Kesalahan kalimat pada karangan narasi siswa kelas VI SD Negeri 1 dan 2 Pataman Tanggamus - Lampung tahun ajaran 2006/2007 : sebuah studi kasus - USD Repository

Gratis

0
0
137
4 months ago
Preview
Full text

  

KESALAHAN KALIMAT PADA KARANGAN NARASI SISWA

KELAS VI SD NEGERI 1 DAN 2 PATOMAN TANGGAMUS-LAMPUNG

TAHUN AJARAN 2006/2007: SEBUAH STUDI KASUS

SKRIPSI

  

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah

  

Disusun oleh :

Theresia Evi Kusuma Dewi

021224059

PROGRAM STUDI BAHASA, SASTRA INDONESIA, DAN DAERAH

  

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2007

  MOTO Bila kekacauan mengguncang jiwa Dan hari seakan berat menimpa,

  Kubuka hati dan merasakan Damai Tuhan menenangkan pikiran (Hess)

  

PERSEMBAHAN

Karya yang sederhana ini kupersembahkan untuk :

  1. Allah Bapa di surga

  2. Bapak dan Ibu tercinta

  

3. Sayangku Antonius Soebiyantoro yang selalu menemaniku

dalam suka dan duka

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

  Yogyakarta, 22 Maret 2007 Theresia Evi Kusuma Dewi

  

ABSTRAK

Dewi, Theresia Evi Kusuma. 2007. Kesalahan Kalimat pada Karangan Narasi Siswa

Kelas VI SD Negeri 1 dan 2 Patoman Tanggamus-Lampung Tahun Ajaran

  2006/2007: Sebuah Studi Kasus . Skripsi Program Sarjana (S-1). Yogyakarta: PBSID, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

  Penelitian ini meneliti Kesalahan Kalimat pada Karangan Narasi Siswa Kelas

  

VI SD Negeri 1 dan 2 Patoman Tanggamus-Lampung Tahun Ajaran 2006/2007: Sebuah

Studi Kasus . Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan dan menghitung jenis-

  jenis kesalahan kalimat pada karangan narasi siswa kelas VI SD Negeri 1 dan 2 Patoman, (2) mendeskripsikan jenis-jenis kesalahan kalimat yang paling banyak dilakukan siswa, dan (3) mendeskripsikan sebab-sebab ke-salahan kalimat yang dilakukan siswa.

  Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi pe-nelitian ini adalah siswa kelas VI SDN 1 dan 2 Patoman yang berjumlah 66 orang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan memberikan tes menceritakan kembali berdasarkan cerita yang telah diperdengarkan, mengisi angket, dan wawancara dengan guru bahasa Indonesia.

  Berdasarkan hasil dari penelitian ini kesimpulannya adalah: (1) jenis kesalahan unsur subjek 108 kesalahan, kesalahan unsur predikat 95 kesalahan, kesalahan unsur subjek dan predikat 9 kesalahan, kesalahan unsur objek 39 ke-salahan, kesalahan unsur pelengkap 15 kesalahan, dan kesalahan unsur keterangan 76 kesalahan, (2) kesalahan kalimat yang paling banyak dilakukan adalah jenis kesalahan unsur subjek 108 kesalahan, kesalahan unsur predikat 95 kesalahan, kesalahan unsur keterangan 76 kesalahan, kesalahan unsur objek 39 kesalahan, kesalahan unsur pelengkap 15 kesalahan, kesalahan unsur subjek dan predikat 9 kesalahan, dan (3) faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesalahan kalimat siswa ialah : (a) pemakaian bahasa siswa, (b) pemakaian bahasa dalam keluarga, (c) pemakaian bahasa dalam masyarakat, dan (d) pemakaian bahasa di sekolah.

  Berdasarkan hasil penelitian, peneliti memberikan saran (1) bagi guru bahasa Indonesia hendaknya memberikan teori tentang pembentukan dan pe-nerapannya dalam kalimat serta memberikan pelatihan soal kepada siswa, (2) bagi pihak sekolah diharapkan meningkatkan kualitas guru dengan mencari evaluasi dan metode yang tepat sehingga tercipta pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa, (3) bagi Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, diharapkan mahasiswa calon guru dapat mengoptimalkan pengetahuannya untuk mengajarkan bahasa Indonesia dengan baik di dunia pendidikan sehingga dapat meminimalkan kesalahan yang sering dilakukan siswa, dan (4) bagi peneliti lain, hasil penelitian dapat dipakai untuk pengembangan penelitian sejenis atau hal-hal lain yang berkaitan dengan kesalahan bahasa di sekolah-sekolah yang lain. Penulis juga mengharapkan agar penelitian selanjutnya menemukan metode-metode pengajaran tentang struktur kalimat yang dapat dengan mudah dipahami oleh siswa.

  

ABSTRACT

Dewi, Theresia Evi Kusuma, 2007. Sentence’s Errors on Narration Composition at

Sixth Grade Students of Public Elementary School 1 and 2 Patoman

  Tanggamus-Lampung Academic Year 2006/2007: A Case Study.

  Undergraduate Thesis (S-1). Yogyakarta: PBSID, Faculty of Teaching and Education Sanata Dharma University.

  The title of the research is

  Sentence’s Errors on Narration Composition at Sixth

Grade Students of Public Elementary School 1 and 2 Patoman Tanggamus-Lampung

Academic Year 2006/2007: A Case Study . The purposes of the research are (1) to

  describe and count the kinds of sentence’s errors on sixth grade student’s of Public Elementary school 1 and 2 Patoman narration composition, (2) to describe students’ mostly done errors on sentences, and (3) to describe the causes of sentence’s errors which is done by the students.

  This is a quantitative descriptive research. The population of the research are 66 persons who are the Sixth Grade Students of Public Elementary School 1 and 2 Patoman. The techniques of gathering data are by giving retelling test, filling up the questionnaire, and interviewing the bahasa Indonesia teachers.

  Based on the results of this research, the conclusions are: (1) there are 108 errors of subject, there are 95 errors of predicate, there are 9 errors of subject and predicate, there are 39 errors of object, there are 15 errors of complement, and there are 76 errors of adverb, (2) students’ mostly done errors are 108 subject errors, 95 predicate errors, 76 adverb errors, 39 object errors, 15 complement errors, 9 subject and predicate errors, and (3) the causes of sentence’s errors which is done by the students are: (a) the use of the language by the students, (b) the use of the language in the family, (c) the use of the language by the society, and (d) the use of the language at school.

  Based on the result of the research, the researcher give advices: (1) Indonesian language teacher should gives the theory about sentence formation and its application and also give enough exercises to the students, (2) school should increase the teachers’ quality by evaluation and appropriate method so it will give a comforting learning condition for students, (3) all teacher candidates have to optimize their knowle dge in teaching bahasa Indonesia so it will minimize student’s errors, and (4) hopefully, the result of the research can be used in developing another kind of research or other cases which are related to language errors at other schools. The researcher is expecting that the next other researcher will be able to find the more understandable teaching methods in the structure of sentence.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala cinta dan kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Kesalahan Kalimat pada

  

Karangan Narasi Siswa Kelas VI SD Negeri 1 dan 2 Patoman Tanggamus-Lampung

Tahun Ajaran 2006/2007: Sebuah Studi Kasus. Penyusunan skripsi ini merupakan salah

  satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Universitas Sanata Dharma.

  Penulis menyadari bahwa skripsi ini dapat diselesaikan berkat bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

  1. Bapak Dr. J. Karmin, M.Pd., selaku dosen pembimbing I yang selalu sabar membimbing, meluangkan banyak waktu, tenaga, dan pikiran dalam menyusun skripsi ini.

  2. Bapak Drs. G. Sukadi, selaku dosen pembimbing II yang banyak memberikan bimbingan dan pengarahan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

  3. Drs. J. Prapta Diharja, SJ. M. Hum., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah.

  4. Seluruh Dosen PBSID yang telah memberikan bekal ilmu kepada peneliti.

  5. Fx. Sudadi, karyawan PBSID yang telah memberikan pelayanan dengan baik kepada penulis.

  6. Bapak dan Ibu karyawan perpustakaan.

  7. Kedua orang tuaku, bapak dan ibu yang tercinta. Terima kasih atas segala doa, dukungan, dan cinta kasih kepada penulis.

  8. Adik-adikku Eva, Erri, Ela, dan Inez, mbak sayang kalian.

  9. Yang terkasih, Mas Aan. Terima kasih atas dukungan, perhatian, kasih sayang dan doanya.

  10. Keluarga besar penulis di Lampung dan di Yogyakarta, terima kasih atas doa dan dukungannya.

  11. Keluarga besar Bapak Soedibyo, Ibu Y. Supalmi, dan Mbak Wiwin di Wonosobo, terima kasih atas dukungannya.

  12. Sahabatku Mbak Deri, Restu, Erry, Nietha, Andee, Doni, Desy, Prima, Novra terima kasih atas bantuan dan dukungannya.

  13. Teman-teman PBSID yang telah memberikan semangat kepada penulis.

  14. Keluarga di Brojowikalpo 24A Yuni, Yani, Mbak Ita, Mbak Rini, Mbah Putri dan Mbah Kakung terima kasih atas segala dukungan dan bantuannya.

  15. Teman-teman kos asrama tengah Gejayan 14B, khususnya Mbak Erlin.

  16. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu per satu, terima kasih atas bantuannya dalam proses penyelesaian skripsi ini.

  Skripsi ini tentu masih mengandung berbagai kekurangan yang disebabkan oleh keterbatasan pikiran, waktu dan tenaga penulis. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun agar skripsi ini lebih mendekati sempurna. Akhir kata, semoga skripsi ini bermanfaat untuk menambah ilmu pengetahuan bagi semua pihak.

  Penulis

  DAFTAR ISI LEMBAR JUDUL

  i

  PERSETUJUAN

  ii

  PENGESAHAN

  iii

  MOTO

  iv

  PERSEMBAHAN

  v

  PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

  vi

  ABSTRAK

  vii

  ABSTRACT

  viii

  KATA PENGANTAR

  ix

  DAFTAR ISI

  xi

  DAFTAR TABEL

  xiv

  DAFTAR GRAFIK

  xv

  DAFTAR LAMPIRAN

  xvi

  BAB I PENDAHULUAN

  1.1 Latar Belakang Masalah ..................................................................................... 1

  1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 2

  1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................................ 3

  1.4 Manfaat Penelitian .............................................................................................. 4

  1.5 Variabel ...............................................…………………………………………. 5

  1.6 Batasan Istilah ...................................................................................................... 5

  1.7 Sistematika Penyajian ………………………………………………………….. 6

  BAB II LANDASAN TEORI

  2.1 Penelitian yang Relevan ......................................................................................7

  2.2 Kerangka Teori ....................................................................................................9

  BAB III METODOLOGI PENELITIAN

  3.1 Jenis Penelitian .................................................................................................... 32

  3.2 Populasi Penelitian .............................................................................................. 32

  3.3 Instrumen Penelitian ........................................................................................... 33

  3.4 Teknik Pengumpulan Data .................................................................................. 33

  3.5 Teknik Analisis Data ........................................................................................... 34

  BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  4.1 Deskripsi Data...................................................................................................... 35

  4.2 Analisis Data........................................................................................................ 37

  4.3 Pembahasan Hasil Penelitian ............................................................................... 50

  BAB V PENUTUP

  5.1 Kesimpulan .......................................................................................................... 58

  5.2 Implikasi .............................................................................................................. 59

  5.3 Saran .................................................................................................................... 60

  

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 62

LAMPIRAN

  Lampiran 1 Data Kesalahan Kalimat……………………………………………….. 64 Lampiran 2 Data Hasil Angket……………………………………………………... 75 Lampiran 3 Data Hasil Wawancara………………………………………………… 81 Lampiran 4 Soal Tes Karangan……………………………………………………... 83

  Lampiran 5 Teks Cerita Rakyat “Malin Kundang si Anak Durhaka”………………. 84 Lampiran 6 Hasil Karangan Narasi…………………………………………………. 85 Lampiran 7 Kisi-

  Kisi Angket……………………………………………………….. 108 Lampiran 8 Soal Angket…………………………………………………………….. 110 Lampiran 9 Hasil Angket Siswa…………………………………………………….. 118 Lampiran 10 Lembar Wawancara………………………………………………….... 150 Lampiran 11 Surat Izin Penelitian……………………………………………………152 Lampiran 12 Surat Keterangan Penelitian…………………………………………... 154 Lampiran 13 Daftar Riw ayat Hidup………………………………………………… 156

  

DAFTAR TABEL

Halaman

  Tabel 1 Jumlah Kalimat dan Kesalahan Siswa Kelas VI SDN 1 Patoman

  36 Tabel 2 Jumlah Kalimat dan Kesalahan Siswa Kelas VI SDN 2 Patoman

  37 Tabel 3 Persebaran Kesalahan Struktur Kalimat Siswa SDN 1 dan 2 Patoman

  38 Tabel 4 Kesalahan Struktur Kalimat Siswa Kelas VI SDN 1 Patoman

  39 Tabel 5 Kesalahan Struktur Kalimat Siswa Kelas VI SDN 2 Patoman

  40 Tabel 6 Hasil Angket Siswa SDN 1 dan 2 Patoman

  46

  

DAFTAR GRAFIK

Halaman

  Gambar 1.Jumlah Kesalahan Kalimat Siswa SD 1 dan 2 Patoman

  53

  

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

  Lampiran 1 Data Kesalahan Kalimat

  64 Lampiran 2 Data Hasil Angket

  75 Lampiran 3 Data Hasil Wawancara

  81 Lampiran 4 Soal Tes Karangan

  83 Lampiran 5 Teks Cerita Rakyat “Malin Kundang si Anak Durhaka”.

  84 Lampiran 6 Hasil Karangan Narasi

  85 Lampiran 7 Kisi-Kisi Angket 108

  Lampiran 8 Soal Angket 110

  Lampiran 9 Hasil Angket Siswa 118

  Lampiran 10 Lembar Wawancara 150

  Lampiran 11 Surat Izin Penelitian 152

  Lampiran 12 Surat Keterangan Penelitian 154 Lampiran 13 Daftar Riwayat Hidup 156

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

  Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan dan bahasa negara milik bangsa Indonesia yang digunakan sebagai alat komunikasi. Bahasa Indonesia merupakan bahasa kedua setelah bahasa daerah (bahasa pertama/bahasa ibu). Meskipun demikian, bahasa Indonesia mempunyai kedudukan lebih penting daripada bahasa daerah. Kedudukan bahasa Indonesia yang penting itu bukan karena mutunya se- bagai bahasa, bukan karena besar-kecilnya jumlah kosakatanya atau keluwesan dalam tatar kalimatnya, dan bukan pula karena kemampuan daya ungkapnya (Alwi, 2003: 2).

  Menurut Nababan (1988: 94) sebagai bahasa kedua, bahasa Indonesia perlu dipelajari anak-anak dari SD hingga SLTA, agar mereka mampu meng- gunakannya dalam komunikasi segala situasi dan keperluan, termasuk (meng- gunakan bahasa Indonesia) dalam keperluan interaksi kelas dan komunikasi sopan-santun. Kegiatan berbahasa yang diajarkan di sekolah meliputi empat ke- terampilan berbahasa: berbicara, menyimak, menulis, dan membaca (Nababan, 1988: 90). Menurut Alwi (2003: 8), pokok pengajaraan bahasa di sekolah pada hakikatnya berkisar pada peningkatan keterampilan berbicara dan menulis.

  Bahasa Indonesia diajarkan dan digunakan sebagai bahasa pengantar di sekolah. Namun, kesalahan yang dilakukan siswa masih sering terjadi. Kesalahan yang dilakukan siswa dapat berupa kesalahan ejaan (pemakaian huruf, pengguna- an huruf kapital, dan pemakaian tanda baca), kesalahan ucapan, ketidaktepatan pemilihan kata, kesalahan struktur kalimat, dan pemborosan penggunaan kata. Karena keterbatasan waktu dan tenaga, peneliti hanya mengambil permasalahan yang berkaitan dengan penggunaan struktur kalimat. Penelitian dilakukan pada karangan narasi karena materi tentang narasi sudah diajarkan sejak kelas II sekolah dasar. Selain itu, materi narasi bagi siswa mudah dipelajari.

  Penelitian ini diadakan di SD Negeri 1 dan 2 Patoman Kabupaten Tanggamus-Lampung khususnya siswa kelas VI. Peneliti memilih lokasi di Lampung karena adanya keragaman bahasa yang digunakan siswa di sekolah (di dalam kelas atau di luar kelas), misalnya ada bahasa Jawa, Lampung, Sunda, dan sebagainya. Penggunaan bahasa yang berbeda-beda dapat mempengaruhi siswa dalam membuat kalimat baku. Peneliti memilih siswa kelas VI SD karena materi narasi terdapat dalam kurikulum 2004 dan sampai saat ini kurikulum 2004 masih digunakan. Di SD Negeri 1 dan 2 Patoman Kabupaten Tanggamus-Lampung belum pernah dilakukan penelitian. Hal ini perlu diteliti untuk mengetahui seberapa jauh kesalahan yang dilakukan siswa dan sebab-sebab (kesalahan yang dilakukan siswa).

1.2 Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang masalah di atas, rumusan masalah yang akan diteliti adalah:

  1. Apa saja jenis kesalahan kalimat pada karangan narasi siswa kelas VI SD Negeri 1 dan 2 Patoman Kabupaten Tanggamus-Lampung?

  2 Jenis kesalahan kalimat apa yang paling banyak terdapat pada karangan narasi siswa?

  3. Apa sebab-sebab kesalahan kalimat pada karangan narasi siswa?

1.3 Tujuan Penelitian

  Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan:

  1. Mendeskripsikan dan menghitung jenis-jenis kesalahan kalimat pada karangan narasi siswa kelas VI. Jenis-jenis kesalahan kalimat meliputi kesalahan subjek, predikat, objek, pelengkap, dan kesalahan keterangan.

  2. Mendeskripsikan jenis-jenis kesalahan kalimat yang paling banyak dilakukan siswa kelas VI. Deskripsi dilakukan dari kesalahan kalimat yang paling tinggi sampai kesalahan kalimat yang paling rendah.

  3. Mendeskripsikan sebab-sebab kesalahan kalimat yang dilakukan siswa kelas

  VI. Sebab-sebab kesalahan kalimat yang dilakukan siswa diperoleh melalui angket dan wawancara. Angket diberikan kepada siswa dengan jumlah soal sebanyak 22 soal. Garis besar angket meliputi faktor siswa, faktor keluarga, faktor lingkungan, dan faktor sekolah. Wawancara dilakukan bersama guru bahasa Indonesia SD negeri 1 dan 2 patoman.

1.4 Manfaat Penelitian Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat sebagai berikut.

  1. Bagi Guru Pengampu Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada guru pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia agar mereka dapat mengetahui letak kesalahan yang dilakukan siswa dan mengupayakan perbaikannya. Selain itu, guru diharapkan dapat mencegah atau menghindari kesalahan yang akan datang sehingga siswa dapat menggunakan bahasa dengan baik dan benar.

  2. Bagi Pihak Sekolah Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pihak sekolah untuk meningkatkan kualitas guru. Peningkatan kualitas guru dapat dilakukan dari segi metode pembelajaran yang lebih bervariasi, sehingga tercipta suatu pem- belajaran yang menyenangkan dan dapat memberikan motivasi bagi siswa.

  3. Bagi Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (Universitas Sanata Dharma) Dengan penelitian ini diharapkan mahasiswa calon guru dapat mengoptimal- kan pengetahuannya agar memperoleh bekal untuk mengajarkan mata pelajaran

  Bahasa Indonesia dengan baik di dunia pendidikan.

  4. Bagi Peneliti lain Hasil penelitian dapat memberikan informasi untuk pengembangan penelitian sejenis atau hal-hal lain yang masih dapat diteliti lagi.

  1.5 Variabel

  Variabel dalam penelitian ini adalah kesalahan kalimat pada karangan narasi siswa kelas 6 SD Negeri 1 dan 2 Patoman Kabupaten Tanggamus- Lampung.

  1.6 Batasan Istilah

  a. Kesalahan Menurut Tarigan (1988: 75-76) kesalahan lebih disebabkan oleh faktor kompetensi, artinya siswa belum memahami sistem linguistik bahasa yang di- gunakan. Kesalahan biasanya terjadi secara konsisten dan dapat berlangsung lama jika tidak diperbaiki.

  b. Kekeliruan Kekeliruan (mistake) adalah penyimpangan-penyimpangan yang tidak sistematis seperti kekeliruan ucapan karena faktor keletihan, emosi, dan sebagai- nya (Corder via Baradja, 1990: 94).

  c. Analisis kesalahan berbahasa Analisis kesalahan berbahasa adalah suatu prosedur yang digunakan para peneliti dan para guru, yang mencakup pengumpulan sampel bahasa pelajar, pengenalan kesalahan yang terdapat pada sampel tersebut, pendeskripsian ke- salahan, pengklasifikasiannya berdasarkan sebab-sebabnya yang telah dihipotesis- kan, serta pengevaluasian keseriusannya (Ellis, 1987: 296 via Tarigan, 1988: 170). d. Kalimat Kalimat yaitu satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud tulis, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda seru (!), atau tanda tanya Alwi (2003: 311).

  e. Narasi Narasi adalah suatu bentuk wacana tertulis yang berusaha menggambarkan dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca suatu peristiwa yang telah terjadi (Keraf,

  2001: 136).

1.6 Sistematika Penyajian

  Skripsi ini terdiri atas 5 bab. Bab I Pendahuluan, berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, rumusan variabel dan batasan istilah, dan sistematika penyajian. Bab II Landasan Teori, berisi tentang penelitian yang relevan dan teori-teori yang mendukung untuk me- lakukan penelitian. Bab III Metodologi Penelitian yang terdiri atas jenis peneliti- an, populasi dan sampel penelitian, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data. Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan, berisi tentang deskripsi data, analisis data, dan pembahasan hasil penelitian. Bab V Penutup meliputi kesimpulan, implikasi, dan saran.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Penelitian yang Relevan

  Peneliti menemukan empat penelitian yang relevan masing-masing dilaku- kan oleh Nurul Musrifah (1999), Dwi Mardawiningsih (1999), Diana Anggreani Kumalasari (2004), dan Maria Helena Dane Namang (2005).

  Penelitian Nurul Musrifah (1999) diberi judul Analisis Kesalahan

  

Sintaksis pada Karangan Siswa Kelas III SLTP Negeri 13 Yogyakarta Tahun

Pelajaran 1998/1999 . Tujuan penelitian (1) mendeskripsikan kesalahan diksi pada

  karangan siswa kelas III SLTP Negeri 13 Yogyakarta, (2) mendeskripsikan ke- salahan penyusunan frase, (3) mendeskripsikan kesalahan penggunaan preposisi (kata depan), dan (4) mendeskripsikan kesalahan penggunaan konjungsi (kata penghubung). Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini adalah (1) kesalahan diksi sebesar 75 buah, (2) kesalahan penyusunan frase se- besar 15 buah, (3) kesalahan preposisi sebesar 35 buah, dan (4) kesalahan konjungsi sebesar 66 buah.

  Kesalahan kosakata dan ketidakefektifan kalimat diteliti oleh Dwi Mardawiningsih (1999) dengan judul Analisis Kesalahan Kosakata dan Ketidak-

  

efektifan Kalimat pada Karangan Siswa Kelas II SLTPN 1 Playen Gunungkidul

  Yogyakarta. Tujuan penelitian (1) mendeskripsikan seberapa besar kesalahan penggunaan kosakata pada karangan siswa kelas II SLTPN 1 Playen Gunungkidul Yogyakarta dan (2) mendeskripsikan seberapa besar ketidakefektifan kalimat. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini adalah

  (1) kesalahan penggunaan kosakata sebesar 211 butir (65,73%) dan (2) kesalahan ketidakefektifan kalimat sebesar 110 butir (34,27%).

  Penelitian yang dilakukan oleh Diana Anggreani Kumalasari (2004) berjudul Kesalahan Berbahasa Bidang Sintaksis pada Karangan Argumentasi

  

Siswa Kelas II Kejar Paket C di Kecamatan Kotagede Yogyakarta tahun ajaran

2003/2004 (Sebuah Studi Kasus). Tujuan penelitiannya adalah (1) mendeskripsi-

  kan kesalahan kekurangan unsur kalimat pada karangan argumentasi siswa kelas

  II kejar paket C di Kecamatan Kotagede Yogyakarta tahun ajaran 2003/2004, (2) mendeskripsikan kesalahan urutan unsur kalimat, dan (3) mendeskripsikan ke- salahan urutan kata dalam frasa. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ditemukan sebanyak 123 kesalahan, meliputi: (1) ke- salahan kekurangan unsur kalimat ada 117, (2) kesalahan urutan unsur kalimat ada 1, dan (3) kesalahan urutan kata dalam frasa ada 5.

  Penelitian Maria Helena Dane Namang (2005) diberi judul Analisis

  

Kesalahan Sintaksis dalam Karangan Argumentasi Siswa Kelas II SMAK

Frateran Podor Larantuka Tahun Ajaran 2003/2004 . Tujuan penelitian (1) men-

  deskripsikan kesalahan frase, (2) mendeskripsikan kesalahan klausa, (3) men- deskripsikan kesalahan kalimat, dan (4) mendeskripsikan penalaran dalam karang- an argumentasi siswa. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian (1) kesalahan frase ada 10, (2) kesalahan klausa ada 137, (3) kesalahan kalimat ada 54, dan (4) aspek penalaran ditemukan 4 karangan yang tidak menujukkan hubungan yang tegas antara fakta-fakta atau evidensi dengan kesimpulan.

  Dari keempat penelitian di atas, dapat diketahui bahwa semua yang diteliti berkaitan dengan kesalahan berbahasa khususnya di bidang sintaksis pada karang- an secara umum dan argumentasi. Tidak satu pun yang meneliti kesalahan sintak- sis pada karangan narasi. Untuk itu, kesalahan sintaksis pada karangan narasi secara khusus perlu diteliti. Yang diteliti adalah kesalahan sintaksis khususnya struktur kalimat pada karangan narasi siswa. Selain itu, diteliti juga sebab-sebab kesalahan kalimat pada karangan narasi siswa.

2.2 Kerangka Teori

2.2.1 Analisis Kesalahan Berbahasa

  Ditemukan dua pendapat dari ahli bahasa tentang kesalahan dan kekeliru- an. Menurut Corder (via Baradja, 1990: 94), kesalahan (error) adalah pe- nyimpangan berbahasa yang sifatnya sistematis, konsisten, dan menggambarkan kemampuan siswa pada tahap tertentu. Sedangkan kekeliruan (mistake) adalah penyimpangan-penyimpangan yang tidak sistematis seperti kekeliruan ucapan karena faktor keletihan, emosi, dan sebagainya.

  Menurut Tarigan (1988: 75-76) kesalahan lebih disebabkan oleh faktor kompetensi. Artinya, siswa belum memahami sistem linguistik bahasa yang di- gunakan. Kesalahan biasanya terjadi secara konsisten dan dapat berlangsung lama jika tidak diperbaiki. Perbaikan yang dapat dilakukan guru misalnya melalui peng- ajaran remedial, latihan praktik, dan sebagainya. Jika tahap pemahaman siswa akan sistem bahasa yang digunakan ternyata kurang, kesalahan sering terjadi dan kesalahan akan berkurang jika tahap pemahaman semakin meningkat. Kekeliruan pada umumnya disebabkan oleh faktor performansi. Keterbatasan dalam meng- ingat sesuatu atau kelupaan menyebabkan kekeliruan dalam melafalkan bunyi bahasa, kata, urutan kata, tekanan kata atau kalimat, dan sebagainya. Kekeliruan dapat diperbaiki oleh siswa apabila lebih sadar atau memusatkan perhatian. Siswa sebenarnya sudah mengetahui sistem linguistik bahasa yang digunakan, namun karena sesuatu hal dia lupa akan sistem tersebut. Kelupaan ini biasanya tidak lama, karena itu pula, kekeliruan itu sendiri tidak bersifat lama. Dari dua pendapat di atas diambil pendapat Tarigan tentang kesalahan dan pendapat Corder (via Baradja) tentang kekeliruan, karena masing-masing tepat untuk dijadikan dasar teori.

  Untuk memperhitungkan kesalahan yang dilakukan siswa, diperlukan suatu analisis kesalahan berbahasa. Ellis (via Tarigan, 1988: 170) mendefinisikan analisis kesalahan berbahasa sebagai “suatu prosedur yang digunakan para peneliti dan para guru, yang mencakup pengumpulan sampel bahasa pelajar, pengenalan kesalahan yang terdapat pada sampel tersebut, pendeskripsian kesalahan, peng- klasifikasiannya berdasarkan sebab-sebabnya yang telah dihipotesiskan, serta pengevaluasian keseriusannya”. Pateda (1989: 32) mengemukakan bahwa analisis kesalahan berbahasa merupakan suatu teknik untuk mengidentifikasi, meng- klasifikasi, dan menginterprestasi kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh pem- belajar yang sedang belajar bahasa kedua secara sistematis berdasarkan teori dan prosedur linguistik.

2.2.2 Daerah Kesalahan Berbahasa

  Pateda (1989: 51-61), menyebutkan empat daerah kesalahan berbahasa :

  1. Daerah Kesalahan Fonologis Kesalahan ini berkaitan dengan pelafalan dan penulisan bunyi bahasa.

  Daerah kesalahan ini meliputi pemakaian huruf kapital, penulisan kata, dan tanda baca.

  2. Daerah Kesalahan Morfologis Kesalahan bidang morfologis berkaitan dengan tata bentuk kata. Dalam bahasa Indonesia kesalahan bidang morfologi meliputi derivasi, diksi, konta- minasi, dan pleonasme.

  3. Daerah Kesalahan Sintaktis Kesalahan sintaktis berhubungan dengan kalimat dan berkaitan dengan daerah morfologi karena kalimat berunsurkan kata-kata. Oleh karena itu, kesalah- an ini mencakup (1) kalimat yang berstruktur tidak baku, (2) kalimat yang ambigu, (3) kalimat yang tidak jelas, (4) diksi yang tidak tepat dalam membentuk kalimat, (5) kontaminasi kalimat, (6) koherensi, (7) kalimat mubazir, (8) kata se- rapan yang digunakan dalam kalimat, dan (9) logika kalimat.

  4. Daerah Kesalahan Semantis Kesalahan semantik berhubungan dengan studi tentang makna. Makna ber- hubungan dengan bayangan imajinasi kita tentang sesuatu, apakah benda, peris- tiwa, proses atau abstraksi sesuatu.

  Tarigan (1988: 198-200) mengemukakan empat daerah kesalahan berbahasa:

  1. Kesalahan Fonologis Kesalahan fonologis meliputi dua jenis kesalahan yaitu kesalahan ucapan dan kesalahan ejaan. Kesalahan ucapan adalah kesalahan mengucapkan kata sehingga menyimpang dari ucapan baku atau bahkan menimbulkan perbedaan makna. Kesalahan ejaan adalah kesalahan menuliskan kata atau kesalahan menggunakan tanda baca.

  2. Kesalahan Morfologis Kesalahan morfologis adalah kesalahan memakai bahasa disebabkan salah memilih afiks, salah menggunakan kata ulang, salah menyusun kata majemuk, dan salah memilih bentuk kata.

  3. Kesalahan Sintaktis Kesalahan sintaktis adalah kesalahan atau penyimpangan struktur frasa, klausa atau kalimat serta ketidaktepatan pemakaian partikel.

  4. Kesalahan Leksikon Kesalahan leksikon adalah kesalahan memakai kata yang tidak atau kurang tepat.

  Penelitian ini hanya berfokus pada kesalahan sintaksis, khususnya peng- gunaan kalimat. Jadi, daerah kesalahan berbahasa lainnya tidak dibahas. Teori yang digunakan lebih berfokus pada pendapat Tarigan karena teori kesalahan sintaktis dibagi dengan tepat yaitu frasa, klausa atau kalimat serta ketidaktepatan pemakaian partikel. Sedangkan teori tentang kesalahan sintaktis yang dikemuka- kan oleh Pateda, kurang tepat. Misalnya, menurut Pateda kesalahan sintaktis men- cakup kesalahan koherensi (yang seharusnya masuk pada analisis wacana).

2.2.3 Pengertian Kalimat

  Jika seseorang menggunakan ragam tulisan untuk mengungkapkan pendapatnya, kalimat yang digunakan dalam ragam tulisan harus lebih cermat sifatnya. Empat pendapat berikut dapat memberikan gambaran apa yang dimaksud dengan kalimat. Kridalaksana (1993: 92) mengemukakan bahwa kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final, dan secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa.

  Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri, yang mempunyai pola intonasi akhir dan yang terdiri dari klausa (Cook 1971: 39- 40; Elson dan Pickett, 1969: 82 via Tarigan, 1985: 8).

  Ramlan (2001: 23) mengemukakan bahwa kalimat adalah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik.

  Pengertian kalimat juga diungkapkan oleh Alwi (2003: 311) yaitu satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh.

  Dalam wujud tulis, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda seru (!), atau tanda tanya.

  Dari beberapa pendapat di atas, pendapat yang akan digunakan yaitu pendapat yang diungkapkan oleh Alwi. Beliau mendefinisikan kalimat secara lengkap karena diwujudkan pada bahasa lisan dan bahasa tulis.

  2.2.4 Kalimat Efektif

  Konsep kalimat efektif dikenal dalam hubungan fungsi kalimat selaku alat komunikasi. Kalimat dikatakan efektif bila mampu membuat proses penyampaian dan penerimaan berlangsung dengan sempurna. Kalimat yang efektif mampu membuat isi atau maksud yang disampaikan tergambar lengkap dalam pikiran si penerima (pembaca), persis seperti apa yang disampaikan (Razak, 1985:2).

  Menurut Badudu (1989: 129) sebuah kalimat dikatakan efektif bila men- capai sasarannya dengan baik sebagai alat komunikasi. Kalimat efektif haruslah memenuhi syarat sebagai kalimat yang baik: strukturnya teratur, kata yang di- gunakan mendukung makna secara tepat, dan hubungan antarbagiannya logis.

  2.2.5 Unsur-unsur Kalimat

  Menurut Alwi (2003: 312-313) klausa merupakan satuan sintaksis yang terdiri atas dua kata, atau lebih, yang mengandung unsur predikasi. Kalimat dalam banyak hal tidak berbeda dari klausa. Baik kalimat maupun klausa merupakan konstruksi sintaksis yang mengandung unsur predikasi. Dilihat dari segi struktur internalnya, kalimat dan klausa terdiri atas unsur predikat dan subjek dengan atau tanpa objek, pelengkap, atau keterangan.

  Menurut Ramlan (2001: 80) klausa terdiri dari unsur-unsur fungsional yaitu S, P, O, PEL, dan Ket. Unsur fungsional yang cenderung selalu ada dalam klausa adalah P, unsur-unsur yang lain mungkin ada, mungkin juga tidak ada. Berdasarkan struktur internnya, klausa lengkap dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu klausa lengkap yang S-nya terletak di depan P (klausa lengkap su- sun biasa), dan klausa yang S-nya terletak di belakang P (klausa lengkap susun balik) (Ramlan, 2001: 124). Perbedaan klausa dan kalimat adalah bahwa klausa sebagai satuan gramatik terdiri dari S P (O) (PEL) (KET), namun belum me- ngandung intonasi yang lengkap sedangkan kalimat terdiri satu kata atau lebih dan sudah mengandung intonasi final atau selesai.

  Menurut Alwi (2003: 326) terdapat lima unsur kalimat yaitu predikat, subjek, objek, pelengkap, dan keterangan. Predikat merupakan konsituen pokok yang disertai konstituen subjek di sebelah kiri dan, jika ada, konstituen objek, pelengkap, dan/ atau keterangan wajib di sebelah kanan. Abdul Chaer (1988: 377) mengemukakan bahwa subjek dan predikat merupakan unsur yang harus ada di dalam setiap kalimat, sedangkan unsur objek dan keterangan tidak harus selalu ada. Dari keempat pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam suatu kalimat unsur yang terpenting adalah subjek dan predikat.

  Di bawah ini berturut-turut dibicarakan fungsi predikat, subjek, objek, pelengkap dan keterangan menurut pendapat Alwi (2003: 326-331).

2.2.5.1 Predikat

  Predikat kalimat biasanya berupa frasa verbal atau frasa adjektival. Pada kalimat yang berpola SP, predikat dapat pula berupa frasa nominal, frasa numeral, atau frasa preposisional, di samping frasa verbal dan frasa adjektival. Perhatikan contoh : a. Ayahnya guru bahasa Inggris (P=N)

  b. Adiknya dua (P=FNum)

  c. Ibu ke pasar (P=FPrep) d. Dia sedang tidur (P=FV)

  e. Gadis itu cantik sekali (P=FAdj)

2.2.5.2 Subjek Subjek merupakan fungsi sintaksis terpenting yang kedua setelah predikat.

  Pada umumnya subjek berupa nomina, frasa nominal, atau klausa seperti tampak pada contoh berikut : a. Harimau binatang liar.

  b. Anak itu belum makan. Subjek sering juga berupa frasa verbal. Misalnya contoh berikut : a. Membangun gedung bertingkat mahal sekali.

  b. Berjalan kaki menyehatkan badan. Pada umumnya, subjek terletak di sebelah kiri predikat. Jika unsur subjek lebih panjang dibandingkan dengan unsur predikat, subjek dapat diletakkan di akhir kalimat seperti tampak pada contoh berikut : a. Manusia yang mampu tinggal dalam kesendirian tidak banyak.

  b. Tidak banyak manusia yang mampu tinggal dalam kesendirian. Subjek pada kalimat imperatif adalah orang kedua atau orang pertama jamak dan biasanya tidak hadir. Perhatikan contoh : a. Tolong (kamu) bersihkan meja ini.

  b. Mari (kita) makan. Subjek pada kalimat aktif transitif akan menjadi pelengkap bila kalimat itu dipasifkan seperti tampak pada contoh berikut : a. Anak itu [S] menghabiskan kue saya. b. Kue saya dihabiskan (oleh) anak itu [Pel].

2.2.5.3 Objek

  Objek adalah konstituen kalimat yang kehadirannya dituntut oleh predikat yang berupa verba transitif pada kalimat aktif. Letaknya selalu di belakang pre- dikat. Verba transitif biasanya ditandai oleh kehadiran afiks tertentu. Sufiks

  • –kan

  dan

–i serta prefiks –meng umumnya merupakan pem-bentuk verba transitif.

Pada contoh berikut Icuk merupakan objek yang dapat dikenal dengan mudah oleh kehadiran verba transitif bersufiks

  • –kan: menundukkan.

  Contoh: Morten menundukkan Icuk. Objek biasanya berupa nomina atau frasa nominal. Jika objek tergolong nomina, frasa nominal tak bernyawa, atau persona ketiga tunggal, nomina objek itu dapat diganti dengan pronominal

  • –nya; dan jika berupa pronomina aku atau kamu (tunggal), bentuk
  • –ku dan –mu dapat digunakan. Perhatikan contoh : (1) a. Adi mengunjungi Pak Rustam.

  b Adi mengunjunginya. (2) a. Saya ingin menemui kamu/-mu.

  b. Ibu mengasihi aku/-ku. Selain satuan berupa nomina dan frasa nominal, konstituen objek dapat pula klausa , perhatikan contoh :

  Pemerintah mengumumkan (bahwa) harga BBM akan naik. Objek pada kalimat aktif transitif akan menjadi subjek jika kalimat itu dipasifkan, contohnya : a. Pembantu membersihkan ruangan saya. [O] b. Ruangan saya [S] dibersihkan (oleh) pembantu.

  2.2.5.4 Pelengkap

  Baik objek maupun pelengkap sering berwujud nomina, dan keduanya sering menduduki tempat yang sama, yakni di belakang verba. Perbedaannya ialah objek selalu terdapat dalam klausa yang dapat dipasifkan.

  Perhatikan kalimat berikut : a. Dia mendagangkan barang-barang elektronik di Glodok.

  b. Dia berdagang barang-barang elektronik di Glodok. Pada kedua contoh di atas tampak bahwa barang-barang elektronik adalah frasa nominal dan berdiri di belakang verba mendagangkan dan berdagang. Akan tetapi, pada kalimat (a) frasa nominal itu dinamakan objek, sedangkan pada (b) disebut pelengkap, yang juga dinamakan komplemen. Pelengkap biasanya berupa frasa nominal, frasa verbal, frasa adjektival, frasa preposisional, atau klausa. Pelengkap tidak dapat diganti dengan

  • –nya kecuali dalam kombinasi pre- posisi selain di, ke, dari , dan akan.

  2.2.5.5 Keterangan

  Keterangan merupakan fungsi sintaksis yang paling beragam dan paling mudah berpindah letaknya. Keterangan dapat berada di akhir, di awal, dan bahkan di tengah kalimat. Konstituen keterangan biasanya berupa frasa nominal, frasa preposisional, atau frasa adverbial.

  Perhatikan contoh : a. Dia memotong rambutnya.

  b. Dia memotong rambutnya di kamar. c. Dia memotong rambutnya dengan gunting.

  d. Dia memotong rambutnya kemarin. Unsur di kamar, dengan gunting, dan kemarin merupakan keterangan yang sifatnya manasuka.

  Fungsi keterangan dapat pula diisi oleh klausa berikut:

  a. Dia memotong rambutnya sebelum dia mendapat peringatan dari sekolah .

  b. Dia memotong rambutnya segera setelah dia diterima bekerja di bank. Makna keterangan ditentukan oleh perpaduan makna unsur-unsurnya. Dengan demikian, keterangan di kamar mengandung makna tempat, dengan gun-

  

ting mengandung makna alat, kemarin menyatakan makna waktu, dan sebelum dia

mendapat peringatan dari sekolah serta segera setelah dia diterima bekerja di

bank juga mengandung makna waktu.

2.2.6 Jenis Kesalahan Kalimat

  Penelitian ini akan membahas jenis kesalahan kalimat berdasarkan unsur- unsurnya.

2.2.6.1 Kesalahan Unsur Predikat

  Menurut Arifin (2001: 120-122) kalimat yang tidak mempunyai predikat terjadi, antara lain, akibat adanya keterangan subjek yang beruntun, kemudian ke- terangan itu diberi keterangan lagi sehingga penulisnya lupa bahwa kalimat yang dibuatnya itu belum lengkap, belum berpredikat, misalnya sebelum predikat ter- sebut dicantumkan kata yang atau dan sehingga predikat kalimat menjadi hilang. Perhatikan contoh berikut : Objek wisata yang ada di daerah-daerah itu yang merupakan modal dasar atau barang dagangan yang harus kita kelola dan kita pasarkan dengan tujuan mendatangkan devisa. Contoh kalimat di atas merupakan kalimat yang belum berpredikat. Kalimat akan menjadi berpredikat setelah kata yang pada kelompok kata yang me-

  

rupakan modal dasar dibuang. Atau, kata yang kedua pada kelompok kata yang

harus kita kelola . Perbaikannya sebagai berikut :

  Objek wisata yang ada di daerah-daerah itu merupakan modal dasar atau barang dagangan kita, yang harus kita kelola dan kita pasarkan dengan tujuan mendatangkan devisa.

2.2.6.2 Kesalahan Unsur Subjek

  Arifin (2001: 116-119) kalimat yang subjeknya tidak jelas terdapat pada kalimat rancu (kacau), antara lain, kalimat yang berpredikatkan kata kerja aktif, tetapi sebjeknya didahului kata depan, atau pada kalimat pasif yang subjeknya di- awali kata depan. Kata depan yang sering mengawali subjek, antara lain pada, di, dari, kepada, untuk, ke, bagi, dalam, sebagai, tentang, melalui, dengan, demi, ter- hadap, daripada, dan antara. Perhatikan contoh berikut :

  Di Jakarta akan mengadakan pameran pembangunan selama bulan Agustus ini.

  Contoh kalimat di atas merupakan contoh kalimat yang tidak bersubjek karena subjeknya didahului oleh kata depan. Jika kata depan di dalam kalimat- kalimat itu dipertahankan, hendaklah predikat kalimat diubah menjadi verba pasif. Dengan demikian, subjek kalimat akan muncul, tetapi letaknya di sebelah kanan verba. Perhatikan contoh berikut : Di Jakarta diadakan pameran pembangunan selama bulan Agustus tahun ini.

  Cara lain untuk memperbaiki kalimat tak bersubjek agar menjadi kalimat yang efektif adalah dengan menghadirkan subjeknya atau pelaku perbuatan di da- lam kalimat. Dengan demikian, kata depan tetap mengawali kalimat dan predikat kalimat tetap berupa kata kerja aktif transitif.

  Di Jakarta Pemda DKI akan mengadakan pameran pembangunan selama bulan Agustus tahun ini.

  Contoh lain kalimat yang tidak bersubjek : Pada upacara itu dihadiri oleh para menteri.

  Contoh kalimat di atas ini tidak ada subjeknya. Di sini terlihat bahwa penggunaan kata depan pada awal kalimat itu tidak tepat. Di depan subjek kalimat diletakkan kata depan sehingga fungsi subjek itu berubah menjadi keterangan, dalam hal ini keterangan waktu. Kalimat itu menjadi betul bila kata pada di depan kalimat itu dihilangkan: Upacara itu dihadiri oleh para menteri. Atau, bila kita menggunakan kata pada di depan kata upacara, maka predikat kalimat itu bukan- lah dihadiri, melainkan hadir dan kata oleh dihilangkan saja. Kalimat itu menjadi: Pada upacara itu hadir para menteri .

  Pada umumnya subjek berupa nomina, frasa nominal, atau klausa (Alwi, 2003: 316). Kesalahan unsur subjek dapat juga terjadi pada contoh berikut.

  Sejak kemarin belum makan.

  Kalimat di atas merupakan kalimat yang tidak bersubjek. Kalimat di atas akan menjadi lengkap bila: Sejak kemarin anak itu belum makan.

2.2.6.3 Kesalahan Unsur Objek

  Arifin (2001: 139-140) kaidah bahasa Indonesia menghendaki agar dalam kalimat aktif transitif, yaitu kalimat aktif yang mempunyai objek, kata kerja transitif tidak perlu diikuti oleh kata depan sebagai pengantar objek. Antara pre- dikat dan objek tidak perlu disisipkan kata depan, seperti atas, tentang, dari,

  

pada , bagi, untuk, atau daripada karena kata depan tersebut selalu menandai suatu

keterangan. Perhatikan contoh berikut.

  a. Para pemimpin perusahaan itu sedang membahas tentang gaji pegawainya.

  b. Mereka membicarakan daripada kehendak rakyat, terutama rakyat kecil.

  Penggunaan kata depan tentang antara membahas dan gaji pegawai, kata depan daripada jelas tidak tepat karena kata depan tersebut menyisip antara pre- dikat dan objek kalimat. Jika terdapat kata depan di sana, bagian kalimt yang ber- fungsi sebagai objek kalimat akan berubah fungsi menjadi keterangan. Perhatikan perbaikan berikut.

  a. Para pemimpin perusahaan itu sedang membahas gaji pegawai perusahaannya.

  b. Mereka membicarakan kehendak rakyat, terutama rakyat kecil.

  Objek biasanya berupa frasa nomina atau frasa nominal. Jika objek ter- golong nomina, frasa nominal tak bernyawa, atau persona ketiga tunggal, nomina objek itu dapat diganti dengan pronominal

  • –nya; dan jika berupa pronomina aku

  atau kamu (tunggal), bentuk

  • –ku dan –mu dapat digunakan. Kesalahan unsur objek terdapat pada contoh berikut ini.

  Aku akan menemani sampai hari Minggu. Kalimat di atas tidak memiliki unsur objek. Kekurangan unsur objek mengakibatkan kekaburan siapa yang dimaksud. Kalimat tersebut akan menjadi lengkap apabila ada penambahan unsur objek di belakang predikat. Kalimat yang benar adalah :

  Aku akan menemanimu sampai hari Minggu.

2.2.6.4 Kesalahan Unsur Pelengkap

  Alwi (2003: 329) pelengkap biasanya berupa frasa nominal, frasa verbal, frasa adjektival, frasa preposisional, atau klausa. Pelengkap tidak dapat diganti dengan –nya kecuali dalam kombinasi preposisi selain di, ke, dari , dan akan. Pelengkap terdapat dalam klausa yang tidak dapat diubah menjadi bentuk pasif atau mungkin juga terdapat dalam klausa pasif. Ketidakhadiran unsur pelengkap akan membuat kalimat menjadi rancu. Kesalahan unsur pelengkap terdapat pada contoh berikut ini.

  Orang itu selalu berbuat. Kalimat di atas merupakan kalimat yang tidak memiliki pelengkap. Kekurangan unsur pelengkap mengakibatkan kekaburan makna yaitu hal apa

  

yang diperbuat. Kalimat tersebut akan menjadi lengkap apabila ada penambahan

unsur pelengkap di belakang unsur predikat.

  Perbaikannya adalah: Orang itu selalu berbuat kebaikan.

2.2.6.5 Kesalahan Unsur Keterangan

  Ramlan (2001: 85-86) keterangan pada umumnya mempunyai letak yang bebas. Hanya, sudah tentu tidak mungkin terletak di antara P dan O dan di antara P dan PEL karena O dan PEL boleh dikatakan selalu menduduki tempat langsung di belakang P, kecuali apabila O iti terdiri dari frase yang panjang. Contoh ke- salahan keterangan yang disisipkan antara P dan O: Wiradinata membersihkan dengan selampai putih kaca matanya.

  Perbaikannya: a. Dengan selampai putih Wiradinata membersihkan kaca matanya.

  b. Wiradinata dengan selampai putih membersihkan kaca matanya.

2.2.7 Karangan Narasi

  Mengarang atau menulis boleh dikatakan keterampilan yang paling sukar dibanding dengan keterampilan berbahasa lainnya. Apabila seorang pelajar meng- gunakan bahasa kedua/asing secara lisan, seorang penutur asli dapat mengerti dan menerima lafal yang kurang sempurna, atau ungkapan yang kurang gramatikal.

  Apabila pelajar itu menggunakan bahasa kedua/asing itu secara tulisan, maka pe- nutur asli yang membacanya akan semakin keras dalam menilai tulisan yang banyak kesalahan ejaan/tatabahasanya. Meskipun makna yang disampaikan itu su- dah cukup terang, dan tulisannya rapi, suatu karangan tertulis dituntut harus baik dan sedapat mungkin tanpa kesalahan karena dianggap mencerminkan tingkat kependidikan penulis karangan itu (Nababan, 1988:160-161).

  Mengarang adalah keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang meng- ungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Hasil perwujudan seseorang dalam bahasa tulis yang dapat di- baca dan dimengerti oleh pembaca disebut dengan karangan. Salah satu karangan yang dihasilkan berupa karangan narasi yaitu bentuk pengungkapan yang me- nyampaikan sesuatu peristiwa/pengalaman dalam kerangka urutan waktu kepada pembaca dengan maksud untuk meninggalkan kesan tentang perubahan atau gerak sesuatu dari pangkal awal sampai titik akhir (The Liang Gie 1992: 17-18).

  Pendapat yang hampir sama tentang narasi diungkapkan oleh Keraf (2001: 136) yaitu suatu bentuk wacana yang sasaran utamanya adalah tindak-tanduk yang dijalin dan dirangkaikan menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam suatu kesatuan waktu. Atau, dapat juga dirumuskan dengan cara lain: narasi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menggambarkan dengan sejelas-jelasnya ke- pada pembaca suatu peristiwa yang telah terjadi. Dari dua pendapat di atas (ten- tang pengertian narasi) pendapat Keraf lebih tepat dan jelas untuk dijadikan dasar teori dalam penelitian. Sebab selain menjelaskan narasi, Keraf membagi narasi secara lebih spesifik lagi yaitu narasi ekspositoris dan narasi sugestif. Salah satu dari narasi ini akan dipilih oleh peneliti dalam penelitian.

2.2.7.1 Jenis-jenis Narasi

  Menurut Keraf (2001: 136-139) ada dua jenis narasi yaitu narasi ekspositoris dan narasi sugestif. Narasi ekspositoris pertama-tama bertujuan untuk menggugah pikiran para pembaca untuk mengetahui apa yang dikisahkan. Sasaran utamanya adalah rasio, yaitu berupa perluasan pengetahuan para pembaca se- sudah membaca kisah tersebut. Narasi sugestif merupakan suatu rangkaian peris- tiwa yang disajikan sekian macam sehingga merangsang daya khayal para pem- baca. Di bawah ini akan dikemukakan secara singkat perbedaan antara narasi ekspositoris dan narasi sugestif.

  

Narasi Ekspositoris Narasi Sugestif

1. Memperluas pengetahuan.

  1. Menimbulkan daya khayal.

  2. Menyampaikan informasi mengenai

  2. Menyampaikan suatu makna atau suatu kejadian. suatu amanat yang tersirat.

  3. Didasarkan pada penalaran untuk

  3. Penalaran hanya berfungsi sebagai mencapai kesepakatan rasional. alat untuk menyampaikan makna, se- hingga kalau perlu penalaran dapat di- langgar.

  4. Bahasanya lebih condong ke bahasa

  4. Bahasanya lebih condong ke bahasa informatif dengan titik berat pada peng- figuratif dengan menitik-beratkan peng- gunaan kata-kata denotatif. gunaan kata-kata konotatif.

  27 Narasi yang dipilih adalah narasi sugestif karena narasi sugestif lebih banyak diajarkan guru kepada siswa. Instrumen yang akan digunakan yaitu cerita rakyat “Malin Kundang Si Anak Durhaka”, yang memerlukan bahasa figuratif dan dapat menimbulkan daya khayal. Jika dilihat dari jenis dan ciri-ciri narasi ekspositoris dan narasi sugestif, narasi sugestif lebih tepat digunakan dalam penelitian. Karena bahasanya lebih condong ke bahasa figuratif dengan menitik- beratkan penggunaan kata-kata konotatif.

2.2.7.2 Struktur Narasi

  Menurut Keraf (2001: 145-155) struktur narasi dapat dilihat dari komponen-komponen yang membentuknya: perbuatan, penokohan latar, dan su- dut pandangan. Tetapi dapat juga dianalisa berdasarkan alur (plot) narasi. Struktur narasi berdasarkan bagian-bagian alur yaitu bagian Pendahuluan, bagian Per- kembangan, dan bagian Peleraian. Berikut ini akan dijelaskan struktur narasi ber- dasarkan bagian-bagian alur.

  Alur atau plot merupakan rangkaian pola tindak-tanduk yang berusaha me-

  mecahkan konflik yang terdapat dalam narasi, yang berusaha memulihkan situasi narasi ke dalam suatu situasi yang seimbang dan harmonis. Di samping tindak- tanduk, karakter (tokoh) dan pikiran atau suasana hati yang menjadi dasar sebuah plot, ada beberapa faktor lain yang harus diperhatikan juga dalam sebuah alur, yaitu latar (setting), waktu, dan kiasan makna.

  Bagian pendahuluan menyajikan situasi dasar yang memungkinkan pem- baca memahami adegan-adegan selanjutnya. Bagian pendahuluan harus menentu- kan daya tarik dan selera pembaca terhadap bagian-bagian berikutnya.

  Bagian perkembangan atau bagian tengah adalah batang tubuh yang utama dari seluruh tindak-tanduk para tokoh. Bagian ini merupakan rangkaian dari tahap-tahap yang membentuk seluruh proses narasi. Bagian ini mencakup adegan- adegan yang berusaha meningkatkan ketegangan, atau menggawatkan komplikasi yang berkembang dari situasi asli.

  Bagian peleraian atau penutup bukan hanya menjadi titik pertanda ber- akhirnya tindak-tanduk. Lebih tepat kalau dikatakan, bahwa akhir dari perbuatan atau tindakan itu merupakan titik di mana tenaga-tenaga atau kekuatan

  • –kekuatan yang diemban dalam situasi yang tercipta sejak semula keluar dan menemukan pemecahannya.

2.2.8 SD Negeri 1 Patoman dan SD Negeri 2 Patoman

2.2.8.1 SD Negeri 1 Patoman

  SD Negeri 1 Patoman terletak di Desa Patoman, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Tanggamus-Lampung bersebelahan dengan SD Negeri 2 Patoman.

  Sarana dan prasarana yang dimiliki berupa kondisi gedung dan ruang, yaitu ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang kelas, dan ruang perpustakaan. Ruang kelas berjumlah 6 kelas dan mempunyai ukuran 7 x 8 meter. Pembagian kelas untuk kelas 1 masuk pagi jam 07.30-10.00, kelas 3 sampai kelas 6 masuk pagi jam 07.30-12.40. Kelas 2A dan 2B masuk siang jam 10.00-12.40. Selain gedung dan ruang, sarana dan prasarana yang dimiliki yaitu peralatan sekolah.

  Peralatan sekolah merupakan sarana dan prasarana proses belajar- mengajar sehingga tujuan pendidikan yang telah direncanakan dapat berjalan dengan baik. Peralatan yang ada di SD Negeri 1 Patoman ini yaitu papan tulis, kapur tulis, penghapus papan tulis, penggaris, alat-alat olahraga, dan alat praktik

  IPA. Guru masih menggunakan metode konvensional karena terbatasnya sarana dan prasarana. Metode konvensional yang digunakan yaitu ceramah, tanya jawab, pemberian tugas, dan demonstrasi (jarang dipakai) dari pokok bahasan yang di- ajarkan guru kepada siswa.

2.2.8.2 SD Negeri 2 Patoman

  SD Negeri 2 Patoman terletak di Desa Patoman, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Tanggamus-Lampung. Sarana dan prasarana pendidikan yang dimiliki SD Negeri 2 Patoman ini kurang memadai. Yang dimaksud dengan sarana dan prasarana pendidikan adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk membantu tercapainya tujuan pendidikan. Sarana dan prasarana pendidikan yang dimiliki berupa kondisi gedung dan ruang, yaitu ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang kelas, dan ruang perpustakaan. Ruang kelas berjumlah 5 kelas dan mempunyai ukuran 7 x 8 meter. Pembagian ruang kelas untuk kelas 1 masuk pagi jam 07.30- 10.00 dan kelas lainnya jam 07.30-12.40. Ruang kelas ini mempunyai kapasitas daya tampung 40 siswa. Selain gedung dan ruang, sarana dan prasarana yang dimiliki yaitu peralatan sekolah. Peralatan yang ada di SD Negeri 2 Patoman ini yaitu papan tulis, kapur tulis, penghapus papan tulis, penggaris, dan alat-alat olahraga. Guru masih menggunakan metode konvensional karena terbatasnya sarana dan prasarana. Metode konvensional yang digunakan yaitu ceramah, tanya jawab, dan pemberian tugas dari pokok bahasan yang diajarkan guru kepada siswa.

  Metode yang digunakan oleh SD Negeri 1 dan 2 Patoman yaitu metode konvensional. Padahal, kurikulum yang digunakan SD Negeri 1 dan 2 Patoman ini adalah Kurikulum 2004 yang menuntut siswa untuk memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. Akibatnya, siswa menjadi kurang terlibat secara aktif dan kreatif dalam pembelajaran khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia. Selain sarana dan prasarana yang kurang memadai keragaman bahasa yang digunakan siswa di sekolah pun (di dalam kelas atau di luar kelas) bermacam-macam, misal- nya ada bahasa Jawa, Lampung, Sunda, dan sebagainya. Hal ini mengakibatkan hasil belajar siswa kurang maksimal. Hal ini tampak pada hasil karangan siswa. Hasil karangan siswa ini mengandung kesalahan-kesalahan berupa kesalahan ejaan (pemakaian huruf, penggunaan huruf kapital, dan pe-makaian tanda baca), kesalahan ucapan, ketidaktepatan pemilihan kata, kesalahan struktur kalimat, dan pemborosan penggunaan kata. Permasalahan tersebut perlu diteliti untuk mengetahui seberapa jauh kesalahan yang dilakukan siswa dan sebab-sebab (ke- salahan yang dilakukan siswa). Karena keterbatasan waktu dan tenaga, peneliti hanya mengambil satu permasalahan tentang penggunaan struktur kalimat khusus- nya pada karangan narasi siswa.

2.2.9 Kerangka Berpikir

  Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan dan bahasa negara milik bangsa Indonesia yang digunakan sebagai alat komunikasi. Bahasa Indonesia diajarkan dan digunakan sebagai bahasa pengantar di sekolah. Meskipun bahasa Indonesia diajarkan dan digunakan di sekolah, kesalahan siswa masih sering terjadi. Kesalahan yang dilakukan siswa berupa kesalahan ejaan (pemakaian huruf, peng- gunaan huruf kapital, dan pemakaian tanda baca), kesalahan ucapan, ketidak- tepatan pemilihan kata, kesalahan struktur kalimat, dan pemborosan penggunaan kata. Kesalahan ini nampak pada hasil karangan siswa. Kesalahan biasanya terjadi secara konsisten dan dapat berlangsung lama jika tidak diperbaiki. Atas dasar per- masalahan di atas, maka dilakukan analisis kesalahan berbahasa untuk memper- hitungkan kesalahan siswa. Analisis kesalahan berbahasa mencakup pengumpulan sampel bahasa pelajar, pengenalan kesalahan yang terdapat pada sampel tersebut, pendeskripsian kesalahan, pengklasifikasiannya berdasarkan sebab-sebabnya yang telah dihipotesiskan, serta pengevaluasian keseriusannya.

  Satu permasalahan yang diambil adalah kesalahan tentang struktur kalimat khususnya pada karangan narasi. Kalimat terdiri atas unsur predikat dan subjek dengan atau tanpa objek, pelengkap, atau keterangan (Alwi, 2003: 313). Data di- ambil dengan cara memberikan tugas kepada siswa kelas VI SD 1 dan 2 Patoman.

  Siswa diberi tugas untuk membuat karangan narasi yaitu menceritakan kembali cerita rakyat “Malin Kundang Anak Durhaka”. Hasil karangan narasi ini berguna untuk menganalisis struktur kalimatnya. Selain menganalisis struktur kalimatnya, dianalisis juga sebab-sebab kesalahan yang dilakukan siswa lewat lembar kuesioner yang harus dijawab oleh siswa dan lembar wawancara yang harus di- jawab oleh guru bahasa Indonesia.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

  3.1 Jenis Penelitian

  Ditinjau dari tujuannya, penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian deskriptif yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk me- ngumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan ge- jala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan (Arikunto, 1990: 309).

  Deskripsi yang dimaksud adalah kesalahan berbahasa Indonesia bidang sintaksis khususnya pada tataran struktur kalimat yang dilakukan oleh siswa kelas VI SD Negeri 1 dan 2 Patoman Kabupaten Tanggamus-Lampung tahun ajaran 2005/2006. Penelitian kuantitatif bertujuan menggeneralisasikan populasi ber- dasarkan sampel yang representatif. Penelitian kuantitatif tidak menemukan teori, melainkan memverifikasi (menguji kembali kebenaran) suatu teori atau meng- aplikasikan teori. (Soewandi, 2006: 5).

  3.2 Populasi Penelitian

  Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Jika semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian diteliti, penelitiannya merupakan penelitian populasi (Arikunto, 1996: 115). Populasi penelitian ini adalah siswa kelas 6 SD Negeri 1 dan 2 Patoman Kabupaten Tanggamus-Lampung tahun ajaran 2006/2007. Jumlah siswa SD 1 Patoman yang menjadi populasi penelitian ini 48 orang dan SD 2 Patoman 18 orang. Jumlah keseluruhan ada 66 orang. Semua anggota populasi tersebut dijadikan subjek penelitian.

  3.3 Instrumen Penelitian

  Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes mengarang, lembar kuesioner, dan wawancara. Siswa kelas 6 SD Negeri 1 dan 2 Patoman Kabupaten Tanggamus-Lampung diberi tugas untuk membuat karangan narasi yaitu menceritakan kembali cerita rakyat “Malin Kundang Si Anak Durhaka”.

  Petunjuk penulisan karangan :

  1. Tulislah nama dan no. urut Anda di sudut kanan atas kertas karangan! 2.

  Ceritakan kembali cerita rakyat “Malin Kundang Si Anak Durhaka”!

  3. Panjang karangan minimal 1,5 halaman!

  4. Gunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar!

  5. Waktu untuk mengarang adalah 2 jam pelajaran (2 x 45 menit) Setelah siswa selesai mengerjakan karangan narasi, lembar kuesioner dibagi- kan kepada siswa dan instrumen wawancara diberikan kepada guru untuk menge- tahui sebab-sebab kesalahan kalimat pada karangan narasi siswa.

  3.4 Teknik Pengumpulan Data

  Ada tiga langkah dalam pengumpulan data. Langkah pertama, siswa men- dengarkan cerita rakyat yang dibacakan oleh. Langkah yang pertama ini dibagi lagi menjadi enam yaitu: siswa diberi tugas untuk membuat karangan narasi, lembar folio dibagikan kepada siswa, siswa mendengarkan cerita rakyat yang di- bacakan oleh guru, siswa membuat karangan narasi yaitu menceritakan kembali cerita rakyat yang telah dibacakan, waktu untuk mengarang adalah 2 jam pe- lajaran (2 x 45 menit), peneliti mengawasi pelaksanaan pengumpulan data, karangan yang telah selesai dikerjakan siswa kemudian dikumpul dan diteliti. Langkah kedua yaitu siswa diberi lembar kuesioner. Langkah ketiga yaitu me- lakukan wawancara dengan guru bahasa Indonesia. Lembar kuesioner dan wawancara ini bertujuan untuk mengetahui sebab-sebab kesalahan kalimat pada karangan narasi siswa.

3.5 Teknik Analisis Data

  Hasil karangan narasi siswa kemudian dianalisis. Adapun tahap-tahap meng- analisis hasil karangan narasi siswa sebagai berikut:

  1. Setiap hasil karangan siswa diberi nomor dari 1-48 untuk SD Negeri 1 Patoman dan 1-18 untuk SD Negeri 2 Patoman.

  2. Hasil karangan siswa dibaca.

  3. Kesalahan kalimat siswa diidentifikasikan ke dalam jenis-jenis kesalahan kalimat, yaitu kesalahan predikat (KP), subjek (KS), objek (KO), pelengkap (KPel), dan keterangan (KKet).

  4. Frekuensi kesalahan siswa dihitung sesuai jenis-jenis kesalahan struktur kalimatnya.

  5. Jenis-jenis kesalahan kalimat diurutkan mulai dari jumlah kesalahan kalimat yang tinggi ke yang rendah.

  6. Sebab-sebab kesalahan kalimat yang dilakukan oleh siswa dideskripsikan.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Data Kesalahan Kalimat

  Berdasarkan langkah-langkah penelitian pada bab III akan disajikan data tentang kesalahan berbahasa bidang sintaksis, khususnya struktur kalimat. Selain itu akan dideskripsikan pula sebab-sebab kesalahan kalimat yang dilakukan siswa melalui hasil angket dan wawancara.

  Ada 3 macam data yang terkumpul. Pertama, data kesalahan kalimat yang terdapat di dalam 66 buah karangan narasi. Kedua, data hasil angket yang telah di- kerjakan oleh siswa. Hasil angket yang diperoleh berjumlah 66 buah. Ketiga, data hasil wawancara dengan guru bidang studi bahasa Indonesia. Data hasil angket dan wawancara akan disajikan pada lembar lampiran. Data hasil angket dan wawancara berguna untuk mengetahui sebab-sebab kesalahan siswa dalam mem- buat kalimat.

  Dari 66 karangan, yang diteliti hanya 61 karangan karena ada 5 karangan yang tidak memenuhi kriteria dan untuk data angket, peneliti akan meneliti data secara keseluruhan dengan jumlah 66 angket. Untuk kesalahan kalimat ditemukan sebanyak 342 kesalahan. Jenis kesalahan itu meliputi: (1) kesalahan subjek ada 108, (2) kesalahan predikat ada 95 kesalahan, (3) kesalahan subjek dan predikat ada 9 kesalahan, (4) kesalahan objek ada 39 kesalahan, (5) kesalahan pelengkap ada 15 kesalahan, dan (6) kesalahan keterangan ada 76 kesalahan.

  Berikut ini disajikan jumlah kalimat masing-masing siswa dan kesalahannya.

  9

  32

  38 K38

  8

  18

  16 K16

  4

  31

  37 K37

  3

  24

  15 K15

  10

  41

  36 K36

  27

  17 K17

  45

  51

  8

  12 K12

  26

  5

  34 K34

  6

  14 K14

  13 K13

  42

  1

  35 K35

  47

  8

  3

  35

  7

  43 K43

  42 K42

  48

  4

  21 K21

  27

  4

  25

  32

  10

  22 K22

  34

  6

  44 K44

  37

  4

  20 K20

  6

  40 K40

  39 K39

  27

  15

  18 K18

  38

  3

  22

  6

  10

  19 K19

  27

  2

  41 K41

  46

  33 K33

  37

  Tabel 1. Jumlah Kalimat dan Kesalahan Siswa Kelas VI SDN 1 Patoman

  24 K24

  5

  21

  26 K26

  7

  31

  4 K4

  2

  39

  25 K25

  3

  27

  3 K3

  6

  27

  11

  22

  Jumlah Kesalahan

  No Nomor

  Data Jumlah

  Kalimat Jumlah

  Kesalahan No

  Nomor Data

  Jumlah Kalimat

  1 K1

  39

  51

  5

  23 K23

  26

  5

  2 K2

  5 K5

  12

  11 K11

  28

  20

  3

  9 K9

  35

  6

  31 K31

  2

  5

  10 K10

  42

  6

  32 K32

  18

  8

  30 K30

  44

  27 K27

  21

  26

  6

  6 K6

  33

  2

  28 K28

  13

  8 K8

  7 K7

  34

  6

  29 K29

  24

  2

  3 Jumlah: Kalimat: 1427 Kesalahan: 260 Tabel 2. Jumlah Kalimat dan Kesalahan Siswa Kelas VI SDN 2 Patoman

  No Nomor

  31

  35

  2

  11 K11

  35

  10

  12 K12

  47

  10

  13 K13

  30

  4

  14 K14

  6

  2

  15 K15

  26

  4

  16 K16

  41

  4

  17 K17

  22

  3 Jumlah 551

  82

  Untuk menjawab rumusan masalah tentang jenis-jenis kesalahan yang telah dikemukakan pada Bab I, kesalahan kalimat dianalisis berdasarkan kelengkapan unsur-unsur pengisi kalimat. Dalam sebuah kalimat, unsur-unsur pengisi kalimat harus ada subjek dan predikat.

  Setelah diadakan analisis data, ditemukan kesalahan unsur kalimat pada karangan narasi siswa kelas VI SDN 1 Patoman sebanyak 260 kesalahan dan

  10 K10

  37

  Data Jumlah

  31

  Kalimat Jumlah

  Kesalahan

  1 K1

  31

  7

  2 K2

  25

  1

  3 K3

  31

  4

  4 K4

  6

  9 K9

  5 K5

  22

  3

  6 K6

  31

  3

  7 K7

  37

  5

  8 K8

  39

  8

4.2 Analisis Data

  siswa kelas VI SDN 2 Patoman sebanyak 82 kesalahan. Gambaran lengkap mengenai kesalahan-kesalahan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.

  Tabel 3. Persebaran Kesalahan Struktur Kalimat Siswa SDN 1 dan 2 Patoman

  No Jenis Kesalahan Jumlah Kesalahan

  1 Subjek 108

  2 Predikat

  95

  3 Subjek dan Predikat

  9

  4 Objek

  39

  5 Pelengkap

  15

  6 Keterangan

  70 Jumlah 342

4.2.1 Kesalahan Struktur Kalimat Siswa SDN 1 dan 2 Patoman

  Hasil analisis data menunjukkan bahwa kesalahan struktur kalimat pada karangan narasi siswa kelas VI SDN 1 dan 2 Patoman Kabupaten Tanggamus Lampung Tahun Ajaran 2006/2007 sebanyak 342 kesalahan. Berikut disajikan jenis dan jumlah kesalahan siswa SDN 1 dan 2 Patoman.

  Tabel 4. Kesalahan Struktur Kalimat Siswa Kelas VI SDN 1 Patoman

  27 K27

  1

  30 K30 - 2 - - -

  1

  29 K29 - - - 1 -

  2

  2

  2

  5 2 -

  28 K28

  2

  1 2 - 1 -

  1

  32 K32 7 - - 1 - -

  2 2 - - -

  26 K26

  1 1 - - - -

  25 K25

  2

  1 1 - 2 -

  24 K24

  1

  2 2 - - -

  23 K23

  5 1 - - - -

  22 K22

  31 K31 1 - - - 1 -

  33 K33

  21 K21 - - - 2 -

  2

  1 1 - -

  3

  41 K41

  1

  1

  2 6 - -

  40 K40

  8

  39 K39 - 7 - - -

  1

  38 K38 1 - 1 - -

  1 1 - - -

  1 5 - -

  37 K37

  2

  5 1 - 2 -

  36 K36

  4 3 - - 1 -

  35 K35

  1

  3 1 - -

  1

  34 K34

  1

  1

  2

  20 K20 - 2 - 2 - -

  Jumlah Kesalahan Unsur Kalimat No

  2

  1

  2 1 - 2 -

  9 K9

  4 1 - - - -

  8 K8

  1

  1 3 - 1 -

  7 K7

  1

  6 K6 - - - 1 -

  4

  1 5 - -

  3 2 - -

  5 K5

  1

  4 K4 - 5 - 1 -

  1 1 - 1 - -

  3 K3

  2

  7 2 - - -

  2 K2

  1 2 - 2 - -

  1 K1

  S P S dan P O Pel Ket

  Nomor Data

  10 K10 -

  1

  1 1 - - -

  1

  19 K19 -

  1 1 -

  18 K18 - 1 -

  1

  3 1 - 1 -

  17 K17

  3

  2 3 - - -

  16 K16

  1

  1 1 - - -

  15 K15

  1

  11 K11

  2

  1

  1

  3

  14 K14

  13 K13 - 1 - - - -

  2

  1

  1 1 - -

  12 K12

  2

  1 2 - 2 -

  1 Tabel 5. Kesalahan Struktur Kalimat Siswa Kelas VI SDN 2 Patoman

  Jumlah Kesalahan Unsur Kalimat No

  1

  3

  2

  12 K12

  6 1 -

  1

  2

  13 K13

  1 2 -

  1

  14 K14

  3 1 -

  1

  15 K15 4 - -

  2 2 -

  16 K16 3 - - -

  1

  17 K17

  1 1 -

  1 Jumlah

  33

  16

  1

  12

  4

  16 Jumlah Kesalahan

  82 Berikut disajikan delapan contoh yang mewakili kesalahan struktur kalimat siswa SDN 1 Patoman.

  1

  11 K11

  Nomor Data

  1

  S P S dan P O Pel Ket

  1 K1 3 - -

  4

  2 K2 - - -

  1

  3 K3 1 - -

  3

  4 K4

  3 2 -

  1

  5 K5 - 1 -

  1

  6 K6 2 - -

  1

  1

  7 K7

  2 1 -

  2

  8 K8 -

  4

  1

  2

  1

  9 K9

  1 1 -

  10 K10 1 - -

  (1) Dan badai besar menyambar kapal Malin Kundang. (K44) (2) Anak raja yang bernama Azizah. (K39) (3) Sehingga tidak sempat minta izin pada ibunya. (K38) (4) Meskipun ibu sudah tua dan sakit-sakitan. (K10) (5) Ketika ada kesempatan Malin Kundang pun melumpuhkan satu- persatu. (K42) (6) Akhirnya Malin Kundang ikut pada mereka. (K5)

  (7) Tak lama kemudian Malin memutuskan nahkoda untuk berlayar.

  (K31) (8) Dan akhirnya Malin Kundang bekerja menjadi nahkoda. (K39)

  Kalimat (1) merupakan kesalahan unsur subjek. Kata dan merupakan kata penghubung antara dua klausa. Penempatan kata dan di awal kalimat menyebab- kan unsur subjek menjadi salah. Kalimat tersebut akan menjadi benar jika kata

  dan dihilangkan. Dengan demikian kalimat yang benar adalah Badai besar menyambar kapal Malin Kundang .

  Kalimat (2) merupakan kalimat yang tidak mempunyai predikat. Kalimat yang tidak mempunyai predikat terjadi, antara lain, akibat adanya keterangan subjek yang beruntun. Misalnya sebelum predikat tersebut dicantumkan kata yang atau dan sehingga predikat kalimat menjadi hilang. Jadi, kalimat yang benar adalah Anak raja bernama Azizah .

  Kalimat (3) merupakan kalimat yang tidak bersubjek. Kekurangan unsur subjek mengakibatkan tidak jelas siapa yang tidak sempat minta izin. Kalimat ter- sebut akan menjadi lengkap apabila ada penambahan unsur subjek setelah kata

  sehingga . Kalimat yang benar adalah Sehingga Malin Kundang tidak sempat minta izin pada ibunya .

  Kalimat (4) hanya merupakan unsur keterangan. Ketidakhadiran unsur S dan P pada kalimat tersebut menyebabkan kalimat tidak jelas karena tidak di- ketahui siapa pelaku (S) dan melakukan tindakan apa pelaku tersebut (P). Unsur S dan P merupakan unsur pokok yang harus ada di dalam kalimat baku. Kalimat tersebut akan menjadi lengkap apabila ada penambahan unsur subjek dan predikat. Kalimat yang benar adalah

  Meskipun sudah tua dan sakit-sakitan, ibu tidak mungkin lupa .

  Kalimat (5) merupakan kalimat transitif yang memerlukan unsur objek. Ketidakhadiran unsur objek pada kalimat tersebut tidak dapat diketahui siapa yang menjadi objek penderitanya. Kalimat tersebut akan menjadi lengkap apabila ada penambahan unsur objek di belakang predikat kalimat. Kalimat yang benar adalah

  Ketika ada kesempatan Malin Kundang pun melumpuhkan bajak laut satu persatu .

  Kalimat (6) dan (7) merupakan kesalahan pemakaian pelengkap. Kalimat tersebut dapat diperbaiki apabila kata pada dan nahkoda dihilangkan. Kalimat yang benar adalah Akhirnya Malin Kundang ikut mereka .

  Tak lama kemudian Malin memutuskan untuk berlayar .

  Kalimat (8) merupakan kesalahan unsur keterangan. Kata yang meng- awalinya berupa kata penghubung dan. Kata penghubung dan dipakai untuk menggabungkan dua klausa atau lebih yang masing-masing mempunyai keduduk- an yang setara. Pemakaian kata penghubung dan pada awal kalimat menyebabkan unsur keterangan menjadi salah. Kalimat yang benar adalah Akhirnya Malin Kundang bekerja menjadi nahkoda .

  Enam kesalahan struktur kalimat siswa SDN 2 Patoman.

  (1) Pada waktu itu akan merampok kapal milik saudagar kaya. (K16) (2) Orangnya cantik dan Malin Kundang dan mencintainya. (K17) (3) Karena Malin Kundang tidak tahan dengan hidupnya yang miskin

  (K8) (4) Malin Kundang pun terhampar di suatu pulau dan diselamatkan pada segerombolan bajak laut.(K11) (5) Putri Azizah mendesak-desak, jadi permintaan istrinya dikalbulkan.

  (K1) (6) Mau tidak mau, Malin Kundang harus bergabung pada segerombol- an bajak laut itu. (K11)

  Kalimat (1) tidak memiliki subjek sehingga tidak jelas siapa yang akan

  

merampok kapal milik sauadagar kaya . Kalimat tersebut akan menjadi lengkap

apabila ada penambahan unsur subjek setelah kata pada waktu itu.

  Pada waktu itu bajak laut akan merampok kapal milik saudagar kaya .

  Kalimat (2) merupakan kesalahan unsur predikat yang diawali dengan kata penghubung dan. Kalimat tersebut dapat diperbaiki jika kata penghubung dan di- hilangkan. Kalimat yang benar adalah Orangnya cantik dan Malin Kundang mencintainya .

  Kalimat (3) hanya merupakan unsur keterangan. Unsur S dan P tidak hadir dalam kalimat tersebut. Ketidakhadiran unsur S dan P menyebabkan maksud kalimat tidak jelas karena tidak diketahui siapa pelaku (S) dan tindakan apa yang dilakukan pelaku tersebut (P). Unsur S dan P merupakan unsur pokok yang harus ada di dalam kalimat baku. Kalimat tersebut akan menjadi lengkap apabila ada pe- nambahan unsur subjek dan predikat. Kalimat yang benar adalah

  Karena Malin Kundang tidak tahan dengan hidupnya yang miskin, ia pun pergi .

  Kalimat (4) merupakan kesalahan penggunaan pelengkap. Kalimat ter- sebut akan menjadi benar jika kata pada diganti kata oleh kemudian diikuti nomina segerombolan bajak laut. Kalimat yang benar adalah

  Malin Kundang pun terhampar di suatu pulau dan diselamatkan oleh segerombolan bajak laut .

  Kalimat (5) tidak memiliki unsur objek. Kalimat tersebut merupakan kalimat transitif yang memerlukan objek. Kalimat akan menjadi lengkap apabila ada penambahan unsur objek di belakang predikat kalimat. Kalimat yang benar adalah

  Putri Azizah mendesak-desak Malin Kundang, jadi permintaan istrinya dikabulkan .

  Kalimat (6) merupakan kesalahan unsur keterangan. Yang menyebabkan unsur keterangan salah adalah pemakaian kata pada. Kata pada mengandung arti

  

tempat dan waktu, sedangkan dalam konteks kalimat dapat diketahui bahwa kata

pada seharusnya diisi dengan jenis keterangan penyerta dengan. Dengan demikian

  kalimat yang benar adalah

  Mau tidak mau, Malin Kundang harus bergabung dengan segerombolan bajak laut itu .

  

4.2.2 Jenis-Jenis Kesalahan Kalimat yang Paling Banyak Dilakukan Siswa

  Setelah hasil analisis kesalahan kalimat dihitung, dapat diketahui ke- salahan kalimat yang paling banyak dilakukan siswa SDN 1 dan 2 Patoman secara berturut-turut dari yang tinggi ke yang rendah. Rincian urutan kesalahan kalimat siswa : (1) kesalahan subjek sebanyak 108 kesalahan, (2) kesalahan predikat se- banyak 95 kesalahan, (3) kesalahan keterangan sebanyak 76 kesalahan, (4) ke- salahan objek sebanyak 39 kesalahan, (5) kesalahan pelengkap sebanyak 15 ke- salahan, dan (6) kesalahan subjek dan predikat sebanyak 9 kesalahan.

  4.2.3 Sebab-Sebab Kesalahan Kalimat

  Data untuk menjelaskan sebab-sebab kesalahan kalimat siswa diperoleh melalui angket yang dibagikan kepada siswa dan wawancara yang dilakukan guru bahasa Indonesia. Angket ini sebelumnya dibagikan dan diisi oleh siswa SDN 1 Patoman yang berjumlah 48 siswa dan siswa SDN 2 Patoman yang berjumlah 18 siswa. Keseluruhan siswa berjumlah 66 orang. Pernyataan-pernyataan yang ter- tuang dalam angket ini, meliputi faktor individu, faktor keluarga, faktor masyarakat, dan faktor sekolah. Berikut ini disajikan hasil angket siswa dan wawancara guru.

  4.2.3.1 Hasil Angket Siswa SDN 1 dan 2 Patoman Tabel 6.

  Hasil Angket Siswa SDN 1 dan 2 Patoman

  No Pilihan Jawaban Jumlah Jawaban (%)

I. FAKTOR INDIVIDU

  1. a 31,8%% b

  40,9% c 27,3%

  2. a 4,55% b 48,5% c 46,9%

  3. a 51,52% b 46,97% c

  1,52% 4. a

  86,4% b 4,55% c

  9,1% 5. a

  6,1% b 34,85% c

  59,1% 6. a

  7,6% b 33,3% c 59,1%

  7. a 36,4% b

  63,64% c

  • II. FAKTOR KELUARGA

  1. a 45,5% b

  53%

  • c 2. a

  45,5% b 27,3% c 27,3%

  3. a 45,5% b 27,3% c 25,8%

  4. a 45,5% b

  24,24% c 30,3%

  5. a 53% b

  22,73% c 22,73%

  6. a 50% b

  43,9% c 6,1%

  7. a 63,64% b 33,33% c

  1,52%

III. FAKTOR MASYARAKAT

  1. a 45,5% b

  51,52% c 3%

  2. a 63,64% b 34,85%

  • c 3. a

  81,82% b 3% c

  1,52%

IV. FAKTOR SEKOLAH

  1. a 62,12% b

  36,4% c 1,52%

  2.. a 71,21% b

  28,8%

  • c 3. a

  60,6% b 37,9%

  • c

  4. a 46,97% b

  50% c 3%

  5. a 53% b

  42,42% c 4,55%

4.2.3.2 Hasil Wawancara

  Peneliti mengajukan empat pertanyaan untuk guru berdasarkan lembar wawancara yang sudah dibuat. Wawancara dilakukan pada hari kedua setelah lembar karangan dan lembar angket dikerjakan siswa pada hari pertama. Wawancara dilakukan tepatnya pada saat jam istirahat. Peneliti melakukan wawancara dengan dua guru bidang studi bahasa Indonesia. Hasil wawancara sebagai berikut.

  

1. Bagaimana tanggapan Anda mengenai kemampuan siswa terhadap mata

pelajaran bahasa Indonesia?

  Guru SDN 1 Patoman :”Bila dilihat dari segi prestasi nilai yang diperoleh cukup baik tetapi dari sisi penerapan masih belum memuaskan karena latar belakang yang berbeda”.

  Guru SDN 2 Patoman :”Dalam evaluasi akhir nilai bahasa Indonesia dalam urutan ketiga dari beberapa mata pelajaran. Jadi kemampuan siswa secara norma dapat diserap dengan nilai cukup secara umum”.

  

2. Bagaimana motivasi siswa dalam menghadapi mata pelajaran bahasa

Indonesia?

  Guru SDN 1 Patoman :”Berusaha untuk selalu menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan dengan teman-teman di sekolah maupun di ru mah”.

  Guru SDN 2 Patoman :”Pada umumnya siswa terdorong melalui gemar membaca karena sarana untuk baca buku ada di perpustakaan”.

3. Sejauh mana kesalahan siswa dalam hal menulis kalimat?

  Guru SDN 1 Patoman :”Kesalahan yang sering ditemui terutama dalam pe nulisan ejaan yaitu penulisan huruf kapital dan tanda baca”.

  Guru SDN 2 Patoman :”Biasanya siswa salah karena meniru dan meng- ikuti gurunya. Jadi, jangan terfokus menyalahkan anak. Contoh kesalahannya adalah menggunakan huruf kapital dan menyusun kata, memenggal suku- kata”.

  

4. Apakah Anda selalu menggunakan bahasa Indonesia ketika berbicara di

dalam kelas? Jelaskan!

  Guru SDN 1 Patoman :”Guru selalu menggunakan bahasa Indonesia tetapi kadang-kadang juga menggunakan bahasa daerah. Tujuan menggunakan dua bahas a adalah mempermudah siswa memahami sesuatu”.

  Guru SDN 2 Patoman :”Karena murid masih ada kemajemukan suku dan daerah (mayoritas) maka perbandingan bahasa Indonesia dan bahasa komuni- katif 90% dan 10%”.

4.3 Pembahasan

  Subbab ini menyajikan pembahasan hasil penelitian yang meliputi (1) des- kripsi mengenai kesalahan kalimat, (2) deskripsi kesalahan kalimat yang paling banyak dilakukan siswa, dan (3) deskripsi sebab-sebab terjadinya kesalahan kalimat siswa berdasarkan hasil angket dan wawancara.

4.3.1 Jenis Jenis Kesalahan Kalimat Siswa

  Jenis-jenis kesalahan kalimat yang dilakukan oleh siswa ternyata masih banyak. Kesalahan kalimat yang dilakukan siswa SDN 1 dan 2 Patoman ditemu- kan sebanyak 342. Misalnya, kesalahan subjek pada kalimat Dan badai besar me-

  

nyambar Kapal Malin Kundang . Penempatan kata dan di awal kalimat menyebab-

  kan unsur subjek menjadi salah. Kalimat akan menjadi benar jika kata dan dihilangkan. Kalimat itu akan menjadi Badai besar menyambar kapal Malin

  

Kundang . Dari penelitian yang dilakukan ditemukan kesalahan subjek sebanyak

108 kesalahan.

  Kesalahan predikat misalnya terdapat pada kalimat Orangnya cantik dan

  

Malin Kundang dan mencintainya. Kalimat tersebut merupakan kesalahan unsur

  predikat yang diawali dengan kata penghubung dan. Kalimat dapat diperbaiki jika kata penghubung dan dihilangkan. Kalimat yang benar adalah Orangnya cantik

  

dan Malin Kundang mencintainya . Kesalahan predikat ditemukan sebanyak 95

kesalahan.

  Kesalahan subjek dan predikat misalnya terdapat pada kalimat Meskipun

ibu sudah tua dan sakit-sakitan . Kalimat itu hanya merupakan unsur keterangan. Ketidakhadiran unsur S dan P pada kalimat tersebut menyebabkan kalimat tidak jelas karena tidak diketahui siapa pelaku (S) dan melakukan tindakan apa pelaku tersebut (P). Unsur S dan P merupakan unsur pokok yang harus ada di dalam kalimat baku. Agar kalimat menjadi benar diperlukan penambahan unsur subjek dan predikat, misalnya Meskipun sudah tua dan sakit-sakitan, ibu tidak mungkin lupa . Kesalahan subjek dan predikat ditemukan sebanyak 9 kesalahan.

  Kesalahan objek misalnya ditemukan pada kalimat Ketika ada kesempatan

  

Malin Kundang pun melumpuhkan satu persatu. Kalimat tersebut merupakan

  kalimat transitif yang memerlukan unsur objek. Ketidakhadiran unsur objek pada kalimat tersebut tidak dapat diketahui siapa yang menjadi objek penderitanya.

  Kalimat tersebut akan menjadi lengkap apabila ada penambahan unsur objek di belakang predikat kalimat. Kalimat yang benar adalah Ketika ada kesempatan

  

Malin Kundang pun melumpuhkan bajak laut satu persatu. Kesalahan unsur objek

ditemukan sebanyak 39 kesalahan.

  Kesalahan pelengkap misalnya terdapat pada kalimat Malin Kundang pun

terhampar di suatu pulau dan diselamatkan pada segerombolan bajak laut.

  Kalimat tersebut merupakan kesalahan penggunaan pelengkap. Kalimat akan menjadi benar jika kata pada diganti kata oleh kemudian diikuti nomina se-

  

gerombolan bajak laut . Kalimat yang benar Malin Kundang pun terhampar di

suatu pulau dan diselamatkan oleh segerombolan bajak laut. Kesalahan pe-

  lengkap ditemukan sebanyak 15 kesalahan.

  Kesalahan unsur keterangan misalnya terdapat pada kalimat Dan akhirnya

  

Malin Kundang bekerja menjadi nahkoda . Kalimat tersebut merupakan kesalahan unsur keterangan. Kata yang mengawalinya berupa kata penghubung dan. Kata penghubung dan dipakai untuk menggabungkan dua klausa atau lebih yang masing-masing mempunyai kedudukan yang setara. Pemakaian kata penghubung

  

dan pada awal kalimat menyebabkan unsur keterangan menjadi salah. Kalimat

  yang benar adalah Akhirnya Malin Kundang bekerja menjadi nahkoda. Kesalahan unsur keterangan ditemukan sebanyak 76 kesalahan.

4.3.2 Jenis Kesalahan Kalimat yang Paling Banyak Dilakukan Siswa

  Jenis kesalahan kalimat yang paling banyak dilakukan oleh siswa SDN 1 dan 2 Patoman adalah jenis kesalahan unsur subjek dengan jumlah 108 kesalahan.

  Rincian urutan kesalahan kalimat siswa: (1) kesalahan subjek dengan jumlah 108 kesalahan, (2) kesalahan predikat dengan jumlah 95 kesalahan, (3) kesalahan ke- terangan dengan jumlah 76 kesalahan, (4) kesalahan objek dengan jumlah 39 ke- salahan, (5) kesalahan pelengkap dengan jumlah 15 kesalahan,(6) kesalahan subjek dan predikat dengan jumlah 9 kesalahan. Jika digambarkan dengan dia- gram, kesalahan yang paling banyak dilakukan siswa akan terlihat sebagai berikut.

  Grafik 1. Jumlah Kesalahan Kalimat Siswa SD 1 dan 2 Patoman

  120 108 95 100

  76

  80

  60

  39

  40

  15

  9

20 S P S dan P O Pel Ket

4.3.3 Sebab-Sebab Kesalahan Berdasarkan Hasil Angket dan Wawancara

  Subbab ini menjelaskan hal-hal yang menyebabkan terjadinya kesalahan kalimat yang dilakukan siswa pada karangan narasi. Ini merupakan hasil angket yang telah diisi oleh siswa dan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan guru bidang studi bahasa Indonesia.

4.3.3.1 Faktor Individu

  Dari faktor individu diketahui bahwa sebagian besar dari mereka me- ngenal bahasa Jawa sebagai bahasa pertama, bahasa Indonesia bahasa kedua, dan bahasa lainnya dipilih oleh sebagian kecil siswa sebagai bahasa pertama. Karena kemajemukan suku dan bahasa, mereka pun selalu mencampur-adukkan bahasa Indonesia dengan bahasa daerah ketika berkomunikasi. Dengan adanya ke- dengan struktur bahasa Indonesia digunakan oleh siswa dalam hal penyusunan kalimat.

  Dari hasil wawancara dengan guru bidang studi Bahasa Indonesia me- ngenai penggunaan bahasa tulis siswa, diperoleh informasi bahwa siswa memang masih mengalami kesulitan dalam hal penulisan huruf kapital dan tanda baca, pe- nyusunan kata, dan pemenggalan suku kata. Hal ini membuat pemahaman siswa terhadap penggunaan bahasa Indonesia menjadi kurang, sehingga mengakibatkan kesalahan penyusunan kata-kata dalam kalimat.

4.3.3.2 Faktor Keluarga

  Bahasa yang dipakai dalam lingkup keluarga dapat memberi pengaruh pada penggunaan bahasa kedua. Kebiasaan anak dalam menggunakan bahasa di- pengaruhi oleh orang-orang sekitar terutama ayah, ibu, dan saudara.

  Dari hasil angket, diketahui bahwa bahasa yang digunakan sebagian besar anak dalam lingkup keluarga adalah bahasa Jawa dengan presentase sebesar 53%.

  Untuk anak yang menggunakan bahasa Indonesia dalam lingkup keluarga mem- peroleh presentase 45,5%. Penggunaan bahasa Jawa yang sangat dominan di lingkungan keluarga tentunya akan memberi pengaruh yang sangat besar terhadap penggunaan bahasa Indonesia.

  Dengan adanya penggunaan dua bahasa (Jawa dan Indonesia) secara ber- gantian dalam keluarga tentunya anak lebih cenderung memasukkan unsur-unsur bahasa satu ke bahasa lain. Hal ini akan berpengaruh ketika anak menyusun kalimat dalam bahasa Indonesia. Berdasarkan hasil angket, peran keluarga dalam membantu anak yang kesulitan belajar memperoleh presentase 50% dan 63,64%.

4.3.3.3 Faktor Masyarakat

  Pemakaian bahasa Indonesia di lingkungan masyarakat juga menjadi salah satu faktor kesalahan kalimat siswa. Lingkup masyarakat mencakup penggunaan bahasa dengan teman sebaya, orang yang usianya lebih tua, dan orang yang di- hormati dalam masyarakat.

  Hasil angket menunjukkan adanya variasi bahasa siswa ketika berkomuni- kasi dengan orang yang mempunyai usia berbeda. Untuk berkomunikasi sehari- hari dengan teman sebaya, siswa menggunakan bahasa Jawa. Walaupun berada di Lampung (Sumatera), bahasa Jawa sangat mendominasi mereka dalam ber- komunikasi sehari-hari. Namun, untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua dan dihormati, mereka lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia.

  Siswa yang sedang belajar bahasa kedua akan mendapat pengaruh dari pemakaian bahasa di lingkungan masyarakat yang lebih dominan penggunaan bahasanya. Dalam hal ini bahasa Jawa dapat memberi pengaruh yang besar ke- pada siswa dalam kemampuannya menguasai bahasa Indonesia, misalnya ke- mampuan siswa dalam menyusun kata dan penggunaan huruf kapital. Jadi, peng- gunaan bahasa di sekitar tempat tinggal ikut mendukung timbulnya kesalahan siswa dalam berbahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulisan.

4.3.3.4 Faktor Sekolah

  Pada umumnya, anak memperoleh bahasa pertama dalam lingkup keluarga dan lingkungan sekitar, kemudian mereka memperoleh dan belajar bahasa kedua di sekolah. Di sekolah bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pengantar sesuai dengan fungsinya sebagai bahasa nasional. Berdasarkan hal itu, diharapkan bahasa Indonesia dapat dipergunakan dengan baik oleh siswa untuk berkomuni- kasi dengan guru dan teman-temannya dengan baik dan benar.

  Di sekolah sebagian besar siswa menggunakan bahasa Indonesia di dalam kelas ketika berbicara dengan guru dan teman-temannya. Namun, ketika di luar kelas mereka menggunakan dua bahasa secara bergantian, yaitu bahasa Jawa/lainnya dan bahasa Indonesia. Penggunaan dua bahasa secara bergantian tentunya akan berpengaruh terhadap perkembangan bahasa siswa khususnya bahasa Indonesia karena masuknya unsur-unsur bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia. Guru juga menggunakan dua bahasa ketika melakukan kegiatan belajar-mengajar. Hal ini dilakukan untuk menjelaskan makna-makna dalam bahasa Indonesia yang belum dimengerti oleh siswa. Dengan demikian, siswa akan menjadi mudah untuk memahami sesuatu. Namun, penggunaan bahasa secara bergantian oleh guru tentunya akan memberi pengaruh pada siswa dalam mempelajari bahasa kedua.

  Selain faktor bahasa, ternyata metode belajar juga dapat mempengaruhi penguasaan bahasa siswa. Hasil angket menunjukkan bahwa siswa lebih suka belajar bahasa Indonesia dengan cara mencatat. Kebiasaan mencatat yang diterap- kan dapat membawa pengaruh yang besar karena kemampuan mereka dalam memproduksi tulisan kurang.

  Dari keempat faktor di atas, dapat diketahui bahwa yang menyebabkan terjadinya kesalahan kalimat siswa dipengaruhi adanya faktor individu, faktor keluarga, faktor masyarakat, dan faktor sekolah. Faktor-faktor tersebut secara umum dapat mempengaruhi penguasaan bahasa kedua siswa secara lisan maupun tertulis. Secara tertulis misalnya penguasaan dalam hal membuat kalimat, pe- nyusunan kata, dan penggunaan huruf kapital.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

  Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab IV, dapat disimpulkan berikut ini.

  1. Jenis kesalahan kalimat siswa meliputi kesalahan subjek (108), kesalahan predikat (95), kesalahan subjek dan predikat (9), kesalahan objek (39), kesalahan pelengkap (15), dan kesalahan keterangan (76). Jumlah keseluruhan kesalahan kalimat siswa ditemukan sebanyak 342 kesalahan.

  2. Kesalahan kalimat yang paling banyak dilakukan adalah jenis kesalahan unsur subjek dengan jumlah 108 kesalahan. Rincian urutan kesalahan kalimat siswa: (1) kesalahan subjek dengan jumlah 108 kesalahan, (2) kesalahan predikat dengan jumlah 95 kesalahan, (3) kesalahan keterangan dengan jumlah 76 kesalah- an, (4) kesalahan objek dengan jumlah 39 kesalahan, (5) kesalahan pelengkap dengan jumlah 15 kesalahan, (6) kesalahan subjek dan predikat dengan jumlah 9 kesalahan.

  3. Sebab-sebab kesalahan siswa berdasarkan angket dan wawancara: 1) Berdasarkan angket diklasifikasikan menjadi 4 (empat) faktor, sebagai berikut.

  a. Faktor individu. Faktor individu mencakup penggunaan bahasa pertama dan bahasa kedua siswa. Karena kemajemukan suku dan bahasa, mereka selalu mencampur-adukkan bahasa Indonesia dengan bahasa daerah ketika berkomunikasi. Hal ini membuat pemahaman siswa terhadap penggunaan bahasa Indonesia menjadi kurang, sehingga mengakibatkan kesalahan pe- nyusunan kata-kata dalam kalimat.

  b. Faktor keluarga. Kebiasaan penggunaan bahasa mencakup penggunaan bahasa untuk berkomunikasi dengan ayah, ibu, dan saudara. Penggunaan bahasa yang beragam dan peran keluarga dapat memberi pengaruh terhadap penguasaan anak dalam belajar bahasa Indonesia khususnya dalam hal me- nyusun kalimat.

  c. Faktor masyarakat. Semakin banyak pengaruh bahasa yang bervariasi, maka semakin berpengaruh bagi siswa dalam belajar bahasa kedua. Jadi penggunaan bahasa di sekitar tempat tinggal ikut mendukung timbulnya ke- salahan siswa baik secara lisan maupun tulisan.

  d. Faktor sekolah. Penggunaan dua bahasa secara langsung memberi pengaruh terhadap penguasaan siswa berbahasa Indonesia. Kebiasaan men- catat juga dapat membawa pengaruh yang besar karena kemampuan mereka dalam memproduksi tulisan kurang.

  2) Wawancara Dari hasil wawancara, prestasi siswa cukup baik, namun dari sisi pe- nerapannya masih belum memuaskan karena latar belakang budaya yang ber- beda. Kesalahan bukan dari pihak siswa saja, tapi biasanya siswa salah karena meniru dan mengikuti gurunya. Hal ini terjadi karena guru kadang-kadang menggunakan bahasa daerah ketika berbicara di dalam kelas untuk memper- mudah siswa memahami sesuatu.

  5.2 Implikasi

  Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia harus lebih diterapkan secara nyata agar siswa mampu berkomunikasi, baik secara lisan maupun tertulis. Berdasarkan hal tersebut, kesalahan kalimat masih banyak ditemukan pada karangan narasi siswa. Hal ini memberi gambaran bahwa pengajaran bahasa Indonesia belum ber- hasil dilaksanakan secara nyata.

  Pengajaran bahasa Indonesia memang belum sepenuhnya diterapkan secara nyata khususnya di wilayah pedesaan. Hal itu terjadi karena penggunaan bahasa daerah masih sangat kental dan melekat pada diri siswa. Penggunaan bahasa daerah ini menjadi salah satu penyebab timbulnya kesalahan siswa dalam me- nyusun kalimat.

  Penelitian ini dapat memberikan gambaran serta penjelasan bagi sekolah dan bagi pengajaran bahasa, agar tujuan pembelajaran bahasa Indonesia dapat ber- hasil diperlukan usaha yang nyata. Misalnya penggunaan metode pembelajaran yang lebih bervariasi sehingga tercipta suatu pembelajaran yang menyenangkan dan dapat memberikan motivasi bagi siswa.

  5.3 Saran

  1. Bagi Guru Bahasa Indonesia, Khususnya di SDN 1 dan 2 Patoman Guru bahasa Indonesia hendaknya memberikan teori tentang pembentukan dan penerapannya dalam kalimat serta memberikan pelatihan soal kepada siswa secara terus-menerus, khususnya untuk mengetahui sampai sejauh mana siswa menguasai teori dan menerapkannya dalam membuat kalimat.

  Guru bahasa Indonesia hendaknya memberikan bimbingan dan memper- baiki kesalahan yang dilakukan siswa sehingga kesalahan siswa tidak berlangsung lama dan tidak menjamur. Guru juga harus mengingatkan kepada siswa tentang aturan penulisan struktur kalimat yang benar sehingga siswa menjadi terbiasa.

  2. Bagi Pihak Sekolah Hasil penelitian ini memberikan informasi mengenai terjadinya kesalahan kalimat yang dilakukan siswa. Berdasarkan hal itu, pihak sekolah diharapkan me- ningkatkan kualitas guru dengan mencari evaluasi dan metode yang tepat se- hingga tercipta pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. Kebijakan meng- gunakan bahasa Indonesia di sekolah perlu ditegaskan lagi sehingga penguasaan bahasa akan menjadi lebih baik.

  3. Bagi Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah Dari hasil penelitian yang diperoleh, diharapkan mahasiswa calon guru dapat mengoptimalkan pengetahuannya agar memperoleh bekal untuk mengajar- kan bahasa Indonesia dengan baik di dunia pendidikan sehingga dapat me- minimalkan kesalahan yang sering dilakukan siswa.

  4. Bagi Peneliti lain Hasil penelitian dapat dipakai untuk pengembangan penelitian sejenis atau hal-hal lain yang masih dapat diteliti lagi seperti fonologi, morfologi, dan sin- taksis yang berkaitan dengan kesalahan bahasa di sekolah-sekolah yang lain. Penulis juga mengharapkan agar penelitian selanjutnya menemukan metode- metode pengajaran tentang struktur kalimat yang dapat dengan mudah dipahami oleh siswa

DAFTAR PUSTAKA

  Arifin, Zaenal. Seribu Satu Kesalahan Berbahasa. 2001. Jakarta: CV Akademika Pressindo.

  Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian. 1996. Jakarta: Rineka Cipta.

  . Manajemen Penelitian. 1990. Jakarta: Rineka Cipta. Badudu, J. S. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. 1989. Jakarta: Gramedia. Baradja, M. I. 1990. Kapita Selekta Pengajaran Bahasa. Malang: IKIP Malang. Chaer, Abdul. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. 1988. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.

  Keraf, Gorys. 2001. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia. Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.

  . 2002. Srtuktur, Kategori, dan Fungsi dalam Teori Sintaksis. Jakarta: Universitas Katolik Atmajaya. Kumalasari, Diana A nggreani. 2004.“Kesalahan Berbahasa Bidang Sintaksis pada

  Karangan Argumentasi Siswa Kelas II Kejar Paket C di Kecamatan Kotagede Yogyakarta Tahun Ajaran 2003/2004 ( Sebuah Studi Kasus) . Skripsi S1. Yogyakarta: PBSID, Universitas Sanata Dharma. Mardawini ngsih, Dwi. 1999.”Analisis Kesalahan Kosakata dan Ketidakefektifan

  Kalimat pada Karangan Siswa Kelas II SLTP N 1 Playen Gunungkidul Yogyakarta . Skripsi S1. Yogyakarta: JPBS, Universitas Negeri Yogyakarta.

  Moeliono, Anton M, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka. Musrifah, Nurul. 1999.”Analisis Kesalahan Sintaksis pada Karangan Siswa Kelas

  III SLTP Negeri 13 Yogyakarta Tahun Pelajaran 1998/1999 . Skripsi S1. Yogyakarta: JPBS, Universitas Negeri Yogyakarta.

  Nababan, Sri Utari Subiyakto. 1988. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

  Namang, Maria Helena Dane. 2005.”Analisis Kesalahan Sintaksis dalam Karangan Argumentasi Siswa Kelas II SMAK Frateran Podor Larantuka Tahun Ajaran 2003/2004 (Studi Kasus)

  . Skripsi S1. Yogyakarta: PBSID, Universitas Sanata Dharma.

  Pateda, M. 1987. Analisis Kesalahan Berbahasa. Flores: Nusa Indah. Ramlan, M. 2001. Sintaksis. Yogyakarta: CV Karyono. Razak, Abdul.1985. Kalimat Efektif. Jakarta: PT Gramedia. So ewandi, A. M. Slamet. 2006. “Ciri-Ciri Penelitian”. Handout. Yogyakarta:

  PBSID, Universitas Sanata Dharma Tarigan, H. G. 1985. Pengajaran Sintaksis. Bandung: Angkasa.

  Tarigan, H. G. dan Djago Tarigan. 1988. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa . Bandung: Angkasa. The Liang Gie.1992. Pengantar Dunia Karang-Mengarang. Yogyakarta: Liberty

  

ANGKET

PENELITIAN KESALAHAN KALIMAT PADA KARANGAN NARASI

SISWA KELAS VI SD NEGERI 1 PATOMAN TANGGAMUS-LAMPUNG

TAHUN AJARAN 2006/2007: SEBUAH STUDI KASUS

  NAMA : NO. ABSEN : HARI/TANGGAL : Petunjuk Pengisian : 1. Bacalah baik-baik setiap pertanyaan dan alternatif jawabannya.

  

2. Pilihlah alternatif jawaban yang paling sesuai menurutmu dan berilah

tanda (X) pada jawaban yang dipilih.

  3. Koreksi kembali jawabanmu dan jangan sampai ada yang terlewatkan.

  1. Bahasa pertama yang saya gunakan adalah …

  a. bahasa Indonesia

  b. bahasa Jawa

  c. b ahasa lainnya …

  2. Saya selalu mencampur-adukkan bahasa Indonesia dengan bahasa daerah ketika berbicara dengan siapa pun.

  a. ya, selalu

  b. kadang-kadang

  c. tidak pernah 3. Saya sering berbicara bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

  a. ya, sering

  b. kadang-kadang

  c. tidak 4. Saya senang menggunakan bahasa Indonesia.

  a. ya

  b. tidak c. biasa saja 5. Saya mengalami kesulitan ketika harus berbicara bahasa Indonesia.

  a. ya

  b. agak kesulitan

  c. tidak pernah kesulitan 6. Saya mengalami kesulitan ketika menulis menggunakan bahasa Indonesia.

  a. ya

  b. agak kesulitan

  c. tidak pernah kesulitan 7. Saya selalu belajar mata pelajaran bahasa Indonesia di rumah …

  a. ya, selalu

  b. kadang-kadang

  c. tidak pernah 8. Bahasa yang saya gunakan di rumah adalah …

  a. bahasa Indonesia

  b. bahasa Jawa c. bahasa lainnya … 9. Saya menggunakan bahasa Indonesia jika berbicara dengan ayah.

  a. ya, selalu

  b. kadang-kadang

  c. tidak pernah 10. Saya menggunakan bahasa Indonesia jika berbicara dengan ibu.

  a. ya, selalu

  b. kadang-kadang

  c. tidak pernah 11. Saya menggunakan bahasa Indonesia jika berbicara dengan kakak.

  a. ya, selalu

  b. kadang-kadang

  c. tidak pernah 12. Saya menggunakan bahasa Indonesia jika berbicara dengan adik.

  a. ya, selalu b. kadang-kadang

  c. tidak pernah 13. Orang tua saya sering mengajarkan bahasa Indonesia.

  a. ya, sering

  b. kadang-kadang

  c. tidak pernah 14. Orang tua sering membantu saya, ketika saya mengalami kesulitan belajar.

  a. ya, sering

  b. kadang-kadang

  c. tidak pernah

  15. Bahasa yang saya gunakan ketika berbicara dengan teman sebaya di lingkungan tempat tinggal saya adalah … a. bahasa Indonesia

  b. bahasa Jawa c. bahasa lainnya …

  16. Bahasa yang saya gunakan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua dari saya adalah … a. bahasa Indonesia

  b. bahasa Jawa c. bahasa lainnya …

  17. Bahasa yang saya gunakan ketika berbicara dengan orang yang saya hormati adalah… a. bahasa Indonesia

  b. bahasa Jawa

  c. bahasa lainnya 18. Di sekolah, saya selalu menggunakan bahasa Indonesia.

  a. ya, selalu

  b. kadang-kadang

  c. tidak pernah 19. Dengan teman sekolah, saya menggunakan bahasa …

  a. bahasa Indonesia b. bahasa Jawa c. bahasa lainnya … 20. Saya selalu menggunakan bahasa Indonesia ketika berbicara di dalam kelas.

  a. ya, selalu

  b. kadang-kadang

  c. tidak pernah 21. Saya selalu menggunakan bahasa Indonesia ketika berbicara di luar kelas.

  a. ya, selalu

  b. kadang-kadang

  c. tidak pernah 22. Saya lebih suka belajar bahasa Indonesia dengan cara …

  a. mencatat

  b. permainan c. lainnya …

  @@@@@ Terima kasih @@@@@

  

ANGKET

PENELITIAN KESALAHAN KALIMAT PADA KARANGAN NARASI

SISWA KELAS VI SD NEGERI 2 PATOMAN TANGGAMUS-LAMPUNG

TAHUN AJARAN 2006/2007: SEBUAH STUDI KASUS

  NAMA : NO. ABSEN : HARI/TANGGAL : Petunjuk Pengisian : 1. Bacalah baik-baik setiap pertanyaan dan alternatif jawabannya.

  

2. Pilihlah alternatif jawaban yang paling sesuai menurutmu dan berilah

tanda (X) pada jawaban yang dipilih.

  3. Koreksi kembali jawabanmu dan jangan sampai ada yang terlewatkan.

  1. Bahasa pertama yang saya gunakan adalah ...

  a. bahasa Indonesia

  b. bahasa Jawa c. bahasa lainnya ...

  2. Saya selalu menncampur-adukkan bahasa Indonesia dengan bahasa daerah ketika berbicara dengan siapa pun.

  a. ya, selalu

  b. kadang-kadang

  c. tidak pernah 3. Saya sering berbicara bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

  a. ya, sering

  b. kadang-kadang

  c. tidak 4. Saya senang menggunakan bahasa Indonesia.

  a. ya

  b. tidak c. biasa saja 5. Saya mengalami kesulitan ketika harus berbicara bahasa Indonesia.

  a. ya

  b. agak kesulitan

  c. tidak pernah kesulitan 6. Saya mengalami kesulitan ketika menulis menggunakan bahasa Indonesia.

  a. ya

  b. agak kesulitan

  c. tidak pernah kesulitan 7. Saya selalu belajar mata pelajaran bahasa Indonesia di rumah …

  a. ya, selalu

  b. kadang-kadang

  c. tidak pernah 8. Bahasa yang saya gunakan di rumah adalah …

  a. bahasa Indonesia

  b. bahasa Jawa c. bahasa lainnya … 9. Saya menggunakan bahasa Indonesia jika berbicara dengan ayah.

  a. ya, selalu

  b. kadang-kadang

  c. tidak pernah 10. Saya menggunakan bahasa Indonesia jika berbicara dengan ibu.

  a. ya, selalu

  b. kadang-kadang

  c. tidak pernah 11. Saya menggunakan bahasa Indonesia jika berbicara dengan kakak.

  a. ya, selalu

  b. kadang-kadang

  c. tidak pernah 12. Saya menggunakan bahasa Indonesia jika berbicara dengan adik.

  a. ya, selalu b. kadang-kadang

  c. tidak pernah 13. Orang tua saya sering mengajarkan bahasa Indonesia.

  a. ya, sering

  b. kadang-kadang

  c. tidak pernah 14. Orang tua sering membantu saya, ketika saya mengalami kesulitan belajar.

  a. ya, sering

  b. kadang-kadang

  c. tidak pernah

  15. Bahasa yang saya gunakan ketika berbicara dengan teman sebaya di lingkungan tempat tinggal saya adalah … a. bahasa Indonesia

  b. bahasa Jawa c. bahasa lainnya …

  16. Bahasa yang saya gunakan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua dari saya adalah … a. bahasa Indonesia

  b. bahasa Jawa c. bahasa lainnya …

  17. Bahasa yang saya gunakan ketika berbicara dengan orang yang saya hormati adalah… a. bahasa Indonesia

  b. bahasa Jawa

  c. bahasa lainnya 18. Di sekolah, saya selalu menggunakan bahasa Indonesia.

  a. ya, selalu

  b. kadang-kadang

  c. tidak pernah 19. Dengan teman sekolah, saya menggunakan bahasa …

  a. bahasa Indonesia b. bahasa Jawa c. bahasa lainnya … 20. Saya selalu menggunakan bahasa Indonesia ketika berbicara di dalam kelas.

  a. ya, selalu

  b. kadang-kadang

  c. tidak pernah 21. Saya selalu menggunakan bahasa Indonesia ketika berbicara di luar kelas.

  a. ya, selalu

  b. kadang-kadang

  c. tidak pernah 22. Saya lebih suka belajar bahasa Indonesia dengan cara …

  a. mencatat

  b. permainan c. lainnya …

  @@@@@ Terima kasih @@@@@

  

LEMBAR WAWANCARA GURU SD NEGERI 1 PATOMAN

  1. Bagaimana tanggapan Anda mengenai kemampuan siswa terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia? Jawaban : ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………

  2. Bagaimana motivasi siswa dalam menghadapi mata pelajaran bahasa Indonesia? Jawaban : ..............................................................................................................................

  .............................................................................................................................. .............................................................................................................................. ..............................................................................................................................

  3. Sejauh mana kesalahan siswa dalam hal menulis kalimat? Jawaban : ..............................................................................................................................

  .............................................................................................................................. .............................................................................................................................. ..............................................................................................................................

  4. Apakah Anda selalu menggunakan bahasa Indonesia ketika berbicara di dalam kelas? Jelaskan! Jawaban : .............................................................................................................................. .............................................................................................................................. ..............................................................................................................................

  

LEMBAR WAWANCARA GURU SD NEGERI 2 PATOMAN

  1. Bagaimana tanggapan Anda mengenai kemampuan siswa terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia? Jawaban : ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………

  2. Bagaimana motivasi siswa dalam menghadapi mata pelajaran bahasa Indonesia? Jawaban : ..............................................................................................................................

  .............................................................................................................................. .............................................................................................................................. ..............................................................................................................................

  3. Sejauh mana kesalahan siswa dalam hal menulis kalimat? Jawaban : ..............................................................................................................................

  .............................................................................................................................. .............................................................................................................................. ..............................................................................................................................

  4. Apakah Anda selalu menggunakan bahasa Indonesia ketika berbicara di dalam kelas? Jelaskan! Jawaban : .............................................................................................................................. .............................................................................................................................. ..............................................................................................................................

  Petunjuk penulisan karangan :

  1. Tulislah nama, no. urut, dan nama sekolah kamu di sudut kanan atas kertas karangan!

2. Ceritakan kembali cerita rakyat “Malin Kundang Si Anak Durhaka”!

  3. Panjang karangan minimal 1,5 halaman!

  4. Gunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar!

  5. Waktu untuk mengarang adalah 2 jam pelajaran (2 x 45 menit)

  KISI-KISI ANGKET UNTUK SISWA Variabel Penelitian Indikator Nomor Pertanyaan

  1. Bahasa siswa - bahasa pertama siswa

  1

  • penggunaan campur kode

  2

  2. Motivasi siswa - frekuensi siswa meng-

  3 gunakan bahasa Indonesia

  • tanggapan siswa terhadap bahasa Indonesia

  4

  3. Kualitas belajar siswa - tingkat kesulitan siswa 5, 6

  • frekuensi belajar siswa

  7

  4. Penggunaan bahasa siswa - interaksi siswa dengan 8, 9, 10, 11, 12, (faktor keluarga) keluarga

  5. Dukungan orang tua - pendampingan orang tua 13, 14 terhadap siswa

  6. Penggunaan bahasa siswa - interaksi siswa dengan

  15 (faktor masyarakat) teman sebaya

  • interaksi siswa dengan

  16 orang yang lebih tua

  • interaksi siswa dengan

  17 orang yang dihormati

  7. Penggunaan bahasa siswa - frekuensi siswa meng-

  18 (faktor sekolah) gunakan bahasa Indonesia

  • interaksi siswa dengan teman sekolah

  19

  • frekuensi siswa berbicara bahasa Indonesia di dalam

  20 kelas

  • frekuensi siswa berbicara
bahasa Indonesia di luar

  21 kelas

  • - 8. Metode belajar metode belajar yang

  22 disukai siswa

  Lampiran 1 Data Kesalahan Kalimat

  1. Kesalahan Unsur Subjek Kesalahan Kalimat Siswa SDN 1 Patoman Nomor Kalimat Data Data K1 Alangkah bahagianya kalau Dinda bisa berziarah ke pusara orang tua Kanda.

  K2 Kedudukan terus naik hingga menjadi nahkoda.

  Alangkah bahagianya kalau Dinda bisa berziarah ke pusara mereka. Malin Kundang Malin Kundang menolak permintaan istrinya. Dan banyak orang ramai datang untuk ... Dan istri Malin bertanya : .... Dan ibu Malin Kundang lalu berkata ... Dan Malin Kundang lalu menaiki kapalnya. K3 Ternyata di salah satu gerombolan itu ada ibu Malin Kundang si Mak Tua. K5 ....dagannya pun tidak laku.

  K7 Alangkah bahagianya kalau Dinda bisa berziarah ke pusara orang tua Kanda. K8 Arus laut pun membawanya ke tepi pantai, dan terdampar di pulau.

  Diselamatkan oleh penghuni itu. Malin Kundang anakku, bertahun-tahun merindukanmu nak. Pada saat melihat ibunya Malin Kundang hatinya teriris-iris. K9 Dan ia terbawa sampai ke dasar pulau.

  Dan kapal mereka teramuk badai dan tenggelamlah kapal itu. K11 Dan Malin Kundang pun ditemukan oleh seseorang. K12 Dan dia pun melamar putri raja Malaysia yang cantik dan lemah lembut. K14 Dan malin Kundang pun bekerja tanpa izin ibunya.

  ....dan ibunya hatinya sangat bersedih ... Dan Malin Kundang pun akan berputar haluan, ... K15 Lalu Mak Tua hatinya terasa sedih dan pilu. K16 Dan Malin Kundang menikah kepada gadis Malaysia yang cantik jelita.

  ....Man pun tenggelam dan karam. K17 ...karena belum dikenal oleh pelanggan Mak Tua dagangannya tidak laku.

  Dan Malin Kundang mulai mengenali samudera ... Namun, karena keburu wajah Malin Kundang keburu dikenal ... K22 Karena makanan yang dijual Malin Kundang belum dikenal, tidak laku.

  Dan anak kapal disuruh mencari pusara orang tua. Di antara orang-orang penduduk yang berkumpul... Kalau dia benar-benar anakku, jangan biarkan hidup dalam dosa. Padahal kapal Malin pun karam. K23 Mula-mula hanya sebagai kelasi, ...

  Arus laut membawanya ke tepi pantai dan diselamatkan oleh ... K24 Di tempat itu, banyak seseorang dan gerombolan orang-orang itu pun... K25 Dan ibunya pun mengetahuinya.

  K26 Dan ia hanya menjadi kelasi.

  Dan orang-orang yang mempunyai rumah dekat pelabuhan ... K27 Dan Malin Kundang mengarungi samudera. K28 Dan nenek tua itu menghidupi keluarganya ...

  Dan pada kapal bajak laut akan menuju sasaran. Dan Malin Kundang menolak ... Dan ia menuju ke kampungnya ... Dan kapal itu mau jalan.

  K31 Pada waktu itu akhirnya istrinya mengajak Malin untuk ke pusara. K32 Lalu ia memutuskan bekerja dengan ...

  ....tetapi karena kecakapan dan keuletannya meningkat sampai ia dijadikan... Lalu ia terdampar di suatu pulau. Ia lalu ditolong oleh penghuni pulau itu. Lalu ia menikah dengan puteri yang bernama Azizah. Lalu istrinya mengajak Malin Kundang menemui orang tua. ....lalu Malin Kundang kembali.

  K33 Suatu hari kapal diamuk badai dahsyat. K34 Kapal tewas dan Malin Kundang berpegangan sepotong kayu ... K35 Dan dia mempunyai rumah yang sangat besar ...

  Tapi putri memaksa Malin Kundang... Tapi putri terus memaksa Malin Kundang untuk berziarah ... Dengan terpaksa mengatakan itu sebenarnya. K36 Dan ternyata Malin Kundang menemukan pekerjaan itu.

  Tetapi Malin Kundang telah menyusun ... Dan Malin Kundang melamar putri Sultan Malaysia... Bukannya kerinduan terobati, karena pertemuan itu namun... Lalu Malin Kundang dan rombongan serta kapal ...

  K37 Dan petir dan halilintar menyambar kapal Malin Kundang. K38 Sehingga tidak sempat minta izin pada ibunya.

  Dan ibu Malin Kundang segera keluar ... K40 Dan Malin Kundang akhirnya pergi ... K41 Dan Malin Kundang memutuskan untuk bekerja ...

  Sampai-sampai tidak sempat pamitan pada ibunya. Dengan berbagai alasan menolak ajakan istrinya.

  K42 Alangkah bahagianya kalau bisa ke berziarah ke pusara mereka. K43 Setelah Malin Kundang agak besar, ikut membantu ...

  Dan badai besar menyambar kapal Malin Kundang. K44 Suatu halilintar yang dahsyat menyambar kapal Malin Kundang.

  Kesalahan Kalimat Siswa SDN 2 Patoman Nomor Kalimat Data Data K1 Mula-mula menjadi kelasi.

  Diselamatkan oleh segerombolan bajak laut. Ternyata yang dicari pusara.

  K3 Ketika kapal mendarat istri Azizah turun ... K4 Bahkan Malin Kundang tidak sempat meminta izin kepada ibunya.

  Dan istrinya bertanya ... Dan Malin kundang pun akhirnya meninggal. K6 Lalu pada hari itu juga berangkatlah menuju kampung Malin Kundang.

  Mendengar kata-kata itu Malin dan Mak Tua pergi. K7 Mengarungi samudera dan mengarungi pulau-pulau ...

  Alangkah bahagianya kalau bisa ke pusara orang tua Kanda. K9 Alangkah bahagianya bila Dinda bisa berziarah ke pusara mereka. K10 Sekarang menjadi sarjana yang sangat kaya raya. K11 Namun karena kecakapan dan keuletannya, hingga terus naik...

  Mempunyai kesempatan sebab segerombolan bajak laut itu akan ... K12 ....dan anaknya laki-lakinya yang bernama Malin Kundang.

  Akan tetapi belum dikenal pelanggannya, jadi jualannya tidak laku. Karena kecakapan dan keuletannya, menjadi kelasi. Semua kapal awak tewas kecuali Malin Kundang. Anak buahan disuruh untuk mencari pusara yang dituju. Dan ingin merangkul ibunya. K13 Malin Kundang dan istrinya serta prajuritnya mati... K14 Dan orang-orang yang ada di kapal telah mati kecuali Malin Kundang.

  Alangkah bahagianya kalau saya ke tempat pusara orang tua kamu. Lalu terpaksa memenuhi permintaan putri Azizah. K15 Ada sebuah ombak yang mengenai kapal Malin Kundang ...

  Penghuninya itu menolong Malin Kundang. Akhirnya Malin Malin Kundang berangkat ke desa Malin Kundang. Itu ibunya mengutuk Malin Kundang agar menjadi batu. K16 Dan yang menggantikannya adalah Malin Kundang.

  Pada waktu itu akan merampok kapal milik saudagar kaya. Sebelum berputar keburu dikenal orang yang menyemut di pelabuhan.

  K17 Karena pelanggan ibunya ...., akhirnya tidak laku.

  2. Kesalahan Unsur Predikat

Kesalahan Kalimat Siswa SDN 1 Patoman

Nomor

  Kalimat Data Data K1 Orang-orang untuk melihat kemegahan kapal dan pemiliknya.

  Seruan Mak Tua. K2 Malin Kundang berbahagia dengan istrinya.

  Dan datanglah badai. K3 ....namun karena kecakapan dan keuletan, kedudukan Malin Kundang menaik menjadi nahkoda.

  K4 ....Malin Kundang terus dinaikkan pangkat menjadi nahkoda.

  Putri Azizah menya: Kanda, apa orang tua Kanda masih hidup? Orang tua Kanda sudah meninggal, tanya Malin Kundang. Lalu ibunya Malin Kundang lalu ibunya mendekat... Tuhan bila dia anakku jangan dia hidup dalam dosa. K5 ....Malin Kundang yang menggantikan Mak Tua untuk berjualan panganan...

  Malin Kundang pun berputus asa ... ....Malin Kundang pun naik menjaadi nahkoda. Malin bertanya tidak punya. Mak Tua pun berputus asa. K6 ....yang dilakukan gerombolan bajak laut itu setiap hari.

  Siapa yang ingin ikut bersamaku yang mulai hidup baru sebagai pedagang. Malin Kundang untuk berpura-pura, kalau pusara ... K7 Alangkah bahagianya kalau Dinda .... tanya istri Malin Kundang.

  Tiba-tiba petir menghambar ... ...ombak yang dahsyat. K8 Pada suatu hari kapalnya diawak badai dahsyat.

  K9 Dan itulah harapan Mak Tua. K10 Malin Kundang menenal lautan.

  Anak buahnya suruh pura-pura ... Pupuslah harapan Mak Tua, hatinya bagai diiris-iris. K11 Malin Kundang terus menaik hingga akhirnya ...

  Bajak laut yang sedang melaksanakan aksinya. K12 ....tubuhnya membukkuk serta keriput seluruh tubuhnya. K13 Tetapi jika ada yang ingin memihak kepadanya maka untuk memulai hidup baru.

  K14 ....dan dia terselamatkan oleh gerombolan bajak laut. K15 Hati Mak Tua seperti teriris-iris. K16 Dan siapakah gerangan? Lalu Malin Kundang untuk memanggil dan menyuruh anak buahnya ...

  ....dan Malin Kundang pergi-pergi secara sesingkat. K17 ....Malin Kundang yang menggantikan Mak Tua berjualan panganan...

  K18 Di daerah Sumatera Barat, tinggal seorang ibu ...

  K19 ....keluarga Kanda bangsawan seperti Dinda juga. K20 Dan bernama putri Azizah.

  Lalu Malin Kundnag berpura-pura lupa dan tidak tahu ... K22 Dia pengemis yang sudah gila begitu. K23 Lalu ia putri Malaysia yang bernama Azizah.

  Ketika di pelabuhan orang beramai-ramai untuk melihat kemegahan kapal ... K24 ....gerombolan orang-orang itu pun berada Mak Tua. K25 ...kembalikan dia padaku, rintihan Mak Tua. K26 ...seorang ibu bernama Mak Tua dan anaknya yang bernama Malin Kundang.

  Malin Kundang sudah menali lautan. K27 Karena kecakapan dan keuletan Malin Kundang sehingga Malin Kundang menjadi nahkoda.

  ....sebenarnya Malin Kundang merangkul ibunya. K28 Malin Kundang dan anak buahnya untuk berpura-pura untuk berkeliling ...

  Dan kapal itu mau jalan. K30 ....jabatannya pun naik sehingga menjadi nahkoda. K33 Ia terdampar terdampar di pinggir pulau.

  Orang tua Kanda seperti bangsawan juga seperti Dinda. Mereka turun di dermaga, orang-orang ramai untuk melihat kemegahan ... Jika dia memang anak kandungku, janganlah dia hidup dalam dosa. Tidak lama kemudian hujan deras, dan kapal Malin diamuk badai. K34 Sejak ditinggal suaminya Mak Tua dengan mencukupi keluarganya ...

  Tidak dinda, biar pengawalku yang mencari pusara ... Hati Mak Tua sedih berseri-seri. K35 ....dengan berjualan panganan di pelabuhan yang tidak jauh dari rumahnya.

  Pada saat itu juga Malin Kundang mengelabuhi mereka dan ternyata berhasil. K37 Di pelabuhan banyak orang yang datang untuk melihat ... K39 ....Mak Tua hiduplah dengan Malin Kundang.

  Mak Tua itu tiba-tiba sakit-sakitan dan akhirnya ... Anak raja yang bernama Azizah Dan tiba-tiba Malin Kundang dan Azizah sudah ke kapal Di Sumatera Barat banyak orang yang menonton kapal dan ...

  ....dan akhirnya Mak Tua itu akhirnya mengaku. ....akhirnya Mak Tua itu akhirnya disuruh turun dari kapal Malin Kundang Ayo kita cepat prajurit.

  K40 Setelah lama, Malin Kundang untuk merantau ...

  ....sudah lama Malin Kundang merantau sangat dirindukan ibunya. Akhirnya mereka saling suami istri. Hati mak Tua seperti teriris-iris setelah mendengar ... Waktu itu istri Malin Kundang juga, bahwa itu bukan ibu Malin Kundang ... ....kapal Malin Kundang kena ombak yang sangat kuat dan hujan deras. K41 ....jika dia bukan anak kandungku atas kelancanganku. K42 Ternyata penghuninya segerombolan bajak laut. K43 Kanda sungguh indah pemandangan disini sangat sejuk dan indah.

  

Kesalahan Kalimat Siswa SDN 2 Patoman

Nomor Kalimat Data Data Malin Kundang pun menikah oleh putri dari Malaysia ...

  K4 Istrinya pun bertanya:”Kanda aku ingin melihat pusara orang tua Kanda”. K5 Ia ingin sebenarnya berlari merangkul ibunya itu.

  • K6 K7 Dengan cara itu Malin Kundang dapat .... tetapi wajahnya terburu oleh Mak... K8 Saudagar itu menawar pekerjaan kepada Malin Kundang.

  Dia sudah mulai mengenal samudera dan lautan. Ternyata salah satu dari ibunya adalah adalah ibunya. Setelah kapal berlayar petir dan halilintar yang menyambar-nyambar. K9 Ia hidup berbahagia bersama istrinya itu. K11 Namun karena kecakapan dan keuletannya, hingga terus naik hingga ia menjadi nahkoda.

  Karena Putri Azizah terus mendesak hingga Malin Kundang mau menuruti keinginan istrinya itu. K12 Dan ingin merangkul ibunya. K13 ....dan Malin Kundang yang menggantikan ibunya.

  Kedua orang tua Kanda juga turunan bangsawan seperti Dinda. K14 Lalu terpaksa memenuhi permintaan ... K17 Orangnya cantik dan Malin Kundang dan mencintainya.

  3. Kesalahan Unsur S dan P

Kesalahan Kalimat Siswa SDN 1 Patoman

Nomor

  Kalimat Data Data K10 Tetapi karena wajahnya keburu dikenali orang banyak salah satunya ibunya.

  Meskipun ibu sudah tua dan sakit-sakitan. K14 Namun karena tidak laku dan juga belum dikenal pelanggannya. K19 Andai Dinda bisa berziarah ke pusara orang tua Kanda. K34 Karena Malin Kundang malu pada istrinya. K38 Dengan mengutus anak buahnya dengan berputar haluan. K41 Tapi, karna dia malu dengan istrinya yang ada di sampingnya. K43 Karena Mak Tua berbaju jelek dan miskin.

  

Kesalahan Kalimat Siswa SDN 2 Patoman

Nomor Kalimat Data Data K8 Karena Malin Kundang tidak tahan dengan hidupnya yang miskin.

  4. Kesalahan Unsur Objek

Kesalahan Kalimat Siswa SDN 1 Patoman

Nomor

  Kalimat Data Data K1 Malin Kundang akan menaklukan satu persatu.

  Suatu ketika, halilintar menyambar-nyambar hujan deras. K3 Istri Malin Kundang pun mengancam, apabila tidak diantarkan.

  K4 Akan tetapi Putri Azizah terus mendesak ingin ke pusara orang tua. K6 Tapi Malin Kundang tidak mengakui kalau itu ibunya. K7 Tiba-tiba petir menghambar, ombak yang dahsyat. K9 Lalu mereka mengarungi pelabuhan.

  Karena ada kesempatan ia lalu melumpuhkan satu persatu gerombolan bajak laut itu. K11 Malin Kundang pun sudah mengenal cukup luas tentang lautan.

  Malin Kundang menjawab dengan dusta. K14 Dia akhirnya mengetahui pulau lautan.

  Ketika ada kesempatan dia pun berhasil mengalahkan satu persatu dari gerombolan bajak laut. K17 ....dan Malin Kundang pun mengizinkan . K18 Dengan berbagai alasan Malin Kundang menolak. K20 Lalu Malin Kundang mengajak yang mau ikut menjadi hidup yang baru sebagai pedagang.

  Tetapi tuan putri Azizah memaksa dan akhirnya ... K24 Lalu arus yang kuat sekali membawa sepotong kayu tersebut ke pantai.

  Malin Kundang memutuskan tempat dilahirkan. K27 Beberapa hari Malin Kundang menikahi gadis itu yang kaya raya. K28 Dan Malin Kundang menolak dan isterinya mendesak... K29 Malin Kundang menolak permintaan isterinya, tetapi Putri Azizah mendesak ingin berziarah.

  K32 Suatu hari Malin Kundang melamar yang sangat cantik jelita. K36 Dengan berbagai alasan Malin Kundang menolak.

  Namun Putri Azizah terus mendesak akhirnya Malin Kundang...

  

Kesalahan Kalimat Siswa SDN 2 Patoman

Nomor Kalimat Data Data K1 ....Malin Kundang diselamatkan dan sepotong kayu membawa ke tepi pantai.

  Malin Kundang melamar di Sultan anaknya bernama Azizah. Putri Azizah mendesak-desak jadi permintaan isterinya dikabulkan. Isterinya mendengar ada yang memanggil. K4 Malin Kundang pun menikah oleh putri dari Malaysia yaitu bernama Azizah.

  K8 Setelah sampai ke tujuan banyak orang melihat.

  Ibunya mendengar dengan hati teriris-iris. K10 Mak Tua itu menangisi karena anaknya menjadi anak durhaka. K11 ...., diam-diam Malin Kundang menaklukan satu persatu bajak laut itu. K12 Isterinya terus mendesak akhirnya permintaan isterinya dikabulkan. K13 Isterinya terus mendesak untuk pergi ke makam orang tua Malin Kundang. K14 Ketika Mak Tua sakit Malin Kundang terpaksa menggantikan jualan ibunya.

  5. Kesalahan Unsur Pelengkap Kesalahan Kalimat Siswa SDN 1 Patoman Nomor Kalimat Data Data K5 Akhirnya Malin Kundang ikut pada mereka dan akhirnya ...

  Isterinya bertanya kepada Malin Kundang apakah kau mempunyai orang tua/pak/ibu. K12 ...dan dia pun menjadi kaya raya dan kaya. K14 Saat itu pula kapalnya terkena musibah yaitu ombak dahsyat. K18 Mau tak mau dia harus ikut bajak laut tersebut.

  ...dan anaknya bernama Malin Kundang yang bernama Malin Kundang. K28 Dia sudah berlayar mengelilingi samudera pulau-pulau. K31 Tak lama kemudian Malin memutuskan nahkoda untuk berlayar. K33 Malin Kundang menggantikan Mak Tua berjual pangan. K35 Sejak saat itu Malin Kundang berbisnis tentang dagangan dan berhasil... K40 ...kenapa kamu malu mengakui ini aku ibumu yang miskin, saya ini memang miskin.

  Kesalahan Kalimat Siswa SDN 2 Patoman Nomor Kalimat Data Data

  K5 Ia ingin sebenarnya berlari merangkul ibunya itu. K11 Malin Kundang pun terhampar di suatu pulau dan diselamatkan pada segerombolan bajak laut.

  Kapal Malin Kundang yang megah itu pun disaksikan oleh penduduk- penduduk di pinggir pelabuhan. Sebenarnya Malin ingin merangkul ibunyanamun yang timbul hanya rasa benci dan jijiklah yang timbul.

  6. Kesalahan Unsur Keterangan

Kesalahan Kalimat Siswa SDN 1 Patoman

Nomor

  Kalimat Data Data

  K2 Malin Kundang mulai bekerja dengan kapal Mula-mula ia hanya menjadi kelasi, akan tetapi keakraban dan keuletan, dan kecakapannya.

  K4 Pada saat itu Malin Kundang berkata sekarang waktunya. K5 Karena pelanggan tidak terlalu kenal sama Malin Kundang maka dagangannya pun tidak laku.

  Karena kesombongan dan keuletannya, Malin Kundang pun ... Sejak itu pun juga Malin Kundang sudah kenal pulau-pulau sejak dia... Malin Kundang pun mengusir Mak Tua dan Mak Tua pun tetap masih berusaha untuk mendapatkan anaknya kembali si Malin Kundang.

  K6 Karena adanya kesempatan Malin Kundang pun melumpuhkan gerombolan bajak laut itu K7 Setelah tiba disana orang-orang datang untuk melihat kapal yang megah itu dan yang memilikinya. K9 Semenjak Kanda sudah tinggal disitu, Kanda sudah lupa kampung Kanda. K10 Karena pengamalan Malin Kundang dia menjadi saudagar besar. K11 Ia bahkan tidak sempat untuk membuat dan minta izin kepada orang tuanya.

  Dan akhirnya Malin Kundang pun melumpuhkan ... K12 Hingga akhirnya kapalnya menabrak sesuatu di tengah laut.

  Lalu Malin Kundang menyuruh pengawal-pengawalnya untuk berpura-pura untuk mencari makam orang tuanya. K14 Dan saat itu pula bajak laut pergi. K15 Pekerjaan Mak Tua adalah berjualan panganan di pelabuhan tidak jauh dengan rumahnya. K16 Dan Malin Kundang menikah kepada gadis Malaysia yang cantik jelita ...

  Lalu Malin Kundang ....menyuruh anak buahnya mencari ibunya secara bohong. Malin Kundang ingin memeluknya tetapi menimbulkan rasa jijik dan rahasianya akan terbongkar. K17 Dan akhirnya Malin Kundang melamar putri Malaysia ... K21 Pada suatu kesempatan Malin Kundang melumpuhkan gerombolan ...

  Dan saat Malin Kundang kembali ke Malaysia ... K23 Namun belum mengenal pelanggan, dagangannya pun tidak laku. K24 Malin memutuskan bekerja di kapal-kapal ...

  Malin Kundang memutuskan tempat dilahirkan. K26 Dan orang-orang ... datang untuk menyaksikan kapal yang mewah dan orangnya.

  K27 Dan akhirnya Malin bekerja pada saudagar yang mempunyai beberapa kapal.

  Beberapa hari Malin Kundang menikahi ...

  K28 Dan suatu ketika nenek tua itu sakit,...

  ....Malin Kundang memutuskan melamar pekerjaan di saudaranya dan ada beberapa kapal. K29 Ia lalu memutuskan akan bekerja saudagar yang mempunyai beberapa kapal. K30 ....dan ia bertemu dengan saudagar yang kaya mempunyai beberapa kapal. K33 Malin Kundang bingung, dia mengeluarkan berbagai alasan dengan isterinya. K34 ....karena kerajinan dan keuletannya mula-mula kedudukan Malin Kundang menjadi nahkoda. K36 Bukannya kerinduan terobati karena pertemuan itu namun yang di dapat ejekan.

  Namun beberapa saat kemudian terjadi badai yang hebat. K37 Setelah sampai di perjalanan ada bajak laut, kapal Malin Kundang ...

  Malin Kundang bertanya kepada anak buahnya agar nanti ditanya kepada istriku bilang kalau makam orang tuaku tidak ada jawab Malin Kundang. K38 Karena isterinya terus mendesak sehingga dikabulkan permintaan isterinya. K39 Dan akhirnya Malin Kundang bekerja...

  Dan tiba-tiba ada seorang... Dan tiba-tiba Malin Kundang dan Azizah ... ....akhirnya Mak Tua itu datang ke ramai-ramai dan Mak Tua itu naik... Dan akhirnya Mak Tua itu ... Tiba-tiba di pertengahan laut ada hujan deras... Dan tiba-tiba ada ombak ... Malin Kundang dan Azizah menjadi batu dan prajuritnya. K40 Di suatu hari Malin Kundang bertemu ... K41 Tapi, karena dia malu dengan isterinya yang ada disampingnya.

  K42 Karena belum dikenal sebagai pelanggan dagangannya tidak laku.

  Di salah satu mereka adalah ibunya. K43 Dan waktu itu si Malin Kundang ...

  Dan suatu hari Malin Kundang... Dan ketika itu datanglah ... Dan waktu itu Malin Kundang .... Dan waktu itu isteri Malin Kundang... Dan waktu itu Mak Tua naik ke kapal... Dan waktu itu kapal Malin Kundang... K47 Bagaimana kalau pengawal kita, kita suruh untuk mencari padahal orang tua dari mereka adalah orang tuanya.

  

Kesalahan Kalimat Siswa SDN 2 Patoman

Nomor Kalimat Data Data K2 Dan pada saat itulah Malin menikahi....

  K3 Namun suatu kapalnya diamuk badai dahsyat.

  Namun suatu hari Malin Kundang berencana melakukan gerombolan bajak laut itu. Satu hari gerombolan bajak laut ... K5 Mula-mula ia hanya bekerja sebagai awak kapal karena kerajinan keuletannya... K6 Pada saat gerombolaan bajak laut itu akan beraksi ketika ada kesempatan, satu persatu diajaknya bergabung. K7 Semua awak kapal tewas kecuali Malin Kundang karena ia berpegangan di sepotong kayu.

  Tidak terlalu lama, hujan dan ombak menyambar-nyambar. K8 Sewaktu-waktu dinda bertanya kepada kanda ... K11 Malin Kundang pun ...mau tidak mau Malin Kundang harus bergabung pada segerombolan bajak laut itu.

  ...Malin Kundang menaklukan satu persatu bajak laut itu. K12 Karena kecakapan dan keuletannya menjadi kelasi, akhir jambatannya naik menjadi nahkoda.

  Pada suatu hari ketika terjadilah badai dahsyat,... K14 Akhirnya Mak Tua itu marah dan pada saat kemudian kapalnya terkena badai yang sangat besar.

  K16 Karena belum dikenal pada pelanggannya, akhirnya dagangannya .... K17 Dia ikut bajak laut.

HASIL ANGKET PEMAKAIAN BAHASA INDONESIA

  

No Faktor Pemakaian Bahasa Indonesia Jumlah

Jawaban

I. FAKTOR INDIVIDU

  1. Bahasa pertama yang saya guna kan adalah … a. bahasa Indonesia

  21

  b. bahasa Jawa 27 c. bahasa lainnya ...

  18

  2. Saya selalu menncampur-adukkan bahasa Indonesia dengan bahasa daerah ketika berbicara dengan siapa pun.

  a. ya, selalu

  3

  b. kadang-kadang

  32

  c. tidak pernah

  31

  3. Saya sering berbicara bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

  a. ya, sering

  34

  b. kadang-kadang

  31

  c. tidak 1 4. Saya senang menggunakan bahasa Indonesia.

  a. ya

  57

  b. tidak

  3

  c. biasa saja

  6

  5. Saya mengalami kesulitan ketika harus berbicara bahasa Indonesia.

  a. ya

  4

  b. agak kesulitan

  23

  c. tidak pernah kesulitan

  39

  6. Saya mengalami kesulitan ketika menulis menggunakan bahasa Indonesia. ya

  5 agak kesulitan 22 tidak pernah kesulitan

  39

  7. Saya selalu belajar mata pelajaran bahasa Indonesia di rumah … a. ya, selalu

  24

  b. kadang-kadang

  42

  • c. tidak pernah

II. FAKTOR KELUARGA 1.

  Bahasa yang saya gunakan di rumah adalah …

  a. bahasa Indonesia

  30

  b. bahasa Jawa 35 c. bahasa lainnya …

  • 2. Saya menggunakan bahasa Indonesia jika berbicara

  42

  16

  2

  3.

  30

  18

  18

  30

  18

  17

  30

  20

  b. bahasa Jawa c. bahasa lainnya …

  35

  15

  15

  33

  29

  4

  42

  22

  1

III. FAKTOR MASYARAKAT

  Bahasa yang saya gunakan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua dari saya adalah … a. bahasa Indonesia

  34

  c. tidak pernah Saya menggunakan bahasa Indonesia jika berbicara dengan ibu.

  4.

  5.

  6.

  7.

  1.

  2.

  23

  a. ya, selalu

  b. kadang-kadang

  a. ya, selalu

  Bahasa yang saya gunakan ketika berbicara dengan teman sebaya di lingkungan tempat tinggal saya adalah … bahasa Indonesia bahasa Jawa bahasa lainnya …

  b. kadang-kadang

  c. tidak pernah Saya menggunakan bahasa Indonesia jika berbicara dengan kakak. ya, selalu kadang-kadang tidak pernah

  Saya menggunakan bahasa Indonesia jika berbicara dengan adik. ya, selalu kadang-kadang tidak pernah Orang tua saya sering mengajarkan bahasa Indonesia.

  a. ya, sering

  b. kadang-kadang

  c. tidak pernah Orang tua sering membantu saya, ketika saya mengalami kesulitan belajar.

  a. ya, sering

  b. kadang-kadang

  c. tidak pernah

  30

  • 54

  b. bahasa Jawa

  Bahasa yang saya gunakan ketika berbicara dengan orang yang saya hormati adalah… a. bahasa Indonesia

  3. dengan ayah.

  2

  1

  c. bahasa lainnya

IV. FAKTOR SEKOLAH 1. Di sekolah, saya selalu menggunakan bahasa Indonesia.

  a. ya, selalu

  41

  b. kadang-kadang

  24

  c. tidak pernah 1 2..

  Dengan teman sekolah, saya menggunakan bahasa …

  a. bahasa Indonesia

  47

  b. bahasa Jawa 19 c. bahasa lainnya …

  • 3. Saya selalu menggunakan bahasa Indonesia ketika berbicara di dalam kelas.

  a. ya, selalu

  40

  b. kadang-kadang

  25

  c. tidak pernah

  • 4. Saya selalu menggunakan bahasa Indonesia ketika berbicara di luar kelas.

  a. ya, selalu

  31

  b. kadang-kadang

  33

  c. tidak pernah 2 5.

  Saya lebih suka belajar bahasa Indonesia dengan cara …

  a. mencatat

  35

  b. permainan 28 c.

  3 lainnya …

  

HASIL ANGKET

PEMAKAIAN BAHASA INDONESIA

No Faktor Pemakaian Bahasa Indonesia Jumlah Jawaban (%)

I. FAKTOR INDIVIDU 1.

  Bahasa pertama yang saya gunakan adalah …

  a. bahasa Indonesia 31,8%%

  b. bahasa Jawa 40,9%

  c. bahasa lainnya ... 27,3%

  2. Saya selalu menncampur-adukkan bahasa Indonesia dengan bahasa daerah ketika berbicara dengan siapa pun.

  a. ya, selalu 4,55%

  b. kadang-kadang 48,5%

  c. tidak pernah 46,9%

  3. Saya sering berbicara bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

  a. ya, sering 51,52%

  b. kadang-kadang 46,97%

  c. tidak 1,52% 4. Saya senang menggunakan bahasa Indonesia.

  a. ya 86,4%

  b. tidak 4,55%

  c. biasa saja 9,1%

  5. Saya mengalami kesulitan ketika harus berbicara bahasa Indonesia.

  a. ya 6,1%

  b. agak kesulitan 34,85%

  c. tidak pernah kesulitan 59,1%

  6. Saya mengalami kesulitan ketika menulis menggunakan bahasa Indonesia.

  a. ya 7,6%

  b. agak kesulitan 33,3%

  c. tidak pernah kesulitan 59,1%

  7. Saya selalu belajar mata pelajaran bahasa Indonesia di rumah … ya, selalu

  36,4% kadang-kadang 63,64%

  • tidak pernah

II. FAKTOR KELUARGA

  1. Bahasa yang saya gunakan di r umah adalah … a. bahasa Indonesia 45,5%

  b. bahasa Jawa 53% c. bahasa lainnya …

  • 2. Saya menggunakan bahasa Indonesia jika berbicara
dengan ayah.

  a. ya, selalu 45,5%

  b. kadang-kadang 27,3%

  c. tidak pernah 27,3%

  3. Saya menggunakan bahasa Indonesia jika berbicara dengan ibu.

  a. ya, selalu 45,5%

  b. kadang-kadang 27,3%

  c. tidak pernah 25,8%

  4. Saya menggunakan bahasa Indonesia jika berbicara dengan kakak.

  a. ya, selalu 45,5%

  b. kadang-kadang 24,24%

  c. tidak pernah 30,3%

  5. Saya menggunakan bahasa Indonesia jika berbicara dengan adik.

  a. ya, selalu 53%

  b. kadang-kadang 22,73%

  c. tidak pernah 22,73% 6. Orang tua saya sering mengajarkan bahasa Indonesia.

  a. ya, sering 50%

  b. kadang-kadang 43,9%

  c. tidak pernah 6,1%

  7. Orang tua sering membantu saya, ketika saya mengalami kesulitan belajar.

  a. ya, sering 63,64%

  b. kadang-kadang 33,33%

  c. tidak pernah 1,52%

III. FAKTOR MASYARAKAT

  1. Bahasa yang saya gunakan ketika berbicara dengan teman sebaya di lingkungan tempat tinggal saya adalah …

  a. bahasa Indonesia 45,5%

  b. bahasa Jawa 51,52% c.

  3% bahasa lainnya …

  2. Bahasa yang saya gunakan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua dari saya adalah … a. bahasa Indonesia 63,64%

  b. bahasa Jawa 34,85% c. bahasa lainnya …

  • 3. Bahasa yang saya gunakan ketika berbicara dengan orang yan g saya hormati adalah…

  a. bahasa Indonesia 81,82%

  b. bahasa Jawa 3%

  c. bahasa lainnya 1,52%

IV. FAKTOR SEKOLAH 1. Di sekolah, saya selalu menggunakan bahasa Indonesia.

  a. ya, selalu 62,12%

  b. kadang-kadang 36,4%

  c. tidak pernah 1,52% 2..

  Dengan teman sekolah, saya menggunakan bahasa …

  a. bahasa Indonesia 71,21%

  b. bahasa Jawa 28,8%

  • 3. Saya selalu menggunakan bahasa Indonesia ketika berbicara di dalam kelas.

  c. baha sa lainnya …

  a. ya, selalu 60,6%

  b. kadang-kadang 37,9%

  • c. tidak pernah

  4. Saya selalu menggunakan bahasa Indonesia ketika berbicara di luar kelas.

  a. ya, selalu 46,97%

  b. kadang-kadang 50%

  c. tidak pernah 3%

  5. Saya lebih suka bela jar bahasa Indonesia dengan cara … a. mencatat

  53%

  b. permainan 42,42% c.

  4,55% lainnya …

  Lampiran 13 Daftar Riwayat Hidup

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

  Theresia Evi Kusuma Dewi, lahir di Pringsewu 10 September 1984. Alamat rumah Jl. Pelita Panutan, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Masa pendidikan dasar SD Negeri

  2 Panutan, lulus tahun 1996. Setelah itu melanjutkan ke SMP Xaverius

  Pagelaran dan lulus tahun 1999. Lalu melanjutkan ke SMA Xaverius Pringsewu, lulus tahun 2002.

  Setelah lulus dari SMA melanjutkan studi di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan tercatat sebagai mahasiswi pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah.

  Masa pendidikan di Universitas Sanata Dharma diakhiri dengan menulis skripsi sebagai tugas akhir dengan judul “Kesalahan Kalimat pada Karangan Narasi Siswa Kelas VI SD Negeri 1 dan 2 Patoman Tanggamus-Lampung Tahun Ajaran 2006/2007: Sebuah Studi Kasus”.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Efektifitas pembelanjaran biologi dengan teknik kasus diluar kelas dalam bentuk media slide terhadap hasil belajar siswa (sub-konsep pencemaran lingkungan kelas x semester 2 di SMAN 1 Kencong tahun ajaran 2004/2005)
0
3
117
Efektifitas penerapan metode ekperimen dengan kerja kelompok pokok bahasa bunyi pada siswa kelas II A Cawu 2 SLTP Negeri 2 Jember tahun ajaran 2001/2002
0
6
76
pengaruh model pembelajaran webbed terhadap keterampilan menulis karangan pada siswa kelas IV SDIT Al-Mubarak Jakarta pusat tahun ajaran 2014/2015
1
21
258
Interferensi bahasa Betawi pada karangan narasi siswa kelas XI (SMK) Miftahul Falah Ciputat-Kebayoran Lama Jakarta Selatan
5
37
88
Analisis kesalahan kata penghubung dalam karangan narasi siswa kelas IX semester I MTs Darussalam Ciampea Tahun Pelajaran 2013/2014
0
4
102
Peningkatan kemampuan reduplikasi dalam karangan narasi dengan metode tugas individu: penelitian tindakan kelas pada siswa kelas VIII SMP PGRI 2 Ciputat
7
64
118
Penggunaan diksi dalam karangan narasi siswa kelas VIII MTs Fathul ‘Ibaad Mekarbakti Panongan, Tangerang
4
23
95
Analisis kesalahan penggunaan huruf kapital pada karangan narasi siswa kelas VII Madrasah Tsanawiyah Darul Abror, Jatisampurna, Bekasi
0
7
101
Hubungan ketaatan menjalankan ajaran agama Islam dengan perilaku seksual pra nikah di kalangan remaja : studi kasus siswa kelas 2 MAN Parung Panjang Bogor
0
19
110
Peningkatan keterampilan menulis narasi dengan media teks wacana dialog: penelitian tindakan pada siswa kelas VII MTs Negeri 38 Jkaarta tahun pelajaran 2011-2012
3
35
107
Hubungan antara minat belajar dengan prestasi belajar siswa pada bidang studi Pendidikan Agama Islam : studi penelitian pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pamulang
0
3
117
Pengaruh penerapan metode menulis berantai terhadap keterampilan menulis karangan narasi di kelas IV SD Islam Annajah Petukangan Selatan Jakarta Selatan Tahun ajaran 2013/2014
0
11
165
Campur kode dalam karangan siswa kelas III SD Negeri Kereo 02 Tangerang tahun pelajaran 2014/2015
0
20
121
Penerapan strategi card sort dalam meningkatkan pengawasan mufradat pada siswa kelas VIII A di MTs Negeri 1 Tanggamus tahun ajaran 2016/2017 - Raden Intan Repository
0
0
125
Penggunaan media visual berbasis slide dalam meningkatkan keterampilan membaca siswa kelas VII MTs Mathla'ul Anwar Gisting Tanggamus tahun ajaran 2016/2017 - Raden Intan Repository
0
1
305
Show more