PENGARUH VARIASI KOMPOSISI PEG 400 - PEG 4000 PADA AKTIVITAS ANTIBAKTERI SALEP MINYAK SEREH WANGI JAWA (Cymbopogon winterianus) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis ATCC 12228 SKRIPSI

Gratis

0
10
91
10 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGARUH VARIASI KOMPOSISI PEG 400 - PEG 4000 PADA AKTIVITAS ANTIBAKTERI SALEP MINYAK SEREH WANGI JAWA (Cymbopogon winterianus) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis ATCC 12228 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm) Program Studi Farmasi Oleh : Fransiskus Asisi Dian Kristianto NIM 108114067 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGARUH VARIASI KOMPOSISI PEG 400 - PEG 4000 PADA AKTIVITAS ANTIBAKTERI SALEP MINYAK SEREH WANGI JAWA (Cymbopogon winterianus) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis ATCC 12228 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm) Program Studi Farmasi Oleh : Fransiskus Asisi Dian Kristianto NIM 108114067 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Pengesahan Skripsi Berjudul iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini kupersembahkan untuk: Tuhanku Yesus Kristus, Kedua orang tuaku Thomas Dwi Heru Santosa dan Yohana Parjinah, Saudaraku Filipus Cahyo Kristianto, Celly Brita dan SemuaTeman-teman dan kerabatku dan Almamaterku tercinta. vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Puji syukur kepada Tuhan atas segala berkat, kasih karunia dan penyertaan-Nya sehingga penyusunan skripsi dengan judul “Pengaruh Variasi Komposisi PEG 400 - PEG 4000 Pada Aktivitas Antibakteri Salep Sereh Wangi Jawa (Cymbopogon winterianus) Terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis ATCC 12228” dapat diselesaikan dengan baik. Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan dalam meraih gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) di Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Dalam mengerjakan penelitian hingga terselesaikannya skripsi ini, penulis telah mendapatkan banyak bantuan doa, semangat, arahan, saran, serta kritik yang membangun dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ungkapan terima kasih kepada : 1. Orang tua, Bapak Thomas Dwi Heru santoso dan Ibu Yohana Fransisca Parjinah, atas pengertian, dukungan doa, dan segala bantuan yang tak terhingga yang telah diberikan kepada penulis selama ini dan hingga detik ini. 2. Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. 3. Ibu Christofori Maria Ratna Rini Nastiti, M.Pharm., Apt. selaku Dosen Pembimbing yang dengan sabar memberikan arahan, saran, serta semangat kepada penulis selama penelitian hingga terselesaikannya skripsi ini. 4. Ibu Erna dan Ibu Damiana sebagai dosen penguji atas segala saran dan masukan mengenai penelitian ini. vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5. Ibu Maria Dwi Budi Jumpowati, S.Si. selaku Dosen Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma atas waktunya untuk memberikan masukan dan arahannya dalam bidang mikrobiologi kepada penulis selama penelitian. 6. Seluruh Dosen Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta yang telah mendampingi dan berbagi ilmu selama penulis menempuh pendidikan di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. 7. Seluruh staf laboratorium, staf kebersihan, dan staf keamanan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, terutama Bapak Mukminin dan Bapak Musrifin yang telah membantu penulis selama penelitian hingga selesainya skripsi ini. 8. Filipus Cahyo Kristianto selaku saudara kandung penulis atas doa, kasih sayang, dan dorongan, serta motivasi membangun kepada penulis. Terima kasih. 9. Eva Monalisa selaku saudara sepupu atas segala motivasi dan doanya sehingga penulis selalu semangat dalam menjalankan proses skripsi. 10. Angga Zakharia, Sekar Wulan dan Felicia Aniska selaku teman satu kelompok atas kerja sama, motivasi dan semangat yang diberikan saat menyelesaikan penelitian ini. 11. Celly Brita atas kasih sayang, semangat, dan motivasi yang telah diberikan serta selalu ada dalam suka maupun duka. 12. Hans gani, Daniel Pradipta, Tomas indra, Evan Gunawan, Stefanus Indra, Agriva Deva dan seluruh temen-teman angkatan 2010 yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas bantuan, doa, dukungan, keceriaan, semangat, viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI serta kebersamaan yang luar biasa kepada penulis selama lebih dari empat tahun. Kalian adalah keluarga kedua selama penulis hidup sebagai mahasiswa di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 13. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi ini. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini, sehingga kritik dan saran yang membangun untuk perubahan yang lebih baik. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Yogyakarta, 23 Juli 2014 Penulis ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... iii PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .......................................................... iv PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ............................................. v HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................... vi PRAKATA ..................................................................................................... vii DAFTAR ISI .................................................................................................. x DAFTAR TABEL .......................................................................................... xiii DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xiv DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xv INTISARI ....................................................................................................... xvi ABSTRACT ..................................................................................................... xvii BAB I. PENGANTAR .............................................................................. 1 A. Latar Belakang ..................................................................................... 1 1. Perumusan Masalah ........................................................................ 3 2. Keaslian Penelitian ......................................................................... 4 3. Manfaat Penelitian .......................................................................... 5 B. Tujuan Penelitian .................................................................................. 6 BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA......................................................... 7 A. Infeksi .................................................................................................. 7 x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. Minyak Atsiri ....................................................................................... 8 C. Minyak Sereh Wangi Jawa ................................................................... 9 D. Sitronelal ............................................................................................. 11 E. Geraniol ............................................................................................... 11 F. Staphylococcus epidermidis .................................................................. 12 G. Anti bakteri ......................................................................................... 13 H. Penujian Daya Anti Bakteri .................................................................. 14 I. Salep .................................................................................................... 15 J. PEG...................................................................................................... 17 K. Uji Sifat Fisik Salep .............................................................................. 19 L. Landasan Teori ..................................................................................... 20 M. Hipotesis .............................................................................................. 21 BAB III. METODOLOGI PENELITIAN .................................................... 22 A. Jenis dan Rancangan Penelitian ............................................................ 22 B. Variabel Penelitian dan Definisi Operesional ........................................ 22 C. Alat dan Bahan ..................................................................................... 24 D. Skema Kerja ......................................................................................... 24 E. Analisis Hasil ....................................................................................... 33 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................... 34 A. Identifikasi dan Verifikasi Minyak Sereh Wangi Jawa .......................... 34 B. Uji Aktivitas Antibakteri Minyak Sereh Wangi Jawa ........................... 36 C. Formulasi Sediaan Salep Minyak Sereh Wangi Jawa ............................ 40 D. Uji Sifat Fisik Salep Minyak Sereh Wangi Jawa ................................... 43 xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI E. Uji Sterilitas Salep Minyak Sereh Wangi Jawa .................................... 47 F. Uji Aktivitas Antibakteri Salep Minyak Sereh Wangi Jawa ................. 48 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ..................................................... 53 A. Kesimpulan .......................................................................................... 53 B. Saran .................................................................................................... 53 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 54 LAMPIRAN ................................................................................................... 58 BIOGRAFI PENULIS .................................................................................... 73 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Halaman Tabel I. Formula Sediaan Salep Sereh Wangi Jawa .................................... 27 Tabel II. Hasil Verifikasi Minyak Sereh Wangi Jawa .................................. 35 Tabel III. Hasil Pengukuran Rerata Diameter Zona Hambat Minyak Sereh Wangi Jawa Terhadap Staphyloccus epidermidis................. 38 Tabel IV. Sifat Fisik Salep Minyak Sereh Wangi Jawa ................................. 44 Tabel V. Hasil Uji Statistik Stabilitas Fisik dan Pergeseran Viskositas Salep Minyak Sereh Wangi Jawa .................................................. 46 Tabel VI. Hasil Pengukuran Rerata Diameter Zona Hambat Salep Minyak Sereh Wangi Jawa Terhadap Staphyloccus epidermidis................. 49 Tabel VII. Hasil Uji Statistik ......................................................................... 51 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Struktur Setronelal ...................................................................... 11 Gambar 2. Struktur Geraniol ........................................................................ 12 Gambar 3. Struktur PEG ............................................................................. 18 Gambar 4. Minyak Sereh Wangi Jawa ......................................................... 35 Gambar 5. Diagram Hasil Pengukuran Rerata Diameter Zona Hambat Minyak Sereh Wangi Jawa ........................................................ 39 Gambar 6. Salep Sereh wangi Jawa Formula I dan Formula II ..................... 43 Gambar 7. Uji Sterilitas Sediaan ................................................................. 48 Gambar 8. Diagram Hasil Pengukuran Rerata Diameter Zona Hambat Minyak Sereh Wangi Jawa ........................................................ 50 Gambar 9. Zona Hambat Sereh Wangi Jawa ................................................ 50 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Certificate of Analysis ............................................................ 59 Lampiran 2. Surat Keterangan S. Epidermidis ............................................ 60 Lampiran 3. Uji karakteristik Minyak Sereh Wangi Jawa ........................... 61 Lampiran 4. Uji Aktivitas Anti bakteri Minyak Sereh Wangi Jawa ............ 62 Lampiran 5. Uji Formulasi Salep Minyak Sereh Wangi Jawa ..................... 63 Lampiran 6. Uji Sifat Fisik Salep Minyak Sereh Wangi Jawa .................... 64 Lampiran 7. Uji Aktivitas Anti bakteri Minyak Sereh Wangi Jawa ............ 65 Lampiran 8. Uji Sterilitas Salep Minyak Sereh Wangi Jawa ....................... 66 Lampiran 9. Uji Statistik ............................................................................ 67 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI INTISARI Penelitian tentang pengaruh variasi komposisi dari PEG 400 dan PEG 4000 pada aktivitas antibakteri dalam salep minyak atsiri sereh wangi Jawa terhadap Staphylococcus epidermidis telah dilakukan. Selain untuk mengamati pengaruh komposisi PEG pada aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis, penelitian ini juga bertujuan untuk membuat formulasi sediaan salep minyak atsiri sereh wangi Jawa dan mengetahui sifat fisiknya. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni dengan rancangan penelitian acak lengkap pola dua arah. Salep minyak atsiri sereh wangi Jawa dibuat dalam 2 formula dimana sifat fisik dan zona hambat sebagai respon dari variasi komposisi PEG 400 dan PEG 4000. Dalam penelitian ini sifat fisik sediaan salep minyak atsiri sereh wangi Jawa diteliti. Hasil penelitian dianalisis secara statistik menggunakan metode ANAVA dua arah, dimana diikuti dengan uji Tukey untuk mengetahui perbedaan tiap formula dan kelompok kontrol menggunakan software R 2.14.1.1. Hasil penelitian menunjukkan salep minyak atsiri sereh wangi Jawa menghasilkan aktivitas antibakteri terhadap Staphyloccous epidermidis. Aktivitas antibakteri salep minyak atsiri sereh wangi Jawa tidak terpengaruh oleh variasi komposisi dari PEG 400 dan PEG 4000. Keywords: Cymbopogon winterianus, salep, aktivitas antibakteri, diameter zona hambat. xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT The study of effect of variation composition of PEG 4000 and PEG 400 on the antibacterial activity of Citronella Java oil ointment against Staphylococcus epidermidis had been done. Beside to observe the effect of PEG composition on the antibacterial activity against Staphylococcus epidermidis, this study also aimed to provide ointment formulation for Citronella Java oil which met physical ointment. This study was a pure experimental study using randomized study design complete two directional pattern. The Citronella Java oil ointment was designed into 2 formulas which physical ointment and inhibition zone as response of variance composition of PEG 400 and PEG 4000. In this study, the physical properties of Citronella Java oil ointment were investigated. The result were analyzed statistikally by using two-way ANAVA method, which was then followed by Tukey's test to observe the differences between each formula and the control group using the software R 2.14.1.1 The results showed that the Citronella Java oil ointment provided antibacterial activity againt Staphylococcus epidermidis. The antibacterial activity of Citronella Java oil ointment was not affected by the variation composition of PEG 400 and PEG 4000. Keywords: Cymbopogon winterianus, ointments, antibacterial activity, inhibition zone diameter. xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, itulah sebabnya upaya untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal sangat diperlukan. Namun seiring dengan kemajuan zaman yang ditandai dengan globalisasi di segala bidang telah menyebabkan pergeseran berbagai penyakit. Salah satu contoh penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat Indonesia adalah penyakit kulit. Menurut Direktur Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2006 penyakit kulit dan jaringan subkutan berdasarkan prevalensi 10 penyakit terbanyak pada masyarakat Indonesia menduduki peringkat kedua setelah infeksi saluran pernapasan akut dengan jumlah 501.280 kasus atau 3,16% (Astriyanti, Lerik, Sahdan, 2010). Penyakit kulit yang disebabkan karena infeksi merupakan penyakit yang paling umum terjadi pada orang-orang dari segala usia (Indrayatna, 2010). Infeksi kulit dapat disebabkan oleh bakteri gram negatif maupun bakteri gram positif (Djuanda, 1999). Staphylococcus epidermidis adalah salah satu flora normal pada kulit, merupakan spesies bakteri gram positif dari genus Staphylococcus yang diketahui menjadi penyebab utama terjadinya infeksi, terutama infeksi oportunistik (menyerang individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah). Pemberian antibakteri merupakan salah satu pilihan dalam menangani penyakit infeksi. Namun penggunaan antibakteri yang tidak terkontrol dapat mendorong 1

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 terjadinya perkembangan resistensi bakteri penyebab infeksi terhadap antibakteri yang diberikan (Ariyanti, Darmayasa, Sudirga, 2012). Resistensi dapat terjadi karena bakteri memiliki daya pertahanan untuk menghindar dari antibiotik yaitu dengan cara melakukan mutasi pada sisi aktif maupun sisi pengikatan, membentuk protein trans membran yang dikenal sebagai protein efluks dan plasmid yang mengkode gen resiten terhadap antibiotik (Fuda, dkk., 2005). Adanya resistensi ini dapat menimbulkan banyak masalah dalam pengobatan penyakit infeksi, sehingga diperlukan usaha untuk mengembangkan obat terutama obat berbahan herbal. Obat herbal mempunyai banyak kandungan senyawa baru yang berpotensi dapat digunakan sebagai antibakteri untuk mengatasi masalah terjadinya resistensi tersebut. Salah satu contoh tanaman yang dapat digunakan adalah sereh wangi Jawa (Cymbopogon winterianus). Sereh wangi Jawa merupakan salah satu tanaman yang sering dan mudah dijumpai didaerah tropis seperti di Indonesia selain itu harganya yang relatif murah. Sereh wangi Jawa memiliki kandungan senyawa yaitu sitronelal dan geraniol dalam minyak atsiri yang dapat berkhasiat sebagai antibakteri (Nakahara et al, 2003) dan diketahui memiliki nilai KBM sebesar 15% (Wijayanti, 2013). sehingga dapat berpotensi digunakan sebagai salah satu alternatif obat infeksi alami baru. Sediaan salep merupakan salah satu alternatif yang dapat digunanakan sebagai pengobatan terutama untuk penyakit infeksi pada kulit karena merupakan sediaan topikal yang sesuai untuk terapi penyakit pada kulit yang disebabkan oleh bakteri, selain itu salep mempunyai stabilitas yang baik, berupa sediaan halus, mudah digunakan, mampu menjaga kelembapan kulit, tidak mengiritasi kulit dan

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 mempunyai tampilan yang menarik (Pongsipulung, Yamlean, Banne, 2012 ; Naibaho, Yamlean, Wiyono, 2013). Salep merupakan sediaan yang terdiri dari bahan obat yang terlarut ataupun terdispersi di dalam basis atau basis salep sebagai pembawa zat aktif. Basis salep yang digunakan dalam sebuah formulasi obat harus bersifat inert dengan kata lain tidak merusak ataupun mengurangi efek terapi dari obat yang dikandungnya (Naibaho, Yamlean, Wiyono,2013). Salah satu contoh basis salep adalah basis larut air dengan bahan utama PEG. Sediaan salep dengan basis PEG mempunyai kelebihan dapat melepaskan zat aktif bersifat non polar dengan lebih baik dibandingkan dengan basis yang larut minyak (Pasroni dkk, 2004). PEG 400 dan PEG 4000 merupakan salah satu contoh kombinasi pembuat sediaan salep basis larut air. PEG 400 merupakan polimer dalam bentuk cair sedangkan PEG 4000 dalam bentuk padat, dimana variasi kombinasi keduanya pada salep basis larut air akan membentuk viskositas dan daya sebar yang berbeda. Viskositas dan daya sebar yang dihasilkan mempunyai pengaruh terhadap pelepasan zat aktif yang dibawanya. Semakin tinggi viskositas dan semakin rendah daya sebar dari suatu sediaan salep akan menyebabkan penurunan pelepasan zat aktif (Paramita, 2005). 1. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 a. Apakah sediaan salep basis larut air yang mengandung minyak atsiri sereh wangi Jawa dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis? b. Bagaimana pengaruh perbandingan PEG 400 dan PEG 4000 terhadap sifat fisik dan pelepasan zat aktif sediaan minyak atsiri sereh wangi Jawa basis larut air? 2. Keaslian Penelitian Penelitian lain yang berkaitan dengan penelitian ini antara lain: a. Penggunaan bahan alam minyak sereh wangi Jawa sebagai antibakteri adalah penelitian oleh Wijayanti, B.A, (2013) dengan judul : ”Uji Daya Antibakteri Emulgel Antiacne Minyak Sereh Wangi Jawa (Cymbopogon winterianus) Terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis” dimana dalam skripsi tersebut didapatkan nilai KBM minyak sereh wangi Jawa sebesar 15% yang kemudian akan digunakan dalam penelitian ini. b. Penelitian oleh Miftakhurohmah, Rita Noveriza dan Agus Kardinan (2008) dengan judul : “Efektivitas Formula Minyak Sereh Wangi Terhadap Pertumbuhan Kapang Asal Buah Merah dan Sambiloto” dimana penelitian tersebut menujukkan hasil Formula minyak serai wangi yang diuji mampu menghambat pertumbuhan kapang kontaminan Geotrichum sp, Fusarium culmorum, Ulocladium sp dan Fusarium sp dengan daya hambat sebesar 16,07-66,67%. c. Penelitian oleh Paramita, E.R.(2005) dengan judul : “Pengaruh Formulasi Basis Campuran PEG 4000 - PEG 400 Terhadap Aktivitas Antibakteri

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 Salep Ekstrak Etanolik Bawang Putih (Allium Sativum. L), Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta”, dimana penelitian tersebut menujukkan hasil bahwa semakin besar jumlah komposisi PEG 4000 akan berpengaruh terhadap naiknya nilai viskositas dan menyebabkan penurunan pelepasan zat aktif ekstrak etanolik bawang putih (Allium Sativum. L) terhadap aktivitasnya sebagai antibakteri. d. Penelitian oleh Naibaho, O.H., Yamlean Paulina, V.Y., Wiyono Weny., (2013) program studi Farmasi, FMIPA UNSRAT Manado dengan judul “Pengaruh Basis Salep Terhadap Formulasi Sediaan Salep Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum sanctum L.) Pada kulit Punggung Kelinci Yang Dibuat Infeksi Staphylococcus aureus.” dimana hasil yang didapatkan menunjukkan perbedaan tipe basis salep yang digunakan pada formulasi salep ekstrak daun kemangi berpengaruh pada sifat fisik sediaan dan berpengaruh terhadap daya antibakteri, ditandai dengan penyembuhan infeksi pada kulit kelinci yang lebih cepat. Namun, sejauh penelusuran penulis, skripsi dengan judul pengaruh variasi komposisi PEG 400 – PEG 4000 pada aktivitas antibakteri salep minyak sereh wangi Jawa terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis belum pernah dilakukan. 3. Manfaat Penelitian a. Manfaat teoretis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan dan mengembangkan informasi yang berguna bagi ilmu pengetahuan terutama dalam bidang

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 kefarmasian mengenai pembuatan salep basis larut air dengan zat aktif minyak atsiri sereh wangi Jawa sebagai antibakteri untuk menghambat pertumbuhan Staphylococcus epidermidis. b. Manfaat praktis Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan formula sediaan salep antibakteri yang baik untuk mencegah atau mengatasi penyakit infeksi akibat bakteri Staphylococcus epidermidis. B. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui aktivitas antibakteri salep minyak atsiri sereh wangi Jawa terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. 2. Untuk mengetahui pengaruh perbedaan aktivitas formula sediaan salep minyak atsiri sereh wangi Jawa dengan variasi perbandingan PEG 400 dan PEG 4000 dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis.

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II PENELAAH PUSTAKA A. Infeksi 1. Pengertian Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan organisme patogenik dalam tubuh. Penyakit infeksi mungkin menular mungkin juga tidak (Tietjen Linda, 2004). Infeksi adalah invasi tubuh patogen atau mikroorganisme yang mampu menyebabkan sakit (Perry & Potter, 2005). 2. Penyebab Infeksi Tipe mikroorganisme penyebab infeksi dibagi menjadi empat kategori : a. Bakteri, merupakan penyebab terbanyak dari infeksi. Ratusan spesies bakteri dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan dapat hidup didalam tubuhnya. Bakteri bisa masuk antara lain melalui udara, tanah, air, makanan, cairan dan jaringan tubuh dan benda mati lainnya. b. Virus, terutama berisi asam nukleat (nukleat acid) karenanya harus masuk dalam sel hidup untuk di produksi. c. Parasit, hidup dalam organisme hidup lain. Protozoa, cacing dan arthropoda termasuk kelompok parasit. d. Fungi, terdiri dari ragi dan jamur (Perry & Potter, 2005). 7

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 3. Tipe Infeksi a. Kolonisasi, merupakan suatu proses dimana benih mikroorganisme menjadi flora yang menetap/residen. Mikroorganisme bisa tumbuh dan berkembang biak tetapi tidak bisa menimbulkan penyakit. Infeksi terjadi ketika mikroorganisme yang menetap tadi sukses menginvasi/menyerang bagian tubuh/host manusia yang system pertahanannya tidak efektif dan pathogen menyebabkan kerusakan jaringan. b. Infeksi lokal, spesifik dan terbatas pada bagian tubuh dimana mikroorganisme tinggal. c. Infeksi sistemik, terjadi bila mikroorganisme menyebar kebagian tubuh yang lain dan menimbulkan kerusakan. d. Bakterimia, terjadi ketika didalam darah ditemukan adanya bakteri. e. Septikimia, multiplikasi bakteri dalam darah sebagai hasil dari infeksi sistemik. f. Infeksi akut, infeksi yang muncul dalam waktu singkat. g. Infeksi kronik, infeksi yang terjadi secara lambat dalam periode yang lama (dalam hitungan bulan/tahun) (Perry & Potter, 2005). B. Minyak Atsiri Minyak atsiri yang dikenal sebagai minyak eteris merupakan mudah menguap pada suhu kamar. Minyak atsiri mempunyai rasa getir, berbau wangi sesuai dengan bau tanaman penghasilnya, umumnya larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air (Guenther, 2006).

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 Minyak atsiri dapat bersumber dari bagian tanaman seperti daun, bunga, buah, biji, batang atau kulit dan akar. Pengambilan atau ekstraksi minyak atsiri dari bagian tanaman tersebut dapat dilakukan dengan cara penyulingan, pengempaan, ekstraksi menggunakan pelarut, atau absorbsi dengan lemak; tergantung dari jenis tanaman dan sifat fisiko-kimia minyak atsiri di dalamnya (Harris, 1994). Nilai bobot jenis minyak atsiri berkisar antara 0,696-1,188 pada suhu 150C dan pada umumnya nilai tersebut lebih kecil dari 1.000 (Guenther, 2006). C. Minyak Sereh Wangi Minyak sereh wangi yang didapatkan dari daun dan batang sereh mengandung komponen utama, yaitu : sitronelal, sitronelol dan geraniol serta senyawa ester dari geraniol dan sitronelol. Senyawa-senyawa tersebut merupakan bahan dasar yang digunakan dalam parfum atau pewangi dan juga produk farmasi. Gabungan ketiga komponen utama tersebut (Sitronelal, sitronelol, dan geraniol) dikenal sebagai total senyawa yang dapat diasetilasi. Ketiga komponen ini menentukan intensitas bau harum, nilai dan harga minyak sereh. Menurut standar pasar internasional, kandungan sitronelal dan jumlah total alkohol (geraniol) masing-masing harus lebih tinggi dari 35% (Balchin, 2006). Minyak sereh atau Citronella oil adalah minyak esensial yang didapatkan dari daun dan batang sereh (Cymbopogon nardus). Sereh yang biasa diperdagangkan dibagi dalam dua kategori yaitu Ceylon citronela oil yang diperoleh dari Cymbopogon nardus dan Java citronella oil dari Cymbopogon

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 winterianus. Java citronela oil adalah produk yang kualitasnya lebih tingggi dibandingkan dengan Seilon (Balchin, 2006). Kualitas minyak atsiri pada umumnya dan minyak sereh wangi pada khususnya ditentukan oleh faktor kemurnian. Kualitas minyak sereh wangi ditentukan oleh komponen utama di dalamnya yaitu kandungan sitronela dan geraniol yang biasa dinyatakan dengan jumlah kandungan geraniol. Minyak sereh wangi tidak boleh mengandung atau dikotori oleh bahan asing seperti minyak lemak, alkohol, ataupun minyak tanah (Harris, 1994). Minyak sereh wangi biasanya berwarna kuning muda sampai kuning tua, bersifat mudah menguap. Pada suhu 15ºC mempunyai bobot jenis 0,886-0,894; indeks bias pada suhu 20ºC adalah 1,467-1,473. Dapat larut dalam 3 bagian volume alkohol 80% tetapi bila diencerkan kelarutannya berkurang dan larutan menjadi keruh (SNI, 1995). Minyak sereh wangi asal Jawa mengandung komponen sebagai berikut : Sitronelal 32-45% ; Geraniol 12–18% ; Sitronelol 11 -15% ; Geranil asetat 3–8% ; Sitronelil asetat 2–4% ; Limonen 2-4 % ; Kadinen 2-4% dan selebihnya (2–36%) adalah Sitral, Kavikol, Eugenol, Elemol, Kadinol, Vanilin, Kamfen, α-Pinen, linalool, β-Kariofilen (Peter, 2007). Komponen utama minyak sereh wangi Jawa adalah sitronela dan geraniol, yang memiliki sifat antibakteri dan antikapang, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati. (Miftakhurohmah et al, 2008). Mekanisme minyak sereh wangi Jawa sebagai senyawa antibakteri menurut Lertsatitthanakorn et al, (2010) karena kandungan Sitronelal (monoterpen

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 aldehida) yang memiliki target membran protein fungsional akan meningkatkan permeabilitas membran bakteri. Aktifitas antibakteri gugus alkohol bertindak sebagai agen pendehidrasi pada dosis rendah dan agen pendenaturai pada dosis tinggi. D. Sitronelal Sitronelal merupakan senyawa monoterpena yang mempunyai gugus aldehid, ikatan rangkap dan rantai karbon yang memungkinkan mengalami reaksi siklisasi aromatisasi (Irna et al, 2007). Aktivitas antibakteri sitronelal (monoterpen aldehida) yang ditemukan dalam minyak atsiri sereh wangi Jawa diperkirakan karena adanya senyawa elektronegatif yang dapat menggangu komponen nitrogen dari protein pada membran sitoplasmik, isi sitoplasmik dan asam nukleat (Lertsatitthanakorn, et al., 2010). Gambar 1. Gambar struktus sitronelal (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991). E. Geraniol Geraniol (sering disebut juga sebagai rhodinol), adalah salah satu senyawa monoterpenoid dan alkohol dengan formula C10H18O. Geraniol sering

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 dijumpai pada tanaman sereh wangi, geranium, palmarose, jeruk purut, laos merah dan jahe. Geraniol juga sering disebut dengan minyak rose. Geraniol berupa cairan berwarna kuning pucat. Senyawa ini tidak dapat larut dalam air, tetapi larut dalam bahan pelarut organik yang umum. Baunya menyengat dan sering digunakan sebagai parfum. Kandungan geraniol dalam minyak sereh wangi Jawa sebesar 11-15% (Singh et al, 2011). Aktifitas antibakteri geraniol (gugus alkohol) bertindak sebagai agen pendehidrasi pada dosis rendah dan agen pendenaturai pada dosis tinggi. Alkohol dan fenol dapat menyebabkan pecahnya membran sitoplasma dan kerusakan dinding bakteri. Dinding sel bakteri Gram positif kehilangan struktur kaku dan komponen dinding yang pecah setelah diberi perlakuan dengan minyak sereh wangi Jawa. Akibatnya membran sitoplasma yang telah rusak menyebabkan kebocoran materi-materi intraseluler dan sel akhirnya lisis (Lertsatitthanakorn, et al., 2010). Gambar 2. Gambar struktus geraniol (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991). F. Staphylococcus epidermidis Staphylococcus epidermidis adalah salah satu spesies bakteri gram positif dari genus Staphylococcus yang diketahui dapat menyebabkan infeksi oportunistik

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 (menyerang individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah). Beberapa karakteristik bakteri ini adalah fakultatif anaerob, koagulase negatif, katalase positif, gram positif, berbentuk kokus, dan berdiameter 0,5–1,5 µm. Bakteri ini secara alami hidup pada kulit dan membran mukosa manusia. Secara klinis, bakteri ini menyerang orang-orang yang rentan atau imunitas rendah, seperti penderita AIDS, pasien kritis, pengguna obat terlarang (narkotika), bayi yang baru lahir, dan pasien rumah sakit yang dirawat dalam waktu lama. Organisme ini menghasilkan glycocalyx lendir yang menyebabkan resistensi terhadap fagositosis dan antibiotik. Resistensi dapat terjadi karena bakteri memiliki daya pertahanan untuk menghidar dari antibiotik yaitu dengan melakukan mutasi pada sisi aktif maupun sisi pengikatan, membentuk protein trans membran yang dikenal sebagai protein efluks dan plasmid yang mengkode gen resiten terhadap antibiotik (Fuda, dkk, 2005). Staphylococcus epidermidis hidup sebagai parasit pada manusia dan hewan berdarah panas lainnya. (Jawetz, 1996). G. Antibakteri 1. Antibakteri Antibakteri adalah obat pembasmi bakteri, khususnya bakteri yang merugikan manusia. Obat yang digunakan sebagai pembasmi bakteri penyebab infeksi pada manusia harus mempunyai toksisitas selektif setinggi mungkin, artinya obat tersebut haruslah bersifat toksik untuk bakteri tetapi relatif tidak toksik untuk hospes (Depkes RI, 1995).

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 Berdaskan sifat toksisitas selektif, antibakteri dibagi menjadi dua bagian, yaitu antibakteri yang bersifat menghambat pertumbuhan bakteri atau disebut bakteriostatik dan antibakteri yang bersifat membunuh bakteri atau yang disebut bakterisida. Aktivitas antibakteri dapat berubah dari menghambat pertumbuhan menjadi membunuh bakteri tergantung dari dosis (Edber, 1986). H. Pengujian Daya Antibakteri Pengujian daya antibakteri dapat dilakukan untuk mengetahui daya antibakteri suatu obat. Pengukuran aktivitas / uji khasiat obat dapat dikerjakan dengan berbagai cara, yaitu : 1. Metode dilusi atau pengenceran Prinsipnya adalah pengenceran seri antibakteri sehingga diperoleh beberapa konsentrasi. Pada metode ini masing-masing konsentrasi cairan antibakteri dicampurkan dengan suspensi bakteri pada media agar dalam keadaan hangat, ditunggu memadat dan diinkubasikan. Pengamatan dilakukan dengan melihat kekeruhan media untuk mengetahui ada tidaknya pertumbuhan bakteri pada media agar (Edber, 1986). 2. Metode difusi Antibakteri diukur berdasarkan pengamatan luas daerah hambatan pertumbuhan bakteri karena berdifusinya obat dari titik awal pemberian kedaerah difusi. Bakteri ditanam pada media yang sesuai dan diatasnya diletakkan paper disk yang mengandung bahan obat atau dibuat sumuran dengan diameter tertentu yang diisi larutan bahan obat (Edber, 1986).

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 a. Metode difusi dikenal beberapa cara, yaitu : Cara Kirby Bouwer 1) Cara tuang (Pour Plate) Suspensi bakteri dengan komposisi 10 -5 CFU/ml diambil menggunakan ose dan dimasukkan dalam media agar yang mempunyai suhu 50 oC. Kemudian dibuat homogen dan dibiarkan membeku. Kemudian diatasnya diletakkan paper disk dan diinkubasikan pada suhu 37oC selama 18-24 jam (Edber, 1986). 2) Cara Sumuran Pada agar yang telah ditanami bakteri dibuat sumuran dengan garis tengah tertentu dan ke dalam sumuran diberi larutan uji dan diinkubasikan pada suhu 37oC selama 18-24 jam (Edber, 1986). Hasil dari metode difusi berupa : 1) Zona radikal yaitu daerah di sekitar disk yang sama sekali tidak ditemukan bakteri. 2) Zona irradikal yaitu daerah di sekitar disk yang menunjukkan pertumbuhan bakteri dihambat oleh larutan uji tetapi tidak dimatikan (Edber, 1986). I. Salep 1. Pengertian salep Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. Dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam empat kelompok yaitu dasar salep senyawa hidrokarbon, dasar salep

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 serap, dasar salep yang dapat dicuci dengan air dan dasar salep larut dalam air. Salep obat menggunakan salah satu dari dasar salep tersebut (Depkes RI, 1995). 2. Dasar Salep Menurut Farmakope Indonesia IV, dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam 4 kelompok yaitu dasar salep senyawa hidrokarbon, dasar salep serap, dasar salep yang dapat dicuci dengan air, dasar salep larut dalam air. Setiap salep obat menggunakan salah satu dasar salep tersebut (Depkes RI, 1995). a. Dasar Salep Hidrokarbon, Dasar salep ini dikenal sebagai dasar salep berlemak, antara lain vaselin putih dan salep putih. Hanya sejumlah kecil komponen berair yang dapat dicampurkan kedalamnya. Salep ini dimaksudkan untuk memperpanjang kontak bahan obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup. Dasar salep hidrokarbon dapat digunakan sebagai emolien yang mempunyai sifat sukar dicuci dengan air, tidak mudah mengering dan relative stabil (Ansel, 1989). b. Dasar Salep Serap, Dasar salep serap ini dibagi dalam 2 kelompok. Kelompok pertama terdiri atas dasar salep yang dapat bercampur dengan air membentuk emulsi air dalam minyak (parafin hidrofilik dan lanolin anhidrat), dan kelompok kedua terdiri atas emulsi air dalam minyak yang dapat bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan (lanolin). Dasar salep ini juga berfungsi sebagai emolien (Ansel, 1989). c. Dasar Salep yang dapat dicuci dengan air, Dasar salep ini adalah emulsi minyak dalam air, antara lain salep hidrofilik (krim). Basis ini mempunyai sifat mudah dicuci dari kulit atau dilap basah sehingga lebih dapat diterima

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 untuk dasar kosmetika. Beberapa bahan obat dapat menjadi lebih efektif menggunakan dasar salep ini daripada dasar salep hidrokarbon. Keuntungan lain dari dasar salep ini adalah dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan yang terjadi pada kelainan dermatologik (Ansel, 1989). d. Dasar Salep Larut Air, Kelompok ini disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari konstituen larut air. Dasar salep jenis ini memberikan banyak keuntungannya seperti dasar salep yang dapat dicuci dengan air dan tidak mengandung bahan tak larut dalam air, seperti paraffin, lanolin anhidrat atau malam. Dasar salep ini lebih tepat disebut PEG. Pemilihan dasar salep tergantung pada beberapa faktor yaitu khasiat yang diinginkan, sifat bahan obat yang dicampurkan, ketersediaan hayati, stabilitas dan ketahanan sediaan jadi. Dalam beberapa hal perlu menggunakan dasar salep yang kurang ideal untuk mendapatkan stabilitas yang diinginkan. (Ansel, 1989). J. PEG Polyethylene glycol 200, 300, 400 dan 600 jernih, berbentuk cairan viskos pada suhu ruangan. Glycol tidak terhidrolisis atau memburuk dibawah kondisi tertentu. Semakin meningkatnya berat molekul, maka kelarutan dalam air, tekanan uap, higroskopisitas dan kelarutan pada pelarut organik menurun; pada saat yang sama, rentan pembekuan atau pelelehan, titik nyala dan viskositas meningkat (Gennaro, 2000).

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 Gambar 3. Struktur Polyethylene glycol (Gennaro, 2000). Bahan ini memiliki kelarutan dan kompatibilitas dalam rentang yang luas, yang membuatnya berguna dalam preparasi farmasetis dan kosmetik (Gennaro, 2000). Polyethylene glycol digunakan dalam kosmetik dengan kandungan gugus oxyethylene sebanyak 4 hingga 115.000 (disebut PEG 4 hingga 115M). Derivat cairnya digunakan sebagai pelarut dan humectants dalam minyak mandi, pewangi, shampo, kondisioner rambut, make-up wajah, krim, lotion, produk suntan dan produk pembersih (Smolinske, 1992) 1. Polietilenglikol – 400 (Polyethylenglycolum – 400) Polietilenglikol–400 adalah polietilenglikol H(OCH2-CH2)nOH, harga n antara 8,2 dan 9,1. PEG 400 berupa cairan kental jernih, tidak berwarna atau praktik tidak berwarna, bau khas lemah, agak higroskopik. PEG 400 larut dalam air, dalam etanol (95%) P, dalam aseton P, dalam glikol lain dan dalam hidrokarbon aromatik, praktis tidak larut dalam eter P dan dalam hidrokarbon alifatik. PEG 400 disimpan dalam wadah tertutup rapat. Khasiat dan penggunaannya sebagai zat tambahan (Depkes RI, 1979). 2. Polietilenglikol – 4000 (Polyethylenglycolum–4000) Polietilenglikol–4000 adalah polietilenglikol H(O-CH2-CH2)nOH harga n antara 68 dan 84. PEG 4000 berupa serbuk licin putih atau potongan putih kuning gading, praktis tidak berbau, tidak berasa. PEG 4000 mudah larut dalam air, dalam etanol (95%) P dan dalam kloroform P, praktis tidak larut dalam eter P.

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 Kesempurnaan melarut dan warna larutan 5 g dalam air hingga 50 ml praktis jernih dan tidak berwarna. PEG 4000 disimpan dalam wadah tertutup rapat. Khasiat dan penggunaan sebagai zat tambahan (Depkes RI, 1979). Perbandingan campuran komposisi antara PEG 400 dan PEG 4000 akan berpengaruh terhadap sifat fisik sediaan yang terbentuk, dimana akan membentuk suatu konsistensi tertentu. Jumlah komposisi PEG 400 yang semakin banyak akan menurunkan nilai waktu leleh, titik leleh, viskositas dan kekerasan dari suatu sediaan. (Stiawan, 2006). K. Uji Sifat Fisik Sediaan Salep Uji sifat fisik sediaan salep meliputi beberapa hal, diantaranya adalah ; a. pH, merupakan salah satu karakteristik yang penting yang harus diukur dan dikontrol, terutama jika produk akan digunakan pada makhluk hidup. Menurut SNI 16-4399-1997 pH sediaan topikal harus berada dalam rentang 4,5-8 karena pH yang terlalu asam atau basa dapat menyebabkan kulit menjadi kering dan mengalami iritasi akibat terjadinya kerusakan mantel asam pada lapisan sel kulit mati (Garg, dkk., 2002). b. Viskositas, menyatakan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir, makin tinggi akan semakin besar tegangan. Viskositas termasuk faktor yang penting dalam karakteristik sediaan semisolid. Viskositas suatu sediaan menentukan lamanya sediaan melekat pada kulit sehingga obat dapat terpenetrasi dengan baik (Garg, dkk., 2002). Standar viskositas menurut SNI 16-4399-1997 berkisar antara 2000-50.000 cP.

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 c. Daya sebar, untuk mengetahui kelunakan massa salep pada waktu dioleskan pada kulit yang diobati (Martin dkk, 1993). Daya sebar, pada prinsipnya, berkaitan dengan sudut kontak dari setetes cairan atau sediaan semi padat atau semi cair pada substrat terstandar dan berkaitan dengan koefisien gesekan (Garg dkk., 2002). L. Landasan Teori Infeksi disebabkan oleh mikroba pathogen seperti bakteri Staphylococcus epidermidis yang bersifat sangat dinamis. Organisme-organisme tersebut dapat menyerang sebagian atau seluruh tubuh manusia terutama pada kulit yang mana merupakan bagian yang paling rentan terkena luka. Salah satu usaha untuk mencegah atau mengobati infeksi kulit adalah dengan cara menghambat atau menekan pertumbuhan bakteri pathogen penyebab infeksi. Minyak atsiri sereh wangi Jawa diketahui mempunyai efek sebagai antibakteri untuk menekan / menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis. Minyak atsiri sereh wangi Jawa berdasarkan hasil penelitian sebelumnya oleh Wijayanti, (2005) menunjukkan nilai KBM sebesar 15%. Oleh karena itu minyak atsiri sereh wangi Jawa berpotensi diformulasikan dalam sediaan topikal antibakteri. Formulasi sediaan salep minyak atsiri sereh wangi Jawa dengan basis, komposisi bahan serta dosis / konsentrasi minyak atsiri sereh wangi Jawa yang sesuai diharapkan dapat menjadi alternatif obat infeksi. Sediaan salep dengan basis PEG mempunyai kelebihan dapat melepaskan zat aktif bersifat non polar dengan lebih baik dibandingkan dengan basis yang larut minyak. PEG

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 4000 dan PEG 400 merupakan salah satu contoh kombinasi pembuat sediaan salep. PEG 400 merupakan polimer dalam bentuk cair sedangkan PEG 4000 dalam bentuk padat, dimana perbandingan kombinasi kedua bahan tersebut akan membentuk suatu konsistensi tertentu yaitu viskositas dan daya sebar yang berbeda. Menurut penelitian yang ada perbedaan nilai viskositas dan daya sebar akan berpengaruh terhadap pelepasan zat aktif yang dibawanya. Minyak atsiri sereh wangi Jawa yang digunakan sebagai zat aktif dalam sediaan salep basis PEG dengan jumlah perbandingan komposisi PEG 4000 yang lebih banyak dan PEG 400 yang lebih sedikit akan menghasilkan nilai viskositas yang tinggi dan daya sebar yang rendah. Semakin tingginya nilai viskositas dan semakin kecilnya nilai daya sebar akan memberikan pengaruh terhadap aktivitas antibakteri yaitu berupa penurunan pelepasan zat aktif yang dibawanya. M. Hipotesis 1. Salep minyak atsiri sereh wangi Jawa memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. 2. Minyak atsiri sereh wangi Jawa memiliki perbedaan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis setelah diformulasikan dalam sediaan salep dengan perbandingan PEG 400 dan PEG 4000 yang berbeda.

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni dengan rancangan penelitian, acak lengkap pola dua arah. B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 1. Variabel Penelitian a. Variabel bebas Variasi komposisi PEG 400 dan PEG 4000 dalam formula sediaan salep. b. Variabel tergantung Diameter zona hambat yang terbentuk terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis, sifat fisik salep antibakteri minyak atsiri sereh wangi Jawa meliputi pH, viskositas dan daya sebar. c. Variabel pengacu terkendali Asal bahan minyak atsiri sereh wangi Jawa (CV Indaroma), wadah penyimpanan, metode uji, bakteri uji (Staphylococcus epidermidis dari Laboratorium Kesehatan Yogyakarta), waktu inkubasi (24 jam), suhu inkubasi (37oC), volume suspensi bakteri uji yang diinokulasikan dalam media, konsentrasi suspensi bakteri uji setara dengan kepadatan larutan standar Mc. Farland 0.5(1x108CFU/mL), volume minyak atsiri sereh 22

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 wangi Jawa yang diinokulasikan dalam sumuran (50L), formula sediaan salep basis larut air, kecepatan mixer dan lama pencampuran pembuatan salep. d. Variabel pengacu tak terkendali Karakteristik tanaman sereh wangi Jawa yang digunakan produsen sebagai sumber minyak atsiri sereh wangi Jawa serta metode destilasi yang digunakan karena tidak diketahui secara pasti oleh konsumen. 2. Definisi operasional a. Minyak sereh wangi Jawa merupakan minyak atsiri dari tanaman sereh wangi sereh wangi Jawa yang diperoleh dari CV Indaroma dalam bentuk cair, berwarna kuning dan bau yang khas dan disertai dengan Certificate of Analysis. b. Salep minyak sereh wangi Jawa merupakan sediaan topikal semipadat basis larut air yang dibuat dengan zat aktif berupa minyak atsiri sereh wangi Jawa sesuai formula yang ditentukan dan dibuat sesuai prosedur pembuatan salep pada penelitian ini. c. Daya antibakteri sediaan salep minyak sereh wangi Jawa adalah kemampuan sediaan minyak sereh wangi Jawa untuk menghambat atau membunuh bakteri uji Staphylococcus epidermidis dimana ditunjukan oleh zona hambat yang dihasilkan yang mana dibandingkan dengan kontrol negatif.

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 C. Alat dan Bahan Penelitian 1. Alat penelitian Cawan petri (Pyrex) tabung reaksi (Pyrex), gelas ukur (Pyrex), beaker glass (Pyrex), bunsen (Pyrex), neraca analitik (Natagata), autoklaf (Model KT-40, ALP Co, Ltd, Hamurashi Tokyo, Jepang), Laminar Air Flow (ESCO Class II type A2), inkubator (merek Memmert, type BE 400, GmbH+CoKG-D91126, Swahaban FRG, Germany), piknometer, pipet ukur, almari es (Sharp), kapas, ose, yellow tip, mikropipet, korek, pipet, larutan Mc Farland 0.5, alat pembuat sumuran, rak tabung reaksi, magnetik stirrer, kertas label, gunting, aluminium foil, plastik web, tisu gulung, dan kertas pembungkus, mortir, stamper, labu ukur, alat-alat glass, alat uji sediaan salep, mixer (Philip). 2. Bahan dan media penelitian Minyak atsiri sereh wangi Jawa (CV Indaroma), biakan murni Stapylococcus epidermidis ATCC 12228 (Balai Kesehatan Kota Yogyakarta), media Mueller Hinton Agar (MERCK) dan Mueller Hinton Broth (HERCK), aqaudes, ethanol 70%, kapsul antibiotik Klindamisin, larutan standar Mc. Farlland 0.5, PEG 400 (BRATACHEM), PEG 4000 (BRATACHEM). D. Skema Kerja 1. Identifikasi dan verifikasi minyak atsiri sereh wangi Jawa Bahan yang diidentifikasi pada penelitian ini adalah minyak atsiri sereh wangi Jawa yang diperoleh dari CV Indaroma Yogyakarta dan telah diuji identitasnya. Verifikasi minyak sereh wangi Jawa meliputi:

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 a. Pengamatan organoleptis, pengamatan organoleptis berupa pengamatan bentuk, warna, dan bau minyak atsiri sereh wangi Jawa. b. Penetapan bobot jenis (BJ), Bobot jenis minyak atsiri sereh wangi Jawa diukur dengan menggunakan piknometer yang telah dikalibrasi. Kalibrasi dilakukan dengan menetapkan bobot piknometer kosong dan bobot air pada suhu 25oC. Piknometer yang telah dikalibrasi diisi dengan minyak atsiri sereh wangi Jawa dan dikondisikan dalam suhu 25oC, kemudian piknometer ditimbang. Bobot piknometer yang telah diisi minyak atsiri sereh wangi Jawa, kemudian dikurangi dengan bobot piknometer kosong. Bobot jenis minyak atsiri sereh wangi Jawa merupakan perbandingan antara bobot minyak atsiri sereh wangi Jawa dengan bobot air dalam piknometer pada suhu 25oC (Tiran, 2014). c. Penetapan indeks bias, Verifikasi indeks bias minyak atsiri sereh wangi Jawa diukur dengan menggunakan hand refractometer. Nilai indeks bias minyak atsiri sereh wangi Jawa ditunjukkan oleh garis batas yang memisahkan sisi gelap dan sisi terang. Minyak atsiri sereh wangi Jawa diteteskan di atas prisma utama, kemudian prisma ditutup dan ujung refraktometer diarahkan ke sumber cahaya yang terang (Tiran, 2014). 2. Uji aktivitas antibakteri minyak atsiri sereh wangi Jawa terhadap Staphylococcus epidermidis dengan metode difusi sumuran a. Penentuan konsentrasi minyak atsiri sereh wangi Jawa. Minyak atsiri sereh wangi Jawa dibuat dengan beberapa seri konsentrasi, yaitu 5; 7,5; 10; 12,5;

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 15; 17,5; dan 20%(v/v). Kisaran konsentrasi tersebut dibuat berdasarkan penelitian Wijayanti, B, A., 2013 yang menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis menujukkan nilai KBM sebesar 15%. Pembuatan seri konsentrasi menggunakan pelarut PEG 400. b. Pembuatan suspensi bakteri uji. Sebanyak satu ose koloni bakteri uji Staphylococcus epidermidis diambil dari stok bakteri dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang telah berisi media MHB steril, kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC di dalam inkubator, selanjutnya suspensi bakteri uji Staphylococcus epidermidis dilihat kekeruhannya dan disesuaikan dengan standar Mac Farland 0,5 (1,5 x 108 CFU/mL). Mac Farland 0,5 dipilih karena menurut hasil orientasi kekeruhannya sudah dapat menunjukkan pertumbuhan dan zona hambat yang jelas. c. Uji aktivitas antibakteri minyak atsiri sereh wangi Jawa terhadap bakteri uji. Sebanyak 15 mL media MHA diisi ke dalam cawan petri steril dan dibiarkan memadat (base layer), kemudian sebanyak 25 mL media MHA yang telah diinokulasikan suspensi bakteri uji Staphylococcus epidermidis dituangkan di atas lapisan pertama, sehingga menjadi lapisan kedua dan dibiarkan memadat, selanjutnya media lapisan atas dibuat sembilan sumuran dengan diameter sumuran 0,6 cm. Sebanyak sembilan sumuran masing-masing diisi dengan 50 µL minyak atsiri sereh wangi Jawa dengan konsentrasi berbeda (5; 7,5; 10; 12,5; 15; 17,5; dan 20 %(v/v)) dan sumuran yang tersisa diisi dengan 50 µL PEG 400 sebagai kontrol pelarut

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 dan larutan antibiotik klindamisin 0,2 %. Cawan petri dibungkus dengan menggunakan plastik wrap, kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC di dalam inkubator. Selanjutnya diamati dan diukur diameter zona hambat yang dihasilkan. Konsentrasi dengan zona hambat terbesar kemudian diformulasikan dalam bentuk sediaan salep dan dilanjutkan dengan pengujian aktivitas antibakteri salep minyak atsiri sereh wangi Jawa tersebut. 3. Formulasi sediaan salep minyak atsiri sereh wangi Jawa (Cymbopogon winterianus) Formula salep adalah sebagai berikut : Tabel 1. Formula salep minyak atsiri sereh wangi Jawa (Cymbopogon winterianus) dengan basis larut air. Bahan Basis Formula 1 Formula 1 Basis Formula 2 Formula 2 PEG 400 (g) 60 53 70 62 PEG 4000 (g) 40 35 30 26 - 12 - 12 Minyak sereh wangi Jawa (g) Formula salep yang digunakan mengacu pada jurnal penelitian yang ditulis oleh Faradiba, (2011) serta Naibaho, O.H., Yamlean Paulina V. Y., Wiyono Weny, (2013) Cara pembuatan salep minyak sereh wangi Jawa basis larut air dilakukan secara aseptis dalam LAF :

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 a. Bahan-bahan ditimbang, lalu dimasukkan ke cawan porselen kemudian disterilisasi dengan oven pada suhu 180°C selama 1 jam. b. Basis yang telah meleleh, diaduk homogen dengan mixer dengan kecepatan 500rpm dalam mortir hangat sampai dingin selama 10 menit. c. Zat aktif minyak atsiri sereh wangi Jawa dimasukkan ke dalam campuran basis dan diaduk sampai homogen. d. Salep dimasukkan dalam pot salep (Paramita, 2005). 4. Evaluasi sediaan Uji sifat fisik yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: a. Uji pH. Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan pH indikator stick. Uji pH diukur dengan cara mencelupkan stik pH pada sampel dan perubahan warna yang terjadi dicocokan pada indikator warna pH yang ada diwadah. b. Uji Viskositas. Pengukuran viskositas menggunakan alat viskotester. Viskositas diukur dengan cara salep dimasukkan ke wadah dan dipasangkan pada portable viskotester. Viskotester salep diketahui dengan mengamati gerakan jarum penunjuk viskositas dan dilakukan pembacaan pada skala dPas dari salep yang diuji (Martin, 1983). c. Uji daya sebar. Salep ditimbang seberat 1 gram dan diletakkan ditengah kaca bulat berskala kemudian diletakkan kaca bulat yang lain sebagai penutup ditambahkan pemberat dengan berat total 125 gram kemudian didiamkan selama 1 menit dan dicatat diameter penyebarannya.

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 5. Uji aktivitas antibakteri salep minyak sereh wangi Jawa terhadap Staphylococcus epidermidis dengan metode difusi sumuran a. Persiapan alat dan bahan uji. Alat-alat gelas yang digunakan dibungkus dengan menggunakan kertas payung kemudian disterilisasi dengan menggunakan autoklaf pada suhu 121oC selama 20 menit. Setelah selesai kemudian alat-alat yang telah disterilisasi disimpan dalam oven. b. Pembuatan medium untuk peremajaan bakteri uji. Medium yang digunakan untuk peremajaan isolat Staphylococcus epidermidis adalah medium Mueller Hinton Agar (MHA) dan Mueller Hinton Broth (MHB).Tujuan peremajaan adalah untuk memindahkan bakteri ke media baru dengan nutris lebih banyak agar bakteri tetap dapat bertahan hidup. Medium dilarutkan dalam aquades sesuai perbandingan yang ada, kemudian dipanaskan di atas hot plate dan diaduk dengan stearer hingga larut sempurna (bening). Larutan media kemudian di sterilisasi dalam autokaf pada suhu 121oC dan tekanan 1 atm selama 15 menit. c. Pembuatan media untuk pengujian aktivitas antibakteri. medium yang digunakan untuk pelaksanaan uji antibakteri adalah medium MHA (Muller Hinton Agar). Sebanyak 3,4 gram MHA Oxoid dilarutkan dalam 100 mL aquades steril, kemudian dipanaskan di atas hot plate. Larutan medium kemudian disterilisasi dalam autoklaf pada suhu 121 oC dan tekanan 2 atm selama 30 menit. Medium yang telah steril didinginkan selanjutnya dituang dalam cawan petri steril yang berdiameter 14 cm sebanyak 25 mL untuk layer atas dan 30 mL untuk layer bawah. Dalam menuangkan media kedalam petri

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 diawali dengan layer bawah dahulu dan ditunggu sampai memadat baru dituangkan layer atasnya dan kembali ditunggu sampai memadat dan selanjutnya baru dilakukan pembuatan sumuran. d. Pembuatan suspensi bakteri uji. Jumlah bakteri yang akan diuji dihitung berdasarkan perhitungan kekeruhan yang disetarakan dengan Mc Farland 0,5 dengan jumlah bekteri 1,5 x 108 CFU/mL. Sebanyak 1 ose kultur bakteri uji dalam MHB divortex sampai kekeruhanya sama dengan larutan Mc Farland 0.5 sehingga diperoleh jumlah bakteri uji sebesar 150 juta/mL. e. Pembuatan kontrol media. Media MHA steril dituang ke dalam cawan petri dan dibiarkan memadat, kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC di dalam inkubator, selanjutnya diamati dan dibandingkan dengan perlakuan. f. Pembuatan kontrol pertumbuhan bakteri uji. Media MHA steril diinokulasikan suspensi bakteri uji Staphylococcus epidermidis dengan kepadatan dan jumlah yang sama pada perlakuan, kemudian dituang ke dalam cawan petri steril dan digoyang agar pertumbuhan bakteri uji merata. Cawan petri yang telah berisi suspensi bakteri uji didiamkan hingga memadat, kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC di dalam inkubator, selanjutnya pertumbuhan bakteri uji diamati dengan melihat kekeruhan media dan dibandingkan dengan perlakuan. g. Pembuatan kontrol positif klindamisin 0,2%. 20 kapsul Klindamisin masingmasing ditimbang untuk mendapatkan bobot rata-rata tiap kapsul. Serbuk

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 Klindamisin dilarutkan kedalam aquadest sesuai perhitungan agar didapatkan larutan dengan konsentrasi 0,2% kemudian diaduk hingga serbuk larut. h. Pembuatan kontrol positif salep klindamisin 1%. Bahan-bahan ditimbang, lalu dimasukkan ke cawan porselen kemudian disterilisasi dengan oven pada suhu 180°C selama 1 jam (kecuali serbuk klindamisin). Basis yang telah meleleh, diaduk homogen dalam mortir hangat sampai dingin. Zat aktif klindamisin sebanyak 1% dilarutkan kedalam PEG 400 kemudian dicampurkan dengan PEG 4000 diaduk kembali sampai homogen. i. Uji Aktivitas Antibakteri. Pengujian aktivitas antibakteri minyak atsiri sereh wangi Jawa terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis dilakukan dengan metode sumuran. Lubang sumuran dibuat pada media dengan diameter 0,6 cm pada layer atas media. Setiap sumuran dimasukkan sediaan salep minyak atsiri sereh wangi Jawa sesuai variasi konsentrasi 5, 7.5, 10, 12.5, 15, 17.5 dan 20% v/v, kontrol positif (Klindamisin 0.2%) dan kontrol negatif PEG 400 sebanyak 0.05 mL. Setelah itu, diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 - 48 jam. Penghambatan pertumbuhan bakteri uji diukur dengan mengukur zona bening disekitar sumuran dengan menggunakan penggaris dalam satuan mm. Dalam uji ini digunakan 2 kontrol, yaitu kontrol negatif dan kontrol positif. Kontrol negatif bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya pada zona hambat yang muncul dari pelarut PEG 400 tanpa minyak atsiri sereh wangi Jawa. Kontrol positif adalah antibiotik Klindamisin 0,2% dengan tujuan untuk membandingkan pola hambatan pertumbuhan bakteri uji serta sebagai

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 pembanding kemampuan aktivitas minyak atsiri sereh wangai Jawa dalam menghambat bakteri uji dengan produk pasaran yang ada. j. Uji aktivitas antibakteri salep minyak sereh wangi Jawa terhadap bakteri uji. Sebanyak 15 mL media MHA diisi ke dalam cawan petri steril dan dibiarkan memadat (lapis pertama), kemudian sebanyak 25 mL media MHA yang telah diinokulasikan suspensi bakteri uji Staphylococcus epidermidis dituangkan di atas lapisan pertama, sehingga menjadi lapisan kedua dan dibiarkan memadat, selanjutnya dibuat tujuh sumuran dengan diameter sumuran 0,8 cm. Sebanyak dua sumuran masing-masing diisi dengan 0,05 mL salep minyak sereh wangi Jawa (F I dan F II) dengan konsentrasi masingmasing 12%(b/b)), satu sumuran untuk minyak atsiri sereh wangi Jawa 15% v/v dengan pelarut PEG 400 dan sumuran yang tersisa masing-masing diisi dengan 0,05 mL basis salep (FI dan FII) sebagai kontrol basis dan salep klindamisin 1% sebagai kontrol positif. Cawan petri dibungkus dengan menggunakan plastik wrap, kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC di dalam inkubator, selanjutnya diamati dan diukur diameter zona hambat yang dihasilkan. 6. Uji sterilitas sediaan salep Media MHA steril sebanyak 25mL dituang ke dalam cawan petri dan dibiarkan memadat, kemudian sediaan salep minyak atsiri sereh wangi Jawa digoreskan diatas permukaan media secara aseptis dengan mengunakan ose. Kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC di dalam inkubator, selanjutnya diamati apakah terlihat ada pertumbuhan bakteri atau tidak.

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 E. Analisis Hasil Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data aktivitas antibakteri minyak atsiri sereh wangi Jawa dan salep minyak atsiri sereh wangi Jawa dianalisis menggunakan software R 2.14.1.1. Analisis statistik digunakan untuk melihat signifikansi perbedaan dari data yang diperoleh. Uji normalitas data dilakukan dengan analisis statistik Saphiro-Wilk kemudian dilanjutkan menggunakan uji Levene test untuk melihat homogenitas data. Pada distribusi data normal dilakukan analisis statistik parametrik ANAVA satu arah dan dilanjutkan uji Tukey untuk melihat keberbedaannya, sedangkan pada distribusi data tidak normal digunakan analisis statistik non parametrik (Wilcoxon atau KruskalWallis). Analisis data sifat fisik minyak dan sifat fisik salep dilakukan dengan cara membandingkannya terhadap standar yang telah ditetapkan.

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Identifikasi dan Verifikasi Minyak Sereh Wangi Jawa Identifikasi bahan dalam penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menjamin kebenaran serta kesesuaian bahan yang digunakan dengan tujuan dari penelitian, sehingga dapat menghindari adanya resiko terjadinya bias pada hasil penelitian yang didapatkan. Pada penelitian ini digunakan minyak atsiri yang berasal dari tanaman sereh wangi Jawa yang diperoleh dari CV Indaroma Yogyakarta dan telah diuji identitasnya dengan disertakannya Certificate of Analysis (CoA) yang terlampir (Lampiran 1). Dalam penelitian ini dipilih minyak sereh wangi Jawa sebagai bahan aktif karena berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa minyak sereh wangi Jawa diketahui memiliki aktifitas antibakteri dan mempunyai nilai KBM sebesar 15% (Wijayanti, 2013). Senyawa aktif pada minyak sereh yang berfungsi sebagai antibakteri pada penelitian tersebut adalah sitronelal dan geraniol (Nakahara et al, 2003). Pada penelitian ini juga dilakukan verifikasi minyak sereh Jawa, tujuannya adalah memastikan keaslian minyak sereh wangi Jawa yang digunakan dalam penelitian ini. Verifikasi ini perlu dilakukan karena minyak atsiri yang berasal dari sumber dan jenis tanaman yang berbeda memiliki indeks bias dan bobot jenis yang berbeda sehingga perlu dilakukannya penegasan sebelum minyak 34

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 tersebut digunakan. Verifikasi yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi pengamatan organoleptis, uji indeks bias dan uji bobot jenis sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh SNI. Hasil verifikasi minyak sereh wangi Jawa yang diperoleh adalah sebagai berikut (Lampiran 3). Gambar 4. Minyak sereh wangi Jawa yang diperoleh dari CV Indaroma Yogyakarta Tabel II. Hasil verifiksi minyak sereh wangi Jawa yang diperoleh dari CV Indaroma Yogyakarta Uji Standar Nasional Certificate of Indonesia (SNI) Analysis Verifikasi Cair Cair SNI 06-3953-1995 Bentuk Organoleptis Warna Bau Cair Kuning pucatkuning kecoklatan Kuning jernih Kuning jernih Khas Khas sereh wangi Khas aromatis Bobot jenis 0,880 – 0,922 0,882 – 0,888 0,885 Indeks bias 1,466 – 1,475 1,475 – 1,488 1,4728 aromatis Berdasarkan hasil verifikasi diketahui bahwa minyak sereh wangi Jawa yang digunakan memenuhi persyaratan, yang mana berdasarkan hasil pengamatan minyak sereh wangi Jawa sesuai dengan karakteristik dan standar organoleptis,

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 bobot jenis dan indeks bias yang telah ditetapkan oleh Badan Standarisasi Nasional (1995). Dengan demikian dapat dikatakan minyak sereh wangi Jawa yang diperoleh dari CV Indaroma merupakan minyak sereh wangi dengan kualitas yang baik. B. Uji Aktivitas Antibakteri Minyak Sereh Wangi Jawa terhadap Staphylococcus epidermidis dengan Metode Difusi Sumuran Uji aktivitas antibakteri minyak sereh wangi Jawa pada penelitian ini merupakan uji pendahuluan yang dilakukan dengan tujuan untuk memastikan adanya daya antibakteri minyak sereh wangi Jawa dan melihat seberapa besar daya antibakteri yang ditimbulkan dari minyak sereh wangi Jawa terhadap bakteri uji yang selanjutnya dapat dipertimbangkan untuk digunakan dalam formulasi sediaan salep minyak sereh wangi Jawa. Pada penelitian ini digunakan sebagai bakteri uji adalah Staphylococcus epidermidis ATCC 12228 yang diperoleh dari Balai Laboratorium Kesehatan Yogyakarta dan telah diuji kemurniannya dengan surat keterangan kultur Staphylococcus epidermidis terlampir (Lampiran 2). Staphylococcus epidermidis dipilih sebagai bakteri uji karena menurut Jawetz, Melnick, Adelberg (1996) bakteri ini merupakan salah satu flora normal yang banyak ditemukan dikulit dan merupakan penyebab infeksi pada kulit. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dalam Microbiological Safety Cabinet (MSC), tujuannya untuk meningkatkan kondisi lingkungan yang aseptis sehingga dapat meminimalisir terjadinya kontaminasi selama penelitian. Dalam penelitian

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 ini dipilih metode difusi sumuran untuk melihat aktivitas antibakteri minyak sereh wangi Jawa yang digunakan. Metode difusi sumuran dipilih karena dengan alasan kesesuaian dari bentuk dan sifat sampel yang digunakan. Minyak serai wangi Jawa bersifat lipofil, dimana jika digunakan metode paper disk tidak memungkinkan karena paper disk tesusun dari selulosa yang mempunyai sifat hidrofil sehingga jika digunakan sampel dengan sifat lipofil akan terjadi inkompatibilitas dan sampel minyak yang digunakan tidak dapat terdifusi dalam media secara maksimal. Sifat bahan uji minyak sereh wangi Jawa memiliki tingkat kepolaran yang cenderung non polar, sedangkan media yang digunakan yaitu MHA mempunyai sifat lebih polar karena komposisi utamanya adalah air. Oleh sebab itu pengenceran variasi minyak sereh wangi Jawa dalam penelitian ini digunakan pelarut PEG 400 yang mana merupakan suatu pelarut dengan sifat cenderung lebih polar. Minyak sereh wangi Jawa akan terjerap dan terdispersi homogen dalam pelarut PEG 400, sehingga dengan tingkat kepolaran yang hampir sama (polar) antara pelarut dan media diharapkan dapat melarutkan minyak sereh wangi Jawa dan dapat meningkatkan kemampuan difusi minyak atsiri ke permukaan media MHA tanpa mempengaruhi aktivitas antibakteri minyak sereh wangi Jawa. Selain itu, pemilihan PEG 400 sebagai pelarut juga karena PEG 400 merupakan salah satu bahan cair yang digunakan dalam formulasi sediaan salep yang akan diuji dalam penelitian ini. Suatu senyawa dikatakan memiliki aktivitas antibakteri apabila memiliki zona hambat berupa area jernih di sekeliling sumuran dan lebih besar dengan

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 perbedaan bermakna dari kontrol pelarut (kontrol negatif). Kontrol negatif atau kontrol pelarut berfungsi untuk mengetahui pelarut yang digunakan memiliki aktivitas antibakteri terhadap pertumbuhan Staphylococcus epidermidis. Pelarut yang memiliki aktivitas penghambatan bakteri uji dapat membiaskan hasil penelitian karena menyebabkan positif palsu zona hambat pada variasi konsentrasi. Variasi konsentrasi minyak sereh wangi Jawa yang digunakan dalam pengujian aktivitas anibakteri adalah 5; 7,5; 10; 12,5; 15; 17,5 dan 20% (v/v). Berikut merupakan hasil pengukuran rerata diameter zona hambat terhadap bakteri uji Staphylococcus epidermidis (lampiran 4). Tabel III. Hasil pengukuran rerata diameter zona hambat minyak sereh wangi Jawa terhadap Staphylococcus epidermidis Konsentrasi % (v/v) 𝒙 ± SD Diameter Zona Hambat (mm) 5 4,33 ± 0,57 7,5 5,66 ± 1,15 10 6±1 12,5 8,33 ± 1,15 15 10 ± 0 17,5 10,33 ± 1,15 20 11 ± 0 kontrol positif (Klindamisin 0.2%) 48 ± 0 kontrol negatif (PEG 400) 0±0

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Diameter zona Hambat (mm) 39 14 12 10 8 6 4 2 0 5 7.5 10 12.5 15 minyak sereh wangi Jawa (%) 17.5 20 Gambar 5. Diagram hasil pengukuran rerata diameter zona hambat minyak sereh wangi Jawa terhadap Staphylococcus epidermidis Tingkatan keaktifan suatu antibakteri dilihat dari diameter zona hambat yang terbentuk adalah golongan inaktif (diameter zona hambat < 9 mm); cukup aktif (diameter zona hambat 9-12 mm); aktif (diameter zona hambat 13-18 mm); dan sangat aktif (diameter zona hambat >18 mm) (Junior and Zanil, 2000). Pengukuran rerata diameter zona hambat menunjukkan hasil bahwa minyak sereh wangi Jawa dengan konsentrasi 15; 17,5 dan 20% (v/v) masuk dalam golongan cukup aktif. Dalam penelitian ini minyak sereh wangi Jawa konsentrasi 15% (v/v) dipilih sebagai pertimbangan dalam formulasi sediaan salep basis larut air, karena menurut penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Wijayanti B. A, (2013) yang menyatakan nilai KBM minyak sereh wangi Jawa adalah sebesar 15%. Nilai KBM menunjukan konsentrasi minimum suatu senyawa yang dapat membunuh bakteri.

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 Aktivitas antibakteri minyak sereh wangi Jawa sebagai senyawa antibakteri karena adanya kandungan Sitronelal (monoterpen aldehida). Menurut Lertsatitthanakorn, et al., (2010) Senyawa Sitronelal mempunyai aktivitas antibakteri yaitu dengan target membran protein fungsional. Senyawa tersebut akan menyebabkan peningkatan permeabilitas membran bakteri gram positif. Aktivitas antibakteri monoterpen aldehida yang ditemukan dalam minyak sereh wangi Jawa diperkirakan disebabkan karena senyawa elektronegatif yang dapat menggangu komponen nitrogen dari protein pada membran sitoplasmik, isi sitoplasmik dan asam nukleat. Selain sitronelal, monoterpen alkohol berupa geraniol, sitronelal, monoterpen alkohol siskuiterpene juga ditemukan dalam minyak sereh wangi Jawa. Aktifitas antibakteri gugus alkohol bertindak sebagai agen pendehidrasi pada dosis rendah dan agen pendenaturai pada dosis tinggi. Alkohol dan fenol dapat menyebabkan pecahnya membran sitoplasma dan kerusakan dinding bakteri. Setelah diberi perlakuan dengan minyak sereh wangi Jawa dinding sel bakteri Gram positif akan kehilangan struktur kakunya dan komponen dinding yang rusak akan mengakibatkan kebocoran pada membran sitoplasma sehingga materi-materi intraseluler keluar dari sel dan sel akhirnya lisis (Lertsatitthanakorn, et al., 2010) C. Formulasi Sediaan Salep Minyak Sereh Wangi Jawa Pada penelitian ini minyak sereh wangi Jawa diformulasikan dalam bentuk sediaan salep dengan basis larut air. Sediaan salep dengan basis larut air

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 dipilih karena didasarkan pada sifat dari minyak sereh yaitu lipofil, sehingga diperlukan media pembawa yang mempunyai sifat yang lebih hidrofil supaya pelepasan zat aktif dapat optimal karena dengan afinitas yang rendah dapat mengobati penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Kandungan air yang cukup besar dalam sediaan salep dengan basis larut air diharapkan dapat meningkatkan difusi minyak sereh wangi Jawa. Alasan lain dipilihnya basis larut air ini adalah agar bahan aktif yang mempunyai sifat berminyak dapat sedikit tertutupi sehingga diharapkan salep minyak sereh wangi Jawa basis larut air dapat digunakan dengan lebih nyaman. Selain itu dipilihnya basis salep larut air memiliki kelebihan tidak mudah tengik, tingkat penyebaran dan penetrasinya tinggi dan mudah dibersihkan dengan air. Adanya kelebihan yang ada diharapkan dapat meningkatkan penerimaan dan kenyamanan penggunanya. Bahan-bahan yang digunakan dalam formula salep minyak sereh wangi Jawa tidak mempunyai efek antibakteri (Raymond., Paul and Marian, 2009). Pembuatan sedian salep minyak sereh wangi Jawa dilakukan secara aseptis dengan melakukan sterilisasi terhadap bahan – bahan yang akan digunakan yaitu PEG 400 dan PEG 4000 serta alat-alat yang digunakan dengan menggunakan oven pada suhu 180oC selama 1 jam. Metode sterilisasi menggunakan oven dipilih dengan alasan bahwa bahan-bahan yang digunakan yaitu PEG 400 maupun PEG 4000 menurut Raymond., Paul and Marian (2009) tahan terhadap panas dan dapat dilakukan sterilisasi dengan suhu tinggi seperti autoklaf dan oven. Pada formulasi sediaan salep minyak sereh wangi Jawa dibuat juga kontrol negatif. Tujuan dibuatnya kontrol negatif ini adalah sebagai

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 pembanding terhadap aktivitas antibakteri salep minyak sereh wangi Jawa terhadap bakteri uji Staphylococcus epidermidis dan sebagai faktor koreksi dalam pengamatan aktivitas antibakteri salep minyak sereh wangi Jawa, sehingga dapat diketahui diameter zona hambat yang berasal dari minyak sereh wangi Jawa dan bukan berasal dari basis. Kontrol positif dalam penelitian ini dibuat dengan tujuan untuk membandingkan aktivitas antibakteri salep sereh wangi Jawa yang dibuat dengan salah satu produk atau agen antibakteri yang telah beredar dipasaran selain itu juga merupakan hasil dari orientasi. Hasil orientasi menunjukkan hasil bahwa diameter zona hambat sesuai dengan yang diinginkan peneliti, yaitu tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Diameter zona hambat yang terlalu besar akan menyebabkan kemmungkinan terjadinya hasil yang overlap dan dapat membiaskan dalam pengamatan. Klindamisin dibuat dengan konsentrasi 1% yang diformulasikan kedalam dalam bentuk sediaan dan basis yang sama yang digunakan dalam penelitiaan ini. Klindamisin adalah antibiotika linkosamid semisintetik yang diturunkan dari linkomisin. Mekanisme kerja antibiotika ini serupa dengan eritromisin, dengan mengikat ribosom 50S dan menekan sintesis protein bakteri (Bonner M, Benson P, James W. 2008). Klindamisin dengan konsentrasi 1% dipilih karena merupakan konsentrasi umum yang digunakan dalam produk pasaran. Salep klindamisin diformulasikan secara mandiri dalam bentuk salep dengan formula yang sama dengan salep minyak sereh wangi Jawa karena cukup sulit ditemukan klindamisin dalam bentuk salep dipasaran. Selain itu, keuntungan dibentuknya salep klindamisin dengan formula yang sama dengan salep minyak sereh wangi Jawa adalah untuk meminimalisir terjadi bias pada

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 pengukuran diameter zona hambat akibat pengaruh formula, sehingga dapat diketahui diameter zona yang dihasilkan hanya berasal dari bahan aktif yang terkandung dalam salep klindamisin saja ataupun minya sereh wangi saja. Berikut ini adalah hasil formulasi sediaan salep sereh wangi Jawa ( Lampiran 6). Gambar 6. Salep sereh wangi Jawa dengan konsentrasi 15%(b/b) formula 1 (a); dan formula 2 (b) D. Uji Sifat Fisik Salep Minyak Sereh Wangi Jawa Pada penelitian ini dilakukan uji sifat fisik sediaan salep minyak sereh wangi Jawa. Uji sifat fisik sediaan dilakukan sebagai salah satu bagian evaluasi dari formulasi yang dilakukan pada penelitian ini. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah sediaan salep yang dihasilkan telah memiliki sifat fisik dan stabilitas yang baik. Sifat fisik dan stabilitas dapat menentukan kualitas dari suatu sediaan farmasi serta kemudahannya untuk digunakan bagi konsumen. Parameter sifat fisik yang diamati diantaranya meliputi pH, daya sebar dan viskositas yang diuji 48 jam setelah proses pembuatan. Tujuan dilakukannya uji 48 jam setelah

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 proses pembuatan adalah untuk memberi waktu bagi sediaan untuk membentuk sistemnya dengan sempurna setelah proses pembuatan, karena selama proses pembuatan menimbulkan energi dan pengadukan serta gaya geser sehingga dapat mempengaruhi viskositas dan daya sebarnya. Viskositas merupakan bentuk tahanan suatu sediaan untuk mengalir, sehingga semakin tinggi viskositas suatu sediaan, maka semakin besar pertahanannya. Daya sebar merupakan salah satu karakteristik dalam sediaan topikal. Semakin besar nilai daya sebar, maka artinya suatu sediaan dapat lebih mudah tersebar merata pada kulit. Daya sebar merupakan karakteristik penting dalam formulasi yang menjamin kemudahan saat sediaan diaplikasikan di kulit, dan yang paling penting mempengaruhi penerimaan konsumen. Pada sediaan semi solid atau semi cair, daya sebar cenderung berbanding terbalik dengan viskositas sediaan. Semakin tinggi nilai viskositas suatu sediaan, maka daya sebar sediaan cenderung semakin rendah, begitu pula sebaliknya. Viskositas yang diinginkan yaitu 150 - 500 dPa.s dan diameter daya sebar yang diinginkan yaitu 2,5 - 5 cm. Karakteristik viskositas dan daya sebar yang dirumuskan sesuai dengan orientasi yang telah dilakukan sebelumnya. Berikut ini merupakan hasil uji viskositas dan daya sebar salep sereh wangi Jawa. Tabel IV. Sifat fisik salep sereh wangi Jawa (X ± SD) Kelompok pH Viskositas (dPa.s) Daya Sebar (cm) Formula I salep sereh 6 311,66 ± 12,58 3,05 ± 0,06 Formula II salep sereh 6 171,66 ± 10,40 3,38 ± 0,10

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 Dari hasil tersebut didapatkan bahwa kedua formula mempunyai pH 6. Uji viskositas menunjukkan hasil bahwa formula 1 dengan komposisi bahan PEG 400 : PEG 4000 (60:40) memiliki viskositas yang lebih besar dibandingkan dengan formula 2 yang mempunyai komposisi bahan PEG 400 : PEG 4000 (70:30). Dari hasil viskositas kedua formula dapat disimpulkan bahwa semakin banyak jumlah PEG 4000 maka salep yang dihasilkan akan memiliki viskositas yang lebih tinggi. Selain itu dari hasil yang didapatkan dapat disimpulkan bahwa hasil viskositas yang diperoleh berbanding terbalik dengan daya sebar, yaitu semakin besar nilai viskositas maka daya sebar akan semakin kecil. Hasil yang didapatkan juga masuk kedalam karakteristik nilai viskositas dan daya sebar yang sebelumnya telah ditentukan yaitu untuk viskositas 150 - 500 dPa.s dan daya sebar 2,5 - 5 cm. Stabilitas sediaan salep yang diamati adalah perbandingan nilai viskositas dan daya sebar setelah satu bulan penyimpanan serta nilai pergeseran viskositas. Data perbandingan nilai viskositas dan daya sebar dari hasil pengamatan selanjutnya dianalisis menggunakan ANAVA program R2.14.1, sedangkan untuk nilai pergeseran viskositas dihitung dengan menggunakan rumus = viskositas jam ke 48 – viskositas minggu ke 4 : viskositas jam ke 48 x 100%. Berikut hasil perbandingan nilai viskositas dan daya sebar setelah penyimpanan 1 bulan yang ditunjukkan dengan nilai p-value dan nilai pergeseran yang ditunjukkan dalam satuan %.

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 Tabel V. Hasil uji statistik stabilitas fisik dalam 30 hari penyimpanan dan hasil uji pergeseran viskositas salep minyak sereh wangi Jawa. Formula Nilai pr(>F) daya sebar Nilai pr(>F) Viskositas Pergeseran viskositas (%) Salep minyak sereh wangi Jawa formula I 0,668 0,949 3,74% ± 0,77 Salep minyak sereh wangi Jawa formula II 0,67 0,958 6,80% ± 1, 80 Nilai p-value yang didapatkan dari analisis ANAVA menujukkan signifikansi data viskositas dan daya sebar setelah penyimpanan satu bulan. Jika nilai p-value >0.05 dikatakan data yang dihasilkan tidak signifikan atau data relative sama atau stabil, sedangkan bila nilai p-value <0.05 maka dikatakan data yang dihasilkan mempunyai signifikansi atau adanya perbedaan dari masingmasing kelompok atau terjadi perubahan nilai dengan kata lain data tidak stabil. Dari hasil yang diperoleh pada table V dimana nilai p-value dari viskositas dan daya sebar masing-masing menunjukkan nilai >0,05 itu berarti tidak adanya perbedaan yang signifikan dari data yang dihasilkan dari tiap-tiap minggu selama satu bulan, sehingga dapat disimpulkan sediaan salep sereh wangi Jawa yang dihasilkan stabil dilihat dari sisi viskositas dan daya sebar. Dari hasil persen pergeseran viskositas formula I dan Formula II dapat dikatakan stabil karena menunjukan nilai pergeseran viskositas sesuai dengan yang diinginkan dan yang telah ditetapkan oleh peneliti. Standar pergeseran viskositas (%) yang ditetapkan sebelumnya oleh peneliti yaitu tidak lebih dari 10% setelah penyimpanan 1 bulan.

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 E. Uji Sterilitas Salep Minyak Sereh Wangi Jawa Uji sterilitas dilakukan bertujuan untuk memastikan apakah langkah yang dilakukan dalam pembuatan sediaan salep sereh wangi Jawa dan sediaan yang dihasilkan sudah benar-benar aseptis atau belum. Uji sterilitas sediaan salep sereh wangi Jawa ini dilakukan dengan cara menggoreskan sediaan salep sereh wangi Jawa diatas media pertumbuhan bakteri MHA mengunakan jarum ose. Sediaan dikatakan steril bila setelah waktu inkubasi 2 x 24 jam media atau hasil goresan sediaan pada media MHA tidak ada pertumbuhan bakteri, begitu juga sebaliknya media dikatan tidak steril bila hasil goresan sediaan salep sereh wangi Jawa didapatkan pertumbuhan bakteri setelah waktu inkubasi. Mikroorganisme yang biasa mengkontaminasi sediaan salep kususnya sediaan salep dengan basis PEG adalah semua jenis bakteri, namun kontaminasi dalam bentuk jamur tidak memungkinkan karena sifat dari PEG sendiri yaitu merupakan senyawa yang mempunyai sifat tidak dapat ditumbuhi jamur (Raymond, Paul and Marian, 2009). Hasil yang didapatkan dari uji sterilitas ini menunjukkan bahwa pada sediaan salep sereh wangi Jawa tidak ditemukan adanya pertumbuhan bakteri. Sehingga dapat disimpulkan salep sereh wangi Jawa yang dibuat dan bahan– bahan yang digunakan steril karena telah melalui proses aseptis.

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 A B Gambar 7. Uji sterilitas formula I (A); Uji sterilitas formula II (B) F. Uji Daya Antibakteri Salep Sereh Wangi Jawa terhadap Staphylococcus epidermidis dengan Metode Difusi Sumuran Uji daya antibakteri salep sereh wangi Jawa bertujuan untuk mengetahui apakah minyak sereh wangi Jawa yang digunakan sebagai zat aktif dalam sediaan salep basis larut air dengan perbandingan viskositas dan daya sebar dari dua formula dengan bahan PEG 400 dan PEG 4000 mempunyai perbedaan pelepasan zat aktif (diameter zona hambat) atau tidak. Metode yang digunakan dalam uji daya antibakteri ini adalah difusi sumuran. Tujuan digunakan metode difusi sumuran dalam penelitian ini didasarkan pada sifat fisik dari sediaan salep, yang mana merupakan suatu sediaan dengan bentuk semipadat sehingga lebih cocok dan sesuai. Metode paper disk terbatas hanya untuk menguji sampel cair yang akan terdifusi dipermukaan media saja berbeda dengan metode difusi sumuran dimana dengan metode ini sesuai untuk sampel dengan bentuk semipadat yang akan terdifusi kedalam media dengan lebih merata dan tidak hanya dipermukaan media saja.

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 Dalam penelitian ini digunakan beberapa kontrol, diantaranya yaitu kontrol sterilitas media, kontrol pertumbuhan bakteri, kontrol minyak sereh wangi Jawa konsentrasi 15%, kontrol basis (kontrol negatif) dan juga kontrol positif (klindamisin 1%). Kontrol sterilitas media digunakan untuk melihat dan menjamin kesterilan media yang digunakan serta cara kerja yang telah dilakukan. Kontrol pertumbuhan digunakan untuk melihat pertumbuhan bakteri pada petri. Kontrol minyak sereh wangi Jawa digunakan sebagai pembanding dengan minyak sereh wangi Jawa yang telah diformulasikan dalam sediaan salep basis larut air, sehingga dapat melihat pengaruh pelepasan minyak sereh wangi Jawa dengan melihat hasil diameter zona hambatnya. Kontrol basis digunakan untuk melihat apakah basis yang digunakan memiliki daya antibakteri terhadap bakteri Syaphylococcus epidermidis atau tidak. Kontrol positif yang digunakan dalam penelitian ini adalah klindamisin 1% yang mana telah diketahui mempunyai daya antibakteri. Hasil pengukuran diameter zona hambat terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis ditunjukkan pada tabel VI. Tabel VI. Diameter zona hambat salep sereh wangi Jawa terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis Kelompok X ± SD Diameter Zona hambat (mm) Salep sereh wangi Jawa 15% formula 1 (b/b) 10,25 ± 0,25 Salep sereh wangi Jawa 15% formula 2 (b/b) 11,16 ± 0,80 Basis salep formula 1 0±0 Basis salep formula 2 0±0 Kontrol positif formula 1 30,58 ± 1,28 Kontrol positif formula 2 Minyak sereh wangi Jawa 15% (v/v) 30 ± 1,75 10,41 ± 0,38

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 diameter zona hambat (mm) 35 30 25 20 15 10 5 0 formula1 formula2 kontrol kontrol kontrol kontrol (b/b) (b/b) negatif F1 negatif F2 positif F1 positif F2 (b/b) (b/b) (b/b) (b/b) Sampel minyak (v/v) Gambar 8. Diagram hasil pengukuran rerata diameter zona hambat salep minyak sereh wangi Jawa terhadap Staphylococcus epidermidis Keterangan : a. Kontrol positif F1; a b. Kontrol basis F1; b c. Formula 2; d. Kontrol positif F2; f e. Kontrol basis F2; g f. c Formula 1; g. Minyak sereh wangi Jawa 15% v/v. e d Gambar 9. Zona hambat salep sereh wangi Jawa yang terbentuk terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis.

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 Hasil data yang diperoleh dari penelitian ini kemudian dianalisis mengunakan program R2.14.1 yaitu dengan uji Shapiro-wilk, dan dilanjutkan dengan uji ANAVA. Tujuan dilakukan uji ANAVA adalah untuk melihat signifikansi data yang dihasilkan. Data dikatakan signifikan atau adanya perbedaan dari tiap-tiap perlakuan bila nilai pr(>F) < 0.05 (*) begitu juga sebaliknya bilai nilai pr(F>) >0.05 maka artinya data yang dihasilkan tidak signifikan atau tidak ada perbedaan. Hasil yang diperoleh dari uji ANAVA adalah nilai pr(F>) sebesar 4.68.e-16 yang artinya adanya signifikansi dari tiap-tiap formula dan selanjutnya dilanjutkan ke Tukey test tujuannya untuk melihat perbedaan diameter zona hambat yang dihasilkan dari tiap-tiap formula. Dari Tukey test dihasilkan nilai p-value yang mana bila nilai pr(>F) < 0.05 maka dapat dikatan dari dua kelompok data yang dihasilkaan memiliki perbedaan yang signifikan, dan bila nilai p-value >0.05 maka dikatakan dari dua kelompok data tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Berikut hasil Tukey test diameter zona hambat yang dihasilkan. Tabel VII. Hasil uji statistik Sampel p-value Formula 1 – Kontrol negatif F1 0.0* Formula 1 - Minyak sereh wangi Jawa 15% 0.999 Formula 1 - Kontrol positif F1 0.0* Formula 2 - Kontrol negatif F2 0.0* Formula 2 - Minyak sereh wangi Jawa 15% 0.938 Formula 2 - Kontrol positif F2 0.0* Formula 1 – Formula 2 0.858

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 Hasil perhitungan statistik menunjukkan salep formula minyak sereh wangi Jawa memiliki daya anti bakteri terhadap bakteri uji Staphylococcus epidermidis. Salep sereh wangi Jawa menunjukkan adanya zona hambat yang secara statistik tidak berbeda dengan minyak sereh wangi Jawa dengan pelarut PEG 400 dan menunjukkan hasil berbeda dengan kontrol negatif yang tidak menunjukkan munculnya zona hambat. Salep sereh wangi Jawa formula 1 dan formula 2 tidak menunjukkan perbedaan diameter zona hambat yang bermakna, sehingga dapat dikatakan bahwa viskositas dan daya sebar tidak mempunyai pengaruh yang bermakna terhadap pelepasan zat aktif salep minyak sereh wangi Jawa basis larut air. Dari hasil yang diperoleh dapat dikatakan bahwa salep sereh wangi Jawa berpotensi digunakan sebagai zat aktif dalam sediaan salep basis larut air sebagai pengobatan infeksi kulit dan masuk kedalam golongan cukup aktif. Hasil statistik menunjukkan bahwa tidak ada berbeda antara zona hambat sebelum dan sesudah diformulasi. Kedua formula yang digunakan dapat melepaskan zat aktif minyak sereh wangi Jawa dengan baik namun efeknya tidak sekuat klindamisin 1%.

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Salep minyak atsiri sereh wangi Jawa memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis. 2. Aktivitas antibakteri sediaan salep minyak atsiri sereh wangi Jawa basis larut air dengan variasi konsentrasi perbandingan PEG 400 dan PEG 4000 tidak mempengaruhi pelepasan zat aktif minyak sereh wangi Jawa terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. B. Saran 1. Perlu dilakukan optimasi formula untuk mendapatkan formula yang optimal. 2. Perlu dilakukan uji iritasi untuk mengetahui apakah sediaan minyak atsiri sereh wangi Jawa dengan konsentrasi 15% menimbulkan resiko iritasi pada kulit atau tidak sehingga aman untuk digunakan. 53

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 DAFTAR PUSTAKA Ansel, H.C., 1989, Sistem pemberian obat melalui kulit, salep, krim, lotion dan preparat lain. Dalam : Farida Ibrahim, Pengantar bentuk sediaan farmasi, edisi 4. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), pp. 490-4, 513, 9-21. Ariyanti, N.K., Darmayasa, B,G., Sudirga, S,K., 2012, Daya Hambat Ekstrak daun Lidah Buaya (Aloe barbadensis Miller) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Escherichia coli ATCC 25922. Skripsi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana, Kampus Bukit Jimbaran, pp. 1–4. Astriyanti, T., Lerik, M,D., Sahdan, M., 2010, Perilaku Hygiene Perorangan Pada Narapidana Penderita Penyakit Kulit dan Bukan Penderita Penyakit Kulit di Lembaga Permasyarakatan Klas II A Kupang Tahun 2010. Majalah Kesehatan Masyarakat. Vol. 05. No. 01 Badan Standarisasi Nasional 1995, Minyak Sereh Wangi, SNI 06-3953-1995 Jakarta. Balchin, M.L., 2006, Aromatherapy Science : A Guide for Helthcare Professionals, Pharmaceutical Press, Great Britain, pp. 31, 164-166. Bonner, M., Benson, P., James, W.. 2008. Topikal Antibiotics. Fitzpatrick’s Dermatology in general medicine, 7th ed. New York: McGraw-Hill. Depkumham RI, 2006, Undang – Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakaan, Departemen Hukum dan HAM, Jakarta. Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1979, Farmakope Indonesia, Edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonasia, Jakarta, pp,33. Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan RI, 1995, Farmakope Indonesia. Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonasia, Jakarta, pp. 18, 855, 896, 898, 1035. Djuanda, A., 1999, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, edisi 3, Balai Penerbit FK, Universitas Indonesia, Jakarta, pp. 3-4. Edber, S.C., 1986, Antibiotik dan Infeksi, Diterjemahkan oleh Petrus A., pp. 1520, Penerbit EGC, Jakarta. Faradiba, 2011, Formulasi Salep Ekstrak Dietileter Daging Buah Pare (Momordica charantia L.) Dengan Berbagai Variasi Basis, Majalah Farmasi dan Farmakologi, Vol. 15, No. 1, pp. 42.

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 Fuda CCS, Fisher JF, Mobasherry A., 2005, Betalactam resitance S. aureus the adaptive resistance plasmid genome. Celluler and Moleculer life Sciences, pp. 215-9. Garg, A., Aggrawal, D., Garg, S., Singla, A. K., 2002, Spreading of Semisolid Formulations: An Update, Pharmaceutical Technology, September 2002, 84-105, http://www.pharmtech.com, diakses tanggal 9 Juli 2014. Gennaro, 2000, Remington the Science and Pharmacy, 20th ed, Philadelphia College of Pharmacy and Science, USA, pp. 1037, 1024. Guenther, E. 2006. The Essential Oil. Vol I. Robert W. Kringer, Article Publishing Co., Inc. Huntington, New York. Harris, R.1994. Tanaman Minyak Atsiri. Penebar Swadaya, Jakarta. Indrayatna, 2010, Penyakit kulit, tanda dan gejala, cara penularan, dampak dan upaya pencegahan. Diunduh pada tanggal 9 Oktober 2013 dari http://www.anneahira.com/pencegahan-penyakit/kulit.htm Irna S.I., dan Ernayenti, 2007, Pengenalan Geraniol Dan Sitronelol. J. Plantus. 26 Desember 2007. Jawetz, E., Melnick, J., & Adelberg, E., 1996, Medical Microbiology, Kedokteran EGC, Jakarta, pp. 20, 160, 211, 213, 215, 627-629 Junior, A., Zanil, C., 2000, Biological Screening of Brazilian Medical Plants, Bra. J. Sci., 95(3), pp. 367-373. Lertsatitthanakorn, p., Taweechaisupapong, S., Arunyanart, C., Aromdee, C., dan Khunkitti, W., 2010, Effect of Cetronrlla Oil on Time Kill Profile, Leakage and Morphological Changes of Propionilbacterium acnes. Journal of Essential Oil Research, pp. 22, 270-274. Martin, A., Swarbrick, J., Cammaata, A., 1983, Physical Pharmacy, Physical Chemical Principles in the Pharmaceutical Sciences, diterjemahkan oleh Yoshita, Universitas Indonesia, Jakarta, pp. 1101-1103. Martin, Bustamante, Chun., 1993, Physical Pharmacy: Physical Ckemical Principles in the Pharmaceutical Sciences, 4th. Ed., Lea & Febiger, Phyladelphia. pp. 325 – 332. Miftakhurohmah, R., Noveriza., dan Kardinan, A., 2008, Efektivitas Formula Minyak Sereh Wangi Terhadap Pertumbuhan Kapang Asal Buah Merah

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 dan Sambiloto. Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik Bul. Littro. Vol. XIX No. 2. pp. 138 – 144. Naibaho, O.H., Yamlean Paulina, V.Y., Wiyono Weny., 2013, Pengaruh Basis Salep Terhadap Formulasi Sediaan Salep Ekstrak Daun Kemangi ( Ocimum sanctumL.)Pada Kulit Punggung Kelinci yang Dibuat Infeksi Staphylococcus aureus, Pharmacon Jurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT, Vol. 2 No. 02 pp.27-32. Nakahara, K., Alzoreky, N.S., Yodhihashi T, Nguyen H,T., Trakoontivakorn, G., 2003, Chemical Composition and Antifungal Activity of Essential Oil from Cymbopogon nardus (Citronella grass).Japan Agric Res Quar 37 (4). pp.249 -252. Nurlaila Dwi, 2000, Pengaruh Penambahan Setil Alkohol Terhadap Sifat Fisik Salep dan Potensi Relatif Klotrimazol, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Paramita, E.R., 2005, Pengaruh Formulasi Basis Campuran PEG 4000-PEG 400 Terhadap Aktivitas Antibakteri Salep Ekstrak Etanolik Bawang Putih(Allium Sativum. L), Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pasroni., Marchaban. dan Yulianti, T. (2004). Uji Aktivitas Temu ireng (Curcuma aeruginosa Roxb.) sebagai Anti Jamur dalam Sediaan Salep ; Pengaruh Tipe Basis Beminyak dan Tipe Basis larut air. Media Farmasi Medan, dipublikasikan. Perry & Potter. 2005, Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses dan Praktek. Edisi ke 4. Jakarta. EGC. Peter, K, V., 2007, Horticulture Science Serise – 1: Aromatic Plantes, Jai Bharat Printing Press, Delhi, pp. 76-88. Pongsipulung. G. R, Yamlean. P. V, Banne. Y., 2012.Formulasi dan Pengujian Salep Ekstrak Bonggol Pisang Ambon (Musa paradisiaca var. sapientum (L.)) Terhadap Luka Terbuka Pada Kulit Tikus Putih Jantan Galur Wistar(Rattus norvegicus), Skripsi, Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado, Jurusan Farmasi POLTEKES Manado. pp . 7-12 Raymond, C, R., Paul, J, S and Marian, E, Q., 2009, Handbook of Pharmaceutical Excipients, Sixth edition, Pharmacutical Press and American Pharmacists Assotiation New York. pp. 517-521.

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 Singh, H., V.K. Gupta, M. M. Rao, R. Sannd, dan A.K. Mangal. 2011. Evaluation of Essential Oil Composition of Cymbopogon Spp. International Journal of Pharma Recent Research. Vol 3 (1), 40-43. Smolinske, 1992, Handbook of Food, Drug, and Cosmetic Excipients, CRC Press, Florida, pp. 371-372. Stiawan, H, D., 2006, Pengaruh Penambahan Campuran Basis PEG 400 dan PEG 4000 Terhadap Sifat Fisik Supositoria, Skripsi, Jurusan Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. pp. 41-47. Syamsuhidayat, S. S., dan Hutapea, J.R., 1991. Inventaris Tanaman Obat Indonesia I, Departemen Kesehatan RI, Jakarta, pp.50. Tiran, F. A., 2014. Aktivitas Antibakteri Lotion Minyak Kayu Manis Terhadap Staphylococcus epidermidis Penyebab Bau Kaki, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, pp.19-20. Tietjen, Linda., 2004. Panduan Pencegahan Infeksi Untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan Sumber Daya Terbatas. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, Jakarta. Wijayanti B. A, 2013. Uji Antibakteri Emulgel Antiacne Minyak Serai Wangi Jawa (Cymbopogon winterianus) Terhadap Staphyloccus epidermidis, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. pp. 4045.

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 LAMPIRAN

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 Lampiran 1. Certificate of Analysis (COA) Cymbopogon winterianus

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Lampiran 2. Surat keterangan Stapyhlococcus epidermidis

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 Lampiran 3. Uji karakteristik minyak sereh wangi Jawa a. Pengamatan organoleptis Uji Bentuk Bau Warna Hasil Cair Khas aromatis Kuning jernih Minyak sereh wangi Jawa b. Uji indeks bias minyak sereh wangi Jawa Rumus : ns = np + 0,0003 ( Tp – Ts) Ts = 200C dan Tp = 280C Perlakuan Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3 𝒙 ± SD np 1,4704 1,4704 1,4704 Keterangan ns 1.4728 1.4728 1.4728 1.4728±0 np = indeks bias pada pengukuran ns = indeks bias standar tp = suhu pada saat pengukuran ts = suhu standar c. Penetapan bobot jenis minyak sereh wangi Jawa Replikasi Replikasi Perlakuan I II bobot pikno (g) 23,828 23,828 bobot pikno + air (g) 33,801 33,801 bobot air (g) 9,973 9,973 Volume pikno 10, 0023 10, 0023 bobot pikno + minyak minyak sereh 32,683 32,683 wangi Jawa (g) bobot minyak sereh wangi Jawa (g) 8,855 8,855 𝝆 minyak sereh wangi Jawa 0,8852 0,8852 𝒙 ± SD = 0.88523 ± 0 Replikasi III 23,828 33,802 9,974 10, 0033 32,684 8,856 0,8853

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 Lampiran 4. Uji aktivitas antibakteri minyak sereh wangi Jawa terhadap Staphylococcus epidermidis Konsentrasi 5% 7,5% 10% 12,5% replikasi1 replikasi2 replikasi3 4 5 4 7 5 5 6 7 5 7 9 9 Konsentrasi 15% 17,5% 20% replikasi1 replikasi2 replikasi3 10 10 10 11 11 9 11 11 11 Kontrol positif 48 48 48 1 8 1 Kontrol negatif 0 0 0 2 2 8 3 7 9 9 3 4 7 6 6 4 5 1 8 2 3 7 9 4 6 5 5 Keterangan variasi konsentrasi minyak sereh wangi Jawa replikasi I (a); replikasi II (b); replikasi III (c): 1. Kontrol negatif 2. 5 %; 3. 7,5 %; 4. 10 %; 5. 12,5 %; 6. 15 %; 7. 17,5% 8. 20% 9. Kontrol positif

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 Lampiran 5. Hasil formulasi salep minyak sereh wangi Jawa Gambar 3. Salep sereh wangi Jawa dengan konsentrasi 15%(b/b) formulaI(a); formulaII(b); basis formulaI(c); basis formulaII(d); salep klindamisin 1% formulaI(e); salep klindamisin 1% formulaII(f)

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 Lampiran 6. Uji sifat fisik salep minyak sereh wangi Jawa Viskositas Salep sereh wangi Jawa Replikasi Replikasi Replikasi 15% 1 2 3 Formula I 300 325 310 311.66±12.58 Formula II 180 160 175 171.66±10.40 Salep sereh wangi Jawa Replikasi Replikasi Replikasi 15% 1 2 3 Formula I 3.1 2.975 3.075 3.05±0.06 Formula II 3.275 3.475 3.4 3.38±0.10 Salep sereh wangi Jawa Replikasi Replikasi Replikasi 15% 1 2 3 Formula I 6 6 6 6±0 Formula II 6 6 6 6±0 SD Daya sebar SD pH SD

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 Lampiran 7. Uji aktivitas antibakteri salep minyak sereh wangi Jawa terhadap Staphylococcus epidermidis. Salep Formula 1 Formula 2 replikasi 1 replikasi 2 replikasi 3 16.25 16.5 16 kontrol + Formula 1 36.25 35.5 38 16.25 17.5 17.75 kontrol + Formula 2 34.25 37.75 36 Salep replikasi 1 replikasi 2 replikasi 3 Minyak Sereh Wangi Jawa 15% (v/v) 16 16.75 16.5 kontrol – kontrol – Formula 1 Formula 2 6 6 6 6 6 6 a a b f b f g g c e c e d d Keterangan : a. Kontrol positif F1; a b. Kontrol basis F1; b f c. Formula 2; d. Kontrol positif F2; e. Kontrol basis F2; g c e f. Formula 1; g. Minyak sereh wangi d Jawa 15% v/v. Keterangan: Hasil uji aktivitas antibakteri salep minyak sereh wangi Jawa 15% terhadap Staphylococcus epidermidis

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 Lampiran 8. Uji sterilitas sediaan salep sereh wangi Jawa 15% Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3 Keterangan: Hasil uji sterilitas salep minyak sereh wangi Jawa formula 1 (kiri) dan formula 2 (kanan)

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 Lampiran 9. Uji statistik a. Uji sediaan salep sereh wangi Jawa 15% Uji normalitas Viscositas formula 1: Jam48 Minggu1 Minggu2 Minggu3 Minggu4 Uji Levene test viskositas formula 1 Uji ANAVA viskositas formula 1

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 Uji normalitas Viscositas Minyak formula 2: Jam48 Minggu1 Minggu2 Minggu3 Minggu4 Uji Levene test viskositas formula 2 Uji ANAVA viskositas formula 2

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 Uji normalitas Daya Sebar Minyak formula 1: Jam48 Minggu1 Minggu2 Minggu3 Minggu4 Uji Levene test daya sebar formula 1 Uji ANAVA daya sebar formula 1

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 Uji normalitas Daya Sebar Minyak formula 2: Jam48 Minggu1 Minggu2 Minggu3 Minggu4 Uji Levene test daya sebar formula 2 Uji ANAVA daya sebar formula 2

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 b. Uji diameter zona hambat sediaan Uji normalitas diameter zona hambat sediaan Formula1 Formula2 Minyak Kontrol positif F1 Kontrol positif F2 Uji Levene test diameter zona hambat sediaan Uji ANAVA diameter zona hambat sediaan

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 Tukey test diameter zona hambat sediaan

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 BIOGRAFI PENULIS Fransiskus Asisi Dian Kristianto. Penulis lahir pada tanggal 12 September 1992 di Sleman, Yogyakarta dan merupakan anak kedua dari pasangan suami-istri Thomas Dwi Heru Santoso dan Yohana Fransisca Parjinah. Penulis memiliki satu saudara kandung lakilaki yang bernama Filipis Cahyo Kristianto. Penulis telah menempuh pendidikan di TK Indriasana III Sleman Yogyakarta pada tahun 1996 sampai dengan 1998, SDN Tridadi Pangukan Sleman Yogyakarta pada tahun 1998 sampai dengan 2004, SMP Santo Aloysius Denggung Sleman Yogyakarta pada tahun 2004 sampai dengan 2007, SMAN 1 Sedayu Bantul Yogyakarta, pada tahun 2007 sampai dengan 2010, dan kuliah di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada tahun 2010 sampai dengan 2014. Selama menjadi mahasiswa, penulis pernah mengikuti beberapa organisasi, yaitu Panitia Pelepasan wisuda Fakultas Farmasi Unuversitas Sanata Dharma tahun 2012, Panitia Titrasi 2011 sebagai coordinator divisi keamanan, Titrasi 2012 sebagai anggota divisi keamanan, Titrasi 2013 sebagai Stering commite, dan Unit Kegiatan Fakultas voly, sepak bola squadra viola sebagai anggota. Penulis juga terlibat dalam beberapa kegiatan seperti beberapa seminar, dan sebagai panitia kegiatan penyuluhan mengenai penanganan penyakit leptospirosis dan pernah menjadi salah satu asisten dosen praktikum Botani Farmasi tahun 2013.

(92)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

SKRIPSI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK KLOROFORM LIMBAH PADAT DAUN SERAI WANGI (Cymbopogon nardus) TERHADAP BAKTERI Pseudomonas aeruginosa DAN Staphylococcus aureus.
0
6
14
OPTIMASI FORMULA SALEP ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana Linn.) BASIS PEG 400 DAN PEG 4000 DENGAN Optimasi Formula Salep Antibakteri Ekstrak Etanol Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana Linn.) Basis Peg 400 Dan Peg 4000
4
13
17
FORMULASI SALEP MINYAK ATSIRI TEMU LAWAK (Curcuma xanthorriza Roxb.) BASIS SALEP LEMAK DAN PEG 4000 SERTA AKTIVITAS ANTIFUNGINYA TERHADAP Candida albicans.
0
3
25
PENGARUH KOMBINASI PEG 400 DAN PEG 4000 SEBAGAI BASIS SALEP TERHADAP SIFAT FISIK DAN PENGARUH KOMBINASI PEG 400 DAN PEG 4000 SEBAGAI BASIS SALEP TERHADAP SIFAT FISIK DAN KECEPATAN PELEPASAN BENZOKAIN.
1
3
17
PENDAHULUAN PENGARUH KOMBINASI PEG 400 DAN PEG 4000 SEBAGAI BASIS SALEP TERHADAP SIFAT FISIK DAN KECEPATAN PELEPASAN BENZOKAIN.
2
7
24
PENGARUH KOMBINASI PEG 400 DAN PEG 4000 SEBAGAI BASIS SALEP TERHADAP SIFAT FISIK DAN KECEPATAN PENGARUH KOMBINASI PEG 400 DAN PEG 4000 SEBAGAI BASIS SALEP TERHADAP SIFAT FISIK DAN KECEPATAN PELEPASAN ASAM BENZOAT.
0
1
6
PENDAHULUAN PENGARUH KOMBINASI PEG 400 DAN PEG 4000 SEBAGAI BASIS SALEP TERHADAP SIFAT FISIK DAN KECEPATAN PELEPASAN ASAM BENZOAT.
0
1
19
DAFTAR ISI PENGARUH KOMBINASI PEG 400 DAN PEG 4000 SEBAGAI BASIS SALEP TERHADAP SIFAT FISIK DAN KECEPATAN PELEPASAN ASAM BENZOAT.
0
1
7
Laju Disolusi Suppositoria Asetosal Basis PEG 400 dan PEG 4000 - Ubaya Repository
0
0
1
Pengaruh Komposisi PEG 400 dan PEG 4000 Sebagai Basis Suppositoria Terhadap Laju Disolusi Parasetamol - Ubaya Repository
0
0
1
AKTIVITAS ANTIBAKTERI KANGEN WATER TERHADAP BAKTERI Propionibacterium acnes DAN Staphylococcus epidermidis
0
0
18
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL BATANG SEREH (Cymbopogon citratus (DC.) Stapf) TERHADAP BAKTERI Streptococcus mutans
0
0
15
UJI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOLIK DAUN ALPUKAT (Persea americana Mill) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis ATCC 12228 SECARA IN VITRO DAN BIOAUTOGRAFI - Unissula Repository
0
24
10
DAYA ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN BELUNTAS (Pluchea indica Less) DAN DAUN KEMANGI (Ocimum basilicum L) TERHADAP Staphylococcus epidermidis ATCC 12228 SKRIPSI
0
0
127
PERBANDINGAN DAYA ANTIBAKTERI KRIM TIPE MA MINYAK ATSIRI TEMU PUTIH DAN LOTION MINYAK ATSIRI TEMU PUTIH TERHADAP Staphylococcus epidermidis ATCC 12228 SKRIPSI
0
0
117
Show more