Penyesuaian diri terhadap hilangnya pasangan hidup pada lansia.

Gratis

6
80
140
2 years ago
Preview
Full text

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Hasil uji t menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan penyesuaian diri terhadap hilangnya pasangan hiduppada lansia antara lansia pria dan lansia wanita (t = 2,069, p = 0,042; p < 0,05). Hasil uji t menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan penyesuaian diri terhadap hilangnya pasangan hiduppada lansia antara lansia pria dan lansia wanita (t = 2,069, p = 0,042; p < 0,05).

KATA PENGANTAR

  Budhe Niek dan Pakdhe Wiek atas doa dan semangatnya, juga Inar-Inu dan Banu (thanksbro, abstraknya), keluarga Budhe Noek, Bulik Ipho dan Alm. Untuk yang tercinta, mas Yustinus Budi Wiarso....terima kasih atas segala bentuk cinta, perhatian, doa yang tiada putus, semangat, kesabaran menunggudan kesetiaan yang luar biasa....menjadi orang yang selalu ada.....

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIDAFTAR ISI

  Ciri-ciri penyesuaian diri yang baik……………………………………. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri…………………...

G. Analisis Data……………………………………………………………….. 42

  Deskripsi Data Penelitian secara Umum………………………………. Analisa Uji t Mean Empirik Pria dan Mean Empirik Wanita…………..

C. Pembahasan…………………………………………………………………53

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN………………………………………………. 58 A. Kesimpulan………………………………………………………………….58 B. Kelemahan Penelitian……………………………………………………… 58 C. Saran……………………………………………………………………….. 59

  Bagi Peneliti Selanjutnya yang Tertarik Pada Topik Penelitian Ini…… 60 Daftar pustaka………………………………………………………………………….. Uji t Mean Empirik dan Mean Teoritik Pria dan Wanita………………….51 Tabel 11.

DAFTAR SKEMA

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIDAFTAR LAMPIRAN

  Data uji coba dan Reliabilitas item total statistik………………… 70 Lampiran 3. Data penelitian dan Statistik deskriptif data penelitian, uji t with one sample, uji t with independent sample, deskripsi data penelitianditinjau tiap aspek………………………………………………………………100 Lampiran 5.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap orang mengalami proses perkembangan dalam kehidupannya, baik

  Penyesuaian diri yang baik akan membawa dampak yang baik pula bagi seseorang yaitutercapainya kebahagiaan hidup, tetapi sebaliknya, apabila seseorang tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik maka akan mengalami masalah baru, misalnyapenyesuaian diri yang buruk karena ditinggalkan pasangan hidup pada lansia akan menimbulkan masalah baginya dalam menjalin relasi sosial (Hurlock, 1999 :408). Semakin lama waktu sudah ditinggalkan, harapan penyesuaian diri yang dilakukan juga semakin baik, karena seiring denganberjalannya waktu, seseorang akan dapat menerima kematian pasangan hidup dan kemudian dapat menyesuaikan diri dengan keadaannya yang baru, yaitu hiduptanpa pasangan hidup lagi atau menjanda (Averill dalam Santrock, 1995: 272).

a. Bagi subjek

b. Bagi keluarga

  mempengaruhi penyesuaian diri sehingga mereka dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dan menemukan solusi yang tepat bagimasalah yang mereka hadapi. Bagi keluarga, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan berupa aspek-aspek yang mendukung penyesuaian diri yangbaik kepada anggota keluarga yang memiliki lansia yang sudah tidak memiliki pasangan, sehingga dapat membantu lansia dalam menyesuaikandiri terhadap hilangnya pasangan hidup dengan baik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Lansia A

1. Pengertian Lansia

  Tahap akhir dari rentang kehidupan seseorang ini biasanya berupa periode di mana seseorang merasa“beranjak jauh” dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan, atau beranjak dari waktu yang penuh dengan manfaat. Lapsley (dalamWidjojo, 2000: 152) mengatakan, di Amerika Serikat orang yang disebut lansia adalah orang yang berumur antara 65 sampai dengan 70 tahun.

a. The young old or old age

  Pada tahap sebelumnya, lansiamenghabiskan waktu dengan bekerja dan anak-anaknya oleh karena itu untuk mengganti kegiatannya yang hilang itu maka lansia membutuhkanserangkaian aktivitas yang bernilai. Ketiga,melampaui ego versus kesibukan dengan ego (ego trancendence versus ego tentram dan bahagia karena telah memberi sumbangan untuk masa depan melalui pekerjaan dan pengasuhan anak yang sudah dilakukan.

2. Tugas Perkembangan Lansia

  Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan berkurangnya pendapatan (income) keluarga. Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan, dan menyesuaikan diri dengan peran social secara luwes.

3. Teori-Teori Penuaan

  Teori-teori mengenai penuaan banyak disampaikan oleh ahli perkembangan, diantaranya adalah mengenai teori-teori sosial mengenaipenuaan (dalam Santrock, 1995: 239). Teori aktivitas (activity theory) Teori ini mengemukakan bahwa semakin lansia melakukanbanyak aktivitas dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan, maka semakin harus terus meneruskan peran-peran dan tugas perkembangan selanjutnya dan memelihara hubungan sosial yang baik.

b. Teori rekonstruksi gangguan sosial (social breakdown-reconstruction

  theory)Penuaan dikembangkan melalui fungsi psikologis yang negatif yang dibawa oleh pendangan negatif tentang dunia sosial dari orang-orang lansia dan tidak memadainya penyediaan layanan untuk mereka. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan yang dimaksud lansia adalah seseorang yang berumur 60 sampai akhir kehidupanseseorang atau meninggalnya seseorang di mana pada rentang usia ini seseorang mengalami kemunduran baik secara fisik maupun mental sehingga berbagai kemunduran yang ia alami ditandai dengan adanya aktivitas yang kontinyu.

B. Penyesuaian Diri terhadap Hilangnya Pasangan Hidup

1. Pengertian Penyesuaian Diri Penyesuaian diri diperlukan dalam menghadapi masalah dalam hidup

  Ahli-ahli psikologi humanistic seperti Abraham Maslow dan Carl Rogers (dalam Calhoun dan Accocella 1990: 23) mengatakan bahwapenyesuaian yang baik adalah aktualisasi diri, yakni seseorang mampu mengembangkan potensi unik menjadi suatu realisasi yang penuh, oleh karenaitu diperlukan konsep diri yang luas dan fleksibel. Penyesuaian diri terhadap hilangnya pasangan hidup merupakan proses penerimaan secara sadar dari lingkungannya karena hal-hal negatif dapat terjadi pada seseorang yang kehilangan pasangan hidup, antara lain : menjadi sangat perasa dan banyakmenuntut pada orang-orang di sekitarnya.

2. Aspek-Aspek Penyesuaian Diri

  Penyesuaian diri dapat dibedakan menjadi dua, yaitu penyesuaian diri yang baik dan penyesuaian diri yang buruk. Gejala fisikPenyesuaian diri yang baik akan memunculkan gejala fisik yang positif dan sehat, tidak mudah sakit kepala ataupun perut, tidakmengalami gangguan pencernaan, dan gejala fisik yang positif lainnya.

3. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri

  Reaksi yang dilakukan sesuai dengan keinginan yang berasal dari dalam diri dan dapat diterima oleh lingkungannya. keadaan fisik dan faktor genetik yang diturunkan meliputi: persyarafan, kelenjar, otot – otot, serta kesehatan dan penyakit yang menurun.

b. Perkembangan kematangan, khususnya kematangan intelektual, sosial

  Lamanya ditinggalkan pasangan hidup Lamanya ditinggalkan pasangan hidup merupakan faktor yangmempengaruhi penyesuaian diri terhadap hilangnya pasangan hidup terlebih yang sangat dicintai karena akan meninggalkan duka cita. Fase pulih kembali diiringi dengan penerimaan dan meningkatnya aktivitas kembali sehinggasemakin waktu berjalan, diharapkan seseorang yang kehilangan pasangan dapat menyesuaikan diri kembali.

c. Tempat tinggal atau lingkungan

  Individu menyesuaikan diri dengan cara-cara yang dapat diterima oleh lingkungannya,sehingga dukungan dan penerimaan sosial turut membantu lansia dalam menyesuaikan diri terhadap hilangnya pasangan hidup. Dari beberapa uraian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa penyesuaian diri dipengaruhi oleh faktor internal berupa faktor fisik, psikis,dan kognitif serta faktor eksternal berupa kondisi lingkungan sekitar individu, rumah, keluarga, lingkungan pergaulan, dan kebudayaan yang berlakudidalamnya.

4. Ciri – Ciri Penyesuaian Diri Yang Baik

  Penyesuaian diri yang efektif dapat memberikan pengaruh yang positif, seperti tercapainya kepuasan hidup dan tujuan hidup. Penyesuaian diri yang efektif menjadi tanda adanya kemampuan individu dalam menyesuaikan diri terhadapapa yang sedang dihadapinya.

a. Memperlakukan orang lain sebagai individu

  Mengenal dengan baik, memahami, dan menerima orang lain. Melakukan aktivitas yang sesuai minatnya.

i. Rasa ingin tahu terhadap banyak hal cukup besar

  Haber dan Ruyon (1984: 10-18) mengungkapkan cirri-ciri penyesuaian diri yang sehat sebagai berikut :a. Hurlock (1999: 258) menjabarkan ciri – ciri individu yang mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan baik sebagai berikut:a.

i. Mampu menerima kenyataan hidupnya sendir

  Uraian mengenai ciri – ciri individu yang dapat menyesuaikan diri dengan baik di atas dapat disimpulkan bahwa individu yang mempunyaikemampuan yang baik dalam menyesuaikan diri adalah individu yang dapat mengatasi diri dan masalah yang sedang dihadapi dengan cara yang tepattanpa mengganggu aktivitas ataupun hubungannya dengan orang lain. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan yang dimaksud dengan penyesuaian diri merupakan proses tercapainya keseimbangan antara apayang diinginkan individu dan harapannya dengan apa yang dilihat dan dialami individu.

C. Penyesuaian Diri Terhadap Hilangnya Pasangan Hidup Pada Lansia

  Penyesuaian diri merupakan proses tercapainya keseimbangan antara apa yang diinginkan individu dan harapannya dengan apa yang dilihat dan dialamiindividu dan merupakan proses yang berkelanjutan antara diri sendiri, orang lain, dan dunia sekitar. Lansia yang matang dapat mengalami vitalitas yang baru, harapan baru, dan perhatian baru, yang memungkinkan lansia tersebut menerima dan Kemampuan dan jenis penyesuaian diri terhadap hilangnya pasangan hidup pada lansia dipengaruhi oleh beberapa faktor.

D. Pertanyaan Penelitian

  Pertanyaan penelitian yang muncul dalam penelitian ini adalah : 1. Apakah ada perbedaan penyesuaian diri terhadap hilangnya pasangan hidup pada lansia antara lansia pria dan lansia wanita?

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif tentang

  Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan ataumemberi gambaran terhadap satu objek penelitian melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya, dengan melakukan analisis dan membuatkesimpulan yang berlaku secara umum (Sugiyono, 2000: 29). Hal ini ditujukan untuk menggambarkan penyesuaian diri terhadap hilangnya pasangan hidup pada lansia dan membuatkesimpulan secara umum berdasarkan skor item pada skala penyesuaian diri terhadap hilangnya pasangan hidup pada lansia.

B. Identifikasi Variabel Penelitian

  Variabel-variabel yang tercakup dalam penelitian ini adalah 1. Variabel utama atau pokok Penyesuaian diri lansia terhadap kematian pasangan hidup pada lansia a.

C. Definisi Operasional Variabel Penelitian

1. Variabel utama atau pokok

  Penyesuaian diriterhadap hilangnya pasangan hidup pada lansia merupakan proses penerimaan secara sadar dari individu terhadap lingkungan, baik secara fisik, psikis,maupun sosial sesuai dengan kondisi yang dimiliki dan membutuhkan perhatian dan pengertian dari lingkungannya karena hal-hal negatif dapatterjadi pada lansia, antara lain : menjadi sangat perasa dan banyak menuntut pada orang-orang di sekitarnya. Gejala fisik, di mana penyesuaian diri yang baik akan memunculkan gejala fisik yang positif dan sehat, tidak mudah sakit kepala ataupunperut, tidak mengalami gangguan pencernaan, dan gejala fisik yang positif lainnya.

D. Subjek Penelitian

  Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah lansia yang sudah tidak mempunyai pasangan hidup karena pasangannya meninggal. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah lansia yang memenuhi ciri-ciri sebagai berikut :a.

E. Metode Pengumpulan Data

  Modifikasi skala Likert yang terdiri dari 4 kategori jawaban dimaksudkan untuk menghilangkan kelemahan yang dikandung oleh skala 5tingkat atau yang disebut central tendering effect di mana kategori netral mempunyai arti ganda, yakni dapat diartikan belum mampu memutuskan,atau bisa juga netral atau ragu-ragu (Hadi, 1991: 47). Sejauh mana suatu alat ukur memiliki validitas isi ditetapkan Validitas merupakan tingkat kemampuan suatu alat penelitian untuk mengungkapkan sesuatu yang menjadi sasaran pokok pengukuran yangdilakukan dengan alat ukur atau ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur untuk mengungkapkan sesuatu yang menjadi sasaran pokok pengukuran yangdilakukan dengan alat ukur tersebut (Azwar,2003: 99).

1. Validitas

2. Seleksi item

  Prosedur seleksi item dapat dilakukan dengan analisis dan seleksi berdasarkan evaluasi kualitatif yang melihar apakah item yang ditulissudah sesuai dengan blue print dan indikator atau komponen perilaku yang hendak diungkapnya, melihat apakah item telah ditulis sesuai dengan kaidahpenulisan yang benar, dan melihat apakah item yang ditulis masih mengandung social desirability yang tinggi. Koefisien korelasi item total adalah koefisien korelasi antara item dan skor total yang merupakan indeks validitas item dalam artikesesuaian item dengan skor total dalam membedakan subjek yang mendapat skor tinggi dan yang mendapat skor rendah (Azwar, 1986: 75).

3. Reliabilitas Reliabilitas adalah keajegan atau stabilitas hasil pengukuran

  Sejauh mana hasilsuatu pengukuran dapat dipercaya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subjek yang sama diperoleh hasil yang relatifsama, selama aspek dalam diri subjek yang hedak diukiur belum berubah (Azwar, 2003: 83). Nilaireliabilitas skala dianggap memuaskan apabila koefisien Alpha lebih dari 0,90 karena dengan demikian perbedaan atau variasi yang tampak pada skortes tersebut mampu mencerminkan 90 % dari variasi yang terjadi pada skor murni subjek yang bersangkutan, dan 10 % dari perbedaan skor yang tampakdisebabkan oleh variasi error pengukuran (Azwar, 2003: 86).

G. Analisis Data

  Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mendeskripsikan penyesuaian diri terhadap hilangnya pasangan hidup pada lansia, maka ujistatistik yang digunakan adalah metode statistik deskriptif, meliputi penyajian data melalui tabel, penghitungan modus, median, mean, dan standar deviasi. Modus adalah nilai adalah nilai tengah setelah data diurutkan dari yang terkecil sampai terbesar atau sebaliknya.

2 Data teoritik di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :

  Skor maksimum : skor paling tinggi yang mungkin diperoleh subjek pada skala, dalam hal ini X max teo 4b. Skor minimum : skor paling rendah yang mungkin diperoleh subjek pada skala.

e. Mean teoritik : rata-rata teoritik dari skor maksimum dan skor minimum

  Selain analisis statistik deskriptif, penelitian ini ingin melihat apakah ada perbedaan penyesuaian diri terhadap hilangnya pasangan hidup padalansia antara pria dan wanita, maka digunakan analisis uji t sebagai bentuk pembuktiannya. Apabila mean empirik pria > mean empirik wanita maka penyesuaian diri pria lebih baik dari wanita.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian Penelitian dilaksanakan pada tanggal 15 Januari 2006 sampai dengan 4 Februari 2006 di Kecamatan Bambanglipuro, Kecamatan Pandak, dan Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul dengan menggunakan surat izin

  Subjek penelitianmemiliki karakteristik sesuai dengan tujuan dan sasaran penelitian yakni lansia dengan umur 60 – 75 tahun, jenis kelamin pria dan wanita, lamaditinggalkan pasangan hidupnya karena meninggal maksimal 3 tahun, tinggal di rumah, dan mempunyai penghasilan sendiri dari pekerjaan sendiri, apabilasubjek mendapat penghasilan berupa pensiun, maka pensiun tersebut adalah hasil dari pekerjaan subjek di masa lalu. Sebelum subjek diberikan skala peneliti melakukan wawancara singkat untukmengetahui data awal berupa kriteria subjek penelitian yang sesuai dengan Skala yang disebarkan dalam penelitian ini sebanyak 70 eksemplar untuk 70 responden, akan tetapi 2 responden gugur karena tidakmengembalikan skala sehingga tersisa 68 responden sebagai subjek penelitian yang terdiri dari 32 orang pria dan 36 orang wanita.

B. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Subjek Penelitian

Berikut ini adalah tabel yang berisi deskripsi subjek penelitian:Tabel 4 Deskripsi Data Subjek Penelitian Berdasarkan Usia Subjek Usia Jenis kelamin Jumlah(dalam tahun) Pria Wanita 60 – 64 10 (14,70%) 11 (16,18%) 21 (30,88%) 65 – 69 12 (17,65%) 18 (26,47%) 30 (44,12%) 70 – 74 9 (13,24%) 7 (10,29%) 16 (23,53%)75 – 80 1 (1,47%) 0 (0%) 1 (1,47%) Jumlah 32 (47,06%) 36 (52,94%) 68 (100%) 12 (17,65%)W (0%) 1 (1,47%)W (0%) (0%) (0%) (0%) (0%) (0%) 75 – 80 P (0%)1 (1,47%) (0%) (0%) (0%) 2 (2,94%)7 (10,29%) 2 (2,94%)1 (1,47%) 1 (1,47%)1 (1,47%) 9 (13,23%)W 3 (4,41%)3 (4,41%) (0%) 1 (1,47%)2 (2,94%) 18 (26,46%)70 – 74 P 3 (4,41%)3 (4,41%) 5 (7,36%)7 (10,29%) Tabel 5 Deskripsi Data Subjek Penelitian Berdasarkan Lama Ditinggalkan Pasangan HidupLamanya ditinggalkanpasangan hidup (dalam bulan) Jenis kelamin Jumlah Pria Wanita1 – 5 9 (13,24%) 6 (8,82%) 15 (22,06%) 6 – 10 5 (7,352%) 8 (11,764%) 13 (19,116%) 4 (5,88%) (0%)4 (5,88%) 11 (16,18%)65 – 69 P 3 (4,41%) (0%)1 (1,47%) 5 (7,36%)2 (2,94%) W 1 (1,47%)10 (14,71%) 2 (2,94%)1 (1,47%) 4 (5,88%)2 (2,94%) Lama ditinggalkan pasangan hidup Jumlah 1 – 5 6 – 10 11 – 15 16 – 20 21 – 2560 – 64 P Tabel 6 Deskripsi Data Subjek Penelitian Berdasarkan Usia dan Lama Ditinggalkan Pasangan HidupUsia dan Jenis kelamin 11 – 15 9 (13,24%) 10 (14,71%) 19 ( 27,95%) 16 – 20 6 (8,82%) 4 (5,88%) 10 (14,7%)21 – 25 3 (4,41%) 8 (11,764%) 11 (16,174%) Jumlah 32 (47,062%) 36 (52,938%) 68 (100%) 2 (2,94%)2 (2,94%)

2. Deskripsi Data Penelitian Secara Umum

  Hal ini menunjukkan bahwa nilai rata – rata subjek penelitian kelompok data lebih tinggi dari nilai rata – rata toeritik, yang berarti subjekpenelitian secara umum memiliki penyesuaian diri yang positif baik pada subjek pria maupun wanita. Uji signifikansi perbedaan mean empirik dan mean teoritik yang membuktikan bahwa mean empirik lebih besar dari mean teoritik secarasignifikan dilakukan dengan t test one sample dengan menggunakan SPSS forwindows versi 12.0 yang hasilnya adalah sebagai berikut : Tabel 9 Uji t Mean Empirik dengan Mean Teoritik One-Sample StatisticsStd.

3. Analisa Uji t Mean Empirik Pria dan Mean Empirik Wanita

  Pembuktian dilanjutkan dengan uji t untuk membuktikan adanya perbedaan penyesuaian diri pada pria dan wanita dan hasil penghitungan uji tdidapatkan t = 2,069, p = 0,042 (p < 0,05), maka menunjukkan adanya perbedaan secara signifikan dalam melakukan penyesuaian diri subjek priadan wanita. Hal ini menunjukkan bahwa aspekpenerimaan sosial adalah aspek yang paling menonjol dalam memberikan kontribusi dalam penyesuaian diri terhadap hilangnya pasangan hidup padalansia pada subjek penelitian.

C. Pembahasan

  Kemampuan penyesuaian diri yang positif baik pada lansia pria dan lansia wanita dalam penelitian ini berarti menunjukkan bahwa individu tersebut pengaruh yang positif terhadap individu yang bersangkutan, seperti tercapainya kepuasan hidup dan tujuan hidup. Parkes (dalam Santrock, 1995 : 272) menyebutkan empat fase yang dilalui ketika seseorang kehilangan orang yang dicintai, yaitu : kelumpuhan,rindu, depresi, dan pulih kembali.kerinduan terhadap orang yang meninggal, rasa cemas akan perpisahan, emosi yang tumpul atau ketidakpercayaan, danledakan kepanikan, keputus-asaan dan kesedihan, depresi, kehilangan arti, dan kerinduan akan pulih kembali untuk kemudian bangkit kembali.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

  1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyesuaian diri terhadap hilangnya pasangan hidup pada lansia baik lansia pria maupun wanita positif, hal iniberarti bahwa lansia pada umumnya mampu menyesuaikan diri terhadap hilangnya pasangan hidup.

2. Aspek yang menonjol dalam upaya penyesuaian diri terhadap hilangnya pasangan hidup adalah aspek penerimaan sosial

  3. Ada perbedaan penyesuaian diri terhadap hilangnya pasangan hidup antara lansia pria dan wanita yang signifikan di mana lansia pria lebih positifpenyesuaian diri terhadap hilangnya pasangan hidup dibanding wanita.

B. Kelemahan Penelitian

  Penelitianini hanya melihat subjek penelitian memiliki pendapatan yang berasal dari pekerjaan sendiri, sementara terdapat kemungkinan lansiamendapat dukungan finansial dari anak atau sanak keluarga yang lain 2. Penelitian ini tidak memperhatikan kebudayaan dan suku bangsa yang dimiliki oleh subjek penelitian, hanya saja secara kebetulan penelitianmendapatkan subjek penelitian yang memiliki Suku Bangsa Jawa.

C. Saran

  Baik pria maupun wanita menyesuaikan diri terhadap hilangnya pasangan hidup akan memakan waktu dan melewati beberapa faseyang sulit untuk dilalui akan tetapi hal itu dapat diminimalisir dengan mengisi waktu luang untuk kegiatan-kegiatan yang positif seperti mengikutiperkumpulan doa bersama, aksi-aksi sosial kemasyarakatan dan bakti sosial, kursus-kursus sederhana seperti merangkai bunga dan menyulam, berkebundan bercocok tanam, bahkan mengasuh cucu untuk menghibur diri. Bagi keluargaSebagai anak atau sanak saudara yang memiliki orang tua yang pasangan hidupnya baru saja meninggal ataupun sudah lama meninggal perlumenerapkan pemahaman diri bahwa orang tua membutuhkan dukungan dari keluarga dalam menyesuaikan diri terhadap hilangnya pasangan hidup.

3. Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik pada topik yang sama

  Peneliti selanjutnya yang tertarik pada topik yang sama dapat melakukankontrol terhadap beberapa hal tersebut sehingga didapatkan hasil penelitian yang optimal dan lebih mendetail atau spesifik, tidak hanya deskripsi secaraumum saja. Adapun pilihan jawaban tersebut adalah :SS : apabila jawaban SANGAT SESUAI S : apabila jawaban SESUAI TS : apabila jawaban TIDAK SESUAI STS : apabila jawaban SANGAT TIDAK SESUAISetiap orang dapat mempunyai jawaban yang berbeda-beda atas pernyataan yang tersedia, karena itu pilihlah jawaban yang paling sesuai dengan keadaan diri anda saat ini.

SELAMAT MENGERJAKAN

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJILEMBAR PERNYATAAN DAN JAWABAN

  Saya dapat merasakan bahagia meskipun ditinggalkan pasangan hidup saya karena adaanak-anak dan cucu yang selalu menghibur saya. Saya senang mengenang masa-masa indah bersama pasangan hidup sehingga saya sadarbahwa saya pernah mendapat anugerah dengan hidup bersama pasangan hidup saya.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Penyesuaian Diri Lansia Pasca Bercerai
4
60
116
Pengaruh Self-Esteem Terhadap Penyesuaian Diri Pensiun Pada Lansia
4
50
61
”PENYESUAIAN DIRI LANSIA YANG HIDUP DENGAN KELUARGA ANAKNYA”
0
5
1
PENYESUAIAN DIRI LANSIA ( PADA SUBYEK DENGAN STATUS SOSIAL EKONOMI RENDAH )
0
27
2
Hubungan antara Interaksi Sosial dengan Penyesuaian Diri Istri terhadap Mertua pada Pasangan Muda
5
49
216
GAMBARAN DEPRESI PADA LANSIA YANG KEHILANGAN PASANGAN HIDUP DI DESA PANDES KECAMATAN WEDI Gambaran Depresi Pada Lansia Yang Kehilangan Pasangan Hidup Di Desa Pandes Kecamatan Wedi Kabupaten Klaten.
0
1
16
PENYESUAIAN DIRI DALAM PERNIKAHAN PADA PASANGAN YANG DIJODOHKAN.
0
1
9
PENYESUAIAN DIRI PADA LANSIA YANG TINGGAL DI PANTI WREDHA.
0
1
11
PENYESUAIAN DIRI LANSIA YANG KEHILANGAN PASANGAN : Studi Kasus Penyesuaian Diri Lansia yang Tinggal Bersama Keluarga ditinjau dari Kebutuhan Psikologis.
0
1
44
Pengaruh Self Disclosure terhadap Penyesuaian Diri pada Keluarga Pasangan (Studi Pada Menantu Perempuan yang Tinggal Serumah Dengan Mertua).
0
0
2
Dinamika Penyesuaian Diri pada Wanita Dewasa Madya Setelah Kematian Pasangan - Ubaya Repository
0
0
1
HUBUNGAN KEMATANGAN EMOSI DENGAN PENYESUAIAN DIRI TERHADAP PASANGAN PADA PERKAWINAN USIA MUDA
0
0
57
BAB II LANDASAN TEORI A. PENYESUAIAN DIRI 1. Definisi Penyesuaian Diri - Penyesuaian Diri Lansia Pasca Bercerai
0
0
30
PENYESUAIAN DIRI LANSIA PASCA BERCERAI
0
0
15
PENYESUAIAN DIRI LANSIA TERHADAP KEMATIAN PASANGAN HIDUP DI DESA WANAKARSA KABUPATEN BANJARNEGARA
0
0
15
Show more