan paparan dalam latar belakang tersebut, maka masalah dalam penelitian yang diangkat yaitu: Apakah terdapat hubungan antara intensitas penggunaan media sosial Instagram dan materialisme pada remaja? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas penggunaan media sosial Instagram dan materialisme pada remaja. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi ilmu psikologi terutama dalam bidang psikologi sosial dan psikologi konsumen tentang hubungan intensitas penggunaan media sosial dan materialisme pada remaja. 2. Manfaat Praktis Hasil dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi remaja itu sendiri terkait intensitas penggunaan media sosial Instagram dan hubungannya dengan perilaku materialisme.

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI A. INTENSITAS PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL INSTAGRAM 1. Definisi Intensitas Penggunaan Dalam Kamus Psikologi, intensity (intensitas) diartikan sebagai besarnya kekuatan dari suatu perilaku yang ditunjukkan (Reber & Reber, 2010). Sejalan dengan hal itu, Kartono dan Gulo (2000) menyatakan bahwa intensitas merujuk pada kekuatan suatu perilaku atau jumlah energi fisik yang diperlukan untuk merangsang sebuah indera. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, intensitas diartikan sebagai keadaan tingkatan atau ukuran intensnya (Depdiknas, 2011). Selain itu, kata penggunaan berasal dari kata ‘guna’ yang diartikan sebagai proses, cara, perbuatan menggunakan sesuatu atau pemakaian (Depdiknas, 2011). Oleh karena itu, dapat diketahui bahwa intensitas penggunaan merupakan besarnya kekuatan perilaku berdasarkan tingkatan tertentu dalam menggunakan sesuatu. Tubbs dan Moss (1983) menyatakan bahwa intensitas dipengaruhi oleh jumlah waktu yang dihabiskan untuk melakukan sesuatu. Jumlah waktu tersebut dapat ditinjau berdasarkan durasi yang dihabiskan saat individu melakukan aktivitas serta frekuensi yang dilakukan dalam aktivitas tersebut (Tubb & Moss dalam Nurjan, Tjahjono, & Yamin, 2016). Sejalan dengan itu, Andarwati dan Sankarto (2005) juga 10

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 menyatakan bahwa intensitas ditinjau berdasarkan lamanya waktu yang dibutuhkan serta frekuensi dari pengulangan perilaku tersebut. Selain itu pula, Putri, Erlyani, dan Mayangsari (2016) juga sependapat bahwa intensitas ditinjau berdasarkan frekuensi dan durasi. Frekuensi merupakan keseringan atau jumlah pemakaian sesuatu dalam kurun waktu tertentu, sedangkan durasi didefinisikan sebagai seberapa lama individu dalam melakukan suatu aktivitas (Depdiknas, 2011). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa intensitas penggunaan merupakan besarnya kekuatan perilaku yang ditinjau berdasarkan tingkatan pengulangan perilaku (frekuensi) dan lamanya waktu yang dihabiskan (durasi) saat menggunakan sesuatu. 2. Media Sosial Instagram Kaplan dan Haenlein (dalam Kaplan & Haenlein, 2014) mendefinisikan media sosial sebagai sekelompok aplikasi berbasis internet yang dibangun atas pondasi ideologis dan teknologi “Web 2.0” yang memberikan izin pengguna untuk membuat dan bertukar konten yang dihasilkan. Istilah media sosial mengacu pada ruang lingkup berbasis internet dan layanan mobile yang lebih luas, sehingga memungkinkan penggunanya untuk berpartisipasi pada pertukaran online, memberikan (user-created content), serta bergabung dalam komunitas online (Dewing, 2012). Selain itu, Baruah (2012) menyatakan istilah media sosial merujuk pada penggunaan media

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 berbasis jejaring dan tekonologi mobile yang berfungsi untuk mengubah komunikasi ke arah dialog yang bersifat interaktif. Prinsip inti media sosial menurut Osterrieder (2013) terdapat dalam kemampuannya untuk membagikan konten dengan orang lain. Beberapa jenis konten diantaranya berupa pembaruan status singkat maupun panjang, gambar, serta dokumen audio atau video (Osterrieder, 2013). Dengan demikian, peneliti menyimpulkan bahwa media sosial merupakan layanan berbasis internet dan mobile yang dibangun melalui teknologi “Web 2.0” yang memungkinkan pengguna untuk melakukan berbagai pertukaran konten diantaranya berupa gambar, video, serta status singkat maupun lebih panjang secara online, sehingga memunculkan komunikasi yang mengarah pada dialog interaktif. Berkaitan dengan karakteristik media sosial, Mayfield (2008) memahami media sosial sebagai sekelompok media online berjenis baru yang memiliki sebagian besar atau seluruh karakteristik, diantaranya (a) Partisipasi yaitu media sosial mendorong adanya kontribusi atau tanggapan dari semua orang yang tertarik serta dapat mengaburkan batas antara media dan penontonnya, (b) Keterbukaan yaitu sebagian besar layanan dalam media sosial terbuka pada tanggapan dan partisipasi melalui layanan suara, komentar, dan berbagi informasi. Mereka tidak membatasi penggunanya dalam

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 membuka dan memanfaatkan konten – konten dalam media tersebut, (c) Percakapan yaitu saat media tradisional hanya terpaku pada broadcast (konten dikirim atau didistribusikan pada penggunanya), media sosial lebih dilihat sebagai percakapan dua arah, (d) Komunitas yaitu media sosial mendorong terbentuknya komunitas dengan cepat serta mampu berkomunikasi secara lebih efektif. Komunitas akan membagi ketertarikan yang sama, seperti kecintaan pada fotografi, isu politik, atau acara televisi yang digemari, (e) Keterhubungan yaitu sebagian besar media sosial berkembang melalui keterhubungan mereka melalui pemanfaatan hubungan pada situs, sumber, dan orang lainnya. Berkaitan dengan jenis dari media sosial, Dewing (2012) menyatakan bahwa saat ini beberapa kategori dalam sebuah situs telah melampaui dari apa yang menjadi definisi utamanya, sehingga sebuah situs dapat tergolong ke dalam beberapa jenis media sosial. Salah satunya adalah situs Instagram yang tergolong dalam media-sharing sites dan juga social networking sites karena aplikasi tersebut tidak hanya dapat membagi video maupun foto penggunanya melainkan juga dapat mengikuti orang lain (Dewing, 2012). Penelitian ini memilih Instagram sebagai media sosial yang akan diteliti karena saat ini Indonesia berada pada peringkat ketiga di dunia dan pertama di Asia sebagai negara dengan pengguna Instagram terbanyak (We Are Social [WAS], 2018). Selain itu, pengguna

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 Instagram didominasi oleh masyarakat dengan rentang usia 18-24 tahun, sehingga hal tersebut dipandang sesuai dengan rentang dalam subjek penelitian ini (WAS, 2018). Saat ini, Instagram menjadi salah satu media sosial yang paling diminati oleh para remaja karena Instagram terus mengekspansi fungsinya dan mendobrak layanan aplikasi lain seperti membuat fitur story yang mirip dengan fitur pada aplikasi Snapchat serta fitur IGTV yaitu layanan yang memungkinkan pengguna untuk membuat dan menonton video yang berdurasi panjang seperti yang ditemukan pada aplikasi Youtube (Bohang, 2018). Instagram merupakan sebuah aplikasi berbasis internet dan mobile yang memungkinkan penggunanya mengambil foto maupun video secara instan serta membagikan momen tersebut pada orang lain (Aditya, 2015). Nama Instagram berasal dari definisi secara keseluruhan pada aplikasi tersebut. Kata “insta” berasal dari kata “instan” yang dikaitkan dengan kamera polaroid pada zaman itu yang dikenal sebagai “foto instan”. Instagram juga dapat menampilkan fotofoto secara instan seperti polaroid di dalam tampilannya. Kemudian kata “gram” berasal dari kata “telegram”, dimana cara kerja Instagram sama seperti telegram yaitu untuk mengirimkan informasi secara cepat kepada orang lain. Instagram yang dapat memungkinkan penggunanya mengunggah foto melalui perantara jaringan internet, dipandang mampu untuk menyampaikan informasi secara cepat kepada orang lain (Utari, 2017).

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 Instagram didirikan pada tahun 2010 oleh perusahaan teknologi start-up yang memiliki fokus pada pengembangan aplikasi untuk telepon genggam bernama Burbn, Inc. Semulanya, perusahaan tersebut memiliki fokus yang terlalu banyak di dalam HTML5 Mobile (hiper text markup language 5), sehingga membuat kedua CEO (Chief Executive Officer) perusahaan tersebut yaitu Kevin Systrom dan Mike Krieger memutuskan untuk memfokuskan pada satu hal saja yaitu layanan berbagi foto (Landsverk dalam Utari, 2017; Atmoko, 2012). Kemudian, versi Burbn yang telah mencapai tahap akhir diujicobakan kepada 100 orang yang dipercaya menjadi tester. Melalui berbagai tanggapan positif dari para tester, Instagram mulai resmi beroperasi pada perangkat berplatform IOS pada tanggal 6 Oktober 2010 (Atmoko, 2012). Melalui peningkatan antusiasme masyarakat terhadap Instagram, pada akhirnya mereka melebarkan sayapnya pada platform lain yaitu perangkat android pada tanggal 3 April 2012. Pada tanggal 12 April 2012, Instagram dibeli oleh Facebook dengan nilai mencapai USD 1 miliar. Hal tersebut menjadikan Instagram sebagai start-up paling mahal yang pernah dibeli oleh jejaring sosial lain (Atmoko, 2012). Menurut Instagram (2018) beberapa kegiatan yang dapat dilakukan oleh pengguna di dalam aplikasi Instagram adalah: a. Menggunggah foto dan video

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 Menggunggah foto dan video yang akan tersimpan di dalam akun Instagram pengguna. Pengguna juga dapat melakukan editing dengan efek dan alat kreatif yang tersedia di dalam aplikasi Instagram. b. Pencarian foto atau video Mencari foto atau video dari pengguna lain yang pengguna ikuti. Pengguna juga dapat berinteraksi melalui postingan foto atau video yang diunggah dengan menggunakan fitur like and comments. c. Membagikan foto atau video dalam Instastory Pengguna dapat membagikan momen mereka berbentuk foto atau video melalui fitur story yang ada di Instagram. Pengguna juga dapat menambahkan efek-efek tertentu, tulisan, maupun stiker untuk menambah kesan kreatif di dalam setiap story yang diunggah. d. Melakukan live video Pengguna dapat melakukan video secara langsung untuk berinteraksi dengan pengguna lainnya. Pengguna juga dapat melakukan live video bersama pengguna lain dan memberikan komentar pada saat live video berlangsung. e. Mengirim pesan Pengguna dapat mengirim pesan melalui fitur direct message secara pribadi kepada pengguna lain. Pengguna juga dapat mengirimkan konten gambar atau video yang dilihat di dalam instagram kepada pengguna lain melalui direct message tersebut.

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 f. Menonton story atau live video Pengguna dapat melihat story atau live video yang diunggah oleh pengguna lain melalui panel yang telah disediakan oleh pihak Instagram. g. Mencari informasi Pengguna dapat mencari foto, video, atau story yang diunggah oleh pengguna lain. Selain itu, pengguna juga dapat mencari dan mengikuti pengguna lain melalui fitur explore tab. 3. Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram Intensitas penggunaan media sosial Instagram merupakan besarnya kekuatan tingkah laku yang dilihat berdasarkan tingkatan frekuensi dan durasi saat individu menggunakan sebuah aplikasi berbasis internet dan mobile yang dilandasi teknologi “Web 2.0”, sehingga membuat individu mampu melakukan aktivitas yang mengarah pada dialog bersifat interaktif melalui pengambilan foto atau video dengan instan serta membagikannya pada pengguna lain. Jadi, dapat disimpulkan bahwa intensitas penggunaan media sosial Instagram adalah besarnya kekuatan tingkah laku berdasarkan jumlah ulangan perilaku serta waktu yang dihabiskan individu saat menggunakan media sosial Instagramnya.

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 4. Dampak Penggunaan Media Sosial Berikut adalah dampak penggunaan media sosial baik secara umum maupun secara khusus dalam aplikasi Instagram (Amedie, 2015; Instargram, 2018) a. Dampak positif 1.) Memudahkan individu dalam membentuk sebuah kelompok yang beraliran sama, sehingga mereka tergabung dalam suatu komunitas yang dapat bekerja secara bersama maupun mengekspresikan diri melalui postingan yang diunggah setiap harinya. 2.) Seiring berkembangnya media sosial, banyak perusahaan menggunakannya sebagai sarana pemasaran dalam bentuk periklanan. Mereka mempromosikan produk, membahas produk, serta membentuk kesadaran konsumennya. 3.) Media sosial dapat menyebarkan berbagai informasi lebih cepat dibandingkan media yang bersifat tradisional. 4.) Membantu pengguna membagikan konten mereka sendiri dengan aplikasi atau layanan yang tersedia. 5.) Membantu pengguna untuk dapat berinteraksi dengan teman maupun keluarga untuk melihat apa yang sedang terjadi. 6.) Membantu pengguna mencari informasi yang disukai melalui konten-konten yang dimiliki pengguna lain di dunia. b. Dampak negatif

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 1.) Kecemasan Kecemasan diawali oleh stres yang dihasilkan dari keinginan individu untuk terus membentuk gambaran diri yang tidak realistis dan membentuk persepsi kesempurnaan yang tidak mampu diraih oleh individu dalam media sosialnya. Stres yang disebabkan oleh kecemasan sosial dihubungkan dengan individu yang selalu mencoba memproyeksikan dirinya secara sempurna dan konstan dari waktu ke waktu. 2.) Depresi Depresi dalam penggunaan media sosial satah satunya dipicu karena mengalami kegagalan dalam membangun keintiman. Seseorang cenderung lebih sering menampilkan sisi kesuksesan dan kebahagiaan hidup dalam media sosialnya dibandingkan harus jujur menjadi siapa diri mereka sesungguhnya. 3.) Aktivitas kriminal Individu yang tidak bertanggung jawab akan menggunakan media sosial sebagai sarana untuk menyembunyikan identitas mereka yang sesungguhnya. Mereka dapat melakukan berbagai aksi seperti cyber bullying, perdagangan manusia, serta perdagangan obat terlarang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial berdampak bagi materialisme pada individu

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 diantaranya, penelitian yang dilakukan oleh Ahluwalia & Sanan (2015) yang menemukan bahwa frekuensi membuka internet yang dijelaskan melalui beberapa kegiatan seperti menggunakan jejaring sosial, belanja online, dan menonton film secara online menjadi salah satu faktor yang berkontribusi dalam materialisme individu. Selain itu, menurut Kasser, Ryan, Couchman, dan Sheldon (2004) suatu media dalam hal ini media sosial menjadi salah satu penyebar pesan yang akan memunculkan pandangan bahwa materialisme itu penting. Media sosial dipandang dapat memunculkan keyakinan bahwa harta benda material tersebut penting melalui gambarangambaran ideal di dalam media tersebut yang mengaitkan kepemilikan harta benda sebagai penanda kesuksesan, kebahagiaan, serta status sosial (Dittmar & Kapur, 2011). Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Masood, Musarrat, dan Mazahir (2016) menemukan bahwa media sosial menjadi sumber yang dapat meningkatkan materialisme pada individu. Melalui penggunaan media sosial, kesadaran individu perihal statusnya akan meningkat, sehingga individu menjadi lebih nafsu terhadap uang dan cenderung mengandalkannya.

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 B. MATERIALISME 1. Definisi materialisme Dalam Kamus Filsafat, materialisme diartikan sebagai paham yang memandang bahwa dunia disusun seluruhnya oleh materi (Blackburn, 2013). Sejalan dengan itu, Bagus (1996) menyatakan bahwa Materialisme merupakan ajaran yang menitikberatkan pada keunggulan faktor-faktor material atas spiritual dalam berbagai hal seperti metafisika, teori nilai, fisiologi, epistemologi atau penjelasan historis. Penelitian yang menyertakan istilah materialisme pertama dilakukan oleh Ward dan Wackman (1971) dan Moschis dan Churchill (1978) yang menyebutkan bahwa materialisme merupakan orientasi yang melihat harta benda yang bersifat material dan uang sebagai hal penting bagi kebahagiaan individu dan kemajuan sosial. Pada pertengahan tahun 1980 dan awal tahun 1990, para peneliti dan psikolog konsumen mulai melakukan kuantifikasi dalam proyek empiris pada materialisme, mengembangkan alat untuk mengukur konstruk dan teori tentang sifatnya (Kasser, 2016). Salah satu tokohnya adalah Belk (1984) yang melihat materialisme sebagai sifat kepribadian yang dimiliki individu. Materialisme dipandang sebagai orientasi seorang konsumen yang mencerminkan pentingnya kepemilikan harta benda yang bersifat duniawi. Kepemilikan suatu barang secara fisik diyakini menjadi sumber kepuasan atau

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 ketidakpuasan dalam hidup individu (Belk, 1984). Individu yang memiliki materialisme tinggi akan meletakkan harta benda sebagai inti dari kehidupan yang dipercaya dapat menjadi sumber kepuasan dan ketidakpuasan hidup baik secara langsung maupun tidak langsung (Belk, 1984). Selain itu, pentingnya kepemilikan suatu barang bagi individu yang materialis sangat berarti dalam membentuk, menjaga, serta mengekspresikan identitasnya baik secara individual maupun sosial (Dittmar, 1992). Kepemilikan harta benda juga mampu memengaruhi bagaimana cara individu menafsirkan diri dan orang lain (Dittmar, 1992). Hal tersebut karena individu yang materialis menjadikan kepemilikan harta benda sebagai tujuan utama dalam kehidupan dan sekaligus menjadi faktor yang mengatur bagaimana mereka hidup. Konsep lainnya melihat materialisme sebagai nilai yang dianut oleh individu. Nilai itu sendiri merupakan bagian dari konsep yang dimiliki individu sebagai sebuah rujukan (Woodruff, 1952). Selain itu, nilai juga menjadi salah satu hasil dari proses mental yang terbentuk melalui interaksi antarindividu dan rujukannya (Woodruff, 1952). Jika membicarakan suatu nilai, Schwartz (2007) melihatnya sebagai sesuatu yang dianggap penting dalam keberlangsungan hidup individu. Selain itu, nilai dipandang sebagai suatu keyakinan yang bersifat abadi mengenai apa yang penting secara mendasar dalam hidup ini. Nilai dibagi menjadi dua jenis yaitu personal dan sosial.

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 Nilai secara personal membahas mengenai apa yang mereka inginkan sebagai individu. Sedangkan nilai secara sosial membahas bagaimana individu berpikir mengenai apa yang seharusnya terlihat dari masyarakat secara keseluruhan. (Mueller & Wornhoff, 1990). Richins dan Dawson (1992) memandang materialisme sebagai keyakinan utama terhadap pentingnya kepemilikan suatu barang pada kehidupan individu. Dalam hal ini, materialisme sebagai suatu nilai mencerminkan pentingnya pemerolehan harta benda yang bersifat material sebagai tindakan yang tepat atau perlu untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Fournier & Richins, 1991). Kasser (2016) juga sependapat bahwa materialisme terdiri dari sekumpulan nilai dan tujuan yang berfokus pada kekayaan, harta benda, gambaran diri, serta status. Sejalan dengan itu, Burrough dan Rindfleisch (2002) juga sependapat bahwa pemerolehan objek yang bersifat material sebagai nilai yang ditempatkan pada konsep materialisme. Melalui pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa materialisme merupakan suatu nilai yang dimiliki individu terkait kepercayaan akan pentingnya kepemilikan harta benda secara material serta pemerolehannya, sehingga menjadikan hal itu sebagai tujuan utama di dalam kehidupan.

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 2. Aspek materialisme Belk memandang materialisme sebagai orientasi seorang konsumen yang mencerminkan pentingnya keterikatan mereka pada harta benda yang bersifat duniawi (Belk, 1984). Belk mengukur materialisme melalui tiga sifat kepribadian individu yaitu posesif, kurangnya memiliki kemurahan hati, serta iri hati. Ketiga sifat kepribadian tersebut dipandang Belk sebagai beberapa sifat yang paling sering dikaitkan dengan materialisme (Belk, 1984). Posesif didefinisikan sebagai perhatian dan kontrol individu yang berlebihan terhadap harta benda (Belk, 1983). Kurangnya kemurahan hati diartikan sebagai keengganan individu untuk memberi atau membagi harta benda yang dimiliki kepada orang lain (Belk, 1984), serta iri hati didefinisikan sebagai perasaan tidak senang melihat orang lain mampu mencapai kebahagiaan, kesuksesan, atau harta benda yang diinginkan (Belk, 1984). Berbeda dengan tokoh tersebut, Richins dan Dawson (1992) memandang materialisme sebagai nilai yang dimiliki individu serta membaginya ke dalam tiga aspek, antara lain : a. Acquisition Centrality Keyakinan seseorang yang menempatkan harta benda dan pemerolehannya sebagai pusat atau hal yang utama dalam hidup.

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 b. Acquisition as the Pursuit of Happiness Keyakinan seseorang yang memandang pemusatan terhadap harta benda dan pemerolehannya sebagai esensi dari kepuasan dan kebahagiaan dalam hidup. c. Possession-defined Success Keyakinan seseorang yang menilai kesuksesan diri dan orang lain melalui akumulasi dari jumlah dan kualitas harta benda yang dimiliki. Peneliti memilih aspek-aspek dari Richins dan Dawson (1992) karena penelitian ini merujuk pada materialisme sebagai nilai yang dimiliki individu. Materialisme sebagai nilai individu mampu menunjukkan konsep materialisme yang tidak hanya terbatas pada ranah konsumsi, namun juga dapat menunjukkan bagaimana nilai tersebut dapat menuntun individu dalam memilih dan berperilaku pada berbagai situasi (Richins & Dawson, 1992). 3. Pengukuran materialisme Richins dan Dawson (1992) menyatakan bahwa tinjauan sebelumnya mengenai materialisme telah dilakukan melalui berbagai cara diantaranya meninjau berdasarkan sifat kepribadian individu, memeriksa pentingnya berbagai tujuan sosial, serta menilai berdasarkan sikap individu. Belk (1984) membuat pengukuran materialisme berdasarkan sifat kepribadian individu. Belk membuat tiga skala untuk mengukur

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 konstruk terkait materialisme antara lain skala possessiveness, nongenerosity, dan envy. Menurut Belk (1984) ciri-ciri konsumen seperti posesif, kurang memiliki sifat murah hati, dan iri hati bukan menjadi satu-satunya aspek yang mencerminkan materialisme. Namun, ketiga sifat kepribadian tersebut dipandang mampu mewakili ekspresi yang berbeda dan signifikan dari hubungan manusia dengan objek material (Belk, 1984). Skala yang dibuat oleh Belk berisi 24 item dan diujikan pada mahasiswa serta orang dewasa. Reliabilitas pada masingmasing skala yaitu 0.57 untuk skala possessiveness, 0.58 untuk nongenerosity, dan 0.64 untuk skala envy. Namun, reliabilitas tersebut dipandang Richins & Dawson (1992) memiliki reliabilitas yang tidak konsisten dan cenderung rendah. Untuk mengurangi kelemahan dari tinjauan sebelumnya, Richins dan Dawson (1992) membuat konsep materialisme yang tidak terbatas pada bidang konsumsi semata, melainkan sebagai suatu nilai yang dapat memandu pilihan dan perilaku individu dalam beragam situasi. Ketika pada bidang konsumsi, materialisme hanya dipandang dapat memengaruhi jumlah dan jenis barang yang dibeli, pada area yang lebih luas, materialisme dipandang akan memengaruhi berbagai sumber daya termasuk waktu. Richins dan Dawson (1992) juga berusaha mempertahankan konsep materialisme sebagai suatu nilai dan berusaha memperoleh kedalaman melalui mengukur keyakinan yang terkait dengan nilai.

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 Item di dalam skala dibuat berdasarkan tiga aspek materialisme menurut Richins (2004) yang menghasilkan 15 item. Item tersebut merupakan hasil revisi dari skala sebelumnya yang berjumlah 18 item (Richins & Dawson, 1992). Richins (2004) menyatakan bahwa skala dengan 15 item tersebut memiliki pembagian item yang lebih merata dibandingkan dengan skala sebelumnya. Reliabilitas skala berada diantara 0.79 – 0.91. Jadi, skala yang digunakan dalam penelitian ini ialah skala yang diadaptasi dari skala materialisme milik Richins (2004). 4. Faktor-faktor yang memengaruhi materialisme Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya (Ahluwalia & Sanan (2015); Achenreiner (1997); Goldberg, Gorn, Peracchio, & Bamossy (2003); Sutton (2013); Masood, Musarrat, & Mazahir (2016); Chaplin & John (2007); Chaplin & John (2010); Kasser dkk. (2004); Browne & Kaldenberg (1997) materialisme pada individu disebabkan oleh 2 faktor, yaitu: a. Faktor individual 1.) Motivasi untuk menonton acara televisi Moschis dan Moore (dalam Ahluwalia & Sanan, 2015) menyatakan bahwa motivasi menonton acara televisi dipandang sebagai sarana individu untuk mengumpulkan informasi tentang suatu produk dimana hal tersebut akan berdampak pada keputusan konsumen serta informasi seputar gaya hidup dan

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 perilaku yang terkait dengan produk konsumen. Selain itu pula, iklan yang terdapat di dalam televisi juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi materialisme individu (Ahluwalia & Sanan, 2015). Iklan dapat membujuk remaja untuk mencari kesuksesan dan kebahagiaan melalui konsumsi dan menyampaikan pesan bahwa semua masalah dapat diatasi dengan mengkonsumsi suatu produk. 2.) Motivasi untuk menggunakan internet Motivasi dalam menggunakan internet merujuk pada motivasi individu untuk mengumpulkan informasi melalui internet yang bertujuan untuk membuat keputusan konsumen serta memperoleh informasi mengenai gaya hidup dan perilaku terkait produk konsumen (Moschis & Moore, 1982, dalam Ahluwalia & Sanan, 2015) 3.) Harga diri Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Chaplin dan John (2007) harga diri secara signifikan mampu memengaruhi materialisme pada remaja. Ketika individu memiliki harga diri rendah, individu cenderung mencari sesuatu untuk meningkatkan harga dirinya dan unsur yang ada di dalam harta benda dipandang mampu memenuhi hal tersebut (Chaplin & John, 2007).

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 4.) Demografi individu a.) Usia Faktor usia menjadi salah satu faktor yang berpengaruh pada materialisme individu. Dalam penelitian Ahluwalia dan Sanan (2015) menyatakan bahwa remaja akhir yang berusia 14 tahun keatas cenderung lebih materialis dibandingkan dengan remaja awal yang berusia dibawah 14 tahun. Penelitian yang dilakukan oleh Achenreiner (1997) menemukan hasil berbeda dengan Ahluwalia dan Sanan (2015) yaitu meskipun ada banyak perubahan yang terjadi saat anak bertambah usia, materialisme pada individu dipandang sebagai sifat yang relatif stabil, sehingga seiring bertambahnya usia, sifat tersebut hanya akan menunjukkan variasi yang sedikit. b.) Jenis kelamin Berdasarkan penelitian Ahluwalia dan Sanan (2015) menyatakan bahwa remaja laki-laki cenderung lebih materialis dibandingkan dengan remaja yang berjenis kelamin perempuan. Penelitian yang dilakukan oleh Browne dan Kaldenberg (1997) juga menyatakan bahwa laki-laki lebih materialis dibandingkan dengan perempuan karena mereka lebih meyakini bahwa memiliki harta benda

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 mampu menunjukkan status sosial dan kebahagiaan individu. c.) Status ekonomi Status ekonomi juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi materialisme individu. Hal tersebut dibuktikan melalui penelitian Ahluwalia dan Sanan (2015) yang menyatakan bahwa remaja yang berada pada status ekonomi rendah cenderung lebih materialis dibandingkan dengan remaja pada status ekonomi menengah keatas. Individu yang memiliki status ekonomi rendah cenderung merasa tidak aman dan tertekan karena mereka khawatir terhadap kondisi ekonomi yang sedang dialaminya, sehingga membuat individu lebih mengadopsi nilai-nilai materialisme sebagai kompensasi dari perasaannya tersebut (Kasser dkk., 2004). b. Faktor sosial / lingkungan 1.) Komunikasi keluarga perihal konsumsi Komunikasi antaranggota keluarga mengenai konsumsi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi materialisme individu. Menurut Moschis dan Churchill (dalam Ahluwalia & Sanan, 2015) komunikasi tersebut meliputi interaksi antara orangtua dan remaja mengenai barang dan jasa.

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 2.) Komunikasi antarsebaya perihal konsumsi Komunikasi antarsebaya merujuk pada interaksi yang dilakukan remaja terhadap rekan sebayanya mengenai barang dan jasa (Moschis & Churchill, 1978, dalam Ahluwalia & Sanan, 2015). 3.) Penggunaan media sosial Penelitian yang dilakukan oleh Masood dkk. (2016) menyatakan bahwa media sosial menjadi sumber yang dapat meningkatkan materialisme. Selain itu, dalam penelitian Ahluwalia dan Sanan (2015), penggunaan jejaring sosial tergabung dalam variabel frekuensi menggunakan internet yang menjadi salah satu kontributor dalam nilai materialisme individu. Media internet juga disebutkan sebagai salah satu agen penting yang dapat menyebarkan nilai materialisme. Internet dipandang sebagai sumber yang dapat menggambarkan gaya hidup mewah dan meninggikan kepemilikan atas barangbarang yang bersifat material. Melalui penggunaan internet, remaja cenderung akan mempelajari gaya hidup yang berbeda, dan cenderung menjadi lebih materialis (Ahluwalian & Sanan, 2015). 4.) Materialisme orangtua Penelitian yang dilakukan oleh Goldberg dkk. (2003) menemukan bahwa orangtua yang materialis cenderung

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 memiliki anak yang lebih materialis pula. Hal tersebut karena pengasuhan dalam keluarga merupakan sebuah pentransmisian nilai. Ketika anak melihat proses orangtuanya mengedepankan nilai harta benda yang bersifat material sebagai acuan kesuksesan secara finansial, anak akan menganut nilai yang sama. Orangtua merupakan model pertama bagi anak. Meskipun anak mempelajari hal yang bersifat eksplisit melalui orangtuanya, mereka juga mempelajari sesuatu yang bersifat implisit yaitu bahasa dan perilaku orangtua mereka (Kasser, dalam Sutton, 2013). Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Chaplin dan John (2010) menemukan bahwa terdapat hubungan yang positif antara materialisme orangtua dengan materialisme remaja. 5.) Materialisme rekan Chaplin dan John (2010) menemukan bahwa terdapat hubungan yang positif antara materialisme rekan terhadap materialisme pada remaja. Berdasarkan pemaparan faktor diatas, dapat disimpulkan bahwa materialisme dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor individual dan faktor sosial atau lingkungan. Faktor individual meliputi motivasi untuk menonton acara televisi, motivasi untuk menggunakan internet, harga diri, serta demografi individu (usia, jenis kelamin, serta status ekonomi). Sedangkan dalam faktor sosial atau lingkungan meliputi

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 komunikasi keluarga perihal konsumsi, komunikasi antarsebaya perihal konsumsi, penggunaan media sosial, materialisme orangtua, serta materialisme rekan. C. REMAJA G. Stanley Hall sebagai tokoh pionir dalam studi ilmiah remaja melihat masa remaja berada pada rentang usia 14 – 24 tahun (Curtis, 2015). Steinberg (dalam Curtis, 2015) menyatakan bahwa remaja dibagi menjadi tiga yaitu remaja awal dengan rentang usia 10 – 13 tahun, remaja madya dengan rentang usia 14 – 18 tahun, serta remaja akhir dengan rentang usia 19 – 22 tahun. Dalam penelitian ini, peneliti memilih remaja dengan batasan usia 14-24 tahun menurut G. Stanley Hall (dalam Curtis, 2015) sebagai subjek penelitian. Batasan usia menurut G. Stanley Hall dipilih oleh peneliti karena Hall merupakan tokoh pionir yang mengemukakan gagasannya mengenai remaja (Santrock, 2003). Banyaknya perbedaan mengenai batasan usia remaja membentuk suatu pandangan bahwa di dalam pendefinisiannya, remaja tidak hanya dilihat berdasarkan pertimbangan usia namun juga faktor sosiohistoris yang memengaruhinya. Santrock (2013) mendefinisikan remaja sebagai tahapan perkembangan yang berisi proses transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa serta ditandai oleh perubahan dalam aspek biologis, kognitif, dan sosioemosional. Papalia (2014) juga menyatakan bahwa remaja merupakan masa transisi yang melibatkan berbagai perubahan

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 baik secara fisik, emosional, kognitif, dan sosial dalam periode yang panjang. Anastasia, Rasimin, dan Nuryati (2008) menyatakan bahwa terdapat dua karakteristik utama yang dimiliki oleh remaja diantaranya, (a) remaja cenderung labil dan belum mempunyai pendirian yang kuat. Masa remaja merupakan masa dimana individu sedang dalam proses pencarian identitasnya. Remaja cenderung masih mencari suatu komitmen dan identifikasi yang mampu menggambarkan dirinya melalui nilai apa yang baik atau penting bagi dirinya dan apa yang benar dilakukan atau sebaliknya (Taylor dalam Fearon, 1999). Selain itu, Hall (dalam Santrock, 2003) menyatakan bahwa remaja merupakan masa dimana individu memiliki pemikiran, perasaan, dan tindakan yang cenderung mudah berubah-ubah dan tidak konsisten. (b) remaja lebih mudah dipengaruhi oleh orang lain dan lingkungan disekitarnya. Pada masa remaja, individu akan mulai memisahkan diri dari orangtua dan memperluas relasinya dengan teman sebaya. Oleh karena itu, Nurhayati (2015) menyatakan bahwa lingkungan teman sebaya menjadi sangat berpengaruh dan berarti dalam kehidupan sosial para remaja. Salah satu tugas seorang remaja yang mengarah pada proses penyesuaian diri individu selama masa remaja ialah mereka harus mampu mengembangkan hati nurani, moralitas, tanggung jawab, dan nilai yang sesuai dengan lingkungan serta kebudayaan dimana individu berada (Carballo dalam Sarwono, 1985). Sejalan dengan itu, Nasution (2014)

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 menyatakan bahwa masa remaja merupakan fase terpenting dalam proses pembentukan nilai individu yang diperoleh melalui hasil interaksi sosial. D. Dinamika hubungan antara intensitas penggunaan media sosial Instagram dan materialisme pada remaja Interaksi yang terjadi antarindividu dapat dilakukan dengan berbagai cara salah satunya melalui media sosial (Mar’at, 1981). Hal tersebut karena media sosial merupakan media berbasis jejaring dan teknologi mobile yang mampu mengubah komunikasi menjadi dialog bersifat interaktif dengan sesama penggunanya (Baruah, 2012). Menurut penelitian yang dilakukan oleh We Are Social salah satu jenis media sosial yang paling sering digunakan oleh para remaja dengan rentang usia 18-24 tahun adalah Instagram (WAS, 2018). Instagram merupakan aplikasi yang dilengkapi dengan fitur untuk mengambil foto atau video secara praktis serta membagikan momen tersebut pada pengguna lainnya (Aditya, 2015). Intensitas penggunaan media sosial Instagram dapat ditinjau berdasarkan dua aspek yaitu durasi waktu yang telah dihabiskan dan frekuensi perilaku saat individu menggunakan media sosial Instagram dalam jarak waktu tertentu (Tubb & Moss dalam Nurjan dkk., 2016). Intensitas penggunaan media sosial di kalangan remaja, memiliki berbagai dampak baik secara positif maupun negatif. Beberapa dampak positif dari media sosial diantaranya memudahkan individu membentuk komunitas yang memiliki ketertarikan yang sama, membantu pengguna untuk berinteraksi dengan teman maupun keluarga untuk melihat apa yang

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 sedang terjadi, serta media sosial mampu menyebarkan informasi lebih cepat dibandingkan media tradisional (Amedie, 2015; Instagram, 2018). Namun, saat individu sering menghabiskan waktunya untuk menggunakan media sosial, mereka cenderung akan mengalami berbagai gangguan seperti kecemasan dan depresi (Amedie, 2015). Selain itu, Valkenburg dkk. (2016) dan Ho dkk. (2017) menyatakan bahwa secara tidak sadar, penggunaan media sosial dapat mengubah perilaku dan keyakinan yang dimiliki individu, diantaranya keyakinan individu terhadap suatu nilai (APA, 2002). Dengan karakteristik remaja yang cenderung labil dan tidak tetap pendirian (Anastasia, Rasimin, & Nuryati, 2008), mereka lebih berpotensi untuk menginternalisasi nilai-nilai yang justru menyimpang dari apa yang seharusnya diharapkan oleh lingkungan dan budayanya. Salah satu keyakinan yang muncul akibat penggunaan media sosial yaitu materialisme. Penelitian yang dilakukan oleh Masood dkk. (2016) menemukan bahwa media sosial menjadi sumber yang mampu meningkatkan nilai materialisme pada individu. Materialisme itu sendiri didefinisikan sebagai suatu keyakinan terhadap pentingnya kepemilikan suatu barang atau harta benda yang bersifat material dalam kehidupan (Richins & Dawson, 1992). Melalui penggunaan media sosial, individu akan meningkatkan kesadaran terhadap status sosialnya (Masood dkk., 2016). Ketika individu menggunakan media sosialnya, mereka berpotensi terpapar informasi yang

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 menggambarkan bahwa kepemilikan harta benda material merupakan indikator dari kebahagiaan, status sosial, kesuksesan, dan kepuasan hidup seseorang (Dittmar & Kapur, 2011). Hal ini membuat individu meyakini bahwa harta benda merupakan hal yang penting di dalam hidup, sehingga mereka akan berfokus pada kepemilikan harta benda serta pemerolehannya (Richins & Dawson, 1992). Selain itu pula, gaya hidup mewah yang dipelajari individu melalui media sosial juga dapat meningkatkan materialisme individu tersebut (Ahluwalia & Sanan, 2015).

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 E. Skema Hubungan antara intensitas penggunaan media sosial Instagram dan materialisme pada remaja Intensitas penggunaan media sosial Instagram tinggi Intensitas penggunaan media sosial Instagram rendah Ditinjau berdasarkan durasi dan frekuensi : individu menggunakan media sosial Instagram dalam jangka waktu lama untuk melihat berbagai informasi serta berbagi konten dengan pengguna lain. Selain itu, individu juga semakin sering mengulangi perilaku menggunakan media sosialnya tersebut. - - Mengubah keyakinan individu sehingga memiliki nilai yang melihat pentingnya harta benda bersifat material sebagai tujuan utama dalam hidup. Kesadaran akan status sosial meningkat. Mempelajari gaya hidup baru (gaya hidup mewah) yang ditemukan dalam media sosialnya. Materialisme tinggi Ditinjau berdasarkan durasi dan frekuensi : individu menggunakan media sosial Instagram untuk melihat berbagai informasi serta berbagi konten dengan pengguna lain dalam jangka waktu tidak lama serta individu jarang pula mengulangi perilaku menggunakan media sosialnya tersebut. - - Kurang memengaruhi keyakinan individu sehingga kurang memiliki nilai yang melihat pentingnya harta benda bersifat material sebagai tujuan utama dalam hidup. Kurang memiliki kesadaran akan status sosial. Kurang mempelajari gaya hidup baru (gaya hidup mewah) yang ditemukan dalam media sosialnya. Materialisme rendah

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 F. HIPOTESIS Hipotesis dalam penelitian ini adalah adanya hubungan yang positif dan signifikan antara intensitas penggunaan media sosial Instagram dan materialisme remaja. Semakin tinggi intensitas remaja menggunakan media sosial Instagramnya maka semakin tinggi kecenderungan materialisme remaja. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah intensitas remaja menggunakan media sosial Instagramnya, maka semakin rendah kecenderungan materialisme remaja.

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Metode penelitian kuantitatif berfungsi untuk meneliti suatu sampel atau populasi melalui penggunaan instrumen penelitian untuk mengumpulkan data, serta metode statistik dalam menganalisis data dengan tujuan untuk menguji sebuah hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2014). Lebih lanjut, menurut Creswell (2013), jenis penelitian kuantitatif bertujuan untuk melakukan pengujian atas teori secara objektif melalui pemeriksaan atau penelitian terhadap hubungan antarvariabel yang dapat diukur, sehingga data yang dihasilkan bersifat numerik dan dapat dianalisis berdasarkan prosedur statistik. Sejalan dengan itu, Azwar (2016) juga menyatakan bahwa penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang menekankan pada proses analisis berdasarkan data-data numerik yang diolah menggunakan metode statistik. Hal tersebut sesuai dengan tujuan dalam penelitian ini dimana peneliti ingin mengetahui hubungan antara intensitas penggunaan media sosial Instagram dan materialisme remaja. Data numerik dalam penelitian ini diperoleh melalui pengukuran dari skala masing-masing variabel, dan akan dianalisis menggunakan metode statistik (Azwar, 2016). 40

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 Menurut Azwar (2016), penelitian korelasional bertujuan untuk melihat sejauh mana variasi pada satu variabel berhubungan dengan variasi pada variabel lainnya berdasarkan koefisien korelasi, serta mendapat informasi mengenai taraf hubungan yang terjadi. Sugiyono (2014) menyatakan bahwa hubungan yang terjadi antarvariabel bersifat sebab dan akibat, sehingga dalam penelitian korelasional sering menemukan istilah variabel tergantung dan variabel bebas. B. Identifikasi Variabel Penelitian 1. Variabel bebas Creswell (2013) menyatakan bahwa variabel bebas yaitu atribut dari individu maupun kelompok yang menjadi penyebab, memengaruhi, atau memberi efek pada hasil. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah intensitas penggunaan media sosial Instagram. 2. Variabel tergantung Creswell (2013) menyatakan bahwa variabel tergantung yaitu atribut dari individu maupun kelompok yang merupakan hasil dari pengaruh variabel bebas atau disebut sebagai atribut yang tergantung pada variabel bebas. Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah materialisme. C. Definisi Operasional Definisi operasional merupakan sebuah definisi yang diberikan pada variabel penelitian dengan berbagai cara, seperti memberi arti, menspesifikasikan aktivitas, atau memberi suatu operasional yang

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 dibutuhkan dalam mengukur variabel tersebut (Nazir, 2005). Selain itu, definisi operasional menurut Azwar (2016) disusun atas karakteristikkarakteristik variabel yang dapat diamati. Variabel-variabel yang akan diteliti pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Intensitas penggunaan media sosial Instagram Intensitas penggunaan media sosial Instagram adalah besarnya kekuatan tingkah laku berdasarkan jumlah ulangan perilaku serta waktu yang dihabiskan para remaja saat menggunakan media sosial Instagramnya. Intensitas penggunaan ditinjau melalui dua aspek yaitu frekuensi dan durasi (Tubb & Moss dalam Nurjan dkk., 2016). Kedua aspek tersebut diukur melalui skala intensitas penggunaan media sosial Instagram yang dibuat sendiri oleh peneliti. Skala tersebut menunjukkan waktu yang dihabiskan individu saat membuka Instagram dan jumlah ulangan perilaku yang ditunjukkan individu saat menggunakan media sosial Instagramnya. Semakin tinggi skor saat individu menggunakan media sosial Instagramnya, maka semakin tinggi pula intensitas penggunaan media sosial Instagram individu. Sebaliknya, semakin rendah skor saat individu menggunakan Instagram, maka semakin rendah intensitas penggunaan individu pada media sosial Instagramnya. 2. Materialisme Materialisme merupakan suatu nilai yang dimiliki remaja terkait kepercayaan akan pentingnya kepemilikan harta benda secara material

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 serta pemerolehannya, sehingga menjadikan hal itu sebagai tujuan utama di dalam kehidupannya. Materialisme akan diukur menggunakan skala hasil adaptasi dari material values scale (MVS) milik Richins (2004). Skala tersebut didasarkan atas tiga aspek materialisme yaitu, acquisition centrality, acquisition as the pursuit of happiness, dan possession-defined succes. Semakin tinggi skor total yang diperoleh individu dalam skala tersebut, maka semakin tinggi pula materialismenya. Sebaliknya, semakin rendah skor total yang diperoleh individu, maka semakin rendah materialismenya. D. Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini merupakan remaja yang berada pada rentang usia 14 sampai 24 tahun (Hall dalam Curtis, 2015). Penelitian ini menggunakan teknik convenience sampling. Creswell (2013) menyatakan bahwa convenience sampling merupakan teknik sampling yang memilih subjek berdasarkan kemudahan dan ketersediaan sampel yang diperoleh. E. Metode dan Alat Pengumpulan Data 1. Metode Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan cara atau langkah paling pokok dalam sebuah penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan data yang sesuai dengan standar data yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2014). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui penyebaran skala. Penyebaran skala merupakan metode berbentuk laporan diri sendiri yang didalamnya berisi sekumpulan

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 pernyataan yang harus dijawab oleh individu sebagai subjek penelitian (Azwar, 2009). 2. Alat Pengumpulan Data a. Intensitas Penggunaan Media Sosial Intagram Alat yang digunakan untuk mengukur intensitas penggunaan media sosial Instagram dalam penelitian ini melalui skala pilihan. Skala pilihan merupakan bagian dari rating scale atau skala penilaian. Pada skala pilihan, subjek diminta menyatakan secara langsung jawaban atau pendapat, perasaan, keyakinan, atau sikap terhadap pertanyaan atau konsep tertentu (Supratiknya, 2014). Selanjutnya, jawaban subjek akan diubah ke dalam bilangan atau nilai skala tertentu yang dipandang mampu menunjukkan jumlah pemilikan atribut psikologis yang sedang menjadi objek pengukuran (Supratiknya, 2014). Menurut Tubb dan Moss (dalam Nurjan, Tjahjono, & Yamin, 2016) intensitas penggunaan media sosial Instagram ditinjau melalui dua aspek yaitu durasi dan frekuensi yang diukur melalui 4 item. Peneliti menanyakan berapa lama durasi yang dihabiskan individu saat menggunakan media sosial dalam sehari dan seminggu serta berapa kali individu membuka dan menggunakan Instagram baik dalam sehari maupun seminggu.

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 Tabel. 1 Sebaran Item Skala Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram Sebelum Uji Coba Aspek Nomor Item Jumlah Frekuensi Durasi 1, 2 3, 4 2 2 4 Total Setiap item pada skala intesitas penggunaan media sosial Instagram memiliki lima pilihan jawaban yang didasarkan pada hasil kategorisasi dari survei terhadap 307 responden. Survei dilakukan untuk mencari rentang intensitas penggunaan media sosial Instagram berdasarkan frekuensi dan durasi. Pada survei tersebut, peneliti menanyakan berapa menit waktu yang responden habiskan setiap kali membuka dan menggunakan Instagram dalam satu hari, serta berapa kali responden membuka dan menggunakan Instagram dalam satu hari. Hasil data survei tersebut dikategorisasi untuk mendapatkan rentang intensitas penggunaan media sosial Instagram. Hasil kategorisasi tersebut selanjutnya menjadi pilihan jawaban pada skala intensitas penggunaan media sosial Instagram. Semakin tinggi rentang waktu yang dipilih subjek dalam pilihan jawaban maka semakin tinggi pula skor yang akan diterima. Subjek yang mendapat skor tinggi menunjukkan bahwa subjek memiliki intensitas penggunaan media sosial Instagram yang tinggi pula. Sebaliknya, subjek yang mendapat skor rendah menunjukkan bahwa subjek

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 memiliki intensitas penggunaan media sosial Instagram yang rendah pula. Pemberian skor ditunjukkan pada tabel berikut ini: Tabel. 2 Skor Respon Variabel Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram Berdasarkan Frekuensi dan Durasi Item 1 (dalam sehari) Pilihan Jawaban Item 2 Item 3 (dalam (dalam seminggu) sehari) Skor Item 4 (dalam seminggu) lebih dari 20 kali lebih dari 140 kali diatas 3 jam 38 menit diatas 25 jam 26 menit 5 14 - 20 kali 98 - 140 kali 2 jam 36 menit - 3 jam 38 menit 18 jam 20 menit - 25 jam 26 menit 4 8 - < 14 kali 56 - < 98 kali 1 jam 35 menit - < 2 jam 36 menit 11 jam - 5 menit - < 18 jam 20 menit 3 3-<8 kali 21 - < 56 kali 34 menit - < 1 jam 35 menit 3 jam 58 menit - < 11 jam 5 menit 2 kurang dari 3 kali kurang dari 21 kali kurang dari 34 menit kurang dari 3 jam 58 menit 1 b. Materialisme Skala yang digunakan dalam materialisme berjenis skala likert. Skala likert adalah skala yang dapat digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi subjek tehadap suatu objek sosial atau fenomena tertentu (Siregar, 2014). Dalam skala likert, isi pernyataan dibagi menjadi dua kategori yaitu, pernyataan favorable yang

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 bersifat positif karena mencerminkan kehadiran ciri variabel yang diukur serta pernyataan unfavorable yang bersifat negatif karena pernyataannya bertentangan dengan ciri variabel yang diukur (Supratiknya, 2014). Skala materialisme terdiri dari 15 item, yaitu 9 item favorable dan 6 item unfavorable. Item tersebut disusun berdasarkan tiga aspek materialisme menurut Richins (2004) berikut ini: a. acquisition centrality b. acquisition as the pursuit of happiness c. possession-defined success Skala materialisme dalam penelitian ini merupakan skala yang telah dibuat oleh peneliti lain menggunakan bahasa asing dan akan digunakan secara utuh dalam penelitian ini (Creswell, dalam Supratiknya, 2015), sehingga peneliti terlebih dahulu melakukan proses adaptasi dengan menerjemahkan skala ke dalam Bahasa Indonesia. Proses penerjemahan skala menggunakan metode back- translation. Menurut Oxford dictionaries, back-translation diartikan sebagai proses mengubah sebuah teks yang telah diterjemahkan kembali ke bahasa aslinya. Sejalan dengan hal itu, Brislin (1970) menyatakan bahwa tahapan back-translation yaitu pertama melakukan terjemahan dari bahasa sumber (Inggris) ke bahasa target (Indonesia) dan kedua menerjemahkan kembali dari bahasa target ke

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 bahasa sumber. Ketika skala asli dan skala hasil proses backtranslation bersifat identik, maka dapat dipastikan bahwa skala terjemahan ditengah proses back-translation setara dengan skala versi aslinya (Brislin, 1970). Skala Materialisme diterjemahkan oleh dua orang guru bahasa Inggris yang telah lulus pada tahap pendidikan S1 di bidang Sastra Inggris. Sebelum melakukan pengadaptasian skala, peneliti telah mendapatkan izin sebelumnya dari pihak atau peneliti yang membuat skala tersebut (terlampir). Kemudian, peneliti melibatkan seorang professional judgement sebagai usaha untuk menguji kelayakan atau relevansi isi dari skala tersebut. Professional judgement dalam penelitian ini merupakan dosen pembimbing skripsi. Tabel. 3 Sebaran Item Skala Materialisme Sebelum Uji Coba Nomor Item Aspek Favorable Unfavorable Jumlah Succes 5,9,12,13 3 5 Centrality 2,4 7,10,15 5 Happiness 1,8,11 6,14 5 Total 15 Subjek yang memiliki skor tinggi pada pernyataan favorable menunjukkan bahwa subjek tersebut memiliki materialisme yang tinggi. Sebaliknya, pernyataan unfavorable yang tinggi menunjukkan bahwa subjek memiliki materialisme yang rendah. Pemberian skor

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 pada setiap item pernyataan baik favorable maupun unfavorable dalam skala ini ditunjukkan pada tabel berikut ini: Tabel. 4 Pemberian Skor pada Skala Materialisme Jenis Pernyataan Favorable Sangat Setuju (SS) Setuju (S) Netral (N) Tidak Setuju (TS) Sangat Tidak Setuju (STS) 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 Unfavorable F. Validitas dan Reliabilitas 1. Validitas Validitas menurut Nazir (2005) meninjau apakah suatu alat ukur secara tepat mampu mengukur apa yang menjadi tujuan dalam sebuah penelitian. Sejalan dengan itu, Azwar (2009) juga menyatakan bahwa tujuan adanya uji validitas skala ialah untuk mengetahui apakah sebuah skala psikologi dapat memberi hasil yang akurat sesuai dengan tujuan ukurnya. Pengujian validitas dalam penelitian ini menggunakan validitas isi dimana validitas tersebut mempersoalkan apakah isi dari suatu alat ukur secara bahan, topik, maupun substansi mampu merepesentasikan atau cukup menjadi sebuah sampling (Nazir, 2005). Validitas isi diperoleh melalui pengujian isi tes berdasarkan analisis rasional dari professional judgement yang bersifat subjektif (Azwar,

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 2003). Professional judgement dalam penelitian ini adalah dosen pembimbing skripsi. 2. Seleksi Item Untuk meninjau kualitas item dari skala dalam penelitian ini, peneliti melakukan pengujian daya beda item melalui proses uji coba skala. Hasil uji daya beda item ditinjau berdasarkan perolehan skor korelasi dari item total dengan batasan rix ≥0,30 (Azwar, 2009). Maka dapat diketahui bahwa item dengan daya beda yang tinggi memiliki skor rix minimal 0,30. Sedangkan, item yang memiliki daya beda yang rendah berada pada skor rix < 0,30 dan item tersebut harus digugurkan. Proses uji coba skala dilaksanakan pada tanggal 27 Juli 2018 menggunakan metode penyebaran skala online melalui Google Form https://goo.gl/forms/g7TpP6ejUmCyRFVJ2. Jumlah subjek pada uji coba skala yaitu 64 orang. Hasil uji coba dianalisis menggunakan SPSS for windows versi 22. Hasil uji coba skala adalah sebagai berikut: a. Skala Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram Pada skala intensitas penggunaan media sosial Instagram dengan 4 item menunjukkan bahwa seluruh item memiliki nilai rix > 0,30. Keempat item berada pada rentang nilai yaitu 0,693 – 0,810. Hal tersebut menunjukkan bahwa item-item pada skala intensitas penggunaan media sosial Instagram memiliki daya beda yang tinggi.

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 Tabel. 5 Sebaran Item Skala Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram Setelah Uji Coba Aspek Nomor Item Jumlah Frekuensi Durasi 1, 2 3, 4 2 2 4 Total b. Skala Materialisme Pada skala materialisme dari total 15 item, terdapat 2 item yang memiliki nilai rix < 0,30. Item tersebut merupakan item nomor 6 (rix = 0,253) dan 14 (rix = 0,215). Hal tersebut menunjukkan bahwa item tersebut memiliki daya beda yang rendah (Azwar, 2009). Namun, peneliti tidak menggugurkan item tersebut karena menurut Kline (dalam Supratiknya, 2014) item tersebut masih dipandang ideal apabila memiliki koefisien korelasi item total > 0,20. Berikut adalah tabel skala materialisme setelah dilakukan uji coba: Tabel. 6 Sebaran Item Skala Materialisme Setelah Uji Coba Nomor Item Aspek Favorable Unfavorable Succes 5,9,12,13 3 Centrality 2,4 7,10,15 Happiness 1,8,11 6,14 Total Jumlah 5 5 5 15 3. Reliabilitas Menurut Supratiknya (2014) reliabilitas yang tinggi dalam suatu pengukuran merupakan salah satu syarat tes yang baik. Nazir (2005)

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 menyatakan bahwa reliabilitas menyangkut apakah suatu alat ukur cukup akurat, tepat, stabil, serta konsisten dalam mengukur apa yang hendak diukur. Reliabilitas dalam penelitian ini diukur dalam bentuk koefisien reliabilitas berjenis koefisien konsistensi internal. Koefisien konsistensi internal merupakan koefisien yang diperoleh berdasarkan hubungan antarskor pada masing-masing item atau antarskor pada kelompok yang datanya diperoleh dari satu kali pengadministrasian tes pada sekelompok subjek (Supratiknya, 2014). Data dihitung dan dianalisis menggunakan koefisien Alpha Cronbach (α) untuk mendapatkan estimasi konsistensi internal item pada skala (Supratiknya, 2014). Koefisien minimum bagi reliabilitas yang dipandang memuaskan adalah ≥0,70; jika koefisien minimum kurang dari 0,70 maka alat ukur tersebut dipandang kurang memadai karena besarnya kesalahan baku skor sehingga interpretasi skor pun menjadi meragukan jika digunakan bagi perorangan (Supratiknya, 2014). Skala intensitas penggunaan media sosial Instagram memiliki reliabilitas sebesar 0,885. Hal tersebut menunjukkan bahwa skala intensitas penggunaan media sosial Instagram dalam penelitian ini reliabel. Sedangkan pada skala materialisme, skala asli materialisme yang dibuat oleh Richins (2004) memiliki reliabilitas yang bervariasi yaitu sebesar 0,79 – 0,91. Pada penelitian ini, reliabilitas dari skala

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 materialisme sebesar 0,858. Hal tersebut menunjukkan bahwa skala materialisme dalam penelitian ini tergolong reliabel. G. Metode Analisis Data 1. Uji Asumsi a. Uji normalitas Uji normalitas merupakan uji yang berfungsi untuk memeriksa apakah data penelitian berasal dari sebuah populasi yang memiliki sebaran normal. Data yang memiliki sebaran normal berada pada taraf signifikansi lebih besar dari 0,05 (p ≥ 0,05) (Santoso, 2010). Penelitian ini menggunakan uji normalitas Lilliefors Significance Correction pada Kolmogorov-Smirnov dalam program SPSS for windows versi 22 untuk mengetahui normalitas dari distribusi sebaran data. b. Uji linearitas Linearitas memiliki asumsi bahwa hubungan antarvariabel yang akan dianalisis tersebut mengikuti garis lurus. Apabila satu variabel mengalami peningkatan atau penurunan kuantitas, maka secara linear variabel lainnya akan mengikuti. Hubungan antarvariabel dikatakan linear apabila berada pada taraf signifikansi kurang dari 0,05 (p ≤0,05) (Santoso, 2010). Uji linearitas dalam penelitian ini ditinjau melalui tes of linearity pada program SPSS for windows versi 22.

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 2. Uji Hipotesis Uji hipotesis merupakan pemeriksaan batas penerimaan-penolakan taraf signifikansi statistik dari koefisien yang telah dihasilkan (Winarsunu, 2006). Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi untuk meninjau kecenderungan pola pada satu variabel berdasarkan kecenderungan pola pada variabel lainnya. Apabila distribusi data bersifat normal, pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi Product Moment Pearson. Sedangkan apabila persebaran data bersifat tidak normal, teknik pengujian hipotesis yang digunakan adalah Spearmen’s Rho Correlation (Santoso, 2010). Teknik korelasi tersebut digunakan untuk menentukan suatu besaran yang menyatakan bagaimana kuat hubungan variabel satu dengan variabel lainnya (Umar, 2007). Saat melakukan perhitungan korelasi akan didapat koefisien korelasi yang berfungsi untuk mengetahui keeratan hubungan kedua variabel, arah hubungan, serta apakah suatu hubungan signifikan atau tidak (Priyatno, 2010). Nilai koefisien korelasi (r) berkisar antara -1 sampai +1. Jika nilai r adalah – 1, maka dapat dikatakan bahwa hubungan antara kedua variabel bersifat negatif (terdapat hubungan yang bertolak belakang antara kedua variabel). Apabila nilai r menunjukkan +1, maka dikatakan bahwa hubungan antara kedua variabel bersifat positif (terdapat hubungan searah antara kedua variabel) (Umar, 2007).

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 Nilai signifikansi (p) berada pada taraf berkisar 5% atau 0,05. Jika nilai p < 0,05, maka H0 ditolak dan Ha diterima, berarti ada hubungan yang signifikan yang signifikan antara variabel bebas dan variabel tergantung. Sebaliknya, jika nilai p > 0,05, maka H0 diterima dan Ha ditolak, artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel bebas dan variabel tergantung (Priyatno, 2010).

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian Penelitian dilaksanakan pada tanggal 3 Agustus 2018 sampai dengan 13 Agustus 2018. Peneliti melakukan pengambilan data secara online melalui penyebaran Google Forms. Selama proses penyebaran skala, peneliti mendapatkan 457 subjek. B. Deskripsi Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini berusia 14 tahun sampai dengan 24 tahun. Berdasarkan pengambilan data, diperoleh sejumlah 457 subjek yang mengisi skala online dalam bentuk Google Forms dengan deskripsi sebagai berikut: Tabel. 7 Deskripsi Usia Subjek Usia Jumlah Subjek Persentase 14 – 17 tahun 82 orang 17,9% 18 – 22 tahun 326 orang 71,3% 23 dan 24 tahun 49 orang 10,8% TOTAL 457 orang 100% Tabel. 8 Deskripsi Jenis Kelamin Subjek Jenis Kelamin Jumlah Subjek Persentase Perempuan 278 orang 60,8% Laki-laki 179 orang 39,2% TOTAL 457 orang 100% 56

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 Tabel. 9 Deskripsi Konten yang Paling Sering Dilihat Subjek Konten yang Paling Sering Dilihat Jumlah Subjek Persentase Gaya (fashion terkini, online shop, dll) 146 orang 31,9% Kuliner 71 orang 15,5% Humor 60 orang 13,1% Kecantikan (Make up, dan lain-lain) 35 orang 7,7% Seni 25 orang 5,5% Olahraga 24 orang 5,4% Perjalanan Wisata 21 orang 4,6% TV dan Film 15 orang 3,3% Binatang 13 orang 2,8% Otomotif 12 orang 2,6% Sains dan Teknologi 8 orang 1,8% Lain-lain 27 orang 5,9% TOTAL 457 orang 100% C. Deskripsi Data Penelitian Deskripsi data penelitian dilakukan untuk mengetahui tinggi rendahnya variabel dalam penelitian ini yaitu intensitas penggunaan media sosial Instagram dan materialisme. Deskripsi data tersebut dilakukan dengan cara mencari mean teoritis dan mean empiris. Mean teoritis merupakan hasil perhitungan manual berdasarkan skor tertinggi dan terendah yang dapat dicapai dalam sebuah skala. Adapun rumus mean teoritis sebagai berikut: X teoritis =

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 Mean empiris merupakan rata-rata skor yang dimiliki oleh subjek penelitian. Mean empiris yang lebih tinggi dari mean teoritis menunjukkan bahwa subjek dalam penelitian ini memiliki intensitas penggunaan media sosial Instagram dan materialisme yang tinggi. Sebaliknya, mean empiris yang lebih rendah dari mean teoritis menunjukkan bahwa subjek dalam penelitian ini memiliki intensitas penggunaan media sosial Instagram dan materialisme yang rendah. Berikut merupakan perbandingan mean teoritis berdasarkan skala penelitian yang digunakan dan mean empiris beserta hasil uji One-Sample Test menggunakan SPSS for Windows versi 22. X (ipmsi) X (m) = = = = 12. = = 45. Tabel. 10 Data Empiris Skala Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram One-Sample Statistics N intensitas 457 Mean Std. Deviation 13.85 Std. Error Mean 4.676 .219 One-Sample Test Test Value = 12 t intensitas df 8.454 456 Sig. (2tailed) .000 95% Confidence Interval of the Difference Mean Difference 1.849 Lower 1.42 Upper 2.28

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 Tabel. 11 Data Empiris Skala Materialisme One-Sample Statistics N materialisme Mean Std. Deviation 457 47.14 Std. Error Mean 11.526 .539 One-Sample Test Test Value = 45 95% Confidence Interval of the Difference t df materialisme 3.969 456 Sig. (2Mean tailed) Difference .000 2.140 Lower 1.08 Upper 3.20 Berdasarkan tabel data empiris skala intensitas penggunaan media sosial Instagram (Tabel. 10) uji beda mean One-Sample Test memperoleh nilai signifikansi sebesar 0,00. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara mean teoritis dan mean empiris dari skala intensitas penggunaan media sosial Instagram. Mean teoritis dari skala intensitas penggunaan media sosial Instagram sebesar 12 dan mean empiris sebesar 13,85 (SD = 4,676). Hasil ini menunjukkan bahwa mean empiris lebih tinggi secara signifikan daripada mean teoritis, sehingga dapat disimpulkan bahwa subjek dalam penelitian ini memiliki tingkat intensitas penggunaan media sosial Instagram yang cenderung tinggi. Pada tabel data empiris skala materialisme (Tabel. 11) uji beda mean One-Sample Test memperoleh nilai signifikansi sebesar 0,00. Hal tersebut

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara mean teoritis dan mean empiris pada skala materialisme. Mean teoritis pada skala materialisme yaitu sebesar 45 dan mean empiris sebesar 47,14 (SD = 11,526). Hasil ini menunjukkan bahwa mean empiris secara signifikan lebih tinggi daripada mean teoritis, sehingga dapat disimpulkan bahwa subjek dalam penelitian ini memiliki tingkat materialisme yang cenderung tinggi. D. Hasil Penelitian 1. Uji Asumsi Uji asumsi dilakukan untuk mengetahui apakah data dalam penelitian memenuhi syarat untuk dianalisis menggunakan teknik korelasi tertentu. Uji asumsi dalam penelitian ini meliputi uji normalitas menggunakan Lilliefors Significance Correction pada Kolmogorov-Smirnov dan uji linearitas dengan menggunakan test for linearity dalam SPSS for Windows versi 22. a. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data dalam suatu penelitian terdistribusi dengan normal atau tidak (Priyatno, 2010). Hasil uji normalitas menggunakan Lilliefors Significance Correction pada Kolmogorov-Smirnov melalui SPSS for Windows versi 22 dapat dilihat pada tabel berikut:

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 Tabel. 12 Hasil Uji Normalitas Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Statistic df Sig. intensitas .103 457 .000 materialisme .141 457 .000 a. Lilliefors Significance Correction Berdasarkan hasil uji normalitas diketahui bahwa pada skala intensitas penggunaan media sosial Instagram (p=0,000) dan skala materialisme (p=0,000) memiliki nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa data penelitian dalam kedua skala tidak terdistribusi secara normal, sehingga penelitian ini akan menggunakan teknik korelasi non-parametrik Spearman’s rho. b. Uji Linearitas Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah kedua variabel dalam penelitian ini menunjukkan hubungan yang mengikuti garis lurus, sehingga peningkatan atau penurunan kuantitas suatu variabel akan diikuti secara linear oleh variabel lainnya (Santoso, 2010). Hasil uji linearitas dapat dilihat pada tabel berikut:

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 Tabel. 13 Hasil Uji Linearitas ANOVA Table Sum of Squares B materialisme Between * Groups (Combi Mean Square df F Sig. 23928.686 16 1495.5 17.95 43 6 .000 Linearity 20255.090 1 20255. 243.1 090 96 .000 Deviation from Linearity 3673.596 15 244.90 2.941 6 .000 -ned) intensitas Within Groups 36646.351 440 83.287 Total 60575.037 456 Berdasarkan hasil uji linearitas diketahui bahwa data penelitian memiliki pola hubungan yang linear atau mengikuti garis lurus karena nilai signifikasi kurang dari 0,05 (p=0,000). Hal ini menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media sosial Instagram memiliki hubungan yang linear dengan materialisme, sehingga pengolahan data dapat dilanjutkan pada tahap uji hipotesis. 2. Uji Hipotesis Berdasarkan hasil uji asumsi, diketahui bahwa data dalam skala intensitas penggunaan media sosial Instagram dan skala materialisme tidak terdistribusi secara normal. Hal tersebut membuat pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi Spearman’s rho pada

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 program SPSS for Windows versi 22 dengan taraf signifikansi sebesar 0,05. Hasil pengujian hipotesis dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel. 14 Hasil Uji Hipotesis Spearman’s rho Correlations intensitas Spearman's rho intensitas 1.000 .546** . .000 457 457 .546** 1.000 Sig. (1-tailed) .000 . N 457 457 Correlation Coefficient Sig. (1-tailed) N materialisme materialisme Correlation Coefficient **. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed). Berdasarkan hasil uji hipotesis dengan teknik korelasi Spearman’s rho diketahui bahwa intensitas penggunaan media sosial Instagram dan materialisme memiliki koefisien korelasi sebesar 0,546 dengan taraf signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara intensitas penggunaan media sosial Instagram dan materialisme. 3. Analisis Tambahan Analisis tambahan dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan materialisme pada dua kelompok berdasarkan jenis kelamin

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 yaitu perempuan dan laki-laki. Uji beda menggunakan Two-Sample Kolmogorov-Smirnov Test pada SPSS for Windows versi 22. Berikut adalah hasil uji normalitas, uji homogenitas, dan uji Two-Sample KolmogorovSmirnov Test: Tabel. 15 Uji Normalitas Dalam Skala Materialisme Pada Kelompok Perempuan Dan Kelompok Laki-laki Tests of Normality Statistic Kolmogorov-Smirnova df Materialisme .069 perempuan a. Lilliefors Significance Correction Sig. 278 .002 Tests of Normality Statistic Materialisme Laki-laki .162 Kolmogorov-Smirnova df 179 Sig. .000 a. Lilliefors Significance Correction Berdasarkan pada tabel 15, skala materialisme pada kelompok perempuan (p=0,002) dan kelompok laki-laki (p=0,000) memiliki nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa data penelitian berdasarkan kelompok perempuan dan laki-laki pada skala materialisme tidak terdistribusi secara normal, sehingga penelitian ini menggunakan uji beda yang termasuk dalam statistik non-parametrik.

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 Tabel. 16 Uji Homogenitas Skala Materialisme Test of Homogeneity of Variance Levene Statistic 230.561 df1 df2 1 Sig. 455 .000 Berdasarkan pada asumsi homogenitas bahwa varian kelompok data dapat dikatakan sama atau homogen apabila nilai signifikansi p > 0,05. Dari tabel 19 nilai signifikansi berada pada taraf 0,00. Hal tersebut menunjukkan bahwa varian kelompok data berdasarkan jenis kelamin pada skala materialisme bersifat tidak sama atau tidak homogen. Dengan demikian uji beda antara dua kelompok tersebut menggunakan uji Two-Sample Kolmogorov-Smirnov Test. Peneliti memilih uji beda menggunakan TwoSample Kolmogorov-Smirnov Test karena uji tersebut dapat mentoleransi asumsi normalitas dan homogenitas yang tidak dipenuhi dalam penelitian (Sheskin, 2000). Tabel. 17 Uji Two-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Test Statisticsa Most Extreme Differences Materialisme Absolute .438 Positive .438 Negative Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) a. Grouping Variable: gender subjek -.038 4.572 .000

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 Berdasarkan uji Two-Sample Kolmogorov-Smirnov Test diketahui bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara materialisme pada kelompok subjek perempuan dan materialisme pada kelompok subjek lakilaki. E. Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas penggunaan media sosial Instagram dan materialisme pada remaja. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media sosial Instagram dan materialisme memiliki hubungan yang positif dan signifikan (r = 0,546; p = 0,000). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi intensitas penggunaan media sosial Instagram, maka semakin tinggi pula materialisme pada remaja. Sebaliknya, semakin rendah intensitas penggunaan media sosial Instagram, maka semakin rendah materialisme remaja. Hasil penelitian ini sesuai dengan hipotesis yang diberikan oleh peneliti yaitu intensitas penggunaan media sosial Instagram dan materialisme pada remaja memiliki hubungan yang positif dan signifikan. Hasil tersebut sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa frekuensi penggunaan internet yang dijabarkan melalui penggunaan media sosial menjadi salah satu agen yang dapat menyebarkan nilai materialisme (Ahluwalia & Sanan, 2015). Penggunaan media sosial juga dipandang sebagai sumber yang mampu meningkatkan nilai materialisme (Masood, Musarrat, & Mazahir, 2016). Ketika seorang remaja sering menggunakan media sosial Instagramnya, mereka akan

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 menerima informasi dari lingkungan yang menunjukkan bahwa materialisme itu penting, sehingga hal tersebut akan meningkatkan perhatian mereka tentang status sosial, cenderung mempelajari gaya hidup yang lebih mewah, serta semakin nafsu terhadap uang dan mengandalkannya dalam berbagai situasi (Kasser, Ryan, Couchman, & Sheldon, 2004; Ahluwalia & Sanan, 2015; Masood dkk., 2016). Nilai materialisme tersebut dapat muncul sebagai hasil dari interaksi yang terjadi antarindividu (Woodruff, 1952). Interaksi yang terjadi antarindividu dapat melalui berbagai macam media salah satunya melalui media sosial Instagram (Mar’at, 1981). Instagram merupakan aplikasi berbasis internet dan mobile yang mampu membuat penggunanya untuk mengambil foto maupun video secara instan, membagikan momen, serta berbagi informasi salah satunya mengenai informasi produk dengan sesama pengguna (Aditya, 2015; Agustina, 2016; Utari, 2017). Saat ini, Indonesia menduduki negara dengan pertumbuhan pengguna media sosial tertinggi ketiga di dunia (We Are Social, 2018). Hal tersebut semakin memperkuat bahwa semakin banyak orang yang menggunakan media sosialnya sebagai media untuk berinteraksi (Mar’at, 1981). Tingginya intensitas penggunaan media sosial Instagram membuat para remaja semakin berpotensi terpapar berbagai informasi yang dipandang mampu mengubah perilaku atau bahkan keyakinan remaja terhadap suatu nilai (Ho, Shin, & Lwin, 2017; Valkenburg, Peter, & Walther, 2016). Melalui karakteristik remaja yang labil dan cenderung masih mencari komitmen akan

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 suatu nilai yang baik maupun buruk dalam kehidupannya, para remaja akan sangat rentan menerima nilai-nilai yang justru negatif dari media sosial Instagram (Anastasia, Rasimin, & Nuryati, 2008; Taylor dalam Fearon, 1999). Salah satu nilai yang dapat muncul akibat penggunaan media sosial adalah materialisme (Kasser dkk., 2004). Materialisme dalam media sosial dapat muncul melalui gambaran-gambaran ideal yang menunjukkan bahwa kepemilikan harta benda material mampu menilai status, kebahagiaan, serta kepuasan hidup seseorang (Dittmar & Kapur, 2011). Para remaja yang sering terpapar informasi tersebut akan meyakini bahwa kepemilikan suatu objek (barang) dalam kehidupan tersebut penting, sehingga mereka cenderung berfokus pada harta benda material serta pemerolehannya (Richins & Dawson, 1992). Hasil analisis tambahan dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan antara materialisme pada kedua kelompok remaja yaitu kelompok remaja perempuan dan kelompok remaja laki-laki. Hasil analisis tambahan menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara materialisme pada kelompok remaja perempuan dan kelompok remaja laki-laki (p=0,00 < 0,05). Hasil tersebut sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa remaja laki-laki cenderung lebih materialis dibandingkan dengan remaja perempuan (Ahluwalia & Sanan, 2015; Browne & kaldenberg, 1997). Browne dan Kaldenberg (1997) menyatakan bahwa laki-laki lebih materialis dibandingkan dengan perempuan karena mereka lebih meyakini bahwa

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 memiliki harta benda mampu menunjukkan status sosial dan kebahagiaan individu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media sosial Instagram pada remaja tergolong tinggi. Hal ini dapat dilihat melalui data intensitas penggunaan media sosial Instagram yang menunjukkan bahwa mean empiris lebih besar dibandingkan dengan mean teoritisnya (13,85 > 12). Mean empiris yang lebih tinggi dibandingkan dengan mean teoritis menunjukkan bahwa subjek penelitian memiliki frekuensi dan durasi yang cenderung tinggi dalam menggunakan media sosial Instagramnya. Selain itu, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa materialisme remaja cenderung tinggi. Hal ini dapat dilihat melalui data pada skala materialisme yang menunjukkan bahwa mean empiris lebih besar dibandingkan dengan mean teoritis (47,14 > 45). Hal tersebut menunjukkan bahwa subjek penelitian yaitu para remaja memiliki keyakinan yang cenderung tinggi akan pentingnya kepemilikan harta benda dalam kehidupan (Richins & Dawson, 1992). Tingginya materialisme para remaja tersebut disebakan oleh adanya perubahan pandangan individu yang mulai mengasosiasikan harga diri mereka dengan kepemilikan barang-barang bersifat material (John, 1999).

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara intensitas penggunan media sosial Instagram dan materialisme pada remaja (r = 0,546; p = 0,000). Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi intensitas penggunaan media sosial Instagram, maka semakin tinggi pula materialisme pada remaja. Sebaliknya, semakin rendah intensitas penggunaan media sosial Instagram, maka semakin rendah pula materialisme pada remaja tersebut. B. Keterbatasan Penelitian Peneliti meyakini bahwa masih terdapat hal yang perlu diperbaiki dalam penelitian ini. Terkait dengan kriteria subjek dalam proses pengambilan data, peneliti hanya mempertimbangkan remaja yang memiliki akun Instagram tanpa melihat apakah subjek tersebut merupakan pengguna aktif Instagram atau tidak. Selain itu pula, peneliti meninjau intensitas penggunaan media sosial Instagram berdasarkan durasi dan frekuensi waktu penggunaan saja tanpa mengaitkannya dengan indikator-indikator di dalam Instagram, sehingga hal tersebut dipandang kurang mewakili intensitas penggunaan media sosial Instagram subjek. 70

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 C. Saran 1. Bagi Subjek (Remaja) a. Hasil penelitian menunjukkan intensitas penggunaan media sosial Instagram berhubungan dengan materialisme. Maka dari itu, untuk mengurangi potensi menerima informasi mengenai gaya hidup yang lebih mewah serta pentingnya kepemilikan harta benda material melalui gambaran-gambaran yang ditemukan di dalam Instagram, para remaja diharapkan mampu mengurangi penggunaan Instagram. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengalihkannya pada kegiatan lain, sehingga waktu penggunaan Instagram menjadi berkurang. b. Para remaja sebaiknya mampu lebih selektif dalam mencari dan menerima konten-konten yang terdapat dalam Instagram. Berdasarkan data demografik terdapat 31,9% remaja dalam penelitian ini yang sering membuka konten terkait informasi mengenai gaya (fashion terkini dan online shop). Para remaja sebaiknya lebih sering mengakses kontenkonten yang bersifat edukatif disamping konten yang lebih menjurus pada hal yang bersifat materialis seperti (konten mengenai fashion terkini dan online shop). 2. Bagi Peneliti Selanjutnya a. Metode pengambilan data sebaiknya tidak hanya melalui penyebaran secara online namun juga dapat secara manual (menggunakan kertas dan pensil), sehingga subjek yang tidak mengerti cara pengisian skala secara online dapat berkontribusi di dalam penelitian tersebut.

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 b. Peneliti selanjutnya dapat menggunakan metode penelitian lain seperti eksperimen untuk mendapatkan informasi yang lebih dalam mengenai intensitas penggunaan media sosial Instagram individu.

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 DAFTAR PUSTAKA Achenreiner, G. B. (1997). Materialistic values and susceptibility to influence in children. Dalam Merrie Brucks and Deborah J. MacInnis (Ed.), Advances in consumer research (Vol. 24, hh. 82-88). Provo, UT: Association for Consumer Research. Aditya, R. (2015). Pengaruh media sosial instagram terhadap minat fotografi pada komunitas fotografi Pekanbaru. Jom FISIP, 2(2). Agustina. (2016). Analisis penggunaan media sosial instagram terhadap sikap konsumerisme remaja di SMA Negeri 3 Samarinda. E-journal Ilmu Komunikasi, 4(3), 410-420. Ahluwalia, A. K., & Sanan, P. (2015). Materialism among adolescents: A consumer socialization perspective. International Journal of Commerce and Management, 9, 88-96. Alam, S. S., Hasyim, N. M. H. N., Ahmad, M., Wel, C. A.C., Nor, S. M., & Omar, N. A. (2014). Negative and positive impact of internet addiction on young adults: Empirical study in Malaysia. Intangible Capital, 10(3), 619638. Amedie, J. (2015). The impact of social media on society. Advanced Writing: Pop Culture Intersections, 2. American Psychological Association (APA). (2002). Developing adolescents. Diambil dari https://www.apa.org/pi/families/resources/develop.pdf. Andarwati, S. R., & Sankarto, B. S. (2005). Pemenuhan kepuasan pengguna internet oleh pengguna badan litban pertanian di Bogor. Jurnal Perpustakaan Pertanian, 14(1). Atmoko, D. B. (2012). Instagram handbook tips fotografi ponsel. Jakarta: Media Kita. Azwar, S. (2003). Metode penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. (2009). Penyusunan skala psikologi (Ed. 1). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. (2016). Metode penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Bagus, L. (1996). Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia. Baruah, T. D. (2012). Effectiveness of social media as a tool of communication and its potential for technology enabled connections: A micro-level study. International Journal of Scientific and Research Publication, 2(5).

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 Burroughs, J. E., & Rindfleisch, A. (2002). Materialism and well-being: A conflicting values perspective. Journal of Consumer Research, 29(3), 348370. Belk, R. W. (1983). Wordly possessions: Issues and criticisms, Dalam Advances in Consumer Research, Vol. 10, ed. Richard P. Bagozzi and Alice M. Tyhout, Ann Arbor, MI: Association for Consumer Research, 514-519. Belk, R. W. (1984). Three scales to measure constructs related to materialism: Reliability, validity, and relationships to measures of happiness, Dalam Advances in Consumer Research, 11, ed. Thomas Kinnear, Provo, UT: Association for Consumer Research, 291-297. Bohang, F. K. (2018, Juni 21). Juni 2018 pengguna aktif ig tembus 1 miliar. https://tekno.kompas.com/read/2018/06/21/10280037/juniDiambil dari 2018-pengguna-aktif-instagram-tembus-1-miliar. Blackburn, S. (2013). Kamus filsafat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Brislin, R. W. (1970). Back-translation for cross-cultural research. Journal of Cross-Cultural Psycology, 1(3), 185-216. Browne, B. A., & Kaldenberg, D. O. (1997). Conceptualizing self-monitoring: Links to materialism and product involvement. Journal of Consumer Marketing, 14(1), 31-44. Curtis, A. C. (2015). Defining adolescence. Journal of Adolescent and Family Health, 7(2). Chaplin, , L. N., & John, D. R. (2007). Growing up in a material world: Age differences in materialism in children and adolescents. Journal of Consumer Research, 34(4), 480-493. Chaplin, L. N., & John, D. R. (2010). Interpersonal influences on adolescent materialism: A new look at the role of parents and peers. Journal of Consumer Psychology, 20, 176-184. Creswell, W. J. (2013). Research design pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Dash, A. (2018, Agustus 9). Effect of materialism as a root cause of crime. Diambil dari https://newsday.co.tt/2018/08/09/effect-of-materialism-as-aroot-cause-of-crime/.

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 Dittmar, H. (1992). Perceived material wealth and first impressions. British Journal of Social Psychology, 31, 379-391. Dittmar, H., & Kapur, P. (2011). Consumerism and well-being in India and the UK: Identity projection and emotion regulation as underlying psychological processes. Psychology Study, 26(1), 71-85. Departemen Pendidikan Nasional. (2011). Kamus besar bahasa Indonesia (4th ed.). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Dewing, M. (2012). Social media: An introduction. Canada: Library of Parliament. Fearon, J. D. (1999). What is identity (as we now use the word). California: Stanford University Press. Fournier, S., & Richins, M. L. (1991). Some theoretical and popular nations concerning materialism. Journal of Social Behavior and Personality, 6, 403414. Guru (2018). Materialism: The root cause of crime. Diambil https://www.scienceofidentityfoundation.net/articles-by-jagad guru/materialism-the-root-cause-of-crime. dari Goldberg, M. E., Gorn, G. J., Peracchio, L., & Bamosy, G. (2003). Understanding materialism among youth. Journal of Consumer Psychology, 13(3), 278-288. Hartney, E. (2018, Maret 24). Materialism and shopping addictions. Diambil dari https://www.verywellmind.com/what-is-materialism-22209. Hasan, A. M. (2018, Agustus 25). Richard muljadi, richkidsofinstagram, dan konsumsi gila gilaan itu. Diambil dari https://tirto.id/richard-muljadirichkidsofinstagram-amp-konsumsi-gila-gilaan-itu-cUPu. Ho, H., Shin, W., & Lwin, M. O. (2017). Social networking site use and materialistic values among youth: The safeguarding role of the parent-child relationship and self-regulation. Communication Research, 1-26. Instagram, Inc. (2018, April 19). Layanan instagram. https://help.instagram.com/581066165581870. Diambil dari Jeko, I. R. (2017, Juni 20). Begini cara remaja kaya di instagram buang-buang uang. Diambil dari https://www.liputan6.com/tekno/read/2997449/beginicara-remaja-kaya-di-instagram-buang-buang-uang.

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 John, D. R. (1999). Consumer socialization of children: A retrospective look at twenty-five years of research. Journal of Consumer Research, 26(3), 183– 213. Kaplan, A., & Haenlein, M. (2014). Collaborative projects (social media application): About wikipedia, the free encyclopedia. Business Horizons, 57, 617-626. Kartono, K., & Gulo, D. (2000). Kamus psikologi. Bandung: Pionir Jaya. Kasser, T., Ryan, R., M., Couchman, C., E., & Sheldon, K., M. (2004). Materialistic value: Their causes and consequences. Dalam T. Kasser & A. D. Kanner (Eds.), Psychology and consumer culture: The struggle for a good life in a materaialistic world (hh. 11-28). Washington, DC: American Psychological Association. Kasser, T. (2016). Materialistic values and goals. Annual Review of psychology, 67, 489-514. Kilbourne, W., & Pickett, G. (2008). How materialism affects environmental beliefs, concern, and environmentally responsible behavior. Journal of Business Research, 61(9), 885-893. We Are Social. (2016, Januari 26). Digital in 2016. Diambil dari https://www.slideshare.net/wearesocialsg/digital-in-2016/218. We Are Social. (2018, Januari 29). Digital in 2018 in southeast asia. Diambil dari https://www.slideshare.net/wearesocial/digital-in-2018-in-southeast-asia-part-2southeast-86866464. Manampiring, R. A. (2015). Peranan media sosial instagram dalam interaksi sosial antar siswa SMA Negeri 1 Manado. E-journal “Acta Diurna”, 4(4). Mar’at Prof. Dr. (1981). Sikap manusia perubahan serta pengukurannya. Jakarta: Ghalia Indonesia. Masood, A., Musarrat, R., & Mazahir, S. (2016). Increased materialistic trends among youth. Journal of Educational, Health, and Community Psychology, 5(3), 56-77. Mayfield, A. (2008). What is social media? e-book from iCrossing. Mueller, D. & Wornhoff, S. (1990). Distinguishing personal and social values. Educational & Psychological Measurement, 50(3), 691-700.

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 Moschis, G. P., & Churchill, G. A. (1978). Consumer socialization: A theoretical and empirical analysis. Journal of Marketing Research, 15, 599-609. Nasution, S. (2014). Perkembangan remaja (suatu tinjauan psikologis). Jurnal Darul’Ilmi, 2(1). Nazir. (2005). Metode penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia. Nurhayati, T. (2015). Perkembangan perilaku psikososial pada masa pubertas. Jurnal Pendidikan Sosial Ekonomi, 4(1). Nurjan, S., Tjahjono, H. K., & Yamin, M. N. (2016). Trends in the adolescent delinquency behavior at the Institute of Islamic Education Ponorogo District. Journal of Government and Politics. Osterrieder, A. (2013). The value and use of social media as communication tool in the plant sciences. Plant Methods, 9(26). Oxford Dictionaries online. https://en.oxforddictionaries.com/definition/us/backtranslation diakses pada 10 Desember 2017, pukul 17.15 WIB. Papalia D. E., & Feldman, R. D. (2014). Experience human development (menyelami perkembangan manusia edisi 12 buku 2). (Penerj. Fitriana Wuri Herarti). Jakarta: Salemba Humanika. Putri, R. A., Erlyani, N., & Mayangsari, M. D. (2016). Hubungan antara aktualisasi diri dengan intensitas penggunaan media sosial path pada remaja di SMA Negeri 2 Banjarbaru. Jurnal Ecopsy: Jurnal Ilmu Psikologi, 3(1). Putri, Wilga S. R., Nurwati, R. N., & Budiarti, M. (2016). Pengaruh media sosial terhadap perilaku remaja. Jurnal Prosiding KS: Riset & PKM, 3(1), 47-51. Priyatno, D. (2010). Teknik mudah dan cepat melakukan analisis data penelitian dengan spss dan tanya jawab ujian pendadaran. Yogyakarta: Gava Media. Richins, Marsha L., & Dawson, Scott (1992). A consumer values orientation for materialism and its measurement: Scale development and validation. Journal of Consumer Research, 19, 303-316. Richins, Marsha L. (1999). Possessions, materialism, and other-directedness in the expression of self. Dalam Holbrook, M. B (ed.), Consumer value a framework for analysis and research (hh. 85-104). London, NY: Routledge. Richins, Marsha L. (2004). The Material Value Scale: Measurement properties and development of a short form. Journal of Consumer Research, 31(1), 209-219.

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 Reber, Arthur S., & Reber, Emily S. (2010). Kamus psikologi (3rd ed.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Santoso, A. (2010). Statistik untuk psikologi dari blog menjadi buku. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Santrock, J. W. (2003). Adolescence (perkembangan remaja) (6th ed.). Jakarta: Erlangga. Santrock, J. W. (2013). Life-span development (14th ed.). New York: McGrawHill Companies, Inc. Sarwono, S. W. (1989). Psikologi remaja. Jakarta: CV Rajawali. Siregar, S. (2014). Statistika deskriptif untuk penelitian: Dilengkapi perhitungan manual dan aplikasi spss versi 17. Jakarta: Rajawali Pers. Sugiyono. (2014). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan kombinasi (mixed methods). Bandung: Alfabet. Supratiknya, A. (2014). Pengukuran psikologis. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Supratiknya, A. (2015). Metodologi penelitian kuantitatif dan kualitatif dalam psikologi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Sutton, C. (2013). Adolescent materialism, parental and peer materialism, parental and peer support and adolescent well-being. MSc by Research thesis. University of Bedfordshire. Schwartz, S. H. (2007). Cultural and individual value correlates of capitalism: A comparative analysis. Psychological Inquiry, 18, 52-57. Sheskin, D. J. (2000). Handbook of parametric and nonparametric statistical procedure ( 2nd Ed.). United State of Amerika: CRC Press LLC. Tubbs, S., & Moss, S. (1983). Human communication fourth edition. United States: Random House, Inc. Umar, H. (2007). Metode penelitian untuk skripsi dan tesis bisnis, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Utari, M. (2017). Pengaruh media sosial instagram akun @Princessyahrini terhadap gaya hidup hedonis para followersnya. Jom FISIP, 4(2).

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 Valkenburg, P. M., Peter J., & Walther, J. B. (2016). Media effects: Theory and research. The Annual Review of Psychology, 315-338. Ward, S., & Wackman, D. (1971). Family and media influences on adolescent consumer learning. American Behavioral Scientist, 14 (3), 415-427. Winarsunu, T. (2006). Statistik dalam penelitian psikologi dan pendidikan. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang. Woodruff, A. D. (1952). The roles of value in human behavior. The Journal of Social Psychology, 36, 97-107.

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 LAMPIRAN A Skala Uji Coba

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 SKALA PENELITIAN (online) Perkenalkan saya I Gusti Bagus Gantih Sukmaraga, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Saya ingin meminta bantuan teman-teman untuk mengisi skala penelitian yang saya buat, untuk keperluan penyusunan skripsi saya. Silahkan untuk mengisi identitas yang sebenarnya. Kerahasiaan identitas dan jawaban teman-teman akan dijamin sesuai kode etik Psikologi. Adapun kriteria yang dibutuhkan adalah: 1. Laki- laki atau perempuan 2. berusia 14 - 24 tahun. 3. memiliki akun Instagram. Atas bantuan dan kesediaan untuk berpartisipasi dalam penelitian ini, saya ucapkan terimakasih. BAGIAN IDENTITAS 1. Jenis Kelamin o Perempuan o Laki-laki 2. Usia o 14 tahun o 15 tahun o 16 tahun o 17 tahun o 18 tahun o 19 tahun o 20 tahun o 21 tahun

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 o 22 tahun o 23 tahun o 24 tahun Skala Bagian 1 Petunjuk Pengerjaan Skala ini terdiri dari beberapa pertanyaan mengenai pengunaan saudara/i terhadap Instagram saudara/i. Silahkan saudara/i membaca dengan seksama dan jawablah masing-masing pertanyaan dengan pilihan jawaban yang paling sesuai dengan pengalaman yang saudara/i alami. Tidak ada jawaban yang salah maupun benar. Hasil dari skala ini tidak akan memengaruhi nilai atau apapun yang berkaitan dengan diri saudara/i. Kerahasiaan data akan dijamin dan hanya dapat diakses oleh peneliti. 1. Berapa kali anda membuka dan menggunakan Instagram dalam sehari ? o lebih dari 20 kali o 14 - 20 kali o 8 - < 14 kali o 3 - < 8 kali o kurang dari 3 kali 2. Jika dijumlahkan, berapa kali dalam seminggu anda membuka dan menggunakan Instagram ? o lebih dari 140 kali o 98 - 140 kali o 56 - < 98 kali

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 o 21 - < 56 kali o kurang dari 21 kali 3. Apabila dijumlahkan, berapa lama waktu yang anda habiskan saat membuka dan menggunakan Instagram dalam satu hari ? o diatas 3 jam 38 menit o 2 jam 36 menit - 3 jam 38 menit o 1 jam 35 menit - < 2 jam 36 menit o 34 menit - < 1 jam 35 menit o kurang dari 34 menit 4. Jika diakumulasikan, berapa lama waktu yang anda habiskan dalam seminggu untuk membuka dan menggunakan Instagram ? o diatas 25 jam 26 menit o 18 jam 20 menit - 25 jam 26 menit o 11 jam - 5 menit - < 18 jam 20 menit o 3 jam 58 menit - < 11 jam 5 menit o kurang dari 3 jam 58 menit Skala Bagian 2 Petunjuk Pengerjaan Skala ini terdiri dari beberapa pernyataan yang mungkin sesuai dengan kondisi saudara/i. Silahkan saudara/i membaca dengan seksama dan tanggapi masingmasing pernyataan dengan pilihan jawaban yang paling sesuai dengan kondisi saudara/i. Terdapat 5 pilihan jawaban dalam setiap pernyataan, yaitu: SS : Jika saudara/i merasa SANGAT SETUJU terhadap pernyataan yang diberikan S : Jika saudara/i merasa SETUJU terhadap pernyataan yang diberikan

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 N : Jika saudara/i merasa NETRAL terhadap pernyataan yang diberikan TS : Jika saudara/i merasa TIDAK SETUJU terhadap pernyataan yang diberikan STS : Jika saudara/i merasa SANGAT TIDAK SETUJU terhadap pernyataan yang diberikan Tidak ada jawaban yang salah maupun benar. Hasil dari skala ini tidak akan memengaruhi nilai atau apapun yang berkaitan dengan diri saudara/i. Kerahasiaan data akan dijamin dan hanya dapat diakses oleh peneliti. No. Pernyataan 1. Saya akan lebih bahagia jika saya mampu membeli lebih banyak barang. 2. Saya suka banyak kemewahan dalam hidup saya. 3. Saya tidak menganggap jumlah harta yang dimiliki seseorang sebagai tanda kesuksesan. 4. Membeli barang-barang memberi saya banyak kesenangan. 5. Barang-barang yang saya miliki menunjukkan seberapa baik kehidupan saya. 6. Saya memiliki semua hal yang saya butuhkan untuk menikmati hidup. 7. Saya kurang mementingkan halhal yang bersifat materi daripada SS S N TS STS

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 kebanyakan orang yang saya tahu. 8. Hidup saya akan lebih baik jika saya memiliki barang-barang tertentu yang tidak saya miliki saat ini. 9. Saya mengagumi orang-orang yang memiliki rumah, mobil, dan pakaian yang mahal. 10. Barang-barang yang saya miliki tidak seluruhnya penting bagi saya. 11. Terkadang saya sedikit terganggu ketika saya tidak mampu membeli semua barang yang saya suka. 12. Beberapa pencapaian terpenting dalam hidup saya adalah memiliki harta benda. 13. Saya suka memiliki barangbarang yang membuat orang terkesan. 14. Saya tidak akan menjadi lebih bahagia jika saya memiliki barang-barang yang lebih baik. 15. Saya mencoba membuat hidup saya sederhana, sejauh mempertimbangkan barangbarang yang saya miliki.

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 LAMPIRAN B Hasil Uji Reliabilitas Skala Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram dan Seleksi Item

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 Hasil Uji Reliabilitas Skala Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram dan Seleksi Item Case Processing Summary N Cases Valid a Excluded Total % 64 100.0 0 .0 64 100.0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .885 4 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted item1 item2 item3 item4 Scale Variance if Item Deleted Corrected ItemTotal Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted 9.25 11.587 .754 .851 9.23 11.801 .693 .872 9.39 10.528 .746 .854 9.30 10.339 .810 .827

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 LAMPIRAN C Hasil Uji Reliabilitas Setelah Seleksi Item Skala Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 Hasil Uji Reliabilitas Setelah Seleksi Item Skala Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram Case Processing Summary N Cases Valid a Excluded Total % 64 100.0 0 .0 64 100.0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .885 4 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted item1 item2 item3 item4 Scale Variance if Item Deleted Corrected ItemTotal Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted 9.25 11.587 .754 .851 9.23 11.801 .693 .872 9.39 10.528 .746 .854 9.30 10.339 .810 .827

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 LAMPIRAN D Hasil Uji Reliabilitas Skala Materialisme

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 Hasil Uji Reliabilitas Skala Materialisme Case Processing Summary N % Cases Valid 64 100.0 a Excluded 0 .0 Total 64 100.0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha .858 item1 item2 item3 item4 item5 item6 item7 item8 item9 item10 item11 item12 item13 item14 item15 Scale Mean if Item Deleted 41.86 42.25 43.05 41.92 42.50 42.70 42.67 42.08 42.44 42.45 42.20 42.31 42.28 42.22 43.19 N of Items 15 Item-Total Statistics Scale Corrected Cronbach's Variance if Item-Total Alpha if Item Item Deleted Correlation Deleted 74.059 .602 .844 75.810 .621 .844 75.950 .502 .849 77.184 .505 .849 73.810 .623 .843 81.736 .253 .862 76.351 .625 .844 75.851 .551 .847 76.155 .482 .851 80.188 .307 .860 78.831 .405 .854 75.583 .547 .847 74.491 .601 .844 82.586 .215 .863 76.155 .622 .844

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 LAMPIRAN E Skala Penelitian

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 SKALA PENELITIAN (online) Perkenalkan saya I Gusti Bagus Gantih Sukmaraga, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.Saat ini saya sedang melakukan penelitian guna memenuhi tugas akhir sebagai syarat kelulusan saya. Adapun kriteria yang dibutuhkan adalah: 1. Laki- laki atau perempuan 2. berusia 14 - 24 tahun. 3. memiliki akun Instagram. Oleh karena itu, saya memohon bantuan Saudara/i untuk mengisi skala penelitian yang saya buat. Waktu yang dibutuhkan untuk mengisi skala penelitian ini kurang lebih 5 - 10 menit. Jawaban yang Saudara/i berikan akan dirahasiakan sesuai dengan kode etik Psikologi. Saya akan sangat menghargai apabila Saudara/i mengisi seluruh bagian dari skala penelitian ini dengan sejujur-jujurnya dan apa adanya. Bagi 10 orang yang beruntung akan mendapatkan pulsa senilai tertentu yang akan dikirim langsung setelah seluruh data penelitian terkumpul. Atas bantuan dan kesediaan Saudara/i untuk berpartisipasi dalam penelitian ini, saya ucapkan terimakasih.

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 BAGIAN IDENTITAS 1. Jenis Kelamin o Perempuan o Laki-laki 2. Usia o 14 tahun o 15 tahun o 16 tahun o 17 tahun o 18 tahun o 19 tahun o 20 tahun o 21 tahun o 22 tahun o 23 tahun o 24 tahun 3. Tingkat pendidikan (pendidikan terakhir) o SD o SMP o SMA o S1 (Strata 1) o S2 (Strata 2) 4. Pendapatan/Uang saku (per bulan) o < Rp 1.000.000 o Rp 1.000.000 - Rp 3.000.000 o Rp 3.000.000 - Rp 5.000.000 o > Rp 5.000.000

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 5. Berapa lama anda sudah menggunakan aplikasi Instagram ? (terhitung sejak anda mengunduh aplikasi Instagram pada smartphone anda) o diatas 5 tahun o 3 - 5 tahun o dibawah 3 tahun 6. Konten apa yang paling sering anda lihat di Instagram ? o Binatang o Humor o Gaya (fashion terkini, online shop) o TV dan Film o Seni o Perjalanan wisata o Kuliner o Sains dan Teknologi o Kecantikan (make up) o Otomotif o Lain-lain (menyertakan jawaban sendiri)

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 Skala Bagian 1 Petunjuk Pengerjaan Skala ini terdiri dari beberapa pertanyaan mengenai pengunaan saudara/i terhadap Instagram saudara/i. Silahkan saudara/i membaca dengan seksama dan jawablah masing-masing pertanyaan dengan pilihan jawaban yang paling sesuai dengan pengalaman yang saudara/i alami. Tidak ada jawaban yang salah maupun benar. Hasil dari skala ini tidak akan memengaruhi nilai atau apapun yang berkaitan dengan diri saudara/i. Kerahasiaan data akan dijamin dan hanya dapat diakses oleh peneliti. 1. Berapa kali anda membuka dan menggunakan Instagram dalam sehari ? o lebih dari 20 kali o 14 - 20 kali o 8 - < 14 kali o 3 - < 8 kali o kurang dari 3 kali 2. Jika dijumlahkan, berapa kali dalam seminggu anda membuka dan menggunakan Instagram ? o lebih dari 140 kali o 98 - 140 kali o 56 - < 98 kali o 21 - < 56 kali o kurang dari 21 kali

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 3. Apabila dijumlahkan, berapa lama waktu yang anda habiskan saat membuka dan menggunakan Instagram dalam satu hari ? o diatas 3 jam 38 menit o 2 jam 36 menit - 3 jam 38 menit o 1 jam 35 menit - < 2 jam 36 menit o 34 menit - < 1 jam 35 menit o kurang dari 34 menit 4. Jika diakumulasikan, berapa lama waktu yang anda habiskan dalam seminggu untuk membuka dan menggunakan Instagram ? o diatas 25 jam 26 menit o 18 jam 20 menit - 25 jam 26 menit o 11 jam - 5 menit - < 18 jam 20 menit o 3 jam 58 menit - < 11 jam 5 menit o kurang dari 3 jam 58 menit

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 Skala Bagian 2 Petunjuk Pengerjaan Skala ini terdiri dari beberapa pernyataan yang mungkin sesuai dengan kondisi saudara/i. Silahkan saudara/i membaca dengan seksama dan tanggapi masingmasing pernyataan dengan pilihan jawaban yang paling sesuai dengan kondisi saudara/i. Terdapat 5 pilihan jawaban dalam setiap pernyataan, yaitu: SS : Jika saudara/i merasa SANGAT SETUJU terhadap pernyataan yang diberikan S : Jika saudara/i merasa SETUJU terhadap pernyataan yang diberikan N : Jika saudara/i merasa NETRAL terhadap pernyataan yang diberikan TS : Jika saudara/i merasa TIDAK SETUJU terhadap pernyataan yang diberikan STS : Jika saudara/i merasa SANGAT TIDAK SETUJU terhadap pernyataan yang diberikan Tidak ada jawaban yang salah maupun benar. Hasil dari skala ini tidak akan memengaruhi nilai atau apapun yang berkaitan dengan diri saudara/i. Kerahasiaan data akan dijamin dan hanya dapat diakses oleh peneliti. No. 1. Pernyataan Saya akan lebih bahagia jika saya mampu membeli lebih banyak barang. 2. Saya suka banyak kemewahan dalam hidup saya. 3. Saya tidak menganggap jumlah SS S N TS STS

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 harta yang dimiliki seseorang sebagai tanda kesuksesan. 4. Membeli barang-barang memberi saya banyak kesenangan. 5. Barang-barang yang saya miliki menunjukkan seberapa baik kehidupan saya. 6. Saya memiliki semua hal yang saya butuhkan untuk menikmati hidup. 7. Saya kurang mementingkan hal-hal yang bersifat materi daripada kebanyakan orang yang saya tahu. 8. Hidup saya akan lebih baik jika saya memiliki barang-barang tertentu yang tidak saya miliki saat ini. 9. Saya mengagumi orang-orang yang memiliki rumah, mobil, dan pakaian yang mahal. 10. Barang-barang yang saya miliki tidak seluruhnya penting bagi saya. 11. Terkadang saya sedikit terganggu ketika saya tidak mampu membeli semua barang yang saya suka. 12. Beberapa pencapaian terpenting dalam hidup saya adalah memiliki harta benda. 13. Saya suka memiliki barang-barang yang membuat orang terkesan.

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 14. Saya tidak akan menjadi lebih bahagia jika saya memiliki barangbarang yang lebih baik. 15. Saya mencoba membuat hidup saya sederhana, sejauh mempertimbangkan barang-barang yang saya miliki.

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 LAMPIRAN F Hasil Uji T Mean Teoritik dan Mean Empiris

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 Hasil Uji T Mean Teoritik dan Mean Empiris One-Sample Statistics N intensitas Mean 457 Std. Deviation 13.85 Std. Error Mean 4.676 .219 One-Sample Test Test Value = 12 95% Confidence Interval of the Difference Mean t intensitas df 8.454 Sig. (2-tailed) 456 Difference .000 Lower 1.849 Upper 1.42 2.28 One-Sample Statistics N materialisme Mean 457 Std. Deviation 47.14 Std. Error Mean 11.526 .539 One-Sample Test Test Value = 45 95% Confidence Interval of the t materialism e 3.969 df 456 Sig. (2- Mean tailed) Difference .000 2.140 Difference Lower Upper 1.08 3.20

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 LAMPIRAN G Hasil Uji Normalitas

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 Hasil Uji Normalitas Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov Statistic df Sig. intensitas .103 457 .000 materialisme .141 457 .000 a. Lilliefors Significance Correction

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 LAMPIRAN H Hasil Uji Linearitas

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 Hasil Uji Linearitas ANOVA Table Sum of Squares Mean df Square F Sig. materialisme Between (Combined) * intensitas 23928.686 16 20255.090 1 20255.090 3673.596 15 244.906 Within Groups 36646.351 440 83.287 Total 60575.037 456 Groups Linearity 1495.543 17.956 243.19 6 .000 .000 Deviation from Linearity 2.941 .000

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107 LAMPIRAN I Hasil Uji Hipotesis

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 Hasil Uji Hipotesis Correlations intensitas Spearman's rho intensitas Correlation Coefficient 1.000 Sig. (1-tailed) .546 ** . .000 457 457 ** 1.000 Sig. (1-tailed) .000 . N 457 457 N materialisme materialisme Correlation Coefficient **. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed). .546

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 LAMPIRAN J Hasil Uji Normalitas dan Uji Homogenitas Analisis Tambahan

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 Hasil Uji Normalitas dan Uji Homogenitas Analisis Tambahan • Hasil Uji Normalitas Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov Statistic Materialisme df .069 perempuan Sig. 278 .002 a. Lilliefors Significance Correction Tests of Normality a Kolmogorov-Smirnov Statistic Materialisme df .162 Laki-laki Sig. 179 .000 a. Lilliefors Significance Correction • Hasil Uji Homogenitas Test of Homogeneity of Variances Materialisme Levene Statistic 230.561 df1 df2 1 Sig. 455 .000

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 LAMPIRAN K Hasil Uji Two-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 Hasil Uji Two-Sample Kolmogorov-Smirnov Test • Hasil Uji Two-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Test Statistics a Materialisme Most Extreme Differences Absolute .438 Positive .438 Negative -.038 Kolmogorov-Smirnov Z 4.572 Asymp. Sig. (2-tailed) .000 a. Grouping Variable: gender subjek • Tabel Mean Kedua Kelompok Subjek Pada Skala Materialisme Perbedaan Mean Kedua Kelompok Mean N Std. Deviation Materialisme Materialisme laki- perempuan laki 43.15 53.33 278 179 6.705 14.388

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113 LAMPIRAN L Ijin dari Pemilik Skala Materialisme (print out e-mail)

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 -mail) Ijin dari ari P Pemilik Skala Materialisme (print out e-m

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 115 LAMPIRAN M Surat Keterangan Penerjemahan Skala ke dalam Bahasa Indonesia

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 116 asa In Indonesia Surat Keterangan angan Penerjemahan Skala ke dalam Bahasa

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 117 LAMPIRAN N Surat Keterangan Penerjemahan Skala ke dalam Bahasa Inggris

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 118 asa In Inggris Surat Keteran angan Penerjemahan Skala ke dalam Bahasa

(150)

Dokumen baru

Download (149 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan antara self control dengan intensitas penggunaan internet remaja akhir
7
86
115
Pengaruh kepercayaan diri terhadap intensitas penggunaan media sosial pada remaja awal.
0
3
101
Hubungan antara durasi penggunaan media sosial dengan kestabilan emosi pada pengguna media sosial usia dewasa awal.
21
60
116
Hubungan antara intensitas penggunaan situs jejaring sosial dengan kepuasan hubungan romantis.
0
1
98
Hubungan penggunaan jejaring sosial dan efektivitas komunikasi interpersonal pada remaja tunarungu.
0
1
140
Hubungan antara intensitas penggunaan situs jejaring sosial dengan kepuasan hubungan romantis
0
2
95
Hubungan antara materialisme dan perilaku seksual pranikah pada remaja
0
1
101
Hubungan penggunaan jejaring sosial dan efektivitas komunikasi interpersonal pada remaja tunarungu
0
3
138
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Body image ditinjau dari intensitas penggunaan media sosial pada remaja putri - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
11
Hubungan antara intensitas mengakses facebook dengan prokrastinasi akademik pada mahasiswa - USD Repository
0
0
135
Hubungan antara dukungan sosial yang dipersepsikan dan harga diri remaja - USD Repository
0
0
84
Hubungan antara intensitas pemakaian handphone dengan motivasi belajar siswa remaja - USD Repository
0
0
120
Hubungan antara harga diri dan prestasi akademik pada remaja akhir - USD Repository
0
0
91
Hubungan antara asertivitas penjual online shop pada media sosial facebook dengan niat membeli konsumen - USD Repository
0
0
101
Hubungan antara efektivitas komunikasi interpersonal antara remaja dengan orangtua dan kecenderungan perilaku bullying pada remaja awal - USD Repository
0
0
153
Show more