Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah : survei bagi guru-guru Sekolah Dasar afiliasi Katolik Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta - USD Repository

Gratis

0
0
300
2 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI TINGKAT IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK OLEH GURU PENGAMPU KELAS BAWAH : SURVEI BAGI GURU-GURU SEKOLAH DASAR AFILIASI KATOLIK KRISTEN DAN NASIONAL DI KOTA YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh : Dian Anggraeni 101134110 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI TINGKAT IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK OLEH GURU PENGAMPU KELAS BAWAH : SURVEI BAGI GURU-GURU SEKOLAH DASAR AFILIASI KATOLIK KRISTEN DAN NASIONAL DI KOTA YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh : Dian Anggraeni 101134110 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERSEMBAHAN Karya ini saya persembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Universitas Sanata Dharma, Bapak Supardi dan FL.Suparti, Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D dan Andri Anugrahana, S.Pd.,M.Pd serta teman-teman yang telah membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini. Terimakasih atas dorongan, dukungan maupun motivasi serta doa yang telah diberikan. iv

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO Jadikan sesuatu yang baru menjadi pengalaman yang indah. Bukan menjadi pengalaman yang buruk yang membuat kita akan cenderung terbawa oleh penyesalan. Kebodohan datang bukan dari orang lain melainkan datang dari diri sendiri, jadi jangan pernah menyalahkan orang lain. Segala sesuatu yang keras itu tidak selamanya buruk. Dan juga segala sesuatu yang tidak menyenangkan itu tidak selamanya buruk. v

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK TINGKAT IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN TEMATIK OLEH GURU PENGAMPU KELAS BAWAH : SURVEI BAGI GURU-GURU SEKOLAH DASAR AFILIASI KATOLIK KRISTEN DAN NASIONAL DI KOTA YOGYAKARTA Oleh: Dian Anggraeni 101134110 Penilitian ini dilatarbelakangi oleh tingkat implementasi pembelajaran tematik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) seberapa jauh tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah, (2) perbedaan implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik, (3) perbedaan implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian yaitu non experimental cross sectional dengan metode survei. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner sedangkan prosedur analisis data menggunakan Independen Sample TTest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah masuk dalam kategori rendah; (2) Tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik (sign= 0,057 > α =0,05); (3) Tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh ditinjau dari faktor jumlah jam training pembelajaran tematik (sign = 0,711 > α =0,05). Kata Kunci: Implementasi Pembelajaran Tematik, Guru Kelas Bawah, Pengalaman Mengajar, Jumlah Jam Training. viii

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT Implementation Level of Thematic Instruction by Lower Grade Teachers: Survey for Affiliation Catholic Christian Elementary School Teachers in Yogyakarta By: Dian Anggraeni 101134110 The research was distributed by the level of implementation of thematic laerning. The purpose of this research is to know (1) how far the level of implementation of thematic intruction by teachers of the lower class, (2) learning thematic review of implementation differences from the experience of using thematic learning, (3) thematic learning implementation differences in terms of the number of hours a thematic education training. Recearch methods used in the study i.e. non experimental cross sectional survey method. Engineering data collection using the questionnaire and procedures of data analysis using Independent Sample T-Test. The results showed that (1) the level of implementation of thematic intruction by lower grade teachers into the low category; (2) there is no defference in the level of thematic instrution in terms of thematic learning experience using (sign = 0,057 > α = 0,05); (3) there is no difference in the level of thematic learning implementation by the factor of the number of hours a thematic education training (sign = 0,711 > α =0,05). Keyword: Thematic learning implementation, low class teacher, experience of learning, amount of used hour for training. ix

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur dan terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelas sarjana pada Program Studi Pendidikan Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. Skripsi dengan judul “Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik Oleh Guru Pengampu Kelas Bawah: Survey Bagi Guru-Guru Sekolah Dasar Afiliasi Katolik Kristen Dan Nasional Di Kota Yogyakarta” dapat terselesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak. Baik itu yang berkenan untuk membantu, membimbing, doa, serta motivasi yang telah diberikan. Untuk itu, penulis ingin menyampaikan ucapan termakasih kepada: 1. Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. 2. Gregorius Ari Nugrahanta, S.J., S.S., BST., M.A., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma. 3. Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D., selaku wakil Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, dosen Pembimbing I yang dengan penuh pengertian, kesabaran, dan ketulusan hati dalam memberikan bimbingan, kritik, saran, serta motivasi dalam penulisan skripsi ini. 4. Andri Anugrahana, S.Pd., M.Pd., selaku dosen pembimbing II yang merelakan waktunya untuk membimbing, memberikan masukan, serta saran dalam merevisi skripsi ini. x

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. Bapak dan Ibu guru yang telah meluangkan waktu atas kesediaannya menjadi responden dalam penelitian ini. 6. Ayahanda tercinta, Bapak Supardi terimakasih atas dukungan, doa dan motivasi yang diberikan serta tambahan pengetahuan selama proses perkuliahan dan selama penulisan skripsi ini. 7. Ibunda tercinta di rumah,Ibu FL.Suparti terimakasih atas dukungan serta doa yang tiada henti. 8. Kakakku Desi dan Adekku Hari, terimakasih telah memberi semangat serta dukungannya. 9. Keluargaku yang ada di daerah Minggir, yang selalu memberikan doa, semangat, dan dukungannya. 10. Teman-teman seperjuangan payung tematik, Ria, Sita, Anis, Tessa, Aji, Deo, Amel terimakasih atas kesabaran dalam memberi bantuan, meluangkan waktu dan selalu memberikan dukungan serta kebersamaan yang indah dan mengesankan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 11. Sahabatku Pebri Wulandari dan Risa Veti Perdani, terimakasih telah memberi bantuan, meluangkan waktu,dan menciptakan kebersamaan yang indah selama 4 tahun ini. 12. Teman-teman Kos Beo, terimakasih atas bantuan, doa, dukungan dan kebersamaan yang selalu menjadi penyemangatku. 13. Teman-teman bhe better terimakasih atas dukungan doa dan semangat serta kebersamaan yang hangat selama 4 tahun ini. 14. Semua pihak yang telah membantu dan tidak bisa saya sebutkan satu persatu. xi

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Tabel 2.2 Tabel 2.3 Tabel 2.4 Tabel 2.5 Tabel 3.1 Tabel 3.2 Tabel 3.3 Tabel 3.4 Tabel 3.5 Tabel 3.6 Tabel 3.7 Tabel 3.8 Tabel 3.9 Tabel 3.10 Tabel 3.11 Tabel 3.12 Tabel 3.13 Tabel 3.14 Tabel 3.15 Tabel 3.16 Tabel 3.17 Tabel 4.1 Tabel 4.2 Tabel 4.3 Tabel 4.4 Tabel 4.5 Tabel 4.6 Perbedaan Kurikulum KBK dan Kurikulum 1994......................... Reformasi Kurikulum..................................................................... Perbedaan Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013 ......................... Model Pembelajaran Terpadu ........................................................ Landasan Pembelajaran Tematik ................................................... Penjabaran Skor Item Positif dan Negatif ...................................... Sebaran Item Positif dan Item Negatif ........................................... Kisi-kisi Indikator Instrumen ......................................................... Kriteria Revisi ................................................................................ Hasil Expert Judgement Indikator Kegiatan Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa....................................... Hasil Expert Judgement Siswa Mengalami Pengalaman Langsung dalam Belajar ............................................ Hasil Expert Judgement Indikator Pemisahan pada Setiap Mata pelajaran Tidak Begitu Jelas ...................................... Hasil Expert Judgement Indikator Pembelajaran yang Menyajikan Konsep dari Satu Mata Pelajaran ...................... Hasil Expert Judgement Indikator Pembelajaran Bersifat Fleksibel ........................................................................... Hasil Expert Judgement Indikator Hasil Pembelajaran yang sesuai dengan Minat dan Kebutuhan Siswa............................................................................ Hasil Expert Judgement Indikator Prinsip Belajar Sambil Bermain yang Menyenangkan bagi Siswa......................... Hasil Validitas Muka...................................................................... Hasil Uji Validitas Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik.................................................................... Koefisien Korelasi Reliabilitas ...................................................... Hasil Uji Reliabilitas ...................................................................... Contoh Pengkodean ....................................................................... Jadwal Penelitian............................................................................ Panjang Kelas Interval ................................................................... Hasil Perhitungan Daftar Distribusi ............................................... Hasil Uji Normalitas Pengalaman Menggunakan pembelajaran Tematik untuk Kelompok Senior ............................ Hasil Uji Normalitas Pengalaman Menggunakan pembelajaran Tematik untuk Kelompok Junior............................. Hasil Uji Homogenitas Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Pengalaman Menggunakan Pembelajaran Tematik .......................................................................................... Uji Hipotesisis Pengalaman Menggunakan Pembelajaran Tematik .......................................................................................... xiii 18 19 22 29 32 51 52 54 56 57 58 59 60 61 62 63 64 67 68 69 71 86 89 90 92 94 97 98

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas Jumlah Jam Traning untuk Kelompok Banyak ........................................................................................... Tabel 4.8 Hasil Uji Normalitas Jumlah Jam Traning untuk Kelompok Sedikit ............................................................................................ Tabel 4.9 Hasil Uji Homogenitas Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Jumlah Jam Traning Pembelajaran Tematik....... Tabel 4.10 Uji Hipotesis Jumlah Jam Traning Pembelajaran Tematik............ xiv 100 102 104 105

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Gambar Penelitian yang Relevan.................................................. 43 Gambar 3.1 Gambar Penelitian ........................................................................ 47 Gambar 3.2 Rumus Korelasi ............................................................................ 66 Gambar 3.3 Rumus Koefisien Alpha Cronbach............................................... 69 Gambar 3.4 Rumus Kolmogorov Smirnov........................................................ 78 Gambar 3.5 Rumus Independent Sample T-Test .............................................. 83 Gambar 3.6 Rumus Mann Whitney................................................................... 83 Gambar 3.7 Rumus Effect Size jika Data Normal ............................................ 84 Gambar 3.8 Rumus Effect Size jika Data tidak Normal ................................... 85 Gambar 3.9 Rumus Koefisien Determinasi ...................................................... 85 Gambar 4.1 Hasil Uji Normalitas P-P Plot Data Implementasi dengan Pengalaman Pembelajaran Tematik Kelompok Senior ................ 93 Gambar 4.2 Hasil Uji Normalitas Histogram Data Implementasi dengan Pengalaman Menggunakan Pembelajaran Tematik Kelompok Senior ............................................................................................ 94 Gambar 4.3 Hasil Visualisasi P-P Plot Total Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Pengalaman Pembelajaran Tematik Kelompok Junior ............................................................................................ 95 Gambar 4.4 Hasil Uji Normalitas Histogram Data Implementasi dengan Pengalaman Menggunakan Pembelajaran Tematik Kelompok Junior ............................................................................................ 95 Gambar 4.5 Hasil Visualisasi P-P Plot Total Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Jumlah Jam Training Pembelajaran Tematik Kelompok Banyak ........................................................................ 100 Gambar 4.6 Hasil Uji Normalitas Histogram Data Implementasi dengan Jumlah Jam Training Pembelajaran Tematik Kelompok Banyak .......................................................................................... 100 Gambar 4.7 Gambar 4.5 Hasil Visualisasi P-P Plot Data Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Jumlah Jam Training Pembelajaran Tematik Kelompok Sedikit........................................................... 102 Gambar 4.8 Gambar 4.6 Hasil Uji Normalitas Histogram Data Implementasi dengan Jumlah Jam Training Pembelajaran Tematik Kelompok Sedikit ........................................................................................... 103 xv

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 Lampiran 10 Lampiran 11 Lampiran 12 Lampiran 13 Lampiran 14 Lampiran 15 Lampiran 16 Lampiran 17 Lampiran 18 Lampiran 19 Lampiran 20 Lampiran 21 Lampiran 22 Lampiran 23 Lampiran 24 Surat Ijin Penelitian......................................................................... Surat Ijin Telah Melakukan Penelitian............................................ Expert Judgement............................................................................ Validitas Muka ................................................................................ Data Validitas.................................................................................. Hasil Validitas................................................................................. Data Reliabilitas .............................................................................. Hasil Reliabilitas ............................................................................. Data Asli.......................................................................................... Hasil Perhitungan Distribusi Frekuensi Implementasi Pembelajaran Tematik..................................................................... Hasil Uji Normalitas Pengalaman Menggunakan Pembelajaran Tematik untuk Kelompok Senior.............................. Hasil Uji Normalitas Pengalaman Menggunakan Pembelajaran Tematik untuk Kelompok Senior dengan P-P Plot .................................................................................................. Hasil Uji Normalitas Pengalaman Menggunakan Pembelajaran Tematik untuk Kelompok Senior dengan Histogram........................................................................................ Hasil Uji Normalitas Pengalaman Menggunakan Pembelajaran Tematik untuk Kelompok Junior ............................. Hasil Uji Normalitas Pengalaman Menggunakan Pembelajaran Tematik untuk Kelompok Junior dengan P-P Plot................................................................................................... Hasil Uji Normalitas Pengalaman Menggunakan Pembelajaran Tematik untuk Kelompok junior dengan Histogram........................................................................................ Hasil Uji Homogenitas Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Pengalaman Menggunakan Pembelajaran Tematik............................................................................................ Uji Hipotesis Pengalaman Menggunakan Pembelajaran Tematik............................................................................................ Hasil Uji Normalitas Jumlah Jam Training untuk Kelompok Banyak............................................................................................. Hasil Uji Normalitas Jumlah Jam Training untuk Kelompok Banyak dengan P-P Plot.................................................................. Hasil Uji Normalitas Jumlah Jam Training untuk Kelompok Banyak dengan Histogram .............................................................. Hasil Uji Normalitas Jumlah Jam Training untuk Kelompok Sedikit ............................................................................................. Hasil Uji Normalitas Jumlah Jam Training untuk Kelompok Sedikit dengan P-P Plot................................................................... Hasil Uji Normalitas Jumlah Jam Training untuk Kelompok xvi 118 128 140 226 237 238 240 241 244 245 246 247 248 250 251 252 254 255 256 257 258 260 261

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Sedikit dengan Histogram ............................................................... Lampiran 25 Hasil Uji Homogenitas Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik dengan Jumlah Jam Training Pembelajaran Tematik....... Lampiran 26 Uji Hipotesis Jumlah Jam Training Pembelajaran Tematik ........... Lampiran 27 Tabel Krejcie................................................................................... Lampiran 28 Kuesioner Sebelum dan Sesudah Revisi ......................................... Lampiran 29 Contoh Kuesioner yang sudah diisi ................................................ Lampiran 30 Data Coding .................................................................................... Lampiran 31 r Tabel ............................................................................................. Lampiran 32 Tabel Tingkat Pengembalian Kuesioner ......................................... Lampiran 25 Biodata Peneliti ............................................................................... xvii 262 263 264 265 266 272 277 278 279 280

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL....................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING........................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iii PERSEMBAHAN ........................................................................................... iv MOTTO .......................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................................ vi LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI....................... vii ABSTRAK ...................................................................................................... viii ABSTRACT...................................................................................................... ix KATA PENGANTAR .................................................................................... x DAFTAR TABEL ........................................................................................... xiii DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xv DAFTAR LAMPIRAN................................................................................... xvi DAFTAR ISI ................................................................................................... xviii BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah.............................................................................. 1 B. Batasan Masalah ......................................................................................... 6 C. Rumusan Masalah ....................................................................................... 6 D. Tujuan penelitian ........................................................................................ 7 E. Manfaat Penelitian ...................................................................................... 7 F. Definisi Operasional ................................................................................... 8 BAB II. KAJIAN TEORI A. Tinjauan teoritik ......................................................................................... 10 1. Reformasi Pendidikan secara Global.................................................... 10 2. Reformasi Pendidikan di Indonesia ...................................................... 11 3. Reformasi Kurikulum di Indonesia ...................................................... 12 4. Kurikulum 2013 dan Kurikulum 2006 ................................................. 20 5. Pembelajaran Terpadu .......................................................................... 25 6. Pembelajaran Tematik .......................................................................... 31 7. Implikasi Pembelajaran Tematik .......................................................... 35 8. Karakteristik Pembelajaran Tematik .................................................... 37 9. Faktor-faktor yang mempengaruhi Pelaksanaan Reformasi................. 37 B. Hasil Penelitian yang Relevan .................................................................... 39 C. Kerangka Berpikir ...................................................................................... 44 D. Hipotesis Penelitian .................................................................................... 45 BAB III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Desain Penelitian ....................................................... 46 B. Waktu dan Tempat Penelitian..................................................................... 47 C. Variabel Penelitian ..................................................................................... 48 D. Populasi dan Sampel................................................................................... 48 E. Teknik Pengumpulan Data ......................................................................... 50 F. Instrumen Penelitian ................................................................................... 50 G. Validitas Instrumen dan Reliabilitas Instrumen ......................................... 56 xviii

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI H. Prosedur Analisis Data ............................................................................... I. Jadwal penelitian ........................................................................................ BAB IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Penelitian.................................................................................... B. Tingkat Pengembalian Kuesioner............................................................... C. Hasil Analisis.............................................................................................. D. Pembahasaan Hasil Penelitian .................................................................... BAB V. PENUTUP A. Kesimpulan................................................................................................. B. Keterbatasan .............................................................................................. C. Saran ........................................................................................................... DAFTAR REFERENSI ................................................................................... xix 70 85 87 87 88 105 112 113 113 115

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Bab I dalam penelitian ini membahas tentang enam hal yang diuraikan oleh peneliti. Enam hal yang diuraikan dalam bagian pendahuluan adalah latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional. A. Latar Belakang Masalah Mulyasa (2013: 2) menyatakan bahwa banyak tantangan yang dihadapi pada era global, terutama yang berkiprah dalam era kesejahteraan, khususnya globalisasi pasar bebas di lingkungan negara-negara ASEAN, seperti AFTA (Asean Free Trade Area), dan AFLA (Asean Free Labour Area), maupun kawasan di negara-negara APEC (Asean Pasific). Era globalisasi dan pasar bebas menimbulkan perubahan-perubahan yang tidak menentu, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat perkembangannya. Perubahan tersebut membawa dampak pada dunia pendidikan, dimana dunia pendidikan selalu tertinggal perkembangannya dibandingkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan tersebut menyebabkan mutu pendidikan di Indonesia menurun apabila tidak segera mengejar atau menyeimbangkan dengan perubahan serta perkembangan dunia global. Bank dunia melaporkan tentang hasil pengukuran indikator mutu secara kuantitatif pada Sekolah Dasar (SD) di beberapa negara Asia (Majid, 2014: 5). 1

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 Pengukuran ini menunjukkan bahwa hasil tes membaca pada murid kelas IV SD, Indonesia berada di tingkat terendah se Asia, yaitu di bawah Hongkong 75,5 %, Singapura 74%, Thailand 65,1%, Filipina 52,6% dan Indonesia 51,7%. Disebutkan pula bahwa para siswa di Indonesia hanya mampu menguasai 30% dari materi yang dibacanya. Indonesia mengalami kesulitan menjawab soal-soal yang memerlukan penalaran. Melihat hasil dari pengukuran tersebut, Indonesia perlu melakukan berbagai perubahan untuk memperbaiki mutu pendidikan menjadi lebih baik. Perubahan pendidikan di Indonesia dapat dimulai dari mengubah sistem pendidikan yang ada. Sistem pendidikan dinilai sudah tidak efektif dan kelebihan muatan serta tidak mampu mempersiapkan peserta didik untuk bersaing dengan bangsa lain, maka dari itu perubahan perlu dilakukan secara mendasar. Sistem pendidikan tersebut didukung oleh adanya kurikulum. Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan menjadi pedoman dalam pelaksanaan pendidikan (Dikti, 2012: 65). Indonesia telah melakukan beberapa kali perubahan kurikulum. Perubahan kurikulum tersebut dilakukan sejak masa orde lama, orde baru, dan orde reformasi (Trianto, 2009: 54). Kurikulum pada masa orde lama yaitu kurikulum 1947. Kurikulum 1947 merupakan kurikulum yang pertama dan hanya diberlakukan untuk kolonial Belanda. Dikti (2012: 71) menambahkan bahwa kurikulum 1947 kemudian disempurnakan menjadi kurikulum 1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional dan setiap rencana pelajaran memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 Rencana pelajaran yang sudah disusun dirasa belum mampu memperbaiki sistem pendidikan sehingga perlu perubahan kurikulum. Kurikulum pada masa orde baru yaitu kurikulum 1968, 1975, 1984,dan 1994 (Trianto, 2009: 56-62). Kurikulum-kurikulum tersebut kemudian disempurnakan lagi pada masa orde reformasi yang tercatat sudah melakukan dua kali perubahan kurikulum. Perubahan tersebut adalah kurikulum 2004 yang biasa disebut dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), dan Kurikulum 2006 atau biasa disebut Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan (KTSP). Seiring dengan perkembangan zaman, kurikulum pendidikan terus mengalami perubahan. Baru-baru ini KTSP diperbaharui dan disempurnakan menjadi kurikulum 2013. Kurikulum yang masih menjadi bahan perbincangan karena kurikulum ini bersifat tematik integratif. Mulyasa (2013: 6) mengatakan bahwa kurikulum 2013 lebih ditekankan pada pendidikan karakter pada tingkat dasar yang akan menjadi fondasi tingkat berikutnya. Tujuannya untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan yang sesuai dengan standar kompetensi lulusan pada setiap satuan pendidikan. Diperlukan adanya upaya kreatif yang dapat digunakan dalam melaksanakan pembelajaran yang menggunakan kurikulum berbasis kompetensi di sekolah dasar, salah satunya adalah dengan menerapkan pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa (Depdiknas, 2009). Tema yang digunakan dalam pembelajaran tematik berisi penggabungan dari beberapa kompetensi dasar

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 dan indikator. Kompetensi dasar dapat dikembangkan dengan cara mengaitkan antarmata pelajaran dan pengalaman pribadi siswa, sehingga pemisahan antarmata pelajaran menjadi tidak terlihat begitu jelas. Harapan adanya pelaksanaan pembelajaran tematik yaitu supaya pembelajaran akan lebih menarik dan bermakna bagi siswa karena tema-tema yang disajikan lebih aktual dan kontekstual dalam kehidupan sehari-hari. Siswa akan terlibat langsung dalam proses belajar mengajar sehingga siswa akan memperoleh pengalaman untuk mencari dan menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajari dalam proses belajar. Pembelajaran tematik masih relatif baru, sehingga dalam pelaksanaannya belum sesuai dengan apa yang diharapkan. Guru masih banyak yang belum mengetahui pentingnya penerapan pembelajaran tematik di sekolah. Pembelajaran tematik sangat membantu siswa terutama pada siswa di usia kelas 1 – 3 SD, oleh karena itu guru perlu mengetahui pembelajaran tematik. Siswa pada usia tersebut akan mudah belajar dan memahami materi dengan kegiatan-kegiatan yang disajikan, tidak hanya melalui menghafal materi. Peran guru sebagai pendidik diharapkan mampu menyajikan pembelajaran yang baik dan menarik sehingga pembelajaran akan tersalurkan kepada siswa. Pembelajaran yang baik dan menarik didukung oleh guru yang kreatif, sehingga tercipta kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dan menarik bagi anak. Hasil yang diperoleh berdasarkan diskusi dengan beberapa teman, yaitu guru merasa sulit dalam menerapkan pembelajaran tematik ini. Pembelajaran yang dirangkai dalam tema-tema belum terlaksana dengan baik. Materi masih disampaikan secara terpisah dan belum terlihat pembelajaran tematiknya. Masalah

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 ini timbul karena para guru belum mendapat pelatihan tentang pembelajaran tematik. Guru sering tidak diperhatikan oleh siswanya karena guru kurang memiliki pengalaman mengajar yang baik terhadap siswanya, sehingga guru kurang bisa mengkondusifkan kelas. Hasil diskusi dengan teman juga menjelaskan bahwa banyak guru baru kesulitan dalam mengkondusifkan kelas, hal tersebut tentunya ada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Supardi (2013: 51) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru yaitu faktor individual (dari dalam) dan faktor situasional (dari luar). Faktor individual meliputi umur, tingkat pendidikan, lamanya training, pengalaman mengajar, keahlian guru, pengalaman berinovasi, pengalaman guru terhadap materi, dan waktu. Faktor situasional yang dimaksud meliputi dukungan kepala sekolah ataupun ukuran dari setiap kelas. Faktor yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu pengalaman mengajar dan lamanya jam training dalam implementasi pembelajaran tematik. Peneliti bermaksud ingin mengetahui lebih jauh mengenai implementasi pembelajaran tematik di sekolah dasar. Uraian-uraian di atas menarik peneliti untuk menyusun sebuah penelitian dengan judul “Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik oleh Guru Pengampu Kelas Bawah: Survei Bagi GuruGuru Sekolah Dasar Afiliasi Katolik, Kristen, dan Nasional di Kota Yogyakarta”.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 B. Batasan Masalah Penelitian ini hanya difokuskan pada guru kelas bawah sekolah dasar afiliasi katolik, kristen, dan nasional. Guru merupakan peran penting di dalam berlangsungnya proses pembelajaran, maka penelitian ini hanya difokuskan terhadap guru. Guru yang dimaksud dalam penelitian ini adalah guru kelas bawah yaitu kelas 1, 2, dan 3 yang sudah menerapkan pembelajaran tematik terlebih dahulu sesuai dengan kurikulum 2006 (KTSP) yang mensyaratkan untuk melaksanakan pembelajaran tematik. C. Rumusan Masalah Permasalahan dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah sekolah dasar afiliasi katolik, kristen, dan nasional di kota Yogyakarta? 2. Apakah ada perbedaan implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi katolik, kristen dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik? 3. Apakah ada perbedaan implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi katolik, kristen, dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik?

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 D. Tujuan Penelitian Sesuai dengan rumusan masalah, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini: 1. Mengetahui tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah sekolah dasar afiliasi katolik, kristen, dan nasional di kota Yogyakarta. 2. Mengetahui perbedaan implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi katolik, kristen dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. 3. Mengetahui perbedaan implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi katolik, kristen, dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik. E. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah: 1. Bagi Sekolah Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi sekolah. Manfaat bagi sekolah adalah sebagai acuan dalam pembuatan kebijakan program peningkatan mutu pendidikan yang berhubungan dengan pelaksanaan dan penerapan pembelajaran tematik sesuai dengan kurikulum ajaran baru. Manfaat lain dari penelitian ini yakni sebagai referensi tambahan bagi pihak sekolah. 2. Bagi Guru Penelitian ini diharapkan memberi manfaat bagi guru. Penelitian ini dapat dijadikan pedoman dan pertimbangan guru dalam pelaksanaan pembelajaran

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 tematik. Penelitian ini juga dapat membantu guru dalam pengimplementasian pembelajaran tematik. 3. Bagi Siswa Penelitian ini memberikan manfaat kepada siswa. Manfaat bagi siswa adalah membantu siswa belajar secara inovatif untuk memperoleh pemahaman yang baik. Manfaat lain yaitu membantu siswa untuk memperoleh pembelajaran yang menarik dan bermakna. 4. Bagi Peneliti Penelitian ini juga bermanfaat bagi peneliti. Penelitian ini dapat memberikan pengalaman tentang penerapan kurikulum pembelajaran tematik. Peneliti juga dapat memperoleh wawasan baru mengenai implementasi pembelajaran tematik bagi guru sekolah dasar. F. Definisi Operasional Definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang mengaitkan beberapa mata pelajaran menjadi satu kesatuan dengan menggunakan tema-tema tertentu (disebut juga pembelajaran tematik integratif). 2. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan tujuan serta isi dari pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. 3. Demografi adalah faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang. 4. Reformasi adalah perubahan yang dilakukan oleh suatu negara untuk perbaikan.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 5. Guru kelas bawah adalah seseorang yang mengajar pada kelas bawah yaitu kelas 1, 2, dan 3. 6. Afiliasi adalah pertalian antar cabang atau anggota. 7. Implementasi adalah pelaksanaan dari rencana yang telah disusun. 8. Survei adalah kegiatan atau penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan informasi dari sebagian populasi. 9. Pengalaman adalam suatu kejadian yang pernah dialami atau pernah dilakukan. Jumlah Jam Training adalah Jumlah jam yang digunakan dalam pelatihan untuk mengasah keterampilan seseorang supaya kinerja yang dimiliki oleh seseorang menjadi semakin meningkat.

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II KAJIAN TEORI Bab II ini menguraikan kajian teori yang digunakan untuk memecahkan masalah dalam penelitian ini. Pembahasan tentang kajian teori ini terdiri dari empat bagian, yaitu tinjauan teoritik, hasil penelitian yang relevan, kerangka berpikir dan hipotesis. A. Tinjauan Teoritik 1. Reformasi Pendidikan secara Global Iklim perpolitikan yang kurang kondusif menimbulkan berbagai permasalahan dalam berbagai bidang, salah satunya adalah bidang pendidikan (Mulyasa, 2013: 1). Masalah yang timbul dari adanya era reformasi ini adalah perkembangan dunia pendidikan yang tertinggal dari perkembangan teknologi, ataupun informasi. Suyatno dan Hisyam (dalam Sanaky, 2009: 1) menyebutkan bahwa reformasi atau perubahan tersebut tidak hanya dalam bidang politik, melainkan juga terjadi di dunia pendidikan. Era reformasi telah berlangsung sejak tahun 1998 dan memberi keterlibatan langsung maupun tidak langsung dalam sektor pendidikan (Susilo, 2007: 1). Era reformasi perlu diperhatikan karena membawa dampak pada perkembangan dunia pendidikan. Dunia pendidikan menuntut adanya perubahan yang sifatnya mendasar dalam kehidupan di era global ini (Mulyasa, 2013: 2). Perubahan tersebut meliputi perubahan dari: pandangan kehidupan masyarakat lokal ke masyarakat global, 10

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 kohesi sosial menjadi partisipasi demokratis, dan pertumbuhan ekonomi menjadi perkembangan kemanusiaan. UNESCO telah mengemukakan dua basis landasan untuk melaksanakan perubahan dalam bidang pendidikan sejak tahun 1998: pertama ; pendidikan harus diletakkan pada empat pilar yaitu belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan (learning to do), belajar hidup dalam kebersamaan (learninng to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be) ; kedua, belajar seumur hidup (life long learning) (Mulyasa, 2013: 2). Diperlukan strategi baru untuk menciptakan masyarakat yang berprestasi supaya tidak tertinggal oleh perkembangan zaman. 2. Reformasi Pendidikan di Indonesia Kondisi pendidikan di Indonesia sekarang ini dalam keadaan yang memprihatinkan apabila dilihat dari tantangan global yang sedang dihadapi. Hasil survei yang dilakukan oleh The Political and Economic Risk Consultancy (PERC) menyatakan bahwa Indonesia berada pada peringkat ke 12 dari 12 Negara dengan perolehan nilai sebesar 6,56 (The Jakarta Post dalam Suyatno, 2006: 3). Survei tersebut bertujuan untuk melihat profil kualitas tenaga kerja di Asia dimana kualitas kerja dilihat dari kualitas pendidikan yang ada pada suatu negara. Peneliti memperoleh kesimpulan bahwa apabila sistem pendidikan dalam suatu negara baik dan berkualitas, maka akan mampu melahirkan tenaga kerja yang baik dan berkualitas pula ataupun sebaliknya. Persoalan-persoalan tentang kualitas pendidikan di Indonesia tersebut perlu mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah. Menghadapi persoalan-

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 persoalan tersebut, perlu dilakukan perubahan terhadap sistem pendidikan untuk memperbaiki mutu pendidikan yang ada di Indonesia. Karim (dalam Suyatno, 2006: 10) menyatakan bahwa upaya meningkatkan mutu pendidikan yaitu dengan melakukan perubahan kurikulum. Perubahan ini penting dilakukan untuk mempersiapkan bangsa Indonesia dalam menghadapi persaingan global. Upaya peningkatan mutu pendidikan dilakukan secara menyeluruh baik dari segi moral, akhlak, budi pekerti, pengetahuan, keterampilan, seni, olahraga, maupun perilakunya (Majid, 2014: 20). Harapan dari adanya perubahan kurikulum ini ialah akan membawa perubahan bagi pendidikan Indonesia, terutama dalam meningkatkan mutu dan kualitas pendidikannya. 3. Reformasi Kurikulum di Indonesia Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan dan menjadi pedoman dalam pelaksanaan pendidikan (Dikti, 2012: 65). Pengertian lain diungkapkan oleh Bambang (2007) bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Peneliti mengartikan kurikulum sebagai seperangkat rencana dan pengaturan tujuan serta isi dari pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan di Indonesia, salah satunya dicapai dengan melakukan pergantian atau perubahan kurikulum. Perubahan kurikulum berkali-kali dilakukan di Indonesia dari masa ke masa. Pembaharuan kurikulum perlu dilakukan mengingat tidak ada kurikulum yang sesuai selama pergantian

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 kurikulum, selain itu kurikulum juga harus dapat mengikuti perkembangan zaman yang senantiasa cenderung berubah (Dikti, 2012: 65). Trianto (2009: 54-71) menjelaskan bahwa perubahan kurikulum terjadi dari masa orde lama hingga masa orde reformasi. a. Kurikulum SD di Masa Orde Lama Kurikulum pertama pada awal kemerdekaan yaitu rencana pelajaran 1947 atau menggunakan istilah Leer plan (Trianto, 2006: 54). Leer Plan berasal dari bahasa Belanda yang berarti rencana pelajaran (Rentjana Pelajaran) dan merupakan istilah yang populer dari pada menggunkan istilah curriculum yang berasal dari bahasa Inggris (Muzamiroh, 2013: 40-41). Trianto (2006: 55) menyebutkan bahwa susunan rencana pelajaran 1947 sangat sederhana karena hanya memuat dua hal pokok. Kedua hal pokok tersebut ialah daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, serta garis-garis besar pengajarannya. Kurikulum 1947 ini tidak lagi ditujukan kepada kolonial Belanda, maka dari itu kurikulum ini bersifat politis dan merupakan pengganti dari sistem pendidikan kolonial Belanda. Pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat, materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani merupakan hal yang diutamakan dalam rencana pelajaran 1947 dari pada pendidikan pikiran (Muzamiroh, 2013: 41). Dikti (2012: 71) menambahkan kurikulum yang ada pada masa orde lama, yakni kurikulum 1952. Kurikulum 1952 merupakan penyempurnaan dari kurikulum 1947. Kurikulum ini menonjolkan pada isi pelajaran yang dihubungkan

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 dengan kehidupan sehari-hari dan sudah mengacu pada kurikulum nasional. Kurikulum 1952 berfungsi untuk membimbing para siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar (Hidayat, 2013: 111). Rencana pelajaran pada kurikulum 1952 dibuat lebih rinci di setiap pelajarannya, sehingga disebut dengan Rencana Pelajaran Terurai 1952 (Muzamiroh, 2013: 42). Silabus mata pelajaran yang digunakan dalam kurikulum 1952 ini dibuat dengan sangat jelas. b. Kurikulum SD di Masa Orde Baru Dunia pendidikan pada masa orde baru melaksanakan perubahan kurikulum sebanyak empat kali, yaitu dimulai dari kurikulum 1968, 1975, 1984, dan 1994 (Tianto, 2006: 56). Kurikulum 1968 bersifat correlated subject curriculum yang artinya adalah materi pelajaran pada tingkat bawah mempunyai korelasi dengan kurikulum sekolah lanjutan (Trianto, 2006: 57). Kurikulum 1968 terdiri dari 9 mata pelajaran yang hanya memuat mata pelajaran pokok saja. Materi pelajaran yang disajikan tidak dikaitkan dengan permasalahan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Muatan materi pelajaran tersebut bersifat teoritis dan sangat dipengaruhi oleh ilmu perkembangan teknologi dan psikologi yang ada pada masa akhir 1960-an. Kurikulum 1968, kemudian mengalami penyempurnaan pada tahun 1975. Kurikulum 1968 berganti menjadi kurikulum 1975. Muzamiroh (2013: 44) menjelaskan supaya lebih efisien dan efektif, maka kurikulum 1975 lebih ditekankan pada tujuannya. Kurikulum 1975 dikenal dengan istilah “satuan pelajaran” yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan.

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15 Muzamiroh (2013) juga menjelaskan bahwa kurikulum 1975 banyak memperoleh kritikan karena guru dibuat sibuk dengan menuliskan tujuan yang akan dicapai dalam pelajaran. Pelaksanaan pembelajaran pada kurikulum 1975 didasari konsep Struktural, Analisis, Sintesis (SAS) (Trianto, 2006: 58). Siswa menjadi pintar karena paham dan mampu menganalisis sesuatu yang dihubungkan dengan mata pelajaran di sekolah. Dampak dari kurikulum 1975 adalah banyak guru menghabiskan waktunya untuk mengerjakan tugas administrasi, seperti membuat TIU, TIK dan lain-lain (Trianto, 2012). Metode, materi, dan tujuan pengajaran pada kurikulum ini dirinci sesuai dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). PPSI merupakan instruksi bagi individu dalam belajar yang terdiri atas urutan dan desain tugas yang progresif (Uno, dalam Dikti, 2012: 87). Penilaian dilakukan pada setiap akhir pelajaran menjadikan kurikulum ini sebagai pembeda dari kurikulum-kurikulum sebelumnya yang hanya memberikan penilaian pada akhir semester saja. Pemenuhan kebutuhan masyarakat serta tuntutan pengetahuan dan teknologi yang ada pada kurikulum 1975 hingga menjelang 1983 terus mengalami kemerosotan (Dikti, 2012: 89). Kurikulum 1975 berakhir dan akhirnya digantikan dengan kurikulum 1984. Muzamiroh (2013: 45) mengatakan bahwa kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Kurikulum 1984 lebih mengutamakan pendekatan proses, namun faktor tujuan juga tetap diperhatikan dan sama pentingnya. Kurikulum 1984 disebut kurikulum 1975 yang disempurnakan. Siswa diposisikan sebagai subyek belajar dari hal-hal yang bersifat mengamati, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan, menjadi bagian penting

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 proses belajar mengajar, inilah yang disebut konsep Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Penerapan konsep CBSA ternyata tidak berjalan dengan lancar. beberapa sekolah kurang mampu dalam menerapkan konsep tersebut. Pemerintah melakukan penyempurnaan kurikulum 1984 menjadi kurikulum 1994 yang dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang No.2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional (Muzamiroh, 2013: 45). Perubahan pembagian waktu pelajaran terjadi pada kurikulum ini, yaitu dari sistem semester ke sistem caturwulan yang nantinya dibagi menjadi tiga tahap dalam satu tahunnya. Pembagian waktu pelajaran tersebut diharapkan dapat membantu siswa dalam menerima materi pelajaran yang cukup banyak. Pelaksanaan kurikulum 1994, yang mengalami pembagian waktu menjadi caturwulan ternyata tidak cukup membantu. Materi yang cukup banyak tidak terasa ringan. Materi yang cukup banyak justru menjadikan beban belajar bagi siswa. c. Kurikulum SD di Masa Orde Reformasi Kurikulum pada masa orde reformasi juga melakukan perubahan kurikulum sebanyak dua kali, yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau Kurikulum 2004 merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak (Trianto, 2006: 62). UU No 2 1999 tentang pemerintahan daerah, UU No 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan provinsi sebagai daerah otonom, dan

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 TAP MPR No. IV/MPR/1999 tentang arah kebijakan dan pendidikan nasional mendasari lahirnya kurikulum sebagai respon dari tuntutan reformasi (Majid, 2014: 21). Kurikulum ini mengembangkan kemampuan siswa untuk melakukan tugas-tugas tertentu sesuai dengan standar performance yang telah ditetapkan (Muzamiroh, 2013: 47). Kemampuan yang terpenting adalah kemampuan siswa dalam mencapai kompetensi sesuai dengan yang diharapkan. Kompetensi dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan suatu pernyataan mengenai apa yang diharapkan dapat diketahui, disikapi atau dilakukan siswa dalam setiap setiap tingkatan kelas sekaligus untuk mengetahui kemajuan siswa menjadi lebih kompeten (Majid, 2014: 24). Becker  Gordon (dalam Majid, 2014: 23) menyatakan kompetensi mengandung beberapa aspek, yaitu knowledge, understanding, skill, value, attitude, dan interest. Knowledge (pengetahuan) adalah kesadaran guru dalam melaksanakan proses pembelajaran dalam bidang kognitif. Understanding (pengertian) adalah kemampuan yang dimiliki guru dalam memahami aspek kognitif yang dimiliki oleh siswa. Skills (keterampilan) merupakan kemempuan yang dimiliki guru untuk melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Value (nilai) adalah suatu standar perilaku yang dimiliki oleh guru. Interest (minat) merupakan minat yang dimiliki guru untuk memancing motivasi siswa. Kurikulum KBK merupakan penyempurnaan dari kurikulum 1994. Keunggulan Kurikulum KBK dibandingkan dengan Kurikulum 1994 dapat dilihat pada tabel 2.1.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 Tabel 2.1 Perbedaan Kurikulum KBK dan Kurikulum 1994 Subjek Yang Utama Paradigma Pembelajaran 1994 Penguasaan materi Silabus Ditentukan seragam dengan sekolah lain 40 jam per minggu Jumlah Jam Pelajaran Metode Pembelajaran Sitem Penilaian Katrampilan proses Memfokuskan pada aspek kgnitif KBK Hasil belajar dan kompetensi. Versi UNESCO: belajar mengetahui, belajar untuk bertindak, belajar hidup bersama, dan belajar menjadi diri sendiri. Peran dari guru dan siswa dalam proses belajar mengajar, silabus menjadi tanggung jawab guru. 32 jam per minggu. Tercipta metode pembelajaran aktif, kreatif, efektif,dan menyenangkan. Dan juga lahir metode lain yaitu pembelajaran kontekstual. Memadukan keseimbangan kognitif, afektif dan psikomotorik. Tabel 2.1 menjelaskan jumlah jam pelajaran pada kurikulum 1994 lebih banyak dibandingkan dengan kurikulum KBK. Kurikulum 1994 hanya mengutamakan penguasaan materi, berbeda halnya dengan kurikulum KBK yang mengutamakan hasil belajar dan kompetensi. Sistem penilaian pada kurikulum 1994 difokuskan pada aspek kognitif saja, sedangkan pada kurikulum KBK sistem penilaian dilakukan dengan memadukan keseimbangan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kurikulum KBK dianggap memperoleh hasil yang kurang sempurna, sehingga perlu dilakukan penyempurnaan. Hasil yang kurang sempurna dipengaruhi oleh beberapa faktor (Muslich dalam Muzamiroh, 2013 : 48). Faktor yang pertama yaitu konsep KBK belum dipahami dengan benar oleh guru sehingga penjabaran materi dan program pengajaran tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kedua, guru mengalami kebingungan dalam penerapannya karena draf kurikulum terus menerus mengalami perubahan. Ketiga, guru hanya mengandalkan pengalaman yang telah dimiliki untuk mengajar karena belum adanya panduan strategi pembelajaran yang bisa digunakan. Tabel 2.2

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 menunjukkan reformasi pendidikan yang terjadi di Indonesia sejak masa orde lama, orde baru, sampai orde reformasi. Tabel 2.2 Reformasi Kurikulum Tahun Nama Kurikulum Orde Lama 1947 Rencana Pembelajaran 1947 1952 Rencana pelajaran terurai 1952 Orde Baru 1968 Kurikulum 1968 1975 Kurikulum 1975 1984 Kurikulum 1984 1994 Kurikulum 1994 Orde Reformasi 2004 Kurikulum 2004 2006 Kurikulum 2006 Ide pokok Memuat dua hal pokok, yaitu daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, serta garis-garis besar pengajarannya. Garis-garis besar pengajarannya pada saat itu menekankan pada cara guru mengajar dan murid mempelajari Rencana pelajaran pada setiap mata pelajaran dibuat lebih rinci Pendidikan pada masa ini lebih ditekankan untuk membentuk manusia pancasila sejati. Menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efektif dan efisien. Kurikulum 1975 mempertegas tujuan pembelajaran setiap mata pelajaran. Dalam kurikulum 1984 siswa diposisikan sebagai subyek belajar dari hal-hal yang bersifat mengamati, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan, menjadi bagian penting proses belajar mengajar, inilah yang disebut konsep Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Kurikulum 1994 menggunakan pendekatan proses. Kurikulum ini pun dimasukkan muatan lokal, yang berfungsi mengembangkan kemampuan siswa yang dianggap perlu oleh daerahnya. Kurikulum ini menekankan kepada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. Strategi pengembangan dalam kurikulum 2006 mewujudkan sekolah yang efektif, produktif, dan berprestasi. Model pembelajaran yang digunakan yaitu model pembelajaran tematik dan model pendekatan mata pelajaran. Tabel 2.2 menunjukkan reformasi kurikulum yang terjadi sejak masa orde lama, orde baru, hingga orde reformasi. Reformasi kurikulum yang terjadi pada masa orde lama yakni pada tahun 1947 dan tahun 1952. Nama kurikulum pada tahun 1947 yaitu rencana pembelajaran 1947, sedangkan tahun 1952 yaitu rencana pelajaran terurai 1952. Reformasi kurikulum yang terjadi pada masa orde baru yaitu kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984, kurikulum 1994.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 Reformasi kurikulum yang terjadi pada orde reformasi yaitu kurikulum 2004 dan kurikulum 2006. 4. Kurikulum 2013 dan Kurikulum 2006 Berbagai perubahan dan pengembangan kurikulum dilakukan untuk menjawab tantangan zaman yang terus berubah agar peserta didik mampu bersaing di masa depan, dalam konteks nasional maupun global (Mulyasa, 2013: 169). Perlunya perubahan dan pengembangan kurikulum 2013 ini mendapat dorongan dari beberapa hasil studi internasional. Data yang diperoleh dari Programme for International Student Assesment (PISA) pada tahun 2009 menunjukkan bahwa Indonesia mendapat peringkat 10 besar di bawah dari 65 negara peserta PISA (Mulyasa, 2013: 60). Hasil tersebut menjelaskan bahwa diperlukan adanya perubahan kurikulum di Indonesia, dari kurikulum 2006 atau yang lebih dikenal dengan sebutan kurikulum KTSP menjadi kurikulum 2013. Perubahan tersebut perlu dilakukan, mengingat adanya kelemahan-kelemahan dalam kurikulum KTSP. Kelemahan-kelemahan kurikulum KTSP menurut Mulyasa (2013: 60-61) yang pertama ialah masih adanya mata pelajaran dengan kesukaran yang melampui tingkat perkembangan anak. Kedua, kompetensi yang dikembangkan belum sesuai dengan visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional. Kelemahan yang ketiga yaitu kompetensi yang dikembangkan belum menggambarkan pribadi siswa sepenuhnya seperti pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Keempat, kompetensi-kompetensi yang sesuai dengan perkembangan masyarakat belum terakomodasi di dalam kurikulum. Kelima, kurikulum belum tanggap dengan

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 berbagai perubahan sosial. Keenam, pembelajaran berpusat pada guru karena urutan pelajaran belum dirinci dengan baik. Ketujuh, penilaian yang dilakukan belum menggunakan standar penilaian berbasis kompetensi, serta layanan remediasi dan pengayaan belum diberikan dengan tegas. Majid (2014: 28) menjelaskan bahwa kurikulum 2013 yang akan diberlakukan ini sejalan dengan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu. Pengembangan kurikulum sesuai dengan ketentuan yuridis yang mewajibkan adanya perubahan kurikulum baru, landasan filosofis, serta landasan empiris (Majid, 2014: 29). Landasan yuridis atau yang menjadi dasar untuk mengembangkan kurikulum yaitu Undang-undang Dasar 1945, Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah Nomor 19 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Landasan filosofis pada pengembangan kurikulum 2013 yakni pancasila. Pancasila digunakan sebagai falsafah bangsa dan negara yang menjadi sumber utama dan penentu arah yang akan dicapai dalam kurikulum. Landasan empiris pada perkembangan kurikulum ini harus mampu membentuk siswa di seluruh Indonesia untuk menyeimbangkan kebutuhan individu dan masyarakat demi kebutuhan berintegrasi sebagai satu entitas bangsa Indonesia. Landasan teoritis pada pengembangan kurikulum dikembangkan agar siswa dapat mencapai kualitas standar nasional diatasnya. Kurikulum dirancang bagi siswa untuk mengembangkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan.

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 Keempat landasan tersebut dijadikan landasan untuk mengembangkan kurikulum 2013. Kurikulum 2013 memiliki beberapa perbedaan dengan kurikulum 2006. Perubahan kurikulum 2013 dapat dikaji perbendaannya dengan kurikulum KTSP (kurikulum 2006). Tabel 2.3 menjelaskan perbedaan kurikulum KTSP dan kurikulum 2013: Tabel 2. 3 Perbedaan Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013 Kurikulum 2006 Mata pelajaran tertentu mendukung kompetensi tertentu. Mata pelajaran dirancang berdiri sendiri dan memiliki kompetensi dasar sendiri. Bahasa Indonesia sejajar dengan mapel lain. Tiap mata pelajaran diajarkan dengan pendekatan berbeda. Tiap jenis konten pembelajaran diajarkan terpisah (separated curriculum). Tematik untuk kelas I–III (belum integratif). Kurikulum 2013 Tiap mata pelajaran mendukung semua kompetensi (sikap, keterampilan, pengetahuan). Mata pelajaran dirancang terkait satu dengan yang lain dan memiliki kompetensi dasar yang diikat oleh kompetensi dasar yang diikat oleh kompetensi inti tiap kelas. Bahasa Indonesia sebagai penghela mapel lain (sikap dan keterampilan berbahasa). Semua mata pelajaran diajarkan dengan pendekatan yang sama (saintifik) melalui mengamati, menanya, mencoba, menalar. Bermacam jenis konten pembelajaran diajarkan terkait dan terpadu satu sama lain (cross curriculum atau integrated curriculum). Konten ilmu pengetahuan diintegasikan dan dijadikan penggerak konten pembelajaran lainnya. Tematik integratif untuk kelas I-VI. Tabel 2.3 menunjukkan bahwa terdapat beberapa perbedaan pada kurikulum 2006 dan kurikulum 2013. Pembelajaran pada kurikulum 2006 dilakukan secara tematik, namun belum terintegratif. Pembelajaran tematik hanya diterapkan pada kelas 1-3. Keterkaitan antar mata pelajaran yang satu dengan lainnya belum nampak, masih terlihat berdiri sendiri. Mata pelajaran tertentu mendukung kompetensi tertentu. Pembelajaran pada kurikulum 2013, dilakukan dengan menerapkan pembelajaran tematik secara terintegratif untuk kelas 1-6. Mata pelajaran yang

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 disampaikan saling terkait dan kemudian disatukan dengan menggunakan kompetensi inti. Tiap mata pelajaran mendukung semua kompetensi, baik itu sikap, keterampilan, ataupun pengetahuan. Perbedaan lain antara kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya menurut Mulyasa (2013: 170-171) antara lain: a. Tematik-integratif Pembelajaran tematik sudah diterapkan di kurikulum 2006 sebelum diimplementasikan pada kurikulum 2013. Pembelajaran tematik integratif pada kurikulum 2006 diterapkan pada kelas bawah, sedangkan mata pelajaran yang disajikan masih terkesan terpisah-pisah atau berdiri sendiri. Berbeda halnya dengan kurikulum 2013 saat ini, mata pelajaran yang disajikan berdasarkan tema dimana mata pelajaran yang satu dengan yang lainnya saling terkait. Proses pembelajaran siswa yang mempelajari banyak materi dapat mengurangi kesan mata pelajaran yang terpisah-pisah dan berdiri sendiri. b. Delapan Mata Pelajaran Mata pelajaran yang disajikan pada kurikulum 2006 di tingkat sekolah dasar sebanyak 10 mata pelajaran. Kesepuluh mata pelajaran tersebut ialah Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Seni Budaya dan Keterampilan, Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan, Muatan Lokal, dan Pengembangan Diri. Banyaknya mata pelajaran yang disajikan tersebut, dipadatkan lagi menjadi 8 mata pelajaran pada kurikulum 2013. Kedelapan mata pelajaran tersebut ialah IPA, IPS, Seni Budaya, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Bahasa Kewarganegaraan, Pendidikan Agama. Indonesia, Matematika, Pendidikan

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 c. Pramuka sebagai Ekstrakurikuler Wajib Pramuka merupakan ekstrakurikuler yang diwajibkan dan diatur dalam undang-undang sehubungan dengan diterapkannya kurikulum 2013. Ekstrakurikuler pramuka ini diwajibkan untuk pendidikan tingkat dasar dan pendidikan tingkat menengah. Layanan secara profesional dalam implementasi pramuka terus ditingkatkan dengan melakukan kerjasama antara Kemendikbud dan Kemenpora. d. Bahasa Inggris hanya Ekstrakurikuler Bahasa inggris dikhawatirkan akan menjadi beban bagi siswa, maka dari itu bahasa inggris dihapuskan dari kurikulum SD. Penguasaan Bahasa Indonesia lebih diprioritaskan. Tahap selanjutnya dengan memasukkan bahasa inggris dalam kegiatan ekstrakurikuler. e. Belajar Disekolah Lebih Lama Siswa menjadi belajar lebih lama disekolah. Pemadatan mata pelajaran dalam kurikulum 2013 bukan mengurangi jam belajar siswa. Siswa tidak akan kerepotan membawa buku banyak, sebab dalam kurikulum 2013 untuk semua pelajaran dijadikan satu buku. Keseluruhan perbedaan tersebut dijadikan sebagai pelengkap kurikulum satu dengan lainnya. Penyempurnaan kurikulum dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas pendidikan nasional Indonesia. Pengembangan kurikulum 2013 tidak menjadikan kurikulum 2013 jauh lebih baik dari kurikulum sebelumnya, namun untuk lebih tepatnya sebagai penyempurna dari kurikulum KTSP (2006).

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 5. Pembelajaran Terpadu Pembelajaran terpadu ialah suatu pendekatan yang mengaitkan beberapa aspek dalam pembelajaran baik intra ataupun antar mata pelajaran (Prastowo, 2013: 106). Pengertian lain disampaikan oleh Dewey dalam (Prastowo, 2013: 108) bahwa pembelajaran terpadu adalah suatu pendekatan yang digunakan untuk mengembangkan pengetahuan siswa dan membentuk pengetahuan berdasarkan interaksi dengan lingkungan dan pengalaman dalam kehidupan. Peneliti menyimpulkan bahwa pembelajaran terpadu adalah suatu pendekatan yang digunakan untuk mengembangkan dan membentuk pengetahuan siswa dengan mengaitkan beberapa aspek, termasuk berinteraksi dengan lingkungannya. Ciri-ciri pembelajaran terpadu diungkapkan oleh (Karli dan Margaretha dalam Indrawati, 2009: 22) yaitu bersifat holistik, bermakna, dan aktif. Holistik, maksudnya suatu peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu dikaji dari beberapa bidang studi sekaligus untuk memahami suatu fenomena dari segala sisi. Bermakna, karena siswa akan memahami konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung. Pembelajaran bersifat aktif maksudnya ialah, siswa sendiri yang terlibat dalam proses kegiatan belajar mengajar. Fogarty (dalam Prastowo, 2013: 109) menyebutkan bahwa dalam merencanakan pembelajaran terpadu, yaitu fragmented, connected, nested, sequenced, shared, webbed, threaded, integrated, immersed, dan networked. Model yang pertama ialah Fragmented (Model Penggalan). Fogarty (dalam Prastowo, 2013: 109) menyatakan bahwa model ini ditandai dengan pemanduan yang hanya terbatas pada satu mata pelajaran. Misalnya, dalam mata pelajaran

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 Indonesia terdapat materi membaca, menyimak, menulis, dan berbicara. Keempat materi tersebut sebenarnya dapat disampaikan dalam waktu yang sama dengan memadukan materi tersebut dalam keterampilan berbahasa. Pelaksanaan pembelajaran dengan model penggalan dilaksanakan secara terpisah-pisah dan dalam waktu atau jam yang berbeda. Fogarty (dalam Prastowo, 2013: 109) menjelaskan model pembelajaran terpadu yang kedua adalah Connected (Model Keterhubungan). Model Connected dilandasi oleh butir-butir pembelajaran yang dapat dipayungkan pada satu induk mata pelajaran tertentu. Misalnya, materi membaca, berbicara, menyimak, dan menulis dapat dijadikan satu pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Keunggulan model keterhubungan ialah konsep-konsep utama saling terhubung satu sama lain. Kelemahan dari model keterhubungan ialah disiplin-disiplin ilmu yang tidak berkaitan dan konten tetap berfokus pada satu disiplin. Ketiga adalah Nested (Model Sarang). Model nested merupakan pemanduan berbagai macam penguasaan konsep keterampilan yang meliputi sosial, berpikir dan konten dicapai dalam satu mata pelajaran (Fogarty dalam Prastowo, 2013: 109). Kelebihan model nested yaitu memberikan perhatian pada pelajaranpelajaran yang berbeda tetapi dalam waktu yang bersamaan, sehingga dapat memperkaya dan memperluas pengetahuan. Kelemahan dari model ini yaitu adanya kemungkinan siswa menjadi bingung mengenai konsep utama yang diberikan karena beberapa konsep dijadikan dalam satu mata pelajaran. Keempat adalah Sequenced (Model urutan / Rangkaian). Fogarty (dalam Prastowo, 2013: 109) menjelaskan bahwa model ini merupakan pemanduan topik-

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 topik antarmata pelajaran yang berbeda secara paralel. Maksudnya ialah, pelajaran yang mempunyai topik yang sama kemudian dipadukan dalam satu pelajaran secara bersamaan. Kelebihan model sequenced memberikan fasilitasi dalam mentransfer pembelajaran untuk melintasi beberapa mata pelajaran. Kelemahannya adalah guru hanya memiliki sedikit otonomi untuk merancang kurikulum, sehingga dibutuhkan kolaborasi secara terus menerus dan kelenturan yang tinggi. Kelima adalah Shared (Model Bagian). Model ini merupakan suatu bentuk pemanduan, dimana pembelajaran mengalami overlapping konsep pada dua mata pelajaran atau lebih (Fogarty dalam Prastowo, 2013: 109). Kelebihannya yaitu akan lebih mudah ketika melakukan kolaborasi, karena ada pengalaman instruksional bersama dua orang guru dalam tim. Kelemahannya yaitu membutuhkan waktu, kelenturan, komitmen, dan kompromi dalam melakukan kolaborasi. Keenam adalah Webbed (Model Jaringan Laba-laba). Model ini merupakan model yang paling banyak digunakan dan lebih dikenal (Fogarty dalam Prastowo, 2013: 109). Pemanduan dilakukan dengan menggunakan pembelajaran tematik yang dikaitkan dengan tema-tema tertentu. Kelebihan model webbed yaitu memberikan motivasi pada siswa dan membantu siswa dalam melilhat relasi antargagasan. Kelemahannya yaitu pemilihan tema harus benar-benar selektif agar berarti dan relevan dengan konten. Ketujuh adalah Threaded (Model Galur). Model ini merupakan suatu model pemanduan dalam bentuk keterampilan (Fogarty dalam Prastowo, 2013: 109).

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 Keterampilan-keterampilan tersebut meliputi sosial, berpikir, berbagai jenis kecerdasan dan keterampilan belajar. Kelebihan dari model pembelajaran threaded adalah siswa menjadi mampu mempelajari cara mereka belajar. Delapan adalah Integrated (Model integrated). Model integrated merupakan pemanduan beberapa topik dari mata pelajaran yang berbeda-beda dengan esensi yang sama dalam sebuah topik tertentu (Fogarty dalam Prastowo, 2013: 109). Penerapannya dalam pembelajaran misalnya mengambil topik tenggang rasa. Topik tersebut semula terdapat dalam mata pelajaran PKn dan agama, maka supaya tidak tidak terjadi tumpang tindih muatan kurikulum cukup diletakkan dalam mata pelajaran tertentu saja, misal PKn. Kelebihan model integrated memberikan motivasi dan dorongan kepada siswa untuk melihat keterkaitan dan ketersalinghubungan di antara disiplin-disiplin ilmu. Kelemahan model integrated yaitu dibutuhkan tim antar bidang studi yang memiliki perencanaan dan waktu pengajaran yang sama. Sembilan adalah Immersed atau model celupan. Fogarty dalam (Prastowo, 2013: 109) menjelaskan bahwa model ini dirancang untuk membantu siswa dalam menyaring dan memadukan berbagai pengalaman dan pengetahuan. Kelebihannya, siswa sendiri yang melakukan perpaduan sedangkan kelemahannya yaitu siswa menjadi kurang fokus. Fogarty (dalam Prastowo, 2013: 109) menjelaskan bahwa model yang kesepuluh yaitu networked atau model jaringan. Siswa melakukan pemaduan topik yang dipelajari melalui pemilihan jejaring pakar dan sumber daya. Model ini juga memiliki kelebihan dan kelemahan seperti model-model yang lain. Kelebihan

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 dari model jaringan adalah pembelajaran yang berlangsung menjadi bersikap proaktif, sehingga siswa terstimulasi oleh informasi, keterampilan dan konsepkonsep baru. Kelemahannya adalah upaya-upaya menjadi tidak efektif sehingga perhatian siswa dalam pembelajaran dapat terpecah. Kesepuluh model pembelajaran terpadu terangkum dalam tabel 2.4 menurut Forgarty (dalam Indrawati, 2009: 19). Tabel 2.4 Model Pembelajaran Terpadu Nama Model Terpisah (Fragmented) Deskripsi Berbagai disiplin ilmu yang berbeda dan saling terpisah. Kelebihan Adanya kejelasan pandangan yang terpisah dalam suatu mata pelajaran. Kelemahan Keterhubungan menjadi tidak jelas; lebih sedikit transfer pembelajaran. Keterkaitan / keterhubungan (Connected) Topik-topik dalam satu disiplin ilmu berhubungan satu sama lain. Konsep-konsep utama saling terhubung, mengarah pada pengulangan (review), rekonseptualisasi, dan gagasan-gagasan dalam suatu disiplin. Disiplin-disiplin ilmu tidak berkaitan; kontent tetap tefokus pada satu disiplin ilmu. Berbentuk Sarang / kumpulan (Nested) Keterampilanketerampilan sosial, berpikir, dan kontent (contents skill) dicapai di dalam satu mata pelajaran. Memberi perhatian pada berbagaai mata pelajaran yang berbeda dalam waktu yang bersamaan, memperkaya dan memperluas pembelajaran. Pelajar dapat menjadi bingung dan kehilangan arah mengenai konsepkonsep utama dari suatu kegiatan atau pelajaran. Dalam satu rangkaian (Sequence) Persamaan-persamaan yang ada diajarkan secara bersamaan meskipun termasuk ke dalam mata pelajaran yang berbeda. Memfasilitasi transfer pembelajaran melintasi beberapa mata pelajaran. Perencanaan tim dan atau pengajaran yang melibatkan dua disiplin difokuskan pada konsep keterampilan, dan sikap-sikap yang sama. Pengajaran tematis, menggunakan suatu tema sebagai dasar Terdapat pengalamanpengalaman instruksional bersama; dengan dua orang guru di dalam satu tim, akan lebih mudah untuk berkolaborasi. Dapat memotivasi muridmurid; membantu muridmurid untuk melihat Membutuhkan kolaborasi yang terus menerus dan kelenturan (fleksibilitaas) yang tinggi karena guruguru memiliki lebih sedikit otonomi untuk mengurutkan (merancang) kurikula. Membutuhkan waktu, kelenturan, komitmen, dan kompromi. Terbagi (Shared) Bebentuk jaring labalaba (Webbed) Tema yang digunakan harus dipilih baikbaik secara selektif

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Nama Model Deskripsi pembelajaran dalam berbagai disiplin mata pelajaran. Kelebihan keterhubungan antar gagasan. Kelemahan agar menjadi berarti, juga relevan dengan kontent. Dalam satu alur (Threaded) Keterampilanketerampilan belajar direntangkan melalui berbagai disiplin. Siswa mempelajari cara mereka belajar, memfasilitasi transfer pembelajaran selanjutnya. Disiplin ilmu yang bersangkutan tetap terpisah satu sama lain. Terpadu (Integrated) Dalam berbagai prioritas yang saling tumpang tindih dalam berbagai disiplin ilmu, dicari keterampilan, konsep, dan sikap-sikap yang sama. Pelajar memadukan apa yang dipelajari dengan cara memandang seluruh pengajaran melalui perspektif bidang yang disukai (area of interest). Mendorong siswa untuk melihat keterkaitan dan kesalingterhubungan di antara disiplin-disiplin ilmu; siswa termotivasi dengan melihat berbagai keterkaitan tersebut. Keterpaduan berlangsung di dalam siswa itu sendiri. Membutuhkan tim antar departemen yang memiliki perencanaan dan waktu pengajaran yang sama. Immersed 30 Dapat mempersempit fokus siswa tersebut. Tabel 2.4 menjelaskan tentang model pembelajaran terpadu. Model pembelajaran tersebut yaitu fragmented, connected, nested, sequence, shared, webbed, threaded, integrated, immersed. Model yang sering digunakan yaitu webbed dan integrated. Masing-masing mempunyai kelebihan sendiri-sendiri. Kelebihan dari webbed yaitu dapat memotivasi murid-murid; membantu muridmurid untuk melihat keterhubungan antar gagasan, sedangkan kelebihan dari integrated yakni mendorong siswa untuk melihat keterkaitan dan kesalingterhubungan di antara disiplin-disiplin ilmu; siswa termotivasi dengan melihat berbagai keterkaitan tersebut.

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 6. Pembelajaran Tematik a. Pengertian Pembelajaran Tematik Anak dipandang sebagai salah salah satu sumber untuk menentukan apa yang akan dijadikan bahan ajar selanjutnya supaya kemampuan dasar anak dapat dikembangkan dengan baik. Kemampuan dasar anak dapat dikembangkan dengan merancang kurikulum dan pembelajaran tematik (Majid, 2014: 4). Pembelajaran tematik merupakan suatu strategi yang melibatkan beberapa mata pelajaran, sehingga siswa mendapatkan pengalaman yang bermakna (Majid, 2014: 4). Pendapat lain dikemukakan oleh Depdiknas (dalam Trianto, 2011: 147) bahwa pembelajaran tematik adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran, sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema dalam pembelajaran tematik ini maksudnya ialah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi inti pembicaraan atau pembahasan dalam kegiatan pembelajaran (Hajar, 2013: 22). Peneliti menyimpulkan pendapat dari para ahli bahwa pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran, sehingga siswa akan memperoleh pengalaman yang bermakna. Depdiknas (2009: 8) menyebutkan ada tiga landasan diterapkannya pembelajaran tematik. Landasan tersebut antara lain landasan filosofis, landasan psikologis, dan landasan yuridis. Penjelasan mengenai ketiga landasan tersebut ada pada tabel 2.5.

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 Tabel 2.5 Landasan Pembelajaran Tematik Landasan Filosofis a. Progresivisme, aliran ini memandang bahwa proses pembelajaran lebih ditekankan pada pembentukan kreativitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah, dan memperhatikan pengalaman siswa. b. Konstruktivisme, kunci utama dalam pembelajaran adalah pengalaman langsung siswa. c. Humanisme, melihat siswa dari keunikan/kekhasannya, potensi, dan motivasi yang dimilikinya. Landasan Psikologis a. Psikologi perkembangan, psikologi ini diperlukan untuk menentukan isi dari materi pembelajaran yang disajikan agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan siswa. b. Psikologi belajar, diperlukan untuk mengetahui bagaimana suatu materi disajikan dan bagaimana siswa mempelajarinya. Landasan Yuridis a. UU No. 23 Tahun 2002 pasal 9 tentang perlindungan anak yang menyebutkan bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan bakat dan minatnya agar pribadi dan tingkat kecerdasannya berkembang dengan baik. b. UU No. 20 Tahun 2003 bab V pasal 1-b tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat minat dan kemampuannya. Tabel 2.5 menjelaskan bahwa pembelajaran tematik memiliki tiga landasan. Landasan pertama yaitu landasan filosofis yang berisi teori-teori para ahli sesuai dengan pembelajaran tematik. Landasan kedua yaitu landasan psikologis yang berisi tentang teori psikologi berdasarkan pembelajaran tematik. Landasan yang ketiga yaitu landasan yang berisi tentang Undang-Undang yang mendasari lahirnya pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik, kini diterapkan pula pada kurikulum 2013. Kurikulum yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat karena kurikulum 2013 ini berbasis tematik integratif. Nuh (dalam Muzamiroh, 2013: 111) mengemukakan bahwa kurikulum 2013 dirancang sebagai upaya untuk mempersiapkan genarasi Indonesia 2045 yaitu tepatnya 100 tahun Indonesia merdeka, sekaligus memanfaatkan populasi usia produktif yang jumlahnya sangat melimpah agar menjadi bonus demografi dan tidak menjadi bencana demografi. Kurikulum 2013 ini rencananya akan mulai diterapkan pada tahun ajaran 2013/2014. Jumlah mata

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 pelajaran pada kurikulum 2013 akan dikurangi sehingga tidak lagi membebani siswa. Muzamiroh (2013: 119) mengungkapkan bahwa harapan dari kurikulum 2013 ini adalah untuk menyiapkan generasi yang handal, inovatif dan berkarakter. b. Keuntungan dan kelemahan Pembelajaran Tematik Pembelajaran tematik mempunyai banyak keuntungan. Keuntungan- keuntungan tersebut antara lain: a) siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu, b) siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama, c) pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan, d) kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa, e) siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas (Depdiknas, 2009: 7). Berbagai keuntungan juga diungkapkan oleh Trianto (2011: 160) antara lain: a) Dapat lebih memfokuskan diri pada proses belajar, daripada hasil belajar. b) Menghilangkan batas semu antarbagian kurikulum dan menyediakan pendekatan proses belajar yang integratif. c) Menyediakan kurikulum yang berpusat pada siswa yang dikaitkan dengan minat, kebutuhan, dan kecerdasan; mereka didorong untuk membuat keputusan sendiri dan bertanggung jawab pada keberhasilan belajar. e) Merangsang penemuan dan penyelidikan mandiri di dalam dan di luar kelas. f) Membantu siswa membangun hubungan antara konsep dan ide, sehingga meningkatkan apresiasi dan pemahaman.

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 Peneliti menyimpulkan keuntungan dari pembelajaran tematik berdasarkan penjelasan dari para ahli. Keuntungannya adalah pembelajaran lebih berpusat pada siswa, dimana siswa belajar, mencari, memecahkan masalah serta bertanggung jawab untuk menentukan keberhasilannya. Kenyataannya, pembelajaran tematik tidak hanya memberikan berbagai keuntungan saja melainkan juga memberikan berbagai keterbatasan. Puskur (dalam Trianto, 2009: 90-91) mengidentifikasi adanya keterbatasan dalam pelaksanaan pembelajaran tematik. Keterbatasan tersebut meliputi aspek guru yang diharuskan supaya memiliki wawasan yang luas, kreatif, percaya diri dan mampu mengembangkan materi yang akan disajikan. Penguasaan bahan ajar tidak terfokus pada bidang kajian tertentu saja, maka dari itu guru dianjurkan untuk banyak membaca buku agar pengetahuan dan informasi yang dimiliki semakin banyak. Pembelajaran tematik menuntut peserta didik untuk memiliki kemampuan akademik dan kreativitas yang baik. Tuntutan ini terjadi karena pembelajaran tematik lebih menekankan pada kemampuan analitik (menghubungkan), asosiatif (menghubung-hubungkan), aksploratif dan elaboratif (menemukan dan menghubungkan). Sarana dan sumber pembelajaran tematik terbatas pada wawasan yang belum berkembang. Pengembangan wawasan dapat dilakukan dengan cara memperbanyak bahan bacaan. Keterbatasan selanjutnya yaitu ditinjau dari aspek kurikulum. Kurikulum yang digunakan lebih berorientasi pada pemahaman peserta didik. Aspek penilaian, dibutuhkan cara penilaian yang menyeluruh (komprehensif) yaitu menetapkan keberhasilan belajar peserta didik berdasarkan beberapa bidang kajian terkait yang dipadukan. Penilaian yang

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 menyeluruh ini menjadi tugas dan tuntutan bagi guru untuk mempersiapkan teknik dan prosedur pelaksanaan yang akan digunakan. Keterbatasan yang terakhir, apabila ditinjau dari aspek suasana pembelajaran. Suasana pembelajaran tematik masih mengutamakan bidang kajian tertentu sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki oleh guru. Beberapa keterbatasan yang telah dipaparkan perlu diperhatikan oleh para guru sehingga dalam pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik. Keterbatasan tersebut perlu dipelajari oleh guru supaya penerapan pembelajaran tematik dapat terwujud. 7. Implikasi Pembelajaran Tematik Penerapan pembelajaran tematik ternyata tidak mudah, maka dari itu pembelajaran tematik ini membawa implikasi pada berbagai pihak. Depdiknas (2009: 11-12) menyatakan bahwa implementasi pembelajaran tematik di sekolah dasar mempunyai berbagai implikasi. Implikasi yang pertama adalah Implikasi bagi guru, dimana diperlukan kekreatifan dari seorang guru supaya suasana pembelajaran menjadi lebih menarik, bermakna, dan menyenangkan. Kedua adalah Implikasi bagi siswa, dimana siswa harus selalu siap dan aktif dalam mengikuti pembelajaran. Ketiga adalah Implikasi terhadap sarana, prasarana, sumber belajar dan media. Implikasi ini pada hakekatnya menekan kan pada siswa baik secara individu ataupun kelompok untuk aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik. Pembelajaran ini perlu memanfaatkan berbagai sumber belajar baik yang sifatnya didesain

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 secara khusus untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran (by design), maupun sumber belajar yang tersedia di lingkungan yang dapat dimanfaatkan (by utilization). Pembelajaran tematik juga perlu mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran yang bervasriasi sehingga akan membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang abstrak. Penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar masih dapat menggunakan buku ajar yang sudah ada saat ini untuk masingmasing mata pelajaran dan dimungkinkan pula untuk menggunakan buku suplemen khusus yang memuat bahan ajar yang terintegrasi. Keempat adalah Implikasi terhadap pengaturan Ruangan. Implikasi ini perlu melakukan pengaturan ruang ketika pelaksanaan kegiatan pembelajaran tematik supaya suasana belajar lebih menyenangkan. Pengaturan ruang tersebut meliputi ruang perlu ditata disesuaikan dengan tema yang sedang dilaksanakan, susunan bangku peserta didik dapat berubah-ubah disesuaikan dengan keperluan pembelajaran yang sedang berlangsung, peserta didik tidak selalu duduk di kursi tetapi dapat duduk di tikar/karpet. Kelima adalah Implikasi terhadap pemilihan metode. Metode merupakan bentuk upaya yang dilakukan oleh guru untuk mengimplementasikan rencana yang telah disusun agar tujuan pembelajaran tercipta secara optimal (Trianto, 2010: 132). Pembelajaran yang disampaikan perlu disiapkan dalam berbagai variasi kegiatan dengan menggunakan multi metode, misalnya: percobaan, bermain peran, Tanya jawab, demonstrasi, bercakap-cakap (Depdiknas, 2009: 12).

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 8. Karakteristik Pembelajaran Tematik Depdiknas (2009) menyatakan bahwa karakteristik pembelajaran tematik yaitu berpusat pada siswa, memberikan pengalaman langsung, pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas, menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran, bersifat fleksibel, hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa, menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan. Pandangan lain diungkapkan oleh Depdiknas dalam (Trianto, 2011: 162) ciri-ciri pembelajaran tematik adalah pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar; kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan siswa; kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama; membantu mengembangkan keterampilan berpikir siswa; menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dalam lingkungannya; dan mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti kerja sama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain. 9. Faktor-faktor yang mempengaruhi Pelaksanaan Reformasi Faktor yang mempengaruhi reformasi salah satunya adalah faktor demografi. Faktor demografi merupakan ilmu yang memberikan uraian atau gambaran statistik mengenai suatu bangsa dilihat dari sudut sosial (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008: 309). Data susunan, jumlah, dan perkembangan penduduk dapat diambil dengan menggunakan statistik dan penggolongan. Penggolongan tersebut

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 berdasarkan pada kelas sosial, agama, umur, tempat, pendidikan, dan sebagainya. Setiap anggota masyarakat memiliki status yang berbeda-beda apabila dilihat berdasarkan penggolongan di atas. Chairunniza (2012: 10) menyebutkan karakteristik demografi pegawai yaitu usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pernikahan, status kepegawaian, masa kerja, dan pelatihan yang diikuti. Wexley dalam (Chaerunniza, 2012: 11) menjelaskan bahwa usia 20-30 tahun memiliki motivasi kerja yang relatif rendah dibandingkan dengan pekerja yang lebih tua. Pekerja yang lebih tua lebih mempunyai rasa keterikatan atau komitmen dengan suatu organisasi dibandingkan dengan pekerja yang lebih muda (Dyne dan Graham dalam Widjayanti, 2012). Usia tua lebih sedikit kesempatannya dalam menemukan organisasi daripada usia muda. Usia yang lebih tua akan menunjukkan tingkat kedewasaan seseorang dalam mengambil keputusan, berpikir, mengendalikan emosi dengan bijaksana serta kemampuan memecahkan masalah. Kemampuan memecahkan masalah yang dimiliki seseorang tidak dibedakan berdasarkan wanita atau pria (Robbins dalam Widjayanti, 2012). Studi-studi psikologi menyatakan bahwa pria lebih agresif dan memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk sukses dari pada wanita yang hanya bersedia untuk mematuhi wewenang. Chaerunniza (2012: 12) menyatakan bahwa tidak ada perbedaan produktivitas kerja antara wanita maupun pekerja pria. Peneliti menyimpulkan bahwa jenis kelamin tidak mempengaruhi produktivitas kerja dalam pemenuhan kebutuhan.

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 Kemampuan pemenuhan kebutuhan juga tidak dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan yang dimiliki (Surani dalam Chaerunniza, 2012: 12). Latar belakang yang dimaksud yaitu tingkat pendidikan terakhir seseorang. Status kepegawaian merupakan faktor demografi selanjutnya dilanjutkan dengan masa kerja. UndangUndang ketenagakerjaan membagi status kepegawaian dibagi menjadi dua yaitu pegawai terikat dengan perjanjian kerja tidak tentu dan pegawai kontrak. Masa kerja iibaratkan sebagai pengalaman kerja yang merupakan rangkuman pelajaran yang telah diambil oleh seseorang berdasarkan kejadian yang telah dilalui pada masa mengajar (Sihombing dalam Chaerunniza, 2012: 13). Masa kerja yang dimiliki, tentu saja melalui proses pelatihan terlebih dahulu. Pelatihan atau training memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap efektifitas suatu sekolah (Musfah, 2011: 61). Penelitian ini hanya berfokus pada pengalaman menggunakan pembelajaran tematik dan jumlah jam training pembelajaran tematik. Chairunniza (2012: 14) menjelaskan bahwa pelatihan relevan dengan tugas. Pelatihan bagi karyawan merupakan sebuah proses untuk mengajarkan pengetahuan dan keahlian tertentu serta sikap agar karyawan semakin terampil dan mampu melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik. B. Hasil Penelitian yang Relevan Primasari (2011) melakukan penelitian tentang pembelajaran tematik. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bersifat kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode triangulasi,

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 yaitu dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah panduan pertanyaan wawancara, lembar observasi, catatan anekdotal, dan soal tes tertulis. Langkah pertama adalah (1) mendeskripsikan kondisi awal, (2) mendeskripsikan proses siklus I, (3) mendeskripsikan proses siklus II, (4) membandingkan competence, conscience, dan compassion peserta didik kelas II SD Kanisius Gayam sebelum dan sesudah penerapan PPR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada akhir siklus I, competence dan conscience peserta didik telah mengalami peningkatan. Sedangkan compassion peserta didik belum mengalami peningkatan. Akhir siklus II, competence, conscience, dan compassion peserta didik mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus I. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan nilai akhir pada mata pelajaran PKn, yaitu sebesar 70,58 sebelum ada tindakan, menjadi 72,73 pada akhir siklus I, dan menjadi 82,59 pada akhir siklus II. Mata pelajaran matematika juga mengalami peningkatan nilai, yaitu 66,38 sebelum ada tindakan, menjadi 70,22 pada akhir siklus I, dan menjadi 84,04 pada akhir siklus II. Penelitian lain dilakukan oleh Laela (2006) tentang pembelajaran terintegrasi (Integrated Learning). Analisis GBPP IPA kelas 5 SD pada Semester I: “Makanan, Alat Pencernaan, dan Kesehatan”. Tampak bahwa pengetahuan tentang makanan belum berorientasi pada ketahanan pangan. Pendidikan ketahanan pangan tersebut sangat penting untuk dipahami oleh siswa sejak dini, maka pendidikan ketahanan pangan ini perlu diintegrasikan dalam kurikulum SD. Model yang ditawarkan dalam kajian ini adalah model yang menggunakan tema

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 dalam merencanakan pembelajaran (model tematik/webbed model). Model tematik ini cukup memberi peluang untuk pelibatan berbagai pengalaman siswa, karena tema-tema yang diangkat bisa dipilih dari hal-hal yang dikemukakan siswa (felt need). Guru mengembangkan aktivitas belajar yang mengacu pada kecerdasan multiple karena memberikan pilihan-pilihan (choices), mengorganisasi siswa dalam kelompok-kelompok kecil (collaboration), dan menyediakan kesempatan pada siswa untuk menghasilkan produk nyata untuk sasaran yang nyata (mastery/application level). Hidayattullah (2012) juga melakukan penelitian tentang pelaksanaan pembelajaran tematik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran tematik SD kelas rendah di Kecamatan Pandanarum Kabupaten Banjarnegara. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan ada tiga tahap, yaitu reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam setiap perencanaan guru hanya mempersiapkan perangkat pembelajaran berupa RPP, buku-buku penunjang materi, dan alat peraga. Tahap pelaksanaan pembelajaran tematik dilaksanakan msaih terpisah-pisah antar materi dari masing-masing mata pelajaran. Tahap evaluasi dilakukan secara terpisah tiap kompetensi dasar dan dilaksanakan pada kegiatan awal, kegiatan inti, atau akhir. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Munawaroh (2008) tentang model pembelajaran tematik untuk mengembangkan ketrampilan berfikir kritis. Teknik

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, angket, wawancara, tes, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran tematik dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilihat dari pengaruhnya terhadapat ketrampilan berfikir kritis siswa yang dilihat dari aspek kemampuan bertanya dan mengemukakan pendapat, kemampuan mencari bukti-bukti yang mendukung fakta, kemampuan beradu pendapat dengan cara yang masuk akal dan bukan dengan emosi, kemampuan mengenali adanya lebih dari satu jawaban atau penjelasan. Dilek (2002) melakukan penelian tentang thematic teaching approach based on pupil’s skill and interest and social studies teaching. Penelitian ini menginvestigasi bagaimana guru ilmu kependudukan dapat memperkenalkan kegiatan yang berpusat pada siswa dalam situasi kelas yang gaduh. Teknik penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Penelitian ini dilakukan dilakukan di program studi Pendidikan Guru Ilmu Kependudukan dan Sejarah Fakultas Pendidikan Ataturk Universitas Marmara dan SD Kartal Gurbuz Istanbul. Penelitian ini didasarkan pada cara siswa menggunakan antusiasme, minat, dan keterampilan dalam belajar subjek-subjek ilmu kependudukan dan sejarah.

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Laela.2006.Penerapan model pembelajaran terintegrasi (Integrated Learning) untuk meningkatkan pemahaman pendidikan ketahanan pangan di SD. 43 Primasari.2011.Penerapan paradigma Pedagogi Reflektif dalam pembelajaran tematik untuk meningkatkan Competence, Consience, Dan Compassion (3C). Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik oleh Guru Pengampu Kelas Bawah : Survei Bagi Guru-Guru Sekolah Dasar Katolik Kristen Dan Nasional Di Kota Yogyakarta. Isniatun munawaroh. 2008.Pengembangan model pembelajaran tematik untuk mengembangkan ketrampilan berfikir kritis siswa Sekolah Dasar kelas rendah. Dilek. 2002. Using a thematic teaching approach based on pupil’s skill and interest and social studies teaching. Hidayattuah. 2012.Pelaksaan pembelajaran tematik SD kelas rendah di kecamatan Pandanarum kabupaten Banjarnegara. Gambar 2.1 Penelitian yang Relevan Gambar 2.1 menjelaskan tentang posisi penelitian diantara penelitianpenelitian yang relevan. Kelima penelitian yang relevan sama-sama membahas tentang pembelajaran tematik. Penelitian yang relevan menjadi acuan bagi peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah: survei bagi guru-guru sekolah dasar afiliasi katolik, kristen, dan nasional di kota Yogyakarta.

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 C. Kerangka Berpikir Pemerintah melakukan reformasi sebagai upaya untuk memperbaiki pendidikan yang ada di Indonesia. Salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah yaitu dengan melakukan perubahan kurikulum. Kurikulum pendidikan di Indonesia selalu mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Tujuan dari adanya perubahan yaitu untuk meningkatkan mutu pendidikan yang ada di Indonesia supaya menjadi lebih baik lagi dan mampu menghadapi persaingan global. Perubahan tersebut dilakukan dengan cara melakukan perbaikan secara terus menerus pada kurikulum. Kurikulum terakhir yang sedang dalam masa uji coba yaitu kurikulum 2013. Kurikulum ini berbasis tematik integratif dan akan mulai diterapkan pada tahun ajaran 2013/2014. Kurikulum 2013 ini diharapkan dapat memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa sehingga akan menghasilkan nilai yang baik pula. Penerapan kurikulum baru yang menggunakan pembelajaran tematik ini ternyata tidak mudah. Kebingungan dan kesulitan para guru masih sering ditemui dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik. Materi yang disampaikan oleh guru belum secara tematik, namun masih terpisah-pisah antar mata pelajarannya. Pelatihan-pelatihan pembelajaran tematik diperlukan untuk menambah pengalaman guru dalam mengajar. Kenyataan yang ada, pelatihan dan pengalaman tentang pembelajaran menghambat proses pembelajaran. tematik ini masih kurang sehingga

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 D. Hipotesis Penelitian Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta.adalah tinggi. 2. Ada perbedaan implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. 3. Ada perbedaan implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi Katolik, Kristen dan nasional di Kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik.

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Bagian metode penelitian ini, memaparkan tentang jenis penelitian dan desain penelitian, tempat dan waktu penelitian, variabel penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, instrumen penellitian, validitas dan reliabilitas instrumen, prosedur analisis data, serta jadwal penelitian. A. Jenis Penelitian dan Desain Penelitian Peneliti menggunakan jenis penelitian non experimental cross sectional dengan metode survei. John  Christensen dalam (Rismiati, 2014: 21) menyatakan bahwa dalam penelitian non experimental desain, variabel independen tidak dapat dimanipulasi dan tidak ada ”random assigment” yang dilakukan oleh peneliti. Cross sectional merupakan kompromi antara shot method (menembak satu kali terhadap satu kasus) dan longitudinal method (menembak beberapa kali terhadap kasus yang sama) untuk memperoleh data yang lengkap (Arikunto, 2006: 9). Penelitian ini termasuk dalam kerangka penelitian yang kerangka teorinya sudah ada dan dipergunakan sebagai dasar untuk menentukan atau menginterpretasikan data. Arti dari penelitian survei menurut Kerlinger (Sugiyono, 2011: 12) yaitu suatu penelitian yang dilakukan terhadap populasi dalam jumlah besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian 46

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 relatif, distribusi, dan hubungan-hubungan relatif, distribusi, dan hubunganhubungan antar variabel sosiologis maupun psikologis Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah di sekolah dasar katolik, kristen, dan nasional di kota Yogyakarta, mengetahui perbedaan implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik, serta untuk mengetahui perbedaan implementasi pembelajaran tematik ditinjau jumlah jam training pembelajaran tematik. Gambar 3.1 menunjukkan diagram penelitian yang akan dilaksanakan oleh peneliti. X1 Y X2 Gambar 3.1 Alur Penelitian Keterangan X1 : Pengalaman menggunakan pembelajaran tematik X2 : Jumlah jam training pembelajaran tematik Y : Implementasi pembelajaran tematik B. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Waktu penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2013 sampai dengan bulan Juli 2014. Kegiatan yang dilakukan yaitu menyusun bab 1 sampai bab 3, menyebar

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 kuesioner penelitian, presentasi bab 1 sampai bab 3, mengolah dan menganalisis data penelitian, presentasi bab 1 sampai bab 5, simulasi ujian skripsi sampai ujian skripsi. 2. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada sekolah dasar afiliasi katolik, kristen, dan nasional di kota Yogyakarta yang berjumlah sebanyak 18 sekolah. Hasil pengamatan yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa terdapat 18 SD yang termasuk sekolah dasar afiliasi katolik, kristen, dan nasional di kota Yogyakarta. Penelitian ini hanya dilakukan pada 13 SD, karena sebanyak 5 SD menolak untuk dilakukan penelitian dengan berbagai alasan. C. Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah suatu objek atau kegiatan yang bervariasi dan ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2011: 38). Ada 2 jenis variabel dalam penelitian ini yaitu independent variable dan dependent variable. Independent Variable (variabel bebas) pada penelitian ini adalah faktor demografi guru, yaitu pengalaman menggunakan pembelajaran tematik dan jumlah jam training pembelajaran tematik. Independent Variable adalah variable yang mempengaruhi dependent variable ( variabel terikat) (Sugiyono, 2011: 39). Dependent variable dalam penelitian ini adalah tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah di sekolah dasar afiliasi

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 katolik, kristen, dan nasional se Kota Yogyakarta. Dependent Variable adalah variabel yang dipengaruhi oleh independent variable (Sugiyono, 2011: 39). D. Populasi dan Sampel Populasi dari penelitian ini adalah seluruh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar afiliasi katolik, kristen, dan nasional se kota Yogyakarta yang berjumlah 111 guru. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 54 responden. Populasi merupakan keseluruhan dari subjek penelitian (Arikunto, 2006:130). Arikunto (2006:131) juga menjelaskan bahwa sampel adalah bagian dari jumlah populasi yang diteliti. Penentuan sampel pada penelitian ini dibantu dengan menggunakan Table Krejcie. Table Krejcie merupakan tabel yang digunakan untuk menentukan jumlah sampel dalam penelitian. Table Krejcie (Usman dan Akbar, 2008: 362) menentukan sampel yang dibutuhkan berjumlah 86 untuk populasi sebanyak 111. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 55 responden atau 57,29% sampel yang dibutuhkan, karena adanya penolakan dari pihak sekolah untuk pengisian kuesioner. Table Krejcie secara lengkap dapat dilihat pada (Lampiran 27). Sampel dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik purposive random sampling atau gabungan dari purposive sampling dan simple random sampling. Dikatakan purposive karena penelitian ini menggunakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2011: 126). Dikatakan pula secara random sampling karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak dan sederhana tanpa memperhatikan strata yang

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 ada dalam populasi ini (Sugiyono, 2011: 122). Peneliti mengambil sampel secara acak karena peneliti tidak memperhatikan latar belakang yang dimiliki responden. E. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2011: 192). Kuesioner ini terdiri dari 7 indikator yang terdiri dari item positif dan negatif. Penelitian ini menggunakan kuesioner yang disusun dengan menggunakan Skala Likert. Skala Likert yaitu skala yang digunakan dalam melakukan pengukuran sikap, pendapat, dan persepsi seseorang (Sugiyono, 2011: 136). F. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian ini menggunakan lembar kuesioner. Lembar kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah adaptasi yang dikembangkan oleh Rismiati (2012). Lembar kuesioner tersebut digunakan untuk memperoleh data dari guru-guru sekolah dasar kelas bawah. Lembar kuesioner tersusun atas 43 item dengan 28 item pada 7 indikator tingkat implementasi pembelajaran tematik, dan 15 item pada 9 indikator tentang faktor demografi. Lembar kuesioner memiliki pernyataan terbuka dan pernyataan tertutup. Pernyataan tertutup terdiri dari item nomor 1 sampai dengan nomor 34, item nomor 40, 41, dan 43.

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 Pernyataan terbuka pada lembar kuesioner terdiri dari item nomor 35, 36, 37, 38, 39, dan 42. Lembar kuesioner implementasi pembelajaran ini terdiri dari 7 indikator yang merupakan item positif dan item negatif. Lembar kuesioner disusun dengan menggunakan skala likert. Lembar kuesioner implementasi pembelajaran tematik menggunakan lima pilihan jawaban. Item Item positif diberi skor dari kategori “Sangat Tidak Setuju” ke “Sangat Setuju” dengan pilihan skor 1-5. Item negatif diberi skor dari kategori “Sangat Setuju” ke “Sangat Tidak Setuju” dengan pilihan skor 5-1. Tabel 3.1 Penjabaran Skor Item Positif dan Negatif No Kategori 1 Item positif 2 Item Negatif Skor 1 2 3 4 5 5 4 3 2 1 Keterangan Sangat tidak setuju Tidak setuju Ragu-ragu Setuju Sangat setuju Sangat setuju 'Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak setuju Tabel 3.1 menunjukkan penjabaran skor item positif dan item negatif. Item positif menjelaskan bahwa “sangat tidak setuju” mendapat skor 1, “tidak setuju” mendapat skor 2, “ragu-ragu” mendapat skor 3, “setuju” mendapat skor 4, dan “sangat setuju” mendapat skor 5. Item negatif menjelaskan bahwa “sangat setuju” mendapat skor 5, “setuju” mendapat skor 4, “ragu-ragu” mendapat skor 3, “tidak setuju” mendapat skor 2, “sangat tidak setuju” mendapat skor 1. Tabel 3.2 menunjukkan item positif dan item negatif yang terdapat dalam kuesioner implementasi pembelajaran tematik.

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 3.2 Sebaran Item Positif dan Item Negatif Indikator Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa No Item 2. 3. 4. Siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar 5. 6. 7. 8. Pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas 10. 11. 12. Pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran 13. Item Positif Saya memberi pilihan kepada siswa untuk menentukan cara mereka belajar. Peran yang saya lakukan di kelas adalah sebagai fasilitator pembelajaran. Saya menggunakan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk memegang peran utama dalam kelas. Saya menggunakan kegiatan “belajar dengan melakukan atau belajar dengan mengalami” (learning by doing) untuk pembelajaran di kelas seperti siswa melakukan percobaan atau siswa melakukan presentasi. Saya meminta siswa untuk membawa artefak (barang) pribadi agar mereka lebih mudah memahami materi pembelajaran. Saya menggunakan sumber belajar langsung dalam menyampaikan materi (misalnya gambar, foto, tanaman, hewan dan media/teknologi yang bisa diraba, dilihat atau didengar siswa). Saya menyediakan berbagai sumber belajar di kelas sehingga siswa dapat mendalami tema pembelajaran melalui berbagai cara dan material. Ketika saya menggunakan Pembelajaran Tematik, siswa saya dapat mengerti adanya keterkaitan antar mata pelajaran. Saya menyatukan paling sedikit dua atau lebih mata pelajaran secara rutin. Saya mengembangkan Pembelajaran Tematik untuk mengajar berbagai mata pelajaran sekaligus. Saya merancang pembelajaran dalam suatu tema sentral untuk membantu siswa belajar berbagai mata pelajaran sekaligus. No Item 1. Item Negatif Saya menggunakan ceramah sebagai metode utama untuk menyampaikan materi. 9. Saya mengajar materi lima bidang studi ke-SDan secara terpisah (Matematika, Bahasa, PPKn, IPA dan IPS). 16 Jadwal mengajar saya adalah jadwal per mata pelajaran (misalnya Senin mengajar IPA dan Matematika, Selasa 52

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Indikator No Item 14. 15 Pembelajaran bersifat fleksibel 17. 18. 19. 20. Hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa 21. 23. 24. Prinsip belajar sambil belajar dan bermain yang menyenangkan bagi siswa 25. 26. 27. 28. Item Positif Saya menggunakan pemetaan atau jaringan tema untuk mengembangkan konsep utama dari berbagai mata pelajaran. Pembelajaran saya mendorong siswa untuk memahami adanya persamaan konsep antar mata pelajaran. Saya mengaitkan tema dan materi pelajaran dengan lingkungan sekitar seperti kerumahtanggaan, kota dan lingkungan alam. Saya memberitahu siswa tentang hal-hal yang saat ini sedang menjadi perdebatan di masyarakat misalnya korupsi, pornografi, dll. Saya mengaitkan materi dengan pengalaman hidup siswa. Ketika mengembangkan Pembelajaran Tematik, saya menggunakan tema-tema yang sesuai dengan pengalaman hidup dan budaya para siswa. Saya menggunakan materi atau alat penilaian yang sesuai dengan kebutuhan setiap siswa. Saya menggunakan penilaian unjuk kerja untuk menilai hasil belajar siswa. Saya menggunakan portofolio kerja untuk menilai hasil belajar siswa. Saya menggunakan permainan, bermain peran, simulasi dan strategi pembelajaran lainnya yang melibatkan siswa secara aktif. Saya menggunakan nyanyian, tarian dan aktivitas menyenangkan lainnya dalam mengajar. Saya menggunakan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk aktif bergerak ketika belajar. Saya menggunakan pembelajaran kelompok kooperatif seperti: Jigsaw, STAD, kepala bernomor, investigasi kelompok, dan sebagainya. No Item Item Negatif mengajar IPS dan Bahasa Indonesia, dst). 22. Saya menggunakan tes tertulis (misalnya esai, pilihan ganda, benar salah) sebagai metode utama dalam menilai hasil belajar siswa. 53

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 Tabel 3.2 menjelaskan tentang item positif dan item negatif yang terdapat dalam kuesioner. Item positif dan item negatif ditentukan berdasarkan kalimat dari pernyataan tersebut. Item positif dan negatif tersebut, kemudian disebarkan sesuai dengan kisi-kisi indikator instrumen pembelajaran tematik dan faktor demografi. Kisi-kisi mengacu pada materi pembelajaran tematik dan faktor demografi yang sebelumnya telah dibahas pada bab II. Tabel 3.3 menjelaskan tentang kisi-kisi indikator instrumen pembelejaran tematik dan faktor demografi. Tabel 3.3 Kisi-kisi Indikator Instrumen Variabel Tingkat implementasi pembelajaran tematik Faktor Demografi Indikator Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa Siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar Pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas Pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran Pembelajaran bersifat fleksibel Hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa Prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa Dukungan dari kepala sekolah Pengalaman mengajar Jenjang Kelas yang diampu Lama mengajar tematik Pengalaman training pembelajaran tematik Jumlah siswa yang diajar menggunakan pembelajaran tematik Pendidikan terakhir guru Status kepegawaian guru Jumlah rekan guru yang secara bersama-sama mengajar tematik Struktur Kurikulum No. Item Jenis Variabel 1, 2, 3, 4 5, 6, 7, 8 9, 10, 11, 12 13, 14, 15, 16 17, 18, 19, 20 21, 22, 23, 24 Variabel Terikat 25, 26, 27, 28 29, 30, 31, 32, 33, 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 Variabel Bebas

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 Tabel 3.3 merupakan sebaran dari nomor item pada lembar kuesioner. Tabel 3.3 menunjukkan bahwa dalam kuesioner terdiri dari dua variabel yaitu tingkat implementasi pembelajaran tematik dan variabel faktor demografi. Jumlah kisikisi yang disebar yaitu 43 item dengan 28 item pada 7 indikator tingkat implementasi pembelajaran tematik, dan 15 item pada 9 indikator faktor demografi. Faktor demografi tersebut terdiri dari dukungan kepala sekolah, lama mengajar, lama mengajar pembelajaran tematik, jumlah jam training, jumlah siswa, pendidikan terakhir, status kepegawaian, dan jumlah rekan guru. Keseluruhan faktor demografi dalam tabel merupakan faktor demografi yang akan diteliti bersama dengan kelompok studi. Faktor demografi yang digunakan untuk penelitian ini yaitu faktor demografi pengalaman menggunakan pembelajaran tematik dan jumlah jam training pembelajaran tematik. Data faktor demografi masing-masing dibagi menjadi dua kelompok. Faktor demografi pengalaman menggunakan pembelajaran tematik dibagi menjadi kelompok senior dan junior. Pembagian kelompok pada faktor demografi pengalaman menggunakan pembelajaran tematik, berdasarkan teori Erlinayanti (2012, 47). Faktor demografi jumlah jam training juga dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok jumlah jam training banyak dan jumlah jam training sedikit. Pengelompokkan berdasarkan teori dari Erlinayanti (2012, 47).

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 G. Validitas Instrumen dan Reliabilitas Instrumen 1. Validitas Validitas merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengukur apa yang ingin diukur (Siregar, 2010: 162). Penelitian ini menggunakan tiga teknik pengukuran validitas, yaitu validitas isi (content validity), validitas konstruk (construct validity), dan validitas muka (face validity). Content validity (validitas isi) berkaitan dengan kemampuan instrumen dalam mengukur isi yang harus diisi (Siregar, 2010: 163). Alat ukur diharapkan dapat menunjukkan isi dari suatu konsep yang akan diukur. Validitas isi dalam penelitian ini dilakukan melalui proses expert judgement oleh para ahli, yakni dosen, kepala sekolah, dan guru. Peneliti memilih dosen, kepala sekolah, dan guru untuk menguji validitas dari kuesioner tingkat implementasi pembelajaran tematik. Pemilihan para ahli tersebut karena merupakan ahli dalam pembelajaran tematik. Kuesioner yang telah diisi oleh para ahli kemudian diolah untuk mengetahui perlu dilakukan revisi atau tidak. Revisi dilakukan berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Tabel 3.4 menjelaskan tentang kriteria revisi yang digunakan untuk mengukur validitas isi. Tabel 3. 4 Kriteria Revisi Kriteria > 2,5 ≥2,5 ≤2,5 < 2,5 Pernyataan Positif Negatif Positif Negatif Revis/Tidak Revisi Tidak Revisi Tidak Revisi Revisi Revisi Tabel 3.4 menunjukkan bahwa pernyataan positif yang memiliki kriteria > 2,5 tidak dilakukan revisi, sedangkan yang memiliki kriteria ≤2,5 melakukan

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 revisi. Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa kuesioner yang memuat pernyataan negatif tidak melakukan revisi pada kriteria ≥2,5. Pernyataan negatif yang mempunyai kriteria < 2,5 melakaukan revisi. Kriteria revisi dalam penelitian ini dilakukan berdasarkan hasil expert judgement. Hasil expert judgement dapat dilihat pada tabel-tabel yang dijabarkan setiap indikatornya beserta penjelasannya. Tabel 3.5 Hasil Expert Judgement Indikator Kegiatan Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa No Validator 1 2 3 4 5 6 7 8 Dosen a Dosen b Dosen c Guru a Guru b Guru c Kepsek a Kepsek b Rata-rata 1 3 1 3 2 3 3 3 4 2.75 Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa 2 3 4 Rata-rata 4 4 4 3.75 3 4 3 2.75 3 3 3 3 3 4 4 3.25 4 3 4 3.5 2 3 4 3 4 4 4 3.75 4 4 4 4 3.375 3.625 3.75 Indikator kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa terdapat 4 item, dimana 3 item merupakan pernyataan positif dan 1 item merupakan pernyataan negatif. Item nomor 1 mendapatkan komentar positif dari ahli. Tabel 3.5 menunjukkan bahwa item nomor 1 mendapatkan rata-rata sebesar 2.75 (> 2,5) yang berarti bahwa item nomor 1 tidak dilakukan revisian. Komentar untuk item 1 dari salah satu validator ialah “pernyataan sudah jelas, sudah bisa digunakan untuk mengetahui kebiasaan yang sering digunakan dalam pembelajaran”. Item nomor 2 berisi komentar positif dan memperoleh rata-rata sebesar 3,375 (> 2,5), yang berarti bahwa pernyataan tersebut tidak perlu dilakukan revisi. Komentar yang diberikan oleh salah satu validator pada item nomor 2 ialah “kata (pilihan) mungkin bisa diganti dengan kata (kebebasan) karena kata pilihan itu terbatas sedangkan kata kebebasan tidak terbatas”. Item nomor 3 berisi komentar positif

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 dengan rata-rata sebesar 3,625 (> 2,5) yang berarti pernyatan tersebut tidak perlu dilakukan revisi. Komentar untuk item nomor 3 dari salah satu validator adalah “pernyataan sudah cukup bagus”. Item nomor 4 berisi komentar positif dengan rata-rata sebesar 3,75 (> 3,5), yang berarti bahwa item tersebut tidak perlu dilakukan revisian. Komentar dari salah satu validator tertulis “pernyataan sudah bagus dan bisa dipahami oleh guru”. Indikator kedua yaitu tentang siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar. indikator tersebut setelah dilakukan expert judgemen kepada para ahli diperoleh hasil seperti pada tabel 3.6: Tabel.3.6 Hasil Expert Judgement Siswa Mengalami Pengalaman Langsung dalam Belajar No Validator 1 2 3 4 5 6 7 8 Dosen a Dosen b Dosen c Guru a Guru b Guru c Kepsek a Kepsek b Rata-rata Siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar 1 2 3 4 Rata-rata 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 4 3 3.5 3 3 3 4 3.25 4 4 4 3 3.75 4 4 4 4 4 4 3 3 4 3.5 3.875 3.625 3.75 3.75 Tabel 3.6 menunjukkan hasil expert judgement pada indikator siswa mengalami pengalaman langsung dalam belajar. Indikator tersebut memuat komentar positif. Item nomor 1 memperoleh rata-rata sebesar 3,875 (> 2,5), yang berarti item tersebut tidak perlu dilakukan revisian. Item nomor 1 mendapat komentar dari salah satu para ahli bahwa “pernyataan sudah bagus, sudah diberi contooh pembelajaran learning by doing itu yang seperti apa?”. Rata-rata item nomor 2 sebesar 3,625 (> 2,5), berarti tidak dilakukan revisi pada item tersebut. Komentar dari salah satu validator tertulis “pernyataan sudah baik, mudah

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 dipahami oleh guru”. Item nomor 3 dan nomor 4 memperoleh rata-rata yang sama yaitu sebesar 3,75 (> 2,5), berarti kedua item tersebut tidak dilakukan revisi. Item nomor 3 mendapat komentar dari salah satu validator “pernyataan sudah baik, mudah dipahami oleh guru”. Item nomor 4 mendapat komentar dari salah satu vallidator bahwa “pernyataan sudah baik, hanya masih perlu diberi penjelasan tentang contoh sumber belajar macam apa yang dimaksud”. Indikator ketiga yaitu pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas. Hasil expert judgement pada indikator tersebut diuraikan pada tabel 3.7: Tabel 3.7 Hasil Expert Judgement Indikator Pemisahan pada Setiap Mata pelajaran Tidak Begitu Jelas No Validator 1 2 3 4 5 6 7 8 Dosen a Dosen b Dosen c Guru a Guru b Guru c Kepsek a Kepsek b Rata-rata Pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas 1 2 3 4 3 3 4 4 1 4 3 4 3 3 3 3 3 3 4 4 3 4 3 3 4 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 3.125 3.375 3.5 3.75 Rata-rata 3.5 3 3 3.5 3.25 3.75 3.5 4 Tabel 3.7 menunjukkan hasil expert judgement indikator pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas. Item nomor 1 memperoleh komentar negatif dari para ahli dan memperoleh rata-rata sebesar 3,125 (≥2,5), berarti item tersebut tidak perlu dilakukan revisi. Komentar yang ditulis salah satu validator yaitu “pernyataan ini bertentangan dengan indikator, lebih baik diganti (saya mengajar materi lima bidang studi secara terpadu)”. Item nomor 2 memperoleh komentar negatif. Rata-rata item sebesar 3,375 (≥2,5) berarti item tersebut tidak perlu dilakukan revisi. Komentar dari salah satu validator yaitu “pada RPP hendaknya dirancang betul atau dikondisikan adanya keterkaitan”. Item nomor 3

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 memperoleh komentar negatif dari para ahli. Rata-rata yang diperoleh sebesar 3,5 (> 2,5), berarti item tidak perlu dilakukan revisi. Komentar dari salah satu validator tertulis “kata (atau ) lebih baik dihilangkan”. Item no 4 memperoleh komentar positif dari para ahli. Rata-ratanya yaitu sebesar 3,75 (> 2,5), berarti item tidak perlu dilakukan revisian. Item-item yang tidak sesuai dengan kriteria tidak dilakukan revisi oleh peneliti, hal ini karena item yang tersebut sudah digunakan dalam kuesioner. Item nomor 4 juga mendapat komentar dari para ahli yaitu “pernyataan sudah baik, jelas, dan mudah dipahami oleh guru”. Indikator keempat yaitu pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran. Hasil expert judgemen indikator tersebut dapat dilihat pada tabel 3.8: Tabel 3.8 Hasil Expert Judgement Indikator Pembelajaran yang Menyajikan Konsep dari Satu Mata Pelajaran No 1 2 3 4 5 6 7 8 Tabel Validator Dosen a Dosen b Dosen c Guru a Guru b Guru c Kepsek a Kepsek b Rata-rata 3.8 Pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran 1 2 3 4 Rata-rata 4 4 4 3 3.75 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3.5 4 4 3 4 3.75 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3.875 3.75 3.75 3.625 menunjukkan hasil expert judgement pada indikator pembelajaran yang menyajikan konsep satu mata pelajaran. Item nomor 1 mendapat komentar positif dengan rata-rata yang diperoleh sebesar 3,875 (> 2,5). Rata-rata tersebut menunjukkan bahwa item tidak perlu melakukan revisi. Komentar dari salah satu ahli yaitu “pernyataan sudah baik, jelas, dan mudah dipahami oleh guru”. Item nomor 2 dan nomor 3 mendapat komentar positif. Besarnya rata-rata kedua item sama, yaitu 3,75 (> 2,5) berarti kedua item tidak

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 perlu dilakukan revisian. Item nomor 2 mendapat komentar dari salah satu validator yang berbunyi “pernyataan sudah bagus, jelas, dan mudah dipahami oleh guru”. Item nomor 3 tertulis komentar dari salah satu ahli “pernyataan sudah cukup baik, dan bisa dimengerti maksudnya oleh guru”. Item nomor 4 berisi komentar positif dengan rata-rata yang diperoleh sebesar 3,625 (> 2,5). Berarti item tersebut tidak perlu dilakukan revisi. Komentar dari salah satu ahli berbuyi “pernyataan yang dibuat sudah baik, kata-kata yang digunakan sudah jelas karena sudah diberi keterangan dalam kurung”. Indikator kelima yaitu pembelajaran bersifat fleksibel. Hasil expert judgemen indikator tersebut dapat dilihat pada tabel 3.9 berikut ini: Tabel 3.9 Hasil Expert Judgement Indikator Pembelajaran Bersifat Fleksibel No Validator 1 2 3 4 5 6 7 8 Dosen a Dosen b Dosen c Guru a Guru b Guru c Kepsek a Kepsek b Rata-rata 1 4 4 4 3 4 4 4 4 3.875 Pembelajaran bersifat fleksibel 2 3 4 Rata-rata 3 4 4 3.75 2 4 4 3.5 4 4 4 4 3 4 4 3.5 3 4 4 3.75 3 4 4 3.75 3 4 4 3.75 3 4 4 3.75 3 4 4 Hasil expert judgement pada indikator pembelajaran bersifat fleksibel berisi komentar positif. Item nomor 1 memperoleh rata-rata sebesar 3,875 (> 2,5), berarti tidak perlu dilakukan revisian pada item tersebut. komentar dari salah satu ahli yaitu “pernyataan sudah bagus, menanyakan tentang kaitan antar materi dan tema. Tema tidak hanya tentang lingkungan, bisa kegemaran, binatang, diri sendiri, pengalaman, dll”. Item nomor 2 memperoleh rata-rata sebesar 3 (> 2,5), berarti item tersebut tidak perlu dilakukan revisi. Komentar dari salah satu ahli

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 yaitu “pernyataan sudah cukup bagus”. Rata-rata yang diperoleh item nomor 3 dan no 4 sama yaitu sebesar 4 (> 2,5) berarti kedua item tersebut tidak perlu dilakukan revisi. Item dari nomor 3 memperoleh komentar “pernyataan sudah jelas dan mudah dimengerti guru”. Item nomor 4 mendapat komentar “pernyataan yang dibuat sudah bagus, kalimat jelas dan mudah dipahami maksudnya”. Indikator keenam yaitu pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Hasil expert judgemen indikator tersebut dapat dilihat pada tabel 3.10. Tabel 3.10 Hasil Expert Judgement Indikator Hasil Pembelajaran yang sesuai dengan Minat dan Kebutuhan Siswa No Validator 1 2 3 4 5 6 7 8 Dosen a Dosen b Dosen c Guru a Guru b Guru c Kepsek a Kepsek b Rata-rata Tabel Hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa 1 2 3 4 Rata-rata 4 3 4 4 3.75 3 4 4 4 3.75 4 4 4 4 4 3 2 4 4 3.25 3 4 3 3 3.25 3 4 4 4 3.75 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3.5 3.625 3.875 3.875 3.10 menunjukkan hasil Expert Judgement pada indikator pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Item nomor 1 memuat komentar negatif. Rata-rata yang diperoleh sebesar 3,5 (≥2,5), berarti item tersebut tidak perlu dilakukan revisi. Komentar dari salah satu ahli “pernyataan masih ngawang. Mungkin lebih dijelaskan lagi kebutuhan setiap siswa yang seperti apa. Pernyataan yang mengukur minat siswa belum kelihatan. Indikator: hasil pembelajaran. Namun, pernyataan-pernyataan berisi tentang

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 penilaian. Usul: indikator diubah menjadi penilaian hasil pembelajaran”. Item nomor 2 memuat komentar negatif. Rata-rata yang diperoleh sebesar 3,625 (≥ 2,5), berarti item tersebut tidak perlu dilakukan revisi. Item nomor 2 mendapat komentar “yang lebih mendekati kebutuhan siswa itu tes esai”. Item nomor 3 dan nomor 4 berisi komentar positif. Kedua itemm tersebut memperoleh rata-rata sebesar 3,875 (> 2,5), berarti kedua item tidak perlu dilakukan revisi. Item nomor 3 mendapat komentar “pernyataan sudah bagus dan jelas”. Item nomor 4 mendapat komentar “pernyataan sudah bagus dan jelas serta mudah dipahami”. Indikator ketujuh yaitu prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa. Hasil expert judgemen indikator tersebut dapat dilihat pada tabel 3.11: Tabel 3.11 Hasil Expert Judgement Indikator Prinsip Belajar Sambil Bermain yang Menyenangkan bagi Siswa No Validator 1 2 3 4 5 6 7 8 Dosen a Dosen b Dosen c Guru a Guru b Guru c Kepsek a Kepsek b Rata-rata Prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa 1 2 3 4 Rata-rata 4 4 4 4 4 4 4 3 0 2.75 4 4 4 4 4 4 4 3 3 3.5 4 3 3 3 3.25 4 4 3 4 3.75 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 3.875 3.5 3.25 Tabel 3.11 menunjukkan hasil expert judgement indikator prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa. Keempat item dalam indikator ini memuat komentar positif dari para ahli. Item nomor 1 memperoleh rata-rata sebesar 4. Komentar yang diberikan oleh salah satu validator yaitu “pernyataan yang dibuat sudah bagus, jelas, dan dapat dimengerti”. Item nomor 2 memperoleh rata-rata sebesar 3,875. Komentarnya adalah “pernyataan sudah

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 bagus, jelas, dan mudah dimengerti”. Item nomor 3 memperoleh rata-rata sebesar 3,5 dengan komentar dari salah satu validator “pernyataan sudah cukup baik”. Item nomor 4 memperoleh rata-rata sebesar 3,25. Salah satu validator memberikan komentar berbunyi “pernyataan sudah bagus, jelas, dan dapat dimengerti karena diberi contoh pembelajaran dengan model kelompok”. Ratarata yang diperoleh keseluruhan item pada indikator ini lebih dari 3,5 (> 2,5), berarti semua item tersebut tidak perlu dilakukan revisi. Keseluruhan data expert judgement dapat dilihat dalam lampiran 3. Face validity (validitas muka) merupakan kemampuan suatu instrumen untuk mengukur isi yang harus diukur (Siregar, 2010: 163). Pandangan lain diungkapkan oleh Morrisan (2012: 104) bahwa validitas muka digunakan untuk mengukur suatu variabel. Validitas muka dilakukan peneliti untuk mengetahui kelayakan instrumen berdasarkan penampilannya. Validitas muka hanya dilakukan pada kuesioner implementasi pembelajaran tematik dengan jumlah 28 item. Peneliti melakukan face validity kepada salah seorang guru SD. Guru yang dipilih berdasarkan pertimbangan telah melakukan pembelajaran tematik di kelas bawah. Face validity dilakukan dengan membagikan kuesioner yang akan di sebar kepada validator, kemudian validator diminta untuk memberikan komentar apakah kuesioner sudah layak untuk digunakan. Komentar ditulis oleh valildator pada kolom yang sudah disediakan. Hasilnya dapat dilihat pada tabel 3.12: Tabel 3.12 Hasil Validitas Muka No 1 Indikator Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa No item 1 2 3 Skor untuk pernyataan 3 3 4

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No Indikator 2 Siswa mengalami pengalami pengalaman langsung dalam belajar 3 Pemisahan pada setiap mata pelajaran tidak begitu jelas 4 Pembelajaran yang menyajikan konsep dari satu mata pelajaran 5 Pembelajaran bersifat fleksibel 6 Hasil pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa 7 Prinsip belajar sambil bermain yang menyenangkan bagi siswa Rata-rata No item 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 65 Skor untuk pernyataan 3 2 2 4 3 2 3 4 4 4 4 3 3 3 2 3 3 3 4 4 4 4 4 3 4 3.29 Tabel 3.12 menunjukkan hasil face validity yang dilakukan pada guru SD kelas bawah. Face validity yang telah dilakukan peneliti mendapat skor dan komentar, namun tidak semua item mendapat komentar dari validator. Item yang mendapat komentar dari validator ialah item nomor 5, 6, 9, dan 18. Item no 5 mendapatkan komentar “presentasi tidak sesuai jika dilakukan di kelas rendah”. Komentar nomor 6 yaitu “nama-nama barang yang akan dibawa siswa harus diperjelas”. Komentar nomor 9 yaitu “dalam penyampaian pembelajaran tematik selalu berkaitan dengan beberapa pelajaran dan tidak boleh menyebut mata pelajaran yang disampaikan”. Komentar item nomor 18 yaitu “masalah dalam

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 pernyataan item terlalu luas untuk siswa kelas bawah”. Selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 4. Construk validity (validitas konstruk) dilakukan untuk memastikan bahwa penelitian memiliki atau mengandung konsep teoritis yang tepat (Margono, 2010: 187). Validitas konstruk dilakukan melalui cara empiris. Uji empiris dilakukan dengan mengujicobakan kuesioner kepada para guru kelas bawah di sekolah dasar afiliasi katolik, kristen, dan nasional di kota Yogyakarta. Setelah mendapatkan hasil dari uji empiris, peneliti melakukan validasi kuesioner tersebut dengan bantuan program Ms.Excel dan Statistical Product and Service Solutions (SPSS) 16 dengan korelasi Product Moment. Rumus dari korelasi Product Moment (Martono, 2010:243). rxy = ∑ { ∑ (∑ )(∑ ) (∑ ) } { ∑ (∑ ) } Gambar 3.2 Rumus Korelasi Keterangan rxy = Koefisien korelasi ∑ = Jumlah skor dalam sebaran x (skor item per butir) ∑ = Jumlah skor dalam sebaran y (skor item per total) ∑ = Jumlah hasil kali skor x dan skor y yang berpasangan ∑ = Jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran x ∑ = Jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran y = Jumlah responden

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 Instrumen soal yang digunakan peneliti adalah 28 soal implementasi pembelajaran tematik. Peneliti melakukan uji empiris kepada guru SD kelas bawah yang berjumlah 61 guru. Tabel 3.13 menunjukkan hasil uji empiris untuk variabel tingkat implementasi pembelajaran tematik, yaitu sebagai berikut: Tabel 3.13 Hasil Uji Validitas Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik No. Item r hitung r tabel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Item 1 Item 2 Item 3 Item 4 Item 5 Item 6 Item 7 Item 8 Item 9 Item 10 Item 11 Item 12 Item 13 Item 14 Item 15 Item 16 Item 17 Item 18 Item 19 Item 20 Item 21 Item 22 Item 23 Item 24 Item 25 Item 26 Item 27 Item 28 0,310* 0,522** 0,356* 0,598** 0,655** 0,426** 0,393** 0,673** 0,141 -0,426** 0,598** 0,653** 0,668** 0,698** 0,634** -0,034 0,655** -0,243 0,533** 0,768** 0,480** -0,170 0,744** 0,660** 0,741** 0,698** 0,453** 0,589** 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 0,254 Valid / Tidak valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak valid Valid Tidak valid Valid Valid Valid Tidak valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Peneliti memperoleh hasil analisis berdasarkan tabel 3.13 bahwa dari 28 item pada kuesioner tingkat implementasi pembelajaran tematik terdapat 24 item valid dan 4 item tidak valid. Item yang tidak valid tersebut adalah item nomor 9, 16, 18, dan 22. Hasil analisis uji validitas yang menggunakan bantuan SPSS 16 secara lengkap terdapat pada lampiran 6. Validitas juga dapat dilihat dengan

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 membandingkan r hitung dengan r tabel. Penentuan rtabel dengan melihat jumlah populasi yang ada. Sugiyono, (2011: 631) menjelaskan bahwa untuk responden sebanyak 61 dengan taraf signifikansi sebesar 0,05 memperoleh rtabel sebesar 0,254. Apabila r hitung lebih besar dari r tabel, maka item dinyatakan valid. Tabel 3.13 juga menjelaskan bahwa terdapat 4 item yang tidak valid yaitu item nomor 9, 16, 18, dan 22. 2. Reliabilitas Instrumen Reliabilitas adalah pengujian yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten, apabila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat pengukur yang sama pula (Siregar, 2010: 175). Tinggi rendahnya reliabilitas ditunjukkan dengan menggunakan koefisien reliabilitas. Semakin tinggi koefisien reliabilitasnya maka hasil pengukuran akan semakin reliabel. Masidjo (1995: 209) menyatakan bahwa koefisien reliabilitas dinyatakan pada bilangan koefisien antara -1,00 sampai dengan 1,00 seperti yang ditunjukkan pada tabel 3.14.Gambar 3.3 Tabel 3.14 Koefisien Korelasi Reliabilitas Interval Koefisien 0,91 – 1,00 0,71 – 0,90 0,41 – 0,70 0,21 – 0,40 Negatif – 0,20 Tingkat Hubungan Sangat Tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat Rendah Uji reliabilitas intrumen dilakukan dengan rumus Alpha Cronbach dan dikerjakan dengan menggunakan rumus SPSS 16. Berikut adalah rumus koefisien Alpha Cronbach (Siregar, 2012:176):

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI = −1 1− 69 ∑ Gambar 3.3 Rumus Koefisien Alpha Cronbach Keterangan : = Cronbach’s coefficient alpha k = jumlah pecahan ∑ = total dari varian masing-masing pecahan = varian total skor Uji reliabilitas dihitung dengan menggunakan data yang valid. Data yang valid dalam penelitian ini sebanyak 26 item. Hasil dari uji reliabilitas dapat dilihat pada tabel 3.15. Tabel 3.15 Hasil Uji reliabilitas Nilai Cronbach’s Alpha 0,891 Cronbach’s Alpha Based on Standardized Item 0,898 Koefisien korelasi Tinggi Hasil perhitungan reliabilitas yang telah dilakukan, maka peneliti memperoleh hasil perhitungan koefisien reliabilitas sebesar 0,891. Peneliti menyimpulkan bahwa hasil reliabilitas tersebut termasuk dalam kategori tinggi, karena berada pada koefisien korelasi reliabilitas antara 0,71 – 0,90. Perhitungan koefisien reliabilitas untuk kuesioner tingkat implementasi pembelajaran tematik selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 8.

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 H. Prosedur Analisis Data Penelitian ini menggunakan empat tahap prosedur analisis data. Empat tahap tersebut adalah menentukan hipotesis statistik, pengelolaan data, menentukan taraf signifikasi, dan menguji asumsi klasik uji hipotesis. 1. Menentukan Hipotesis Statistik Penelitian ini menggunakan tiga rumusan masalah. Rumusan masalah yang pertama yaitu “Bagaimana tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah sekolah dasar afiliasi katolik, kristen, dan nasional di kota Yogyakarta?”. Rumusan masalah ini tidak memiliki hipotesis karena jawaban dari pertanyaan adalah deskriptif. Rumusan masalah yang kedua ialah “Apakah ada perbedaan implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi katolik, kristen dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik?”. Hipotesis yang digunakan berdasarkan rumusan masalah kedua yaitu: Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. Rumusan masalah yang ketiga adalah “Apakah ada perbedaan implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi katolik, kristen, dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 tematik?”. Hipotesis yang digunakan berdasarkan rumusan masalah yang ketiga ialah: Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik. Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik. 2. Pengelolaan Data Kegiatan pengolahan dalam penelitian ini yaitu meliputi coding, editing, data entry, dan data cleaning (Irraosi dalam Rismiati, 2012: 154). Coding adalah pemberian kode berupa angka atau huruf pada tiap-tiap data yang memiliki kategori sama untuk membedakan antara data yang akan dianalisis (Siregar, 2010: 207). Coding yang dilakukan dalam penelitian ini adalah berupa pemberian kode pada kuesioner. Tujuan pemberian kode yaitu untuk membedakan data antara guru satu dengan guru yang dalam sekolah yang sama maupun sekolah yang berbeda. Contoh pemberian kode pada penelitian ini ditunjukkan pada tabel 3.16. Tabel 3.16 Contoh Pengkodean Nama Sekolah SD BW SD P Kode Sekolah M A Kode Guru Kelas I M.1 A.1.1 Kode Guru Kelas II M.2 A.2.1 Kode Guru Kelas III M.3 A.3.1 Tabel 3.16 menjelaskan bahwa untuk SD BW menggunakan kode M. Guru pengampu untuk kelas 1 menggunakan kode M.1. Artinya, kode tersebut berasal dari SD BW yang telah diisi oleh guru pengampu kelas 1 kode tersebut digunakan

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 untuk guru pengampu kelas. Kode M.2 berarti kuesioner berasal dari SD BW yang telah diisi oleh guru pengampu kelas 2, dan kode M.3 menjelaskan bahwa kode tersebut diberikan kepada guru SD BW kelas 3. Kode selanjutnya yaitu A.1.1. Kode tersebut menunjukkan bahwa sekolah tersebut mempunyai kelas paralel dan setiap kelas mempunyai jumlah guru lebih dari satu. Kode A.1.1 berarti kuesioner berasal dari SD P yang telah diisi oleh guru pengampu kelas 1 guru pertama. Kode A.2.1 menjelaskan bahwa kode tersebut diberikan kepada guru SD P untuk guru kelas dua yang pertama. Begitu pula dengan kode A.3.1, yang artinya kode tersebut diberikan kepada guru SD P untuk kelas 3 yang pertama. Kode-kode lain yang digunakan untuk memberikan tanda pada SD dalam penelitian dapat dilihat selengkapnya dalam (Lampiran 30). Editing adalah proses pemeriksaan data yang telah dikumpulkan (Siregar, 2010: 206). Kesalahan atau kekurangan data yang telah terkumpul kemudian diperbaiki berdasarkan catatan lapangan yang diperoleh. Editing dalam penelitian ini dilakukan dengan memeriksa kembali data yang tidak sesuai dengan jawaban pada lembar kuesioner. Data editing juga dilakukan terhadap data dari seorang responden yang mengisi kuesioner kurang dari 80% dari total seluruh item (American Association for Public Opinion dalam Rismiati, 2012:130). Keseluruhan item berjumlah 26 buah, jadi 80% dari 26 item adalah 21 item. Sebanyak 27 item harus terisi di dalam kuesioner, apabila isi kuesioner kurang dari 27 item dinyatakan responden gugur. Data yang telah dikumpulkan dalam penelitian dilihat satu persatu dan didapatkan 1 responden dinyatakan gugur. Gugurnya responden tersebut

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 dikarenakan kuesioner hanya terisi 19 item dan dinyatakan jauh dari kriteria untuk dianggap layak. Penghapusan seorang responden maka dapat mempengaruhi jumlah sampel yang seharusnya 55 responden menjadi 54 responden. Data entry adalah proses memasukkan data yang telah diperiksa kelengkapannya ke dalam Microsoft Excel 2007. Proses selanjutnya adalah data cleaning, yaitu proses pembersihan data yang tidak terpakai dalam penelitian. Proses data cleaning dilakukan dengan cara menghilangkan item-item kuesioner yang tidak valid. Data cleaning yang dilakukan pada kuesioner bagian pertama yaitu mengenai implementasi pembelajaran tematik adalah nomor urut 85. Nomor 85 dihilangkan karena sampel tersebut hanya menjawab beberapa item pernyataan pada kuesioner. Data cleaning juga dilakukan pada bagian kedua kuesioner yakni mengenai faktor demografi pengalaman menggunakan pembelajaran tematik dan jumlah jam training pembelajaran tematik. 3. Menganalisis Data Deskriptif Analisis data deskriptif yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah yang pertama. Jawaban dari rumusan masalah 1 menggunakan statistik deskriptif berdasarkan rumus Sturges pada distribusi frekuensi (Riduwan, 2008: 70-72). Data implementasi pembelajaran tematik dsikelompokkan menjadi lima kelompok, yakni sangat tinggi, tinggi, cukup, rendah, dan sangat rendah. Distribusi frekuensi dilakukan melalui tujuh tahap (Riduwan, 2008: 69-70). Tahapan distribusi frekuensi meliputi: a. Tahap pertama dengan mengurutkan data yang terkecil sampai yang terbesar.

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 b. Tahap kedua dengan menghitung jarak atau rentangan (R). Rumus menghitung jarak atau rentangan (R): Data tertinggi-data terendah. c. Tahap ketiga dengan menghitung jumlah kelas (K). Rumus: 1+3,3 log n. d. Tahap keempat dengan menghitung panjang kelas interval (P). Rumus: = ( ) ( ) e. Tahap kelima dengan menentukan batas interval panjang kelas. f. Tahap keenam dengan menghitung urutan interval kelas. g. Tahap ketujuh dengan membuat urutan inetrval kelas menjadi acuan kategorisasi. Tahapan distribusi frekuensi dilanjutkan dengan mengkategorikan data total implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar katolik, kristen, dan nasional di kota Yogyakarta sesuai interval kelas yang telah dibuat. 4. Menentukan Taraf Signifikansi Penelitian ini menggunakan taraf signifikansi 0,05 yang banyak digunakan dalam penelitian. Artinya, peneliti mentolerir kesalahan sebesar 5% (Hartono, 2012: 147). Taraf signifikansi 1% atau 5% dipilih hanya berdasarkan kesepakatan para peneliti sosial tanpa sebab yang jelas (Azwar, 2005: 6). Taraf signifikansi (α) menunjukkan kemungkinan adanya kesalahan yang dapat terjadi atau dialami peneliti dalam mengambil keputusan untuk mendukung atau menolak Ho (Field, 2009: 252). Pengambilan keputusan dari hipotesis menggunakan taraf signifikansi sebesar 5%. Taraf signifikansi 5% memiliki arti bahwa tingkat kepercayaann

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 dalam pengambilan keputusan sebesar 95% dengan kemungkinan kesalahan sebesar 5%. Hasil peninjauan teori pada bab dua menunjukkan bahwa teori mengenai pengalaman menggunakan pembelajaran tematik dan jumlah jam training pembelajaran tematik. Peninjauan teori menunjukkan bahwa faktor demografi pengalaman menggunakan pembelajaran tematik maupun jumlah jam training tidak mempengaruhi. Tinjauan teori tersebut memperlihatkan hipotesis untuk faktor demografi pengalaman menggunakan pembelajaran tematik termasuk hipotesis dua pihak (two tailed). Peninjauan teori menunjukkan adanya kecenderungan satu pihak tetapi penelitian ini tetap menggunakan hipotesis dua pihak karena alam banyak jurnal penelitian tetap menggunakan uji dua pihak (two tailed) (Chritensen dan Johnson,2008: 506). 5. Menguji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik pada penelitian ini yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. a. Uji Normalitas Uji normalitas digunakan untuk mengetahui suatu model regresi termasuk distribusi normal atau tidak (Santoso, 2010: 210). Keadaan data berdistribusi normal merupakan sebuah persyaratan yang harus terpenuhi (Sudaryono, 2012: 129). Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan tiga cara yaitu menggunakan Kolmogorov Smirnov Test, visualisasi P-P Plot, dan histogram. Uji normalitas dilakukan pada rumusan masalah kedua dan ketiga. Rumusan masalah yang kedua adalah “Apakah ada perbedaan implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi katolik, kristen dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik?”. Uji normalitas dilakukan pada masing-masing kelompok. Hipotesis berdasarkan rumusan masalah yang kedua adalah: Ho : Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal) Ha : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data tidak berdistribusi normal). Kriteria pengambilan keputusan didasarkan pada besaran signifikansi (α). Jika α ≥ 0,05 Ho gagal ditolak artinya distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Apabila α < 0,05 Ho ditolak artinya distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data tidak berdistribusi normal). Data faktor demografi pengalaman menggunakan pembelajaran tematik dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu senior dan junior. Uji normalitas dilakukan pada masing-masing kelompok. Apablila salah satu kelompok memiliki data berdistribusi normal, maka menggunakan statistik parametrik. Apabila salah satu kelompok memiliki data berdistribusi tidak normal, maka menggunakan statistik non-parametrik. Uji normalitas juga dapat diketahui dengan menggunakan visualisasi grafik P-P Plot. Grafik P-P Plot diperoleh dengan menggunakan program SPSS. Hasil output berupa grafik yang digunakan untuk mengetahui apakah data normal atau tidak. Titik-titik berlubang pada grafik P-P Plot merupakan data yang digunakan dalam peneliltian. Apabila titik-titik tersebut terletak disekitar garis,

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 artinya data normal (Field, 2009: 136). Normal atau tidaknya persebaran data dapat dilihat melalui hostogram dengan kurva normal. Apabila hasil histogram membentuk atau mirip dengan kurva normal, maka data normal. Rumusan masalah yang ketiga yaitu “Apakah ada perbedaan implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi katolik, kristen, dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik?”. Uji normalitas dilakukan pada masing-masing kelompok. Apabila kedua data memiliki data berdistribusi normal, maka menggunakan statistik parametrik. Apabila data berdistribusi tidak normal, maka menggunakan statistik non-parametrik. Hipotesis berdasarkan rumusan masalah ketiga adalah: Ho : Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal) Ha : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data tidak berdistribusi normal) Kriteria pengambilan keputusan didasarkan pada besaran signifikansi (α). Jika α ≥ 0,05 Ho gagal ditolak artinya distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Apabila α < 0,05 Ho ditolak artinya distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data tidak berdistribusi normal). Data uji normalitas pada faktor demografi jumlah jam training pembelajaran tematik dikelompokkan menjadi dua, yaitu banyak dan sedikit. Apablila salah satu kelompok memiliki data berdistribusi normal, maka

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 menggunakan statistik parametrik. Apabila salah satu kelompok memiliki data berdistribusi tidak normal, maka menggunakan statistik non-parametrik. Uji normalitas pada penelitian ini dilakukan menggunakan program SPSS 16 dengan Kolmogorov-Smirnov. Uji normalitas pada penelitian ini dilakukan menggunakan program SPSS 16. Rumus uji normalitas dapat dilihat pada gambar 3.4 (Uyanto, 2009: 54). ∗ = sup{| ( ) − ∅( )|, − ∞ ≤ ≤ ∞} Gambar 3.4 Rumus Kolmogorov smirnov Keterangan: ( ) = fungsi distribusi empiris ∅( ) = fungsi distribusi kumulatif b. Uji Homogenitas Uji homogenitas digunakan untuk mengukur kesamaan (homogenitas) dari beberapa sampel untuk mengetahui keseragaman sampel dari populasi yang sama (Arikunto, 2006: 320). Uji homogenitas dalam penelitian ini dilakukan pada implementasi pembelajaran tematik dan faktor demografi, yaitu pengalaman menggunakan pembelajaran tematik dan jumlah jam training pembelajaran tematik. Perhiungan dilakukan menggunakan program bantuan SPSS 16. Uji homogenitas dilakukan untuk menguji rumusan masalah yang kedua dan ketiga. Rumusan masalah kedua dalam penelitian ini yaitu “Apakah ada perbedaan implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi katolik, kristen dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari pengalaman menggunakan

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 pembelajaran tematik?”. Hipotesis statistik berdasarkan rumusan masalah kedua adalah: Ho : Tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. Ha : Ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. Kriteria pengambilan keputusan didasarkan pada besaran signifikansi (α). Jika α ≥ 0,05 Ho gagal ditolak tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. Apabila α < 0,05 Ho ditolak artinya ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. Rumusan masalah yang ketiga adalah “Apakah ada perbedaan implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi katolik, kristen, dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik?”. hipotesis berdasarkan rumusan masalah yang ketiga adalah: Ho : Tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik (data tidak homogen). Ha : Ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik (data homogen).

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 Kriteria pengambilan keputusan didasarkan pada besaran signifikansi (α). Jika α ≥ 0,05 Ho gagal ditolak artinya tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik (data tidak homogen). Apabila α < 0,05 Ho ditolak artinya ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik (data homogen). 6. Uji Hipotesis Tujuan uji hipotesis yaitu untuk menguji data dari sampel sudah cukup kuat untuk menggambarkan populasi (Santoso, 2010: 79). Uji hipotesis dilakukan setelah peneliti melakukan perhitungan pada uji normalitas dan uji homogenitas. Data yang ada dikelompokkan menjadi dua kelompok bagian. Dua kelompok bagian tersebut merupakan bagian dari faktor demografi. Data untuk faktor demografi pengalaman menggunakan pembelajaran tematik dikelompokkan berdasarkan teori yang dikemukakan oleh (Erlinayanti, 2012: 47), yaitu kelompok senior dan kelompok junior. Data untuk faktor demografi jumlah jam training dikelompokkan berdasarkan teori Erlinayanti (2012: 47), yaitu jumlah jam training banyak dan jumlah jam training sedikit. Pengelompokkan tersebut berdasarkan distribusi frekuensi menggunakan rumus Struges Riduwan (2008: 6970). Santoso (2012: 95) menjelaskan apabila data berdistribusi normal atau dianggap normal dan bertipe interval atau rasio, maka uji hipotesis dilakukan menggunakan statistik parametrik yakni uji t (independent sample t-tes). Santoso (2012: 95) juga menjelaskan apabila data tidak berdistribusi normal, ordinal,

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 interval, atau rasio maka uji hipotesis dilakukan menggunakan statistik nonparametrik yakni uji dua sampel bebas (Mann Whitney). Apabila hasil analisis menunjukkan data bersifat memiliki varian yang sama, maka selanjutnya data diolah dengan menggunakan independent sample t-test pada program SPSS 16. Apabila data tidak memiliki varian yang sama, maka data diolah dengan menggunakan uji Mann Whiney. Uji hipotesis digunakan untuk menjawab rumusan masalah 2 dan rumusan masalah 3. Rumusan masalah 2 yaitu “Apakah ada perbedaan implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi katolik, kristen dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik?”. Hipotesis yang digunakan dalam rumusan masalah 2 yaitu: Ho : Tidak ada tingkat perbedaan implementasi pembelajaran tematik Ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. Ha : Ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. Pengambilan keputusan menggunakan dua kriteria. Kriteria pertama, apabila Sig.(2-tailed)≥ 0,05 dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. Artinya Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Kriteria kedua, apabila Sig. (2-tailed) <0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. Artinya, Ho ditolak dan Ha gagal ditolak.

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 Rumusan masalah ketiga yaitu “Apakah ada perbedaan implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah SD afiliasi katolik, kristen, dan nasional di kota Yogyakarta ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik?”. Hipotesis yang digunakan berdasarkan rumusan masalah yang ketiga ialah: Ho : Tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik. Ha : Ada perbedaan perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik. Pengambilan keputusan menggunakan dua kriteria. Kriteria pertama, apabila Sig.(2-tailed)≥ 0,05 dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik. Artinya Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Kriteria kedua, apabila Sig.(2-tailed) <0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ada perbedaan perbedaan implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik. Artinya, Ho ditolak dan Ha gagal ditolak. Trihendradi (2005: 141) menjelaskan bahwa independent sample t-tes digunakan untuk menguji signifikansi beda rata-rata dua kelompok atau menguji pengaruh variable independent terhadap variable dependent. Rumus pengujian hipotesis menggunakan uji independent sample t-test adalah:

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 − = + Gambar 3.5 Rumus Independent Sample T-Test Uji hipotesis selanjutnya yaitu uji Mann Whitney. Uji mann-whitney merupakan uji statistika nonparametrik. Uji mann-whitney digunakan untuk membandingkan dua sampel independent dengan skala ordinal atau skala interval tapi tidak berdistribusi normal (Uyatno, 2009: 321). Pendapat lain diungkapkan oleh Usman dan Akbar (2008: 325) bahwa uji mann whitney digunakan untuj menguji dua sampel independen diambil dari populasi yang sama. Rumus pengujian hipotesis yang menggunakan uji Mann Whitney adalah: − ( ) = Gambar 3.6 Rumus Mann Whitney dengan: = ( + ( )= = + 1) 2 ( − + )+1 2 ( − 1) 12

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 Keterangan: = jumlah peringkat sampel pertama = jumlah sampel 1 = jumlah sampel 2 Apabila hasil yang didapat dari uji Mann Whitney menunjukkan Ho ditolak, maka tahap selanjutnya menghitung Effect size. Field (2009: 59) menjelaskan bahwa Effect size adalah suatu ukuran objektif dan dijadikan standar atau tolak ukur untuk mengetahui besarnya efek yang dihasilkan. Effect size dapat diketahui dengan menggunakan koefisien korelasi Pearson dengan kriteria r= 0,10 (efek kecil) yang setara dengan 1% pengaruh yang diakibatkan oleh variabel independen, r= 30 (efek menengah) yang setara dengan 9% dan r= 0,50 (efek besar) yang setara dengan 25% (Field, 2009: 57-179). r t t 2 2  df Gambar 3.7 Rumus Effect size jika data normal Keterangan : r : Besarnya pengaruh (effect size) menggunakan koefisien korelasi Pearson. t : Harga uji t. df : Harga derajad kebebasan (degree of freedom). Jika distribusi data tidak normal digunakan rumus berikut (Field, 2009: 550).

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI r 85 Z N Gambar 3.8 Rumus Effect size jika data tidak normal Keterangan: Z = harga konversi standar deviasi. N = Jumlah total observasi. Kriteria yang digunakan untuk menentukan besar efek (Field, 2009: 179) adalah: 0,10 – 0,29 = small effect (kecil) 0,30 – 0,49 = medium effect (sedang) 0,50 – 1,00 = large effect (besar) Effect size yang sudah didapat kemudian digunakan untuk menghitung koefisien determinasi (R2). Rumus koefisien determinasi dapat dilihat pada gambar 3.7. R2 = r2 x 100% Gambar 3.9 Rumus Koefisien Determinasi I. Jadwal Penelitian Jadwal penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 3.17.

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 Tabel.3.17 Jadwal Penelitian No. Kegiatan 1. Penyusunan proposal Konsultasi Bab I-III Bimbingan dengan dosen pembimbing Meminta surat ijin ke Dinas Melakukan penelitian Revisi Bab IIII Analisis data Menyusun Bab IV-V Ujian Skripsi 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Sep Okt Nov Des Jan Bulan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Tabel 3.17 menjelaskan tentang jadwal kegiatan dalam penelitian. Penelitian ini dimulai pada bulan September 2013 sampai dengan bulan Juli 2014. Kegiatannya mulai dari penyusunan proposal, konsultasi bab I-III, bimbingan dengan dosen pembimbing, meminta surat ijin ke Dinas, melakukan penelitian, revisi bab I-III, analisis data, menyusun bab IV-V. Kegiatan penelitian ini diakhiri dengan ujian skripsi.

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN Bab IV dalam penelitian ini membahas tentang deskripsi penelitian, tingkat pengembalian kuesioner, hasil analisis, dan pembahasan. A. Deskripsi Penelitian Penelitian ini berjudul tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah : survei bagi guru-guru sekolah dasar afiliasi katolik, kristen, dan nasional di kota Yogyakarta. penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2014 sampai dengan Februari 2014. Penyebaran kuesioner dilakukan sendiri oleh peneliti bersama dengan anggota kelompok studi. Peneliti mulai membagikan kuesioner implementasi pembelajaran tematik ke sekolah dasar afiliasi katolik, kristen, dan nasional di kota Yogyakarta. Teknik pengambilan kuesioner sendiri dilakukan dengan cara menawarkan kepada responden bahwa peneliti memberi batas pengisian satu minggu. Selama satu minggu responden diberi waktu untuk mengisi kuesioner, setelah itu peneliti datang dan mengambil kuesioner tersebut. B. Tingkat Pengembalian Kuesioner Penelitian ini dilakukan di sekolah dasar afiliasi katolik, kristen, dan nasional. Sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini sebanyak 86 responden. Peneliti telah menyediakan 115 buah kuesioner dalam melakukan pengumpulan data, 87

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 Kuesioner yang disebarkan sebanyak 96 kuesioner. Guru yang bersedia dan mengembalikan kuesioner sebanyak 55 responden atau 57,29%. Banyak kendala yang dihadapi ketika pelaksanaan penelitian berlangsung menjadi penyebab kurangnya terpenuhinya jumlah sampel yang dibutuhkan. Kendala-kendala tersebut antara lain beberapa sekolah menolak untuk dijadikan tempat penelitian. Alasannya karena sekolah tersebut sudah sering atau sedang digunakan untuk tempat penelitian oleh penelliti lain. Alasan lain karena guru sedang sibuk mengurus suatu acara sekolah atau sibuk mempersiapkan ujian sekolah. Adapun sekolah yang bersedia untuk dijadikan tempat penelitian, namun setelah satu minggu batas pengembalian tak urung mengembalikan juga. Alasannya, karena guru sibuk dan belum sempat mengisi. Terpaksa peneliti memberikan waktu dua hari lagi kepada responden. Setelah dua hari, reponden ternyata ada tugas keluar kota dan kuesioner belum juga diisi. Sepulangnya dari luar kota, peneliti mengingatkan responden untuk mengisi kuesioner agar tidak lupa, dan kali ini responden meminta lagi kuesioner yang akan diisi karena kuesioner hilang. Peneliti memberikan lagi kuesioner dan memberikan batas pengembaliannya. Kali ini responden sudah benar-benar mengembalikan, namun tidak semua responden di SD tersebut mengembalikan. C. Hasil Analisis 1. Hasil analisis implementasi pembelajaran tematik Data implementasi pembelajaran tematik yang diperoleh, diolah dengan menggunakan distribusi frekuensi (Riduwan, 2008: 70-72). Distribusi frekuensi

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 mempunyai tujuh tahap. Data implementasi pembelajaran tematik dihitung melalui tujuh tahap dalam distribusi frekuensi. Tahap pertama dengan mengurutkan data yang terkecil sampai data terbesar. Tahap kedua dengan dilakukan dengan menghitung jarak atau rentangan (R). Jarak atau rentangan diperoleh dengan mengurangkan data tertinggi dengan data terendah. Hasil yang diperoleh menunjukkan jarak atau rentangan (R) sebesar 30 (Lampiran 10). Tahap ketiga menghitung jumlah kelas (K). Jumlah kelas ditentukan berdasarkan teori masidjo (1995: 153). Jumlah kelas terdiri dari lima kelas, yakni sangat tinggi, tinggi, cukup, rendah, sangat rendah. Tahap keempat menghitung panjang kelas interval (P). Panjang kelas interval diperoleh dengan membagi rentangan dengan jumlah kelas. Panjang kelas interval yaitu 6 (Lampiran 10). Tahap kelima menghitung kelas interval. Kelas interval dapat dilihat pada tabel 4.1. Tabel 4.1 Panjang Kelas Interval Panjang Kelas 79 - 84 85 – 91 92 – 97 98 – 103 104 – 109 Kategori Sangat Rendah Rendah Cukup Tinggi Sangat Tinggi Tabel 4.1 menunjukkan panjang interval dengan kategori tertentu. Kategori panjang kelas interval, dimulai dari sangat rendah, rendah, cukup, tinggi, sangat tinggi. Tahap keenam menghitung urutan interval kelas. Hasil dari perhitungan tahap keenam dapat dilihat (Lampiran 10). Tahap ketujuh dengan memindahkan semua angka distribusi ke dalam hasil akhir. Hasil akhir perhitungan distribusi frekuensi dapat dilihat pada tabel 4.2.

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 Tabel 4.2 Hasil Perhitungan Daftar Distribusi Kategori Panjang Kelas Sangat Tinggi 104-109 Tinggi 98-103 Cukup 92-97 Rendah 85-91 Sangat Rendah 79-84 Total Frekuensi 3 5 13 23 10 54 Presentase 5,55% 9,25% 24,08% 42,6% 18,52% 100% Tabel 4.2 menunjukkan bahwa frekuensi yang diperoleh dari 54 responden, hanya 10 responden yang temasuk dalam kategori sangat rendah dengan presentase sebesar 18,52% dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik. Frekuensi sebanyak 23 responden termasuk dalam kategori rendah dengan presentase sebesar 42,6% dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik. Frekuensi sebanyak 13 responden termasuk dalam kategori cukup dengan presentasi sebesar 24,08%. Frekuensi sebanyak 5 responden termasuk dalam kategori tinggi dengan presentase sebesar 9,25% dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik. Frekuensi sebanyak 3 responden termasuk dalam kategori sangat tinggi dengan presentase 5,55% dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah sekolah dasar afiliasi katolik, kristen, dan nasional di Yogyakarta adalah rendah. 2. Hasil analisis perbedaan implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik Data faktor demografi pengalaman menggunakan pembelajaran tematik dibagi menjadi dua kelompok menggunakan distribusi frekuensi. Data yang ada diolah berdasarkan langkah yang ada. Langkah pertama yaitu mengurutkan data faktor

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 demografi pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. Hasil perhitungannya adalah: Jangkauan (R) = data tertinggi – data terendah. = 108 – 5 = 103 Banyak Kelas (K) =2 Interval Kelas (P) = = Batas kelas interval : 5 – 56 57 – 108 = 51,5 = 52 = sedikit = Banyak a) Uji Normalitas Pengolahan data selanjutnya untuk menganalisis data dari implementasi penggunaan pembelajaran tematik dan faktor demografi pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. Pengolahan data tersebut bertujuan untuk mengetahui perbedaan implementasi penggunaan pembelajaran tematik ditinjau dari faktor demografi pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. Data dianalisis dengan menggunakan program SPSS 16 pengukuran dilakukan dengan menghitung uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui bahwa data berdistribusi normal atau tidak. Data yang dinyatakan normal dilanjutkan dengan menghitung uji homogenitas. Apabila data dinyatakan tidak normal maka dilanjutkan ke uji non parametrik. Uji homogenitas untuk mengetahui sampel yang berasal dari populasi yang sama.

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 Uji Normalitas merupakan analisis statistik yang pertama kali dilakukan. Uji normalitas pada penelitian ini dilakukan pada faktor demografi pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. Data faktor demografi pengalaman menggunakan pembelajaran tematik dibagi menjadi dua kelompok yaitu senior dan junior. Pembagian kelompok tersebut berdasarkan teori Erlinayanti (2012: 47). Peneliti menghitung uji normalitas menggunakan teknik KolmogorovSmirnov dari program SPSS 16. Uji normalitas dilakukan pada masing-masing kelompok. Hipotesis berdasarkan rumusan masalah yang kedua adalah: Ho : Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal) Ha : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data tidak berdistribusi normal). Kriteria pengambilan keputusan didasarkan pada besaran signifikansi (α). Jika α 0,05 Ho gagal ditolak artinya distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Apabila α < 0,05 Ho ditolak artinya distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data tidak berdistribusi normal). Hasil uji normalitas pengalaman menggunakan pembelajaran tematik untuk kelompok senior dapat dilihat pada tabel 4.3: Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas Pengalaman Menggunakan Pembelajaran Tematik untuk Kelompok Senior Variabel Total implementasi Pembelajaran Tematik SD 4.896 Sig .702 Ket Normal Hasil SPSS 16 menunjukkan bahwa standar deviasi (SD) yang dihasilkan oleh implementasi pembelajaran tematik sebesar 4.896. Signifikansi yang

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 dihasilkan sebesar 0,702 (α ≥ 0,05), hal ini menunjukkan bahwa Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). (Lampiran 11). Hasil uji normalitas juga dapat dilihat dengan menggunakan visualisasi P-P Plot dan dengan melihat histogram. Hasil visualisasi P-P Plot dapat dilihat pada gambar 4.1. Gambar 4.1 Hasil uji normalitas P-P Plot data implementasi dengan pengalaman pembelajaran tematik kelompok senior Gambar 4.1 menunjukkan visualisasi P-P Plot uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar afiliasi katolik, kristen, dan nasional di kota Yogyakarta dengan pengalaman pembelajaran tematik kelompok senior (Lampiran 12). Data pada grafik disimbolkan dengan titik-titik berlubang. Titik-titik berlubang tersebut apabila terletak di sekitar garis maka termasuk data normal. Uji normalitas juga dilakukan dengan melihat histogram dengan kurva normal. Histogram yang membentuk atau mirip kurva normal maka merupakan data normal (Field, 2009: 136). Gambar 4.2 menunjukkan hasil analisis uji normalitas dengan histogram.

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 Gambar 4.2 Hasil uji normalitas histogram data implementasi dengan pengalaman menggunakan pembelajaran tematik kelompok senior Gambar 4.2 menunjukkan histogram membentuk atau mirip degan kurva normal. Histogram membentuk atau mirip dengan kurva normal maka data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar dengan pengalaman menggunakan pembelajaran tematik kelompok senior (Lampiran 13). Kelompok data kedua yaitu tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah dengan pengalaman menggunakan pembelajaran tematik kelompok junior. Hasil uji normalitas pengalaman menggunakan pembelajaran tematik untuk kelompok junior dapat dilihat pada tabel 4.4: Tabel 4.4 Hasil Uji Normalitas Pengalaman Menggunakan Pembelajaran Tematik untuk Kelompok Junior Variabel Total implementasi Pembelajaran Tematik SD 8.035 Sig .594 Ket Normal Hasil SPSS 16 menunjukkan bahwa standar deviasi (SD) yang dihasilkan oleh implementasi pembelajaran tematik sebesar 8.035. Signifikansi yang dihasilkan sebesar 0, 594 (α ≥ 0,05), hal ini menunjukkan bahwa Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal) (Lampiran 14). Hasil uji normalitas juga dapat dilihat dengan

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 menggunakan visualisasi P-P Plot dan dengan melihat histogram. Hasil visualisasi P-P Plot dapat dilihan pada gambar 4.3. Gambar 4.3 Hasil Visualisasi P-P Plot total implementasi pembelajaran tematik dengan Pengalaman Pembelajaran Tematik Kelompok Junior Gambar 4.3 menunjukkan visualisasi P-P Plot uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar afiliasi katolik, kristen, dan nasional di kota Yogyakarta dengan pengalaman pembelajaran tematik kelompok junior (Lampiran 15). Data pada grafik disimbolkan dengan titik-titik berlubang. Titik-titik berlubang tersebut apabila terletak di sekitar garis maka termasuk data normal. Uji normalitas juga dilakukan dengan melihat histogram dengan kurva normal. Histogram yang membentuk atau mirip kurva normal maka merupakan data normal (Field, 2009: 136). Gambar 4.4 menunjukkan hasil analisis uji normalitas dengan histogram Gambar 4.4 Hasil uji normalitas histogram data implementasi dengan pengalaman menggunakan pembelajaran tematik kelompok junior

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 Gambar 4.4 menunjukkan histogram membentuk atau mirip degan kurva normal. Histogram membentuk atau mirip dengan kurva normal maka data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar dengan pengalaman menggunakan pembelajaran tematik kelompok junior (Lampiran 16). b) Uji Homogenitas Uji homogenitas dilakukan dengan menggunajan Lavene Statistic di program SPSS 16. Hipotesi untuk uji homogenitas dalam penelitian ini adalah: Ho : Tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. Ha : Ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. Kriteria pengambilan keputusan didasarkan pada besaran signifikansi (α). Jika α 0,05, maka tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. Kriteria kedua, apabila Sig.(2-tailed) 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. Tabel 4.5 merupakan tabel yang menunjukkan hasil uji homogenitas tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan pengalaman menggunakan pembelajaran tematik.

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 Tabel 4.5 Hasil Uji Homogenitas Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik Dengan Pengalaman Menggunakan Pembelajaran Tematik Levene’s Test Equal variances assumed 0,004 Tabel 4.5 menunjukkan bahwa hasil Levene’s Test sebesar 0,004. Hasil tersebut menjelaskan bahwa sig. yang diperoleh 0,05. Artinya tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik atau Ho gagal ditolak. (Lampiran 17). c) Uji Hipotesis Uji hipotesis untuk menghitung tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik dalam penelitian ini yaitu Independent Sample T-Test. Hipotesis dalam penelitian ini adalah.: Hipotesis nol (Ho) : Tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. Hipotesis alternatif (Ha) : Ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. Pengambilan keputusan didasarkan pada besaran signifikansi (α). Jika α 0,05 maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Apabila α < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha gagal ditolak. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 varian satu jalur dengan SPSS 16. Hipotesis akan diterima apabila memiliki taraf siginifikansi kurang dari 0,05 (α < 0,05). Hasil uji hipotesis untuk pengalaman menggunakan pembelajaran tematik dapat dilihat pada tabel 4.6: Tabel 4.6 Uji hipotesis pengalaman menggunakan pembelajaran tematik Sig. (2-tailed) Equal variances not assumed T -1.989 Df 25.642 Nilai 0,57 Keterangan Ho gagal ditolak Tabel 4.6 menunjukkan hasil uji hipotesis menggunakan uji independent sample t-test. Hasil yang diperoleh yaitu t = -1.989 dan df = 25.642 dengan nilai sig. sebesar 0,057. Nilai sig. yang diperoleh 0,05 maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Artinya, tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. (Lampiran 18). 3. Hasil analisi perbedaan implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik Peneliti menghitung perbedaan pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah training pembelajaran tematik dengan menghitung uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesisnya. Data faktor demografi jumlah jam training pembelajaran tematik dibagi menjadi dua kelompok menggunakan distribusi frekuensi. Data yang ada diolah berdasarkan langkah yang ada. Langkah pertama yaitu mengurutkan data faktor demografi pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. Langkah selanjutnya yaitu menghitung jangkauan (R). Jangkauan (R) = data tertinggi – data terendah = 52 – 2 = 50

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Banyak Kelas (K) =2 Interval Kelas (P) = = Batas kelas interval : 2 – 26 27 – 51 99 = 25 = sedikit = Banyak Erlinayanti (2012: 47) menjelaskan bahwa apabila guru mempunyai jumlah jam training yang banyak, maka diduga kompetensi profesionalnya akan tinggi. Sebaliknya apabila jumlah jam training sedikit, maka diduga kompetensi profesionalnya akan rendah. a) Uji Normalitas Uji normalitas ini dilakukan untuk menguji implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik. Peneliti menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov dari program SPSS 16. Peneliti menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov karena penelitian ini termasuk data parametrik Ho : Distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal) Ha : Distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data tidak berdistribusi normal) Kriteria pengambilan keputusan didasarkan pada besaran signifikansi (α). Jika α 0,05 Ho gagal ditolak artinya distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal). Apabila α < 0,05 Ho ditolak artinya distribusi sampel berbeda secara signifikan dari distribusi normal

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 (data tidak berdistribusi normal). Uji normalitas faktor demografi jumlah jam training dikelompokkan menjadi 2 bagian berdasarkan teori Erlinayanti (2012: 47). Uji normalitas dilakukan dengan menghitung masing-masing kelompok. Hasil uji normalitas jumlah jam training untuk kelompok banyak dapat dilihat pada tabel 4.7. Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas Jumlah Jam Training untuk Kelompok Banyak Variabel Total implementasi Pembelajaran Tematik SD 6.465 Sig 0, 265 Ket Normal Hasil pengujian sebagaimana tersaji dalam tabel 4.7 menunjukkan bahwa nilai standar deviasi (SD) sebesar 6.465 dengan nilai signifikansi yang dihasilkan untuk implementasi sebesar 0,265, maka data normal. Artinya Ho gagal ditolak atau distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal) (Lampiran 19). Hasil uji normalitas juga dapat dilihat dengan menggunakan visualisasi P-P Plot dan dengan melihat histogram. Hasil visualisasi P-P Plot dapat dilihan pada gambar 4.5. Gambar 4.5 Hasil Visualisasi P-P Plot total implementasi pembelajaran tematik dengan jumlah jam training Pembelajaran Tematik Kelompok banyak

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 Gambar 4.5 menunjukkan visualisasi P-P Plot uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar afiliasi katolik, kristen, dan nasional di kota Yogyakarta dengan jumlah jumlah jam training pembelajaran tematik kelompok banyak (Lampiran 20). Titik-titik berlubang pada grafik merupakan data. Titik-titik berlubang tersebut jika terletak di sekitar garis maka data normal. Uji normalitas juga dilakukan dengan melihat histogram dengan kurva normal. Histogram yang membentuk atau mirip kurva normal maka data normal (Field, 2009: 136). Hasil analisis uji normalitas dengan histogram dapat dilihat pada gambar 4.6. Gambar 4.6 Hasil uji normalitas histogram data implementasi dengan jumlah jam training pembelajaran tematik kelompok banyak Gambar 4.6 menunjukkan histogram membentuk atau mirip degan kurva normal. Histogram membentuk atau mirip dengan kurva normal maka data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar dengan jumlah jam training pembelajaran tematik kelompok banyak (Lampiran 21). Kelompok data kedua yaitu tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah dengan jumlah jam training

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 pembelajaran tematik kelompok sedikit. Hasil uji normalitas jumlah jam training pembelajaran tematik untuk kelompok sedikit dapat dilihat pada tabel 4.8. Tabel 4.8 Hasil Uji Normalitas Jumlah Jam Training untuk Kelompok Sedikit Variabel Total implementasi Pembelajaran Tematik SD 7.257 Sig 1.000 Ket Normal Hasil pengujian sebagaimana tersaji dalam tabel 4.8 menunjukkan bahwa nilai standar deviasi (SD) sebesar 7.257 dengan nilai signifikansi yang dihasilkan untuk implementasi sebesar 1.000, maka data normal. Artinya Ho gagal ditolak atau distribusi sampel tidak berbeda secara signifikan dari distribusi normal (data berdistribusi normal) (Lampiran 22). Hasil uji normalitas juga dapat dilihat dengan menggunakan visualisasi P-P Plot dan dengan melihat histogram. Hasil visualisasi P-P Plot dapat dilihan pada gambar 4.7. Gambar 4.7 Hasil Visualisasi P-P Plot data implementasi pembelajaran tematik dengan jumlah jam training pembelajaran tematik kelompok sedikit Gambar 4.7 menunjukkan visualisasi P-P Plot uji normalitas data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar afiliasi katolik, kristen, dan nasional di kota Yogyakarta dengan jumlah jumlah jam training pembelajaran tematik kelompok sedikit (Lampiran 23). Titik-

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 titik berlubang pada grafik merupakan data. Titik-titik berlubang tersebut jika terletak di sekitar garis maka data normal. Uji normalitas juga dilakukan dengan melihat histogram dengan kurva normal. Hasil analisis uji normalitas dengan histogram dapat dilihat pada gambar 4.8. Gambar 4.8 Hasil uji normalitas histogram data implementasi dengan jumlah jam training pembelajaran tematik kelompok sedikit Gambar 4.8 menunjukkan histogram membentuk atau mirip degan kurva normal. Histogram membentuk atau mirip dengan kurva normal maka data tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah sekolah dasar dengan jumlah jam training pembelajaran tematik kelompok sedikit (Lampiran 24). b) Uji Homogenitas Uji homogenitas dilakukan dengan menggunajan Lavene Statistic di program SPSS 16. Hipotesi untuk uji homogenitas dalam penelitian ini adalah: Ho : Tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik. Ha : Ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik.

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 Kriteria pengambilan keputusan didasarkan pada besaran signifikansi (α). Jika α 0,05, maka tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik. Kriteria kedua, apabila Sig.(2-tailed) 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik. Tabel 4.9 merupakan tabel yang menunjukkan hasil uji homogenitas tingkat implementasi pembelajaran tematik dengan jumlah jam training pembelajaran tematik. Tabel 4.9 Hasil Uji Homogenitas Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik Dengan jumlah jam training Pembelajaran Tematik Levene’s Test Equal variances assumed 0,809 Tabel 4.9 menunjukkan bahwa hasil Levene’s Test sebesar 0,809. Hasil tersebut menjelaskan bahwa sig. yang diperoleh 0,05. Artinya tidak ada perbedaan varian antara tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik atau Ho gagal ditolak. (Lampiran 25). c) Uji Hipotesis Uji hipotesis untuk menghitung tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training dalam penelitian ini yaitu Independent sample ttest. Hasil pengujian hipotesis dalam penelitian ini adalah: Ho : Tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik. Ha : Ada perbedaan perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 105 ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik. Pengambilan keputusan menggunakan dua kriteria. Kriteria pertama, apabila Sig.(2-tailed) implementasi 0,05 dapat dikatakan bahwa Tidak ada perbedaan pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik Artinya Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Kriteria kedua, apabila Sig.(2-tailed) 0,05 maka dapat dikatakan bahwa Ada perbedaan perbedaan implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik. Hasil uji hipotesis untuk pengalaman menggunakan pembelajaran tematik dapat dilihat pada tabel 4.10: Tabel 4.10 Uji hipotesis jumlah jam training pembelajaran tematik Sig. (2-tailed) Equal variances not assumed T .403 Df 3.400 Nilai .711 Keterangan Ho gagal ditolak Tabel 4.10 menunjukkan hasil uji hipotesis menggunakan uji independent sample t-test. Hasil yang diperoleh yaitu t = -1.989 dan df = 25.642 dengan nilai sig. sebesar 0,711. Nilai sig. yang diperoleh 0,05 maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak. Artinya, tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik. (Lampiran 26). D. Pembahasan Hasil Penelitian Penelitian ini mempunyai tiga tujuan. Tujuan yang pertama yaitu mengetahui sejauh mana tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah sekolah dasar di kota Yogyakarta. Tujuan yang kedua yaitu mengetahui perbedaan implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 pembelajaran tematik. Tujuan ketiga yaitu mengetahui perbedaan implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik. 1. Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah sekolah dasar di kota Yogyakarta. Hasil penelitian dan pengukuran dengan menggunakan tahapan distribusi frekuensi. Hasil perhitungan dari 54 responden, hanya 10 responden yang temasuk dalam kategori sangat tinggi dengan presentase sebesar 18,52% dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik. Frekuensi sebanyak 23 responden termasuk dalam kategori tinggi dengan presentase sebesar 42,6% dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik. Frekuensi sebanyak 13 responden termasuk dalam kategori cukup dengan presentasi sebesar 24,08%. Frekuensi sebanyak 5 responden termasuk dalam kategori rendah dengan presentase sebesar 9,25% dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik. Frekuensi sebanyak 3 responden termasuk dalam kategori sangat rendah dengan presentase 5,55% dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah sekolah dasar afiliasi katolik, kristen, dan nasional di Yogyakarta adalah rendah. Pembelajaran tematik di sekolah dasar merupakan suatu hal yang relatif baru sehingga dalam implementasinya belum sesuai dengan yang diharapkan. Trianto (2011: 173) menyatakan bahwa model pembelajaran tematik tidak mudah untuk dilaksanakan karena memerlukan penyesuaian dan kemampuan adaptasi yang

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107 baik. Penerapan pembelajaran tematik membutuhkan guru yang kreatif dalam menyiapkan pembelajaran yang akan disampaikan supaya menjadi menarik, menyenangkan, dan bermakna bagi siswa. Tuntutan guru menjadi lebih banyak dan beban yang ditanggung oleh guru menjadi semakin berat. Beban lain yang ditanggung oleh guru yaitu guru harus mengubah kebiasaan mengajar, karena guru masih menyajikan kegiatan pembelajaran berdasarkan mata pelajaran/ bidang studi. Rusman (dalam Prastowo, 2013: 229-230) menyatakan bahwa terdapat sejumlah rambu-rambu yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran tematik. Rambu yang dimaksud ialah tidak semua mata pelajaran harus dipadukan; dimungkinkan akan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas semester; kompetensi yang tidak tercakup dalam tema tetap harus diajarkan melalui tema lain; pemilihan tema disesuaikan dengan karakteristik siswa. Penerapan pembelajaran tematik dilaksanakan melalui tiga tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian atau evaluasi (Prastowo ,2013: 231). Hajar (2013: 83) menjelaskan bahwa keberhasilan pembelajaran tematik ditentukan oleh penyusunan perencanaan pembelajaran. Kesalahan-kesalahan dalam tahap perencanaan ini akan mempengaruhi proses berikutnya. Guru perlu dengan cermat ketika membuat perencanaan kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam merumuskan pembelajaran tematik di sekolah menurut Hajar (2013: 83) yaitu guru harus mengenal standar kompetensi dan kompetensi dasar pada kelas dan semester yang sama dari setiap mata pelajaran, memilih tema yang dapat memadukan

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 kompetensi setiap kelas dan semester, membuat matriks hubungan kompetensi dasar yang sesuai dengan tema yang dipilih, membuat pemetaan pembelajaran tematik dalam bentuk jaringan topik, dan menyusun silabus dan rencana pembelajaran yang disesuaikan dengan jaringan topik pembelajaran. Pembelajaran tematik dapat dikatakan berhasil apabila penerapan pembelajaran disesuaikan dengan tahapan-tahapan yang sudah ditentukan. 2. Perbedaan implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. Hasil perhitungan menggunakan Independen sample t-test menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. Hipotesis penelitian menunjukkan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak, berarti hipotesis penelitian tidak sesuai dengan pengujian statistik. Pernyataan tersebut diambil berdasarkan taraf signifikansi yang diperoleh yaitu sebesar 0,057 (α >0,05). Peneliti menduga, ketidaksesuaian tersebut dikarenakan pengalaman berkaitan dengan kualitas perilaku guru. Buchori dalam (Supardi, 2013: 27) menjelaskan bahwa hal-hal yang mempengaruhi kualitas perilaku guru ada lima, yakni: (1) jenis kewenangan yang benar-benar diserahkan kepada guru; (2) kualitas atasan yang mengawasi dan mengontrol perilaku guru; (3) kebebasan yang diberikan kepada guru, baik di dalam di luar kelas; (4) hubungan guru dengan peserta didik; (5) pengetahuan guru tentang dirinya sendiri dan kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Peneliti menyimpulkan bahwa pengalaman

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 dalam menggunakan pembelajaran tematik tidak termasuk dalam kelima hal yang mempengaruhi kinerja guru tersebut. Zubaidah (2013) menyatakan bahwa metode tematik merupakan rencana baru pemerintah dan semestinya memerlukan proses yang lama untuk mematangkan metode tersebut. Salah satu contoh yang pernah menggunakan pembelajaran tematik adalah Fransiska Susilawati, seorang kepala Sekolah Dasar Nasional Plus Bogor Raya (Zubaidah, 2013). Beliau menyatakan bahwa sudah menerapkan metode pembelajaran tematik integratif sejak 2005. Persiapannya dilakukan selama satu tahun, dan hingga kini sudah tujuh tahun lamanya namun beliau menyatakan implementasi tersebut masih jauh dari sempurna. Sumitro dalam Andinta (2012: 39) juga menjelaskan bahwa guru harus selalu meningkatkan pengalaman dalam mengajar, sehingga guru akan mempunyai pengalaman yang banyak dan berkualitas. Guru yang mempunyai pengalaman yang banyak dan berkualitas diharapkan dapat menunjuang keberhasilan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Hoy dan Woolfolk (dalam Johari, 2009: 6) menyatakan bahwa pengalaman mengajar tidak memberi pengaruh secara statistik terhadap efikasi guru. Peneliti menyimpulkan bahwa pengalaman yang lama atau sebentar tidak menjamin suksesnya seorang guru dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik.

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 3. Perbedaan implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik Hasil perhitungan menggunakan Independent sample t-test menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari jumlah jam training pembelajaran tematik. Taraf signifikansi yang diperoleh sebesar 0,711. Hasil tersebut menunjukkan bahwa taraf signifikansi lebih besar dari α= 0,05 yang artinya. Hipotesis penelitian menunjukkan bahwa Ho gagal ditolak dan Ha ditolak, berarti hipotesis penelitian tidak sesuai dengan pengujian statistik. Peneliti menduga pelatihan yang sudah diberikan dirasa masih kurang untuk memahami materi. Penelitian data statistik melaporkan bahwa lamanya sesi pelatihan tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan efektifitas pengembangan profesional (Musfah, 2011: 88.). Waktu yang diberikan untuk mempelajari materi yang tinggi tidak sebanding dengan waktu yang diberikan untuk mempelajari materi yang sederhana. Waktu yang digunakan untuk pelatihan perlu disesuaikan dengan tingkat kesukaran setiap materi yang diberikan. Idealnya, materi yang diterima peserta pelatihan hanya satu materi pada setiap session/waktu (Musfah, 2011: 88.). Harapan dengan memberikan satu materi pada setiap session supaya peserta mampu menyerap materi serta mendalami dengan baik. Lieberman (dalam Musfah: 4) menjelaskan bahwa pelatihan yang singkat untuk para guru ketika menyampaikan topik yang sudah dipilih, bukanlah cara yang paling efektif dalam menyempurnakan perubahan praktik mengajar.

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 Pelatihan akan efektif saat disampaikan dengan penggabungan metode ceramah, dialog, diskusi, dan lainnya (Musfah, 2011: 86). Werther dan Davis (dalam Musfah: 5) menyebutkan prinsip-prinsip yang harus dimiliki ketika pelatihan-pelatihan berlangsung, yakni partisipasi, pengulangan, relevansi, pemindahan, dan pengaruh. Sujatmiko (2014) menambahkan bahwa kemendikbud harus memperbaiki pelatihan yang diberikan saat ini. Beberapa guru sudah mendapatkan pelatihan, namun ada juga guru yang masih bingung karena hanya mengikuti pelatihan beberapa kali saja.

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PENUTUP Bab V ini berisi tiga hal yang diuraikan oleh peneliti. Tiga hal yang diuraikan dalam bagian penutup adalah kesimpulan, keterbatasan penelitian, dan saran. A. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat ditarik berdasarkan analisis data dan pembahasan tentang tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah : survei bagi guru-guru sekolah dasar katolik kristen dan nasional di kota yogyakarta yaitu: 1. Hasil pengolahan dengan distribusi frekuensi menunjukkan bahwa sebanyak 23 responden dengan persentase 42,6% dalam penelitian mempunyai tingkat implementasi pembelajaran tematik rendah. Peneliti mengambil kesimpulan bahwa implementasi pembelajaran tematik oleh guru kelas bawah termasuk dalam kategori rendah. 2. Tidak ada perbedaan antara tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari pengalaman menggunakan pembelajaran tematik. Pernyataan tersebut dapat dilihat pada besarnya taraf signifikansi yaitu 0,57 lebih besar dari α =0,05. 3. Tidak ada perbedaan tingkat implementasi pembelajaran tematik ditinjau dari faktor jumlah jam training pembelajaran tematik. Pernyataan tersebut dapat dilihat dari besarnya taraf signifikansi yang lebih besar dari α= 0,05 yaitu sebesar 0,711. 112

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113 B. Keterbatasan Penelitian Kegiatan penelitian yang telah berlangsung masih terdapat kekurangan dalam proses pelaksanaannya. Kekurangan yang terdapat selama penelitian, peneliti anggap sebagai keterbatasan penelitian. Keterbatasan dalam penelitian ini meliputi: 1. Penelitian ini dilakukan bersamaan dengan kegiatan Program Pelaksanaan Lapangan (PPL) sehingga peneliti kesulitan dalam membagi waktu untuk penyebaran dan pengembalian kuesioner. 2. Sampel yang dibutuhkan tidak sesuai dengan tabel krecjie, dikarenakan beberapa responden tidak mau menerima dan terdapat beberapa kuesioner yang tidak kembali. 3. Indikator dalam instrument penelitian yang disusun masih bisa dikembangkan lagi. C. Saran Ada beberapa saran dari peneliti berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan. Saran yang diberikan oleh peneliti adalah sebagai berikut: 1. Pengambilan data penelitan sebaiknya tidak dilakukan secara bersamaan dengaan kegiatan Program Pelaksanaan Lapangan (PPL). 2. Penelitian sebaiknya tidak hanya dilakukan di Kota Yogyakarta, sehingga responden yang didapatkan bisa lebih banyak.

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 3. Instrumen disusun berdasarkan karakteristik pembelajaran tematik terintegrasi sedangkan beberapa sekolah masih menggunakan kurikulum 2006 yang belum menerapkan pembelajaran tematik terintegrasi.

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR REFERENSI Arikunto,Suharsimi.2006.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.Jakarta:PT.Rineka Cipta. Bambang.2007.Materi Sosialisasi dan Pelatihan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).Jakarta:Departemen Pendidikan Nasional. Chairunniza.2011.Pengaruh Karakterristik Demografi dan Motivasi Kerja terhadap Prestasi Kerja Pegawai Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Kabupaten Aceh Utara.Jakarta:Universitas Terbuka. Depdiknas.2009.Tematik.Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. __________.2008.Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).Jakarta:Gramedia. Dikti.2012.Suplemen bahan ajar:Unit4- Perkembangan Kurikulum.Jakarta:Dikti. Dilek,Dursun.2002.Using a Thematic Teaching Approach Based on Pupil’s Skill and Interest and Social Studies Teaching.Istanbul: Marmara University (Thesis). Erlinayanti,Andinta.2012.Pengaruh Latar Belakang Pendidikan, Pengalaman Mengajar dan Etos Kerja Guru terhadap Kompetensi Profesional Guru PKN di SMA Negeri di Kabupaten Magelang.S1.Skripsi (Online).UNY. diakses dari httpeprints.uny.ac.id85353BAB%202%20-%2005401241036.pdf. Field, A. 2009. Discovery Statistics Using SPSS Third Edition. London: SAGE Publication ltd Hajar,Ibnu.2013.Panduan Lengkap Kurikulum Tematik.Yogyakarta:Diva Press. Hidayat, Sholeh.2013. Pengembangan Kurikulum Baru.Bandung : PT.Remaja Rosdakarya. Hidayattulah, Anang Arif. 2012. Pelaksanaan pembelajaran tematik sd kelas rendah di Kecamatan Pandanarum Kabupaten Banjarnegara. Yogyakarta: Skripsi (Online) (eprints.uny.ac.id/5491/1/Anang%20Arif%20Hidayattulah.pdf diakses pada 15 Januari 2014). Jalal dan Supriadi. 2001.Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Jakarta:Adicita Karya Nusa. 115

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 116 Johari,Khalid.dkk.2009.Pengaruh Jenis Latihan Guru dan Pengalaman Mengajar terhadap Efikasi Guru Sekolah Menengah. Jurnal Pendidikan Malaysia 34 (2) : 3-14. Diakses dari http://www.ukm.my/jurfpend/journal/vol%2034_2%202009/pdf/Bab%201.pd f Johnshon, B & Chistensen, L. 2008. Education Research Third Edition. USA: SAGE Publication. Laela Luthfiyah Nur.Jurnal Pendidikan Dasar,Vol 7, No 1, 2006: 28-37. Majid.2014.Pembelajaran Tematik Terpadu Bandung:PT Rosdakarya. Masidjo. 1995. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa Di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius. Margono, S. 2010. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Mulyasa.2013.Pengembangan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung. PT Remaja Rosdakarya. Musfah,Jejen.2011.Peningkatan Kompetensi Guru.Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Muzamiroh, Mida Latifatul.2013.Kupas Tuntas Kurikulum 2013.Jakarta:Kata Pena. Nordstokke. 2011.The Operating Characteristics Od the Non Parametric Lavene’s Test for Equal Variances with Assesment and Evaluation Data. Practical Assesment, Rearch and Evaluation.10(5), p.1-8. Prastowo,Andi.2013.Pengembangan Bahan Ajar Tematik.Yogyakarta:Diva Press. Primasari, Maria Margareta Lega. 2011. Penerapan Paradigma Pedagogi Reflektif dalam Pembelajaran Tematik untuk Meningkatkan Competence, Consience, dan Compassion (3C) Peserta Didik Kelas II SD Kanisius Gayam.Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Riduwan.2008.Dasar-dasar Statistika.Bandung:Alfabeta Rismiati,Catur.2012.Teacher’s Concer Regarding the Implementation of Integrated Thematic Instruction:A Study of Primary Grade Teachers In Kanisius Catholic Schoolsin Yogyakarta,Indonesia.Loyola University Chicago.

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 117 Sanaky, Hujair. A.H. 2009.Reformasi Pendidikan Suatu Keharusan untuk Memasuki Milenium III (Suatu Renungan untuk Pendidikan Islam).Makalah. Santoso.Singgih.2010.Statistik Parametik.Jakarta:PT Elex Media Komputindo. Setyadi, Agustinus Wisnu. 2010. Perbedaan Kemampuan Memahami Teks Non Fiksi Dengan Teknik Membaca Cepat 250 Kata Per Menit Antara Siswa Laki-Laki dan Siswa Perempuan Kelas X SMA Pangudi Luhur Sedayu, Bantul, Yogyakarta Tahun Ajaran 2009/2010. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Siregar, S. 2010. Statistika Deskriptif Untuk Penelitian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Sugiyono. 2011. Metodologi Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta. __________. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Supardi.2013.Kinerja Guru.Jakarta:Rajagrafindo persada. Sujatmiko,Tomi.2014.Duh,Guru Tak Siap Jalankan Kurikulum 2013. Diakses pada hari Rabu, 12 Februari 2014. Suyono dan Hariyanto. 2011. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya. Trianto.2009. Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik.Jakarta: PT Prestasi Pustaka. __________.2011.Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik.Jakarta:Kencana Prenada Media Group. Usman ,Husaini & Purnomo Setiadi Akbar.2008.Pengantar Statistika.Jakarta:PT Bumi Aksara. Widjayanti,Trisna Budi.2012.Hubungan antara Karakteristik Individu, Psikologis dan Organisasi dengan Perilaku Pendokumentasian Asuhan. Keperawatan Unit Rawat Inap RS.MH.Thamrin Purwata. Depok:Universitas Indonesia. Zubaidah,Neneng.2013.Metode Tematik Integratif butuh proses lama. Diakses dari http://sports.sindonews.com/read/2013/01/29/15/712163/metode-tematikintegratif-butuh-proses-lama

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 1 Surat Ijin Penelitian 118

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 119

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 120

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 121

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 122

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 124

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 125

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 126

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 127

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 2. Surat Ijin Telah Melakukan Penelitian 128

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 129

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 130

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 131

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 134

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 138

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 139

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 3. Expert Judgement 140

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 141

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 142

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 143

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 144

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 145

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 146

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 147

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 148

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 149

(170) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 150

(171) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 151

(172) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 152

(173) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 153

(174) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 154

(175) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 155

(176) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 156

(177) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 157

(178) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 158

(179) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 159

(180) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 160

(181) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 161

(182) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 162

(183) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 163

(184) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 164

(185) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 165

(186) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 166

(187) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 167

(188) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 168

(189) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 169

(190) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 170

(191) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 171

(192) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 172

(193) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 173

(194) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 174

(195) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 175

(196) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 176

(197) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 177

(198) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 178

(199) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 179

(200) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 180

(201) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 181

(202) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 182

(203) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 183

(204) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 184

(205) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 185

(206) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 186

(207) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 187

(208) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 188

(209) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 189

(210) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 190

(211) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 191

(212) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 192

(213) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 193

(214) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 194

(215) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 195

(216) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 196

(217) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 197

(218) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 198

(219) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 199

(220) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 200

(221) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 201

(222) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 202

(223) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 203

(224) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 204

(225) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 205

(226) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 206

(227) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 207

(228) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 208

(229) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 209

(230) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 210

(231) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 211

(232) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 212

(233) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 213

(234) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 214

(235) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 215

(236) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 216

(237) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 217

(238) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 218

(239) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 219

(240) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 220

(241) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 221

(242) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 222

(243) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 223

(244) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 224

(245) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 225

(246) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 4. Validitas Muka 226

(247) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 227

(248) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 228

(249) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 229

(250) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 230

(251) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 231

(252) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 232

(253) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 233

(254) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 234

(255) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 235

(256) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 236

(257) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 5. Data Validitas 237

(258) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 6. Hasil Validitas Descriptive Statistics Mean TOTAL item1 item2 item3 item4 item5 item6 item7 item8 item9 item10 item11 item12 item13 item14 item15 item16 item17 item18 item19 item20 item21 item22 item23 item24 item25 item26 item27 item28 98.89 3.04 3.55 4.04 3.80 3.75 3.27 4.08 3.76 3.41 3.41 3.68 3.45 3.36 3.67 3.68 2.66 4.01 2.80 4.11 3.85 3.74 3.01 2.13 3.66 4.03 4.00 3.87 3.48 Std. Deviation 11.768 .958 .999 .867 .938 .902 .977 .726 .814 1.048 1.061 .820 1.088 .962 .985 .787 1.150 .683 1.071 .786 .996 .915 1.227 .806 1.014 .783 .748 .754 .742 N 76 76 76 74 76 75 75 76 76 76 76 76 76 76 76 76 76 76 76 74 75 76 76 76 76 76 76 76 75 238

(259) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 239

(260) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 7. Data Reliabilitas 240

(261) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 8. Hasil Reliabilitas Case Processing Summary N Cases Valid Excludeda Total % 54 88.5 7 11.5 61 100.0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Reliability Statistics Cronbach's Alpha .891 Cronbach's Alpha Based on Standardized Items N of Items .898 24 241

(262) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Item Statistics Mean Std. Deviation N item_1 3.09 .896 54 item_2 3.48 1.059 54 item_3 3.96 .846 54 item_4 3.78 1.022 54 item_5 3.61 .920 54 item_6 3.26 .955 54 item_7 4.02 .658 54 item_8 3.70 .768 54 item_10 2.78 1.110 54 item_11 3.52 .818 54 item_12 3.24 1.132 54 item_13 3.19 .953 54 item_14 3.52 1.077 54 item_15 3.67 .847 54 item_17 4.02 .687 54 item_19 4.02 .835 54 item_20 3.76 1.008 54 item_21 3.80 .810 54 item_23 3.81 .779 54 item_24 3.59 1.037 54 item_25 3.94 .763 54 item_26 3.96 .776 54 item_27 3.83 .771 54 item_28 3.41 .765 54 242

(263) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 243 Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted item1 item2 item3 item4 item5 item6 item7 item8 item10 item11 item12 item13 item14 item15 item17 item18 item19 item20 item21 item22 item23 item24 item25 item26 item27 item28 Scale Variance if Corrected Item- Squared Multiple Item Deleted Total Correlation Correlation 90.39 89.86 89.39 89.62 89.68 90.06 89.29 89.59 90.03 89.77 90.00 90.10 89.78 89.74 89.38 90.62 89.32 89.54 89.68 90.35 91.30 89.75 89.36 89.39 89.57 89.94 131.653 126.067 131.948 125.562 123.750 128.702 131.650 124.186 120.499 125.122 119.794 120.945 119.967 126.725 128.209 143.679 127.867 120.635 132.014 128.113 149.215 125.306 126.029 127.095 130.043 128.761 .220 .457 .250 .505 .637 .376 .363 .713 .676 .644 .696 .743 .760 .588 .608 -.282 .498 .758 .242 .299 -.658 .507 .658 .609 .407 .494 .480 .499 .534 .660 .594 .552 .472 .707 .814 .753 .740 .807 .774 .558 .719 .428 .522 .755 .560 .544 .831 .829 .748 .695 .523 .676 Scale Statistics Mean 93.42 Variance 137.600 Std. Deviation 11.730 N of Items 26 Cronbach's Alpha if Item Deleted .882 .876 .881 .874 .871 .878 .878 .870 .869 .871 .868 .868 .867 .873 .873 .897 .875 .867 .881 .881 .898 .874 .872 .873 .877 .875

(264) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 9. Data Asli 244

(265) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 10. Hasil Perhitungan Distribusi Frekuensi Implementasi Pembelajaran Tematik Jangkauan (R) = data tertinggi – data terendah. = 109 – 79 = 30 Banyak Kelas (K) =5 Interval Kelas (P) = = =6 Batas kelas interval : Panjang Kelas 79 - 84 85 - 91 92 - 97 98 - 103 104 – 109 Kategori Sangat Rendah Rendah Cukup Tinggi Sangat Tinggi 245

(266) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 246 Lampiran 11. Hasil Uji Normalitas Pengalaman Menggunakan Pembelajaran Tematik untuk Kelompok Senior Descriptive Statistics N Total Mean 32 Std. Deviation 88.69 5.343 Minimum Maximum 79 99 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test total N Normal Parameters 34 a Most Extreme Differences Mean 88.97 Std. Deviation 4.896 Absolute .121 Positive .121 Negative -.108 Kolmogorov-Smirnov Z .705 Asymp. Sig. (2-tailed) .702 a. Test distribution is Normal.

(267) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 12. Hasil Uji Normalitas Pengalaman Menggunakan Pembelajaran Tematik untuk Kelompok Senior dengan P-P Plot Estimated Distribution Parameters Total Normal Distribution Location 88.97 Scale 4.896 The cases are unweighted. 247

(268) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 13. Hasil Uji Normalitas Pengalaman Menggunakan Pembelajaran Tematik untuk Kelompok Senior dengan Histogram. Statistics total N Valid 34 Missing Mean Skewness Std. Error of Skewness Minimum Maximum Sum Percentiles 25 0 88.97 .126 .403 80 99 3025 86.50 50 89.00 75 92.00 total Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent 80 3 8.8 8.8 8.8 83 2 5.9 5.9 14.7 84 1 2.9 2.9 17.6 85 2 5.9 5.9 23.5 87 3 8.8 8.8 32.4 88 5 14.7 14.7 47.1 89 3 8.8 8.8 55.9 90 3 8.8 8.8 64.7 91 2 5.9 5.9 70.6 92 5 14.7 14.7 85.3 93 1 2.9 2.9 88.2 96 1 2.9 2.9 91.2 98 1 2.9 2.9 94.1 99 2 5.9 5.9 100.0 34 100.0 100.0 Total 248

(269) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 249

(270) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 14. Hasil Uji Normalitas Pengalaman Menggunakan Pembelajaran Tematik untuk Kelompok Junior Descriptive Statistics N Total Mean 19 Std. Deviation 93.00 8.035 Minimum Maximum 83 109 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test total N Normal Parametersa Most Extreme Differences 19 Mean 93.00 Std. Deviation 8.035 Absolute .177 Positive .177 Negative -.107 Kolmogorov-Smirnov Z .770 Asymp. Sig. (2-tailed) .594 a. Test distribution is Normal. 250

(271) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 251 Lampiran 15. Hasil Uji Normalitas Pengalaman Menggunakan Pembelajaran Tematik untuk Kelompok Junior dengan P-P Plot Estimated Distribution Parameters total Normal Distribution Location 93.00 Scale 8.035 The cases are unweighted.

(272) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 252 Lampiran 16. Hasil Uji Normalitas Pengalaman Menggunakan Pembelajaran Tematik untuk Kelompok Junior dengan Histogram Statistics total N Valid 19 Missing Mean Skewness Std. Error of Skewness Minimum Maximum Sum Percentiles 25 0 93.00 .441 .524 83 109 1767 85.00 50 92.00 75 100.00 total Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent 83 1 5.3 5.3 5.3 84 2 10.5 10.5 15.8 85 2 10.5 10.5 26.3 86 2 10.5 10.5 36.8 89 1 5.3 5.3 42.1 92 2 10.5 10.5 52.6 95 3 15.8 15.8 68.4 97 1 5.3 5.3 73.7 100 1 5.3 5.3 78.9 102 1 5.3 5.3 84.2 104 2 10.5 10.5 94.7 109 1 5.3 5.3 100.0 Total 19 100.0 100.0

(273) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 253

(274) 254 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 17. Hasil Uji Homogenitas Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik Dengan Pengalaman Menggunakan Pembelajaran Tematik Group Statistics rentang Total N Mean Std. Deviation Std. Error Mean 1 34 88.97 4.896 .840 2 19 93.00 8.035 1.843 Independent Samples Test Total Levene's Test for Equality F of Variances t Means df Equal variances variances not assumed assumed 9.221 Sig. t-test for Equality of Equal .004 Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference -2.273 -1.989 51 25.642 .027 .057 -4.029 -4.029 1.772 2.025 95% Confidence Interval of the Lower -7.588 -8.196 Difference Upper -.471 .137

(275) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 18. 255 Uji hipotesis pengalaman menggunakan pembelajaran tematik Independent Samples Test Total Equal Levene's Test for Equality of F Variances t-test for Equality of Means variances Equal variances assumed not assumed 9.221 Sig. .004 t df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference -2.273 -1.989 51 25.642 .027 .057 -4.029 -4.029 1.772 2.025 95% Confidence Interval of Lower -7.588 -8.196 the Difference Upper -.471 .137

(276) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 256 Lampiran 19. Hasil Uji Normalitas Jumlah Jam Training Untuk Kelompok Banyak Descriptive Statistics N Mean Implementasi 49 Std. Deviation 90.51 Minimum 6.465 Maximum 79 109 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Implementasi N Normal Parameters 49 a Most Extreme Differences Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) a. Test distribution is Normal. Mean 90.51 Std. Deviation 6.465 Absolute .144 Positive .144 Negative -.082 1.005 .265

(277) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 257 Lampiran 20. Hasil Uji Normalitas Jumlah Jam Training Untuk Kelompok Banyak dengan P-P Plot Estimated Distribution Parameters implementasi Normal Distribution Location 90.51 Scale 6.465 The cases are unweighted.

(278) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 258 Lampiran 21. Hasil Uji Normalitas Jumlah Jam Training Untuk Kelompok Banyak dengan Histogram Statistics implementasi N Valid 49 Missing Mean Std. Deviation Minimum Maximum Sum Percentiles 25 0 90.51 6.465 79 109 4435 85.50 50 89.00 75 94.00 Implementasi Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent 79 1 2.0 2.0 2.0 80 1 2.0 2.0 4.1 83 3 6.1 6.1 10.2 84 3 6.1 6.1 16.3 85 4 8.2 8.2 24.5 86 2 4.1 4.1 28.6 87 2 4.1 4.1 32.7 88 5 10.2 10.2 42.9 89 4 8.2 8.2 51.0 90 3 6.1 6.1 57.1 91 2 4.1 4.1 61.2 92 6 12.2 12.2 73.5 93 1 2.0 2.0 75.5 95 3 6.1 6.1 81.6 96 1 2.0 2.0 83.7 98 1 2.0 2.0 85.7 99 2 4.1 4.1 89.8 100 1 2.0 2.0 91.8 102 1 2.0 2.0 93.9 104 2 4.1 4.1 98.0 109 1 2.0 2.0 100.0 Total 49 100.0 100.0

(279) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 259

(280) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 260 Lampiran 22. Hasil Uji Normalitas Jumlah Jam Training untuk Kelompok Sedikit Descriptive Statistics N Mean implementasi 4 Std. Deviation 89.00 Minimum 7.257 Maximum 80 97 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Implementasi N Normal Parameters 4 a Most Extreme Differences Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) a. Test distribution is Normal. Mean 89.00 Std. Deviation 7.257 Absolute .160 Positive .143 Negative -.160 .321 1.000

(281) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 261 Lampiran 23. Hasil Uji Normalitas Jumlah Jam Training untuk Kelompok Sedikit dengan P-P Plot Estimated Distribution Parameters implementasi Normal Distribution Location 89.00 Scale 7.257 The cases are unweighted.

(282) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 262 Lampiran 24. Hasil Uji Normalitas Jumlah Jam Training untuk Kelompok Sedikit dengan Histogram Statistics implementasi N Valid 4 Missing Mean Std. Deviation Minimum Maximum Sum Percentiles 25 0 89.00 7.257 80 97 356 81.75 50 89.50 75 95.75 Implementasi Frequency Valid Percent Valid Percent Cumulative Percent 80 1 25.0 25.0 25.0 87 1 25.0 25.0 50.0 92 1 25.0 25.0 75.0 97 1 25.0 25.0 100.0 Total 4 100.0 100.0

(283) 263 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 25. Hasil Uji Homogenitas Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik Dengan jumlah jam training Pembelajaran Tematik Group Statistics rentang implementasi N Mean Std. Deviation Std. Error Mean 1 49 90.51 6.465 .924 2 4 89.00 7.257 3.629 Independent Samples Test implementasi Levene's Test for Equality of F Variances t-test for Equality of Means Equal Equal variances variances not assumed assumed .059 Sig. .809 t .446 .403 51 3.400 .658 .711 Mean Difference 1.510 1.510 Std. Error Difference 3.387 3.744 df Sig. (2-tailed) 95% Confidence Interval of Lower -5.290 -9.650 the Difference Upper 8.311 12.670

(284) 264 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 26. Uji hipotesis jumlah jam training pembelajaran tematik Independent Samples Test implementasi Levene's Test for Equality of F Variances t-test for Equality of Means Equal Equal variances variances not assumed assumed .059 Sig. .809 t .446 .403 51 3.400 .658 .711 Mean Difference 1.510 1.510 Std. Error Difference 3.387 3.744 df Sig. (2-tailed) 95% Confidence Interval of Lower -5.290 -9.650 the Difference Upper 8.311 12.670

(285) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 27. Tabel Krejcie 265

(286) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 266 Lampiran 28. Kuesioner Sebelum dan Sesudah Revisi Kepada Yth. Bpk./Ibu Guru SD Dengan hormat, Bersama ini saya mohon partisipasi Bpk/Ibu dalam penelitian awal survei yang berjudul: Implementasi Pembelajaran Tematik Terintegrasi (PTT): Sebuah Survey pada Guru-Guru di Sekolah Dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) tingkat implementasi PTT oleh guru di kelas, dan (2) hubungan antara keadaan demografi guru dengan tingkat implementasi PTT. Tidak akan ada resiko apapun untuk keterlibatan Bpk/Ibu dalam studi ini. Walaupun Bpk/Ibu tidak akan mendapat manfaat secara pribadi, hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi masyarakat umum di masa mendatang. Pengisian survei akan memakan waktu sekitar 30 menit. Jika Bpk/Ibu memiliki pertanyaan, atau saran, dimohon untuk menghubungi saya pada alamat atau nomer telpon pada bagian akhir surat pengantar ini atau dosen pembimbing saya Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D. dengan alamat email ematuris@gmail.com. Terima kasih atas waktu dan dukungan Bapak/Ibu. Hormat saya, Koordinator peneliti survei Dimas Prasetyo Aji (Phone 087739301502, Email ajidimas56@yahoo.com) Primary School Teacher Education Study Program, Sanata Dharma University Dosen pembimbing : Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D Patangpuluhan WB 3/298 Yogyakarta, 55251. emanuelacatur@gmail.com Phone 0274 379917 (home) or 081227286363 (mobile)

(287) 267 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAGIAN I. Skala Implementasi Pembelajaran Tematik Terintegrasi Silakan menentukan tingkat persetujuan Bpk/Ibu atas pernyataanpernyataan berikut , angka 1 berarti sangat tidak setuju, 2 berarti tidak setuju, 3 berarti ragu-ragu, 4 berarti setuju dan 5 berarti sangat setuju. Pernyataan Skala 1. Saya menggunakan ceramah sebagai metode utama untuk menyampaikan materi. 1 2 3 4 5 2. Saya memberi pilihan kepada siswa untuk menentukan cara mereka belajar. 1 2 3 4 5 3. Peran yang saya lakukan di kelas adalah sebagai fasilitator pembelajaran. 1 2 3 4 5 4. Saya menggunakan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk memegang peran utama dalam kelas. 1 2 3 4 5 5. Saya menggunakan kegiatan “belajar dengan melakukan atau belajar dengan mengalami” (learning by doing) untuk pembelajaran di kelas seperti siswa melakukan percobaan atau siswa melakukan presentasi. 1 2 3 4 5 6. Saya meminta siswa untuk membawa artefak (barang) pribadi agar mereka lebih mudah memahami materi pembelajaran. 1 2 3 4 5 7. Saya menggunakan sumber belajar langsung dalam menyampaikan materi (misalnya gambar, foto, tanaman, hewan dan media/teknologi yang bisa diraba, dilihat atau didengar siswa) 1 2 3 4 5 8. Saya menyediakan berbagai sumber belajar di kelas sehingga siswa dapat mendalami tema pembelajaran melalui berbagai cara dan material. 1 2 3 4 5 9. Saya mengajar materi lima bidang studi ke-SD-an secara terpisah (Matematika, Bahasa, PPKn, IPA dan IPS). 1 2 3 4 5 10. Ketika saya menggunakan Pembelajaran Tematik, siswa saya dapat mengerti adanya keterkaitan antar mata pelajaran. 1 2 3 4 5 11. Saya menyatukan paling sedikit dua atau lebih mata pelajaran secara 1 2 3 4 5

(288) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 268 rutin. 12. Saya mengembangkan Pembelajaran Tematik untuk mengajar berbagai mata pelajaran sekaligus. 1 2 3 4 5 13. Saya merancang pembelajaran dalam suatu tema sentral untuk membantu siswa belajar berbagai mata pelajaran sekaligus. 1 2 3 4 5 14. Saya menggunakan pemetaan atau jaringan tema untuk mengembangkan konsep utama dari berbagai mata pelajaran. 1 2 3 4 5 15. Pembelajaran saya mendorong siswa untuk memahami adanya persamaan konsep antar mata pelajaran. 1 2 3 4 5 16. Jadwal mengajar saya adalah jadwal per mata pelajaran (misalnya Senin mengajar IPA dan Matematika, Selasa mengajar IPS dan Bahasa Indonesia, dst). 1 2 3 4 5 17. Saya mengaitkan tema dan materi pelajaran dengan lingkungan sekitar seperti kerumahtanggaan, kota dan lingkungan alam. 1 2 3 4 5 18. Saya memberitahu siswa tentang hal-hal yang saat ini sedang menjadi perdebatan di masyarakat misalnya korupsi, pornografi, dll. 1 2 3 4 5 19. Saya mengaitkan materi dengan pengalaman hidup siswa. 1 2 3 4 5 20. Ketika mengembangkan Pembelajaran Tematik, saya menggunakan tema-tema yang sesuai dengan pengalaman hidup dan budaya para siswa. 1 2 3 4 5 21. Saya menggunakan materi atau alat penilaian yang sesuai dengan kebutuhan setiap siswa. 1 2 3 4 5 22. Saya menggunakan tes tertulis (misalnya esai, pilihan ganda, benar salah) sebagai metode utama dalam menilai hasil belajar siswa. 1 2 3 4 5 23. Saya menggunakan penilaian unjuk kerja untuk menilai hasil belajar siswa. 1 2 3 4 5 24. Saya menggunakan portofolio kerja untuk menilai hasil belajar siswa. 1 2 3 4 5 25. Saya menggunakan permainan, bermain peran, simulasi dan strategi 1 2 3 4 5

(289) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 269 pembelajaran lainnya yang melibatkan siswa secara aktif. 26. Saya menggunakan nyanyian, tarian dan aktivitas menyenangkan lainnya dalam mengajar. 1 2 3 4 5 27. Saya menggunakan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk aktif bergerak ketika belajar. 1 2 3 4 5 28. Saya menggunakan pembelajaran kelompok kooperatif seperti: Jigsaw, STAD, kepala bernomor, investigasi kelompok, dan sebagainya. 1 2 3 4 5 Bagian II. Dukungan Administratif pada Pelaksanaan Pembelajaran Tematik Silakan menentukan tingkat persetujuan Bpk/Ibu atas pernyataan-pernyataan berikut , angka 1 berarti sangat tidak setuju, 2 berarti tidak setuju, 3 berarti ragu-ragu, 4 berarti setuju dan 5 berarti sangat setuju. 29. Kepala Sekolah saya mendukung para guru yang mengajar dengan menggunakan pendekatan Pembelajaran Tematik. 1 2 3 4 5 30. Kepala Sekolah saya mengetahui adanya tambahan beban kerja yang ada sehubungan dengan pelaksanaan Pembelajaran Tematik. 1 2 3 4 5 31. Kepala Sekolah saya mengkomunikasikan kepada para guru tentang pentingnya mengajar dengan pendekatan Pembelajaran Tematik. 1 2 3 4 5 32. Kepala Sekolah saya mengetahui cara menilai kualitas pembelajaran dengan pendekatan Pembelajaran Tematik. 1 2 3 4 5 33. Kepala Sekolah saya memiliki sikap yang positif terhadap pengajaran dengan pendekatan Pembelajaran Tematik. 1 2 3 4 5 34. Kepala Sekolah saya secara positif mengenali penggunaan Pembelajaran Tematik untuk kepentingan jabatan, kedudukan, status dan pangkat. 1 2 3 4 5

(290) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 270 Bagian III. Demografi Pada bagian ini, Bpk/Ibu dipersilahkan untuk mengisi pertanyaan yang ada sesuai dengan situasi Bpk/Ibu saat ini. 35. Berapa tahun pengalaman mengajar Bpk/Ibu pada tingkat pendidikan dasar? _____________ tahun. 36. Saat ini Bapak/Ibu mengajar di kelas _____________ 37. Berapa tahun Bpk/Ibu telah menggunakan PendekatanTematik? _____________ tahun. 38. Sekitar berapa jam keterlibatan Bpk/Ibu dalam pengembangan profesional berkaitan dengan Pembelajaran Tematik? (catatan: jumlah jam pengembangan profesional adalah jumlah total jam dari kegiatan-kegiatan formal yang Bpk/Ibu ikuti tentang Pembelajaran Tematik misalnya lokakarya, pelatihan, seminar, program, kursus, atau konferensi). ___________ jam. 39. Berapa jumlah siswa di kelas Bpk/Ibu sekarang? _________ siswa. 40. Silakan melingkari pendidikan terakhir Bpk/Ibu dengan tabel berikut ini! A. Sekolah Menengah Umum atau Kejuruan (SMU atau SMK) B. Sekolah Pendidikan Guru (SPG) C. Sarjana Pendidikan non PGSD (misalnya P. Mat., P. Fis., P. Ekonomi, P. Sejarah) D. Sarjana D2-PGSD E. Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) F. Master (S2) G. Lainnya 41. Silakan mengisi status kepegawaian Bpk/Ibu dengan menggunakan tabel berikut ini ! A. Pegawai Tidak Tetap Yayawan (Honor, Kontrak, dll.) B. Pegawai Tetap Yayasan C. Pegawai Negeri

(291) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 271 42. Berapakah jumlah rekan kerja guru di sekolah Bpk/Ibu yang menggunakan Pembelajaran Tematik? ___________ orang. 43. Apakah sekolah Bp/Ibu saat ini menerapkan kurikulum 2013? A. Ya B. Tidak ***Terima Kasih atas Kebaikan Anda***

(292) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 29. Contoh Kuesioner yang Sudah diisi 272

(293) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 273

(294) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 274

(295) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 275

(296) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 276

(297) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 30. Data Coding No Nama Sekolah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 SD P 1 SD P 2 SD P 3 SD P 4 SD BT SD BG SD BC 1 SD BC 2 SD TJ SD TB 1 SD TB 2 SD TBH 1 SD TBH 2 SD TBHh 3 SD BB SD TMBI SD BK SD KKK SD PR SD BW SD MRS 1 SD MRS 2 SD NA SD ND Kode guru kelas 1 A.1.1 A.1.2 A.1.3 A.1.4 B.1 C.1 D.1.1 D.1.2 E.1 F.1.1 F.1.2 G.1.1 G.1.2 G.1.3 H.1 I.1 J.1 K.1 L.1 M.1 N.1.1 N.1.2 O.1.1 O.1.2 Kode guru kelas II A.2.1 A.2.2 A.2.3 A.2.4 B.2 C.2 D.2.1 D.2.2 E.2 F.2.1 F.2.2 G.2.1 G.2.2 G.2.3 Guru kelas III A.3.1 A3.2 A.3.2 A.3.4 B.3 C.3 D.3.1 D.3.2 E.3 F.3.1 F.3.2 G.3.1 G.3.2 G.3.3 I.2 J.2 K.2 L.2 M.2 N.2.1 N.2.2 O.2.1 O.2.2 I.3 J.3 K.3 L.3 M.3 N.3.1 N.3.2 O.3.1 O.2.3 277

(298) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 31. r Tabel 278

(299) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Lampiran 32. Tabel Tingkat Pengembalian Kuesioner Nama Sekolah SD P 1 SD P 2 SD P 3 SD P 4 SD BT SD BG SD BC 1 SD BC 2 SD TJ SD TB 1 SD TB 2 SD TBH 1 SD TBH 2 SD TBHh 3 SD BB SD TMBI SD BK SD KKK Jumlah Responden Sebar 12 8 6 6 3 12 8 8 8 1 3 3 9 3 3 8 7 3 111 12 8 6 3 12 8 8 8 1 3 3 3 3 8 7 3 96 Tidak kembali 7 1 2 3 1 8 - Ditolak Kembali 6 8 8 9 3 - 5 7 4 3 12 5 1 2 3 3 7 3 55 279

(300) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 280 Lampiran 33. Biodata Peneliti BIODATA Dian Anggraeni dilahirkan di Sleman, Yogyakarta pada tanggal 14 April 1992. Peneliti merupakan anak ke dua dari tiga bersaudara dari pasangan Supardi dan FL.Suparti. Pendidikan yang pernah ditempuh yaitu: SD Negeri Ujungmanik 03 lulus tahun 2004; SMP Negeri 01 Kawunganten lulus 2007, Cilacap; SMA Negeri 01 Jeruk Legi lulus 2010. Peneliti tercatat sebagai mahasiswa Universitas Sanata Dharma semenjak tahun 2010-2014, jurusan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Selama perkuliahan, peneliti mengikuti berbagai macam kegiatan. Diantaranya PPKM-1, PPKM-2, yang diselenggarakan oleh Universitas dimana peneliti berperan sebagai peserta wajib dalam kegiatan tersebut. Kegiatan selanjutnya yang diikuti oleh peneliti adalah seminar diseminasi hasil (PHK), UNA seminar and workshop on anti bies, seminar dan whorkshop permainan tradisional, KMD yang merupakan khursus mahir dasar kepramukaan. Masa pendidikan diakhiri dengan menyusun skripsi sebagai tugas akhir yang berjudul “Tingkat Implementasi Pembelajaran Tematik oleh Guru Pengampu Kelas Bawah: Survei Bagi Guru-Guru Sekolah Dasar Afiliasi Katolik, Kristen, dan Nasional Di Kota Yogyakarta”.

(301)

Dokumen baru

Download (300 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan persepsi guru tentang pelaksanaan pembelajaran tematik dengan kinerja guru di Sekolah Dasar Se-Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman.
0
1
167
Hubungan persepsi guru tentang pelaksanaan pembelajaran tematik dengan kinerja guru di Sekolah Dasar Se-Kecamatan Moyudan Kabupaten Sleman.
0
0
171
st pelatihan implementasi pembelajaran tematik guru di wukirsari imogiri bantul 2012
0
0
1
Sikap guru terhadap program sertifikasi dalam peningkatan kinerja guru : studi kasus guru-guru sekolah menengah atas di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
111
Pemanfaatan komputer oleh guru fisika dalam pembelajaran fisika di SMA Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta [sebuah survei pada tahun 2008] - USD Repository
0
0
190
Hubungan supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru : studi kasus guru-guru sekolah menengah atas di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
147
Persepsi guru terhadap program sertifikasi guru dalam jabatan ditinjau dari tingkat pendidikan, golongan jabatan, masa kerja, dan usia guru : survei guru-guru Sekolah Menengah Pertama Negeri dan Swasta Kabupaten Sleman - USD Repository
0
0
191
Hubungan supervisi kepala sekolah dengan kepuasan kerja guru sekolah menengah atas : survei guru-guru Sekolah Menengah Atas se-Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
123
Representasi materi pembelajaran oleh dua orang guru fisika pada dua SMA di Yogyakarta - USD Repository
0
0
252
Perbedaan kompetensi guru sebelum dan sesudah mengikuti program sertifikasi : studi kasus guru-guru Sekolah Menengah Atas (SMA) negeri dan swasta di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
197
Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah : sebuah survei bagi guru-guru Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
321
Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah: sebuah survei bagi guru-guru Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
333
Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah : survei bagi guru-guru SD Afiliasi Katholik, Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
284
Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah: sebuah survei bagi guru-guru Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
300
Tingkat implementasi pembelajaran tematik oleh guru pengampu kelas bawah: survei bagi guru-guru Sekolah Dasar Afiliasi Katolik, Kristen dan Nasional di Kota Yogyakarta - USD Repository
0
0
310
Show more