PERSEPSI PENONTON TERHADAP KESURUPAN DALAM KESENIAN JATHILAN

Gratis

0
1
97
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEPSI PENONTON TERHADAP KESURUPAN DALAM KESENIAN JATHILAN SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Oleh: Meilissa Adelia Riani NIM: 089114018 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI, JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEPSI PENONTON TERHADAP KESURUPAN DALAM KESENIAN JATHILAN SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Oleh: Meilissa Adelia Riani NIM: 089114018 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI, JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Saya persembahkan tulisan ini untuk Papi, Mami, Jeje, and Ooh. Thank you for being the best supporter, best friend, and family that I’ve ever and will always have. iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERSEPSI PENONTON TERHADAP KESURUPAN DALAM KESENIAN JATHILAN Meilissa Adelia Riani ABSTRAK Bagi orang Indonesia, peristiwa kesurupan sudah merupakan hal yang biasa terjadi. Meskipun begitu, hasil dari penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa kesurupan masih merupakan hal yang mengerikan untuk semua orang, bahkan kesurupan yang dimaksudkan sebagai media hiburan pun masih dianggap mengerikan. Faktanya di banyak tempat masih banyak orang yang mau menonton setiap ada pertunjukan Jathilan. Untuk mengetahui mengapa penonton masih mau menonton Jathilan yang disertai kesurupan, maka penting untuk mengetahui persepsi penonton terhadap kesurupan dalam pertunjukan Jathilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penonton Jathilan mempersepsi kesurupan yang ada dalam pertunjukan Jathilan, dan melihat perilaku yang muncul saat menonton pertunjukan Jathilan. Peneliti menggunakan tiga aspek yang membentuk persepsi, yaitu: aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek konatif. Peneliti menggunakan metode fenomenologi agar dapat mengetahui persepsi dan pendapat personal subjek secara mendalam. Subjek yang digunakan adalah tiga orang remaja yang gemar menonton Jathilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga subjek mempersepsi kesurupan dalam ranah kognitifnya sebagai hal yang menakutkan, namun pikiran tersebut tidak diikuti dengan perasaan yang negatif melainkan perasaan yang menyertai adalah perasaan positif, yaitu senang, kagum dan bangga. Sehingga perilaku yang akan muncul adalah subjek tetap mau menonton Jathilan. Hal tersebut dapat menjelaskan mengapa akhirnya orang tetap mau menonton Jathilan karena ternyata pikiran negatif tidak selalu diikuti perasaan negatif, namun bisa diikuti perasaan positif sehingga menimbulkan predisposisi perilaku yang positif. Kata kunci: penonton, kesurupan, persepsi vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI THE SPECTATORS’ PERCEPTION TOWARD TRANCE IN JATHILAN Meilissa Adelia Riani ABSTRACT For Indonesian people, trance is not a strange thing. But previous study said that trance is still a horrible thing for all people, even when the trance is intended for entertainment. But the fact is, in so many places, there are many people who still want to watch Jathilan show. To know why do people still want to watch Jathilan with trance it is important to know the perception of the spectators toward trance in Jathilan show. The aim of this study is to know how the spectators’ perception toward the trance in Jathilan show. The researcher used three aspects which is: cognitive, affective, and action predisposition. The researcher used phenomenology approach to know the subject’s perception and personal opinion more deeply. The subjects were three teenagers who love to watch Jathilan. The results of this study showed that the three subjects believed that trance is a scary thing, but they had positive feelings toward it so the action result was they still want to watch Jathilan. The result of this study showed that in the cognitive aspect the three subjects believed that trance was a scary thing, but that thought was not followed with negative feelings but positive feelings instead, such as happy, admiration, and proud. So the action result that will show is the subjects still want to watch Jathilan. This results explain why people still want to watch Jathilan show, it is because negative thoughts was not always followed with negative feelings, but it could be followed with positive feelings so it will rise a positive action predisposition. Keywords: spectator, trance, perception vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus karena berkat limpahan karunia dan kasih-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini tidak lepas dari bantuan banyak pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Dr. Tarsisius Priyo Widiyanto, M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 2. Dosen pembimbing akademik hingga tahun 2013 Almh. Dr. Ch. Siwi Handayani, M.Si. yang selalu setia mendukung dan menyemangati kami anak-anaknya untuk terus berjuang sampai ‘berdarah-darah’. 3. Bapak C. Wijoyo Adinugroho, S.Psi., M.Psi. selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang sabar menanti dan membimbing sampai terselesaikannya skripsi ini. 4. Bapak C. Siswa Widyatmoko, M. Si. dan Sr. Wina FCJ selaku dosen penguji yang telah memberikan saran sehingga skripsi saya menjadi dapat lebih baik. 5. Seluruh Bapak dan Ibu dosen dan staff Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang selama ini telah memberikan banyak ilmu, baik secara teori maupun pengalaman. 6. Papi di surga yang selalu melihat saya dari atas sana, Mami yang selalu mendukung saya hingga saya bisa menjadi sarjana, Jeje yang selalu sabar tanpa mengeluh menunggu saya selesai, dan Ooh yang walaupun sering tidak ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sabar tapi saya tahu Ooh sebenarnya sangat suportif. Terimakasih karena telah dan akan selalu menjadi keluarga yang hangat untuk saya. 7. Ketiga subjek saya Ch, Ans, dan Dr, terima kasih telah bersedia bercerita dan ditanya-tanyai tentang kesurupan. 8. Teman-teman angkatan 2008: Bray Tiwi, Anisa Bahar, Paulina Mercedes, Nucih, Henisa Chibi, Peppy, Puput, Rimpi, Adita, Agnes, Chelly, Aix, Gigie, Ines, Skolas, Bertha, Winas, Mace Siska, Anjun, Luci, Cik Cynthia, Ayu, Dewi, Nina, Noni, Gety, Hesti, Sari, Agung, Vincent, Budi H., Budi, Wahyu, Wawan, Prieska, Dessy, Nindy, Nita, Martha, Dian, Mitha, Fany, Irin, Intan, Icha, Nana, Pudji, Cory, Rio, Alberto, Abet, Risya, dan teman-teman yang lainnya. 9. Teman-teman KKN, warga, dan Paguyuban Turonggo Jati Manunggal, terimakasih untuk segala pengalaman yang saya dapat selama KKN. 10. Terakhir Paulus Frady Hendarto untuk kasihnya selama ini yang selalu dengan sabar mengingatkan saya agar mengerjakan skripsi. Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi siapa saja yang membacanya. Yogyakarta, Februari 2014 Penulis, Meilissa Adelia Riani x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL........................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ................................ ii HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................... iv HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH ..................... v ABSTRAK ....................................................................................................... vi ABSTRACT ....................................................................................................... vii HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH .................... viii KATA PENGANTAR ..................................................................................... ix DAFTAR ISI .................................................................................................... xi DAFTAR TABEL ........................................................................................... xiv BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................... 1 A. Latar Belakang ..................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ................................................................................ 5 C. Tujuan Penelitian ................................................................................. 5 D. Manfaat penelitian ................................................................................ 6 1. Manfaat Praktis ................................................................................ 6 2. Manfaat Teoritis ............................................................................... 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................................... 7 A. Kerangka Teori..................................................................................... 7 1. Persepsi .................................................................................... 7 a. Pengertian Persepsi............................................................... 7 xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI b. Proses Pembentukan Persepsi .............................................. 8 c. Macam Persepsi .................................................................... 9 d. Aspek Persepsi ..................................................................... 10 2. Penonton................................................................................... 11 3. Persepsi Penonton .................................................................... 12 4. Remaja...................................................................................... 12 5. Jathilan ..................................................................................... 14 6. Kesurupan ................................................................................ 16 B. Penelitian sebelumnya .......................................................................... 18 C. Pertanyaan Penelitian ........................................................................... 19 D. Dinamika Penelitian ............................................................................. 19 1. Batasan Penelitian ............................................................................ 19 2. Alur Berpikir .................................................................................... 21 BAB III. METODE PENELITIAN.................................................................. 23 A. Metode Penelitian................................................................................. 23 B. Fokus Penelitian ................................................................................... 24 C. Metode Pengambilan Sampel............................................................... 28 D. Subjek Penelitian.................................................................................. 29 E. Metode Pengambilan Data ................................................................... 30 F. Metode Analisis Data ........................................................................... 31 1. Organisasi Data .............................................................................. 32 2. Koding ............................................................................................ 32 3. Interpretasi...................................................................................... 32 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI G. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data ................................................... 33 1. Credibility ...................................................................................... 33 2. Dependability ................................................................................. 34 3. Confirmability ................................................................................. 34 BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................... 35 A. Prosedur Pengambilan Data ................................................................. 35 B. Subjek Penelitian.................................................................................. 37 1. Subjek 1 ........................................................................................... 37 2. Subjek 2 ........................................................................................... 38 3. Subjek 3 ........................................................................................... 38 C. Hasil Analisis Data Penelitian .............................................................. 38 D. Pembahasan ........................................................................................... 53 BAB V. PENUTUP .......................................................................................... 59 A. Kesimpulan .......................................................................................... 59 B. Saran ..................................................................................................... 60 1. Bagi Penonton Jathilan..................................................................... 60 2. Bagi Peneliti Selanjutnya ................................................................. 60 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 61 LAMPIRAN ..................................................................................................... 64 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 1. Aspek-aspek yang akan Diungkap Dalam Penelitian ........................ 25 Tabel 2. Pedoman Wawancara ......................................................................... 26 Tabel 3. Tabel Analisis Subjek 1 ..................................................................... 38 Tabel 4. Tabel Analisis Subjek 2 ..................................................................... 43 Tabel 5. Tabel Analisis Subjek 3 ..................................................................... 47 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bagi orang Indonesia, peristiwa kesurupan sudah merupakan hal yang biasa terjadi. Meskipun begitu, sebagian besar orang Indonesia masih menganggap kesurupan sebagai hal yang mengerikan dan menakutkan. Seperti pada penelitian oleh Muhammad Riza dan Istina Puji R (Universitas Airlangga, 2010), yang meneliti tentang perbedaan persepsi pada kesurupan sebagai dua fenomena yang berbeda, yaitu kesurupan sebagai hiburan dan kesurupan sebagai proses pengobatan, kemudian menemukan aspek apa yang mempengaruhi persepsi tersebut. Hasil dari penelitian ini menyebutkan bahwa kesurupan masih merupakan hal yang mengerikan untuk semua orang. Kesurupan yang digunakan sebagai media hiburan juga masih dianggap mengerikan oleh penontonnya. Tarian Kuda Lumping yang dimaksudkan sebagai hiburan, masih tetap tidak bisa menyingkirkan persepsi menakutkan dari mata penontonnya. Hal ini juga didukung oleh berita yang mengatakan beberapa pengunjung berlari menghindari penari Jathilan yang tiba-tiba kesurupan. Penari yang kesurupan bertingkah seperti binatang dan melakukan hal yang dianggap menakutkan bagi beberapa orang (Tribun, 2012). Faktanya di banyak tempat masih banyak orang yang mau menonton setiap ada pertunjukan Jathilan. Ketika ada pertunjukan Jathilan, 1

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 orang-orang masih tertarik untuk melihatnya. Dengan adanya pendapat bahwa kesurupan merupakan hal yang mengerikan, mengapa masih banyak orang yang tertarik untuk menonton Jathilan? Benarkah kesurupan itu menakutkan? Hal inilah yang akan peneliti teliti lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana penonton Jathilan mempersepsi kesurupan yang ada dalam pertunjukan Jathilan, dan mendeskripsikan persepsi kesurupan dari sudut pandang penontonnya. Hal ini menjadi penting dibahas karena kita akan memahami bagaimana kesurupan dipandang oleh penonton yang tetap suka menonton Jathilan meskipun ada orang yang berpendapat bahwa kesurupan adalah kejadian yang mengerikan dan menakutkan. Dengan memahami persepsi kesurupan dari sudut pandang penonton ini, kita dapat mengerti mengapa masih banyak orang yang gemar menonton Jathilan meski dikatakan kesurupan itu mengerikan dan menakutkan. “Kesurupan dipercaya oleh masyarakat sebagai suatu keadaan yang terjadi bila roh yang lain memasuki seseorang dan menguasainya sehingga orang itu menjadi lain dalam hal bicara, perilaku, dan sifatnya. Perilakunya menjadi seperti ada kepribadian lain yang ‘memasukinya’.” Risma (2007). Keadaan ini dimanfaatkan oleh para penari dalam kesenian Jathilan, mereka membiarkan dirinya kesurupan agar bisa melakukan hal-hal yang tidak biasa, seperti makan kembang, mengupas kelapa dengan gigi, makan beling, atau dipecut. Jathilan adalah tarian yang cukup terkenal di Indonesia, sebutan lainnya adalah kuda lumping atau jaran kepang. Tarian ini ditarikan oleh sekelompok pria/wanita yang menggunakan kuda yang

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 terbuat dari bambu sebagai media primer penari untuk menunjukkan arti simbolik dan termasuk satu elemen dari fenomena nyata kesurupan (Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia:1999, 37). Berdasarkan pengamatan peneliti selama Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Dukuh Kepuh, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, warga sekitar masih menggemari pertunjukan Jathilan yang diadakan oleh paguyuban setempat. Antusiasme warga terlihat dari banyaknya orang-orang yang datang pada pertunjukan Jathilan dari anak kecil, pemuda, sampai orang tua walaupun pertunjukan Jathilan rata-rata diadakan pada malam hari, penonton yang datang tetap saja banyak. Antusiasme warga dalam menonton Jathilan inilah yang memunculkan pertanyaan penelitian ini, yaitu jika memang kesurupan dalam Jathilan masih dianggap sebagai hal yang mengerikan dan menakutkan mengapa masih banyak orang yang gemar menonton Jathilan? Peneliti akan mencoba menjawab pertanyaan ini dengan mewawancarai orang yang gemar menonton Jathilan. Manfaat dari penelitian ini adalah kita dapat mengetahui pengertian kesurupan dari sudut pandang penonton, dan mendapat gambaran mengapa orang masih mau menonton pertunjukan yang menampilkan aktivitas kesurupan kemudian dapat menjadi pedoman untuk penonton agar dapat mengolah emosi dengan baik saat menonton Jathilan sehingga tidak merasakan takut. Dari fenomena pada paragraf diatas, muncul pertanyaan mengapa masih banyak yang masih suka menonton pertunjukan Jathilan padahal

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 penelitian dari Muhammad Riza dan Istina Puji R. (2010) menunjukkan bahwa penonton mempersepsi kesurupan dalam pertunjukan Kuda Lumping dan Sablang Bakungan sebagai hal yang mengerikan. Maka peneliti akan mencoba melihat bagaimana penonton Jathilan mempersepsi kesurupan dalam pertunjukan Jathilan, dan melihat reaksi/perilaku yang menyertai penonton Jathilan. Persepsi adalah proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2011). Gibson (1994) menjelaskan bahwa persepsi adalah proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh seorang individu. Dalam hal ini, persepsi mencakup penerimaan stimulus (inputs), pengorganisasian stimulus dan penerjemahan atau penafsiran stimulus yang telah diorganisasi dengan cara yang dapat mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap, sehingga orang dapat cenderung menafsirkan perilaku orang lain sesuai dengan keadaannya sendiri (Gibson, 1986). Dapat disimpulkan bahwa persepsi merupakan proses pemberian arti terhadap kejadian yang disadari, yang dipicu oleh stimulus eksternal dan internal, yang berasal dari panca inderanya dan kemudian dapat mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap seseorang. Penonton Kuda Lumping dan Sablang Bakungan dalam penelitian Muhammad Riza dan Istina Puji R (2010) mempunyai persepsi bahwa kesurupan masih merupakan hal yang mengerikan. Hasil penelitian ini memunculkan pertanyaan jika kesurupan dalam Jathilan adalah hal yang

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 mengerikan, mengapa masih banyak orang yang gemar menonton Jathilan? Reaksi seseorang terhadap sesuatu yang mengerikan adalah menghindarinya, namun yang terjadi adalah mereka justru menonton hal yang mereka yakini sebagai sesuatu yang mengerikan. Hal ini menegaskan masalah yang dibahas di paragraf-paragraf sebelumnya bahwa ada kontroversi antara pendapat kesurupan sebagai hal yang mengerikan dan fakta bahwa masih banyak orang yang gemar menonton Jathilan. B. Rumusan Masalah - Bagaimana penonton Jathilan mempersepsi kesurupan pada kesenian Jathilan? - Bagaimana dinamika emosi takut yang terjadi saat penonton Jathilan menonton pertunjukan Jathilan yang disertai kesurupan? C. Tujuan Penelitian - Memahami sejauh mana persepsi penonton kepada kesurupan dalam kesenian Jathilan mempengaruhi perilaku menonton Jathilan. - Memahami dinamika perasaan takut yang terjadi saat penonton menonton Jathilan.

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 D. Manfaat Penelitian Manfaat yang dapat diambil dalam penelitian ini antara lain: 1. Manfaat Praktis  Mendapat informasi bagaimana persepsi penonton dalam melihat kesurupan dalam pertunjukan Jathilan.  Mendapat gambaran mengapa orang masih mau menonton pertunjukan Jathilan yang menampilkan aktivitas kesurupan.  Diharapkan agar masyarakat tertarik untuk ikut serta melestarikan kebudayaan asli Indonesia, khususnya Jathilan. 2. Manfaat Teoritis  Diharapkan dapat memberi pemahaman mengenai bagaimana penonton Jathilan mempersepsi kesurupan dan perilaku yang akan menyertai persepsi tersebut dalam sebuah pertunjukan Jathilan.  Dapat menjadi pedoman untuk penonton agar dapat mengolah emosi dengan baik saat menonton Jathilan sehingga tidak merasakan takut.

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori 1. Persepsi a) Pengertian Persepsi Persepsi adalah proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2011). Gibson (1994) menjelaskan bahwa persepsi adalah proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh seorang individu. Dalam hal ini, persepsi mencakup penerimaan stimulus (inputs), pengorganisasian stimulus dan penerjemahan atau penafsiran stimulus yang telah diorganisasi dengan cara yang dapat mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap, sehingga orang dapat cenderung menafsirkan perilaku orang lain sesuai dengan keadaannya sendiri (Gibson, 1986). Persepsi meliputi juga kognisi (pengetahuan), yang mencakup penafsiran objek, tanda dan orang dari sudut pengalaman yang bersangkutan (Gibson, 1986). Persepsi adalah kesadaran tentang proses organik. (Makna ini berfokus kepada persepsi sebagai sebuah kejadian yang disadari, sebagai pengalaman aktual dari rantai proses-proses organik yang 7

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 dipicu oleh sejumlah stimulus eksternal atau internal) ( Kamus Psikologi, 2010). Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa persepsi merupakan proses pemberian arti terhadap kejadian yang disadari, yang dipicu oleh stimulus eksternal dan internal, yang berasal dari panca inderanya dan kemudian dapat mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap seseorang. b) Proses Pembentukan Persepsi Menurut Ratnaningsih (Amabile, 1992), proses terjadinya persepsi adalah karena adanya obyek atau stimulus yang merangsang untuk ditangkap oleh panca indera (obyek tersebut menjadi perhatian panca indera), kemudian stimulus tadi dibawa ke otak. Selanjutnya dari otak terjadi adanya “kesan” atau jawaban (respon). Adanya stimulus berupa respon atau kesan dibalikkan ke indera kembali berupa “tanggapan” atau persepsi hasil kerja indera yaitu pengalaman hasil pengolahan otak. Proses pembentukan persepsi dalam penelitian ini dimulai dari penonton yang mendapat rangsangan dari menonton Jathilan yang diterima oleh indera penglihatan dan pendengaran. Atau menggunakan indera penciuman jika pertunjukan Jathilan melibatkan kemenyan. Kemudian dari

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 menonton pertunjukan Jathilan tersebut stimulus dibawa ke otak yang kemudian menyebabkan terjadinya “kesan” atau jawaban. Kesan ini kemudian dibalikkan kembali ke indera berupa tanggapan atau persepsi terhadap pertunjukan Jathilan. c) Macam Persepsi Ada dua macam persepsi, yaitu eksternal dan internal. Persepsi eksternal adalah persepsi yang terbentuk karena adanya rangsangan/stimulus dari luar individu. Sedangkan persepsi internal adalah persepsi yang terjadi karena adanya rangsangan/stimulus yang berasal dari individu itu sendiri. Contoh persepsi pertunjukan eksternal: Jathilan, saat stimulus seseorang yang menonton diterima adalah pertunjukan Jathilan. Sedangkan contoh persepsi internal adalah saat seseorang mempunyai sifat pemarah, saat dirinya mendengar suara guru yang agak tinggi kemudian ia mempersepsikan guru tersebut sedang marah, persepsi ini terjadi karena adanya stimulus internal yang mempengaruhi individu tersebut. Dalam penelitian ini, macam persepsi yang digunakan adalah persepsi eksternal karena stimulus yang diterima individu berasal dari luar dirinya, yaitu menonton Jathilan.

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 d) Aspek Persepsi Persepsi mengandung tiga komponen yang membentuk struktur persepsi yaitu: 1). Komponen Kognitif (pemikiran/perseptual) Menurut Walgito (2003) komponen kognitif yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsikan terhadap objek. 2). Komponen Afektif (Perasaan) Komponen afektif menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek persepsi. Secara umum, komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. Reaksi emosional banyak dipengaruhi oleh kepercayaan atau apa yang kita percaya sebagai benar dan berlaku bagi objek yang dimaksud. Rasa senang merupakan hal yang positif, sedangkan rasa tidak senang merupakan hal yang negatif (Azwar, 2005). 3). Komponen Konatif (Predisposisi Perilaku) Komponen predisposisi perilaku/konatif dalam struktur persepsi menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 seseorang berkaitan dengan objek persepsi yang dihadapinya. Kaitan ini didasari oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku. Pengertian kecenderungan perilaku menunjukkan bahwa komponen konatif meliputi bentuk perilaku yang tidak hanya dapat dilihat secara langsung saja, akan tetapi meliputi pula bentuk-bentuk perilaku yang berupa pernyataan atau perkataan yang diucapkan oleh seseorang (Azwar, 2005). 2. Penonton Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tonton (v); menonton (v) mempunyai arti melihat (pertunjukan, gambar hidup, dsb). Sedangkan penonton adalah orang yang menonton pertunjukan; orang yang hanya melihat (tidak campur, bekerja, dsb.). Menonton berbeda dengan melihat. Melihat sendiri mempunyai arti menggunakan mata untuk memandang; (memperhatikan). Melihat juga mempunyai makna sebagai melihat sesuatu dengan sambil lalu dan santai ( Kamus Besar Bahasa Indonesia). Dari kedua pengertian sebelumnya tentang menonton dan melihat, dapat disimpulkan bahwa menonton mempunyai arti yang lebih khusus, menonton memerlukan durasi dalam pelaksanaannya. Jika melihat kita hanya melihat sesuatu sambil

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 lalu, akan tetapi ketika menonton kita tinggal lebih lama untuk menonton suatu pertunjukan, gambar hidup, dan sebagainya. Penonton adalah orang yang hadir dalam suatu pertunjukan dan intens menonton, menyimak alur, fokus, dan mempunyai konteks. 3. Persepsi Penonton Pengertian persepsi adalah proses pemberian arti terhadap kejadian yang disadari, yang dipicu oleh stimulus eksternal dan internal, yang berasal dari panca inderanya dan kemudian dapat mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap seseorang. Sedangkan pengertian penonton adalah orang yang hadir dalam suatu pertunjukan dan intens menonton, menyimak alur, fokus, dan mempunyai konteks. Dengan demikian pengertian persepsi penonton adalah orang yang hadir dalam suatu pertunjukan yang kemudian memberikan arti terhadap sesuatu yang intens ditonton olehnya, menyimak alur, fokus, dan mempunyai konteks, dan kemudian dapat mempengaruhi perilaku dan sikap seseorang. 4. Remaja Alasan pengambilan subjek usia remaja adalah remaja dianggap sudah mempunyai kemampuan berpikir, mengambil keputusan dan memaparkan ide secara runtut sehingga saat

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 menonton Jathilan bukan karena adanya paksaan dari orang tua ataupun orang lain, melainkan merupakan keinginannya sendiri. Kekuatan pikiran remaja yang sedang berkembang membuka cakrawala kognitif dan cakrawala sosial yang baru. Pemikiran mereka semakin abstrak, logis, dan idealis; lebih mampu menguji pemikiran diri sendiri, pemikiran orang lain, dan apa yang orang lain pikirkan tentang diri mereka; serta cenderung menginterpretasikan dan memantau dunia sosial (Santrock, 2002). Remaja tidak lagi pada pengalaman konkret aktual sebagai dasar pemikiran. Sebaliknya, mereka dapat membangkitkan situasisituasi khayalan, kemungkinan-kemungkinan hipotesis, atau dalildalil dan penalaran yang benar-benar abstrak. Selain abstrak, pemikiran remaja juga idealis. Remaja mulai berpikir tentang ciriciri ideal bagi mereka sendiri & orang lain dan membandingkan diri mereka dan orang lain dengan standar-standar ideal ini. Pada saat yang sama, mereka juga berpikir lebih logis. Remaja mulai berpikir seperti ilmuwan, yang menyusun rencana-rencana untuk memecahkan masalah-masalah dan menguji pemecahan- pemecahan masalah secara sistematis (Santrock, 2002). Masa remaja ialah masa dimana pengambilan keputusan meningkat (Santrock, 2002). Dibandingkan dengan anak-anak, remaja yang lebih muda cenderung menghasilkan pilihan-pilihan, menguji situasi dari berbagai perspektif, mengantisipasi akibat dari

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 keputusan-keputusan, dan mempertimbangkan kredibilitas sumbersumber (Santrock, 2002). Dengan demikian remaja dipilih sebagai subjek penelitian ini karena remaja sudah memiliki otonomi, tidak seperti anak-anak yang pengambilan keputusannya masih banyak dipengaruhi orang tua. Selain itu peneliti melihat remaja yang gemar menonton kesenian tradisional seperti ini sudah jarang ditemui, kebanyakan remaja masa kini lebih gemar menonton televisi, konser atau halhal yang modern. 5. Jathilan Kuda Lumping dalam bahasa Jawa disebut juga Jaran Kepang. Kesenian ini dimainkan dengan sebuah kuda buatan yang tersusun dari anyaman bambu dan ijuk pohon aren lalu dibentuk menyerupai kuda. Penyebaran budaya tari Kuda Lumping berada di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sehingga asal usul lahirnya tari Kuda Lumping seringkali diidentikkan dengan perjuangan Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajahan Belanda. Sementara sebagian rakyat lainnya percaya bahwa kesenian ini sudah ada sejak jaman Raden Patah membangun kerajaan Demak. Sebagai kesenian, Kuda Lumping menggabungkan unsur tarian, nyanyian dan kekuatan magis sebagai satu kesatuan. Gerak langkah ritmis, agresif dan dinamis dalam tari Kuda Lumping

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 mewakili karakter kepahlawanan dalam sebuah perang. Tak heran alunan musik yang terbentuk dari perpaduan suara kendang, kenong, selompret dan gong terdengar hingar-bingar dan mengundang sebagian besar masyarakat sekitar untuk berkumpul menjadi satu. Momen inilah yang digunakan para pejuang jaman Hindia-Belanda untuk menyatukan para pemuda sebagai pasukan perlawanan (id.wikipedia.org). Seringkali dalam pertunjukan Kuda Lumping diselipkan unsur magis yang berupa bakar diri, makan beling, berjalan di atas pecahan kaca dan menyayat tubuh sendiri dengan golok. Ini terdengar mengerikan. Sebelum acara pagelaran Kuda Lumping dimulai, biasanya diawali dengan ritual pembacaan mantra-mantra tertentu oleh orang yang dipercayai memiliki kekutan sakti. Hal ini diyakini dapat membantu penari Kuda Lumping lebih kuat dan kebal terhadap berbagai macam senjata tajam. Kuda Lumping biasanya dimainkan secara berpasangan oleh kaum lelaki. Bisa 2 orang, 4 orang bahkan 6 orang sekaligus. Namun dalam perkembangannya, kaum perempuan turut andil sebagai penari Kuda Lumping dan menjadi penyambut tamu penting yang berkunjung ke Pemerintahan Daerah. Hanya saja bedanya, aksi penari perempuan tidak disertai dengan atraksi makan pecahan kaca. Gerakan yang dilakukan pun cenderung

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 luwes dan mencerminkan keanggunan pejuang wanita. (jadiberita.com) Jadi berdasarkan penjelasan dari paragraf-paragraf diatas, dapat disimpulkan bahwa kuda lumping merupakan kesenian yang menggabungkan unsur tarian, nyanyian dan kekuatan magis sebagai satu kesatuan. Peralatan musik yang digunakan antara lain : kendang, kenong, selompret dan gong. 6. Kesurupan Kesurupan secara umum merupakan sebuah perubahan temporer didalam kesadaran yang disertai hilangnya rasa identitas, sebuah pemfokusan selektif kepada aspek-aspek spesifik lingkungan dan perilaku-perilaku stereotip yang dialami sebagai sesuatu yang berada diluar kontrol seseorang. Simtom-simtom ini biasanya disertai oleh sebuah keyakinan bahwa dirinya kesurupan sebuah ruh, kekuatan, atau orang lain. Istilah ini digunakan hanya untuk oleh stress, disfungsi, dan tidak ada satupun kondisi ini yang menjadi komponen normal dari upacara keagamaan / kebudayaan lain. ( Kamus Psikologi, 2010). Trance Disorder/Dissociative (Kamus Psikologi, 2010) merupakan sebuah keadaan trance tidak dikehendaki yang tidak dianggap sebagai aspek normal tradisi religius/cultural individu.

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 Trance religious (Kamus Psikologi, 2010) merupakan sebuah kerasukan yang disebabkan devosi religius yang sangat dalam. Sebenarnya istilah ‘kerasukan’ ini salah kaprah karena kondisi yang diacu biasanya tidak menunjukkan penurunan fungsi tubuh yang umumnya dikaitkan dengan makna kerasukan, malah memanifestasikan sebuah kualitas perilaku atau sikap yang penuh tenaga, kuat bahkan gila-gilaan. Mereka yang mengalami kerasukan religius menunjukkan gerak tubuh yang tidak dikehendaki, dan fungsi tubuhnya seolah berubah menjadi ‘supraalamiah’. Karena itulah, wajah individu yang kerasukan religius terlihat seperti ‘sadar’ namun sebenarnya bukan kesadarannya sendiri, dapat melakukan atraksi berbahaya seperti makan serpihan kaca, bergerak seperti hewan sesuai ‘roh’ yang merasukinya. Sanggup berbicara dalam bahasa berbeda yang tidak pernah dikuasai sebelumnya, dan sanggup menceritakan sesuatu yang tidak pernah diketahui individu tersebut, bahkan mungkin oleh siapapun. Berdasarkan pengertian-pengertian diatas, kesurupan yang peneliti gunakan dalam penelitian adalah kesurupan sebagai sebuah perubahan temporer didalam kesadaran yang disertai hilangnya rasa identitas. Orang yang kesurupan memanifestasikan sebuah kualitas perilaku atau sikap yang penuh tenaga, kuat bahkan gilagilaan, menunjukkan gerak tubuh yang tidak dikehendaki, dan

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 fungsi tubuhnya seolah berubah menjadi ‘supra-alamiah’. Dalam keadaan ini, orang yang kesurupan dapat melakukan atraksi berbahaya seperti makan serpihan kaca, bergerak seperti hewan sesuai ‘roh’ yang merasukinya. Sanggup berbicara dalam bahasa berbeda yang tidak pernah dikuasai sebelumnya, dan sanggup menceritakan sesuatu yang tidak pernah diketahui individu tersebut, bahkan mungkin oleh siapapun. B. Penelitian Sebelumnya Penelitian sebelumnya merupakan penelitian dari Muhammad Riza dan Istina Puji R. (Universitas Airlangga, 2010) yang berjudul Persepsi Ritual Kesurupan dalam Budaya Jawa pada Kuda Lumping dan Sablang Bakungan : sebuah Penelitian Indigeneous dalam Kebudayaan Jawa. Latar belakang penelitian ini adalah adanya dua fenomena berbeda tentang kesurupan, yaitu kesurupan sebagai hiburan dan kesurupan sebagai proses penyembuhan (masyarakat Jawa menyebutnya Tolak Bala). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Ada 10 partisipan yang terlibat dalam penelitian ini yang berasal dari Kediri dan Banyuwangi di mana Kuda Lumping dan Sablang Bakungan berasal. Hasil penelitian menunjukkan partisipan berpikir bahwa kesurupan adalah hal yang mengerikan karena perilaku orang / penari yang kesurupan sangat liar dan tidak bisa dijelaskan. Mereka berperilaku sangat aneh. Meskipun tarian Kuda Lumping ditujukan untuk pertunjukan hiburan tetap tidak

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 mengurangi persepsi menakutkan pada penontonnya. Begitu juga persepsi penonton pada kesurupan dalam tarian Sablang Bakungan. Meskipun ritual ini dimaksudkan untuk menolak bencana, saat wanita tua yang menari dalam Sablang Bakungan kesurupan tetap dianggap mengerikan. Peneliti menemukan celah dari penelitian sebelumnya, yaitu dalam penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Riza dan Istina Puji R subjek yang digunakan bukan orang yang memang sering menonton kesenian Jathilan atau Sablang Bakungan, Riza hanya mengambil beberapa sampel yang berasal dari daerah yang mempunyai paguyuban Kuda Lumping dan Sablang Bakungan tanpa ada keterangan memadai tentang alasan pemilihan subjek. C. Pertanyaan Penelitian 1. Bagaimana penonton Jathilan mempersepsi kesurupan pada kesenian Jathilan? 2. Bagaimana dinamika emosi takut yang terjadi saat penonton Jathilan menonton pertunjukan Jathilan yang disertai kesurupan? D. Dinamika Penelitian 1. Batasan Penelitian Kata kunci dari penelitian ini adalah meneliti orang yang gemar menonton Jathilan, maka untuk mendapatkan subjek yang benar-benar gemar menonton Jathilan adalah dengan membatasi

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 pada orang yang sering menonton Jathilan, yaitu yang selalu menonton setiap ada pertunjukan Jathilan di daerahnya. Kriteria subjek lainnya adalah berusia remaja, sering menonton Jathilan (menonton setiap ada pertunjukan Jathilan di dusunnya). Alasan pengambilan subjek usia remaja adalah peneliti ingin melihat alasan mengapa di jaman yang sudah serba modern ini masih banyak generasi muda yang gemar menonton kesenian tradisional, khususnya Jathilan. Serta usia remaja dianggap sudah mempunyai kemampuan berpikir, mengambil keputusan dan memaparkan ide secara runtut sehingga saat menonton Jathilan bukan karena adanya paksaan dari orang tua ataupun orang lain, melainkan merupakan keinginannya sendiri. Kesurupan yang peneliti gunakan dalam penelitian adalah kesurupan sebagai sebuah perubahan temporer didalam kesadaran yang disertai hilangnya rasa identitas. Orang yang kesurupan dapat melakukan atraksi berbahaya seperti makan serpihan kaca, bergerak seperti hewan atau sesuai ‘roh’ yang merasukinya. Sanggup berbicara dalam bahasa berbeda yang tidak pernah dikuasai sebelumnya, dan sanggup menceritakan sesuatu yang tidak pernah diketahui individu tersebut, bahkan mungkin oleh siapapun.

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 2. Alur Berpikir Penelitian ini berawal dari peneliti yang melihat adanya kontoversi antara hasil penelitian Muhammad Riza dan Istina Puji R. (2010) bahwa kesurupan dipersepsi sebagai hal yang mengerikan dan fakta bahwa masih banyak orang yang menonton pertunjukan Jathilan. Faktanya di lapangan, masih banyak orang yang mau menonton setiap ada pertunjukan Jathilan bahkan beberapa orang tidak pernah ketinggalan untuk menonton. Dengan adanya pendapat bahwa kesurupan merupakan hal yang mengerikan, mengapa masih banyak orang yang tertarik untuk menonton Jathilan? Benarkah kesurupan itu menakutkan? Hal inilah yang akan peneliti teliti lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana dinamika penonton Jathilan mempersepsi kesurupan pada Jathilan dan perilaku yang menyertai persepsi penonton tersebut. Reaksi seseorang terhadap sesuatu yang mengerikan adalah menghindarinya, namun yang terjadi adalah mereka justru menonton hal yang diyakini sebagai sesuatu yang mengerikan. Penelitian ini bermula dari penonton yang melihat kesurupan dalam sebuah pertunjukan Jathilan; penelitian sebelumnya menunjukkan persepsi penonton terhadap kesurupan dalam pertunjukan Jathilan adalah mengerikan dan menakutkan. Namun peneliti melihat fakta di lapangan bahwa masih banyak yang

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 menggemari pertunjukan Jathilan, maka peneliti mencoba menggali yang dialami penonton saat menonton pertunjukan Jathilan yang disertai kesurupan dengan melihat aspek-aspek dalam persepsi yaitu: aspek kognitif (pikiran), aspek afektif (perasaan), dan aspek konatif (perilaku). Hal ini menjadi penting dibahas karena kita akan memahami bagaimana kesurupan dipandang oleh penonton yang tetap suka menonton Jathilan meskipun ada pendapat bahwa kesurupan adalah kejadian yang mengerikan dan menakutkan. Dengan memahami persepsi kesurupan dari sudut pandang penonton ini, kita dapat mengerti mengapa masih banyak orang yang gemar menonton Jathilan meski dikatakan kesurupan itu mengerikan dan menakutkan; dan kemudian dapat menjadi pedoman untuk penonton agar dapat mengolah emosinya dengan baik saat menonton Jathilan sehingga tidak merasakan takut.

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian ini hendak melihat bagaimana persepsi penonton Jathilan yang disertai kesurupan. Persepsi penonton adalah proses pemberian arti terhadap kejadian yang disadari oleh penonton, yang dipicu oleh stimulus eksternal dan internal, yang berasal dari panca indera sewaktu menonton pertunjukan Jathilan yang kemudian dapat mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap orang tersebut. Maka dapat dikatakan bahwa penelitian yang akan dilakukan bersifat sosial yang perlu memahami persepsi akan kesurupan pada Jathilan dari sudut pandang subyek. Oleh karena itu, jenis penelitian yang dirasa tepat adalah penelitian kualitatif yang lebih memfokuskan pada pemahaman daripada pengukuran. Penelitian kualitatif menurut Denzin dan Lincoln (dalam Moleong, 2009) adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan metode yang ada (wawancara, pengamatan, dan pemanfaatan dokumen). Metode penelitian yang akan digunakan adalah metode fenomenologi. Metode penelitian fenomeologi ini dipilih karena sesuai dengan tujuan dalam penelitian yang akan dilakukan, yaitu berusaha mengeksplorasi pengalaman personal serta menekankan pada persepsi atau pendapat personal seorang individu tentang objek atau peristiwa (Smith, 23

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 2009). Stanley Deetz (1999) menyimpulkan tiga prinsip dasar dalam fenomenologi: 1. Pengetahuan adalah kesadaran. Pengetahuan tidak disimpulkan dari pengalaman tetapi ditemukan secara langsung dari pengalaman yang disadari “conscious experience”. 2. Makna dari sesuatu tergantung dari apa kegunaan sesuatu tersebut dalam kehidupan individu. Dengan kata lain, bagaimana hubungan kita dengan sesuatu ditentukan oleh apa makna sesuatu tersebut dalam kehidupan kita. 3. Bahasa adalah sarana makna. Kita mengalami dan memaknai dunia sosial kita melalui bahasa yang kita gunakan untuk mendefinisikan dan mengekspresikan dunia sosial tersebut. Dalam penelitian ini peneliti berusaha memahami persepsi yang dimiliki oleh penonton. Menurut Smith (2009) kata “memahami” sangat mewakili kedua aspek memahami-interpretasi dalam artian mengidentifikasi atau berempati dan memahami dalam artian berusaha memaknai. Dengan menggunakan kedua aspek tersebut dalam penelitian cenderung akan menghasilkan analisis yang lebih kaya dan melaksanakan keadilan yang lebih besar terhadap totalitas pribadi. B. Fokus Penelitian Fenomena yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah persepsi penonton terhadap kesurupan dalam pertunjukan Jathilan. Fokus dalam penelitian ini, yaitu menggali persepsi penonton yang menonton pertunjukan Jathilan yang disertai kesurupan.

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 Persepsi penonton terhadap kesurupan dalam kesenian Jathilan tidak lepas dari aspek kognitif, afektif, dan konatif. Aspek-aspek dan pedoman umum wawancara terhadap penonton pertunjukan Jathilan yang disertai kesurupan akan dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut : - Aspek-aspek Aspek-aspek yang akan diungkap dalam penelitian ini antara lain : Tabel 1. Aspek-aspek yang akan Diungkap dalam Penelitian Aspek 1. Kognitif Hal-hal yang Diungkap  Ingatan atau pengetahuan, pandangan penonton kesurupan dalam dan tentang pertunjukan Jathilan 2. Afektif  Berbagai perasaan yang dirasakan penonton pertunjukan sehubungan dengan Jathilan fenomena kesurupan; berbagai perasaan ketika melihat penarinya mengalami kesurupan. 3. Konatif  Bagaimana setelah penonton menonton berperilaku pertunjukan Jathilan yang disertai kesurupan. Sejauh mana kejadian kesurupan mempengaruhi tindakan-tindakan

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 dan aktivitas kehidupan dalam kehidupan sehari-hari. - Pedoman Wawancara Pedoman wawancara yang akan digunakan untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut : Tabel 2. Pedoman Wawancara Target Jawaban Pertanyaan I. Untuk mendapatkan informasi - Kg = Bagaimana anda tentang definisi subjek tentang memandang peristiwa kesurupan kesurupan, dirasakan, menyertai perasaan dan yang dalam pertunjukan Jathilan? perilaku saat pertunjukan Jathilan yang - Kg = Apakah yang ada di pikiran menonton Anda ketika mendengar tentang kesurupan dalam sebuah pertunjukan Jathilan? - Af = Apa yang anda rasakan ketika menonton kesurupan dalam pertunjukan Jathilan? - Kn = Apa yang Anda lakukan ketika ada kejadian kesurupan dalam pertunjukan Jathilan yang sedang Anda tonton? - Kn = Hal apakah yang ada di

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 pikiran Anda setelah menonton kesurupan dalam pertunjukan Jathilan? II. Untuk mendapatkan informasi - Kg = Menurut anda bagaimana tentang pandangan, perasaan, dan jika perilaku subjek dalam suatu pertunjukan terhadap Jathilan tidak ada penari yang pertunjukan Jathilan yang tidak kesurupan? disertai kesurupan - Af = Bagaimana perasaan anda ketika menonton Jathilan yang pertunjukan tidak ada kesurupannya? - Kn = Apa yang Anda lakukan misalnya Anda menonton sebuah pertunjukan Jathilan yang tidak ada kesurupannya? III. Untuk mendapatkan informasi - Kg = Menurut Anda apakah mengenai posisi kesurupan dalam dalam sebuah pertunjukan Jathilan pertunjukan Jathilan. harus ada kejadian kesurupannya? Mengapa? IV. Untuk mendapatkan informasi - Kg = Apa yang membuat anda tentang mengapa subyek tetap mau tetap mau menonton pertunjukan menonton yang pertunjukan disertai Jathilan Jathilan yang disertai kesurupan? kesurupan dan - Kn = Apa tetap akan menonton

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 perilaku subjek ketika memutuskan pertunjukan Jathilan yang disertai tetap menonton pertunjukan kesurupan? Jathilan yang disertai kesurupan C. Metode Pengambilan Sampel Metode pengambilan sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode Purposive Sampling. Dalam pendekatan purposif peneliti hanya memilih subyek yang dianggap memiliki informasi berkenaan dengan permasalahan penelitian. Oleh karena itu, peneliti terlebih dulu menetapkan kriteria yang harus dimiliki subyek sebelum melakukan proses pengambilan data. Purposive Sampling adalah pengambilan sampel dengan melihat syarat-syarat dan kriteria-kriteria tertentu berupa ciri-ciri yang sudah ditemukan sebelumnya, sesuai dengan tujuan penelitian (Arikunto, 1989). Adapun kriteria dalam penelitian ini antara lain : 1. Sering menonton Jathilan yang disertai kesurupan (menonton setiap ada pertunjukan Jathilan di dusunnya). 2. Penonton yang hadir dan intens menonton minimal 75% dalam sebuah pertunjukan Jathilan yang disertai kesurupan. 3. Berusia remaja Tidak ada batasan tertentu akan banyaknya subyek dalam purposive sampling ini. Dalam penelitian ini akan digunakan tiga orang

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 subjek Jumlah sampel tersebut akan memberikan jumlah kasus yang mencukupi untuk memeriksa kesamaan dan perbedaan antarsubyek. D. Subjek Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah warga Kepuh, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman dan warga Condong Catur, Sleman. Banyaknya subyek dalam penelitian ini adalah tiga orang penonton, dua dari Kepuh dan satu dari Condong Catur. Pemilihan subyek ini berdasarkan kedua daerah tersebut sering diadakan pertunjukan Jathilan. Sehingga rata-rata warga Dusun Kepuh dan Condong Catur memenuhi salah satu kriteria sampel yaitu sering menonton pertunjukan Jathilan. Dalam penelitian ini penonton dibatasi pada penonton yang hadir dan intens menonton minimal 75% dari awal sampai habis dalam sebuah pertunjukan Jathilan yang disertai kesurupan. Alasan ini diambil karena dengan menonton minimal 75% subyek dianggap benar-benar menonton, bukan hanya lewat dan melihat sambil lalu. Sehingga sampel yang didapat adalah orang yang memang gemar menonton pertunjukan Jathilan. Kriteria subjek lainnya adalah berusia remaja. Alasan pengambilan subjek usia remaja adalah peneliti ingin melihat alasan mengapa di jaman yang sudah serba modern ini masih banyak generasi muda yang gemar menonton kesenian tradisional, khususnya Jathilan. Alasan lain adalah remaja dianggap sudah mempunyai kemampuan berpikir, mengambil

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 keputusan dan memaparkan ide secara runtut sehingga saat menonton Jathilan bukan karena adanya paksaan dari orang tua ataupun orang lain, melainkan merupakan keinginannya sendiri. E. Metode Pengambilan Data Metode pengambilan data yang cocok untuk penelitian ini adalah wawancara semi-terstruktur. Dalam penelitian ini, peneliti ingin menganalisis secara detail bagaimana para subyek mempersepsi dan membangun pemahaman mengenai kesurupan dalam pertunjukan Jathilan. Oleh karena itu dibutuhkan intrumen pengumpulan data yang fleksibel, yaitu wawancara semi terstruktur. Wawancara semi-terstruktur memungkinkan peneliti dan subyek melakukan dialog, dan pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun sebelumnya dapat dimodifikasi menurut respon subyek. Dengan demikian, peneliti dapat menyelidiki lebih jauh wilayah-wilayah yang menarik dan penting yang muncul. Ketika melakukan wawancara semi-terstruktur, pewawancara memiliki seperangkat pertanyaan pada daftar wawancara, akan tetapi wawancara bukan didikte oleh daftar tersebut, daftar pertanyaan hanya merupakan panduan. Akibatnya urutan pertanyaan menjadi tidak begitu penting, pewawancara lebih memiliki kebebasan untuk menanyakan lebih jauh berbagai wilayah menarik yang muncul, dan wawancara dapat mengikuti minat atau perhatian subyek.

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan penulis mengenai aspek-aspek yang harus dibahas sehubungan dengan fenomena yang diteliti, sekaligus menjadi daftar pengecek untuk mengetahui apakah aspek-aspek yang relevan telah dibahas atau diajukan sebagai pertanyaan. Peneliti akan merekam selama proses wawancara berlangsung. Hal ini dilakukan untuk memudahkan peneliti dalam mewawancarai agar tidak perlu menulis selama wawancara yang dapat merusak rapport dengan subyek. Data rekaman yang telah diperoleh kemudian akan dibuat transkrip wawancara atau verbatim yang dibuat sesuai dengan hasil wawancara termasuk observasi selama wawancara berlangsung. F. Metode Analisis Data Setelah data diperoleh, maka langkah selanjutnya adalah menganalisis data yang sudah diperoleh. Metode yang digunakan untuk menganalisis data verbatim dalam penelitian ini adalah analisis isi. Hal ini dilakukan karena penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan data deskriptif, dan untuk menganalisis data deskriptif metode yang tepat digunakan adalah analisis isi. Langkah-langkah dalam menganalisis data antara lain : pengorganisasian data, koding, dan interpretasi. Langkah-langkah tersebut akan dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut :

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 1. Organisasi Data Tahap awal dari analisis data adalah organisasi data. Dalam tahap ini peneliti akan mengumpulkan keseluruhan verbatim subyek dan menyimpannya secara lengkap dan sistematis. 2. Koding Setelah mengorganisasi data, peneliti kemudian melakukan tahap koding. Koding bertujuan agar dapat mengorganisasikan dan mensistemasi data secara lengkap dan detil sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari dan menemukan makna dari data yang dikumpulkan (Poerwandari, 2005). Proses koding ini dilakukan dengan memberikan kode dan catatan lapangan di samping verbatim. Kode dalam penelitian ini adalah Kg (kognitif), Af (Afektif), dan Kn (Konatif). Selanjutnya peneliti akan melakukan analisis tematik. Analisis tematik merupakan proses pengkodean data yang dapat menghasilkan daftar tema, model tema, kualifikasi tema, atau hal-hal diantara gabungan dari yang telah disebutkan. Dari tema tersebut, diharapkan persepsi penonton pertunjukan Jathilan yang disertai kesurupan dapat digambarkan dengan baik. 3. Interpretasi Langkah selanjutnya adalah melakukan interpretasi. Interpretasi dalam penelitian ini dilakukan berdasarkan tema-tema yang muncul dalam data verbatim hasil wawancara setelah diperkuat dengan data

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 observasi. Interpretasi dilakukan agar didapatkan gambaran data yang lebih mendalam. Klave (dalam Poerwandari, 2001) menjelaskan bahwa interpretasi mengacu pada upaya memahami data secara lebih ekstensif sekaligus mendalam. G. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data Untuk menetapkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksan. Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu. Ada empat kriteria yang digunakan, yaitu derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability), dan kepastian (confirmability). 1. Credibility Penerapan kriteria derajat kepercayaan (credibility) pada dasarnya menggantikan konsep validitas internal dari penelitian kuantitatif. Kriteria ini berfungsi: pertama, melaksanakan inkuiri sedemikian rupa sehingga tingkat kepercayaan penemuannya dapat dicapai; kedua, mempertunjukan derajat kepercayaan hasil-hasil penemuan dengan jalan pembuktian oleh peneliti pada pengalaman yang sedang diteliti (Moleong, 2009). Kredibilitas dalam penelitian kualitatif terletak pada keberhasilannya mencapai maksud mengeksplorasi masalah atau mendeskripsikan setting, proses, kelompk sosial atau pola interaksi yang komplek.

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 2. Dependability Kriteria kebergantungan merupakan subtitusi istilah reliabilitas dalam penelitian nonkualitatif. Dalam penelitian nonkualitatif reliabilitas ditunjukkan dengan jalan mengadakan replikasi studi. Namun, pada penelitian kualitatif reliabilitas menekankan pada data, bukan pada ‘orang’. Jadi pemeriksaan derajat kebergantungan bukan lagi berkaitan dengan cirri penyidik, melainkan berkaitan dengan ciriciri data. 3. Confirmability Kriteria kepastian (confirmability) berasal dari konsep objektivitas menurut penelitian nonkualitatif. Penelitian nonkualitatif menetapkan objektivitas dari segi kesepakatan antarsubyek. Sedangkan dalam penelitian kualitatif pemastian bahwa sesuatu itu obyektif atau tidak bergantung pada persetujuan beberapa orang terhadap pandangan, pendapat, dan penemuan seseorang (Moleong, 2009). Dapat dikatakan bahwa pengalaman seseorang itu subyektif, sedangkan jika disepakati oleh beberapa atau banyak orang baru dapat dikatakan obyektif. Menurut Moleong (2009) sesuatu yang obyektif memiliki ciri dapat dipercaya, faktual, dan dapat dipastikan.

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Prosedur Pengambilan Data Langkah-langkah yang dilakukan peneliti dalam mengambil data adalah sebagai berikut : 1. Melakukan pemilihan subjek dengan metode purposive sampling. Pemilihan subjek didasarkan pada kriteria yang telah ditetapkan peneliti, yaitu : berusia remaja, gemar menonton jatilan, dan yang hadir dan intens menonton jatilan. Awalnya peneliti mewawancarai empat subjek yang berasal dari dua daerah yang sama. Namun ketika mulai melakukan pendekatan diketahui bahwa dua subjek pernah menari Jathilan. Kemudian peneliti mengugurkan dua subjek tersebut karena dapat menimbulkan bias dalam menjawab pertanyaan penelitian. Akhirnya peneliti mewawancarai dua subjek lagi yang berasal dari daerah yang berbeda. Subjek 1 dan subjek 2 berasal dari Kecamatan Cangkringan, sedangkan subjek 3 berasal dari Kecamatan Condong Catur, Sleman. Peneliti memilih subjek dari kedua daerah tersebut karena di kedua daerah tersebut sering diadakan pertunjukan jatilan. 2. Membangun rapport dengan subjek penelitian. Peneliti mengenal subjek 1 dan 2 dari seorang warga tempat peneliti 35

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 melangsungkan KKN. Peneliti melakukan pendekatan dengan subjek 1 dan 2 dengan cara mengajak makan sambil mengobrol dan mengunjungi rumah subjek. Sedangkan subjek 3 dikenal peneliti dari seorang teman kampus yang merupakan warga Condong Catur. Pendekatan dengan subjek 3 juga dilakukan dengan mengajak nongkrong sambil mengobrol. 3. Melakukan tahap persiapan penelitian dengan membuat pedoman wawancara. Pedoman wawancara dibuat sesuai dengan aspek-aspek yang hendak digali dari subjek, yaitu aspek kognitif, afektif dan konatif. 4. Melakukan uji coba wawancara terhadap subjek secara acak. Hal ini dilakukan untuk mengecek apakah pertanyaan dalam pedoman wawancara dapat dipahami oleh subjek dan apakah pertanyaan dapat menggali jawaban sesuai dengan aspek yang hendak digali. 5. Merevisi pertanyaan berdasarkan hasil uji coba wawancara. 6. Melakukan pengambilan data wawancara. Peneliti melakukan wawancara dengan subjek 1 pada tanggal 20 Februari 2013, kemudian subjek 2 pada tanggal 21 Februari 2013. Kemudian peneliti mewawancarai subjek 3 pada tanggal 28 Juni 2013. Setelah melakukan wawancara peneliti kemudian membuat verbatim atau transkrip wawancara. Selanjutnya peneliti melakukan wawancara tambahan untuk melengkapi data yang

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 kurang pada subjek 1 dan 2 pada tanggal 14 Juli 2013, dan pada subjek 3 pada tanggal 16 Juli 2013. 7. Peneliti menentukan koding serta membuat kategori untuk keseluruhan verbatim subjek. 8. Peneliti melakukan konfirmasi data kepada subjek untuk memastikan data yang telah diperoleh oleh peneliti sesuai dengan keadaan subjek. Peneliti melakukan konfirmasi data kepada subjek 1 dan 2 pada tanggal 14 Juli 2013, dan subjek 3 pada tanggal 16 Juli 2013. 9. Langkah selanjutnya adalah peneliti melakukan interpretasi data dan membuat kesimpulan dan saran. B. Subjek Penelitian Peneliti melakukan wawancara terhadap empat subjek dengan data sebagai berikut : 1. Subjek 1 Nama : Ch Jenis Kelamin : Laki-laki Usia : 17 tahun Pekerjaan : Pelajar Pertama nonton jatilan : Sewaktu TK

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 2. Subjek 2 Nama : Ans Jenis Kelamin : Perempuan Usia : 18 tahun Pekerjaan : Pelajar Pertama nonton jatilan : Sewaktu SD 3. Subjek 3 Nama : Dr Jenis Kelamin : Laki-laki Usia : 18 tahun Pekerjaan : Pelajar Pertama nonton jatilan : Sewaktu TK C. Hasil Analisis Data Penelitian Tabel 3. Tabel Analisis Subjek 1 I. Untuk mendapatkan informasi akan pengetahuan subjek tentang kesurupan, perasaan yang dirasakan, dan perilaku yang menyertai saat menonton pertunjukan Jathilan. Kognitif Afektif Konatif Yang dipikirkan ketika Ada perasaan kagum Subjek tetap menonton mendengar kata saat kesurupan adalah yang seram, mistis, aneh. (I. Kg (5-9)) melihat penari ketika terjadi kesurupan kesurupan dalam dan melakukan hal yang Jathilan. (I. Kn (48tidak wajar. (I. Af (38- 49))  Kesurupan adalah 40))

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 keadaan tidak sadar.  Orang yang kesurupan berperilaku aneh seperti makan beling.  Kesurupan itu unik, tidak semua orang bisa. (I. Kg (11-28))  Awalnya penari sadar, lama-lama pusing kemudian menjadi tidak sadar setelah ‘roh’ diundang.  Saat tidak sadar penari bertingkah sesuka hati, contohnya makan ayam hidup. (I. Kg (24-33)) Kesurupan seram karena wajar, tidak contoh perilaku tidak wajar yang seram adalah yang makan beling dan ayam hidup. (I. Kg (117120)) Setelah menonton dalam pikirannya biasa, tidak ketakutan atau terbayang-

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 bayang. (I. Kg (5254)) II. Untuk mendapatkan informasi tentang pandangan, perasaan, dan perilaku subjek terhadap pertunjukan Jathilan yang tidak disertai kesurupan Kognitif Jika Afektif Jathilan tanpa Perasan waktu Yang dilakukan ketika kesurupan tidak ada menonton seninya dan tidak yang ramai. (II. Kg (58-61)) Konatif tidak Jathilan menonton ada yang Jathilan tidak kesurupannya senang kesurupannya ada hanya Jathilan tanpa karena narinya bagus. melihat saja. (II. Kn kesurupan tidak (II. Af (75-80)) ramai/meriah seninya (79)) karena ada di kesurupannya.  Jika tidak ada rasanya kurang. (II. Kg (138-142)) III. Untuk mendapatkan informasi mengenai posisi kesurupan dalam pertunjukan Jathilan. Kognitif Afektif Konatif  Jathilan tidak harus ------ ------ ada kesurupannya, tapi jika tidak ada tidak seru.  Jathilan yang tidak harus ada kesurupannya contohnya Jathilan anak. (III. Kg (63-69))

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 Kesurupan itu penting karena yang menjadi pembeda dengan kesenian lain. (III. Kg (145-147)) IV. Untuk mendapatkan informasi tentang mengapa subyek tetap mau menonton pertunjukan Jathilan yang disertai kesurupan dan perilaku subjek ketika memutuskan tetap menonton pertunjukan Jathilan yang disertai kesurupan Kognitif Afektif Konatif Yang membuat tetap ------ Masih mau menonton mau menonton Jathilan Jathilan karena unik, sekarang. tidak ada di Negara (149-150)) sampai (IV. Kn lain dan melestarikan kebudayaan sendiri. (IV. Kg (100-112))  Apa yang terjadi dalam Jathilan dirasakan menghibur.  Jika ada Jathilan dan tidak menonton rasanya kurang. (IV. Kg (126-128)) Berdasarkan tabel 3 dapat disimpulkan bahwa Ch mempunyai pikiran kesurupan sebagai hal yang seram, mistis dan aneh. Pikiran tersebut disertai dengan perasaan kagum Ch terhadap penari yang melakukan hal yang tidak wajar. Didorong oleh perasaan kagum tersebut

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 sehingga Ch menjadi tergerak untuk tetap mau menonton pertunjukan Jathilan sampai sekarang. Ch meyakini bahwa kesurupan adalah hal yang seram karena orang yang kesurupan biasanya berperilaku tidak wajar, seperti: makan beling, atau makan ayam hidup. Meskipun kesurupan dianggap sebagai hal yang seram dan mistis, namun Ch tidak terganggu dengan pikiran-pikiran tersebut sehingga pikiran tersebut tidak melekat hingga Ch meninggalkan tempat pertunjukan Jathilan tersebut.. Ch menjelaskan proses kesurupan yang pada awalnya penari sadar, kemudian lama-kelaman penari merasakan pusing dan menjadi tidak sadar setelah diundangkan ‘roh’. Penari yang berada dalam keadaan tidak sadar ini kemudian bertingkah sesuka hati mereka seperti makan ayam hidup. Meskipun berpendapat kesurupan adalah hal yang seram, Ch melihat kesurupan sebagai hal yang unik karena tidak semua orang bisa melakukannya sehingga membuat Ch merasa kagum. Terkait dengan posisi kesurupan dalam Jathilan Ch berpendapat bahwa kesurupan dalam Jathilan itu penting karena menjadi pembeda dengan kesenian lain. Ch berpendapat kesurupan tidak harus ada dalam setiap pertunjukan Jathilan. Meskipun berpendapat kesurupan tidak harus ada, Ch mengaku jika Jathilan tanpa disertai kesurupan pertunjukan Jathilan dirasakan tidak ramai/meriah dan tidak ada seninya, namun Ch akan tetap senang dan tetap menonton Jathilan yang tidak disertai.

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 Alasan Ch tetap mau menonton Jathilan adalah Ch meyakini bahwa kesurupan itu unik dan tidak ada di negara lain serta Ch merasa apa yang ada dalam Jathilan dirasakan menghibur sehingga Ch merasakan ada yang kurang jika Ch mengetahui ada Jathilan dan Ch tidak menonton. Sehingga dapat disimpulkan bahwa meskipun Ch mempunyai pikiran kesurupan sebagai hal yang seram dan mistis, akan tetapi perasaan Ch yang menyertai adalah perasaan positif yaitu perasaan kagum sehingga perilaku yang akan dimunculkan Ch adalah tetap mau menonton Jathilan. Tabel 4. Tabel Analisis Subjek 2 I. Untuk mendapatkan informasi akan pengetahuan subjek tentang kesurupan, perasaan yang dirasakan, dan perilaku yang menyertai saat menonton pertunjukan Jathilan. Kognitif Afektif Konatif Yang ada di pikiran Ada perasaan senang Yang dilakukan ketika saat mendengar kata karena bisa mengalami melihat penari kesurupan adalah takut dan adalah melihat kesurupan karena penarinya suka kebudayaan menjauh dari kandang melakukan hal yang Yogyakarta. (I. Af (25- karena aneh dan tidak biasa. 27)) Arti kesurupan adalah masih ada yang mau makhluk yang tidak melestarikan kesenian kelihatan masuk kesurupan. (I. Kn (32- Ada perasaan bangga 37)) (I. Kg (3-7)) ke daerah. (I. Af (47-49)) dalam tubuh seseorang yang biasanya terjadi pada malam hari di mana setan biasanya takut

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 keluar. (I. Kg (11-20)) Yang ada di pikiran sepulang adalah menonton bisa kreativitas melihat pemuda yang masih bisa melestarikan Jathilan. (I. Kg (41-45)) Ada pikiran takut saat mendengar soal kesurupan karena tidak biasa, takut jika ketularan dan kesurupan, takut waktu penarinya lari-lari. (I. Kg (116-121)) II. Untuk mendapatkan informasi tentang pandangan, perasaan, dan perilaku subjek terhadap pertunjukan Jathilan yang tidak disertai kesurupan Kognitif Afektif Kesurupan bisa jadi Perasaan bukan bagian Jathilan banyakan karena dari menonton Konatif waktu Yang dilakukan tetap Jathilan menonton sampai ke- tanpa kesurupan tidak selesai. (II. Kn (76- penari-nya apa-apa yang penting 77)) tidak bisa kesurupan. tariannya bagus seperti (II. Kg (61-65)) yang diajarkan leluhur. (II. Af (67-73)) III. Untuk mendapatkan informasi mengenai posisi kesurupan dalam pertunjukan Jathilan. Kognitif Afektif Konatif

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 Jathilan tidak harus ada ------ ------ kesurupannya karena mungkin cuma me-lestarikan tariannya jadi tidak harus kesurupan. (III. Kg (53-59))  Jathilan yang bagus yang ada kesurupannya.  Jathilan bagus kalau narinya bagus, tapi lebih bagus lagi jika ada kesurupannya. (III. Kg (84-108) IV. Untuk mendapatkan informasi tentang mengapa subyek tetap mau menonton pertunjukan Jathilan yang disertai kesurupan dan perilaku subjek ketika memutuskan tetap menonton pertunjukan Jathilan yang disertai kesurupan Kognitif Afektif Konatif Yang membuat tetap ------ Masih lumayan sering mau menonton karena menonton, bahkan saat tariannya bagus dan latihan penontonnya banyak. menonton. (IV. Kg (79-81)) (139-141)) Mau menonton Jathilan karena kelihatannya meriah dan bagus. (IV. Kg (109-112)) pun kadang (IV. Kn

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46  Masih mau menonton karena dari kecil sudah dibawa nonton dan tariannya bagus.  Selain itu karena terlihat ramai meriah sehingga membuat menonton. dan ingin (IV. Kg (123-138)) Berdasarkan tabel 4 dapat disimpulkan bahwa Ans mempunyai pikiran kesurupan sebagai hal yang menakutkan. Perasaan yang menyertai pikiran Ans adalah perasaan senang dan bangga. Sehingga dalam perilaku Ans tergerak untuk tetap mau menonton Jathilan bahkan latihan Jathilan sampai saat ini. Ans mempunyai pikiran kesurupan sebagai hal yang menakutkan karena penarinya suka melakukan hal yang aneh dan tidak biasa. Ans juga mengungkapkan bahwa Ans takut jika dirinya ikut ketularan dan takut ketika penarinya lari-lari. Ans meyakini bahwa arti kesurupan adalah makhluk yang tidak kelihatan masuk ke dalam tubuh seseorang. Meskipun Ans meyakini kesurupan sebagai hal yang menakutkan, Ans memiliki perasaan senang ketika Ans bisa mengalami dan melihat kebudayaan Yogyakarta. Selain itu, Ans juga merasa bangga masih ada yang mau melestarikan kesenian daerah. Terkait dengan posisi kesurupan

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 dalam Jathilan Ans berpendapat bahwa bisa jadi kesurupan bukan merupakan bagian dari Jathilan karena kebanyakan penarinya tidak bisa kesurupan. Meskipun demikian, Ans meyakini bahwa Jathilan akan lebih bagus jika Jathilan ada kesurupannya. Ans tetap senang dan mau menonton Jathilan tanpa kesurupan karena menurutnya tariannya bagus seperti yang diajarkan leluhur. Alasan Ans tetap mau menonton Jathilan selain sudah sejak kecil dibawa menonton Jathilan, Ans juga menyukai tariannya yang bagus dan pertunjukannya terlihat ramai dan meriah sehingga membuat Ans ingin menonton. Sehingga dapat disimpulkan bahwa meskipun Ans meyakini kesurupan adalah hal yang menakutkan, akan tetapi pikiran tersebut disertai dengan perasaan positif yaitu perasaan senang dan bangga sehingga perilaku yang akan dimunculkan adalah Ans tetap mau menonton Jathilan bahkan menonton latihan Jathilan. Tabel 5. Tabel Analisis Subjek 3 I. Untuk mendapatkan informasi akan pengetahuan subjek tentang kesurupan, perasaan yang dirasakan, dan perilaku yang menyertai saat menonton pertunjukan Jathilan. Kognitif Afektif Konatif Yang ada dipikiran  Perasaan yang ada saat mendengar kata saat menonton Jathilan ada kesurupan dalam kesurupan adalah awalnya takut, lama- Jathilan tetap me- antara percaya dan lama terbiasa. nonton dan hanya tidak percaya, seperti  Perasaan takut menghindar jika ada Yang dilakukan saat

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 tidak masuk akal jika muncul saat penari penari yang nubruk- setan bisa masuk ke menjadi liar dan nubruk. (I. Kn (37- tubuh manusia.. (I. Kg nubruk-nubruk. (I. Af 39)) (3-7)) (25-30))  Kesurupan adalah Perasaan sepulang saat orang dirasuki roh, menonton Jathilan seperti tidur namun adalah senang karena masih bisa bergerak. Jathilan dirasakan  Kesurupan dalam sebagai hiburan untuk Jathilan merupakan melupakan beban dan kesurupan yang stres sejenak. (I. Af disengaja, dengan (43-52)) fokus mendengarkan Menyukai Jathilan musiknya lama-lama karena ada rasa penari akan ndadi. (I. bangga memiliki Kg (9-25)) kesenian Jathilan yang Sepulang menonton tidak ada di daerah kadang masih lain. (I. Af (94-99)) terbayang suara musik Jathilan. (I. Kg (4143)) II. Untuk mendapatkan informasi tentang pandangan, perasaan, dan perilaku subjek terhadap pertunjukan Jathilan yang tidak disertai kesurupan Kognitif Afektif Konatif Jathilan tanpa  Perasaan saat Tetap menonton saat kesurupan dianggap menonton Jathilan menonton Jathilan kurang nyeni, tanpa kesurupan tanpa kesurupan, tapi wibawanya kurang. (II. adalah bosan karena akan pulang jika bosan Kg (56-57)) karena menarinya Jathilan yang tidak

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 seram dianggap tidak terlalu lama. (II. Kn menarik. (84-86))  Jika hanya menari rasanya tidak menarik dan membosankan. (II. Af (74-82)) III. Untuk mendapatkan informasi mengenai posisi kesurupan dalam pertunjukan Jathilan. Kognitif  Jathilan sebaiknya Afektif Konatif ------ ------ ada kesurupannya karena jika tidak ada Jathilan dianggap kurang berwibawa.  Seni dari Jathilan terletak pada kesurupannya. (III. Kg (60-69)) IV. Untuk mendapatkan informasi tentang mengapa subyek tetap mau menonton pertunjukan Jathilan yang disertai kesurupan dan perilaku subjek ketika memutuskan tetap menonton pertunjukan Jathilan yang disertai kesurupan Kognitif Afektif Konatif Keinginan untuk tetap ------ Masih mau menonton mau menonton datang Jathilan sampai dari diri sendiri karena sekarang.(IV. Kn (101- memang menyukai 103) Jathilan dan sejak kecil sudah menonton Jathilan. (IV. Kg (84-

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 89)) Berdasarkan tabel 5 dapat disimpulkan bahwa Dr mempunyai pikiran kesurupan sebagai hal yang tidak masuk akal. Awalnya Dr mempunyai perasaan takut saat melihat Jathilan namun lama-kelamaan terbiasa. Perasaan yang ada saat ini saat menonton Jathilan adalah perasaan senang dan bangga. Perasaan ini kemudian menimbulkan perilaku Dr yang tetap mau menonton Jathilan hingga sekarang. Dr meyakini kesurupan adalah hal yang menakutkan saat penarinya menjadi liar dan mulai nubruk-nubruk. Dr mengaku kadang sepulang meonton masih terbayang-bayang suara musik Jathilan. Kesurupan menurut Dr adalah saat orang dirasuki roh, orang tersebut seperti tidur namun masih bisa bergerak. Dr meyakini bahwa kesurupan dalam Jathilan merupakan kesurupan yang disengaja. Penari harus fokus mendengarkan musik gamelannya sehingga lama-kelamaan penari tersebut akan ndadi. Pada awalnya Dr memiliki perasaan takut saat menonton Jathilan, namun karena terbiasa menonton lama-lama perasaan takut tersebut hilang dan Dr menjadi biasa saja. Perasaan yang ada sepulang Dr menonton Jathilan adalah perasaan senang karena Jathilan dirasakan sebagai hiburan untuk melupakan beban dan stres sejenak. Terkait dengan posisi kesurupan dalam Jathilan Dr berpendapat bahwa Jathilan sebaiknya ada kesurupannya karena seni dan wibawa dari Jathilan terletak di kesurupannya. Dr mengaku bosan saat menonton Jathilan tanpa kesurupan

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 karena Jathilan yang tidak seram dianggap tidak menarik dan membosankan. Dr mengaku akan pulang jika penarinya menari terlalu lama. Alasan Dr tetap mau menonton Jathilan dengan kesurupan adalah karena memang menyukai Jathilan sejak kecil. Selain itu Dr menyukai Jathilan karena memiliki perasaan bangga memiliki kesenian Jathilan yang tidak ada di daerah lain. Dapat disimpulkan bahwa Dr mempunyai pikiran kesurupan sebagai hal yang tidak masuk akal, pikiran tersebut disertai dengan perasaan positif yaitu perasaan senang dan bangga sehingga perilaku yang akan muncul adalah Dr tetap mau menonton Jathilan. Kesimpulan Umum Dari ketiga subjek diatas terdapat beberapa kesamaan yaitu ketiganya mempunyai pikiran yang sama terhadap kesurupan yaitu kesurupan sebagai hal yang menakutkan. Subjek Ch dan Ans mempunyai persepsi kesurupan sebagai hal yang menakutkan karena apa yang dilakukan oleh penarinya dilihat sebagai hal yang tidak wajar dan aneh. Hal ini sedikit berbeda dengan subjek Dr yang takut karena penarinya sering nubruk-nubruk dan lari-lari. Selain itu, subjek Ans juga takut karena takut ikut ketularan. Disamping itu, Ch dan Ans tidak merasa terbayangbayang sepulang menonton Jathilan, berbeda dengan Dr yang mengaku kadang masih terbayang suara musik Jathilan sepulang menonton. Ketiganya mempunyai konsep yang sama akan terjadinya kesurupan, yaitu

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 adanya roh yang masuk ke dalam tubuh seseorang kemudian mengendalikan orang tersebut. Perasaan yang dimiliki ketiga subjek merupakan perasaan yang positif yaitu senang, kagum dan bangga. Meskipun Dr awalnya mempunyai perasaan takut, namun Dr lama-kelamaan terbiasa dan malah menjadi mempunyai perasaan senang dan bangga saat menonton Jathilan. Ch dan Ans meyakini bahwa kesurupan tidak harus ada dalam suatu pertunjukan Jathilan, jika ada bagus namun jika tidak ada tidak apa-apa karena tidak semua orang bisa kesurupan. Sedangkan Dr meyakini bahwa dalam suatu pertunjukan Jathilan harus ada kesurupannya karena kesurupan merupakan seni dan wibawa dari Jathilan. Ch dan Ans akan tetap menonton Jathilan walaupun tidak disertai kesurupan, perasaan mereka pun tetap senang karena Ch dan Ans senang melihat tariannya yang bagus. Sedangkan Dr merasa bosan dan kemungkinan akan pulang dan tidak melanjutkan menonton pertunjukan Jathilan yang tidak disertai kesurupan jika Dr merasa tariannya terlalu lama. Dalam hal predisposisi perilaku, ketiga subjek menunjukkan perilaku tetap mau menonton hingga sekarang, namun ada keunikan dari subjek Ans. Ia bahkan menonton Jathilan tidak hanya saat pertunjukan, ia bahkan pergi menonton ketika ada sesi latihan Jathilan. Jathilan. Ch dan Ans tetap mau menonton Jathilan karena Jathilan dirasa menghibur dan terlihat ramai/meriah. Selain itu, Ans dan Dr tetap mau menonton Jathilan karena sejak kecil sudah diajak menonton Jathilan oleh orang tua masing-

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 masing. Ch dan Dr juga tetap mau menonton Jathilan karena Ch dan Dr menganggap Jathilan itu unik karena tidak ada di Negara atau daerah lain. D. Pembahasan Persepsi adalah proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2011). Gibson (1994) menjelaskan bahwa persepsi adalah proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh seorang individu. Dalam hal ini, persepsi mencakup penerimaan stimulus (inputs), pengorganisasian stimulus dan penerjemahan atau penafsiran stimulus yang telah diorganisasi dengan cara yang dapat mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap, sehingga orang dapat cenderung menafsirkan perilaku orang lain sesuai dengan keadaannya sendiri (Gibson, 1986). Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa persepsi merupakan proses pemberian arti terhadap kejadian yang disadari, yang dipicu oleh stimulus eksternal dan internal, yang berasal dari panca inderanya dan kemudian dapat mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap seseorang. Persepsi mengandung tiga komponen yang membentuk struktur persepsi, antara lain: kognitif (pemikiran/perseptual) yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsikan terhadap objek (Walgito, 2003); afektif (perasaan) menyangkut masalah emosional

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 subjektif seseorang terhadap suatu objek persepsi. Rasa senang merupakan hal yang positif, sedangkan rasa tidak senang merupakan hal yang negatif (Azwar, 2005); dan konatif (predisposisi perilaku) yang menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek persepsi yang dihadapinya. Kaitan ini didasari oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku (Azwar, 2005). Stimulus yang diterima subjek adalah kesurupan dalam pertunjukan Jahilan. Ketiga subjek pada aspek kognitif memandang kesurupan dalam pertunjukan Jathilan sebagai hal yang negatif, kesurupan dipandang sebagai hal yang menakutkan, tidak masuk akal, dan mistis (Ch, I. Kg (5-9); Ans, I. Kg (3-7); Dr, I. Kg (3-7)). Dalam penelitian Riza, kesurupan dalam Tarian Kuda Lumping dianggap menakutkan karena orang yang sedang kesurupan bertingkah tidak wajar seperti makan pecahan kaca, dicambuk, dan tingkah lainnya yang tidak masuk akal. Kesurupan juga dihubungkan dengan masuknya roh ke dalam tubuh seseorang. Persepsi terhadap roh inilah yang membuat kesurupan dianggap mengerikan. Ch dan Ans menyatakan takut akan perilaku penari yang tidak biasa dan aneh, seperti: makan beling, makan ayam hidup dan lain-lain (Ch, I. Kg (24-33)); Ans, I. Kg (3- 7)). Sedangkan Dr mengaku takut jika penarinya nubruk-nubruk (Dr, I. Af (25- 30)). Hal ini menunjukkan bahwa ketiga subjek takut atas apa yang dilakukan oleh penarinya. Ketiga subjek

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 meyakini penari saat kesurupan sedang dirasuki oleh roh sehingga melakukan hal-hal yang tidak biasa dan aneh. Keyakinan inilah yang membuat pikiran takut subjek karena pikiran takut mereka bersumber pada roh yang sedang mengendalikan penari tersebut. Sehingga menimbulkan aspek ancaman yang ada di luar kendali diri subjek. Sedangkan dalam aspek perasaan, ketiga subjek memandang kesurupan sebagai hal positif, kesurupan dalam Jathilan dirasakan sebagai hal yang menghibur sehingga perasaan yang timbul adalah perasaan senang, kagum, dan bangga (Ch, I. Af (38-40); Ans, I. Af (25-27); Dr, I. Af (43-52)). Ch mengungkapkan bahwa Ch merasakan Jathilan sebagai hal yang menghibur dari tari-tariannya dan saat penarinya melaukan hal-hal aneh (Ch, 131-132). Jathilan dirasakan menghibur karena tujuan dari pentas Jathilan itu sendiri adalah sarana hiburan, bukan untuk menakutnakuti orang. Sutanto Mendut dalam wawancaranya untuk oase.kompas.com menyebutkan bahwa kesurupan karena roh sulit dideskripsikan dengan rasio yang dipelajari secara keilmuan. Akan tetapi, deskripsi tentang penari yang kesurupan adalah kemanusiaanya. Mereka yang seniman desa itu dengan kesurupannya adalah interkultural. Sutanto juga menyatakan bahwa kesurupan dalam pementasan Jathilan tidak berbahaya, baik terhadap penari maupun penontonnya (oase.kompas.com). Hal ini memperlihatkan bahwa kesurupan yang ada dalam kesenian Jathilan dimaksudkan sebagai pelestarian budaya, bukan merupakan media mistis yang bermaksud untuk menakut-nakuti. Hal ini kemudian juga

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 menjawab mengapa masih ada remaja yang gemar menonton Jathilan meskipun jaman sudah semakin modern, yaitu karena mereka sudah sejak kecil diperkenalkan kepada kesenian Jathilan oleh orang tua masingmasing (Ans, IV Kg (123-138)). Selain itu ketiga subjek masih ingin melestarikan kebudayaan daerah yang menjadi kebanggaan mereka (Ch, IV. Kg (100-112)). Berbeda dengan kesurupan massal atau kesurupan yang tidak disengaja, kesurupan dalam Jathilan memang dimaksudkan sebagai media hiburan. Pramono Pinunggul, seorang seniman saat ditanyai untuk oase.kompas.com mengatakan bahwa penari yang kesurupan lebih atraktif dalam menari. Setelah kesurupan, gerakan menjadi dinamis karena penarinya menari keluar dari aturan yang membelenggu sehingga lebih indah dalam berimprovisasi. Saat kesurupan, penari pun sering melakukan hal-hal lucu seperti bertingkah seperti monyet. Hal-hal seperti inilah yang membuat menonton kesurupan dalam Jathilan dianggap sebagai hiburan yang meriah yang bisa menimbulkan perasaan senang pada penontonnya. Kesurupan dalam kesenian Jathilan tidak berbahaya dan masih terkendali berbeda dengan kesurupan yang terjadi dengan tidak disengaja. Hal ini juga diungkapkan oleh Springate (2009) yang mengatakan bahwa Kuda Lumping merupakan pertunjukan yang kesurupannya berada di panggung dan dipertunjukkan secara terbuka, penonton yang datang pun sudah mengantisipasi akan adanya kesurupan. Sedangkan kesurupan massal terjadi di tempat umum, sama sekali tidak terduga dan bisa menimpa saja

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 saja. Orang merasa takut dengan kesurupan dalam konteks kesurupan massal bisa menimpa siapapun dan kapan pun, sebaliknya dengan kesurupan dalam konteks Kuda Lumping hanya pemainnya saja yang kesurupan (Springate, 2009). Sehingga kesurupan dalam kesenian Jathilan dianggap oleh penontonnya sebagai hiburan, bukan sebagai sesuatu yang mengancam atau berbahaya. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Muhammad Riza dan Istina Puji R. yang menyebutkan bahwa kesurupan dipandang sebagai hal yang menakutkan, namun dalam hasil penelitian ini menyebutkan lebih lanjut tentang perasaan yang meliputi dan predisposisi perilaku subjek saat menonton Jathilan berbeda dengan penelitian Riza yang hanya meneliti pada komponen koginitif saja. Dari penelitian ini dapat dilihat bahwa pikiran yang negatif belum tentu diikuti dengan perasaan dan perilaku yang negatif juga. Hasil predisposisi perilaku ketiga subjek adalah tetap mau menonton Jathilan, hal ini menjelaskan bahwa yang mendorong ketiga subjek untuk tetap mau menonton adalah adanya perasaan positif yang dirasakan subjek saat menonton Jathilan. Meskipun pikiran ketiga subjek negatif, namun perasaan yang menyertai adalah perasaan positif sehingga perilakunya akan cenderung positif. Hal ini menunjukkan bahwa pikiran negatif tidak selalu menimbulkan perilaku negatif pula. Kita harus terlebih dulu melihat aspek perasaan yang menyertainya. Seperti dalam penelitian

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 ini saat pikiran negatif dan perasaannya positif, maka perilakunya cenderung positif.

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketiga subjek mempersepsi kesurupan dalam ranah kognitifnya sebagai hal yang menakutkan, namun pikiran tersebut tidak diikuti dengan perasaan yang negatif. Perasaan yang menyertai adalah perasaan positif, yaitu: senang, kagum, dan bangga. Sehingga perilaku yang akan muncul adalah subjek tetap mau menonton Jathilan. Hal tersebut dapat menjelaskan mengapa akhirnya orang tetap mau menonton Jathilan. Ternyata pikiran negatif tidak selalu diikuti perasaan negatif, namun bisa diikuti perasaan positif sehingga menimbulkan predisposisi perilaku yang positif. Orang masih mau menonton Jathilan karena dibalik pikiran yang negatif (takut, tidak biasa, aneh, mistis, dan lain-lain) ada perasaan yang positif yang menyertainya (senang, kagum, bangga, dan lain-lain) sehingga kecenderungan perilaku yang akan muncul adalah positif, yaitu tetap mau menonton Jathilan. Adanya perasaan positif dibalik pikiran yang negatif adalah karena kesurupan dalam Jathilan dimaksudkan sebagai hiburan. Ancaman yang ada saat menyaksikan kesurupan yang tidak disengaja tidak terjadi dalam kesurupan dalam Jathilan. Kesurupan dalam Jathilan bersifat disengaja dan memang dihadirkan untuk hiburan pelestarian budaya dan sudah diantisipasi oleh subjek sehingga perasaan yang akan timbul adalah perasaan bangga dan kagum. 59

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 B. Saran 1. Bagi Penonton Jathilan Pikiran takut dalam menonton kesenian Jathilan adalah ketakutan yang wajar, namun yang mendukung untuk tetap mau menonton kesenian Jathilan adalah aspek perasaan yang positif seperti senang, kagum, menghibur dan bangga. Maka disarankan untuk penonton Jathilan yang benar-benar menyukai jathilan untuk memunculkan aspek positif tersebut agar orang lain dapat memahami bahwa kesurupan dalam Jathilan bukan hal yang mengerikan tapi sebagai hiburan. Bahwa memang kesurupan dalam Jathilan memang hal yang direncanakan terjadi sehingga penonton tidak perlu merasa terancam karena aspek keamanan pasti sudah diantisipasi oleh panitia dengan adanya pawang dan kandang yang mengelilingi area Jathilan. Kemudian selanjutnya diharapkan akan lebih banyak orang yang tertarik untuk melestarikan kesenian daerah. 2. Bagi Peneliti Selanjutnya Bagi peneliti selanjutnya yang berminat untuk meneliti topik yang sama dapat meneliti dengan subjek yang merupakan orang biasa, bukan yang merupakan penggemar kesenian Jathilan. Kemudian melihat apakah persepsinya akan sama dengan subjek yang merupakan penggemar kesenian Jathilan.

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 1989. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Bina Aksara. Amabile, Teresa. 1992. Growing Up Creative; Nurturing a Lifetime of Creativity. Westview Press. Azwar. 1996. Pengantar Administrasi Kesehatan. Jakarta. Binarupa Aksara. Azwar. 2005. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. Dewi, Heristina. 2007. Perubahan Makna Pertunjukan Jaran Kepang pada Masyarakat Jawa di Kelurahan Tanjung Sari, Medan. Majalah Historisme (Edisi 23). Universitas Sumatera Utara. Gibson, James J. 1986. The Ecological Approach to Visual Perception. Boston: Houghton Mifflin. Gibson. 1994. The Concept of The Stimulus in Psychology. Gibson James J. American Psychologist, vol 15 (11), 694-703. Kuda Lumping. 2011. Diunduh Sabtu, http://id.wikipedia.org/wiki/Kuda_lumping. 26 November 2011. Kuda Lumping Menari Sambil Kesurupan. 2011. Diunduh Sabtu, 26 November 2011. http://jadiberita.com/blog/2011/02/15/kuda-lumping-menari-sambilkesurupan/. Lestinasari, Risma. 2007. Studi Kasus Faktor-faktor Penyebab Trans Disosiatif. Universitas Muhamadiyah Malang News. Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 1999. Direktori Seni Pertunjukan Tradisional. Indonesia :Arti Line. Moelong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Priyatin, Slamet. 2012. Ketika Kuda Lumping Kesurupan. Diunduh Sabtu, 19 http://oase.kompas.com/read/2012/10/09/08171750/ Oktober 2013. Ketika.Kuda.Lumping.Kesurupan. Poerwandari, Kristi. 2005. Pendekatan Kualitatif untuk Penelitian Perilaku Manusia. Jakarta : Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. 61

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 Ratnaningsih. 1995 Psikologi Umum dalam Keperawatan. Bandung. Pustaka Setia. Riza, Muhammad & Istina Puji R.. 2010. Perception of Javanese Ritual Trance at Kuda Lumping and Sablang Bakungan: An Indigeneous Study in Javanese Culture. Proceeding International Conference of Asian Society: “Exploration of Asian Indigenous Perspective; Communalities and Differences”; Yogyakarta, July 21-24 2011, page 201-206. Robert, Arthur S. & Emily S. Reber. 2010. Kamus Psikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Santrock, John W. 2002. Life-Span Development. Jakarta: Erlangga Smith, Jonathan A. 2009. Psikologi Kualitatif: Panduan Praktis Metode Riset. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Springate, Lucy A. C. 2009 Kuda Lumping dan Fenomena Kesurupan Massal: Dua Studi Kasus Tentang Kesurupan dalam Kebudayaan Jawa. UMMnews-1003. Walgito, Bimo. 2003. Psikologi Sosial. Yogyakarta. Penerbit Andi.

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 LAMPIRAN

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 Verbatim Subjek 1 Subjek : Chy Wawancara Pertama, 20 Februari 2013 Apa sih yang ada di pikiran kamu waktu denger tentang kesurupan dalam pertunjukan jathilan Hm? (mengerutkan dahi) Yang kamu pikirin apa waktu denger kata kesurupan? Yo serem lah, mistis.. Trus? Gapapa ngomong aja... Seremnya gimana? Yo aneh lah.. Yo kan anu,, makan beling.. makan ayam hidup... yo gitu. Trus kalo kesurupan sendiri artinya apa buat kamu? Kesurupan itu yo, apa ya seolah-olah gak.. (tertawa malu) Gakpapa ngomong aja.. Nggak sadar lah.. Nggak sadar? Terus... Aneh gitu... Aneh, anehnya kenapa? Ya itu tadi... yang makan beling.. trus gimana ya.. unik lah gitu.. Uniknya gimana? Ya kan ga semua orang bisa kesurupan gitu lah.. Gitu.. Trus kalo orang kesurupan itu sebenernya apa sih yang terjadi? Sama orangnya gitu.. Yo, nganu... gimana mbak kurang jelas.. hehe Jadi kalo sebenernya kalo orang kesurupan itu kenapa? Kenapa dia kesurupan? Ya karena diundang to itu? Kalo di jathilan lho.. Iya kalo di jathilan ya.. trus? Jelasin aja gapapa cerita... Pertama kan sadar to, trus lama-lama kan pusing ato gimana tu.. trus jadi tak sadarkan diri gitu setelah diundangin rohnya itu.. Trus pas nggak sadar itu apa yang terjadi? Bertingkah semaunya lah, sesuka hati.. kaya makan ayam hidup tadi itu contohnya. Terus, sering nonton jathilan kan? Iya sering.. Apa sih yang kamu rasain waktu nonton kesurupan dalam pertunjukan jathilan? Waktu ngeliat penari jathilannya itu kesurupan apa rasanya? Rasanya ya.. kagum lah.. kok bisa seperti itu, bertingkah yang nggak wajar. Nggak wajar yang kaya... Ya itu makan beling itu kan nggak wajar to? Apa itu wajar? Hahaha Ya barangkali cemilannya sehari-hari beling... hahaha. Jadi kagum, ehm, soalnya melakukan hal yang ngga wajar gitu ya? He eh iya.. Waktu ada kesurupan dalam jathilan itu biasanya apa yang kamu lakuin? Ya Cuma nonton aja to, biasa aja sih... udah terbiasa nonton...

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 Biasanya kalo pulang habis nonton jathilan itu yang ada di pikiran kamu apa? Biasa aja tuh.. Biasa ajanya gimana? Ya biasa aja... Gak ketakutan apa kebayang gitu tuh.. yo biasa lah.. Santai-santai aja... Gitu ya.. terus menurut kamu gimana kalo dalam suatu pertunjukan jathilan itu gak ada kesurupannya? Jadi Cuma nari ga ada bagian yang kesurupan itu.. Ya ga ada seninya lah.. Ga ada seninya? Terus? Ceritain aja.. Kalo ga ada yang kesurupan tu ya nggak rame.. Jadi menurut kamu jathilan itu harus ada kesurupannya nggak? Yo... Nggak semuanya ding.. Nggak semuanya? Tapi kalo ga ada ga seru? Kalo menurut aku yo ga seru kalo nggak ada kesurupannya... tapi nggak harus ada.. Kenapa ya alasannya? Yo kan kalo jathilan anak itu ya apa mau disuruh kesurupan mbak anaknya.. haha Haha. Iya sih.. terus kamu pernah nggak tapi nonton jathilan yang ga ada kesurupannya? Iya pernah sih.. Trus perasaanmu gimana waktu nonton jathilan yang nggak ada kesurupannya gitu cuma nari? Yo seneng lah.. narinya kan ya bagus lah.. kan nontonnya di panggung di pentas seni itu lho.. Perasaannya senang? He ehm. Senengnya kenapa? Yo tariannya sih bagus.. Trus biasanya yang kamu lakuin apa kalo nonton jathilan yang ga ada kesurupannya? Ya Cuma liat aja.. Cuma liat aja? Ga ikutan nari? Haha Ya sapa tau gitu.. hahaha Enggak lah.. ntar malah dikira orang gila.. Hehe.. kamu biasanya nonton jathilan gitu sama siapa? Sama temen-temen... Pernah nonton sendirian nggak? Jarang-jarang sih... Tapi pernah? Kan rombongan itu kalo nonton itu rombongan biasanya Jadi nggak pernah sendirian? Nggak.. Nggak, males.. Kalo sendirian males? He ehm.. Kalo sama temen-temen emang kenapa?

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 Gakpapa, ada temen yang diajak ngobrol aja Oh gitu... kalo sama temen-temen ada yang diajak ngobrol.. jadi mau nonton apa ngobrol? Hahaha Ya sekalian nonton sama ngobrol to.. haha Trus apa sih yang membuat kamu tetep mau nonton jathilan? Yo kan di negara lain nggak ada..unik gitu lho.. melestarikan kebudayaan sendiri... Wawancara Kedua, 14 Juli 2013 Ini kan waktu kamu ditanya tentang pikiran kamu waktu nonton kesurupan dalam jatilan kan katanya serem nih, sebenernya seremnya itu kenapa ya? Seremnya yo karena ngga wajar itu mbak.. Ngga wajar yang gimana ya? Yang makan beling, makan ayam gitu kan kalo diliat serem mbak... masa yo ada orang makan ayam hidup, wajarnya ya digoreng dulu gitu... Jadi kamu seremnya itu sama apanya sebenernya? Yo sama yang makan-makan itu... Oh gitu, trus kalo serem gitu kenapa kamu masih mau liat? Ya soalnya rame mbak, buat hiburan gitu... Kalo tau ada jathilan terus ga nonton itu rasanya kurang gitu lah... Oh kayak kecanduan gitu ya? Iya gitu lah.. Dari apanya sih yang menghibur itu? Ya dari tariannya, musiknya, trus kalo pas aneh-aneh gitu.. trus ini kan kamu bilang kalo jathilan ga ada kesurupannya ga rame, sebenernya kenapa sih? Kenapa apanya mbak? Maksudnya kenapa jathilan itu nek ngga ada kesurupannya malah ga rame? Ya soalnya seninya ya di kesurupan itu, kalo cuma nari ya kurang gitu lah.. Apanya yang kurang ya? Ya yang ditunggu-tunggu kan kesurupannya, mbak.. kalo nggak ada kan rasanya kurang.. Oh gitu... Menurut kamu seberapa penting kesurupan dalam pertunjukan jathilan itu? Yo penting mbak, pokoknya seninya itu ya di kesurupannya, yang bikin beda sama kesenian lainnya kan ya itu.. Trus kamu masih mau nonton jathilan nggak sampe sekarang? Yo masih lah mbak, kapan itu siang-siang ada kok saya nonton...

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 Koding Subjek 1 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 VERBATIM Apa sih yang ada di pikiran kamu waktu denger tentang kesurupan dalam pertunjukan jathilan? Hm? (mengerutkan dahi) Yang kamu pikirin apa waktu denger kata kesurupan? Yo serem lah, mistis.. Trus? Gapapa ngomong aja... Seremnya gimana? Yo aneh lah.. Yo kan anu,, makan beling.. makan ayam hidup... yo gitu. Trus kalo kesurupan sendiri artinya apa buat kamu? Kesurupan itu yo, apa ya seolah-olah gak.. (tertawa malu) Gakpapa ngomong aja.. Nggak sadar lah.. Nggak sadar? Terus... Aneh gitu... Aneh, anehnya kenapa? Ya itu tadi... yang makan beling.. trus gimana ya.. unik lah gitu.. Uniknya gimana? Ya kan ga semua orang bisa kesurupan gitu lah.. Gitu.. Trus kalo orang kesurupan itu sebenernya apa sih yang terjadi? Sama orangnya gitu.. Yo, nganu... gimana mbak kurang jelas.. hehe Jadi kalo sebenernya kalo orang kesurupan itu kenapa? Kenapa dia kesurupan? Ya karena diundang to itu? Kalo di jathilan lho.. Iya kalo di jathilan ya.. trus? Jelasin aja gapapa cerita... Pertama kan sadar to, trus lama-lama kan pusing ato gimana tu.. trus jadi tak sadarkan diri gitu setelah diundangin rohnya itu.. Trus pas nggak sadar itu apa yang terjadi? Bertingkah semaunya lah, sesuka hati.. kaya makan ayam hidup tadi itu contohnya. Terus, sering nonton jathilan kan? Iya sering.. Apa sih yang kamu rasain waktu nonton kesurupan dalam pertunjukan jathilan? Waktu ngeliat penari jathilannya itu kesurupan apa rasanya? Rasanya ya.. kagum lah.. kok bisa seperti itu, bertingkah yang nggak wajar. Nggak wajar yang kaya... Ya itu makan beling itu kan nggak wajar to? Apa itu wajar? Hahaha Ya barangkali cemilannya sehari-hari beling... hahaha. KODING KETERANGAN I. Kg (4-5) Yang dipikirkan ketika mendengar kata kesurupan adalah seram, mistis, dan aneh. I. Kg (1028)  Kesurupan adalah keadaan tidak sadar.  Orang yang kesurupan berperilaku aneh seperti makan beling  Kesurupan itu unik, tidak semua orang bisa. I. Kg (2433)  Awalnya penari sadar, lama-lama pusing kemudian menjadi tidak sadar setelah ‘roh’ diundang.  Saat tidak sadar penari bertingkah sesuka hati, contohnya makan ayam hidup. I. Af (3638) Ada perasaan kagum saat melihat penari yang kesurupan.

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 Jadi kagum, ehm, soalnya melakukan hal yang ngga wajar gitu ya? He eh iya.. Waktu ada kesurupan dalam jathilan itu biasanya apa yang kamu lakuin? Ya Cuma nonton aja to, biasa aja sih... udah terbiasa nonton... Biasanya kalo pulang habis nonton jathilan itu yang ada di pikiran kamu apa? Biasa aja tuh.. Biasa ajanya gimana? Ya biasa aja... Gak ketakutan apa kebayang gitu tuh.. yo biasa lah.. Santai-santai aja... Gitu ya.. terus menurut kamu gimana kalo dalam suatu pertunjukan jathilan itu gak ada kesurupannya? Jadi Cuma nari ga ada bagian yang kesurupan itu.. Ya ga ada seninya lah.. Ga ada seninya? Terus? Ceritain aja.. Kalo ga ada yang kesurupan tu ya nggak rame.. Jadi menurut kamu jathilan itu harus ada kesurupannya nggak? Yo... nggak semuanya ding.. Nggak semuanya? Tapi kalo ga ada ga seru? Kalo menurut aku yo ga seru kalo nggak ada kesurupannya... tapi nggak harus ada.. Kenapa ya alasannya? Yo kan kalo jathilan anak itu ya apa mau disuruh kesurupan mbak anaknya.. haha Haha. Iya sih.. terus kamu pernah nggak tapi nonton jathilan yang ga ada kesurupannya? Iya pernah sih.. Trus perasaanmu gimana waktu nonton jathilan yang nggak ada kesurupannya gitu cuma nari? Yo seneng lah.. narinya kan ya bagus lah.. kan nontonnya di panggung di pentas seni itu lho.. Perasaannya senang? He ehm. Senengnya kenapa? Yo tariannya sih bagus.. Trus biasanya yang kamu lakuin apa kalo nonton jathilan yang ga ada kesurupannya? Ya Cuma liat aja.. Cuma liat aja? Ga ikutan nari? Haha Ya sapa tau gitu.. hahaha Enggak lah.. ntar malah dikira orang gila.. Hehe.. kamu biasanya nonton jathilan gitu sama siapa? Sama temen-temen... Pernah nonton sendirian nggak? Jarang-jarang sih... Tapi pernah? Kan rombongan itu kalo nonton itu I. Kn (4849) Subjek tetap menonton ketika terjadi kesurupan dalam jathilan. I. Kn (52- Setelah menonton 54) perasaannya biasa, tidak ketakutan atau terbayangbayang. II. Kg (58- Jika jathilan tanpa 61) kesurupan tidak ada seninya dan tidak ramai. III. Kg (63 Jathilan tidak -69) harus ada kesurupannya, tapi jika tidak ada tidak seru. Jathilan yg tidak harus ada kesurupannya contohnya jathilan anak. II. Af (7580) Perasan waktu menonton jathilan yang tidak ada kesurupannya senang karena narinya bagus. II. Kn (79) Yang dilakukan ketika menonton jathilan yang tidak ada kesurupannya hanya melihat saja.

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 111 112 rombongan biasanya Jadi nggak pernah sendirian? Nggak.. Nggak, males.. Kalo sendirian males? He ehm.. Kalo sama temen-temen emang kenapa? Gakpapa, ada temen yang diajak ngobrol aja Oh gitu... kalo sama temen-temen ada yang diajak ngobrol.. jadi mau nonton apa ngobrol? Hahaha Ya sekalian nonton sama ngobrol to.. haha Trus apa sih yang IV. Kg membuat kamu tetep mau nonton (100-112) jathilan? Yo kan di negara lain nggak ada..unik gitu lho.. melestarikan kebudayaan sendiri... 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 Wawancara tambahan Ini kan waktu kamu ditanyai tentang pikiran kamu waktu nonton kesurupan dalam jatilan kan katanya serem nih, sebenernya seremnya itu kenapa ya? Seremnya yo karena ngga wajar itu mbak.. Ngga wajar yang gimana ya? Yang makan beling, makan ayam gitu kan kalo diliat serem mbak... masa yo ada orang makan ayam hidup, wajarnya ya digoreng dulu gitu... Jadi kamu seremnya itu sama apanya sebenernya? Yo sama yang makan-makan itu... Oh gitu, trus kalo serem gitu kenapa kamu masih mau liat? Ya soalnya rame mbak, buat hiburan gitu... Kalo tau ada jathilan terus ga nonton itu rasanya kurang gitu lah... Oh kayak kecanduan gitu ya? Iya gitu lah..Dari apanya sih yang menghibur itu? Ya dari tariannya, musiknya, trus kalo pas aneh-aneh gitu.. trus ini kan kamu bilang kalo jathilan ga ada kesurupannya ga rame, sebenernya kenapa sih? Kenapa apanya mbak? Maksudnya kenapa jathilan itu nek ngga ada kesurupannya malah ga rame? Ya soalnya seninya ya di kesurupan itu, kalo cuma nari ya kurang gitu lah.. Apanya yang kurang ya? Ya yang ditunggutunggu kan kesurupannya, mbak.. kalo nggak ada kan rasanya kurang.. Oh gitu... Yang membuat tetap mau menonton jathilan karena unik, tidak ada di Negara lain dan melestarikan kebudayaan sendiri. I. Kg (117-124) Kesurupan seram karena tidak wajar, contoh perilaku tidak wajar yang seram adalah yang makan beling dan ayam hidup. IV. Kg (126-130) Masih mau menonton jathilan karena ramai dan untuk hiburan, jika ada jathilan dan tidak menonton rasanya kurang. II. Kg (137-142) Jathilan tanpa kesurupan tidak ramai karena seninya ada di kesurupannya,

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 143 144 145 146 147 148 149 150 Menurut kamu seberapa penting kesurupan dalam pertunjukan jathilan itu? Yo penting mbak, pokoknya seninya itu ya di kesurupannya, yang bikin beda sama kesenian lainnya kan ya itu.. Trus kamu masih mau sering nonton jathilan nggak sampe sekarang? Yo masih lah mbak, kapan itu siang-siang ada kok saya nonton... III. Kg (145-147) IV. Kg (149-150) jika tidak ada rasanya kurang. Kesurupan itu penting karena yang menjadi pembeda dengan kesenian lain. Masih mau menonton jathilan sampai sekarang.

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 Verbatim Subjek 2 Subjek : Ans Wawancara Pertama, 21 Februari 2013 Apa sih yang ada di pikiran kamu waktu denger tentang kesurupan dalam jathilan? Iya kalo aku sih cuma takut aja.. Takut kenapa? Iya.. hehe (tertawa malu) Terus? Ceritain takutnya kenapa.. Gimana ya mbak ya... Ya kan sukanya ngelakuin yang aneh-aneh itu mbak... Gak biasa.. hehe Kalo kesurupan sendiri artinya apa menurut kamu? Kesurupan sendiri? Ya itu paling apa yah.. (terlihat berpikir) Artinya kesurupan... Artinya kesurupan itu paling itu makhluk yang ga keliatan itu paling ya itu... hehe.. gak bisa jawab mbak.. haha Gakpapa... ngomong aja yang di pikiran kamu.. Ya paling masuk ke dalam tubuh seseorang, terus bisa jadi kesurupan itu.. ya biasanya malem hari sih, mbak... kalo siang-siang itu biasanya jarang... Kenapa siang kok jarang? Setannya keluarnya malem paling... hehe Jadi kesurupan itu ada setan yang masuk ke dalam tubuh seseorang? Iya gitu... Oke.. Terus, apa sih yang kamu rasain waktu nonton pertunjukan jatilan? Ya seneng bisa merasakan pengalaman, bisa melihat-melihat kebudayaan dari Jogjakarta gitu... Terus biasanya kalo ada pemain yang mulai kesurupan itu kamu ngapain? Jadi di pertunjukan trus pemainnya mulai kesurupan itu biasanya kamu ngapain? Ya biasanya agak menjauh dari kandang jatilannya itu, biasanya kan kalo pemainpemain itu kan banyak, ada yang keluar dari kandangnya trus plesotan-plesotan jatoh dari itu, terus ya menjauh aja, mbak... Menjauh... Menjauhnya kenapa? Entar bisa jadi kesurupan gitu... Maksudnya? Ya takut kesurupan aja... Terus apa sih yang ada di pikiran kamu sepulang menonton jatilan? Ya paling ya, bisa melihat betapa bagusnya kreativitas dari pemuda-pemuda sekarang ini yang bisa, masih bisa melestarikan jatilan dari daerahnya masingmasing. Trus gimana perasaannya kalo habis nonton jatilan gitu? Ya bangga mbak, masih ada yang mau melestarikan kesenian daerah masingmasing... Trus menurut kamu gimana kalo dalam satu pertunjukan jatilan ga ada kesurupannya sama sekali? Jadi cuman nari-nari gitu

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 oo.. Ya mungkin ya nggak papa, mbak.. Nggak papa? Harus nggak sih menurutmu? Nggak diharuskan sih.. Kenapa ngga harus? Ya.. mungkin itu Cuma.. apa ya, Cuma melestarikan jatilan tarian-tarian gitu.. jadi nggak harus kesurupan juga.. Nggak harus kesurupan juga? menurut kamu kesurupan itu bagian dari jatilan nggak? Ya, bisa jadi enggak mbak... kan kebanyakan tu ya juga kebanyakan ngga bisa kesurupan, kan paling ya langsung lari ke dalam rumah.. Yang penting narinya gitu mbak... Tapi pernah nggak nonton jatilan yang nggak ada kesurupannya? Pernah. Perasaan kamu gimana waktu nonton itu? Ya, gimana ya mbaknya.. hehe. Ya nggak papa sih mbak paling ya cuma liat tariannya aja yang penting bagus.. sama ya seperti yang diajarkan para leluhur gitu.. hehe Terus biasanya apa yang kamu lakuin kalo nonton jatilan yang ga ada kesurupannya? Waktu kamu nonton gitu biasanya ngapain? Ya tetep nonton sampe selesai mbak... Apa sih yang membuat kamu tetep mau nonton jatilan? Ya karena tariannya tu bagus, sama gimana ya.. penontonnya juga banyak.. trus ya gitu.. Trus ada bedanya gak sih kalo misalnya kamu nonton jatilan yang ada kesurupannya sama ngga ada kesurupannya? Sebenarnya kalo yang bagus itu kalo yang kesurupan gitu lho mbak.. Jadi tuh emang yang imannya kuat itu emang jarang kesurupan.. Jadi menurut kamu bedanya apa? Perbedaannya tu, gimana ya.. kalo yang Cuma nari ya nari aja.. trus yang bisa kesurupan ya sbenernya kebanyakan bisa yang kesurupan itu... Jadi ya sebenernya sama-sama bisa nari bagus, Cuma perbedaannya Cuma yang kesurupan sama yang enggak... Jadi tu antara kamu nonton kesurupan yang ada, eh salah, haha, jatilan yang ada kesurupannya sama yang ngga ada kesurupannya tu bedanya apa buat kamu? Yang kamu rasain... Ya ngerasainnya tu... Apa ya mbak ya.. hehe. Ehm.. bagusan mana menurut kamu? O ya bagusan yang ada kesurupannya gitu mbak.. Tadi katanya yang penting narinya..? haha Ya iya bagus yang narinya bagus sama kesurupan.. haha. Ya kalo narinya bagus ya bagus, tapi lebih bagus kalo ada kesurupannya gitu mbak.. Oke.. Kamu biasanya nonton jatilan sama siapa? Sama mbak, pakde gitu... Kamu mau nonton itu karena apa? Ya karena kelihatannya tu meriah aja gitu disana tuh.. kayaknya bagus.. kan juga sering latihan-latihan gitu..

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 Wawancara kedua 14 Juli 2013 Ini kan kamu bilang takut kan waktu denger soal kesurupan dalam jathilan, bisa jelasin ngga takutnya kenapa? Takutnya yo... soalnya ya gak biasa itu mbak, trus takut ketularan gitu, kan sering tu ada penonton yang ikut kesurupan juga mbak... jadi takut ketularan gitu... Oh gitu jadi takut kalo ketularan juga? Iya.. hehe. Sama kalo lari-lari penarinya.. Hmm. Trus kalo takut kenapa kamu nonton jathilan? Ya... Soalnya kenapa ya.. Ya bagus itu mbak soalnya... hehe. Dari kecil juga udah dibawa nonton sih mbak, jadinya gimana ya... Bagusnya gimana? Ya narinya itu bagus... Terus meriah, rame.. Jadi masih mau nontonnya karena apa? Soalnya tariannya bagus gitu lah... Jadi walaupun takut tapi karena tariannya bagus kamu tetep mau nonton? Iya gitu.. Ada alasan lain nggak kenapa kamu masih mau nonton jathilan walaupun takut? Ya tadi itu mbak, soalnya kelihatannya meriah, rame.. Kenapa emang kalo meriah atau rame? Ya kayaknya bagus gitu, bikin pengen liat. Sampe sekarang masih sering nonton gak? Lumayan sih mbak, kalo ada ya nonton, kalo latihan itu ya kadang nonton kok...

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 Koding Subjek 2 VERBATIM Apa sih yang ada di pikiran kamu waktu denger tentang kesurupan dalam jatilan? Iya kalo aku sih cuma takut aja.. Takut kenapa? Iya.. hehe (tertawa malu) Terus? Ceritain takutnya kenapa.. Gimana ya mbak ya... Ya kan sukanya ngelakuin yang aneh-aneh itu mbak... Gak biasa.. hehe. Kalo kesurupan sendiri artinya apa menurut kamu? Kesurupan sendiri? Ya itu paling apa yah.. (terlihat berpikir) Artinya kesurupan... Artinya kesurupan itu paling itu makhluk yang ga keliatan itu paling ya itu... hehe.. gak bisa jawab mbak.. haha. Gakpapa... ngomong aja yang di pikiran kamu. Ya paling masuk ke dalam tubuh seseorang, terus bisa jadi kesurupan itu.. ya biasanya malem hari sih, mbak... kalo siang-siang itu biasanya jarang... Kenapa siang kok jarang? Setannya keluarnya malem paling... hehe Jadi kesurupan itu ada setan yang masuk ke dalam tubuh seseorang? Iya gitu... Oke.. Terus, apa sih yang kamu rasain waktu nonton pertunjukan jatilan? Ya seneng bisa merasakan pengalaman, bisa melihat-melihat kebudayaan dari jogjakarta gitu... Terus biasanya kalo ada pemain yang mulai kesurupan itu kamu ngapain? Jadi di pertunjukan trus pemainnya mulai kesurupan itu biasanya kamu ngapain? Ya biasanya agak menjauh dari kandang jatilannya itu, biasanya kan kalo pemainpemain itu kan banyak, ada yang keluar dari kandangnya trus plesotan-plesotan jatoh dari itu, terus ya menjauh aja, mbak... Menjauh... Menjauhnya kenapa? Entar bisa jadi kesurupan gitu... Maksudnya? Ya takut kesurupan aja... Terus apa sih yang ada di pikiran kamu sepulang menonton jatilan? Ya paling ya, bisa melihat betapa bagusnya kreativitas dari pemuda-pemuda sekarang ini yang bisa, masih bisa melestarikan KODING I. Kg (37) I. Kg (1120) I. Af (2527) I. Kn (3237) I. Kg (4145) KETERANGAN Yang ada di pikiran saat mendengar kata kesurupan adalah takut karena penarinya suka melakukan hal yang aneh dan tidak biasa. Arti kesurupan adalah makhluk yang tidak kelihatan masuk ke dalam tubuh seseorang yang biasanya terjadi pada malam hari di mana setan biasanya keluar. Ada perasaan senang karena bisa mengalami dan melihat kebudayaan Yogyakarta. Yang dilakukan ketika melihat pemain kesurupan adalah menjauh dari kandang karena takut kesurupan. Yang ada di pikiran sepulang menonton adalah bisa melihat kreativitas pemuda yang

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 jathilan dari daerahnya masing-masing. Trus gimana perasaannya kalo habis nonton jatilan gitu? Ya bangga mbak, masih ada yang mau melestarikan kesenian daerah masing-masing... Trus menurut kamu gimana kalo dalam satu pertunjukan jatilan ga ada kesurupannya sama sekali? Jadi cuman nari-nari gitu oo.. Ya mungkin ya nggak papa, mbak.. Nggak papa? Harus nggak sih menurutmu? Nggak diharuskan sih.. Kenapa ngga harus? Ya.. mungkin itu cuma.. apa ya, cuma melestarikan jatilan tarian-tarian gitu.. jadi nggak harus kesurupan juga.. Nggak harus kesurupan juga? menurut kamu kesurupan itu bagian dari jatilan nggak? Ya, bisa jadi enggak mbak... kan kebanyakan tu ya juga kebanyakan ngga bisa kesurupan, kan paling ya langsung lari ke dalam rumah.. Yang penting narinya gitu mbak... Tapi pernah nggak nonton jatilan yang nggak ada kesurupannya? Pernah. Perasaan kamu gimana waktu nonton itu? Ya, gimana ya mbaknya.. hehe. Ya nggak papa sih mbak paling ya cuma liat tariannya aja yang penting bagus.. sama ya seperti yang diajarkan para leluhur gitu.. hehe. Terus biasanya apa yang kamu lakuin kalo nonton jatilan yang ga ada kesurupannya? Waktu kamu nonton gitu biasanya ngapain? Ya tetep nonton sampe selesai mbak... Apa sih yang membuat kamu tetep mau nonton jatilan? Ya karena tariannya tu bagus, sama gimana ya.. penontonnya juga banyak.. trus ya gitu.. Trus ada bedanya gak sih kalo misalnya kamu nonton jatilan yang ada kesurupannya sama ngga ada kesurupannya? Sebenarnya kalo yang bagus itu kalo yang kesurupan gitu lho mbak.. Jadi tuh emang yang imannya kuat itu emang jarang kesurupan.. Jadi menurut kamu bedanya apa? Perbedaannya tu, gimana ya.. kalo yang cuma nari ya nari aja.. trus yang bisa I. Af (4749) masih bisa melestarikan jathilan. Ada perasaan bangga masih ada yang mau melestarikan kesenian daerah. III. Kg (53 Jathilan tidak - 59) harus ada kesurupannya karena mungkin cuma melestarikan tariannya jadi tidak harus kesurupan. II. Kg (61 Kesurupan bisa -65) jadi bukan bagian dari jathilan karena kebanyakan penarinya tidak bisa kesurupan. II. Af (67- Perasaan waktu 73) menonton jathilan tanpa kesurupan tidak apa-apa yang penting tariannya bagus seperti yang diajarkan leluhur. II. Kn (76- Yang dilakukan 77) tetap menonton sampai selesai. IV. Kg Yang membuat (79-81) tetap mau menonton karena tariannya bagus dan penontonnya banyak. III. Kg (84  Jathilan yang -108) bagus yang ada kesurupannya.  Jathilan bagus kalau narinya

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 kesurupan ya sebenernya kebanyakan bisa yang kesurupan itu... Jadi ya sebenernya sama-sama bisa nari bagus, cuma perbedaannya cuma yang kesurupan sama yang enggak... Jadi tu antara kamu nonton kesurupan yang ada, eh salah, haha, jatilan yang ada kesurupannya sama yang ngga ada kesurupannya tu bedanya apa buat kamu? Yang kamu rasain... Ya ngerasainnya tu... Apa ya mbak ya.. hehe. Ehm.. bagusan mana menurut kamu? O ya bagusan yang ada kesurupannya gitu mbak.. Tadi katanya yang penting narinya..? haha. Ya iya bagus yang narinya bagus sama kesurupan.. haha. Ya kalo narinya bagus ya bagus, tapi lebih bagus kalo ada kesurupannya gitu mbak.. Kamu mau nonton itu karena apa? Ya karena IV. Kg kelihatannya tu meriah aja gitu disana (109-112) tuh.. kayaknya bagus.. kan juga sering latihan-latihan gitu.. 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 Wawancara tambahan Ini kan kamu bilang takut kan waktu denger soal kesurupan dalam jathilan, bisa jelasin ngga takutnya kenapa? Takutnya yo... soalnya ya gak biasa itu mbak, trus takut ketularan gitu, kan sering tu ada penonton yang ikut kesurupan juga mbak... jadi takut ketularan gitu... Oh gitu jadi takut kalo ketularan juga? Iya.. hehe. Sama kalo lari-lari penarinya.. Hmm. Trus kalo takut kenapa kamu nonton jathilan? Ya... Soalnya kenapa ya.. Ya bagus itu mbak soalnya... hehe. Dari kecil juga udah dibawa nonton sih mbak, jadinya gimana ya... Bagusnya gimana? Ya narinya itu bagus... Terus meriah, rame.. Jadi masih mau nontonnya karena apa? Soalnya tariannya bagus gitu lah... Jadi walaupun takut tapi karena tariannya bagus kamu tetep mau nonton? Iya gitu.. Ada alasan lain nggak kenapa kamu masih mau nonton jathilan walaupun takut? Ya tadi I. Kg (116-121) IV. Kg (123-138) bagus, tapi lebih bagus lagi jika ada kesurupannya. . Mau menonton jathilan karena kelihatannya meriah dan bagus. Ada pikiran takut saat mendengar soal kesurupan karena tidak biasa, takut jika ketularan kesurupan, dan takut waktu penarinya larilari.  Masih mau menonton karena dari kecil sudah dibawa nonton dan tariannya bagus.  Selain itu karena terlihat ramai dan meriah sehingga membuat ingin menonton.

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 135 136 137 138 139 140 141 itu mbak, soalnya kelihatannya meriah, rame.. Kenapa emang kalo meriah atau rame? Ya kayaknya bagus gitu, bikin pengen liat. Sampe sekarang masih sering nonton gak? Lumayan sih mbak, IV. Kn kalo ada ya nonton, kalo latihan itu ya (139-141) kadang nonton kok... Masih lumayan sering menonton, bahkan saat latihan pun kadang menonton.

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 Verbatim Subjek 3 Subjek : Dry Apa sih yang ada di pikiran kamu waktu denger kata kesurupan? Percaya gak percaya gitu lah... Sebabnya apa? Ya kok bisa gitu lho, setan masuk ke dalam tubuh manusia, kan agak ga masuk akal gitu lho mbak.. Oh gitu.. Terus kalo kesurupan itu menurut kamu apa artinya? Orang yang kerasukan roh atau apa gitu.. kaya lupa ingatan itu lho, seperti tidur tapi masih kerasa gerak-gerak... Itu kenapa? Itu awalnya pikiran kosong trus ya udah dirasuki gitu sama roh.. Apa sih yang terjadi waktu orang kesurupan? Jadi kaya tidur tapi masih bisa gerak, yang ngendaliin roh gitu, mbak... Trus menurut kamu apa sih kesurupan dalam jathilan itu? Kesurupan dalam jathilan? Gimana ya... ya itu kesurupannya emang disengaja, caranya pake musiknya itu mbak, kalo orangnya fokus dengerin musiknya nanti lama-lama ndadi... ga sadar tapi masih bisa gerak tadi itu mbak. Trus perasaan kamu apa sih waktu liat orang kesurupan dalam pertunjukan jathilan? Ya takut gitu... tapi lama-lama ya nggak takut mbak udah biasa liat juga.. Awalnya takutnya kenapa? Ya takutnya kalo lagi nonton terus yang kesurupan terus liar gitu lho mbak, biasanya kan ada yang nubruk-nubruk orang gitu.. Waktu ada kesurupan dalam pertunjukan jathilan gitu biasanya apa yang kamu lakuin? Ya nonton aja mbak, kalo ada yang nubruk-nubruk ya menghindar palingan.. Trus kalo sepulang nonton jathilan tu apa yang ada di pikiran kamu? Ya kadang di telinga tu masih kebayang musik-musiknya tu mbak.. trus perasaannya ya senang atau gimana gitu lah... Senangnya kenapa? Ya udah terhibur sama pertunjukan e itu to, melupakan beban pikiran sejenak.. haha O gitu... hehehe Ya kalo menurut saya sih gitu, jathilan tu menghilangkan stres mbak, daripada di rumah bengong apa keluyuran ga jelas to? Iya bener.. haha. Trus menurutmu gimana kalo dalam suatu pertunjukan jathilan ga ada kesurupannya? Jadi Cuma nari gitu.. Ya kurang nyeni ya.. Wibawanya kurang gitu.. Menurut kamu di dalam suatu pertunjukan jathilan harus ada kesurupannya nggak? Sebenernya sih enggak, cuman ada yang kurang gitu.. Ya cuman kan dari dulunya sudah ada kesurupan kalo sekarang ga pake kan ada yang kurang to rasanya? Jadi baiknya ada kesurupannya enggak?

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 Baiknya sih ada mbak.. kalo nggak ada itu wibawanya kurang gitu mbak, seninya jathilan kan dari kesurupannya itu lho.. Tapi pernah nggak nonton jathilan yang ga ada kesurupannya? Pernah sih... tapi lupa dimana tu... Trus waktu nonton jathilan yang ga ada kesurupannya itu kamu perasaannya gimana? Rasanya bosen lah.. Bosennya kenapa? Ga ada menarik-menariknya.. hehe. Trus ga menariknya kenapa? Ya karena ga serem... kan jatilan yang serem itu kan kalo ada kesurupannya... kalo Cuma nari tok gitu rasanya gimana gitu lah... Ga bikin pengen liat gitu mbak... Bosen. Trus waktu kamu nonton jathilan yang ga ada kesurupannya itu ngapain? Ya nonton aja sih, kalo narinya kelamaan trus bosen ya mungkin pulang mbak... Trus apa sih yang membuat kamu masih mau nonton jathilan? Ya nggak ada yang nyuruh juga sih cuman datang dari diri sendiri aja kalo saya tu suka sama jathilan.. udah dari dulu juga mbak dari kecil saya dibawanya ya nonton jathilan sama bapak.. Hmm.. trus sukanya kenapa? Ya gimana ya.. ya kan tu kan kebanyakan ada di jogja ini, di daerah lain apa ada kaya di jakarta gitu. Jadi seperti bangga gitu lho punya kesenian jathilan gitu... yang daerah lain nggak punya... Masih mau nonton ngga sampe sekarang? Masih kalo ada mbak.. biasanya tapi deket-deket puasa gini sih nggak ada mbak...

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 Koding Subjek 3 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 VERBATIM Apa sih yang ada di pikiran kamu waktu denger kata kesurupan? Percaya gak percaya gitu lah... Sebabnya apa? Ya kok bisa gitu lho, setan masuk ke dalam tubuh manusia, kan agak ga masuk akal gitu lho mbak.. Oh gitu.. Terus kalo kesurupan itu menurut kamu apa artinya? Orang yang kerasukan roh atau apa gitu.. kaya lupa ingatan itu lho, seperti tidur tapi masih kerasa gerak-gerak... Itu kenapa? Itu awalnya pikiran kosong trus ya udah dirasuki gitu sama roh.. Apa sih yang terjadi waktu orang kesurupan? Jadi kaya tidur tapi masih bisa gerak, yang ngendaliin roh gitu, mbak... Trus menurut kamu apa sih kesurupan dalam jathilan itu? Kesurupan dalam jathilan? Gimana ya... ya itu kesurupannya emang disengaja, caranya pake musiknya itu mbak, kalo orangnya fokus dengerin musiknya nanti lama-lama ndadi... ga sadar tapi masih bisa gerak tadi itu mbak. Trus perasaan kamu apa sih waktu liat orang kesurupan dalam pertunjukan jathilan? Ya takut gitu... tapi lamalama ya nggak takut mbak udah biasa liat juga.. Awalnya takutnya kenapa? Ya takutnya kalo lagi nonton terus yang kesurupan terus liar gitu lho mbak, biasanya kan ada yang nubruknubruk orang gitu.. Waktu ada kesurupan dalam pertunjukan jathilan gitu biasanya apa yang kamu lakuin? Ya nonton aja mbak, kalo ada yang nubruk-nubruk ya menghindar palingan.. Trus kalo sepulang nonton jathilan tu apa yang ada di pikiran kamu? Ya kadang di telinga tu masih kebayang musik-musiknya tu mbak.. trus perasaannya ya senang atau KODING KETERANGAN Yang ada dipikiran saat mendengar kata I. Kg (3-7) kesurupan adalah antara percaya dan tidak percaya, seperti tidak masuk akal jika setan bisa masuk ke tubuh manusia. I. Kg (9 Kesurupan adalah 25) saat orang dirasuki roh, seperti tidur namun masih bisa bergerak.  Kesurupan dalam jathilan merupakan kesurupan yang disengaja, dengan fokus mendengarkan musiknya lama-lama penari akan ndadi. I. Af (2530) I. Kn (3739) I. Kg (41-  Perasaan yang ada saat menonton jathilan awalnya takut, lama-lama terbiasa.  Perasaan takut muncul saat penari menjadi liar dan nubruk-nubruk. Yang dilakukan saat ada kesurupan dalam jathilan tetap menonton dan hanya menghindar jika ada penari yang nubruknubruk.

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 gimana gitu lah... Senangnya kenapa? Ya udah terhibur sama pertunjukan e itu to, melupakan beban pikiran sejenak.. haha O gitu... hehehe Ya kalo menurut saya sih gitu, jathilan tu menghilangkan stres mbak, daripada di rumah bengong apa keluyuran ga jelas to? Iya bener.. haha. Trus menurutmu gimana kalo dalam suatu pertunjukan jathilan ga ada kesurupannya? Jadi Cuma nari gitu.. Ya kurang nyeni ya.. Wibawanya kurang gitu.. Menurut kamu di dalam suatu pertunjukan jathilan harus ada kesurupannya nggak? Sebenernya sih enggak, cuman ada yang kurang gitu.. Ya cuman kan dari dulunya sudah ada kesurupan kalo sekarang ga pake kan ada yang kurang to rasanya? Jadi baiknya ada kesurupannya enggak? Baiknya sih ada mbak.. kalo nggak ada itu wibawanya kurang gitu mbak, seninya jathilan kan dari kesurupannya itu lho.. Tapi pernah nggak nonton jathilan yang ga ada kesurupannya? Pernah sih... tapi lupa dimana tu... Trus waktu nonton jathilan yang ga ada kesurupannya itu kamu perasaannya gimana? Rasanya bosen lah.. Bosennya kenapa? Ga ada menarikmenariknya.. hehe. Trus ga menariknya kenapa? Ya karena ga serem... kan jatilan yang serem itu kan kalo ada kesurupannya... kalo Cuma nari tok gitu rasanya gimana gitu lah... Ga bikin pengen liat gitu mbak... Bosen. Trus waktu kamu nonton jathilan yang ga ada kesurupannya itu ngapain? Ya nonton aja sih, kalo narinya kelamaan trus bosen ya mungkin pulang mbak... Trus apa sih yang membuat kamu masih mau nonton jathilan? Ya nggak ada yang nyuruh juga sih cuman datang dari diri sendiri aja kalo saya tu suka sama 43) I. Af (4352) Sepulang menonton kadang masih terbayang suara musik jathilan. Perasaan sepulang menonton jathilan adalah senang karena jathilan dirasakan sebagai hiburan untuk melupakan beban dan stres sejenak. II. Kg (5657) Jathilan tanpa kesurupan dianggap kurang nyeni, wibawanya kurang. III. Kg (60 -69)  Jathilan sebaiknya ada kesurupannya karena jika tidak ada jathilan dianggap kurang berwibawa.  Seni dari jathilan terletak pada kesurupannya. II. Af (7482) II. Kn (84 -86) IV. Kg  Perasaan saat menonton jathilan tanpa kesurupan adalah bosan karena jathilan yang tidak seram dianggap tidak menarik.  Jika hanya menari rasanya tidak menarik dan membosankan. Tetap menonton saat menonton jathilan tanpa kesurupan, tapi akan pulang jika bosan karena menarinya terlalu lama.

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 jathilan.. udah dari dulu juga mbak (88-93) dari kecil saya dibawanya ya nonton jathilan sama bapak.. Hmm.. trus sukanya kenapa? Ya gimana ya.. ya kan tu kan kebanyakan ada di jogja ini, di daerah lain apa ada kaya di jakarta gitu. Jadi seperti bangga gitu lho punya kesenian jathilan gitu... yang daerah lain nggak punya... I. Af (94Masih mau nonton ngga sampe 99) sekarang? Masih kalo ada mbak.. biasanya tapi deket-deket puasa gini sih nggak ada mbak... IV. Kn (101-103) Keinginan untuk tetap mau menonton datang dari diri sendiri karena memang menyukai jathilan dan sejak kecil sudah menonton jathilan. Menyukai jathilan karena ada rasa bangga memiliki kesenian jathilan yang tidak ada di daerah lain. Masih mau menonton jathilan sampai sekarang.

(98)

Dokumen baru

Tags