HALAMAN PENGESAHAN PERSEPSI TERHADAP RELASI INTIM ANTAR JENIS PADA PEREMPUAN DEWASA AWAL DENGAN ORANG TUA BERCERAI

Gratis

0
0
106
2 weeks ago
Preview
Full text
(1)PERSEPSI TERHADAP RELASI INTIM ANTAR JENIS PADA PEREMPUAN DEWASA AWAL DENGAN ORANG TUA BERCERAI Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun oleh: Jennifer Fransiska Andita 149114090 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2019

(2) HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING PERSEPSI TERHADAP RELASI INTIM ANTAR JENIS PADA PEREMPUAN DENGAN ORANG TUA BERCERAI Disusun Oleh: Jennifer Fransiska Andita NIM: 149114090 Telah disetujui oleh: Dosen Pembimbing, Prof. A. Supratiknya, Ph.D. Tanggal, xx desember 2018 ii

(3) HALAMAN PENGESAHAN PERSEPSI TERHADAP RELASI INTIM ANTAR JENIS PADA PEREMPUAN DEWASA AWAL DENGAN ORANG TUA BERCERAI Dipersiapkan dan ditulis oleh: Jennifer Fransiska Andita NIM: 149114090 Telah dipertanggungjawabkan di depan panitia penguji pada tanggal 23 Januari 2019 dan dinyatakan telah memenuhi syarat Susunan Panitia Penguji: Nama Penguji Tanda Tangan 1. Penguji 1 : Prof. A. Supratiknya, Ph.D. 2. Penguji 2 : Agung Santoso, M.A. 3. Penguji 3 : Ratri Sunar Astuti, S.Psi., M.Si. Yogyakarta, Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Dr. Titik Kristiyani, M.Psi. iii

(4) HALAMAN MOTTO Slow progress is always better than no progress Wasted time is more expensive than wasted money – Paulo Coelho “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa” – Roma 12:11-12 Ora et Labora If you can dream it, you can do it – Walt Disney Percayalah dan semesta akan mendukungmu, hardwork never betrayed you Ketekunan dan disiplin diri adalah kunci dari kesuksesan iv

(5) HALAMAN PERSEMBAHAN Karya ini saya persembahkan untuk: Orang di sekitar saya dan khususnya kedua orang tua saya yang selalu ada untuk mendukung dan membantu saya. v

(6) PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya dengan ini menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi yang saya tulis tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang saya sebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya suatu karya ilmiah. Yogyakarta, 25 Januari 2019 Peneliti, Jennifer Fransiska Andita vi

(7) PERSEPSI TERHADAP RELASI INTIM ANTAR JENIS PADA PEREMPUAN DEWASA AWAL DENGAN ORANG TUA BERCERAI Jennifer Fransiska Andita ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi perempuan dewasa awal dengan orang tua bercerai terkait relasi intim antar jenis, khususnya dari segi pemahaman dan penilaian. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode Analisis Isi Kualitatif terarah. Partisipan yang dilibatkan adalah tiga orang perempuan dengan rentang usia 21-23 tahun. Partisipan didapatkan dengan memilih orang-orang tertentu yang sesuai kriteria penelitian (purposeful). Pengambilan data dilakukan dengan wawancara semi terstruktur perorangan. Hasil dari penelitian ini adalah: (1) para partisipan memahami bahwa relasi intim melibatkan tiga komponen, yaitu keintiman, komitmen, dan passion, akan tetapi terlihat bahwa komponen keintiman lebih sering muncul sebagai komponen yang menggambarkan relasi intim; (2) penilaian para partisipan terhadap relasi intim antar jenis ada yang positif maupun negatif, akan tetapi penilaian mereka lebih cenderung positif serta lebih melibatkan komponen keintiman. Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) perempuan dewasa awal dengan orang tua bercerai cenderung memiliki pemahaman dan penilaian positif terhadap relasi intim antar jenis, khususnya terkait komponen keintiman yang diduga muncul karena mereka belajar dengan tidak meniru orang tua mereka serta berusaha memperoleh hal yang tidak ada dalam relasi orang tua mereka yang berakhir perceraian; serta (2) pemahaman dan penilaian negatif terkait relasi intim antar jenis yang diungkapkan oleh perempuan dewasa awal dengan orang tua bercerai diduga muncul akibat pengalaman negatif yang mereka rasakan ketika menjalin relasi intim maupun pengalaman pribadi merasakan apa yang dirasakan oleh orang tua mereka yang bercerai. Kata kunci: persepsi, relasi intim, orang tua bercerai, perempuan dewasa awal vii

(8) THE PERCEPTION OF INTIMATE RELATIONSHIPS WITH THE OPPOSITE SEX AMONG YOUNG ADULT WOMEN WITH DIVORCED PARENTS Jennifer Fransiska Andita ABSTRACT The purpose of the current study was to explore the perception on intimate relationships with the opposite sex among young adult women with divorced parents, particularly in terms of understanding and evaluation. The current research was qualitative research using a directed qualitative content analysis method. The participants included three women aged between 21 and 23 years old. The participants were selected purposefully based on certain pre-determined criteria. The data retrieval were performed using semi-structured individual interviews, which executed indivudualy. The results of the current research showed that (1) the participants understood that intimate relationships with the opposite sex involved three components, which were intimacy, commitment, and passion. However, it seemed that the intimacy component was most appeared as the component that described intimate relationships with the opposite sex; and (2) the participants’ evaluation of intimate relationships with the opposite sex was both positive and negative, but their evaluation tend to be positive and was more likely to involve the intimacy component. The conclusions of this study were (1) young adult women with divorced parents tend to understand and evaluate intimate relationships with the opposite sex positively, especially when related to the intimacy component, which was estimated to have emerged because they had learned not to copy their parents and try to obtain things that do not exist in their divorced parents’ relationships; and (2) it was estimated that the understanding and evaluation of intimate relationships with the opposite sex among young adult women with divorced parents would turned negative if they had negative experiences in a relationship with the opposite sex or if they experienced personally the same negative experiences as their divorced parents. Key words: perception, intimate relationships, divorced parents, young adult women viii

(9) LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswi Universitas Sanata Dharma Nama : Jennifer Fransiska Andita Nomor mahasiswa : 149114090 demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: “Persepsi Terhadap Relasi Intim Antar Jenis Pada Perempuan Dewasa awal Dengan Orang tua Bercerai” beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di : Yogyakarta Pada tanggal : 25 Januari 2019 Yang menyatakan (Jennifer Fransiska Andita) ix

(10) KATA PENGANTAR Puji syukur saya hanturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya peneliti dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan baik. Dalam proses penyusunan skripsi ini, peneliti mempelajari banyak hal baru, baik dari segi ilmu pengetahuan maupun pelajaran hidup. Proses yang peneliti lalui selama penyusunan skripsi ini akan memengaruhi kehidupan peneliti kedepannya. Peneliti berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya. Penyusunan serta penyelesaian skripsi ini dapat terwujud atas bantuan dan dukungan dari banyak pihak. Secara khusus peneliti ingin berterima kasih kepada: 1. Tuhan YME yang telah mencurahkan rahmat-Nya sehingga dari awal pemilihan topik, penulisan, hingga penyelesaian skripsi ini penulis mampu menjalaninya dengan baik. 2. Jajaran Fakultas Psikologi dan Universitas Sanata Dharma yang telah menerima dan mewadahi saya selama menempuh pendidikan Strata 1. 3. Seluruh dosen dan karyawan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang telah mengajarkan saya banyak hal selama proses perkuliahan serta membantu saya melalui masa studi ini dengan baik dan lancar. 4. Bapak Prof. Dr. A. Supratiknya, selaku dosen pembimbing skripsi yang telah membimbing penulisan skripsi ini dari awal hingga akhir, yang membantu saya dikala saya mengalami kesulitan, yang tidak jemu-jemu saya hampiri dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya lontarkan, serta berbagai x

(11) nasihat yang diberikan kepada kami anak-anak bimbingannya sehingga saya termotivasi untuk menyelesaikan skripsi ini. 5. Pak Agung Santoso, M.A. dan Bu Ratri Sunar Astuti, S.Psi., M.Si., selaku penguji 2 dan 3 yang telah memberikan revisi serta berbagai masukan, sehingga skripsi ini menjadi lebih baik dan lebih layak. 6. Ibu M. L. Anantasari, M.Si., selaku dosen pembimbing akademik yang dengan tips-tips yang diberikan serta kehadirannya saya merasa selalu memiliki tempat bercerita ketika saya membutuhkan tempat cerita atau berkonsultasi selama proses perkuliahan dan penyusunan skipsi ini. 7. Seluruh partsipan yang telah dengan suka rela bersedia terlibat dalam penelitian ini, serta bersedia meluangkan waktu dan direpotkan dengan segala prosedur pengambilan data. Tanpa kesediaan para partisipan, penyusunan skripsi ini tidak akan terselesaikan. 8. Anggota keluarga saya yang selalu memberikan dukungan emosional serta mendoakan yang terbaik untuk saya. 9. Khususnya teruntuk Papa saya yang tidak jemu-jemu menanyakan kabar saya selama merantau, yang sering datang ke Jogja untuk menjenguk, yang selalu siap sedia membantu saya jika saya mengalami kesulitan terkait hal apapun, yang selalu memberikan semangat dan nasihat-nasihat dikala saya kehilangan motivasi, serta yang telah menyediakan sarana prasarana untuk menjalani studi dan kehidupan sehari-hari tanpa berkekurangan. 10. Khususnya teruntuk Mama saya yang selalu memotivasi, menyemangati, menghibur melalui hal-hal sederhana yang dikirim melalui media sosial setiap xi

(12) harinya, sehingga saya tetap dapat merasakan perhatiannya meskipun sulit bertemu karena terpisah jarak yang jauh. Dan masih banyak lagi hal-hal lain yang sulit saya sebutkan satu per satu. 11. Mirna selaku teman sekelas selama 4 tahun, teman seorganisasi pertama, teman nugas, teman refreshing, teman makan, teman nyekrip bareng. Yang tidak bosan mendengar keluh kesah saya selama perkuliahan maupun pengerjaan skripsi, serta yang telah memberi masukan kritis ketika saya kebingungan dalam mengerjakan skripsi ataupun tugas lainnya. 12. Teman-teman seperjuangan yang membuat saya merasa tidak berjuang sendirian, yang bersedia saling membantu dikala ada mengalami kesulitan, serta yang saling menyemangati satu sama lain agar tidak menyerah dan tetap optimis. 13. Teman-teman kos Kak Evlyn yang tidak bosan menyemangati, membantu, memberi motivasi, dan sharing hal-hal terkait pengerjaan skripsi. Juga bersedia diganggu pagi, siang, sore, malam untuk sekedar cerita atau ditanyatanyai seputar skripsi. Ce Sesil & Ce Mel yang tidak bosan diganggu, yang sering menanyakan kabar, yang sering mengingatkan untuk makan dan jaga kesehatan. 14. Lembert, Gaby, dkk, yang meski jauh tetapi keberadaannya tetap bisa menghibur dikala stress melanda dan selalu ada jika saya membutuhkan teman cerita. 15. Ded yang memberikan masukan kritis terhadap penulisan skripsi ini serta bersedia mendengarkan keluh kesah saya. xii

(13) 16. Diri sendiri yang memutuskan untuk tidak menyerah meskipun menghadapi berbagai kendala dari dalam maupun luar diri sendiri. Selain rasa terimakasih peneliti kepada berbagai pihak yang telah peneliti sebutkan di atas, peneliti hendak menegaskan bahwa tanggung jawab atas skripsi ini sepenuhnya ditanggung oleh peneliti sendiri. Skripsi ini peneliti persembahkan kepada khalayak umum, para partisipan yang telah memberikan peneliti banyak pelajaran melalui penelitian ini, serta kedua orang tua yang dengan setia mendampingi selama peneliti berproses. Yogyakarta, 25 Januari 2019 Peneliti, Jennifer Fransiska Andita xiii

(14) DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING .................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................ iii HALAMAN MOTTO ......................................................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN .......................................................................... v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................ vi ABSTRAK ......................................................................................................... vii ABSTRACT ........................................................................................................ viii LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA .............. ix KATA PENGANTAR ......................................................................................... x DAFTAR ISI ..................................................................................................... xiv DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xvii DAFTAR TABEL ........................................................................................... xviii DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xix BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1 A. Latar Belakang ........................................................................................ 1 B. Pertanyaan Penelitian .............................................................................. 8 C. Tujuan Penelitian .................................................................................... 9 D. Manfaat Penelitian .................................................................................. 9 1. Manfaat Teoritis ................................................................................ 9 2. Manfaat Praktis ................................................................................. 9 xiv

(15) BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................ 10 A. Perempuan Dewasa awal dengan Orang tua Bercerai .......................... 10 B. Relasi Intim Antar Jenis ........................................................................ 13 C. Persepsi ................................................................................................. 15 D. Kerangka Konseptual ............................................................................ 18 BAB III METODE PENELITIAN .................................................................... 21 A. Jenis dan Desain Penelitian ................................................................... 21 B. Fokus Penelitian .................................................................................... 22 C. Partisipan............................................................................................... 24 D. Peran Peneliti ........................................................................................ 25 E. Metode Pengumpulan Data ................................................................... 28 1. Protokol Wawancara Latar Belakang ............................................. 29 2. Protokol Wawancara Terkait Topik Penelitian ............................... 31 3. Perekaman Data .............................................................................. 33 F. Penegakan Kredibilitas dan Dependabilitas Penelitian......................... 34 G. Analisis dan Interpretasi Data ............................................................... 35 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................... 40 A. Pelaksanaan Penelitian .......................................................................... 40 B. Latar belakang Partisipan ...................................................................... 41 C. Hasil Penelitian ..................................................................................... 47 1. Pemahaman terkait Relasi Intim Antar Jenis ................................... 48 2. Penilaian terkait Relasi Intim Antar Jenis ........................................ 59 D. Pembahasan........................................................................................... 73 xv

(16) 1. Pemahaman terkait Relasi Intim Antar Jenis ................................... 73 2. Penilaian terkait Relasi Intim Antar Jenis ........................................ 76 BAB V PENUTUP ............................................................................................ 80 A. Kesimpulan ........................................................................................... 80 B. Keterbatasan Penelitian ......................................................................... 81 C. Saran ..................................................................................................... 82 1. Bagi Peneliti Selanjutnya ................................................................ 82 2. Bagi Masyarakat yang Berelasi dengan Perempuan Dewasa awal dengan Orang tua Bercerai.............................................................. 83 3. Bagi Para Orang Tua yang Sedang Berkonflik ............................... 83 4. Bagi Para Orang Tua yang Telah Bercerai ..................................... 83 DAFTAR ACUAN ............................................................................................ 84 LAMPIRAN ....................................................................................................... 87 xvi

(17) DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Proses Persepsi ................................................................................. 16 Gambar 2. Kerangka Konseptual ....................................................................... 20 xvii

(18) DAFTAR TABEL Tabel 1. Data Partisipan ..................................................................................... 25 Tabel 2. Kerangka Analisis Persepsi Terhadap Relasi Intim Antar Jenis .......... 36 Tabel 3. Rangkuman Hasil Wawancara ............................................................. 70 xviii

(19) DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Contoh Lembar Persetujuan Partisipasi/ Informed consent .......... 87 xix

(20) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keluarga merupakan tempat anak pertama kali belajar bagaimana berelasi dengan orang lain dan sebagian besar interaksi orang tua-anak memiliki implikasi masa depan, terutama bagi anak (Baron & Byrne, 2003). Dalam keluarga, orang tua memiliki perannya masing-masing bagi tumbuh kembang anak (Santrock, 2008). Akan tetapi dewasa ini berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik pada tahun 2012-2015, jumlah perceraian meningkat hingga 7% (Badan Pusat Statistik, 2015). Hal ini menunjukkan meningkatnya juga kemungkinan keluarga dengan latar belakang orang tua yang bercerai. Sebelum perceraian, biasanya anak menyaksikan orang tua berkonflik secara aktif (Santrock, 2008). Perceraian sendiri merupakan suatu peristiwa perpisahan secara resmi antara pasangan suami-istri. Mereka tidak lagi tinggal serumah dan berketetapan untuk tidak menjalankan tugas dan kewajiban sebagai suami istri. Perceraian sering diwarnai dengan permasalahan yang tidak dapat diselesaikan dengan baik (Dariyo, 2004). Berbagai konflik pada orang tua sebelum perceraian akan berdampak bagi anak (Westervelt & Vandenberg, 1997, dalam Ottaway, 2010). Anak yang orang tuanya bercerai akan lebih rentan terkena dampak negatif karena adanya gangguan dalam berelasi dengan pemberi perhatian utama, yaitu orang tua (Hoffman & Ledford, 1996, dalam Morrison, Fife, & Hertlein, 2017). Memori terkait konflik yang meliputi perpisahan orang tua tidak akan dilupakan oleh anak- 1

(21) 2 anak dari keluarga tersebut dan akan memengaruhi cara anak bersikap di masa depan, terutama ketika dihadapkan pada situasi yang serupa seperti yang dialami oleh orang tua mereka (Wallerstein & Lewis, 2004). Westervelt dan Vandenberg (dalam Ottaway, 2010) mengungkapkan bahwa anak cenderung belajar managemen konflik yang buruk dan berbagai perilaku menyimpang dari orang tuanya yang bercerai. Pengalaman menyaksikan perpisahan orang tua juga akan membuat anak-anak tersebut takut dan memandang bahwa relasi personal tidak dapat dipercaya, karena bahkan relasi terdekat yaitu keluarga tidak dapat berdiri kokoh (Wallerstein & Lewis, 2004). Trauma terkait perceraian lebih ditunjukkan oleh anak perempuan dibandingkan laki-laki ketika memasuki masa dewasa (Wallerstein & Blakeslee, 1989, dalam Ottaway, 2010). Anak laki-laki cenderung menunjukkan dampak akibat perceraian orang tuanya ketika memasuki masa remaja, seperti tingginya agresi dan perilaku negatif (Long & Forehand, 1987). Sedangkan, anak perempuan dengan orang tua bercerai cenderung mengalami permasalahan ketika memasuki masa dewasa awal terutama ketika mereka berhadapan dengan tugas perkembangan menjalin relasi intim (Mustonen, Huurre, Kiviruusu, Haukkala, & Aro, 2011). Permasalahan yang dialami oleh anak perempuan dengan orang tua bercerai ketika memasuki masa dewasa awal tampak terutama ketika mereka harus menjalin relasi intim, khususnya relasi intim antar jenis. Seperti adanya keragu-raguan untuk memulai relasi intim, kurangnya kepercayaan pada pasangan, serta perilaku khusus atau masalah emosi yang dipercayai dapat

(22) 3 memengaruhi relasi jangka panjang individu tersebut (Cartwright, 2006). Tidak hanya itu Cartwright (2006) juga menemukan bahwa perempuan memandang perceraian orang tua membuat mereka kekurangan sosok orang dewasa yang dapat dijadikan contoh dalam menjalin relasi yang baik, memiliki keraguan terhadap komitmen ataupun pernikahan, serta memiliki ketakutan akan perceraian. Dalam penelitian Cartwright (2006) ditemukan bahwa permasalahan terkait relasi intim dengan lawan jenis yang dialami oleh anak dengan orang tua bercerai berhubungan dengan bagaimana mereka memandang relasi intim antar jenis itu sendiri. Misalnya seorang perempuan yang memandang bahwa relasi intim antar jenis tidak akan bertahan lama seperti hubungan orang tua yang berakhir bercerai sehingga ia ragu-ragu untuk memulai suatu hubungan yang ia percaya akan berakhir (Cartwright, 2006). Untuk itu peneliti merasa perlu mencari tahu mengenai cara pandang atau persepsi perempuan dewasa awal dengan orang tua bercerai secara spesifik terkait relasi intim antar jenis itu sendiri. Persepsi ialah pandangan atau pengertian, yaitu bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu (Leavitt, 1978, dalam Sobur, 2003). Proses persepsi yang terdiri dari proses menerima, mengatur, dan mengevaluasimenafsirkan stimulus (De Vito, 1997, dalam Sobur, 2003). Hal ini menunjukkan bahwa upaya untuk memberikan arti pada stimulus tampak dari proses terakhir yaitu mengevaluasi-menafsirkan stimulus. Penafsiran merupakan pemahaman seseorang sedangkan penilaian merupakan penilaian seseorang terkait suatu hal (Mar’at, 1981; Sobur, 2003; kbbi.web.id).

(23) 4 Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kita dapat menggali persepsi seseorang dengan mencari tahu bagaimana pemahaman dan penilaian orang tersebut terkait objek persepsi. Dalam penelitian ini persepsi tersebut terkait dengan relasi intim antar jenis, yaitu relasi intim antar laki-laki dan perempuan. Sejauh mana perempuan dengan orang tua bercerai memahami konsep relasi intim antar jenis dan bagaimana penilaian atau pandangan mereka terkait relasi intim antar jenis. Dalam prosesnya, persepsi melibatkan atau dipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya yang berhubungan dengan penelitian ini adalah memori dan pengalaman masa lalu (Rakhmat, 2011; Sobur, 2003). Persepsi dipengaruhi oleh pengalaman terkait figur atau objek yang dipersepsikan, serta akan memengaruhi pembentukan sikap dan perilaku seseorang terhadap figur atau orang tersebut (Sobur, 2003). Sehingga dalam penelitian ini peneliti juga hendak mencari tahu kemungkinan faktor yang mempengaruhi persepsi terhadap relasi intim antar jenis, yaitu tidak hanya memori terkait perceraian orang tua tetapi juga pengalaman masa lalu partisipan terkait relasi intim antar jenis itu sendiri. Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa perceraian orang tua cenderung memberikan dampak negatif lebih bagi anak perempuan, terutama terkait relasi intim antar jenis ketika memasuki masa dewasa awal. Memori menyaksikan pertengkaran orang tua sebelum perceraian dan pengalaman pribadi di masa lalu akan memengaruhi cara anak bersikap dan berperilaku terkait relasi intim antar jenis.Untuk itu peneliti merasa pentingnya untuk mengetahui persepsi

(24) 5 terkait relasi intim antar jenis secara umum, terutama pada anak perempuan dengan orang tua yang bercerai. Dari penelitian-penelitian terdahulu, terdapat penelitian yang mengangkat topik terkait dampak perceraian secara umum (Long & Forehand, 1987; Amato, Loomis, & Booth, 1995; Wallerstein & Lewis, 2004; Cartwright, 2006; Morrison, et. all, 2017) ataupun dampak negatif perceraian orang tua terhadap hubungan intim anak (Hepworth, Ryder, & Dreyer, 1984; Gabardi & Rosen, 1992; Sinclair & Nelson, 1998; Mullett & Stolberg, 2002; Ottaway, 2010). Sedangkan penelitian yang meneliti mengenai persepsi anak dari keluarga bercerai terkait relasi romantis masih sedikit dan penelitian tersebut bukan diadakan di Indonesia, melainkan di USA (South, 2013). Penelitian terkait relasi intim terdahulu umumnya melibatkan partisipan laki-laki dan perempuan dengan rentang usia perkembangan dewasa awal, yaitu 18-40 tahun dan berstatus sebagai mahasiswa (Hepworth, et. all, 1984; Gabardi & Rosen, 1992; Sinclair & Nelson, 1998; Cartwright, 2006; South, 2013; Morrison, et. all, 2017). Penelitian terdahulu menggunakan berbagai metode dalam menggali dampak perceraian pada anak, akan tetapi yang paling sering digunakan adalah metode kuantitatif dengan teknik pengambilan data berupa kuesioner dan skala (Amato & Booth, 1994; Gabardi & Rosen, 1992; Sinclair & Nelson, 1998; Mullett & Stolberg, 2002; Mustonen, et. all, 2011), sampai dengan metode kualitatif (Wallerstein & Lewis, 2004; Cartwright, 2006; South, 2013; Morrison, et. all, 2017).

(25) 6 Teknik analisis data yang digunakan untuk meneliti dampak perceraian juga beragam. Mulai dari yang paling sering adalah analisis data secara statistik menggungakan ANOVA, MANOVA, dan multiple regression untuk mengetahui faktor yang paling menentukan pengaruh perceraian pada anak (Sinclair & Nelson, 1998; Gabardi & Rosen, 1992; Hepworth, et. all, 1984; Amato, et. all, 1995), sampai dengan analisis data kualitatif mengunakan koding terbuka (open coding) ataupun pendekatan induktif (inductive approach) (Cartwright, 2006; South, 2013; Morrison, et. all, 2017). Hasil penelitian terdahulu membuktikan bahwa perceraian orang tua akan memberi dampak jangka panjang pada anak, khususnya terkait relasi intim antar jenis (Hepworth, et. all, 1984; Gabardi & Rosen, 1992; Long & Forehand, 1987; South, 2013), termasuk bagaimana perceraian memengaruhi pandangan anak terkait hubungan intim, pernikahan, dan kemungkinan perceraian dikemudian hari karena dalam perceraian umumnya memaparkan berbagai konflik tanpa penyelesaian yang baik (Amato, et. all, 1995; Wallersten & Lewis, 2004; Cartwright, 2006; South, 2013; Morrison, et. all, 2017). Anak cenderung akan memiliki pandangan negatif, seperti pesimis terkait relasi intim jangka panjang, memiliki keraguan dan ketidakpercayaan baik terhadap diri sendiri maupun pasangan (South, 2013; Morrison, et. all, 2017). Akan tetapi ada juga yang berpandangan bahwa perceraian orang tua membuatnya belajar dari kesalahan orang tua dan berusaha sekuat tenaga untuk menciptakan relasi yang tidak putus (Cartwright, 2006; South, 2013; Morrison, et. all, 2017).

(26) 7 Berdasarkan tinjauan pustaka di atas, didapati beberapa defisiensi, yaitu dari segi isi dan tempat pelaksanaan penelitian. Pertama, dari segi isi ditemukan bahwa penelitian terdahulu hanya mengeksplor dampak perceraian secara umum ataupun persepsi mengenai dampak perceraian terhadap relasi intim. Persepsi yang dieksplorasi oleh penelitian terdahulu juga lebih menitikberatkan pada pandangan subjek terkait dampak perceraian pada relasi intim antar jenis mereka (South, 2013). Belum ada penelitian yang mengeksplor secara spesifik bagaimana persepsi relasi intim antar jenis itu sendiri pada perempuan muda dengan orang tua bercerai. Padahal persepsi yang mempengaruhi perilaku seorang belum tentu hanya dipengaruhi oleh memori perceraian orang tua. Kemudian yang kedua, penelitian tesebut diadakan bukan di Indonesia, melainkan di USA. Padahal di Indonesia sendiri sejak tahun 2012-2015 terdapat fenomena di mana angka perceraian meningkat 7% akan tetapi angka pernikahan menurun 14-15%. Berdasarkan defisiensi tersebut, peneliti hendak melakukan penelitian yang mengulas persepsi dengan sudut pandang yang berbeda, yaitu persepsi mengenai relasi intim antar jenis tanpa meminta partisipan untuk mengkaitkan persepsi tersebut dengan perceraian orang tua mereka secara langsung, serta mencari tahu juga mengenai pengalaman masa lalu para partisipan dalam menjalin relasi intim antar jenis. Persepsi mengenai relasi intim antar jenis tersebut mencakup pemahaman terkait relasi intim antar jenis serta penilaian partisipan terkait relasi intim antar jenis. Peneliti akan memetakan pemahaman serta penilaian relasi intim antar jenis dengan menggunakan komponen-komponen cinta dari teori segitiga cinta Sternberg.

(27) 8 Penelitian ini akan melibatkan perempuan dengan orang tua bercerai yang tinggal di Yogyakarta. Alasan pemilihan partisipan tersebut adalah karena bahwa dampak perceraian lebih dirasakan oleh perempuan. Ada pula karakteristik partisipan yang hendak dilibatkan adalah berusia 20-30 tahun, yang termasuk dalam rentang dewasa awal dengan tugas utama perkembangannya adalah menjalin relasi intim dengan orang lain (Santrock, 2008). Kemudian diharapkan peserta yang terlibat pernah atau sedang menjalin relasi intim agar memiliki pengalaman masa lalu terkait objek persepsi. Metode yang hendak digunakan adalah metode kualitatif dengan pengambilan data berupa wawancara semi terstruktur secara perorangan. Sebelum wawancara mengenai topik inti, peneliti akan melakukan wawancara awal untuk mengetahui memori terkait perceraian orang tua dan pengalaman masa lalu terkait relasi intim antar jenis yang dialami subjek. Hasil wawancara akan di analisis dengan metode analisis isi kualitatif (AIK), yaitu analisis isi terarah atau deduktif. B. Pertanyaan Penelitian Pertanyaan pokok: Bagaimana persepsi perempuan dewasa awal dengan orang tua bercerai terkait relasi intim antar jenis? Pertanyaan turunan: (1) Bagaimana pemahaman perempuan dewasa awal dengan orang tua bercerai terkait relasi intim antar jenis, khususnya terkait komponen keintiman, passion, dan komitmen?

(28) 9 (2) Bagaimana penilaian perempuan dewasa awal dengan orang tua bercerai terkait relasi intim antar jenis yang berkaitan dengan komponen keintiman, passion, dan komitmen? C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi persepsi perempuan dewasa awal dengan orang tua bercerai terkait relasi intim antar jenis, khususnya dari segi pemahaman dan penilaian. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah literatur dalam bidang psikologi perkembangan dan sosial. Penelitian ini juga diharapkan dapat menambah kajian psikologis mengenai persepsi terkait relasi intim antar jenis dan terkait perempuan dengan orang tua bercerai. 2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada masyarakat khususnya di Indonesia, agar lebih mampu memahami perempuan dengan latar belakang orang tua yang bercerai ketika menjalin relasi intim. Dengan memahami hal tersebut, diharapkan masyarakat mampu memberikan perlakuan yang sesuai sehingga dampak-dampak negatif dapat dihindari ataupun ditanggapi dengan baik. Gambaran ini juga diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi para ahli psikologi jika hendak melakukan intervensi terhadap perempuan dewasa awal dengan orang tua yang bercerai.

(29) BAB II LANDASAN TEORI A. Perempuan Dewasa Awal dari Keluarga dengan Orang Tua Bercerai Dewasa awal merupakan masa perkembangan dengan rentang usia 2030 tahun. Dalam masa ini, tugas utama perkembangan yang harus dicapai oleh seseorang adalah untuk menjalin relasi intim dengan orang lain (Erik Erikson, 1968, dalam Santrock, 2008). Erikson mengungkap bahwa kegagalan dalam menjalin relasi intim atau hubungan yang bermakna dapat mengganggu kepribadian seseorang dan berujung pada isolasi diri (Santrock, 2008). Keluarga yang merupakan tempat anak pertama kali belajar bagaimana berelasi dengan orang lain serta interaksi orang tua-anak memiliki implikasi masa depan bagi anak, terutama menyangkut keberhasilan anak dalam menjalankan tugas perkembangannya (Baron & Byrne, 2003; Sinclair & Nelson, 1998). Perceraian orang tua dapat menyebabkan terganggunya relasi anak dengan pemberi perhatian utama, yang dalam hal ini merupakan orang tua (Hoffman & Ledford, 1996, dalam Morrison, Fife, & Hertlein, 2017). Perceraian sendiri merupakan suatu peristiwa perpisahan secara resmi antara pasangan suami-istri. Mereka tidak lagi tinggal serumah dan berketetapan untuk tidak menjalankan tugas dan kewajiban sebagai suami istri. Perceraian sering diwarnai dengan permasalahan antar orang tua yang tidak dapat diselesaikan dengan baik (Dariyo, 2004). Berdasarkan pengertian perceraian di atas dapat disimpulkan bahwa setelah bercerai kedua orang tua tidak lagi tinggal serumah dan anak akan 10

(30) 11 berpotensi kehilangan salah satu figur orang tua. Tidak hanya itu, anak juga akan menyaksikan konflik antar orang tua sebelum mereka bercerai. Kondisi ini akan memengaruhi anak yang tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh tersebut. Orang tua merupakan panutan paling berpengaruh bagi anak, sehingga konflik antar orang tua dan perceraian akan memengaruhi kemampuan seseorang dalam membentuk relasi yang stabil dan sehat di kemudian hari (Sinclair & Nelson, 1998). Perceraian orang tua lebih berdampak pada anak perempuan dibanding laki-laki, terutama terkait masalah hubungan interpersonal (Aro & Palosaari, 1992). Berdasarkan temuan penelitian, anak perempuan dengan orang tua bercerai juga lebih sering mengalami konflik dalam berelasi ketika memasuki masa dewasa dibandingkan anak dari keluarga utuh (Mustonen, et. all, 2011). Gardner (1976) mengungkapkan bahwa untuk sukses dalam suatu relasi, anak memerlukan kedua orang tuanya ketika bertumbuh (Sinclair & Nelson, 1998). Karena setiap orang tua memiliki peranannya masing-masing dalam tumbuh kembang anak (Santrock, 2008). Orang tua dengan gender yang sama akan membantu anak dalam pembentukan identitas diri, sedangkan orang tua dengan gender berlawanan akan menjadi contoh bagi anak untuk berelasi dengan lawan jenis (Sinclair & Nelson, 1998). Jika mereka kehilangan salah satu figur orang tua, biasanya anak-anak dari keluarga tersebut akan mengalami kesulitan dalam membentuk dan merawat relasi intim antar jenis (Sinclair & Nelson, 1998). Setelah perceraian, ibu biasanya tetap berusaha menjaga komunikasi dengan anak-anaknya, sedangkan ayah lebih cenderung mempertahankan

(31) 12 komunikasi pada anak laki-laki dibandingkan perempuan (Hetherington, 1989). Bagi anak perempuan, kehilangan kontak dengan figur ayah dapat menyebabkan anak perempuan memiliki insecure attachment dan ketakutan akan ditinggalkan dalam menjalin relasi intim mereka (Amato & Booth, 1994). Mereka akan mengingat pengalaman ditinggal oleh ayah sebagai tempat bersandar (Kalter, 1987, dalam Brown & Amatea, 2000). Anak-anak juga akan menjadi takut dan memandang relasi personal tidak dapat dipercaya setelah menyaksikan konflik dan perpisahan orang tua, karena mereka beranggapan bahwa bahkan relasi terdekat mereka yaitu keluarga mereka tidak berdiri kokoh (Wallerstein & Lewis, 2004). Seiring berjalannya waktu, konflik yang meliputi perpisahan dan perceraian akan memudar, namun tidak akan dilupakan oleh anak-anak dari keluarga tersebut (Wallerstein & Lewis, 2004). Memori terkait perceraian akan memengaruhi pandangan anak terkait relasi intim, karena salah satu proses yang dilibatkan dalam mempersepsi adalah memori (Desiderato, 1976, dalam Rakhmat, 2011). Ingatan-ingatan mengenai apa yang terjadi dan dialami oleh orang tua mereka sebelum bercerai akan diingat dan terinternalisasi. Bayang-bayang mengenai ingatan tersebut akan terpanggil kembali ketika mereka menemui situasi-situasi tertentu ketika berelasi dengan lawan jenis dan menjadi pengganggu yang kuat dalam relasi mereka saat dewasa (Wallerstein & Lewis, 2004). Seperti yang diungkapkan dalam penelitian South (2013) bahwa perceraian memengaruhi persepsi anak terkait relasi intim antar jenis dan dalam penelitian ini didominasi oleh subjek perempuan. Perempuan dewasa awal dengan

(32) 13 orang tua yang bercerai cenderung mempersepsi relasi romantis secara negatif. Mereka biasanya mempersepsi relasi romantis sebagai sesesuatu yang sulit mereka pahami karena tidak memiliki contoh yang baik dari orang tua mereka. Para perempuan dewasa awal tersebut juga mengungkapkan mereka tidak percaya dengan pernikahan sebagai akibat dari perceraian orang tua mereka (South, 2013). B. Relasi Intim Antar Jenis Menjalin relasi intim merupakan tugas perkembangan pada masa dewasa awal (Santrock, 2008). Seseorang yang tidak dapat menjalin relasi intim akan merasa terisolasi dan kesepian. Rasa terisolasi dan kesepian ini akan berdampak buruk bagi individu yang mengalaminya (Erikson, 1968, dalam Santrock, 2008). Ketika membaca beberapa acuan terkait relasi intim, khususnya relasi antar jenis, teori yang selalu disebut adalah terkait teori Segitiga Cinta yang diungkapkan Sternberg (Baron & Byrne, 2003; Papalia, 2004; Santrock, 2008). Hal ini yang mendasari penggunaan teori Segitiga Cinta Sternberg dalam penelitian ini. Sternberg (1986) mengungkapkan bahwa cinta terdiri dari tiga komponen dasar yaitu, keintiman, passion, dan komitmen. Cinta dapat didasarkan pada salah satu dari ketiga komponen tersebut, kombinasi dari dua komponen, atau bahkan kombinasi dari ketiganya (Baron & Byrne, 2003). Komponen keintiman yang dimaksud dalam teori ini adalah perasaan akan kedekatan, memiliki koneksi, dan keterikatan dalam relasi kasih sayang (Sternberg, 1986). Keintiman sendiri memiliki sepuluh “clusters” atau bagian, yaitu (1) keinginan untuk meningkatkan kesejahteraan orang yang dikasihi, (2) merasakan

(33) 14 kebahagiaan bersama orang yang dikasihi, (3) sangat menghormati orang yang dikasihi, (4) bisa mengandalkan orang yang dikasihi ketika membutuhkan, (5) saling memahami satu sama lain, (6) berbagi diri sendiri maupun kepemilikan dengan orang yang dikasihi, (7) mendapatkan dukungan emosional dari orang yang dikasihi, (8) memberikan dukungan emosional pada orang yang dikasihi, (9) komunikasi yang intim dengan orang yang dikasihi, dan (10) menghargai orang yang dikasihi dalam hidupnya (Sternberg & Grajek, 1984, dalam Sternberg, 1986). Komponen kedua, yaitu passion menyangkut dorongan yang merujuk pada percintaan/romansa, ketertarikan fisik, perilaku seksual, serta hal-hal terkait dalam hubungan saling mengasihi (Sternberg, 1986). Hatfield dan Walster (1981) mengungkapkan bahwa suatu kondisi di mana seseorang memiliki keinginan yang kuat untuk bersatu dengan pasangannya secara fisik termasuk dalam passion. Dalam komponen ini, kebutuhan seksual merupakan hal yang mendominasi. (Sternberg, 1986). Komponen ini dapat diekspresikan melalui tindakan seperti (1) berciuman, (2) berpelukan, (3) menatap, (4) bersentuhan, dan (5) berhubungan badan (Sternberg, 1986). Komponen ketiga dan terakhir adalah komitmen. Komitmen atau keputusan dibedakan menjadi dua aspek, yaitu jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek berarti seseorang sampai pada keputusan bahwa ia mencintai orang tertentu, sedangkan jangka panjang berarti ia berkomitmen untuk merawat atau mempertahankan cinta tersebut. Dalam suatu relasi, kedua aspek pada komponen ini tidak selalu dan tidak harus berjalan beriringan (Sternberg, 1986). Komponen

(34) 15 ini mempresentasikan faktor kognitif (Baron & Byrne, 2003). Komponen komitmen dapat diekspresikan melalui beberapa hal seperti, (1) perjanjian atau kesepakatan, (2) kesetiaan, (3) mempertahankan hubungan dalam kedaan sulit, (4) pertunangan, dan (5) pernikahan (Sternberg, 1986). Berdasarkan teori tersebut, maka ketika membahas mengenai persepsi terkait relasi intim antar jenis dalam penelitian ini, berarti membahas mengenai persepsi terkait komponen keintiman, passion, dan komitmen. Seperti anggapan perempuan dengan orang tua bercerai yang tidak percaya dengan pernikahan, mereka menjadi berpikir sangat analitis mengenai apakah terdapat cukup kesamaan minat baginya untuk menjadikan seseorang pacarnya, dan lain sebagainya (South, 2013; Cartwright, 2006). Dalam penelitian ini, perempuan dengan orang tua bercerai menyaksikan contoh nyata dari muncul atau tidaknya ketiga komponen cinta tersebut dalam relasi intim kedua orang tuanya sebelum bercerai yang secara tidak langsung juga memengaruhi persepsinya terkait relasi intim antar jenis yang melibatkan ketiga hal tersebut. C. Persepsi terhadap Relasi Intim Antar Jenis Perilaku seseorang dibentuk melalui pandangan orang tersebut terhadap suatu hal. Sehingga untuk mampu memahami perilaku seseorang, kita harus mengerti pandangannya terhadap hal tersebut (Sobur, 2003). Persepsi dalam arti luas ialah pandangan atau pengertian, yaitu bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu (Leavitt, 1978, dalam Sobur, 2003). Hal ini yang membuat penting untuk mengetahui persepi relasi intim antar jenis jika ingin

(35) 16 memahami mengenai tingkah laku terkait relasi intim antar jenis dari perempuan dengan orang tua bercerai. Terjadinya stimulasi alat indra Stimulasi alat indra diatur Stimulasi alat indra dievaluasiditafsirkan Gambar 1. Proses Persepsi (De Vito, 1997, dalam Sobur, 2003) Berdasarkan Gambar 1. dapat dilihat bahwa De Vito (dalam Sobur, 2003) mengungkap proses persepsi yang terdiri dari proses menerima, mengatur, dan mengevaluasi-menafsirkan stimulus. Berdasakan pengertian persepsi secara luas dan bangan proses persepsi, dapat dilihat bahwa upaya untuk memberikan arti pada stimulus tampak dari proses terakhir yaitu mengevaluasi-menafsirkan stimulus. Untuk itu dapat dikatakan bahwa persepsi seseorang merupakan evaluasi maupun penafsiran seseorang terkait suatu hal. Penafsiran sendiri dapat diungkapkan melalui pengertian maupun pemahaman seseorang terkait suatu hal (Mar’at, 1981; Sobur, 2003). Sedangkan, evaluasi merupakan suatu penilaian (kbbi.web.id). Penilaian yang dimaksud di sini memuat komponen kognitif, emosi, dan psikomotor (Sobur, 2003). Berdasarkan penjelasan di atas, secara sederhana jika ingin mengetahui persepsi seseorang dapat dilakukan dengan mengetahui bagaimana orang tersebut memahami maupun menilai hal tersebut. Dalam penelitian ini, berarti persepsi perempuan dewasa awal terkait relasi intim antar jenis merupakan pemahaman dan penilaian mereka terkait relasi intim antar jenis. Di mana penilaian mereka

(36) 17 berkaitan dengan bagaimana perempuan dewasa awal dengan orang tua bercerai memandang relasi intim antar jenis, serta emosi dan tanggapan seperti apa yang muncul berkaitan dengan hal tersebut.. Pemahaman dan penilaian setiap orang terhadap suatu hal berbedabeda dan tidak semata didasarkan pada rangsangan dari luar, melainkan ada banyak faktor yang dapat memengaruhi persepsi seseorang (Sobur, 2003). Seperti faktor dari dalam diri, yaitu memori dan pengalaman masa lalu terkait hal yang dipersepsi (Rakhmat, 2011; Sobur, 2003). Memori dan pengalaman masa lalu setiap orang terkait suatu hal yang sama pastilah berbeda-beda. Cara setiap orang memaknai memori dan pengalaman masa lalu itupun berbeda-beda. Perbedaan cara memaknai memori dan pengalaman masa lalu ini juga dapat menyebabkan pemahaman dan penilaian seseorang terkait hal yang sama pun menjadi berbeda. Dalam penelitian ini, hal yang dipersepsi adalah relasi intim antar jenis. Sedangkan memori yang dimaksud berupa memori terkait perceraian orang tua, karena Wallerstein & Lewis (2004) menemukan bahwa memori mengenai perceraian orang tua berpengaruh pada bagaimana seseorang menjalin relasi intim di masa dewasa. Sedangkan pengalaman masa lalu mengenai objek yang dipersepsi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengalaman menjalin relasi intim antar jenis yang juga penting untuk diketahui. Hal ini memungkinkan tidak hanya memori perceraian orang tua yang dapat mempengaruhi persepsi, akan tetapi pengalaman masa lalu terkait relasi intim antar jenis juga mempengaruhi persepi seseorang terkait relasi intim antar jenis.

(37) 18 D. Kerangka Konseptual Pada tahap perkembangan dewasa awal, yaitu pada usia 20-30 tahun, seseorang akan dihadapkan dengan tugas perkembangan untuk menjalin relasi intim (Santrock, 2008). Pada masa ini, anak perempuan dengan orang tua bercerai sering mengalami permasalahan atau kesulitan dalam menjalin relasi intim antar jenis (Aro & Palosaari, 1992). Anak membutuhkan kedua orang tua untuk dapat bekembang dengan baik (Santrock, 2008), akan tetapi keluarga dengan orang tua yang bercerai menyebabkan relasi anak dengan pemberi perhatian utama terganggu, yang dalam hal ini merupakan orang tua (Hoffman & Ledford, 1996, dalam Morrison, Fife, & Hertlein, 2017). Anak perempuan dengan orang tua bercerai cenderung akan kehilangan kontak dengan figur ayah, yang menyebabkan mereka memiliki insecure attachment dan ketakutan akan ditinggalkan ketika menjalin relasi intim, serta kehilangan contoh dan guru untuk berelasi dengan lawan jenis (Amato & Booth, 1994; Gardner, 1976, dalam Sinclair & Nelson, 1998). Tidak hanya itu, pengalaman dan memori anak terkait konflik serta perpisahan orang tua menyebabkan rusaknya kapasitas anak untuk mencintai dan dicintai dalam menjalin relasi jangka panjang yang melibatkan komitmen (Wallerstein & Lewis, 2004). Memori tersebut akan menghantui dan memengaruhi cara mererka memandang dan berperilaku ketika berelasi dengan orang lain (Cartwright, 2006). Permasalahan relasi intim antar jenis yang biasa dialami oleh perempuan dengan orang tua bercerai adalah merasa ragu untuk menjalin relasi intim, kurangnya kepercayaan pada pasangan, merasa ragu dapat

(38) 19 mempertahankan relasi jangka panjang, dan lain sebagainya (Cartwright, 2006). Tidak hanya itu, perempuan dengan orang tua bercerai cenderung menikmati berhubungan badan dengan lawan jenis tanpa memiliki keinginan untuk berkomitmen pada hubungan tersebut. Jika mereka akhirnya jatuh cinta pada pria tersebut mereka akan mengalami kebingungan mengenai apa yang harus mereka lakukan (Wallerstein & Lewis, 2004). Erikson mengungkap bahwa kegagalan dalam menjalin relasi intim atau hubungan yang bermakna pada masa dewasa awal dapat mengganggu kepribadian seseorang dan berujung pada isolasi diri (Santrock, 2008). Persepsi berperan untuk menentukan bagaimana seseorang berperilaku terkait suatu hal (Robbins & Judge, 2017). Hal ini menunjukkan pentingnya untuk mengetahui persepsi perempuan dewasa awal dengan orang tua bercerai terkait relasi intim antar jenis agar dapat memahami, mencegah, ataupun merespon dampak negatif yang biasa ditimbulkan akibat perceraian orang tua. Bedasarkan teori persepsi, faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang tidak hanya memori akan tetapi juga pengalaman masa lalu (Rakhmat, 2011; Sobur, 2003). Persepsi yang dimaksud dalam penelitian ini dibatasi pada pemahaman dan penilaian perempuan dewasa awal dengan orang tua bercerai terhadap relasi intim antar jenis yang memuat komponen keintiman, passion, dan komitmen (Sobur, 2003; Baron & Byrne, 2003). Sejauh mana perempuan dengan orang tua bercerai memahami konsep relasi intim antar jenis yang melibatkan tiga komponen yaitu keintiman, passion, dan komitmen, serta bagaimana perempuan dewasa awal dengan orang tua bercerai menilai relasi intim antar jenis, melalui

(39) 20 pandangan, emosi, ataupun tanggapan mereka berkaitan dengan hal tersebut. Tidak hanya itu, dalam penelitian ini peneliti juga hendak mencari tahu mengenai beberapa faktor dapat yang memengaruhi persepsi terkait relasi intim antar jenis tersebut, yaitu memori dan pengalaman masa lalu (Rakhmat, 2011; Sobur, 2003). Memori yang dimaksud di sini berupa memori terkait perceraian orang tua, sedangkan pengalaman masa lalu yang dimaksud adalah pengalaman menjalin relasi intim antar jenis. Tugas perkembang an dewasa awal: Menjalin relasi intim antar jenis Memori terkait konflik & perceraian orang tua serta Pengalaman masa lalu terkait relasi intim antar jenis Pemahaman Persepsi terkait relasi intim antar jenis Gambar 2. Kerangka Konseptual Penilaian Komponen relasi intim antar jenis: Keintiman, passion, komitmen

(40) BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif interpretatif. Penelitian kualitatif interpretatif menganut paradigma relativis yang tercermin dari cara peneliti memperlakukan data dan menganalisisnya (Supratiknya, 2018). Data dalam penelitian jenis ini berupa ungkapan atau penuturan para partisipan dalam mengeksplorasi fenomena atau konsep pokok yang menjadi fokus penelitian (Supratiknya, 2015). Data berupa ungkapan partisipan penelitian dipandang sebagai cara partisipan penelitian mengkonstruksi makna dalam kehidupan mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan kisah yang kaya dan rinci yang memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai cara partisipan membuat atau menciptakan aneka makna. Dalam jenis penelitian kualitatif interpretatif, hasil analisis data merupakan cerminan cara partisipan memaknai suatu hal sekaligus juga cara peneliti memaknai makna yang diciptakan oleh para partisipan. Hal ini memungkinkan peneliti memberikan makna atas pengalaman para partisipan melampaui apa yang mampu atau mau diakui oleh para partisipan sendiri (Willig, 2012, dalam Supratiknya, 2018). Rancangan awal pada proses penelitian kualitatif bersifat meluas dan sangat mungkin berubah setelah peneliti terjun ke lapangan untuk mengumpulkan data (Creswell, 2009, dalam Supratiknya, 2015). Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi kualitatif (AIK). Pendekatan analisis isi yang digunakan peneliti adalah 21

(41) 22 pendekatan analisis deduktif atau analisis isi terarah yang bertujuan untuk memvalidasi atau memperluas kerangka konseptual atau teori dalam konteks dan kelompok subjek yang baru (Zhang & Wildemuth, 2005, dalam Wildemuth, 2009; Hsieh & Shannon, 2005, dalam Supratiknya, 2015). Dalam pendekatan ini, peneliti menafsirkan isi data berupa teks secara subjektif dengan proses klasifikasi sistematik berupa coding atau pengodean dan pengidentifikasian aneka tema atau pola yang telah dikemukakan pada tinjauan pustaka (Hsieh & Shannon, 2005, dalam Supratiknya, 2015). Untuk mempermudah proses pengodean ini, peneliti juga membuat kerangka analisis yang digunakan sebagai acuan saat mengode. Peneliti juga membenamkan diri dalam data yang diperoleh sehingga memungkinkan munculnya tema baru yang berasal dari data (Zhang & Wildemuth, 2005, dalam Wildemuth, 2009). Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi terhadap relasi intim antar jenis pada perempuan dewasa awal dengan orang tua bercerai di Yogyakarta, khususnya mengenai pemahaman dan penilaian terhadap relasi intim antar jenis. Untuk itu metode pengambilan data yang akan digunakan adalah wawancara semi-terstruktur dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka dan eksploratik untuk memberi partisipan kesempatan mengungkapkan secara bebas apa yang ingin mereka ungkapkan terkait topik penelitian. B. Fokus Penelitian Fokus dari penelitian ini adalah persepsi perempuan dewasa awal dengan orang tua bercerai yang berdomisili di Yogyakarta, terhadap relasi intim antar jenis. Perempuan dewasa awal yang dimaksud merupakan perempuan

(42) 23 dengan rentang usia 20-30 tahun, yang sedang dalam masa perkembangan dewasa awal (Santrock, 2008) dengan orang tua bercerai. Relasi intim antar jenis yang hendak digali melibatkan tiga komponen meninjau teori segitiga Sternberg (1986), yaitu keintiman, passion, dan komitmen. Komponen keintiman mencakup, (1) keinginan untuk meningkatkan kesejahteraan orang yang dikasihi, (2) merasakan kebahagiaan bersama orang yang dikasihi, (3) sangat menghormati orang yang dikasihi, (4) bisa mengandalkan orang yang dikasihi ketika membutuhkan, (5) saling memahami satu sama lain, (6) berbagi diri sendiri maupun kepemilikan dengan orang yang dikasihi, (7) mendapatkan dukungan emosional dari orang yang dikasihi, (8) memberikan dukungan emosional pada orang yang dikasihi, (9) komunikasi yang intim dengan orang yang dikasihi, dan (10) menghargai orang yang dikasihi dalam hidupnya. Komponen passion mencakup dorongan yang merujuk pada percintaan/romansa, ketertarikan fisik, perilaku seksual, serta hal-hal terkait dalam hubungan saling mengasihi. Komponen ini dapat diekspresikan misalnya melalui tindakan seperti berciuman, berpelukan, menatap, bersentuhan, dan berhubungan badan. Terakhir, komponen komitmen atau keputusan mencakup aspek jangka pendek yang berarti seseorang sampai keputusan mencintai seseorang dan jangka panjang yang merupakan keinginan untuk merawat atau mempertahankan relasi, misalnya melalui perjanjian/ kesepakatan, kesetiaan, mempertahankan hubungan dalam keadaan sulit, pertunangan, maupun pernikahan (Sternberg, 1986). Kemudian persepsi terhadap relasi intim antar jenis yang hendak dieksplorasi dibatasi pada pemahaman dan penilaian mengenai relasi intim antar

(43) 24 jenis. Pemahaman yang dimaksud adalah sejauh mana partisipan memahami dan mengerti relasi intim antar jenis dan ketiga komponennya, yaitu keintiman, passion, dan komitmen. Penilaian mencakup bagaimana pandangan, emosi, dan tanggapan partisipan terkait keintiman, passion, dan komitmen dalam relasi intim antar jenis, bisa positif maupun negatif. Pemahaman dan penilaian partisipan terkait relasi intim didapat dari penjelasan, deskripsi, maupun pendapat partisipan mengenai relasi intim antar jenis ataupun ketiga komponennya. C. Partisipan Dalam penelitian kualitatif, pengambilan sampel selalu dilakukan dengan tujuan tertentu (purposeful) yaitu dengan sengaja memilih partisipan yang dipandang mampu memberikan data yang paling kaya informasi (Morrow, 2005). Para partisipan juga dipilih dengan kriteria yang disesuaikan dengan tujuan penelitian (Herdiansyah, 2015). Penelitian ini hendak membahas persepsi relasi intim antar jenis pada perempuan dengan orang tua bercerai, untuk itu para partisipan dipilih berdasarkan kriteria sebagai berikut: jenis kelamin perempuan, sedang menempuh masa perkembangan dewasa awal (20-30 tahun), memiliki orang tua yang bercerai, tinggal dengan ibu setelah perceraian terjadi, tinggal di Yogyakarta selama penelitian berlangsung, serta memiliki pengalaman menjalin relasi intim antar jenis. Dalam penelitian ini jumlah partisipan tidak dapat ditentukan di awal, karena penelitian kualitatif lebih mementingkan kekayaan informasi dari kasus yang dipilih dibandingkan besar sampel (Patton, 1990, dalam Morrow, 2005). Biasanya data dikumpulkan sampai mencapai redundansi, yang berarti tidak ada

(44) 25 informasi baru yang diperoleh dengan menambahkan data (Lincoln & Guba, 1985, dalam Morrow, 2005). Teknik yang dipandang efektif untuk memeroleh sampel dengan kriteri serta sesuai dengan tujuan yang diinginkan adalah, teknik snowball atau chain sampling (Morrow, 2005, dalam Supratiknya, 2018), yaitu mencari partisipan baru untuk melengkapi data dari partisipan sebelumnya (Sugiyono, 2012). Dalam penelitian ini, partisipan yang terlibat adalah 3 (tiga) orang perempuan dewasa awal dengan orang tua bercerai yang tinggal bersama ibu setelah perceraian. Jumlah partisipan sebanyak 3 (tiga) orang ini dirasa peneliti sudah memenuhi kriteria kejenuhan data atau redundansi. Kejenuhan yang dimaksud adalah jawaban P2 dan P3 tidak menambahkan informasi baru dari jawaban P1. Rentang usia partisipan yang dilibatkan adalah 21-23 tahun dengan latar belakang pendidikan yang sama yaitu sedang menempuh S1. Rentang usia dan kesamaan latar belakang pendidikan para partisipan yang terlibat dipengaruhi oleh status peneliti yang juga merupakan mahasiswa S1. Para partisipan yang dilibatkan merupakan kenalan peneliti ataupun kenalan dari kenalan peneliti. Ada pula rincian partisipan yang terlibat adalah sebagai berikut: Tabel 1. Data Partisipan No. Inisial 1. P1 2. P2 3. P3 Usia Partisipan 23 tahun 21 tahun 22 tahun Usia Perceraian Orang tua ± 11 tahun ± 10 tahun ± 3tahun D. Peran Peneliti Dalam penelitian kualitatif, peneliti merupakan instrumen kunci. Peneliti dikatakan sebagai instrumen kunci, karena peneliti turun langsung ke

(45) 26 lokasi penelitian untuk mengumpulkan data (Supratiknya, 2015). Penelitian ini membahas persepsi perempuan dewasa awal dengan orang tua bercerai terkait relasi intim antar jenis. Dalam hal ini peneliti berperan untuk turun langsung mencari partisipan yang sesuai dengan kriteria yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu jenis kelamin perempuan, sedang menempuh masa perkembangan dewasa awal (20-30 tahun), memiliki orang tua yang bercerai, tinggal dengan ibu setelah perceraian terjadi, serta tinggal di Yogyakarta selama penelitian berlangsung. Setelah mendapatkan orang dengan kriteria yang sesuai, peneliti harus melakukan pendekatan dan meminta persetujuan keterlibatan dalam penelitian, kemudian barulah peneliti dapat mengumpulkan data penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara semi-terstruktur secara perorangan. Para partisipan yang terlibat umumnya adalah kenalan peneliti. Sedangkan untuk tempat penelitian, karena peneliti sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta maka penelitian dilaksanakan di kos peneliti atau partisipan. Sebelum wawancara dilakukan, peneliti meminta persetujuan keterlibatan secara lisan dan tertulis. Persetujuan keterlibatan para partisipan secara tertulis diminta dengan menandatangani informed consent atau kesepakatan partisipasi penelitian. Kesepakatan partisipasi penelitian berisi garis besar tujuan dan jalannya penelitian. Setelah partisipan menyetujui untuk terlibat, peneliti bertugas untuk membangun rapport agar partisipan bersedia membuka diri dan menceritakan pengalaman pribadi yang dibutuhkan bagi penelitian. Dalam hal ini misalnya membicarakan latar belakang mengenai perceraian orang tua ketika wawancara

(46) 27 pengambilan data. Selama wawancara, peneliti bertugas untuk melontarkan pertanyaan terbuka yang bertujuan menstimulasi partisipan agar bercerita mengenai topik penelitian tanpa melontarkan pertanyaan yang bersifat mengarahkan. Pertanyaan-pertanyaan yang digunakan dalam pengambilan data sebelumnya telah diuji coba terlebih dahulu untuk mengetahui keefektifan pertanyaan dalam menstimulasi partisipan. Isu etis yang mungkin muncul dalam penelitian ini adalah terkait kerahasiaan identitas para partisipan. Untuk mengatasi isu ini, peneliti dan partisipan telah menandatangani lembar kesepakatan partisipasi penelitian atau informed consent yang di dalamnya berisi penjelasan bahwa peneliti tidak akan menyebutkan nama partisipan dalam laporan yang disusun. Peneliti menggunakan inisial P1 (partisipan satu), P2, dan seterusnya, untuk membedakan antar partisipan. Dalam penelitian ini peneliti memiliki satu peran lagi yaitu membuat refleksi diri yang jelas, jujur, dan informatif terkait peran peneliti. Refleksifitas ini bisa berisi uraian mengenai bias yang dibawa oleh peneliti selama penelitian dan mungkin memengaruhi interpretasi data, ataupun penjelasan peneliti mengenai penelitian ini mengubah cara pandangnya terkait topik penelitian (Willig, 2013). Tidak hanya itu, refleksivitas peneliti membuat peneliti sadar bahwa reaksinya terhadap konteks dan data penelitian memungkinkan peneliti mendapatkan insight dan pemahaman tertentu yang lebih baik mengenai topik penelitian (Willig, 2013).

(47) 28 Dalam penelitian ini peneliti berefleksi bahwa bias mungkin terjadi karena peneliti memiliki kesamaan gender dan usia perkembangan dengan para partisipan. Hal ini dapat membuat peneliti merasa memahami para partisipan sehingga kurang kritis dalam melakukan probing yang mungkin saja penting. Tidak hanya itu, salah satu partisipan (P1) yang terlibat juga merupakan teman yang cukup dekat dengan peneliti. Kedekatan ini ada karena partisipan dan peneliti pernah tinggal bersama selama sebulan dan sudah mulai menceritakan pengalaman pribadi satu sama lain ketika tinggal bersama, termasuk membicarakan topik mengenai relasi dengan lawan jenis. Partisipan ini juga merupakan sosok yang melatarbelakangi peneliti memilih topik penelitian ini. Bias mungkin terjadi karena sebelumnya sudah mengetahui pengalaman dan cara berpikir satu sama lain terkait relasi intim dengan lawan jenis. Peneliti mengurangi kemungkinan bias tersebut dengan menayakan pendapat rekan sejawat dan dosen pembimbing selaku tenaga ahli terutama saat menganalisis data atau mengoding transkrip wawancara. E. Metode Pengumpulan Data Peneliti mengumpulkan data dengan melakukan wawancara semiterstruktur kepada para partisipan. Wawancara semi-terstruktur dilakukan karena memberikan kesempatan yang luas bagi peneliti untuk memahami dan mendengarkan segala hal yang dikatakan partisipan dari pengalaman hidupnya, murni berdasarkan sudut pandang partisipan. Morrow (2005, dalam Supratiknya, 2018) berpendapat bahwa penggunaan sedikit pertanyaan yang sungguh-sungguh terbuka lebih efektif daripada menggunakan misalnya 20 pertanyaan utama.

(48) 29 Untuk itu peneliti merumuskan beberapa pertanyaan terbuka sebagai pedoman wawancara yang sekiranya mampu menstimulasi partisipan. Peneliti menganggap topik terkait perceraian orang tua merupakan topik yang bersifat pribadi, sehingga peneliti memutuskan untuk menggunakan metode wawancara perorangan. Metode wawancara perorangan ini memiliki kelebihan di mana partisipan bisa lebih leluasa memberikan informasi mengenai kehidupan masa lalunya tanpa kehadiran orang lain yang mungkin membuat tidak nyaman (Creswell, 2009). Wawancara yang dilakukan memiliki dua sesi atau bagian, yang pertama adalah wawancara latar belakang dan yang kedua adalah wawancara terkait topik penelitian. Wawancara latar belakang bertujuan untuk mengetahui data diri partisipan dan latar belakang keluarga para partisipan. Wawancara terkait topik penelitian bertujuan untuk mengetahui pengalaman masa lalu para partisipan dalam menjalin relasi intim antar jenis dan persepsi mereka terkait relasi intim antar jenis. Wawancara tersebut dilakukan pada waktu dan tempat yang telah disepakati oleh peneliti dan partisipan. Adapula pedoman wawancara yang digunakan peneliti dalam penelitian adalah sebagai berikut: 1. Protokol Wawancara a. Protokol wawancara latar belakang Pertanyaan pembuka: Selamat pagi/siang/sore/malam. Bagaimana kabarnya hari ini? (Rapport) Bagian transisi (penyampaian terkait Informed consent): 1) Peneliti menyampaikan mengenai lembar informed consent yang harus ditandatangani partisipan sebelum wawancara dimulai. Adapula

(49) 30 isi dari informed consent tersebut adalah identitas peneliti, identitas partisipan, tujuan penelitian, proses wawancara atau pengambilan data, kerahasiaan data, hak partisipan untuk hanya mengungkapkan hal yang ingin diungkapkan serta hak untuk menghentikan partisipasi, serta pernyataan kesediaan mengikuti penelitian secara sukarela. 2) Memberikan waktu kepada partisipan untuk membaca isi informed consent dengan seksama dan memberikan kesempatan jika ada pertanyaan. 3) Penandatanganan informed consent. 4) Memulai wawancara inti. Pertanyaan inti: Bisa/ boleh Anda ceritakan mengenai perceraian orang tua Anda?/ Apa yang Anda ingat mengenai perceraian orang tua Anda? (memori mengenai perceraian orang tua) Probing: 1) Berapa usia Anda ketika orang tua Anda bercerai? 2) Apa alasan orang tua Anda bercerai?/ Hal apa yang membuat orang tua Anda bercerai? 3) Bagaimana kondisi rumah sebelum orang tua Anda bercerai? 4) Bagaimana perasaan Anda saat itu? (merujuk pertanyaan no.3) 5) Setelah perceraian, Anda tinggal dengan siapa? 6) Bagaimana kondisi orang tua Anda setelah perceraian? 7) Bagaimana kondisi rumah setelah perceraian?

(50) 31 8) Apa yang Anda rasakan setelah perceraian orang tua Anda? Mengapa demikian? 9) Bagaimana hubungan Anda dengan ibu Anda setelah perceraian? 10) Apakah hubungan Anda dengan ibu Anda berubah jika dibandingkan sebelum dan setelah perceraian? Perubahan yang bagaimana? 11) Bagaimana hubungan Anda dengan ayah Anda setelah perceraian? 12) Apakah hubungan Anda dengan ayah Anda berubah jika dibandingkan sebelum dan setelah perceraian? Perubahan yang bagaimana? 13) Apakah Anda memiliki saudara kandung yang tinggal dengan Anda baik sebelum maupun setelah perceraian orang tua Anda? Boleh ceritakan mengenai saudara Anda dan relasinya dengan Anda? b. Protokol wawancara terkait topik penelitian (persepsi relasi intim antar jenis) Pertanyaan pembuka: Selamat Pagi/ Siang/ Sore/ Malam bagaimana kabarnya hari ini? (Rapport) Pertanyaan pendahulu: Apakah Anda sudah pernah menjalin relasi dengan lawan jenis (lakilaki)? Jika sudah, relasi seperti apa? (Pengalaman masa lalu terkait relasi intim antar jenis)

(51) 32 Pertanyaan transisi: Hal apa yang paling berkesan ketika menjalin relasi dengan lawan jenis (laki-laki)? (Pengalaman masa lalu terkait relasi intim antar jenis) Pertanyaan kunci: 1) Bisa tolong deskripsikan apa yang Anda pahami mengenai relasi intim antar jenis? Atau Menurut Anda relasi intim antara laki-laki dan perempuan itu relasi yang seperti apa? Boleh jelaskan lebih jauh? (pemahaman relasi intim antar jenis secara umum) Probing: a) Apakah anda bisa membedakan mana orang yang sedang menjalin relasi intim dan yang tidak? Jika iya bagaimana? (pemahaman relasi intim antar jenis secara umum) b) Menurut Anda hal yang harus ada dalam relasi intim antara lakilaki dan perempuan itu apa? (pemahaman relasi intim antar jenis secara umum) c) Menurut Anda hal yang paling penting dari relasi intim antara laki-laki dan perempuan itu apa? (pemahaman relasi intim antar jenis secara umum) d) Menurut Anda keintiman itu apa? (pemahaman keintiman) e) Menurut Anda gairah/passion itu apa? (pemahaman passion) f) Menurut Anda komitmen itu apa? (pemahaman komitmen) 2) Bolehkah Anda jelaskan bagaiamana relasi intim yang ideal bagi Anda? Apakah Anda yakin bisa mewujudkan relasi intim ideal

(52) 33 tersebut? Mengapa demikian? (penilaian relasi intim antar jenis secara umum) Probing: a) Dalam menjalin relasi intim antar jenis hal apa saja yang dapat membuat Anda merasa tidak nyaman (sedih/ marah/ takut/ gelisah)? (penilaian terkait relasi intim antar jenis) b) Dalam relasi antar jenis hal apa yang membuat Anda merasa nyaman (senang)? (penilaian terkait relasi intim antar jenis) c) Menurut Anda apa yang seharusnya dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan ketika mereka menjalin relasi intim? (penilaian mengenai keintiman) d) Bagaimana pendapat Anda jika melihat laki-laki dan perempuan menunjukkan kemesraan di tempat umum? Apakah Anda akan melakukan perilaku serupa? (penilaian mengenai passion) e) Menurut Anda apakah relasi intim antar jenis harus bertahan lama? Mengapa demikian? (penilaian mengenai komitmen) Pertanyaan penutup: Apakah ada hal lain yang ingin Anda sampaikan terkait relasi intim antar jenis yang menjadi topik kita?/ Apakah ada tambahan jawaban dari beberapa hal telah kita bahas sebelumnya? 2. Perekaman Data Dalam proses pengumpulan data, data yang didapatkan direkam dengan perekam audio, yaitu menggunakan perekam audio di handphone

(53) 34 milik peneliti dan voice recorder. Perekaman data audio ini bertujuan untuk mempermudah proses penggabungan dan penyeragaman data yang diperoleh menjadi bentuk tulisan, atau yang disebut verbatim wawancara (Herdiansyah, 2015). F. Penegakan Kredibilitas dan Dependabilitas Penelitian Kredibilitas dan dependabilitas penelitian dilakukan untuk memeriksa keakuratan temuan penelitian dan memastikan konsistensi pendekatan yang diterapkan peneliti jika dibandingkan dengan peneliti-peneliti lain. Tipe kredibilitas yang digunakan peneliti adalah tipe kredibilitas internal. Strategi kredibilitas yang digunakan adalah member checking dan thick description (Supratiknya, 2015). Peneliti memastikan keakuratan temuan dengan cara menunjukkan rumusan tema yang ditemukan kepada partisipan. Setelah partisipan menyetujui temuan rumusan tema tersebut barulah peneliti boleh menuliskannya sebagai laporan akhir. Kemudian peneliti juga melakukan deskripsi mendalam mengenai apa saja yang ditemukan dalam proses pengambilan data serta melakukan refleksi diri dan memuat cacatan kritis mengenai bias yang mungkin dibawa peneliti dalam proses maupun analisis data. Untuk dependabilitas, peneliti melakukan pengecekan silang pada hasil pengodean. Strategi member checking atau pengecekan kembali pada partisipan bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh data dan interpretasi yang berupa simpulan tema-tema oleh peneliti sesuai dengan apa yang dimaksud oleh partisipan. Jika data atau tema yang telah disimpulkan oleh peneliti disetujui oleh partisipan maka dapat dikatakan data tersebut kredibel dan boleh dituliskan di

(54) 35 laporan akhir (Supratiknya, 2015; Sugiyono, 2012). Hal ini diterapkan peneliti dengan menghubungi kembali para partisipan dan mengungkapkan temuan tema peneliti untuk dipastikan apakah sudah sesuai dengan maksud para partisipan. Strategi thick description atau deskripsi mendalam dalam memaparkan temuan-temuan dalam penelitian bertujuan untuk menyajikan hasil penelitian dengan lebih realistik dan lebih kaya. Deskripsi mendalam dilakukan dengan mendeskripsikan dengan sangat rinci tentang latar atau lingkungan penelitan serta mendiskusikan tema-tema melalui berbagai sudut pandang (Supratiknya, 2015). Hal ini dilakukan peneliti dengan menjelaskan mengenai latar belakang partisipan berupa pengalamannya terkait relasi intim antar jenis dan memorinya terkait perceraian orang tua. Sedangkan untuk dependabilitas penelitian, salah satu cara yang ditempuh peneliti adalah dengan selalu membandingkan data dengan kode-kode yang berhasil dirumuskan dengan pengertiannya, serta membandingkan kodekode antar partisipan. Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak ada pergeseran pada definisi kode-kode atau perubahan makna kode-kode yang terjadi selama prosedur pengodean (Gibbs, 2007, dalam Creswell, 2009). G. Analisis dan Interpretasi Data Data yang telah diperoleh dianalisis dengan metode analisis isi kualitatif (AIK) dengan pendekatan deduktif atau terarah (direct). Data rekaman wawancara yang telah diperoleh, ditranskrip menjadi teks tertulis. Kemudian dikode menggunakan kerangka teoritis yang telah dijelaskan pada tinjauan pustaka, yaitu pemahaman dan penilaian terkait relasi intim antar jenis. Strategi

(55) 36 peneliti dalam melakukan pengodean adalah seperti yang dikemukakan oleh Hsieh dan Shannon (2005, dalam Supratiknya, 2015), yaitu seraya membaca keseluruhan transkrip wawancara, peneliti langsung melakukan pengodean dengan menggunakan kode-kode yang sudah ditentukan dalam kerangka analisis. Sesudah selesai dengan pengodean, bagian-bagian teks yang tidak bisa segera dimasukkan ke dalam salah satu kode yang tersedia, dianalisis untuk menentukan apakah bagian-bagian tersebut merepresentasikan satu atau lebih kategori baru atau hanya merupakan subkategori dari salah satu kode yang sudah tersedia. Analisis data dimulai dengan mentranskripkan rekaman audio hasil wawancara menjadi teks tertulis atau dokumen. Selanjutnya teks tertulis tersebut ditata atau disusun dengan sistematika tertentu, misalnya berdasarkan jenisnya, sumbernya, waktu pemerolehannya, dan sebagainya. Kemudian keseluruhan teks dibaca berulang kali untuk mengetahui makna keseluruhan (Creswell, 2009). Setelah itu, barulah teks tertulis ini kemudian dikelompokan menjadi beberapa kategori menggunakan kerangka analisis yang telah dibuat, seperti yang dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Kerangka Analisis Persepsi Terhadap Relasi Intim Antar Jenis Komponen Pemahaman Keintiman Mengungkapkan bahwa relasi intim terdiri dari kedekatan, koneksi, atau keterikatan emosional dalam relasi kasih sayang. Komponen ini meliputi: (1) keinginan untuk Penilaian Positif (1) Relasi intim dapat meningkatkan kesejahteraan (memberikan keuntungan), (2) Relasi intim dapat memberikan kebahagiaan (3) Dalam relasi intim terdapat rasa Negatif (1) Relasi intim tidak memberikan hal positif (malah merugikan), (2) Relasi intim tidak memberikan kebahagiaan, melainkan kesedihan, dll, (3) Tidak ada rasa

(56) 37 Komponen Pemahaman meningkatkan kesejahteraan pasangan, (2) merasakan kebahagiaan bersama pasangan, (3) saling menghormati, (4) bisa saling mengandalkan, (5) saling memahami, (6) saling berbagi diri sendiri maupun kepemilikan dengan orang yang dikasihi, (7) mendapatkan dukungan emosional, (8) memberikan dukungan emosional, (9) komunikasi yang intim dan terbuka, (10) menghargai orang yang dikasihi. Passion Mengungkapkan bahwa relasi intim melibatkan: (1) perilaku seksual, misalnya: berhubungan seks, menatap, berpelukan, pegangan tangan, berciuman, Penilaian Positif Negatif saling menghormati, saling (4) Dalam relasi menghormati, intim bisa saling (4) Tidak bisa mengandalkan, saling (5) Diri dan/atau mengandalkan, pasangan dapat (5) Tidak saling saling memahami, memahami, (6) Diri dan/atau (6) Tidak mau pasangan dapat saling berbagi diri saling berbagi diri maupun maupun kepemilikan, kepemilikan, (7) Tidak (7) Diri mendapat mendapatkan dukungan dukungan emosional emosional, dari pasangan, (8) Tidak (8) Diri dan/atau memberikan pasangan dapat dukungan memberikan emosional, dukungan emosional (9) Tidak adanya pada pasangan, komunikasi intim (9) Adanya dan terbuka, komunikasi intim (10) Tidak dan terbuka, menghargai (10) Adanya rasa pasangan. saling menghargai. Misalnya perasaan Misalnya perasaan tidak senang/suka senang/suka jika karena kurang bisa saling komunikasi, atau mengandalkan. Atau merasa tidak berharap bisa dihormati, dan lain bahagia dengan sebagainya pasangan, dan lain sebagainya. (1) Nyaman perilaku (1) Tidak nyaman seksual, misalnya: dengan perilaku berhubungan seks, seksual, misalnya: menatap, berhubungan seks, berpelukan, menatap, pegangan tangan, berpelukan, berciuman, pegangan tangan, merangkul, dll; berciuman, (2) Adanya romansa/ merangkul, dll;

(57) 38 Komponen Komitmen Penilaian Positif Negatif merangkul, dll; percintaan, (2) Tidak adanya (2) romansa/ misalnya: romansa/ percintaan, misalnya: melakukan hal-hal percintaan, melakukan hal-hal romantis, ataupun (3) Tidak adanya romantis, ataupun ungkapan cinta ketertarikan fisik, ungkapan cinta lainnya; (4) Tidak adanya lainnya; (3) Adanya keinginan untuk (3) ketertarikan fisik, ketertarikan fisik, dekat secara fisik misalnya: dia ganteng, misalnya: dia dengan pasangan, badannya semok, dsb: ganteng, badannya (4) maupun keinginan semok, dsb: Misalnya: tidak untuk dekat secara (4) Adanya suka/ tidak fisik dengan keinginan untuk nyaman jika pasangan, misalnya: dekat secara fisik dipeluk, keinginan bertemu dengan pasangan, digandeng, dsb secara langsung misalnya: keinginan dengan pasangan, dll bertemu secara langsung dengan pasangan, dll. Pemahaman Mengungkapkan bahwa relasi intim melibatkan cinta dan bertujuan untuk jangka panjang atau merupakan relasi jangka panjang, Komponen jangka panjang ini meliputi: (1) perjanjian/ kesepakatan, (2) kesetiaan, kepercayaan, (3) mempertahankan hubungan dalam keadaan sulit, (4) pertunangan, (5) pernikahan, Misalnya: Aku suka jika dipeluk, digandeng, dsb (1) Merasa ada cinta/ dicintai/ mencintai (2) Merasa nyaman jika ada perjanjian/ kesepakatan, (3) Adanya kesetiaan, kepercayaan, (4) Adanya keinginan mempertahankan hubungan dalam keadaan sulit, (5) Adanya keinginan untuk sampai pada jenjang pertunangan dan bahkan sampai (6) pernikahan, (1) Merasa tidak ada cinta/ tidak dicintai/ tidak mencintai (2) Tidak adanya atau kesulitan untuk membuat perjanjian/ kesepakatan, (3) Tidak ada kesetiaan ataupun kepercayaan, (4) Tidak bisa mempertahankan hubungan dalam keadaan sulit, (5) Tidak ada keinginan untuk sampai pada jenjang pertunangan atau

(58) 39 Komponen Pemahaman Penilaian Positif Negatif Misalnya: bahkan harapannya sih (6) pernikahan, hubungan/ relasi Misalnya: tidak intim yang long last, percaya hubungan/ maunya sih sampai relasi intim bisa nikah, dsb. bertahan lama, saling tidak percaya terus putus.

(59) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2018 di Yogyakarta. Pengambilan data berupa wawancara semi-terstruktur yang dilakukan secara tatap muka perorangan. Partisipan yang terlibat berjumlah 3 orang dengan inisial P1, P2, dan P3. Pengambilan data dilakukan pada tanggal 13-15 September 2018 di kos peneliti, dan tanggal 16 September 2018 di kos P3. Seluruh pengambilan data dilaksanakan di daerah Sleman, Yogyakarta. Pertemuan dengan P1 dilaksanakan pada tanggal 13 dan 14 September 2018. Pertemuan pertama pada tanggal 13 September 2018 dilakukan untuk meminta tanda tangan informed consent dan dilanjutkan dengan wawancara latar belakang P1. Pertemuan kedua keesokan harinya pada tanggal 14 September 2018 dilakukan untuk melanjutkan wawancara P1 terkait topik penelitian, yaitu persepsi relasi intim antar jenis. Pertemuan dengan P2 dilakukan pada tanggal 15 September 2018. Pada pertemuan ini peneliti meminta tanda tangan informed consent, wawancara latar belakang, dan wawancara topik penelitian pada P2. Pertemuan berikutnya, tanggal 16 September 2018 ditujukan untuk meminta tanda tangan informed consent, wawancara latar belakang, dan wawancara terkait topik penelitian pada P3. Secara umum pengambilan data berjalan dengan baik dan lancar. Para partisipan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan dengan baik dan lancar. Wawancara dengan P1 berlangsung selama 2 kali, yaitu pada tanggal 13 40

(60) 41 dan 14 September 2018 di kos peneliti. Durasi wawancara pada tiap pertemuan berlangsung selama kurang lebih 2 jam 20 menit. Ketika wawancara berlangsung, P1 dengan lancar dan terbuka menceritakan terkait keluarganya. P1 sempat berkaca-kaca tetapi tidak sampai menangis ketika menceritakan terkait ingatannya tumbuh tanpa sosok ayah. Wawancara dengan P2 berlangsung satu kali, yaitu pada tanggal 15 September di kos peneliti. Wawancara berlangsung selama kurang lebih 1 jam 40 menit. Ketika wawancara berlangsung, P2 menunjukkan reaksi yang stabil dari awal hingga akhir proses wawancara. P2 dengan tenang, lancar, dan terbuka menjawab pertanyaan-pertanyaan dari peneliti baik ketika menceritakan mengenai keluarganya maupun ketika membahas terkait topik penelitian. P2 tidak menunjukkan reaksi yang terlalu berarti selama wawancara. Wawancara dengan P3 berlangsung satu kali, yaitu pada tanggal 16 September 2018 di kos P3. Wawancara berlangsung selama kurang lebih 2 jam. Sebelum wawancara P3 sempat menyatakan tidak terlalu suka membahas mengenai keluarganya. Akan tetapi ketika wawancara berlangsung, P3 dapat menceritakan dengan terbuka kondisi keluarganya. B. Latar belakang Partisipan 1. Partisipan 1 (P1) Setelah melakukan wawancara latar belakang dengan P1, didapati bahwa P1 mengingat dengan jelas perceraian orang tuanya. P1 merupakan anak sulung dari dua bersaudara, P1 memiliki seorang adik laki-laki. Ibu P1 merupakan sumber penghasil utama perekonomian keluarga. Ingatan P1 mengenai

(61) 42 ketidakharmonisan keluarganya dimulai ketika ia masih TK hingga SMP. Dari P1 masih TK sampai SMP, ia sering melihat orang tuanya bertengkar, baik secara verbal maupun non verbal. P1 bahkan juga mengingat perlakuan kasar ayahnya pada dirinya dan juga adik laki-lakinya. Orang tua P1 resmi bercerai ketika ia kelas 2 SMP. P1 berasumsi bahwa alasan utama perceraian orang tuanya disebabkan oleh komunikasi yang tidak baik antara keduanya dan tidak adanya saling cinta ataupun kemesraan yang terlihat selama kehidupan berkeluarga. Setelah perceraian, P1 masih berusaha berkomunikasi dengan ayahnya, tetapi tidak mendapat respon baik dan akhirnya menghentikan usahanya tersebut dan benar-benar hilang kontak dengan ayahnya ketika ia SMA. P1 memiliki lebih banyak ingatan negatif mengenai ayahnya dibandingkan ingatan positif, seperti fakta bahwa ayahnya merupakan sosok yang kasar, pemalas, dan memilih-milih pekerjaan sehingga berujung pengangguran. Akan tetapi P1 sampai sekarang mengaku terkadang masih merindukan sosok ayah dalam hidupnya, terutama saat ia disakiti oleh lawan jenis. Ia berandai-andai apa yang akan ayahnya lakukan pada laki-laki yang menyakitinya. P1 tidak hanya sekali menyaksikan ibunya berpisah. Perpisahan dengan ayah kandungnya disaksikan P1 saat ia kelas 2 SMP dan perpisahan kedua dengan ayah tirinya disaksikan saat P1 sudah berkuliah. P1 mengatakan bahwa sejak ia TK sampai sekarang ia menanggung beban sebagai anak pertama yang dijadikan sandaran oleh ibu dan adiknya. Ia merasa memiliki beban emosional yang besar yang terkadang melelahkan. Setelah perpisahan dengan ayah kandungnya, P1 memiliki relasi yang sangat erat dengan ibunya dan terkhusus adik laki-lakinya.

(62) 43 Sejak perpisahan itu pula, P1 merasa mulai lebih membuka diri dan senang bergaul dengan teman laki-laki yang ia rasa bisa memahami dan menghiburnya dengan baik. P1 memiliki banyak teman laki-laki dan juga sahabat laki-laki. P1 mengaku senang memiliki teman dan sahabat laki-laki. P1 mengaku telah menjalin relasi intima atau berpacaran sebanyak 3 kali. Dari 3 kali pacaran, hanya satu dari tiga mantannya yang memberi kesan positif, dua lainnya berpisah dengan P1 karena mereka memiliki perempuan lain. P1 sekarang berusia 23 tahun dan berstatus lajang. P1 mengatakan bahwa ia trauma dengan mantan pasangannya yang terakhir dan belum berani untuk memulai relasi intim baru lagi. Hal ini karena hubungan P1 dengan pasangannya yang terakhir, yang ia bina selama 4 tahun tidak berakhir baik. Bahkan selama menjalaninya pun P1 mengaku banyak mengalamai hal negatif, mulai dari pasangannya sulit dihubungi, tidak merasa dihargai sebagai perempuan, dan lain sebagainya. Hingga P1 diselingkuhi dan tidak dianggap pacar selama 4 tahun tersebut. Padahal selama 4 tahun tersebup P1 benar-benar serius menjalani relasi tersebut. Relasi terakhir tersebut juga merupakan relasi intim dengan lawan jenis terlama yang pernah dijalin P1. 2. Partisipan 2 (P2) Dari wawancara mengenai latar belakang P2, didapati bahwa P2 mengaku tidak terlalu mengingat proses perceraian orang tuanya. P2 hanya mengingat beberapa permasalahan dan pertengkaran orang tuanya yang diasumsi sebagai penyebab perceraian. Asumsi tersebut disimpulkan sendiri oleh P2, karena sampai sekarang tidak ada orang tuanya yang bercerita dan P2 pun enggan menanyakan hal tersebut. P2 berasumsi bahwa orang tuanya bercerai karena tidak

(63) 44 bisa saling memahami dan melengkapi, serta cara menangani konflik yang tidak baik seperti tidak ada yang mau kalah ketika bertengkar. Orang tua P2 sudah sempat berpisah saat P2 kelas 5 SD dan kemudian rujuk ketika P2 kelas 6 SD. Lalu saat P2 kelas 2 SMP barulah orang tuanya resmi bercerai. P2 mengaku mengingat mendengar pertengkaran orang tuanya beberapa kali. P2 mengaku mengingat orang tuanya bertengkar secara verbal dan tidak melibatkan fisik. P2 merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ia memiliki seorang kakak laki-laki dan adik laki-laki. Ibu P2 juga merupakan penghasil utama perekonomian keluarga sampai sekarang, sama hal nya dengan ibu P1. Setelah perceraian, relasi P2 dengan ayahnya hanya sebatas menerima dan memberi uang bulanan. P2 mulai merasakan hilangnya sosok ayah di rumah ketika akan memasuki SMA. P2 mengaku merasa sedih, bukan karena perceraian orang tuanya tetapi karena perpisahan yang tidak baik-baik antara kedua orang tuanya. Hal ini tidak hanya membuat P2 sulit berhubungan dan berkomunikasi dengan ayahnya tetapi juga membuat hubungannya dengan kakak laki-lakinya menjadi kaku dan dingin. P2 merasa bahwa ayahnya merupakan figur yang tidak cuek tetapi bukan tipe penanya juga. P2 mengaku memiliki hubungan yang baik dengan ibunya. Sejak orang tuanya mulai berpisah, P2 menanggung beban lebih karena kakak dan adiknya tidak bisa diandalkan untuk membantu ibunya, kakaknya berontak dan adiknya hanya tahu bermain saja. Sehingga P2 juga dijadikan tempat curhat ibunya dan seperti menanggung beban harapan keluarga. Dari kecil P2 dituntut untuk menjadi anak baik yang bisa diandalkan setelah orang tuanya bercerai.

(64) 45 Kemudian untuk relasi dengan lawan jenis, P2 mengatakan tidak memiliki masalah dalam berelasi dengan lawan jenis. P2 bahkan mengatakan bahwa ia tidak merasakan relasi dengan lawan jenis adalah hal yang membebani atau mengerikan. Hal ini diperkuat dengan pernyataan P2 bahwa dulu ia bahkan memiliki teman dekat laki-laki. P2 sekarang berusia 21 tahun dan sekarang sedang menjalin relasi intim atau pacaran dengan lawan jenis. Relasi ini baru berjalan hampir setahun dan merupakan relasi intim pertamanya sampai saat ini. P2 akhirnya memutuskan untuk menjalin relasi intim dengan lawan jenis karena ia merasakan kecocokan dengan pasangannya yang sekarang. P2 merasa memiliki prinsip dan orientasi yang sama dalam menjalin relasi intim dengan pasangannya, yaitu mau saling memahami dan membangun serta memang relasi serius yang memiliki orientasi hidup bersama pada akhirnya. 3. Partisipan 3 (P3) Latar belakang P3 yang berhasil didapatkan dari wawancara latar belakang adalah P3 awalnya merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Akan tetapi kakak P3 meninggal karena kecelakaan saat P3 kelas 1 SD, sehingga sekarang ia menjadi anak sulung dari tiga bersaudara. P3 memiliki seorang adik laki-laki dan seorang adik perempuan. Ibu P3 sudah sempat ingin berpisah dengan ayahnya ketika P3 masih batita, akan tetapi mengurungkan niat karena kasihan dengan P3 dan kakaknya yang saati itu hanya terpaut 1 tahun. Orang tua P3 akhirnya mulai benar-benar pisah rumah ketika P3 kelas 2 SMA. Ibu P3 membawa kedua adiknya menghampiri P3 yang saat itu besekolah di luar kota. Akan tetapi saat itu kedua orang tuanya belum resmi bercerai. Mereka resmi

(65) 46 bercerai ketika P3 sudah kuliah semester 2 atau 3, ketika ayahnya hendak menikah lagi. Orang tua P3 akhirnya bercerai karena ibunya merasa tidak tahan dengan kekerasan yang dilakukan oleh ayahnya dan juga komunikasi mereka yang tidak pernah baik. P3 mengingat sudah sering melihat pertengkaran orang tuanya baik secara verbal maupun non verbal sejak ia TK. P3 mengakui bahwa ayahnya merupakan sosok yang kasar, sering melakukan tindak kekerasan tidak hanya ke ibunya tetapi ke almarhum kakaknya dan juga adik-adiknya. Ayah P3 tidak pernah sekalipun berlaku kasar terhadap P3. Akan tetapi P3 memiliki pandangan negatif kepada ayahnya sejak kecil karena didoktrin oleh ibunya bahwa ayahnya bukan orang baik dan juga karena P3 menyaksikan sendiri perlakuan tidak baik ayahnya. P3 mengaku sejak SMP sudah mulai malas mendengarkan pertengkaran orang tuanya yang semakin sering dan hampir setiap hari. Sejak itu P3 sudah jarang pulang ke rumah dan lebih senang bermalan di rumah temannya. Akhirnya saat SMA P3 pun bersekolah di luar kota dan tinggal di dorm sekolah. Setelah orang tuanya berpisah, P3 serta ibu dan adik-adiknya sempat mengalami permasalahan ekonomi. Hal tersebut terjadi karena ayah P3 memutuskan berhenti membiayai mereka sedangkan ibu P3 merupakan ibu rumah tangga yang saat itu belum memiliki pekerjaan yang mapan. Akan tetapi hal itu tidak bertahan lama dan akhirnya ayah P3 menanggung kembali biaya hidup dan studi P3 beserta adikadiknya. P3 mengaku ia tidak begitu dekat dengan anggota keluarganya sampai sekarang terutama sejak perceraian. Bahkan ia mengatakan lebih nyaman curhat kepada teman-temannya dibandingkan anggota keluarganya. P3 mengatakan ia masih merasa sedih karena ketidakharmonisan keluarganya. P3 tidak pernah

(66) 47 berandai-andai orang tuanya tidak bercerai ataupun rujuk kembali, akan tetapi P3 masih memiliki perasaan tidak terima bahwa keluarganya sudah hancur seperti di sinetron-sinetron. P3 mengaku relasinya dengan lawan jenis baik-baik saja. Ia memiliki teman laki-laki dan juga pernah berelasi intim atau berpacaran sebanyak 6 (enam) kali. Relasi intim P3 dengan lawan jenis bertahan mulai dari satu bulan sampai dua tahun. Alasan kandasnya relasi intim P3 dengan lawan jenis adalah kebanyakan karena pasangannya yang tidak bisa menerima kekurangan P3 atau banyak menuntut P3. Relasi-relasi intim P3 sebelumnya memberikan pengalaman negatif maupun positif bagi P3. Negatif karena beberapa kali ia diselingkuhi, dijadikan simpanan atau wanita kedua, hanya menginginkan badan P3, dan kemudian memutuskan hubungan dengan P3. P3 mengaku bahwa tidak hanya sekali ia didekati oleh laki-laki mesum dan laki-laki yang sudah memiliki relasi intim dengan wanita lain. Meskipun telah disakiti, P3 merasa relasi intim dengan lawan jenis adalah kebutuhannya, ia tidak pernah membayangkan hidup tanpa relasi intim dengan lawan jenis. Selain pengalaman negatif, P3 juga mengaku selama ia berpacaran dengan lawan jenis ia mendapatkan hal positif juga dari mereka seperti perhatian, kebahagiaan, dan membuat P3 menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, dan lain sebagainya. P3 mengatakan bahwa hal ini mungkin yang membuatnya tidak betah lama-lama melajang. C. Hasil Penelitian Hasil penelitian ini didasari pada jawaban para partisipan terhadap 2 pertanyaan inti, yaitu: (1) Menurut Anda relasi intim antara laki-laki dan

(67) 48 perempuan itu relasi yang seperti apa? Atau bisa tolong deskripsikan apa yang Anda pahami mengenai relasi intim antar jenis?, (2) Bolehkah Anda jelaskan relasi intim yang ideal bagi Anda? Apakah Anda yakin bisa mewujudkan relasi intim ideal tersebut? Mengapa demikian? Jawaban-jawaban dari pertanyaan ini kemudian dikategorisasikan berdasarkan kerangka analisis yang telah dibuat sebelumnya. Temuan mengenai persepsi relasi intim antar jenis dalam penelitian ini mencakup pemahaman dan penilaian terhadap relasi intim antar jenis yang melibatkan komponen keintiman, komitmen, dan passion. Adapun hasil yang ditemukan sebagai berikut: 1. Pemahaman terhadap Relasi Intim Antar Jenis Pemahaman terkait relasi intim antar jenis berhubungan dengan bagaimana perempuan dewasa awal dengan orang tua bercerai memahami dan mengerti relasi intim antar jenis yang terdiri dari tiga komponen, yaitu keintiman, passion, dan komitmen. Dari data yang didapatkan, para partisipan menggambarkan relasi intim antar jenis sebagai relasi pacaran. Para partisipan juga menunjukkan pemahaman terkait ketiga komponen dalam relasi intim tersebut dengan baik. Dari ketiga komponen dalam relasi intim, komponen yang paling sering diungkapkan oleh para partisipan adalah komponen keintiman. Sedangkan ungkapan mengenai komponen komitmen dan passion tidak sesering komponen keintiman. a. Pemahaman terkait keintiman Keintiman sendiri terdiri dari sepuluh clusters, yaitu (1) keinginan untuk meningkatkan kesejahteraan orang yang dikasihi, (2) merasakan

(68) 49 kebahagiaan bersama orang yang dikasihi, (3) sangat menghormati orang yang dikasihi, (4) bisa mengandalkan orang yang dikasihi ketika membutuhkan, (5) saling memahami satu sama lain, (6) berbagi diri sendiri maupun kepemilikan dengan orang yang dikasihi, (7) mendapatkan dukungan emosional dari orang yang dikasihi, (8) memberikan dukungan emosional pada orang yang dikasihi, (9) komunikasi yang intim dengan orang yang dikasihi, dan (10) menghargai orang yang dikasihi dalam hidupnya. Ketika diminta menjelaskan atau mendeskripsikan mengenai relasi intim, pemahaman para partisipan mengenai kesepuluh clusters tersebut muncul semua melalui ungkapan mereka. Dari kesepuluh clusters keintiman tersebut, yang paling sering diungkapkan oleh para partisipan adalah cluster saling memahami. Partisipan sering mengungkapkan bahwa dalam relasi intim antar jenis harus saling memahami satu sama lain, misalnya memahami perilaku atau memahami kondisi pasangan. Hal ini terlihat dari pernyataan partisipan yang mengungkapkan bahwa: P2. Menurutku ya itu kalau berpatok pada dia akan menjadi teman hidup ku, sampai mati nanti. Aku pikir akan sangat baik ketika saling memahami dan mau membangun tuh loh. P2. Aku coba.. maksudnya ketika aku tidak nyaman. Aku coba mikir dulu. Kenapa sih aku nggak nyaman, salah dia apa, atau salahnya di aku. P1. Kalau pacar ya dia benar-benar mengerti kondisiku.. P1. dia memahami aku. Bahkan aku belum bilang apapun dia udah tau. P3. Kalau cowoknya.. namanya tiap orang kan punya kesibukan masing-masing.. ya itu didukung aja gitu.. dipahami aja.. nggak harus stiap 24 jam ada waktu.

(69) 50 Selain harus saling memahami, para partisipan mengungkapkan bahwa relasi intim antar jenis juga dapat terlihat dari komunikasi intim dengan pasangan. Para partisipan beranggapan bahwa untuk dapat dikatakan sebuah relasi itu merupakan relasi intim, maka perlu adanya komunikasi yang intens dan terbuka satu sama lain. Hal ini dapat terlihat dari ungkapan partisipan sebagai berikut: P3. Ehmm.. ketemu tiap hari, komunikasi tiap hari. Itu kalau ada apa-apa tuh bener-bener terbuka banget, jadi bahkan hal yang privasi pun tuh tau. Gitu sih menurutku. Intim tuh seperti itu. P2. Kalau ke temen-temen cowok ku nih misalnya, ya aku ke mereka ketika aku pengen main gitu, atau pengen ngerjain tugas. Tapi aku ke **** tuh pada semua hal, masalah kampus, masalah sehari-hari, terus.. dan bisa sharing gitu. Maksudnya nggak kayak temen-temen ku yang lain.. maksudnya nggak semua hal tuh.. dan komunikasi kita nggak intens kan. P2. Jadi ya ketika dia salah aku ingatkan, ketika aku nggak seneng ya aku sampaikan. P1. Karena kalau sama pacar kadang aku udah cerit semuanya… P1. Kalau teman ya aku juga ada batasnya ya, cuma kan ya nggak semua aku cerita aku iniin, nggak yang aku harus kasi tau detil… Partisipan lain pun mengungkapkan cluster lain dari keintiman yang ada dalam relasi intim, yaitu bisa saling mengandalkan. Menurut mereka dalam relasi intim antar jenis juga perlu adanya rasa bisa mengandalkan pasangan dan diandalkan pasangan. Hal ini terlihat dari pernyataan partisipan berikut ini: P1. Aku tuh sebenernya ya, mau makan di angkringan, makan di mana aku tuh nggak masalah yang penting tuh, kamu yang milih. Ibaratnya kan kamu laki, besok kamu tuh jadi kepala rumah tangga. Harusnya kamu yang milih, aku yang ngikut.

(70) 51 P1. Aku tuh pengennya jadi wanita yang penurut. Nurut suami. Cuma ya kalau misalkan hidupkan nggak ada yang tau ya kadang ada kendala ini itu- ini itu. Gitu, tapi pas ada kendala kayak gitu tuh aku bisa handle itu semua. Bisa bantu dia cari jalan keluar. P2. Relasi intim mungkin seperti itu ya, ketika ada teman mu yang hadir di situasi apapun. Berikutnya para partisipan juga sering mengungkapkan hal yang mencerminkan pemahamannya mengenai adanya penghargaan pada orang yang dikasihi dalam relasi intim antar jenis. Penghargaan pada orang yang dikasihi diungkapkan melalui penerimaan pasangan apa adanya. Seperti yang dapat dilihat dari pernyataan sebagai berikut: P2. Ketika aku udah menemukan cowok yang secara prinsip mungkin sama kayak aku.. kayak gitu.. Dan semua kekurangannya ya itu adalah hidup gitu loh. Kamu mau cari yang 100% sesuai harapan mu tuh sampe mati juga.. mungkin ketemu Yesus nanti baru sama.. gitu. P3. Dia tidak mengharapkan aku harus cantik gini, aku harus cantik gitu, aku harus ngubah itu.. Dia apa adanya gitu. P1. Sebenernya cowok yang aku suka ya.. yang appreciate apapun.. P1. bisa menghargai aku… Makanya aku selama ini punya pacar, aku berusaha memberikan yang terbaik buat dia. Selain penghargaan pada orang yang dikasihi, para partisipan pun mengungkapkan keberadaan cluster keinginan untuk meningkatkan kesejahteraan orang yang dikasihi dalam relasi intim antar jenis. Hal ini dapat terungkap misalnya melalui keinginan untuk meningkatkan kesejahteraan pasangan dari segi kualitas hidup material ataupun non material dapat dilihat dari beberapa kutipan sebagai berikut:

(71) 52 P1. Jadi aku pengen nanti bantu dia kerja. Tetap aku harus kerja, mama ku.. mama ku soalnya berpesan kalau aku harus kerja. Aku bantu keuangan keluarga. Tapi setelah aku punya anak, aku akan cari pekerjaan yang aku bisa ngerjain di rumah. P2. Aku pikir akan sangat baik ketika saling memahami dan mau membangun tuh loh. P2. Membangun satu sama lain, membangun pikiran, hati, perilaku ke arah yang lebih baik. Demi kemajuan diri sendiri maupun pasangan. P3. mereka bisa… intinya mereka memberikan sesuatu yang positif kedalam diri aku. Kemudian cluster berikutnya yang diungkapkan oleh para partisipan adalah pemahaman bahwa dalam relasi intim harus ada rasa saling menghormati. Misalnya, menurut pada keputusan atau permintaan pasangan yang akan menjadi kepala rumah tangga dan pasangan juga dapat menghormati perbedaan pendapat yang disampaikan. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan sebagai berikut: P1. Sekarang mungkin aku nggak pake kerudung, tapi kalau memang nanti dia meminta aku buat pake kerudung gitu. Kalo misalkan dia emang serius loh, kayak mau menjadiin aku istri terus dia minta aku pake kerudung ya. Aku nurut, aku suruh apa aja nurut. P3. Kayak kalau misalnya dia minta aku.. nggak usah pakai make up lagi kalau keluar.. nggak usah pake celana pendek lagi kalau keluarg.. ya aku bakal nurut. P2. kalau prinsipku bukan nanti seandainya aku jadi istri aku harus ngikut kata suamiku 100% tuh nggak, aku suka yang bisa diajak diskusi. Kalau dia punya aturan kalau aku setuju ya oke, kalau aku nggak setuju ya ayok kita bicara kayak gitu.

(72) 53 Kemudian ungkapan yang menunjukkan pemahaman tentang relasi intim antar jenis berikutnya adalah terkait adanya dukungan emosional yang diterima. Cluster ini umumnya dirasakan melalui perhatian yang diberikan pasangan ketika ada masalah. ketika menjalin relasi intim antar jenis. Misalnya seperti yang tampak melalui pernyataan berikut ini: P3. Kayak misalnya aku lagi ada masalah, lagi curhat. Terus besoknya dia nanyain lagi, “gimana masalahmu? udah clear?”, gitu-gitu. P1. Banyak masalah keluarga segala macem, dan aku pengen dia tuh orangnya tuh, hubungan kita tuh dia bisa menenangkan aku. P2. Hmm.. intim… hubungan yang dekat… Aku pikir yang dekatnya itu.. dekat secara emosi sih. … Karena atau bagaimana cara menenangkan satu sama lain, menyemangati satu sama lain. Tidak hanya menerima dukungan emosional, partisipan pun mengungkapkan adanya cluster keinginan memberikan dukungan emosional kepada pasangan dalam relasi intim antar jenis. Misalnya seperti membantu pasangan ketika ada masalah baik melalui kata-kata motivasi ataupun membantu mencari solusi serta memberi perhatian pada pasangan. Hal ini dapat terlihat dari ungkapan berikut ini: P1. Misalkan kedepannya problem entah kerjaan, ntah misalnya dia punya bisnis atau apa…. Aku tuh rasanya tuh pingin support dia, support apa namanya, kata.. kata-kata ku tuh bisa memotivasi dia gitu loh. Kayak quote-quote gitu, kata-kata ku tuh. Bisa he-em.. terus aku tuh pengen bisa calming dia, kalo dia lagi cemas… P3. Ya aku bisa jadi cewek yang dewasa buat dia.. yang bisa mengayomi dia atau kalo nggak yang bisa kasi perhatian sama dia gitu..

(73) 54 P2. Hmm.. intim… hubungan yang dekat… Aku pikir yang dekatnya itu.. dekat secara emosi sih. … Karena atau bagaimana cara menenangkan satu sama lain, menyemangati satu sama lain. Kemudian para partisipan pun mengungkapkan pemahaman mereka mengenai relasi intim antar jenis yang di dalamnya ada keinginan untuk merasakan kebahagiaan bersama. Misalnya melakukan hal-hal menyenangkan bersama. Cluster ini tercermin melalui pernyataan sebagai berikut: P1. aku mikir kayak kita enjoying pemandangannya berdua, ntah kita main apa main apa. Terus kita have fun berdua. P2. Kayak bagaimana kalau aku mau menjadikan ini sebagai seumur hidup yang menyenangkan, … . Cluster terakhir yang paling jarang muncul adalah terkait berbagi diri sendri dan kepemilikan dengan orang yang dikasihi. Para partisipan mengungkapkan pemahaman bahwa relasi intim antar jenis adalah relasi di mana adanya hal yang dibagikan kepada orang yang dikasihi, misalnya membagikan pengetahuan terkait keluarga masing-masing dan berbagi rezeki yang diterima. Hal ini terlihat dari ungkapan berikut ini: P1. Karena, kalau sama pacar kadang aku udah cerita semuanya, dan pasti dia apa, kenal orang tuaku juga. Jadi kayak benar-benar masuk, kayak jadi family gitu P1. Terus kayak kalau lagi punya duit, entah aku dapet gaji, atau aku lagi dapet apa. Ya hal pertama yang aku pikirin, spending-nya sama pacar bukan sama teman. Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa perempuan dewasa awal dengan orang tua bercerai memahami bahwa relasi intim antar

(74) 55 jenis merupakan relasi yang melibatkan komponen keintiman. Hal ini terwujud melalui jawaban para partisipan yang berkaitan dengan kesepuluh clusters keintiman, sesuai dengan teori. Di mana para partisiapan memahami bahwa relasi intim antar jenis mengandung rasa saling memahami, komunikasi yang intim, rasa saling menghargai, bisa saling mengandalkan dalam hubungan, ada keinginan meningkatkan kesejahteraan baik dari segi materi maupun menjadikan diri dan pasangan menjadi pribadi yang lebih positif, adanya rasa saling menghormati, bisa menerima dan memberikan dukungan emosional, merasakan kebahagiaan bersama pasangan, serta berbagi diri maupun kepemilikan dengan pasangan. b. Pemahaman terkait Passion Passion menyangkut dorongan yang merujuk pada percintaan/romansa, ketertarikan fisik, perilaku seksual, serta hal-hal terkait dalam hubungan saling mengasihi. Komponen ini dapat diekspresikan misalnya melalui tindakan seperti berciuman, berpelukan, menatap, bersentuhan, dan berhubungan badan. Dari data yang didapat, para partisipan kebanyakan mengungkapkan pemahaman mereka bahwa relasi intim antar jenis dapat terlihat melalui perilaku seksual, yaitu perilaku atau gesture seperti berciuman, berpelukan, menatap, dan sentuhan fisik lainnya tetapi tidak sampai berhubungan badan. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan berikut ini: P1. Orang pacaran ya pengen pengen tuh lah ya digandeng, dipeluk, dielus rambutnya, ya you know lah.

(75) 56 P2. Berarti menurutmu kamu bisa bedain nggak mana cewek dan cowok yang menjalin relasi intim dan yang tidak? Bisa sih kayaknya, dari cara bicara, dari tatapan mata. Kayaknya ya kalau aku nggak sok-sok jadi paranormal *tertawa*. Tapi ya biasa beda sih dari tatapan mata. Terus kedekat.. gesture.. itu biasanya kelihatan sih… gandengan lah paling gampang dilihat… P3. Mungkin mereka emang pacaran.. dari.. lebih ke yang kayak keliata dari luar. Gesture tubuhnya aja sih. Lebih ya.. intinya lebih kek kontak fisik kayak pegangan tangan, rangkul-rangkulan berarti mereka udah punya hubungan yang intim. Bentuk lain passion yang terungkap adalah romansa/ percintaan. Hal ini terlihat melalui ungkapan partisipan akan adanya hal-hal romantis yang dilakukan dalam relasi intim antar jenis, seperti kutipan berikut: P1. Misalkan aku suka sama orang, yang aku bayangin tuh justru kayak kita fine dining berdua, makan romantis gitu atau dia kasih surprise aku, kayak gitu, Hal ini menunjukkan pemahaman para partisipan bahwa ada keterlibatan komponen passion dalam relasi intim antar jenis. Passion merupakan wujud dari relasi intim yang dapat terlihat secara kasat mata oleh orang lain. Misalnya melalui kegiatan-kegiatan romantis bersama pasangan ataupun melalui kontak fisik ataupun gesture. c. Pemahaman terkait Komitmen Komponen komitmen atau keputusan mencakup aspek jangka pendek yang berarti seseorang sampai pada keputusan mencintai seseorang dan jangka panjang yang merupakan keinginan untuk merawat atau mempertahankan relasi, misalnya melalui perjanjian/ kesepakatan, kesetiaan, mempertahankan hubungan dalam keadaan sulit, pertunangan, maupun

(76) 57 pernikahan. Dari data yang telah didapatkan, aspek jangka pendek sering diungkapkan melalui pernyataan bahwa relasi intim antar jenis melibatkan rasa cinta kepada pasangan. Hal ini dapat terlihat dari pernyataan sebagai berikut: P1. Apa yang menurutmu penting ada dalam relasi intim? Cinta. Karena kita nggak bisa jalani hubungan kita hanya karena kasihan, harus benar-benar karena suka. P2. Kalau aku mau menjadikan ini sebagai seumur hidup …, ya nggak mungkin aku nggak ada cinta buat dia, nggak pengen mengasihi dia. Kemudian untuk aspek jangka panjang, komitmen sering dipahami sebagai relasi di mana adanya kepercayaan atau kesetiaan serta keinginan untuk mempertahankan hubungan, hubungan serius sampai menikah atau hidup bersama. Hal ini tercermin dari ungkapan partisipan sebagai berikut: P1. Padahal ya kan namanya uda pacaran, atau menambatkan hati ke yang dicinta, kalau nggak ada rasa percaya tuh gabisa. P1. Yang jelas sekarang cari cowok yang seagama, setia. P1. kalau pacaran, ya orang harapannya ya bisa sampai selesai, maksudnya pacarannya sampai dijenjang nikah P3. Ya yang namanya hubungan ya harus ada yang namanya kepercayaan dan kerja sama … Maksudnya kepercayaan ya harus saling percaya. P3. Serius lah, maksudnya udah nggak main-main lagi. … . Jadi tujuannya ehmm ya udah serius aja gitu. Biar nggak putus-putus lagi. P2. Menjalin hubungan intim itu pada akhirnya ya tujuan ku untuk hidup bareng tuh loh.

(77) 58 Uraian di atas menunjukkan bahwa para partisipan memahami keterlibatan komponen komitmen dalam relasi intim antar jenis. Para partisipan memiliki pemahaman bahwa relasi intim antar jenis merupakan hal yang serius dan memiliki orientasi masa depan, yaitu pacaran atau lebih. Para partisipan juga memahami bahwa komitmen berhubungan dengan mencintai seseorang dan bagaimana mempertahankan relasi intim antar jenis agar dapat bertahan lama. Dari paparan di atas, secara umum pemahaman subjek terkait relasi intim antar jenis menunjukkan bahwa subjek memahami dengan baik apa yang harus ada dalam relasi intim antar jenis sesuai dengan teori segitiga cinta Sternberg. Hal ini terlihat dari munculnya ungkapan terkait pemahaman yang melibatkan komponen keintiman, komitmen, dan passion. Akan tetapi, pemahaman subjek terkait relasi intim antar jenis lebih didominasi pada komponen keintiman. Hal ini terlihat dari munculnya seluruh clusters komponen keintiman, sedangkan komponen komitmen dan passion tidak semuanya muncul. Dalam komponen keintiman sendiri ada beberapa cluster yang paling sering disebutkan oleh para partisipan. Hal ini mengindikasikan bahwa ada penekanan yang baik secara sadar maupun tidak sadar dilakukan oleh para partisipan. Beberapa cluster yang ditenkankan oleh para partispan dalam pemahaman mereka mengenai adanya rasa saling memahami dan komunikasi yang intim.

(78) 59 2. Penilaian terhadap Relasi Intim Antar Jenis Penilaian terkait relasi intim antar jenis berhubungan dengan bagaimana pandangan, emosi, ataupun tanggapan partisipan terkait relasi intim antar jenis khususnya terkait ketiga komponen dalam relasi intim yaitu keintiman, passion, dan komitmen. Penilaian tersebut dapat berupa penilaian positif maupun negatif. a. Penilaian terhadap relasi intim antar jenis terkait komponen keintiman Para partisipan mengungkapkan penilaian positif mereka terkait relasi intim, yaitu relasi intim antar jenis merupakan relasi yang menyenangkan atau memberikan kebahagiaan, serta mereka optimis terhadap relasi intim antar jenis. Pernyataan tersebut kemudian dijelaskan lebih jauh melalui pandangan-pandangan positif mereka mengenai clusters yang ada dalam komponen keintiman. Relasi intim merupakan relasi yang menyenangkan diungkapkan partisipan sebagai respon terhadap pengalaman maupun harapan terkait beberapa clusters dalam komponen keintiman. Salah satu cluster yang paling sering diungkapkan secara positif adalah mendapatkan dukungan emosional ketika menjalin relasi intim antar jenis. Hal ini tampak dari pernyataan bahwa dalam relasi intim antar jenis para partisipan senang menerima dukungan emosional dari pasangannya melalui perhatian, maupun kemampuan menenangkan. Hal ini tampak dari kutipan berikut ini: P2. Terus ketika aku ketemu W, dan.. ehmm… dia bisa satu pikiran sama aku, dia bukan tipe yang pen-judge yang cepat menghakimi. Dan aku suka cara dia nanya, cara dia memperhatikan, gitu..

(79) 60 P3. nah pas keluarga ku lagi ambruk-ambruknya… Berkat dia juga aku nggak terlalu mikirin keluarga ku banget juga gitu. P3. Diperhatiin.. disayang.. Itu yang paling aku senengin. Diperhatiin.. disayang. Gitu. P1. Jadi kayak kenapa aku butuh cowok yang kalem, sabar gitu. Karena aku tau aku bakal sering curhat sama dia… hubungan kita tuh bisa menenangkan aku. Kemudian para partisipan pun mengungkapkan pandangan mereka bahwa relasi intim antar jenis membawa kebahagiaan pada mereka, melalui hal-hal menyenangkan yang dilakukan. Hal ini berhubungan dengan cluster merasakan kebahagiaan bersama orang yang dikasihi, seperti yang tampak dari kutipan berikut ini: P3. Sama yang pertama karena dia bisa memberikan suatu kebahagiaan. P1. aku mikir kayak kita enjoying pemandangannya berdua, ntah kita main apa main apa. Terus kita have fun berdua. Kan aku juga mikir kita ke Timezone berdua aja, kita nyobain semua game-nya aja tuh kayak aku bayangin gitu doang tuh udah kayak yang nyenengin yah kayaknya, gitu. Penilaian positif terhadap relasi intim pun juga terungkap dari pandangan partisipan di mana mereka merasa dihargai dan diperlakukan dengan baik, serta mendapat penerimaan dan dapat menjadi diri sendiri. Hal ini berhubungan dengan cluster menghargai orang yang dikasihi, yang tampak dari kutipan berikut ini: P1. Dan yang menurutku, yang penting dia tuh tau memperlakukan aku seperti seorang wanita yang sangat dihargai. Itu cukup.. bikin aku seneng.

(80) 61 P3. dia bener-bener tulus gitu. Dia tuh nggak yang mengharapkan aku harus cantik gini, aku harus cantik gitu, aku harus ngubah itu. Dia apa adanya gitu. P3. Bisa jadi diriku sendiri.. Penilaian positif terhadap relasi intim antar jenis pun tampak melalui ungkapan adanya hal positif yang didapatkan melalui relasi intim. Hal ini berhubungan dengan cluster keinginan meningkatkan kesejahteraan di mana salah satu partisipan merasa menjadi pribadi yang positif melalui relasi intim antar jenis. Hal ini tampak dari pernyataan sebagai berikut: P3. Kenapa aku masih pengen sama mereka, karena mereka baik. Menurutku aku sama mereka tuh jadi pribadi yang positif. Misalnya dulu aku nggak suka dandan atau mempercantik diri, terus sekarang jadi suka. Pandangan para partisipan yang menunjukkan optimisme terhadap relasi intim antar jenis adalah mereka mempercayai bahwa relasi intim dapat berjalan baik jika memiliki beberapa clusters, yaitu komunikasi intim, saling memahami satu sama lain, dan mendapatkan dan memberikan dukungan emosional. Hal ini dapat terlihat dari ungkapan partisipan sebagai berikut: P1. Sepertinya dalam hubungan itu yang paling penting itu komunikasi. P1. Dengan adanya komunikasi yang baik terus ada rasa cinta, kamu tuh pasti mau mempertahankan hubunganmu itu. P2. bisa saling memahami dan mau membangun bersama sih. Menurutku ya itu kalau berpatok pada dia akan menjadi teman hidup ku… P2. yang tadi aku bilang kalau bisa saling memahami dan komunikasinya baik mungkin akan bertahan.. dan kemungkinan pisahnya semakin kecil.

(81) 62 P3. aku sih percaya kalau misalnya orang yang.. hubungan yang… hubungan intim yang bisa saling dukung.. bisa saling support itu bakal happy ending gitu. Tidak hanya pandangan positif terhadap relasi intim antar jenis, para partisipan juga mengungkapkan hal yang menunjukkan penilaian negatif mereka terhadap relasi intim antar jenis. Beberapa partisipan mengungkapkan adanya ketakutan untuk menjalin relasi intim antar jenis dan kesulitan untuk mempercayai lawan jenis dalam relasi intim antar jenis. Penilaian negatif tersebut muncul karena pengalaman mereka yang tidak menyenangkan dengan lawan jenis ketika menjalin relasi intim antar jenis. Hal ini terlihat dari kutipan sebagai berikut: P1. Aku tuh sebenarnya pengen punya relationship lagi. Cuma belum berani. P1. Iya ya, sebenarnya tuh aku butuh cuma tuh aku takut… Takut salah pilih orang lagi. Takut naruh hati tapi ternyata orangnya tuh salah gitu loh. Takut sakit hati lagi… Makanya aku jadi ekstra hatihati. P3. Aku yang dulu tadinya.. dulu tuh gampang banget percaya sama cowok, sekarang udah mulai hati-hati. P3. Hati-hatinya tuh jangan gampang percaya sama laki-laki. Karena.. karena apa ya? aku tuh pernah disakitin sama laki-laki. Penilaian ini pun dapat terlihat lebih jelas melalui pengalaman negatif para partisipan terkait beberapa cluster dalam keintiman. Salah satunya yang paling sering disebutkan oleh para partisipan adalah perasaan tidak diharagai selayaknya seorang pasangan ataupun perempuan yang memunculkan adanya perasaan tidak senang. Hal ini berhubungan dengan

(82) 63 cluster menghargai orang yang dikasihi seperti yang tampak dari kutipan berikut ini: P1. Aku nggak ngerasa dia (cowok ku) treat aku kayak wanita, dia kayak nggak menghargai aku sebagai wanita. Bahkan kita makan juga, makan tuh, eh lagi makan nih. Selesai makan, terus dia ambil kunci motornya kan, terus dia bawa tas ransel, dia udah jalan mau ke parkiran dong. Tasnya ditinggal situ sama aku. Terus dia “bawain tas ku ya!”. Aku disuruh bawain tas. Kebayang nggak sih, entah ini aku kemarin kebetulan dapet cowok yang super duper berengsek… P3. Dia nggak percaya orangnya, suka nuduh, terus kalau ada masalah tuh maunya harus aku yang nurut sama dia.. harus aku yang nurut sama dia… gitu kan.. Lama-lama cape juga J.. nggak betah aku.. mundurlah pelan-pelan. Pengalaman negatif juga sering dialami oleh partisipan adalah terkait cluster komunikasi intim, di mana para partisipan merasa tidak adanya komunikasi intim seperti yang seharusnya. Hal ini tampak dari kutipan berikut ini: P3. sama dia nih.. tapi.. dengan dianya yang.. istilahnya dia nih susah banget dihubungin kan. Dia kerja tapi kerjanya yang gaboleh dihubungin. Dia kerja pun aku hubungin aku malah di-block. *tertawa*. Kayak.. susah. Susah percaya akhirnya aku sama dia. Kayak makin lama makin ke sini aku malah makin ragu gitu. P1. Dia tuh tipenya yang suka ngilang, bayangin toh di mana ada, kamu pacaran, chat tuh tiga hari sekali? Kamu chat “hai” sekarang, dia balas “hai”-nya tiga hari lagi. Terus pas itu kamu bales lagi, “lagi apa?”, dia bales lagi apanya tiga hari kemudian. Kamu tiga hari tuh nggak megang HP kan nggak mungkin ya. Jaman sekarang loh. Pengalaman negatif lain melibatkan cluster saling memahami satu sama lain. Para partisipan mengungkapkan bahwa adanya perasaan tidak

(83) 64 dipahami oleh pasangan yang menimbulkan ketidaknyamanan dalam hubungan. Hal ini tampak dari pernyataan sebagai berikut: P1. Sedangkan cowok ku tuh empat tahun, aku udah bilang aku suka matcha, aku suka matcha, aku suka matcha, dia nggak peduli. Mau valentine, mau ulang tahunku ya, ya dia “yaudah selamat ulang tahun ya, kamu pengen apa tak beliin”. Gitu tok. Pengalaman negatif terhadap cluster mendapatkan dukungan emosional dari orang yang dikasihi muncul melalui pernyataan bahwa adanya perasaan tidak dipedulikan oleh pasangan. Hal ini tampak dari kutipan berikut ini: P1. Orang yang care aku, dengan sangat baik, justru teman ku cowok, bukan pacarku. Pengalaman negatif terkait cluster dapat mengandalkan orang yang dikasihi ketika dibutuhkan muncul melalui pernyataan bahwa kenyataannya pasangan tidak dapat diandalkan. Hal ini tampak dari kutipan di bawah ini; P1. Meskipun sih, pada kenyataannya sih, sebenarnya teman ku jauh selalu lebih ada ya daripada cowok ku sendiri. Kemudian pengalaman negatif terakhir melibatkan cluster berbagi diri sendiri dan kepemilikan dengan orang yang dikasihi. Penilaian negatif ini tampak dari pernyataan bahwa pasangan tidak membagikan dirinya seperti kutipan di bawah ini: P1. sedangkan, aku tuh dulu, pacaran empat tahun, untuk bisa, aku minta dikenalin sama teman-temannya si mantanku itu aja, nggak dikenalin Jen. Aku kenal sama bapaknya aja itu tahun ketiga. Eh tahun keempat, setelah dia yang selingkuh itu. Itu pun taunya karena nggak sengaja. Kalau nggak gara-gara itu, ya pacaran empat tahun, ya aku nggak pernah tau orang tuanya, sampai sekarang pun aku

(84) 65 nggak tau temannya dia. Padahal dia udah tau semua temanku, bahkan teman SMP, SMA, kuliah dia tau semua. Berdasarkan pemaparan di atas dapat dilihat bahwa pandangan para partisipan terkait relasi intim khususnya yang melibatkan komponen keintiman lebih cenderung positif. Karena baik yang memiliki pengalaman negatif maupun tidak memiliki pengalaman negatif sama-sama mengungkapkan bahwa relasi intim merupakan relasi yang menyenangkan atau memberikan kebahagaian, dan mereka juga sama-sama memiliki pandangan optimis terhadap relasi intim. b. Penilaian terhadap relasi intim antar jenis terkait komponen passion Berdasarkan data yang diperoleh, para partisipan mengungkapkan penilaian positifnya terhadap relasi intim antar jenis yang melibatkan komponen passion. Para partisipan mengungkapkan bahwa berelasi dengan lawan jenis merupakan hal yang menyenangkan atau memberi kebahagiaan. Hal ini terlihat dari pernyataan-pernyataan partisipan yang mengungkapkan bahwa kontak fisik dalam relasi intim antar jenis merupakan hal yang wajar ditemui, membuat senang, dan diharapkan. Karena beberapa partisipan merasa bahwa kontak fisik merupakan bentuk ungkapan rasa sayang atau cinta. Hal ini tampak melalui kutipan di bawah ini: P2. Bukan nggak nyaman, cuma karena aku jarang melakukannya. Paling jauh ya pegangan tangan, cium pipi sih. Tapi nggak pernah frontal gitu.. nggak. Bukan nggak nyaman tapi kayak kurang punya pengalaman sih jadinya. P3. Diperhatiin disayang itu yang paling aku senengin. P3. aku seneng dipanggil sayang sama dia. Aku juga seneng ketika aku dipeluk, digandeng, dirangkul, dicium.. kayak gitu.

(85) 66 P1. Namanya orang cinta, nggak mungkin kan ya nggak pengen digandeng, meluk, rangkul pas jalan. Tidak hanya penilaian positif, penilaian negatif terhadap relasi intim antar jenis berupa kesulitan mempercayai lawan jenis dalam relasi intim dan ketakutan menjalin relasi intim antar jenis yang belibatkan komponen passion pun muncul. Hal ini muncul karena pengalaman tidak menyenangkan terkait komponen passion ketika menjalin relasi intim antar jenis, seperti yang tampak dari kutipan di bawah ini: P1. … jadi kayak mau pacaran bentar, pacaran lama, tetep cowok tuh kalau liat yang lebih cantik, lebih semok, lebih apa, pasti bakalan selingkuh,… . P3. Aku hati-hati sama cowok juga karena aku ngeliat.. lelaki jaman sekarang tuh.. bukan laki-laki jaman sekarang. Tapi aku sering banget dideketin sama laki-laki yang cuma ngincer badan ku. Nah salah satunya kenapa aku pengen hati-hati ya karena itu. Dan untungnya aku bisa hati-hati kan. Aku udah 2 tahun tuh nggak nemu laki-laki baik tuh karena itu. Mereka cuma ngincer badan ku doang. Pengen badan doang. Berdasarkan paparan di atas, dapat dilihat bahwa para partisipan lebih condong memiliki pandangan positif terhadap relasi intim antar jenis, khususnya yang melibatkan passion. Hal ini terlihat dari ungkapan terbanyak, yaitu ketiga partisipan sependapat bahwa kontak fisik merupakan hal yang wajar ada, menyenangkan, dan harus ada dalam relasi intim antar jenis sebagai ungkapan rasa sayang atau cinta. Sedangkan pandangan negatif muncul dari partisipan tertentu yang memiliki pengalaman negatif berhubungan dengan komponen passion.

(86) 67 c. Penilaian terhadap relasi intim antar jenis terkait komponen komitmen Selain melibatkan komponen keintiman, berdasarkan data yang diperoleh para partisipan juga mengungkapkan penilaian positifnya terhadap relasi intim antar jenis yang melibatkan komponen komitmen. Hal ini terlihat dari adanya pemikiran optimis terhadap relasi intim antar jenis yang dapat berjalan baik, yang terlihat dari pernyataan di bawah ini: P2. Menurutmu dari tiga hal yang kamu bilang tadi, menurutmu mana sih yang paling penting? … Menurutku komitmen sih. Kalau menurutku sih komitmen. Soalnya ketika misalnya dia yang biasanya selalu menanyakan kabar terus dia tiba-tiba nggak pernah menanyakan kabar lagi. Itu tuh ketika komitmen ku nggak ada.. dan langsung memutuskan berarti dia udah nggak peduli lagi, ya hubungan sampai disitu aja.. gitu. Tapi ketika aku punya komitmen bahwa ya ini.. menjalin hubungan intim itu pada akhirnya ya tujuan ku untuk hidup bareng tuh loh. P2. Kalau punya komitmen.. jalan sih menurutku. P3. Aku sih percaya kalau suatu relasi itu bisa bertahan lama, asal orangnya tepat. Semua tergantung pribadi masing-masing menjalaninya gimana. Aku juga percaya bahwa kalau pasangan bisa saling support ya bisa happy ending.. P3. Bisa long last sampe mati P1. Selain rasa percaya, komunikasi, ada rasa cinta itu, yaitu menurutku itu udah cukup. Dengan adanya komunikasi yang baik terus ada rasa cinta, kamu tuh pasti mau mempertahankan hubunganmu itu. P1. Tapi balik itu lagi, yang namanya manusia ya pasti.. berandaiandai suatu saat kamu akan bahagia lah. Nggak mungkin kan kita mikir cuma “aku nih kalau cari cowok pasti dapetnya yang selingkuhin”, segala macem yang jelek-jelek pasti gini gini gini. Pasti lah di dalem lubuk hati kita masih berdoa semoga Tuhan tuh ngasih kita yang terbaik.

(87) 68 Beberapa pernyataan di atas menunjukkan pandangan positif terhadap relasi intim antar jenis yang berhubungan dengan komponen komitmen. Selain penialain positif tersebut, ada juga beberapa partisipan yang mengungkapkan penilaian negatif mereka terhadap relasi intim antar jenis yang melibatkan pengalaman negatif terkait komponen komitmen, yaitu pengalaman diselingkuhi. Penilaian negatif tersebut meliputi, ketidakyakinan bahwa relasi intim antar jenis dapat berjalan baik, kesulitan untuk mempercayai lawan jenis dalam relasi intim antar jenis, serta ketakutan untuk menjalin relasi intim antar jenis. Pandangan salah satu partisipan yang tidak yakin bahwa relasi intim antar jenis dapat berjalan baik, terlihat dari pernyataan salah seorang partisipan bahwa cinta tidak menjamin relasi dapat bertahan lama, seperti ungkapan di bawah ini: P1. rasa percaya bahwa cinta itu cukup untuk bikin kita terus samasama sampai akhir tuh kayak yang… udah gak ada. P1. Dua orang saling mencintai pun, seketika menjalin relasi 50 tahun pun bisa aja berakhir karena mereka udah nggak saling cinta lagi. Dua orang yang tadinya sama sekali nggak cinta, bahkan sampai mati mereka bahkan baru pisah P1. Jadi aku kayak yang ngerasa nggak ada keyakinan atau apa kepastian apapun dari relation. Kesulitan untuk mempercayai lawan jenis dalam relasi intim antar jenis selain melibatkan pengalaman negatif terkait komponen keintiman juga melibatkan pengalaman negatif terkait komponen komitmen, yaitu pengalaman diselingkuhi oleh pasangan. Hal ini terlihat dari ungkapan partisipan sebagai berikut:

(88) 69 P3. Hati-hatinya tuh jangan percaya sama laki-laki. Karena… apa ya? aku tuh pernah disakiti sama laki-laki. Udah 2 tahun pacaran.. kita baik-baik aja.. Dia muslim.. orang tuanya sih setuju, tapi orang tuaku nggak. Akhirnya.. ehmm… pada akhirnya ya kita baik-baik aja. Tapi nggak tau dia jenuh atau apa.. dia yang mulai bertingkah aneh-aneh. Sampai akhirnya dia menghilang selama sebulan. Sebulan kemudian aku tau dia punya pacar baru. Sakit lah.. statusnya dia nggak pernah mutusin aku. Aku juga nggak pernah mutusin dia… dia punya pacar baru. P1. Jadi kayak, yang utama tuh ngerasanya ya trust issues gitu. Punya.. apa ya, gak bisa percaya gitu sama cowok. Karena aku, pacaran setahun aja diselingkuhin, pacaran empat tahun pun diselingkuhin, …. . Kita juga udah capek-capek setia. Kemudian ketakutan untuk menjalin relasi intim antar jenis tampak dari jawaban partisipan yang memiliki pengalaman diselingkuhi, seperti kutipan berikut ini: P1. Aku chatting-an sama banyak cowok. Tapi mereka nggak tau, jauh dilubuk hatiku, tuh isinya insecure doang. Aku merasa nggak aman. … . Tapi balik itu lagi, … . Nggak mungkin kan kita mikir Cuma “aku nih kalo cari cowok pasti dapetnya yang selingkuhin”, Dari hasil di atas dapat dilihat bahwa partisipan lebih cenderung memiliki pandangan positif terhadap relasi intim antar jenis terlihat dari jawaban ketiga partisipan yang mengungkapkan pandangan positif mereka terhadap relasi intim antar jenis. Meskipun tetap ada pandangan negatif dari beberapa partisipan kerena pengalaman yang tidak menyenangkan ketika menjalin relasi intim, khususnya yang melibatkan komponen komitmen. Penilaian positif terhadap relasi intim antar jenis, yaitu mereka merasa relasi intim merupakan hal yang menyenangkan serta adanya optimisme terhadap kemungkinan terwujudnya relasi jangka panjang

(89) 70 cenderung lebih melibatkan komponen keintiman dibandingkan kedua komponen lain, yaitu passion dan komitmen. Ungkapan para partisipan bahwa relasi intim antar jenis merupakan relasi yang menyenangkan atau memberikan kebahagiaan disebabkan oleh perasaan mendapatkan dukungan emosional, kebahagiaan, dihargai, dapat menjadi pribadi yang positif, serta merasakan adanya rasa sayang atau cinta yang ditunjukkan oleh pasangan melalui kontak fisik seperti, digandeng, dirangkul, dan lain sebagainy. Hal ini menunjukkan keterlibatan komponen keintiman dan passion. Kemudian ungkapan yang menunjukkan optimisme para partisipan terhadap relasi intim antar jenis melibatkan komponen keintiman dan komitmen. Para partisipan percaya bahwa relasi intim antar jenis dapat berjalan baik apabila dalam hubungan terdapat komunikasi yang intim, keinginan saling dukung, dan saling memahami antar pasangan maka akan ada keinginan mempertahankan relasi intim untuk tujuan jangka panjang. Untuk lebih ringkasnya, temuan-temuan dalam penelitian ini dapat dilihat dari Tabel 3. di bawah ini. Tabel 3. Rangkuman Hasil Wawancara Pemahaman terhadap relasi intim antar jenis Keintiman (1) keinginan untuk Yang muncul meningkatkan kesejahteraan orang yang dikasihi (P1, P2, P3), (2) merasakan kebahagiaan bersama Passion -perilaku seksual, misalnya: menatap, berpelukan, pegangan tangan, berciuman, merangkul, dll Komitmen Komitmen jangka pendek: -Cinta (P1, P2) Komitmen jangka panjang:

(90) 71 Keintiman Passion (P1, P2, P3); orang yang dikasihi (P1, - romansa/ P2), percintaan (P1) (3) sangat menghormati orang yang dikasihi (P1, P2, P3), (4) bisa mengandalkan orang yang dikasihi ketika membutuhkan (P1, P2), (5) saling memahami satu sama lain (P1, P2, P3), (6) berbagi diri sendiri maupun kepemilikan dengan orang yang dikasihi (P1), (7) mendapatkan dukungan emosional dari orang yang dikasihi (P1, P2, P3), (8) memberikan dukungan emosional pada orang yang dikasihi (P1, P2, P3), (9) komunikasi yang intim dengan orang yang dikasihi (P1, P2, P3), (10) menghargai orang yang dikasihi dalam hidupnya (P1, P2, P3) - keinginan untuk Yang dekat secara fisik tidak dengan pasangan _ muncul - ketertarikan fisik Komitmen -kepercayaan/ kesetiaan (P1, P3) -keinginan mempertahankan hubungan/ relasi sampai jenjang pernikahan (P1, P2, P3) Komitmen jangka panjang: -perjanjian/ kesepakatan -pertunangan Penilaian terhadap relasi intim antar jenis Positif Keintiman Menganggap bahwa relasi intim antar jenis merupakan hal yang menyengkan atau Passion Menganggap bahwa relasi intim antar jenis merupakan hal Komitmen Adanya pandangan optimis terhadap relasi intim antar jenis (P1, P2, P3),

(91) 72 Keintiman memberikan kebahagiaan (P1, P2, P3), karena: -mendapat dukungan emosional -merasakan bahagia -merasa dihargai -merasa menjadi pribadi yang positif atau lebih baik Negatif Adanya padangan optimis terhadap relasi intim antar jenis (P1, P2, P3), yaitu: -komunikasi yang intim, keinginan saling mendukung, dan saling memahami merupakan hal penting serta dapat membuat relasi intim antar jenis berjalan baik Adanya ketakutan untuk menjalin relasi intim antar jenis dan kesulitan mempercayai lawan jenis, karena pengalaman (P1, P3): - tidak dihargai oleh pasangan - tidak adanya komunikasi yang intim dengan pasangan - tidak dipahami oleh pasangan - tidak mendapatkan dukungan dari pasangan - tidak bisa mengandalkan pasangan - pasangan tidak membagikan mengenai dirinya Passion yang menyengkan atau memberikan kebahagiaan (P1, P2, P3), karena: - adanya kontak fisik dengan pasangan sebagai wujud rasa sayang atau cinta Komitmen yaitu: -kepercayaan bahwa relasi intim antar jenis dapat berjalan baik Adanya kesulitan mempercayai lawan jenis dalam relasi intim antar jenis (P1, P3), karena pengalaman: - bertemu lakilaki yang hanya mengincar badan Adanya ketidakyakinan bahwa relasi intim dapat berjalan baik (P1), karena pengalaman bahwa: - kenyataannya yang selama ini diyakin tidak terbukti Adanya ketakutan menjalin relasi intim antar jenis (HP3), karena: pengalaman: - menjalin relasi dengan pasangan yang tidak cinta, karena tidak mau Adanya ketakutan menjalin relasi intim antar jenis (P1) dan kesulitan mempercayai lawan jenis dalam relasi intim antar jenis (P1, P3), karena pengalaman:

(92) 73 Keintiman Passion Komitmen melakukan kontak - diselingkuhi oleh fisik pasangan D. Pembahasan Penelitian ini berfokus untuk mencari tahu persepsi terhadap relasi intim antar jenis pada perempuan dengan orang tua bercerai, yang mencakup pemahaman dan penilaian terhadap relasi intim antar jenis. 1. Pemahaman terhadap relasi intim antar jenis Dari hasil dapat dilihat bahwa para partisipan mampu memahami dengan baik apa itu relasi intim antar jenis, beserta komponen-komponen yang ada di dalamnya sesuai teori segitiga cinta Sternberg (1989), yaitu relasi yang melibatkan komponen keintiman, komitmen, dan passion. Akan tetapi melalui hasil yang didapatkan juga terlihat bahwa para partisipan lebih memberikan penekanan pada komponen keintiman. Hal ini sejalan dengan pengertian relasi intim yang diungkapkan Papalia (2004) yang juga menekankan pada komponen keintiman, bahwa relasi intim merupakan relasi yang melibatkan komponen emosi dari cinta yang meliputi perasaan dengan orang lain, seperti perasaan hangat, sharing, dan kedekatan emosi. Dalam penelitian ini, para partisipan kebanyakan mengatakan bahwa relasi yang intim berarti dekat secara emosional dan kedekatan ini paling bisa dilihat dari kemampuan untuk saling memahami serta cara berkomunikasi. Tindakan memahami pasangan dapat terlihat, misalnya melalui memahami maksud tersirat dari perilakunya dan kondisinya. Sedangkan komunikasi intim yang dimaksud oleh para partisipan adalah komunikasi yang lebih intens dan

(93) 74 terbuka dibandingkan komunikasi dengan orang lain atau teman. Komunikasi yang intens terlihat dari frekuensi dan durasi komunikasi yang lebih sering dan lebih lama dibanding komunikasi dengan orang lain. Komunikasi yang terbuka berarti mereka bisa mengkomunikasikan hal apapun pada pasangan mereka, misalnya masalah sehari-hari hingga hal-hal privasi sekalipun, termasuk mengkomunikasikan mengenai perasaan terdalam mereka. Para partisipan mengungkapkan bahwa komunikasi yang intim akan bisa membentuk kedekatan emosional dengan pasangan dan memahami merupakan salah satu dari dua hal yang paling penting dalam relasi intim antar jenis karena dengan saling memahami maka dapat membuat relasi bertahan lama serta meminimalkan kemungkinan berpisah. Penekanan yang dilakukan oleh para partisipan terlihat dari seringnya para partisipan mengungkapkan hal yang berkaitan dengan komponen keintiman ketika ditanya mengenai apa itu relasi intim antar jenis. Pemahaman para partisipan terhadap konsep relasi intim antar jenis diduga berhubungan dengan apa yang mereka lihat dari relasi orang tua mereka. Misalnya dalam penelitian ini pemahaman para partisipan bahwa relasi intim merupakan relasi yang memiliki komunikasi intim, diduga muncul karena para partisipan menganggap ketiadaan hal tersebut dalam relasi orang tua mereka yang akhirnya membuat orang tua mereka berpisah. P1 bahkan mengungkapkan dalam latar belakang bahwa ia menduga hal yang membuat orang tuanya bercerai adalah permasalahan komunikasi. Hal ini serupa dengan temuan dalam penelitian terdahulu di mana

(94) 75 terdapat partisipan yang belajar dari pengalaman tidak baik orang tuanya dalam menjalani relasi dengan pasangannya (South, 2013; Morrison, et. all, 2017). Dari pembahasan di atas terlihat bahwa pemahaman para partisipan cukup dipengaruhi oleh memori mereka mengenai relasi orang tua mereka sebelum bercerai. Ketika dihadapkan dengan tugas perkembangan untuk menjalin relasi intim, memori negatif terkait hubungan orang tua yang bercerai tidak membuat mereka kehilangan minat dalam menjalin relasi intim antar jenis, melainkan menciptakan suatu pemahaman bagaimana menjalin relasi intim yang lebih baik dibandingkan relasi orang tua mereka. Tidak hanya itu, pengalaman pribadi para partisipan dalam menjalin relasi intim antar jenis setelah perceraian orang tua juga memperkuat penekanan yang dilakukan oleh partisipan terhadap pemahaman mereka mengenai relasi intim antar jenis. Seperti misalnya, selain karena melihat hubungan orang tua, P1 juga diduga memiliki alasan lain mengapa ia sering mengungkapkan mengenai saling memahami, yaitu karena pengalamannya berelasi dengan lawan jenis di mana pasanganya di masa lalu cenderung tidak memahaminya. Hal ini membuktikan teori yang mengatakan bahwa keduanya, baik memori maupun pengalaman masa lalu dapat memengaruhi persepsi seseorang (Rakhmat, 2011; Sobur, 2003). Dalam hal ini, memori berkaitan dengan perceraian orang tua sedangkan pengalaman masa lalu berkaitan dengan pengalaman pribadi menjalin relasi intim dengan lawan jenis.

(95) 76 2. Penilaian terhadap relasi intim antar jenis Melalui hasil dalam penelitian ini terlihat bahwa secara keseluruhan penilaian para partisipan terhadap relasi intim antar jenis cenderung positif. Hal ini terlihat dari ungkapan seluruh partisipan yang mengungkapkan penilaian positifnya terhadap relasi intim antar jenis. Para partisipan tetap menginginkan ataupun senang menjalin relasi intim dengan lawan jenis. Para partisipan optimis bahwa relasi dapat berjalan dengan baik apabila mereka belajar dan tidak melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh orang tua mereka. Hal ini serupa dengan hasil penelitian terdahulu di mana terdapat partisipan yang menjadikan memori negatif menyaksikan pertengkaran orang tua sebagai motivasi untuk tidak mengulangi kesalahan orang tua mereka sehingga dapat menjalin relasi yang tidak putus (Cartwright, 2006; South, 2013; Morrison, et. all, 2017). Memori menyaksikan relasi orang tua mereka yang bercerai tidak membuat mereka menghindari relasi intim antar jenis melainkan mereka belajar dan menjadikan hal tersebut motivasi mereka untuk menjalin relasi yang tidak putus. Misalnya, para partisipan percaya bahwa relasi intim dengan lawan jenis dapat berjalan baik serta bertahan lama jika melibatkan keintiman, seperti komunikasi yang intim, saling memahami, memberi dukungan, dan menerima dukungan dari pasangan. Pembelajaran para partisipan dibuktikan misalnya melalui ungkapan salah satu partisipan yaitu P2, melalui pengamatannya orang tuanya bercerai disebabkan oleh tidak bisa saling memahami, sehingga ketika ia berelasi hal tersebut merupakan yang penting. Dengan ada hal tersebut P2 yakin relasi dapat bertahan.

(96) 77 Tidak hanya belajar dari pengalaman menyaksikan relasi orang tua, penilaian positif para partisipan lainnya, yaitu bahwa relasi intim antar jenis membuat mereka merasa senang, diduga karena mereka mendapatkan hal yang tidak mereka dapatkan dari ketidakharmonisan keluarga serta relasi yang tidak baik dengan orang tua mereka. Misalnya dalam penelitian ini, para partisipan mengungkapkan mendapatkan dukungan emosional dari pasangan, merasa bahagia, merasa dihargai, ataupun membuat mereka dapat menjadi pribadi yang lebih baik melalui relasi intim antar jenis. Temuan ini diperkuat dengan pernyataan salah satu partisipan yaitu P3 di latar belakangnya, bahwa ia kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Hal ini membuat P3 mencari hal-hal yang ia butuhkan seperti kasih sayang dan orang yang dapat memahaminya melalui relasi intim dengan lawan jenis. Beberapa hal tersebut menunjukkan bahwa para partisipan memiliki penilaian yang cenderung positif terhadap relasi intim antar jenis terlepas dari memori perceraian orang tua mereka. Hal ini diduga disebabkan oleh pengalaman pribadi positif yang dialami para partisipan ketika menjalin relasi intim antar jenis. Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa penilaian positif para partisipan menjadi negatif jika mereka mengalami secara langsung apa yang dialami oleh orang tua mereka ataupun ketika mereka memiliki pengalaman pribadi yang negatif ketika menjalin relasi intim antar jenis. Misalnya dalam penelitian ini, beberapa partisipan mengungkapkan kesulitan mempercayai lawan jenis serta takut untuk memulai lagi relasi intim dengan lawan jenis. Penilaian ini muncul

(97) 78 salah satunya karena adanya pengalaman negatif yang melibatkan komponen komitmen, yaitu pengalaman beberapa kali diselingkuhi oleh pasangan. Dari uraian di atas terlihat bahwa pengalaman pribadi terhadap relasi intim antar jenis cukup berpengaruh dalam pembentukan penilaian positif maupun negatif para partisipan. Hal ini menunjukkan bahwa temuan terdahulu di mana terdapat dampak negatif seperti, kurangnya kepercayaan pada pasangan ataupun keragu-raguan untuk memulai ketika menjalin relasi intim antar jenis pada perempuan dengan orang tua bercerai yang disebabkan oleh perceraian orang tua mereka (Cartwright, 2006; South, 2013) kurang terbukti dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa pengalaman negatif yang dialami secara pribadi oleh para partisipan terutama yang berkaitan dengan komponen komitmen yang mendasari penilaian negatif mereka terhadap relasi intim antar jenis, bukan sebagai akibat dari memori menyaksikan pertengkaran maupun perceraian orang tua mereka. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa persepsi dapat dipengaruhi oleh pengalaman di masa lalu terkait objek persepsi (Sobur, 2003), yang dalam hal ini merupakan pengalaman pribadi para partisipan dalam menjalin relasi intim antar jenis. Penilaian para partisipan dalam penelitian ini tetap disimpulkan cenderung positif dikarenakan jika dikaitkan dengan perceraian orang tua, para partisipan justru cenderung belajar untuk menjadi lebih baik, bukan malah mengadaptasi perilaku tidak baik orang tua mereka. Para partisipan juga mengaku tetap menjalin relasi intim antar jenis. Kemudian pengalaman pribadi secara langsung yang positif cenderung memperkuat pembelajaran positif yang

(98) 79 dilakukan oleh para partisipan. Sedangkan penilaian negatif cenderung akan mucul ketika partisipan memiliki pengalaman pribadi negatif saat menjalin relasi intim antar jenis, bukan karena trauma akibat perceraian orang tua mereka. Jika dibandingkan, adanya perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian terdahulu yang menemukan berbagai dampak negatif terhadap relasi intim yang dialami oleh perempuan dewasa awal akibat perceraian orang tua, hal ini diduga karena terdapat perbedaan dari bagaimana cara seseorang memaknai suatu hal (Sobur, 2003).

(99) BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari penelitian ini, dapat ditarik beberapa kesimpulan terkait persepsi relasi intim antar jenis pada perempuan dewasa awal dengan orang tua bercerai, yaitu: 1. Perempuan dewasa awal dengan orang tua bercerai cenderung memiliki pemahaman dan penilaian positif terhadap relasi intim antar jenis, khususnya komponen keintiman dari teori segitiga cinta Sternberg. Mereka terkesan dapat bertumbuh secara positif meskipun menyaksikan hal-hal tidak menyenangkan dalam kehidupan pernikahan orang tua mereka yang berakhir perceraian. Hal ini diduga muncul karena mereka belajar dari pengalaman perceraian orang tua mereka, yaitu dengan (1) tidak ingin meniru cara orang tua berelasi, serta (2) berusaha memperoleh apa yang mereka saksikan tidak ada dalam hubungan orang tua mereka yang berakhir perceraian. Hal ini terbukti dari pengakuan semua responden bahwa mereka tetap menjalin relasi intim antar jenis. 2. Pemahaman dan penilaian perempuan dewasa awal dengan orang tua bercerai terhadap relasi intim antar jenis menjadi negatif, terkesan diakibatkan oleh pengalaman tidak menyenangkan yang mereka rasakan dalam menjalin relasi intim antar jenis ataupun ketika mereka mengalami sendiri secara langsung apa yang dialami oleh orang tua mereka ketika menjalin relasi intim dengan lawan jenis, khususnya terkait komponen komitmen. 80

(100) 81 B. Keterbatasan Penelitian Setelah menjalani penelitian ini, peneliti menemukan adanya beberapa keterbatasan yang terdapat dalam penelitian ini yaitu: 1. Rentang usia partisipan yang terlibat (21-23 tahun) tidak memenuhi persebaran kriteria rentang usia berdasarkan teori (20-30 tahun). Meskipun masih dalam usia perkembangan yang sama, mungkin ada perbedaan antara perempuan dewasa awal dengan rentang usia menengah ke bawah (20-24 tahun) dengan rentang usia menengah ke atas (25-30 tahun). 2. Dalam penelitian ini terlihat bahwa durasi wawancara untuk masing-masing partispan cukup variatif. Akan tetapi terlihat perbedaan signifikan antara durasi wawancara P1 dengan kedua partisipan lainnya, hal ini disebabkan oleh latarbelakang kedekatan P1 dengan peneliti serta kurangnya rapport yang dilakukan peneliti kepada P2 dan P3 untuk menutupi kesenjangan tersebut. 3. Peneliti kurang mengantisipasi munculnya “after effect” negatif yang mungkin dirasakan oleh para partisipan setelah wawancara mengenai memori perceraian orang tu. Sehingga dalam penelitian ini ada salah satu partisipan yang membutuhkan waktu kurang lebih seminggu untuk kembali ke keadaan awalnya seperti sebelum wawancara. Kurangnya peneliti dalam mengantisipasi “after effect” negatif yang mungkin muncul juga tampak dari tidak adanya poin yang menjelaskan mengenai resiko penelitian dalam informed consent yang dibuat peneliti. 4. Peneliti kurang merumuskan teori terkait persepsi dengan maksimal.

(101) 82 C. Saran Berdasarkan tujuan dan keterbatasan penelitian, berikut merupakan beberapa saran yang dapat peneliti berikan: 1. Bagi Peneliti Selanjutnya Untuk mengatasi keterbatasan yang pertama, diharapkan untuk peneliti selanjutnya agar memperluas cakupan rentang usia partisipan yang dilibatkan agar data lebih kaya dan tidak ada kesenjangan yang signifikan antara rentang usia partisipan yang dilibatkan dengan kriteria berdasarkan teori. Kemudian untuk mengatasi keterbatasan kedua dalam penelitian ini, diharapkan bagi peneliti selanjutnya untuk menyesuaikan rapport yang dilakukan kepada para partisipan sesuai kebutuhan agar ketika wawancara para partisipan dapat menunjukkan keterbukaan yang kurang lebih sama. Untuk mengatasi keterbatasan ketiga, diharapkan kepada peneliti selanjutnya untuk mencantumkan mengenai resiko penelitian bagi para partisipan serta rencana penanganan resiko dalam informed consent, serta melakukan “follow up” kepada partisipan setelah wawancara untuk memastikan apakah ada “after effect” akibat topik wawancara. Dan jika memang ada, maka peneliti harus melakukan hal yang sudah dirancang diawal untuk menanggulangi “after effect” tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban. Terakhir, untuk mengatasi keterbatasan keempat, bagi peneliti selanjutnya disarankan agar menyesuaikan teori persepsi yang digunakan apakah persepsi yang dimaksud ada dalam konteks sosial atau kognisi.

(102) 83 2. Bagi Masyarakat yang Berelasi dengan Perempuan Dewasa awal dengan Orang tua Bercerai Diharapkan kepada masyarakat agar dapat lebih memahami anak perempuan dengan orang tua bercerai khususnya ketika memasuki masa dewasa awal. Agar trauma atau pengalaman buruk yang diingat oleh mereka ketika orang tua bercerai dapat diatasi dengan perlakuan yang mereka dapatkan atau alami secara langsung dari orang-orang di sekitar mereka. Sehingga dampak-dampak negatif dalam relasi intim antar jenis dapat diminimalkan. 3. Bagi Para Orang Tua yang Sedang Berkonflik Kepada para orang tua yang sedang berkonflik dan bahkan sudah mempertimbangkan untuk bercerai, diharapkan untuk tidak berkonflik di depan anak-anak serta mempertimbangkan kembali mengenai perceraian. Karena menyaksikan konflik dan perceraian orang tua akan memberikan luka dan dampak jangka panjang bagi anak-anak dalam keluarga tersebut apalagi jika diikuti dengan memburuknya relasi dengan kedua orang tua. 4. Bagi Para Orang Tua yang Telah Bercerai Diharapkan tetap berusaha menjalin relasi yang positif dengan anak-anak dari keluarga asal. Karena berdasarkan teori dan penelitian terdahulu, anak-anak tetap membutuhkan peran kedua orang tua dalam perkembangannya.

(103) 84 DAFTAR ACUAN Amato, P. R., & Booth, A. (1994). Parental marital quality, parental divorce, and relations with parents. Journal of Marriage and Family, 56(1), 21-34. Amato, P. R., Loomis, L. S., & Booth, A. (1995). Parental divorce, marital conflict, and offspring well-being during early adulthood. Social Forces, 73(3), 895-915. Aro, H. M., & Palosaari, U. K. (1992). Parental divorce, adolescence, and transition to young adulthood: A follow-up study. Amer. J. Orthopsychiar, 62(3), 421-429. Badan Pusat Statistik. (2015). Nikah, Talak dan Cerai, serta Rujuk, 2012-2015. Diunduh 28 November, 2017, dari https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/893. Baron, R.A., & Byrne, D. (2003). Psikologi sosial (Jilid 2). Jakarta: Erlangga. Brown, N. M., & Amatea, E. S. (2000). Love and intimate relationships: Journey of the heart. Philadelphia: Taylor & Francis. Cartwright, C. (2006). You want to know how it affected me? Young adults’ perception of the impact of parental divorce. Journal of Divorce & Remarriage, 44(3/4), 125-143. Creswell, J. W. (2009). Research design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methodes Approach (3rd ed). California: SAGE Publication, Inc. Dariyo, A. (2004). Memahami psikologi perceraian dalam kehidupan keluarga. Jurnal Psikologi, 2(2), 94-100. Derlega, V. J. (1984). Communication, intimacy, and close relationship. Orlando: Academic Press, Inc. evaluasi. (2018). Dalam kbbi.web.id. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2018, dari https://www.kbbi.web.id/evaluasi Garbardi, L., & Rosen, L. A. (1992). Intimate relationship: College students from divorced and intact families. Journal of Divorce & Remarriage, 18(3), 2526.

(104) 85 Hepworth, J., Ryder, R. G., & Dreyer, A. S. (1984). The effect of parental loss on the formation of intimate relationship. Journal of Marital and Family Therapy, 10(1), 73-82. Herdiansyah, H. (2015). Metodologi penelitian kualitatif untuk ilmu psikologi. Jakarta: Salemba Humanika. Long, N., & Forehand, R. (1987). The effect of parental divorced and parental conflict on children: An overview. Developmental and Behavioral Pediatrics, 8(5), 292-296. Mar’at. (1981). Sikap manusia perubahan serta pengukurannya. Bandung: Ghalia Indonesia. Morrison, S.C., Fife, S.T., & Hertlein, K.M. (2017). Mechanisms behind prolonged effects of parental divorce: A phenomenological study. Journal of Divorce & Remarriage, 58(1), 44-63. Morrow, S. L. (2005). Quality and trustworthiness in qualitative research in counseling psychology. Journal of Counseling Psychology, 52(2), 250-260. Mullett, E., & Stolberg, A. L. (2002). Divorce and its impact on the intimate relationship of young adults. Journal of Divorce & Remarriage, 38(1/2), 3959. Mustonen, U., Huurre, T., Kiviruusu, O., Haukkala, A., & Aro, H. (2011). Longterm impact of parental divorce on intimate relationship quality in adulthood and the mediating role of psychological resources. Journal of family psychology, 25(4), 615-619. Ottaway, A. (2010). The impact of parental divorce on the intimate relationship of adult offspring: A review of the literature. Graduate Journal of Counseling Psychology, 2(1), 36-51. Papalia, D. E., Olds, S.W., & Feldman, R. D. (2004). Human development (9th ed). New York: McGraw-Hill. Rakhmat, J. (2011). Psikologi komunikasi (Ed.rev). Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Robbins, S. P. & Judge, T. A. (2017). Organizational behavior (17th ed). USA: Pearson Education.

(105) 86 Santrock, J. W. (2008). Life-span development (12th ed). New York: Mc GrawHill. Sinclair, S. L., & Nelson, E. S. (1998). The impact of parental divorce on college students’ intimate relationship and relationship belief. Journal of Divorce & Remarriage, 29(1), 103-129. Sobur, A. (2003). Psikologi umum. Bandung: Pustaka Setia. South, A. L. (2013). Perception of romantic relationship in adult children of divorce. Journal of Divorce & Remarriage, 54, 126-141. Sternberg, R. J. (1986). A triangular theory of love. Psychological review, 93(2), 119-135. Sugiyono. (2012). Metodologi penelitian kuantitatif kualitatif dan r&d. Bandung: Alfabeta. Supratiknya, A. (2015). Metodologi penelitian kuantitatif & kualitatif dalam psikologi. Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma. Supratiknya, A. (2018). Diktat metodologi penelitian: Mater belajar mata kuliah metodologi penulisan kualitatif, seminar, dan bimbingan klasikal penulisan skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. tafsir. (2018). Dalam kbbi.web.id. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2018, dari https://www.kbbi.web.id/tafsir Walgito, B. (2010). Pengangtar psikologi umum. Yogyakarta: C.V ANDI OFFSET. Wallerstein, J. S., & Lewis, J. M. (2004). The unexpected legacy of divorce: Report of a 25- year study. Psychoanalytic Psychology, 21(3), 353-370. Wildemuth, B. M. (2009). Applications of social research methods to questions in information and library science. Connecticut: Libraries Unlimited. Willig, C. (2013). Introducing qualitative research in psychology (3rd ed). New York: Mc Graw-Hill.

(106) 87 Lampiran 1. Contoh Lembar Persetujuan Partisipasi/ Informed consent Kesepakatan Partisipasi Penelitian Saya menyatakan bersedia berpartisipasi sebagai subjek dalam penelitian yang dilakukan oleh Jennifer Fransiska Andita dari Universitas Sanata Dharma. Saya paham bahwa penelitian ini bertujuan memperoleh informasi tentang persepsi mengenai relasi intim antar jenis. 1 Partisipasi saya dalam penelitian ini bersifat suka rela. Saya paham bahwa sebagai subjek saya tidak akan memperoleh imbalan materi. Saya bisa membatalkan dan tidak melanjutkan partisipasi saya sebagai subjek tanpa sanksi apa pun. Jika saya memutuskan membatalkan dan tidak melanjutkan partisipasi saya sebagai subjek, tidak seorang pun akan tahu selain peneliti. 2 Saya paham bahwa apa yang akan saya lakukan dalam penelitian ini penting dan mungkin menarik. Namun bila ternyata saya merasa tidak nyaman melakukannya maka saya berhak menolak memberikan jawaban atau melakukan tugas yang diminta. 3 Saya paham bahwa partisipasi yang dibutuhkan dari saya adalah menjalani wawancara perorangan yang diselenggarakan oleh peneliti dari Universitas Sanata Dharma. Kegiatan tersebut membutuhkan waktu selama 2 (dua) – 3 (tiga) jam pada setiap pertemuan, dengan perkiraan pertemuan 2 (dua) – 3 (tiga) kali dan dapat berubah sesuai kebutuhan penelitian. Peneliti akan membuat catatan-catatan dan rekaman audio saat kegiatan berlangsung. 4 Saya paham bahwa peneliti mungkin akan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang cukup pribadi berkaitan dengan latar belakang keluarga saya untuk kepentingan penelitian. 5 Saya paham bahwa para peneliti tidak akan menyebutkan nama saya dalam laporan yang disusun berdasarkan informasi yang diperoleh dari penelitian ini, dan bahwa kerahasiaan saya sebagai subjek dalam penelitian ini dijamin sepenuhnya. Data dan informasi lain yang diperoleh dari penelitian ini hanya akan digunakan untuk kepentingan ilmiah yang menjamin kerahasiaan individu dan institusi yang menjadi sumbernya. 6 Saya paham bahwa dosen atau pihak lain di kampus tidak akan pernah mengetahui jawaban atau hasil pengerjaan tugas saya dalam penelitian ini. Dengan demikian saya tidak akan pernah mengalami akibat negatif apa pun dari apa yang saya katakan atau lakukan dalam penelitian ini. 7 Saya telah membaca dan memahami penjelasan yang diberikan kepada saya. Saya telah memperoleh jawaban yang memuaskan terhadap semua pertanyaan saya, dan secara suka rela saya menyatakan sepakat berpartisipasi sebagai subjek dalam penelitian ini. 8 Saya telah memperoleh salinan Kesepakatan Partisipasi Penelitian ini. Yogyakarta, Mengetahui, Jennifer Fransiska Andita (Nama Partisipan)

(107)

Dokumen baru

Download (106 Halaman)
Gratis

Tags