Validasi efektivitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada siswa berdasarkan status sosial ekonomi orang tuanya di 10 SMP di Indonesia - USD Repository

Gratis

0
0
213
2 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI VALIDASI EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FILM KARAKTER PADA SISWA BERDASARKAN STATUS SOSIAL EKONOMI ORANG TUANYA DI 10 SMP DI INDONESIA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling Oleh : Desvina Br Ginting NIM : 151114064 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI VALIDASI EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SOAL TES ASESMEN HASILPENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FILM KARAKTER PADA SISWA BERDASARKAN STATUS SOSIAL EKONOMI ORANG TUANYA DI 10 SMP DI INDONESIA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling Oleh : Desvina Br Ginting NIM : 151114064 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019 i

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ii

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI iii

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Halaman Persembahan Karya skripsi ini saya persembahkan kepada: Tuhan Yesus Kristus Bapak Kesatria Ginting dan Mamak Arlin Br Tarigan Kakak Paskawati Br Ginting, Kakak Asa Rehulina Br Ginting, dan Kakak Krista Br Ginting Abangku Junedy Tarigan, abangku Surya Dinata Sinulingga, dan abangku Targin Tarigan Adikku Yediza Isakar Ginting Kekasihku Adinta Fernando Purba Sahabat-Sahabatku Agustin, Prisma, Ika, Cici, Yulinda, Dewi Terkasih Almamaterku yang Tercinta Dosen Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma iv

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan dibawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Nama : Desvina Br Ginting Nomor Mahasiswa :151114064 Dngan pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul: VALIDASI EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FILM KARAKTER PADA SISWA BERDASARKAN STATUS SOSIAL EKONOMI ORANG TUANYA DI 10 SMP DI INDONESIA Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengolahnya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai peneliti. Dengan demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. v

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI vi

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK VALIDASI EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FILM KARAKTER PADA SISWA BERDASARKAN STATUS SOSIAL EKONOMI ORANG TUANYA DI 10 SMP DI INDONESIA Desvina Br Ginting Universitas Sanata Dharma 2019 Penelitian ini bertujuan: 1) menghasilkan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter; 2) mengukur kualitas soal-soal tes yang dihasilkan; 3) menganalisis efektivitas soal tes tersebut menurut penilaian siswa pada 10 SMP di Indonesia; 4) mengukur capaian hasil pendidikan karakter siswa dengan menggunakan soal tes tersebut pada 10 SMP di Indonesia; 5) menganalisis perbedaan penilaian siswa berdasarkan status sosial ekonomi orang tuanya terhadap efektivitas penggunaan soal tes yang dikembangkan tersebut; 6) mengukur perbedaan capaian hasil pendidikan karakter untuk siswa berdasarkan status sosial ekonomi orang tuanya. Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (Research and Development). Subjek penelitian adalah siswa kelas VII dan VIII di 10 SMP yang berjumlah 660 siswa. Objek penelitian ini adalah soal tes asesmen hasil pendidikan karakter.Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter dan kuesioner validasi efektivitas. Teknik uji kualitas butir soal tes menggunakan pendekatan teknik faktor analisis konfirmatori, perbedaan penilaian siswa terhadap efektivitas penggunaan soal pada siswa berdasarkan status sosial ekonomi orang tuanya dianalisis dengan teknik ChisSquare dan perbedaan capaian hasil pendidikan karakter siswa berdasarkan status sosial ekonomi orang tuanya dengan analisis varians. Hasil penelitian: 1) dihasilkan 88 item soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter; 2) kualitas soal tes karakter terbukti valid sebanyak 81 item soal dan reliabel dengan indeks reliabilitas 0,933 (sangat baik); 3) menurut penilaian siswa bahwa produk soal tes tersebut sangat efektif; 4) hasil pendidikan karakter dengan menggunakan produk soal tes tersebut diperoleh data 51,2% siswa dalam kategori baik dan 48,8% siswa dalam kategori cukup baik; 5) siswa berdasarkan status sosial ekonomi orang tuanya tidak terdapat perbedaan dalam 30 item kualitas efektivitas, artinya soal tes tersebut efektif digunakan pada siswa berdasarkan status sosial ekonomi orang tuanya; 6) tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap capaian hasil pendidikan karakter pada siswa berdasarkan status sosial ekonomi orang tuannya. Kata kunci: validasi efektivitas, validitas, reliabilitas, capaian hasil pendidikan karakter, status sosial ekonomi orang tua vii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT THE EFFECTIVENESS VALIDATION OF THE CHARACTER EDUCATION BASED ON CHARACTER MOVIE ASSESSMENT TESTUSAGE ON STUDENTS BASED ON THEIR PARENTS’ SOCIOECONOMIC STATUS FROM TEN SMP (JUNIOR HIGH) IN INDONESIA Desvina Br Ginting Sanata Dharma University 2019 This study was aimed to: 1) produce an assessment test of the results of character movie-based character education; 2) measure the quality of the produced test items; 3)analyze the effectiveness of the test according to students in 10 junior high schools in Indonesia; 4) measure in character education achievement using the assessments test in 10 junior high schools in Indonesia; 5) analyze the asessment differences in the students assessment based on their parents' socio-economic status on the effectiveness of the developed test items; 6) measure the differences in the students achievement on character education based on their parents' socio-economic status on the usage of character movie-based character education asessment test the bieng devoloped . The type of the research was research and development study. The research subjects were students of class VII and VIII in 10 junior high schools with total subjects was 660 students the object of this research was character movie-based character education result asessment test. Data collection instrument used in this study was the character moviebased character education result asessment test and effectiveness validation questionnaire. The quality test technique used for the test items was a confirmatory analysis factor approach the difference in students’ asessment for students based on their parents’ socio-economic status was measured using Chis-Square technique and the difference in the students’ achievement of character education outcomes for students based on their parents’ socio-economic status was measure using the Analyze of Varience. The results of the study were: 1) 88 items of character movie-based character education result asesment test were abtained t; 2) the qualitytest of character test items shows that 81test questions were vakid and reliability index of 0.933 (very good) using Alpha Cronbach technique; 3) according to students’ asessment towards the asessment test, the was considered as very effectiv; 4) character education achievement that tested using the test showed that there were 51,2% students’ were in the good character category and 48,8% students were in the quite good character; 5) according to the students’ asessment on students with parents’ that have high, medium and low socioeconomic status, there were 32 items effectivity, is means the asessment test of the character movie-based character result was effectively used by students’ based on their parents’ socio-economic status.; 6) there is no significant difference in the achievement of character education outcomes for students based on their parents’ socio-economic status. Keywords: effectiveness validation, validity, reliability, achievement of character education, parents’ socio-economic status viii

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ix

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI x

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL. .....................................................................................................i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING. .................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN.................................................................................... iii HALAMAN MOTTO. ................................................................................................ iv HALAMAN PERSEMBAHAN. .................................................................................v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA. .......................................... iv HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI. ......................... vi ABSTRAK ................................................................................................................... vii ABSTRACT .................................................................................................................. vii KATA PENGANTAR ..................................................................................................x DAFTAR ISI. ...............................................................................................................xii DAFTAR TABEL...................................................................................................... xiii DAFTAR GAMBAR................................................................................................. xiv DAFTAR LAMPIRAN. ............................................................................................ xv BAB I PENDAHULUAN . ...........................................................................................1 A. Latar Belakang masalah .................................................................................... 1 B. Identifikasi Masalah. ......................................................................................... 7 C. Pembatasan Masalah atau Fokus Masalah. ...................................................... 8 D. Rumusan Masalah. ............................................................................................. 9 E. Tujuan Penelitian. ............................................................................................. 10 F. Manfaat Penelitian............................................................................................ 11 1. Manfaat Teoritis . ....................................................................................... 11 2. Manfaat Praktis. ......................................................................................... 11 G. Batasan Istilah. .................................................................................................. 13 BAB II KAJIAN PUSTAKA . .................................................................................. 15 A. Hakikat Pendidikan Karakter di Sekolah . ..................................................... 15 1. Pengertian Karakter. .................................................................................. 15 2. Pengertian Pendidikan Karakter ............................................................... 19 3. Tujuan, Fungsi, dan Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter ................... 20 4. Nilai-nilai yang Ditanamkan dalam Pendidikan ..................................... 23 xi

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. Nilai-nilai yang Ditanamkan dalam Pendidikan Karakter ............................. 26 B. Hakikat Evaluasi, Asesmen, dan Tes. ............................................................ 29 1. Pengertian Evaluasi, Asesmen, dan Tes. ................................................. 29 2. Tujuan dan Fungsi Asesmen ..................................................................... 32 3. Ruang Lingkup Asesmen ............................................................................. 34 4. Prinsip-prinsip Asesmen ........................................................................... 34 5. Jenis-Jenis Asesmen .................................................................................. 37 6. Teknik-teknik Asesmen ............................................................................. 40 7. Tes sebagai Teknk Asesmen ..................................................................... 42 C. Asesmen Pendidikan Karakter. ....................................................................... 43 1. Pengertian Asesmen Pendidikan Karakter .............................................. 43 2. Manfaat Asesmen Pendidikan Karakter .................................................. 43 3. Teknik-teknik Asesmen Pendidikan Karakter ........................................ 44 4. Sistem Penilaian Karakter Menurut Pedoman 2010............................... 45 5. Kekuatan dan Kelemahan Tes ................................................................. 48 6. Prinsip-prinsip Pengembangan dan Penggunaan tes dalam Pendidikan Karakter ...................................................................................................... 55 7. Hambatan-hambatan dan Kesulitan asesmen Pendidikan Karakter di Indonesia ................................................................................................. 62 D. Media Film Dalam Pendidikan Karakter. ...................................................... 66 1. Karakteristik Media Film Karakter .......................................................... 66 2. Kekuatan-kekuatan Media Film dalam Pendidikan Karakter ............... 67 3. Prinsip-prinsip Penggunanan Media Film dalam Pendidikan Karakter ........ 68 4. Film sebagai Media Asesmen ................................................................... 69 E. Hakikat Status Sosial Ekonomi ....................................................................... 70 1. Pengertian Status, Sosial, dan Ekonomi . ................................................ 70 2. Klasifikasi Status Sosial Ekonomi ........................................................... 74 3. Tingkat Status Sosial Ekonomi ..................................................................... 75 F. Kajian Penalitian yang Relevan. ..................................................................... 76 G. Kerangka Pikir. ................................................................................................. 77 H. Hipotesis ............................................................................................................. 78 xii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN . ....................................................................... 80 A. Model Penelitian dan Pengembangan ........................................................... 80 B. Prosedur Pengembangan ............................................................................... 84 1. Revisi Oprasional Produk ........................................................................ 85 2. Uji Lapangan Produk ............................................................................... 86 C. Uji Coba Pemakaian Produk ......................................................................... 87 1. Uji Coba Desain ...................................................................................... 87 2. Tempat penelitian dan Subjek Uji Coba Produk ......................................... 87 D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data .................................................. 90 1.Teknik Pengumpulan Data ....................................................................... 90 2. Instrumen Pengumpulan Data .................................................................... 91 E. Teknik Analisis Data ...................................................................................... 93 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................... 104 A. Hasil Penelitian ............................................................................................... 104 B. Pembahasan ..................................................................................................... 123 BAB V PENUTUP ..................................................................................................... 134 A. Kesimpulan ..................................................................................................... 144 B. Keterbatasan Penelitian.................................................................................. 136 C. Saran ............................................................................................................... 137 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 139 LAMPIRAN ............................................................................................................... 144 xiii

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3.1Tempat Penelitian ............................................................................................. 88 Tabel 3.2 Jumlah Subjek Uji Coba Penelitian ................................................................. 88 Tabel 3.3 Waktu Penelitian ............................................................................................. 89 Tabel 3.4 Variabel laten, aspek yang diukur, skala dan data instrumen yang digunakan ........................................................................................................................ 92 Tabel 3.5 Norma Kategorisasi PAP Tipe 1 .................................................................... 100 Tabel 3.6 Norma Kategorisasi ....................................................................................... 101 Tabel 4.1 Hasil Analisis Faktor Variabel 1 .................................................................... 107 Tabel 4.2 Total variance Explained ............................................................................... 107 Tabel 4.3Rototed Component Matrix ............................................................................ 108 Tabel 4.4 Hasil Analisis Faktor Variabel 2 dan 3 .......................................................... 108 Tabel 4.5 Total variance Explained ............................................................................... 109 Tabel 4.6 Rototed Component Matrix ........................................................................... 110 Tabel 4.7 Hasil Analisis Faktor Variabel 4 .................................................................... 112 Tabel 4.8 Total variance Explained ............................................................................... 112 Tabel 4.9 Rototed Component Matrix ........................................................................... 113 Tabel 4.10 Hasil Analisis Faktor Variabel 4 .................................................................. 113 Tabel 4.11Total variance Explained .............................................................................. 113 Tabel 4.12 Rototed Component Matrix ......................................................................... 114 Tabel 4.13 Reliabilitas ................................................................................................... 115 Tabel 4.14 Scale All Variabeles .................................................................................... 115 xiv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.15 Rekapitulasi Hasil Efektifitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter .......................................................................... 116 Tabel 4.16 Kategorisasi Hasil Efektifitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Menurut Penilaian Siswa pada Beberapa SMP di Indonesia .............................................. 118 Tabel 4.17 Rumus Norma Tiga Kategorisasi .............................................................. 119 Tabel 4.18 Pengkategorisasian ..................................................................................... 119 Tabel 4.19 Kategori Capaian Hasil Pendidikan Karakter ..................................120 Tabel 4.20 Persentase Penilaian Siswa terhadap penggunana Soal Tes Asesmen Berdasarkan Status Sosial Ekonomi Orang Tuannya...........................................120 Tabel 4.21 Deskripsi Capaian Hasil Pendidikan Karakter Siswa ......................123 Tabel 4.22 Tes AnovaHasil Pendidikan Karakter Siswa ....................................124 xv

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Komponen Karakter ..................................................................... 18 Gambar 2.2 Kerangka Pikir Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karaker ....................................................................... 78 Gambar 3. 1 Bagan Prosedur Pengembangan (Borg and Gall, 1998) ......... 84 Gambar 3. 2 Rumus Norma Tiga Kategorisasi ................................................. 101 Gambar 4.1 Contoh Potongan Film Soal Tes Hasil Pendidikan Karakter ......... 106 Gambar 4.2 DVD Dokumentasi Soal Tes Hasil Pendidikan Karakter ...... 107 xvi

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Daftar Lampiran Lampiran 1 Tabulasi Efektivitas ............................................................................. 147 Lampiran 2 Tabulasi Capaian Hail ......................................................................... 157 Lampiran 3 Tabulas Validitas dan Reliabilitas ...................................................... 170 Lampiran 4 Lampiran Perbedaan Penilaian Siswa Terhadap Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter ............................................................................. 174 Lampiran 5 Lembar Jawab ...................................................................................... 185 Lampiran 6 Lembar Penilaian ................................................................................. 186 Lampiran 7 Surat Ijin Penelitian .............................................................................. 187 Lampiran 8 MoU ....................................................................................................... 188 Lampiran 9 Surat Keterangan Sudah Melaksanakan Penelitian ......................... 189 Lampiran 10 Daftar Hadir ........................................................................................ 190 Lampiran 11 Dokumentasi ....................................................................................... 194 xvii

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini dipaparkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan batasan istilah. Paparan bersifat singkat, ringkas dan padat. A. Latar Belakang Masalah Pendidikan sesungguhnya merupakan suatu usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan tersebut tentunya sejalan dengan Undang-Undang Nomor. 20 tahun 2003 pasal 3 tentang Pendidikan Nasional yang menyatakan “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” Kemendiknas, (2010). Oleh sebab itu, diperlukannya evaluasi atau penilaian mengenai hasil pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah-sekolah. Lalu, bagaimana selama ini guru-guru melakukan evaluasi terhadap hasil pendidikan karakter? Apakah evaluasi yang dilakukan sudah memenuhi standar yang baik? Apakah sudah cukup efektif evaluasi yang dilakukan untuk mengukur karakter peserta didik? Kenyataannya pemerintah belum mengembangkan pengukuran atau alat tes atau model evaluasi yang digunakan untuk menilai hasil pendidikan karakter siswa di sekolah terutama 1

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 di SMP. Kalaupun ada, model evaluasi yang digunakan hanya mengukur sebatas pada skala sikap dan berhenti pada skala kognitif saja, mestinya capaian pendidikan diukur sampai pada takaran tindakan. Maka, tidak heran apabila masih banyak penyimpangan perilaku di kalangan pelajar seperti: mencontek, klitih, tindakan kriminalitas, bullying, berkata-kata kasar, melawan orang tua, dan kejadian pada 11 Februari 2018 lalu dimana ada tawuran antar-remaja di Ciracas, pelajar SD dan SMP tewas. (Barus, 2016) mengatakan “perlu dilakukan evaluasi komprehensif tentang keterlaksanan, hambatan-hambatan, dan efektivitas pendidikan karakter yang telah berlangsung”. Maka dari itu, untuk melakukan evaluasi dibutuhkan juga proses penilaian (asesmen) dan hasil tes. Guna memperoleh hasil tes tentunya dibutuhkan suatu alat pendukung berupa alat tes atau alat ukur yang memadai agar dapat mengetahui sejauh mana pendidikan karakter sudah berjalan secara efektif di sekolah. Sayangnya, dalam pendidikan karakter di Indonesia masih minim perhatian dari pemerintah dalam penggunaan alat tes penilaian karakter peserta didik. Hal itu nampak dari belum tersediannya model evaluasi yang digunakan untuk menilai pendidikan karakter peserta didik. Kalaupun ada, model evaluasi yang digunakan hanya mengukur sebatas pada skala sikap dan berhenti pada skala kognitif saja, mestinya capaian pendidikan diukur sampai pada tataran tindakan. Selama ini model evaluasi hanya dalam bentuk observasi, skala sikap, dan penerapan sistem poin, yang tentunya memiliki kelemahan dan subjektifitas. Barus (2016) mengungkapkan bahwa:

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 Penerapan sistem poin yang berasumsi bahwa pelanggaran pelanggaran „kejahatan‟ siswa harus dihitung, dicatat, dan ditakar sangat tidak berakar dan tidak memanusiakan. Mengambil pandangan yang sepenuhnya negative pada anak dengan menganggap bahwa anak dilahirkan berdosa dan jahat dan bahwa adalah tugas pendidikan untuk memperbaiki ini melalui hukuman dan melatih ketaatan, merupakan langkah awal kekeliruan dalam penerapan sistem poin. Maka untuk itu, tim penelitian sosial, humaniora dan pendidikan (PSHP) Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma merancang suatu model evaluasi hasil pendidikan karakter. Model pendidikan Karakter di SMP Berbasis Layanan Bimbingan Klasikal Kolaboratif dengan Pendekatan Experiential Learning telah dikembangkan melalui penelitian Stranas tahun 2014-2016 tentang prototipe soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. Penelitian tahun 2014-2016 membuktikan bahwa 440 soal karakter yang di uji ternyata valid, reliabilitasnya sangat bagus, memiliki daya beda yang baik, dan memiliki tingkat kesukaran yang berdiferensiasi. Soal-soal yang dikembangkan sudah memberikan bukti cukup baik, namun pengujian efektivitasnya perlu dilanjutkan dan diujikan pada wilayah yang lebih luas. Sedangkan, model asesmen/evaluasinya belum dikembangkan. Model pendidikan karakter hasil pengembangan tahun 2014-2016 tersebut perlu diinternalisasikan pada skala nasional. Untuk itu, diterbitkan Buku Pendidikan Karakter di SMP jilid 1, 2, dan 3 (ber-ISBN) dan dipublikasikan secara nasional. Sambil membangun legitimasi dan gerakan habitualisasi produk penelitian tersebut pada 10 SMP secara nasional, sustainabilitas proses penelitian pengembangan ini perlu dilanjutkan dengan penguatan sistem penilaiannya dan ditargetkan dapat menghasilkan produk

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 berupa Model Asesmen Pendidikan Karakter di SMP Berbasis Media Film Karakter, yang diharapkan dapat digunakan guru mata pelajaran dan khususnya guru BK dalam melaksanakan asesmen pendidikan karakter yang lebih efektif, objektif, valid, praktis, dan berkeadilan di SMP (Barus, 2017). Bila meninjau dari hasil penelitia Barus (2017) yang menjelaskan bahwa: “most of the respondents (73%) acknowledge that the character education assessment is very important, while 25% of 51 teacher considered the assessment as important and only 1 person (2%) rated it as less important,” artinya, asesmen hasil pendidikan karakter dianggap penting oleh (73%) responden hal tersebut penting untuk mengetahui tingkat manakah perilaku peserta didik yang tercermin berkarakter mengalami peningkatan dan sampai tingkat manakah peserta didik berkembang dalam hal mempraktikan karakter tersebut. Upaya untuk mengukur keberhasilan pendidikan karakter memang bukanlah hal yang mudah. Banyak tantangan dan aspek-aspek yang perlu untuk diperhitungan dan dipertimbangan dalam menilai karakter siswa. Aspekaspek seperti latar belakang keluarga, lokasi tempat tinggal, pekerjaan, status sosial ekonomi dan aspek psikologi perkembangan. Aspek-aspek tersebut kemungkinan besar dapat mempengaruhi penyerapan pendidikan karakter yang diberikan oleh keluarga, sekolah bahkan lingkungan sekitar anak bertumbuh. Banyak tantangan dan aspek-aspek yang perlu untuk diperhitungkan dan dipertimbangkan dalam menilai karakter siswa. Aspek-aspek seperti latar belakang keluarga, lokasi tempat tinggal, pekerjaan orang tua, perekonomian, latar belakang pendidikan orang tua, suku, dan status orang tua. Perbedaan ini terdapat dalam diri siswa yang status sosial ekonomi orang tuanya tinggi, sedang, dan rendah menaruh perhatian atau menginternalisasi pentingnya pendidikan karakter yang akan membentuk karakter dirinya dan karakter orang-orang di sekitarnya. Apabila melihat status sosial ekonomi orang tua yang sangat tinggi kadang kita mengangap tingkat penyerapan pendidikan karakternya menjadi

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 lebih tinggi dari pada siswa yang status sosial ekonomi orang tuanya sedang , dan status sosial ekonomi yang rendah. Keluarga merupakan tempat pembentukan karakter anak yang utama, terlebih pada masa-masa awal pertumbuhan mereka pada tahap remaja. Hal ini di dukukung dengan pendapat Gerungan (2004) yang menyatakan bahwa keadaan status sosial orang tua mempunyai peranan terhadap perkembangan anak-anak, adanya perekonomian yang cukup, lingkungan material yang dihadapi anak dalam keluarga lebih luas maka dapat memberikan kesempatan untuk mengembangkan berbagai kecakapan. Maka Tim Peneliti Sosial, Humaniora, dan Pendidikan (PSHP) Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Barus (2017) merancang suatu model evaluasi dalam bentuk tes berbasis film. Barus (2017) menegaskan model pendidikan Karakter di SMP Berbasis Layanan Bimbingan Klasikal Kolaboratif dengan Pendekatan Experiential Learning telah dikembangkan melalui penelitian Stranas tahun 2014-2016, namun model penilaiannya belum dikembangkan. Tim pengembang asesmen hasil pendidikan karakter telah berhasil menyusun 440 soal tes hasil pendidikan karakter dan dalam pengujian terbatas ternyata valid, reliabilitasnya sangat bagus, memiliki daya beda yang baik, dan memiliki tingkat kesukaran yang berdiferensiasi. Soal-soal yang dikembangkan sudah memberikan bukti cukup baik, namun pengujian kualitas dan efektivitasnya perlu dilanjutkan dan diuji pada wilayah yang lebih luas. Media film ini dipilih karena film lebih menggambarkan aspek sikap, afeksi, akomodasi, dan perilaku berkarakter yang dapat menginternalisasi

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 dibandingkan dengan pengukuran metode lainnya. Sesuai dengan kekuatan film menurut Kustandi & Sutjipto (2013) bahwa film dapat menyajikan suatu proses dengan lebih efektif dibandingkan dengan media lain, film dapat melengkapi pengalaman-pengalaman dasar dari peserta didik ketika membaca, berdiskusi, dan praktik. Film ini berdurasi 1-2 menit yang memvisualisasikan dilema moral, berdasarkan film tersebut siswa diminta untuk menjawab soal-soal yang menyertainya. Penggunaan evaluasi berbasis film dirasa efektif karena langsung menyentuh pada dilema-dilema moral remaja. Film-film yang akanditampilkan sesuai dengan nilai-nilai karakter peserta didik di SMP untuk lebih secara nyata merasakan dan memahami dilema moral yang terjadi. Sehingga yang dinilai bukan hanya perilaku anak yang bermasalah saja, namun semua peserta didik yang ada di sekolah. Tidak ada lagi penilaian objektivitas (like and dislike) dan tidak ada lagi kelemahan-kelemahan observasi yang dapat ditutupi oleh guru. Berdasarkan telah kebutuhan di atas, peneliti sebagai mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma bersama tim pada kesempatan ini peneliti ingin melanjutkan tahapan penelitian dan pengembangan (Research and Development) yang sudah terlebih dahulu di dilakukan oleh Tim Penelitian Sosial, Humaniora, dan Pendidikan (PSHP) Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma (2017) sampai pada tahap ke 6. Oleh sebab itu, peneliti ingin melanjutkan pengujian produk tahap ke 7 dan 8, yaitu Revisi Produk dan Uji Coba Pemakaian dengan

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 mengangkat topik tentang Analisis Validasi Efektivitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter di SMP. Penelitian ini akan memasuki tahapan diseminasi model dan hilirisasi produk. Dari hasil penelitian sebelumnya belum diketahui efektivitas soal tes ini dilihat berdasarkan status sosial ekonomi orang tua. Maka peneliti tertarik untuk mengangkat judul “Validasi Efektifitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter pada Siswa Berdasarkan Status Sosial Ekonomi Orang Tuanya di 10 SMP di Indonesia” B. Identifikasi Masalah Berdasarkan deskripsi latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasi berbagai masalah, sebagai berikut: 1. Penilaian karakter siswa kebanyakan mengandalkan observasi, kurang objektif dan kurang berkeadilan dalam menilai karakter siswa, guru hanya menerapkan sistem penilaian dengan mengira-ngira saja dan besar kemungkinan mengandung unsur subjektifitas yang tinggi atau like and dislike. 2. Penilaian pendidikan karakter yang ada terlalu fokus mengukur peserta didik yang bermasalah saja dan tidak menyeluruh. 3. Para guru belum mengenal cara lain untuk mengukur karakter peserta didik dan belum menyentuh model pengukuran berbasis tes film karakter.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8 4. Sampai sekarang pelaksanaan pendidikan karakter, terutama di SMP masih berada dalam tahap pengetahuan/kognitif dan belum sampai pada tahap internalisasi kehidupan sehari-hari. 5. Model evaluasi yang dilakukan selama ini hanya menggunakan paper based test, wawancara/tanya jawab, cerita, observasi, penilaian diri, dan pengamatan. Hal ini dinilai kurang optimal, sehingga peserta didik kurang menghayati/menginternalisasi dalam kehidupan mereka. 6. Belum pernah dilakukan evaluasi pendidikan karakter berbasis film pada siswa berdasarkan latar belakang status sosial ekonomi orang tua. 7. Beberapa SMP di Indonesia belum pernah melaksanakan model pengukuran karakter menggunakan soal tes asesmen penelitian pendidikan karakter berbasis film. 8. Penggunaan film dirasa cukup efektif dalam memperkenalkan kasuskasus degradasi moral, dilema moral, dan pertentangan nilai yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari pada siswa SMP, dibandingkan hanya dengan menyebar kuesioner, wawancara, ataupun cerita kepada peserta didik. C. Pembatasan Masalah atau Fokus Penelitian Berdasarkan identifikasi masalah dan mengingat berbagai keterbatasan peneliti, maka fokus kajian diarahkan untuk menjawab masalahmasalah pada butir 7, 8, dan 11. Fokus penelitian ini diarahkan pada tahap pengembangan dan uji penggunaan alat dan evaluasi efektifitas soal tes

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9 pendidikan karakter siswa berbasis film pada wilayah yang lebih luas dengan karakteristik (status sosial ekonomi orang tua. D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang penelitian ini, dirumuskan permasalahan yang menjadi fokus penelitian dan pengembangan (research and development) sebagai berikut: 1. Seperti apa produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yang di ujicobakan di 10 SMP di Indonesia ? 2. Seberapa baik kualitas soal-soal tes asesmen hasil penelitian pendidikan karakter berbasis film karakter yang di ujicobakan di 10 SMP di Indonesia? 3. Menurut penilaian siswa kualitas efektifitas apa saja yang terpenuhi dalam soal tes asesmen yang dikembangkan tersebut? 4. Seperti apa capaian hasil pendidikan karakter siswa yang diukur dengan menggunakan soal tes yang dikembangkan tersebut pada sepuluh di 10 SMP di Indonesia ? 5. Apakah terdapat perbedaan penilaian siswa dari status sosial ekonomi orang tua terhadap efektifitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter di Indonesia ? 6. Apakah terdapat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berdasarkan status sosial ekonomi orang tua dengan menggunakan produk soal tersebut?

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10 E. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk : 1. Menghasilkan soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter yang diujicobakan di 10 SMP di Indonesia. 2. Mengukur seberapa baik kualitas soal-soal tes asesmen hasil penelitian pendidikan karakter berbasis film yang dikembangkan berdasarkan nilai validitas dan reliabilitas. 3. Memperoleh informasi mengenai nilai-nilai efektifitas yang terbukti sangat efektif, efektif, dan cukup efektif menurut penilaian siswa dalam penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter menurut penilaian siswa di 10 SMP di Indonesia. 4. Memperoleh informasi mengenai capaian hasil pendidikan karakter yang diukur dengan menggunakan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter di 10 SMP di Indonesia. 5. Memperoleh informasi mengenai perbedaan penilaian siswa dari status sosial ekonomi orang tua terhadap efektifitas penggunaan soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter di 10 SMP di Indonesia. 6. Memperoleh informasi mengenai perbedaan hasil pendidikan karakter dari soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter berdasarkan status sosial ekonomi orang tua.

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11 F. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat untuk semua pihak, baik itu manfaat secara teoritis maupun secara praktis. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan dan bahan kajian tentang efektivitas penilaian karakter siswa di SMP serta diharapkan mampu menambah wawasan dan pengembangan penelitian serupa terutama pada ranah pendidikan karakter. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Pemerintah Penelitian ini memberikan sumbangan mengenai evaluasi/penilaian pengukuran pendidikan karakter menggunakan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. Selain itu penelitian ini juga dilaksanakan dalam rangka untuk perbaikan/optimalisasi sistem penilaian dan pelaksanaan pendidikan karakter di Indonesia. b. Bagi Kepala Sekolah dan Guru Penelitian ini diharapkan mampu menjadi acuan bagi kepala sekolah dalam mengambil keputusan dan kebijakan dalam pengembangan pendidikan karakter di sekolah. Bagi guru pendidik karakter (konselor sekolah/guru BK dan guru mata pelajaran) di SMP, proses dan produk penelitian pengembangan ini diharapkan dapat

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 memberikan suatu model asesmen pendidikan karakter berbasis media film yang lebih efektif (fisibel, realistik, ekonomis, relatif praktis dan mudah digunakan) untuk mengukur hasil pendidikan karakter di sekolah. c. Bagi lembaga pendidikan Prosedur dan hasil penelitian pengembangan ini dapat digunakan sebagai bahan referensi alternatif untuk pengembangan konsep bimbingan dan konseling pendidikan karakter di sekolah, kususnya di SMP. d. Bagi Peneliti Peneliti dapat mengetahui, memahami efektifitas model penilaian pendidikan karakter melalui soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film. Selain itu peneliti juga berkesempatan untuk membuat dan mengaplikasikan soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis media film di sekolah. e. Bagi peneliti lain Prosedur penelitian ini dapat digunakan oleh penelitia lain sebagai refrensi dalam mengembangkan penelitian dengan topik pendidikan karakter di sekolah. Selain itu penelitian ini juga dapat digunakan peneliti lain sebagai sumber pengetahuan tambahan bagi peneliti yang berminat meneliti pengembangan soal tes hasil pendidikan karakter berbasis media film guna meningkatkan karakter positif peserta didik.

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 G. BATASAN ISTILAH Adapun definisi operasional variabel dalam penelitian ini, yaitu: 1. Efektivitas adalah suatu keadaan/kondisi untuk mengukur kegiatan tertentu apakah dapat berhasil sesuai dengan target yang telah ditentukan atau tidak. Target tersebut dapat dilihat melalui kuantitas, kualitas, dan waktu pelaksanaan kegiataan, dimana ketika semakin tinggi presentase target yang dicapai maka efektivitasnya juga akan semakin tinggi. 2. Soal tes adalah seperangkat pernyataan/pertanyaan yang berbentuk dilema moral dan memuat beberapa pertanyaan seputar pendidikan karakter untuk mengukur perilaku secara objektif. 3. Asesmen hasil adalah merupakan proses untuk mengetahui apakah proses dan hasil dari suatu program kegiatan telah sesuai dengan tujuan atau kriteria yang ditetapkan. 4. Pendidikan karakter adalah usaha-usaha yang dilakukan oleh lembaga sekolah melalui guru yang memiliki tujuan untuk membentuk karakter pribadi siswa secara otentik dan mengarah pada perilaku/karakter yang baik demi kemajuan penerus bangsa. 5. Penggunaan film sebagai media film adalah potongan-potongan video yang berkaitan dengan dilema moral pada kebanyakan anak SMP dan dapat mengukur tentang sejauh mana siswa menginternalisasi video tersebut dalam kehidupannya. 6. Status sosial ekonomi tinggi adalah golongan kaya raya seperti golongan konglomerat, kelompok eksekutif, dan sebagainya

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 7. Status sosial ekonomi sedang adalah kaum profesional dan para pemilik toko dan bisnis yang lebih kecil. 8. Status sosial ekonomi rendah adalah golongan yang memperoleh pendapatan atau penerimaan sebagai imbalan terhadap kerja mereka yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kebutuhan pokok.

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II KAJIAN PUSTAKA Bab ini berisi landasan teori yang dijadikan dasar untuk membangun kerangka konseptual. Berdasarkan judul penelitian, maka dalam bab ini peneliti mengemukakan beberapa konsep yang berhubungan dengan variabel penelitian, yaitu hakikat pendidikan karakter di sekolah; hakikat evaluasi, asesmen dan tes; hakikat asesmen pendidikan karakter di sekolah; media film dalam pendidikan karakter; hakikat status sosial ekonomi; kajian penelitian yang relevan, dan kerangka pikir. A. Hakikat Pendidikan Karakter di Sekolah 1. Pengertian Karakter Scerenko (Samani & Hariyanto, 2011: 41) mendefinisikan bahwa karakter sebagai atribut atau ciri-ciri yang membentuk dan membedakan ciri pribadi, ciri etis, dan kompleksitas mental dari seseorang, suatu kelompok atau bangsa. Sedangkan, Berkowitz (Doni Koesoema, 2012: 25) mendefinisikan karakter sebagai “sekumpulan ciri-ciri (characteristics) psikologis yang memengaruhi kemampuan dan kecondongan pribadi agar dapat berfungsi secara moral.” Ia juga mengatakan bahwa segala hal yang menumbuhkan kehidupan psikologis siswa secara sehat dan dewasa merupakan bentuk nyata dari pendidikan karakter. Samani & Hariyanto (2011: 41) mengungkapkan bahwa: karakter dapat dianggap sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama 15

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16 manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya, adat istiadat, dan estetika. Menurut Pritchard (Koesoema, 2012: 27) karakter adalah “a compex set of relatively persistent qualities of the individual person, and the term has a definite positive connotation when it is used in discussions of moral education.”Artinya, karakter merupakan sekumpulan kualitas moral yang relative stabil dalam diri seseorang.Karakter ini memiliki konotasi positif ketika diterapkan dalam diskusi moral. Beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan cerminan dari kepribadian secara utuh dari seseorang: mentalitas, sikap, cara berpikir, dan perilaku berdasarkan norma-norma agama, budaya, adat istiadat sehingga seseorang berusaha melakukan hal yang baik dalam bentuk nyata di kehidupan sehari-hari. Berkowitz (Koesoema, 2012: 25) mendefinisikan karakter sebagai sekumpulan karakter psikologis yang memengaruhi kemampuan dan kecondongan pribadi agar dapat berfungsi secara moral. Sedangkan menurut Pritchard (Doni Koesoema, 2012: 27) karakter adalah “a compex set of relatively persistent qualities of the individual person, and the term has a definite positive connotation when it is used in discussions of moral education.” Artinya, karakter merupakan sekumpulan kualitas moral yang relative stabil dalam diri seseorang. Karakter ini memiliki konotasi positif

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 ketika diterapkan dalam diskusi moral. Dalam buku yang ditulis oleh Samani & Hariyanto (2011: 41) mengungkapkan bahwa: karakter dapat dianggap sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesame manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya, adat istiadat, dan estetika. Lickona (Akhwan, 2014: 61) mengatakan bahwa karakter berkaitan dengan ketiga komponen, yaitu konsep moral (moral knowing), sikap moral (moral feeling), dan perilaku moral (moral behavior). Ia juga mengatakan bahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Berkaitan dengan hal tersebut, Yaumi (2014: 7) mengatakan bahwa komponen karakter adalah moralitas, kebenaran, kebaikan, kekuatan, kekuatan, dan sikap seseorang yang ditunjukkan kepada orang lain melalui tindakan. Ia juga mengatakan, karakter seseorang terpisah dari moralitasnya, baik buruknya karakter tergambar dalam moralitas yang dimiliki. Begitu pula dengan kebenaran yang merupakan perwujudan dari karakter. Kebenaran tidak akan terbangun dengan sendirinya tanpa adanya karakter. Moralitas dan kebenaran yang telah terbentuk merupakan perwujudan dari perbuatan baik. Kebaikan inilah yang mendorong suatu kekuatan dalam diri seseorang untuk menegakkan keadilan. Kebenaran, kebaikan, dan kekuatan sikap adalah bagian integral yang menyatu dengan karakter.

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18 Moralitas Kebenaran KARAKTER Sikap Kekuatan Kebaikan Gambar 2.1 Komponen Karakter Beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa moral dan karakter adalah dua hal yang berbeda. Moral berarti pengetahuan seseorang terhadap hal baik atau buruk, sedangkan karakter adalah tabiat, tindakan/kebiasaan seseorang yang langsung ditentukan oleh otak. Meskipun keduanya memiliki arti yang berbeda, namun moral dan karakter memiliki keterkaitan. Karakter memiliki makna lebih tinggi dari pada moral, karena bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah. Moral merupakan salah satu komponen yang membentuk karakter individu ketika moral behavior dapat dilakukan secara berulang. Maka, dapat dikatakan karakter adalah suatu kebiasaan (habituation) untuk melakukan yang baik berdasarkan pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan.

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 2. Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Kevin Ryan dan Bohlin (dalam Fathurrohman, dkk; 2013) pendidikan karakter adalah upaya sungguh-sungguh untuk membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak dengan landasan inti nilainilai etis. Kemudian ia menambahkan, karakter mulia meliputi pengetahuan tentang kebaikan, dan akhirnya benar-benar melakukan kebaikan, lalu menimbulkan komitmen (niat) terhadap kebaikan , dan akhirnya benar-benar melakukan kebaikan. Karakter mengacu kepada serangkaian pengetahuan, sikap dan motivasi. Ramli (dalam Fathurrohman, dkk; 2013) memaparkan pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik. Burke (Samani & Hariyanto, 2011: 43) juga mengatakan bahwa “pendidikan karakter semata-mata merupakan bagian dari pembelajaran yang baik dan merupakan bagian yang fundamental dari pendidikan yang baik.” Sedangkan, menurut Samani & Hariyanto (2011: 44) “pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa.” Mereka juga menyampaikan bahwa pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk,

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Berdasarkan beberapa pengertian pendidikan karakter menurut ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter usaha membantu siswa untuk memahami, peduli, bertindak dengan mengoptimalkan potensi siswa yang disertai dengan kesadaran, emosi, dan motivasinya. Tujuannya untuk membentuk pribadi anak supaya menjadi manusia yang baik. 3. Tujuan, Fungsi, dan Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter a. Tujuan pendidikan karakter Pendidikan manusia yang karakter berakhlak diselenggarakan mulia untuk dan bermoral mewujudkan baik sehingga kelangsungan hidup dan perkembangan manusia dapat dijaga dan dipelihara. Lickona (2012) menjelaskan bahwa pendidikan karakter mengharapkan peserta didik semakin mampu menilai, peduli dan bertindak sesuai dengan kebenaran yang diyakini. Artinya pendidikan karakter menjadi bekal bagi peserta didik dalam menggapai persoalan yang terjadi di masyarakat dengan prinsip nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. Kemendiknas (2010:3) mengatakan bahwa pendidikan karakter bertujuan mengembangkan nilai-nilai yang membentuk karakter bangsa yaitu Pancasila, meliputi: 1) Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 2) Membangun bangsa yang berkarakter Pancasila. 3) Mengembangkan potensi warga negara agar memiliki sifat percaya diri, bangga pada bangsa dan negaranya serta mencintai umat manusia. b. Fungsi pendidikan karakter Menurut Fathurrohman, dkk (2013: 97) fungsi pendidikan karakter adalah: 1) Pengembangan: pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi prilaku yang baik bagi peserta didik yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan karakter dan karakter bangsa. 2) Perbaikan: memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat. 3) Penyaring: untuk menyaring karakter-karakter bangsa sendiri dan karakter bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai karakter dan karakter bangsa. c. Prinsip-prinsip pendidikan karakter Menurut Direktorat pembinaan SMP (Fathurrohman, 2013: 145146). Pendidikan karakter harus didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: 1) Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 2) Mengidentifikasi karakter secara komprehensif supaya mencakup pemikiran, perasaan, dan perilaku. 3) Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk membangun karakter. 4) Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepedulian. 5) Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan perilaku yang baik. 6) Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang, yang menghargai semua peserta didik, membangun karakter mereka, dan membantu mereka untuk sukses. 7) Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri para peserta didik. 8) Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang sama. 9) Adanya pembagian kepemimpinan moral dan dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan karakter. 10) Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter. 11) Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guruguru karakter, dan manifestasi karakter.

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 4. Nilai-Nilai Karakter yang Ditanamkan dalam Pendidikan Berdasarkan Pusat Kurikulum Balitbang Diknas (Suparno, 2015) terdapat 18 nilai karakter yang perlu dikembangkan untuk peserta didik. Kedelapan belas nilai beserta deskripsi untuk masing-masing nilai dijelaskan sebagai berikut. a. Nilai religious Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. b. Jujur Perilaku yang dilaksanakan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan. c. Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, gender, jenis kelamin, pendapat, sikap dan tindakan oranglain yang bereda dari dirinya. d. Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24 e. Kerja keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. f. Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari esuatu yang telah dimiliki. g. Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada oang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. h. Demokratis Cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. i. Rasa ingin tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat, dan didengar. j. Semangat kebangsaan Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 k. Cinta tanah air Cara berpikir, bersikap, dan berbuat pada diri seseorang yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, serta penghargaan tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa. l. Menghargai prestasi Sikap dan tindakan mendorong diri untuk menghasilkan sesuatu berguna bagi masyarakat, serta menghormati keberhasilan orang lain. m. Bersahabat/komunikatif Tindakan yang memperhatikan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain. n. Cinta damai Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya. o. Gemar membaca Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya. p. Peduli lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegh kerusakan pada lingkungan alam disekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26 q. Peduli sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan tanpa melihat pengkotakan sosial. Baik agama, budaya, gender, jenis kelamin, dan status sosial. r. Tanggung jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas serta kewajiban yang seharusnya dilakukan. Beberapa karakter tersebut yang peneliti jadikan landasan untuk mengukur karakter beberapa anak SMP di Indonesia. Karakter-karakter tersebut diciptakan dalam bentuk potongan film pendek yang diikuti dengan soal-soal karakter yang sesuai dengan potongan film tersebut. 5. Nilai-nilai Karakter untuk SMP Berdasarkan kajian nilai-nilai agama, norma-norma sosial, peraturan/hukum, etika akademik, dan prinsip-prinsip HAM, telah teridentifikasi 80 butir nilai karakter yang dikelompokkan menjadi lima, yaitu nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan (1) Tuhan Yang Maha Esa, (2) diri sendiri, (3) sesama manusia, dan (4) lingkungan, serta (5) kebangsaan. Namun demikian, penanaman kedelapanpuluh nilai tersebut merupakan hal yang sangat sulit. Oleh karena itu, pada tingkat SMP dipilih 20 nilai karakter utama yang disarikan dari butir-butir Standar Kompetensi Kelulusan (SKL) SMP (Permen diknas nomor 23 tahun 2006) dan SK/KD (Permen diknas nomor 22 tahun 2006). Berikut adalah daftar nilai utama yang dimaksud dan diskripsi ringkasnya.

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 1. Nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan (Religius) Pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan dan/atau ajaran agamanya. 2. Nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri: a. Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain. b. Bertanggung jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan YME. c. Bergaya hidup sehat Segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan. d. Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. e. Kerja keras Perilaku yang menunjukkan mengatasi berbagai upaya hambatan sungguh-sungguh dalam menyelesaikan tugas guna (belajar/pekerjaan) dengan sebaik-baiknya. f. Percaya diri Sikap yakin akan kemampuan diri sendiri terhadap pemenuhan tercapainya setiap keinginan dan harapannya. g. Berjiwa wirausaha Sikap dan perilaku yang mandiri dan pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28 untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya. h. Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif Berpikir dan melakukan sesuatu secara kenyataan atau logika untuk menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari apa yang telah dimiliki. i. Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. j. Ingin tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar. k. Cinta ilmu Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap pengetahuan. 3. Nilai karakter dalam hubungannya dengan sesama. a. Sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain. Sikap tahu dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi milik/hak diri sendiri dan orang lain serta tugas/kewajiban diri sendiri serta orang lain. b. Patuh pada aturan-aturan sosial Sikap menurut dan taat terhadap aturan-aturan berkenaan dengan masyarakat dan kepentingan umum. c. Menghargai karya dan prestasi orang lain Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain. d. Santun Sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya ke semua orang.

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29 e. Demokratis Cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. 4. Nilai karakter dalam hubungannya dengan lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi dan selalu ingin memberi bantuan bagi orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. 5. Nilai kebangsaan Cara berpikir, bertindak, dan wawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. a. Nasionalis Cara berfikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsanya. b. Menghargai keberagaman Sikap memberikan respek/hormat terhadap berbagai macam hal baik yang berbentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku, dan agama. B. Hakikat Evaluasi, Asesmen, dan Tes 1. Pengertian Evaluasi, Asesmen, dan Tes a. Pengertian Evaluasi Di dunia pendidikan evaluasi dapat diartikan sebagai proses yang dilakukan seorang (evaluator) untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan suatu program telah tercapai yang dilakukan secara berkesinambungan. Hal ini diungkapkan dalam UU No. 20 2013 pasal 2003 pasal 58 ayat 1 yang menyatakan bahwa evaluasi hasil belajar

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan. Arikunto mengumpulkan (2004: 1), informasi evaluasi tentang adalah bekerjanya kegiatan sesuatu, untuk yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. Fungsi utama evaluasi dalam hal ini adalah menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pihak decision maker untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan. Wringston (Purwanto, 1992) mengemukakan bahwa “evalusi adalah penafsiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa ke arah tujuan atau nilai yang telah ditetapkan dalam kurikulum.” Sedangkan, Lessingner (Wulan & Rusdiana, 2014) mendefinisikan bahwa “evaluasi adalah membandingkan sebagai antara proses tujuan penilaian yang dengan diharapkan jalan dengan kemajuan/prestasi nyata yang dicapai.” Gay, (Sukardi, 2014: 8) berpendapat bahwa evaluasi adalah sebuah proses sistematis pengumpulan dan penganalisisan data untuk pengambilan keputusan. Jadi, evaluasi adalah proses penilaian, pengumpulan, dan menganalisis data atau suatu kejadian pada kenyataan dengan program atau tujuan yang sudah ditetapkan.

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31 b. Pengertian Asesmen (Penilaian) Linn dan Grounlund (Uno dan Koni, 2012:1) menegaskan “asesemen (penilaian) adalah prosedur yang digunakan untuk mendapatkan informasi tentang belajar siswa (observasi, rata-rata pelaksanaan tes tertulis) dan format penilaian kemajuan belajar.” Sarwiji Suwandi (2009: 7) mengatakan bahwa “penilaian adalah suatu proses untuk mengetahui apakah proses dan hasil dari suatu program kegiatan telah sesuai dengan tujuan atau kriteria yang telah ditetapkan.” Penilaian merupakan kegiatan yang dilakukan guru untuk memperoleh informasi secara objektif, berkelanjutan dan menyeluruh tentang proses dan hasil belajar yang dicapai siswa, yang hasilnya digunakan sebagai dasar untuk menentukan perlakuan selanjutnya (Depdiknas, 2001). Jadi, penilaian adalah suatu kegiatan mengumpulkan dan menganalisis data tentang suatu proses dan hasil belajar siswa untuk mendapatkan informasi, apakah hasil yang diperoleh sudah sesuai dengan tujuan atau standar yang ditetapkan atau belum. c. Pengertian Tes Zainul dan Nasution (2001) mendefinisikan tes sebagai pertanyaan atau tugas seperangkat tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang sesuatu atribuy pendidikan atau suatu atribut psikologis tertantu. Artinya bahwa tes adalah sebuah alat yang berisi

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32 tugas yang harus dikerjakan atau sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta didik untuk mengukur tingkat pemahaman dan penguasaan suatu materi dan sesuai dengan persyaratan tertentu. Pada dasarnya tes digunakan sebagai alat ukur yang sering digunakan dalam penilaian pembelajaran di dunia pendidikan. Asep Jihad dan Abdul Haris (2008: 67) mengatakan bahwa “tes merupakan himpunan pertanyaan yang harus dijawab, harus ditanggapi, atau tugas yang harus dilaksanakan oleh orang yang dites.” Arikunto (2012) menegaskan “tes adalah suatu cara untuk melakukan penilaian yang berbentuk tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa.” Menurut Brown (Elis Ratnawulan dan Rusdiana, 2015: 128), “a test as a systematic procedure for measure a sample of behavior”, yang menjelaskan bahwa pada prinsipnya suatu tes merupakan suatu prosedur sistematis untuk mengukur sampel tingkah laku seseorang.Jadi, tes adalah suatu ukuran penilaian yang dijadikan patokan oleh individu (guru) untuk mengukur kemampuan individu yang diberikan tes (siswa). 2. Tujuan dan Fungsi Asesmen a. Tujuan Asesmen Menurut pedoman penilaian Depdikbud (Jihad & Haris. 2008: 63), tujuan penilaian adalah “untuk mengetahui kemajuan belajar siswa, untuk perbaikan dan peningkatan kegiatan belajar siswa serta

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 sekaligus memberi umpan balik bagi perbaikan pelaksanaan kegiatan belajar.” Jihad & Haris (2008: 63) mengatakan bahwa “tujuan penilaian untuk mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan atau kesulitan belajar siswa, dan sekaligus memberi umpan balik yang tepat.” Menurut Suwandi, Sarwiji (2009: 14) secara umum semua jenis penilaian berbasis kelas bertujuan untuk menilai hasil belajar peserta didik di sekolah, mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat, dan untuk mengetahui ketercapaian mutu pendidikan secara umum. b. Fungsi Asesmen Supranata & Hatta (Suwandi, Sarwiji. 2009: 15) penilaian berbasis kelas memiliki sejumlah fungsi, yaitu sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kenaikan kelas, umpan balik dalam perbaikan program pengajaran, alat pendorong dalam meningkatkan kemampuan peserta didik, dan sebagai alat untuk peserta didik melakukan evaluasi terhadap kinerjanya serta bercermin diri (instropeksi) misalnya melalui portofolio. Menurut Nana Sudjana (Jihad & Haris. 2008: 56) penilaian (asesmen) berfungsi sebagai: 1) Alat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan instruksional. Dengan fungsi ini maka penilaian (asesmen) harus mengacu kepada tujuan-tujuan intruksional.

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 2) Umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengajar. Perbaikan mungkin dapat dilakukan dalam hal tujuan instruksional, kegiatan belajar siswa, strategi mengajar guru. 3) Dasar dalam menyusun laporan kemajuan siswa kepada orangtuanya. Dalam laporan tersebut dikemukakan dan kecakapan belajar siswa dalam bentuk-bentuk nilai-nilai prestasi yang dicapainya. 3. Ruang Lingkup Asesmen Uno, Hamzah, dan Satria Koni (2012:17) menjelaskan isi model penilaian kelas meliputi konsep dasar penilaian kelas, teknik penilaian, langkah-langkah pelaksanaan penilaian, pengolahan hasil penilaian serta pemanfaatan dan pelaporan hasil penilaian. Dalam konsep penilaian, dijelaskan apa yang dimaksud dengan penilaian, manfaat penilaian, fungsi penilaian, dan rambu-rambu penilaian. Teknik penilaian akan menjelaskan berbagai cara dan alat penilaian. 4. Prinsip-prinsip Asesmen Menurut Depdiknas (2004 dan 2006) ada enam prinsip dasar berbasis kelas yang harus dipedomani guru saat melakukan asesmen. Prinsip – prinsip tersebut antara lain: a. Validitas Validitas dalam asesmen mempunyai pengertian bahwa dalam melakukan penilaian harus “menilai apa yang seharusnya dinilai dan alat penilaian yang digunakan sesuai dengan apa yang seharusnya

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi”. b. Reliabilitas Reliabilitas berkaitan dengan konsistensi (keajegan) hasil penilaian. Penilaian yang ajeg (reliable) memungkinkan perbandingan yang reliable, menjamin konsistensi, dan kepercayaan. c. Terfokus pada kompetensi Penilaian harus terfokus pada pencapaian kompetensi (rangkaian kemampuan), bukan pada penguasaan materi (pengetahuan). d. Komprehensif Penilaian harus dilakukan secara menyeluruh mencakup seluruh ranah yang tertuang pada setiap kompetensi dasar dengan menggunakan beragam cara dan alat untuk menilai beragam kompetensi atau kemampuan siswa sehingga tergambar profil kemampuan siswa. e. Objektivitas Proses penilaian yang dilakukan harus dilaksanakan secara obyektif. Artinya, penilaian harus adil, terencana, berkesinambungan, menggunakan bahasa yang dapat dipahami siswa, dan menerapkan kriteria yang jelas dalam pembuatan keputusan atau pemberian angka (skor). f. Mendidik Penilaian dapat memberikan sumbangan positif bagi peningkatan pencapaian hasil belajar peserta didik, dimana hasil penilaian dapat

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 memberikan umpan balik dan motivasi kepada peserta didik untuk lebih giat belajar. Menurut Jihad & Haris (2008: 63) sistem penilaian dalam pembelajaran, baik pada penilaian berkelanjutan maupun penilaian akhir, hendaknya dikembangkan berdasarkan sejumlah prinsip sebagai berikut: a. Menyeluruh, artinya penguasaan kompetensi dalam mata pelajaran hendaknya menyeluruh, baik menyangkut standar kompetensi, kemampuan dasar serta keseluruhan indikator ketercapaian, baik menyangkut dominan kognitif (pengetahuan), afektif (sikap, perilaku, dan nilai), serta psikomotor (keterampilan), maupun menyangkut evaluasi proses dan hasil belajar. b. Berkelanjutan, artinya penilaian seharusnya direncanakan dan dilakukan secara terus menerus guna mendapatkan gambaran yang utuh mengenai perkembangan hasil belajar siswa sebagai dampak langsung (dampak instruksional/pembelajaran) maupun dampak tindak langsung (dampak pengiring/nurturan effect) dari proses pembelajaran. c. Berorientasi pada indikator ketercapaian, artinya sistem penilaian dalam pembelajaran harus mengacu pada indikator ketercapaian yang sudah ditetapkan berdasarkan kemampuan dasar/kemampuan minimal dan standar kompetensinya.

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37 d. Sesuai dengan pengalaman belajar, artinya sistem penilaian dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan pengalaman belajarnya. 5. Jenis-jenis Asesmen Menurut Uno dan Koni (2012) jenis-jenis asesmen dilaksanakan dalam berbagai teknik, seperti: penilaian kinerja (performance), penilaian sikap, dan penilaian tertulis (paper and pencil test, penilaian proyek, dan penilaian diri/self assessment). Menurut Subali (2016) berdasarkan ragam jenisnya, asesmen dibedakan menjadi empat, yaitu: a. Asesmen penempatan. Asesmen ini dilakukan berdasarkan hasil pengukuran terhadap masing-masing peserta didik sebelum menempuh program pengajaran. Tujuannya yaitu untuk mengetahui penguasaan kemampuan prasyarat masing-masing peserta didik yang diperlukan dalam proses pembelajaran yang akan diselenggarakan bila diperlukan adanya kemampuan yang ditargetkan. b. Asesmen formatif Asesmen ini dilakukan berdasarkan hasil pengukuran terhadap masing-masing peserta didik selama menempuh kegiatan pembelajaran. Tujuannya untuk mengetahui apakah setiap peserta didik melaju dengan baik selama proses pembelajarannya sampai akhir program sehingga kegiatan belajar selanjutnya menjadi lebih efektif dan efisien.

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 c. Asesmen sumatif Asesmen ini dilakukan terhadap masing-masing peserta didik setelah selesai menempuh suatu program pembelajaran.Tujuannya untuk menentukan nilai akhir masing-masing peserta didik yang menempuh suatu program pembelajaran untuk selanjutnya dapat ditetapkan apakah seorang peserta didik dinyatakan berhasil atau gagal. Jika berhasil peserta didik tersebut akan diberi sertifikat karena telah menguasai kecakapan atau keterampilan tertentu yang ditargetkan dalam program pembelajaran yang dirancang. d. Asesmen konfirmatori Asesmen ini dilakukan terhadap masing-masing orang yang ingin dinilai tanpa dilakukan dengan kegiatan pembelajaran yang ditempuh.Asesmen konfirmatori dilaksanakan melalui pengukuran yang menggunakan instrument yang sah dan handal dalam hal kegiatan pembelajaran, asesmen konfirmatori dapat dilakukan oleh pihak eksternal. Pemerintah menerapkan ujian nasional untuk menetapkan setiap peserta didik untuk dinyatakan lulus dan tidak lulus dalam menguasai kompetensi yang diterapkan. Menurut Prijowuntato(2016: 60-66) alat yang dapat digunakan untuk menilai ketercapaian konpetensi siswa dapat dibedakan menjadi dua yaitu tes dan non tes.

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 a. Tes Bentuk tes yang digunakan untuk mengevaluasi peserta didik dapat berupa; pilihan ganda, uraian objektif, uraian non objektif/uraian bebas, jawaban singkat/isian singkat, menjodohkan, performans/unjuk kinerja, portofolio. Bentuk tes digunakan apabila sifat suatu objek yang diukur menyangkut tingkah laku yang berhubungan dengan apa yang diketahui, dipahami atau proses psikis lainnya yang tidak dipahami dengan indera. Tingkat berpikir yang digunakan dalam mengerjakan tes harus mencakup mulai dari yang rendah sampai yang tinggi, dengan proporsi yang sebanding sesuai jenjang pendidikan. Bentuk tes yang digunakan di sekolah dapat dikategorikan menjadi dua yaitu tes objektif dan tes non objektif. Objektif di sini dilihat dari sistem penskorannya, yaitu siapa yang memeriksa lembar jawaban tes akan menghasilkan skor yang sama. Tes non objektif adalah tes yang sistem penskorannya dipengaruhi oleh pemberi skor. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa tes objektif adalah tes yang sistem penskorannya objektif sedangkan non objektif sistem penskorannya dipengaruhi oleh subjektifitas pemberi skor. b. Non tes Bentuk non tes yang digunakan untuk mengevaluasi peserta didik dapat berupa; observasi, catatan anekdot, daftar cek, skala nilai, kuesioner, wawancara. Bentuk non tes digunakan apabila

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40 perubahan tingkah laku yang dapat diamati dengan indera dan bersifat konkret. Konsekuensi dari pengukuran menggunakan bentuk non tes sangat bergantung pada situasi di mana perubahan tingkah laku individu itu muncul atau menggejala. Oleh karenanya, situasi pengukuran yang seragam sukar dipersiapkan. Suatu pengukuran dengan alat pengukuran non tes terjadi dalam situasi yang kurang distandarisasi, seperti waktu pengukuran yang dapat tidak sama atau seragam bagi semua siswa. 6. Teknik-teknik Asesmen Teknik yang biasanya digunakan untuk mengukur/mengevaluasi hasil ketercapaian siswa adalah menggunakan teknik tes dan teknik nontes. Menurut Jihad & Haris (2008: 68) jenis alat penilaian teknik tes yaitu: a. Tes tertulis, merupakan tes atau soal yang diselesaikan siswa secara tertulis. Tes tertulis ini terdiri atas bentuk objektif dan bentuk uraian. Bentuk objektif meliputi pilihan ganda, isian, benar salah, menjodohkan, serta jawaban singkat. Sedangkan bentuk uraian meliputi uraian terbatas dan uraian singkat. b. Tes lisan, yang merupakan sekumpulan tes atau soal atau tugas pertanyaan yang diberikan kepada siswa dan dilaksanakan dengan cara tanya jawab. c. Tes perbuatan, merupakan tugas yang pada umumnya berupa kegiatan praktek atau melakukan kegiatan yang mengukur ketrampilan.

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 Jihad & Haris (2008: 68) juga mengungkapkan secara rinci mengenai teknis penilaian siswa dapat dilakukan dengan cara ulangan harian, tugas kelompok, kuis, ulangan blok, pertanyaan lisan, dan juga tugas individu. Depdiknas, 2001 (Jihad & Haris, 2008: 69) juga mengatakan bahwa penilaian non-tes merupakan prosedur yang dilalui untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik minat, sifat, dan kepribadian. Melalui: a. Pengamatan, yakni alat penilaian yang pengisiannya dilakukan oleh guru atas dasar pengamatan terhadap perilaku siswa, baik secara perorangan maupun kelompok, di kelas maupun di luar kelas b. Skala sikap, yaitu alat penilaian yang digunakan untuk mengungkap sikap siswa melalui pengerjaan tugas tertulis dengan soal-soal yang lebih mengukur daya nalar atau pendapat siswa c. Angket, yaitu alat penilaian yang meyajikan tugas-tugas atau mengerjakan dengan cara tertulis d. Catatan harian, yaitu suatu catatan mengenai perilaku siswa yang dipandang mempunyai kaitan dengan perkembangan pribadinya e. Daftar cek, yaitu suatu daftar yang dipergunakan untuk mengecek terhadap perilaku siswa telah sesuai dengan yang diharapkan atau belum. Sukardi (2014: 104) mengatakan bahwa tes dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tes normatife dan tes kriterion. Suatu tes dikatakan sebagai tes normatife apabila evaluator dalam mengevaluasi bisa

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 membandingkan hasil penilaian individuantara satu individu dengan individu lainnya dalam penyelenggaraan tes yang sama. Suatu tes dikatakan memenuhi kriteria jika para evaluator dalam pengukuran terhadap subjek atau objek yang dievaluasi atas dasar apa yang telah dia perbuat sesuai dengan kapasitasnya tanpa membandingkan dengan orang lain. 7. Tes Sebagai Teknik Asesmen Sukardi (2014: 92) mengatakan bahwa tes atau testing merupakan prosedur sistematis yang direncanakan oleh evaluator guna membandingkan antarperilaku yang dievaluasi. Tes atau testing berisi item atau butir soal yang akan diberikan kepada peserta yang mengikuti tes. Ia juga mengatakan bahwa item atau butir soal, yaitu bagian terkecil dari suatu tes yang memuat satu fakta atau konsep yang diungkapkan melalui pertanyaan atau pernyataan yang dapat diisolasi untuk pengamatan dan pengambilan keputusan. Tes sebagai teknik asesmen dapat meyediakan informasi-informasi objektif yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam penentuan keputusan yang harus diambil pendidik terhadap proses dan hasil belajar. Tes ini dilakukan sebelum, saat, dan akhir pembelajaran, sehingga bergulir tanpa henti (dynamic assesment).

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 C. Asesmen Pendidikan Karakter 1. Pengertian Asesmen Pendidikan Karakter Albertus (2015) menegaskan penilaian pendidikan karakter pada hakikatnya adalah evaluasi atas proses pembelajaran secara terus menerus dari individu untuk menghayati peran dan kebebasannya bersama orang lain dalam sebuah lingkungan sekolah demi pertumbuhan integritas moralnya sebagai manusia. Hanya individu yang terbuka pada pengalaman diri dengan yang lain mampu menentukan apakah dirinya telah menjadi manusia berkarakter atau bukan 2. Manfaat Asesmen Pendidikan Karakter Penilaian merupakan kegiatan untuk menentukan pencapaian hasil pembelajaran yang dapat dikategorikan menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif. Setiap peserta didik memiliki tiga ranah tesebut, hanya kedalamannya tidak sama. Penilaian pada ranah afektif, seperti ranah lainnya memerlukan data yang bisa berupa kuantitatif atau kualitatif. Karakter yang baik melibatkan pemahaman, perhatian, dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai etika. Pendekatan yang holistik terhadap pengembangan karakter oleh karenannya peserta didik mengembangkan kognitif, emosi, dan aspek perilaku dari kehidupan moral. Peserta didik berkembang untuk memahami nilai-nilai karakter dengan mempelajari, mendiskusikannya, mengamati model perilaku, dan memecahkan masalah yang mencakup nilai-nilai tersebut. Asesmen

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44 pendidikan karakter bermanfaat untuk pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. 3. Tehnik-tehnik Asesmen Pendidikan Karakter Airasian (2000) mengatakan metode asesmen dibedakan menjadi tiga yaitu teknik tertulis (paper-pencil techniques), teknik observasi (observation techniques), dan teknik pertanyaan lisan (oral questioning techniques). Teknik tertulis (paper-pencil techniques) mengacu kepada metode asesmen dimana siswa menuliskan responnya terhadap pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah. Observasi adalah suatu proses melihat atau mendengar individu melakukan suatu aktivitas (observasi proses) atau untuk menilai suatu produk (observasi produk). Sedangkan teknik pertanyaan lisan adalah metode asesmen dengan mengajukan pertanyaan secara lisan kepada individu. Menurut Strange (2004) metode asesmen pendidikan karakter dapat dibedakan atas asesmen kuantitatif (quantitative assessment) dan asesmen kualitatif (qualitative assessment). Asesmen kuantitatif dapat berbentuk: rubric asesmen diri sendiri (self assessment rubric), tes tertulis (paper and pencil test), skala bertingkat asesmen karakter (character assessment rating scale). Sementara itu, asesmen kualitatif dapat berupa: jurnal siswa, paper, dan unjuk kerja.

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 4. Sistem Penilaian Karakter Menurut Pedoman 2010 Permasalahan yang ditemukan adalah bahwa guru mengalami kesulitan karena pengamatan didasarkan pada prinsip-prinsip yang masih abstrak dan belum diuraikan dalam definisi-definisi operasional dan indikator-indikator. Guru mengatakan bahwa yang dinilai adalah keterlibatan di kelas dan kepedulian kepada teman, tetapi belum sampai pada apa indikatornya. Dalam bahasa sehari-hari, apa yang dilakukan guru adalah “nilai mengira-ngira” sesuai dengan apa yang dilihat ketika di dalam kelas. Besar kemungkinan guru salah menilai atau menilai dengan subjektivitas yang sangat tinggi berdasarkan like and dislike. Hal itu sangat merugikan siswa. Dalam pelajaran Character Building, hal terpenting untuk dilakukan adalah observasi. Namun, observasi memiliki problem, yaitu subjektivitas yang tinggi. Permasalahan utama dengan observasi adalah ketiadaan objektivitas oleh pengamatnya (Johnson dan Johnson 2002: 117). Arikunto (2003) menegaskan tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Tes objektif terdapat kelemahan dan kelebihan, sebagai berikut. a. Kelebihan tes objektif, yaitu. 1) Lebih respektif mewakili isi dan luas bahan, lebih objektif, dapat di hindari campur tangan unsur-unsur subjektif baik dari segi peserta didik maupun segi guru yang memeriksa.

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 2) Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya karena dapat menggunakan kunci tes bahkan alat-alat hasil kemajuan teknologi. 3) Pemeriksaan dapat diserahkan orang lain. 4) Dalam pemeriksaan tidak ada unsur subjektif yang mempengaruhi. 5) Untuk menjawab tes objektif tidak banyak memakai waktu. 6) Reliabilitinya lebih tinggi kalau dibandingkan dengan tes essay, karena penilainya bersifat objektif. 7) Validitas tes objektif lebih tinggi dari tes essay, karena samplingnya lebih luas. 8) Pemberian nilai dan cara menilai tes objektif lebih cepat dan mudah karena tidak menuntut keahlian khusus. b. Tes objektif tidak memperdulikan penguasaan bahasa, sehingga mudah dilaksanakan. c. Kelemahan tes objektif 1) Persiapan untuk menyusun jauh lebih sulit dari pada tes essay karena soalnya banyak dan harus teliti untuk menghindari kelemahan-kelemahan yang lain. 2) Soal-soal cenderung untuk mengungkapkan ingatan dan daya pengenalan kembali saja dan sukar untuk mengukur proses mental yang tinggi. 3) Banyak kesempatan untuk main untung-untungan. 4) Kerjasama antar peserta didik pada waktu mengerjakan sol tes lebih terbuka.

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 5) Peserta didik sering menerka-nerka dalam memberikan jawaban, karena belum menguasai bahan pelajaran tersebut. 6) Tes sampling yang diajukan kepada peserta didik cukup banyak dan hanya membutuhkan waktu yang relatif singkat untuk menjawabnya. 7) Tidak biasa megajak peserta didik untuk berpikir tingkat tinggi. 8) Banyak memakan biaya, karena lembaran item-item tes harus sebanyak jumlah pengikut tes. Beberapa bentuk tes objektif yaitu salah-benar (true-false), pilihan ganda (multiple choise), isian (completion), jawaban singkat (short answer), dan menjodohkan (matching). Masing-masing bentuk tes objektif mempunyai kelebihan dan kelemahan. Salah satu bentuk tes objektif yaitu pilihan ganda mempunya kelebihan dan kelemahan sebagai berikut. a. Kelebihan 1) Hasil belajar yang sederhana sampai yang komplek dapat diukur. 2) Terstruktur dan petunjuknya jelas. 3) Alternatif jawaban yang salah dapat memberikan informasi diagnostik. 4) Tidak dimungkinkan untuk menerka jawaban. 5) Penilaian mudah, objektif, dan dapat dipercaya. b. Kelemahan 1) Proses penyusunanya membutuhkan waktu yang lama.

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 2) Sulit menemukan pengacau. 3) Kurang efektif mengukur beberapa tipe pemecahan masalah, kemampuan untuk mengorganisir dan mengekspresikan ide. 4) Nilai dapat dipengaruhi dengan kemampuan baca. 5. Kekuatan dan Kelemahan Tes Untuk mendapatkan instrumen tes baik diperlukan sejumlah langkah pengembangan atau langkah umum konstruksi tes. Menurut Azwar (2014:14-20) awal kerja penyusunan atau pengembangan suatu alat tes dimulai dari: a. Identifikasi tujuan ukur Yaitu memilih suatu definisi, mengenali dan memahami dengan seksama teori yang mendasari konstruk atribut yang hendak diukur. b. Pembatasan domain ukur Pembatasan domain dilakukan dengan cara menguraikan konstruk teoritik atribut yang diukur menjadi beberapa rumusan dimensi atau aspek yang lebih jelas, agar menunjang validitas isi skala. c. Oprasionalisasi aspek Operasionalisasi aspek diperlukan agar membentuk keperilakuan yang hendak diukur dapat lebih konkret sehingga penulis item akan lebih memahami benar arah respon yang harus diungkap dari subjek. Operasionalisasi dirumuskan dalam bentuk indikator keperilakuan. Himpunan indikator-indikator kemudian dituangkan

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 dalam kisi-kisi atau blue print dan dilengkapi dengan spesifikasi skala, sebagai acuan bagi penulisan item. Sebelum penulisan item perancang perlu menetapkan format stimulus yang hendak digunakan, format ini erat kaitanya dengan metode pengskalaannya. d. Penulisan item Pada tahap awal penulisan item, item dibuat dalam jumlah yang lebih banyak daripada jumlah yang direncanakan dalam spesifikasi skala, yaitu sekitar tiga kali lipat dari jumlah item yang digunakan dalam bentuk final. Tujuannya agar nanti penyusun skala tidak kehabisan item akibat gugurnya item-iten yang tidak memenuhi syarat. e. Review penulisan item Review pertama harus dilakukan oleh penulis item sendiri, yaitu dengan mengecek ulang setiap item sendiri, apakah telah sesuai dengan indikator prilaku yang hendak diungkap. Setelah itu review dapat dilakukan oleh orang yang berkompeten atau ahli. Semua item yang tidak sesuai dengan kaidah atau spesifikasi blue print harus diperbaiki, dan hanya item-item yang diyakini berfungsi dengan baik oleh ahli (expert judgmen), yang dapat diloloskan untuk uji empirik. f. Uji coba bahasa (evaluasi kualitatif) Kumpulan item yang telah direview kemudian dievaluasi secara kualitatif, dengan mengujicobakan pada sekelompok kecil responden untuk mengetahui apakah kalimat yang digunakan sudah

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 tepat dan mudah dipahami oleh responden sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis item. pertanyaan-pertanyaan dari responden mengenai kata-kata dalam item menandakan bahwa kalimat dalam item masih kurang komunikatif dan memerlukan perbaikan. g. Field tes (evaluasi kuantitatif) Evaluasi terhadap fungsi item biasa dikenal dengan analisis item. Analisis item merupakan proses pengujian item secara kuantitatif guna mengetahui apakah item memenuhi syarat psikometrik untuk disertakan sebagai bagian dari skala. Parameter item yang diuji adalah daya beda item atau daya diskriminasi item. h. Seleksi item Pada tahap ini item-item yang tidak memenuhi syarat psikometrik tidak akan digunakan atau akan diperbaiki lebih dahulu sebelum dapat digunakan. Sebaliknya item-item yang memenuhi syarat psikometrik dengan sendirinya akan digunakan dalam skala. i. Validasi konstruk Validasi skala merupakan proses yang berkelanjutan, tetapi pada skala yang digunakan secara terbatas umumnya hanya melalui validasi isi yang dilakukan oleh ahli (expert judgment) namun sebenarnya semua skala harus teruji konstruknya. Skala yang sudah sesuai secara isi tetap perlu diuji secara empirik apakah konstruk yang digunakan dari teori sudah didukung dengan data.

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 j. Kompilasi final Format final skala dirakit dalam tampilan yang menarik namun tetap memudahkan responden untuk membaca dan menjawabnya. Dalam bentuk final, skala dilengkapi dengan petunjuk soal dan lembar jawab. Ukuran tulisan pada skala perlu disesuaikan agar tidak ada kata yang tertinggal atau tidak terbaca. Sedangkan menurut Fernandes dan Soeharto (Suwandi, 2010: 57) ada sembilan langkah dalam pengembangan insrumen tes antara lain: a. Membuat spesifikasi tujuan (penjelasan tentang pengetahuan, keterampilan, atau tingkah laku yang akan diditeksi). b. Menerjemahkan tujuan-tujuan tes dalam istilah-istilah yang operasional (tes harus mencerminkan isi dan tujuan dalam keadaan operasional dan sesuai dengan kepentingannya. c. Merumuskan tujuan dalam kata-taka yang mengambarkan tingkah laku (observable dan measurable). d. Merencanakan tes (berapa jumlah butir tes, bagaimana bentuk tes, dsb). e. Menulis butir-butir tes dengan format yang dikehendaki. f. Melakukan uji coba butir-butir tes dan menganalisisnya. g. Menyetel tes yang sudah final. h. Standarisasi (proses pengembangan alat kontrol: petunjuk pengerjaan, waktu pengerjaan, prosedur dan standar penilaian).

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 52 i. Memberi atribut pada skor-skor tes (menjelaskan indeks validitas dan reliabilitas). Sementara itu, menurut Surapranata (Suwandi, 2010: 59-64) prinsip-prinsip pengembangan dan penggunaan tes meliputi: a. Penentuan tujuan Tahap awal yang sangat penting dalam pengembangan tes adalah menentukan tujuan. Secara umum tes antara lain dikembangkan untuk kepentingan penempatan yang terdiri atas pre tes kesiapan dan pre tes penempatan, formatif, diagnostik, dan sumatif. b. Pemilihan soal Pemilihan soal merupakan salah satu langkah penting untuk dapat menghasilkan tes yang baik. Pemilihan soal dari 190 butir soal yang valid akan dipilih 80 butir untuk dikembangkan. c. Review dan revisi soal Riview dan revisi soal pada prinsipnya adalah upaya untuk memperoleh informasi mengenai sejauh mana suatu soal telah berfungsi secara efektif dan telah memenuhi kaidah yang telah ditetapkan, misalnya kaidah konstruksi, bahasa, dan penulisan soal. Review dan revisi idealnya dilakukan oleh orang lain (bukan si penulis soal) yang terdiri atas suatu tim penelaah yang terdiri atas ahli-ahli materi, pengukuran dan bahasa.

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 d. Uji coba dan analisis Uji coba soal pada prinsipnya adalah upaya untuk mendapatkan informasi yang empirik mengenai seberapa baik sebuah soal dapat mengukur apa yang hendak diukur. Informasi empirik tersebut pada umumnya menyangkut segala hal yang dapat mempengaruhi validitas soal seperti aspek-aspek keterbacaan soal, tingkat kesulitan soal, pola jawaban, tingkat daya pembeda, pengaruh budaya, dan sebagainya. Dari hasil uji coba akan diketahui apakah suatu soal “lebih berfungsi”. Hasil uji coba tersebut selanjutnya dianalisis dengan teknik yang telah ditentukan. e. Praktikan soal Soal-soal yang baik hasil dari uji coba dapat dirakit sesuai dengan kebutuhan tes. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perakitan antara lain; penyebaran soal, penyebaran tingkat kesulitan soal, daya pembeda atau validitas soal penyebaran jawaban, dan lay out tes. f. Penyajian tes Hal yang perlu diperhatikan dalam penyajian tes ini adalah administrasi penyajian tes yang antara lain meliputi: petunjuk pengerjaan, cara menjawab, alokasi waktu yang disediakan, ruangan, tempat duduk peserta didik, dan pengawasan.

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 g. Penskoran Penskoran atau pemeriksaan atas jawaban peserta didik dan pemberian angka dilakukan dalam rangka mendapatkan informasi kuantitatif dari masing-masing peserta didik. Peskoran harus dilakukan secara objektif. h. Pelaporan hasil tes Setelah tes digunakan dan dilakukan penskoran, hasilnya dilaporkan. Pelaporan dapat diberikan kepada peserta didik yang bersangkutan, orang tua peserta didik, kepala sekolah, dan pihakpihak yang berkepentingan. i. Pemanfaatan hasil tes Hasil pengukuran yang diperoleh melalui tes berguna sesuai dengan tujuan dilakukanya tes. Informasi hasil pengukuran dapat dimanfaatkan untuk perbaikan atau penyempurnaan sistem, proses atau kegiatan belajar mengajar, maupun sebagai data untuk mengambil keputusan atau menentukan kebijakan selanjutnya. Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip pengembangan dan penggunaan tes harus memiliki langkah-langkah; seperti menentukan tujuan dari alat tes yang akan dibuat, merancang tes (membuat kisi-kisi, merancang butir-butir tes, format tes, menulis soal tes), mereview dan merevisi soal tes yang akan digunakan, setelah itu melakukan uji coba dan analisis, soal tes hasil analisis selanjutnya dirakit menjadi

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 55 soal-soal tes yang memiliki kriteria baik, dan diberikan kepada peserta didik. Setelah itu dilakukan penskoran dari hasil jawaban peserta didik, hasil penskoran lalu diberikan kepada peserta didik dan pihak-pihak yang berkepentingan agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan dan menentukan kebijakan. 6. Prinsip-prinsip Pengembangan dan Penggunaan Tes dalam Pendidikan Karakter Untuk mendapatkan instrumen tes yang baik diperlukan sejumlah langkah pengembangan atau langkah umum konstruksi tes. Menurut Azwar (2014:14-20) awal kerja penyusunan atau pengembangan suatu alat tes dimulai dari: a. Identifikasi tujuan ukur Identifikasi tujuan yaitu memilih suatu definisi, mengenali dan memahami dengan seksama teori yang mendasari konstruk atribut yang hendak diukur. b. Pembatasan domain ukur Pembatasan domain dilakukan dengan cara menguraikan konstruk teoritik atribut yang diukur menjadi beberapa rumusan dimensi atau aspek yang lebih jelas, agar menunjang validitas isi skala. c. Oprasionalisasi aspek Operasionalisasi aspek diperlukan agar membentuk keperilakuan yang hendak diukur dapat lebih konkret sehingga

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 56 penulis item akan lebih memahami benar arah respon yang harus diungkap dari subjek. Operasionalisasi dirumuskan dalam bentuk indikator keperilakuan. Himpunan indikator-indikator kemudian dituangkan dalam kisi-kisi atau blue print dan dilengkapi dengan spesifikasi skala, sebagai acuan bagi penulisan item. Sebelum penulisan item perancang perlu menetapkan format stimulus yang hendak digunakan, format ini erat kaitanya dengan metode pengskalaannya. d. Penulisan item Pada tahap awal penulisan item, item dibuat dalam jumlah yang lebih banyak daripada jumlah yang direncanakan dalam spesifikasi skala, yaitu sekitar tiga kali lipat dari jumlah item yang digunakan dalam bentuk final. Tujuannya agar nanti penyusun skala tidak kehabisan item akibat gugurnya item-iten yang tidak memenuhi syarat. e. Review penulisan item Review pertama harus dilakukan oleh penulis item sendiri, yaitu dengan mengecek ulang setiap item sendiri, apakah telah sesuai dengan indikator prilaku yang hendak diungkap. Setelah itu review dapat dilakukan oleh orang yang berkompeten atau ahli. Semua item yang tidak sesuai dengan kaidah atau spesifikasi blue print harus diperbaiki, dan hanya item-item yang diyakini berfungsi dengan baik oleh ahli (expert judgmen), yang dapat diloloskan untuk uji empirik.

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 f. Uji coba bahasa (evaluasi kualitatif) Kumpulan item yang telah direview kemudian dievaluasi secara kualitatif, dengan mengujicobakan pada sekelompok kecil responden untuk mengetahui apakah kalimat yang digunakan sudah tepat dan mudah dipahami oleh responden sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis item. pertanyaan-pertanyaan dari responden mengenai kata-kata dalam item menandakan bahwa kalimat dalam item masih kurang komunikatif dan memerlukan perbaikan. g. Field tes (evaluasi kuantitatif) Evaluasi terhadap fungsi item biasa dikenal dengan analisis item. Analisis item merupakan proses pengujian item secara kuantitatif guna mengetahui apakah item memenuhi syarat psikometrik untuk disertakan sebagai bagian dari skala. Parameter item yang diuji adalah daya beda item atau daya diskriminasi item. h. Seleksi item Pada tahap ini item-item yang tidak memenuhi syarat psikometrik tidak akan digunakan atau akan diperbaiki lebih dahulu sebelum dapat digunakan. Sebaliknya item-item yang memenuhi syarat psikometrik dengan sendirinya akan digunakan dalam skala. i. Validasi konstruk Validasi skala merupakan proses yang berkelanjutan, tetapi pada skala yang digunakan secara terbatas umumnya hanya melalui validasi isi yang dilakukan oleh ahli (expert judgment) namun

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 sebenarnya semua skala harus teruji konstruknya. Skala yang sudah sesuai secara isi tetap perlu diuji secara empirik apakah konstruk yang digunakan dari teori sudah didukung dengan data. j. Kompilasi final Format final skala dirakit dalam tampilan yang menarik namun tetap memudahkan responden untuk membaca dan menjawabnya. Dalam bentuk final, skala dilengkapi dengan petunjuk soal dan lembar jawab. Ukuran tulisan pada skala perlu disesuaikan agar tidak ada kata yang tertinggal atau tidak terbaca. Menurut Fernandes dan Soeharto (Suwandi, 2010: 57) ada sembilan langkah dalam pengembangan insrumen tes antara lain: a. Membuat spesifikasi tujuan (penjelasan tentang pengetahuan, keterampilan, atau tingkah laku yang akan diditeksi). b. Menerjemahkan tujuan-tujuan tes dalam istilah-istilah yang operasional (tes harus mencerminkan isi dan tujuan dalam keadaan operasional dan sesuai dengan kepentingannya. c. Merumuskan tujuan dalam kata-taka yang mengambarkan tingkah laku (observable dan measurable). d. Merencanakan tes (berapa jumlah butir tes, bagaimana bentuk tes, dsb). e. Menulis butir-butir tes dengan format yang dikehendaki. f. Melakukan uji coba butir-butir tes dan menganalisisnya. g. Menyetel tes yang sudah final.

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 h. Standarisasi (proses pengembangan alat kontrol: petunjuk pengerjaan, waktu pengerjaan, prosedur dan standar penilaian). i. Memberi atribut pada skor-skor tes (menjelaskan indeks validitas dan reliabilitas). Sementara itu, menurut Surapranata (Suwandi, 2010: 59-64) prinsipprinsip pengembangan dan penggunaan tes meliputi: a. Penentuan tujuan Tahap awal yang sangat penting dalam pengembangan tes adalah menentukan tujuan. Secara umum tes antara lain dikembangkan untuk kepentingan penempatan yang terdiri atas pre tes kesiapan dan pre tes penempatan, formatif, diagnostik, dan sumatif. b. Pemilihan soal Pemilihan soal merupakan salah satu langkah penting untuk dapat menghasilkan tes yang baik. Pemilihan soal dari 190 butir soal yang valid akan dipilih 80 butir untuk dikembangkan. c. Review dan revisi soal Riview dan revisi soal pada prinsipnya adalah upaya untuk memperoleh informasi mengenai sejauh mana suatu soal telah berfungsi secara efektif dan telah memenuhi kaidah yang telah ditetapkan, misalnya kaidah konstruksi, bahasa, dan penulisan soal. Review dan revisi idealnya dilakukan oleh orang lain (bukan si penulis soal) yang terdiri atas suatu tim penelaah yang terdiri atas ahli-ahli materi, pengukuran dan bahasa.

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 d. Uji coba dan analisis Uji coba soal pada prinsipnya adalah upaya untuk mendapatkan informasi yang empirik mengenai seberapa baik sebuah soal dapat mengukur apa yang hendak diukur. Informasi empirik tersebut pada umumnya menyangkut segala hal yang dapat mempengaruhi validitas soal seperti aspek-aspek keterbacaan soal, tingkat kesulitan soal, pola jawaban, tingkat daya pembeda, pengaruh budaya, dan sebagainya. Dari hasil uji coba akan diketahui apakah suatu soal “lebih berfungsi”. Hasil uji coba tersebut selanjutnya dianalisis dengan teknik yang telah ditentukan. e. Parakiitan soal Soal-soal yang baik, hasil dari uji coba dapat dirakit sesuai dengan kebutuhan tes. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perakitan antara lain; penyebaran soal, penyebaran tingkat kesulitan soal, daya pembeda atau validitas soal penyebaran jawaban, dan lay out tes. f. Penyajian tes Hal yang perlu diperhatikan dalam penyajian tes ini adalah administrasi penyajian tes yang antara lain meliputi: petunjuk pengerjaan, cara menjawab, alokasi waktu yang disediakan, ruangan, tempat duduk peserta didik, dan pengawasan.

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 g. Penskoran Penskoran atau pemeriksaan atas jawaban peserta didik dan pemberian angka dilakukan dalam rangka mendapatkan informasi kuantitatif dari masing-masing peserta didik. Peskoran harus dilakukan secara objektif. j. Pelaporan hasil tes Setelah tes digunakan dan dilakukan penskoran, hasilnya dilaporkan. Pelaporan dapat diberikan kepada peserta didik yang bersangkutan, orang tua peserta didik, kepala sekolah, dan pihakpihak yang berkepentingan. k. Pemanfaatan hasil tes Hasil pengukuran yang diperoleh melalui tes berguna sesuai dengan tujuan dilakukanya tes. Informasi hasil pengukuran dapat dimanfaatkan untuk perbaikan atau penyempurnaan sistem, proses atau kegiatan belajar mengajar, maupun sebagai data untuk mengambil keputusan atau menentukan kebijakan selanjutnya. Berdasarkan pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip pengembangan dan penggunaan tes harus memiliki langkah-langkah; seperti menentukan tujuan dari alat tes yang akan dibuat, merancang tes (membuat kisi-kisi, merancang butir-butir tes, format tes, menulis soal tes), mereview dan merevisi soal tes yang akan digunakan, setelah itu melakukan uji coba dan analisis, soal tes hasil analisis selanjutnya dirakit menjadi

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 62 soal-soal tes yang memiliki kriteria baik, dan diberikan kepada peserta didik. Setelah itu dilakukan penskoran dari hasil jawaban peserta didik, hasil penskoran lalu diberikan kepada peserta didik dan pihak-pihak yang berkepentingan agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan dan menentukan kebijakan. 7. Hambatan-hambatan dan Kesulitan Asesmen Pendidikan Karakter di Indonesia Menurut Barus, dkk (2017; 47) Hambatan-hambatan dan kesulitan-kesulitan Asesmen Pendidikan Karakter di Indonesia, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: a. Kesadaran para guru tentang pentingnya asesmen pendidikan sangat tinggi, namun kesadaran tersebut belum diikuti dengan langkah konkrit dalam perencanaan dan pelaksanaannya. b. Para guru mengaku ada perencanaan dan pelaksanaan yang rutin dari pihak sekolah tentang asesmen pendidikan karakter, namun sebagain besar tidak sampai pada tahapan pelaksanaan asesmen yang prosedural. Kebanyakan mereka terhenti pada merencanakan tetapi tidak sampai pada tahap implementasi dan analisis hasil. c. Sedikit sekali guru yang membaca dan memahami isi Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter di SMP (Direktur Pembinaan SMP, Kemendiknas, 2010) yang disosialisasikan pemerintah. Sebagian besar mereka mengaku bahwa nilai karakter terpilih hanya sekedar tertempel pada RPP, namun sulit dilaksanakan dan dinilai.

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 d. Sebagaian besar guru mengandalkan teknik observasi dalam mengakes karakter siswa, namun pelasanaannya belum mengikuti prosedur yang benar, misalnya tanpa pencatatan data, sporadic, tidak rutin, berbasis perilaku negative (pelanggaran tata tertib). e. Meski sebagaian besar guru mengandalkan observasi sebagai cara penilaian karakter siswa yang paling sering digunakan,meski mereka mengakui banyak kelemahan dari penggunaan observasi itu. f. Sebagain besar guru pada 11 SMP dari berbagai kota di Indonesia mengaku di sekolah mereka ada perencanaan pendidikan karakter yang operasional. Mereka juga mengaku dilibatkan dalam membuat perencanaan itu, namun hanya sedikit sekali guru yang merasa mampu melaksanakan rencana ini. g. Sebagaian besar (hampir 71%) guru mengaku kurang berhasil atau “gagal” mendaratkan perencanaan itu dengan hasil yang baik. h. Sekolah-sekolah swasta memiliki keragaman dan lebih kaya dalam variasi kegiatan pendidikan karakter yang dilaksanakan di sekolah ketimbang sekolah-sekolah negeri. i. Kehadiran Guru BK di sekolah-sekolah negeri belum difungsikan secara optimal sebagai saluran pendidikan karakter, sementara itu pada sekolah-sekolah swasta guru BK diberi jam bimbingan masuk kelas yang dapat digunakan sebagai sarana dan kesempatan memberikan “Bimbingan Karakter” bagi semua siswa di kelas.

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 j. Banyak guru di SMP negeri maupun swasta memilih kegiatan keagamaan sebagai muatan kegiatan pendidikan karakter, namun sedikit sekali (hanya 6 orang) guru yang merasakan adanya peningkatan kesadaran siswa bertaqwa, berdoa, dan beribadah sebagai indikasi keberhasilan pendidikan karakter. k. Sementara itu, kantin kejujuran sebagai sebuah gerakan yang menggelegar pada tahun 2010 bersamaan dengan masa pencanangan pendidikan karakter di sekolah, kini kehilangan momen, mulai terlupakan. l. Banyak indikasi keberhasilan karakter yang dapat ditunjukkan para guru dalam survey ini, namun lebih banyak lagi noda hitam keprihatinan yang menandai ketidakberhasilan pendidikan karakter di sekolah. Masih banyak siswa berperilaku buruk, kurangsopan, melanggar peraturan/tatatertib, kurang jujur, tidak disiplin, masih ada siswa yang suka bolos, bersikap brutal dan menentang guru, putus sekolah karena kawin di usia dini, bahkan ada yang melakukan klitih merupakan sinyal ketidakberhasilan pendidikan karakter di SMP. m. Jadi, maraknya perkelahianantarsiswa, mengganasnyaperilaku bullying dan “klitih”, makin menggilanya perilaku sex bebas dan aborsi di kalangan remaja, bias jadi merupakan sinyal “gagalnya” pendidikan karakter di sekolah dan keluarga. n. Sebagian besar guru mengaku telah melaksanakan asesmen pendidikan karakter secara rutin, namun pelaksanaannya sebagian

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 besar rmasih sebatas perencanaan, angan-angan. Hanya sedikit guru yang mengakui telah sampai pada tahap menghimpun, mengolah, dan menginterpretasi hasil penilaian tersebut. o. Pengakuan mereka telah melaksanakan asesmen pendidikan karakter secara rutin ternyata terbantahkan ketika pada bagian lain mereka mengakui bahwa frekuensi pelaksanaannya tidak menentu, tergantung kebijakan sekolah. Ditemukan inkonsistensi response mereka. Artinya, pelaksanaan asesmen hasil pendidikan karakter pada 11 SMP yang diteliti belum seperti yang diharapkan, masih terabaikan, belum dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip asesmen afektif yang benar. p. Hanya sedikit guru yang dapat merumuskan secara tepat tujuan asesmen pendidikan karakter, sementara sisanya (70%) merumuskan tujuan asesmen campur aduk dengan tujuan pendidikan karakter itu sendiri. q. Sabagian guru menjelaskan bahwa perancangan asesmen pendidikan karakter diserahkan kepada satu tim kerja, sementara sisanya mengaku tanggungjawab itu diserahkan kepada masing-masing guru dan sebagian besar guru mengakui tiada hasil/sulit melakukannya. Fakta di atas menunjukkan bahwa asesmen pendidikan karakter di SMP belum terlaksana secara baik dan masih menemukan banyak kendala. Meskipun demikian, penilaian karakter siswa yang diperoleh dengan caracara seadanya dan belum teruji kehandalan serta diragukan validitas/objektivitasnya seperti itu diakui oleh 76,5% reponden hasilnya

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 66 digunakan sebagai penentu keputusan kenaikan kelas siswa. Jangan-jangan cara kerja semacam ini tidak mendidik, mengorbankan siswa, dan menggabungkan visi-misi serta tujuan pendidikan karakter yang sesungguhnya. D. Media Film dalam Pendidikan Karakter 1. Karakteristik Media Film Karakter Menurut Kustandi dan Sutjipto (2016: 64) film atau gambar merupakan kumpulan gambar-gambar dalam frame. Sedangkan Susilana (Desma Yulia dan Muhammad Arifin, 2016: 35) mengatakan bahwa media film merupakan media yang menyajikan pesan audio visual dan gerak. Sama halnya menurut Trianton (Desma Yulia dan Muhammad Arifin, 2016: 35) media film adalah alat penghubung yang berupa film, media masa alat komunikasi seperti radio, televise, surat kabar, majalah yang memberikan penerangan kepada orang banyak dan mempengaruhi pikiran mereka. UU No. 8 Tahun 1992 Pasal 3 juga menjelaskan bahwa perfilman di Indonesia diarahkan pada pelestarian dan pengembangan nilai budaya bangsa, pembangunan watak dan kepribadian bangsa serta peningkatan harkat dan martabat manusia, pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa, peningkatan kecerdasan bangsa, terpeliharanya ketertiban umum dan rasa kesusilaan, penyajian hiburan yang sehat sesuai dengan norma-norma kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dengan tetap berpedoman pada asas usaha bersama dan kekeluargaan.

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 Dalam media ini, setiap frame diproyeksikan melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga pada layar terlihat gambar itu hidup. Film bergerak dengan capat dan bergantian sehingga memberikan visualisasi yang kontinu. Sama halnya dengan film, video dapat menggambarkan suatu objek yang bergerak bersama-sama dengan suara alamiah atau suara yang sesuai. Film dan video dapat menyajikan informasi, memaparkan proses, menjelaskan konsep-konsep yang rumit, mengajarkan keterampilan, menyingkat atau memperpanjang waktu, dan mempengaruhi sikap. 2. Kekuatan-kekuatan Media Film dalam Pendidikan Karakter Kustandi dan Sutjipto (2016: 64-65) mengungkapkan bahwa keefektifan dari media film sebagai media pendidikan karakter adalah sebagai berikut: a. Film dapat melengkapi pengalaman-pengalaman dasar dari siswa ketika mereka membaca, berdiskusi, praktik, dan lain-lain. Film merupakan pengganti alam sekitar, dan bahkan dapat menunjukan objek secara normal yang tidak dapat dilihat. b. Film dapat menggambarkan suatu proses secara tepat dan dapat disaksikan secara berulang jika diperlukan. Disamping mendorong dan meningkatkan motivasi, melalui media film dapat menanamkan sikap dan segi-segi afektif lainnya. c. Film yang mengandung nilai-nilai positif dapat mengundang pemikiran dan pembahasan dalam kelompok siswa. Bahkan, film

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 seperti selogan yang sering didengar, dapat membawa dunia ke dalam kelas. d. Film dapat menyajikan peristiwa kepada kelompok besar atau kelompok kecil, kelompok yang heterogen maupun perorangan. e. Dengan kemampuan dan teknik penggambilan gambar frame demi frame, film yang dalam kecepatan normal memakan waktu satu minggu dapat ditampilkan dalam satu atau dua menit. Misalnya, bagaimana kejadian mekarnya kembang, mulai dari lahirnya kuncup bunga hingga kuncup itu mekar. 3. Prinsip-prinsip Penggunaan Media Film dalam Pendidikan Karakter Guna mengetahui keberhasilan dalam pembelajaran penanaman nilainilai karakter diperlukan instrumen penilaian yang sesuai dengan tujuannya, dengan cara membandingkan perilaku anak dengan standar (indikator) karakter yang ditetapkan. Sebelum itu, perlu diketahui langkah pengembangan instrumen penilaian tersebut. Menurut Gronlund (Suwandi, 2010) ada enam langkah pengembangan instrumen tes sebagai berikut: a. Menentukan tujuan tes b. Mengidentifikasi hasil belajar yang dimaksudkan c. Merumuskan hasil belajar yang umum dengan istilah yag khusus d. Menetapkan garis-garis besar isi mata pelajaran e. Mempersiapkan tabel spesifikasi f. Menggunakan tabel spesifikasi dalam mempersiapkan tes

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 69 4. Film sebagai Media Asesmen Morris (Hayyun Lathifaty Yasri & Endang Mulyani, 2016: 139) menyebutkan bahwa kreativitas dalam pembelajaran menjadi hal utama yang harus diperhatikan guru. Oleh sebab itu, gaya pembelajaran yang monoton akan membosankan bagi siswa, karena siswa tidak diperkenalkan dengan hal-hal yang baru. Otte (Hayyun Lathifaty Yasri & Endang Mulyani, 2016: 139) menyebutkan bahwa kreativitas dalam pembelajaran dapat diwujudkan dengan menghadirkan pengalaman-pengalam belajar bagi siswa. Sedangkan, Edgar Dale (Hayyun Lathifaty Yasri & Endang Mulyani, 2016: 139) menyebutkan bahwa terdapat 11 macam pengalaman belajar siswa yaitu (1) pengalaman verbal, (2) pengalaman lambang visual, (3) pengalaman melalui radio, (4) pengalaman melalui film, (5) pengalaman melalui televisi, (6) pengalaman melalui pameran, (7) pengalaman karyawisata, (8) pengalaman demonstrasi, (9) pengalaman melalui drama, (10) pengalaman melalui benda tiruan, dan (11) pengalaman langsung. Dalam uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa salah satu metode dalam pembelajaran yang dapat digunakan yaitu dengan menggunakan media film. Masterpiece (Hayyun Lathifaty Yasri dan Endang Mulyani, 2016: 139) menyebutkan bahwa siswa cenderung lebih banyak memahami hal-hal yang terinterpretasikan dalam film dari pada dalam buku teks. Bukan hanya sebagai media pembelajaran saja, film juga dapat digunakan sebagai media asesmen yang mungkin jarang atau bahkan

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 70 belum pernah dilakukan. Jika dalam pembelajaran media film sudah sering digunakan dan sudah teruji efektifitasnya, maka peneliti ingin mengangkat film sebagai media tes untuk mengukur karakter siswa. Film juga mampu mengasah kemampuan analisis siswa dalam menjawab soal-soal yang sudah disiapkan dan berkaitan dengan film tersebut. Berhubungan dengan itu, Champoux (Hayyun Lathifaty Yasri dan Endang Mulyani, 2016: 139) mengatakan bahwa film mampu mencapai ranah kognitif dan afektif siswa. E. Hakikat Status Sosial Ekonomi 1. Pengertian Status, Sosial, dan Ekonomi Menurut Soerjono Soekarto (Irene, 2011), status atau kedudukan diartikan sebagai tempat atau posisisi seseorang dalam suatu kelompok sosial, sehubungan dengan orang-orang-orang lainnya dalam kelompok tersebut atau tempat suatu kelompok sehubungan dengan kelompokkelompok lainnya di dalam kelompok yang lebih besar. Pada umumnya masyarakat mengenal adanya tiga macam kedudukan, yaitu: a. Ascribed-Status yaitu kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa melihat perbedaan-perbedaan rohaniah dan kemampuan. Hal tersebut diperoleh karena kelahiran, kedudukan anak dalam keluarga, kedudukan ibu dalam keluarga. Ascribed-status dapat di jumpai dan berperan dalam masyarakat. menentukan kedudukan seseorang dalam

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 b. Achieved-Status, adalah kedudukan yang dicapai oleh seseorang dengan usaha-usaha yang disengaja. Kedududukan ini bersifat terbuka bagi siapa saja sesuai dengan kemampuan masing-masing individu dalam mengejar serta mencapai tujuan-tujuannya. c. Assigned –Status, merupakan kedudukan yang diberikan kepada seseorang yang bersaja. Kedudukan ini biasannya diberikan oleh suatu kelompok keada seseoramg yang telah memperjuangkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Kedudukan terkadang diberikan kepada seseorang karena telah lama menduduki sebuah suatu pngkat tertentu. Manusia mempunyai dua peran yaitu sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Dalam berintraksi, ada hubungan secara vertikal (hubungan dengan Tuhan sebagai pencipta) dan horizontal (hubungan dengan sesama manusi, alam sekitar, dan makhluk lainnya). Manusia sebagai makhluk sosial, artinya manusia tidak dapat hidup sendirian. Itu artinya manusia membutuhkan orang lain semenjak manusia itu lahir sampai meninggal. Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendirin tanpa bantuan orang lain. Kebutuhan fisik (sandang, pangan, papan), kebutuhan sosial (pergaulan, pengakuan, sekolah, pekerjaan) dan kebutuhan psikis termasuk rasa ingin tahu rasa aman, perasaan religionalisme, tidak mungkin terpenuhi tanpa adanya orang lain. Itu

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 72 artinya manusia membutuhkan dukungan dari sesama untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dirinya sendiri. Menurut Damsar (2011) ekonomi merupakan kata serapan dari bahasa Inggris yaitu economy. Sementara itu kata economy berasal dari bahasa Yunani, yaitu oikomike yang berarti pengelolaan rumah tangga. Adapun yang dimaksud dengan pengelolaan rumah tangga adalah suatu usaha dalam pembuatan keputusan dan pelaksanaannya yang berhubungan dengan pengalokasian sumber daya rumah tangga yang terbatas di antara berbagai anggotannya, dengan mempertimbangkan kemampuan, usaha, dan keinginan masing-masing. Dengan demikian, ekonomi merupakan suatu usaha dalam pembuatan keputusan dan pelaksanaannya yang berhubungan dengan pengalokasian sumberdaya masyarakat (rumah tangga dan pebisnis/perusahaan) yang berberbeda dari setiap individu dengan mempertimbangkan kemampuan, usaha, dan keinginan masing-masing. Berdasarkan dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa status soasial ekonomi adalah gambaran kedudukan seseorang dalam masyarakat berdasarkan keuangan, pendapatan dan perekonomian keluarga. Status sosial ekonomi adalah kedudukan atau posisi seseorang dalam masyarakat, status sosial ekonomi adalah gambaran tentang keadaan seseorang atau suatu masyarakat yang ditinjau dari segi sosial ekonomi, gambaran itu seperti tingkat pendidikan, pendapatan dan sebagainya.

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 Status ekonomi kemungkinan besar merupakan pembentuk gaya hidup keluarga. Pendapatan keluarga memadai akan menunjang tumbuh kembang anak. Karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik primer maupun skunder (Soetjiningsih, 2004). Berdasarkan penggolongannya, Badan Pusat Statistik (BPS, 2014) membedakan pendapatan menjadi 4 golongan adalah: a. Golongan pendapatan sangat tinggi, adalah jika pendapatan rata-rata lebih dari Rp. 3.500.000,00 per bulan b. Golongan pendapatan tinggi adalah jika pendapatan rata-rata antara Rp. 2.500.000,00 – s/d Rp. 3.500.000,00 per bulan c. Golongan pendapatan sedang adalah jika pendapatan rata-rata antara Rp. 1.500.000,00 s/d Rp. 2.500.000,00 per bulan d. Golongan pendapatan rendah adalah jika pendapatan rata-rata 1.500.000,00 per bulan Faktor status sosial ekonomi orang tua sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter pada anak. Tinggi rendahnya dan besar kecilnya pendapatan atau penghasilan, cukup atau kurangnya perhatian dan bimbingan orang tua turut berperan dalam pembentukan karakter anak. Gerungan (2004) menyatakan: keadaan status sosial orang tua mempunyai peranan terhadap perkembangan anak-anak, adanya perekonomian yang cukup, lingkungan material yang dihadapi anak dalam keluarga lebih luas maka dapat memberikan kesempatan untuk mengembangkan berbagai kecakapan. Hubungan orang tuanya hidup dalam status sosial ekonomi serba cukup dan kurang mengalami tekanan-

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 74 tekanan sehingga orang tua dapat mencurahkan perhatian lebih mendalam kepada anaknya apabila tidak dipersulit dangan perkara kebutuhan. Selain itu, Abdulllah Ildi (2011:180), mengemukakan bahwa: keadaan status sosial ekonomi keluarga memiliki peranan yang penting terhadap proses perkembangan anak. Keluarga yang status sosial ekonominya mencukupi menyebabkan lingkungan materil yang dihadapan anak akan lebih luas. Anak dapat memiliki kesempatan mengembangkan kemampuan secara luas atas dukungan ekonomi orang tua. Sebaliknya keluarga yang memiliki status sosial ekonomi cenderung rendah kurang dapat mengembangkan kemampuannya secara luas. Jadi dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa proses perkembangan siswa dipengaruhi oleh keadaan status sosial ekonomi orang tua. Tingkatan status sosial ekonomi juga mempengaruhi perhatian orang tua kepada anak. Status sosial ekonomi tinggi dapat memberikan kesempatan yang lebih besar kepada anak untuk lebih berkembang dengan luas dari pada anak yang yang berstatus sosial ekonomi yang rendah. 2. Klasifikasi Status Sosial Ekonomi a. Status sosial ekonomi atas Status sosial ekonomi atas merupakan kelas sosial yang berada paling atas dari tingkatan sosial yang terdiri dari orang-orang yang sangat kaya seperti kalangan konglomerat, mereka sering menempati posisi teratas dari kekuasaan. Sitorus (2000) menyatakan bahwa status sosial ekonomi atas yaitu status atau kedudukan seseorang di masyarakat yang diperoleh berdasarkan penggolongan menurut harta kekayaan, dimana harta kekayaan yang dimiliki di atas rata-rata

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 75 masyarakat pada umumnya dan dapat memenuh kebutuhan hidupnya dengan baik. b. Status sosial ekonomi bawah Menurut Sitorus (2000) status sosial ekonomi bawah adalah kedudukan seseorang di masyarakat yang diperoleh berdasarkan penggolongan menurut kekayaan, dimana harta kekayaan yang dimiliki termasuk kurang jika dibandingkan dengan rata-rata masyarakat pada umumnya serta tidak mampu dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 3. Tingkat Status Sosial Ekonomi Arifin Noor membagi kelas sosial dalam tiga golongan, yaitu: 1) Kelas atas (upper class) Upper class berasal dari golongan kaya raya seperti golongan konglomerat, kelompok eksekutif, dan sebagainya. 2) Kelas menengah (middle class) Kelas menengah biasanya diidentikkan oleh kaum profesional dan para pemilik toko dan bisnis yang lebih kecil. 3) Kelas bawah (lower class) Kelas bawah adalah golongan yang memperoleh pendapatan atau penerimaan sebagai imbalan terhadap kerja mereka yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kebutuhan pokoknya. (Sumardi, 2004).

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 F. Kajian Penelitian yang Relevan Penelitian yang terkait dengan analisa validasi efektifitas pendidikan karakter penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter siswa SMP berdasarkan latar belakang tempat tinggal siswa berdasarkan status sosial ekonomi orang tua, masih sedikit untuk dijadikan sebagai sumber hasil penelitian yang relevan. Berikut merupakan hasil penelitian yang relevan yang bersangkutan dengan pendidikan karakter berbasis film. Penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya, yaitu; Ni Nyoman Diastrimarina (2017) dengan judul “Pengembangan Prototipe Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Daya Juang dan Karakter Kerja Keras Berbasis Film Karakter di SMP”, Yohanes Billi Cahyadi (2017) dengan judul “Pengembangan Prototipe Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan dan Peduli Sosial Berbasis Film Karakter di SMP”, Yustinus Dasilva Moron (2017) dengan judul “Pengembangan Prototipe Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Kreatif dan Karakter Inovatif Berbasis Film Karakter di SMP”, Inggried Putri Mandasari (2017) dengan judul “Pengembangan Prototipe Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Disiplin dan Karakter Kemandirian Berbasis Film Karakter di SMP”, dan Guslita Seventina (2017) dengan judul “Pengembangan Prototipe Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Demokratis dan Karakter Kepemimpinan Diri Berbasis Film Karakter di SMP.”Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 berawal dari adanya potensi dan masalah yang terkait dengan program pendidikan karakter, serta masalah penilaian karakter dari hasil penerapan pendidikan karakter di sekolah. Relevansi dari penelitian ini dengan penelitian yang dikembangkan oleh peneliti ialah memiliki kesamaan dalam prosedur pengembangannya yaitu menggunakan (R&D) dan memiliki media penilaian karakter yaitu menggunakan film karakter. G. Kerangka Pikir Model soal tes asesmen hasil pendidikan karakter yang efektif belum banyak tersedia di SMP. Kalaupun ada, pendidikan karakter yang terintegrasi dari kurikulum dan implementasi pada sekolah secara khusus pada jenjang SMP, dimana sekolah hanya mampu menilai secara kognitif dan belum sampai pada tahap afeksinya. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan soal tes dari 22 karakter yang ada melalui media film yang didalamnya berisi dilema moral yang berkaitan dengan ke-22 karakter tersebut. Melalui media film yang bermuatan dilema moral tersebut, peserta didik dapat membayangkan kebiasaan yang mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari, ketika mereka menghadapi situasi seperti apa yang terlihat dalam film tersebut. Produk ini juga dapat mempermudah guru untuk menilai hasil pendidikan karakter yang telah diaplikasikan kepada peserta didik. Guru hanya hanya perlu menayangkan film karakter tersebut, dimana didalamnya sudah terdapat potongan film pendek berupa dilema moral beserta pilihan jawaban yang tersusun secara degradasi.

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS FILM KARAKTER Dianalisis Kualitatif Kuantitatif Kesesuaian Karakter Validitas Bahasa Reliabilitas Konstruksi Keefektivitas Soal Test Distribusi Jenjang Ranah Kognitif dan Efeksi Capaian Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Gambar 2.2 Kerangka Pikir Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karaker H. Hipotesis Penelitian Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir diatas, diajukan hipotesis sebagai berikut; 1. Ho: Tidak terdapat perbedaan terhadap hasil penilaian siswa dari berbagai latar belakang Status Sosial Ekonomi Orang tuanya terhadap efektivitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter.

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 Ha: Terdapat perbedaan terhadap hasil penilaian siswa dari berbagai latar belakang pendidikan orang tuanya terhadap efektivitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. 2. Ho: Tidak terdapat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film pada 10 SMP di Indonesia di berbagai Status Sosial Ekonomi orang tuanya. Ha: Terdapat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film pada 10 SMP di Indonesia di berbagai Status Sosial Ekonomi orang tuanya.

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Bab ini menjelaskan model penelitian dan pengembangan, prosedur penelitian dan pengembangan, dan uji coba produk, teknik dan instrumen pengumpulan data, dan teknik analisis data. A. Model Penelitian dan Pengembangan Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (research and development). Sebagaimana telah dipaparkan, Borg and Gall (1998) menyatakan bahwa R & D merupakan proses untuk memvalidasi dan mengembangkan produk-produk penelitian. Menurut Sugiyono (2013: 297) penelitian R & D adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan dan menguji keefektifan suatu produk tertentu. Menurut Syaodih (Putra, 2008: 66) penelitian R & D adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggungjawabkan. Sedangkan menurut Putra (2015: 67) penelitian R & D didefinisikan sebagai metode penelitian yang secara sengaja, sistemis, bertujuan untuk mencaritemukan, merumuskan, memperbaiki, mengembangkan, menghasilkan, menguji keefektifan produk, model, metode, dan jasa, prosedur tertentu yang lebih unggul, baru, efektif, efisien, produktif, dan bermakna. Dapat disimpulkan dari penjelasan para ahli tersebut bahwa Research and Development merupakan jenis penelitian yang menghasilkan dan 80

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 mengembangkan suatu produk tertentu dengan cara yang sistematis. Penelitian ini disebut penelitian pengembangan, karena peneliti mengembangkan suatu produk berupa Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter di Beberapa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Indonesia B. Prosedur Pengembangan Prosedur pengembangan ini menggunakan tahapan penelitian Research and Development model oleh Borg & Gall . Langkah-langkah R & D oleh Borg & Gall terdapat 10 langkah, yaitu: 1. Research and information collection (melakukan penelitian dan pengumpulan informasi) Sebagai penelitian awal terkait dengan produk pendidikan yang akan dikembangkan, termasuk dalam langkah ini antara lain studi literatur yang berkaitan dengan permasalahan yang dikaji, pengukuran kebutuhan, penelitian dalam skala kecil, dan persiapan untuk merumuskan kerangka kerja penelitian. 2. Planning (membuat perencanaan) Pada tahap ini hal yang perlu dilakukan adalah menyusun rencana penelitian yang meliputi merumuskan kecakapan dan keahlian yang berkaitan dengan permasalahan, menentukan tujuan yang akan dicapai pada setiap tahapan, desain atau langkah-langkah penelitian dan jika mungkin/diperlukan melaksanakan studi kelayakan secara terbatas.

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 82 3. Develop Preliminary form of Product (mengembangkan bentuk awal produk) Pada tahap ini yang perlu dilakukan adalah mengembangkan bentuk permulaan dari produk yang akan dihasilkan, termasuk dalam langkah ini persiapan komponen pendukung, menyiapkan pedoman dan buku petunjuk, dan melakukan evaluasi terhadap kelayakan alat-alat pendukung (misalnya pengembangan bahan pembelajaran, proses pembelajaran, dan instrumen evaluasi). 4. Preliminary Field Testing (melakukan uji lapangan awal) Pada tahap ini yang perlu dilakukan yaitu melakukan uji coba lapangan awal dalam skala terbatas, dengan melibatkan 1 sampai dengan 3 sekolah, dengan jumlah 6-12 subyek, pada langkah ini pengumpulan dan analisis data dapat dilakukan dengan cara wawancara, observasi, atau angket. 5. Main Product Revision (melakukan revisi produk utama) Pada tahap ini yang perlu dilakukan yaitu melakukan perbaikan terhadap produk awal yang dihasilkan uji coba awal, perbaikan ini sangat mungkin dilakukan lebih dari satu kali sesuai dengan hasil yang ditunjukkan dalam uji coba terbatas sampai diperoleh draft produk utama yang siap diuji coba lebih luas. 6. Main Field Testing (melakukan uji lapangan untuk produk utama) Pada tahap ini uji coba utama melibatkan khalayak lebih luas, yaitu 5 sampai 15 sekolah, dengan jumlah subyek 30 sampai dengan 100 orang,

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 pengumpulan data dilakukan sebelum dan sesudah penerapan uji coba, hasil yang diperoleh dari uji coba ini adalah sebagai hasil evaluasi terhadap pencapaian hasil uji coba produk yang dibandingkan terhadap pencapaian kelompok control, dengan demikian pada umumnya langkah ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen. 7. Operational Product Revision (melakukan revisi produk operasional) Pada tahap ini yang perlu dilakukan yaitu melakukan perbaikan/penyempurnaan terhadap hasil uji coba lebih luas, sehingga produk yang dikembangkan sudah merupakan desain model operasional yang siap divalidasi 8. Operational Field Testing (melakukan uji lapangan terhadap produk) Langkah uji validasi terhadap model operasional yang telah dihasilkan, dilaksanakan pada 10 sampai dengan 30 sekolah, melibatkan 40 sampai dengan 200 subyek, pengujian ini dilakukan melalui angket, wawancara, observasi dan analisis hasilnya, tujuan langkah ini adalah untuk menentukan apakah desain model yang dikembangkan sudah dapat dipakai di sekolah tanpa harus dilakukan pengarahan atau pendampingan oleh peneliti/pengembang model; 9. Final Product Revision (melakukan revisi produk final) Pada tahap ini yang perlu dilakukan yaitu melakukan perbaikan akhir terhadap model yang dikembangkan agar menghasilkan produk akhir 10. Disemination and Implementation (diseminasi dan implementasi)

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 Tahap ini merupakan langkah menyebarluaskan produk/model yang dikembangkan kepada khalayak/masyarakat luas, langkah ini adalah mengkomunikasikan dan mensosialisasikan produk, baik dalam bentuk seminar hasil penelitian, publikasi pada jurnal, maupun pemaparan kepada skakeholders yang terkait dengan produk tersebut. Langkah-langkah penelitian dan pengembangan menurut Borg and Gall ditunjukkan pada bagan berikut: Gambar 3. 1 Bagan Prosedur Penelitian Pengembangan (Borg and Gall, 2003) Penelitian dan pengumpulan informasi Uji Lapangan Produk Revisi Produk Final Perencanaan Revisi Produk Operasional Mengembangk an bentuk awal produk Uji Lapangan Produk Utama Uji Lapangan Awal Revisi Produk Utama Diseminasi dan Implementasi Tim penelitian sebelumnya pada tahun 2017 telah mengevaluasi pelaksanaan penelitian ini dari tahap 1 sampai pada tahap ke 6. Langkahlangkah yang telah dilalui seperti penlitian dan pengumpulan, perencanaan, mengembangkan bentuk awal, uji lapangan awal, revisi produk utama dan uji lapangan produk utama. Telah dihasilkan 440 butir soal yang di uji secara pararel. Sehingga, tim peneliti pada tahun 2018 melanjutkan langkah-langkah selanjutnya pada tahap 7 dan 8 yaitu revisi produk operasional dan uji lapangan produk pada populasi subjek yang lebih luas.

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 1. Revisi Oprasional Produk Revisi produk oprasional dilakukan terhadap soal tes hasil pemakaian produk Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter pada tahap awal yang dikembangkan memiliki kekurangan maupun kelemahan. Pada tahap revisi produk oprasional ini, digunakan beberapa kriteria atau syarat yang harus dipenuhi dan diperbaiki dari produk yang dihasilkan pada tahap awal, seperti: a. Dilakukan filterisasi soal dari 440 item soal menjadi 88 item soal. b. Potongan film pendek harus menampilkan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai karakter yang dirumuskan oleh Kemendiknas (2010). c. Potongan film didukung oleh pemain film yang notabene anak SMP, karena subjek penelitian merupakan siswa SMP. d. Film merupakan film Indonesia dan berbahasa Indonesia yang bertujuan memudahkan siswa untuk memahami dan menjawab soal tes karakter. e. Kalimat dan tanda baca dalam soal harus sesuai dengan EYD (ejaan yang disempurnakan). EYD yang jelas dapat membantu siswa memahami maksud dari soal dan jawaban yang ada di dalam soal tes karakter. f. Durasi setiap soal ± 2 menit. Durasi tersebut dirasa cukup dengan bentuk soal yang sederhana dan jawaban yang bergradasi, sehingga siswa tidak terlalu lama dalam mengerjakan sebanyak 88 soal.

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 g. Kecocokan soal dengan potongan video. Setiap soal harus cocok dengan potongan video yang ditayangkan, hal ini bertujuan agar nilainilai karakter yang ada didalam soal dan film dapat dipahami oleh siswa. h. Kejelasan suara dan kejernihan film. Suara yang jelas serta film yang jernih sangat membantu siswa untuk memahami apa yang mereka lihat dan dengar dari soal tes. Pada tanggal 17 Maret 2018 tim pengembangan melakukan revisi produk dengan menyortir soal tes karakter dari 440 karakter disortir menjadi 88 soal, masing-masing karakter di ambil 4 soal tes memenuhi syarat-syarat yang seperti yang telah disebutkan diatas, sehingga menjadi 88 soal tes asesmen berbasis film karakter. 2. Uji Lapangan Produk Pada tahap ini peneliti melakukan uji lapangan produk yang terhadap soal yang dihasilkan dari tahap-tahap filterisasi dan revisi kepada peserta didik. Setelah diketahui kelemahnnya dan diperbaiki. Pengujian dapat dilakukan dengan eksperimen lapangan pada 10 SMP pada beberapa kota di Indonesia. Hal ini diperlukan karena terkadang apa yang telah dikonsepkan belum tentu sesuai dengan kenyataan dilapangan. Pengujian dilakukan dengan mengimplementasikan penggunaan produk (88 item soal) diberikan kepada peserta didik sebagai upaya untuk analisis validasi efektivitas pengunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film pada 10 SMP di Indonesia, yaitu; 1) SMP Fransiskus Tanjungkarang, 2) SMP St.

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 Aloysius Turi, 3) SMP N 1 Yogyakarta, 4) SMP Raden Fatah Cimanggu, 5) SMP N 3 Wates, 6) SMP N 31 Purworejo, 7) SMP N 2 Barusjahe, 8) SMP Maria Padang, 9) SMP Pangudi Luhur Wedi Klaten, dan 10) SMP N 2 Playen Gunung Kidul. Tujuan dari uji lapangan produk ini adalah untuk mengetahui dari Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang sudah melalui tahap revisi, memiliki kualitas yang baik dan efektif digunakan sebagai alat tes untuk mengukur karakter siswa di SMP di beberapa SMP tersebut. C. Uji Coba Pemakaian Produk 1. Uji Coba Desain Uji coba desain produk dimaksudkan untuk mengumpulkan data, mengetahui kualitas dan efektivitas soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter yang telah dibuat oleh tim peneliti. Data dari hasil uji coba desain digunakan untuk memperbaiki dan menyempurnakan produk soal tes asesmen berbasis film karakter. Uji coba desain juga melihat sejauh mana produk yang dibuat dapat mencapai sasaran dan tujuan. Kegiatan uji coba desain ini diuji cobakan pada peserta didik kelas VII dan VIII di beberapa SMP di Indonesia. 2. Tempat Penelitian dan Subjek Uji Coba Produk a. Tempat penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada 10 SMP di Indonesia, yaitu:

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 Tabel 3.1 Tempat Penelitian dan Subjek Penelitian No 1 Nama Sekolah SMP Fransiskus Tanjungkarang 2 SMP St. Aloysius Turi 3 SMP N 1 Yogyakarta 4 SMP Raden Fatah Cimanggu 5 SMP N 3 Wates 6 SMP N 31 Purworejo 7 SMP N 2 Barusjahe 8 SMP Maria 9 SMP Pangudi Luhur Wedi 10 SMP N 2 Playen Alamat Jalan Mangga 1, Pasirgintung, Tanjungkarang Pusat, Lampung, 35113 Donokerto, Turi, Sleman, Yogyakarta, 55551 Cik Di Tiro, no. 29, Yogyakarta, 55225 Jalan Raya Genteng, Kec. Cimanggu, Kab. Cilacap, 53256 Jalan Purworejo Km.07, Sogan, Wates, Kulon Progo Jalan Brigjend Katamso 24, Purworejo, 54114 Desa Sinaman, Kec. Barusjahe, Kab. Karo, Medan, Sumatra Utara, 22172 Jalan Gereja, no. 39, Padang, Sumatra Barat Desa Karangrejo, Pandes, Wedi, Glodogan, Klaten Sel., KabupatenKlaten, Jawa Tengah 57426 Gading II, Gading, Playen, GunungKidul, Yogyakarta 55861 b. Subjek Penelitian Subjek ujicoba penggunaan produk penelitian ini adalah peserta didik kelas VII dan VIII tahun ajaran 2018/2019 pada 10 SMP di Indonesia. Berikut adalah jumlah subjek penelitian masing-masing sekolah: 1 2 Tabel 3.2 Jumlah Subjek Uji Coba Penelitian Sekolah Kelas Kelas VII VIII SMP Fransiskus Tanjungkarang 31 siswa 34 siswa SMP Raden Fatah Cimanggu 35 siswa 31 siswa 65 siswa 66 siswa 3 SMP Santo Aloyius Turi 63 siswa No 20 siswa 43 siswa Jumlah

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 4 5 6 7 8 9 SMP N 3 Wates SMP N 31 Purworejo SMP Negeri 1 Yogyakarta SMP Negeri 2 Barusjahe SMP Maria SMP Pangudi Luhur Wedi 35 siswa 30 siswa 31 siswa 37 siswa 35 siswa 35 siswa 35 siswa 31 siswa 32 siswa 32 siswa 35 siswa 35 siswa 70 siswa 61 siswa 63 siswa 69 siswa 70 siswa 70 siswa 10 SMP N 2 Playen 31 siswa 32 siswa 63 siswa 660 siswa Jumlah c. Objek penelitian Objek penelitian ini adalah Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter untuk peserta didik SMP kelas VII dan VIII di 10 SMP di Indonesia. d. Waktu penelitian Pengumpulan data impelemntasi produk ini dilaksanakan pada bulan April-Mei 2018 pada 10 SMP di Indonesia dengan rincian jadwal sebagai berikut. Tabel 3.3 Waktu Penelitian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Sekolah SMP Fransiskus Tanjungkarang SMP Raden Fatah Cimanggu SMP Santo Aloyius Turi SMP N 3 Wates SMP N 31 Purworejo SMP Negeri 1 Yogyakarta SMP Negeri 2 Barusjahe SMP Maria SMP Pangudi Luhur Wedi SMP N 2 Playen Waktu Penelitian 24 April 2018 17 April 2018 21 April 2018 20 April 2018 8 Mei 2018 18 April 2018 dan 19 April 2018 28 April 2018 23 April 2018 dan 24 April 19 April 2018 8 Mei 2018

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 1. Teknik Pengumpulan Data Menurut Zuriah (2007: 171) penggunaan teknik dan alat pengumpulan data yang tepat memungkinkan diperolehnya data yang objektif. Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pilihan ganda menggunakan potongan film yang berdurasi 1-2 menit dan pada akhir film akan dimunculkan soal-soal tes karakter yang akan dijawab oleh siswa dengan waktu yang sudah ditentukan. Soal-soal karakter tersebut tidak ada yang salah dan benar, namun dalam bentuk gradasi soal. Film dan soal karakter yang disajikan adalah sebanyak 88 soal dengan topik yang berbeda, seperti karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Setelah siswa selesai mengerjakan soal yang diberikan, maka siswa diharuskan mengisi angket penilaian (validasi) siswa yang mana angket tersebut merupakan angket tertutup yang memuat penilaian atau pendapat siswa terhadap efektivitas model asesmen yang dikembangkan dan soal-soal tes yang menggambarkan dilema moral yang menggunakan potongan-potongan film karakter. Di samping itu peneliti juga memberikan angket keterlaksanaan dan hambatan asesmen pendidikan karakter di Sekolah Menengah Pertama (SMP) kepada para guru yang memiliki kaitan erat dengan pendidikan

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 91 karakter di sekolah. Angket penilaian terhadap model asesmen yang dikembangkan oleh tim peneliti, bertujuan agar mengetahui masukan dari para guru mata pelajaran yang memiliki kaitan erat dengan pendidikan karakter di sekolah. 2. Instrumen Pengumpulan Data Instrumen penelitian merupakan alat bantu bagi peneliti dalam mengumpulkan data hasil penelitian (Zuriah, 2007: 168). Ada dua macam instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu soal tes asesmen hasil pendidikan karakter yang dikembangkn dalam penelitian ini yang berupa pilihan berganda (multiple choice) dengan menggunakan skala jenjang dan kuesioner validasi siswa terhadap efektivitas model asesmen yang dikembangkan. Kuesioner validasi efektivitas produk penelitian yang digunakan berbentuk pernyataan checklist menggunakan skala Guttman. Pada sub bab ini dijelaskan karakteristik kedua instrumen yang digunakan : a. Kuesioner Validasi Efektivitas Produk Kuesioner validasi efektivitas soal tes menurut penilaian siswa berbentuk pernyataan checklist menggunakan skala Guttman. Sugiyono, (2016: 111) menjelaskan bahwa skala pengukuran dengan tipe ini, memberikan jawaban yang tegas, yaitu “ya-tidak”; “benar-salah”; “pernah-tidak pernah”; positif-negatif”; dan setuju-tidak setuju”. Data yang diperoleh dapat berupa data interval dan data rasio. Skala Guttman yang digunakan dalam efektivitas penggunaan model soal tes karakter,

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 tujuannya untuk melihat efektivitas penggunaan soal tes yang dibuat berdasarkan penilaian siswa. b. Soal Tes Hasil Pendidikan Karakter Menurut Sudjana (2010: 35) alat penilaian hasil belajar dapat digolongkan dalam dua jenis yaitu tes uraian dan tes objektif. Dalam penelitian ini tes yang digunakan adalah tes objektif. Tes objektif berupa pilihan berganda (multiple choice) dengan menggunakan skala jenjang. Tes diberikan kepada siswa yang berbeda tingkatan (kelas VII dan kelas VIII), dalam waktu yang sama, bertujuan untuk melihat perbedaan antara keduanya dan mendapatkan data yang diperlukan. Tes yang akan diberikan dalam bentuk cuplikan video yang menggambarkan perilaku karakter, dikemas dengan tampilan pertanyaan dan pilihan jawaban sehingga siswa tidak lagi membaca dalam bentuk lembaran. Tes yang diterapkan dalam penelitian ini bersifat tertutup karena hanya diberikan pernyataan dan pilihan jawaban yang sesuai dengan keadaan saat ini dan memiliki kebenaran alternatif jawaban berupa pilihan ganda yang bergradasi nilainya mulai dari 1 hingga 4 tidak ada jawaban salah/nol. Tabel 3.4 Konstruk Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Golongan Faktor Variabel Indikator Variabel Karakter Faktor 1: Nilai karakter dalam Religius hubungannya dengan Tuhan Faktor 2: Karakter dalam Jujur Item Soal Faktor 1 Faktor 2 65, 68 66, 67 17, 18, 19, 20

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 hubungannya dengan diri sendiri Tanggung jawab Kreatif Inovatif Daya juang Kerja keras Disiplin Mandiri Rasa ingin tahu Faktor 3: Nilai karakter dalam Menghargai hubungannya dengan sesama. prestasi Demokratis Rendah hati Kepemimpinan Memaafkan Peduli sosial Bersahabat Cinta damai Faktor 4: Nilai karakter dalam Peduli hubungannya dengan lingkungan lingkungan. Faktor 5: Nilai kebangsaan Nasionalisme Toleransi Cinta tanah air 21, 22, 23, 24 25, 26, 27, 28 29, 30, 31, 32 37, 38, 40 33, 35, 36 41, 42,43, 44 45, 46, 47, 48 1, 2, 3, 4 5, 6, 7, 8 57, 58, 59, 60 49, 50, 51, 52 61, 62, 63, 64 53, 54, 55, 56 9, 10, 12 81, 82 85, 86, 87, 88 Faktor 1 Faktor 2 13, 14 15, 16 77, 78, 80 69, 70, 71, 72 73, 74, 76 E. Teknik Analisis Data Sugiyono (2010) mengatakan bahwa teknik analisis data diarahkan untuk menjawab rumusan masalah. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada rumusan masalah. Teknik analisis data dalam penelitian ini disesuaikan dengan poin-poin tujuan penelitiana. 1. Gambaran Produk Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang di Analisis dengan Teknik Deskriptif Kualitatif.

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 94 Produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis fim karakter ini dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Teknik deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk menjelaskan proses revisi dan uji coba dilapangan pada tahap ke 7 dan 8 dalam tahap R & D. 2. Analisis Kualitas Soal-soal tes asesmen hasil penilaan pendidikan karakter berbasis film karakter yang di uji cobakan pada beberapa SMP di Indonesia. Guna melihat kualitas soal-soal tes asesmen hasil penilaian pendidikan karakter berbasis film karakter yang di ujicobakan pada beberapa SMP di Indonesia maka, peneliti menggunakan teknik confirmatory factor analysis dengan bantuan aplikasi SPSS dengan analisi faktor untuk mengukur validutas dan reliabilitas. Teknik ini digunakan untuk menganalisis validitas dan reliabilitas pada soal tes asesmen hasil penilaian pendidikan karakter berbasis film karakter. Tujuannya adalah untuk mengetahui gambaran kualitas soal tes asesmen hasil penilaian pendidikan karakter berbasis film karakter dengan melihat validitas dan reliabilitas soal tes asesmen hasil penilaian pendidikan karakter berbasis film karakter yang di uji cobakan pada siswa kelas VII dan VIII di SMP Fransiskus Tanjungkarang, SMP St. Aloysius Turi, SMP N 1 Yogyakarta, SMP Raden Fatah Cimanggu, SMP N 3 Wates, SMP N 31 Purworejo, SMP N 2 Barusjahe, SMP Maria Padang, SMP Pangudi Luhur Wedi Klaten, dan SMP N 2 Playen Gunung Kidul.

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 a. Validitas Sugiyono (2016) mengatakan bahwa validatas merupakan derajad ketepatan antara dua data yang terjadi pada obyek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peneliti. Validitas akan menunjukkan data yang valid atau tidak. Data yang valid adalah data “yang tidak berbeda” antara data yang dilaporkan oleh peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek penelitian. Bila peneliti membuat laporan yang tidak sesuai dengan apa yang terjadi pada obyek, maka data itu dinyatakan tidak valid. Priyatno (2014) uji validitas adalah suatu variabel dinyatakan valid dan dapat dianalisis lebih lanjut apabila memenuhi kriteria yang menyatakan bahwa angka KMO (Keiser-Mayer-Olkin) MSA (Measures of Sampling Adequacy) pada kolom KMO and Berlett’s Test harus lebih besar atau sama dengan 0,500. Sedangkan, tingkat probabilitas (sig) harus lebih kecil atau sama dengan 5% (0,05). Kemudian untuk mengetahui tiap item valid atau tidak dapat dilihat dari nilai MSA pada kolom Anti Mage Correlation’s. Nilai MSA di atas 0,5 menunjukkan bahwa item valid dan dapat dianalisis lebih lanjut. Validasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi (content validity) dan validitas konstruk.

(114) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 1) Validitas Isi Validasi isi (content validity) isi ditentukan dengan melihat apakah soal-soal yang digunakan telah menunjukkan sample atribut yang diukur. Menurut Guion (Mulyasa, 2004), validitas sangat bergantung kepada dua hal yaitu tes itu sendiri dan proses yang mempengaruhi dalam merespon tes. Salah satu cara untuk memperoleh validitas isi adalah dengan melihat soal-soal yang membentuk tes itu. Jika keseluruhan keseluruhan soal nempak mengukur apa yang seharusnya tes itu digunakan, tidak diragukan lagi bahwa validitas isi sudah terpenuhi. 2) Validitas Konstruk Mulyasa (2004) validitas konstruk berarti bahwa suatu alat ukur dikatakan valid apabila telah cocok dengan konstruksi teoritis dimana tes itu dibuat. Dengan kata lain sebuah tes dikatakan memiliki validasi konstruksi apabila soal-soalnya mengukur setiap aspek berpikir yang sudah diuraikan faktor-faktor yang sudah ditetapkan. Oleh sebab itu uji validitas ini menggunakan analisis faktor. Yamin & Kurniawan (2009) analisis faktor adalah suatu analisis multivarian yang bertujuan untuk meringkas atau mereduksi variabel amatan secara keseluruhan menjadi beberapa variabel atau dimensi baru akan tetapi variabel atau dimensi baru yang terbentuk tetap merepresentasikan

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 97 variabel utama. tersebut dapat menggambarkan faktor utama. Analisi faktor mempunyai dua pendekatan utama, yaitu exporatory factor analysis dan confirmatory factor analysis. Analisis menggunakan faktor pada pendekatan penelitian confirmatory ini, peneliti factor analysis. Confirmatory factor analysis (Yamin & Kurniawan, 2009) digunakan apabila faktor yang akan terbentuk telah ditetapkan terlebih dahulu. Pendekatan confirmatory factor analysis merupakan teknik pengujian yang validasi yang lebih canggih (sophisticated) untuk mengguji apakah faktor-faktor teretis peneliti telah terbukti direfleksikan oleh indikator-indikator yang ada. ∑ Keterangan: = koefisien korelasi = koefisien korelasi parsial ∑ ∑ b. Reliabilitas Patton (Budiastuti & Bandur, 2018) menegaskan bahwa reliabilitas merupakan dipertimbangkan para faktor peneliti yang sangat kualitatif penting dalam untuk mendesain, menganalisis, dan melaporkan hasil penelitian kuantitatif. Dia juga menjelaskan bahwa reliabilitas tidak dapat dipisahkan dari validitas karena validitas penelitian akan melahirkan reliabilitas penelitian.

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 Validitas yang baik dapat menghasilkan reliabilitas penelitian yang baik. Azwar (2012) menjelaskan bahwa reliabilitas merupakan suatu pengukuran yang mampu menghasilkan data yang memiliki tingkat reliabilitas tinggi maka disebut sebagai yang reliabel. Supriyadi Edy (2014) mengatakan bahwa uji realibilitas adalah mengetahui konsisten atau keteraturan hasil pengukuran suatu instrumen apabila instrumen tersebut digunakan lagi sebagai alat ukur suatu objek atau responden. Priyatno (2014) uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui keajegan atau konsistensi alat ukur yang biasannya menggunakan kuesioner. Yang artinya alat ukur tersebut akan mendapatkan pengukuran yang tetap konsisten jika pengukuran diulangi kembali. Metode yang sering digunakan dalam penelitian untuk mengukur skala rentang adalah Cronbach Alpha. Uji reliabilitas merupakan kelanjuatan dari validitas, dimana item yang valid saja. Untuk menentukan apakah instrumen reliabel atau tidak menggunakan batasan 0,6. Menurut Sekaran (Priyatno, 2014), reliabilitas kurang dari 0,6 adalah kurang baik, sedangkan 0,7 dapat diterima dan di atas 0,8 adalah baik. Guna melihat menggunakan rumus sebagai berikut: ∑ Keterangan: k = jumlah item/belahan ) reliabilitas maka peneliti

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 ∑ = jumlah varian belahan dalam tes = varian skor total (Cronbach, 1951) Adapun kategori koefisien reliabilitas (Guilford, 1956: 145) adalah sebagai berikut: 3.  0,80 < r11 1,00 reliabilitas sangat tinggi  0,60 < r11 0,80 reliabilitas tinggi  0,40 < r11 0,60 reliabilitas sedang  0,20 < r11 0,40 reliabilitas rendah.  -1,00 r11 0,20 reliabilitas sangat rendah (tidak reliable). Analisis Data Nilai-Nilai Efektifitas Menurut Penilaian Siswa pada Beberapa SMP di Indonesia dalam Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter. Mengukur nilai-nilai efektifitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter, maka siswa diberikan lembar kuesioner validitas efektivitas soal berisikan 35 item dengan 7 item pernyataan negatif dan 28 pernyataan positif. Peserta didik diminta untuk memilih jawaban “ya” atau “tidak” sesuai dengan hati nuraninya. Oleh sebab itu, untuk mengukur apakah item-item pernyataan memiliki nilai efektivitas yang bergradasi, maka peneliti menentukan skor kriteria yang berpatokan dengan kategori PAP (Penilaian Acuan Patokan) Tipe I (Masidjo, 1995: 153). Penilain responden dikatakan sangat efektif jika mencapai 90%-100%, efektif apabila mencapai 80%-89%, cukup efektif jika mencapai 65%-79%, kurang efektif 55%-64%, dan tidak efektif

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 <55%. Untuk mengukur nilai-nilai efektifitas soal tes, maka peneliti mengunakan rumus sebagai berikut ini: Pem = ∑ Keterangan: Pem = Persentase capaian skor ∑ Jumlah jawaban setiap item N = Jumlah responden Tabel 3.5 Norma Kategorisasi PAP Tipe 1 Kategori Persentase (%) 90%-100% Sangat Efektif 80%-89% Efektif 65%-79% Cukup Efektif 55%-64% Kurang Efektif <55% Kurang Efektif 4. Teknik Analisis Data Capaian Hasil Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang Dianalisis dengan Teknik Deskriptif Kuantitatif Guna melihat hasil pendidikan karakter yang diukur dengan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter, penelitian menggunakan rumusan norma kategorisasi Azwar (2012).

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 101 Tabel 3.6 Norma Kategorisasi Skor Kategorisasi µ +1σ
(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 Guna menjawab rumusan masalah nomor 5, peneliti menggunakan tes tes statistik non-paramentrik dengan pendekatan tes Chi Square ( ) digunakan untuk mengetes sampel yang skor dalam frekuensi. Untuk melakukan uji Chi Square dapat menggunakan fasilitas Crosstab yang terdapat pada program SPSS. Uji Chis Square bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel yang terdapat pada barisan kolom. Rumus tes Chi Square adalah: ∑ ∑ Keterangan: r= Jumlah Kategori dalam baris c= jumlah kategori dalam kolom = Skor frekuendi yang diamati, yang terjadi = Skor frekuensi yang diharapkan Degree of freedom= (r-1)(c-1) 6. Analisis Perbedaan Capaian Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film pada Beberapa Siswa SMP di Indonesia yang Berdasarkan Status Sosial Ekonomi Orang Tua Guna menjawab rumusan masalah nomor 6, peneliti menggunakan analisis varians satu arah (One Way Analysis of Variance-ANOVA). Anova adalah prosedur statistika untuk mengkaji (mendeterminasi) apakah rata-rata hitung (mean) dari tiga populasi atau lebih, sama, atau

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 tidak. Prosedur anova menggunakan variabel numerik tunggal yang diukur dari sejumlah sampel untuk menguji hipotesis nol dari populasi yang (diperkirakan) memiliki rata-rata hitung (mean) sama. Variabel dimaksud harus berupa variabel kuantitatif. Analisis varian, varian disebut a mean square (MS). Rumusannya adalah sebagai berikut: Rumusan F ini untuk menjadi one factor between subject design. MSbetween adalah varian between-groups, diturunkan dari varian dalam mean sample karena efek independen variabel dan juga sampling error. MSwithin adalah varian within-group. Mengukur variansi dalam skor dalam keadaan treatment, sejauh mana observasi dalam group bervariasi. Mean squaer (MS) dicari dengan persamaan berikut: Di mana SS= sum square dan df=degree of freedom, sehingg berlaku: Sedangkan SSbetween SSwithin dan SStotal dapat ∑ ∑ dicari dengan persamaan:

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 ∑ ∑ ∑ Sedangkan derajat kebebasannya dapat dihitung dengan: Df untuk Ssbetween= (K-1) Df untuk SSwithin= (N-K) Df untuk SStotal= N-1 K= jumlah kelompok treatment N= jumlah keseluruhan sample Berikut hipotesis sementara dari peneliti adalah: ∑

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab ini dijelaskan hasil-hasil penelitian dan pengembangan serta pembahasan. Sistematika pemaparan mengikuti urutan ru musan masalah yang diajukan pada Bab 1 dalam penelitian ini. Dengan cara ini dimaksudkan pertanyan-pertanyaan penelitian dapat dijawab secara berurutan. A. Hasil Penelitian 1. Produk Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang Diujikembangkan pada 10 SMP di Indonesia Sebagaimana dipaparkan pada bab 3 dalam metodologi penelitian pendidikan mengenai prosedur model penelitian pengembangan Borg and Gall mengungkapkan bahwa Educational Research and Development merupakan proses untuk mengembangkan dan memvalidasi produkproduk pendidikan. Langkah-langkah Research and Development menurut Borg and Gall (2003) meliputi 10 langkah, yaitu: (1) Research and information collection (melakukan penelitian dan pengumpulan informasi); (2) Planning (membuat perencanaan); (3) Develop Preliminary form of Product (mengembangkan bentuk awal produk); (4) Preliminary Field Testing (melakukan uji lapangan awal); (5) Main Product Revision (melakukan revisi produk utama); (6) Main Field Testing (melakukan uji lapangan untuk produk utama); (7) Operational 105

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 Product Revision (melakukan revisi produk operasional); (8) Operational Field Testing (melakukan uji lapangan terhadap produk); (9) Final Product Revision (melakukan revisi produk final); (10) Disemination and Implementation (diseminasi dan implementasi). penelitian ini telah memasuki pada tahap (7) Operational Product Revision (melakukan revisi produk operasional); (8) Operational Field Testing (melakukan uji lapangan terhadap produk). Pada tahapan ini peneliti telah melakukan perevisian produk dan mengujicobakan produk tersebut ke 10 sekolah yang ada di Indonesia. Tahap revisi produk yang telah peneliti lakukan adalah memilih potongan film pendek yang menampilkan karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab; memilah potongan film yang notabene adalah anak SMP (sesuai dengan umur subjek); mensortir film yang berbahasa Indonesia dan berasal dari Indonesia; mengedit kalimat dan tanda baca dalam soal yang mana harus sesuai dengan EYD; mengedit durasi setiap soal yaitu kurang lebih 2 menit; mencocokan soal dengan potongan video; mengedit kejelasan suara: dan memilih kejernihan film. Setelah melewati proses yang panjang maka produk penelitian pengembangan pada tahap revisi produk ini terfilterisasi 88 soal tes asesmen yang terseleksi dari 440 butir soal tes yang telah dikembangan

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 107 oleh tahun sebelumnya. Setelah itu, sebanyak 88 butir soal tes tersebut diujicobakan secara empirik di lapangan seperti yang telah disebutkan pada bab 3, sebagaimana yang telah dijelaskan bab 3. Bentuk fisik 88 soal itu telah didokumentasikan pada sebuah dvd. Produk final soal tes yang dikembangkan peneliti bersama tim merupakan hak otoritas pengemban. Oleh sebab itu, peneliti hanya mencantumkan 1 contoh soal, bagi pihakpihak yang membutuhkan bisa menghubungi ke email: bardon.usd@gmail.com Sebagai seseorang yang suka menolong dan pemaaf, ketika kamu berada pada posisi anak perempuan tersebut, apa yang kamu lakukan? a. Saya mengangkat barang belanjaan ibu dengan iklhas dan tidak menghiraukan perkataannya b. Saya mengangkat barang belanjaan ibu dan memaafkan perbuatan yang telah dilakukan olehnya c. Saya mengangkat barang belanjaan ibu dan mengatakan bahwa saya tidak menyukai sifat ibuku yang kasar kepadaku d. Saya mengangkat barang belanjaan ibu apabila ia berjanji tidak berbuat kasar padaku https://www.youtube.com/watch?v=yrw2Ksldw-I RUBIK: A:3 B:4 C:2 D:1 Gambar 4.1 Contoh Butir Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 Gambar 4.2 DVD Dokumentasi Soal Tes 2. Kualitas Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter yang Diujikembangkan pada 10 SMP di Indonesia a. Validitas Tabel 4.1 Hasil Analisis Faktor Variabel 1 KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Bartlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square Df Sig. .502 36.020 6 .000 Tabel 4.2 Total Variance Explained Extraction Sums of Squared Loadings Rotation Sums of Squared Loadings % of % of Component Total Variance Cumulative % Total Variance Cumulative % 1 1.232 30.788 30.788 1.175 29.369 29.369 2 1.066 26.653 57.441 1.123 28.072 57.441 Extraction Method: Principal Component Analysis.

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 Tabel 4.3 Rotated Component Matrixa Component 1 .664 f1.65 2 f1.66 .823 f1.67 .662 f1.68 .784 Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization. a. Rotation converged in 3 iterations. Nilai KMO-MSA yaitu 0,502 sehingga nilai KMO-MSA lebih besar dari 0,50 dan signifikansi Barlett 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 sehingga instrumen penelitian ini layak digunakan. Tabel rotated component matrix menunjukkan item-item yang membentuk faktor. begitu pula pada faktor selanjutnya, dimana nilai factor loading yang berada dalam satu kolom mengartikan item tersebut dalam faktor yang sama. Hasil diatas keempat item pada variable 1 memiliki factor loading diatas 0,5 sehingga seluruh item valid dan membentuk 2 faktor dimana faktor pertama terdiri dari item 65 dan 68 sedangkan faktor kedua terdiri dari item 66 dan 67. Tabel 4.4 Hasil Analisis Faktor Variabel 2 dan Variabel 3 KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Bartlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square Df Sig. .954 19133.516 2278 .000

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 Tabel 4.5 Total Variance Explained Component 1 Initial Eigenvalues % of Varianc Cumulati Total e ve % 15.375 22.610 22.610 2 9.204 13.536 36.146 3 1.989 2.925 39.070 4 1.779 2.616 41.686 5 1.449 2.132 43.817 6 1.181 1.736 45.554 7 1.116 1.641 47.195 8 1.039 1.529 48.723 9 1.025 1.507 50.230 10 .994 1.462 51.692 11 .976 1.435 53.126 12 .949 1.396 54.522 13 .935 1.376 55.898 14 .927 1.364 57.261 15 .897 1.319 58.580 16 .867 1.276 59.856 17 .851 1.251 61.107 18 .844 1.242 62.348 19 .806 1.185 63.533 20 .788 1.159 64.692 21 .782 1.150 65.842 22 .777 1.142 66.985 23 .770 1.132 68.117 24 .754 1.109 69.226 25 .719 1.057 70.283 26 .704 1.035 71.319 27 .701 1.030 72.349 28 .693 1.019 73.368 29 .669 .984 74.352 30 .654 .962 75.313 31 .647 .952 76.265 32 .642 .944 77.209 33 .627 .923 78.132 34 .616 .905 79.037 35 .603 .887 79.923 Extraction Sums of Rotation Sums of Squared Loadings Squared Loadings % of % of Cumul Varia Cumul Tota Varia ative Total nce ative % l nce % 15.375 22.61 22.610 12.5 18.45 18.453 0 48 3 9.204 13.53 36.146 12.0 17.69 36.146 6 31 2

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 36 .591 .870 80.793 37 .585 .861 81.654 38 .558 .820 82.474 39 .554 .815 83.290 40 .541 .796 84.086 41 .537 .789 84.875 42 .520 .764 85.640 43 .514 .756 86.395 44 .506 .744 87.139 45 .473 .695 87.834 46 .462 .679 88.514 47 .452 .665 89.179 48 .450 .662 89.841 49 .435 .640 90.480 50 .429 .631 91.111 51 .420 .618 91.729 52 .412 .605 92.334 53 .408 .601 92.935 54 .387 55 .378 56 .374 .549 94.610 57 f2.1 58 f2.2 .371 .546 95.156 .720 .354 .520 95.676 .621 59 f2.3 60 f2.4 .344 .506 96.182 .577 .330 .486 96.668 .658 61 f2.17 62 f2.18 .326 .480 97.148 .601 .317 .466 97.614 .509 63 f2.19 64 f2.20 .307 .451 98.065 .666 .291 .429 98.493 .595 65 f2.21 66 f2.22 .277 .407 98.900 .577 .263 .387 99.287 .602 67 f2.23 68 f2.24 .247 .363 99.650 .605 .238 .350 100.000 .634 .569 93.504 Tabel 4.6 Rotated Matrixa .557 Component 94.061 Component 1 2 Extraction Method: Principal Component Analysis. f2.25 .659 f2.26 .566 f2.27 .671 f2.28 .524 f2.29 .621 f2.30 .600 f2.31 .555 f2.32 .647 f2.33 .503 f2.34

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 f2.35 .586 f2.36 .560 f2.37 .556 f2.38 .584 f2.39 f2.40 .525 f2.41 .504 f2.42 .551 f2.43 .556 f2.44 .520 f2.45 .542 f2.46 .531 f2.47 .654 f2.48 .590 f3.5 .819 f3.6 .545 f3.7 .639 f3.8 .710 f3.9 .716 f3.10 .632 f3.11 f3.12 .584 f3.49 .606 f3.50 .612 f3.51 .546 f3.52 .620 f3.53 .617 f3.54 .526 f3.55 .501 f3.56 .576 f3.57 .684 f3.58 .505 f3.59 .578 f3.60 .569 f3.61 .614 f3.62 .727 f3.63 .633 f3.64 .656 f3.81 .624 f3.82 .575 f3.83 .556 f3.84 f3.85

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113 f3.86 .690 f3.87 .548 f3.88 .574 Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization. a. Rotation converged in 3 iterations. Nilai KMO-MSA yaitu 0,954 sehingga nilai KMO-MSA lebih besar dari 0,50 dan signifikansi Barlett 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 sehingga instrument penelitian ini layak digunakan. Tabel rotated component matrix menunjukkan item-item yang membentuk factor. begitu pula pada factor selanjutnya, dimana nilai factor loading yang berada dalam satu kolom mengartikan item tersebut dalam factor yang sama. Hasil diatas diperoleh banyaknya 2 item tidak valid pada variable 2 dan 3 item tidak valid variable 3. Tabel 4.7 Hasil Analisis Faktor Variabel 4 KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Bartlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square Df Sig. .502 20.878 6 .002 Tabel 4.8 Total Variance Explained Extraction Sums of Squared Loadings % of Component Total Variance Cumulative % 1 1.152 28.811 28.811 2 1.095 27.371 56.182 Extraction Method: Principal Component Analysis Rotation Sums of Squared Loadings % of Total Variance Cumulative % 1.134 28.352 28.352 1.113 27.829 56.182

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 Tabel 4.9 Rotated Component Matrixa Component 1 2 f4.13 .704 f4.14 .731 f4.15 -.715 f4.16 .707 Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization. a. Rotation converged in 3 iterations. Nilai KMO-MSA yaitu 0,502 sehingga nilai KMO-MSA lebih besar dari 0,50 dan signifikansi Barlett 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 sehingga instrument penelitian ini layak digunakan. Tabel rotated component matrix menunjukkan item-item yang membentuk faktor. begitu pula pada faktor selanjutnya, dimana nilai factor loading yang berada dalam satu kolom mengartikan item tersebut dalam faktor yang sama. Hasil diatas keempat item pada variable 4 memiliki factor loading diatas 0,5 sehingga seluruh item valid dan membentuk 2 faktor dimana faktor pertama terdiri dari item 15 dan 16 sedangkan factor kedua terdiri dari item 13 dan 14. Tabel 4.10 Hasil Analisis Faktor Variabel 5 KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Bartlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square Df Sig. .758 693.702 66 .000 Tabel 4.11 Total Variance Explained Component 1 Extraction Sums of Squared Loadings Rotation Sums of Squared Loadings % of % of Total Variance Cumulative % Total Variance Cumulative % 2.562 21.348 21.348 2.089 17.407 17.407 2 1.275 10.623 31.971 3 1.133 9.440 41.411 Extraction Method: Principal Component Analysis. 1.454 1.427 12.115 11.889 29.522 41.411

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 115 Tabel 4.12 Rotated Component Matrixa Component 1 2 f5.69 .641 f5.70 .635 f5.71 .652 f5.72 .630 3 f5.73 .592 f5.74 .560 f5.75 f5.76 .553 f5.77 .533 f5.78 .580 f5.79 f5.80 .684 Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization. a. Rotation converged in 5 iterations. Nilai KMO-MSA yaitu 0,758 sehingga nilai KMO-MSA lebih besar dari 0,50 dan signifikansi Barlett 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 sehingga instrument penelitian ini layak digunakan. Table rotated component matrix menunjukkan item-item yang membentuk factor. Begitu pula pada factor selanjutnya, dimana nilai factor loading yang berada dalam satu kolom mengartikan item tersebut dalam factor yang sama. Hasil diatas terdapat 7 item pada variable 5 memiliki factor loading diatas 0,5 sehingga ke 7 item valid dan membentuk 3 faktor dimana factor pertama terdiri dari item 69,70,71,72 sedangkan factor kedua terdiri dari itr 73,74,76 dan factor ketiga terdiri dari item 77,78,80. Pada variable 5 ini terdapat 2 item tidak valid.

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 116 b. Reliabilitas Tabel 4.13 Reliability Case Processing Summary N Cases Valid a Excluded Total % 660 100.0 0 .0 660 100.0 a. Listwise deletion based on all variables in the procedure. Tabel 4.14 Scale: ALL VARIABLES Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items .933 88 Tabel 4.13 menjelaskan tentang jumlah data yang valid untuk diproses dan data yang dikeluarkan serta persentasenya. Dapat diketahui bahwa data atau case yang valid berjumlah 660 dengan presentase 100% dan tidak ada data yang dikeluarkan. Tabel 4. 14 adalah hasil dari analisis reliabilitas dengan teknik Cronbach Alpha. Dapat diketahui nilai Cronbach Alpha adalah 0.933. Menurut Sekaran (1992), reliabilitas kurang dari 0.6 adalah kurang baik, sedangkan 0.7 dapat diterima dan di atas 0.8 adalah baik.

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 117 3. Nilai-Nilai Validitas Efektivitas Penggunaan Produk Soal Tes Asesmen Menurut Penilaian Siswa Untuk mengukur nilai-nilai efektivitas penggunanan soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter yang dikembangkan dalam penelitian ini, kepada siswa diberikan skala perseptual terlampir pada lampiran 2. Penggunaan inventori tersebut pada partisipan penelitian memberikan data sebagai berikut, dapat dilihat pada tabel 4.15. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Tabel 4.15 Rekapitulasi Hasil Efektivitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Menurut Penilaian Siswa pada 10 di Indonesia Ya Tidak Pernyataan % F F Menarik dan asyik Menyenangkan dan menghibur Sangat bermanfaat untuk menyadari kualitas diri Menyadarkan saya untuk memperbaiki perilaku Membuka mata hati/nuraniku Mendorong tekad/keberanian berbuat lebih baik Menyadarkanku bahwak ku pernah berbuat salah Membuatku merasa malu pada diri sendiri Menumbuhkan rasa diri berharga Menyadarkan diriku bahwa aku punya kelemahan/kekurangan diri Membuatku merasa sedih dan prihatin terhadap keadaan sekelilingku Sangat bermanfaat mendorong aku memperbaiki perilaku yang kurang baik Menimbulkan rasa menyesal dalam diriku terhadap kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan Menumbuhkan keinginan menolong 631 617 29 43 95.6% 93.5% 652 8 98.8% 652 637 8 23 98.8% 96.5% 642 18 97.3% 636 24 96.4% 444 602 216 58 67.3% 91.2% 642 18 97.3% 586 74 88.8% 644 16 97.6% 598 644 62 16 90.6% 97.6%

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 118 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 orang lain Menumbuhkan rasa bersyukur Menantang diri untuk bertobat dari perilaku buruk Membosankan dan melelahkan Soal-soalnya sangat berat dan sulit Soalnya terlalu panjang dan rumit Mendorong/menumbuhkan keberanian bertanggungjawab Membangkitkan kesadaran menghargai teman Menumbuhkan rasa kemanusiaan dan empati pada orang lain Mempererat rasa persaudaraan/persahabatan Menumbuhkan ketaatan terhadap norma/peraturan Membangkitkan keinginan berusaha/gigih/berdaya juang Sangat baik/cocok/tepat untuk mengukur karakter siswa Beberapa potongan film tidak nyambung dengan pertanyaan & opsi jawaban Menumbuhkan keinginan berbagi/rela berkorban Mendorong siswa lebih disiplin/berperilaku baik/tertib pada aturan Waktu mengerjakan tes ini terburu-buru dan terlalu singkat/kurang waktu Tes ini merupakan cara menilai karakterku (siswa) secara jujur dan adil Tes ini bagus dilakukan di akhir tiap semester untuk menilai karakter siswa Tes ini jika dilakukan secara berulang dapat menolong siswa untuk lebih sadar berperilaku dan membangun karakter yang lebih baik Tes ini kurang bermanfaat bahkan membuang-buang waktuku (siswa) Dalam menjawab soal tes ini siswa mungkin kurang jujur sesuai nuraninya 646 14 97.9% 589 141 92 174 71 519 568 486 89.2% 78,3% 86,1% 73.7% 635 25 96.2% 649 11 98.3% 643 17 97.4% 640 20 97% 645 15 97.7% 646 14 97.9% 629 31 95.3% 1 659 99,85% 625 35 94.7% 633 27 95.9% 211 449 68.1% 640 20 97% 595 65 90.2% 617 43 93.5% 65 595 90.16% 316 344 52.2%

(137) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 119 Keterangan: Pernyataan nomor 17, 18, 19, 27, 30, 34, dan 35 merupakan pernyataan negatif. Berdasarkan tabel 4.1 Terdapat 35 nomor item yang mengandung 28 item positif dan 7 item negatif. Dari 35 nomor item tersebut yang masuk dalam kriteria sangat efektif (90%-100%) adalah 27 item, efektif (80%-89%) sebanyak 3 item, cukup efektif (< 80%) sebanyak 4 item, dan tidak efektif (<55%) sebanyak 1 item. Tabel 4.16 Kategorisasi Hasil Efektifitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Menurut Penilaian Siswa pada Beberapa SMP di Indonesia Kategori Sangat Efektif Persentase (%) 90%100% Banyak Item 27 Nomor Pernyataan Efektif 80%-89% 3 1, 2, 3, 4 ,5, 6, 7,9, 10, 12, 13, 14, 15, 20, 21, 22,23,24, 25, 26, 27, 28, 29, 31, 32,33,34 11, 16,18 Cukup Efektif <80% 4 8,30, 19,17 Kurang efektif 55%-64% 1 0 Tidak efektif <55% 0 35 4. Capaian Hasil Pendidikan Karakter yang Diukur dengan Menggunakan Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Pada Beberapa SMP di Indonesia Capaian hasil pendidikan karakter diukur dengan menggunakan soal tes asesmen berbasis film karakter pada 10 siswa SMP yang ada di Indonesia, sebanyak 660 siswa SMP diperlihatkan potongan film karakter pendek. Potongan film tersebut berdurasi ± 1 sampai 2 menit beserta soal dengan waktu yang sudah ditentukan. Pilihan jawaban disajikan bergradasi, sehingga tidak ada jawaban benar dan salah. Dalam hal ini siswa memilih jawaban yang menurutnya paling sesuai dengan dirinya. Hasil pendidikan karakter tersebut dihitung menggunakan Norma Kategorisasi Azwar, sebagai berikut:

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 120 Tabel 4.17 Rumus Norma Tiga Kategorisasi Rendah Sedang Tinggi X < M – 1SD M – 1SD < X < M + 1SD M + 1SD < X Melalui rumus norma tiga kategorisasi tersebut, dapat di cari skor-skor mana saja yang termasuk dalam kategori rendah, sedang, maupun tinggi. Oleh sebab itu, sebelum masuk ke SPSS, peneliti mencari skor-skor tersebut terlebih dahulu sebagai berikut: X maks = jumlah soal asesmen x nilai terbesar. = 88 x 4 = 352 X min = jumlah soal asesmen x nilai terkecil = 88 x 1 = 88 Simpangan baku/SD = Mean/X = Tabel 4.18 Pengkategorisasian Kategori Rumus Rendah M – 1SD < X Sedang M – 1SD < X < M + 1SD X < M + 1SD Tinggi Pengkategorisasian 176 < 220=Kurang baik 176 ≤ 220 <264= Cukup Baik 220 < 264= Baik Dari jawaban tersebut dapat terlihat capaian hasil pendidikan karakter berbasis film karakter dari tingkatan tinggi, sedang, maupun rendah. Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut:

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 121 Tabel 4.19 Kategori Capaian Hasil Pendidikan Karakter Ordinal Capaian Hasil Tinggi Sedang Valid Total Frequency 338 322 Percent 51.2 48.8 Valid Percent 51.2 48.8 660 100.0 100.0 Cumulative Percent 51.2 100.0 Berdasarkan hasil perhitungan, tabel di atas menunjukkan bahwa dari 660 siswa yang mengerjakan soal tes ini, terdapat 338 siswa yang termasuk memiliki karakter dalam kategori tinggi. Terdapat 322 siswa yang termasuk memiliki karakter dalam kategori sedang dan tidak ada anak yang memiliki karakter yang berkategori rendah. hasil pendidikan karakter yang diukur menggunakan soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter pada 660 siswa di beberapa SMP di Indonesia dalam kategori tinggi sebanyak 338 siswa dan kategori sedang 322 siswa serta tidak ada siswa yang masuk dalam kategori rendah. 5. Perbedaan Penilaian Siswa Berdasarkan Status Sosial Ekonomi Orangtua Terhadap Efektivitas Penggunaan Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Pada Beberapa SMP di Indonesia Untuk melihat apakah terdapat perbedaan penilaian dari siswa yang status sosial ekonomi orang tuannya tinggi, sedang, dan rendah terhadap efektivitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter, maka peneliti memberikan 1 lembar kertas penilaian kepada siswa setelah mereka selesai mengerjakan soal tes. Lembar efektivitas siswa berisiskan 35 pernyataan mengenai penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter. Hasil rumusan masalah nomor 5 menunjukkan penilaian siswa spesifik

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 122 yaitu status sosial ekonomi orang tuanya tinggi, sedang, dan rendah. Data menunjukkan bahwa ada 7 itempernyataan yang signifikan dan 28 item pernyataan yang tidak signifikan yang disajikan dalam bentuk tabel dan dapat dilihat pada table 4.20. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Tabel 4.20 Persentase Penilaian Siswa Berdasarkan Status Sosial Ekonomi Orang Tuanya Tinggi (SSET), Status Sosial Ekonomi Orang Tuanya Sedang (SSES), dan Status Sosial Ekonomi Orang Tuanya Rendah (SSER) Terhadap Efektivitas Penggunaan Soal Tes Sig Persentase (%) Pernyataan Sig. Pv SSER SSES SSET Menarik dan asyik Menyenangkan dan menghibur Sangat bermanfaat untuk menyadari kualitas diri Menyadarkan saya untuk memperbaiki perilaku Membuka mata hati/nuraniku Mendorong tekad/keberanian berbuat lebih baik Menyadarkanku bahwak ku pernah berbuat salah Membuatku merasa malu pada diri sendiri Menumbuhkan rasa diri berharga Menyadarkan diriku bahwa aku punya kelemahan/kekurangan diri Membuatku merasa sedih dan prihatin terhadap keadaan sekelilingku Sangat bermanfaat mendorong aku memperbaiki perilaku yang kurang baik Menimbulkan rasa menyesal dalam diriku terhadap kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan Menumbuhkan keinginan menolong orang lain Menumbuhkan rasa bersyukur Menantang diri untuk bertobat dari Ya Ya 0.000 0.000 66% 67% 13% 13% 51% 20% Tidak Tidak 0.296 64% 13% 22% 0.126 0.087 64% 65% 13% 14% 22% 21% 0.187 65% 13% 22% 0.504 64% 13% 22% 0.026 0.806 68% 64% 12% 14% 20% 22% 0.335 65% 13% 22% 0.115 66% 13% 22% 0.029 65% 13% 22% 0.506 64% 13% 23% 0.318 0.994 0.627 65% 65% 64% 13% 13% 14% 22% 22% 22% Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Tidak

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 perilaku buruk Membosankan dan melelahkan Soal-soalnya sangat berat dan sulit Soalnya terlalu panjang dan rumit Mendorong/menumbuhkan keberanian bertanggungjawab Membangkitkan kesadaran menghargai teman Menumbuhkan rasa kemanusiaan dan empati pada orang lain Mempererat rasa persaudaraan/persahabatan Menumbuhkan ketaatan terhadap norma/peraturan Membangkitkan keinginan berusaha/gigih/berdaya juang Sangat baik/cocok/tepat untuk mengukur karakter siswa Beberapa potongan film tidak nyambung dengan pertanyaan & opsi jawaban Menumbuhkan keinginan berbagi/rela berkorban Mendorong siswa lebih disiplin/berperilaku baik/tertib pada aturan Waktu mengerjakan tes ini terburuburu dan terlalu singkat/kurang waktu Tes ini merupakan cara menilai karakterku (siswa) secara jujur dan adil Tes ini bagus dilakukan di akhir tiap semester untuk menilai karakter siswa Tes ini jika dilakukan secara berulang dapat menolong siswa untuk lebih sadar berperilaku dan membangun karakter yang lebih baik Tes ini kurang bermanfaat bahkan membuang-buang waktuku (siswa) Dalam menjawab soal tes ini siswa mungkin kurang jujur sesuai nuraninya Ya Tidak Tidak Tidak 0.002 0.913 0.356 67% 65% 63% 13% 13% 14% 19% 24% 23% 0.400 65% 14% 22% 0.299 65% 13% 22% 0.837 65% 13% 22% 0.432 65% 14% 22% 0.982 65% 13% 22% 0.660 65% 13% 22% 0.762 65% 13% 22% 0.130 65% 15% 21% 0.670 65% 13% 22% 0.379 65% 13% 22% Ya 0.019 62% 16% 22% Tidak 0.672 65% 13% 22% 66% 13% 22% 0.280 66% 13% 21% 0.343 64% 14% 22% 0.508 65% 15% 21% Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 124 Keteranga: item-item pernyataan 17, 18, 19, 27, 30, 34, 15 sebelumnya adalah item negatif maka peneliti mencantumkan jawaban “Tidak” pada persentase (%). Tabel 4.20 menunjukan bahwa ada 7 item efektivitas yang penilaian siswa ketiga golongan yang signifikan, yaitu item nomor 1, 2, 8, 12, 17, 30, dan 32. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan penilain siswa yang status sosial ekonomi orang tuannya tinggi, status sosial ekonomi orang tuannya sedang, dan status sosial ekonomi orang tuannya rendah dalam hal menilai produk soal tes ini sebagai tes yang bagus dilakukan di akhir tiap semester untuk menilai karakter siswa. Selain 7 item tersebut, data menunjukkan bahwa penelian siswa berdasarkan status sosial ekonomi orang tuannya tinggi, status sosial ekonomi orang tuannya sedang , dan status sosial ekonomi orang tuanya rendah tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam menilai efektivitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter. Artinya, soal tes asesmen ini dapat digunakan kepada siswa tenpa harus melihat status sosial ekonomi tinggi, sedang, dan rendah. 6. Perbedaan Capaian Hasil Pendidikan Karakter Berbasis Film Karakter Pada Status Sosial Eknomi Orangtua Pada Beberapa SMP di Indonesia Untuk melihat perbedaan capaian hasil pendidikan karakter, peneliti memberikan produk berupa asesmen penilaian pendidikan karakter pada siswa yang berdasarkan status sosial ekonomi orang tua. Perbedaan capaian hasil

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 125 tersebut dapat diperoleh melalui perhitungan SPSS yang dapat dilihat hasilnya sebagai berikut. Tabel 4.21 Deskripsi Capaian Hasil Pendidikan Karakter Siswa Berdasarkan Status Sosial Ekonomi Orang Tua STATU SOSIAL EKONOMI RENDAH SEDANG N 427 Mean 262,7260 Std. Deviation 13,58290 Std. Error ,65732 95% Confidence Interval for Mean Lower Upper Bound Bound 261,4340 264,0180 Minimum 219,00 Maximum 300,00 88 261,8523 15,39110 1,64070 258,5912 265,1133 208,00 292,00 TINGGI 145 263,5862 14,31956 1,18917 261,2357 265,9367 223,00 300,00 Total 660 262,7985 13,98580 ,54440 261,7295 263,8674 208,00 300,00 Pada tabel 4.24 menunjukkan adanya perbedaan nilai mean pada siswa yang status sosial ekonomi orang tua tinggi, status sosial ekonomi sedang, dan status sosial ekonomi rendah. Status sosial ekonomi tinggi memperoleh mean sebesar 263,5862, status sosial ekonomi sedang memperoleh mean sebesar 261,8523 dan status sosial ekonomi rendah memperoleh mean sebesar 262,7260. Artinya, siswa status sosial ekonomi orang tua tinggi memiliki hasil pendidikan karakter sedikit lebih baik dari pada status sosial ekonomi orang tua yang sedang, dan status sosial ekonomi rendah. Tabel 4.22 Capaian Hasil Pendidikan Karakter Siswa Berdasarkan Status Sosial Ekonomi Orang Tua Sum of Squares df Mean Square Between Groups Within Groups .958 745.810 2 656 Total 746.768 658 .479 1.137 F Sig. .421 .656

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 126 Dari hasil SPSS diperoleh varians antar sample atau Sum of Squares Between Groups (SSB) sebesar 0.958 dan varians dalam kelompok atau Sum of squares Within Groups (SSW) sebesar 745.810. Kemudian nilai mean antar kelompok atau Mean square Between Groups (MSB) adalah sebesar 0.479 dan Mean square Within Groups (MSW) 1.137. Untuk taraf signifikansi (α) =0,05, derajat kebebasan antara kelompok atau Degree of Freedom Between Groups (dfB) = 2, dan derajat kebebasan dalam kelompok atau Degree of Freedom Within Groups (dfw) = 6576 diperoleh nilai F tabel adalah adalah 0,421. p=0,656>0,05; maka tidak signifikan. Berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antara capaian hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada status sosial ekonomi orangtua yang rendah, status sosial ekonomi orangtua yang sedang dan status sosial ekonomi orangtua yang tinggi pada beberapa SMP di Indonesia. Maka dapat disimpulkan Ha ditolak dan Ho diterima. B. Pembahasan Produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berdasarkan film karakter yang telah diujikan oleh peneliti pada 10 sekolah yang ada di Indonesia sudah dikatakan berhasil. Berdasarkan tahapan penelitian Research and Development menurut Borg and Gall ada 10 tahapan penelitian, yang mana peneliti telah memasuki pada tahap 7 dan 8, yaitu Operational Product Revision (melakukan revisi produk operasional) dan Operational Field Testing (melakukan uji lapangan terhadap produk). Operational Product Revision itu sendiri menurut Borg and Gall adalah suatu tahap dalam melakukan revisi atau memperbaiki produk yang telah

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 127 diujicobakan pada wilayah yang lebih luas, sehingga menghasilkan produk desain model operasional yang siap divalidasi. Berdasarkan pernyataan tersebut, produk ini sudah melalui tahap perevisian sesuai dengan syarat yang telah ditentukan oleh Tim Peneliti Sosial, Humaniora, dan Pendidikan (PSHP) Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma, sehingga produk ini cocok digunakan di lapangan. Adapun kegiatan perevisian produk yang telah peneliti lakukan yaitu, memilih potongan film pendek yang menampilkan karakter religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab; memilah potongan film yang notabene adalah anak SMP (sesuai dengan umur subjek); mensortir film yang berbahasa Indonesia dan berasal dari Indonesia; mengedit kalimat dan tanda baca dalam soal yang mana harus sesuai dengan EYD; mengedit durasi setiap soal yaitu kurang lebih 2 menit; mencocokan soal dengan potongan video; mengedit kejelasan suara: dan memilih kejernihan film. Pada tahap Operational Field Testing (melakukan uji lapangan terhadap produk), seperti yang telah dikatakan oleh Borg and Gall yaitu langkah uji validasi terhadap model operasional yang dilaksanakan pada 10 sampai 30 sekolah dengan melibatkan 40 sampai 200 subjek penelitian melalui wawancara, angket, observasi, dan analisis hasilnya, dengan tujuan apakah desain model produk ini sudah dapat dipakai di sekolah tanpa harus dilakukan pengarahan atau pendampingan oleh peneliti. Berdasarkan pernyataan tersebut, peneliti sudah

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 128 melakukan uji lapangan terhadap produk pada 10 sekolah yang ada di Indonesia dengan 660 subjek melalui hasil tes asesmen pendidikan karakter berdasarkan film karakter dan angket penilaian guru dan siswa mengenai produk yang telah diujicobakan. Maka dengan ini peneliti menyatakan bahwa produk ini telah berhasil diujicobakan di lapangan, karena sudah sesuai dengan pernyataan Borg and Gall dalam teorinya mengenai 10 tahapan penelitian Research and Development. Kemudian hasil uji kualitas (validitas dan reliabilitas) soal tes hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yang diujicobakan pada peserta didik di 10 SMP di Indonesia menggunakan bantuan program SPSS dengan pendekatan analisis faktor konfirmatori. Data yang diperoleh dari hasil hitung validasi seluruh item soal tes karakter menunjukkan bahwa soal tes karakter berbasis film karakter valid. Hasil membuktikan bahwa terdapat 81 soal tes karakter dari 88 soal yang valid dan 7 soal tes yang tidak valid. 81 soal tes dianggap valid karena pada kolom KMO dan Barlett’s Test lebih besar atau sama dengan 0,500 dan signya lebih kecil atau sama dengan 0,05. Selanjutnya, nilai reliabilitas soal tes karakter ditetapkan berdasarkan nilai reliability oleh Sekaran (Priyatno, 2014). Dari hasil hitung reliabilitas diketahui bahwa reliabilitas soal karakter di atas 0,8 (baik). Artinya 81 soal tes karakter dapat dipercaya, konsisten atau stabil, produktif dan ajeg. Azwar (2012) menjelaskan reliabel apabila suatu pengukuran mampu menghasilkan data yang memiliki tingkat reliabilitas tinggi. Selain itu, (Guilford, 1956: 145) mengatakan bahwa0,80 < r11 1,00 reliabilitas sangat tinggi. Artinya, soal tes asesmen hasil

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 129 pendidikan karakter berbasis film karakter memiliki tingkat treliabel yang sangat tinggi. Proses penggunaan produk ini juga mendapatkan penilaian dari siswa. Hasil penilaian siswa diperoleh dari penilaian siswa mengenai soal tes asesmen hasil pendidikan karakter. Hasil penilaian siswa produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter ini sangat efektif. Hal ini dibuktikan, banyak siswa mengalami perasaan-perasaan positif yang ada di dalam dirinya, antara lain: asyik dan menarik dalam diri siswa, senang dan terhibur, menyadari kualitas diri, menyadarkan diri siswa untuk memperbaiki perilaku, membuka mata hati/nurani siswa, mendorong tekad dan keberanian berbuat baik, menyadarkan siswa bahwa pernah berbuat salah, dan perasaan-perasaan positif lainnya. Hal ini selaras dengan pendapat Masterpiece (Hayyun Lathifaty Yasri dan Endang Mulyani, 2016: 139) yang menyebutkan bahwa siswa cenderung lebih banyak memahami hal-hal yang terinterpretasikan dalam film dari pada dalam buku teks. Sedangkan, Champoux (Hayyun Lathifaty Yasri dan Endang Mulyani, 2016: 139) juga mengatakan bahwa film mampu mencapai ranah kognitif dan afektif siswa secara bersamaan. Maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa produk ini diterima oleh siswa dan mampu mengukur tingkat internalisasi pendidikan karakter di sekolah sehingga membentuk suatu karakter siswa. Capaian hasil pendidikan karakter diukur dengan mengguakan soal tes asesmen berbasis film karakter yang di uji cobakan pada 10 sekolah SMP yang ada di Indonesia, sabanyak 660 siswa SMP dengan media potongan film pendek. Skor dalam kategori tinggi sebanyak 338 siswa dan kategori sedang 322 siswa,

(148) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 130 serta tidak ada siswa yang masuk dalam kategori rendah. Dilihat melalui hasil tersebut, maka peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa pendidikan karakter yang ditanamkan pada 10 SMP di Indonesia berhasil masuk dalam kehidupan 660 siswa. Hal tersebut sejalan dengan teori Samani & Hariyanto (2011: 44) yang mengatakan bahwa pendidikan karakter dapat mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Hal yang sama juga disampaikan oleh Lickona (Akhwan, 2014: 61) yang mengatakan bahwa karakter berkaitan dengan ketiga komponen, yaitu konsep moral (moral knowing), sikap moral (moral feeling), dan perilaku moral (moral behavior). Artinya, karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Penilaian siswa berdasarkan status sosial ekonomi orang tua tinggi, sedang, dan rendah terhadap efektivitas soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter di Indonesia adalah tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan apabila dilihat dari nilai sig keseluruhan dari item. Analisis data menunjukkan 7 item pernyataan yang signifikan, diantaranya adalah nomor 1, 2, 8, 17, 30, dan 33. Artinya, pada item pernyataan 1 menunjukkan ada perbedaan perasaan “menarik dan keasikan” terkaitan dengan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter siswa berdasarkan status sosial ekonomi orang tuanya tinggi, sedang, dan rendah, ketika sedang mengerjakan soal tes tersebut. Perbedaan ditunjukkan memalui persentase, yaitu siswa yang status

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 131 sosial ekonominya tinggi sebanyak 90%, siswa yang status sosial ekonomi sedang sebanyak 94%, dan siswa yang status sosial ekonomi orang tuanya rendah sebayak 98%. Hal ini menunjukkan bahwa siswa yang status sosial ekonomi orang tuanya rendah menilai bahwa soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter menarik dan asik pada item nomor satu lebih bagus dibandingkan siswa yang status sosial ekonomi orang tuannya sedang dan tinggi. Pada item nomor 2 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan penilaian mengenai perasaan “menyenangkan dan menghibur” berdasarkan status sosial ekonomi orang tuannya tinggi, sedang, dan rendah . Perbedaan perasaan tersebut juga dapat ditunjukkan melalui presentase, siswa yang status sosial ekonominya tinggi sebanyak 87%, siswa yang status sosial ekonomi sedang sebanyak 90%, dan siswa yang status sosial ekonomi orang tuanya rendah sebayak 96%. Hal ini menunjukkan bahwa siswa yang status sosial ekonomi orang tuanya rendah menilai bahwa soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada pernyataan menyenangkan dan menghibur yang tercntum pada item nomor 2 lebih bagus dibandingkan siswa yang status sosial ekonomi orang tuannya sedang dan tinggi. Pada item nomor 8 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan penilaian mengenai pernyataan membuatku “tidak meras malu pada diri sendiri” berdasarkan status sosial ekonomi orang tuannya tinggi, sedang, dan rendah. Perbedaan perasaan tersebut juga dapat ditunjukkan melalui presentase, siswa yang status sosial ekonominya tinggi sebanyak 62%, siswa yang status sosial ekonomi sedang sebanyak 69%, dan siswa yang status sosial ekonomi orang

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132 tuanya rendah sebayak 71%. Hal ini menunjukkan bahwa siswa yang status sosial ekonomi orang tuanya rendah menilai bahwa soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada pernyataan membuatku tidak merasa malu pada diri sendiri yang tercantum pada item nomor 8 lebih bagus dibandingkan siswa yang status sosial ekonomi orang tuannya sedang dan tinggi. Pada item nomor 8 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan penilaian mengenai pernyataan membuatku “tidak merasa malu pada diri sendiri” berdasarkan status sosial ekonomi orang tuannya tinggi, sedang, dan rendah. Perbedaan perasaan tersebut juga dapat ditunjukkan melalui presentase, siswa yang status sosial ekonominya tinggi sebanyak 62%, siswa yang status sosial ekonomi sedang sebanyak 69%, dan siswa yang status sosial ekonomi orang tuanya rendah sebayak 71%. Hal ini menunjukkan bahwa siswa yang status sosial ekonomi orang tuanya rendah menilai bahwa soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada pernyataan membuatku tidak merasa malu pada diri sendiri yang tercantum pada item nomor 8 lebih bagus dibandingkan siswa yang status sosial ekonomi orang tuannya sedang dan tinggi. Pada item nomor 12 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan penilaian mengenai pernyataan "sangat bermanfaat mendorong aku memperbaiki perilaku yang kurang baik” berdasarkan status sosial ekonomi orang tuannya tinggi, sedang, dan rendah. Perbedaan perasaan tersebut juga dapat ditunjukkan melalui presentase, siswa yang status sosial ekonominya tinggi sebanyak 97%, siswa yang status sosial ekonomi sedang sebanyak 97%, dan siswa yang status sosial ekonomi orang tuanya rendah sebanyak 99%. Hal ini menunjukkan bahwa siswa yang

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 133 status sosial ekonomi orang tuanya rendah menilai bahwa soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada “sangat bermanfaat mendorong aku memperbaiki perilaku yang kurang baik” yang tercantum pada item nomor 12 lebih bagus dibandingkan siswa yang status sosial ekonomi orang tuannya sedang dan tinggi. Pada item nomor 17 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan penilaian mengenai pernyataan "tidak membosankan dan tidak melelahkan” berdasarkan status sosial ekonomi orang tuannya tinggi, sedang, dan rendah. Perbedaan perasaan tersebut juga dapat ditunjukkan melalui presentase, siswa yang status sosial ekonominya tinggi sebanyak 69%, siswa yang status sosial ekonomi sedang sebanyak 80%, dan siswa yang status sosial ekonomi orang tuanya rendah sebanyak 82%. Hal ini menunjukkan bahwa siswa yang status sosial ekonomi orang tuanya rendah menilai bahwa soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada “tidak membosankan dan melelahkan” yang tercantum pada item nomor 17 lebih bagus dibandingkan siswa yang status sosial ekonomi orang tuannya sedang dan tinggi. Pada item nomor 30 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan penilaian mengenai pernyataan "waktu mengerjakan tes ini terburu-buru dan terlalu singkat/kurang waktu” berdasarkan status sosial ekonomi orang tuannya tinggi, sedang, dan rendah. Perbedaan perasaan tersebut juga dapat ditunjukkan melalui presentase, siswa yang status sosial ekonominya tinggi sebanyak 68%, siswa yang status sosial ekonomi sedang sebanyak 81%, dan siswa yang status sosial ekonomi orang tuanya rendah sebanyak 65%. Hal ini menunjukkan bahwa siswa yang

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 134 status sosial ekonomi orang tuanya sedang menilai bahwa soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada “waktu mengerjakan tes ini terburu-buru dan terlalu singkat/kurang waktu” yang tercantum pada item nomor 30 lebih bagus dibandingkan siswa yang status sosial ekonomi orang tuannya sedang dan rendah. Pada item nomor 32 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan penilaian mengenai pernyataan "tes ini bagus dilakukan di akhir tiap semester untuk menilai karakter siswa” berdasarkan status sosial ekonomi orang tuannya tinggi, sedang, dan rendah. Perbedaan perasaan tersebut juga dapat ditunjukkan melalui presentase, siswa yang status sosial ekonominya tinggi sebanyak 84%, siswa yang status sosial ekonomi sedang sebanyak 91%, dan siswa yang status sosial ekonomi orang tuanya rendah sebanyak 92%. Hal ini menunjukkan bahwa siswa yang status sosial ekonomi orang tuanya sedang menilai bahwa soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada “tes ini bagus dilakukan di akhir tiap semester untuk menilai karakter siswa” yang tercantum pada item nomor 32 lebih bagus dibandingkan siswa yang status sosial ekonomi orang tuannya sedang dan rendah. Item pernyataan pada nomor 1, 2, 8, 12, 17, 30, dan 32 memang signifikan. Walaupun pada item-item pernyataan tersebut menunjukkan perbedaan penilaian, namun hasilnya tidak terlalu siginifikan. Selanjutnya, pada soal nomor 3, 4, 5, 6, 7, 9, 10, 11, 13, 14, 15, 16, 18, 19, 20, 21, 22, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 31, 33, dan 35, merupakan item pernyataan yang tidak signifikan. Artinya, pada item-item pernyataan tersebut tidak ada perbedaan penilaian siswa berdasarkan status sosial

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 135 ekonomi orang tuanya terhadap soal tes asesmen hasil pendidikan karakter. Dengan begitu, artinya produk ini layak digunakan oleh siswa pada tanpa melihat status sosial ekonomi orang tuanya. Hal ini sejalan dengan pendapat Masterpiece (Hayyun Lathifaty Yasri dan Endang Mulyani, 2016: 139) juga menyebutkan bahwa siswa cenderung lebih banyak memahami hal-hal yang terinterpretasikan dalam film dari pada dalam buku teks. Oleh sebab itu media film layak digunakan untuk semua kalangan siswa karena gaya pembelajaran yang monoton akan membosankan bagi siswa, karena siswa tidak diperkenalkan dengan hal-hal yang baru. Sedangkan, pembelajaran maupun alat tes menggunakan film masih sangat jarang digunakan di Indonesia, ini merupakan inovasi baru yang mana menciptakan film sebagai alat tes. Hal yang sama juga disampaikan oleh Champoux (Hayyun Lathifaty Yasri dan Endang Mulyani, 2016: 139) yang mengatakan bahwa film mampu mencapai ranah kognitif dan afektif siswa secara bersamaan. Dari beberapa pernyataan tersebut mampu memperkuat hasil penilaian siswa yang mengatakan bahwa produk ini efektif digunakan oleh siswa status sosial ekonomi tinggi, sedang, dan rendah, karena film mampu mencapai ranah kognitif maupun afektif siswa dan siswa cenderung memahami hal-hal yang ada di film dari pada buku teks. Capaian hasil pendidikan karakter siswa status sosial ekonomi orang tua pada 10 SMP di Indonesia adalah tidak ada signifikan. Kemudian, nilai mean menunjukkan adanya perbedaan capaian hasil pendidikan karakter siswa yang status sosial ekonomi orang tua tinggi, status sosial ekonomi sedang, dan status

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 136 sosial ekonomi rendah. Hal ini sejalan dengan pendapat Gerungan (1991:181) yang mengatakan bahwa keadaan status sosial orang tua mempunyai peranan terhadap perkembangan anak-anak, adanya perekonomian yang cukup, lingkungan material yang dihadapi anak dalam keluarga lebih luas maka dapat memberikan kesempatan untuk mengembangkan berbagai kecakapan. Hubungan orang tuanya dalam yang status sosial ekonomi serba cukup dan kurang mengalami tekanan-tekanan sehingga orang tua dapat mencurahkan perhatian lebih mendalam kepada anaknya apabila tidak dipersulit dangan perkara kebutuhan. Selain itu, Abdulllah Ildi (2011:180), mengemukakan bahwa keadaan status sosial ekonomi keluarga memiliki peranan yang penting terhadap proses perkembangan anak. Keluarga yang status sosial ekonominya mencukupi menyebabkan lingkungan materiil yang dihadapan anak akan lebih luas. Anak dapat memiliki kesempatan mengembangkan kemampuan secara luas atas dukungan ekonomi orang tua. Sebaliknya keluarga yang memiliki status sosial ekonomi cenderung rendah kurang dapat mengembangkan kemampuannya secara luas. Oleh sebab itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil uji menunjukkan tidak adanya perbedaan yang sangat signifikan antara karakter siswa yang status sosial ekonomi tinggi, sedang, dan rendah. Namun, apabila ditinjau dengan nilai mean maka hasil capaian pendidikan karakter siswa didukung oleh beberapa teori. Dengan begitu, pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah dapat dikatakan berhasil. Hal ini dibuktikan dengan hasil yang menunjukkan karakter siswa yang

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 137 status sosial ekonomi tinggi, sedang, dan rendah adalah ada perbedaan yang tidak signifikan karakter. Artinya, penerapan pendidikan karakter di sekolah mampu merubah karakter siswa yang status sosial ekonomi tinggi, sedang, dan rendah menjadi lebih baik.

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V PENUTUP Pada bab ini menguraikan kesimpulan tentang produk, keterbatasan penelitian, dan saran berdasarkan hasil penelitian. A. Simpulan tentang Produk Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, peneliti dapat menyimpulkan menjadi beberapa hal yaitu: 1. Telah dihasilkan produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter yang memuat 81 butir soal tes valid telah melalui proses perevisian produk dan mengujicobaan produk pada 10 SMP di Indonesia. Produk soal tes yang dihasilkan dan didokumentasikan dalam produk rekam DVD. 2. Berdasarkan nilai validitas dan reliabilitas menggunakan analisis faktor konfirmatori, dari 88 butir soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karater telah dipilih 81 butir soal valid dengan indeks alpha Cronbach sebesar 0,933. Artinya soal tes sangat valid dan sangat reliabel, terpercaya dan mampu mengukur hasil pendidikan karakter siswa SMP. 3. Berdasarkan hasil penilaian dari siswa diperoleh data bahwa produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter ini sangat efektif. Siswa yang mengerjakan soal tes ini mampu mengalami perasaan-perasaan positif yang ada di dalam dirinya ketika menerjakan soal tes ini, antara lain: 138

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 139 asyik dan menarik dalam diri siswa, senang dan terhibur, menyadari kualitas diri, menyadarkan diri siswa untuk memperbaiki perilaku, membuka mata hati/nurani siswa, mendorong tekad dan keberanian berbuat baik, menyadarkan siswa bahwa pernah berbuat salah, dan perasaan-perasaan positif lainnya. Dapat dikatakan produk soal ini diterima oleh siswa dan mampu mengukur pengaktualisasian pendidikan karakter siswa di sekolah sehingga membentuk suatu karakter siswa. 4. Berdasarkan capaian hasil pendidikan karakter yang diukur menggunakan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada 10 SMP di Indonesia terdapat 51,2% (338) siswa yang mencapai hasil pendidikan yang masuk dalam kategori baik dan 48,8% (322) siswa yang masuk dalam kategori karakter cukup baik. Artinya hampir separuh dari jumlah siswa diteliti, capaian hasil pendidikan karakternya belum optimal. 5. Tidak ada perbedaan hasil penilaian siswa berdasarkan status sosial ekonomi orang tuanya tinggi, sedang, dan rendah terhadap 30 item pernyataan efektivitas penggunaan soal tes asesmen pendidikan karakter berbasis film karakter di Indonesia, hanya dalam 7 butir efektivitas yang ada perbedaan dari ketiga golongan itu. Artinya, soal tes ini dapat digunakan pada siswa dari ketiga golongan tersebut. 6. Tidak ada perbedaan capaian hasil pendidikan karakter berbasis film pada beberapa SMP di Indonesia, dinyatakan bahwa tidak ada perbedaan hasil pendidikan karakter pada siswa yang status sosial ekonomi orang

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 140 tua tinggi, status sosial ekonomi orang tuanya sedang, maupun status sosial ekonomi orang tuanya rendah. Penelitian ini membuktikan bahwa hasil dari pendidikan karakter yang diperoleh siswa yang status sosial ekonomi orang tuanya tinggi, status sosial ekonomi orang tuanya sedang, maupun status sosial ekonomi orang tuanya rendah menunjukkan tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan. Hal ini membuktikan bahwa pelaksanaan pendidikan karakter dapat dikatakan berhasil karena tujuannya telah tercapai. B. Keterbatasan Penelitian Pelaksanaan penelitian asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada beberapa SMP di Indonesia, sudah dirancang secara konseptual, sistematik, dan telah mengikuti aturan procedural. Tim PSHP telah mengupayakan produk ini agar mendapatkan hasil yang optimal, sehingga menjadi sebuah produk soal tes hasil pendidikan karakter yang mumpuni. Akan tetapi penelitian ini masih banyak kekurangan dan perlu perbaikan oleh tim selanjutnya. Berikut beberapa catatan dari keterbatasan penelitian ini: 1. Kurangnya fasilitas pendukung seperti ruangan yang sempit dan LCD yang kurang memadai, sehingga dalam pengerjaan siswa merasa kurang nyaman dan mempengaruhi kinerja siswa dalam mengerjakan soal. 2. Durasi pemutaran produk asesmen yang cukup lama dan ada beberapa soal beserta jawaban yang ditampilkan terlalu panjang, sehingga membuat siswa mudah lelah.

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 141 3. Asesmen ini memakan waktu yang lama pada saat pengerjaan soal. 4. Kesulitan peneliti dalam tahap perevisian produk soal tes yang rumit dan membutuhkan waktu yang cukup lama. 5. Pelaksanaan penelitian berbarengan denagn libur ujian nasional, sehingga banyak anak yang tidak masuk sekolah/absen. C. Saran Berikut ini merupakan beberapa saran yang dapat peneliti uraikan untuk pengembangan produk soal tes asesmen agar menjadi lebih baik. 1. Bagi Pemerintah Peneliti menyarankan kepada pemerintah untuk melanjutkan pengembangan produk soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter ini agar menjadi lebih baik. Pemerintah juga dapat menetapkan produk ini sebagai salah satu alat ukur untuk mengetahui hasil pendidikan karakter pada diri siswa. 2. Bagi Guru BK Produk ini dapat digunakan sebagai alat ukur/penilaian karakter yang lebih objektif, efektif, valid, praktis, dan berkeadilan pada jenjang SMP. Guru BK juga harus mempersiapkan game yang membuat anak kembali bersemangat setelah menyelesaikan soal tes ini. 3. Bagi Peneliti Lain Penelitian ini dapat digunakan sebagai patokan dalam membuat produk soal tes agar lebih baik lagi. Akan tetapi, produk ini perlu adanya pengembangan agar siswa tidak merasa lelah saat mengerjakan soal tes.

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 142 Sehingga, produk asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film ini dapat menjadi lebih optimal sebagai alat ukur. Penelitian ini sudah melakukan analisis faktor konfirmori untuk mengukur validitas dan reliabilitas. Namun, untuk mengetahui soal tes efektif atau tidak perlu melakukan uji lebih lanjut seperti uji tingkat kesukaran dan uji daya beda. Apabila telah melakukan keempat uji ini maka soal tes asesmen ini dapat dinyatakan efektif digunakan.

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 143 DAFTAR PUSTAKA Abdullah, Ildi. (2011). Sosiologi Pendidikan Individual, Masyarakat, dan Pendidikan. Jakarta: rajawali Pers Airasian, Peter and L. R. Gay. (2000). Education Research Competence for Analisis an application (6th ed). New Jersey Merrill Prentice Hall Akhwan, Muzhoffar. (2014). Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasinya dalam Pembelajaran di Sekolah/Madrasah. El-Tarbawi,7(1), 62. Albertus, Doni Koesoema. (2015). Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta: Grasindo. Arikunto, Suharsimi. (2003). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Asmawi Zainul & Noehi Nasution. (2001). Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Dirjen Dikti. Asep Jihad dan abdul Haris. 2008. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta : Multi Presindo. Azwar, Saifuddin. (2012). Reliabilitas dan Validitas (edisi 4). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, Saifuddin. (2014). Penyususnan skala psikologi (edisi 2). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Barus, Gendon. (2017). The Implementation of Assessment Character Education Result in Secondary School. Advances in Social Science, Education, and Humanities Research, Volume 188. Badan Pusat Statistik Jakarta Pusat, 2014. Statistik Indonesia Tahun 2014. Jakarta Pusat : Badan Pusat Statistik Berkowitz, M.W., & Bier, M.C. 2005. What Work in Character Education:A Research-Driven Guide for Practitioners. Washington, DC: Character Education Partnership.

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 144 Borg dan Gall. 2003. Educational Research an Introduction, Seventh Editions. University of Oregon. United State of America. Damsar. (2011). Pengantar Sosiologi Ekonomi. Jakarta: Kencana Depdiknas. 2001. Buku 1 Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah. Jakarta: Depdikbud. Depdiknas. 2004. Kerangka Dasar Kurikulum 2004. Jakarta Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Kerangka Dasar. Jakarta: Pusat Kurukilum. Fathurrohman, Pupuh., AA Suryana., Fenny Fitriani. (2013). Pengembangan pendidikan karakter. Bandung: PT Refika Aditama. Gerungan. (2014). Psikologi Sosial. Bandung: PT Refika Aditama Guilford, J.P. 1956. Fundamental Statistics in Psychology and Education. New York: McGraw Hill Irene, Siti. (2012). Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Yogyakarta: UNY Press Jihad, Asep & Haris, Abdul. (2008). Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo. Jihad, Asep & Haris. (2013). Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo. Johnson, David. W dan Roger T. Johnson. 2002. Meaningful Assesment: A Manageable and Cooperative Process. Boston: Allyn and Bacon. Kemendiknas. (2010). Peraturan Pemerintah Nomor 17 Pasal 17 ayat 3 Tahun 2010. Tentang Pengelolaan Penyelengaraan Pendidikan. Kustandi, Cecep & Sutjipto, Bambang. 2013. Media Pembelajaran: Manual dan Digital Edisi Kedua. Bogor: Ghalia Indonesia.

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 145 Kustandi, C. & B. Sutjipto. 2011. Media Pembelajaran Manual dan Digital. Bogor: Ghalia Indonesia. Koesoema, Doni. 2012. Pendidikan Karakter Utuh dan Menyeluruh. Yogyakarta: Kanisius. Lickona, Thomas. (2012). Mendidik untuk Membentuk Karakter. Jakarta: Bumi Aksara Mulyasa E. (2004). Aanalisis, Validitas, Reliabilitas dan Interpretasi Hasil Tes. Bandung: PT Remaja Rosdakarya MENTERI PENDIDIKAN NASIONALREPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2006 Purwanto. 1992. Pengertian Tes Dalam Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Rineka Cipta. Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas. 2010. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Balitbang: Kemendiknas. Priyatno, Duwi. (2014). SPSS 22 Pengolah Data Terpraktis. Yogyakarta: ANDI Prijowuntato, Widanarto. S. (2016). Evaluasi pembelajaran. Yogyakarta: Sanata Dharma university Press Prihana, Rani. (2017). Peningkatan Karakter Ksatria Melalui Pendidikan Karakter Berbasis Layanan Bimbingan Klasikal Dengan Pendekatan Experiential Learning. https://repository.usd.ac.id/9159/2/131114007_full.pdf di unggah pada tanggal 17 Januari 2018. Ratnawulan, Elis dan Rusdiana. 2015. Evaluasi Belajar. Bandung: CV Pustaka Setia. Sadiman, Arif. (1989). Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatan. Jakarta:Rajawali Sadiman, Arif S. 2011. Media Pendidikan. Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta: Raja Grafindo Persada

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 146 Samani, Muchlas & Hariyanto.(2011). Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset. Sitorus. (2000). Berkenalan dengan Sosiologi. Jakarta: Erlangga. Soetjiningsih.2004. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta EGC Subali, Bambang. (2016). Prinsip Asesmen dan Evaluasi Pembelajaran Edisi Kedua. Yogyakarta: UNY Press. Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kebijakan. Bandung: Alfabeta Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Pendidikan (Pendidikan Kuantitatif kualitatif, dan R & D) . Bandung: Alfabeta Sukardi.(2014). Evaluasi Program Pendidikan Dan Kepelatihan. Jakarta: PT Bumi Aksara. Sumardi, M. (2014). Kemiskinan dan Kebutuhan Pokok. Jakarta: Rajawali Jakarta Suparno, Paul.(2016). Pengantar Statistik Untuk Pendidikan dan Psikologi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma Anggota APPTI Suwandi, Sarwiji. (2009). Model Assesmen dalam Pemberlajaran. Surakarta: Yuma Pustaka bekerja sama dengan FKIP UNS. Suwandi, Sarwiji. (2009). Model Assesmen dalam Pemberlajaran. Surakarta: Yuma Pustaka bekerja sama dengan FKIP UNS. Yulia, Desma & Arifin Muhammad. Pengaruh Penggunaan Media Film Animasi Dalam Pembelajaran IPS Terpadu Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VIII di SMP Kartini 1 Batam Tahun Pelajaran 2013/2014. Historia, 10, 3145. Yaumi, M. 2014. Pendidikan karakter: Landasan, Pilar, dan Implementasi. Jakarta: Predana Media Group.

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 147 Yasri, Hayyun Lathifaty & Mulyan, Endang. (2016). Efektivitas Penggunaan Media Film untuk Meningkatkan Minat dan Belajar Ekonomi Siswa Kelas X. harmoni sosial:Jurnal Pendidikan IPS, Vol. 3. (138-149). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2013 Sistem Pendidikan Nasional Uno, Hamzah B. & Koni, Satria. (2012). Assessment Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara Wijianto & Ulfa, Ika Farida.(2016). Pengaruh Status Sosial dan Kondisi Ekonomi Keluarga Terhadap Motivai Bekerja bagi Remaja Usia Awal (Usia 12-16 tahun) Di Kabupaten Ponorogo). Vol 2. (190-210). Zainul dan Nasution. 2001. Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Dirjen Dikti Zainul & Nasution. (2005). Penilaian hasil belajar. Cetakan ke-5. Jakarta: PPAUPPAI Universitas Terbuka. Zhang, Q., & Zhao, H. (2017). An Analytical Overview of Kohlberg’s Theory of Moral Development in College Moral Education in Mainland China. Open Journal of Social Sciences, 05(08), 151–160. Zuriah Nurul. (2007). Metode penelitian sosial dan pendidikan. Jakarta : PT Bumi Aksara .

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 148 Lampiran Lampiran 1 Tabulasi Efektivitas Penggunaan Soal Tes Asesmen

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 149

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 150

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 151

(170) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 152

(171) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 153

(172) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 154

(173) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 155

(174) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 156

(175) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 157

(176) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 158 Lampiran 2 Tabulasi Capaian Hasil Penggunaan Soal Tes Hasil Pendidikan Karakter

(177) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 159

(178) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 160

(179) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 161

(180) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 162

(181) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 163

(182) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 164

(183) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 165

(184) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 166

(185) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 167

(186) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 168

(187) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 169

(188) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 170

(189) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 171 Lampiran 3 Tabulasi Validitas dan Reliabilitas

(190) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 172

(191) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 173

(192) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 174

(193) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 175 Lampiran 4 Lampiran Perbedaan Penilaian Siswa Berdasarkan Status Sosial Ekonomi Orang Tua Chi-Square Tests No 1 Pearson Chi-Square Value a 18,644 Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association 17,367 18,174 N of Valid Cases 660 df Asymp. Sig. (2-sided) 2 ,000 2 1 ,000 ,000 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5,73. Chi-Square Tests No 2 Pearson ChiSquare Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association Value a 18,644 df 2 Asymp. Sig. (2-sided) ,000 17,367 2 ,000 18,174 1 ,000 N of Valid 660 Cases a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5,73. Chi-Square Tests No 3 Pearson Chi-Square Value a 2,434 df Asymp. Sig. (2-sided) 2 ,296 Likelihood Ratio 4,127 2 ,127 Linear-by-Linear Association 2,369 1 ,124 N of Valid Cases 660 a. 2 cells (33,3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1,07. Chi-Square Tests no 4 Value Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases df a 4,148 3,066 ,032 660 2 2 1 Asymp. Sig. (2sided) ,126 ,216 ,857

(194) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 176 a. 2 cells (33,3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1,07. Chi-Square Tests No 5 Pearson Chi-Square Value a 4,884 2 Asymp. Sig. (2sided) ,087 df Likelihood Ratio 4,808 2 ,090 Linear-by-Linear Association 2,233 1 ,135 N of Valid Cases 660 a. 1 cells (16,7%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3,07. Chi-Square Tests No 6 Asymp. Sig. (2sided) ,187 Value df a Pearson Chi3,357 2 Square Likelihood 3,174 2 ,205 Ratio Linear-by2,700 1 ,100 Linear Association N of Valid 660 Cases a. 2 cells (33,3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,40. Chi-Square Tests No 7 Asymp. Sig. (2sided) ,504 Value df a Pearson Chi1,369 2 Square Likelihood 1,532 2 ,465 Ratio Linear-by,885 1 ,347 Linear Association N of Valid 660 Cases a. 1 cells (16,7%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3,20.

(195) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 177 Chi-Square Tests No 8 Asymp. Sig. (2sided) ,026 Value df a Pearson Chi7,276 2 Square Likelihood Ratio 7,175 2 ,028 Linear-by5,500 1 ,019 Linear Association N of Valid 659 Cases a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 28,71. Chi-Square Tests No 9 Asymp. Sig. (2sided) ,806 Value df a Pearson Chi,431 2 Square Likelihood ,458 2 ,795 Ratio Linear-by,014 1 ,907 Linear Association N of Valid 659 Cases a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7,61. Chi-Square Tests 10 Asymp. Sig. (2sided) ,335 Value df a Pearson Chi2,184 2 Square Likelihood Ratio 2,105 2 ,349 Linear-by-Linear ,270 1 ,603 Association N of Valid 659 Cases a. 2 cells (33,3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,27.

(196) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 178 Chi-Square Tests 11 Value Pearson ChiSquare Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a df 2 Asymp. Sig. (2-sided) ,115 4,011 1,650 2 1 ,135 ,199 4,330 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9,87. Chi-Square Tests 12 Pearson Chi-Square Value a 7,079 df 2 Asymp. Sig. (2-sided) ,029 Likelihood Ratio 6,488 2 ,039 Linear-by-Linear Association 7,013 1 ,008 N of Valid Cases 659 a. 2 cells (33,3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,00. Chi-Square Tests 13 Pearson Chi-Square Value a 1,364 df 2 Asymp. Sig. (2-sided) ,506 Likelihood Ratio 1,455 2 ,483 Linear-by-Linear Association 1,101 1 ,294 N of Valid Cases 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8,27.

(197) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 179 Chi-Square Tests No 14 Asymp. Sig. (2sided) ,318 Value df a Pearson Chi2,290 2 Square Likelihood Ratio 1,995 2 ,369 Linear-by-Linear ,752 1 ,386 Association N of Valid Cases 660 a. 2 cells (33,3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,13. Chi-Square Tests No 15 2 Asymp. Sig. (2sided) ,994 Likelihood Ratio ,012 2 ,994 Linear-by-Linear Association ,000 1 ,995 N of Valid Cases 660 Pearson Chi-Square Value a ,012 df a. 2 cells (33,3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1,87. Chi-Square Tests 16 2 Asymp. Sig. (2-sided) ,627 Likelihood Ratio 1,005 2 ,605 Linear-by-Linear Association ,114 1 ,736 N of Valid Cases 660 Pearson Chi-Square Value a ,934 df a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9,60. Chi-Square Tests 17 Pearson Chi-Square Value a 12,128 2 Asymp. Sig. (2-sided) ,002 df Likelihood Ratio 11,383 2 ,003 Linear-by-Linear Association 11,259 1 ,001 N of Valid Cases 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 18,80.

(198) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 180 Chi-Square Tests 18 Pearson Chi-Square Value a ,182 2 Asymp. Sig. (2-sided) ,913 df Likelihood Ratio ,179 2 ,914 Linear-by-Linear Association ,137 1 ,711 N of Valid Cases 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 12,40. Chi-Square Tests 19 Pearson Chi-Square Value a 2,068 2 Asymp. Sig. (2-sided) ,356 df Likelihood Ratio 2,111 2 ,348 Linear-by-Linear Association 1,293 1 ,255 N of Valid Cases 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 23,20. Chi-Square Tests 20 Pearson Chi-Square Value a 1,833 2 Asymp. Sig. (2-sided) ,400 df Likelihood Ratio 1,782 2 ,410 Linear-by-Linear Association ,823 1 ,364 N of Valid Cases 660 a. 1 cells (16,7%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3,33.

(199) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 181 Chi-Square Tests 21 Pearson Chi-Square Value a 2,414 2 Asymp. Sig. (2sided) ,299 df Likelihood Ratio 2,101 2 ,350 Linear-by-Linear Association ,984 1 ,321 N of Valid Cases 660 a. 2 cells (33,3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1,47. Chi-Square Tests 22 Pearson Chi-Square Value a ,356 2 Asymp. Sig. (2sided) ,837 df Likelihood Ratio ,336 2 ,845 Linear-by-Linear Association ,141 1 ,708 N of Valid Cases 660 a. 2 cells (33,3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,27. Chi-Square Tests 23 Pearson Chi-Square Value a 1,680 2 Asymp. Sig. (2-sided) ,432 df Likelihood Ratio 1,949 2 ,377 Linear-by-Linear Association ,180 1 ,672 N of Valid Cases 660 a. 2 cells (33,3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,67.

(200) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 182 Chi-Square Tests 24 Pearson Chi-Square Value a ,036 2 Asymp. Sig. (2-sided) ,982 df Likelihood Ratio ,037 2 ,982 Linear-by-Linear Association ,035 1 ,852 N of Valid Cases 660 a. 2 cells (33,3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,00. Chi-Square Tests 25 Value a 2 Asymp. Sig. (2-sided) ,660 Likelihood Ratio ,728 2 ,695 Linear-by-Linear Association ,103 1 ,749 N of Valid Cases 660 Pearson Chi-Square df ,831 a. 2 cells (33,3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1,87. Chi-Square Tests 26 Value a 2 Asymp. Sig. (2-sided) ,762 Likelihood Ratio ,566 2 ,753 Linear-by-Linear Association ,077 1 ,782 N of Valid Cases 660 Pearson Chi-Square df ,544 a. 1 cells (16,7%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4,13.

(201) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 183 Chi-Square Tests 27 Value a 4,074 Pearson Chi-Square df 2 Asymp. Sig. (2-sided) ,130 Likelihood Ratio 4,267 2 ,118 Linear-by-Linear Association ,063 1 ,802 N of Valid Cases 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 26,67. Chi-Square Tests 28 Value a ,800 df Asymp. Sig. (2sided) ,670 Pearson Chi2 Square Likelihood ,799 2 ,671 Ratio Linear-by,184 1 ,668 Linear Association N of Valid 660 Cases a. 1 cells (16,7%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4,67. Chi-Square Tests 29 Value a 1,940 df Asymp. Sig. (2sided) ,379 Pearson Chi2 Square Likelihood 2,246 2 ,325 Ratio Linear-by1,683 1 ,195 Linear Association N of Valid 660 Cases a. 1 cells (16,7%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3,60.

(202) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 184 Chi-Square Tests 30 Value a 7,902 Asymp. Sig. (2-sided) ,019 df Pearson Chi2 Square Likelihood 8,498 2 ,014 Ratio Linear-by1,427 1 ,232 Linear Association N of Valid 660 Cases a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 28,13. Chi-Square Tests 31 Asymp. Sig. Pearson ChiSquare Likelihood Ratio Value a ,794 df ided) 2 ,672 ,708 2 ,702 Linear-by-Linear Association ,022 1 ,881 N of Valid Cases 660 a. 2 cells (33,3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,67. Chi-Square Tests 32 2 Asymp. Sig. (2-sided) ,022 6,957 2 ,031 Linear-by-Linear Association 7,007 1 ,008 N of Valid Cases 660 Pearson ChiSquare Likelihood Ratio Value a 7,673 df a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8,67. Chi-Square Tests 33 Pearson Chi-Square Value a 7,177 2 Asymp. Sig. (2-sided) ,028 df Likelihood Ratio 6,697 2 ,035 Linear-by-Linear Association 4,696 1 ,030 N of Valid Cases 660

(203) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 185 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5,73. Chi-Square Tests 34 Pearson Chi-Square Value a 2,138 2 Asymp. Sig. (2-sided) ,343 df Likelihood Ratio 2,406 2 ,300 Linear-by-Linear Association ,445 1 ,505 N of Valid Cases 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8,67. Chi-Square Tests 35 Pearson Chi-Square Value a 1,353 df 2 Asymp. Sig. (2-sided) ,508 Likelihood Ratio 1,356 2 ,508 Linear-by-Linear Association ,175 1 ,676 N of Valid Cases 660 a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 42,27. Chi-Square Tests Keseluruhan Pearson Chi-Square Likelihood Ratio N of Valid Cases Value a 46,213 45,535 df 36 Asymp. Sig. (2-sided) ,118 36 ,133 660 a. 31 cells (54,4%) have expected count less than 5. The minimum expected count is ,13.

(204) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 186 Lampiran 5 Lembar Jawab

(205) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 187 Lampran 6 Lembar Penilaian Siswa

(206) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 188 Lampiran 7 Surat Ijin Penelitian

(207) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 189 Lampiran 8 MoU

(208) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 190 Lampiran 9 Surat Keterangan Sudah Melaksanakan Penelitian

(209) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 191 Lampiran 10 Daftar Hadir

(210) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 192

(211) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 193

(212) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 194

(213) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 195 Lampiran 10 Dokumentasi

(214)

Dokumen baru

Download (213 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan status sosial ekonomi orang tua dengan motivasi belajar PAI siswa di SMP Darussalam Ciputat
0
24
86
Kontribusi efektivitas penggunaan buku paket terhadap hasil belajar pendidikan ekonomi siswa SMP Moh.Husni Thamrin Gintung Ciputat
0
24
80
Pengaruh status sosial ekonomi orang tua siswa terhadap prestasi belajar siswa di SMP Islamiyah Ciputat
2
18
91
Korelasi antara latar belakang status sosial ekonomi orang tua siswa dengan prestasi hasil belajar kimia
0
4
143
Evaluasi hasil pendidikan karakter terintegrasi pada lima SMP di Jawa : studi evaluasi hasil pendidikan karakter terintegrasi pada lima SMP di Jawa tahun ajaran 2014/2015 dan implikasinya terhadap penyusunan silabus pendidikan karakte.
0
1
251
Hasil pendidikan karakter pada siswa SMP (analisis evaluatif hasil pendidikan karakter terintegrasi ditinjau dari jenis kelamin pada siswa SMP Negeri 6 Surakarta tahun ajaran 2013/2014 dan implikasinya terhadap penyusunan silabus.
0
2
171
Hasil pendidikan karakter terintegrasi pada siswa SMP (analisis evaluatif hasil pendidikan karakter terintegrasi pada siswa berdasarkan urutan kelahiran di SMP Negeri 13 Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 dan implikasinya terhadap penyusunan silabus dan mo
0
0
175
Pembuatan film pendek untuk pendidikan karakter anak berbasis animasi 3D cover
0
0
14
63 pembinaan karakter siswa berbasis pa di smp di diy
0
0
16
Perbedaan sikap siswa terhadap profesi guru berdasarkan jenis kelamin dan status sosial ekonomi orang tua : studi kasus pada SMU Pangudi Luhur Sedayu - USD Repository
0
0
111
Hubungan bimbingan orang tua, motivasi belajar siswa, dan status sosial ekonomi keluarga dengan prestasi belajar siswa di sekolah - USD Repository
0
0
174
Perbedaan kemampuan menulis karangan berdasarkan status sosial ekonomi orang tua, siswa kelas X SMA Sang Timur Yogyakarta Tahun Ajaran 2010/2011 - USD Repository
0
0
170
Implementasi program penguatan pendidikan karakter berbasis masyarakat di Sekolah Dasar se-Kecamatan Godean Kabupaten Sleman - USD Repository
0
0
192
Validasi efektivitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada siswa SMP Negeri dan SMP Swasta yang berbeda di sepuluh SMP di Indonesia - USD Repository
0
0
197
Validasi efektivitas penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis film karakter pada siswa yang orang tuanya pegawai dan non pegawai di 10 SMP di Indonesia - USD Repository
0
0
210
Show more