HUBUNGAN MOTIVASI BELAJAR, IKLIM KELAS, DAN PERSEPSI SISWA TENTANG KOMPETENSI GURU DENGAN PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI

188 

Full text

(1)

i

HUBUNGAN MOTIVASI BELAJAR, IKLIM KELAS, DAN

PERSEPSI SISWA TENTANG KOMPETENSI GURU DENGAN

PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI

Studi Kasus SMK BOPKRI 1 Yogyakarta dan SMK Sanjaya Pakem

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sajana Pendidikan Program Studi Pendidikan Akuntansi

Oleh: Galuh Kristianto

041334073

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv PERSEMBAHAN

Kupersembahkan karya ini untuk:

1.

Tuhan Yesus Kristus atas berkah yang diberikan.

2.

Kedua orangtuaku yang selalu percaya dan mendukung

sepenuhnya baik moril maupun materiil

3.

Untuk adikku yang selalu memberi semangat.

4.

Untuk teman-teman yang percaya dan mendukung aku

selama ini

(5)

v MOTTO

Sukses adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan diri”

-Ben Sweetland-

“Dalam kehidupan ini kita tidak dapat selalu

melakukan hal yang besar, tetapi kita dapat melakukan

banyak hal kecil dengan cinta yang besar”

-Bunda Teresa-

‘Tinggalkanlah kesenangan yang menghalangi

pencapaian kecemerlangan hidup yang diinginkan, dan

berhati-hatilah karena beberapa kesenangan adalah cara

gembira menuju kegagalan”

(6)
(7)
(8)

viii ABSTRAK

HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BELAJAR, IKLIM KELAS, DAN PERSEPSI SISWA TENTANG KOMPETENSI GURU TERHADAP

PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI

Studi Kasus Siswa- Siswi Kelas X dan XI SMK BOPKRI 1 Yogyakarta dan SMK Sanjaya Pakem

Galuh Kristianto Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta 2011

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara: (1) motivasi belajar dengan prestasi belajar akuntansi. (2) iklim kelas dengan prestasi belajar akuntansi. (3) persepsi siswa tentang kompetensi guru dengan prestasi belajar akuntansi. (4) motivasi belajar, iklim kelas, dan persepsi siswa tentang kompetensi guru secara bersama-sama dengan prestasi belajar akuntansi.

Penelitian ini dilaksanakan di SMK BOPKRI 1 Yogyakarta dan SMK Sanjaya Pakem Yogyakarta pada bulan April –Mei 2011. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas X dan XI Jurusan akuntansi yang berjumlah 100 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner yang dilengkapi dengan wawancara dan dokumentasi. Data dianalisis dengan korelasi Product Moment dan Korelasi Ganda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tidak ada hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar akuntansi (rhitung = 0,016 < rtabel = 0,195),

(2) tidak ada hubungan antara iklim kelas dengan prestasi belajar akuntansi (rhitung

= 0,039 < rtabel = 0,195), (3) tidak ada hubungan antara persepsi siswa tentang

komptensi guru dengan prestasi belajar akuntansi (rhitung = 0,001 < rtabel = 0,195),

(9)

ix ABSTRACT

THE RELATIONSHIP BETWEEN LEARNING MOTIVATION, CLASSROOM ATMOSPHERE, STUDENTS’ PERCEPTIONS OF

TEACHER’S COMPETENCE AND STUDENT’S ACCOUNTING LEARNING ACHIEVEMENT

A Case Study of students’ of the tenth and eleventh class BOPKRI 1 Vocational School Yogyakarta and SANJAYA Vocational School Pakem

Galuh Kristianto Sanata Dharma University

Yogyakarta 2011

This research aims to know the relationships between: 1) learning motivation and students’ accounting learning achievement; 2) classroom atmosphere and students’ accounting learning achievement; 3) students’ perceptions of teacher competence and students’ accounting learning achievement; 4) learning motivation, classroom atmosphere, students’ perceptions of teacher competence and students’ accounting learning achievement.

This research is a case study conducted at BOPKRI 1 Vocational School Yogyakarta and SANJAYA Vocational School Pakem from April to May 2011. The samples in this research were 100 students of accounting of the tenth and eleventh class. The data collecting techniques were questionnaire, interviews and documentary. The data were analysed by applying product moment and multiple correlation analysis technique.

The result of the study indicates that (1) there isn’t any relationship between learning motivation and students’ accounting learning achievement (rcount

= 0,016 < rtable = 0,195); (2) there isn’t any relationship between classroom

atmosphere and students’ accounting learning achievement (rcount = 0,039 < rtable =

0,195); (3) there isn’t any relationship between students’ perceptions of teacher competence and students’ accounting learning achievement (rcount = 0,001< rtable =

(10)

x KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas kasih-Nya yang besar, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul ” HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BELAJAR, IKLIM KELAS, DAN PERSEPSI SISWA TENTANG KOMPETENSI GURU TERHADAP PRESTASI BELAJAR AKUNTANSI”.

Penulis menyadari bahwa proses penyusunan skripsi ini mendapatkan berbagai masukan, kritik dan saran dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:

1. Bapak Drs. T. Sarkim, M.Ed., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Bapak Yohanes Harsoyo,S.Pd.,M.Si. selaku Ketua Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

3. Bapak Laurentius Saptono,S.Pd.,M.Si. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Akuntansi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

4. Ibu B. Indah Nugraheni, S.Pd.,S.I.P.,M.Pd. selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu dalam memberikan bimbingan, memberikan kritik, dan saran untuk kesempurnaan skripsi ini.

5. Bapak Drs. Bambang Purnomo, S.E. M.S.i selaku Dosen Penguji yang telah banyak meluangkan waktu dalam memberikan bimbingan, memberikan kritik, dan saran untuk kesempurnaan skripsi ini.

6. Staf pengajar Program Studi Pendidikan Akuntansi yang telah memberikan tambahan pengetahuan dalam proses perkuliahan.

7. Sdr Tri purnomo, Moko, Dana, dan Eko yang banyak membantu selama proses pencarian data dan pengolahan data.

8. Sdri Lusi,Okta,dan Ela yang banyak membantu dan memberi banyak dorongan sehingga selesainya skripsi ini.

(11)
(12)

xiii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

PERNYATAAN PUBLIKASI ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT

... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... xx

BAB I PENDAHULUAN

... 1

A.

Latar belakang ... 1

B.

Identifikasi Masalah ... 3

C.

Batasan Masalah ... 3

(13)

xiv

E.

Tujuan Penelitian ... 4

F.

Manfaat Penelitian ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

... 6

A.

Prestasi Belajar Akuntansi ... 6

B.

Motivasi Belajar ... 8

C.

Iklim kelas ... 11

D.

Persepsi Siswa tentang Kompetensi Guru ... 13

E.

Kajian Hasil Penelitian yang Relevan ... 23

F.

Kerangka Berpikir ... 24

1.

Hubungan Disiplin Belajar Terhadap Prestasi Belajar

Akuntansi ... 24

2.

Hubungan Iklim Kelas Terhadap Prestasi Belajar Akuntansi ... 24

3.

Hubungan Persepsi Siswa Tentang Kompetensi Guru Terhadap

Prestasi Belajar Akuntansi ... 24

4.

Hubungan Disiplin Belajar, Iklim Kelas, dan Persepsi Siswa

Tentang Kompetensi Guru Terhadap Prestasi Belajar

Akuntansi ... 25

(14)

xv

BAB III METODE PENELITIAN

... 27

A.

Jenis Penelitian ... 27

B.

Tempat dan Waktu Penelitian ... 27

C.

Populasi dan Sampel ... 27

D.

Variabel Penelitian dan Pengukuran ... 28

E.

Teknik Pengumpulan Data ... 35

F.

Uji Instrumen Penelitian ... 35

G.

Teknik Analisis Data ... 41

BAB IV GAMBARAN UMUM

... 47

A.

SMK BOPKRI 1

... 47

1.

Tujuan Pendidikan SMK ... 47

2.

Sistem pendidikan SMK ... 48

3.

Kurikulum SMK ... 50

4.

Organisasi SMK ... 56

5.

Sumber Daya Manusia ... 62

6.

Siswa SMK ... 62

7.

Kondisi Fisik dan Lingkungan ... 63

8.

Fasilitas Pendidikan dan Latihan ... 64

9.

Komite Sekolah ... 65

10.

Hubungan Dengan DI/DU atau Intstansi Lain ... 66

(15)

xvi

B.

SMK SANJAYA

... 67

1.

Mengenal Sekolah ... 67

2.

Tujuan Satuan Pendidikan ... 70

3.

Sistem Pendidikan SMK ... 72

4.

Kurikulum SMK ... 73

5.

Organisasi Sekolah ... 75

6.

Sumber Daya Manusia Satuan Pendidikan SMK ... 75

7.

Siswa SMK ... 81

8.

Kondisi Fisik dan Lingkungan ... 82

9.

Fasilitas Pendidikan dan Latihan ... 84

10.

Majelis Sekolah / Dewan Sekolah / Komite Sekolah ... 86

11.

Hubungan Antara Satuan Pendidikan ... 88

12.

Usaha-usaha Peningkatan Kualitas Kelulusan ... 88

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

... 90

A.

Deskripsi Data ... 90

B.

Analisis Data ... 94

1.

Pengujian Prasyarat Analisis ... 95

2.

Pengujian Hipotesis ... 95

(16)

xvii

BAB VI KESIMPULAN, KETERBATASAN PENELITIAN,

DAN

SARAN

... 110

A.

Kesimpulan ... 110

B.

Saran ... 111

C.

Keterbatasan Penelitian ... 112

Daftar Pustaka ...

113

(17)

xviii

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Skala Sikap ... 30

Tabel 3.2 Pengembangan Variabel Motivasi Belajar ... 31

Table 3.3 Skor Item-item Pertanyaan Kuesioner Motivasi Belajar ... 32

Tabel 3.4

Pengembangan Variabel Iklim Kelas ... 32

Tabel 3.5

Skor Item-item Pertanyaan Kuesioner Iklim Kelas ... 33

Tabel 3.6

Pengembangan Variabel Persepsi Siswa tentang Kompetensi

Guru

...

33

Table 3.7

Skor Item-item Pertanyaan Kuisioner Persepsi Siswa tentang

Kompetensi

Guru

...

34

Tabel 3.8

Hasil Uji Validitas Variabel Motivasi Belajar ... 37

Tabel 3.9

Hasil Uji Validitas Variabel Iklim Kelas ... 38

Tabel 3.10 Hasil Uji Validitas Variabel Persepsi Siswa tentang Kompetensi

Guru

...

39

Tabel 3.11 Instrumen Interprestasi Reliabilitas ... 41

Tabel 3.12 Rangkuman Pengujian Reliabilitas ... 41

Tabel 4.1

Jumlah Siswa-siswi SMK BOPKRI 1 ... 62

Tabel 4.2

Susunan Ketua Program Studi ... 75

Tabel 4.3

Susunan Guru-guru SMK SANJAYA Pakem ... 76

(18)

xix

Tabel 4.5

Jumlah Siswa-siswi SMK SANJAYA Pakem ... 79

Tabel 5.1

Distribusi Frekuensi Skor Variabel Motivasi Belajar ... 87

Tabel 5.2

Distribusi Frekuensi Skor Variabel Iklim Kelas ... 88

Tabel 5.3

Distribusi Frekuensi Skor Variabel Persepsi Siswa tentang

Kompetensi

Guru

...

89

Tabel 5.4

Distribusi Frekuensi Skor Variabel Prestasi Belajar Akuntansi ... 90

Tabel 5.5

Hasil Uji Normalitas ... 91

Tabel 5.6

Hasil Uji Hipotesis I dengan Menggunakan Korelasi ... 93

Tabel 5.7

Rangkuman Perhitungan t

hitung

Hipotesis I ... 94

Tabel 5.8

Hasil Uji Hipotesis II dengan Menggunakan Korelasi Product

Moment ... 95

Tabel 5.9

Rangkuman Perhitungan t

hitung

Hipotesis II ... 96

Tabel 5.10 Hasil Uji Coba Hipotesis III dengan Menggunakan Korelasi

Product

Moment

...

97

Tabel 5.11 Rangkuman Perhitungan t

hitung

Hipotesis III ... 98

Tabel 5.12 Rangkuman Perhitungan Korelasi Ganda ... 99

(19)

xx

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

Kuesioner Penelitian ... 110

Lampiran 2

Uji Validitas Dan Reliabilitas ... 118

Lampiran 3

Data Induk Penelitian ... 122

Lampiran 4

Penilaian Acuan Patokan PAP Tipe II ... 134

Lampiran 5

Mean, Median, Modus, Deviasi Standar ... 140

Lampiran 6

Uji Normalitas ... 143

Lampiran 7

Uji Korelasi

Product Moment

... 145

Lampiran 8

Analisis Regresi ... 147

Lampiran 9

Tabel r, t, F ... 154

Lampran 10 Surat Izin Penelitian ... 162

(20)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di jaman yang mulai berkembang akan menuntut manusia untuk mempunyai prestasi yang tinggi. Untuk memperoleh prestasi yang tinggi sangat diperlukan berbagai macam cara. Banyak faktor yang berhubungan dengan pencapaian prestasi belajar.

Banyak hal yang berhubungan dengan pencapaian prestasi belajar siswa antara lain peranan orang tua dalam menanamkan nilai disiplin, kemandirian, perhatian orang tua, pemenuhan gizi yang baik, peranan guru dalam memotivasi belajar siswa, menjaga kedisiplinan siswa, iklim kelas, pengaruh lingkungan belajar, teman sebaya pada umumnya, sikap disiplin dalam membagi waktu, dukungan semangat belajar dari teman-teman sekitar dan sebagainya.

Melalui pendidikanlah akan tercipta sumber daya manusia yang kreatif dan memiliki wawasan luas yang didasarkan pada pendidikan yang diterima oleh siswa. Untuk mencapai hal tersebut maka diperlukan yang dinamakan motivasi untuk terus berprestasi dan semangat disiplin yang tinggi, dengan adanya motivasi belajar yang tinggi diharapkan prestasi belajar siswa akan meningkat.

(21)

seorang siswa akan terdorong untuk belajar dengan baik sehingga dapat mencapai prestasi belajar yang baik, jika seorang siswa sudah termotivasi untuk belajar maka untuk membiasakan diri dalam belajarpun mudah. Selain motivasi siswa juga harus memiliki iklim kelas yang mendukung, karena iklim kelas yang mendukung dapat membuat siswa lebih rajin belajar dan mendapatkan prestasi yang optimal. Selain itu juga guru yang kompeten juga dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, guru yang kompeten lebih mampu mengelola kelasnya, sehingga hasil belajar siswa dapat optimal. Guru yang kompeten juga mampu menyajikan materi pelajaran yang benar-benar bermutu dan sesuai dengan ilmu dan teknologi yang ada, sehingga membuat siswa merasa senang melakukan kegiatan belajar mengajar.

(22)

Persepsi Siswa Tentang Kompetensi Guru dengan Prestasi Belajar Akuntansi”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah maka masalah-masalah yang muncul dalam peningkatan prestasi belajar akuntansi adalah motivasi belajar siswa, variasi gaya mengajar guru, lingkungan belajar, pendidikan orang tua, dukungan teman, media pembelajaran, iklim kelas, dan persepsi tentang kompetensi guru dalam pengajarannya kepada peserta didiknya.

C. Batasan Masalah

Dengan adanya banyak faktor yang berhubungan dengan prestasi belajar akuntansi, maka dalam penelitian ini penulis hanya akan membahas mengenai hubungan motivasi belajar, iklim kelas, dan persepsi siswa tentang kompetensi guru dengan prestasi belajar akuntansi.

D. Rumusan Masalah

1. Apakah ada hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar akuntansi?

2. Apakah ada hubungan yang signifikan antara iklim kelas dengan prestasi belajar akuntansi?

(23)

4. Apakah ada hubungan yang signifikan antara motivasi belajar, iklim kelas, dan persepsi siswa tentang kompetensi guru dengan prestasi belajar akuntansi?

E. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar akuntansi

2. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara iklim kelas dengan prestasi belajar akuntansi

3. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara persepsi siswa tentang kompetensi guru dengan prestasi belajar akuntansi.

4. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara motivasi belajar, iklim kelas, dan persepsi siswa tentang kompetensi guru dengan prestasi belajar akuntansi.

F. Manfaat Penelitian 1. Bagi Sekolah

(24)

2. Bagi siswa

Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar dan iklim kelas yang mendukung siswa untuk meningkatkan prestasi belajar akuntansi.

3. Bagi Universitas Sanata Dharma

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi para mahasiswa Universitas Sanata Dharma untuk melakukan penelitian selanjutnya maupun sebagai bahan bacaan untuk menambah wawasan mahasiswa.

4. Bagi Penulis

(25)

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab tinjauan pustaka ini diuraikan tentang motivasi belajar, iklim

kelas, persepsi siswa tentang kompetensi guru dan prestasi belajar akuntansi. Adapun

penjelasannya sebagai berikut :

A.

Prestasi Belajar Akuntansi

1.

Belajar

Winkel (1996:53) memberikan pengertian belajar sebagai suatu

aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif

dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam

pengetahuan-pengetahuan, ketrampilan dan nilai sikap, perubahan ini

bersifat relatif konstan.

Sardiman (1986:22-23) memberikan beberapa pengertian belajar

sebagai berikut:

a.

Belajar merupakan perubahan tingkah laku, perubahan itu tidak

hanya berkaitan dengan perubahan ilmu pengetahuan tapi juga

berbentuk kecakapan, ketrampilan, sikap pengertian, harga diri,

(26)

b.

Belajar dalam arti luas merupakan kegiatan psiko-fisik menuju

perkembangan pribadi seutuhnya.

c.

Belajar dalam arti sempit adalah usaha penguasaan materi ilmu

pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju

terbentuknya kepribadian seutuhnya.

d.

Belajar adalah rangkaian kegiatan jiwa raga, psiko-fisik untuk

menuju perkembangan pribadi manusia seutuhnya yang berarti

menyangkut unsur cipta, rasa, karsa, ranah kognitif, afektif dan

psikomotorik.

Dari berbagai pengertian yang disampaikan oleh para ahli maka

belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku menuju

perkembangan manusia seutuhnya melalui serangkaian kegiatan yang

dibimbing oleh seorang yang lebih tahu. Perubahan tersebut diakibatkan

dengan adanya interaksi dengan lingkungan sehingga menghasilkan

perubahan dalam pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang lebih baik.

2.

Prestasi Belajar

Prestasi belajar adalah hasil perubahan kemampuan yang

meliputi kemampuan kognitif, afektif, psikomotorik (Sunaryo, 1983:10).

Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar terdiri dari

dua faktor, yaitu faktor intern dan faktor ekstern:

(27)

1)

Faktor psikologis yaitu faktor-faktor yang berhubungan dengan

kejiwaan

2)

Faktor biologis yaitu faktor-faktor yang berhubungan dengan

keadaan phisik.

b.

Faktor ekstern adalah faktor yang berasal dari luar individu

Faktor ekstern meliputi faktor lingkungan sekitar, baik itu

lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat sekitar.

Faktor-faktor tersebut berpengaruh dalam membantu meningkatkan prestasi

belajar peserta didik. Oleh karena itu diupayakan agar faktor-faktor

tersebut dapat membantu peningkatan prestasi belajar.

B.

Motivasi Belajar

1.

Pengertian Motivasi Belajar

Motivasi adalah keadaan psikologis dalam diri pribadi seseorang

yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu

untuk mencapai tujuan tertentu (Winkel, 1987:93).

Motivasi juga dipandang sebagai dorongan mental yang

menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia termasuk perilaku

belajar (Dimyati dan Mudjono, 2006:80).

Berdasarkan pendapat dapat disimpulkan bahwa arti motivasi

adalah sesuatu yang mendorong individu untuk melakukan suatu

tindakan ke arah tujuan tertentu. Jadi motivasi merupakan segala sesuatu

(28)

2.

Fungsi Motivasi Belajar

Menurut Sardiman (1986:85) ada tiga fungsi motivasi, yaitu:

a.

Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak yang

melepaskan energi, motivasi dalam hal ini merupakan penggerak

dari setiap kegiatan yang akan dilakukan.

b.

Menentukan arah perbuatan, yaitu ke arah tujuan yang hendak

dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan

kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.

c.

Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa

yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan

menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan

tersebut.

3.

Unsur-unsur Motivasi Belajar

Ada enam unsur yang mempengaruhi motivasi belajar.

Unsur-unsur tersebut adalah:

a.

Cita-cita atau Aspirasi Siswa

Setiap siswa mempunyai keinginan dalam hidupnya.

Keinginan tersebut akan selalu ia perjuangkan. Keberhasilan

mencapai keinginan tersebut menumbuhkan kemauan, bahkan di

kemudian hari menimbulkan cita-cita dalam hidupnya. Cita-cita

akan memperkuat motivasi belajar intrinsik maupaun ekstrinsik.

(29)

b.

Kemampuan Siswa

Keinginan seorang anak perlu disertai dengan kemampuan

atau kecakapan mencapainya. Keberhasilan dalam mencapai

keinginan tersebut akan menimbulkan kegemaran terhadap hal

tersebut. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa kemampuan akan

memperkuat motivasi anak untuk melaksanakan tugas-tugas

perkembangannya.

c.

Kondisi Siswa

Kondisi siswa yang meliputi kondisi jasmani dan rohani

mempengaruhi motivasi belajar. Kondisi seperti sakit, lapar atau

marah akan mengganggu perhatian belajar. Sementara kondisi sehat,

kenyang dan gembira akan mudah memusatkan perhatian.

d.

Kondisi Lingkungan Siswa

Lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam, lingkungan

tempat tinggal, pergaulan sebaya dan kehidupan kemasyarakatan.

Lingkungan yang aman, tenteram, tertib dan indah akan memperkuat

semangat dan motivsi belajar.

e.

Unsur-unsur Dinamis dalam Belajar dan Pembelajaran

Siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan dan

pikiran yang mengalami perubahan berkat pengalaman hidup.

Lingkungan budaya siswa seperti surat kabar, majalah, radio, televisi

(30)

f.

Upaya Guru dalam Membelajarkan Siswa

Guru sebagai tenaga pendidik profesional mempunyai tugas

untuk membelajarkan siswa. Guru yang tinggi semangatnya dalam

membelajarkan siswa, menjadikan siswa semangat juga untuk

belajar. Bahan pelajaran yang terbaru, terbaik dan disampaikan

secara menarik bisa menjadikan tingginya motivasi siswa.

C.

Iklim Kelas

1.

Pengertian Iklim Kelas

Ada beberapa istilah yang kadang-kadang digunakan secara

bergantian dengan kata

climate

, yang diterjemahkan dengan iklim,

seperti

feel, atmosphere, tone

, dan

environment

. Dalam konteks ini,

istilah iklim kelas digunakan untuk mewakili kata-kata tersebut di atas

dan kata-kata lain seperti

learning environment, group climate

dan

classroom environment

(Winkel, 1987: 86)

.

Bloom (Tarmidi, 2006:67) mendefinisikan iklim dengan kondisi,

pengaruh, dan rangsangan dari luar yang meliputi pengaruh fisik, sosial,

dan intelektual yang mempengaruhi peserta didik. Hoy dan Forsyth

(Tarmidi, 2006:68) mengatakan bahwa iklim kelas adalah organisasi

sosial informal dan aktivitas guru kelas yang secara spontan

mempengaruhi tingkah laku. Di samping itu, Hoy dan Miskell (Tarmidi,

2006:68) mengatakan bahwa iklim merupakan kualitas dari lingkungan

(31)

tingkah laku, dan berdasar pada persepsi kolektif tingkah laku mereka.

Selanjutnya, Hoy dan Miskell (Tarmidi, 2006:71) menambahkan bahwa

istilah iklim seperti halnya kepribadian pada manusia. Artinya,

masing-masing kelas mempunyai ciri (kepribadian) yang tidak sama dengan

kelas-kelas yang lain, meskipun kelas itu dibangun dengan fisik dan

bentuk atau arsitektur yang sama.

Dengan berdasar pada beberapa pengertian iklim dan atau

iklim kelas di atas, maka dapat dipahami bahwa iklim kelas adalah

segala situasi yang muncul akibat hubungan antara guru dan peserta

didik atau hubungan antar peserta didik yang menjadi ciri khusus dari

kelas dan mempengaruhi proses belajar-mengajar. Situasi di sini dapat

dipahami sebagai beberapa skala

(scales)

yang dikemukakan oleh

beberapa ahli dengan istilah seperti kekompakan

(cohesiveness),

kepuasan

(satisfaction),

kecepatan

(speed),

formalitas

(formality),

kesulitan

(difficulty),

dan demokrasi

(democracy)

dari kelas.

2.

Dimensi Iklim Kelas

Beberapa dimensi iklim kelas adalah dimensi hubungan

(relationship),

dimensi pertumbuhan dan perkembangan pribadi

(personal growth / development)

dan dimensi perubahan dan perbaikan

sistem

(system maintenance and change)

serta lingkungan fisik

(physical

(32)

D.

Persepsi Siswa Tentang Kompetensi Guru

Kartono (1984:77) mengemukakan persepsi adalah pengamatan

secara global, belum disertai kesadaran, sedang subjek dan objeknya belum

terbedakan satu dari yang lainnya (baru ada proses memiliki tanggapan).

Davidoff (1998:232) juga mengemukakan definisi persepsi yaitu

sebagai proses yang mengorganisir dan menggabungkan data-data indera

kita (penginderaan) untuk dikembangkan sedemikian rupa sehingga kita

dapat menyadari sekeliling kita termasuk sadar akan diri sendiri.

Sarlito (1992:45) mendefiniskan persepsi sebagai sejumlah

penginderaan disatukan dan dikoordinasikan di dalam pusat syaraf yang

lebih tinggi (otak) sehingga manusia bisa mengenali dan menilai

objek-objek.

Dari beberapa pernyataan di atas kita bisa mengambil suatu

kesimpulan bahwa persepsi adalah proses memahami, menerima,

mengorganisasikan dan menginterpretasikan rangsang dari lingkungannya

melalui panca indera, sehingga individu menyadari dan mengerti apa yang

diinderakan.

a.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi

Persepsi merupakan suatu tanggapan terhadap suatu objek yang

dapat diterima dan dimengerti oleh penerima rangsang atau stimulus.

Tanggapan tersebut bersifat individual. Stimulus adalah segala sesuatu

(33)

2004:87). Stimulus dapat berasal dari dalam dan luar diri individu.

Namun, kebanyakan stimulus berasal dari luar diri individu.

Persepsi diawali dengan proses penginderaan, selanjutnya akan

memunculkan aktivitas kognitif yang bersifat psikologis. Menurut

Irwanto dkk (1998:76-77) faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi

yaitu: (1) Perhatian yang selektif; (2) ciri-ciri rangsang; serta (3)

nilai-nilai dan kebutuhan individu. Ketiga faktor dijelaskan sebagai berikut:

1)

Perhatian yang Selektif

Setiap saat individu berinteraksi dengan lingkungan. Interaksi dengan

lingkungan mempengaruhi individu untuk menerima rangsang dari

dunia sekitar. Rangasang atau stimulus yang diterima individu

sangatlah beragam. Hal ini mendorong individu hanya memusatkan

perhatian pada rangsang-rangsang tertentu. Perhatian sebagai langkah

persiapan dalam pemusatan dari seluruh aktivitas individu terhadap

suatu objek atau sekumpulan objek (Walgito, 2004:98). Perhatian

pada suatu objek tergantung dari intensitas objek tersebut. Perhatian

memiliki intensitas yang secara intensif dan tidak intensif terhadap

suatu objek. Perhatian dapat intensif apabila dikuatkan oleh

banyaknya rangsang yang diterima dan perhatian dapat tidak intensif

apabila kurang dikuatkan oleh rangsang tersebut (Soemanto,

(34)

2)

Ciri-ciri Rangsang

Dalam melakukan persepsi rangsang yang diterima harus kuat hingga

melewati ambang rangsang. Ambang rangsang pada kekuatan

rangsang minimal dapat diterima oleh individu (Walgito 2002:46).

Berkaitan dengan perhatian, individu lebih tertarik pada rangsang

yang memiliki intensitas kuat karena dianggap dapat menarik

perhatian. Rangsang dengan perubahan dari keadaan statis akan lebih

mudah diterima oleh individu. Rangsang dengan ukuran besar dan

diterima secara berulang-ulang, memudahkan individu untuk

menerimanya (Irwanto, dkk 1998:76).

3)

Nilai-nilai dan Kebutuhan Individu

Davidoff (Walgito, 2004:89) mengemukakan bahwa persepsi bersifat

infividual sehingga persepsi individu yang satu dengan yang lain

berbeda. Objek yang diterima oleh individu dapat berbeda satu

dengan yang lainnya dapat berbeda. Hal ini ditemukan oleh nilai dan

kebutuhan individu itu sendiri. Nilai dan kebutuhan menjadi

(35)

b.

Pengertian Persepsi Siswa

Seorang guru bagi siswa merupakan salah satu komponen yang

penting dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha

pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang

pembangunan. Oleh karena itu guru merupakan salah satu komponen

penting di bidang pendidikan yang harus berperan aktif dan

menempatkan kedudukannya sebagai tenaga yang berkompeten, sesuai

dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang. Dalam arti

khusus dapat dikatakan bahwa pada setiap diri guru itu terletak tanggung

jawab untuk membawa para siswanya pada kedewasaan (Sardiman,

1986:125)

Guru merupakan orang yang penting statusnya di dalam kegiatan

belajar mengajar karena guru memegang tugas yang amat penting, yaitu

mengatur dan mengemudikan bahtera kehidupan kelas. Bagaimana

suasana kelas berlangsung merupakan hasil dari kerja guru. Suasana

kelas yang dapat “hidup”, siswa dapat belajar dengan tekun tetapi tidak

merasa terkekang. Di dalam melaksanakan tugas tersebut guru berupaya

sekuat tenaga agar kehidupan kelas dapat berjalan dengan mulus, siswa

dapat belajar tanpa hambatan dan dapat menguasai apa yang diajarkan

(36)

c.

Kompetensi Guru

Kompetensi guru merupakan kemampuan guru atau penguasaan

pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan menjalankan tugas sebagai

pengajar dan pendidik. Sebagai pengajar guru dituntut memiliki

seperangkat pengetahuan dan ketrampilan teknis mengajar. Sedangkan

guru sebagai pendidik dituntut dapat menanamkan nilai-nilai yang

terkandung pada berbagai pengetahuan yang disertai dengan

contoh-contoh teladan dan tingkah laku gurunya. Jadi tugas guru selain

mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa juga mendidik siswa

menjadi warga negara yang baik dan utuh.

Mengingat peran dan tanggung jawab guru sangat besar dalam

dunia pendidikan, seorang guru harus memiliki kompetensi sebagai

modal dalam melaksanakan tugasnya.

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 16 tahun

2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru bahwa

kompetensi guru dibedakan menjadi empat bagian yaitu kompetensi

pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi

profesional. Ke empat kompetensi tersebut tidak bisa dipisah-pisahkan,

karena ke empat kompetensi tersebut terpadu di dalam diri dan tingkah

laku guru. Guru yang terampil mengajar harus pula memiliki

kepribadian yang baik dan mampu mengelola pembelajaran peserta

(37)

bermasyarakat. Keempat kompetensi tersebut akan diuraikan sebagai

berikut:

1)

Kompetensi Kepribadian

Menurut Masidjo (2007), kompetensi kepribadian berarti

kemampuan kepribadian yang mantab, stabil, dewasa, arif,

berwibawa, berakhlak mulia, dan dapat menjadi teladan.

Guru

dalam

menjalankan

tugasnya hendaknya dapat

mengembangkan kepribadiannya. Dalam kedudukannya sebagai

makhluk yang beriman, ia bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Misalnya dengan beribadah sesuai dengan agamanya, mengamalkan

ajaran-ajaran agama yang dianut dan bertoleransi dengan penganut

agama lainnya. Guru juga mengembangkan sifat-sifat terpujinya

dengan menerapkan sifat-sifat sabar, demokratis, menghargai

pendapat orang lain, sopan, dan tanggap terhadap pembaharuan.

Guru dalam menghadapi masalah apapun dapat bersikap dewasa

untuk menyelesaikannya, dan mempunyai kewibawaan yang tinggi

di depan keluarga, rekan kerja, anak didik maupun masyarakat

sekitar.

2)

Kompetensi Pedagogik

Menurut Masidjo (2007), kompetensi pedagogik ialah

kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik, meliputi :

(38)

pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan potensi

peserta didik.

Guru sebaiknya mempunyai sikap positif terhadap dirinya

sendiri. Sebab dengan sikapnya tersebut akan mempengaruhi tinggi

rendahnya kualitas dan kuantitas layanan kepada siswa. Proses

belajar dan hasil belajar bukan saja ditentukan oleh sekolah,

struktur dan isi kurikulumnya, akan tetapi sebagian besar ditentukan

oleh guru yang mengajar dan membimbing mereka. Guru yang

kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang

efektif, menyenangkan, dan akan lebih mampu mengelola kelasnya,

sehingga belajar para siswa akan berada pada tingkat optimal.

Guru harus mengenal setiap murid yang dipercayakan

padanya. Bukan saja mengenai sifat, tetapi juga harus mengenal

sifat, kebutuhan, kemampuan dan cara belajar murid secara khusus.

Guru harus bisa menjadi guru yang disenangi oleh siswa-siswanya.

Misalnya guru bersifat ramah dan memahami setiap orang, sabar

dan suka membantu, memberi perasaan tenang, adil dan tidak

memihak, cerdas dan memiliki rasa humor serta memperlihatkan

tingkah laku yang menarik. Di dalam kelas, di mana siswa

bermacam-macam latar belakang minat dan kebutuhannya maka

guru harus sanggup merangsang murid-murid belajar, menjaga

(39)

sehingga pengajaran berjalan dengan baik dan memberikan hasil

yang memuaskan.

Guru harus terampil dalam menyiapkan bahan pelajaran,

menyusun satuan pelajaran dan menyampaikan ilmu kepada murid.

Guru diharapkan mampu untuk merencanakan kegiatan belajar

mengajar secara efektif. Untuk itu ia harus memiliki pengetahuan

yang cukup tentang merumuskan tujuan, memiliki bahan, memiliki

metode dan menetapkan evaluasi. Guru juga harus mampu

mengelola seluruh proses kegiatan belajar mengajar sehingga

tercipta suasana yang menyenangkan bagi anak. Dalam fungsinya

dalam evaluasi hasil belajar, seorang guru hendaknya secara terus-

menerus mengikuti hasil-hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa

dari waktu ke waktu.

3)

Kompetensi Profesional

Menurut Masidjo (2007), kompetensi profesional adalah

kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan

mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik

memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam standar

nasional pendidikan.

Guru dalam menjalankan tugasnya harus memiliki

pengetahuan yang luas dan baru mengenai ilmu yang akan

(40)

pendidikan nasional. Mengelola kegiatan sekolah yang

mencerminkan sekolah sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan.

Dapat menguasai bahan pengajaran yang diterapkan pada anak

didik. Guru hendaknya juga dapat memilih dan mengembangkan

media pengajaran yang sesuai. Misalnya dengan memilih media

yang tepat, membuat media pengajaran yang sederhana dan

menggunakan media pengajaran dengan tepat dan optimal. Serta

guru dapat memilih dan memanfaatkan berbagai jenis dan kegunaan

sumber belajar.

4)

Kompetensi Sosial

Menurut Masidjo (2007), kompetensi sosial adalah

kemampuan sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi

dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik,

tenaga kependidikan, orang tua atau wali peserta didik dan

masyarakat sekitar.

Seorang guru harus dapat menjaga hubungan yang baik

dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang

tua atau wali peserta didik dan masyarakat sekitar. Guru dalam

hubungannya dengan peserta didik haruslah merupakan seorang

figur yang berwibawa dan bisa menjadi panutan. Menjadi orang

yang disenangi oleh peserta didik dan benar-benar dapat menjalin

(41)

disegani oleh anak didiknya. Dengan sesama pendidik, guru harus

menjalin hubungan yang baik untuk meningkatkan kemampuan

profesionalnya. Dengan memiliki hubungan yang baik maka akan

tercipta kerja sama yang baik pula. Guru berlatih menerima dan

memberikan balikan serta bersama-sama mengikuti perkembangan

profesi. Tenaga kependidikan dan guru juga harus sama-sama

menjalin hubungan yang baik agar bisa saling membantu apabila

ada kesulitan dan masalah yang berhubungan dengan kependidikan.

Guru juga harus mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif

dengan orang tua atau wali peserta didik dan masyarakat sekitar.

Lewat hubungan yang baik pula maka mereka akan bisa cepat

menerima keberadaan, kewibawaan, dan peranannya sebagai

seorang guru sekaligus sebagai anggota di dalam lingkungan

masyarakat. Gurupun hendaknya memegang dan menjalankan

(42)

E.

Kajian Hasil Penelitian yang Relevan

Hasil penelitian Cicilia Sari Wahyuni (2003) yang dilakukan di SMK

Tarakanita Kalasan menunjukkan ada hubungan yang positif dan signifikan

antara persepsi siswa tentang kompetensi guru, motivasi belajar, dan kegiatan

belajar dengan hasil belajar akuntansi.

Hasil penelitian Fransiska Dian Wasitaningsih (2003) yang berjudul

hubungan antara disiplin belajar, motivasi belajar dan perhatian orang tua

dengan prestasi belajar siswa menunjukkan adanya hubungan yang positif dan

signifikan antara disiplin belajar, motivasi belajar dan perhatian orang tua

dengan prestasi belajar siswa.

Berbagai penelitian yang dirangkum oleh Tarmidi (2006) menunjukkan

bahwa iklim kelas merupakan variabel yang berkorelasi positif terhadap prestasi

belajar siswa. Dengan kata lain, iklim kelas merupakan salah satu cara untuk

meningkatkan efektifitas dan kualitas pembelajaran di kelas. Namun demikian,

pada umumnya guru dan kepala sekolah belum mengetahui makna dan hakikat

serta dampak iklim kelas terhadap proses belajar – mengajar.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang

positif dan signifikan antara disiplin belajar, iklim kelas, dan persepsi siswa

tentang kompetensi guru terhadap prestasi belajar siswa. Hal ini dibuktikan dari

hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya seperti yang telah

(43)

F.

Kerangka berpikir

1.

Hubungan Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar Akuntansi

Siswa yang motivasi belajarnya tinggi akan cenderung menguasai

pelajaran yang mereka pelajari sehingga prestasi yang diraih meningkat pula.

Dengan demikian siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi pada

umumnya mempunyai prestasi belajar yang tinggi pula karena keterlibatan

dan aktivitas yang tinggi dalam belajar.

2.

Hubungan Iklim Kelas dengan Prestasi Belajar Akuntansi

Iklim kelas yang mendukung, diantaranya suasana belajar yang

kondusif dan siswa yang proaktif, akan dapat memperlancar proses belajar

mengajar dan membuat siswa merasa nyaman dan bergairah dalam belajar.

Dengan demikian siswa yang berada pada kelas dengan iklim yang

mendukung dimungkinkan akan mendapatkan prestasi belajar akuntansi yang

tinggi pula.

3.

Hubungan Persepsi Siswa Tentang Kompetensi Guru dengan Prestasi

Belajar Akuntansi

Kompetensi guru yang handal guru akan membuat siswa lebih mudah

memahami mata pelajaran yang diajarkan, sehingga akan membuat siswa

semakin perhatian dan menyenangi mata pelajaran yang diajarkan. Dengan

demikian kompetensi guru yang handal akan membuat siswa mendapatkan

(44)

4.

Hubungan Motivasi Belajar, Iklim Kelas, dan Persepsi Siswa Tentang

Kompetensi Guru dengan Prestasi Belajar Akuntansi

Dengan adanya iklim kelas yang mendukung, diantaranya suasana

belajar yang kondusif dan siswa yang proaktif, sehingga dapat memperlancar

proses belajar mengajar dan membuat siswa akan merasa nyaman dan

bergairah dalam belajar. Selain itu juga diperlukan kompetensi guru yang

handal juga akan membuat siswa semakin perhatian dan menyenangi mata

pelajaran yang diajarkan sehingga akan berpengaruh pada prestasi belajar

akuntansi yang tinggi. Dengan adanya motivasi belajar yang tinggi juga akan

menyebabkan siswa dapat terlibat dan aktif dalam belajar, sehingga

prestasinya menjadi lebih baik.

G.

Perumusan hipotesis

Hipotesis adalah sebuah kesimpulan sementara, yang belum final dan

masih harus dibuktikan kebenarannya. Hipotesis dalam pengertian ini

merupakan perumusan jawaban atas dugaan sementara sehingga menjadi

tuntunan untuk mencari jawaban yang sebenarnya atas dasar kerangka berpikir

tersebut di atas.

Hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

1.

Ada hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dengan prestasi

(45)

2.

Ada hubungan yang signifikan antara iklim kelas dengan prestasi belajar

akuntansi.

3.

Ada hubungan yang signifikan antara persepsi siswa tentang kompetensi

guru dengan prestasi belajar akuntansi.

4.

Ada hubungan yang signifikan antara motivasi, iklim kelas, dan persepsi

(46)

27

BAB III

METODE PENELITIAN

A.

Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus

yaitu jenis penelitian yang dilakukan secara intensif, terinci, dan mendalam

terhadap suatu organisasi, lembaga atau gejala tertentu (Suharsimi Arikunto,

2006:142). Penelitian tentang hubungan motivasi belajar, iklim kelas, dan

persepsi siswa tentang kompetensi guru dengan prestasi belajar akuntansi

dilakukan di SMK BOPKRI 1 Yoyakarta dan SMK Sanjaya Pakem, sehingga

kesimpulan yang diperoleh hanya berlaku pada siswa Jurusan Akuntansi SMK

BOPKRI 1 Yogyakarta dan SMK Sanjaya Pakem.

B.

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMK BOPKRI 1 Yogyakarta dan SMK

Sanjaya Pakem yang dilaksanakan pada tanggal April s/d Mei 2011.

C.

Populasi dan Sampel

1.

Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian atau keseluruhan

(47)

Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh siswa Jurusan

Akuntansi SMK BOPKRI 1 Yogyakarta dan SMK Sanjaya Pakem pada

tahun ajaran 2010/2011.

2.

Sampel

Sampel adalah sebagian yang diambil dari populasi. Dalam penelitian

ini teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah

purposive sampling

dengan menetapkan siswa kelas X dan XI Jurusan Akuntansi sebagai sampel

yang berjumlah 100 siswa. Pertimbangannya adalah bahwa kelas XII Jurusan

Akuntansi sedang melaksanakan Ujian Nasional (UN), sehingga kepala

sekolah tidak mengizinkan peneliti untuk meakukan penelitian.

D.

Variabel Penelitian dan Pengukuran

1.

Variabel Penelitian

a.

Variabel Bebas

(independent variable)

Menurut Nawawi (1994:50), variabel bebas adalah himpunan

sejumlah gejala yang mewakili berbagai aspek atau unsur yang berfungsi

mempengaruhi atau menentukan munculnya variabel lain yang disebut

variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah:

1)

Variabel Motivasi Belajar

Motivasi belajar adalah keadaan psikologis dalam diri

pribadi seseorang yang mendorong individu untuk melakukan

(48)

2)

Variabel Iklim Kelas

Iklim kelas adalah segala situasi yang muncul akibat

hubungan antara guru dan peserta didik yang menjadi ciri

khusus dari kelas dan mempengaruhi proses belajar mengajar.

3)

Variabel Persepsi Siswa Tentang Kompetensi Guru

Persepsi siswa tentang kompetensi guru adalah

tanggapan siswa mengenai kemampuan guru dalam

menguasai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan

dalam menjalankan tugas sebagai pengajar dan pendidik, yang

meliputi empat kompetensi diantaranya kompetensi

pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian, dan

kompetensi profesional.

b.

Variabel Terikat

(dependent variable)

Variabel terikat adalah himpunan sejumlah gejala yang memiliki

sejumlah aspek atau unsur di dalamnya yang berfungsi menerima atau

menyesuaikan diri dengan kondisi variabel lain yang disebut variabel

bebas. Prestasi belajar adalah hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik

berupa pengetahuan dan keterampilan melalui serangkaian tes yang

biasanya dilambangkan dengan angka nilai. Variabel terikat dalam

(49)

2.

Pengukuran Variabel

a.

Variabel Bebas

(independent variable)

Pada penelitian ini semua variabel bebas akan diukur dengan

menggunakan skala sikap dari Likert, yaitu suatu cara yang sistematis

untuk memberi skor dalam suatu kuesioner yang telah dibagikan. Ada dua

kategori pernyataan yang digunakan, yaitu pernyataan positif dan

pernyataan negatif. Dalam skala ini digunakan penskoran sebagai berikut:

Tabel 3.1

Skala Sikap

Jawaban

Pernyataan

Positif

(skor)

Pernyataan

Negatif

(Skor)

Sangat Setuju (SS)

5

1

Setuju (S)

4

2

Ragu-ragu (R)

3

3

Tidak Setuju (TS)

2

4

(50)

1)

Variabel Motivasi Belajar

Tabel 3.2

Pengembangan Variabel Motivasi Belajar

Variabel Dimensi

Indikator

Peryataan

Positif Negatif

Motivasi

belajar

a.

Aktivitas siswa

di rumah

b.

Aktivitas siswa

di sekolah

ƒ

Tanggung jawab

siswa dalam

melaksanakan tugas

ƒ

Melaksanakan tugas

dengan target yang

jelas

ƒ

Memliki tujuan yang

jelas dan menantang

ƒ

Memiliki perasaan

senang dalam belajar

ƒ

Selalu berusaha

untuk lebih baik

ƒ

Belajar dengan

harapan mendapat

nilai bagus

ƒ

Fasilitas yang

mendukung

ƒ

Lingkungan belajar

yang kondusif

(51)

Tabel 3.3

Skor Item-item Pertanyaan Kuesioner Motivasi Belajar

Jawaban Pilihan

Pengembangan Variabel Iklim Kelas

Variabel Dimensi

Indikator

Pernyataan

Positif Negatif

ƒ

Kejelasan aturan

ƒ

Inovasi

ƒ

Kelengkapan sumber

(52)

Tabel 3.5

Skor Item-item Pertanyaan Kuesioner Iklim Belajar

Jawaban Pilihan

3)

Variabel Kompetensi Guru

Tabel 3.6

Pengembangan Variabel Persepsi Siswa tentang Kompetensi Guru

Variabel Dimensi

Indikator

Pernyataan

Positif Negatif

ƒ

Menguasai teori

belajar dan

prinsip-prinsip pembelajaran

ƒ

Mengembangkan

kurikulum yang

terkait dengan mata

pelajaran yang

diampu

ƒ

Menunjukkan etos

kerja, tanggung

jawab yang tinggi

dan rasa percaya diri

ƒ

Menjunjung kode

etik profesi guru

(53)

d.

Kompetensi

Profesional

ƒ

Mampu

berkomunikasi

dengan efektif

terhadap sesama guru

ƒ

Menguasai materi

pelajaran

Skor Item-item Pertanyaan Kuesioner Persepsi Siswa Tentang Kompetensi

Guru

b. Variabel Terikat

(dependent variable)

Pada variabel terikat prestasi belajar akuntansi akan diukur

berdasarkan nilai ujian tengah semester genap tahun ajaran 2010/2011

E.

Teknik Pengumpulan Data

1.

Kuesioner

Kuesioner merupakan pengumpulan data yang memberikan daftar

(54)

digunakan untuk mengungkap tentang variabel motivasi belajar, iklim kelas,

dan persepsi siswa tentang kompetensi guru.

2.

Dokumentasi

Dokumentasi ini digunakan untuk mengungkap data yang bersifat

khusus, yang diyakini kebenarannya dan sesuai dengan peristiwa yang terjadi.

Data diperoleh dari pihak yang berwenang. Dokumentasi digunakan untuk

mencari data mengenai prestasi belajar akuntansi untuk siswa Jurusan

Akuntansi SMK BOPKRI 1 Yogyakarta dan SMK Sanjaya Pakem.

F.

Uji instrumen Penelitian

1.

Pengujian Validitas Kuesioner

Suatu alat ukur dikatakan valid atau sahih apabila suatu alat pengukur

tersebut dapat mengukur apa yang ingin diukur dengan tepat atau teliti.

Pengujian kevalidan alat ukur dapat menggunakan metode analisis butir

dengan menguji apakah item telah mengungkapkan faktor atau indikator yang

ingin diselidiki. Pengujian validitas dilakukan dengan perhitungan korelasi

Product Moment

dari Karl Pearson dengan rumus (Arikunto,1993:138):

( )( )

ƒ

Rxy = Koefisien korelasi

(55)

ƒ

x = Nilai masing-masing item

ƒ

n = Jumlah responden

Besarnya r dapat diperhitungkan dengan menggunakan korelasi

dengan taraf signifikansi 5%. Apabila hasil pengukuran r

r tabel

maka item

tersebut dinyatakan valid. Untuk korelasi yang diperoleh dari hasil

perhitungan menunjukkan tinggi rendahnya tingkat validitas instrumen yang

diukur. Selanjutnya harga koefisien korelasi ini dibandingkan dengan harga r

korelasi

Product Moment

pada tabel. Jika r

hitung

> r

tabel

, maka butir soal

tersebut dapat dikatakan valid.

Uji validitas dilakukan dengan program

SPSS 12.0 for Windows

dengan jumlah responden (n) sebanyak 30 siswa, maka angka pada r tabel

pada taraf signifikasi 5% menunjukkan 0,361. Hasil pengujian validitas pada

masing-masing variabel dapat dilihat pada penjelasan berikut:

a.

Motivasi Belajar

Hasil uji validitas pada variabel motivasi belajar dapat dilihat

pada lampiran 2. Berikut ringkasan hasil pengujian validitas item pada

(56)

Tabel 3.8.

Hasil Uji Validitas Variabel Motivasi Belajar

Butir

r

hitung

r

tabel

Hasil Analisis

1

0,848

0,361 Valid

2

0,808

0,361

Valid

3

0,460

0,361

Valid

4

0,657

0,361

Valid

5

0,687

0,361

Valid

6

0,452

0,361

Valid

7

0,798

0,361

Valid

8

0,812

0,361

Valid

9

0,615

0,361

Valid

10

0,448

0,361

Valid

11

0,571

0,361

Valid

12

0,477

0,361

Valid

13

0,662

0,361

Valid

14

0,573

0,361

Valid

Berdasarkan tabel 3.8 di atas, diketahui bahwa hasil pengujian

validitas 14 item pernyataan dalam kuesioner untuk mengukur variabel

motivasi belajar dinyatakan valid karena r

hitung

lebih besar dari r

tabel

.

b.

Iklim Kelas

Hasil uji validitas pada variabel iklim kelas dapat dilihat pada

lampiran 2. Berikut ringkasan hasil pengujian validitas item pada variabel

(57)

Tabel 3.9.

Hasil Uji Validitas Variabel Iklim Kelas

Butir

r

hitung

r

tabel

Hasil Analisis

1

0,564

0,361 Valid

2

0,596

0,361

Valid

3

0,557

0,361

Valid

4

0,558

0,361

Valid

5

0,541

0,361

Valid

6

0,683

0,361

Valid

7

0,693

0,361

Valid

8

0,754

0,361

Valid

9

0,654

0,361

Valid

10

0,695

0,361

Valid

11

0,753

0,361

Valid

12

0,575

0,361

Valid

13

0,737

0,361

Valid

14

0,677

0,361

Valid

Berdasarkan tabel 3.9 di atas, diketahui bahwa hasil pengujian

validitas 14 item pernyataan dalam kuesioner untuk mengukur variabel

iklim kelas dinyatakan valid karena r

hitung

lebih besar dari r

tabel

.

c.

Persepsi Siswa tentang Kompetensi Guru

Hasil uji validitas pada variabel persepsi siswa tentang

(58)

pengujian validitas item pada variabel persepsi siswa tentang kompetensi

guru.

Tabel 3.10.

Hasil Uji Validitas Variabel Persepsi Siswa tentang

Kompetensi Guru

Butir

r

hitung

r

tabel

Hasil Analisis

1

0,850

0,361 Valid

2

0,836

0,361

Valid

3

0,419

0,361

Valid

4

0,740

0,361

Valid

5

0,666

0,361

Valid

6

0,579

0,361

Valid

7

0,729

0,361

Valid

8

0,824

0,361

Valid

9

0,578

0,361

Valid

10

0,467

0,361

Valid

11

0,547

0,361

Valid

12

0,517

0,361

Valid

13

0,708

0,361

Valid

14

0,673

0,361

Valid

Berdasarkan tabel 3.10 di atas, diketahui bahwa hasil pengujian

validitas 14 item pernyataan dalam kuesioner untuk mengukur variabel

(59)

2.

Pengujian Reliabilitas Kuesioner

Uji reliabilitas dilakukan untuk menunjukkan bahwa suatu instrumen

cukup dapat dipercaya untuk dapat dipakai sebagai pengumpul data. Untuk

menguji reliabilitas instrumen pada penelitian ini rumus yang dipakai yaitu

koefisien

Alfa Cronbach

(Suharsimi Arikunto,1998: 193):

(

)

r = Reliabilitas instrumen k = Banyaknya butir soal

Untuk menginterpretasikan tinggi rendahnya reliabilitas pedoman

yang digunakan adalah sebagai berikut:

Tabel 3.11

Instrumen Interpretasi Reliabilitas

No

Tingkat Penguasaan

Kriteria Penilaian

1 0,80-1,00

Sangat

Tinggi

2 0,60-0,79

Tinggi

3 0,40-0,59

Cukup

4 0,20-0,39

Rendah

(60)

Jika nilai

Cronbach Alpha

sama atau lebih dari 0,60 maka instrumen

penelitian dinyatakan reliabel sebaliknya jika nilai

Cronbach Alpha

kurang

dari 0,60 maka intrumen penelitian tidak reliabel (Nunnaly,1997).

Uji reliabilitas instrumen dilakukan dengan menggunakan rumus

Alpha Cronbach

dan dikerjakan dengan program SPSS

for Windows Versi

12.0.

Hasil pengujian reliabilitas dapat dilihat pada lampiran 3. Berikut

ringkasan hasil pengujiannya.

Tabel 3.12.

Rangkuman Pengujian Reliabilitas

Variabel

Koef.

Alpha

Kriteria

Reliabilitas

Status

Tingkat

Keandalan

Motivasi Belajar

0,908

0,60

Andal

Tinggi

Iklim Kelas

0,919

0,60

Andal

Tinggi

Kompetensi Guru

0,919

0,60

Andal

Tinggi

Berdasarkan tabel 3.7. di atas, diketahui bahwa koefisien alpha untuk

masing-masing variabel lebih besar dari nilai kriteria reliabilitas, maka dapat

dikatakan semua variabel tersebut reliabel.

G.

Teknik Analisis Data

1.

Uji persyaratan analisis

Pengujian hipotesis penelitian ini menggunakan analisis korelasi

(61)

apabila memenuhi syarat antara lain: skala data interval atau rasio,

berdistribusi normal, linear antara variabel bebas dengan variabel terikat,

maka terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji linearitas sebagai

prasyarat untuk dilakukan analisis data.

a.

Pengujian Normalitas

Uji normalitas data digunakan untuk menguji normal tidaknya data hasil

pengukuran. Apabila data yang terjaring berdistribusi normal, maka

analisis untuk menguji hipotesis dapat dilakukan. Untuk mengetahui hal

tersebut maka akan digunakan rumus

Kolmogorov Smirnov

(Sugiyono,

1999:255):

( )

( )

Χ

=MaksimumF Sn

D 0

χ

Keterangan:

D

= Deviasi maksimum

F

0

= Fungsi distribusi frekuensi kumulatif yang ditentukan

S

n

(X) = Distribusi frekuensi kumulatif yang diobservasi

2.

Deskripsi data

Untuk mendeskripsikan variabel motivasi belajar, iklim kelas dan

persepsi siswa tentang kompetensi guru akan dilakukan perhitungan

mean,

(62)

3.

Pengujian hipotesis penelitian

a.

Untuk menguji hipotesis pertama, kedua, dan ketiga yaitu hubungan

motivasi belajar dengan prestasi belajar akuntansi, hubungan iklim kelas

dengan prestasi belajar akuntansi, persepsi siswa tentang kompetensi guru

terhadap prestasi belajar akuntansi digunakan analisis “

Product Moment

oleh Pearson (Arikunto, 2002:243):

( )( )

Untuk menguji signifikansi dari korelasi (r) antara variabel bebas

dengan variabel terikat pada signifikansi 5% digunakan rumus uji-t,

dengan derajat kebebasan atau db = (n-2) yaitu (Sudjana, 1996:275):

Dengan:

r = koefisien korelasi

Gambar

Tabel r, t, F ...................................................................................
Tabel r t F . View in document p.19
Tabel 3.1
Tabel 3 1 . View in document p.49
Tabel 3.2 Pengembangan Variabel Motivasi Belajar
Tabel 3 2 Pengembangan Variabel Motivasi Belajar . View in document p.50
Tabel 3.4 Pengembangan Variabel Iklim Kelas
Tabel 3 4 Pengembangan Variabel Iklim Kelas . View in document p.51
Tabel 3.6 Pengembangan Variabel Persepsi Siswa tentang Kompetensi Guru
Tabel 3 6 Pengembangan Variabel Persepsi Siswa tentang Kompetensi Guru . View in document p.52
Tabel 3.7 Skor Item-item Pertanyaan Kuesioner Persepsi Siswa Tentang Kompetensi
Tabel 3 7 Skor Item item Pertanyaan Kuesioner Persepsi Siswa Tentang Kompetensi . View in document p.53
Tabel 3.8.
Tabel 3 8 . View in document p.56
Tabel 3.9.
Tabel 3 9 . View in document p.57
Tabel 3.10.
Tabel 3 10 . View in document p.58
Tabel 3.11
Tabel 3 11 . View in document p.59
Tabel 3.12.
Tabel 3 12 . View in document p.60
Gambar 4.1 Struktur Organisasi Sekolah
Gambar 4 1 Struktur Organisasi Sekolah . View in document p.75
Tabel 4.1
Tabel 4 1 . View in document p.81
Tabel 4.2 Susunan Ketua Proram Studi
Tabel 4 2 Susunan Ketua Proram Studi . View in document p.96
Tabel 4.4
Tabel 4 4 . View in document p.98
Tabel 4.5
Tabel 4 5 . View in document p.101
Tabel 5.1.
Tabel 5 1 . View in document p.109
Tabel 5.2.
Tabel 5 2 . View in document p.110
Tabel 5.2 menunjukkan bahwa skor variabel iklim kelas yang
Tabel 5 2 menunjukkan bahwa skor variabel iklim kelas yang . View in document p.111
Tabel 5.4 menunjukkan bahwa prestasi belajar akuntansi yang
Tabel 5 4 menunjukkan bahwa prestasi belajar akuntansi yang . View in document p.113
Tabel 5.5. Hasil Uji Normalitas
Tabel 5 5 Hasil Uji Normalitas . View in document p.114
Tabel 5.6. menunjukkan bahwa koefisien korelasi antara
Tabel 5 6 menunjukkan bahwa koefisien korelasi antara . View in document p.116
Tabel 5.7.
Tabel 5 7 . View in document p.117
Tabel 5.8.
Tabel 5 8 . View in document p.118
Tabel 5.9.
Tabel 5 9 . View in document p.119
Tabel 5.10.
Tabel 5 10 . View in document p.120
Tabel 5.11.
Tabel 5 11 . View in document p.121
Tabel 5.12. menunjukkan bahwa koefisien korelasi
Tabel 5 12 menunjukkan bahwa koefisien korelasi . View in document p.123
Tabel 5.13.
Tabel 5 13 . View in document p.124
TABEL R, T, F
TABEL R T F . View in document p.178

Referensi

Memperbarui...

Download now (188 pages)