Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antar mahasiswa Program Studi PBSID angkatan 2009-2011 Universitas Sanata Dharma.

274 

Full text

(1)

UNIVERSITAS SANATA DHARMA SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah

Disusun oleh:

Caecilia Petra Gading May Widyawari

091224015

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA, DAN DAERAH

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

i

UNIVERSITAS SANATA DHARMA SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah

Disusun oleh:

Caecilia Petra Gading May Widyawari

091224015

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA, DAN DAERAH

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

iv

Jika kamu ingin mengatakan sesuatu, katakanlah. Jika kamu ingin melakukan sesuatu,

lakukanlah. Jangan berpikir bahwa kamu akan jatuh dan sakit. Yang terpenting adalah

kamu selalu menggunakan hatimu (Mis Jul)

(6)

v

Kupersembahkan skripsi ini untuk:

Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria yang selalu menjadi sahabat dan

pelindungku dalam setiap langkah dan keputusanku

Orang tua tercinta, Bapak Alexandre Suramto dan Ibu Theresia Nur Istiyani yang

selalu memberikan cinta, doa, dukungan, dan kesabaran yang begitu besar untukku

Mas dan adik tersayang, Gregorius Advent Gilang Arlingga dan Yohanes Febbry

Bagas Pamungkas yang selalu memberikan semangat, doa dan canda tawa serta

pertengkaran lucu setiap kita bertemu

Mbah Putri, Mbah Gumi, dan Om Kunto yang selalu mendukung, membantu dan

memberikan semangat, serta menemaniku selalu

Teman-

temanku ‘sepayung’, Rita

, Galuh, dan Melisa yang selama ini jatuh-bangun

dan berjuang bersama-sama dalam menyelesaikan skripsi ini

(7)
(8)
(9)

viii

Widyawari, Caecilia Petra Gading May. 2013. Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik

Berbahasa Antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 20092011 Universitas Sanata Dharma. SKRIPSI. Yogyakarta: PBSID, JPBS, FKIP, USD.

Penelitian ini membahas ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa yang dituturkan antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009—2011 di Universitas Sanata Dharma. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa, (2) mendeskripsikan penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa, dan (3) mendeskripsikan makna ketidaksantunan berbahasa yang digunakan antarmahasiswa PBSID Angkatan 2009—2011 di Universitas Sanata Dharma.

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah mahasiswa PBSID Angkatan 2009—2011 di Universitas Sanata Dharma. Instrumen penelitian berupa panduan wawancara (daftar pertanyaan), pertanyaan pancingan, dan pernyataan kasus. Metode pengumpulan data yakni, pertama metode simak dengan teknik dasar berupa teknik sadap dan teknik lanjutan berupa teknik simak libat cakap dan teknik cakap, kedua metode cakap dengan teknik dasar berupa teknik pancing dan dua teknik lanjutan berupa teknik lanjutan cakap semuka dan tansemuka. Beberapa teknik tersebut diwujudkan peneliti dengan cara menginventarisasi, mengidentifikasi, dan mengklasifikasi. Dalam analisis data, peneliti mengutip data beserta konteksnya. Selanjutnya, peneliti menginterpretasi wujud, penanda dan makna ketidaksantunan linguistik dan pragmatik tuturan-tuturan yang telah dikutip dengan memerhatikan konteks yang melingkupi terjadinya tuturan itu. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode kontekstual.

Simpulan hasil penelitian ini adalah: (1) wujud ketidaksantunan linguistik dapat dilihat dari tuturan antarmahasiswa yang terdiri dari melecehkan muka, sembrono, mengancam muka dan menghilangkan muka. Lalu wujud ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks (penutur, mitra tutur, situasi, suasana, tindak verbal, tindak perlokusi dan tujuan tutur), (2) penanda ketidaksantunan linguistik yang ditemukan berupa nada, tekanan, intonasi, dan diksi. Penanda ketidaksantunan pragmatik dapat dilihat berdasarkan konteks tuturan yang berupa penutur dan mitra tutur, situasi dan suasana, tindak verbal, tindak perlokusi, dan tujuan tutur, dan (3) makna ketidaksantunan berbahasa yaitu: a) melecehkan muka, ejekan penutur kepada mitra tutur dan dapat melukai hati, b) memain-mainkan muka, membingungkan mitra tutur dan itu menjengkelkan, c) kesembronoan, bercanda yang menyebabkan konflik, d) menghilangkan muka, mempermalukan mitra tutur di depan banyak orang, dan e) mengancam muka, menyebabkan ancaman pada mitra tutur.

(10)

ix

Widyawari, Caecilia Petra Gading May. 2013. Linguistic and Pragmatic Language

Impoliteness among PBSID Students of the Academic Year 20092011 in Sanata Dharma University. THESIS. Yogyakarta: PBSID, JPBS, FKIP, USD.

This research discussed the forms of impoliteness utterance among PBSID students of the Academic Year 2009—2011 in Sanata Dharma University. The purposes of this language impoliteness theory. The roundup data method used are grouping and interview. The collecting data method uses tapping method as a basic method, the continuation technique is direct interview and the last technique is written data recording. Interview technique is an elicitation technique as a basic technique. The follow up technique is direct interview and indirect interview. Both the techniques can be applied both in grouping and interview. The researcher can use those two techniques both in grouping and interview by inventoring, indentifying, and clarifying the data. In analyzing the data, the research cites the data and the spoken language. The final step done by the researcher is interpreting the meaning of the language. The data analysis used in this research is contextual analysis method.

The conclusions of this research are: (1) the linguistics impoliteness form can be seen from the spoken language used among students consisting aggravate, face-gratuitous, face-threaten, and face-loss. Then pragmatic impoliteness form can be observed based on contextual (speaker, receiver, situation, condition, verbal act, perlocutionary act, and purpose of speech). (2) the sign of linguistic impoliteness can be observed based on tone, stress, intonation, and diction. The sign of pragmatic impoliteness can be observed based on the context consists of speaker, receiver, situation, condition, verbal act, perlocutionary act, purpose of speech. (3) the meaning of impoliteness are (a) face-aggravate, taunt from the speaker to the receiver and it hurts the person. (b) Face expression which confuses the speaker and receiver and it is annoying. (c) face-gratuitous, intended jokes which cause a conflict. (d) face-loss, mortifies somebody in front of the people. (e) face-threatening which cause a threat to the person.

(11)

x

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa sehingga dengan

berkat dan penyertaan-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik Berbahasa Antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009—2011 Universitas Sanata Dharma ini dengan baik. Sebagaimana

disyaratkan dalam Kurikulum Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan

Daerah (PBSID), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Sanata

Dharma (USD) Yogyakarta, penyelesaian skripsi ini guna memenuhi salah satu syarat untuk

memperoleh gelar Sarjana Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah.

Kelancaran dan keberhasilan proses pelaksanaan dan penyusunan skripsi ini tentunya

tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu,

penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas

Sanata Dharma.

2. Dr. Yuliana Setiyaningsih, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra

Indonesia, dan Daerah, dan selaku dosen Pembimbing II yang dengan penuh kesabaran

dan ketelitian telah mendampingi, membimbing, memotivasi, dan memberikan berbagai

masukan yang sangat berharga bagi penulis mulai dari proses awal hingga akhirnya

penulis boleh menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

3. Rishe Purnama Dewi, S.Pd., M.Hum., selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan

Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah Universitas Sanata Dharma.

4. Dr. R. Kunjana Rahardi, M. Hum., selaku dosen Pembimbing I yang dengan pengertian

dan kesabaran, membimbing, memotivasi, dan memberikan berbagai masukan yang

sangat berharga bagi penulis mulai dari proses awal hingga akhirnya penulis boleh

menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

5. Segenap dosen Program Studi PBSID yang dengan penuh dedikasi mendidik,

membimbing, memberikan dukungan, bantuan, dan arahan yang sangat bermanfaat bagi

penulis dari awal kuliah sampai selesai.

6. Robertus Marsidiq sebagai karyawan sekretariat PBSID yang selalu sabar memberikan

pelayanan dan membantu kelancaran penulis dalam menyelesaikan kuliah di PBSID

(12)

xi selama menjalani masa kuliah.

8. Mbah putri Maryati, Mbah Gumi dan Om Kunto, yang telah memberi semangat, bantuan,

dan doa bagi penulis.

9. Rita, Melisa dan Galuh, teman ‘sepayung’ dan seperjuangan yang sudah bersama-sama

berjuang dengan skripsi ini.

10.Mas dan adik tersayang, Mas Gilang dan Febbry yang sudah memberikan semangat, doa

dan perhatian dalam menyelesaikan skripsi ini.

11. Para mahasiswa PBSID Angkatan 2009—2011 USD Yogyakarta yang telah bersedia

dijadikan sebagai sumber data dalam penelitian ini.

12.Fajar, Asa, Tofan, Melisa, Woro yang telah berjuang belajar bersama dalam perkuliahan

dan bersedia menemani, memberikan semangat, bantuan, dan perhatian kepada penulis

dalam menyelesaikan skripsi ini.

13.Uli, Fina, dan Puput yang masih menjaga persahabatan dengan penulis dan tak lelah

memberikan motivasi, semangat dan doa kepada penulis.

14.Teman-teman Mahasiswa PBSID Sanata Dharma Angkatan 2009 s.d. 2012; melalui

kebersamaan selama berproses dan kuliah ini saya dapat merasakan bagaimana arti

sebuah keakraban dan kesetiakawanan.

Penulis menyadari bahwa penulisan dan penyusunan laporan skripsi ini masih jauh dari

sempurna. Oleh karena itu, penulis memohon maaf apabila laporan skripsi ini masih terdapat

banyak kekurangan. Untuk itu, penulis sangat mengharapkan berbagai saran dan kritik dari

para pembaca. Penulis berharap agar laporan skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Yogyakarta

(13)

xii

Hal.

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI... xii

DAFTAR TABEL ... xvii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 6

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Manfaat Penelitian ... 7

1.5 Definisi Istilah ... 8

(14)

xiii

2.1 Penelitian yang Relevan ... 11

2.2 Teori Ketidaksantunan Berbahasa ... 15

2.2.1 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Locher ... 16

2.2.2 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Bousfield ... 19

2.2.3 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Culpeper ... 22

2.2.4 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Terkourafi ... 24

2.2.5 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Locher and Watts .. 25

2.2.6 Rangkuman ... 27

2.3 Tindak Tutur ... 28

2.3.1 Tindak Lokusi ... 29

2.3.2 Tindak Ilokusi ... 30

2.3.3 Tindak Perlokusi ... 34

2.3.4 Rangkuman ... 36

2.4 Konteks Tuturan... 36

2.4.1 Penutur dan Lawan Tutur ... 40

2.4.1.1 ‘The utterer’ dan ‘The Interpteter’ ... 42

2.4.1.2 Aspek-aspek Mental ‘Language Users’ ... 43

2.4.1.3 Aspek-aspek Sosial dan Budaya‘Language Users’ ... 45

2.4.1.4 Aspek-aspek Fisik ‘Language Users’ ... 48

2.4.2 Konteks Sebuah Tuturan ... 50

2.4.3 Tujuan Sebuah Tuturan ... 51

(15)

xiv

2.4.6 Rangkuman ... 55

2.5 Bunyi Suprasegmental ... 56

2.5.1 Tinggi-Rendah (Nada, Tona, Pitch) ... 56

2.5.2 Keras-Lemah (Tekanan, Aksen, Stress) ... 57

2.5.3 Intonasi... 58

2.5.4 Rangkuman ... 59

2.6 Pilihan Kata ... 60

2.6.1 Bahasa Standar dan Nonstandar ... 62

2.6.2 Kata Ilmiah dan Kata-kata Populer ... 63

2.6.3 Jargon ... 64

2.6.4 Kata Percakapan ... 65

2.6.5 Kata Slang ... 66

2.6.6 Idiom ... 67

2.6.7 Bahasa Artifisial ... 67

2.6.8 Kata Seru... 67

2.6.9 Kata Fatis ... 68

2.6.10 Rangkuman ... 68

2.7 Kerangka Berpikir ... 70

BAB III METODE PENELITIAN ... 71

3.1 Jenis Penelitian... 71

(16)

xv

3.4 Instrumen Penelitian ... 74

3.5 Metode dan Teknik Analisis Data... 74

3.6 Sajian Analisis Data ... 76

3.7 Trianggulasi Hasil Analisis Data ... 77

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 78

4.1 Deskripsi Data ... 78

4.2 Hasil Analisis Data ... 84

4.2.1 Melecehkan Muka... 84

4.2.1.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik... 86

4.2.1.2 Wujud Ketidaksantunan Pragmatik... 87

4.2.1.3 Penanda Ketidaksantunan Linguistik ... 88

4.2.1.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik ... 89

4.2.1.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Melecehkan Muka ... 91

4.2.2 Memain-mainkan Muka ... 92

4.2.2.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik... 94

4.2.2.2 Wujud Ketidaksantunan Pragmatik... 95

4.2.2.3 Penanda Ketidaksantunan Linguistik ... 96

4.2.2.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik ... 97

4.2.2.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Memain-mainkan Muka... 100

4.2.3 Kesembronoan yang Disengaja ... 100

4.2.3.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik... 103

(17)

xvi

4.2.3.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik ... 105

4.2.3.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Berupa Kesembronoan yang Disengaja ... 107

4.2.4 Menghilangkan Muka ... 108

4.2.4.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik... 110

4.2.4.2 Wujud Ketidaksantunan Pragmatik... 111

4.2.4.3 Penanda Ketidaksantunan Linguistik ... 112

4.2.4.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik ... 113

4.2.4.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Menghilangkan Muka ... 116

4.2.5 Mengancam Muka Sepihak ... 116

4.2.5.1 Wujud Ketidaksantunan Linguistik... 119

4.2.5.2 Wujud Ketidaksantunan Pragmatik... 119

4.2.5.3 Penanda Ketidaksantunan Linguistik ... 121

4.2.5.4 Penanda Ketidaksantunan Pragmatik ... 122

4.2.5.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Mengancam Muka ... 124

4.3 Pembahasan... 125

4.3.1 Melecehkan Muka... 125

4.3.2 Memain-mainkan Muka ... 142

4.3.3 Kesembronoan yang Disengaja ... 157

4.3.4 Menghilangkan Muka ... 171

(18)

xvii

5.1 Simpulan ... 201

5.2 Saran ... 206

DAFTAR PUSTAKA ... 208

(19)

xviii

DAFTAR TABEL

Hal.

Tabel 1 Tuturan yang Melecehkan Muka ... 79

Tabel 2 Tuturan yang Memain-mainkan Muka ... 80

Tabel 3 Tuturan Kesembronoan yang Disengaja ... 81

Tabel 4 Tuturan yang Menghilangkan Muka... 82

(20)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang Masalah

Bahasa merupakan alat yang digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi,

berinteraksi, dan bekerja sama satu sama lain. Peranan bahasa dalam kehidupan

manusia membuat bahasa penting untuk dikaji lebih dalam. Adapun ilmu yang

mempelajari mengenai bahasa adalah linguistik. Sosok linguistik sebagai ilmu

bahasa yang meneliti dan mengkaji seluk-beluk bahasa natural manusia, tidak saja

aspek-aspek internal tetapi juga bagian-bagian eksternalnya, di dalam

perkembangannya memiliki beberapa cabang atau ranting-ranting ilmu (Rahardi,

2007:9). Sebagai ilmu kajian bahasa, linguistik memiliki berbagai cabang ilmu

yaitu fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Secara umum,

linguistik menganalisis bahasa mengenai aspek yang berhubungan dengan struktur

kebahasaannya (fonologi, sintaksis, semantik, morfologi).

Percabangan ilmu bahasa menunjukkan bahwa pragmatik merupakan cabang

ilmu linguistik yang terakhir. Pragmatik merupakan studi tentang makna yang

disampaikan oleh penutur (atau penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar (atau

pembaca) (Yule, 2006:3). Pendapat lain dikemukakan oleh Levinson (melalui

Nugroho, 2009:118), pragmatik adalah kajian ihwal hubungan antara bahasa dan

konteks yang digramatikalisasikan atau dikodekan di dalam struktur bahasa.

(21)

berkomunikasi, terutama hubungan antara kalimat dengan konteks dan situasi

pemakaiannya.

Konteks penting dalam kajian pragmatik karena konteks digunakan untuk

memahami semua faktor yang berperan dalam produksi dan komprehensi tuturan

(Jumanto melalui Nugroho, 2009:123). Menurut Rahardi (2006:20) konteks tuturan

dapat pula diartikan sebagai semua latar belakang pengetahuan (background

knowledge) yang diasumsikan sama-sama dimiliki dan dipahami bersama oleh

penutur dan mitra tutur, serta yang mendukung interpretasi mitra tutur atas apa yang

dimaksudkan oleh si penutur itu di dalam keseluruhan proses bertutur. Menurut

Leech (melalui Nugroho, 2009:119), konteks dalam pragmatik adalah aspek-aspek

yang terdapat di dalam situasi tuturan atau „speech situation‟ itu dapat dibedakan

menjadi lima macam, yakni: (1) penutur dan lawan tutur, (2) konteks tuturan, (3)

tujuan tuturan, (4) tuturan sebagai tindak verbal, dan (5) tuturan sebagai produk

tindak verbal. Dengan demikian, konteks memiliki fungsi yang penting dan memang

harus ada untuk membuat sebuah tuturan benar-benar bermakna.

Penekanan konteks dalam pragmatik memberikan kejelasan mengenai analisis

perbedaan pragmatik dengan ilmu lain termasuk linguistik. Jika pada analisis

linguistik struktur yang dikaji adalah aspek yang berhubungan dengan struktur

kebahasaannya (fonologi, morfologi, sintaksis, semantik) sedangkan pada kajian

pragmatik yang dikaji adalah situasi tutur yang dapat menimbulkan makna

(22)

dan pragmatik semakin memperjelas maksud penggunaan bahasa dalam

berkomunikasi (lisan maupun tulis).

Lebih dari itu, salah satu kajian pragmatik adalah mengupas mengenai

kesantunan dan ketidaksantunan penggunaan bahasa oleh para pemakainya.

Pembahasan mengenai kesantunan dan ketidaksantunan berbahasa penting dilakukan

untuk membantu keberhasilan proses interaksi dan komunikasi penutur dan mitra

tuturnya. Memang sudah banyak peneliti yang mengkaji mengenai kesantunan

berbahasa, namun untuk masalah ketidaksantunan berbahasa masih jarang

peminatnya. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Rahardi (2010) yang

mengemukakan bahwa sampai dengan tahun 2008, yakni tahun diterbitkannya buku

Impoliteness in Language oleh Bousfield et al (Eds.) yang sesungguhnya merupakan

salah satu wujud keprihatinan linguis khususnya yang berkecimpung dalam

pragmatik, ihwal ketidaksantunan berbahasa itu belum pernah dikaji secara

komperehensif dan mendalam. Hal ini menimbulkan ketimpangan kajian antara

kesantunan dan ketidaksantunan berbahasa itu. Dengan kata lain, terdapat

ketidakseimbangan mengenai pembahasan dua kajian tersebut. Terlalu banyak

penelitian mengenai kesantunan berbahasa di berbagai ranah kehidupan tetapi belum

ada penelitian mengenai ketidaksantunan berbahasa.

Penelitian mengenai bahasa memang menarik untuk dilakukan terlebih

mengenai ketidaksantunan berbahasa. Salah satu alasan pokoknya bahasa merupakan

alat komunikasi, berkomunikasi merupakan interaksi antara penutur dengan mitra

(23)

karakter seseorang. Hal ini dapat dibuktikan dari penggunaan bahasanya baik lisan

maupun tulisan. Kesantunan berbahasa ditunjukkan dari penggunaan bahasa yang

lemah lembut, sopan, santun, teratur, sistematis, jelas dan lugas sehingga dapat

mencerminkan pribadi yang baik oleh penuturnya. Sebaliknya, ketidaksantunan

berbahasa ditunjukkan melalui penggunaan bahasa yang kasar, menghina, memaki,

memfitnah, mengejek atau melecehkan yang akan menggambarkan pribadi yang tidak

baik. Dengan demikian, sifat dan kepribadian seseorang dapat pula dicerminkan dari

penggunaan bahasanya itu.

Penggunaan bahasa dapat dilakukan di mana saja salah satunya di perguruan

tinggi. Pada prinsipnya perguruan tinggi merupakan satuan pendidikan tertinggi

sebagai penghasil kaum intelektual muda yaitu mahasiswa yang cerdas, kreatif dan

kompetitif. Dalam hal ini, mahasiswa di perguruan tinggi dapat dikatakan sebagai

pelajar di ranah tertinggi pendidikan. Sebagai pelajar tertinggi, mahasiswa harus

dapat memiliki sikap yang berbeda dengan orang-orang yang masih memiliki tingkat

pendidikan di bawah perguruan tinggi bahkan dengan orang yang kurang

berpendidikan. Sikap berbeda itu terutama dalam hal berkomunikasi dengan orang

lain.

Bahasa yang dipakai dalam lingkungan perguruan tinggi tentu saja berbeda

dengan yang berada di luar lingkungan. Hal ini disebabkan perguruan tinggi menjadi

salah satu tempat interaksi sosial orang-orang berpendidikan. Orang-orang yang

berpendidikan tinggi seharusnya dapat bertutur santun karena mereka diajarkan

(24)

satu alasan mengapa kesantunan berbahasa sangat diutamakan dalam lingkungan

perguruan tinggi. Sebagai orang yang memiliki pendidikan tinggi, mahasiswa harus

memahami dan menguasai kesantunan dalam berbahasa. Tujuannya selain untuk

menghormati orang lain, yang lebih hakiki adalah bahwa berlaku santun justru untuk

menjaga harkat dan martabat diri (mahasiswa) sebagai penutur bahasa (Pranowo,

2009:150). Ironisnya masih banyak mahasiswa yang kurang santun ketika berbicara.

Ketidaksantunan berbahasa yang dilakukan khususnya antarmahasiswa sering

kali terjadi baik di lingkungan perguruan tinggi maupun di luar. Ketidaksantunan

tersebut terjadi karena berbagai alasan yaitu adanya kedekatan antarmahasiswa,

kebiasaan berbahasa tidak santun, latar belakang keluarga, kurang adanya

pengetahuan mengenai bahasa yang santun, bahkan bahasa tidak santun digunakan

untuk bersosialisasi antarmahasiswa kelompok tertentu. Contoh kalimat yang

diutarakan Pie kabare cuk?, Bajingan, soal ujiane susah-susah. Hal-hal seperti ini

dapat berakibat fatal apabila sedang terjadi komunikasi, terlebih komunikasi yang

dilakukan dengan mitra tutur seperti orang-orang besar dan berpendidikan tinggi.

Pada dasarnya fenomena seperti di atas telah terjadi di berbagai lingkup ranah

pendidikan seperti halnya di perguruan tinggi. Penulis secara khusus memilih untuk

meneliti ketidaksantunan berbahasa para mahasiswa Program Studi Pendidikan

Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah Angkatan 2009—2011 Universitas Sanata

Dharma yang notabene para mahasiswanya berasal dari berbagai pelosok daerah di

Indonesia yang juga memiliki tata karma dan cara berbahasa masing-masing. Hal

(25)

kekhasan tersendiri dalam berkomunikasi karena mereka lebih mendalami kajian

bahasa daripada mahasiswa program studi lain. Selain itu, kedekatan penulis dengan

para mahasiswa PBSID tersebut juga menjadi salah satu faktor utama pemilihan

subjek penelitian ini.

Berdasarkan fakta di atas, seharusnya para mahasiswa khususnya mahasiswa

PBSID dapat menghindari penggunaan bahasa yang kurang santun baik dengan

sesama mahasiswa maupun dengan orang yang lebih tua bahkan berpendidikan

tinggi. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mendeskripsikan ketidaksantunan

linguistik dan pragmatik terutama dalam komunikasi antarmahasiswa di Program

Studi PBSID Angkatan 2009—2011 Universitas Sanata Dharma.

1.1Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah seperti di atas, masalah-masalah yang akan

diteliti dalam penelitian ini meliputi:

a. Wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa apa sajakah yang

digunakan antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009—2011 di

Universitas Sanata Dharma?

b. Wujud penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa apa

sajakah yang digunakan antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan

2009—2011 di Universitas Sanata Dharma?

c. Apa makna ketidaksantunan berbahasa yang digunakan antarmahasiswa

(26)

1.2Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah seperti di atas, maka tujuan penelitian ini

secara rinci sebagai berikut.

a. Mendeskripsikan wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa

yang digunakan antarmahasiswa Angkatan 2009—2011 di Universitas Sanata

Dharma.

b. Mendeskripsikan wujud penanda ketidaksantunan linguistik dan pragmatik

berbahasa yang digunakan antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan

2009—2011 di Universitas Sanata Dharma.

c. Mendeskripsikan makna ketidaksantunan berbahasa yang digunakan

antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009—2011 di Universitas

Sanata Dharma.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ketidaksantunan berbahasa dalam ranah pendidikan ini

diharapkan dapat bermanfaat bagi para pihak yang memerlukan. Terdapat dua

manfaat yang dapat diperoleh dari pelaksanaan penelitian sebagai berikut.

a. Manfaat teoretis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan memperluas

kajian serta memperkaya khasanah teoretis tentang ketidaksantunan dalam

berbahasa sebagai fenomena pragmatik baru. Penelitian ini dapat dikatakan

(27)

dikemukakan oleh para ahli dapat digunakan sebagai tambahan pengetahuan

baru dan referensi untuk menghindari ketidaksantunan berbahasa dalam

berkomunikasi.

b. Manfaat Praktis

Penelitian ketidaksantunan berbahasa ini juga diharapkan dapat

memberikan masukan khususnya bagi mahasiswa dalam berkomunikasi untuk

menghindari penggunaan bahasa yang kurang santun. Demikian pula,

penelitian ini akan memberikan masukan kepada para praktisi dalam bidang

pendidikan terutama bagi dosen, guru, mahasiswa, siswa, dan tenaga

kependidikan untuk mempertimbangkan adanya ketidaksantunan berbahasa

dalam komunikasi yang harus dihindari.

1.5 Batasan Istilah

a. Ketidaksantunan

Ketidaksantunan berbahasa menurut Culpeper (2008:3) adalah, ‘Impoliteness, as I would define it, involves communicative behavior intending to cause the “face loss” of a target or perceived by the target to be so.‟ Dengan kata lain

ketidaksantunan dapat dilihat dari penekanan pada fakta ‘face loss‟ atau fakta

‘kehilangan muka’.

b. Linguistik

Linguistik adalah ilmu tentang (aspek) bahasa, dalam arti salah satu ilmu yang

(28)

sebagai objek sasarannya atau ilmu yang mengkaji seluk beluk bahasa

(Kesuma melalui Sudaryanto, 1995:5)

c. Pragmatik

Pragmatik sebagai studi bahasa yang mempelajari relasi bahasa dengan

konteksnya. Konteks yang dimaksud telah tergramatisasi dan terkodifikasi

sehingga tidak pernah dapat dilepaskan dari struktur bahasanya. (Levinson

melalui Rahardi, 2009:20)

d. Konteks

Konteks tuturan dapat diartikan sebagai semua latar belakang pengetahuan

(background knowledge) yang diasumsikan sama-sama dimiliki dan dipahami

bersama oleh penutur dan mitra tutur serta yang mendukung interpretasi mitra

tutur atas apa yang dimaksudkan oleh si penutur itu di dalam keseluruhan

proses bertutur (Rahardi, 2006:20).

1.6 Sistematika Penyajian

Sistematika penulisan penelitian dijabarkan beberapa hal, yang meliputi

pendahuluan, kajian teori, metode penelitian, hasil penelitian dan pembahasan,

dan penutup.

Bab I adalah pendahuluan, yang berisi beberapa sub bab, yaitu (1) latar

belakang, (2) rumusan masalah, (3) tujuan penelitian, (4) manfaat penelitian, (5)

(29)

Bab II adalah kajian teori yang berisi tiga pokok bahasan yaitu (1) penelitian

yang relevan, (2) kajian pustaka, dan (3) kerangka berpikir.

Bab III metode penelitian yang berisi enam hal yaitu (1) jenis penelitian, (2)

subjek penelitian, (3) metode dan teknik pengumpulan data, (4) instrumen

penelitian, (5) metode dan teknik analisis data, (6) hasil analisis data.

Bab IV hasil dan pembahasan yang berisi tiga hal yaitu (1) deskripsi data,

(2) hasil analisis data, dan (3) pembahasan. Bab V penutup yang berisi dua hal

yaitu (1) kesimpulan dan (2) saran. Selain beberapa bab di atas, peneliti juga

menyajikan daftar pustaka dan lampiran-lampiran yang mendukung penelitian

(30)

11 BAB II KAJIAN TEORI

2.1 Penelitian yang Relevan

Penelitian yang relevan dengan ketidaksantunan berbahasa di Indonesia

masih belum ditemukan oleh peneliti. Hal ini disebabkan penelitian mengenai

ketidaksantunan berbahasa merupakan bahan kajian baru yang belum ditelaah

oleh para peneliti bahasa secara lebih mendalam. Sebaliknya, sudah banyak

ditemukan penelitian mengenai kesantunan berbahasa di berbagai ranah

kehidupan. Terlebih dalam ranah pendidikan, sudah banyak penelitian mengenai

kesantunan berbahasa yang dapat ditemukan salah satunya pada penelitian

mahasiswa PBSID Universitas Sanata Dharma. Selain itu, adanya fakta dalam

buku Impoliteness in Language oleh Bousfield et al. pada tahun 2008 yang

diterbitkan sebagai wujud keprihatinan linguis khususnya yang berkecimpung

dalam pragmatik, masalah ketidaksantunan berbahasa itu masih belum pernah

dikaji secara komperehensif dan mendalam. Fakta kebahasaan yang demikian itu

menunjukkan bahwa masih langkanya studi ketidaksantunan pragmatik khususnya

di dalam bahasa Indonesia.

Pada prinsipnya, penelitian mengenai kesantunan berbahasa ini dapat

dikatakan sebagai penelitian pionir dalam mengkaji ketimpangan kajian antara

kesantunan dan ketidaksantunan berbahasa. Oleh karena itu, peneliti

menggunakan penelitian sejenis mengenai kesantunan berbahasa sebagai acuan

(31)

berbahasa. Peneliti menemukan empat penelitian mengenai kesantunan berbahasa

yang akan dipaparkan secara ringkas sebagai berikut.

Penelitian dilakukan oleh Weny Anugraheni (2011) dengan judul penelitian

“Jenis Kesantunan dan Penyimpangan Maksim Kesantunan dalam Tuturan Imperatif

Guru Kepada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Pringsurat Temanggung dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia.”. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif

kualitatif dan metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

teknik simak dan teknik catat. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ada dua jenis

kesantunan dalam tuturan imperatif yaitu kesantunan imperatif tuturan deklaratif dan

kesantunan imperatif tuturan imperatif. Kedua jenis tuturan tersebut masih dibagi lagi

menjadi bermacam-macam jenis sesuai dengan tuturan. Berdasarkan penelitian dapat

disimpulkan bahwa guru bahasa Indonesia SMP Negeri 1 Pringsurat Temanggung

masih melakukan penyimpangan kaidah berbahasa kepada siswa. Hal ini disebabkan

oleh (1) tidak konsistennya keinginan guru dalam praktik pemakaian tuturan, (2)

kaidah kesantunan belum sepenuhnya dimiliki oleh guru, (3) guru bahasa belum

sepenuhnya memahami bagaimana pemakaian bahasa yang baik dan santun.

Penelitian lain dilakukan oleh Ayuningtyas Kusumastuti (2010) dengan judul

“Kesantunan Berbahasa Indonesia Pembawa Acara Stasiun Televisi Swasta

Nasional.” Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dan metode

pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak berupa

teknik sadap sebagai teknik dasar, serta teknik simak bebas libat cakap dan teknik

(32)

kelompok tuturan santun pembawa acara televisi, yaitu (1) tuturan yang menunjukkan

sikap menghargai terhadap mitra tutur, (2) tuturan yang menunjukkan sikap peduli terhadap mitra tutur, (3) tuturan yang mengandung upaya menarik minat pemirsa, (4) tuturan yang berisi nasihat, (5) tuturan yang menunjukkan prioritas terhadap mitra tutur berjarak paling jauh, dan (6) tuturan yang menunjukkan sikap rendah hati. Untuk mewujudkan keenam tuturan tersebut, ditemukan empat strategi yang

dapat digunakan para pembawa acara televisi, yaitu strategi bertutur dengan

kesantunan positif, strategi bertutur lugas, strategi bertutur samar-samar, dan strategi bertutur dengan kesantunan negatif. Ditemukan penanda bahasa verbal dan

nonverbal yang menunjukkan kesantunan berbahasa para pembawa acara televisi,

yaitu nomina pengacu dan nomina penyapa, adverbial modalitas, gaya bahasa,

interjeksi, jenis kalimat, serta bahasa nonverbal yang menyertai tuturan.

Penelitian sejenis juga pernah dilakukan oleh Oratna Sembiring (2011) berjudul

Bentuk-bentuk Tindak Tutur Imperatif dan Penanda Kesantunan Berbahasa Indonesia Studi Kasus di Komunitas Suster SCMM Pringwulung-Yogyakarta.

Penelitian ini ditinjau dari dua segi, dari segi metode penelitian ini termasuk

penelitian kualitatif naturalistik. Dari segi sumber data, penelitian ini merupakan studi

kasus. Penelitian ini mendeskripsikan tentang bentuk-bentuk tindak tutur imperatif

dan penanda kesantunan berbahasa dalam bentuk tindak tutur imperatif. Teknik

pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik rekam dan

teknik catat. Adapun hasil penelitian ini adalah ditemukannya bentuk-bentuk tindak

(33)

kesantunan berbahasa Indonesia di komunitas suster SCMM

Pringwulung-Yogyakarta. Bentuk-bentuk tindak tutur imperatif di Komunitas Suster SCMM

Pringwulung-Yogyakarta meliputi (1) bentuk tindak tutur imperatif langsnung literal,

(2) bentuk tindak tutur imperatif tidak langsung literal, (3) tindak tutur imperatif

langsung tidak literal, dan (4) tindak tutur imperatif tidak langsung tidak literal.

Penanda kesantunan berbahasa Indonesia di komunitas suster SCMM

Pringwulung-Yogyakarta meliputi (1) penanda kesantunan faktor kebahasaan dan (2) penanda

kesantunan faktor nonkebahasaan. Penanda kesantunan faktor kebahasaan meliputi

(1) diksi, (2) gaya bahasa, (3) penggunaan pronominal, (4) penggunaan kata

keterangan (modalitas), dan (5) bentuk tuturan. Penanda kesantunan faktor

nonkebahasaan meliputi (1) topik pembicaraan, (2) budaya, dan (3) konteks situasi

komunikasi.

Penelitian juga dilakukan oleh Rahardi (1999) dalam penelitiannya yang

berjudul Imperatif dalam Bahasa Indonesia: Penanda-penanda Kesantunan

Lingustiknya. Penelitian tersebut mendasari adanya empat pemarkah kesantunan

lingustik (linguistic politeness) tuturan imperatif dalam bahasa Indonesia. Keempat

pemarkah tersebut adalah (1) panjang pendek tuturan, (2) urutan tutur, (3) intonasi

dan isyarat kinesik, (4) ungkapan-ungkapan penanda kesantunan.

Keempat penelitian di atas merupakan penelitian mengenai kesantunan

berbahasa. Ternyata dalam beberapa hasil penelitian tersebut dapat ditemukan pula

bentuk penyimpangan dan pelanggaran kaidah kesantunan berbahasa. Selain itu,

(34)

dilakukan misalnya oleh Weni Anugraheni (2011) yaitu jenis penelitian deskriptif

kualitatif dan metode pengumpulan data adalah teknik simak dan teknik catat,

membuat peneliti semakin yakin untuk menggunakan beberapa penelitian kesantunan

tersebut. Selain fakta dan kesamaan yang ditemukan penulis, berkaitan dengan

kelangkaan studi ketidaksantunan berbahasa ini, dipaparkan oleh Miriam A Locher

(2008) ‗enormous imbalance exists between academic interest in politeness phenomena as opposed to impoliteness phenomena.‘ Jadi, tidak saja ketimpangan dalam pengertian yang biasa saja, tetapi ‗enormous imbalance‘ itu berarti terdapat

ketimpangan besar sekali antara studi ketidaksantunan dan kesantunan dalam

berbahasa. Adanya kelangkaan studi ketidaksantunan tersebut menyebabkan sulitnya

menemukan sumber-sumber, referensi-referensi, bahkan penelitian-penelitian yang

relevan dengan kajian itu. Oleh karena itu, beberapa penelitian kesantunan berbahasa

yang telah dipaparkan tersebut dapat peneliti gunakan sebagai acuan dan pijakan

dalam mengkaji fenomena ketidaksantunan berbahasa khususnya dalam ranah

pendidikan yang selama ini belum ada peneliti yang mengkaji lebih dalam.

2.2 Teori Ketidaksantunan Berbahasa

Pada prinsipnya ketidaksantunan berbahasa merupakan bentuk pertentangan

dengan kesantunan berbahasa. Apabila kesantunan berbahasa berkaitan dengan

penggunaan bahasa yang baik, santun, dan sesuai dengan tatakrama,

ketidaksantunan berbahasa berkaitan dengan penggunaan bahasa yang tidak baik,

(35)

santun banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik secara lisan maupun

tulisan. Lebih dari itu, penggunaan bahasa yang tidak santun tersebut tidak hanya

dilakukan oleh masyarakat tak berpendidikan, tetapi juga oleh masyarakat yang

berpendidikan (kaum intelektual). Adapun beberapa teori para ahli yang

mengemukakan ketidaksantunan berbahasa sebagai berikut.

2.2.1 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Locher

Menurut Miriam A Locher (2008:3), ketidaksantunan dalam berbahasa

dapat dipahami sebagai berikut, „…behaviour that is face-aggravating in a particular context.‟ Perilaku ketidaksantunan berbahasa itu menunjuk pada

perilaku ‗melecehkan‘ muka (face-aggravate) yang sesungguhnya lebih dari

sekadar „mengancam‟ muka (face-threaten), seperti yang ditawarkan dalam

banyak definisi kesantunan klasik Leech (1983), Brown and Levinson (1987),

atau sebelumnya pada tahun 1978, yang cenderung dipengaruhi konsep muka

Erving Goffman (cf. Rahardi, 2009).

Interpretasi lain yang berkaitan dengan definisi Locher terhadap

ketidaksantunan berbahasa ini adalah bahwa tindakan tersebut sesungguhnya

bukanlah sekadar perilaku „melecehkan muka‟, melainkan perilaku yang

„memain-mainkan muka‟. Tindakan bertutur sapa akan dikatakan sebagai

tindakan yang tidak santun bilamana muka (face) dari mitra tutur

dipermainkan, atau setidaknya dia telah merasa bahwa penutur

(36)

bahwa ketidaksantunan berbahasa dalam pemahaman Miriam A. Locher

adalah sebagai tindak berbahasa yang melecehkan dan memain-mainkan

muka, sebagaimana yang dilambangkan dengan kata ‗aggravate‘ itu.

Konsep mengenai perilaku ketidaksantunan berbahasa ini dapat diperjelas

dengan contoh tuturan berikut.

Cuplikan 1

Mahasiswa 1: ―Tujuh puluh delapan pak‖ (diulang dua kali)

Mahasiswa 2: ―Nek ngomong jangan kayak orang kumur-kumur” (1)

Cuplikan 2

Mahasiswa 1: ―Eh ini soalnya ditulis nggak? Soalnya ditulis enggak pak?‖ Mahasiswa 2: ―Enggak, dimakan!‖ (2)

Informasi indeksal

Tuturan (1) pada contoh di atas dituturkan oleh seorang mahasiswa

laki-laki kepada teman mahasiswi di kelas ketika perkuliahan sedang berlangsung.

Pada saat itu, mahasiswi berusaha menyampaikan hasil koreksi kuis yang baru

saja dikoreksinya kepada dosen. Mahasiswi itu baru beberapa waktu

menggunakan behel sehingga masih kesusahan untuk berbicara. Tuturan (2)

dituturkan oleh seorang mahasiswa kepada teman mahasiswa di dalam kelas.

Pada saat perkuliahan berlangsung diadakan sebuah kuis, seperti kebiasaan

dosen membacakan soal dan para mahasiswa mencatat soal tersebut.

Mahasiswa itu menanyakan soal yang dibacakan dosen kepada temannya

sehingga menimbulkan kegaduhan.

Tuturan (1) dan (2) merupakan bentuk ketidaksantunan berbahasa yaitu

(37)

mitra tutur secara langsung di depan mitra tutur. Tuturan (1) penutur

mengatakan dengan sindirannya bahwa mitra tutur berbicara seperti orang

yang berkumur secara langsung. Pernyataan tersebut dapat mengakibatkan

mitra tutur merasa dihina atau dilecehkan oleh penutur. Tuturan (2) penutur

mengatakan secara singkat sindirannya untuk memperingatkan mitra tutur

yang telah menimbulkan kegaduhan ketika kuis berlangsung. Tuturan (2) juga

dapat menimbulkan luka hati bagi mitra tuturnya.

Selain itu, Locher (2008) juga mendefinisikan bahwa ketidaksantunan

adalah bentuk memain-mainkan muka. Tuturan (3) pada bagian berikut dapat

memperjelas pernyataan ini.

Cuplikan 3

Mahasiswa 1: ―Hai nona, mau ngapain eh kamu?‖ Mahasiswa 2: ―Yauda sii biasa aja!‖ (3)

Informasi indeksal

Tuturan (3) dituturkan oleh seorang mahasiswa kepada teman mahasiswa

lain. Tuturan terjadi ketika jeda kuliah, beberapa mahasiswa masuk ke dalam

kelas untuk mencari tempat duduk. Seorang mahasiswa menyapa dan

menggoda teman mahasiswa itu. Seperti kebiasaan, teman mahasiswa itu

selalu menanggapi godaan temannya dengan santai, tetapi saat itu dia tidak

bertingkah demikian. Tuturan tersebut termasuk bentuk ketidaksantunan yaitu

memain-mainkan muka karena tindakan teman mahasiswa yang biasa ramah

(38)

ketidakramahan tersebut dapat pula menimbulkan kebingungan dan bahkan

mengakibatkan luka hati bagi mitra tuturnya. Dengan demikian, tuturan (1),

(2), dan (3) merupakan contoh bentuk ketidaksantunan yaitu melecehkan

muka dan memain-mainkan muka. Tuturan melecehkan muka terjadi apabila

penutur tidak menyukai tindakan mitra tutur yang dirasa penutur tidak

nyaman, sedangkan memain-mainkan muka terjadi apabila tuturan yang tidak

biasa dikeluarkan atau dilontarkan kepada penutur, saat itu terjadi karena

adanya keadaan yang tidak disukai penutur terhadap mitra tutur. Tuturan yang

melecehkan dan memain-mainkan muka itu dapat pula menimbulkan luka hati

bagi mitra tuturnya.

2.2.2 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Bousfield

Menurut Bousfield (2008:3), ketidaksantunan dalam berbahasa dipahami

sebagai, ‗The issuing of intentionally gratuitous and conflictive face-threatening acts (FTAs) that are purposefully perfomed.‟ Bousfield

memberikan penekanan pada dimensi „kesembronoan‟ (gratuitous), dan

konfliktif (conflictive) dalam praktik berbahasa yang tidak santun itu.

Jadi apabila perilaku berbahasa seseorang itu mengancam muka, dan

ancaman terhadap muka itu dilakukan secara sembrono (gratuitous), hingga

akhirnya tindakan berkategori sembrono demikian itu mendatangkan konflik,

atau bahkan pertengkaran, dan tindakan tersebut dilakukan dengan

kesengajaan (purposeful), maka tindakan berbahasa itu merupakan realitas

(39)

Ada beberapa indikasi penentu kesembronoan yatiu tuturan dinyatakan

secara langsung, tuturan negatif, tuturan positif, tuturan mengandung

implikatur, dan kesantunan yang ditahan. Tuturan–tuturan pada bagian berikut

akan memperjelas pernyataan ini.

Cuplikan 4

Mahasiswa 1: ―Potong model opo to kowe?‖ Mahasiswa 2: ―Kowe potong koyo pitik gering‖ (4)

Cuplikan 5

Mahasiswa 1: ―Pie laporan PPLmu?‖

Mahasiswa 2: ―Kurang tanda tangan guru pamong‖ Mahasiswa 1: ―Lha guru pamongmu neng ndi?‖ Mahasiswa 2: ―Palestina‖ (5)

Cuplikan 6

Mahasiswa 1: ―Mau kemana buk? Ngajar? (melihat mahasiswa 2

menggunakan baju rapi seperti layaknya guru ke perpustakaan memberi komentar sambil tertawa kecil)‖ (6)

Mahasiswa 2: ―Iya mau ngajar aku.‖

Cuplikan 7

Mahasiswa 1: ―Iya ini kuliah Psikolinguistik, kamu kuliah apa e mbak?‖ Mahasiswa 2: ―Kuliah sama kamu‖ (sambil tertawa kecil) (7)

Cuplikan 8

(8) Mahasiswa 1: ―Ni buat kamu‖ (sambil memberikan coklat) Mahasiswa 2: ―Oh iya.‖

Informasi indeksal

Tuturan (4) dituturkan oleh seorang mahasiswa kepada teman mahasiswa

di depan ruang kelas saat menunggu kelas berikutnya dengan suasana santai

dan ramai. Penutur mengomentari model rambut mitra tutur yang baru secara

langsung dan sembrono. Tuturan (5) dituturkan oleh seorang mahasiswa

(40)

Tuturan tersebut merupakan tuturan yang sembrono pula. Kata palestina bisa

diartikan tidak santun apabila mitra tuturnya tidak memiliki relasi yang dekat

dan akrab dengan penutur, tetapi apabila penutur sedang mengharapkan

jawaban yang serius seperti dalam cuplikan 5 dapat pula terjadi konflik

sekalipun penutur dan mitra tutur berteman akrab. Tuturan (6) dituturkan oleh

mahasiswi kepada teman mahasiswi lain yang sedang memasuki

perpustakaan. Mahasiswi tersebut mengenakan baju rapi layaknya guru

sehingga menimbulkan komentar dari temannya. Komentar tersebut

dituturkan secara langsung dan sembrono di depan penutur. Tuturan (7)

dituturkan oleh seorang mahasiswa sebagai kakak tingkat kepada adik

tingkatnya di depan ruang kelas. Wujud kebahasaan tersebut disampaikan

secara langsung dan sembrono untuk menimbulkan gelak tawa. Tuturan (8)

dituturkan oleh mahasiswa kepada teman mahasiswinya ketika sedang

menunggu jeda kuliah. Mahasiswa tersebut memberikan coklat kepada

temannya. Penutur berasumsi bahwa mitra tutur akan mengucapkan terima

kasih ternyata mitra tutur tidak mengatakan hal tersebut. Tuturan tersebut

termasuk wujud ketidaksantunan karena dapat menimbulkan konflik di antara

keduanya.

Berdasarkan ilustrasi yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan

bahwa teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Bousfield (2008) ini

lebih menitikberatkan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan oleh

(41)

tuturnya dengan tanggapan semaunya secara sengaja dan dapat

memungkinkan adanya konflik diantara penutur dan mitra tutur.

2.2.3 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Culpeper

Pemahaman Culpeper (2008:3) tentang ketidaksantunan berbahasa

adalah, ‗Impoliteness, as I would define it, involves communicative behavior intending to cause the “face loss” of a target or perceived by the target to be

so.‟ Dia memberikan penekanan pada fakta „face loss‟ atau „kehilangan

muka‟—kalau dalam bahasa Jawa mungkin konsep itu dekat dengan konsep

„kelangan rai‟ (kehilangan muka). Culpeper memberikan penekanan pada

fakta ‗face loss‟ atau fakta ‗kehilangan muka‘ untuk menjelaskan konsep

ketidaksantunan dalam berbahasa itu. Sebuah tuturan akan dianggap sebagai

tuturan yang tidak santun jika tuturan itu menjadikan muka seseorang hilang.

Setidaknya tuturan yang menghilangkan muka itu dirasakan oleh sang mitra

tutur sendiri.

Dengan demikian, ketidaksantunan (impoliteness) dalam berbahasa itu

merupakan perilaku komunikatif yang diperantikan secara intensional untuk

membuat orang benar-benar kehilangan muka (face loss), atau setidaknya

orang tersebut „merasa‟ kehilangan muka.

Konsep mengenai perilaku ketidaksantunan berbahasa ini dapat diperjelas

(42)

Cuplikan 9

Mahasiswa 1: ―Menurut saya judul makalah Anda kurang spesifik, masih banyak variabel sehingga terkesan boros kata-kata jadi perlu diperbaiki.‖ Mahasiswa 2: ―Terima kasih atas masukannya, sebenarnya judul saya ini sudah direvisi oleh dosen. Jadi saya tidak mengubahnya lagi.‖ (9)

Cuplikan 10

Mahasiswa 1: ―Yah buka sepatu nih.‖ (sambil membuka sepatu) Mahasiswa 2: ―Ihh kakimu cantik ya kayak cewek.‖ (10)

Informasi indeksal

Tuturan (9) dituturkan oleh seorang mahasiswa kepada teman mahasiswa di

dalam kelas. Pada saat perkuliahan berlangsung, terdapat sesi presentasi dan

pemberian tanggapan. Penutur sebagai pemakalah mendapat tanggapan dari

pembahas umum yaitu mitra tutur. Mitra tutur mengatakan bahwa judul

penutur kurang spesifik, lalu penutur memberikan konfirmasi dari tanggapan

tersebut. Konfirmasi penutur yang disampaikan secara langsung di depan

mitra tutur, teman satu kelas, dan dosen pengampu. Tuturan (10) dituturkan

oleh seorang mahasiswi kepada teman mahasiswa ketika akan memasuki

ruang laboratorium bahasa. Para mahasiswa harus melepas sepatu mereka

ketika masuk laboratorium bahasa. Mitra tutur mengomentari kaki penutur

dengan suara keras dan menimbulkan perhatian teman lain sehingga banyak

teman yang menertawakannya. Tuturan (9) dan (10) merupakan tuturan yang

termasuk ke dalam ketidaksantunan berbahasa yang menghilangkan muka

mitra tuturnya karena tuturan tersebut membuat mitra tutur merasa dijatuhkan

(43)

Berdasarkan ilustrasi yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa

teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Culpeper ini lebih

menitikberatkan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan oleh

penutur yang memiliki maksud untuk mempermalukan mitra tuturnya di

depan umum.

2.2.4 Teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Terkourafi

Terkourafi (2008:3-4) memandang ketidaksantunan sebagai,

„impoliteness occurs when the expression used is not conventionalized relative

to the context of occurrence; it threatens the addressee‟s face but no face -threatening intention is attributed to the speaker by the hearer.‟ Jadi perilaku

berbahasa dalam pandangannya akan dikatakan tidak santun bilamana mitra

tutur (addressee) merasakan ancaman terhadap kehilangan muka (face

threaten), dan penutur (speaker) tidak mendapatkan maksud ancaman muka

itu dari mitra tuturnya.

Konsep mengenai perilaku ketidaksantunan berbahasa ini dapat

diilustrasikan dengan contoh berikut.

Cuplikan 11

Mahasiswa 1: ―Weh kertasku mana?‖ (sambil menyentuh badan mahasiswa 2) Mahasiswa 2: ―Apa lho kamu tu gak usah pegang-pegang! Asem kok.‖ (11)

Informasi indeksal

Tuturan (11) dituturkan oleh mahasiswi kepada teman mahasiswanya di

(44)

menunjukkan bahwa mahasiswa 1 berusaha meminta respon mahasiswa 2,

namun mahasiswa 1 meminta dengan cara yang membuat mahasiswa 2 tidak

nyaman dengannya yaitu dengan menyentuh badan mahasiswa 2. Mahasiswa

1 bertutur dengan intonasi tanya sedangkan mahasiswa 2 bertutur dengan nada

keras dan sinis. Dari percakapan di atas dapat diketahui bahwa mahasiswa 2

menanggapi dengan rasa kesal yang mengancam muka secara sepihak

mahasiswa 1. Hal tersebut membuat mahasiswa 1 sebagai mitra tutur merasa

terancam dan malu dengan tanggapan dari mahasiswa 2 dengan tuturan (11)

itu.

Berdasarkan ilustrasi yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa

teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Terkourafi (2008) ini lebih

menitikberatkan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan oleh

penutur yang memiliki maksud untuk mengancam muka sepihak mitra

tuturnya tetapi di sisi lain penutur tidak menyadari bahwa perkataannya

menyinggung mitra tutur.

2.2.5 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Locher and Watts

Locher and Watts (2008:5) berpandangan bahwa perilaku tidak santun

adalah perilaku yang secara normatif dianggap negatif (negatively marked

behavior), lantaran melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam

masyarakat. Juga mereka menegaskan bahwa ketidaksantunan merupakan

peranti untuk menegosiasikan hubungan antarsesama (a means to negotiate

(45)

berikut ini, „…impolite behaviour and face-aggravating behaviour more generally is as much as this negation as polite versions of behavior.‟ (cf.

Lohcer and Watts, 2008:5).

Setiap daerah mempunyai norma atau peraturan yang mengatur perilaku

masyarakat. Peraturan itu bersifat wajib dan mengikat. Selain daerah atau

wilayah tertentu, suatu organisasi atau lembaga pendidikan pasti mempunyai

peraturan yang berfungsi mengatur perilaku atau tindakan semua warga yang

bernaung di lembaga tersebut. Universitas adalah salah lembaga pendidikan,

warga masyarakat di lembaga universitas adalah dosen, mahasiswa, dan

karyawan.

Norma yang telah ditetapkan itu adalah bentuk kesempakatan bersama

antara yang membuat norma dan pelaksana norma. Norma juga suatu bentuk

kerja sama antar hubungan sesama bila norma mampu direalisasikan dengan

baik tidak akan ada perselisihan. Namun, bila terjadi pelanggaran norma akan

terjadi pertengkaran – bentuk kebahasan ketidaksantunan – konflik antar

penutur dan mitra tutur. Konsep mengenai perilaku ketidaksantunan berbahasa

ini dapat diperjelas dengan contoh berikut.

Cuplikan 12

Mahasiswa 1: ―Udah dari tadi po rapate?

Mahasiswa 2: ―Udaa sekitar 15 menit yang lalu, sekarang giliran bendahara

laporan‖

Mahasiswa 1: ―Oohh gitu tha‖

Mahasiswa 3: ―Kamu gak inget apa kata ketua? Kita harus on time ee kamu

(46)

Mahasiswa 1: ―Hehehee lupaa, emang pada patuh ama omongan ketua po?!‖ (12)

Mahasiswa 3: ―Iyalaah itu kan udah komitmen panitia!‖

Informasi indeksal

Tuturan (12) disampaikan oleh mahasiswa 1 yang terlambat datang ke

rapat panitia dengan santai tanpa rasa bersalah membuat mahasiswa 2 dan 3

meresponnya dengan nada sinis dan jengkel. Dari percakapan di atas dapat

diketahui bahwa mahasiswa 1 tidak menghiraukan komitmen panitia yang

sudah disepakati bersama yaitu on time. Sebaliknya mahasiswa 1 tanpa

merasa bersalah menanggapi dengan tuturan (12). Tuturan tersebut merupakan

tuturan yang tidak santun karena telah mengacuhkan dan melanggar

komitmen panitia yang menjadi sebuah norma dalam kelompok panitia

tersebut.

Berdasarkan ilustrasi yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa

teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Locher and Watts (2008)

ini lebih menitikberatkan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan

oleh penutur yang secara normatif dianggap negatif, karena dianggap

melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat (tertentu).

2.2.6 Rangkuman

Berdasarkan sejumlah teori ketidaksantunan yang disampaikan di bagian

(47)

1. ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Miriam A. Locher sebagai

tindak berbahasa yang melecehkan dan memain-mainkan muka

2. ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Bousfield adalah perilaku

berbahasa yang mengancam muka dilakukan secara sembrono

(gratuitous), hingga mendatangkan konflik

3. ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Culpeper adalah perilaku

berbahasa untuk membuat orang benar-benar kehilangan muka (face

loss), atau setidaknya orang tersebut „merasa‟ kehilangan muka

4. ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Terkourafi adalah perilaku

berbahasa yang bilamana mitra tutur merasakan ancaman terhadap

kehilangan muka, dan penutur tidak mendapatkan maksud ancaman muka

itu dari mitra tuturnya

5. ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Locher and Watts adalah

perilaku berbahasa yang secara normatif dianggap negatif, lantaran

melanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat.

Kelima teori ketidaksantunan berbahasa itu, semuanya akan digunakan

sebagai kacamata untuk melihat praktik berbahasa yang tidak santun

antarmahasiswa Progam Studi PBSID Angkatan 2009--2011 di Universitas

Sanata Dharma.

2.3 Tindak Tutur

Yule (1996:81) menjelaskan bahwa dalam usaha untuk

(48)

mengandung kata-kata dan struktur-struktur gramatikal saja, tetapi penutur

juga memperlihatkan tindakan-tindakan melalui tuturan-tuturan itu.

Tindakan-tindakan yang ditampilkan lewat tuturan itu biasanya disebut tindak tutur.

Austin (1962) membedakan tiga jenis tindakan yang bekaitan dengan ujaran.

Ketiganya adalah tindak lokusioner, tindak ilokusioner, dan tindak

perlokusioner atau singkatnya lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Searle melalui

bukunya Speech Acts An Essay in The Philosophy of Language (dalam

Wijana, 2011:21) mengemukakan bahwa secara pragmatis setidak-tidaknya

ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur, yakni

tindak lokusi (locutionary act), tindak ilokusi (illocutionary act), dan tindak

perlokusi (perlocutionary act).

2.3.1 Tindak Lokusi

Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu

(Wijana, 2011:21). Tindak tutur ini dinamakan the act of saying

something. Konsep lokusi sendiri berkenaan dengan proposisi kalimat.

Kalimat di sini dipandang sebagai suatu satuan yang terdiri dari dua

unsur, yakni subjek/topik dan predikat/comment (Nababan, 1987:4

dalam Wijana:22). Sebagai satuan kalimat, pengidentifikasian tindak

lokusi cenderung dapat dilakukan tanpa menyertakan konteks tuturan

yang tercakup dalam situasi tutur. Jadi, tindak tutur lokusioner adalah

tindak tutur dengan kata, frasa, dan kalimat sesuai dengan makna yang

(49)

atau menurut Yule (1996:83) tindak dasar tuturan atau yang

menghasilkan suatu ungkapan linguistik yang bermakna.

Perhatikan contoh berikut.

(1) Aku pulang dulu ya. (2) Kamu cantik hari ini.

(3) Yogyakarta diguyur hujan malam tadi.

Kalimat (1) dan (2) dituturkan oleh penuturnya semata-mata

untuk menginformasikan sesuatu tanpa tendensi untuk melakukan

sesuatu, apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Pada kalimat

(1), informasi yang dituturkan adalah penutur pulang lebih dulu, dan

kalimat (2) mitra tutur cantik. Kalimat (3) juga berfungsi untuk

mengutarakan informasi, yaitu memberitahukan bahwa kota

Yogyakarta hujan tadi malam.

Berdasarkan contoh-contoh itu, dapatlah dilihat bahwa ihwal maksud

tuturan yang disampaikan oleh penutur tidak dipermasalahkan sama sekali.

Dengan demikian, tindak tutur lokusioner adalah tindak menyampaikan

informasi yang disampaikan oleh penutur.

2.3.2 Tindak Ilokusi

Sebuah tuturan berfungsi untuk mengatakan atau menyampaikan

sesuatu dan untuk melakukan sesuatu. Tuturan yang berfungsi untuk

menyampaikan sesuatu disebut tindak lokusi, sedangkan tuturan yang

(50)

2011:23). Tindak tutur ini disebut the act of doing something. Tindak tutur

ilokusioner merupakan tindak melakukan sesuatu dengan maksud dan

fungsi tertentu di dalam kegiatan bertutur yang sesungguhnya. Tindak tutur

ilokusioner cenderung tidak hanya digunakan untuk menginformasikan

sesuatu, tetapi juga melakukan sesuatu sejauh situasi tuturnya

dipertimbangkan dengan seksama. Perhatikan contoh-contoh berikut ini.

(4) Di sini dingin sekali ya. (5) Pemulung dilarang masuk.

(6) Baju kotormu sudah menumpuk di sana.

Kalimat (4) s.d (6) ini tidak saja memberi informasi tertentu

(sesuai isi kalimat itu) tetapi juga untuk melakukan sesuatu jika

dipertimbangkan situasi tuturnya berikut ini. Kalimat (4) bila

diutarakan oleh mahasiswa kepada temannya yang berada di ruang

ber-AC, tidak hanya berfungsi untuk menyatakan sesuatu, tetapi untuk

melakukan sesuatu, yakni bisa saja meminta untuk mengecilkan

ACnya. Informasi keinginan penutur dalam hal ini kurang begitu

penting karena besar kemungkinan mitra tutur sudah mengetahui hal

itu. Kalimat (5) yang biasa ditemui di bagian depan gang perumahan

tidak hanya berfungsi untuk membawa informasi, tetapi untuk

memberi peringatan kepada pemulung. Kalimat (6) bila diucapkan

oleh ibu kepada anaknya, mungkin berfungsi untuk menyatakan

(51)

Gambaran contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa tindak

ilokusi sangat sukar diidentifikasi karena terlebih dahulu harus

mempertimbangkan siapa penutur dan lawan tutur, kapan dan di mana

tindak tutur itu terjadi, dan sebagainya. Selain itu, tindak ilokusi

ditampilkan melalui penekanan komunikatif suatu tuturan. Itulah

sebabnya tindak ilokusi menjadi bagian yang sentral untuk memahami

tindak tutur.

Tindak tutur ilokusi sering menjadi kajian utama dalam bidang

pragmatik (Rahardi, 2009:17). Searle (1983, dalam Rahardi: Ibid. dan

Rahardi: 2005:36-37) menggolongkan tindak tutur ilokusi dalam lima

macam bentuk tuturan, yakni

(1) Asertif (assertives) atau representatif, yaitu bentuk tutur yang

mengikat penutur pada kebenaran proposisi yang diungkapkan,

misalnya menyatakan (stating), menyarankan (suggeting),

membual (boasting), mengeluh (complaining), dan mengklaim

(claiming).

(2) Direktif (direcitives) yakni bentuk tutur yang dimaksudkan

penuturnya untuk membuat pengaruh agar si mitra tutur

melakukan tindakan, misalnya memesan (ordering), memerintah

(commanding), memohon (requesting), menasihati (advising), dan

(52)

(3) Ekspresif (expressives) yakni bentuk tutur yang berfungsi untuk

menyatakan atau menunjukkan sikap psikologis penutur terhadap

suatu keadaan, misalnya berterima kasih (thinking), memberi

selamat (congrangtulating), meminta maaf (pardoning),

menyalahkan (blaming), memuji (praising), dan berbelasungkawa

(condoling).

(4) Komisif (cummissives) yaitu bentuk tutur yang berfungsi untuk

menyatakan janji atau penawaran, misalnya berjanji (promosing),

bersumpah (vowing), dan menawarkan sesuatu (offering).

(5) Deklarasi (declarations) yaitu bentuk tutur yang menghubungkan

isi tuturan dengan kenyataannya, misalnya berpasrah (resigning),

memecat (dismissing), membaptis (christening), memberi nama

(naming), mengangkat (appointing), mengucilkan

(excommuningcating), dan menghukum (sentencing)

Kelima fungsi umum tindak tutur beserta sifat-sifat kuncinya ini

(53)

Tabel : Lima Fungsi umum tindak tutur (menurut Searle, dalam Yule, 1996:95)

Tipe tindak tutur Arah penyesuaian P = penutur; X = situasi

Deklarasi Kata mengubah dunia P menyebabkan X

Representatif Kata disesuaikan dengan dunia P meyakini X

Ekspresif Kata disesuaikan dengan dunia P merasakan X

Direktif Dunia disesuaikan dengan kata P menginginkan X

Komisif Dunia disesuaikan dengan kata P memaksudkan X

2.3.3 Tindak Perlokusi

Tuturan juga seringkali mempunyai daya pengaruh

(perlocutionary force), atau efek bagi yang mendengarkannya. Efek atau

daya pengaruh ini dapat secara sengaja atau tidak sengaja dikreasikan

oleh penuturnya. Tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk

mempengaruhi lawan tutur disebut dengan tindak perlokusi (Wijana,

2011:24). Tindak tutur ini disebut the act of affecting something.

Perhatikan beberapa contoh berikut.

(7) Saya lapar, tapi uang saya habis. (8) Gelap sekali ruangan ini.

(9) Charger laptopku hilang.

Kalimat (7), (8), dan (9) mengandung lokusi dan ilokusi bila

dipertimbangkan konteks situasi tuturnya, serta perlokusi jika penutur

(54)

kalimat (7) diutarakan oleh seorang mahasiswa kepada teman

mahasiswanya, maka ilokusinya adalah secara tidak langsung meminta

uang kepada temannya itu. Adapun efek perlokusi yang mungkin

diharapkan agar mitra tutur meminjamkan uang atau mentraktir si

penutur. Bila kalimat (8) diutarakan oleh seorang dosen kepada

mahasiswanya yang baru saja masuk ke ruang kelas yang gelap,

kalimat ini merupakan tindak ilokusi untuk meminta menyalakan

lampu di ruangan tersebut, dan perlokusi (efeknya) yang diharapkan

adalah mitra tutur menyalakan lampu. Bila kalimat (9) diutarakan oleh

seseorang kepada temannya ketika di perpustakaan, kalimat ini tidak

hanya mengandung lokusi, tetapi juga ilokusi yang berupa permintaan

untuk membantu menemukan chargernya yang hilang, dengan

perlokusi mitra tutur membantu mencari chargernya.

Tindak tutur perlokusioner mengandung daya pengaruh bagi

lawan tutur. Contoh lain yang dikemukakan Wijana (2011:25) adalah

(10) Baru-baru ini Walikota telah membuka Kurnia Department Store yang terletak di pusat perbelanjaan dengan tempat parkir yang cukup luas.

Kalimat (10) selain memberikan informasi, juga secara tidak langsung

merupakan undangan atau ajakan untuk berbelanja ke department

store bersangkutan. Letak department store yang strategis dengan

Gambar

Tabel 1 Tuturan yang Melecehkan Muka ..........................................................................
Tabel 1 Tuturan yang Melecehkan Muka . View in document p.19
Tabel : Lima Fungsi umum tindak tutur (menurut Searle, dalam Yule, 1996:95)
Tabel Lima Fungsi umum tindak tutur menurut Searle dalam Yule 1996 95 . View in document p.53
Tabel 1
Tabel 1 . View in document p.98
Tabel 2 Tuturan yang Memain-mainkan Muka
Tabel 2 Tuturan yang Memain mainkan Muka . View in document p.99
Tabel 3 Tuturan Kesembronoan yang Disengaja
Tabel 3 Tuturan Kesembronoan yang Disengaja . View in document p.100
Tabel 4 Tuturan yang Menghilangkan Muka
Tabel 4 Tuturan yang Menghilangkan Muka . View in document p.101
Tabel 5 Tuturan yang Mengancam Muka Sepihak
Tabel 5 Tuturan yang Mengancam Muka Sepihak . View in document p.102

Referensi

Memperbarui...

Download now (274 pages)