Ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa antar mahasiswa Program Studi PBSID angkatan 2009-2011 Universitas Sanata Dharma.

Gratis

5
12
274
2 years ago
Preview
Full text

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  Suggestion of this research for students is the results of this study can be used as a Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa sehingga dengan berkat dan penyertaan-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik Berbahasa Antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009—2011 Universitas Sanata Dharma ini dengan baik. Yuliana Setiyaningsih, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa, SastraIndonesia, dan Daerah, dan selaku dosen Pembimbing II yang dengan penuh kesabaran dan ketelitian telah mendampingi, membimbing, memotivasi, dan memberikan berbagaimasukan yang sangat berharga bagi penulis mulai dari proses awal hingga akhirnya penulis boleh menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa sehingga dengan berkat dan penyertaan-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik Berbahasa Antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009—2011 Universitas Sanata Dharma ini dengan baik. Yuliana Setiyaningsih, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa, SastraIndonesia, dan Daerah, dan selaku dosen Pembimbing II yang dengan penuh kesabaran dan ketelitian telah mendampingi, membimbing, memotivasi, dan memberikan berbagaimasukan yang sangat berharga bagi penulis mulai dari proses awal hingga akhirnya penulis boleh menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

  Menurut Rahardi (2006:20) konteks tuturan dapat pula diartikan sebagai semua latar belakang pengetahuan (background knowledge) yang diasumsikan sama-sama dimiliki dan dipahami bersama oleh penutur dan mitra tutur, serta yang mendukung interpretasi mitra tutur atas apa yang dimaksudkan oleh si penutur itu di dalam keseluruhan proses bertutur. MenurutLeech (melalui Nugroho, 2009:119), konteks dalam pragmatik adalah aspek-aspek yang terdapat di dalam situasi tuturan atau „speech situation‟ itu dapat dibedakan menjadi lima macam, yakni: (1) penutur dan lawan tutur, (2) konteks tuturan, (3) tujuan tuturan, (4) tuturan sebagai tindak verbal, dan (5) tuturan sebagai produktindak verbal.

1.1 Rumusan Masalah

  Wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa apa sajakah yang digunakan antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009 —2011 di Universitas Sanata Dharma? Demikian pula, penelitian ini akan memberikan masukan kepada para praktisi dalam bidangpendidikan terutama bagi dosen, guru, mahasiswa, siswa, dan tenaga kependidikan untuk mempertimbangkan adanya ketidaksantunan berbahasadalam komunikasi yang harus dihindari.

1.5 Batasan Istilah a

  Konteks yang dimaksud telah tergramatisasi dan terkodifikasisehingga tidak pernah dapat dilepaskan dari struktur bahasanya. Konteks Konteks tuturan dapat diartikan sebagai semua latar belakang pengetahuan(background knowledge) yang diasumsikan sama-sama dimiliki dan dipahami bersama oleh penutur dan mitra tutur serta yang mendukung interpretasi mitratutur atas apa yang dimaksudkan oleh si penutur itu di dalam keseluruhan proses bertutur (Rahardi, 2006:20).

1.6 Sistematika Penyajian

  Bab II adalah kajian teori yang berisi tiga pokok bahasan yaitu (1) penelitian yang relevan, (2) kajian pustaka, dan (3) kerangka berpikir. Bab III metode penelitian yang berisi enam hal yaitu (1) jenis penelitian, (2) subjek penelitian, (3) metode dan teknik pengumpulan data, (4) instrumenpenelitian, (5) metode dan teknik analisis data, (6) hasil analisis data.

BAB II KAJIAN TEORI

2.1 Penelitian yang Relevan

  Bentuk-bentuk tindak tutur imperatif di Komunitas Suster SCMMPringwulung-Yogyakarta meliputi (1) bentuk tindak tutur imperatif langsnung literal,(2) bentuk tindak tutur imperatif tidak langsung literal, (3) tindak tutur imperatif langsung tidak literal, dan (4) tindak tutur imperatif tidak langsung tidak literal. Oleh karena itu, beberapa penelitian kesantunan berbahasayang telah dipaparkan tersebut dapat peneliti gunakan sebagai acuan dan pijakan dalam mengkaji fenomena ketidaksantunan berbahasa khususnya dalam ranahpendidikan yang selama ini belum ada peneliti yang mengkaji lebih dalam.

2.2 Teori Ketidaksantunan Berbahasa

  Apabila kesantunan berbahasa berkaitan denganpenggunaan bahasa yang baik, santun, dan sesuai dengan tatakrama, ketidaksantunan berbahasa berkaitan dengan penggunaan bahasa yang tidak baik, 16 santun banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik secara lisan maupun tulisan. Lebih dari itu, penggunaan bahasa yang tidak santun tersebut tidak hanyadilakukan oleh masyarakat tak berpendidikan, tetapi juga oleh masyarakat yang berpendidikan (kaum intelektual).

2.2.1 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Locher

  Tindakan bertutur sapa akan dikatakan sebagai tindakan yang tidak santun bilamana muka (face) dari mitra tutur dipermainkan, atau setidaknya dia telah merasa bahwa penutur memain- 17 bahwa ketidaksantunan berbahasa dalam pemahaman Miriam A. Tuturan melecehkan muka terjadi apabilapenutur tidak menyukai tindakan mitra tutur yang dirasa penutur tidak nyaman, sedangkan memain-mainkan muka terjadi apabila tuturan yang tidakbiasa dikeluarkan atau dilontarkan kepada penutur, saat itu terjadi karena adanya keadaan yang tidak disukai penutur terhadap mitra tutur.

2.2.2 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Bousfield

  Kata palestina bisa diartikan tidak santun apabila mitra tuturnya tidak memiliki relasi yang dekatdan akrab dengan penutur, tetapi apabila penutur sedang mengharapkan jawaban yang serius seperti dalam cuplikan 5 dapat pula terjadi konfliksekalipun penutur dan mitra tutur berteman akrab. Berdasarkan ilustrasi yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Bousfield (2008) inilebih menitikberatkan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan oleh 22 tuturnya dengan tanggapan semaunya secara sengaja dan dapat memungkinkan adanya konflik diantara penutur dan mitra tutur.

2.2.3 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Culpeper

  Sebuah tuturan akan dianggap sebagai tuturan yang tidak santun jika tuturan itu menjadikan muka seseorang hilang. Setidaknya tuturan yang menghilangkan muka itu dirasakan oleh sang mitra tutur sendiri.

2.2.4 Teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Terkourafi

  Hal tersebut membuat mahasiswa 1 sebagai mitra tutur merasa terancam dan malu dengan tanggapan dari mahasiswa 2 dengan tuturan (11)itu. Berdasarkan ilustrasi yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Terkourafi (2008) ini lebihmenitikberatkan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan oleh penutur yang memiliki maksud untuk mengancam muka sepihak mitratuturnya tetapi di sisi lain penutur tidak menyadari bahwa perkataannya menyinggung mitra tutur.

2.2.5 Teori Ketidaksantunan Berbahasa dalam Pandangan Locher and Watts

  Berdasarkan ilustrasi yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa teori ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Locher and Watts (2008)ini lebih menitikberatkan pada bentuk penggunaan ketidaksantunan tuturan oleh penutur yang secara normatif dianggap negatif, karena dianggapmelanggar norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat (tertentu). ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Culpeper adalah perilaku berbahasa untuk membuat orang benar-benar kehilangan muka (face loss), atau setidaknya orang tersebut„merasa‟ kehilangan muka 4.ketidaksantunan berbahasa dalam pandangan Terkourafi adalah perilaku berbahasa yang bilamana mitra tutur merasakan ancaman terhadap kehilangan muka, dan penutur tidak mendapatkan maksud ancaman mukaitu dari mitra tuturnya 5.

2.3 Tindak Tutur

  Ketiganya adalah tindak lokusioner, tindak ilokusioner, dan tindak perlokusioner atau singkatnya lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Searle melaluibukunya Speech Acts An Essay in The Philosophy of Language (dalamWijana, 2011:21) mengemukakan bahwa secara pragmatis setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur, yaknitindak lokusi (locutionary act), tindak ilokusi (illocutionary act), dan tindak perlokusi (perlocutionary act).

2.3.1 Tindak Lokusi

  Jadi, tindak tutur lokusioner adalah tindak tutur dengan kata, frasa, dan kalimat sesuai dengan makna yang 30 atau menurut Yule (1996:83) tindak dasar tuturan atau yang menghasilkan suatu ungkapan linguistik yang bermakna. Pada kalimat(1), informasi yang dituturkan adalah penutur pulang lebih dulu, dan kalimat (2) mitra tutur cantik.

2.3.2 Tindak Ilokusi

  32 Gambaran contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa tindak ilokusi sangat sukar diidentifikasi karena terlebih dahulu harusmempertimbangkan siapa penutur dan lawan tutur, kapan dan di mana tindak tutur itu terjadi, dan sebagainya. Searle (1983, dalam Rahardi: Ibid. danRahardi: 2005:36-37) menggolongkan tindak tutur ilokusi dalam lima macam bentuk tuturan, yakni (1) Asertif (assertives) atau representatif, yaitu bentuk tutur yang mengikat penutur pada kebenaran proposisi yang diungkapkan, misalnya menyatakan (stating), menyarankan (suggeting),membual (boasting), mengeluh (complaining), dan mengklaim (claiming).

2.3.3 Tindak Perlokusi

  Bila kalimat (8) diutarakan oleh seorang dosen kepada mahasiswanya yang baru saja masuk ke ruang kelas yang gelap,kalimat ini merupakan tindak ilokusi untuk meminta menyalakan lampu di ruangan tersebut, dan perlokusi (efeknya) yang diharapkanadalah mitra tutur menyalakan lampu. Bila kalimat (9) diutarakan oleh seseorang kepada temannya ketika di perpustakaan, kalimat ini tidakhanya mengandung lokusi, tetapi juga ilokusi yang berupa permintaan untuk membantu menemukan chargernya yang hilang, denganperlokusi mitra tutur membantu mencari chargernya.

2.4 Konteks Tuturan

  Memang secara referensial sudah terlihat jelas penuturnya dan mitra tutur siapa, di manadan kapan peristiwa tutur itu terjadi tetapi lebih dari itu terdapat pernyataan yang terkandung dalam sebuah tuturan, ada pula implikaturdan segala hal yang melingkupi tuturan itu. Menurut Rahardi (2006:20), konteks tuturan diartikan sebagai semua latar belakang (background knowledge) yang diasumsikan sama-sama dimiliki dan dipahami bersama oleh penutur dan mitra tutur, serta yang mendukung interpretasi mitra tutur atas apa yang dimaksudkanoleh si penutur dalam keseluruhan proses bertutur.

2.4.1 Penutur dan Lawan Tutur

  Dalam pandangannya, „hearer‟ atau „interlocutor‟ masih dapat dibedakan menjadi ‗interpreter‟ yang berperan sebagai „participant‟ dan „non- 42dibedakan menjadi ‗adressee‟ dan „side-participant‟, sedangkan untuk„non-participant‟ masih dapat dibedakan menjadi „bystander‟, yakni orang yang semata-mata hadir, dan tidak mengambil peran apapun, dan yang terakhir sebagai „overhearer‟. Hal tersebut akan menjadi sangat berbeda makna kebahasaan yang muncul bilamana sebuah pertutursapaan dihadiriorang dalam jumlah banyak, dan bilamana hanya dihadiri dua pihak saja, yakni penutur (utterer) dan mitra tutur (interpreter).

2.4.1.2 Aspek-aspek Mental

  Seseorang yang kepribadiannya tidak cukup matang, sehingga terhadapsegala sesuatu yang hadir baru cenderung „menentang‟ dan‗melawan‟, sekalipun tidak selalu memiliki dasar alasan yang jelas dan tegas, akan sangat mewarnai bentuk kebahasaan yang digunakan di dalam setiap pertutursapaan. Demikian pulaseseorang yang sudah sangat matang dan dewasa, akan dengan serta-merta berbicara sopan dan halus kepada setiap orang yangditemuinya, karena dia mengerti bahwa setiap orang itu memang harus selalu dihargai dan dijunjung tinggi harkat dan martabatnya.

2.4.1.3 Aspek-aspek Sosial dan Budaya

  Lazimnya bahasa yang digunakan olehpenutur kepada orang-orang tua atau mereka yang dituakan, harus lebih sopan dan lebih halus dibandingkan dengan bahasa yangdigunakan kepada mereka yang lebih muda. Bentuk-bentuk kebahasaan yang lengkap, tidak dipotong-potong, atau yang tidak 48 bentuk kebahasaan yang bersifat terbatas dan biasanya bentuk kebahasaan kepada orang tua cenderung lebih halus dan santun.

2.4.1.4 Aspek-aspek Fisik

  ‘Language Users’ Deiksis persona, menunjuk pada penggunaan kata ganti orang, misalnya saja dalam bahasa Indonesia kurang ada kejelasankapan harus digunakan kata „kita‟ dan „kami‟ dalam bahasa Jawa, deksis persona „kula‟ artinya „saya‟ dan „kula sedaya‟ atau „aku kabeh‟ alias „kami‟ atau „kita‟ dalam bahasa Indonesia. Deiksis-deiksisdalam jenis yang disampaikan di depan itu semuanya merupakan aspek fisik „language users‟, yang secara sederhana dimaknaisebagai ‗penutur‟ dan „mitra tutur‟, sebagai „utterer‟ dan „interpreter‟.

2.4.2 Konteks Sebuah Tuturan

  Sejauh ini, setidaknya telah terdapat tiga macam konteks yang telah dibahas yaitu mencakup dimensi-dimensi linguistik atau yang sifatnyatekstual, atau yang sering pula disebut sebagai co-text, konteks yang sifatnya sosial-kultural, dan konteks pragmatik. Penjelasan yang agak panjang terkait dengan konteks dikemukakanLeech adalah mengenai „setting‟, yang dapat mencakup setting waktu dan setting tempat (spatio-temporal settings) bagi terjadinya sebuah 51 dapat dilepaskan dari aspek-aspek fisik dan aspek sosial-kultural lainnya, yang menjadi penentu makna bagi sebuah tuturan.

2.4.3 Tujuan Sebuah Tuturan

  Tujuan tutur lebih netral dan lebih umumsifatnya, tidak berkait dengan kemauan atau motivasi tertentu yang sering kali dicuatkan secara sadar oleh penuturnya. Pada dasarnya, tuturan dari seseorang akan dapatmuncul karena dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan tutur yang sudah jelas dan amat tertentu sifatnya.

2.4.4 Tuturan Sebagai Bentuk Tindakan atau Kegiatan: Tindak Ujar

  Tuturan sebagai bentuk tindakan atau wujud dari sebuah aktivitas linguistik, merupakan bidang pokok yang dikaji di dalam pragmatikkarena pragmatik mempelajari tindak verbal yang sungguh-sungguh terdapat dalam situasi dan suasana pertuturan tertentu. Hal ini juga yang membedakan antara pragmatik yang memfokuskan kajiannya padatindak-tindak verbal (verbal acts) dengan semantik yang berorientasi 54 pokok pada proposisi atau „proposisition‟, dan entitas-entitas kebahasaan, khususnya frasa dan kalimat dalam sintaksis.

2.4.5 Tuturan Sebagai Produk Tindak Verbal

  Tuturan dapat dikatakan sebagai produk dari tindak verbal di dalam aktivitas bertutur sapa karena pada dasarnya tuturan yang muncul didalam sebuah proses pertuturan itu adalah hasil atau produk dari tindakan verbal dari para pelibat tuturnya, dengan segala macampertimbangan konteks situasi sosio-kultural dan aneka macam kendala konteks yang melingkupi dan mewadahinya. Aspek konteks tersebut meliputi hal-hal yang berhubungan dengan penutur danmitra tutur yakni siapa penutur dan mitra tutur, usia, jenis kelamin, karakter, emosi, motivasi, kepercayaan antara penutur dan mitra tuturitu, status sosial, budaya, kapan dan di mana tuturan itu terjadi, tujuan tutur, serta hal-hal yang mendukung sebuah tuturan dalam keseluruhanproses komunikasi.

2.5 Bunyi Suprasegmental

  Bunyi-bunyi yang bisa disegmentalkan disebut bunyi segmental, misalnya bunyi vokoid dan bunyi kontoid. Bunyi-bunyi yang tidak dapat disegmen-segmen karena kehadiran bunyi tersebut selalu diiringi, atau ditemani bunti segmental (baik vokoid maupun kontoid) bunyi tersebut disebut bunyisuprasegmental atau bunyi nonsegmental.

2.5.1 Tinggi-Rendah (Nada, Tona, Pitch)

  Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan pembedaan makna nada dalam bahasa Indonesia tidak fonemis. Hal ini disebabkan oleh adanya faktor ketegangan pita suara, arus udara, dan posisi pita suara saat bunyi itu diucapkan.

2.5.2 Keras-Lemah (Tekanan, Aksen, Stress)

  Tidak semua kata dalam kalimat ditekanan sama, hanya kata-kata yang dianggap penting atau dipentingkan yang mendapatkan tekanan. Olehkarena itu, pendengar atau mitra tutur harus mengetahui maksud di balik makna tuturan yang didengarkannya.

2.5.3 Intonasi

  Ketika penutur menyampaikan maksudkepada mitra tutur dengan menggunakan intonasi keras, padahal mitra tutur berada pada jarak yang sangat dekat dengan penutur, sementara 59 penutur menyampaikan maksud dengan intonasi lembut, penutur akan dinilai sebagai orang yang santun. (Pranowo, 2009:76-77) Pada tataran kalimat, variasi-variasi nada pembeda maksud disebut intonasi yang ditandai dengan intonasi datar turun yang biasa terdapatdalam kalimat berita, intonasi datar naik yang biasa terdapat dalam kalimat tanya, dan intonasi datar tinggi yang biasa terdapat dalam kalimatperintah.

2.6 Pilihan Kata

  Pertama, pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentukpengelompokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi. Kedua, pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuanuntuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki pendengar.

2.6.1 Bahasa Standar dan Nonstandar

  Misalnya pada waktu yang sama sebuah pertanyaan seperti ―Tahukah Tuan di mana tempat tinggal Ahmad?‖, ada kemungkinan kita mendapatkan jawaban sebagai berikut―Saya tidak tahu‖ atau ―Saya tidak mengerti‖. Bahasa standar adalah dialek kelas dan dibatasi sebagai tutur dari mereka yang mengenyam kehidupan ekonomis atau menduduki status 63 orang yang terpelajar, misalnya pejabat pemerintahan, ahli-ahli bahasa, ahli-ahli hukum, dokter, guru, dan sebagainya.

2.6.2 Kata Ilmiah dan Kata-kata Populer

  Kata-kata populer adalah kata yang dipakai dalam komunikasi sehari- hari baik mereka yang berada di lapisan atas maupun antara mereka yangdi lapisan bawah atau antara lapisan atas dan lapisan masyarakat maka kata-kata ini dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat. Bila yang menjadi sasaran adalah suatu kelompok khusus yang diikat oleh suatu bidang ilmu tertentu maka harus mempergunakan kata-kata ilmiah tetapi bila yang menjadi sasarannya adalah masyarakat umum maka kata yang dipilih adalah kata-kata populer.

2.6.3 Jargon

  Selain itu istilah tersebut juga mengacu semacam bahasa atau dialek hidrid yangtimbul dari percampuran bahasa-bahasa dan sekaligus dianggap sebagai 65 ketumpangtindihan dengan bahasa ilmiah. Oleh karena itu, jargon merupakan bahasa yang khusus sekali sehingga tidak banyak artinya bula dipakai untuk suatu sasaran yangumum.

2.6.4 Kata Percakapan

  Kata percakapan adalah kata-kata yang biasa dipakai dalam percakapan atau pergaulan orang-orang yang terdidik. Selainmencakup kata-kata populer dan kontruksi idiomatis, bahasa percakapan juga menjackup kata-kata ilmiah atau kata-kata yang tidak umum (slang)yang biasa dipakau oleh golongan terpelajar saja.

2.6.5 Kata Slang

  Kata slang adalah kata-kata nonstandar yang informal yangdisusun secara khas; atau kata-kata biasa yang diubah secara arbitrer; atau kata-kata kiasan yang khas, bertenaga dan jenaka yang dipakai dalampercakapan. 2.6.8 Kata Seru Kata-kata yang digunakan untuk mengungkapkan perasaan batin, misalnya kaget, terharu, marah, atau sedih disebut kata seru (Chaer,2011:194) Dilihat strukturnya ada dua macam kata seru yaitu (1) Kata seru yang berupa kata-kata singkat, seperti wah, cih, hai, o, 68 (2) Kata seru yang berupa kata-kata biasa, seperti aduh, celaka, gila,kasihan, bangsat, ya ampun.

2.6.9 Kata Fatis

  Pilihan kata yang dimaksud adalah ketepatan pemakaian katauntuk mengungkapkan makna dan maksud dalam konteks tertentu sehingga menimbulkan efek tertentu pada mitra tutur. Beberapa pilihankata tersebut dapat digunakan seorang penutur secara tepat dan sesuai dalam sebuah tuturan untuk membantu keberhasilan proses berkomunikasi.

2.7 Kerangka Berpikir

FENOMENA KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA DI PERGURUAN TINGGI TEORI KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA LOCHER BOUSFIELD LOCHER AND CULPEPER TEUKORAFI(2008) (2008) WATTS (2008) (2008) (2008) JENIS DESKRIPTIF KUALITATIF METODE PENGUMPULAN DATA:METODE SIMAK DAN METODE CAKAP METODE DAN TEKNIK ANALISIS DATA: KONTEKSTUAL HASIL PENELITIAN PENANDA WUJUDMAKNA

BAB II I METODE PENELITIAN

  Penelitian kualitatif menurut Moleong(2006: 6) adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi,motivasi, tindakan, dll., secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada konteks khusus yang alamiah dan denganmemanfaatkan berbagai metode ilmiah. Penulis secara khusus memilih untuk meneliti ketidaksantunan berbahasa para mahasiswa Program Studi PendidikanBahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah Universitas Sanata Dharma angkatan2009 —2011 yang notabene para mahasiswanya berasal dari berbagai pelosok daerah di Indonesia yang juga memiliki tata karma dan cara berbahasa masing-masing.

3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data

  Kedua teknik tersebut dapat dilengkapi dengan pencatatan atau perekaman, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik secara terbuka maupuntersembunyi, sehingga hasilnya dapat diperoleh data kebahasaan yang berupa 3.4 Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ketidaksantunan ini ialah panduan wawancara (daftar pertanyaan), pancingan, dan kasus dengan bekal teoriketidaksantunan berbahasa. No:Tuturan:Wujud ketidaksantunan:Penanda ketidaksantunan:Makna ketidaksantunan: 3.5 Metode dan Teknik Analisis Data Metode analisis data dilakukan dengan metode analisis kontekstual, yakni Metode analisis data secara linguistik menggunakan metode padan intralingual yaitu metode analisis dengan cara menghubung-bandingkan unsur-unsur yang bersifat lingual, baik yang terdapat dalam satu bahasa maupun dalam beberapa bahasa yang berbeda (Mahsun, 2005:118).

3.6. Sajian Analisis Data

  Analisis data kualitatif adalah prosesmencari serta menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lainnya sehingga mudah dipahamiagar dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data penelitian kualitatif dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola,memilih mana yang penting dan mana yang akan dikaji dimulai sejak sebelum peneliti memasuki lapangan, dilanjutkan pada saat peneliti berada di lapangansecara interaktif dan berlangsung terus menerus sampai tuntas sehingga datanya jenuh.

3.7 Trianggulasi Hasil Analisis Data

  Moleong (1989:195), trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluanpengecekan atau pembanding terhadap data. Trianggulasi teori peneliti gunakan untuk membandingkanbeberapa teori ketidaksantunan berbahasa dari beberapa ahli bahasa dengan tujuan untuk melihat kelebihan dan kekurangan masing-masing.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Data

  Tuturan yang memain-mainkanmuka memiliki maksud bahwa tuturan tersebut dapat mengarah pada rasa kebingungan mitra tutur dan rasa dipermainkan oleh penutur karena perilaku bertuturpenutur tidak seperti biasanya. Kesembronoan yang DisengajaBerikut tuturan yang termasuk ke dalam tuturan tidak santun yang mengarah pada kesembronoan yang disengaja yang berjumlah 10 tuturan.

4.2 Hasil Analisis Data

  Hasil penelitian ini disajikan dengan urutan yaitu (a) wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa, (b) wujud penanda ketidaksantunan linguistikdan pragmatik berbahasa, dan (c) makna ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa. Pembahasan lebih lanjut mengenai ketidaksantunan linguistik danpragmatik berbahasa antarmahasiswa sebagai berikut.

4.2.1 Melecehkan Muka

  Penutur mengomentari cara bicara mitra tutur)Cuplikan Tuturan 16 Penutur: mahasiswa perempuan, umur 21 tahunMitra tutur: mahasiswa perempuan, umur 21 tahun D1: “Siapa yang mengoreksi punya Natalia Kristanti?” M1: “Eehh indah gimana to kamu, malah ngobrol!” (A16) M2: “Eehh iya- iya, 75 pak.” (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika dosen memanggil nama mahasiswa untuk konfirmasi nilai, ada mahasiswa yang tidak menyadarinya. Penutur melihat proposal skripsi yang dibawa oleh mitra tutur, lalu penutur bertanya Konteks tuturan (A7) yaitu tuturan terjadi pada 21 November 2012 pukul 13.15 WIB ketika perkuliahan Menyimak di laboratorium Bahasa, dosen memanggil nama mitra tutur.

4.2.1.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Melecehkan Muka

  Penutur tahu bahwa mitra tutur tidak bisa memiliki kegiatan yang banyak karena daya tahan tubuhnya kurang bagus dan dia susahmengatur waktu) Wujud ketidaksantunan linguistik tuturan di atas berupa hasil transkrip tuturan lisan tidak santun antarmahasiswa yang memain-mainkan muka. Konteks tuturan (B2) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 20 November 2012 pukul 12.30 WIB ketika jeda kuliah, beberapa mahasiswa masuk ke dalam kelas Konteks tuturan (B3) yaitu tuturan terjadi pada tanggal 20 November 2012 pukul 12.30 WIB ketika jeda kuliah, beberapa mahasiswa masuk ke dalam kelas untuk mencari tempat duduk.

4.2.2.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Memain-mainkan Muka

  Penutur dan mitra tutur merupakan teman sekelas)Cuplikan Tuturan 44 Penutur: mahasiswa laki-laki, umur 21 tahunMitra tutur: mahasiswa laki-laki, umur 21 tahun M1: “Kowe potong rambut model opo to?”M2: “Potong model pitik jago yoo?” (C8) (melihat mitra tutur dan tertawakecil) (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika di luar kelas. Tuturan (C10): “Itu lhoo tanah di pot dikeluarkan dulu trus buat tempat baksonya.” 4.2.3.2 Wujud Ketidaksantunan Pragmatik Wujud ketidaksantunan pragmatik tuturan yang berupa kesembronoan yang disengaja dapat dilihat berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan itu.

4.2.3.3 Penanda ketidaksantunan Linguistik

  Penutur mengomentari kaki mitra tutur dengan suara keras di tengah teman mahasiswa yang lain sehinggamenimbulkan tawa)Cuplikan Tuturan 51 Penutur: mahasiswa perempuan, umur 21 tahunMitra tutur: mahasiswa perempuan, umur 22 tahun M1: “Hai, lagi ngomongin apa e?” M2: “Mel, sekarang kamu pose, trus kamu keluar.” (D5) (konteks tuturan: tuturan terjadi ketika para mahasiswa sedang menunggu kelas berikutnya di dalam kelas. Penutur mengomentarikaki mitra tutur dengan suara keras di tengah teman mahasiswa yang lain sehingga menimbulkan tawa Konteks tuturan (D5): tuturan terjadi ketika para mahasiswa sedang menunggu kelas berikutnya di dalam kelas.

4.2.4.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Menghilangkan Muka

  Tuturan (E16) dikatakan penutur dengan nada tinggi, tekanan sedang, intonasi berita, sedangkan pilihan kata menggunakan kata nonstandar yaitu kata tidak Penanda ketidaksantunan pragmatik tuturan yang mengancam muka sepihak dapat dilihat pula berdasarkan konteks yang melingkupi tuturan itu. Penutur dan mitra tutur perempuan dan merupakan mahasiswa angkatan 2009 dan teman sekelas yang biasanya duduk bersebelahan.

4.2.5.5 Makna Ketidaksantunan Berbahasa yang Mengancam Muka

  Secara umum, makna ketidaksantunan berbahasa yang mengancam muka sepihak yaitu penutur memberikan ancaman atau tekanan kepada mitra tutur sehinggamitra tutur merasa terpojok dan tidak memiliki pilihan. Tuturan (E13) memiliki makna berupa peringatan dan ancaman dari penutur karena mitra tutur yang akan mengoreksi hasil kerjanya.

4.3 Pembahasan

  Hasil kajian yang dilakukan terhadap tuturan yang ada di dalam interaksi antarmahasiswa PBSID angkatan 2009 —2011 ditemukan beberapa tuturan yang mengandung ketidaksantunan. Tuturan yang termasuk ke dalam tuturan yang tidak santun tersebut terbagi menjadi jenis ketidaksantunan (a) melecehkan muka, (b)menain-mainkan muka, (c) kesembronoan, (d) mengancam muka, dan (e) menghilangkan muka.

4.3.1 Melecehkan muka

  Pada tuturan (C3) dituturkan olehpenutur dan mitra tutur mahasiswa angkatan 2010 yang berumur masing-masing 20 tahun, sedangkan penutur dan mitra tutur pada tuturan (C7), (C8), (C9) dan (C10)adalah mahasiswa angkatan 2009 yang berumur masing-masing 21 dan 22 tahun, terkhusus untuk penutur laki-laki dalam tuturan (C10) dituturkan oleh seorang romoberumur 33 tahun. Seperti yang telah dipaparkan, penanda ketidaksantunan linguistik dapat dilihat dari penggunaan nada tutur yang sedang dan tinggi, tekanan yang cenderungsedang dan keras, intonasi berita yang dituturkan dengan suara lembut berupa sindiran, intonasi perintah dan Tanya dituturkan dengan suara keras, terdapat pilihankata yang tidak sesuai dan kata nonstandar.

BAB V PENUTUP Dalam bab ini akan diuraikan dua hal, yaitu (1) simpulan dan (2) saran. Simpulan meliputi rangkuman atas keseluruhan penelitian ini. Saran meliputi hal-

hal relevan yang kiranya perlu diperhatikan, baik untuk mahasiswa jurusan pendidikan bahasa maupun penelitian lanjutan.

5.1. Simpulan

  Dari hasil analisis data ditemukan tuturan yang tidak santun dalam interaksi antarmahasiswa Program Studi PBSID Angkatan 2009 —2011 Universitas Sanata Dharma. Simpulan hasil analisis dapat dikemukakan sebagai berikut.

1. Wujud Ketidaksantunan Linguistik dan Pragmatik

  Kesembronoan yang disengaja Tuturan yang termasuk dalam kesembrononan yang disengaja ditandai dengan nada tutur rendah dan sedang; tekanan sedang;intonasi berita dan intonasi tanya; serta diksi bahasa nonstandar. Mengancam muka sepihak Tuturan yang mengancam muka sepihak ditandai dengan nada tutur sedang dan tinggi; tekanan sedang dan keras; intonasi intonasiberita, intonasi tanya, dan intonasi perintah; serta diksi bahasa nonstandar.

5.1. Saran

  Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini, peneliti memberikan beberapa saran bagi peneliti yang ingin melanjutkan penelitian yang sejenis. Saran tersebutsebagai berikut.

1. Bagi Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa

  Lebih dari itu, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan atau gambaranumum mengenai bentuk ketidaksantunan berbahasa itu sehingga dengan adanya acuan ketidaksantunan berbahasa para mahasiswa dapatmengurangi bahkan menghindari bertutur yang tidak santun, sebaliknya dapat bersikap dan berperilaku yang santun dengan rekan mahasiswa danorang lain. Selain bidang ilmu pragmatik, data tuturan yang dianalisis dari segi wujud, penanda, dan makna ketidaksantunan berbahasa linguistik dan pragmatik dapat dianalisis pula dari beberapa bidang ilmu lain sepertiPsikologi, Sosiologi, dan Etnografi.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIDAFTAR PUSTAKA

  Beberapa mahasiswa berbincang, situasi agakgaduh merupakan teman akrab th penutur meminta pulsa kepada MT MT tidak bisa mengabulkan permintaan penutur hingga penuturberkata pedas dengan suara keras Melecehkan muka Tuturan terjadi di depan ruang K21 pukul 14.05WIB tanggal 28 november2012 Penutur laki-laki (21th) dan MT perempuan (20 ) mahasiswa angkatan 2009 Penutur dan MT meminta maaf kepada pt 16. Penutur menanggapi dengan suara tinggiMelecehkan muka Tuturan terjadi di depan ruang K22 pukul 13.50WIB 30 november 2012 Penutur dan mt (20th) mahasiswa perempuan angkatan 2011 Tujuan: penutur menyampaikan kekesalannya Tindak verbal: direktif Tindak perlokusi: mt minta maaf pada pt (sambil menghampiri 220 terpisah dan mt memakannya satu-satu wacana, ada mahasiswa yang memakai bajujurnalistik padahal dia mahasiswa BIPA,suasana serius, tenang Penutur dan mitra tutur teman sekelasmakannya 19.

PENANDA KETIDAKSANTUNAN PERSEPSI NO. TUTURAN KODE NONLINGUAL

  Suasana agak gaduh MT menJawab panggilan dosen dengan wajar Penutur menganggapi MT dengan sembronoKesembronoan yang disengaja Tuturan terjadi di ruang K303 pukul 14.15 WIB tanggal 20 november 2012 Penutur laki-laki dan MT Tujuan: Penutur mengejek teman (sindiran) yang bernama Ignatius Cahyo Tindak verbal: ekspresif Tindak perlokusi; Mt tertawa dengan candaan pt 5. kaki MT dengan suara keras di tengah temanmahasiswa yang lain sehingga menimbukantertawaan Menghilangkan muka Tuturan terjadi di depan laboratorium bahasa pukul 13.05 WIB tanggal 21 november 2012 Penutur perempuan (19th ) dan mitra tutur laki-laki(19th) mahasiswa Angkatan2011 Tujuan: Penutur mengejek MT yang memiliki kaki seperti anak perempuan Cuplikan Tuturan 50 Tindak perlokusi: mt tertawa dengan candaan pt MT menyampaikan nilai 3.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

  Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan wujud ketidaksantunan linguistik dan pragmatik berbahasa, (2) mendeskripsikan penanda ketidaksantunan linguistikdan pragmatik berbahasa, dan (3) mendeskripsikan makna ketidaksantunan berbahasa yang digunakan antarmahasiswa PBSID Angkatan 2009 —2011 di Universitas Sanata Dharma. Selanjutnya, peneliti menginterpretasi wujud, penanda dan makna ketidaksantunan linguistik dan pragmatiktuturan-tuturan yang telah dikutip dengan memerhatikan konteks yang melingkupi terjadinya tuturan itu.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PERSEPSI MAHASISWA TENTANG PEREMPUAN PEROKOK DALAM FILM BUTTERFLY (Studi pada mahasiswa Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malangsemester V angkatan tahun 2007)
0
7
2
Pengaruh Terpaan Iklan Politik Terhadap Keputusan Memilih Para Pemilih Pemula (Studi Pada mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang angkatan 2013)
0
7
25
PENERIMAAN MAHASISWA TERKAIT PROMOSI MELALUI SMS BROADCAST (Studi Resepsi pada Mahasiswa Program Studi Komunikasi angkatan 2014 UMM Malang)
0
8
27
Prevalensi insomnia pada mahasiswa FKIK UIN angkatan 2011 pada tahun 2012
1
15
56
Hubungan asupan zat besi dengan kejadian anemia pada mahasiswi PSPD angkatan 2009-2011 Uin Syarif Hidayatullah Jakarta
0
7
61
Analisis pengaruh kapasitas fiskal, investasi swasta dan tingkat partisipasi angkatan kerja terhadap pertumbuhan ekonomi regional sebelum dan sesudah otonomi daerah : ( Studi kasus antar propinsi dipulau jawa )
0
9
158
Perbedaan kemampuan mengatasi konflik antar kelompok antara mahasiswa Universitas kristen dan mahasiswa Universitas persada Indonesia Yayasan administrasi indonesia selemba Jakarta Pusat
1
8
113
Kamampuan mahasiswa tarjamah dalam menerjemahkan nama diri : studi kasus mahasiswa tarjamah semester VI angkatan tahun 2005-2006
0
5
119
Hubungan antar tingkat depresi dengan nilai modul Clinical Reasoning I pada mahasiswa Pendidikan Dokter UIN Syarif Hidayatullah Jakarta angkatan 2013
1
60
71
Analisis kesalahan mahasiswa dalam menulis dan membaca Kanji :(studi kasus terhadap mahasiswa tingkat II Program Studi Sastra Jepang Fakultas Sastra UNIKOM Tahun Akademik 2013/2014)
0
9
63
pengaruh persepsi dan sikap mahasiswa terhadap tingkatnadopsi E-book sebagai sumber informasi (study pada mahasiswa S1 FISIP Universitas Lampung angkatan 2010-2011)
4
14
86
PERILAKU HIDUP SEHAT (Studi pada mahasiswa FISIP Universitas Lampung angkatan 2011)
4
17
71
Tingkat Empati Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Kanjuruhan Malang
0
0
5
Peristiwa 2 Maret 1969 di Yogyakarta (konflik antara taruna angkatan udara dan mahasiswa Universitas Gadjah Mada)
0
0
85
1. Menyetujui registrasi dan konsultasi akademik semester genap tahun ajaran 2014/2015 dilakukan secara online penuh untuk mahasiswa angkatan 2014/205 dan secara online dan offline bagi mahasiswa angkatan sebelumnya dengan menggunakan Fakultas Peternakan
0
0
7
Show more