Uji aktivitas antibakteri fraksi air ekstrak etanol jamur portabella (agaricus brunnescens peck) terhadap bakteri staphylococcus aureus atcc 25923 dan escherichia coli atcc 38218 - USD Repository

Gratis

0
0
129
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI FRAKSI AIR EKSTRAK ETANOL JAMUR PORTABELLA (Agaricus brunnescens Peck) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus ATCC 25923 DAN Escherichia coli ATCC 38218 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm) Program Studi Farmasi Oleh : Maria Ajeng Listyorini NIM : 108114095 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI FRAKSI AIR EKSTRAK ETANOL JAMUR PORTABELLA (Agaricus brunnescens Peck) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus ATCC 25923 DAN Escherichia coli ATCC 38218 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm) Program Studi Farmasi Oleh : Maria Ajeng Listyorini NIM : 108114095 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Persetujuan Pembimbing UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI FRAKSI AIR EKSTRAK ETANOL JAMUR PORTABELLA (Agaricus brunnescens Peck) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus ATCC 25923 DAN Escherichia coli ATCC 38218 Skripsi yang diajukan oleh : Maria Ajeng Listyorini NIM : 108114095 telah disetujui oleh Pembimbing Utama Tanggal ……………….. (Yohanes Dwiatmaka, M.Si) ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pengesahan Skripsi Berjudul UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI FRAKSI AIR EKSTRAK ETANOL JAMUR PORTABELLA (Agaricus brunnescens Peck) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus ATCC 25923 DAN Escherichia coli ATCC 38218 Oleh : Maria Ajeng Listyorini NIM : 108114095 Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma pada tanggal : 27 Agustus 2014 Mengetahui Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Dekan (Aris Widayati, M. Si., Ph.D., Apt.) Panitia Penguji : Tanda tangan 1. Yohanes Dwiatmaka, M.Si. ................................. 2. Agustina Setiawati, M. Sc., Apt. ................................. 3. Damiana Sapta Candrasari, M. Sc. ................................. iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI “Dan kita tidak pernah diberi impian tanpa kemampuan untuk mewujudkannya” Untuk yang tercinta : Tuhan Yesus dan Bunda Maria Bapak, Ibu dan seluruh keluarga Sahabat-sahabat kesayangan Almamater Sanata Dharma I promise, I’ll do the very best I can! iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Apabila di kemudian hari ditemukan indikasi plagiarisme dalam naskah ini, maka saya bersedia menanggung segala sanksi sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. Yogyakarta, 27 Agustus 2014 Penulis Maria Ajeng Listyorini v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma : Nama : Maria Ajeng Listyorini Nomor mahasiswa : 108114095 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul : UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI FRAKSI AIR EKSTRAK ETANOL JAMUR PORTABELLA (Agaricus brunnescens Peck) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus ATCC 25923 DAN Escherichia coli ATCC 38218 beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Dengan demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal : 28 Agustus 2014 Yang menyatakan (Maria Ajeng Listyorini) vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kasih karena dengan rahmatNya yang berlimpah penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella (Agaricus brunnescens Peck) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Escherichia coli ATCC 38218”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S. Farm) di Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma. Perjuangan menyelesaikan skripsi ini tentu saja tidak lepas dari dukungan banyak pihak. Untuk itu penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1. Ibu Aris Widayati, M. Si., Ph.D., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma periode 2014-2019. 2. Bapak Ipang Djunarko, M. Sc., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma periode 2009-2014. 3. Bapak Yohanes Dwiatmaka, M. Si., selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberikan arahan, bimbingan, dan penjelasan melalui diskusidiskusi bersama penulis. 4. Ibu Agustina Setiawati, M. Sc., Apt. dan Ibu Damiana Sapta Candrasari, M. Sc., selaku dosen penguji yang telah meluangkan waktunya dan memberikan bimbingan, saran, serta arahan kepada penulis. 5. Ibu Maria Dwi Jumpowati, S. Si., yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan arahan, masukan, dan berdiskusi bersama dengan penulis. vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6. Bapak F.A. Harjono, Ibu J.A. Diah Astuti, Stefanus Bambang Widiatnolo, Nicolaus Bagus Hariaji, atas semua doa dan dukungannya. 7. Muhadela Tiara Murtiwi, teman seperjuangan di laboratorium (curhat dan cerita), teman diskusi skripsi (lunch atau dinner), dan teman mengerjakan skripsi (nongkrong di KFC) yang selalu mendukung, mengajak, mengingatkan, dan menularkan semangatnya kepada penulis untuk kembali rajin mengerjakan skripsi yang sempat tertunda karena kesibukan lain. 8. Teman-teman kesayangan : Yulia Cahyani, Ventaria Paska Pradibta, Ciptaning Hayu Susesi, atas segala waktu dan kehadirannya terutama ketika escape dari kejenuhan skripsi dan selalu mengingatkan untuk tidak terlalu lama “beristirahat” dan kembali berjuang untuk mimpi memakai toga bersama-sama. “Best thing of friendship: when shit happens, they show you how to just laugh at that shit!” 9. Pak Wagiran, Pak Mukminin, Mas Darto dan semua laboran serta karyawan di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, atas waktu dan tenaganya dalam membantu penulis selama mengerjakan skripsi. 10. Teman satu almamater Van Lith yang sama-sama berjuang di Farmasi: Cichan, Sammy, Ela, dan Didit, atas bantuan dan dukungannya dari awal masuk hingga penyelesaian skripsi ini. 11. Teman-teman seperjuangan di laboratorium Mikrobiologi dan Farmakognosi Fitokimia: Desti, Astri, Angga, Dian, Anis, Wulan, Devina, Nia, Marcel, Rosa, Vivian, Lilin, Rosi, Palma, Ita, Sandy, dan Ocha. Tanpa kalian mengerjakan skripsi akan terasa sangat membosankan. viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12. Teman-teman FST 2010 khususnya FST B: Hans, Tomas, Lia, Cindy, Eliza, Nessya, Sefi, Vivi, Kezia, Fany, dll. untuk kebersamaan yang memberikan dukungan moril bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 13. Dan semua pihak yang baik secara langsung maupun tidak telah membantu dalam penyusunan skripsi ini. Penulis menyadari masih banyak kekurangan pada penyusunan skripsi ini. Untuk itu penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan dan dengan rendah hati penulis menerima semua kritik maupun saran yang membangun. Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan pada umumnya dan bagi masyarakat pada khususnya. Tuhan memberkati. Penulis ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL................................................................................................ i PERSETUJUAN PEMBIMBING ........................................................................... ii PENGESAHAN SKRIPSI ..................................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................................ iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ..................................................................v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI................................. vi PRAKATA ............................................................................................................ vii DAFTAR ISI ............................................................................................................x DAFTAR TABEL ................................................................................................ xiv DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xvi DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xvii INTISARI............................................................................................................. xxi ABSTRACT .......................................................................................................... xxii BAB I. PENGANTAR .............................................................................................1 A. Latar Belakang .............................................................................................1 B. Rumusan Masalah ........................................................................................3 C. Keaslian Penelitian .......................................................................................3 D. Tujuan Penelitian..........................................................................................5 E. Manfaat Penelitian........................................................................................5 1. Manfaat teoritis ...................................................................................5 2. Manfaat praktis ...................................................................................5 x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA......................................................................6 A. Jamur Portabella ...........................................................................................6 1. Klasifikasi jamur portabella ..................................................................6 2. Uraian jamur portabella .........................................................................7 3. Kegunaan dan kandungan kimia jamur portabella ................................7 B. Staphylococcus aureus .................................................................................8 1. Struktur antigen ...................................................................................10 2. Enzim dan toksin .................................................................................11 3. Patogenesis, patologi, dan temuan klinis ............................................12 C. Escherichia coli ..........................................................................................14 1. Struktur antigen ...................................................................................14 2. Patogenesis dan gambaran klinis.........................................................15 D. Ekstraksi .....................................................................................................18 1. Infundasi ..............................................................................................18 2. Maserasi ..............................................................................................18 3. Perkolasi ..............................................................................................19 E. Kromatografi Lapis Tipis (KLT) ................................................................19 1. Penjerap/fase diam ..............................................................................20 2. Fase gerak pada KLT ..........................................................................20 3. Aplikasi (penotolan) sampel................................................................20 4. Pengembangan ....................................................................................21 5. Deteksi .................................................................................................21 xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI F. Metode Uji Senyawa Antibakteri ...............................................................22 1. Metode difusi.......................................................................................23 2. Metode dilusi .......................................................................................24 G. Landasan Teori ...........................................................................................25 H. Keterangan Empiris ....................................................................................27 BAB III. METODE PENELITIAN........................................................................28 A. Jenis dan Rancangan Penelitian .................................................................28 B. Variabel dan Definisi Operasional .............................................................28 1. Variabel penelitian ..............................................................................28 2. Definisi operasional.............................................................................29 C. Bahan Penelitian .........................................................................................30 D. Alat Penelitian ............................................................................................31 E. Tata Cara Penelitian ...................................................................................31 1. Pengumpulan bahan dan identifikasi jamur portabella .......................31 2. Pembuatan serbuk simplisia jamur portabella .....................................32 3. Pembuatan fraksi air ekstrak etanol jamur portabella .........................32 4. Skrining fitokimia ...............................................................................33 5. Sterilisasi peralatan dan media ............................................................36 6. Penyiapan media uji ............................................................................37 7. Uji aktivitas antibakteri fraksi air ekstrak etanol jamur portabella dengan metode difusi sumuran ............................................................37 F. Analisis Hasil .............................................................................................40 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ..............................................................41 A. Pengumpulan Bahan Jamur Portabella .......................................................41 B. Pembuatan Serbuk Jamur Portabella ..........................................................41 C. Pembuatan Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella ............................42 D. Skrining Fitokimia Jamur Portabella..........................................................45 1. Uji tabung ............................................................................................45 2. Uji kualitatif secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT) ........................50 E. Uji Potensi Antibakteri Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella Terhadap Bakteri Staphylococcus aureusATCC 25923 dan Escherichia coli ATCC 38218 .......................................................................................58 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................73 A. Kesimpulan.................................................................................................73 B. Saran ...........................................................................................................73 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................74 LAMPIRAN .........................................................................................................78 BIOGRAFI PENULIS .........................................................................................106 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel I. Pembuatan variasi konsentrasi uji 1,5%-20%...................................39 Tabel II. Pembuatan variasi konsentrasi uji 40% dan 80% .............................39 Tabel III. Rata-rata rendemen ekstrak etanol dan fraksi air ekstrak etanol jamur portabella ................................................................................45 Tabel IV. Hasil pengamatan uji tabung serbuk jamur portabella......................47 Tabel V. Nilai Rf dan warna bercak pada uji KLT dengan fase diam silika gel 60 F254 dan fase gerak etil asetat : asam formiat : asam asetat glasial : air (100:11:11:27) dan pembanding rutin (1%) untuk analisis flavonoid ..............................................................................53 Tabel VI. Nilai Rf dan warna bercak pada uji KLT dengan fase diam silika gel 60 F254 dan fase gerak toluen : etil asetat : dietilamin (70:20:10) dan pembanding sinkonin (0,1%) untuk analisis alkaloid..............................................................................................54 Tabel VII. Nilai Rf dan warna bercak pada uji KLT dengan fase diam silika gel 60 F254 dan fase gerak etil asetat : asam formiat : toluen : air (6:1,5:2:1) dan pembanding asam galat (1%) untuk analisis fenolik ...............................................................................................56 Tabel VIII. Nilai Rf dan warna bercak pada uji KLT dengan fase diam silika gel 60 F254gerak kloroform : metanol : air (64:50:10) dan pembanding S. rarak untuk analisis saponin ....................................58 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel IX. Diameter zona hambat fraksi air ekstrak etanol jamur portabella (Agaricus brunnescens Peck) terhadap bakteri Staphylococcus aureus................................................................................................66 Tabel X. Diameter zona hambat fraksi air ekstrak etanol jamur portabella (Agaricus brunnescens Peck) terhadap bakteri Escherichia coli......67 Tabel XI. Data hasil uji Tukey’s diameter zona hambat pada bakteri S. aureus............................................................................................70 Tabel XII. Data hasil uji Tukey’s diameter zona hambat pada bakteri E.coli....71 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Jamur portabella (Agaricus brunnescens Peck) ..................................6 Gambar 2. Perkiraan reaksi uji Mayer (Marliana dkk., 2005) ............................48 Gambar 3. Reaksi antara NaCl dengan senyawa fenolik (Herlianawati, 2007) .49 Gambar 4. Reaksi antara senyawa fenolik dengan FeCl3 (Herlianawati, 2007) .50 Gambar 5. Hasil uji KLT flavanoid ....................................................................52 Gambar 6. Hasil uji KLT alkaloid ......................................................................54 Gambar 7. Hasil uji KLT fenolik ........................................................................56 Gambar 8. Hasil uji KLT saponin.......................................................................58 Gambar 9. Diameter zona hambat fraksi air ekstrak etanol pada seri konsentrasi 1,5%-20% terhadap S. aureus dan E.coli ......................63 Gambar 10. Diameter zona hambat fraksi air ekstrak etanol pada seri konsentrasi 40% dan 80% terhadap S. aureus dan E.coli ................66 Gambar 11. Rata-rata diameter zona hambat fraksi air ekstrak etanol jamur portabella terhadap S. aureus ............................................................67 Gambar 12. Rata-rata diameter zona hambat fraksi air ekstrak etanol jamur portabella terhadap E. coli ................................................................68 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Surat Keterangan Determinasi Jamur Portabella (Agaricus brunnescens Peck) dari Bagian Biologi Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ..............................................................78 Lampiran 2. Sertifikat Hasil Uji Staphylococcus aureus ATCC 25923 .............79 Lampiran 3. Surat Keterangan Hasil Uji Escherichia coli ATCC 38218 ...........80 Lampiran 4. Foto Jamur Portabella (Agaricus brunnescens Peck), Jamur Portabella Kering, dan Serbuk Jamur Portabella ............................81 Lampiran 5. Foto Maserasi, Penyaringan Menggunakan Pompa Vakum, dan Penguapan Menggunakan Waterbath .............................................82 Lampiran 6. Foto Ekstrak Etanol Jamur Portabella ............................................84 Lampiran 7. Foto Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella ...........................84 Lampiran 8. Foto Uji Kelarutan dengan Aquadest, DMSO, dan Kloroform ......84 Lampiran 9. Foto Variasi Konsentrasi Rendah dan Tinggi Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella ..................................................................85 Lampiran 10. Foto Hasil Uji Pendahuluan Serbuk Jamur Portabella dengan Uji Tabung ............................................................................................86 Lampiran 11. Foto Hasil Uji Alkaloid Serbuk Jamur Portabella dengan Uji Tabung ...........................................................................................86 Lampiran 12. Foto Hasil Uji Flavonoid Serbuk Jamur Portabella dengan Uji Tabung ............................................................................................87 xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 13. Foto Hasil Uji Tanin Serbuk Jamur Portabella dengan Uji Tabung ............................................................................................87 Lampiran 14. Foto Hasil Uji Polifenol Serbuk Jamur Portabella dengan Uji Tabung ............................................................................................88 Lampiran 15. Foto Hasil Uji Saponin Serbuk Jamur Portabella dengan Uji Tabung ............................................................................................88 Lampiran 16. Foto Hasil KLT Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella dengan Deteksi UV 254, UV 365, dan pereaksi sitroborat pada analisis Flavonoid ...........................................................................89 Lampiran 17. Foto Hasil KLT Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella dengan Deteksi UV 254, UV 365, dan pereaksi Dragendorff pada analisis alkaloid ......................................................................90 Lampiran 18. Foto Hasil KLT Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella dengan Deteksi UV 254, UV 365, dan pereaksi FeCl3pada analisis Fenolik ...............................................................................91 Lampiran 19. Foto Hasil KLT Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella dengan Deteksi UV 254, UV 365, dan pereaksi SbCl3 pada analisis Saponin ..............................................................................92 Lampiran 20. Foto Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella Seri Konsentrasi 1,5%-20% Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dengan Metode Difusi Sumuran ...............93 xviii

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 21. Foto Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella Seri Konsentrasi 1,5%-20% Terhadap Bakteri Escherichia coli dengan Metode Difusi Sumuran ..........................94 Lampiran 22. Tabel Diameter Zona Hambat Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella Seri Konsentrasi 1,5%-20% Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dengan Metode Difusi Sumuran ................95 Lampiran 23. Tabel Diameter Zona Hambat Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella Seri Konsentrasi 1,5%-20% Terhadap Bakteri Escherichia coli dengan Metode Difusi Sumuran ..........................97 Lampiran 24. Tabel Diameter Zona Hambat Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella Konsentrasi 40% dan 80% Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dengan Metode Difusi Sumuran ...............98 Lampiran 25. Tabel Diameter Zona Hambat Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella Konsentrasi 40% dan 80% Terhadap Bakteri Escherichia coli dengan Metode Difusi Sumuran ..........................98 Lampiran 26. Foto Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella Konsentrasi 40% dan 80% Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dengan Metode Difusi Sumuran ...............99 Lampiran 27. Foto Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella Konsentrasi 40% dan 80% Terhadap Bakteri Escherichia coli dengan Metode Difusi Sumuran ........................100 Lampiran 28. Foto Kontrol Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Bakteri Escherichia coli ATCC 38218 ...........102 xix

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 29. Foto Kontrol Media dan Kontrol Ruang ......................................102 Lampiran 30. Hasil Uji Normalitas Shapiro-Wilk ..............................................103 Lampiran 31. Hasil Uji Kesamaan Varian dengan Levene Test .........................104 Lampiran 32. Hasil Uji ANAVA ........................................................................104 Lampiran 33. Hasil Tukey’s Post Hoc Test .........................................................105 xx

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI INTISARI Penyakit infeksi sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan dan penyebab utama kematian sepanjang sejarah. Untuk mengantisipasi hal tersebut perlu dilakukan eksplorasi bahan alam yang mempunyai aktivitas antibakteri. Jamur portabella (Agaricus brunnescens Peck) merupakan jamur pangan yang memiliki kekerabatan yang dekat dengan A. bisporus. A. bisporus diketahui mempunyai aktivitas antibakteri dan mengandung karbohidrat, flavonoid, alkaloid, saponin, sterol, kumarin dan triterpen. Spesies dengan kekerabatan yang dekat diketahui memiliki komponen kimia yang mirip. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui aktivitas antibakteri fraksi air ekstrak etanol jamur portabella terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Escherichia coli ATCC 38218. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental murni dengan rancangan acak lengkap pola satu arah. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi sumuran. Data berupa diameter zona hambat dianalisis secara statistik dengan software R 3.1.0 untuk melihat keberbedabermaknaan (pvalue<0,05) dibandingkan dengan kontrol positif dan negatif serta antar konsentrasi sampel uji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi air ekstrak etanol jamur portabella memiliki aktivitas antibakteri terhadap S. aureus pada konsentrasi 40% dan terhadap bakteri E. coli pada konsentrasi 80%. Kata kunci : antibakteri, fraksi air ekstrak etanol, jamur portabella (Agaricus brunnescens Peck), Staphylococcus aureus, Escherichia coli, difusi sumuran xxi

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Nowadays, infection disease is still a public health problem and is a major cause of death throughout history. To anticipate this problem, it is necessary to explore natural plants which have antibacterial activity. Portabella (Agaricus brunnescens Peck) mushrooms are edible mushrooms that have close kinship with A. bisporus. A. bisporus has been known have antibacterial activity and containscarbohydrate, flavonoid, alkaloid, saponin, sterol, coumarin and triterpen. Species with close kinship are known to have similar chemical component. The aim of this research is to find out antibacterial activity from water fraction of ethanolic extract of portabella mushrooms against Staphylococcus aureus ATCC 25923 and Escherichia coli ATCC 38218. This research is purely experimental and completely randomized design. Testing of antibacterial activity is performed with the well-diffusion method. Data constituted inhibition zone diameter then analyzed statistically by R 3.1.0 software to see the significant difference between positive and negative control and among test sample concentration. The result of this research showed that water fraction of ethanolic extract of portabella mushrooms have antibacterial activity against S. aureus in concentration 40% and against E. coli in concentration 80%. Keywords : antibacterial, water fraction of ethanolic extract, portabella (Agaricus brunnescens Peck) mushrooms, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, well diffusion xxii

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Penyakit infeksi sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Penyakit ini merupakan penyebab utama kematian manusia sepanjang sejarah. Untuk menanggulangi hal tersebut telah dilakukan berbagai upaya untuk melawan penyakit infeksi. Sejak dibuktikannya kemampuan penisillin dalam melawan infeksi pada manusia, dimulailah kemoterapi antibiotika (Martini and Eloff, 1998). Dalam beberapa dasawarsa terakhir, jumlah antibiotika yang beredar di masyarakat bertambah banyak. Penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dengan aturan yang benar telah menyebabkan patogen beradaptasi sehingga terjadi resistensi. Meningkatnya masalah resistensi ini menyebabkan kebutuhan akan antibiotik baru juga meningkat (Ahmad and Beg, 2001). Penemuan senyawa antibakteri penicillin yang dihasilkan Pennicilium oleh Flemming (1929) menggerakkan para ilmuwan untuk meneliti potensi fungi dalam menghasilkan senyawa antibakteri dan pengembangannya sebagai antibiotik. Kebutuhan senyawa antibakteri dalam skala yang lebih besar mengarahkan penelitian pada sumber dengan miselium yang lebih besar yaitu basidiomycota (Fasidi and Gbolagade, 2005). Produksi senyawa antimikroba oleh jamur bukan merupakan hal yang baru karena seperti yang telah diketahui bahwa jamur diketahui dapat mengeluarkan senyawa antivirus, antibakteri, antijamur, 1

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 dan antimikroba untuk bertahan hidup di alam liar terhadap agen-agen pesaing atau patogen (Nurmalina dan Valley, 2012). Jamur sebagai obat telah banyak diketahui dan digunakan secara empiris terutama pada obat-obatan Cina (Traditional Chinnese Medicine). Studi-studi yang telah dilakukan sebelumnya mengindikasikan bahwa metabolit sekunder dari jamur memiliki aktifitas farmakologi seperti antioksidan, antikanker, antiinflamasi, imunosupresan dan antibiotik (Asfors and Ley, 1993). Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa beberapa jamur pangan memiliki kemampuan antibakteri, yaitu Agaricus bernardii, Agaricus arvensis, Agaricus bisporus, Agaricus porphyrocephalus, Agaricus silvicola, Coprinus comatus, dan Lepiota cristata. Penelitian tersebut juga melakukan skrining fitokimia dan menunjukkan adanya karbohidrat, flavonoid, alkaloid, saponin, sterol, kumarin dan triterpen di dalam semua sampel jamur (Moglad and Saadabi, 2012). Agaricus brunnescens Peck seringkali disamakan dengan Agaricus bisporus J. E. Lange Imbach, namun kebenaran akan pernyataan ini masih perlu diteliti lebih lanjut. Dari suatu studi mengenai lektotipifikasi A.brunescens diketahui bahwa jamur tersebut memiliki kemiripan rangkaian DNA dengan A. bisporus (Kerrigan, 2007). Pada perkembangan penelitian, metabolit sekunder adalah hal yang paling dieksplorasi dari suatu tanaman, tergantung pada faktor ontogenik dan lingkungan, dan karakteristik kimia yang lebih stabil ditemukan pada spesies dengan komposisi DNA yang mirip (Evans, 2009).

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 Jamur A. brunnescens memiliki kekerabatan yang dekat dengan A. bisporus. Penelitian oleh Moglad dan Saadabi (2012) menyebutkan bahwa jamur A. bisporus telah terbukti mempunyai aktivitas antibakteri. Sehubungan dengan potensi tersebut maka perlu dilakukan eksplorasi untuk mencari bahan alam terutama jamur A. brunnescens yang berpotensi sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus aureus yang mewakili bakteri Gram positif dan Escherichia coli yang mewakili bakteri Gram negatif. Salah satu metode uji antibakteri yang umum digunakan adalah uji difusi. Pada uji difusi diperlukan senyawa uji yang memiliki kepolaran yang mirip dengan media sehingga dapat berdifusi dengan baik. Senyawa yang dapat berdifusi dengan baik didapatkan dengan mengambil fraksi air dari ekstrak etanol jamur portabella. Hasil penelitian ini kemudian dapat digunakan sebagai dasar pengembangan bahan alam sebagai antibiotik. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan pada latar belakang di atas, permasalahan yang muncul adalah : 1. Apakah fraksi air ekstrak etanol jamur portabella memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli? 2. Golongan senyawa apakah yang terkandung di dalam serbuk jamur portabella? C. Keaslian Penelitian Penelitian sejenis yang pernah dilakukan adalah skrining aktivitas antimikroba dari 6 jenis jamur termasuk Agaricus bisporus terhadap bakteri S.

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 aureus, E. coli, Proteus vulgaris, Pseudomonas aeruginosa dan 2 jenis fungi (Candida albicans dan Aspergillus niger) dengan pelarut air, etanol dan petroleum eter. Pada penelitian dengan metode difusi sumuran ini menunjukkan bahwa etanol merupakan pelarut yang paling baik untuk mendapatkan senyawa antimikroba dari semua jenis jamur. Diketahui pula dari penelitian tersebut, jamur A. bisporus memiliki aktivitas antimikroba terhadap semua mikroba kecuali Proteus vulgaris dan Aspergillus niger (Moglad and Saadabi, 2012). Penelitian lain yang pernah dilakukan adalah uji aktivitas antibakteri fraksi kloroform, aseton dan metanol dari beberapa jenis jamur Turki. Penelitian ini meneliti daya antibakteri 3 jenis jamur dari divisi yang berbeda yaitu Terfezia boudieri Chatin (Ascomycota), Agaricus brunnescens Peck (Basidiomycota), dan Lactarius vellereus (Fr.) Fr. (Russulaceae) (Dogan, Duman, Ozkalp, Aydin, 2013). Pada penelitian dengan metode mikrodilusi tersebut menunjukkan ketiganya memiliki daya antibakteri terhadap 10 jenis bakteri di antaranya S. aureus dan E. coli pada konsentrasi yang berbeda. Sejauh penelusuran penulis, penelitian mengenai uji aktivitas antibakteri fraksi air ekstrak etanol jamur portabella (Agaricus brunnescens Peck) terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli ini belum pernah dilakukan. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian oleh Moglad dan Saadabi (2012) adalah pada spesies jamur yang digunakan, yaitu portabella. Sedangkan perbedaan penelitian ini dengan penelitian oleh Dogan, dkk (2013) adalah pada metode uji potensi antibakteri yang digunakan yaitu difusi sumuran, penyari yaitu etanol, serta asal dari jamur portabella.

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 D. Tujuan Penelitian 1. Mengetahui aktivitas antibakteri fraksi air ekstrak etanol jamur portabella terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. 2. Mengetahui golongan senyawa yang terkandung di dalam jamur portabella. E. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis Penelitian ini diharapkan mampu memberi informasi yang berguna bagi pengembangan penemuan jamur yang berkhasiat sebagai obat khususnya sebagai antibakteri dan menambah khasanah ilmu pengetahuan mengenai pengembangan jamur obat tradisional di masyarakat, khususnya jamur portabella. 2. Manfaat praktis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai manfaat jamur portabella sebagai pengobatan alternatif bagi masyarakat dan dapat dikembangkan menjadi obat tradisional yang penggunaannya sebagai antibakteri.

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 BAB II PENELAAHAN PUSTAKA A. Jamur Portabella 1. Klasifikasi jamur portabella Klasifikasi jamur portabella menurut Natural History Museum (2014) adalah sebagai berikut. Kerajaan : Fungi Divisi : Basidiomycota Kelas : Agaricomycetes Bangsa : Agaricales Suku : Agaricaceae Marga : Agaricus Jenis : Agaricus brunnescens Peck Gambar 1. Jamur portabella (Agaricus brunnescens Peck) 6

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 2. Uraian jamur portabella Agaricus dengan berbagai jenisnya telah umum dikenal oleh masyarakat. Pada perkembangannya kemudian muncul jenis Agaricus baru selain Agaricus campestris, Agaricus bisporus, dan Agaricus bitorquis. Hasil pengembangan baru Agaricus seperti Agaricus brunescens yang umum dikenal dengan nama jamur portabella, jamur portobello, atau brown mushroom, hasil kerja keras para pakar Amerika Serikat (Suriawiria, 2009). Jamur portabella memiliki keunggulan yang tidak jauh berbeda dengan champignon. Perbedaannya ada pada ukuran jamur yang 2-3 kali lebih besar dibandingkan dengan champignon biasa serta pada warnanya. Jamur champignon biasa berwarna putih bersih (Agaricus bisporus) atau putih keabuan (Agaricus campestris), sedangkan Agaricus brunescens atau jamur portabella berwarna coklat dengan ukuran tubuh buah 2-3 kali lebih besar (Suriawiria, 2009). Jamur portabella seringkali disamakan dengan jamur Agaricus bisporus J. E. Lange, yaitu jamur kancing budidaya berwarna putih, namun hubungan ini belum secara universal diterima. Nama A. bisporus memang lebih sering digunakan untuk menyebut jamur ini. Suatu studi mengenai lektotipifikasi A. brunnescens menunjukkan bahwa jamur tersebut memiliki kemiripan susunan DNA dengan A. bisporus (Keriggan, 2007). 3. Kegunaan dan kandungan kimia jamur portabella Khasiat jamur portabella yang ditemukan para mikrobiolog dan pakar perjamuran adalah kandungan senyawa kimia yang terdapat dalam tubuh buah

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 jamur portabella. Selain protein serta lemak yang sangat rendah, jamur ini mengandung vitamin B-kompleks-riboflavin, niacin, dan pantotenat serta sejumlah mineral seperti Na (natrium), K (kalium), dan Se (selenium) serta bahan-bahan lainnya sebagai antioksidan dan antikanker. Jamur portabella yang mengandung banyak senyawa bermanfaat/berkhasiat selalu dihubungkan dengan manfaat dan khasiatnya untuk (antara lain) pencegah/mengobati penyakit berbahaya masa kini (Suriawiria, 2009). Jamur portabella sangat membantu dalam regenerasi sel-sel tubuh, terutama setelah sakit. Jamur ini diyakini bisa mencegah dan menghambat pertumbuhan sel-sel kanker, khususnya untuk kanker prostat dan kanker payudara. Khasiat lain adalah mencegah penyumbatan pembuluh darah yang menyebabkan stroke dan tekanan darah tinggi. Berdasarkan manfaat-manfaat tersebut, mengonsumsi jamur portabella secara teratur bisa membantu menjaga dan meningkatkan kebugaran serta kesehatan tubuh (Suriawiria, 2009). B. Staphylococcus aureus Bakteri Staphylococcus termasuk dalam famili Micrococcaceae. Bakteri ini berbentuk bulat. Koloni mikroskopik cenderung berbentuk menyerupai buah anggur. Menurut bahasa Yunani, Staphyle berarti anggur dan coccus berarti bulat atau bola. Salah satu spesies menghasilkan pigmen berwarna kuning emas sehingga dinamakan aureus (berarti emas, seperti matahari). Bakteri ini dapat tumbuh dengan atau tanpa bantuan oksigen (Radji, 2009).

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 Staphylococcus adalah sel sferis, berdiameter sekitar 1 µm tersusun dalam kelompok yang tidak teratur. Kokus tunggal, berpasangan, tetrad, dan bentuk rantai juga terlihat di biakan cair. Organisme ini paling cepat berkembang pada suhu 37˚C, tetapi suhu terbaik untuk menghasilkan pigmen pada suhu ruangan (20-25 ˚C). Koloni pada medium padat berbentuk bulat, halus, meninggi, dan berkilau. Staphylococcus aureus biasanya membentuk koloni berwarna abuabu hingga kuning tua kecoklatan (Brooks, Butel, and Morse, 2008). Bakteri S. aureus mempunyai ciri nonmotil, tidak mempunyai spora, dan bersifat fakultatif anaerob. Koloni dari Staphylococcus tidak tembus cahaya (opaque), berwarna putih atau krem, dan kadang berwarna kuning sampai orange, memberi reaksi negatif pada tes oksidasi, mereduksi nitrat menjadi nitrit. Staphylococcus sering ditemukan pada produk makanan, sampah, dan air (Holt, Krieg, Sneath, Staley, and Williams, 2000). Staphylococcus memiliki kepekaan yang berbeda-beda terhadap obat antimikroba. Resistensi staphylococcus dibagi menjadi beberapa macam: a. Sering memproduksi β-laktamase di bawah kendali plasmid dan membuat bakteri ini resisten terhadap beberapa penisilin. b. Resistensi terhadap nafsilin (dan terhadap metisilin dan oksasilin) tidak tergantung pada produksi β-laktamase. c. Di Amerika Serikat, S. aureus dianggap sensitif terhadap vankomisin jika konsentrasi penghambat minimumnya (KHM) kurang atau sama dengan 4 µg/mL; kerentanan intermediet jika KHM 8-16 µg/mL; dan resisten jika

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 KHM ≥16 µg/mL. Organisme ini juga disebut sebagai vancomycinintermediate S. aureus atau “VISA”. d. Pada tahun 2002, strain vancomycin-resistant S. aureus (VRSA) diisolasi dari pasien Amerika Serikat. S. aureus yang resisten terhadap vankomisin menjadi perhatian besar di seluruh dunia. e. Resistensi diperantai plasmid terhadap tetrasiklin, eritromisin, aminoglikosida, dan obat-obatan lain sering terjadi pada staphylococcus. f. “Toleransi” menunjukkan bahwa staphylococcus dihambat oleh suatu obat tetapi tidak dibunuh. Terdapat perbedaan besar antara Kadar Hambat Minimal (KHM) dengan Kadar Bunuh Minimal (KBM) (Brooks, et al., 2008). 1. Struktur antigen Staphylococcus mengandung polisakarida antigenik dan protein serta subtansi penting lainnya di dalam struktur dinding sel. Peptidoglikan, polimer polisakarida yang mengandung subunit-subunit yang terangkai, merupakan eksoskelet yang kaku pada dinding sel. Peptidoglikan dihancurkan oleh asam kuat atau pajanan terhadap lisozim. Hal ini penting pada patogenesis infeksi : peptidoglikan memicu produksi interleukin-1 (pirogen endogen) dan antibodi opsonik oleh monosit, dan dapat menjadi chemmoatractant untuk lekosit polimorfonuklear, yang memiliki aktivitas mirip endotoksin, dan mengaktifkan komplemen (Brooks, et al., 2008). Beberapa strain S. aureus memiliki kapsul, yang menghambat fagositosis oleh leukosit polimorfonuklear kecuali terdapat antibodi spesifik. Sebagian besar strain S. aureus mempunyai koagulase atau faktor penggumpal

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 pada permukaan dinding sel. Koagulase terikat dengan fibrinogen secara nonenzimatik, sehingga menyebabkan agregasi bakteri (Brooks, et al., 2008). 2. Enzim dan toksin Staphylococcus dapat menyebabkan penyakit baik melalui kamampuannya untuk berkembang biak dan menyebarluas di jaringan serta dengan cara menghasilkan berbagai substansi ekstraseluler. Beberapa substansi tersebut adalah enzim, lainnya dianggap sebagai toksin, tetapi dapat berfungsi sebagai enzim. Banyak dari toksin tersebut di bawah kontrol genetik plasmid; beberapa dapat dikendalikan kromosomal dan ekstrakromosomal; dan mekanisme kontrol genetik lainnya tidak dapat dijabarkan dengan baik (Brooks, et al., 2008). Bakteri S. aureus menghasilkan koagulase, suatu protein mirip enzim yang dapat menggumpalkan plasma yang mengandung oksalat atau sitrat. Faktor penggumpal terdapat pada permukaan S. aureus yang berfungsi melekatkan organism ke fibrin atau fibrinogen. Bila berada di dalam plasma, S. aureus membentuk gumpalan. Faktor penggumpal yang dimaksud tersebut berbeda dengan koagulase (Brooks, et al., 2008). a. Eksotoksin, α-toksin merupakan protein heterogen yang bekerja dengan spektrum luas pada membran sel eukariot. α-toksin merupakan hemolisin yang kuat. β-toksin dapat menguraikan sfingomielin sehingga toksik pada berbagai sel, termasuk sel darah merah manusia. γ-toksin melisiskan sel darah merah manusia dan hewan. δ-toksinbersifat heterogen dan terurai menjadi beberapa subunit pada detergen nonionik. Toksin tersebut

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 mengganggu membran biologis dan dapat berperan pada penyakit diare akibat S. aureus. b. Leukosidin, toksin yang terdapat pada S. aureus ini memiliki 2 komponen. Leukosidin dapat membunuh sel darah putih manusia dan kelinci. Kedua komponen tersebut bekerja secara sinergis pada membran sel darah putih membentuk pori-pori dan meningkatkan permeabilitas kation. c. Toksin eksfoliatif, toksin epidermolitik S. aureus ini merupakan dua protein yang berbeda dengan berat molekul yang sama. Toksin epidermolitik A adalah produk gen kromosomal yang tahan panas (tahan didihkan selama 20 menit). Toksin epidermolitik B diperantai plasmid dan tidak tahan panas. Toksin epidermolitik menyebabkan deskuamasi generalisata pada staphylococcal scalded skin syndrome. Toksin-toksin tersebut merupakan superantigen. d. Enterotoksin, terdapat berbagai enterotoksin (A-E, G-I, K-M). Sekitar 50% strain S. aureus dapat menghasilkan satu enterotoksin atau lebih. Seperti TSST-1, enterotoksinnya merupakan superantigen. Enterotoksin tahan terhadap panas dan resisten terhadap kerja enzim usus. Enterotoksin merupakan penyebab penting keracunan makanan; enterotoksin dihasilkan bila S. aureus tumbuh di makanan yang mengandung karbohidrat dan protein (Brooks, et al., 2008). 3. Patogenesis, patologi, dan temuan klinis Staphylococcus merupakan flora normal pada kulit, saluran napas, dan saluran cerna manusia. S aureus ditemukan dalam hidung pada 20-50%

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 manusia. Kemampuan patogenik S. aureus tertentu merupakan gabungan efek faktor ekstraselular dan toksin serta sifat invasif strain tersebut. Salah satu akhir spektrum penyakit oleh staphylococcus adalah keracunan makanan, yang semata-mata akibat konsumsi makanan yang mengandung enterotoksin; sedangkan bentuk akhir lainnya adalah bakteremia staphylococcus dan abses yang tersebar di semua organ. S. aureus yang patogen dan invasif menghasilkan koagulase dan cenderung menghasilkan pigmen kuning dan bersifat hemolitik (Brooks, et al., 2008). Kelompok S. aureus yang terdapat di folikel rambut menyebabkan nekrosis jaringan (faktor demonekrotik). S. aureus dapat menyebabkan pneumonis, meningitis, empiema, endokarditis, atau sepsis dengan supurasi di berbagai organ. Staphylococcus dengan daya invasi rendah dapat menyebabkan berbagai infeksi kulit (misalnya, jerawat, pioderma, atau impetigo) (Brooks, et al., 2008). Infeksi S. aureus juga dapat terjadi akibat kontaminasi langsung pada luka, misalnya infeksi yang terjadi setelah trauma (osteomielitis kronik setelah fraktur terbuka, meningitis setelah fraktur tengkorak). Jika S. aureus menyebar luas dan terjadi bakteremia, dapat terjadi endokarditis, osteomielitis hematogen akut, meningitis, atau infeksi paru. Keracunan makanan akibat enterotoksin staphylococcus ditandai dengan waktu inkubasi yang pendek (1 sampai 8 jam); mual hebat, muntah, dan diare; dan penyembuhan yang cepat tanpa disertai demam. S. aureus yang menyebabkan sindrom syok toksik dapat ditemukan di vagina, pada tampon, pada luka atau infeksi lokal lainnya, atau

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 di tengkorak tetapi hampir tidak pernah ditemukan di dalam aliran darah (Brooks, et al., 2008). C. Escherichia coli Escherichia coli termasuk dalam famili Enterobacteriaceae. Bakteri ini merupakan bakteri Gram-negatif, berbentuk batang pendek (kokobasil), mempunyai flagel, berukuran 0,4-0,7 µm x 1,4 µm, dan mempunyai simpai. E. coli tumbuh dengan baik hampir di semua media perbenihan, dapat meragi laktosa, dan bersifat mikro-aerofilik (Radji, 2009). Bakteri E.coli dan dan sebagian besar baketri enterik lainnya membentuk koloni yang sirkular, konveks, dan halus dengan tepi tegas. Koloni enterobakter sama dengan koloni tersebut tetapi lebih mukoid. Beberapa strain E. coli menyebabkan hemolisis pada agar darah (Brooks, et al., 2008). Bakteri E.coli secara khas menunjukkan hasil positif pada tes indol, lisin dekarboksilase, dan fermentasi manitol, serta menghasilkan gas dari glukosa. Pada isolate dari urin dapat segera diidentifikasi sebagai E. coli dengan melihat hemolisisnya pada agar darah, morfologi koloni yang khas dengan warna pelangi yang “berkilau” pada medium diferensial seperti agar EMB, dan tes bercak indol yang positif (Brooks, et al., 2008). 1. Struktur antigen a. Antigen O Antigen O adalah bagian terluar dari lipopolisakarida dinding sel dan terdiri dari unit polisakarida yang berulang. Beberapa polisakarida O-

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 spesifik mengandung gula yang unik. Antigen O resisten terhadap panas dan alkohol dan biasanya terdeteksi oleh aglutinasi bakteri. Antibodi terhadap antigen O terutama adalah IgM. b. Antigen K Antigen K terletak di luar antigen O pada beberapa Enterobacteriaceae tetapi tidak semuanya. Beberapa antigen K merupakan polisakarida, termasuk antigen K pada E. coli; yang lainnya merupakan protein. Antigen K dapat mengganggu aglutinasi dengan antiserum O, dan dapat berhubungan dengan virulensi. c. Antigen H Antigen H terdapat di flagela dan didenaturasi atau dirusak oleh panas atau alkohol. Antigen ini dipertahankan dengan memberikan formalin pada varian bakteri yang motil. Antigen H seperti ini beraglutinasi dengan antibodi anti-H terutama IgG (Brooks, et al., 2008). 2. Patogenesis dan gambaran klinis Bakteri E. coli adalah anggota flora normal usus. Manifestasi klinis oleh E. coli tergantung pada tempat infeksi dan tidak dapat dibedakan dengan gejala atau tanda akibat proses yang disebabkan oleh bakteri lain. E. coli adalah penyebab infeksi saluran kemih yang paling sering pada sekitar 90% infeksi saluran kemih pertama pada wanita muda. E. coli nefropatogenik secara khas menghasilkan hemolisin. Sebagian besar infeksi disebabkan oleh E. coli dengan sejumlah kecil antigen tipe O (Brooks, et al., 2008).

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 E. coli yang menyebabkan diare sangat banyak ditemukan di seluruh dunia. E. coli ini diklasifikasikan berdasarkan karakteristik sifat virulensinya, dan masing-masing kelompok menyebabkan penyakit melalui mekanisme yang berbeda. a. E. coli Enteropatogenik (EPEC). Bakteri ini merupakan penyebab diare yang sering pada bayi, terutama di negara berkembang. EPEC sebelumnya dikaitkan dengan wabah diare di ruang perawatan di negara maju. EPEC menempel pada sel mukosa usus halus. Faktor yang diperantarai oleh kromosom akan meningkatkan pelekatan. Diare EPEC disebabkan oleh berbagai serotipe spesifik E. coli; strain diidentifikasi dengan antigen O dan kadang-kadang dengan penentuan tipe antigen H. b. E. coli Enterotoksigenik (ETEC). ETEC adalah penyebab umum “diare wisatawan” dan penyebab diare yang sangat sering pada bayi di negara berkembang. Beberapa strain ETEC menghasilkan eksotoksin yang tidak tahan panas (LT) (BM 80.000) yang berada di bawah kendali genetik plasmid. Subunit B-nya menempel pada gangliosida GM1 di brush border sel epitel usus halus dan memfasilitasi masuknya subunit A ke dalam sel, yang kemudian mengaktivasi adenil siklase. Hal ini meningkatkan konsentrasi lokal siklik adenosine monofosfat (cAMP) secara bermakna, yang mengakibatkan hipersekresi air dan klorida yang banyak dan lama serta menghambat reabsorbsi natrium. c. E. coli Enterohemoragik (EHEC). EHEC menghasilkan verotoksin, dinamakan berdasarkan efek sitotoksiknya terhadap sel vero, suatu sel

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 ginjal monyet Afrika. Paling sedikit ada 2 bentuk antigenik toksin. EHEC menimbulkan kolitis hemoragik, diare yangberat, dan pada sindroma hemolitik uremik, suatu penyakit yang mengakibatkan gagal ginjal akut, anemia hemolitik mikroangiopati, dan trombositopenia. d. Enteroinvasif E. coli (EIEC). EIEC menimbulkan penyakit yang sangat mirip shigelosis. Penyakit ini terjadi paling sering pada anak-anak di negara berkembang dan pada pengunjung negara-negara tersebut. Seperti shigela, strain memfermentasikan EIEC laktosa tidak memfermentasikan dengan lambat dan laktosa atau nonmotil. EIEC menimbulkan penyakit dengan menginvasi sel epitel mukosa usus. e. Enteroagregatif E. coli (EAEC). EAEC menyebabkan diare akut dan kronik (durasi > 14 hari) pada masyarakat di negara berkembang. Organisme ini juga menyebabkan penyakit yang ditularkan melalui makanan di negara industri. Organisme ini ditandai oleh pola pelekatannya yang khas pada sel manusia. EAEC menghasilkan toksin mirip-ST dan hemolisin (Brooks, et al., 2008). Penyakit lain yang yang dapat disebabkan oleh E. coli adalah sepsis. Bila pertahanan tubuh tidak kuat, E. coli dapat masuk ke peredaran darah dan menyebabkan sepsis. Bayi yang baru lahir mungkin sangat rentan terhadap sepsis E. coli karena memiliki sedikit antibodi IgM. Sepsis dapat terjadi akibat infeksi saluran kemih (Brooks, et al., 2008). E. coli dan streptokokus grup B merupakan penyebab utama meningitis pada bayi. Kira-kira 75% dari kasus meningitis mempunyai antigen

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 K1. Antigen ini bereaksi silang dengan polisakarida kapsular grup B dari N meningitidis. Mekanisme virulensi yang berhubungan dengan antigen K1 belum diketahui (Brooks, et al., 2008). D. Ekstraksi Ekstraksi merupakan proses pemisahan bahan dari campurannya dengan menggunakan pelarut (Agoes, 2009). Ektrak merupakan sediaan kental yang diperoleh dengan cara mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggnakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian rupa hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2005). Cara penyarian dapat dilakukan dengan beberapa metode : 1. Infundasi Infundasi adalah proses penyarian (menyari simplisia dengan air pada suhu 90˚C selama 15 menit) yang umumnya digunakan untuk menyari zat kandungan aktif yang larut dalam air dari bahan-bahan nabati. 2. Maserasi Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat aktif larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang di luar

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 sel, maka larutan yang terpekat terdesak keluar. Peristiwa tersebut berulang hingga terjadi kesetimbangan. 3. Perkolasi Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplisia. Prinsip perkolasi adalah sebagai berikut : serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian bawahnya diberi sekat berpori. Cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat-zat aktif sel-sel yang dilalui sampai mencapai keadaan jenuh (Departemen Kesehatan RI, 1986). Ekstraksi dengan metode maserasi merupakan cara penyarian sederhana yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama beberapa hari pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya sambil diaduk (Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2005). Salah satu penyari yang dapat dipergunakan yaitu etanol. Etanol mudah masuk ke dalam membran sel untuk mengekstraksi bahan-bahan intraseluler dari dalam sel seperti senyawa fenolik dan komponen organik lainnya (Tiwari, Kumar, Kaur, Kaur, and Kaur, 2011). E. Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Kromatografi lapis tipis (KLT) merupakan metode kromatografi cair paling sederhana untuk memisahkan komponen kimia. Prinsip KLT yaitu terjadinya pemisahan komponen atas dasar perbedaan adsorbsi atau partisi oleh fase diam terhadap fase gerak. Terdapat dua fase dalam KLT yaitu, fase diam

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 (lapisan) dan fase gerak (campuran pelarut pengembang) (Mulja dan Suharman, 1995). Pada kromatografi lapis tipis, fase diamnya berupa lapisan yang seragam (uniform) pada permukaan bidang datar yang didukung oleh lempeng kaca, pelat aluminium, atau pelat plastik (Rohman, 2009). Pada kromatogram KLT dikenal istilah faktor retardasi (Rf) yang didefinisikan Rf = 𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢 𝑕 𝑠𝑜𝑙𝑢𝑡 𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢 𝑕 𝑓𝑎𝑠𝑒 𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘 (Rohman dan Gandjar, 2007). Berikut ini adalah bahan dan teknik dalam KLT : 1. Penjerap/fase diam Penjerap yang paling sering digunakan pada KLT adalah silika dan serbuk selulosa, sementara mekanisme sorpsi-desorpsi (suatu mekanisme perpindahan solut dari fase diam ke fase gerak atau sebaliknya) yangutama pada KLT adalah partisi dan adsorbsi. 2. Fase gerak pada KLT Fase gerak pada KLT dapat dipilih dari pustaka, tetapi lebih sering dengan mencoba-coba karena waktu yang diperlukan hanya sebentar. Sistem yang paling sederhana ialah dengan menggunakan campuran 2 pelarut organik karena daya elusi campuran kedua pelarut ini dapat mudah diatur sedemikian rupa sehingga pemisahan dapat terjadi secara optimal. 3. Aplikasi (penotolan) sampel Pemisahan pada kromatografi lapis tipis yang optimal akan diperoleh hanya jika menotolkan sampel dengan ukuran bercak sekecil dan sesempit

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 mungkin. Sebagaimana dalam prosedur kromatografi yang lain. Jika sampel yang digunakan terlalu banyak maka akan menurunkan resolusi. 4. Pengembangan a. Konvensional. Pengembangan pelarut biasanya dilakukan dengan cara menaik (ascending), yang mana ujung bawah lempeng dicelupkan ke dalam pelarut pengembang. Untuk menghasilkan reprodusibilitas kromatografi yang baik, wadah fase gerak (chamber) harus dijenuhkan dengan uap fase gerak. b. Pengembangan 2 dimensi. KLT 2 arah atau 2 dimensi ini bertujuan untuk meningkatkan resolusi sampel ketika komponen-komponen solut mempunyai karakteristik kimia yang hampir sama, karenanya nilai R f juga hampir sama, sebagaimana dalam sampel asam-asam amino. c. Pengembangan kontinyu. Pengembangan kontinyu (pengembangan terus menerus) dilakukan dengan cara mengalirkan fase gerak secara terusmenerus pada lempeng KLT melalui suatu wadah (biasanya alas tangki) melalui suatu lapisan dan dibuang dengan cara tertentu pada ujung lapisan. d. Pengembangan gradien. Pengembangan ini dilakukan dengan menggunakan komposisi fase gerak yang berbeda-beda. Lempeng yang berisi analit dapat dimasukkan ke dalam bejana kromatografi yang berisi fase gerak tertentu lalu komponen fase gerak selanjutnya ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam bejana dan diaduk sampai homogen. 5. Deteksi Bercak pemisahan pada KLT umumnya merupakan bercak yang tidak

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 berwarna. Untuk penentuannya dapat dilakukan secara kimia, fisika, maupun biologi. Cara kimia yang biasa digunakan adalah dengan mereaksikan bercak dengan suatu pereaksi melalui cara penyemprotan sehingga bercak menjadi jelas. Cara fisika yang dapat digunakan untuk menampakkan bercak adalah dengan pencacahan radioaktif dan dengan fluoresensi di bawah sinar ultraviolet. Fluoresensi dengan sinar ultraviolet, terutama untuk senyawa yang dapat berfluoresensi, akan membuat bercak terlihat lebih jelas. Jika senyawa tidak dapat berfluoresensi, maka bahan penjerapnya akan diberi indikator yang berfluoresensi, dengan demikian bercak akan kelihatan hitam karena menyerap sinar ultraviolet sedang latar belakangnya akan kelihatan berfluoresensi (Rohman, 2009). F. Metode Uji Senyawa Antibakteri Pada uji antimikroba diukur respon pertumbuhan populasi mikroorganisme terhadap agen antimikroba. Tujuan pengujian antimikroba (termasuk antibiotik dan substansi antimikroba nonantibiotik, misalnya fenol, bisfenol, aldehid), adalah untuk menentukan potensi dan kontrol kualitas selama proses produsi senyawa antimikroba di pabrik, untuk menentukan farmakokinetik obat pada hewan atau manusia, dan untuk memonitor dan mengontrol kemoterapi obat. Kegunaan uji antimikroba adalah diperolehnya suatu sistem pengobatan yang efektif dan efisien. Terdapat bermacam-macam metode uji antimikroba seperti yang dijelaskan berikut.

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 1. Metode difusi Prinsip metode difusi adalah dengan pengukuran potensi antibakteri berdasarkan pengamatan diameter daerah hambatan bakteri karena berdifusinya obat dari titik awal pemberian ke daerah difusi (Jawetz, Melnick, dan Adelberg, 1996). a. Metode disc diffusion (tes Kirby & Bauer). Metode ini digunakan untuk menentukan aktivitas agen antimikroba. Piringan yang berisi agen antimikroba diletakkan pada media agar yang telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada media agar tersebut. Area jernih mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh agen antimikroba pada permukaan media agar. b. E-test. Metode E-test digunakan untuk mengestimasi MIC (minimum inhibitory concentration) atau KHM (Kadar Hambat Minimum), yaitu konsentrasi minimal suatu agen antimikroba untuk dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Pada metode ini digunakan strip plastik yang mengandung agen antimikroba dari kadar terendah hingga tertinggi dan diletakkan pada permukaan media agar yang telah ditanami mikroorganisme. Pengamatan dilakukan pada area jernih yang ditimbulkannya yang menunjukkan kadar agen antimikroba yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada media agar. c. Ditch-plate technique. Pada metode ini sampel uji berupa agen antimikroba yang diletakkan pada parit yang dibuat dengan cara memotong media agar dalam cawan petri pada bagian tengah secara

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 membujur dan mikroba uji (maksimum 6 macam) digoreskan ke arah parit yang berisi agen antimikroba. d. Cup-plate technique. Metode ini serupa dengan metode disc diffusion, dimana dibuat sumur pada media agar yang telah ditanami dengan mikroorganisme dan pada sumur tersebut diberi agen antimikroba yang akan diuji. e. Gradient-plate technique. Pada metode ini konsentrasi agen antimikroba pada media agar secara teoritis bervariasi dari 0 hingga maksimal. Media agar dicairkan dan larutan uji ditambahkan. Campuran kemudian dituang ke dalam cawan petri dan diletakkan dalam posisi miring. Nutrisi kedua selanjutnya dituang di atasnya. Plate diinkubasi selama 24 jam untuk memungkinkan agen antimikroba berdifusi dan permukaan media mongering. Mikroba uji (maksimal 6 macam) digoreskan pada arah mulai dari konsentrasi tinggi ke rendah. Hasil diperhitungkan sebagai panjang total pertumbuhan mikroorganisme maksimum yang mungkin dibandingkan dengan panjang pertumbuhan hasil goresan (Pratiwi, 2008). 2. Metode dilusi Prinsip metode dilusi adalah larutan uji diencerkan hingga diperoleh beberapa konsentrasi, kemudian masing-masing konsentrasi larutan uji ditambahkan suspensi bakteri dalam media. Pada dilusi padat, tiap konsentrasi larutan uji dicampurkan ke dalam media agar. Setelah padat kemudian ditanami bakteri (Hugo and Russel, 1987).

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 Metode dilusi dibedakan menjadi dua yaitu dilusi cair (broth dilution) dan dilusi padat (solid dilution). a. Metode dilusi cair/broth dilution test (serial dilution). Metode ini mengukur MIC (minimum inhibitory concentration atau kadar hambat minimum, KHM) dan MBC (minimum bactericidal concentration atau kadar bunuh minimal, KBM). Cara yang dilakukan adalah dengan membuat seri pengenceran agen antimikroba pada medium cair yang ditambahkan dengan mikroba uji. Larutan uji agen antimikroba pada kadar terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya pertumbuhan mikroba uji ditetapkan sebagai KHM. Larutan yang ditetapkan sebagai KHM tersebut selanjutnya dikultur ulang pada media cair tanpa penambahan mikroba uji ataupun agen antimikroba, dan diinkubasi selama 18-24 jam. Media cair yang tetap terlihat jernih setelah inkubasi ditetapkan sebagai KBM. b. Metode dilusi padat/solid dilution test. Metode ini serupa dengan metode dilusi cair namun menggunakan media padat (solid). Keuntungan metode ini adalah satu konsentrasi agen antimikroba yang diuji dapat digunakan untuk menguji beberapa mikroba uji (Pratiwi, 2008). G. Landasan Teori Penyakit infeksi sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan merupakan penyebab utama kematian. Sehubungan dengan hal ini perlu dilakukan eksplorasi bahan alam yang mempunyai aktivitas antibakteri yang memiliki efek samping lebih kecil dan tersedia terus menerus.

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 Berbagai jenis jamur pangan diketahui memiliki aktivitas antibakteri terhadap beberapa jenis bakteri termasuk S. aureus dan E. coli. Jamur pangan tersebut salah satunya adalah A. bisporus. Penelitian oleh Moglad dan Saadabi (2012) menunjukkan A. bisporus mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, sterol, kumarin, dan triterpen dimana senyawa-senyawa tersebut diketahui mempunyai aktivitas antibakteri. Hal yang paling sering dieksplorasi dari suatu tanaman adalah metabolit sekundernya. Pada spesies tanaman dengan komposisi DNA yang mirip dapat ditemukan karakteristik kimia yang stabil. Agaricus brunnescens atau yang lebih dikenal dengan nama jamur portabella, jamur portobello, atau brown mushrooms, seringkali disamakan dengan A. bisporus. Suatu studi mengenai lektotipifikasi A. brunnescens menunjukkan bahwa jamur tersebut memiliki kemiripan susunan DNA dengan A. bisporus. Kemiripan DNA ini merupakan potensi bagi A. brunnescens untuk memiliki aktivitas antibakteri seperti A. bisporus. Pada penelitian ini dilakukan uji aktivitas daya antibakteri dari jamur portabella. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode difusi sumuran untuk melihat aktivitas daya antibakteri dari ekstrak jamur portabella. Prinsip metode difusi, yaitu pengamatan diameter zona jernih karena berdifusinya senyawa uji ke sekitar daerah penginokulasian. Data yang didapatkan berupa diameter zona hambat dianalisis menggunakan one way ANOVA. Untuk menentukan jenis senyawa yang terkandung di dalam jamur portabella digunakan metode uji tabung dan kromatografi lapis tipis (KLT).

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 H. Keterangan Empiris Fraksi air ekstrak etanol jamur portabella memiliki daya antibakteri yang berpotensi menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental murni dengan rancangan acak lengkap pola satu arah. Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmakognosi Fitokimia dan Laboratorium Mikrobiologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. B. Variabel dan Definisi Operasional 1. Variabel penelitian a. Variabel bebas: variasi konsentrasi fraksi air ekstrak etanol jamur portabella (1,25 %, 2,5%, 5%, 10%, 20%, 40% dan 80%). b. Variabel tergantung: diameter zona hambat fraksi air ekstrak etanol jamur portabella pada pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli yang diukur dalam millimeter (mm). c. Variabel pengacau terkendali: asal tanaman dari Magelang, Jawa tengah, umur jamur, waktu pengambilan jamur, waktu inkubasi (24 jam), suhu inkubasi (37°C), diameter sumuran (6 mm), volume suspensi bakteri yang diinokulasi dalam media (1 mL), konsentrasi suspensi bakteri uji yang 28

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 kekeruhannya setara dengan larutan Mc Farland 0,5 (diperkirakan 1,5 x 108 sel bakteri/mL), volume larutan uji yang diinokulasikan 40 μl. d. Variabel pengacau tak terkendali: suhu pengeringan di bawah sinar matahari, kelembaban ruangan, suhu penyimpanan serbuk jamur, dan lingkungan tempat tumbuh jamur. 2. Definisi operasional a. Jamur portabella adalah keseluruhan bagian berupa batang dan badan jamur portabella yang diperoleh dari perkebunan jamur di Desa Banyurata, Kecamatan Sawangan, Magelang, Jawa Tengah. b. Maserasi yang dilakukan secara mekanis dengan pengadukan secara terus menerus menggunakan orbital shaker selama ± 24 jam. c. Fraksi air ekstrak etanol jamur portabella adalah ekstrak jamur portabella yang disari dengan cara maserasi menggunakan penyari etanol 70%, dilanjutkan dikeringkan dalam oven hingga bobot tetap kemudian dilarutkan dengan aquadest steril, dipisahkan dengan endapannya menggunakan kertas saring dilanjutkan dikeringkan dalam oven hingga bobot tetap. d. Potensi antibakteri adalah kemampuan fraksi air ektrak etanol jamur portabella untuk menghambat pertumbuhan bakteri atau membunuh bakteri yang dibandingkan dengan kontrol negatif (aquadest steril) yang diketahui melalui uji difusi sumuran dilihat dari diameter hambatan.

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 e. Metode difusi sumuran adalah metode yang digunakan untuk mengetahui potensi fraksi air ekstrak etanol jamur portabella terhadap bakteri S. aureus dan E. coli dengan cara mengukur zona hambat di sekitar sumuran. f. Zona hambat adalah suatu daerah jernih di sekitar sumuran yang telah diinokulasikan fraksi air ekstrak etanol jamur portabella di mana tidak terdapat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus atau Escherichia coli dilihat dari kejernihan media dibandingkan dengan kontrol negatif (aquadest steril) yang diukur dengan jangka sorong. g. Staphylococcus aureus merupakan kultur murni bakteri Staphylococcus aureus ATCC (American Type Culture Collection) 25923 yang diperoleh dari Balai Laboratorium Kesehatan Yogyakarta. h. Escherichia coli merupakan kultur murni bakteri Escherichia coli ATCC (American Type Culture Collection) 38218 yang diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. i. Kontrol positif adalah antibiotika yang telah beredar di pasaran dalam bentuk sirup kering Amoxicillin (amoksisilina trihidrat 25mg/mL) C. Bahan Penelitian Jamur portabella (Agaricus brunnescens Peck) diperoleh dari perkebunan jamur di Desa Banyurata, Kecamatan Sawangan, Magelang, Jawa Tengah, etanol 70%, larutan standar Mc Farland 0,5, bakteri Staphylococcus aureus (ATCC 25923) yang diperoleh dari Balai Laboratorium Kesehatan Yogyakarta, bakteri

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 Escherichia coli (ATCC 38218) yang diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, media NA (Nutrient Agar) (Oxoid), media NB (Nutrient Broth) (Oxoid), sirup kering Amoxicillin (Generik) 25mg/mL, aquadest steril, fase gerak : toluen pa, etil asetat pa, dietilamin pa, kloroform pa, metanol pa, asam formiat pa, asam asetat glasial pa, dan silika gel 60 GF254. D. Alat Penelitian Alat-alat gelas (Pyrex), seperti Erlenmeyer, tabung reaksi, cawan porselin, corong, labu ukur, pipet tetes, pipet volum, cawan petri, batang pengaduk, gelas ukur, sendok, pelubang sumuran, Swahaban FRG Germany Microbiological Safety Cabinet, autoklaf (model KT-40, ALP Co. Ltd. Midorigouka, Hamurashi, Tokyo, Japan), waterbath (Memmert), inkubator (Mammert tipe BE 400), oven (Memmert tipe BE 400, Germany), rotary evaporator (HB 4 basic IKA Labortechnik), vortex (IKA-Werk VF 1), Platform shaker (Inova™ 2100), neraca analitik, jarum ose, jarum enten, mikropipet, pelubang sumuran 6 mm, jangka sorong, flakon, tempat pengembangan (chamber) KLT, mikrokapiler, kertas saring, plat kromatografi lapis tipis. E. Tata Cara Penelitian 1. Pengumpulan bahan dan identifikasi jamur portabella Jamur portabella diperoleh dari perkebunan jamur di daerah Magelang, Jawa Tengah. Kriteria jamur Portabella yang digunakan dalam

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 penelitian ini adalah berwarna coklat terang dan tudung jamurnya belum terlalu mekar. Bahan kemudian dipotong dengan ketebalan kira-kira 2 mm dan dikeringkan di bawah sinar matahari dengan ditutup kain hitam dilanjutkan pengeringan dengan menggunakan oven suhu 36-37 ˚C sampai simplisia dapat dipatahkan. Simplisia kemudian diserbukkan dengan alat penyerbuk yang terdapat di Laboratorium Farmakognosi Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. Identifikasi jamur portabella dilakukan oleh Bagian Biologi Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta untuk menyatakan bahwa bahan yang digunakan adalah benar jamur portabella (Agaricus brunnescens Peck). 2. Pembuatan serbuk simplisia jamur portabella Pembuatan serbuk simplisia jamur portabella dilakukan dengan menggunakan grinder. Serbuk yang diperoleh kemudian diayak dengan ukuran no. 40 mesh. Serbuk simplisia jamur portabella kemudian disimpan dalam wadah kering tertutup rapat sampai akan digunakan. 3. Pembuatan fraksi air ekstrak etanol jamur portabella Ekstraksi simplisia jamur portabella dilakukan dengan cara maserasi. Maserasi dilakukan dengan menimbang serbuk simplisia sebanyak 30 gram dan ditambahkan etanol 70% sebanyak 300 ml dan dimaserasi selama 24 jam dengan menggunakan platform shaker pada kecepatan 150 rpm. Hasil ekstraksi kemudian disaring dengan menggunakan kertas saring. Residu diekstraksi kembali dengan etanol 70% sebanyak 300 ml dan disaring seperti prosedur di atas. Kedua filtrat digabungkan kemudian dimasukkan dalam

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 rotary evaporator selama 1 jam dengan suhu 55º C untuk menghilangkan pelarutnya dilanjutkan dengan waterbath dan oven pada suhu 50°C sampai bobot tetap. Ekstrak etanol jamur portabella dilarutkan seluruhnya menggunakan aquadest steril. Endapan yang terbentuk dipisahkan dengan cara penyaringan menggunakan kertas saring. Filtrat kemudian dipekatkan di dalam oven pada suhu ±50°C sampai bobot tetap. Hasil ekstraksi disimpan pada desikator sampai saat akan digunakan. 4. Skrining fitokimia Skrining fitokimia meliputi uji tabung dan uji KLT. a. Uji tabung Uji tabung serbuk jamur portabella meliputi uji pendahuluan, uji alkaloid, uji flavonoid, uji tanin, uji polifenol, dan uji saponin. 1) Uji pendahuluan Dua gram serbuk jamur portabella ditambahkan 10 mL aquadest dan dipanaskan dengan waterbath selama 30 menit. Larutan yang terbentuk disaring menggunakan kapas. Jika hasil larutan berwarna kuning kemerahan mengindikasikan adanya senyawa yang mengandung kromofor (flavonoid, antrakinon, dll) dengan gugus hidrofilik (gula, asam, fenolat, dll.). Penambahan larutan KOH LP ±3 tetes akan membuat warna larutan menjadi lebih intensif. 2) Uji alkaloid Timbang 500 mg serbuk simplisia, tambahkan 1 mL asam klorida 2N dan 9 mL air, dipanaskan di atas penangas air selama 2

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 menit, didinginkan dan disaring. Pindahkan 3 tetes filtrat pada kaca arloji, tambahkan 2 tetes Bourchadat LP. Apabila ada endapan mengindikasikan adanya alkaloid golongan II. Pindahkan 3 tetes filtrat pada kaca arloji, tambahkan 2 tetes Mayer LP. Apabila ada endapan menggumpal berwarna putih atau kuning yang larut dalam metanol P, dan dengan Bourchadat LP terbentuk endapan berwarna coklat sampai hitam, maka kemungkinan terdapat alkaloid. 3) Uji flavonoid Sebanyak 0,2 gram serbuk dilarutkan ke dalam NaOH terjadi pembentukan intensitas warna kuning. Penambahan HCl akan menyebabkan intensitas warna kuning berubah yang mengindikasikan adanya flavonoid. 4) Uji tanin Dua gram serbuk jamur portabella ditambahkan 10 mL aquadest dan dipanaskan 30 menit pada waterbath. Disaring, filtrat sebanyak 5 mL ditambahkan Natrium Klorida 2% sebanyak 1 mL. Bila terjadi suspensi/endapan, disaring dengan kertas saring. Filtrat ditambah larutan gelatin 1% sebanyak 5 mL. Apabila terbentuk endapan menunjukkan adanya tanin. 5) Uji polifenol Dua gram serbuk jamur portabella ditambahkan 10 mL aquadest dan dipanaskan selama 10 menit dalam penangas air. Larutan disaring panas-panas kemudian didinginkan. Filtrat ditambahkan 3

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 tetes pereaksi besi (III) klorida. Terjadinya warna hijau-biru menunjukkan adanya polifenol. 6) Uji saponin Lima ratus mg serbuk portabella dimasukkan ke dalam tabung reaksi, tambahkan 10 mL aquadest panas, dinginkan kemudian dikocok kuat-kuat selama 10 detik. Terbentuk buih yang mantap selama tidak kurang dari 10 menit, setinggi 1 cm sampai 10 cm. Pada penambahan asam klorida 2N, buih tidak hilang (Departemen Kesehatan RI, 1995). b. Uji penegasan dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) fraksi air ekstrak etanol jamur portabella 1) Uji penegasan flavonoid Sejumlah sampel fraksi air ekstrak etanol (10%) ditotolkan pada plat KLT. Standar rutin 10 mg dilarutkan dalam 1 mL metanol dan ditotolkan pada plat KLT. Fase yang digunakan adalah Silica Gel 60 F254 dan fase gerak yang digunakan etil asetat:asam formiat:asam asetat glasial:air (100:11:11:27). Spot dideteksi pada panjang gelombang 254 nm, 365 nm, dan pereaksi semprot sitroborat. 2) Uji penegasan alkaloid Sejumlah sampel fraksi air ekstrak etanol (10%) ditotolkan pada plat KLT. Standar sinkonin (10 mg dalam 10 mL etanol) ditotolkan pada plat KLT. Fase yang digunakan adalah silika gel 60 F254 dan fase gerak yang digunakan toluen:etil asetat:dietilamin

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 (70:20:10). Bercak dideteksi pada panjang gelombang 254 nm, 365 nm, dan pereaksi Dragendorff dilanjutkan dengan natrium nitrit 5%. 3) Uji penegasan fenolik Sejumlah sampel fraksi air ekstrak etanol (10%) ditotolkan pada plat KLT. Standar asam galat (10 mg dalam 1 mL etanol) ditotolkan pada plat KLT. Fase yang digunakan adalah silika gel 60 F254 dan fase gerak yang digunakan etil asetat:asam formiat:toluen:air (6:1,5:2:1). Spot dideteksi pada panjang gelombang 254 nm, 365 nm, dan pereaksi besi (III) klorida. 4) Uji penegasan saponin Sejumlah sampel fraksi air ekstrak etanol (10%) ditotolkan pada plat KLT. Larutan standar dibuat dengan mengambil 2 gram daging buah S. rarak, direfluks dengan 10 mL etanol 75% selama 10 menit. Larutan standar ditotolkan pada plat KLT. Fase yang digunakan adalah silika gel 60 F254 dan fase gerak yang digunakan kloroform : metanol : air (64:50:10). Spot dideteksi dengan pereaksi antimoni (III) klorida (SbCl3). 5. Sterilisasi peralatan dan media Peralatan yang digunakan dalam penelitian terutama yang berhubungan dengan bakteri uji seperti: tabung reaksi, cawan petri disterilisasi dengan menggunakan autoklaf pada suhu 121 °C tekanan 1 atm selama 25 menit. Peralatan dimsukkan ke dalam oven sampai akan digunakan. Untuk alat-alat gelas yang memiliki ukuran seperti pipet ukur diterilisasi

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 menggunakan etanol 96% sebelum digunakan. Untuk media NA dan NB disterilisasi dengan menggunakan autoklaf pada suhu 121° C selama 25 menit. 6. Penyiapan media uji Pada penelitian ini digunakan media Nutrient Agar (NA). Pembuatan media NA yaitu dengan mencampurkan serbuk NA sebanyak 12,6 gram dengan aquadest sebanyak 450 ml kemudian dipanaskan di atas magnetic steerer sampai jernih. Media yang telah jernih (homogen) dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak masing-masing 5 ml ke dalam 18 buah tabung reaksi sebagai base layer, masing-masing 15 ml ke dalam 18 tabung reaksi sebagai seed layer dan masing-masing 20 ml ke dalam 3 tabung reaksi sebagai kontrol. Tabung reaksi yang telah berisi media kemudian disterilkan dengan autoklaf pada suhu 121° C selama 25 menit dengan keadaan tutup dilonggarkan. 7. Uji aktivitas antibakteri fraksi air ekstrak etanol jamur portabella dengan metode difusi sumuran a. Penyiapan sampel uji fraksi air ekstrak etanol jamur portabella Stok larutan uji dibuat dengan menimbang masing-masing 1 gram (untuk konsentrasi 20%) dan 4 gram (untuk konsentrasi 80%) ekstrak kemudian dilarutkan dengan aquadest steril sampai volume mencapai 5 mL. Konsentrasi yang dibuat dari stok larutan uji adalah 12,5 mg/ml; 25 mg/ml; 50 mg/ml; dan 100 mg/ml dari konsentrasi 20%. Untuk konsentrasi 80%, konsentrasi yang dibuat adalah 400 mg/ml. Variasi

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 konsentrasi larutan uji yang dibuat dapat dilihat pada tabel I dan tabel II sebagai berikut: Tabel I. Pembuatan variasi konsentrasi uji 1,5%-20% Konsentrasi Volume yang diambil Di add dengan aquadest Larutan Uji (% b/v) dari stok larutan uji (mL) steril sampai (mL) 10 2,5 5 5 2,5 5 2,5 2,5 5 1,25 2,5 5 Tabel II. Pembuatan variasi konsentrasi uji 40% dan 80% Konsentrasi Larutan Volume yang diambil Di add dengan aquadest Uji (% b/v) dari stok larutan uji (mL) steril sampai (mL) 40 2,5 5 b. Pembuatan suspensi bakteri Suspensi bakteri dibuat dengan mengambil masing-masing 1-3 ose isolat murni bakteri S. aureus dan E. Coli yang sudah dibiakkan dan diinokulasikan ke dalam 5 ml dan 10 ml media Nutrient Broth (NB) steril dan divortex supaya tercampur merata dan diinkubasi pada suhu 37° C selama 24 jam. Suspensi bakteri uji disetarakan kekeruhannya dengan larutan standar Mc Farland 0,5 (1,5.108 CFU/ml). Jika kekeruhan melebihi standar Mc Farland 0,5 maka dilakukan penambahan media NB steril sampai kekeruhannya setara. c. Pembuatan kontrol pertumbuhan dan kontrol kontaminasi media Kontrol pertumbuhan dibuat dengan menginokulasikan 1 ml suspensi bakteri pada 20 ml media NA cair, dituangkan pada cawan petri, digoyang-goyangkan agar bakteri dan media tercampur, kemudian

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 dibiarkan memadat dan diamati pertumbuhannya setelah inkubasi selama 24 jam. Kontrol kontaminasi media dibuat dengan menuangkan 20 ml NA cair pada cawan petri, dibiarkan memadat kemudian dilubangi dengan pelubang sumuran dan diinkubasi selama 24 jam kemudian diamati keberadaan kontaminan. d. Penanaman isolat S. aureus dan E. coli secara pour plate Base layer dibuat dengan menuangkan 5 ml media NA yang telah disterilkan ke dalam cawan petri, dibiarkan memadat. Seed layer dibuat dengan menuangkan media NA steril yang sebelumnya dinokulasikan dengan bakteri uji masing-masing sebanyak 1 ml dan dituang dalam cawan petri secara pour plate. Cawan digoyang-goyangkan agar bakteri tersebar merata kemudian dibiarkan memadat. e. Uji daya antibakteri fraksi air ekstrak etanol jamur portabella dengan difusi sumuran Dengan menggunakan pelubang sumuran berdiameter 6 mm, dibuat lubang-lubang pada media NA sampai permukaanbase layer. Apabila lubang yang dibuat melebihi base layer, untuk penambalan pada lubang yang telah terbentuk ditambahkan media NA cair sebanyak 10 l dan dibiarkan memadat. Pada lubang-lubang tersebut diinokulasikan 5 konsentrasi sampel uji, pelarut aquadest steril (kontrol negatif), dan sirup kering Amoksisilin (kontrol positif) masing-masing sebanyak 40 l. Untuk konsentrasi tinggi, pada lubang-lubang tersebut diinokulasikan masingmasing konsentrasi sampel uji, pelarut aquadest steril (kontrol negatif),

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 dan sirup kering Amoksisilin (kontrol positif) masing-masing sebanyak 40 l. Petri diinkubasi pada suhu 37° C selama 24 jam kemudian diamati zona jernih yang terbentuk. Jika pada konsentrasi terkecil telah terbentuk zona hambat, dilakukan penurunan konsentrasi terus menerus hingga didapatkan konsentrasi yang tidak menghasilkan zona hambat. Daya antibakteri diamati berdasarkan diameter zona hambat yang terbentuk dan diameter zona hambat dicatat dalam milimeter (mm) kemudian dibandingkan dengan kontrol negatif aquadest steril. F. Analisis Hasil Data hasil uji daya antibakteri menggunakan metode difusi sumuran berupa diameter zona hambat pada berbagai variasi konsentrasi sampel uji dibandingkan dengan kontrol negatif dan direplikasi sebanyak 3 kali, repetisi 3 kali. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan uji Shapiro-Wilk, Levene Test, uji ANAVA dan dilanjutkan dengan uji Pos Hoc Tukey’s HSD. Analisis hasil dilakukan dengan membandingkan hasil antara kelompok kontrol dan kelompok uji. Kandungan senyawa dalam serbuk jamur portabella diperoleh dengan uji tabung dan KLT. Analisis hasil KLT bersifat deskriptif dan komparatif, hasilnya dapat dilihat dari warna bercak yang tampak pada sinar UV 254 nm dan UV 365 nm dan setelah disemprot dengan pereaksi yang sesuai dan dilihat harga Rfnya.

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengumpulan Bahan Jamur Portabella Jamur portabella yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan dari perkebunan jamur di daerah Magelang, Jawa Tengah. Bahan tersebut dikumpulkan pada bulan Agustus 2013. Jamur portabella yang telah berumur 2 – 3 bulan dari masa pembibitan diambil dengan memotong batang jamur ±2 cm dari permukaan tanah untuk menghindari kemungkinan adanya pengotor dan kontaminan yang berasal dari tanah. Adanya pengotor dan kontaminan yang terdapat pada jamur yang dipanen memungkinkan adanya senyawa lain yang bukan berasal dari jamur portabella sehingga dapat mempengaruhi hasil uji pada penelitian ini. B. Pembuatan Serbuk Jamur Portabella Jamur portabella yang telah dikumpulkan dicuci dengan air mengalir dengan tujuan untuk membersihkan dari pengotor yang menempel. Penggunaan air mengalir bertujuan untuk mencegah kotoran kembali menempel pada jamur portabella. Setelah dicuci jamur Portabella kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari dengan ditutup dengan kain hitam. Jamur yang akan dikeringkan sebelumnya dipotong-potong setebal kurang lebih 2 mm dengan tujuan mempercepat proses pengeringan. Pengeringan di bawah sinar matahari dilakukan sampai simplisia jamur portabella kering kemudian dilanjutkan dengan 41

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 pengeringan di dalam oven dengan suhu 36-37 ˚C. Pengeringan dilakukan sampai simplisia dapat dipatahkan supaya mempermudah proses penyerbukan. Pengeringan dilakukan untuk mengurangi kadar air dalam simplisia. Pengurangan kadar air dalam simplisia bertujuan untuk mencegah tumbuhnya kapang, jamur dan bakteri yang dapat merusak simplisia serta untuk menekan terjadinya peruraian senyawa kimia akibat adanya reaksi enzimatis yang dapat menyebabkan perubahan kandungan senyawa aktif. Setelah dikeringkan, simplisia jamur portabella diserbuk dengan menggunakan grinder hingga halus. Selanjutnya serbuk simplisia jamur portabella diayak dengan ukuran no. 40 mesh. Penyerbukan dan pengayakan dilakukan untuk mendapatkan ukuran serbuk simplisia jamur portabella yang cukup kecil sehingga memperluas permukaan yang kontak dengan cairan penyari. Semakin luas kontak permukaan serbuk simplisia dengan cairan penyari (dalam batas optimal) diharapkan kandungan metabolit yang terlarut dalam penyari semakin banyak dan cepat. C. Pembuatan Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella Serbuk jamur portabella yang diperoleh kemudian diekstraksi dengan pelarut etanol. Pelarut etanol digunakan untuk mendapatkan crude extract yang mengandung senyawa yang bersifat semipolar sampai polar. Dalam penelitian ini digunakan metode maserasi karena tidak memerlukan pemanasan sehingga tidak merusak zat aktif yang terkandung di dalam serbuk simplisia. Selain itu, maserasi merupakan metode penyarian yang sederhana, mudah dikerjakan dan

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 menggunakan peralatan yang sederhana. Dalam perkembangannya, metode maserasi seringkali disertai dengan proses penggojogan menggunakan platform shaker selama waktu tertentu untuk mengurangi kejenuhan pelarut dan untuk mengurangi waktu maserasi sehingga lebih efisien. Metode maserasi dengan disertai penggojogan terus menerus menggunakan platform shaker dapat disebut juga maserasi mekanis. Proses ektraksi dengan metode maserasi dilakukan dengan cara merendam 30 gram serbuk jamur portabella dalam 300 mL cairan penyari. Mekanisme metode maserasi yaitu cairan penyari akan menembus ke dalam sel yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi larutan zat aktif antara di dalam dan di luar sel, maka larutan yang pekat di dalam sel terdesak keluar sel. Peristiwa tersebut berulang hingga terjadi keseimbangan konsentrasi zat aktif antara di dalam dan di luar sel (Departemen Kesehatan RI, 1986). Pengulangan/penggantian pelarut dilakukan sebanyak 1 kali dengan tujuan untuk memenuhi efisiensi dalam mengekstrak dan untuk mencapai keseimbangan konsentrasi antara cairan di dalam sel dengan cairan di luar sel, selain itu juga untuk menarik zat-zat yang diperkirakan masih ada. Maserasi disertai dengan penggojokan menggunakan platform shaker secara berkelanjutan selama 18-24 jam bertujuan untuk meratakan konsentrasi di luar butir simplisia sehingga derajat perbedaan konsentrasi di dalam dan di luar sel tetap terjaga. Hasil maserasi kemudian kemudian disaring lalu diuapkan menggunakan rotary evaporator dan dilanjutkan di atas waterbath supaya maserat yang didapatkan lebih pekat. Maserat kemudian dikeringkan di dalam oven pada suhu tidak lebih

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 dari 50˚C dengan tujuan supaya zat-zat dalam maserat tidak rusak. Pengeringan di dalam oven dilakukan sampai dicapai bobot tetap. Fraksi air ekstrak etanol jamur portabella dibuat dengan melarutkan ekstrak etanol yang telah mencapai bobot tetap dengan menggunakan aquadest steril. Bagian yang tidak larut dipisahkan dengan menggunakan kertas saring sedangkan bagian yang larut diuapkan kembali di dalam oven pada suhu tidak lebih dari 50˚C sampai dicapai bobot tetap. Fraksi ini kemudian akan digunakan pada percobaan selanjutnya yaitu uji aktivitas antibakteri. Bagian yang tidak larut air tersebut dipisahkan dengan tujuan mendapatkan ekstrak yang dapat larut sempurna oleh pelarut. Pada uji kelarutan menunjukkan bahwa bagian yang tidak larut dari ekstrak etanol tersebut tidak dapat larut dengan aquadest maupun DMSO. Bagian yang tidak larut tersebut hanya dapat larut dengan kloroform (Lampiran 8). Namun karena kloroform merupakan zat yang mudah menguap maka pelarut tersebut tidak digunakan karena dapat mempengaruhi hasil pada uji selanjutnya yaitu uji aktivitas antibakteri dengan metode difusi sumuran. Tabel III. Rata-rata rendemen ekstrak etanol dan fraksi air ekstrak etanol jamur portabella Ekstrak Etanol (%) Fraksi air ekstrak etanol (%) Replikasi I 38,70 32,12 Replikasi II 37,32 31,68 Replikasi III 39,22 32,59 Rata-rata 38,41 32,13 Pada Tabel III, rendemen ekstrak etanol yang diperoleh dari rata-rata 3 replikasi adalah 38,41%. Sedangkan rendemen fraksi air ekstrak etanol jamur portabella yang diperoleh dari rata-rata 3 replikasi adalah 32,13%. Rendemen yang diperoleh lebih banyak pada ekstrak etanol daripada fraksi air ekstrak etanol

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 karena pada pembuatan fraksi air ekstrak etanol dilakukan penyaringan untuk menghilangkan fraksi non-polar yang tidak larut air. Jumlah fraksi non-polar diduga berjumlah tidak terlalu banyak pada ekstrak sehingga tetap didapatkan rendemen dalam jumlah yang cukup banyak. D. Skrining Fitokimia Jamur Portabella Tujuan utama skrining fitokimia adalah untuk mensurvei sampel jamur dan mendapatkan kandungan bioaktif atau kandungan yang berguna untuk pengobatan. Dalam penelitian ini skrining perlu dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya senyawa yang berpotensi sebagai antibakteri. Contoh senyawa yang berpotensi sebagai antibakteri yaitu saponin, alkaloid, fenolik, flavonoid, tanin, dan lain-lain. Analisis kualitatif untuk mengetahui golongan senyawa dalam sampel jamur tersebut dapat dilakukan dalam 2 cara, yaitu uji tabung dan uji kualitatif secara KLT. 1. Uji tabung Uji tabung dilakukan untuk mengetahui kandungan kimia jamur portabella yang kemudian dipertegas dengan uji KLT. Uji tabung yang dilakukan meliputi uji pendahuluan, uji alkaloid, uji flavonoid, uji tanin, uji polifenol, dan uji saponin (Tabel IV).

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 Tabel IV. Hasil pengamatan uji tabung serbuk jamur portabella No Pengujian 1 Uji Pendahuluan Filtrat Filtrat + KOH LP 2 Uji Alkaloid Filtrat 1 + Bouchardat Filtrat 2 + Mayer 3 Uji Flavonoid Serbuk + NaOH Serbuk + NaOH + HCl 4 Uji Tanin Filtrat + NaCl 2% + gelatin 1% 5 Uji Polifenol Filtrat + FeCl3 6 Uji Saponin Pembentukan buih 1-10 cm Buih + HCl 2N Ket : (+) = ada, (-) = tidak ada Pengamatan Hasil Kuning kemerahan Kuning coklat tua + + Endapan coklat Endapan putih + + Tidak terbentuk warna kuning Tidak ada perubahan intensitas warna - Tidak terdapat endapan - Tidak terbentuk warna hijau-biru - Terbentuk buih setinggi 1,8 cm Buih tidak hilang + + a. Uji pendahuluan Uji pendahuluan bertujuan untuk mengetahui apakah senyawa dalam jamur portabella mengandung gugus kromofor seperti flavonoid, antrakinon, dan lain-lain atau gugus hidrofilik seperti gula, asam fenolat, dan sebagainya. Hasil penelitian pada uji pendahuluan (Tabel IV) menunjukkan adanya larutan yang berwarna kuning kemerahan dan dengan penambahan KOH LP warna menjadi kuning kecoklatan. Kesimpulan sementara diduga serbuk jamur portabella mengandung senyawa dengan gugus kromofor dan gugus hidrofilik.

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 b. Uji alkaloid Alkaloid adalah senyawa yang mengandung atom N dan kebanyakan bersifat basa. Identifikasi alkaloid dapat dilakukan dengan cara reaksi pengendapan dan reaksi warna yaitu dengan cara melarutkan 2 gram serbuk jamur portabella dengan HCl. Penambahan HCl bertujuan untuk mengubah alkaloid yang bersifat basa menjadi garam alkaloid, agar bisa larut dalam air. Pemanasan di atas penangas air dilakukan untuk mempercepat reaksi pembentukan garam alkaloid. Setelah dingin, kemudian disaring dan direaksikan dengan larutan Bouchardat (gabungan kalium iodida dan iodium) dan Mayer (gabungan raksa (II) klorida dan kalium iodida). Reaksi positif terjadi jika terbentuk endapan coklat pada penambahan Bouchardat dan endapan putih pada penambahan Mayer. Menurut Marliana, Suryanti, dan Suyono (2005), pada uji alkaloid dengan perekasi Mayer, diperkirakan nitrogen pada alkaloid akan bereaksi dengan ion logam K+ dari kalium tetraidomerkurat (II) membentuk kompleks kalium-alkaloid yang mengendap. Perkiraan reaksi yang terjadi pada uji Mayer ditunjukkan pada Gambar 4. Gambar 2. Perkiraan reaksi uji Mayer (Marliana dkk., 2005)

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 Hasil penelitian yang ditampilkan pada Tabel IV menunjukkan adanya endapan pada masing-masing penambahan pereaksi sehingga dapat diduga terdapat alkaloid pada sampel. c. Uji flavonoid Serbuk jamur portabella dilarutkan ke dalam NaOH yang selanjutnya ditambahkan HCl. Larutan NaOH berfungsi sebagai basa kuat yang dapat mengionisasi hampir di seluruh gugus hidroksi pada inti flavonoid yang menyebabkan terjadinya pergeseran batokromik (Markham, 1988). Pergeseran batokromik tersebut menyebabkan intensitas warna pada flavonoid menjadi lebih besar. Larutan HCl berfungsi sebagai agen yang menghentikan reaksi tersebut (kembali pada warna asli) (Packer,2001). Hasil penelitian pada Tabel IV menunjukkan hasil negatif ditandai dengan tidak terbentuknya warna kuning pada penambahan NaOH. d. Uji tanin (zat samak) Serbuk jamur portabella dilarutkan dalam air dan dilakukan pemanasan untuk mempercepat reaksi. Penambahan larutan natrium klorida 2% dimaksudkan untuk membentuk endapan garam Na asam dari tannin (Gambar 5). Gambar 3. Reaksi antara NaCl dengan senyawa fenolik (Herlianawati, 2007)

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 Penambahan gelatin dimaksudkan untuk mempercepat pengendapan tanin yang terlarut dalam air. Gelatin merupakan senyawa yang bisa menyerap air, sehingga air akan tertarik oleh gelatin, selain itu gelatin mengandung protein dimana tanin dapat mengendapkan protein dan NaCl akan bereaksi semakin cepat dengan tanin untuk membentuk endapan garam Na asam. Hasil uji tanin dari serbuk portabella yang ditampilkan pada Tabel IV adalah negatif karena tidak terdapat endapan. e. Uji polifenol Polifenol merupakan senyawa yang larut di air panas. Oleh karena itu untuk melarutkannya serbuk jamur dipanaskan dengan air selama 10 menit dalam penangas air mendidih. Penambahan pereaksi besi (III) klorida, mengindikasikan adanya gugus fenol. Reaksi senyawa polifenol dengan FeCl3 akan membentuk kompleks warna. Terjadinya warna hijaubiru menunjukkan adanya polifenol (Gambar 6). Gambar 4. Reaksi antara senyawa fenolik dengan FeCl3 (Herlianawati, 2007) Hasil penelitian pada Tabel IV menunjukkan terjadinya warna hijau kebiru-biruan yang tidak terlalu kentara sehingga kemungkinan

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 terdapat senyawa polifenol dalam jumlah sangat kecil dalam serbuk jamur portabella. f. Uji saponin Pada uji saponin, hasil positif menunjukkan adanya buih setinggi 1-10 cm setelah ditambah dengan air panas dan digojog kuat selama 10 detik. Buih yang terbentuk ini akan bertahan dalam jangka waktu relatif lama. Hal ini dibuktikan dengan buih akan tetap ada setelah dibiarkan selama 10 menit. Buih yang terbentuk disebabkan karena terbentuknya sabun pada saat penggojogan dengan air panas. Saponin merupakan suatu senyawa yang mempunyai gugus hidrofob dan gugus hidrofil. Sifat ini menyerupai surfaktan/sabun yang dapat menurunkan tegangan permukaan antara udara/gas dengan air yang berupa emulsi gas dalam air (buih). Dari hasil penelitian didapatkan buih setinggi 1,8 cm setelah penggojogan kuatkuat selama 10 detik. Setelah didiamkan selama 10 menit tidak terjadi penurunan tinggi buih dan dengan penetesan HCl 2N buih tidak hilang sehingga dapat diduga bahwa serbuk jamur portabella mengandung saponin. 2. Uji kualitatif secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Identifikasi kualitatif serbuk jamur portabella diidentifikasi dengan kromatografi lapis tipis (KLT). Uji kualitatif secara KLT lebih sensitive dan akurat dibandingkan dengan uji tabung sehingga digunakan untuk uji penegasan. Pada uji KLT ini dilakukan identifikasi senyawa yang pada uji tabung menunjukkan hasil positif, yaitu uji alkaloid dan saponin. Selain itu

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 juga dilakukan untuk menguji adanya flavonoid dan fenolik walaupun pada uji tabung menunjukkan hasil negatif namun pada penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa senyawa tersebut terkandung di dalam jamur dalam genus yang sama. Penggunaan KLT yang lebih sensitif dibandingkan uji tabung diharapkan akan didapatkan senyawa-senyawa tersebut yang mungkin pada uji tabung tidak terdeteksi. a. Uji penegasan flavonoid Pada uji KLT flavonoid fase diam yang digunakan yaitu silika gel 60 F254 dan fase gerak yang digunakan yaitu etil asetat:asam formiat:asam asetat glasial:air (100:11:11:27). Pembanding yang digunakan adalah rutin (1%). Sampel dan pembanding ditotolkan pada plat KLT dan dielusi sampai panjang tertentu (8 cm). Pengelusian dilakukan pada bejana yang telah dijenuhkan oleh fase gerak. Penjenuhan sebelum proses elusi dilakukan supaya proses elusi dapat berlangsung dengan baik. Rf 1,00 0,50 Keterangan :  Fase diam silika gel 60 GF254  Fase gerak etil asetat : asam formiat : asam asetat glasial : air (100:11:11:27)  Deteksi sitroborat Rutin Sampel 0,00 Gambar 5. Hasil uji KLT flavonoid

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 Pada Gambar 7 terlihat bahwa warna bercak dari sampel berbeda bila dibandingkan dengan pembanding rutin. Selain itu panjang elusi dari sampel juga berbeda jauh bila dibandingkan dengan pembanding rutin. Nilai Rf dan warna bercak pada uji flavonoid dapat dilihat pada Tabel V. Tabel V. Nilai Rf dan warna bercak pada uji KLT dengan fase diam silika gel 60 F254 dan fase gerak etil asetat : asam formiat : asam asetat glasial : air (100:11:11:27) dan pembanding rutin (1%) untuk analisis flavonoid Bercak Sampel Pembanding UV254 Rf Warna 0,06 Coklat 0,40 Kuning Deteksi UV365 Rf Warna 0,06 Coklat 0,40 Kuning Sitroborat Rf Warna 0,06 Coklat 0,40 Kuning Berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada tabel V dapat dilihat bahwa antara sampel dan pembanding memiliki nilai Rf yang jauh berbeda. Selain itu warna bercak dari sampel dan pembanding juga berbeda. Dari hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa sampel tidak mengandung flavonoid. b. Uji penegasan alkaloid Pada uji KLT alkaloid fase diam yang digunakan yaitu silika gel 60 F254 dan fase gerak yang digunakan yaitu toluen : etil asetat : dietilamin (70:20:10). Pembanding yang digunakan adalah sinkonin (0,1%). Sampel dan pembanding ditotolkan pada plat KLT kemudian dielusi sepanjang 8 cm di dalam chamber yang berisi fase gerak. Chamber sebelumnya telah dijenuhkan terlebih dahulu dengan tujuan supaya proses elusi dapat berjalan dengan baik.

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 Rf 1,00 0,50 Keterangan :  Sin. : pembanding sinkonin  Fase diam silika gel 60 GF254  Fase gerak etil asetat : asam formiat : toluen : air (6:1,5:2:1)  Deteksi Dragendoff dilanjutkan natrium nitrit 5% 0,00 Sin. Sampel Gambar 6. Hasil uji KLT alkaloid Hasil yang ditampilkan pada Gambar 8 terlihat bahwa warna bercak dari sampel berbeda bila dibandingkan dengan pembanding sinkonin. Selain itu panjang elusi dari sampel juga berbeda jauh bila dibandingkan dengan pembanding sinkonin. Nilai Rf dan warna bercak pada uji alkaloid dapat dilihat pada Tabel VI. Tabel VI. Nilai Rf dan warna bercak pada uji KLT dengan fase diam silika gel 60 F254 dan fase gerak toluen : etil asetat : dietilamin (70:20:10) dan pembanding sinkonin (0,1%) untuk analisis alkaloid Bercak Sampel Pembanding UV254 Rf Warna 0,08 Abu 0,68 Kuning Deteksi UV365 Dragendorff+NaNO2 Rf Warna Rf Warna 0,08 Abu 0,08 Abu 0,68 Kuning 0,68 Kuning Berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada tabel VI dapat dilihat bahwa antara sampel dan pembanding memiliki nilai Rf yang jauh

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 berbeda. Selain itu warna bercak dari sampel dan pembanding juga berbeda. Dari hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa sampel tidak mengandung alkaloid. Hasil pada uji KLT ini berbeda dari uji tabung yang dilakukan sebelumnya dimana berdasarkan uji tabung sampel diduga mengandung alkaloid. Hal tersebut dilihat dari endapan yang terbentuk pada penambahan pereaksi Bouchardat dan Mayer. Hasil positif pada uji tabung dapat disebabkan adanya kandungan protein pada serbuk jamur portabella. Pengendapan pada uji tabung terjadi karena adanya reaksi antara reagen dengan atom N pada senyawa. Alkaloid memiliki kemiripan struktur dengan asam amino yang mengandung N (Sirait, 2007). Baik alkaloid maupun asam amino memiliki atom N sehingga pengendapan pada uji tabung kemungkinan disebabkan reaksi antara reagen dengan asam amino bukan dengan alkaloid. c. Uji penegasan fenolik Pada uji KLT fenolik fase diam yang digunakan yaitu silika gel 60 F254 dan fase gerak yang digunakan yaitu etilasetat : asam formiat : toluen : air (6:1,5:2:1). Pembanding yang digunakan adalah asam galat (1%). Sampel dan pembanding ditotolkan pada plat KLT kemudian dielusi sepanjang 8 cm di dalam chamber yang berisi fase gerak. Chamber sebelumnya telah dijenuhkan terlebih dahulu dengan tujuan supaya proses elusi dapat berjalan dengan baik.

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 Rf 1,00 0,50 Keterangan :  As. Gal : pembanding asam galat  Fase diam silika gel 60 GF254  Fase gerak etil asetat : asam formiat : toluen : air (6:1,5:2:1)  Deteksi FeCl3 0,00 As. Gal Sampel Gambar 7. Hasil uji KLT fenolik Hasil yang ditunjukkan pada Gambar 9 terlihat bahwa warna bercak dari sampel berbeda bila dibandingkan dengan pembanding asam galat. Selain itu panjang elusi dari sampel juga berbeda jauh bila dibandingkan dengan pembanding asam galat. Nilai Rf dan warna bercak pada uji fenolik dapat dilihat pada Tabel VII berikut ini. Tabel VII. Nilai Rf dan warna bercak pada uji KLT dengan fase diam silika gel 60 F254 dan fase gerak etil asetat : asam formiat : toluen : air (6:1,5:2:1) dan pembanding asam galat (1%) untuk analisis fenolik Bercak Sampel Pembanding UV254 Rf Warna Coklat 0,76 Abu Deteksi UV365 Rf Warna Coklat 0,76 Abu FeCl3 Rf Warna Coklat 0,76 Abu Berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada tabel VII dapat dilihat bahwa antara sampel dan pembanding memiliki nilai Rf yang jauh

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 berbeda. Selain itu warna bercak dari sampel dan pembanding juga berbeda, sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel tidak mengandung fenolik. d. Uji penegasan saponin Pada uji KLT saponin fase diam yang digunakan yaitu silika gel 60 F254 dan fase gerak yang digunakan yaitu kloroform : metanol : air (64:50:10). Pembanding yang digunakan adalah ekstrak kulit buah Sapindus rarak. Kandungan utama buah S. rarak adalah saponin triterpenoid. Dyatmiko, Soeharto dan Moegijanto (1983) mendapatkan kandungan saponin sebesar 20% pada buah S. rarak, sehingga buah S. rarak dapat digunakan sebagai kontrol positif. Kontrol positif dibuat dengan mengambil 2 gram daging buah S. rarak, direfluks dengan 10 mL etanol 75% selama 10 menit. Sampel dan pembanding ditotolkan pada plat KLT kemudian dielusi sepanjang 8 cm di dalam chamber yang berisi fase gerak. Chamber sebelumnya telah dijenuhkan terlebih dahulu dengan tujuan supaya proses elusi dapat berjalan dengan baik.

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 Rf 1,0 0,5 Keterangan :  Fase diam silika gel 60 GF254  Fase gerak kloroform : metanol : air (64:50:10)  Deteksi UV 365 nm & SbCl3 0,0 S. rarak Sampel Gambar 8. Hasil uji KLT saponin Pada Gambar 10 terlihat bahwa warna bercak dari sampel mirip dengan warna bercak pembanding S. rarak. Panjang elusi dari sampel juga tidak berbeda jauh bila dibandingkan dengan pembanding S. rarak. Nilai Rf dan warna bercak pada uji fenolik dapat dilihat pada Tabel VIII. Tabel VIII. Nilai Rf dan warna bercak pada uji KLT dengan fase diam silika gel 60 F254gerak kloroform : metanol : air (64:50:10) dan pembanding S. rarak untuk analisis saponin Bercak Sampel Pembanding UV365 Rf Warna 0,62 Biru 0,68 Biru Deteksi SbCl3 Rf Warna - SbCl3-UV365 Rf Warna 0,62 Biru 0,68 Biru Berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada tabel VIII dapat dilihat bahwa antara sampel dan pembanding memiliki nilai Rf yang tidak jauh berbeda. Selain itu baik sampel maupun pembanding berfluoresensi warna

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 biru pada UV 365 nm. Dari hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa sampel mengandung saponin. E. Uji Potensi Antibakteri Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur PortabellaTerhadap Bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Escherichia coli ATCC 38218 Pengujian aktivitas antimikroba dilakukan secara difusi menggunakan metode sumuran. Metode difusi sumuran digunakan pada penelitian ini karena metode ini sesuai untuk semua senyawa yang bersifat cenderung polar. Selain itu metode difusi sumuran tidak terbatas pada bakteri aerob saja tetapi juga dapat digunakan untuk bakteri fakultatif anaerob maupun anaerob. Prinsip metode difusi yaitu senyawa uji ditempatkan dalam media padat yang sebelumnya telah diinokulasikan bakteri uji kemudian senyawa uji berdifusi ke dalam media dan menghambat pertumbuhan bakteri uji. Hal yang dilakukan sebelum pengujian adalah terlebih dahulu dibuat suspensi bakteri dan seri konsentrasi sampel uji. Sebelum memulai pengerjaan seluruh peralatan gelas yang tidak berukur disterilkan terlebih dahulu dengan menggunakan autoklaf pada tekanan tinggi dan suhu 121˚C selama 25 menit. Prinsip sterilisasi dengan autoklaf adalah sterilisasi menggunakan uap panas bertekanan tinggi dimana akan mendenaturasi protein sel bakteri dan mengkoagulasi protoplasma. Saat dilakukan sterilisasi dengan autoklaf tutup tabung harus dilonggarkan agar tidak pecah oleh tekanan yang tinggi. Untuk alatalat gelas yang berukur disterilkan dengan menggunakan alkohol agar tidak

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 memuai jika disterilkan dengan autoklaf di mana menyebabkan ukuran menjadi tidak valid. Pembuatan suspensi bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli disetarakan kekeruhannya dengan larutan standar Mc Farland 0,5 (1,5 x 108 sel bakteri/mL) dan dilihat secara visual. Penyetaraan ini dilakukan untuk reprodusibilitas percobaan. Apabila dilakukan replikasi, dapat diasumsikan jumlah bakteri per satuan yang digunakan selalu sama. Konsentrasi sampel uji yang digunakan adalah 1,25%, 2,5%, 5%, 10%, dan 20% (Lampiran 9). Penentuan konsentrasi ini berdasarkan pada penelitian sebelumnya (Moglad and Saadabi, 2012) mengenai daya antibakteri pada jamur sejenis (A. bisporus) dengan menggunakan metode difusi sumuran. Pada rentang konsentrasi tersebut menunjukkan adanya zona hambat yang berarti terdapat aktivitas antibakteri terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa, S. aureus, E. coli dan C. albicans. Apabila pada rentang konsentrasi tersebut tidak menunjukkan adanya zona hambat, konsentrasi ditingkatkan menjadi 40% dan 80% (Lampiran 9). Penentuan konsentrasi tersebut berdasarkan orientasi uji kelarutan konsentrasi maksimum fraksi air ekstrak etanol dapat terlarut sempurna. Pada konsentrasi di atas 80% fraksi tidak dapat terlarut sempurna sehingga akan berpengaruh pada hasil yang didapat. Pada penelitian ini digunakan pelarut sekaligus kontrol negatif aquadest steril dan kontrol positif Amoksisilin. Pelarut yang digunakan adalah aquadest karena berdasarkan uji kelarutan pelarut tersebut dapat melarutkan fraksi dengan baik sampai pada konsentrasi yang tinggi. Selain itu bila dibandingkan dengan pelarut lain seperti etanol, DMSO, dan CMC-Na, aquadest merupakan pelarut

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 yang paling aman dan dapat melarutkan ekstrak dengan lebih baik sehingga aquadest dipilih sebagai pelarut. Aquadest diketahui tidak memiliki daya antibakteri sehingga diharapkan tidak akan mempengaruhi hasil yang didapat. Hal ini dipastikan dengan digunakannya aquadest sebagai kontrol pelarut yaitu untuk mengetahui apakah pelarut memiliki daya antibakteri atau tidak. Pada penelitian ini digunakan Amoksisilin sebagai kontrol positif. Amoksisilin adalah antibiotik spektrum luas yang aktif terhadap bakteri gram positif dan dan gram negatif. Amoksisilin bekerja dengan mekanisme menghambat pembentukan dinding sel bakteri (Nester, Anderson, Roberts Jr, and Nester, 2007). Kontrol positif digunakan sebagai pembanding senyawa uji. Senyawa uji dapat dikatakan mempunyai aktivitas antibakteri yang kuat apabila zona hambat yang terbentuk lebih besar dari kontrol positif. Pada penelitian ini digunakan kontrol kontaminasi media, kontrol ruang dan kontrol pertumbuhan. Kontrol kontaminasi media berfungsi untuk mengetahui apakah proses pengerjaan dilakukan secara aseptis atau tidak serta untuk mengetahui apakah media yang digunakan terkontaminasi atau tidak. Kontrol ruang berfungsi untuk mengetahui apakah ruangan yang dipakai pada proses pengerjaan yaitu microbiology safety cabinet (MSC) steril atau tidak. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada kontrol media tidak terdapat pertumbuhan bakteri sehingga dapat dikatakan bahwa media yang digunakan tidak terkontaminasi dan pengerjaan dilakukan secara aseptis. Pada pengamatan kontrol ruang terlihat adanya sedikit kontaminan (Lampiran 29). Hal itu menunjukkan bahwa ruang yang digunakan (MSC) tidak steril. Ruang pengerjaan yang tidak

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 steril tidak mempengaruhi hasil uji karena pengerjaan juga dilakukan pada sekitar api Bunsen (tidak lebih dari 20 cm dari api Bunsen) sehingga hasil uji tetap tidak terkontaminasi. Hal tersebut ditunjukkan dengan kontrol media yang tidak terdapat kontaminasi (Lampiran 29). Pada pengamatan kontrol pertumbuhan terlihat bahwa media menjadi keruh jika dibandingkan dengan kontrol media yang menunjukkan bakteri dapat tumbuh dengan baik dan seragam untuk bakteri S. aureus maupun E. coli. Hal itu berarti media yang digunakan sudah sesuai dengan pertumbuhan kedua bakteri. Media yang digunakan pada pengujian ini adalah media Nutrient Agar (NA). Media NA dipilih karena media memiliki kandungan nutrisi yang lengkap bagi pertumbuhan bakteri. Kandungan Nutrisi tersebut antara lain pepton, NaCl, yeast extract, dan beef extract. Media ini dapat digunakan untuk berbagai jenis mikroorganisme (Atlas, 1996). Nutrisi-nutrisi yang ada pada media NA tersebut dibutuhkan oleh bakteri untuk tumbuh pada media. Pengujian aktivitas antibakteri fraksi air ekstrak etanol dilakukan dengan replikasi sebanyak 3 kali dan repetisi sebanyak 3 kali. Sebanyak masing-masing 40µL sampel uji, kontrol positif dan kontrol negatif dimasukkan ke dalam sumuran berdiameter 6 mm pada cawan petri. Diameter sumuran sebesar 6 mm dirasa cukup untuk menampung cairan sebanyak 40µL sehingga lebih efisien. Cawan petri kemudian diinkubasi selama 24 jam dengan keadaan tidak terbalik untuk mencegah sampel maupun kontrol di dalam sumuran tumpah keluar dari sumuran. Pengukuran diameter zona hambat dilakukan setalah inkubasi dengan menggunakan jangka sorong secara horisontal, vertikal, dan diagonal kemudian

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 dihitung rata-rata dari ketiganya. Hasil uji aktivitas antibakteri pada konsentrasi rendah tidak menunjukkan adanya aktivitas antibakteri baik terhadap bakteri S. aureus maupun E. coli. Hal tersebut ditunjukkan dengan tidak terbentuknya zona jernih di sekitar sumuran. G F D S. aureus B A E C G F B A E D C Keterangan : A. Kontrol Positif B. Kontrol Negatif C. Konsentrasi 1,25% D. Konsentrasi 2,5% E. Konsentrasi 5% F. Konsentrasi 10% G. Konsentrasi 20% E. coli Gambar 9. Diameter zona hambat fraksi air ekstrak etanol pada seri konsentrasi 1,5%-20% terhadap S. aureus dan E. coli Pada gambar 11 menunjukkan pada seri konsentrasi 1,5%-20% tidak terbentuk zona jernih. Hal ini diduga disebabkan jumlah senyawa yang terkandung terlalu sedikit. Hasil ini berbeda dari penelitian sejenis terhadap A. brunnescens (Dogan, et al, 2013) yang menunjukkan adanya aktivitas antibakteri ekstrak jamur portabella yang ditunjukkan dengan nilai absorbansi mengunakan ELISA. Pada penelitian dengan metode mikrodilusi tersebut, ekstrak metanol jamur portabella memiliki nilai KHM 0,156 mg/mL terhadap bakteri S. aureus dan 0,625 mg/mL terhadap bakteri E. coli. Perbedaan hasil penelitian ini dapat disebabkan salah satunya karena perbedaan metode uji antibakteri yang digunakan. Pada penelitian sebelumnya (Dogan, et al, 2013) metode yang digunakan adalah mikrodilusi. Metode mikrodilusi dapat memberikan sensitifitas

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 yang lebih baik bila dibandingkan dengan metode difusi sumuran serta dapat memberikan hasil secara kuantitatif. Kemungkinan lain penyebab perbedaan hasil penelitian dengan peneliatian sebelumnya (Dogan, et al, 2013) adalah perbedaan penyari yang digunakan. Pada penelitian tersebut penyari yang digunakan adalah metanol, aseton, dan petroleum eter sedangkan penelitian ini menggunakan fraksi air ekstrak etanol. Hal tersebut dapat berpengaruh pada jenis senyawa aktif yang tersari di dalam ekstrak. Sinko (2006) dalam bukunya mengatakan bahwa air adalah pelarut yang baik untuk garam, gula, dan senyawa sejenis, sedangkan minyak mineral dan benzena sering digunakan sebagai pelarut untuk senyawa yang biasanya hanya sedikit larut dalam air. Temuan empiris ini disimpulkan dalam pernyataan “like dissolve like”. Ekstraksi bertingkat dengan pelarut metanol, aseton dan petroleum eter dapat menyari senyawa sesuai tingkat kepolaran masing-masing penyari sehingga didapatkan lebih banyak macam senyawa dari sampel. Metode ekstraksi bertingkat memiliki keuntungan karena semua senyawa aktif yang berbeda polaritasnya dapat diekstraksi sesuai dengan tingkat polaritasnya terhadap pelarut (Damayanti dan Suparjana, 2007). Pada penelitian ini hanya digunakan fraksi air ekstrak etanol sehingga macam senyawa yang tersari terbatas pada senyawa yang terlarut dalam pelarut polar. Kemungkinan penyebab lain adalah perbedaan media yang digunakan untuk pertumbuhan jamur. Pada penelitian ini jamur yang digunakan berasal dari daerah Magelang, Jawa Tengah, sedangkan pada penelitian sebelumnya (Dogan,

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 et al, 2013) digunakan jamur yang berasal dari Turkey. Media tanah tempat tumbuh jamur dipengaruhi pula oleh iklim suatu daerah dimana antara satu daerah dengan daerah lainnya memiliki iklim yang berbeda. Perbedaan iklim akan berpengaruh pada profil dan sifat fisik media. Suatu penelitian oleh Moyin-Jesu, Iyoha dan Akinola (2012) mengenai evaluasi perbandingan media organik yang berbeda terhadap komposisi kimia tanah, pertumbuhan dan hasil jamur (Pleurotus tubergium L.) menunjukkan bahwa media organik berpengaruh secara signifikan terhadap lebar mahkota, panjang batang, ketebalan tangkai berat tubuh buah jamur dan kandungn K, Ca, N, P, K, dn O.M pada tanah bila dibandingkan dengan kontrol. Syahadat dan Aziz (2012) melalui hasil penelitiannya mengenai pengaruh komposisi media terhadap kandungan bioaktif daun tanaman kemuning menunjukkan bahwa dengan perlakuan media yang berbeda dapat mempengaruhi kandungan steroid, saponin, flavonoid, tanin, dan alkaloid pada tanaman tersebut. Uji aktivitas antibakteri pada rentang konsentrasi 1,25% hingga 20% tidak menimbulkan zona hambat sehingga dilakukan peningkatan konsentrasi sampel uji menjadi 40% dan 80%. Peningkatan konsentrasi ini bertujuan untuk mengetahui potensi fraksi air ekstrak etanol jamur portabella sampai pada kelarutan maksimalnya. Dari hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan adanya zona hambat terhadap bakteri S. aureus maupun E. coli pada konsentrasi 80% dan hanya pada bakteri S. aureus pada konsentrasi 40%.

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 C B S. aureus C D B A D A E. coli Keterangan : A. Kontrol Positif B. Kontrol Negatif C. Konsentrasi 40% D. Konsentrasi 80% Gambar 10. Diameter zona hambat fraksi air ekstrak etanol pada seri konsentrasi 40% dan 80% terhadap S. aureus dan E. coli Pada Gambar 12 terlihat bahwa terdapat zona hambat yang terbentuk pada uji antibakteri dengan konsentrasi 40% dan 80%. Rata-rata diameter zona hambat dari 3 repetisi pada tiap konsentrasi pada bakteri S. aureus dapat dilihat pada Tabel IX. Tabel IX. Diameter zona hambat fraksi air ekstrak etanol jamur portabella (Agaricus brunnescens Peck) terhadap bakteri Staphylococcus aureus Diameter zona hambat (mm) terhadap Staphylococcus aureus Senyawa Replikasi Replikasi Replikasi Rata I II III -rata Amoxicilin 3,8 ± 2,4 7,8± 0,8 9,8 ± 0,9 7,2 ± 3,1 Konsentrasi 80% 1,5 ± 1,1 4,3 ± 2,7 4,8 ± 0,2 3,5 ± 1,7 Konsentrasi 40% 0,2 ± 0,3 1,2 ± 0,8 2,3 ± 0,8 1,2 ± 1,1 Aquadest steril 0 0 0 0 Keterangan : Diameter zona hambat sudah dikurangi diameter sumuran sebesar 6 mm Hasil pengamatan dengan metode difusi sumuran pada Tabel IX menunjukkan pada kontrol negatif tidak terbentuk zona hambat. Hal ini menunjukkan zona hambat yang terbentuk pada konsentrasi tinggi berasal dari sampel bukan berasal dari pelarut. Semakin besar diameter zona hambat

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 aktivitasnya semakin baik. Standar deviasi rata-rata zona hambat terhadap S. aureus pada Gambar 13. Rata-rata diameter zona hambat (mm) 12 10 Rata-rata diameter zona hambat terhadap S. aureus 8 6 4 2 0 Amoxicilin Konsentrasi 80% Konsentrasi 40% Aquadest steril Gambar 11. Rata-rata diameter zona hambat fraksi air ekstrak etanol jamur portabella terhadap S. aureus Rata-rata diameter zona hambat dari 3 repetisi pada tiap konsentrasi pada bakteri E. coli dapat dilihat pada Tabel X. Tabel X. Diameter zona hambat fraksi air ekstrak etanol jamur portabella (Agaricus brunnescens Peck) terhadap bakteri Escherichia coli Diameter zona hambat (mm) terhadap Escherichia coli Senyawa Replikasi Replikasi Replikasi Rata I II III -rata Amoxicilin 6,1 ± 0,2 4,1± 1,6 6,3± 0,4 5,5 ± 1,2 Konsentrasi 80% 0,8 ± 0,8 0,6 ± 0,4 0,9 ± 0,3 0,7 ±0,3 Konsentrasi 40% 0 0 0 0 Aquadest steril 0 0 0 0 Keterangan : Diameter zona hambat sudah dikurangi diameter sumuran sebesar 6 mm Hasil pengamatan dengan metode difusi sumuran yang ditampilkan dalam Tabel X menunjukkan pada kontrol negatif tidak terbentuk zona hambat. Hal ini menunjukkan zona hambat yang terbentuk pada konsentrasi tinggi berasal

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 dari sampel bukan berasal dari pelarut. Selain itu pada konsentrasi 40% juga tidak terbentuk zona hambat. Artinya pada konsentrasi tersebut fraksi air ekstrak etanol tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri E. coli. Standar deviasi rata-rata zona hambat terhadap E. coli ditunjukkan pada Gambar 14. Rata-rata diameter zona hambat (mm) 8 7 6 Rata-rata diameter zona hambat terhadap E. coli 5 4 3 2 1 0 Amoxicilin Konsentrasi 80% Konsentrasi 40% Aquadest steril Gambar 12. Rata-rata diameter zona hambat fraksi air ekstrak etanol jamur portabella terhadap E. coli Semakin besar diameter zona hambat aktivitas antibakteri semakin baik. Menurut David dan Stout (1971) ketentuan antibakteri dinyatakan sebagai berikut: 1. Daerah hambatan 20 mm atau lebih termasuk sangat kuat 2. Daerah hambatan 10-20 mm kategori kuat 3. Daerah hambatan 5-10 mm kategori sedang 4. Daerah hambatan 5 mm atau kurang termasuk kategori lemah. Berdasarkan ketentuan tersebut aktivitas antibakteri fraksi air ekstrak etanol jamur portabela terhadap bakteri S. aureus dan E. coli tergolong lemah karena zona hambat yang terbentuk kurang dari 5 mm.

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 Data zona hambat yang didapatkan dari uji difusi sumuran kemudian dianalisis secara statistik untuk melihat perbedaan bermakna antara variasi konsentrasi sampel dengan kontrol positif dan kontrol negatif. Analisis diawali dengan uji Shapiro-Wilk untuk melihat apakah semua data terdistribusi normal atau tidak. Dalam uji ini, H0 adalah “data terdistribusi normal”. Pada taraf kepercayaan 95 persen jika nilai p-value kurang dari 0,05 maka H0 ditolak dan sebaliknya jika nilai p-value tidak kurang dari 0,05 maka H0 diterima (Istyastono, 2012). Berdasarkan uji normalitas, terdapat data yang tidak normal yaitu pada kontrol negatif dan konsentrasi 40% pada bakteri E. coli (lampiran 28). Namun, karena uji statistik ini bertujuan untuk melihat keberbedabermaknaan antar kelompok data maka data kontrol negatif yang berdasarkan uji Shapiro-Wilk tidak terdistribusi normal (semua data identik) tetap dianggap normal, sehingga uji dilanjutkan dengan Levene Test untuk melihat kesamaan varian semua kelompok. Pada uji dengan Levene Test, H0 adalah “variansi sama”. Dengan taraf kepercayaan 95%, suatu kelompok data yang diuji dengan Levene Test dapat dikatakan memiliki variansi sama (H0 diterima) jika p-value tidak kurang dari 0,05 begitu juga sebaliknya jika p-value kurang dari 0,05 maka H0 ditolak. Berdasarkan hasil Levene Test, kelompok data memiliki variansi sama baik pada S. aureus maupun E.coli (Lampiran 31) sehingga uji dapat dilanjutkan dengan uji ANAVA. Uji ANAVA dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat paling tidak 1 kelompok data yang rata-rata populasinya berbeda. Pada uji ANAVA, H0 adalah “semua rata-rata populasi sama”. H0 diterima apabila p-value tidak kurang dari

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 0,05 begitu juga sebaliknya H0 ditolak apabila nilai p-value kurang dari 0,05. Berdasarkan uji ANAVA, nilai p-value kurang dari 0,05 baik pada S. aureus maupun E. coli (Lampiran 32) sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat paling tidak 1 rata-rata populasi yang berbeda. Untuk mengetahui kelompok data mana yang memiliki perbedaan signifikan uji dilanjutkan dengan Tukey’s HSD Post Hoc Test. Tukey’s HSD Post Hoc Test dapat menampilkan secara langsung keberbedabermaknaan semua kelompok data tanpa membandingkan satu-persatu. Pada uji ini H0 adalah “data identik”. H0 diterima apabila nilai p-value tidak kurang dari 0,05 dan sebaliknya H0 ditolak apabila p-value kurang dari 0,05. Berdasarkan Tukey’s HSD Post Hoc Test terdapat perbedaan bermakna pada kelompok data baik pada S. aureus maupun E.coli. Keberbedabermaknaan kelompok data dapat dilihat pada tabel XI untuk S. aureus dan Tabel XII untuk E. coli. Tabel XI. Data hasil uji Tukey’s diameter zona hambat pada bakteri S. aureus K+ K80% 40% K+ BB BTB BB KBB BTB BTB 80% BTB BTB BTB 40% BB BTB BTB Keterangan : K+ : kontrol positif K- : kontrol negatif BB : berbeda bermakna BTB : berbeda tidak bermakna Taraf kepercayaan 95% Hasil Tukey’s HSD Post Hoc Test pada uji terhadap bakteri S. aureus (tabel XI) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara kontrol positif dengan kontrol negatif dan antara kontrol positif dengan konsentrasi 40%.

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 Hal ini berarti potensi antibakteri kontrol negatif dan konsentrasi 40% berbeda signifikan dibandingkan dengan kontrol positif. Sedangkan antara sampel konsentrasi 80% dengan kontrol positif tidak berbeda bermakna dengan nilai pvalue 0,1538 (≥ 0,05). Hal ini berarti potensi antibakteri fraksi air ekstrak etanol pada konsentrasi 80% tidak berbeda signifikan jika dibandingkan kontrol positif. Tabel XII. Data hasil uji Tukey’s diameter zona hambat pada bakteri E. coli K+ K80% 40% K+ BB BB BB KBB BTB BTB 80% BB BTB BTB 40% BB BTB BTB Keterangan : K+ : kontrol positif K- : kontrol negatif BB : berbeda bermakna BTB : berbeda tidak bermakna Taraf kepercayaan 95% Pada hasil Tukey’s HSD Post Hoc Test terhadap bakteri E. coli (Tabel XII) menunjukkan bahwa antara kontrol positif dengan masing-masing kontrol negatif, konsentrasi 80%, dan konsentrasi 40% terdapat perbedaan bermakna dengan nilai p-valuekurang dari 0,05 (Lampiran 33). Hal ini berarti potensi antibakteri kontrol negatif, konsentrasi 80%, dan konsentrasi 40% berbeda signifikan bila dibandingkan dengan kontrol positif. Sedangkan antara kontrol positif, konsentrasi 40%, dan konsentrasi 80% tidak terdapat perbedaan bermakna. Berdasarkan hasil analisis data pada tabel XI menunjukkan bahwa fraksi air ekstrak etanol jamur portabella pada konsentrasi 80% memiliki potensi antibakteri yang lebih kecil dari kontrol positif namun lebih besar dari konsentrasi 40% terhadap bakteri S. aureus. Sedangkan berdasarkan tabel XII, potensi antibakteri fraksi air ekstrak etanol jamur portabella terhadap bakteri E. coli pada

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 konsentrasi 80% tidak sekuat kontrol positif karena terdapat perbedaan bermakna antara fraksi air ekstrak etanol jamur portabella dengan kontrol positif. Perbedaan aktivitas terhadap beberapa mikroba dapat dijelaskan dengan perbedaan struktur penyusun dinding sel mikroba. Dinding sel bakteri Gram negatif memiliki lapisan peptidoglikan yang lebih tipis dibandingkan bakteri Gram positif, tetapi memiliki lapisan membran luar tambahan yang lebih kompleks. Akibatnya, secara umum senyawa akan lebih sulit menembus dinding sel bakteri Gram negatif daripada Gram positif (Allison and Gilbert cit Efendi dan Hertiani, 2013). Hasil skrining fitokimia yang dilakukan pada sampel jamur portabella menunjukkan adanya senyawa saponin. Senyawa saponin merupakan senyawa yang diketahui memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian oleh Zahro dan Agustini (2013) mengenai efektivitas antibakteri fraksi saponin dari jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) terhadap bakteri S. aureus dan E. coli menunjukkan bahwa ekstrak kasar saponin dari jamur tiram putih dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus dan E. coli pada konsentrasi 300 mg/mL dengan aktivitas antibakteri yang sedang. Peningkatan konsentrasi ekstrak kasar saponin dari jamur tiram putih menunjukkan semakin besar diameter daerah hambat pertumbuhan bakteri. Pada hasil penelitian ini diperlukan konsentrasi yang sangat tinggi untuk membentuk zona hambat. Hal ini dapat disebabkan karena senyawa saponin yang berperan sebagai antibakteri dalam jamur portabella merupakan komponen minor sehingga perannya sebagai antibakteri tidak signifikan. Selain itu, teori SEES

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 (Side Effect Eliminating Substances) menjelaskan adanya zat yang meniadakan efek samping/utama oleh zat-zat yang lain. SEES (Secondary Efficacy Enhancing Substances) juga menjelaskan bahwa terdapat zat-zat yang ketika dalam keadaan senyawa tunggal tidak berefek, sehingga zat yang diisolasi efeknya dapat menurun karena tidak terdapat zat sekunder (Prasetyo, 2013).

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Fraksi air ekstrak etanol jamur portabella mempunyai aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi 40% dan Escherichia coli pada konsentrasi 80%. 2. Berdasarkan uji tabung dan uji KLT yang dilakukan, jamur portabella mengandung saponin. B. Saran 1. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai potensi antibakteri fraksi nonpolar dari jamur portabella. 2. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai kandungan dalam jamur portabella yang berpotensi sebagai antibakteri dengan metode yang lebih spesifik. 73

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR PUSTAKA Agoes, Goeswin, 2009, Teknologi Bahan Alam : Seri Farmasi Industri-2, Edisi Revisi, Institut Teknologi Bandung, Bandung, pp. 31. Ahmad, I. and Beg, A. Z.,2001, Antimicrobial and Phytochemical Studies on 45 Indian Medicinal Plants against Multi-drug Resistant Human Pathogens, Journal of Ethnopharmacology, 74 (2001) 113 – 123. Asfors, KE and Ley, K., 1993, Sulfated polysaccharides in inflammation, J. Lab. Clin. Med, (121), 201-202. Atlas, R. M., 1996, Handbook of Microbiological Media 2nd Edition, CRC Press, Boca Raton, pp. 1026. Badan Pengawasan Obat dan Makanan RI, 2005, Standarisasi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia, Salah Satu Tahapan Penting dalam Pengembangan Obat Asli Indonesia, Badan Pengawasan Obat dan Makanan RI, p. 5. Brooks, G.F., Butel, J.S., Morse, S.A., 2008, Mikrobiologi Kedokteran Jawetz, Melnick, & Adelberg, Edisi 23,diterjemahkan oleh Hartanto, H., Rachman, C., Dimanti, D., Diani, dan Aryana, D., EGC, Jakarta, pp. 225-229, 251257. Damayanti, E. dan Suparjana, T., B., 2007, Efek Penghambatan Fraksi Ekstrak Buah Mengkudu Terhadap Shigella dysenteria, Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia “Kajuangan”, UPT BPPTK LIPI, Yogyakarta, p. A05-2. Davis, W.W. dan Stout, T.R., 1971, Disc Plate Methods of Microbiological Antibiotic Assay, Applied Microbiology, 22: 659-665. Departemen Kesehatan RI, 1986, Sediaan Galenik, Edisi 1, Departemen Kesehatan RI, Jakarta, pp. 10-17. Departemen Kesehatan RI, 1995, Materia Medika Indonesia, edisi VI, Departemen Kesehatan RI, Jakarta, pp. 326, 333-337. Dogan, H.H., Duman, R., Ozkalp, B., Aydin, S., 2013, Antimicrobial Activity of Some Mushrooms in Turkey, Pharmaceutical Biology, 51(6): 707-711. Dyatmiko, W., Soeharto, S., dan Moegijanto, L., 1982, Aktifitas Biologik Zat Kandungan Buah Sapindus rarak L sebagai Antimikroba dan Molluscide, 74

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 Lembaga Pendidikan UNAIR, pp 1-21. Effendi, Y. N. dan Hertiani, T., 2013, Potensi Antimikroba Ekstrak Etanol Sarang Semut (Myrmecodiatuberosa Jack.) Terhadap Candida Albicans, Escherichia coli, dan Staphylococcus aureus, Trad. Med. J., Vol. 18(1), p 53-58. Evans, W.C., 2009, Trease and Evans Pharmacognosy, 16th Edition, Elsevier, London, pp. 10. Fasidi, I.O. and Gbolagade, J.S., 2005, Antimicrobial Activities of Some Selected Nigerian Mushrooms, African Journal of Biomedical Research, (8), 83-87. Fleming, A., 1929, On the Antibacterial Action of Cultures of aPenicillium, with Special Reference to Their Use in The Isolation of B.influenzae,Br J Exp Pathol,(10), 226–236. Herlianawati, M., 2007, Uji Potensi Antibakteri Ekstrak Etanol Umbi Binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steen) terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853, Skripsi, Universitas Sanata Dharma. Holt, J. G., Krieg, N. R., Sneath, P. H. A., Staley, J. T., Williams, S. T., 2000, Bergey’s Manual® of Determinative Bacteriology, Ninth Edition, Lippincott William & Wilkins, Philadelphia, USA, pp. 347, 559. Hugo, WB, and Russel, AD, 1987, Pharmaceutical Microbiology, 6th edition, Blackwell Science, London, pp. 242-243. Istyastono, E.P., 2012, Mengenal Peranti Lunak R-2.14.0 for Windows: Aplikasi Statistika Gratis dan Open Source, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, p. 21. Jawetz, E.J.I., Melnick and Adelberg, E. A., 1996, Mikrobiologi Kedokteran, Edisi 20, diterjemahkan oleh Nugroho, E., dan Maulany, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, pp. 128, 234-240, 286-290. Kerrigan, R.W., 2007, Lectotypification of Agaricus brunnescens, The Mycologia Societyof America, 99(6), pp. 906-915. Markham, K.R., 1988, Cara Mengidentifikasi Flavonoid, diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata, Penerbit ITB, Bandung, p. 15. Marliana, S. D., Suryanti, V., Suyono, 2005, Skrining Fitokimia dan Analisis Kromatografi Lapis Tipis Komponen Kimia Buah Labu Siam (Sechium

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 edule Jacq. Swartz.) dalam Ekstrak Etanol, Biofarmasi, 3 (1): 26-31. Martini, N. and Eloff, J.N., 1998, The Preliminary Isolation of Several Antibacterial Compounds from Combretum erythrophyllum (Combretaceae), Journal of Ethnopharmacology, 62(3): 255-263. McKane, L, and Kandel, J., 1996, Microbiology: Essentials and Applications, Mc Graw Hill Inc, New York, pp. 396-398. Moglan, Ehsaan H.O. and Saadabi, A.M., 2012, Screening of Antimicrobial Activity of Wild Mushrooms from Khartoum State of Sudan, Microbiology Journal 2 (2): 64-69. Moyin-Jesu, E. I., Iyoha, C. S., and Akinola, M. O., 2012, Comparative Evaluation of Different Organic Media on Soil Chemical Composition, Growth, and Yield of Mushroom (Pleurotus tubergium L.), ISRN Agronomy, Volume 2012, Article ID 152737. Mulja dan Suharman, 1995, Analisis Instrumental, Cetakan Pertama, Airlangga University Press, Surabaya, pp. 223. Natural History Museum, 2014, Browse for UK species, http://www.nhm.ac.uk/research-curation/scientific-resources/biodiversity/ uk-biodiversity/uk-species/browse-uk-species/index.html?target=BMSSY S0000000348, diakses pada tanggal 19 Agustus 2014. Nester, E. W., Anderson, D. G., Roberts Jr., C. E., and Nester, M. T., 2007, Microbiology A Human Perspective, Fifth Edition, The MacGraw-Hill Companies, New York, p. 500. Nurmalina, R. dan Valley, B., 2012, 24 Herbal Legendaris untuk Kesehatan Anda, PT Elex Media Komputindo, Jakarta, p.57. Packer, L., 2001, Flavonoids and Other Polyphenol, Academic Press, USA, p. 55. Prasetyo, H. D., 2013, Aktivitas Antimikroba Fraksi Petroleum Eter, Kloroform, Etanol Bunga Pulu (Chartamus tinctorius L.) Terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Candida albicans, Skripsi, Universitas Sanata Dharma. Pratiwi, T, 2008, Mikrobiologi Farmasi, Erlangga, Jakarta, pp. 188-189. Radji, M., 2009, Buku Ajar Mikrobiologi : Panduan Mahasiswa Farmasi dan Kedokteran, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, pp. 125, 179.

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 Rohman, A., dan Gandjar, I.G., 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, pp. 354-356. Rohman, A., 2009, Kromatografi untuk Analisis Obat, Graha Ilmu, Yogyakarta, pp. 45-52. Setiabudy, R., dan Gan, V.H.S., 1995, Pengantar Anti Mikroba, dalam Ganiswara, S.G., (Ed), Farmakologi dan Terapi, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, pp. 571. Syahadat, R. M. dan Aziz, S. A., 2012, Pengaruh Komposisi Media dan FertigasiPupuk Organik terhadap Kandungan Bioaktif Tanaman Kemuning (Murraya paniculata (L.) JACK) di Pembibitan, Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Sirait, M., 2007, Penuntun Fitokimia dalam Farmasi, Penerbit ITB, Bandung, p. 64. Surekha, Ch, Kaladhar, DSVGK, Srikakarlapudi, R., and Haseena, 2011, Evaluation of Antioxidant and Antimicrobial Potentiality of Some Edible Mushrooms, International Journal of Advanced Biotechnology and Research, Vol 2, Issue 1, 2011, pp 130-134. Suriawiria, H.U., 2009, Jamur Portabella yang Multikhasiat, Rahasia Sehat dengan Makanan Berkhasiat, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, pp. Syahadat, R., M., dan Aziz, S., A., 2012, Pengaruh Komposisi Media dan Fertigasi Pupuk Organik Terhadap Kandungan Bioaktif Daun Tanaman Kemuning (Murraya paniculata (L.) Jack) di Pembibitan, Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB, Volume 23, Nomor 2. Tiwari, P., Kumar, B., Kaur, M., Kaur, B., and Kaur H., 2011, Phytochemical Screening and Extraction: A Review, International Pharmaceutica Sciencia, 1, 98-104. Universitas Gadjah Mada, 1993, Dasar-dasar Pemeriksaan Mikrobiologi, Bagian Mikrobiologi Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pp. 27-29, 115-116. Zahro, L. dan Agustini, R., 2013, Uji Efektifitas Antibakteri Ektrak Kasar Saponin Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) Terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli, UNESA Journal of Chemistry, Vol 2 No 3.

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 1. Surat Keterangan Determinasi Jamur Portabella (Agaricus brunnescens Peck) dari Bagian Biologi Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 78

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Lampiran 2. Sertifikat Hasil Uji Staphylococcus aureus ATCC 25923

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 Lampiran 3. Surat Keterangan Hasil Uji Escherichia coli ATCC 38218

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Lampiran 4. Foto Jamur Portabella (Agaricus brunnescens Peck), Jamur Portabella Kering, dan Serbuk Jamur Portabella Jamur Portabella (Agaricus brunnescens Peck) Jamur Portabella Kering

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 Serbuk Jamur Portabella Lampiran 5. Foto Maserasi, Penyaringan Menggunakan Pompa Vakum, danPenguapan Menggunakan Waterbath Maserasi dengan Platform Shaker

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 Penyaringan Menggunakan Pompa Vakum Penguapan Menggunakan Waterbath

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 Lampiran 6. Foto Ekstrak Etanol Jamur Portabella Replikasi I Replikasi II Replikasi III Lampiran 7. Foto Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella Replikasi I Replikasi II Replikasi III Lampiran 8. Foto Uji Kelarutan dengan Aquadest, DMSO, dan Kloroform Uji kelarutan ekstrak etanol menggunakan aquadest Uji kelarutan residu ekstrak etanol menggunakan DMSO Uji kelarutan residu ekstrak etanol menggunakan kloroform Uji kelarutan fraksi air ekstrak etanol menggunakan aquadest

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 Lampiran 9. Foto Variasi Konsentrasi Rendah dan Tinggi Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella Variasi Konsentrasi Rendah Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella Variasi Konsentrasi Tinggi Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 Lampiran 10. Foto Hasil Uji Pendahuluan Serbuk Jamur Portabella dengan Uji Tabung Filtrat setelah dipanaskan 30 menit (kuning-merah) Setelah penambahan KOH LP (warna makin intensif) Lampiran 11. Foto Hasil Uji Alkaloid Serbuk Jamur Portabella dengan Uji Tabung Sampel + 2 tetes Bourchadat LP (terbentuk endapan coklat) Sampel + 2 tetes Mayer LP (terbentuk endapan putih)

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 Lampiran 12. Foto Hasil Uji Flavonoid Serbuk Jamur Portabella dengan Uji Tabung Serbuk +NaOH (tidak terbentuk warna kuning) Penambahan HCl (tidak ada perubahan intensitas warna) Lampiran 13. Foto Hasil Uji Tanin Serbuk Jamur Portabella dengan Uji Tabung Filtrat + NaCl 2% (tidak terbentuk endapan) Filtrat + NaCl 2% + gelatin 1% (tidak terbentuk endapan)

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 Lampiran 14. Foto Hasil Uji Polifenol Serbuk Jamur Portabella dengan Uji Tabung Filtrat + FeCl3 (tidak terbentuk warna hijau-biru) Lampiran 15. Foto Hasil Uji Saponin Serbuk Jamur Portabella dengan Uji Tabung Setelah penggojogan selama 10 detik Setelah didiamkan 10 menit dan ditambahkan HCl 2N

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 Lampiran 16. Foto Hasil KLT Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella dengan Deteksi UV 254, UV 365, dan pereaksi sitroborat pada analisis Flavonoid P S Keterangan : I. Deteksi Sitroborat P. Pembanding Rutin 1% S. Sampel II. Deteksi UV 254 nm P. Pembanding Rutin 1% S. Sampel III. Deteksi UV 365 nm P. Pembanding Rutin 1% S. Sampel P S P S

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 Lampiran 17. Foto Hasil KLT Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella dengan Deteksi UV 254, UV 365, dan pereaksi Dragendorff pada analisis Alkaloid P S P S Keterangan : I. Deteksi Dragendorff P. Pembanding Sinkonin 0,1% S. Sampel II. Deteksi UV 254 nm P. Pembanding Sinkonin 0,1% S. Sampel III. Deteksi UV 365 nm P. Pembanding Sinkonin 0,1% S. Sampel P S

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 Lampiran 18. Foto Hasil KLT Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella dengan Deteksi UV 254, UV 365, dan pereaksi FeCl3pada analisis Fenolik P S P Keterangan : I. Deteksi FeCl3 P. Pembanding Asam Galat 1% S. Sampel II. Deteksi UV 254 nm P. Pembanding Asam Galat 1% S. Sampel III. Deteksi UV 365 nm P. Pembanding Asam Galat 1% S. Sampel S P S

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 Lampiran 19. Foto Hasil KLT Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella dengan Deteksi UV 254, UV 365, dan pereaksi SbCl3pada analisis Saponin P S Keterangan : I. Deteksi SbCl3 P. Pembanding S. Rarak S. Sampel II. Deteksi UV 254 nm P. Pembanding S. Rarak S. Sampel III. Deteksi UV 365 nm P. Pembanding S. Rarak S. Sampel P S P S

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 Lampiran 20. Foto Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella Seri Konsentrasi 1,5%-20% Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dengan Metode Difusi Sumuran Replikasi 1 Replikasi 2 G G F F B A E C C D G F E G F B A E C D B A C G F G F B A C D D B A D E E E B A D C

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 Replikasi 3 G F G F E E G F E B A C D C D C D B A B A Keterangan : A. Kontrol Positif B. Kontrol Negatif C. Konsentrasi 1,25% D. Konsentrasi 2,5% E. Konsentrasi 5% F. Konsentrasi 10% G. Konsentrasi 20% Lampiran 21. Foto Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella Seri Konsentrasi 1,5%-20% Terhadap Bakteri Escherichia coli dengan Metode Difusi Sumuran Replikasi 1 Replikasi 2 E B A D C G F G F B A E D C

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 Replikasi 1 Replikasi 2 G F E B A C D G F B A E C D Replikasi 3 F G B A E D C G F E B A D C

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 G F E B A D C Keterangan : A. Kontrol Positif B. Kontrol Negatif C. Konsentrasi 1,25% D. Konsentrasi 2,5% E. Konsentrasi 5% F. Konsentrasi 10% G. Konsentrasi 20%

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 22. Tabel Diameter Zona Hambat Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella Seri Konsentrasi 1,25% - 20% Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dengan Metode Difusi Sumuran Diameter zona hambat (mm) terhadap Rata Staphylococcus aureus Senyawa -rata 3 ReplikasiI ReplikasiII ReplikasiIII replikasi 1 2 3 Rata-rata 1 2 3 Rata-rata 1 2 3 Rata-rata Amoksisilin 10,3 5,2 10,3 8,6 6,5 7,8 10,9 8,4 4,1 4,0 5,1 4,4 7,133333 Aquadest steril 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Konsentrasi 20% 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Konsentrasi 10% 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Konsentrasi 5% 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Konsentrasi 2,5% 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Konsentrasi 1,25% 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Keterangan : Diameter zona hambat sudah dikurangi dengan diameter sumuran yaitu 6 mm Lampiran 23. TabelDiameter Zona Hambat Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella Seri Konsentrasi 1,25% - 20% Terhadap Bakteri Escherichia coli dengan Metode Difusi Sumuran Diameter zona hambat (mm) terhadap Rata Escherichia coli Senyawa -rata 3 ReplikasiI ReplikasiII ReplikasiIII replikasi 1 2 3 1 2 3 Rata-rata 1 2 3 Rata-rata Amoksisilin 8,7 8,9 10,3 9,3 7,9 8,1 8,2 8,06667 9,3 5,3 6,3 6,96667 8,11111 Aquadest steril 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Konsentrasi 20% 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Konsentrasi 10% 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Konsentrasi 5% 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Konsentrasi 2,5% 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Konsentrasi 1,25% 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Keterangan : Diameter zona hambat sudah dikurangi dengan diameter sumuran yaitu 6 mm 97

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Lampiran 24. Tabel Diameter Zona Hambat Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella Konsentrasi 40% dan 80% Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dengan Metode Difusi Sumuran Diameter zona hambat (mm) terhadap X Rata Staphylococcus aureus 3 rep Senyawa -rata lika Replikasi I Replikasi II Replikasi III SD si 1 2 3 X SD 1 2 3 X SD 1 2 3 X SD Amoksisilin 6,5 2,9 2 3,8 2,4 8,5 7 8,1 7,9 0,8 9,6 9,1 10,8 9,8 0,9 7,2 3,1 Aquadest steril 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Konsentrasi 80% 2,8 0,6 1,3 1,6 1,1 3,3 7,3 2,2 4,3 2,7 4,9 4,9 4,5 4,8 0,2 3,5 1,7 Konsentrasi 40% 0,5 0 0 0,2 0,3 1,2 0,5 2 1,2 0,8 1,9 3,2 1,8 2,3 0,8 1,2 1,1 Keterangan : Diameter zona hambat sudah dikurangi dengan diameter sumuran yaitu 6 mm Lampiran 25. Tabel Diameter Zona Hambat Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella Konsentrasi 40% dan 80% Terhadap Bakteri Escherichia coli dengan Metode Difusi Sumuran Diameter zona hambat (mm) terhadap X Rata Escherichia coli 3 rep Senyawa -rata lika Replikasi I Replikasi II Replikasi III SD si 1 2 3 X SD 1 2 3 X SD 1 2 3 X SD 5,9 6,2 6,3 6,1 0,2 4,7 5,4 2,4 4,2 1,6 6,4 6,6 5,9 6,3 0,36 5,5 1,2 Amoksisilin 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Aquadest steril 1,5 0,8 0 0,8 0,8 0,1 0,8 0,8 0,6 0,4 0,9 0,6 1,2 0,9 0,3 0,7 0,2 Konsentrasi 80% 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Konsentrasi 40% Keterangan : Diameter zona hambat sudah dikurangi dengan diameter sumuran yaitu 6 mm 98

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 Lampiran 26. Foto Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella Konsentrasi 40% dan 80% Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dengan Metode Difusi Sumuran Replikasi 1 Replikasi 2 C D B A C D B A C D C D B A B A C D C D B A B A

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 Replikasi 3 C D B A C D B A C D B A Keterangan : A. Kontrol Positif B. Kontrol Negatif C. Konsentrasi 40% D. Konsentrasi 80% Lampiran 27. Foto Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi Air Ekstrak Etanol Jamur Portabella Konsentrasi Tinggi Terhadap Bakteri Escherichia coli dengan Metode Difusi Sumuran Replikasi 1 Replikasi 2 C D C D B A B A

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 C D C D B A B A C D C D B A B A Replikasi 3 C D C D B A B A

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 C B D A Keterangan : A. Kontrol Positif B B. Kontrol Negatif C. Konsentrasi 40% D. Konsentrasi 80% Lampiran 28. Foto Kontrol Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Bakteri Escherichia coli ATCC 38218 Kontrol Pertumbuhan S. aureus Kontrol Pertumbuhan E. coli Lampiran 29. Foto Kontrol Media dan Kontrol Ruang Kontrol Media Kontrol Ruang

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 Lampiran 30. Hasil Uji Normalitas Shapiro-Wilk A. Uji normalitas kontrol positif pada bakteri S. aureus B. Uji normalitas kontrol negatif pada bakteri S. aureus C. Uji normalitas konsentrasi 80% pada bakteri S. aureus D. Uji normalitas konsentrasi 40% pada bakteri S. aureus E. Uji normalitas kontrol positif pada bakteri E. coli F. Uji normalitas kontrol negatif pada bakteri E. coli G. Uji normalitas konsentrasi 80% pada bakteri E. coli H. Uji normalitas konsentrasi 40% pada bakteri E. coli

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 Lampiran 31. Hasil Uji Kesamaan Varian dengan Levene Test A. S. aureus B. E. coli Lampiran 32. Hasil Uji ANAVA A. S. aureus B. E. coli

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 Lampiran 33. Hasil Tukey’s Post Hoc Test A. S. aureus B. Perbandingan antara konsentrasi 40% dengan kontrol positif pada bakteri S. aureus

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BIOGRAFI PENULIS Skripsi ini disusun oleh Maria Ajeng Listyorini, putri bungsu dari pasangan Bapak F. A. Harjono dan Ibu J.A. Diah Astuti, yang lahir di Sleman pada tanggal 28 Desember 1991. Penulis mulai mengenyam pendidikan Taman KanakKanak di TK Mater Dei Marsudirini, Yogyakarta pada tahun 1996. Kemudian pada tahun 1998 melanjutkan menuntut ilmu di SD Marsudirini, Yogyakarta. Pada tahun 2004 penulis melanjutkan pendidikan tingkat menengah di SMP Stella Duce I, Yogyakarta dan menempuh pendidikan dan pendampingan di SMA Pangudi Luhur Van Lith, Muntilan. Penulis berhasil menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma pada tahun 2014. Selama menempuh pendidikan di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, penulis aktif dalam berbagai kegiatan baik di dalam maupun di luar kampus, seperi dalam organisasi kesehatan Jaringan Mahasiswa Kesehatan Indonesia (JMKI) baik di tingkat fakultas maupun di tingkat wilayah Yogyakarta. Penulis menjadi Asisten Praktikum mata kuliah Mikrobiologi tahun ajaran 2012/2013. Penulis juga terlibat aktif dalam berbagai kepanitiaan baik di dalam fakultas, universitas maupun wilayah Yogyakarta seperti, menjadi ketua pada pelaksanaan HIV AIDS Day: Seminar Nasional dan Longmarch 2012 yang bekerja sama dengan Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, TITRASI 2011, Pekan Budaya USD 2011, PaiFest 2011, Local Student Exchange Committee 2012, pelatihan-pelatihan mahasiswa Katolik, dll. Selain itu penulis juga menjadi peserta dari Fakultas Farmasi dalam pelaksanaan Student Exchange Programme 2014 di Slovenia yang diselenggarakan oleh International Pharmaceutical Students’ Federation (IPSF). 106

(130)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Uji antioksidan dan antibakteri ekstrak air bunga kecombrang (edigera elatior) sebagai pangan fungsional terhadap staphylococcus aureus dan escherichia coli
0
43
83
PENDAHULUAN Uji efektivitas ekstrak etanol rimpang lengkuas (languas galanga (l.) stuntz.) terhadap bakteri staphylococcus aureus atcc 6538 dan escherichia coli atcc 11229 secara in vitro.
0
3
5
DAFTAR PUSTAKA Uji efektivitas ekstrak etanol rimpang lengkuas (languas galanga (l.) stuntz.) terhadap bakteri staphylococcus aureus atcc 6538 dan escherichia coli atcc 11229 secara in vitro.
0
1
5
Uji aktivitas antibakteri dari ekstrak bawang lanang (allium sativum l.) terhadap pertumbuhan bakteri staphylococcus aureus dan escherichia coli.
1
11
184
Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol Bunga Petai (Parkia speciosa) terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Escherichia coli ATCC 25922.
2
22
145
Uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol Daun Petai (Parkia speciosa Hassk.) terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Escherichia coli ATCC 25922.
2
18
141
Uji aktivitas antibakteri fraksi n-heksana, fraksi kloroform, dan fraksi etanol kulit buah manggis (garcinia mangostana l.) terhadap escherichia coli resisten amoksisilin.
0
2
8
Uji aktivitas antibakteri fraksi n heksana, fraksi kloroform, dan fraksi etanol kulit buah manggis (garcinia mangostana l.) terhadap escherichia coli resisten amoksisilin
0
0
6
Uji antibakteri senyawa n-fenil-n’-(klorobenzoil)tiourea terhadap escherichia coli dan staphylococcus aureus - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
18
Perbandingan antibakteri dari ekstrak etanol dan fraksi ekstrak etanol tanaman ceguk (Quisqualis indica L.) terhadap staphylococcus aureus dan escherichia coli - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
16
Efektivitas antibakteri fraksi ekstrak etanol daun bintaro (cerbera odollam) terhadap bakteri staphylococcus aureus - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
0
8
Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96% bunga kupu-kupu (Bauhinia purpurea L.) terhadap escherichia coli dan staphylococcus aureus - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
1
18
Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etanol 96% bunga kupu-kupu (Bauhinia purpurea L.) terhadap escherichia coli dan staphylococcus aureus - Widya Mandala Catholic University Surabaya Repository
0
1
11
Uji potensi antibakteri ekstrak etanol umbi binahong [Anredera cordifolia [Tenore] steen] terhadap staphylococcus aureus ATCC 25923 dan pseudomonas aeruginos ATCC 27853 - USD Repository
0
1
97
Uji aktivitas antibakteri fraksi n-heksana, kloroform, dan etanol kulit buah manggis (garcinia mangostana l.) terhadap staphylococcus aureus resisten amoksisilin - USD Repository
0
0
141
Show more