Pemanfaatan gaya bahasa dalam film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak karya Garin Nugroho; kajian stilistika pragmatik - USD Repository

Gratis

0
0
133
1 month ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PEMANFAATAN GAYA BAHASA DALAM FILM MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK KARYA GARIN NUGROHO; KAJIAN STILISTIKA PRAGMATIK Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Disusun oleh Damaris Rambu Sedu Dairu 141224063 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA JURUSAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 i

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI iii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO “Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas” (ayub 23:10) “Badai bagaikan sebuah perjalan hidup Tetaplah berdiri teguh saat melawannya” (Damaris Rambu.S. Dairu) iv

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Halaman Persembahan Seiring dengan ucapan syukur ke hadirat TYME yang telah memberikan berkat dan restunya hingga saat ini saya dapat menyelesaikan tugas akhir, karya ini saya persembahkan bagi: Secara Khusus bagi kedua orang tua, Bapak Lukas Umbu Siwa dan Ibu Rambu Ata Dauki yang tentunya selalu setia dan tak hentinya memberikan dukungan baik secara moril maupun materi selama proses belajar dan penyelesaian tugas akhir ini. Kakak-kakak saya, Yuliatrike, Yonathan, Rosani, Ferdians, Harsy, dan adik Hendry. Terima kasih karena selalu memberikan semangat selama proses belajar dan penyelesaian tugas akhir ini. Bagi teman-teman saya Sania, Astria, Intan, Rani, Debra, Dewa, Akwan, Egy, Urnis, Heny, Adian, dan Astry. Yang memberikan semangat dan selalu ada jika saya membutuhkan sesuatu Bagi teman-teman organisasi Gailaru Marada. Terima kasih karena sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya selama di yogja, telah mengajarkan saya banyak hal, saya sangat mengasihi kalian Bagi teman-teman PBSI angakatan 2014 B, khususnya Neta, Rina, Christy,Vera. Terima kasih sudah menularkan semangat kerja keras dan pantang menyerah selama proses belajar dan penyelesaian tugas akhir. v

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Pernyataan Keaslian Karya Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini, tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya penulisan karya ilmiah. Yogyakarta, 29 Januari 2019 Penulis, Damaris Rambu Sedu Dairu vi

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBARAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Damaris Rambu Sedu Dairu Nomor Induk Mahasiswa : 141224063 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan karya ilmiah ini kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma dengan judul: PEMANFAATAN GAYA BAHASA DALAM FILM MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK KARYA GARIN NUGROHO; KAJIAN STILISTIKA PRAGMATIK Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikannya secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 29 Januari 2019 Yang menyatakan, Damaris Rambu Sedu Dairu vii

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK Dairu, Damaris Rambu S. 2019. Pemanfaatan Gaya Bahasa dalam Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak Karya Garin Nugroho; Kajian Stilistika Pragmatik. Skripsi. Yogyakarta: PBSI, JPBS, FKIP, Universitas Sanata Dharma. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dua masalah utama, yakni (1) Apa saja gaya bahasa yang dimanfaatkan dalam film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak ditinjau dari perspektif Stilistika Pragmatik? dan (2) Apa saja makna gaya bahasa dalam film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak ditinjau dari perspektif Stilistika Pragmatik? Data dalam penelitian ini berupa tuturan yang mengandung gaya bahasa dan makna gaya bahasa berdasarkan konteks dalam pragmatik yang terdapat dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak yang dipadukan dengan teknik rekam dan teknik catat. Kalimat yang mengandung gaya bahasa berdasarkan konteks dalam pragmatik dari penelitian ini berjumlah 71 kalimat. Rincian jenis gaya bahasa tersebut sebagai berikut. Gaya bahasa ironi 4 buah, inuendo 16 buah, sarkasme 15 buah, sinisme 12 buah, anafora 1 buah, epizeukis 9 buah, koreksio atau epanortosis 2 buah, asonansi 4 buah, eufemisme 2 buah, ellipsis 1 buah, apofasis 1 buah, pleonasme 1 buah, polisindenton 1 buah. Penelitian ini juga meneliti makna yang muncul dari pemanfaatan gaya bahasa dan menemukan 9 makna yang muncul dari penggunaan gaya bahasa berdasarkan konteks dalam tuturan yang terdapat dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak. Sepuluh makna yang ditemukan sebagai berikut. ‘menanyakan sesuatu’, makna pragmatik ‘memberikan penjelaskan’, makna pragmatik ‘menggambarkan’, makna pragmatik ‘menegaskan’, makna pragmatik ‘membandingkan’, makna pragmatik ‘mengancam’, makna pragmatik ‘memberi perintah’, makna pragmatik ‘menunjukkan sesuatu’, dan makna pragmatik ‘menunggu’. Kata kunci: Tuturan, gaya bahasa, konteks situasi, dan makna. viii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT Dairu, Damaris Rambu S. 2019. The Utilization of Language Style in Marlina is the Killer of Four Rounds Movie by Garin Nugroho's; Pragmatic Stylistic Study. Thesis. Yogyakarta: PBSI, JPBS, FKIP, Sanata Dharma University. This study attempts to describe two main problems, namely (1) What are the language style used in Marlina is The Killer of Four Rounds Movie reviewed from the perspective of the Pragmatic Stylist? and (2)What are the meanings of the language style in Marlina is the Killer of Four Rounds Movie reviewed from the perspective of the Pragmatic Stylist? The data in this study are speeches that contain of the language style and the meaning of the language style based on the pragmatic context in Marlina is The Killer of Four Rounds Movie by Garin Nugroho. The research type is qualitative research. The data collection method used in this study is the referral method, which is combined with recording technique and taking-note technique. In this study, there are 71 sentences that contain of the language style based on the context in pragmatics. The details of the language styles type are 4 pieces irony language style, 16 pieces innuendo, 15 pieces sarcasm, 12 pieces cynicism, 1 piece anaphora, 9 pieces epizeukis, 2 pieces correction or epanortosis, 4 pieces assonance, 2 pieces euphemism, 1 piece ellipsis, 1 piece apophasis, 1 piece pleonasm, and 1 piece polisindenton. This research also examines the meaning that arises from using language styles, and finding 9 meanings that emerged from the use of the language style based on the context in speech that is contained in Marlina is the Killer of Four Rounds Movie. The ten meanings are found as follows: 'Asking something', the meaning of pragmatics 'giving explanation', meaning 'pragmatic', meaning of pragmatics 'asserting', meaning of pragmatics 'comparing', meaning of pragmatics 'threatening', meaning of pragmatics 'giving orders', the meaning of pragmatics 'shows something', and the meaning of pragmatics 'waits'. Keywords: Speech, language style, situation context, and meaning. ix

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat TYME yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pemanfaatan Gaya Bahasa dalam Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak Karya Garin Nugroho”. Penyusunan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan, Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma. Penulis menyadari bahwa selama penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak sehingga penulis dapat menyelesaikannya dengan lancar. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang memberikan bantuan, bimbingan, nasihat, motivasi, dorongan, dukungan doa, dan kerja sama yang tidak ternilai harganya dari awal hingga akhir penulisan skripsi ini. Sehubungan dengan hal tersebut, penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si., selaku dekan FKIP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Rishe Purnama Dewi, S.Pd., M.Hum., selaku Kaprodi PBSI yang telah memberikan motivasi kepada penulis selama menyelesaikan skripsi. 3. Dr. R Kunjana Rahardi, M.Hum., selaku dosen pembimbing yang telah mengorbankan waktu, pikiran, tenaga, kesabaran, dan motivasi selama membimbing penulis. 4. Seluruh dosen PBSI yang telah memberikan banyak ilmu pengetahuan dan wawasan kepada penulis selama belajar di Prodi PBSI, sehingga penulis memiliki bekal menjadi pengajar yang cerdas, humanis, dan profesional. 5. Perpustakaan Universitas Sanata Dharma yang telah menyediakan bukubuku sebagai penunjang penulis menyelesaikan skripsi. 6. Theresia Rusmiyati, selaku karyawan sekretariat PBSI yang telah membantu penulis dalam hal menyelesaikan skripsi. 7. Bagi kedua orang tua, Bapak Lukas Umbu Siwa dan Ibu Rambu Ata Dauki yang tentunya selalu setia dan tak hentinya memberikan dukungan x

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. baik secara moril maupun materi selama proses belajar dan penyelesaian tugas akhir ini. 2. Kakak-kakak saya, Yuliatrike, Yonathan, Rosani, Ferdians, Harsy dan adik Hendry. Terima kasih karena selalu memberikan semangat selama proses belajar dan penyelesaian tugas akhir ini. 3. Bagi teman-teman PBSI angakatan 2014 B, khususnya Neta, Rina, Christy, Vera, Ocha. Terima kasih sudah menularkan semangat kerja keras dan pantang menyerah selama proses belajar dan penyelesaian tugas akhir. 4. Bagi teman-teman saya, Sani, Astria, Rani, Intan, Debra, adik Sania, adik Astry, adi Aldo, Dewa, Akwan, kakak Oby, Umbu, Amkhe, Adian, Orkin, Egy, terima kasih karena selalu membantu saya selama proses mengerjakan skripsi dan selalu memberikan semangat kepada saya. 5. Bagi teman-teman organisasi Gailaru Marada, terima kasih karena selalu ada disaat saya butuh dan yang sudah mengajarkan saya banyak hal, saya sangat mengasihi kalian semua. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Yogyakarta, 29 Januari 2019 Penulis Damaris Rambu S. Dairu xi

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ....................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... iii HALAMAN MOTTO ................................................................................. iv HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................. v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ..................................................... vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ...................... vii ABSTRAK ................................................................................................... viii ABSTRACT .................................................................................................. ix KATA PENGANTAR ................................................................................. x DAFTAR ISI ................................................................................................ xii BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................... 1 1.1 Latar Belakang Masalah ....................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah ................................................................................ 3 1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................. 3 1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................... 3 1.5 Batasan istilah ...................................................................................... 4 1.6 Sistem Penyajian .................................................................................. 5 BAB II LANDASAN TEORI ..................................................................... 8 2.1 Penelitian Terdahulu yang Relevan ..................................................... 8 2.2 Kajian Teori ......................................................................................... 10 2.2.1 Pragmatik ........................................................................................ 11 2.2.2 Stilistika Pragmatik.......................................................................... 13 2.2.3 Konteks dalam Pragmatik ................................................................ 15 2.2.4 Gaya Bahasa .................................................................................... 17 2.2.5 Jenis Gaya Bahasa ........................................................................... 18 2.2.5.1 Gaya Bahasa berdasarkan Pilihan Kata ................................. 19 2.2.5.2 Gaya Bahasa berdasarkan Nada ............................................. 20 2.2.5.3 Gaya Bahasa berdasarkan Struktur Kalimat .......................... 21 xii

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2.2.5.4 Gaya Bahasa berdasarkan Langsung Tidaknya Makna ......... 22 2.2.5.5 Gaya Bahasa Hiperbola .......................................................... 23 2.2.5.6 Gaya Bahasa Koreksio atau Epanortosis................................ 24 2.2.5.7 Gaya Bahasa Ironi .................................................................. 24 2.2.5.8 Gaya Bahasa Eufemisme........................................................ 26 2.2.5.9 Gaya Bahasa Paronomasia ..................................................... 26 2.2.5.10 Gaya Bahasa Paralipsis .......................................................... 27 2.2.5.11 Gaya Bahasa Zeugma dan Silepsis ........................................ 27 2.2.5.12 Gaya Bahasa Satire ................................................................ 28 2.2.5.13 Gaya Bahasa Inuendo ............................................................. 29 2.2.5.14 Gaya Bahasa Antifrasis .......................................................... 29 2.2.5.15 Gaya Bahasa Anafora ............................................................. 30 2.2.5.16 Gaya Bahasa Elipsis ............................................................... 31 2.2.5.17 Gaya Bahasa Asonansi ........................................................... 31 2.2.5.18 Gaya Bahasa Anastrof dan Inversi ......................................... 32 2.2.5.19 Gaya Bahasa Epizeukis .......................................................... 32 2.2.5.20 Gaya Bahasa Apofasis dan Preterisio .................................... 33 2.2.5.21 Gaya Bahasa Polisindeton ...................................................... 33 2.2.5.22 Gaya Bahasa Pleonasme dan Tautologi ................................. 34 2.2.5.23 Gaya Bahasa Sinisme ............................................................. 34 2.2.5.24 Gaya Bahasa Sarkasme .......................................................... 35 2.3 Film ....................................................................................................... 36 BAB III METODOLOGI PENELITIAN ................................................. 38 3.1 Jenis Penelitian ...................................................................................... 38 3.2 Data dan Sumber Data Penelitian .......................................................... 38 3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ................................................ 38 3.4 Metode dan Teknik Analisis Data ......................................................... 40 3.5 Trianggulasi Data .................................................................................. 42 xiii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN........................... 43 4.1 Deskripsi Data ....................................................................................... 43 4.2 Analisis Data.......................................................................................... 44 4.2.1 Wujud Gaya Bahasa .................................................................... 45 4.2.1.1 Gaya Bahasa Ironi ......................................................... 45 4.2.1.2 Gaya Bahasa Inuendo ................................................... 48 4.2.1.3 Gaya Bahasa Sarkasme .................................................. 51 4.2.1.4 Gaya Bahasa Sinisme .................................................... 54 4.2.1.5 Gaya Bahasa Anfora ...................................................... 57 4.2.1.6 Gaya Bahasa Epizeukis ................................................. 57 4.2.1.7 Gaya Bahasa Koreksio atau Epanortosis ....................... 60 4.2.1.8 Gaya Bahasa Asonansi .................................................. 62 4.2.1.9 Gaya Bahasa Eufemisme ............................................... 63 4.2.1.10 Gaya Bahasa Elipsis ...................................................... 65 4.2.1.11 Gaya Bahasa Apofasis................................................... 66 4.2.1.12 Gaya Bahasa Pleonasme ............................................... 67 4.2.1.13 Gaya Bahasa Polisindeton ............................................ 68 4.2.2 Makna Pragmatik Gaya Bahasa ..................................................... 69 4.2.2.1 Makna Pragmatik ’Menanyakan’ ...................................... 69 4.2.2.2 Makna Pragmatik ‘Menjelaskan’....................................... 72 4.2.2.3 Makna Pragmatik ‘Menggambarkan’ ................................ 77 4.2.2.4 Makna Pragmatik ‘Menegaskan ........................................ 77 4.2.2.5 Makna Pragmatik ‘Membandingkan’ ................................ 79 4.2.2.6 Makna Pragmatik ‘Mengancam’ ....................................... 79 4.2.2.7 Makna Pragmatik ‘Memberi Perintah’ .............................. 80 4.2.2.8 Makna Pagmatik ‘Menunjukkan’ ...................................... 81 4.2.2.9 Makna Pragmatik ‘Menunggu’ .......................................... 82 4.3 Pembahasan .......................................................................................... 82 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................... 85 5.1 Kesimpulan .......................................................................................... 85 xiv

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5.2 Saran ..................................................................................................... 86 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 87 LAMPIRAN ................................................................................................. 89 xv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri, jadi bahasa merupakan suatu sistem yang penting bagi umat manusia. Kita mengenal bahasa dan mempergunakannya setiap hari. Setiap manusia memiliki cara atau gaya berbahasanya masing-masing, ada bahasa yang melebih-lebihkan atau bahasa yang membandingkan seorang dengan yang lain, bahasa sinisme yaitu bahasa yang digunakan untuk menyindir, gaya bahasa hiperbola yaitu gaya bahasa yang melebih-lebihkan sesuatu dan masih banyak gaya bahasa lainnya. Banyak gaya bahasa yang dipergunakan oleh manusia untuk berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain. Dalam film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak Karya Garin Nugroho terdapat banyak perbedaan dengan film lainnya karena settingan film tersebut di pulau Sumba NTT, sangat jarang orang yang tertarik mengambil di tempat kecil seperti itu. Peran Marlina yang diperankan oleh Marsya Timoty. Marlina seorang janda muda dan tidak memiliki suami tinggal sebatangkara di pelosok desa. Bahasa yang dipergunakan dalam film tersebut bahasa Indonesia tetapi memakai dialek sumba, jarang juga orang jawa ataupun orang luar NTT yang dapat berbicara persis seperti orang NTT khususnya dialek Sumba. Tetapi, dalam film Marlina terlihat bahwa semua pemain yang memerankan sebuah tokoh 1

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 dapat menguasai dialek Sumba dengan baik, sampai ada yang bisa menghafal lagu daerah Sumba dengan baik. film Marlina mengisahkan seorang janda yang didatangi perampok dan melecehkannya. Dalam film Marlina menggunakan berbagai macam gaya bahasa dalam setiap tuturannya. Ada bahasa yang menyindir, membandingkan, mencela orang lain, dan berbagai gaya bahasa lain. Seperti yang kita ketahui bahwa pragmatik adalah studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur (atau penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar (atau pembaca) (Yule, 1996:3). Seperti yang telah diungkapkan oleh Yule bahwa pragmatik merupakan sesuatu yang dapat kita ketahui maknanya melalui penutur dan pendengar. Gaya bahasa adalah bahasa yang indah dipergunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum. Secara singkat gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Sebuah gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur berikut: kejujuran, sopan-santun, dan menarik (Keraf dalam Tarigan 1985 : 5). Jadi, penulis ingin menganalisis pemanfaatan gaya bahasa yang terdapat dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak tersebut. Penulis berharap dengan adanya penelitian ini masyarakat tidak hanya menonton dan mengetahui jalan cerita dari film tersebut tetapi dapat membuka wawasan masyarakat bahwa dalam setiap kata-kata yang terdapat dalam film memiliki gaya masing-masing, tidak hanya itu masyarakat juga dapat menjadi kritikus yang menjadikan film Indonesia menjadi lebih maju.

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah antara lain: a. Apa sajakah wujud gaya bahasa yang dimanfaatkan dalam film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak ditinjau dari perspektif Stilistika Pragmatik? b. Apa sajakah makna pragmatik gaya bahasa dalam film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat dipaparkan beberapa tujuan penelitiannya antara lain : a. Mendeskripsikan wujud gaya bahasa yang dimanfaatkan dalam film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak ditinjau dari perspektif Stilistika Pragmatik b. Mendeskripsikan makna pragmatik gaya bahasa dalam film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak 1.4 Manfaat Penelitian Peneliti berharap dapat memberikan manfaat bagi para pembaca. Beberapa manfaat adalah sebagai berikut: a. Manfaat Teoretis Peneliti dapat menambah koleksi penelitian dalam bidang kajian stilistika pragmatik, khususnya mengenai pemanfaatan gaya bahasa dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho.

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 Penelitian ini dapat menamba wawasan pembaca mengenai pemanfaatan gaya bahasa dalam film, sehingga pembaca dapat menghasilkan gaya bahasa yang baik saat berkomunikasi. b. Manfaat Praktis Bagi para guru bahasa indonesia hasil penelitian ini bisa dijadikan sebagai salah satu sumber pennjang pembelajaran khususnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai sumber referensi bagi para pengarang karya sastra yang ingin menggunakan gaya bahasa dalam membuat karangannya 1.5 Batasan Istilah Berikut ini akan dipaparkan mengenai batasan-batasan istilah yang digunakan dalam penelitian ini agar tidak mengalami kesalahan dalam pemahaman. a. Pragmatik Pragmatik adalah studi tentang makna kontekstual. Pendekatan ini juga perluh menyelidiki bagaimana cara pendengar dapat menyimpulkan tentang apa yang dituturkan agar dapat sampai pada suatu interpretasi makna yang dimaksudkan oleh penutur. b. Gaya bahasa Gaya bahasa adalah bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum.

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 Pendek kata penggunaan gaya bahasa tertentu dapat mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu (Dale dalam Tarigan, 1985:5) c. Stilistika Pragmatik Kajian Stilistika Pragmatik adalah kajian kekhasan bahasa dalam penggunaan wacana tertentu. Misalnya: wacana sastra, wacana nonsastra. Wacana Nonsatra misalnya: Wacana Bahasa Umum. Semuanya adalah wacana nonsastra, maka acuan teorinya tidak harus menggunakan linguistik umum (linguistik sintaksi), tetapi linguistik terapan. Jadi, orientasi teorinya adalah linguistik terapan — Stilistika Pragmatik. Kajian stilistika memiliki anggapan bahwa bahasa dari sebuah teks mencerminkan dunia tekstual secara sempurna (Fasold dalam Black, 2011 : 1). d. Film Film merupakan media komunal dan perpaduan dari berbagai teknologi dan unsur-unsur kesenian baik seni rupa, teater, sastra, arsitektur hingga musik. Film merupakan perpaduan dari perkembangan teknologi fotografi dan rekaman suara. Pertumbuhan film sangat tergantung pada tradisi bagaimana unsur-unsur perpaduan teknologi dan unsur-unsur seni dari film yang dalam masyarakat berkembang pesat. Dengan demikian film mampu bersaing dengan teknologi media dan seni lainnya yang lebih bergengsi (http://www.geocities.com/Paris/7229/film.htm). 1.6 Sistematika Penulisan Penulisan ini terdiri atas lima bab. Bab I merupakan bab pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan istilah dan sistematika penulisan.

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 Latar belakang berisi alasan peneliti melakukan penelitian dan masalah yang ditemukan. Rumusan masalah berisi masalah berupa kalimat tanya. Tujuan penelitian berisi tujuan yang akan dilakukan peneliti dan sesuai dengan rumusan masalah yang dibuat. Manfaat penelitian berisi kegunaan dari hasil penelitian yang dilakukan. Batasan istilah disertakan untuk membatasi istilah-istilah yang ada dalam penelitian. Bab II adalah landasan teori, berisi penelitian yang relevan dan kajian teori. Penelitian relevan digunakan untuk referensi bagi peneliti agar dapat melihat kajian yang sudah diteliti oleh orang lain sehingga peneliti dapat mengkaji dengan kritis dan tajam. Kajian teori menunjukkan kedalaman alat analisis. Kajian teori digunakan sebagai alat pembedah. Bab III merupakan bab metologi penelitian. Bab ini meliputi jenis penelitian, data sumber data penelitian, metode dan teknik pengumpulan data, metode dan teknik analisis data. Jenis penelitian adalah pengkategorian menurut data yang diperoleh. Data merupakan bahan kajian. Sumber data merupakan subjek dari mana data didapatkan. Metode dan teknik pengumpulan data berisi metode maupun teknik yang digunakan dalam penelitian. Metode dan teknik analisis data berisi metode dan teknik yang digunakan dalam menganalisis data penelitian. Bab IV merupakan bab yang berisi hasil penelitian dan pembahasan. Bab ini merupakan jantung dari karya ilmiah. Bagian pembahasan membahas tentang rumusan masalah dan sesuai teori yang digunakan.

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 Bab V merupakan penutup. Bab ini berisi kesimpulan dan saran. Kesimpulan berisi uraian yang telah dianalisis dan pokok-pokok pikiran. Saran berisi imbauan kepada peneli selanjutnya jika ingin meneliti penelitian yang serupa.

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Kajian Terdahulu Yang Relevan Terdapat 5 (lima) penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa penelitian yang dilakukan masih relevan untuk dilaksanakan yang pertama adalah penelitian yang dilakukan oleh Marta Ria Hanesty (2014) yang berjudul ‘Analisis Kesopanan dan Ketidakkesopanan Level Narrator dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk (Catatan Buat Emak) Karya Ahmad Tohari Sebuah Kajian Stilistika Pragmatik. Penelitian ini mengkaji tentang bentuk kesopanan dan bentuk pelanggaran kesopanan yang terdapat dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk sedangkan Penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan gaya bahasa yang dimanfaatkan dalam film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, (2) Mendeskripsikan makna pragmatik yang terkandung gaya bahasa dalam film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak. Perbedaannya terletak pada analisisnya sedangkan relevansinya terletak pada kajian stilistika pragmatik yang digunakan dalam meneliti. Penelitian kedua yang relevan adalah penelitian yang dilakukan Zainah Asmaniah tahun 2015 yang berjudul “Naskah Drama Rajapati Karangan Ahmad Bakri (Kajian Struktural dan Pragmatilistik)”. Dalam jurnalnya memuat struktur dalam naskah drama Rajapati, dan hubungan Pragmatilistik yang ada dalam naskah drama Rajapati. Penelitian ini juga bertujuan untuk mendeskripsikan cerita, struktur dan pragmatilistik yang terdapat dalam naskah drama Rajapati. Relevansinya dengan penelitian yang akan dilakukan adalah pragmatilistik yang 8

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 ingin dikaji dalam penelitiannya, karena penelitian yang akan dilakukan menggunakan kajian stilistika pragmatik untuk mengkaji gaya bahasa yang terdapat dalam film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak Karya Garin Nugroho. Penelitian ketiga yang relevan dengan penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian yang dilakukan oleh I Made Bagus Ocky Yogiswara tahun 2013 yang berjudul “Pemanfaatan Gaya Bahasa dalam Artikel Opini Harian Kompas Januari 2017” penelitian tersebut bertujuan untuk mendeskripsikan gaya bahasa yang terdapat pada artikel opini harian kompas edisi Januari 2017 dan mendeskripsikan makna yang muncul dari pemanfaatan gaya bahasa yang terdapat pada artikel kompas edisi Januari 2017. Adapun kesamaan yang ada dalam penelitian dengan I Made Bagus Ocky Yogiswara dengan penelitian yang penulis lakukan adalah pemanfaatan gaya bahasa dalam opini sedangkan penulis meneliti tentang pemanfaatan gaya bahasa dalam sebuah film dengan tinjauan stilistika pragmatik. Perbedaanya pada objek penelitian bahwa dalam penelitian I Made Bagus Ocky Yogiswara meneliti opini sedangkan penulis ingin meneliti film dengan memakai tinjauan stilistika pragmatik yaitu mengkaji gaya bahasa berdasarkan konteks situasinya. Penelitian keempat yang relevan yaitu dari Sopyan Ali Pascasarjana Universitas Sebelas Maret dengan judul “Kajian Stilistika Pragmatik Gaya Bahasa Pada Puisi Shaykh Hamza Yusuf Hanson”. Penelitian ini mengkaji tentang penggunaan gaya bahasa yang meliputi analisa unsur metafora, dan pola gaya bunyi pada puisi-puisi karya Shaykh Hamza Yusuf yang diulas melalui

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 pendekatan stilistik. Perbedaan dari penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah dari analisisnya, yaitu Sopyan Ali menganalisis penggunaan gaya bahasa yang meliputi unsur metafora dan pola gaya bunyi dalam puisi sedangkan peneliti menganalisis pemanfaatan gaya bahasa dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak. Penelitian kelima yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu dari Meila Dwi Ratnasari Universitas Negeri Surabaya berjudul “Suspensi dalam Wacana Humor Waktu Indonensia Bercanda Net TV: Kajian Pragmatilistika”. Penelitian ini berfokus pada strategi suspensi, fungsi suspense, dan efek humor dalam wacana humor waktu Indonesia bercanda. Relevansinya dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti yaitu pada kajian pragmatilistik yang digunakan dalam meneliti. Dari hasil penelitian di atas peneliti menggunakan suatu kajian stilistika pragmatik. Peneliti berharap penelitian terdahulu dapat dijadikan referensi untuk kelancaran penelitian ini, karena peneliti terdahulu mengkaji tentang pemanfaatan gaya bahasa dalam film suatu kajian stilistika pragmatik. 2.2 Kajian Teori Pada bagian kajian teori akan diuraikan mengenai pragmatik, kemudian stilistika pragmatik, konteks pragmatik, gaya bahasa, dan jenis-jenis gaya bahasa.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 2.2.1 Pragmatik Pragmatik adalah studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur (atau penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar (pembaca) (Yule 2006:3). Tipe studi ini perlu melibatkan penafsiran tentang apa yang dimaksudkan orang di dalam suatu konteks khusus itu berpengaruh terhadap apa yang dikatakan. Membutuhkan satu pertimbangan tentang bagaimana cara penutur mengatur apa yang ingin dikatakan yang disesuaikan dengan orang yang mereka ajak bicara, di mana, kapan, dan dalam keadaan apa. Pragmatik adalah studi tentang makna kontekstual. Pendekatan ini juga perluh menyelidiki bagaimana cara pendengar dapat menyimpulkan tentang apa yang dituturkan agar dapat sampai pada suatu interpretasi makna yang dimaksudkan oleh penutur. Tipe studi ini menggali betapa banyak sesuatu yang tidak dikatakn ternyata menjadi bagian yang disampaikan. Pragmatik adalah studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik dan pemakai bentuk-bentuk itu. Di antara 3 (tiga) bagian perbedaan ini hanya pragmatik sajalah yang memungkinkan orang ke dalam suatu analisis. Manfaat belajar bahasa melalui pragmatik ialah bahwa seseorang dapat bertutur kata tentang makna yang dimaksudkan orang, asumsi mereka, maksud atau tujuan mereka, dan jenis tindakan (sebagai contoh: permohonan) yang mereka perlihatkan ketika mereka sedang berbicara. Kerugian yang besar adalah bahwa semua konsep manusia ini sulit dianalisis dalam suatu cara yang konsisten dan objektif. Dua orang teman yang sedang bercakap-cakap mungkin menyatakan secara tidak langsung beberapa hal dan menyimpulkan suatu hal lain tanpa

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 memberikan bukti linguistik apa pun yang dapat kita tunjuk sebagai sumber ‘makna’ yang jelas/pasti tentang apa yang sedang disampaikan. Contoh (1) adalah sekadar suatu kasus masalah. Saya mendengar penutur dan saya tahu apa yang mereka katakan, tetapi saya ‘tidak tahu’ (tidak mampunyai) gagasan apa yang dikomunikasikan oleh penutur. 1) Her : so-did you? (jadi, saudara?) Him : hey-who wouldn’t? (hei, siapa yang tidak mau?) Jadi pragmatik itu menarik karena melibatkan bagaimana orang saling memahami satu sama lain secara linguistik. Tetapi, pragmatik dapat juga merupakan ruang lingkup studi yang mematahkan semangat karena studi ini mengharuskan kita memahami orang lain dan apa yang ada dalam pikiran mereka (Yule 2006:5-6). Pragmatik diartikan sebagai syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi; aspek-aspek pemakaian bahasa atau konteks luar bahasa yang memberikan sumbangan kepada makna ujaran (Kridalaksana, 1993:177). Jadi, pragmatik merupakan ilmu yang digunakan untuk mengetahui penggunaan bahasa yang sesuai konteks. Pragmatik pada hakikatnya adalah studi bahasa dari sudut pemakaiannya atau bahasa dalam pemakaiannya (language in use) (Levinson dalam Pranowo, 2014:137). Dalam menstudi bahasa pragmatik melibatkan konteks yang dipakai oleh penutur/penulis dengan tuturannya, bukan dengan menekankan pada hubungan antara penutur dengan tuturannya, bukan pada hubungan kalimat satu dengan kalimat yang lain yang terlepas dari konteksnya.

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 2.2.2 Stilistika Pragmatik Istilah stilistika berasal dari kata stylistics dalam bahasa inggris. Istilah stilistika atau stylistics terdiri dari dua kata style dan ics. Stylist adalah ‘pengarangg atau pembicara yang baik gaya bahasanya, perancang atau ahli dalam mode’. Ics atau ik adalah ‘ilmu, kaji, telaah’. Stilistika adalah ilmu gaya bahasa. Stilistika merupakan ilmu yang mempelajari tentang stile. Stile/gaya secara tradisional telah didefinisikan sebagai cara ekspresi linguistik dalam bentuk prosa atau sajak bagaimana penutur atau penulis mengatakan apapun yang mereka nyatakan Wicaksono (2014:4). Penemu stilistika adalah Charles Bally, seorang linguis Perancis Hough, 1972 (dalam Nur Rohman). Sebenarnya, stilistika tidak dimaksudkan sebagai studi sastra, tetapi untuk studi bahasa (linguistik) yang dipergunakan dalam bahasa sehari-hari. Stilistika merupakan bagian lingustik seperti yang dikemukakan oleh Turner, 1977 (dalam Nur Rohman). Meskipun kesusastraan (ilmu sastra) dapat memanfaatkan hasil studi linguistik dalam penelitian sastra, tetapi kesusastraan berbeda dengan lingusitik sebab objeknya berbeda. Objek studi linguistik adalah bahasa, sedangkan objek studi kesusastraan adalah karya sastra yang mempunyai konvensi sendiri. Oleh karena itu, ada usaha studi stilistika yang berkecenderungan pada ilmu sastra dan penelitian stilistika yang dipusatkan pada karya sastra sebagai sumber gaya dan penggunaan bahasa yang kompleks. Hakikat stilistika adalah pemakaian atau penggunaan bahasa dalam karya sastra, tetapi kesadarannya muncul dalam linguistik. Oleh karena itu,

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 stilistika dipahami sebagai ilmu gabung antara linguistik dan ilmu sastra (dalam Nur Rohman). Stilistika adalah suatu bidang ilmu yang menjembatani kedua disiplin ilmu tersebut, dan bukan disiplin ilmu tersendiri, tetapi sebagai suatu cara untuk menghubungan disiplin-disiplin ilmu yang lain. Pragmatik sebagai salah satu bidang ilmu linguistik yang mengkhususkan pengkajian pada hubungan antara bahasa dan konteks tuturan. Berkaitan dengan itu, Mey (dalam Rahardi, 2003:15) mendefinisikan pragmatik bahwa “pragmatics is the study of the conditions of human language uses as there determined by the context of society”, ‘pragmatik adalah studi mengenai kondisi-kondisi penggunaan bahasa manusia yang ditentukan oleh konteks masyarakat’. Levinson (dalam Rahardi, 2003:13 dan 14) berpendapat bahwa pragmatik sebagai studi perihal ilmu bahasa yang mempelajari relasi-relasi antara bahasa dengan konteks tuturannya. Konteks tuturan yang dimaksud telah tergramatisasi dan terkodifikasikan sedemikian rupa, sehingga sama sekali tidak dapat dilepaskan begitu saja dari struktur kebahasaannya. Kajian stilistika memiliki anggapan bahwa bahasa dari sebuah teks mencerminkan dunia tekstual secara sempurna (Fasold dalam Black, 2011:1). pragmatik adalah kajian terhadap bahasa dalam penggunaannya (dengan memperhitungkan unsur-unsur yang tidak dicakup oleh tata bahasa dan semantik), maka dapat dipahami jika stilistika sekarang menggunakan pragmatika dan pemahaman-pemahaman yang dapat dihasilkan pragmatika. Kita berada dalam sebuah dunia makna yang relatif tidak stabil. Peran dari pembaca adalah selalu sebagai penafsir dan bukan sekadar penerima yang pasif (Black, 2011:1-2). Jadi,

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 setiap orang yang membaca atau menonton bukan hanya menjadi pembaca dan pendengar yang baik tetapi menjadi seorang yang dapat menilai dan mengidentifikasi sesuatu yang telah dibaca maupun didengar. Perpaduan antara teori-teori pragmatik dan stilistika menghasilkan teori stilistika pragmatik. Kajian stilististika pragmatik dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip dari teori-teori pragmatik agar bisa menjelaskan aspek-aspek dari teks sastra yang membuat teoriteori pragmatik menjadi menarik untuk digunakan sebagai sarana penafsiran (Black, 2011:336). Teori ini dikembangkan oleh Elizabeth Black. Ia berpandangan bahwa kajian linguistik yang berorientasi pragmatik terhadap bahasa ternyata berguna bagi pemahaman teks fiksi atau karya sastra. Stilistika Pragmatik lebih menekankan hubungannya dengan bahasa dalam praktek penggunaannya. Peneliti mengambil teori tentang stilistika pragmatik ini agar dapat membantu peneliti untuk mengkaji film yang ingin dianalisis. Peneliti akan mendeskripsikan gaya bahasa dan makna gaya bahasa yang terdapat dalam film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak Karya Garin Nugroho Kajian Stilistika Pragmatik. 2.2.3 Konteks dalam Pragmatik Pragmatik adalah studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur (atau penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar (pembaca) (Yule, 1996:3). Tipe studi ini perluh melibatkan penafsiran tentang apa yang dimaksudkan orang di dalam suatu konteks khusus itu berpengaruh terhadap apa yang dikatakan. Diperluhkan satu pertimbangan tentang bagaimana cara penutur mengatur apa

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 yang ingin dikatakan yang disesuaikan dengan orang yang mereka ajak bicara, di mana, kapan, dan dalam keadaan apa. Pragmatik adalah studi tentang makna kontekstual. Pendekatan ini juga perluh menyelidiki bagaimana cara pendengar dapat menyimpulkan tentang apa yang dituturkan agar dapat sampai pada suatu interpretasi makna yang dimaksudkan oleh penutur. Tipe studi ini menggali betapa banyak sesuatu yang tidak dikatakn ternyata menjadi bagian yang disampaikan. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam pragmatik pasti membutuhkan konteks karena setiap apa yang ingin disampaikan oleh penutur harus berdasarkan konteks. Konteks biasanya dipahami sebagai sesuatu yang sudah ada sebelum wacana dan situasi dari partisipan (Brown dan Yule dalam Black, 2011:3). Dalam sebuah teks tertulis, awal dari teks memberikan orientasi kepada pembaca untuk memahami wacana, karena tidak ada apapun yang ada sebelum awal dari teks itu sendiri. Konteks dimana sebuah wacana terjadi dipandang sebagai dunia wacana sementara topik dari teks adalah dunia teks. Maka, dapat kita ketahui konteks sangat diperlukan dalam pragmatik karena setiap makna tuturan yang disampaikan oleh penutur harus memiliki konteks yaitu situasi yang berada di luar teks yang sedang dibicarakan (Pranowo 2014:65). Konteks merupakan hal yang penting dalam tuturan berdasarkan kajian pragmatik karena dari konteks dapat diketahui apa yang sebenarnya terjadi sehingga tuturan itu dituturkan. Konteks dalam pragmatik digunakan untuk mengetahui situasi dan kondisi dari penutur sehingga peneliti dapat menafsirkan

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 makna pragmatik yang terdapat dalam film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak karya Garin Nugroho. 2.2.4 Gaya Bahasa Gaya atau khusunya gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah style. Kata style diturunkan dari kata latin stilus, yaitu semacam ini untuk menulis pada lempengan lilin. Keahlian menggunakan alat ini akan mempengaruhi jelas tidaknya tulisan pada lempengan tadi. Kelak pada waktu penekanan dititikberatkan pada keahlian untuk menulis indah, maka style lalu berubah menjadi kemampuan dan keahlian untuk menulis atau mempergunakan kata-kata secara indah. Gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa. Gaya bahasa memungkinkan kita dapat menilai pribadi, watak, dan kemampuan seorang yang mempergunakan bahasa itu, semakin baik gaya bahasanya, semakin baik pula penilaian orang terhadapnya; semakin buruk gaya bahasa seseorang, semakin buruk pula penilaian diberikan padanya dan style atau gaya bahasa dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa) (Keraf, 1980:113). Gaya bahasa adalah bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum. Pendek kata penggunaan gaya bahasa tertentu dapat mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu (Dale dalam Tarigan, 1985:5). Gaya bahasa merupakan bentuk retorik, yaitu penggunaan kata-

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 kata dalam berbicara dan menulis untuk meyakinkan atau mempengaruhi penyimak dan pembaca. Gaya bahasa dalam stilistika pragmatik merupakan gaya bahasa berdasarkan sebuah konteks. Setiap manusia ketika bertutur pasti memiliki gaya bahasanya sendiri dan setiap tuturan yang keluar pasti memiliki latar belakang. Maksudnya setiap tuturan yang dituturkan pasti memiliki kontek karena konteks adalah sesuatu yang sudah ada sebelum tuturan itu dan situasi dari partisipan. Peneliti mengambil gaya bahasa dalam kajian teorinya karena peneliti menganalisis sebuah film yang berjudul Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak karya Garin Nugroho; Kajian Stilistika Pragmatik. 2.2.5 Jenis-Jenis Gaya Bahasa Keraf (1984:115-116) membagi gaya bahasa dari dua segi yaitu segi nonbahasa dan segi bahasa. Gaya bahasa dari segi nonbahasa dibagi atas tujuh pokok yaitu berdasarkan pengarang, masa medium, subjek, tempat, hadirin dan tujuan. Berdasarkan segi bahasanya, gaya bahasa dibedakan berdasarkan pilihan kata, nada yang terkandung dalam wacana, struktur kalimat, dan langsung tidaknya makna. Tarigan (2009:5-6) 11 mengelompokkan gaya bahasa menjadi empat, yaitu (1) gaya bahasa perbandingan, (2) gaya bahasa pertentangan, (3) gaya bahasa pertautan, dan (4) gaya bahasa perulangan. Tinjauan terhadap gaya bahasa dalam pembahasan ini ditekankan pada gaya bahasa pertentangan. Gaya bahasa pertentangan ini dibedakan menjadi; gaya bahasa hiperbola, gaya bahasa litotes, gaya bahasa ironi, gaya bahasa eufemisme, gaya bahasa Paronomasia, gaya

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 bahasa paralepsis, gaya bahasa zeugma dan silepsis, gaya bahasa satire, gaya bahasa inuendo, gaya bahasa antifrasis, gaya bahasa anafora, gaya bahasa elipsis, gaya bahasa asonansi, gaya bahasa aposrof, gaya bahasa epizeukis, gaya bahasa apofasis dan preterisio, gaya bahasa polisindeton, gaya bahasa pleonasme atau tautologi, gaya bahasa sinisme, dan gaya bahasa sarkasme. Peneliti akan berfokus pada penggunaan gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna yang terdapat dalam film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak Karya Garin Nugroho. Berikut ini uraian singkat tentang gaya bahasa dilihat dari segi bahasa menuruf Keraf (1984) dan empat gaya bahasa menurut Tarigan. 2.2.5.1 Gaya Bahasa berdasarkan Pilihan Kata Gaya bahasa ini mempersoalkan ketepatan dan kesesuaian dalam menghadapi situasi-situasi tertentu, dalam bahasa standar (bahasa baku). Bahasa standar dan bahasa baku dibedakan menjadi 3 bagian, yakni: a) gaya bahasa resmi, b) gaya bahasa tak resmi, c) gaya bahasa percakapan. Berikut ini akan dipaparkan masing-masing dari gaya bahasa tersebut. a) Gaya Bahasa Resmi Gaya bahasa resmi adalah gaya bahasa yang bentuknya lengkap dan dipergunakan dalam kesempatan-kesempatan resmi, seperti dalam pidato presiden, berita Negara, dan khotbah-khotbah mimbar. Cenderung kalimatnya adalah panjang dan biasanya mempergunakan inversi. Tata bahasanya konservatif dan sintaksisnya kompleks (Keraf, 1984:117-118).

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 b) Gaya Bahasa Tak Resmi Gaya bahasa tak resmi adalah gaya bahasa yang dipergunakan dalam standar khususnya dalam kesempatan yang kurang formal. Gaya bahasa ini biasanya dipergunakan dalam karya-karya tulis, artikel-artikel mingguan atau bulanan yang baik, perkuliahan, dan sebagainya. Gaya bahasa tak resmi adalah gaya bahasa yang umum dan normal bagi kaum terpelajar (Keraf, 1984:118). c) Gaya Bahasa Percakapan Gaya bahasa percakapan adalah gaya bahasa yang pilihan katanya adalah katakata popular dan kata-kata percakapan (Keraf, 1984: 120). 2.2.5.2 Gaya Bahasa berdasarkan Nada Gaya bahasa berdasarkan nada didasarkan pada sugesti yang dipancarkan dari rangkaian kata-kata yang terdapat dalam sebuah wacana. Sugesti dipancarkan oleh rangkaian kata-kata yang berjalan sejajar, sedangkan kata-kata yang berjalan sejajar akan mempengaruhi yang lain. Dengan latar belakang ini, gaya bahasa dilihat dari sudut nada yang terkandung dalam sebuah wacana, dibagi atas: gaya sederhana, gaya mulia dan bertenaga, serta gaya menengah (Keraf, 1984:121). a) Gaya Bahasa Sederhana Gaya bahasa ini biasanya cocok memberi instruksi, pelajaran, perintah, perkuliahan, dan sejenisnya. Gaya ini cocok pula dalam menyampaikan fakta atau pembuktian (Keraf. 1984:121). b) Gaya Mulia dan Bertenaga Gaya di atas penuh dengan energy maupun vitalitas biasanya dipergunakan untuk menggerakkan sesuatu. Dibalik kemuliaan dan keagungan itu terdapat tenaga

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 yang benar-benar mampu mengggetarkan emosi para pendengar atau pembaca (Keraf, 1984: 122). c) Gaya Bahasa Menengah Gaya ini yang diarahkan kepada usaha untuk menimbulkan suasana yang damai. Nada ini bersifat lemah-lembut. Berdasarkan sifatnya itu pada biasanya nada ini menggunakan metafora bagi pilihan katanya (Keraf, 1984:122-123). 2.2.5.3 Gaya Bahasa berdasarkan Struktur Kalimat Struktur sebuah kalimat dapat dijadikan landasan untuk menciptakan gaya bahasa. Yang dimaksud dengan struktur kalimat di sini adalah kalimat bagaimana tempat sebuah unsur kalimat yang dipentingkan dalam kalimat tersebut. Ada kalimat yang bersifat periodik, bila bagian yang terpenting atau agasan yang mendapatkan tekanan ditempatkan pada akhir kalimat yang mendapatkan tekanan ditempatkan pada awal kalimat. Bagian-bagian yang kurang penting atau semakin kurang penting dideretkan sesudah bagian yang dipentingkan tadi dan jenis ketiga adalah kalimat berimbang, yaitu kalimat yang mengandung dua bagian kalimat atau lebih yang kedudukannya sama tinggi atau sederajat (Keraf, 1984:124). Berdasarkan ketiga macam struktur kalimat tersebut maka gaya bahasa menurut Keraf (1984:124-128) dibagi menjadi: a) Klimak b) Antiklimaks, terdiri dari : dekrementum, katabasis, batos c) Paralelisme d) Antithesis

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 e) Repetisi, terdiri dari: tautotes, anafora,epistrofa, symploke, mesodiplosis, epanalepsis, anadiplosis. 2.2.5.4 Gaya Bahasa berdasarkan Langsung Tidaknya Makna Gaya bahasa berdasarkan makna diukut dari langsung tidaknya makna denotatifnya atau sudah ada penyimpagan. Bila acuan yang digunakan masih mempertahankan makna dasar, maka bahasa itu masih bersifat polos. Tetapi bila sudah ada perubahan makna, entah berupa makna konotatif atau sudah menyimpang jauh dari makna denotatifnya, maka acuan itu dianggap sudah memiliki gaya sebagai yang dimaksud disini. Gaya bahasa berdasarkan ketidaklangsungan makna ini biasanya disebut sebagai trope atau figure of speech. Istilah trope sebenarnya berarti ‘pembalikan ’ atau ‘penyimpangan’., Trope atau figure of speech memiliki macam-macam fungsi: menjelaskan, memperkuat, menghidupkan objek mati, menstimulasi asosiasi, menimbulkan gelak tawa, atau untuk hiasan. Gaya bahasa yang disebut trop atau figure of speech dalam uraian ini dibagi atas dua kelompok, yaitu gaya bahasa retoris, yang semata-mata merupakan penyimpangan dari konstruksi biasa untuk mencari efek tertentu, dan gaya bahasa kiasan yang merupakan penyimpangan yang lebih jauh, khususnya dalam bidang makna. Contoh: a. Satu kilometre terdiri dari 1000 meter b. Rumah itu terletak 300 kilometer dari jalan raya c. Ia memukul adiknya dengan sebuah tongkat Contoh-contoh di atas memperlihatkan bahwa bahasa yang dipergunakan adalah bahasa biasa, yang masih bersifat polos, bahasa yang mengandung unsurunsur kelangsungan makna, dengan konstruksi-konstruksi yang umum dalam

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 bahasa Indonesia. Arti yang didukungnya tidak lebih dan tidak kurang dari nilai lahirnya. Tidak ada usaha untuk menyembunyikan sesuatu di dalamnya (Keraf, 1984:129-130). Jadi, telah dipaparkan empat (4) gaya bahasa menurut Keraf (1984). Empat gaya bahasa di atas akan digunakan dalam penelitian ini untuk melihat apakah kata, frasa, klausa dan kalimat yang digunakan dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak itu termasuk dalam gaya bahasa yang mana. 2.2.5.5 Gaya Bahasa Hiperbola Hiperbola adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang melebih-lebihkan jumlahnya, ukuranya dan sifatnya dengan maksud memberi penekanan pada suatu pernyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan pengaruhnya. Gaya bahasa ini melibatkan kata-kata, frase, atau kalimat (Guntur Tarigan 2009:55) Menurut Keraf (1984:135) hiperbola adalah semacam gaya bahasa yang mengandung suatu penyataan yang berlebihan, dengan membesarbesarkan sesuatu hal. Contoh: (1) Dengan new Jupiter Z kamu bisa tampil lebih percaya diri !. (2) Honda naik kelas Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa hiperbola adalah jenis gaya bahasa yang mengandung ungkapan yang melebihlebihkan baik itu jumlah, ukuran, dan sifatnya. Bisa dilihat dari kalimat ‘Dengan new Jupiter Z kamu bisa tampil lebih percaya diri!’, kalimat tersebut mengandung sesuatu yang berlebihan karena tidak mungkin semua orang akan merasa percaya diri dengan memakai new Jupiter Z.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 2.2.5.6 Gaya Bahasa Koreksio atau Epanortosis Dalam berbicara atau menulis, ada kalanya kita menegaskan sesuatu, tetapi kemudian kita memperbaikinya dan mengoreksi kembali. Gaya bahasa yang seperti ini biasa disebut koreksio atau epanortosis (Keraf, 1984:135). Sejalan dengan Tarigan (2013:34) bahwa koreksi atau epanortosis adalah gaya bahasa yang berwujud mula-mula ingin menegaskan sesuatu tetapi kemudian memeriksa dan memperbaiki mana-mana yang salah (Tarigan, 2013:34). Koreksio atau epanortosis merupakan gaya bahasa yang dapat digunakan dalam menganalisis tuturan dalam sebuah karya sastra maupun tuturan dalam film. Contoh dari gaya bahasa koreksio atau epanortosis yaitu: Dia benar-benar mencintai Neng Tetty, eh bukan, Neng Terry. Soto eh sop ayam Gaya bahasa koreksio atau epanortosis merupakan gaya bahasa yang digunakan untuk membenarkan yang salah. Dapat dilihat dari contoh di atas soto eh sop ayam. Frasa tersebut merupakan gaya bahasa koreksio atau epanortosis karena apa yang dikatakan sebelumnya itu salah, setelah itu ia membenarkan pernyataanya. 2.2.5.7 Gaya Bahasa Ironi Ironi adalah sejenis gaya bahasa yang mengimplikasikan sesuatu yang nyata berbeda, bahkan seringkali bertentangan dengan yang sebenarnya dikatakan itu (Tarigan, 2013:61). Ironi ringan merupakan suatu bentuk humor tetapi ironi berat atau ironi keras biasanya merupakan suatu bentuk sarkasme atau satire, walaupun pembatasan yang tegasa antara hal-hal itu sangat sulit dibuat dan jarang sekali memuaskan orang (Tarigan, 1985:189). Sejalan dengan Keraf (1984:143)

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 bahwa ironi merupakan suatu acuan yang ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dari apa yang terkandung dalam rangkaian katakatanya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa ironi merupakan sindiran dengan menyembunyikan fakta dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut. Perlu diingat bahwa pemahaman ironi sangat tergantung dari konteks (bahkan beberapa ahli bahasa membedakan ironi dari majas lainnya, karena hal tersebut). Apabila konteks tidak mendukung ironi, maka ujaran yang mengandung ejekan dapat menjadi pujian (Staf UI, 2012). Contoh :” Wah. pemerintah sekarang memang sukses, ya!” “Benarkah pendapatmu demikian?” “Ya. tentu saja, sukses dalam menaikkan harga-harga!” Di sini, tampak ada dua petanda. Leksem sukses biasanya mengandung komponen makna positif, tetapi kadang-kadang juga dapat mempunyai makna negatif apabila konteks mendukungnya. Pada ujaran pertama, leksem sukses masih mengandung kemungkinan bermakna positif (sebagaimana lazimnya), namun pada ujaran yang ke- 3 leksem itu diikuti frasa ‘menaikkan harga-harga’ yang secara konotatif mempunyai makna negatif. Oposisi makna ini menunjukkan adanya ironi. Di sini, konteks bersifat tekstual, sehingga tidak mungkin ada makna pujian. Berkat konteksnya, ujaran yang mengandung gagasan positif, dapat menyembunyikan makna yang negatif. Berikut ini dikemukakan bagan wilayah makna ironi: Sebenarnya, hampir semua majas memerlukan konteks, baik tekstual maupun situasional.

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 Meskipun demikian, ironi selalu terdiri dari unsur pragmatika khusus: mengujarkan sesuatu dengan ironis selalu kurang lebih ditujukan pada sasaran bulan-bulanan. Dikatakan bahwa ironi sering kali digunakan untuk mengolokolok. Menyampaikan sesuatu dengan ironis adalah menggunakan kosakata yang seakan meninggikan nilai padahal merendahkannya. Selain perubahan petanda, dalam ironi juga ada perubahan acuan. 2.2.5.8 Gaya Bahasa Eufemisme Kata eufemisme berasal dari bahasa Yunani euphemizein yang berarti “mempergunakan kata-kata dengan arti yang baik atau dengan tujuan yang baik” (Keraf, 1984:132). Sedangkan menurut Dale dan Tarigan, kata eufemisme juga diturunkan dari eu ‘baik+phanai’ berbicara’. Jadi secara singkat eufemisme berarti ‘pandai berbicara’; berbicara baik’ (Tarigan, 1985:128). Eufemisme adalah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasakan kasar yang dianggap merugikan, atau yang tidak menyenangkan. Misalnya: meninggal, bersengggama, tinja, tunakarya. Namun eufemisme dapat juga dengan mudah melemahkan kekuatan diksi karangan. Misalnya; penyesuaian harga, kemungkinan kekurangan makan, membebastugaskan (Moeliono dalam Tarigan, 1985:128). Jadi dapat disimpulkan bahwa eufemisme adalah ungkapan yang dapat diterima dengan baik oleh penerima karena memakai bahasa yang halus agar tidak ada yang merasa tersinggung. 2.2.5.9 Gaya Bahasa Paronomasia Paronomasia adalah gaya bahasa yang berisi penjajaran kata-kata yang berbunyi sama tetapi bermakna lain; kata- kata yang sama bunyinya tetapi artinya

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 berbeda (Ducrot & Todorov dalam Tarigan, 2013:64). Istilah Paronomasia ini sering juga disamakan dengan yang mengandung makna yang sama (Keraf, 1984:145). Contoh: (1) Centralite, lebih terang lebih hemat lebih tahan lama Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa Paronomasia adalah gaya bahasa yang berisi penjajaran kata-kata yang berbunyi sama yang memiliki arti yang sama maupun berbeda. Dapat dilihat dari contoh Centralite, lebih terang lebih hemat lebih tahan lama. Kalimat tersebut merupakan sesuatu yang memiliki bunyi yang sama. 2.2.5.10 Gaya Bahasa Paralipsis Paralipsis menurut KBBI adalah alat untuk menyatakan bahwa pembicara tidak mengucapkan apa yang diucapkan dalam kalimat itu. Paralipsis adalah gaya bahasa yang merupakan suatu formula yang digunakan sebagai sarana untuk menerangkan bahwa seseorang tidak mengatakan apa yang tersirat dalam kalimat itu sendiri (Dacrot dan Todorov dalam Tarigan, 2013:66). Jadi dapat di simpulkan bahwa paralipsis adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyatakan suatu hal yang sebenarnya tidak ingin ia katakan tetapi telah ia bicarakan dan dijelaskan kembali sesuai apa yang sebetulnya ingin diucapkan. Contoh: Juallah segera ubi itu ke kota (ih....) yang saya maksud ke desa. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa menolak doa kita, (maaf) bukan, maksud saya mengabulkannya 2.2.5.11 Gaya Bahasa Zeugma dan Silepsis Silepsis dan zeugma adalah gaya di mana orang mempergunakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata lain yang

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 sebenarnya hanya salah satu yang mempunyai hubungan dengan kata pertama (Keraf, 1984:135). Konstruksi yang dipergunakan secara gramatikal benar, tetapi secara semantik tidak benar disebut silepsis. Sedangkan dalam zeugma terdapat gabungan gramatikal dua buah kata yang mengandung ciri-ciri semantik yang bertentangan (Ducrot & Todorov dalam Tarigan, 2013:68). Dengan kata lain dapat dirumuskan bahwa ‘dalam zeugma kata yang dipakai untuk membawahi kedua kata berikutnya, sebenarnya hanya cocok untuk salah satu daripadanya, baim secara logis maupun secara grmatikal’ (Tarigan, 2013:68). Dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa zeugma dan silepsis merupakan gaya bahasa yang menghubungkan kata dengan kata lain. Contoh: anak itu memang rajin dan malas di sekolah. Paman saya nyata sekali bersifat sosial dan egois Dalam silepsis, konstruksi yang digunakan itu secara gramatikal benar, tetapi secara semantik tidak benar. Contoh : ia sudah kehilangan topi dan semangatnya 2.2.5.12 Gaya Bahasa Satire Uraian yang harus ditafsirkan lain dari makna permukaannya disebut satire. Kata satire diturunkan dari kata satura yang berarti talam yang penuh berisi macam-macam buah-buahan. Satire adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu. Bentuk ini tidak harus bersifat ironis. Satire mengandung kritik tentang kelemahan manusia. Tujuan utamanya adalah agar diadakan perbaikan secara etis dan estetis (Keraf, 1984:144). Satire merupakan sejenis bentuk argumen yang beraksi secara tidak langsung, terkadang secara aneh bahkan

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 adakalahnya dengan cara yang cukup lucu yang menimbulkan tertawaan (Tarigan,2013:70). Misalnya: Jangan pernah berpikir kau adalah dewa, menghadapi masalah seperti ini pun kau sudah kewalahan. Jadi dapat disimpulkan bahwa satire merupakan gaya bahasa yang dapat menggunakan bahasa yang ramah, kasar dan menusuk yang berupa kritikan. 2.2.5.13 Gaya Bahasa Inuendo Inuendo adalah sejenis gaya bahasa yang berupa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Gaya bahasa ini menyatakan kritik dengan sugesti yang tidak langsung, dan tampaknya tidak menyakitkan hati kalau ditinjau sekilas (Keraf, 1984:144). Terlihat juga dalam buku (Tarigan, 2013:74) bahwa innuendo adalah sindiran kecil yang mengecilkan sesuatu yang sebenarnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa innuendo merupakan gaya bahasa yang digunakan dapat mengungkapkan kritik yang halus atau tidak membuat orang lain tersinggung. Misalnya: Setiap ada pesta ia pasti sedikit mabuk karena kebanyakan minum. Jadi dapat dilihat dari contoh ‘Setiap ada pesta ia pasti sedikit mabuk karena kebanyakan minum.’ bahwa kalimat tersebut digunakan untuk menyindir atau mengatai seseorang secara halus atau tidak kasar. 2.2.5.14 Gaya Bahasa Antifrasis Antifrasis adalah semacam ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan makna kebalikannya, yang bisa saja dianggap sebagai ironi sendiri (Keraf, 1984:144). Perlu diingat bahwa antifrasis akan dapat diketahui dan dipahami

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 dengan jelas bila pembaca atau penyimak dihadapkan pada kenyataan bahwa yang dikatakan itu adalah sebaliknya Bila diketahui bahwa yang hadir adalah seorang yang kurus, lalu dikatakan bahwa ‘si gendut telah hadir’ maka, jelas gaya bahasa tersebut adalah antifrasis. Begitu pula siswa yang malas yang berada di tengah teman-temannya disebut siswa teladan (Tarigan, 2013:76). Dapat dilihat bahwa antifrasis jika tidak diperhatikan secara baik maka gaya bahasa itu dapat di sebut ironi yang telah di bahas. Contoh Lihatlah sang raksasa telah datang (maksudnya si cebol). Mari kita sambut kedatangan sang raja (maksudnya si jongos) Kita dapat melihat dari contoh di atas bahwa kata raksasa adalah kata yang kasar dan sangat menyindir sehingga kita hampir tidak bisa membedakan antifrasis dan ironi. Tetapi, kita bisa membedakan kedua gaya bahasa tersebut yaitu jika ironi merupakan sesuatu yang nyata berbeda dan sangat tergantung pada konteks, apabila konteks tidak mendukung ironi maka, ujaran yang mengandung ejekan dapat menjadi pujian. Sedangkan antifrasis adalah kebalikan dari kenyataan yang terjadi. 2.2.5.15 Gaya Bahasa Anafora Anafora merupakan salah satu penyiasatan struktur sintaksis yang berbasis pada repetisi (Nurgiyantoro, 2014:256). Anafora adalah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata pertama pada setiap baris atau setiap kalimat (Tarigan, 2013 :184). Anafora sesuatu kata yang berulang-ulang dipergunakan dalam setiap baris.

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 Contoh: Lupakah engkau bahwa merekahlah yang membesarkan dan mengasuhmu? Lupakah engkau bahwa keluarga itu yang menyekolahkanmu sampai ke perguruan tinggi? Kalimat di atas dapat disimpulkan bahwa anafora merupakan gaya bahasa yang digunakan untuk mengulang kata pertama. Terlihat dari contoh tersebut memakai kata lupakah dalam mengawali sebuah kalimat. 2.2.5.16 Gaya Bahasa Elipsis Elipsis merupakan suatu gaya bahasa yang menghilangkan suatu unsur kalimat agar ditafsirkan sendiri oleh pembaca atau pendengar (Keraf, 1984:132). Ellipsis adalah gaya bahasa yang di dalamnya dilaksanakan penanggalan atau penghilangan kata atau kata-kata yang memenuhi bentuk kalimat berdasarkan tata bahasa. Atau dengan kata lain: elipsis adalah penghilangan salah satu atau beberapa unsur penting dalam konstruksi sintaksis yang lengkap (Ducrot and Todorov dalam Tarigan 1985:138). Contoh: Mereka ke Jakarta minggu yang lalu (penghilangan predikat : pergi) Jadi, ada beberapa kata yang dihilangkan untuk membuat pembaca/pendengar meneruskan sendiri atau juga karena untuk mempersingkat kalimat yaitu tanpa mengubah makna yang sebenarnya. 2.2.5.17 Gaya Bahasa Asonansi Asonansi sejenis gaya bahasa repetisi yang berwujud perulangan vokal yang sama. Biasanya dipakai dalam karya puisi ataupun dalam prosa untuk memperoleh efek penekanan atau menyelamatkan keindahan (Tarigan, 2013:176).

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 Asonasi suatu perulangan yang digunakan untuk mengulangi vokal yang sama misalnya: Muka muda mudah muram Tiada siaga tiada biasa Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa asonansi merupakan gaya bahasa yang digunakan untuk mengulang tekanan nada yang sama. 2.2.5.18 Gaya Bahasa Anastrof dan Inversi Anastrof atau inversi adalah semacam gaya bahasa retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat (Keraf, 1984:130). Inversi adalah gaya bahasa yang merupakan permutasi atau perubahan urutan unsur-unsur konsruksi sintaksis (Ducrot & Todorov dalam Tarigan,2013:85). Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa anastrof atau inversi merupakan susunan kata yang disusun secara tidak teratur dalam sebuah kalimat tetapi dapat dipahami. Misalnya: Pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami melihat perangainya. Merantaulah dia ke negeri seberang tanpa meninggalkan apa-apa. 2.2.5.19 Gaya Bahasa Epizeukis Epizeukis adalah gaya bahasa perulangan yang bersifat langsung, yaitu kata yang ditekankan atau dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut (Tarigan, 2013:182). Epizeukis ini dapat digunakan dalam mengkaji puisi maupun prosa. Dalam sebuah karya sastra maupun non-sastra banyak terdapat epizeukis yaitu perulangan yang bersifat langsung. Contoh: ingat, kamu harus bertobat, bertobat, sekali lagi bertobat agar dosadosamu diampuni oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih.

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa epizeukis merupakan gaya bahasa yang mengulang kata-kata penting yang ditekankan dalam kalimat itu. 2.2.5.20 Gaya Bahasa Apofasis dan Preterisio Ada saatnya kita berpura-pura membiarkan sesuatu berlalu tetapi sebenarnya kita menaruh perhatian atau menekankan hal tersebut. Berpura-pura menyembunyikan atau merahasiakan sesuatu tetapi sebetulnya justru memamerkannya. Apofasis atau disebut juga dengan preterisio merupakan sebuah gaya di mana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tetapi nampaknya menyangkal. Berpura-pura membiarkan sesuatu berlalu, tetapi sebenarnya ia menekankan hal itu (Keraf, 1984:130). Misalnya : Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa saudara telah menggelapkan ratusan juta rupiah uang negara. Dari contoh di atas terlihat bahwa sebenarnya ia telah membicarakan hal itu tetapi berpura-pura tidak tahu apa yang dia ungkapkan. 2.2.5.21 Gaya Bahasa Polisindeton Polisindeton adalah gaya bahasa yang berupa acuan di mana beberapa kata, frase, atau klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan katakata sambung (Tarigan, 2013:137). Gaya bahasa ini dapat digunakan dalam menganalisis sebuah karya sastra maupun non-sastra. Peneliti mengambil polisindeton sebagai salah satu kajian teorinya karena terdapat dalam tuturan film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak Karya Garin Nugroho Kajian Stilistika Pragmatik. Sejalan dengan Keraf (1984) bahwa polisindeton yang berupa acuan, yang bersifat padat dan mampat di mana beberapa kata, frasa yang sederajat dihubungkan dengan kata sambung.

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 Contoh: istri saya menanam nangka dan jambu dan cengkeh dan pepaya dipekarangan rumah kami 2.2.5.22 Gaya Bahasa Pleonasme dan Tautologi Pleonasme adalah pemakaian kata yang mubazir (berlebihan), yang sebenarnya tidak perlu (seperti menurut sepanjang adat; saling tolong-menolong). (Poerwadarmita dalam Tarigan, 1985:29). Sedangkan Keraf (1984:133) mengatakan suatu acuan disebut pleonasme bila kata yang berlebihan itu dihilangkan artinya tetap utuh Contoh: saya telah mencatat kejadian itu dengan tangan saya sendiri Dia telah menebus sawah itu dengan uang tabungannya sendiri. Para petani menggarap sawah yang luas itu dengan tenaga dan keringat mereka sendiri Jadi, pleonasme merupakan pemakaian kata yang berlebihan dan tidak penting. Dapat kita lihat dari contoh di atas yaitu dengan tangan saya sendiri; kalimat itu adalah hal yang berlebihan atau mubazir. 2.2.5.23 Gaya Bahasa Sinisme Sinisme adalah sejenis gaya bahasa yang berupa sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. Sinisme adalah ironi lebih kasar sifatnya, namun kadang-kadang sukar ditarik batas yang tegas antara keduanya (Tarigan, 2013:91). Sinisme adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu dengan menggunakan hal yang berlawanan dengan tujuan agar orang tersindir secara lebih tajam dan menusuk perasaan (Keraf, 1984:143). Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa sinisme adalah gaya bahasa yang dapat dipergunakan dalam mengatakan sesuatu dengan maksud atau makna berlainan dari apa yang terkandung dalam katakatanya.

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 Misalnya : Kau kan sudah hebat, tak perlu lagi mendengar nasihat orang tua seperti aku ini! Dari contoh di atas dapat kita lihat bahwa apa yang sebetulkan ingin ia katakan itu sangat menyakitkan tetapi ia menggunakan kata-kata yang lembut walaupun sangat menusuk hati mitra tutur. 2.2.5.24 Gaya Bahasa Sarkasme Kata sarkasme berasal dari bahasa Yunani sarkasmos yang diturunkan dari kata kerja sakasein yang berarti ‘merobek-robek daging seperti anjing’, ‘menggigit bibir karena marah’, atau ‘bicara dengan kepahitan’ (Keraf, 1984:143). Bila dibandingkan dengan ironi dan sinisme maka sarkasme ini lebih kasar. Sarkasme adalah gaya bahasa yang mengandung olok-olokan atau sindiran pedas dan menyakiti hati (Poerwadarminta dalam Tarigan 2013:92). Ciri utama gaya bahasa sarkasme ialah selalu mengandung kepahitan dan celaan yang getir, menyakiti hati dan kurang enak didengar. Misalnya : Sikapmu seperti anjing dan sifatmu seperti babi! Kelakuanmu memuakkan saya Tingkah lakumu memalukan kami Kita dapat melihat dari contoh di atas bahwa kata-kata yang dipergunakan sangat kasar dan membuat orang yang mendengar merasa tersinggung. Gaya bahasa khususnya dikenal dalam retorika dengan istilah style. Kata style diturunkan dari kata Latin stilus, yaitu semacam alat untuk menulis lempengan lilin. Keahlian menggunakan alat ini mempengaruhi jelas tidaknya tulisan pada lempengan tadi. Kelak pada waktu penekanan dititikberatkan pada keahlian untuk menulis indah (Keraf, 1984:112).

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 Gaya bahasa merupakan bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan jalan memperkenalkan serta membandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda lain yang lebih umum. Penggunaan gaya bahasa dapat mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu (Dale dalam Tarigan, 1984:5). Jadi, dari kedua pakar di atas dapat simpulkan bahwa gaya bahasa merupakan sesuatu bahasa indah yang dirangkai secara khas. Peneliti menggunakan gaya bahasa dalam penelitiannya karena ingin meneliti tentang pemanfaatan gaya bahasa yang terdapat dalam film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak karya Garin Nugroho dan memakai kajian stilistika pragmatik. Artinya peneliti meneliti gaya bahasa dan maknanya sesuai dengan kajian stilistika pragmatik. 2.3 Film Film pertama kali lahir dipertengahan kedua abad 19, dibuat dengan bahan dasar seluloid yang sangat mudah terbakar bahkan oleh percikan abu rokok sekalipun. Sejalan dengan waktu, para ahli berlomba-lomba untuk menyempurnakan film agar lebih aman, lebih mudah diproduksi dan enak ditonton (Lesmana 2009:10). Film bukanlah hasil karya satu orang. Banyak tenaga, bakat, kepandaian dan keterampilan yang dibutuhkan untuk mencipta sebuah film. Hal ini kiranya telah masuk ke dalam pikiran kita, sementara kita duduk dalam ruang yang gelap untuk menikmati suatu pertunjukan film. Sebab selama pertunjukan film itu berlangsung, banyak unsur kita tangkap dengan indra dan budi kita. Kita melihat gambar-gambar objek, barang atau orang yang diambil dalam bentuk , potongan, ukuran dan susunan tertentu (Margija 1976:9).

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 Skenario adalah tulang punggung sebuah film, karena dari skenario itulah semua aktivitas prosuksi film bertumpu. Di dalam skenario, semua informasi tentang suara (audio) dan gambar (visual) yang akan ditampilkan dalam sebuah film dikemas dalam sebuah bentuk siap pakai untuk produksi film. Ruang, waktu, peran, dan aksi semua dibungkus dalam sebuah scenario. Oleh karena itu, semua sebaiknya segala hal yang terkait scenario terutama soal hak cipta diurus tuntas sebelum sebuah produksi film dimulai (Lesmana 2009:7).

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk penelitian deskripsi kualitatif karena pada langkah awal peneliti mengumpulkan data tuturan dalam Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak karya Garin Nugroho yang dijadikan sebagai data langsung untuk dianalisis. Selain itu peneliti ini mendeskripsikan kata-kata secara tertulis yang ada dalam Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak. Penelitian kualitatif adalah kegiatan yang berlangsung secara simulant dengan kegiatan analisis data (Mahsun, 2005:257). 3.2 Data dan Sumber Data Penelitian Data dalam penelitian ini berwujud tuturan yang terkandung gaya bahasa dalam film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak karya Garin Nugroho, sedangkan Sumber data dalam penelitian ini adalah tuturan-tuturan dalam Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak Karya Garin Nugroho. 3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data Metode dan teknik digunakan untuk menunjukan dua konsep yang berbeda tetapi berhubungan langsung satu sama lain. Keduanya adalah “cara” dalam suatu upaya. Metode adalah cara yang harus dilaksanakan atau diterapkan dan teknik adalah cara melaksanakan atau menerapkan metode (Sudaryanto 2015:9). Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode simak. Metode simak atau penyimakan dilakukan dengan cara menyimak penggunaan bahasa. 38

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 a. Teknik Rekam Dalam perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih, alat perekam yang dimaksud dapat lebih beraneka dengan hasil yang lebih seksama. Meliputi baik tindakan omong yang mampu didengarkan maupun tingkah laku atau perbuatan lain yang mampu dilihat, baik yang verbal maupun non-verbal. Peneliti merekam dengan cara menonton serta mendengarkan tuturan-tuturan dalam film Marlina. Perekaman terhadap tuturan itu dapat dipandang sebagai teknik rekam. b. Teknik Catat Teknik catat yaitu cara yang dilakukan peneliti untuk mencatat data-data yang ada hubungannya dengan masalah penelitian. Pencatatan itu dapat dilakukan langsung. Dengan adanya kemajuan teknologi pencatatan itu dapat memanfaatkan disket computer atau alat semacamnya yang lebih canggih, akurasi lebih meyakinkan dengan pembacaan dan pengecekan lewat penayangan di layar tayangan. Peneliti meneliti dengan cara mencatat atau mengetik tuturan yang terkandung gaya bahasa dalam film Marlina menggunakan buku serta laptop dan disimpan dalam sebuah file. Menurut Mahsun (2007:92) Metode adalah cara yang digunakan untuk memperoleh data dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa dan teknik dasar dalam metode ini adalah teknik sadap. Teknik adalah teknik dasar dalam metode simak karena pada hakikatnya diwujudkan dengan penyadapan. Teknik dan metode yang digunakan untuk pengumpulan data penelitian adalah penyadapan penggunaan bahasa secara lisan dimungkinkan jika peneliti tampil

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 dengan sosoknya yang sedang menyadap pemakaian bahasa seseorang yang sedang bercakap-cakap, berpidato, dan berkhotbah. Jadi, metode dan teknik yang baik digunakan untuk Menganalisis Pemanfaatan Gaya Bahasa dalam Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak adalah metode simak dan dipadukan dengan teknik rekam dan teknik catat yang dapat mempermudah peneliti mengumpulkan dan menganalisis data. 3.4 Metode dan Teknik Analisis Data Setelah melakukan kegiatan yang terkait dengan pengumpulan data kegiatan berikutnya adalah analisis. Metode yang digunakan untuk analisis adalah metode simak. Metode simak berupa suatu penyimakan yang dilakukan untuk menyimak penggunaan bahasa. Metode simak digunakan untuk menganalisis pemanfaatan gaya bahasa dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho. Istilah menyimak di sini tidak hanya berkaitan dengan penggunaan bahasa secara lisan, tetapi juga penggunaan bahasa secara tulis (Mahsun, 2007:92). Peneliti saat ini melakukan penelitian dengan bahasa secara lisan dan menggunakan teknik rekam dan teknik catat. Sudaryanto (2015:205) menjelaskan bahwa metode catat yaitu proses pencatatan pada kartu. Dalam proses penelitian ini metode simak menggunakan teknik catat untuk mencatat atau menyimpan data. Pencatatan data dilakukan pada sebuah buku maupun langsung pada file laptop dan teknik rekam dengan cara menonton dan mendengarkan film Marlina. Data dalam penelitian ini berupa tuturan-tuturan yang terkandung gaya bahasa. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif kualitatif. Sudaryanto (1993) mengemukakan bahwa penelitian

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 deskriptif kualitatif adalah apabila kegiatan yang berupaya menggambarkan atau mendeskripsikan dengan kata-kata atau bahasa tentang informasi yang diperoleh dari suatu latar penelitian. Teknik analisis dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis markah. Pemarkah menunjukkan kejatian satuan lingual atau identitas konstituen tertentu. Kemampuan membaca pemarkah atau petunjuk itu berarti kemampuan untuk menunjukkan kejatian yang dimaksud (Sudaryanto, 2015:129). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik baca markah untuk melihat penanda di dalam suatu tuturan yang menunjukkan kriteria gaya bahasa tertentu. Berdasarkan latar pemikiran tersebut maka teknik analisis yang ditempuh peneliti adalah sebagai berikut: a. Peneliti menganalisis pemanfaatan gaya bahasa dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho kajian stilistika pragmatik. b. Peneliti menganalisis dengan memperhatikan penanda atau ciri-ciri gaya bahasa berdasarkan kajian stilistika pragmatik. c. Peneliti menganalisis makna yang munncul dari pemanfaatan gaya bahasa dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho kajian stilistika pragmatik. d. Peneliti memasukkan data ke dalam tabel atau tabulasi data e. Peneliti menunjukkan bukti yang dapat memperjelas kriteria sebuah elemen menunjukkan suatu gaya bahasa berdasarkan kajian stilistika pragmatik dalam film tersebut.

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 3.5 Trianggulasi Data Trianggulasi data adalah teknik pemeriksaan kesalahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong, 2006:330). Berdasarkan pendapat Moleong dapat disimpulkan bahwa trianggulasi merupakan suatu proses untuk memeriksa suatu data dengan memerluhkan suatu ahli atau menggunakan metode tertentu agar data yang diperiksa benar serta peneliti lebih memahami apa yang diteliti. Trianggulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah trianggulasi penyidik. Dalam trianggulasi penyidik, adanya penyidik yang turut memeriksa hasil pengumpulan data dan tabulasi data yang telah diperoleh serta telah dianalisi oleh peneliti. Peneliti mempercayakan Prof. Dr. Pranowo, M.Pd. sebagai penyidik trianggulasi ini. Penyidik akan memeriksa dan memberikan masukan terhadap hasil pengumpulan data yang telah dilakukan oleh peneliti.

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini terbagi dalam tiga bagian. Bagian pertama deskripsi data penelitian gaya bahasa dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho kajian stilistika pragmatik. Bagian kedua adalah analisis data pemanfaatan gaya bahasa dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho kaian stilistika pragmatik. Bagian ketiga adalah pembahasan hasil analisis yang akan mendeskripsikan pemanfaatan gaya bahasa dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho kajian stilistika pragmatik. 4.1 Deskripsi Data Sumber data penelitian ini adalah film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho. Film 'Marlina, Si Pembunuh dalam Empat Babak' yang disutradarai Mouly Surya tayang perdana di La Quinzaine des réalisateurs, atau Forum Sutradara, kompetisi yang diselenggarakan paralel dengan Festival Film Cannes di Prancis tahun 2017 dan Tanggal 16 November 2017, film ini tayang di bioskop-bioskop utama di Indonesia (https://www.cnnindonesia.com). Gaya bahasa berdasarkan konteks dalam pragmatik yang digunakan dalam film ini berjumlah 13 jenis gaya bahasa. Konteks merupakan hal yang penting dalam tuturan berdasarkan kajian pragmatik karena dari konteks diketahui apa yang sebenarnya terjadi sehingga tuturan itu dituturkan. Mey 43

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 (dalam Rahardi, 2003:15) mendefinisikan pragmatik sebagai studi mengenai kondisi-kondisi penggunaan bahasa manusia yang ditentukan oleh konteks masyarakat. Kalimat yang mengandung gaya bahasa berdasarkan konteks dalam pragmatik dari penelitian ini berjumlah 71 kalimat. Rincian jenis gaya bahasa tersebut sebagai berikut. Gaya bahasa ironi 4 buah, inuendo 16 buah, sarkasme 15 buah, sinisme 12 buah, anafora 1 buah, epizeukis 9 buah, koreksio atau epanortosis 2 buah, asonansi 4 buah, eufemisme 2 buah, elipsis 1 buah, apofasis 1 buah, pleonasme 1 buah, polisindenton 1 buah. Dari penelitian ini juga meneliti makna yang muncul dari pemanfaatan gaya bahasa. Peneliti menemukan 9 (sembilan) makna pragmatik yaitu; menanyakan sesuatu, memberikan penjelaskan, menggambarkan, membandingkan, memberi pujian, mengancam, memberi perintah, menunjukkan sesuatu, dan menunggu. 4.2 Analisis Data Subbab ini membahas hasil analisis pemanfaatan gaya bahasa dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho kajian stilistika pragmatik. Analisis pemanfaatan gaya bahasa dilakukan untuk menemukan gaya bahasa berdasarkan konteksnya dalam pragmatik. Pragmatik pada hakikatnya adalah studi bahasa dari sudut pemakaiannya atau bahasa dalam pemakaiannya (language in use) (Levinson dalam Pranowo 2014:137). Studi bahasa pragmatik melibatkan konteks yang dipakai oleh penutur/penulis dengan tuturannya, bukan dengan menekankan pada hubungan antara penutur dengan tuturannya, bukan pada hubungan kalimat satu dengan kalimat yang lain yang terlepas dari konteksnya. Jadi yang akan dipaparkan

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 dalam analisis ini adalah gaya bahasa berdasarkan konteks dalam pragmatik yang terdapat dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho kajian stilistika pragmatik serta menginterpretasikan makna dari penulis menggunakan gaya bahasa jenis tertentu dalam filmnya. Analisis selengkapnya akan terlampir. 4.2.1 Wujud Gaya Bahasa Dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak yang peneliti analisis, peneliti menemukan 13 jenis gaya bahasa berdasarkan konteksnya yang meliputi gaya bahasa ironi, inuendo, sarkasme, sinisme, anafora, epizeukis, koreksio atau epanortosis, asonansi, eufemisme, ellipsis, apofasis, pleonasme, dan polisindenton. Berikut ini akan diberikan masing-masing contoh analisisnya. 4.2.1.1 Gaya Bahasa Ironi Kalimat yang mengandung gaya bahasa ironi dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak yang dianalisis berjumlah 4 buah. Data yang berupa percakapan yang disajikan di sini berjumlah 3 data. Berikut ini akan dipaparkan 3 data tersebut. Data 1. A: Selamat siang, bapak ada keluar? B: Ho sedikit lagi dorang (mereka) sudah pulang. A: Lalu bapak ini siapa (menunjuk mayat seorang lelaki)? Ada sirih? Kopi? Saya ini tamu Konteks : tuturan itu terjadi karena ada seorang yang datang bertamu ke rumahnya, orang itu adalah penjahat yang ingin merampok ke rumahnya. Penjahat itu mengadakan komunikasi dengan tuan rumah, ia berpura-pura menjadi seorang penagi hutang.

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 Data 2. A: Kau duduk, baru taufan itu siapa? B: Bukan kau pu (punya) urusan to A: cantik tapi sangar sekali, kau bilang bapak sedang keluar, dari tadi saya duduk manis di sini, utang penguburan yang lalu belum selesai, sekarang sudah tamba lagi..pasti belum lama? B: Bukan kau punya urusan Konteks : tuturan itu bisa terjadi karena ada seorang penjahat yang datang ke rumahnya. Penjahat itu sengaja mengadalan komunikasi dengan tuan rumah sehingga tuan rumah merasa kesal dan berbicara dengan keras padanya Data 3. C: sudah kumpul semua? D: sudah C: kerbau berapa? D: babi, kambing, masing-masing 10, ayam 7 Konteks : tuturan itu bisa terjadi karena ada seorang yang masuk ke dapur yaitu salah satu dari penjahat itu. Ia ingin menanyakan makanan yang dimasak oleh Marlina yaitu tuan rumah. Saat itu ia melihat temannya yang bernama Frans berada di dapur, ia marah pada Frans karena Frans ingin mencicipi makanan itu terlebih dahulu dan tuturan itu dituturkannya. Penunjuk gaya bahasa ironi pada dialog pertama adalah kalimat ada sirih? Kopi? Saya ini tamu. Kalimat ini merupakan gaya bahasa yang mengolok artinya bahwa kalimat tersebut dipakai untuk membuat seseorang merasa tersindir atau diolok, terlihat bahwa Ia menyindir Marlina yang tidak menjamunya dengan baik. Ironi adalah sejenis gaya bahasa yang mengimplikasikan sesuatu yang nyata berbeda, bahkan seringkali bertentangan dengan yang sebenarnya dikatakan itu (Tarigan, 2013:61). Adapun konteks pragmatik dari kalimat tersebut yaitu seorang penjahat yang bernama Markus datang ke rumah Marlina siang hari, mengetuk pintu dan berusaha berkomunikasi dengan Marlina. Maka, terjadi percakapan seperti itu.

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 Marlina tidak mengenal pria yang datang ke rumahnya, tetapi ia telah curiga melihat gelagat lelaki itu yang berpura-pura menjadi penagi hutang. Konteks biasanya dipahami sebagai sesuatu yang sudah ada sebelum wacana dan situasi dari partisipan (Brown dan Yule dalam Black, 2011:3). Jadi, dapat dikatakan bahwa konteks merupakan sesuatu yang melingkupi suatu tuturan. Gaya bahasa ironi pada dialog kedua adalah cantik tapi sangar sekali merupakan gaya bahasa ironi yang bermaksud menyindir, dalam gaya bahasa ironi tersebut bermasuk menyindir Marlina yang menjawab pertanyaan dari penjahat yang bernama Markus. Ironi adalah sejenis gaya bahasa yang mengimplikasikan sesuatu yang nyata berbeda, bahkan seringkali bertentangan dengan yang sebenarnya dikatakan itu (Tarigan, 2013:61). Dalam kalimat tersebut memiliki konteks pragmatik yaitu penjahat itu masuk ke rumah Marlina siang hari dan berpura-pura menjadi seorang penagi hutang, dia mengadakan komunikasi dengan Marlina karena ia ingin mengetahui keadaan di rumah itu sehingga rencananya berhasil. Penjahat itu menanyakan semua anggota keluarga Marlina tetapi Marlina tidak menghiraukannya. Konteks biasanya dipahami sebagai sesuatu yang sudah ada sebelum wacana dan situasi dari partisipan (Brown dan Yule dalam Black, 2011:3). Jadi, konteks merupakan sesuatu yang melatarbelakangi suatu tuturan itu bisa terjadi. Petunjuk gaya bahasa ironi yang terkandung pada dialog ketiga adalah pada kalimat sudah kumpul semua? Kalimat ini merupakan kalimat yang menyindir, dapat dilihat dari cara ia menuturkan kata-kata dengan cukup kasar

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 dan suara yang keras. Ironi adalah sejenis gaya bahasa yang mengimplikasikan sesuatu yang nyata berbeda, bahkan seringkali bertentangan dengan yang sebenarnya dikatakan itu (Tarigan, 2013:61). Kalimat tersebut memiliki konteks yaitu seseorang datang dari ruang tamu masuk ke dapur, ia melihat temannya yang bernama Frans ingin mencicipi makanan yang dimasak oleh Marlina, dia marah karena makanan itu ingin dicicipi oleh temannya apalagi temannya lebih muda darinya. Setelah itu dia menanyakan tentang jumlah hewan yang mereka curi dari rumah Marlina. Konteks biasanya dipahami sebagai sesuatu yang sudah ada sebelum wacana dan situasi dari partisipan (Brown dan Yule dalam Black, 2011:3). Jadi, konteks merupakan sesuatu yang melatarbelakangi suatu tuturan itu bisa terjadi. 4.2.1.2 Gaya Bahasa Inuendo Kalimat yang mengandung gaya bahasa inuendo dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak yang dianalisis berjumlah 16 buah. Data yang disajikan di sini berjumlah 3 data. Berikut ini akan dipaparkan 3 data tersebut. Data 4. A: Kasian sekali kau B: Saya punya urusan bukan kau punya urusan A: Janda tidak boleh sanger sudah baik kalau ada laki-laki yang mau, jangan terlalu bepilih (memilih) Konteks : tuturan itu terjadi karena saat itu ketika penjahat berkomunikasi dengan tuan rumah ia diabaikan, tuan rumah tidak mendengarnya dan mengabaikan pertanyaan darinya, penjahat itu marah dan merasa diabaikan sehingga ia menuturkan hal tersebut. Data 5. A: Yang penting kamu bawa minuman saja

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 Konteks : tuturan itu terjadi karena penjahat yang bernama Markus menunggu teman-temannya pada sore itu, setelah beberapa jam teman-temannya tiba di tempat itu (di rumah Marlina), mereka turun dari truk dan menyapa Markus dengan wajah yang takut karena mereka terlambat dan terjadilah tuturan tersebut. Data 6. B: Dia mau coba? C: Siapa?(sambil melihat temannya) anak kecil mau makan duluan Konteks : tuturan itu terjadi karena saat itu salah satu teman Markus masuk ke dapur ingin menanyakan makanan yang dimasak oleh Marlina apakah masakan itu sudah matang atau belum karena teman-temannya sudah lapar, dan ia melihat temannya yang bernama Frans. Frans ingin mencicipi makanan yang dimasak oleh Marlina dan ia marah, maka terjadilah tuturan tersebut. Inuendo adalah sindiran kecil yang mengecilkan sesuatu yang sebenarnya. Inuendo adalah sebuah sindiran yang tidak terlalu kasar, artinya peneliti mengatakan itu sebagai sindiran kecil karena intonasi penutur ketika menuturkan sesuatu lebih halus (Tarigan, 2013:74). Pada dialog pertama dan kedua yang mengandung gaya bahasa inuendo, tuturannya dapat dilihat di bawah ini: a) Janda tidak boleh sanger sudah baik kalau ada laki-laki yang mau b) Yang penting kamu bawa minuman saja Dari kedua tuturan di atas dapat disimpulkan bahwa dari tuturan (a) terlihat adanya sindiran/kritik secara halus yang disampaikan oleh penjahat bahwa si janda harus bersyukur, tidak boleh galak karena dia sangat beruntung jika ada laki-laki yang menyukainya. Pada tuturan kedua (b) adalah kalimat yang menyindir dengan menerangkan pada temannya dengan membawa minuman beralkohol saja sudah cukup untuk menutupi rasa bersalah mereka,

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 karena mereka datang terlambat ke tempat itu untuk mengambil semua ternak yang dimiliki Marlina. Konteks pragmatik yang terkandung dalam kedua kalimat di atas adalah: a) Penjahat itu marah karena ia diabaikan oleh Marlina. Marlina tak menghiraukannya karena dia sudah mengetahui maksud kedatangan penjahat itu. b) Para penjahat itu turun dari truk dengan muka datar karena terlambat, dan Markus yang tiba terlebih dulu di tempat itu mengatur mereka untuk mengambil semua ternak yang dimiliki oleh Marlina, ia menyuruh mereka dan menunjukkan tempat semua ternak yang dimiliki oleh Marlina. Kalimat yang mengandung gaya bahasa inuendo pada dialog ketiga adalah anak kecil mau makan duluan merupakan sesuatu yang dipakai untuk menyindir temannya karena ingin makan terlebih dulu, dapat dilihat dari katakata yang digunakan dalam percakapan tersebut bahwa dia lebih tua dari orang yang disindir sehingga ia menyatakan hal itu. Gaya bahasa inuendo sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, contoh lain ketika kita ingin minum sesuatu dan tidak mau berbicara terus terang, kita akan berbicara ‘kerongkongan saya kering, percuma ada tuan kos tapi tidak diberikan’ dari contoh tersebut orang itu akan tahu bahwa kita menyindirnya secara halus. Konteks pragmatik dari kalimat di atas adalah teman Frans keluar dari ruang tamu dan masuk ke dapur untuk mengecek makanan, ia marah karena Frans ingin mencicipi makanannya terlebih dulu, apalagi Frans lebih muda

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 darinya. Itulah yang membuat ia berkata seperti itu. Jadi, konteks merupakan sesuatu yang melatarbelakangi suatu tuturan itu bisa terjadi. 4.2.1.3 Gaya Bahasa Sarkasme Kalimat yang mengandung gaya bahasa sarkasme dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak yang dianalisis berjumlah 15 buah. Data yang disajikan di sini berjumlah 3 data. Berikut ini akan dipaparkan 3 data tersebut. Data 7. B: Jadi ko (kau) datang sini, ko (kau) bilang suka sama saya? A: Eh saya tidak sendiri, sebentar lagi teman yang lain datang. B: Siapa? A: Saya punya kawan B: Mereka mau apa ke sini? A: Mau ambil kau punya barang semua kau punya ternak Konteks : tuturan itu terjadi karena saat Markus berkomunikasi dengan Marlina ia memberitahu maksud kedatangannya dan mengungkapkan perasaannya pada Marlina dan Marlina pun marah pada Markus, maka terjadilah percakapan tersebut. Data 8. A: Kalau Masih ada waktu tidur dengan kau, kita bertujuh. Saya su (sudah) sering liat ko (kau) gaga tapi saya sendiri. Malam ini kau dapat bonus 7 laki-laki memang… heh su berapa laki-laki yang kau tiduri? Hanya dia (sambil menujuk mayat seorang laki-laki) ? Konteks : tuturan itu terjadi karena saat Markus berkomunikasi dengan Marlina dan memberitahu maksud kedatangannya ke rumah Marlina, sikap Marlina acuh tak acuh dan tak menghiraukan kata-katanya. Ia menyukai Marlina dan ingin berniat jahat. Data 9. D: Mana markus? C: Lahu (bangsat) ini kau banyak omong sekali, pigi (pergi) sana Konteks : tuturan itu terjadi karena saat itu ketika ia memarahi Frans karena ingin mencicipi makananya terlebih dulu tetapi Frans mengalihkan pembicaraannya, maka terjadilah tuturan tersebut.

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 Petunjuk gaya bahasa sarkasme yang terdapat dalam dialog pertama adalah mau ambil kau punya barang semua kau punya ternak merupakan pertanyataan yang secara kasar dikeluarkan terlihat dari kata-kata yang diungkapkan oleh Markus yaitu mau mengambil semua kau punya ternak, katakata itu merupakan kata yang kasar yang dapat membuat seseorang sakit hati. Kata sarkasme berasal dari bahasa Yunani sarkasmos yang diturunkan dari kata kerja sakasein yang berarti ‘merobek-robek daging seperti anjing’, ‘menggigit bibir karena marah’, atau ‘bicara dengan kepahitan’ (Keraf, 1984:143). Jadi, sarkasme itu digunakan untuk membuat orang menjadi takut ataupun membuat orang menjadi sakit hati karena kata-kata yang digunakan dalam sarkasme adalah kata-kata yang sangat kasar. Jadi, kontek pragmatik yang terkandung dalam kalimat di atas adalah penjahat itu datang ke rumah Marlina dengan maksud jahat. Marlina telah mengetahui itu, ketika penjahat itu memberitahu maksud kedatangannya Marlina marah karena penjahat itu menyatakan sesuatu yang telah melukai perasaannya. Pragmatik pada hakikatnya adalah studi bahasa dari sudut pemakaiannya atau bahasa dalam pemakaiannya (language in use) (Levinson dalam Pranowo 2014:137). Dalam menstudi bahasa pragmatik melibatkan konteks yang dipakai oleh penutur/penulis dengan tuturannya, bukan dengan menekankan pada hubungan antara penutur dengan tuturannya, bukan pada hubungan kalimat satu dengan kalimat yang lain yang terlepas dari konteksnya. Petunjuk gaya bahasa sarkasme dalam dialog kedua adalah kalau masih ada waktu tidur dengan kau, kita bertujuh merupakan gaya bahasa yang kasar

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 terlihat bahwa ia mengatakan hal yang sangat menyinggung perasaan dan membuat orang sangat marah dengan kata-kata yang ia tuturkan. Kata sarkasme berasal dari bahasa Yunani sarkasmos yang diturunkan dari kata kerja sakasein yang berarti ‘merobek-robek daging seperti anjing’, ‘menggigit bibir karena marah’, atau ‘bicara dengan kepahitan’ (Keraf, 1984:143). Kalimat di atas memiliki konteks yaitu sebelum datang ke rumah Marlina untuk merampok tenyata penjahat itu telah menyukai Marlina dan ia ingin berniat jahat sehingga terjadilah percakapan seperti itu. Konteks biasanya dipahami sebagai sesuatu yang sudah ada sebelum wacana dan situasi dari partisipan (Brown dan Yule dalam Black, 2011:3). Jadi, konteks merupakan yang melatarbelakangi suatu tuturan itu bisa terjadi. Penunjuk gaya bahasa sarkasme dalam dialog ketiga adalah Lahu (bangsat) ini kau banyak omong sekali, pigi (pergi) sana merupakan gaya bahasa yang sangat kasar terlihat dari kata bangsat (lasu) dalam kalimat tersebut, kata tersebut sangat kasar karena kata tersebut akan membuat orang sensitif, apalagi dengan kata lasu. Bagi orang Sumba itu adalah kata yang sangat kasar jika dituturkan untuk laki-laki karena memiliki arti yaitu membicarakan kepunyaan laki-laki. Kalimat di atas mengandung gaya bahasa sarkasme. Gaya bahasa sarkasme adalah gaya bahasa yang digunakan untuk berbicara dengan kepahitan (Keraf, 1984:143). Adapun konteks dalam tuturan tersebut terjadi karena dia datang dari ruang tamu, masuk ke dapur dan berbicara dengan Frans tetapi dia marah karena

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 Frans mengalihkan pembicaraan mereka. Jadi, konteks merupakan sesuatu yang terjadi sebelum tuturan itu dituturkan. 4.2.1.4 Gaya Bahasa Sinisme Kalimat yang mengandung gaya bahasa sinisme dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak yang dianalisis berjumlah 12 buah. Data yang disajikan di sini berjumlah 3 data. Berikut ini akan dipaparkan 3 data tersebut. Data 10. E: Ini umbu dari bulan lalu tidak bisa pulang, kalau sudah jadwal lahir, lewat sudah dia Konteks : tuturan itu tejadi karena saat itu Marlina dan Novi sedang berbicara tentang kehamilan Novi yang sudah 9 bulan dan akan melahirkan, dan Novi mengatakan bahwa ia terlambat melahirkan sebenarnya waktu yang ditentukan untuk melahirkan itu dua minggu lalu, saat itu juga ia kesal terhadap suaminya yang sibuk dengan pekerjaannya, maka terjadilah tuturan tersebut.\ Data 11. G: Kau tidak merasa bersalah nona e Konteks : tuturan itu terjadi karena saat itu ketika Marlina ingin naik ke truk ia dilarang masuk oleh supir truk. Ia dilarang karena membawa kepala manusia yang ia penggal tetapi ia mengancam dengan memakai barang tajam dan salah satu dari penumpang di truk itu turun dan memarahi Marlina. Data 12. I: Saya bukannya tidak mau duduk di kau punya samping (sambil melihat kepala markus yang dipegang oleh Marlina) Konteks : tuturan itu terjadi karena saat ibu salah satu penumpang di truk itu memberitahu Marlina bahwa ia tidak perluh menodongkan parang/golok pada supir truk itu karena supir itu tidak akan lari kemana-mana, saat itu juga Marlina pindah ke belakang untuk duduk dan ibu itu pindah karena tidak nyaman duduk bersama Marlina yang memegang kepala manusia. Gaya bahasa sinisme dalam dialog pertama adalah ini umbu dari bulan lalu tidak bisa pulang, kalau sudah jadwal lahir, lewat sudah dia, ungkapan ini

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 merupakan gaya bahasa yang menyindir terlihat dari kalau sudah jadwal lahir dia rugi sudah karena tidak bisa melihat anaknya lahir, dia menyindir suaminya yang sibuk kerja tanpa memikirkan perasaan istri dan anaknya yang akan lahir. Sinisme adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu dengan menggunakan hal yang berlawanan dengan tujuan agar orang tersindir secara lebih tajam dan menusuk perasaan (Keraf, 1984:143). Konteks yang terkandung dari kalimat tersebut adalah Novi kecewa karena suaminya tidak pulang untuk menemuinya, suaminya sibuk kerja sampai lupa pulang untuk menemui istrinya yang akan melahirkan. Leech (1993) dalam (Rahardi, 2003:18) memaparkan bahwa konteks situasi tuturan adalah aneka macam kemungkinan latar belakang pengetahuan (background knowledge) yang muncul dan dimiliki bersama-sama baik oleh penutur maupun mitra tutur serta aspek-aspek non-kebahasaan lainnya yang menyertai, mewadai, serta melatarbelakangi hadirnya sebuah pertuturan tertentu. Gaya bahasa sinisme yang terkandung dalam dialog kedua adalah kau tidak merasa bersalah nona e merupakan gaya bahasa menyindir terlihat dari kalimat kau tidak merasa bersalah yaitu ia ingin supaya perempuan itu sadar akan perbuatannya karena telah memenggal kepala penjahat yang datang merampok ke rumahnya. Sinisme adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu dengan menggunakan hal yang berlawanan dengan tujuan agar orang tersindir secara lebih tajam dan menusuk perasaan (Keraf, 1984:143). Kalimat di atas mengandung konteks dalam pragmatik yaitu seorang penumpang yang turun dari truk itu marah karena melihat Marlina membawa

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 kepala manusia, ia merasa bahwa Marlina adalah orang yang kejam karena telah membunuh dengan cara memenggal kepala dari penjahat itu. Pragmatik adalah studi tentang makna kontekstual. Dalam menstudi bahasa pragmatik melibatkan konteks yang dipakai oleh penutur/penulis dengan tuturannya, bukan dengan menekankan pada hubungan antara penutur dengan tuturannya, bukan pada hubungan kalimat satu dengan kalimat yang lain yang terlepas dari konteksnya. Gaya bahasa sinisme dalam dialog ketiga adalah saya bukannya tidak mau duduk di kau punya samping merupakan sindiran terlihat dari kata-kata yang dikeluarkan wanita yang di truk itu karena melihat Marlina membawa kepala Markus yang ia bunuh. Sinisme adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu dengan menggunakan hal yang berlawanan dengan tujuan agar orang tersindir secara lebih tajam dan menusuk perasaan (Keraf, 1984:143). Konteks pragmatik dari kalimat di atas adalah ibu itu menegur Marlina agar Marlina melepaskan golok yang ia gunakan untuk menodong supir truk itu, saat itu juga Marlina pindah ke belakang untuk duduk tetapi karena melihat Marlina memegang kepala Markus ibu itu tidak ingin duduk di samping Marlina. Pragmatik adalah studi tentang makna kontekstual. Dalam menstudi bahasa pragmatik melibatkan konteks yang dipakai oleh penutur/penulis dengan tuturannya, bukan dengan menekankan pada hubungan antara penutur dengan tuturannya, bukan pada hubungan kalimat satu dengan kalimat yang lain yang terlepas dari konteksnya. Jadi, konteks merupakan suatu yang melatarbelakangi atau suatu peristiwa yang terjadi sebelum tuturan itu terjadi.

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 4.2.1.5 Gaya Bahasa Anafora Kalimat yang mengandung gaya bahasa anafora dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak yang dianalisis berjumlah 1 buah. Data yang disajikan di sini berjumlah 1 data. Berikut ini akan dipaparkan data tersebut. Data 13. A: Malam ini kau adalah perempuan paling beruntung B: Saya perempuan paling sial sudah malam ini Konteks : tuturan itu terjadi karena saat itu ketika penjahat itu berkata bahwa ia ingin meniduri Marlina dan ia mengatakan bahwa Marlina wanita yang beruntung bisa ditiduri olehnya, maka terjadi tuturan tersebut. Gaya bahasa anafora dalam dialog diatas adalah malam ini, frasa ini merupakan gaya bahasa yang berupa perulangan kata, disini terlihat bahwa frasa malam ini telah diulang-ulang sehingga dapat dikatakan sebagai anafora. Anafora adalah gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata pada setiap baris atau setiap kalimat (Tarigan, 2013:184). Konteks pragmatik dari frasa di atas adalah Marlina merasa dirinya paling sial atau tidak beruntung karena penjahat itu menyukainya dan ingin berniat jahat padanya. Penjahat berkata bahwa Marlina harus mensyukuri jika masih ada laki-laki yang mau dengannya, sehingga tuturan itu bisa terjadi. Jadi, konteks merupakan sesuatu yang melatarbelakangi atau peristiwa yang terjadi sebelum tuturan itu bisa terjadi. 4.2.1.6 Gaya Bahasa Epizeukis Kalimat yang mengandung gaya bahasa epizeukis dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak yang dianalisis berjumlah sembilan buah. Data

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 yang disajikan di sini berjumlah 3 (tiga). Berikut ini akan dipaparkan 3 data tersebut. Data 14. B: Makan! makan malam. Heh! (makanan jatuh), Biar saya ambil yang baru A: Tunggu, Kau duduk.. duduk, buka..buka Konteks : tuturan itu terjadi karena ketika itu Marlina masuk ke kamarnya tempat Markus tidur, ia membangunkan Markus untuk makan malam tetapi Markus malah menyenggol makanan itu sampai terjatuh, ketika Marlina ingin mengambil makanan baru Markus menahannya, maka terjadilah tuturan tersebut. Data 15. E: Marlina, woy Marlina tunggu Konteks : tuturan itu terjadi karena ketika Marlina menunggu truk di pinggir jalan dan membawa kepala Markus yang ia penggal, terlihat dari kejauhan Novi memanggilnya Data 16. F: Hey, turun..turun kau tidak bisa B: Saya mau pergi kantor polisi (sambil menodongkan parang/golol) Konteks : tuturan itu terjadi karena ketika Marlina ingin naik ke truk, supir itu turun dan menghentikan Marlina tetapi Marlina memaksa untuk naik ke truk, maka terjadilah tuturan tersebut. Dialog pertama yang mengandung gaya bahasa epizeukis pada kalimat di atas adalah kau duduk..duduk, buka, buka! merupakan gaya bahasa yang langsung dan diulang beberapa kali seperti duduk, duduk, buka, buka itu merupakan kata yang diulang-ulang. Epizeukis adalah gaya bahasa perulangan yang bersifat langsung, yaitu kata yang ditekankan atau dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut (Tarigan, 2013:182).

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 Konteks dalam pragmatik dari dialog tersebut adalah Marlina masuk ke kamar tempat Markus tidur dan membawa makanan untuknya tetapi Markus membentak Marlina karena Marlina ingin menghindarinya, sehingga tuturan itu bisa terjadi. Dalam menstudi bahasa pragmatik melibatkan konteks yang dipakai oleh penutur/penulis dengan tuturannya, bukan dengan menekankan pada hubungan antara penutur dengan tuturannya, bukan pada hubungan kalimat satu dengan kalimat yang lain yang terlepas dari konteksnya. Gaya bahasa epizeukis pada dialog kedua adalah Marlina, woy Marlina tunggu. Kalimat ini merupakan gaya bahasa epizeukis karena terlihat dari dialog tentang kata Marlina yang diulang-ulang. Epizeukis adalah gaya bahasa perulangan yang bersifat langsung, yaitu kata yang ditekankan atau dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut (Tarigan, 2013:182). Dan konteks pragmatik dalam kalimat di atas adalah Marlina ingin menunggu truk, dan terlihat dari kejauhan temannya yang bernama Novi mencoba menghentikan langkah Marlina. Petunjuk gaya bahasa epizeukis pada dialog ketiga adalah hey, turun…turun kau tidak bisa. Kalimat ini merupakan gaya bahasa epizeukis karena terlihat dari penggunaan kata turun, turun yaitu kata tersebut diulangulang. Epizeukis adalah gaya bahasa perulangan yang bersifat langsung, yaitu kata yang ditekankan atau dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut (Tarigan, 2013:182). Konteks pragmatik yang terkandung dalam kalimat di atas adalah Marlina membawa kepala Markus dan membawa barang tajam tetapi supir truk

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 itu melarang Marlina untuk naik terpaksa Marlina mengancam dengan menggunakan parang/golok yang ia bawa. Dalam menstudi bahasa pragmatik melibatkan konteks yang dipakai oleh penutur/penulis dengan tuturannya, bukan dengan menekankan pada hubungan antara penutur dengan tuturannya, bukan pada hubungan kalimat satu dengan kalimat yang lain yang terlepas dari konteksnya. 4.2.1.7 Gaya Bahasa Koreksio atau Epanortosis Kalimat yang mengandung gaya bahasa koreksio atau epanortosis dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak yang dianalisis berjumlah 2 buah. Data yang disajikan di sini berjumlah 2 data. Berikut ini akan dipaparkan 2 data tersebut. Data 17. A: Soto eh sop ayam Konteks : tuturan itu terjadi karena ketika penjahat itu yang bernama Markus berkomunikasi dengan Marlina dan memberitahu maksud kedatangannya di rumah Marlina, ia menyuruh Marlina untuk masak makan malam untuknya dan teman-temannya yang akan datang kemudian, maka terjadilah tuturan tersebut. Data 18. K: Ehhh yang dua (2) lagi? B: Iya, salah tujuh (7) maaf Konteks : tuturan itu terjadi karena saat itu Marlina berada di kantor polisi untuk melaporkan para perampok yang datang ke rumahnya, saat itu polisi itu menanyakan ciri-ciri dari para perampok, maka terjadilah tuturan itu. Dialog pertama yang mengandung gaya bahasa koreksio atau epanortosis adalah Soto eh sop ayam. Kalimat ini merupakan gaya bahasa koreksio atau epanortosis karena terlihat memperbaiki/mengoreksi ucapan yang salah dari kalimat soto eh sop ayam. Epanortosis adalah gaya bahasa yang berwujud mula-

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 mula ingin menegaskan sesuatu tetapi kemudian memeriksa dan memperbaiki mana-mana yang salah (Tarigan, 2013:34). Konteks pragmatik dari tuturan di atas adalah ketika penjahat itu memberitahu maksud kedatangannya di rumah Marlina, ia menyuruh Marlina untuk masak makan malam, untuk dia dan teman-temannya yang akan datang. Dengan wajah marah Marlina bertanya penjahat itu ingin makanan apa dan terjadilah tuturan tersebut. Gaya bahasa koreksio atau epanortosis pada dialog kedua adalah Iya, salah tujuh (7) maaf. Kalimat ini merupakan gaya bahasa yang mengoreksi, memperbaiki kata, frasa, maupun kalimat yang salah secara langsung, maka terlihat dari kalimat iya, salah tujuh (7) maaf. Epanortosis adalah gaya bahasa yang berwujud mula-mula ingin menegaskan sesuatu tetapi kemudian memeriksa dan memperbaiki mana-mana yang salah (Tarigan, 2013:34 ). Kalimat yang mengandung konteks pragmatik di atas adalah Marlina pergi ke kantor polisi untuk melaporkan penjahat-penjahat yang datang merampok ke rumahnya dan polisi menulis jumlah pencuri dan cir-ciri dari para penjahat yang datang ke rumah Marlina, sehingga terjadi tuturan tersebut. Dalam menstudi bahasa pragmatik melibatkan konteks yang dipakai oleh penutur/penulis dengan tuturannya, bukan dengan menekankan pada hubungan antara penutur dengan tuturannya, bukan pada hubungan kalimat satu dengan kalimat yang lain yang terlepas dari konteksnya.

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 4.2.1.8 Gaya Bahasa Asonansi Kalimat yang mengandung gaya bahasa asonansi dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak yang dianalisis berjumlah 4 buah. Data yang disajikan di sini berjumlah 2 data. Berikut ini akan dipaparkan 2 data tersebut. Data 19. B: Enak-enak sekali ini L: Kan saya su (sudah) bilang kalo ini sate enak to mama Konteks : tuturan itu terjadi karena saat itu Marlina masuk ke warung dekat kantor polisi, ia ingin makan sesuatu jadi anak yang bernama Tofan menawarkan makanan pada Marlina, Marlina mencoba makanan yang ditawarkan oleh Tofan sehingga terjadilah tuturan tersebut. Data 20. K: Ciri-cirinya? B: Umur di atas 50, su (sudah) bisa jadi kakek-kakek, dem (dia punya) rambut panjang, bauban, krempeng Konteks : tuturan itu terjadi karena saat itu Marlina berada di kantor polisi, ia melaporkan para perampok yang datang ke rumahnya, ia diminta untuk menjelaskan apa-apa saja yang mereka ambil dari rumahnya, setelah itu Marlina memberitahu jumlah para perampok itu, maka terjadilah tuturan tersebut. Enak-enak sekali ini merupakan dialog pertama yang mengandung gaya bahasa asonansi, karena terdapat pengulangan vocal yaitu enak-enak. Asonansi sejenis gaya bahasa repetisi yang berwujud perulangan vokal yang sama, biasanya dipakai dalam karya puisi ataupun dalam prosa untuk memperoleh efek penekanan atau menyelamatkan keindahan (Tarigan, 2013:176). Konteks pragmatik yang terkandung dalam dialog di atas adalah Marlina menunggang kuda dan sampai di depan kantor polisi. Di samping kantor polisi ada sebuah warung kecil, di warung itu ada seorang anak yang bernama Tofan melihat Marlina di luar dan menawarkan makanan sampai Marlina ingin

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 memakan makanan yang ia jual. Pragmatik adalah studi tentang makna kontekstual. Gaya bahasa asonansi pada dialog yang kedua adalah Ciri-cirinya?. Kalimat ini Merupakan sebuah perulangan vocal yang sama. Asonansi sejenis gaya bahasa repetisi yang berwujud perulangan vokal yang sama. Biasanya dipakai dalam karya puisi ataupun dalam prosa untuk memperoleh efek penekanan atau menyelamatkan keindahan (Tarigan, 2013:176). Konteks pragmatik dari dialog di atas adalah Marlina ke kantor polisi untuk melaporkan penjahat-penjahat yang datang merampok ke rumahnya dan menjelaskan ciri-ciri penjahat yang mencuri dan memperkosanya pada polisi yang mencatat kejadiannya. Pragmatik adalah studi tentang makna kontekstual. Dalam menstudi bahasa pragmatik melibatkan konteks yang dipakai oleh penutur/penulis dengan tuturannya, bukan dengan menekankan pada hubungan antara penutur dengan tuturannya, bukan pada hubungan kalimat satu dengan kalimat yang lain yang terlepas dari konteksnya. 4.2.1.9 Gaya Bahasa Eufemisme Kalimat yang mengandung gaya bahasa eufemisme dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak yang dianalisis berjumlah 2 buah. Data yang disajikan di sini berjumlah 2 data. Berikut ini akan dipaparkan 2 data tersebut. Data 21. D: Ko (kau) masak apa? B: Sop ayam, markus yang suruh D: Sini saya mau coba (sambil menyodorkan mangkuk) Konteks : tuturan itu terjadi karena saat itu Frans masuk ke dapur untuk menanyakan makanan yang ia masak, Marlina gugup karena ia sedang memegang buah beracun yang di

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 sudah campurkan ke dalam makanan yang ia masak, maka terjadilah tuturan tersebut. Data 22. E: Marlina kau tidak percaya sama saya? Konteks : tuturan itu terjadi karena saat itu Novi menceritakan tentang suaminya kepada Marlina, ia merasa kecewa dengan suaminya yang tidak pulang ke rumah dan sibuk kerja tetapi Marlina tak menghiraukannya seakanakan Marlina tak ingin mendengar karena ia juga memiliki masalah, maka dari itu Novi ingin meyakinkan Marlina. Petunjuk gaya bahasa eufemisme pada dialog pertama adalah Sop ayam, markus yang suruh. Kalimat ini merupakan gaya bahasa eufemisme karena menggunakan kata-kata yang lebih halus terlihat dari kata-kata yang dikeluarkan oleh Marlina pada penjahat itu. Eufemisme adalah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasakan kasar yang dianggap merugikan, atau yang tidak menyenangkan (Moeliono dalam Tarigan 1985:128). Adapun konteks dari kalimat tersebut adalah Frans datang dari belakang rumah, menegur Marlina yang sedang masak. Frans sengaja masuk ke dapur karena ingin mencoba masakan itu. Pragmatik adalah studi tentang makna kontekstual. Kalimat ini merupakan konteks dalam menstudi bahasa pragmatik melibatkan konteks yang dipakai oleh penutur/penulis dengan tuturannya, bukan dengan menekankan pada hubungan antara penutur dengan tuturannya, bukan pada hubungan kalimat satu dengan kalimat yang lain yang terlepas dari konteksnya. Penunjuk gaya bahasa eufemisme pada dialog kedua adalah Marlina kau tidak percaya sama saya?. Kalimat ini Merupakan sesuatu yang baik agar lawan bicaranya tidak merasa tersinggung karena jika dia kasar Marlina tidak akan mendengar apa yang Novi bicarakan. Pernyataan ini merupakan kalimat

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 penunjuk gaya bahasa eufemisme. Eufemisme adalah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasakan kasar yang dianggap merugikan, atau yang tidak menyenangkan (Moeliono dalam Tarigan 1985:128). Konteks pragmatik dalam kalimat di atas adalah Novi menceritakan tentang suaminya pada Marlina karena suaminya tidak pernah pulang ke rumah dan sibuk dengan pekerjaanya. Novi berbicara seperti itu agar Marlina bisa menceritakan permasalahannya juga padanya. Novi mencoba meyakinkan Marlina agar Marlina percaya padanya. Karena Marlina merasa bahwa Novi sama saja seperti orang lain yang tidak mempercayai dirinya, tetapi Novi mengejar dan meyakinkan Marlina. Pragmatik adalah studi tentang makna kontekstual. 4.2.1.10 Gaya Bahasa Elipsis Kalimat yang mengandung gaya bahasa elipsis dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak yang dianalisis berjumlah 1 buah. Data yang disajikan di sini terdapat 1 data. Berikut ini akan dipaparkan data tersebut. Data 23. B: (temannya kaget melihat kepala manusia) saya mau ke kantor polisi Konteks : tuturan itu terjadi karena saat itu Marlina berada di sebelah jalan untuk menunggu truk yang datang, Novi melihat Marlina dan menghampirinya. Sebelum bertanya raut wajah Novi terlihat sangat tegang karena melihat Marlina membawa kepala Markus, sehingga terjadi tuturan tersebut. Gaya bahasa elipsis pada dialog tersebut yaitu (temannya heran melihat kepala manusia) saya mau ke kantor polisi merupakan penghilangan kata pergi terlihat dari kalmat tersebut tetapi tidak menghilangkan makna yang sebenarnya. Elipsis adalah penghilangan salah satu atau beberapa unsur penting dalam

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 konstruksi sintaksis yang lengkap (Ducrot and Todorov dalam Tarigan 1985:138). Konteks pragmatik dari kalimat di atas adalah Novi melihat Marlina membawa kepala manusia yaitu kepala Markus ketua dari penjahat yang merampok di rumah Marlina, sehingga Novi menunjukkan ekpsresi kaget, karena itu melihat ekspresi temannya Marlina memberitahukan tujuan ia membawa kepala Markus itu. 4.2.1.11 Gaya Bahasa Apofasis Kalimat yang mengandung gaya bahasa apofasis dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak yang dianalisis berjumlah 1 buah. Data yang disajikan di sini terdapat 1 data. Data tersebut akan dipaparkan sebagai berikut. Data 24. F: Mama jangan naik, saya harus antar dia ke kantor polisi I: Sa (saya) sudah tahu, sa (saya) su (sudah) lihat Konteks : tuturan itu terjadi karena saat itu ada seorang ibu yang menghentikan truk yang tumpangi oleh Marlina, supir truk ingin menghentikan ibu itu untuk naik ke truk tetapi ibu itu bersikeras, maka terjadi tuturan tersebut Petunjuk gaya bahasa apofasis dari dialog di atas adalah Sa (saya) sudah tahu, sa (saya) su (sudah) lihat. Kalimat ini merupakan sesuatu yang dia sudah tahu tetapi dia menyangkal yang sebenarnya berbahaya untuk dirinya. Apofasis atau disebut juga dengan preterisio merupakan sebuah gaya di mana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tetapi nampaknya menyangkal. Berpura-pura membiarkan sesuatu berlalu, tetapi sebenarnya ia menekankan hal itu (Keraf, 1984:130).

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 Adapun konteks dalam kalimat di atas adalah Ibu itu menghentikan truk itu walaupun sudah tahu bahwa sopir truk itu di ancam oleh Marlina supaya mengantarnya ke kantor polisi tetapi ibu itu bersikeras untuk naik ke atas truk, sehingga tuturan itu bisa terjadi. Pragmatik adalah studi tentang makna kontekstual. 4.2.1.12 Gaya Bahasa Pleonasme Kalimat yang mengandung gaya bahasa pleonasme dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak yang dianalisis berjumlah 1 buah. Data yang disajikan di sini terdapat 1 data. Data tersebut akan dipaparkan sebagai berikut. Data 25. L: Sam (saya punya) mama kasih nama saya Tofan supaya saya kuat sama kayak anak laki-laki Konteks : tuturan itu terjadi karena saat itu Marlina makan di warung dekat kantor polisi, ada seorang anak perempuan yang melayaninya, ketika ia makan dan memuji makanan yang ia makan di depan anak itu, ia bertanya nama anaknya sehingga terjadi tuturan tersebut Dari tuturan di atas yang mengandung gaya bahasa pleonasme adalah Sam (saya punya) mama kasih nama saya Tofan supaya saya kuat sama kayak anak laki-laki merupakan gaya bahasa pleonasme karena memakai kata-kata yang berlebihan dan sebenarnya tidak perlu yaitu seperti saya punya mama kasih nama saya. Pleonasme adalah pemakaian kata yang mubazir (berlebihan), yang sebenarnya tidak perlu (Poerwadarmita dalam Tarigan, 1985:29). Dalam gaya bahasa di atas dapat diketahui konteks yang terkandung dalam kalimat tersebut yaitu Marlina makan di warung dekat kantor polisi, di warung itu ada seorang anak kecil yang bernama Tofan. Marlina heran kenapa

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 anak perempuan itu namanya Tofan sehingga Marlina menanyakan arti nama dari anak tersebut. Pragmatik adalah studi tentang makna kontekstual. 4.2.1.13 Gaya Bahasa Polisindenton Kalimat yang mengandung gaya bahasa polisindenton dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak yang dianalisis berjumlah 1 buah. Data yang disajikan di sini terdapat 1 data. Berikut ini akan dipaparkan data tersebut. Data 26. B: Kapan? K: Hari ini belum ada kendaraan, mungkin besok atau lusa atau kau bisa kasih tinggal nomor telepon Konteks : tuturan itu terjadi karena ketka Marlina melaporkan para penjahat itu ke kantor polisi, dari pihak kepolisian memberitahu bahwa mereka akan melaksanakan olah TKP, Marlina ingin mengetahui waktu mereka akan ke rumahnya sehingga terjadi tuturan tersebut. Petunjuk gaya bahasa polisindenton pada dialog tersebut yaitu Hari ini belum ada kendaraan, mungkin besok atau lusa atau kau bisa kasih tinggal nomor telepon merupakan gaya bahasa polisindenton karena memakai kata sambung yaitu mungkin dan atau. Polisindeton adalah gaya bahasa yang berupa acuan di mana beberapa kata, frase, atau klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan kata-kata sambung (Tarigan, 2013:137). Adapun konteks dalam pragmatik dari kalimat di atas adalah Marlina pergi melaporkan penjahat-penjahat yang merampok ke rumahnya, ia memberitahu jumlah dan cirinya dari para perampok tersebut. Polisi akan mengadakan olah TKP di rumah Marlina, sedangkan di sana terdapat mayat dari penjahat-penjahat itu. Marlina gugup dan ingin mengetahui kapan akan

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 dilaksanakan olah TKP oleh kepolisian. Kalimat ini meruapakan konteks dalam pragmatik. 4.2.2 Makna Pragmatik Gaya Bahasa Pragmatik adalah studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur (atau penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar (pembaca) (Yule 2006:3). Tipe studi ini perluh melibatkan penafsiran tentang apa yang dimaksudkan orang di dalam suatu konteks khusus itu berpengaruh terhadap apa yang dikatakan. Diperluhkan satu pertimbangan tentang bagaimana cara penutur mengatur apa yang ingin dikatakan yang disesuaikan dengan orang yang mereka ajak bicara, di mana, kapan, dan dalam keadaan apa. Pragmatik adalah studi tentang makna kontekstual. Makna gaya bahasa dalam penelitian ini dianalisis yang mereinterpertasikan makna yang ingin disampaikan penulis sehingga menggunakan gaya bahasa jenis tertentu dalam tuturan filmnya. Peneliti menemukan beberapa makna dari gaya bahasa yang digunakan dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak. Berikut makna gaya bahasa tersebut. 4.2.1.1 Makna Pragmatik ‘Menanyakan’ Peneliti akan memaparkan 4 analisis makna ‘menanyakan’ yang muncul dari pemanfaatan gaya bahasa dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho kajian stilistika pragmatik. Berikut ini akan dipaparkan data tersebut. Data 1 A: Selamat siang, bapak ada keluar? B: Ho sedikit lagi dorang (mereka) sudah pulang

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 A: Lalu bapak ini siapa (menunjuk mayat seorang lelaki) ada sirih? Kopi? Saya ini tamu Konteks: tuturan itu terjadi karena ada seorang yang datang bertamu ke rumahnya, orang itu adalah penjahat yang ingin merampok ke rumahnya. Penjahat itu mengadakan komunikasi dengan tuan rumah, ia berpura-pura menjadi seorang penagi hutang. Percakapan di atas mengandung makna ‘menanyakan’ hal ini terlihat pada kata-kata dari percakapan tersebut bahwa si A (Markus) menanyakan keberadaan dari Ayah si B (Marlina) serta menanyakan seorang lelaki yang sudah menjadi mumi di rumah Marlina. Lelaki yang bernama Markus itu adalah seorang penjahat, secara sengaja dia mengadakan komunikasi dengan Marlina dan berpura-pura menanyakan Ayah Marlina, serta berpura-pura menjadi seorang penagi hutang. Dalam KBBI dijabarkan bahwa kata ‘menanyakan’ adalah ‘permintaan keterangan atau meminta penjelasan dari suatu hal’. Data 2. K: Berapa orang? B: Lima (5) K: Ehhh yang dua (2) lagi? B: Iya, salah tujuh (7) maaf Konteks : tuturan itu terjadi karena saat itu Marlina berada di kantor polisi untuk melaporkan para perampok yang datang ke rumahnya, saat itu polisi itu menanyakan ciri-ciri dari para perampok, maka terjadilah tuturan itu. Makna ‘menanyakan’ dari percakapan di atas dapat dilihat pada kata-kata yang digunakan dalam percakapan tersebut karena saat itu Marlina berada di kantor polisi untuk melaporkan para perampok yang datang mengambil semua hewan miliknya. pertanyaan si K (polisi) menanyakan (berapa orang?) karena ingin mengetahui jumlah perampok itu, terlihat dari percakapan di atas yaitu

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 ingin mengetahui jumlah perampok. saat itu Marlina berada di kantor polisi untuk melaporkan para perampok yang datang mengambil semua hewan miliknya. Jadi makna di atas diketahui melalui tuturan yang disampaikan oleh penutur dengan caranya dan ditafsirkan oleh peneliti sebagai pendengar atau pembaca. Data 3. E: Marlina kau tidak percaya sama saya? Konteks: tuturan itu terjadi karena saat itu Novi menceritakan tentang suaminya kepada Marlina, ia merasa kecewa dengan suaminya yang tidak pulang ke rumah dan sibuk kerja tetapi Marlina tak menghiraukannya seakan-akan Marlina tak ingin mendengar karena ia juga memiliki masalah, maka dari itu Novi ingin meyakinkan Marlina. Tuturan di atas mengandung makna ‘menanyakan’. Hal ini terlihat pada kata-kata yang digunakan dalam percakapan di atas bahwa si E (Novi) bertanya seperti itu karena ingin meyakinkan Marlina bahwa ia bisa dipercayai, terlihat dari pernyataan dari si E (Novi) yaitu Marlina kau tidak percaya sama saya?. Meyakinkan merupakan sesuatu cara untuk memberikan penjelasan yang jelas kepada orang sehingga ia percaya. Jadi makna di atas diketahui melalui tuturan yang disampaikan oleh penutur dengan caranya dan ditafsirkan oleh peneliti sebagai pendengar atau pembaca. Data 4. D: Ko (kau) masak apa? B: Sop ayam, markus yang suruh D: Sini saya mau coba (sambil menyodorkan mangkuk) Konteks: tuturan itu terjadi karena saat itu Frans masuk ke dapur untuk menanyakan makanan yang ia masak, Marlina gugup

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 karena ia sedang memegang buah beracun yang di sudah campurkan ke dalam makanan yang ia masak, maka terjadilah tuturan tersebut. Dari percakapan di atas mengandung makna ‘menanyakan’. Hal ini terlihat pada kata-kata yang digunakan dalam percakapan tersebut bahwa ketika si D (Frans) bertanya kepada si B (Marlina) karena ingin mengetahui sesuatu. Yaitu terlihat dari percakapan di atas bahwa Frans menanyakan makanan yang di masak oleh Marlina karena ia ingin mencicipi makanan tersebut. Maksud dari ingin mengetahui adalah bahwa mencari tahu tentang sesuatu hal. Jadi makna di atas diketahui melalui tuturan yang disampaikan oleh penutur dengan caranya dan ditafsirkan oleh peneliti sebagai pendengar atau pembaca. 4.2.2.2 Makna Pragmatik ‘Menjelaskan’ Peneliti akan memaparkan 8 analisis makna ‘menjelaskan’ yang muncul dari pemanfaatan gaya bahasa dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho kajian stilistika pragmatik. Berikut ini akan dipaparkan data tersebut. Data 5. A: Kasian sekali kau B: Saya punya urusan bukan kau punya urusan A: Janda tidak boleh sanger sudah baik kalau ada laki-laki yang mau, jangan terlalu bepilih (memilih) Konteks: tuturan itu terjadi karena saat itu ketika penjahat berkomunikasi dengan tuan rumah ia diabaikan, tuan rumah tidak mendengarnya dan mengabaikan pertanyaan darinya, penjahat itu marah dan merasa diabaikan sehingga ia menuturkan hal tersebut. Percakapan di atas mengandung makna ‘menjelaskan’. Hal itu terlihat pada penggunaan kata-kata (saya punya urusan bukan kau punya urusan) bahwa

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 si B (Marlina) menjelaskan ketidaksukaannya kepada si A (Markus) dan karena ia telah mengetahui maksud kedatangan Markus ke rumahnya. KBBI menjabarkan bahwa kata menjelaskan berarti menerangkan secara jelas atau secara terang. Data 6. A: Eh saya tidak sendiri, sebentar lagi teman yang lain datang. B: Siapa? A: Saya punya kawan B: Mereka mau apa ke sini? A: Mau ambil kau punya barang semua kau punya ternak Konteks : tuturan itu terjadi karena saat Markus berkomunikasi dengan Marlina ia memberitahu maksud kedatangannya dan mengungkapkan perasaannya pada Marlina dan Marlina pun marah pada Markus, maka terjadilah percakapan tersebut. Percakapan yang mengandung makna ‘menjelaskan’ terlihat pada katakata yang digunakan dalam percakapan di atas bahwa si A (Markus) menjelaskan tujuannya ke rumah Marlina yaitu untuk mengambil semua harta yang dimiliki Marlina. Dalam KBBI dijabarkan bahwa kata ‘menjelaskan’ berarti ‘menerangkan secara jelas atau secara terang’. Pernyataan yang menunjukkan bahwa itu menjelaskan sesuatu yaitu mau ambil kau punya barang semua kau punya ternak.

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 Data 7. E: Ini umbu dari bulan lalu tidak bisa pulang, kalau sudah jadwal lahir, lewat sudah dia Konteks: tuturan itu tejadi karena saat itu Marlina dan Novi sedang berbicara tentang kehamilan Novi yang sudah 9 bulan dan akan melahirkan, dan Novi mengatakan bahwa ia terlambat melahirkan sebenarnya waktu yang ditentukan untuk melahirkan itu dua minggu lalu, saat itu juga ia kesal terhadap suaminya yang sibuk dengan pekerjaannya, maka terjadilah tuturan tersebut. Dari pernyataan di atas mengandung makna ‘menjelaskan’. Hal ini terlihat pada kata-kata yang digunakan dalam percakapan di atas bahwa si E (Novi) menjelaskan pada Marlina tentang suaminya yang sibuk kerja seperti pada pernyataannya (ini umbu dari bulan lalu tidak bisa pulang, kalau sudah jadwal lahir, lewat sudah dia). Pernyataan tersebut menujukkan bahwa ia ingin menerangkan kepada orang lain bahwa suaminya tidak beruntung jika tidak bisa melihat anaknya lahir. Dalam KBBI dijabarkan bahwa kata ‘menjelaskan’ berarti ‘menerangkan secara jelas atau secara terang’. Data 8. I: Saya bukannya tidak mau duduk di kau punya samping (sambil melihat kepala markus yang dipegang oleh Marlina) Konteks: tuturan itu terjadi karena saat ibu salah satu penumpang di truk itu memberitahu Marlina bahwa ia tidak perluh menodongkan parang/golok pada supir truk itu karena supir itu tidak akan lari kemana-mana, saat itu juga Marlina pindah ke belakang untuk duduk dan ibu itu pindah karena tidak nyaman duduk bersama Marlina yang memegang kepala manusia. Tuturan di atas mengandung makna ‘menjelaskan’. Hal ini terlihat pada kata-kata yang digunakan dalam percakapan di atas bahwa si I (seorang Ibu) menjelaskan dengan mengatakan (saya bukannya tidak mau duduk di samping kamu (sambil menunjuk kepala manusia yang dipegang oleh Marlina). Ibu itu

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 menjelaskan secara tidak langsung kepada Marlina bahwa ia tidak duduk di sampingnya karena melihat kepala manusia yang dipegang oleh Marlina. Data 9. A: Malam ini kau adalah perempuan paling beruntung B: Saya perempuan paling sial sudah malam ini Konteks: tuturan itu terjadi karena saat itu ketika penjahat itu berkata bahwa ia ingin meniduri Marlina dan ia mengatakan bahwa Marlina wanita yang beruntung bisa ditiduri olehnya, maka terjadi tuturan tersebut. Percakapan yang mengandung makna ‘menjelaskan’ terlihat pada katakata yang digunakan dalam percakapan di atas bahwa si A (Markus) dan si B (Marlina) menjelaskan tentang keberuntungan dan keburukan karena dapat dilihat dari pernyataan di atas bahwa Marlina merasa dirinya yang paling sial karena didatangi penjahat yang ingin merampok dan memperkosa dirinya sedangkan Markus menjelaskan pada Marlina, dia wanita yang beruntung karena didatangi lelaki sepertinya. Data 10. B: (Temannya heran melihat kepala manusia) saya mau ke kantor polisi Konteks: tuturan itu terjadi karena saat itu Marlina berada di sebelah jalan untuk menunggu truk yang datang, Novi melihat Marlina dan menghampirinya. Sebelum bertanya raut wajah Novi terlihat sangat tegang karena melihat Marlina membawa kepala Markus, sehingga terjadi tuturan tersebut. Pernyataan di atas mengandung makna menjelaskan bahwa ingin melapor ke polisi. Ia ingin melapor ke kantor polisi karena ia dirampok oleh penjahat-penjahat itu, mereka membawa semua ternak miliknya dan bahkan masih sempat memperkosa dirinya tetapi ia telah membunuh mereka semua. Jadi

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 makna di atas diketahui melalui tuturan yang disampaikan oleh penutur dengan caranya dan ditafsirkan oleh peneliti sebagai pendengar atau pembaca. Data 11. F: Mama jangan naik, saya harus antar dia ke kantor polisi I: Sa (saya) sudah tahu, sa (saya) su (sudah) lihat Konteks: tuturan itu terjadi karena saat itu ada seorang ibu yang menghentikan truk yang tumpangi oleh Marlina, supir truk ingin menghentikan ibu itu untuk naik ke truk tetapi ibu itu bersikeras, maka terjadi tuturan tersebut. Dari tuturan di atas memiliki makna menjelaskan karena ingin menghentikan ibu itu untuk naik ke truk karena di dalam truk itu ada seorang wanita yang bernama Marlina yang sedang menodong supir truk untuk mengantarnya ke kantor polisi. Makna tersebut terlihat dari cara si F (supir truk) yang ingin menghentikan langkah ibu itu untuk menumpang ke truk karena berbahaya tetapi ibu itu tak menghiraukannya karena ia tidak ingin menunda perjalanannya. Jadi makna di atas diketahui melalui tuturan yang disampaikan oleh penutur dengan caranya dan ditafsirkan oleh peneliti sebagai pendengar atau pembaca. Data 12. L: Sam (saya punya) mama kasih nama saya Tofan supaya saya kuat sama kayak anak laki-laki Konteks: tuturan itu terjadi karena saat itu Marlina makan di warung dekat kantor polisi, ada seorang anak perempuan yang melayaninya, ketika ia makan dan memuji makanan yang ia makan di depan anak itu, ia bertanya nama anaknya sehingga terjadi tuturan tersebut Tuturan di atas memiliki makna pragmatik menjelaskan arti dari nama yang berikan oleh ibunya, ia menjelaskan atau menerangkan secara jelas bahwa ibunya memberinya nama Tofan agar ia kuat sama seperti laki-laki. Jadi makna

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 di atas diketahui melalui tuturan yang disampaikan oleh penutur dengan caranya dan ditafsirkan oleh peneliti sebagai pendengar atau pembaca. 4.2.2.3 Makna Pragmatik ‘Menggambarkan’ Makna ‘menggambarkan’ yang muncul dari pemanfaatan gaya bahasa dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho kajian stilistika pragmatik. Berikut ini akan dipaparkan data tersebut. Data 13. A:Kalau masih ada waktu tidur dengan ko (kau), kita bertujuh. Saya su (sudah) sering liat ko (kau) gaga tapi saya sendiri. Malam ini kau dapat bonus 7 laki-laki memang… heh su berapa laki-laki yang kau tiduri? Hanya dia (sambil menujuk mayat seorang laki-laki) ? Konteks : tuturan itu terjadi karena saat Markus berkomunikasi dengan Marlina dan memberitahu maksud kedatangannya ke rumah Marlina, sikap Marlina acuh tak acuh dan tak menghiraukan kata-katanya. Ia menyukai Marlina dan ingin berniat jahat. Dari pernyataan di atas terkandung makna yaitu menggambarkan keserakahan dari penjahat/perampok, terlihat dari pernyataan dari perampok yaitu Kalau masih ada waktu tidur dengan ko (kau). Pernyataan tersebut menggambarkan atau menunjukkan bahwa penjahat itu bukan hanya ingin mengambil barang yang dimiliki Marlina tetapi ia ingin meniduri Marlina. 4.2.2.4 Makna Pragmatik ‘Menegaskan’ Peneliti akan memaparkan makna ‘menegaskan’ yang muncul dari pemanfaatan gaya bahasa dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho kajian stilistika pragmatik. Berikut ini akan dipaparkan data tersebut.

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 Data 14. G: Kau tidak merasa bersalah nona e Konteks: tuturan itu terjadi karena saat itu ketika Marlina ingin naik ke truk ia dilarang masuk oleh supir truk. Ia dilarang karena membawa kepala manusia yang ia penggal tetapi ia mengancam dengan memakai barang tajam dan salah satu dari penumpang di truk itu turun dan memarahi Marlina. Kalimat di atas memiliki makna menegaskan karena si Marlina membawa kepala Markus yang ia penggal. Si G (penumpang) berbicara seperti itu agar menyadarkan kesalahan Marlina terlihat dari pernyataan di atas bahwa (kau tidak merasa bersalah nona e). Jadi makna di atas diketahui melalui tuturan yang disampaikan oleh penutur dengan caranya dan ditafsirkan oleh peneliti sebagai pendengar atau pembaca. Data 15. B: Enak-enak sekali ini L: Kan saya su (sudah) bilang kalo ini sate enak to mama Konteks: tuturan itu terjadi karena saat itu Marlina masuk ke warung dekat kantor polisi, ia ingin makan sesuatu jadi anak yang bernama Tofan menawarkan makanan pada Marlina, Marlina mencoba makanan yang ditawarkan oleh Tofan sehingga terjadilah tuturan tersebut. Tutuan di atas memiliki makna pragmatik yaitu menegaskan terlihat dari kalimat Kan saya su (sudah) bilang kalo ini sate enak to mama bahwa si L (Tofan) menegaskan kepada si B (Marlina) bahwa dia sudah mengatakan kalau makanan yang dia jual itu enak hanya Marlina saja yang tidak yakin makanan itu enak tetapi setelah dicicipi baru Marlina percaya.

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 4.2.2.5 Makna Pragmatik ‘Membandingkan’ Makna ‘membandingkan’ yang muncul dari pemanfaatan gaya bahasa dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho kajian stilistika pragmatik. Berikut ini akan dipaparkan data tersebut. Data 16. C: Nona, ini lebih enak dari sam (saya punya) bini punya masakan tapi dengan sam (saya punya) mama ko (kau) kalah sedikit Konteks: tuturan itu terjadi karena saat itu ketika Marlina menyiapkan makan malam untuk para penjahat yang datang ke rumahnya. Pada saat mereka makan, salah satu penjahat memuji masakan Marlina lalu membandingkan masakan Marlina dengan masakan ibunya Dari tuturan di atas terkandung makna ‘membandingkan’. Hal ini terlihat pada kata-kata yang tuturkan oleh penjahat itu bahwa (nona, ini lebih enak dari saya punya istri punya masakan tapi dengan saya punya mama kau kalah sedikit), tuturan tersebut terjadi karena saat itu ia sedang memakan masakan Marlina sehingga ia membandingkan masakan Marlina dengan masakan istri dan ibunya. 4.2.2.6 Makna Pragmatik ‘Mengancam’ Makna ‘mengancam’ yang muncul dari pemanfaatan gaya bahasa dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho kajian stilistika pragmatik. Berikut ini akan dipaparkan data tersebut. Data 17. F: Hey, turun..turun kau tidak bisa B: Saya mau pergi kantor polisi (sambil menodongkan parang/golok)

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 Konteks: tuturan itu terjadi karena ketika Marlina ingin naik ke truk, supir itu turun dan menghentikan Marlina tetapi Marlina memaksa untuk naik ke truk, maka terjadilah tuturan tersebut. Dari percakapan di atas memiliki makna mengancam dengan menodongkan parang karena sopir tak mengizinkan ia untuk naik ke truk, ini terlihat dari percakapan si B (Marlina). Ia seperti itu karena ia membawa kepala Markus ke kantor polisi tetapi tidak diperbolehkan naik ke truk, jadi ia memilih jalan yang tidak baik dengan mengancam menggunakan parang/golok. Jadi makna di atas diketahui melalui tuturan yang disampaikan oleh penutur dengan caranya dan ditafsirkan oleh peneliti sebagai pendengar atau pembaca. 4.2.2.7 Makna Pragmatik ‘Memberi Perintah’ Peneliti akan memaparkan 1 analisis makna ‘memberi perintah’ yang muncul dari pemanfaatan gaya bahasa dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho kajian stilistika pragmatik. Berikut ini akan dipaparkan data tersebut. Data 18. B: Makan! makan malam. Heh! (makanan jatuh). Biar saya ambil yang baru A: Tunggu, Kau duduk..duduk, buka, buka! Konteks: tuturan itu terjadi karena ketika itu Marlina masuk ke kamarnya tempat Markus tidur, ia membangunkan Markus untuk makan malam tetapi Markus malah menyenggol makanan itu sampai terjatuh, ketika Marlina ingin mengambil makanan baru Markus menahannya, maka terjadilah tuturan tersebut. Dari percakapan di atas memiliki makna memberi perintah untuk duduk terlihat dari pernyataan yang dituturkan oleh si A (Markus) bahwa ia menyuruh si B (Marlina) untuk duduk. Memberi perintah adalah menyuruh melakukan

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 sesuatu pekerjaan. Jadi memberi perintah adalah sesuatu yang diperintahkan untuk dilakukan, dalam kasus ini bahwa Markus menyuruh Marlina untuk duduk dan membuka baju karena ia ingin berniat jahat. Jadi makna di atas diketahui melalui tuturan yang disampaikan oleh penutur dengan caranya dan ditafsirkan oleh peneliti sebagai pendengar atau pembaca. 4.2.2.8 Makna Pragmatik ‘Menunjukkan’ Dipaparkan analisis makna ‘menunjukkan’ yang muncul dari pemanfaatan gaya bahasa dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho kajian stilistika pragmatik. Berikut ini akan dipaparkan data tersebut. Data 19. A: Yang penting kamu bawa minuman saja Konteks: tuturan itu terjadi karena penjahat yang bernama Markus menunggu teman-temannya pada sore itu, setelah beberapa jam teman-temannya tiba di tempat itu (di rumah Marlina), mereka turun dari truk dan menyapa Markus dengan wajah yang takut karena mereka terlambat dan terjadilah tuturan tersebut. Pernyataan di atas memiliki makna ‘menunjukkan’ kebaikan karena memiliki maksud lain yaitu terlihat dari pernyataan di atas yang penting kamu bawa minuman saja. Pernyataan ini menunjukkan bahwa ia tidak marah karena mereka terlambat yang penting yang ia inginkan itu ada. Dalam KBBI dijabarkan bahwa kata ‘menunjukkan’ adalah ‘memperlihatkan, menyatakan dan menerangkan sesuatu’. Jadi dapat ditunjukkan dari pernyataan di atas bahwa ia telah menunjukkan sesuatu karena memiliki maksud lain. Jadi makna di atas

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 diketahui melalui tuturan yang disampaikan oleh penutur dengan caranya dan ditafsirkan oleh peneliti sebagai pendengar atau pembaca. 4.2.2.9 Makna Pragmatik ‘Menunggu’ Makna ‘menunggu’ yang muncul dari pemanfaatan gaya bahasa dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho kajian stilistika pragmatik. Berikut ini akan dipaparkan data tersebut. Data 20. E: Saya tunggu di kampung saja, saya tunggu di sana, sudah di telepon tapi susah sekali dapat jawaban Konteks: tuturan itu bisa terjadi karena saat itu Novi berbicara dengan Marlina tentang tujuannya. Saat Marlina berkata bahwa ia akan melahirkan, Novi langsung menjawab iya dan menceritakan kekesalannya itu serta ia merasa marah karena suaminya tidak memberikan kabar. Dari tuturan di atas mengandung makna ‘menunggu’. Hal ini terlihat dari percakapan Novi dan Marlina bahwa Novi menceritakan kepada Marlina, ia merasa kecewa pada suaminya yang tidak memberikan kabar, dia hanya menunggu di kampung saja. Ia menunggu tanpa kepastian dari suaminya. 4.3 Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis gaya bahasa berdasarkan konteks dan makna pragmatik apa saja yang muncul dari pemanfaatan gaya bahasa dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho kajian stilistika pragmatik. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan beberapa jenis gaya bahasa yang digunakan dalam film Marlina. Secara keseluruhan gaya bahasa yang ditemukan dalam penelitian ini berjumlah 13 gaya bahasa. Rincian jenis gaya bahasa tersebut sebagai berikut. Gaya bahasa

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 ironi 4 buah, inuendo 16 buah, sarkasme 15 buah, sinisme 12 buah, anafora 1 buah, epizeukis 9 buah, koreksio atau epanortosis 2 buah, asonansi 4 buah, eufemisme 2 buah, ellipsis 1 buah, apofasis 1 buah, pleonasme 1 buah, polisindenton 1 buah. Tiga belas gaya bahasa tersebut sejalan dengan teori gaya bahasa yang dikemukakan oleh Tarigan. Tarigan (2009) mengklasifikasikan gaya bahasa ke dalam empat bagian yaitu (1) gaya bahasa perbandingan, (2) gaya bahasa pertentangan, (3) gaya bahasa pertautan, dan (4) gaya bahasa perulangan. Tuturan-tutran dalam film Marlina dominan menggunakan gaya bahasa inuendo dan sarkasme, disebabkan karena gaya bahasa inuendo merupakan gaya bahasa yang digunakan untuk menyindir secara kecil atau secara halus. Dengan menggunakan gaya bahasa inuendo pemain dapat menyampaikan sesuatu yang kurang disenangi kepada orang lain. Sedangkan gaya bahasa sarkasme merupakan gaya bahasa yang kasar, yang dapat membuat hati orang terluka. Pemain biasanya menggunakan gaya bahasa sarkasme dengan mencela orang lain dan menyindir secara kasar. Peneliti juga menemukan gaya bahasa sinisme yang merupakan gaya bahasa yang menyatakan sesuatu dengan menggunakan hal yang berlawanan dengan tujuannya agar orang merasa tersindir (Keraf, 1984:143). Gaya bahasa sinisme hampir mirip dengan gaya bahasa inuendo tetapi gaya bahasa inuendo menyindir secara halus sedangkan sinisme lebih kasar dan tajam. Dari penelitian ini ditemukan 10 makna yang muncul dari penggunaan gaya bahasa berdasarkan konteks dalam tuturan yang terdapat dalam film

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 Marlina si pembunuh dalam empat babak. Sepuluh makna yang ditemukan sebagai berikut. Menanyakan sesuatu, memberikan penjelaskan, menggambarkan, membandingkan, memberi pujian, mengancam, memberi perintah, menunjukkan sesuatu, dan menunggu. Makna yang paling banyak ditemukan adalah menjelaskan sesuatu hal atau memberikan penjelasan. Hal ini dapat dilihat dari film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho bahwa dalam film tersebut banyak menjelaskan berbagai macam hal yang terkait dengan penjahat atau orang-orang yang merampok di rumah Marlina dan kehidupan Marlina.

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan analisis data dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bagaimana pemanfaatan gaya bahasa dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho. Berikut ini disimpulkan gaya bahasa dan makna berdasarkan konteks dalam pragmatik yang terdapat dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak. Kalimat yang mengandung gaya bahasa berdasarkan konteks dalam pragmatik dari penelitian ini berjumlah 71 kalimat. Rincian jenis gaya bahasa tersebut sebagai berikut. Gaya bahasa ironi 4 buah, inuendo 16 buah, sarkasme 15 buah, sinisme 12 buah, anafora 1 buah, epizeukis 9 buah, koreksio atau epanortosis 2 buah, asonansi 4 buah, eufemisme 2 buah, ellipsis 1 buah, apofasis 1 buah, pleonasme 1 buah, polisindenton 1 buah. Dari penelitian ini juga meneliti makna yang muncul dari pemanfaatan gaya bahasa. Peneliti menemukan 9 (sembilan) makna gaya bahasa yang muncul berdasarkan konteks dalam pragmatik. Gaya bahasa berdasarkan konteks dalam tuturan film Marlina si pembunuh dalam empat babak adalah makna pragmatik ‘menanyakan sesuatu’, makna pragmatik ‘memberikan penjelaskan’, makna pragmatik ‘menggambarkan’, makna pragmatik ‘membandingkan’, makna pragmatik ‘memberi pujian’, makna pragmatik ‘mengancam’, makna pragmatik 85

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 ‘memberi perintah’, makna pragmatik ‘menunjukkan sesuatu’, dan makna pragmatik ‘menunggu’. 5.2 Saran Sehubungan dengan kesimpulan yang telah dikemukakan di atas, peneliti memberikan saran mengenai penelitian sejenis. Berikut ini merupakan saran dari peneliti. 1. Hasil penelitian tentang pemanfaatan gaya bahasa dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho ini dapat dijadikan bahasan pertimbangan dan referensi pembaca dalam menganalisis hal yang berkaitan dengan penelitiannya 2. Penelitian ini membahas tentang pemanfaatan gaya bahasa dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho, dalam penelitian ini mengkaji gaya bahasa berdasarkan konteks dalam pragmatik. Diharapkan bagi peneliti yang akan meneliti terkait dengan film Marlina agar dapat mengidentifikasi dengan lebih akurat dan lebih dikembangkan lagi. 3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memunculkan penelitian lain tentang pemanfaatan gaya bahasa pada daerah lain, subjek lain, serta dengan rumusan masalah yang bervariatif. 4. Penelitian ini dapat juga dikembangkan dengan menganalisis feminisme yang terdapat dalam film Marlina si pembunuh dalam empat babak karya Garin Nugroho

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Ali, Sopyan. 2016. Kajian Stilistika Pragmatik Gaya Bahasa Pada Puisi Shaykh Hamza Yusuf Hanson. Tesis Program Pascasarjana (S2). Solo: Linguistik Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Sebelas Maret. Asmaniah, Zainah. 2015. Naskah Drama Rajapati Karangan Ahmad Bakri (Kajian Struktural Dan Pragmastilistik). Jurnal Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Garut: Bahasa dan Seni. FKIP. STKIP. Black, Elizabeth. 2011. Stilistika Pragmatik.Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Bradford, Richard. 1997. Stylistic. USA and Canada: Routledge. Keraf, Gorys. 1984. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia. Mahsun. 2014. Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Edisi Revisi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Nadar, F.X. 2009. Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu. Nurgiyantoro, Burhan. 2014. Stilistika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Pranowo. 2014. Teori Belajar Belajar Bahasa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Rahardi, Kunjana. 2003. Berkenalan dengan Ilmu Bahasa Pragmatik. Malang: PT Dioma. Ratnasari, Dwi Meila. Suspensi dalam Wacana Humor Waktu Indonesia Bercanda Net Tv: Kajian Pragmastilistika. Jurnal Program Studi Sastra Indonesia. Surabaya: Bahasa dan Seni. FKIP. Universitas Negeri Surabaya. Rohman, Nur. 2016. Pemanfaatan Aspek Stilistika Pragmatik Sebagai Strategi Mengritik dalam Wacana Lirik Lagu Campursari. Tesis Program Pascasarjana (S2). Yogyakata: Linguistik. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Gadjah Mada. Sudaryanto. 2015. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguistik. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press. Tarigan, Henry Guntur. 2013. Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Angkasa. Wahyuni, Indah. 2014. Pragmatik. Diterjemahkan dari George Yule. 1996. Pragmatics. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Wicaksono, Andri. 2014. Stilistika. Bandarlampung: Garudhawaca. 87

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 Yule, George. 2006. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Yogiswara, I Made Bagus Ocky. 2018. Pemanfaatan Gaya Bahasa dalam Artikel Opini Harian Kompas Edisi Januari 2017. Skripsi Program Studi Bahasa Sastra Indonesia. Yogyakarta: Bahasa dan Seni. FKIP. Universitas Sanata Dharma. https://media.neliti.com/media/publications/11763-ID-transformasi-gaya-bahasadalam-karya-sastra-terjemahan.pdf. Diakses 18 Agustus 2018. https://core.ac.uk/download/pdf/32452906.pdf tentang Unsur-Unsur Stilistika dalam Puisi Tiongkok. Diakses 23 Agustus 2018. http://eprints.uny.ac.id/9514/3/bab%202-08205244019.pdf. Diakses 8 Agustus 2018. http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/15265/BAB%20III.pdf?s equence=7&isAllowed=y. Diakses 2 November 2018.

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LAMPIRAN

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(134)

Dokumen baru

Download (133 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Daya bahasa dalam gaya bahasa pada novel Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer.
9
73
264
Menulis karya ilmiah dalam bahasa indonesia cover
0
0
1
Jenis jenis gaya bahasa dalam
0
0
14
Gaya bahasa berdasarkan makna kata dalam kumpulan cerita pendek Sang Presiden karya Herry Gendut Janarto - USD Repository
0
0
72
Analisis unsur intrinsik karya sastra dalam film Denias: Senandung Di Atas Awan dan implementasinya dalam pembelajaran di SMA kelas X - USD Repository
0
0
128
Gagasan Semaoen tentang Partai Komunis Indonesia dalam novel Hikayat Kadiroen karya Semaoen : kajian sosiologi sastra - USD Repository
0
0
101
Campur kode Bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada tuturan tokoh Pariyem dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG - USD Repository
0
0
15
Campur kode Bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada tuturan tokoh Pariyem dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG - USD Repository
0
0
103
Tindak tutur dalam film Alangkah Lucunya (Negeri ini) karya Deddy Mizwar - USD Repository
0
0
144
Wacana gombal dalam bahasa Indonesia : kajian struktural, pragmatis, dan kultural - USD Repository
0
0
100
Gaya bahasa kiasan dalam kumpulan cerita pendek Roro Mendut dan Atmo karya besar S.W. - USD Repository
0
0
124
Penanda dan fungsi gaya bahasa ironi, sinisme, dan sarkasme dalam novel Boulevard De Clichy Agonia Cinta Monyet karya Remy Sylado - USD Repository
0
0
77
Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa dalam ranah agama Islam di wilayah kotamadya Yogyakarta - USD Repository
0
0
305
Kajian parodi dalam novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk buku ke II (Lintang Kemukus Dini Hari) karya Ahmad Tohari : suatu tinjauan stilistika pragmatik - USD Repository
0
0
124
Makian dalam bahasa Manggarai dialek Colol Manggarai Timur - USD Repository
0
0
89
Show more