Perbandingan aktivitas antibakteri infusa kombinasi daun sirih (Piper betle L.) dan daun sirih merah

Gratis

0
0
38
2 years ago
Preview
Full text

PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI INFUSA KOMBINASI

  Piper betle . Piper crocatum DAUN SIRIH ( L ) DAN DAUN SIRIH MERAH ( .

  

Ruiz & Pav ) DENGAN INFUSA TUNGGALNYA TERHADAP BAKTERI

Staphylococcus epidermidis

  

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

  Program Studi Farmasi Oleh:

  Yohanes Medika Seta Diaseptana NIM : 138114104

  

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2017

PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI INFUSA KOMBINASI

  Piper betle . Piper crocatum DAUN SIRIH ( L ) DAN DAUN SIRIH MERAH ( .

  

Ruiz & Pav ) DENGAN INFUSA TUNGGALNYA TERHADAP BAKTERI

Staphylococcus epidermidis

  

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

  Program Studi Farmasi Oleh:

  Yohanes Medika Seta Diaseptana NIM : 138114104

  

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2017

HALAMAN PERSEMBAHAN

  

“The Lord is gracious, and full of

compassion; slow to anger, and of great

mercy. The Lord is good to all: and his

tender mercies are over all his works.”

  (Psalm 145:8-9)

  

PRAKATA

  Segala puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang selalu memberikan rahmat dan kasih-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi yang

  Piper berjudul “Perbandingan Aktivitas Antibakteri Infusa Kombinasi Daun Sirih (

betle L.) dan Daun Sirih Merah ( Piper crocatum Ruiz & Pav.) dengan Infusa

  Tunggalnya terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis ”. Keberhasilan penulisan skripsi ini tidak lepas dari dukungan dan bantuan semua pihak, dengan penuh kerendahan hati, penulis mengucapkan terimakasih kepada : 1.

  Bapak Sri Tjahja Nugraha dan Ibu Murti Anisah yang senantiasa memberi kasih sayang, semangat dan doa kepada penulis selama penyusunan skripsi.

  2. Mas Yosef Denta Eka Pradana dan dik Gabriel Dida Saputra yang selalu memberikan semangat, cinta, dan dukungan doa kepada penulis.

  3. Mbah putri Semi, mbah Kakung Reja Sentika, eyang kakung Sri Tijasno Tirtoprodjo dan eyang putri yang menjadi semangat dan kekuatan penulis.

  4. Keluarga besar Reja Sentika dan keluarga besar Sri Tijasno serta saudara- saudara penulis yang selalu memberikan dukungan dalam doa.

  5. Ibu Dr. Yustina Sri Hartini M.Si., Apt. selaku dosen pembimbing skripsi yang tak kenal lelah dalam membimbing dan selalu sabar dalam mengarahkan yang baik kepada penulis.

  6. Ibu Dr. Erna Tri Wulandari, Apt. dan ibu Damiana Sapta Candrasari, S.Si., M.Sc. selaku dosen penguji yang selalu memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis.

  7. Rakhel Nugraheni Putri dan Lia Elisa Susanti yang menjadi teman satu kelompok skripsi yang selalu bekerja sama selama penyelesaian skripsi dan menjalani suka dan duka bersama-sama.

  8. Seluruh dosen, karyawan dan laboran Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma yang telah banyak memberikan ilmu dan bantuan selama proses perkuliahan dari awal hingga akhir.

  

DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ........................................... ii HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI ....................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................... iv LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ...................................... v LEMBAR PERNYATAAN PUBLIKASI .................................................... vi PRAKATA .................................................................................................... vii DAFTAR ISI ................................................................................................. ix DAFTAR TABEL ......................................................................................... x DAFTAR GAMBAR .................................................................................... xi DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xii ABSTRAK .................................................................................................... xiii

  .................................................................................................... xiv

  ABSTRACT PENDAHULUAN ........................................................................................

  1 METODE PENELITIAN ..............................................................................

  3 Jenis dan Rancangan Penelitian .................................................

  3 Alat dan Bahan ...........................................................................

  3 Determinasi Tanaman ................................................................

  3 Pengumpulan Bahan Uji.............................................................

  3 Pembuatan Simplisia .................................................................

  4 Penentuan Kadar Air dengan Destilasi Toluen ..........................

  4 Pembuatan Infusa .......................................................................

  5 Pengujian Aktivitas Antibakteri .................................................

  5 Teknik Analisis Data Penelitian .................................................

  6 HASIL DAN PEMBAHASAN .....................................................................

  7 KESIMPULAN DAN SARAN .....................................................................

  14 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................

  15 LAMPIRAN ..................................................................................................

  18 BIOGRAFI PENULIS ..................................................................................

  23

  

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Hasil penimbangan daun sirih dan daun sirih merah .....................

  7 Tabel 2. Hasil penentuan kadar air ...............................................................

  8 Tabel 3. Hasil pengukuran diameter zona hambat .......................................

  10 Tabel 4. Hasil uji kebermaknaan perbedaan diameter zona hambat ............

  12

  

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Cara pengukuran diameter zona hambat ...................................

  6 Gambar 2. Tanaman sirih ............................................................................

  7 Gambar 3. Tanaman sirih merah ...................................................................

  7 Gambar 4. Penentuan kadar air daun sirih dan daun sirih merah .................

  8 Gambar 5. Infusa tunggal daun sirih, daun sirih merah, dan kombinasi .......

  9 Gambar 6.

  S. epidermidis

  pada media NA dengan teknik

  streak plate .......

  10 Gambar 7. Kontrol media dan kontrol pertumbuhan ...................................

  10 Gambar 8. Histogram diameter zona hambat ..............................................

  11 Gambar 9. Pengujian aktivitas antibakteri replikasi 1, 2, dan 3 ..................

  12 Gambar 10.Aksi farmakologi herbal ...........................................................

  13 Gambar 11.Konsep antagonisme kompetitif dan non-kompetitif ...............

  13

  

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat keterangan determinasi tanaman ...................................

  18 Lampiran 2. Sertifikat hasil uji isolasi dan identifikasi bakteri ..................

  19 Lampiran 3. Hasil uji

  pearson chi-square ..................................................

  20 Lampiran 4. Hasil uji levene .........................................................................

  20 Lampiran 5. Hasil uji anova one-way ..........................................................

  21 Lampiran 6. Hasil uji

  TukeyHSD .................................................................

  21 Lampiran 7. Data mentah pengukuran diameter zona hambat ......................

  21 Lampiran 8. Data diameter zona hambat ......................................................

  22 Lampiran 9. Perhitungan standar deviasi ......................................................

  22

  

ABSTRAK

Latarbelakang : Resistensi Staphylococcus epidermidis terhadap antibiotika

  mendorong penelusuran produk antimikrobia yang berasal dari tanaman. Beberapa penelitian memaparkan ekstrak daun sirih dan daun sirih merah memiliki penghambatan terhadap bakteri gram positif diantaranya .

  S. epidermidis

  Belakangan ini, terapi kombinasi menjadi pilihan. Kombinasi pada herbal diketahui memiliki suatu interaksi yang dapat bersifat additif, antagonis ataupun sinergis. Maka perlu dilakukan eksplorasi mengenai kombinasi herbal-herbal untuk mengetahui efek yang dihasilkan. Penelitian ini penting untuk mengetahui perbandingan aktivitas antibakteri antara bentuk infusa (kombinasi atau tunggal) terhadap S. epidermidis , sehingga dapat diperkirakan potensi infusa yang lebih baik untuk diteliti dan dikembangkan lebih lanjut serta dapat menjadi suatu ide dalam pengembangan potensi antibakteri terhadap S. epidermidis .

  

Metode : Penelitian ini menggunakan rancangan post-test only control group

  . Simplisia dibuat dari daun sirih dan daun sirih merah yang diperoleh dari

  design

  Merapi Farma Herbal, Kaliurang, Sleman, Yogyakarta. Infusa yang dibandingkan memiliki konsentrasi yang sama yakni 100% dan rasio 1:1 untuk kombinasi. Pengujian penghambatan bakteri dilakukan dengan menggunakan metode uji difusi disk dengan membandingkan diameter zona hambat. Data hasil pengukuran diameter zona hambat diuji secara statistik menggunakan dan

  Anova one-way

  diketahui perbedaanya dengan post-hoc TukeyHSD. Pengujian statistik dilakukan dengan program R i386 (versi 3.31).

  

Hasil : Diameter zona hambat infusa daun sirih, sirih merah, dan kombinasi

  berturut-turut 5,3±0,30 mm; 5,2±0,64 mm; 3,5±0,50 mm. Infusa kombinasi memiliki aktifitas antibakteri yang lebih rendah bila dibandingkan dengan infusa daun sirih (p=0,012) dan daun sirih merah (p=0,013).

  

Kesimpulan : Aktivitas penghambatan terhadap bakteri S. epidermidis oleh infusa

  kombinasi lebih lemah dibandingkan dengan masing-masing bentuk infusa tunggalnya.

  , Staphylococcus epidermidis

Kata kunci: sirih sirih merah, infusa, kombinasi, ,

antibakteri

  

ABSTRACT

Background : The phenomenon of antibiotic resistance to Staphylococcus

epidermidis promotes the search for antimicrobial products derived from plants.

  Several studies have shown that betel leaf extract and red betel extract have inhibition against gram-positive bacteria such as . In recent years,

  S. epidermidis

  combination therapy has become a strategy. The combination of herb is known to have interactions that can be additive, antagonistic or synergistic. Therefore, it is necessary to explore the combination of herb to know the effect. This research is important to know the comparison of antibacterial activity between infusion form (single or combination) to , so it can be consideration to determine

  S. epidermidis

  the better potency for future research and can be an idea to develop antibacterial potency against S. epidermidis .

  

Method : This study used a post-test only control group design. Simplicia made

  from betel leaf and red betel leaf obtained from Merapi Farma Herbal, Kaliurang, Sleman, Yogyakarta. The infusion used has the same concentration, that is 100% and with a ratio of 1:1 for the combination of infusion. Tests of bacterial inhibition were performed by the disk diffusion method. Data of inhibition zone diameter, tested the difference by using one-way Anova test and to know the difference point, used post-hoc TukeyHSD test. The statistical test were perfomed with the R i386 program (version 3.31).

  

Results : Diameter of inhibition zone of betel leaf, red betel leaf, and combination

infusion respectively were 5,3 ± 0,30 mm; 5.2 ± 0.64 mm; 3.5 ± 0.50 mm.

  Combination infusion had lower antibacterial activity when compared with betel leaf infusion (p = 0.012) and red betel leaf infusion (p = 0.013).

  

Conclusion : The inhibitory activity against by the combination

S. epidermidis infusion is lower compared with each form of single infusion.

  

Keywords: betel, red betel, infusion, combination, Staphylococcus epidermidis ,

antibacteria

  

PENDAHULUAN

Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri gram positif yang menjadi bagian S. epidermidis

  dari flora normal tubuh. umumnya ditemukan pada permukaan kulit

  S. epidermidis

  (Schaechter, 2004). diketahui dapat berkembang pada kelenjar sebaseus, lalu akan menghasilkan zat-zat yang akan menyebabkan radang pada jaringan kulit (Kursia et al ,

  S.

  2016). Dalam penelitian yang dilakukan Cabrera-Cotreas (2014) dikatakan bahwa

  epidermidis S. epidermidis merupakan agen etiologik infeksi nosokomial di belahan dunia.

  juga dikatakan merupakan patogen yang penting dalam proses implan bahan asing, terkhusus

  et al infeksi prostetik sendi (Hellmark , 2009).

  Resistensi antibiotik merupakan salah satu masalah utama dalam dunia kesehatan. Dalam satu dekade terakhir ini setidaknya dilaporkan beberapa kasus resistensi bakteri khususnya terhadap S. epidermidis . Otto (2009) mengatakan bahwa resistensi metisilin

  S. epidermidis S. epidermidis

  terhadap adalah sebesar 75-90%, tidak hanya itu juga diketahui mengalami resistensi terhadap antibiotika lain, beberapa diantaranya yakni rifampisin, florokuinolon, gentamisin, tetrasiklin. Hellmark et al . (2009) melaporkan bahwa uji

  IsoSensitest S. epidermidis S. epidermidis

  terhadap memberikan hasil resisten terhadap

  Etest S. epidermidis

  oksasilin sebesar 61% serta pengujian memberikan hasil resistensi terhadap sefoksitin sebesar 58%. Fenomena resistensi yang terjadi pada bakteri patogen mendorong dilakukannya pencarian produk antimikrobia yang baru, khususnya dari tanaman (Karmegam, 2008).

  Menurut Carmona dan Pereira (2013), obat-obat modern hanya akan membuat patogen lebih cepat dalam mengembangkan resistensinya terhadap komponen senyawa tunggal, sedangkan tanaman akan selalu berevolusi untuk bertahan hidup, tanaman mungkin memiliki komplek fitokimia yang mampu berinteraksi secara sempurna untuk saling melengkapi dalam menyelesaikan tugasnya. Berbagai senyawa yang terkandung dalam sebuah tanaman diketahui memiliki sifat untuk menunda resistensi

  Efek ekstrak tanaman sebagai agen antimikrobia telah banyak dipelajari di berbagai belahan dunia (Karmegam, 2008). Melina (2016) melaporkan bahwa ekstrak daun sirih

  Piper betle S. epidermidis

  ( L.) memiliki aktivitas antibakteri terhadap pada seluruh konsentrasi (62,5 mg/mL, 125 mg/mL, 250 mg/mL, 500 mg/mL, 1000 mg/mL) dengan

  et al

diameter zona hambat ≥21mm. Kusuma . (2016) melaporkan bahwa ekstrak etanol daun Piper crocatum .

  S.

  sirih merah ( Ruiz & Pav ) memiliki diameter inhibisi terhadap

  epidermidis ≥14mm pada semua konsentrasi (20%w/v, 40%w/v, 60%w/v, 80%w/v).

  Belakangan ini, terapi kombinasi merupakan suatu cara untuk mengatasi kasus

  et al infeksius ketika agen monoterapi sudah tidak mampu mengatasi (Kinuthia , 2013).

  Dalam suatu kombinasi herbal dengan herbal yang lain, pada masing-masing herbal akan terdapat proporsi kimia aktif. Proporsi kimia aktif tersebut akan memiliki aksi farmakologi yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya, yakni sinergistik, antagonistik, dan proteksi (aksi perlindungan terhadap komponen sinergistik secara fisika dan kimia) (Tripathi, 2010). Bukti efek sinergistik pada penggunaan multi-herbal masih kontroversial (Zhou et al , 2016). Maka perlu dilakukan eksplorasi mengenai kombinasi herbal-herbal untuk mendapatkan

  et al efek terapetik yang dibutuhkan (Tao-Che , 2013).

  Menurut Novianti (2013), senyawa golongan fenol yang terkandung dalam daun sirih diduga larut dalam air. Chakraborty dan Shah (2011), melaporkan bahwa kandungan fenol, tanin, dan flavonoid dari daun sirih larut dalam akuades. Maka, diprediksi senyawa golongan yang bersifat antibakteri dalam daun sirih yang akan larut dalam akuades adalah tanin dan flavonoid. Lalu, senyawa golongan yang terkandung dalam daun sirih merah yang akan larut dalam akuades adalah flavonoid, polifenol dan tanin.

  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan aktivitas antibakteri ketika dibuat sediaan infusa kombinasi antara daun sirih dan daun sirih merah lalu dibandingkan dengan sediaan infusa tunggal daun sirih dan infusa tunggal daun sirih

  S. epidermidis

  merah terhadap bakteri . Dengan melihat perbandingan aktivitas antibakteri tersebut, dapat diketahui potensi sediaan infusa (infusa bentuk kombinasi atau infusa tunggal) yang lebih baik untuk diteliti dan dikembangkan lebih lanjut sebagai potensi

  S. epidermidis antibakteri terhadap .

  

METODE PENELITIAN

Jenis dan Rancangan Penelitian post-test only

  Penelitian ini merupakan eksperimental murni dengan rancangan

  control group design

  . Rancangannya yakni, terdapat dua kelompok. Kelompok pertama diberi perlakuan dan kelompok lain tidak. Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen sedangkan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol (Sugiyono, 2012). Kemudian hasilnya saling dibandingkan dan dilihat perbedaannya.

  Alat dan Bahan

  Alat yang digunakan yakni oven dengan pengaturan suhu, loyang/wadah, kipas angin, timbangan digital, timbangan analitik, pemanas ( heating mantle ), labu destilasi, tabung kondenser, selang, pipa leher penyambung, bejana infusa, penangas air, termometer,

  vortex

  kain flannel, gelas beker, cawan petri, korek api, ose, inkubator, autoklaf, , tabung

  spreader

  reaksi, rak tabung reaksi, bunsen, erlenmeyer, gelas ukur, kertas coklat, , penjepit, sendok, pinset , mikropipet, pipet volum (1 mL dan 10mL), glasfirn , mistar.

  S. epidermidis

  Bahan yang digunakan yaitu bakteri dalam bentuk kultur bakteri

  Nutrient Agar

  murni, daun sirih dan daun sirih merah, akuades, media NA ( ) dan NB ( Nutrient Broth ), standar II McFarland, paperdisk ampicillin-sulbactam, paperdisk blank ,

  pro-analysis dan toluen p.a ( ).

  Determinasi Tanaman

  Bahan yang dideterminasi adalah tanaman sirih dan sirih merah yang diperoleh dari Merapi Farma Herbal, Kaliurang, Sleman, Yogyakarta. Determinasi dilakukan oleh seorang ahli di Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Determinasi tanaman dilakukan dengan cara mencocokan ciri-ciri morfologi pada tanaman sirih terhadap acuan kepustakaan.

  Pengumpulan Bahan Uji

  Daun sirih dan daun sirih merah didapatkan dari Merapi Farma Herbal, Kaliurang, Sleman, Yogyakarta. Bahan uji sebelumnya telah ditentukan kriterianya yakni diperoleh di tempat tumbuh dan waktu panen harian yang sama dengan umur yang sama. Daun sebagai bahan uji dipilih yang memiliki ukuran lebar yakni berkisar 15-20 cm, dan tidak terlalu muda

  et al

  ataupun tua (Werdhany , 2008). Kriteria selanjutnya adalah proses pemanenan dilakukan di pagi hari sebelum matahari terbit. Proses pengumpulan daun dilakukan menggunakan tangan dan menghindari menggunakan alat-alat logam (Katno, 2008).

  Pembuatan Simplisia

  Pembuatan simplisia mengacu pada standar Pengelolaan Pasca Panen Tanaman Obat yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan RI (2008). Pertama dilakukan sortasi basah yakni memisahkan pengotor dan barang-barang asing seperti tanah, kerikil, rumput, dan gulma dari bahan uji. Selanjutnya dilakukan penimbangan dan ditentukan dalam satuan gram. Lalu dilakukan proses pencucian dengan air bersih yang mengalir, kemudian ditiriskan dalam rak sambil sesekali dibolak-balik dan diangin-anginkan menggunakan kipas angin. Selanjutnya dilakukan proses pengeringan menggunakan oven. Bahan uji dikeringkan dengan temperatur 40°C selama 4 hari hingga didapati telah kering, ditandai mudah patah, mudah diremas, dan tidak terasa basah ketika diraba. Proses sortasi kering, dilakukan dengan memisahkan bahan dengan pengotor, benda-benda asing. Selanjutnya dilakukan penimbangan. Kemudian simplisia disimpan di dalam wadah yang tertutup rapat. Lalu diletakkan di tempat yang kering dan tidak terkena sinar matahari secara langsung.

  Penentuan Kadar Air dengan Destilasi Toluen

  Penentuan kadar air dengan metode destilasi toluen mengacu pada standar penentuan et al. kadar air yang direkomendasikan WHO (2011) dan Zainab (2016). Simplisia kering diremas lalu dihaluskan menggunakan mortir dan stamper hingga merata, ditimbang kurang lebih simplisia sebanyak 20 gram. Alat-alat destilasi dibilas menggunakan akuades lalu dikeringkan menggunakan oven selama kurang lebih 1 jam. Toluen dijenuhkan dengan cara yakni toluen p.a sebanyak 200 mL dimasukan dalam corong pisah lalu ditambahkan akuades sebanyak 20 mL, digojog lalu didiamkan kurang lebih 1 jam hingga didapati terbentuk 2 fase. Air dialirkan hingga batas fase sehingga didapatkan toluen jenuh air.

  Lalu dimasukan serbuk simplisia yang telah halus sebanyak 20 gram ke dalam labu alas bulat. Toluen jenuh air dimasukan sebanyak 195 mL ke dalam labu alas bulat. Selanjutnya peralatan destilasi dirangkai lalu dimulai pemanasan dengan hati-hati selama 15 menit. Setelah toluen mendidih, maka diatur penyulingan dengan kecepatan 2 tetes/detik hingga didapat sebagian air tersuling dilanjutkan kecepatan 4 tetes/detik. Setelah itu kondensor dibilas dengan 5 mL toluen. Penyulingan dilanjutkan selama 5 menit dan kemudian didinginkan hingga suhu kamar. Lalu dilakukan pengukuran setelah dipastikan air dan toluen memisah sempurna. Perhitungan dilakukan dalam % volume/berat.

  Pembuatan Infusa

  Pembuatan infusa mengacu pada standar dalam Acuan Sediaan Herbal yang diterbitkan oleh BPOM (2012). Masing-masing simplisia daun sirih dan daun sirih merah yang telah kering, diremas lalu ditimbang sebanyak 60 gram, lalu ditambahkan akuades sebanyak 120 cc untuk membasahkan simplisia, selanjutnya ditambahkan akuades sebanyak 60 cc hingga simplisia terendam, lalu dipanaskan dalam penangas air selama 15 menit, dihitung ketika suhu dalam panci telah mencapai 90°C sambil sesekali diaduk. Selanjutnya, diserkai dengan kain flannel. Apabila volume akhir yang didapat kurang dari 60 cc, maka perlu ditambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh 60 cc. Sehingga didapatkan infusa tunggal daun sirih dan daun sirih merah dengan konsentrasi 100% b/v.

  Pembuatan infusa kombinasi daun sirih dan daun sirih merah mengadaptasi metode pada penelitian Safithri (2012) dan Kinuthia (2013). Infusa tunggal daun sirih dan daun sirih merah dicampur dengan rasio 1:1 selagi panas. Rasio 1:1 didapatkan dengan mencampurkan 20 cc infusa daun sirih dengan 20 cc infusa daun sirih merah sambil diaduk, sehingga didapati infusa kombinasi rasio 1:1 dengan konsentrasi 100% b/v sebanyak 40 cc.

  Pengujian Aktivitas Antibakteri et al.

  Pengujian infusa kombinasi dan infusa tunggal mengacu pada Das (2009) dan Prayoga (2013). Kultur murni yang diperoleh dalam bentuk media NA miring. Subkultur dilakukan dengan cara menginokulasikan 1 ose biakan murni bakteri S. epidermidis ke dalam

  Nutrient Agar

  yang telah padat, kemudian media diinkubasikan pada suhu 37°C selama 24 jam. Subkultur dilakukan pula pada media cair, dengan cara menginokulasikan 1 ose biakan

  Nutrient Broth murni bakteri ke dalam , lalu diinkubasikan pada suhu 37°C selama 24 jam.

  Pengujian daya hambat pertumbuhan bakteri dilakukan dengan metode difusi disk.

  Nutrient Broth vortex

  Stok bakteri pada media cair di- dan dilakukan penyamaan kekeruhan

  8

  yakni mengikuti II McFarland (6.10 CFU/mL). Selanjutnya diambil sebanyak 0,2 mL dari stok bakteri dan di-spread pada media Nutrient Agar yang telah memadat.

  paperdisk blank

  Cakram kosong ( ) berukuran 5 mm masing-masing diberikan perlakuan (infusa dan kontrol negatif) sebanyak 20 µL, lalu diletakan diatas permukaan agar dengan teknik aseptis. Lalu cakram kontrol positif berupa paperdisk ampicilin-sulbactam diletakan diatas permukaan agar dengan teknik aseptis. Selanjutnya diinkubasikan dalam

  paperdisk

  inkubator dengan suhu 37°C selama 24 jam. Kontrol positif berupa antibiotik ampisilin/sulbactam dengan konsentrasi 20 µg (rasio 1:1), dengan rincian konsentrasi ampisilin 10 µg dan sulbactam 10 µg.

  Pada masing-masing cawan petri berisi kontrol positif, kontrol negatif (akuades), perlakuan (infusa tunggal daun sirih 100% b/v, infusa tunggal daun sirih merah 100% b/v, infusa kombinasi 1:1 100% b/v).

  Nutrient

  Dilakukan pembuatan kontrol media, kelompok kontrol media, hanya berisi

  Agar Nutrient Agar sedangkan pada kontrol pertumbuhan, berisi dan diinokulasikan bakteri.

  Dilakukan replikasi pada masing-masing kelompok yakni sebanyak tiga kali.

  Pengukuran diameter zona hambat dilakukan keesokan harinya, pengukuran zona hambat dilakukan menggunakan mistar dengan satuan mm. Zona hambat didefinisikan sebagai zona bening yang terbentuk disekitar kertas cakram ( paper disk ) pada tiap perlakuan. Pengukuran zona dilakukan pada zona iradikal, yakni daerah disekitar disk berupa zona yang keruh tetapi masih lebih jernih dibandingkan pertumbuhan disekitarnya. Pengukuran zona hambat dilakukan dengan mengukur diameter X dan Y dalam satuan milimeter, kemudian masing-masing dikurangkan dengan diameter paper disk.. Hasilnya kemudian dijumlahkan

  − + − et al dan dibagi dua. Jadi diameter zona hambat = (Sendy , 2014).

  

Gambar 1. Cara pengukuran diameter zona hambat

Teknik Analisis Data Penelitian

  Analisis data dari hasil pengukuran diameter zona hambat diawali dengan menguji

  pearson chi-square

  distribusi normalitas menggunakan uji . Uji homogenitas varian

  Levene,

  dilakukan dengan uji apabila didapati data terdistribusi normal dan variansi data homogen maka dilanjutkan dengan uji ANOVA One-Way . Apabila ditemukan perbedaan

  Post-Hoc TukeyHSD

  maka dilanjutkan dengan pada taraf kepercayaan 95%. Serangkaian pengujian statistik dilakukan menggunakan program R i386 (versi 3.31).

HASIL DAN PEMBAHASAN

  Tanaman yang digunakan dalam penelitian ini telah dilakukan determinasi dengan melihat ciri-ciri tanaman tersebut. Hasil identifikasi yang ditunjukan pada surat keterangan (Lampiran 1.) menerangkan bahwa ciri-ciri tanaman tersebut sama dengan ciri-ciri tanaman sirih ( Piper betle L.) dan tanaman sirih merah ( Piper crocatum Ruiz & Pav.). Hal ini membuktikan bahwa kedua jenis tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah benar

  Piper betle Piper crocatum sirih ( L.) dan sirih merah ( Ruiz & Pav.).

  Daun sebagai bahan uji dipilih dengan ukuran relatif lebar yakni berkisar 15-20 cm, dan cukup tua (tidak terlalu muda ataupun tua) agar diperoleh kadar zat aktif yang masih

  et al

  tinggi (Werdhany , 2008). Daun yang cukup tua ditandai dengan warna daun yang lebih gelap. Waktu pemanenan dilakukan di pagi hari untuk meminimalisir hilangnya minyak atsiri akibat terkena cahaya matahari. Pengumpulan bahan uji menghindari penggunaan alat- alat logam karena berpotensi merusak beberapa senyawa kimia yang terkandung dalam daun seperti tanin dan fenol (Katno, 2008), sehingga dilakukan secara manual (menggunakan tangan).

  Gambar 2. Tanaman sirih Gambar 3. Tanaman sirih merah

  Selanjutnya dilakukan sortasi basah pada daun sirih dan daun sirih merah, kemudian dilakukan proses penimbangan. Lalu dilakukan proses pencucian hingga proses pengeringan menggunakan oven pada suhu 40°C. Bahan yang telah kering selanjutnya di-sortasi kering dan ditimbang. Proses penimbangan menghasilkan data sebagai berikut :

  

Tabel 1. Hasil penimbangan daun sirih dan daun sirih merah

  Daun sirih Daun sirih merah Penimbangan awal (gram) 1406,52 1685,92 Pasca pengeringan (gram) 281,30 392,07 Prosentase rendemen simplisia 20% 23,26% Pada penelitian ini dilakukan penentuan kadar air. Kadar air merupakan parameter yang berfungsi untuk menentukan stabilitas simplisia. Adanya kelebihan air pada material herbal memudahkan pertumbuhan mikrobia serta mendukung reaksi hidrolisis. Oleh karena itu penting untuk memberikan batasan kadar air pada bahan herbal (WHO, 2011). Menurut BPOM (2014), kadar air yang dapat diterima untuk kualitas simplisia yang baik ialah <10%. Metode azeotropik menggunakan toluen dipilih karena bahan simplisia diketahui memiliki senyawa volatil. Perhitungan prosen kadar air dilakukan dengan formula, kadar air =

  � � � %. Bobot simplisia halus berturut-turut untuk sirih dan sirih merah

  � � � �

  yakni 20,61 gram dan 20,12 gram. Hasil penentuan kadar air menggunakan metode destilasi toluen diperoleh hasil :

  (b) (a)

Gambar 4. Penentuan kadar air daun sirih (a) dan daun sirih merah (b)

Tabel 2. Hasil penentuan kadar air

  Daun sirih Daun sirih merah Volume air (mL) 0,5 0,75 Kadar air (%) 2,43 3,73

  Hal ini menunjukan bahwa simplisia yang digunakan dalam penelitian ini telah memenuhi persyaratan kadar air yang ditetapkan yaitu tidak lebih dari 10%. Karena kadar air untuk simplisia daun sirih hanya sebesar 2,43% dan untuk simplisia daun sirih merah sebesar 3,73%.

  Ekstraksi dilakukan dengan metode infundasi yakni penyarian zat-zat dengan pelarut air menggunakan pemanasan 90°C selama 15 menit. Selama proses pemanasan, bejana infusa dipastikan tertutup rapat dengan tujuan meminimalkan hilangnya senyawa-senyawa yang bersifat volatil (BPOM, 2012). Penyarian dengan metode ini menghasilkan sari yang tidak stabil dan mudah tercemar oleh kapang (Fardhani, 2014), Maka, pada penelitian ini, infusa diuji aktivitas antibakteri-nya pada hari yang sama. Pada penelitian ini infusa diserkai selagi panas dengan maksud untuk menghindari terjadinya pengendapan dari infusa tersebut, karena ketika dingin dimungkinkan infusa sirih akan mengendap sehingga ketika dimasukan dalam gelas ukur kadarnya menurun. Namun, menurut BPOM (2012), infusa dengan kandungan minyak atsiri sebaiknya diserkai setelah dingin. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah hilangnya senyawa-senyawa volatil. Maka, ada kemungkinan infusa pada penelitian ini mengalami penurunan kadar minyak atsiri.

  (a)

(b)

(c)

  

Gambar 5. Infusa tunggal daun sirih (a), infusa tunggal daun sirih merah (b) , i nfusa

  kombinasi (c) S. epidermidis. Selanjutnya dilakukan proses subkultur dari kultur murni bakteri

  Bakteri yang digunakan telah melalui uji identifikasi bakteri (Lampiran 2.). Proses subkultur bertujuan untuk membiakkan bakteri sehingga tersedia stok bakteri yang dapat digunakan sebagai perlakuan dalam beberapa hari kedepan. Selain itu dilakukan pula proses penanaman bakteri pada media padat yakni NA secara streak plate, proses ini bertujuan untuk

  nutrient

  mengkonfirmasi bahwa bakteri tersebut dapat bertumbuh dengan baik pada media agar .

  S. epidermidis streak plate Gambar 6. pada media NA dengan teknik

  (a) (b)

  

Gambar 7. Kontrol media (a) dan kontrol pertumbuhan (b)

S. epidermidis

  Hasil pengamatan (Gambar 6.) menunjukan bakteri dapat bertumbuh dengan baik pada media nutrient agar . Kontrol media (Gambar 7.) terlihat bening, tidak terdapat bercak keruh. Maka, dikonfirmasi bahwa teknik aseptis yang dilakukan sudah tepat dan tidak didapati adanya kontaminan. Sedangkan pada kontrol pertumbuhan (Gambar 7.) didapati terlihat keruh sepenuhnya maka dikonfirmasi bahwa bakteri dapat bertumbuh dengan baik pada media.

  Selanjutnya masing-masing infusa yang telah dibuat diuji aktivitas antibakteri-nya dengan replikasi sebanyak tiga kali. Hingga didapatkan hasil pengukuran diameter zona hambat sebagai berikut :

  

Tabel 3. Hasil pengukuran diameter zona hambat (dalam satuan milimeter)

  Replikasi Positif Negatif Sirih Sirih merah Kombinasi I 12,0 5,3 4,8 3,6

  II 11,5 5,0 5,0 3,0

  III 11,0 5,6 6,0 4,0 Mean±SD 11,5±0,50 0±0 5,3±0,30 5,2±0,64 3,5±0,50

  14 at b

  12 am

  10 h a

  ) n

  8 m zo

  6 (m

  4 eter

2 Diam

  Sirih Sirih merah Kombinasi Positif Kelompok perlakuan infusa

Gambar 8. Histogram rerata diameter zona hambat

  Zona hambat diintepretasikan dengan adanya zona jernih yang muncul disekitar kertas cakram, pengukuran diukur menggunakan mistar, dan dikategorikan sebagai sangat kuat

  

apabila diameternya ≥20 mm, kuat apabila 10-20 mm, sedang apabila 5-10 mm, dan lemah

et al,

  apabila <5 mm (Nopiyanti 2016). Maka jenis infusa tunggal sirih dan sirih merah dapat

  S. epidermdis

  dikategorikan sebagai penghambat sedang terhadap . Sedangkan jenis infusa kombinasi dapat dikategorikan sebagai penghambat lemah yakni <5 mm.

  Hingga kini masih jarang ditemukan penelitian serupa yang menggunakan sediaan infusa ataupun ekstrak pelarut air, sehingga diameter zona hambat yang didapat masih sulit untuk dibandingkan secara jelas dengan penelitian sebelumnya. Penelitian Nair dan Chanda (2008) yakni sediaan tunggal ekstrak metanol daun sirih terhadap S. epidermidis mendapati et al. diameter zona hambat sebesar 7 mm. Penelitian lainnya yakni Kursia (2016), sediaan

  S. epidermidis

  tunggal ekstrak etil asetat 5% dari daun sirih merah terhadap mendapati diameter zona hambat sebesar 15,3 mm. Zona hambat yang dilaporkan pada penelitian terdahulu relatif lebih tinggi apabila dibandingkan pada penelitian ini, beberapa penjelasannya yakni bahwa keberadaan substansi aktif dalam pelarut air berada dalam konsentrasi yang lebih rendah apabila dibandingkan dengan metanol (Nair dan Chanda, 2008), sedangkan senyawa antibakteri golongan alkaloid steroid, saponin, tanin, flavonoid

  et al. et

  dan fenolik secara dominan akan lebih larut pada etil asetat (Harapini dalam Kursia

  al , 2016).

  Adanya aktivitas penghambatan dapat disebabkan kandungan senyawa antibakterial larut air seperti tanin dan flavonoid. Tanin mampu menginduksi pembentukan kompleks senyawa ikatan terhadap enzim, efek tanin yang lain adalah melakukan reaksi dengan membran sel dan inaktivasi fungsi materi genetik (Fadlilah, 2015). Flavonoid diduga memiliki aksi mampu membuat kompleks dengan membran sel sehingga mengganggu integritas membran sel. Senyawa polifenol dengan gugus teroksidasi-nya diduga mampu menghambat aktivitas enzim bakteria dan melakukan dekativasi protein di permukaan sel bakteri (Cowan, 1999). Senyawa fenolik juga dicurigai dapat mengganggu fungsi membran dan berinteraksi dengan protein membran sehingga menyebabkan deformasi struktur dan

  et al kehilangan fungsi (Hayek, , 2013).

  (c)

(b)

(a)

  

Gambar 9. Pengujian aktivitas antibakteri replikasi 1(a), 2(b), dan 3(c)

  A= kontrol positif; B= sirih; C= kombinasi; D= sirih merah; E= negatif Histogram (Gambar 8.) menunjukan bahwa pada kelompok kombinasi memiliki zona hambat yang relatif rendah ketika dibandingkan masing-masing bentuk tunggalnya, maka dilakukan pengujian statistik untuk kebermaknaan perbedaan antara kelompok

  pearson chi-square

  kombinasi dengan masing-masing tunggalnya. Uji mendapati data

  levene

  terdistribusi normal (Lampiran 3.). Uji variansi mendapati data memiliki variansi

  anova

  homogen (Lampiran 4.). Syarat pengujian terpenuhi sehingga dilakukan uji anova one-way. perbandingan lebih dari dua kelompok dengan Hasil uji anova menunjukan adanya perbedaan signifikan pada data (Lampiran 5.) dengan nilai p dibawah 0,05, sehingga

  

post-hoc TukeyHSD post-hoc

  dilakukan uji menggunakan (Lampiran 6.). Hasil uji mendapati adanya perbedaan antara kelompok infusa sirih dengan kombinasi dan antara kelompok infusa sirih merah dengan kombinasi, seperti disajikan pada tabel berikut:

  

Tabel 4. Hasil uji kebermaknaan perbedaan diameter zona hambat

  Infusa yang dibandingkan Nilai-p Perbedaan ( differences ) Tunggal sirih - Kombinasi sirih 0,012* -1,767 Tunggal sirih merah – Tunggal sirih 0,997 -0,033 Tunggal sirih merah 0,013* -1,733

  • – Kombinasi sirih
    • perbedaan bermakna pada taraf kepercayaan 95%
    et al et al.

  Menurut teori yang dipaparkan oleh Gibriel . (2013) dan de Rapper (2013), fenomena ini merujuk pada efek yang disebut antagonisme, yakni efek dimana kombinasi dari dua atau lebih bentuk tunggalnya akan memiliki nilai atau aktivitas yang lebih rendah dibandingkan masing-masing bentuk tunggalnya. Menurut Tripathi (2010), ketika dilakukan kombinasi antara suatu herbal dengan herbal lainnya, maka dalam tiap herbal akan ada aksi farmakologi yang berbeda-beda. Dalam suatu komposisi akan terdapat porsi senyawa aktif dan senyawa inaktif, senyawa aktif akan terbagi menurut aktivitasnya yakni sinergis, antagonis, dan protektif.

  (Tripathi, 2010)

  

Gambar 10. Aksi farmakologi herbal

Tripathi (2013), memaparkan konsep interaksi antagonism pada senyawa-senyawa.

  Antagonisme terjadi ketika suatu bentuk tunggal satu menurunkan aksi dari bentuk tunggal lainnya, biasanya yang terjadi adalah antagonis kimia. Antagonis kimia terjadi ketika berbagai senyawa berinteraksi sehingga justru menghasilkan produk yang inaktif. Efek yang juga dapat terjadi adalah antagonis reseptor, yakni ketika suatu senyawa aktif yang bersifat antagonis menduduki suatu situs aktif reseptor yang seharusnya diduduki senyawa aktif agonis, ini disebut juga antagonis kompetitif. Adapun antagonis non-kompetitif, yakni suatu senyawa menduduki sisi alosterik dari suatu reseptor sehingga senyawa agonis kehilangan afinitasnya pada situs aktif reseptor.

  (Tripathi, 2013)

  

Gambar 11. Konsep antagonism kompetitif dan non-kompetitif Hingga kini, konsep fisikal, kimiawi, disposisional atau antagonisme reseptor pada herbal masih sangat lemah (Tao-Che et al , 2013). Ekstrak herbal berbeda dengan obat konvensional, dalam hal ini herbal adalah kompleks campuran yang terdiri dari berbagai senyawa bioaktif. Oleh karena itu, hingga kini masih sulit untuk melakukan penilaian kontribusi untuk tiap konstituen terhadap aktivitas keseluruhan, termasuk pula mengevaluasi interaksi yang mungkin terjadi pada kompleks campuran. Produk alami juga bertanggung jawab terhadap variasi yang banyak, bahkan ketika distandarisasi ke salah satu konstituennya, masih banyak terdapat perbedaan dengan senyawa lain yang ada. Sumber bahan, metode ekstraksi-pun juga akan mempengaruhi komposisi dan potensi interaksinya

  et al, (Williamson 2009).

KESIMPULAN DAN SARAN

  Diameter zona hambat infusa daun sirih, sirih merah, dan kombinasi berturut-turut 5,3±0,30 mm; 5,2±0,64 mm; 3,5±0,50 mm. Aktivitas penghambatan terhadap bakteri

  Staphylococcus epidermidis

  oleh infusa kombinasi lebih rendah dibandingkan dengan masing-masing bentuk infusa daun sirih (p=0,012) dan daun sirih merah (p=0,013).

  checkerboard

  Saran, perlu dilakukan pendekatan metode untuk mengevaluasi lebih lanjut interaksi yang terjadi dari sediaan kombinasi. Dapat pula dilakukan pendekatan pemodelan molekul untuk memprediksi interaksi antar senyawa-senyawa dalam campuran dan memprediksi dinamika molekulnya pada sisi aktif target reseptor. Komputasi molekuler juga mampu memprediksi senyawa-senyawa dari campuran yang memiliki afinitas tertinggi

  screening compound

  pada sisi aktif target reseptor ( ), sehingga dapat diprediksi senyawa dalam campuran yang memiliki aktivitas terbesar.

DAFTAR PUSTAKA

  Farmakope Indonesia, Anonim, 1995, Edisi keempat, Depkes RI : Jakarta.

  Acuan Sediaan Herbal

  BPOM RI, 2012, , Edisi I, vol. 7, Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, Jakarta, 7. BPOM RI, 2014, Persyaratan Mutu Obat Tradisional , PerKa BPOM No XII, 11. Cabrera-Cotreas, R., Ramirez, R.M., Gamacho, A.N.G., Herrada-Melendez, E., 2013,

  S. epidermidis

  Antibiotic Resistance and Biofilm Production strains, isolated

  Microbiol ISRN from a teritory core Hospital in Mexico City, , 1-6.

  Carmona, F., dan Pererira., 2013, Herbal medicines : old and new concepts, truths, and

  Brazilian Journal of Pharmacognosy misunderstanding, , Brazil, 381.

  Chakraborty, D dan Shah, B., 2011, Antimicrobial, Anti-oxidative, and Anti-hemolytic Activity of Piper betle Leaf Extract, Int. J. Pharm. Pharmc. Sci ., 3, 192-199. Cowan, 1999, Plant Products as Antimicrobial Agents, Clin. Microbiol. Reviews ., 12:4, 564- 582. Das, K., Tiwari, R.K.S., Shirvastava, P.K., 2010, Techniques for Evaluating of Medicinal J.

  Plant Products as Antimicrobial Agent: Current Methods and Future Trends,

  Med. Plant. Res ., 4:2, 104-111.

  de Rapper, S., Kamatou, G., Viljoen, A., van Vuuren, S., 2013, The in vitro antimicrobial activity of Lavandula angustifolia essential oil in combination with other aroma- therapeutic oils, Evid Based Complement Alternat Med , 1-10. Depkes RI, 2008, Pengelolaan Pasca Panen Tanaman Obat , Departemen Kesehatan RI, 5- 39.

  Piper crocatum , J.

  Fadlilah, M., 2015, Benefit of Red Betle ( Ruiz & Pav) as Antibiotic

  Majority , 4:3, 71-74.

  Pengaruh Metode Ekstraksi Secara Infundasi Dan Maserasi Daun

  Fardhani, H.L., 2014,

  Asam Jawa (Tamarindus idica ) Terhadap Kadar Flavonoid Total

  L. , Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta. Gibriel, A., Al

  ‐Sayed, H., Rady, A., Abdelaleem, M., 2013, Synergistic antibacterial activity

  of irradiated and nonirradiated cumin, thyme and rosemary essential oils, Journal of Food Safety, 33 :2, 222-228. Hayek, S.A., Gyawali, R., Ibrahim, S.A., 2013, Antimicrobial Natural Products, Microbial

  Pathogens and Strategies to Combating Them: Science, Technology, and

  Formatex: USA Education, , 914-916.

  Hellmark, B., Unemo, M., Augusstinson, N., Derquist, S., 2009, Antibiotic Susceptibillity

  S. epidermidis

  Among Isolated from Prostetic Joint Infections with Special

  Clin. Microbiol

  Focus on Rifampicin and Reliability of the rpoB gene, ., 15:3, 238-244. Karmegam, N., Karuppusamy, S., Prakash, M., Jayakumar, M., Rajasekar, K., 2008, Antibacterial Potency and Synergistic Effect of Certain Plant Extract against Food-Borne ,

  J. Pharm . Sci ., 2:2, 88-93.

  , UIN, 15-17. Safihtri, M., Yasni, S., Bintang, M., Ranti, A.S., 2012, Toxicity Study of Antidiabetics

  , May-June, 390-395. Nopiyanti, H.T., Agustriani, F., Isnaini., Melki, 2016, Screening of Nypa Fructions as

  Antibacterial of Bacillus subtilis ,

  E. coli , and S. aureus , Journal Maspori , 8:2, 83-90.

  Novianti, D., 2013,

  Efektivitas Infus Daun Sirih sebagai Antibakteri Streptococcus mutans Penyebab Karies Gigi

  , Universitas PGRI, Palembang, 9. Otto, M., 2009,

  S. epidermidis

  The Accidental Pathogen,

  Nat. Rev. Microbiol ,. 7:8, 555-567.

  Prayoga, E., 2013,

  Perbandingan Efek Ekstrak Daun Sirih Hijau dengan Metode Difusi Disk dan Sumuran terhadap Pertumbuhan bakteri S. aureus

  Functional Drink

  extract,

  Piper crocatum

  and

  Cinnamomum burmanii

  ,

  Hayati Journal of Biosciences

  , Bogor, 32. Schaechter, M, 2004,

  The Desk Encyclopedia of Microbiology

  , Elsevier Academic Press: California, 789. Sendy, V.A.A., Pujiastuti, P., dan Ernawati, T., 2014, Daya Antibakteri Ekstrak Daun Sirih

  Merah terhadap

  Porphyromonas gingivalis

  , Artikel Ilmiah Hasil Penelitian Mahasiswa, Universitas Jember, 1-5. Su, X., Yao, Z., Li, S., Sun., 2016, Synergism of Chinese Herbal Medicine: Illustrated by

  Danshen Compound,

  Indian Journal of Pharmaceutical Sciences

  Piper betle

  Katno., 2008, Pengelolaan Pasca Panen Tanaman Obat , Departemen Kesehatan RI, 5-39. Kinuthia, G., Anjili, C.O., Gikonyo, N.K., Kigondu, E.M., Ingonga, J.M., Kabiru, E.W.,

  L.) terhadap Bakteri

  2013, In Vitro and In Vivo activity of Blends of Crude Aquous Extract from

  Allium sativum

  ,

  Callistemon citrinosa

  ,

  Moringa

  against

  L. major

  , Int. J. Med.

  Arom. Plants. , 3:2, 234-236.

  Kursia, S., Lebang, J.S., Taebe, B., Burhan, A., Rahim, W.O.R., Nursamsiar., 2016, Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etilasetat Daun Sirih Hijau (

  Piper betle

  Staphylococcus epidermidis

  , and

  ,

  IJPST , Sulawesi Tengah, 76.

  Kusuma, S.A.F., Zuhrotun, A., dan Meidina, F.B., 2016, Antibacterial Spectrum of Ethanol Extract of Indonesian Red Piper betel leaf against Staphylococcus species , Int.

  J. Pharm. Sci. Res. , 7:11, 448-452.

  Melina, E., 2016,

  Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Piper betle

  L . terhadap Bakteri S.

  epidermidis , Universitas Indonesia: Jakarta.

  Nair, R. dan Chanda, S., 2008, Antimicrobial Activity of

  Terminalia catarna

  ,

  Manikara zapota

  Hindawi, Evidence-based Complementary alternative medicine , 1-6. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D

  Sugiyono., 2012, , Alfabeta: Bandung, 76.

  Tao Che., Wang, Z.J., Chow, M.S.S., Lam., 2013, Herb-herb Combination for Therapeutic

  ,

  Enhachment and Advancement: Theory, Practice and Future Perspective

  Molecules ., 18, 5125-141.

  Chemistry, Biochemistry, and Ayuverda of Indian Medicinal Plants

  Tripathi, I.P., 2010, , International E-Publication : India, 50-60.

  Tripathi, K.D., 2013, Essentials of Medical Pharmacology , Jaypee Brothers Medical Publisher : London, 57-65.

  Sirih Merah

  Werdhany, W.I., Marton, A., Setyorini, W., 2008, , Balai Pengkajian Teknologi Pertanian : Yogyakarta, 15.

  Quality Control Methods for Herbal Materials

  WHO., 2011, , World Health Organization, 1-51.

  Williamson, E., Driver, S., dan Baxter, K., 2009,

  Stockley’s Herbal Medicine Interaction, Pharmaceutical Press : Chicago, 6-11.

  Zainab, Gunanti, F., Witasari, H.A., Edityaningrum, C.A., Mustofa., Murrukmihadi, M., 2016, Penetapan Parameter Standarisasi Non Spesifik Ekstrak Etanol Daun Belimbing Wuluh ( Averrhoa bilimbi L.), Prosiding Rakernas dan Pertemuan

  Ilmiah Tahunan Ikatan Apoteker Indonesia , 210-216.

  Zhou, X., Seto, S.W., Chang, D., Kiat, H., Naumovski, V.R., Chan, K., Bensoussan, A., 2016, Synergistic Effect of Chinnese Herbal Medicine: A Comprehensive

  Frontiers in Pharmacology

  Review of Methodology and Current Research, ., 7:201, 1-20. R-Team, R: The R Project for Statistical Computing , https://www.r-project.org/

Dokumen baru

Download (38 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

Uji Efek ekstra etanol daun sirih (piper betle L) terhadap penurunan kadar asam urat darah pada tikus putih jantan yang diinduksi kafeina
4
75
84
Analisis komponen kimia fraksi minyak atsiri daun sirih (piper batle Linn.) dan daun uji aktivitas antibakteri terhadap beberapa jenis bakteri gram negatif
0
3
33
Analisis komponen kimia fraksi minyak atsiri daun sirih piper bettle Linn) dan uji aktivitas antibakeri terhadap beberapa jenis bakteri gram positif
1
23
78
Uji toksisitas akut campuran ekstrak etanol daun sirih (piper batle L). dan ekstrak kering gambir (uncaria gambir R.) terhadap mencit putih jantan
1
6
145
Uji efektivitas ekstrak daun sirih hijau (Piper betle Linn) terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus viridans dengan metode Disc Diffusion
0
6
53
Efek ekstrak daun sirih merah (Piper crocatum) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus
0
8
55
Isolasi, seleksi dan uji aktivitas antibakteri mikroba endofit dari daun tanaman garcinia benthami pierre terhadap staphylococcus aureus, bacillus subtilis, escherichia coli, shigella dysenteriae, dan salmonella typhimurium
1
48
0
Efektivitas ekstrak daun sirih hijau (piper betle l.) terhadap pertumbuhan bakteri streptococcus pyogenes in vitro
2
48
44
Uji aktivitas antibakteri ekstrak daun garcinia benthami pierre terhadap beberapa bakteri patogen dengan metode bioautografi
1
10
92
karya ilmiah manfaat daun sirih
2
7
8
Efektifi tas berkumur rebusan daun sirih 10 dibandingkan obat kumur yang mengandung Cetylpyridinium chloride terhadap penurunan jumlah bakteri rongga mulut
0
0
5
58 Isolasi dan uji aktivitas antibakteri isolat bakteri endofit dari daun cendana (Santalum album linn.)
0
0
6
laporan praktikum sabun antiseptik ekstrak daun sirih
0
5
15
Aktivitas antibakteri salep ekstrak etanol daun sirih hijau (Piper betleL.) Terhadap infeksi bakteri Staphylococcus aureus
0
0
6
Efektivitas antibakteri ekstrak daun sirih (Piper betle Linn) terhadap bakteri Enterococcus faecalis (Antibacterial effectiveness of betel leaf extract (Piper Betle
1
0
5
Show more