Dampak kekerasan seksual pada penyandang disabilitas (studi kasus pada seorang tunagrahita) - USD Repository

Gratis

0
0
123
2 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAMPAK KEKERASAN SEKSUAL PADA PENYANDANG DISABILITAS (Studi Kasus pada Seorang Tunagrahita) Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling Oleh: M.A.Trisuci Paskalia 151114012 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAMPAK KEKERASAN SEKSUAL PADA PENYANDANG DISABILITAS (Studi Kasus pada Seorang Tunagrahita) Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling Oleh: M.A.Trisuci Paskalia 151114012 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 i

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI iii

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN MOTTO “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun Tuhan menyambut aku” (Mzm 27:10) “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus” (Flp 4:19) “Dum Vita Est, Spes Est” “Ad MAioreM dei GloriAM” iv

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ilmiah ini ku persembahkan kepada : Tuhan Yesus, Yang senantiasa memberikan kelimpahan rahmat dan cinta yang tiada henti. Orangtua, Alm. Bapak Leonardus Hendriyanti dan Alm. Mami Christiana Ningsih dan Kakakku Yohanes Bara Wahyu Riyadi yang sudah memberi bekal kehidupan dan cinta yang berlimpah. Pembimbing Rohani, Romo John Gowhere SJ yang tak pernah lelah mendoakan, memberi dukungan, dan menjadi perpanjangan cinta Tuhan serta membantu saya mengolah sejarah hidup serta Orangtua asuhku, kedua orangtua asuhku yang memberikanku kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Sahabat terkasih Aloysia Arghia Prastiyaningtyas yang selalu ada dalam suka dan duka. CIQAL, yang memberikan kesempatan untuk belajar dan bersedia mendampingi selama penelitian. Dosen Pembimbingku Juster Donal Sinaga, Yang sudah mendukung, mendoakan, membimbing dan memberi semangat selama proses masa studi hingga penyelesaian masa studi. Seluruh penyandang disabilitas yang mengalami ketidakadilan, Teman-teman BK’15, dan Program Studi Bimbingan dan Konseling v

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI vi

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI vii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK DAMPAK KEKERASAN SEKSUAL PADA PENYANDANG DISABILITAS (Studi Kasus pada Seorang Tunagrahita) M.A.Trisuci Paskalia Universitas Sanata Dharma 2019 Penelitan ini bertujuan untuk 1) mendeskripsikan apa saja bentuk kekerasan seksual yang dialami penyandang tunagrahita, 2) menjelaskan dampak-dampak yang dialami penyandang tunagrahita yang mengalami kekerasan seksual, 3) mengetahui bagaimana bentuk-bentuk perlawanan penyandang tunagrahita yang mengalami kekerasan seksual, dan 4) menjelaskan bagaimana penyandang tunagrahita mengelola pengalaman kekerasan seksual agar sehat secara psikologis. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dalam bentuk studi kasus. Tempat penelitian adalah salah satu lokasi di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sumber data penelitian ini adalah seorang penyandang disabilitas (Tunagrahita ringan) yang mengalami perkosaan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara. Teknik analisa data kualitatif yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa dampak kekerasan seksual khususnya perkosaan bagi penyandang tunagrahita yaitu dampak psikologis yakni trauma bila bertemu atau melihat pria yang berbadan besar, takut gelap, takut sendiri, merasa rendah diri, memiliki keinginan untuk bunuh diri dan perubahan suasana hati yang cepat. Dampak fisik yang dialami ialah robeknya selaput dara dan tidak lagi perawan. Sedangkan dampak sosial yang dialami yakni menjadi takut untuk bersosialisasi dan bertemu dengan orang baru. Responden juga menjaga jarak bila bertemu dengan orang baru. Bentuk-bentuk perlawanan yang dilakukan ketika kejadian berlangsung adalah melawan saat kejadian perkara dan setelah kejadian perkara dengan mengikuti prosedur hukum. Upaya penyandang tunagrahita agar sehat secara psikologis ialah menangis, berjuang menyelesaikan kasus di kantor polisi, menerima keadaan, patuh terhadap orangtua, ikhlas, dan fokus ke masa depan. Selain itu, dukungan dari berbagai pihak diantaranya dukungan keluarga, dukungan penyedia layanan, peraturan perundangundangan, pemerintah dan juga kepolisian sangat dibutuhkan oleh tunagrahita. Kata kunci : Kekerasan seksual, dampak Kekerasan, penyandang tunagrahita. viii

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT THE IMPACTS OF SEXUAL VIOLENCE TO DISABILITIES (A Case Study on Mental Disability) M.A.Trisuci Paskalia Sanata Dharma University 2019 This study was aimed to 1) describe what kind of sexual violence that experienced by persons with mental disability, 2) explain the impacts that experienced by mental disabled persons who experience sexual violence, 3) know the forms of resistance of mental disabled persons who experience sexual violence, and 4) explain how people with mental disability manage their experiences of sexual violence to be psychologically healthy. The type of this research was qualitative research in the form of case studies. The research site was in Bantul Regency, Special Region of Yogyakarta. The data source of this study was a person with a disability (mild intellectual retardation) who had experience as raping victim. Data collection techniques used were observation and interviews. Qualitative data analysis The study results showed that the impact of sexual violence, especially rape for persons with mental disability was psychological of the trauma when meeting or seeing large-bodied men, afraid of the dark, afraid of themselves, feeling inferior, having suicidal thoughts and rapid mood swings. The physical impact experienced was the tear of the hymen and no longer a virgin. While the social impact experienced was being afraid to socialize and meet new people. Respondent also maintain a distance when meeting new people. Forms of resistance carried out were fight back during the incident took place and the legal procedures after the incident. The effort conducted by people with mental disability in order to be psychologically healthy was crying, fighting to solve cases in the police station, accept the situation, obey parents, sincerity, and focus on the future. In addition, support from various parties including family support, support from social service providers, legislation, government and also the police is greatly needed by mental disability person. Keywords: Sexual violence, the impact of violence, mental disability. ix

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas berkat dan rahmat yang dilimpahkan kepada peneliti sehingga peneliti dapat menyelesaikan penulisan karya ilmiah ini. Karya ilmiah ini merupakan tugas akhir sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di FKIP Universitas Sanata Dharma. Proses penulisan karya ilmiah ini memberikan pengalaman dan wawasan baru bagi peneliti dalam mengaplikasikan ilmu yang telah didapat selama masa studi. Peneliti menyadari bahwa dalam penulisan karya ilmiah ini tidak akan selesai dan berjalan dengan lancar tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak yang telah mendukung dan mendampingi selama proses penyusunan. Oleh karena itu secara khusus peneliti mengucapkan banyak terimakasih kepada : 1. Dr. Gendon Barus, M.Si. selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Sanata Dharma. 2. Juster Donal Sinaga, M.Pd. selaku Wakil Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Sanata Dharma dan selaku dosen pembimbing yang selalu bersedia membantu, mendampingi, dan menyemangati peneliti dari awal hingga penyelesaian karya ilmiah ini. 3. Para dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma yang telah berkenan membimbing dan telah memberi pengetahuan kepada penulis selama awal perkuliahan hingga penyelesaian masa studi. 4. Alm. Kedua orangtuaku terkasih yang telah memberikan bekal kehidupan 5. Kakak tercintaku Yohanes Bara Wahyu Riyadi yang tetap tegar menjadi ayah sekaligus ibu untukku. 6. Romo Yohanes Nugroho SJ a.k.a Romo John Gowhere SJ yang selalu mendukung, memotivasi, mendoakan dan memberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi peneliti. 7. Kedua orangtua asuhku yang telah memberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. x

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8. Teman seperjuanganku, Aloysia Arghia Prastiyaningtyas yang selalu mendukung, mendoakan, memotivasi dan menemani dalam suka dan duka. 9. Penyemangatku Alfredo Oliver B, Damaris Imelda, Tiberia Dian, Teofilus Bayu, Ignatius Riki Dwi .K. , F4 , dan tim nonton hokya. 10. Teman-teman BK angkatan 2015 yang telah memberikan semangat, masukan dan doa dari awal penulisan karya ilmiah hingga terselesaikannya karya ilmiah ini. 11. AE, selaku responden penelitian karya ilmiah ini. 12. CIQAL, selaku pendamping dan pembimbing selama proses pengerjaan karya ilmiah ini. 13. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah membantu, memotivasi, memberikan dukungan dan doa. Peneliti menyadari bahwa penelitian karya ilmiah ini masih terdapat banyak kekurangan. Namun demikian peneliti berharap karya ilmiah ini bermanfaat sekaligus memberikan referensi bagi siapa saja yang membaca dan membutuhkannya. Peneliti xi

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................. ii HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. iii HALAMAN MOTTO ......................................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................................v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................. vi LEMBAR PERNYATAAN PERSERTUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ......................................... vii ABSTRAK .......................................................................................................... viii ABSTRACT ........................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ............................................................................................x DAFTAR ISI ........................................................................................................ xii DAFTAR TABEL............................................................................................... xiii DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xiv BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1 A. Latar Belakang Masalah .................................................................................1 B. Identifikasi Masalah .......................................................................................8 C. Fokus Peneltian ..............................................................................................9 D. Rumusan Masalah.........................................................................................10 E. Tujuan Penelitian ..........................................................................................10 F. Manfaat Penelitian ........................................................................................11 G. Batasan Istilah...............................................................................................12 BAB II KAJIAN PUSTAKA ...............................................................................13 A. B. Hakikat Kekerasan Seksual ..........................................................................13 1. Pengertian kekerasan Seksual .............................................................13 2. Bentuk-Bentuk kekerasan Seksual ......................................................15 3. Faktor Penyebab Terjadinya kekerasan Seksual .................................18 4. Dampak kekerasan Seksual .................................................................21 Hakikat Penyandang Disabilitas ...................................................................22 xii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI C. D. 1. Pengertian Disabilitas..........................................................................22 2. Jenis Disabilitas ...................................................................................25 3. Derajat Disabilitas ...............................................................................28 Hakikat Penyandang Tunagrahita .................................................................29 1. Karakteristik Tunagrahita ....................................................................30 2. Derajat Tunagrahita .............................................................................31 3. Tunagrahita Berdasar IQ .....................................................................32 Hakikat Perkembangan Seksual Remaja Disabilitas ....................................33 1. Perkembangan .....................................................................................33 2. Perkembangan Seksual ........................................................................33 3. Perkembangan Seksual Penyandang Tunagrahita ...............................36 4. Remaja.................................................................................................37 E. Hakikat Persoalan Pelecehan Seksual Pada Penyandang Disabilitas ...........39 F. Kajian Penelitian yang Relevan ....................................................................41 BAB III METODE PENELITIAN .....................................................................44 A. Jenis Penelitian .............................................................................................45 B. Tempat dan Waktu Penelitian.......................................................................45 C. Responden Penelitian ...................................................................................45 D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ...................................................46 E. Keabsahan Data ............................................................................................49 F. Teknik Analisis Data ....................................................................................49 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ....................................52 A. B. Deskripsi Data ..............................................................................................52 1. Tempat dan Jadwal Penelitian .............................................................52 2. Deskripsi Umum Responden...............................................................53 3. Hasil Penelitian ...................................................................................53 Pembahasan ..................................................................................................66 1. Bentuk Pelecehan Seksual ...................................................................67 2. Dampak-Dampak Pelecehan Seksual ..................................................68 3. Bentuk Perlawanan..............................................................................71 4. Cara Menghadapi rintangan ................................................................72 xiii

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...............................................................76 A. Kesimpulan ................................................................................................76 B. Keterbatasan Penelitian ..............................................................................76 C. Saran...........................................................................................................78 DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................79 xiv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Table 1: Pedoman Wawancara ..............................................................................47 Tabel 2: Lembar Panduan Observasi .....................................................................48 xv

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Hasil Observasi .................................................................................81 Lampiran 2 : Lembar verbatim wawancara ...........................................................84 Lampiran 3 : Lembar Koding Wawancara .............................................................93 Lampiran 4 : Lembar Kategorisasi Wawancara ...................................................100 Lampiran 5: Surat Ijin Penelitian .........................................................................106 xvi

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini disajikan latar belakang, identifikasi masalah, pembatasan masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan batasan istilah. A. Latar Belakang Masalah Di era modern ini, seksualitas bukanlah hal yang tabu untuk diperbincangkan selama berada pada tempat dan pada waktu yang seharusnya. Akan tetapi perilaku seksual yang dilakukan dengan unsur keterpaksaan mengakibatkan fenomena lain yakni kasus kekerasan ataupun pelecehan seksual. Pemerkosaan yang semakin marak terjadi di tengah masyarakat ini merupakan salah satu bentuk kekerasan yang seringkali terjadi dan bukan hal baru lagi di negara Indonesia. Pelecehan seksual sendiri memiliki banyak macam seperti pelecehan seksual verbal yang berupa ucapan, non verbal yang berupa tindakan seperti sentuhan, pijatan, remasan, pelukan, ciuman dan yang lebih membahayakan adalah pelecehan seksual dalam bentuk non verbal seperti saat pelaku melakukan kontak fisik atau kegiatan memperkosa yang tidak diinginkan oleh korban. Maraknya kekerasan seksual ini tidak hanya dialami oleh perempuan maupun laki-laki yang sehat secara fisik maupun mental namun juga bagi penyandang disabilitas. Hastuti (Ciqal: 2017) mengatakan di Indonesia sendiri data statistik menunjukkan 35% kasus kekerasan telah menimpa perempuan disabilitas, hal tersebut menginterpretasikan setiap 1

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 tahunnya terdapat 1278 kasus kekerasan yang menimpa perempuan disabilitas yang jika dipresentasekan hampir setiap harinya terjadi sekitar 34 kasus kekerasan terhadap perempuan disabilitas. Penyandang disabilitas merupakan kelompok masyarakat yang beragam, diantaranya penyandang disabilitas yang mengalami disabilitas fisik, disabilitas mental maupun gabungan dari disabilitas fisik dan mental. Kondisi penyandang disabilitas tersebut mungkin hanya sedikit berpengaruh kepada kemampuan mempertahankan hidupnya atau bahkan berdampak besar bagi kehidupannya sehingga ketidakberdayaannya dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang ingin mengambil keuntungan. Selain itu, Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan (2017) menyatakan diskriminasi dan kekerasan seksual pada penyandang disabilitas perempuan semakin muncul ke permukaan karena mulai menggeliatnya upaya untuk memasukkan layanan disabilitas pada lembaga-lembaga layanan. Kekerasan seksual pada perempuan dengan disabilitas terjadi karena asumsi bahwa penyandang disabilitas adalah makhluk aseksual atau menstigma bahwa disabilitas terutama disabilitas intelektual memiliki kebutuhan seksual yang berlebih, sehingga melanggengkan praktek kekerasan seksual yang terjadi pada penyandang disabilitas. Selain menstigma penyandang disabilitas sebagai makhluk aseksual, pelaku juga mengidentikkan penyandang disabilitas sebagai golongan lemah sehingga pelaku semakin berani untuk melakukan tindakan pelecehan seksual. Pelecehan seksual ini tidak hanya dialami oleh perempuan dewasa

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 namun juga oleh anak-anak khususnya bagi penyandang tunarungu dan tunagrahita. Sebab penyandang tunarungu tidak bisa berteriak dan otomatis akan sangat ketakutan ketika diancam untuk tetap diam oleh pelaku. Sedangkan penyandang tunagrahita secara mental dan intelektual sulit membedakan antara pelecehan seksual dan kasih sayang. Keterbatasan penyandang disabilitas ini seringkali dimanfaatkan oleh pelaku yang ingin memuasakan hawa nafsunya dengan harapan bisa lolos dari kejahatan yang dilakukan karena minimnya pembuktian. Bentuk-bentuk pelecehan seksual yang berujung kekerasan seksual ini semakin bervariasi karena tak hanya dilakukan oleh satu orang pelaku saja namun juga berkelompok yang disertai pembunuhan. Dalam Kedaulatan Rakyat diberitakan bahwa pelecehan seksual pada penyandang disabilitas meningkat dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Center for Improving Qualive Of People With Disabillities (CIQAL) mencatat terdapat 96 kasus kekerasan seksual menimpa penyandang disabilitas. Maraknya pemerkosaan yang tidak diimbangi dengan pemberian hukuman yang tegas terhadap pelaku perkosaan, semakin meningkatkan kasus pelecehan seksual terhadap penyandang disabilitas. Berdasarkan Catatan Tahunan (CATAHU) kekerasan terhadap perempuan tahun 2018 oleh Komisi Nasional Perempuan bahwa lembaga mitra atau pengada layanan mendokumentasikan sebanyak 48 kasus kekerasan dialami oleh penyandang disabilitas.

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 Sedangkan bentuk-bentuk kekerasan yang seringkali dialami oleh penyandang disabilitas ialah penipuan, pelecehan oleh guru, kekerasan fisik oleh guru, kekerasan seksual oleh kakak ipar, kekerasan seksual oleh tetangga, kekerasan dalam pacaran atau rumah tangga, perkosaan, pencabulan oleh teman, perkosaan dalam komunitas, pencabulan komunitas, perdagangan orang dan masih banyak lagi. Berbagai macam kasus kekerasan seksual yang terlampir dalam Catatan tahunan Komnas Perempuan ini mayoritas dilakukan oleh orang-orang terdekat seperti tetangga, guru, bahkan anggota keluarga sendiri. Undang-Undang (UU) Republik Indonesia Nomor 8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas yang menggantikan undang-undang nomor 4 tahun 1997 memberikan landasan hukum yang tegas mengenai kedudukan dan hak penyandang disabilitas. Pada UU tersebut semakin ditegaskan bahwa "Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kelangsungan hidup setiap warga negara, termasuk para penyandang disabilitas yang mempunyai kedudukan hukum dan memiliki hak asasi manusia yang sama sebagai Warga Negara Indonesia dan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari warga negara dan masyarakat Indonesia merupakan amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, untuk hidup maju dan berkembang secara adil dan bermartabat”. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mengeluarkan peraturan daerah (Perda) yang termuat pada nomor 4 Tahun 2012 mengenai perlindungan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas, termasuk perlindungan bagi

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 penyandang disabilitas dari segala bentuk kekerasan. Namun, kenyataannya masih banyak korban kekerasan seksual penyandang disabilitas belum terlindungi. Hal ini disebabkan oleh penyelesaian kasus mengenai kekerasan seksual terhadap penyandang disabilitas jarang sekali ditangani secara tuntas baik dari segi hukum maupun psikologis. Faktor yang menyebabkan kasus ini jarang terselesaikan sampai tuntas karena korban kekerasan seksual yang merupakan penyandang disabilitas enggan melaporkan masalahnya kepada pihak berwajib dikarenakan keterbatasan yang dimiliki, pelaku masih anggota keluarga, pihak keluarga berupaya menutupi kejadian tersebut dengan alasan menutupi aib serta masyarakat yang belum paham hak penyandang disabilitas. Pada workshop 16 Hari Tanpa Kekerasan Terhadap Perempuan di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Ibnu Sukoco selaku koordinator program advokasi disabilitas Ciqal mengatakan bahwa pendampingan penyandang disabilitas yang menjadi korban kekerasan seksual juga cukup sulit karena kecenderungan pihak keluarga yang tidak mau terbuka. Sebagian besar keluarga korban menilai masalah tersebut merupakan aib yang harus ditutup. Chaerizanisazi (CIQAL, 2017) mengatakan bahwa ada suatu lokasi di Jogja terdapat seorang difabel tunagrahita yang telah menjadi korban kekerasan seksual oleh pamannya hingga penyandang disabilitas tunagrahita tersebut hamil. Menurut keluarga korban, masyarakat atau tetangga sekitar

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 bersikap apatis bahkan mendiskriminasi dan juga korban dianggap bersalah karena tidak mampu untuk menjaga diri. Kerentanan pada penyandang disabilitas untuk mendapatkan kekerasan seksual bukan saja karena kondisi fisik maupun keterbatasan penyandang disabilitas tersebut, tetapi juga karena lingkungan sosial tidak mampu menyediakan jaminan perlindungan yang memadai. Tak hanya kondisi fisik, psikologis, dan lingkungan sosial saja yang menyebabkan penyandang disabilitas rentan mengalami kekerasan seksual namun juga pendidikan seks dan pemahaman masyarakat yang minim mengenai kondisi seksual penyandang disabilitas. Sugiasih (Aziz, 2015) mengungkapkan bahwa sebagian masyarakat kita masih menganggap bahwa pendidikan seks sebagai sesuatu yang tidak layak dibicarakan. Hal itu dikarenakan adanya anggapan bahwa pembicaraan mengenai seks merupakan sesuatu yang masih dianggap tabu, porno serta sifatnya sangat pribadi sehingga tidak layak untuk diperbincangkan. Minimnya pendidikan seks bagi anak berkebutuhan khusus menjadikan sebagian di antara mereka cenderung mudah dimanipulasi sehingga kerap kali dijadikan objek pelecehan dan pelampiasan seksual. Anitasari (Aziz, 2015) mengungkapkan bahwa sebagian besar masyarakat atau pendidik tampaknya belum memahami konsep pendidikan seks secara tepat, anggapan pendidikan seks tidak cocok sebagai bagian dari materi pembelajaran di SLB maupun lembaga pendidikan inklusi.

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 Maslow (Boeree, 2007) menyatakan bahwa setiap manusia memiliki empat kebutuhan dasar yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman, cinta, harga diri dan bila keempat kebutuhan ini tidak dapat terpenuhi misalnya karena persoalan berat seperti pelecehan seksual maka orang cenderung mengalami hambatan dan akan tersebut akan akan merasa depresi, penderitaam, kekecewaan, kecurigaan serta sinisme. Kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan dasar yang disebabkan oleh keterbatasannya inilah yang kemudian dimanfaatkan pelaku untuk melakukan kekerasan seksual. Pelaku menganggap penyandang disabilitas lemah baik dari segi jasmani maupun rohani, sehingga tidak dapat terbantahkan tindakan kekerasan seksual terhadap korban penyandang disabilitas dapat berdampak negatif pada keadaan psikis dan fisik korban. Center for Improving Qualified Activities in Life of People with Disabilities atau disingkat CIQAL (2017) mengatakan secara fisik tentunya korban mengalami luka pada bagian tertentu yang dimanfaatkan pelaku sebagai pemuas nafsunya, sedangkan dari segi psikologis adanya tekanan secara psikologis (trauma) yang dialami korban berdampak pada penurunan Self esteem atau menurunnya penghargaan diri pada korban karena disebabkan oleh rasa malu yang menjadikan korban sulit untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga korban pun berpeluang untuk mendapatkan tindak diskriminasi dari lingkungannya. Yossa pada Berita 360 (Guf, 2017) mengatakan dampak psikologis kekerasan terhadap korban disabilitas adalah trauma berkepanjangan,

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 kehilangan rasa aman, hilangnya kepercayaan, rasa malu, rasa rendah diri, respon emosional yang kuat, dan menunjukkan tingkah laku seksual. Akibat dari kekerasan seksual secara sosial menurut Aziz (2015) ialah sikap sinis dari masyarakat yang menyebabkan penyandang disabilitas enggan membuka diri kembali untuk bisa bergaul dengan masyarakat disekitarnya. Berdasarkan pada hal tersebut peneliti sangat tertarik untuk melakukan penelitian ini, guna mengetahui keadaan lebih mendalam mengenai dampakdampak fisik, psikologis, dan juga sosial pada penyandang disabilitas yang mengalami kekerasan seksual. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang yang di kemukakan penulis dan hasil observasi, maka dapat diidentifikasi beberapa masalah yang akan dijadikan dasar untuk mengetahui lebih jauh keadaan lebih mendalam penyandang disabilitas yang mengalami kekerasan seksual : 1. Penyandang disabilitas dianggap sebagai makhluk aseksual. 2. Penyandang disabilitas mendapatkan dampak dua kali lipat dari orang non-disabilitas yang juga mengalami kekerasan seksual. 3. Kasus kekerasan seksual terhadap penyandang disabilitas masih tinggi. 4. Penegakan hukum jarang sekali ditangani secara tuntas. 5. Pelaku kekerasan seksual adalah orang terdekat korban. 6. Kebutuhan dasar penyandang disabilitas sulit terpenuhi. 7. Masyarakat masih bersikap apatis terhadap penyandang disabilitas.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 8. Pemahaman orang tua, pendidik dan masyarakat mengenai pendidikan seks bagi penyandang disabilitas masih minim. 9. Pendidikan seks dianggap sebagai suatu hal yang tabu. 10. Pendidikan seks untuk penyandang disabilitas masih minim. C. Fokus Penelitian Berdasarlam identifikasi masalah dan keterbatasan peneliti, maka fokus penelitain ini disusun dengan mengaitkan tema yang sesuai, yakni “Kekerasan Seksual Pada Penyandang Disabilitas” dengan responden yang merupakan disabilitas tunagrahita. Berikut ini adalah fokus penelitian: 1. Menggali bentuk-bentuk kekerasan seksual yang dialami satu remaja penyandang tunagrahita 2. Menggali dampak-dampak yang dialami satu remaja penyandang tunagrahita yang mengalami kekerasan seksual 3. Menggali bentuk-bentuk perlawanan satu remaja penyandang tunagrahita yang mengalami kekerasan seksual. 4. Menggali satu remaja penyandang tunagrahita mengelola pengalaman kekerasan seksual agar sehat secara psikologis D. Rumusan Masalah Berdasarlam fokus penelitian di atas, disusunlah rumusan masalah sebagai berikut: 1. Apa saja bentuk-bentuk kekerasan seksual yang dialami satu remaja penyandang tunagrahita?

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 2. Bagaimana dampak-dampak yang dialami satu remaja penyandang tunagrahita yang mengalami kekerasan seksual? 3. Bagaimana bentuk-bentuk perlawanan satu remaja penyandang tunagrahita yang mengalami kekerasan seksual? 4. Bagaimana satu remaja penyandang tunagrahita mengelola pengalaman kekerasan seksual agar sehat secara psikologis E. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan utama yang akan dibahas adalah dampak-dampak yang muncul pada penyandang tunagrahita yang menjadi korban kekerasan seksual. Rumusan masalah tersebut dirinci dalam tujuan-tujuan yang lebih khusus sebagai berikut : 1. Mendeskripsikan apa saja bentuk-bentuk kekerasan seksual yang dialami satu remaja penyandang tunagrahita. 2. Menjelaskan dampak-dampak yang dialami satu remaja penyandang tunagrahita yang mengalami mengalami kekerasan seksual. 3. Mengetahui bagaimana bentuk-bentuk perlawanan satu remaja penyandang tunagrahita yang mengalami kekerasan seksual. 4. Menjelaskan bagaimana satu remaja penyandang tunagrahita mengelola pengalaman kekerasan seksual agar sehat secara psikologis.

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan informasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang bimbingan dan konseling khususnya mengenai dampak-dampak kekerasan seksual pada penyandang disabilitas. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Pengelola Lembaga Menambah informasi kepada pengelola sehingga dapat bekerja sama dengan pihak-pihak terkait (pemerintah, keluarga, dan masyarakat) dalam mengatasi berbagai dampak yang muncul. b. Bagi Orang tua Orang tua yang mempunyai anak penyandang disabilitas dapat mengetahui dampak kekerasan seksual sehingga mengetahui apa yang harus dilakukan dalam mendampingi dan menangani anak penyandang disabilitas yang mengalami kekerasan seksual. Selain itu orang tua dapat menggunakan hasil penelitian sebagai sumber informasi dalam melakukan pencegahan kekerasan seksual. c. Bagi Mahasiswa Memberikan refrensi untuk penelitian berikutnya yang terkait dengan dampak kekerasan seksual pada penyandang disabilitas.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 d. Bagi Penulis Sebagai calon konselor, penulis mendapatkan pengalaman baru dan keterampilan baru untuk semakin peka dalam mengkaji permasalahan konkret yang sedang terjadi di masyarakat khususnya pada penyandang disabilitas. G. Batasan Istilah 1. Kekerasan seksual merupakan suatu perbuatan memaksa atau dengan cara apapun diluar kehendak seseorang untuk melakukan persetubuhan dengan disertai kekerasan ataupun ancaman. 2. Seks adalah perbedaan laki-laki dan perempuan yang dibedakan melalui jenis kelamin. 3. Penyandang disabilitas adalah seseorang yang biasanya mengalami hambatan fisik dan/mental sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya secara wajar. 4. Penyandang tunagrahita adalah seseorang yang mengalami keterbatasan substansial dalam memfungsikan diri. Keterbatasan ini ditandai dengan terbatasnya kemampuan fungsi mental yang terletak dibawah rata-rata (IQ 70 atau kurang) dan ditandai dengan terbatasnya kemampuan tingkah laku.

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II KAJIAN PUSTAKA Dalam bab kajian pustaka ini, dipaparkan pembahasan mengenai landasan teori yang dijadikan dasar untuk membangun kerangka konsepsual. Berdasarkan judul penelitian, maka pada bab ini peneliti akan mengemukakan beberapa konsep yang berkaitan dengan variabel penelitian, yaitu : Kekerasan seksual, penyandang disabilitas, penyandang tunagrahita,perkembangan seksual remaja disabilitas, persoalan kekerasan seksual pada penyandang disabilitas dan kajian penelitian yang relevan. A. Hakikat Kekerasan Seksual 1. Pengertian Kekerasan Seksual Kekerasan seksual khususnya perkoasaan menurut Komisi Nasional Perempuan merupakan hubungan seksual dengan memakai penis ke arah vagina, anus atau mulut korban. Bisa juga menggunakan jari tangan atau benda-benda lainnya. Serangan dilakukan dengan kekerasan, ancaman kekerasan, penahanan, tekanan psikologis, penyalahgunaan kekuasaan, atau dengan mengambil kesempatan dari lingkungan yang penuh paksaan. Pencabulan adalah istilah lain dari perkosaan yang dikenal dalam sistem hukum Indonesia. Istilah ini digunakan ketika perkosaan dilakukan di luar pemaksaan penetrasi penis ke vagina dan ketika terjadi hubungan seksual pada orang yang belum mampu memberikan 13

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 persetujuan secara utuh, misalnya terhadap anak atau seseorang dibawah 18 tahun. Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) pada bab XIV pasal 285 dikatakan bahwa tindak pidana perkosaan ialah barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. Sedangkan bentuk-bentuk kekerasan seksual seringkali muncul dengan pemaksaan kehendak yang mengarah pada tindakan kekerasan seksual demi menyalurkan kebutuhan seksualnya dan tentu saja hal ini melanggar batas norma dan hukum di masyarakat. Hal ini diperkuat oleh pendapat Freud mengenai libido. Menurut Freud (Boeree, 2016), libido merupakan energi motivasional dari insting kehidupan berupa kekuatan yang mendorong jiwa kita untuk mencari makan dan lawan jenis. Freud kemudian menyimpulkan bahwa seks ternyata jauh lebih penting dalam dinamika kejiwaan dibanding kebutuhan-kebutuhan lainnya. Manusia akan terus menerus berusaha untuk memenuhi libidonya agar menjadi stabil dan tenang, sehingga bertingkah laku. Libido seks ikut mendorong manusia untuk seksual mendorong manusia untuk mengadakan penyaluran terhadap kebutuhan seksualnya, dan karena

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 semua manusia memilikinya tidak terkecuali yang belum terikat oleh tali perkawinan. 2. Bentuk-Bentuk Kekerasan Seksual Kekerasan seksual juga merupakan suatu bentuk tindakan yang dilakukan perseorangan atau kelompok yang tidak hanya mengakibatkan luka atau penderitaan fisik namun juga penderitaan psikologis. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) (Aziz, 2015:41) mengatakan bahwa tindakan pelecehan seksual berupa perkosaan merupakan satu bentuk pelecehan seksual yang paling berat. Rentang pelecehan seksual ini sangat luas, yakni meliputi : main mata, siulan nakal, komentar berkonotasi seks atau gender, humor porno, cubitan, colekan, tepukan atau sentuhan di bagian tubuh tertentu, gerakan tertentu atau isyarat yang bersifat seksual, ajakan berkencan dengan iming-iming atau ancaman, ajakan melakukan hubungan seksual hingga perkosaan. Santrock (2007:287) mengatakan kekerasan seksual yang dihadapi perempuan dimulai dari komentar yang berkonotasi seksual dan kontak fisik secara tersembunyi seperti memegang, sentuhan ke bagian tubuh tertentu hingga ajakan yang dilakukan secara terangterangan dan serangan seksual. Meskipun korban perkosaan adalah perempuan, perkosaan terhadap laki-laki juga dapat terjadi.

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 Welsh (Kurnianto, 2016) menyatakan dalam sudut pandang undang-undang, pelecehan seksual dibagi ke dalam dua bentuk perilaku: a. “Quid Pro Quo” Harrasment, termasuk perilaku seksual yang diperoleh dengan mengancam atau menyuap, sehingga korban patuh atau menerima perlakuan seksual tersebut dengan pertimbangan terkait pekerjaan mereka. b. Hostile Environment Harrasment, termasuk perilaku bercanda, berkomentar, sentuhan yang mengandung unsur seksual dan bertentangan dengan keinginan orang yang menerima perlakuan tersebut, atau bersifat mengintimidasi seseorang, sehingga menyebabkan adanya permusuhan. Selain itu, Better Work Indonesia (Kurnianto,2016) memamparkan juga bentuk pelecehan seksual secara umum yang dibagi ke dalam lima bentuk perilaku: a. Pelecehan seksual secara fisik : termasuk sentuhan yang tidak diinginkan dengan kecenderungan seksual seperti mencium, menepuk, mencubit, mencolek, dan memegang dengan penuh hawa nafsu. b. Pelecehan seksual secara verbal: termasuk komentar-komentar yang tidak diinginkan tentang kehidupan seksual atau anggota tubuh, penampilan, lelucon dan godaan yang bersifat seksual.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 c. Pelecehan seksual dengan bahasa tubuh: termasuk gerak-gerik yang menjurus pada sesuatu yang berunsur seksual, seperti: kedipan mata berulang-ulang, gerakan bibir, dan jari-jemari. d. Pelecehan seksual bersifat tertulis atau grafis: termasuk pemaparan barang-barang pornografi, gambar-gambar eksplisit yang bersifat seksual, gambar cover komputer dan pelecehan seksual melalui pesan singkat dan sarana komunikasi lainnya. e. Pelecehan sesual psikologis/emosional: termasuk diantaranya permintaan yang terus-menerus dan tidak diinginkan, undangan yang tidak diinginkan untuk pergi berkencan, hinaan, ejekan dan sindiran yang berkonotasi seksual. Sementara itu Komisi Nasional Perempuan menemukan 15 bentuk kekerasan seksual yang diperoleh dari hasil pemantauan selama 15 tahun (1998-2013). Diantaranya perkosaan, intimidasi seksual termasuk ancaman atau percobaan perkosaan, pelecehan seksual, eksploitasi seksual, perdagangan perempuan untuk tujuan seksual, prostitusi paksa, perbudakan seksual, pemaksaan perkawinan termasuk cerai gantung, pemaksaan kehamilan, pemaksaan aborsi, pemaksaan kontrasepsi dan sterilisasi, penyiksaan seksual, penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa seksual, praktik tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan, dan kontrol seksual termasuk lewat aturan diskriminatif beralasan moralitas dan agama.

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 Berdasarkan definisi yang telah diuraikan tersebut di atas, peneliti menarik kesimpulan tentang definisi kekerasan seksual, yaitu suatu bentuk perilaku peremehan, peghinaan, atau mempermainkan keadaan fisik dan psikis laki-laki atau perempuan yang mengganggu dan dilakukan demi mencari keuntungan sendiri. 3. Faktor Penyebab Terjadinya Kekerasan Seksual Collier (1992) mengidentifikasikan lima faktor yang menjadi penyebab terjadinya kekerasan seksual. a. Faktor biologis Hal ini dapat dijelaskan bahwa melihat kecenderungan biologisnya, bahwa lelaki itu berperilaku sebagai seks yang aktif ofensif. Aktif ofensif disini berarti dalam fungsi reproduktifnya untuk mencari dan membuahi lewat suatu aktivitas yang relatif cuma sesaat. Sementara perempuan adalah pelaku seks yang pasif defensif yang berarti fungsi reproduktifnya untuk menunggu, dan selanjutnya menumbuh kembangkan kehidupan baru didalam rahim dan dipangkuannya lewat suatu aktivitas dan proses yang berjangka panjang. Oleh karena itu, dalam kasus pelecehan maupun kekerasan seksual laki-laki seringkali berada di posisi pelaku sedangkan perempuan diposisikan sebagai korbannya. Kekerasan seksual terhadap penyandang disabilitas sangat mungkin terjadi karena keterbatasan mereka. Oleh karena itu ketidakmampuan laki-laki

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 dalam menahan keinginan dan dorongan-dorongan seksualnya sendiri diungkapkan melalui kekerasan seksual. b. Faktor sosial budaya Pola kehidupan sosial budaya yang dijalani seseorang semenjak kecil dalam keluarganya, tanpa disadari sedikit banyak berpengaruh terhadap pola tingkah laku seseorang kemudian dalam kehidupan bermasyarakat. Adanya realita bahwa fisik lelaki lebih kuat daripada perempuan khususnya penyandang disabilitas telah turut mempengaruhi perlakuan seksualitas yang memungkinkan kekerasan seksual terjadi. c. Faktor pendidikan Pendidikan dalam hal ini juga berpengaruh terhadap kekerasan seksual. Hal ini, khususnya di Indonesia, penyandang disabilitas belum memiliki banyak kesempatan untuk menikmati jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sehingga belum mampu menolak perlakuan, sikap dan anggapan yang diskriminatif terhadap dirinya. Kejadian ini terjadi, biasanya dengan keberadaan penyandang disabilitas yang dianggap lemah dan lebih rendah. d. Faktor ekonomi Pada masyarakat dengan kehidupan sosial ekonomi rendah. Keluarga dengan sosial ekonomi rendah akan mengalami banyak masalah dalam memenuhi kebutuhan

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 dasarnya. Faktor ekonomi ini mendorong budaya kekerasan sebagai jalan keluarnya dan sasaran paling mudah adalah penyandang disabilitas. Hal ini dilakukan dengan anggapan sebagai pelarian yang paling mudah mengingat adanya anggapan bahwa secara fisik penyandang disabilitas lebih lemah dan lebih rendah. Apalagi adanya budaya kekerasan yang mendominasi realitas kehidupan sehari-hari, hingga kekuatan fisik atau jasmani, kekuatan kelompok merupakan simbol status sosial dalam masyarakat yang berdampak pada pandangan, anggapan serta sikap dalam mengartikan kehadiran penyandang disabilitas di suatu lingkungan. e. Faktor pembelajaran sosial dan motivasi Dengan adanya pengondisian tingkah laku yang dianggap disetujui secara sosial budya seperti yang telah dikemukakan di atas, maka pengkondisian tingkah laku tersebut dianggap disetujui untuk tetap dilakukan dalam masyarakat. hal ini mengingat hukum yang menindak tegas kasus-kasus kekerasan seksual khusunya pada penyandang disabilitas belum juga sempurna, malah memperkuat dan menegaskan bagi timbulnya kekerasan seksual. Selain itu, seseorang selalu belajar dari lingkungan sekitarnya dan paradigma mengenai penyandang disabilitas adalah seseorang yang lebih lemah akan menjadi

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 budaya dalam lingkungan tersebut. Maka kecenderungan tingkah laku ini akan terus berulang. 4. Dampak Kekerasan Seksual Beberapa dampak atas kasus kekerasan seksual menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) (2009) yaitu: a. Dampak psikologis Secara psikologis bahwa korban kekerasan seksual merasa menurunnya harga diri, menurunnya kepercayaan diri, depresi, kecemasan, ketakutan terhadap perkosaan serta meningkatnya ketakutan terhadap tindakan-tindakan kriminal lainnya. Didapatkan pula sindrom pelecehan seksual yang berhubungan dengan gejala psikologi, mencakup depresi, rasa tidak berdaya, merasa terasing, mudah marah, takut, dan kecemasan. b. Dampak fisik Dampak fisik yakni korban kekerasan seksual mengalami beberapa keluhan diantaranya: sakit kepala, gangguan makan, gangguan pencernaan, rasa mual, hamil, serta menurun atau bertambahnya berat badan tanpa sebab yang jelas. Jika telah terjadi kekerasan seksual yang terbilang serius, selain timbul gejala-gejala tersebut dapat pula timbul kecenderungan bunuh diri.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 c. Dampak sosial Dampak sosial seperti yang terjadi di lingkungan antara lain: menurunnya produktifitas kerja, merusak hubungan antara teman, menururnnya kepercayaan diri, semakin mengisoalsi diri dan menurunnya motivasi. B. Hakikat Penyandang Disabilitas 1. Pengertian Disabilitas Penyandang disabilitas merupakan kelompok masyarakat yang beragam diantaranya penyandang disabilitas yang memiliki disabilitas fisik, disabilitas mental maupun gabungan dari disabilitas fisik dan mental. Berdasarkan definisi yang ditetapkan oleh World Health Organization disabilitas merupakan kondisi yang menyebabkan gangguan pada hubungan seseorang dengan lingkungan. Penyandang disabilitas merupakan kelompok minoritas tersebar di dunia, 80 % dari jumlah penyandang disabilitas di dunia berada di kalangan negaranegara berkembang. Soleh (2016:22) menjelaskan bahwa disabilitas (disability) atau cacat adalah mereka yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual, atau sensorik dalam jangka waktu lama di mana ketika berhadapan dengan berbagai hambatan, hal ini dapat menghalangi partisipasi penuh dan efektif mereka dalam masyarakat berdasarkan kesetaraan dengan yang lainnya.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 Penyandang disabilitas biasanya mengalami hambatan fisik dan/mental sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya secara wajar. Seseorang dengan disabilitas tertentu cenderung mengalami hambatan dalam penyesuaian diri, sulit berkomunikasi, terkena penyakit, terbatas dalam proses belajar, kurang percaya diri, dan mengalami kecelakaan dalam berakitivitas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia penyandang diartikan dengan orang yang menyandang (menderita) sesuatu. Sedangkan disabilitas merupakan kata bahasa Indonesia yang berasal dari kata serapan bahasa Inggris disability yang berarti cacat atau ketidakmampuan. Menurut Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011 Tentang Pengesahan Hak-Hak Penyandang Disabilitas, penyandang disabilitas yaitu orang yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sikap masyarakatnya dapat menemui hambatan yang menyulitkan untuk berpartisipasi penuh dan efektif. Hal ini juga dikatakan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 pasal 1 ayat 1 bahwa penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 Menurut Peraturan Daerah Provinsi Lampung Nomor 10 Tahun 2013 tentang Pelayanan dan Pemenuhan Hak-Hak Penyandang Disabilitas, penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan kegiatan secara selayaknya, yang terdiri dari: penyandang disabilitas fisik, penyandang disabilitas mental serta penyandang disabilitas fisik dan mental. Orang berkebutuhan khusus (disabilitas) adalah orang yang hidup dengan karakteristik khusus dan memiliki perbedaan dengan orang pada umumnya. Karena karakteristik yang berbeda inilah memerlukan pelayanan khusus agar dia mendapatkan hak-haknya sebagai manusia yang hidup di muka bumi ini.Orang berkebutuhan khusus memiliki defenisi yang sangat luas, mencakup orang-orang yang memiliki cacat fisik, atau kemampuan IQ (Intelligence Quotient) rendah, serta orang dengan permasalahan sangat kompleks, sehingga fungsi-fungsi kognitifnya mengalami gangguan. Info Data dan Informasi (Infodatin) Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2014) mengungkapkan bahwa Badan Kesehatan Dunia pada tahun 2003 memperkirkan jumlah anak penyandang cacat di Indonesia sekitar 7-10% dari jumlah penduduk Indonesia. Sebagian besar anak penyandang cacat ada sekitar 295-250 anak berada di masyarakat dalam pembinaan dan pengawasan orang tua dan

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 keluarga. Pada umumnya mereka belum memperoleh pelayanan kesehatan sebagaimana mestinya. 2. Jenis Disabilitas Soleh (2016) mengemukakan bahwa penyandang disabilitas merupakan istilah untuk merujuk kepada mereka yang memiliki kelainan fisik atau non fisik. Ini berarti bahwa setiap penyandang disabilitas memiliki defenisi masing-masing yang mana masingmasing jenis penyandang disabilitas memerlukan bantuan untuk tumbuh dan berkembang secara baik. Penyandang disabilitas memiliki tiga jenis, yaitu kelompok kelainan secara fisik, kelompok kelainan secara non fisik dan kelompok kelainan ganda atau campuran kelainan fisik dan non fisik. a. Kelompok kelainan secara fisik 1) Tunanetra Tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan dalam pengelihatan, dan dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan yaitu buta total dan kemampuan melihat amat rendah. 2) Tunadaksa Tunadaksa adalah suatu keadaan rusak atau terganggu sebagai akibat gangguan bentuk atau hambatan pada tulang, otot, dan sendi dalam fungsinya yang normal.

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 Kondisi ini dapat disebabkan oleh penyakit, kecelakaan, atau dapat juga disebabkan oleh pembawaan sejak lahir. 3) Tunarungu Tunarungu adalah suatu keadaan kehilangan pendengaran yang mengakibatkan seseorang tidak dapat menangkap berbagai rangsangan, terutama melalui indera pendengarannya. Tunarungu dibedakan menjadi dua kategori: tuli dan kurang dengar. Tuli adalah seseorang yang pendengarannya mengalami kerusakan dalam taraf berat sehingga tidak berfungsi. Sedangkan kurang dengar adalah seseorang yang indera pendengarannya mengalami kerusakan tetapi masih dapat berfungsi untuk mendengar. b. Kelompok kelainan secara non-fisik Aziz (2015) mengemukakan kelompok kedua adalah seseorang yang memiliki kelainan secara non-fisik. 1) Tunagrahita Tunagrahita adalah sebutan bagi mereka yang mengalami keterbalakangan mental, feeble mindedness (lemah pikiran), mental subnormality, cacat mental, defisit mental, bodoh, dungu, imbecile (pandir), moron (tolol), educable (mampu didik), trainable (mampu latih), ketergantungan penuh atau butuh rawat, cacat mental serta gangguan intelektul. Tunagrahita dapat dipahami sebagai

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 bentuk keterbatasan substansial dalam memfungsikan diri. Keterbatasan ini ditandai dengan terbatasnya kemampuan fungsi mental yang terletak dibawah rata-rata (IQ 70 atau kurang) dan ditandai dengan terbatasnya kemampuan tingkah laku. 2) Autis Autis merupakan sebuah kondisi seseorang yang ditandai dengan gangguan berat karena mengalami perkembangan otak yang tidak normal atau adanya gangguan syaraf yang mempengaruhi fungsi normal otak sehingga lemah dalam interaksi sosial, perilaku serta tidak mampu berkomunikasi secara baik atau dapat dikatakan pula bahwa anak autis adalah mereka yang tidak mampu atau lemah dalam persepsi, imajiansi, memperhatikan, perasaan serta tidak mampu melakukan penalaran secara sistematis. 3) Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) ADHD atau yang lebih dikenal kurangnya kemampuan memusatkan perhatian dan hiperaktif ialah seseorang yang memiliki kegelisahan berlebih, impulsif, mudah terganggu, dan sering mengalami kesulitan baik di dalam maupun luar rumah.

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 4) Tunalaras Tunalaras merupakan suatu kondisi seseorang yang memilki kelainan perlaku. Individu yang mengalami hambatan emosi dan tingkah laku sehingga mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungannya dalam hal ini akan mengganggu situasi belajarnya. c. Kelompok kelainan ganda Seseorang dengan lebih dari satu kelainan. Contohnya seseorang yang mengalami tunarungu wicara. Tunarungu wicara ialah seseorang yang tidak atau kurang mampu mendengar dengan baik dan kesulitan berbicara. 3. Derajat Disabilitas Menurut Info Data dan Informasi (Infodatin) Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2014) disabilitas memiliki derajat atau tingkatannya masing-masing yaitu : a. Cacat tubuh ringan Cacat tubuh ringan ialah seseorang yang menderita cacat tubuh yang kebutuhan aktifitas hidup sehari-harinya (Activity Daily living) tidak memerlukan pertolongan orang lain. Termasuk golongan cacat ini adalah amputasi tangan atau kaki ringan salah satu, cerebal palcy ringan, layuh salah satu kaki, tangan/ kaki bengkok dan sebagainya.

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 b. Cacat tubuh sedang Seseorang yang mengalami cacat tubuh sedang perlu melatih kebutuhan aktifitas hidup sehari-hari, sehingga untuk seterusnya dapat dilakukan tanpa pertolongan. Termasuk golongan ini adalah cerebal palcy sedang, amputasi dua tangan atau siku, muscle destrophy sedang, scoliosis dan sebagainya. c. Cacat tubuh berat. Seseorang dengan cacat tubuh berat, kebutuhan aktifitas hidup sehari-hari selalu memerlukan pertolongan orang lain antara lain : Amputasi dua kaki atas lutut dan dua tangan atas siku, cerebal palcy berat, layuh dua kaki dan dua tangan, paraplegia berat dan sebagainya. Berdasarkan dari data yang ada, dari setiap sepuluh anak yang lahir didunia, seorang diantaranya menderita cacat bawaan atau pun mengalami cacat setelah masa kelahiran akibat beragam insiden. Sebagian besar kasus disabilitas yang terjadi paska kelahiran disebabkan gizi buruk, kemiskinan, minimnya pengetahuan soal kesehatan, dan kecerobohan dalam menjaga kesehatan serta beragam faktor lainnya masyarakat. yang merupakan dampak dari ketertinggalan

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 C. Hakikat Penyandang Tunagrahita Dalam hal ini peneliti khusus meneliti penyandang disabilitas jenis tunagrahita yang mengalami kekerasan seksual. American Association of Mental Deficiency (Suwandi,2017) memberikan pengertian bahwa tunagrahita ialah seorang keterbelakangan mental yang menunjukkan fungsi intelektual dibawah rata-rata secara jelas dengan disertai ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan dan terjadi pada masa pekembangan. 1. Karakteristik Tunagrahita Secara fisik anak tunagrahita ringan tidak berbeda dengan anak normal pada umumnya tetapi secara psikis berbeda. Menurut Mumpuniarti (Suwandi, 2017) membagi ciri-ciri atau karakteristik anak tunagrahita menjadi tiga bagian yakni karakteristik secara fisik, psikis dan sosial yang diuraikan sebagai berikut: a. Karakteristik fisik nampak seperti anak normal, hanya sedikit mengalami kelambatan dalam kemampuan sensomotorik. b. Karakteristik psikis sukar berfikir abstrak dan logis. Kurang memiliki kemampuan analisa, asosiasi lemah, kurang mampu mengendalikan perasaan, mudah dipengaruhi, kepribadian kurang harmonis karena tidak mampu menilai baik dan buruk. c. Karakteristik sosial mereka mampu bergaul, menyesuaikan di lingkungan yang tidak terbatas pada keluarga saja, namun ada yang mampu mandiri dalam masyarakat, mampu melakukan

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 pekerjaan yang sederhana dan melakukannya secara penuh sebagai orang dewasa. Kemampuan daiam bidang pendidikan termasuk mampu didik. 2. Derajat Tunagrahita Berikut karakteristik penyandang tunagrahita berdasarkan berat ringannya ketunagrahitaan yang dialami menurut Desiningrum (2016): a. Mampu didik Mampu didik merupakan istilah pendidikan yang digunakan untuk mengelompokkan tunagrahita ringan. Mereka masih mempunyai kemampuan untuk dididik dalam bidang akademik yang sederhana (dasar) yaitu membaca, menulis, dan berhitung. Anak mampudidik kemampuan maksimalnya setara dengan anak usia 12 tahun atau kelas 6 sekolah dasar, apabila mendapatkan layanan dan bimbingan belajar yang sesuai maka anak mampu didik dapat lulus sekolah dasar. b. Mampu Latih Tunagrahita mampu latih secara fisik sering memiliki atau disertai dengan kelainan fisik baik sensori maupun motoris, bahkan hampir semua anak yang memiliki kelainan dengan tipe klinik masuk pada kelompok mampu latih sehingga sangat mudah untuk mendeteksi anak mampu latih, karena penampilan fisiknya (kesan lahiriah) berbeda dengan anak normal yang sebaya. Kemampuan akademik anak mampu latih tidak dapat

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 mengikuti pelajaran walaupun secara sederhana seperti membaca, menulis, dan berhitung. c. Perlu rawat Anak perlu rawat adalah klasifikasi anak tunagrahita yang paling berat, jika pada istilah kedokteran disebut dengan idiot. Anak perlu rawat memiliki kapasitas intelegensi dibawah 25 dan sudah tidak mampu dilatih keterampilan apapun. 3. Tunagrahita Berdasar IQ Desiningrum mengungkapkan bahwa ketunagrahitaan mengacu pada intelektual umum yang secara signifikan berada di bawah ratarata. Para tunagrahita mengalami hambatan dalam tingkah laku dan penyesuaian diri. Semua itu berlangsung atau terjadi pada masa perkembangannya. Seseorang dikatakan tunagrahita apabila memiliki tiga indicator yakni mengalami keterhambatan fungsi kecerdasan secara umum atau di bawah rata-rata, mengalami ketidakmampuan dalam perilaku sosial/adaptif, dan mengalami hambatan perilaku sosial/adaptif terjadi pada usia perkembangan yaitu sampai dengan usia 18 tahun. Tingkat kecerdasan seseorang ini dapat diukur melalui tes inteligensi yang hasilnya disebut dengan IQ (intelligence quotient).

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 Tingkat kecerdasan tunagrahita dikelompokkan ke dalam tingkatan sebagai berikut: D. a. Tunagrahita ringan memiliki IQ 70-55 b. Tunagrahita sedang memiliki IQ 55-40 c. Tunagrahita berat memiliki IQ 40-25 d. Tunagrahita sangat berat memiliki IQ <25 Hakikat Perkembangan Seksual Remaja Disabilitas 1. Perkembangan Hurlock (Sumanto,2014:3) menjelaskan perkembangan sebagai seri perubahan yang progresif yang terjadi sebagai hasil dari kematangan dan pengalaman dengan tujuan memampukan individu untuk beradaptasi dengan lingkungan. Mussen cs (Sumanto,2014:3) mengungkapkan bahwa perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada fisik, struktur neurologis, perilaku, ciri sifat, yang terjadi secara teratur dan masuk akal, dan menghasilkan yang baru, yang lebih baik, lebih sehat, lebih terorganisir, lebih stabil, lebih kompleks, lebih kompetens, dan lebih efisien. Santrock (2007:18) memberikan pendapat bahwa perkembangan adalah pola perubahan yang terus berlangsung selama masa hidup. Sebagian besar perkembangan melibatkan proses pertumbuhan, meskipun perkembangan juga melibatkan proses pembusukan seperti dalam proses kematian. Pola perkembangan bersifat kompleks karena pola perkembangan melibatkan sejumlah proses. Perkembangan

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 manusia ditentukan oleh proses-proses biologis, kognitif, dan sosioemosional. a. Proses biologis (bioligical process) Proses biologis melibatkan perubahan fisik dalam tubuh individu. Gen-gen yang diwariskan dari orang tua, perkembangan otak, tinggi, berat tubuh, perubahan dalam keterampilan motorik, dan perubahan hormonal di masa pubertas. b. Proses kognitif (cognitive process) Proses kognitif melibatkan perubahan pemikiran dan inteligensi individu. Proses ini melibatkan perubahan pemikiran, kecerdasan, dan bahasa dalam diri seseorang. c. Proses sosio-emosional (socioemotional process) Melibatkan perubahan dalam hal emosi, kepribadian, relasi, dengan orang lain, dan konteks sosial. apabila seseorang tidak mampu menjalani proses ini dengan baik maka akan membuat seseorang mengalami kehidupan yang terasing, rendah diri, pesimis, apatis, merasa cemas atau takut. Proses biologis, kognitif, dan sosio-emosional, merupakan jalinan yang saling terkait satu sama lain. Proses sosio-emosional membentuk proses kognitif; proses kognitif meningkatkan atau membatasi proses sosio-emosional; mempengaruhi proses kognitif. dan proses biologis

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 2. Perkembangan Seksual Perkembangan seksual remaja disabilitas tidak jauh berbeda dengan remaja non disabilitas pada umumnya. Adair (Santrock,2007:83) mengatakan bahwa kemunculan pubertas telah diprogram dalam gen setiap manusia. Santrock (2007:83) mengatakan bahwa pubertas merupakan sebuah periode dimana kematangan fisik berlangsung pesat, yang melibatkan perubahan hormonal dan tubuh, yang terutama berlangsung di masa remaja awal. Hormon dalam hal perkembangan seksual ini merupakan zat kimiawi yang kuat yang diciptakan oleh kelenjar endokrin dan dibawa ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Perkembangan seksual akan tetap terjadi pada penyandang disabilitas selama tidak terjadi hambatan pada hormon yang diproduksi oleh tubuh. Perkembangan seksual menurut Freud (Boeree, 2016:50) terdiri atas lima tahap, yaitu tahap oral (oral stage), tahap anal (anal stage), tahap phallus (phallic stage), tahap laten (latency stage) dan genital (genital stage). a. Tahap oral Pada fase ini seorang anak mendapatkan perasaan nikmat melalui mulutnya. Dimana aktivitas paling utama adalah menghisap dan mengigit.

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 b. Tahap anal Berlangsung dari usia 18 bulan sampai usia 3-4 tahun. Titik kenikmatan terletak pada anus. Memegang dan melepaskan sesuatu adalah aktivitas yang paling dinikmati. c. Tahap phallus Berlangsung antara usia 3 sampai 5, 6 atau 7 tahun. Fase ini anak mengerti bahwa kelamin yang dimilikinya memiliki perbedaan dengan kakak, adiknya atau teman-temannya. Titik kenikmatan di tahap ini adalah alat kelamin, sementara aktivitas paling nikmatnya adalah masturbasi. d. Tahap laten Berlangsung dari usia 5, 6 atau 7 sampai usia pubertas (sekitar usia 11-12 tahun). Pada kisaran umur tersebut tingkah laku seksual seorang anak seolah-olah terpendam dan ditekan sedemikan rupa demi proses belajar. e. Tahap genital Pada tahap ini, perkembangan psikoseksual mencapai titik akhir. Organ-organ seksual mulai aktif sejalan dengan mulai berfungsinya hormon-hormon seksual, sehingga pada tahap ini terjadi perubahan-perubahan fisik dan psikis. Dorongan seksual sangat jelas terlihat pada diri remaja, khususnya yang tertuju pada kenikmatan hubungan seksual. Masturbasi, seks, oral, homoseksual dan kecenderungan-kecenderungan seksual yang

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 kita anggap “biasa” saat ini, tidak dianggap Freud sebagai seksualitas yang normal. 3. Perkembangan Seksual Penyandang Tunagrahita Praptiningrum (2006) mengatakan bahwa kondisi mental tunagrahita di bawah normal, namun secara fisik berkembang seperti anak normal pada umumnya, terutama yang berhubungan dengan seksualnya. Mereka tidak mempunyai pengetahuan cukup untuk mengerti soal seks, sehingga mereka sangat memerlukan bimbingan dan pelayanan tentang pendidikan seksual. Perilaku seksual yang ada pada anak tunagrahita sangat dipengaruhi oleh tingkat kemampuan mentalnya, reaksinya semakin terbuka, langsung dan spontan. Taufan (2018) mengungkapkan bahwa remaja tunagrahita merupakan individu yang memiliki karakteristik yang sedemikian rupa, yang memiliki kecerdasan atau intelegensi dibawah rata-rata, kurang dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan, terjadi pada masa perkembangan. Walaupun kondisi mental dibawah normal, namun organ-organ seksualnya berkembang secara normal. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap orang akan melewati tahap perkembangannya masing-masing tanpa terkecuali. Namun, keterbatasan yang dialami oleh penyandang tunagrahita inilah yang sangat mungkin menjadi hambatan dalam menjalani tahap perkembangan seksualnya. Perlu diketahui bahwa

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 besar kecilnya hambatan yang dialami oleh penyandang tunagrahita tergantung dari tingkat tunagrahita yang diderita. 4. Remaja Dalam periode perkembangan manusia secara umum dijabarkan dalam beberapa periode yaitu masa kanak-kanak, masa remaja dan masa dewasa. Dalam bagian ini peniliti hanya menjabarkan masa remaja secara spesifik. Masa remaja (adolescence) menurut Santrock (2007:20) ialah periode transisi perkembangan antara masa kanakkanak dengan masa dewasa, yang melibatkan perubahan-perubahan biologis, kognitif, dan sosio-emosional. Adapun kurun waktu masa remaja berada pada usia 10 hingga 13 tahun dan berakhir pada sekitar usia 18 hingga 22 tahun. Perubahan biologis, kognitif, dan sosioemosional yang dialami remaja dapat berkisar mulai dari perkembangan fungsi seksual hingga proses berpikir abstrak hingga kemandirian. Lambat laun, para ahli perkembangan membedakan masa remaja awal (early adolescence) dan masa remaja akhir (late adolescence). Masa remaja awal kurang lebih berlangsung di masa sekolah menengah pertama atau sekolah menengah akhir dan perubahan pubertas terbesar terjadi pada masa ini. Masa remaja akhir kurang lebih terjadi pada pertengahan dasawarsa yang kedua dari kehidupan atau usia 20-an. Minat karir, pacaran, dan eksplorasi

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 identitas seringkali lebih menonjol dimasa remaja akhir dibandingkan dimasa remaja awal. Pandangan dalam uraian ini cenderung berdasar pada proses biologis (termasuk seksual), kognitif dan sosio-emosional. Penentuan usia pada remaja ini sebenarnya bukanlah hal terpokok namun dapat digunakan sebagai acuan. Pengaruh gizi, pengalaman, kesempatan, kesehatan dan memperlambat lain sebagainya seseorang mampu dalam mempercepat melaksanakan atau tahap perkembangannya. Tercapainya perkembangan yang ideal dapat terpenuhi bila ada keselarasan antara kedewasaan biologis (termasuk seks), kognitif dan sosio-emosional. Dalam kenyataannya penyandang disabilitas seringkali melewati tahap perkembangan ini tidak dengan tempo perkembangan yang harmonis. Hal ini terjadi karena sejak kehidupan manusia dipengaruhi oleh hormon. Hormon, jenis disabilitas dan tingkat disabilitas pun turut mempengaruhi tahap perkembangan seksual ini. E. Hakikat Persoalan Kekerasan Seksual Pada Penyandang Disabilitas Setiap orang rentan terhadap perkosaan, kaum perempuan dan anak-anak penyandang disabilitas adalah kelompok yang sangat rentan terhadap kekerasan seksual. Perempuan dan anak-anak penyandang disabilitas dianggap sebagai golongan yang lemah yang

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 tak akan mampu memberikan perlawanan apabila mengalami kekerasan seksual. Kasus-kasus pelecehan seksual dan atau kekerasan seksual yang dialami penyandang disabilitas ini seringkali dianggap sebagai suatu kewajaran. Penyandang disabilitas tiga sampai empat kali lebih besar kemungkinannya untuk menjadi korban kekerasan. Tim peneliti di John Moores University Liverpool dan World Organization telah melakukan sebuah tinjauan yang sistematis dan meta-analisis dari kajian-kajian yang ada mengenai kekerasan terhadap penyandang disabilitas. Tinjauan itu membicarakan 17 kajian dari negara-negara berpenghasilan rendah, karena tidak ada kajian berkualitas tinggi dari negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, perkiraan risiko menunjukkan bahwa anak penyandang disabilitas secara signifikan berisiko lebih tinggi untuk mengalami kekerasan dibandingkan dengan rekan-rekan mereka tanpa disabilitas: 3,7 kali lebih besar untuk berbagai macam bentuk kekerasan, 3,6 kali lebih besar untuk kekerasan fisik, dan 2.9 kali lebih besar untuk kekerasan seksual. Orang-orang dengan disabilitas mental atau intelektual ditemukan 4,6 kali lebih besar kemungkinannya untuk menjadi korban kekerasan seksual dibandingkan rekan-rekan mereka tanpa disabilitas. Anak penyandang disabilitas lebih berisiko terhadap kekerasan karena: Pertama, mengasuh anak penyandang disabilitas memberikan tekanan tambahan bagi pengasuh, sehingga meningkatkan risiko

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 penyalahgunaan. Kedua, sejumlah anak penyandang disabilitas masih ditempatkan di pengasuhan rumah, yang merupakan faktor risiko utama untuk penyalahgunaan seksual dan fisik. Terakhir, kecacatan yang mempengaruhi komunikasi membuat beberapa anak jadi sangat rentan, karena mereka mungkin tidak akan bisa mengungkapkan tentang pengalaman yang abusif. Seluruh anak penyandang disabilitas harus dipandang sebagai kelompok yang berisiko tinggi di mana penting sekali untuk bisa mengidentifikasi kekerasan. Mereka bisa memperoleh manfaat dari berbagai macam intervensi seperti kunjungan ke rumah dan pelatihan dalam pengasuhan yang telah terbukti efektif dalam mencegah kekerasan atau mengurangi konsekuensinya di kalangan anak penyandang disabilitas. Perempuan disabilitas sangat rentan dan potensial menjadi korban kekerasan seksual. Selain karena keterbatasan fisik, intelektual, mental juga karena memiliki hambatan dan kesulitan saat berinteraksi dengan lingkungannya. Kelemahan inilah yang menimbulkan perilaku dan tindakan kurang menyenangkan yang diperoleh perempuan disabilitas. Di antaranya mengalami pelecehan sampai kekerasan seksual.

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 F. Kajian Penelitian yang Relevan Terdapat beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini, yaitu: Suwandi (2017) dalam penelitiannya yang berjudul Perlindungan Hukum Terhadap Tunagrahita Sebagai Korban Tindak Pidana Perkosaan Dalam Sistem Peradilan Pidana menjelaskan bahwa penyandang disabilitas merupakan pihak yang rentan menjadi korban kejahatan termasuk kejahatan seksual. Bahkan walaupun sudah ada peraturan daerah yang mengatur tentang perlindungan terhadap disabilitas. Namun, kenyataannya masih banyak korban kekerasan seksual penyandang disabilitas belum terlindungi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa korban yang menyandang tunagrahita diperlukan penanganan yang berbeda karena walaupun korban memiliki usia kalender dewasa namun ia memiliki usia mental dibawah umur dan juga korban memutuhkan ahli psikologi untuk memahami kondisi mental korban. Penelitian yang telah dilakukan oleh Suwandi ini masih relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, karena tema penelitian masih seputar tunagrahita yang mengalami kekerasan seksual. Meski memiliki tema yang sama, masing-masing penelitian ini dibedakan oleh fokus penelitian dan tujuan penelitian. Sementara itu penelitian lain yang relevan adalah penelitian milik Ahmad (2015) . Ahmad (2015) dalam penelitiannya yang

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 berjudul tinjauan viktimologis kejahatan dan penghinaan terhadap penyandang cacat (studi kasus di kota Makasar). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peranan korban terhadap terjadinya kekerasan atau penghinaan terhadap penyandang cacat di kota Makassar antara lain karena kecacatannya dan potensi untuk membela diri kurang. Selain itu, upaya penanggulangan kejahatan kekerasan atau penginaan terhadap penyandang cacat di kota Makassar dititikberatkan pada upaya preemtif. Relevansi antara penelitian milik Andi Eka Yustika dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti ialah topik pembahasan penelitian yang sama yakni mengenai kasus kekerasan seksual terhadap penyandang disabilitas. Penelitian yang dilakukan oleh Andi Eka Yustika lebih berfokus pada tinjauan viktimologis terhadap penyandang disabilitas yang mengalami kejahatan kekerasan dan penghinaan sedangkan peneliti lebih berfokus pada dampak-dampak yang muncul setelah penyandang disabilitas mengalami kasus kekerasan seksual.

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Bab ini memuat beberapa hal yang berkaitan dengan metodologi penelitian, antara lain jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, subjek penelitian, teknik dan instrumen pengumpulan data, keabsahan data, dan teknik analisis data. A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus. Denzin dan Lincoln (Moleong, 2017) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Moleong (2011:8) menyatakan bahwa studi kasus adalah pengujian intensif menggunakan berbagai sumber bukti terhadap suatu entitas tunggal yang dibatasi oleh ruang dan waktu sedangkan pendekatan kualitatif merupakan penelitian yang digunakan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan, dan menjelaskan kualitas atau keistimewaan dari pengaruh sosial yang tidak dapat dijelaskan, diukur atau digambarkan melalui pendekatan kualitatif. Creswell (2013) menyatakan bahwa penelitian studi kasus adalah penelitian yang dilakukan terhadap suatu objek, yang disebut sebagai kasus, dilakukan secara seutuhnya, menyeluruh, dan mendalam dengan menggunakan berbagai macam sumber data. Alasan peneliti menggunakan metode ini karena peneliti akan meneliti secara mendalam mengenai dampak-dampak kekerasan seksual yang 44

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 dialami oleh penyandang disabilitas khususnya penyandang disabilitas tunagrahita ringan. B. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian ini dilaksanakan pada yayasan yang mengatasi berbagai kasus terkait penyandang disabilitas di Daerah Istimewa Yogyakarta. Waktu penelitian yang sudah ditentukan yaitu pra-penelitian pada Oktober 2018 sampai November 2018 dan penelitian pada januari 2019. C. Responden Penelitian Kriteria responden penelitian adalah seorang penyandang disabilitas yang mengalami kekerasan seksual, responden mengalami kasus pemerkosaan saat masih dalam tahap perkembangan remaja akhir hingga dewasa awal (17-25 tahun). Sebelum melakukan penelitian, peneliti sudah terlebih dahulu meminta izin kepada pembina yayasan kemudian pembina yayasan memilih AE yang memiliki kriteria berdasarkan topik peneliti untuk dijadikan responden penelitian. Pembina yayasan memilih AE karena AE merupakan disabiitas tunagrahita ringan. AE diketahui sebagai tunagrahita setelah pembina yayasan melakukan tes psikologi dan tes IQ. Selain itu AE dipilih karena mengalami kasus pemerkosaan pada usia 19 tahun.

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data Peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi. Teknik wawancara yang digunakan peneliti adalah wawancara baku terbuka. Moleong (2008) mengungkapkan bahwa wawancara baku terbuka adalah wawancara yang menggunakan seperangkat pertanyaan baku. Urutan pertanyaan, kata-katanya, dan cara penyajiannya pun sama untuk setiap responden. Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Hasil wawancara akan dirubah dalam bentuk verbatim dengan menuliskan setiap percakapan dalam wawancara. Panduan wawancara dalam tabel 1. Selain wawancara, peneliti juga melakukan teknik observasi. Observasi yang digunakan ialah observasi partisipasi di mana observer turut mengambil bagian secara langsung di dalam situasi kehidupan dan situasi dari individu yang diobservasi. Observasi partisipasi ini, maka data yang diperoleh aka lebih lengkap, tajam, dan samapi mengetahui pada tingkat mana dari setiap perilaku dan proses kerja responden sebagai sumber data. Instrumen utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Peneliti menggunakan instrumen untuk mengumpulkan data dengan:

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 1. Teknik Wawancara Pedoman wawancara berisikan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada responden. Wawancara dilakukan untuk mengetahui bentuk kekerasan seksual yang dialami responden, dampak-dampak kekerasan seksual, bentuk perlawanan yang dilakukan responden dan bagaimana responden mengelola pengalaman kekerasan seksual agar sehat secara psikologis. Selama proses wawancara peneliti menggunakan bahasa yang lebih sederhana agar mudah dipahami oleh AE. Pertanyaan- pertanyaan yang diajukan menggunakan bahasa yang lebih sederhana namun tetap sesuai dengan pedoman wawancara. Alasan menggunakan bahasa yang lebih sederhana karena AE merupakan penyandang tunagrahita yang kurang memahami kalimat-kalimat baku. Tabel 1 Panduan Pertanyaan Wawancara Aspek Pertanyaan Bentuk kekerasan seksual 1. Apa bentuk kekerasan seksual yang adek alami? 2. Bagaimana adek mengalami kekerasan tersebut? Dampak-dampak kekerasan seksual 1. Apa saja dampak-dampak kekerasan seksual yang adek alami? 2. Dampak psikologis seperti apa yang muncul? 3. Dampak fisik seperti apa yang muncul? 4. Dampak sosial apa saja yang muncul? 5. Dampak pribadi dan sosial seperti apa yang muncul?

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 Bentuk perlawanan 1. Perlawanan apa saja yang adek lakukan saat mengalami kekerasan seksual? 2. Bentuk perlawanan yang seperti apa yang keluarga adek lakukan? 3. Bagaimana cara adek melawan? Cara menghadapi tantangan 1. Bagaimana adek berjuang menghadapi kesulitan pasca kekerasan seksual? 2. Bagaimana adek mengelola pengalaman tersebut agar sehar secara psikologis? 3. Apa saja kesulitan yang adek alami selama mengelola pengalaman tersebut? 4. Apa dukungan yang adek harapkan agar dapat mengelola pengalaman tersebut? 5. Apa yang adek rasakan saat berhasil mengelola pengalaman tersebut? 2. Teknik Observasi Observasi yang peneliti gunakan adalah observasi partisipasi. Observasi partisipasi berarti peneliti terlibat langsung dalam aktivitas, peneliti tidak hanya sebagai pengamat. Peneliti melakukan observasi terhadap responden ketika pertama kali melakukan pendekatan dan selama pengumpulan data. Observasi dilakukan ketika responden di rumah dan di taman saat responden berinteraksi dengan orang lain dan saat responden sendirian. Tabel 2 Lembar Panduan Observasi No. 1. 2. Hari/tanggal Pukul Deskripsi

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 E. Keabsahan Data Agar penelitian ini valid, maka data yang diperoleh perlu keabsahannya. Metode pengujian keabsahan data yang digunakan adalah Triangulasi Sumber.Sugiyono (2017) menyatakan bahwa triangulasi sumber untuk menguji kredebilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Patton (Moleong, 2017) mengungkapkan bahwa triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif. Peneliti membandingkan data hasil observasi dengan hasil wawancara. F. Teknik Analisis Data Moleong (2017) mengungkapkan bahwa analisis data yang terdapat dalam penelitian kualitatif dimulai sejak awal pengumpulan data. Bogdan (Sugiyono, 2017) menyatakan bahwa analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan verbatim dari hasil wawancara, melakukan sistem pengkoden (coding) dan mengacu pada konsep Miles dan Huberman (Sugiyono,2017) aktivitas analisis data, yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/ verification.

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 1. Data Reduction (Reduksi Data) Reduksi data merupkan proses berpikir sensitif yang memerlukan kecerdasan dan keluasan dan kedalaman wawasan yang tinggi. Mereduksi data berarti merangkum, memilah, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, yang baru, dicari makna, tema dan polanya. Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan. 2. Data Display (Penyajian Data) Melalui penyajian data, maka data terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan, sehingga akan semakin mudah dipahami. Penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk: narasi, uraian s ingkat, bagan, hubungan antar kategori, flowcart dan sejenisnya. Teks yang bersifat naratif merupakan penyajian data yang sering digunakan. 3. Conclusion drawing/verifiction (Penarikan kesimpulan/verifikasi) Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan kan berubah bola tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya.Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh buktibukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel yang telah terverifikasi.

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi deskripsi data dan pembahasan berupa informasi-informasi yang sudah diperoleh sebagai hasil penelitian. Untuk menjaga responden, maka nama dan beberapa informasi lainnya disamarkan. A. Deskripsi Data Penelitian ini menggunakan metode wawancara dan observasi. Penelitian ini dimulai dengan observasi dan melakukan pendekatan dengan responden. Selanjutnya peneliti menanyakan kesediaan responden untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Setelah menyatakan kesediaan menjadi responden, langkah selanjutnya menentukan waktu dan tempat yang tepat bertemu dengan responden untuk wawancara mendalam. Waktu dan tempat pelaksanaan wawancara disesuaikan dengan waktu luang, situasi dan kondisi responden. Observasi dilakukan sebanyak dua kali dalam hari yang sama. Tabel Agenda Pelaksanaan Wawancara dan Observasi Inisial Responden AE Informan Waktu Tempat Keterangan Sabtu, 12 Januari 2019 14.00-15.30 WIB Rumah Responden Observasi pada saat berkegiatan di rumah. Sabtu, 12 Januari 2019 15.45-16.15 WIB Taman Glugut Observasi pada saat berkegiatan diluar rumah. Sabtu, 12 Januari 2019 Taman 16.20-18.05 WIB Glugut Kamis, 24 Januari Mrican, 52 Wawancara Wawancara

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 2019 12.56- 13.20 WIB 1. Yogyakarta Deskripsi Umum Responden : Nama : AE Alamat : Bantul Usia : 20 tahun Jenis kelamin : Perempuan Jenis Disabilitas : Tunagrahita ringan Anak ke : 2 dari 2 bersaudara Penampilan :Berperawakan sedang, berkerudung, bentuk wajah lonjong, hidung sedang, berpakaian rapi dan sopan. Riwayat pendidikan : SLB Negeri Surakarta kemudian riwayat pendidikan terakhir di SMK N yogyakarta Ciri-ciri keperibadian 2. : Ramah, terbuka, perhatian, mudah bergaul. Hasil Penelitian Dari observasi dan wawancara mendalam yang dilakukan peneliti terhadap responden AE diperoleh hasil yang berkaitan dengan dampak-dampak kekerasan seksual.

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 a. Bentuk Kekerasan Bentuk kekerasan seksual yang dialami oleh responden ialah kasus pemerkosaan. Hal ini dapat dlihat dari kutipan wawancara dengan responden. “Pemerkosaan dan penipuan mbak” (DA121/DPS-w/003) Hal ini juga senada dengan apa yang disampaikan oleh informan dan dapat dilihat dari kutipan wawancara dengan informan. “Jadi AE itu hanya mengalami kasus perkosaan tidak mengalami bentuk kekerasan seksual non verbal yang lain.” (DI241/DPS-w/003-004) Selain itu kekerasan seksual yang dialami oleh responden ialah pelecehan seksual verbal melalui media sosial dengan pesan yang bernada mesum. Hal ini senada dengan yang dikatakan oleh informan yakni : “Pelaku dan AE itu cuma wa- wa-nan berapa kali. Di WAnya aja nada-nadanya pelaku udah mesum kok.” (DI241/DPS-w/014-016) Pelaku menipu responden dengan mengajak responden pergi ke pantai namun ternyata pergi ke losmen dan niat pelaku tidak diketahui oleh responden. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara dari responden yang terdapat dalam kutipan sebagai berikut: “Kan pertamanya diajak ke pantai dan posisinya aku lagi di sekolah, ehh ternyata aku diajak ke losmen mbak.” (DA121/DPS-w/007-009)

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 Pelaku juga melakukan penipuan kepada pihak losmen dengan memakaikan jaket pelaku kepada responden. Kutipan wawancara sebagai berikut “Dan pas udah di losmen, pihak losmennya ngelarang kami masuk mbak, aku masih pake baju sekolah. Habis itu aku diajak keliling-keliling sebentar terus balik ke losmen itu lagi tapi pake jaketnya."(DA121/DPS-w/010013) Informan juga menyampaikan hal yang sama mengenai penipuan yang dialami responden dengan hasil wawancara yang lebih rinci. Berikut kutipan informan: “Taunya ya diajak main ke pantai main gitu aja. Yang lainnya gak tau, dibawa ke losmen itu juga gak rencana, gak tau si AE.” (DI241/DPS-w/018-019). b. Dampak-dampak yang dialami oleh Responden Setelah mengalami kasus pemerkosaan dampak-dampak yang dialami oleh responden meliputi dampak psikologis, dampak fisik, dan dampak sosial. Kutipan wawancara sebagai berikut: “Ya banyak mbak, dampaknya ke perasaanku, pikiranku, badanku, keluargaku dan juga ngaruh kelingkunganku mbak.” (DA121/DPS-w/018-020) Penyandang tunagrahita yang menjadi responden mengalami dampak psikologis yakni, mengalami ketakutan, takut pada gelap, dan trauma setiap bertemu dengan laki-laki

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 baru. Hal ini dapat dilihat dari ungkapan hasil wawancara sebagai berikut: “Aku jadi takut mbak. Apalagi gelap, karna waktu kejadian di losmen itu gelap. Aku jadi trauma tiap mau ketemu laki-laki baru dan takut ke sekolah.” (DA121/DPS-w/024-027) Selain itu dampak psikologis yang dialami oleh responden ialah takut sendirian, tidak fokus dan sedih berkepanjangan. Hal ini terungkap pada hasil wawancara: “Karena masalah itu aku jadi trauma kemana-mana, kalau pergi mesti ada temennya dan waktu itu jadinya gak masuk sekolah beberapa minggu, padahal bulan-bulan itu aku lagi persiapan UN. Ganggu pelajaran juga mbak. Aku gak fokus. Sedih terus.” (DA121/DPS-w/048-052) Tak hanya takut sendirian, tidak fokus, dan sedih berkepanjangan, responden juga mengalami kecederungan bunuh diri karena merasa dirinya sudah tidak berharga lagi dan merasa minder. Hal ini terungkap pada hasil wawancara: “Pingin bunuh diri mbak. Aku ngerasa gak berharga lagi. Pikirku ahh nggo ngopo urip ki. Hahaa.. kadang aku juga minder karna udah ndak perawan lagi dan kalau udah gitu ya aku nangis lagi” (DA121/DPS-w/054-057) Responden AE mengalami penurunan harga diri atau rendah diri. Hal ini terungkap secara implisit didalam hasil wawancara. “nanti siapa yang mau sama aku padahal aku udah gak perawan lagi. Aku jadi jaga jarak sama laki-laki mbak.” (DA121/DPS-w/058-060)

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 Responden mengalami kecemasan bila sendiri, tidak berdaya dan ketakutan saat bertemu dengan orang baru. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara terhadap responden dan juga informan. “Karena masalah itu aku jadi trauma kemana-mana, kalau pergi mesti ada temennya” (DA121/DPS-w/048-049) Kecemasan dan ketakutan responden ini juga senada dengan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan informan. Hasil wawancara sebagai berikut: “Dampak psikologisnya ya itu, dia takut setiap kali melihat laki-laki yang badannya besar. Kemana-mana harus ditemani, ndak berani sendiri.” (DI241/DPS-w/039041) Selain hasil wawancara antara responden dengan informan, hal ini juga nampak pada hasil observasi. Ketika ingin pergi ke suatu tempat yang jaraknya jauh ataupun dekat, responden meminta peneliti maupun ibunya untuk menemani responden. (AE2/12/01/18) Dampak fisik yang muncul antara lain selangkangan terasa sakit, robeknya selaput dara dan tidak perawan lagi. Hal ini terungkap pada hasil wawancara dengan responden yakni: “Ada mbak, anu.. waktu itu selangkanganku kerasa sakit mbak. Kalau jalan rasanya kayak pegel banget. Yang terutama si aku udah gak perawan lagi.” (DA121/DPSw/030-032)

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 Begitu pula sama halnya seperti yang dikatakan oleh informan yang peneliti dapatkan, sebagai berikut : “Yang pasti ya selangkangannya sakit tak lama setelah kejadian itu. Selebihnya ya selaput daranya sudah robek.” (DI241/DPS-w/043-045) Selain dampak fisik yang dialami oleh responden, responden juga mengalami dampak sosial yakni proses belajarnya pun terganggu dan menjadi takut bila bertemu dengan orang baru. Hal ini terungkap pada hasil wawancara yang sudah dilakukan. “Dampak sosialnya ya ada mbak. Aku sempet gak masuk sekolah beberapa minggu, aku takut ketemu tementemen.” (DA121/DPS-w/035-037) Selain takut bertemu dengan teman-teman, responden juga bermusuhan dengan seorang teman yang mengenalkan pelaku kepada responden. “Aku juga jadinya musuhan sama temenku yang ngenalin aku ke mantan pacarku itu mbak.” (DA121/DPS-w/037038) Sedangkan dampak sosial yang diberikan lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat kepada responden tidak ada karena masyarakat dan teman-teman disekolah tidak mengetahui kasus yang dialami oleh responden. “Tapi, Aku senengnya temen-temen gak ada yang tau mbak. Cuma kepala sekolahku tau. (DA121/DPS-w/038039)

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 “Warga ndak ada yang tau mbak. Pas keluarga mantanku datang ke rumah aja, dikiranya sodara mbak.” (DA121/DPS-w/043-044) Informan yang memiliki kedekatan dengan responden pun juga mengatakan hal yang sama mengenai dampak sosial yang dialami responden. Hal ini tertuang dalam hasil wawancara : “Setelah mengalami kejadian itu, AE jadi berhenti sekolah seminggu lebih. Dia takut ketemu banyak orang. Padahal saat itu menjelang UN.” (DI241/DPS-w/047-049) Sejalan dengan hasil wawancara, dampak sosial ini tampak melalui obeservasi sebagai berikut: Responden nampak malu takut-takut bila bertemu dengan orang baru termasuk saat bertemu dengan peneliti(AE1/12/01/18). Selain berdampak pada diri responden, peristiwa pemerkosaan ini juga berdampak pada psikologis keluarga. Dampak yang dialami ini terungkap pada hasil wawancara sebagai berikut: “Mamah dan bapak shock mbak. Hampir tiap hari mamah nangis. Keluarga jadi terpukul mbak.” (DA121/DPSw/023-024) c. Bentuk perlawanan yang dilakukan Dilihat dari hasil wawancara responden dan hasil membandingkan data dari informan terdapat beberapa kemiripan mengenai bentuk perlawanan yang dilakukan oleh responden AE.

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 Responden AE mengungkapkan bahwa perlawanan yang dilakukan ialah mencoba menelepon ayahnya dan melakukan perlawanan yang lainnya namun tidak berdaya. Hal ini terdapat pada hasil wawancara. “Ya selain menolak ajakan pas di losmen itu aku coba telfon bapak tapi hapeku direbut. Aku gak bisa ngelawan ditambah lagi karena aku gak berdaya dan badan dia itu besar.” (DA121/DPS-w/087-090) Informan juga mengatakan hal serupa mengenai perlawanan yang dilakukan oleh responden pada hasil wawancara. “Perlawanan yang AE lakukan saat itu ya tentu saja menolak untuk berhubungan kemudian AE mencoba menelfon bapaknya tetapi HP AE direbut.” (DI241/DPSw/062-064) Sedangkan perlawanan yang dilakukan oleh responden dan keluarga responden pasca kejadian pemerkosaan adalah melawan melalui jalur hukum. Perlawanan ini terungkap melalui hasil wawancara antara peneliti dengan responden. Hasil wawancara sebagai berikut: “Setelah tau, bapak sama mamah ngumpulin bukti dan sehari setelah itu aku di visum terus lapor ke kantor polisi. Jadi perlawanannya ya lapor polisi buat menjaraain dia mbak. Selain itu pas keluarga dia minta maaf atau mediasi, kami tetep nolak.” (DA121/DPS-w/081-085) Perlawanan pasca kejadian pemerkosaan tersebut juga senada dengan apa yang disampaikan oleh informan dalam wawancara. Kutipan hasil wawancara sebagai berikut:

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 “Setelah kejadian itu, keluarga mengumpulkan bukti dan lapor polisi lalu paginya saya dipangil untuk mendampingi AE. Setelah lapor, ditanyain kronologisnya bagaimana. Lalu besoknya gelar perkara atau rekonstruksi ke losmen. Kemudian dibuat catatan surat laporan, kemudian dibuat BAP, penyelidikan selanjutnya dan lalu pencarian pelaku. Yaa terus setelah itu di proses-proses. Sampai berapa bulan lah.” (DI241/DPS-w/079-087) Perlawanan melalui jalur hukum tersebut melewati proses yang panjang hingga akhirnya pelaku dinyatakan bersalah dan dipenjara. Hal ini disampaikan juga oleh responden dan informan yakni sebagai berikut: “Waktu itu prosesnya juga susah mbak, pak polisi lebih dukung pelaku. Masak aku ditanyain pas diperkosa enak apa nggak, disitu aku jengkel banget. Untung ada mamah, bapak sama bu pendamping. Pokoknya semua sama-sama berjuang supaya dia masuk penjara mbak. Bahkan waktu pelaku minta mediasi dan dateng dateng kerumah pun gak kami terima. Ya intinya supaya dihukum seberat-beratnya dan setelah dia di penjara aku jadi lega.” (DA121/DPSw/095-104) “hampir 3 bulan nggak di proses sama polisi. Terus aku ke kantor polisi Tanya kok gak segera di proses katanya bukti-bukti belum lengkap. Kan itu tugas polisi untuk menyelidiki pikirku saat itu. Akhirnya di proses kemudian pelaku dijatuhi hukuman penjara tetapi tidak terlalu ringan karena alasan pelaku adalah pelaku tidak tahu kalau korban adalah seorang disabilitas” (DI241/DPS-w/087093)

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 d. Cara menghadapi tantangan Dilihat dari hasil wawancara responden dan informan terdapat beberapa kemiripan atas usaha-usaha yang dilakukan dan diupayakan untuk responden. Responden mengolah pengalaman tersebut dengan menangis agar lega. Kutipannya sebagai berikut: “Ya, nangis mbak biar lega. Selain itu ya berjuang buat nyelesaiin kasusnya di kantor polisi.” (DA121/DPSw/094- 095) Responden melepaskan kesedihan dengan menangis. Selain itu, responden juga berusaha menghadapi tantangan agar sehat secara psikologis dengan lebih patuh terhadap orangtua, lebih ikhlas dan fokus pada masa depan. Hal tersebut diungkapkan melalui wawancara. Hasil wawancara sebagai berikut: “Pertama ya nerima mbak. Lebih nurut sama orang tua, karena selama pacaran sama dia aku jadi suka nurut sama mantan pacarku ketimbang dengerin mamah. Terus lebih belajar Ikhlas dan fokus ke masa depan. Setelah dia di penjara aku jadi lega mbak, sekarang aku bahagia.” (DA121/DPS-w/108-113) Sebagai perbandingan, Informan pun mengatakan hal yang sama dengan usaha yang disampaikan oleh responden. Hal ini nampak pada hasil wawancara yakni : “ya itu, dia belajar untuk menerima keadaannya. Apalagi dia disabilitas tunagrahita yang artinya tidak mudah baginya untuk mengolah pengalaman yang sudah dia alami. Terutama saat melewati proses hukum. Dia tetap

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 berjuang ditengah keterbatasannya.” (DI241/DPS-w/096100) Responden juga mengurungkan keinginan untuk bunuh diri dan berusaha mendekatkan diri kepada Allah dan menerima segala kejadian yang pernah terjadi. Kutipan wawancara sebagai berikut: “Aku milih untuk ndak jadi bunuh diri mbak. Lebih mendekatkan diri ke Allah dan nrimo apa yang sudah terjadi dan sekarang aku bahagia walaupun kadang kalau ingat kejadian itu masih suka nangis. Terus mbak, biar ngerasa lega ya aku nangis” (DA121/DPS-w/111-114) Selain menangis, menerima keadaan, lebih patuh terhadap orangtua, ikhlas, fokus ke masa depan, mengurungkan niat bunuh diri dan mendekatkan diri kepada Allah , responden juga melakukan usaha lain yakni menuliskan pengalaman yang muncul setiap kali mengingat kejadian pemerkosaan tersebut. Hasil wawancara sebagai berikut : “Setiap kali ingat pengalaman itu, pengalaman itu selalu kutulis terus dikirim ke pendamping.” (DA121/DPSw/115-117) Usaha yang dilakukan responden tersebut sesuai dengan saran yang diberikan oleh informan yakni segala ingatan yang muncul mengenai pengalaman pemerkosaan tersebut ditulis kemudian dikirimkan melalui WA maupun e-mail dan responden menerima saran informan agar sehat secara psikologis, fisik dan sosial.

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 “Lalu, membantunya dengan menyuruh AE menuliskan setiap ingatan maupun perasaan tentang kejadian perkosaan yang muncul itu kemudian setelah selesai ditulis baru saya memintanya untuk mengirimkan via WA maupun e-mail. Karena AE kan seorang grahita ringan yang artinya tidak mudah baginya untuk mengingat kejadian-kejadian yang dialami sehingga terkadang kejadian yang menyakitkan sering tiba-tiba muncul jadi ya sebaiknya itu di olah supaya tidak mengganggu masa depan.” (DI241/DPS-w/103-113) Usaha-usaha yang dilakukan oleh responden dan juga informan tak selalu berjalan mulus. Responden dan informan sama-sama mengakui bahwa mereka mengalami kesulitan selama mengolah pengalaman tersebut. Kesulitan tersebut tertuang dalam hasil wawancara sebagai berikut: “Pas aku inget kejadian itu ya jadi sedih terus dan pasti akhirnya nangis-nangis. Selain itu ya kesulitannya pas nulis kejadian itu mbak. Aku kadang lupa-lupa ingat kejadian itu.” (DA121/DPS-w/120-123) Hal ini diperkuat oleh hasil perbandingan wawancara dengan responden dan informan. Informan mengungkapkan bahwa tulisan yang terdiri dari beberapa kalimat, penulisan yang tidak terstrukur dan tidak nyambung menjadi kesulitan yang dialami oleh informan. Hal ini terungkap pada hasil wawancara antara peneliti dan informan. Kutipan hasil wawancara sebagai berikut: “ya kesulitannya itu kadang si AE mengirimkan tulisannya hanya beberapa kalimat saja. Itupun tidak terstruktur. Kadang cerita yang ditulis tidak nyambung satu kalimat

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 dengan kalimat yang lain. Jadi ya harus tetap di olah. Saya paham karena ini juga termasuk dalam keterbatasan disabilitas grahita sehingga ya di beri pengertian supaya menuliskan pengalaman yang dialami dengan yang ditulis bisa berurutan dan sesuai.” (DI241/DPS-w/117-124) Meskipun mengalami berbagai kesulitan, dukungan dari orang-orang terdekat sangat membantu responden. Hal ini juga diungkapkan oleh responden dan juga informan dalam kutipan wawancara sebagai berikut: “Ya di support mbak. Awalnya mamah masih suka bahas status keperawananku dan aku jadi gak suka. Tapi lamakelamaan Mamah, bapak dan mbak jadi selalu mendukung cita-citaku mbak. Mereka mendukungku untuk terus mengolah pengalaman ini. Dukungan yang aku harapkan ya lebih ke dukungan dari orangtua.” (DA121/DPSw/127-132) Sedangkan dukungan yang diberikan oleh informan tertuang dalam hasil wawancara. Kutipan wawancara sebagai berikut: “hmm.. dukungan yang saya berikan kepada AE tentu saja mendampingi dari awal proses jalur hukum sampai sekarang. Kita tidak bisa selesai proses hukum langsung lepas. Jadi ya mendampingi, menemani dan mendukung sampai tuntas dan AE menjadi pribadi yang lebih tangguh.” (DI241/DPS-w/128-132) Dari hasil mengolah dampak-dampak kekerasan seksual yang muncul hingga melewati kesulitan-kesulitan ketika mengolah pengalaman itu agar sehat secara psikologis, sosial maupun fisik responden menyatakan kelegaannya setelah berhasil mengolah

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 pengalaman tersebut. Hal ini dapat dilihat dari kutipan wawancara milik responden dan juga informan yang saling berkeaitan: “Lega mbak. Aku bahagia bisa ngelewatin ini dan dia bisa di penjara. Aku merasakan keadilan buat aku sendiri. Sekarang aku juga gak takut lagi buat bersosialisasi ke masyarakat. Karna kan masyarakat juga pada gak tau kasusku. Walaupun kadang aku minder karna udah ndak perawan tapi aku tetap merasa bahwa diriku juga berharga dan berhak bahagia mbak” (DA121/DPSw/136-142) “Tentu saja senang. Saat AE kembali bangkit dan memperjuangkan masa depannya. Saat ini AE sedang persiapan untuk masuk ke perguruan tinggi jurusan PG-Paud. Jurusan yang juga diminati AE karena AE menyukai anak-anak. (DI241/DPS-w/135-139)” B. Pembahasan Masa remaja akhir kurang lebih terjadi pada pertengahan dasawarsa yang kedua dari kehidupan atau usia 20-an. Minat karir, pacaran, dan eksplorasi identitas seringkali lebih menonjol dimasa remaja akhir dibandingkan dimasa remaja awal (Santrock,2007). Sejalan dengan pernyataan Santrock, responden yang merupakan remaja akhir pun mengalami hal yang sama. Hal tersebut nampak pada hasil wawancara meskipun tidak secara eksplisit. Kutipan wawancara sebagai berikut: “Tapi kalau ke cita-cita aku sekarang lagi fokus buat masuk kuliah di PG-PAUD.” (DA121/DPS-w/052-060) “Itu juga ngaruh ke kehidupan sosialku mbak, nanti siapa yang mau sama aku padahal aku udah gak perawan lagi. Aku jadi jaga jarak sama laki-laki mbak” (DA121/DPS-w/058-060) Selain itu, hal yang dibahas dalam bagian ini berkaitan dengan masalah penelitian yakni bentuk kekerasan seksual yang dialami oleh AE,

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 dampak-dampak kekerasan seksual, bentuk perlawanan yang dilakukan oleh AE, dan usaha-usaha yang dilakukan AE saat menghadapi rintangan yang muncul setelah mengalami kekerasan seksual. 1. Bentuk Kekerasan Seksual Bentuk kekerasan seksual yang dialami oleh responden adalah kekerasan seksual non verbal yakni perkosaan dan pelecehan seksual verbal yakni pesan singkat yang mengandung isyarat bernada mesum. Responden yang merupakan disabilitas tunagrahita kurang mampu atau kesulitan membedakan bentuk kasih sayang dan pesan singkat bernada mesum yang ditulis oleh pelaku melalui pesan di media sosial. Hal ini dikarenakan tunagrahita dipahami sebagai bentuk keterbatasan substansial dalam memfungsikan diri. Keterbatasan ini ditandai dengan terbatasnya kemampuan fungsi mental yang terletak dibawah rata-rata (IQ 70 atau kurang) dan ditandai dengan terbatasnya kemampuan tingkah laku (Aziz,2015). Sehingga penyandang tunagrahita secara mental atau intelektual sulit membedakan antara pelecehan seksual dan kasih sayang Komnas Perempuan, 2017). Selain itu, keterbatasan intelegensi dalam hal belajar yang bersifat abstrak, berhitung, menulis, dan membaca. Kemampuan belajar anak tungrahita cenderung tanpa pengertian atau cenderung membeo. Keterbatasan sosial seorang tunagrahita ialah mengalami kesulitan dalam mengurus dirinya sendiri, sangat bergantung pada

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 orang tua, tidak mampu memikul tanggung jawab sosial, mudah dipengaruhi orang lain, dan melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya. Serta keterbatasan fungsi mental seorang tunagrahita dalam hal keterbatasan penguasaan bahasa, karena pusat pengolahan (perbendaharaan kata) kurang berfungsi dengan normal turut mempengaruhi responden. Dalam hal ini responden menganggap bahwa pelaku merupakan kekasih responden. Anggapan pelaku merupakan kekasih responden ini bertolakbelakang dengan apa yang dikatakan oleh informan dalam wawancara. Informan mengatakan bahwa responden dan pelaku tidak memiliki hubungan khusus. Hal ini terungkap saat wawancara terhadap responden dan informan. Hasil wawancara dapat dilihat dalam lampiran. Selain itu pesan singkat yang dikirimkan oleh pelaku melalui media sosial merupakan pesan singkat bernada mesum yang termasuk ke dalam pelecehan seksual bersifat tertulis atau grafis (Kurnianto,2016). Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan informan dalam wawancara. “Pelaku dan AE itu cuma wa- wa-nan berapa kali. Di WA-nya aja nada-nadanya pelaku udah mesum kok. Tapi AE kan gak tau. AE gak bisa memahami kata-kata itu gitu lho..” (DI241/DPS-w/014-017) 2. Dampak- Dampak Kekerasan Seksual Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, disingkat BKKBN (2009), mengatakan bahwa Secara psikologis

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 bahwa korban kekerasan seksual merasa menurunnya harga diri, menurunnya kepercayaan diri, depresi, kecemasan, ketakutan terhadap perkosaan serta meningkatnya ketakutan terhadap tindakan-tindakan kriminal lainnya. Didapatkan pula sindrom kekerasan seksual yang berhubungan dengan gejala psikologi, mencakup depresi, rasa tidak berdaya, merasa terasing, mudah marah, takut, dan kecemasan. Sehingga tidak mengherankan kekerasan seksual dalam bentuk perkosaan memberikan dampak psikologis bagi responden. Seperti halnya yang dikatakan oleh responden AE dalam wawancara. “Ya banyak mbak, dampaknya ke perasaanku, pikiranku, badanku, keluargaku dan juga ngaruh kelingkunganku mbak.” (DA121/DPSw/018-020) CIQAL (2017) mengatakan secara fisik tentunya korban mengalami luka pada bagian tertentu yang dimanfaatkan pelaku sebagai pemuas nafsunya, sedangkan dari segi psikologis adanya tekanan secara psikologis (trauma) yang dialami korban berdampak pada penurunan Self esteem atau menurunnya penghargaan diri pada korban karena disebabkan oleh rasa malu yang menjadikan korban sulit untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga korban pun berpeluang untuk mendapatkan tindak diskriminasi dari lingkungannya. Hal ini didukung oleh pernyataan responden dan informan yang dapat dilihat dalam hasil wawancara.

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 Sedangkan dampak sosial yang terjadi di lingkungan antara lain: menurunnya produktifitas kerja atau proses belajar, merusak hubungan antara teman, menururnnya kepercayaan diri, semakin mengisolasi diri dan menurunnya motivasi (BKKBN,2009). Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh informan dan reponden AE. Kutipan hasil wawancara dapat dilihat sebagai berikut: “Dampak sosialnya ya ada mbak. Aku sempet gak masuk sekolah beberapa minggu, aku takut ketemu tementemen.” (DA121/DPS-w/035-037) “Setelah mengalami kejadian itu, AE jadi berhenti sekolah seminggu lebih. Dia takut ketemu banyak orang. Padahal saat itu menjelang UN.” (DI241/DPS-w/047-049) Dampak sosial yang dialami oleh responden pun nampak saat peneliti melakukan observasi. Hasil observasi sebagai berikut: Ketika ingin pergi ke suatu tempat yang jaraknya jauh ataupun dekat, responden meminta peneliti maupun ibunya untuk menemani responden.” (OAE121/15.4516.15) Selain dampak psikologis dan dampak sosial, responden juga mengalami dampak fisik. Di mana korban kekerasan seksual mengalami beberapa keluhan diantaranya: sakit kepala, gangguan makan, gangguan pencernaan, rasa mual, hamil, serta menurun atau bertambahnya berat badan tanpa sebab yang jelas. Jika telah terjadi kekerasan seksual yang terbilang serius, selain timbul gejala-gejala tersebut dapat pula timbul kecenderungan bunuh diri. Dampak fisik ini

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 juga dialami oleh responden dan hal ini dapat dilihat dari kutipan wawancara. “Ada mbak, anu.. waktu itu selangkanganku kerasa sakit mbak. Kalau jalan rasanya kayak pegel banget. Yang terutama si aku udah gak perawan lagi.” (DA121/DPS-w/030-032) “Yang pasti ya selangkangannya sakit tak lama setelah kejadian itu. Selebihnya ya selaput daranya sudah robek.(D1241/DPS-w/043-045). 3. Bentuk Perlawanan Dalam kasus kekerasan seksual seringkali penyandang disabilitas tunagrahita kurang mampu melakukan perlawanan hal ini dikarenakan penyandang tunagrahita secara mental dan intelektual sulit membedakan antara kekerasan seksual dan kasih sayang. Keterbatasan penyandang disabilitas ini seringkali dimanfaatkan oleh pelaku yang ingin memuasakan hawa nafsunya dengan harapan bisa lolos dari kejahatan yang dilakukan karena minimnya pembuktian. Karakteristik psikis sukar berfikir abstrak dan logis. Kurang memiliki kemampuan analisa, asosiasi lemah, kurang mampu mengendalikan perasaan, mudah dipengaruhi, kepribadian kurang harmonis karena tidak mampu menilai baik dan buruk (Suwandi, 2017). Hal ini nampak dari hasil wawancara “Itu mbak, katanya kalau aku nolak berarti aku gak sayang dia. Padahal aku sayang sama dia mbak. Jadi aku ndak bisa ngapangapain pas dia bilang gitu.” (DA121/DPS-w/069-071)

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 Namun tidak menutup kemungkinan penyandang tunagrahita ringan melakukan upaya untuk bebas dari kekerasan seksual. Hal ini juga dilakukan oleh responden ketika mengalami kekerasan seksual. Kutipan hasil wawancara dengan responden dan informan dapat dilihat sebagai berikut : “Ya selain menolak ajakan pas di losmen itu aku coba telfon bapak tapi hapeku direbut. Aku gak bisa ngelawan ditambah lagi karena aku gak berdaya dan badan dia itu besar.” (DA121/DPS-w/086-090) Tak hanya perlawanan saat kejadian perkosaan yang dilakukan tetapi perlawanan yang dilakukan pasca kejadian juga melawan melalui jalur hukum. “Setelah tau, bapak sama mamah ngumpulin bukti dan sehari setelah itu aku di visum terus lapor ke kantor polisi. Jadi perlawanannya ya lapor polisi buat menjaraain dia mbak. Selain itu pas keluarga dia minta maaf atau mediasi, kami tetep nolak. (DA121/DPS-w/081-085)” 4. Cara Menghadapi Rintangan Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan (2017) menyatakan diskriminasi dan kekerasan seksual pada penyandang disabilitas perempuan semakin muncul ke permukaan karena mulai menggeliatnya upaya untuk memasukkan layanan disabilitas pada lembaga-lembaga layanan. Hal ini juga dilakukan oleh pendamping yang memberikan layanan disabilitas pada lembaga-lembaga layanan sehingga responden mampu melalui proses hukum dan pengolahan

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 pasca kekerasan seksual. Layanan yang diberikan oleh informan pun masuk kedalam hasil wawancara sebagai berikut : “hmm.. dukungan yang saya berikan kepada AE tentu saja mendampingi dari awal proses jalur hukum sampai sekarang. Kita tidak bisa selesai proses hukum langsung lepas. Jadi ya mendampingi, menemani dan mendukung sampai tuntas dan AE menjadi pribadi yang lebih tangguh.” (DI241/DPS-w/127-132) Korban yang menyandang tunagrahita diperlukan penanganan yang berbeda karena walaupun korban memiliki usia kalender dewasa namun ia memiliki usia mental dibawah umur dan juga korban memutuhkan ahli psikologi untuk memahami kondisi mental korban. (Suwandi,2017). Selain itu, responden maupun informan berjuang bersama dalam mendapatkan keadilan melalui proses hukum dan juga mengupayakan berbagai cara agar responden dapat mengolah dampak-dampak pasca mengalami kekerasan seksual. Cara-cara atau upaya dalam mengatasi masalah pasca kekerasan seksual tersebut ialah menerima keadaan, mendekatkan diri kepada Allah, menuliskan ingatan mengenai ingatan kekerasan seksual serta fokus ke masa depan. Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan dalam hasil wawancara responden dan informan. “Pertama ya nerima mbak. Lebih nurut sama orang tua, karena selama pacaran sama dia aku jadi suka nurut sama mantan pacarku ketimbang dengerin mamah. Terus lebih belajar Ikhlas dan fokus ke masa depan. Setelah dia di penjara aku jadi lega mbak, sekarang aku bahagia.” (DA121/DPS-w/108-113)

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 Apa yang telah disampaikan oleh responden mengenai cara-cara atau upaya dalam mengatasi dampak-dampak pasca mengalami kekerasan seksual juga senada dengan pernyataan informan ketika membantu responden untuk mengatasi dampak-dampak yang dialami. Hal ini dapat dilihat di kutipan wawancara sebagai berikut: “Ya saya mengingatkannya untuk rajin beribadah” (DI241/DPSw/103) Selama membantu responden agar sehat secara psikologis, informan dan responden juga mengalami kesulitan karena responden merupakan seorang disabilitas tunagrahita yang berarti cacat pikiran, lemah daya tangkap atau keterbelakangan mental (KBBI). “Pas aku inget kejadian itu ya jadi sedih terus dan pasti akhirnya nangis-nangis. Selain itu ya kesulitannya pas nulis kejadian itu mbak. Aku kadang lupa-lupa ingat kejadian itu.” (DI241/DPSw/120-123) “ya kesulitannya itu kadang si AE mengirimkan tulisannya hanya beberapa kalimat saja. Itupun tidak terstruktur. Kadang cerita yang ditulis tidak nyambung satu kalimat dengan kalimat yang lain. Jadi ya harus tetap di olah. Saya paham karena ini juga termasuk dalam keterbatasan disabilitas grahita sehingga ya di beri pengertian supaya menuliskan pengalaman yang dialami dengan yang ditulis bisa berurutan dan sesuai.”(DI241/DPSw/117-124) Santrock (2007) mengungkapkan bahwa masa remaja akhir kurang lebih terjadi pada pertengahan dasawarsa yang kedua dari kehidupan atau usia 20-an. Pada fase ini remaja akhir termasuk responden lebih fokus pada minat karir, pacaran, serta eksplorasi

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 identitas yang seringkali lebih menonjol dimasa remaja akhir dibandingkan dimasa remaja awal. Fase ini ditandai dengan tercapainya perkembangan yang ideal dapat terpenuhi bila ada keselarasan antara kedewasaan biologis (termasuk seks), kognitif dan sosio-emosional. Dalam hal ini responden mampu mencapai keselarasan antara kedewasaan biologis, kognitif dan juga sosioemosional sehingga responden mampu menjadi pribadi yang sehat secara psikologis, fisik dan juga sosial. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara bersama responden dan juga informan. Kutipan wawancara dapat dilihat sebagai berikut: “Lega mbak. Aku bahagia bisa ngelewatin ini dan dia bisa di penjara. Aku merasakan keadilan buat aku sendiri. Sekarang aku juga gak takut lagi buat bersosialisasi ke masyarakat. Karna kan masyarakat juga pada gak tau kasusku. Walaupun kadang aku minder karna udah ndak perawan tapi aku tetap merasa bahwa diriku juga berharga dan berhak bahagia mbak.” (DA121/DPS-w/136-142) “Tentu saja senang. Saat AE kembali bangkit dan memperjuangkan masa depannya. Saat ini AE sedang persiapan untuk masuk ke perguruan tinggi jurusan PG-Paud. Jurusan yang juga diminati AE karena AE menyukai anak-anak.” (DI241/DPS-w/135-139)

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini berisikan kesimpulan, keterbatasan penelitian, dan saran. Bagian kesimpulan memuat kesimpulan penelitian. Bagian keterbatasan penelian memuat keterbatasan peneliti dalam menggali informasi lebih dalam dari responden. Bagian saran memuat masukan untuk peneliti lain maupun berbagai pihak agar dapat melakukan penelitian yang lebih baik dari penelitian ini. A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka kesimpulan penelitian yang berkaitan dengan dampak-dampak kekerasan seksual pada seorang penyandang tunagrahita adalah 1. : Bentuk-bentuk kekerasan seksual yang dialami oleh penyandang tunagrahita adalah pelecehan seksual verbal melalui pesan dengan isyarat nada mesum dan kekerasan seksual non verbal yakni pemerkosaan. 2. Dampak-dampak yang dialami ialah dampak psikologis, fisik dan sosial. Dampak psikologis yang dialami oleh responden tunagrahita ialah trauma bila bertemu atau melihat pria yang berbadan besar, takut gelap, takut sendiri, merasa rendah diri, memiliki keinginan untuk bunuh diri dan perubahan suasana hati yang cepat. Dampak fisik yang dialami oleh penyandang tunagrahita ialah robeknya selaput dara dan tidak lagi perawan. Dalam kasus tertentu, korban dapat mengalami luka serius hingga kematian. Sedangkan dampak sosial 76

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 yang dialami responden tunagrahita yakni menjadi takut untuk bersosialisasi dan bertemu dengan orang baru. Responden juga menjadi jaga jarak bila bertemu dengan orang baru. 3. Bentuk-bentuk perlawanan yang dilakukan oleh responden tunagrahita ketika menghadapi situasi terancam yakni perkosaan namun kemudian pasrah karena merasa tidak berdaya. Perlawanan lain pasca kejadian pemerkosaan yang diupayakan oleh responden dan pihak keluarga ialah mengikuti prosedur hukum mengenai kasus pemerkosaan yang ada di Indonesia. 4. Upaya atau cara responden tunagrahita dalam mengelola pengalaman tersebut ialah berusaha menghadapi kesulitan dengan ikhlas, menerima keadaan, mendekatkan diri kepada Tuhan dan lebih berfokus kepada masa depan serta menuliskan ingatan mengenai kejadian pemerkosaan yang dialami agar terus sehat secara psikologis. Selain itu juga dukungan dari berbagai pihak diantaranya dukungan keluarga, dukungan penyedia layanan, peraturan perundang-undangan, pemerintah dan juga kepolisian karena sangat membantu responden dalam menghadapi kesulitan yang dialami Dengan demikian, kekerasan seksual pada penyandang disabilitas khususnya bagi disabilitas jenis tunagrahita ringan merupakan pengalaman menyakitkan yang berdampak pada seluruh aspek kehidupan responden.

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 B. Keterbatasan Penelitian Berdasarkan hasil penelitian, peneliti memiliki keterbatasan dalam penelitian ini, yakni sebagai berikut : 1. Kurangnya buku referensi valid yang membahas mengenai dampakdampak kekerasan seksual khususnya pada penyandang disabilitas. 2. Kurangnya buku referensi yang membahas teknik pendekatan untuk penyandang disabilitas yang mengalami kasus kekerasan seksual. 3. Peneliti kurang menggali sisi tunagrahita dari responden karena peneliti lebih berfokus pada dampak-dampak kekerasan seksual. 4. Dalam pengumpulan data waktu terbatas karena waktu pengumpulan data skripsi yang kurang. 5. Wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap responden masih kurang mendalam. C. Saran Berdasarkan hasil penelitian, peneliti memberikan saran kepada pihak terkait dengan penelitian ini agar memperoleh hasil yang lebih baik dari penelitian ini, yakni sebagai berikut : 1. Diperlukan teknik pengumpulan data yang tepat khususnya teknik pengumpulan data untuk penyandang disabilitas. 2. Diperlukan penggalian data yang lebih mendalam.

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Ahmad, A.E.Y. (2015) Tinjuan Viktimologis Kejahatan Kekerasan dan Penghinaan Terhadap Penyandang Cacat (Studi Kasus di Kota Makasar). Skripsi (Tidak Diterbitkan). Makasar: Universitas Hasanuddin. Aziz, S. (2015). Pendidikan Seks Anak Berkebutuhan Khusus. Yogyakarta:Penerbit Gava Media. BKKBN. (2009). Pelecehan Seksual: Buku Suplemen Bimbingan Teknis Kesehatan Reproduksi. Jakarta: Kantor Perwakilan Unesco Boeree, C.G. (2016). Personality Theory : Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. Yogyakarta: Prismasophie. Chaerizanisazi. (2017). Urgensi Per-UU Kekerasan Seksual Terhadap Difabel. Diakses pada tanggal 05 Juni 2018 19: 40 WIB dari, http://ciqal.blogspot.com/ Collier, R. (1992). Pelecehan Seksual: Hubungan Dominasi Mayoritas dan Minoritas. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana. Creswell, John.W, (2013). Penelitian Kualitatif dan Desain Riset, Terjemahan Ahmad Lintang Lazuardi. Yogyakarta: Pustaka belajar. Depkes. (2014). Penyandang Disabilitas Pada Anak. (Infodatin. Pusat Data dan Informasi Kementrian RI). Diakses pada tanggal 24 Desember 2017 16:49 WIB dari, www.depkes.go.id Desiningrum. D.R. (2016). Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus. Yogyakarta: Psikosain Guf. (2017). Perlindungan Perempuan disabilitas terhadap kekerasan. Diakses pada tanggal 05 Juni 2018 19:45 WIB dari http://berita360.com/perlindungan-perempuan-disabilitas-terhadapkekerasan/ Kemenkumham, R.I. (2014). Peraturan Perundang-undangan. Diakses pada tanggal 02 Oktober 2018 19:06 WIB dari http://peraturan.go.id Kurnianto, M.A. (2016). Deskripsi Pelecehan Seksual Di Tempat Kerja dan Prediksi Munculnya Psikosomatis Akibat Pelecehan Seksual. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Diakses pada tanggal 05 Juni 2018 19:50 WIB dari, https://repository.usd.ac.id/ 79

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 Komnas Perempuan (2017). Siaran Pers Lembar Fakta Catahu 2017. Diakses pada tanggal 05 Juni 2017 19:46 WIB dari, https://www.komnasperempuan.go.id/file/pdf_file/2017%20Siaran%20Pers/ Lembar%20Fakta%20Catahu%202017.pdf Krjogja. (2017). Kekerasan Seksual Penyandang Disabilitas Meningkat. Diakses pada tanggal 06 Juni 2018 15:45 WIB dari, https://www.krjogja.com Moleong, L.J. (2008). Metodologi Penelitian Kualitatif, edisi revisi. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset. Moleong, L.J. (2011). Metodologi Penelitian Kualitatif, edisi revisi. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset. Moleong, L.J. (2017). Metodologi Penelitian Kualitatif, edisi revisi. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset. Santrock, J.W. (2007). Adolescence. Jilid 1, edisi kesebelas (terjemahan Benedictine Widyasinta). Jakarta: Erlangga. Soleh, A. (2016). Aksesibilitas penyandang disabilitas terhadap perguruan tinggi. Yogyakarta:PT.LkiS Pelangi Aksara. Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kebijakan. Bandung: Alfabeta. Sumanto. (2014). Psikologi Perkembangan Fungsi dan Teori. Yogyakarta: CAPS. Suwandi, M.A. (2017). Perlindungan Hukum Terhadap Tunagrahita Sebagai Korban Tindak Pidana Perkosaan Dalam Sistem Peradilan Pidana. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta: Universitas Muhammadyah Yogyakarta Unicef. (2013). Anak Penyandang disabilitas. Diakses pada tanggal 5 Desember 2017 19:25 WIB https://www.unicef.org/indonesia/id/SOWC_Bahasa.pdf dari,

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 Lampiran 1 Hasil Observasi 1. Observasi saat responden di Rumah Hari/tanggal Inisial Deskripsi Interpretasi Responden Sabtu, 12 Januari 2019 14.00-15.30 WIB AE Observasi dilakukan di rumah terhadap responden AE. AE memiliki Dekat dengan warna kulit sawo matang, saat dirumah tidak menggunakan kerudung, ibu. Pemalu postur tubuh tidak pendek tetapi tidak terlalu tinggi. Selama dirumah bila baru responden bermain hp kemudian mengobrol bersama dengan ibunya. kenal. Responden nampak dekat sekali dengan ibunya. Responden sedikit pemalu dan takut-takut bila bertemu dengan orang baru termasuk saat bertemu dengan peneliti.

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 2. Observasi saat responden di lingkungan masyarakat Hari/tanggal Inisial Deskripsi Interpretasi Responden Sabtu, 12 Januari 2019 15.45-16.15 WIB AE Observasi dilakukan mulai dari rumah responden sampai di Tidak mudah dekat orang baru. taman glugut hingga responden pulang ke rumah. Responden dengan awalnya malu-malu untuk berinteraksi dengan peneliti Takut namun setelah proses pendekatan pun responden nampak Menyukai nyaman dengan peneliti. Responden senang menceritakan Bercerita sendiri. anak-anak. suatu hal hal-hal yang disekitarnya. Responden juga orang yang dengan acak, kurang humoris. Ketika ingin pergi ke suatu tempat yang jaraknya terstruktur. jauh ataupun dekat, responden meminta peneliti maupun ibunya untuk menemani responden. Responden memiliki ketertarikan pada anak-anak. Hal ini nampak ketika Memiliki emosi yang labil.

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 responden melihat anak-anak yang bermain di taman glugut dan ketika responden menceritakan keponakannya maupun cita-citanya yang ingin menjadi guru tk. Alur yang diceritakan responden saat menceritakan suatu hal selalu lompat-lompat. Cepat bosan. Responden kesulitan dalam menceritakan apa yang hendak dikatakannya. Seringkali responden bercerita dengan tidak runtut dan lompat-lompat. Responden kurang dapat mengatur cerita mana yang akan diceritakan lebih dahulu.

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 Lampiran 2 Lembar Verbatim Wawancara A. Responden AE Waktu : Sabtu, 12 Januari 2017 ; 16.20-18.05 WIB Tempat : Taman Glugut, Bantul Peneliti : “Bentuk pelecehan seksual seperti apa yang telah adek alami? AE Peneliti : “Pemerkosaan dan penipuan mbak” :“Bagaimana adek mengalami pelecehan seksual tersebut?” AE : Aku dijak lungo mbek pacarku ke pantai ning ternyata lungone ning losmen. Kan pertamanya diajak ke pantai dan posisinya aku lagi di sekolah, ehh ternyata aku diajak ke losmen mbak. Aku udah nolak tapi dipaksa dan pas udah di losmen, pihak losmennya ngelarang kami masuk mbak, aku masih pake baju sekolah. Habis itu aku diajak keliling-keliling sebentar terus balik ke losmen itu lagi tapi pake jaketnya. Ya udah aku diajak berhubungan mbak, tapi sebetulnya aku ndak mau. Aku takut dosa mbak. Aku wedi. Peneliti : “Apa saja dampak-dampak pelecehan seksual yang adek alami?” AE : Ya banyak mbak, dampaknya ke perasaanku, pikiranku, badanku, keluargaku dan juga ngaruh kelingkunganku mbak.

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 Peneliti : “uhm, ok, lalu dampak psikologis seperti apa yang muncul?” AE Peneliti AE Peneliti AE Peneliti AE : Mamah dan bapak shock mbak. Hampir tiap hari mamah nangis. Keluarga jadi terpukul mbak. Aku jadi takut mbak. Apalagi gelap, karna waktu kejadian di losmen itu gelap. Aku jadi trauma tiap mau ketemu laki-laki baru dan takut ke sekolah. Padahal 3 bulan setelah kejadian itu aku harus ikut UN mbak. : “Adakah dampak fisik seperti apa yang muncul?” : Ada mbak, anu.. waktu itu selangkanganku kerasa sakit mbak. Kalau jalan rasanya kayak pegel banget. Yang terutama si aku udah gak perawan lagi. : “Lalu, Dampak sosial apa saja yang muncul yang kiranya sangat mempengaruhi hidupmu?” : Dampak sosialnya ya ada mbak. Aku sempet gak masuk sekolah beberapa minggu, aku takut ketemu temen-temen. Aku juga jadinya musuhan sama temenku yang ngenalin aku ke mantan pacarku itu mbak. Tapi, Aku senengnya temen-temen gak ada yang tau mbak. Cuma kepala sekolahku tau. Jadi kalau aku dipanggil ke ruang kepsek buat bahas kasus itu, teman-teman suka kepo, nanyananya kenapa aku di panggil kepala sekolah. Warga ndak ada yang tau mbak. Pas keluarga mantanku dateng ke rumah aja, dikiranya sodara mbak. : “Coba ceritakan dampak pribadi dan sosial seperti apa yang kemudian muncul?” : Dampaknya ke pribadiku si …Hmmm, ada mbak. Karena masalah itu aku jadi trauma kemana-mana, kalau pergi mesti ada temennya dan waktu itu jadinya gak masuk sekolah beberapa minggu, padahal bulan-bulan itu aku lagi persiapan UN. Ganggu pelajaran juga mbak. Aku gak fokus. Sedih terus. Tapi kalau ke cita-cita aku sekarang lagi fokus buat masuk kuliah di PG-PAUD. Walaupun pingin bunuh diri mbak. Aku ngerasa gak berharga lagi. Pikirku ahh nggo ngopo urip ki. Hahaa.. kadang aku juga minder karna udah ndak perawan lagi dan kalau udah gitu ya aku nangis lagi. Itu juga ngaruh ke kehidupan sosialku mbak, nanti siapa yang mau sama aku padahal aku udah gak perawan lagi. Aku jadi jaga jarak sama laki-laki mbak.

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 Peneliti AE Peneliti AE Peneliti AE Peneliti AE Peneliti : “Baiklah, lalu perlawanan apa saja yang adek lakukan saat mengalami pelecehan seksual?” : Ya otomatis aku nolak mbak, aku ra gelem, aku sayang sama dia tapi ndak mau kalau sampai melakukan hubungan seksual. Aku takut dosa mbak. Nah pas udah di losmennya itu aku tetep nolak tapi aku dah ndak bisa ngapa-ngapain mbak. : “Selain itu, bentuk perlawanan yang seperti apa yang keluarga adek lakukan?” : Setelah kejadian itu kan jam 1 aku di anterin pulang ke sekolah dan disitu ada bapakku. Bapak kaget mbak, karena pakaianku udah berantakan. Akhirnya aku diperiksa sama mama sama bapak dan ketauan kalau aku habis diperkosa. Mama dan bapak shock. Mereka nangis-nangis. Setelah tau, bapak sama mamah ngumpulin bukti dan sehari setelah itu aku di visum terus lapor ke kantor polisi. Jadi perlawanannya ya lapor polisi buat menjaraain dia mbak. Selain itu pas keluarga dia minta maaf atau mediasi, kami tetep nolak. : “Bagaimana cara adek melawan?” : Ya selain menolak ajakan pas di losmen itu aku coba telfon bapak tapi hapeku direbut. Aku gak bisa ngelawan ditambah lagi karena aku gak berdaya dan badan dia itu besar. : “Ok, setelah kejadian itu kan pasti ada kesulitan yang adek alami, nah, bagaimana adek berjuang menghadapi kesulitan pasca pelecehan seksual?” : Ya, nangis mbak biar lega. Selain itu ya berjuang buat nyelesaiin kasusnya di kantor polisi. Waktu itu prosesnya juga susah mbak, pak polisi lebih dukung pelaku. Masak aku ditanyain pas diperkosa enak apa nggak, disitu aku jengkel banget. Untung ada mamah, bapak sama bu pendamping. Pokoknya semua sama-sama berjuang supaya dia masuk penjara mbak. Bahkan waktu pelaku minta mediasi dan dateng dateng kerumah pun gak kami terima. Ya intinya supaya dihukum seberat-beratnya dan setelah dia di penjara aku jadi lega. : “Selain itu, bagaimana adek mengelola pengalaman tersebut agar sehat secara psikologis?”

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 AE Peneliti AE Peneliti AE Peneliti AE : Pertama ya nerima mbak. Lebih nurut sama orang tua, karena selama pacaran sama dia aku jadi suka nurut sama mantan pacarku ketimbang dengerin mamah. Terus lebih belajar Ikhlas dan fokus ke masa depan. Setelah dia di penjara aku jadi lega mbak, sekarang aku bahagia. Walaupun pingin bunuh diri dan alasannya ya kayak yang aku ceritain tadi mbak. Aku ngerasa gak berharga lagi. Pikirku ahh nggo ngopo urip ki. Akhirnya ya, aku nangis mbak. Mikir kalau aku mati nanti siapa yang nemenin bapak sama mamah, kan mbak jauh di luar kota. Aku milih untuk ndak jadi bunuh diri mbak. Lebih mendekatkan diri ke Allah dan nrimo apa yang sudah terjadi dan sekarang aku bahagia walaupun kadang kalau ingat kejadian itu masih suka nangis. Terus mbak, biar ngerasa lega ya aku nangis dan setiap kali ingat pengalaman itu, pengalaman itu selalu kutulis terus dikirim ke pendamping. : “Apa saja kesulitan yang adek alami selama mengelola pengalaman tersebut?” : “Pas aku inget kejadian itu ya jadi sedih terus dan pasti akhirnya nangis-nangis. Selain itu ya kesulitannya pas nulis kejadian itu mbak. Aku kadang lupa-lupa ingat kejadian itu.” : “Nah, dari kesulitan-kesulitan yang adek alami itu, apa sih dukungan yang adek harapkan agar dapat mengelola pengalaman tersebut?” : Ya di support mbak. Awalnya mamah masih suka bahas status keperawananku dan aku jadi gak suka. Tapi lamakelamaan Mamah, bapak dan mbak jadi selalu mendukung cita-citaku mbak. Mereka mendukungku untuk terus mengolah pengalaman ini. Dukungan yang aku harapkan ya lebih ke dukungan dari orangtua. : “Nah, yang terakhir nih dek, apa yang adek rasakan saat berhasil mengelola pengalaman tersebut?” : Lega mbak. Aku bahagia bisa ngelewatin ini dan dia bisa di penjara. Aku merasakan keadilan buat aku sendiri. Sekarang aku juga gak takut lagi buat bersosialisasi ke masyarakat. Karna kan masyarakat juga pada gak tau kasusku. Walaupun kadang aku minder karna udah ndak

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 perawan tapi aku tetap merasa bahwa diriku juga berharga dan berhak bahagia mbak. B. Informan (Pendamping) Waktu : Kamis, 24 Januari 2017 ; 12.56- 13.20 WIB Tempat : Mrican, Yogyakarta Peneliti : “Baik bu, apa saja bentuk pelecehan seksual yang dialami AE?” Informan : Jadi AE itu hanya mengalami kasus perkosaan tidak mengalami bentuk kekerasan seksual non verbal yang lain. Peneliti : “Bagaimana AE mengalami pelecehan tersebut?” Informan : Uhmm.. kronologinya panjang itu. AE itu berawal kenalan sama pelaku. Pelaku itu dikenalkan sama teman sekolahnya. Terus mereka tukeran nomer HP. Terus wa-nan gitu. Waktu itu janjian jemput AE diajak ke pantai itu. Itu AE belum pacaran. Gak pacaran. Jadi AE itu tidak tau siapa pelaku itu sebenernya. Cuma dikenalkan, kenalkan aja, karena kan disabilitas grahita kayak gitu. Siapa orang yang mengajak kemana, dia ya ikut aja. Pelaku dan AE itu cuma wa- wanan berapa kali. Di WA-nya aja nada-nadanya pelaku udah mesum kok. Tapi AE kan gak tau. AE gak bisa memahami kata-kata itu gitu lho. Taunya ya diajak main ke pantai main gitu aja. Yang lainnya gak tau, dibawa ke losmen itu juga gak rencana, gak tau si AE. Pelaku menjemput disekolah jam 11 siang terus dikembalikan ke sekolah lagi jam 1. Nah pas ketahuan itu, tiba di sekolah itu kan AE dijemput bapaknya. Nah itu udah dalam keadaan acak-acakan begitu diturunin di sekolah pelaku langsung kabur. Terus AE di bawa pulang. Di tanyain, di lucuti bajunya sampai AE

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 telanjang, dilihat ohh ternyata AE diperkosa karena ditemukan bercak darahnya. Besoknya langsung di visum dan bukti-bukti dikumpulkan kemudian lapor polisi. Peneliti : “Apa saja dampak-dampak pelecehan seksual yang AE alami?” Informan : Dampaknya itu ya setiap kali ketemu orang ya nangis. Setiap kali mengurus kasusnya ke polisi juga nangis dulu baru biasa aja. Perubahan emosinya kadang cepat. Tiba-tiba nangis kalau ingat kejadian itu. Kalau sudah gak ingat ya biasa aja kayak gak terjadi apa-apa. Tapi setiap kali ketemu dengan laki-laki yang badannya agak besar pasti dia langsung takut dan nangis. Peneliti : “Dampak psikologis seperti apa yang muncul?” Informan : Dampak psikologisnya ya itu, dia takut setiap kali melihat laki-laki yang badannya besar. Kemana-mana harus ditemani, ndak berani sendiri. Peneliti ; “Kalau dampak fisik yang muncul apa saja ya bu?” Informan :Yang pasti ya selangkangannya sakit tak lama setelah kejadian itu. Selebihnya ya selaput daranya sudah robek. Peneliti : “Dampak sosial apa saja yang muncul?” Informan :Setelah mengalami kejadian itu, AE jadi berhenti sekolah seminggu lebih. Dia takut ketemu banyak orang. Padahal saat itu menjelang UN. Peneliti : “Baiklah bu, lalu dampak pribadi dan sosial seperti apa yang muncul pada diri AE? Informan : AE proses belajarnya jadi terganggu kan setelah kejadian dia jadi shock dan gak berangkat sekolah. Tapi ya karena AE tunagrahita dan kebetulan teman-teman sekolahnya gak ada yang tau jadi saat AE kembali ke sekolah ya seperti tidak terjadi apa-apa. Warga juga gak ada yang tau karena

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 memang kejadian ini kami rahasiakan supaya tidak memperburuk proses pemulihan AE. Peneliti : “Saat kejadian perlawanan apa saja yang coba dilakukan oleh AE?” Informan : Perlawanan yang AE lakukan saat itu ya tentu saja menolak untuk berhubungan kemudian AE mencoba menelfon bapaknya tetapi HP AE direbut. Peneliti : “Bentuk perlawanan yang seperti apa yang keluarga AE lakukan?” Informan : “Ya, keluarga langsung mengumpulkan bukti-bukti kemudian lapor polisi. Saat pelaku meminta untuk melakukan mediasi pun keluarga tetap menolak karena jika keluarga bersedia untuk mediasi maka pihak yang diuntungkan adalah polisi dan pelaku. Jadi ya tetap berusaha melawan dengan tetap memproses kasus tersebut melalui hukum yang berlaku.” Peneliti : “Bagaimana cara AE melawan?” Informan :Perlawanan yang AE lakukan saat itu ya tentu saja menolak untuk berhubungan kemudian AE mencoba menelfon bapaknya tetapi HP AE direbut. ya intinya setelah kejadian itu ya bentuk perlawanannya melalui jalur hukum. Setelah kejadian itu, keluarga mengumpulkan bukti dan lapor polisi lalu paginya saya dipangil untuk mendampingi AE. Setelah lapor, ditanyain kronologisnya bagaimana. Lalu besoknya gelar perkara atau rekonstruksi ke losmen. Kemudian dibuat catatan surat laporan, kemudian dibuat BAP, penyelidikan selanjutnya dan lalu pencarian pelaku. Yaa terus setelah itu di proses-proses. Sampai berapa bulan lah hamper 3 bulan nggak di proses sama polisi. Terus aku ke kantor polisi Tanya kok gak segera di proses katanya bukti-bukti belum lengkap. Kan itu tugas polisi untuk

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 menyelidiki pikirku saat itu. Akhirnya di proses kemudian pelaku dijatuhi hukuman penjara tetapi tidak terlalu ringan karena alasan pelaku adalah pelaku tidak tahu kalau korban adalah seorang disabilitas. Peneliti : “Bagaimana AE berjuang menghadapi kesulitan pasca pelecehan seksual?” Informan : ya itu, dia belajar untuk menerima keadaannya. Apalagi dia disabilitas tunagrahita yang artinya tidak mudah baginya untuk mengolah pengalaman yang sudah dia alami. Terutama saat melewati proses hukum. Dia tetap berjuang ditengah keterbatasannya. Peneliti : “Bagaimana Ibu membantu AE mengelola pengalaman tersebut agar sehat secara psikologis?” Informan : “ Ya saya mengingatkannya untuk rajin beribadah, lalu membantunya dengan menyuruh AE menuliskan setiap ingatan maupun perasaan tentang kejadian perkosaan yang muncul itu kemudian setelah selesai ditulis baru saya memintanya untuk mengirimkan via WA maupun e-mail. Karena AE kan seorang grahita ringan yang artinya tidak mudah baginya untuk mengingat kejadian-kejadian yang dialami sehingga terkadang kejadian yang menyakitkan sering tiba-tiba muncul jadi ya sebaiknya itu di olah supaya tidak mengganggu masa depan.” Peneliti : “Apa saja kesulitan yang ibu alami selama membantu AE dalam mengelola pengalaman tersebut?” Informan : ya kesulitannya itu kadang si AE mengirimkan tulisannya hanya beberapa kalimat saja. Itupun tidak terstruktur. Kadang cerita yang ditulis tidak nyambung satu kalimat dengan kalimat yang lain. Jadi ya harus tetap di olah. Saya paham karena ini juga termasuk dalam keterbatasan disabilitas grahita sehingga ya di beri pengertian supaya

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 menuliskan pengalaman yang dialami dengan yang ditulis bisa berurutan dan sesuai. Peneliti : “Apa dukungan yang ibu berikan kepada AE agar dapat mengelola pengalaman tersebut?” Informan : hmm.. dukungan yang saya berikan kepada AE tentu saja mendampingi dari awal proses jalur hukum sampai sekarang. Kita tidak bisa selesai proses hukum langsung lepas. Jadi ya mendampingi, menemani dan mendukung sampai tuntas dan AE menjadi pribadi yang lebih tangguh. Peneliti : “Apa yang AE rasakan saat berhasil mengelola pengalaman tersebut?” Informan : Tentu saja senang. Saat AE kembali bangkit dan memperjuangkan masa depannya. Saat ini AE sedang persiapan untuk masuk ke perguruan tinggi jurusan PGPaud. Jurusan yang juga diminati AE karena AE menyukai anak-anak.

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 Lampiran 3 Lembar Koding Wawancara A. Responden AE No. Data Teks Koding Urut 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 026 027 028 029 030 031 032 033 “Bentuk pelecehan seksual seperti apa yang telah I.a.AE - Perkosaan, adek alami? Pemerkosaan dan penipuan mbak penipuan. “ceritanya adek ngalamin pemerkosaan itu I.b.AE gimana?” aku dijak lungo mbek pacarku ke pantai ning ternyata lungone ning losmen. Kan pertamanya diajak ke pantai - Dibohongi, dan posisinya aku lagi di sekolah, ehh ternyata aku Menolak, diajak ke losmen mbak. Aku udah nolak tapi dipaksa Mengelabui dan pas udah di losmen, pihak losmennya ngelarang kami masuk mbak, aku masih pake baju sekolah. Habis itu aku diajak keliling-keliling sebentar terus balik ke losmen itu lagi tapi pake jaketnya. Ya udah aku diajak berhubungan mbak, tapi sebetulnya aku ndak mau. Aku takut dosa mbak. Aku wedi. “nah, kalau dampak yang adek alami?” II.a.AE Ya banyak mbak, dampaknya ke perasaanku, pikiranku, badanku, keluargaku dan juga ngaruh kelingkunganku - Dampak mbak. psikologis, “uhm, ok, lalu dampak perasaan atau pikiran yang sosial dan fisik. II.b.AE adek dan orang tua adek rasakan apa ya?” Mamah dan bapak shock mbak. Hampir tiap hari mamah nangis. Keluarga jadi terpukul mbak. Aku jadi - Keluarga takut mbak. Apalagi gelap, karna waktu kejadian di shock, trauma losmen itu gelap. Aku jadi trauma tiap mau ketemu pada gelap, laki-laki baru dan takut ke sekolah. Padahal 3 bulan trauma setelah kejadian itu aku harus ikut UN mbak. menjalin relasi. “Adakah dampak fisik seperti apa yang muncul?” Ada mbak, anu.. waktu itu selangkanganku kerasa sakit II.c.AE mbak. Kalau jalan rasanya kayak pegel banget. Yang - Selangkangan terutama si aku udah gak perawan lagi. sakit, tidak “Lalu, kejadian itu ngaruh atau berdampak nggk ke perawan lingkungan sosial kayak ke sekolah atau masyarakat II.d.AE

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 045 046 047 048 049 050 051 052 053 054 055 056 057 058 059 060 061 062 063 064 065 066 067 068 069 070 071 072 073 074 075 076 077 078 079 adek? Kira-kira seperti apa dampak sosialmya? ” Dampak sosialnya ya ada mbak. Aku sempet gak masuk - Takut bertemu sekolah beberapa minggu, aku takut ketemu temen- teman-teman temen. Aku juga jadinya musuhan sama temenku yang - Warga tidak ngenalin aku ke mantan pacarku itu mbak. Tapi, Aku tahu senengnya temen-temen gak ada yang tau mbak. Cuma - Teman kepala sekolahku tau. Jadi kalau aku dipanggil ke ruang sekolah tidak kepsek buat bahas kasus itu, teman-teman suka kepo, tahu. nanya-nanya kenapa aku di panggil kepala sekolah. Warga ndak ada yang tau mbak. Pas keluarga mantanku dateng ke rumah aja, dikiranya sodara mbak. “Coba ceritakan dampaknya ke pribadi adek dan II.e.AE lingkungan sekolah atau masyarakat adek?” Dampaknya ke pribadiku si …Hmmm, ada mbak. - Takut sendiri, Karena masalah itu aku jadi trauma kemana-mana, mengganggu kalau pergi mesti ada temennya dan waktu itu jadinya pelajaran, gak masuk sekolah beberapa minggu, padahal bulan- sedih, bulan itu aku lagi persiapan UN. Ganggu pelajaran juga - bunuh diri, mbak. Aku gak fokus. Sedih terus. Tapi kalau ke cita- rendah diri. cita aku sekarang lagi fokus buat masuk kuliah di PGPAUD. Walaupun pingin bunuh diri mbak. Aku ngerasa gak berharga lagi. Pikirku ahh nggo ngopo urip ki. Hahaa.. kadang aku juga minder karna udah ndak perawan lagi dan kalau udah gitu ya aku nangis lagi. Itu juga ngaruh ke kehidupan sosialku mbak, nanti siapa yang mau sama aku padahal aku udah gak perawan lagi. Aku jadi jaga jarak sama laki-laki mbak. “Baiklah, lalu ada nggk perlawanan yang adek III.a.AE lakukan saat mengalami kekerasan seksual?” Ya otomatis aku nolak mbak, aku ra gelem, aku sayang - Takut dosa, sama dia tapi ndak mau kalau sampai melakukan pasrah hubungan seksual. Aku takut dosa mbak. Nah pas udah di losmennya itu aku tetep nolak tapi aku dah ndak bisa ngapa-ngapain mbak. Kenapa nggak bisa ngapa-ngapain dek? Itu mbak, katanya kalau aku nolak berarti aku gak sayang dia. Padahal aku sayang sama dia mbak. Jadi III.b.AE aku ndak bisa ngapa-ngapain pas dia bilang gitu. “Selain itu, bentuk perlawanan yang seperti apa - Pelaku yang keluarga dan adek lakukan setelah adek melarikan diri mengalami kejadian itu, kayak ke kantor polisi atau Orangtua shock - Lapor polisi, ke psikolog gitu?” Setelah kejadian itu kan jam 1 aku di anterin pulang ke menolak sekolah dan disitu ada bapakku. Bapak kaget mbak, mediasi karena pakaianku udah berantakan. Akhirnya aku diperiksa sama mama sama bapak dan ketauan kalau

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 080 081 082 083 084 085 086 087 088 089 090 091 092 093 094 095 096 097 098 099 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 aku habis diperkosa. Mama dan bapak shock. Mereka nangis-nangis. Setelah tau, bapak sama mamah ngumpulin bukti dan sehari setelah itu aku di visum III.c.AE terus lapor ke kantor polisi. Jadi perlawanannya ya - Menelfon lapor polisi buat menjaraain dia mbak. Selain itu pas bapak, keluarga dia minta maaf atau mediasi, kami tetep nolak. disabilitas “Bagaimana cara adek melawan?” Ya selain menolak ajakan pas di losmen itu aku coba IV.a.AE telfon bapak tapi hapeku direbut. Aku gak bisa ngelawan ditambah lagi karena aku gak berdaya dan badan dia itu besar. - Menangis “Ok, setelah kejadian itu kan pasti ada kesulitan - Berjuang yang adek alami, nah, bagaimana adek berjuang - Lega menghadapi kesulitan pasca pelecehan seksual?” Ya, nangis mbak biar lega. Selain itu ya berjuang buat nyelesaiin kasusnya di kantor polisi. Waktu itu prosesnya juga susah mbak, pak polisi lebih dukung pelaku. Masak aku ditanyain pas diperkosa enak apa nggak, disitu aku jengkel banget. Untung ada mamah, bapak sama bu pendamping. Pokoknya semua samasama berjuang supaya dia masuk penjara mbak. Bahkan waktu pelaku minta mediasi dan dateng dateng kerumah IV.b.AE pun gak kami terima. Ya intinya supaya dihukum seberat-beratnya dan setelah dia di penjara aku jadi - Patuh, ikhlas, lega. fokus masa tetap “Selain itu, bagaimana adek mengelola pengalaman depan, tersebut agar nggak sedih atau nggak terbebani bertahan, bahagia, lagi?” Pertama ya nerima mbak. Lebih nurut sama orang tua, menangis. karena selama pacaran sama dia aku jadi suka nurut sama mantan pacarku ketimbang dengerin mamah. Terus lebih belajar Ikhlas dan fokus ke masa depan. Setelah dia di penjara aku jadi lega mbak, sekarang aku bahagia. Walaupun pingin bunuh diri dan alasannya ya kayak yang aku ceritain tadi mbak. Aku ngerasa gak berharga lagi. Pikirku ahh nggo ngopo urip ki. Akhirnya ya, aku nangis mbak. Mikir kalau aku mati nanti siapa yang nemenin bapak sama mamah, kan mbak jauh di luar kota. Aku milih untuk ndak jadi bunuh diri mbak. Lebih mendekatkan diri ke Allah dan nrimo apa yang sudah terjadi dan sekarang aku bahagia walaupun IV.c.AE kadang kalau ingat kejadian itu masih suka nangis. Terus mbak, biar ngerasa lega ya aku nangis dan setiap - Kesulitan kali ingat pengalaman itu, pengalaman itu selalu kutulis menulis terus dikirim ke pendamping. “Apa saja kesulitan yang adek alami selama

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 IV.d.AE mengelola pengalaman tersebut?” Pas aku inget kejadian itu ya jadi sedih terus dan pasti akhirnya nangis-nangis. Selain itu ya kesulitannya pas nulis kejadian itu mbak. Aku kadang lupa-lupa ingat - Support, kejadian itu. dukungan orang “Nah, dari kesulitan-kesulitan yang adek alami itu, tua. apa sih dukungan yang adek harapkan agar dapat mengelola pengalaman tersebut?” Ya di support mbak. Awalnya mamah masih suka bahas status keperawananku dan aku jadi gak suka. Tapi lama- IV.e.AE kelamaan Mamah, bapak dan mbak jadi selalu mendukung cita-citaku mbak. Mereka mendukungku untuk terus mengolah pengalaman ini. Dukungan yang - Lega, aku harapkan ya lebih ke dukungan dari orangtua. - Keadilan “Nah, yang terakhir nih dek, apa yang adek - Berharga dan rasakan saat berhasil mengelola pengalaman berhak bahagia tersebut?” Lega mbak. Aku bahagia bisa ngelewatin ini dan dia bisa di penjara. Aku merasakan keadilan buat aku sendiri. Sekarang aku juga gak takut lagi buat bersosialisasi ke masyarakat. Karna kan masyarakat juga pada gak tau kasusku. Walaupun kadang aku minder karna udah ndak perawan tapi aku tetap merasa bahwa diriku juga berharga dan berhak bahagia mbak. B. Informan (Pendamping) No. Data Teks Koding Urut 001 002 003 004 005 006 007 008 009 010 011 012 “Baik bu, apa saja bentuk pelecehan seksual yang dialami AE?” Jadi AE itu hanya mengalami kasus perkosaan tidak mengalami bentuk kekerasan seksual non verbal yang lain. “Bagaimana AE mengalami pelecehan tersebut?” Uhmm.. kronologinya panjang itu. AE itu berawal kenalan sama pelaku. Pelaku itu dikenalkan sama teman sekolahnya. Terus mereka tukeran nomer HP. Terus wanan gitu. Waktu itu janjian jemput AE diajak ke pantai itu. Itu AE belum pacaran. Gak pacaran. Jadi AE itu tidak tau siapa pelaku itu sebenernya. Cuma dikenalkan, I.a.I -Perkosaan. I.b.I -Kenal via chat, tidak pacaran, mesum, ditipu, diperkosa.

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 013 014 015 016 017 018 019 020 021 022 023 024 025 026 027 028 029 030 031 032 033 034 035 036 037 038 039 040 041 042 043 044 045 046 047 048 049 050 051 052 053 054 055 056 057 058 kenalkan aja, karena kan disabilitas grahita kayak gitu. Siapa orang yang mengajak kemana, dia ya ikut aja. Pelaku dan AE itu cuma wa- wa-nan berapa kali. Di WA-nya aja nada-nadanya pelaku udah mesum kok. Tapi AE kan gak tau. AE gak bisa memahami kata-kata itu gitu lho. Taunya ya diajak main ke pantai main gitu aja. Yang lainnya gak tau, dibawa ke losmen itu juga gak rencana, gak tau si AE. Pelaku menjemput disekolah jam 11 siang terus dikembalikan ke sekolah lagi jam 1. Nah pas ketahuan itu, tiba di sekolah itu kan AE dijemput bapaknya. Nah itu udah dalam keadaan acak-acakan begitu diturunin di sekolah pelaku langsung kabur. Terus AE di bawa pulang. Di tanyain, di lucuti bajunya sampai AE telanjang, dilihat ohh ternyata AE diperkosa karena ditemukan bercak darahnya. Besoknya langsung di visum dan bukti-bukti dikumpulkan kemudian lapor polisi. “Apa saja dampak-dampak pelecehan seksual yang AE alami?” Dampaknya itu ya setiap kali ketemu orang ya nangis. Setiap kali mengurus kasusnya ke polisi juga nangis dulu baru biasa aja. Perubahan emosinya kadang cepat. Tiba-tiba nangis kalau ingat kejadian itu. Kalau sudah gak ingat ya biasa aja kayak gak terjadi apa-apa. Tapi setiap kali ketemu dengan laki-laki yang badannya agak besar pasti dia langsung takut dan nangis. “Dampak psikologis seperti apa yang muncul?” Dampak psikologisnya ya itu, dia takut setiap kali melihat laki-laki yang badannya besar. Kemana-mana harus ditemani, ndak berani sendiri. “Kalau dampak fisik yang muncul apa saja ya bu?” Yang pasti ya selangkangannya sakit tak lama setelah kejadian itu. Selebihnya ya selaput daranya sudah robek. “Dampak sosial apa saja yang muncul?” Setelah mengalami kejadian itu, AE jadi berhenti sekolah seminggu lebih. Dia takut ketemu banyak orang. Padahal saat itu menjelang UN. “Baiklah bu, lalu dampak pribadi dan sosial seperti apa yang muncul pada diri AE? AE proses belajarnya jadi terganggu kan setelah kejadian dia jadi shock dan gak berangkat sekolah. Tapi ya karena AE tunagrahita dan kebetulan teman-teman sekolahnya gak ada yang tau jadi saat AE kembali ke sekolah ya seperti tidak terjadi apa-apa. Warga juga gak ada yang tau karena memang kejadian ini kami II.a.I -Menangis, emosi labil, takut bertemu pria berbadan besar II.b.I II.c.I II.d.I -Berhenti sekolah. II.e.I -Proses belajar terganggu, kasus dirahasiakan.

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 059 060 061 062 063 064 065 066 067 068 069 070 071 072 073 074 075 076 077 078 079 080 081 082 083 084 085 086 087 088 089 090 091 092 093 094 095 096 097 098 099 100 101 102 103 104 rahasiakan supaya tidak memperburuk proses pemulihan AE. “Saat kejadian perlawanan apa saja yang coba dilakukan oleh AE?” Perlawanan yang AE lakukan saat itu ya tentu saja menolak untuk berhubungan kemudian AE mencoba menelfon bapaknya tetapi HP AE direbut. “Bentuk perlawanan yang seperti apa yang keluarga AE lakukan?” Ya, keluarga langsung mengumpulkan bukti-bukti kemudian lapor polisi. Saat pelaku meminta untuk melakukan mediasi pun keluarga tetap menolak karena jika keluarga bersedia untuk mediasi maka pihak yang diuntungkan adalah polisi dan pelaku. Jadi ya tetap berusaha melawan dengan tetap memproses kasus tersebut melalui hukum yang berlaku. “Bagaimana cara AE melawan?” Perlawanan yang AE lakukan saat itu ya tentu saja menolak untuk berhubungan kemudian AE mencoba menelfon bapaknya tetapi HP AE direbut. ya intinya setelah kejadian itu ya bentuk perlawanannya melalui jalur hukum. Setelah kejadian itu, keluarga mengumpulkan bukti dan lapor polisi lalu paginya saya dipangil untuk mendampingi AE. Setelah lapor, ditanyain kronologisnya bagaimana. Lalu besoknya gelar perkara atau rekonstruksi ke losmen. Kemudian dibuat catatan surat laporan, kemudian dibuat BAP, penyelidikan selanjutnya dan lalu pencarian pelaku. Yaa terus setelah itu di proses-proses. Sampai berapa bulan lah hamper 3 bulan nggak di proses sama polisi. Terus aku ke kantor polisi Tanya kok gak segera di proses katanya bukti-bukti belum lengkap. Kan itu tugas polisi untuk menyelidiki pikirku saat itu. Akhirnya di proses kemudian pelaku dijatuhi hukuman penjara tetapi tidak terlalu ringan karena alasan pelaku adalah pelaku tidak tahu kalau korban adalah seorang disabilitas. “Bagaimana AE berjuang menghadapi kesulitan pasca pelecehan seksual?” ya itu, dia belajar untuk menerima keadaannya. Apalagi dia disabilitas tunagrahita yang artinya tidak mudah baginya untuk mengolah pengalaman yang sudah dia alami. Terutama saat melewati proses hukum. Dia tetap berjuang ditengah keterbatasannya. “Bagaimana Ibu membantu AE mengelola pengalaman tersebut agar sehat secara psikologis?” “ Ya saya mengingatkannya untuk rajin beribadah, lalu III.a.I -menolak III.b.I -mediasi ditolak, kasus diproses III.c.I -Proses hukum berlangsung. IV.a.I -Menerima keadaan IV.b.I -Beribadah, menulis

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 membantunya dengan menyuruh AE menuliskan setiap ingatan maupun perasaan tentang kejadian perkosaan yang muncul itu kemudian setelah selesai ditulis baru saya memintanya untuk mengirimkan via WA maupun e-mail. Karena AE kan seorang grahita ringan yang artinya tidak mudah baginya untuk mengingat kejadiankejadian yang dialami sehingga terkadang kejadian yang menyakitkan sering tiba-tiba muncul jadi ya sebaiknya itu di olah supaya tidak mengganggu masa depan.” “Apa saja kesulitan yang ibu alami selama membantu AE dalam mengelola pengalaman tersebut?” ya kesulitannya itu kadang si AE mengirimkan tulisannya hanya beberapa kalimat saja. Itupun tidak terstruktur. Kadang cerita yang ditulis tidak nyambung satu kalimat dengan kalimat yang lain. Jadi ya harus tetap di olah. Saya paham karena ini juga termasuk dalam keterbatasan disabilitas grahita sehingga ya di beri pengertian supaya menuliskan pengalaman yang dialami dengan yang ditulis bisa berurutan dan sesuai. “Apa dukungan yang ibu berikan kepada AE agar dapat mengelola pengalaman tersebut?” hmm.. dukungan yang saya berikan kepada AE tentu saja mendampingi dari awal proses jalur hukum sampai sekarang. Kita tidak bisa selesai proses hukum langsung lepas. Jadi ya mendampingi, menemani dan mendukung sampai tuntas dan AE menjadi pribadi yang lebih tangguh. “Apa yang AE rasakan saat berhasil mengelola pengalaman tersebut?” Tentu saja senang. Saat AE kembali bangkit dan memperjuangkan masa depannya. Saat ini AE sedang persiapan untuk masuk ke perguruan tinggi jurusan PGPaud. Jurusan yang juga diminati AE karena AE menyukai anak-anak. IV.c.I -Tulisan tidak terstruktur, sulit merangkai kalimat. IV.d.I -Menemani dari awal proses hukum sampai sekarang IV.e.I -Senang, persiapan kuliah.

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 Lampiran 4 Lembar Kategorisasi Wawancara A. Responden AE Kategori Tema Bentuk pelecehan seksual Dampak- Verbatim Sub Tema bentuk pelecehan seksual yang dialami Pemerkosaan dan penipuan mbak ((DA121/DPS-w/003) lungone ning losmen. Kan kronologis kejadian aku dijak lungo mbek pacarku ke pantai ning ternyata pertamanya diajak ke pantai dan posisinya aku lagi di sekolah, ehh ternyata aku diajak ke losmen mbak. Aku udah nolak tapi dipaksa dan pas udah di losmen, pihak losmennya ngelarang kami masuk mbak, aku masih pake baju sekolah. Habis itu aku diajak keliling-keliling sebentar terus balik ke losmen itu lagi tapi pake jaketnya. Ya udah aku diajak berhubungan mbak, tapi sebetulnya aku ndak mau. Aku takut dosa mbak. Aku wedi. (DA121/DPS-w/006-015) Mamah dan bapak shock mbak. Hampir tiap hari mamah nangis. Keluarga jadi terpukul mbak. Aku jadi takut mbak. Apalagi gelap, karna waktu kejadian di losmen itu gelap.

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 dampak Dampak Psikologis Aku jadi trauma tiap mau ketemu laki-laki baru dan takut ke sekolah. Padahal 3 bulan setelah kejadian itu aku harus ikut UN mbak. (DA121/DPS-w/023-028) pelecehan seksual Dampak fisik Dampak sosial Dampak sosialnya ya ada mbak. Aku sempet gak masuk sekolah beberapa minggu, aku takut ketemu temen-temen. Aku juga jadinya musuhan sama temenku yang ngenalin aku ke mantan pacarku itu mbak. Tapi, Aku senengnya temen-temen gak ada yang tau mbak. Cuma kepala sekolahku tau. Jadi kalau aku dipanggil ke ruang kepsek buat bahas kasus itu, teman-teman suka kepo, nanya-nanya kenapa aku di panggil kepala sekolah. Warga ndak ada yang tau mbak. Pas keluarga mantanku dateng ke rumah aja, dikiranya sodara mbak. (DA121/DPS-w/035-044) Ya selain menolak ajakan pas di losmen itu aku coba telfon bapak tapi hapeku direbut. Aku gak bisa ngelawan ditambah lagi karena aku gak berdaya dan badan dia itu besar. (DA121/DPS-w/087-090) Bentuk perlawanan Ada mbak, anu.. waktu itu selangkanganku kerasa sakit mbak. Kalau jalan rasanya kayak pegel banget. Yang terutama si aku udah gak perawan lagi (DA121/DPS-w/030031) Cara melawan Setelah kejadian itu kan jam 1 aku di anterin pulang ke sekolah dan disitu ada bapakku. Bapak kaget mbak, karena pakaianku udah berantakan. Akhirnya aku diperiksa sama mama sama bapak dan ketauan kalau aku habis diperkosa. Mama dan bapak shock. Mereka nangis-nangis. Setelah tau, bapak sama mamah ngumpulin bukti dan sehari setelah itu aku di visum terus lapor ke kantor polisi. Jadi perlawanannya ya lapor polisi buat menjaraain dia mbak. Selain itu pas keluarga dia minta maaf atau mediasi, kami tetep nolak. (DA121/DPS-w/076-085)

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 Cara menghadapi rintangan Pertama ya nerima mbak. Lebih nurut sama orang tua, karena selama pacaran sama dia aku jadi suka nurut sama mantan pacarku ketimbang dengerin mamah. Terus lebih belajar Ikhlas dan fokus ke masa depan. Setelah dia di penjara aku jadi lega mbak, sekarang aku bahagia. Walaupun pingin bunuh diri dan alasannya ya kayak yang aku ceritain tadi mbak. Aku ngerasa gak berharga lagi. Pikirku ahh nggo ngopo urip ki. Akhirnya ya, aku nangis mbak. Mikir kalau aku mati nanti siapa yang nemenin bapak sama mamah, kan mbak jauh di luar kota. Aku milih untuk ndak jadi bunuh diri mbak. Lebih mendekatkan diri ke Allah dan nrimo apa yang sudah terjadi dan sekarang aku bahagia walaupun kadang kalau ingat kejadian itu masih suka nangis. Terus mbak, biar ngerasa lega ya aku nangis dan setiap kali ingat pengalaman itu, pengalaman itu selalu kutulis terus dikirim ke pendamping. (DA121/DPS-w/108-124) Ya di support mbak. Awalnya mamah masih suka bahas status keperawananku dan aku jadi gak suka. Tapi lama-kelamaan Mamah, bapak dan mbak jadi selalu mendukung cita-citaku mbak. Mereka mendukungku untuk terus mengolah pengalaman ini. Dukungan yang aku harapkan ya lebih ke dukungan dari orangtua. (DA121/DPSw/127-132) Lega mbak. Aku bahagia bisa ngelewatin ini dan dia bisa di penjara. Aku merasakan keadilan buat aku sendiri. Sekarang aku juga gak takut lagi buat bersosialisasi ke masyarakat. Karna kan masyarakat juga pada gak tau kasusku. Walaupun kadang aku minder karna udah ndak perawan tapi aku tetap merasa bahwa diriku juga berharga dan berhak bahagia mbak. (DA121/DPS-w/136-142)

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 B. Informan (Pendamping) Kategori Tema Bentuk pelecehan seksual Verbatim Sub Tema bentuk pelecehan seksual yang dialami Jadi AE itu hanya mengalami kasus perkosaan tidak mengalami bentuk kekerasan seksual non verbal yang lain. (DI241/DPS-w/003-004) kronologis kejadian Uhmm.. kronologinya panjang itu. AE itu berawal kenalan sama pelaku. Pelaku itu dikenalkan sama teman sekolahnya. Terus mereka tukeran nomer HP. Terus wa-nan gitu. Waktu itu janjian jemput AE diajak ke pantai itu. Itu AE belum pacaran. Gak pacaran. Jadi AE itu tidak tau siapa pelaku itu sebenernya. Cuma dikenalkan, kenalkan aja, karena kan disabilitas grahita kayak gitu. Siapa orang yang mengajak kemana, dia ya ikut aja. Pelaku dan AE itu cuma wa- wa-nan berapa kali. Di WA-nya aja nadanadanya pelaku udah mesum kok. Tapi AE kan gak tau. AE gak bisa memahami katakata itu gitu lho. Taunya ya diajak main ke pantai main gitu aja. Yang lainnya gak tau, dibawa ke losmen itu juga gak rencana, gak tau si AE. Pelaku menjemput disekolah jam 11 siang terus dikembalikan ke sekolah lagi jam 1. Nah pas ketahuan itu, tiba di sekolah itu kan AE dijemput bapaknya. Nah itu udah dalam keadaan acak-acakan begitu diturunin di sekolah pelaku langsung kabur. Terus AE di bawa pulang. Di tanyain, di lucuti bajunya sampai AE telanjang, dilihat ohh ternyata AE diperkosa karena ditemukan bercak darahnya. Besoknya langsung di visum dan bukti-bukti dikumpulkan kemudian lapor polisi. (DI241/DPS-w/006-021) Dampak psikologisnya ya itu, dia takut setiap kali melihat laki-laki yang badannya

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 Dampak- Dampak Psikologis besar. Kemana-mana harus ditemani, ndak berani sendiri. (DI241/DPS-w/039-041) Dampak fisik Yang pasti ya selangkangannya sakit tak lama setelah kejadian itu. Selebihnya ya selaput daranya sudah robek. (DI241/DPS-w/043-045) Dampak sosial Setelah mengalami kejadian itu, AE jadi berhenti sekolah seminggu lebih. Dia takut ketemu banyak orang. Padahal saat itu menjelang UN. (DI241/DPS-w/047-049) dampak pelecehan seksual Bentuk perlawanan Cara melawan Perlawanan yang AE lakukan saat itu ya tentu saja menolak untuk berhubungan kemudian AE mencoba menelfon bapaknya tetapi HP AE direbut. ya intinya setelah kejadian itu ya bentuk perlawanannya melalui jalur hukum. Setelah kejadian itu, keluarga mengumpulkan bukti dan lapor polisi lalu paginya saya dipangil untuk mendampingi AE. Setelah lapor, ditanyain kronologisnya bagaimana. Lalu besoknya gelar perkara atau rekonstruksi ke losmen. Kemudian dibuat catatan surat laporan, kemudian dibuat BAP, penyelidikan selanjutnya dan lalu pencarian pelaku. Yaa terus setelah itu di proses-proses. Sampai berapa bulan lah hamper 3 bulan nggak di proses sama polisi. Terus aku ke kantor polisi Tanya kok gak segera di proses katanya buktibukti belum lengkap. Kan itu tugas polisi untuk menyelidiki pikirku saat itu. Akhirnya di proses kemudian pelaku dijatuhi hukuman penjara tetapi tidak terlalu ringan karena alasan pelaku adalah pelaku tidak tahu kalau korban adalah seorang disabilitas. . (DI241/DPS-w/075-093) Ya, keluarga langsung mengumpulkan bukti-bukti kemudian lapor polisi. Saat pelaku

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 meminta untuk melakukan mediasi pun keluarga tetap menolak karena jika keluarga bersedia untuk mediasi maka pihak yang diuntungkan adalah polisi dan pelaku. Jadi ya tetap berusaha melawan dengan tetap memproses kasus tersebut melalui hukum yang berlaku. (DI241/DPS-w/067-073) Cara menghadapi rintangan Ya saya mengingatkannya untuk rajin beribadah, lalu membantunya dengan menyuruh AE menuliskan setiap ingatan maupun perasaan tentang kejadian perkosaan yang muncul itu kemudian setelah selesai ditulis baru saya memintanya untuk mengirimkan via WA maupun e-mail. Karena AE kan seorang grahita ringan yang artinya tidak mudah baginya untuk mengingat kejadian-kejadian yang dialami sehingga terkadang kejadian yang menyakitkan sering tiba-tiba muncul jadi ya sebaiknya itu di olah supaya tidak mengganggu masa depan.” (DI241/DPS-w/103-113) ya kesulitannya itu kadang si AE mengirimkan tulisannya hanya beberapa kalimat saja. Itupun tidak terstruktur. Kadang cerita yang ditulis tidak nyambung satu kalimat dengan kalimat yang lain. Jadi ya harus tetap di olah. Saya paham karena ini juga termasuk dalam keterbatasan disabilitas grahita sehingga ya di beri pengertian supaya menuliskan pengalaman yang dialami dengan yang ditulis bisa berurutan dan sesuai. (DI241/DPS-w/117-124) hmm.. dukungan yang saya berikan kepada AE tentu saja mendampingi dari awal proses jalur hukum sampai sekarang. Kita tidak bisa selesai proses hukum langsung lepas. Jadi ya mendampingi, menemani dan mendukung sampai tuntas dan AE menjadi pribadi yang lebih tangguh. (DI241/DPS-w/127-132)

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 LAMPIRAN 5 SURAT IJIN PENELITIAN

(124)

Dokumen baru

Download (123 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh dukungan sosial dan forgiveness terhadap kekerasan seksual pada remaja
3
18
91
hak penyandang disabilitas
0
3
1
Strategi pengasuhan orangtua penyandang tunanetra kepada anaknya yang awas (studi kasus pada sebuah keluarga penyandang tunanetra di Yogyakarta).
1
11
116
Pengalaman bekerja pada penyandang disabilitas tubuh (studi kualitatif fenomenologi).
0
0
171
Strategi pengasuhan orangtua penyandang tunanetra kepada anaknya yang awas (studi kasus pada sebuah keluarga penyandang tunanetra di Yogyakarta)
0
0
114
Dukungan ibu terhadap kekerasan seksual intrafamilial pada anak ditinjau dari usia anak, jenis kelamin anak, hubungan anak dengan pelaku, serta sejarah kekerasan seksual pada ibu.
1
4
138
Pengalaman bekerja pada penyandang disabilitas tubuh (studi kualitatif fenomenologi)
0
2
169
pernyataan aisyiyah terhadap kasus kekerasan seksual
0
1
2
Perilaku seksual pranikah remaja (studi kasus pada Sma “X” Pasuruan) bab0
0
0
11
Aksesibilitas penyandang disabilitas terhadap layanan
0
0
7
Strategi kopling pada wanita penyandang systemic lupus erythematosus (SLE) - USD Repository
0
0
429
Makna kekerasan pada anak usia sekolah dasar - USD Repository
0
0
158
Studi fenomenologi tentang pengalaman kekerasan dalam pacaran pada perempuan - USD Repository
0
1
145
Dukungan ibu terhadap kekerasan seksual intrafamilial pada anak ditinjau dari usia anak, jenis kelamin anak, hubungan anak dengan pelaku, serta sejarah kekerasan seksual pada ibu - USD Repository
0
0
136
Hubungan antara kepuasan seksual dengan fungsi seksual pada wanita - USD Repository
0
0
154
Show more