BAB II KAJIAN TEORETIK A. Teori Inisiatif, Guru Dan Syarat-syarat Guru - BAB II..

Gratis

0
0
79
6 months ago
Preview
Full text

BAB II KAJIAN TEORETIK A. Teori Inisiatif, Guru Dan Syarat-syarat Guru

  Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa guru dapat dikatakan sebagai inisiatif apabila mampu mengembangkan pembelajaransecara kreatif, menemukan hal-hal baru dalam pembelajaran, selalu mempunyai gagasan baru untuk diterapkan dalam kelas, mampu membericontoh yang baik kepada peserta didik dalam kehidupan sehari-hari dan mampu memotivasi peserta didik untuk selalu bersifat kritis pada pelajaranyang telah diajarkannya. Berdasarkan pendapat di atas, dapat dipahami bahwa orang dapat dikatakan memiliki inisiatif apabila selalu memiki rasa keingintahuan terhadapapa yang ada disekitar mereka, selalu terbuka apabila memiliki pengalaman baru, berusaha untuk melakukan penelitian pada sesuatu yang membuatpenasaran dan menyukai tugas yang berat dan sulit serta mampu memberi jawaban atas berbagai permasalahan yang dialaminya.

5 Zakiyah Daradjat, Metode Khusus Pengajaran Agama Islam (Cet. IV; Jakarta: Bumi

  Syaiful Bahri Djamarah memberikan definsi guru adalah orang yang mencerdaskan kehidupan peserta didik, dengan penuh dedikasi dan loyalitasyang tinggi, berusaha untuk membina dan membimbing peserta didik sehingga dimasa datang menjadi orang-orang berguna bagi nusa dan 6 bangsa. Sebagai medium, guru harus menguasaihal-hal yang sangat fundamental dalam pembelajaran berupa materi, metode dan mampu memahami perilaku peserta didik secara individual karena inimerupakan bagian dari aspek yang dapat menyukseskan guru dalam pembelajaran.

11 Enco Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan (Cet. X; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), h. 37

  Guru yang baik adalah guru selalu menyadarieksistensinya sebagai pendidik bagi peserta didik, dan selalu mewujudkan interaksi terhadap peserta didik dalam situasi yang demokrasi, bijaksana,luwes, dan tidak memaksakan kehendak pada seluruh tindakannya. Umur menjadi ukuran terhadap penilaian seseorang untuk menjadi guru karena untukmenjadi seorang guru bukan dilihat kamatangan intelektualnya saja tetapi perlu dilihat kemampuan emosionalnya, dalam hal inikedewasaan, orang yang usianya muda emosionalnya sangat tinggi dibanding dengan orang yang dewasa akan selalu sabar dan selalu 2) Kesehatan harus sehat jasmani dan rohani.

14 Abd. Rahman Getteng dalam Ramayulis mengemukakan bahwa

untuk menjadi guru harus memiliki syarat fisik, psikis, keagamaan, teknis, paedagogis dan umur. (a) Syarat fisik, guru harus berbadan sehat, tidak memiliki cacat tubuh yang dapat mempengaruhi pekerjaan seperti, mata, telinga, kaki dansebagainya, tidak memiliki tanda-tanda penyakit menular karena ini dapat membahayakan peserta didik dan membawa akibat yang tidak baikdalam melaksanakan tugasnya; (b) Syarat psikis, guru harus sehat rohani memiliki kematangan emosional berupa sabar, jujur, ramah, sopan, memiliki komitmen, bertanggungjawabdan memiliki jiwa pengabdian seta rasa keikhlasan dalam melaksanakan pembelajaran; (c) Syarat keagamaan, seorang pendidik harus seorang yang beragama dan mengamalkan ajaran agamanya, disamping itu pula guru menjadifigur sumber norma dari segala norma agama yang dianutnya. Guru selalu menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela danmenghiasi diri dari sifat-sifat terpuji;

14 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Prespektif Islam (Cet. III; Bandung: Remaja

  (d) Syarat teknis, guru memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai seperti fakultas pendidikan, fakultas tarbiyah dan fakultas keguruanlainnya.(e) Syarat paedagogis, seorang guru harus menguasai metode mengajar, menguasai materi yang akan diajarkan dan ilmu lain yang adahubungannya dengan materi yang akan diajarkan. Selanjutnya dari pendapat yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa untuk menjadi guru yang baik itu tidak mudah, karena guru yang baikmenuntut agar seorang harus merasa terpanggil dan bersungguh-sungguh dalam pekerjaan ini, serta dituntut berpartisipasi dalam menyelenggarakanpendidikan sesuai dengan kualifikasi pendidikan yang dimiliki sehingga pekerjaan ini tidak merasa terpaksa untuk dilakukan.

B. Tugas dan Tanggung jawab Guru

  Tugas guruGuru adalah figur seorang pemimpin yang perlu diteladani, juga sebagai arsitektur yang dapat membentuk jiwa dan watak peserta didik,sehingga menjadi seorang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Guru harus menempatkan diri sebagai orang tua kedua, dengan mengembangkan tugas yang dipercayakan orang tua kandung peserta didikkepada guru dalam waktu tertentu, pemahaman terhadap watak peserta didik sangat penting agar karakter peserta didik mudah untuk diarahkan.

20 Oemar Hamalik, Perancanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem (Cet

  Selanjutnya dari poin-poin di atas, guru memiliki tanggung jawab yang berat, tugas ini harus diikutkan dengan kesungguhan, pekerjaan gurubukan hanya untuk mengembangkan pengetahuan peserta didik, tetapi sikap dan perilaku peserta didik ikut menjadi tanggung jawab guru. 5) Melakukan bimbingan dan penyuluhan; Guru selalu melakukan bimbingan pada peserta didik agar problema yang dialami berupakesulitan belajar atau masalah kenakalan dapat teratasi sehingga keinginan dan cita-cita peserta didik dapat terwujud.

22 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Prespektif Islam (Cet. IX; Bandung: Remadja

  Menjadi guru profesional tidak terlepas dari tugas yang telah ditetapkan dalam Undang-undang, tugas ini saling keterkaitan antara satudengan yang lainnya, ketika salah satunya tidak dapat diwujudkan sesuai dengan fungsinya maka pendidikan sulit untuk dicapai sebagaimana yangdiharapkan. Pendapat ini menunjukkan bahwa tanggung jawab guru bukan hanya sebatas tanggung jawab moral seorang guru kepada peserta didik, tetapi lebih dari itu, guru diminta pertanggungjawaban dihadapan Allah swt.

27 Departeman Agama, Al- Qur’an dan Terjemahnya Edisi Baru, h. 820

  Sebagai seorang guru harus besungguh-sungguh melaksanakan tugas tanggungjawab yang diberikan dari orang tua, masyarakat dan pemerintahberupa mengajar dan mendidik, selain dari itu guru sebagai anggota masyarakat mempunyai tugas dan kewajiban untuk memberikan pelayananpada masyarakat berupa informasi yang bermanfaat dan tugas-tugas lainnya yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Guru harus bertanggung jawab atas segala sikap, tingkah laku, dan perbuatannya dalam rangka membina jiwa dan watak peserta didik, tanggungjawab guru agar peserta didik menjadi manusia yang bermoral, cakap sehingga berguna bagi nusa bangsa dan agama dimasa yang akan datang,guru harus melaksanakan tanggung jawab secara penuh.

C. Kompetensi Guru

  Interaksi pembelajaran merupakan keberlangsungan hubungan antara seorang guru dengan peserta didik, guru adalah pendidik yang memberikanpelajaran kepada peseta didik sedangkan peserta didik adalah orang yang menerima pengetahuan dari guru, namun untuk menyampaikanpengetahuan kepada peserta didik, dibutuhkan landasan keterampilan berupa kompetensi. Kompetensi merupakan seperangkat pengetahuan yang dikuasai oleh seorang guru agar meningkatkan profesionalisme, untuk mewujudkankompetensi perlu dihubungkan dengan profesionalisme karena profesionalisme merupakan perwujudan dari kompetensi, salah satu ciriprofesionalisme adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa pembelajaran antara guru dan peserta didik.

34 Syaiful Sagala, Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan (Cet. II;

  Nomor 14 tahun 2005 bab 1 pasal 1 ayat 10 tentang Guru dan Dosen menjelaskan:Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus di miliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau 35 dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Syaiful Sagala mengemukakan bahwa kompetensi adalah kelayakan untuk menjalankan tugas, kemampuan sebagai satu faktor penting bagi guru,kualitas dan produktifitas kenerja guru harus mampu memperlihatkan perbuatan profesional yang bermutu, guru harus memperlihatkan kompetensiyang dimiliki secara sungguh-sungguh melaksanakan profesioalisme dengan cara yang diinginkan, bukan sekedar menjalankan tugas pendidikan sebagai 36 rutinitas.

37 Abd. Rahman Getteng, Menuju Guru Profesional dan Ber-Etika, h. 29

  Pembelajaran yang dilakukan oleh guru harus dilandasi dengan kompetensi Sardiman mengemukakan bahwa ada 10 kompetensi yang harusdikuasai oleh seorang guru yakni: 1) Menguasai bahan ajar, Sebagai seorang guru sebelumpembelajaran dilakukan guru terlebih dahulu mempersiapkan diri berupa penguasaan materi sehingga pembelajaran berjalan denganbaik, materi yang dipersiapkan ada kaitannya dengan kurikulum maupun bahan lain yang menunjang kurikulum. Nomor 20 tahun 2003 bab II pasal 3 dirumuskan bahwa: Pendidikan nasional berfungsi mengembankan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalamrangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yangberiman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang 41 demokratis serta bertanggungjawab.

41 Republik Indonesi. Undang-undang R.I. Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sisitem

  Guru yang berperan sebagaipengajar, pembimbing dan juga penyuluh terhadap peserta didik, diharapkan dapat memberikan bantuan pada peserta didik yangmangalami masalah baik menyangkut kesulitan belajar maupun masalah yang berhunungan dengan orang lain; 9) Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah, Guru yang bertugas sebagai pengajar, pembimbing, pendidik dan jugasebagai administrator. Guru harus mengenal dan menyelenggarakan administrator sekolah sebagai upayapemuasan pelayanan terhadap peserta didik; 10) Memahami prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran, penelitian sebagai salah satu aspek 42 mengembangkan pendidikan yang lebih memuaskan.

42 Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Cet. IX; Jakarta: Raja Grafindo

  Siti Suwadah Rimang dalamHidayatullah mengemukakan bahwa orang pintar saja tetapi tidak baik akan menghasilkan orang yang berbahaya karena dengan kepandainnya dapat 44 menyebabkan kerusakan dan kehancuran. Mantap, guru harus dapat melaksanakan tugas dengan baik, profesional dan dapat dipertanggungjawabkan, artinya semua perilaku guru harusprofesional karena akan menjadi contoh terhadap peserta didik; b.

43 Enco Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, h. 117

  Arif dan Bijaksana, yaitu setiap tindakan yang dilakukan oleh guru selalu mengarah pada nilai-nilai pendidikan, dan selalu mengedepankankecerdasan; e. Menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, guru merupakan teladan bagi peserta didik dan semua orang yang menganggapnyasebagai guru, sebagai teladan tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan akan mendapat sorotan peserta didik serta orang yang ada disekitarnyayang menganggapnya sebagai guru ; h.

4) Bergaul secara santun dengan masyarakat

terlepas dari kehidupan masyarakat dan lingkungan, guru dituntut untuk memiliki kompeteni sosial yang memadai, terutama dalam hubungan denganpendidikan, yang tidak terbatas pada pembelajaran di sekolah tetapi juga pendidikan yang terjadi di masyarakat. Kompetensi sosial sangat urgen untuk dimiliki oleh seorang guru karena guru sebagai bagian dari masyarakat dan hidup ditengah-tengahmasyarakat dituntut untuk berbaur dengan masyarakat melalui kegiatan- kegiatan keagamaan, olah raga dan kegiatan kepemudaan lainnya, ketika hal

46 Syaiful Sagala, Kemampuan Profeional Guru dan Tenaga Kependidikan (Cet. II;

  Syaiful Sagala dalam Volmer dan Mils mengemukakan bahwa: Profesi pada hakekatnya adalah sikap bijaksana (Informend responsiveness) yaitu pelayanan dan pengabdian yang dilandasi oleh keahlian,kemampuan, teknik dan prosudur yang mantap diiringi sikap 48 kepribadian tertentu. Profesi apabila dikaitkan dengan kajian sosologi, dapatdiinterprestasikan bahwa profesi itu sesungguhnya suatu model pekerjaan yang ideal, karena realitas menunjukkan bahwa pekerjaan ini tidak mudahuntuk diwujudkan, hanya pada orang yang profesional dengan latar belakang pendidikan dan pengetahuan yang mendalam yang dapat melakukanpekerjaan ini.

50 Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

  (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru (Cet. VII; Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2010), h.

D. Pendidikan Agama Islam

  Pengertian pendidikan Agama IslamMembahas pendidikan Islam tidak terlepas dari pengertian pendidikan secara umum, untuk mendapatkan pengertian yang jelas dan tepat diberikanbatasan dalam pembahasan ini, sekitar penjelasan pendidikan agamaIslam. Para ahli dalam bidang pendidikan telah banyak memberikan konsep tentang definisi pendidikan agama Islam dengan redaksi yang berbeda-beda, sehingga hal ini ditemukan berbagai macam dan ragam pandangan tentang pendidikan agama Islam.

53 Islam atau disingkat PAI

  Dalam penjelasan pasal ini dinyatakan bahwa pendidikan agama Islam adalahusaha untuk memperkuat iman dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang MahaEsa sesuai dengan agama yang dianut oleh peserta didik yang bersangkutan, dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama 5354 Syahidin dkk, Moral dan Kognisi Islam (Cet. III; Bandung: Alfabeta, 2009), h. Definisi di atas, dapat dipahami bahwa pendidikan agama Islam ialah suatu usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar lebih meyakiniagama Islam melalui bimbingan yang dilakukan oleh seorang pendidik tehadap peserta didik sehingga tertanam di dalam diri peserta didik nilai-nilaiagama Islam, disamping itu pula nilai-nilai yang diperoleh dari pengetahuan agama dapat diimplimentasikan dalam diri pribadi, dan masyarakat.

E. Prestasi Belajar

1. Pengertian Prestasi Belajar

  Prestasi belajar juga merupakan hasil usaha atau hasil belajar yang dicapai seseorang dalam belajar yang maksimal dan hasil usahanya tersebut dapatbersifat sementara dan dapat pula menetap. Ayat tersebut menjelaskan bahwa prestasi seseorang disesuaikan dengan amalan-amalan yang telah dikerjakan, dan Allah tidak mengurangibalasan dari pekerjaan mereka karena prestasi yang dicapai itu berkat usaha mereka sendiri.

72 Departemen Agama RI, Mushaf Al- Qur’an dan Terjemahnya, h. 504

  Asumsinya adalah prestasi belajar dapat dijadikan pendorong bagi peserta didik dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan berperansebagai umpang balik (feedback) dalam meningkatkan mutu pendidikan. 74 Uraian dari beberapa fungsi prestasi belajar di atas bahwa pentingnya mengetahui dan memahami prestasi belajar peserta didik, baik secara perseorangan maupun secara kelompok, sebab fungsi prestasi belajar tidakhanya sebagai indikator keberhasilan dalam bidang studi tertentu, tetapi juga sebagai indikator kualitas institusi pendidikan.

2. Tipe-tipe Prestasi Belajar

  Keenam komponen tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:1) Tipe prestasi belajar pengetahuan hafalan (knowledge), pengajaran pada tipe pengetahuan ini bertujuan untuk mencapai kemampuaningatan manusia tentang hal-hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan yang berkenan dengan fakta, peristiwa, pengertian, 76 kaidah, teori, prinsip, dan metode. Ada tiga macampemahaman yaitu (1) pemahaman terjemah, yakni kesanggupan memahami makna yang terkandung di dalamnya, misalnya memahamikalimat bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia (terjemahan al-Qur’an), (2) pemahaman penafsiran, misalnya membedakan dua konsep yang berbeda, dan (3) pemahaman ekstrapolasi, yaknikesanggupan melihat dibalik yang tertulis, tersirat dan tersurat, 79 meramalkan sesuatu, dan memperluas wawasan.

F. Faktor-faktor yang Memengaruhi Prestasi Belajar

  Identifikasifaktor-faktor yang memengaruhi prestasi belajar dapat ditinjau dari berbagai sudut pandangan, misalnya dapat dipandang dari sudut belajar, prosesbelajar atau situasi belajar. Secara umum prestasi belajar dipengaruhi oleh faktor internal yaitu faktor yang ada dalam diri individu dan faktor eksternalyaitu faktor yang berada diluar diri individu.

3. Faktor Internal

  Aspek Psikologis1) Intelegensi Itelegensi adalah kecapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan 90 cepat dan efektif, mengetahui dan mempelajarinya secara cepat. Dalam kegiatan belajar motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri peserta didik yangmenimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yangdikendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai.

4. Faktor Eksternal

  Sifat- sifat orang tua, praktik pengelolaan keluarga, suasana dan situasi keluargasemuanya dapat memberikan pengaruh baik maupun buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai peserta didik dalam belajar. Lingkungan Sekolah Lingkungan sekolah sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar peserta didik, karena lingkungan sekolah selalu menantang peserta didikuntuk selalu ber-fikir secara alamiah dan obyektif serta berbuat sebagaimana yang harus dilakukan untuk orang-orang dewasa sehingga semua komponendi sekolah dapat meberikan sumbangsih dalam mencapai kedewasaan.

G. Hasil Penelitian yang Relevan

  (2) Strategi guru dalammemilih materi belajar mengajar P AI di MI Ma’dinul Ulum yaitu dalam usahanya guru menggunakan strategi pemilihan materi belajarmengajar yang sesuai dengan kemampuan siswanya, pemilihan materi belajar meliputi tujuan pengajaran, pentingnya bahan, nilai paraktis,tingkat perkembangan peserta didik dan tata urutan pembuatan pemilihan materi. Adapun faktor penghambat yaitu: Minimnya jumlah buku pendukung yang digunakan peserta didik, jumlah siswa yang banyak,mayoritas siswa-siswa yang masuk kurang mampu dalam membacaAl- Qur’an, motivasi belajar siswa masih kurang, waktu yang tersedia untuk proses belajar mengajar Al- Qur’an Hadits sangat singkat.

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (79 Halaman)
Gratis

Tags

Bab Ii Kajian Teoretik Bab Ii Baru Bab Ii Syarat Pendirian Rumah Susun Bab Ii Kajian Teori Bab Ii Kajian Teori Dan Pustaka Syarat Guru Besar Berat Bab Ii Pembahasan Bab Ii Pembahasan Etika Profesi Guru Bab Ii Landasan Teori Bab Ii Bab Ix Syarat Syarat Khusus Kontrak
Show more