STUDI KOMPARASI TINGKAT KESEJAHTERAAN ANTARA BURUH BANGUNAN DAN PETANI DI DESA GIRISEKAR, KECAMATAN PANGGANG, KABUPATEN GUNUNGKIDUL

Gratis

0
0
135
9 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI STUDI KOMPARASI TINGKAT KESEJAHTERAAN ANTARA BURUH BANGUNAN DAN PETANI DI DESA GIRISEKAR, KECAMATAN PANGGANG, KABUPATEN GUNUNGKIDUL SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Ekonomi Oleh : Ardian Ratna Putra NIM : 091324046 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI BIDANG KEAHLIAN KHUSUS PENDIDIKAN EKONOMI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEMBAHAN I Decicate This Thesis For: Allah SWT and Prophet Muhammad SAW My Beloved Father and My Beloved Mother Suratman dan Yatinah, S.Pd. My Beloved Brother Brian Dani Wiradita, S.Kom Almamaterku Universitas Sanata Dharma iv

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI MOTTO ‘’Hidup akan terasa Indah jika kita jalani dengan Ikhlas’’ ‘’Cintai sewajarnya, membenci sekedarnya dan Bersyukurlah sebanyak-banyaknya’’ ‘‘Takdir setiap manusia memang telah ditentukan sejak mereka lahir, tetapi dengan kerja keras kita dapat mengalahkan takdir ‘’ - Naruto Uzumaki ‘’Kegagalan juga menyenangkan, hidup dengan kepercayaan bahwa cobaan itu berguna untuk menempa diri kita’’ - Jiraiya - v

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 21 Agustus 2014 Penulis Ardian Ratna Putra vi

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Ardian Ratna Putra Nomor Mahasiswa : 091324046 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: STUDI KOMPARASI TINGKAT KESEJAHTERAAN BURUH BANGUNAN DAN PETANI DI DESA GIRISEKAR, KECAMATAN PANGGANG, KABUPATEN GUNUNGKIDUL beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 21 Agustus 2014 Yang menyatakan Ardian Ratna Putra vii

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK STUDI KOMPARASI TINGKAT KESEJAHTERAAN ANTARA BURUH BANGUNAN DAN PETANI DI DUSUN BALI, DESA GIRISEKAR, KECAMATAN PANGGANG, KABUPATEN GUNUNGKIDUL Ardian Ratna Putra Universitas Sanata Dharma 2014 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara pendapatan, tingkat konsumsi, dan kondisi tempat tinggal keluarga petani dan keluarga buruh bangunan di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul. Penelitian ini adalah penelitian komparatif yang dilaksanakan di Dusun Bali, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul pada bulan November 2013. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani dan buruh bangunan yang ada di Desa Girisekar. Sampel penelitian adalah petani dan buruh bangunan yang berjumlah 160 responden, terdiri dari 80 responden buruh bangunan dan 80 responden petani. Teknik pengambilan sampel yaitu sampling insidental. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan wawancara. Data dianalisis dengan menggunakan uji beda dengan menggunakan t-test (independent sample t-test) Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) ada perbedaan pendapatan antara buruh bangunan dan petani (sig = 0,00 < 0,05),t hitung = 13,801>t tabel = 1,96 , dimana rata-rata pendapatan buruh bangunan mempunyai selisih Rp 329.125,00 dibandingkan rata-rata pendapatan petani; (2) ada perbedaan konsumsi antara buruh bangunan dan petani (sig = 0,00 < 0,05), dimana t hitung = 14,194 >t tabel = 1,96 , dimana rata-rata konsumsi buruh bangunan mempunyai selisih Rp 333.925,00 dibandingkan petani; (3) tidak ada perbedaan kondisi tempat tinggal antara buruh bangunan dan petani (sig = 0,501> 0,05), t hitung 0,675 < 1,96, dimana rata-rata nilai kondisi tempat tinggal petani adalah 10,71 dan rata-rata nilai kondisi tempat tinggal buruh bangunan adalah 10,55. viii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT THE COMPARATIVE STUDY OF WELFARE LEVEL BETWEENCONSTRUCTION WORKERSANDFARMERSINBALIHAMLET, GIRISEKARVILLAGE, PANGGANGDISTRICT, GUNUNGKIDUL REGENCY ArdianRatna Putra Sanata Dharma University 2014 This studyaims to determine thedifferences inincome, consumptionlevels,andfamilyliving conditionsof farmersandconstruction workersfamilies in the GirisekarVillage, PanggangDistrict, Gunungkidul Regency. This researchis acomparativestudyconductedin theGirisekarVillage, PanggangDistrict, Gunungkidul Regencyin November2013. The populations in this study were allfarmersandconstruction workersin the GirisekarVillage.The Samples of the research were 160 farmersandconstruction workers,consistingof80respondents from construction workersand80respondents from farmers. The sampling technique wasincidentalsampling. The datawere collectedusingquestionnairesandinterviews.Datawere analyzedby using adifferent testusing at-test (independent sample t-test) The results show that: (1) there isa differencein income betweenconstruction workersandfarmers(sig =0,00 <0,05), tcount =13,801>t table=1,96, where theaverage incomeof construction workers isRp945.750,00andthe averageincome offarmers is Rp616.625,00; (2) there isa differencebetween theconsumption ofconstruction workersandfarmers(sig =0,00 <0,05), where t count=14,194>t table=1,96, wherethe average consumptionof construction worker is Rp906.375,00 and the averageconsumption offarmers is Rp572.450,00; (3) there is no differencebetween theliving conditionsof construction workersandfarmers(sig =0,501>0,05), tcount 0,675<1,96, where the averageliving conditionsof farmersandconstruction workersare inthe category ofprettydeceny. ix

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Allah SWT atas segala limpahan rahmat, kasih dan karunia-Nya yang tidak pernah putus sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pendidikan, program studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dalam proses penulisan skripsi ini dari awal penyusunan hingga akhir, tidak sedikit pihak yang turut terlibat. Untuk itu perkenankanlah penulis dengan tulus mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk dukungan, bimbingan dan bantuan yang tidak terhingga dari: 1. Allah SWT yang selalu membimbing dan menyertai setiap langkah penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. 2. Bapak Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. selaku Rektor Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan kesempatan pada penulis untuk memperoleh pendidikan terbaik selama kuliah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 3. Bapak Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. x

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Bapak Indra Darmawan, S.E., M.Si. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ketua Program Studi Pendidikan Ekonomi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. 5. Bapak Indra Darmawan, S.E., M.Si. selaku Dosen Pembimbing I, yang dengan penuh ketelitian dalam memeriksa skripsi ini. 6. Bapak Dr. Constantinus Teguh Dalyono, M.S. selaku Dosen Pembimbing II yang telah membimbing dan meluangkan waktu dengan penuh kesabaran dalam memberikan bimbingan dan semangat. 7. Bapak Y.M.V Mudayen, S.Pd., M.Sc. selaku dosen tamu penguji dalam skripsi ini. 8. Bapak Drs. Joko Wicoyo, M.Si. yang telah meluangkan waktunya untuk mengoreksi abstract penulis. 9. Sekretariat Pendidikan Ekonomi selalu memberikan informasi dan membantu dalam kelancaran selama masa perkuliahan dan pembuatan skripsi penulis. 10. Bapak Suratman dan Ibu Yatinah, selaku orangtua saya. Terimakasih atas doa, semangat, dukungan serta kasih sayang yang telah diberikan selama ini. 11. Seluruh keluarga Pawiro Junior, Brian Dani Wiradita, S.Kom, Bekti Kristiaji, Kristian Dedi Purnama, Aswin Krisna Ditya, S.Pd yang selalu memberikan motivasi dan semangat. 12. Keluarga besar Pendidikan Ekonomi 2009 yang memberi semangat dan dukungan 13. Seluruh masyarakat Desa Girisekar, khususnya yang bekerja sebagai buruh bangunan dan petani atas kesediaannya menjadi responden xi

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14. Semua pihak dan teman-teman yang telah membantu penyusunan skripsi yang tidak dapat disebutkan satu persatu hingga terwujudnya skripsi ini. Penulis berharap, semoga apa yang telah penulis susun dalam skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Dengan rendah hati, penulis membutuhkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kemajuan karya yang lebih baik. Yogyakarta, 21 Agustus 2014 Ardian Ratna Putra xii

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial, dalam arti semua yang kita lakukan tidak dapat lepas dari orang lain. Setiap manusia ingin hidup dengan sejahtera, yang dimaksud menunjuk pada kesejahteraan sosial, yaitu tercukupinya kebutuhan material dan non-material. Dalam masyarakat Indonesia kondisi sejahtera itu diartikan hidup aman dan bahagia karena semua kebutuhan dasar dapat terpenuhi, seperti makanan yang cukup, gizi, kesehatan, tempat tinggal, pendidikan, pendapatan yang layak, dan perlindungan. Baik pemerintah maupun masyarakat, menginginkan kehidupan yang lebih baik. Berdasarkan kabupaten/kota, IPM (Indeks Pembangunan Manusia) tertinggi masih disandang oleh Kota Yogyakarta (79,89) dan diikuti oleh Kabupaten Sleman (78,79). Sebaliknya, IPM terendah terjadi di Gunungkidul dengan nilai 70,84. Fenomena ini menggambarkan secara rata-rata kualitas pembangunan manusia atau kesejahteraan penduduk Kota Yogyakarta adalah yang terbaik. Nilai kecepatan menuju IPM ideal yang tercepat dicapai oleh Kabupaten Sleman Gunungkidul (1,30). (2,71), dan terlambat dialami oleh Kabupaten Salah satu ukuran yang dijadikan sebagai indikator kesejahteraan adalah tingkat kemiskinan. Seseorang dikatakan miskin jika 1

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 memiliki pendapatan/pengeluaran di bawah garis kemiskinan. Dengan garis kemiskinan tersebut, maka jumlah penduduk miskin DIY di tahun 2012 tercatat sebanyak 565,32 ribu jiwa, atau 16,05 persen dari total penduduk DIY. Jika dibandingkan dengan tahun 2011 maka secara nominal jumlah penduduk miskin di DIY bertambah 4,44 ribu jiwa. Di satu sisi, terdapat daerah yang memiliki persentase penduduk miskin cukup rendah yakni Kota Yogyakarta (9,75 %) dan Sleman (10,7 %). Di sisi yang lain, masih terdapat daerah yang memiliki level kemiskinan sangat tinggi, yakni Kabupaten Kulonprogo dan Gunungkidul dengan nilai masing-masing sebesar 23,15 persen dan 22,05 persen. Perbedaan tersebut juga merepresentasikan tingkat kesejahteraan penduduk antar wilayah yang sangat heterogen. Perbedaan kualitas infrastruktur terutama pendidikan, kesehatan serta pasar, baik dari sisi ketersediaan maupun kemudahan dalam mengakses menjadi penjelas perbedaan kualitas kesejahteraan yang cukup mencolok tersebut. (yogyakarta.bps.go.id) Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa Gunungkidul memiliki level kemiskinan yang tinggi sehingga tingkat kesejahteraannya relatif rendah. Hal inilah yang menyebabkan penulis ingin meneliti tentang tingkat kesejahteraan masyarakat di Dusun Bali, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul yang menjadi objek penelitiannya adalah penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani dan buruh bangunan.

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 Karena jumlah penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani dan buruh bangunan menempati peringkat teratas dari jumlah penduduk yang bermata pencaharian lainnya. Jumlah penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani di Desa Girisekar yang terdiri dari 9 dusun adalah 3.217, dan buruh bangunan sebanyak 613 dari total tenaga kerja yang ada sebanyak 5.463. ( Data Monografi Desa Girisekar tahun 2012 semester II ) Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sekitar 36,5 persen (41,20 juta orang) dari 112,80 juta penduduk yang bekerja pada Februari 2012 menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, baik sebagai petani maupun buruh tani. Hal tersebut berarti sektor pertanian sangat berperan dalam mengurangi angka pengangguran di Indonesia. Namun, sektor pertanian sudah tidak lagi dominan sehingga produktivitas sektor pertanian terus merosot hingga kondisi kesejahteraan tidak banyak berubah. Ini terkonfirmasi melalui statistik nilai tukar petani (NTP) yang cenderung melandai alias stagnan dan perkembangan upah riil (daya beli) buruh tani yang terus merosot. (Koran Tempo 11 Mei 2013) Penulis mengambil 3 indikator kesejahteraan masyarakat yang diduga paling berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. Dari beberapa indikator yang telah disebutkan diatas, penyusun menentukan 3 indikator sebagai variabel penelitian yaitu; pertama, pendapatan. Jumlah pendapatan yang diterima menjadi tanda-tanda kesejahteraan masyarakat dalam hal ini

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 petani dan buruh bangunan. Dengan pendapatan yang mereka terima ini, masyarakat dapat melakukan transaksi ekonomi. Kedua, pengeluaran konsumsi. Besarnya konsumsi masyarakat tergantung dari tingkat pendapatan yang diterima. Semakin tinggi pengeluaran konsumsi masyarakat, maka masyarakat tersebut akan semakin sejahtera. Ketika pendapatan meningkat, maka pengeluaran konsumsi meningkat, dan kesejahteraan akan semakin membaik. Ketiga, kondisi tempat tinggal. Kondisi tempat tinggal merupakan salah satu variabel yang diduga berpengaruh untuk mengukur tingkat kesejahteraan. Selain berfungsi sebagai tempat tinggal, rumah juga melambangkan kesejahteraan masyarakat. Keberadaan rumah yang aman, sehat, serasi dan teratur sangat diperlukan agar seluruh fungsi dan kegunaan rumah dapat dipenuhi dengan baik. Semakin baik kondisi dan fasilitas rumah yang ditempati, dapat menggambarkan semakin sejahtera ekonomi rumah tangga. Penyusun memilih ketiga variabel tersebut karena ketiga variabel tersebut cenderung dipakai untuk mengukur kesejahteraan ekonomi masyarakat. Selain itu, di Desa Girisekar masyarakat beranggapan bahwa bekerja sebagai buruh bangunan lebih baik dari segi pendapatan dibandingkan bekerja sebagai petani. Hal ini diperkuat dengan banyaknya anak petani justru lebih memilih bekerja sebagai buruh bangunan dibandingkan dengan meneruskan pekerjaan orangtuanya sebagai petani. Oleh karena itu, perlu

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 dibandingkan apakah benar ada perbedaan kesejahteraan antara petani dan buruh bangunan bila dilihat dari segi pendapatan, pengeluaran konsumsi dan kondisi tempat tinggal. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka penyusun dapat merumuskan masalah sebagai berikut: 1. Adakah perbedaan antara pendapatan petani dan buruh bangunan di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul? 2. Adakah perbedaan antara tingkat konsumsi petani dan buruh bangunan di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul? 3. Adakah perbedaan antara kondisi tempat tinggal keluarga petani dan keluarga buruh bangunan di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul?

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 C. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 1. Pendapatan Pendapatan yang dimaksud adalah penerimaan yang diperoleh petani dan buruh dalam bentuk uang (dalam satuan rupiah) selama melakukan pekerjaan di bidang tersebut. Indikator : a. Jumlah pendapatan yang diterima petani dan buruh dalam satuan rupiah (Rp) dalam satu bulan 2. Pengeluaran konsumsi Pengeluaran konsumsi yang dimaksud adalah bagian dari pendapatan yang dibelanjakan untuk pembelian barang dan jasa dalam satuan rupiah (Rp). Indikator : a. Pengeluaran konsumsi untuk pangan dalam satuan rupiah (Rp) selama satu bulan b. Pengeluaran konsumsi untuk pakaian dalam satuan rupiah (Rp) selama satu bulan c. Pengeluaran konsumsi untuk lain-lain dalam satuan rupiah (Rp) selama satu bulan 3. Kondisi tempat tinggal Kondisi tempat tinggal yang dimaksud adalah kondisi fisik rumah yang ditempati oleh satu keluarga. Indikator:

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 a. Luas bangunan (m2) b. Kondisi dinding c. Kondisi atap bangunan d. Kondisi lantai bangunan D. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui adakah perbedaan antara pendapatan petani dan buruh bangunan di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul 2. Untuk mengetahui adakah perbedaan antara tingkat konsumsi petani dan buruh bangunan di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul 3. Untuk mengetahui adakah perbedaan antara kondisi tempat tinggal keluarga petani dan keluarga buruh bangunan di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul E. Manfaat Penelitian 1. Secara teoretis Hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat desa, khususnya petani dan buruh

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 2. Secara praktis a. Bagi masyarakat Memberikan informasi kepada masyarakat mengenai tingkat kesejahteraan petani dan buruh b. Bagi pemerintah 1) Sebagai evaluasi untuk program-program yang dijalankan pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat 2) Sebagai acuan bagi pemerintah agar lebih memperhatikan kesejahteraan rakyat kecil, khususnya petani dan buruh. c. Bagi penulis Menambah pengetahuan dan wawasan tentang tingkat kesejahteraan masyarakat desa, khususnya yang bekerja sebagai petani dan buruh

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. Kesejahteraan a. Konsep Kesejahteraan Menurut Kementrian Koordinator Kesejahteraan Rakyat merumuskan bahwa sejahtera yaitu suatu kondisi masyarakat yang telah terpenuhi kebutuhan dasarnya. Kebutuhan dasar tersebut berupa kecukupan dan mutu pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, lapangan pekerjaan, dan kebutuhan dasar lainnya seperti lingkungan bersih, aman, dan nyaman. Juga terpenuhinya hak asasi dan partisipasi serta terwujudnya masyarakat beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. (www.menkokesra.go.id) Konsep kesejahteraan menurut Nasikun (1993) dapat dirumuskan sebagai padanan makna dari konsep martabat manusia yang dapat dilihat dari empat indikator yaitu : rasa aman (security), Kesejahteraan (welfare), Kebebasan (freedom), (Identity). 9 dan jati diri

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 Biro Pusat Statistik Indonesia (2000) menerangkan bahwa guna melihat tingkat kesejahteraan rumah tangga suatu wilayah ada beberapa indikator yang dapat dijadikan ukuran, yaitu : 1) Tingkat pendapatan keluarga; 2) Komposisi pengeluaran rumah tangga dengan membandingkan pengeluaran untuk pangan dengan non-pangan; 3) Tingkat pendidikan keluarga; 4) Tingkat kesehatan keluarga, dan; 5) Kondisi perumahan serta fasilitas yang dimiliki dalam rumah tangga. Menurut Kolle (1974) dalam Bintarto (1989), kesejahteraan dapat diukur dari beberapa aspek kehidupan: 1) Dengan melihat kualitas hidup dari segi materi, seperti kualitas rumah, bahan pangan dan sebagianya; 2) Dengan melihat kualitas hidup dari segi fisik, seperti kesehatan tubuh, lingkungan alam, dan sebagainya; 3) Dengan melihat kualitas hidup dari segi mental, seperti fasilitas pendidikan, lingkungan budaya, dan sebagainya; 4) Dengan melihat kualitas hidup dari segi spiritual, seperti moral, etika, keserasian penyesuaian, dan sebagainya.

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 b. Indikator Keluarga Sejahtera Indikator Keluarga Sejahtera pada dasarnya berangkat dari pokok pikiran yang terkandung didalam undang-undang no. 10 Tahun 1992 disertai asumsi bahwa kesejahteraan merupakan variabel komposit yang terdiri dari berbagai indikator yang spesifik dan operasional. Karena indikator yang yang dipilih akan digunakan oleh kader di desa, yang pada umumnya tingkat pendidikannya relatif rendah, untuk mengukur derajat kesejahteraan para anggotanya dan sekaligus sebagai pegangan untuk melakukan melakukan intervensi, maka indikator tersebut selain harus memiliki validitas yang tinggi, juga dirancang sedemikian rupa, sehingga cukup sederhana dan secara operasional dapat di pahami dan dilakukan oleh masyarakat di desa. Atas dasar pemikiran di atas, maka indikator dan kriteria keluarga sejahtera yang ditetapkan adalah sebagai berikut : a. Keluarga Pra Sejahtera Keluarga Pra Sejahtera adalah keluarga yang belum dapat memenuhi salah satu atau lebih dari 5 kebutuhan dasarnya (basic needs) Sebagai keluarga Sejahtera I, seperti kebutuhan akan pengajaran agama, pangan, papan, sandang dan kesehatan.

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 b. Keluarga Sejahtera Tahap I Keluarga Sejahtera Tahap I adalah keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal yaitu: 1) Melaksanakan ibadah menurut agama oleh masing-masing anggota keluarga. 2) Pada umumnya seluruh anggota keluarga makan 2 (dua) kali sehari atau lebih. 3) Seluruh anggota keluarga memiliki pakaian yang berbeda untuk di rumah, bekerja/sekolah dan bepergian. 4) Bagian yang terluas dari lantai rumah bukan dari tanah. 5) Bila anak sakit atau pasangan usia subur ingin ber KB dibawa kesarana/petugas kesehatan. c. Keluarga Sejahtera tahap II Keluarga Sejahtera tahap II yaitu keluarga-keluarga yang disamping telah dapat memenuhi kriteria keluarga sejahtera tahap I, harus pula memenuhi syarat sosial psikologis 6 sampai 14 yaitu: 6) Anggota keluarga menjalankan ibadah secara teratur 7) Paling kurang sekali seminggu daging/ikan/telur sebagai lauk pauk keluarga menyediakan

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 8) Seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang satu stel pakaian baru per tahun 9) Luas lantai rumah paling kurang delapan meter persegi tiap penghuni rumah 10) Seluruh anggota keluarga dalam 3 bulan terakhir dalam keadaan sehat 11) Paling kurang satu orang anggota keluarga yang berumur 15 tahun keatas mempunyai penghasilan tetap 12) Seluruh anggota keluarga yang berumur 10-60 yahun bisa membaca tulisan latin 13) Seluruh anak berusia 5-15 tahun bersekolah pada saat ini 14) Bila anak hidup 2 atau lebih, keluarga yang masih pasangan usia subur memakai kontrasepsi (kecuali sedang hamil) d. Keluarga Sejahtera Tahap III Keluarga Sejahtera Tahap III yaitu keluarga yang memenuhi syarat 1 sampai 14 dan dapat pula memenuhi syarat 15 sampai 21, syarat pengembangan keluarga yaitu: 15) Mempunyai upaya untuk meningkatkan pengetahuan agama 16) Sebagian dari penghasilan keluarga dapat disisihkan untuk tabungan keluarga

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 17) Biasanya makan bersama paling kurang sekali sehari dan kesempatan itu dimanfaatkan untuk berkomunikasi antar anggota keluarga 18) Ikut serta dalam kegiatan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya 19) Mengadakan rekreasi bersama diluar rumah paling kurang 1 kali per 6 bulan 20) Dapat memperoleh berita dari surat kabar/TV/majalah 21) Anggota keluarga mampu menggunakan sarana transportasi yang sesuai dengan kondisi daerah setempat e. Keluarga Sejahtera tahap III plus Keluarga yang dapat memenihi kriteria 1 sampai 21 dan dapat pula memenuhi kriteria 22 dan 23, kriteria pengembangan keluarga yaitu: 22) Secara teratur atau pada waktu tertentu dengan sukarela memberikan sumbanganbagi kegiatan sosial masyarakat dalam bentuk materiil 23) Kepala keluarga atau anggota keluarga aktif sebagai pengurus perkumpulan/yayasan/institusi masyarakat

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 f. Keluarga Miskin Keluarga Miskin adalah keluarga Pra Sejahtera alasan ekonomi dan KS-I karena alasan ekonomi tidak dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator yang meliputi: 1) Paling kurang sekali seminggu keluarga makan daging/telor/ikan 2) Setahun terakhir seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang satu stel pakaian baru 3) Luas lantai rumah paling kurang 8 meter persegi untuk tiap penghuni g. Keluarga Miskin Sekali Keluarga Miskin Sekali adalah Keluarga Prs Sejahtera alasan ekonomi dan KS-I karena alasan ekonomi tidak dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator yang meliputu: 1) Pada umumnya seluruh anggota keluarga makan 2 kali sehari atau lebih 2) Anggota keluarga memiliki pakaian berbeda untuk dirumah, bekerja/sekolah dan bepergian 3) Bagian lantai yang terluas bukan dari tanah

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 2. Petani Menurut James C. Scott, definisi petani tidak mencakup seluruh penduduk pedesaan, tetapi hanya menunjuk kepada penduduk pedesaan yang bekerja sebagai petani saja. Artinya petani adalah orang yang bercocok tanam (melakukan budidaya) di lahan pertanian (Scott, 1976). James C. Scoot, dalam bukunya “Moral Ekonomi Petani” (1981), membagi secara hirarkhis status yang begitu konvensional di kalangan petani seperti, petani lahan kecil petani penyewa dan buruh tani. Menurut beliau bahwa kategori-kategori itu tidak bersifat eksklusif, oleh tambahan yang disewa. Begitu pula ada buruh yang memiliki lahan sendiri. Jadi sepertinya ada tumpang tindih hal pendapatan, sebab kemungkinan, ada petani lahan kecil yang lebih miskin dari buruh tani apabila ada pasaran yang lebih baik dari tenaga kerja. Sehubungan dengan penulisan skripsi ini, dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan petani di sini orang, baik yang mempunyai maupun yang tidak mempunyai tanah sendiri yang mata pencaharian pokoknya adalah mengusahakan tanah untuk pertanian. Petani penggarap adalah petani, yang secara sah mengerjakan atau mengusahakan sendiri secara aktif tanah yang bukan miliknya dengan memikul seluruh atau sebagian dari resiko produksinya. Buruh tani

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 adalah, mengerjakan atau mengusahakan secara terus menerus tanah orang lain dengan mendapatkan upah harian. 3. Buruh Bangunan Sebagai sebuah sumberdaya manusia yang memiliki potensi dan juga kompleksitas tentunya perlu diperhatikan secara seruis management dan sistim kerja yang baik dalam sebuah proyek. Jika tidak akan berakibat fatal. Secara menyeluruh semua orang yang terlibat dalam sebuah proyek baik dari yang ahli / profesional sampai dengan tenaga kerja borongan / buruh disebut sebagai tenaga kerja. Berdasarkan tingkat keahliannya,buruh bangunan biasanya dibedakan menjadi lima lapisan, yaitu: (1) Pembantu tukang, (2) Setengah tukang, (3) Tukang, (4) Tukang ahli dan (5) Kepala tukang. Pembantu tukang sering disebut juga dengan istilah kenek atau laden. Mereka menangani pekerjaan-pekerjaan yang tidak memerlukan keahlian khusus, seperti: menggali tanah dan mengangkut bahan-bahan bangunan. Setengah tukang biasanya menangani pekerjaan yang lebih sulit dari pada yang ditangani pleh pembantu tukang, seperti: mengaduk bahan-bahan bangunan, memasang bahan-bahan tertentu dan kadang dapat mengantikan tukang dalam pekerjaan-pekerjan tertentu. Tukang biasanya menangani pekerjaan-pekerjaan mandiri dan spesialisasinya dikaitkan

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 dengan material yang dikuasainya, sehingga ada sebutan tukang besi, tukang kayu dan tukang batu. Sedangkan untuk tukang ahli dan kepala tukang biasanya telah menguasai keahlian dan ketrampilan sebagai tukang berkat panjangnya pengalaman kerja mereka. Khusus kepala tukang, mereka adalah pemimpin teknik sekaligus pemimpin sosial. Disebut pemimpin teknik karena mereka mengkoordinir pekerjaan dan member instruksi kepada para tukang bagaimana pekerjaan harus dilakukan. Disebut pemimpin sosial karena mereka biasanya mereka juga mengangkat dan memberhentikan tukang. Berdasarkan ststus memburuhnya, buruh bangunan digolongkan kedalam buruh tetap dan buruh lepas. Buruh tetap ialah buruh yang memperoleh gaji tetap dan memperoleh berbagai tunjangan oleh industri konstruksi, dan biasanya hanya dari situlah pendapatan diperoleh. Sedangkan buruh lepas ialah buruh yang hanya dibayar berkat prestasi atau pekerjaan yang dapat diselesaikannya, karena itu biasanya bersifat musiman dan mempunyai mata pencaharian lain selain menjadi buruh bangunan. 4. Pendapatan Konsep pendapatan menurut Gilarso (2004) dapat dirumuskan sebagai arus uang berupa upah, bunga, sewa dan laba serta penghasilan

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 lainnya yang diterima oleh masyarakat sebagai balas karya atas sumbangannya dalam proses produksi. Kongkritnya pendapatan dapat bersumber dari usaha sendiri, misalnya berdagang, wiraswasta. Bekerja pada orang lain misalnya karyawan, buruh. Hasil dari milik, misalnya memiliki sawah atau rumah yang disewakan. Penghasilan keluarga dapat diterima dalam bentuk uang atau barang (disebut”in natura” misalnya tunjangan beras, hasil dari sawah atau pekarangan sendiri), atau fasilitas-fasilitas ( misalnya rumah dinas, pengobatan gratis). Selain pendapatan (balas karya dan hasil milik tersebut) mungkin masih ada penerimaan/uang masuk lain, misalnya berupa: Uang pensiun – bagi mereka yang sudah lanjut usia dan dulu bekerja pada pemerintah atau instansi lain. Sumbangan atau hadiah – misalnya sokongan dari saudara atau famili, warisan, hadiah tabungan, dan lain-lain. Pinjaman atau hutang – ini memang merupakan uang masuk, tetapi pada suatu saat akan harus/dikembalikan. 5. Pengeluaran Konsumsi Menurut Gilarso (2004) pendapatan atau uang masuk sebagian besar dibelanjakan lagi, yaitu untuk membeli segala hal yang diperlukan

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 hidup. Istilah ekonomi dikatakan dibelanjakan untuk konsumsi. Konsumsi tidak hanya mengenai makanan saja, tetapi mencakup semua pemakaian barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidup. Besarnya jumlah pengeluaran keluarga tergantung dari banyak faktor, antara lain: a. Besarnya pendapatan keluarga yang tersedia (setelah dipotong pajak dan potongan-potongan lainnya); b. Besarnya keluarga dan susunannya (jumlah anak, umur anak); c. Taraf pendidikan dan status sosial-ekonomi (desa, kota kecil, kota besar); d. Agama dan adat kebiasaan (misalnya pesta seperti Idul Fitri, Natal, Tahun Baru); e. Musim (panen/paceklik, masa ujian/pendaftaran sekolah); f. Kebijakan dalam mengatur keuangan keluarga; g. Pengaruh psikologi (iklan yang menarik, mode-mode baru, pandangan masyarakat tentang apa yang menaikkan gengsi); h. Harta kekayaan yang dimiliki (tanah, rumah, uang) Dari hasil penelitian ternyata bahwa dari semua hal tersebut diatas besar-kecilnya penghasilan adalah faktor yang terpenting. Makin besar penghasilan keluarga, makin besar pula jumlah pengeluarannya. Sebaliknya, dari penghasilan yang kecil terpaksa pengeluarannya juga

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 harus kecil. Hal ini berlaku baik untuk keluarga individual maupun untuk masyarakat sebagai keseluruhan. 6. Tempat tinggal Dalam arti umum, rumah adalah salah satu bangunan yang dijadikan tempat tinggal selama jangka waktu tertentu. Dalam arti khusus, rumah mengacu pada konsep-konsep sosial-kemasyarakatan yang terjalin di dalam bangunan tempat tinggal, seperti keluarga, hidup, makan, tidur, beraktivitas, dan lain-lain. (Wikipedia) Sebuah tempat tinggal biasanya berwujud bangunan rumah, tempat berteduh, atau struktur lainnya yang digunakan sebagai tempat manusia tinggal. Istilah ini dapat digunakan untuk rupa-rupa tempat tinggal, mulai dari tenda-tenda nomaden hingga apartemen-apartemen bertingkat. Dalam konteks tertentu tempat tinggal memiliki arti yang sama dengan rumah, kediaman, akomodasi, perumahan, dan arti-arti yang lain. Sebagai bangunan, rumah berbentuk ruangan yang dibatasi oleh dinding dan atap. Rumah memiliki jalan masuk berupa pintu dengan tambahan berjendela. Lantai rumah biasanya berupa tanah, ubin, babut, keramik, atau bahan material lainnya. Rumah bergaya modern biasanya memiliki unsur-unsur ini. Ruangan di dalam rumah terbagi menjadi beberapa ruang yang berfungsi secara spesifik, seperti kamar tidur, kamar

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 mandi, WC, ruang makan, dapur, ruang keluarga, ruang tamu, garasi, gudang, teras dan pekarangan. Ada beberapa indikator atau syarat yang bisa dijadikan sebagai parameter menentukan kriteria rumah sehat dan layak huni, diantaranya adalah: a. Sirkulasi Udara Yang Baik. Dalam sebuah rumah perlu adanya ventilasi untuk pergantian udara, karena merupakan faktor penting, karena dengan adanya sirkulasi udara secara terus menerus dapat meminimalisir kelembaban udara dalam rumah dan membuat pernafasan segar. Usahakan dalam pembangunan rumah memperhatikan pentingnya pemasangan pintu jendela, bouven rooster, dan lainnya yang sesuai standar, dengan maksud untuk menjamin adanya sirkulasi udara yang baik. Jangan lupakan pula pentingnya tanaman di sekitar rumah, karena keberadaan pepohonan/tanaman disekitar rumah juga penting, namun perhatikan pula jenis tanaman yang pas dan sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan Anda. Andai memungkinkan, pilih lokasi rumah yang jauh dari pencemaran pabrik atau lainnya. b. Kualitas air yang memadai. Sebelum membangun atau membeli rumah, sebaiknya pilih lokasi yang terjamin ketersediaan air, kualitas air tanah dan air minum harus baik dan memenuhi persyaratan

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 kesehatan, baik itu air dari PDAM atau sumur. Pastikan air yang akan digunakan aman dan higienis, baik dan layak minum/ layak di konsumsi, tersedia dalam jumlah yang cukup, bila harus membeli usahakan harganya relatif murah. Pencahayaan atau Penerangan yang cukup. Matahari merupakan c. sumber utama pencahayaan pada siang hari. Pencahayaan yang dimaksud dengan ketentuan cuaca dalam keadaan cerah dan tidak berawan, ruangan kegiatan mendapatkan cukup banyak cahaya, ruang kegiatan mendapatkan distribusi cahaya yang merata. B. Kajian Hasil Penelitian yang Relevan 1. Jurnal Penelitian oleh Danhartini, Eka Rahardiah, dan Usamah Hanafie (2012) Penelitian yang dilakukan oleh Danhartini, Eka Rahardiah, dan Usamah Hanafie (2012) meneliti tentang: Tingkat kesejahteraan Buruh Tani Tanaman Pangan di Kecamatan Aluh-Aluh Kabupaten Banjar Tujuan penelitian Danhartini, Eka Rahardiah, dan Usamah Hanafie (2012) adalah untuk: a. Mengetahui tingkat kesejahteraan buruh tani tanaman pangan b. Mengetahui permasalahan yang dihadapi buruh tani Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah survei. Hasil penelitian menunjukan:

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 1) Tingkat kesejahteraan buruh tani tanaman pangan Kecamatan Aluh-aluh, Kabupaten banjar tergolong rendah, dengan pendapatan rata-rata Rp 19.102 dimana sebanyak 55 petani atau 66,27% dari buruh tani responden. 2) Masalah yang dihadapi petani adalah sebagai berikut: a) Harga jual produk pangan dalam hal ini padi, rendah b) Permodalan usaha tani c) Luapan air laut, air asin 2. Penelitian Ignatius Gatot Triharsa (1991) Penelitian Ignatius Gatot Triharsa ini meneliti tentang: Partisipasi Migran Sirkuler Dalam Pembangunan Desa ( Studi Kasus Tentang Buruh Bangunan dari Desa Giri Mulya, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul). Tujuan Penelitian Ignatius Gatot Triharsa (1991) adalah untuk: 1. Untuk mengidentifikasikan tingkat partisipasi migran sirkuler dalam kegiatan pembangunan di desa mereka 2. Untuk mengetahui dalam prasarana apa tingkat partisipasi tertinggi terjadi dan menjelaskan sebab-sebabnya 3. Untuk mengetahui dalam bentuk apa tingkat partisipasi tertinggi terjadi dan menjelaskan sebab-sebabnya

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 4. Untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi migran sirkuler dalam kegiatan pembangunan prasarana fisik di desa mereka. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah penelitian lapangan (field study). Hasil penelitian menunjukkan: a. Desa asal migran sirkuler yang bekerja sebagai buruh bangunan di kota termasuk wilayah miskin b. Migrasi sirkuler merupakan pilihan paling aman bagi sebagian warga wilayah miskin c. Migrasi sirkuler telah berhasil meningkatkan pendapatan rumah tangga migrant d. Migrasi sirkuler tidak menganggu partisipasi warga pada pelaksanaan pembangunan prasarana fisik di desa e. Baik migran maupun bagi nonmigran, bentuk partisipasi tertinggi terjadi pada sumbangan berupa tenaga (bukan uang atau materi) C. Hipotesis Penelitian Berdasarkan latar belakang, perumusan masalah dan landasan teori di atas dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: 1. Terdapat perbedaan pendapatan antara buruh bangunan dan petani

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 2. Terdapat perbedaan pengeluaran konsumsi antara buruh bangunan dan petani 3. Terdapat perbedaan kondisi tempat tinggal antara buruh bangunan dan petani

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian komparatif. Penelitian komparatif adalah penelitian yang bersifat membandingkan. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan persamaan dan perbedaan dua atau lebih fakta-fakta dan sifat-sifat objek yang diteliti berdasarkan kerangka pemikiran tertentu (Nazir, 2005:58) B. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul. Adapun alasan penulis memilih tempat penelitian ini karena sebagian besar penduduk Desa Girisekar bermata pencaharian sebagai petani dan buruh bangunan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2013 C. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel 1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah para petani dan buruh bangunan yang ada di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul. Total petani dan buruh bangunan adalah 3.830 orang yang terdiri dari 3.217 petani dan 613 buruh bangunan. 27

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 2. Sampel Dalam penelitian ini penulis mengambil sampel berdasarkan Rumus Slovin: n= + 1 dimana: n = sampel; N = populasi; d = nilai presisi 10% atau sig. = 0,1. Dalam penelitian ini jumlah sampel dibagi menjadi dua, yaitu: a. Sampel petani dengan populasi 3.217, maka jumlah sampel yang digunakan adalah: n= 3.217/3.217 (0,1)2 + 1 = 96,98 dikurangi menjadi 80 sampel b. Sampel buruh bangunan dengan populasi 617, maka jumlah sampel yang digunakan adalah: n= 617/617 (0,1)2 + 1 = 86,05 dikurangi menjadi 80 sampel 3. Teknik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Insidental Sampling (Sampling Insidental) yaitu penentuan sampel berdasarkan kebetulan, siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data. Sugiyono (2010:67).

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 D. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebar kuesioner atau angket kepada para responden, dan dokumentasi. Kuesioner adalah teknik pengumpulan data dengan memberikan atau menyebarkan daftar pertanyaan kepada responden dengan harapan memberikan respons atas daftar pertanyaan tersebut. Dokumentasi adalah penyimpanan sejumlah besar fakta dan data mengenai masalah yang hendak diteliti. E. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 1. Variabel Penelitian Variabel yang dimaksud adalah sesuatu yang dapat menjadi objek pengamatan dan merupakan faktor yang berperan dalam peristiwa atau gejala yang diteliti. Adapun variabel yang akan diambil oleh penulis dalam penelitian ini adalah: a. Pendapatan petani dan buruh bangunan b. Pengeluaran Konsumsi petani dan buruh bangunan c. Kondisi tempat tinggal petani dan buruh bangunan 2. Definisi operasional dan pengukurannya a. Pendapatan Pendapatan yang dimaksud adalah penerimaan yang diperoleh petani dan buruh dalam bentuk uang dalam satuan rupiah (Rp) selama

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 melakukan pekerjaan dibidang tersebut. Pengukuran dilakukan dengan membandingkan jumlah pendapatan yang diterima petani dan buruh bangunan yang dinyatakan dalam rupiah dalam kurun waktu 1 bulan. b. Pengeluaran konsumsi Pengeluaran konsumsi yang dimaksud adalah bagian dari pendapatan yang dibelanjakan untuk pembelian barang dan jasa dalam satuan rupiah (Rp). Pengeluaran konsumsi ini meliputi pengeluaran konsumsi untuk pangan, pakaian dan biaya lain-lain dalam kurun waktu 1 bulan. c. Kondisi tempat tinggal Kondisi tempat tinggal yang dimaksud adalah kondisi fisik rumah yang ditempati oleh satu keluarga. Pengukuran dilakukan melalui indikator dengan menggunakan skala linkert seperti tabel dibawah ini:

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 Tabel III.1 Kriteria kondisi Rumah Nilai Kondisi No. Rumah 4 3 2 1 55-63 m2 46-54 m2 37-45 m2 27-36 m2 Batu bata plester Batu bata Luas 1 bangunan Dinding , kayu kualitas bangunan bagus ( jati/ 2 Kayu biasa, Bambu tidak triplek plester mahoni) Atap 3 Genteng Genteng press bangunan Asbes Seng jawa Keramik,marmer, Semen,kayu Lantai kayu kualitas bangunan bagus ( jati/ 4 Tegel,ubin kualitas Tanah,bambu biasa mahoni) Sumber : Indikator keluarga sejahtera F. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh data serta keterangan yang diperlukan adalah:

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 a. Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden baik laopran tentang pribadinya maupun hal-hal yang diketahui. Untuk mengumpulkan data mengenai pendapatan, pengeluaran konsumsi dan kondisi tempat tinggal. b. Dokumentasi adalah mencari data mengenai kondisi Desa Girisekar, jumlah petani dan jumlah buruh. G. Teknik Analisis Data 1) Analisis Deskriptif Analisis deskriptif adalah analisis yang menggambarkan suatu data yang akan dibuat baik sendiri maupun secara berkelompok dengan tujuan untuk membuat gambaran secara sistematis data yang faktual dan akurat mengenai fakta-fakta serta hubungan antar fenomena yang diselidiki atau diteliti (Suryana, 2010 : 30). Analisis deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), median, dan modus dari setiap variabel. a. Deskripsi data pendapatan buruh bangunan dan petani Pendapatan yang dimaksud adalah penerimaan yang diperoleh petani dan buruh dalam bentuk uang dalam satuan rupiah (Rp) selama melakukan pekerjaan dibidang tersebut. Dalam penelitian ini, peneliti menghitung skor mean (ratarata), median, modus dan standar deviasi untuk variable pendapatan.

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 Perhitungan dalam penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS versi 16, sebagai berikut: Mean merupakan teknik penjelasan kelompok yang didasarkan atas nilai rata-rata dari kelompok tersebut (Sugiyono, 2010: 49), dirumuskan dengan rumus sebagai berikut: ∑ Keterangan: Me = Mean (rata-rata) ∑ = Epsilon (Jumlah) Xi = Nilai x ke i sampai ke n N = Jumlah Individu (sampel) Median merupakan nilai tengah dari gugusan data yang telah diurutkan (disusun) mulai dari terkecil sampai data terbesar atau sebaliknya (Suryana, 2010:38), dirumuskan sebagai berikut: ( ) Keterangan : Md = Median b = batas bawah, dimana median akan terletak

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 n = banyak data atau jumlah sampel p = panjang kelas interval F = jumlah semua frekuensi sebelum kelas median f = frekuensi kelas median Modus adalah nilai dari data yang mempunyai frekuensi tertinggi baik data tunggal maupun data distribusi atau nilai yang sering muncul dalam kelompok data (Suryana, 2010 : 35), dirumuskan dengan rumus sebagai berikut : Keterangan : Mo = Modus L1 = batas kelas interval dengan frekuensi terbanyak Ci = panjang kelas interval d1 = frekuensi pada kelas modus (frekuensi pada kelas interval yang terbanyak) dikurangi frekuensi kelasinterval terdekat sebelumnya d2 frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas interval berikutnya

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 Dengan menggunakan rumus di atas, maka dapat diperoleh hasil perhitungan antara buruh bangunan dan petani sebagai berikut sebagai berikut: Tabel III.2 Mean, median, modus dan standard deviasi variabel pendapatan antara buruh bangunan dan petani Pendapatan buruh bangunan Mean 945.750 Median 950.000 Modus 900.000 Std. Deviation 173.261,89 Sumber: data diolah, 2014 Pendapatan petani 616.625 600.000 600.000 124.412 Tabel III.3 Mean, median, modus dan standard deviasi variabel pendapatan Pendapatan buruh bangunan dan petani Mean 781.118 Median 750.000 Mode 600.000 Std. Deviation 223.287 Sumber: data diolah, 2014 Untuk mengetahui kriteria pendapatan buruh bangunan dan petani dapat ditunjukkan dengan memasukkan nilai mean dan standar deviasi yang diperoleh ke dalam interval di bawah ini:

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 Tabel III.4 Kriteria pendapatan buruh bangunan dan petani Pendapatan Rendah Sedang Tinggi Rumus interval X < mean - SD Mean – SD < x < mean + SD Mean + SD < X Interval 400.000 – 557.901 557.902 – 1.004.474 1.004.474– 1.500.000 Sumber: data diolah, 2014 Kategori pendapatan dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu: 1) Pendapatan tinggi Pendapatan tinggi berarti responden buruh bangunan dan petani memiliki pendapatan lebih dari Rp 1.004.474 setiap bulannya. Artinya, responden yang berada dalam kelompok ini lebih dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. 2) Pendapatan sedang Pendapatan sedang berarti responden buruh bangunan dan petani memiliki pendapatan antara Rp 557.902 – Rp 1.004.474 setiap bulannya. Artinya, responden yang berada dalam kelompok ini cukup dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. 3) Pendapatan rendah Pendapatan rendah berarti responden buruh bangunan dan petani memiliki pendapatan kurang dari Rp 557.901 setiap bulannya. Artinya, responden yang berada dalam kelompok ini kurang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 b. Deskripsi pengeluaran konsumsi buruh bangunan dan petani Pengeluaran konsumsi yang dimaksud adalah bagian dari pendapatan yang dibelanjakan untuk pembelian barang dan jasa dalam satuan rupiah (Rp). Pengeluaran konsumsi ini meliputi pengeluaran konsumsi untuk pangan, pakaian, listrik, air, biaya sekolah dan biaya lain-lain. Dalam penelitian ini, peneliti menghitung skor mean (ratarata), median, modus dan standar deviasi untuk variable pengeluaran konsumsi. Perhitungan dalam penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS versi 16, sebagai berikut: Mean merupakan teknik penjelasan kelompok yang didasarkan atas nilai rata-rata dari kelompok tersebut (Sugiyono, 2010: 49), dirumuskan dengan rumus sebagai berikut: ∑ Keterangan: Me = Mean (rata-rata) ∑ = Epsilon (Jumlah) Xi = Nilai x ke i sampai ke n N = Jumlah Individu (sampel)

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 Median merupakan nilai tengah dari gugusan data yang telah diurutkan (disusun) mulai dari terkecil sampai data terbesar atau sebaliknya (Suryana, 2010:38), dirumuskan sebagai berikut: ( ) Keterangan : Md = Median b = batas bawah, dimana median akan terletak n = banyak data atau jumlah sampel p = panjang kelas interval F = jumlah semua frekuensi sebelum kelas median f = frekuensi kelas median Modus adalah nilai dari data yang mempunyai frekuensi tertinggi baik data tunggal maupun data distribusi atau nilai yang sering muncul dalam kelompok data (Suryana, 2010 : 35), dirumuskan dengan rumus sebagai berikut : Keterangan : Mo = Modus

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 L1 = batas kelas interval dengan frekuensi terbanyak Ci = panjang kelas interval d1 = frekuensi pada kelas modus (frekuensi pada kelas interval yang terbanyak) dikurangi frekuensi kelasinterval terdekat sebelumnya d2 frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas interval berikutnya Dengan menggunakan rumus diatas, maka dapat diperoleh hasil perhitungan antara buruh bangunan dan petani sebagai berikut sebagai berikut: Tabel III.5 Mean, median, modus dan standard deviasi variabel konsumsi antara buruh bangunan dan petani Mean Median Mode Std. Deviation Konsumsi buruh bangunan 906.375 900.000 1.000.000 171.448,23 Sumber: data diolah, 2014 Konsumsi petani 572.450 550.000 500.000 121.926,8

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 Tabel III.6 Mean, median, modus dan standard deviasi variabel konsumsi Mean Median Mode Std. Deviation Konsumsi buruh bangunan dan petani 739.413 700.000 500.000 223.718 Sumber: data diolah, 2014 Untuk mengetahui kriteria konsumsi buruh bangunan dan petani dapat ditunjukkan dengan memasukkan nilai mean dan standar deviasi yang diperoleh ke dalam interval di bawah ini: Tabel III.7 Kriteria konsumsi buruh bangunan dan petani Konsumsi Rendah Sedang Tinggi Rumus interval X < mean - SD Mean – SD < x < mean + SD Mean + SD < X Interval 350.000 – 515.695 515.696 – 963.131 963.132– 1.600.000 Kategori konsumsi dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu: 1) Konsumsi tinggi Konsumsi tinggi berarti responden buruh bangunan dan petani membelanjakan lebih dari Rp 963.132 setiap bulannya. Artinya, responden yang berada dalam kelompok mengeluarkan biaya untuk konsumsi yang tinggi. ini

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 2) Konsumsi sedang Konsumsi sedang berarti responden buruh bangunan dan petani membelanjakan antara Rp 515.696 – Rp 963.131 setiap bulannya. Artinya, responden yang berada dalam kelompok ini mengeluarkan biaya untuk konsumsi yang tergolong sedang. 3) Konsumsi rendah Konsumsi rendah berarti responden buruh bangunan dan petani membelanjakan kurang dari Rp 515.695 setiap bulannya. Artinya, responden yang berada dalam kelompok ini mengeluarkan biaya untuk konsumsi yang tergolong rendah. Pengeluaran konsumsi diukur dengan menggunakan indikator konsumsi untuk makan, konsumsi untuk pakaian, konsumsi listrik, konsumsi air, biaya sekolah dan biaya lain-lain yang dijelaskan sebagai berikut: 1). Konsumsi untuk Makan Perhitungan mean, median, modus dan standar deviasi dalam penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS versi 16. Mean, median, modus dan standar deviasi konsumsi untuk makan sebagai berikut:

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 Tabel III.8 Mean, median, modus dan standard deviasi konsumsi untuk makan antara buruh bangunan dan petani Mean Median Mode Std. Deviation Konsumsi untuk makan buruh bangunan 601.250 600.000 600.000 121.835,9 Konsumsi untuk makan petani 390.000 400.000 400.000 83.590,32 Sumber: data diolah, 2014 Tabel III.9 Mean, median, modus dan standard deviasi konsumsi untuk makan Mean Median Mode Std. Deviation Konsumsi untuk makan buruh bangunan dan petani 495.625 450.000 400.000 148.572,61 Sumber: data diolah, 2014 Untuk mengetahui kriteria konsumsi untuk makan buruh bangunan dan petani dapat ditunjukkan dengan memasukkan nilai mean dan standar deviasi yang diperoleh ke dalam interval di bawah ini:

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 Tabel III.10 Kriteria konsumsi untuk makan buruh bangunan dan petani Konsumsi makan Rendah Sedang Tinggi Rumus interval Interval X < mean - SD Mean – SD < x < mean + SD Mean + SD < X 300.000 – 347.053 347.054 – 644.198 644.199 – 900.000 Sumber: data diolah, 2014 Kategori konsumsi dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu: 1) Konsumsi untuk makan tinggi Konsumsi untuk makan tinggi berarti responden buruh bangunan dan petani membelanjakan lebih dari Rp 644.199 setiap bulannya untuk makan. Artinya, responden yang berada dalam kelompok ini mengeluarkan biaya untuk konsumsi makan yang tinggi. 2) Konsumsi untuk makan sedang Konsumsi untuk makan sedang berarti responden buruh bangunan dan petani membelanjakan antara Rp 347.054 – Rp 644.198 setiap bulannya untuk makan. Artinya, responden yang berada dalam kelompok ini mengeluarkan biaya untuk konsumsi makan yang tergolong sedang. 3) Konsumsi untuk makan rendah Konsumsi untuk makan rendah berarti responden

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 buruh bangunan dan petani membelanjakan kurang dari Rp 347.053 setiap bulannya untuk makan. Artinya, responden yang berada dalam kelompok ini mengeluarkan biaya untuk konsumsi makan yang tergolong rendah. 2). Konsumsi untuk Pakaian Perhitungan mean, median, modus dan standar deviasi dalam penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS versi 16. Mean, median, modus dan standar deviasi konsumsi untuk pakaian sebagai berikut: Tabel III.11 Mean, median, modus dan standard deviasi konsumsi untuk pakaian antara buruh bangunan dan petani Mean Median Mode Std. Deviation Konsumsi untuk pakaian buruh bangunan 75.471,7 50.000 50.000 31.959,47 Sumber: data diolah, 2014 Konsumsi untuk pakaian petani 65.250 50.000 50.000 29.445,53

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 Tabel III.12 Mean, median, modus dan standard deviasi konsumsi untuk pakaian Mean Median Mode Std. Deviation Konsumsi untuk pakaian buruh bangunan dan petani 72.671,23 50.000 50.000 31.425,42 Sumber: data diolah, 2014 Untuk mengetahui kriteria konsumsi untuk pakaian buruh bangunan dan petani dapat ditunjukkan dengan memasukkan nilai mean dan standar deviasi yang diperoleh ke dalam interval di bawah ini: Tabel III.13 Kriteria konsumsi untuk pakaian buruh bangunan dan petani Konsumsi pakaian Rendah Sedang Tinggi Rumus interval Interval X < mean - SD Mean – SD < x < mean + SD Mean + SD < X 25.000 – 41.246 41.247 – 104.097 104.098 – 150.000 Sumber: data diolah, 2014 Kategori konsumsi dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu: 1) Konsumsi untuk pakaian tinggi

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 Konsumsi untuk makan tinggi berarti responden buruh bangunan dan petani membelanjakan lebih dari Rp 104.098 setiap bulannya untuk pakaian. Artinya, responden yang berada dalam kelompok ini mengeluarkan biaya untuk konsumsi pakaian yang tinggi. 2) Konsumsi untuk pakaian sedang Konsumsi untuk makan tinggi sedang responden buruh bangunan dan petani membelanjakan antara Rp 41.247 – Rp 104.097 setiap bulannya untuk pakaian. Artinya, responden yang berada dalam kelompok ini mengeluarkan biaya untuk konsumsi pakaian yang tergolong sedang. 3) Konsumsi untuk pakaian rendah Konsumsi untuk makan rendah berarti responden buruh bangunan dan petani membelanjakan kurang dari Rp 41.246 setiap bulannya untuk pakaian. Artinya, responden yang berada dalam kelompok ini mengeluarkan biaya untuk konsumsi pakaian yang tergolong rendah.

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 3). Konsumsi listrik Perhitungan mean, median, modus dan standar deviasi dalam penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS versi 16. Mean, median, modus dan standar deviasi konsumsi listrik sebagai berikut: Tabel III.14 Mean, median, modus dan standard deviasi konsumsi listrik antara buruh bangunan dan petani Mean Median Mode Std. Deviation Konsumsi listrik buruh bangunan 42.125 50.000 50.000 13.091,09 Konsumsi listrik petani 30.700 30.000 30.000 5.621,84 Sumber: data diolah, 2014 Tabel III.15 Mean, median, modus dan standard deviasi konsumsi listrik Mean Median Mode Std. Deviation Konsumsi listrik buruh bangunan dan petani 36.412,5 30.000 30.000 11.562,46 Sumber: data diolah, 2014 Untuk mengetahui kriteria konsumsi listrik buruh bangunan dan petani dapat ditunjukkan dengan memasukkan nilai mean dan standar deviasi yang

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 diperoleh ke dalam interval di bawah ini: Tabel III.16 Kriteria konsumsi listrik buruh bangunan dan petani Konsumsi listrik Rendah Sedang Tinggi Rumus interval Interval X < mean - SD Mean – SD < x < mean + SD Mean + SD < X 20.000 – 24.851 24.852 – 47.975 47. 976 – 70.000 Sumber: data diolah, 2014 Kategori konsumsi dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu: 1) Konsumsi listrik tinggi Konsumsi listrik tinggi berarti responden buruh bangunan dan petani membelanjakan lebih dari Rp 47. 976 setiap bulannya untuk biaya listrik. Artinya, responden yang berada dalam kelompok ini mengeluarkan biaya untuk konsumsi listrik yang tinggi. 2) Konsumsi listrik sedang Konsumsi listrik sedang berarti responden buruh bangunan dan petani membelanjakan antara Rp 24.852 – Rp 47.975 setiap bulannya untuk biaya listrik. Artinya, responden yang berada dalam kelompok ini mengeluarkan biaya untuk konsumsi listrik yang tergolong sedang.

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 3) Konsumsi listrik rendah Konsumsi listrik tinggi rendah responden buruh bangunan dan petani membelanjakan kurang dari Rp 24.851 setiap bulannya untuk biaya listrik. Artinya, responden yang berada dalam kelompok ini mengeluarkan biaya untuk konsumsi listrik yang tergolong rendah. 4). Konsumsi Air Perhitungan mean, median, modus dan standar deviasi dalam penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS versi 16. Mean, median, modus dan standar deviasi konsumsi air sebagai berikut: Tabel III.17 Mean, median, modus dan standard deviasi konsumsi air antara buruh bangunan dan petani Mean Median Mode Std. Deviation Konsumsi air buruh bangunan 80.476,19 80.000 100.000 26.726,12 Sumber: data diolah, 2014 Konsumsi air petani 67.142,86 60.000 70.000 89.974,02

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 Tabel III.18 Mean, median, modus dan standard deviasi konsumsi air Mean Median Mode Std. Deviation Konsumsi air buruh bangunan dan petani 74.201,68 70.000 100.000 64.755,02 Sumber: data diolah, 2014 Untuk mengetahui kriteria konsumsi air buruh bangunan dan petani dapat ditunjukkan dengan memasukkan nilai mean dan standar deviasi yang diperoleh ke dalam interval di bawah ini: Tabel III.19 Kriteria konsumsi air buruh bangunan dan petani Konsumsi air Rendah Sedang Tinggi Rumus interval Interval X < mean - SD Mean – SD < x < mean + SD Mean + SD < X 20.000 – 39.450 39.400 – 138.956 139.000 – 150.000 Sumber: data diolah, 2014 Kategori konsumsi dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu: 1) Konsumsi air tinggi Konsumsi air tinggi berarti responden buruh bangunan dan petani membelanjakan lebih dari Rp 139.000 setiap bulannya untuk biaya air. Artinya,

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 responden yang berada dalam kelompok ini mengeluarkan biaya untuk konsumsi air yang tinggi. 2) Konsumsi air sedang Konsumsi air sedang berarti responden buruh bangunan dan petani membelanjakan antara Rp 39.400 – Rp 138.956 setiap bulannya untuk biaya air. Artinya, responden yang berada dalam kelompok ini mengeluarkan biaya untuk konsumsi air tergolong sedang. 3) Konsumsi air rendah Konsumsi air rendah berarti responden buruh bangunan dan petani membelanjakan kurang dari Rp 39.450 setiap bulannya untuk biaya air. Artinya, responden yang berada dalam kelompok ini mengeluarkan biaya untuk konsumsi air tergolong rendah. 5). Biaya Sekolah Perhitungan mean, median, modus dan standar deviasi dalam penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS versi 16. Mean, median, modus dan standar deviasi biaya sekolah sebagai berikut:

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 Tabel III.120 Mean, median, modus dan standard deviasi biaya sekolah antara buruh bangunan dan petani Mean Median Mode Std. Deviation Biaya Sekolah buruh bangunan 140.256,41 150.000 150.000 37.800,53 Biaya Sekolah petani 109.193,55 100.000 100.000 24.802,45 Sumber: data diolah, 2014 Tabel III.21 Mean, median, modus dan standard deviasi biaya sekolah Mean Median Mode Std. Deviation Biaya Sekolah buruh bangunan dan petani 126.500 117.5000 100.000 35.998,69 Sumber: data diolah, 2014 Untuk mengetahui kriteria biaya sekolah buruh bangunan dan petani dapat ditunjukkan dengan memasukkan nilai mean dan standar deviasi yang diperoleh ke dalam interval di bawah ini:

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 Tabel III.22 Kriteria biaya sekolah buruh bangunan dan petani Biaya sekolah Rendah Sedang Tinggi Rumus interval Interval X < mean – SD Mean – SD < x < mean + SD Mean + SD < X 60.000 – 90.502 90.503 – 162.499 162.500 – 200.000 Sumber: data diolah, 2014 Kategori konsumsi dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu: 1) Konsumsi biaya sekolah tinggi Konsumsi biaya sekolah tinggi berarti responden buruh bangunan dan petani mengeluarkan lebih dari Rp 162.500 setiap bulannya untuk biaya sekolah. Artinya, responden yang berada dalam kelompok ini mengeluarkan biaya untuk konsumsi biaya sekolah yang tinggi. 2) Konsumsi biaya sekolah sedang Konsumsi biaya sekolah sedang berarti responden buruh bangunan dan petani mengeluarkan antara Rp 90.503 – Rp 162.499 setiap bulannya untuk biaya sekolah. Artinya, responden yang berada dalam kelompok ini mengeluarkan biaya untuk konsumsi biaya sekolah yang tergolong sedang.

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 3) Konsumsi biaya sekolah rendah Konsumsi biaya sekolah rendah berarti responden buruh bangunan dan petani mengeluarkan kurang dari Rp 90.502 setiap bulannya untuk biaya sekolah. Artinya, responden yang berada dalam kelompok ini mengeluarkan biaya untuk konsumsi biaya sekolah yang tergolong rendah. 6). Biaya lain-lain Perhitungan mean, median, modus dan standar deviasi dalam penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS versi 16. Mean, median, modus dan standar deviasi biaya lain-lain sebagai berikut: Tabel III.23 Mean, median, modus dan standard deviasi biaya lain-lain antara buruh bangunan dan petani Mean Median Mode Std. Deviation Biaya lain-lain buruh bangunan 145.454,55 100.000 50.000 97.371,37 Sumber: data diolah, 2014 Biaya lainlain petani 73.928,57 70.000 70.000 25.525,64

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 Tabel III.24 Mean, median, modus dan standard deviasi biaya lain-lain Mean Median Mode Std. Deviation Biaya lain-lain buruh bangunan dan petani 105.400 75.000 50.000 75.851 Sumber: data diolah, 2014 Untuk mengetahui kriteria konsumsi untuk biaya lain-lain buruh bangunan dan petani dapat ditunjukkan dengan memasukkan nilai mean dan standar deviasi yang diperoleh ke dalam interval di bawah ini: Tabel III.25 Kriteria konsumsi untuk biaya lain-lain buruh bangunan dan petani Pendapatan Rendah Sedang Tinggi Rumus interval X < mean - SD Mean – SD < x < mean + SD Mean + SD < X Interval 10.000 – 29.550 29.551– 181.251 181.252 – 400.000 Sumber: data diolah, 2014 Kategori konsumsi dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu: 1) Konsumsi biaya lain-lain tinggi Konsumsi biaya lain-lain tinggi berarti responden buruh bangunan dan petani mengeluarkan lebih dari Rp 181.252 setiap bulannya untuk biaya lainlain. Artinya, responden yang berada dalam kelompok

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 ini mengeluarkan biaya untuk konsumsi biaya lain-lain yang tinggi. 2) Konsumsi biaya lain-lain sedang Konsumsi biaya lain-lain sedang berarti responden buruh bangunan dan petani mengeluarkan antara Rp 29.551 – Rp 181.251setiap bulannya untuk biaya lain-lain. Artinya, responden yang berada dalam kelompok ini mengeluarkan biaya untuk konsumsi biaya lain-lain yang tergolong sedang. 3) Konsumsi biaya lain-lain rendah Konsumsi biaya lain-lain rendah berarti responden buruh bangunan dan petani mengeluarkan kurang dari Rp 29.550 setiap bulannya untuk biaya lainlain. Artinya, responden yang berada dalam kelompok ini mengeluarkan biaya untuk konsumsi biaya lain-lain yang tergolong rendah. c. Deskripsi kondisi tempat tinggal buruh bangunan dan petani Kondisi tempat tinggal yang dimaksud adalah kondisi fisik rumah yang ditempati oleh satu keluarga. Pengukuran dilakukan melalui indikator dengan menggunakan skala linkert seperti tabel dibawah ini:

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 Tabel III.26 Kriteria kondisi Rumah No. 1 Kondisi Rumah Luas bangunan Nilai 4 3 2 1 55-63 m2 46-54 m2 37-45 m2 27-36 m2 Batu bata tidak plester Kayu biasa, triplek Bambu Genteng jawa Asbes Seng Batu bata plester 2 Dinding bangunan 3 Atap bangunan 4 Lantai bangunan , kayu kualitas bagus ( jati/ mahoni) Genteng press Keramik,marmer, Semen,kayu Tanah, kayu kualitas Tegel,ubin kualitas bambu bagus ( jati/ biasa mahoni) Dalam penelitian ini, peneliti menghitung skor mean (ratarata), median, modus dan standar deviasi untuk variable kondisi tempat tinggal . Perhitungan dalam penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS versi 16, sebagai berikut: Mean merupakan teknik penjelasan kelompok yang didasarkan atas nilai rata-rata dari kelompok tersebut (Sugiyono, 2010: 49), dirumuskan dengan rumus sebagai berikut:

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 ∑ Keterangan: Me = Mean (rata-rata) ∑ = Epsilon (Jumlah) Xi = Nilai x ke i sampai ke n N = Jumlah Individu (sampel) Median merupakan nilai tengah dari gugusan data yang telah diurutkan (disusun) mulai dari terkecil sampai data terbesar atau sebaliknya (Suryana, 2010:38), dirumuskan sebagai berikut: ( ) Keterangan : Md = Median b = batas bawah, dimana median akan terletak n = banyak data atau jumlah sampel p = panjang kelas interval F = jumlah semua frekuensi sebelum kelas median f = frekuensi kelas median

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 Modus adalah nilai dari data yang mempunyai frekuensi tertinggi baik data tunggal maupun data distribusi atau nilai yang sering muncul dalam kelompok data (Suryana, 2010 : 35), dirumuskan dengan rumus sebagai berikut : Keterangan : Mo = Modus L1 = batas kelas interval dengan frekuensi terbanyak Ci = panjang kelas interval d1 = frekuensi pada kelas modus (frekuensi pada kelas interval yang terbanyak) dikurangi frekuensi kelasinterval terdekat sebelumnya d2 frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas interval berikutnya Dengan menggunakan rumus diatas, maka dapat diperoleh hasil perhitungan antara buruh bangunan dan petani sebagai berikut sebagai berikut:

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Tabel III.27 Mean, median, modus dan standard deviasi kondisi tempat tinggal antara buruh bangunan dan petani Mean Median Mode Std. Deviation Kondisi tempat Kondisi tinggal buruh tempat tinggal bangunan petani 10,55 10,71 10 10,5 10 10 1,34 1,69 Sumber: data diolah, 2014 Tabel III.28 Mean, median, modus dan standard deviasi kondisi tempat tinggal Mean Median Mode Std. Deviation Kondisi tempat tinggal buruh bangunan dan petani 10,63 10 10 1,51 Sumber: data diolah, 2014 Untuk mengetahui kriteria kondisi tempat tinggal buruh bangunan dan petani dapat ditunjukkan dengan memasukkan nilai mean dan standar deviasi yang diperoleh ke dalam interval di bawah ini: Tabel III.29 Kriteria kondisi tempat tinggal buruh bangunan dan petani Kondisi tempat tinggal Layak Cukup layak Kurang layak Rumus interval Interval X < mean - SD Mean – SD < x < mean + SD Mean + SD < X 13 - 15 10 – 12 6–9

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Kategori kondisi tempat tinggal digolongkan menjadi tiga, yaitu: 1) Kondisi tempat tinggal layak Kondisi tempat tinggal layak berarti responden buruh bangunan dan petani memiliki tempat tinggal yang nyaman, kondisi rumah yang kokoh (terlihat dari pondasi rumah, kerangka rumah, dan atap rumah yang terbuat dari genteng kualitas bagus) serta memiliki luas bangunan antara 46-63 m2 2) Kondisi tempat tinggal layak Kondisi tempat tinggal layak berarti responden buruh bangunan dan petani memiliki tempat tinggal yang cukup nyaman, kondisi rumah yang cukup kokoh (terlihat dari pondasi rumah minimal batu bata tidak plester, dan atap rumah yang minimal sudah dari genteng) serta memiliki luas bangunan antara 37-46 m2 3) Kondisi tempat tinggal kurang layak Kondisi tempat tinggal layak berarti responden buruh bangunan dan petani memiliki tempat tinggal yang kurang nyaman, kondisi rumah yang kurang kokoh (terlihat dari pondasi rumah yang terbuat dari kayu atau bambu, dan atap rumah yang terbuat dari seng atau asbes) serta memiliki luas bangunan kurang dari 46 m2

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 2) Uji Hipotesis Komparatif Menurut Sugiono, 2010: 138 Menguji hipotesis komparatif berarti menguji parameter populasi yang berbentuk perbandingan melalui ukuran sampel yang juga berbentuk perbandingan. Bila Ho dalam pengujian diterima, berarti nilai perbandingan dua sampel atau lebih tersebut dapat digeneralisasikan untuk seluruh populasi dimana sampel-sampel diambil dengan taraf kesalahan tertentu. Ada dua model komparasi, yaitu komparasi antara dua sampel dan komparasi antara lebih dari dua sampel yang sering disebut komparasi k sampel. Untuk menguji hipotesis digunakan statistik Parametris dan nonparametris yaitu independent sample t-test : √ ̅̅̅̅ ̅̅̅̅ ( √ )( Keterangan : ̅̅̅ ̅̅̅ = Rata-rata sampel 1 = Rata-rata sampel 2 = Simpangan baku sampel 1 = Simpangan baku sampel 2 = Varians sampel 1 √ )

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 = Varians sampel 2 r = Korelasi antara 2 sampel Hipotesis yang diajukan adalah: Ho: tidak terdapat perbedaan tingkat kesejahteraan antara petani dan buruh bangunan Ha: terdapat perbedaan tingkat kesejahteraan antara petani dan buruh bangunan Kritereria pengujian hipotesis: a. Jika X2hitung < X2tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak b. Jika X2hitung > X2tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima Atau bisa melihat signifikansinya, dengan melihat kolom Sig (ρ): a. Jika Sig < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima b. Jika Sig > 0,05, maka Ho diterima dan Ha ditolak

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL TEMUAN LAPANGAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Desa Penelitian 1. Luas dan batas wilayah a. Luas Desa : 2115 Ha b. Batas wilayah : 1) Sebelah utara : Desa Girisuko 2) Sebelah timur : Desa Jetis 3) Sebelah selatan : Desa Girikarto 4) Sebelah barat : Desa Girimulyo 2. Kondisi Geografis a. Ketinggian Tanah dari permukaan laut : 400 meter b. Banyaknya curah hujan : 70 mm/tahun c. Topografi : Dataran tinggi d. Suhu udara ( rata-rata) : 38ºC 3. Orbitrasi ( jarak dari pusat pemerintahan Desa) a. Jarak dari Pusat Pemerintahan Kecamatan : 6,5 Km b. Jarak dari Ibukota Kabupaten : 29 Km c. Jarak dari Ibukota Propinsi : 35 Km 4. Tabel luas tanah menurut penggunaan di Desa Girisekar 64

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 Tabel IV.1 Tabel luas tanah No. Jenis Penggunaan Tanah Luas 1. Perkantoran 1,7115 Ha 2. Pasar Desa 1,800 Ha 3. Tanah Wakaf 5,227 Ha 4. Bangunan 110,65 Ha 5. Tegalan/kebun 1593,511 Ha 6. Tanah hutan 410,839 Ha 7. Lapangan Olah Raga 1,4200 Ha 8. Pemakaman 3,6560 Ha 9. Masjid 5,2270 Ha 10. Gereja 0,6560 Ha 11. Sarana Pendidikan 5,8960 Ha 12. Sarana Kesehatan 0,2000 Ha Sumber: Data Monografi Desa Girisekar 2012 Tanah di Desa Girisekar sebagian besar digunakan untuk tegalan/kebun yaitu seluas 1593,511 Ha, karena sebagian besar penduduk di Desa Girisekar bekerja sebagai petani. Yang terbesar kedua yaitu hutan seluas 410,8390 Ha, hal ini disebabkan karena jumlah hutan yang ada di Desa Girisekar masih banyak dan luas. Penduduk menggunakan hutan sebagai tempat untuk menanam kayu yang memiliki nilai jual tinggi seperti kayu jati, mahoni, akasia, dan lain-lain. 5. Kependudukan 1. Jumlah Penduduk menurut: a. Jenis kelamin:

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 1) Laki-laki : 3.586 orang 2) Perempuan : 3.835 orang b. Kepala keluarga : 1.627 KK 2. Jumlah Penduduk menurut kelompok tenaga kerja : 5.463 orang 1) 10 – 14 tahun : 2) 15 – 19 tahun : 1.217 orang 3) 20 – 26 tahun : 1.189 orang 4) 27 – 40 tahun : 846 orang 5) 41 – 56 tahun : 6) 57 tahun keatas : 515 orang 892 orang 723 orang 3. Jumlah penduduk menurut mata pencaharian: 1) Petani pemilik tanah : 3.217 orang 2) Petani penggarap : 95 orang 3) Buruh tani : 57 orang 4) Nelayan : 4 orang 5) Pengusaha sedang/besar : 42 orang 6) Pengrajin industri kecil : 24 orang 7) Buruh Industri : 63 orang 8) Buruh bangunan : 613 orang 9) Buruh perkebunan : 119 orang 10) Buruh pertambangan : 188 orang 11) Pedagang : 167 orang 12) Pengangkutan : 60 orang 13) Pegawai Negeri Sipil : 184 orang 14) TNI / POLRI : 15) Pensiunan PNS : 41 orang 16) Peternak 19 orang : a. Sapi : 2.138 orang b. Kambing : 2.674 orang

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 c. Domba : 6 orang d. Ayam : 1.546 orang 4. Jumlah Penduduk menurut tingkat pendidikan: a. Lulusan Pendidikan Umum: 1. Taman kanak-kanak : 271 orang 2. Sekolah Dasar : 728 orang 3. SLTP/SMP : 355 orang 4. SLTA/SMA : 167 orang 5. Akademi ( D1-D3) : 24 orang 6. Sarjana ( S1-S3 ) : 12 orang b. Lulusan Pendidikan Khusus: 1. Pondok pesantren : 15 orang 2. Madrasah : 24 orang 3. Pendidikan Keagamaan : 4 orang 4. Sekolah Luar Biasa : 1 orang 5. Kursus : 16 orang 6. Kelembagaan Desa 1. Pemerintahan Desa 1) Kepala Desa : 1 orang 2) Sekretaris Desa : 1 orang 3) Kepala Bagian : 3 orang 4) Kepala Urusan : 3 orang 5) Staff : 3 orang 6) Dukuh : 9 orang 7) Jumlah Padukuhan : 9 padukuhan 2. Lembaga Kemasyarakatan Desa a. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa ( LPMD )

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 1) Jumlah pengurus LPMD : 20 orang 2) Jumlah KPD : 8 orang b. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Padukuhan ( LPMP ) 1) Jumlah LPMP : 9 LPMP 2) Jumlah Pengurus LPMP : 27 orang c. Rukun Warga (RW) 1) Jumlah RW : 9 RW 2) Jumlah pengurus RW : 27 orang d. Rukun Tetangga (RT) 1) Jumlah RT : 75 RT 2) Jumlah pengurus RT : 235 orang 3. Lembaga Kemasyarakatan Desa lainnya a. Pembina Kesejahteraan Keluarga (PKK) 1) Jumlah penggerak PKK : 28 orang 2) Jumlah kader PKK : 53 orang b. Karang Taruna 1) Jumlah pengurus Karang Taruna : 21 orang 2) Jumlah pemuda Karang Taruna : 453 orang B. Profil Petani dan Buruh Bangunan di Desa Girisekar 1. Profil Petani Petani yang bertempat tinggal di Desa Girisekar adalah petani tumpang sari dan tadah hujan, sebagian besar dari mereka mengolah tanahnya sendiri. Hanya sedikit dari mereka yang menjadi buruh tani. Dilihat dari Monografi Desa Girisekar jumlah petani pemilik tanah 3.217 orang, petani penggarap 95 orang dan buruh tani 57 orang. Dalam setahun, mereka dapat memanen 3 sampai 4 hasil pertanian, antara lain padi, jagung, kacang dan ketela. Sebagian petani mengkonsumsi hasil

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 pertaniannya sendiri untuk kebutuhan sehari-hari dan sisanya dijual untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari. Bibit tanaman mereka dapat dari membeli sendiri atau dari hasil panen sebelumnya yang sudah dipilih sehingga mempunyai kualitas unggul. Begitu juga dengan pupuk, sebagian petani membeli pupuk urea, tetapi ada juga yang menggunakan pupuk kandang maupun kompos dan tidak jarang juga ada yang mengkombinasikan antara pupuk urea, kompos dan kandang. Pendapatan yang diterima petani tidak tentu, karena tergantung dari hasil panen yang mereka dapatkan tiap kali panen. Rata-rata pendapatan petani di Desa Girisekar adalah Rp 616.625,00 dalam satu bulan. 2. Profil Buruh Bangunan Buruh bangunan yang bertempat tinggal di Desa Girisekar berjumlah 613 orang, sesuai dengan Monografi desa Girisekar. Buruh bangunan yang bertempat tinggal di Desa Girisekar dapat dibagi menjadi 2 kategori, yaitu: tukang dan pembantu tukang. Mereka bekerja tidak hanya di desa, tetapi ada juga yang bekerja sebagai buruh bangunan di kota. Sebagian dari mereka juga ada yang sudah memiliki mandor, sehingga mereka bekerja sesuai arahan mandor. Gaji yang mereka terima jumlahnya tergantung berapa hari mereka bekerja dan di mana mereka bekerja, di kota atau desa. Setiap buruh bangunan mempunyai keahlian masing-masing, dan itulah yang menjadi nilai jual mereka. Tukang dibayar lebih tinggi dibandingkan dengan pembantu tukang (laden), jumlah pendapatan diterima tukang jika bekerja di desa antara Rp 40.000,00/hari – Rp 60.000,00/hari, jika bekerja di kota antara Rp 80.000,00/hari – Rp 100.000,00/hari. Pendapatan yang diterima pembantu tukang jika bekerja

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 di desa yaitu antara Rp 35.000,00/hari – Rp 45.000,00/hari, jika bekerja di kota yaitu antara Rp 60.000,00/hari – Rp 80.000,00/hari. Gaji yang mereka terima biasanya diberikan seminggu satu kali, yaitu di akhir pecan. C. Analisis Data 1. Analisis Deskriptif a. Deskriptif Pendapatan Buruh bangunan dan Petani Tabel IV.2 Pendapatan Buruh bangunan Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 2 2.5 2.5 2.5 Sedang 60 75.0 75.0 77.5 Tinggi 18 22.5 22.5 100.0 Total 80 100.0 100.0 Sumber: data diolah, 2014 Tabel IV.3 Pendapatan Petani Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 26 32.5 32.5 32.5 Sedang 54 67.5 67.5 100.0 Total 80 100.0 100.0 Sumber: data diolah, 2014

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa buruh bangunan sejumlah 60 orang (75%) berada dalam kategori berpendapatan sedang, sedangkan petani berjumlah 54 orang (67,5%) berada dalam kategori berpendapatan sedang. Sisanya berada dalam kategori rendah dan tinggi, untuk buruh bangunan sejumlah 18 responden (22,5%) berpendapatan tinggi dan sisanya sejumlah 2 responden (2,5%) berpendapatan rendah. Sedangkan untuk petani sebesar 31 responden (32,5%) berpendapatan rendah dan tidak ada yang berpendapatan tinggi. Artinya sebagian besar pendapatan buruh bangunan dan petani berada dalam kategori sedang. Padahal bila pendapatan buruh bangunan dan petani berada dalam kategori tinggi, mereka dapat memenuhi berbagai kebutuhannya selain kebutuhan dasar seperti rekreasi, hiburan, pendidikan, kendaraan dan lain-lain. b. Deskriptif konsumsi Buruh bangunan dan Petani Tabel IV.4 Konsumsi Buruh bangunan Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 2 2.5 2.5 2.5 Sedang 52 65.0 65.0 67.5 Tinggi 26 32.5 32.5 100.0 Total 80 100.0 100.0 Sumber: data diolah, 2014

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Tabel IV.5 Konsumsi Petani Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 34 42.5 42.5 42.5 Sedang 46 57.5 57.5 100.0 Total 80 100.0 100.0 Sumber: data diolah, 2014 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa 2 responden (2,5%) buruh bangunan berada dalam kategori konsumsi rendah, sedangkan untuk petani 34 responden (42,5%). Untuk kategori konsumsi sedang sejumlah 522 responden (65%) yaitu buruh bangunan dan untuk petani sejumlah 46 responden (57,5%). Sedangkan dalam kategori tinggi sejumlah 26 responden (32,5%) untuk buruh bangunan dan tidak ada petani yang mempunyai konsumsi tinggi. Artinya sebagian besar konsumsi buruh bangunan dan petani berada dalam kategori sedang. Konsumsi buruh bangunan dan petani sebagian besar hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka, dikarenakan pendapatan yang mereka terima tergolong sedang sehingga mereka belum dapat mengalokasikan pendapatan mereka untuk kebutuhan selain kebutuhan dasar seperti rekreasi, pendidikan, hiburan dan lainlain.

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Pengeluaran konsumsi diukur dengan menggunakan indikator konsumsi untuk makan, konsumsi untuk pakaian, konsumsi listrik, konsumsi air, biaya sekolah dan biaya lain-lain sebagai berikut: 1) Deskkriptif konsumsi untuk makan Tabel IV.6 Konsumsi untuk makan Buruh bangunan Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Sedang 49 61.2 61.2 61.2 Tinggi 31 38.8 38.8 100.0 Total 80 100.0 100.0 Sumber: data diolah, 2014 Tabel IV.7 Konsumsi untuk makan petani Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 21 26.2 26.2 26.2 Sedang 57 71.2 71.2 97.5 Tinggi 2 2.5 2.5 100.0 Total 80 100.0 100.0 Sumber: data diolah, 2014 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa tidak ada responden buruh bangunan yang berada dalam kategori

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 konsumsi untuk makan rendah, sedangkan untuk petani 21 responden (26,1%). Untuk kategori konsumsi makan sedang sejumlah 49 responden (61,2%) yaitu buruh bangunan dan untuk petani sejumlah 57 responden (71,2%). Sedangkan dalam kategori tinggi sejumlah 31 responden (38,8%) untuk buruh bangunan dan 2 responden (2,5%) petani yang mempunyai konsumsi untuk makan tinggi. Artinya sebagian besar konsumsi untuk makan buruh bangunan dan petani berada dalam kategori sedang. Konsumsi untuk makan buruh bangunan dan petani disesuaikan dengan jumlah pendapatan yang mereka terima. Makan adalah kebutuhan pokok bagi manusia, oleh karena itu kebutuhan ini harus dipenuhi oleh setiap individu baik itu buruh bangunan maupun petani. Sebagian besar petani mengkonsumsi hasil pertanian mereka sendiri, seperti beras, jagung dan ketela yang dijadikan bahan makanan pokok. Sehingga mereka tidak mengeluarkan biaya konsumsi yang tinggi untuk makan karena sudah memproduksi bahan makanan pokok mereka sendiri.

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 2) Deskkriptif konsumsi untuk pakaian Tabel IV.8 Konsumsi untuk pakaian buruh bangunan Cumulative Frequency Valid Sedang Percent Valid Percent Percent 49 61.2 61.2 61.2 4 5.0 5.0 66.2 Tidak ada 27 33.8 33.8 100.0 Total 80 100.0 100.0 Tinggi Sumber: data diolah, 2014 Tabel IV.9 Konsumsi untuk pakaian petani Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 1 1.2 1.2 1.2 Sedang 18 22.5 22.5 23.8 1 1.2 1.2 25.0 Tidak ada 60 75.0 75.0 100.0 Total 80 100.0 100.0 Tinggi Sumber: data diolah, 2014 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa 27 responden (38,8%) buruh bangunan dan 60 responden (75%) petani tidak ada yang mengeluarkan biaya konsumsi pakaian. Untuk kategori konsumsi pakaian rendah hanya ada 1 responden (1,2%) petani dan tidak ada responden buruh

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 bangunan yang berada dalam kategori ini, sedangkan dalam kategori sedang sejumlah 49 responden (61,2%) untuk buruh bangunan dan 18 responden (22,5%) petani yang mempunyai konsumsi sedang. Untuk kategori konsumsi tinggi sejumlah 4 responden (5%) untuk buruh bangunan dan 1 responden (1,2%) petani yang mempunyai konsumsi pakaian tinggi Artinya sebagian besar konsumsi untuk pakaian buruh bangunan dan petani tidak ada yang mengeluarkan biaya konsumsi pakaian. Sebagian besar responden buruh bangunan dan petani tidak ada yang mengeluarkan biaya konsumsi untuk pakaian, hal ini dapat terjadi karena sebagian besar konsumsi buruh bangunan dan petani digunakan untuk konsumsi kebutuhan pokok. 3) Deskkriptif konsumsi listrik Tabel IV.10 Konsumsi listrik buruh bangunan Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 16 20.0 20.0 20.0 Sedang 11 13.8 13.8 33.8 Tinggi 53 66.2 66.2 100.0 Total 80 100.0 100.0 Sumber: data diolah, 2014

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 Tabel IV.11 Konsumsi listrik petani Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 1 1.2 1.2 1.2 Sedang 76 95.0 95.0 96.2 Tinggi 3 3.8 3.8 100.0 Total 80 100.0 100.0 Sumber: data diolah, 2014 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa 16 responden (20%) buruh bangunan berada dalam kategori konsumsi listrik rendah, sedangkan untuk petani 1 responden (1,2%). Untuk kategori konsumsi listrik sedang sejumlah 11 responden (13,8%) yaitu buruh bangunan dan untuk petani sejumlah 76 responden (95%) masuk dalam kategori sedang. Sedangkan dalam kategori tinggi sejumlah 53 responden (66,2%) untuk buruh bangunan dan 3 responden (3,8%) petani yang mempunyai konsumsi listrik tinggi. Artinya sebagian besar konsumsi listrik buruh bangunan berada dalam kategori tinggi, sedangkan untuk petani sebagian besar konsumsi listrik berada dalam kategori sedang. Konsumsi listrik buruh bangunan lebih tinggi dibandingkan petani karena pendapatan buruh lebih besar

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 dibandingkan petani, sehingga memungkinkan membeli dibandingkan petani. buruh bangunan peralatan listrik Sehingga konsumsi lebih lebih banyak listrik buruh bangunan lebih besar. 4) Deskriptif konsumsi air Tabel IV.12 Konsumsi air buruh bangunan Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 1 1.2 1.2 1.2 Sedang 59 73.8 73.8 75.0 3 3.8 3.8 78.8 Tidak ada 17 21.2 21.2 100.0 Total 80 100.0 100.0 Tinggi Sumber: data diolah, 2014 Tabel IV.13 Konsumsi air petani Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 14 17.5 17.5 17.5 Sedang 41 51.2 51.2 68.8 1 1.2 1.2 70.0 Tidak ada 24 30.0 30.0 100.0 Total 80 100.0 100.0 Tinggi Sumber: data diolah, 2014

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa 17 responden (21,2%) buruh bangunan dan 24 responden (30%) petani tidak ada yang mengeluarkan biaya konsumsi air. Untuk kategori konsumsi air rendah buruh bangunan memiliki jumlah 1 responden (1,2%) dan petani mempunyai jumlah 14 responden (17,5%). Sedangkan dalam kategori sedang sejumlah 59 responden (73,8%) untuk buruh bangunan dan 41 responden (51,2%) petani yang mempunyai konsumsi sedang. Untuk kategori konsumsi air tinggi sejumlah 3 responden (3,8%) untuk buruh bangunan dan 1 responden (1,2%) petani yang mempunyai konsumsi tinggi Artinya sebagian besar konsumsi air buruh bangunan dan petani berada dalam kategori sedang. Konsumsi air buruh bangunan dan petani tergolong sedang karena sebagian besar buruh bangunan dan petani memiliki tempat penampungan air sendiri, sehingga konsumsi air mereka tergolong sedang. Buruh bangunan dan petani akan lebih banyak mengeluarkan konsumsi untuk membeli air pada musim kemarau.

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 5) Deskkriptif biaya sekolah Tabel IV.14 Biaya sekolah buruh bangunan Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 1 1.2 1.2 1.2 Sedang 30 37.5 37.5 38.8 8 10.0 10.0 48.8 Tidak ada 41 51.2 51.2 100.0 Total 80 100.0 100.0 Tinggi Sumber: data diolah, 2014 Tabel IV.15 Biaya sekolah petani Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 3 3.8 3.8 3.8 Sedang 27 33.8 33.8 37.5 1 1.2 1.2 38.8 Tidak ada 49 61.2 61.2 100.0 Total 80 100.0 100.0 Tinggi Sumber: data diolah, 2014 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa 41 responden (51,2%) buruh bangunan dan 49 responden (61,2%) petani tidak ada yang mengeluarkan biaya sekolah. Untuk kategori biaya sekolah rendah buruh bangunan hanya memiliki 1 responden (1,2%) dan petani mempunyai jumlah 3

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 responden (3,8%). Sedangkan dalam kategori sedang sejumlah 30 responden (37,5%) untuk buruh bangunan dan 27 responden (33,8%) petani yang berada dalam kategori biaya sekolah sedang. Untuk kategori konsumsi tinggi sejumlah 8 responden (10%) untuk buruh bangunan dan 1 responden (1,2%) petani yang berada dalam kategori biaya sekolah tinggi. Artinya sebagian besar responden buruh bangunan dan petani tidak ada yang mengeluarkan biaya untuk sekolah. Sebagian responden buruh bangunan dan petani tidak ada yang mengeluarkan biaya untuk sekolah karena kebanyakan dari mereka sudah tidak memiliki tanggungan anak sekolah. 6) Deskkriptif biaya lain-lain Tabel IV.16 Biaya lain-lain buruh bangunan Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Sedang 30 37.5 37.5 37.5 Tinggi 14 17.5 17.5 55.0 Tidak ada 36 45.0 45.0 100.0 Total 80 100.0 100.0 Sumber: data diolah, 2014

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 Tabel IV.17 Biaya lain-lain petani Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 4 5.0 5.0 5.0 Sedang 52 65.0 65.0 70.0 Tidak ada 24 30.0 30.0 100.0 Total 80 100.0 100.0 Sumber: data diolah, 2014 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa 36 responden (45%) buruh bangunan dan 24 responden (30%) petani tidak ada yang mengeluarkan biaya lain-lain. Untuk kategori biaya lain-lain rendah buruh bangunan tidak memiliki responden dan petani mempunyai jumlah 4 responden (5%). Sedangkan dalam kategori sedang sejumlah 30 responden (37,5%) untuk buruh bangunan dan 52 responden (65%) petani yang berada dalam kategori biaya lain-lain sedang. Untuk kategori konsumsi tinggi sejumlah 14 responden (17,5%) untuk buruh bangunan dan tidak ada responden petani yang berada dalam kategori ini. Artinya sebagian besar buruh bangunan tidak mengeluarkan biaya lain-lain, sedangkan untuk petani sebagian besar berada dalam kategori sedang. Biaya lain-lain ini bermacam-macam jenisnya, ada yang untuk berobat, dana sosial, rekreasi, transportasi dan lain-lain.

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 Biaya lain-lain ini muncul karena kebutuhan akan biaya ini tidak pasti. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa petani lebih banyak mengeluarkan biaya lain-lain dibandingkan buruh bangunan. c. Deskriptif Kondisi tempat tinggal Buruh bangunan dan Petani Tabel IV.18 Kondisi tempat tinggal Buruh bangunan Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Kurang layak 16 20.0 20.0 20.0 Cukup layak 56 70.0 70.0 90.0 Layak 8 10.0 10.0 100.0 Total 80 100.0 100.0 Sumber: data diolah, 2014 Tabel IV.19 Kondisi tempat tinggal Petani Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Kurang layak 15 18.8 18.8 18.8 Cukup layak 55 68.8 68.8 87.5 Layak 10 12.5 12.5 100.0 Total 80 100.0 100.0 Sumber: data diolah, 2014

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa buruh bangunan sejumlah 16 responden (20%) berada dalam kategori bertempat tinggal kurang layak, sedangkan petani berjumlah 15 responden (18,8%), sisanya berada dalam kategori cukup layak dan layak, untuk buruh bangunan sejumlah 56 responden (70%) bertempat tinggal cukup layak dan untuk petani sejumlah 55 responden (68,8%). Untuk kategori layak sebesar 8 responden (10%) buruh bangunan berada dalam kategori ini, sedangkan untuk petani sebesar 10 responden (12,5%). Artinya sebagian besar kondisi tempat tinggal buruh bangunan dan petani berada dalam kategori cukup layak. Kondisi tempat tinggal buruh bangunan dan petani berada dalam kondisi cukup layak, karena sebagian besar kondisi tempat tinggal buruh bangunan dan petani sudah mempunyai atap dari genting, lantai bukan dari tanah dan dinding terbuat dari batu bata. 2. Pengujian Hipotesis Dalam penelitian ini peneliti menguji hipotesis menggunakan t-test dengan bantuan program SPSS versi 16. Kritereria pengujian hipotesis: a. Jika t hitung < t tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak b. Jika t hitung > t tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 Atau bisa melihat signifikansinya, dengan melihat kolom Sig (ρ): a. Jika Sig < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima b. Jika Sig > 0,05, maka Ho diterima dan Ha ditolak 1. Pendapatan buruh bangunan dan petani Hasil uji independent sample t-test menunjukkan jika Sig < 0,05 atau t hitung > t tabel, dimana t hitung = 13,801 ,sedangkan t tabel = 1,96. Dimana dalam penelitian ini diajukan hipotesis berikut: Ho: tidak terdapat perbedaan tingkat konsumsi antara petani dan buruh bangunan Ha: terdapat perbedaan tingkat konsumsi antara petani dan buruh bangunan Tabel IV.20 Hasil uji t Pendapatan Hasil uji t Pendapatan Kriteria kesimpulan 13,801 t hitung > t tabel Ada beda signifikan 13,801 > 1,96 Sumber: Data diolah 2014 Dari hasil uji independent sample t-test diatas dapat dilihat bahwa t hitung > t tabel, yaitu 13,801 > 1,96. Hal ini berarti Ha diterima Ho ditolak dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan tingkat pendapatan antara petani dan buruh bangunan. Rata-rata

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 pendapatan buruh bangunan adalah Rp 945.750,00 sedangkan rata-rata pendapatan petani adalah Rp 616.625,00. Berdasarkan data diatas ratarata pendapatan buruh bangunan lebih besar dibandingkan petani. 2. Tingkat konsumsi buruh bangunan dan petani Hasil uji independent sample t-test menunjukkan jika Sig < 0,05 atau t hitung > t tabel, dimana t hitung = 14,194, sedangkan t tabel = 1,96. Dimana dalam penelitian ini diajukan hipotesis berikut: Ho: tidak terdapat perbedaan tingkat konsumsi antara petani dan buruh bangunan Ha: terdapat perbedaan tingkat konsumsi antara petani dan buruh bangunan Tabel IV.21 Hasil uji t Konsumsi Hasil uji t Konsumsi 14,194 Kriteria t hitung > t tabel kesimpulan Ada beda signifikan 14,194 > 1,96 Sumber : Data diolah 2014 Dari hasil uji independent sample t-test diatas dapat dilihat bahwa t hitung > t tabel, yaitu 14,194 > 1,96. Hal ini berarti Ha diterima Ho ditolak dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan tingkat konsumsi antara petani dan buruh bangunan. Rata-rata konsumsi

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 buruh bangunan adalah Rp 906.375,00 sedangkan rata-rata konsumsi petani adalah Rp 572.470,00. Berdasarkan data diatas rata-rata konsumsi buruh bangunan lebih besar dibandingkan petani. 3. Kondisi tempat tinggal buruh bangunan dan petani Hasil uji independent sample t-test menunjukkan jika Sig > 0,05 atau t hitung < t tabel, dimana t hitung = 0,675, sedangkan t tabel = 1,96. Dimana dalam penelitian ini diajukan hipotesis berikut: Ho: tidak terdapat perbedaan tingkat konsumsi antara petani dan buruh bangunan Ha: terdapat perbedaan tingkat konsumsi antara petani dan buruh bangunan Tabel IV.22 Hasil uji t Kondisi tempat tinggal Hasil uji t kondisi tempat tinggal Kriteria 0,675 t hitung < t tabel 0,675 < 1,96 kesimpulan Tidak ada beda signifikan Sumber : Data diolah 2014 Dari hasil uji independent sample t-test dapat dilihat bahwa t hitung < t tabel, yaitu 0,675 < 1,96. Hal ini berarti Ho diterima Ha ditolak dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 signifikan antara kondisi tempat tinggal petani dan buruh bangunan. Ratarata nilai kondisi tempat tinggal buruh bangunan adalah 10,55 sedangkan rata-rata nilai kondisi tempat tinggal petani adalah 10,71. Berdasarkan data diatas rata-rata nilai kriteria kondisi tempat tinggal petani tidak jauh berbeda dengan nilai criteria kondisi tempat tinggal buruh bangunan yang hanya mempunyai selisih 0,16. D. Pembahasan 1. Ada perbedaan pendapatan antara buruh bangunan dan petani Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa terdapat perbedaan antara pendapatan buruh bangunan dan petani. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji independent sample t-test dapat dilihat bahwa t hitung > t tabel, yaitu 13,801 > 1,96. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan buruh bangunan Rp 945.750,00 sedangkan rata-rata pendapatan petani adalah Rp Rp 616.625,00. Berdasarkan data diatas, dapat dilihat bahwa rata-rata pendapatan buruh bangunan lebih besar dibandingkan rata-rata pendapatan petani dengan selisih Rp 329.125,00. Dari hasil perhitungan statistik dapat diketahui bahwa sebagian besar responden buruh bangunan dan petani berada dalam katerori pendapatan sedang, sebesar 75% responden buruh bangunan dan 67,5% responden petani berada dalam kategori pendapatan sedang. Sisanya sebesar 22,5% responden buruh bangunan dalam kategori tinggi dan tidak

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 ada responden petani yang masuk dalam kategori ini. Untuk kategori pendapatan rendah sebesar 2,5% responden buruh bangunan dan sebesar 32,5% responden petani yang berada dalam kategori ini. Perbedaan pendapatan tergantung dari jumlah hasil panen yang diperoleh petani dan untuk buruh bangunan tergantung dari jumlah hari kerja yang tidak pasti, sesuai ada atau tidaknya proyek pembangunan yang diterimanya. Pendapatan rutin akan diterima buruh bangunan sesuai dengan hari kerja dan keahliannya tiap minggu, sedangkan untuk petani pendapatan mereka tidak bias dipastikan. Pendapatan yang diterima tiap buruh bangunan berbeda-beda, sesuai dengan keahlian dan jumlah hari kerja mereka dalam satu minggu/bulan. Pendapatan buruh bangunan ini kebanyakan dibayarkan 1 minggu sekali tiap akhir pekan sesuai dengan keahlian masing-masing. Rata-rata pendapatan buruh bangunan perhari adalah Rp 40.000,00 – Rp 50.000,00. Sedangkan pendapatan yang diterima petani sesuai dengan hasil panen dan hasil tanaman lain yang mempunyai nilai jual seperti pisang, cabai, melinjo, kelapa dan sayuran-mayur yang ditanam sulit dipastikan berapa besarnya. Hasil panen petani biasanya disimpan dan dijual sesuai dengan kebutuhan masing-masing petani. Maka dari itu pendapatan tiap-tiap petani berbeda-beda. Pendapatan petani rata-rata dalam 1 bulan berada dalam kisaran Rp 400.000,00 – Rp 600.000,00. Pendapatan buruh bangunan lebih besar dibandingkan petani karena:

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 a) Pendapatan buruh bangunan tetap, sesuai dengan jumlah hari kerja mereka. Sedangkan petani tergantung dari hasil panen yang mereka hasilkan. Bila lahan yang digarap petani kurang luas, maka hasil panen yang dihasilkan juga tidak terlalu banyak. b) Hasil panen selain tergantung dari luas lahan, juga tergantung dari hama tanaman yang menganggu tanaman. Meskipun lahan yang dimiliki petani luas, tetapi jika hama tanaman menganggu tanaman petani tentu hasil tanaman mereka tidak dapat dipanen dengan maksimal. c) Buruh bangunan tidak memiliki masalah dalam pekerjaannya seperti yang dialami petani, yang tentu tidak akan mempengaruhi pendapatan mereka. Buruh bangunan bekerja sesuai dengan instruksi mandor, sehingga mereka tinggal mencurahkan tenaga dan keahlian mereka. 2. Ada perbedaan konsumsi antara buruh bangunan dan petani Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa terdapat perbedaan antara konsumsi buruh bangunan dan petani. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji independent sample t-test yang menunjukkan jika Sig < 0,05 atau t hitung > t tabel, dimana t hitung = 14,194, sedangkan t tabel = 1,96. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi buruh bangunan Rp 906.375 sedangkan rata-rata konsumsi petani adalah Rp 572.450,00. Berdasarkan data diatas, dapat dilihat bahwa rata-rata

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 konsumsi buruh bangunan lebih besar dibandingkan rata-rata konsumsi petani dengan selisih Rp 333.925,00. Dari hasil perhitungan statistik dapat diketahui bahwa sebagian besar konsumsi buruh bangunan dan petani berada dalam kategori sedang. Sebesar 65% responden buruh bangunan dan sebesar 54% responden petani berada dalam kategori sedang. Sedangkan sebesar 2,5% responden buruh bangunan berada dalam kategori konsumsi rendah dan sebesar 42,5% responden petani yang berada dalam kategori rendah. Sedangkan dalam kategori tinggi sejumlah 32,5% responden buruh bangunan dan tidak ada petani yang mempunyai konsumsi tinggi. Pengeluaran konsumsi diukur dengan menggunakan indikator konsumsi untuk makan, konsumsi untuk pakaian, konsumsi listrik, konsumsi air, biaya sekolah dan biaya lain-lain. Hasil perhitungan statistik menunjukkan bahwa konsumsi makan, konsumsi pakaian, konsumsi air, biaya listrik, biaya sekolah dan biaya lain-lain yang dikeluarkan oleh buruh bangunan dan petani berada dalam kategori konumsi sedang. Konsumsi buruh bangunan lebih besar dibandingkan petani karena: a) Besarnya pendapatan mempengaruhi pengeluaran. Dalam penelitian ini diketahui bahwa pendapatan buruh bangunan lebih besar dibandingkan petani. Pendapatan buruh bangunan yang besar mempengaruhi besarnya konsumsi yang dikeluarkan oleh buruh bangunan. Begitu pula sebaliknya, karena pendapatan yang diterima

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 petani lebih rendah dibandingkan buruh bangunan, maka konsumsi petani juga lebih kecil dibandingkan buruh bangunan. b) Khusus untuk konsumsi makan, petani berada dalam kategori sedang sebanyak 71,2% dan rendah sebanyak 26,2% hal ini disebabkan karena petani memproduksi bahan makanan mereka sendiri seperti beras, jagung dan ketela yang dijadikan makanan pokok sehari-hari. Tidak seperti buruh bangunan, sebanyak 61,2% berada dalam kategori sedang dan 38,8% berada dalam kategori tinggi karena mereka tidak memproduksi bahan makanan pokok mereka sendiri. c) Dilihat dari konsumsi pakaian yang menunjukkan konsumsi pakaian buruh lebih besar dibandingkan petani. Hal ini dikarenakan pendapatan petani lebih rendah dibandingkan buruh bangunan, sehingga mereka lebih memilih mengalokasikan pendapatan mereka untuk hal yang lebih penting dan mendesak sesuai kebtuhan masing-masing. d) Dilihat dari konsumsi listrik dimana konsumsi listrik buruh bangunan lebih besar dibandingkan petani karena banyak dari responden buruh bangunan yang menggunakan alat-alat dan kebutuhan rumah tangga mereka yang sudah bertenaga listrik, seperti TV, rice cooker, lampu yang terang dan lain-lain. Serta mereka menggunakan peralatan listrik dengan intensitas yang tinggi dibandingkan petani. e) Konsumsi air buruh bangunan lebih besar karena sebagian besar responden buruh bangunan membeli air melalui tangki atau PDAM,

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 sedangkan petani banyak yang tidak membeli air karena mereka yang mandi dan mencuci didanau yang ada diperkampungan mereka. Sehingga konsumsi air mereka dapat diminimalisir. f) Biaya sekolah buruh bangunan lebih besar dibandingkan petani karena buruh bangunan banyak yang masih memiliki tanggungan anak untuk sekolah, sedangkan petani lebih sedikit. Konsumsi keseluruhan buruh bangunan tergolong lebih besar dibandingkan petani, hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan statistik yang menunjukkan bahwa dari konsumsi makan, konsumsi untuk pakaian, konsumsi listrik, konsumsi air, biaya sekolah dan biaya lain-lain buruh bangunan lebih besar dibandingkan petani. Hal ini terjadi dikarenakan pendapatan yang diterima buruh bangunan juga lebih besar dibandingkan petani. 3. Tidak ada perbedaan kondisi tempat tinggal antara buruh bangunan dan petani Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara kondisi tempat tinggal buruh bangunan dan petani. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji independent sample t-test yang menunjukkan jika t hitung < t tabel, yaitu 0,675 < 1,96. Hasil perhitungan statistik menunjukkan sebagian besar responden buruh bangunan dan petani sudah memiliki rumah dengan kondisi cukup layak huni, yaitu

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 sebanyak 111 responden yang berada dalam kategori rumah cukup layak huni. Sisanya sebanyak 31 responden buruh bangunan dan petani berada dalam kategori rumah kurang layak huni, dan sebanyak 18 responden buruh bangunan dan petani berada dalam kategori rumah layak huni. Secara umum, tempat tinggal antara buruh bangunan dan petani tidak jauh berbeda. Dilihat dari luas, kondisi fisik dan fasilitas yang ada dalam setiap rumah. Besarnya pendapatan dan konsumsi tidak mempengaruhi kondisi tempat tinggal antara buruh bangunan dan petani. Kondisi tempat tinggal buruh bangunan dan petani tidak dipengaruhi oleh pendapatan yang diterima dan konsumsi yang dikeluarkan, karena pendapatan yang diterima buruh bangunan dan petani digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sama halnya dengan konsumsi. Konsumsi yang dikeluarkan buruh bangunan dan petani untuk kebutuhan pokok. Dilihat dari nilai kondisi tempat tinggal antara buruh bangunan yaitu sebesar 10,55 dan petani sebesar 10,71 maka dapat disimpulkan bahwa kondisi tempat tinggal buruh bangunan dan petani tidak jauh berbeda hanya berselisih 0,16 dan masuk dalam kategori rumah cukup layak huni. Kondisi tempat tinggal buruh bangunan dan petani sebagian besar sudah mempunyai dinding rumah yang terbuat dari batu bata tidak plester, atap dari genting jawa, dan lantai yang terbuat dari semen.

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data, pengujian hipotesis dan pembahasan masing-masing variabel penelitian yang telah diuraikan pada bab IV, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Terdapat beda signifikan antara pendapatan buruh bangunan dan petani di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul. Hal ini terjadi karena pendapatan buruh bangunan lebih besar dibandingkan petani, buruh bangunan rutin menerima pendapatan tiap minggu sesuai dengan jumlah hari kerja mereka. Sedangkan petani pendapatan yang diterima tergantung luas lahan dan hama tanaman yang menganggu. 2. Terdapat beda signifikan antara konsumsi buruh bangunan dan petani di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul. Konsumsi buruh bangunan lebih besar dibandingkan petani, hal ini dapat terjadi karena pendapatan yang diterima buruh bangunan juga lebih besar dibandingkan petani. 3. Tidak terdapat beda signifikan antara kondisi tempat tinggal buruh bangunan dan petani di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul. Kondisi tempat tinggal petani dan buruh bangunan memiliki selisih nilai kriteria kondisi tempat tinggal yang tidak jauh berbeda, yaitu 0,16. 95

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 B. Keterbatasan Dalam penelitian ini tidak dapat dihindari berbagai kelemahan yang kemungkinan dapat menyebabkan temuan penelitian bukan merupakan gambaran sesungguhnya dari subjek penelitian, yaitu: 1. Responden banyak dan wilayah penelitian luas sehingga membutuhkan waktu cukup lama dan tenaga ekstra dalam melakukan penelitian 2. Tidak semua responden bersedia mengisi kuesioner dikarenakan kesibukan dan privasi C. Saran Berdasarkan kesimpulan di atas, maka peneliti dapat memberikan beberapa saran: 1. Bagi petani Sambil menunggu waktu panen tiba, sebaiknya petani mengisi waktu luang dan mengembangkan potensi dalam dirinya dengan mencari pekerjaan tambahan dibidang lain untuk menambah pendapatan. 2. Bagi buruh bangunan Buruh bangunan yang belum menjadi tukang dapat meningkatkan kemampuannya dan potensinya dalam mengerjakan proyek pembangunan agar nantinya dapat memiliki kemampuan menjadi tukang. Sehingga pendapatan yang mereka terima bertambah.

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 Daftar Pustaka Bintarto. 1989. Interaksi Desa-Kota dan Permasalahannya. Jakarta: Ghalia Indonesia. Bintarto dan Surastopo Hadisumarno. 1979. Metode Analisa Geografi. Jakarta: LP3ES. Gilarso, T. 2004. Pengantar Ilmu Ekonomi Makro. Yogyakarta : Kanisius. Nasikun, Dr. 1996. Urbanisasi dan Kemiskinan di Dunia Ketiga. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana. Sugiyono. 2010. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta. Hartono. 2008. SPSS 16.0 Analisis Data Statistika dan Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Scott, James C. 1981. Moral Ekonomi Petani, Pergolakan dan Subsistensi di Asia Tenggara. Terjemahan Hasan Basari. Jakarta: LP3ES. Mosher. 1987. Menggerakkan dan Membangun Petani. Jakarta: CV Yasaguna. Winardi, Gunawan. 2000. Reforma Agraria. Yogyakarta : Insist Press Wikipedia. 2013. Diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Tempat_tinggal pada tanggal 5 september 2013 pukul 14:33 WIB. BPS Kabupaten Gunungkidul. 2014. Diakses dari http://gunungkidulkab.bps.go.id/?hal=publikasi_detil&id=1 pada tanggal 8 September 2014 pukul 14:35 WIB.

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 1 KUESIONER

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 KUESIONER Bapak/Ibu/Saudara/i yang saya hormati, Saya mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi, Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma yang sedang melaksanakan penelitian untuk Tugas Akhir Skripsi. Saya membagikan kuesioner ini dalam rangka penyusunan skripsi dengan judul, “Studi komparasi tingkat kesejahteraan antara buruh bangunan dan petani di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul” Untuk itu saya mohon kesediaan dari Bapak/Ibu/Saudara/i untuk mengisi kuesioner ini dengan sungguh-sungguh sesuai dengan keadaan sebenarnya. Atas kesediaan dan kerjasamanya saya ucapkan terima kasih. Petunjuk pengisian: 1. Mohon menjawab seluruh pertanyaan yang disajikan pada kuesioner ini sesuai keadaan yang sebenarnya 2. Berilah tanda ( x ) pada pilihan a, b, c atau d Identitas Responden Nama : . . . . . . . . . . . . . ….. (boleh tidak diisi) Umur :............... Jenis kelamin : laki-laki / perempuan Pekerjaan : petani / buruh bangunan (coret salah satu) Bagian I Pendapatan 1. Berapakah jumlah pendapatan yang anda terima dalam satu bulan? Rp . . . Bagian II Pengeluaran Konsumsi 1. Berapa jumlah pengeluaran anda dalam satu bulan? Rp . . . No Macam pengeluaran dalam sebulan 1 Pengeluaran makan untuk Besarnya pengeluaran dalam Rupiah Rp

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 3 Pengeluaran untuk Rp pakaian Lain-lain (isi selain pengeluaran diatas jika Rp ada) ..... Rp 4 ..... Rp 5 ..... Rp 2 Bagian III Kondisi tempat tinggal 1. Luas bangunan rumah anda : a. 27-36 m2 b. 37-45 m2 c. 46-54 m2 d. 55-63 m2 2. Kondisi dinding bangunan rumah anda : a. Bambu b. Kayu biasa, triplek c. Batu bata tidak plester d. Batu bata plester, kayu kualitas bagus ( jati/ mahoni) 3. Kondisi atap bangunan rumah anda : a. Seng b. Asbes c. Genteng jawa d. Genteng press 4. Kondisi lantai bangunan rumah anda : a. Tanah, bambu b. Semen,kayu kualitas biasa c. Tegel, ubin d. Keramik,marmer, kayu kualitas bagus ( jati/ mahoni)

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 2 ANALISIS DESKRIPTIF

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 ANALISIS DESKRIPTIF Statistics Pendapatan_bb N Valid Missing Pendapatan_pt 80 80 0 0 Pendapatan_buruh Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 2 2.5 2.5 2.5 Sedang 60 75.0 75.0 77.5 Tinggi 18 22.5 22.5 100.0 Total 80 100.0 100.0 Pendapatan_pt Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 26 32.5 32.5 32.5 Sedang 54 67.5 67.5 100.0 Total 80 100.0 100.0

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 Frequencies Statistics Konsumsi Makan Pakaian _bb N Valid Missing _bb BiayaListrik _bb _bb Konsumsi Makan Pakaian _pt _pt _pt _pt 80 80 80 80 80 80 80 80 0 0 0 0 0 0 0 0 Frequency Table Konsumsi_buruh Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 2 2.5 2.5 2.5 Sedang 52 65.0 65.0 67.5 Tinggi 26 32.5 32.5 100.0 Total 80 100.0 100.0 Konsumsi_ petani Cumulative Frequency Valid BiayaListrik Percent Valid Percent Percent Rendah 34 42.5 42.5 42.5 Sedang 46 57.5 57.5 100.0 Total 80 100.0 100.0

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 Makan_ buruh Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Sedang 49 61.2 61.2 61.2 Tinggi 31 38.8 38.8 100.0 Total 80 100.0 100.0 Makan_ petani Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 21 26.2 26.2 26.2 Sedang 57 71.2 71.2 97.5 Tinggi 2 2.5 2.5 100.0 Total 80 100.0 100.0 Pakaian_ buruh Cumulative Frequency Valid Sedang Percent Valid Percent Percent 49 61.2 61.2 61.2 4 5.0 5.0 66.2 Tidak ada 27 33.8 33.8 100.0 Total 80 100.0 100.0 Tinggi

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 pakaian_ petani Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 1 1.2 1.2 1.2 Sedang 18 22.5 22.5 23.8 1 1.2 1.2 25.0 Tidak ada 60 75.0 75.0 100.0 Total 80 100.0 100.0 Tinggi BiayaListrik_ buruh Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 16 20.0 20.0 20.0 Sedang 11 13.8 13.8 33.8 Tinggi 53 66.2 66.2 100.0 Total 80 100.0 100.0 Biaya Listrik_ petani Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 1 1.2 1.2 1.2 Sedang 76 95.0 95.0 96.2 Tinggi 3 3.8 3.8 100.0 Total 80 100.0 100.0

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 Frequencies Statistics Listrik Listrik _bb N Valid Missi ng _pt Air Air Sekolah Sekolah lain2 lain2 _bb _pt _bb _pt _bb _pt rumah_ rumah_ bb 80 80 80 80 80 80 80 80 80 80 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Frequency Table Biaya listrik_ buruh Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 16 20.0 20.0 20.0 Sedang 11 13.8 13.8 33.8 Tinggi 53 66.2 66.2 100.0 Total 80 100.0 100.0 Biaya listrik_ petani Cumulative Frequency Valid pt Percent Valid Percent Percent Rendah 1 1.2 1.2 1.2 Sedang 76 95.0 95.0 96.2 Tinggi 3 3.8 3.8 100.0 Total 80 100.0 100.0

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 Konsumsi air_ buruh Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 1 1.2 1.2 1.2 Sedang 59 73.8 73.8 75.0 3 3.8 3.8 78.8 Tidak ada 17 21.2 21.2 100.0 Total 80 100.0 100.0 Tinggi Konsumsi air_ petani Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 14 17.5 17.5 17.5 Sedang 41 51.2 51.2 68.8 1 1.2 1.2 70.0 Tidak ada 24 30.0 30.0 100.0 Total 80 100.0 100.0 Tinggi Biaya sekolah_ buruh Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 1 1.2 1.2 1.2 Sedang 30 37.5 37.5 38.8 8 10.0 10.0 48.8 Tidak ada 41 51.2 51.2 100.0 Total 80 100.0 100.0 Tinggi

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 Biaya sekolah_ petani Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 3 3.8 3.8 3.8 Sedang 27 33.8 33.8 37.5 1 1.2 1.2 38.8 Tidak ada 49 61.2 61.2 100.0 Total 80 100.0 100.0 Tinggi Biaya lain2_ buruh Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Sedang 30 37.5 37.5 37.5 Tinggi 14 17.5 17.5 55.0 Tidak ada 36 45.0 45.0 100.0 Total 80 100.0 100.0 Biaya lain2_ petani Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Rendah 4 5.0 5.0 5.0 Sedang 52 65.0 65.0 70.0 Tidak ada 24 30.0 30.0 100.0 Total 80 100.0 100.0

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 Kondisi rumah_ buruh Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Kurang layak 16 20.0 20.0 20.0 Cukup layak 56 70.0 70.0 90.0 Layak 8 10.0 10.0 100.0 Total 80 100.0 100.0 Kondisi rumah_petani Cumulative Frequency Valid Percent Valid Percent Percent Kurang layak 15 18.8 18.8 18.8 Cukup layak 55 68.8 68.8 87.5 Layak 10 12.5 12.5 100.0 Total 80 100.0 100.0

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 3 UJI HIPOTESIS

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 UJI HIPOTESIS t-test Group Statistics pendapatan konsumsi tempat_tinggal pekerjaan N Mean Std. Deviation Std. Error Mean Petani 80 945750.00 173261.893 19371.269 Buruh bangunan 80 616625.00 124411.971 13909.681 Petani 80 906375.00 171488.227 19172.967 Buruh bangunan 80 572450.00 121926.820 13631.833 Petani 80 10.55 1.340 .150 Buruh bangunan 80 10.71 1.685 .188

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means 95% Confidence Interval of the Difference F pendapatan Equal variances assumed 2.089 Sig. .150 Equal variances not assumed konsumsi Equal variances assumed 1.232 .269 Equal variances not assumed tempat_ting Equal variances gal assumed Equal variances not assumed 3.708 .056 t 13.801 df Sig. (2- Mean Std. Error tailed) Difference Difference Lower Upper 158 .000 329125.000 23847.962 282023.080 376226.920 13.801 143.357 .000 329125.000 23847.962 281985.921 376264.079 14.194 158 .000 333925.000 23525.083 287460.796 380389.204 14.194 142.615 .000 333925.000 23525.083 287422.080 380427.920 -.675 158 .501 -.162 .241 -.638 .313 -.675 150.352 .501 -.162 .241 -.638 .313

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 4 DATA INDUK

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 Nama umur Jk pekerjaan pendapatn konsumsi jenis konsumsi makan Res 1 36 L buruh 900,000 820,000 600,000 Res 2 43 L buruh 900,000 900,000 500,000 Res 3 45 L buruh 950,000 850,000 Res 4 35 L buruh 1,100,000 1,020,000 Res 5 37 L buruh 1,000,000 Res 6 42 L buruh Res 7 45 L buruh Res 8 33 L buruh Res 9 37 L buruh Res 10 43 L buruh Res 11 36 L buruh Res 12 35 L buruh Res 13 41 L buruh Res 14 40 L Res 15 32 L Res 16 42 Res 17 40 Res 18 Res 19 pakaian listrik beli air kondisi tempat tinggal sekolah biaya lain2 jumlah Luas dinding atap lantai 20,000 200,000 2 3 3 3 11 50,000 300,000 2 3 3 2 10 600,000 50,000 200,000 2 3 3 2 10 700,000 20,000 300,000 2 3 3 2 10 960,000 600,000 60,000 300,000 2 3 3 2 10 900,000 850,000 600,000 50,000 200,000 2 3 3 3 11 1,100,000 1,000,000 600,000 50,000 300,000 2 4 3 3 12 1,000,000 950,000 700,000 50,000 200,000 2 3 3 2 10 1,100,000 1,050,000 700,000 50,000 300,000 2 3 3 3 11 950,000 920,000 600,000 70,000 200,000 2 3 3 2 10 1,000,000 1,000,000 700,000 40,000 260,000 2 3 3 2 10 950,000 850,000 500,000 50,000 100,000 100,000 2 4 3 4 13 900,000 820,000 500,000 20,000 120,000 180,000 2 3 3 3 11 buruh 1,000,000 950,000 600,000 50,000 150,000 150,000 2 3 3 3 11 buruh 950,000 700,000 500,000 20,000 100,000 2 3 3 3 11 L buruh 1,100,000 1,000,000 750,000 50,000 50,000 50,000 2 3 3 2 10 L buruh 1,000,000 1,000,000 800,000 100,000 50,000 50,000 1 3 3 2 9 39 L buruh 900,000 900,000 700,000 100,000 50,000 50,000 1 3 3 2 9 37 L buruh 850,000 800,000 700,000 50,000 50,000 1 3 3 2 9 Res 20 42 L buruh 1,000,000 950,000 800,000 50,000 50,000 50,000 2 3 3 2 10 Res 21 45 L buruh 950,000 900,000 700,000 50,000 50,000 50,000 50,000 1 3 3 2 9 Res 22 38 L buruh 1,100,000 1,000,000 800,000 50,000 50,000 50,000 50,000 1 3 3 2 9 Res 23 42 L buruh 1,000,000 900,000 750,000 50,000 50,000 50,000 50,000 1 3 3 2 9 Res 24 45 L buruh 900,000 850,000 700,000 50,000 50,000 50,000 50,000 1 3 3 2 9 Res 25 38 L buruh 950,000 900,000 750,000 50,000 50,000 50,000 2 3 3 2 10 Res 26 40 L buruh 1,000,000 900,000 700,000 50,000 50,000 100,000 2 3 3 2 10 Res 27 35 L buruh 900,000 800,000 600,000 100,000 50,000 50,000 2 3 3 2 10 Res 28 38 L buruh 1,250,000 1,100,000 900,000 100,000 50,000 50,000 2 4 4 4 14 50,000 50,000 50,000 100,000 80,000 100,000

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 Res 29 42 L buruh 900,000 800,000 700,000 50,000 50,000 Res 30 40 L buruh 1,000,000 850,000 650,000 50,000 50,000 100,000 2 3 3 2 10 2 3 3 2 10 Res 31 37 L buruh 1,200,000 1,000,000 700,000 50,000 50,000 100,000 Res 32 40 L buruh 800,000 670,000 350,000 100,000 20,000 100,000 100,000 2 3 3 2 10 100,000 2 3 3 2 Res 33 40 L buruh 1,000,000 900,000 600,000 100,000 50,000 10 50,000 100,000 4 3 3 2 12 Res 34 46 L buruh 900,000 800,000 600,000 50,000 Res 35 45 L buruh 1,200,000 1,000,000 700,000 150,000 20,000 80,000 50,000 4 4 3 2 13 50,000 50,000 50,000 4 4 3 2 13 Res 36 36 L buruh 1,100,000 900,000 550,000 Res 37 48 L buruh 500,000 800,000 500,000 50,000 30,000 70,000 120,000 80,000 4 4 3 2 13 100,000 20,000 50,000 80,000 50,000 4 4 3 3 14 Res 38 34 L buruh 600,000 1,000,000 430,000 Res 39 39 L buruh 700,000 900,000 400,000 50,000 20,000 50,000 150,000 300,000 4 3 3 2 12 50,000 30,000 70,000 200,000 150,000 4 3 3 2 12 Res 40 31 L buruh 700,000 900,000 450,000 Res 41 35 L buruh 800,000 500,000 400,000 50,000 20,000 50,000 200,000 130,000 4 4 3 3 14 70,000 4 4 3 3 14 Res 42 47 L buruh 1,000,000 1,500,000 700,000 Res 43 41 L buruh 700,000 700,000 500,000 300,000 3 3 3 2 11 1 3 3 2 9 Res 44 50 L buruh 1,000,000 1,000,000 600,000 Res 45 43 L buruh 650,000 600,000 350,000 1 4 3 3 11 1 4 3 2 Res 46 45 L buruh 700,000 650,000 400,000 10 1 3 3 3 10 Res 47 39 L buruh 600,000 700,000 400,000 Res 48 41 L buruh 1,200,000 1,150,000 700,000 50,000 Res 49 48 L buruh 840,000 800,000 450,000 50,000 Res 50 47 L buruh 920,000 1,000,000 600,000 Res 51 46 L buruh 1,200,000 1,000,000 700,000 100,000 Res 52 43 L buruh 1,000,000 950,000 500,000 100,000 Res 53 34 L buruh 450,000 500,000 350,000 Res 54 50 L buruh 1,200,000 1,050,000 600,000 100,000 Res 55 43 L buruh 800,000 950,000 500,000 100,000 Res 56 45 L buruh 1,050,000 1,000,000 700,000 Res 57 40 L buruh 1,000,000 800,000 600,000 Res 58 32 L buruh 800,000 1,000,000 600,000 30,000 150,000 100,000 100,000 50,000 100,000 200,000 30,000 70,000 100,000 50,000 100,000 150,000 30,000 70,000 100,000 40,000 60,000 150,000 20,000 60,000 100,000 120,000 1 4 3 3 11 50,000 80,000 120,000 150,000 1 2 3 3 9 50,000 100,000 150,000 1 3 3 3 10 40,000 60,000 200,000 1 4 3 3 11 50,000 50,000 100,000 1 4 3 3 11 50,000 100,000 200,000 3 3 4 2 12 20,000 30,000 100,000 1 3 3 1 8 50,000 100,000 200,000 1 3 3 2 9 50,000 100,000 200,000 2 3 3 1 9 50,000 100,000 150,000 1 3 4 2 10 30,000 70,000 100,000 4 3 3 2 12 50,000 100,000 150,000 4 1 3 1 9 50,000 100,000

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 Res 59 30 L buruh 1,000,000 1,300,000 800,000 100,000 50,000 100,000 150,000 100,000 2 3 3 2 10 Res 60 33 L buruh 1,500,000 1,600,000 800,000 100,000 50,000 100,000 150,000 400,000 2 4 4 2 12 Res 61 46 L buruh 1,200,000 1,000,000 650,000 150,000 50,000 150,000 1 3 3 3 10 Res 62 45 L buruh 900,000 900,000 500,000 60,000 100,000 200,000 40,000 2 3 3 2 10 Res 63 44 L buruh 1,100,000 1,020,000 650,000 50,000 50,000 150,000 120,000 2 3 3 2 10 Res 64 38 L buruh 900,000 800,000 600,000 50,000 20,000 80,000 50,000 2 3 3 2 10 Res 65 45 L buruh 900,000 850,000 550,000 50,000 20,000 80,000 50,000 1 3 3 2 9 Res 66 41 L buruh 1,000,000 900,000 550,000 50,000 20,000 80,000 100,000 3 3 3 2 11 Res 67 36 L buruh 900,000 800,000 450,000 50,000 50,000 100,000 150,000 2 4 3 2 11 Res 68 39 L buruh 950,000 700,000 500,000 30,000 70,000 100,000 2 3 3 3 11 Res 69 46 L buruh 1,100,000 1,000,000 700,000 50,000 100,000 150,000 2 3 3 2 10 Res 70 35 L buruh 850,000 800,000 600,000 100,000 20,000 80,000 1 3 3 2 9 Res 71 47 L buruh 800,000 850,000 600,000 100,000 50,000 100,000 2 3 3 2 10 Res 72 45 L buruh 900,000 800,000 450,000 50,000 50,000 100,000 150,000 2 4 3 2 11 Res 73 41 L buruh 900,000 850,000 600,000 50,000 100,000 100,000 2 4 3 2 11 Res 74 47 L buruh 900,000 800,000 600,000 100,000 20,000 80,000 2 4 3 2 11 Res 75 45 L buruh 950,000 810,000 500,000 50,000 30,000 100,000 130,000 2 3 3 3 11 Res 76 50 L buruh 1,300,000 1,220,000 770,000 50,000 50,000 50,000 150,000 1 3 3 2 9 Res 77 44 L buruh 800,000 850,000 600,000 100,000 50,000 100,000 2 3 3 2 10 Res 78 37 L buruh 900,000 800,000 450,000 50,000 50,000 100,000 150,000 2 3 3 2 10 Res 79 50 L buruh 900,000 850,000 600,000 50,000 100,000 100,000 2 3 3 2 10 Res 80 48 L buruh 900,000 1,000,000 650,000 50,000 150,000 2 4 3 2 11 Res 81 60 L petani 700,000 736,000 500,000 36,000 100,000 1 3 3 3 10 Res 82 60 L petani 700,000 500,000 350,000 30,000 70,000 1 3 3 3 10 Res 83 60 L petani 500,000 540,000 350,000 20,000 70,000 1 2 3 1 7 Res 84 60 L petani 600,000 550,000 500,000 30,000 20,000 1 4 3 2 10 Res 85 54 L petani 450,000 400,000 300,000 Res 86 50 L petani 800,000 800,000 450,000 Res 87 54 L petani 500,000 450,000 Res 88 58 L petani 600,000 585,000 150,000 40,000 60,000 30,000 700,000 300,000 30,000 40,000 400,000 30,000 20,000 50,000 150,000 100,000 50,000 100,000 60,000 2 3 3 2 10 100,000 2 4 4 2 12 80,000 2 1 3 1 7 75,000 2 3 3 1 9

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 Res 89 61 L petani 780,000 800,000 400,000 Res 90 45 L petani 500,000 595,000 300,000 100,000 30,000 40,000 180,000 50,000 3 3 3 1 10 40,000 55,000 100,000 100,000 1 1 3 1 6 Res 91 44 L petani 600,000 640,000 350,000 Res 92 55 L petani 750,000 750,000 350,000 30,000 60,000 100,000 100,000 1 1 3 1 6 50,000 100,000 100,000 3 3 3 2 11 Res 93 41 L petani 500,000 450,000 300,000 25,000 50,000 75,000 2 3 3 2 10 Res 94 52 L petani 500,000 700,000 300,000 Res 95 54 L petani 750,000 700,000 450,000 100,000 40,000 60,000 100,000 100,000 2 3 3 2 10 100,000 30,000 20,000 100,000 4 3 4 4 15 Res 96 43 L petani 600,000 500,000 300,000 Res 97 46 L petani 400,000 500,000 300,000 30,000 40,000 130,000 3 3 4 2 12 30,000 40,000 70,000 1 3 3 2 9 Res 98 42 L petani 400,000 400,000 300,000 Res 99 60 L petani 400,000 400,000 300,000 25,000 75,000 1 4 3 3 11 30,000 70,000 3 4 3 4 14 Res 100 55 L petani 400,000 500,000 350,000 Res 101 42 L petani 450,000 500,000 300,000 100,000 3 3 3 2 11 120,000 3 3 3 3 12 Res 102 55 L petani 600,000 600,000 400,000 25,000 Res 103 57 L petani 400,000 500,000 400,000 30,000 25,000 2 3 3 2 10 70,000 1 4 3 2 10 Res 104 38 L petani 500,000 450,000 350,000 Res 105 43 L petani 600,000 500,000 350,000 50,000 4 4 3 2 13 4 4 3 2 Res 106 56 L petani 500,000 400,000 300,000 13 70,000 4 3 3 2 12 Res 107 50 L petani 800,000 700,000 500,000 35,000 95,000 Res 108 40 L petani 900,000 850,000 700,000 70,000 30,000 50,000 80,000 4 3 3 2 12 4 4 3 3 14 Res 109 60 L petani 800,000 700,000 500,000 50,000 25,000 60,000 Res 110 55 L petani 700,000 800,000 600,000 25,000 75,000 65,000 4 3 3 2 12 100,000 4 3 3 2 12 Res 111 52 L petani 750,000 700,000 450,000 25,000 25,000 Res 112 40 L petani 750,000 700,000 550,000 30,000 20,000 Res 113 50 L petani 750,000 800,000 400,000 50,000 100,000 Res 114 45 L petani 750,000 700,000 350,000 30,000 70,000 Res 115 55 L petani 600,000 590,000 300,000 30,000 110,000 150,000 Res 116 59 L petani 450,000 350,000 300,000 25,000 Res 117 49 L petani 500,000 400,000 300,000 30,000 Res 118 45 L petani 600,000 550,000 400,000 25,000 150,000 60,000 30,000 50,000 50,000 20,000 30,000 50,000 25,000 25,000 50,000 50,000 100,000 30,000 25,000 25,000 150,000 50,000 4 3 3 2 12 100,000 3 4 3 3 13 75,000 150,000 4 2 3 2 11 150,000 100,000 3 3 3 2 11 2 2 3 2 9 25,000 3 3 3 3 12 70,000 3 3 3 3 12 100,000 4 3 3 2 12

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 Res 119 65 L petani 500,000 450,000 300,000 35,000 65,000 Res 120 49 L petani 450,000 450,000 400,000 25,000 25,000 Res 121 51 L petani 600,000 550,000 350,000 30,000 20,000 100,000 Res 122 47 L petani 600,000 600,000 300,000 30,000 70,000 100,000 Res 123 58 L petani 450,000 400,000 300,000 25,000 Res 124 50 L petani 650,000 500,000 400,000 25,000 Res 125 60 L petani 500,000 400,000 350,000 30,000 Res 126 51 L petani 600,000 500,000 400,000 Res 127 45 L petani 900,000 700,000 450,000 Res 128 46 L petani 750,000 600,000 400,000 Res 129 43 L petani 750,000 650,000 350,000 Res 130 49 L petani 700,000 650,000 400,000 Res 131 45 L petani 700,000 650,000 350,000 Res 132 41 L petani 650,000 600,000 400,000 Res 133 48 L petani 600,000 600,000 350,000 Res 134 45 L petani 750,000 650,000 450,000 25,000 100,000 Res 135 50 L petani 600,000 600,000 350,000 35,000 115,000 Res 136 47 L petani 750,000 600,000 400,000 50,000 Res 137 43 L petani 750,000 650,000 400,000 Res 138 43 L petani 800,000 910,000 650,000 Res 139 45 L petani 750,000 650,000 500,000 25,000 Res 140 54 L petani 600,000 500,000 350,000 25,000 Res 141 57 L petani 600,000 500,000 400,000 30,000 Res 142 52 L petani 750,000 650,000 450,000 25,000 100,000 Res 143 48 L petani 600,000 500,000 450,000 30,000 20,000 Res 144 45 L petani 750,000 650,000 450,000 35,000 65,000 Res 145 58 L petani 600,000 500,000 350,000 Res 146 45 L petani 750,000 650,000 450,000 25,000 Res 147 60 L petani 500,000 400,000 300,000 30,000 Res 148 57 L petani 600,000 550,000 400,000 30,000 50,000 50,000 4 3 3 3 13 3 3 3 2 11 50,000 1 3 3 3 10 50,000 1 3 3 2 9 75,000 1 3 3 3 10 75,000 4 4 3 2 13 20,000 2 2 3 2 9 2 4 3 2 11 2 4 4 2 12 30,000 50,000 50,000 50,000 70,000 35,000 65,000 40,000 60,000 30,000 50,000 100,000 50,000 100,000 2 3 3 2 10 120,000 100,000 1 3 4 2 10 50,000 2 3 4 3 12 2 4 4 2 12 1 3 4 2 10 2 3 3 2 10 75,000 2 3 3 2 10 100,000 1 3 4 2 10 1 3 3 2 9 35,000 65,000 100,000 40,000 60,000 150,000 30,000 50,000 100,000 30,000 100,000 70,000 30,000 70,000 30,000 120,000 40,000 50,000 100,000 100,000 50,000 30,000 100,000 20,000 70,000 100,000 2 3 4 2 11 70,000 3 3 3 2 11 25,000 1 3 3 2 9 75,000 1 3 4 2 10 70,000 1 3 4 2 10 75,000 1 3 3 2 9 1 3 4 2 10 10,000 2 3 3 2 10 70,000 1 3 4 2 10 75,000 2 3 3 2 10 70,000 3 3 3 3 12 100,000 4 3 3 2 12

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 Res 149 47 L petani 500,000 450,000 300,000 30,000 Res 150 55 L petani 550,000 500,000 400,000 30,000 Res 151 63 L petani 600,000 550,000 400,000 30,000 Res 152 59 L petani 600,000 600,000 400,000 30,000 70,000 Res 153 49 L petani 500,000 400,000 300,000 30,000 70,000 Res 154 45 L petani 600,000 550,000 500,000 30,000 20,000 Res 155 45 L petani 500,000 450,000 300,000 30,000 Res 156 55 L petani 550,000 500,000 400,000 30,000 Res 157 59 L petani 600,000 600,000 500,000 30,000 Res 158 49 L petani 750,000 650,000 450,000 Res 159 45 L petani 600,000 500,000 400,000 30,000 Res 160 65 L petani 600000 500000 400,000 30,000 Ket: jk= L= jenis kelamin laki-laki 50,000 25,000 70,000 50,000 4 3 3 3 13 70,000 3 3 3 2 11 2 3 3 3 11 1 3 3 2 9 3 3 3 3 12 4 3 3 2 12 4 3 3 3 13 70,000 3 3 3 2 11 70,000 1 3 3 2 9 75,000 1 3 3 2 9 70,000 1 3 4 2 10 1 3 4 2 10 120,000 100,000 120,000 50,000 70,000

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 5 SURAT IJIN PENELITIAN

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118

(136)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

ANALISIS PENDAPATAN DAN TINGKAT KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA PETANI JAGUNG DI KECAMATAN NATAR KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
24
124
70
ANALISIS PENDAPATAN DAN TINGKAT KESEJAHTERAAN RUMAHTANGGA PETANI KAKAO DI DESA PESAWARAN INDAH KECAMATAN PADANG CERMIN KABUPATEN PESAWARAN
15
77
69
PENDAPATAN DAN TINGKAT KESEJAHTERAAN PETANI PISANG AMBON (Musa paradisiaca) DI KECAMATAN PADANG CERMIN KABUPATEN PESAWARAN
0
6
64
PENDAPATAN DAN TINGKAT KESEJAHTERAAN PETANI PISANG AMBON (Musa paradisiaca) DI KECAMATAN PADANG CERMIN KABUPATEN PESAWARAN
6
42
127
PENDAPATAN DAN TINGKAT KESEJAHTERAAN PETANI PISANG AMBON (Musa paradisiaca) DI KECAMATAN PADANG CERMIN KABUPATEN PESAWARAN
1
10
64
ANALISIS PENDAPATAN DAN TINGKAT KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA PETANI PADI (Oryza sativa) DI KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU
5
27
73
ANALISIS PENDAPATAN DAN TINGKAT KESEJAHTERAAN PETANI LADA DI KECAMATAN GUNUNG LABUHAN KABUPATEN WAY KANAN
24
126
129
PERAN PEMERINTAHAN DESA DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PETANI DI DESA SIBORONGBORONG KECAMATAN SIBORONGBORONG KABUPATEN TAPANULI UTARA.
0
2
12
PERAN PEMERINTAH DESA DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PETANI DI DESA KENTARA KECAMATAN LAEPARIRA KABUPATEN DAIRI.
0
4
20
TINGKAT KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA PETANI SAYURAN MENTIMUN DI DESA GERANTUNG KECAMATAN MONTERADO KABUPATEN BENGKAYANG PROPINSI KALIMANTAN BARAT.
0
0
113
PENINGKATAN KESEJAHTERAAN KELUARGA INDUSTRI KECIL KUE CUCUR DI DESA GIRICAHYO KECAMATAN PANGGANG KABUPATEN GUNUNGKIDUL YOGYAKARTA
0
0
9
PERAN DESA WISATA TERHADAP KESEJAHTERAAN PEKERJA PARIWISATA DI DESA WISATA BEJIHARJO KECAMATAN KARANGMOJO KABUPATEN GUNUNGKIDUL
0
1
10
SKRIPSI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PETANI DALAM PROGRAM PEKARANGAN TERPADU DI DESA SAMBIREJO KECAMATAN NGAWEN KABUPATEN GUNUNGKIDUL
0
0
186
KAJIAN TINGKAT KESEJAHTERAAN DAN PENDIDIKAN ANAK KELUARGA PERANTAU DI DESA SUMAMPIR KECAMATAN REMBANG KABUPATEN PURBALINGGA
0
0
15
KAJIAN TINGKAT KESEJAHTERAAN DAN PENDIDIKAN ANAK PETANI SALAK PONDOH DI DESA PEKANDANGAN KECAMATAN BANJARMANGU KABUPATEN BANJARNEGARA
0
2
16
Show more