Perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II - USD Repository

Gratis

0
3
206
10 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1 PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR ATAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW II SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Disusun oleh : Carolus Borromeus Fajar Triprasetyanto 101134235 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 1

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI i PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR ATAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW II SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Disusun oleh : Carolus Borromeus Fajar Triprasetyanto 101134235 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ii SKRIPSI PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR ATAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW II ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iii SKRIPSI PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR ATAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW II iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI iv Persembahan Skripsi ini ku persembahkan kepada:  Allah Bapa yang bertahta di Surga  Tuhan Yesus Kristus  Bunda Maria  Kedua Orang Tuaku, Bapak Markus Riyadi & Ibu Antonia Dwi Usmaniyati  Kakakku Yoseph Doni Prasetyo, Valentina Dewi Prasetyowati dan Hastri Eva Febriantari  Adikku Thomas Catur Prsetyo Adi  Kekasihku Ursula Wahyu Dwi Widyaningsih  Sahabat-sahabatku  Almamaterku PGSD angkatan 2010 iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI v Motto  Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan padamu.  Hidup adalah perjuangan dan setiap perjuangan itu mengandung konsekuensi.  Sapa tekun bakal tinemu.  Eling sangkan paraning dumadi.  Yang bercucuran keringat dan berpeluh air mata akan menuai dengan sorak sorai.  Ora et labora.  Di dalam hidup ini semua ada waktunya. Ada waktunya menabur, ada juga waktunya menuai.  Sabar menanti waktu Tuhan, karena Tuhan tidak akan mempercepat atau memperlambat Dia menjadikan Semuanya indah tepat pada waktunya. v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vi PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 10 Juni 2014 Penulis Carolus Borromeus Fajar Triprasetyanto vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI vii LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Carolus Borromeus Fajar Triprasetyanto Nomor Mahasiswa : 10 1134 235 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR ATAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW II Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 10 Juni 2014 Yang menyatakan Carolus Borromeus Fajar Triprasetyanto vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI viii ABSTRAK PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR IPS SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR ATAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW II Carolus Borromeus Fajar Triprasetyanto Universitas Sanata Dharma 2014 Penelitian ini dilaksanakan karena dalam proses pembelajararan IPS di kelas V Sekolah Dasar masih banyak ditemui guru yang mengajar menggunakan model pembelajaran konvensional, guru mendominasi kegiatan pembelajaran dengan ceramah dan tanya jawab. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II pada materi menghargai jasa-jasa tokoh dalam persiapan kemerdekaan Indonesia. Jenis penelitian ini adalah quasi experimental tipe nonequivalent control group design. Populasi penelitian adalah siswa kelas V SD Negeri Tegalrejo 2, sampel kelompok eksperimen adalah kelas VA dengan jumlah 30 siswa dan sampel kelompok kontrol adalah kelas VB dengan jumlah 26 siswa. Instrumen penelitian menggunakan soal tes untuk mengukur variabel prestasi belajar. Instrumen penelitian menggunakan 20 soal pilihan ganda yang valid dan reliabel. Uji validitas dan uji reliabilitas instrumen menggunakan bantuan program SPSS 20 for windows. Uji validitas menggunakan korelasi Point Biserial dengan taraf signifikansi 0,05 dan nilai r tabel 0,361. Uji reliabilitas menggunakan rumus Alpha Cronbach dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,898 yang termasuk kualifikasi sangat tinggi. Teknik pengumpulan data menggunakan soal pretest dan soal posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Analisis data menggunakan bantuan program SPSS 20 for windows dengan Independent t-test. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan prestasi belajar IPS siswa sekolah dasar secara signifikan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II. Hal tersebut terbukti dari nilai signifikansi (2tailed) sebesar 0,00 (atau < 0,05). Sehingga penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II lebih efektif dibandingkan model pembelajaran konvensional. Kata kunci : model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II, prestasi belajar viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ix ABSTRACT THE DIFFERENCE IN THE SOCIAL SUBJECTACHIEVMENT OF THE TIFTH GRADE ELEMENTARY STUDENTS BY IMPLEMENTING COOPERATIVE LEARNING MODEL JIGSAW II TYPE Carolus Borromeus Fajar Triprasetyanto Sanata Dharma University 2014 This research was conducted because in the learning process of social science (IPS) in the 5th grade, conventional learning method ware still used often, teachers tend to dominate the learning activity by giving explanation and conducting question-answer session. The purpose of this research was to find out the difference in the social subject achievement of the fifth grade elementary students by implementing cooperative learning model Jigsaw II type in the material of appreciating the figures in the preparation of the independence of Indonesia. This research was a quasi-experimental research nonequivalent control group design type. The population was the fifth grade students of SD Negeri Tegalrejo 2 (Tegalrejo 2 Public Elementary School). The sample of the experimental group was VA class consisting of 30 students and the sample of control group was VB class consisting of 28 students. The research instrument used was a test consisting of 20 valid and reliable multiple choice questions to measure the achievement variable. The validity and reliability tests of the instrument were conducted using SPSS 20 for windows program. The validity test was conducted using the Point Biserial correlation with the 0.05 significance level and the 0.361 r table score. Alpha Cronbach was used for reliability test with the reliability coefficient of 0.898 which was very high. The data was gathered using pretest and posttest for the experimental group and control group. The data was analyzed using SPSS 20 for windows program with Independent t-test. The result of the research showed that there was the significant difference in the social subject achievement of the elementary students with the implementation of cooperative learning model Jigsaw II type. It was proven by the significance score (2tailed) of 0.00 (or < 0.05). It could be concluded that the implementation of cooperative learning model Jigsaw II type was more effective than the conventional learning model. Keywords: cooperative learning model Jigsaw II type, learning achievement ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI x KATA PENGANTAR Puji dan syukur saya ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan dalam penyusunan skripsi yang berjudul “Perbedaan Prestasi Belajar IPS Siswa Kelas V Sekolah Dasar Atas Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw II”. Skripsi ini disusun dengan tujuan memenuhi salah satu syarat memperolah gelar Sarjana Pendidikan di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Jurusan Ilmu Pendidikan Fakulktas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. Dalam penyusunan skripsi ini penulis memperoleh bimbingan, bantuan, dan dorongan dari berbagai pihak, baik secara moriil maupun materiil. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih terutama kepada kepada: 1. Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. 2. Gregorius Ari Nugrahanta, S.J, S.S., B.ST., M.A., Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. 3. Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D., selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. 4. Drs. Y.B. Adimassana, M.A., selaku Dosen Pembimbing I yang bersedia meluangkan waktu, memberikan bantuan, dukungan, arahan, dorongan dan kritik dalam menyelesaikan skripsi ini. 5. Rusmawan, S.Pd., M.Pd., Selaku dosen pembimbing II yang bersedia meluangkan waktu, memberikan arahan, dorongan dan kritik dalam menyelesaikan skripsi ini. 6. Drs. Sukawit, M.A., selaku kepala SD Negeri Tegalrejo 2 yang telah memberikan izin untuk pelaksanaan penelitian ini. 7. Iswanto, S.Pd., selaku guru kelas VA yang berkenan memberikan arahan, waktu dan kesempatan untuk melaksanakan penelitian ini. 8. Sugiarsih, S.Pd., selaku guru kelas VB yang berkenan memberikan arahan, waktu dan kesempatan untuk melaksanakan penelitian ini. 9. Siswa dan siswi kelas VA dan VB SD Negeri Tegalrejo 2 tahun ajaran 2013/2014 yang telah bersedia menjadi subyek penelitian. x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xi 10. Seluruh dosen Prodi PGSD yang telah memberikan dukungan dan bimbingan serta bantuannya selama penulis kuliah. 11. Pak Hermoyo, Bu Tri, Mas Arifin (Sekretariat PGSD), atas kerjasamanya dalam melayani selama kuliah dan pembuatan surat izin penelitian. 12. Kedua orang tuaku Bapak Markus Riyadi, S.Pd. dan Ibu Antonia Dwi Usmaniyati, S.Pd. yang telah memberikan kasih sayang, doa, dukungan secara moriil maupun materiil. 13. Kakakku Yoseph Doni Prasetyo, Valentina Dewi Prasetyawati dan Hastri Eva Febriantari serta adikku Thomas Catur Prasetyo Adi yang selalu memberi dukungan, bantuan dan semangat. 14. Ursula Wahyu Dwi Widyaningsih kekasihku, terima kasih atas semangat dan pendampinganmu dalam menyelesaikan skripsi ini. 15. Teman-teman Payung Jigsaw: Novem, Lala, Arma, Titin, Iren, Dina, Oca, Bumen, Septi kita telah berjuang bersama. 16. Teman-teman seperjuangan PPL SDN Tegalrejo 2: Tama, Zega, Titin, Novem, Apri, Zulfan, Agung. 17. Seluruh rekan-rekan PGSD angkatan 2010 yang tidak dapat disebutkan satu persatu. 18. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah banyak membantuku selama penyelesaian skripsi ini. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan. Yogyakarta, 10 Juni 2014 Penulis Carolus Borromeus Fajar Triprasetyanto xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xii DAFTAR ISI halaman HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................ ii HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................ iv HALAMAN MOTTO ........................................................................................ v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ....................................... vi HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ....................... vii ABSTRAK....................................................................................................... viii ABSTRACT ...................................................................................................... ix KATA PENGANTAR ........................................................................................ x DAFTAR ISI .................................................................................................... xii DAFTAR TABEL ............................................................................................ xv DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xvi DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xvii BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1 1.1 Latar belakang masalah ................................................................................. 1 1.2 Pembatasan masalah .................................................................................... 6 1.3 Rumusan masalah ......................................................................................... 6 1.4 Tujuan penelitian .......................................................................................... 6 1.5 Manfaat penelitian ........................................................................................ 7 1.5.1 Manfaat teoritis ........................................................................................... 7 1.5.2 Manfaat praktis ........................................................................................... 7 1.5.2.1 Bagi guru ................................................................................................. 7 1.5.2.2 Bagi siswa ................................................................................................ 7 1.5.2.2 Bagi sekolah ............................................................................................. 7 1.5.2.2 Bagi peneliti ............................................................................................. 7 1.5.2.2 Bagi peneliti lain ...................................................................................... 7 BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................. 8 2.1 Kajian teori .................................................................................................... 8 2.1.1Belajar ......................................................................................................... 8 2.1.1.1 Pengertian belajar ..................................................................................... 8 2.1.1.2 Ciri-ciri belajar ....................................................................................... 10 2.1.1.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar ............................................. 13 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xiii 2.1.1.4.Prestasi belajar ....................................................................................... 17 2.1.2. Model Pembelajaran kooperatif ............................................................... 21 2.1.2.1. Definisi model pembelajaran kooperatif ............................................... 21 2.1.2.2.Karakteristik model pembelajaran kooperatif ......................................... 23 2.1.2.3.Tujuan model pembelajaran kooperatif .................................................. 25 2.1.2.4. Unsur-unsur model pembelajaran kooperatif ......................................... 26 2.1.2.5. Macam-macam model pembelajaran kooperatif .................................... 29 2.1.2.6. Perbandingan pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw I dan Jigsaw II...................................................................................................... 33 2.1.2.7. Penghargaan (Reward)model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II .... 35 2.1.3. Mata pelajaran IPS di SD ......................................................................... 36 2.1.3.1.Hakekat mata pelajaran IPS di SD .......................................................... 36 2.1.3.2 Ciri-ciri mata pelajaran IPS di SD .......................................................... 37 2.1.3.3.Tujuan mata pelajaran IPS di SD ............................................................ 38 2.1.3.4. Efektivitas Pembelajaran IPS di SD dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II ............................................................... 41 2.1.3.5. Standar kompetensi dan kompetensi dasar ............................................. 43 2.2 Kajian penelitian terdahulu ........................................................................... 43 2.3 Kerangka berpikir ........................................................................................ 47 2.4 Hipotesis penelitian ...................................................................................... 48 BAB III METODE PENELITIAN .................................................................. 49 3.1 Jenis penelitian............................................................................................ 49 3.2 Waktu dan tempat penelitian ....................................................................... 51 3.2.1 Waktu penelitian ....................................................................................... 52 3.2.2 Tempat penelitian ...................................................................................... 52 3.3 Populasi dan Sampel ................................................................................... 52 3.4 Variabel penelitian ...................................................................................... 52 3.5 Definisi operasional .................................................................................... 53 3.6 Instrumen penelitian .................................................................................... 54 3.7 Uji validitas dan reliabilitas Instrumen ........................................................ 55 3.7.1 Penentuan validitas instrumen. .................................................................. 55 3.7.1.1.Validitas isi. ........................................................................................... 55 3.7.1.2. Validitas konstruk. ................................................................................ 56 3.7.1.3Validitas empiris. .................................................................................... 57 3.7.2 Penentuan reliabilitas instrumen. ............................................................... 59 3.8 Teknik pengumpulan data ........................................................................... 61 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xiv 3.9 Teknik analisis data..................................................................................... 61 3.9.1 Teknik analisis deskriptif .......................................................................... 61 3.9.1.1 Ukuran tendensi sentral(mean,median,modus) ........................................ 61 3.9.2 Teknik analisis inferensial ......................................................................... 62 3.9.2.1 Uji normalitas ......................................................................................... 62 3.9.2.2 Uji homogenitas .................................................................................... 63 3.9.2.3 Uji bedapretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen ................. 64 3.9.2.4 Uji pengaruh perlakuan .......................................................................... 65 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN........................................................... 68 4.1 Hasil penelitian ............................................................................................ 68 4.1.1Deskripsi data ............................................................................................ 68 4.1.2 Perbedaanprestasi belajar IPS siswa kelas V SD dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II .............................................................. 72 4.1.2.1Uji normalitas.......................................................................................... 72 4.1.2.2Uji homogenitas ...................................................................................... 76 4.1.2.3 Uji beda pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen ................ 78 4.1.2.4 Uji pengaruh perlakuan .......................................................................... 79 4.2 Rangkuman hasil penelitian.......................................................................... 82 4.3 Pembahasan ................................................................................................ 85 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................ 89 5.1 Kesimpulan .................................................................................................. 89 5.2 Saran............................................................................................................ 90 5.2.1 Saran umum .............................................................................................. 90 5.2.2 Saran untuk sekolah .................................................................................. 90 5.2.3 Saran untuk guru ....................................................................................... 90 5.2.4 Saran saran untuk penelitian selanjutnya ................................................... 90 5.3 Keterbatasan penelitian ................................................................................ 91 DAFTAR REFERENSI ................................................................................... 92 LAMPIRAN ..................................................................................................... 96 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xv DAFTAR TABEL halaman Tabel 2.1 Poin kemajuan individu ...................................................................... 35 Tabel 2.2 Poin kemajuan kelompok .................................................................. 36 Tabel 3.1 Waktu penelitian ................................................................................ 51 Tabel 3.2 Waktu pengambilan data ................................................................... 51 Tabel 3.3 Kisi-kisi instrumen penelitian ............................................................. 55 Tabel 3.4 Item soal valid ................................................................................... 59 Tabel 3.5 Kualifikasi koefisien realibilitas ......................................................... 60 Tabel 3.6 Hasil uji reliabilitas ............................................................................ 60 Tabel 3.7 Pengumpulan data variabel prestasi belajar ......................................... 61 Tabel 4.1 Data prestasi belajar IPS ..................................................................... 71 Tabel 4.2 Hasil uji normalitaspretest kelompok kontrol...................................... 73 Tabel 4.3 Hasil uji normalitasposttestkelompok kontrol ..................................... 73 Tabel 4.4 Hasil uji normalitaspretest kelompok eksperimen ............................... 74 Tabel 4.5 Hasil uji normalitasposttestkelompok eksperimen............................... 75 Tabel 4.6 Hasil uji homogenitas ......................................................................... 77 Tabel 4.7Hasil uji beda ...................................................................................... 78 Tabel 4.8 Hasil uji pengaruh perlakuan .............................................................. 81 Tabel 4.9 Kriteria effect size ............................................................................... 84 Tabel 4.10 Rangkuman data prestasi belajar IPS ................................................ 85 Tabel 4.11 Rangkuman uji homogenitas ............................................................. 85 Tabel 4.12 Rangkuman hasil uji beda ................................................................. 85 Tabel 4.13 Rangkuman uji pengaruh ................................................................. 85 Tabel 4.15 Peningkatan nilai pretest ke posttest ................................................. 85 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xvi DAFTAR GAMBAR halaman Gambar 2.1 Literatur map penelitian terdahulu .................................................. 46 Gambar 3.1 Desain penelitian ............................................................................ 50 Gambar 3.2 Variabel penelitian .......................................................................... 53 Gambar 4.1 Kurva nilai pretest kelompok kontrol .............................................. 73 Gambar 4.2 Kurva nilai posttest kelompok kontrol............................................. 74 Gambar 4.3 Kurva nilai pretest kelompok eksperimen ....................................... 74 Gambar 4.4 Kurva nilai posttest kelompok eksperimen ...................................... 75 Gambar 4.5 Perbandingan antara skor pretest dan posttest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen .................................................................................. 81 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI xvii DAFTAR LAMPIRAN halaman Lampiran 1. Surat Izin penelitian ...................................................................... 96 Lampiran 2. Surat keterangan melaksanakan penelitian ..................................... 98 Lampiran 3. Silabus ........................................................................................... 99 Lampiran 4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ................................... 106 Lampiran 5. Hasil validitas empirik ................................................................. 137 Lampiran 6. Kisi-kisi instrumen prestasi belajar .............................................. 139 Lampiran 7. Lembar Kerja Siswa (LKS) dan materi ajar .................................. 143 Lampiran 8. Butir pretest dan posttest kelompok kontrol dan eksperimen ........ 158 Lampiran 9. Hasil uji normalitas ...................................................................... 162 Lampiran 10. Hasil uji homogenitas ................................................................. 162 Lampiran 11. Hasil uji beda ............................................................................. 163 Lampiran 12. Hasil uji pengaruh perlakuan ...................................................... 164 Lampiran 13. Foto kegiatan pembelajaran ........................................................ 165 Lampiran 14. Lembar observasi Jigsaw II ........................................................ 170 Lampiran 15. Hasil uji validitas konstruk dan validitas isi ................................ 172 Lampiran 16. Nilai r tabel product moment ...................................................... 187 Lampiran 17. Daftar riwayat hidup................................................................... 188 xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1 BAB I PENDAHULUAN Dalam bab I ini peneliti akan membahas tentang latar belakang masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian. 1.1 Latar belakang masalah Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya (Basleman, 2011:12). Keberhasilan siswa dalam belajar dipengaruhi oleh banyak aspek, salah satunya proses pembelajaran. Pembelajaran dikatakan berhasil apabila siswa mampu mencapai prestasi belajar tinggi. Guru sebagai pendidik diharapkan mampu menciptakan kondisi pembelajaran yang berlandaskan PAILKEM (pembelajaran aktif, inovatif, lingkungan, kreatif, efektif, dan menyenangkan) (Uno, 2012:10). Setiap siswa memiliki kemampuankemampuan yang harus diarahkan oleh guru agar dapat berkembang secara optimal dalam pencapaian prestasi belajar secara signifikan. Siswa sebagai subyek belajar hendaknya dikondisikan sebagai pembelajar aktif yang melakukan pembelajaran, mengeksplorasi pengetahuannya sendiri. Sedangkan guru sebagai fasilitator belajar harus mampu mengupayakan kondisi-kondisi yang kondusif. Pembelajaran yang menyenangkan tentu menambah gairah siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Indikator pembelajaran yang menyenangkan adalah terjalinnya pembelajaran yang harmonis dan komunikasi aktif antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa dan guru dengan guru (Lie, 2010:28). Salah satu mata pelajaran inti di SD adalah IPS. Sapriya (2009:7) mengungkapkan bahwa IPS merupakan integrasi dari mata pelajaran sejarah, 1

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2 geografi, dan ekonomi serta ilmu sosial lainnya. IPS dianggap penting untuk diajarkan di SD karena melalui belajar IPS siswa memahami interaksi dalam masyarakat, budaya, kebutuhan, sumber daya alam dan pemanfaatannya. Pendapat Susanto (2013:138) menyatakan bahwa dalam pembelajaran IPS siswa diharapkan mengalami perkembangan secara komperhensif baik aspek kognitif, afektif dan psikomotorik, selanjutnya susanto menegaskan melalui pembelajaran IPS mampu mengembangkan pemahaman kehidupan dalam masyarakat sehingga mencetak warga Negara yang baik dan memiliki tanggung jawab pada Negaranya. Kenyataannya dalam pembelajaran IPS tidak sedikit guru mendominasi kegiatan pembelajaran (teacher center) dengan ceramah atau menyuruh siswa mencatat serta menghafal siswa cenderung pasif dalam belajar sebagai obyek belajar. Menurut guru dalam pembelajaran IPS jika siswa mampu menghafalkan banyak materi maka siswa sudah dikatakan pandai. Pembelajaran seperti ini akan mengurangi minat dan perhatian siswa, bahkan membatasi kemampuan siswa untuk memahami materi ajar secara mendalam untuk mengembangkan pencapaian kompetensi secara menyeluruh baik ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Hal ini membuat jenuh sehingga menghambat siswa dalam mencapai prestasi belajar yang optimal khususnya dalam mata pelajaran IPS (Isjoni, 2008:146). Banyak model pembelajaran yang mengkondisikan siswa berperan sebagai subyek belajar aktif serta membantu siswa mengeksplorasi pengetahuannya secara luas dan komperhensif. Pembelajaran akan semakin menarik, menyenangkan dan memotivasi belajar siswa apabila bervariasi serta dikembangkan dengan modelmodel pembelajaran inovatif. Penentuan model pembelajaran harus menyesuaikan 2

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3 antara model pembelajaran dengan mata pelajaran sehingga membantu pencapaian prestasi belajar siswa secara optimal. Salah satu model pembelajaran inovatif yang menarik dan bermakna bagi kegiatan belajar siswa adalah pembelajaran kooperatif. Menurut Trianto (2009: 56) model pembelajaran kooperatif merupakan pengimplementasian dari konsep yang menyatakan bahwa siswa akan lebih mudah dalam belajar dan memahami konsep yang sulit melalui kegiatan diskusi dengan teman sehingga terbantu dalam memahami materi ajar. Model pembelajaran kooperatif mampu mengaktifkan serta membantu siswa memperkaya pengetahuan melalui berdiskusi. Pembelajaran kooperatif mengkondisikan siswa belajar dalam kelompokkelompok yang memungkinkan antar siswa saling tatap muka; saling mengutarakan pendapat tentang suatu bahasan materi. Siswa memiliki tanggung jawab perorangan untuk menguasai materi sehingga siswa harus mempersiapkan materi yang dibahas. Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah tipe Jigsaw II. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II, mengkondisikan supaya siswa mampu memahami materi ajar secara menyeluruh sebab mereka sudah menyiapkan dan membaca keseluruhan materi ajar yang akan dibahas. Menurut Slavin (2008: 237) tipe Jigsaw II merupakan metode yang sesuai untuk memahami ilmu-ilmu sosial yang bahan kajiannya berbentuk narasi tertulis. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II lebih sesuai untuk memahami penguasaan konsep. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II sesuai untuk mengkaji materi ajar IPS yang merupakan bagian dari ilmu sosial salah satunya memuat materi sejarah yang cukup abstrak pemahamannya. Dalam 3

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4 Jigsaw II siswa bekerja dalam kelompok dengan latar belakang, jenis kelamin, kemampuan yang heterogen. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II diawali dengan siswa mengerjakan kuis awal. Kemudian siswa dibagi dalam kelompok asal. Siswa dalam kelompok asal mempelajari materi yang telah disediakan guru secara keseluruhan, lalu setiap anggota kelompok diberikan lembar ahli yang berbeda-beda. Kelompok ahli terdiri siswa yang mempelajari sub materi yang sama. Kemudian siswa berkumpul dalam kelompok ahli untuk saling bertukar pikiran dan gagasan tentang materi yang dipelajari oleh masing-masing siswa. Setelah saling mengungkapkan pemahamannya, siswa kembali ke kelompok asal untuk menyampaikan hasil temuan dalam kelompok ahli. Pembelajaran diakhiri dengan pemberian kuis untuk menjajagi pemahaman siswa. Hasil kuis masing-masing siswa digunakan untuk pemberian penghargaan (reward) berdasarkan rekognisi tim. Pembelajaran hendaknya tidak hanya didominasi ceramah guru namun perlu divariasikan dengan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II sehingga memaksimalkan pencapaian prestasi belajar siswa. Menurut hasil wawancara dengan guru, model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II belum pernah diimplementasikan di kelas V SD Negeri Tegalrejo 2. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II sebagai model pembelajaran inovatif mampu memberikan akomodasi yang signifikan bagi pencapaian prestasi belajar. Hal tersebut terbukti dari hasil penelitian yang dilakukan Sutama(2012) berjudul pengaruh pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terhadap motivasi dan hasil belajar IPS kelas VII MTS NW Gereneng Kecamatan Sakra Timur NTB 2011/2012. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan prestasi belajar dan 4

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5 motivasi belajar secara signifikan antara siswa yang mengikuti kelas dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan siswa yang mengikuti pembelajaran model konvensional. Arinata, (2011) berjudul pengaruh model kooperatif teknik Jigsaw II terhadap kemampuan membaca ditinjau dari sikap. Menyatakan bahwa terdapat perbedaan secara signifikan dalam kemampuan membaca bahasa inggris pada siswa yang mengikuti kelas dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II dibandingkan dengan siswa yang mengikuti pembelajaran model konvensional. Budiawan, N. (2013) berjudul pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II berbasis peta konsep terhadap hasil belajar IPS pada siswa kelas IV. Hasil penelitian menyatakan terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II berbasis peta konsep berpengaruh terhadap hasil belajar IPS dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional. Wacika (2013) meneliti tentang pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terhadap hasil belajar IPS ditinjau dari sikap sosial dalam pembelajaran IPS kelas V SDN Panjer. Hasil penelitian menunjukkan terdapat selisih hasil belajar yang tinggi antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Berdasarkan pemaparan di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengangkat judul “Perbedaan Prestasi Belajar IPS Siswa Kelas V Sekolah Dasar Atas Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw II”. Pemilihan kelas V sebagai populasi penelitian didasarkan pada jenis materi yang cocok, bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II cocok untuk materi yang berbentuk narasi dan terdiri dari tema yang dipecahkan dalam 5

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6 sub tema. Dalam mata pelajaran IPS SD di kelas V memuat materi sejarah yang cukup abstrak bagi pemahamansiswa sehingga sesuai untuk dikemas dengan menggunakan model pembelajaran inovatif, model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II yang membantu siswa dalam meningkatkan prestasi belajar. 1.2 Pembatasan masalah Peneliti melaksanakan penelitian dengan metode quasi eksperimen dengan menggunakan kelas kontrol dan kelas eksperimen di SD Negeri Tegalrejo 2 kelas V semester 2 tahun pelajaran 2013/2014. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II diterapkan pada mata pelajaran IPS standar kompetensi 2. (Menghargai peranan tokoh mempertahankaan pejuang dan kemerdekaan masyarakat Indonesia) dalam pada mempersiapkan kompetensi dasar dan 2.2 (Menghargai jasa dan peranan tokoh perjuangan dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia). Penerapan model pembelajaran koopertif tipe Jigsaw II dilakukan untuk mengatahui perbedaan prestasi belajar IPS dalam ranah kognitif siswa dalam taksonomi Bloom. 1.3 Rumusan masalah Apakah ada perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II? 1.4 Tujuan penelitian Mengetahui perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II. 6

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 7 1.5 Manfaat penelitian Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.5.1 Manfaat teoritis Secara teoritis penelitian ini menambah wawasan tentang salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat diterapkan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. 1.5.2 Manfaat praktis: 1.5.2.1. Bagi guru kelas Guru mengetahui model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II dan menambah wawasan guru untuk mengimplementasikannya. 1.5.2.2. Bagi Siswa Memacu siswa untuk berpartisipasi aktif dalam mengikuti pembelajaran. 1.5.2.3. Bagi sekolah Menambah referensi bacaan atas implementasi model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II di SD Negeri Tegalrejo 2. 1.5.2.4. Bagi peneliti Memberi pengalaman dalam implementasi pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II serta memberi feedback bagi peningkatan pelaksanaan pembelajaran berikutnya. 1.5.2.5. Bagi peneliti lain Memberikan gambaran atas pelaksanaan penelitian model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II bagi penelitian selanjutnya. 7

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8 BAB II LANDASAN TEORI Bab II berisi kajian pustaka yang akan dibahas. Kajian penelitian yang relevan memuat beberapa hasil penelitian terdahulu yang sesuai dengan topik penelitian. Selanjutnya dirumuskan kerangka berpikir dan hipotesis yang menjadi dugaan/jawaban sementara dari rumusan masalah penelitian. 2.1. Kajian pustaka 2.1.1. Belajar Dalam belajar peneliti hendak membahas tentang pengertian belajar, ciriciri belajar, faktor yang mempengaruhi belajar dan pengertian prestasi belajar. 2.1.1.1. Pengertian belajar Suyono dan Hariyanto (2011:9) belajar merupakan proses pemerolehan pengetahuan yang disertai dengan adanya proses peningkatan keterampilan, perbaikan perilaku dan sikap, serta pengokohan kepribadian. Pengalaman yang dilalui seseorang berulang kali dapat memunculkan pengetahuan. Proses belajar dianggap berhasil apabila pembelajar mampu menerapkan kembali materi belajar yang telah diperoleh. Selanjutnya Winkel (2007:56-59) mengungkapkan belajar merupakan proses psikis yang berlangsung dalam diri manusia dan lingkungan yang menyebabkan terjadinya perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Perubahan-perubahan tersebut merupakan hasil dari belajar yang bersifat menetap dan membekas pada diri manusia. Belajar terjadi apabila alat indera menangkap informasi-informasi secara rutin dan berkelanjutan. Suprijono (2009:4-5) mengemukakan belajar sebagai hasil suatu pengalaman yang diperoleh dari interaksi siswa dengan lingkungan 8

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 9 sekitar yang didorong oleh kebutuhan yang hendak dicapai. Hamalik (2007:27) mengemukakan belajar sebagai modifikasi atau tindakan memperteguh kelakuan melalui pengalaman. Masidjo (2008:11) mengemukakan belajar adalah proses perubahan aktivitas mental yang memiliki tujuan, terjadi dalam hubungan timbal balik dengan lingkungan (keluarga, sekolah) dalam jangka waktu tertentu yang menghasilkan tingkah laku baru/penyempurnaan tingkah laku lama yang bersifat konstan. Piaget dalam Rusman (2010:202) menyatakan bahwa belajar merupakan proses aktif antara siswa dan guru dan pengetahuan diperoleh melalui penyusunan dalam pikiran siswa. Gagne (1984) dalam Dahar (2011) menjelaskan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan perilaku manusia/organisme karena memperoleh pengalaman. Basleman (2011:12) mengartikan belajar sebagai proses perubahan tingkahlaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Djiwandono (2006:120) menerangkan bahwa belajar merupakan perolehan informasi siswa dengan berbagai cara baik disengaja maupun tidak disengaja. Suryabrata (2004:232) menjelaskan belajar merupakan suatu perubahan dalam diri manusia secara aktual dan potensial dalam kecakapan baru. Susanto (2013:4) mengartikan belajar sebagai aktivitas yang dilakukan seseorang secara sengaja dalam kondisi sadar untuk memperoleh pemahaman konsep, pengetahuan baru sehingga terjadi perubahan perilaku dalam berfikir, bertindak dan merasa secara baik dan menetap. Hamalik (2003:28) belajar merupakan kegiatan pengarahan dan pemberian bantuan kepada siswa oleh orang disekitarnya guna mencapai tujuan yang menghasilkan perubahan pola tingkah laku yang bermakna bagi kehidupannya. Djamarah (2011:13) belajar merupakan 9

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 10 perubahan pada tingkah laku baru seseorang yang berasal dari pengalaman berinteraksi dengan lingkungan sekitar yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Syah (2008:68) mendefinisikan belajar sebagai perubahan dalam diri manusia secara menyeluruh yang relatif menetap sebagai hasil interaksi dengan lingkungan yang melibatkan aspek kognitif. Berdasarkan uraian di atas, peneliti mengartikan belajar sebagai proses perubahan dalam diri siswa yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman yang dilakukan secara sadar meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. 2.1.1.2. Ciri-ciri belajar Djamarah (2011:15-16) dan Syah (2008:118-119) mengungkapkan bahwa belajar memiliki ciri-ciri, pendapat mereka memiliki perbedaan dan persamaan. Persamaan gagasan kedua tokoh tentang ciri-ciri belajar adalah: Pertama perubahan dalam belajar bersifat fungsional secara efektif. Perubahan belajar dalam diri siswa berlangsung secara berkelanjutan, serta menetap dalam diri siswa. Perubahan siswa akan menghasilkan perubahan pada tingkatan berikutnya dan memberi manfaat dalam hidupnya serta dalam proses belajar selanjutnya. Misalnya: siswa yang belajar bilangan, maka ia akan mengalami perubahan dari tidak mengetahui bilangan menjadi tahu. Perubahan belajar akan berkembang secara berkelanjutan sampai pengetahuan bilangan semakin sempurna. Kemudian dengan pengetahuan tentang bilangan siswa akan memperoleh pengetahuan selanjutnya dalam melakukan penyelesaian operasi penjumlahan, pengurangan, pembagian dan perkalian. Kedua perubahan dalam belajar memiliki tujuan/intensi khusus dan arah. Perubahan belajar terjadi karena adanyan dorongan untuk mencapai suatu tujuan 10

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11 yang telah ditetapkan. Sebab perubahan belajar dalam diri siswa memiliki arah dan disadari. Bahwa melalui belajar seseorang menyadari akan terjadinya perubahan. Ketiga perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif. Perubahan belajar selalu bertambah dan menuntun manusia untuk memperoleh yang baik dan lebih baik. Pengalaman belajar yang kompleks dan usaha keras dalam belajar mempengaruhi perubahan belajar yang didapat. Perubahan belajar bersifat aktif artinya perubahan itu tidak terjadi secara sendirinya, namun melalui usaha keras siswa tersebut. Selain pendapat di atas, Djamarah (2011:15-16) menambahkan 3 ciri-ciri dalam belajar, yaitu: Pertama perubahan yang terjadi secara sadar. Siswa yang belajar menyadari terjadinya perubahan sebagai akibat belajar. Perubahan tingkah laku yang disebabkan pengaruh minuman keras atau obat-obatan tidak termasuk dalam perubahan belajar, karena terjadi dalam kondisi yang tidak sadar. Perubahan belajar dapat diketahui; misal bertambahnya pengetahuan siswa, keterampilan hidup dan kecakapan hidup dan sebagainya. Kedua perubahan dalam belajar tidak bersifat sementara. Perubahan belajar berlangsung menetap dalam diri manusia, bahkan perubahan itu selalu berkembang dan tidak mudah hilang. Siswa yang belajar bermain pianika maka hasil belajar itu tidak akan pernah hilang dalam dirinya, namun berkembang dan menetap dalam diri siswa itu apabila selalu diasah dan digunakan. Ketiga perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku. Perubahan yang ditimbulkan siswa melalui belajar meliputi seluruh aspek tingkah laku individu 11

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 12 tersebut. Sebab satu aspek dalam perubahan belajar memiliki kaitan dengan aspek lain baik kognitif, afektif dan psikomotorik. Banyak hal yang sebenarnya merupakan gejala hasil belajar. Winkel (2004:13) menjelaskan ciri khas kegiatan belajar sebagai terjadinya suatu perubahan pada orang yang belajar; dia mengalami perubahan dari “belum tahu/belum mampu ke sudah tahu/mampu. Manusia mengalami banyak perubahan karena ia telah belajar banyak: Pertama belajar memperoleh pengetahuan dan pemahaman (bidang belajar kognitif). Kedua belajar memperoleh ketrampilan (bidang belajar sensorik-psikomotorik). Ketiga belajar untuk memperoleh nilai dan sikap (bidang belajar dinamik-afektif). Belajar mendasari sebagian besar dari perkembangan. Adanya tahap perkembangan tertentu mempengaruhi pada hal-hal yang dipelajari anak dan bagaimana cara anak belajar. Sehingga perkembangan anak harus diatur dan diarahkan agar perubahan positif yang diharapkan dapat terjadi dan tercapai. Pengarahan belajar dapat melalui pendidikan formal maupun informal. Sehingga peneliti menyimpulkan ciri-ciri belajar meliputi perubahan yang disadari, perubahan yang positf dan aktif, perubahan secara fungsional dan efektif serta perubahan-perubahan meliputi aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotorik. 12

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13 2.1.1.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar Hamalik (2003:32-33), Sudjana (1989:39) dalam Susanto (2013:15-19) dan Syah (2002:132-138) memberi gagasan tentang faktor-faktor dalam belajar. Gagasan ketiga tokoh itu memiliki kesamaan yaitu: Pertama aspek fisiologis kondisi jasmani menandai organ tubuh mempengaruhi intensitas dan semangat siswa dalam mengikuti pembelajaran. Kondisi kesehatan yang lemah mempengaruhi unsur kognitif siswa sehingga materi pelajaran tidak dapat diserap secara maksimal. Kemudian kemampuan dan berfungsinya indra secara baik, terutama pendengar dan penglihat sangat berpengaruh besar terhadap penyerapan materi di dalam kelas. Kedua aspek psikologis secara esensial dianggap sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa yang terdiri atas: Intelegensi siswa. Intelegensi siswa tidak berhubungan dengan persoalan kualitas otak saja, melainkan juga kualitas organ tubuh lain. Walaupun harus diakui bahwa hubungan kualitas otak dengan intelegensi lebih menonjol, karena otak yang menjadi pengontrol seluruh aktivitas manusia. Tingkat kecerdasan/intelegensi sangat menentukan keberhasilan belajar siswa. Siswa yang kecerdasannya tinggi maka semakin besar peluangnya untuk meraih kesuksesan dan sebaliknya. Intelegensi membantu dalam proses penyerapan materi ajar serta pemecahan-pemecahan siswa dalam proses belajar oleh siswa, sehingga dengan demikian dapat menjadi tolak ukur pencapaian keberhasilan belajar, meskipun hal ini bukan menjadi faktor tunggal yang menentukannya. Selanjutnya kematangan, sikap dan kesiapan siswa. Merupakan kondisi berfungsinya organ-organ tubuh secara optimal dan sebagaimana mestinya. 13

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 14 Sehingga kegiatan belajar mencapai prestasi jika didukung oleh tingkat kematangan yang berhubungan dengan minat dan kebutuhan siswa. Kesiapan merupakan gejala internal berupa kecenderungan untuk merespon dengan cara yang relatif tetap terhadap obyek orang atau barang secara positif dan negatif. Ketika siswa memberikan sikap positif dalam mengikuti pembelajaran,ini menandakan proses belajar yang berlangsung baik. Siswa yang memberi sikap negatif dalam mengikuti pembelajaran, apalagi siswa benci maka siswa tentu akan mengalami kesulitan belajarnya. Sikap conserving mungkin tidak memberi dampak kesulitan belajar siswa, namun tentu akan menjadi kendala bagi perolehan prestasi belajar secara maksimal. terakhir minat siswa. Minat mempengaruhi kualitas pencapaian prestasi belajar siswa. Minat menambah gairah dalam belajar siswa sehingga siswa mampu memusatkan perhatian secara intensif serta menggairahkan keinginan belajar lebih giat yang mendukung pencapaian prestasi belajar secara maksimal. Selanjutnya Sudjana (1989:39) dalam Susanto (2013:15-19) dan Syah (2002:132-138) menguraikan terkait faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa, pendapat mereka memiliki kesamaan pada: Pertama bakat anak. Merupakan potensi yang dimiliki siswa dalam mencapai prestasi pada tingkatan tertentu. Sehingga bakat pun berpengaruh terhadap prestasi belajar. Bakat merujuk seseorang untuk menekuni tugas/pekerjaan tertentu. Sehingga akan lebih baik hasilnya apabila siswa diberikan kebebasan untuk mengembangkan bakatnya melalui pendidikan formal, tanpa orang tua memaksakan kehendak si anak. 14

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 15 Kedua kemauan/ gairah/ motivasi belajar. Salah satu kesulitan guru dalam memandu pembelajaran adalah membiasakan siswa untuk rajin belajar dan menanamkan pada siswa bahwa belajar merupakan kebutuhan siswa bagi hidupnya sekarang dan dimasa depan. Motivasi merupakan keadaan internal yang mendorong orang untuk bertingkahlaku secara terarah. Motivasi intrinsik memiliki kapasitas pendorong yang lebih besar dan cenderung menetap dibandingkan motivasi ekstrinsik sebab dengan motivasi intrinsik siswa memperoleh dorongan dari dalam dirinya sendiri. Motivasi tentu akan mendorong siswa untuk memperoleh prestasi belajar yang tinggi, karena dari dalam diri siswa memiliki dorongan untuk memahami pengetahuan dan ketrampilan yang berguna bagi masa depan anak. Ketiga lingkungan sosial. Keluarga yang mendidik anaknya dengan baik akan menghasilkan anak yang baik dan sebaliknya. Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan awal yang membentuk karakter anak, sehingga kesalahan pendidikan yang diberikan orang tua akan berpengaruh juga pada kesuksesan anak. Selain itu juga masyarakat, pergaulan di masyarakat berpengaruh pada kepribadian seorang siswa. Anak yang berada di lingkungan masyarakat yang kondusif dan baik mendukung siswa tersebut untuk belajar secara giat dan mencapai prestasinya dibandingkan anak yang berkembang di tengah lingkungan yang masyarakatnya kriminal sering melakukan kekerasan dan kejahatan. Keempat lingkungan non sosial. Lingkungan non sosial adalah hal-hal yang berasal dari diri siswa dan diri guru. Dipandang dari pihak guru, hal yang perlu diperhatikan adalah: model penyajian materi pelajaran berkaitan dengan materi yang berwarna-warni, menarik, indah serta mudah dipahami tentu 15

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16 mendukung siswa dalam mencapai keberhasilan belajar, pribadi dan sikap guru berkitan dengan pembawaan perilaku, sifat, kepribadian guru dalam menemani siswa dalam belajar tentu menentukan tanggapan siswa dalam mengikuti proses belajar, entah aktif, pasifnya siswa dalam mengikuti. Hal ini berpengaruh pada gairah dan keinginan siswa dalam belajar yang akhirnya berpengaruh pula pada pencapaian prestasi belajarnya, suasana pengajaran berkitan dengan suasana pembelajaran yang tenang, kondusif, terjalin komunikasi aktif antara siswa-guru, siswa-siswa dan guru-siswa tentu mendukung dalam pencapaian prestasi belajar tinggi bagi siswa, kompetensi guru berkaitan dengan guru hendaknya menguasai kompetensi profesional sebab dengan demikian guru akan lebih menguasai kelas. Guru yang profesional akan cenderung inovatif dalam memilih metode, model pembelajaran dan media pembelajaran yang akan membantu siswa dalam memahami materi pelajaran dan mencapai keberhasilan belajar. Faktor ini dipandang turut dalam menentukan prestasi belajar. Siswa dan guru hendaknya jeli dalam mensikapi kondisi-kondisi ini sebab jika siswa tidak mampu mengarahkan dirinya sendiri, hal ini juga akan merugikan bagi diri anak. Hamalik menjelaskan hal yang berbeda dengan Sudjana (1989:39) dalam Susanto (2013:15-19) dan Syah (2002:132-138) terkait faktor-faktor yang mempengaruhi belajar. Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut: Pertama faktor kegiatan. Melalui belajar siswa menemukan pengetahuan, sikap dan kebiasaan. Hasil temuan dari akibat belajar itu perlu untuk diterapkan dalam kehidupannya agar penguasaan hasil belajar semakin mantap. 16

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 17 Kedua belajar memerlukan latihan agar materi pelajaran dapat diingat perlu adanya review dengan tujuan agar pelajaran mudah diingat dan mudah dipahami. Ketiga belajar memerlukan pengasosiasian pengalaman, perlu diurutkan antara pengalaman lama dengan pengalaman baru sehingga menjadi kesatuaan pengalaman. Keempat pengalaman belajar lama memberikan peranan yang besar dalam kegiatan belajar. Sebab pengalaman lama menjadi dasar untuk memperoleh pengalaman baru dan pengertian baru. Kelima pencapaian tujuan belajar memberikan motivasi belajar, siswa perlu mengetahui ketercapaian tujuan belajar. Dengan mengetahui keberhasilan belajar siswa akan mendorong dirinya untuk belajar. Berdasar urain diatas dapat disimpulkan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar yaitu: Pertama faktor yang berasal dari diri siswa (intern): Kecerdasan/intelegensi, minat belajar, motivasi belajar, bakat, sikap siswa dalam belajar, kesiapan belajar, latihan. Kedua faktor yang berasal dari luar diri siswa (ekstern): suasana belajar, keluarga/masyarakat, cara penyampaian materi, kompetensi pengajar, sikap/pribadi pengajar. 2.1.1.4. Prestasi belajar Prestasi belajar tersusun dari dua kata prestasi dan belajar. Dalam KBBI prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai dari yang telah dilakukan dan dikerjakan. Menurut Djamarah dalam Sanjaya (2006) prestasi adalah hasil yang 17

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 18 diperoleh siswa dalam suatu kegiatan yang dikerjakan, diselesaikan dan diciptakan baik secara individu maupun secara kelompok. Selanjutnya Darsono (2000) merumuskan pengertian prestasi belajar sebagai hasil perubahan yang diperoleh siswa meliputi ranah kognitif, ranah afektif serta ranah psikomotorik melalui interaksi siswa dengan lingkungannya. Sehingga prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil yang diperoleh siswa setelah melakukan, mengerjakan, diciptakan setelah melakukan kegiatan belajar. Menurut Sudjana (2009:3) hasil belajar merupakan perubahan-perubahan tingkah laku yang dihasilkan dari dalam diri siswa setelah memperoleh pengalaman belajar yang mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Purwanto (2009) menambahkan bahwa hasil perubahan dalam diri siswa tersebut diperoleh dari proses belajar siswa. Winkel (2004:226) mengemukakan prestasi belajar merupakan keberhasilan yang dicapai seseorang. Suprijono (2009:5) mengemukakan bahwa hasil belajar berupa pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan ketrampilan. Selanjutnya Bloom dalam Arikunto (2009:22) memperinci ada tiga ranah hasil belajar yaitu: Pertama ranah kognitif. Ranah kognitif berhubungan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek yaitu pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua ranah afektif. Ranah afektif berhubungan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yaitu penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. Ketiga ranah psikomotor. Ranah psikomotor berhubungan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak yang terdiri dari enam aspek yaitu 18

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 19 gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif. Selanjutnya Kasmadi (2013:36-40) menambahkan penjabaran domain prestasi belajar terdiri atas: Ranah kognitif. Domain kognitif proses belajar melibatkan otak, sehingga diperoleh perubahan perilaku yang terjadi dalam otak berupa kemampuan menyelesaikan masalah. Kemudian menurut Anderson (2001) dalam Kasmadi (2013:36-40) mengklasifikasikan domain kognitif atas enam tingkatan. Kemampuan yang paling rendah adalah mengingat, merupakan kemampuan hafalan untuk pemanggilan kembali (reheresel) informasi yang tersimpan dalam memori otak untuk memecahkan suatu masalah. Kemampuan dalam aspek mengingat adalah mengenali ulang, mengingat ulang, membandingkan dan mengidentifikasi. Selanjutnya kemampuan memahami, berkaitan bagaimana memaknai suatu materi. Kemampuan memahami dikategorikan menjadi beberapa hal, yaitu: mengintepretasikan, mencontohkan, mengklasifikasi, dan menyimpulkan. Kemampuan ketiga adalah menerapkan/mengaplikasi. Pengetahuan yang telah dipahami kemudian diterapkan/diaplikasikan pada pemecahan masalah tertentu. Selanjutnya kemampuan menganalisis, berkaitan bagaimana siswa menganalisis masalah kemudian membuat kesimpulan. Kemampuan ini merupakan kombinasi atas kemampuan mengingat, memahami dan menerapkan. Kemampuan kelima adalah mengevaluasi, berkenaan dengan kemampuan memeriksa dan mengkritisi suatu persoalan. Kemampuan tertinggi dalam ranah 19

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 20 kognitif adalah mencipta, kemampuan mencipta berupa kegiatan menilai berdasarkan patokan tertentu, dengan sehingga memunculkan ide-ide inovatif bagi siswa untuk merancang suatu penemuan baru. Ranah afektif. Ranah afektif berkaitan dengan sikap. Menurut Krathwol dalam Kasmadi (2012: 37-39) ranah afektif dijabarkan sebagai berikut: Kemampuan menerima berkaitan dengan kemampuan merefleksikan suatu perbedaan, kemampuan memaknai kekurangan dan kelebihan serta kemampuan bersinergi. Selanjutnya kemauan menanggapi yang berkaitan dengan kemampuan menanggapi, berpartisipasi aktif, mengungkapkan perasaan, menyesuaikan diri, berempati, dan menyesuaikan diri. Berikutnya kemampuan menilai yang berkaitan dengan kemampuan menentukan pilihan atas kondisi/keadaan yang terjadi.Sehingga mengembangkan kecerdasan interpersonal dan intrapersonal. Berikutnya mengorganisasi, yakni kemampuan memecahkan masalah melihat gagasan-gagasan yang ditulis secara sistematis, mendiskusikan suatu permasalahan, menyamakan persepsi, menemukan kaitan antar nilai sehingga harmoni. Yang terakhir karakterisasi berhubungan dengan kemampuan manusia menyelaraskan perilakunya dengan norma yang telah ditetapkan. Ranah psikomotorik. Ranah psikomotorik dibagi atas 6 tingkatan antara lain: gerak reflek, berupa: gerak melompat, berjalan, menunduk, memegang, meniru. Berikutnya tingkat gerak dasar berupa: membungkuk, bergoyang, memutar, merentangkan, mendorong, jongkok, mencium, merangkul, duduk, berjalan, merangkak, berlari, menggambar, memainkan, menyusun, memanjat, melompat. Tingkatan ketiga adalah gerakan persepsi, merupakan gerakan yang dibantu dengan kemampuan mempresepsikan. Gerakan ini berupa: menulis cerita, 20

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 21 menggambar simbol, bermain congklak, kemampuan meniru suara hewan. Selanjutnya gerakan kemampuan fisik, kemampuan ini didapat melalui pelatihan, meliputi: melakukan senam, olahraga bola besar, lompat tinggi, lompat jauh, acrobat, berselancar, mengangkat barbell, menari dan lainnya. Berikutnya gerak terampil, meliputi: berselancar, jungkat-jungkit, bersepeda, bermain panah. Terakhir adalah gerak kreatif dan keindahan. Gerakan ini memberikan keindahan/nilai estetika. Gerakan ini meliputi: gerakan memahat, gerak menari, gerakan grouping dan sebagainya. Sehingga peneliti merumuskan definisi prestasi belajar sebagai hasil/kompetensi yang dikuasai/diperoleh siswa melalui kegiatan belajar yang dikerjakan, diselesaikan dan diciptakakan setelah mengalami pengalaman belajar meliputi ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik. Penelitian ini lebih memfokuskan pada prestasi belajar ranah kognitif. 2.1.2. Model pembelajaran kooperatif Model pembelajaran kooperatif membahas definisi model pembelajaran kooperatif, karakteristik model pembelajaran kooperatif, tujuan model pembelajaran kooperatif, unsur-unsur model pembelajaran kooperatif, macammacam model pembelajaran kooperatif, perbandingan pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw I dan tipe Jigsaw II, penghargaan dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II. 2.1.2.1. Definisi model pembelajaran kooperatif Menurut Trianto (2009:56) pembelajaran kooperatif menganut paham konstruktivisme. Melalui pembelajaran kooperatif siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 siswa untuk menyelesaikan tugas-tugas 21

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 22 secara bersama-sama guna mencapai tujuan. Melalui pembelajaran kooperatif setiap siswa memiliki tugas dan tanggungjawab yang sama untuk mencapai keberhasilan kelompok. Kelas kooperatif terbentuk atas kelompok kecil yang terdiri dari siswa yang sederajat namun heterogen dalam hal kemampuan, jenis kelamin, ras dan masing-masing saling membantu. Melalui belajar dalam kelompok memberikan kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi aktif baik dalam berfikir maupun mengikuti kegiatan belajar. Siswa saling membantu dalam memahami materi yang disajikan oleh guru untuk mamahami secara mendalam dan menyeluruh sehingga tercapai ketuntasan materi. Slavin (2007) dalam Rusman (2010:201) menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif mendukung siswa untuk berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Pembelajaran kooperatif mengkondisikan guru berperan sebagai fasilitator yang menjembatani siswa mencapai pemahaman yang lebih tinggi. Siswa sebagai pusat pembelajar yang aktif memiliki kesempatan untuk mengembangkan, mengungkapkan dan menerapkan ide serta pengetahuannya dalam belajar. Pembelajaran kooperatif memungkinkan adanya interaksi seimbang antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa serta guru dengan siswa. Nurulhayati (2002:25) dalam Rusman (2010:203) mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai strategi belajar yang melibatkan keikutsertaan penuh dari siswa dalam suatu kelompok kecil untuk dapat berinteraksi. Taniredja (2011:55) pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama dalam kelompok antar siswa guna mencapai tujuan bersama. Lie (2010) menjelaskan pembelajaran bahwa pembelajaran kooperatif gotong-royong, pembelajaran yang 22 merupakan istilah mengkondisikan siswa

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 23 melakukan kerjasama dengan siswa lain dalam mengerjakan tugas yang disediakan guru secara terstruktur. Isjoni (2008:156) menguraikan pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang mengkondisikan siswa terbagi dalam kelompok kecil terdiri dari 4-5 siswa yang melakukan kerjasama dengan tujuan belajar bersama. Majid (2013:175) menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang memberikan dua fungsi bagi siswa yakni sebagai pembelajar yang membelajarkan dirinya sendiri dan pembelajar yang membelajarkan siswa lain. Berdasarkan uraian di atas peneliti menyimpulkan pembelajaran kooperatif adalah proses belajar yang menekankan kerjasama dan gotong royong antar siswa di dalam kelompok kecil sehingga siswa memiliki kesempatan berinteraksi serta saling membelajarkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan secara optimal. 2.1.2.2. Karakteristik model pembelajaran kooperatif Taniredja (2011:56), Ibrahim dalam Majid (2013:176) dan Johnson dan Johnson dalam Taniredja (2011:59) menguraikan ciri-ciri pembelajaran kooperatif dengan kesamaan pendapat sebagai berikut: Pembelajaran kooperatif mendukung siswa untuk mencapai ketuntasan materi belajar dan kesuksesan kelompok siswa bekerjasama, bertanggung jawab atas kelompok. Selanjutnya dalam kelompok, siswa melakukan kerjasama dengan kondisi siswa yang heterogen pada tingkat kecerdasan (tinggi, menengah, rendah). Siswa dikelompokkan secara heterogen berdasarkan keragaman suku, ras, latar belakang budaya, jenis kelamin dan lain-lain. Pembelajaran kooperatif mengupayakan kerjasama kelompok dari pada perorangan untuk memacu 23

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 24 kerjasama dan hubungan yang harmonis dengan pemberian penghargaan/reward kelompok unggul. Johnson dan Johnson (1984) dalam Taniredja (2011:59) mengemukakan ciri-ciri pembelajaran kooperatif yang berbeda dari gagasan di atas, yaitu: Pembelajaran kooperatif mengkondisikan siswa memiliki hubungan saling ketergantungan yang positif antar anggota kelompok. Selain itu siswa memiliki tanggung jawab secara pribadi. Setiap siswa berperan sebagai pemimpin bagi temannya. Pembelajaran kooperatif memberikan tugas yang dikerjakan siswa secara bersama dalam kelompok. Melalui kerja sama kelompok menanamkan keterampilan sosial. Pembelajaran kooperatif menempatkan guru berperan sebagai fasilitator/pengamat proses belajar. Efektivitas kegiatan belajar kelompok tergantung pada peranan masing-masing siswa. Berdasarkan uraian dari para tokoh, peneliti menyimpulkan bahwa yang menjadi karakteristikmodel pembelajaran kooperatif adalah siswa bekerja di dalam kelompok kecil, kelompok terbentuk berdasarkan siswa yang memiliki gender, ras, budaya, tingkat kecerdasan yang berbeda (heterogen), adanya penghargaan atas kinerja kelompok, melatih keterampilan sosial siswa, efektivitas pembelajaran tergantung dari peran masing-masing siswa, guru berperan sebagai fasilitator pembelajaran, terjalinnya saling ketergantungan siswa secara positif, siswa bertanggung jawab atas pemahamannya sendiri sekaligus atas pemahaman teman-temannya. 24

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 25 2.1.2.3. Tujuan model pembelajaran kooperatif Johnson dan Johnson dalam Trianto (2009:57) menjelaskan tujuan pembelajaran kooperatif adalalah mengoptimalkan proses belajar sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa serta pemahaman materi secara individu maupun kelompok. Zamroni (2000) dalam Trianto (2009:57) juga menambahkan bahwa melalui pembelajaran kooperatif mampu mengatasi kesenjangan pendidikan antar siswa serta meningkatkan solidaritas sosial antar siswa. Sehingga pembelajaran kooperatif dapat mencetak generasi baru yang memiliki prestasi tinggi serta memiliki rasa solidaritas sosial yang kokoh. Menurut Trianto (2009:58) pembelajaran kooperatif meningkatkan partisipasi siswa, mengkondisikan siswa untuk dapat mengambil keputusan kelompok serta mengakomodasai siswa dalam mengupayakan interaksi dan belajar secara bersama-sama dengan latar belakang yang berbeda. Pembelajaran kooperatif mengkondisikan siswa berperan ganda yaitu sebagai siswa sekaligus sebagai guru yang saling membelajarkan. Pengemasan pembelajaran kooperatif memungkinkan siswa bekerjasama dan aktif, siswa terlatih untuk mengembangkan keterampilan berhubungan dengan sesama yang sangat mengakomodasi bagi kehidupan di masyarakat. Depdiknas dalam Taniredja (2011:60) dan Majid (2013:175) memiliki persamaan gagasan terkait tujuan pembelajaran kooperatif yaitu: Pertama meningkatkan prestasi belajar siswa melalui meningkatkan kinerja siswa dalam tugas belajar serta mengkondisikan siswa sebagai pembelajar bagi siswa lain yang kurang mampu memahami terhadap materi yang sulit. Artinya melalui pembelajaran kooperatif siswa akan memperoleh prestasi belajar 25

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 26 yang lebih tinggi karena siswa memahami secara mendalam materi-ateri ajar yang disediakan. Kedua mengajarkan kepada siswa untuk menerima dan menghargai perbedaan yang dimiliki setiap pribadi, baik secara fisik, ras, agama, strata sosial, prestasi belajar maupun latar belakang siswa. Ketiga mengembangkan keterampilan sosial siswa sebagai makhluk sosial yang mampu berkomunikasi aktif, bekerjasama dan mengambil keputusan dalam kelompok dan kepekaan sosial pada teman. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran kooperatif adalah meningkatkan kinerja siswa akan materi-materi ajar secara bersama-sama guna meningkatkan prestasi belajar siswa, memberi pemahaman siswa untuk menghargai dan menerima perbedaan yang ada antara siswa satu dengan yang lain, menyiapkan generasi yang cerdas serta diimbangi dengan kepekaan dan keterampilan sosial yang tinggi. 2.1.2.4. Unsur-unsur model pembelajaran kooperatif Pendapat Roger dan David Johnson dalam Lie (2010:31-35) menjelaskan bahwa tidak semua belajar dalam kelompok dapat dikatakan pembelajaran kooperatif. Berikut ini unsur-unsur pembelajaran kooperatif untuk mencapai hasil belajar secara optimal: Saling ketergantungan positif, pembelajaran kooperatif menuntut siswa untuk bekerjasama guna mencapai tujuan kelompok. Keberhasilan memahami materi dan mencapai prestasi belajar yang tinggi bergantung pada usaha dan kerjasama antar anggota dalam kelompok. Setiap siswa merasa dirinya sebagai bagian dari kelompok. Pembelajaran kooperatif memacu tiap anggota untuk ikut 26

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 27 andil dalam pembelajaran guna memperoleh nilai yang tinggi untuk dirinya sendiri serta bagi kelompok. Tanggung jawab perorangan, cooperatif learning membuat siswa merasa bertanggung jawab dalam mencapai hasil yang terbaik. Masing-masing siswa mempersiapkan dengan sebaik-baiknya materi/tugas yang yang harus diselesaikan. Sebab jika tidak dipersiapkan dengan baik akan terlihat bahwa siswa belum menyiapkan materi yang akan dipelajari, misalnya dalam tipe Jigsaw II siswa yang tidak mempersiapkan diri akan terlihat dengan mudah. Tatap muka, setiap kelompok diberi kesempatan untuk berdiskusi yang akan menguntungkan dalam kegiatan belajar. Sebab siswa saling bertukar pikiran sehingga dapat memperkaya pengetahuan antar anggota. Siswa saling membelajarkan dan saling membantu apabila ditemui kesulitan dalam memahami suatu materi. Sekaligus siswa juga mampu melakukan interaksi dengan antar teman secara pribadi. Komunikasi antar anggota, sebagai anggota kelompok siswa diharapkan mampu membangun interaksi dan komunikasi dengan sesama teman. Siswa juga harus belajar bagaimana menyampaikan ide-ide, menghargai orang yang sedang mengutarakan pendapat, menyetujui pendapat teman, menyanggah ide teman dan lain-lain. Proses berkomunikasi yang baik ini tidak serta merta dapat langsung tertanam dalam pikiran siswa. Hal ini merupakan proses pembelajaran yang panjang. Melalui belajar berkomunikasi yang baik siswa akan memperoleh keuntungan dan manfaat yang luar biasa bagi perkembangan mental dan emosi para siswa. 27

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 28 Evaluasi proses kelompok, guru perlu menjadwalkan kegiatan evaluasi proses kerja siswa dan kelompoknya agar kerjasama antar siswa dalam belajar dalam kelompok semakin efektif dan meningkatkan pemahaman siswa akan materi ajar. Isjoni (2012: 78-79) menguraikan unsur-unsur pembelajaran kooperatif sebagai berikut: Siswa yang bekerja dalam kelompok hendaknya memahami dengan baik tujuan dari kegiatan kerja kelompok, sehingga pemerolehan materi dapat lebih mendalam dan luas. Level Kooperasi. Guru harus memantau bagaimana jalannya diskusi kelompok, apakah diskusi dapat memberi pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari serta bagaimana kemajuan belajar siswa melalui kegiatan belajar yang telah ditempuh. Pola interaksi. Siswa dalam kelompok saling menjalaskan materi yang dibahas, saling membatu memahami, menyampaikan dan menerima gagasan mendorong semangat belajar. Melalui langkah ini dengan sendirinya siswa akan berinteraksi dengan teman-teman kelompoknya secara dekat. Evaluasi. Kegiatan evaluasi ditekankan pada kemajuan prestasi belajar siswa dan kontribusi kelompok dalam membelajarkan teman-temannya. Berdasarkan gagasan para tokoh, dapat disimpulkan unsur-unsur pembelajaran kooperatif meliputi: adanya komunikasi dan tatap muka antar anggota, masing-masing siswa memiliki tanggung jawab, saling ketergantungan positif antar siswa, evaluasi yang ditekankan pada pencapaian pemahaman kelompok. 28

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 29 2.1.2.5. Macam-macam pembelajaran kooperatif 2.1.2.5.1. Student Team Achivement Devision (STAD) Menurut Huda (2012:116) menjelaskan bahwa dalam model pembelajaran kooperatif tipe STAD siswa masuk dalam kelompok dengan gender, ras, kemampuan latar belakang yang berbeda-beda. Pertama-tama siswa mengerjakan soal pretest, kemudian siswa dalam kelompok mempelajari materi bersama teman dengan saling membelajarkan. Setelah itu siswa secara mandiri mengerjakan kuis yang disediakan guru, siswa tidak boleh saling membantu. Skor kuis kemudian dibandingkan dengan nilai pretest. Peningkatan nilai tiap siswa dibandingkan dengan poin kemajuan siswa. Kelompok yang unggul dalam pembelajaran diberikan penghargaan kelompok berdasarkan kemajuan siswa dalam tim sehingga siswa termotivasi untuk memperoleh skor tinggi. 2.1.2.5.2. Teams Games Tournament (TGT) Slavin (1995) dalam Huda (2012:116-117) memaparkan bahwa praktek STAD dan TGT sebenarnya tidak jauh berbeda, yang membedakan adalah jika pada STAD terdapat kuis, maka dalam TGT diganti dengan istilah game akademik. Siswa dalam tim yang berjumlah 5 anggota memainkan game di meja turnamen. Sebelum memainkan game turnamen kelompok belajar bersama untuk mempersiapkan diri dengan mempelajari lembar materi. Dalam TGT tiap siswa memiliki tangung jawab individual untuk memperoleh nilai tinggi. Nilai tiap siswa nantinya akan dikontribusikan bagi nilai kelompok, karena kelompok yang unggul nilainya akan diberi penghargaan. 29

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 30 2.1.2.5.3. Team Acceleraleted Instruction (TAI) Huda (2012:125) menjelaskan bahwa dalam tipe TAI siswa bergabung berdasarkan kemampuan yang beragam yang terdiri dari 4-5 siswa. Pada mulanya TAI diterapkan khusus untuk mata pelajaran matematika/keterampilan hitung. Melalui TAI siswa saling bekerjasama untuk saling mengecek tugas temannya dan saling memberi bantuan jika dibutuhkan. Pemberian nilai dilakukan dengan memberikan tes individu dan guru memperhatikan setiap siswa. Perhatian itu bukan hanya sejauh mana siswa dapat menyelesaikan tugas, namun juga bagaimana siswa dapat mengerjakan tugas secara mandiri tanpa mancontek. Kelompok yang unggul dalam rata-rata nilai atas kontribusi tiap siswa diberi penghargaan (reward). Akuntabiilitas individu sangat dibutuhkan pada tipe ini. 2.1.2.5.4. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) Menurut Stavens (1987) dalam Huda (2012:126) menjelaskan bahwa tipe CIRC digunakan untuk meningakatkan ketrampilan membaca dan menulis. Langkah-langkah CIRC meliputi penilaian awal (pretest) dan kuis. Penghargaan diberikan kepada kelompok yang mengalami peningkatan secara signifikan dalam ketrampilan membaca dan menulis. Setiap siswa belajar sesuai level kemampuan yang telah dikuasai. Kontribusi anggota kelompok didasarkan dari perolehan hasil dari kerja mandiri. 2.1.2.5.5. Jigsaw I Aronson (2011) mengatakan bahwa esensi dari Jigsaw I adalah dimana setiap siswa dalam kelompok memiliki satu potongan gambaran informasi khusus yang masing-masing berbeda, lalu siswa tersebut bertangging jawab untuk dapat 30

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 31 mengajarkannya kepada teman dalam kelompoknya. Seluruh gambaran informasi yang bergabung tersebut seperti layaknya puzzle utuh. Isdjoni (2008) menambahkan bahwa dalam model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw I siswa berkelompok 4-6 anggota kelompok yang heterogen. Kunci dari Jigsaw I adalah saling ketergantungan, yaitu setiap siswa bergantung pada teman satu kelompoknya utuk mendapatkan informasi yang diperlukan. Dalam pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw I siswa bekerja dalam tim yang heterogen. Para siswa diberi tugas untuk membaca beberapa bab atau unit, kemudian diberi lembar ahli yang terdiri atas topik-topik yang berbeda. Topik-topik tersebut yang akan menjadi fokus perhatian masing-masing anggota tim saat mereka membaca. 2.1.2.5.6. Jigsaw II Menurut Suprijono (2009:89) Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II diawali dengan pengenalan topik yang akan didiskusikan. Kemudian guru membagi siswa dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 siswa. Siswa dalam kelompok bertanggung jawab untuk mempelajari dan mendalami bagian/sub materi. Lalu siswa menuju kelompok ahli dengan bidang kajian yang relatif sama bagi siswa anggota kelompoknya. Siswa melakukan diskusi, tukar pikiran dan gagasan serta saling berkomunikasi secara aktif antar teman. Selanjutnya siswa kembali lagi dalam kelompok asal, mereka menyampaikan hasil didiskusi dan saling membelajarkan antar siswa sampai semua siswa memahami semua materi secara utuh. Setelah semua siswa memahami materi, guru menutup pembelajaran dengan Memberi review topik yang telah dipelajari. Wardana (2002) dalam Isjoni (2008:155) meyatakan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II mendorong siswa 31

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 32 beraktifitas dan saling mambantu dalam kelompok untuk memahami materi ajar sehiingga tercapai prestasi belajar yang optimal.Untuk mencapai efektivitas pembelajaran serta pencapaian prestasi belajar yang signifikan dalam mata pelajaran sejarah, salah satu tipe yang tepat untuk digunakan adalah Jigsaw II (Isjoni, 2008:157). Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II merupakan model pembelajaran yang mengkondisikan siswa belajar secara berkelompok dengan anggota 4-6 siswa, setiap siswa diberikan kesempatan untuk memahami keseluruhan materi yang kemudian berdiskusi dalam kelompok ahli dan kembali dalam kelompok asal untuk saling membelajarkan dimana setiap anggota kelompok saling memiliki ketergantungan positif antara satu siswa dengan yang lainuntuk dapat saling membelajarkan sehingga semua siswa mengalami perkembangan belajar yang termuat dalam prestasi belajar untuk dikontribusikan bagi pemerolehan penghargaan kelompok (reward). 2.1.2.5.7. Jigsaw III Jigsaw III dikembangkan oleh Kagan (1990). Menurut Huda (2012:122) menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan yang menonjol antara tipe Jigsaw IIdan Jigsaw III, perbedaan tipe Jigsaw III adalah dalam pelaksanaan tipe Jigsaw III dilaksanakan pada kelas bilingual. Kelas bilingual terdapat para pembelajar Bahasa Inggris dengan level proficiency yang berbeda. Karena diterapkan dalam kelas bilingual maka biasanya menggunakan Bahasa Inggris untuk materi ajar, bahan, lembar kerja dan kuisnya. 32

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 33 2.1.2.6. Perbandingan langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw I dan tipe Jigsaw II 2.1.2.6.1. Langkah-langkah pembelajaran Jigsaw I Menurut Stepen, Sikes dan Snapp (1978) dalam Rusman (2011) langkahlangkah pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw sebagai berikut: Siswa dibagi dalam kelompok dengan jumlah 1 sampai 5 siswa. Kemudian tiap siswa dalam kelompok diberikan materi yang berbeda. Setiap siswa dalam kelompok diberikan materi yang ditugaskan. Selanjutnya setiap siswa yang berasal dari kelompok yang berbeda yang telah mempelajari materi yang sama saling berkumpul dikelompok baru (kelompok ahli) untuk saling berdiskusi. Kemudian siswa yang ahli dalam materi masing-masing kembali pada kelompok asal untuk menjelaskan materi yang dikuasainya dan teman lain memperhatikan dengan seksama. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi. Guru memberikan kuis/evaluasi. 2.1.2.6.2. Langkah-langkah Jigsaw II Slavin (2008: 237) pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II cocok untuk materi yang berbentuk narasi. Jigsaw II mengkondisikan siswa bekerja dalam kelompok dan tersusun secara heterogen. Kelompok yang unggul dalam pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II diberikan penghargaan (reward) atas keberhasilan tim. Penentuan tim unggul sama dengan cara penentuan skor rekognisi tim pada STAD. Pertama-tama siswa diberikan kuis awal untuk menentukan kemampuan awal siswa yang nantinya dibandingkan dengan kuis akhir sebagai kemajuan belajar siswa serta kemajuan belajar kelompok. Selanjutnya siswa dibagikan materi yang akan dibahas secara keseluruhan, kemudian siswa membaca seluruh materi tersebut. Setelah itu siswa masuk dalam 33

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 34 kelompok asal. Dalam kelompok asal siswa diberi tugas untuk membaca secara mendalam salah satu topik yang berbeda. Kemudian setelah membaca materimateri itu siswa menuju dalam kelompok ahli untuk mendiskusikan materi-materi yang menjadi tugas mereka. Kelompok ahli terdiri dari siswa yang mempelajari materi sama. Lalu siswa kembali ke dalam kelompok asal untuk mengutarakan hasil diskusi dalam kelompok ahli sampai semua anggta mamahami. Kegiatan diakhiri dengan kuis yang mencakup keseluruhan materi, hasil kuis menjadi kontribusi anggota bagi kelompok; penskoran didasarkan pada skor perkembangan individu. Selanjutnya kontribusi anggota itu untuk menentukan kelompok yang mendapat penghargaan. Huda (2012:118) mengungkapkan dalam pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II setiap kelompok berkompetensi untuk meraih penghargaan kelompok. Penghargaan kelompok dipertimbangkan berdasarkan penampilan masing-masing anggota kelompok untuk memacu meningkatkan kualitas kinerja kelompok. Implementasi pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II berbeda dengan implementasi pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw I. Perbedaan antara pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw I dengan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II bahwa dalam Jigsaw II siswa telah mempelajari secara keseluruhan materi ajar yang akan dibahas sebelum siswa masuk ke dalam kelompok ahli (expert) selanjutnya kegiatan pembelajaran diakhiri dengan kuis secara individu, namun kontribusi hasil kuis individu berpengaruh dalam pemberian penghargaan (reward) bagi kelompok yang unggul sedangkan pada pembelajaran Jigsaw I siswa hanya mempelajari potongan materi sehingga pemahaman siswa akan materi yang dibahas ada kemungkinan kurang menyeluruh. Kemudian dalam 34

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 35 Jigsaw I juga tidak ada pemberian penghargaan bagi kelompok yang memacu peningkatan prestasi belajar siswa. 2.1.2.7. Penghargaan (reward) dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II Menurut Slavin (2010) dalam Jigsaw II diberikan penghargaan (reward) atas keunggulan kelompok. Dalam pemberian penghargaan berdasarkan rekognisi tim. Penentuan reward dilakukan dengan melihat kemajuan skor tertinggi. Penentuan skor kemajuan siswa didasarkan pada penentuan skor kemajuan pada STAD. 2.1.2.7.1. Poin kemajuan individu Penentuan penghargaan individu, pertama-tama guru memberikan soal awal (pretest) untuk menentukan skor awal masing-masing siswa. Setelah diperoleh nilai awal dan pelaksanaan pembelajaran, guru memberikan soal kuis untuk mengetahui hasil belajar siswa pada pertemuan tersebut. Poin kemajuan individu ditentukan dengan membandingkan skor awal dan skor kuis. Penentuan kemajuan poin individu pada pembelajran Jigsaw II sama dengan penentuan kemajuan poin dalam STAD. Berikut tabel penentuan poin kemajuan individu menurut Slavin (2010): Tabel 2.1. Poin kemajuan individu No. 1 2 3 4 5 Skor kuis Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 10-1 di bawah skor awal Sampai 10 di atas skor awal Lebih dari 10 skor awal Kertas jawaban sempurna (terlepas dari skor awal) 35 Poin kemajuan 5 10 20 30 30

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 36 2.1.2.7.2. Penghargaan kelompok Menurut Rusman (2011:216) pemberian penghargaan kelompok diberikan atas akumulasi poin kemajuan individu. Berikut ini kualifikasi predikat penghargaan skor kelompok: Tabel 2.2. Poin kemajuan kelompok No. 1 2 3 4 Rata-rata skor 0≤N≤5 6 ≤ N ≤ 15 16 ≤ N ≤ 20 21 ≤ N ≤ 30 Kualifikasi Tim yang baik (Good team) Tim yang sangat baik (Great team) Tim istimewa (Super team) 2.1.3. Mata pelajaran IPS di SD Mata pelajaran IPS di SD membahas: hakekat mata pelajaran IPS SD, ciriciri mata pelajaran IPS SD, tujuan mata pelajaran IPS SD, efektivitas pembelajaran IPS melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II, standar kompetensi dan kompetensi dasar. 2.1.3.1. Hakikat IPS SD Menurut Sumaatmadja (1980) Ilmu pengetahuan sosial merupakan bidang kajian ilmu yang mempelajari manusia dalam masyarakat dan manusia sebagai anggota masyarakat. Susanto (2013:138) menjelaskan hakekat IPS untuk mengembangkan pemahaman berdasarkan kenyataan kehidupan dalam masyarakat sehingga mencetak warga Negara yang baik dan memiliki tanggung jawab pada Negaranya. Supardi (2009:184) mengemukakan bahwa bahan/materi IPS di SD mempunyai muatan yang hampir sama dengan materi pada jenjang perguruan tinggi, namun materinya lebih sederhana, disesuaikan dengan perkembangan siswa serta diadaptasi bagi kepentingan tingkat siswa SD. Selain itu IPS di SD merupakan integrasi dari lima sub bidang menjadi satu bidang 36

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 37 studi. Pasal 37 UU sisdiknas tahun 2003, menyatakan bahwa “Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat IPS yang memuat ilmu bumi, sejarah, ekonomi, kesehatan dan sebagainya yang dimaksudkan untuk mengembangakan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan menganalisis peserta didik terhadap kondisi sosial masyarakat”. Menurut Trianto (2010:171) IPS dirumuskan berdasarkan kenyataan dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari cabang-cabang ilmu sosial. Berdasarkan pendapat para ahli, peneliti menyimpulkan hakekat mata pelajaran IPS di SD adalah ilmu yang mempelajari tentang ilmu ekonomi, geografi, politik, hukum dan sejarah yang diintegrasikan dalam satu bidang studi yang membantu siswa memiliki pengetahuan, pemahaman dan keterampilan sebagai bekal menjadi warga Negara yang baik dan bertanggung jawab terhadap kondisi sosial. 2.1.3.2. Ciri-ciri mata pelajaran IPS di SD Trianto (2010:172-175) menguraikan ciri-ciri IPS adalah merupakan integrasi dari cabang-cabang ilmu sosial, standar kompetensi dan kompetensi dasar berasal dari struktur keilmuan yang terintegrasi, materi IPS menyangkut masalah-masalah kehidupan nyata, standar kompetensi dan kompetensi dasar berhubungan dengan peristiwa dan perubahan kehidupan. Supardi (2009:186) merumuskan ciri-ciri IPS menurut sudut pandang sifat dan statusnya serta materinya yaitu menurut sifat dan statusnya: IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan di tingkat sekolah, termasuk sekolah dasar (SD). Serta IPS wajib dimuat dalam kurikulum pendidikan dasar menengah, sesuai UU No. 20 Tahun 2003 tentang sisdiknas. Berikutnya menurut materinya: 37

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 38 pertama, Materi IPS adalah integrasi dari berbagai cabang ilmu sosial dan humaniora yang cocok bagi siswa SD karena lebih bermakna dan kontekstual dengan kehidupan siswa. Kedua, Materi sosial sesuai dengan masalah-masalah sosial yang berhubungan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan zaman global. Ketiga, Materi IPS meliputi fakta, konsep dan generelalisasi terkait ranah kognitif, afektif, psikomotorik dan nilai-nilai spiritual. Berdasarkan uraian diatas disimpulkan ciri-ciri IPS SD meliputi: materi IPS meliputi berisi cabang ilmu sosial yang berupa fakta, konsep, generalisasi yang berkaitan dengan ranah kognitif, afektif dan psikomotorik, materi IPS bermakna dan kontekstual dengan kehidupan siswa, diajarkan di sekolah dasar. 2.1.3.3. Tujuan pelajaran IPS di SD Menurut Mutakin (1998) dalam Susanto (2013:145) tujuan pembelajaran IPS di SD adalah pertama membangun kesadaran dan kepedulian siswa terhadap lingkungan dan masyarakat melalui penanaman nilai-nilai sejarah dan budaya masyarakat. Kedua memahami pengetahuan dasar dan mengaplikasikan yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial guna mengatasi masalah-masalah sosial. Ketiga mampu mengaplikasikan model dan cara berfikir untuk mengambil keputusan yang dapat memecahkan masalah yang terjadi di masyarakat. Keempat memberikan fokus pada isu dan masalah-masalah sosial sehingga mampu membuat analisis kritis serta malakukan tindakan yang tepat. Kelima menanamkan sikap tangguh serta pengembangan potensi diri untuk memberi bekal diri sendiri sehingga dapat bertahan dan ikut andil dalam membangun masyarakat. 38

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 39 Selanjutnya Nurhadi (1997:13) dalam Susanto (2013: 146) mengutarakan tujuan IPS adalah: Knowladge yaitu sesuai dengan tujuan utama IPS yakni memberikan pemahaman dan pengetahuan bagi siswa tentang cakupan ilmu IPS yaitu tentang diri sendiri, lingkungan serta muatan sosiologi, ekonomi, antropologi, politik serta sejarah. Selanjutnya skill yaitu berkaitan dengan keterampilan menalar. Membangun penalaran fikir yang logis, sistematis dan kritis guna memahami dan mengupayakan penyelesaian yang berkaitan dengan ilmu IPS. Berikutnya attitude bahwa IPS mengarahkan siswa dalam menentukan tingkah laku berfikir serta tingkah laku sosial yang berkenaan manusia sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Terakhir value berkaitan dengan nilai yang diperoleh manusia baik dari pergaulan dalam masyarakat serta lembaga pemerintahan yang mencakup agama, ekonomi, dan hukum. Inti dari pengajaran IPS di SD adalah meningkatkan kesadaran siswa untuk mengenal diri sendiri, mengenal lingkungan sehingga membentuk karakter warga Negara yang baik yang memiliki ciri sebagai berikut: Pertama memiliki sikap nasionalisme, cinta tanah air, cinta bangsa. Kedua memiliki pemahaman dan kesadaran untuk menjunjung tinggi nilai, pranata serta mampu mengaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Ketiga memiliki sikap integritas sosial dan kesadaran bertanggung jawab pada bangsa. Keempat memiliki sikap menghargai pada budaya dan tradisi yang diwariskan bangsanya. Kelima menyadari dalam ikut ambil bagian hidup demokrasi dan tanggap pada permasalahan sosial. Selanjutnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (2006) pemerintah membuat acuan tujuan mata pelajaran IPS SD sebagai berikut: 39

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 40 Mengenalkan siswa pada konsep lingkungan dan masyarakat. Berikutnya memacu siswa untuk memiliki pemikiran logis, kritis, ingin tahu, inkuiri, pemecahan masalah serta kecakapan hidup sosial.selanjutnya memiliki komitmen dan kesadaran penuh terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.selain itu memberi bekal pada siswa untuk mampu berkomunikasi, bekerjasama serta mampu berkompetensi secara sehat di tengah masyarakat yang plural, pada tingkat lokal, nasional, dan global. Selanjutnya Supardi (2009:186-187) menambahkan tujuan IPS di SD meliputi: Pertama memberikan bekal pengetahuan pada siswa untuk mampu menjadi warga Negara yang baik, menyadari sebagai makhluk ciptaan Tuhan, paham hak dan kewajibannya, memiliki rasa tanggung jawab serta memiliki jiwa nasionalisme. Kedua mengembangkan kemampuan berfikir kritis, inkuiri sehingga memahami selanjutnya memiliki keterampilan sosial untuk mampu mengatasi masalah-masalah sosial. Ketiga melatih belajar mandiri, melalui kegiatan pembelajaran yang mengutamakan kebersamaan dan juga melalui pembelajaran inovatif. Keempat menanamkan kebiasaan, kemampuan, kecerdasan dan ketrampilan sosial. Melalui belajar IPS siswa menguasai kecerdasan dan keterampilan yang berkaitan dengan sosial kemasyarakatan. Memberikan rasa senang terhadap kegiatan/aktivitas sosial selanjutnya membangun kebiasaan yang sesuai dengan nilai, norma dan peraturan. Kelima melatih siswa untuk menghayati dan mewujudkan nilai-nilai dan kebaikan moral menuju insan yang berakhlak mulia. Keenam membangun kepedulian dan kesadaran terhadap lingkungan dan masyarakat. 40

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 41 Berdasarkan uraian diatas dapat diambil poin penting terkait tujuan IPS di SD meliputi: Melalui pemahaman terhadap nilai sejarah dan budaya masyarakat, mampu membangun kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungannya sebagai pembentukan kepribadian dan akhlak mulia. Membekali siswa untuk berfikir kritis, analisis, dan logis untuk membantu mengatasi dan memecahkan masalah-masalah sosial. Memiliki sikap perhatian dalam berfikir analisis dan kemampuan mengambil keputusan dalam menyelesaikan masalah atau isu-isu dimasyarakat dengan tepat. Membiasakan diri agar mampu mengembangkan potensi diri serta selalui tertarik pada kehidupan sosial untuk mambangun masyarakat secara bertanggung jawab serta sesuai dengan norma, nilai dan peraturan di masyarakat. 2.1.3.4. Efektifitas pembelajaran IPS atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II Menurut Isjoni (2008:146) menyatakan bahwa pembelajaran IPS selama ini hanya membeberkan fakta-fakta yang kering berupa urutan tahun dan peristiwa belaka. Selain itu pembelajaran IPS kurang mengikutsertakan siswa-siswi dan hanya guru dalam pembelajaran seakan hanya menyampaikan dongeng belaka yang tidak memiliki makna. Pembelajaran IPS hanya ditekankan pada hafalan tentang tahun, tempat dan kejadian sejarah sehingga nilai pendidikan IPS kurang ditanamkan pada karakter siswa. Hal tersebut menyebabkan minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran IPS rendah, bahkan siswa bosan jika belajar IPS karena pembelajaran yang diterapkan guru masih konvensional dan didominasi dengan 41

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 42 ceramah dan kebiasaaan monoton pembelajaran yang seakan hanya untuk memenuhi jam mengajar. Melihat fakta lapangan tersebut maka ditawarkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II yang efektif dan handal untuk diterapkan dalam pembelajaran IPS SD. Melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II siswa akan terbiasa untuk bekerjasama dengan teman-temannya sehingga setiap siswa termotivasi untuk berkompetisi dalam memperoleh prestasi belajar yang tinggi. Melalui penerapan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II mendukung siswa untuk mengasah ketrampilan sosial melalui kerjasama kelompok, dimana siswa saling menyampaikan pendapat/ide mereka dan menerima saran. Pembelajaran kooperatif Jigsaw II juga mengondisikan siswa untuk mampu menghargai teman-temannya walau berbeda (heterogen) baik dari kemampuan, ras, latar belakang dan gender. Penerapan pembelajaran kooperatif Jigsaw II semua siswa melebur menjadi satu untuk belajar, saling bergotong-royong agar semua anggota kelompok mampu memahami seluruh materi secara tuntas dan mencapai prestasi belajar yang secara maksimal. Pembelajaran ini mengkondisikan siswa sebagai tentor dan juga sebagai teman sehingga menuntut siswa untuk memiliki cara berfikir kritis karena harus memahami materi untuk dirinya sendiri serta seluruh anggota kelompok. Pembelajaran kooperatif Jigsaw II melatih kemampuan sosial siswa dalam menghargai pendapat teman dan meningkatkan rasa persahabatan antar siswa. 42

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 43 2.1.3.5. Standar kompetensi dan kompetensi dasar Peneliti menggunakan standar kompetensi 2.Menghargai peranan tokoh pejuang dan masyarakat dalam mempersiapkan dan mempertahankaan kemerdekaan Indonesia dan kompetensi dasar 2.2.Menghargai jasa dan peranan tokoh perjuangan dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. 2.2. Kajian penelitian terdahulu Sutama (2012) melakukan penelitian tentang pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terhadap motivasi dan hasil belajar siswa kelas VIII MTs NW Gereneng pada semester gasal tahun pelajaran 2012/2013 dengan kelas kontrol dan kelas eksperimen. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu (quasi experiment). Hasil penelitian ini adalah nilai rata-rata motivasi belajar siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw mencapai rata-rata 38,4 sedangkan pada kelompok yang menggunakan model pembelajaran konvensional skor rata-rata mencapai 25,83. Hasil nilai signifikansi sebesar 0.022.Variabel motivasi menunjukkan nilai Sig adalah 0.022 <0.05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Birawan (2013) melakukan penelitian tentang pengaruh model pembelajaran kooperatif Jigsaw dan motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa kelas VII pelajaran IPS di SMP Negeri I Tabanan. Penelitian ini menggunakan populasi kelas VII dengan jumlah siswa 128 siswa dengan 64 siswa sebagai kelompok kontrol dan 64 siswa lagi menjadi kelompok eksperimen. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya: 1. Perbedaan hasil belajar antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model konvesional dengan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model kooperatif tipe Jigsaw. 2. Motivasi belajar siswa 43

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 44 yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional lebih rendah dari pada siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Arinata (2011) melakukan penelitian yang bertujuan mengetahui pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Jigsaw II terhadap kemampuan membaca bahasa Inggris dengan pengendalian sikap. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI SMA Negeri 1 Tegalalang Gianyar tahun pelajaran 2011/2012. Sampel berjumlah 90 siswa. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan siswa yang mengikuti kelas dengan model pembelajaran kooperatif lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang mengikuti kelas dengan model pembelajaran konvensional, skor rata-rata sebesar 148,31 lebih tinggi daripada kemampuan membaca bahasa Inggris siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional yang memiliki skor rata-rata 27,64. Hal ini membuktikan bahwa model pembelajaran koperatif teknik Jigsaw II lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional. Wacika (2013) Melakukan penelitian tentang pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terhadap hasil belajar IPS ditinjau dari sikap sosial dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas V SDN 4 Panjer. Hasil penelitian menunjukkan: 1. Hasil belajar IPS berbeda antara siswa yang mengikuti model pembelajaran koperatif tipe Jigsaw dengan siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional. 2. Hasil belajar siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif Jigsaw lebih tinggi dari pada siswa yang mengikuti pembelajaran model konvensional setelah sikap sosial dikendalikan. 3. Sikap 44

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 45 sosial berkontribusi terhadap hasil belajar IPS siswa baik yang mengikuti model pembelajaran kooperatif Jigsaw maupun model pembelajaran konvensional. Budiawan (2013) Melakukan penelitian untuk mengetahui perbedaan hasil belajar IPS antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II berbasis peta konsep dan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional di SD Negeri 1 Sangsit. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas IV yang berjumlah 72 orang. Sampel penelitian ini yaitu kelas IVA yang berjumlah 36 orang dan kelas IVB yang berjumlah 36 orang. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan, bahwa pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II berbasis peta konsep berpengaruh terhadap hasil belajar IPS dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional. 45

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 46 Penelitian terdahulu Sutama (2013) Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw – Motivasi dan Hasil belajar Wacika (2013) Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw –Hasil belajar ditinjau dari sikap Wirawan (2010) Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw dan Motivasi Hasil belajar Budiawan (2013) Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw II – Hasil belajar Arinata (2011) Pembelajaran Kooperatif tipe JigsawII – Kemampuan membaca ditinjau dari sikap Yang perlu diteliti : Gambar 2.1 Literatur map Prestasi belajar - Model Pembelajaran koooperatif tipe Jigsaw II Gambar 2.1. Literatur map penelitian terdahulu 46

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 47 2.3. Kerangka berpikir Penelitian ini menggunakan 2 kelompok; kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kelompok kontrol menerapkan pembelajaran konvensional yang didominasi kegiatan ceramah guru, menghafal, mengerjakan soal. Penerapan model pembelajaran konvensional diterapkan pada mata pelajaran IPS kelas V. Pada kelas eksperimen menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II diterapkan pada mata pelajaran IPS kelas V. Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II mengkondisikan siswa memiliki tanggung jawab secara individu dan secara kelompok untuk menguasai materi ajar. Melalui tanggung jawab untuk saling membelajarkan menciptakan saling ketergantungan antar siswa untuk secara pribadi mendalami materi ajar dan selanjutnya berkontribusi bagi teman-teman kelompoknya agar semuan siswa mencapai prestasi belajar yang tinggi. Siswa dalam belajar saling bekerja sama dan bergotong-royong untuk penguasaan bahan ajar serta berkompetensi untuk memperoleh penghargaan kelompok. Apabila setiap anggota dalam kelompok berusaha dengan baik maka hasil yang diperoleh akan baik pula. Selain itu pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II mengedepankan sikap menghargai antar teman yang memiliki kemampuan, ras dan jenis kelamin yang berbeda yang akan melatih siswa untuk membangun kesadaran sikap menghargai perbedaan dalam implementasi kehidupan di masyarakat. Mata pelajaran IPS SD yang termuat dalam UU sisdiknas tahun 2003 penting dan wajib diajarkan dibangku sekolah, salah satunya SD sebagai bekal pengetahuan dan bekal hidup siswa dalam bermasyarakat. Materi pelajaran IPS SD berbentuk narasi tertulis yang cocok diajarkan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II. 47

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 48 Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II memberi kesempatan siswa untuk membaca dan memahami materi ajar secara keseluruhan, sehingga mendukung pemahaman siswa secara menyeluruh dan utuh. Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II memacu siswa untuk memiliki gairah belajar yang tinggi, sebab siswa mampu mengeksplor ide serta gagasan yang mereka pahami melalui diskusi kelompok. Dengan demikian siswa terpacu pula dalam mencapai prestasi belajar secara optimal. 2.4. Hipotesis penelitian Hipotesis merupakan jawaban sementara atas masalah penelitian yang secara teoritis dianggap paling mungkin atau paling tinggi tingkat kebenarannya. Hipotesis terdiri dari hipotesis alternatif (Ha) dan hipotesis null (Ho). Hipotesis merupakan prediksi hasil penelitian yang dapat diketahui berdasarkan konsep teoritis. Hipotesis null (Ho) merupakan kebalikan dari hipotesis alternative (Ha). Hipotesis ini menunjukan tidak adanya perbedaan atau hubungan antar variabel (Margono:2007). Dalam penelitian ini dapat dirumuskan hipotesis bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II berbeda terhadap prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar. 48

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 49 BAB III METODE PENELITIAN Bab III membahas tentang jenis penelitian, waktu dan tempat penelitian, populasi dan sampel, variabel penelitian, definisi operasional, instrumen penelitian, uji validitas dan uji reliabilitas instrumen, teknik pengumpulan data, teknik analisis data terdiri dari: analisis deskriptif dan analisis inferensial. 3.1. Jenis penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan treatment atas penerapan model pembelajaraan kooperatif tipe Jigsaw II terhadap prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi experimental, dengan desain nonequivalent control group design. Penelitian ini menggunakan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, namun dalam quasi experimental tipe nonequivalent control group design kelompok kontrol tidak dapat sepenuhnya berfungsi sebagai pengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen (Sugiyono, 2008). Selain itu dalam quasi experimental tipe nonequivalent control group design kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diseleksi tanpa penempatan acak (Creswell, 2012:242). Dalam hal ini peneliti tidak memiliki wewenang untuk mengubah kelas karena akan merusak kealamiahan kelas. Dalam penelitian ini kelas VA merupakan kelompok eksperimen dan kelas VB merupakan kelompok kontrol. Kelompok kontrol dan kelompok eksperimen kemudian diberi pretest untuk menjajaki kemampuan awal dari masing-masing kelompok. Kelompok eksperimen akan diberi treatment dalam pembelajaran IPS menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II. O1 dan O3 49

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 50 merupakan prestasi belajar siswa sebelum treatment pembelajaran IPS menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. O2 adalah prestasi belajar siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatife tipe Jigsaw II. O4 adalah prestasi belajar siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional. Desain penelitian kuasi eksperimen tipe nonequivalent control group design terlihat dalam tabel berikut: O1 X O2 -------------------------O3 O4 Gambar 3.1 Desain penelitian Keterangan : X = Treatment yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II O1 = Rerata nilai pre-test kelompok eksperimen O2 = Rerata nilai post-test kelompok eksperimen O3 = Rerata nilai pre-test kelompok kontrol O4 = Rerata nilai post-test kelompok kontrol Penelitian diakhiri dengan memberikan post-test pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen untuk mengetahui perbedaan rata-rata prestasi belajar siswa antara kedua kelompok. Hasil pretest dan posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol menjadi data yang dianalisis sehingga dapat diketahui bagaimana perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II. 50

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 51 3.2.Waktu dan tempat penelitian 3.2.1. Waktu penelitian Penelitian tentang perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II telah dilaksanakan pada bulan November-Juni 2014 di SD Negeri Tegalrejo 2. Tabel 3.1.Waktu penelitian 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8 Juni Mei April Maret Februari Januari Kegiatan Desember No. November Bulan Penyusunan bab I Penyusunan bab II Penyusunan bab III Validasi instrumen Pelaksanaan penelitian Penyusunan bab IV Penyusunan bab V Ujian skripsi dan penyusunan artikel ilmiah Berikut ini rincian waktu pelaksanaan penelitian di kelas kontrol dan kelas eksperimen yang telah dilaksanakan pada bulan Januari-Februari 2014: Tabel 3.2. Pelaksanaan penelitian dan pengambilan data Jadwal pelaksanaan penelitian No. Kelompok Pertemuan 1 1 Kelompok kontrol 5 Februari 2014 2 Kelompok eksperimen 3 Februari 2014 Jadwal pengambilan data No. Kelompok Pretest 1 Kelompok kontrol 31 Januari 2014 2. Kelompok eksperimen 1 Februari 2014 51 Pertemuan 2 7 Februari 2014 8 Februari 2014 Posttest 15 Februari 2014 12 Februari 2014

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 52 3.2.2. Tempat penelitian Penelitian tentang perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar dengan atas model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II telah dilaksanakan di kelas VA dan kelas VB SD Negeri Tegalrejo 2 yang beralamat di Jl. Wiratama No. 27, Tegalrejo, Yogyakarta. 3.3. Populasi dan sampel Populasi merupakan keseluruhan subyek penelitian (Arikunto,2010). Dalam penelitian ini populasi yang digunakan adalah siswa kelas V (VAdanVB) SD Negeri Tegalrejo 2. Jumlah siswa pada kelas VA adalah 30 siswa, sedangkan kelas VB berjumlah 26 siswa. Sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh sebuah populasi. Sampel dalam penelitian ini menggunakan dua kelompok. Dalam pemilihan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen peneliti menggunakan teknik undian. Sampel kelompok eksperimen adalah kelas VA dengan populasi kelas VA dan VB, sedangkan sampel kelompok kontrol adalah kelas VB dengan populasi kelas VA dan kelas VB. Kendati demikian peneliti tidak dapat mengacak siswa pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen serta kondisi kelas karena peneliti tidak memiliki wewenang untuk mengacak/mengubah kondisi kelas. Peneliti menggunakan kelas yang sudah ada, sesuai dengan kondisi alamiah kelas. 3.4. Variabel penelitian Menurut Sugiyono (2010) variabel merupakan segala sesuatu yang berkenaan dengan hal-hal yang akan diteliti, atribut, nilai, atau sifat, kegiatan,orang yang 52

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 53 memiliki variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti yang dipelajari dan selanjutnya diambil kesimpulan. Peneliti merumuskan dua variabel yang menjadi fokus penelitian dengan menggunakan variabel bebas (independent) dan variabel terikat (dependent).Variabel bebas merupakan variabel yang menjadi penyebab atau yang mempengaruhi, sedangkan variabel terikat merupakan variabel yang memperoleh akibat atau tergantung pada variabel bebas (Arikunto,2010:119). Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II, sedangkan variabel terikatnya prestasi belajar. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II Variabel bebas/ independent Prestasi belajar Variabel terikat/ dependent Gambar 3.2 Variabel penelitian 3.5. Definisi operasional Dalam penelitian ini terdapat beberapa istilah yang telah ditentukan dan dibatasi agar tidak terjadi perbedaan penafsiran bagi peneliti maupun bagi pembaca. Pembatasan ini meliputi pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II dan prestasi belajar. 3.5.1. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II merupakan model pembelajaran yang mengkondisikan siswa belajar secara berkelompok dengan anggota 4-6 siswa, dalam kelompok setiap siswa diberikan kesempatan untuk memahami keseluruhan materi yang kemudian berdiskusi dalam kelompok ahli 53

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 54 dan kembali dalam kelompok asal untuk saling membelajarkan dimana setiap anggota kelompok saling memiliki ketergantungan positif sehingga semua siswa mengalami perkembangan prestasi belajar untuk kemudian dikontribusikan bagi perolehan penghargaan kelompok (reward). 3.5.2. Prestasi belajar adalah sebagai hasil/kompetensi yang dikuasai/diperoleh siswa melalui kegiatan belajar yang dikerjakan, diselesaikan dan diciptakakan setelah mengalami pengalaman belajar dalam ranah kognitif. 3.6. Instrumen penelitian Instrumen penelitian merupakan alat penting untuk mengumpulkan data dalam penelitian (Kasmadi,2013:79).Penelitian ini menggunakan instrumen tes. Tes merupakan sejumlah pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahua intelegensi atau kemampuan yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Secara spesifik tes yang digunakan adalah tes prestasi untuk mengukur pencapaian pengetahuan siswa setelah melakukan kegiatan belajar (Arikunto,2010). Tes prestasi dalam penelitian ini dilakukan dengan instrumen untuk pretest dan posttest dengan soal yang sama. Jenis tes prestasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal pilihan ganda. Instrumen penelitian tes digunkan untuk mengetahui prestasi belajar siswa. Peneliti menyusun 4 indikator kemudian mengembangkan menjadi 45 butir soal. Berikut ini kisi-kisi soal yang digunakan untuk menyusun instrumen penelitian: 54

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 55 Tabel 3.3 Kisi-kisi instrumen soal tes Standar Kompetensi: 2. Menghargai peranan tokoh pejuang dan masyarakat dalam mempersiapkan dan mempertahankaan kemerdekaan Indonesia Kompetensi Dasar: 2.2 Menghargai jasa dan peranan tokoh perjuangan dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia No Indikator Nomor soal 1 2 3 4 3.7. Menjelaskan peristiwa persiapan kemerdekaan Indonesia oleh BPUPKI Menjelaskan peristiwa persiapan kemerdekaan Indonesia oleh PPKI Mengidentifikasi peranan tokoh dalam persiapan kemerdekaan Indonesia Mendiskripsikan contoh sikap meneladani jasa dan peranan tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. 1, 2, 3, 5, 6, 8, 26, 30, 31, 32, 37, 38 12, 15, 17, 19, 20,21, 28, 33, 34, 36, 40, 4, 7, 9, 10, 13, 14, 25, 29, 35, 42, 44, 45 11, 16, 18, 22, 23, 24, 27, 39, 41, 43 Jumlah soal 12 11 12 10 Uji validitas dan uji reliabilitas instrumen 3.7.1. Uji validitas Menurut Azwar (2012:173) menjelaskan validitas merupakan sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen pengukuran melakukan perannya sebagai alat ukur. Selanjutnya Widoyoko (2009:129-133) menjelaskan bahwa validitas merupakan ketepatan alat untuk mengukur dengan apa yang hendak diukur. Validitas dibagi menjadi 2, yaitu validitas internal dan validitas eksternal. Dalam validitas internal dibagi menjadi 2, yaitu: validitas isi dan validitas konstruk. Sedangkan dalam validitas eksternal dibagi atas validitas kesejajaran dan validitas prediksi. Dalam penelitian ini menggunakan validitas isi, validitas konstruk, dan validitas eksternal/empiris (concrruent validity). 3.7.1.1. Validitas isi Merupakan validitas yang menunjukkan pencerminan alat ukur dengan hal yang akan diteskan. Validitas isi mengukur kesesuaian antara materi suatu pelajaran dengan tujuan instruksional yang dirumuskan. Untuk mengukur 55

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 56 validitas isi maka materi pelajaran harus sudah dipelajari siswa. Validitas isi berisi tentang keluasan cakupan butir soal yang diteskan dengan cakupan materi ajar. Pengujian validitas isi dilakukan oleh ahli/Expert judgment dalam bidang yang diuji sehingga hasilnya dapat dipertanggung jawabkan. 3.7.1.2. Validitas konstruk Menunjukkan kesesuaian antara konsep dengan alat ukur yang disusun. Instrumen memiliki validitas konstruk jika butir soal sesuai dan dapat mengukur tujuan instruksional yang telah dirumukan. Validitas konstruk berkaitan dengan sejauh mana suatu instrumen mengukur konsep dari suatu teori. Pengujujian validitas konstruk dilakukan oleh ahli/Expert judgment. Setelah intrumen dikonstruksikan terkait aspek-aspek yang hendak diukur mengacu pada tertentu selanjutnya dikonsultasikan kepada ahli. Dalam penelitian ini instrumen pembelajaran memuat: silabus, RPP, LKS, materi ajar dan instrumen pengumpul data (soal tes obyektif pilihan ganda). Instrumen soal tes obyektif sejumlah 45 item dan instrumen pembelajaran diuji validitas isi dan validitas konstruk oleh ahli, dalam penelitian ini adalah guru kelas VA, guru kelas VB dan kepala sekolah SD Negeri Tegalrejo 2. Peneliti memilih penguji dari guru kelas V dan kepala sekolah karena peneliti berasumsi guru kelas dan kepala sekolah memiliki keahlian dalam bidang mata pelajaran IPS. Hasil pengujian validitas konstruk dan validitas isi oleh ahli (guru kelas VA dan guru kelas VB dan kepala sekolah) menghasilkan keputusan bahwa perangkat pembelajaran dan soal tes obyektif pilihan ganda tersebut termasuk kriteria sangat layak sebagai instrumen penelitian dan instrumen pengumpulan data. Hal tersebut ditunjukkan dari hasil penilaian ahli dari kepala sekolah mencapai 93, penilaian 56

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 57 dari guru kelas VA mencapai 85 sedangkan penilaian ahli dari guru kelas VB mencapai 90. Setelah diuji validitas konstruk dan validitas isi maka instrumen pembelajaran dan instrumen pengumpul data (soal tes obyektif pilihan ganda) dapat digunakan untuk pembelajaran di kelas penelitian, sedangkan pada soal tes obyektif pilihan ganda dilakukan uji validitas empirik di lapangan. Hasil uji validitas konstruk dan validitas isi dapat dilihat pada lampiran 15 halaman 172. 3.7.1.3. Validitas empiris Validitas empirik/validitas kesejajaran berkaitan dengan fakta empiris/lapangan. Validitas kesejajaran (concurrent validity) diperoleh apabila hasilnya sesuai dengan kriteria yang sudah ada, artinya sejajar dengan kriteria yang sudah ada. Perbandingan ini disesuaikan antara instrumen yang diuji dengan hasil dilapangan. Dalam penelitian ini validitas empirik/eksternal digunakan untuk menguji instrumen penelitian. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes prestasi belajar dengan bentuk soal pilihan ganda berjumlah 45 item. Soal pilihan ganda (multiple choice) termasuk data dikotomi. Field (2009:182) data dikotomi merupakan data yang memiliki 2 katagori yaitu benar dan salah. Perhitungan statistik data dikotomi diolah dengan menggunakan teknik point biserial. Mundir (2012) point biserial menganalisis variabel yang berdata interval/rasio data nominal dikotomis (memiliki dua kriteria jawaban). Menurut Field (2009) cara pengolahan validitas menggunakan teknik point biserial sama dengan pengolahan dengan teknik product moment. Hanya saja yang membedakan adalah bahwa dalam point biserial digunakan pada soal tes obyektif dengan katagori dikotomis (benar/salah), sedangkan pada teknik product moment digunakan pada katagori 57

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 58 jawaban yang berjenjang (1, 2, 3, 4, 5, dst). Korelasi point biserial merupakan korelasi product moment yang sederhana. Penghitungan validitas instrumen soal tes prestasi belajar menggunakan bantuan program SPSS20 for windows. Dengan bantuan SPSS 20 for windows analisis hasil pengujian validitas akan lebih cepat dengan tingkat keakuratan yang tinggi. Berdasarkan hasil penghitungan, item yang valid selanjutnya digunakan untuk penelitian di kelas kontrol dan kelas eksperimen berupa pretest dan posttest di kelas VA dan VB SD. Penentuan validitas item didasarkan pada output SPSS.Penentuan validitas item dapat pula dilakukan dengan membandingkan antara r-hitung dengan r-tabel. Item soal dikatakan valid jika r-hitung > r-tabel. Dalam penelitian ini jumlah responden adalah 30 siswa sehingga r-tabel adalah 0,361, dapat dilihat pada lampiran 16 halaman 188. Uji validitas empirik dilaksanakan di SD Tegalrejo 2 kelas VI dengan jumlah 30 siswa. Soal dibuat oleh peneliti sejumlah 45 item dan diperoleh hasil 20 item valid. Peneliti menggunakan kelas VI sebagai subyek dalam uji validitas soal karena siswa kelas VI pernah menerima materi yang diteliti. Hasil pengujian validitas empirik secara rinci dapat dilihat pada lampiran 5 halaman 137. Berikut ini tebaran item soal tes obyektif pilihan ganda valid yang telah dilaksanakan dikelas VI: 58

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 59 Tabel 3.4 Item soal valid Standar Kompetensi : 2. Menghargai peranan tokoh pejuang dan masyarakat dalam mempersiapkan dan mempertahankaan kemerdekaan Indonesia Kompetensi Dasar : 2.2 Menghargai jasa dan peranan tokoh perjuangan dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia No Indikator Nomor soal Jumlah soal valid 1 Menjelaskan peristiwa persiapan 1, 3, 8, 26, 38 5 kemerdekaan Indonesia oleh BPUPKI 2 Menjelaskan peristiwa persiapan 20, 33, 34, 40 4 kemerdekaan Indonesia oleh PPKI 3 Mengidentifikasi peranan tokoh dalam 4, 9, 10, 13, 25, 8 persiapan kemerdekaan Indonesia 42, 44, 45 4 Mendiskripsikan contoh sikap 16, 18, 24 3 meneladani jasa dan peranan tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. 3.7.2. Uji reliabilitas instrumen Reliabilitas merupakan kemampuan suatu alat untuk mengukur dengan hasil yang ajeg/relatif sama (Widoyoko,2009:98). Menurut Masidjo (1995:209) reliabilitas suatu tes adalah taraf sampai di mana suatu tes mampu menunjukkan konsistensi hasil pengukurannya yang diperlihatkan dalam taraf ketetapan dan ketelitian hasil. Reliabilitas pada dasarnya menunjukkan pada konsep sejauh mana suatu pengukuran dapat dipercaya dan tetap. Koefisien korelasi (rxy) pengujian reliabilitas berkisar pada bilangan antara 0 sampai dengan 1,00 yang dikelompokkan dari sangat rendah sampai sangat tinggi. Penentuan reliabilitas menggunakan rumus Alpha Cronbach. Berikut ini tabel klasifikasi koefisien reliabilitas menurut Darmawan (2013:179). 59

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 60 Tabel 3.5. Kualifikasi koefisien reliabilitas Koefisien Korelasi ±0,80 – ±1,00 ±0,60 – ±0,79 ±0,40 – ±0,59 ±0,20 – ±0,39 0.01 – ±0,19 Kualifikasi Sangat tinggi Tinggi Moderat Rendah Sangat rendah Pengujian reliabilitas instrumen dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS 20 for windows. Berdasarkan uji validitas dari 45 item yang dibuat peneliti diperoleh hasil 20 item valid. Pengujian reliabilitas dilakukan dengan mengambil item yang valid. Berikut ini hasi reliabilitas instrumen yang diolah dengan bantuan program SPSS 20 for windows: Tabel 3.6. Hasil uji reliabilitas Reliability Statistics Cronbach's Alpha ,898 N of Items 20 Berdasarkan tabel hasil reliability Alpha Cronbach di atas maka dapat diketahui bahwa hasil reliabilitas item pilihan ganda adalah 0,898. Hal ini menunjukkan bahwa 20 item yang digunakan sebagai instrumen pengumpul data memiliki kualifikasi reliabilitas sangat tinggi. Sehingga sangat layak untuk digunakan sebagai instrumen pengumpulan data. Peneliti menggunakan rumus Alpha Cronbach dalam menghitung reliabilitas instrumen karena koefisien Alpha merupakan bagian dari Internal consistency, yang mana Internal Consistency khusus digunakan pada butir soal yang dikotomi seperti soal pilihan ganda (Surapranata, 2004:113). 60

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 61 3.8. Teknik pengumpulan data Teknik pengumpulan data dilakukan dengan memberikan soal pretest dan soal posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan jenis soal tes obyektif pilihan ganda sejumlah 20 item yang valid dan reliabel. Teknik pengumpulan data dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3.5. Pengumpulan Data Variabel Prestasi Belajar No 1 2 Kelompok Kelompok eksperimen (VA) Variabel Prestasi belajar Kelompok kontrol (VB) Data Skor Pretest Pengumpulan Pretest Skor Posttest Posttest Skor Pretest Pretest Skor Posttest Posttest Instrumen Soal tes pilihan ganda Soal tes pilihan ganda Soal tes pilihan ganda Soal tes pilihan ganda 3.9. Teknik analisis data 3.9.1. Teknik analisis deskriptif Teknik analisis deskriptif merupakan cara untuk mengolah data kuantitatif sedemikian rupa, sehingga data tersebut dapat memiliki arti. Teknik ini memiliki kegunaan untuk menggambarkan/merangkum suatu kegiatan penelitian yang dilaksanakan (Furchan:2007). Teknik analisis deskriptif dalam penelitian ini berupa variabel data, nilai tertinggi, nilai terendah, ukuran tendensi sentral (mean, median, modus),data grafis dan histogram kurva. 3.9.1.1. Ukuran tendensi sentral (mean, media dan modus) Menurut Hadi (2000) mean merupakan nilai rata-rata dari sekumpulan data. Secara arimatika mean adalah jumlah nilai dibagi dengan jumlah individu/responden. Median merupakan titik dalam suatu sebaran ukuran, suatu nilai yang membatasi 50 persen frekuansi distribusi bagian bawah dengan 50 61

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 62 persen frekuensi distribusi bagian atas. Modus merupakan nilai yang mempunyai frekuensi terbanyak dalam sejumlah disribusi data. Analisis deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai maksimal, nilai minimal, rata-rata (mean), nilai tengah (median), nilai yang sering muncul (modus), gambar kurva. 3.9.2. Teknik analisis inferensial Dalam melakukan teknik analisis data peneliti menggunakan program SPSS 20 for Windows. Teknik analisis inferensial terdiri dari 2 tahap, yaitu uji prasyarat yang terdiri dari uji normalitas dan uji homogenitas setelah terpenuhi kedua syarat di atas langkah selanjutnya dilakukan uji beda dan uji pengaruh perlakuan. 3.9.2.1. Uji normalitas Uji normalitas penelitian menggunakan teknik Kolomogorov-Sminorv karena data berbentuk kuantitatif. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui jenis analisis data apakah yang akan digunakan sehingga memberikan hasil yang akurat dan relevan (Sarwono,2010:27). Teknik Kolmogorof-Smirnov dilakukan dengan membandingkan hasil normalitas data dengan taraf kesalahan 5%. Teknik Kolmogorof Smirnov digunakan untuk menentukan distribusi data yang digunakan untuk penelitian tersebut normal atau tidak (Kasmadi, 2013). Setelah diketahui distribusi datanya, maka dapat ditentukan analisis data dengan analisis parametrik atau analisis non-parametrik. 62

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 63 Penentuan hipotesis null dan hipotesis alternatif sebagai berikut: Ho: Data nilai siswa berdistribusi tidak normal. Ha: Data nilai siswa berdistribusi normal. Kriteria yang digunakan dalam uji normalitas adalah: Jika harga sig.> 0,05, maka Ho ditolak dan Ha gagal ditolak, artinya data berdistribusi normal. Jika data normal maka selanjutnya menggunakan teknik statistik parametrik uji t atau t-test. Jika harga sig.< 0,05, maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak, artinya data berdistribusi tidak normal. Jika data tidak normal maka selanjutnya menggunakan teknik statistik non parametrik Mann-Whitney (Siregar, 2013). 3.9.2.2. Uji homogenitas Uji homogenitas dilakukan untuk menunjukkan keyakinan bahwa sekumpulan data yang dimanipulasi dalam sebuah rangkaian data yang dianalisis memiliki keragaman yang hampir sama/ tidak jauh berbeda asalnya dalam sebuah populasi. Uji homogenitas dilakukan setelah diperoleh hasil uji normalitas. Penentuan homogenitas data dapat dilakukan dengan cara membandingkan harga signifikansi output SPSS dengan penentuan keputusan homogenitas. Kriteria pengambilan keputusan homogenitas adalah sebagai berikut: Ho: Varians nilai pretest antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tidak homogen. Ha: Varians nilai pretest antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen homogen. Jika harga sig. ˃ 0,05 maka dapat diambil kesimpulan Ho ditolak dan Ha gagal ditolak artinya tidak ada perbedaan varians nilai pretest pada kelompok 63

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 64 kontrol dan kelompok eksperimen, dengan kata lain nilai pretest antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen homogen. Jika harga sig.< 0,05, maka Ha ditolak dan Ho gagal ditolak, artinya ada perbedaan varians nilai pretest antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, dengan kata lain nilai pretest antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tidak homogen. Uji homogenitas dilakukan dengan cara membandingkan hasil pretest kelompok kontrol dan pretest kelompok eksperimen dengan menggunakan bantuan program SPSS 20 for windows (Siregar, 2013). 3.9.2.3. Uji beda pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen Uji beda nilai pretest antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilakukan untuk mengetahui titik pijak kedua kelompok apakah berangkat dari titik pijak yang sama atau berbeda. Uji beda dilakukan dengan independent t-test untuk mengetahu apakah rata-rata nilai pretest kedua kelompok sama atau berbeda. Jika rata-rata nilai pretest kedua kelompok sama maka dilakukan uji pengaruh perlakuaan dengan membandingkan rata-rata nilai posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dengan menggunakan independent t-test. Jika rata-rata nilai pretest berbeda maka dilakukan uji selisih pretest dan posttest pada kelompok eksperimen dengan independent t-test. Langkah pertama untuk melakukan uji beda adalah menentukan hipotesis alternatif dan hipotesis null untuk pengambilan keputusan sebagai berikut: 64

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 65 Ha: ada perbedaan rata-rata nilai pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Ho: tidak ada perbedaan rata-rata nilai pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria untuk pengambilan keputusan dirumuskan sebagai berikut: Jika harga sig.(2.tailed) <0,05 maka Ha gagal ditolak dan Ho ditolak, artinya ada perbedaan rata-rata nilai pretest kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen. Jika sig.(2.tailed)>0,05 maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak, tidak terdapat perbedaan rata-rata nilai pretest kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen (Siregar,2013). 3.9.2.4. Uji pengaruh perlakuan 3.9.2.4.1. Independent t-test Independen t-test digunakan untuk mengetahui perbedaan rata-rata nilai antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen prestasi belajar yang diukur pada dua kelompok yang berbeda. Prinsip uji-t adalah menghitung selisih nilai dari dua kelompok yang diberikan treatment yang berbeda. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada perbedaan antara nilai kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Langkah pertama untuk melakukan uji pengaruh perlakuan adalah menentukan hipotesis alternatif dan hipotesis null untuk pengambilan keputusan sebagai berikut: Ha: ada perbedaan rata-rata nilai posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Ho: tidak ada perbedaan rata-rata nilai posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kriteria pengambilan keputusan yang digunakan adalah: 65

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 66 Ho: Jika harga signifikansi (2tailed) > 0,05 maka tidak ada perbedaan antara nilai postest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau dapat disimpulkan tidak ada perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II. Ha: Jika harga signifikansi (2tailed) < 0,05 maka ada perbedaan antara nilai posttest kelompok kontrol dan eksperimen atau dapat disimpulkan ada perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II. (Priyatno,2010). Jika harga sig. (2tailed) < 0,05 maka dapat diambil kesimpulan Ho ditolak dan Ha gagal ditolak artinya ada perbedaan rata-rata nilai posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, dengan kata lain disimpulkan ada perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II. Jika harga sig. (2tailed) > 0,05 maka dapat diambil kesimpulan H o gagal ditolak dan Ha ditolak artinya tidak ada perbedaan rata-rata nilai posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, dengan kata lain disimpulkan tidak ada perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II. Analisis inferensial yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji normalitas yang digunakan untuk melihat distribusi data apakah normal atau tidak, lalu uji homogenitas yang digunakan untuk mengatahui varians data nilai pretest, uji beda nilai pretest kelompok kontrol dan nilai eksperimen untuk melihat titik pijak kedua kelompok apakah berangkat dari titik pijak pengetahuan yang sama atau tidak (berbeda). Jika varians nilai tidak homogen maka dilakukan analisis 66

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 67 perbandingan uji selisih nilai pretest dan nilai posttest kedua kelompok. Setelah dilakukan uji prasyarat dan uji beda nilai pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen maka selanjutnya dilakukan uji pengaruh perlakuan. Hasil penelitian ini diperoleh semua data pretest dan posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berdistribusi normal, varians nilai pretest kedua kelompok homogen, serta tidak ada perbedaan nilai pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dengan independen t-test. Maka dilakukan uji pengaruh perlakuaan dengan membandingkan nilai posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menggunakan independent t-test. 67

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 68 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab IV membahas tentang hasil penelitian yang berisi deskripsi data, perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II yang berisi uji normalitas, uji homogenitas, uji beda dan uji pengaruh perlakukan, pembahasan dan keterbatasan peneliti. 4.1. Hasil penelitian 4.1.1. Deskripsi data Hasil penelitian diperoleh dari nilai pretest dan posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dalam penelitian ini kelompok eksperimen adalah kelas VA dengan jumlah 30 siswa, sedangkan kelompok kontrol adalah kelas VB dengan jumlah 26 siswa. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah prestasi belajar sedangkan variabel independen dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II. Tahapan pelaksanaan penelitian dilakukan dengan cara sebagai berikut: a) Kedua kelompok (kontrol dan eksperimen) diberikan pretest dengan soal tes pilihan ganda sejumlah 20 item sebelum pelaksanaan pembelajaran. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah kondisi awal kedua kelompok sama atau berbeda. b) Kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diberikan materi pelajaran yang sama dengan treatment yang berbeda. Kelompok kontrol menggunakan metode konvensional (ceramah), sedangkan kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaraan kooperatif tipe Jigsaw II. c) Setelah proses pembelajaran dilaksanakan kedua kelompok diberikan posttest dengan soal yang 68

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 69 sama berbentuk soal tes pilihan ganda yang berjumlah 20 item. posttest dilakukan untuk mengetahui perbedaan yang dihasilkan atas penerapan treatment, yakni pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II terhadap prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar. Pelaksanaan penelitian dilakukan dalam dua kali pertemuan pada masingmasing kelompok; kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Langkah- langkah pelaksanaan pembelajaran pada kelas kontrol menggunakan metode konvensional yang didominasi oleh ceramah guru. Guru menyampaikan apersepsi dan orientasi sebagai kegiatan pendahuluan. Selanjutnya siswa mendengarkan penjelasan dari guru, dengan sesekali siswa diajak bertanya jawab. Kemudian siswa secara berpasangan sesuai tempat duduk diberikan Lembar Kerja Siswa (LKS). Setelah mengerjakan LKS siswa melaporkn hasil kerja LKS. Kegiatan diakhiri dengan merangkum hasil belajar dan mengerjakan soal evaluasi untuk mengetahui pencapaian prestasi belajas siswa. Langkah-langkah pembelajaran pada kelompok eksperimen dilaksanakan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II diawali dengan apersepsi dan orientasi. Selanjutnya siswa diberikan kuis awal. Kuis awal dilakukan untuk menentukan nilai rekognisi tim, nilai kuis awal dibandingkan dengan nilai kuis akhir kemudian dibandingkan dengan tabel peningkatan siswa untu menentukan kelompok yang diberikan penghargaan. Setelah mengerjakan kuis awal siswa melakukan studi pustaka dari LKS yang dibagikan guru secara keseluruhan materi secara sekilas. Kemudian guru membagikan callcard, dalam callcard tertulis nama dan nomor. Siswa yang memperoleh callcard dengan warna yang sama berkumpul menjadi kelompok asal dengan anggota kelompok yang heterogen. 69

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 70 Pada kelompok asal dipilih salah satu ketua kelompok yang membantu guru dalam membagi bagian materi yang harus dipelajari secara mendalam. Kelompok asal terdiri dari siswa yang mempelajari sub materi yang berbeda-beda, masingmasing siswa dibagikan satu sub materi yang harus dipelajari dan dipahami. Setelah dirasa cukup siswa berkumpul dalam kelompok ahli berdasarkan nomor callcard yang sama/kesamaan materi.Dalam kelompok ahli semua anggota kelompok wajib menyampaikan gagasan-gagasannya, mendiskusikan dan saling berbagi pengalaman dan pengetahuan sehingga tiap siswa memperoleh pemahaman secara mendalam terkait materi yang dipelajarinya.Setelah berdiskusi dalam kelompok ahli siswa kembali lagi pada kelompok asal. Dalam kelompok asal setiap siswa menyampaikan pemahaman mereka terkait materi yang telah dibaca serta hasil diskusi dalam kelompok ahli. Anggota kelompok secara bergantian mengutarakan pemahaman materi yang telah dipelajari sehingga setiap anggota kelompok dapat memahami materi pelajaran secara menyeluruh dan utuh. Selanjutnya kelompok asal menyusun rangkuman kelompok untuk mengukur pemahaman mereka terkait materi secara keseluruhan, dilanjutkan dengan presentasi kelompok. Kegiatan pembelajaran diakhiri dengan siswa mengerjakan soal kuis akhir secara individu untuk menentukan kelompok yang unggul dalam kegiatan pembelajaran dengan Jigsaw II. Pemberian penghargaan (reward) ditentukan dari rata-rata hasil skor kemajuan siswa yang diakumulasi dalam kelompok selama dua kali pertemuan kegiatan pembelajaran. Untuk mengetahui tahapan pelaksanaan model pembelajaran tipe Jigsaw II dapat dilihat pada lampiran 14 halaman 170. Berikut ini hasil nilai pretest dan posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen: 70

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 71 Tabel 4.1. Data Prestasi belajar IPS Nilai tertinggi Nilai terendah Mean Median Modus KKM Kelompok kontrol Pretest Posttest 60 85 30 50 47,88 71,73 47,50 70 45 70 70 Kelompok eksperimen Pretest Posttest 60 100 40 65 50,83 83,33 50 85 50 75 70 Pada kelompok kontrol nilai tertinggi pretest adalah 60 dan nilai tertinggi posttest adalah 85, sedangkan nilai terendah pretest adalah 30 dan nilai terendah posttest adalah 50. Selanjutnya pada kelompok eksperimen menunjukkan nilai tertinggi pretest adalah 60 dan nilai tertinggi posttest adalah 100, sedangkan nilai terendah pretest adalah 40 dan nilai tertinggi postest adalah 65. Rata-rata nilai pretest kelompok kontrol sebesar 47,88, sedangkan rata-rata nilai posttest kelompok kontrol sebesar 71,73. Rata-rata nilai pretest kelompok eksperimen sebesar 50,83, sedangkan rata-rata nilai posttest kelompok eksperimen sebesar 83,33. Hal ini menunjukkn bahwa rata-rata nilai pretest dan posttest kelompok eksperimen lebih tinggi dibanding rata-rata nilai pretest dan posttest kelompok kontrol. Nilai tengah (median) pada kelompok kontrol nilai pretest adalah 47,50 dan nilai tengah posttest adalah 70, sedangkan nilai tengah (median) kelompok eksperimen nilai pretest adalah 50 dan nilai tengah posttest adalah 85. Nilai yang sering muncul (modus) pada kelompok kontrol pretest adalah 45 dan modus nilai posttest adalah 70, sedangkan pada kelompok eksperimen nilai yang sering muncul (modus) nilai pretest adalah 50 dan modus nilai posttest adalah 75. Dari hasil nilai posttest siswa diketahui bahwa terdapat 7 siswa dari kelompok kontrol yang belum mencapai KKM, sedangkan pada kelompok eksperimen terdapat 1 siswa yang belum mencapai KKM. 71

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 72 4.1.2. Perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II 4.1.2.1. Uji normalitas Untuk menentukan hipotesis penelitian maka harus dilakukan uji pra syarat yang pertama adalah uji normalitas. Uji normalitas digunakan untuk melihat apakah nilai pretest dan posttest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki distribusi normal atau tidak. Hasil uji normalitas didapat melalui hasil pretest dan posttest pada siswa kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen.Instrumen pretest dan posttest. Penentuan uji normalitas diawali dengan menentukan hipotesis nol dan hipotesis alternatif sebagai berikut: Ho: Data nilai siswa berdistribusi tidak normal. Ha: Data nilai siswa berdistribusi normal. Dari data yang diperoleh dilakukan uji normalitas untuk menentukan jenis uji statistik apa yang akan digunakan dalam analisis data prestasi belajar. Kriteria signifikansi untuk mengambil keputusan normalitas data menurut Kolmogorof sminorv dapat dirumuskan: Jika harga sig.> 0,05 maka disimpulkan Ho ditolak dan Ha gagal ditolak, artinya data nilai IPS siswa berdistribusi normal. Jika data normal maka selanjutnya menggunakan teknik statistik parametrik uji t atau t-test. Jika harga sig.< 0,05, maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak, artinya data nilai IPS siswa berdistribusi tidak normal maka menggunakan analisis non parametrik Mann-Whitney. Data dalam penelitian ini berdistribusi normal sehingga 72

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 73 menggunakan analisis parametrik. Berikut tabel hasil uji normalitas data kelas kontrol dan kelas eksperimen baik nilai pretest maupun nilai posttest: Tabel 4.2. Hasil uji normalitas pretest kelompok kontrol Aspek Pretest kelompok kontrol Nilai signifikansi 0,107 Keputusan Normal Gambar 4.1.kurva nilai pretest kelompok kontrol Penghitungan normalitas pada data nilai pretest kelompok kontrol dilakukan menggunakan rumus Kolmogorof-Smirnof dengan bantuan program SPSS 20.0 for windows, harga signifikansi mencapai 0,107, artinya dapat diputuskan bahwa data nilai pretest kelompok kontrol berdistribusi normal. Hal tersebut juga dapat dilihat dari kurva normalitas. Tabel 4.3. Hasil uji normalitas posttest kelompok kontrol Aspek Posttest kelompok kontrol Nilai signifikansi 0,196 73 Keputusan Normal

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 74 Gambar 4.2.kurva nilai posttest kelompok kontrol Penghitungan normalitas pada data nilai postest kelompok kontrol dilakukan menggunakan rumus Kolmogorof-Smirnof dengan bantuan program SPSS 20.0 for windows, harga signifikansi mencapai 0,196, artinya dapat diputuskankan data nilai posttest kelompok kontrol berdistribusi normal. Hal tersebut juga dapat dilihat dari kurva normalitas. Tabel 4.4. Hasil uji normalitas pretest kelompok eksperimen Aspek Pretest kelompok ekperimen Nilai Signifikansi 0,077 Keputusan Normal Gambar 4.3.kurva nilai pretest kelompok eksperimen 74

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 75 Penghitungan normalitas pada data nilai pretest kelompok eksperimen dilakukan menggunakan rumus Kolmogorof-Smirnof dengan bantuan program SPSS 20.0 for windows, harga signifikansi mencapai 0,077, artinya dapat diputuskan bahwa data nilai pretest kelompok eksperimen berdistribusi normal. Hal tersebut juga dapat dilihat dari kurva normalitas. Tabel 4.5. Hasil uji normalitas posttest kelompok eksperimen Aspek Posttest kelompok eksperimen Nilai signifikansi 0,200* Keputusan Normal Gambar 4.4.kurva nilai posttest kelompok eksperimen Penghitungan normalitas pada data nilai posttest kelompok eksperimen dilakukan menggunakan rumus Kolmogorof-Smirnof dengan bantuan program SPSS 20.0 for windows, harga signifikansi mencapai 0,200, artinya dapat diputuskan bahwa data nilai posttest kelompok eksperimen berdistribusi normal dan sangat signifikan. Hal tersebut juga dapat dilihat dari kurva normalitas. Dari tabel hasil signifikansi nilai pretest dan posttest kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol dapat diketahui bahwa harga signifikansi kelompok eksperimen lebih tinggi dari pada kelompok kontrol pada masingmasing nilai signifikansi nilai pretest dan posttest kedua kelompok. Selain itu 75

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 76 nilai signifikansi posttest kelompok eksperimen memiliki harga signifikansi 0,200* yang berarti sangat normal dan sangat signifikan (Kasmadi, 2013). Sehingga dapat disimpulkan data pretest dan posttest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki distribusi normal karena pada seluruh data nilai pretest dan posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terjadi penolakan Ho sehingga Ha gagal ditolak. Langkah selanjutnya digunakan uji statistik parametrik independen t-test. Output lengkap SPSS data normalitas dapat dilihat pada lampiran 9 halaman 162. 4.1.2.2. Uji homogenitas Langkah selanjutnya mencari homogenitas data. Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah varians data nilai pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen homogen atau tidak. Uji homogenitas menggunakan rumus livene test. Analisis ini menggunakan taraf kepercayaan 95%. Kedua data pretest dikatakan tidak homogen jika harga sig. < 0,05. Artinya jika hasil analisis nilai pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen kurang dari 0,05 maka nilai kedua kelompok tersebut dikatakan tidak homogen. Penentuan homogenitas dirumuskan sebagai berikut: Ho: Varians nilai pretest antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tidak homogen. Ha: Varians nilai pretest antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen homogen. Pengambilan keputusan dapat dirumuskan sebagai berikut: Jika harga sig. < 0,05, maka Ha ditolak dan Ho gagal ditolak, artinya varians nilai pretest antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tidak 76

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 77 homogen. Apabila varians nilai pretest kedua kelompok berada pada titik pijak yang berbeda maka dilakukan analisis perbandingan selisih nilai pretest dan nilai posttest antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Jika harga sig.> 0,05, maka Ha gagal ditolak dan Ho ditolak, artinya varians nilai pretest antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen homogen. Setelah dilakukan uji homogenitas diperoleh hasil output data pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen yang diolah dengan levene test. Berikut ini hasil uji homogenitas dengan levene test: Tabel 4.6. Hasil uji homogenitas Hasil pretest Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol Taraf signifikansi 0,541 Keterangan Homogen Dari data homogenitas di atas maka dapat disimpulkan nilai pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen homogen. Hal itu terbukti dari hasil taraf signifikansi yaitu 0,541artinya harga sig. > 0,05. Ho ditolak dan Ha gagal ditolak karena kedua kelompok memiliki varians yang sama (homogen). Output SPSS secara rinci dapat dilihat pada lampiran 10 halaman 162. 4.1.2.3. Uji beda pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen Uji beda nilai pretest antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilakukan untuk mengetahui titik pijak kedua kelompok apakah berangkat dari titik pijak yang sama atau berbeda. Uji beda dilakukan dengan independent t-test untuk mengetahu apakah rata-rata nilai pretest kedua kelompok sama atau berbeda. Jika rata-rata nilai pretest kedua kelompok sama maka dilakukan uji pengaruh perlakuaan dengan membandingkan rata-rata nilai posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dengan menggunakan independent t-test. Jika 77

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 78 rata-rata nilai pretest berbeda maka dilakukan uji selisih pretest dan posttest pada kelompok eksperimen dengan independent t-test. Karena data nilai pretest homogen maka yang digunakan pada output SPSS adalah nilai Equal variance assumed. Langkah pertama untuk melakukan uji beda adalah menentukan hipotesis alternatif dan hipotesis null untuk pengambilan keputusan sebagai berikut: Ha: ada perbedaan rata-rata nilai pretest kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen. Ho: tidak ada perbedaan rata-rata nilai pretest kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen. Kriteria untuk pengambilan keputusan dirumuskan sebagai berikut: Jika harga sig.(2.tailed) <0,05 maka Ha gagal ditolak dan Ho ditolak, artinya ada perbedaan rata-rata nilai pretest kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen. Jika sig.(2.tailed)>0,05 maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak, tidak terdapat perbedaan rata-rata nilai pretest kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen (Siregar,2013). Berikut ini hasil uji beda nilai pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dengan independent t-test: Tabel 4.7. Hasil uji beda Pretest Kelompok kontrol dan kelompok eksperimen Nilai signifikansi 0,116 Keterangan Tidak berbeda Berdasarkan hasil uji beda nilai pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen di atas diperoleh hasil sig.(2tailed) > 0,05 maka Ho gagal ditolak dan Ha ditolak, tidak ada perbedaan rata-rata nilai pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen; kedua kelompok berangkat dari titik pijak yang sama 78

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 79 sehingga dapat disimpukan bahwa tidak ada perbedaan nilai pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Karena data nilai pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menunjukkan tida berbeda/sama, maka selanjutnya dilakukan uji pengaruh perlakuaan dengan membandingkan nilai posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Output SPSS secara rinci dapat dilihat pada lampiran 11 halaman 163. 4.1.2.4. Uji pengaruh perlakuan 4.1.2.4.1. Independen t-test Berdasarkan hasil data uji pra syarat di atas menunjukkan bahwa data pretest dan posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki distribusi normal. Selanjutnya dari hasil homogenitas diperoleh hasil harga signifikansi (2tailed) ˃ 0,05 yang berarti data pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen mempunyai varians yang sama/homogen. Karena nilai signifikansi dari uji homogenitas (levene’s test) menunjukkan varians yang homogen harga signifikansi (2tailed) > 0,05, maka pada hasil output independen t-test menggunakan nilai Equal variance assumed. Penghitungan statistik uji beda menggunakan independent t-test nilai pretest kedua kelompok menunjukkan terjadi penolakan Ha dan penerimaan H o yang berarti kedua kelompok berangkat dari titik pijak pengetahuan yang sama/tidak ada perbedaan nilai pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 79

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 80 Langkah selanjutnya untuk mengetahui apakah ada perbedaan rata-rata nilai atau tidak antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada nilai posttest atas pemberian treatment yang berbeda, maka dilakukan uji hipotesis. Melalui uji hipotesis ini akan diketahui apakah hasil rata-rata kedua posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki perbedaan atau tidak. Analisi statistik yang digunakan adalah parametrik yakni independet t-test. Setelah diketahui data normalitas, data homogenitas dan berangkat dari titik pijak yang sama. Langkah pertama untuk melakukan uji pengaruh perlakuan adalah menentukan hipotesis alternatif dan hipotesis null untuk pengambilan keputusan sebagai berikut: Ha: ada perbedaan rata-rata nilai posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Ho: tidak ada perbedaan rata-rata nilai posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Penentuan criteria hipotesis penelitian pengaruh perlakuan yaitu: Ho: Jika harga sig. (2tailed) > 0,05 maka tidak ada perbedaan antara nilai postest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen atau dapat disimpulkan tidak ada perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II. Ha: Jika harga sig. (2tailed) < 0,05 maka ada perbedaan antara nilai posttest kelompok kontrol dan eksperimen atau dapat disimpulkan ada perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II. 80

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 81 Berikut ini hasil penghitungan uji hipotesis independent t-test dengan membandingkan rata-rata nilai posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen: Tabel 4.8. Hasil uji pengaruh perlakuan Posttest Kelompok kontrol dan kelompok eksperimen Nilai signifikansi 0,000 Keterangan Berbeda Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa nilai signifikansi (2tailed) adalah 0,000 atau < 0,05. Artinya Ha gagal ditolak dan Ho ditolak, sehingga disimpulkan bahwa ada perbedaan rata-rata nilai posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, dengan kata lain ada perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II. Hasil output SPSS dapat dilihat pada lampiran 12 halaman 164. Hasil analisis data di atas digunakan untuk menarik kesimpulan atas hipotesis yang telah dirumuskan, apakah menolak atau menerima hipotesis. Kesimpulan yang diputuskan hendak menyatakan perbedaan penerapan variabel model pembelajaran kooperatif terhadap variabel prestasi belajar. 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Kelompok Kontrol Kelompok eksperimen Pretest Posttest Gambar 4.5. Gambar perbandingan nilai pretest dan posttest 81

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 82 4.2. Rangkuman hasil penelitian Hasil analisis data dihitung menggunakan bantuan program SPSS 20 for Windows. Analisis data dilakukan dengan membandingkan nilai pretest dan posttest antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen yang digunakan untuk mengetahui tebaran data pada masing-masing nilai. Pada penghitungan uji normalitas diperoleh keputusan bahwa nilai pretest dan posttest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen berdistribusi normal. Hal tersebut terbukti dari hasil nilai signifikansi > 0,05 yang berarti terjadi penerimaan Ha dan penolakan Ho, artinya data nilai berdistribusi normal. Pada nilai pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dihasilkan nilai pretest homogen, karena nilai signifikansi sebesar 0,541> 0,05 artinya varian data pretest kedua kelompok sama (homogen). Karena uji prasyarat telah terpenuhi maka teknik analisis data menggunakan analisis statistik parametrik. Hasil uji beda nilai pretest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dengan independent t-test menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan nilai pretest kedua kelompok/kedua kelompok berangkat dari titik pijak yang sama. Maka dilakukan uji pengaruh perlakuan dengan membandingkan nilai posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen Setelah diketahui distribusi data normal, data pretest memiliki varians yang homogen, nilai siswa berangkat dari titik pijak yang sama, maka uji pengaruh perlakuan menggunakan uji independent t-test yakni untuk mengetahui rata-rata nilai posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hasil uji independent t-test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata nilai posttest antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hal tersebut terbukti dari hasil nilai 82

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 83 signifikansi (2tailed) 0,00 < 0,05, artinya Ha mengalami penerimaan dan penolakan Ho. Selain itu berdasarkan gambar 4.5 perbandingan nilai pretest dan posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terlihat bahwa terdapat perbedaan nilai posttest antara kelompok kontrol yang mencapai 71,73 dan posttest kelompok eksperimen yang mencapai 83,33. Data tersebut menunjukkan rata-rata nilai posttest pada kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan ratarata nilai posttest kelompok kontrol. Sehingga dapat dikatakan bahwa ada perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II. Hasil perhitungan secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 11 halaman 169. Pada kelompok kontrol rata-rata nilai pretest sebesar 47,88 dan rata-rata nilai posttest sebesar 71,73. Pada kelompok eksperimen rata-rata nilai pretest sebesar 50,83 dan rata-rata nilai posttest sebesar 83,33. Dari data tersebut dapat diketahui perbandingan peningkatan prestasi belajar pada masing-masing kelompok. Pada kelompok kontrol mengalami peningkatan prestasi belajar sebesar 49,87%, sedangkan peningkatan prestasi belajar kelompok eksperimen sebesar 63,93%. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat peningkatan prestasi belajar secara signifikan pada kelompok eksperimen. Untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II maka dilakukan penghitungan effect size. Besar pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II dengan rumus effect size sebagai berikut: 83

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 84 𝑟= 𝑟= 𝑟= 𝑡2 𝑡 2 + 𝑑𝑓 5,5282 5,5282 + 54 30,558784 84,558784 𝑟= 0,36 𝑟 = 0,36 𝑟 = 0,6 Kriteria nilai dalam effect size adalah sebagai berikut (Field, 2009:57): Tabel 4.9 Kriteria effect size Kriteria Nilai 0,1-0,29 Kecil 0,3-0,49 Sedang 0,5-.... Besar Hasil perhitungan effect size menujukkan kategori besar yaitu 0,6. Hal tersebut membuktikan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II memberikan kontribusi yang sangat baik terhadap pencapaian prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar yang ditunjukkan hasil perhitungan. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II dapat meningkatkan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar dibandingkan model pembelajaran konvensional yang didominasi kegiatan ceramah guru. 84

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 85 Tabel 4.10. Rangkuman data prestasi belajar IPS Kelas eksperimen Pretest Posttest 60 100 40 65 50,83 83,33 50 85 50 75 70 Nilai tertinggi Nilai terendah Mean Median Modus KKM Kelas control Pretest Posttest 55 85 30 50 47,88 71,73 40 70 35 70 70 Tabel 4.11. Rangkuman uji homogenitas Pretest Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol Taraf signifikansi 0,541 Keterangan Tidak berbeda/homogen Tabel 4.12 Rangkuman uji beda Pretest Kelompok kontrol dan kelompok eksperimen Nilai signifikansi 0,116 Keterangan Tidak berbeda Tabel 4.13. Rangkuman uji pengaruh perlakuan Posttest Kelompok kontrol dan kelompok eksperimen Nilai signifikansi 0,000 Keterangan Berbeda Tabel 4.14. Peningkatan nilai pretest ke posttest Kelompok Kontrol Eksperimen Rata-rata nilai pretest 47,88 Rata-rata nilai posttest 71,73 Peningkatan prestasi belajar 49,87% 50,83 83,33 63,93% 4.3. Pembahasan Penelitian ini menggunakan analisis data uji normalitas, uji homogenitas, uji beda dan uji pengaruh perlakuan dengan menggunakan statistik parametrik independent t-test untuk mengetahui perbedaan rata-rata nilai posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Langkah ini dilakukan karena dari hasil uji 85

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 86 normalitas diperoleh distribusi yang normal pada nilai pretest dan posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kemudian pada uji homogenitas diperoleh hasil bahwa nilai siswa homogen, artinya siswa berangkat dari titik pijak pengetahuan yang sama. Uji pengaruh perlakuan dilakukan dengan analisis statistik parametrik menggunakan independent t-test. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar secara signifikan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II. Terdapat perbedaan antara kelompok yang menerapkan model pembelajaran koopeartif tipe Jigsaw II dengan kelompok yang belajar dengan metode konvensional terkait pencapaian prestasi belajar. Pada kelompok yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II mencapai prestasi belajar yang signifikan, sedangkan kelompok yang menerapkan model pembelajaran konvensional kurang signifikan dalam mencapai prestasi belajar, karena dalam kegiatan pembelajarannya lebih didominasi dengan ceramah guru. Keberhasilan penelitian ini mendukung keberhasilan hasil peneliti-peneliti sebelumnya, bahwa penerapan model pembelajara kooperatif tipe Jigsaw II handal dan memberikan kontribusi yang signifikaan dalam pencapaian prestasi belajar siswa. Peneliti-peneliti terdahulu yang berhasil dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah: Sutama (2012) dengan judul penelitian pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terhadap motivasi dan hasil belajar siswa kelas VIII MTs NW Gereneng pada semester gasal tahun pelajaran 2012/2013. Selanjutnya penelitian Arinata, (2011) dengan judul pengaruh model kooperatif teknik Jigsaw II terhadap kemampuan membaca 86

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 87 ditinjau dari sikap. Budiawan, N. (2013) dengan judul pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II berbasis peta konsep terhadap hasil belajar IPS pada siswa kelas IV. Budiawan (2013) melakukan penelitian tentang pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II terhadap hasil belajar IPS ditinjau dari sikap sosial dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas V SDN Panjer. Penelitian Birawan, I Ketut Maris (2013) melakukan penelitian tentang pengaruh model pembelajaran kooperatif Jigsaw dan motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa kelas VII pelajaran IPS di SMP Negeri I Tabanan. Menunjukkan hasil bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw lebih efektif dibandingkan penerapan model pembelajaran konvensional. Hal tersebut di atas menunjukkan bahwa terdapat perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar secara signifikan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II. Selain itu temuan peneliti ini juga memperkuat pendapat para ahli, yang menyatakan bahwa model pemelajaran kooperatif tipe Jigsaw II memberi kontribusi yang signifikan terhadap pencapaian prestasi belajar siswa. Berikut ini pendapat para ahli yang sesuai temuan peneliti: Johnson dan Johnson dalam Trianto (2009:57) menjelaskan tujuan pembelajaran kooperatif adalalah mengoptimalkan proses belajar sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa serta pemahaman materi secara individu maupun kelompok. Selanjutnya pendapat Zamroni (2000) dalam Trianto (2009:57) juga menambahkan bahwa melalui pembelajaran kooperatif mampu mengatasi kesenjangan pendidikan antar siswa serta meningkatkan solidaritas sosial antar siswa. Sehingga mencetak generasi baru yang memiliki prestasi tinggi serta memiliki rasa solidaritas sosial 87

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 88 yang kokoh. Kemudian Depdiknas dalam Taniredja (2011:60) mengungkapkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II meningkatkan prestasi belajar siswa melalui meningkatkan kinerja siswa dalam tugas belajar serta mengkondisikan siswa sebagai pembelajar bagi siswa lain yang kurang mampu memahami terhadap materi yang sulit, artinya melalui pembelajaran kooperatif siswa akan memperoleh prestasi belajar yang lebih tinggi karena siswa memahami secara mendalam materi-materi ajar yang disediakan. Keberhasilan penelitian ini sungguh mendukung pendapat-pendapat para tokoh di atas. Keberhasilan penelitian ini juga dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan tentang bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II berkontribusi secara efektif terhadap pencapaian prestasi belajar IPS yang tinggi. 88

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 89 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Dalam bab V membahas tentang kesimpulan, saran, keterbatasan penelitian. Kesimpulan membahas jawaban atas hipotesis yang telah ditetapkan. Saran membahas tentang saran secara umum, saran untuk sekolah, saran untuk guru dan saran bagi peneliti selanjutnya. 5.1. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di kelas V SD Negeri Tegalrejo 2 pada mata pelajaran IPS standar kompetensi: 2. Menghargai peranan tokoh pejuang dan masyarakat dalam mempersiapkan dan mempertahankaan kemerdekaan Indonesia dan kompetensi dasar: 2.2 Menghargai jasa dan peranan tokoh perjuangan dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Ada perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas V Sekolah Dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II pada materi menghargai jasa dan peran tokoh perjuangan dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Hal tersebut terbukti dari hasil uji pengaruh perlakuan nilai posttest kelompok kontrol dan kelompok eksperimen bahwa besar harga signifikansi (2tailed) 0,00 atau < 0,05 yang artinya Ho ditolak dan Ha gagal tolak. Artinya ada perbedaan yang signifikan pada rata-rata nilai posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II. Dalam artian penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II lebih efektif dibandingkan penerapan model pembelajaran konvensional yang didominasi dengan ceramah. 89

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 90 5.2. Saran 5.2.1. Saran umum Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Karena melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II dapat meningkatkan prestasi belajar IPS siswa secara efektif dibandingkan penerapan model pembelajaran konvensional dengan pembelajaran yang didominasi dengan ceramah. 5.2.2. Saran untuk sekolah Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II menginspirasi guru-guru untuk menerapkan model pembelajaran inovatif ini yang terbukti memberi kontribusi yang signifikan bagi peningkatan prestasi belajar serta kemampuan siswa dalam bekerjasama dalam tim. 5.2.3. Saran untuk guru Guru dapat mempertimbangkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II untuk diterapkan dalam pembelajaran IPS agar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. 5.2.4. Saran untuk peneliti selanjutnya 5.2.4.1. Peneliti perlu mempertimbangkan pemilihan materi dan pelaksanaan penelitian agar dalam penyusunan instrumen pembelajaran dapat maksimal dan relevan untuk digunakan dalam penelitian. 5.2.4.2. Jika peneliti menjadi guru dalam penelitian perlu melakukan pendekatan dan harus memahami karakter kelas sehingga dalam manajemen kelas dapat dikelola dengan baik. Jika yang menjadi guru dalam penelitian 90

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 91 adalah mitra guru maka perlu menyamakan pemahaman antara guru dan peneliti terkait teknik/langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II. 5.2.4.3. Hendaknya guru memahami secara mendalam langkah-langkah pembelajaran dalam implementasi model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II. 5.3. Keterbatasan peneliti 5.3.1. Pada saat melaksanakan penelitian, merupakan pengalaman pertama peneliti dalam mengajar di kelas tersebut, sehingga peneliti belum begitu mengenal karakter masing-masing siswa. 5.3.2. Peneliti tidak dapat melakukan pengontrolan secara ketat terhadap siswa, sehingga ada kemungkinan pencapaian prestasi belajar dihasilkan dari faktor lain/tidak semata-mata karena penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II. 5.3.3. Pelaksanaan pretest dan posttest dengan jarak waktu yang cukup singkat memungkinkan terjadinya invaliditas instrumen. 5.3.4. Penyusunan instrumen yang dilakukan oleh peneliti dapat memungkinkan soal yang digunakan oleh peneliti sama kontennya dengan yang digunakan guru dalam ulangan/latihan soal. 91

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 92 DAFTAR REFERENSI Arikunto, S. (2010). Manajemen penelitian . Jakarta: Rineka Cipta. Arikunto, S. (2009). Prosedur penelitian. Jakarta: Rieneka Cipta. Arinata, I. (2011). Pengaruh model kooperatif teknik Jigsaw II terhadap kemampuan membaca ditunjau dari sikap. Jurnal Penelitian Pasca Sarjana , Vol 2 no. 2. Aronson, E. (2011). Cooperative in the classroom. London : SAGA Basleman, E. (2011). Teori belajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Birawan, I. K. (2012). Pengaruh model pembelajaran kooperatif Jigsaw dan motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa. Jurnal Pendidikan . Budiawan, N. (2013). Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II berbasis peta konsep terhadap hasil belajar IPS pada siswa kelas IV. Jurnal Pendidikan UNDIKSHA , Vol 3 no. 1. Creswell, J.W.(2012). Research design. Terjemahan oleh Achmad Fawaid. Yogyakarta:Pustaka Pelajar. Dahar, R. (2011). Teori- teori belajar dan pembelajaran. Jakarta: Erlangga. Darmawan, D. (2013). Metode penelitian kuantitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Darsono, M. (2000). Belajar dan pembelajaran . Semarang : IKIP semarang Press. Djamarah, S. B. (2011). Psikologi belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Djiwandono, S. E. (2006). Psikologi pendidikan. Jakarta: Gramedia. Field, A. (2009). Discovering statistik using SPSS. London: SAGE Publication Ltd. 92

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 93 Furchan, A. (2004. Pengantar penelitian dalam pendidikan. Yogyakarta:Pustaka Pelajar. Hadi, S. (2000). Statistik. Yogyakarta: Andi Offset. Hamalik, O.(2003). Proses belajar mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. Suyono dan Haryono. (2011). Belajar dan pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya. Huda, M. (2012). Cooperative learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Indriastuti. (2010). Ilmu pengetahuan sosial kelas V SD. Jakarta: Yudistira. Isjoni, D. (2008). Model-model pembelajaran mutakhir . Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Lie, A. (2010). Cooperative learning. Jakarta: Gramedia. Majid, A. (2013). Strategi pembelajaran . Bandung: Remaja Rosdakarya. Margono. (2007). Metodologi penelitian pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Masidjo. (2008). Modul diagnosis kesulitan belajar dan remidial. Masijo. (1995). Pencapaian hasil belajar. Yogyakarta: Kanisius. Mundir. (2013). Statistik pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Mustaqim. (2008). Psikologo pendidikan . Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Kementrian Pendidikan Nasional. (2006). Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Jakarta: Cipta Jaya. Priyatno, D. (2010). Teknik mudah dan cepat melakukan analisis data penelitian dengan SPSS. Yogyakarta: Gava Media. Riduwan. (2002). Skala pengukuran variabel-variabel penelitian. Bandung: Alfabeta. Rusman. (2011). Model-model pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 93

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 94 Sanjaya, W. (2006). Strategi pembelajaran berorientai standar proses pendidikan . Jakarta : Kencana Abadi. Sapriya. (2009). Pendidikan IPS. Bandung: Remaja Rosdakarya. Sarwono, J. (2013). Jurus ampuh SPSS. Jakarta: Gramedia. Siregar, S. (2013). Statistik parametrik untuk penelitian kuantitatif. Jakarta: Bumi Aksara. Slavin, R. (2010). Cooperative learning. Bandung: Nusa Media. Slavin, R. (2008). Cooperative learning: teori, riset dan praktek. Bandung: Nusa Media. Sudjana, N. (2009). Penilaian hasil proses belajar mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Sugiyono. (2010). Metode penelitian pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Sugiyono. (2008). Statistika untuk penelitian. Bandung: Alfabeta. Sunariah, N. S. (2013). Panduan modern penelitian kuantitatif. Bandung: Alfabeta. Supardi. (2009). Dasar-dasar ilmu sosial. Yogyakarta: Ombak. Suprijono, A. (2009). Cooperative learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Suryabrata, S. (2004). Psikologi pendidikan. Jakarta: Grafindo Persada. Surapranata, S. (2004). Analisis, validitas, reliabilitas dan intepretasi hasil tes. Bandung: Remaja Rosdakarya. Susanto, A. (2013). Teori belajar dan pembelajaran di sekolah dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Susilaningsih, E. (2008). Ilmu pengetahuan sosial . Jakarta: Pusat Perbukuan. 94

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 95 Sutama. (2012). Pengaruh pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terhadap motivasi dan hasil belajar IPS kelas VIII MTS NW Gereneng Kecamatan Sakra Timur NTB Tahun Pelajaran 2011/2012. Jurnal Pendidikan . Syah, M.(2003). Psikologi belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Syah, M.(2008). Psikologi pendidikan . Bandung: Remaja Rosdakarya. Taniredja, T. D.(2011). Model-model pembelajaran inovatif. Bandung : Alfabeta. Trianto. (2009). Mendesain model pembelajaran inovatif progresif. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Uno, H. B. (2012). Belajar dengan pendekatan PAILKEM. Jakarta: Bumi Aksara. Utami, D. T. (2007). Ilmu pengetahuan sosial untuk Sekolah Dasar 5. Jakarta: Esis. Wacika, I. G. (2013). Pengaruh Model Pembelajaran tipe Jigsaw terhadap hasil belajar IPS ditinjau dari sikap sosial dalam pembelajaran IPS pada siswa Kelas IV di SDN Panjer. E-Journal, Volume 3. Widiyoko, E. P. (2009). Evaluasi program pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Winkel, W. (2004). Psikologi pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi. 95

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 96 96

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 97 97

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 98 98

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 99 99

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 100 \ 100

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 101 101

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 102 102

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 103 103

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 104 104

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 105 105

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 106 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) KELOMPOK EKSPERIMEN Satuan Pendidikan Hari/ Tanggal/ pertemuan ke Mata Pelajaran Kelas/ Semester Alokasi Waktu : SD Negeri Tegalrejo 2 : Senin/ 3 Februari 2014/ 1 : Ilmu Pengetahuan Sosial(IPS) :V/2 : 2 x 35 menit (2JP) A. Standar Kompetensi 2. Menghargai peranan tokoh pejuang dan masyarakat dalam mempersiapkan dan mempertahankaan kemerdekaan Indonesia. B. Kompetensi dasar 2.2.Menghargai jasa dan peranan tokoh perjuangan dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. C. Indikator Pembelajaran a. Kognitif 1. Menjelaskan persiapan kemerdekaan Indonesia oleh BPUPKI. 2. Menjelaskan persiapan kemerdekaan Indonesia oleh PPKI. b. Afektif 1. Percaya diri dalam menjelaskan persiapan kemerdekaan Indonesia oleh BPUPKI. 2. Percaya diri dalam menjelaskan persiapan kemerdekaan Indonesia oleh PPKI. c. Psikomotorik Menceritakan proses persiapan kemerdekaan Indonesia. D. Tujuan pembelajaran a. Kognitif 1. Melalui diskusi kelompok, siswa dapat menjelaskan 3 hal penting dalam persiapan kemerdekaan Indonesia oleh BPUPKI. 2. Melalui diskusi kelompok, siswa dapat menjelaskan 4 hal penting dalam persiapan kemerdekaan Indonesia oleh PPKI. 106

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 107 b. Afektif 1. Melalui diskusi kelompok, siswa percaya diri dalam menjelaskan 3 hal penting dalam persiapan kemerdekaan Indonesia oleh BPUPKI. 2. Melalui diskusi kelompok, siswa percaya diri dalam menjelaskan 4 hal penting dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia oleh PPKI. c. Psikomotorik Siswa dapat menceritakan proses persiapan kemerdekaan Indonesia secara lengkap. E. Materi ajar/pokok dan uraian materi (terlampir) a. Persiapan kemerdekaan Indonesia oleh BPUPKI b. Persiapan kemerdekaan Indonesia oleh PPKI F. Model, teknik dan metode pembelajaran : a. Model Pembelajaran Cooperative learning b. Teknik Pembelajaran Jigsaw II c. Metode Pembelajaran Penugasan, diskusi, tanya jawab, presentasi. G. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran Diskripsi kegiatan belajar Waktu 10 menit A. Kegiatan awal Pendahuluan : Salam, doa, presensi, a. Apersepsi 1. Siswa memperhatikan gambar yang ditunjukkan oleh guru. 2. Siswa dan guru bertanya jawab : guru menunjukkan gambar dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat, lalu bertanya siapa nama gambar tokoh ini dan apa peranannya dalam persiapan kemerdekaan Indonesia? lalu guru menunjukkan gambar Ir. Soekarno dan bertanya siapa nama tokoh ini, apa peranannya dalam persiapan kemerdekaan Indonesia? 107

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 108 b. Orientasi Siswa mendengarkan tujuan pembelajaran yaitu persiapan kemerdekaan Indonesia oleh BPUPKI, dan persiapan kemerdekaan Indonesia oleh PPKI dan kegiatan belajar pada hari ini. c. Motivasi Siswa mendengarkan penjelasan manfaat dari pembelajaran, yakni siswa-siswi sebagai pelajar harus meneladani semangat perjuangan para tokoh persiapan kemerdekaan; melalui belajar dengan giat agar berhasil dalam mencapai tujuan/cita-cita. B. Kegiatan inti a. Eksplorasi 45 menit 1. Siswa mengerjakan soal pre test 2. Siswa dibagikan lembar kerja siswa (LKS) 3. Siswa melakukan studi pustaka materi tentang persiapan kemerdekaan Indonesia secara menyeluruh. b. Elaborasi 1. Siswa dibagi menjadi 5 kelompok sebagai kelompok asal berdasarkan persamaan warna calcard, masing-masing kelompok terdiri dari 6 orang. A B C D E Kelompok mempelajari materi tentang : 1) Latar belakang pembentukan BPUPKI 2) Sidang BPUPKI pertama 3) Panitia Sembilan 4) Sidang BPUPKI kedua 5) Persiapan kemerdekaan oleh PPKI 6) Sidang PPKI pertama, kedua, ketiga dan keempat. 2. Masing-masing siswa dibagikan 1 bagian materi yang harus 108

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 109 dikuasai dalam kelompok asal. 3. Siswa berkumpul dalam kelompok ahli. Kelompok ahli adalah kelompok yang terdiri atas siswa yang mempelajari materi yang sama dan mereka berkumpul dalam kelompok ahli untuk mendiskusikan dan memperdalam pemahaman materi yang dipelajarinya Ahli 1 Ahli 2 Ahli 3 11111 22222 33333 Ahli 4 Ahli 5 Ahli 6 44444 55555 6666 6 4. Siswa berdiskusi tentang materi ajar yang telah mereka pelajari dengan intensif. 5. Siswa kembali pada kelompok asal. 6. Siswa dalam kelompok asal dengan percaya diri menyampaikan hasil diskusi dari kelompok ahli. 7. Dalam kelompok asal siswa menuangkan hasil diskusi dengan bantuan lembar rangkuman. 8. Masing-masing siswa dengan percaya diri mempresentasikan hasil diskusi. c. Konfirmasi 1. Siswa dan guru bertanya jawab materi yang belum dipahami. 2. Siswa dan guru meluruskan kesalahan jawaban. 3. Siswa dan guru merangkum hasil belajar. 4. Siswa mengerjakan lembar evaluasi secara mandiri. 5. Kelompok yang unggul diberikan reward atas keberhasilan kelompok. C. Kegiatan penutup a.Refleksi 1. Perasaan apa yang muncul selama mengikuti pembelajaran? Apakah senang, apakah sedih atau biasa saja? 2. Kesulitan apa yang kamu alami? 109

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 110 3. Apa rencana siswa setelah belajar materi persiapan kemerdekaan Indonesia? b. Tindak lanjut 1. Siswa diminta untuk lebih giat belajar dirumah, lebih bersemangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. 2. Siswa diminta mempelajari materi menghargai jasa tokoh dalam persiapan kemerdekaan. c. Penutup Guru menyampaikan salam penutup. H. Penilaian : a. Kognitif Jenis : tes Teknik : tertulis Instrumen : soal dan kunci jawaban (terlampir) b. Afektif Jenis : non tes Teknik : observasi Instrumen : skala sikap dan rubrik penilaian (terlampir) c. Psikomotor Jenis : non tes Teknik : kinerja Instrumen : tugas dan rubrik penilaian (terlampir) I. Sumber Belajar dan Media Belajar : a. Sumber belajar 1. Susilaningsih, Endang dan Linda S. Limbong. (2008). Ilmu Pengetahuan Sosial kelas V. Jakarta : Pusat perbukuan. Hal: 158-168 2. Yuliati, Reny dan Ade Munajat. (2008). Ilmu Pengetahuan Sosial kelas V. Jakarta : Pusat Perbukuan. Hal :123-127 3. Thayeb, M, dkk. (2007). IPS Terpadu untuk SD kelas V. Jakarta : Erlangga. Hal : 157-161. 110

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 111 4. Indrastutik, dkk. (2010). Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas V. Jakarta : Yudistira. 5. Utami, Dwi T. (2007). Ilmu Pengetahuan Sosial untuk Sekolah Dasar Kelas V. Jakarta : Esis. 6. Rangkuman materi d. Media pembelajaran 1. LKS 2. Lembar rangkuman kelompok asal. 3. Gambar pahlawan (Ir. Soekarno, dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat, Drs. Mohamad Hatta Yogyakarta, 3 Februari 2014 . 111

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 112 Kuis rekognisi tim (Kelompok eksperimen pertemuan pertama) Nama : No. Presensi : Isilah titik-titik dibawah ini dengan jawaban yang tepat! 1. BPUPKI dibentuk oleh pemerintah militer Jepang di Jawa pada tanggal.... 2. Tugas BPUPKI adalah.... 3. Piagam Jakarta dirumuskan oleh.... 4. Ketua PPKI adalah..... 5. Konsep dasar Negara Indonesia dikenal dengan nama … 6. Pengesahan UUD 1945 dilakukan oleh............. 7. Tokoh yang mengusulkan konsep dasar negara tanggal 29 Mei 1945 adalah adalah... 8. Salah satu tujuan utama pembentukan PPKI adalah…. 9. Alasan penghapusan tujuh kata dalam sila pertama pancasila adalah..... 10. Salah satu hasil sidang kedua PPKI pada tanggal 19 Agustus adalah…. Kunci jawaban : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 1 Maret 1945 Untuk menyelidiki hal-hal penting mendirikan negara Indonesia merdeka Panitia Sembilan Ir. Soekarno Pancasila PPKI Mr. Moh. Yamin a. Mengesahkan undang-undang dasar yang telah disiapkan BPUPKI. b. Memusyawarahkan dan memutuskan cara pelaksanaan pernyataan kemerdekaan Indonesia pada saatnya nanti. 9. Menghargai keberagaman agama di Indonesia. 10. a. Menetapkan pembagian wilayah negara Republik Indonesia menjadi 8 provinsi. b. Membentuk dua belas kementerian dan sekaligus menunjuk pemimpinnya. c. Memutuskan agar tentara kebangsaan negara segera dibentuk. 112

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 113 Lampiran penilaian 1. Penilaian kognitif Jumlah jawaban benar x 10 = nilai kognitif 2. Penilaian afektif Percaya diri No. Indikator 1 1. Pandangan menunjukkan keberanian 2. Kejelasan suara dalam menjelaskan 3. 4. Gerakan tubuh memperkuat penjelasan Mengungkapkan gagasan dalam kelompok SKOR 2 3 4 Keterangan: Skor (4) bila menampilkan 4 indikator Skor (3) bila menampilkan 3 indikator Skor (2) bila menampilkan 2 indikator Skor (1) bila menampilkan 1 indikator Nafektif  Jumlah skor yang didapat x 100% Jumlah skor maksimum 3. Penilaian Psikomotor a. Kemampuan bercerita No. Kegiatan 4 1. Lafal 2 Suara dapat didengar seluruh kelas 3 Ketepatan isi cerita 4 Pilihan kata/diksi Keterangan: Skor (4) bila menampilkan 4 indikator Skor (3) bila menampilkan 3 indikator Skor (2) bila menampilkan 2 indikator Skor (1) bila menampilkan 1 indikator Jumlah skor yang didapat x 100% Jumlah skor maksimum NILAI AKHIR = Nilai kognitif + nilai afektif + Nilai Psikomotorik/3 Npsikomotorik  113 SKOR 3 2 1

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 114 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) KELOMPOK EKSPERIMEN Satuan Pendidikan : SD Negeri Tegalrejo 2 Hari/ Tanggal/ pertemuan ke : Sabtu/ 8 Februari 2014/ 2 Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Kelas/Semester :V/2 Alokasi Waktu : 2 x 35 menit (2JP) A. Standar Kompetensi 2. Menghargai peranan tokoh pejuang dan masyarakat dalam mempersiapkan dan mempertahankaan kemerdekaan Indonesia. B. Kompetensi dasar 2.2.Menghargai jasa dan peranan tokoh perjuangan dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. C. Indikator Pembelajaran a. Kognitif 1. Mengidentifikasi peranan tokoh dalam persiapan kemerdekaan Indonesia. 2. Mendiskripsikan contoh sikap meneladani jasa tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. b. Afektif Percaya diri dalam mendiskripsikan contoh sikap meneladani jasa tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. c. Psikomotorik Menceritakan peranan tokoh dalam persiapan kemerdekaan Indonesia. D. Tujuan pembelajaran a. Kognitif 1. Melalui diskusi kelompok, siswa dapat mengidentifikasi peranan minimal 5 tokoh penting dalam proses persiapan kemerdekaan Indonesia. 114

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 115 2. Melalui diskusi kelompok, siswa dapat mendiskripsikan minimal 3 perilaku yang menunjukkan meneladani jasa tokoh dalam persiapan kemerdekaan Indonesia. b. Afektif Melalui diskusi kelompok, siswa percaya diri dalam mendiskripsikan minimal 3 perilaku yang menunjukkan meneladani jasa tokoh dalam persiapan kemerdekaan Indonesia. c. Psikomotorik Siswa dapat menceritakan jasa tokoh dalam persiapan kemerdekaan Indonesia secara rinci. E. Materi ajar/pokok dan uraian materi (terlampir) a. Tokoh-tokoh dalam persiapan kemerdekaan Indonesia. b. Menghargai jasa tokoh dalam persiapan kemerdekaan Indonesia. F. Model, teknik dan metode pembelajaran : a. Model Pembelajaran Cooperative learning b. Teknik Pembelajaran Jigsaw II c. Metode Pembelajaran Penugasan, diskusi kelompok, tanya jawab. G. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran Deskripsi kegiatan belajar Waktu 10 menit A. Kegiatan awal Pendahuluan : Salam, doa, presensi, a. Apersepsi Siswa dan guru bertanya jawab terkait materi ajar sebelumnya, persiapan kemerdekaan Indonesia oleh BPUPKI dan PPKI. b. Orientasi Siswa mendengarkan tujuan pembelajaran dan gambaran proses kegiatan belajar. 115

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 116 c. Motivasi 1. Siswa diajak bernyanyi lagu “Hari Merdeka”. 2. Siswa mendengarkan penjelasan manfaat dari pembelajaran yaitu siswa mampu mencontoh sikap dan perilaku para tokoh perjuangan. B. Kegiatan Inti a. Eksplorasi 45 menit 1. Siswa mengerjakan lembar pre test 2. Siswa dibagikan lembar kerja siswa (LKS) 3. Siswa melakukan studi pustaka materi tentang tokoh-tokoh persiapan kemerdekaan Indonesia dan jasa-jasa tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia secara menyeluruh. b. Elaborasi 1. Siswa dibagi menjadi 5 kelompok sebagai kelompok asal, masing-masing kelompok terdiri dari 6 orang. A C B D E Setiap siswa dalam kelompok mempelajari salah satu materi tentang : 1) Tokoh Ir. Soekarno 2) Tokoh Dr. Supomo 3) Tokoh dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat 4) Tokoh Drs. Mohamad Hatta 5) Tokoh Mr. Ahmad Subarjo 6) Mr. Moh. Yamin Setiap siswa diwajibkan mempelajari materi meneladani jasa tokoh dalam persiapan kemerdekaan Indonesia. 2. Masing-masing siswa dibagikan 1 bagian materi yang harus dikuasai dalam kelompok asal. 3. Siswa berkumpul dalam kelompok ahli. Kelompok ahli adalah kelompok yang terdiri atas siswa yang mempelajari materi yang sama dan mereka berkumpul dalam 116

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 117 kelompok ahli untuk memperdalam pemahaman materi yang dipelajarinya. Ahli 1 Ahli 2 Ahli 3 11111 22222 33333 Ahli 4 Ahli 5 Ahli 6 44444 55555 66666 4. Siswa berdiskusi tentang materi ajar yang telah mereka pelajari dengan intensif. 5. Siswa kembali pada kelompok asal. 6. Dalam kelompok asal siswa bekerjasama menyampaikan hasil diskusi dari kelompok ahli. 7. Untuk menuangkan hasil diskusi kelompok asal, dengan bantuan lembar rangkuman. 8. Siswa menyusun puzzle gambar tokoh pejuang kemerdekaan yang telah disediakan guru. 9. Siswa bersama kelompok memperesentasikan hasil diskusi dengan percaya diri. c. Konfirmasi 1. Siswa dan guru bertanya jawab terkait materi yang belum dipahami. 2. Siswa dan guru meluruskan kesalahan jawaban 3. Siswa dan guru merangkum hasil belajar. 4. Siswa mengerjakan lembar evaluasi secara mandiri. 5. Kelompok yang unggul diberikan reward atas keberhasilan kelompok C. Kegiatan penutup 2. Refleksi 1. Perasaan apa yang muncul selama mengikuti pembelajaran? Apakah senang, apakah sedih atau biasa saja? 4. Kesulitan apa yang kamu alami? 5. Apa rencana siswa setelah belajar materi meneladani jasa tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia? 3. Tindak lanjut 117

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 118 1. Siswa diminta untuk lebih giat belajar dirumah, lebih bersemangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. 2. Siswa diberikan PR dari buku paket BSE hal. 169. 4. Penutup Guru menyampaikan salam penutup. H. Penilaian : a. Kognitif Jenis : tes Teknik : tertulis Instrumen : soal dan kunci jawaban (terlampir) b. Afektif Jenis : non tes Teknik : observasi Instrumen : skala sikap dan rubrik penilaian (terlampir) c. Psikomotor Jenis : non tes Teknik : kinerja Instrumen : tugas dan rubrik penilaian (terlampir) I. Sumber Belajar dan Media Belajar : a. Sumber belajar 1. Susilaningsih, Endang dan Linda S. Limbong. (2008). Ilmu Pengetahuan Sosial kelas V. Jakarta : Pusat perbukuan. Hal: 158-168 2. Yuliati, Reny dan Ade Munajat. (2008). Ilmu Pengetahuan Sosial kelas V. Jakarta : Pusat Perbukuan. Hal :123-127 3. Thayeb, M, dkk. (2007). IPS Terpadu untuk SD kelas V. Jakarta : Erlangga. Hal : 157-161. 4. Indrastutik, dkk. (2010). Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas V. Jakarta : Yudistira. 5. Utami, Dwi T. (2007). Ilmu Pengetahuan Sosial untuk Sekolah Dasar Kelas V. Jakarta : Esis. 6. Rangkuman materi. 118

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 119 b. Media pembelajaran 1. Lembar Kerja Siswa (LKS) 2. Lembar rangkuman kelompok asal 3. Puzzle gambar tokoh dalam persiapan kemerdekaan Indonesia ( Ir. Soekarno, Drs. Mohamad Hatta, dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat, Prof. Dr. Supomo, Mr. Ahmad Subarjo, Mr. Mohamad Yamin) Yogyakarta, 8 Februari 2014 . 119

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 120 Kuis rekognisi tim (Kelompok eksperimen pertemuan kedua) Nama : No. Presensi : Isilah titik-titik dibawah ini dengan jawaban yang tepat! Jabatannya dalam PPKI adalah sebagai…. 1. 2. Kedudukan Ahmad Subarjo dalam PPKI adalah sebagai.... 3. Tokoh pergerakan kemerdekaan yang ikut andil penting dalam perumusan dasar negara Indonesia dan dikenal sebagai penyair pujangga baru adalah..... 4. Tokoh yang menyampaikan pidato tentang konsep dasar Negara Indonesia pada tanggal 31 Mei 1945 adalah… 5. Salah satu perilaku yang mencerminkan menghargai jasa tokoh-tokoh yang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia adalah…. Kunci jawaban : 1. Ketua PPKI 2. Penasihat 3. Mr. Mohamad Yamin 4. Mr. Supomo 5. - Berkunjung ke makam pahlawan/museum - Khidmat dalam mengikuti upacara bendera 120

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 121 Lampiran penilaian 1. Penilaian kognitif Jumlah jawaban benar x 20 = nilai kognitif 2. Penilaian Afektif Percaya diri No. Indikator 1 1. Pandangan menunjukkan keberanian 2. Kejelasan suara dalam menjelaskan 3. 4. Gerakan tubuh memperkuat penjelasan Mengungkapkan gagasan dalam kelompok SKOR 2 3 4 Keterangan: Skor (4) bila menampilkan 4 indikator Skor (3) bila menampilkan 3 indikator Skor (2) bila menampilkan 2 indikator Skor (1) bila menampilkan 1 indikator Jumlah skor yang didapat x 100% Nafektif  Jumlah skor maksimum 3. Penilaian Psikomotor Kemampuan bercerita No. Kegiatan 4 1. 2 3 4 Lafal Suara dapat didengar seluruh kelas Ketepatan isi cerita Pilihan kata/diksi Keterangan: Skor (4) bila menampilkan 4 indikator Skor (3) bila menampilkan 3 indikator Skor (2) bila menampilkan 2 indikator Skor (1) bila menampilkan 1 indikator Jumlah skor yang didapat x 100% Jumlah skor maksimum NILAI AKHIR = Nilai kognitif + nilai afektif + Nilai Psikomotorik/3 Npsikomotorik  121 SKOR 3 2 1

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 122 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) KELOMPOK KONTROL Satuan Pendidikan : SD Negeri Tegalrejo 2 Hari/ Tanggal/ pertemuan ke : Rabu, 5 Februari 2014/ 1 Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Kelas/Semester :V/2 Alokasi Waktu : 2 x 35 menit (2JP) A. Standar Kompetensi 2. Menghargai peranan tokoh pejuang dan masyarakat dalam mempersiapkan dan mempertahankaan kemerdekaan Indonesia. B. Kompetensi dasar 2.2 Menghargai jasa dan peranan tokoh perjuangan dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia C. Indikator Pembelajaran a. Kognitif 1. Menjelaskan peristiwa persiapan kemerdekaan Indonesia oleh BPUPKI 2. Menjelaskan peristiwa persiapan kemerdekaan Indonesia oleh PPKI b. Afektif 1. Percaya diri dalam menjelaskan peristiwa persiapan kemerdekaan Indonesia oleh BPUPKI. 2. Percaya diri dalam menjelaskan peristiwa persiapan kemerdekaan Indonesia oleh PPKI. c. Psikomotorik Menceritakan proses persiapan kemerdekaan Indonesia. D. Tujuan pembelajaran a. Kognitif 1. Melalui mendengarkan ceramah, siswa dapat menjelaskan 3 hal penting dalam persiapan kemerdekaan Indonesia oleh BPUPKI. 122

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 123 2. Melalui mengerjakan LKS, siswa dapat menjelaskan 4 hal penting dalam persiapan kemerdekaan Indonesia oleh PPKI. b. Afektif 1. Melalui mendengarkan ceramah, siswa dapat percaya diri menjelaskan 3 hal penting dalam persiapan kemerdekaan Indonesia oleh BPUPKI. 2. Melalui diskusi kelompok, siswa percaya diri dalam menjelaskan 4 hal penting dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia oleh PPKI. c. Psikomotorik Siswa dapat menceritakan proses persiapan kemerdekaan Indonesia secara lengkap melalui diskusi kelompok. E. Materi ajar/pokok dan uraian materi (terlampir) a. Persiapan kemerdekaan Indonesia oleh BPUPKI b. Persiapan kemerdekaan Indonesia oleh PPKI F. Metode Pembelajaran Penugasan, diskusi, tanya jawab, ceramah. G. Langkahh-langkah kegiatan pembelajaran Deskripsi kegiatan belajar Waktu 10 menit A. Kegiatan awal Pendahuluan : Salam, doa, presensi, a. Apersepsi Siswa dan guru bertanya jawab : “ Tanggal berapa Indonesia merdeka? Sebelum merdeka Indonesia dikuasai siapa? Apa yang dilakukan orang-orang Indonesia ketika dijajah, apakah mereka pasrah atau berjuang untuk mencapai kemerdekaan? b. Orientasi Siswa mendengarkan tujuan pembelajaran dan kegiatan belajar. c. Motivasi 7. Siswa menyanyikan lagu “Hari Merdeka”. 8. Siswa diajak untuk bersemangat mengikuti pembelajaran dengan mendengarkan penjelasan manfaat dari pembelajaran. 123

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 124 B. Kegiatan inti a. Eksplorasi 45 menit Guru menjelaskan materi persiapan kemerdekaan oleh BPUPKI. b. Elaborasi 1. Guru membagi siswa berkelompok dalam satu bangku. 2. Siswa berdiskusi tentang materi persiapan kemerdekaan oleh PPKI 3. Siswa mengerjakan LKS. c. Konfirmasi 1. Guru dan siswa membahas hasil kerja LKS 2. Siswa dan guru meluruskan kesalahan jawaban yang diterjadi. 3. Siswa dan guru bertanya jawab terkait materi yang belum dipahami. 4. Siswa dan guru merangkum hasil belajar. C. Kegiatan penutup a. Menilai Siswa mengerjakan soal evaluasi secara individu. b. Merefleksikan 1. Perasaan apa yang muncul selama mengikuti pembelajaran? Apakah senang, apakah sedih atau biasa saja? 2. Kesulitan apa yang kamu alami? 3. Apa rencana siswa setelah belajar materi persiapan kemerdekaan Indonesia? c. Tindak lanjut a. Siswa diminta untuk lebih giat belajar dirumah, lebih bersemangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. b. Siswa diminta mempelajari materi menghargai jasa tokoh dalam persiapan kemerdekaan. d. Penutup Guru menyampaikan salam penutup. 124

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 125 H. Penilaian : a. Kognitif Jenis : tes Teknik : tertulis Instrumen : soal dan kunci jawaban (terlampir) b. Afektif Jenis : non tes Teknik : observasi Instrumen : skala sikap dan rubrik penilaian (terlampir) c. Psikomotor Jenis : non tes Teknik : kinerja Instrumen : tugas dan rubrik penilaian (terlampir) I. Sumber Belajar dan Media Pembelajaran : a. Sumber belajar 1. Susilaningsih, Endang dan Linda S. Limbong. (2008). Ilmu Pengetahuan Sosial kelas V. Jakarta : Pusat perbukuan. Hal: 158-168 2. Yuliati, Reny dan Ade Munajat. (2008). Ilmu Pengetahuan Sosial kelas V. Jakarta : Pusat Perbukuan. Hal :123-127 3. Thayeb, M, dkk. (2007). IPS Terpadu untuk SD kelas V. Jakarta : Erlangga. Hal : 157-161. 4. Indrastutik, dkk. (2010). Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas V. Jakarta : Yudistira. 5. Utami, Dwi T. (2007). Ilmu Pengetahuan Sosial untuk Sekolah Dasar Kelas V. Jakarta : Esis. b. Media pembelajaran 1. Lembar Kerja Siswa (LKS) 2. Gambar tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia (Ir. Soekarno dan dr. Radjiman Wedyodiningrat, Dr. Supomo, Mr. Mohamad Yamin) 125

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 126 Yogyakarta, 5 Februari 2014 126

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 127 Soal evaluasi (Kelompok kontrol pertemuan pertama) Nama : No. Presensi : Isilah titik-titik dibawah ini dengan jawaban yang tepat! 1. BPUPKI dibentuk oleh pemerintah militer Jepang di Jawa pada tanggal.... 2. Tugas BPUPKI adalah.... 3. Piagam Jakarta dirumuskan oleh.... 4. Ketua PPKI adalah..... 5. Konsep dasar Negara Indonesia dikenal dengan nama … 6. Pengesahan UUD 1945 dilakukan oleh............. 7. Tokoh yang mengusulkan konsep dasar negara tanggal 29 Mei 1945 adalah adalah... 8. Salah satu tujuan utama pembentukan PPKI adalah…. 9. Alasan penghapusan tujuh kata dalam sila pertama pancasila adalah..... 10. Salah satu hasil sidang kedua PPKI pada tanggal 19 Agustus adalah…. Kunci jawaban : 1. 1 Maret 1945 2. Untuk menyelidiki hal-hal penting mendirikan negara Indonesia merdeka 3. Panitia Sembilan 4. Ir. Soekarno 5. Pancasila 6. PPKI 7. Mr. Moh. Yamin 8. a. Mengesahkan undang-undang dasar yang telah disiapkan BPUPKI. b. Memusyawarahkan dan memutuskan cara pelaksanaan pernyataan kemerdekaan Indonesia pada saatnya nanti. 9. Menghargai keberagaman agama di Indonesia. 10. a. Menetapkan pembagian wilayah negara Republik Indonesia menjadi 8 provinsi. d. Membentuk dua belas kementerian dan sekaligus menunjuk pemimpinnya. e. Memutuskan agar tentara kebangsaan negara segera dibentuk. 127

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 128 Lampiran penilaian 1. Penilaian kognitif Jumlah jawaban benar x 10 = nilai kognitif 2. Penilaian afektif Percaya diri No. Indikator 1 1. Pandangan menunjukkan keberanian 2. Kejelasan suara dalam menjelaskan 3. 4. Gerakan tubuh memperkuat penjelasan Mengungkapkan gagasan dalam kelompok SKOR 2 3 4 Keterangan: Skor (4) bila menampilkan 4 indikator Skor (3) bila menampilkan 3 indikator Skor (2) bila menampilkan 2 indikator Skor (1) bila menampilkan 1 indikator Jumlah skor yang didapat x 100% Jumlah skor maksimum 3. Penilaian Psikomotor Kemampuan bercerita No. Kegiatan Nafektif  4 1. Lafal 2 Suara dapat didengar seluruh kelas 3 Ketepatan isi cerita 4 Pilihan kata/diksi Keterangan: Skor (4) bila menampilkan 4 indikator Skor (3) bila menampilkan 3 indikator Skor (2) bila menampilkan 2 indikator Skor (1) bila menampilkan 1 indikator Jumlah skor yang didapat x 100% Jumlah skor maksimum NILAI AKHIR = Nilai kognitif + nilai afektif + Nilai Psikomotorik/3 Npsikomotorik  128 SKOR 3 2 1

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 129 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) KELOMPOK KONTROL Satuan Pendidikan : SD Negeri Tegalrejo 2 Hari/ Tanggal/ pertemuan ke : Jumat, 7 Februari 2014/ 2 Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Kelas/Semester :V/2 Alokasi Waktu : 2 x 35 menit (2JP) A. Standar Kompetensi 2. Menghargai peranan tokoh pejuang dan masyarakat dalam mempersiapkan dan mempertahankaan kemerdekaan Indonesia. B. Kompetensi dasar 2.2. Menghargai jasa dan peranan tokoh perjuangan dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. C. Indikator Pembelajaran a. Kognitif 1. Mengidentifikasi peranan tokoh dalam persiapan kemerdekaan Indonesia. 2. Mendiskripsikan contoh sikap meneladani jasa tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. b. Afektif Percaya diri dalam mendiskripsikan contoh meneladani jasa tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. c. Psikomotorik Menceritakan peranan tokoh dalam persiapan kemerdekaan Indonesia. D. Tujuan pembelajaran a. Kognitif 1. Melalui mendengarkan penjelasan, siswa dapat menjelaskan minimal 5 tokoh penting dalam proses persiapan kemerdekaan Indonesia. 129

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 130 2. Melalui tanya jawab, siswa dapat mendiskripsikan minimal 3 perilaku yang menunjukkan meneladani jasa tokoh dalam persiapan kemerdekaan Indonesia. b. Afektif Melalui diskusi kelompok, siswa percaya diri dalam mendiskripsikan minimal 3 perilaku yang menunjukkan sikap meneladani jasa dan peranan tokoh dalam persiapan kemerdekaan Indonesia. c. Psikomotorik Siswa dapat menceritakan jasa tokoh dalam persiapan kemerdekaan Indonesia secara rinci. E. Materi ajar/pokok dan uraian materi (terlampir) a. Tokoh-tokoh dalam persiapan kemerdekaan Indonesia. b. Menghargai jasa tokoh dalam persiapan kemerdekaan Indonesia F. Metode Pembelajaran : Penugasan, diskusi, tanya jawab, ceramah G. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran Kegiatan belajar Waktu 10 menit A. Kegiatan awal Pendahuluan : Salam, doa, presensi, a. Apersepsi Siswa dan guru bertanya jawab : “ Kemarin kita telah belajar tentang badan yang dibentuk Jepang dalam persiapan kemerdekaan Indoesia, siapa nama tokoh-tokoh yang berperan dalam BPUPKI maupun PPKI? b. Orientasi Siswa mendengarkan tujuan pembelajaran dan kegiatan belajar hari ini. c. Motivasi Siswa mendengarkan penjelasan manfaat dari pembelajaran yaitu siswa dapat meneladani jasa dan perilaku para tokoh. 130

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 131 B. Kegiatan inti a. Eksplorasi 45 menit 1. Siswa mengamati gambar tokoh-tokoh yang berperan dalam persiapan kemerdekaan Indonesia. 2. Guru menjelaskan peranan tokoh dalam persiapan kemerdekaan kemerdekaan. b. Elaborasi 1. Siswa dibagi kelompok dengan teman sebangku, lalu dibagi LKS. 2. Siswa mengerjakan LKS. 3. Siswa bersama kelompok memperesentasikan hasil diskusi. c. Konfirmasi 1. Siswa dan guru meluruskan kesalahan jawaban. 2. Siswa dan guru bertanya jawab terkait materi yang belum dipahami 3. Siswa dan guru merangkum hasil belajar. C. Kegiatan penutup a. Mengevaluasi Siswa mengerjakan lembar evaluasi secara individu. b. Merefleksikan 1. Bagaimana perasaanmu selama mengikuti pembelajaran? Apakah senang, apakah sedih atau biasa saja? Mengapa demikian? 2. Kesulitan apa yang dialami? 3. Bagaimana kamu mengatasi kesulitanmu? c. Tindak Lanjut Siswa diberikan PR dari buku BSE halaman 169. d. Penutup Guru memberikan salam penutup 131

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 132 H. Penilaian : a. Kognitif Jenis : tes Teknik : tertulis Instrumen : soal dan kunci jawaban (terlampir) b. Afektif Jenis : non tes Teknik : observasi Instrumen : skala sikap dan rubrik penilaian (terlampir) c. Psikomotor Jenis : non tes Teknik : kinerja Instrumen : tugas dan rubrik penilaian (terlampir) I. Sumber Belajar dan Media Pembelajaran : a. Sumber belajar 1. Susilaningsih, Endang dan Linda S. Limbong. (2008). Ilmu Pengetahuan Sosial kelas V. Jakarta : Pusat perbukuan. Hal: 158-168 2. Yuliati, Reny dan Ade Munajat. (2008). Ilmu Pengetahuan Sosial kelas V. Jakarta : Pusat Perbukuan. Hal :123-127 3. Thayeb, M, dkk. (2007). IPS Terpadu untuk SD kelas V. Jakarta: Erlangga. Hal :157-161. 4. Indrastutik, dkk. (2010). Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas V. Jakarta : Yudistira. 5. Utami, Dwi T. (2007). Ilmu Pengetahuan Sosial untuk Sekolah Dasar Kelas V. Jakarta : Esis. b. Media pembelajaran 1. Lembar Kerja Siswa (LKS) 2. Gambar tokoh dalam persiapan kemerdekaan Indonesia ( Ir. Soekarno, Drs. Mohamad Hatta, dr. KRT. Radjiman Wedyodiningrat, Mr. Ahmad Soebarjo, Mr. Moh. Yamin, Prof. Dr. Supomo) 132

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 133 Yogyakarta, 7 Februari 2014 133

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 134 Soal evaluasi (Kelompok kontrol pertemuan kedua) Nama : No. Presensi : Isilah titik-titik dibawah ini dengan jawaban yang tepat! Jabatannya dalam PPKI adalah sebagai…. 1. 2. Kedudukan Ahmad Subarjo dalam PPKI adalah sebagai.... 3. Tokoh pergerakan kemerdekaan yang ikut andil penting dalam perumusan dasar negara Indonesia dan dikenal sebagai penyair pujangga baru adalah..... 4. Tokoh yang menyampaikan pidato tentang konsep dasar Negara Indonesia pada tanggal 31 Mei 1945 adalah… 5. Salah satu perilaku yang mencerminkan menghargai jasa tokoh-tokoh yang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia adalah…. Kunci jawaban : 1. Ketua PPKI 2. Penasihat 3. Mr. Mohamad Yamin 4. Mr. Supomo 5. - Berkunjung ke makam pahlawan/museum - Khidmat dalam mengikuti upacara bendera 134

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 135 Lampiran penilaian 1. Penilaian kognitif Jumlah jawaban benar x 20 = nilai kognitif 2. Penilaian Afektif Percaya diri No. Indikator SKOR 1 1. Pandangan menunjukkan keberanian 2. Kejelasan suara dalam menjelaskan 3. Gerakan tubuh memperkuat penjelasan 4. Mengungkapkan gagasan dalam kelompok 2 3 4 Keterangan: Skor (4) bila menampilkan 4 indikator Skor (3) bila menampilkan 3 indikator Skor (2) bila menampilkan 2 indikator Skor (1) bila menampilkan 1 indikator Nafektif  Jumlah skor yang didapat x 100% Jumlah skor maksimum 3. Penilaian Psikomotor b. Kemampuan bercerita No. Kegiatan SKOR 4 1. Lafal 2 Suara dapat didengar seluruh kelas 3 Ketepatan isi cerita 4 Pilihan kata/diksi 135 3 2 1

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 136 Keterangan: Skor (4) bila menampilkan 4 indikator Skor (3) bila menampilkan 3 indikator Skor (2) bila menampilkan 2 indikator Skor (1) bila menampilkan 1 indikator Npsikomotorik  Jumlah skor yang didapat x 100% Jumlah skor maksimum NILAI AKHIR = Nilai kognitif + nilai afektif + Nilai Psikomotorik/3 136

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 137 Hasil uji validitas empirik soal tes obyektif yang dihitung dengan bantuan SPSS 20 No. r hitung r tabel Keterangan 1 ,556** 0,361 Valid 2 -,299 0,361 Tidak valid 3 ,601** 0,361 Valid 4 ,556** 0,361 Valid 5 -,141 0,361 Tidak valid 6 ,174 0,361 Tidak valid 7 ,176 0,361 Tidak valid 8 ,746** 0,361 Valid 9 ,568** 0,361 Valid 10 ,660** 0,361 Valid 11 -,020 0,361 Tidak valid 12 ,089 0,361 Tidak valid 13 ,552** 0,361 Valid 14 ,020 0,361 Tidak valid 15 ,167 0,361 Tidak valid 16 ,412* 0,361 Valid 17 ,295 0,361 Tidak valid 18 ,431* 0,361 Valid 19 -,017 0,361 Tidak valid 20 ,549** 0,361 Valid 21 ,018 0,361 Tidak valid 22 ,022 0,361 Tidak valid 23 ,315 0,361 Tidak valid 24 ,458* 0,361 Valid 25 ,433* 0,361 Valid 26 ,538** 0,361 Valid 27 ,191 0,361 Tidak valid 137

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 138 28 ,089 0,361 Tidak valid 29 ,162 0,361 Tidak valid 30 ,197 0,361 Tidak valid 31 ,150 0,361 Tidak valid 32 -,132 0,361 Tidak valid 33 ,525** 0,361 Valid 34 ,787** 0,361 Valid 35 ,074 0,361 Tidak valid 36 ,295 0,361 Tidak valid 37 -,044 0,361 Tidak valid 38 ,402* 0,361 Valid 39 ,317 0,361 Tidak valid 40 ,556 ** 0,361 Valid 41 -,103 0,361 Tidak valid 42 ,718** 0,361 Valid 43 -,014 0,361 Tidak valid 44 ,409* 0,361 Valid 45 ,510** 0,361 Valid * Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed) ** Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed) 138

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 139 Tabel kisi-kisi instrumen prestasi belajar IPS Kelas/ Semester : V/ 2 Mata pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Standar Kompetensi : 2. Menghargai peranan tokoh pejuang dan masyarakat dalam mempersiapkan dan mempertahankaan kemerdekaan Indonesia Kompetensi Dasar : 2.2 Menghargai jasa dan peranan tokoh perjuangan dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia No Indikator Nomor soal Jumlah soal 1, 3, 8, 26, 38 5 1 Menjelaskan peristiwa persiapan kemerdekaan Indonesia oleh BPUPKI 20, 33, 34, 40 4 2 Menjelaskan peristiwa persiapan kemerdekaan Indonesia oleh PPKI 4, 9, 10, 13, 8 3 Mengidentifikasi peranan tokoh dalam 25, 42, 44, 45 persiapan kemerdekaan Indonesia 16, 18, 24 3 4 Mendiskripsikan contoh sikap meneladani jasa dan peranan tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Kunci jawaban soal obyektif pilihan ganda : 1. C 11. C 2. C 12. C 3. A 13. C 4. B 14. C 5. D 15. D 6. A 16. A 7. D 17. A 8. C 18. A 9. C 19. D 10. B 20. D 139

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 140 Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c atau d di depan jawaban yang paling tepat! 1. Jepang mengumumkan bahwa kemerdekaan Indonesia akan diberikan setelah…. a. BPUPKI selesai mempersiapkan kemerdekaan. b. Bangsa Indonesia siap untuk merdeka. c. Jepang berhasil memenangkan perang Asia Timur Raya. d. Bangsa Indonesia berhasil merancang teks proklamasi. 2. Dalam sidang pertama BPUPKI membahas tentang…. a. Pembentukan konstitusi Negara Indonesia. b. Pengesahan konstitusi Negara Indonesia. c. Pembentukan dasar Negara Indonesia. d. Persiapan proklamasi kemerdekaan Indonesia. 3. Berikut ini adalah tokoh yang mengusulkan tentang konsep dasar Negara Indonesia, kecuali…. a. Drs. Mohammad Hatta b. Ir. Soekarno c. Dr. Supomo d. Mr. Mohammad Yamin. 4. Dalam Piagam Jakarta dilakukan perubahan pada kalimat “Menjalankan syari‟at islam bagi pemeluknya menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal tersebut karena... a. Tidak ingin menyinggung Jepang. b. Ingin menghargai keyakinan rakyat Indonesia yang tidak memeluk agama islam. c. Ingin mencari keamanan.. d. Ingin menunjukkan kedaulatan Indonesia. 5. Tokoh yang menyampaikan pidato tentang azas dasar Negara kebangsaan Republik Indonesia adalah… a. Dr. Supomo b. dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat c. Ir. Soekarno d. Mohammad Yamin. 6. Dalam kepanitiaan BPUPKI dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat menjabat sebagai…. a. Ketua b. Wakil ketua c. Pencetus konsep dasar Negara Indonesia d. Perancang UUD 1945. 7. Ketua dan wakil ketua PPKI adalah…. a. Ir. Soekarno dan Mr. Ahmad Subarjo. b. Drs. Mohammad Hatta dan dr. K.R.T Radjiman Wedyodiningrat. c. dr.K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat dan R. Suroso. d. Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta. 140

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 141 8. Bentuk sikap meneladani tokoh yang memperjuangkan kemerdekaan adalah… a. Mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum b. Bertindak semena-mena dengan teman c. Menyisihkan uang jajan untuk membantu korban bencana d. Mencoret-coret tembok 9. Berikut ini adalah tindakan yang tepat dalam menghargai jasa tokoh dalam mencapai kemerdekaan, kecuali…. a. Menolong tanpa mengharap pamrih b. Belajar dengan tekun. c. Memaksakan kehendak d. Berbicara dengan jujur 10. Alat keamanan Negara yang diresmikan pada sidang kedua PPKI bernama…. a. PETA b. BKR c. KPR d. PEPERA 11. Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan adalah…. a. Berkunjung ke makam pahlawan setiap hari. b. Mementingkan kepentingan individu. c. Khidmat saat mengikuti upacara bendera. d. Menuliskan nama-nama pahlawan di tembok 12. Gambar di bawah ini merupakantokoh dari golongan tua yang menjadi salah satu anggota dalam panitia Sembilan. Tokoh tersebut adalah… a. Mr. Supomo b. Moh. Yamin c. Mr. Ahmad Subarjo d. Haji Agus Salim 13. Langkah yang dilakukan Jepang untuk meraih simpatik rakyat Indonesia adalah…. a. Membentuk BPUPKI. b. Mendukung pembentukan panitia Sembilan. c. Menjanjikan kemerdekaan Indonesia. d. Mengijinkan PPKI untuk menambah anggota baru. 14. Peran utama PPKI bagi kemerdekaan bangsa Indonesia adalah…. a. Menjadi pangkal persatuan bangsa. b. Menjadi penampung aspirasi rakyat. c. Menyatakan kemerdekaan Indonesia pada saatnya nanti. d. Melindungi keutuhan bangsa Indonesia. 15. Pada masa awal kemerdekaan pelaksanaan pemerintahan presiden dibantu oleh… a. DPR b. MPR c. Menteri d. KNI 141

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 142 16. Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah …. a. Pancasila b. UUD 1945 c. Bhineka Tunggal Ika d. Burung Garuda 17. PPKI merupakan badan yang dibentuk oleh pemerintah Jepang. Sikap golongan muda berkaitan dengan pernyataan tersebut adalah… a. Tidak mau bekerjasama. b. Menggunakan kesempatan untuk meraih kemerdekaan. c. Melakukan penyerangan pada Jepang. d. Pasrah kepada keadaan. 18. Salah satu tokoh yang menyampaikan usulan dasar negara Indonesia pada tanggal 31 Mei 1945 adalah…. a. Dr. Supomo b. Mohamad Yamin c. Ir. Soekarno d. Drs. Mohamad Hatta 19. Berikut ini tokoh yang berperan dalam perumusan Piagam Jakarta, kecuali…. a. Mohamad Yamin. b. Drs. Mohamad Hatta. c. Ir. Soekarno d. Sayuti Melik 20. Tokoh ini merupakan tokoh penting dalam persiapan kemerdekaan Indonesia, ia juga dijuluki penyair pujangga baru, beliau adalah……. a. Drs. Mohamad Hatta b. Ir. Soekarno c. dr.K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat d. Mohamad. Yamin Selamat mengerjakan  142

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 143 Nama : No. Presensi : Lembar Kerja Siswa (LKS) Kelompok eksperimen Satuan Pendidikan Mata Pelajaran Kelas/ Semester Hari, tanggal Alokasi Waktu : SD Negeri Tegalrejo 2 : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) :V/2 : Senin, 3 Februari 2014 : 2 x 35 menit ( pertemuan pertama) A. Indikator keberhasilan belajar 3. Kognitif a. Menjelaskan persiapan kemerdekaan Indonesia oleh BPUPKI b. Menjelaskan persiapan kemerdekaan Indonesia oleh PPKI 4. Afektif 3. Percaya diri dalam menjelaskan persiapan kemerdekaan Indonesia oleh BPUPKI. 4. Percaya diri dalam menjelaskan persiapan kemerdekaan Indonesia oleh PPKI. 5. Psikomotorik Menceritakan proses persiapan kemerdekaan Indonesia. B. Petunjuk kerja 1. Tulislah nama anggota kelompok dalam kolom yang tersedia. 2. Bergabunglah dalam kelompok asal yang telah ditentukan gurumu. Sesuai warna calcard yang sama. 3. Ikuti setiap langkah-langkah dalam kegiatan belajar. C. Kegiatan belajar I 1. Setelah berkumpul dalam kelompok asal bacalah materi yang telah disediakan oleh guru secara keseluruhan. 2. Setelah kamu membaca keseluruhan materi ketua kelompok membagi tugas untuk tiap siswa memahami secara mendalam salah satu materi belajar sesuai dengan nomor dalam calcard dengan nomor dalam lembar materi. Mari membaca materi PERSIAPAN KEMERDEKAAN INDONESIA OLEH BPUPKI DAN PPKI Mari belajar bersama Pak Fajar, selamat membaca Latar Belakang Pembentukan BPUPKI Armada militer Jepang semakin terdesak dalam Perang Pasifik. Pada tanggal 9 september 1944 perdana mentri Koiso berjanji untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Hal ini dilakukan untuk menarik simpati rakyat Indonesia agar membantu Jepang menangkal serangan Sekutu indonesia. Pasukan Jepang yang ada di Indonesia bersiap-siap untuk mempertahankan diri dan berusaha menarik perhatian rakyat Indonesia dengan mengijinkan pengibaran Bendera Merah Putih di samping bendera Jepang. Lagu kebangsaan 1 143

(162) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 144 Indonesia Raya juga boleh dikumandangkan setelah lagu kebangsaan Jepang Kimi Ga Yo. Tentara Jepang semakin terdesak dan mengalami kekalahan dimana-mana. Dalam situasi kritis ini, pada tanggal 1 Maret 1945, wakil pemerintah Jepang di Jawa Kumaciki Harada mengumumkan 3 tindakan sebagai berikut: 1. Membentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dalam bahasa Jepang diebut Dokoritsu Junbi Cosakai. 2. Mempersiapkan lembaga Latihan Nasional (Kenkoku Gakuin) yang melatih dan mendidik calon pemimpin negara yang baru. 3. Memperluas pembicaraan tentang kemerdekaan Indonesia Maksud pembentukan BPUPKI adalah untuk mempelajari dan menyelidiki hal-hal yang dibutuhkan dalam usaha pembentukan negara Indonesia merdeka. Badan ini memiliki 63 anggota yang diketuai oleh dr. K.R.T. Radjiman Widyodiningrat dan wakil ketuanya adalah Raden Panji Suroso. Upacara pembukaan BPUPKI diadakan pada tanggal 28 Mei 1945 di Jalan Pejambon, Jakarta. Dalam upacara itu dilangsungkan pengibaran bendera Hinomaru oleh Mr. A.G. Pringgodigdo, lalu disusul pengibaran bendera Sang Merah Putih oleh Toyohiko Masuda. Sidang BPUPKI I (29 Mei sampai 1 Juni 1945)  Perumusan Dasar Negara Pentingnya perumusan Dasar negara Indonesia karena: 1. Nilai-nilai luhur bangsa perlu dirumuskan secara resmi. Semua bangsa di dunia mempunyai nilai-nilai kepribadian luhur yang telah dihayati dari zaman ke zaman sebagai pandangan dan penghayatan hidup. Nilai-nilai itu belum nyata bila belum dirumuskan secara resmi. Nilai-nilai pancasila seperti pengakuan adanya Tuhan Yang Maha Esa, berperikemanusiaan, bela negara, musyawarah, hidup bersama dalam perbedaan dan beberapa nilai lainnya yang telah ada sejak dulu,dengan adanya perumusan dasar negara maka nilai-nilai itu diakui secara resmi. 2. Negara memerlukan dasar untuk melangkah maju Dasar negara digunakan untuk melandasi semua kegiatan kenegaraan yang akan dibuat. Semua kegiatan negara akan mendapatkan dasarnya jika sudah ada dasar negara yang dirumuskan dan ditetapkan. Dalam sidang BPUPKI terdapat 3 tokoh yang menawarkan konsep dasar negara Indonesia, yakni : 1. Mr. Mohammad. Yamin (29 Mei 1945) dalam pidato yang berjudul azas dasar Negara kebangsaan Republik Indonesia berisi: a. Peri Kebangasan b. Peri Kemanusiaan c. Peri Ketuhanan d. Peri Kerakyatan e. Kesejahteraan yang berkebudayaan 2 2. Prof. Dr. Supomo (31 Mei 1945) mengajukan konsep dasar negara indonesia merdeka sebagai berikut: a. Persatuan b. Kekeluargaan 144

(163) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 145 c. Keseimbangan lahir dan batin d. Musyawarah e. Keadilan rakyat 3. Ir. Soekarno (1 Juni 1945) mengusulkan konsep dasar negara yang kemudia dikenal sebagai lahirnya Pancasila meliputi: a. Kebangsaan Indonesia b. Internasionalisme atau perikemanusiaan c. Mufakat atau demokrasi d. Kesejahteraan Sosial e. Ketuhanan Yang Maha Esa Panitia sembilan Setelah sidang tanggal 1 Juni 1945, BPUPKI mengalami masa jeda dan dibentuk panitia kecil yang bertugas menampung saran dari anggota BPUPKI. Panitia ini beranggotakan 9 orang (Ir. Soekarno, Drs.Moh Hatta, Sutarjo Kartohadikusumo, Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, Oto Iskandardinata, M, Yamin, dan AA. Marimis). Pada tanggal 22 Juni 1945, panitia kecil mengadakan pertemuan dengan 38 anggota BPUPKI yang tujuannya adalah untuk menampung suara dan usul lisan dari anggota BPUPKI. Dalam pertemuan ini dibentuk pula panitia kecil lainnya yang berjumlah sembilan orang dan disebut sebagai panitia sembilan. Panitia sembilan beranggotakan Ir. Soekarno, Drs.Moh Hatta, Mr. M Yamin, Mr. Ahmad Subarjo, Mr. A.A.Maramis, Abdulkadir Muzakir, Wahid Hasyim, H. Agus Salim, dan Abikusno Cokrosuyoso. Mereka menghasilkan rumusan pembukaan UUD yang menggambarkan maksud dan tujuan pembentukan negara Indonesia Merdeka. Rumusan itu disepakati dan ditandatangani bersama oleh Panitia Sembilan. Rumusan yang dirumuskan oleh Panitia Sembilan ini kemudian diberi nama Jakarta Charter atau Piagam Jakarta. Rumusan dasar negara dalam Piagam Jakarta berbunyi: 1. Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk- pemuluknya 2. Kemanusiaan yang adil dan berada. 3. Persatuan Indonesia 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan permusyawaratan/perwakilan. 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 3 Sidang BPUPKI II Anggota BPUPKI dibagi-bagi dalam panitia-panitia kecil. Panitia-panitia yang terbentuk antara. Panitia Perancang Undang-Undang Dasar (diketuai Sukarno), Panitia Pembelaan Tanah Air (diketuai Abikusno Cokrosuyoso), dan Panitia Ekonomi dan Keuangan (diketuai Mohammad Hatta). Pada kesempatan ini dibahas rencana UUD, termasuk pembukaan (preambule) oleh panitia perancang undang-undang dasar. Rapat tanggal 11 Juli1945, Panitia Perancang Undang-Undang Dasar menyetujui isi preambule yang diambil dari Piagam Jakarta. Panitia ini kemudian membentuk Panitia Kecil Perancang UndangUndang Dasar yang diketuai oleh Prof. Dr. Mr. Supomo. Hasil perumusan panitia kecil ini disempurnakan bahasanya oleh Panitia Penghalus Bahasa, yang juga bertanggung jawab untuk menyempurnakan dan menyusun kembali rancangan undang-undang dasar yang sudah dibahas. Namunm, sebelum disahkan, atas prakarsa Drs. Mohamad Hatta terkait 4 145

(164) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 146 kemajemukan agama yang ada di Indonesia dengan sila pertama yang berbunyi „„Ketuhanan dengan kewajiban melaksanakan syari‟at islam bagi pemeluk-pemeluknya“ diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa“. Sehingga rumusan tersebut berbunyi : 1. Ketuhanan Yang Maha Esa. 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab. 3. Persatuan Indonesia. 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. 5. Keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia. Selain perumusan undang-undang dasar, dalam sidang BPUPKI II dibahas juga mengenai bentuk negara, wilayah negara, kewarganegaraan, ekonomi dan keuangan, negara, serta pendidikan dan pengajaran. Yang disepakati hal-hal berikut ini: 1. Wilayah Indonesia meliputi bekas jajahan Hindia Belanda ditambah wilayah jajahan Inggris, yaitu Malaya dan Kalimantan Utara serta wilayah Timor yang diduduki oleh Portugis. 2. Indonesia akan memiliki bentuk Negara Kesatuan (Unitaris) 3. Bentuk pemerintahan Indonesia adalah Republik 4. Bendera Nasional Negara Indonesia adalah Sang Merah Putih 5. Bahasa Nasional Indonesia adalah Bahasa Indonesia Persiapan kemerdekaan oleh PPKI Perjuangan rakyat Indonesia semakin memuncak pada bulan Agustus 1945. Pada tanggal 6 Agustus 1945, Sekutu menjatuhi kota Hiroshima dengan bom atom. Melihat hasil kerja BPUPKI maka Jepang pada tangal 7 Agustus 1945 resmi membubarkan BPUPKI dan digantikan dengan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang disebut dalam Dokuritsu Junbi Iinkai. Tujuan utama PPKI adalah: 1. Mengesahkan undang-undang dasar yang telah disiapkan BPUPKI. 2. Memusyawarahkan dan memutuskan cara pelaksanaan pernyataan kemerdekaan Indonesia pada saatnya nanti. Beberapa hari sesudahnya, Sekutu kembali menjatuhi bom atom di kota Nagasaki, tepatnya pada tanggal 9 Agustus 1945. Melihat kondisi kekalahan seperti ini, pada tanggal 9 Agustus pemerintah Jepang memanggil Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Dr. Radjiman Widyodiningrat untuk menghadap di Dalat, Vietnam. Pemanggilan Marsekal Terauchi bertujuan untuk memberitahukan bahwa Indonesia akan segera diberi kemerdekaan. Dengan adanya kekalahan Jepang menyebabkan terjadinya kekosongan kekuasaan (vaccum of power). Pada tanggal 14 Agustus 1945, Sutan Syahrir mendengar berita tentang kekalahan Jepang terhadap Sekutu tanpa syarat melalui siaran radio. Sehingga sepulangnya Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan dr. Radjiman Widyodiningrat dari di Dalat, Vietnam, Sutan Syahrir mendesak agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Golongan tua dan golongan muda sepakat untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun, dalam pelaksanaan proklamasi kemerdekaan terjadi perbedaan pendapat. Golongan muda berpendapat agar proklamasi kemerdekaan segera dilaksanakan secepat mungkin tanpa pengaruh dari Jepang, sedangkan golongan tua berpendapat agar proklamasi kemerdekaan Indonesia mengikuti tata cara yang sudah ditetapkan Jepang. 5 146

(165) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 147 PPKI awalnya beranggotakan 21 orang, dengan diketuai oleh Ir. Soekarno, sedangkan wakil ketua dijabat oleh Drs. Moh. Hatta serta Mr. Ahmad Subarjo menjadi penasihat PPKI. Di bawah ini merupakan susunan dari Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia 10. Puruboyo Ketua : Ir. Soekarno 11. Yap Twjan Bing Wakil Ketua : Drs. Moh. Hatta 12. Latuharhary Anggota : 1. Supomo 13. Dr. Amir 2. Radjiman 14. Abd. Abbas 3. Suroso 15. Muh. Hassan 4. Sutarjo 16. Hamnidan 5. Wahid Hasyim 17. Sam Ratulangie 6. Ki Bagus Hadikusumo 18. Andipangeran 7. Otto Iskandardinata 19. I Gusti Ketut Pudj 8. Abdoel Kadir 9. Suryohamijoyo Atas wewenang dan tanggung jawab sendiri, Soekarno – Hatta mengangkat 9 anggota baru yaitu: 6. Achmad Subardjo 1. R.A.A Wiranatakusuma 7. Sukarni* 2. Ki Hajar Dewantara 8. Khaerul Saleh*, dan 3. Mr. Kasman Singodimejo 9. Adam Malik* 4. Sayuti Melik 5. Iwa kusuma Sumantri *menolak pengangkatan dengan alasan karena menganggap PPKI merupakan panitia buatan Jepang. Sidang-sidang PPKI Pada tanggal 18 Agustus 1945 sehari setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya, PPKI melaksanakan sidang untuk pertama kalinya bertempat di Gedung Kesenian Jakarta. Beberapa sidang PPKI menghasilkan keputusan-keputusan penting sebagai berikut: - Sidang PPKI I (18 Agustus 1945) Hasil sidang PPKI I ini menyangkut kehidupan ketatanegaraan serta landasan politik bagi bangsa Indonesia yang merdeka, yaitu: a. Mengesahkan UUD 1945 b. Memilih Soekarno sebagai Presiden dan Mohammad Hatta sebagai wakilnya. c. Untuk sementara waktu tugas Presiden dibantu oleh sebuah Komite Nasional 6 - Sidang PPKI II (19 Agustus 1945) Menghasilkan keputusan: a. Membentuk dua belas kementerian dan sekaligus menunjuk pemimpinnya. Dua belas kementerian, sebagai berikut: 1. Kementerian Dalam Negeri 2. Kementerian Luar Negeri 3. Kementerian Kehakiman 4. Kementerian Keuangan 5. Kementerian Kemakmuran 6. Kementerian Kesehatan 147

(166) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 148 - - 7. Kementerian Sosial 8. Kementerian Pertahanan 9. Kementerian Penerangan 10. Kementerian Pekerjaan Umum 11. Kementerian Perhubungan 12. Kementerian Pengajaran b. Menetapkan pembagian wilayah negara Republik Indonesia menjadi 8 provinsi sekaligus menunjuk gubernurnya. Delapan provinsi meliputi: a. Sumatra b. Jawa Barat c. Jawa Tengah d. Jawa Timur e. Sunda Kecil f. Maluku g. Sulawesi h. Kalimantan c. Memutuskan agar tentara kebangsaan negara segera dibentuk. Sidang PPKI III (20 Agustus 1945) Membahas tentang Badan Penolong Korban Perang. Sidang ini menghasilkan delapan pasal ketentuan, salah satunya adalah pasal 2 berisi tentang pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Sidang PPKI IV (22 Agustus 1945) Membahas tentang: a. Pembentukan Komite Nasional Indonesia di seluruh daerah Indonesia yang diketuai oleh Mr. Kasman Singodimeja. b. Pembentukan Partai Nasional Indonesia. c. Pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang beranggotakan mantan anggota Peta, Heiho, Keibodan, dan Seinendan. Pada tanggal 5 Oktober 1945, BKR berubah namanya menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). 148

(167) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 149  Kegiatan Belajar 2 1. Bergabunglah bersama kelompok ahli, kelompok ahli adalah kelompok dengan kode angka materi yang sama. 2. Di dalam kelompok ahli diskusikan materi yang telah kamu baca dan pamahi di kelompok asal! Ingat jangan hanya membaca, tapi sampaikan pendapatmu! 3. Sampaikan pendapatmu satu per satu, setiap anak harus menyampaikan pendapatnya!  Kegiatan Belajar 3 1. Kembalilah ke kelompok asal! 2. Diskusikan lembar kerja yang disediakan gurumu.kalian harus menyampaikan pendapatmu agar semua temanmu pandai seperti kamu. 3. Jadilah ahli bagi anggota kelompok asalmu agar mereka memahami materi yang kamu pelajari. Sehingga semua akan memahami keseluruhan materi ! Selamat bekerja 149

(168) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 150 Rangkuman hasil belajar kelompok asal Jodohkanlah pernyataan pada kolaom A dengan pernyataan pada kolom B dengan memberi penghubung! a. Pasangkanlah tanggal persiapan kemerdekaan dan peristiwa yang terjadi! A B Pembentukan BPUPKI 18 Agustus 1945 Penyampaian usulan konsep dasar Negara 14 Agustus 1945 oleh Ir. Soekarno Penyampaian usulan konsep dasar Negara 19 Agustus 1945 oleh Moh. Yamin Pembentukan PPKI 30 Maret 1944 Kekalahan Jepang 1 Juni 1945 Sidang PPKI 1 7 Agustus 1945 Sidang PPKI 2 29 Mei 1945 30 Mei 1945 28 Mei 1945 17 Agustus 1945 b. Pasangkanlah nama tokoh dan peristiwa yang dilakukan dalam persiapan kemerdekaan Indonesia! A B Ketua BPUPKI Moh. Yamin Konsep Negara Kebangsaan Indonesia Dr. Soepompo Pancasila Ir. Soekarno Ketua perancang Undang-Undang Dasar KRT. Radjiman Wedyodiningrat Wakil Ketua PPKI Ahmad Soebarjo Penasehat PPKI Drs. Moh. Hatta Jumlah provinsi hasil sidang PPKI kedua 21 Jumlah anggota PPKI 8 15 29 Selamat Bekerja  150

(169) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 151 Nama : No. Presensi : Lembar Kerja Siswa (LKS) Kelompok eksperimen Satuan Pendidikan Mata Pelajaran Kelas/ Semester Hari, tanggal Alokasi Waktu : SD Negeri Tegalrejo 2 : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) :V/2 : Sabtu, 8 Februari 2014 : 2 x 35 menit ( pertemuan kedua) A. Indikator Pembelajaran 1. Kognitif 3. Mengidentifikasi peranan tokoh dalam persiapan kemerdekaan Indonesia. 4. Mendiskripsikan contoh sikap meneladani jasa dan peranan tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. 2. Afektif a. Percaya diri dalam mengidentifikasi peranan tokoh dalam persiapan kemerdekaan Indonesia. b. Percaya diri dalam mendiskripsikan contoh sikap meneladani jasa dan peranan tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. 3. Psikomotorik a. Menceritakan peranan tokoh dalam persiapan kemerdekaan Indonesia. b. Mendemonstrasikan perilaku dalam meneladani peranan tokoh dalam persiapan kemerdekaan Indonesia. B. Petunjuk kerja 1. Bergabunglah dalam kelompok asal yang telah ditentukan gurumu. Sesuai warna calcard yang sama 2. Ikuti setiap langkah-langkah dalam kegiatan belajar. C. Kegiatan belajar I 1. Setelah berkumpul dalam kelompok asal bacalah materi yang telah disediakan oleh guru secara keseluruhan. 2. Setelah kamu membaca keseluruhan materi ketua kelompok membagi tugas untuk tiap siswa memahami salah satu materi belajar dari nomor 1 sampai 6. Masing-masing siswa juga wajib mempelajari materi meneladani jasa tokoh-tokoh dalam persiapan kemerdekaan. Jadilah ahli! buatlah temanmu pandai seperti kamu 151

(170) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 152 JASA-JASA TOKOH DALAM PERSIAPAN KEMERDEKAAN INDONESIA Mari belajar bersama Pak Fajar, selamat membaca 1 Ir. Soekarno Soekarno lahir di Blitar, 6 Juni 1901. Beliau adalah lulusan ITB di Bandung. Soekarno merupakan pendiri Partai Nasional Indonesia (PNI). Beliau pernah ditangkap dan dibuang ke Ende (flores) karena beliau memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Walau pun begitu hatinya tetap teguh untuk menjadi pejuang kemerdekaan. Beliau pernah berkata “ Seorang pemimpin tidak berubah karena hukuman. Saya masuk penjara untuk memperjuangkan kemerdekaan dan saya meninggalkan penjara dengan pikiran yang sama”. Pada masa penjajahan Jepang beliau mendirikan Putera bersama bung Hatta, Ki. Hajar Dewantara dan K.H. Mas Mansyur hingga beliau mendapat julukan empat serangkai. Setelah bebas beliau aktif kembali dalam politik Indonesia, dalam BPUPKI Soekarno menjadi anggota. Lalu tanggal 9 Agustus 1945 beliau dipilih sebagai ketua PPKI. Pada tanggal 1 Juni 1945 beliau mengusulkan konsep dasar negara yang kemudia diberi nama pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Beliau memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, sekaligus ditetapkan sebagai presiden pertama Indonesia oleh PPKI. Beliau juga mendapat bapak bangsa Indonesia ( The Founding Father). Pada tanggal 21 Juni 1970 beliau meninggal dunia dan di makamkan di Blitar, Jawa Timur. dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat Adalah seorang dokter sekaligus tokoh pergerakan nasional. Peran beliau dalam masa persiapan kemerdekaan adalah menjadi ketua BPUPKI dalam menyusun dasar negara Indonesia. Beliau aktif dalam putera yakni menjadi majelis pertimbangan. Beliau juga menjadi anggota volksraad tahun 1918-1931. Prof. Dr. Supomo Mr. Supomo merupakan tokoh kelahiran Sukoharjo, Solo. Beliau merupakan tokoh yang aktif dalam perumusan dasar negara, beliau ikut dalam mengusulkan konsep dasar negara Indonesia pada tanggal 31 Mei 1945. Setelah Indonesia merdeka beliau menjabat sebagai menteri kehakiman. Beliau merupakan perintis Universitas Gajah Mada (UGM) dan menjadi rektor di Universitas Indonesia. 2 3 4 Drs. Mohamad Hatta Moh. Hata lahir di Bukit Tinggi 12 Agustus 1902. Beliau aktif dalam gerakan mahasiswa. Beliau pernah bergabung dengan PNI dan pernah pula dibuang ke Digul tahun 1934. Dalam penjajahan Jepang beliau bergabung mendirikan putera dan disebut empat serangkai. Menjelang kemerdekaan beliau aktif sebagai anggota 152

(171) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 153 5 6 BPUPKI, bergabung dalam panitia sembilan yang menghasilkan piagam Jakarta. Bersama bung Karno beliau menjadi wakil ketua PPKI, menjadi proklamator kemerdekaan Indonesia, serta menjadi wakil presiden pertama Indonesia. Tahun 1956 beliau mengundurkan diri sebagai wakil presiden dan menyumbangkan pikirannya sebagai guru besar Ilmu ekonomi di Universitas Indonesia. Beliau menjadi pelopor usaha koperasi, karena jasanya Ia di beri julukan Bapak Koperasi Indonesia. Beliau wafat tanggal 14 Maret 1980. Mr. Ahmad Subarjo Menjelang proklamasi Ahmad Subarjo menjadi anggota BPUPKI yang juga termasuk panitia sembilan. Dalam PPKI beliau menjabat sebagai penasihat. Peranannya yang amat penting adalah menjadi penengah antara golongan muda dengan golongan tua saat peristiwa Rengas dengklok, serta ikut dalam menyusun konsep naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Setelah Indonesia merdeka beliau menjabat sebagai menteri luar negeri. Mr. Mohamad Yamin Moh. Yamin merupakan ahli hukum, penyair, tokoh kemerdekaan. Beliau aktif sejak muda dalam Jong Sumatranen bond. Menjelang kemerdekaan beliau menjadi anggota BPUPKI yang ikut pula dalam usulan perumusan konsep dasar negara Indonesia 29 Mei 1945 dengan pidato azas dasar Negara kebangsaan Republik Indonesia. Ketika Indonesia merdeka beliau menjadi MPRS/DPRS , serta sebagai sastrawan beliau menghasilkan karya seperti gajah mada, peperangan Diponegoro dan lainnya. Materi dibawah ini wajib dipelajari semua siswa Meneladani jasa tokoh-tokoh dalam persiapan kemerdekaan a. Khidmat dalam mengikuti upacara bendera untuk mengenang jasa pahlawan yang gugur di medan perang. b. Rela berjuang demi bangsa dan Negara dan membela kebenaran. c. Berziarah ke makam pahlawan d. Mengunjungi museum dan tempat penyimpanan benda sejarah. e. Berpendirian teguh namun juga menghormati orang lain, mau menerima hasil musyawarah yang mufakat dan melaksanakannya. f. Mencintai produk dalam negeri g. Belajar dengan tekun dan kerja keras, pantang menyerah. h. Senang menyaksikan dan ikut melestarikan budaya daerah. i. Mementingkan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi. j. Menyisihkan uang saku untuk disumbangkan pada korban bencana. k. Memerangi korupsi, kolusi dan nepotisme. 153

(172) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 154  Kegiatan Belajar 2 1. Bergabunglah bersama kelompok ahli, kelompok ahli adalah kelompok dengan kode angka materi yang sama. 2. Di dalam kelompok ahli diskusikan materi yang telah kamu baca dan pamahi di kelompok asal! Ingat jangan hanya membaca, tapi sampaikan pendapatmu! 3. Sampaikan pendapatmu satu per satu, setiap anak harus menyampaikan pendapatnya!  Kegiatan Belajar 3 1. Kembalilah ke kelompok asal! 2. Jadilah ahli bagi anggota kelompok asalmu agar mereka memahami materi yang kamu pelajari. Sehingga semua akan memahami keseluruhan materi ! 3. Setelah berdiskusi, gurumu membagikan puzzle gambar tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia. 4. Susunlah puzzle itu secara bersama-sama, lalu tebak siapa nama tokoh tersebut! 5. Tuliskan dalam kolom rangkuman jasa-jasa gambar tokoh yang kelompokmu dapat. 6. Tuliskan jasa-jasa tokoh yang dapat kalian teladani. 7. Presentasikan hasil kerja kelompokmu di depan kelas. salah satu anggota kelompokmu menuliskan di papan tulis. Kolom rangkuman kelompok asal. Nama tokoh : Jasa-jasa tokoh : Cara menghargai jasa tokoh perjuangan : 154

(173) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 155 155

(174) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 156 Lembar Kerja Siswa kelompok kontrol Pertemuan kedua 1. Indikator Pembelajaran a. Menjelaskan peranan tokoh dalam proses persiapan kemerdekaan Indonesia. b. Mendiskripsikan perilaku menunjukkan meneladani peranan tokoh dalam persiapan kemerdekaan Indonesia. 2. Petunjuk pembelajaran a. Isilahlah nama,nomor presensi, kelas pada kolom yang tersedia. b. Diskusikanlah dalam kelompokmu tentang gambar tokoh-tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaaan Indonesia. c. Tuliskan jawabanmu pada tabel-tabel yang tersedia Jasa tokoh dalam persiapan kemerdekaan No. Gambar tokoh 1 2 3 4 156

(175) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 157 5 Tuliskan sikap-sikap para tokoh dalam memperjuangkan kemerdekaan yang dapat kamu diteladani. 157

(176) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 158 158

(177) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 159 159

(178) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 160 160

(179) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 161 161

(180) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 162 UJI NORMALITAS PRESTASI BELAJAR IPS 1. Kelompok ekperimen Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic Df Sig. Statistic df Pretest ,151 30 ,077 Posttest ,124 30 ,200* *. This is a lower bound of the true significance. a. Lilliefors Significance Correction ,909 ,965 30 30 Sig. ,014 ,407 2. Kelompok kontrol Kolmogorov-Smirnova Statistic Df Shapiro-Wilk Sig. Statistic df Sig. Pretest ,155 26 ,107 ,943 26 ,161 Posttest ,141 26 ,196 ,914 26 ,032 *. This is a lower bound of the true significance. a. Lilliefors Significance Correction UJI HOMOGENITAS Test of Homogeneity of Variances Nilai Levene Statistic df1 df2 Sig. ,378 1 54 ,541 162

(181) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 163 163

(182) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 164 164

(183) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 165 Foto-fotokegiatanpembelajaran Kegiatan pembelajaran kelompok eksperimen Guru melakukan apersepsi dengan memperlihatkan gambar Guru menyampaikan orientasi pembelajaran Siswa mengerjakan kuis awal Siswa dibagikan LKS dan melakukan studi pustaka siswa melakukan studi pustaka materi secara menyeluruh Siswa dibagikan callcard untuk membagi kelompok asal 165

(184) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 166 Siswa berdiskusi dalam kelompok asal Siswa berkumpul dalam kelompok ahli Diskusi kelompok ahli Guru memantau kemajuan belajar siswa dalam kelompok ahli Siswa kembali ke kelompok asal dan berdiskusi hasil temuan dari klompok ahli Siswa bersama kelompokmengerjakan lembar rangkuman kelompok untuk mengetahui tingkat penguasaan materi 166

(185) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 167 Siswa kelompok asal melakukan pelaporan hasil diskusi dan hasil rangkuman kelompok Siswasecaraindividumengerjakankuisakhir, kelompokasal yang unggulmendapatreward Pemberian reward pada kelompok yang unggul 167

(186) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 168 Kegiatan pembelajaran kelompok kontrol Siswa menyiapkan alat tulis Guru melakukan apersepsi dengan memperlihatkan gambar Siswa dan guru bertanya jawab Guru menuliskan materi pokok pelajaran Siswa mempelajari materi Siswa dan guru bertanya jawab 168

(187) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 169 Guru berceramah dan siswa mencatat Siswa mengerjakan LKS bersama teman sebangku Bersama teman sebangku siswa mempresentasikan hasil kerja LKS Siswa mengerjakan soal evaluasi secara mandiri 169

(188) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 170 170

(189) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 171 171

(190) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 172 172

(191) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 173 173

(192) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 174 174

(193) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 175 175

(194) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 176 176

(195) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 177 177

(196) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 178 178

(197) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 179 179

(198) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 180 180

(199) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 181 181

(200) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 182 182

(201) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 183 183

(202) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 184 184

(203) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 185 185

(204) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 186 186

(205) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 187 187

(206) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 188 DAFTAR RIWAYAT HIDUP Carolus Borromeus Fajar Triprasetyanto lahir di Magelang, 1 November 1991. Merupakan anak ketiga dari pasangan Marcus Riyadi dan Antonia Dwi Usmaniyati. Mengawali pendidikan di SD Negeri Sikepan 2, Srumbung, Magelang dari tahun 19982004. Melanjutkan jenjang pendidikan menengah lanjutan pertama di SMP Negeri 2 Muntilan, Magelang, Jawa Tengah tahun 2004-2007. Selanjutnya menempuh pendidikan jenjang atas di SMA Negeri 1 Dukun, Magelang, Jawa Tengah pada tahun 2008-2010. Selanjutnya menempuh jenjang pendidikan perguruan tinggi di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar pada tahun 2010. Selama menempuh pendidikan penulis mengikuti banyak kegiatan, diantaranya menjadi anggota devisi kepemimpinan OSIS, wakil ketua OSIS saat SMA. Pada jenjang perguruan tinggi penulis mengikuti kegiatan dan organisasi, yakni sebagai: ketua panitia lomba mendongeng se-DIY- JATENG, koordinator acara INSIPRO PGSD 2012, panitia public speaking dan story telling PGSD, panitia seminar Nasional Universitas Sanata Dharma 2011, peserta Kongres Ekaristi Keuskupan Agung Semarang II, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas pada devisi pendidikan. 188

(207)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Upaya peningkatan kreativitas belajar biologi siswa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
0
7
116
Peningkatan kerjasama dan prestasi belajar IPS melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siswa kelas III B SD Negeri Denggung.
0
0
2
Peningkatan keaktifan dan prestasi belajar IPA siswa kelas V B SD Negeri Tlacap melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
1
2
314
Peningkatan keaktifan dan prestasi belajar IPA siswa kelas V SD Negeri Ungaran 1 melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
0
7
402
Peningkatan keaktifan dan prestasi belajar IPA siswa kelas IV SD N Petinggen melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
1
1
355
Peningkatan keaktifan dan prestasi belajar PKN melalui model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada siswa kelas 6 di SDN Gejayan Yogyakarta.
0
1
284
Perbedaan prestasi belajar kelas V SDN Demangan Yogyakarta atas penerapan model pembelajaran berbasis paradigma pedagogi reflektif.
0
11
320
Perbedaan prestasi belajar IPS siswa atas penerapan metode kooperatif tipe Jigsaw II.
0
2
153
Peningkatan minat dan prestasi belajar PKn siswa kelas V SDN Kledokan dengan penerapan model kooperatif tipe Jigsaw II.
0
1
239
Peningkatan minat dan prestasi belajar PKn siswa kelas V SDN Kledokan dengan penerapan model kooperatif tipe Jigsaw II
0
0
237
Perbedaan prestasi belajar IPS siswa atas penerapan metode kooperatif tipe Jigsaw II
0
0
151
Keterlibatan siswa dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pokok bahasan teorema pythagoras di kelas VIII C SMP Tarakanita Magelang - USD Repository
0
16
343
Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw I terhadap minat dan prestasi belajar mata pelajaran IPS kelas V SD Kanisius Sengkan - USD Repository
0
0
163
Perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas IV sekolah dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I - USD Repository
0
2
250
Perbedaan prestasi belajar IPS siswa kelas IV sekolah dasar atas penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw I - USD Repository
0
2
193
Show more