PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA UNTUK PERTUKARAN DAN PENGELOMPOKAN BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI

Gratis

0
0
183
3 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA UNTUK PERTUKARAN DAN PENGELOMPOKAN BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Kelulusan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Disusun Oleh: Umi Winarni Setyaningsih 101134204 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA UNTUK PERTUKARAN DAN PENGELOMPOKAN BERBASIS METODE MONTESSORI Disusun oleh: Umi Winarni Setyaningsih NIM: 101134204 Telah disetujui pada tanggal 18 Juni 2014 Oleh: G. Ari Nugrahanta, SJ., S.S., BST., M.A. Pembimbing I Irine Kurniastuti, S.Psi., M.Psi. Pembimbing II ii

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI SKRIPSI PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA UNTUK PERTUKARAN DAN PENGELOMPOKAN BERBASIS METODE MONTESSORI Dipersiapkan dan ditulis oleh : Umi Winarni Setyaningsih NIM : 101134204 Telah dipertahankan didepan Panitia Penguji Pada tanggal : 8 Juli 2014 Dan dinyatakan telah memenuhi syarat Susunan Panitia Penguji : Nama Lengkap Tanda Tangan Ketua : G. Ari Nugrahanta, SJ., S.S., BST., M.A. ……................ Sekretaris : E. Catur Rismiati, S.Pd, M.A, Ed.D ……................ Anggota 1 : G. Ari Nugrahanta, SJ., S.S., BST., M.A ……............... Anggota 2 : Irine Kurniastuti, S.Psi., M.Psi ..……………. Anggota 3 : Andri Anugrahana, S.Pd., M.Pd ..……………. . Yogyakarta, 8 Juli 2014 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Dekan, Rohandi, Ph. D. iii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Skripsi ini kupersembahkan untuk :  Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria, yang selalu memberikan kesempatan kepada peneliti untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.  Nenek, Tante, Ibu ( Mbah Minuk, Lek Titik, Lek tari,Ibu Pur) yang selalu menyemangati peneliti dan selalu mengorbankan banyak hal untuk peneliti. Terima kasih untuk keringat dan tetesan air mata yang keluar agar peneliti dapat menjadi pribadi yang berguna.  Almamater Sanata Dharma.  Dosen Pembimbing, Romo Ari dan Bu Irine yang telah membimbing peneliti dengan sabar. Terimakasih atas pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran yang telah diberikan untuk membimbing peneliti. iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTTO Hari ini aku harus lebih baik dari kemarin (Siti Sulistyaningsih) Ia membuat segalanya indah pada waktu-Nya (Pengkhotbah 3:11 ) Bersabarlah, segala sesuatu itu awalnya sulit sebelum menjadi mudah (Saadi) Sesungguhnya aku ini hanya hamba Tuhan, jadilah padaku seturut sabda-Mu Tuhan (Kidung Bunda Maria) v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya tulis yang saya buat ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan daftar pustaka selayaknya karya ilmiah. Yogyakarta, Penulis Umi Winarni Setyaningsih vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Umi Winarni Setyaningsih NIM : 101134204 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA UNTUK PERTUKARAN DAN PENGELOMPOKAN BERBASIS METODE MONTESSORI Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma baik untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu izin dari saya atau memberi royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Yogyakarta, Yang menyatakan Umi Winarni Setyaningsih vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK Setyaningsih, Umi Winarni. (2014). Persepsi guru dan siswa terhadap alat peraga untuk pertukaran dan pengelompokan berbasis metode Montessori. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh persepsi guru dan siswa mengenai alat peraga dalam pembelajaran matematika. Persepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori diharapkan positif. Hal ini karena alat peraga matematika berbasis metode Montessori memiliki karakteristik seperti menarik, bergradasi, auto-education (melatih kemandirian siswa), auto correction (memiliki pengendali kesalahan), dan kontekstual. Penelitian dalam skripsi ini bertujuan untuk mengetahui: (1) persepsi guru atas penggunaan alat peraga matematika berbasis Montessori pada pembelajaran pertukaran dan pengelompokan di kelas I SD Karitas Yogyakarta semester genap 2013/2014; (2) persepsi siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis Montessori pada pembelajaran pertukaran dan pengelompokan di kelas I SD Karitas Yogyakarta semester genap 2013/2014. Penelitian yang dilakukan menggunakan jenis penelitian deskriptif dan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Subjek penelitian ini adalah guru, dan 3 siswa kelas IB. Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah dengan wawancara dan observasi. Pengolahan data wawancara dilakukan dengan koding yaitu cara mengorganisasikan dan mengsistematisasi data secara lengkap dan detail sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari. Pengolahan data observasi dilakukan dengan mencatat dan mengolah hasil pengamatan yang telah dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi guru dan siswa terhadap penggunaan alat peraga matematika berbasis Montessori sangat positif. Namun sangat disayangkan, guru jarang menggunakan alat peraga pada saat pembelajaran, dan minimnya pengetahuan guru akan penggunaan alat peraga. Jadi dapat peneliti simpulkan bahwa pembelajaran matematika di kelas I SD Karitas Nandan Yogyakarta dengan menggunakan alat peraga bola-bola penjumlahan lebih efektif dibandingkan dengan tidak menggunakan alat peraga saat pembelajaran. Kata kunci: persepsi, matematika, alat peraga,wawancara,observasi viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Setyaningsih, Umi Winarni. (2014). Perception of teacher and student on visual aids device for grouping and exchanging based on Montessori method. This research was based on the teachers and students’ perceptions about the visual aids in the mathematics learning. Teachers and students’ perceptions of using the mathematics apparatus on the basis of Montessori method were expected to be positive. It was because the mathematics apparatus on the basis of Montessori had some characteristics such as attractive, grading, auto-education (to train the students’ independence), auto-correction (had an error controller), and contextual. This research was aimed to find out: (1) teachers’ perceptions of using apparatus mathematics on the basis of Montessori in the exchange and group learning in the first grade at SD Karitas Yogyakarta in even semester 2013/2014; (2) students’ perceptions of using apparatus mathematics on the basis of Montessori in the exchange and group learning in the first grade at SD Karitas Yogyakarta in even semester 2013/2014. The conducted research was using descriptive research and qualitative method. The subjects of this research were teachers and three students of class IB. The main sources in the qualitative research were interview and observation. The data processing of interview was done by using coding which was a way to organize and systemize the data completely and in detail so the data was able to show the highlight of the learning topic. The observation data processing was done by making note and processing the observation result which had been done. The results showed that the teachers and students’ perceptions of the use of apparatus mathematics on the basis of Montessori were definitely positive. However, the teachers were rarely used the apparatus in the learning process. Moreover, the teachers did not master the technique of using those apparatus. Thus, the researcher concluded that mathematics learning in the first grade at SD Karitas Nandan Yogyakarta by using props balls was much more effective. Keywords: perception, mathematics, visual aids, interviews, observation . ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus dan kepada Bunda Maria yang telah melimpahkan berkat-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk mendapatkan gelar sarjana (S1) pendidikan di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis menyadari bahwa penulisan ini tidak akan selesai tepat pada waktunya tanpa bantuan dari berbagai pihak. Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada: 1. Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. 2. Gregorius Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A., selaku Ketua Program Studi dan dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan, ide, saran dan kritik yang membangun untuk penulisan skripsi ini. 3. Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D., selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma. 4. Galih Kusumo, S.Pd., M.Pd., selaku Dosen Pembimbing Akademik. 5. Irine Kurniastuti, S.Psi., M.Psi., selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, ide, saran dan kritik yang membangun selama penulisan skripsi ini. 6. Agustinus Walidi S.Pd., selaku kepala sekolah SD Karitas Nandan Yogyakarta yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian di SD Karitas Nanda Yogyakarta. 7. Brigitta Rival Alpinda, S.Pd., selaku guru kelas IB di SD Karitas Nandan Yogyakarta yang telah memberikan bantuan dan waktu kepada penulis untuk melakukan penelitian di kelasnya. 8. Siswa kelas IB SD Karitas Nandan Yogyakarta yang telah bersedia membantu untuk menjadi subjek dalam penelitian ini. 9. Nenekku tercinta Mbah Minuk, Tanteku tercinta Lek Titik, Ibuku tercinta Ibu Purwaningsih, dan Lek Tari yang selalu memberikan dukungan baik dalam bentuk material ataupun finansial serta doa yang tidak pernah berhenti untuk x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI penulis. Terimakasih untuk keringat dan air mata demi tercapainya cita-citaku sehingga penulis dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi. 10. Sahabat-sahabat terbaikku Wiwin, Nurul, Maya, dan Eri yang selalu ada untukku dan selalu dengan sabar mendengarkan curhatanku, 11. Teman-teman PPL SD Karitas Nandan Yogyakarta yang telah memberikan bantuan selama proses penelitian berlangsung, 12. Teman-temanku di kelas B angkatan 2010, yang telah memberikan semangat dalam penyelesaian skripsi ini, dan 13. Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, yang telah memberikan dukungan dan bantuan selama penelitian ini berlangsung. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis akan merasa terbantu apabila ada kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan penulisan ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi siapa saja yang membaca. xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ........................................................................................ HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................. HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... HALAMAN PERSEMBAHAN ....................................................................... MOTTO ........................................................................................................... PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................................... LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ........... ABSTRAK........................................................................................................ ABSTRACT....................................................................................................... KATA PENGANTAR ...................................................................................... DAFTAR ISI .................................................................................................... DAFTAR TABEL ............................................................................................ DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ....................................................................... 1.2 Rumusan Masalah ................................................................................ 1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................. 1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................... 1.5 Definisi Operasional ............................................................................. BAB IILANDASAN TEORI 2.1.1 Kajian Pustaka ..................................................................................... 2.1.1 Teori Perkembangan Anak ................................................................... 2.1.1.1 TeoriPerkembangan Anak Menurut Piaget ........................................... 2.1.1.2 TeoriPerkembangan Anak Menurut Montessori .................................... 2.1.1.3 Sejarah Metode Montessori .................................................................. 2.1.2 Matematika .......................................................................................... 2.1.2.1 Hakikat Matematika ............................................................................. 2.1.2.2 Pembelajaran Matematika .................................................................... 2.1.3 Alat Peraga........................................................................................... 2.1.3.1 Pengertian Alat Peraga ........................................................................ 2.1.3.2 Tujuan Penggunaan Alat Peraga .......................................................... 2.1.3.3 Manfaat Penggunaan Alat Peraga ........................................................ 2.1.3.4 Pengertian Alat Peraga Montessori ...................................................... 2.1.3.5 Alat Peraga Bola-Bola Penjumlahan Montessori .................................. 2.3.1.6 Ciri-ciri Alat Peraga Montessori .......................................................... 2.1.4 Materi Penjumlahan dan Pengurangan .................................................. 2.1.4.1 Materi Operasi Bilangan Bulat ............................................................ 2.1.5 Persepsi ............................................................................................... 2.1.5.1 Pengertian Persepsi ............................................................................. 2.1.5.2 Persepsi Terhadap Penggunaan Alat Peraga Montessori ...................... 2.1.5.3 Persepsi Guru dan Siswa Terhadap Media Pembelajaran ..................... i ii iii iv v vi vii viii ix x xii xix 1 4 4 4 5 7 7 7 8 9 12 12 12 13 13 14 15 16 16 21 23 24 25 25 31 32 xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.2 Hasil Penelitian yang Relevan ............................................................. 2.2.1 Alat Peraga Matematika ...................................................................... 2.2.2 Metode Montessori .............................................................................. 2.2.3 Hasil Penelitian Yang Relevan Mengenai Persepsi .............................. 2.3 Kerangka Berpikir ............................................................................... BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian .................................................................................... 3.2 Setting Penelitian ................................................................................. 3.2.1 Objek Penelitian ................................................................................... 3.2.2 Subjek Penelitian ................................................................................. 3.2.3 Tempat Penelitian ................................................................................ 3.3 Desain Penelitian ................................................................................. 3.4 Teknik Pengumpulan Data .................................................................. 3.4.1 Wawancara .......................................................................................... 3.4.2 Observasi ............................................................................................ 3.4.3 Dokumentasi ....................................................................................... 3.5 Instrumen Penelitian ............................................................................ 3.6. Kredibilitas dan Transferabilitas .......................................................... 3.6.1 Uji Kredibilitas .................................................................................... 3.6.2 Uji Transferabilitas .............................................................................. 3.7 Teknik Analisis Data ........................................................................... BAB IV HASIL PENELITIANDAN PEMBAHASAN 4.1 Penelitian sebelum pengimplementasian alat peraga Montessori ........... 4.1.1 Latar Belakang Subjek ........................................................................ 4.1.2 Pandangan Subjek Terhadap Alat Peraga ............................................. 4.1.3 Kefamilieran Subjek Terhadap Alat Peraga ......................................... 4.1.4 Pengalaman Subjek menggunakan Alat Peraga .................................... 4.2 Penelitian setelah pengimplementasian alat peraga Montessori ............. 4.2.1 Pengalaman Subjek ............................................................................. 4.2.2 Perasaan Subjek menggunakan alat peraga .......................................... 4.2.3 Kendala subjek ketika menggunakan alat peraga Montessori ............... 4.2.4 Manfaat ketika menggunakan alat peraga Montessori .......................... 4.3 Pembahasan ........................................................................................ BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan .......................................................................................... 5.2 Keterbatasan Penelitian ...................................................................... 5.3 Saran .................................................................................................... 32 32 33 34 37 84 86 86 DAFTAR REFERENSI ................................................................................... 87 39 40 40 40 42 42 49 50 51 53 54 56 57 57 58 62 62 65 67 67 69 69 71 73 74 77 xiii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Perencanaan Observasi....................................................................... Tabel 3.2 Perencanaan Wawancara .................................................................... 45 47 xiv

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Gambar 2.2 Gambar 2.3 Gambar 2.4 Gambar 3.1 Gambar 3.2 Gambar 3.3 Alat Peraga Bola Penjumlahan Secara Keseluruhan ...................... Bagan Proses Terjadinya Perilaku ................................................. Bagan Proses Terjadinya Perilaku dengan dimodifikasi ................ Peta Literatur dan Penelitian Sebelumnya ...................................... Prosedur Penelitian Menurut Patton ............................................... Prosedur Penelitian Menurut Patton dengan modifikasi ................. Analisis Data dalam Pendekatan Kualitatif .................................... 18 30 30 36 43 44 59 xv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN A. Pedoman Observasi dan Wawancara Lampiran 3.1 Pedoman Observasi Kondisi Sosio-Cultural ..................................... 91 Lampiran 3.2 Pedoman Observasi Proses Pembelajaran ......................................... 92 Lampiran 3.3 Pedoman Observasi Guru .................................................................. 93 Lampiran 3.4 Pedoman Observasi Siswa .................................................................94 Lampiran 3.5 Pedoman Wawancara Pra-Penelitian Guru ....................................... 96 Lampiran 3.6 Pedoman Wawancara Pra-Penelitian Siswa ...................................... 97 Lampiran 3.7 Pedoman Wawancara Pasca Penelitian Guru .................................... 99 Lampiran 3.8 Pedoman Wawancara Pasca Penelitian Siswa ..................................103 B. Observasi Lampiran 4.1 Transkrip Observasi Kondisi Sosio-Cultural.................................... 106 Lampiran 4.2 Transkrip Observasi Proses Pembelajaran ke-1 .............................. 109 Lampiran 4.3 Transkrip Observasi Proses Pembelajaran ke-2 .............................. 112 Lampiran 4.4 Transkrip Observasi Penelitian Pertemuan ke-1 ............................. 115 Lampiran 4.5 Transkrip Observasi Penelitian Pertemuan ke-2 ............................. 118 C. Wawancara Lampiran 4.6 Verbatim Wawancara Pra-Penelitian Guru .................................... 121 Lampiran 4.7 Verbatim Wawancara Pra-Penelitian Siswa A ............................... 125 Lampiran 4.8 Verbatim Wawancara Pra-Penelitian Siswa B ............................... 130 Lampiran 4.9 Verbatim Wawancara Pra-Penelitian Siswa C .............................. 134 Lampiran 4.10 Verbatim Wawancara Pasca Penelitian Guru ................................ 138 Lampiran 4.11 Verbatim Wawancara Pasca Penelitian Siswa A ........................... 145 Lampiran 4.12 Verbatim Wawancara Pasca Penelitian Siswa B ........................... 150 Lampiran 4.13 Verbatim Wawancara Pasca Penelitian Siswa C ........................... 154 D. Foto-foto Lampiran 4.14 Foto-foto ........................................................................................ 158 Lampiran 4.15 Surat Izin Penelitian dari PGSD USD ........................................... 163 Lampiran4.16 Surat Keterangan Penelitian dari SD .............................................. 164 Biodata Penulis.................................................................................................... 165 xvi

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Di dalam bab ini berisikan (1) latar belakang masalah, (2) rumusan masalah, (3) tujuan penelitian, (4) manfaat penelitian,serta (5) definisi operasional. 1.1 Latar Belakang Masalah Dunia pendidikan memegang peranan penting dalam kemajuan sumber daya manusia yang berkualitas, yang mampu berkompetensi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Masalah peningkatan mutu pendidikan sangat berhubungan erat dengan proses pembelajaran. Proses pembelajaran adalah suatu interaksi yang dilakukan oleh guru dan siswa untuk mempelajari suatu materi tertentu. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung dalam proses belajar mengajar. Dengan berperan aktif dalam proses belajar, siswa akan lebih cepat mengerti dan memahami materi yang sedang dipelajari. Matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir, berargumentasi, dan memberikan kontribusi dalam penyelesaian masalah sehari-hari (Susanto, 2013: 185). Kata matematika berasal dari bahasa Latin mathematica dengan akar bahasa Yunani mathematike dari kata kerja manthanein (Oxford Dictionary of English, 2011) yang berarti belajar atau hal yang dipelajari, sedangkan dalam bahasa Belanda, matematika disebut wiskunde atau ilmu pasti yang berkaitan dengan penalaran (Susanto, 2013: 184). Kualitas pembelajaran matematika harus selalu ditingkatkan, karena proses pembelajaran akan mempengaruhi pencapaian tujuan belajar siswa dan akan meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh sebab itu, pendidik membutuhkan alat peraga dalam melaksanakan pembelajaran. Alat peraga merupakan salah satu komponen dalam pembelajaran yang bermanfaat untuk mencapai tujuan pembelajaran (Suyono, 2011: 17). Hal tersebut dapat dilihat dari karakteristik anak Sekolah Dasar (SD) yang pada umumnya berusia 7-12 tahun. Menurut Jean Piaget (dalam Suparno, 2001: 70) anak usia 712 tahun merupakan anak yang berada pada tahap operasional konkret. Pada tahap 1

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ini anak memiliki karakteristik tersendiri yang dapat dilihat dari segi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Perkembangan afektif anak ditandai dengan hubungannya dengan teman dan orang lain yang ada di sekitarnya. Anak pada usia tersebut memiliki perkembangan bahasa yang lebih komunikatif dan suka melalukan berbagai aktivitas motorik. Pada tahap ini anak masih menerapkan logika berpikir pada barang-barang yang konkret. Berdasarkan hal tersebut, perlu adanya pembelajaran yang menarik dan menggunakan alat peraga yang sesuai dengan perkembangan anak pada usia tersebut. Berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 6 Februari 2014 dengan ketiga subjek siswa kelas IB SD Karitas Nandan, dapat disimpulkan bahwa alat peraga membantu mereka dalam memahami materi penjumlahan dan pengurangan pada mata pelajaran matematika. Hasil wawancara yang telah dilakukan, menjadi bukti pentingnya mengembangkan alat peraga untuk lebih memaksimalkan proses pembelajaran. Alat peraga matematika memiliki beberapa manfaat, antara lain: (1) memudahkan siswa dalam memahami konsep-konsep dalam matematika, (2) dengan berbagai kecerdasan yang berbeda, dapat memberikan pengalaman belajar yang efektif bagi siswa, (3) memotivasi siswa untuk menyukai pelajaran matematika (4) memberikan kesempatan bagi siswa yang lebih lamban berpikir untuk menyelesaikan tugas dengan baik dan berhasil, (5) memperkaya program pembelajaran bagi siswa yang lebih pandai, dan (6) efisiensi waktu (Suharjana, 2009: 3-4). Selain dikembangkan, alat peraga juga butuh dievaluasi. Evaluasi merupakan hal yang paling penting. Dengan melakukan evaluasi maka dapat diketahui apakah tujuan yang diinginkan tercapai atau tidak. Selain itu,dengan melakukan evaluasi, dapat diketahui kekurangan, kelebihan, dan hambatan dari alat peraga tersebut. Dengan demikian, evaluasi terhadap alat peraga sangat penting dilakukan secara bertahap dalam jangka waktu tertentu. Salah satu metode pembelajaran yang menerapkan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran adalah metode Montessori. Metode Montessori memanfaatkan panca indera untuk mempelajari suatu hal dengan menggunakan alat peraga, alat peraga tesebut akan membawa anak pada konsep abstrak, berlanjut dari konsep abstrak anak dapat berpikir ke moralitas (Montessori, 2002: 2

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41). Alat peraga matematika yang digunakan dalam penelitian adalah bola-bola penjumlahan. Alat peraga bola-bola penjumlahan merupakan alat peraga yang dikembangkan dengan mengadopsi alat peraga Montessori yang disebut Golden beads atau manik-manik emas. Alat peraga manik-manik emas milik Montessori terdiri atas manik emas satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan. Alat peraga bolabola penjumlahan juga terdiri atas rangkaian manik yang memiliki nilai satuan, puluhan, dan ratusan, namun dalam penelitian ini tidak memakai rangkaian bola yang bernilai ribuan karena subjek yang digunakan adalah anak kelas 1SD. Karakteristik alat peraga Montessori meliputi auto education, menarik, bergradasi, auto correction, dan kontekstual. Auto education dan auto correction terkait dengan kemandirian guru dan siswa terhadap penggunaan alat peraga tersebut, bergradasi terkait dengan tingkat kesulitan dalam alat peraga, dan menarik terkait dengan daya tarik yang ada dalam alat peraga tersebut. Sedangkan kontesktual terkait dengan bahan yang digunakan dalam alat peraga tersebut. Berdasarkan observasi awal pada kelas I SD Karitas Nandan yang dilakukan sebanyak dua kali pada tanggal 16 Januari 2014 dan 17 Januari 2014 pada mata pelajaran matematika, diperoleh informasi bahwa alat peraga yang dimiliki sekolah sangat terbatas dan penggunaannya juga belum maksimal. Apabila setiap guru mengupayakan ketersediaan alat peraga walaupun bentuknya sederhana, namun dapat memaksimalkan proses pembelajaran, ada baiknya dicoba agar siswa dapat menangkap materi lebih baik. Peneliti menemukan penelitian yang membahas tentang pengembangan alat peraga seperti yang dilakukan oleh Isanandar (2011) dan Putri (2013), penelitian yang membahas tentang pembelajaran Montessori yang dilakukan oleh Wulandari (2007) dan Wahyuningsih (2012), dan penelitian yang membahas tentang persepsi terhadap penggunaan alat peraga yang dilakukan oleh Alimohammad (2011) dan Azzaki (2013). Belum banyak yang meneliti tentang persepsi. Hal ini terbukti pada saat peneliti sedikit mengalami kesulitan dalam mencari referensi tentang skripsi maupun jurnal yang membahas tentang persepsi, padahal persepsi itu sendiri sangat penting karena berkaitan dengan sikap, intensi penggunaan alat peraga dan dapat memberi masukan dalam pengembangan alat peraga. 3

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Penelitian ini dibatasi hanya pada persepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis Montessori dalam pelajaran matematika kelas I SD. Penelitian ini fokus pada Standar Kompetensi (SK) 4. Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai dua angka dalam pemecahan masalah dan Kompetensi Dasar (KD) 4.5 Menggunakan sifat operasi pertukaran dan pengelompokan. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Bagaimanakah persepsi guru atas penggunaan alat peraga berbasis metode Montessori pada pembelajaran pertukaran dan pengelompokan di kelas I SD Karitas Nandan Yogyakarta semester genap tahun pelajaran 2013/2014? 1.2.2 Bagaimanakah persepsi siswa atas penggunaan alat peraga berbasis metode Montessori pada pembelajaran pertukaran dan pengelompokan di kelas I SD Karitas Nandan Yogyakarta semester genap tahun pelajaran 2013/2014? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Mengetahui persepsi guru atas penggunaan alat peraga matematika berbasis Montessori pada pembelajaran pertukaran dan pengelompokan di kelas I SD Karitas Yogyakarta semester genap 2013/2014. 1.3.2 Mengetahui persepsi siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis Montessori pada pembelajaran pertukaran dan pengelompokan di kelas I SD Karitas Yogyakarta semester genap 2013/2014. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan tentang salah satu alat peraga matematika berbasis metode Montessori, yang diharapkan dapat memudahkan guru melakukan pengajaran dan membantu siswa kelas 1 mengerjakan soal matematika pada pembelajaran pertukaran dan pengelompokan. 1.4.2 Manfaat praktis 4

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.4.2.1 Bagi para subjek penelitian Penelitian ini diharapkan dapat membantu subjek untuk semakin mengenal kemampuan dirinya, terlebih dalam mengerjakan soal matematika. 1.4.2.2 Bagi peneliti Penelitian ini merupakan media pembelajaran bagi peneliti. Tak hanya pembelajaran mengenai bagaimana melakukan penelitian yang benar, tetapi juga pembelajaran bagaimana melihat persepsi guru dan siswa terhadap alat peraga matematika berbasis Montessori 1.4.2.3 Bagi rekan-rekan guru Penelitian ini diharapkan dapat sebagai acuan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran menggunakan alat peraga 1.4.2.4 Bagi penelitian selanjutnya Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi peneliti lain yang berminat untuk melakukan penelitian mengenai persepsi guru dan siswa terhadap alat peraga matematika berbasis metode Montessori. 1.5 Definisi Operasional 1.5.1 Persepsi adalah suatu proses penilaian terhadap suatu objek, melalui proses penginderaan, diakhiri dengan interpretasi dan dipengaruhi oleh pengalaman, motivasi, dan kondisi saat ini. Dalam penelitian ini, persepsi yang dimaksudkan adalah persepsi guru dan siswa atas pengimplementasian alat peraga berbasis Montessori dalam pembelajaran matematika. 1.5.2 Matematika adalah ilmu yang berisi konsep dan simbol-simbol yang telah disusun secara sistematis dan logis dari konsep yang sederhana dan yang lebih kompleks (lebih jelas). 1.5.3 Kemampuan adalah kapasitas seorang individu untuk melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjaan. 1.5.4 Berhitung adalah mengerjakan hitungan (menjumlahkan, mengurangi, mengalikan, membagi) 1.5.5 Kemampuan berhitung atau yang dimaksud kemampuan untuk menghitung adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menjumlah, 5

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengalikan, maupun melakukan segala hal yang berkaitan dengan perhitungan atau ilmu matematika. 1.5.6 Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai atau angka yang diberikan oleh guru. 1.5.7 Penjumlahan adalah materi dalam pelajaran matematika kelas 1 SD yang menjumlahkan antara nilai satu dengan yang lainnya sehingga menghasilkan bilangan tertentu. 1.5.8 Pengurangan adalah materi dalam pelajaran matematika kelas 1 SD yang mengurangkan antara nilai satu dengan yang lainnya sehingga menghasilkan bilangan tertentu. 1.5.9 Alat peraga bola-bola penjumlahan adalah alat bantu yang dikembangkan dengan mengadopsi alat peraga Montessori yang disebut Golden beads material atau manik-manik emas yang digunakan dalam proses pembelajaran agar siswa kelas I mudah memahami materi tentang penjumlahan dan pengurangan. 1.5.10 Mata pelajaran matematika adalah mata pelajaran yang terdapat di kelas 1 SD Karitas semester genap tahun ajaran 2013/2014 dengan kompetensi dasar menggunakan sifat operasi pertukaran dan pengelompokan 1.5.11 Siswa SD adalah siswa kelas 1B SD Karitas yang terdiri atas 13 siswa perempuan dan 14 siswa laki-laki 6

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Kajian Pustaka Kajian pustaka berisi tentang kajian dari beberapa buku dan jurnal penelitian. Kajian tersebut berisi teori-teori yang mendukung penelitian di antaranya mengenai teori perkembangan anak menurut Piaget, teori perkembangan anak menurut Montessori, Montessori, matematika, alat peraga, alat peraga bola-bola penjumlahan, dan persepsi. 2.1.1 Teori Perkembangan Anak 2.1.1.1 Teori Perkembangan Anak Menurut Piaget Piaget adalah seorang tokoh psikologi kognitif yang dikenal dengan teori konstruktivisme (Suparno, 2001: 5). Menurut Piaget, proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap-tahap perkembangannya sesuai dengan umurnya. Pola dan tahap-tahap ini bersifat hirarkhis, artinya harus dilalui berdasarkan urutan tertentu dan seseorang tidak dapat belajar sesuatu yang berada di luar tahap kognitifnya. Hergenhahn menyatakan bahwa Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif ini menjadi empat (Hergenhahn, 2008: 318), yaitu : 1. Tahap sensorimotor (0 sampai 2 tahun) Tahap Sensorimotor menurut Piaget dimulai sejak umur 0 sampai 2 tahun. Pertumbuhan kemampuan anak tampak dari kegiatan motorik dan persepsinya yang sederhana. Ciri pokok perkembangannya berdasarkan tindakan, dan dilakukan langkah demi langkah. 2. Tahap pra-operasional (2 tahun sampai 7 tahun) Tahap pemikiran pra-operasional terbagi menjadi dua, yaitu : a. Pemikiran prakonseptual (sekitar 2 tahun sampai 4 tahun) Dalam tahap ini anak mulai membentuk konsep sederhana, namun sering sekali melakukan banyak kesalahan lantaran logika mereka adalah transduktif. b. Pemikiran intuitif (sekitar 4 tahun sampai 7 tahun) Dalam tahap ini anak sudah dapat memecahkan masalah, namun masih secara intuitif. Anak telah dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada 7

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kesan yang agak abstraks. Pada usia ini, anak telah dapat mengungkapkan isi hatinya secara simbolik terutama bagi mereka yang memiliki pengalaman yang luas. 3. Tahap operasional konkret (sekitar 7 sampai 11 atau 12 tahun) Pada tahap ini adalah anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis. Anak telah memiliki kecakapan berpikir logis, akan tetapi hanya dengan benda-benda yang bersifat konkret namun belum mampu berpikir secara abstrak. 4. Tahap operasional formal ( sekitar 11 atau 12 tahun sampai 14 atau 15 tahun) Pada tahap ini, anak sudah mampu berpikir secara abstrak dan logis. Anak sudah memiliki kemampuan untuk menarik kesimpulan dan memecahkan amsalah melalui penggunaan eksperimentasi sistematis. Piaget berpendapat, tahapan perkembangan kognitif anak SD berada pada rentang usia 7 tahun sampai 11 tahun sehingga anak berada pada tahap operasional konkret. Kecepatan perkembangan tiap individu berbeda tiap anak, dan tidak ada satu pun individu yang melompati salah satu dari tahapan tersebut. Maka dari itu, guru sebagai pengajar diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami materi pembelajaran dengan memberikan sentuhan benda-benda yang konkret, maupun pengalaman yang nyata bagi anak. 2.1.1.2 Teori Perkembangan Anak menurut Montessori Maria Montessori membagi tahap perkembangan anak menjadi tiga yaitu usia 0-6 tahun, 6-12 tahun, dan 12-18 tahun (Holt, 2008: xii) sebagai berikut: 1. Tahap pertama (0-6 tahun) Usia 0-6 tahun merupakan usia emas bagi anak. Pada tahap ini anak termasuk dalam periode sensitif atau periode awal, dimana anak sangat peka, dan mampu menyerap dengan mudah apa yang diajarkan di lingkungannya. Montessori percaya bahwa setiap anak itu unik, memiliki potensi yang luar biasa, dan mampu untuk berkembang. 2. Tahap kedua (6-12 tahun) Usia 6-12 tahun merupakan kelanjutan perkembangan anak yang sudah mengalami tahap perkembangan yang pertama (0-6 tahun). Pada usia ini anak 8

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI termasuk dalam periode sensitif dimana banyak pertanyaan muncul dipikiran anak untuk ditanyakan. Selain itu daya imajinasi anak mulai berkembang, perkembangan nilai-nilai moral, perkembangan bersosialisai dengan orang lain, mulai mengenal budaya sekitar, dan menampilkan kebudayaan fisik.Karakteristik tahap perkembangan inilah yang menjadi awalan dari tahap perkembangan selanjutnya. 3. Tahap ketiga (12-18 tahun) Usia 12-18 tahun merupakan kelanjutan perkembangan anak yang sudah mengalami tahap perkembangan kedua (12-18 tahun). Pada tahap ini kematangan fisik anak mulai berkembang dimana anak mulai mencari identitas diri. Anak akan mulai menyukai kebebasan dan mandiri tanpa harus bergantung terus-menerus dengan keluargnya. Kebebasan dan mandiri anak tidak terlepas dari lingkungan sosial yang mengajarnya. Setiap anak mempunyai tahap perkembangan yang berbeda. Anak yang duduk di bangku SD memasuki tahap perkembangan kedua, di mana karakteristik anak pada tahap perkembangan ini sudah berkembang lebih baik daripada yang sebelumnya. Karakteristik anak atau siswa adalah keseluruhan dan kemampuan anak sebagai pembawaan dan pengalamannya sehingga menentukan gambaran kegiatan untuk menggapai impiannya (Rosyada, 2008: 187). Lewat pengalamannya, anak dapat mengembangkan potensi dalam dirinya untuk mempelajari hal selanjutnya. 2.1.1.3 Sejarah Metode Montessori Metode Montessori adalah salah satu metode pendidikan yang dicetuskan oleh seorang wanita dari Italia bernama Maria Montessori. Maria Montessori lahir pada 31 Agustus 1870 di kota Chiaravalle, Ancona, Italia Utara dan wafat pada usia ke-82 tepatnya 6 Mei 1952 karena pendarahan otak (Magini, 2013: 7&97). Sudono mengatakan, Montessori merupakan tokoh pendidikan yang menekankan ketika anak bermain, ia akan mempelajari dan menyerap segala sesuatu yang terjadi di lingkungannya (Sudono, 2000: 2). Metode Montessori memanfaatkan panca indera untuk mempelajari suatu hal dengan menggunakan alat peraga, alat 9

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI peraga tesebut akan membawa anak pada konsep abstrak, berlanjut dari konsep abstrak anak dapat berpikir ke moralitas (Montessori, 2002: 41). Pada tanggal 6 Januari 1907, Maria Montessori dan Eduardo Talamo mendirikan rumah anak-anak atau yang biasa disebut dengan casa dei bambini. Montessori juga mempelajari berbagai tingkah laku anak. Rumah anak-anak yang sebelumnya hanya didesain sebagai penitipan, dijadikan sebagai tempat untuk bereksperimen. Di sana, ia meletakan berbagai jenis mainan dan beberapa alat didaktis dari Itard dan Seguin yang telah dimodifikasi (Magini, 2013: 43-46). Selain mengembangkan kemampuan akademis, dalam penggunaan metode Montessori anak diajarkan dan dibimbing untuk lebih mandiri dalam mengembangkan kreativitas kehidupan sosial, fisik, dan psikis. Walaupun pembelajaran metode Montessori terstruktur, namun anak-anak diberikan kebebasan untuk memilih apa yang akan mereka kerjakan dan kapan mereka mengerjakannya, mereka sering bekerja secara kolaboratif ( Liliard, 2005: 38). Liliard menyebutkan delapan prinsip yang digunakan dalam metode Montessori, yaitu (1) pentingnya keleluasaan anak dalam beraktivitas, (2) kemerdekaan anak dalam memilih sendiri apa yang mau dipelajari, (3) pentingnya minat, (4) pentingnya motivasi intrinsik dengan menghapus hadiah dan hukuman, (5) pentingnya kolaborasi dengan teman sebaya, (6) pentingnya konteks dalam pembelajaran, (7) pentingnya gaya interaksi autoritatif dari orang dewasa, dan (8) pentingnya keteraturan dan kerapian lingkungan belajar (Liliard, 2005: 30-33). Sebelumnya, Montessori memang terinsprirasi Edward Séguin (1812-1881) dan Jean Marc Gaspard Itard (1775-1838) yang telah berhasil mendidik anak-anak cacat mental dengan metodenya. Berdasar pada alat peraga yang digunakan Itard dan Seguin, Montessori telah mengembangkan dan mengujicobakan pada anakanak normal di distrik kumuh di daerah Roma sebelum ia mendirikan casa dei bambini (Montessori, 1964: 32). Pada percobaan tersebut diperoleh hasil yang sangat menggembirakan bahwa anak-anak tuna grahita dapat belajar dengan baik. Casa dei bambini sendiri dikelola oleh beberapa direktris yang selalu menemani anak-anak. Karena kesibukan sebagai seorang pengajar, dokter, pembantu dalam penelitian dan sebagainya, Montessori hanya mampu mengunjungi casa dei bambini sekali dalam seminggu. Setiap berkunjung, Montessori selalu melakukan 10

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI observasi terhadap berbagai aktivitas yang dilakukan anak. Dari berbagai observasi tersebut Montessori menemukan beberapa hal dasar dan esensial bagi pendekatanya. Ia menemukan bahwa konsentrasi, kebebasan, kemandirian, rasa hormat dan dihargai, adalah hal dasar yang harus diciptakan di sekitar lingkungan belajar anak (Magini, 2013: 49-54). Montessori berpendapat, anak yang terbiasa dengan disiplin aktif yang dicapai melalui kebebasan untuk beraktivitas akan lebih menghargai pemberian hadiah yang tidak meremehkan kemampuannya untuk melakukan sesuatu (Montessori, 2002: 101). Anak menyadari bahwa perkembangan kemampuan dan kebebasan batin menjadi asal-usul bagi aktivitasnya. Konsep kebebasan dalam pendidikan semestinya dimengerti sebagai kebebasan yang menuntut kondisi yang paling mendukung perkembangan seluruh kepribadian anak bukan hanya secara fisik tetapi juga mental termasuk perkembangan kemampuan otak (Montessori 2002: 104). Oleh sebab itu, pendidik semestinya memberikan perhatian atas perkembangan hidup masing-masing anak. Montessori menyebut tiga ciri utama pelajaran yang diberikan secara individual (2002: 108). 1. Singkat. Pelajaran itu harus singkat. Semakin efisian kata-kata yang diberikan, semakin baik suatu pelajaran. Pendidik mesti sungguh-sungguh dalam mempertimbangkan bobot kata-kata yang akan diucapkan untuk menilai perlu tidaknya kata-kata itu. 2. Sederhana. Pelajaran harus sederhana. Kata-kata yang sudah dipilih dengan seksama haruslah yang paling sederhana yang bisa ditemukan dan yang mengacu pada kebenaran. Kata-kata yang sederhana dapat membantu anak untuk memahami objek yang sedang dipelajarinya. 3. Objektif. Pelajaran haruslah objektif. Guru tidak boleh menarik perhatian anak-anak pada dirinya sendiri sebagai guru, melainkan hanya pada objek yang ingin dia terangkan. Penjelasan singkat tersebut haruslah merupakan penjelasan mengenai objek yang akan dipelajari anak-anak. 11

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.1.2 Matematika 2.1.2.1 Hakikat Matematika Matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki objek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep yang diperoleh akibat logis dari kebenaran sebelumnya sudah diterima sehingga keterkaitan antara konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas. Selain itu, matematika dianggap merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir, berargumentasi, dan memberikan kontribusi dalam penyelesaian masalah sehari-hari (Susanto, 2013: 185). Mustafa (dalam Wijayanti, 2011) menyebutkan bahwa matematika adalah ilmu tentang kuantitas, bentuk, susunan, dan ukuran, yang utama adalah metode dan proses untuk menemukan dengan konsep yang tepat dan lambang yang konsisten, sifat dan hubungan antara jumlah dan ukuran, baik secara abstrak, matematika murni atau dalam keterkaitan manfaat pada matematika terapan. Berdasarkan Depdiknas (2007), mata pelajaran matematika termasuk mata pelajaran intrakurikuler yang wajib diajarkan dan memiliki alokasi lima jam pelajaran per minggu. Dari definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa matematika merupakan ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar dan matematika mempunyai kedudukan yang penting dalam struktur kurikulum pendidikan, khususnya di Sekolah Dasar. 2.1.2.2 Pembelajaran Matematika Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar” (Trisnu, 2012) pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Menurut Surya, pembelajaran adalah pola interaksi siswa dengan guru di dalam kelas yang menyangkut strategi, pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran yang diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas (Surya, 2004) 12

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pembelajaran matematika adalah suatu proses belajar mengajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreativitas berpikir siswa yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi penggetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi (Susanto, 2013: 195). Pembelajaran matematika di Sekolah Dasar mengarahkan siswa untuk berpikir secara logis, kritis, analitis, sistematis, dan kreatif (BSNP, 2006: 106). 2.1.3 Alat Peraga 2.1.3.1 Pengertian Alat Peraga Alat peraga terdiri dari dua suku kata, yaitu alat dan peraga. Pengertian alat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah barang yang digunakan untuk mengerjakan sesuatu, mencapai suatu maksud tertentu, sedangkan peraga merupakan alat media pengajaran untuk meragakan sajian pelajaran (KBBI, 2008). Menurut Estiningsih (dalam Suharjana, 2009: 3) alat peraga adalah media yang digunakan dalam pembelajaran dengan membawakan ciri-ciri dari konsep yang dipelajari. Dikemukakan pula oleh Suharjana bahwa penggunaan alat peraga dapat membantu siswa dalam menanamkan dan mengembangkan konsep yang abstrak menjadi konkret (Suharjana, 2009: 3). Sudjana mengemukakan bahwa alat peraga adalah alat bantu yang digunakan oleh guru dalam proses belajar agar siswa lebih efektif dan efisien (Sudjana, 2000: 10). Arsyad mengemukakan alat peraga sebagai alat bantu mengajar yang dapat digunakan sebagai penyalur atau penghubung pesan ajar yang diciptakan secara terencana oleh guru (Arsyad, 2007: 4). Sependapat dengan hal tersebut, Sudono mengungkapkan bahwa alat peraga adalah alat yang berfungsi untuk menerangkan suatu mata pelajaran tertentu dalam suatu proses belajar mengajar (Sudono, 2010: 14). Hal ini diperkuat oleh Munadi, bahwa fungsi utama alat peraga merujuk sebagai sumber belajar yang mengaktifkan siswa dan menyalurkan informasi (Munadi, 2010: 37). Smaldino menjelaskan bahwa alat peraga adalah bagian dari media pembelajaran (Smaldino, 2011: 14). Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhaatian anak sehingga anak dapat menimbulkan motivasi belajar, 13

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI interaksi langsung antara siswa dan lingkungan, dan memberikan kesempatan anak untuk belajar sendiri (Hamalik dalam Arsyad, 2010: 26). Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa alat peraga adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk membantu dan menyampaikan pesan dalam proses belajar mengajar. Alat peraga juga dapat membantu siswa dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan, serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa. 2.1.3.2 Tujuan Penggunaan Alat Peraga Menurut Kustandi, alat peraga dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak, interaksi yang lebih langsung antara siswa dengan lingkungannya, dan kemungkinan untuk belajar sendiri sesuai kemampuan dan minatnya (Kustandi, 2011: 26). Menurut Sukayati (2009: 7), alat peraga digunakan untuk mencapai empat tujuan, yaitu (1) memberikan kemampuan berpikir matematika dengan kreatif, (2) mengembangkan sikap percaya diri dalam pembelajaran matematika, (3) meningkatkan keterampilan siswa dalam menerapkan pembelajaran matematika pada kehidupan sehari-hari, dan (4) meningkatkan motivasi belajar siswa. 1. Memberikan kemampuan berpikir matematika dengan kreatif Pembelajaran matematika mencakup dalil-dalil dan simbol-simbol yang saling berhubungan. Penggunaan alat peraga akan meningkatkan kreativitas siswa dalam memahami hubungan-hubungan dalam pembelajaran matematika. 2. Mengembangkan sikap percaya diri dalam pembelajaran matematika Suasana pembelajaran matematika akan menjadi kondusif dengan tersedianya alat peraga. Dengan demikian siswa akan memperoleh kepercayaan diri akan kemampuannya dalam belajar matematika melalui pengalaman-pengalaman yang akrab dengan kehidupannya. 3. Meningkatkan keterampilan siswa dalam menerapkan pembelajaran matematika pada kehidupan sehari-hari 14

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Penggunaan alat peraga yang kontekstual akan membantu siswa menghubungkan pengalaman belajarnya dengan pengalaman-pengalaman pada kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan keterampilan masingmasing mereka dapat menyelidiki dan mengamati benda-benda di sekitarnya, kemudian mengorganisasinya untuk memecahkan suatu masalah. 4. Meningkatkan motivasi belajar siswa Dengan pengalaman penggunaan belajar dengan alat peraga cara yang diharapkan siswa menyenangkan memperoleh sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar matematika. 2.1.3.3 Manfaat Penggunaan Alat Peraga Matematika Saat siswa melihat, memegang dan memanipulasi suatu objek atau alat peraga, disitulah siswa mengalami pengalaman nyata dalam kehidupan tentang arti dari suatu konsep. Siswa dapat belajar dari berbagai pengalaman ketika menggunakan benda nyata tersebut secara langsung. Manfaat alat peraga matematika antara lain (1) memudahkan siswa dalam memahami konsep-konsep dalam matematika, (2) dengan berbagai kecerdasan yang berbeda, dapat memberikan pengalaman belajar yang efektif bagi siswa, (3) memotivasi siswa untuk menyukai pelajaran matematika (4) memberikan kesempatan bagi siswa yang lebih lamban berpikir untuk menyelesaikan tugas dengan baik dan berhasil, (5) memperkaya program pembelajaran bagi siswa yang lebih pandai, dan (6) efisiensi waktu (Suharjana, 2009: 3-4). Sitanggang & Widyaiswara (2013: 4) menyebutkan bahwa manfaat alat peraga matematika, antara lain (1) memberi motivasi, (2) memperkenalkan, memperbaiki, mengembangkan pengertian konsep matematika, (3) mempermudah abstraksi, yaitu memudahkan memahami konsep matematika yang abstrak, (4) memberikan variasi dalam pembelajaran, sehingga siswa tidak bosan dengan teori yang dipelajari, (5) waktu pembelajaran lebih efisien karena siswa lebih mudah mengerti, dan (6) mengembangkan suatu topik pelajaran. Manfaat lain dikemukakan oleh Sugiarni adalah bahwa alat peraga juga bermanfaat sebagai alat bantu pembelajaran yang digunakan guru untuk memperjelas informasi pembelajaran, memberi tekanan pada materi pelajaran yang penting, memberi 15

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI variasi dalam kegiatan pembelajaran dan memotivasi belajar siswa (Sugiarni, 2012: 55). Kegiatan pembelajaran yang bervariasi akan membuat siswa senang dan termotivasi untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Hasan (2011: 108) menjelasakan bahwa alat peraga dapat digunakan sebagai perantara antara hal yang konkret dari pemahaman siswa dengan konsep matematika yang bersifat abstrak. Penggunaan alat peraga dapat membantu siswa dalam memahami materi pelajaran matematika dengan konsep yang abstrak atau berupa simbol-simbol matematika. Kesimpulan yang dapat diperoleh bahwa manfaat penggunaan alat peraga adalah untuk memahami konsep. Manfaat lain yaitu memberi pengalaman belajar, memotivasi, membantu siswa yang masih lamban, serta menghemat waktu. Alat peraga juga dapat digunakan untuk menunjang kegiatan di luar kelas dan menambah program belajar siswa yang pada taraf pintar. 2.1.3.4 Pengertian Alat Peraga Montessori Alat peraga Montessori adalah alat yang digunakan dalam pembelajaran dengan metode Montessori yang bertujuan untuk memudahkan siswa dalam pemahaman materi. Menurut Montessori, alat peraga adalah material untuk siswa dalam belajar yang didesain secara sederhana, menarik, memungkinkan untuk diekplorasi, memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar secara mandiri, dan memperbaiki kesalahan mereka sendiri (Lillard, 1997: 11). Alat peraga Montessori pada bidang matematika dirancang untuk mengembangkan kemampuan matematis (Hainstock, 1997: 137), sehingga alat peraga tersebut bukan semata-mata dirancang untuk mencapai kompetensi matematika saja. Kemampuan matematis yang terdapat pada alat peraga Montessori meliputi abstraksi, pemahaman perintah, dan pengkonstruksian konsep-konsep yang diperoleh dari penggunaan alat peraga. 2.1.3.5 Alat Peraga Bola-Bola Penjumlahan Montessori Alat peraga yang digunakan dalam penelitian ini adalah bola-bola penjumlahan. Alat peraga bola penjumlahan Montessori digunakan untuk membantu siswa kelas I semester genap pada materi sifat operasi penjumlahan. 16

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Standar Kompetensi (SK) 4 yaitu 4 melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai dua angka dalam pemecahan masalah. Kompetensi Dasar (KD) 4.5 menggunakan sifat operasi pertukaran dan pengelompokan khususnya pada penjumlahan. Alat peraga bola penjumlahan ini dikembangkan dengan mengadopsi alat peraga Montessori yang disebut Golden beads material atau manik-manik emas. Alat peraga manik-manik emas milik Montessori terdiri atas manik emas satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan. Manik emas satuan terdiri atas manik satuan yang terurai. Manik emas puluhan merupakan kumpulan 10 manik satuan yang dironce menjadi satu. Manik emas ratusan merupakan kumpulan 10 manik emas puluhan yang dironce menjadi satu hingga membentuk persegi. Sedangkan manik emas ribuan merupakan kumpulan 10 manik ratusan yang disusun menjadi satu hingga berbentuk menyerupai kubus. Manik-manik emas pada alat peraga Montessori dilengkapi dengan kartu bilangan satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan. Kartu bilangan satuan berwarna hijau, kartu bilangan puluhan berwarna biru, kartu bilangan ratusan berwarna merah, dan kartu bilangan ribuan berwarna hijau. Sama halnya dengan alat peraga manik-manik emas milik Montessori, alat peraga bola-bola penjumlahan juga terdiri atas rangkaian bola yang memiliki nilai satuan, puluhan, dan ratusan, namun dalam penelitian ini tidak memakai rangkaian bola yang bernilai ribuan karena subjek yang digunakan adalah anak kelas 1 SD. Bola satuan terdiri atas bola satuan yang terurai. Bola puluhan merupakan kumpulan 10 manik satuan yang dironce menjadi satu. Bola ratusan merupakan kumpulan 10 manik puluhan yang dironce menjadi satu hingga membentuk persegi. Alat peraga ini dilengkapi dengan tanda operasi hitung, kartu bilangan, kartu soal, lembar kerja siswa, dan album alat peraga. Tanda operasi hitung berupa +, =, dan ( ). Kartu bilangan yang terdiri atas satuan, puluhan, dan ratusan. Kartu soal dibuat dari kertas ivory, dimana kartu soal ini memiliki pengendali kesalahan tersendiri. Lembar kerja siswa berisi kumpulan soal-soal penjumlahan dengan menggunakan sifat operasi hitung pertukaran dan pengelompokkan yang akan dikerjakan siswa setelah mereka berlatih menggunakan alat peraga. Album alat peraga yang berisi tujuan alat peraga, deskripsi alat peraga, dan manual cara penggunaan alat peraga. 17

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Manik-manik emas pada dasarnya hanya digunakan untuk mengajarkan empat operasi matematika dasar yaitu perkalian, pembagian, penjumlahan, dan pengurangan. Pada penelitian ini, alat peraga digunakan untuk mengajarkan sifat operasi hitung yaitu pertukaran dan pengelompokan. Selain itu, produk yang akan dikembangkan pada penelitian ini menggunakan potensi lokal yang dimiliki, yaitu dengan menggunakan kayu sonokeling sebagai bahan utama pembuatan bola penjumlahan. Pemilihan kayu ini didasarkan pada kualitas dan beratnya yang disesuaikan dengan kemampuan beban yang dapat dibawa anak. Kayu sonokeling tersebut dibuat lingkaran-lingkaran kecil yang menyerupai bola dengan diameter kurang lebih 1 cm. Pada bagian tengah diberi lubang yang berguna sebagai pengait antar bola. Selanjutnya potongan-potongan kayu sonokeling yang telah menjadi bola tersebut dicat dengan warna merah. Bola puluhan dibuat dengan cara meronce bola satuan menjadi manik puluhan, caranya dengan mengaitkan 10 bola satuan menggunakan kawat besi. Bola ratusan dibuat dengan menggabungkan 10 roncean manik puluhan yang kemudian diatasnya diikat dengan menggunakan kawat. Tahap selanjutnya adalah pembuatan alas kerja yang menggunakan bahan baku lidi kemudian disusun menyerupai karpet. Pada bagian tengah tikar lidi tersebut diberi garis yang berwarna terang dengan tujuan unuk membuktikan hasil perhitungan dari penggunaan sifat pertukaran dan pengelompokkan. Tahap terakhir yang dilakukan adalah pembuatan kotak sebagai wadah dari alat peraga bola penjumlahan dan pengurangan. Kotak ini juga dibuat dengan memanfaatkan budaya lokal yang berupa kayu mindi. Gambar 2.1 Alat Peraga Bola Penjumlahan secara keseluruhan Cara menggunakannya alat peraga bola penjumlahan yaitu: a. Direktris menyiapkan tempat kerja. 18

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI b. Anak diminta duduk di sebelah kanan direktris. c. Direktris mengambil salah kartu soal, meletakkannya di atas karpet sambil berkata, “Tiga tambah empat”. d. Direktris meminta anak menuliskan soal tersebut pada lembar kerja. e. Direktris mengambil kartu bilangan 3 dan di letakkan pada alas kerja sebelah kiri garis. f. Direktris mengambil kartu simbol penjumlahan (+) kemudian meletakkannya di samping kartu bilangan 3. g. Direktris mengambil kartu bilangan 4 kemudian meletakkannya di samping kartu simbol penjumlahan (+). h. Direktris meminta anak untuk memasangkan bola sesuai dengan jumlah yang ada pada kartu soal. i. Direktris meminta anak untuk menghitung jumlah semua bola. j. Direktris membalik kartu soal yang berisi jawabannya. k. Direktris meminta anak menuliskan hasil penjumlahan tersebut pada lembar kerja. 19

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI l. Direktris bertanya kepada anak, “Bagaimana jika kita kerjakan soal ini dengan cara menukar angkanya? Apakah hasilnya akan sama?”. m. Direktris mengambil kartu soal dan meletakkannya di atas karpet., sambil berkata, “Empat tambah tiga”. n. Direktris mengambil kartu bilangan 4 dan di letakkan pada alas kerja sebelah kiri garis. o. Direktris mengambil kartu simbol penjumlahan (+) kemudian meletakkannya di samping kartu bilangan 4. p. Direktris mengambil kartu bilangan 3 kemudian meletakkannya di samping kartu simbol penjumlahan (+). q. Direktris meminta anak untuk memasangkan bola yang sesuai dengan jumlah yang ada pada kartu soal. r. Direktris meminta anak untuk menghitung jumlah semua bola. s. Direktris bertanya kepada anak, “Apakah hasilnya sama dengan yang tadi?”. t. Jawabannya sama, yaitu 3 + 4 = 4 + 3 20

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI =7 Direktris mengecek jawaban anak menggunakan kunci jawaban yang ada pada halaman sebalik kartu soal. 2.1.3.6 Ciri-ciri Alat Peraga Montessori Alat peraga Montessori diciptakan berdasarkan observasi dan modifikasi di casa dei bambini.Dengan menggunakan metode eksperimental, Montessori mencobakan alat peraganya.Anak-anak yang tadinya sangat “liar” dan sulit dikontrol ternyata mampu menaruh perhatian yang serius pada alat peraga yang dirancang oleh Montessori. Tidak hanya itu anak-anak tersebut juga menunjukkan peningkatan dalam komunikasi dengan orang lain (Magini, 2013: 32-33). Selama dua tahun, Montessori terus mengujicobakan alat peraganya. Dengan melihat reaksi anak, Montessori melakukan berbagai modifikasi dan perbaikan sehingga diperoleh alat peraga yang dipergunakan hingga sekarang. Alat peraga yang dihasilkan memiliki warna-warna cerah, mudah dimanipulasi, dan berbahan dasar kayu yang ringan namun memiliki daya tahan yang baik. Berikut merupakan ciriciri umum alat peraga Montessori (Montessori, 1964: 169-179). 1. Menarik Montessori (2002: 81) mengemukakan bahwa setiap media pembelajaran harus mengandung unsur keindahan. Unsur tersebut dapat dilihat dari segi warna sehingga mengundang minat siswa untuk belajar. Alat-alat peraga harus dibuat menarik bagi siswa agar secara spontan siswa ingin menyentuh, meraba, memegang, merasakan, dan menggunakannya untuk belajar. Tampilan fisik alat peraga harus mengkombinasikan warna yang cerah dan disukai siswa. Dengan demikian, siswa akan menggunakan sensorialnya untuk belajar. 21

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Bergradasi Penggunaan alat peraga Montessori sebagian besar menggunakan indera yang ada pada tubuh manusia. Pada setiap alat peraga, terdapat suatu tingkatan yang terus-menerus dapat merangsang indera untuk menjadi semakin peka. Misalnya, pada kartu warna yang memperkenalkan gradasi warna dari gelap ke terang. Alat peraga berbasis metode Montessori tidak hanya gradasi pada warna saja, tetapi juga pada gradasi bentuk. Untuk memperkenalkan gradasi bentuk, dapat digunakan menara pink (pink tower) yang memiliki 10 kubus yang jika disusun akan semakin mengkerucut karena setiap kubus memiliki selisih sisi sebesar 1 cm (Montessori, 1964: 173). Selain memiliki gradasi untuk melatih indra manusia, alat peraga Montessori juga memiliki gradasi umur. Sehingga satu alat dapat dipergunakan oleh berbagai jenjang umur yang berbeda.Misalnya, tongkat asta merah biru yang pada awalnya hanya digunakan untuk membilang, pada tataran yang lebih tinggi dapat digunakan untuk melatih penjumlahan dan pengurangan di bawah 10. 3. Auto-correction Pembelajaran individual yang diangkat oleh Montessori semakin diperkuat dengan alat yang memiliki kemampuan auto-correction yang disebut juga pengendali kesalahan. Kemampuan ini memungkinkan anak untuk mengetahui secara mandiri bahwa ia harus mencoba lagi karena sedang terjadi kesalahan ketika sedang belajar. Misalnya, ketika seorang anak berumur tiga tahun sedang berlatih dengan inkastri slinder (incastri solidi). Ia akan mengetahui kesalahanya ketika salah memasukan silinder, sehingga permukaan balok menjadi tidak rata, lubang terlalu lebar ataupun terlalu sempit sehingga silinder tidak dapat masuk dengan sempurna (Montessori, 1964: 169). Demikian pula lingkungan belajar yang memang diatur dengan pengendali kesalahan. Ketika terdapat satu anak yang mengambil tongkat asta merah namun setelah selesai menggunakan ia tidak mengembalikan ke tempat semula, anak lain akan kebingungan mencari tongkat asta merah tersebut karena tongkat tersebut tidak ada di tempat seperti biasa. Anak tersebut akan mengingatkan temannya untuk mengembalikan alat peraga seusai menggunakannya. 22

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Auto-education Pembelajaran dengan metode Montessori menuntut anak mandiri dalam belajar, intervrensi dari direktris sangatlah minim bahkan tidak ada. Menurut Montessori hal utama yang harus memberikan pengetahuan pada anak adalah lingkungan, teman, dan alat peraga (Montessori, 1964: 106). Peran direktris hanyalah sebagai fasilitator dan juga observer fisik dan psikis. Selain itu tata ruang, perabotan, cat, hingga kamar mandi didesain sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak. Tujuannya adalah untuk mempermudah dan mendukung proses belajar yang dilakukan dalam satu ruangan besar. 5. Kontekstual Menurut Johnson (dalam Komalasari, 2010: 6), kontekstual merupakan pembelajaran yang mengkaitkan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata siswa sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat dengan tujuan untuk menemukan makna materi tersebut bagi kehidupannya. Ciri yang terakhir ini bukanlah sesuatu yang wajib ada dan dimiliki oleh alat peraga ataupun sekolah Montessori, namun hanya upaya untuk melihat sisi lain dari metode Montessori yang jika kembalikan pada sejarahnya didedikasikan untuk anak-anak berkekurangan dan tinggal di pemukiman kumuh. Pemanfaatan bahan-bahan yang sesuai dengan konteks lokal daerah di mana sekolah Montessori didirikan, akan menekan banyak biaya operasional pembuatan alat peraga. Sehingga alat peraga Montessori tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang mahal dan berkelas, namun dapat dirasakan pula oleh anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi 2.1.4 Materi Penjumlahan dan Pengurangan Matematika merupakan salah satu mata pelajaran pokok yang dipelajari oleh siswa sekolah dasar. Tujuan dari matematika adalah membangun kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerja sama. Materi yang menjadi ruang lingkup matematika di SD adalah bilangan, geometri dan pengukuran, pengolahan data. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah penjumlahan dan pengurangan bilangan untuk siswa kelas I semester genap. SK yang 23

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI digunakan “Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai dua angka dalam pemecahan masalah”. Kompetensi dasar yang digunakan adalah “Menggunakan sifat operasi pertukaran dan pengelompokkan”.. Materi penjumlahan terdiri atas penjumlahan bilangan satu angka dengan satu angka, penjumlahan bilangan dua angka dengan satu angka, dan penjumlahan bilangan dua angka dengan dua angka. Materi pengurangan terdiri atas pengurangan bilangan satu angka dengan satu angka, pengurangan bilangan dua angka dengan satu angka, dan pengurangan bilangan dua angka dengan dua angka. Jenis bilangan yang digunakan dalam materi penjumlahan dan pengurangan merupakan bilangan kardinal karena menunjukkan sebuah kuantitas. Bilangan ini digunakan untuk menyatakan hitungan dalam menghitung benda, menghitung umur, dan waktu. Konsep yang perlu dikuasai oleh siswa sebelum melakukan penjumlahan dan pengurangan adalah nilai tempat sebuah bilangan. Berkaitan dengan materi penjumlahan dan pengurangan kelas I, siswa perlu menguasai konsep nilai tempat untuk menentukan nilai satuan dan puluhan dari sebuah bilangan. Penguasaan terhadap konsep tersebut membantu siswa untuk melakukan penjumlahan dan pengurangan dengan konsep dan langkah yang benar. 2.1.4.1 Materi Operasi Bilangan Bulat Menurut Sutopo (2009: 4) bilangan bulat adalah bilangan yang terdiri dari bilangan cacah (termasuk bilangan asli) dan bilangan bulat negatif. Bilangan cacah adalah bilangan yang dimulai dari 0, 1, 2, 3, 4.... dst, sedangkan bilangan asli yaitu bilangan yang dimulai dari 1, 2, 3, ....dst. Menurut Nuharini, bilangan bulat dapat dinotasikan dengan Z = {.....-2, -1, 0, 1, 2, 3......}”(Nuharini, 2008: 5). Menurut Mustaqim, bilangan bulat gabungan merupakan bilangan nol, bilangan asli, dan lawan bilangan asli (Mustaqim, 2008: 137). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bilangan bulat merupakan bilangan yang terdiri dari bulat positif {1, 2, 3,......}, bulat negatif {...-3, -2, -1 }, dan nol {0}. Bilangan bulat biasanya dinotasikan dengan lambang huruf Z. 24

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Dalam matematika terdapat empat operasi hitung yaitu penjumlahan, pengurangan, pembagian, dan perkalian. Operasi hitung bilangan bulat adalah operasi hitung pada bilangan bulat saja. Dalam pengerjaan operasi hitung bilangan bulat, dapat menggunakan alat peraga manik-manik emas. 2.1.5 Persepsi 2.1.5.1 Pengertian Persepsi Menurut Jalaluddin, persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan (Jalaluddin, 1985: 64). Persepsi juga diartikan sebagai tanggapan atau temuan gambaran langsung dari suatu atau temuan gambaran langsung dari suatu serapan seseorang dalam mengetahui beberapa hal melalui panca indera (Depdiknas, 2001: 259). Dalam pengertian ini jelas, bahwa persepsi adalah kesan gambaran atau tanggapan yang dimiliki seseorang setelah orang tersebut menyerap untuk mengetahui beberapa hal (objek), melalui panca indera. Penginderaan merupakan suatu proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera. Pada umumnya stimulus tersebut diteruskan oleh syaraf ke pusat susunan syaraf yaitu otak, sehingga individu dapat mempersepsi apa yang ia lihat, ia dengar, dan sebagainya (Walgito, 2009: 45). Menurut Devito (dalam Sobur, 2003: 445), persepsi adalah proses kita menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang mempengaruhi indera kita, sehingga hasil persepsi seseorang mengenai suatu objek dapat berbeda dengan individu lainnya, tergantung dengan penampilan objek itu sendiri dan pengetahuan individu tersebut mengenai objek. Matlin (dalam Suharnan, 2005: 23) mengatakan bahwa persepsi adalah suatu proses penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki (yang disimpan dalam ingatan) untuk mendeteksi atau memperoleh dan menginterpretasi stimulus (rangsangan) yang diterima oleh alat indera seperti mata, telinga, dan hidung. Menurut Walgito, persepsi adalah suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan, yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera atau juga disebut proses sensoris (Walgito, 2004: 88). Pendapat ini tidak bertentangan dengan pendapat sebelumnya, tetapi justru 25

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI lebih menjelaskan proses terjadinya yaitu setelah penyerapan maka gambarangambaran yang diperoleh lewat panca indera itu kemudian diorganisir, kemudian diinterpretasi (ditafsirkan) sehingga mempunyai arti atau makna bagi individu, sedang proses terjadinya persepsi tersebut merupakan satu kesatuan aktivitas dalam diri individu. Berdasarkan definisi persepsi di atas, dapat disimpulkan bahwa persepsi adalah proses di mana individu memahami dan mengetahui suatu objek melalui panca indera yang ia miliki yang diteruskan ke pusat susunan syaraf, sehingga individu dapat menginterpretasi stimulus yang dapat bersifat negatif maupun positif dan dapat mempengaruhi sikap individu tersebut terhadap objek yang nantinya berguna bagi lingkungan mereka. Proses persepsi tidak dapat lepas dari proses penginderaan, dan proses penginderaan merupakan proses yang mendahului terjadinya persepsi. Proses penginderaan terjadi setiap saat, yaitu pada waktu individu menerima stimulus yang mengenai dirinya melalui alat indera. Menurut Suharnan (2005: 24), ada 3 aspek di dalam persepsi yang dianggap sangat relevan dengan kognisi manusia, yaitu pencatatan indera, pengenalan pola, dan perhatian. 1. Pencatatan indera Pencatatan indera disebut juga ingatan sensori atau penyimpan sensori (Suharnan, 2005: 24). Pencatatan indera merupakan sistem yang dirancang untuk menyimpan sebuah rekaman (record) mengenai informasi yang diterima oleh selsel reseptor (Suharnan, 2005: 24). Pencatatan indera menangkap informasi dalam bentuk kasar dan belum diproses sama sekali dalam waktu yang relatif pendek setelah stimulus diterima. Ada dua jenis ingatan sensori atau indera, yaitu ingatan iconic dan ingatan echoic. Ingatan iconic adalah sistem pencatatan indera terhadap informasi visual/gambar, sedangkan ingatan echoic adalah sistem pencatatan indera yang menggunakan fungsi pendengaran manusia (Suharnan, 2005: 25-26). Ada dua macam pencatatan indera dengar yaitu penyimpanan jangka pendek dan dapat menghilang dalam waktu kurang dari satu detik setelah simulus ditiadakan; dan penyimpangan jangka panjang, yaitu informasi menghilang beberapa detik setelah stimulus ditiadakan (Suharnan, 2005: 26). Sistem pencatataan indera 26

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI meliputi indera penglihat, indera pendengar, indera peraba, indera penciuman, dan indera pengecap. 2. Pengenalan pola Tahap lanjutan setelah pencatatan indera adalah proses pengenalan pola. Menurut Suharnan, pengenalan pola merupakan proses transformasi dan mengorganisasikan informasi yang masih kasar itu, sehingga memiliki makna atau arti tertentu (Suharnan, 2005: 26). Terdapat teori-teori di dalam pengenalan pola (Suharnan, 2005: 27), teori-teori tersebut antara lain: template-matching theory, prototype theory, distinctive feature theory, template-matching dan gestalt theory. Template-matching theory adalah proses pengenalan pola dengan cara membandingkan satu stimulus dengan seperangkat pola khusus yang telah disimpan dalam ingatan jangka panjang. Prototype theory adalah pencocokan antara prototipe (bentuk dasar) yang abstrak dengan pola yang ideal dalam ingatan tidak harus sama persis, tetapi cukup dengan variasi beberapa bagian kecil saja. Distinctive feature theory adalah teori yang menyatakan bahwa orang membedabedakan di antara berbagai objek atau huruf berdasarkan ciri-ciri khusus yang dimiliki masing-masing objek atau huruf. Gestalt theory mengungkapkan bahwa secara alamiah manusia memiliki kecenderungan untuk menyederhanakan struktur di dalam mengorganisasikan objek-objek perseptual (Brenan dalam Suharnan, 2005: 29). Dengan demikian, pengenalan pola merupakan proses mengidentifikasi stimulus atau informasi yang ada dalam ingatan jangka panjang. 3. Perhatian Suharnan berpendapat bahwa perhatian melibatkan proses seleksi terhadap beberapa objek yang hadir pada saat itu, kemudian pada saat yang bersamaan pula seseorang hanya memilih satu objek, sementara objek-objek yang lain diabaikan (Suharnan, 2005: 40). Jadi dapat disimpulkan bahwa perhatian adalah pemusatan pada satu objek tertentu dan objek yang lain diabaikan. Menurut Walgito, terdapat 3 faktor yang berperan dalam persepsi. Faktor-faktor yang berperan dalam persepsi (Walgito, 2004: 89) : 27

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI a. Objek yang dipersepsi Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau reseptor. Stimulus dapat datang dari luar maupun dari dalam individu yang bersangkutan, namun sebagian besar stimulus datang dari luar individu. b. Alat indera, syaraf, dan pusat susunan syaraf Alat indera berfungsi sebagai penerima stimulus maupun rangsangan. Namun harus ada syaraf sensoris sebagai syarat untuk meneruskan stimulus yang nantinya akan diteruskan ke pusat susunan syaraf, yaitu otak yang berfungsi sebagai pusat kesadaran. Sedangkan alat yang diperlukan untuk mengadakan respon berupa syaraf motoris. c. Perhatian Diperlukan adanya perhatian untuk menyadari atau untuk mengadakan persepsi. Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukan kepada sesuatu atau sekumpulan objek. Individu juga akan menaruh perhatian kepada rangsangan yang sesuai dengan kebutuhannya, sehingga hasil persepsi terhadap suatu objek yang sama dapat berbeda antara individu yang satu dengan yang lainnya. Secara lebih rinci, Toha menyatakan terdapat 2 faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang yang meliputi (1) faktor intern, antara lain perasaan, sikap dan kepribadian individual, prasangka, keinginan atau harapan, perhatian (fokus), proses belajar, keadaan fisik, gangguan kejiwaan, nilai dan kebutuhan juga minat dan motivasi dari individu; dan (2) faktor ekstern, antara lain latar belakang keluarga, informasi yang diperoleh, pengetahuan dan kebudayaan sekitar, intensitas, ukuran, keberlawanan, pengulangan gerakan, hal-hal baru dan familiar atau ketidakasingan suatu objek. Persepsi dalam hal ini adalah bagaimana seseorang memaknai pengalaman yang ia peroleh terutama pengalaman setelah menggunakan alat peraga berbasis Montessori sebagai hal yang mungkin dapat mempengaruhi persepsi seseorang yaitu meliputi penasaran, sikap, prasangka, keingintahuan, proses belajar, minat atau motivasi yang diperoleh dan pemikiran terhadap objek. Salah satu aspek yang mempengaruhi transfer pengetahuan yang efektif adalah aspek kognitif. Aspek kognitif dapat berupa persepsi seperti yang telah 28

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dijelaskan di atas. Tanpa persepsi yang benar, manusia akan mengalami kesulitan untuk menangkap dan memaknai berbagai fenomena, informasi atau data di sekitarnya. Hal ini karena persepsi merupakan proses yang menyangkut masuknya informasi ke dalam otak manusia. Persepsi dipengaruh oleh suatu sikap terhadap objek dan dipicu oleh suatu kejadian yang mengaktifkan sikap (Fazio, 1989; Fazio dan Roskos-Ewoldsen, 1994). Oleh karena itu sikap selalu terbentuk atau dipelajari dalam hubungannya dengan objek-objek tertentu, yaitu melalui proses persepsi terhadap objek tersebut. Hubungan yang positif atau negatif antara individu dengan objek tertentu, akan menimbulkan sikap tertentu pula dari individu terhadap objek tersebut. Sehingga persepsi dapat mempengaruhi intensi seseorang dalam melakukan sesuatu. Faktor yang menentukan intensi seseorang adalah sikap terhadap perilaku yang dimaksud, bila seorang individu mempunyai sikap yang negatif pada seseorang atau objek, orang tersebut akan mempunyai kecenderungan untuk menunjukkan sikap yang negatif pula kepada orang atau objek yang dipersepsi. Hal ini berarti bahwa jika persepsi seseorang mengenai alat peraga itu bagus maka intensinya akan tinggi menggunakan alat peraga tersebut dan sebaliknya jika persepsi seseorang mengenai alat peraga sudah jelak maka intensinya untuk menggunakan alat peraga tersebut lemah. Objek sikap akan dipersepsi oleh individu, dan hasil persepsi akan dicerminkan dalam sikap yang diambil oleh individu yang bersangkutan. Dalam mempersepsi objek sikap individu akan dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, keyakinan, proses belajar, dan hasil proses persepsi ini akan merupakan pendapat atau keyakinan individu mengenai objek sikap, dan ini berkaitan dengan segi kognisi. Afeksi akan mengiringi hasil kognisi terhadap objek sikap sebagai aspek evaluatif, yang dapat bersifat positif atau negatif. Keadaan lingkungan akan memberikan pengaruh terhadap objek sikap maupun pada individu yang bersangkutan. Berikut ini adalah bagan persepsi yang dikutip dari Walgito, 2003: 116: 29

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Keyakina n Proses belajar Pengetahuan Pengalama n Persepsi Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh Objek sikap Kognisi Kepribadia nnn Afeksi Sikap Evaluasi Senang/ tak senang Bertindak Gambar 2.2 Bagan proses terjadinya perilaku Selanjutnya peneliti memodifikasi bagan menurut Walgito (Walgito, 2003: 116) sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan: Persepsi Hasil Belajar Pemikiran Pengalaman Sikap Kepercaya an Perilaku Perasaan Perasaan Tindakan Bagan 2.3 Bagan proses terjadinya perilaku yang dimodifikasi 30

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.1.5.2 Persepsi terhadap Penggunaan Alat Peraga Montessori Salah satu aspek yang mempengaruhi efektif tidaknya transfer pengetahuan adalah dengan memperhatikan faktor-faktor psikologis yang ada pada siswa dan guru, salah satunya meliputi aspek kognitif. Aspek kognitif yang paling penting salah satunya adalah persepsi. Persepsi dapat mempengaruhi intensi seseorang dalam melakukan sesuatu. Persepsi juga dipengaruh oleh suatu sikap terhadap objek dan dipicu oleh suatu kejadian yang mengaktifkan sikap (Fazio, 1989; Fazio dan Roskos-Ewoldsen, 1994). Dalam intensi, terdapat tiga faktor penentu, yaitu sikap terhadap perilaku yang dimaksud, keyakinan tentang bagaimana evaluasi orang lain terhadap perilakunya (faktor ini dikenal dengan nama norma-norma subjektif), dan yang terakhir adalah intensi juga dipengaruhi oleh perceived behavioral control (persepsi tentang kemampuannya untuk mengontrol perilaku) – sejauh mana orang mempersepsi sebuah perilaku sulit atau mudah dilakukan. Jika persepsi seseorang mengenai alat peraga itu negatif/buruk, intensi untuk menggunakan alat peraga lemah, namun jika persepsi seseorang mengenai alat peraga positif/baik, maka intensi untuk menggunakan alat peraga tinggi. Menurut salah satu teori – yaitu model teori Fazio untuk proses dari-sikapke-perilaku (Fazio, 1989; Fazio dan Roskos-Ewoldsen, 1994) – proses itu berlangsung sebagaimana berikut. Kejadian tertentu mengaktifkan suatu sikap. Begitu diaktifkan, sikap tersebut mempengaruhi persepsi kita terhadap objek sikap. Pada saat yang sama, pengetahuan kita tentang apa yang sesuai untuk situasi tertentu (pengetahuan kita tentang pelbagai norma sosial) juga diaktifkan. Bersama-sama, sikap dan informasi yang tersimpan tentang apa yang cocok atau diharapkan itu kemudian membentuk definisi terhadap kejadian tersebut. Definisi atau persepsi ini kemudian mempengaruhi perilaku kita. Pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, akan muncul persepsi dari siswa terhadap media pembelajaran yang digunakan oleh guru di kelas dan guru juga mempunyai persepsi terhadap keefektifan dari metode yang digunakannya. Dalam hal ini pembelajaran matematika dilakukan dengan 31

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menggunakan alat peraga Montessori yang relatif baru baik bagi siswa maupun bagi guru. Siswa diharapkan secara aktif menggunakan objek yang konkret dalam menyelesaikan permasalahan matematika, sehingga siswa tidak harus selalu berpusat pada guru yang memberikan materi secara direktif maupun abstrak tanpa menggunakan alat peraga. Di sinilah letak persepsi itu mulai berperan dalam proses transfer pengetahuan dengan menggunakan alat pembelajaran yang baru. 2.1.5.3 Persepsi Guru dan Siswa terhadap Media Pembelajaran Persepsi juga diartikan sebagai tanggapan atau temuan gambaran langsung dari suatu atau temuan gambaran langsung dari suatu serapan seseorang dalam mengetahui beberapa hal melalui panca indera (Depdiknas, 2001: 259). Matlin (dalam Suharnan 2005: 23) mengatakan bahwa persepsi merupakan suatu proses penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki (yang disimpan di dalam ingatan) untuk mendeteksi atau memperoleh dan menginterpretasikan stimulus (rangsangan) yang diterima oleh alat indera. Pada saat proses pembelajaran berlangsung, siswa mempunyai persepsi terhadap pembelajaran yang diterapkan oleh guru dan begitu pula sebaliknya, guru juga memiliki persepsi terhadap keefektifan metode pembelajaran serta persepsi terhadap alat peraga yang digunakan. Dalam penelitian ini, kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan alat peraga matematika berbasis Montessori masih sangat baru bagi guru maupun siswa. Walaupun begitu, siswa diharapkan dapat aktif menggunakan alat peraga Montessori, begitu juga dengan guru yang diharapkan dapat menguasai cara penggunaan alat peraga Montessori dan memanfaatkannya semaksimal mungkin. 2.2 Hasil Penelitian yang Relevan 2.2.1 Alat Peraga Matematika Isnandar (2011) melakukan penelitian tentang penggunaan alat peraga manik-manik emas untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas 2. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 2 SD Negeri Kaligoro. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas. Penelitian dilakukan setelah penulis melihat adanya hasil yang tidak maksimal dalam pembelajaran matematika siswa. Penulis menyadari adanya kekurangan dalam proses pengajaran, sehingga penulis 32

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengadakan tes pra percobaan dengan memberi soal matematika kepada siswa di mana hanya 81% saja yang nilainya melampaui KKM. Setelah diadakan percobaan dengan menggunakan alat peraga manik-manik emas dan lidi, ternyata hasilnya meningkat pesat. Seratus persen siswa memperoleh nilai melebihi KKM. Dengan demikian, penggunaan alat peraga manik-manik emas dan lidi mampu meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas II SD Negeri Kalinegoro. Putri (2013) melakukan penelitian tentang pengembangan alat peraga Montessori untuk keterampilan geometri siswa kelas III SD. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Tamanan Yogyakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan alat peraga Montessori yang berkualitas untuk pembelajaran geometri. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (R&D), dan di akhir penelitian dilakukan uji lapangan terbatas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian dari pakar pembelajaran matematika, pakar alat peraga matematika, guru kelas III SDN Tamanan I, dan siswa kelas IIIA SDN Tamanan I memperoleh rerata skor 4,4 dan termasuk kategori “sangat baik”. Dengan demikian, alat peraga yang dikembangkan memiliki kualitas yang sangat baik untuk digunakan dalam pembelajaran matematika keterampilan geometri kelas III semester genap. Penelitian yang dilakukan oleh Putri dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi geometri. Hal ini menunjukkan bahwa alat peraga memiliki manfaat yang baik untuk siswa dalam menangkap materi pembelajaran. 2.2.2 Metode Montessori Wulandari (2007) melakukan penelitian tentang kegiatan dan hasil belajar siswa kelas 1 SD dengan metode Montessori. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan kegiatan dan hasil belajar siswa kelas satu Sekolah Dasar dengan metode Montessori dengan bantuan papan seguin. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah empat siswa kelas 1 SDN Plawikan Klaten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan belajar yang berlangsung menunjukkan adanya interaksi antara pimpinan dan siswa, siswa dan pimpinan, serta siswa dan alat. Sementara hasil belajar siswa menunjukkan bahwa 33

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI siswa merasakan kenyamanan belajar dan siswa belajar tanpa paksaan, serta siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran. Wahyuningsih (2012) melakukan penelitian tentang pengaruh model pendidikan Montessori terhadap hasil belajar siswa kelas IV SD. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pendidikan Montessori terhadap hasil belajar matematika siswa. Subjek penelitian ini adalah 36 siswa kelas IV SDN Jati Asih 03 Bekasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar matematika siswa kelompok eksperimen sebesar 66,89 dan kelompok kontrol sebesar 36,61. Berdasarkan hasil belajar matematika tersebut siswa yang gunakan model pembelajaran Montessori jauh lebih baik daripada pembelajaran konvesional. Berdasarkan kedua penelitian di atas yang pembelajaran Montessori menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilakukan menggunakan metode Montessori dapat membuat siswa aktif dalam pembelajaran dan dapat meningkatkan hasil pembelajaran siswa. Hal ini membuktikan bahwa pembelajaran menggunakan metode Montessori dapat membuat siswa termotivasi dalam belajar dan membuat prestasi akademiknya meningkat. 2.2.3 Persepsi Alimohammad (2011) melakukan penelitian tentang persepsi penggunaan media digital melalui pembelajaran formal. Subjek penelitian ini adalah 48 mahasiswa fakultas ekonomi dan komunikasi di Universitas Karlstad Swedia. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif. Pelaksanaan penelitian ini ialah pada Januari sampai Juni tahun 2010 dengan melakukan wawancara sebanyak 56 pertanyaan. Adapun tema pada pembelajaran diantarnya kepentingan individu, motivasi sosial, pandangan profesional, peralatan, komunikasi virtual dan peralatan digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan media digital dapat memudahkan mahasiswa untuk berkomunikasi. Selain itu, memudahkan mahasiswa dalam memperoleh informasi dan melakukan diskusi. Azzaki (2013) melakukan penelitian tentang persepsi penggunaan alat peraga motor starter dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Subjek penelitian ini 34

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI adalah siswa dan guru kelas X teknik sepeda motor SMK PGRI 3Malang yang berjumlah 116 siswa dan 6 guru. Tujuan dari penelitian ini untuk memperoleh informasi ada atau tidaknya peningkatan hasil belajar siswa dalam proses belajar mengajar yang lebih diarahkan pada penggunaan alat peraga motor starter. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik angket, dokumentasi dan observasi. Analisis data yangdigunakan adalah analisis statistik deskriptif persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan alat peraga motor starter dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian yang relevan seperti di atas menunjukkan bahwa terdapat beberapa penelitian tentang penggunaan alat peraga dalam kegiatan belajar, penelitian mengenai metode Montessori yang digunakan dalam kegiatan belajar serta penelitian mengenai persepsi atas penggunaan alat peraga. Hasil penelitian tentang penggunaan alat peraga dalam kegiatan pembelajaran seperti yang dilakukan oleh Isnandar (2012) dan Putri (2013) mendapatkan hasil bahwa dengan menggunakan alat peraga dalam kegiatan belajar akan lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Wahyuningsih (2012) dan Wulandari (2007) tentang penerapan metode Montessori dalam pembelajaran menunjukkan hasil bahwa pembelajaran menggunakan metode Montssori dapat mengajarkan kemandirian siswa dalam belajar dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil penelitian selanjutnya adalah mengenai persepsi penggunaan alat peraga dalam pembelajaran. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Alimohammad (2011) adalah persepsi yang muncul dari mahasiswa yaitu adanya media digital dalam pembelajaran yang memudahkan mahasiswa untuk berkomunikasi, mendapatkan informasi, dan melakukan diskusi. Senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Allimohammad, penelitian kedua membahas mengenai persepsi penggunaan alat peraga motor starter dalam pembelajaran siswa SMK jurusan teknik sepeda motor. Hasil yang diperoleh mealui penelitian tersebut yakni muncul persepsi dari guru dan siswa bahwa dengan menggunakan media pembelajaran dapat meningkatkan hsil belajar siswa serta meningkatkan motivasi belajar siswa. Penelitian yang telah dilakukan tersebut membahas mengenai pembelajaran menggunakan alat peraga, penggunaan metode Montessori dalam 35

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pembelajaran, serta persepsi atas penggunaan alat peraga. Namun dalam penelitian tersebut belum terdapat penelitian untuk mengetahui persepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis Montessori berupa bolabola penjumlahan. Oleh karena itu peneliti ingin melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui persepsi guru dan siswa terhadap penggunaan alat peraga berbasis Montessori pada materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat di kelas I. Berikut bagan peta literatur dan penelitian-penelitian sebelumnya: Metode Montessori Alat Peraga Isnandar (2011) Alat peraga – prestasi belajar Putri (2013) Alat peraga hasil belajar siswa. Persepsi Alimohamma d (2011) Persepsi – kemudahan dalam pembelajaran Wahyuningsih (2012) Wulandari (2007) Metode Montessori hasil belajar siswa Metode Montessori hasil belajar siswa Azzaki (2013) Persepsi – hasil belajar siswa Persepsi Guru dan Siswa atas Penggunaan Implementasi Alat Peraga Matematika Berbasis Montessori Pada Pembelajaran Pertukaran dan Pengelompokan Bagan 2.2 peta literatur dan penelitian-penelitian sebelumnya 36

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.3. Kerangka Berpikir Anak SD umumnya berusia 7-12 tahun dan telah memasuki tahap operasional konkret. Pada tahapan ini, anak melakukan proses penalaran melalui logika dan pembenaran serta mengembangkan imajinasi. Dalam hal pengetahuan anak sudah mampu untuk berfikir logis akan tetapi terpaku pada hal-hal yang konkret, maka dibutuhkan benda konkret dalam pembelajaran sehingga memudahkan anak dalam menerima informasi dan mendapatkan pengalaman langsung. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membantu siswa dalam memahami konsep matematika adalah dengan menggunakan alat peraga. Alat peraga adalah suatu alat bantu yang dipergunakan oleh peserta didik untuk memperagakan materi pelajaran. Manfaat alat peraga matematika antara lain (1) memudahkan siswa dalam memahami konsep-konsep dalam matematika, (2) dengan berbagai kecerdasan yang berbeda, dapat memberikan pengalaman belajar yang efektif bagi siswa, (3) memotivasi siswa untuk menyukai pelajaran matematika (4) memberikan kesempatan bagi siswa yang lebih lamban berpikir untuk menyelesaikan tugas dengan baik dan berhasil, (5) memperkaya program pembelajaran bagi siswa yang lebih pandai, dan (6) efisiensi waktu (Suharjana, 2009: 3-4). Pembelajaran matematika sangat erat hubungannya dengan penggunaan alat peraga. Salah satu alat peraga berupa benda benda konkret yang dapat membantu pemahaman siswa dalam menerima informasi adalah alat peraga berbasis Montessori. Penggunaan alat peraga matematika berbasis montessori lebih efektif karena didesain sesuai dengan perkembangan anak dan kebutuhan anak. Hal yang menarik pada alat peraga matematika berbasis Montessori memiliki karakteristik yaitu (1) menarik, (2) bergradasi, (3) memiliki pengendali kesalahan atau auto Corrections, (4) auto Education, dan (5) kontekstual. Contoh dari alat peraga tersebut adalah alat peraga bola-bola penjumlahan. Jika siswa menggunakan bola-bola penjumlahan sebagai alat peraga dalam belajar, pastinya siswa akan terbantu dalam penyelesaian masalah tentang penjumlahan bilangan bulat sehingga kemampuan berhitung dan prestasi siswa akan meningkat. Selain itu, bola-bola penjumlahan dapat mengaktifkan siswa sehingga proses 37

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pembelajaran berlangsung menyenangkan dan juga secara tidak langsung melatih psikomotorik siswa. Alat peraga matematika berbasis Montesori merupakan hal yang baru untuk guru dan siswa yang belum pernah menggunakan sebelumnya. Hal ini akan menunjukkan sikap individu terhadap objek yang diamati. Fazio, 1989; Fazio dan Roskos-Ewoldsen, 1994 (dalam Walgito, 2004) menjelaskan bahwa munculnya persepsi dipengaruhi oleh suatu sikap terhadap objek dan dipicu oleh suatu kejadian yang mengaktifkan sikap, sehingga persepsi dapat mempengaruhi intensi seseorang dalam melakukan sesuatu. Hal ini juga dapat terjadi pada intensi seseorang dalam menggunakan alat peraga. Jika seseorang memiliki persepsi yang positif terhadap alat peraga, maka seseorang akan memiliki persepsi intensi yang besar terhadap objek tersebut, namun jika seseorang memiliki persepsi yang negatif terhadap alat peraga maka seseorang akan memiliki intensi yang lemah terhadap alat peraga tersebut. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa diperlukan penelitian mengenai persepsi guru dan sisa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis Montessori untuk materi penjumalahan dan pengurangan bilangan bulat di kelas I . Dari penelitian ini akan diketahui persepsi guru dan siswa tentang penggunaan alat peraga dalam pembelajaran. Bagi guru, apakah pembelajaran menggunakan alat peraga dapat membantu guru dalam menyampaikan materi, dan bagi siswa apakah dengan menggunakan alat peraga berbasis Montessori akan memudahkan siswa dalam memahami materi, apakah dapat membuat siswa tertarik mengikuti pembelajaran, dan apakah dengan adanya pengendali kesalahan pada alat peraga bola-bola penjumlahan dapat meningkatkan kemandirian siswa dalam belajar serta dapat mengetahui kesalahannya. 38

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menghasilkan dan mengolah data yang sifatnya deskriptif seperti transkrip wawancara, catatan lapangan, gambar, foto, rekaman video, dan sebagainya (Poerwandari, 1998: 42). Sugiyono berpendapat, metode penelitian kualitatif disebut juga sebagai metode artistik, karena proses penelitian lebih bersifat seni (kurang terpola), dan disebut sebagai metode interpretif karena data hasil penelitian lebih berkenaan dengan interpretasi terhadap data yang ditemukan di lapangan (Sugiyono, 2012: 12). Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2005:4) mendefinisikan metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapay diamati. Menurut Jane (dalam Moleong, 2005: 6) penelitian kualitatif adalah upaya untuk menyajikan dunia sosial, dan perspektifnya di dalam dunia, dari segi konsep, perilaku, persepsi, dan persoalan tentang manusia yang diteliti. Pada penelitian kualitatif, teori dibatasi pada pengertian: suatu pernyataan sistematis yang berkaitan dengan seperangkat proposisi yang berasal dari data dan diuji kembali secara empiris (Moleong, 2005: 14). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologi. Fenomenologi adalah pengumpulan secara mendalam deskripsi dari orang yang mengalami suatu fenomenom tertentu: melakukan abstraksi dan menemukan makna-makna pokok dari cerita subjektif ini dan menggunakan makna-makna ini sebagai dasar suatu interpretasi dari kekhasan pokok dari fenomenom (Chamberlin, Camic& Yardley, 2004: 71). Pada dasarnya landasan teoritis dari penelitian kualitatif itu bertumpu secara mendasar pada fenomenologi. Hussrel (dalam Moleong, 2005: 14) fenomenologi diartikan sebagai 1) pengalaman subjektif atau pengalaman fenomenologikal, 2) suatu studi tentang kesadaran dari perspektif pokok dari seseorang. Moleong berpendapat, yang ditekankan oleh kaum fenomenologis adalah aspek subjektif dari perilaku orang. 39

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Mereka berusaha untuk masuk ke dalam dunia konseptual para subjek yang ditelitinya sedemikian rupa sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan oleh mereka di sekitar peristiwa dalam kehidupan sehari-hari (Moleong, 2005: 17). Herdiansyah berpendapat, penelitian dengan pendekatan kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain sebagainya (Herdiansyah, 2010: 9). Penelitian kualitatif sendiri bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan sebagainya, secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2009: 6). Proses penelitian ini melibatkan pertanyaan, pengamatan yang sudah muncul, yakni dengan mengumpulkan data, menganalisis data, mengelola data, dan membuat penafsiran mengenai makna dibalik kata. Dalam penelitian ini, data akan disajikan secara deskriptif sesuai dengan pengalaman yang dialami oleh narasumber. 3.2 Setting Penelitian 3.2.1 Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah persepsi guru dan siswa tentang alat peraga matematika yang diadaptasi dari Montessori yaitu berupa bola-bola penjumlahan. 3.2.2 Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah seorang guru dan 3 siswa kelas IB SD Karitas Yogyakarta semester genap tahun ajaran 2013/2014. Siswa yang terpilih untuk menjadi subjek penelitian diambil dari siswa kelompok eksperimen yang mengikuti penelitian eksperimen. Siswa yang terpilih untuk menjadi responden harus memiliki karakteristik yang dibutuhkan, yaitu : (1) responden harus dapat berkomunikasi dengan baik dan lancar, (2) responden mudah diajak untuk bekerja sama dengan peneliti, dan yang terakhir (3) masing-masing responden yang terpilih memiliki 40

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI prestasi mata pelajaran matematika yang berbeda, yaitu rendah, sedang, dan tinggi.Subjek M merupakan siswa kelas IB dan memiliki nilai matematika di bawah KKM. M sangat lambat menerima materi yang diajarkan oleh guru. Siswa ini termasuk siswa pendiam, namun disaat sedang mengikuti pembelajaran matematika siswa ini begitu aktif berbicara dengan teman sebelahnya maupun bermain dengan mainan yang ia bawa dari rumah sehingga ia sulit berkonsentrasi pada saat pembelajaran matematika.Berdasarkan data yang dijelaskan oleh guru kelas, perolehan nilai siswa M selalu dibawah KKM, dan itu berarti nilai siswa tersebut tidak tuntas. Siswa S merupakan siswa kelas IB yang memiliki prestasi matematika sedang. Siswa S sangat aktif di kelas, dan sangat riang selama pembelajaran matematika berlangsung. Pada saat observasi dilakukan, ia selalu bersemangat untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh ibu guru. Namun yang membuat siswa B ini memiliki prestasi belajar yang sedang adalah karena ia sangat kurang teliti dalam menjawab pertanyaan yang diberikan oleh ibu guru, sehingga jawaban miliknya salah/kurang tepat walaupun ia termasuk siswa yang cukup cepat dalam pemahaman materi. Berdasarkan data yang dijelaskan oleh guru kelas, perolehan nilai siswa S tidak selalu dibawah KKM, dan itu berarti siswa tersebut mendapat nilai tuntas. Sedangkan untuk siswa T, ia merupakan siswa kelas IB yang memperoleh peringkat 1 di kelasnya. Siswa tersebut selalu aktif di kelas, selalu mendengarkan guru saat menjelaskan, selalu mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, dan siswa ini cepat paham dalam penerimaan materi dan selalu teliti dalam menjawab soal. Dari data yang diperoleh berdasarkan wawancara, wali kelas IB termasuk guru baru yang mengajar di SD Karitas. Beliau baru mengajar 8 bulan dan sejak awal diberi kepercayaan untuk menjadi wali kelas 1. Beliau bukan merupakan lulusan S1 dengan jurusan PGSD, namun lulusan S1 dengan urusan Pendidikan Akuntansi. Walaupun kurang sinkron pekerjaan yang beliau jalani dengan jurusan yang beliau ambil pada saat kuliah dulu, namun beliau sangat antusias dan bersemangat pada saat mengajar siswa-siswa kelas 1. 41

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.2.3 Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Karitas Nandan Yogyakarta, yang juga digunakan untuk penelitian eksperimen. Sekolah Dasar Karitas Nandan beralamatkan di Jl Nandan 4 RT 001 No. 39, Sariharjo, Ngaglik Sleman, Yogyakarta 55581. Peneliti memilih SD Karitas Nandan, karena sekolah ini merupakan sekolah dengan kelas pararel, kecuali kelas 2 yang hanya memiliki 1 kelas. SD Karitas Nandan yang terletak di daerah pedesaan dan jauh dari jalan raya membuat suasana belajar di SD ini lancar dan para siswalebih bisa berkonsentrasi untuk belajar karena tidak ada suara bising maupun gangguan lain yang berasal dari luar. Walaupun SD Karitas beralamatkan di lingkungan yang termasuk pedesaan, namun fasilitas yang ada di sekolah ini sangat mendukung untuk kegiatan belajar mengajar. Terdapat belasan unit komputer untuk praktek para siswa jika sedang mengikuti pelajaran komputer. Selain itu, ekstrakurikuler yang ada di SD Karitas tidak kalah dengan ekstrakurikuler yang ada di sekolah perkotaan. Ekstrakurikuler yang dimiliki SD Karitas antara lain: paduan suara, drum band, tari tradisional, balet, dansa, futsal, dan bahasa Inggris. Inilah faktor yang membuat SD Karitas Nandan memiliki banyak prestasi dan sering memenangkan lomba selain bimbingan dari para bapak dan ibu guru. Prestasi yang pernah diraih oleh SD Karitas Nandan antara lain : Juara 1 lomba menyanyi sekecamatan, juara 1 lomba futsal se kecamatan, lomba tari, dan masih banyak lagi. Alasan saya memilih SD Karitas Nandan sebagai tempat penelitian adalah semangat tinggi yang dimiliki oleh murid-murid dan guru yang ada di SD Karitas Nandan untuk lebih maju dan lebih baik lagi. SD Karitas Nandan terletak di Dusun Nandan Sariharjo Ngaglik Sleman Yogyakarta. 3.3 Desain Penelitian Langkah-langkah yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian kualitatif untuk sampai pada hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan adalah sebagai berikut: 42

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Menyusun kerangka penelitian. Hal ini dilakukan sebagai dasar untuk mengetahui pemikiran peneliti, alur pemikiran peneliti, alasan peneliti melakukan penelitian, dan desain penelitian yang digunakan untuk pengambilan data. 2. Menyusun fokus penelitian dari narasumber supaya peneliti memiliki pedoman wawancara ketika pengambilan data. 3. Melakukan pengambilan data. Setelah menemukan subjek penelitian yang sesuai dengan prosedur pengambilan data, selanjutnya peneliti melakukan wawancara dan melakukan pengamatan terhadap subjek penelitian secara berkelanjutan. 4. Melakukan pencatatan hasil yang diperoleh selama pengambilan data. 5. Setelah melakukan pencatatn hasil penelitian, peneliti mengolah semua data hasil wawancara dan pengamatan dari subjek penelitian. Hal ini bertujuan untuk mempermudah peneliti dari pihak lain memeriksa ketepatan langkah-langkah yang telah diambil dan memungkinkan data tersusun rapi, sistematis, dan lengkap. 6. Melakukan analisis data yang diperoleh. Di bawah ini merupakan bagan prosedur penelitian menurut Patton (dalam McMillan, 2001: 400) Studi awal Analisis Tahap perencanaan Mempertajam fokus dan perumusan masalah penelitian Pelaksanaan (observasi ,interview, dokumen) Temuan Pengecekan keabsahan data Simpulan hasil penelitian. Rekomendasi, dalildalil MODEL HIPOTETIK PERSONALISASI NILAI BELA GHAM Bagan 3.1 Prosedur Penelitian 43

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Selanjutnya peneliti memodifikasi bagan menurut Patton (dalam McMillan, 2001: 400) sesuai dengan prosedur penelitian yang dilakukan. Berikut adalah bagan prosedur penelitian yang sudah dimodifikasi sebagai berikut: Analisis Observasi Pelaksanaan (observasi interview, dokumen) Tahap Perencanaan Mempertajam fokus dan perumusan masalah penelitian Pengecekan keabsahan data Temuan Bagan 3.2 Prosedur Penelitian yang sudah dimodifikasi Peneliti mencoba menjabarkan prosedur penelitian menurut Patton (dalam McMillan, 2001: 400) dengan modifikasi sebagai berikut: 1. Observasi Tahap awal peneliti melakukan proses pembelajaran secara umum yang berlangsung di kelas 1B SD Karitas Nandan. Observasi ini meliputi metode yang digunakan guru dalam mengajar, fasilitas yang digunakan dalam proses belajar, media pembelajaran yang berguna, serta sarana dan prasarana yang tersedia di kelas 1B. 2. Tahap Perencanaan Pada tahap perencanaan ini, peneliti menyusun instrumen penelitian yang berupa lembar observasi untuk guru dan siswa (terlampir) serta lembar wawancara untuk guru dan siswa (terlampir). Berikut adalah tabel perencanaan wawancara : 44

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 3.1 Tabel Perencanaan Observasi No Kegiatan 1. Observasi kondisi sosiocultural 2. 3. Observasi 1 proses pembelajaran Observasi 1 ketika pelaksanaan Tujuan Subjek Objek Jenis Observasi Instrumen Untuk 1. Guru mengetahu i kondisi atau keadaan kelas 2. Siswa Ruang kelas Anecdotal record Ruang kelas Anecdotal record Untuk 1. Guru mengetahu i proses pembelajar an yang terjadi di kelas sebelum 2. Siswa mengguna kan alat peraga berbasis metode Montessori Untuk 1. Guru mengetahu i respon guru dan siswa terhadap pengaplika sian alat peraga berbasis metode Montessori 2. Siswa - Anecdotal record - Anecdotal record - Anecdotal record Panduan observasi sosio-cultural (lihat Lampiran 3.1, halaman 91) Panduan observasi sosio-cultural (lihat Lampiran 3.1, halaman 91) Panduan observasi proses pembelajaran (lihat Lampiran 3.2, halaman 92 ) Panduan observasi proses pembelajaran (lihat Lampiran 3.2, halaman 92 ) Panduan observasi guru (lihat Lampiran 3.3, halaman 93) - Anecdotal record Panduan observasi siswa (lihat Lampiran 3.4, halaman 94) Pelaksanaan (tempat, waktu, tanggal) Tempat : SD Karitas Waktu : Tanggal : Tempat : SD Karitas Waktu : Tanggal : Tempat : SD Karitas Waktu : Tanggal : Tempat : SD Karitas Waktu : Tanggal : 45

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No Kegiatan 4. Observasi II ketika pelaksanaan Tujuan Subjek Untuk 1. Guru mengetahu i respon guru dan siswa terhadap 2. Siswa pengaplika sian alat peraga berbasis metode Montessori Objek Jenis Observasi Instrumen - Anecdotal record - Anecdotal record Panduan observasi guru (lihat Lampiran 3.3, halaman 93) Panduan observasi siswa (lihat Lampiran 3.4, halaman 94) Pelaksanaan (tempat, waktu, tanggal) Tempat : SD Karitas Waktu : Tanggal : 46

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 3.2 Tabel Perencanaan Wawancara 1. 2. Wawancara pra penelitian Wawancara pasca penelitian Untuk mengetahui kondisi awal sebelum penelitian 1. Guru Semi terstruktur Panduan wawancara pra-penelitian (lihat Lampiran 3.5, halaman 96 ) 2. Siswa A,B,C Semi terstruktur Panduan wawancara pra-penelitian (lihat Lampiran 3.6, halaman 97 ) Semi terstruktur Panduan wawancara pasca penelitian (lihat Lampiran 3.7, halaman 99) Semi terstruktur Panduan wawancara pasca penelitian (lihat Lampiran 3.8, halaman 103) 1. Guru Untuk mengetahui kondisi akhir setelah penelitian 2. Siswa Tempat : SD Karitas Waktu : Tanggal : Tempat : SD Karitas Waktu : Tanggal : 47

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3. Mempertajam fokus dan perumusan masalah penelitian Langkah selanjutnya adalah mempertajam fokus dan perumusan masalah penelitian. Dalam hal ini, fokus dan perumusan masalah dari penelitian ini adalah mengenai persepsi guru dan siswa terhadap alat peraga matematika berbasis Montessori. 4. Pelaksanaan (observasi, interview, dokumen) Setelah peneliti melakukan pemfokusan dan menetapkan perumusan masalah yang akan diteliti, peneliti melaksanakan beberapa prosedur yang harus dilakukan agar data yang diperoleh lengkap dan hasil/tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Dalam pelaksanaannya, peneliti melakukan observasi, interview, dan melakukan dokumentasi. Observasi dilakukan di kelas 1 B SD Karitas Nandan Yogyakarta pada saat pembelajaran matematika sedang berlangsung. Saat observasi berlangsung peneliti dapat melihat seperti apa sikap siswa yang akan dijadikan subjek penelitian. Apakah anak tersebut aktif dan dapat diajak bekerja sama, atau malah sebaliknya. Setelah melakukan observasi, peneliti melakukan interview kepada guru kelas 1 B dan kepada 3 siswa yang terpilih untuk dijadikan subjek penelitian. Dalam interview ini, peneliti bertanya mengenai suasana pembelajaran matematika, dan persepsi akan alat peraga. Selama melakukan observasi dan interview, tak lupa peneliti melakukan dokumentasi dengan tujuan untuk mengabadikan kegiatan yang telah dilakukan selama penelitian, yang nantinya dokumen tersebut dapat membantu peneliti dalam menyusun laporan dan juga akan menjadi bukti bagi peneliti bahwa peneliti benarbenar melakukan penelitian di SD Karitas Nandan Yogyakarta. 5. Analisis Setelah melakukan pelaksanaan penelitian, langkah selanjutnya peneliti akan menganalisis dan mengolah data yang telah didapat baik dari observasi, interview, maupun data yang didapat melalui dokumentasi. 6. Pengecekan Keabsahan Data Langkah selanjutnya setelah peneliti melakukan analisis adalah melakukan pengecekan keabsahan data. Dalam penelitian, setiaptemuan harus dicek 48

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI keabsahannya agar kebenaran hasil penelitiannya dapat dipertanggungjawabkan dan keabsahannya dapat dibuktikan. 7. Temuan Setelah melewati beberapa langkah atau prosedur yang cukup panjang, langkah terakhir yang peneliti lakukan adalah melakukan temuan. Dalam hal ini peneliti akan mendapat temuan yang nantinya akan diteliti lebih lanjut dan lebih dalam. 3.4 Teknik Pengumpulan Data Menurut Lofland (dalam Moleong, 2009: 157) sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Menurut Sugiyono (2011: 309), pengumpulan data dalam penelitian kualitatif ini melibatkan 4 teknik, yaitu: 1. Observasi kualitatif. Merupakan observasi yang di dalamnya peneliti langsung turun ke lapangan untuk mengamati perilaku dan aktivitas subjek di lokasi penelitian. Dalam pengamatan ini, peneliti merekam atau mencatat aktivitas dalam lokasi penelitian. 2. Wawancara kualitatif. Peneliti melakukan face-to-face interview(wawancara berhadap-hadapan) dengan subjek. Wawancara memerlukan pertanyaanpertanyaan yang secara umum tidak terstruktur (unstructured) dan bersifat terbuka (open-ended) yang dirancang untuk memunculkan pandangan dan opini dari subjek. 3. Dokumen kualitatif. Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan dokumendokumen kualitatif, yang dapat berupa dokumen publik seperti laporan kantor, ataupun dokumen privat seperti buku harian, dan diary. Berdasarkan jenis penelitian kualitatif, peneliti menggunakan beberapa metode pengumpulan data: 49

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.4.1 Wawancara Menurut Arikunto, wawancara atau interview merupakan dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara (interviewer) (Arikunto, 2010: 198). Pewawancara (interviewer) bertugas untuk mengajukan pertanyaan, sedangkan terwawancara (interviewer) bertugas untuk menjawab pertanyaan tersebut. Wawancara dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan langsung kepada subjek. Peneliti melakukan wawancara sesuai dengan pedoman wawancara yang telah dibuat. Lembar pedoman wawancara guru dan siswa ini terdiri dari lembar pedoman wawancara sebelum menggunakan alat peraga dan setelah menggunakan alat peraga. Lembar pedoman wawancara sebelum menggunakan alat peraga bertujuan untuk mengetahui persepsi guru dan siswa dalam suatu pembelajaran tanpa menggunakan alat peraga, sedangkan lembar pedoman wawancara setelah menggunakan alat peraga bertujuan untuk mengetahui persepsi guru dan siswa dalam suatu pembelajaran menggunakan alat peraga dalam pembelajaran. Hal ini bertujuan agar wawancara lebih terkontrol dan terfokus pada satu tema maupun permasalahan dan tujuan dari dilakukan wawancara dapat tercapai. Pada saat proses wawancara berlangsung, pertanyaan wawancara dapat berkembang seiring dengan alur jawaban yang diberikan oleh responden. Karena bentuk wawancara yang diterapkan oleh peneliti adalah wawancara semi terstruktur, di mana pertanyaan yang diajukan berupa pertanyaan terbuka dengan jawaban yang diberikan oleh subjek tidak dibatasi, subjek dapat leluasa menjawab pertanyaan sepanjang tidak keluar dari konteks pembicaraan.Ciri-ciri dari wawancara semi terstruktur menurut Herdiansyah adalah pertanyaan terbuka namun ada batasan tema dan alur pembicaraan, kecepatan wawancara dapat diprediksi, fleksibel tetapi terkontrol, ada pedoman wawancara yang dijadikan patokan dalam alur, urutan dan penggunaan kata, dan tujuan wawancara adalah untuk memahami suatu fenomena (Herdiansyah, 2011: 121). Tujuan dari wawancara semi terstruktur adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat dan ide-idenya (Sugiyono, 2012: 318). Jadi, dapat disimpulkan 50

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI bahwa dalam wawancara semi terstruktur diperlukan pedoman wawancara yang dijadikan patokan atau kontrol dalam mengatur alur pembicaraan. Hasil dari wawancara yang telah dilakukan, akan dikumpulkan menjadi informasi yang akan digunakan sebagai bahan kajian penelitian. Dalam penelitian ini, wawancara dilakukan sebanyak 2 kali, yaitu sebelum menggunakan alat peraga berbasis metode Montessori dan sesudah menggunakan alat peraga berbasis metode Montessori. Wawancara menggunakan subjek yang sama, yaitu 3 siswa kelas 1B dan 1 guru kelas 1B. Untuk menentukan subjek penelitian, peneliti melakukan hal-hal berikut: a. Menemui guru kelas 1B untuk meminta izin untuk melakukan wawancara dan penelitian terhadap guru kelas 1B dan 3 siswa kelas 1B b. Bertanya kepada guru kelas untuk menentukan 3 siswa yang akan dijadikan subjek penelitian. Kriteria siswa yang akan dijadikan subjek berdasarkan nilai/ kemampuan dalam mengerjakan soal mata pelajaran yang berbeda (pintar, kurang pintar, dan tidak pintar). Selain itu, siswa yang akan dijadikan subjek nantinya haruslah mudah diajak berkomunikasi dan mudah diajak bekerja sama. c. Mengatur jadwal untuk melakukan wawancara terhadap guru kelas 1B dan 3 siswa kelas 1B 3.4.2 Observasi Selain wawancara, peneliti juga menggunakan metode pengumpulan data yang berupa observasi atau pengamatan untuk mendapatkan jawaban yang lebih mendalam. Observasi adalah pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang diteliti (Usman, 2000: 54). Metode yang digunakan oleh peneliti saat melakukan observasi adalah dengan menggunakan anecdotal record. Anecdotal record adalah deskripsi atau catatan rekaman tentang episode-episode atau peristiwaperistiwa yang berlangsung dalam situasi natural alias wajar atau situasi natural (Supratiknya, 2012). Dalam metode anecdotal record, observer mencatat dengan teliti dan merekam perilaku-perilaku yang dianggap penting dan bermakna. Ciri-ciri 51

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI catatan anecdotal record yang baik menurut Mehrens dan Lehman (dalam Supratiknya, 2010) adalah : a. berupa deskripsi singkat peristiwa faktual b. catatan tidak mengandung inferensi atau kesimpulan, atau pendapat, atau menuliskan apa yang terjadi tanpa terpengaruh oleh subjektivitas pengamat. c. Catatan berisi rekaman tentang critical incident atau kejadian penting terkait si murid. Sesudah memperoleh data yang cukup memadai, pengamat boleh membuat kesimpulan tentang adanya pola perilaku subjek yang menjadi sasaran pengamatan.Menurut Hadi, metode observasi adalah metode pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan yang sistematis mengenai fenomena yang diselidiki (Hadi, 1988: 35). Sedangkan menurut Nazir merupakan cara pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk kepentingan tersebut (Nazir, 1988: 212). Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa metode observasi merupakan pengamatan secara langsung terhadap kegiatan-kegiatan perusahaan atau lembaga secara pribadi tanpa bantuan dari orang lain. Pada penelitian ini, observasi dibagi ke dalam 2 tahap yaitu observasi kegiatan pembelajaran sebelum menggunakan alat peraga berbasis metode Montessori dan observasi kegiatan pembelajaran selama menggunakan alat peraga berbasis metode Montessori. Observasi kegiatan pembelajaran sebelum menggunakan alat peraga berbasis metode Montessori dilakukan sebanyak dua kali di kelas sebagai persiapan agar peneliti mudah memahami kelas dan karakteristik siswa yang akan dijadikan subjek, sekaligus mempermudah dalam penyusunan instrumen pengamatan. Sebelum melakukan observasi, peneliti terleih dahulu membuat tabel perencanaan observasi dan selanjutnya membuat kisi-kisi observasi yang akan digunakan untuk mengobservasi guru (lihat Lampiran no. 3.2 – 3.3). Selain itu, peneliti juga membuat kisi-kisi observasi untuk siswa (lihat Lampiran no. 52

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.2 dan 3.4). Observasi dilakukan kepada 4 subjek, yaitu 1 guru kelas 1 B dan 3 siswa kelas 1B. Observasi selama penggunaan alat peraga berbasis Montessori dilakukan sebanyak dua kali. Pada pertemuan pertama, pembelajaran terfokus pada pengantar di mana guru memberikan penjelasan mengenai alat peraga yang meliputi nama alat peraga, warna alat peraga, bahan dasar untuk membuat alat peraga, dan cara penggunaan alat peraga tersebut. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok dan tiap kelompok mendapatkan satu alat peraga. Siswa diberi penjelasan mana manik satuan, manik puluhan,dan manik ratusan. Siswa diberi kesempatan untuk menyentuh dan menggunakan alat peraga tersebut dengan mengerjakan soal yang telah disediakan di dalam kotak alat peraga. Soal-soal yang ada dalam kotak alat peraga memang disediakan dengan tingkatan kesulitan yang berbeda-beda. Dimulai dari kode soal “A” yang termasuk dalam soal yang mudah, lalu kode soal “B” yang mulai rumit. Begitu seterusnya sampai ke kode soal di mana tingkatan kesulitan yang semakin tinggi. Pada pertemuan pertama, guru hanya meminta siswa untuk mengerjakan kode soal “A” sebagai pengenalan alat peraga. Pada pertemuan kedua, siswa sudah bisa dan mulai terbiasa menggunakan alat peraga. Oleh karena itu, siswa diminta oleh guru untuk mengerjakan kode soal “B” dan seterusnya sampai bel istirahat berbunyi. Berikut adalah panduan wawancara dan observasi yang telah peneliti laksanakan (lihat Lampiran no. 3.1 – 3.8) 3.4.3 Dokumentasi Menurut Mulyono, metode dokumentasi adalah pengumpulan data dengan cara menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat dan harian (Mulyono, 1998: 35). Sedangkan Arikunto menjelaskan bahwa dalam pengertian luas, dokumen bukan hanya yang berwujud tulisan saja tetapi dapat berupa benda-benda peninggalan seperti prasasti dan simbol-simbol (Arikunto, 1998: 150). Metode dokumentasi ini termasuk metode yang penting dalam penelitian selain metode lainnya. Metode ini dapat menjadi 53

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI alternatif penulis untuk mendapatkan data yang berkaitan dengan informasi seputar lembaga tempat penulis melaksanakann Program Pengalaman Lapangan (PPL). Dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu rekaman video proses pembelajaran menggunakan alat peraga, rekaman wawancara guru dan siswa, dan foto-foto kegiatan. Sebelum melakukan wawancara dan pengamatan, peneliti mempersiapkan hal-hal yang diperlukan, yaitu : 1. Panduan wawancara dan pengamatan. Panduan wawancara berisi tentang poin-poin penting yang akan ditanyakan kepada guru dan siswa dalam penelitian ini. Panduan observasi dilakukan oleh peneliti dengan melihat langsung kegiatan belajar di dalam kelas. 2. Alat untuk merekam atau handycamdengan durasi yang berbeda-beda. Setiap wawancara peneliti menyediakan handphone untuk merekam, dan menyediakan kamera digital dan handycam untuk melakukan pengamatan di kelas. Kertas atau alat tulis yang digunakan untuk mencatat hal penting yang akan ditanyakan pada subjek penelitian untuk menggali informasi yang lebih dalam. 3.5 Instrumen Penelitian Sugiyono berpendapat, bahwa terdapat dua hal utama yang mempengaruhi kualitas hasil penelitian, yaitu kualitas instrumen penelitian dan kualitas pengumpulan data (Sugiyono, 2011: 305). Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya menjadi lebih mudah dan hasilnya lebih baik dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga mudah diolah (Arikunto, 2010: 203). Instrumen penelitian dalam kegiatan penelitian ini adalah peneliti itu sendiri dengan menggunakan alat bantu yang berupa pedoman wawancara yang berbentuk daftar pertanyaan terbuka (interview guide) dan observasi. Patton berpendapat bahwa dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah instrumen utama (Patton, 2002). Menurut Moleong, dalam penelitian kualitatif, peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utam (Moleong, 2005: 9). Hal tersebut diperkuat oleh Nasution yang berpendapat bahwa instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah 54

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI penulis sendiri sebagai instrumen utama, didukung pedoman wawancara dan catatan kecil observasi (field notes) (Nasution, 1990). Wawancara dalam penelitian ini berfungsi untuk mengetahui pendapat guru dan siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. Pedoman wawancara sebagai pertanyaan terbuka dikembangkan dan diperdalam di lapangan untuk cross check. Dalam melakukan observasi ini, peneliti menggunakan alat bantu berupa handycam, kamera, dan tape recorder. Handycam digunakan untuk merekam semua kegiatan pembelajaran matematika, terlebih saat subjek menggunakan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. Kamera dalam penelitian ini berfungsi untuk mengambil gambar (foto) semua kegiatan pembelajaran matematika, terlebih saat subjek menggunakan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. Sedangkan tape recorder dalam penelitian ini digunakan untuk merekam pembicaraan saat melakukan wawancara mengenai alat peraga matematika berbasis metode Montessori. Observasi dalam penelitian ini digunakan untuk mendapatkan gambaran akan pemahaman yang lebih jelas selama guru dan siswa menggunakan alat peraga berbasis metode Montessori dan membantu peneliti memperoleh data yang lebih akurat yang tidak dapat diungkapkan oleh subjek penelitian saat dilakukan wawancara karena beberapa sebab. Sebelum peneliti memasuki lapangan untuk melakukan penelitian, peneliti pernah mendapatkan pengalaman dari berbagai hal, diantaranya yaitu pada semester 2 peneliti pernah mengajar pramuka di SD N Ngringin selama satu semester. Kegiatan pramuka diadakan seminggu sekali, dan dilaksanakan pada hari Jumat mulai dari pukul 3 sore hingga pukul 5 sore. Pada semester 3, peneliti pernah melakukan bimbingan belajar kelas atas di SD N Tukangan selama satu semester. Bimbingan belajar diterapkan pada kelas 6A dan 6B, dimana kebetulan SD N Tukangan merupakan sekolah pararel. Bimbingan belajar dilaksanakan seminggu sekali, setiap hari Sabtu pukul 2 siang hingga pukul 3 sore. Materi yang diajarkan adalah materi yang dianggap sulit bagi siswa, yaitu matematika. Pada semester 4, peneliti juga pernah melakukan bimbingan belajar kelas bawah selama satu semester. Bimbingan belajar kelas bawah dilaksanakan di SD Tumbuh dan diterapkan pada kelas 1 A. 55

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Bimbingan belajar kelas bawah dilaksanakan seminggu sekali dan dilakukan pada hari Kamis, pukul 8 pagi hingga pukul 12 siang. Pada semester 5, peneliti melakukan program pengakraban lingkungan I (Probaling I) yang bertempat di SD N Kledokan. Probaling I dilaksanakan selama 1 semester, dan diadakan setiap hari Sabtu mulai pukul 7 pagi hingga pukul 1 siang. Dalam probaling 1 ini, peneliti belajar untuk menjadi seorang wali kelas dengan selalu masuk ke dalam kelas dan mengamati setiap kegiatan yang terjadi di dalam kelas dan juga mendapat kesempatan untuk mengajar di dalam kelas. Pada semester 6, peneliti melakukan program pengakraban lingkungan II (Probaling II) yang bertempat di SD Bopkri Demangan III yang beralamatkan di Jalan ampel. Dalam probaling II ini, peneliti belajar untuk lebih memahami tugas dan kewajiban kepala sekolah. Probaling II dilaksanakan setiap hari Sabtu, mulai pukul 7 pagi hingga pukul 2 siang, dan itu berlangsung selama 1 semester. Pada semester 7, peneliti melaksanakan PPL (Program Pengalaman Lapangan) di SD Karitas Nandan. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mengetahui persepsi guru dan siswa terhadap penggunaan alat peraga Montessori. Persepsi dalam hal ini berkaitan dengan pengalaman, perasaan, manfaat, dan kendala yang ditemui selama menggunakan alat peraga tersebut. 3.6 Kredibilitas dan Transferabilitas Uji keabsahan dalam penelitian tidak hanya terpaku pada uji vadilitas dan reliabilitas. Dua macam penelitian validitas meliputi validitas ekternal yang berkaitan dengan akurasi hasil penelitian apakah dapat diterapkan pada populasi di mana sampel diambil dan validitas internal yang berkaitan dengan akurasi desain penelitian dengan hasil yang akan dicapai Menurut Sugiyono (2011: 364), uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi uji credibility (validitas internal), transferability (validitas eksternal), dependability (reliabilitas), dan confirmability (objektivitas). Tentu saja, uji reliabilitas dalam penelitian kualitatif berbeda dengan kuantitatif. Hal ini disebabkan karena sifat reliabilitas dalam penelitian kualitatif itu berubah dan inkonsisten yang 56

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengakibatkan sistem laporan antar individu akan saling berbeda satu sama lain karena perbedaan bahasa dan persepsi. 3.6.1 Uji Kredibilitas Menurut Sugiyono (2011: 365) uji kredibilitas data atau kepercayaan terhadap data hasil penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan dalam penelitian, triangulasi, diskusi dengan teman, analisis kasus negatif, menggunakan bahan referensi dan member check. Untuk pengecekan keabsahan temuan ini teknik yang dipakai oleh peneliti adalah triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Moleong, 2009: 330). Pemeriksaan yang dilakukan oleh peneliti antara lain dengan : a. Triangulasi sumber data, yaitu dengan cara membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara, data hasil wawancara dengan dokumentasi dan data hasil pengamatan dengan dokumentasi. Hasil perbandingan ini diharapkan dapat menyatukan persepsi atas data yang diperoleh. Wawancara yang peneliti lakukan adalah sebanyak dua kali wawancara. Wawancara pertama yang peneliti lakukan ialah untuk melakukan pengecekan dan melengkapi data diri subjek dan menggali informasi lebih dalam mengenai subjek siswa sebelum menggunakan alat peraga Montessori. Wawancara kedua yang peneliti lakukan untuk melengkapi informasi mengenai subjek siswa setelah menggunakan alat peraga Montessori. b. Triangulasi peneliti, yaitu dengan cara memanfaatkan peneliti lain yaitu sesama mahasiswa yang menggunakan metode penelitian sama dan meneliti sejenis melalui diskusi serta melibatkan mereka dalam proses analisis data. 3.6.2 Uji Transferabilitas Sugiyono (2011: 373) memaparkan bahwa transferabilitas merupakan validitas eksternal dalam penelitian kuantitatif. Validitas ekternal ini menunjukkan derajat ketepatan atau dapat diterapkan hasil penelitiannya ke populasi di mana 57

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sampel diambil. Hal ini menunjukkan bahwa hasil penelitian yang diperoleh dapat digunakan dalam situasi sosial lainnya. Untuk itu, peneliti harus membuat laporan penelitian yang rinci, jelas, sistematis dan dapat dipercaya agar pembaca dapat memahami hasil penelitian kualitatif dan di masa yang akan datang menerapkan hasil penelitian itu. Hasil penelitian yang diperoleh dapat ditransfer atau diaplikasikan pada kelompok lain. Namun, penelitian yang akan ditransferkan pada kelompok lain harus relevan atau memiliki banyak kesamaan dengan setting di mana penelitian dilakukan. Kemungkinan hasil yang akan muncul apabila ditransferkan pada kelompok lain yang memiliki banyak kesamaan setting di mana penelitian dilakukan tidak akan sama persis dengan hasil peneitian yang telah dilakukan sebelumnya. Hal ini disebabkan penelitian kualitatif mengenai persepsi mengandung unsur subjektif yang mungkin dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya dan pemikiran dari subjek. 3.7 Teknik Analisis Data Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesis, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri dan orang lain (Sugiyono, 2012: 333). Mengutip pendapat Patton, analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar (Moleong, 2000: 103). Sedangkan Moleong sendiri menjabarkan analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data (Moleong, 2000: 103). Berdasarkan pendapat di atas, analisis data adalah proses mengorganisasikan data-data yang telah disiapkan sebelumnya ke dalam suatu sistem tertentu kemudian dirumuskan menurut pendapat sendiri. 58

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Dalam laporan ini, penulis akan mempergunakan metode analisis data dengan metode deskriptif. Nazir mengemukakah bahwa metode deskriptif adalah suatu metode untuk meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang (Nazir, 1999: 63). Penulis memilih metode ini karena dalam penyampaian laporan, penulis perlu menggambarkan data-data yang telah penulis peroleh secara lebih rinci, dilengkapi dengan pendapat dari narasumber maupun pendapat penulis sendiri. Selain itu, penyajian data merupakan informasi terkait dengan perusahaan atau lembaga sehingga penulis harus berhati-hati dalam menjabarkannya. Cresswell mengilustrasikan metode analisis data ke dalam gambar di bawah ini. Secara garis besar kegiatan analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut (Cresswell, 2007: 227): Menginterpetasi tematema/deskripsi-deskripsi Menghubungkan tematema/deskripsi-deskripsi Tema-tema Deskripsi Meng-coding data (tangan atau komputer) Memvalidasi keakuratan informasi Membaca keseluruhan data Mengolah dan mempersiapkan data untuk diananisis Data mentah (transkrip, data lapangan, gambar, dsb) 59

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Bagan 3.3 Analisis Data dalam Pendekatan Kualitatif Gambar di atas mengilustrasikan pendekatan linear dan hierarkis yang dibangun dari bawah ke atas, beragam tahap saling berhubungan dan tidak harus selalu dengan susunan yang telah disajikan. Hal ini sedikit berbeda dengan yang peneliti lakukan pada saat melakukan penelitian. Langkah-langkah yang dilakukan oleh peneliti adalah : 1. Peneliti mengumpulkan data yang dibutuhkan data penelitian yang berasal dari wawancara dan observasi kemudian dianalisis secara kualitatif, yaitu diolah secara deskriptif melalui kutipan-kutipan langsung dari pemaparan informan penelitian selama proses wawancara. 2. Langkah selanjutnya adalah peneliti melakukan koding. Koding dimaksudkan agar peneliti dapat mengorganisasi dan mensistematisasi data secara lengkap dan mendetail sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang hendak dipelajari dalam penelitian ini. Terdapat 4 langkah melakukan pengkodingan, yaitu yang pertama adalah menyusun transkripsi verbatim dengan membuat 2 kolom. Kolom pertama untuk nomor barisan, kolom kedua untuk hasil transkrip verbatim, dan tidak lupa menyisakan halaman kosong yang cukup besar di sebelah kanan transkrip. Cara ini memudahkan peneliti untuk memberi kode-kode atau catatan-catatan tertentu pada transkrip tersebut. Langkah kedua, peneliti secara urut dan kontinyu melakukan penomoran pada baris-baris transkrip dan atau catatan lapangan tersebut, dan langkah ketiga adalah peneliti memberikan identitas yang meliputi : hari/tanggal, waktu dan tempat, sedangkan untuk identitas verbatim wawancara meliputi: nama subjek, usia, jenis kelamin, hari/tanggal wawancara, waktu, lokasi pelaksanaan, dan nama interviewer. Langkah keempat adalah memberikan penomoran atau koding untuk tiap-tiap berkas dengan menggunakan kode tertentu yang mudah diingat dan diangap paling tepat mewakili berkas tersebut. 3. Langkah ketiga, peneliti menginterpretasi tema. Tema disusun sehingga menampilkan pola hubungan yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain. 60

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Setelah tema diproleh, peneliti melakukan pengkategorian yang dimasukkan ke dalam hasil penelitian. Kategori-kategori tersebut meliputi penelitian sebelum pengimplementasian pengimplementasian alat alat peraga peraga Montessori dan Montessori. penelitian Penelitian sesudah sebelum pengimplementasian alat peraga Montessori terdiri dari latar belakang subjek, pandangan subjek terhadap alat peraga, kefamilieran subjek terhadap alat peraga, dan pengalaman subjek menggunakan alat peraga. Penelitian sesudah pengimplementasian alat peraga Montessori terdiri dari pengalaman subjek menggunakan alat peraga, perasaan subjek menggunakan alat peraga, kendala subjek ketika menggunakan alat peraga, dan manfaat ketika menggunakan alat peraga Montessori. 61

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dalam pembahasan bab IV ini, akan dijelaskan dan dijabarkan rumusan masalah khusus ke dalam tiga poin penting yaitu pertama latar belakang subjek, pandangan, kefamilieran subjek dan pengalaman subjek terhadap alat peraga sebelum pengimplentasian alat peraga Montessori, kedua pengalaman subjek setelah menggunakan alat peraga, terkait dari apa yang dirasakan, kendala dan manfaat yang diperoleh dikaitkan dengan karakteristik alat peraga Montessori dan ketiga persepsi subjek terhadap alat peraga berbasis Montessori. Transkrip hasil wawancara dan observasi dapat dilihat pada lampiran 4.1 – 4.13. 4.1 Penelitian sebelum pengimplementasian alat peraga Montessori 4.1.1 Latar belakang subjek Penelitian dilaksanakan di kelas IB dengan 3 narasumber siswa kelas IB yaitu S, T, dan M serta 1 guru matematika yang juga menjabat sebagai wali kelas IB. Pemilihan ketiga narasumber tersebut berdasarkan diskusi dengan wali kelas dan atas persetujuan wali kelas. Ketiga narasumber dipilih berdasarkan atas prestasi matematika yaitu nilai KKM tinggi, nilai KKM sedang dan nilai KKM rendah. Pada akhirnya pada penelitian ini mendapat 3 subjek yaitu S, T, dan M yang merupakan siswa kelas IB. Narasumber pertama adalah S. S merupakan siswi kelas IB SD Karitas Nandan. S menyukai mata pelajaran matematika karena menurut S matematika membuatnya pandai: “Karena biar pandai” (W1/S1/B52). Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, pandai diartikan cepat menangkap pelajaran dan mengerti sesuatu. S merasa senang ketika S belajar Penjumlah dan Pengurangan. Dalam materi ini, S dapat memahami dengan baik. S juga dapat mengerjakan soal yang diberikan guru tanpa bertanya dan mendapatkan hasil yang 62

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI baik pula. Namun pada saat S tidak bisa mengerjakan soal, S tak ragu bertanya pada guru: “Tanya” (W1/S1/B84). Dan S merasa senang ketika guru membantunya. Ketika peneliti mencoba bertanya mengenai materi penjumlahan dan pengurangan, S dapat menjawab semua pertanyaan peneliti dengan benar. Narasumber kedua adalah T. T merupakan siswa kelas IB yang termasuk siswa pandai. T menyukai mata pelajaran IPA dan matematika. T menyukai matematika karena dalam mata pelajaran matematika ada materi penjumlahan dan pengurangan: “Karena ada tambah-tambahannya sama pengurangan” (W1/S2/B38). T selalu mendengarkan ketika guru menjelaskan agar dapat memahami yang diajarkan oleh guru. Selain itu, T juga mengulang pelajaran di rumah serta ikut les di sekolah. T juga merupakan siswa yang cerdas, terbukti ia mendapat peringkat kedua di kelas semester yang lalu: “Ranking 2.. ” (W1/S2/B107). T pun tak puas dengan prestasinya saat ini, ia ingin menjadi juara kelas di semester depan. Ketika peneliti mencoba bertanya mengenai materi penjumlahan dan pengurangan, T dapat menjawab semua pertanyaan peneliti dengan cepat dan benar. Subjek ketiga adalah M. M menyukai mata pelajaran matematika, KTK, dan IPA namun dari ketiga mata pelajaran itu, M paling menyukai matematika karena ia menyukai materi penjumlahan. Jika ia tidak paham dengan materi yang disampaikan, M tak segan bertanya pada guru: “Bertanya”(W1/S3/B71), dan belajar lagi di rumah: “Belajar” (W1/S3/B73). Walaupun M sering memperhatikan guru, namun terkadang ia kurang tepat dalam menjawab soal dikarenakan M kurang sabar dalam menjawab, ia sering terburu-buru. Suatu ketika guru memberikan soal mengenai materi penjumlahan dan pengurangan, 63

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI karena terburu-buru dalam menjawab, jawaban M salah, namun setelah guru menyuruh M untuk lebih teliti dan menyemangatinya, M pun dapat menjawab dengan benar. Subjek keempat adalah G. G merupakan lulusan Universitas Sanata Dharma namun bukan dari jurusan PGSD melainkan Akuntansi : “Wah, kebetulan, mbak, saya lulusan dari Sadhar juga, mbak... Saya lulus tahun kemarin, mbak, 2013... Tapi kita cuma beda jurusan aja, mbak. Saya bukan dari PGSD tapi dari Akuntansi...Sadhar... “ (W1/S4/B13-14). G mengaku sangat menyukai anak kecil, faktor inilah yang membuat ia sangat senang bisa mengajar di SD Karitas: “Wah.. Kalo itu, saya dari dulu emang suka anak kecil, jadi waktu keterima di sini, seneng banget...” (W1/S4/20-22). Sejak awal mengajar, G sudah mendapat kepercayaan oleh kepala sekolah untuk mengajar kelas IB: “Sejak awal masuk, saya langsung mengajar di IB, mbak” (W1/S4/B29-30). G senang ketika anak didiknya menurut pada aturan yang berlaku dan pada saat latihan soal, anak didiknya mendapat nilai bagus: “Sukanya kalo anak pada nurut kalo di kasih tau... Emmm Trus waktu anak dapet nilai bagus, emm Trus dukanya..ngga ada..Karna saya suka anak-anak jadi ga ada dukanya.. Saya merasa senang bisa mengakar mereka” (W1/S4/42-46). Menurut G matematika menjadi pelajaran favorit di kelas IB karena siswa lebih asyik dengan berhitung: “Karena lebih, menurut saya mereka lebih asyik dengan berhitung. Dengan angka misalkan diberi penjelasan mengenai materi tertentu dan mereka merasa bisa. Mereka di lain hari meminta mengulangi lagi, seperti itu” (W1/S4/B69-73). G merasa senang karena murid-murid juga bisa menguasai materi yang diajarkan dengan cepat. Pembelajaran di kelas 1 B, relatif lebih tenang dan kondusif karena siswa selalu menaati peraturan dan tidak ramai, sehingga siswa dan guru dapat bekerja sama dengan baik untuk menyukseskan kegiatan pembelajaran: “Proses pembelajaran yang terjadi di kelas IB SD Karitas Nandan termasuk kondusif.Siswa dan guru dapat bekerja sama dengan baik untuk menyukseskan kegiatan pembelajaran.” (O4/B1-4). 64

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tak hanya itu, G menciptakan suasana yang lebih santai dan informal dilakukan guru dengan cara menyapa setiap murid yang mulai merasa bosan mengikuti pelajaran : “Untuk menciptakan suasana yang demikian, guru menjadikan suasana yang lebih santai atau informal. Menciptakan suasana yang lebih santai dan informal dilakukan guru dengan cara menyapa setiap murid yang mulai merasa bosan mengikuti pelajaran.” (O5/B7-10). 4.1.2 Pandangan subjek terhadap alat peraga Subjek penelitian difokuskan pada siswa kelas IB yang berjumlah 3 siswa. Untuk mengetahui pandangan siswa mengenai pembelajaran matematika dilakukan wawancara kepada ketiga subjek, subjek S memberikan pernyataan bahwa S menyukai mata pelajaran matematika: “Matematika.. ” (W1/S1/38). Tak berbeda dengan subjek S, subjek T memberikan jawaban bahwa T memfavoritkan matematika karena menyukai penjumlahan dan pengurangan : “Karena ada tambah-tambahannya sama pengurangan ” (W1/S2/B38). Hal senada juga diungkapkan subjek M, bahwa ia menyukai pelajaran matematika: “Matematika ” (W1/S3/B33). Alat peraga memiliki banyak manfaat positif jika digunakan dalam kegiatan belajar mengajar bagi pihak guru maupun siswa. Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga subjek mengenai penggunaan alat peraga dalam kegiatan belajar di sekolah mengungkapkan bahwa subjek S mengatakan menyukai menggunakan alat peraga pada saat pelajaran matematika: “Ehm,, senang ” (W1/S1/B169). Hal senada diungkapkan oleh subjek T yang mengaku senang jika menggunakan alat peraga pada pembelajaran matematika: ” Seneng” (W1/S2/B158). Tak berbeda dengan kedua subjek sebelumnya, M juga menyukai jika pembelajaran menggunakan alat peraga karena membuat lebih mudah: 65

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “Menggunakan alat peraga.. ” (W1/S3/B156). Proses belajar mengajar yang berlangsung di SD Karitas Nandan lebih banyak cara kontekstual yaitu ceramah, tanya jawab dan penugasan namun pernah sekali-sekali menggunakan alat peraga untuk kelas IB: “Saya biasanya sih cuma .. Paling sering cuma anak-anak saya jelasin materinya dan anak-anak mendengarkan...Trus dilanjutkan tanya jawab... Kalopake alat peraga jarang, sih, mbak.. Tergantung materi sama alatnya ada ato ga..” (W1/S4/B100-104). Keterbatasan alat peraga menjadi kendala bagi guru apabila kegiatan belajar menggunakan alat peraga. Alat peraga hanya digunakan pada materi-materi tertentu dan semuanya itu dilakukan apabila terdapat ketersediaan alat peraga. Pandangan guru atas penggunaan alat peraga sangat baik karena siswa merasa tertarik dan senang. Selain itu, dalam wawancara dengan guru, G mengungkapkan bahwa pengerjaan soal dengan alat peraga : “Sangat sangat memuaskan, karena alat peraga itu sangat membantu dalam pembelajaran” (W1/S4/B131-132). Menurut guru dengan adanya alat peraga di dalam kegiatan pembelajaran selain membantu siswa memahami materi, alat peraga juga membuat siswa lebih aktif saat proses kegiatan pembelajaran. Ketertarikan ketiga subjek terhadap alat peraga disebabkan karena siswa menganggap saat pembelajaran menggunakan alat peraga menyenangkan. Ketiga subjek mengungkapkan pernah menggunakan alat peraga sempoa. Subjek S mengungkapkan alat peraga yang sering digunakan adalah sempoa : “Sempoa... ” (W1/S1/B158). Jawaban yang sama diungkapkan oleh subjek T bahwa sempoalah yang sering T gunakan untuk belajar : “Sempoa doang.. dulu ” (W1/S2/B145). Begitu pula yang disampaikan subjek M yang menyatakan hal yang sama : “Sempoa... ” (W1/S3/B135). 66

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.1.3 Kefamilieran subjek terhadap alat peraga SD Karitas Nandan memang memiliki sarana dan prasarana yang memadai namun tidak dengan ketersediaan alat peraga yang mendukung proses pembelajaran. Alat peraga yang minim serta sedikitnya niat dari guru untuk menggunakan alat peraga selama pembelajaran membuat proses pembelajaran terlihat monoton, padahal pembelajaran dengan menggunakan alat peraga memberikan dampak positif bagi siswa dan guru. Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan hanya di kelas 2-lah yang di kelasnya terdapat alat peraga yang mendukung pembelajaran yaitu berupa puzzle bangun datar. Peneliti menemukan beberapa alat peraga di ruang UKS dan perpustakaan dengan kondisi penuh debu dan rusak: “Dengan diletakkannya alat peraga di perpustakaan dan UKS menyebabkan alat peraga terlupakan terbukti alat peraga yang “disimpan” di kedua tempat tersebut berdebu dan kotor seperti terabaikan saat petugas membersihkan kedua tempat tersebut. Selain itu, beberapa alat peraga mengalami kerusakan karena tidak pernah dirawat dan digunakan” (O1/B91-97). Hal ini menunjukkan bahwa alat peraga tersebut jarang atau bahkan tidak pernah digunakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran. Dalam kesehariannya guru lebih banyak mengajar dengan metode ceramah dan penugasan namun sangat jarang menggunakan alat peraga. Wawancara dari ketiga subjek memperoleh hasil bahwa alat peraga yang mereka tahu dan yang pernah mereka gunakan adalah sempoa. Hal ini menjadi penyebab siswa hanya familier dengan satu alat peraga. 4.1.4 Pengalaman subjek menggunakan alat peraga Pengalaman ketiga subjek atas penggunaan alat peraga ialah subjek pernah menggunakan alat peraga, yaitu sempoa. Subjek bercerita bahwa pernah menggunakan alat peraga sempoa pada pelajaran matematika, dan setelah menggunakan alat peraga subjek merasa terbantu dalam menjawab soal dan senang. Menurut guru, pembelajaran menggunakan alat peraga membuat siswa semakin aktif dalam pembelajaran namun kendalanya siswa sering menggunakan alat peraga sebagai mainan: “Iya. Anak-anak jadi lebih aktif. Tapi biasanya setelah mereka selesai mengerjakan soal dan memeriksakannya mereka malah jadiin alat peraganya jadi 67

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mainan sama temen-temennya. Tapi setelah diberi tahu, mereka ga jadiin mainan lagi” (W1/S4/B123-128). Namun dengan alasan keterbatasan alat, SD Karitas Nandan belum bisa memaksimalkan pembelajaran menggunakan alat peraga. Hal ini berdampak negatif bagi siswa sendiri seperti kurangnya pengalaman siswa dalam menggunakan alat peraga dan keterbatasan pengetahuan siswa mengenai jenis-jenis alat peraga yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran Berdasarkan wawancara terhadap subjek tentang pilihan lebih senang menggunakan alat peraga atau tidak saat mengerjakan soal, subjek S mengatakan bahwa tidak menggunakan alat peraga karena sudah diajari mengenai materi yang diajarkan di sekolah oleh ibunya di rumah: “Udah diajarin ibu ” (W1/S1/B182). Berbeda dengan S, subjek T yang mengatakan bahwa lebih senang menggunakan alat peraga: “Pake alat peraga ” (W1/S2/B151). Hal yang sama juga diungkapkan subjek M yang mengatakan lebih senang mengerjakan soal menggunakan alat peraga: “Menggunakan alat peraga.” (W1/S3/B156). Tak hanya siswa, guru pun merasa senang ketika pembelajaran menggunakan alat peraga. Berdasarkan hasil wawancara, guru sempat mengungkapkan perasaan senang selah mengajar siswa menggunakan alat peraga: “Rasanya senang, karena alat tersebut membantu saya memudahkan anak dalam menerima pelajaran ” (W1/S4/B135-137). Dengan demikian secara tak langsung, guru mendukung penggunaan alat peraga dalam pembelajaran di kelas walaupun dengan keterbatasan alat peraga di sekolah dan sedikitnya minat guru dalam memanfaatkan alat peraga. Sehingga perlu diperhatikan untuk pengadaan alat peraga di sekolah dan pelatihan guru dalam pemanfaatan alat peraga demi menunjang keberlangsungan proses pembelajaran yang berlangsung. 68

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.2 Penelitian setelah pengimplementasian alat peraga Montessori 4.2.1 Pengalaman subjek Kegiatan pembelajaran yang jarang bahkan tidak pernah menggunakan alat peraga menyebabkan menggunakan munculnya rasa penasaran bagi siswa ketika pertama kali melihat alat peraga Montessori. Peneliti melakukan wawancara tentang alat peraga ketika pertama kali melihatnya kepada subjek S mengatakan ingin memegang : “Pengen memegang…” (W2/S1/B104). Hal senada juga diungkapkan oleh subjek T yang ingin mencobanya alat peraga ketika pertama melihatnya: “Ingin mencoba” (W2/S2/B75). Begitu pula dengan M yang mengatakan bahwa: “Pengen memegang” (W2/S3/B18). M memiliki keinginan untuk memegang alat peraga tersebut ketika pertama kali. Hasil wawancara terhadap ketiga subjek menunjukkan bahwa ketiganya memiliki keinginan untuk menggunakan alat peraga tersebut. Alat peraga dibuat sesederhana mungkin dan dibuat semenarik mungkin agar siswa tertarik dan ingin menggunakannya. Menurut S, alat peraga matematika yang digunakan pada saat pembelajaran bagus: “Bagus...” (W2/S1/B28). Sama seperti S, T pun mengatakan bagus ketika ditanya apakah alat peraga tersebut bagus atau tidak: “Bagus” (W2/S2/B21). Hal senada pun diungkapkan M, alat peraga yang digunakan saat pembelajaran materi penjumlahan dan pengurangan tersebut bagus: “Bagus” (W2/S3/B21). Ketiga subjek tersebut menunjukkan bahwa alat peraga matematika bagus karena menyukai warna alat peraganya (manik-maniknya yang berwarna merah). 69

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tingkat pemahaman subjek atas penggunaan alat peraga tergolong cukup. S mengatakan bahwa ia paham menggunakan alat peraga tersebut: “Paham..” (W2/S1/B54). Sementera T mengatakan tidak sulit ketika ditanya cara penggunaan alat: “Ngga Susah” (W2/S2/B123). Tak berbeda jauh dengan jawaban kedua temannya, M pun menjawab: “Ngerti” (W2/S3/B141). Ketiga subjek pun mengatakan bahwa mereka dapat menggunakan alat peraga itu. Walaupun M sempat bingung pada waktu awal penggunaan namun setelah dijelaskan kembali M pun dapat menggunakan alat peraga tersebut. Hal yang sama diungkapkan Guru mengatakan: “Kalo caranya sangat..sangat mudah digunakan. Dan anak- anak bisa menggunakannya dan anak- anak menikmati alat-alat tersebut untuk kalo meng..berhitung di matematika” (W2/S4/B32-35). Menurut G, ketertarikan siswa saat pembelajaran menggunakan alat peraga Montessorri, siswa sangant bersemangat karena siswa mempunyai rasa ingin mencoba alat tersebut: “Bersemangat.. karena semua mempunyai rasa ingin untuk mencoba alat tersebut ” (W2/S4/B18-19). Hal ini menunjukkan jika alat peraga memberi warna berbeda dalam proses pembelajaran. Subjek S, T, dan M sama-sama menjawab soal kuis dengan alat peraga dengan benar: “S dapat membedakan alat peraga manik-manik ratusan, puluhan, dan satuan” (O2/B62-63). “Saat kuis, saat T ditanya mengenai ratusan, puluhan dan satuan, T pun dengan cepat langsung mengambil alat peraga tersebut dengan cepat dan benar” (O2/ B87-89). “Saat kuis, M sempat salah menjawab pertanyaan dengan salah mengambil puluhan dan satuan. T yang sempat geregetan dengan M ingin membantu M namun dilarang oleh temannya. Akhirnya setelah dijelaskan kembali, M pun dapat menjawab dengan benar” (O2/ B117-122). Walaupun M sempat mengalami kesulitan namun akhirnya M bisa menyelesaikan soal dengan baik: 70

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “Saat mengerjakan soal, M sempat bingung namun setelah dijelaskan oleh guru dan teman sebangkunya, M dapat mengerjakan soal yang diberikan” (O2/B107109). Selain itu, S, T, dan M selalu menggunakan alat peraga selama pembelajaran berlangsung: “S mengambil alat peraga bola-bola penjumlahan dan menggunakannya untuk membantunya dalam mengerjakan soal yang diberikan” (O3/B28-30). “T mengambil alat peraga manik-manik emas satuan dan puluhan kemudian menghitung dan menuliskan jawabnnya di lembar soal” (O3/ B47-49). “M juga dapat mengerjakan soal dengan menggunakan alat peraga” (O3/B6970). Tak hanya itu, siswa tidak berebut saat menggunakan alat peraga, siswa mau bergantian menggunakan alat peraga: “Sesekali S berhenti menunggu temannya selesai menggunakan alat peraga. Setelah temannya selesai, S kemudian kembali mengerjakan soal kembali.S tampak serius dan fokus mengerjakan soal” (O3/B34-37). “T pun mau bergantian dengan teman satu kelompoknya dalam menggunakan alat peraga. Jika alat peraga sedang dipakai oleh temannya, T mau menunggu temannya sampai temannya selesai menggunakan alat peraga.” (O3/B49-53). 4.2.2 Perasaan Subjek menggunakan Alat Peraga Alat peraga tentu dapat membuat perasaan subjek menjadi senang atau tidak senang. Semua itu tergantung dari alat peraga itu sendiri, apakah alat peraga mudah digunakan, alat peraga itu menarik atau alat peraga memberikan kontribusi kepada yang menggunakannya. Perasaan G ketika menggunakan alat peraga adalah senang dan puas. Hal ini terbukti dengan jawaban G ketika diwawancarai: "Perasaannya senang, puas karena saya juga bisa dibantu dalam menyampaikan materi tersebut anak mudah mengerti, dan pada saat kemarin UTS anak- anak udah bisa mengerjakan karena ada soal yang sama " (W2/S4/B43-46). Seperti yang diungkapkan dalam wawancara, menurut G menggunakan alat peraga mebuat beliau merasa karena alat peraga mempermudah G dalam menyampaikan materi penjumlahan dan pengurangan kepada siswa. Seperti yang diutaran G pada 71

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI wawancara, pada saat UTS (Ujian Tengah Semester), siswa dapat mengerjakan soal yang sama seperti saat pembelajaran menggunakan alat peraga bola-bola penjumlahan berlangsung. Perasaan S ketika menggunakan alat peraga ialah senang. Hal ini terbukti dengan jawaban S berdasarkan wawancara. S menjawab: "Senang" (W2/S1/B47). S merasa senang karena menurut S alat peraga membantunya dalam memahami materi: “Paham.. ” (W2/S1/B54). Selain itu, perasaan senang S terhadap alat peraga juga ditunjukkan dengan S lebih memilih mengerjakan soal menggunakan alat peraga karena membuat S lebih gampang dalam mengerjakan soal daripada tanpa alat peraga: “Lebih “(W2/S1/B98) “S mengambil alat peraga dan mulai mengerjakan soal” (O2/B52-53). Tak hanya S yang merasa senang menggunakan alat peraga, T pun juga merasa senang. Hal ini terbukti dengan berdasarkan hasil wawancara dengan T, T menjawab: "Senang" (W2/S2/B35). Alasan T, senang ialah karena T dapat memakai alat peraga: “Karena memakai alat peraga ” (W2/S2/B37). Perasaan senang T menggunakan alat peraga ditunjukan dengan ia menggunakan alat peraga untuk mengerjakan tugas yang diberikan selama pembelajaran matematika berlangsung: “Saat mengerjakan soal, dapat memahami penggunaan alat peraga tersebut. T dapat menggunakan alat peraga tersebut dengan baik dan benar” (O2/B80-82) “T mengambil alat peraga manik-manik emas satuan dan puluhan kemudian menghitung dan menuliskan jawabnnya di lembar soal” (O3/B47-49). Tak jauh berbeda dengan kedua temannya, M pun juga merasa senang ketika menggunakan alat peraga. Terbukti berdasarkan wawancara dengan M, M menjawab: "Senang" (W2/S3/B41). 72

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Ketika ditanya alasan mengapa M senang, M menjawab: "Karena memakai alat peraga" (W2/S3/B52). Selain itu, perasaan senang M menggunkan alat peraga ditunjukkan dengan M menggunakan alat peraga untuk membantunya dalam mengerjakan soal selama pembelajran matematika berlangsung: “M juga dapat mengerjakan soal dengan menggunakan alat peraga” (O3/B6869). 4.2.3 Kendala subjek ketika menggunakan alat peraga Montessori Alat peraga memang dirancang untuk mempermudah dalam penyampaian materi. Kesuksesan alat peraga salah satunya dilihat dari parameter ketepatan sasaran. Hal ini juga berlaku pada alat peraga Montessori berupa alat peraga bola-bola penjumlahan (manik-manik emas satuan, puluhan dan ratusan) telah dirancang dengan baik oleh kelompok pengembangan alat. Kemudian langkah berikutnya ialah pengujian alat peraga tersebut terhadap subjek untuk mengetahui prestasi setelah menggunakan alat peraga tersebut. Parameter keberhasilan suatu produk alat peraga adalah apabila alat dapat digunakan dengan baik dan memiliki kontribusi besar terhadap keberlangsungan kegiatan pembelajaran. Hal diatas harus diperhatikan selama mengujicobakan alat peraga, yaitu saran dari subjek selama menggunakan alat peraga tersebut, yang diharapkan saran tersebut dapat mengukur penyempurnaan sebuah produk alat peraga. Salah satu yang harus diperhatikan untuk mengukur keberhasilan adalah kendala subjek selama menggunakan alat. Kendala terhadap pemakaian alat peraga berdasarkan wawancara guru adalah alat peraga riskan untuk hilang: “Kalo untuk alat peraganya sangat membantu, kak. Tapi untuk penguasaan nanti kalocumannggak ada yang membantu itu kalo sendiri itu kewalahan karena kan itu kan alatnya kan sangat riskan untuk hilang dan anak- anak masih akan gaduh perencanaan kelasnya, jadi malah untuk mengendalikan kelasnya itu agak susah kalau tidak ada yang membantu..dalam mencoba alat itu ” (W2/S4/B23-29). Tak lupa beliau memberi masukan 73

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “Biji- bijiannya kecil kan kalo untuk anak kelas satu itu nanti malah karena berebutan itu nanti bisa hilang. mungkin untuk biji- biji manik-maniknya agar dilebihi besarkan gitu” (W2/S4/B124-128). Subjek S mengungkapkan tidak ada kendala yang dialami ketika menggunakan alat peraga. Berbeda dengan S, subjek M menganggap manik-manik dalam alat peraga terlalu kecil: “Iya ” (W2/S3/B163). Ketiga subjek memberikan saran penambahan warna untuk alat peraga seperti S menambahkan warna: “biru” (W2/S1/B138) dan “abu-abu” (W2/S1/B146). Sementara T mengusulkan warna: “merah sama putih “” (W2/S2/B99) dan “biru” (W2/S2/B104). Dan M memberikan saran agar alat peraga diberi tambahan warna kuning: “Merah, kuning ” (W2/S3/B127). 4.2.4 Manfaat ketika menggunakan alat peraga Montessori Alat peraga merupakan media pembelajaran untuk meningkatkan motivasi belajar anak, mencapai tujuan pembelajaran dan mempermudah guru dalam penyampaian informasi. Alat peraga berbasis Montessori tentu memiliki berbagai manfaat dalam kegiatan pembelajaran karena memiliki karakteristik khusus seperti menarik, memiliki auto-correction, memiliki auto-education, kontekstual, bergradasi. Alat peraga berbasis Montessori berupa manik-manik ratusan, puluhan, dan satuan yang telah digunakan dalam pembelajaran di kelas IB memiliki karakteristik menarik, auto correction, auto-education, serta kontekstual. Hal yang diungkapkan oleh guru mengenai manfaat bahwa: “Oh itu sangat mendukung sekali pada materi pembelajarannya kemarin. Karena alatnya kan sudah disesuaikan juga kan itunya, jadinya sangat mendukung” (W2/S4/B85-87). 74

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Ketiga subjek pun memberikan pernyataan bahwa alat peraga membuat mereka memahami materi. Subjek S mengatakan alat peraga mempermudahkan dia dalam mengerjakan soal: “Iya..” (W2/S1/B89). Dan lebih memilih S mengerjakan soal menggunakan alat peraga karena membuat S lebih gampang dalam mengerjakan soal: “Lebih” (W2/S1/B98). Selain itu, alat peraga mempermudah S dalam mengerjakan soal: “Iya!” (W1/S1/B165). S sendiri sebenarnya merasa lebih nyaman mengerjakan soal tanpa alat peraga karena ia sudah belajar di rumah jadi menurutnya tidak memerlukan alat peraga lagi: “Udah diajarin ibu ” (W1/S1/B182). Tak berbeda jauh dengan S, T mengatakan bahwa alat peraga sangat membantunya dalam mengerjakan soal: “Sangat membantu” (W2/S2/B144), Dan T lebih senang jika mengerjakan soal dengan alat peraga daripada tanpa alat peraga: “Pake alat peraga” (W1/S2/B155) dan T merasa senang menggunakan alat peraga: “Seneng” (W1/S2/B159). Selain itu, T pun merasa sangat senang jika bisa mengerjakan soal tanpa bertanya pada guru: “Seneng” (W1/S2/B168). Subjek ketiga,M merasa jika ia mengerjakan soal dengan alat peraga lebih mudah” “Iya” (W2/S3/B94). Jika M mengerjakan soal menggunakan bantuan alat peraga, M sendiri merasa sangat senang: “Senang” (W1/S3/B146). M pun lebih memilih mengerjakan soal dengan alat peraga daripada tanpa alat peraga : 75

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “Menggunakan alat peraga” (W1/S3/B156). Selain itu, tak lupa ketiga subjek saling mengoreksi pemahaman: “Kemudian setelah kuis selesai, ketiganya saling memeriksakan jawaban soal yang mereka kerjakan tadi menggunakan alat peraga dan ketiganya mendapat nilai yang bagus” (O2/B122-125). Selain memudahkan dalam memahami materi, alat peraga juga memiliki pengendali kesalahan atau auto-correction. Pengendali kesalahan pada alat peraga bola-bola penjumlahan (manik-manik emas satuan, puluhan dan ratusan) terletak di kunci jawaban. Dengan adanya kunci jawaban guru mengatakan bahwa kunci jawaban. Kunci jawaban dalam alat peraga membantu siswa menemukan kesalahannya sendiri sehingga siswa dapat mencoba kembali mengerjakan soal tersebut. Kunci jawaban membantu subjek untuk mencocokkan jawaban bilamana terjadi kesalahan. Hasil wawancara dengan guru, “Kalo pengendali membutuhkan kesabaran karena juga selain membetulkan.. kadang kan ada anak kita memberi..memberi tahu anak satu yang satunya udah tanya lagi, jadinya perlu kesabaran dan.. seperti itu” (W2/S4/239-241). Selain itu, guru juga menambahkan bahwa alat peraga bola-bola penjumlahan (manik-manik emas satuan, puluhan dan ratusan) dapat digunakan untuk kelas 1 sampai kelas 6 jika materinya cocok: “Oh kalo untuk kelas satu sendiri itu sangat mendukung, mungkin untuk kelas lain juga.. Mungkin kalau untuk di kelas enam, saya juga tidak tahu ya..Soalnya materinya apa.. tapi itu bisa membantu,mungkin pengemasan medianya tu lebih berbeda seperti itu ” (W2/S4/B182-186). Alat peraga tidak akan terlihat asing apabila bahan untuk pembuatan alat peraga dikenali oleh subjek. S pun tahu bahan alat peraga lainnya seperti manik-manik dan kayu: “Manik- manik.. haahhh kayu ” (W2/S1/B223). Bahan pembuat alat peraga yang S sebutkan di atas merupakan bahan yang sering S temui di lingkungannya. Ketika ditanya tentang hal yang sama tentang bahan alat peraga, T pun mengetahui seperti kayu, manik-manik, plastik, dan kertas: “Kayu, manik- manik, plastik..sama... Aku lupa... Kertas” (W1/S2/B172-173) 76

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dan ia menambahkan juga manik-manik dan kayu.Tak hanya S dan T, M pun mengetahui bahan-bahan pembuat alat peraga seperti, plastik, sedotan, dan kayu: “Plastik.. sedotan.. kayu” (W1/S3/B173). M juga menambahkan alat peraga juga dapat terbuat dari manik-manik. Berbagai macam bahan yang telah M sebutkan tersebut merupakan bahan pembuat alat peraga sempoa yang sering temui di lingkungannya. Alat peraga Montessori seperti di atas sudah sesuai dengan kebutuhan untuk kelas I dengan memiliki karakteristik menarik, auto education, auto correction, serta kontekstual. Alat peraga Montessori bola-bola penjumlahan (manik-manik emas satuan, puluhan dan ratusan) sangat membantu dalam kegiatan pembelajaran yang berlangsung, membantu siswa dalam memahami materi serta menimbulkan rasa keingintahuan subjek terhadap alat peraga tersebut. 4.3 Pembahasan SD Karitas Nandan merupakan sekolah yang asri dan nyaman digunakan sebagai tempat belajar. Lingkungan yang nyaman dan aman serta didukung fasilitasfasilitas sarana dan prasarana yang cukup. Satu hal yang sangat disayangkan yaitu kurang maksimalnya penggunaan alat peraga di SD Karitas Nandan. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti, pembelajaran yang berlangsung di SD Karitas Nandan mulai kelas 1 sampai kelas 6 selama ini masih menggunakan metode ceramah, tanya jawab, serta penugasan. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas IB, hal ini terjadi karena kurangnya alat peraga yang mendukung materi pembelajaran di sekolah ini. Berdasarkan hasil observasi di kelas IB, guru dalam menyampaikan materi menggunakan metode ceramah, tanya jawab serta penugasan dengan media papan tulis sebagai alat bantu dalam penyampaian materi. Menurut guru, pembelajaran tanpa menggunakan alat peraga khususnya pelajaran Matematika kurang menyenangkan dan membuat suasana belajar biasa saja sehingga membuat siswa menjadi kurang aktif dan merasa cepat bosan. Guru seharusnya tahu pentingnya menggunakan alat peraga dalam pembelajaran. Suharjana berpendapat bahwa 77

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI penggunaan alat peraga dapat membantu siswa dalam menanamkan dan mengembangkan konsep yang abstrak menjadi konkret (Suharjana, 2009: 3). Hal senada juga disampaikan oleh Sudjana, bahwa alat peraga adalah alat bantu yang digunakan oleh guru dalam proses belajar agar siswa lebih efektif dan efisien (Sudjana, 2000: 10). Suasana pembelajaran yang lebih kreatif dan membuat siswanya lebih aktif terjadi ketika alat peraga berbasis Montessori, yaitu bola-bola penjumlahan dihadirkan ke dalam siswa kelas IB pada mata pelajaran Matematika untuk materi penambahan dan pengurangan. Alat peraga Montessori adalah alat yang digunakan dalam pembelajaran dengan metode Montessori yang bertujuan untuk memudahkan siswa dalam pemahaman materi. Alat peraga bola penjumlahan ini dikembangkan dengan mengadopsi alat peraga Montessori yang disebut Golden beads material atau manik-manik emas. Menurut Montessori, alat peraga adalah material untuk siswa dalam belajar yang didesain secara sederhana, menarik, memungkinkan untuk diekplorasi, memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar secara mandiri, dan memperbaiki kesalahan mereka sendiri (Lillard, 1997: 11). Berdasarkan pengamatan selama kegiatan pembelajaran, siswa tertarik dan merasa senang menggunakan alat peraga tersebut karena alat peraga tersebut belum pernah mereka lihat dan gunakan sebelumnya. Pada pembelajaran beberapa saat yang lalu, hanya beberapa kali siswa menggunakan alat peraga berupa sempoa, dan yang menggunakan alat peraga tersebut hanya siswa yang mengikuti les sempoa. Setelah menggunakan alat peraga berbasis Montessori pada pembelajaran matematika, guru merasa senang dan puas dengan hasil belajar siswa. Hal ini membuktikan bahwa pemahaman materi siswa lebih tinggi saat menggunakan alat peraga berbasis Montessori, dibandingkan dengan pembelajaran tanpa menggunakan alat peraga, selain itu penggunaan alat peraga Montessori dapat melatih kemandirian siswa. Perasaan senang tidak hanya dirasakan oleh guru, siswa kelas IB juga merasa senang dan semakin bersemangat untuk mengikuti pembelajaran. Mereka dapat lebih cepat memahami materi dan pembelajaran menjadi menyenangkan, hanya saja karena subjek masih kelas I dengan usia berkisar antara 6-7 tahun, terkadang alat peraga dibuat sebagai mainan. 78

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Alat peraga matematika berbasis Montesori merupakan hal yang baru untuk guru dan siswa yang belum pernah menggunakan sebelumnya. Hal ini akan menunjukkan sikap individu terhadap objek yang diamati. Fazio, 1989; Fazio dan Roskos-Ewoldsen, 1994 (dalam Walgito, 2004) menjelaskan bahwa munculnya persepsi dipengaruhi oleh suatu sikap terhadap objek dan dipicu oleh suatu kejadian yang mengaktifkan sikap, sehingga persepsi dapat mempengaruhi intensi seseorang dalam melakukan sesuatu. Hal ini juga dapat terjadi pada intensi seseorang dalam menggunakan alat peraga. Jika seseorang memiliki persepsi yang positif terhadap alat peraga, maka seseorang akan memiliki persepsi intensi yang besar terhadap objek tersebut, namun jika seseorang memiliki persepsi yang negatif terhadap alat peraga maka seseorang akan memiliki intensi yang lemah terhadap alat peraga tersebut. Alat peraga Montessori ini membuat siswa menjadi mandiri. Terbukti dengan siswa mengerjakan soal yang telah diberikan dengan menggunakan alat peraga dan siswa menjadi jarang bertanya kepada guru saat menggunakan alat peraga. Alat peraga dapat dikatakan memiliki manfaat maksimal jika memiliki kontribusi pada kegiatan pembelajaran bagi guru dan siswa. Hal ini juga berlaku untuk alat peraga berbasis Montessori berupa bola-bola penjumlahan (manik-manik emas satuan, puluhan dan ratusan) memiliki karakteristik/ciri-ciri tertentu. Berikut merupakan ciriciri umum alat peraga Montessori (Montessori, 1964: 169-179). 1. Menarik Montessori (2002:81) mengemukakan bahwa setiap media pembelajaran harus mengandung unsur keindahan. Unsur tersebut dapat dilihat dari segi warna sehingga mengundang minat siswa untuk belajar.Alat peraga ini karena pemilihan warna yang digunakan pada alat peraga yaitu warna cokelat untuk papan penyimpanan manikmanik satuan, puluhan, ratusan dan warna merah pada manik-manik. Berdasarkan penjelasan tersebut,warna yang dipilih untuk alat peraga Montessori sudah tepat. Hal ini dibuktikan dengan, alat peraga bola-bola penjumlahan yaitu manik-manik satuan, puluhan dan ratusan yang berwarna merah 79

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI membuat siswa merasa tertarik. Siswa ingin memegang dan menggunakan alat peraga tersebut. 2. Bergradasi Penggunaan alat peraga Montessori terdapat suatu tingkatan yang terus- menerus dapat merangsang indera untuk menjadi semakin peka. Misalnya, pada kartu warna yang memperkenalkan gradasi warna dari gelap ke terang, gradasi umur dan gradasi bentuk. Untuk memperkenalkan gradasi bentuk, dapat digunakan menara pink (pink tower) yang memiliki 10 kubus yang jika disusun akan semakin mengkerucut karena setiap kubus memiliki selisih sisi sebesar 1 cm (Montessori, 1964: 173). Alat peraga Montessori bola-bola penjumlahan ini memiliki gradasi bentuk yaitu manikmanik yang menyatakan satuan, manik-manik yang menyatakan puluhan dan manikmanik yang menyatakan ratusan. Berdasarkan penjelasan di atas, alat peraga Montessori bola-bola penjumlahan (manik-manik emas satuan, puluhan, ratusan) sudah memenuhi karakteristik bergradasi yaitu gradasi bentuk. Gradasi bentuk ini terlihat pada satuan, puluhan, dan ratusan yang terdapat pada alat peraga Montessori bola-bola penjumlahan. 3. Auto-correction Auto-correctionatau yang disebut pengendali kesalahan. Kemampuan ini memungkinkan anak untuk mengetahui secara mandiri bahwa ia harus mencoba lagi karena sedang terjadi kesalahan ketika sedang belajar. Misalnya, ketika seorang anak berumur tiga tahun sedang berlatih dengan inkastri slinder (incastri solidi). Ia akan mengetahui kesalahanya ketika salah memasukan silinder, sehingga permukaan balok menjadi tidak rata, lubang terlalu lebar ataupun terlalu sempit sehingga silinder tidak dapat masuk dengan sempurna (Montessori, 1964: 169).Karakteristik autocorrectionyang dimiliki pada alat peraga Montessori bola-bola penjumlahan (manikmanik emas satuan, puluhan, ratusan) ialah terletak pada kunci jawaban yang telah disediakan. Berdasarkan penjelasan di atas, untuk mengetahui kesalahan siswa harus mencocokkan jawaban siswa dengan kunci jawaban yang telah disediakan 80

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sebelummnya. Kunci jawaban ini dapat membantu siswa dan guru untuk mengecek jawaban dan membuat siswa memahami letak kesalahannya. 4. Auto-education Auto-educationatau yang disebut jugamelatih kemandirian siswa.Pembelajaran dengan metode Montessori menuntut anak mandiri dalam belajar, intervensi dari direktris sangatlah minim bahkan tidak ada. Menurut Montessori hal utama yang harus memberikan pengetahuan pada anak adalah lingkungan, teman, dan alat peraga (Montessori, 1964: 106). Alat peraga Montessori bola-bola penjumlahan (manikmanik emas satuan, puluhan, ratusan) ini dapat melatih kemandirian siswa. Berdasarkan penjelasan di atas, alat peraga Montessori bola-bola penjumlahan (manik-manik emas satuan, puluhan, ratusan) dapat membuat siswa mengerjakan soal secara mandiri dengan alat peraga tersebut. Selain itu, alat peraga Montessori bolabola penjumlahan (manik-manik emas satuan, puluhan, ratusan) juga membuat siswa untuk saling membantu dengan teman sekelompoknya saat mengerjakan soal dengan alat peraga. Dengan demikian, alat peraga bermanfaat bagi siswa terbukti dengan kemandirian siswa dan sikap saling membantu saat bekerja sama di dalam kelompok. 5. Kontekstual Menurut Johnson (dalam Komalasari 2010: 6), kontekstual merupakan pembelajaran yang mengkaitkan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata siswa sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat dengan tujuan untuk menemukan makna materi tersebut bagi kehidupannya. Alat peraga Montessori bola-bola penjumlahan (manik-manik emas satuan, puluhan, ratusan) inimenggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan dan dekat dengan kehidupan siswa seperti kayu, manik-manik, dan kertasuntuk tanda operasi hitung, kartu bilangan, kartu soal, lembar kerja siswa, dan album alat peraga. Dari penjelasan di atas, bahan pembuat alat peraga Montessori bola-bola penjumlahan (manik-manik emas satuan, puluhan, ratusan) ini mudah ditemui di lingkungan sekitar siswa seperti kayu, manik-manik dan kertas. Hal inilah yang membuat siswa tidak merasa asing dengan bahan pembuatan alat peraga tersebut. 81

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berdasarkan penjabaran dan pembahasan karakteristik/ ciri-ciri alat peraga alat peraga Montessori yang dimiliki oleh alat peraga Montessori bola-bola penjumlahan ini sudah memenuhi syarat-syarat yang harus dimiliki alat peraga Montessori. Alat peraga Montessori bola-bola penjumlahan ini memang sudah tepat digunakan untuk mata pelajaran matematika materi pembelajaran penjumlahan dan pengurangan untuk kelas I SD. Penggunaan alat peraga Montessori bola-bola penjumlahan pada siswa kelas I SD dapat berpengaruh terhadap pemahaman siswa. Hal ini disebabkan karena alat peraga membantu siswa dalam memahami materi yang disampaikan. Menurut guru, penyampaian materi menggunakan alat peraga bola-bola penjumlahan memudahkan siswa dalam memahami materi serta penanaman konsep pada anak lebih mendalam. Maka untuk menanamkan konsep lebih mendalam serta siswa lebih memahami materi yang disampaikan, guru diharapkan menggunakan alat peraga sebagai media dalam menyampaikan materi kepada siswa. Selain itu, alat peraga juga dapat mengubah persepsi siswa mengenai suatu hal. Persepsi juga diartikan sebagai tanggapan atau temuan gambaran langsung dari suatu atau temuan gambaran langsung dari suatu serapan seseorang dalam mengetahui beberapa hal melalui panca indera (Depdiknas, 2001:259). Hal ini sama halnya dengan alat peraga yang digunakan pada pembelajaran di kelas I tentang materi penjumlahan dan pengurangan yang diinterpretasikan oleh subjek guru serta siswa. Persepsi dapat mempengaruhi intensi seseorang dalam melakukan sesuatu. Persepsi juga dipengaruh oleh suatu sikap terhadap objek dan dipicu oleh suatu kejadian yang mengaktifkan sikap (Fazio, 1989; Fazio dan Roskos-Ewoldsen, 1994). Dalam intensi, terdapat tiga faktor penentu, yaitu sikap terhadap perilaku yang dimaksud, keyakinan tentang bagaimana evaluasi orang lain terhadap perilakunya (faktor ini dikenal dengan nama norma-norma subjektif), dan yang terakhir adalah intensi juga dipengaruhi oleh perceived behavioral control (persepsi tentang kemampuannya untuk mengontrol perilaku). Jika persepsi seseorang mengenai alat peraga itu negatif, maka intensi untuk menggunakan alat peraga lemah, namun jika 82

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI persepsi seseorang mengenai alat peraga positif, maka intensi untuk menggunakan alat peraga tinggi. Hal ini juga berlaku pada intensi guru dan siswa terhadap persepsi alat peraga Montessori bola-bola penjumlahan. Persepsi siswa terhadap alat peraga Montessori ialah alat peraga dapat membantu siswa dalam memahami materi. Saat pertama kali melihat alat peraga bola-bola penjumlahan, ketiga subjek memiliki keinginan untuk mencoba menggunakannya karena merupakan alat peraga yang asing untuk mereka. Subjek awalnya terlihat bingung tentang cara penggunaan alat peraga bola-bola penjumlahan, namun setelah dijelaskan oleh guru mengenai cara menggunakan alat peraga tersebut, ketiga subjek merasa lebih mudah dan terbantu dalam memahami materi. Tak berbeda dengan siswa, guru juga merasa senang dan puas karena guru merasa terbantu dalam penyampaian materi dan pembelajaran terlihat menarik bagi mereka. Guru juga berpendapat bahwa alat peraga dapat membantu siswa mempermudah menjawab soal dan membuat siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan penjelasan di atas maka persepsi guru dan siswa mengenai alat peraga Montessori semakin positif. Persepsi awal guru dan siswa terhadap alat peraga sebelum pengimplementasian alat peraga berbasis Montessori positif, sampai diperkenalkan alat peraga berbasis Montessori yang semakin menguatkan persepsi positif guru dan siswa terhadap alat peraga. Karena persepsi guru dan siswa positif, maka intensi guru dan untuk menggunakan alat peraga juga tinggi. Hal ini dapat dibuktikan, karena setelah menggunakan alat peraga, guru dan siswa ingin kembali menggunakan alat peraga tersebut. Mereka berpendapat, alat peraga matematika berbasis Montessori yaitu bola-bola penjumlahan lebih menyenangkan dari alat peraga yang pernah digunakan oleh siswa sebelumnya, yaitu sempoa. 83

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V PENUTUP 5.1 5.1.1 Kesimpulan Persepsi guru terhadap penggunaan alat peraga berbasis metode Montessori di dalam proses kegiatan belajar akan memberikan pengalaman bagi guru. Pengalaman tersebut akan mempengaruhi pandangan terhadap penggunaan alat peraga dalam proses pembelajaran. Pandangan guru terhadap penggunaan alat peraga akan berkaitan erat dengan sikap guru terhadap alat peraga. Sikap yang muncul dalam penelitian ini antara lain dengan adanya alat peraga dapat membantu guru dalam menyampaikan materi. Melalui sikap inilah akan berpengaruh terhadap tindakan guru dalam menggunakan alat peraga selanjutnya. Dalam kegiatan pembelajaran guru menggunakan alat peraga berbasis Montessori yaitu bola-bola penjumlahan. Alat peraga ini memberikan manfaat seperti memudahkan siswa dalam menangkap materi pembelajaran yang diberikan guru karena karakteristik alat peraga yang dimiliki alat peraga. Karakteristik alat peraga tersebut antara lain: a. Menarik Alat peraga yang digunakan dirancang untuk proses pembelajaran matematika materi penambahan dan pengurangan di kelas I. Karakteristik menarik terletak pada warna yang digunakan alat peraga yaitu warna cokelat untuk papan penyimpanan manik-manik satuan, puluhan, ratusan dan warna merah pada manikmanik. Hal di atas tersebut yang membuat siswa merasa tertarik dengan alat peraga bola-bola penjumlahan tersebut. b. Kontekstual Alat peraga Montessori berupa bola-bola penjumlahan menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan dan dekat dengan kehidupan siswa. Hal inilah yang membuat siswa tidak merasa asing dengan bahan pembuatan alat peraga tersebut. c. Bergradasi 84

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Alat peraga Montessori bola-bola penjumlahan memiliki karakteristik bergradasi yaitu gradasi bentuk. Gradasi bentuk ini terlihat pada satuan, puluhan, dan ratusan yang terdapat pada alat peraga Montessori bola-bola penjumlahan d. Auto-correction (memiliki pengendali kesalahan) Karakteristik auto-correction terletak pada kunci jawaban yang telah disediakan. Kunci jawaban ini dapat membantu siswa dan guru untuk mengecek jawaban dan membuat siswa memahami letak kesalahannya. e. Auto-education (melatih kemandirian siswa) Alat peraga bola-bola penjumlahan dapat melatih kemandirian siswa. Hal ini dibuktikan dengan siswa mengerjakan soal secara mandiri dengan alat peraga. Selain itu, siswa saling membantu dengan teman sekelompoknya saat mengerjakan soal dengan alat peraga bola-bola penjumlahan. Hal ini membuktikan bahwa alat peraga bermanfaat bagi siswa terbukti dengan kemandirian siswa dan sikap saling membantu saat bekerja sama di dalam kelompok. 5.1.2 Persepsi siswa terhadap penggunaan alat peraga berbasis metode Montessori di dalam proses kegiatan belajar akan memberikan pengalaman baru bagi siswa. Siswa yang sebelumnya sudah pernah memiliki pengalaman menggunakan alat peraga sempoa tetap tertarik terhadap alat peraga berbasis Montessori. Pengalaman tersebut akan mempengaruhi pandangan terhadap penggunaan alat peraga dalam proses pembelajaran. Pandangan siswa terhadap penggunaan alat peraga akan berkaitan erat dengan sikap siswa terhadap alat peraga. Sikap yang muncul dalam penelitian ini antara lain dengan adanya alat peraga dapat membantu siswa dalam memahami materi. Melalui sikap inilah akan berpengaruh terhadap tindakan siswa dalam menggunakan alat peraga selanjutnya. Pembelajaran matematika menggunakan alat peraga bola-bola penjumlahan membuat siswa termotivasi dalam belajar, siswa lebih berkonsentrasi dalam kegiatan pembelajaran, siswa lebih aktif dalam pembelajaran, siswa bisa menguasai materi 85

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI yang diajarkan dengan cepat, kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik daripada sebelum menggunakan alat peraga. 5.1.3 5.2 Keterbatasan Penelitian 5.2.1 Jumlah subjek/ responden sedikit. 5.2.2 Suasana sekolah yang kurang mendukung untuk melakukan penelitian 5.3 Saran Bagi peneliti selanjutnya: 5.3.1 Menambah jumlah subjek penelitian agar data yang diperoleh semakin lengkap. 5.3.2 Lebih baik mencari sekolah yang tidak kekurangan guru kelas, sehingga tidak mengganggu saat penelitian akan dilakukan 86

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Daftar Referensi Alimohammad, A. (2011). A Qualitative study of Swedish Universuty students’ perceptions and experience of using media learning. Sweden: Departement of Economy, Communication and IT Karlstad University. Volume 8. Arikunto, S. (1998). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek. PT. Rineka Cipta. Jakarta. Arikunto, S. (2006). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. Jakarta : Rineka Cipta. Arikunto, S. (2010). Prosedur penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Arsyad, A. (2007). Media pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Arsyad, A. (2010). Media pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers. Azzaki, M. (2013). Persepsi penggunaan alat peraga motor starter dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada standar kompetensi melakukan perbaikan sistem starter di kelas X teknik sepeda motor SMK PGRI 3 Malang. Diakses tanggal 2 Juni 2014 dari http://karyailmiah.um.ac.id/index.php/TM/article/view/27936. Badan Standar Nasional Pendidikan. (2006). Standar isi dan standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar. Jakarta: BP. Cipta Jaya. Creswell, J.W. (1994). Research design ; Qualitative and quantitative approaches, California : SAGE Publications Creswell, J.W. (2007). Qualitative inquiry and research design, second edition. California: Sage Publication Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Bahasa. (2001). Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: : Balai Pustaka. Departemen Pendidikan Nasional. (2007). Peraturan menteri pendidikan nasional No. 24 Tahun 2007 tentang standar sarana dan srasarana untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs) dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA). Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Bahasa. (2008). Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: : Balai Pustaka. Fazio. R.1-I., & Roskos-Ewoidsen, D.R. (1994). Acting as we feel: when and how attitudes guide behavior. In S. Shaviti & T.C. Brock (Eds), Persuasion. Boston: Allyn & Bacon. 87

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Hainstock, E. G. (1997). Metode pengajaran Montessori untuk anak prasekolah. Alih Bahasa Hermes. Jakarta: Pustaka Delapratasa. Hasan, Q. A. (2011). Pembelajaran pembagian menggunakan peraga manipulatif dengan pendekatan algoritma tunggal. Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA. Herdiansyah, H. (2010). Metodologi penelitian kualitatif untuk ilmu-ilmu sosial. Jakarta: Salemba Humanika Herdyansyah, H. (2011). Metodologi penelitian kualitatif. Jakarta: Salemba Humanika. Hergenhahn, B.R. & Olson, M.H. (2009). Theories of learning (teori belajar). Jakarta: Kencana. Holt, H. (2008). The absorbent mind, pikiran yang mudah menyerap. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Isnandar. (2011). Penggunaan alat peraga manik-manik emas dalam meningkatkan prestasi belajar siswa kelas 2 SD Negeri Kaligoro. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang. Jalaludin, R. (1985). Psikologi komunikasi. Bandung: Remaja Karya. Komalasari, K. (2010). Pembelajaran kontekstual konsep dan aplikasi. Bandung: Refika Aditama. Kustandi & Sutjipto. (2011). Media pembelajaran manual dan digital. Bogor: Ghalia Indonesia. Lillard, P. P. (1997). Montessori in the classroom. New York: Schocken Books. Lillard, P. P. (2005). Montessori in the classroom. New York: Schocken Books. Magini, A. P. (2013). Sejarah pendekatan Montessori. Yogyakarta: Kanisius. McMillan, J.H. & Schumacher, S. (2001). Research in education: a conceptual intro-duction(5th ed.). US: Longman.Inc Moleong, L. (2000). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: Rosda karya. Moleong, L. (2009). Metode penelitian kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakaya Montessori, M. (1964). The Montessori method. New York: schocken books Montessori, M. (2002). The Montessori method. New York: Dover Publication. 88

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Mulyono, A. (1998). Pendidikan bagi anak berkesulitan belajar. Jakarta: Rineka Cipta Munadi, Y. (2010). Media pembelajaran. Jakarta: Gaung Persada Press. Mustaqim, B. & Ary A. (2008). Ayo belajar matematika untuk SD dan MI kelas IV. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Nazir, M. (1988). Metode penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia. Nuharini, D. & Wahyuni T. (2008). Matematika konsep dan aplikasinya. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. Oxford English Dictionary. (2011). Diakses tanggal 27 Maret 2014 dari www.oxforddictionaries.com Poerwandari, E. (1998). Metode penelitian sosial. Jakarta : Universitas Terbuka Putri, M.S. (2013). Pengembangan alat peraga Montessori untuk keterampilan geometri kelas III SDN Tamanan Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Univesitas Sanata Dharma. Rosyada, D. (2008). Media pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta Sitanggang, A. & Widyaiswara. (2013). Alat peraga matematika sederhana untuk Sekolah Dasar. Sumatera Utara: Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan. Smaldino, S.E., Lowter, D.L., Russell, J.D. (2011). Instructional Technology and media for learning (9th edition). (Arif Rahman, Trans.). New Jersey: Pearson Education Inc. Sobur, A. (2003). Psikologi umum. Bandung: Pustaka Setia Sudjana, N. (2000). Media pengajaran. Bandung: Sinar baru Algensindo. Sudono, A. (2010). Sumber belajar dan alat permainan: untuk pendidikan anak usia dini. Jakarta: Grasindo. Sugiarni, S. (2012). Peningkatan proses dan hasil belajar matematika dengan memanfaatkan media dan alat peraga materi operasi hitung campuran. Dinamika. Jurnal Praktik Penelitian Tindakan Kelas Pendidikan Dasar dan Menengah, ISSN: 0854-2172. Sugiyono. (2010). Metode penelitian pendidikan (pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta. Sugiyono. (2011). Metode penelitian kombinasi (mix method). Bandung: Alfabeta. 89

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Sugiyono. (2012). Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan RD. Bandung: Alfabeta. Suharjana, A. (2009). Pemanfaatan alat peraga sebagai media pembelajaran matematika. Yogyakarta: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPTK) Matematika. Suharnan. (2005). Psikologiok kognitif. Surabaya: Srikandi Sukayati, A. (2009). Modul matematika SD program bermutu: pemanfaatan alat peraga matematika dalam pembelajaran di SD. Yogyakarta: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika.. Sumantri, B. (1988). Metode pengajaran untuk Sekolah Dasar. Jakarta: Erlangga. Suparno, S. (2001). Membangun kompetensi belajar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Supratiknya. (2012). Penilaian hasil belajar dengan teknik non tes. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Surya, M. (2004). Psikologi pembelajaran dan pengajaran. Bandung: Pustaka Bani Quraisy. Susanto, A. (2013). Teori belajar dan pembelajaran di Sekolah Dasar. Edisi ke-1. Jakarta: Kencana. Sutopo, A (2009). Ayo belajar matematika kelas V SD. Yogyakarta Kanisius. Suyono &Hariayanto. (2011). Belajar dan pembelajaran. Surabaya: Rosda. Syaodih, N. (2010). Metodologi penelitian pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Trisnu. (2012). Hakekat pembelajaran. Diakses tanggal 30 Maret 2014 dari http://trisnu.blogspot.com/search/label/pendidikan. Usman, M. (2000). Menjadi guru profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya. Wahyuningsih, I. (2012). Pengaruh model pendidikan Montessori terhadap hasil belajar siswa kelas IV SDN Jati Asih 03 Bekasi. Skripsi. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta. Walgito, B. (2004). Pengantar psikologi umum. Yogyakarta: Andy Offset. 90

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.1 Transkrip Observasi Kondisi Sosio-Cultural TRANSKRIP OBSERVASI KONDISI SOSIO-CULTURAL Hari, Tanggal : Selasa, 14 Januari 2014 Waktu : 10.00 -12.00 Tempat : SD Karitas Nandan Baris Hasil Observsi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 SD Kartitas Nandan merupakan salah satu sekolah swasta yang terletak di kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. SD Karitas merupakan sekolah swasta katolik yang didirikan oleh bruder-bruder dari yayasan Karitas. SD Karitas terletak di Jl Nandan 4 RT 001 No. 39, Sariharjo, Ngaglik Sleman, Yogyakarta 55581. Berdasarkan letak geografisnya, SD Karitas terletak di dalam kampung. Letak SD yang jauh dari keramaian jalan raya dan tempat umum ini membuat proses kegiatan belajar mengajar menjadi tenang dan nyaman. SD Karitas juga terletak satu kompleks dengan Bruderan Karitas yang terletak di sebelah utara SD Karitas Nandan. Di kompleks tersebut juga terdapat sebuah Kapel Stasi Nandan yang termasuk dalam wilayah Paroki Santo Alfonsus, Nandan. Bruderan merupakan satu kesatuan dengan SD Karitas. Keduanya tidak serta merta dapat dipisahkan karena bruderan membantu SD Karitas dalam menyelenggarakan pendidikan baik pendidikan jasmani maupun rohani. Tak jauh dari SD Karitas Nandan terdapat TK Karitas dan SMP Karitas Nandan. SD Karitas Nandan terbilang salah satu sekolah yang memiliki sarana dan prasarana yang cukup lengkap. Sekolah ini memiliki 2 kelas paralel A dan B kecuali untuk kelas 2 yang hanya memiliki satu kelas saja. Sekolah yang dikelola oleh bruderan Karitas ini memiliki fasilitas pendukung seperti ruang kelas yang nyaman, UKS, lapangan yang cukup luas, laboratorium komputer, dan kantin yang nyaman. Semua ruangan terlihat bersih dan tak ada corat-coret siswa yang nakal di dinding. Semua siswa terlihat ikut merawat semua fasilitas sekolah, mereka ikut menjaga agar sekolah mereka terlihat nyaman dan indah. Sekolah Yayasan Karitas yang terletak di antara dusun Nandan dan dusun Mranggen ini terlihat berhawa sejuk dan nyaman yang sangat mendukung suasana belajar mengajar yang tentu juga membuat siswa merasa nyaman. Di halaman depan SD Karitas, ditanami banyak tanaman hias, yang semakin menunjukkan keasrian SD Karitas. Tanamannya pun terlihat sangat terawat dan tertata dengan indah. Kondisi sekolah yang hijau ini membuat udara yang 106 Comment [L1]: Alamat lengkap SD Karitas O1 /B5-7 Comment [l2]: Letak geografis SD Karitas yang jauh dari jalan Raya O1/B8-11 Comment [l3]: Fasilitas yang dimiliki SD Karitas cukup lengkap O1/B26-29

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 dihasilkan di lingkungan SD Karitas menjadi bersih dan segar. Walaupun tak menggunakan pendingin ruangan sekalipun, suasana di dalam kelas cukup sejuk. Hal ini membuat siswa belajar dengan nyaman dan konsentrasi siswa dalam belajar sangat tinggi.Kondisi sekolah yang hijau ini juga membuat siswa betah berlama-lama disekolah ,hal ini terlihat dari suasana keakraban siswa saat istirahat dan kegiatan belajar mengajar usai, siswa bermain-main di halaman sekolah. Mereka tak hanya bermain dengan teman sekelas saja kadang bermain dengan kelas lainnya. Banyak permainan yang mereka mainkan pada saat istirahat seperti bermain kartu yang diadu, kelereng, kejar-kejaran di lapangan yang cukup luas. Biasanya lapangan ini digunakan untuk upacara bendera dan juga untuk kegiatan olah raga. Namun sangat disayangkan lapangan ini tak hanya digunakan oleh siswa-siswa SD Karitas tapi juga SMP Karitas sehingga mengurangi konsentrasi dan mengganggu kegiatan satu sama lain baik kegiatan yang dilakukan oleh SD Karitas maupun SMP Karitas jika keduanya melakukan kegiatan dalam waktu bersamaan di lapangan tersebut. Selain lapangan yang “digabung” dengan SMP, perpustakaan pun tak jauh berbeda. Hal ini menyebabkan suasana perpustakaan yang biasanya tenang, nyaman dan rapi menjadi sedikit kurang teratur dan berantakan. Sehingga fungsi perpustakaan sebagai tempat yang nyaman dan tenang pun sedikit terabaikan. Selain itu, di dalam perpustakaan terdapat berbagai macam alat peraga yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di SD Karitas Nandan ini. Hal ini semakin menambah kesemrawutan ruang yang seharusnya “nyaman” dan “tenang” ini. Alat peraga yang seharusnya dapat dimanfaatkan sebaik mungkin dengan materi pembelajaran hanya menjadi “pajangan” di perpusakaan. Tak hanya diletakkan di perpustakaan, alat peraga juga terdapat di ruang UKS. Ruang yang seharusnya menjadi tempat istirahat siswa yang sedang sakit ini menjadi ruang yang sesak karena terdapat beberapa alat peraga yang sudah tak dilirik guru untuk kegiatan pembelajaran. Ruang UKS ini menjadi tidak layak digunakan oleh siswa yang sedang sakit karena ruang yang harusnya steril ini menjadi kurang steril. Walaupun ruang ini dibersihkan setiap hari namun karena di ruangan ini diletakkan barang-barang yang seharusnya ditempatkan di sini itulah yang membuat ruangan UKS ini kurang layak dan kurang nyaman jika digunakan untuk oleh siswa yang kurang sehat. Dengan diletakkannya alat peraga di perpustakaan dan UKS menyebabkan alat peraga terlupakan terbukti alat peraga yang “disimpan” di kedua tempat tersebut berdebu dan kotor seperti terabaikan saat petugas membersihkan kedua tempat tersebut. Selain itu, beberapa alat peraga mengalami kerusakan karena tidak 107 Comment [L4]: Suasana kegiatan belajar mengajar dan kegiatan lainnya di SD KAritas Nandan O1/B49-51 Comment [L5]: Kekurangan fasilitas yang dialami oleh SD Karitas dan SMP Kartitas menyebabkan beberapa fasilitas digabung O1/ B58-66 Comment [l6]: Alat peraga yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran hanya disimpan di perpustakaan O1 /B70-73 Comment [l7]: Alat peraga yang harusnya dapat digunakan pembelajaran hanya diletakkan di UKS O1/B78-79 Comment [l8]: Alat peraga yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran hanya disimpan di UKS O1 /B78-82

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 pernah dirawat dan digunakan. SD Karitas Nandan sebenarnya sudah dapat dikategorikan dalam sekolah yang “cukup”, yang dalam artian cukup dalam memfasilitasi murid-muridnya untuk mengembangkan kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh anak didik dan juga gurunya. Contohnya saja ruang komputer yang dimiliki SD Karitas Nandan. Ruang komputer yang ada di SD Karitas Nandan, selain digunakan oleh siswa-siswi SD, namun juga dipakai secara bergantian oleh siswa-siswi SMP Karitas Nandan. Hal ini yang membuat ruang komputer kadang “diperebutkan” karena bentroknya jadwal pemakaian ruang komputer. Hal ini ini diperparah dengan komputer yang hampir sebagian mati dan belum ada tanggapan dari yayasan untuk memperbakinya. Selain kekurangan di atas, selebihnya fasilitas dan sarana lainnya sudah cukup lengkap dan baik untuk kegiatan pembelajaran di SD Karitas, Nandan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 108 Comment [l9]: Kondisi alat peraga yang diletakkan di perpustakaan dan UKS di SD Karitas Nandan O1/B91-97 Comment [l10]: Ruang komputer yang sering menjadi “rebutan” siswa SD dan SMP O1/B102-111 Comment [l11]: Banyak komputer yang mati O1/B109-111

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.2 Transkrip Observasi Proses Pembelajaran ke-1 TRANSKRIP OBSERVASI PROSES PEMBELAJARAN Hari, Tanggal : Kamis, 16 Januari 2014 Waktu : 07.00 -08.10 Tempat : SD Karitas Nandan Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 Hasil Observsi Proses pembelajaran yang terjadi di kelas IB SD Karitas Nandan termasuk kondusif.Siswa dan guru dapat bekerja sama dengan baik untuk menyukseskan kegiatan pembelajaran. Hal pertama yang dilakukan guru adalah memberi salam kepada siswa dan menanyakan persiapan mereka mengenai pelajaran hari itu. Kemudian guru mengajak siswa berdoa bersama-sama sebelum memulai pelajaran. Setelah berdoa bersama, guru mengecek kehadiran siswa dikelas IB yang dilakukan oleh guru dimana ada guru menanyakan siswa yang tidak hadir saja dan guru yang menggunakan daftar hadir untuk mengecek kehadiran siswa secara satu persatu. Kemudian guru melakukan tanya jawab mengenai materi yang telah dijelaskan sebelumnya. Sebagian besar siswa merespons dengan cepat mengenai materi tersebut.Sebelum masuk ke inti pembelajaran guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dipelajari. Dalam menyampaikan materi yang akan dipelajari, teknik guru dalam menyampaikan materi yang akan mereka pelajari ialah dengan cara metode ceramah, tanya jawab, dan menulis materi di papan tulis. Agar tidak bosan, guru pun melakukan variasi dalam menjelaskan materi, guru tidak hanya berdiri di depan kelas, tetapi mendekati siswa sambil memperhatikan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Sehingga proses pembelajaran tidak monoton. Sinta, Thomas, dan Maya pun mempeperhatikan guru dengan baik ketika guru menerangkan di depan kelas. Dari ketiganya Thomaslah siswa yang cukup aktif di kelas. Thomas tak segan bertanya kepada guru ketika ia belum memahami materi yang di jelaskan. Guru menegur siswa yang ribut dan menanyakan mengapa mereka ribut. Thomas dan Maya sempat di tegur guru karena mereka ribut di kelas. Tak hanya mengegur, guru mengelola kelas menjadi nyaman dengan memperhatikan cara duduk dan cara menulis yang benar dari siswa. Beberapa siswa sempat ditegur guru karena posisi duduknya salah. Selain menegur siswa yang ribut dan memperhatikan siswanya, guru juga memberikan motivasi kepada siswa didalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan kepada siswa baik kepada siswa yang sudah mengerti tentang pelajaran 109 Comment [l12]: Guru membuka pembelajaran pembelajran O4/B5-13 Comment [l13]: Metode pembelajaran yang dilakukan guru O4/B19-22 Comment [l14]: Guru menegur siswa yang ribut di kelas O4/B33-34

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 maupun kepada siswa yang belum mengerti. Apabila ada siswa yang belum mengerti, guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menyelesaikan soal latihan dan ditulis di papan tulis. Karena Maya belum mengerti, maka Maya diberikan kesempatan oleh guru untuk menyelesaikan soal yang ada di papan tulis. Dengan bimbingan guru, Maya pun dapat menyelesaikan soal dengan benar. Saat guru memberi kesempatan kepada siswa yang ingin bertanya mengenai materi yang belum dipahami atau dimengertinya. Thomas pun memanfaatkannya untuk bertanya. Dan memberi perhatian kepada siswa yang belum mengerti guru menghampirinya dan menanyakan dimana siswa mengalami kesulitan didalam belajar. Dan jika ada kesulitan-kesulitan guru menjelaskan kembali materi tersebut. Setelah selesai menjelaskan materi penjumlahan, guru menanyakan kepada mengenai materi yang telah dijelaskan apakah mereka sudah paham atau belum. Semua siswa menjawab sudah paham secara serentak. Selain itu, guru juga memberikan penguatan atau dorongan kepada siswa yang telah berhasil mengerjakan tugas secara mandiri dengan memberikan pujian, baik melalui kata-kata maupun simbol. Seperti “bagus, anak ibu pintar sekali!” atau dengan memberikan acupan jempol kepada siswa yang bersangkutan. Kegiatan penutup dalam proses pembelajaran yang berkaitan dengan pelajaran matematika, guru menyimpulkan materi yang sudah dipelajari sehingga siswa lebih mudah untuk mengerti. Kemudian guru memberikan latihan soal kepada siswa. Seluruh siswa bersemangat mengerjakan soal yang diberikan oleh guru. Berapa siswa ada yang bertanya kepada guru. Dengan senang hati, guru pun membantu siswa yang bertanya. Salah satu siswa yang bertanya adalah Thomas. Dan Thomas pun menunjukkan raut wajah gembira saat guru menghampirinya saat ia bertanya dan membantunya memahami pertanyaan yang ia anggap sulit. Setelah itu dibahas secara bersama-sama, dan siswa satupersatu menyelesaikan soal tersebut di papan tulis. Setelah siswa mengerjakan soal tersebut guru menanyakan kepada siswa yang lain apakah jawaban dari teman mereka benar atau salah. Jika jawabannya salah guru mempersilahkan siswa yang lain untuk menyelesaikan soal tersebut. Dan jika siswa itu juga salah maka guru menjelaskan kembali materi yang berkaitan dengan soal tersebut. Siswa yang belum mengerti tersebut menjadi mengerti ketika guru menjelaskan ulang materi yang belum dipahaminya itu.Sebelum menutup pelajaran guru memberi tindak lanjut kepada siswa yaitu memberikan tugas atau PR dengan tujuan agar siswa dapat mempelajari kembali materi yang telah dijelaskan di Sekolah sehingga anak tetap akan ingat mengenai materi yang telah dijelaskan itu. Dan guru menyuruh siswa 110

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 101 untuk mengumpulkan PR tersebut besok saat pelajaran matematika. 111 Comment [l15]: Guru mengakhiri proses pembejaran O4/B94-101

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.3 Transkrip Observasi Proses Pembelajaran ke-2 Hari, Tanggal : Jumat, 17 Januari 2014 Waktu : 07.00-08.10 Tempat : SD Karitas Nandan Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 Hasil Observsi Hari ini dalam pembelajaran matematika terdapat 29 siswa di dalam kelas dan mereka belajar tentang penjumlahan dan pengurangan. Saat proses pembelajaran berlangsung, guru menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif. Untuk menciptakan suasana yang demikian, guru menjadikan suasana yang lebih santai atau informal. Menciptakan suasana yang lebih santai dan informal dilakukan guru dengan cara menyapa setiap murid yang mulai merasa bosan mengikuti pelajaran. Kemudian ditambah lagi dengan humor-humor ringan. Sehingga peserta didik lebih termotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran. Sebelum Guru memulai pelajaran, diawali dengan doa terlebih dahulu. Setelah doa ,Guru menyapa muridnya dan menanyakan siapa yang tidak masuk. Kemudian Guru menanyakan pada murid apakah sudah mengerjakan PR dan Guru pun mengecek PR siswa satupersatu. Setelah mengecek PR, Guru berkomentar akan hasil latihannya muridnya. Dari hasil latihan tersebut, Guru menanyai pada muridnya apakah sudah paham mengenai penjumlahan dan pengurangan apa belum. Karena dari hasil latihan tersebut, adabeberapa siswa masih ada kurang tepat dalam menjawab pertanyaan. Dan beberapa siswa ada yang mengangkat tangan bukti kalau mereka masih belum paham mengenai materi tersebut.Karena ada beberapa siswa yang belum paham maka kemudian guru pun menjelaskan kembali secara singkat agar siswa yang belum paham dapat mengingat materi yang telah dijelaskan sebelumnya. Di sini M tampak serius mendengarkan penjelasan guru. Guru memulai pelajaran dengan memberikan beberapa contoh di papan tulis dan meminta siswa untuk bersama-sama memecahkan masalah tersebut dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan. Semua siswa terlihat berbisik dengan teman sebangkunya. Kemudian guru menyuruh siswa untuk tenang dan mendengarkan penjelasan guru. Setelah memberikan beberapa contoh, guru memberikan satu soal dan meminta siswa memecahkan soal tersebut secara individu. Banyak siswa mengangkat tangan ketika guru bertanya siapa yang berani mengerjakan di depan kelas ,akan tetapi, guru memilih seorang siswa untuk mengerjakan di papan tulis. Siswa tersebut adalah T. T 112 Comment [l16]: Guru membuka pembelajaran pembelajran O5/B13-21 Comment [l17]: Guru mengulang kembali materi yang pernah dijelaskan O5/B26-29

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 pun menjawab pertanyaan yang diberikan dengan benar. Guru pun kemudian memberikan pujian kepada T, seperti “Waahh, kamu tambah pintar ya sekarang T”. Kemudian guru memberikan soal kembali, dan kali iniM yang mendapat kesempatan untuk maju ke depan,namun jawaban M salah. Guru pun memberikan semangat untuk M bahwa ia pasti bisa dan menyuruhnya untuk lebih teliti. Lalu guru kemudian membantu M untuk menjawab soal yang diberikan. M pun dapat menjawab dengan benar soal yang diberikan dengan bantuan guru. Guru pun menjelaskan materi baru mengenai pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan. Siswa tampak serius mendengarkan materi yang diberikan oleh guru. Semua siswa mencatat apa yang ditulis oleh guru di papan tulis. Guru pun memberi kesempatan kepada siswa yang belum paham untuk bertanya. Beberapa siswa menggunakan kesempatan ini untuk bertanya. Guru terlihat puas dengan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran hari ini. Kegiatan belajar mengajar dilanjutkan dengan meminta siswa untuk mengerjakan lima buah soal di Lembar Soal Siswa (LKS) matematika. Sebelum siswa mengerjakan soal, guru memberikan contoh soal dan memberikan contoh cara mengerjakannya. Soal-soal tersebut berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Ketika siswa mengalami kesulitan, guru memberi bimbingan secara individu. Siswa tampak serius mengerjakan. Ada siswa yang menghitung dengan jari, ada siswa yang menghitung dengan corat-coret di kertas. Semua tampak tenang mengerjakan soal yang diberikan. Beberapa siswa ada yang bertanya pada guru, dan S pun bertanya pada guru. Kemudian setelah bertanya, S kembali mengerjakan soal yang diberikan. Kemudian, guru meminta siswa untuk mengumpulkan pekerjaan mereka dan guru akan memeriksa serta memberikan nilai. Setelah itu, guru memberikan latihan soal kembali kepada siswa untuk memperdalam materi. Setelah itu dibahas secara bersama-sama, dan siswa satu-persatu menyelesaikan soal tersebut di papan tulis. Setelah siswa mengerjakan soal tersebut guru menanyakan kepada siswa yang lain apakah jawaban dari teman mereka benar atau salah. Jika jawabannya salah guru mempersilahkan siswa yang lain untuk menyelesaikan soal tersebut. Dan jika siswa itu juga salah maka guru menjelaskan kembali materi yang berkaitan dengan soal tersebut. Siswa yang belum mengerti tersebut menjadi mengerti ketika guru menjelaskan ulang materi yang belum dipahaminya itu.Siswapun tampak seius mendengarkan. Kegiatan penutup dalam proses pembelajaran yang berkaitan dengan pelajaran matematika, guru menyimpulkan materi yang sudah dipelajari sehingga siswa lebih mudah untuk mengerti. Sebelum menutup pelajaran guru memberi tindak lanjut kepada siswa yaitu memberikan tugas atau PR dengan tujuan agar siswa dapat mempelajari kembali materi 113 Comment [l18]: Terkadang M masih salah dalam menjawab dikarenakan kurang teliti O5/B47-53 Comment [l19]: Siswa tidak menggunakan alat peraga O5/B71-76

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 100 101 yang telah dijelaskan di Sekolah. sehingga anak tetap akan ingat mengenai materi yang telah dijelaskan itu, dan lebih memahami materi. 114 Comment [l20]: Guru mengakhiri proses pembejaran O5/B93-101

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.4 Transkrip Observasi Penelitian Pertemuan ke-1 VERBATIM OBSERVASI PENELITIAN 1 Hari, Tanggal : Senin, 3 Febuari 2014 Waktu : 07.00 -10.00 Tempat : SD Karitas Nandan Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 Hasil Observsi SD Karitas memiliki 11 kelas. Masing-masing tingkatan terdiri dari 2 kelas kecuali untuk kelas 2 yang hanya terdiri dari kelas saja. Hari ini adalah hari pertama di mana penelitiandilaksanakan di kelas IB. Suasana ruang kelas 1B cukup nyaman dan mendukung pembelajaran.. Ruang kelas ditata seperti suasana TK agar anak-anak kelas I merasa nyaman belajar karena kelas I SD merupakan masa peralihan dari TK ke SD jadi suasana ruang kelas di SD Karitas dibuat senyaman mungkin untuk kegiatan belajar mengajar. Di kelas IB ini, jumlah muridnya yaitu 27 orang dengan rincian 14 siswa perempuan dan 13 siswa laki-laki. Wali kelas di kelas ini bernama Gxxx Rxxxx Axxxxxx atau yang lebih dikenal dengan nama Bu G. Seperti siswa kelas I pada umumnya, siswa di sini juga kadang suka membuat keributan di kelas dengan mengobrol dengan teman sebangkunya ketika guru tidak menjelaskan atau ketika mereka sudah menyelesaikan tugas dan memeriksakan soal yang mereka kerjakan. Di kelas ini terdapat bermacam-macam karakter siswasiswanya, ada yang pendiam, ada yang sangat aktif, ada yang suka menggoda temannya. Selain itu kelas ini termasuk kelas istimewa karena di kelas ini terdapat satu siswa yang “istimewa”, namanya Pxxxx. P menderita lumpuh tangan dan kaki. Hari ini adalah hari pertama siswa kelas I B diperkenalkan dengan alat peraga bola-bola penjumlahan. Guru bersama mahasiswa yang melakukan peneitian membawa alat peraga ke dalam kelas dan memperkenalkannya kepada siswa kelas IB. Mereka tampak penasaran dengan alat peraga yang ada di depan kelas. Selanjutnya adalah guru memperkenalkan nama alat peraga sekaligus cara penggunaan alat peraga tersebut. Subjek dalam penelitian ini adalah G (yang merupakan wali kelas),S, T dan M. S merupakan siswa yang pendiam. S selalu mendengarkan ketika Bu G menjelaskan mengenai materi pelajaran. S tidak pernah ragu bertanya apabila ada materi atau soal yang tidak ia mengerti. S menyukai bentuk alat peraga itu. S tampak asik bermain-main dengan manik-manik berwarna merah 115 Comment [L21]: Suasana ruang kelas IB di SD Karitas Nandan O2/B5-10 Comment [L22]: Jumlah siswa di kelas IB O2/B11-12 Comment [L23]: Nama wali kelas IB O2/B13-14 Comment [L24]: Susana kegiatan belajar mengajar di kelas IB O2/B15-19 Comment [L25]: Berbagai macam karakter yang teradapat di kelas SD Karitas Nandan O2/B20-22 Comment [L26]: P anak berkebutuhan khusus yang menderita lumpuh kaki dan tangan O2/B22-25 Comment [L27]: Nama-nama siswa yang diobservasi secara khusus O2/ 36 Comment [l28]: S menyukai alat peraga Montessori O2/B41

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 itu. S melihat-lihat dan membolak-balik manik-manik dan mengembalikannya ke kotaknya. Kemudian S mengambil alat peraga puluhan dan menghitung jumlah manik-maniknya dan mengembalikannya kembali ke kotaknya. Tak hanya itu S mengambil manik-manik satuan menaruhnya di tangan kirinya kemudian mengembalikannya ke kotak. Saat kegiatan pembelajaran dan dibagi dalam kelompok kecil, S tampak serius mengerjakan soal yang diberikan guru. S mengambil alat peraga dan mulai mengerjakan soal. Sesekali S menengok ke belakang. Kemudian mengerjakan soal lagi. Kemudian menengok kembali ke belakang dan memanggil guru (Bu G). S pun bertanya kepada guru tentang materi yang kurang ia pahami. Setelah selesai bertanya S pun mengerjakan kembali hingga selesai dengan menggunakan alat peraga. Saat guru mengadakan kuis dengan alat peraga, S dapat menjawab soal yang berikan dengan benar dengan menggunakan alat peraga. Sdapat membedakan alat peraga manik-manik ratusan, puluhan, dan satuan. Subjek kedua adalah T. T merupakan salah satu siswa berprestasi di kelas IB. T mendapat peringkat kedua di kelas IB semester yang lalu. T merupakan siswa yang taat pada peraturan dan selalu memperhatikan Bu G ketika Bu G menjelaskan. T pun tak ragu bertanya apabila ada materi yang belum ia pahami. T langsung membuka kotak alat peraga ketika alat peraga tersebut ada di depannya. T kemudian mengambil manik-manik yang ada di dalamnya, memegang dan mengembalikannya ke kotak. T kemudian mengambil lagi alat peraga manik-manik yang berbentuk puluhan dan menjadikannya mainan dan memperlihatkannya kepada teman-temannya seolah-olah, alat peraga tersebut adalah sate. Melihat hal seperti itu, bu G menegur T, dan T pun menaruh kembali alat peraga tersebut ke kotaknya. Saat mengerjakan soal, dapat memahami penggunaan alat peraga tersebut. T dapat menggunakan alat peraga tersebut dengan baik dan benar. Setelah mengerjakan beberapa nomor, kemudian T keluar dari kelompoknya dan berjalan menuju guru (Bu Wln) untuk menanyakan beberapa soal. Sambil bertanya, terkadang ia mengganggu temannya yang sedang mengerjakan soal. T kemudian kembali ke tempat duduk ketika dia selesai mengerjakan soal. Saat kuis, saat T ditanya mengenai ratusan, puluhan dan satuan, T pun dengan cepat langsung mengambil alat peraga tersebut dengan cepat dan benar. Subjek ketiga adalah M. M merupakan siswa yang aktif. M terkadang suka berjalan-jalan di kelas saat pelajaran berlangsung. Namun biasanya setelah M diperingatkan oleh Bu G, M kembali ke tempat duduknya. M merupakan siswa yang penurut namun ketika menangkap pelajaran untuk materi tertentu M sulit menangkap pelajaran. Namun M memiliki semangat yang tinggi untuk memahami materi pelajaran sehingga M dapat 116 Comment [l29]: S bermain dan mengamati alat peraga O2/B41-47 Comment [l30]: S memahami cara penggunaan alat peraga O2/B52-53 Comment [l31]: S bertanya pada guru tentang soal yang Sinta belum paham O2/B55-56 Comment [l32]: S memahami cara penggunaan alat peraga O2/B60-62 Comment [l33]: S memahami karakteristik alat peraga O2/B62-63 Comment [l34]: Kendala pembelajaran : alat peraga dijadikan maninan O2/B73-77 Comment [l35]: T memahami penggunaan alat peraga O2/B80-81 Comment [l36]: Tmemahami penggunaan alat peraga dan memahami perbedaan satuan, puluhan dan ratusan pada alat peraga O2/B87-90

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 mengejar ketinggalannya dengan belajar di rumah dan aktif bertanya pada guru. Ketika alat peraga ditaruh di depan meja, M langsung memegang alat peraga manik-manik yang berupa ratusan dan memencet alat peraga tersebut, dan beberapa saat kemudian menaruhnya kembali ke dalam kotak. M mengambil alat peraga berbentuk satuan dan menghitung di tangan kirinya kemudian dikembalikan lagi ke kotak. Saat mengerjakan soal, M sempat bingung namun setelah dijelaskan oleh guru dan teman sebangkunya, M dapat mengerjakan soal yang diberikan. M kemudian berhenti sejenak dan memain-mainkan alat peraga berbentuk ratusan kemudian meninggalkan tempat duduk berjalanjalan ke kelompok lain. M juga diperingatkan oleh Bu G agar kembali ke tempat duduk. M pun kembali terdiam kemudian memainkan alat peraga tanpa mengerjakan soal. Kemudian setelah diperingatkan, diberi tahu, dan dijelaskan M pun dapat menyelesaikan soal yang diberikan. Saat kuis, M sempat salah menjawab pertanyaan dengan salah mengambil puluhan dan satuan. T yang sempat geregetan dengan M ingin membantu M namun dilarang oleh temannya. Akhirnya setelah dijelaskan kembali, M pun dapat menjawab dengan benar.Kemudian setelah kuis selesai, ketiganya saling memeriksakan jawaban soal yang mereka kerjakan tadi menggunakan alat peraga dan ketiganya mendapat nilai yang bagus. Comment [l37]: M belum memahami penggunaan alat peraga O2/B107-109 Comment [l38]: M belum memahami penggunaan alat peraga namun setelah dijelaskan Maya pun bisa mengerjakan O2/B117-122 Comment [l39]: S, T dan M saling mengoreksi jawaban masing-masing. O2/B122-125 117

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.5 Transkrip Observasi Penelitian Pertemuan ke-2 Hari, Tanggal : Selasa, 4 Februari 2014 Waktu : 07.00-08.10 Tempat : SD Karitas Nandan Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Hasil Observsi Hari ini adalah pertemuan kedua siswa kelas I B menggunakan alat peraga bola-bola penjumlahan. Siswa kelas IB SD Karitas Nandan sudah menguasai penggunaan alat peraga. Siswa tampak menikmatimenggunakan alat peraga tersebut. Hal yang sama juga terjadi pada Sinta, Thomas dan Maya subjek yang peneliti observasi. Ketiganya tampak menikmati dalam menggunakan alat peraga. Mereka saling bergantian menggunakan alat peraga saat pembelajaran berlangsung. Sebelum siswa mengerjakan tugas dengan menggunakan alat peraga, guru mengulang kembali sedikit materi yang diajarkan pada pertemuan pertama. Siswa dapat menjawab semua pertanyaan yang guru berikan tentang materi penjumlahan pada pertemuan pertama. Kemudian guru menjelaskan materi baru tentang penjumlahan kepada siswa dengan menggunakan alat peraga. Siswa tampak serius mendengarkan penjelasan guru dengan menggunakan alat peraga. Beberapa siswa bertanya kepada guru mengenai materi penjumlahan. Setelah semuanya paham mengenai materi yang diajarkan hari ini, guru memberikan tugas berkelompok. Guru membagi siswa ke dalam kelompok kecil yang berisi 3-4 siswa dalam setiap kelompoknya. Kemudian guru meminta siswa untuk mengerjakan soal dengan menggunakan alat peraga. S, T dan M berada dalam satu kelompok yang sama. S mengambil alat peraga bola-bola penjumlahan dan menggunakannya untuk membantunya dalam mengerjakan soal yang diberikan. S mengambil manikmanik emas satuan dan puluhan sesuai dengan soal yang diberikan. Kemudian setelah selesai ia mengembalikan alat peraga ketempatnya dan menuliskan jawabannya. Sesekali S berhenti menunggu temannya selesai menggunakan alat peraga. Setelah temannya selesai, S kemudian kembali mengerjakan soal kembali.S tampak serius dan fokus mengerjakan soal. Terkadang S tampak cuek diganggu teman sekelompoknya. S tetap mengerjakan soal itu walalupun teman-temannya berhenti sejenak dan mengobrol. Sesekali S mengobrol dengan M dan T namun beberapa saat kemudian S kembali mengerjakan soal kembali. Setelah selesai mengerjakan soal, S memanggil guru untuk memeriksa jawabannya. Hal yang sama juga dilakukan T. T pun tampak serius 118 Comment [l40]: Siswa merasa menikmati dalammenggunakan alat peraga O3/B4-5 Comment [l41]: Guru menggulang materi yang telah diberikan O3/B11-13 Comment [l42]: Siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran O3/B19-20 Comment [l43]: S menggunakan alat peraga untuk membantunya mengerjakan soal O3/B30-32

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 mengerjakan soal yang diberikan dengan menggunakan alat peraga.T mengambil alat peraga manik-manik emas satuan dan puluhan kemudian menghitung dan menuliskan jawabnnya di lembar soal. T pun mau bergantian dengan teman satu kelompoknya dalam menggunakan alat peraga. Jika alat peraga sedang dipakai oleh temannya, T mau menunggu temannya sampai temannya selesai menggunakan alat peraga. Sesekali T mengajak berbicara teman di dekatnya sambil mengerjakan soal. T pun seskali bertanya kepada guru mengenai soal yang ia tidak mengerti. Tak hanya itu T pun mau mengajari temannya yang belum selesai mengerjakan soal.Selain itu, T pun sering usil menganggu temannya yarng sedang serius mengerjakan soal namun hal tersebut tidak berlangsung lama pun kembali mengerjakan soal dan mau mengajari temannya jika temannya bertanya kepadanya. T pun menjadi yang pertama dikelompoknya yang menyelesaikan soal yang diberikan. T pun menjadikan alat peraga manik-manik emas satuan sebagai mainan sembari menunggu temantemannya selesai mengerjakan soal. M juga dapat mengerjakan soal dengan menggunakan alat peraga walaupun sempat bingung. Wajah M tampak bingung dan berpikir mencoba mengingat cara penggunaan alat peraga. M terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri melihat teman-temannya yang serius mengerjakan soal yang diberikan. M berusaha mengerjakan sendiri soal yang diberikan dengan menggunakan alat peraga. Walaupun beberapa jawaban yang Maya tulis masih salah, namun M sudah berusaha untuk mengerjakaan soal sendiri dengan menggunakan alat peraga. M sesekali berhenti sejenak dan menggunakan alat peraga manik-manik emas satuan dan membentuk huruf tertentu di atas meja. Namun setelah diperingatkan guru, M pun mengembalikan kembali alat peraga mank-manik emas satuan ke tempatnya dan kembali mengerjakan soal. M pun bertanya kepada guru mengenai soal yang belum ia pahami. Guru pun mengajarkan M dengan menggunakan alat peraga. M pun paham dan berusaha mengerjakan soal sendiri dengan menggunakan alat peraga. Walaupun M selesai mengerjakan soal tidak secepat kedua teman kelompoknya yaitu S dan T, M tetap berusaha mengerjakan soal sebaik mungkin. M pun dapat mengerjakan soal dengan baik dengan menggunakan alat peraga. Setelah semua siswa selesai mengerjakan soal dengan menggunakan alat peraga, guru pun meminta siswa menukarkan pekerjaannya dengan teman di sebelahnya. Guru mengajak siswa untuk memeriksakan jawaban yang sudah dikerjakan dengan menggunakan alat peraga. Siswa pun memeriksa pekerjaan temannya sesuai dengan jawaban yang diberikan oleh guru. Apabila ada jawaban yang salah maka nomornya dicoret. Siswa pun dapat memahami perintah guru dengan baik. Bebrapa siswa 119 Comment [l44]: T menggunakan alat peraga untuk membantunya mengerjakan soal O3/B47-49 Comment [l45]: M menggunakan alat peraga untuk membantunya mengerjakan soal O3/B 68-69

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 mendapatkan nilai yang baik saat mereka mengerjakan soal dengan menggunakan alat peraga. 120

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.6 Verbatim Wawancara Pra-Penelitian Guru VERBATIM WAWANCARA GURU PRAPENELITIAN WAWANCARA SUBJEK IV Nama Usia/ Jenis Kelamin Hari/ Tanggal Wawancara Waktu Lokasi Interviewer :G : 22 th/ P : Senin, 17 Januari 2014 : 10.15-10.26 : Ruang Guru : Umi Winarni Setyaningsih Interviewer : dicetak tebal Interviewee : dicetak Normal Baris Wawancara 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Pagi, ibu Pagi Maaf, kalo boleh tau nama lengkap ibu siapa, yaa? Nama panjang saya Bu G. R. A. Trus, anak-anak biasanya manggil ibu dengan? Bu G, mbak.. Bu G.. Hemm... Ibu ini, kalau boleh tau, ibu lulusan mana yaBu? Lalu lulus tahun berapa Bu? Wah, kebetulan, mbak, saya lulusan dari Sadhar juga, mbak... Saya lulus tahun kemarin, mbak, 2013... Tapi kita cuma beda jurusan aja, mbak. Saya bukan dari PGSD tapi dari Akuntansi... Sadhar... Kok, ibu bisa ngajar di sini? Kenapa ibu gangajar akuntansi aja... Kan sesuai sama ilmu yang ibu pelajari waktu kuliah dulu.. Wah.. Kalo itu, saya dari dulu emang suka anak kecil, jadi waktu keterima di sini, seneng banget... O..Githu ya, Bu. Bu G. Bu G wali kelas berapa? Kelas 1 B Trus, waktu pertama kali mengajar di sini, ibu langsung mengajar kelas I B ato ibu mengajar di kelas lain dulu? Sejak awal masuk, saya langsung mengajar di IB, mbak.. Comment [l46]: Subjek bercerita awal mula menjadi guru W1/S4/B12-16 Comment [l47]: Perasaan terhadap anak kecil dan perasaan subjek saat diterima bekerja di SD Karitas W1/S4/20-22 Comment [L48]: Subjek menceritakan awal mula mengajar W1/S4/B29-30 121

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 Baru IB saja ya, Bu. Trus, apa ibu, senengngajar di kelas IB ini? Seneng banget, mbak Kelas 1 B. Jumlah murid kelas 1 B ada berapa ibu? Kalo yang sekarang sudah 28 siswa Apa ibu, mengalami kesulitan.. emm... waktu pertama kali mengajar kelas I? Ngga Ngga..Trus..Emm.. Suka duka ibu selama mengajar di IB apa aja, Bu? Sukanya kalo anak pada nurut kalo di kasih tau... Emmm Trus waktu anak dapet nilai bagus, emm Trus dukanya..ngga ada..Karna saya suka anak-anak jadi ga ada dukanya.. Saya merasa senang bisa mengakar mereka. O..gitu ya, Bu... Trus, sikap anak-anak sendiri gimana, Bu? Maksudnya, anak-anak aktif bertanya kalo ada yang mereka belom paham atogimana? Ya...Kalo anak-anak ada yang aktif ada yang tidak...Relatiflah.. O..Ada yang aktif ada yang pasif... Trus hasil belajar mereka gimana, Bu? Rata-rata kelasnya.. Eee.. Apa rata-ratanya bagus? Emm..Hasilnya cukup memuaskan...Nilai rataratanya cukup baik... Trus..Ibu di kelas mengajar mata pelajaraan apa saja? Saya mengajar guru kelas. Jadi semua mata pelajaran di kelas 1 O semua mata pelajaran di kelas 1. Muridmurid paling suka mata pelajaran apa? Kalo yang menjadi mata pelajaran favorit itu apa, Bu? Matematika O matematika. Mengapa murid- murid menyukai matematika, Bu? Karena lebih, menurut saya mereka lebih asyik dengan berhitung. Dengan angka misalkan diberi penjelasan mengenai materi tertentu dan mereka merasa bisa. Mereka di lain hari meminta mengulangi lagi, seperti itu. O begitu, lalu bagaimana perasaannya Bu Gita ketika mengajar matematika di kelas? Perasaannya bisa senang karena murid- murid juga bisa menguasai materi yang saya ajarkan dengan cepat Bagaimana pendapat Bu G mengenai sikap siswa ketika mengikuti pembelajaran di Kelas apakah ramai, ribut apakah memperhatikan ataukah bagaimana bu? Kalau anak- anak kelas 1 B, selama dengan belajar dengan saya, mereka selalu tunduk aturan dan tidak ramai. Comment [L49]: Subjek senang mengajar di kelas IB W1/S4/B33 Comment [l50]: Suka dan duka yang diungkapkan subjek saat mengajar W1/S4/42-46 Comment [L51]: Subjek mengungkapkan ada beberapa siswa yang ikut aktif dalam tanya jawab dan ada siswa yang sibuk dengan kegiatan masing-masing W1/S4/B51-52 Comment [L52]: Subjek mengungkapkan bahwa siswa alasan siswa menyukai mata pelajaran matematika W1/S4/B69-73 122

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 O begitu, lalu bagaimana cara guru mengatasi segala permasalahan yang ada di kelas bu? Kalo caranya tergantung masalahnya. Misalkan itu masalahnya emang dari anak sendiri itu juga si udah bawaan dari rumah. Misalkan masalah dari kayak seperti masalah peraga ya hasilnya itu beda. karena anak disitu kayak ngawangngawang kayak dia berpikirnya tidak ada liat, jadinya Jadinya dia bingung dan masih hasilnya banyak bertanya, seperti itu Emmm..Truskalo ibu sedang mengajar pake metode apa ya..Bu? Emmm... Apa ibu jugapake alat peraga engga, Bu? Saya biasanya sih cuma .. Paling sering cuma anak-anak saya jelasin materinya dan anak-anak mendengarkan...Trus dilanjutkan tanya jawab... Kalopake alat peraga jarang, sih, mbak.. Tergantung materi sama alatnya ada atoga.. Alat peraga apa saja sih yang pernah ibu gunakan? Sempoa..emm kartu bergambar... Emmm.. Trus waktu ibu ngajar pake alat peraga respons anak-anak gimana, Bu? Senengato biasa aja? Anak-anak seneng sih.. Malah alatnya dijadiin mainan.. Wah..Anak-anak suka menggunakan alat peraga.. Trus, apa anak-anak bisa dan paham menggunakannya? Awalnya mereka belum paham tapi setelah dijelaskan mereka jadi paham setelah dijelaskan dan didemonstrasikan cara menggunakannya Anak-anak jadi lebih aktif ya, Bu. Emm ,, Waktu anak-anak pake alat peraga pembelajarannya?? Ato alatnya hanya mereka jadiin mainan aja?? Iya. Anak-anak jadi lebih aktif. Tapi biasanya setelah mereka selesai mengerjakan soal dan memeriksakannya mereka malah jadiin alat peraganya jadi mainan sama temen-temennya. Tapi setelah diberi tahu, mereka ga jadiin mainan lagi. Lalu bagaimana pendapat Bu G mengenai pengerjaan soal melalui alat peraga Sangat sangat memuaskan. karena alat peraga itu sangat membantu dalam pembelajaran Lalu bagaimana perasaan Bu Gita ketika menggunakan alat peraga pembelajaran? Rasanya senang, karena alat tersebut membantu saya memudahkan anak dalam menerima pelajaran Bagaimana pendapat Bu G mengenai penggunaan alat peraga dengan metode Montessori bu? Comment [L53]: Subjek pernah menggunakan alat peraga dalam pembelajaran W1/S4/B100-104 Comment [L54]: Subjek mengungkapkan jika siswa senang melakukan pembelajaran menggunakan alat peraga W1/S4/B107 Comment [L55]: Subjek mengungkapkan jika siswa senang melakukan pembelajaran menggunakan alat peraga. Dan Subjek mengungkapkan kendala yang dihadapi saat melakukan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga W1/S4/B111-112 Comment [L56]: Subjek mengungkapkan kendala yang dihadapi saat melakukan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga W1/S4/B116-118 Comment [L57]: Subjek mengungkapkan kendala yang dihadapi saat melakukan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga dan cara mengatasinya W1/S4/B123-128 Comment [L58]: Subjek merasa lebih puas jika pembelajaran menggunakan alat peraga W1/S4/B131-132 Comment [L59]: Subjek merasa senang jika pembelajaran menggunakan alat peraga W1/S4/135-137 123

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 O ya seperti kemarin yang udah pernah dicobakan alat tersebut itu sangat mendukung pembelajaran matematika.,kemarin anak-anak juga berantuasias dalam mengerjakan soal dengan menggunakan alat tersebut, gitu Apa ibu tahu metode Montessori? Apa ibu tahu alat peraga Montesorri juga, Bu? Iya..Tapi sayang, Mbak. Harga alatnya mahalmahal... Trus, kan tadi ibu bilang alatnya kan mahal to?? Apa ibu ada rencana buat alat peraga Montessori sendiri? Ada, Mbak.. Tapi disesuaikan dengan materi dan waktu luang yang saya punya... Kalo ada kesempatan buat alatnya pasti saya buat. Kan itu juga kepentingan mengajar juga kan.. buat anakanak juga. Lalu bagaimana penggunaan alat peraga Montessori apabila diterapkan di SD ini, Bu? Oh, saya sangat setuju, cuman yang di kelas pun yang sangat mendukung Emmm..Kalogithu..Udah cukup, Bu. Terima kasih. Terima kasih. Comment [L60]: Subjek mengungkapkannya pengalaman menggunakan alat peraga Montessori dalam kegiatan pembelajaran W1/S4/B141-144 Comment [L61]: Subjek mengungkapkan jika alat Montessori mahal W1/S4/B148-149 Comment [L62]: Subjek mengungkapkan keinginan untuk membuat alat peraga sendiri untuk mendukung pembelajaran W1/S4/B156-160 Comment [L63]: Subjek mengungkapkan bahwa ia setuju jika kegiatan pembelajaran menggunakan alat peraga Montessori W1/S4/B163-164 124

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.7 Verbatim Wawancara Pra-Penelitian Siswa A VERBATIM WAWANCARA PRA-PENELITIAN SISWA A WAWANCARA SUBJEK I Nama Usia/ Jenis Kelamin Hari/ Tanggal Wawancara Waktu Lokasi Interviewer :S : 6 th/ P : Senin, 17 Januari 2014 : 09.00-09.10 : Depan ruang kelas 1B : Umi Winarni Setyaningsih Interviewer : dicetak tebal Interviewee : dicetak Normal Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Wawancara Selamat pagi...hee? selamat pagi ...(Sambil tersenyum) Pagi (ada suara bisikan dari Th) Pagi.. Iya.. apa kabar? Baik(ada suara bisikan dari Th) Baik.. Baik... namanya siapa? S. Yuk yang jelas yuk sapa? S... Sinta nama panjangnya siapa? YNP Y N P.. nama panggilannya S... S kelas berapa? 1B Kelas 1B, wali kelasnya namanya siapa? Bu Aa(ada suara bisikan dari Th) Hehe (subjek tertawa) Bu A.. kalok guru kelasnya namanya siapa? Bu G Bu G ya.. wali kelasnya namanya Bu G ya.. kalok di kelas 1B, temen-temennya baik ngga? Baik.. Baik- baik semua? ada yang nakal nggak? Enggak.. Enggak ada..ehm. . di kelas, S punya temen deket atau sahabat nggak? Punya ( Subjek menjawab dengan penuh semangat) Punya? ada berapa? Punya satu, cuma Am doang (Subjek menjawab dengan yakin) Berapa? Satu.. 125 Comment [l64]: Nama subjek

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 Ada satu.. namanya siapa? Am.. Am oo... terus Sinta, pelajaran yang S sukai apa? Matematika.. Matematika.. kenapa S suka matematika? Hemm.. (panangan subjek ke atas sambil senyamsenyum memikirkan jawaban apa yang akan dia katakan) Kenapa? Hehehe.. (Subek tertawa terkekeh-kekeh) Apa? ( interviewer mengulangi pertanyaan sambil tersenyum) Aaa... (subjek membuka mulutnya dan mengucapkan vokal huruf “A”, dan mata subjek melihat ke atas seakan-akan masih bingung mau menjawab apa) Kenapa? ( interviewer mencoba mengulangi pertanyaan) Karena biar pandai.. Karena biar pandai.. biar pandai berhitung? iya? terus e... kalok yang mengajar matematika, yang di kelas gurunya namanya siapa? yang mengajar matematika? Bu G... Siapa? Bu G Bu G... kalok sama Bu G udah diajarin apa aja? Matematikanya? E... (subjek berpikir sambil menjulurkan lidah) penjumlahan.. Penjumlahan, terus? Pengurangan He’em... Berat benda O penjumlahan, pengurangan sama berat benda. Sinta udah paham sama materi yang diajarkan sama bu guru belom? ada yang .. ada yang masih bingung nggak? Bingung?.. enggak Udah jelas semua? yang paling jelas yang materi apa? Apa?hmm? Penjumlahan? Penjumlahan He’em... Pengurangan O... sama pengurangan. itu yang S jelas ya? Itu yang Sngerti ya? terus bagaimana caranya S biar bisa paham sama materi yang diajarkan sama bu guru? biar dong gimana caranya? Gimana? Gimana?biar dong gimana caranya? kalau di kelas gimana? Tanya Tanya.. terus memperhatikan nggak kalau bu guru menjelaskan? Iya Memperhatikan, terus S kalok di kelas, kalok ibu guru sedang menjelaskan suka main- main nggak? 126 Comment [L65]: Subjek mengungkapkan cara mengatasi kendala yang subjek hadapi jika subjek tidak paham akan materi yang dikelaskan W1/S1/B84

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 Enggak.. Suka bercanda sendiri ngga? Enggak Enggak.. serius ya? ngga pernah main- main? terus kalo bu guru ngasih soal matematika dikerjakan nggak sama S? Dikerjakan Dikerjakan.. kalok di rumah latihan mengerjakan soal matematika tidak? Iya He? Iya Iya.. terus kalok berlatih soal di rumah, sering atau enggak? Sering.. Sering oo gitu. nah ehmm ... S dapat mengingat materi tanpa bertanya sama guru ngga? atau harus tanya - tanya terus baru bisa inget materi atau tanpa tanya sama Bu G bisa inget materi? Tanpa tanya Bu G Hem? Tanpa tanya Bu G? Beneran tanpa tanya bu G?udah inget ya? o gitu.. tapi sinta sering tanya sama bu guru ngga? materi- materinya tentang penjumlahan atau pengurangan yang diajarkan sama Bu G? Enggak .. dah diitung sendiri, diajari sama ibuk O... diitung sendiri diajarin sama ibu ya..terus. lalu cara apa yang Sinta lakukan jika S sudah memahami materi yang diberikan guru. biar inget terus Sinta ngapain? Belajar Belajar, o ya.. terus e... S udah tahu tentang materi penjumlahan belum? Udah Udah ya? terus bagaimana perasaan S tentang materi yang diajarkan guru? Senang Seneng, diajarin penjumlahan seneng? (Subjek menganggukkan kepala) Terus S sudah paham materi penjumlahan belum? Hem? Udah Udah ya tadi ya...kalo mengerjakan soal sering dibantu guru ngga? Enggak Enggak, mengerjakan sendiri.. kalau mengerjakan soal LKS ada yang membantu nggak? Enggak (Subjek lalu dengan cepat mengganti jawaban dengan kata “eh ada”, sambil mengangguk-anggukkan kepala dan mulut yang melafalkan kata “eh ada” walaupun tanpa bersuara) Ada? siapa yang biasa membantu mengerjakan soalsoal LKS cemeti? Bu G kan gurunya Siapa? gurunya.. Bu G.. iya.. oyaa... kalo bagaimana 127 Comment [L66]: Subjek mengungkapkan bahwa tidak memiliki kendala dalam pemahaman materi W1/S1/B109 Comment [L67]: Subjek mengungkapkan alasan subjek memahami materi pembelajaran(Belajar di rumah dengan dibantu ibu) W1/S1/B115 Comment [L68]: Subjek merasa senang dengan materi pembelajaran penjumlahan W1/S1/126 Comment [L69]: Subjek memahami materi pembelajaran penjumlahan W1/S1/B131

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 145 146 147 148 149 150 151 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 perasaan S saat Bu G membantu kamu mengerjakan soal? Senang... Senang.. terus? E.. jika mengerjakan soal matematika biasanya menggunakan alat peraga ngga? Sering (terdengar suara dari Th) Iya.. Sering? biasanya alat- alat peraganya apa aja? Yang dipake Bu G apa aja? Sempoa... Apa lagi? apa aja? Sempoa... Sama apa? sempoa aja? iya? Iya Oh iya..terus kalo menggunakan alat peraga mempermudah S menjawab soal tidak? Iya ! (Subjek menjawab dengan penuh semangat) Iya, nah terus kalok Sinta mengerjakan matematika. mengerjakan soal matematika menggunakan alat peraga perasaannya Sinta gimana? Ehm,, senang Seneng?seneng banget? lebih enak pake alat peraga .. atau nggak make alat peraga? Nggak pake alat peraga... Apa? Nggak pake .. alat peraga (Subjek menjawab dengan tersenyum dan dengan gaya yang centil) Nggak pake alat peraga? kenapa kok nggak pake alat peraga lebih enak? Karena... (Subjek memikirkan jawaban dengan tersenyum dan pandangan subjek ke atas) Karena apa? (Interviewer mencoba bertanya sekali lagi) Udah diajarin ibu Karena sudah diajarin ibu.. o yaa... apa S bisa menjawab soal tanpa bertanya sama guru? Hmm... (Subjek menjawab sambil tersenyum dan menganggukkan kepala) iya Bisa.. ehm.. bagaimana perasaan S ketika bisa menjawab soal tanpa bertanya sama guru? bisa mengerjakan sendiri perasaan S gimana? Senang ee S tahu nggak alat peraga itu apa artinya? Enggak... Alat peraga itu alat yang dapat membantu guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Kayak misalnya sempoa..itu namanya alat peraga. Nah kalo kayak sempoa gitu, kira- kira bahan- bahan yang digunakan dalam membuat alat peraga yang S tahu apa? Apa? (interviewer mencoba mengulangi pertanyaan) Apa ya? (Subjek berusaha menjawab pertanyaan dengan pandangan ke atas dan jari telunjuk menempel di pipi) Hee? (interviewer mencoba bertanya kembali) 128 Comment [L70]: Subjek sering menggunakan alat peraga di rumah ketika belajar W1/S1/B155 Comment [L71]: Subjek menggunakan alat peraga sempoa untuk belajar W1/S1/B158 Comment [L72]: Subjek merasakan manfaat alat peraga yaitu membantu subjek mempermudah mengerjakan soal W1/S1/B165 Comment [L73]: Subjek merasa senang menggunakan alat peraga W1/S1/B169 Comment [L74]: Subjek lebih senang mengerjakan soal tanpa alat peraga W1/S1/B182

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 Kayu.. Kayu, terus? Sedotan... Sedotan, terus apa lagi? Plastik Plastik Manik- manik (terdengar suara dari Th) Manik- manik Apa? (Interviewer mencoba menanyakan kembali jawaban dari subjek) Manik- manik Manik- manik ya pinter. E.. kalau di lingkungannya sekitar Sinta yang tadi S sebutkan, yang sering dilihat sama S , apa aja bahan- bahannya? Apa aja yang sering Sinta jumpai? Ehmm (subjek menyentuk dahi menggunakan jari telunjuk) Apa? (interviewer mencoba bertanya kembali) Semuanya Semuanya? o ya.. terima kasih S 129 Comment [L75]: Subjek mengetahui macammacam bahan pembuat alat peraga W1/S1/B203

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.8 Verbatim Wawancara Pra-Penelitian Siswa B VERBATIM WAWANCARA PRA-PENELITIAN SISWA B WAWANCARA SUBJEK II Nama Usia/ Jenis Kelamin Hari/ Tanggal Wawancara Waktu Lokasi Interviewer :T : 6 th/ L : Senin, 17 Januari 2014 : 09.11-09.20 : Depan ruang kelas 1B : Umi Winarni Setyaningsih Interviewer : dicetak tebal Interviewee : dicetak Normal Baris Wawancara 1 Selamat pagi..(interviewe menyapa dengan 2 ramah dan penuh semangat) 3 Pagi ( subjek membalas sapaan dengan 4 semangat) 5 Apa kabar? 6 Baik 7 Baik. Udah sarapan belom tadi? 8 Sudah. 9 Makan pake apa? 10 Nugget 11 Nugget?pake nasi ngga? yang masakin sapa 12 tadi? 13 Pake.. mama.. 14 Mama.. ehmm ini namanya siapa? 15 T 16 T, nama panjangnya siapa? 17 TIS 18 Sapa? 19 TIS 20 T I S. T kelas berapa? 21 IB 22 Kelas 1 B, gurunya, wali kelasnya namanya 23 siapa? 24 Bu G.. 25 Bu G, kalo di kelas 1 B. T, temen-temennya 26 baik- baik nggak? 27 Baik-baik 28 Ada yang nakal ngga? 29 Ngga. 30 Ngga ada yang nakal. T punya teman dekat 31 atau sahabat nggak? 32 Punya 33 Namanya siapa? 34 P 35 P.. ehmm ee pelajaran yang T sukai apa? 130

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 IPA IPA.. terus apalagi? Sama matematika Sama matematika. Kenapa T suka matematika? Hem? Karena ada tambah-tambahannya sama pengurangan Karena ada tambah- tambahan sama pengurangan... ehm yang mengajar matematika Gurunya siapa? Bu G Bu G juga.. kalo belajar matematika, Thomas yang ngajarin siapa? Belajar sendiri Belajar sendiri.. mama ngajarin ngga? Sering ngajarin .. sering ngga Sering ngajarin.. sering ngga T sudah paham materi- materi yang diajarin sama Bu G belum? Udah.. Udah.. Bu Gudah ngajarin materi apa saja? Apa aja yang udah Bu G ajarin tadi? Semua Semua, misalnya apa? Matematika, bahasa Indonesia, sama KTK sama pendidikan karakter O gitu. Kalo materi matematikanya, diajarin apa aja di matematika.. Kalo yang tadi sih.. berat benda Berat benda. Sama Bu G berarti udah diajarin penjumlahan belom? Udah Pengurangan? Udah Sama apa lagi yang udah? Lagi tiga itu.. Lagi tiga itu ya? ehmm terus kalo misalnya Bu G mengajarkan materi matematika toGimana caranya T biar bisa paham yang diajarin sama Bu G? Dengerin Bu G Dengerin Bu G. Terus ngapain lagi biar ngerti materinya? Belajar Belajar. Kalo belajar.. belajarnya cuma di sekolah atau di rumah juga belajar? Dua duanya Dua-duanya. . semua juga ikut les tidak? Ikut Les di mana Di sekolahan sama belajar di rumah Oo les di sekolahan sama belajar di rumah. T kalo bu guru mengajar sering memperhatikan? Sering 131

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 Sering.. itu ngga. tapi sering ribut nggaT di kelas? Kadang- kadang ribut kadang- kadang enggak Kadang- kadang ribut , kadang- kadang ngga... T sering berlatih soal ngga? Sering Sering. berlatih soalnya di rumah atau di sekolah? Di rumah Di rumah.. eT dapat mengingat materi tanpa bertanya sama bu guru ngga? jadi kalo guru, kalo Tngga tanya sama guru masih inget materi yang diajarin? Masih Masih.. Terus cara apa yang T lakukan kalo T sudah memahami materi yang diajarkan bu guru biar inget terus Tngapain? Ngapain? Belajar Belajar.. diulangi lagi ya? terus tadi Tudah tahu materi penjumlahan ya? Udah Udah bisa.. Udah Udah.. kemarin Tranking berapa to? Ranking 2.. Waa pinter ya..Tranking dua ya. Terus gimana perasaannya T pas dapet ranking dua? Seneng Seneng? Berarti Tpengen ranking satu ngga? Pengen Pengen.. Kalo pas Bu G mengajarkan penjumlahan, perasaan Tgimana? Hem? Udah bisa Udah bisa.. Seneng ngga perasaannya? Seneng Seneng.. T udah paham betul ya berarti ya penjumlahannya? Udah.. Coba ibu tanya.. 5 ditambah 11 berapa? 16 Pinter enam belas. kalo mengerjakan soal, T sering dibantu guru ngga? Sering Seringdibantu guru juga. berarti kalo disuruh mengerjakan sendiri bisa? Bisa Bisa. Kalo mengerjakan soal LKS atau cemeti yang membantu mengerjakan siapa? yang mengajari siapa? Aku belajar sendiri Belajar sendiri.. Oo jadi kalo udah tanya sama bu guru kalo sulit ya? Iya? Comment [L76]: Subjek merasa senang karena dapat menguasai materi pembelajaran (penjumlahan) W1/S2/B128 Comment [L77]: Subjek mengungkapkan bahwa ia sering dibantu guru dalam mengerjakan soal W1/S2/B136 132

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 146 147 148 149 150 151 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 (subjek menganggukkan kepala) Kalo misalnya pas guru membantu T mengerjakan soal perasaannya, perasaan Tgimana? Senang.. Seneng.. hmmn KaloT mengerjakan soal matematika, biasanya mengerjakan alat peraga ga? Kalo dulu iya Iya. Alat peraganya apa?? Sempoa doang.. dulu Sempoa doang.. oo lalu jika menggunakan alat peraga mempermudah T menjawab soal ngga? Iya.. Iya.. lebih pilih, lebih mudah mengerjakan soal dengan alat peraga atau tanpa alat peraga? Pake alat peraga Lebih mudah pake alat peraga? iya?! Kalo mengerjakan soal dengan alat peraga perasaannya Tgimana? Seneng Seneng..T bisa menjawab soal tanpa bertanya ke guru ngga? Iya.. Kalo pake alat peraga O gitu.. Berarti tanpa bertanya? Iya Bagaimana perasaannya T ketika mampu menjawab pertanyaan tanpa bertanya sama guru? Seneng Seneng.. Kalo bisa mengerjakan sendiri. Seneng? Seneng T tahu ngga? Alat peraga itu biasanya terbuat dari bahan - bahan apa aja? Kayu, manik- manik, plastik..sama... Aku lupa... Kertas Dari kertas. o ya... o biasanya kalo buat jamjaman gitu ya. Waktu kelas 1 itu ya.. hmm ya. Aa saja bahan- bahan di sekitar lingkungannya T yang bisa buat alat peraga? Manik- manik.. kayu Hee sama pa lagi? Kertas.. O gitu. Manik-manik, kayu sama kertas yang sering T jumpai di lingkungannya ya?! Oke terima kasih, mas T Comment [L78]: Subjek mengungkapkan bahwa ia akan bertanya jika ia mengalami kendala dalam pemahaman materi W1/S2/B146 Comment [L79]: Subjek mengetahui alat peraga W1/S2/B157 Comment [L80]: Subjek pernah menggunakan alat peraga sempoa W1/S2/B159 Comment [L81]: Subjek mengungkapkan lebih mudah menggunakan alat peraga saat mengerjakan soal W1/S2/B167 Comment [L82]: Subjek merasa senang menggunakan alat peraga W1/S2/B171 Comment [L83]: Subjek merasa senang dapat mengerjakan soal tanpa bertanya kepada guru W1/S2/B180 Comment [L84]: Subjek mengetahui banyak bahan untuk membuat alat peraga W1/S2/B186-187 133

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.9 Verbatim Wawancara Pra-Penelitian Siswa C VERBATIM WAWANCARA PRA-PENELITIAN SISWA C WAWANCARA SUBJEK III Nama Usia/ Jenis Kelamin Hari/ Tanggal Wawancara Waktu Lokasi Interviewer :M : 6 th/ P : Senin, 17 Januari 2014 : 09.21-09.30 : Depan ruang kelas 1B : Umi Winarni Setyaningsih Interviewer : dicetak tebal Interviewee : dicetak normal Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Wawancara Selamat pagi (sambil tersenyum manis ) Pagi.. Apa kabar? Baik.. Baik...namanya siapa? M M..nama panjangnya? GMA G MA M A..nama panggilannya? M M ya.. e... M kelas berapa? 1B Kelas 1 B.. wali kelasnya namanya siapa? G.. Siapa? Bu G (ada suara bisikan dari Th) Bu G.. Bu G.. di kelas 1 b , temen-temennya baik- baik nggak? Baik- baik.. Ada yang sering nakalinMga? Nggak Nggak ada.. M punya temen atau sahabat nggak? Punya Namanya siapa ? Via ... Via.. V..sahabatnya M ya? Iya? Iya E... pelajaran yang M sukai apa? Matematika Matematika terus? apalagi? 134

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 KTK.. KTK.. ada lagi nggak? E... Ada lagi ngga? Ada Apa?..apa? Apa? IPA (ada suara bisikan dari Th) IPA .. IPA..o ya.. ehmm tadi Mseneng matematika? Heem (sambil menganggukkan kepala) Mengapa M suka matematika? Penambahan.. Kok suka kenapa? Kok suka matematika soalnya kenapa? Matematika yang ngajarin siapa? Bu G Bu G juga.. M sudah paham tentang materi yang dijarin sama bu guru belum? Sudah Udah.. apa aja yang udah kamu pahami? Semuanya Semuanya... Bu G ngajarin apa aja memangnya? IPA, matematika, bahasa Indonesia,IPA... Hmm...nah kalok misalnya pas matematika.. materi yang diajari sama Bu G apa? Pengurangan Pengurangan apalagi? Penambahan.. Penambahan sama apa? Berat benda (ada suara bisikan dari Th) Berat benda Berat benda.. oya .. Lalu.. e... bagaimana caranya Sinta bisa paham materi yang diajari sama bu guru. biar paham materi bu.. e... semua yang diajari sama Bu G. Mngapain aja? Bertanya Bertanya.. terus? Belajar Belajar.. kalau di kelas memperhatikankah nggak? Memperhatikan.. Memperhatikan.. o ya..terus.. kalok di kelas M sering ribut nggak? Enggak Enggak..... memperhatikan terus? Ho’o seneng? (Subjek menganggukkan kepala) M dapat mengingat materi tanpa bertanya sama bu guru nggak? Enggak Jadi harus tanya? Iya Harus ,,kalo..biar M ee biar M inget materi harus tanya sama guru atau bisa inget sendiri? 135 Comment [L85]: Subjek memahami materi yang diberikan guru W1/S3/B53 Comment [L86]: Subjek mengungkapkan bahwa ia dapat memahami materi jika bertanya W1/S3/B71 Comment [L87]: Subjek mengungkapkan bahwa ia dapat memahami materi jika belajar W1/S3/B73

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 Mengingat sendiri.. Seingetnya sendiri.. berati tanpa ..tanpa bertanya sama guru M bisa inget ya? Iya..(mengganggukkan kepala) Cara yang M lakukan.. kalau sudah memahami materi yang diajarin guru ngapain aja? biar semakin pinter? Belajar.. Belajar.. M sUdah tahu materi tantang penjumlahan? Udah.. Udah.. diajari sama guru ya tadi ya.. perasaan M tentang materi yang diajarin guru gimana? pas guru G ngajarin penjumlahan.. perasaan Mgimana? Senang.. Senang.. M sudah paham tentang materi penjumlahan? Udah belum? Udah Paham banget? paham banget nggak? He’em Coba sekarang bu guru tanya.. tujuh ditambah delapan berapa? Enam belas Enam belas.. dihitung lagi coba Empat belas tujuh ditambah... empat belas... tujuh ditambah delapan.. Lima belas Lima belas.. iya.. pinter.. e... kalau mengerjakan soal sering dibantu sama guru 110 nggak? Enggak Ngerjain sendiri.. mengerjakan cemeti yang ngajarin sapa? Bu G Sering diajarin sama Bu G juga, cemetinya kalo mengerjakan soal.. M bisa mengerjakan soal sendiri nggak? Bisa.. Bisa.. pas guru membantu perasaan Mgimana? Senang Senang.. e... pas M mengerjakan soal matematika.. biasanya M menggunakan alat peraga gak? Pakai alat peraga gak? Menggunakan.. Alat peraganya contohnya apa? Sempoa.. Sempoa.. kalo menggunakan alat peraga mempermudah M menjawab soal nggak? Ehmm... mempermudah Apa? Iya.. Iya mempermudah.. mempermudah. Perasaan M jika belajar menggunakan alat peraga apa? Sempoa.. Ya itu contohnya.. perasaanneM.. kalok belajar 136 Comment [L88]: Subjek memahami materi pembelajaran penjumlahan W1/S3/B107 Comment [L89]: Subjek mengungkapkan bahwa dapat mengerjakan soal sendiri tanpa bantuan guru W1/S3/B127 Comment [L90]: Subjek merasa senang jika guru membantunya W1/S3/B129 Comment [L91]: Subjek mengungkapkan bahwa menggunakan alat peraga saat mengerjakan soal W1/S3/B133 Comment [L92]: Subjek menggunakan alat peraga sempoa ketika mengerjakan soal W1/S3/B135

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 145 146 147 148 149 150 151 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 menggunakan alat peraga perasaannya gimana? Senang Senang.. M lebih suka menggunakan alat peraga atau tidak menggunakan alat peraga pas mengerjakan soal? menggunakan alat peraga (ada suara bisikan dari Th) Ehmm .... Menggunakan alat peraga (ada suara bisikan dari Th) Menggunakan alat peraga.. Lebih senang menggunakan alat peraga? Heem.. Heem? iya? Iya Iya.. bad.. enn.. gimana perasaan Mkalok bisa menjawab soal tanpa bertanya guru? Senang Senang.. kaloM bisa mengerjakan soal sendiri..senang? Senang ! Senang.. e... tadi tentang alat peraga.. bahan- bahan apa saja yang bisa digunakan untuk membuat alat peraga yang M tahu? Apa? Apa aja? Sempoa.. Nah itu .. bahan- bahannya apa? Plastik.. sedotan.. kayu.. Ehmm oya... terus? Manik- manik O ya.. terus bahan- bahan yang tadi M sebutkan yang biasa M jumpai yang untuk membuat alat peraga apa saja? Sempoa.. He ya itu bahan- bahannya apa saja? yang yang sering M jumpai di lingkungan? Sempoaaaa... semuanya Semuanya... Ho’oh Bahan- bahannya semua bisa dijumpai? Bisa Tadi apa aja? Bisa.. Apa aja tadi bahan- bahannya yang bisa M jumpai apa aja? Sempoa.. Bahan- bahannya Kayu.. manik- manik.. plastik.. pensil.. O itu..oke. Udah, terima kasih M 137 Comment [L93]: Subjek merasa senang ketika menggunakan alat peraga W1/S3/B146 Comment [L94]: Subjek samgat senang menggunakan alat peraga untuk mengerjakan soal W1/S3/B156 Comment [L95]: Subjek merasa senang ketika dapat menjawab soal tanpa bertanya guru W1/S3/B163 Comment [L96]: Subjek salah memahami pertanyaan W1/S3/B171 Comment [L97]: Subjek mengetahui bahan-bahan pembuat alat peraga W1/S3/B173

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.10 Verbatim Wawancara Pasca Penelitian Guru VERBATIM WAWANCARA GURU PASCA PENELITIAN WAWANCARA SUBJEK IV Nama Usia/ Jenis Kelamin Hari/ Tanggal Wawancara Waktu Lokasi Interviewer :G : 22 th/ P : Rabu, 26 Maret 2014 : 11.15-11.30 : Ruang Guru : Umi Winarni Setyaningsih Interviewer : dicetak tebal Interviewee : dicetak Normal Baris Wawancara 1 Selamat siang Bu G Siang Mbak Umi 2 3 Iya ini.. Ini saya mau bertanya tentang 4 kelanjutan.. Kelanjutan tentang.. ee setelah 5 pemakaian alat peraga matematika berbasis 6 alat peraga Montessori ee bagaimana 7 perasaan ibu G, setelah melihat kegiatan 8 pembelajaran dengan menggunakan alat 9 peraga tersebut? Apakah puas, biasa, tidak 10 puas, atau kurang berkontribusi atau 11 bagaimana? 12 Puas. Karena itu sangat membantu sekali 13 apalagi di dalam pengelompokan yang 14 matematika yang kemarin. Anak- anak menjadi 15 lebih jelas tentang pembedaan antara puluhan 16 satuan seperti itu.. 17 Lalu bagaimana pendapat ibu, mengenai 18 sikap siswa. Ketika menggunakan alat 19 peraga berbasis Montessori? Apakah anak20 anak terlihat malas, bersemangat, tidak 21 tertarik, biasa atau bagaimana? 22 Bersemangat.. karena semua mempunyai rasa 23 ingin untuk mencoba alat tersebut 24 Lalu.. ee yang ketiga. Bagaimana pendapat 25 Ibu G mengenai alat peraga yang digunakan 26 siswa selama kegiatan pembelajaran? 27 Kalo untuk alat peraganya sangat membantu, 28 kak. Tapi untuk penguasaan nanti 29 kalocumannggak ada yang membantu itu kalo 30 sendiri itu kewalahan karena kan itu kan alatnya 31 kan sangat riskan untuk hilang dan anak- anak 32 masih akan gaduh perencanaan kelasnya, jadi 33 malah untuk mengendalikan kelasnya itu agak 34 susah kalau tidak ada yang membantu..dalam Comment [L98]: Perasaan subjek mengenai pembelajaran menggunakan alat peraga Montessori W2/S4/B12-16 Comment [L99]: Pendapat subjek mengenai sikap siswa saat menggunakan alat peraga Montessori saat pembelajaran W2/S4/B22-23 138

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 mencoba alat itu O begitu, lalu bagaimana pendapat Bu G mengenai cara penggunaan alat peraga tersebut? Kalo caranya sangat..sangat mudah digunakan. Dan anak- anak bisa menggunakannya dan anak- anak menikmati alat- alat tersebut untuk kalo meng..berhitung di matematika Lalu, bagaimana pendapat Bu G mengenai hasil pekerjaan soal melalui alat peraga tersebut? O untuk hasilnya kan semuanya hanya.. bisa hanya anak tertentu emang dari awalnya emang kurang, jadinya ya hasilnya memuaskan.. Gitu ya, Bu ya, lalu bagaimana perasaan Bu G ketika menggunakan alat peraga tersebut? Perasaannya senang, puas karena saya juga bisa dibantu dalam menyampaikan materi tersebut anak mudah mengerti, dan pada saat kemarin UTS anak- anak udah bisa mengerjakan karena ada soal yang sama Ya, lalu Bu tentang pengalaman siswa. Bagaimana pengalaman siswa menggunakan alat peraga tersebut,dan alasannya? Kalo menurut saya, saya lihat anak- anak juga senang menggunakan alat- alat tersebut karena mereka ya itu mempunyai rasa ingin mencoba ketika mendapat soal dia berusaha bagaimana caranya memecahkan soal ini dengan alat tersebut?! jadi , anak- anak juga enjoy Lalu bagaimana kesan ibu mengenai alat peraga itu terkait dengan pemahaman siswa? Sangat membantu sekali alat tersebut Kenapa ibu? Karena itu tadi kan bentuknya juga, anakanaknya juga udahnggak begitu ketika melihat alat tersebut anak-anak itu tidak bingung ini menggunakannya gimana karena pada dasarnya itu kan dari manik-manik mungkin anak- anak sering menjumpainya. dan mereka sudah punya..punya keinginan untuk oo ini caranya menggunakan pasti ininya dihitung..tapi setelah dapat penjelasan cara-caranya , mereka juga bisa, seperti itu. Lalu ee bagaimana pemahaman siswa terhadap cara penggunaan alat peraga tersebut dan alasannya? Semua hampir bisa menggunakan karena ya itu tadi buktinya anak- anak mengerjakan soalnya tidak dihitung manual tapi menggunakan alat tersebut meskipun juga masih ada anak yang minta dibantu, seperti itu.. Lalu bagiamana kesan ibu G dengan cara penggunaan alat peraga terkait dengan kemandirian siswa? Comment [L100]: Pendapat subjek mengenai alat peraga yang digunakan siswa W2/S4/B27-35 Comment [L101]: Pendapat subjek mengenai cara penggunaan alat peraga W2/S4/B39-42 Comment [L102]: Pendapat subjek mengenai hasil belajar siswa setelah menggunakan alat peraga W2/S4/B46-49 Comment [L103]: Perasaan subjek ketika menggunakan alat peraga W2/S4/B51-55 Comment [L104]: Alasan subjek tentang alat peraga membantu pemahaman siswa W2/S4/B69-78 Comment [L105]: Pendapat subjek mengenai pemahaman siswa W2/S4/B82-86 139

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 Anak- anak sangat mandiri, karena apalagi itu kemarin kan anak- anak diberi kesempatan untuk menghitung secara - secara sendirisendiri.. baik kelompok juga ada, tapi anakanak malah pada berebut kepengen aku-akuaku dulu.. aku dulu.. seperti itu. jadi kemandiriannya anak- anak juga bisa bagus.. Nah syukurlah kalo begitu. Lalu bagaimana kontribusi terhadap konsep matematika yang didapat oleh siswa bu? Oh itu sangat mendukung sekali pada materi pembelajarannya kemarin. Karena alatnya kan sudah disesuaikan juga kan itunya, jadinya sangat mendukung Ehh lalu seberapa besar kontribusi alat peraga terhadap konsep yang terbentuk oleh siswa? Oh kalau seberapa besarnya, ya kalau untuk anak- anak yang udah bisa dan dia paham dengan alat itu, dia sangat senang sangat berarti sangat bermanfaat, tapi yang mungkin karena yang kurang itu jadinya mereka malah bingung. seperti itu.. ya jadinya ya keseluruhan bagus Bagus ya bu ya.. Lalu bagaimana kemampuan siswa dalam mengerjakan soal dengan menggunakan alat peraga tersebut? Kemampuannya karena pada dasarnya anakanak sudah tertarik dengan alat itu jadi anakanak tidak ada masalah. ya itu kembali ke cuman anak yang ngga bisa, gitu aja, Ee lalu, bagaimana kesan Bu G mengenai kemandirian siswa ketika mengerjakan soal dengan alat peraga tersebut? Kemandiriannya ya anak- anak menjadi sangat mandiri karena mereka semua pengen mencoba sendiri- sendiri tapi karena keterbatasan alatalat juga jadinya harus bekerja sama..tapi jadi, pada dasarnya anak- anak pengen mencoba alat itu sendiri- sendiri untuk mengerjakan soalnya. Bahkan ada yang diganggu temennya tidak mau- tidak mau bergantian itu kan juga membuktikan anak- anak itu memang mau mandiri mengerjakan gitu.. Lalu, bagaimana hasil pekerjaan siswa dengan menggunakan alat peraga tersebut? Hasilnya juga memuaskan karena kan biasanya anak- anak kalo biasanya tidak menggunakan kalo berhitungnya tidak menggunakan alat hanya pake orek-orekan saja setelah menggunakan alat kan anak- anak juga menjadi mantap oh hasilnya ternyata bener segini, seperti itu.. Lalu, tentang ee teori selanjutnya, Bu, hmm bagaimana pendapat atau kesan guru mengenai bentuk alat peraga tersebut? Comment [L106]: Pendapat subjek mengenai kemandirian siswa menggunakan alat peraga W2/S4/B90-96 Comment [L107]: Pendapat subjek mengenai kontribusi alat peraga W2/S4/B100-103 Comment [L108]: Pendapat subjek mengenai kemampuan siswa mengerjakan soal dengan bantuan alat peraga W2/S4/B116-119 Comment [L109]: Pendapat subjek mengenai kemandirian siswa menggunakan alat peraga W2/S4/B123-132 Comment [L110]: Pendapat subjek mengenai hasil yang duperoleh siswa ketika menggunakan alat peraga W2/S4/B135-141 140

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 Bentuknya sudah bagus, mungkin untuk masukan itu karena biji- bijiannya kecil kan kalo untuk anak kelas satu itu nanti malah karena berebutan itu nanti bisa hilang. mungkin untuk biji- biji manik-maniknya agar dilebihbesarkan gitu Biji-bijinya gak dilebih besarkan, manikmaniknya ya bu ya?! Lalu bagaimana pendapat atau kesan Bu G mengenai warna alat peraga tersebut? Warnanya juga udah bagus, merah berani..hehe Apakah perlu ada tambahan warna lain, atau bagaimana? O Mungkin , mungkin iya , mungkin untuk membedakan untuk yang sepuluh sama bijian itu perlu karena biar anak makin jelaskan, jadinya nanti bisa untuk menyampaikannya kalau yang puluhan udah puluhan tuh warnanya menjadi warna seperti kuning atau hijau seperti itu. Bisa bergadrasi warnanya ya bu, beda- beda ya ?? Ya..ya Lalu bagaimana pengaruh warna yang digunakan dalam alat peraga terhadap ketertarikan siswa? Kalo pengaruhnya sangat mempengaruhi, karena kalo kemarin aja warnanya merah semua kan jadi anak- anaknya bingung, ketika kaloudah mencapai udahjumlahnya sepuluh harus pake yang jadi satu itu.nah, anak-anak masih bingung tetep aja sepuluh pake biji- biji karena mungkin warnanya sama kalo warnanya beda kita bisa memberi penjelasannya, kaloudah sepuluh bisa berganti warna menjadi warna apa.. seperti itu.. Iya ya bu ya.. lalu ehmm..Bagaimana pesan atau kesan mengenai ukuran alat peraga tersebut? Kalo ukurannya untuk manik-maniknya itu mungkin diperukurannya lebih besar lagi. biar kalo misalkan hilang atau apa kancepet.. cepet.. ngga rugi juga membuatnya,,dan anak-anak juga ngga kecil- kecil seperti itu Lalu bagaimana pengaruh ukuran yang digunakan dalam alat peraga terhadap ketertarikan siswa bu? Kalo pengaruhnya ya anak selalu.. selalu enjoy aja. soalnya juga mungkin adanya itu, yang penting anak- anak yang penting aku bisa menggunakan seperti itu, tapi kalo dari saya sendiri mungkin bisa lebih besar lagi alat-alat.. itu manik- maniknya Lalu bagaimana pendapat Bu G mengenai daya tarik alat peraga tersebut? Comment [L111]: Pendapat subjek mengai alat peraga W2/S4/B145-150 Comment [L112]: Saran subjek mengenai alat peraga W2/S4/B184-188 141

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 Daya tariknya sangat menarik, karena sangat membantu dalam pembelajaran Ee lalu bu, bagaimana pendapat Bu G mengenai tingkat pemahaman siswa mengenai cara penggunaan alat peraga berbasis Montessori tersebut? Kalo pemahaman siswa pake alat tersebut, anak- anak ketika diberi tahu tentang alat itu dan dijelaskan itu mulai cepet le paham seperti itu, jadi anak- anak menguasai materi dengan menggunakan alat itu juga... Lalu bagaimana pendapat Bu G jika alat peraga tersebut digunakan untuk kelas satu sampai dengan kelas enam. Dan alasannya gimana? Oh kalo untuk kelas satu sendiri itu sangat mendukung, mungkin untuk kelas lain juga.. Mungkin kalau untuk di kelas enam, saya juga tidak tahu ya..Soalnya materinya apa.. tapi itu bisa membantu,mungkin pengemasan medianya tu lebih berbeda seperti itu Lalu bagaimana pendapat Bu G, jika ada siswa yang tidak mau menggunakan alat peraga tersebut? Pasti saya akan membujuk siswa itu untuk mau memakai alat tersebut karena emang di kelas itu anak- anak harus secara keseluruhan itu harus mengikuti apa yang terjadi.. di dalam kelas itu. karena itu kan juga mendukung buat kemajuan mereka semua Lalu bagaimana kontribusi pola bentuk penjumlahan, dan pengurangan dari alat peraga tersebut dalam mengerjakan soal bu? Oh kalo untuk soal-soalnya tuh anak- anak mungkin kalo di kertas itukan kadang kalo di kertas langsung kalo untuk kelas satu masih bingung, jadinya kita harus menyampaikan lagi, ditulis di papan tulis untuk mulai per satu nomor satu nomor, seperti itu untuk penjumlahan pengurangannya , seperti itu Lalu bagaimana pendapat Bu G, menganai bentuk- bentuk pola penjumlahan dan pengurangan dalam alat peraga, Bu? Kalau soalnya kemarin saya lihat di penelitian kemarin soalnya kan kadang anak bingung, perintahe suruh ngapain gitu anak- anak bingung, soale ki kemarin tu soalnya tuh agak juga lebih susah dipahami. nah seharusnya kalo penelitian itu emang anak diberi..diberi lembar kerja tapi satu- satu dibimbing untuk mengerjakan jadi ditulis papan tulis, dimaksud, maksudnya tuh seperti ini..ini ditambah ini tuh berapa? terus sininya tu gimana, mungkin penyampaiannya aja Lalu bagaimana kesan Bu G tentang Comment [L113]: Pendapat subjek mengenai pemahaman siswa menggunakan alat peraga Montessori W2/S4/B206-210 Comment [L114]: Pendapat subjek tentang pengaplikasian alat peraga untuk semua kelas 1-6 W2/S4/B215-220 Comment [L115]: Pendapat subjek mengenai kontribusi alat dengan materi pembelajaran W2/S4/B233-239 Comment [L116]: Pendapat subjek mengenai materi penjumlahan dan penggurangan dalam alat peraga W2/S4/B243-253 142

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 kemandirian siswa dalam menemukan kesalahan jawaban ketika menggunakan alat peraga? Kalo yang hari pertama anak- anak belum ..menurut saya belum mengerti, karena masih tanya gimana ini bu, gimana ini bu, hasilnya kok beda dan anak- anak itu saking semangatnya menghitungnya tu ya itu nggak memikirkan kaloudah sepuluh harus ganti ini, ganti ini jadinya ya mungkin masih banyak ada yang kurang, tetapi secara mandirinya anakanak berusaha sangat mendiri Lalu bagaimana pendapat Bu G mengenai kesalahan yang dilakukan siswa ketika menggunakan alat peraga, Bu? Kenapa mba, maksudnya? Bagaimana pendapat guru mengenai kesalahan yang dilakukan siswa ketika menggunakan alat peraga, Bu? Oh alat..kalo ada siswa- siswa yang salah ya saya memaklumi karena itu ya namanya alat, dan saya berusaha untuk menjelaskan kembali seperti itu Lalu bagaimana pendapat Bu G mengenai pengendali kesalahan yang ada dalam alat peraga tersebut? Kalo pengendali membutuhkan kesabaran karena juga selain membetulkan.. kadang kan ada anak kita memberi..memberi tahu anak satu yang satunya udah tanya lagi, jadinya perlu kesabaran dan.. seperti itu Iya jadi, kebetulan kelas satu kebetulan kalo tanya satu, tanya semuanya, Bu ya.. Ya.. ahaha Itu yang bikin capek ya? Lalu apakah Bu G sudah pernah melihat alat peraga ini sebelumnya, Bu? Sebelumnya belum Jadi baru ini ya, Bu ya Ya Lalu bagaimana kesan Bu G mengenai bahan yang digunakan dalam alat peraga, Bu? Bahan maksudnya.. bahan apanya? bahan ajarnya atau? Iya kan kemarin kan bahannya.. Bahannya dari kayu lha itu bagaimana kesan Bu G? O ya sudah bagus, cuman mungkin agak lebih dilebarkan atau nggakalongga disediakan tempat yang untuk menaruh manik- maniknya ketika saat menghitung biar tidak jatuh ke bawah gitu biar tidak berantakan..seperti itu, kemarin kan juga disediakan pake kayak taplak itu, tapi mungkin lebih lebar lagi seperti ituu, kalo di kelas satu. kalo di kelas atas mungkin mereka sudah bisa, kalo di kelas atas seperti itu, Comment [L117]: Pendapat subjek mengenai kemandirian siswa dalam menemukan kesalahan dengan menggunakan alat peraga W2/S4/B258-266 143

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 310 311 312 kan kemarin banyak yang hilang juga.. Ya sudah, terima kasih, Bu, selamat siang Siang Comment [L118]: Pendapat subjek mengenai bahan pembuat alat peraga W2/S4/B2301-310 144

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.11 Verbatim Wawancara Pasca Penelitian Siswa A VERBATIM WAWANCARA SISWA A PASCA PENELITIAN WAWANCARA SUBJEK I Nama Usia/ Jenis Kelamin Hari/ Tanggal Wawancara Waktu Lokasi Interviewer :S : 6 th/ P : Kamis, 6 Februari 2014 : 09.00-09.11 : Depan ruang kelas 1B : Umi Winarni Setyaningsih Interviewer : dicetak tebal Interviewee : dicetak Normal Baris Wawancara 1 Selamat siang S.. Siang 2 3 Selamat siang.. Habis pelajaran apa tadi ? Pkn 4 5 Pkn.. Sebelum Pkn pelajaran apa ? Matematika 6 7 Matematika.. gurunya siapa ? Bu G.. 8 9 Bu G.. tadi Bu Gngajarin apa ? 10 Pengurangan dan penjumlahan 11 Pengurangan dan penjumlahan.. Tadi ada Bu 12 Wulan juga ya di sana ya ? 13 Ada.. 14 Ada.. Nah tadi saat Bu Wulan ngajarin 15 penjumlahan dan pengurangan tadi pake 16 alat.. Alat kotak tadi itu ya ? Iya ? 17 Iya.. 18 Yang dalemnya ada apa ini dalemnya ini 19 namanya tadi ? 20 Manik-manik 21 Manik-manik ya ? Manik-manik warna apa 22 tadi ? warnanya apa ? 23 Merah.. 24 Merah.. Nah tadi pas melihat alat peraga 25 yang kotak tadi yang dibawa sama Bu Wulan 26 tadi.. Ee pendapatnya Sgimana tho tentang 27 alat peraga ? Bagus nggak alat peraganya ? 28 Yang keras yuk.. 29 Bagus.. 30 Bagus.. Tadi kotaknya warnanya apa ? 31 Coklat.. 32 Coklat.. yang keras yaa.. ya.. e tadi S bilang 33 alat peraganya bagus ya.. 34 Iya.. Comment [L119]: Subjek memahami tentang alat peraga yang pernah digunakan saat pembelajaran W2/S1/B17 Comment [L120]: Subjek mengetahui bahan pembuat alat peraga yaitu, manik-manik W2/S1/B20 Comment [L121]: Subjek menyukai jika alat peraga W2/S1/B29 145

(162) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 Kenapa kok bagus ? Karena warnanya merah.. Karena warnanya merah.. Sikapnya S saat pertama kali lihat alat peraga ? Gimana sikapnya ? Apa ? Baik.. He’eh,, Merusak nggak ? Enggak.. Nggak merusak ? Dijaga ya tadi ya ? Iya.. terus tadi pas ngikuti pelajaran matematika.. matematika tadi kan menggunakan alat peraga itu tho.. tadi perasaannya S gimana ? Pas menggunakan alat peraga pas matematika.. Gimana perasaannya?(peneliti bertanya kembali) Senang.. Senang ? Senang banget ? Iya... Iya.. Terus tadi khan materi penjumlahan dan pengurangan ya ? Iya itu khan tadi kita menggunakan alat peraga kotak tadi tho.. Tadi paham ngga kalo pas menggunakan alat peraga ? Paham.. Paham.. Mengapa kok paham ? Karena menggunakan alat peraga.. Oh karena menggunakan alat peraga.. jadi kalo menggunakan alat peraga lebih paham ya.. Iya.. Iya.. Kalo misalnya tadi Bu G dan Bu Wulan mengajarkan penjumlahan dan pengurangan tidak menggunakan alat peraga ? Kira-kira S sama T sama siapa lagi ? Amel.. He ehm.. sama ? Septa.. Fitri.. Udah ? Udah.. Haa terus tadi, Bella sama Vina.. O ada Bella sama Vina juga ? Iya.. O iya.. Tadi khan 1 kelompok isinya banyak orang ya tadi yaa.. Tetapi nanti kan akhirnya itu kan.. Terus tadi akhirnya juga dibagi di kelompok kecil juga tho tadi ? Yang kecilkecil tadi itu.. Iya.. Tadi penggunaan alat peraga juga tadi itu nggak ? Ee ada yang berantem nggak ? Enggak.. Nggak ada.. Rebutan nggak ? Nggak.. Enggak.. Kira-kira.. Menurut S.. alat peraga Comment [L122]: Subjek mengungkapkan alasan menyukai alat peraga (Subjek suka dengan warna alat peraga) W2/S1/B36 Comment [L123]: Subjek merasa senang mengikuti pembelajaran matematika menggunakan alat peraga W2/S1/B51 Comment [L124]: Subjek memahami cara menggunakan alat peraga W2/S1/B59 146

(163) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 ini e fungsinya atau manfaatnya besar nggak dalam mengerjakan soal matematika ? Enggak.. Hm ? e ? Iya.. Iya.. Membantu S mengerjakan soal nggak ? Iya.. Iya membantu ? Hmm.. gitu.. mengapa ? Mengapa ? Mengapa kok alat-alat ini bisa membantu S mengerjakan soal ? Mengapa ? (interviewe bertanya ulang kepada subjek) Karena mempermudah S ? Iya.. E tadi pendapatnya S.. saat mengerjakan soal menggunakan alat peraga gimana ? Lebih gampang nggak ? Lebih. Lebih gampang? Iya? Iya Kalo pas pertama kali lihat alat peraga yang tadi.. Itu yang ingin S lakukan apa ? Pertama kali pas lihat ini.. Pengen apa ? Pengen memegang.. Pengen memegang? Setelah itu pengen apa lagi ? Pengen mencoba nggak ? Iyak.. Iya.. jadi terus pengalamannya S setelah menggunakan alat peraga gimana ? Senang Itu khan perasaannya S.. Kalo pengalamannya S tadi kesulitan nggak ? menggunakan alat peraga ini.. Enggak.. Enggak.. Banyak yang membantu ya tadi ya? Iya.. Hm ya.. Jadi tidak kesulitan karena banyak yang membantu.. Alasannya itu ya. Lalu bentuk menurut S ini alat peraganya berbentuk apa ini ? Bentuknya apa ? Kotak.. Bagus nggak kalo kotak ini ? Bagus.. Bagus.. Kenapa kok bagus ? Karena bentuknya kotak.. Karena bentuknya kotak.. Hm ya.. Lalu warnanya alat peraganya kotaknya warnanya apa ? Kotaknya ini.. Coklat.. Coklat.. Terus.. manik-maniknya warnanya apa ? Merah.. Merah.. e bagus nggak ? Bagus.. Kira-kira kalo untuk warnanya.. Bagusnya warnanya apa ? Comment [L125]: Subjek merasakan manfaat menggunakan alat peraga yaitu mempermudah dalam mengerjakan soal W2/S1/B96 Comment [L126]: Subjek merasakan manfaat menggunakan alat peraga yaitu mempermudah dalam mengerjakan soal W2/S1/B106 Comment [L127]: Subjek ingin memegang alat peraga saat pertama kali melihatnya W2/S1/B112 Comment [L128]: Subjek merasa senang dapat menggunakan alat peraga dalam kegiatan pembelajaran W2/S1/B118 Comment [L129]: Subjek mengungkapkan bahwa tidak mengalami kesulitan menggunakan alat peraga W2/S1/B122 Comment [L130]: Subjek banyak dibantu teman saat menggunakan alat peraga W2/S1/B124 Comment [L131]: Subjek mengetahui karakteristik alat peraga W2/S1/B129 147

(164) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 145 146 147 148 149 150 151 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 Merah.. Merah..sama apa ? Biru... Mengapa kok merah sama biru ? Karena warnanya bagus.. Selain merah sama biru.. Spengennya warna apa kira-kira yang bagus ? Merah.. Selain merah sama biru ? Apa ? Warna apa ? Apa warnanya ? Abu-abu.. Abu-abu ? Ya.. Tadi bu guru Bu Guru G dan Bu Guru Wulan khan menjelaskan cara penggunaan alat peraga tho.. Iya.. Nah tadi Bu G dan Bu Wulan menjelaskan bikin S jelas nggak ? Iya.. Iya.. He’eh,, Cepet-cepet nggak yang nge jelasin ? Enggak Enggak.. lalu cara penggunaan alat peraga yang tadi susah ngga buat S? Tidak.. Tidak.. Kenapa kok enggak ? Kenapa? Karena sudah diajari bu guru Sudah diajari bu guru ? Iya.. Lalu jika diperbolehkan menggunakan alat, misalnya Bu G da Bu Wu memperbolehkan S menggunakan alat peraga ini.. itu kira-kira S akan menggunakan di luar jam pelajaran nggak ? digunakan gak? Iya.. Iya.. Terus.. menurut S ini ukuran rataratanya tetap nggak ? Iya Iya.. Ini kebesaran ato kekecilan ? Pas.. Udah pas belum ? Pas.. Udah pas ? Nggak kekecilan ? Nggak Nggak kebesaran ? Nggak Tadi waktu S menggunakan alat peraga ini untuk menjawab soal, membantu S banget nggak ? Iya.. Iya.. Membantu S ? Iya ? He’ehm,, Mengapa kok membantu S menjawab soal ? Karena biar pintar.. Comment [L132]: Subjek mengungkapkan alasan dapat menggunakan alat peraga karena guru sudah mengajarinya W2/S1/B175 Comment [L133]: Subjek menginginkan menggunakan alat peraga di luar jam pelajaran W2/S1/B183 148

(165) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 Karena biar pintar ? Karena apa ? tadi ada digit satuannya ? Iya.. Terus apa lagi ? Satuan terus ada ? Iya satuan.. terus ? Pu.. sama ? puluhan Sama Ratusan He..e,... Berarti ada satuan, puluhan dan ratusan , menurut Skan ini ada pengendali kesalahannya to.. bagus ngga pengendali kesalahannya? Iya Bagus .. Tepat ngga? Misalnya... Contohnya gini, kalau ibu minta ambil dua, S ambil manik - manik berapa jumlahnya? Dua Kalau Bu Umi, minta S ambil tujuh,,S ambil manik- manik berapa? Tujuh Kalau Bu Umi minta sebelas, S ambil puluhan berapa satuan berapa? Puluhannya berapa? Satu Satuannya ada berapa ? satu Berarti lebih mempermudah S juga ya, Ya Berarti pengendali kesalahannya sangat berfungsi ya? Ya Nah , ini alat peraganya berbahan apa to ini? Hmmm..Alat peraganya berbahan apa to ini? Manik- manik.. haahhh kayu Dari kayu sama? Besi Sama besi. Kira-kira kalau terbuat dari bahan ini? kayu dan besi Bagus Menurut S ada bahan lain ngga selain , kayu dan besi? Tidak Bisa menggunakan plastik ngga? Tidak Bisa ngga menggunakan plastik? Ya Menggunakan ganti manik- manik bisa ngga? Iya Berarti alat peraga ini kan dari kayu dan besi, di tempatnya S sering dijumpai ngga, bahan- bahan ini? Iya O Ya sudah. Terima kasih S Comment [L134]: Subjek merasa bahwa alat peraga mempermudah dalam mengerjakan soal W2/S1/B230 Comment [L135]: Subjek mengetahui bahan dasar pembuat alat peraga W2/S1/B237 149

(166) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.12 Verbatim Wawancara Pasca Penelitian Siswa B VERBATIM WAWANCARA SISWA B PASCA PENELITIAN WAWANCARA SUBJEK II Nama Usia/ Jenis Kelamin Hari/ Tanggal Wawancara Waktu Lokasi Interviewer :T : 6 th/ L : Kamis, 6 Februari 2014 : 09.15-09.25 : Depan ruang kelas 1B : Umi Winarni Setyaningsih Interviewer : dicetak tebal Interviewee : dicetak Normal Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Hasil Wawancara Selamat siang T Siang Aa barusan pelajaran apa? PKN PKN. Gurunya siapa? Bu G Bu G. Tadi di PKN diajarin apa aja? Hak dan kewajiban Hak dan? Kewajiban Kewajiban. Oh iya ini tadi kan kita sebelum PKN, matematika ya..? Tadi kan diajarin penjumlahan dan pengurangan lagi to.? Menurut kamu yang tadi kan kita menggunakan alat peraga yang kotak- kotak itu ya..? Nah bagaimana perasaan T saat melihat alat peraga ini ?? Senang Perasaannya senang. alat peraga ini bentuknya bagus atau tidak? (interviewer sambil menunjukkan alat peraga) Bagus Bagus. Nah ee yang T lakukan ketika pertama kali melihat alat peraga ini. sikapnya T bagaimana? Pas pertama kali lihat alat peraga ini sikapnya T bagaimana? Baik Sikapnya baik. ngga ngerusak ya? Ngga Ngga, dihilangkan manik-maniknya? Waktu tadi menggunakan? Nggak Bagaimana perasaannya T setelah mengikuti pembelajaran matematika tadi saat menggunakan alat peraga ini? Comment [L136]: Subjek merasa senang dapat melihat alat peraga W2/S2/B18 Comment [L137]: Subjek menyukai alat peraga W2/S2/B22 150

(167) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 Senang Kenapa kok senang? Karena memakai alat peraga Karena memakai alat peraga. terus ee pemahaman T tentang materi penjumlahan dan pengurangan menggunakan alat peraga paham tidak? Hm? Paham tidak? Paham Paham. Misalkan kalau Bu G ketika menjelaskan penjumlahan dan pengurangan tidak dengan menggunakan alat peraga,kirakira T jelas materinya ngga? Dong ngga? Jelas Tetep jelas? Mengapa koktetep jelas? Karena pernah belajar sendiri di rumah Lalu bagaimana penggunaan alat peraga di dalam kelompoknya T bertengkar ngga? Ngga Mau gantian? Mau gantian Mau gantian. Lalu bagaimana pendapat T mengenai kegunaan alat peraga dalam materi penjumlahan?Kira-kira berguna ngga? Berguna Berfungsi? Berfungsi Mengapa? Karena bikin pintar nanti kalau ngga belajar yang kayak gitu aku nanti ngga ngga pinter Oo kalo ngga belajar kayak gitu nanti kamu ngga pinter Ngga pinter nanti O ya.. Tadi pendapatnya T saat mengerjakan soal penjumlahan dan pengurangan menggunakan alat peraga tadi gimana tadi? Baik ngga ngerusak-ngerusak Baik , ngga ngerusak- ngerusak. nah ketika T pertama kali melihat alat peraga ini kirakira yang pertama kali ingin T lakukan itu apa to? Ingin mencoba Ingin mencoba? Ingin mencoba. terus setelah mencoba terus ingin apalagi? Ingin mencoba terus ingin menggunakannya alat peraganya Ingin menggunakan alat peraga ini ya.. lalu bagaimana tadi pengalaman T setelah menggunakan alat peraga ini gimana? Seru Seru ngga? Seru Tadi satu kelompok isinya sapa aja? Verlita, S, Amel, Grace sama Bela sama Vina Comment [L138]: Subjek merasa senang dapat menggunakan alat peraga dalam kegiatan pembelajaran W2/S2/B36 Comment [L139]: Subjek mengungkapkan alasan menyukai alat peraga (Subjek dapat menggunakan alat peraga) W2/S2/B38 Comment [L140]: Subjek memahami penggunaan alat peraga W2/S2/B43 Comment [L141]: Subjek mengungkapkan bahwa ia merasa jelas ketika guru menerangkan dengan alat peraga W2/S2/B48 Comment [L142]: Subjek merasakan manfaat menggunakan alat peraga yaitu mempermudah dalam mengerjakan soal W2/S2/B61 Comment [L143]: Subjek menginginkan menggunakan alat peraga di luar jam pelajaran W2/S2/B81-82 Comment [L144]: Subjek merasa senang dapat menggunakan alat peraga dalam kegiatan pembelajaran W2/S2/B86 151

(168) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 Ee menurut T ini alat peraganya bentuknya kayak gimana? bentuknya bagus ngga? Bagus Ini bentuk apa to ini kok kayak gini? Bentuk bulat Kalau untuk warnanya, ini alat peraganya warnanya apa? Merah Bagus ngga warna merah Bagus T suka warna apa? Merah sama putih Kira-kira kalau menurut T alat peraga yang bentuknya kayak gini bagusnya warnanya apa? Merah Merah sama apa? Biru Sama biru. kenapa kok milih merah sama biru? Karena bagus Karena warnanya bagus? Bagus juga itu Bagus juga ya? Tadi waktu Bu G sama Bu W menjelaskan menggunakan alat peraga ini, kira-kira Tngerti ngga apa yang dijelaskan Bu G sama Bu Wulan? Ngerti ga?(peneliti mengulangi pertanyaan) Jelas Kenapa kok jelas? Karena memakai alat peraganya Iya tadi Bu G yang menjelaskannya pelanpelan atau keburu-keburu? Pelan- pelan Pelan-pelan. Lalu kira-kira pendapatnya T. cara penggunaan alat peraga ini gimana? Susah atau ngga? Ngga susah Gampang? Gampang Kalau misalnya Bu G memperbolehkan menggunakan alat peraga ini kira-kira T menggunakan alat peraga ini buat mengerjakan soal ngga? Digunakan Saat di luar jam pelajaran matematika, T juga akan menggunakan alat peraga ini? Iya Lalu menurut T ini ukuran alat peraganya ini. Udah bagus belum? Udah tepat belom? Udah tepat Kekecilan ngga? Ngga Kebesaran ngga? Comment [L145]: Subjek mengetahui karakteristik alat peraga W2/S2/B95 Comment [L146]: Subjek mengungkapkan bahwa ia merasa jelas ketika guru menerangkan dengan alat peraga W2/S2/B120 Comment [L147]: Subjek memahami cara menggunakan alat peraga W2/S2/B129 Comment [L148]: Subjek menginginkan menggunakan alat peraga di luar jam pelajaran W2/S2/B136 152

(169) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 146 147 148 149 150 151 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 Ngga Tadi waktu T mengerjakan soal pake alat peraga ini e kira- kira ini sangat membantu ngga? Alat peraga yang kayak gini? Sangat membantu Kok sangat membantu kenapa? Karena ada yang ratusan,puluhan sama satuan Karena ada yang ratusan puluhan sama satuan. Lalu, ini kan nanti kalo misalnya T mau ambil satu, ini ambil manik-maniknya situ to,, kalau bu guru minta dua, Tambil manik-maniknya dua to.. nah, kira- kira menurut T, dengan adanya pengendali kesalahan dengan alat peraga ini ngga? Ngga Ngga kenapa kok ngga Emang kayak gini kalo alat peraganya Hmm gitu lha kalaoT mau ambil tujuh T ambil manik-maniknya berapa? Tujuh yang satuan Tujuh yang satuan. Kalau bu guru minta ambil 11 T ambil? Puluhannya satu, satuannya satu Pinter kalau bu guru minta ambil 21? Puluhannya dua terus manik- manik yang satuannya satu Berarti itu ada pengendali kesalahannya? Iya Ini kira- kira ini terbuat dari apa to alat peraganya? Kayu Kayu ya. Kalau ini dari apa ini yang ini? Besi Kira-kira bagus ngga kalau lata peraganya terbuat dari kayu sama besi seperti ini? Bagus Di lingkungannya T sering dijumpai yang seperti ini ga? ada kayu ada besi ngga di daerahnya deket T? Ada Kira-kira selain kayu dan besi. Bisa memakai apa ya? Manik- manik Manik- manik. Pinter. Mengapa kok bisa diganti manik- manik? Karena bentuknya bulat O hampir sama kayak kayu yang dibentuk bulat ini ya? Iya Ya sudah terima kasih T Sama- sama Comment [L149]: Subjek merasakan alat peraga sangat membantunya W2/S2/B150 Comment [L150]: Subjek menganggap alat peraga tidak ada pengendali kesalahan W2/S2/B163 Comment [L151]: Subjek mengetahui bahan pembuat alat peraga W2/S2/B179 153

(170) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.13 Verbatim Wawancara Pasca Penelitian Siswa C VERBATIM WAWANCARA SISWA C PASCA PENELITIAN WAWANCARA SUBJEK III Nama Usia/ Jenis Kelamin Hari/ Tanggal Wawancara Waktu Lokasi Interviewer :M : 6 th/ P : Kamis, 6 Februari 2014 : 09.30-09.40 : Depan ruang kelas 1B : Umi Winarni Setyaningsih Interviewer : dicetak tebal Interviewee : dicetak normal Baris 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Wawancara Selamat siang M Siang Siang.. tadi barusan pelajaran apa? PKN PKN. sebelum PKN apa? Matematika Gurunya siapa? Bu G Bu G , tadi diajarin apa? Penambahan sama pengurangan Tadi pas penambahan dan pengurangan Bu G mengguna..bawa alat peraga ya? Bawa Bentuk kotak ya? Iya Iya, tadi pas Bu G bawa alat peraga. Bagaimana pendapatnya M saat melihat alat peraga tadi? Pengen memegang Pengen memegang. Kira - kira bagus ga? Bagus Bikin M penasaran ngga? Iya Iya, mengapa? karena penasaran? He’em Lalu bagaimana sikap M ketika pertama kali melihat alat peraga? Senang Senang, senang ngga di kelas? Senang Ribut ngga? Ngga Kenapa kok M memilih bisa duduk diam ngga ribut? Biar apa? Karena nanti kalo ribut dimarahin Bu G 154 Comment [L152]: Subjek mengetahui bentuk pembuat alat peraga W2/S3/B15 Comment [L153]: Subjek ingin memegang alat peraga saat pertama kali melihatnya W2/S3/B18 Comment [L154]: Subjek merasa senang saat pertama melihat alat peraga W2/S3/B27

(171) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 ooo soalnya kalau dimarahin Bu G nanti sama Bu G dikasih alat peraganya ngga? Ngga Jadi M senang biar dapet alat peraganya? Iya Lalu tadi gimana perasaannya M? Senang Iya, senang. Tadi ketika M mengikuti pelajaran menggunakan alat peraga perasannya M senang? Mengapa kok senang? H’mmm He? Mengapa kok senang? Mengapa kok senang?(interviwer mengulangi pertanyaan) Tadi Mkan bilang senang waktu menggunakan alat peraga di saat pembelajaran to? Mengapa kok senang? Karena memakai alat peraga Karena memakai alat peraga ya. bagaimana pemahamannya M, tentang materi penjumlahan tadi ya untuk menggunakan alat peraga jelas ngga? Jelas Mengapa kok jelas? lebih jelas menggunakan alat peraga atau ngga? Iya Lebih jelas yang mana? Alat peraga Lebih jelas yang menggunakan alat peraga? He’eh Kalau Bu G tadi menjelaskan tidak menggunakan alat peraga kira- kira M jelas ngga? Jelas Kenapa kok tetep jelas? Karena di rumah sering belajar Karena di rumah sering belajar ya..? Terus tadi ee duduknya per kelompok ya? Satu kelompok sapa aja? Iya. Via, Damar, Wilza, Mba Tania, Nadia, Vanya Vanya, nah tadi rebutan ngga? Ngga. Antri? Antri Ngga berantem? Ngga Kenapakok ngga berantem ? Karena nanti dimarahin bu guru Tadi gimana pendapatnya M, tentang fungsi dari alat peraga ini? Kira-kira fungsinya maksimal ngga? Maksimal Maksimal, kenapa? Mengapa? Mengapakarena bentuknya ? atau karena Ada satuan, puluhan sama ratusannya?(interviwer kembali mengulangi pertanyaan) Iya 155 Comment [L155]: Subjek merasa senang mengikuti pembelajaran matematika karena menggunakan alat peraga W2/S3/B52 Comment [L156]: Subjek mengungkapkan bahwa ia merasa jelas ketika guru menerangkan dengan alat peraga W2/S3/B56 Comment [L157]: Subjek merasa bahwa alat peraga mempermudah dalam memahami materi yang guru jelaskan W2/S3/B59 Comment [L158]: Subjek juga memahami materi jika guru menjelaskan tanpa menggunakan alat peraga W2/S3/B66 Comment [L159]: Subjek mengungkapkan bahwa alat peraga berfungsi maksimal (Subjek merasakan manfaat menggunakan alat peraga) W2/S3/B83

(172) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 Karna ada apa Karena ada ratusan, puluhan sama satuan Tadi menurut M saat mengerjakan soal menggunakan alat peraga lebih gampang ngga? Iya Kenapa? Karena menggunakan alat peraga. Saat menggunakan alat peraga ini.. yang ingin pertama S eh M lakukan apa? Ingin memegang Kenapa Penasaran Penasaran, lalu kan tadi akhirnya sudah memegang to. lalu setelah memegang perasaannya M gimana ? Gimana perasaannya? Senang Senang. Ketagihan ngga? Ngga Ngga ketagihan ? Eh iya-iya Ingin mencoba lagi ngga? Iya Terus bentuk ini..... Alat peraganya tadi Berbentuk apa? Bulat Ini apa? Kotak Manik- maniknya berbentuk apa? Bulat Bulat. Nah, bagus ngga bentuknya? Bagus Kalau warnanya. kotaknya warnanya apa? Coklat Manik- maniknya warnanya apa? Merah Kira-kira menurut M, warna yang bagus untuk alat peraga tadi warnanya apa? Merah, kuning Merah sama kuning ? kenapa? Karena warnanya bagus Karna warnanya bagus , ya.. tadi waktu Bu G menjelaskan cara penggunaan alat peraga tadi M jelas ngga? Jelas Bu G yang njelasin cepet-cepet, atau pelan-pelan? Pelan-pelan Pelan-- pelan tapi bikin Mdong? Dong Terus tadikan Bu Gnjelasin menggunakan alat peraga ini to? Itu M , Mngerti ngga cara nggunainnya? Ngerti Kenapa kok bisa ngerti? Karena sering menggunakan di rumah Di rumah juga sering pake kayak gini po?' siapa yang mbikin? 156 Comment [L160]: Subjek merasakan manfaat menggunakan alat peraga yaitu mempermudah dalam mengerjakan soal W2/S3/B94 Comment [L161]: Subjek ingin memegang alat peraga saat pertama kali melihatnya W2/S3/B99 Comment [L162]: Subjek merasa senang dapat menggunakan alat peraga dalam kegiatan pembelajaran W2/S3/B105 Comment [L163]: Subjek mengetahui bentuk alat peraga W2/S3/B116 Comment [L164]: Subjek memahami cara menggunakan alat peraga W2/S3/B140

(173) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 145 146 147 148 149 150 151 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 Ibu Ibu . o ya? (subjek menganggukkan kepala) Kalau misalnya Bu G memperbolehkan bu M menggunakan alat peraga ini kira- kira M akan menggunakan di luar jam pelajaran nga? Iya Mengapa? biar bisa belajar Ukurannya kira-kira ini udah pas belum? Udah Kegedean ngga? Ngga Kekecilan ngga Iya Kekecilan ?!!! Ini kekecilan ngga? Lalu, kontribusi.. tadi pas menjawab soal alat peraganya ini sangat membantu ngga? Iya Iya ini kan tadi ada pengendali kesalahannya to, jadi bisa menunjukkan kalo M salah menjawab soal ini alat ini bisa membantu Mto. Nah, kira-kira menurut pendapatnya M, bagaimana pendapatnya M dengan adanya pengendali kesalahan dengan adanya alat peraga? Senang Senang karena apa? Karena biar M bisa tahu salahnya? Iya Iya atau karena apa? Karena biar bisa tahu salahnya Nah ini tadi dibuatnya dari bahan apa? Kayu Sama/ Besi Kira-kira bagus ngga? Bagus Kira - kira menurut M bisa diganti pakai apa? Manik- manik Tadi kan kalau alat peraga yang tadi kan dari kayu dan besi kan, di rumahnya M sering dijumpai kayak gini ngga? Iya O ya sudah terima kasih M Sama- sama 157 Comment [L165]: Subjek sering menggunakan alat peraga yang sama yang dibuatkan oleh ibunya W2/S3/B145 Comment [L166]: Subjek menginginkan menggunakan alat peraga di luar jam pelajaran W2/S3/B151 Comment [L167]: Subjek mengetahui bahan dasar pembuat alat peraga W2/S3/B180

(174) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 158

(175) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.14 Foto Foto Wawancara 1 Dengan Subjek Guru Foto Wawancara 1 Dengan Subjek Siswa A Foto Wawancara 1 Dengan Subjek Siswa B 158

(176) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Foto Wawancara 1 Dengan Subjek Siswa C Foto Wawancara 2 Dengan Subjek Guru Foto Wawancara 2 Dengan Subjek Siswa A 159

(177) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Foto Wawancara 2 Dengan Subjek Siswa B Foto Wawancara 2 Dengan Subjek Siswa C Foto Pada Saat Pembelajaran di Kelas 160

(178) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Foto Pada Saaat Siswa Menggunakan Alat Peraga Pertemuan 1 Siswa A Siswa B Siswa C 161

(179) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Foto Pada Saaat Siswa Menggunakan Alat Peraga Pertemuan 2 Siswa A Siswa B Siswa C 162

(180) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.15 Surat Izin Penelitian dari PGSD USD 163

(181) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 4.16 Surat Keterangan Penelitian dari SD 164

(182) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI CURRICULUM VITAE Umi Winarni Setyaningsih lahir di Yogyakarta, pada tanggal 15 Maret 1990. Beragama Khatolik dan bertempat tinggal di Danukusuman GK IV/ 1394 Yogyakarta 55225. Tinggal bersama nenek, tante, dan ibu. Pendidikan Dasar diselesaikan di SD Kanisius Gayam Yogyakarta pada tahun 2002. Pendidikan Menengah diselesaikan di SMP Pangudi Luhur 2 Yogyakarta pada tahun 2005. Pendidikan Atas diselesaikan di SMK Negeri 6 Yogyakarta dengan mengambil bidang keahlian Tata Boga pada tahun 2008. Sempat bekerja selama 2 tahun sebagai chef di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta hingga akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kuliah. Tahun 2010 menjadi seorang mahasiswa dan kuliah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Selama menjadi mahasiswa, penulis sangat aktif mengikuti berbagai kegiatan. Berikut adalah daftar kegiatan yang pernah diikuti penulis selama menjadi mahasiswa Universitas Sanata Dharma. No 1. Jenis Kegiatan Kepanitian Sebuah Kegiatan di dalam kampus 2. Organisasi 3. Seminar Umum 4. Kuliah Umum Nama Kegiatan Insadha (2011) Parade Gamelan Anak Se-DIY, Jateng, dan Jabar (2011) Inisiasi Prodi (2011) PPKM I (2012) PPKM II (2012) Parade Gamelan Anak Se-DIY, Jateng, dan Jabar (2012) Inisiasi Fakultas (2012) PPKM I (2013) PPKM II (2013) Dies Natalis Sanata Dharma (2012) Pagelaran Tari “Dewi Sri” Himpunan Mahasiswa Program Studi PGSD Seminar “Desiminasi Hasil Program Hibah (PHK) S1 PGSD B Tahun 2010” Seminar “ Una Seminar and Workshop on Anti Bias Curriculum and Teaching” Seminar Permainan Tradisional (2012) Montessori Workshop English Club Week-end Moral Peran Dampok Dampok Dampok Co-Fasilitator Co-Fasilitator Dampok Sie.sen Co-Fasilitator Co-Fasilitator Sie. Acara Sie. Acara Koordinator rohani Peserta Peserta Peserta Peserta Peserta Peserta 165

(183) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. Workshop, Pelatihan dan Lokakarya Workshop Mengdongeng“Menumbuhkan Kreatifitas Guru Melalui Mendongeng” Pelatihan Pengembangan Kepribadian Mahasiswa I dan II Workshop Mendongeng “ Menumbuhkan Kreatifitas guru Melalui Mendongeng” Pelatihan “ kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD)” Inisiasi Mahasiswa Keguruan (SIMAK) 2010 Peserta Peserta Peserta Peserta Peserta 166

(184)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PENERAPAN ALAT PERAGA BERBASIS LED UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA KOMPETENSI PENGETAHUAN PEMERIKSAAN DAN TROUBLESHOOTING MOTOR STARTER TIPE PLANETARI
2
25
112
PENERAPAN ALAT PERAGA MOTOR STARTER TIPE REDUKSI BERBASIS LED UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
0
14
102
RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
7
19
BAB 1 PENDAHULUAN RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
4
6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
5
33
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
3
7
BAB 4 DATA RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
1
3
20
BAB 5 ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
9
67
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
3
9
PENINGKATAN MOTIVASI DAN MINAT BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI METODE MONTESSORI DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA (PTK Pembelajaran Matematika Kelas VIII SMP Negeri 1 Ulujami Pemalang).
0
0
10
OPTIMALISASI ALAT PERAGA DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS OPTIMALISASI ALAT PERAGA DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS OPEN-ENDED PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS DAN PRESTASI SISWA DALAM MATEMATIKA (PTK Kelas VII SMP Muhammadiyah 5 Surakarta Tahun Ajar
0
0
16
RAB ALAT PRAKTIK DAN PERAGA SISWA SD DAK 2016
0
0
16
EFEKTIFITAS METODE PEMBELAJARAN ALAT PERAGA DAN METODE DONGENG TERHADAP PERILAKU MENYIKAT GIGI PADA ANAK
0
0
15
TINGKAT KEPUASAN SISWA DAN GURU TERHADAP PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI
0
0
264
PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR SISWA ATAS PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI
0
0
275
Show more