T U G A S K E P O L I S I A N D A L A M M E N C E G A H DAN M E N I N D A K P E L A K U T I N D A K PIDANA P E M I L I H A N U M U M K E P A L A D A E R A H DI KABUPATEN OKU TIMUR

Gratis

0
0
79
1 year ago
Preview
Full text
(1)T U G A S K E P O L I S I A N D A L A M M E N C E G A H DAN M E N I N D A K P E L A K U T I N D A K PIDANA P E M I L I H A N U M U M K E P A L A D A E R A H DI KABUPATEN O K U TIMUR SKRIPSI Diajakan Guna Memennhl Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gclar Sarjana Hukum Program Studi Ilmn Hlikum Oleh Feri Irawan NIM: 502012127 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH P A L E M B A N G FAKULTAS HUKUM 2016 i

(2) UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH F A K U L T A S HUKUM PALEMBANG P E R S E T U J U A N DAN PENGESAHAN Judnl # Skripsi : T U G A S K E P O L I S I A N D A L A M M E N C E G A H DAN M E N I N D A K P E L A K U T I N D A K PIDANA P E M I L I H A N U M U M K E P A L A D A E R A H DI K A B U P A T E N O K U TIMUR Nama NIM/NIRM Program Studi Program Kekhususan : F E R I IRAWAN : 50 2012 127 : Ilmu Hukum : Hukum Pidana Pembimbing, H. Maramis SH., MH PERSETUJUAN O L E H T I M P E N G U J I : KETUA : Khalisah Hayatuddin, SH., M.Hum ANGGOTA : 1. Hj. Nunimah, SE.,SH.. MH 2. Burhanuddin, SH., MH DISAHKAN O L E H DEKAN FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG Dr-HitSRI SU>CfNflATI,SH.,M.Huin itBM/NIDN :792345/8996945909

(3) PI N D A F I A R A N U.IIAN S K R I P S I Pendiitlijran Skripsi Sarjana lakultas I liikum Universitas Miihammadiyah Paicnibang Strata I bagi : NAMA rPFRIIRAWAN NIM : 502012127 PRODI : IFMinillKlIM JUDUL SKRIPSI : T U G A S K E P O L I S I A N D A L A M M E N C E G A H DAN MENINDAK PEMILIHAN PELAKU UMUM TINDAK KEPALA PIDANA DAERAH DI KABUPATEN OKU TIMUR Dengan ditenmanya skripsi i n i , sesudah lulus dari Ujian Komprehensit". penuiis berhak mcmakai gelar: SARJANA HUKUM Diketahiii

(4) S U R A I I'lvRNYAI A A N Yang bcrtanda langan di havvah ini : Nama : Feri irawan Nim :502012127 I'rograni Sludi ; Ilmu Hukum Pro gram Kekhususan : Hukum Pidana Menyatakan bahwa karyailmiah / skripsi saya yang berjudu) : TUGAS K H P O I J S I A N D A L A M M E N C E G A H D A N M E N I N D A K P E E A K U TINDAK PIDANA PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH Dl K A B U P A T E N O K U T I M l IR Adalah bukan merupakan karya tulis orang lain, baik sebagian maupun keseliiiiihan., kecuali dalam hentuk kutipan yang telah saya sebulkan sumbcrnya. Deinikian sural ini saya buat dengan sebenar-bcnamya dan apabila peryataan ini lidak benar, saya bersedia mcndapalkan sanksi akademis. 'a[emhiing,f?XApri[ 2016 Yang menyatakan 993'ADF893a40021 f y 00 i'eri Irawan IV

(5) MOTTO : Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib Kaum, sebelum Mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri...** (AR-Rad.Il) KV P E R S E M B A H K A N K E P A D A : <> Ayabanda Babrowi dan Ibunda Maryam yang Tercinta atas Segala Do'a dan Dukangan yang telah diberikan Kaknk Agus Irawan S.T dan Adik Hengky Kurnlawan yang selalu memberi scmangat <* Sahabat dan Teman-tcman Sepeijuangan *** Almamalerku yang telah meodewasakan ku

(6) AUSIKAK T U ( ; A S K K P O L I S I A I N DALAM MENt lX^AII D A N M E N I N D A K I INDAK PIDANA I'F.LAKU P E M I L I H A N UMUM K E P A L A D A E R A H Dl KABUPATEN O K U TIMUR Feri Irawan I'cngamanan pemilihan umum dil'ungsikan pihak kepolisian sebab kepolisi;in menjadi subjek yang masuk dalam pusaran agenda politik itu sendiri. Tugas kepolisian dalam penyelcsaian tindak pidana pemilu Icrlibat sejak timbui mendapat laporan dari Bawaslu atau Panwaslu Provinsi, alau Panwaslu Kabupaten/Kota yang dianggapnya suatu tindak pidana pemilu. Tujuan penelitian ini untuk mengctahui tugas kepolisian dalam mencegah dan menindak pelaku tindak pidana pemilihan umum kepala daerah di kabupaten O K U Timur serta untuk mengctahui faktor-fuktor yang menghambat kepolisian dalam mencegah dan menindak pelaku tindak pidana pemilihan umum kepala daerah di kabupaten O K l i Timur. Jenis penelitian hukum yang digunakan adalah jcnis penelitian cmpiris. Hal ini dikarenakan penelilian ini mcnggunakan sumber data primer yang didapatkan dari hasIl wawancara dan observasi dan data sckunder bcrupa buku, dokumendokumcn, sural kabar yang tcrkait tugas kepolisian dalam mencegah dan menindak pelaku tindak pidana pemilihan umum kepala daerah. Berdasarkan hasil penelilian dipahami bahwa: 1. Tugas kepolisian dalam mencegah dan menindak pelaku tindak pidana pemilihan umum kepala daerah di Kabupalcn O K U Timur beiiim optimal, i la) itu dapat Icrlihat dari adanya pelanggaran yang telali memenuhi syiu^at (P21). Namun dcmikian kcbcradaan kepolisian sangal dipcrlukan dalam menyelesaikan laporan tindak pidana pemilu yang terjadi dengan melakukan penyeiidikan dan penyidikan. Jika tidak adanya kebcrdaan kepolisian, maka penanganan perkara Tindak i'idana Pemilukada tentu akan lerhambal. 2, Tak tor-Tak lor yang menghambat tugas Kepolisian dalam mencegah dan menindak pelaku Tindak Pidana Pemilihan Umum Kepala Daerah di Kabupaten (.)KU T imur pada dasarnya dapat dilihat dari dua sisi yaitu sisi proses dan sisi hasil dari pcmilu tersebut. Pemilukada dapal dikalakan berkualitas dari sisi prosesnya apabila i'emilukada itu berlangsiing secara demokratis. aman. tcrtib dan lancar serta jujur dan adil, Sedangkan apabila dilihat dari sisi hasilnya, pemilukada ilu harus dapal menghasilkan wakilwakil rakyat yang mampu mcnsejahterkan rakyat serta mampu mewujudkan cila-cita nasional. Kala kunei: tugas kepolisian, lindak pidana, pemilukada. vi

(7) KATA PF.N(;AN [ AR Hismillahirrahmanirrahim Assulamu'aluikum wr wbr Perlania-tiima disampaikan rasa syiikiir kehadiral Allah SWT yang maha peiigasih lagi pcnyayang atas segala rahmat dan karuniaNya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Skripsi merupakan salah satu persyaralan bagi seliap mahasiswa yang ingin menyelesaikan studinya di I'akultas Hukum Universitas Muliam madly ah berjudulkan: Palembang. Tugas Sehubungan dengan i l u , disusun Kepolisian dalam Mencegah dan skripsi Menindak yang Pelaku Tindak Pidana Pemilihan Umum Kepala Daerah di Kabupaten O K U T i m u r . Dengan sclesainya skripsi ini. pcrkcnankan lah diucapkan terim:tlikasih yang sebesar-bcsamya kepada Rektor Universitas Muhammadiyah Palembang Dr. A b i d Dja/.uli,SH.,MM. Alas kesempatan d;tn fasilitas yang diberikan kepada kami untuk mcngikuti dan menyelesaikan Pendidikan Program Sarjana i n i , terimakasih juga kepada Dekan l-'akullas Hukum Universitas Muhammadiyah Palembang Dr.llj.SriSuatmiali,SH., M.Hum atas kesempatan mcnjadi mahasiswa Fakultas Flukum, Universilas Muhammadiyah Palembang. Dcmikian juga halnya kepada Wakil Dekan 1 Dr.Hj.Sri Sulastri,SH.,M.Hum dan Wakil Dekan I I Hj.Alriza Gusti,SH.,M.Hum, Wakil Dekan 111 Nur Husni Emilson,SH.,Sp.N.,MH dan Wakil Dekan IV A n i Aryati.S.ag.,M.Pd.I Terimakasih yang tak tcrhingga dan penghargaan yang sctingi-tinginya diucapkan kepada Bapak H, Maramis.SH.,M.Hum sclaku Doscn Pembimbing, yang dcngan pcnuh pcrhalian telah membcrikan dorongan. bimhingan dan saran sehingga skripsi ini sclesai. Disampaikan Juga penghargaan kepada seluruh slaf pengajar Hukum Universitas Muhammadiyah Palembang. iak tcrlupakan Fakultas disampaikan juga terimakasih kepada Bapak Mulyadi •ran/.i]i..SH..MH selaku ketua Prodi ilmu Hukum pada I'akultas Hukum Universitas Muhammadiyah Palembang. Ibu Rosmawali,Slj..M.MH sclaku Pembimbing akademi selama kiiliah di Fakultas vti

(8) 1 [ukiini Univci'sitas Mtilianiniatliyaii Paicnibang alas bantiian dan dorongan hingga skripsi dapal di sclcsaikan. Secara khusus dengan rasa hormal dan penghargaan yang sclinggi-tingginya diberikan terimakasih kepada ayahaiida Bahrowi dan ibunda Maryam, Pak R. Game, Agus Irawan S T . Hengky Kurniawan, Rian Pralama S.Kom yang penuh kctabahan selalu mcndampingi dan memotivasi untuk menyelesaikan studi. TTada gcdung yang paling indah, kecuali persahabataii, untuk itu, dalam kesempatan diucapkan terimakasih kepada sahabat-sahabat yang tel;ih banyak bcrpcran, terutama kepada orang yang paling berjasa dan yang tersayang Pebrina Dewi Yolanda S.H.I scbagai tempal curahan hati selama i n i , begitujuga kepada para sahabalku, llamzah Reza, i oni Abdullah, Yuriski, Okta Sapiitra dan sahabatsahabatku yang lainnya. T erimakasih atas semua kebaikannya, semoga A l l a l i Swt membalas kebaikan kalian. Akhirnya, tiada gading yang tak retak, relaknya gading karna alami, tiada orang yang tak bersalah, kecuali llahi Robbi. Mohon maaf atas segala kesalahan selama i n i , begitu pun skripsi ini jauh dari sempurna. Untuk i l u , diharapkan ada masukan yang mcmbangun untuk kesempumaannya. Terimakasih semua, tiada lain yang diucapkan selain kata semoga kiranya mendapal balasan dari Allah SWT, Aamiin. Sesungguhnya Allah mengctahui akan niat baik hamba-hambanya. Billalii Fii Sabilihaq Fastabiqul Khairat Wassalamu'alaikum wr wbr Palembang,/S*April 2016 Hormat kami, Penclili, viii

(9) DAFTAR ISI Halaman HALAMAIN J U D U L i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ii H A L A M A N P E N D A F T A R A N UJIAN SKRIPSI iii HALAMAN SURAT PERNYATAAN iv H A L A M A N M O T T O DAN P E R S E M B A H A N v ABSTRAK vi KATA PENGANTAR viii D A F T A R ISI X BAB i : P E N D A H U L U A N A . Latar Belakang 1 B. Rumusan Masalah 6 C. Tujuan dan Manfaal Penelitian 6 D. Kerangka Konseptual 7 E. Metode Penelitian 9 F. Sistematika Penulisan 12 B A B II : T I N J A U A N P U S T A K A A . Pcngertian Pemilu dan Pemilukada 13 R. Bentuk-bentuk 'Undak Pid;ma dalam Pemilukada 21 C. Penegak Hukum Terhadap Tindak Pidana Pemilukada 23 ix

(10) D. Sanksi I'idana Terhadap I'elaku Tindak I'idana I'eniiliikada 30 BAB III : PKMBAIIASAN A. Tugas Kepolisian dalam Meneegah dan Menindak Pelaku Tindak Pidana Pemilihan U m u m Kepala Daerah di Kabupaten O K U Timur 40 B. Faktor-faktor yang Menghambat Tugas Kepolisian dalam Mencegah dan Menindak Pelaku Tindak Pidana Pemilihan U m u m Kepala Daerah di Kabupaten O K U Timur 50 BABIV:PENIITIIP A . Kesimpulan 53 B. Saran 54 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN X

(11)

(12) It A It I I'ENDAIIIIUJAN A. L a l a r Belakang Negara Kcsaliian Republik Indonesia merupakan negara hukum yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, yang bcrluiuan untuk mewujudkan lata kehidupan berbangsa dan bcrnegara yang tertib, makmur dan berkeadilan. Undang-Undang Dasar 1945 scbagai konstitusi negara Rcpublik Indonesia mengalami perjalanan yang cukup panjang dalam perjuangan bangsa Indonesia, pelaksanaan baik dalam kedudukannya pcnyelenggaraan scbagai kehidupan konstitusi berbangsa maupun dan dalam bernegara. NcgaraRepublik Indonesia merupakan sebuah negara kesaluan yang bcrbentuk republik dan menjalankan pemerinlahan dalam bentiik demokrasi. Konstitusi Indonesia. Undiuig Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, menjelaskan bahwa Indonesia adalah sebuah Negara demokrasi. Oleh karena ilu secara hierarki rakyat adalah pemegang kekuasaan tcrlinggt melalui sistem pcrwakilan dengan cara pemilihan umum. Salah satu wujud pelibatan masyarakat dalam proses politik adalah pemilihan umum (pemilu). Pemilihan tahapan umum merupakan mekanisme pcnyclenggiiraan negara dan utama pembenlukan yang terdapal dalam pemerinlahan. Pemilihan umum dipandang scbagai bentiik paling nyaia diiri kedaiilalan yang bcrada di langan rakyat dalam pcnyelenggaraan pcnyelenggaraan Negara. Oleh karena itu, sistem pemilihan umum selalu menjadi perluilian utama dan leihadap Penierintahan .sehingga pedoman dark olch, dan untuk rakyal diharapkan benar- 1

(13) bcnar dapal diwDiLidkan n i d a l u i pcnalaan sistem dan kiialitas pcnyclcnggaran I'cinilihan Umum.' Sistem demokrasi dan konstitusi iicgara merupakan dua pilar periiint; unluk menegakkan hak azasi manusia di Indonesia. Berdasarkan ketenluan dalam Pasal 1 ayat 2 Undang-Undang menyatakan bahwa Dasar Negara ''Kedaulatan menurul Undang-Undang Dasar", herada Republik Indonesia di (angan rakyatdan 1945 yang dilaksanakan oleh karena itu kedaulatan di Indonesia adalah kedaulatan rakyat, dari rakyal, oleh rakyat dan untuk rakyat. Makna dari "kedaulatan berada di tangan rakyat" dalam hal ini ialah bahwa rakyat memiliki kedaulatan. langgung jawab, hak dan kewajiban untuk secara demokratis nicmilih pcmimpin yang akan mcmbenluk pemerinlahan guna rnengurus dan inelayaiii seluruh lapisan masyarakat, serta memilih wakil-wakil rakyal untuk mengawasi jalannya pemerinlahan. Perwujudan kedaulatan rakyat dimaksud dilaksanakiui melalui pemilihan umum secara langsung sebagai sarana bagi rakyal unluk memilih wakil-wakilnya yang akan menjalankan fungsi melakukan pengawasan, menyalurkan aspirasi politik rakyat. membuat undangundang sebagai iandasan bagi semua pihak di Negara Kesaluan Republik lndi>nesia dalam menjalankan fungsi masing-masing, serta merumuskan anggaran pendapalan dan belanja unluk membiayai pelaksanaan fungsi-fungsi tersebut. Sesuai ketenluan Pasal 22C ayal (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia fahun 1945, pemilihan umum untuk memilih anggota Dcwan Perwakilan Rakyat, Dewan i'crwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyal ' GatTar Jaiiedjri. I'olink Hukum Pemilu. Konstitusi Press, Jakarta, 2012, him, 1.

(14) 3 Daerah diselenggarakan berlandaskan asas langsung. umum. bebas, raluisia. jujur, dan adil. I'emililiati umum dimaksud discienggarakan dcngan menjamin primsip kelerwakilan. yang artinya setiap orang Warga Negara Indonesia Icrjamin mciniliki wakil yang duduk di lembaga pcrwakilan yang akan menyuarakan aspirasi rakyat di sctiap lingkatan pemerinlahan, dari pusat hingga ke daerah. Konsep suatu perwakilan adalah seseorang atau kelompok mempunyai kemampiian atau kewajiban unluk herbicara dan bertindak alas nama rakyat atausuatu kelompok yang lebih besar sehingga anggota Icgislatif nuniinya akan mewakili rakyat melalui partai politik. Seianjutnya. pemilihan umum discienggarakan oleh penyelenggara pcmilu yang mempunyai inlegritiLS, profesionalilas. dan akuntabilitas yang dilaksanakan secara lebih berkualitas, sistematis, legilimaie, dan akuntabel dengan partisipasi ma.syarakat seluas-luasnya. Penyelenggara pemilu, aparal pemerintah, pcscrla pemilu, pengawas pemilu, pemanlau pemilu, pemilih. dan semua pihak yang tcrkait harus bersikap dan bertindak jujur sesuai dengan peraturan perutidangundangan. Pemilih dan peserta pemilu mendapat perlakuan yang sama dan bebas dari kecurangan atau perlakuan yang tidak adil dari pihak manapun. Pemilu harus dilaksanakan secara lebih berkualitas agar lebih menjamin k(»mpelisi yang sehal, partisipaiif, mempunyai dcrajal kelerwakilan yang lebih linggi. dan memiliki mekanisme pcrtanggungjawaban yang jelas. Dalam Uiulang-lJndang Nomor 15 fahun 2011 tenlang I'enyeleiiggara I'eniilu diatur mcngenai penyelenggara Pemilihan Umum yang dilaksanakan oleh siialii Ktimisi Pemililian Umum (KPU) yang bcrsifal nasional. tctap. dan mandirt.

(15) 4 Sifiit nasional nicnccrminkaii baliwa wilayab kerja dan langgung jawab K l ' l I sebagai i'enyelcnggara Pemilihan Uiniim inencangkup seluruh wilayah Negara Kesaluan Republik Indonesia. Sifal Iclap ineniinjukkaii KPl I scbagai lembaga yang menjalankan tugas secara berkesinambungan ineskipun dibatasi olch masa jabatan terlentu. Sifat mandiri menegaskan Kl'U dalam mcnyelcnggarakan Pemilihan Umum bebas dari pengaruh pihak niana pun. Meliputi pengaturan mengenai lembaga penyelenggara Pemilihan U m u m Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyal Daerah, Pemilihan U m u m Prcsiden dan Wakil Presiden, serta Pemilihan Umum Kepala Daerah Wakil Kepala Daerah yang sebeluniiiya diatur dalam beberapa peraturan pcrundang-iindangan kemudian discmpumakan dalam 1 (satu) Undang-Undang secara lebih komprehensil". Serta bagaimana kinerja serta upaya mereka dalam menghadapi pelanggaran tindak pidana tersebut guna mewujudkan Pemilu yang sesuai dengan dasarnya yakni bersih, jujur, dan adil sesuai dcngan tujuan dari konstitusi negara Indonesia.^ Sebuah lembaga yang bertanggung jawab mengatur administrasi pcnyelenggaraan pcmilu harus independen dan mampu mengadakan proses pemilu yang adil dan efektif.'' T'indak pidana pemilu di Indonesia dalam perkemhangannya mengalami banyak pcrubahan baik bcrupa pcningkatan jenis tindak pidana sampai perbcdaan tentang pcnambahan sanksi pidana. Hal ini discbabkan karena semakin hari tindak pidana pemilu semakin menjadi perhatian yang semakin serins karena ukuraii ^ Samsul Wahidin .Hukum Pemerinlahan Daerah MengOMUsi Pemilihan llmum Daerah. I'uslaka IVIaJar, YoL;yaKarta, 2008, hlin. 8. ' Sctio W. Socmcri,[)idik Supriyanto. I'opo Siinloso, Peiianganun Pelanggaran Kcmilnian Bagi I'cmbaman Tala Pemerinlahan, Jakarta, 2 0 ! ) . him,2. Kepala Pemilu.

(16) 5 keberhasilan Negara dcmokralis dilihat dari kcsiikscsannya mcnyelcnggarkan pcmilu. i'emeriniah kemiuiian mempcrkeiat aturan hukum lenlaug pcmilu dcngan semakin mcmpcrbcrat sanksi pidana iinluk pelaku tindak pidana pcmilu. Seianjutnya dengan harapan bahwa dengan adanya Undang - Undang Nomor 8 Tahun 2012 sebagai Undang - Undang terbaru tenlang pemilu anggota DPR, DPD, dan DPRD sebagai aturan pelaksanaan pemilu yang telah discmpumakan dari Undang - Undang sebelumnya. Undang - Undang ini telah mengantisipasi apabila icrjadi tindak pidana dan ditegaskan bahwa ada 4 (empat) inslitusi yang terlibat dalam penanganan perkara tindak pidana pemilu yakni panitia Pengawas pemilu (panwaslu), Kepolisian, Kejaksaan, dan Pengadilan. Kepolisian Negara Republik Indonesia diatur dalam Dndang-undang Nomor 2 Tahun 2002. Kepolisian Negara Republik Indonesia mempakan alat Negara yang bcrpcran dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum serta membcrikan perlindungan, pcngayoman dan pclayanan kepada masyarakat dalam riingka terpeliharanya keamanan dalam negeri. Pengamanan pemilihan umum dil'ungsikan pihak kepolisian sebab kepolisian menjadi subjek yang masuk dalam pusaran agenda politik itu sendiri. Pemilihan umum yang bebas, jujur dan adil jelas nicrupakan indikator negara demokratis yang dewasa. Oleh karenanya, untuk menjamin kebebasan, kejujuran. dan kcadilan tersebut dipcrlukan perangkat administrasi dan hukum yang dapat menjamin keamanan setiap tahapan proses pemilihan umum. Salah satunya adalah peran kepolisian dalam menjamin keamanan dan menindak pelanggaran yang berunsur pidana sesuai undang-undang.

(17) 6 Dari iiraian di alas, maka pcmilis tcrtarik lanjiit, maka iiiilLik mcncMli dan mcngkaji lebih penuiis lerlarik untuk memiangkaii ke dalam skripsi ini yang herjiidul: " H K ; A S K K I ' O L I S I A N D A L A M MKN< I <;Ail DAN M K N I N D A K I ' K L A K l l T I N D A K P I D A N A P E M I L I H A N D M L M K E P A L A D A E R A H Dl K A B U P A T E N O K U TIMUR" B . Rumusan Masalah Adapun yang mcnjadi permasalahan yang akan di bahas di dalam skripsi ini adalah scbagai berikut: 1. Bagaimanakah Tugas Kepolisian dalam Meneegah dan Menindak Pelaku Tindak Pidana I'cmilihan Umum Kepala Daerah di Kabupaten O K U T imur? 2. Apakah Faktor-faktor Mencegah dan yang Menghambat Menindak Pelaku Tugas Kepolisian dalam 1 indak Pidana I'emilihan Umum Kepala Daerah di Kabupaten O K U Timur? C T u j u a n dan Manfaat Penclitian Tujuan penelilian yang hcndak dicapai dari penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk Mengctahui 'Tugas Kepolisian dalam Meneegah dan Menindak Pelaku l indak i'idana Pemilihan Umum Kepala Daerah di Kabupaten O K U Timur. 2. Untuk mengelahiii Faklor-Taktor yang Menghambat Kepolisian dalam Mencegah dan Menindak I'claku Tindak Pidana Pemilihan Umum Kepala Daerah di Kabupalcn O K U I imur.

(18) ManTaal I'cnLTitiaii ini adalah : 1. Melongkapi dan bersit'alakadeniis niemcnuhi liigas scbagai guna meraih gdar Sarjana persyaralan liukuiii pekok yang pada laikiillas l l u k i n n Universilas Muhammadiyah Palembang. 2. Mengcmbangkaii ilmu dan pcngetahiian hukum dari pcrkiiliahan yang bersifat icoritis dcngan praktik yang Icrjadi dalam masyarakat tcrkait Tugas Kepolisian dalam Mencegah dan Menindak Pelaku Tindak Pidana Pemilihan Umum di Kabupaten O K U Timur . 3. Menambah pengalaman dan membcrikan sumbangan pcmikiran yang berguna bagi kalangan umum, bagi para mahasiswa fakultas hukum dan almamaler. 1>. Kcrangka Kon.scplual Berikut ini akan diberikan pcngertian (definisi) dari beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:'* I- Pemilihan Umum seianjutnya disebul i'emilu adalah siirana pelaksana kedaulatan rakyat yang dilaksanakan .secara langsung umum, hebas, rahasia jujur dan adil dalam Negara Kesaluan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 2. Pengawas I'emilu Panwaslu/Kabupalen (Panwaslu) Kola. adalah Panwaslu Bawaslu. Kecamatan, Panwaslu Pcngawas Provinsi, Pemilu Lapangan, dan Pcngawas Pemilu I.uar Negeri. ' Republik Indonesia.llndang-Unilang Nomor 10 Tahun 2008 lenlang Anggola UPR. Dl'D, DI'RO.pasal I, I'emilihan Uniiini

(19) 8 3, Kepolisian adalah scgala hal-ihwa! yang bcrkailan dcngan fungsi dan lembaga polisi sesuai dcngan peraturan pcrundang-undangan. 4, Kejaksaan Republik Indonesia yang seianjutnya discbut Kejaksaan adalah lembaga pemeriiilahun yang meiaksanakan kekuasaan Negara dibidaiig pcnuntutan serta kcwcnagan lain berdasarkan berdasarkan Undang-Undang. 5, Sentra Penegakan Hukum ferpadu, yang seianjutnya discbut scbagai Sentra Gakkumdu adalah sebuah lembaga yang dibentuk oleh Jaksa Agung Rcpublik Indonesia, Kapolri, dan Ketua Bawaslu yang bertujuan tcrcapainya penegakan hukum tindak pidiina Pemilu Legislatif tahun 2009 sesuai dengan prinsip peradilan. E . Melode Penelilian 1. .Icni.s Penelitian Penyusunan skripsi ini akan didahului dcngan suatu penclitian awal. Maka dcngan itu penuiis mengadakan penclitian awal bcrupa mengumpulkan data yang menunjong masalah yang diteliti. Jenis penelitian hukum yang digunakan dalam skripsi ini adalah jenis penelitian empiris. Hal ini dikarenakan penelitian ini mcnggunakan sumber data primer yang didapatkan dari hasil wawancara dan observasi. 2. Sumber Data Jenis dan sumber data yang dipcrlukan dalam penclitian ini sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian, dibagi kedalam dua jenis data E - Molcong, Lexy J , Metodologi 2002. him. 157. Penelilian KualiiaiiJ, PI Kcmaja Rosdakarya, Bandung,

(20) 9 1. Data Primt-r Data primer adalah data yang dikumpiiikan alau diperolch pcneliti secara langsung di iapangan dengan pihak-pihak yang tcrkail dcngan penulisan skripsi. Data primer ini discbut juga lakta-lakta yang ada di Iapangan. Untuk penelitian ini data primer berupa data hasil dari wawancara dengan informan. Data Sckunder 2. Data sckunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh penclili secara tidak langsung melalui media perantara. Data ini biasanya dari perpustakaan atau dari laporan dari pcneliti tcrdahulu. Untuk penelilian ini data sekundemya berupa buku, dokumcn-dokumen, sural kabar yang tcrkait tugas kepolisian dalam mencegah dan menindak pelaku tindak pidana pemilihan umum kepala daerah. 3. Tcknik Fengumpulan Data Penelitian di samping mcnggunakan teknik yang tepal, juga perlu mcmilih alat pengumpulan data yang relevan. Pengumpulan data dikikukan dengan dua cara yakni melalui Penelitiiin Penelilian I.apangan (Field a. Kepustakan {Library Research) dan metode Research) yaitu dcngan wawancara. Wawancara Wawancara (Interview), yakni penclili mengadakan tanya Jawab dcngan pihak-pihak yang tcrkait langsung dengan masalah yang dibahas yaitu pihak kepolisian dan insiansi tcrkait lainnya seperti Panwaslu dan K P U Kabupaten, sebagai penunjang data normatif.

(21) b, Observasi Observasi merupakan sualii Icknik pengumpLilaii dala yang dilakiikan dcngan eara mcngamali secara langsung pada obyck scbagai simibcr data. Dalam penclitian ini yang tcrinasuk dalam teknik observasi yaitu pengamatan langsung yang dilakukan olch pcneliti di tenipat penelilian yaitu di Polres OKU Timur. 4. Anaiisis Dala Untuk mengolah data primer dan data sckunder seperti yang telah dijabarkan di atas, agar mcnjadi sebuah karya ilmiah (skripsi) yang terpadu dan sistematis dipcrlukan suatu tehnik anaiisis yang dikenal dengan anaiisis Deskriplif nyata Yuridis yailu dengan cara menyclaraskan dan menggambarkan keadaan yang mcngenai penanganan tindak pidana pemilihan umum legislatif di Kabupaten O K U Timur. Kemudian berdasarkan hasil wawancara, dokumcntasi dan sludi kepuslakaan yang diperolch. maka data tersebut kemudian diolah dan dianalisis secara kualitalif sehingga menghasilkan dala yang bersifat dcskriptif. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh pembahasan dan kesimpulan yang relevan, tepal serta sesuai dengan permasalahan yang diteliti. F . Sistematika Penulisan Adapun pciiciilian skripsi tcrdiri dari empat bab adalah scbagai berikut: BAH I : P H N I M H U L U A N Bcrisi tenlang latar belakang masalah. rumusan masalah. tujuan dan maniaal penclitian. kerangka konseptual, metodologi penelitian dan diakhiri dengan sistematika pcnulisan.

(22) 11 H A i ! 11 : T I N J A U A N PUST A K A 1. I'cngcrtian pemilu dan pcmilukada. 2. BeiUiik-benluk lindak pidana dalam pcmilukada. 3. Penegak hukum terhadap tindjik pidana pemilukada. 4. Sanksi pidana terhadap pelaku tindak pidana pemilukada. BAB III ;PEMBA1IASAN 1. Tugas kepolisian dalam mencegah dan menindak pelaku tindak pidana pemilihan umum kepala daerah di Kabupaten O K U 1 imur. 2. Faktor-faktor yang menghambat tugas kepolisian dalam mencegah dan menindak pelaku tindak pidana pemilihan umum kepala daerah di Kabupaten Oku T imur. B A B IV : PFNUT UP Berisikan kesimpulan dan saran.

(23)

(24) ItAB I I I IIN.IAUAIN I'US I A K A A . Pcngertian Pcmilu dan Pcmilukada 1. Pcngertian Pemilu Pemilihan umum yang seianjutnya disebiit Pcmilu adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan Kcpublik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Kcpublik Indonesia lahun 1945.* Menurul Miriam liudiardjo unluk meiaksanakan nilai-nilai demokrasi perlu discienggarakan beberapa lembaga sebagai berikut 'J 1. Pemerinlahan yang hcrtanggungjawab; 2. Suatu dcwan perwakilan rakyat yang mewakili golongan-golongan dan kepenlingan-kepentingan dalam masyarakat dan dipilih dengan pemilihan umum yang bebas dan rahasia dan atas dasar sekurang-kurangnya dua calon unluk seliap kursi. Uewan perwakilan ini mengadakan pengawasan (kontrol), memungkinkan oposisi yang konstruktif dan mcmungkinkan penilaian terhadap kebijaksanaan pemerintah secara kontinyu; 3. Suatu organisasi politik yang mencakup salu alau lebih parlaipolitik (sistem dwi-parlai, mulli-partai). Parlai-parlai mcnyelcnggarakan hubungan yang kontinyu antara masyarakat umumnya dan pcminipin-pemimpitinya; 4. Pcrs dan mcditi massa yang hebas untuk menyatakan pcndapal; ^Miriiim liudiardjo. Dasar-Dasar Ilmu Polilik, IM Gramedia Puslaka Ulama, Jakarta. 2008. him. 62 ' Ihid. him, 63-64. 12

(25) 13 5. Sisleni pcnuiilan yang bebas unluk incnianiin liak-hak iiy.asi Jan sebagai salah salu menipcrlahankan kcadilan. Menurut saraiiaunluk Widodo Ekaljahjana mewujudkan nilai-nilai pemilihan umum demokrasi, paling tidak mesti didasari olehheberapa hal. yaitu 1. Adanya peraturan pcrundang-undangan yang memadai scbagai Iandasan bagi pcnyelenggaraan pemilihan umum yang demokratis. fair, jujur dan adil; 2. Pemilu diselengg;irakan dengan prinsip-prinsip langsung. umum, bebas. rahasia, jujur dan adil; 3. Pcmilu disci en gganikan oleh lembaga penyelenggara pemilihan umum yang bcrwenang. bersifat independen. tidak memihak atau netral. transparan, adil dan bertanggungjawab; 4. Adanya lembaga pcngawas dan/atau lembaga ptcmanlau yang dibentuk secara independen, yang berfungsi terhadap pcnyelenggaraan untuk melakukan pengawasan atau kontrol pemilihan umum agar dapat berUingsung secara demokratis, jujur dan legal {s;ih) berdasarkan hukum dan kcadilan; 5. Adanya lembaga peradilan yang independen dan tidak memihak. yang khusus dibentuk untuk menangani nia.salah pelanggaran. kecurangan dan lindakanlindakan lainnya yang melanggar nilai-nilai demokrasi. kejujuran, normanorma hukum dan kcadilan. temiasuk mcmuluskan keabsahati hasil pemilihan umum yang discienggarakan; " Widodo ITaijalijana. Konsep Hukum Pemilu Dasar Jan Asas Hukum Yang Penyelenggaraan Pemilu Ji Indonesia, Universitas Jcmbcr. Jcmber,2l)l I, lilin, l . MelanJasi

(26) 14 b. Adanya lembaga penegak hukum yang khusus bcrlugas untuk mengawal dan menegakkan nonna-norma hukum pemilu agar dilaati oleh peserta pemilu, penyelenggara pemilu, pengawas atau pemanlau pemilu dan masyarakat luas lainnya. Dengan dcmikian pemilu merupakan sarana yang penting untuk rakyat dalam kehidupan bernegara, yaitu dengan jalan memilih wakil-wakilnya yang pada gilirannya akan mengendalikan roda pemerintahan. Hasil pemilihan umum yang diselengarakan dalam suasana kctcrbukaan dengan kebebasan bcrpendapal dan kebebasan berserikal, dianggap mcnccrminkan dcngan cukup akurat menccrminkan aspirasi dan partisipasi masyarakat.'' Berdasarkan Pasal I Ayat (1 )lJndang- Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1999 tentang Pemilihan Umum, pemilu adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat dalam Negara kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan U U D 1945. Menurul Harris G.Warren, pemilu adalah kesempatan bagi para warga Negara unluk mcmilih pcjabat-pcjabat pemerintah dan mcmutuskan apakah yang mereka inginkan untuk dikerjakan oleh pcmcrinlah. Dan dalam membual keputusan yaitu para warga negara menentukan apakah sebcnarnya yang mereka inginkan untuk d i i t i i l i k i . ' " ''Miriam lUidiarjo, Op Oil. lilm. 461. '"Warren ( i . Harris, I'arpol Suatu Tinjuuan Umum, Rajawali, Jakarta, 1984. hlm.8l.

(27) 15 Pcmilu adalah sarana demokrasi yang jienliiig dan ineriipakaii pcrwLi(iidan yang nyata untuk kcikut scrlaan rakyal dalam kehidupan keiiegaraan. Berdasarkan pcndapat tersebut maka dapal dikatakail baliwa pemilu merupakan suatu eara menentukan wakil-wakil yang akan menjalankan roda pemerintahan dimana pelaksanaan pemilu harus disertai dengan kebebasan dalam arti tidak mendapat pengaruh maupun lekanan dari pihak mana pun juga. Semakin tinggi tingkal kebebasan dalam pelaksanaan pemilu maka semakin baik pula penyelenggaraan pemilu. Dcmikian juga scbaliknya. semakin rendah tingkat kebebasan maka semakin buruk pula pcnyelenggaraan menyatakan dikalakan bahwa pula pcmilu. Hal ini mcnimhiilkan semakin semakin banyak tinggi rakyat yang ikul kadar demokrasi anggapan pemilu yang maka lerdapat yang dapat dalam mcnyelcnggarakan p c m i l u . " i'emilu discienggarakan berdasarkan ketetapan MI'R Rl Nomor X i V / M r ' R y i 9 9 8 yang berdasarkan pada pertimbangan bahwa di dalam N K R I yang berdasarkan Pancasila, kedaulatan adalah di tangan sepemihnya olch sccaranyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara M I ' R R l . Dalam rangka rakyal dan dilakukan mewujudkan kedaulatan rakyat perlu discienggarakan pemilu secara demokratis, transparan, jujur dan adil discienggarakan dcngan pcmbcrian dan peinuiigutaii suara secara langsung. umum, bebas dan rahasia. "Syahrial Syarbaini.dkk. Sosiolugi dan Polilik. Ghalia Indonesia, Jakarta. 2l)(12, hlni.SO,

(28) 16 Sebagai tindak lanjm dari upava inipleinciitasi kcielapan MIM( Rl lersebut dibenluk Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 lahun 1999 tcntang Pemilihan l l m u m , yang anlara lain memberikan anianal unluk pcnyelenggaraan pemilu yang didasarkan pada prinsip bahwa pemilu merupakan sarana unluk mewujudkan kedaulatan rakyal dalam rangka kcikutsertaan rakyat dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. Pemilu bukan hanya bertujuan untuk mcmilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk dalam lembaga Pcrmusyawaralan/perwakilan. melainkan juga merupakan suatu sarana unluk mewujudkan penyusunan tala kehidupan Negara yang dijiwai semangal Pancasila dan U U D N K R I 1945. 2. Pcngertian Pcmilukada Pcngertian consensus politik penyelenggaraan Pemilihan Umum nasional Kepala yang merupakan pemerintahan setelah Daerah salah (Pemilukada) satu digulirkunnya instrument otonomi mcnjadi penting daerah di Indonesia.'^ Sedangkan Indonesia sendiri telah meiaksanakan pemilukada secara langsung sejak diberlakukannya Undang-Undang Rcpublik Indonesia Nomor 32 T ahun 201)4 T entang Pemerintah Daerah. Hal ini apabila dilihat dari perspcktif desentralisasi, pemilukada langsung lersebul merupakan sebuah lerobosan baru yang bermakna bagi proses konsolidasi demokrasi ditingkat local .Pcmilukada langsung akan mcmbuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi masyarakat dalam '^HAW WiiJjaja. /'envelenggarunn Jakarta, 20115. him,! 14. Otonomi di Indonesia. P i ' Kajagrafiiido Pcrsada.

(29) 17 Proses demokrasi unluk menentukan kepeniinipinan polilik ditingkat lokal. Sistem ini juga mcmbuka peluang bagimasyarakat unluk niengaktiialisasi liak-bak politiknya secara lebih baik lanpa harus dircduksi oleh kcpcniingan-kcpcntingaii clitpolilik, scpcrti kelika berlaku sistem demokrasi pcrwakilan. Berdasarkan Pasal 1 Ayat (2) Peraturan Komisi Pemilihan U m u m N o m o r 69 Tahun 2009 Tentang Pedoman T eknis Kampanye Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang merumuskan pcngertian tentang pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah, y a k n i : " (2) Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah seianjutnya disebut Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah adalah Pemilu untuk memilih kepala daerah dan wakil kepala daerah secara langsung dalam Negara Kesaluan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Kcpublik Indonesia T ahun 1945. Sebelum diberlakukannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah, kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih Oleh DPRD Nanuin sejak bulan Juiii tahun 2005 Indonesia mcnganut system pemilukada secara langsung.' ' Pada dasarnya daerah merupakan bagian yang tidak dapal dipisahkan dcngan N K R I . Hal ini berkaitan dengan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala ' ' P K P U Nomor 69 Tahun 2009 Tenlang Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. " M A W Widjaja, Op. On., hlm.114. Pedoman leknis Kampanye I'emilihan Umum

(30) daerah yang seharusnya sinkron dengan pemilihan prcsiden lian wakil presiden, yaitu pemilihan secara langsung. Pasal 1 Ayat (2}IIU1) NKRI 1945 menyatakan bahwa kedaulatan bcrada di langan rakyal dan dilaksanakan menurut U U D N K R I 1945." Kedaulatan ilu .sendiri mengandung arti bahwa rakyat turut serta secara aktif dalam setiap proses penyelenggaraan pemerintah, lermasuk dalam menentukan kepala daerah di wilayah masing-masing sebagai mana di atur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32'i'ahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2005 Peraturan tentang Pemilihan, Pengesahan Pengangkalan, dan Pemberhenlian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Pemilukada langsung merupakan perwujudan konstitusi dan U U D NKRJ 1945. Seperti telah diamanatkan Pasal 18 Ayal (4) U U D N K R I 1945, bahwa: "Gubcmur, Bupati dan Wali Kota, masing-masing sebagai kepala Pemerintah Daerah provinsi, kabupaten, dan kota dipilih secara demokratis". Sedangkan Pasal 56 Ayat (1) Undang-Undang Rcpublik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah menyatakan bahwa:"" 1. Kepala Daeriih dan Wakil Kepala Daerah dipilih dalam satu pasangan calon yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. ' T J U D N K K I 1945 vang disahkiin pada langgal 19 November 2001, " U U No.32 Tahun 2004 Tentang I'emeriniah Daerah.

(31) 19 2. Pasangan calon sebagaimana dimaksud pada ayal (1) diajiikan olch partai politik atau gabungati partai politik. Kctcntuan pasal 5b Ayat (2) dinyatakan lidak mempunyai kckuatan hukum mengikat sclelali salah salu calon Kepala Daeraii dari Provinsi NT B yang bernama Lain Ranggalawc mcngajiikan pengujian U U Nomor 32 Tahun 2004 l enlang Pemerintah Daerah. khususnya yang terkait dengan kelentuan yang hanya membuka kesempatan bagi partai politik atau gabungun partai politik dalam pencalonan kepala daerah dan wakil kepala daerah." Sclelah putusan Mahkamah Konstitusi ( M K ) yang mengahutkan calon pcrscorangan, seianjutnya pemerintah pada tanggal 28 April mengesahkan U U No. 12 Tahun 2008 lenlang pcrubahan kedua atas U U No.32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Pilihan pemilukada terhadap sistem terdahuiu yang pemilihan langsung mcnggunakan sistem merupakan koreksi perwakilan oleh sebagaimana icrtuang dalam UU Nomor 22 Tahun 1999 tenlang atas DPRD, Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 151 Tahun 2002 tentang Tata Cara Pemilihan. Pengesahan dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Sistem pemilihan langsung mcnunjukkan pcrkemhangan pcnataan format demokrasi dacrali yang berkcmbaug dalam rangka libcrasasi polilik, sebagai rcspon ata.s tuntutan pcrubahan sistem dan Tornial politik pada masa rcTormasi, pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah secara langsung oleh rakyat 'T'litiisan M u h k a i n a h KniiMilusicialam f>erkara N o m o r HiPUU-VflOiil pcrilial pciigujiiin.

(32) 20 merupakan sualu proses polilik di daerah nieiuiju kehidupan polilik yang lebih demokratis dan bertanggung jawab. B. Bentuk-henluk l indak Pidana (lalam I'cnillukada K l J l l l ' tidak memberikan definisi atas berbagai lindak pidana ilu, sedangkan pengertiannya akan dikctahui dari rumusan unsur-unsur tindak pidana. Dengan deinikian. pcngertian Tindak Pidana I'emilu di dalam K.UUP dapat dilihat dari rumusan unsur-unsur dari pasal-pasal yang mengalumya. Didalam Kitab Undang - Undang Hukum Pidana ( K U H P ) Indonesia yang merupakan kilab undang - undang warisan dari masa penjajahan belanda lerdapat lima pasal yang mcngalur mengenai tindak pidana yang berkaitan dengan penyelenggaraan pcmilu,"* Tindak pidana pemilu adalah setiap orang atau badan hukum alaupun organisasi yang dengan sengaja melanggar hukum, mengacaukan. menghalanghalangi alau mengganggu jalannya pemilihan umum yang diselenggarakan menurut undang-undang."' DeTenisi yang dikemukakan oleh Djoko Prakoso ini aniat sedcrhana, karena j i k a dipcrhatikan beberapa kelentuan pidiuia dalam Undang-undang Pemilu saat ini perbuatan mengacaukan, nicnghalang-halangi atau mengganggu jalannya pemilihan umum hanya merupakan sebagian dari tindak pidana pcmilu. Ruang lingkiip tindak pidana pemilu mcmang amat luas cakiipannya. meliputi semua tindak pidana yang terjadi pada proses penyelenggaraan pemilu. I opo Sunloso. Tindak I'idana Pemilu. Sinar Gnifika. Jakarla. 21)06, him. 11 Dioko i'rakosu. Tindak /'t,™(/n. Sinar Harapan, Jakarta, 1987. him, 148.

(33) 21 lermasuk lindak pidana biasa pada saal kampanye atau penyelenggaraan kcuangan yang terjadi dalam tender pcmbelian perlcngkapan pemilu. Menurul lopo Santoso, def'enisi lindak pidana pemilu ada liga bcntuk meliputi:^" 1. Semua tindak pidana yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemilu yang diatur di dalam Dndang-undang I'emilu. 2. Semua lindak pidana yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemilu yang diatur di dalam maupun di luar Undang-undang Pemilu (misalnyu dalam Undang-undang Partai Politik ataupun di dalam KUHP). 3. Semua tindak pidana yang terjadi pada saat pemilu lermasuk pelanggaran lalu lintas, penganiayaan, kekerasan, pcrusakan dan sebagainya. Pengerlian pcrlama merupakan defenisi yang paling sempit dari ketiga pcngertian di alas, telapi sckaligus pcngertian yang paling tcgas dan fokus, yailu hanya lindak pidana yang diatur dalam Undang - Undang Pcmilu saja. Dengan eakupan scpcrti itu maka orang akan dcngan muda mencari tindak pidana pemilu yaitu di dalam Undang-undang Pcmilu. Berkenaaii dcngan rcdefeni.si masalah tersebut tindak pidana pcmilu. terhadap maka Dedi Mulyadi. melakukan pengerlian tindak pidana pcmilu menjadi dua kalegori:'' I. Tindak pidana pemilu khusus adalah semua tindak pitlaiia yang berkaitan dengan pemilu dan dilaksanakan pada tahapan penyelenggaraan pemilu baik -"Topo Sanlosi). f)/) f';(., Iilm. 1. -'Dcdi Mulyadi. Kehijakan Legislasi lenlang Sanksi Pidana Pemilu I.egislalij di dalam Perspeklif Indonesia. Gramata Publishing, Jakarta, 2012. hitn. 418 Indonesia

(34) 22 yang liialiir dalatn I liuiang-l Ituiang pent ilu niaupun dttiatn I Iniiang-Undang lindak pidana pcmilu. 2. Tindak pidana pcmilu umum adalah .sciiiiia tindak pidana yang berkaitan dengan pcmilu dan dilaksanakan pada tahap penyelenggaraan pemilu baik yang diatur dalam Undang-Undang Pemilu maupun dalam Undang-Undang Tindak Pidana Pemilu dan penyelesaiannya di luar tahapan pemilu melalui Peradilan U m u m . C . I'enegak l l u k u m I crhadap l indak Pidana Pemilukada I. Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kegialan saat pemanlauan penanganan pelanggaran pemilihan umum yang bertujuan unluk memastikan bahwa pelanggaran yang dilakukan itu mengandung iinsur tindak pidana yang dilakukan secara bcnar, adil, dan konsisten sesuai dengan proscdur hukum yang berlaku. Memantau apakah bcnar diberlakukannya hukum pada saat lerdapat tindak pidatia pcmilu atau tidak. Menurul Undang Undang Nomor 8 Tahun 2012 disebulkan adanya disebul Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Badan Pengawas Pcmilu Provinsi, Panitia Pengawas Pcniilu Kabupaten/Kota. Panitia Pengawas Pemilu Kecamatan. Pengawas Pemilu l.apatigan . dan Pcngawas Pcmilu Luar Negeri, Dcngan adanya pihak tcrscbut kila juga harus mengelahiii kediidukan dan perannya. Ma.sing niasing pengertiannya terdapal pada Pasal 1 Undang-Undang Nomor 8 laliiin 2012 tentang Pemilihan Umum DPR, DPD. dan DPRD yailu ;

(35) 23 1. Badan Pcngawas Pemilu. scliinjutnya disebul Bawaslu, adalah lembaga penyelenggara Pemilu yang bcrlugas mengawasi penyelenggaraan Pemilu di seluruh wilayah Negara Kesaluan Republik Indonesia. 2. Badan Pengawas Pemilu Provinsi, seianjutnya disebul liawaslu Provinsi adalah badan yang dibentuk olch Bawaslu yang bcrlugas mengawasi penyelenggaraan Pcniilu di provinsi. 3. Panitia Pengawas Pcmilu Kabupaten/Kota. seianjutnya disebut Panwaslu Kabupaten/Kota. adalah Panitia yang dibenluk oleh Bawaslu Provinsi yang bertugas mengawasi penyelenggaraan Pemilu di kabupaien/kota. 4. Panitia Pengawas Pemilu Kecamatan. seianjutnya disebut Kecamatan. adalah panitia yang dibenluk oleh Panwaslu Panwaslu Kabupaten/Kota yang bertugas mengawasi penyelenggaraan Pcmilu di kecamatan atau nama lain. 5. Pengawas Pcmilu I.apangan adalah petugas yang dibentuk olch Panwaslu Kecamatan yang bertugas mcngawasi pcnyelenggaraan Pemilu di desa alau noma lain/keiurahaii. 6. Pengawas I'emilu I.uar Negeri adalah petugas yang dibenluk oleh Bawaslu yang bcrlugas mcngawasi penyelenggaraan Pemilu di luar negeri. Berdasarkan pcngertian diatas dapal disimpulkan bahwa tugas yang diberikan itu bcrbcda-beda dan memiliki langgungjawab yang berbeda pula.

(36) 24 Meniinit peraturan liawaslu Nomor 4 lahun 2008 tcntang mekanisme pengawasan pemilu , yang dimaksud dcngan pengawasan pcmilu adalah kegialan mcngkaji. mengamati. dan menilai proses pcnyelenggaraan pemilu sesuai dengan perundang - undangan. Sedangkan lujuun dari pengawasan pemilu adalah untuk menjamin terselenggaranya secara langsung , bebas. pemilihan umum Anggola DI'R, DPD. dan DPRD rahasia, jujur , adil , dan berkualitas serta dilaksanakannya peraturan perundang - undangan mengenai pcmilu anggola DPR, DPD. dan DPRD secara menyelumh. 2. Kepolisian Negara Republik Indonesia Pengamanan pemilihan umum difungsikan pihak kepolisian sebab kepolisian menjadi subjek yang masuk dalam pusaran agenda politik ilu sendiri. Pemilihan umum yang bebas. jujur dan adil jelas merupakan indikalor negara demokratis yang dewasa. Oleh karenanya, untuk menjamin kebebasan. kejujuran, dan kcadilan lersebul dipcrlukan perangkal administrasi dan hukum yang dapal menjamin keamanan setiap tahapan proses pemilihan umum. Salah satunya adalah peran kepolisian dalam menjamin keamanan dan menindak pelanggaran yang berunsur pidana sesuai undang-undang. Di Negara demokratis maju sckalipun. pemilihan umum bukanlah proses yang dapal bebas scratus persen dari permasalahan, peiiyinipangan. hingga yang memiliki unsur pidana. Mengenai kepolisian dialur dalam Undang Undang Nomor 2 lahun 2002. Kepolisian Negara Republik liKlonesia incrupakan alat negara yang bcrpcran dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat . mencgakkan hukum serta memberikan perlindungan. pcngayoman, dan pclayanan

(37) 25 kepada masyarakat agar icrciptanya keamanan dalam negeri dalam hal ini keamanan pada saal pemilihan umum Icgislalirhcrlangsung.' Tugas kepolisian dalam penyelcsaian lindak pidana pemilu terlihal sejak limhiii mendapat laporan dari liawaslu atau Panwaslu Provinsi, atau Panwaslu Kabupaten/Kota yang dianggapnya suatu tindak pidana pemilu. Apabila pelanggaran itu lidak benar adanya . maka Bawaslu, Pawaslii Kabupaten/Kola tidak melimpahkan masalah ini kepada kejak.saan. Kepolisian Rcpublik Indonesia mempunyai tugas dalam menangani tindak pidana pemilihan umum legislalifyakni : (1) Melakukan pengamanan pada seliap tahapan pelaksanaan pemilihan umum agar dapat berjalan dengan aman dan lancar; (2) Melakukan penyidikan terhadap lindak pemilu yang dilaporkan kepada polri melalui Bawaslu atau Panwaslu Kabupaten/kola. (3) Melakukan tugas lain memiriil aturan perundang undangan yang berlaku. Dalajn sistem peradilan pidana Indonesia lugas ulama d:ui polisi scbagai penyidik. Adapun kegialan yttng dilakukannya adalah kegialan untuk melakukan penyeiidikan dan penyidikan. Kepiilisian niLTupakan lembaga yang pertama kali harus dilakn dalam proses peradilan pidana ipiruii gerhang sistem peradilan pidana) karena mempunyai wewenang untuk melakukan scrangkaian kegialan rrailai dari pcn)clidikaii. pern.idikan sampai ditemukannya lindak pidana yang telah dilakukan.

(38) 26 Didalam penyelcsaian lindak pidana pemilu. sebenamya tiigas polisi sudali eukiip membanlu karena perkara hasil penyaringan dari Panitia perkara yang dilerimanya siidali merupakan Pengawas Pemilu. Panwaslu .sendiri yang menycrahkan kasus-kasus yang mcnurutnya mcmang sudali ada bukti awal terjadinya tindak pidana pemilu. Kendati polisi modem menjadi bagian dari blrukrasi itu sendiri, dan karena tugas dan wewenang serta hal yang akan dilakukannya telah dirumuskan olch proscdur hukum yang rinci, namum pada waklu yang sama telah dihadapkan kepada kebutuhan untuk mengambil keputusan diin melakukan tindakiui yang bersifat spontan. Disinilah akan tampak belapa polisi terombang-ambing oleh dua tuntutan, yaitu di satu pihak diikat oleh proscdur formal, sedangkan dipihak lain untuk bergerak bebas .sehingga dapat meiaksanakan tugas memelihara ketertiban dengan lebih baik. Pada waktu bergerak ditcngah-tengah masyarakat memberikan penafsirannya sendiri terhadap . polisi ketentuan-ketcntuan yang harus ada sehingga dapat dipakai dalam praktik. Untuk menghadapi kusus-kusus tindak pidana pemilu . polisi juga melakukan persiapan antara lain dengan membenluk petiyidik khusus. l iin penyidik khusus tindak pidana pemilu dibentuk sebelum pelaksanaan pemilu dan dibckali dengan pemahaman undang-undang pcmilu yang harus dijadikan acuan untuk memberkas perkara tindak pidana p e m i l u . ^ .3. Kejaksaan Kepiihlik Indonesia Selain tugas dan wewenang dari liawaslu. Panwaslu dan kepolisian sdanjutnya kita nicninjau Iuga.s dan wewenang dari kejaksaan sebagai suatu "Topo Santoso. Op.Cil..b\m. 106.

(39) instansi yang ikut bcrpcran apabila tcrbukli adanya lindak pidana pcmilu. Berdasarkan ketenluan dalam Kilah Undang-Undang Hukum Acara Pidana dan Undang-Undang Kejaksaan dikailkan dengan Undang-Undang Pemilu, maka pcranan kejaksaan dalam menyelesaikan tindak pidana pemilu adalah melakukan pcnuntutan ke pengadilan.^-* Adapun tugas dan wewenang kejaksaan dibagian pidana yakni : (1) Melakukan penunliitan; (2) Meiaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekualan hukum tetap; (3) Melakukiui pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pidana bersyarat , putusan pidana pengawasan , dan putusan lepas bersyarat; (4) Melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertenlu berdasarkan Undang Undang; (5) Melcngkapi berkas perkara tertenlu berdasarkan dan unluk itu dapat melakukan pemcriksaan tambahan sebelum dilimpahkan ke pengadilan yang dalam pclaksanaarinya dikoordinasikan dengan penyidik, Di kejaksaan adalah inslitusi yang dapal menentukan apakah kasus itu dapal dilanjutkan ke pengadilan alau lidak sesuai dengan alat bukti yang sab dengan aturati hukum aeara pidaiia, Dari segi politik hukum , sejak didalam K l l l l l ' , para pembuat Undang-Undang telah -'Mr./.,him. 107, inelihat adanya sejuriilah perbuatan yang

(40) 28 berkailan dcngan pemilihan Limum yang berbahaya bagi pencapaian tujuan pemilihan sehingga harus dilarang dan dianeam dengan pidana.*'' T untutan yang diberikan kepada pelaku lindak pidana pemilu sesuai dcngan pelanggaran yang mengandung unsur lindak pidana yang dilakukan , karena pada hakckalnya tindak pemilu kelihatannya kecil tctapi pengaruhnya yang besar. 4. Sentra Penegakan Hukum Terpadu ( Sentra Gakkumdu ) Dalam Undang Undang Nomor 8 Tahun 2012 lenlang Pemilu Legislatif Anggota DPR, DPD,dan DPRD dijelaskan terkait adanya pelanggaran pidana dalam Pemilu. Pidana dalam pemilu yang lermasuk dalam kategori lex specialis tersebut, menjelaskan lenlang penanganan pelanggaran Pemilu yang dilaksanakan oleh tiga pihak yailu. Bawaslu, Kepolisian, dan Kejaksaan. Sebagai benluk leknis dari aturan lerscbut, maka dibentuklah Sentra Penanganan Hukum Terpadu (Sentra Gakkumdu) yang merupakan forum tiga lembaga Indonesia, negara dan yaitu Bawaslu Kejaksaan Rcpublik Negeri Indonesia, Indonesia dalam Kepolisian Republik rangka menyamakan pemahaman dan pola penanganan lindak pidana Pemilu sesuai dengan amat dalam Pasal 267 ayat (1) Undang Undang Nomor 8 Tahun 2012. Bcrda.sarkan ayat selanjiUnya, dari Undang Undang yang sama dinyatakan, ketciUuuii lebih lanjut mengenai Sentra Gakkumdu ini dialur berdasarkan kescpakatan bersama antara Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Jaksa Agung Republik Indonesia, dan Ketua Bawaslu Republik Indonesia. 'Hhid.h\m. 111

(41) 29 Berdasarkan dasar lersebul maka dihiiat nota kesepaliaman untuk membenluk sentra penegakan hukum terpadu. dengan lanjutan baliwa sentra gakkunulu merupakan kchiiluhan unluk menangani tindak pidana pemilihan umum. Karena perlu dipcrhatikan dalam lindak pidana Pemilu ialah adanya batasan waktii, di mana upaya pengusutan juga memiliki pengaruh terhadap proses penanganan pelanggaran Pemilu, sehingga Sentra Gakkumdu merupakan salah salu solusi utama dalam penegakan hukum khususnya dalam tindak pidana Pemilu. D. Sanksi Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pemilukada Adapun rumusan tindak pidana pemilukada yang lerdapat dalam U U No. 32 l ahun 2004 Jo U U No. 12 T ahun 200K T entang Pemerintahan Daerah, antara lain: I. Sebelum Pemilukada Pasal 115 menyatakan: (1) Setiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang tidak benar mengenai diri sendiri atau orang lain tentang suatu hal yang dipcrlukan untuk pengisian daliar pemilih, dianeam dengan pidana penjara paling singkat 3 (liga) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan denda paling sedikil Rp 3.000.000.- (tiga juta rupiah) dan paling banyak Rp 12.000.000.(dua belas juta rupiah) (2) Seliap orang yang dengan sengaja menyebabkan orang lain kcliilangan hak pilihnya dan orang yang kehilangan liak pilihnya lersebiii mengadiikan dianeam pidana penjara paling singkat 12 (dua belas) bulan dan paling lama 24 (dua puluh empat) hulan dan denda paling sedikil Rp 12.000.000.- (dua

(42) 30 belas jula rupiah) clan paling banyak Rp 24.000,()()().- (dua puluh empat juta rupiah) (3) Setiap orang yang dengan sengaja mcmal.sukan sural mcmiriil .suatu aturan dalam undang-undang ini dipcrlukan untuk menjalanakan suatu pcrbualan dengan maksud untuk digunakan sendiri atau orang lain sebagai seolah-olah surat sah atau tidak dipalsukan, diancain dengan pidana penjara paling singkat 36 (tiga puluh enam) bulan dan paling lama 72 (tujuh puluh dua) bulan dan denda paling sedikit Rp 36.000.000.- (tiga puluh enam juta rupiah) dan paling banyak Rp 72.000.000.- (tujuh puluh dua jula rupiah) (4) Seliap orang yang dengan sengaja dan mengetahui bahwa surat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah tidak sah atau dipalsukan. mcnggunakan, atau mcnyuruh orang lain mcnggunakan sebagai sural yang sah, dianeam dengan pidana penjara paling singkat 36 (tiga puluh enam) bulan dan paling lama 72 (tujuh puluh dua) bulan dan denda paling sedikil Rp 36.000.000,(tiga puluh enam juta rupiah) dan paling banyak Rp 72.000.000.- (tujuh puluh dua juta rupiiih) (5) Setiap orang yang dengan kekcrasan atau dcngan ancaman kekua.saan yang ada padanya saal pendaftaran pemilih menghalang-halangi .seseorang unluk terdaflar sebagai pemilih dalam I'emilihan Kepala Daerah memirul undangundang ini, dianeam dengan pidana penjara paling singkat 12 (dua belas) bulan dan paling lama 36 (liga puluh enam) bulan dan denda paling sedikit Rp 12.000.000,- (dua belas juta rupiah) dan paling banyak Rp 36.000.000,(tiga piiiiih enam juta rupiali

(43) 31 (6) Seliap orang yang dengan scngaja memberikan kelerangan yang lidak benar alau menggiiiiakan sural palsu seoiah-olah sebagai sural yang sail tcntang suatu hal yang dipcrlukan bagi [x:rsyarai,[ii untuk jiicnjadi pasangan calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah, dianeam dengan pidana penjara paling singkal 36 (tiga pulu enatn) bulan dan paling lama 72 (tujuh puluh dua) bulan dan denda paling sedikil Rp 36.000.000,- (tiga puluh enam juta rupiah) dan paling banyak Rp 72,000,000.(lujuh puluh dua juta rupiah) (7) Sctiap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan tidak benar atau mcnggunakan idenlitas diri palsu untuk mendukung bakal pasangan calon perseorangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59, dianeam dengan pidana penjara paling singkat 12 (dua belas) bulan dan paling lama 36 (tiga puluh enam) bulan dan denda minimal Rp 12.000.000.- (dua belas juta rupiah) dan paling banyak Rp 36.000.000,- (tiga puluh enam juta rupiah) (8) Anggota PPS, anggota PPK, anggota K P U kabupaten/kota, dan anggola K P U provinsi yang dcngan sengaja memalsukan daftar dukungan terhadap calon perseorangan sebagaimana diatur dalam undang-undang i n i , dianean denga pidana penjara paling singkat 36 (liga puluh enam) bulan dan paling lama 72 (tujtih puluh dua) bulan dan denda paling .sedikil Rp 36.000.000,(tiga puluh enam juta rupiah) dan paling banyak Rp 72.000.000,- (tujuh puluh dua juta rupiah) ( 9 ) .Anggota PPS. anggola PPK, anggota KPU kabiipaicn/koia. dan anggota KPU provinsi yang dengan sengaja lidak rnclakiikan veriUkasi dan rekapilulasi terhadap calon perseorangan sebagaimana dialur dalam undang-

(44) 32 undang i n i . dianeam donga pidana penjara paling singkal 36 (liga puluh enam) hulan dan paling lama 72 (tujuh puluh dua) bulan dan denda paling sedikit Kp 16.000.000,- (tiga puluh enam jula rupiah) dan pling banyak Rp 72.000.000,- (tujuh puluh dua jula)." 2. Tahap Masa Kampanye Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 116 menyatakan: (1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kampanye di luar jadwal waktu yang telah ditetapkan oleh K P U D unluk masing-masing pasangan calon, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2), dianeam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari atau paling lama 30 (tiga puluh) bulan dan/alau denda paling sedikil Rp 100.000,- (seralus ribu rupiah) atau paling banyak Rp. 1.000.000,- (satu jula rupiah) (2) Setiap orang yang dengan sengaja melanggar kctcntuan larangan pciak.sanaan kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 hurufa, huriil' b, huruf c, liurul" d. hiirut'c dan huruf f, dianeam dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama IX (dclapan belas) bulan dan/alau denda paling sedikit Kp 61)0.000,- (enam ratus ribu rupiah) alau paling banyak Kp 6.000.000,- (enam jula rupiah) (3) Sctiap orang pelaksanaan yang dengan kampanye sengaja Kepala melanggar Daerah dan kctcntuan Wakil Kepala larangan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 huruf g, huruf h, luiriif i , dan liiiruf j dan Pasal 78 huruf g, huruf I, huruf j , dan Pa.sal 79 ayat (11, ayal (3) dan ayal (4). dianeam dengan pidana penjara paling singkal I (satn) hulan dan paling

(45) laniii 6 (enam) bulan dan/atau denda tninimal Rp 100.1)01),- (seralii.s ribu rupiah) atau paling banyak Rp. t.000.000,- (salu jula rupiah) (4) Setiap pejabal negara. pejabal struklural dan lungsional dalam jabatan negeri dan kepala desa yang dengan sengaja melanggar kelentuan sebagaimana dimaksud dalam Fasal 83. dianeam dengan pidana penjara paling singkat l(salu) bulan atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda minimal Rp 600.000,- (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp 6.000.000,- (enam juta rupiah) (5) Setiap orang yang dengan sengaja mengacaukan. menghalangi, atau mengganggu jalannya kampanye, dianeam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda minimal Rp 600.000,- (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp 6.000.000,- (enam juta rupiah) (6) Setiap orang yang memberi atau menerima dana kampanye melebihi batas yang ditenlukan sebagaimiuia dimaksud dalam Pasal 83 ayat (3), dianeam dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) bulan atau paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dan/alau denda paling sedikil Rp 2.000.000,- (dua juta rupiah) atau paling banyak Rp 1.000.000.000,- (satu miliyar rupiah) (7) Setiap orang yang dengan sengaja menerima alau memberi dana kampanye dari atau kepada pihak-pihak yang dilarang sebagaimana dimaksud dalam I'a.sal 85 ayat ( I ) , dan/alaii tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayal (2), dianeam dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) bulan ataii paling lama 24 (dua puluh empat) bulan

(46) 34 dan/at;tti denda paling sedikil Rp 21)0.1)00.0(10,- (diia ratiis jiila rupiah) atau paling banyak Rp 1.000,000,000.- (satu iiiilyur rupiah) (S) Seliap orang yang dengan sengaja memberikan keterangan yang lidak Ircnar dalam laporan dana kampanye sebagaimana diwajihkan oleh undang-undang ini. dianeam dcngan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) atau paling banyak Rp 10.000.000,- (scpuluh jula rupiah) 3. Saat Pemilukada : Tahap Pemungutan dan Pcrhitungan Suara Pasal 117 menyatakan: (1) Setiap orang yang dengan sengaja mcnggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan dan menghalang-halangi seseorang yang akan melakukan haknya untuk memilih, dipidana dengan pidana penjara paling singkal 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua helas) bulan dan/atau denda paling sedikil Rp 1.000.000.- (satu juta rupiah) alau paling h;uiyak Rp 10.000.000.- (sepuluh juta rupUih) (2) Setiap orang yang dengan sengaja memberi atau menjanjikan uang atau matcri lainnya kepada seseorang supaya tidak mcnggunakan hak pilihnya, atau mcmilih pasangan calon tertenlu, alau mcnggUHLikan hak pilihnya dengan cara tertenlu s ehingga surat suaranya menjadi lidak sah, dianeam dcngan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) hulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) atau paling banyak Rp 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) (3) Seliap orang yang pada waktu pemungutan suara dengan sengaja mengakn dirinya scbagai orang lain unluk mcnggunakan hak pilih, dianeam dengan

(47) 35 pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari dan paling lama 60 (enam puluh) hari dan/ataii denda paling sedikil Rp 100,000.- (seratiis ribu rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000,- (salu juta rupiali) (4) Seliap orang yang pada waktu pemungutan suara dengan sengaja memberikan suaranya lebih dari satu kali atau lebih TPS, dianeam dengan pidana penjara paling singkat I (satu) bulan dan paling lama 4 (empat) bulan dan/atau denda paling sedikil Rp 200.000,- (dua ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp 2.000.000,- (dua juta rupiah) (5) Setiap orang yang dengan scngaja menggagalkan pemiingutaan suara, dianeam dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling singkat Rp 1.000,000,- (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp 10.000.000 (sepuluh juta rupiah) (6) Seorang majikan atau atasan yang tidak memberikan kesempatan kepada seorang pekerja untuk memberikan suaranya, kecuali dengan alasan bahwa pekerjaan tersebut tidak bisa ditinggalkan, dianeam dcngan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) (7) Seliap orang yang dengan sengaja pada waklu pemungutan suara mendariipingi seorang pemilih selain yang diatur sebagaimana dimaksud dalam P:isal 80 ayal ( I ) , dianeam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling banyak 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikil Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) dan paling banyak Kp. 10.000.000.(scpuluh juta rupiali)

(48) (8) Setiap orang yang bertugas Tnetnbanlu peniilili sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 89 ayal (2) dcngan sengaja memberi tab uk an pilihan si pemilili kepada orang lain, diancain dengan pidana penjara paling singkal 2 (dua) hulan dan paling lama 12 (dua belas) bulan dan/atau denda paling sedikil Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) Pasal 118 menyatakan: (1) Setiap orang yang dengan scngaja melakukan perbuatan yang menyebabkan suara seorang pemilih menjadi tidak bcrharga atau meyebabkan pasangan calon tertenlu mendapal tambalian suara alau perolehan suara suaranya berkurang, dianeam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan paling lama I (satu) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,(satu juta rupiah) dan paling banyak Rp 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) (2) Setiap orang yang dengan sengaja merusak atau alau mcnghilangkan ha.sil pemungutan suara yang sudah disegel, dianeam dengan pidana penjara paling singkal 4 (empat) bulan atau paling lama 2 (dua) tahun dan/alau denda paling sedikit Rp 2.000.000,- (dua juta rupiah) dan paling banyak Rp 20,000.000,- (dua puluh juta rupiah) (3) Setiap orang yang karena kelalaiannya menyebabkan rusak alau hilangnya hasil pemungutan suara yang sudah disegel, dianeam dengan pidana penjara paling singkat 15 (lima belas) hari dan paling lama 2 (dua) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 100.000,- (scratus ribu rupiah) dun paling banyak Rp 1.000.000,- (satu jula rupiah)

(49) (4) Seliap orang yang dengan sengaja mengubah hasil perhilungan suara dan/atau berila acara dan serlinkat hasil pcrhitungan suara. dianeam dengan pidana penjara paling singkal 6 (enam) bulan dan paling lama .3 (tiga) tahun dan/atau denda paling sedikil Rp 100.000,- (seralus ribu rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) Pasal 119 menyatakan : "Jika tindak pidana dilakukan dcngan sengaja oleh penyelenggara alau pasangan calon. ancaman pidananya 1/3 (sepertiga) dari pidana yang dialur dalam Pasal 115, 116, 117. dan 119". 4. Sesudah Pcmilukada Penetapan pasangan calon Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah terpilih, pengesahan, dan pclanlikan, Sctelah selesai tahap lerscbut diharapkan Kepala Daerah dan atau/Wakil Kepala Daerah dapat melakukan tugas dan wewenang serta kewajibannya sebagai Kepala Daerah dan atau/Wakil Kepala Daerah. Dalam masa jabatannya lidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang, yaitu : Pasal 30 menyatakan: (1) Kepala Daerah dan/alau Wakil Kepala Daerah diberhentikan semenlara oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD apabila dinyatakan melakukan tindak pidana kejahatan yang dianeam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun atau lebih berdasarkan putusan pengadilan, (2) Kepala Daerah dan/atau Wakil Kepala Daerah diberhentikan olch I'residen lanpa melalui u.sulan DPRD apabila terbukti melakukantindak pidana

(50) 38 sebagaimana dimaksud pada ayat ( I ) berdasarkan piiliisan pengadilan yang telah memperoleh kekualan hukum tetap. I'asai 31 menyatakan: { ] ) Kepala Daerah dan/alau wakil Kepala Daerah diberhentikan semenlara oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD karena didakwa melakukan tindak pidana korupsi. tindak pidana lerorisme, makar, dan/atau tindak pidana terhadap keamanan negara. (2) Kepala Daerah dan/atau Wakil Kepala Daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui usulan DPRD karena terbukti melakukan makar dan/alau perbuatan lain yang dapal memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dinyatakan dengan memperoleh kekualan hukum tetap. putusan pengadilan yang telah

(51)

(52) HAK I I I I'EMIIAHASAN A. Tugas Kepolisian (lalam Mencegah dan Menindak I'elaku Tindak I'idana i'emilihan llmum Kepala Daerah di Kabupaten O K U T i m u r Pengamanan pemilihan umum difungsikan pihak kepolisian sebab kepolisian menjadi subjek yang masuk dalam pusaran agenda polilik itu sendiri. Pemilihan umum yang bebas, jujur dan adil jelas mempakan indikator negara demokratis yang dewasa. Oleh karenanya, untuk menjamin kebebasan, kejujuran, dan kcadilan tersebut dipcrlukan perangkat adminislrasi dan hukum yang dapat menjamin keamanan setiap tahapan proses pemilihan umum. Salah satunya adalah peran kepolisian dalam menjamin keamanan dan menindak pelanggaran yang berunsur pidana sesuai undang-undang.** [)i Negara demokratis maju sckalipun, pemilihan umum bukanlah proses yang dapat bebas seratus persen dari perma.salahan, penyimpangan, hingga yang memiliki unsur pidana. Mengenai kepolisian diatur dalam Undang - Undang Nomor 2 Tahun 2002, Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat , menegakkan hukum serta memberikan perlindungan, pcngayoman dan pclayanan kepada masyarakat agar Icrciplanya keamanan dalam negeri dalam keamanan pada saat pemilihan umum legislatif bcrlangsung. Topo Sanloso. Tindak I'idana Pemilu. Sinar Grafika, Jakarla. 2006. him. 11. 39 hal ini

(53) 40 Dalam pcnyelenggaraan i'emilukada Kabupalcn O K U T imur, sesuai dengan Pedoman Penyidikan T indak Pidana I'emilu yang dikdiiarkaii oleh Badan Iteserse Kriminal Mabes I'olri. Polri mempunyai tugas sebagai berikul:*'' 1. Melakukan pengamanan pada setiap tahapan pelaksanaan Pemilukada, agar penyelenggaraan Pemilukada dapat berjalan dcngan aman dan lancar, 2. Melakukan penyidikan terhadap Tindak Pidana Pemilukada yang dilaporkan kepada i'olri melalui Bawasiu/i'anwaslu Propinsi/Panwasiu Kabupaten/Kota. 3. Melakukan lugas lain menurut kelentuan pcrundang-undangan yang berlaku antara lain melakukan luga.s pclayanan, seperti pclayanan penerimaan pemberitahuan kegialan kampanye atau pemberian izin kepada peserta Pemilu. Tugas kepolisian dalam penyelcsaian lindak pidana pemilu terlibat sejak limbii! mendapal laporan dari Bawaslu atau Panwaslu Provinsi, atau Panwaslu Kabupalen/Kola yang dianggapnya sualu tindak pidana pcmilu. Apabila pelanggaran ilu lidak benar adanya, maka Bawaslu, Pawaslu Kabupaten/Kota tidak melimpahkan masalah ini kepada kejaksaan. Dalam sistem peradilan pidana Indonesia tugas utama dari polisi sebagai penyelidik dan penyidik. Adapun kcgiataii yang dilakukannya adalah kegialan unluk melakukan penyeiidikan tiau penyidikan. Kepolisian merupakan lembaga yang pertama kali harus dilalui dalam proses peradilan pidana (pintu gerbang '"Wirjono Prodjixtikoro. Asa-Asas Hukum Pidami di Indonesia. P f. Refika Aditama, 2003, [Janiiung.hlm. 7.),

(54) sistem pcnKiiUin pidana) karena mempunyai wewenang iinliik melakukan scrangkaian kegialan mulai dari penyeiidikan, penyidikan sampai ditemukannya tindak pidana yang icluh dilakukan. Didalam penyelesaian tindak pidana pemilu, sebenamya tugas polisi sudah cukup membantu karena perkara-perkara liasil penyaringan menycrahkan dari Panitia yang ditenmanya sudah merupakan Pengawas kasus-kasus yang menumtnya Pemilu. I'anwaslu sendiri yang memang sudah ada bukti awal terjadinya tindak pidana pemilu. Kendati polisi modern menjadi bagian dari birokrasi itu sendiri, dan karena lugas dan wewenang serta hal yang £ikan dilakukannya Iciah dirumuskan oleh proscdur hukum yang rinci, namum pada waktu yang sama telah dihadapkan kepada kebutuhan untuk mengambil keputusan dan melakukan tindakan yang bersifat spontan. Maka timbui dua tuntutan. yaitu di salu pihak diikat oleh proscdur formal, sedangkan dipihak lain untuk bergerak bebas sehingga dapat melaks;uiakan tugas memelihara ketertiban dengan lebih baik. Pada waktu bergerak diiengah-iengah masyarakat , polisi harus memberikan penafsirannya sendiri terhadap ketentuanketenluan yang ada .sehingga dapat dipakai dalam praktik. Untuk mengliadapi kasus-kasus tindak pidana pemilu , polisi juga melakukan persiapan antara lain dcngan membenluk penyidik khusus. T i m penyidik khusus tindak pidana pemilu dibentuk sebelum pelaksanaan pemilu dan dibekali dengan pemahaman undangundang pemilu yang harus dijadikan acuan unluk nicjnbcrkas perkara lindak pidana pemilu.

(55) 42 Jika bcnar-benar terjadi pelanggaran maka Timur akan menanggiilangi tindak pidana Panwaslu Pcmilu Kabupaten melalui OKU kehijakan penanggulangan pidana yang tcrdiri atas upaya penal dan upaya non penal. Upaya yang dilakukan secara penal alau yang bersifat "represive" lebih menilikberalkan pada pemberantasan/penumpasan/penindasan setelah terjadinya tindak pidana yang pada hakikatnya merupakan bagian dari usaha penegakan hukum. Dimana prosesnya diawali dari proses pelaporan tindak pidana Pemilu Uegislalil" yang diatur oleh Pasal 249 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 fentang Pemilihan Umum Anggola DPR, DPD, dan DPRD yang dapat dilaporkan oleh:** a. Warga Negara Indonesia yang mempunyai hak pilih; b. Pemanlau Pemilihan Umum; c. Peserta Pemilihan U m u m ; Laporan tersebut disampaikan paling lama 7 (tujuh) hari dan memuat: a. Nama dan alamat pelapor; b. Pihak teriapor; c. Waktu dan tempat kejadian perkara;dan d. Uraian kejadian. Kemudian setelah dikaji dan terbukti kebenarannya, maka I'anitia Pcngawas Pemilihan Umum wajib menindaklanjuti laporan tersebut paling lama 3 (liga) hari setelah laporan diterima. Apabila masih dibutuhkan keterangan tambahan dari pelapor maka PaTiila Pengawas Pemilihan Umum dapat memperpanjang waktu -'' Sctio W. Soenicri, [>idik Supriyanto.Topo SLintoso, I'enanganan Kcmilraan Bagi Peinbanian Tata Pemerinlahan, Jakarta, 2011. hlni. 2.5. Pelunggunin Pemilu.

(56) 43 selama 5 (lima) hari sejak laporan dilerima. lerhadap laporan yang diterima, berdasarkan Pasal 250 Undang-Undang Nomor 8 T ahun 2012, maka laporan pelanggaran Pemilihan Umum tersebut dikualilikasi menjadi:*" a. Pelanggaran kode etik penyelenggaraan Pemilihan Umum yang akan dlteruskan oleh Bawaslu kepada Uewan Kehormatan Pcnyelenggaraan Pemilihan Umum; b. Pelanggaran administratif I'emilihan Umum dlteruskan kepada KPU, KPU Porvinsi, atau KPU Kabupaten/Kota; c. Sengketa Pemilihan Umum diselesaikan olch Bawaslu;dan d. T indak pidana Pemilihan Umum dlteruskan kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia. Laporan penyaringan Terpadu tcrscbut kemudian laporan tindak pidana (SENTRA G A K K U M D U ) dikualifikasikan dan dilakukan proses Pemilu oleh Sentra Penegakan Hukum yang dibenluk berdasarkan kesepakatan dengan Kejaksaan dan Kepolisian Republik Indonesia. Proses ini diawali dengan mempertemukan para pihak pelapor, pihak teriapor, dan para saksi-saksi lainnya untuk berbicara dengan pikiran jernih, telapi tujuantiya bukan untuk melakukan proses penyeiidikan ataupun sampai icrjadi luduhan penyidikan, melainkan untuk mencegah jangan tcrscbut timbui karena adanya salah paham, salah informasi, atau salah mcnarik kesimpulan. Artinya apabila terdapal bukti awal yang memadai tentang terjadinya lindak pidana Pemilu maka Paima.slii segera meneruskan kasus tersebut ke Kepolisian daiani kurun waklu 1x24 jam sejak diputuskan oleh i'anwaslu Kabupaten O K U T imur bahwa kasus lersebul lermasuk ke dalam (indak pidana I'emilu. '-Uhid.Mm. 27

(57) 44 Oleh Kepolisian akan melakukan proses penyeiidikan dan penyidikan untiik mencniLikari apakah laporan lersebul dapal dilindakianjiili ke Kejaksaan atau lidak. Dalam kunin waklu 14 (empat belas) hari hingga berkas kasus tcrscbut dapat dikirimkan ke Kejaksaan. Apabila Kejaksaan menanggapi berkas lersebut belum lengkap, maka dalam kunin waktu 3 (tiga) hari Kejaksaan dapat mengembalikan berkas lersebut kepada Kepolisian. Dalam kurun waklu 3 (tiga) hari, berkas yang telah diperbaiki harus dikirimkan kembali kepada Kejaksaan. Kejaksaan akan mcnindaklanjuti berkas tersebut dalam hal pembuatan tuntutan hukum beserta ancaman pidana dalam kurun waklii 5 (lima) dilimpahkan ke Pengadilan. Pengadilan Negeri yang merupakan hari untuk satu-satunya lembaga yang mempunyai wewenang untuk menyelesaikan tidak pidana tersebut. Oleh karena itu, agar penyelesaian sengketa pemilihan umum kepala daerah bisa berjalan dengan elektif dan berkualitas, maka ada tiga tahapan pemilihan umum kepala daerah yang harus diatur dan dilaksanakan secara komprehensit"dan tuntas. l ahapan tcrscbut adalah:*^ 1. Tahap I : penyelesaian sengketa yang berkaitan dcngan administrasi premilukada harus sudah diselesaikiin secara tuntas oleh K i ' U D dan bawaslu sebelum dimiilainya masa kampanye pasangan calon dalam pemilihan umum kepala daerah. 2. iahap I I : penyelesaian harusdiselesaikan lindak pidana pemilihan uniiini kepala daerah secara ucpat oleh aparal hukum icrkait sebelum masa -"'Muhammad Kusnardi. I'cmilihiin Indonesia, Jakarta, 1982. hliii. 43 Umum dan Konsiiiusi KcpiiNiklndonesia. Ghalia

(58) pcnghilungiin suara bcrlangsung alau paling lambal schcluni ditclapkannya pcmenang pemilihan umum kepala daerah. 3. Tahap I I I : penyelesaian sengketa hasil pemilihan umum kepala daerah yang terkait dengan penghitungan hasil suara harus diselesaikan secara efektif dan cepat, .sehingga tidak menimbulkan pemerintahan daerah. Dengan pengaturan diselesaikan dengan cepat, maka gangguan terhadap stabilitas yang jelas, komprehensif dan sebetulnya secara konseptual praklis, penyelesaian sengketa hasil pemilihan umum kepala daerah di M K bisa berjalan lebih efektif karena hanya fokus pada masalah apakah penghitungan suara pemilihan umiim kepala daerah tersebut sudah benar atau belum. Berda,sarkan Pasal 26 hurufa Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1999 dan ketenluan hukum acara pidana sebagaimana dialur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981. tugas dan wewenang Polisi berkaitan dengan laporan tindak pidna pemilu adalah menyelesaikan laporan tindak pidana pemilu yang terjadi dengan melakukan penyeiidikan dan penyidikan. Uasildari lugas ini akan menentukan apakah laporantindak pidana pemilu itu dapal ditindaklanjuli ke Kejaksaan alau tidak. Dalam sistem peradilan pidana Indonesia tugas utama dari i'olisi adalah sebagai penyidik. Adapun kegialan yang dilakukan adalah melakukan scrangkaian penyeiidikan tindakan dan penyidikan. Penyeiidikan kegialan untuk diartikansebagai unluk mencari dan menemukan sualu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapal alau tidaknya dilakukan penyidikan, sementara penyidikan diartikan scrangkaian tindakan penyidik untuk

(59) 46 mencari serta mengumpulkan bukli yang dengan bukli itu membual terang lindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya. Pada sistem peradilan pidana, Polisi bersifat penindakan atau represif seperti melakukan langkah-langkah tertentu berupa tindakan penyeiidikan, penyidikan, penangkapan, penahanan peradilanpidana dimaksudkan dan sebagainya. Tindakan untuk menyelesaikan ini dengan dalam efektif perkara yang masuk di Kepolisian. Menurul hukum, polisi juga sistem tiap-tiap bcrwenang mengadakan penghentian penyidikan serta mengadakan tindakan lain menurut hukum. Didalam penyelesaian tindak pidana pemilu, sebenamya tugas polisi sudah cukup terbantu karena perkara-perkara yang dilerimanya sudah merupakan hasil penyaringan dari Panwaslu, Panwaslu sendiri hanya menycrahkan kasus-kasus yang menumtnya mcmang sudah cukup bukti awal terjadinya lindak pidana pemilu.Kendati polisi modem menjadi bagian dari birokrasi itu sendiri, dan karena tugas dan wewenang serta hal yang akan dilakukannya telah dirumuskan oleh prosedur hukum yang rinci, namum pada waktu yang sama telah dihadapkan kepada kebutuhan untuk mmgambil keputusan dan melakukan tindakan yang bersifat spontan. Dalam kasus tindak pidana Pemilukada di Kabupaten O K U T imur, lerdapat beberapa pelanggaran tindak pidana Pemilukada, yaitu:*" Yang pertama dilakukan olch Pegawai Negeri Sipil. Pegawai Negeri sipil ini diduga melanggar Pasal 79 ayat ( I ) dan ayal (4) Undang-Undang 32 tahun 2004 menjehiskiui larangan Hasil wawancara ilcngan K A S A T G A S III Gakkumdu Polres O K U fimur langgai 21 Maret 2016

(60) 47 kelerlibatan unsur aparat negara diantaranya adalali pegawai negeri sipil baik dalam jabalan slruktural maupun lungsional yang berbunyi dcmikian; Ayat (1) Dalam kampanye. dilarang melibatkan: a. hakim pada semua peradilan. b. pejabal B U M N / B U M D . c. pejabal struklural dan lungsional dalam jabalan negera. d. kepala desa. Ayal (4) Pasangan ealon dilarang melibatkan pegawai Tentara Nasional Indonesia, dan anggota negeri sipil, anggola Kepolisian Negara Republik Indonesia .sebagai peserta kampanye dan juru kampanye dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Ketcrlibatan pegawai negeri sipil dalam pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah baik langsung maupun tidak langsung lidak diperbolehkan, hal ini dikarenakan ketcrlibatan pegawai negeri sipil dapat mcnggangu peroses demokrasi, keberpihakan pegawai negeri sipil sebagai aparalur negara yang mclayani masyarakat lanpa diskriminatif .sangat membahayakan kondisi politik suatu daerah leinpal dimana pemilihan tcrscbut sedang berjalan. Mengingat keberpihakan pegawai negeri sipil dapat mengganggu stabilitas roda pemerinlahan. Oleii karena itu pegawai negeri sipil dianggap menjadi salah satu komponen yang berpotensi melakukan tindak pidana pemilihan Kepala daerah.

(61) Sehingga dalam I'asal 80 11ndang-Undang Nomor 32 laluin 2004 Tenlang Pemerintahan Daerah menyebulkan dcmikian : Pejabal negara. pejabal slniktural dan lungsional dalam jabatan negeri dan kepala desa dilarang membual keputusan dan/alau tindakan yang menguiilungkan alau merugikah salah satu pa.sangan calon selama masa kampanye. Pa.siil 80 diatas merujuk pada sanksi pidana Pilkada yang lertuang dalam pasal 1 If) ayat (4), yang berbunyi dcmikian: Seliap pejabat negara, pejabal struklural dan lungsional dalam jabatan negeri dan kepala desa yang sengaja melanggar ketenluan sebagaimana ditnaksud dalam pasal 80 dianeam dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulanatati paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda puling sedikit RpbOO.OOO atau paling banyak Rp 6.000.000. Pada pelanggaran seianjutnya. ditemiikan kasus tindak pidana Pemilukada yang dilakukan oleh Muazam Kepala Desa Uumai Mulya. Diduga melanggar Pasal 116 ayat (3) Jo I'asal 79 ayal (1) huruf d Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tenlang Pemerinlahan Daerah, yang unsur-unsur sebagai berikut: Seliap orang Dengan sengaja melanggar kelentuan larangan pemilihan Kepala Daerah melibatkan Kepala Desa. pelaksanaan kampanye

(62) 49 Adapun ancaman sanksi yang diberikan kepada lerdakwah ialah denda Rp. 2.000.000,- (Dua Juta Rupiah) dan pidana kurungan selama 3 Bulan. Dari laporan terscbul, unluk perkara alas nama Muazam oleh Jaksa Penunlut Umum dinyatakan iengkap{P-21). B. Faktor-faktor yang Menghambat l u g a s Kepolisian dalam Mencegah dan Menindak Pelaku Tindak Pidana Pemilihan Umum Kepala Daerah di Kabupaten O K U T i m u r Pemilukada yang berkualitas pada dasarnya dapat dilihat dari dua sisi yaitu sisi proses dan sisi hasil dari pcmilu tersebut. Pemilukada dapat dikalakan berkualitas dari sisi prosesnya apabila Pemilukada itu berlangsung secara demokratis, aman. tcrtib dan lancar serta jujur dan adil. Sedangkan apabila dilihat dari sisi hasilnya, pemilukada itu harus dapat menghasilkan wakil-wakil rakyat yang mampu mcnsejahterkan rakyat serta mampu mewujudkan cila-cita nasional sebagaimana tercantum dalam Pembukaan U U D Negara Republik Indonesia Tahun 1994, yaitu: "Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut meiaksanakan ketertiban dunia, yang berdasarkan kcmerdckaan. perdamaian abadi dan kcadilan sosial".*' Ditinjau dari perspektif kondisi secara objektif faklual, maka polensi pelanggaran dalam pemilukada dapat berlangsung secara intens dan cksplosif karena faktor-faktor berikut:** " Topo Sanlosi}. Op.Cii .him 20 " Djoko Prakoso. Tindak Pidana Pemilu, Sinar Harapan. Jakarta. 19[i7.hlm, 56

(63) 50 1. Masyarakat Indnncsia masih Icrgolong un-educulcd dan iin-skill. Dcngankondisi latar belakang ini maka mayoritas masyarakat kita masih mudahiintuk dicksploitasi, dipcralat. dimanipulasi uiiiiik melakukan aneka lindukpidana pemilu. 2. Mayoritas rakyat Indonesia, secara sosial ekonomi secara nasional.bangsa kita hingga kin! masih Icrpuruk dalam herbagai krisis inulli dimensional. Dengan kondisi ini maka mayoritas masyarakat kita akanmiidah terpancing ataupun dimanipulasi dan dicksploitasi untuk melakukan herbagai tindak pidana pemilu melalui praktek-praklek seperti money polilics. iming-iniing imbalan dan sebagainya. 3. Kultur politik ma.syarakat kita masih lekal dan kental dengan budaya Clienl. Pulron- dimana mereka dcngan sangat mengidolakan lokoh-tokohtertentu secara membuta hanya berda.sarkan kedekatan dan pertimbangan emosional belaka tanpa disertai rasionalitas yang proporsional dan objektif. 4. Masif-nya pcrilaku dan budaya aroganisme, parlisanisme. subjektivisme parsialisme, dan dari para elit partai-partai politik kita kurang mcndidik rakyat. Bahkan cendcrung sangat mcrugikan masyarakat. .5. Masih limpiiiigEiya (besarnya gap) rasio yang proporsional anlara jumlah aparatur pcucgak hukum. terutama jajaran I'olri. dengan luas wilayah dan kcpadalan jumlah penduduk masyarakat kita di seantcro nusanlara. sehingga kegialan pcnccg;ilian. pctulclcksian. dan penindakan icrhadap para pelaku tindak pidana pcmilu ;ikan suiil diminimalisasi.

(64) 51 6. Adanya kcndala kclcrbatasan anggaran, fasilitas. mohilitas kerja sama jutnlah personalia dirasakan I'anwaslu di scniiia jcnjang tingkalan. Hal ini teriitamaakaii dalam operasionalisasi pengawasan di tingkal kecamalaii.kula/'kabupaten scrla provinsi. Dalam proses pelaksanaan Pcmilukada di Kabupaten O K U Timur masih terdapal kekurangan-kckurangan seperti Kelerlibatan Pegawai Negeri Sipil dalam memfasililasi salah satu calon anggota legislatif dan adanya pelanggaran tcntang kampanye melibatkan Kepala Desa. Berdasarkan hasil penelitian, selain hambatan-hambatan diatas lerdapat juga hambalan yang menjadi kcndala untuk penanganan perkara Tindak Pidana Pemilukada di Kabupaten O K U Timur adalah terlelak dari dalam diri personel yang duduk dalam Sentra (iakkiimdu itu sendiri, yaitu:*' 1. Tingkat pemahaman yang masih kurang terhadap peraturan Pcrundang- undangan yang mengatur tentang Pemilukada. 2. Kurangnya sosialisasi peraturan-peraturan pcrundang-undangan yang berkaitan dengan pelaksanaan Pcmilukada. 3. Kurangnya koodinasi antara personel yang duduk dalam Sentra Gakkumdu. Hasil wawancara dcngan K A S A T G A S III Gakkumdu I'olrcs G K t ) lintur langgal 21 Marel 2016

(65)

(66) B A B IV PENDTUP Berdasarkan pcmaparan dan pembahasan dalam bab-bab terdahiilii. lelah diperolch inlbrmasi mengenai tugas kepolisian dalam mencegali dan menindak pelaku tindak pidana pemilihan umum kepala daerah di Kabupaten O K I I Timur. maka dapat diambil kesimpulan dan saran sebagai berikut: A. Kesimpulan 1. Tugas kepolisian dalam mencegah dan menindak pelaku tindak pidana pemilihan iinuitn kepala daerah di Kabupaten O K U T'iinur belum optimal. I lal ill! dapal terlibat dari adanya pelanggaran yang Iclah memenuhi syarat (I'-21). Namun dcmikian kcberadaan kepolisian sangat dipcrlukan dalam menyelesaikan laporan lindak pidana pcmilu yang terjadi melakukan penyeiidikan dan penyidikan. Jika lidak adanya dengan kebcrdaan kepolisian, maka penanganan perkara Tindak Pidana I'emilukada lenlu akan terhambat Masing-masing aparat penegak hiikiiin akan berjalan sendiri-sendiri tanpa adanya koordinasi sehingga tentunya dikhawatirkan laporan-laporan perkara Tindak Pidana Pemilukada tidak dapal ditindaklanjuli seeara maksimal alau dengan kala lain akan banyak perkara Tindak Pidana Pcmilukada yang lidak bisa diproses sampai ke tingkal pengadilan. 2. l aklor-liiklor yang menghambat tugas Kepolisian dalam meneegah dan menindak pelaku Tindak Pidana Pemilihan Uniimi Kepala Daerah di Kabupaten O K U T imur pada dasarnya dapal dilihat dari dua sisi yailu sisi 52

(67) 53 proses dan sisi liasil dari pcmilu tersebut, remilukada dapat dikalakan berkualitas dari sisi prosesnya apabila Pemilukada ilu berlangsung secara demokratis. aman. tcrtib dan laiiear serta jujur dan adil. Sedangkan apabila dilihat dari sisi hasilnya. pemilukada ilu harus dapat menghasilkan wakilwakil rakyat yang mampu men.sejahterkiiii rakyat serta mampu mewujudkan eila-eita nasional, B . Saran 1. Perlunya pengkajian lindak Pidana lebih spesifik lagi tenlang proscdur penanganan Pemilihan penyelenggarannya Kepala Daerah sesuai dengan dasar yang termuat dalam Undang - Undang Nomor 8 Tahun 2 0 1 2 . Diharapkan penerapan hukum untuk kasus tindak pidana pemilu liarus lebih mcngiitamakan pemberian cfek jerah agar pelaku tidak akan mengulangi praklcknya, pidana hanyalali hukuman pcrbualannya penjara lagi masih pcrcobaan karena dapat sangal suiil yang masih kita liliat dilerapkan yang belum bisa pada ada dikalakan memberikan elek jerah bagi pelaku. 2. Dalam penanganan perkara Tindak I'idana Pemilihan Kepala Daerah perlu adanya sualu pcrsamaan pcrsepsi unluk memahami peraturan perundang- undangan yang berlaku sehingga perbcdaan peuarsir;iii Icrhadap kclculuan peraturan peruudang-uudangan yang berlaku dapat dihiiidarkaii. Serta lebih ditingkatkaii koordinasi anlara unsur Pengawas Pcmilu. Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Kejaksaan yang duduk dalam Sentra Penegakan l l u k u m Terpadu (Gakkumdu).

(68) DAFTAR PUSTAKA A. Buku DcdiMulyadi, Kehijakan Legislasi tentang Sanksi Pidana Pemilu Legislatif dalam Perspektif Indonesia. Gramata Publishing, Jakarta, 2012. di Indonesia Djoko Prakoso. Tindak Pidana Pemilu. Sinar Harapan. Jakarta, 1987. GafFar Janedjri. Politik Hukum Pemilu. Konstitusi Press, Jakarta, 2012. H A W Widjaja. Penyelenggaraan 20115. Otonomi di Indonesia, PT Rajagrafindo Persada, Jakarta, Mardjono Reksodiputro, Sistem Peradilan Pidana (Peran Penegak Hukum Melawan Kejahatan) dalam Hak Asasi dalam Sistem Peradilan Pidana, Pusat Pclayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum, Jakarta. 1994. M i r i a m Budiardjo. Dasar-Dasar Moleong, Lexy J, Metodologi Ilmu Politik, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008. Penelitian Kualitalif, Muhammad Kusnardi. Pemilihan Indonesia, Jakarta, 1982. llmum dan PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002. Konstitusi Republik Indonesia, Ghalia Ramlan Surbakti. Memahami Ilmu Politik, PT.Grasindo, Jakarta, 1992. Samsul Wahidin, Hukum Pemerintahan Daerah Daerah, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2008. Mengawasi Pemilihan Setio W, Soemeri, Didik Supriyanto, Topo Santoso. Penanganan Kcmitraan Bagi Pembaruan Tata Pemerintahan, Jakarla, 2 0 1 ! . Umum Pelanggaran Kepala Pemilu, Syahrial Syarbaini.dkk. Sosiologi dan Politik, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2002. 'l opo Santoso. Tindak Pidana Pemilu, Sinar Grafika, Jakarta, 2006. Widodo Hkatjahjana. Penyelenggaraan Konsep Hukum Pemilu Dasar dan Asas Hukum Yang Pemilu di Indonesia, Universitas Jember, Jember, 2011. Wirjono Prodjodikoro. Asa-Asas Hukum Pidana di Indonesia. 2003. Melandasi PT. Refika Aditama, Bandung,

(69) B. Pcrundang-undangan - Amandemen Ketiga U U D N K R I 1945 yang disahkan pada tanggal 2001. 19 November - Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan U m u m Anggota DPR, DPD, DPRD, Rcpublik Indonesia. - PKPU Nomor 69 Tahun 2009 Tentang Pedoman Teknis Kampanye Pemilihan U m u m Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. - U U No.32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah. - Putusan Mahkamah Konstitusi dalam perkara Nomor pengujian. 5 /PUU-V/2007 perihal

(70)

(71) IJNIVKKSITAS MUHAMMADIYAH PALF.MBANG FAKULTAS HUKUM Lanipiran Prihal Kepada Outline Skripsi Penulisan Skripsi Yth. Ketua Prodi Ilmu Hukum U M P Di Palembang Assalamu'alaikum wr. wb. Saya yang bertanda tangan di bawah ini FERI I R A W A N Nama 502012127 NIM I l m u Hukum Program Studi Hukum Pidana Program Kekhususan Pada semester ganjil tahun kuliah 2015 - 2016 sudah menyelesaikan beban studi yang meliputi M P K , M K K , M K B , MPB,MBB(139SKS). Dengan ini mengajukan permohonan untuk Penulisan Skripsi denganjudul : TUGAS KEPOLISIAN DALAM MENCEGAH DAN M E N I N D A K P E L A K U T I N D A K PIDANA P E M I L I H A N UMUM K E P A L A D A E R A H DI K A B U P A T E N O K U TIMUR Demikianlah atas perkenan Bapak diucapkan terima kasih. Wassalam P a l e m b a n g „ ^ O k l o b e r 2015 Pemohon, Rekomendasi P.A. Ybs :

(72) UNIVERSITAS MllllAMMADiVAH PALEMBANG FAKULTAS HUKUM RBKOMENDASl DAN PEMBIMBOMGAN SKRIPSI Nama NIM Program Studi Program Kekhususan Judul :FERI I R A W A N : 502012127 : Ilmu Hukum : Hukum Pidana : T U G A S K E P O L I S I A N D A L A M M E N C E G A H DAN MENINDAK PELAKU TINDAK PIDANA PEMILIHAN UMUM KEPALA D A E R A H DI KABUPATEN OKU TIMUR I . Rekomendasi Ketua Prodi I l m u Hukum a. Rekomendasi : b. Usui Pembimbing Palembang. ^ Oktober 2015 Pit. Ketua Prodi Ilmu Hukum, \s M U L. Y A D I T T A/ N Z I L I , S H . , M H . I I . Penetapan Pembimbing Skripsi oleh Dekan Palembang, ^ ^ k t o b e r 2 0 1 5

(73) 1111)1)1 SKRIi'Sl I I I ( ; A S K K I ' O L I S I A N D A L A M MKNClXiAII DAN MENINDAK I'ELAKL IINDAK I'IDANA I'EMILIHAN UMUM KEI'ALA DAERAH Dl KABUPATEN OKU TIMUR I'HRMASAI.AHAN : 1. Bagaimanakah Tugas Kepolisian dalam Mencegah dan Menindak Pelaku rindak Pidana Pemilihan Umum Kepala Daerah di Kabupalcn O K U Timur? 2. Apakah I'aktor-faktor yang Menghambat Tugas Kepolisian dalam Mencegah dan Menindak Pelaku '['indak Pidana Pemilihan Umum Kepala Daerah di Kabupaten O K U Timur? BAB I : PENDAHULUAN A . Latar Belakang B. Rumusan Masalah C. Tujuan Penelitian D . Manfaal Penelilian E. Metode Penelilian F. Sistematika Penulisan B A B 11 : TINJAUAN PUSTAKA A . Pengerlian Pemilu dan Pemilukada B. Bentuk-bentuk T indak Pidana dalam Pcmilukada C. Penegak Hukum Terhadap Tindak Pidana dalam Pcmilukada D. Sanksi Pidana Terhadap Pelaku Tindak Pidana Pemilukada B A B III : PEMBAHASAN A . 'Tugas Kepolisian dalam Mencegah dan Menindak Pelaku Tindak Pidana Pemilihan Umum Kepala Daerah di Kabupaten O K U T imur B. l aktor-taklor yang Menghambat Tugas Kepolisian dalam Mencegah dan Menindak Pelaku T indak Pidana Pemilihan Umum Kepala Daerah di Kabupaten O K U Timur B A B IV : I'ENUT'UP A . Kesimpulan B. Saran DAKI AR PUSTAKA LAMPIRAN

(74) UNIVERSITAS M U H A M M A D I Y A H PALEMBANG FAKULTAS H U K U M H A L A M A N PERSETUJUAN U N T U K M E N O I K U T l SEMINAR PROPOSAL Nama Feri Irawan NIM 502012127 Program Studi Ilmu Hukum Program Kekhususan Hukum Pidana Judul penelitian "TUGAS KEPOLISIAN DALAM MENCEGAH DAN M E N I N D A K P E L A K U T I N D A K PEMILIHAN UMUM KEPALA PIDANA DAERAH DI KABUPATEN O K U TIMUR". O Palembang, November 2015 Disetujui oleh : P(?iiibimning Skripsi, A M I S , S H . , M.Hum Ketua Prodi Ilmu Hukum MULYADI TANZILI, SH., M H .

(75) UNIVERSITAS M U U A M M A D l Y A I i PALEMBANCi FAKULTAS H U K U M P a l e m b a n g , N o v e m b e r 2015 Perihal Kepada : Mohon Untuk dilaksanakan Seminar Proposal Penelitian Skripsi : Yth. Bapak Mulyadi Tanzili. SH.. M H Ketua Prodi Ilmu Hukum Fakultas hukum U M P Di Palcmbang Assalamu-alaikum wr.wb Dcngan hormat, dcngan ini disampaikan bahwa : Nama ; Feri Irawan NIM :502012127 Program Studi : Ilmu Hukum Program Kekhususan : Hukum Pidana Bahwa yang bersangkutan telah layak untuk mcngikuti, seminar proposal rencana penelitian Skripsi, dengan j u d u l : " T U G A S K E P O L I S I A N D A L A M M E N C E G A H DAN MENINDAK PELAKU TINDAK PIDANA FEMILUIAN UMUM KEPALA DAERAH DI KABUPATEN O K U TIMUR". Motion kirannya yang bersangkutan untuk dijadwalkan mcngikuti seminar Proposal iisul Penclitian Skripsi. Demikianlah disampaikan unluk dipertimbangkan. Wassalam Pembimbing Skripsi,

(76) I N n KRSI I A S M l H A M M A D I V A H P A L E M B A N G F A K l i ; r \ S HLlKlifVl l ' U < ) ( , K A M s.i S I A I I ' S D I S A M A K A N 1)1 D K I ' A UT F M F N D l k l i U [ ) / l E / K A K K K D I T A S I S K N O 3 2 9 / D i K T I ' KEP-1992 TGL 11 AGUSTUS 1992 - NO 20 DIKTI / KEP / 1993 TGL. 21 JANUARI 1993 TERAKREDITASI BAN PT SK BAN - PT NO 013 / BAN FT / AKRED / S / 1 / 2015 Alamat : JI Jenderal A. Yani 13 Ulu Telp. 0711-512266 Fax, 0711-513514 Palembang 30263 Nomor Lampiran Prihal Kepada /FH.UMP/I1I/20I6 10 Maret 2016 Izin Mengadakan Penelitian dan Wawancara. : Y t h . Kepala Polresta O K U Timur Sumsel diTempat Assalamu'alaikum W r . W b . Dcngan hormat, bersama i n i kami mohon kepada Kctua/Kcpala/Pimpinan /Dircktur Berkenan memberikan izin Penelitian dan Wawancara kepada mahasiswa kami atas : Nama NIM Program Studi Program Kekhususan kiranya Feri Irawan 50 2012 127 Ilmu Hukum Hukum Pidana Untuk mengadakan Penelitian dan Wawancara d i : - Polresta O k u Timur Sumsel guna mengumpulkan data dalam rangka penyusunan skripsi yang berjudu!: " Tugas Kepolisian dalam mencegah dan menindak Pelaku Tindak Pidana Pemilihan U m u m Kepala Daerah d i Kabupaten Oku T imur " adapun data yang diperoleh semaia-mata akan dipergunakan untuk bahan penulisan karya Ilmiah/Skripsi dan tidak untuk dipublikasikan di luar kampus. Demikianlah atas perhatian dan kerjasamanya yang baik diucapkan lerimn kasih. Wabillahit taufiq walhidayah. Wassalamu'alaikum Wr.Wb. ^--e^^T:^--,*

(77)
(78) UNIVERSITAS M U H A M M A D I Y A H P A L I ' M B A N G FAKULTAS H U K U M KARTU AKTIVITAS BIMBINGAN SKRIPSI PEMBIMBING N A M A MAHASISWA F E R I IRAWAN NOMER I N D U K 50.2012127 H . M A R A M I S , S H . , M.Hum MAHASISWA PROGRAM I L M U STUDI ILMU HUKUM PROGRAM K E K H U S U S A N H U K U M PIDANA JUDUL SKRIPSI: PELAKU " T U G A S K E P O L I S I A N D A L A M M E N C E G A H DAN M E N I N D A K T I N D A K P I D A N A P E M I L I H A N U M U M K E P A L A D A E R A H DI K A B U P A T E N OKU TIMUR" NO TANGGAL KONSULTASI (up I . /// MATERJ Y A N G DIBIMBING TANDA TANGAN PEMBIMBING KET

(79) NO TANGGAL KONSULTASI MATERI YANG DIBIMBING PANDA T A N G A N P^VlBIMBlNG 13. /0b w4 C:ATATAN MOHON DIBER! WAKTU MI-NYHLHSAIKAN SKRII'SI BULAN SEJAK L ANGGAL OIKEEUARKAN DITETAPKAN 'foju^ D I K E E U A R K A N Dl PAJ.EMBANG PADA l A N G G A E : 4' I ^ K E T U A PRODI I L M U H U K U M , M U L Y A D I T A N Z I L I , SH.. MH. . (

(80)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

E F E K T I V I T A S A B U S E K A M D A N Z E O L I T S E R T A P E N G U R A N G A N P U P U K N P K T E R H A D A P P R O D U K S I G A N D U M I N D O N E S I A P A D A ME D I A P A S I R A N
0
3
14
E F E K T I V I T A S A B U S E K A M D A N Z E O L I T S E R T A P E N G U R A N G A N P U P U K N P K T E R H A D A P P R O D U K S I G A N D U M I N D O N E S I A P A D A ME D I A P A S I R A N
0
3
14
E N I N G K A T A N H A S I L B E L A J A R M E N U L I S K A L I M A T E F E K T I F D A L A M P A R A G R A F A R G U M E N T A S I M E L A L U I K E G I A T A N P E E R C O R R E C T I O N P A D A S I S W A K E L A S X 1 S M A N E G E R I R A M B I P U
0
2
17
E V A L U A S I T E R H A D A P P E L A K S A N A A N R U JU K A N B E R JE N JA N G K A S U S K E G A WA T D A R U T A N M A T E R N A L D A N N E O N A T A L P A D A P R O G R A M JA M P E R S A L D I P U S K E S M A S K E N C O N G T A H U N 2012
0
2
19
H U B U N G A N T I N G K A T P E N G E T A H U A N I B U T E N T A N G D A M P A K K E C E L A K A A N P A D A B A L I T A D I R U M A H D E N G A N T I N D A K A N P E N C E G A H A N K E C E L A K A A N D I W I L A Y A H P O S Y A N D U A L A M A N D A
0
4
19
I D E N T I F I K A S I P E N G A R U H L O K A S I U S A H A T E R H A D A P T I N G K A T K E B E R H A S I L A N U S A H A M I N I M A R K E T W A R A L A B A D I K A B U P A T E N J E M B E R D E N G A N S I S T E M I N F O R M A S I G E O G R A F I S
0
3
19
R E S P O N TA N A M A N C A B E M E R A H T E R H A D A P P U P U K N K M A J E M U K YA N G D I A P L I K A S I K A N S E C A R A L A N G S U N G M E L A L U I TA N A M A N
0
0
10
D IN A M IK A P E N G U A S A A N M A T E R I P E L A J A R A N IB A D A H S H A L A T F A R D L U P A D A S IS W A K E L A S IV D E N G A N S T R A T E G I M E M B E N T U K K E L O M P O K B E L A J A R DI SD N E G E R I D E R S A N S A R I 02 T A H U N
0
1
103
U K A L I R E P A P U A S A N I M N T B I D E U G N E D H A R A D R E B M A M E D N A T A M A C E K I R A S G N U N U G N A H A R U L E K R A S A K A M A T O K I N I C O P A R
0
0
78
P E N E G A K A N H U K U M T E R H A D A P T I N D A K PIDANA P E R J U D I A N DAN K E N D A L A N Y A DI P O L S E K B E L I T A N G I I
0
0
79
U N I V E R S I T VS M U H A M M A D I Y A H P A L E M B A N G F A K U L T A S K E G U R U A N DAN I L M U P E N D I D I K A N P R O G R A M S T U D I P E N D I D I K A N BAHASA DAN S A S T R A INDONESIA A G U S T U S 2011
0
0
94
DASAR P E R T I M B A N G A N H A K I M M E N Y A T A K A N S U R A T DAKWAAN B A T A L D E M I H U K U M D A L A M TINDAK PIDANA K O R U P S I
0
0
63
K E B I J A K A N H U K U M PIDANA D A L A M M E N A N G G U L A N G I T I N D A K PIDANA P E R P A J A K A N M E N U R U T U N D A N G - U N D A N G N0.28 T A H U N 2007 T E N T A N G P E R P A J A K A N
0
0
83
HALAMAN PENGESAHAN P E N G A R U H K O M P O S I S I L E M A K A B D O M E N SAPI {TALLOW)DAN M I N Y A K J E L A N T A H T E R H A D A P K U A L I T A S SABUN P A D A T D E N G A N P R O S E S S A P O N I F I K A S I NaOH DISl'SUN O L E H : Winda Dinniya
0
0
66
P E N G A R U H K U A L I T A S PRODUK DAN H A R G A T E R H A D A P K E P U T U S A N P E M B E L I A N HANDPHONE M E R E K IPHONE DI F A K U L T A S E K O N O M I DAN BISNIS U N I V E R S I T A S MUHAMMADIYAH P A L E M B A N G SKRIPSI
0
0
134
Show more