BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Perencanaan Pelaksanaan Pemekaran Desa di Kabupaten Labuhanbatu Selatan

Full text

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Isu Desentralisasi dan Otonomi Daerah merupakan salah satu poin yang menjadi pusat perhatian dari pemerintahan pusat sekarang ini. Dan seperti yang kita ketahui bahwa Otonomi daerah di Indonesia telah mengubah secara radikal hubungan hierarki pemerintahan yang terjadi di Indonesia selama puluhan tahun. Dimana, konsep desentralisasi yang ditawarkan oleh otonomi daerah telah meruntuhkan konsep sentralisasi pemerintahan. Dalam konsep pemerintahan yang sentralistik, daerah memiliki kewenangan yang sangat terbatas dalam mengatur urusan daerah, karena hampir semua urusan pemerintahan diatur oleh pusat. Sedangkan dalam konsep pemerintahan yang terdesentralisasi, daerah kabupaten/kota memiliki kewenangan penuh untuk mengatur dan mengurus daerahnya sendiri dengan mengacu pada Undang-Undang. Tentunya ini merupakan suatu kesempatan yang baik bagi daerah untuk mengembangkan potensinya. Sehingga daerah bisa mandiri untuk memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya yang kemudian akan menyumbangkan kesejahteraan secara nasional.

(2)

yakni Provinsi memiliki otonomi terbatas. Kabupaten/Kota memiliki otonomi luas dan Desa memiliki otonomi asli.Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 200 dan 216 menyatakan bahwa desa di kabupaten/kota memiliki kewenangan-kewenangan yang dapat diatur secara bersama antara pemerintah desa dan BPD yang dimaksudkan untuk meningkatkan pelayananan kepada masyarakat.

Pemekaran Wilayah Desa secara intensif hingga saat ini telah berkembang di Indonesia sebagai salah satu jalan untuk pemerataan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Seperti dalam bidang ekonomi, keuangan (rencana dana add 1 Milyar setiap desa), pelayanan publik dan aparatur pemerintah desa termasuk juga mencakup aspek sosial politik, batas wilayah maupun keamanan serta menjadi pilar utama pembangunan pada jangka panjang.

(3)

pemberian dari pemerintah. Sebaliknya pemerintah berkewajiban menghormati otonomi asli yang dimiliki oleh desa tersebut (Wijaya : 2003). Otonomi desa dianggap sebagai kewenangan yang telah ada, tumbuh mengakar dalam adat istiadat desa bukan juga berarti pemberian atau desentralisasi. Otonomi desa berarti juga kemampuan masyarakat. Jadi istilah ”otonomi desa” lebih tepat bila diubah menjadi ”otonomi masyarakat desa” yang berarti kemampuan

masyarakat yang benar-benar tumbuh dari masyarakat (Tumpal P. Saragi : 2004).

Menurut Badan Pusat Statistik jumlah desa di Indonesia pada tahun 2004 mencapai angka 69.858 desa, kemudian pada tahun 2012 telah mencapai angka 79. 702 desa dengan tingkat pertumbuhan sekitar 2,4 persen pertahun. Sedangkan untuk wilayah Sumatera Utara sendiri jumlah desa pada tahun 2004 mencapai 5.459 desa, kemudian pada tahun 2012 sudah mencapai 5.876 desa, ini dengan tingkat pertumbuhan sekitar 1, 8 persen pertahun. Dengan mencapai angka ribuan, tidak sedikit juga jumlah desa yang telah mengalami ketertinggalan.

(4)

Di sini dapat kita lihat bahwa tidak sedikit desa bahkan lebih dari 300 desa yang telah mengalami permasalahannya dan telah mengalami ketertinggalannya. Permasalahan ketertinggalan yang di alami kebanyakan desa di Sumatera Utara ini dikarenakan kurangnya fasilitas-fasilitas yang mendukung dalam membangun desa. Kurangnya fasilitas-fasilitas tersebut dikarenakan tidak ada ataupun kurangnya sumber daya pembiayaan dalam mendukung membangun desa. Ini artinya adanya ketidak siapan suatu desa untuk menjadi sebuah desa. Karena seperti yang kita ketahui bahwa sumber daya pembiayaan merupakan suatu unsur terpenting dalam pembentukan desa.

(5)

dimana adanya masyarakat yang tidak siap secara fisik dan mental jika dilakukan pemekarkan di daerahnya.

Desa yang telah dimekarkan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005, tidaklah sedikit yang memiliki permasalahan desa akibat dari pemekaran desa itu sendiri. Mulai dari permasalahan pembangunan desa yang kurang akselerasinya, permasalahan perangkat desa yang merangkap jabatan, permasalahan kurangnya pembiayaan dalam membangun desa hingga permasalahan administrasi desa dalam hal pengarsipan. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa pemekaran desa yang dilakukan masih kurang maksimal persiapannya.

Perencanaan pemekaran desa lainnya yang akan dilakukan yaitu pemekaran desa di Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Perencanaan pemekaran desa ini rencananya akan dilaksanakan di 3 kecamatan yakni kecamatan Kampung Rakyat, kecamatan Torgamba dan kecamatan Sungai Kanan.

KOTA PINANG/ ANDALAS –“....Dengan rincian, untuk wilayah pemekaran

desa dan kelurahan Kecamatan Kampung Rakyat dengan luas 709,15 km². Yakni, terdiri dari 15 desa diusulkan pemekaran menjadi 20 desa dan 1 kelurahan.Di Kecamatan Torgamba dengan luas 1.136,40 km² terdiri dari 14 desa diusulkan pemekaran menjadi 21 desa dan 2 kelurahan, di Kecamatan Sungai Kanan dengan luas 484,35 km² yang terdiri dari 8 desa dan 1 kelurahan dimekarkan menjadi 18 desa dan 3 kelurahan”.

(6)

telah membuka pintu awal pemekaran desa di tahun 2015 setalah mengalami moratorium pada tahun 2012. Dengan adanya undang-undang desa yang baru ini harapannya agar desa yang akan dimekarkan tidak mengalami suatu permasalahn yang kursial, seperti halnya kebanyakan desa yang baru-baru saja melakukan pemekaran desa untuk menjadi sebuah desa baru.Seperti yang telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya mengenai permasalahan ketidak siapan dari desa taupun masyarakat desa itu sendiri yang kurang memperhatikan suatu unsur dari persyaratan dalam memekarkan desa. Selain itu dengan adanya undang-undang desa yang baru ini harapannya dapat meminimalisir permasalahan desa yang ada saat ini. Seperti yang kita ketahui bahwa undang-undang desa yang baru telah memperketat suatu persyaratan dalam melakukan pemekaran desa, hal ini dapat dilihat dalam luas wilayah dan jumlah penduduk.

(7)

Berdasarkan uraian latar belakang di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Perencanaan Pelaksanaan Pemekaran Desa di Kabupaten Labuhanbatu Selatan”.

1.2 Fokus Masalah

Penelitian ini memiliki fokus masalah yang menjadi batasan peneliti dalam melakukan penelitian. Fokus msalah ditentukan agar ada batasan yang jelas dalam melakukan penelitian. Adapun yang menjadi fokus masalah dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kesiapan Pemerintahan Kabupaten Labuhanbatu Selatan dalam perencanaan pemekaran desa berdasarkan UU No. 6 Tahun 2014 dan PP No. 43 Tahun 2014.

1.3 Perumusan Masalah

Untuk mempermudah penelitian ini nantinya dan agar penelitian ini memiliki arah yang jelas dalam menginterprestasikan fakta dan data ke dalam penulisan skripsi, maka terlebih dahulu dirumuskan permasalahn yang akan diteliti. Berdasarkan pada uraian latar belakang masalah di atas, maka penulis merumuskan permasalahan pokok penelitian ini adalah: “Bagaimana kesiapan Pemerintahan Kabupaten Labuhanbatu Selatandalam Perencanaan Pelaksanaan Pemekaran Desa?”

1.4 Tujuan Penelitian

(8)

adalah: “Untuk mengetahui bagaimana kesiapan Pemerintahan Kabupaten

Labuhanbatu Selatan dalam perencanaan pelaksanaan pemekaran desa di Kabupaten Labuhanbatu Selatan”

1.5 Manfaat Penelitian

Suatu penelitian tentunya diharapkan mampu memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Secara subjektif. Sebagai suatu sarana untuk melatih dan mengembangkan kemampuan berpikir ilmiah, sistematis, dan metodologis penulis dalam menyusun berbagai kajian litelatur sehingga menghasilkan suatu wacana baru dalam memperkaya wawasan kepustakaan pendidikan.

b. Secara praktis. Memberikan data dan informasi yang berguna bagi semua kalangan terutama bagi mereka yang serius mendalami proses perencanaan pemekaran desa di dusun sumberjo desa asam jawa Labuhanbatu Selatan, sehingga di harapkan penelitian ini dapat di pakai untuk perencanaan pemekaran desa tersebut. Sekaligus sebagai masukan bagi pemerintah daerah setempat terutama dalam proses perencanaan pemekaran desa. c. Secara akademis. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi

bagi kepustakaan Departemen Ilmu Administrasi Negara dan bagi penelitian lainnya yang memiliki minat dalam mengkaji tentang perencanaan pemekaran desa.

(9)

Secara umum, teori adalah sebuah sistem konsep abstrak yang menindikasikan adanya hubungan di antara konsep-konsep tersebut yang membantu kita memahami sebuah fenomena. Sehingga bisa dikatakan bahwa suatu teori adalah suatu kerangka kerja konseptual untuk mengatur pengetahuan dan menyediakan suatu cetak biru melakukan beberapa tindakan selanjutnya.

Menurut Arikunto (2002:92) Kerangka teori adalah bagian dari penelitian tempat dimana peneliti memberikan penjelasan tentang hal-hal yang berhubungan tentang variabel pokok, sub variabel, atau pokok masalah yang ada dalam penelitian.

Sebagai landasan berfikir dalam menyelesaikan atau memecahkan masalah yang ada, perlu adanya pedoman teoritis yang dapat membantu sebagai bahan referensi dari penelitian, kerangka teori ini diharpkan memberikan pemahaman yang jelas dan tepat bagi peneliti dalam memahami masalah yang diteliti. Adapun kerangka teori dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.6.1 Kebijakan Publik

(10)

Menurut Parsons (Wayne Parsons, 2005:3) kata “publik” berisi kegiatan

aktivitas menuasia yang dipandang perlu untuk diatur dan diintervensi oleh pemerintah atau aturan sosial, atau setidaknyaoleh tindakannya oleh bersama. Publik dipandang sebagai suatu ruangan atau domain dalam kehidupan yang bukan privat atau murni milik individual, tetapi miliki bersama atau milik umum. Sedangkan kata “kebijakan” menurut Heclo (Wayne Parsons 2005:14) adalah

istilah yang banyak disepakati bersama. Dalam penggunaan yang umum istilah kebijakan dianggap berlaku untuk sesuatu yang “lebih besar” ketimbang keputusan tertentu, tetapi “lebih kecil” ketimbang gerakan sosial. Jadi kebijakan

(policy) adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan maksud untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.

Berdasarkan pengertian para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa kebijakan publik adalah sejumlah aktivitas pemerintah yang dirumuskan dan dilaksanakan untuk memecahkan masalah yang ada dimasyarakat baik secara langsung maupun melalui lembaga-lembaga lain yang mampu mempengaruhi kehidupan masyarakat. Jadi pada dasarnya kebijakan publik berorientasi pada pemecahan masalah riil yang terjadi di tengah masyarakat.

Menurut William Dunn (Budi Winarno, 2002:28) kebijakan publik memiliki tahap-tahap yang kompleks karena memiliki banyak proses dan varibel yang harus dikaji, ada pun yang menjadi tahap-tahap kebijkan publik adalah sebagai berikut:

a. Tahap Penyusunan Agenda (Agenda Setting)

(11)

agenda kebijakan. Para pembuat kebijakan akan memilih isu yang akan mereka angkat. Sedangkan isu yang lain ada yang tidak tersentuh sama sekali dan sebagian lagi akan didiamkan waktu yang cukup lama.

b. Formulasi Kebijakan (Policy Formulation)

Isu yang telah masuk ke dalam agenda kebijakan dan dibahas oleh para pembuat kebijkan akan didefinisikan untuk kemudian dicari pemecah masalah terbaik. Pemecahan masalah tersebut berasal dari berbagai alternatif yang ada. Sama halnya dengan perjuangan suatu masalah untuk masuk ke dalam agenda kebijakan, dalam tahap perumusan kebijakan masing-masing alternatif bersaing untuk memecahkan masalah.

c. Adopsi Kabijakan (Policy Adoption)

Dari sekian banyak alternatif kebijakan yang ditawarkan oleh para perumus kebijakan, pada akhirnya salah satu alternatif kebijakan tersebut diadopsi dengan deukungan dari mayoritas legislatif, konsensus antara direktur lembaga atau keputusan peradilan.

d. Implementasi Kebijakan (Policy Implementation)

(12)

mendapat dukungan para pelaksana, namun beberapa yang lain mungkin akan ditentang oleh para pelaksana.

e. Evaluasi Kebijakan (Policy Evaluation)

Pada tahap ini kebijakan yang telah dijalankan akan dinilai atau dievaluasi untuk meilaht sejauh mana kebijakan yang telah mampu memecahkan masalah. Kebijakan publik yang pada dasarnya dibuat untuk meraih dampak yang diinginkan. Dalam hal ini memperbaiki masalah yang dihadapi masyarakat. Oleh karena itu, ditentukanlah ukuran-ukuran atau kriteria-kriteria yang menjadi dasar untuk menilai apakah kebijakan publik telah meraih dampak yang diinginkan.

1.6.2 Implementasi Kebijakan

Implementasi kebijakan merupakan tahapan yang krusial dalam proses kebijakan publik. Suatu kebijakan atau progaram harus diimplementasikan agar mempunyai dampak atau tujuan yang diinginkan. Implemenatasi kebijakan dipandang dalam pengertian luas merupakan alat administrasi publik dimana aktor, organisasi, prosedur, teknik serta sumber daya diorganisasikan secara bersama-sama untuk menjalankan kebijakan guna meraih dampak atau tujuan yang diinginkan.

(13)

tindakan-tindakan operasional dalam kurun waktu tertentu maupun dalam rangka melanjutkan usaha-usaha untuk mencapai perubahan-perubahan besar dan kecil yang ditetapkan oleh keputusan-keputusan kebijakan.

Didalam implementasi kebijakan terdapat beberapa model kebijakan, yaitu sebagai berikut:

1. Model George Edward III (1980)

Gambar 1.1. Model Implementasi Kebijakan George Edward III

Sumber: George Edward III (1980:148)

Dalam pandangannya George Edward III menjelaskan bahwasannya implementasi kebijakan dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu:

a. Komunikasi

Suatu keberhasilan dari implementasi kebijakan mensyaratkan agar implementor mengetahui apa saja yang harus dia lakukan. Mengetahui apa yang menjadi sasaran dan tujuan harus dikomunikasikan kepada kelompok sasaran sehingga akan mengurangi penyimpangan dalam implementasi

Communication

Resource

Disposition

Implementasion

(14)

b. Sumber Daya

Sumber daya sangatlah penting keberadaannya jika implementor kekurangan sumber daya untuk pelaksanaan maka implementasi tidak akan berjalan efektif. Sumber daya dapat berupa manusia dan sumber daya finansial.

c. Disposisi

Disposisi adalah karakteristik, watak dan sifat yang dimiliki oleh implementor seperti komitmen, kejujuran dan sikap demokratis. Jika seorang implementor memilki disposisi yang baik maka dia juga secara langsung dapat menjalankan kebijakan dengan baik seperti yang diinginkan oleh pembuat kebijakan.

d. Struktur Birokrasi

Struktur birokrasi memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap implemetasi kebijakan. Satu dari aspek struktur yang penting dari setiap organisasi ataupun pemerintahan adalah adanya prosedur operasi yang disusun secara standar. Standar Operasional Prosedur menjaid pedoman yang kuat bagi setiap impelemtor dalam bertindak, struktur organisasi yang terlalu panjang akan cenderung melemahkan pengawasan dan menimbulkan prosedur birokrasi yang rumit dan kompleks yang menyebabkan aktivitas organisasi menjadi tidak fleksibel.

2. Model Van Meter dan Van Horn (1975)

(15)

Selanjutnya Van Meter dan Van Horn (Wahab, 2004:78) menawarkan suatu pendekatan yang mencoba untuk menghubungkan antara isu kebijakan dengan implementasi dan suatu model konseptual yang menghubungkan kebijakan dengan kinerja kebijakan. Mereka menegaskan bahwa perubahan, kontrol dan kepatuhan bertindak merupakan konsep-konsep yang penting dalam prosedur-prosedur implementasi. Hal ini yang dikemukakan mereka ialah bahwa yang menghubungkan kebijakan dan kinerja dipisahkan oleh sejumlah variabel bebas yang saling berkaitan. Variabel bebas itu adalah:

a. Standar dan Sasaran Kebijakan

Standar dan sasaran kebijakan harus jelas dan teratur sehingga dapat direalisasikan. Apabila standar dan sasaran kebijakan kabur, maka akan terjadi multiinterprestasi dan mudah menimbulkan konflik diantara agen implementasi.

b. Sumber Daya

Implementasi kebijakan perlu dukungan sumber daya, baik sumber daya manusia maupun sumber daya non manusia seperti dana yang digunakan untuk mendukung implementasi kebijakan.

c. Komunikasi dan Penguat Aktivitas

Dalam implemntasi program perlu dukungan dan koordinasi dengan instansi lain agar tujuan kebijakan dapat tercapai.

d. Karakteristik Agen Pelaksana

(16)

e. Kondisi Sosial, Ekonomi dan Politik

Variabel ini mencakup sumber daya ekonomi, lingkungan yang dapat mendukung keberhasilan implementasi kebijakan, sejauh mana kelompok-kelompok kepentingan dapat memberikan dukungan bagi implementasi kebijakan, karakteristik para partisipan yakni menolak atau mendukung, bagaimana sifat opini publik yang ada dilingkungan dan apakah elit politik mendukung implementasi kebijakan.

f. Disposisi Implementor

Ini mencakup tiga hal, yakni: (1) respon implementor terhadap kebijakan yang akan dipengaruhi kemauannya untuk melaksanakan kebijakan, (2) kognisi, pemahaman para agen pelaksana terhadap kebijakan, dan (c) intensitas disposisi implementor, yakni preferensi nilai yang dimiliki oleh implementor.

Gambar 1.2. Model Implementasi Kebijakan Van Meter dan Van Horn

(17)

3. Model Merilee S. Grindle (1980)

Merilee menyatakan bahwa keberhasilan implementasi kebijakan ditentukan oleh derajat implementability dari kebijakan tersebut. Keunikan model Grindle terletak pada pemahaman yang komprehensif akan konteks kebijakan, khususnya yang menyangkut implementor, penerima implementasi, dan arena konflik yang mungkin akan terjadi serta sumber daya yang diperlukan sellama proses implementasi. Secara konsep dijelaskan bahwa model implementasi kebijakan yang dikemukakan Grindle menuturkan bahwa keberhasilan proses implementasi kebijakan sampai kepada tercapainya hasil tergnatung kepada kegiatan program yang telah dirancang dan pembiayaan cukup, selain dipengaruhi oleh isi kebijakan dan konteks implementasinya. Konteks implementasi yang dimaksud meliputi:

a. Kekuasaan (power).

b. Kepentingan strategi aktor yang terlibat (interest strategies of actors involved).

c. Karakteristik lembaga dan penguasa (institusion and regime characteristics).

d. Kepatuhan dan daya tanggap pelaksana (compliance and responsiveness).

4. Model Sebatier dan Mazmanian (1983)

Menurut Sebatier dan Mazmanian (Subarsono, 2009:94), ada tiga kelompok variabel yang memengaruhi keberhasilan implementasi, yakni:

(18)

b. Karakteristik kebijakan Undang-Undang (ability of state to structure implementation).

c. Variabel lingkungan (nonstatutory variables uffecting implementation) Kerangka berpikir yang mereka tawarkan juga mengarah pada dua persoalan yag mendasar yaitu, kebijakan dan lingkungan kebijakan. Hanya saja pemikiran Sabatier dan Mazmanian ini terkesan menganggap bahwa suatu implementasi sakan efektif apabila pelaksanaannya mematuhi peraturan yang ada.

1.6.3 Variabel-Variabel yang Digunakan dalam Penelitian

(19)

konseptual yang menghubungkan kebijakan dengan kinerja kebijakan. Standar dan sasaran kebijakan

Untuk mengukur kinerja implementasi kebijakan tentunya menegaskan standar dan sasaran tertentu yang harus dicapai oleh para pelaksana kebijakan. Dengan adanya ketegasan standar dan sasaran kebijakan, maka implementor akan lebih mudah menentukan atau membuat stategi, bahkan mengarahkan bawahan dan mengoptimalkan fasilitas yang dibutuhkan. Adapun yang dimaksud dengan standar dan sasaran kebijakan dalam penelitian ini adalah:

1. Tujuan atau kepentingan yang terdapat dalam kebijakan 2. Manfaat yang dihasilkan

3. Pelaku kebijakan

4. Sumber daya yang dibutuhkan a. Sumber daya

Sumber daya yang memadai baik sumber daya manusia maupun finansial sangat penting dalam menjalankan kebijakan /program.

a. Kemampuan implementor, dengan melihat jenjang pendidikan, pemahaman terhadap tujuan dan sasaran serta aplikasi detail program, kemampuan menyampaikan program dan mengarahkan.

b. Ketersediaan finansial, dengan melihat kebutuhan dana, prediksi kekuatan dana dan besaran biaya.

b. Komunikasi antar Organisasi

(20)

adanya tuntutan saling dukung antar institusi yang berkaitan dengan program/kebijakan. Komunikasi yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah:

1. Kerjasama para implementor

2. Metode sosialisasi kebijakan/program yang digunakan 3. Intensitas komunikasi

c. Karakteristik Organisasi Pelaksana

Pusat perhatian pada agen pelaksana meliputi organisasi formal dan organisasi informal yang akan terlibat dalam pengimplementasian kebijakan. Hal ini penting karena kinerja implementasi kebijakan akan sangat dipengaruhi oleh ciri yang tepat serta cocok dengan para agen pelaksananya. Hal ini berkaitan dengan konteks kebijakan yang akan dilaksanakan pada beberapa kebijakan dituntut pelaksana kebijakan yang ketat dan displin. Pada konteks lain diperlukan agen pelaksana yang demokratis dan persuasif. Selaian itu, cakupan atau luas wilayah menjadi pertimbangan penting dalam menentukan agen pelaksana kebijakan. Karakteristik organisasi pelaksana yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Standard Operating Procedures (SOP). SOP dikembangkan sebagai

respon internal terhadap keterbatasan waktu dan sumber daya dari pelaksana dan keinginan untuk keseragaman dalam bekerjanya organisasi-organisasi yang kompleks dan tersebar luas.

(21)

d. Disposisi

Sikap para implementor sangat dibutuhkan dalam menjalankan sebuah kebijakan/program. Ada pun yang dimaksud dengan sikap implementor yang ditujukan dalam penelitian ini adalah:

a. Gambaran komitmen dan kejujuran yang dapat dilihat dari konsistensi antara pelaksanaan kegiatan dengan guideline yang telah ditetapkan. b. Sikap demokratris yang dapat dilihat dari proses kerjasama antar

implementor.

e. Lingkungan Sosial, Ekonomi dan Politik

Hal terakhir yang perlu diperhatikan guna menilai kinerja implementasi kebijakan adalah sejauh mana lingkungan eksternal turut mendorong keberhasilan kebijakan publik. Lingkungan sosial, ekonomi dan politik yang tidak kondusif dapat menjadi sumber masalah dari kegagalan kinerja implementasi kebijakan. Karena itu, upaya implementasi kebijakan mensyaratkan kondisi lingkungan eksternal yang kondusif.

1.6.4 Hasil-hasil Penelitian Tentang Pemekaran Desa

(22)

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dalam pemekaran desa mayoritas selalu memberi dampak yang positif bagi masyarakat desa. Dampak positif yaitu dapat mengurangi berbagai masalah yang ada di desa, salah satunya adalah dibidang pembangunan desa dengan berbagai infrastruktur desa, meningkatkankan pelayanan publik dan lain sebagainnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya proses pembangunan infrastruktur di desa pecahan yaitu Desa Karangrejo seperti pengerasan jalan yang selalu dilakukan setiap tahunnya sebagai usaha perawatan jalan. Pengaspalan jalan yang dilakukan pada tahun 2005, 2007, 2008 dan 2012. Plengsengan yang dilakukan pada tahun 2009. Jembatan yang dibangun untuk diperbaiki pada tahun 2011. Paving yang dibangun pada tahun 2011. Posyandu yang dibangun pada tahun 2003, polindes pada tahun 2009 dan 2010. Pasar pada tahun 2012. Tugu pembatas pada tahun 2007, gedung kantor desa pada tahun 2008, dan renovasi balai dusun pada tahun 2012. Penyambungan aliran listrik pada tahun 2011. Pembangunan masjid pada tahun 2005 dan mushola pada tahun 2009. Pembangunan semua jenis infrastruktur tersebut adalah sebagai usaha peningkatan kualitas infrastruktur. Sementara dampak negatif yang terjadi adalah kesenjangan sosial di masyarakat. Kondisi ini dikarenakan sebab akibat secara beruntun. Dengan pembangunan jalan yang tidak merata. Perbedaan aktifitas komunikasi tersebut mengakibatkan perolehan perekonomian yang juga tidak merata.

(23)

utama pemekaran desa yakni untuk peningkatan pelayanan publik guna mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Dan pemekaran desa di Desa Kuang Baru ini dilaksanakan dan memenuhi syarat dan prosedur/tata cara pemekaran desa yang ditentukan dalam peraturan perundang-undang yang berlaku. Selain itu kebijakan pemekaran desa harus diikuti dengan kebeijakan lain yang menunjang kebijakan tersebut.

Kemudian dalam penelitian Tri Banjir Adi Wijoyo (2013) yang berjudul pemekaran desa ditinjau dari aspek otonomi daerah di Kecamatan Angkona Kabupaten Luwi Timur. Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemekaran desa ditinjau dari aspek otonomi daerah meliputi 3 indikator yaitu :

1. Proses penjaringan aspirasi, merupakan tahap awal dalam pemekaran desa yang kemudian masyarakat mengagendakan duduk bersama atau musyawarah untuk membahas tentang pemekaran.

2. Proses pemebntukan panitia pemekaran, tahap kedua setelah munculnya isu pemekaran desa. Kemudian panitia dimaksud membuat proposal usulan pembentukan desa kepada Bupati.

(24)

Selain itu dalam penelitian Tri Banjir Adi Wijoyo (2013), ada faktor-faktor yang mempengaruhi proses pemekaran. Dimana ada faktor pendukung yaitu masyarakat dan kondisi geografis serta dukungan pemerintah dan masyarakat yang antusias sehingga dapat memperlancar pengusulan pemekaran desa. Dan ada pun faktor penghambat yaitu faktor kepentingan politik dimana adanya unsur yang ingin berorientasi pada kekuasaan sehingga terjadi tarik ulur kepentingan serta proses pembahasan DPRD yang begitu lama yang dapat membuat terjadinya pesimisti dikalangan masyarakat serta penentuan batas wilayah yang menjadi tarik ulur kepentingan dengan masyarakat desa tetangga. Dan hal yang terpenting dari dampak pemekaran desa dalam penelitian ini adalah, secara positif desa yang dikembangkan akan menjadi berkembang lebih cepat karena fasilitas yang dibenahi sehingga secara otomatis akan membangun infrastruktur yang lainnya seperti adanya tambahan sekolah dan fasilitas umum lainnya dan lowongan pekerjaan terbuka.Tetapi desa yang mengalami pemekaran adalah desa bisa dibilang tertinggal, dan biasanya masyarakatnya juga tertinggal dibidang pendidikan dan keterampilannya.Jadi yang pertama harus dipersiapkan adalahmental masyarakatnya untuk membangun desa mereka sendiri sehingga tidak muncul kesenjangan sosial yang mencolok.

(25)

sebab akibat yang terjadi secara beruntun dengan pembangunan jalan yang tidak merata. Selain itu kebijakan pemekaran desa juga harus di ikuti kebijakan lain yang menunjang kebijakan tersebut yaitu pembangunan infrastruktur dan prasarana serta bantuanlain sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah atas desa pemekaran. Dan harusadanya keinginan yang kuat dari pemerintah untuk mewujudkan pelayanan secaraprima.

1.6.5 Desa

Desa atau yang disebut dengan nama lain telah ada sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk. Sebagai bukti keberadaannya, Penjelasan Pasal 18 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (sebelum perubahan) menyebutkan bahwa “Dalam territori Negara Indonesia terdapat lebih kurang 250 “Zelfbesturende landschappen” dan “Volksgemeenschappen”, seperti

desa di Jawa dan Bali, Negari di Minangkabau, dusun dan marga di Palembang, dan sebagainya.

(26)

Pengertian desa mengalami perbedaan defenisi antara UU No. 5 Tahun 1979 dengan Peraturan Pemerintah yang terbaru tentang desa. Dimana pada pasal 1 ayat 1 PP 43 tahun 2014 disebutkan bahwa desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam sejarah pengaturan Desa, telah ditetapkan beberapa peraturan tentang Desa, yaitu Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Pokok Pemerintahan Daerah, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1965 tentang Desa Praja Sebagai Bentuk Peralihan Untuk Mempercepat Terwujudnya Daerah Tingkat III di Seluruh Wilayah Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok Pemerintahan di Daerah, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan terakhir Undang-Undang Nomor 32 tentang Pemerintahan Daerah.

(27)

menyangkut kedudukan masyarakat hukum adat, demokratisasi, keberagaman, partisipasi masyarakat, serta kemajuan dan pemerataan pembangunan sehingga menimbulkan kesenjangan antar wilayah, kemiskinan, dan masalah sosial budaya yang dapat mengganggu keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

1.6.6 Unsur-unsur Desa

Yang dimaksud dengan unsur-unsur desa adalah komponen-komponen pembentuk desa sebagai satuan ketatanegaraan. Adapun komponen-komponen tersebut ialah :

a. Wilayah Desa

Yang dimaksud dengan wilayah dalam hubungan ini adalah dalam arti sempit. Dalam arti luas, seperti dalam konteks pembinaan wilayah, di dalamnya sudah termasuk penduduk dan pemerintah. Wilayah desa itu sendiri terdiri atas tiga unsur, yaitu:

1. Darat, Daratan atau Tanah

2. Air, atau Perairan( laut, sungai, danau dan sebagainya) 3. Angkasa (udara)

b. Penduduk atau masyarakat desa

(28)

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dijelaskan pada pasal 25 ayat (2) bagian (b) jumlah penduduk:

a. Wilayah Jawa paling sedikit 6.000 (enam ribu) jiwa atau 1.200 (seribu dua ratus) kepala keluarga;

b. Wilayah Bali paling sedikit 5.000 (lima ribu) jiwa atau 1.000 (seribu) kepala keluarga;

c. Wilayah Sumatera paling sedikit 4.000 (empat ribu) jiwa atau 800 (delapan ratus) kepala keluarga;

d. Wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara paling sedikit 3.000 (tiga ribu) jiwa atau 600 (enam ratus) kepala keluarga;

e. Wilayah Nusa Tenggara Barat paling sedikit 2.500 (dua ribu lima ratus) jiwa atau 500 (lima ratus) kepala keluarga;

f. Wilayah Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Kalimantan Selatan paling sedikit 2.000 (dua ribu) jiwa atau 400 (empat ratus) kepala keluarga;

g. Wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Utara paling sedikit 1.500 (seribu lima ratus) jiwa atau 300 (tiga ratus) kepala keluarga;

h. Wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Maluku Utara paling sedikit 1.000 (seribu) jiwa atau 200 (dua ratus) kepala keluarga; dan i. Wilayah Papua dan Papua Barat paling sedikit 500 (lima ratus)

jiwa atau 100 (seratus) kepala keluarga.

(29)

Pemerintah Desa adalah suatu organisasi terendah sebagai alat pemerintah yang berdasarkan asas dekonsentrasi ditempatkan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Pemerintahan Wilayah Kecamatan yang bersangkutan.

Personil satuan organisasi yang disebut Pemerintahan Desa kecuali kelurahan disebut perangkat negara dan bukan perangkat atau pegawai negeri, karena beberapa pertimbangan , antara lain :

1. Konsisten dengan pengertian desa ssebgai satuan ketatanegaraan.

2. Perangkat tersebut, kendatipun pada umumnya dipilih oleh dan dari kalangan masyarakat desa setempat, namun yang mengangkatnya adalah pejabat negara yang berwenang.

3. Tidak disebut seabgai perangkat atau pegawai negeri, karena kedudukan kepegawaian negeri diatur dengan peraturan perundangan tertentu, yang tidak berlaku bagi perangkat pemerintah desa otonom.

Pemerintah desa tersusun dalam satuan organisasi.Organisasi itu haruslah sederhana dan efektif.Sederhana maksunya berarti mudah disesuaikan dengan keutuhan dan kondisi setempat.Dalam hubungan ini yang diseragamkan adalah struktur minimalnya. Struktur minimal itu mengandung atau terdiri atas ketiga unsure-unsur organisasi yaitu, ;

1. Unsur kepala yaitu Kepala Desa 2. Unsur pembantu kepala atau staf

3. Unsur pelaksana (teknis) fungsional dan territorial

(30)

Lahirnya suatu kebijakan yang baru yaitu Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa tersebut membuka cakrawala baru tentang besarnya arti Desa sebagai bagian tak terpisahkan dari proses sejarah perjalanan bangsa ini. Desa sebagian bagian terkecil dari setruktur pemerintahan sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tak lagi dipandang sebelah mata. Karena sebenarnya desa memiliki kepentingan langsung dan paling urgen dalam rangka menuju cita-cita nasional, yakni mensejahterakan seluruh rakyat. Dalam konteks pemberdayaan pembangunan, pengentasan kemiskinan dan juga menjaga keutuhan NKRI. Desa menjadi entitas utama yang harus diperhatikan. Dan Undang-Undang ini telah membuka kembali pintu gerbang pemekaran desa di Indonesia pada tahun 2015 ini, yang sejak tahun 2012 bahwa meteri dalam negeri yaitu Gunawan Fauzi telah melakukan moratorium pemekaran desa. Moratorium ini disampaikan kepada seluruh pemerintahan kabupaten/kota melalui surat edran Nomor 140/148/PMD tertanggal 13 Januari 2012 tentang moratorium pemekaran desa dan kelurahan di Indonesia.

(31)

Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Kemudian dijabarkan lagi ke dalam Peraturan dalam Negeri, dan turunkan Peraturan Daerah, kemudian turunlah yang namanya Peraturan Bupati tentang desa.

Ada pun tujuan kebijakan tentang desa yang baru ini dibentuk adalah untuk mengatasi masalah yang selama ini muncul dalam pemekaran desa. Dan harapannya dengan adanya kebijakan yang baru ini tidak ada lagi masalah yang sama lagi muncul dalam pemekaran desa yang menggunakan kebijakan tentang desa yang lama.

Pemekaran desa ini dilakukan bertujuan untuk meningkatkan dan mempercepat pelayanan publik guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat, memicu motivasi masyarakat dalam ikut peran serta proses pembangunan dalam rangka meningkatkan taraf hidupnya, meningkatkan pemerataan pembangunan, dan menjadikan desa lebih mandiri. Ada pun tata pembentukan desa adalah sebagai berikut:

Tabel 1.1. Proses Kegiatan Pemekaran Desa

NO. PROSES KEGIATAN YANG MELAKUKAN/

TERLIBAT

1. Prakarsa dan kesepakatan masyarakat untuk

membentuk desa

Masyarakat

2. Mengajukan usul pembentukan desa kepada BPD

dan Kepala Desa

Masyarakat

3. Mengadakan rapat bersama Kepala Desa untuk

membahas usul masyarakat tentang pembentukan desa, dan kesepakatan rapat dituangkan dalam

Berita Acara Hasil Rapat BPD tentang

Pembentukan Desa

BPD dan Kepala Desa

4. Mengajukan usul pembentukan BPD dan Kepala

Desa Desa kepada Bupati/Walikota melalui Camat, disertai Berita Acara Hasil Rapat BPD dan rencana wilayah administrasi desa yang akan dibentuk

Kepala Desa

(32)

dibentuk, yang hasilnya menjadi bahan rekomendasi kepada Bupati/Walikota

Tim Kecamatan atas perintah Bupati/Walikota

6. Menyiapkan Rancangan Peraturan Daerah tentang

Pembentukan Desa

Bupati/Walikota (jika layak)

7. Penyiapan Rancangan Peraturan Daerah tentang

pembentukan desa untuk menentukan secara tepat batas-batas wilayah desa yang akan dibentuk

Bupati/Walikota melibatkan pemerintah desa, BPD, dan unsur masyarakat desa

8. Mengajukan Rancangan Peraturan Daerah tentang

Pembentukan Desa hasil pembahasan pemerintah desa, BPD, dan unsur masyarakat desa kepada DPRD dalam forum rapat Paripurna DPRD

Bupati/Walikota

9. Melakukan pembahasan atas Rancangan Peraturan

Daerah tentang pembentukan desa

10. Rancangan Peraturan Daerah tentang

Pembentukan Desa yang telah disetujui bersama oleh DPRD dan Bupati/Walikota disampaikan oleh Pimpinan DPRD kepada Bupati/Walikota untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah

Pimpinan DPRD dan

Bupati/Walikota

11. Penyampaian Rancangan Peraturan Daerah

tentang Pembentukan Desa paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama

Pimpinan DPRD

12. Penetapan Rancangan Peraturan Daerah tentang

Pembentukan Desa paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak rancangan tersebut disetujui bersama

Bupati/Walikota

13. Mengundangkan Peraturan Daerah di dalam

Lembaran Daerah jika Rancangan Peraturan Daerah tentang Pembentukan Desa dianggap syah

Sekretaris Daerah

Sumber : Bahan Hukum Primer yang diolah

1.7 Definisi Konsep

(33)

dapat mengaburkan tujuan penelitian. Konsep yang dipakai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Kebijakan publik adalah serangkaian pedoman dan dasar rencana yang akan dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi sebuah persoalan yang ada dalam kehidupan masyarakatnya dengan hubungan yang mengikat. Jadi, kebijakan publik berpusat pada penyelesaian masalah yang sudah nyata. Kebijakan publik yang dimaksud dalam penelitian ini adalah Undang-undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa dan Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa.

b. Implementasi kebijakan adalah tindakan atau proses atau pelaksanaan terhadap kebijakan yang telah ditetapkan dan dijalankan dengan berbagai program untuk mencapai tujuan dan kepentingan bersama.Adapun teori yang digunakan yaitu dengan menggunakan teori implementasi kebijakan Van Meter dan Van Horn, yaitu sebagai berikut:

1. Standar dan sasaran kebijakan 2. Sumber daya

3. Komunikasi antar organisasi 4. Karakteristik agen pelaksana 5. Disposisi

6. Kondisi sosial, ekonomi dan politik

(34)

1.8 Definisi Operasional

Adapun operasional konsep yang digunakan peneliti dlam rangka mempermudah pengumpulan data yang akan dibutuhkan peneliti lewat penyusunan daftar wawancara adalah sebagai berikut:

a. Standar dan Sasaran Kebijakan

Adapun fenomena yang diamati adalah:

1. Membentuk tujuan dan manfaat pelaksanaan pemekaran desa.

2. Membentuk rangkaian kebijakan dalam pelaksanaan pemekaran desa. b. Sumber daya

Adapun fenomena yang diamati adalah:

1. Kemampuan sumber daya manusia dan dana dalam perencanaan pelaksanaan pemekaran desa.

2. Penyediaan fasilitas-fasilitas yang mendukung perencanaan pelaksanaan pemekaran desa.

c. Komunikasi antar organisasi

Adapun fenomena yang diamati adalah:

1. Sosialisasi teknis perencanaan pelaksanaan pemekaran desa. 2. Koordinasi perencanaan pelaksanaan tentang pemekaran desa. d. Karakteristik agen pelaksana

Adapun fenomena yang diamati adalah:

1. Struktur organisasi pemerintah daerah yang menaungi perencanaan pemekaran desa.

(35)

e. Lingkungan sosial, ekonomi dan politik Adapun fenomena yang diamati adalah:

1. Hubungan kerjasama setiap stakeholder pemekaran desa. 2. Sumber-sumber pendapatan dalam desa.

3. Struktur organisasi desa pemekaran.

1.9 Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka teori, definisi konsep, dan sistematika penulisan.

BAB II METODE PENELITIAN

Bab ini terdiri dari pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, informan penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisa data.

BAB III DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

Bab ini menguraikan tentang gambaran atau karakteristik lokasi penelitian.

BAB IV PENYAJIAN DATA

Bab ini berisikan data-data yang diperoleh selama penelitian di lapangan dan dokumen-dokumen yang dianalisis.

BAB V ANALISIS DATA

(36)

BAB VI PENUTUP

Gambar

Gambar 1.1. Model Implementasi Kebijakan George Edward III
Gambar 1 1 Model Implementasi Kebijakan George Edward III . View in document p.13
Gambar 1.2. Model Implementasi Kebijakan Van Meter dan Van Horn
Gambar 1 2 Model Implementasi Kebijakan Van Meter dan Van Horn . View in document p.16
Tabel 1.1. Proses Kegiatan Pemekaran Desa
Tabel 1 1 Proses Kegiatan Pemekaran Desa . View in document p.31

Referensi

Memperbarui...

Download now (36 pages)