Perbedaan pengaruh image low cost carrier terhadap minat beli ulang - USD Repository

Gratis

0
0
132
8 months ago
Preview
Full text

PERBEDAAN PENGARUH

  

i

  IMAGE LOW COST CARRIER

TERHADAP MINAT BELI ULANG

Studi Kasus Konsumen Maskapai Penerbangan Lion Air dan Mandala Airlines

Di PT. Mitra Persada Travelindo Jl. Pringgodani no.1 Mrican Baru,

  

D.I.Yogyakarta

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat

Memperoleh gelar sarjana ekonomi

  

Program studi Manajemen

Disusun Oleh:

Aloysius Fatri Putranto

  

052214157

Program Studi Manajemen

Fakultas Ekonomi

  

Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta

2010 ii

iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

  

Untuk mewujudkan suatu mimpi

Diperlukan suatu pengorbanan dan perjuangan

Kegagalan yang didapat hari ini merupakan pelajaran yang berarti tuk

hari esok.

  

Agar kita menjadi kuat dalam melangkah dan tak pernah takut akan

hambatan di depan

Tuhan, engkau memiliki peran yang sangat penting dan tak

tergantikan

  

Di saat aku sempat melupakanmu, engkau slalu tetap menuntunku

kembali kepada jalanmu

Sehingga apa yang kuraih sekarang adalah atas campur tangan-Mu

  Karya sederhana yang sangat berarti bagiku ini, Kupersembahkan untuk; Allah Bapa di surga Bapak, Ibu, Mbak Menik dan Mas Kelik Keluarga Besar Bapak dan Ibu

iv v

  

ABSTRAK

PERBEDAAN PENGARUH

  IMAGE LOW COST CARRIER

TERHADAP MINAT BELI ULANG

Studi Kasus Pada Konsumen Maskapai Penerbangan Lion Air dan Mandala

Airlines di PT. Mitra Persada Travelindo Jl. Pringgodani no.1 Mrican Baru,

  

Yogyakarta

Aloysius Fatri Putranto

Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan

pengaruh image low cost carrier terhadap minat beli ulang pada konsumen maskapai

penerbangan Lion Air dan Mandala Airlines yang melakukan pemesanan tiket di PT.

Mitra Persada Travelindo. Image low cost carrier diukur dengan persepsi konsumen

mengenai layanan, fasilitas, dan harga. Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan

kuesioner kepada 100 responden, di mana 50 responden untuk Lion Air dan 50

responden lainnya untuk Mandala Airlines. Sampel diambil dengan menggunakan

metode purposive sampling. Untuk pengujian instrumen dilakukan uji validitas dan

reliabilitas. Data yang diperoleh dari kuesioner diuji dengan menggunakan analisis

varians dua jalan friedman. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari tes friedman pada

konsumen maskapai Lion Air dan Mandala Airlines. Pada maskapai Lion Air terdapat

perbedaan pengaruh image low cost carrier dilihat dari persepsi konsumen mengenai

layanan, fasilitas dan harga terhadap minat beli ulang. Pada maskapai Mandala

Airlines juga terdapat perbedaan pengaruh image low cost carrier dilihat dari persepsi

konsumen mengenai layanan, fasilitas dan harga terhadap minat beli ulang.

vi

  

ABSTRACT

EFFECTS OF IMAGE GAP OF LOW COST CARRIERS REPURCHASE

  

INTENTION

A Case Study on Consumers of Lion Air and Mandala Airlines in PT. Mitra

Persada Travelindo Jl. Pringgodani no.1 Mrican Baru, Yogyakarta

Aloysius Fatri Putranto

  

University of Sanata Dharma

Yogyakarta

The aim of research was to identity whether there was any influence of image

gaps of Low Cost Carriers on repurchase intention of consumers of Lion Air and

  

Mandala Airlines who ordered tickets in PT. Mitra Persada Travelindo. Images of

Low Cost Carriers were gathered by distribution questionnaire and analysed using

Anova. Sampel were 100 respondents, that is 50 respondents for Lion Air and 50

respondents for Mandala Airlines. Samples were taken using purposive sampling

method. The instruments were subjected to validity and reability test. Data were

obtained from distribution kuesioner. Result showed that there were differences of

influence of image on consumers’ perception on service, facility and price. There

were also differences in their influence on repurchase intention.

vii

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN KAMPUS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Aloysius Fatri Putranto

  NIM : 052214157

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan

Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul “Perbedaan Pengaruh

Image Low Cost Carrier

  Terhadap Minat Beli Ulang” Studi Kasus Konsumen

Maskapai Penerbangan Lion Air dan Mandala Airlines di PT. Mitra Persada

Travelindo Jl. Pringgodani no.1 Mrican Baru, D.I.Yogyakarta. Dengan demikian saya

memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan,

mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pengkodean data,

mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet untuk

kepentingan akademis, tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan

royalti selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

  Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 31-Juli-2010 Yang menyatakan, Aloysius Fatri Putranto

viii

KATA PENGANTAR

  Segala Puji Syukur kepada Allah Bapa dan Bunda Maria yang telah

melimpahkan rahmat, karunia, perlindungan, dan cinta-Nya terhadap penulis

sehingga dapat tersusunnya skripsi ini baik.

  Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar

Sarjana Ekonomi pada program studi Manajemen, Jurusan Manajemen, Fakultas

Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Penulis sangat menyadari tanpa adanya bantuan, bimbingan, dan dukungan

dari berbagai pihak rasanya mustahil penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan

baik. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan rasa trimakasih yang sebesar-

besarnya kepada semua pihak atas pengorbanan waktu, tenaga maupun pikiran dalam

membantu dan membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, yaitu:

1. Drs. YP. Supardiyono, M.Si., Akt., QIA, Selaku dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma.

  2. Bpk. V. Mardi Widyadmono SE, MBA, Selaku Ketua Jurusan Manajemen Universitas Sanata Dharma

  3. Bpk. Drs. T. Handono Eko Prabowo, M.B.A.,Ph.D. Selaku dosen pembimbing I yang telah meluangkan waktu untuk membimbing dan memberikan pengarahan hingga selesainya skripsi.

ix

  

4. Bpk. Drs. Marianus Moktar Modeseir, M.M.. Selaku dosen

pembimbing II yang juga telah membantu penyelesaian skripsi ini.

  

5. Drs. Gregorius Hendra Poerwanto M. Si. selaku dosen tamu yang telah

meluangkan waktu.

  

6. Bapak dan Ibu dosen jurusan Manajemen yang telah mengantar

penulis hingga dapat mencapai tingkat penndidikan tertentu.

  

7. Segenap Staf karyawan Fakultas Ekonomi yang banyak memberikan

bantuan.

  

8. PT. Mitra Persada Travelindo Yogyakarta yang telah memberikan izin

penulis untuk melakukan penelitian.

  

9. Bapak dan Ibu yang telah memberikan segala yang terbaik untukku.

  Terimakasih banyak atas cinta kasih sayang, doa, dukungan, nasehat,

pengorbanan, dan kesabarannya selama ini. You are my best parents.

  

10. Mbk. Menik dan Mas Kelik yang selalu memberi semangat, doa, dan

dukungan penulis.

  

11. Seluruh keluarga besar Bapak dan Ibu yang selalu memberiku

semangat, doa, dan dukungan serta nasehat.

  

12. Sahabat-sahabat dan teman-temanku kocek, jo, endro, gembuk,

candra, anton, aji, ade, bowo, frans, yepta, menjeng, windi, mat, baskoro. Terimakasih atas bantuan dan motivasi, persahabatan, dan kebersamaannya yang menyenangkan selama ini. x

  13. Teman-teman Mudika St. Yohanes Brekisan, teman-teman seperjuangan, khususnya teman-teman Manajemen 05” USD.

  14. Semua pihak yang telah banyak membantu penulis, yang tidak dapat disebut satu persatu.

  Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Maka dari itu

semua saran dan kritik yang membangun, serta segala macam petunjuk dan

bimbingnan sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi siapa

saja yang membutuhkan.

  Yogyakarta, 1 mei 2010 Penulis Aloysius Fatri Putranto

xi

  DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................. i

HALAMAN PERSETUJUAN .................................................................. ii

HALAMAN PENGESAHAN .................................................................. iii

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ..................................... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................... v

ABSTRAK ................................................................................................. vi

ABSTRACT .............................................................................................. vii

LEMBAR PUBLIKASI KARYA ILMIAH .......................................... viii

KATA PENGANTAR .............................................................................. ix

DAFTAR ISI ............................................................................................. xii

  

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1

A. Latar Belakang .................................................................... 1 B. Perumusan Masalah ............................................................. 4 C. Batasan Masalah .................................................................. 4 D. Tujuan Penelitian ................................................................. 5 E. Manfaat Penelitian ............................................................... 5 F. Sistematika Penulisan .......................................................... 6

BAB II LANDASAN TEORI .................................................................... 7

A. Pengertian Pemasaran ................................................................ 7 B. Manajemen Pemasaran ............................................................. 12 xii

  C. Konsep Pemasaran ................................................................... 13

  D. Pengertian Jasa ......................................................................... 14

  E. Pengertian Kualitas ................................................................... 17

  F. Pengertian Image ....................................................................... 19

  G. Pengertian Low Cost Carrier .................................................... 20

  H. Pengertian Persepsi ................................................................... 25

  I. Pengertian Layanan .................................................................. 26 J. Pengertian Fasilitas ................................................................... 26 K. Pengertian Harga ...................................................................... 28 L. Pengertian Minat Beli Ulang .................................................... 30 M. Ringkasan Penelitian Sebelumnya ........................................... 31 N. Kerangka Konseptual ............................................................... 41 O. Hipotesis ................................................................................... 41

  

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ............................................... 43

A. Jenis Penelitian ......................................................................... 43 B. Tempat dan Waktu Penelitian .................................................. 43 C. Subjek dan Objek Penelitian .................................................... 43 D. Variabel Penelitian ................................................................... 44 E. Populasi dan Sampel ................................................................ 44 F. Sumber Data ............................................................................. 46 G. Metode Pengumpulan Data ...................................................... 46 H. Teknik Pengukuran Data .......................................................... 47 I. Teknik Pengujian Instrumen ..................................................... 48 J. Teknis Analisis Data ................................................................ 50

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN .................................. 52

A. Sejarah PT. Mitra Persada Travelindo ..................................... 52 B. Sejarah Lion Air ....................................................................... 54 xiii

  C. Sejarah Mandala Airlines ......................................................... 55

  

BAB V ANALISIS DATA ........................................................................ 58

A. Identitas Responden ................................................................. 58 B. Analisis Validitas dan Reabilitas .............................................. 66 C. Analisis Varian Dua Jalan Friedman ........................................ 69

BAB VI KESIMPULAN, SARAN DAN KETERBATASAN ............... 79

A. Kesimpulan ............................................................................... 79 B. Saran ......................................................................................... 80 C. Keterbatasan ............................................................................. 82 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xiv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Beberapa tahun belakangan antara tahun 2003-2008, industri

  penerbangan nasional berkembang dengan cukup pesat. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan jumlah penumpang, jumlah rute penerbangan dan frekuensi penerbangan itu sendiri. Frekuensi penerbangan pun meningkat sangat pesat dan mampu membawa penumpang hingga lebih dari 25 juta orang per tahun (Ardi, 2006). Dalam sejarah industri penerbangan Indonesia awalnya hanya ada satu maskapai penerbangan yang dimiliki pemerintah, yakni Garuda Indonesia. Seiring dengan berjalannya waktu, mulai berdatangan maskapai- maskapai baru yang ikut meramaikan industri penerbangan, misalnya Mandala Airlines, Bouraq, Pelita Air, Sempati (kini sudah dilikuidasi) dan Merpati. Kebijakan deregulasi penerbangan yang dikeluarkan pemerintah pada tahun 1999 semakin memudahkan pihak swasta untuk mendirikan maskapai penerbangan baru. Banyaknya maskapai penerbangan baru yang ikut meramaikan industri penerbangan di Indonesia mendorong setiap maskapai untuk berimprovisasi dalam strategi bisnis mereka.

  Perusahaan penerbangan dituntut untuk merancang program dan strategi yang menarik minat dan menimbulkan citra yang positif yang pada akhirnya mempengaruhi keputusan pembelian jasa penerbangan tersebut. Maskapai yang memberikan pelayanan dan kenyamanan yang terbaik dengan

  2

harga murahlah yang biasanya diminati (Hendrik, 2006). Penerapan harga

murah yang dilakukan oleh maskapai penerbangan bertujuan untuk

menjangkau konsumen kelas menengah yang selama ini menggunakan jasa

transportasi darat dan laut dengan cara memberikan layanan yang baik

sehingga konsumen puas serta merebut pangsa pasar. Dalam industri

penerbangan terlihat bahwa banyak maskapai baru yang mampu menarik

perhatian pasar dengan pelayanan dan harga yang mereka tawarkan. Dominasi

pemimpin pasar yang pada waktu lalu dipegang oleh Garuda Indonesia

perlahan-lahan mulai tergerus oleh pemain baru (Lion Air dan Adam Air)

(Robert, 2007). Lion Air sendiri dianggap sebagai pelopor lahirnya maskapai

penerbangan baru yang menawarkan jasa penerbangan dengan harga murah,

seperti Star Air, Batavia Air, Jatayu Air, Citylink Garuda, Adam Air (yang

sudah dilikuidasi), Awair, Wings Air, Top Air, dan Sriwijaya Air.

  

Kemunculan beberapa maskapai ini membuat banyak penumpang yang beralih

menggunakan jasa penerbangan maskapai ini. Hal ini mengakibatkan

menurunnya penumpang maskapai penerbangan yang sudah lebih dulu terjun

di industri penerbangan Indonesia. Kemunculan maskapai penerbangan ini

membuat persaingan di dunia penerbangan di Indonesia semakin ketat.

Persaingan bisnis yang ketat membuat banyak maskapai penerbangan

Indonesia menggunakan konsep low cost carrier. Low cost carrier (LCC)

menekankan efisiensi sebagai strategi utama. Pada jenis ini, konsumen tidak

diberikan tambahan fasilitas atau produk. Maskapai menyediakan core benefit

dengan fasilitas yang sangat minim sehingga dapat menurunkan tarif.

  3 Untuk sebuah low-cost carrier strategy, hal-hal yang umum yang

sifatnya tidak mendasar akan dihilangkan dan diganti dengan hal-hal lain yang

beda dengan kompetitor. Hal-hal atau value atau service yang dihilangkan,

bisa saja makanan, lounge (ruang tunggu khusus), pilihan kelas (hanya satu

kelas: ekonomi), tiket. Tapi justru harus ada value lain yang ditingkatkan atau

dibuat baru (kompetitor belum menawarkan), misal safety, ketepatan waktu,

untuk tujuan akhir yang jauh tidak langsung ke tujuan tapi transit di 1-2 kota

untuk mengangkut jumlah penumpang ke berbagai tujuan antara tersebut, dan

yang pasti harga lebih murah signifikan (Endraa, 2007) Menurut Heracleous ada beberapa karakteristik utama dari maskapai LCC (Robert, 2007):

  a. melayani hanya di dalam negeri atau cakupan wilayah layanan yang sempit; b. menstandarkan jenis pesawat, biasanya satu jenis pesawat sehingga dapat menurunkan biaya pemeliharaan dan perbaikan; c. memiliki tingkat penggunaan pesawat yang sangat tinggi, biasanya pesawat dapat terbang 11,3 jam setiap hari; d. melayani pemesanan tiket melalui internet sehingga dapat menghilangkan komisi agen yang rata-rata sebesar 9%; e. penambahan kapasitas tempat duduk dengan menerapkan kelas yang sama untuk setiap penumpang sehingga dapat mengangkut penumpang dalam jumlah besar.

  4 Untuk mengurangi biaya operasional penerbangan, LCC tidak memberikan fasilitas makanan kepada penumpang, menyediakan daya tampung kabin minimal, serta mempunyai bentuk kursi yang standar. Biaya operasional yang tidak terlalu besar pada konsep LCC dan banyaknya maskapai penerbangan yang beralih menggunakan konsep LCC membuat persaingan di dunia penerbangan semakin ketat dalam memberikan kepuasan kepada konsumen. Bertitik tolak dari latar belakang masalah, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan mengambil judul “Perbedaan Pengaruh Image Low Cost Carrier Terhadap Minat Beli Ulang”. Studi Kasus: Konsumen Lion Air dan Mandala Airlines di PT. Mitra Persada Travelindo.

B. Rumusan Masalah

  Dengan melihat latar belakang masalah di atas penulis akan merumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut: adakah perbedaan pengaruh image low cost carrier terhadap minat beli ulang? C.

   Batasan Masalah Agar penelitian ini tidak terlalu luas, maka peneliti membuat batasan masalah sebagai berikut:

  

1. Image low cost carrier yang diteliti adalah tarif, pelayanan, dan fasilitas.

  2. Penelitian ini dilakukan di PT. Mitra Persada Travelindo, yang terletak di jalan Pringgodani no.1, Mrican Baru, Yogyakarta.

  5

3. Maskapai penerbangan yang menggunakan konsep low cost carrier dibatasi hanya pada Lion Air dan Mandala Airlines.

  D. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian adalah untuk mengetahui adakah perbedaan pengaruh image low cost carrier terhadap minat beli ulang.

  E. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang bersangkutan:

  1. Bagi Perusahaan Menjadi bahan pertimbangan bagi perusahaan dalam setiap pengambilan keputusan.

  2. Bagi Universitas Sanata Dharma Menambah referensi kepustakaan Universitas Sanata Dharma dan dapat menjadi acuan untuk peneliti selanjutnya.

  3. Bagi Peneliti Menjadi wahana baru untuk memperdalam dan menerapkan ilmu yang didapat selama masa perkuliahan untuk diterapkan dalam keadaan sesungguhnya yang terjadi di lapangan.

  6 F. Sistematika Penulisan

  BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

  BAB II LANDASAN TEORI Bab ini menjelaskan tentang berbagai teori-teori dan pengertian- pengertian yang menjadi dasar untuk menguraikan masalah dan dalam memecahkan masalah yang ada didalam penulisan skripsi.

  BAB III METODE PENELITIAN Meliputi jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, subyek dan objek penelitian, variabel penelitian, teknik pengumpulan data, populasi, sampel dan teknik analisis data.

  BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN Meliputi sejarah PT. Mitra Persada Travelindo, Lion Air dan Mandala Airlines. BAB V ANALISIS DATA Meliputi pengolahan data serta hasil penelitian mengenai identitas responden, analisis validitas dan realbilitas, analisis varian dua jalan friedman.

  BAB V KESIMPULAN SARAN DAN KETERBATASAN Berisi mengenai hasil dari penelitian mengenai kesimpulan, saran dan keterbatasan

BAB II LANDASAN TEORI A. Pemasaran 1) Pengertian Pemasaran Pemasaran umumnya dipandang sebagai tugas untuk menciptakan,

  memperkenalkan, dan menyerahkan barang dan jasa kepada konsumen dan perusahaan lain (Kotler, 2003: 6). Pemasaran juga dipandang sebagai pekerjaan untuk membuat, mempromosikan, dan menyalurkan barang dan jasa pada konsumen dan bisnis. Asosiasi Pemasaran Amerika memberikan definisi berikut (Kotler, 2005: 10): Pemasaran adalah proses untuk merencanakan dan melaksanakan perancangan, penetapan harga, promosi, dan distribusi dari ide, barang, layanan untuk menimbulkan pertukaran yang bisa memenuhi tujuan individu dan organisasi.

  Menurut Philip Kotler (2003: 10), pemasaran yaitu proses sosial dan manajerial. Melalui proses itu individu-individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan cara menciptakan dan menukarkan produk dan nilai dengan individu dan kelompok lain. Menurut Philip Kotler (2006: 4), pemasaran adalah proses sosial dan manajerial dengan mana seorang atau kelompok memperoleh apa saja yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan dan pertukaran produk dan nilai.

  8

2) Unsur-unsur Utama Pemasaran

  a. Unsur Strategi Persaingan Agar berhasil di pasar yang persaingannya sangat sengit saat ini, perusahaan harus memperhatikan konsumen, meraih konsumen dari pesaing, mempertahankan dan mengembangkan mereka dengan memberi nilai yang lebih baik. Setiap perusahaan harus membagi- bagi pasar keseluruhan, memilih segmen yang terbaik dan mendesain strategi untuk melayani secara lebih baik segmen yang dipilih, dan membandingkan dengan yang dilakukan oleh pesaing. Proses itu melibatkan tiga langkah, yaitu: segmentasi pasar, membidik pasar, dan penentuan posisi pasar (Rangkuti, 1999: 49).

  1) Segmentasi Pasar (Segmentation) Menurut Kotler (2006: 371) segmentasi pasar adalah usaha pemisahan pasar pada kelompok-kelompok pembeli menuntut jenis-jenis produk tertentu dan yang memerlukan bauran pemasan tersendiri. Segmentasi pasar adalah tindakan mengidentifikasi dan membentuk kelompok pembeli atau konsumen atas dasar membagi pasar bergeser dari geografis, demografis, psikografis, perilaku, dan akhirnya individu.

  Beberapa variabel untuk mensegmentasi pasar adalah (Sunarto, 2004: 112): a) Variabel geografis adalah variabel untuk melihat di mana pasar akan dituju atas dasar faktor seperti bangsa, negara,

  9 dan propinsi.

  b) Variabel demografis adalah variabel untuk memilah- milah pasar atas dasar faktor demografis, seperti usia, jenis kelamin, dan pendapatan.

  c) Variabel psikografis adalah variabel yang membagi pasar atas dasar faktor seperti kelas sosial, gaya hidup, dan kepribadian.

  d) Variabel perilaku adalah variabel yang membagi pasar atas dasar pengetahuan, sikap, pemakaian dan mengacu pada kegiatan seperti manfaat yang dicari, status pengguna, kesetiaan, dan sikap.

  2) Membidik Pasar (Targetting) Targetting adalah suatu tindakan untuk memilih satu atau lebih segmen pasar yang akan dimasuki.

  3) Penentuan Posisi Pasar (Positioning) Positioning adalah penetapan posisi pasar dengan tujuan untuk membangun dan mengkombinasikan keunggulan bersaing produk yang ada di pasar ke dalam pikiran konsumen. Dengan permasalahan dan keadaan yang ada, perusahaan perlu

merencanakan dan menyusun suatu strategi pemasaran yang dapat

digunakan dalam menjaga kelangsungan hidup bisnisnya. Perkembangan

industri penerbangan yang pesat menciptakan persaingan yang semakin

  10

ketat dan berat, terutama bagi pendatang baru, karena itu diperlukan

strategi pemasaran yang efektif guna meningkatkan pendapatan.

  

Perencanaan strategi mendefinisikan misi dan tujuan perusahaan secara

keseluruhan, untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari definisi berikut:

Strategi pemasaran adalah pola pikir pemasaran yang akan digunakan oleh

unit bisnis untuk mencapai tujuan pemasarannya (Kotler, 2003: 81). Dapat

disimpulkan bahwa kemampuan strategi pemasaran adalah faktor-faktor

yang penting untuk keberhasilan suatu perusahaan.

  b. Unsur Taktik Persaingan terdiri dari (Rangkuti, 1999: 50): adalah cara membangun strategi pemasaran

  1. Differentiation dalam berbagai aspek di perusahaan, kegiatan membangun strategi pemasaran inilah yang membedakan diferensiasi yang dilakukan suatu perusahaan dengan apa yang dilakukan oleh perusahaan lain.

  2. Marketing mix (bauran pemasaran) berkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kebijakan produk, kebijakan harga, kebijakan promosi, kebijakan

tempat, partisipasi orang, bukti fisik dan proses.

  3. Selling (penjualan) adalah cara penerapan taktik perusahaan yang paling efektif dengan cara berinteraksi langsung dengan konsumen, dan dapat tercapai kesuksesan antara kedua belah pihak dalam situasi win-win.

  11 c. Unsur Nilai Pemasaran Unsur nilai pemasaran mencakup (Rangkuti, 1999: 51):

  1. Merek (brand) adalah nilai yang berkaitan dengan norma atau nilai yang dipunyai dan melekat pada suatu perusahaan supaya pembeli benar-benar puas dan selalu setia pada mereknya (brand loyalty), dengan demikian merek akan mempunyai brand equity cukup besar bagi perusahaan.

  2. Pelayanan (service) adalah nilai yang berkaitan dengan memberi service atau pelayanan untuk memuaskan konsumen

dan harus ditingkatkan secara terus-menerus.

  3. Proses (process) adalah nilai yang berkaitan dengan prinsip perusahaan untuk membuat setiap karyawan terlibat aktif dan mempunyai rasa tanggung jawab dalam proses memuaskan konsumen secara langsung maupun tidak langsung.

3) Bauran Pemasaran

  Bauran pemasaran adalah serangkaian alat pemasar taktis yang dapat dikendalikan, yang dipadukan oleh perusahaan untuk menghasilkan tanggapan yang diinginkan dalam pasar sasaran ( Kotler, 2003: 78).

  Bauran pemasaran terdiri dari segala sesuatu yang dapat dilakukan perusahaan untuk mempengaruhi permintaan produknya. Kemungkinan yang banyak itu dapat digolongkan menjadi empat kelompok variabel yang dikenal sebagai ” empat P” : produk, price, place, dan promotion

  12 (Kotler, 2003: 79).

  a) Product Produk adalah kombinasi barang dan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan kepada pasar sasaran.

  b) Price Price adalah jumlah uang yang harus dibayar oleh pelanggan untuk memperoleh produk tadi.

  c) Place Mencakup aktivitas perusahaan untuk menyediakan produk bagi konsumen sasaran.

  d) Promotion Berarti aktivitas yang mengkomunikasikan keunggulan produk dan membujuk pelanggan sasaran untuk membelinya.

B. Manajemen Pemasaran

  Manajemen pemasaran adalah proses menganalisis, merencanakan, mengkoordinasikan, dan mengendalikan program-program yang mencakup pengkonsepan, penetapan harga, promosi, dan distribusi dari produk, jasa, dan gagasan yang dirancang untuk menciptakan dan memelihara pertukaran yang menguntungkan dengan pasar sasaran (Boyd, et al , 2000: 18). Menurut Kotler (2006: 14) manajemen pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan konsepsi penetapan harga, promosi dan distribusi gagasan, barang dan jasa untuk menghasilkan pertukaran

  13 yang memenuhi sasaran perorangan dan organisasi. Dari pengertian manajemen pemasaran di atas dapat didefinisikan bahwa manajemen pemasaran sebagai analisis, perencanaan, implementasi, dan pengendalian program yang dirancang untuk menciptakan, membangun dan mempertahankan pertukaran yang menguntungkan dengan pembeli sasaran demi mencapai tujuan organisasi (Kotler, 2003: 16).

C. Konsep Pemasaran

  Konsep pemasaran menegaskan bahwa kunci untuk mencapai sasaran organisasi adalah perusahaan harus menjadi lebih efektif dibandingkan para pesaing dalam menciptakan, menyerahkan, dan mengkomunikasikan nilai pelanggan kepada pasar sasaran yang terpilih (Kotler, 2005: 22). Konsep pemasaran berdiri di atas empat pilar yaitu pasar sasaran, kebutuhan pelanggan, pemasaran terpadu atau terintegrasi, dan kemampuan menghasilkan laba.

  Konsep pemasaran mempunyai perspektif dari luar ke dalam. Konsep itu di mulai dari pasar yang didefinisikan dengan baik, berfokus pada kebutuhan pelanggan, mengkoordinasikan semua aktivitas yang akan mempengaruhi pelanggan, dan menghasilkan laba dengan memuaskan pelanggan. Konsep pemasaran menyatakan bahwa pencapaian sasaran organisasi tergantung pada kebutuhan dan keinginan pasar sasaran dan penyampaian kepuasan yang didambakan itu lebih efektif dan efisien dibandingkan pesaing (Kotler, 2003: 21).

  14 Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa konsep pemasaran berorientasi pada konsumen, karena konsep pemasaran bertujuan untuk memberikan kepuasan terhadap kebutuhan dan keinginan konsumen agar mendapatkan konsumen yang loyal dan untuk keuntungan jangka panjang.

D. Jasa

  1. Pengertian Jasa Banyak yang ditawarkan di pasar merupakan gabungan antara barang dan jasa. Jasa adalah segala aktivitas atau manfaat yang ditawarkan untuk dijual oleh suatu pihak yang secara esensial tidak berwujud dan tidak menghasilkan kepemilikan atas dasar apapun (Kotler, 2003: 8).

  Menurut Kotler (2008: 266) jasa adalah semua kegiatan atau manfaat yang dapat ditawarkan suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak

berwujud (intangible) dan tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu.

  2. Karakteristik Jasa Karakteristik jasa menurut Tjiptono (2005: 24) adalah sebagai berikut:

  a) Tidak berwujud (Intangibility) Jasa merupakan suatu perbuatan, kinerja (performance), atau usaha. Bila barang dapat dimiliki, maka jasa hanya bisa dikonsumsi tetapi tidak dimiliki. Jasa tidak dapat dilihat, dirasa, didengar atau dicium sebelum jasa itu dibeli. Konsep intangible pada jasa memiliki dua pengertian, yaitu: sesuatu yang tidak dapat

  15 disentuh dan tidak dapat dirasa, sesuatu yang tidak dapat dengan mudah didefinisikan, diformulasikan, atau dipahami secara rohaniah. Para konsumen untuk mengurangi ketidakpastian akan menyimpulkan kualitas jasa dari tempat (place), orang (people), peralatan (equipment), bahan-bahan komunikasi (communication materials ), simbol, dan harga yang mereka amati.

b) Tidak terpisahkan (Inseparability) Barang biasanya diproduksi, kemudian dijual, lalu dikonsumsi.

  Sedangkan jasa di lain pihak, umumnya dijual terlebih dahulu, baru kemudian diproduksi dan dikonsumsi secara bersamaan. Interaksi antara penyedia jasa dan pelanggan merupakan ciri khusus dalam pemasaran jasa. Kedua belah pihak mempengaruhi hasil (outcome) dari jasa tersebut. Ada dua tipe operasi jasa, yaitu production- centered service operations dan customer-centerd service operation.

  16

Tabel 2.1 Dua tipe operasi jasa

  Production-Centered Service Operations Costumer Centered Service Operation Keterlibatan pelanggan terbatas pada proses produksi tertentu Pelanggan terlibat dalam banyak proses produksi Proses produksi dan penyampai jasa terpisah Proses produksi dan penyamapaian jasa terjadi bersamaan Produksi tidak tergantung pada konsumsi Produksi sering kali berbarengan dengan konsumsi Desain jasa dipusatkan pada pelanggan, dan disain proses dipusatkan pada karyawan Desain jasa dan proses dipusatkan pada pelanggan Hasil produksi relatif kurang beragam Hasil produksi lebih beragam Lebih terpaku pada standar, ukuran, inspeksi, dan pengawasan Lebih fleksibel, sehingga tidak terlalu terpaku pada standar, ukuran, inspeksi dan pengawasan

  Secara teknis lebih kompleks Secara teknis kurang kompleks Umumnya hubungan antara karyawan dan pelanggan tidak kompleks

  Umumnya hubungan antara karyawan dan pelanggan tidak kompleks Keterampilan teknis mendominasi operasi

  Keterampilan hubungan antar pribadi (interpersonal skills

  ) mendominasi

operasi

Pelatihan lebih bersifat fisik (physical)

  Pelatihan lebih bersifat psikologis Kebanyakan produsen atau pemilik tidak berurusan langsung dengan pelanggan

  Kebanyakan produsen atau pemilik berhubungan langsung dengan pelanggan Skala ekonomis relatif lebih mudah dicapai Skala ekonomis lebih sukar dicapai

  Sumber: Tjiptono (2005: 26)

  c) Bervariasi (Variability) Jasa bersifat sangat variabel karena merupakan non-standardized output , artinya banyak variasi bentuk, kualitas dan jenis,

  17 tergantung pada siapa, kapan, dan di mana saja tersebut dihasilkan. Tiga tahap penyedia jasa dalam melakukan pengendalian kualitasnya, yaitu: melakukan investasi dalam seleksi dan pelatihan personil yang baik, melakukan standardisasi proses pelaksanaan jasa (service-perfomance process), memantau kepuasan pelanggan melalui sistem saran dan keluhan, survei pelanggan, dan comparison shopping , sehingga pelayanan yang kurang baik dapat dideteksi dan dikoreksi.

  d) Perishability Jasa merupakan komoditas tidak tahan lama dan tidak dapat disimpan. Ini berarti bila permintaannya tetap tidak menjadi masalah karena mudah untuk menyiapkan pelayanan untuk permintaan tersebut sebelumnya, namun bila permintaannya berfluktuasi, berbagai permasalahn muncul berkaitan dengan kapasitas menganggur (saat permintaan sepi) dan pelanggan tidak terlayani dengan risiko mereka kecewa/beralih ke penyedia jasa lainnya (saat permintaan puncak).

E. Kualitas

1. Pengertian Kualitas

  Kualitas yaitu sebagai totalitas fitur dan karakteristik produk atau jasa yang mempengaruhi kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan yang dinyatakan atau disiratkan. Definisi kualitas ini merupakan definisi yang berpusat pada pelanggan di mana satu perusahaan telah memberikan

  18

kualitas apabila produk dan jasanya telah memenuhi atau melebihi

keinginan, persyaratan, dan harapan pelanggan (Kotler dan Amstrong,

2002: 310). Kualitas memberikan 6 keuntungan dalam pasar: loyalitas

konsumen yang lebih besar, lebih banyak pembelian ulang (repeat

  ), kurang mudah dilakukan dalam perang harga, lebih mampu purchases

menuntut harga relatif lebih tinggi tanpa menggangu atau mengurangi

andil pasar, biaya barang pemesanan lebih rendah, perbaikan andil pasar

(Spillane, 2006: 12).

  2. Pengertian Kualitas Jasa Menurut Wyckof (Tjiptono, 2005: 59) kualitas jasa adalah tingkat

keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan

tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan. Apabila jasa yang diterima

atau dirasakan sesuai dengan yang diharapkan, maka kualitas

jasadipersepsikan baik dan memuaskan. Jika jasa yang diterima

melampaui harapan pelanggan, maka kualitas jasa dipersepsikan sebagai

kualitas yang ideal. Sebaliknya jika jasa yang diterima lebih rendah dari

pada yang diharapkan, maka kualitas jasa dipersepsikan buruk. Citra

kualitas jasa yang baik bukanlah berdasarkan sudut pandang atau persepsi

pihak penyedia jasa, melainkan berdasarkan sudut pandang atau persepsi

pelanggan. Menurut Parasuraman (Tjiptono, 2005: 70), lima dimensi

pokok kualitas jasa meliputi:

  

1. Bukti langsung (tangibles), meliputi fasilitas fisik, perlengkapan,

  19 pegawai, dan sarana komunikasi.

  2. Keandalan (reliability), yakni kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan memuaskan.

  3. Daya tanggap (responsiveness), yaitu keinginan para staf untuk membantu para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan tanggap.

  4. Jaminan (assurance), mencangkup pengetahuan, kemampuan, kesopanan, dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki para staf; bebas dari bahaya, risiko atau keragu-raguan.

  5. Empati, meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang baik, perhatian pribadi, dan memahami kebutuhan pelanggan.

F. Image

  Menurut Wiliam Golden (Sihaan, 2008) menyatakan bahwa citra adalah keseluruhan kesan yang diciptakan oleh organisasi kepada publiknya melalui berbagai produk, berbagai kebijaksanaan, berbagai aktivitas dan berbagai usaha periklanan. Sedangkan menurut Bill Canton (Sihaan, 2008) mengatakan bahwa citra adalah “image: the impression, the feeling, the conception which the public has of a company; a conciously created impression of an object, person or organization” (Citra adalah kesan, perasaan, gambaran diri publik terhadap perusahaan yang sengaja diciptakan dari suatu obyek, orang atau organisasi). Berkaitan dengan berbagai pengertian di atas, dapat dikatakan bahwa, kesadaran,

  20 pengertian dan dukungan dari public tidak akan timbul dengan sendirinya. Maskapai penerbangan harus berusaha membangun dan memelihara citra atau kesan yang baik dimata konsumen sekaligus juga harus menumbuhkan kepercayaan.

  Image Fungsi Citra atau Menurut Nina W Syam (Sihaan, 2008) citra atau image adalah merupakan individuasi produk, yang dapat memberikan karakteristik yang khas bagi produk atau lembaga di antara produk atau keuntungan sejenis. Selain itu fungsi citra untuk menarik perhatian, karena selain unik, mudah diingat enak dilihat, nikmat untuk direnungkan dan dihayalkan. Oleh karena itu, perlulah diciptakan dan dibentuk suatu citra positif. Bagaimanapun citra yang baik akan membuat kehadiran lebih memiliki nilai guna, lebih diperhatikan dan yang jelas mampu menempatkan dirinya pada tempat yang sesuai dengan fungsinya.

  G.

   Low Cost Carrier Istilah Penerbangan “low cost” atau sering disebut LCC (low cost carrier ) sering juga disebut sebagai Budget Airlines atau no frills flight atau juga discounter carrier. LCC merupakan model penerbangan yang unik dengan strategi penurunan operating cost. Dengan melakukan efisiensi biaya di semua lini, maskapai melakukan hal-hal di luar kebiasaan maskapai pada umumnya, kalau airlines pada umumnya melakukan penambahan layanan yang memiliki value added dengan

  21

penambahan catering, penyediaan newspaper atau magazine, in flight

entertainment, in flight shop, lounge, free taxy after landing, exclusive

frequent flier services, dan lain sebagainya (Sorbi, 2008). Berlawanan

dengan hal itu, low cost carrier melakukan eleminasi layanan maskapai

tradisional yaitu dengan pengurangan catering, reservasi yang minim

dengan bantuan teknologi membuat layanan nampak sederhana dan bisa

cepat. Pelayanan yang minimal ini berakibat dalam hal penurunan cost,

namun factor safety tetap dijaga untuk menjamin keselamatan penumpang

sampai ke tujuan. LCC adalah redifinisi bisnis penerbangan yang

menyediakan harga tiket yang terjangkau serta layanan terbang yang

minimalis. LCC didasarkan pada beberapa asumsi dan praktek antara lain

(Yun, 2007):

  a. Penghapusan service ekstra : makanan atau minuman untuk penumpang, dan digantikan dengan penjualan makanan kecil atau minuman atau gift, yang harus dibayar oleh penumpang yang menghendaki. Hasil penjualan ini digolongkan sebagai penghasilan tambahan oleh operator penerbangan.

  b. Pemisahan biaya ekstra seperti airport tax, PPN dan sebagainya dari biaya pokok, sehingga biaya penerbangan itu sendiri terlihat sangat murah.

  c. Tidak ada reservasi tempat duduk penumpang, sehingga penumpang 'dipaksa' untuk melakukan boarding dini dan

  22 cepat. Ini suatu bentuk penghematan waktu.

  

d. Skema reservasi dini, dimana harga tiket akan naik saat

tempat duduk pesawat makin terbatas atau makin penuh.

  Hal ini akan memaksa penumpang untuk melakukan reservasi dini di mana makin dini kita memesan maka harga tiket akan makin murah. Biasanya pembatalan reservasi akan mengakibatkan hilangnya sebagian besar (hampir 100%) harga tiket yang sudah dibayarkan.

  

e. Skema 'single class' untuk semua penumpang.

  

Memudahkan dan menyederhanakan sistem boarding.

  

f. Pengunaan satu jenis pesawat. memudahkan,

menyederhanakan serta memangkas biaya perawatan dan

suku cadang, tanpa mengorbankan kualitas perawatan.

  

g. Memakai terminal sekunder dan meminimalisir

penggunaan fasilitas tambahan seperti garbarata (belalai penumpang) yang akan memangkas biaya 'airport service' tentunya. Penumpang harus berjalan kaki kepesawat dan dari pesawat.

  

h. Route airline biasanya difokuskan pada penerbangan yang

pendek dan turn around yang juga pendek agar dapat mengoptimalkan pengunaan pesawat.

i. Penjualan tiket secara langsung (umumnya dipermudah

lewat internet / online), sehingga dapat memangkas biaya

  23 kantor cabang dan komisi kepada agen perjalanan. j. Awak pesawat dipekerjakan secara berganda, misalnya pramugari atau pramugara juga bertindak sebagai pekerja pembersih atau sebagai 'gate officer', sehingga memangkas biaya operasional dan jumlah personil secara keseluruhan. k. Fuel hedging program biasanya dilakukan secara terencana dan merupakan salah satu perencanaan terpenting, karena biaya bahan bakar termasuk salah satu biaya terbesar dalam industri penerbangan.

  Umumnya, ciri-ciri maskapai tersebut menerapkan LCC antara lain (Sorbi, 2008):

a. Semua penumpangnya adalah kelas ekonomi, tidak ada penerbangan kelas premium atau bisnis.

  b. Kapasitas penumpangnya lebih banyak daripada kapasitas pesawat dengan layanan tradisional sehingga terlihat penumpang berdesak-desakkan. Hal ini untuk menaikkan

revenue pesawat mengingat tarif yang sangat murah.

  c. Maskapai tersebut memiliki satu tipe pesawat untuk memudahkan training dan meminimumkan biaya maintenance dan penyediaan spare part cadangan. Biasanya pesawatnya baru atau umurnya masih muda sehingga hemat dalam konsumsi fuel (avtur).

d. Maskapai menerapkan pola tarif yang sangat sederhana pada

  24 satu tarif atau tarif sub classis dengan harga mulai dari tarif diskon hingga mencapai 90%.

e. Tidak memberikan layanan catering, di pesawat umumnya hanya disuguhkan air mineral.

  

f. Kursi yang disediakan tidak melalui pemesanan, siapa

penumpang yang masuk lebih dahulu dalam pesawat, dia yang pertama memilih kursi yang dia tempati.

  

g. Penerbangan dilakukan di pagi buta atau malam hari untuk

menghindari biaya yang mahal pada layanan bandara pada saat jam-jam sibuk.

  

h. Rute yang diterbangi sangat sederhana biasanya point ke point

untuk menghindari miss conection di tempat transit dan dampak delay dari akibat delay flight sebelumnya.

i. Memberlakukan penanganan gound handling yang cepat dan pesawatnya mempunyai utilisasi jam terbang yang tinggi.

  

j. Maskapai melakukan penjualan langsung (direct sales),

biasanya via call center dan internet untuk meminimal cost channel distribusi. LCC tidak dijual melalui travel agent, dan tidak menggunakan Channel Distribusi GDS (Global Distribution System ) seperti Abacus dan Galileo.

k. Penjualan tidak menggunakan tiket konvensional, cukup

secarik kertas berupa kupon untuk mereduksi ongkos cetak tiket.

  25 l. Seringkali maskapai melakukan ekspansi promosi besar-besar untuk memperkuat positioning dan komunikasi karena menerapkan strategi direct sales. m. Karyawannya melakukan multi role dalam pekerjaannya, seringkali pilot dan pramugari juga sebagai cleaning services saat ground handling. Di samping itu LCC menerapkan out sourching dan karyawan kontrak terhadap SDM non vital, termasuk pekerjaan ground handling pesawat di bandara.

H. Persepsi

  Persepsi adalah proses yang digunakan oleh individu untuk memilih, mengorganisasi, dan menginterpretasi masukan informasi guna menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti (Kotler, 2003: 216). Ada tiga proses persepsi:

a. Perhatian selektif adalah proses rangsangan akan disaring

  b. Distorsi selektif adalah kecenderungan orang untuk mengubah informasi menjadi bermakna pribadi dan menginterpretasikan informasi itu dengan cara yang akan mendukung pra konsepsi kita.

  c. Ingatan selektif adalah suatu keadaan orang yang akan mengingat hal-hal baik yang disebutkan tentang produk yang kita sukai dan melupakan hal-hal baik yang disebutkan tentang produk yang bersaing.

  26

I. Layanan Pengertian Konsep Pelayanan

  Pelayanan merupakan suatu hal yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk menarik pembeli atau konsumen agar terus membeli atau mengkonsumsi produk yang ditawarkan. Mutu pelayanan sangat menentukan kesuksesan atau kegagalan dalam bidang usaha jasa.

  Pelayanan yang memuaskan konsumen sangat memberikan pengaruh bagi kelangsungan hidup perusahaan. Kotler (1997: 127) mendefinisikan pelayanan sebagai segala bentuk kegiatan yang dilakukan oleh pengusaha yang mempunyai nilai yang dapat memuaskan konsumen. Setiap perusahaan diharapkan dapat menyadari bahwa pelayanan merupakan daya tarik pembeli atau konsumen. Oleh karena itu secara periodik perusahaan memperhatikan atau bahkan meneliti tingkat pelayanannya sendiri serta pesaingnya. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pelayanan dapat memenuhi kebutuhan konsumen (Rudi, 2003: 19). Pelayanan jasa yang unggul menurut Tjiptono (Lusia, 2003: 18) adalah suatu sikap atau cara kayawan dalam melayani pelanggan secara memuaskan. Empat unsur pokok konsep ini adalah kecepatan, ketepatan, keramahan, kenyaman.

  J. Fasilitas Menurut Tjiptono (2004:19) fasilitas adalah sumber daya fisik yang harus ada sebelum suatu jasa ditawarkan kepada konsumen. Fasilitas

  27

merupakan sesuatu yang sangat penting dalam usaha jasa, oleh karena itu

kondisi fasilitas, kelengkapan desain interior dan eksterior serta kebersihan

fasilitas harus dipertimbangkan terutama yang berkaitan erat dengan apa

yang dirasakan konsumen secara langsung. Persepsi yang diperoleh dari

interaksi pelanggan dengan fasilitas jasa berpengaruh terhadap kualitas

jasa tersebut di mata pelanggan. Menurut Mudie dan Cottam (Tjiptono,

2004: 46) unsur-unsur yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan

fasilitas jasa adalah:

  1. Pertimbangan atau perencanan spasial

Aspek-aspek seperti simetri, proporsi, tekstur, warna, dan lain-lain

dipertimbangkan, dikombinasikan, dan dikembangkan untuk memancing

respon intelektual maupun emosional dari pemakai atau orang yang melihatnya.

  2. Perencanaan ruangan

Unsur ini mencakup perancangan interior dan arsitektur, seperti

penempatan perabotan dan perlengkapannya dalam ruangan, desain aliran sirkulasi dan lain- lain.

  3. Perlengkapan atau perabotan

Perlengkapan memiliki berbagai fungsi, diantaranya sebagai sarana

pelindung barang-barang berharga berukuran kecil, sebagai barang

pajangan, sebagai tanda penyambutan bagi para pelanggan, dan sebagai

sesuatu yang menunjukkan status pemilik atau penggunanya.

  28

  4. Tata cahaya Beberapa yang perlu diperhatikan dalam mendesain tata cahaya adalah warna, jenis dan sifat aktivitas yang dilakukan di dalam ruangan, dan suasana yang diinginkan.

  5. Warna Warna dapat menggerakkan perasaan dan emosi. Warna dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi dalam ruangan, menimbulkan kesan rileks, dan mengurangi tingkat kecelakaan.

  6. Pesan-pesan yang disampaikan secara grafis Aspek yang penting dan saling terkait dalam unsur ini adalah penampilan visual, penempatan, pemilihan bentuk fisik, pemilihan warna, dan pemilihan bentuk perwajahan lambang atau tanda untuk maksud tertentu.

  K. Harga (Price) Harga adalah jumlah uang (ditambah beberapa barang kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanannya (Basu Swastha, 2002: 147). Pada umumnya penjual mempunyai beberapa tujuan dalam penetapan harga produknya.

  Tujuan tersebut antara lain (Basu Swastha, 2002: 148):

  1. Mendapatkan laba maksimum Semakin besar daya beli konsumen, semakin besar pula kemungkinan bagi penjual untuk menetapkan tingkat harga yang tinggi. Dengan

  29 demikian penjual mempunyai harapan untuk mendapatkan keuntungan maksimum sesuai dengan kondisi yang ada.

  

2. Mendapatkan pengembalian investasi yang ditargetkan atau pengembalian

pada penjualan bersih Harga yang dapat dicapai dalam penjualan dimaksudkan pula untuk menutup investasi secara berangsur-angsur. Dana yang dipakai untuk mengembalikan investasi hanya bisa diambilkan dari laba perusahaan, dan laba hanya bisa diperoleh bilamana harga jual lebih besar dari jumlah biaya seluruhnya.

  3. Mencegah atau mengurangi persaingan Tujuan mencegah atau mengurangi persaingan dapat dilakukan melalui kebijaksanaan harga. Hal ini dapat diketahui bilamana para penjual menawarkan barang dengan harga yang sama. Oleh karena itu persaingan hanya mungkin dilakukan tanpa melalui kebijaksanaan harga, tetapi dengan service lain.

  4. Mempertahankan atau memperbaiki market share Memperbaiki market share mungkin dilaksanakan bilamana kemampuan dan kapasitas produksi perusahaan masih cukup longgar, di samping juga kemampuan dibidang lain seperti pemasaran, keuangan, dan sebagainya.

  30 L. Minat beli ulang

  Apabila konsumen pernah mengkonsumsi suatu produk, dan memperoleh kepuasan yang digunakan, maka mereka akan membeli kembali produk yang menurut mereka telah memberikan kepuasan yang sesuai dengan keinginannya. Apapun jenis produk yang dijual, perhatian umum pemasaran adalah pada bagaimana meningkatkan pembelian ulang konsumen. Salah satu strategi yang digunakan adalah low cost carrier yang diharapkan konsumen membeli atau menggunakan jasa penerbangan yang sama atau berulang kali. Minat beli ulang ialah tingkat kemungkinan konsumen membeli atau mengkonsumsi kembali produk yang sama secara berulang kali (Yulia, 2005: 17). Menurut Kotler (Ignasius, 2003: 18) ada beberapa elemen yang dapat digunakan mengukur minat, yaitu: keuangan, pekerjaan, masyarakat, rekreasi, mode, makanan, rumah, media, serta prestasi.

  31 M. Ringkasan Penelitian Sebelumnya

  No Judul Variabel Metode Penelitian Hasil Penelitian Penelitian

1 “Full Service dan Low Cost Variabelnya: Full- Metode yang dilakukan Pemilihan strategi full-service

  Carrie r”, oleh Robert, tahun 2007 Service dan Low Cost adalah metode atau low cost carrier perlu Carrier deskriptif. didasari oleh rencana jangka panjang suatu perusahaan (strategic planning). Pemilihan terhadap salah satu strategi perlu didasari oleh kapabilitas yang dimiliki oleh perusahaan. Setiap strategi memiliki dampak terhadap proses bisnis, pemilihan pesawat, system jaringan, strategi pemasaran, kualitas pelayanan, serta target pasar yang akan dituju. Pertukaran strategi dari full-service menjadi low cost carrier atau sebaliknya akan berdampak pada tingginya set up cost untuk melakukan penyesuaian pada keseluruhan proses bisnis perusahaan. Adjustment terhadap masing-masing strategi ini tetap dapat

  32 dilakukan tanpa harus kehilangan originalitas strategi itu sendiri. Sebagai contoh, strategi low cost carrier dapat menambah layanan kepada konsumen yang tidak terlalu membebani variabel cost per penumpang. Sebaliknya, untuk full-services, perusahaan tidak perlu ikut menurunkan harga guna menghadapi tekanan dari low cost carrier, tetapi dapat menambah value kepada konsumen melalui berbagai bentuk layanan atau barang baik saat prapenerbangan,

2 “Pengaruh Strategi Harga dan Dependent variabel : Teknik sampling yang Berdasarkan tujuannya, X Air

  Layanan Maskapai penerbangan X kepuasan konsumen digunakan adalah menetapkan strategi harga Terhadap Kepuasan Konsumen”, Independent variabel : accidental sampling Alat untuk bertahan hidup, oleh Dionisius dan Hidayat, tahun strategi harga dan analisis data memaksimalkan laba, dan 2007. layanan menggunakan regresi. meraih pangsa pasar yang dominan.

  X Air akan menikmati struktur biaya terendah dan keuntungan jangka panjang yang tinggi dengan merebut pangsa pasar yang besar. X Air berani

  33 melakukan strategi harga seperti itu didasarkan pada latar belakang keberadaan X Air sebagai salah satu maskapai penerbangan baru di industri penerbangan yang pada saat ini ingin mengembangkan kegiatan perusahaannya secara lebih meluas. Strategi harga yang ditawarkan X Air dan layanan yang diberikan

  X Air berpengaruh pada kepuasan konsumen. Jadi, apabila strategi harga dan layanan yang berubah, dengan sendirinya secara bersam-sama akan berpengaruh juga pada perubahan tingkat kepuasan konsumen X Air. 3 ”Analisis harapan dan persepsi Dependent variabel : Metode yang dilakukan

  1. Secara keseluruhan untuk penumpang terhadap kualitas

  Kualitas Makanan. adalah konklusif snack , harapan lebih

  deskriptif

  makanan yang disediakan oleh Independent variebel : besar daripada persepsi. Hal maskapai penerbangan domestik di

  Harapan Dan Persepsi ini ditunjukkan oleh Indonesia”oleh Christine dan

  Konsumen nilai mean harapan adalah

  Kanya, tahun 4,1791 dan mean 2008 persepsi adalah 3,6282.

  Artinya, responden belum

  34 merasa puas akan kualitas

yang diterimanya

snack

selama penerbangan dan tidak

sesuai dengan harapan responden.

  2. Perbedaan mean antara harapan dan persepsi adalah signifikan dilihat dari nilai signifikansi

pada uji t yaitu 0,000 (<0,01),

sehingga hal ini harus menjadi perhatian bagi pihak maskapai.

  3. Dari hasil perhitungan gap yang diperoleh, terungkap hasil bahwa aspek aroma dan penampilan snack memiliki gap terbesar yaitu untuk

aroma sebesar -0,86 dan untuk

penampilan snack sebesar -0,71. Saran

  1. Sebaiknya maskapai memperhatikan penampilan dan aroma snack yang

disajikan dalam penerbangan.

  2. Untuk lebih mendekatkan

  35 diri dan memanjakan penumpangnya, pihak maskapai harus memperlakukan penumpangnya secara lebih personal, dimana maskapai dapat menyusun menu yang membedakan penumpangnya misalnya berdasarkan waktu makanan disajikan. Penyajian makanan bisa dibedakan menjadi 3 menurut waktunya yakni, makan pagi (sarapan), siang dan malam.

  Expert System adalah sebuah 4 “Optimalisasi Penentuan Keputusan Dependent variabel : Metode yang dilakukan

  bentuk dasar dari artificial

  Expert System Tiketing Online Bagi Konsumen”, Keputusan Tiketing adalah intelegence . Expert System oleh Farah Virnawati, tahun 2007. Online Bagi

  dikerjakan setelah setelah Konsumen. pertanyaan sederhana setelah yes

  Independent variebel :

  dan no question. Expert System

  Optimalisasi

  membuat keputusan yang sama dengan apa yang dilakukan manusia. Expert system dapat dibangun dengan mewawancari pengalaman seseorang kemudian membuat aturan-aturan

  36

  berdasarkan dari informasi yang diperoleh. Expert system dapat dimanfaatkan untuk decision support system atau system penunjang keputusan sehingga penggunaan expert sytem khususnya forward chaining yang digunakan dapat mengoptimalkankeputusan yang diambil dalam reservasi tiket secara on line ini sesuai dengan keinginan konsumen. Salah satu keuntungna dari forward chaining disbanding dengan backwad chaining adalah penerimaan data baru dapat memicu kesimpulan baru, yang membuat engine lebih cocok untuk situasi dinamik dalam kondisi sering berubah. Seperti data yang diambil dalam pengerjaan Reservasi tiket secara on line ini. Metode forward chaining ini dapat digunakan dalam pengembangan tools system reservasi ticketing on line lebih lanjut. Dengan mempertimbangkan kueri dan data sumber yang didapatkan dari e-shop, serta factor penunjang yang dimasukkan costumer. Selanjutnya forward chaining bias dijadikan decision support

  37

  system dalam reservasi tiket on line ini.

  

5 “Pentingnya Kepuasan Konsumen Variabel :. Kepuasan Metode yang dilakukan Mengingat sebagian besar para

dan Implementasi Strategi Konsumen dan adalah konklusif pelaku bisnis di Indonesia saat

  deskriptif

  Pemasarannya”, oleh Asmai Ishak Implementasi Strategi ini

, tahun 2005. Pemasarannya berperasi di industri yang

tingkat persaingan dan perubahannya cukup tinggi, maka paling tidak marketing philosophy yang mendasari produknya adalah konsep pemasaran. Perusahaan yang menggunakan konsep ini dalam falsafah bisnisnya berasumsi bahwa perkembangan dan kontinjuitas perusahaannya sangat tergantung seberapa jauh mereka dapat memuaskan para konsumennya. Dalam rangka terciptanya kepuasan konsumen tersebut, perusahaan akan berusaha untuk mengetahui: (1) minat yang mendasari konsumen

  38 membeli produk mereka; (2)

proses pengambilan keputusan

pembelian produk tersebut; dan (3) penilaian (persepsi) para konsumen terhadap produk perusahaan jika dibandingkan dengan produk pesaing. Dengan

memahami ketiga hal tersebut

akan memungkinkan perusahaan untuk dapat memilih metode dan media komunikasi yang tepat dan sesuai dengan pasar sasarannya dan mempunyai pedoman untuk menetapkan strategi pelayanan, saluran distribusi, bersaing dan pengembangan produk di masa yang akan datang. Namun demikian perlu disadari bahwa kepuasan konsumen tidak semata-mata berasal dari

baiknya kualitas produk, tetapi

juga dipengaruhi

  39 oleh faktor lain seperti pelayanan pada saat dan sesudah pembelian, cara

pembayaran, tersedianya spare

part dan lain-lain. Oleh karena

itu, untuk memaksimalkan kepuasan konsumen dan terciptanya citra merk/produk perusahaan yang baik, maka memuaskan konsumen tidak lagi menjadi

tanggung jawab seluruh bagian

yang ada dalam perusahaan. Agar pemuasan konsumen dapat dilakukan secara terpadu, maka perusahaan sebaiknya menggunakan pemasaran

sebagai konsep bisnis strategic

yang memberikan kepuasan yang berkelanjutan, bukan sesaat, tidak hanya bagi investor/pemilik dan konsumen tetapi juga memberikan kepuasan yang berkelanjutan juga bagi para

  40 karyawannya. Dalam konsep ini perusahaan berusaha untuk memuaskan semua stakeholder nya.

  41 E.

   Kerangka Konseptual

  Harga

  • Harga yang ditawarkan
  • Diskon

  Fasilitas

  • Kamar mandi pesawat
  • Jaminan asuransi

  Image low cost

  Minat beli

  • Kapasitas tempat duduk

  carrier

  ulang

  peawat

  • Ruang tunggu penumpang

  Pelayanan

  • Kecepatan - Ketepatan - Keramahan - Kenyaman

Gambar 2.1 Kerangka konseptual

  Low cost carrier (LCC) merupakan suatu konsep di dalam manajemen penerbangan yang menekankan efisiensi sebagai strategi utama. Image low cost carrier dapat di ukur dari tiga aspek (tarif, fasilitas, layanan). Image negatif atau positif yang timbul dari ketiga aspek ini yang akan mempengaruhi konsumen dalam pembelian ulang, apakah memiliki pengaruh yang berbeda terhadap minat beli ulang atau tidak.

F. Hipotesis

  Hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Kebenaran dari hipotesis itu harus dibuktikan melalui data yang terkumpul. (Sugiyono, 2009: 84). Dari rumusan

  42

masalah, maka penulis menyusun hipotesis sebagai berikut: ada perbedaan

pengaruh image low cost carrier terhadap minat beli ulang.

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah studi kasus yaitu jenis

  penelitian yang dilakukan terhadap obyek tertentu secara langsung kepada konsumen yang membeli atau menggunakan produk tersebut, sehingga kesimpulan yang diambil terbatas pada obyek yang diteliti saja dan berlaku pada waktu tertentu ( Adiputra, et al, 2004: 18).

B. Tempat dan waktu Penelitian

  1. Penelitian ini dilakukan di PT. Mitra Persada Travelindo, yang terletak di jalan Pringgondani no. 1, Mrican Baru, Yogyakarta.

  2. Waktu penelitiannya adalah pada bulan Januari sampai bulan Februari 2010.

C. Subjek dan Objek Penelitian

  1. Subjek Penelitian Subjek yang diteliti dalam kasus ini adalah para penumpang yang telah menggunakan jasa penerbangan Lion Air dan Mandala Airlines.

  2. Objek Penelitian Objek penelitian adalah pengaruh faktor-faktor image (harga, fasilitas, layanan) terhadap minat beli ulang.

  

43

  44 D. Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini adalah:

  1. Variabel bebas ( independent variable ) merupakan variabel yang mempengaruhi variabel terikat (Sugiyono, 2009:4). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah:

  a. Tarif adalah jumlah uang yang harus dibayar oleh konsumen untuk memperoleh produk.

  b. Fasilitas adalah sumber daya fisik yang harus ada, sebelum suatu jasa ditawarkan kepada konsumen.

  c. Layanan adalah suatu sikap atau cara karyawan dalam melayani pelanggan secara memuaskan.

  2. Variabel terikat ( dependent variable ) merupakan variabel yang dipengaruhi, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2009:4). Variabel Y dalam penelitian ini adalah minat beli ulang. Minat beli ulang ialah tingkat kemungkinan konsumen membeli atau mengkonsumsi kembali produk yang sama secara berulang kali (Yulia, 2005: 17).

E. Populasi dan Sampel

  Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang di tetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2009: 61). Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen atau para penumpang yang telah menggunakan jasa penerbangan Lion Air dan Mandala

  45 Airlines. Dalam penelitian ini, kuesioner disebarkan langsung oleh peneliti di

lapangan sehingga dapat memperoleh responden yang sesuai dengan

karakteristik yang peneliti butuhkan.

  Sedangkan pengertian sampel adalah bagian dari jumlah dan

karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2009: 62).

  

Sampel dalam penelitian ini adalah para penumpang. Dalam penelitian ini

penulis menggunakan teknik sampling, yaitu non probability sampling dengan

teknik purposive sampling, menurut Sugiyono (2009: 68), purposive sampling

adalah teknik penelitian sampel dengan pertimbangan tertentu. Dalam

pengambilan sampling, responden yang dijadikan subyek penelitian sejumlah

100 orang responden.

  Alasan pemilihan angka 100 ini adalah agar bisa mendapatkan data

dengan tingkat kepercayaan sebesar 95% dan sampling error sebesar 10%.

  

Dalm penelitian ini, maka jumlah sampel yang akan diteliti mengikuti rumus

dari Malhotra (2005:364): = Di mana:

  = Jumlah sampel.

  = Batas luar daerah. Nilai Z adalah sebesar 1,96. Angka ini didapat dari tabel t student. Karena pada kondisi di mana deviasi standar rata-rata tidak diketahui. Jumlah populasi yang tidak terbatas atau populasi besar akan mengikuti nilai tabel Z.

  E = Kesalahan maksimum yang mungkin dialami.

  46 Dengan taraf signifikan ( ) sebesar 5% dan kesalahan maksimum yang mungkin dialami (E) adalah sebesar 10% sedangkan deviasi standar rata-ratanya tidak diketahui, maka besarnya sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak:

  = = 96.04 Menurut rumus, jumlah sampel yang dibutuhkan sebanyak 96 responden dan dibulatkan menjadi 100 orang responden.

  G. Sumber Data

  1. Data Primer Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari sumber data yang di kumpulkan secara khusus dan berhubungan dengan permasalahan yang di teliti. Data ini diperoleh dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah terstruktur dengan tujuan untuk mengumpulkan informasi.

  2. Data Sekunder Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari studi pustaka atau sumber- sumber lain di luar perusahaan.

  H. Metode Pengumpulan Data

  1. Metode kuesioner Merupakan teknik pengumpulan data dengan menyerahkan atau mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi oleh responden. Responden

  47 adalah orang yang memberikan tanggapan atas-atau menjawab pertanyaan- pertanyaan yang diajukan (Hasan, 2002:83). Pihak-pihak yang bersangkutan adalah para penumpang pesawat yang telah menggunakan jasa penerbangan Lion Air atau Mandala Airlines.

  2. Metode observasi Observasi adalah pemilihan, pengubahan, pencatatan, dan pengkodean serangkaian perilaku dan suasana yang berkenaan dengan

organisasi, sesuai dengan tujuan-tujuan empiris (Hasan, 2002:86).

  3. Tinjauan Pustaka Peneliti mendalami, mencermati, menelaah dan mengidentifikasikan pengetahuan yang ada dalam kepustakaan (sumber bacaan, buku-buku referensi atau hasil penelitian lain) untuk menunjang penelitiannya, disebut mengkaji bahan pustaka atau studi kepustakaan (Hasan, 2002:45). Studi pustaka dilakukan sebagai pendukung untuk penulisan ini juga mendapatkan data dari penelitian yang dilakukan orang lain, mempelajari berbagai kepustakaan, buku-buku literatur kuliah, dan artikel dari majalah, serta internet yang berhubungan dengan objek yang diteliti.

I. Teknik Pengukuran Data

  Dalam melakukan pengukuran untuk mendapatkan data, penulis membagikan kuesioner kepada responden untuk diisi. Kuesioner berisikan daftar pernyataan di mana di dalamnya dibagi menjadi tiga bagian berdasarkan variabel penelitian yaitu: lokasi, fasilitas, dan tarif.

  48 Pengukuran data dalam penelitian ini menggunakan skala likert.

  

Adapun skala yang digunakan adalah sebagai berikut (Sugiyono, 2009:25):

  1. Mengenai harga, fasilitas, layanan Kode Keterangan Skor SS Sangat Setuju

  5 S Setuju

  4 RR Netral

  3 TS Tidak Setuju

  2 STS Sangat Tidak Setuju

  1 J. Teknik Pengujian Instrumen

  1 Uji Validitas Sebelum kuesioner digunakan untuk penelitian yang sebenarnya, perlu dilakukan pengujian kuesioner terlebih dahulu. Pelaksanaan kuesioner dimaksudkan untuk mengetahui kesahihan butir (validitas).

  Untuk pengujian validitas instrumen, digunakan teknik korelasi product moment dengan rumus sebagai berikut (Sugiyono, 2009:356): 2 2 2 2 i i i i i i i i i

  Y Y n

  X X n Y

  X X n

Y

r

  Keterangan:

: Koefisien korelasi antara X dan Y (product moment)

X : Skor item bernomer ganjil

  49 Y : Skor item bernomer genap n : Banyaknya sampel uji coba Untuk menentukan instrumen itu valid atau tidak maka ketentuannya adalah sebagai berikut : a. Jika r hitung = r tabel dengan taraf keyakinan 95 %, maka instrumen tersebut dikatakan valid.

  b. Jika r hitung < r tabel dengan taraf keyakinan 95 %, maka instrumen tersebut dikatakan tidak valid.

  2 Uji keandalan ( Reliabilitas ) Kuesioner yang reliabel adalah kuesioner yang apabila dilakukan uji secara berulang-ulang pada kelompok yang sama akan menghasilkan data yang sama. Pengujian reliabilitas dianalisis dengan rumus Spearman Brown , untuk keperluan itu maka butir-butir instrumen dibelah menjadi dua kelompok, yaitu kelompok instrumen ganjil dan kelompok instrumen genap. Selanjutnya skor data tiap kelompok itu disusun tersendiri.

  Kelompok ganjil dan skor butirnya dijumlahkan sehingga menghasilkan skor total, begitu juga dengan kelompok genap, selanjutnya antara kelompok ganjil dan genap dicari korelasinya. Setelah dihitung maka akan didapat koefisien korelasi. Koefisien korelasi ini selanjutnya dianalisis dengan rumus Spearman Brown menurut Sugiyono (2009:359): 2 r b r i

  1 r b

  50 Keterangan : = reliabilitas internal seluruh instrumen = korelasi product moment antara belahan pertama dan kedua.

  Kriteria pengujian reliabilitas adalah sebagai berikut: a. Jika r hitung = r tabel maka pernyataan dinyatakan reliabel.

b. Jika r hitung < r tabel maka penrnyataan dinyatakan tidak reliabel.

  K. Teknik Analisis Data Analisis data secara kuantitatif (Analisis Varians dua Jalan Friedman).

  

Digunakan untuk menguji hipotesis komparatif k sampel yang

berpasangan (related) bila datanya berbentuk interval, atau ratio, maka

data tersebut diubah ke dalam data ordinal (Sugiyono, 2009: 199). 2 k 2

  12 x R j

  3 N k

  

1

Nk ( k 1 ) j 1 Keterangan: N = banyaknya baris dalam tabel k = banyak kolom Rj = jumlah rangking dalam kolom Hipotesis : 2 2 Bila X hitung = X tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima.

  51 Jika hasil dari suatu penelitian menunjukkan adanya perbedaan

pengaruh, perlu dilakukan uji lanjut atau pembanding berganda.

  

Pembanding berganda didasarkan pada apakah selisih dua buah nilai dari

total rank setiap faktor low cost carrier lebih besar dari suatu nilai kritis

atau tidak. Apabila selisih dari nilai total rank dua faktor lebih besar atau

sama dengan suatu nilai kritis tertentu, maka dua faktor tersebut memiliki

performa yang berbeda (Deny, 2007).

  6 1 p bp D z

  Keterangan : D = Nilai mutlak (absolute value) selisih nilai total rank dari 2 perlakuan z = nilai distribusi z b = banyaknya blok p = banyaknya perlakuan

  

Ho : tidak ada perbedaan pengaruh image low cost carrier terhadap minat

beli ulang.

  

Ha : Terdapat perbedaan pengaruh image low cost carrier terhadap minat

beli ulang.

  

BAB IV

GAMBARAN UMUM A. Sejarah PT. Mitra Persada Travelindo PT. Mitra Persada Travelindo adalah sebuah agen perjalanan dan wisata di Indonesian yang didirikan pada tahun 1995. Sebagai agen lokal di Indonesia, Travelindo mengkhususkan diri pada inbound market untuk tujuan wisata terpopuler di Indonesia. PT. Mitra Persada Travelindo merupakan UPK dari The Travel Point yang berfungsi sebagai travel arrangement untuk

memudahkan civitas akademika yang membutuhkan jasa tours dan ticketing.

  Pada awalnya, Travelindo hanya menyediakan pemesanan tiket secara manual saja, namun seiring dengan perkembangan industri pariwisata Indonesia, travelindo juga mulai merambah ke pasar wisata yang terjadwal. Bahkan kini telah menyediakan akomodasi hotel yang ada di Bali, Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Medan dan tujuan lain di Indonesia. Lingkup kerjasama yang dilakukan perusahaan dalam menjalankan usaha dibidang tours dan Ticketing, meliputi:

  1. Pemesanan tiket domestic dan internasional

  2. Penjualan paket wisata

  3. Pemesanan voucher hotel

  4. Pengurusan dokumen perjalanan (paspor dan visa)

  53 Untuk pemesana tiket domestic PT. Mitra Persada Travelindo bekerjasama dengan beberapa perusahaan maskapai penerbangan seperti: Garuda Indonesia, Merpati Nusantara, Mandala Airlines, Lion Airlines, Batavia Airlines, Kalstars Airlines, Sriwijaya Airlines, Airasia Airlines, Trans Nusa, Citilink. Sedangkan untuk pemesanan tiket internasional PT. Mitra Persada Travelindo bekerjasama dengan Garuda Indonesia, Thai Airlines, Malaysian Airlines, KLM, Lufthansa, Northwest, Airfrance, Cathay, Value Air, Etihad, Qatar, Royal Brunei.

  

Struktur Organisasi PT. Mitra Persada Travelindo

Direktur Utama Direktur Marketing

  

Manager Tour Manager Tiketting Manager Keuangan Manager HRD

Supervisor Tour Supervisor Tiketting Supervisor Operasional Informasi dan Teknologi Staf Tour Staf Reservasi Tiketting Staf Keuangan Staf operasional

  54 B. Sejarah Lion Air Perjalanan panjang yang telah ditempuh Lion Air berawal dari penerbangan domestik yang kecil. Setelah 13 tahun pengalaman di bisnis

wisata yang ditandai dengan kesuksesan biro perjalanan Lion Tours, kakak-

beradik Kusnan dan Rusdi Kirana bertekad menjadikan impian mereka untuk memiliki usaha penerbangan menjadi kenyataan. Dibekali ambisi yang tinggi dan modal awal 10 juta dolar Amerika Serikat, Lion Air secara hukum didirikan pada bulan Oktober tahun 1999. Namun pengoperasian baru berjalan di mulai pada tanggal 30 Juni tahun 2000. Saat ini, Rusdi Kirana sebagai salah

satu pemilik Lion Air memegang jabatan sebagai Presiden dan juga Direktur.

  Hingga pertengahan tahun 2005, bersama dengan penerbangan

internasional lainnya, Lion Air menempati Terminal Dua Bandara Sukarno-

Hatta, sedangkan perusahaan penerbangan lokal atau penerbangan domestik menempati Terminal Satu. Faktor tersebut, selain mampu memberikan para penumpang kemudahan penerbangan sambungan ke Indonesia atau dari Indonesia ke tujuan internasional lainnya, juga memberikan keuntungan lebih dari segi prestise. Tetapi kemudian Lion Air dipindahkan ke Terminal Satu, hingga saat ini.

  Pada tahun 2005, Lion Air memiliki 24 pesawat penerbangan yang terdiri dari 19 seri MD80 dan lima pesawat DHC-8-301. Untuk memenuhi layanan yang rendah biaya, armada Lion Air didominasi oleh MD80 karena efisiensi dan kenyamanannya. Dalam upaya meremajakan armadanya, Lion Air telah memesan 60 Boeing 737-900ER yang akan di antar bertahap dari

  55

2007 hingga 2010. Pada Juni 2008, Lion Air akan berubah menjadi full-

service . Lion air juga berencana bersaing baik dengan Garuda maupun Saudi Arabia Air untuk menerbangi rute-rute umroh bahkan haji dengan pesawat 777.

  C. Sejarah Mandala Airlines Mandala Airlines mengawali sejarahnya dengan menerbangi seluruh penjuru Nusantara pada tahun 1967, ketika Indonesia mulai membangun kembali ekonomi yang porak-poranda akibat berbagai masalah politik dan ekonomi pada dekade 60-an. Sejak saat itu, Mandala Airlines telah tumbuh menjadi salah satu maskapai penerbangan swasta terbesar di Indonesia. Rute penerbangan Mandala mampu menjangkau lebih dari 20 kota besar Indonesia dengan dukungan armada 12 pesawat Boeing 737-200 dan 2 pesawat Boeing 737-400. Masuknya Cardig International menjadi pemilik Mandala Airlines pada pertengahan 2006 membawa perubahan berarti dengan pengoperasian Airbus A320 untuk meremajakan armada pesawat. Dengan sumber daya manusia yang berkualitas dan manajemen baru, Mandala Airlines yang pada tahun 2002 memperoleh predikat The Most Potential Brand in Airlines Service dari INDONESIA BEST BRAND AWARD, kini siap meningkatkan pelayanan dan memberikan yang terbaik bagi para penumpangnya.

  Mandala adalah maskapai nasional berumur 39 tahun yang telah dibeli oleh Indigo Partners dan Cardig International di tahun 2006. Pembelian Mandala didasarkan pada pertimbangan bahwa potensi yang bisa diraih terkait

  56

dengan peluang pertumbuhan bisnis penerbangan di dunia ketiga, setelah

China dan India. Dengan pasar domestik yang lebih besar dari India, investasi

melalui Mandala, memberi peluang bagi Mandala untuk memanfaatkan

jaringan rute penerbangan yang luas dengan brand nasional yang kuat serta

memungkinkan menjadikan Mandala sebagai maskapai penerbangan modern

yang menawarkan keamanan, dapat diandalkan, dengan harga terjangkau.

  Pada 2007, Mandala telah memesan 30 pesawat airbus baru senilai 1,8

miliar dolar AS, Mandala dikelola jajaran manajemen berpengalaman

internasional di bawah pimpinan mantan pejabat senior Ryanair, Warwick

Brady. Mandala juga telah menghentikan penggunaan semua pesawat jenis

B737-200 dan menjalin kerja sama dengan Singapore Airlines Engineering

Company untuk perawatan pesawat. Mandala kini menawarkan jaringan

pelayanan yang luas untuk 20 tujuan penerbangan, dengan menggunakan

pesawat yang aman dan armada Airbus A320, A319 dan armada modern

Boeing 737-400 dengan ketepatan jadwal, kebersihan pesawat terjaga serta

penawaran harga yang sangat terjangkau, Effective tanggal 16 Januari 2009

Mandala sudah tidak menggunakan pesawat jenis Boeing 737-400 dan untuk

seterusnya Mandala hanya menggunakan satu jenis pesawat saja yaitu New

Airbus A320/319 dengan total 11 pesawat yang telah dioperasikan hingga saat

ini dari rencana total 30 pesawat A320/319 yang akan datang bertahap.

  Prioritas utama Mandala adalah menjadi maskapai penerbangan

dengan standar keselamatan penerbangan internasional. Untuk mencapai itu,

Mandala telah menjalani audit guna mendapatkan sertifikasi IOSA dari IATA.

  57 Selain itu, Mandala juga telah menjalani audit dari Airbus, Boeing dan

sejumlah perusahaan di bidang perminyakan yang telah memberikan

persetujuan untuk terbang bersama Mandala.

  Dewan Direksi

Warwick Brady (Chief Executive Officer)

Brian Bradbury (Director of Engineering)

Steve Wilks (Chief Operating Officer)

Yadi J. Ruchandi (Chief Financial Officer)

BAB V ANALISIS DATA Pada bab ini penulis menganalisis data yang diperoleh selama

  penelitian. Data diperoleh dari mengedarkan kuesioner kepada konsumen yang melakukukan pemesanan tiket PT. Mitra Persada Travelindo Jl. Pringgondani no. 1. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan pengaruh image low cost carrier terhadap minat beli ulang.

  Responden yang diteliti dan menjadi sampel berjumlah 100 orang. Pada low cost carriers penilaian didasarkan pada bagaimana layanan, fasilitas serta harga yang diberikan oleh maskapai Lion Air dan Mandala Airlines. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis anova dua arah friedman yang digunakan untuk mengetahui perbedaan image low cost carriers pada maskapai Lion Air dan Mandala Airlines terhadap minat beli ulang dan pengelompokan persentase yang digunakan untuk menganalisis profil konsumen.

A. Identitas Responden

  Penelitian ini dilakukan di PT. Mitra Persada Travelindo, yang terletak di jalan Pringgodani no.1, Mrican Baru, Yogyakarta. Peneliti menyebar kuesioner kepada konsumen yang sedang melakukan pemesanan tiket di PT. Mitra Persada Travelindo. Sampel diambil dengan cara non probabilitas dengan teknik purposive sampling. Sampel penelitian sebanyak 100 orang.

  Penyebaran kuesioner dilakukan peneliti terhadap responden ketika mereka

  

58

  59

berada di PT. Mitra Persada Travelindo. Untuk memperoleh gambaran tentang

jenis kelamin, usia, pekerjaan, pengeluaran rata-rata per bulan, maskapai yang

digunakan, frekuensi penggunaan, ditampilkan dalam bentuk persentase

sebagai berikut:

  1. Berdasarkan Jenis Kelamin Dari 100 responden Lion Air dan Mandala Airlines yang diteliti yang dibagi menjadi 50 responden Lion Air dan 50 responden Mandala Airlines, jika ditinjau dari jenis kelamin diperoleh persentase untuk Lion Air 33 responden (66%) berjenis kelamin pria untuk, dan 17 responden (34%) berjenis kelamin wanita. Sedangkan untuk Mandala Airlines 30 responden (60%) berjenis kelamin pria untuk, dan 20 responden (20%) berjenis kelamin wanita. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden yang diteliti berjenis kelamin pria. Persentase jenis kelamin responden dapat dilihat dalam tabel 5.1 dan tabel 5.2.

Tabel 5.1 Karakteristik Responden Maskapai Lion Air berdasarkan

  Jenis Kelamin Jenis kelamin Jumlah (orang) Persentase (%) Pria

  33

  66 Wanita

  17

  34 Jumlah 50 100

  Sumber: Data primer yang diolah

  60 Tabel 5.2 Karakteristik Responden Maskapai Mandala Airlines berdasarkan Jenis Kelamin Jenis kelamin Jumlah (orang) Persentase (%) Pria

  30

  60 Wanita

  20

  40 Jumlah 50 100

  Sumber: Data primer yang diolah

  2 Berdasarkan Usia Dari 100 responden Lion Air dan Mandala Airlines yang diteliti yang dibagi menjadi 50 responden Lion Air dan 50 responden Mandala Airlines, jika ditinjau dari usia diperoleh persentase untuk Lion Air 2 responden (4%) berusia &lt; 21 tahun, 29 responden (58%) berusia 21 - 29 tahun, 12 responden (24%) berusia 30 - 38 tahun, 4 responden (8%) berusia 39 - 47 tahun, serta 3 responden (6%) berusia &gt; 47 tahun. Sedangkan untuk Mandala Airlines 1 responden (2%) berusia &lt; 21 tahun, 31 responden (62%) berusia 21 - 29 tahun, 3 responden (6%) berusia 30 - 38 tahun, 5 responden (10%) berusia 39 - 47 tahun, serta 10 responden (20%) berusia &gt; 47 tahun. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden yang diteliti berusia 21 - 29 tahun. Persentase usia responden dapat dilihat dalam tabel 5.3 dan tabel 5.4.

  61 Tabel 5.3 Karakteristik Responden Maskapai Lion Air berdasarkan Usia Usia Jumlah (orang) Persentase (%) &lt; 21 tahun

  2

  4 21 - 29 tahun

  29

  58 30 – 38 tahun

  12

  24 39 – 47 tahun

  4

  8 &gt; 47 tahun

  3

  6 Jumlah 50 100

  Sumber: Data primer yang diolah

Tabel 5.4 Karakteristik Responden Maskapai Mandala Airlines

  berdasarkan Usia Usia Jumlah (orang) Persentase (%) &lt; 21 tahun

  1

  2 21 - 29 tahun

  31

  62 30 – 38 tahun

  3

  6 39 – 47 tahun

  5

  10 &gt; 47 tahun

  10

  20 Jumlah 50 100 Sumber: Data primer yang diolah

  3 Berdasarkan Pekerjaan Dari 100 responden Lion Air dan Mandala Airlines yang diteliti yang dibagi menjadi 50 responden Lion Air dan 50 responden Mandala Airlines, jika ditinjau dari profesi diperoleh persentase untuk Lion Air: 15 responden (30%) pelajar, 4 responden (8%) berstatus pengusaha, 5 responden (10%) berstatus pegawai negeri, 19 responden (38%) berstatus pegawai swasta, serta 7 responden (14%) berstatus pegawai negri. Sedangkan untuk Mandala Airlines 19 responden

  62 (38%) pelajar, 2 responden (4%) berstatus pengusaha, 8 responden (16%) berstatus pegawai negeri, 10 responden (20%) berstatus pegawai swasta, serta 11 responden (22%) berstatus lain-lain. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pekerjaan responden yang diteliti berstatus pelajar. Persentase pekerjaan responden dapat dilihat dalam tabel 5.5 dan tabel 5.6.

Tabel 5.5 Karakteristik Responden Maskapai Lion Air berdasarkan

  Pekerjaan Pekerjaan Jumlah (orang) Persentase (%) Pelajar

  15

  30 Pengusaha

  4

  8 Pegawai Negeri

  5

  10 Pegawai Swasta

  19

  38 Lain-lain

  7

  14 Jumlah 50 100

  Sumber: Data primer yang diolah

Tabel 5.6 Karakteristik Responden Maskapai Mandala Airlines

  berdasarkan Pekerjaan Pekerjaan Jumlah (orang) Persentase (%) Pelajar

  19

  38 Pengusaha

  2

  4 Pegawai Negeri

  8

  16 Pegawai Swasta

  10

  20 Lain-lain

  11

  22 Jumlah 50 100

  Sumber: Data primer yang diolah

  4. Berdasarkan Pengeluaran Rata-rata per Bulan Dari 100 responden Lion Air dan Mandala Airlines yang diteliti yang dibagi menjadi 50 responden Lion Air dan 50 responden

  63 Mandala Airlines, jika ditinjau dari pengeluaran rata-rata per bulan

diperoleh persentase untuk Lion Air : 5 responden (10%) mempunyai

pengeluaran rata-rata perbulan &lt; Rp. 1.000.000,00; 13 responden

(26%) mempunyai pengeluaran rata-rata perbulan Rp. 1.000.000,00 -

Rp. 1.499.000,00; 11 responden (22%) mempunyai pengeluaran rata-

rata perbulan Rp. 1.500.000,00 - Rp. 1.999.000,00; 7 responden (14%)

mempunyai pengeluaran rata-rata perbulan Rp. 2.000.000,00 - Rp.

2.499.000,00; serta 14 responden (28%) mempunyai pengeluaran rata-

rata perbulan &gt; Rp. 2.499.000,00. Sedangkan untuk Mandala Airlines

5 responden (10%) mempunyai pengeluaran rata-rata perbulan &lt; Rp.

1.000.000,00; 11 responden (22%) mempunyai pengeluaran rata-rata

perbulan Rp. 1.000.000,00 - Rp. 1.499.000,00; 10 responden (20%)

mempunyai pengeluaran rata-rata perbulan Rp. 1.500.000,00 - Rp.

1.999.000,00; 6 responden (12%) mempunyai pengeluaran rata-rata

perbulan Rp. 2.000.000,00 - Rp. 2.499.000,00; serta 18 responden

(36%) mempunyai pengeluaran rata-rata perbulan &gt; Rp. 2.499.000,00.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden

yang diteliti mempunyai pengeluaran rata-rata perbulan &gt; Rp.

  

2.499.000,00. Persentase pengeluaran rata-rata per bulan responden

dapat dilihat dalam tabel 5.7 dan tabel 5.8.

  64 Tabel 5.7 Karakteristik Responden Maskapai Lion Air berdasarkan Pengeluaran Rata-Rata Per Bulan

Pengeluaran (Rp) Jumlah (orang) Persentase (%)

&lt; 1.000.000

  1.500.000-1.999.000 2.000.000-2.499.000 &gt;2.499.000

  Sumber: Data primer yang diolah

  36 Jumlah 50 100

  12

  20

  22

  10

  18

  6

  10

  11

  5

  berdasarkan Pengeluaran Rata-Rata Per Bulan

Pengeluaran (Rp) Jumlah (orang) Persentase (%)

&lt; 1.000.000 1.000.000-1.499.000

  1.000.000-1.499.000 1.500.000-1.999.000 2.000.000-2.499.000 &gt;2.499.000

Tabel 5.8 Karakteristik Responden Maskapai Mandala Airlines

  Sumber: Data primer yang diolah

  28 Jumlah 50 100

  14

  22

  26

  10

  14

  7

  11

  13

  5

  5. Berdasarkan Frekuensi Penggunaan Dari 100 responden Lion Air dan Mandala Airlines yang diteliti yang dibagi menjadi 50 responden Lion Air dan 50 responden Mandala Airlines, jika ditinjau dari frekuensi menggunakan jasa maskapai ini diperoleh persentase untuk Lion Air 7 responden (14%) 1 kali, 15 responden (30%) 2 kali, 12 responden (24%) 3 kali, 3 responden (6%) 4 kali, serta 13 responden (26%) &gt; 4 kali. Sedangkan untuk Mandala Airlines 7 responden (14%) 1 kali, 14 responden (28%) 2 kali, 11 responden (22%) 3 kali, 6 responden (12%) 4 kali,

  65

serta 12 responden (24%) &gt; 4 kali. Dengan demikian dapat

disimpulkan bahwa sebagian besar responden yang diteliti

menggunakan sebanyak 2 kali. Persentase frekuensi banyaknya

responden yang menggunakan maskapai dapat dilihat dalam tabel 5.9

dan tabel 5.10.

Tabel 5.10 Karakteristik Responden Maskapai Mandala Airlines

  24 Jumlah 50 100

  12

  22

  28

  14

  

12

  

6

  

11

  

14

  

7

  &gt; 4 kali

  1 kali 2 kali 3 kali 4 kali

  berdasarkan Frekuensi Penggunaan Frekuensi menggunakan Jumlah (orang) Persentase (%)

  Sumber: Data primer yang diolah

Tabel 5.9 Karakteristik Responden Maskapai Lion Air berdasarkan

  26 Jumlah 50 100

  6

  24

  30

  14

  

13

  

3

  

12

  

15

  

7

  &gt; 4 kali

  1 kali 2 kali 3 kali 4 kali

  Frekuensi Penggunaan Frekuensi menggunakan Jumlah (orang) Persentase (%)

  Sumber: Data primer yang diolah

  66 B.

   Analisis Validitas dan Reliabilitas

  1. Analisis Validitas Dari hasil uji validitas terhadap item-item pernyataan dengan sampel sebanyak 100 dan taraf signifikansi 5% dengan menggunakan SPSS 12, menunjukkan semua item pernyataan mengenai indikator dari LCC dinyatakan valid atau sahih, hal ini dapat dillihat dari beberapa tabel di bawah.

  a. Variabel LCC Layanan Berikut ini tabel analisis uji validitas untuk layanan, sebagai berikut:

Tabel 5.11 Uji Validitas LCC Layanan Lion Air

  No. Item Nilai r hitung Nilai r tabel Keterangan 1 0,.116 0.279 Tidak valid 2 0,642 0.279 Valid/Sahih 3 0,688 0.279 Valid/Sahih 4 0,797 0.279 Valid/Sahih 5 0,732 0.279 Valid/Sahih

  Sumber: Data primer yang diolah

  Berdasarkan tabel 5.11 bisa dilihat bahwa dari lima butir pernyataan yang digunakan untuk mencari data mengenai variabel LCC layanan ada empat pernyataan yang memilliki nilai Nilai r hitung lebih besar dari Nilai r tabel

(r

hitung &gt; r tabel ). Maka dapat disimpulkan bahwa empat butir pernyataan untuk LCC layanan dinyatakan valid/sahih.

  67 Tabel 5.12 Uji Validitas LCC Layanan Mandala Airlines No. Item Nilai r hitung Nilai r tabel Keterangan

  1 0.253 0.279 Tidak valid 2 0.607 0.279 Valid/Sahih 3 0.478 0.279 Valid/Sahih 4 0.838 0.279 Valid/Sahih 5 0.764 0.279 Valid/Sahih

  Sumber: Data primer yang diolah

  Berdasarkan tabel 5.12 bisa dilihat bahwa dari lima butir pernyataan yang digunakan untuk mencari data mengenai variabel LCC layanan memilliki nilai Nilai r hitung lebih besar dari Nilai r tabel (r hitung &gt; r tabel ). Maka dapat disimpulkan bahwa semua butir pernyataan untuk LCC layanan dinyatakan valid/sahih.

  b. Variabel LCC fasilitas

Berikut ini tabel analisis uji validitas untuk fasilitas, sebagai berikut:

Tabel 5.13 Uji Validitas LCC fasilitas Lion Air

  No. Item Nilai r hitung Nilai r tabel Keterangan 1 0.762 0.279 Valid/Sahih 2 0.785 0.279 Valid/Sahih 3 0.587 0.279 Valid/Sahih 4 0.717 0.279 Valid/Sahih 5 0.599 0.279 Valid/Sahih

  Sumber: Data primer yang diolah

  Berdasarkan tabel 5.13 bisa dilihat bahwa dari semua butir pernyataan yang digunakan untuk mencari data mengenai LCC fasilitas memilliki nilai Nilai r hitung lebih besar dari Nilai r tabel

  68 (r hitung &gt; r tabel ). Maka dapat disimpulkan bahwa semua butir pernyataan untuk LCC fasilitas dinyatakan valid/sahih.

Tabel 5.14 Uji Validitas LCC fasilitas Mandala Airlines

  No. Item Nilai r hitung Nilai r tabel Keterangan 1 0.718 0.279 Valid/Sahih 2 0.777 0.279 Valid/Sahih 3 0.796 0.279 Valid/Sahih 4 0.743 0.279 Valid/Sahih 5 0.581 0.279 Valid/Sahih

  Sumber: Data primer yang diolah

  Berdasarkan tabel 5.14 bisa dilihat bahwa dari semua butir pernyataan yang digunakan untuk mencari data mengenai LCC fasilitas memilliki nilai Nilai r hitung lebih besar dari Nilai r tabel (r hitung &gt; r tabel ). Maka dapat disimpulkan bahwa semua butir pernyataan untuk LCC fasilitas dinyatakan valid/sahih.

  c. Variabel LCC harga Berikut ini tabel analisis uji validitas untuk LCC harga, sebagai berikut:

Tabel 5.15 Uji Validitas LCC harga Lion Air

  No. Item Nilai r hitung Nilai r tabel Keterangan 1 0.728 0.279 Valid/Sahih 2 0.732 0.279 Valid/Sahih 3 0.670 0.279 Valid/Sahih 4 0.599 0.279 Valid/Sahih 5 0.779 0.279 Valid/Sahih 6 0.754 0.279 Valid/Sahih

  Sumber: Data primer yang diolah

  69 Berdasarkan tabel 5.15 bisa dilihat bahwa dari semua butir pernyataan yang digunakan untuk mencari data mengenai LCC harga memilliki nilai Nilai r lebih besar dari Nilai r (r &gt; r ). hitung tabel hitung tabel Maka dapat disimpulkan bahwa semua butir pernyataan untuk LCC harga dinyatakan valid/sahih.

Tabel 5.16 Uji Validitas LCC harga Mandala Airlines

  No. Item Nilai r Keterangan hitung tabel Nilai r 1 0.573 0.279 Valid/Sahih 2 0.668 0.279 Valid/Sahih 3 0.611 0.279 Valid/Sahih 4 0.690 0.279 Valid/Sahih 5 0.649 0.279 Valid/Sahih 6 0.667 0.279 Valid/Sahih

  Sumber: Data primer yang diolah

  Berdasarkan tabel 5.16 bisa dilihat bahwa dari semua butir pernyataan yang digunakan untuk mencari data mengenai LCC harga memilliki nilai Nilai r lebih besar dari Nilai r (r &gt; r ). hitung hitung tabel tabel Maka dapat disimpulkan bahwa semua butir pernyataan untuk LCC harga dinyatakan valid/sahih.

C. Analisis Varian Dua Jalan Friedman

  Berdasarkan data yang didapat dari responden mengenai image maskapai yang menggunakan konsep LCC peneliti menerapkan 16 pernyataan yang sudah diuji kevalidan datanya. Di mana hasil dari 16 pernyataan mengenai image maskapai yang menggunakan konsep LCC (low cost carriers ) :

  70

1. Maskapai Lion Air

  No. Layanan Faslitas Harga Skor Ranking Skor Ranking Skor Ranking

  3

  1

  20

  16

  3

  29

  15 21 1,5 21 1,5

  2

  17

  1

  15

  18

  2

  14

  3

  23

  13 18 1,5 18 1,5

  3

  24

  1

  18

  2

  20

  12

  22

  25

  26

  27

  1

  24

  20 25 2,5 25 2,5

  3

  19

  2

  18

  1

  17

  19

  3

  2

  3

  25

  1

  21

  18

  2

  19

  1

  18

  3

  20

  17

  3

  11 20 1,5 20 1,5

  1

  3

  5 19 2,5

  3

  24

  1

  18

  2

  20

  4

  3

  24

  3 22 1,5 22 1,5

  23

  1 19 2,5

  2

  19

  1

  17

  2

  2

  19

  1

  15

  3

  20

  15

  6

Tabel 5.19 Image low cost carriers maskapai Lion Air

  1

  21

  10

  2,5

  21

  1

  19

  2,5

  21

  9

  3

  19

  15

  18

  2

  17

  8

  3

  30

  7 25 1,5 25 1,5

  2

  22

  3

  24

  1

  1 22 2,5 22 2,5

  71

  24

  3

  36

  22

  2

  21

  1

  3

  1

  37

  19

  2

  18

  1

  20

  28

  19

  38

  19

  2

  15

  1

  29

  3

  34

  2

  2

  18

  1

  22

  3

  35

  22

  3

  13

  33

  1

  22

  3

  42

  20

  3

  18

  19

  20

  2

  43 20 2,5

  19

  1 20 2,5

  44 24 2,5

  20

  1

  2

  1

  3 18 1,5 18 1,5

  18

  2

  25

  3

  39

  22

  40

  21

  19

  2

  15

  1

  25

  3

  41

  16

  3

  21

  2

  1

  25 19 1,5 19 1,5

  23

  3

  26

  20

  18

  24 21 2,5 21 2,5

  1

  22

  3

  27

  20

  1

  18

  3

  2

  22

  17

  1

  20

  2

  24

  3

  21

  27

  2

  18

  1

  22

  3

  23 24 1,5 24 1,5

  24

  25

  23

  2

  19

  2

  31

  22

  3

  21

  16

  18

  1

  32

  19

  1

  20

  2

  1

  3

  3

  1

  28

  19

  2

  25

  3

  17

  29

  20

  21

  2

  18

  1

  22

  3

  30

  1 24 2,5

  72

  45

  18

  1

  19

  2

  23

  3

  26

  46 24 1,5 24 1,5

  3

  47

  24

  2

  21

  1

  30

  3

  30

  3

  48 21 1,5 21 1,5

  24

  3 22 1,5

  49 22 1,5

  50

  20

  2

  18

  1

  23

  3 Total 1009 64 986 53 1144 115 Sumber: Data primer yang diolah Dari tabel 5.19 di atas, memaparkan pernyataan 50 responden

Lion Air yang menyatakan penilaian mereka terhadap maskapai Lion

  

Air yang menggunakan konsep low cost carriers. Pada total skor

layanan, fasilitas, harga maskapai Lion Air, total skor harga

merupakan skor tertinggi, kemudian skor total layanan di urutan

kedua tertinggi dan skor total fasilitas di urutan ketiga. Pada total

ranking layanan, fasilitas, harga maskapai Lion Air, total ranking

harga merupakan skor tertinggi, kemudian total ranking layanan di

urutan kedua tertinggi dan total ranking fasilitas di urutan ketiga.

Untuk keperluan analisis, maka skor seluruh layanan, fasilitas dan

harga diolah dengan menggunakan analisis varian dua jalan friedman

seperti di bawah ini.

  73 Tabel 5.20 Image low cost carriers a Test Statistics

  N

  50 Chi-Square 34.429 df

2 Asymp. Sig. .000 a.

  Friedman Test Berdasarkan tabel 5.20 bisa dilihat bahwa nilai P-value =

0.000 lebih kecil dari tabel = 0.05 (P–value &lt; a ), dengan kesalahan a

  

0.05 maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti terdapat

perbedaan pengaruh image low cost carriers terhadap minat beli

ulang. Ini berarti layanan, fasilitas, dan harga memiliki pengaruh yang

berbeda terhadap minat beli ulang.

  Untuk dapat mengetahui faktor mana saja yang memiliki

pengaruh yang sama dan berbeda, perlu dilakukan uji lanjut atau

pembanding berganda. Peneliti menggunakan taraf signifikansi 0.05,

maka nilai z = 1.645.

  

Total rank layanan Total rank fasilitas = 64 53 =11

Total rank harga Total rank layanan = 115 64 =51

Total rank harga Total rank fasilitas = 115 53 =62

  74

  6

  

1

  3

  3

  50 645 ,

  1 D = 1,645 100 = 16, 45 Berdasarkan analisis di atas, selisih nilai total rank pengaruh harga dengan total rank pengaruh layanan sebesar 51 dan selisih nilai total rank pengaruh harga dengan total rank pengaruh fasilitas sebesar 62 lebih besar dari 16,45. Ini berarti pengaruh harga berbeda dengan pengaruh layanan maupun pengaruh fasilitas terhadap minat beli ulang. Sedangkan pengaruh layanan dengan pengaruh fasilitas tidak berbeda nyata terhadap minat beli ulang.

2. Maskapai Mandala Airlines

  No. Layanan Faslitas Harga Skor Ranking Skor Ranking Skor Ranking

  1

  20

  1

  22

  2

  6

  19

  2

  18

  24

  24

  3

  7

  23

  3

  19

  1

  21

  2

  3

  5

  1

  3

  19

  1

  25

  3

  23

  2

  2

  23

  20

  3

  1

  21

  2

  3 21 1,5 21 1,5

  22

Tabel 5.21 Image low cost carriers maskapai Mandala

  4 17 1,5 17 1,5

  20

  3

  75

  22 24 1,5 24 1,5

  3 22 1,5

  24

  24 22 1,5

  3

  30

  1

  21

  2

  24

  23

  3

  26

  3

  21

  23

  2

  19

  1

  18

  21

  1 24 2,5

  20

  20 24 2,5

  1 20 2,5

  19

  19 20 2,5

  2

  25

  2

  1

  22

  23

  31 22 1,5 22 1,5

  3

  27

  30 20 1,5 20 1,5

  3

  26

  2

  25

  1

  21

  29

  1

  28 24 2,5 24 2,5

  20

  3

  23

  1

  18

  2

  20

  27

  1 23 2,5

  20

  26 23 2,5

  3

  30

  1

  19

  18

  8

  1

  13

  3

  20

  1

  18

  2

  19

  12

  3

  22

  2

  19

  18

  1

  11

  1

  24

  10 25 2,5 25 2,5

  3

  28

  9 25 1,5 25 1,5

  2

  17

  1

  15

  3

  22

  21

  22

  3

  2

  21

  18

  3

  29

  1

  22

  2

  25

  17

  3

  30

  1

  23

  25

  2

  16

  1 21 2,5

  18

  15 21 2,5

  3

  26

  1

  21

  2

  25

  14

  3

  23

  3

  76

  22

  1

  22

  46

  1

  15

  3

  21

  2

  18

  45

  3

  27

  2

  1

  2

  20

  44

  3

  25

  2

  24

  1

  19

  43

  2

  20

  1

  18

  23

  24

  22

  49

  3 Total 1072 62 1039 62 1175 115

  23

  1

  18

  2

  22

  50

  1

  22

  3

  24

  2

  23

  3

  3

  25

  2

  23

  1

  21

  48

  3

  26

  2

  23

  1

  20

  47

  3

  42

  32

  23

  36

  3

  21

  1

  16

  2

  17

  35

  3

  25

  2

  24

  1

  34

  2

  3

  27

  2

  20

  1

  19

  33

  1

  15

  3

  18

  2

  17

  23

  20

  3

  1

  22

  1

  19

  2

  20

  41

  1 24 2,5

  20

  40 24 2,5

  3

  23

  2

  19

  18

  1

  39

  3

  26

  38 24 1,5 24 1,5

  3

  30

  1

  21

  2

  24

  37

  3

  24

  Sumber: Data primer yang diolah

  77 Dari tabel 5.21 memaparkan pernyataan 50 responden

Mandala Airlines yang menyatakan penilaian mereka terhadap

maskapai Mandala Airlines yang menggunakan konsep low cost

carriers. Pada total skor layanan, fasilitas, harga maskapai Mandala

Airlines, total skor harga merupakan skor tertinggi, kemudian skor

total layanan di urutan kedua tertinggi dan skor total fasilitas di urutan

ketiga. Pada total ranking layanan, fasilitas, harga maskapai Mandala

Airlines, total ranking harga merupakan skor tertinggi, kemudian total

ranking layanan dan fasilitas diurutan kedua tertinggi karena

keduanya memiliki nilai yang sama.

Tabel 5.22 Image low cost carriers

  a Test Statistics N

  50 Chi-Square 29.395 df

2 Asymp. Sig.

  .000 a. Friedman Test

  Berdasarkan tabel 5.22 bisa dilihat bahwa nilai P-value =

0.000 lebih kecil dari tabel = 0.05 (P–value &lt; a ), dengan kesalahan a

0.05 maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti terdapat

perbedaan pengaruh image low cost carriers terhadap minat beli

ulang. Ini berarti layanan, fasilitas, dan harga memiliki pengaruh yang

berbeda terhadap minat beli ulang.

  78 Untuk dapat mengetahui faktor mana saja yang memiliki

pengaruh yang sama dan berbeda, perlu dilakukan uji lanjut atau

pembanding berganda. Peneliti menggunakan taraf signifikansi 0.05,

maka nilai z = 1.645.

  

Total rank layanan Total rank fasilitas = 62 62 =0

Total rank harga Total rank layanan = 115 62 =53

Total rank harga Total rank fasilitas = 115 62 =53

  50

  3

  3

  1 D 1 , 645

  6 = 1,645 100 = 16, 45 Berdasarkan analisis di atas, selisih nilai total rank pengaruh

harga dengan total rank pengaruh layanan sebesar 53 dan selisih nilai

total rank pengaruh harga dengan total rank pengaruh fasilitas sebesar

53 lebih besar dari 16,45. Ini berarti pengaruh harga berbeda dengan

pengaruh layanan maupun pengaruh fasilitas terhadap minat beli

ulang. Sedangkan pengaruh layanan dengan pengaruh fasilitas tidak

berbeda nyata terhadap minat beli ulang.

BAB VI KESIMPULAN, SARAN DAN KETERBATASAN A. Kesimpulan Berdasarkan analisis dan pembahasan hasil analisis data penelitian

  tentang perbedaan pengaruh image low cost carriers terhadap minat beli ulang pada Maskapai Lion Air dan Mandala Airlines dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Berdasarkan tabel 5.20 bisa dilihat bahwa nilai P-value = 0.000 lebih kecil dari tabel = 0.05 (P–value = a ), dengan kesalahan a 0.05 maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti pada maskapai Lion Air terdapat perbedaan pengaruh image low cost carriers terhadap minat beli ulang.. Ini berarti layanan, fasilitas, dan harga memiliki pengaruh yang berbeda terhadap minat beli ulang. Berdasarkan hasil uji lanjut atau pembanding berganda, selisih nilai total rank pengaruh harga dengan total rank pengaruh layanan sebesar 51 dan selisih nilai total rank pengaruh harga dengan total rank pengaruh fasilitas sebesar 62 lebih besar dari 19,60. Ini berarti pengaruh harga berbeda dengan pengaruh layanan maupun pengaruh fasilitas terhadap minat beli ulang. Sedangkan pengaruh layanan dengan pengaruh fasilitas tidak berbeda nyata terhadap minat beli ulang.

  

79

  80

  2. Berdasarkan tabel 5.22 bisa dilihat bahwa nilai P-value = 0.000 lebih kecil dari tabel = 0.05 (P–value = a ), dengan kesalahan a 0.05 maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti pada maskapai Mandala Airlines terdapat perbedaan pengaruh image low cost carriers terhadap minat beli ulang. Ini berarti layanan, fasilitas, dan harga memiliki pengaruh yang berbeda terhadap minat beli ulang. Berdasarkan hasil uji lanjut atau pembanding berganda, selisih nilai total rank pengaruh harga dengan total rank pengaruh layanan sebesar 53 dan selisih nilai total rank pengaruh harga dengan total rank pengaruh fasilitas sebesar 53 lebih besar dari 19,60. Ini berarti pengaruh harga berbeda dengan pengaruh layanan maupun pengaruh fasilitas terhadap minat beli ulang. Sedangkan pengaruh layanan dengan pengaruh fasilitas tidak berbeda nyata terhadap minat beli ulang.

B. Saran

  Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan di atas, ada beberapa saran yang dapat dikemukakan penulis bagi pihak pemasar atau bagi pihak lain yang terkait dengan pemasaran produk dan juga bagi peneliti selanjutnya. Saran tersebut antara lain sebagai berikut :

1. Bagi perusahaan

  a. Lion Air Maskapai Lion Air harus mampu meningkatkan kualitas pelayanan serta fasilitas. Berdasarkan data yang diperoleh,

  81 pada pernyataan layanan mengenai adanya konfirmasi yang jelas dari pihak maskapai misalnya: keterlambatan penerbangan memiliki skor paling rendah di antara pernyataan mengenai layanan lainnya. Ini berarti tanggapan responden kurang setuju dengan pernyataan tersebut, maka peneliti menyarankan agar Maskapai Lion Air sebaiknya memberikan konfirmasi yang jelas mengenai keterlambatan penerbangan atau masalah lainnya. Pada pernyataan fasilitas mengenai tersedianya fasilitas hiburan seperti: musik, majalah, koran memiliki skor paling rendah di antara pernyataan mengenai fasilitas lainnya. Ini berarti tanggapan responden kurang setuju dengan pernyataan tersebut, maka peneliti menyarankan agar Maskapai Lion Air sebaiknya minimal memberikan salah satu fasilitas hiburan seperti majalah, koran atau musik.

  b. Mandala Airlines Maskapai Mandala Airlines harus mampu meningkatkan kualitas pelayanan serta fasilitas. Berdasarkan data yang diperoleh, pada pernyataaan layanan mengenai setiap petugas maskapai melayani dan menanggapi keluhan penumpang dengan baik memiliki skor paling rendah di antara pernyataan layanan lainnya. Ini berarti tanggapan responden kurang setuju dengan pernyataan tersebut, maka peneliti menyarankan agar para petugas Maskapai Mandala Airlines dapat melayani dan

  82 menaggapi keluhan penumpang dengan baik. Pada pernyataan fasilitas mengenai tersedianya fasilitas hiburan seperti: musik, majalah, Koran memiliki skor paling rendah di antara pernyataan mengenai fasilitas lainnya. Ini berarti tanggapan responden kurang setuju dengan pernyataan tersebut, maka peneliti menyarankan agar Maskapai Mandala Airlines sebaiknya memberikan salah satu fasilitas hiburan seperti majalah, koran atau musik.

  2. Bagi peneliti selanjutnya Pada penelitian ini diketahui bahwa pada maskapai Lion Air dan Mandala Airlines faktor image low cost carriers yaitu layanan, fasilitas dan harga memiliki pengaruh yang berbeda terhadap minat beli ulang.

  Hasil penilitian ini diharapkan dapat dikembangkan lagi oleh penelitian selanjutnya agar dapat menemukan hal-hal baru yang bermanfaat bagi banyak pihak.

C. Keterbatasan

  Dalam melaksanakan penelitian ini, penulis menyadari dan merasakan bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak menemukan hambatan serta kekurangn dan kelemahannya. Hal ini disebabkan karena beberapa factor, yaitu:

  83

  1. Faktor internal

Keterbatasan peneliti dalam hal kemampuan dan pengalaman, karena

peneliti masih dalam taraf belajar dan baru pertama kali melakukan

penelitian, sehingga peneliti tidak dapat mengungkapkan semua fakta

dalam penelitian dengan tepat. Dengan demikian, kesimpulan yang

diambil hanya berlaku terbatas pada perolehan data. Selain itu peneliti

juga menyadari keterbatan akan waktu serta biaya dalam melakukan

penelitian.

  2. Faktor eksternal

Keterbatasan kemampuan responden untuk membagi waktu dalam

mengisi atau memahami maksud pernyataan serta kejujuran untuk

menjawab kuesioner yang diberikan peneliti. Oleh karena itu

kemungkinan kesalahan jawaban bias saja terjadi, sehingga analisis

yang dihasilkan kurang akurat

DAFTAR PUSTAKA

  

Adipura, Panji Hendarso, dan Adriza. 2004. Metodologi Penelitian Bidang Sosial dan

Bisnis.

  Yayasan Gayatri: Denpasar.

A. Robert. 2007. Full Service dan Low Cost Carrier. Jurnal Perkotaan: Jakarta.

  

Ardi. 2006. . Diakses

tanggal 22 Agustus 2009.

Boyd, Walker, and Larreche. 2000. Manajemen Pemasaran, Edisi kedua Jilid

pertama . Erlangga: Jakarta.

  

Candra, Yulia. 2005. Pengaruh Pengguna Slogan Pada Iklan Terhadap Minat Beli

Ulang Konsumen.

  FE USD: Yogyakarta.

  Optimalisasi Penentuan Keputusan Tiketing Online Bagi Farah, Tirta dan Wayan.2007. Konsumen. . Diakses tanggal 25 November 2009.

  

Hermawan, Ignasius. 2003. Pengaruh Iklan Merek Sepeda Motor Honda Terhadap

Minat Beli Ulang.

  FE USD: Yogyakarta.

Hasan, M.Iqbal. 2002. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya.

  Erlangga: Jakarta.

Hotlan, Sihaan. 2008. Costumer Realitionship Management (CRM) sebagai Sarana

  Meraih Image Positif untuk Perpustakaan. Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol.4,No. 17324/17187. Diakses tanggal 9 November 2009.

  

Kanya, Christine. 2006 . Analisis Harapan Dan Persepsi Penumpang Terhadap Kualitas

Makanan Yang Disediakan Oleh Maskapai Penerbangan Domestik Di Indonesia.

  . Diakses tanggal 9 November 2009.

  

Kotler, Philip. 2003. Manajemen Pemasaran, Edisi Kesebelas Jilid Pertama. PT.

  Indeks: Jakarta.

Kotler, Philip. 2005. Manajemen Pemasaran, Edisi Kesebelas Jilid Kedua. PT.

  Indeks: Jakarta.

Kotler, Philip. 2006. Manajemen Pemasaran Analisis Perencanaan, implementasi

dan pengendalian, Edisi Keenam Jilid Pertama . Erlangga: Jakarta.

  

Kotler, Philip dan Amstrong. 2002. Prinsip-Prinsip Pemasaran, Edisi Kedelapan

Jilid Kedua . Erlangga: Jakarta.

  

Kotler, Philip dan Amstrong. 2003. Dasar-Dasar Pemasaran, Edisi Sembilan Jilid

Pertama . PT. Indeks: Jakarta.

  

Kotler, Philip dan Amstrong. 2008. Prinsip-Prinsip Pemasaran, Edisi Keduabelas

Jilid Pertama . Erlangga: Jakarta.

  

Kurniawan, Deny. 2007. Friedman Test. http;/ineddeni.wordpress.com. Diakses

tanggal 5 April 2010.

Malhotra, N. K. (2005). Riset Pemasaran: Pendekatan Terapan. Edisi Keempat.

  Penerbit Indeks: Jakarta.

Rangkuti, Freddy. 1999. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. PT.

  Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Sorbi. 2002. Fenomena Low Cost Carrier. . Diakses

tanggal 14 Oktober 2009.

  Sugiyono. 2009. Statistik Untuk Penelitian. Alfabeta: Bandung. Sunarto. 2004. Manajemen Pemasaran. AMUS: Yogyakarta.

Suswidatiningsih, Lusia. 2003. Analisis Hubungan Kepuasan Terhadap Pelayanan.

  FE USD: Yogyakarta. Spillane, James. 2006. Managing Quality Customer Service. USD: Yogyakarta. Tjiptono, Fandy. 2005. Prinsip-Prinsip Pemasaran. Bayu Media: Malang.

Yosanthi, Ignasia. 2005. Pengaruh Produk Aktual Terhadap Citra Perusahaan. FE

USD: Yogyakarta.

  

Yudantoro, Rudi. 2003. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan

Konsumen Terhadap Jasa Wartel

  . FE USD: Yogyakarta Yun, Zhao. 2007. Low

  Cost Carrier, Budjed Airline atau Cheap Airline. Diakses tanggal 10 November 2009.

  

Ishak, Asmai. 2005. Pentingnya Kepuasan Konsumen dan Implementasi Strategi

Pemasarannya

  . Diakses tanggal 25 November 2009.

  . .

http://mandala-melawai.blogspot.com/2009/02/sejarah-mandala-airlines.html.

. .

  LAMPIRAN

  1

  LAMPIRAN

  2

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh kualitas pelayanan terhadap minat beli ulang Studi kasus pada Legend Coffee Yogyakarta.
0
6
111
Pengaruh efek country of origin dan brand image pada minat beli ulang konsumen produk handphone samsung, apple, dan advan.
0
1
2
Perbedaan dampak gambar peringatan bahaya merokok pada kemasan rokok terhadap minat beli ulang rokok.
2
13
118
Pengaruh store atmosphere terhadap minat beli ulang : studi kasus pada konsumen Mirota Batik.
5
14
178
Pengaruh Brand Image terhadap minat beli ulang Oriflame
0
5
102
Pengaruh kualitas pelayanan terhadap minat beli ulang
0
10
109
Pengaruh store atmosphere terhadap minat beli ulang studi kasus pada konsumen Mirota Batik
0
5
176
Pengaruh SPG terhadap minat beli
0
0
24
Pengaruh store atmosphere, lokasi dan brand image terhadap minat beli konsumen pada toko royal surf Pangkalpinang - Repository Universitas Bangka Belitung
1
6
21
Analisis pengaruh kekuatan persuasi iklan terhadap minat beli ulang konsumen pada telepon seluler [handphone] merek Nokia : studi kasus pada Desa Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta - USD Repository
0
1
118
Pengaruh attractiveness, trustworthiness, expertise dan power model iklan terhadap niat beli ulang konsumen - USD Repository
0
0
125
Analisis pengaruh kemasan terhadap minat beli konsumen : studi kasus pada kemasan mie instan merk Indomie terhadap mahasiswa Universitas Sanata Dharma - USD Repository
0
0
139
Pengaruh daya tarik iklan sabun mandi Lifebuoy terhadap minat beli ulang konsumen : studi kasus pada mahasiswwa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta - USD Repository
0
0
121
Perbedaan pengaruh representasi matematis dan representasi verbal teks fisika terhadap pemahaman - USD Repository
0
0
62
Pengaruh kualitas produk dan penayangan Moto-GP (sponsorship event) terhadap minat beli sepeda motor merek Yamaha - USD Repository
0
0
101
Show more