Perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori - USD Repository

Gratis

0
0
363
7 months ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR SISWA ATAS PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Disusun oleh : Bhernadeta Bertiyanti 101134017 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR SISWA ATAS PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI Skripsi Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Disusun oleh : Bhernadeta Bertiyanti 101134017 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Penulis persembahkan karya sederhana ini kepada: 1. Tuhan Yesus dan Bunda Maria atas anugerah kesehatan dan keselamatan yang tiada henti. 2. Bapak yang tidak pernah berhenti mendampingi hidupku dalam segala keadaan dengan rahmat restunya dari surga 3. Ibuku yang hebat dan tercinta atas pengorbanan, kasih sayang dan dukungannya sepanjang hari-hariku. 4. Kakakku tersayang atas segala perlindungan dan dukungannya dalam hidupku. 5. Dosen-dosen PGSD Universitas Sanata Dharma yang memberikan segenap ilmu yang sangat berharga. 4. Teman-temanku PGSD 2010 5. Almamaterku Universitas Sanata Dharma iv

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI MOTTO “ He has made everything beautiful in its time“. (Ecclesiastes 3:11) “Sometimes it takes a painful situation to make us change our ways” (Proverbs 20:30) "Winning is a habit. Unfortunately, so is losing"( Vince Lombardi) v

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahawa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian dari karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagai layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 17 Juni 2014 Penulis Bhernadeta Bertiyanti 101134017 vi

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAN UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Bhernadeta Bertiyanti NIM : 101134017 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul: “PEBEDAAN PRESTASI BELAJAR SISWA ATAS PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI” Dengan demikian saya berikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikan di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberi royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 14 Juni 2014 Yang menyatakan Bhernadeta Bertiyanti vii

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRAK PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR SISWA ATAS PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI Bhernadeta Bertiyanti Universitas Sanata Dharma 2014 Permasalahan yang melatar belakangi penelitian ini adalah rendahnya tingkat prestasi belajar matematika. Data hasil studi TIMSS dan PISA membuktikan permasalahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. Jenis penelitian ini adalah quasi-experimental dengan desain non-equivalent control group design. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Kanisius Sengkan, siswa kelas IA sebagai kelompok kontrol dan siswa kelas IB sebagai kelompok eksperimen. Instrumen penelitian ini berupa 10 soal uraian yang digunakan untuk pre-test dan post-test. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi dan observasi. Prosedur analisis data pada penelitian ini terdiri dari penentuan hipotesis, mengorganisasi data, menentukan taraf signifikansi, menguji asumsi klasik dan menguji hipotesis. Teknik analisis data menggunakanindependent t-test dan paired t-test yang didukung dengan penggunaan Microsoft Excel dan Statistical Product and Service Solutions. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga berbasis metode Montessori. Hal ini ditunjukkan dari hasil analisis data bahwa secara umum kelompok eksperimen (M = 7,94; SE = 0,202) memiliki rata-rata skor post-test yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol (M = 8,48; SE = 0,79). Perbedaan skor tersebut signifikan t(60)=-2,077, p < 0,05 dan memiliki small effect size sebesar r = 0,25. Kesimpulan yang ditarik adalah ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga berbasis metode Montessori. Peneliti merekomendasikan alat peraga matematika berbasis metode Montessori digunakan pada pembelajaran matematika. Kata kunci: alat peraga matematika, metode Montessori, prestasi belajar, rak bidang datar Montessori viii

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI ABSTRACT THE DIFFERENCES OF STUDENTS LEARNING ACHIEVEMENT OF THE USING MONTESSORI METHOD BASED MATH VISUAL AID Bhernadeta Bertiyanti Sanata Dharma University 2014 The triggered of this research was by the learning math achievement tiers in still low as evidenced by data of TIMSS and PISA study results. This study aims to find the differences of student learning achievement of the using Montessori Method-based math visual aid. The type of research in this study is quasi experimental type with non-equivalent control design. Population and sample of the research are students of SD Kanisius Sengkan in the first grade, the control group is class IA and the experiment group is IC. Instruments of the research 10 multiple-choice to use in pre-test and post-test. Data collection technique use document and observation. The procedure of data analysis in this study consists of determining the hypothesis, managing the data, determining significance level, and testing the classical assumption and hypothesis. Data analysis technique that is used for testing the hypothesis is independent t – test and paired t-test, supported by Microsoft Excel and the Statistical Product and Service Solutions (SPSS ). The result of this research shows that student learning achievement has difference by using of Montessori Method based visual aid. It is indicated by data analysis shows that on average experiment (M = 7,94; SE = 0,202) has higher mean score of pre-test than the control group (M = 8,48; SE = 0,79). This difference was t(60)=-2,077, p < 0,05 and has small effect size until 0,25.The conclusion of this research is that student learning achievement has difference by using of Montessori method based visual aid. Keywords: math visual aid, Montessori Method, students achievement, a rack built flat ix

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI KATA PENGANTAR Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa telah melimpahkan karunia dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikanskripsi ini dengan baik. Skripsi yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori Papan Pin Perkalian untuk Operasi Perkalian Terhadap Prestasi Belajar Siswa” ditulis sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata I Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Skripsi ini selesai tidak lepas dari dukungan, bimbingan dan kerjasama dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan segenap hati penulis mengucapkan terimakasih kepada : 1. Rohandi,Ph.D., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma. 2. G. Ari Nugrahanta, SJ, S.S., BST., M.A., Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 3. E.Catur Rismiati, S.Pd.,MA.,Ed.D., Wakil Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, sekaligus pembimbing I yang telah sangat membantu dalam proses pembuatan karya ilmiah ini. 4. Andri Anugrahana, S.Pd., M.Pd, dosen pembimbing II yang telah memberikan saran yang membangun dalam pembuatan karya ilmiah ini. 5. M. Sri Wartini, Kepala Sekolah SDK Sengkan yang telah memberikan dukungan serta ijin kepada penulis untuk mengadakan penelitian di SDK Sengkan. 6. Theresia Setyastuti, S.Pd guru kelas 1C SDK Sengkanyang telah bekerja sama serta memberikan waktu dan tenaganya sebagai guru mitra dalam penelitian kolaboratif. 7. A. Dwiyanti Natalia, S.Pd.SD guru kelas 1A SDK Sengkan yang telah bekerja sama serta memberikan waktu dan tenaganya sebagai guru mitra dalam penelitian kolaboratif. x

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8. Siswa kelas 1A dan 1C SDK Sengkan, yang bersedia bekerja sama dalam penelitian ini. 9. Bapakku Yohanes Murjono (Alm.), ibuku Maria Muryanti yang selalu memberikan doa, kasih sayang, dukungan dan bimbingan kepada penulis. 10. Kakaku, Paulus Eko Murwanto yang selalu memberi perlindungan dan dukungan moral dan materiil. 11. Kekasihku, Fransiscus Aditya Padlu Waruyung yang senantiasan sabar mengasihiku dan menemaniku. 12. Teman-teman penelitian kolaboratif eksperimen Montessori (Deta, Ulfah, Wulan, Rasti, Ifa, dan Putri), yang selalu berbagi pengetahuan, semangat dan keceriaan kepada penulis. 13. Teman-teman PPL SDK Sengkan, yang memberikan bantuan selama peneliti melakukan penelitian di sekolah. 14. Teman-teman PGSD USD kelas B angkatan 2010 yang selalu memberikan inspirasi dalam menyelesaikan karya ilmiah ini. 15. Sekretariat PGSD yang selalu membantu dalam hal administrasi dan segala keperluan unruk menyelesaikan karya ilmiah ini. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kelemahan dalam penulisan karya ilmiah ini. Untuk itu, saran dan kritik yang membangun sangat berguna untuk karya ilmiah ini. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi pembaca. Penulis (Bhernadeta Bertiyanti) xi

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .......................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iii HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................... iv MOTTO .......................................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ........................................................ vi HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ............... vii ABSTRAK ...................................................................................................... viii ABSTRACT ..................................................................................................... ix KATA PENGANTAR .................................................................................... x DAFTAR ISI ................................................................................................... xii DAFTAR TABEL .......................................................................................... xiv DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xv DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xvi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ....................................................................... 1 B. Identifikasi Masalah ............................................................................ 5 C. Batasan Masalah................................................................................... 6 D. Rumusan Masalah ................................................................................ 7 E. Tujuan Penelitian ................................................................................. 7 F. Manfaat Penelitian ............................................................................... 7 G. Definisi Operasional............................................................................. 8 BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Pustaka...................................................................................... 10 1. Tahap Perkembangan Anak Sekolah Dasar..................................... 10 2. Metode Montessori .......................................................................... 14 3. Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori ................... 18 4. Pembelajaran Matematika ............................................................... 24 5. Prestasi Belajar ................................................................................ 27 B. Hasil Penelitian yang Relevan ............................................................. 33 C. Kerangka Berpikir ................................................................................ 38 D. Hipotesis............................................................................................... 39 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ..................................................................................... 40 B. Desain Penelitian .................................................................................. 41 C. Waktu dan Tempat Penelitian .............................................................. 43 D. Variabel Penelitian dan Data Penelitian ............................................... 45 E. Populasi dan Sampel ............................................................................ 47 F. Teknik Pengumpulan Data ................................................................... 49 G. Instrumen Pengumpulan Data .............................................................. 50 H. Teknik Pengujian Instrumen ................................................................ 53 xii

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI I. Prosedur Analisis Data ......................................................................... 72 J. Jadwal penelitian .................................................................................. 89 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Penelitian ............................................................................. 91 B. Hasil Penelitian .................................................................................... 97 C. Pembahasan .......................................................................................... 122 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan .......................................................................................... 126 B. Keterbatasan Penelitian ........................................................................ 127 C. Saran ..................................................................................................... 128 DAFTAR REFERENSI ................................................................................. 129 xiii

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Tabel 3.1 Tabel 3.2 Tabel 3.3 Tabel 3.4 Tabel 3.5 Tabel 3.6 Tabel 3.7 Tabel 3.8 Tahap Perkembangan Manusia Menurut Piaget.......................... 11 Waktu Pengambilan Data ............................................................ 43 Kisi-Kisi Soal Pre-test dan Post-test ........................................... 51 Lembar Observasi ....................................................................... 53 Kriteria Hasil Validitas................................................................ 56 Hasil Validitas Silabus ................................................................ 57 Hasil Validitas RPP ..................................................................... 58 Hasil Validitas Soal Tes Prestasi ................................................. 59 Rangkuman Hasil Validasi Muka untuk Instrumen Pembelajaran ............................................................................... 60 Tabel 3.9 Rangkuman Hasil Validasi Muka untuk Instrumen Penelitian ..................................................................................... 61 Tabel 3.10 Kisi-kisi Soal untuk Uji Validitas Konstruk ............................... 63 Tabel 3.11 Hasil Validitas Isi Menggunakan Korelasi Point-Biserial .......... 65 Tabel 3.12 Rincian Soal Sebelum dan Sesudah Uji Validitas Konstruk ....... 67 Tabel 3.13 Kualifikasi Koefisien Reliabilitas Aitem Soal yang Dikatakan Reliabel ...................................................................... 68 Tabel 3.14 Hasil Perhitungan Reliabilitas ..................................................... 69 Tabel 3.15 Kriteria Indeks Kesukaran ........................................................... 71 Tabel 3.16 Perhitungan Indeks Kesukaran Aitem Tes .................................. 71 Tabel 3.17 Kategori Effect Size ...................................................................... 87 Tabel 3.18 Jadwal Penelitian.......................................................................... 89 Tabel 4.1 Kegiatan Pembelajaran Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen ................................................................ 93 Tabel 4.2 Tabel Deskripsi Data Penelitian .................................................. 97 Tabel 4.3 Skor Pre-test dan Post-tes Kelompok Kontrol dan Eksperime ............................................................................. 98 Tabel 4.4 Hasil Perhitungan Uji Normalitas Skor Pre-test Kelompok Kontrol....................................................................... 101 Tabel 4.5 Hasil Perhitungan Uji Normalitas Skor Pre-test Kelompok Eksperimen ................................................................ 103 Tabel 4.6 Hasil Perhitungan Uji Homogenitas Skor Pre-test ..................... 106 Tabel 4.7 Hasil Perhitungan Uji Independent t-test Skor Pre-test .............. 107 Tabel 4.8 Hasil Perhitungan Uji Normalitas Skor Post-test Kelompok Kontrol....................................................................... 109 Tabel 4.9 Hasil Perhitungan Uji Normalitas Skor Post-test Kelompok Eksperimen ................................................................ 111 Tabel 4.10 Hasil Perhitungan Uji Homogenitas Skor Post-test .................... 113 Tabel 4.11 Hasil Perhitungan Uji Independent t-test Skor Post-test ............. 115 Tabel 4.12 Hasil Uji Koefisien Determinasi ................................................. 118 Tabel 4.13 Uji Signifikansi Selisih Rata-rata Skor Pre-test dan Post-test Kelompok Kontrol ................................................. 120 Tabel 4.14 Uji Signifikansi Selisih Rata-rata Skor Pre-test dan Post-test Kelompok Eksperimen .......................................... 121 xiv

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Papan Penjumlahan Pengurangan Montessori .......................... 24 Gambar 2.2 LiteratureMap Penelitian yang Relevan .................................. 25 Gambar 3.1 Desain Penelitian ...................................................................... 42 Gambar 3.2 Rumus Point Biserial ................................................................ 63 Gambar 3.3 Rumus Cronbach’s Alpha ......................................................... 68 Gambar 3.4 Rumus Indeks Kesukaran ......................................................... 70 Gambar 3.5 Rumus Kolmogorov-Sminov ..................................................... 76 Gambar 3.6 Rumus Lavene’s test ................................................................. 78 Gambar 3.7 Rumus Independent t-test ......................................................... 85 Gambar 3.8 Rumus Effect Size ..................................................................... 86 Gambar 3.9 Rumus Koefisien Determinasi .................................................. 87 Gambar 3.10 Rumus Paired t-test .................................................................. 80 Gambar 4.1 Grafik Perbandingan Rata-Rata Skor Pre-test dan Post-test Kelompok Kontrol dengan Kelompok Eksperimen ............................................................. 99 Gambar 4.2 Histogram (kiri) dan P-P Plot (kanan) Skor Pre-test Kelompok Kontrol .................................................................... 102 Gambar 4.3 Histogram (kiri) dan P-P Plot (kanan) Skor Pre-test Kelompok Eksperimen ............................................................. 104 Gambar 4.4 Histogram (kiri) dan P-P Plot (kanan) Skor Post-test Kelompok Kontrol .................................................................... 110 Gambar 4.5 Histogram (kiri) dan PP Plot (kanan) Skor Post-test Kelompok Eksperimen ............................................................. 112 xv

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Surat Penelitian ........................................................................ 133 Lampiran 2 Contoh Perangkat Pembelajaran Sebelum Uji Instrumen ........ 137 Lampiran 3 Contoh Komentar Validitas Isi Perangkat Pembelajaran ........ 165 Lampiran 4 Hasil Validasi Muka Instrumen pembelajaran......................... 170 Lampiran 5 Contoh Perangkat Pembelajaran Sesudah Uji Instrumen ........ 172 Lampiran 6 Contoh Instrumen Penelitian Sebelum Uji Instrumen ............. 201 Lampiran 7 Contoh Komentar Validitas Isi Instrumen Penelitian .............. 215 Lampiran 8 Hasil Uji Validitas Muka Instrumen Penelitian ....................... 221 Lampiran 9 Instrumen Penelitian untuk Uji Validitas Konstruk ................. 228 Lampiran 10 Contoh Pekerjaan Siswa Hasil Validitas Konstruk.................. 242 Lampiran 11 Tabulasi Data Mentah Hasil Validitas Konstruk ..................... 269 Lampiran 12 Hasil Analisis Uji Instrumen Penelitian................................... 271 Lampiran 13 Contoh Pekerjaan Pre-test dan Post-test ................................. 280 Lampiran 14 Tabulasi Data Mentah Skor Pre-test ........................................ 309 Lampiran 15 Tabulasi Data Mentah Skor Post-test ...................................... 312 Lampiran 16 Hasil Analisis Skor Pre-test (SPSS)......................................... 315 Lampiran 17 Hasil Analisi Skor Post-test (SPSS) ......................................... 325 Lampiran 18 Hasil Deskripsi Data Penelitian (SPSS) ................................... 333 Lampiran 19 Hasil Uji Signifikansi (SPSS) .................................................. 336 Lampiran 20 Hasil Observasi Pembelajaran ................................................. 339 Lampiran 21Foto Penelitian ........................................................................... 344 xvi

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Bab I memaparkan tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional. A. Latar Belakang Masalah Era globalisasi merupakan zaman dimana pengaruh antar negara di dunia cepat menyebar (Indratuti, 2008: 90). Era globalisasi memberi dampak pada aspek kehidupan masyarakat. Salah satu dampak dari era globalisasi adalah tuntutan kualitas penyelenggaraan pendidikan (Ali, 2009: 332). Penyelenggaraan pendidikan untuk masyarakat merupakan mandat yang harus dilakukan oleh bangsa Indonesia sesuai tujuan negara. Tujuan Negara Indonesia tertuang dalam pembukaan UUD 1945, yaitu “…melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa....” (Ali, 2009: 333). Tujuan bangsa Indonesia dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dilakukan melalui pendidikan. Pendidikan menjadi salah satu hak yang dimiliki oleh setiap warga Indonesia. Indonesia memiliki undang-undang yang mengatur hak warga untuk mendapatkan pendidikan atau pengajaran. Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pasal 31 ayat 1 yang berbunyi: “Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran” 1

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2 (Hasbullah, 2006: 125). Setiap warga negara memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan. Pendidikan adalah sarana penting untuk meningkatkan kualitas manusia dalam menjamin kelangsungan suatu bangsa (Susanto, 2013: v). Coser (dalam Hasbullah, 2006: 9) mengungkapkan “education is the deliberate, formal transfer of knowledge, skill and values from one person to another”. Lembaga pendidikan meliputi keluarga, sekolah, dan masyarakat (Hasbullah, 2006: 37). Keluarga dan masyarakat merupakan lembaga pendidikan non formal, sedangkan sekolah adalah lembaga pendidikan formal. Lembaga pendidikan yang paling berperan dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) adalah sekolah. Sekolah mampu membantu individu mengembangkan kemampuan intelektual dan keterampilan kerja, sehingga individu memiliki keahlian untuk bekerja dan ikut membangun bangsa (Hasbullah, 2006: 54-55). Sekolah memberikan pengetahuan kepada anak melalui berbagai macam mata pelajaran agar mampu bersaing di dunia internasional. Materi pelajaran yang diajarkan adalah matematika, Bahasa Indonesia, PKn, IPA, dan IPS (Kemendikbud, 2012: 13). Matematika merupakan ilmu yang penting daripada ilmu yang lain karena matematika merupakan dasar bagi ilmu lain (Suherman, 2003: 25). Posisi matematika terhadap ilmu lain membuat prestasi siswa di bidang matematika dapat dijadikan tolak ukur kualitas pendidikan pada suatu negara. Prestasi matematika siswa di dunia diteliti oleh lembaga survei internasional. Lembaga survei internasional yang meneliti prestasi siswa di bidang matematika adalah PISA (Programme for Internationnal Student Assement) dan

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3 TIMSS (Trens in International Mathematics and Science Study). PISA adalah survei internasional yang mengukur kemampuan dan keterampilan dalam tiga bidang, yaitu matematika, IPA, dan membaca (Hayat & Suhendra, 2010: 203). PISA melakukan survei dengan periode tiga tahun sekali. TIMSS adalah kegiatan International Association for the Evaluation of Education Achievement (IEA) yang berbentuk survei berskala internasional yang diikuti 50 negara untuk mengukur kemajuan dalam pembelajaran matematika dan IPA (Hayat & Suhendra, 2010: 246). Hasil survei PISA tentang tingkat literasi matematika pada tahun 2000, 2003, dan 2006 secara berturut-turut mendapat peringkat ke-39 dari 41 negara dengan skor 367, peringkat ke-38 dari 40 negara dengan skor 360 dan yang terakhir menduduki peringkat ke-50 dari 57 negara dengan skor 391 (Kemendikbud, 2011). Survei terbaru yang dilakukan oleh PISA pada tahun 2012 adalah Indonesia menduduki peringkat ke-64 dari 65 negara anggota OECD (NECS, 2012). Hasil survei TIMSS pada prestasi matematika Indonesia tahun 1999 berada pada peringkat ke-32 dari 38 peserta, pada tahun 2003 berada pada peringkat ke-37 dari 46 peserta dan pada tahun 2007 berada pada peringkat ke-35 dari 45 negara peserta (Kemendikbud, 2011). Pada tahun 2011 TIMSS kembali melakukan survei dan hasil untuk Indonesia adalah berada pada peringkat ke-38 dari 42 negara (Arora, 2011: 31). Buruknya prestasi matematika siswa Indonesia menjadi tolak ukur kualitas pendidikan di Indonesia yang masih rendah. Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia diakibatkan oleh buruknya sistem pendidikan di Indonesia (Tjalla,

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4 2011: 3). Perubahan kurikulum KTSP menjadi kurikulum 2013 adalah upaya sadar pemerintah Indonesia untuk memperbaiki sistem pendidikan. Kurikulum 2013 menuntut guru menjadi fasilitator dan bukan lagi menjadi satu-satunya sumber belajar (Napitupulu dalam Nuh, 2013: 209). Salah satu sumber belajar yang direncanakan dan diciptakan oleh guru sebagai penghubung pesan ajar disebut alat peraga atau media pembelajaran (Munadi, 2010: 5). Alat peraga pembelajaran membuat siswa mudah memahami konsep matematika karena memberikan konsep konkret dari materi matematika yang lebih bersifat abstrak. Usman (1989: 132) menyebutkan bahwa alat peraga berfungsi sebagai tempat meletakkan dasar-dasar konkret, memperbesar perhatian siswa, membuat pelajaran lebih berkesan, memberikan pengalaman nyata, menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinu, dan membantu menumbuhkan pengertian. Alat peraga dipandang penting untuk menciptakan pembelajaran matematika yang efektif dan efisien. Alat peraga pembelajaran menuntut siswa untuk aktif mencari konsep pengetahuan secara mandiri. Jerome Bruner menyatakan bahwa pengetahuan yang di peroleh siswa sendiri akan lebih bertahan lama dan pengetahuan yang diperoleh secara mandiri akan menghasilkan hasil yang paling baik (Dahar, 2011: 79). Pembelajaran secara mandiri merupakan salah satu karakteristik dari metode yang dikembangkan oleh Montessori (Montessori, 2013: 192). Maria Montessori adalah ahli pendidikan dari Italia yang menawarkan suatu metode pendidikan yang menarik. Montessori memperkenalkan model pembelajaran yang melatih seluruh panca indera dan keterampilan siswa dengan menggunakan alat peraga

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5 (Montessori, 2002: 7-8). Montessori menyampaikan bahwa pemberian lingkungan maupun materi yang tepat dapat memancing spontanitas siswa dalam belajar dan mengembangkan pengetahuan secara mandiri. Pembelajaran berbasis metode Montessori dapat menunjang perkembangan diri siswa secara utuh. Hal tersebut dapat diartikan bahwa aspek pertumbuhan seperti fisik, intelektual, linguistik, emosi, spiritual, atau sosial akan tumbuh secara otomatis. Alat peraga yang dikembangkan Montessori memiliki banyak keunggulan dan dipercayai dapat menumbuhkan kemandirian belajar siswa sehingga membantu prestasi belajar siswa meningkat. Keunggulan alat peraga yang dapat mengkonkretkan materi abstrak dinilai dapat mempermudah siswa memahami materi matematika. Alasan-alasan tersebut menarik peneliti untuk melakukan penelitian tentang “Perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori”. B. Identifikasi Masalah Latar belakang memaparkan masalah utama pada rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia disebabkan oleh sistem pendidikan di Indonesia yang masih buruk. Buruknya sistem pendidikan di Indonesia dapat dilihat dari hasil survei TIMSS dan PISA terhadap prestasi belajar siswa pada bidang matematika. Proses pembelajaran adalah komponen penting dalam sebuah sistem pendidikan. Salah satu sumber belajar yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran adalah alat peraga. Alat peraga merupakan benda konkret yang dapat membantu pemahaman siswa dalam memahami materi matematika yang abstrak.

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6 Penggunaan alat peraga yang dalam proses pembelajaran merupakan salah satu karakteristik dari model pembelajaran berbasis metode Montessori. Penyampaian materi dengan menggunakan alat peraga dapat mengembangkan pengetahuan yang dimiliki siswa. Siswa dapat mengembangkan pengetahuannya secara maksimal sehingga menciptakan perbedaan hasil belajar siswa. C. Batasan Masalah Fokus penelitian dapat lebih terarah dengan membatasi permasalahan yang diteliti. Penelitian ini memiliki beberapa batasan masalah yang dibuat agar tidak menimbulkan salah tafsir terhadap istilah yang terdapat pada penelitian. Batasan masalah pada penelitian ini tentang perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. Alat peraga yang digunakan adalah alat peraga Papan Penjumlahan Pengurangan berbasis metode Montessori. Mata pelajaran yang diajarkan adalah mata pelajaran matematika kelas I dengan standar kompetensi 4 “melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai dua angka dalam pemecahan masalah” dan kompetensi dasar 4.4 “melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai dua angka”. Materi penjumlahan dan pengurangan diambil karena materi tersebut adalah landasan untuk aritmatika tingkat lanjutnya. Siswa akan kesulitan dengan materi matematika selanjutnya apabila tidak mampu menguasai materi penjumlahan dan pengurangan. Prestasi yang diukur dalam penelitian ini adalah pengetahuan kognitif saja.

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7 D. Rumusan Masalah Peneliti merumuskan masalah berdasarkan latar belakang penelitian ini yaitu “apakah ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori?”. E. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. F. Manfaat Penelitian Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian maka manfaat penelitian ini adalah: 1. Bagi siswa Siswa dapat memperoleh suasana baru dalam kelas, sehingga meningkatkan antusiasme siswa dalam belajar. Penelitian ini mempunyai manfaat lain yaitu membantu siswa semakin aktif dalam pembelajaran dan memperoleh informasi untuk meningkatkan prestasi belajar. 2. Bagi guru Guru dapat memperoleh masukkan tentang pengaruh pengguanaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori terhadap prestasi belajar siswa. Penelitian ini mempunyai manfaat lain yaitu guru dapat memperoleh bahan pedoman dan bahan pertimbangan guru dalam usaha meningkatkan mutu

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI pendidikan dan pengajaran. Guru dapat meningkatkan kinerja 8 dengan menggunakan perangkat pembelajaran yang digunakan dalam penelitian, sehingga meningkatkan kualitas pembelajaran matematika. 3. Bagi sekolah Sekolah mendapatkan sumbangan positif bagi kemajuan sekolah karena guru mendapatkan tambahan wawasan baru tentang alternatif alat peraga yaitu alat peraga Montessori yang diterapkan sekolah tersebut. 4. Bagi peneliti Peneliti dapat memperoleh tambahan wawasan, pengalaman, dan refleksi bagi dalam tahap pembinaan diri sebagai calon pendidik. Penelitian ini mempunyai manfaat lain yaitu peneliti dapat mengasah kemampuan dalam membuat perangkat pembelajaran menggunakan alat peraga berbasis Montessori. Peneliti dapat meningkatkan kemampuan dalam menyusun penelitian yang bersifat eksperimen. G. Definisi Operasional Penelitian ini perlu definisi operasional untuk menyamakan persepsi tentang hal-hal yang masih berbeda, yaitu : 1. Matematika adalah salah satu mata pelajaran di Sekolah Dasar yang mencakup materi penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka. 2. Alat peraga adalah suatu benda yang digunakan dalam pembelajaran, sehingga siswa dapat memahami materi yang disampaikan guru.

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. 9 Alat peraga matematika adalah alat peraga yang dipakai untuk menyampaikan pembelajaran matematika. 4. Metode Montessori adalah metode yang dikembangkan oleh Maria Montessori dengan cara yang mengoptimalkan kemampuan panca indera dan memberikan kebebasan kepada siswa untuk melakukan dan menemukan pengetahuannya sendiri. 5. Alat peraga Montessori adalah alat peraga yang memiliki spesifikasi: menarik, bergradasi, auto-corection, auto-education, dan kontektual. 6. Alat peraga matematika berbasis metode Montessori adalah alat peraga berbasis Montessori yang digunakan dalam pembelajaran matematika. 7. Prestasi belajar adalah kemampuan siswa dalam menyelesaikan berbagai variasi soal mengenai penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka. 8. Siswa sekolah dasar adalah siswa yang berada pada jenjang Sekolah Dasar. 9. Pre-test adalah kegiatan yang dilakukan pada awal pembelajaran untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki oleh siswa dalam memahami materi penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka. 10. Post-test adalah kegiatan yang dilakukan di akhir pembelajaran untuk mengetahui kemampuan akhir yang dimiliki oleh siswa dalam memahami materi penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka.

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI Bab II menguraikan empat bagian yaitu kajian pustaka, penelitian yang relevan, kerangka berpikir, dan hipotesis. Kajian pustaka memaparkan tentang beberapa topik bahasan yang berkaitan dengan judul penelitian. Penelitian yang relevan berisi penelitian-penelitian yang berkaitan dengan variabel penelitian yang akan peneliti lakukan. Kerangka berpikir berisi tentang rumusan konsep yang diperoleh dari berbagai tinjauan teori. Hipotesis penelitian berisi tentang dugaan sementara yang akan terjadi pada penelitian. A. Kajian Pustaka Kajian pustaka akan membahas tentang beberapa teori yang berkaitan dengan judul penelitian. Teori yang akan dibahas adalah tahap perkembangan anak sekolah dasar, alat peraga matematika Montessori, metode Montessori, pembelajaran matematika, materi penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka dan prestasi belajar. 1. Tahap Perkembangan Anak Sekolah Dasar Pada topik ini diuraikan tahapan perkembangan anak dan karakteristik siswa Sekolah Dasar (SD). Teori tahapan perkembangan anak akan menunjukkan dimana posisi perkembangan siswa SD berada. Teori perkembangan anak diambil dari pendapat Piaget dan Montessori. 10

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI a. 11 Tahap Perkembangan Anak Perkembangan menurut Piaget adalah suatu proses spontan dengan cakupan luas yang berakibat pada gejala pertambahan secara terus menerus, modifikasi, dan penyusunan ulang struktur psikologis (Salkind, 2009: 311). Piaget mengemukakan bahwa perkembangan merupakan proses kontinyu yang ditandai dengan berbagai perubahan mendadak dari tahapan satu ke selanjutnya. Setiap tahap tidak bisa dilompati karena urutan perkembangan sudah pasti dan saling mempengaruhi antara tahap satu dengan tahap selanjutnya (Salkind, 2009: 325). Tahap perkembangan kognitif oleh Piaget dibagi menjadi 4, yaitu: tahap sensorimotorik (usia 0-2 tahun), tahap pra-operasional (usia 2-7 tahun), tahap konkret operasional (usia 7-11 tahun), dan tahap operasional formula (usia 11 tahun ke atas) (Desmita, 2009: 101). Tabel 2.1 memaparkan tahap perkembangan kognitif menurut Piaget beserta deskripsi perkembangan yang terjadi dalam setiap tahap. Tabel 2.1 Tahap Perkembangan Manusia Menurut Piaget (Desmita, 2009: 101) Tahap Usia Deskripsi Perkembangan 1. Sensori Motor 0 – 2 tahun Bayi bergerak dari tindakkan reflek instinktif saat lahir sampai permulaan pemikiran simbolis. Pembangunan pemahaman didasarkan pada pengalaman-pengalaman sensor dan tindakkan fisik. 2. Pra-operasional 2 – 7 tahun Anak mulai merepresentasikan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. 3. Operasional 7 – 11 tahun Anak mulai berpikir secara logis mengenai Konkret peristiwa-peristiwa konkret dan mengklasifikasikan benda-benda ke dalam bentuk yang berbeda. 4. Operasional 11 – hingga Remaja mulai berpikir dengan cara yang lebih Formal dewasa abstrak, logis, dan lebih idealistik. Tabel 2.1 menjelaskan tahap perkembangan kognitif menurut Piaget. Tahap pertama adalah sensori motorik. Tahap sensori motorik terjadi ketika bayi berusia

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12 0-2 tahun. Pada tahap ini bayi membentuk pemahaman yang dilandaskan pada pengalaman sensorik. Pengalaman sensorik didapatkan dari pengoptimalan panca indera untuk melakukan gerakan dan interaksi dengan orang atau benda di sekitar. Contoh penerapan tahap ini adalah bayi menggenggam atau menghisap suatu benda. Tahap perkembangan kognitif yang kedua adalah pra-operasional. Tahap pra-operasional terjadi pada usia 2-7 tahun. Di dalam tahap ini anak mulai merepresentasikan kata-kata dan gambar-gambar. Kata ataupun gambar yang dijumpai anak akan dijadikan media mendapat pengalaman dan berkomunikasi dengan lingkungannya. Perkembangan tersebut menunjukkan peningkatan simbolis yang melampaui hubungan informasi sensor dan tindakan fisik. Tahap ketiga adalah tahap operasional konkret. Tahap ini terjadi pada anak usia 7-11 tahun. Anak mulai berpikir secara logis mengenai peristiwa yang konkret. Anak juga sudah mulai mampu mengklasifikasikan benda-benda ke dalam berbagai jenis bentuk yang berbeda-beda. Anak dalam tahap operasional konkret tidak mampu melaksanakan operasi yang bersifat abstrak karena masih kesulitan dalam mengaitkan konsep abstrak dengan pengalaman konkret. Strategi pendidikan bagi anak operasional konkret semestinya tidak menganggap bahwa anak mampu belajar tanpa menggunakan pengalaman yang berlandaskan tindakan nyata (Salkind, 2009: 346). Tahapan yang terakhir terjadi pada usia 11 tahun hingga dewasa. Tahapan tersebut adalah tahap operasional formal. Pada tahap ini remaja mulai mampu memecahkan masalah dan analisis sistematis. Kebanyakan dari mereka dapat

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13 menangani berbagai persoalan abstrak mengenai situasi-situasi yang berlawanan dengan fakta. Pemikiran remaja ditandai dengan kepekaan terhadap orang lain, kemampuan menghadapi pertentangan, dan kemampuan untuk menangani logika tingkat tinggi (Salkind, 2009: 350). Tokoh kedua yang menjelaskan tentang tahapan perkembangan anak adalah Maria Montessori. Sedikit berbeda dengan Piaget, Motessori membagi tahap perkembangan anak menjadi tiga tahapan, yaitu umur 0-6 tahun, 6-12 tahun, dan 12-18 tahun (Montessori, 2008: XII). Montessori menamai tahap pertama dengan sensorials explorers, tahap kedua reason explorers, dan tahap ketiga dinamakan humanistic explorers. “In the first plane of information, children are “senorials explorer”; in the second, they are “reason explorers”. Now, in the third plane, they became “humanistic explorers”, interested in the quality of society for themselves and for others peoples of the world” (Lillard, 1996: 154). Tahapan yang pertama adalah tahap usia 0-6 tahun. Usia 0-6 tahun disebut dengan masa sensorials explorers. Pada tahap sensorials explorers anak banyak menggunakan panca indera untuk mendapatkan pengalaman baru. Usia 0-6 tahun adalah usia emas bagi anak-anak. Anak mulai belajar melakukan gerak, berlatih tentang keteraturan, menyayangi lingkungan, serta sangat peka terhadap sesuatu yang bersifat mendetail dan bilangan atau angka. Tahap kedua disebut dengan reason explorers. Anak berada pada tahap kedua ketika berusia 6-12 tahun. Pada tahap ini, anak mulai peka terhadap hal yang bersifat logika dan pembenaran. “Younger children ask “why” but they are in effect asking “what”, “what is that”, “what is it called”. In the words, they are searching for fact rather than the

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14 reasons behind those facts” (Lillard, 1996: 47). Anak mulai bereksplorasi tentang pengetahuan melalui hal-hal konkret yang ditemui. Tahap ketiga ialah 12-18 tahun. Tahap ini disebut humanistic explorers. Pada tahapan ini, anak akan mengalami kematangan fisik dan mulai mencari model ideal yang akan menjadi idolanya dan menjadikannya acuan untuk diikuti. b. Tahap Perkembangan Siswa Sekolah Dasar Rata-rata usia anak Indonesia ketika memasuki sekolah dasar adalah 6 tahun dan selesai menjalani pendidikan pada usia 12 tahun (Desmita, 2009: 35). Usia 6 tahun sampai 12 tahun masuk pada tahap operasional konkret menurut Piaget dan masuk pada tahap kedua menurut Montessori. Piaget memaparkan bahwa anak usia sekolah dasar memiliki pemikiran operasional konkrit karena sudah mampu melakukan aktivitas mental mengenai hubungan-hubungan logis dari berbagai konsep yang difokuskan pada objek ataupun peristiwa konkret (Desmita, 2007: 156). Montessori berpendapat bahwa anak yang berada pada tahap kedua mulai mencari pengetahuan-pengetahuan baru melalui hal-hal konkret di sekitarnya (Lillard, 1996: 47). Kesamaan yang ada dalam kedua tahap dari masing-masing ahli adalah anak mulai mampu berpikir logis, mencari penjelasan, dan pengetahuan dari pengalaman-pengalaman konkret yang dialaminya. 2. Metode Montessori Pada sub bab metode Montessori akan dipaparkan teori mengenai sejarah metode Montessori, dan metode Montessori. Sejarah metode Montessori menjabarkan asal terciptanya metode Montessori. Metode Montessori membahas berbagai aspek yang berkaitan dengan metode Montessori.

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI a. 15 Sejarah Metode Montessori Maria Montessori adalah dokter dan ahli pendidikan dari Italia. Ia lahir pada tahun 1870 dan meninggal pada tahun 1952 (Lillard, 1996: 4). Montessori sempat tinggal di beberapa Negara seperti Itali, Spanyol, India, dan Netherland selama perang dunia berlangsung. Selama ia berpindah-pindah tersebut, Montessori mencoba memahami anak-anak dari berbagai kebudayaan. Sampai pada akhirnya Montessori berminat untuk membantu anak berkebutuhan khusus di daerah kumuh Roma dengan mendirikan sekolah yang diberi nama Casa Dei Bambini. Maria Montessori mengungkapkan bahwa metode pembelajaran yang Ia ciptakan adalah metode yang mengembangkan kebebasan berkarakter dengan cara yang mengagumkan dan luar biasa (Montessori, 2002: 33). Maria Montessori mengajarkan anak-anak mengenai kebenaran yang mendasar tentang tata bahasa, matematika, biologi, dll. Anak-anak belajar dengan baik melalui nomenclature dan hasil perkerjaan mereka sangat terstruktur. Montessori menjelaskan bahwa dalam pembelajarannya, anak belajar dengan terstruktur, berfokus pada suatu proyek tertentu, dan anak memiliki kebebasan untuk kapan dan hal apa yang ingin mereka pelajari. Pembelajaran Montessori juga merupakan belajar penemuan. Belajar penemuan tersebut dibantu dengan alat peraga yang didesain secara eksplisit dapat memberikan makna bagi anak-anak (Lillard, 2005: 328). Dapat disimpulkan bahwa metode Montessori adalah metode pembelajaran yang berpijak pada kebutuhan dan kebebasan anak dengan menerapkan belajar penemuan melalui alat peraga yang dapat mengembangkan panca indera.

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. 16 Metode Montessori Susanto (2013: 43-44) menjelaskan bahwa metode pembelajaran adalah cara yang digunakan guru dalam mengorganisasikan kelas atau dalam menyajikan bahan pelajaran. Metode diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Adanya metode tersebut dapat memudahkan siswa untuk menerima dan memahami materi pelajaran yang diberikan oleh guru. Madjid (dalam Susanto, 2013:44) menekankan bahwa metode pembelajaran hendaknya memiliki prinsip-prinsip kegiatan belajar mengajar yaitu: (a) berpusat pada siswa (student centered); (b) belajar dengan melakukan (learning by doing); (c) mengembangkan kemampuan sosial; (d) mengembangkan keingintahuan dan imajinasi; dan (e) mengembangkan kreativitas dan keterampilan memecahkan masalah. Lillard (2005: 128) mengemukakan bahwa metode pembelajaran Montessori membebaskan siswa untuk belajar dan bekerja sesuai dengan keinginannya masing-masing. Di sini, guru hanya berperan sebagai fasilitator saja. Jika siswa ingin melakukan suatu kegiatan, guru hanya boleh mengawasi atau membantu jika diperlukan. Montessori mengungkapkan 8 prinsip pendidikan yang ia ciptakan (Lillard, 2005: 29). Prinsip yang pertama ialah konsep gerak (motorik) dan kognitif berhubungan begitu erat karena gerak dapat berpengaruh pada proses berpikir dan belajar. Konsep ini menjadi alasan alat peraga Montessori dibuat berdasarkan pada gerak motorik anak. Alat-alat peraga Montessori sengaja dibuat untuk membantu siswa mengeksplorasi inderanya. Prinsip yang kedua yaitu kontrol indera dalam kehidupan dapat mendukung siswa untuk belajar menjadi baik.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17 Panca indera manusia berfungsi menerima informasi baru dari lingkungan sekitarnya, maka panca indera sangat penting bagi perkembangan siswa. Prinsip ketiga berfokus pada ketertarikan siswa. Montessori beranggapan bahwa siswa akan dapat belajar lebih baik jika mereka tertarik dengan apa yang sedang mereka pelajari. Prinsip yang keempat, pemberian penghargaan ekstrinsik untuk sebuah kegiatan, misalkan uang untuk membaca ataupun nilai tinggi untuk sebuah tes yang diberikan, merupakan motivasi yang berdampak negatif untuk mendorong aktivitas tersebut. Penghargaan-penghargaan tadi membuat siswa senang, namun jika yang terjadi adalah kebalikkannya maka siswa akan kecewa. Kekecewaan yang siswa rasakan akan dapat mempengaruhi motivasi belajarnya. Prinsip pembelajaran Montessori yang kelima adalah pengacakan secara kolaboratif dapat membuat keadaan sangat kondusif untuk belajar. Keadaan kelas Montessori memiliki siswa dengan umur bervariasi sehingga dapat terjadi pembelajaran secara tentor sebaya. Prinsip keenam adalah belajar dengan hal konkret akan lebih bermakna bagi siswa daripada belajar dengan konsep abstrak. Hal konkret akan membantu siswa, khususnya pada tahap usia anak-anak untuk memahami pengetahuan dan informasi baru yang siswa dapatkan dari lingkungan sekitar. Interaksi anak dengan orang dewasa menjadi prinsip ketujuh pembelajaran Montessori. Bentuk-bentuk interaksi khusus orang dewasa akan terasosiasi oleh anak dan dapat dilihat pada output anak. Contoh interaksi anak dengan orang dewasa adalah interaksi siswa bersama guru. Interaksi yang terjalin tersebut dapat membentuk output siswa, maka interaksi harus dijalin dengan sebaik mungkin. Prinsip pembelajaran Montessori yang kedelapan adalah lingkungan. Lingkungan

(35) 18 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI di sekitar siswa sangat bermanfaat. Lingkungan yang telah dikondisikan sesuai dengan kebutuhan siswa akan mendorong siswa untuk belajar dengan mandiri. Metode Montessori sangat erat hubungannya dengan adanya alat peraga. Melalui alat peraga, panca indera anak diasah. Alat peraga tersebut diproduksi oleh Montessori sendiri dengan mendasarkan pada pemikiran Jean Itard dan Edouard Seguin (Hainstock, 1997: 13). Montessori menciptakan alat peraga sesuai dengan keterampilan yang ada dalam tahap perkembangan anak, yaitu keterampilan hidup sehari-hari, bahasa, matematika, geografi, kesenian, pengetahuan alam, dan budaya. Beberapa teori yang telah terpapar dapat menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa metode Montessori ialah cara penyampaian pembelajaran yang diciptakan Montessori untuk membantu siswanya memahami pengetahuan baru. Karakteristik metode pembelajaran Montessori adalah memegang 8 prinsip yaitu mengutamakan gerak, mengeksplor panca indera, belajar sesuai ketertarikan siswa, tidak ada pemberian penghargaan, pengacakan kolaboratif, belajar dengan hal konkret, interaksi dengan orang dewasa, dan lingkungan sekitar yang mendukung. Prinsip-prinsip tersebut dijalankan untuk membatu siswa dalam menyerap pengetahuan dan pembelajaran baru yang diterima. 3. Alat Peraga Matematika Berbasis Metode Montessori a. Pengertian Alat Peraga Matematika Alat peraga merupakan alat-alat yang dapat digunakan guru ketika mengajar untuk membantu memperjelas materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa sehingga verbalisme pada diri siswa dapat dicegah (Usman, 2011: 31). Alat

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19 peraga merupakan bagian dari media pembelajaran yang memperlancar proses pembelajaran (Anitah, 2010: 83). Sadiman, Rahardjo, Anung, dan Raharjito (2009: 7) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai penyalur pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat siswa sehingga terjadi proses belajar. Beberapa pengertian alat peraga dari ahli dapat mengarahkan bahwa alat peraga matematika adalah alat yang digunakan untuk memperjelas materi pelajaran matematika sehingga mempermudah siswa untuk dalam memahami materi karena dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat siswa dalam belajar. Ada banyak keuntungan jika dalam pembelajaran matematika menggunakan alat peraga (Suherman, 2003: 243). Keuntungan pertama yang didapat dalam penggunaan alat peraga matematika ialah kegiatan belajar mengajar lebih termotivasi. Siswa yang mempunyai motivasi belajar akan cenderung senang untuk belajar. Keuntungan kedua adalah konsep abstrak matematika tersaji dalam bentuk konkret. Bentuk konkret yang ditemui siswa membantu siswa untuk memahami materi baru yang diterima. Keuntungan lainnya adalah merangsang siswa untuk berpikir, merangsang siswa menjadi aktif, merangsang siswa untuk memecahkan masalahnya sendiri. Rangsangan yang ditimbulkan alat peraga tersebut dapat membuat siswa lebih mendalami materi yang dipelajari. b. Alat peraga matematika berbasis metode Montessori Alat peraga diciptakan oleh Montessori sendiri berdasarkan hasil observasi terhadap anak didiknya di Casa dei Bambini (Montessori, 2002: 36&81). Menurut

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20 Montessori, alat peraga adalah material yang ditujukan untuk siswa sebagai bantuan belajar yang didesain secara sederhana, menarik, memungkinkan untuk dieksplorasi, memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar secara mandiri, dan memperbaiki kesalahan mereka sendiri (Lillard, 1997:11). Semua alat peraga Montessori ditujukan demikian begitu juga dengan alat peraga matematikanya. Alat peraga matematika berbasis metode Montessori tidak didesain untuk mengajar matematika namun ditujukan untuk dapat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan matematikanya (Lillard, 1997: 137). Kemampuan siswa yang dikembangkan seperti memahami perintah, memahami urutan, mengenal hal yang abstrak dan memiliki kemampuan untuk menyatukan semuanya itu menjadi sebuah temuan yang baru. Alat peraga matematika Montessori memang didesain dengan sederhana dan menarik sesuai dengan konsep pemikiran Montessori sendiri (Montessori, 2002: 169-175). Siswa diberi kesempatan secara utuh dan mandiri mengeksplorasi alat peraga tersebut dan melakukan perbaikan pada kesalahannnya sendiri tanpa harus dikoreksi orang lain. Berdasar pada teori-teori yang telah terpapar dapat disimpulkan bahwa alat peraga matematika berbasis metode Montessori adalah alat yang dirancang sendiri oleh Montessori guna menyampaikan pembelajaran matematika kepada siswa dengan memperhatikan ketertarikan siswa dan sederhana sehingga siswa berminat mengeksplorasi diri secara utuh dan mandiri. c. Karakteristik alat peraga matematika berbasis metode Montessori Alat peraga Montessori memiliki karakteristik khusus yang membedakan dengan alat peraga lain. Montessori membuat alat peraga dengan 4 karakteristik

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21 utama yaitu, 1) menarik, 2) bergradasai, 3) auto education, 4) auto correction (Montessori, 2002: 169-175). Dalam penelitian ini, karakteristik kontekstual pada alat peraga ditambahkan oleh peneliti. Ciri kontekstual ditambahkan sebagai usaha untuk semakin dekat dengan sistem pembelajaran di Indonesia. Karakteristik yang pertama adalah menarik. Alat peraga Montessori diciptakan semenarik mungkin sehingga ketika anak melihat akan tertarik menggunakannya. Agar menarik, alat peraga Montessori menggunakan warnawarna yang indah. Warna-warna yang dipakai pada alat peraga Montessori merupakan warna yang lembut, terang dan menunjukkan langsung ketika ada ketidakharmonisan dengan lingkungan sekitarnya seperti adanya coretan atau noda. Sentuhan anak terhadap alat peraga menciptakan pembelajaran sensorial atau education of senses dalam metode Montessori (Montessori, 2002: 174). Karakteristik yang kedua adalah memiliki gradasi atau bergradasi. Terdapat dua jenis gradasi menurut Montessori, yang pertama adalah gradasi umur. Maksud dari gradasi umur adalah alat peraga dibuat bervariasi sesuai dengan jenjang kelasnya. Gradasi yang kedua adalah gradasi rangsangan. Alat peraga Montessori memiliki rasional rangsangan yang bergradasi (Montessori, 2002: 175). Konsep gradasi bukan sekedar perbedaan warna, tetapi terletak pada keterlibatan indera yang lebih dari satu dalam pembelajaran Montessori sehingga memunculkan rangsangan rasional yang bergradasi. Dua hal yang tampak pada alat Montessori berkaitan dengan karakteristik ini adalah bentuk dan warna alat. Kedua hal tersebut mampu melibatkan lebih dari satu indera pada anak ketika menggunakan alat tersebut.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22 Karakteristik selanjutnya adalah auto education. Montessori begitu detil dalam merancang alat peraganya. Setiap alat peraga Montessori diciptakan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak, baik dari segi ukuran maupun beratnya sehingga anak nyaman dalam menggunakannya. Tujuan dari hal ini adalah anak dapat bekerja menggunakan alat peraga dengan mandiri, dengan demikian anak dapat mengetahui sendiri suatu konsep atau pengetahuan baru melalui bekerja menggunakan alat peraga. Karakteristik alat peraga Montessori yang keempat adalah memiliki nilai pengendali kesalahan atau auto correction. Karakteristik auto correction adalah karakteristik khas yang tidak dimiliki alat peraga lainnya. Tujuan dari adanya pengendali kesalahan adalah anak dapat mengetahui dengan sendirinya tanpa diberitahu oleh orang lain ketepatan dan kebenaran dari aktivitas yang dilakukannya bersama alat peraga tersebut. Sebagai contoh pada permainan menggunakan incastri solidi. Ketika anak memasukkan incastri pada lubang yang tidak tepat maka yang terjadi adalah incastri tidak dapat masuk ke dalam lubang atau incastri dapat masuk ke dalam lubang tetapi dengan menyisakan tempat yang longgar. Anak akan menyadarinya kemudian mengeluarkan kembali incastri tersebut dan mencoba memasukkan pada lubang yang lain. Anak akan mengulang permainan ini sampai beberapa kali hingga anak dapat memasukkan incastri pada lubang yang tepat dan merasa puas (Montessori, 2002: 171). Dari permainan tersebut anak dapat mengetahui sendiri kesalahan yang dilakukannya dan memperbaiki kesalahannya tanpa harus diberitahu oleh orang lain.

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23 Penerapan alat peraga matematika Montessori di Indonesia memunculkan karakteristik yang ke lima yaitu kontekstual. Karakteristik kontekstual muncul untuk menjembatani pembuatan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. Alat peraga Montessori yang asli terbuat dari kayu yang tidak ada di Indonesia, maka kontekstual memungkinkan pembuatan alat peraga dari bahan lain yang dekat dengan lingkungan sekolah. Nilai kontekstual juga diharapkan dapat membuat siswa merasa mengenal alat peraga tersebut sehingga mudah beradaptasi dengan alat dan mudah menggunakan. d. Alat Peraga Papan Penjumlahan Pengurangan Montessori Alat peraga yang digunakan dalam penelitian ini bernama papan penjumlahan pengurangan Montessori. Papan penjumlahan pengurangan Montessori merupakan replika dari alat peraga Montessori yang bernama papan titik Montessori (Nienhuis, 2012). Papan penjumlahan pengurangan Montessori terbuat dari kayu dan kertas yang dibentuk sedemikian rupa. Papan penjumlahan pengurangan berbasis metode Montessori terbuat dari bahan dasar kayu Mahoni yang dilengkapi dengan manik-manik kayu berwarna merah dan biru, serta kartu soal. Kartu soal dilengkapi dengan kunci jawaban pada bagian belakang kartu. Alat peraga papan penjumlahan pengurangan Montessori ini digunakan guru dan siswa untuk memahami materi penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka di kelas I semester 2. Materi penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka sesuai standar kompetensi 4 yaitu “melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai dua angka dalam pemecahan masalah” dan kompetensi dasar 4.4 “melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua

(41) 24 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI angka. Gambar papan penjumlahan pengurangan Montessori akan disajikan dalam gambar 2.1. Gambar 2.1 Papan Penjumlahan Pengurangan Montessori Gambar 2.1 menampilkan alat peraga papan penjumlahan pengurangan Montessori. Papan penjumlahan pengurangan Montessori terdiri dari lima bagian. Bagian-bagian dari papan penjumlahan pengurangan Montessori yaitu : a) papan titik, b) manik-manik bilangan, c) kotak untuk menyimpan manik-manik bilangan, d) kartu alat peraga yang terdiri dari kartu soal/ kunci jawaban, kartu operasi hitung, dan kartu indikator, serta e) kotak untuk menempatkan kartu alat peraga. 4. Pembelajaran Matematika Susanto (2013: 185-18) menyatakan bahwa pembelajaran adalah komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh guru sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik. Surya (2006: 62) memaparkan bahwa pembelajaran merupakan suatu proses yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan perilaku baru. Perilaku tersebut sebagai hasil dari pengalamannya dalam interaksi

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25 dengan lingkungan. Pembelajaran yang akan dibahas adalah pembelajaran matematika, maka pada sub bab ini membahas tentang pengertian matematika, tujuan pembelajaran matematika, dan materi penjumlahan dan pengurangan dua angka. a. Pengertian Matematika Soedjadi (2000: 11) memberikan pendapat bahwa matematika merupakan suatu ilmu yang memiliki objek abstrak, bertumpu pada kesepakatan dan berpola pikir deduktif. Beliau juga menyampaikan bahwa matematika adalah cabang ilmu eksak dan teroganisir secara sistematik yang mencakup tentang bilangan dan kalkulasi, penalaran logis, tentang fakta kuantitatif, masalah tentang ruang, bentuk, mengenai struktur yang logis serta memiliki aturan yang ketat (Soedjadi, 2000: 24). Pakar lain yang menyampaikan pendapatnya mengenai matematika yaitu Susanto. Beliau memaparkan bahwa matematika merupakan kumpulan ide abstrak yang isinya simbol-simbol. Simbol-simbol tersebut dapat dipahami hanya jika sudah memahami konsep pokoknya (Susanto, 2013: 183). Penjelasan-penjelasan dari para ahli dapat dapat dijadikan landasan untuk menyimpulkan bahwa pembelajaran matematika adalah suatu proses kegiatan belajar dan mengajar yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan perilaku yang mencakup tentang bilangan, kalkulasi, penalaran logis, fakta kuantitatif, keruangan, bentuk, struktur logis, dan pemahaman atas simbol-simbol yang digunakan.

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. 26 Tujuan Pembelajaran Matematika Ekawati (2011: 10) memaparkan pendidikan matematika mempunyai dua tujuan, yaitu pertama bersifat formal, menekankan pada penalaran nalar serta pembentukan kepribadian. Tujuan kedua bersifat material, sifat ini penekanannya pada penerapan matematika serta keterampilan matematika. Tujuan umum matematika lebih menitik beratkan pada penalaran dan penanaman sikap (Suherman, 2003: 58). Penalaran dan sikap menjadi fokus karena kedua aspek tersebut karena dengan penalaran dan sikap yang benar akan membatu siswa dalam memahami konsep matematika sehingga mampu mengerjakan semua jenis soal matematika. Tujuan matematika pada pendidikan sekolah dasar adalah mengupayakan siswa agar dapat menggunakan matematika pada kehidupannya (Susanto, 2013: 189). Standar isi kurikulum KTSP menuangkan tujuan pembelajaran matematika ialah mengupayakan siswa dapat memahami konsep matematika (BSNP, 2006: 417). Tujuan matematika yang lain adalah mengasah kemampuan siswa untuk memecahkan masalah. Kemampuan pemecahan masalah dinilai penting karena pada umumnya hal-hal yang menuntut untuk diselesaikan siswa adalah sebuah permasalahan yang harus dipecahkan. Membuat siswa mampu menerapkan pengetahuan matematikanya dalam kehidupan sehari-hari juga merupakan tujuan matematika. Permasalahan matematika akan banyak muncul dikehidupan seharihari, misalnya jual beli dan pengukuran terhadap suatu benda. Mengacu pada teori mengenai tujuan matematika yang telah terpapar dapat dikatakan bahwa inti dari tujuan pembelajaran matematika adalah penguasaan konsep metematika dengan

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27 menggunakan penalaran dan penanaman sikap untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dari seorang siswa. b. Materi Operasi Penjumlahan dan Pengurangan Dua Angka Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka. Operasi Penjumlahan adalah penambahan sekelompok bilangan atau lebih menjadi satu bilangan yang merupakan jumlah. Operasi pengurangan adalah kebalikan dari operasi penjumlahan, opersi pengurangan mengurangkan suatu bilangan dengan bilangan yang ditentukan sehingga menjadi jumlah bilangan yang baru (Susanto, 2013). Operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka dari bilangan 50 sampai 100 (Amin dan Zaini, 2007: 44-50). Operasi bilangan dua angka yang dipelajari adalah operasi dengan teknik tanpa menyimpan, teknik dengan menyimpan, teknik tanpa meminjam, dan teknik dengan meminjam. Materi tersebut berada pada pada standar kompetensi 4.Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai dua angka dalam pemecahan masalah dan kompetensi dasar 4.4 Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka (Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006: 130). 5. Prestasi Belajar Hal-hal yang akan diuraikan dalam sub bab prestasi belajar meliputi teori belajar, pengertian belajar, pengertian prestasi belajar, dan faktor yang mempengaruhi prestasi belajar.

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI a. 28 Teori Belajar Ada banyak teori belajar yang dikemukakan oleh para ahli. Teori-teori tersebut mengalami perkembangan seiring perkembangan zaman dan dunia. Teori yang dibahas dalam penelitian ini ada dua yaitu kognitivisme dan konstruktivisme. Kedua teori dibahas karena dianggap sejalan dengan penelitian ini. 1) Teori Kognitivisme Teori kognitivisme pada hakekatnya adalah teori yang menjelaskan hal-hal yang bekaitan dengan kemampuan manusia dalam memahami pengalamanpengalamannya sehingga menjadi bermakna bagi manusia. “Kognitivisme meyakini bahwa belajar adalah hasil dari usaha individu dalam memaknai pengalaman-pengalamannya yang berkaitan dengan dunia disekitarnya” (Jamaris, 2013: 125). Belajar pengetahuan meliputi tiga fase, yaitu eksplorasi, pengenalan konsep, dan aplikasi konsep (Dimyati & Mudjiono, 2006: 14). Pada fase eksplorasi, siswa mempelajari gejala yang ia temukan. Fase pengenalan konsep digunakan siswa untuk mengenal konsep yang berhubungan dengan gejala yang ditemukan. Pada fase aplikasi konsep, siswa menggunakan konsep yang disimpulkan untuk meneliti gejala lain. Ahli yang menganut teori kognitivisme ialah Jean Piaget, Jerome Brunner, Kurt Lewin, Robert M. Gagne, dan David P. Ausubel. Gagne berpendapat bahwa belajar merupakan seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulan dari lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapabilitas baru yang berupa keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai (Dimyati & Mudjiono, 2006: 10).

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2) 29 Teori Konstruktivisme Kontruktivisme merupakan pendekatan dalam psikologi yang berkeyakinan bahwa siswa dapat membangun pemahaman dan pengetahuan sendiri tentang dunia sekitarnya melalui pengalaman-pengalamannya (Jamaris, 2013: 148). Tokoh yang menganut teori belajar konstruktivisme diantaranya J. J. Bruner, Jean Piaget, dan Vygotsky. J.J. Bruner berpendapat bahwa alangkah baiknya jika sekolah dapat menyediakan kesempatan bagi siswanya untuk maju dengan cepat sesuai dengan kemampuan siswa dalam suatu mata pelajaran (Slameto, 1988: 13). Lingkungan yang hendaknya disediakan sekolah adalah lingkungan yang memungkinkan siswa untuk melakukan eksplorasi dan menemukan penemuan baru. Bruner mempertegas bahwa dalam membangun pengetahuannya, siswa memilih memperkuat pengetahuannya melalui berbagai kegiatan, seperti mengajukan hipotesis dan membuat berbagai keputusan untuk hal-hal baru yang ditemuinya (Jamaris, 2013: 149). Piaget mengungkapkan gagasan yang sejalan dengan Bruner. Piaget berpendapat bahwa kemampuan berpikir siswa diperoleh dari berbagai pengalaman dalam melaksanakan tindakan guna pemecahan masalah sehingga siswa aktif membangun pengetahuannya sendiri (Jamaris, 2013: 151). Kedua teori beranggapan bahwa siswa memiliki kemampuan kognitif untuk memahami ataupun mengerti hal-hal di sekitarnya secara mandiri. Teori kognitivisme berpandangan bahwa setiap siswa memiliki kemampuan berpikir untuk memaknai pengalaman-pengalaman yang ditemui sehingga dapat menjadikannya keterampilan dan pengetahuan baru. Sejalan dengan teori kognitif,

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30 teori kontruktivisme memandang bahwa siswa dengan bekal kognitif yang dimilikinya mampu membangun pemahaman dan pengetahuan dengan membelajarkan dirinya sendiri secara mandiri. Kedua teori ini dijadikan landasan dalam penelitian ini dalam memaknai proses belajar yang dilakukan para siswa. b. Pengertian Belajar Pendidikan tidak akan terlepas dengan kegiatan belajar karena mereka adalah satu kesatuan. Mustaqim (2008: 34) mengartikan belajar sebagai perubahan tingkah laku yang relatif tetap, hal tersebut terjadi karena latihan dan pengalaman. Pengalaman tersebut tidak terbatas dalam ruang kelas, namun diberbagai keadaan. Ahli lain yang mengemukakan pendapat mengenai belajar adalah Sri Esti Wuryani Djiwandono. Beliau merumuskan bahwa belajar yaitu suatu perubahan pada diri individu yang disebabkan oleh pengalaman (Djiwandono, 2006: 120). Perubahan-perubahan yang terjadi dapat menjadi baik ataupun buruk bergantung pada proses belajar yang dilakukan. Belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan oleh individu dengan sengaja dan dalam keadaan sadar untuk memperoleh konsep, pemahaman, ataupun pengetahuan baru (Susanto, 2013: 4). Proses tersebut memungkinkan terjadinya perubahan perilaku dalam diri individu yang relatif tetap, baik dalam berpikir, merasa, maupun bertindak. Berlandaskan beberapa pedapat ahli yang telah terpapar, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah aktifitas sadar dan pengalaman yang dilakukan seseorang untuk memperoleh konsep dan pengetahuan baru sehingga dapat mengubah tingkah laku diri yang relatif tetap.

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI c. 31 Pengertian Prestasi Belajar Setelah dilakukan sebuah pembelajaran, perhatian terpusat pada hasil dari proses tersebut. Widiyoko (2009: 25-28) merumuskan bahwa hasil belajar merupakan perubahan yang terjadi pada diri siswa sebagai akibat kegiatan pembelajaran. Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui proses pembelajaran (Susanto, 2013: 5). Hasil belajar yang didapatkan siswa berupa pemahaman konsep, keterampilan proses, dan sikap siswa. Pencapaian hasil belajar yang dinilai tinggi dapat disebut sebagai sebuah prestasi. Prestasi belajar adalah hasil usaha belajar yang dilakukan, pada umumnya berkenaan dengan pengetahuan (Arifin, 2009: 12). Djamarah (2002) berpendapat bahwa prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh dari aktivitas belajar berupa hal yang berkesan dan mengakibatkan perubahan dalam diri individu. Hal yang berkesan dipertegas oleh Sudjana (2005: 3) dengan mengatakan bahwa prestasi belajar ialah hasil belajar yang dicapai oleh siswa dengan kriteria tertentu sehingga untuk mengetahui tingkat prestasi belajar maka perlu dilakukan evaluasi belajar. Prestasi belajar sesungguhnya adalah hasil belajar, namun pada umumnya hanya mengarah pada aspek kognitif saja. Berlandaskan pendapat beberapa ahli yang terpapar dapat dikatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil dari suatu proses pembelajaran yang mencapai suatu kriteria tertentu yang dinilai baik atau tinggi. Pengukuran prestasi belajar dapat melalui evaluasi belajar yang berupa tes. Keputusan untuk mengetahui keberhasilan dalam mempelajari materi dapat dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes (Susanto, 2013: 5).

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI d. 32 Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Prestasi belajar adalah hasil belajar yang mengarah pada aspek kognitif saja sehingga dapat dikatakan faktor yang yang mempengaruhi hasil belajar sama dengan faktor yang mempengaruhi prestasi belajar. Teori Gestalt (dalam Susanto, 2013:12) menyatakan bahwa belajar merupakan suatu proses perkembangan yang bisa dipengaruhi oleh faktor diri siswa sendiri dan faktor lingkungan. Pendapat tersebut dapat menjadi dasar bahwa hasil belajar juga dipengaruhi oleh dua hal yakni siswa sendiri dan lingkungannya. Susanto (2013: 12) menarik kesimpulan bahwa faktor dari diri siswa sendiri antara lain kemampuan berpikir siswa atau tingkat intelektualnya, motivasi, minat, dan kesiapan siswa, sedangkan faktor lingkungan antara lain sarana dan prasarana, kompetensi guru, kreativitas guru, sumber belajar, metode, serta dukungan eksternal. Faktor dari diri siswa sendiri dapat disebut sebagi faktor internal. Faktor yang dapat dikatakan hampir sepenuhnya tergantung pada siswa yaitu kecerdasan anak, kesiapan anak, dan bakat anak (Susanto, 2013: 14). Faktor pertama adalah kecerdasan. Kecerdasan akan mempengaruhi cepat lambatnya penerimaan informasi ke anak. Potensi ini dibawa sejak lahir sehingga faktor genektiklah yang berperan. Faktor yang kedua adalah kematangan. Susanto (2013: 15) mengatakan bahwa kesiapan anak atau kematangan adalah tingkat perkembangan di mana individu atau organ-organ sudah berfungsi sebagaimana mestinya. Kematangan erat hubungannya dengan minat dan kebutuhan anak. Faktor yang ketiga adalah bakat anak. Bakat merupakan kemampuan potensial yang dimiliki anak. Tiap anak

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33 memiliki bakat atau potensi yang berbeda-beda. Jika bakat tersebut diasah dengan baik maka bakat tersebut berpotensi mencapai prestasi yang baik. Faktor eksternal dapat berasal dari keluarga, sekolah, dan masyarakat. Sekolah sebagai tempat belajar tentu memiliki peran yang cukup besar. Wasliman (dalam Susanto, 2013: 13) mengatakan bahwa sekolah merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan hasil belajar siswa. Semakin tinggi hasil belajar siswa, maka kualitas pengajaran di sekolah semakin baik. Berkaitan dengan pengajaran, guru adalah komponen yang sangat penting. Guru merupakan faktor eksternal yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Pribadi dan sikap guru yang kreatif dan penuh inovatif akan berpengaruh pada siswa (Susanto, 2013: 17). Salah satu peran guru yang cukup penting adalah merencanakan media dan sumber belajar. Pemanfaatan media dalam proses pembelajaran akan membantu siswa untuk memvisualisasikan hal-hal abstrak, mengasah rasa, merangsang kreativitas, menemukan pengetahuan, memaknai konsep dan lain-lain (Murwani dalam Susanto, 2013: 46). Faktor yang telah disebutkan di atas baru sebagian kecil saja. Masih banyak faktor internal dan eksternal lain yang dapat mempengaruhi hasil dan prestasi belajar. Faktor lain tersebut antara lain kondisi fisik siswa, kebiasaan belajar, sikap belajar, perhatian, minat dan motivasi, suasana pengajaran, dan lain-lain. B. Penelitian yang Relevan Penelitian tentang penggunaan alat peraga berbasis metode Montessori sudah pernah dilakukan oleh beberapa peneliti. Sebagai pendukung penelitian ini,

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34 penulis memaparkan empat penelitian yang relevan dengan penelitian ini. Keempat penelitian tersebut adalah penelitian milik Anggraheni (2010), Lestari (2013), Lopata (2005), Reza, Agung, dan Suniasih (2012). Anggraheni (2010) meneliti tentang peningkatan kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat melalui media manik-manik pada siswa kelas IV SD N Balangan Teras Boyolali. Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan dalam dua siklus dapat disimpulkan bahwa penggunaan media manik-manik dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat pada siswa kelas IV SD N Balangan Teras Boyolali tahun pelajaran 2009/2010. Terbukti dengan adanya peningkatan nilai rata-rata kelas, yaitu sebelum tindakan sebesar 52,82 pada siklus I naik menjadi 62,39 pada siklus II naik menjadi 76,73. Persentase ketuntasan sebelum tindakan 35% pada siklus I meningkat menjadi 60,86% pada siklus II meningkat menjadi 86,96%. Hasil penelitian yang kedua tersebut semakin meyakinkan peneliti bahwa penggunaan alat peraga berbasis Montessori dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Lestari (2013) melakukan penelitian tentang efektivitas alat peraga matematika. Alat peraga yang digunakan adalah kertas persegi satuan untuk materi luas persegi dan persegi panjang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keterlibatan, minat, dan pengaruh alat peraga dalam pembelajaran matematika. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian gabungan kuantitatif dan kualitatif. Subjeknya adalah siswa kelas III sekolah dasar. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh alat peraga terhadap keterlibatan siswa yang mencapai

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35 100%. Peningkatan juga terjadi pada minat yang besarnya 100%, namun tidak ada pengaruh alat peraga terhadap kemampuan siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Lestari dapat dijadikan referensi bagi penelitian ini. Metode yang digunakan lebih kaya karena menggabungkan dua metode. Lopata (2005) dalam artikel penelitiannya yang berjudul “Comparison of Academic Achievement Beetween Montessori and Traditional Education Programs” menyatakan bahwa metode Montessori dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang sebagian besar merupakan siswa minoritas dan berasal dari keluarga yang pendapatannya rendah. Lopata mengatakan,”Result of the study succes to support the hypothesis”, penelitian ini telah berhasil mendukung hipotesis. Hipotesis penelitian ini adalah metode Montessori dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini relevan dengan penelitian yang akan dilaksanakn oleh peneliti karena dalam penelitian ini juga mengukur tentang prestasi belajar siswa. Penjabaran hasil penelitian di atas dapat dijadikan landasan untuk menarik kesimpulan bahwa metode Montessori dan alat peraga montessori dapat berpengaruh dan meningkatkan prestasi belajar siswa dan alat peraga dapat meningkatkan minat belajar matematika siswa. Reza, Agung, dan Suniasih pada tahun 2012 menelaah tentang pengaruh kartu huruf berbasis Montessori dalam peningkatan kemampuan kognitif siswa. Hasil yang diperoleh adalah adanya peningkatan kemampuan kognitif anak kelompok B3 Taman Kanak-Kanak Kumara Jaya Denpasar Selatan semester II tahun pelajaran 2012/2013 setelah diterapkan model pembelajaran make a match dengan bantuan media kartu huruf pada siklus I sebesar 61,56% dan rata-rata hasil

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36 belajar kemampuan kognitif anak pada siklus II sebesar 88,39%. Ini menunjukan adanya peningkatan rata-rata persentase hasil belajar anak dari siklus I ke siklus II sebesar 26,83% yang berada pada kategori aktif. Berdasarkan penelitian tersebut, dapat diyakini bahwa alat peraga berbasis Montessori dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Tujuan penelitian milik Reza, Agung, dan Suniasih mirip dengan tujuan penelitian ini, maka penelitian dapat mendukung penelitian ini. Tujuan yang dicapai adalah mengetahui pengaruh penggunaan kartu huruf Montessori. Hasil dari penelitian juga dapat mendukung penelitian ini. Hasilnya adalah adanya peningkatan kemampuan kognitif siswa yang menggunakan kartu huruf, maka penelitian tersebut dapat mendukung penelitian ini. Wahyuningsih (2011) melakukan penelitian dengan metode penelitian quasi eksperimen yang berjudul “Pengaruh Model Pendidikan Montessori Terhadap Hasil Belajar Siswa” menyatakan bahwa model pendidikan montessori yang terapkan berpengaruh lebih baik terhadap hasil belajar siswa dibandingkan pembelajaran konvensional. Hasil penelitian di atas menunjukkan nilai rata-rata untuk kelas eksperimen adalah 66,89 dan untuk kelas kontrol nilai rata-ratanya adalah 36,61 atau dapat diartikan bahwa nilai rata-rata kelas untuk kelas eksperimen lebih tinggi dari nilai-rata-rata kelas kontrol. Penelitian tersebut memiliki relevansi dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti karena dalam penelitian Wahyuningsih tersebut menggunakan alat peraga berupa papan perkalian.

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Penelitian tentang alat peraga/metode Montessori Penelitian tentang materi penjumlahan dan pengurangan Reza, Agung, dan Suniasih (2012) yang berjudul “Pengaruh Kartu Huruf Berbasis Montessori dalam Peningkatan Kemampuan Kognitif Siswa” Anggraheni (2010) berjudul “Peningkatan Kemampuan Menghitung Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat Melalui Media Manik-Manik pada Siswa Kelas IV SD N Balangan 37 Penelitian tentang alat peraga matematika Lestari (2013) efektivitas alat peraga matematika kertas persegi satuan Teras Boyolali” Lopata (2005) dalam artikel penelitiannya yang berjudul “Comparison of Academic Achievement Beetween Montessori and Traditional Education Programs” Wahyuningsih (2011) yang berjudul “Pengaruh Model Pendidikan Montessori Terhadap Hasil Belajar Siswa” Perbedaan Prestasi Belajar Siswa atas Penggunaan Alat Peraga Berbasis Montessori Gambar 2.2 Literature map penelitian yang relevan Gambar 2.2 menunjukkan literature map penelitian yang relevan dengan penelitian ini. Penelitian relevan telah meneliti peningkatan kemampuan menghitung melalui media manik-manik (Anggraheni, 2010), pengaruh media berbasis metode Montessori dalam peningkatan kemampuan kognitif siswa (Reza, Agung, dan Sunarsih, 2012), peningkatan prestasi belajar siswa dengan metode

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38 Montessori (Lopata, 2005), efektivitas alat peraga matematika kertas persegi satuan (Lestari, 2013) dan pengaruh model pendidikan Montessori terhadap prestasi belajar siswa (Wahyuningsih, 2011). Penelitian tersebut relevan dengan penelitian ini pada bagian tujuan ataupun hipotesis penelitiannya. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian relevan adalah pengambilan variabel penelitian dan subyek penelitian. Belum ada penelitian relevan yang menggunakan alat peraga matematika berbasis metode Montessori dan belum ada yang memiliki subyek penelitian siswa kelas I. C. Kerangka Berpikir Matematika merupakan salah satu bidang ilmu yang dipelajari pada berbagai tingkat pendidikan. Ilmu matematika mengandung konsep-konsep yang wajib dimiliki seorang individu untuk mendukung memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Konsep yang terkandung dalam materi matematika adalah konsep abstrak yang sulit dipahami oleh anak. Pembelajaran matematika harus dibantu menggunakan sebuah alat peraga konkret agar siswa mudah memahami materi matematika yang bersifat abstrak. Melihat beberapa penelitian relevan ataupun teori oleh para ahli yang telah dipaparkan sebelumnya, dapat diketahui bahwa pendidikan Montessori menawarkan berbagai alat peraga yang mampu membantu siswa dalam memahami konsep abstrak matematika. Alat peraga yang ditawarkan memiliki karakteristik: (1) menarik, (2) bergradasi, (3) auto-education, (4) auto-correction,

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39 dan (5) kontekstual. Karakteristik yang dimiliki oleh setiap alat peraga membuat siswa mandiri dan belajar sesuai dengan kebutuhannya. Alat peraga akan menarik siswa dalam pembelajaran, sehingga siswa akan jauh lebih fokus belajar. Selain itu anak juga akan lebih senang dalam belajar, karena penggunaan alat peraga memungkinkan anak untuk belajar sambil bermain. Apabila kondisi pembelajaran berjalan sebagaimana mestinya, maka alat peraga berbasis Montessori akan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. D. Hipotesis Penelitian Hipotesis penelitian berisi tentang dugaan sementara yang akan terjadi pada penelitian. Hipotesis pada penelitian ini adalah ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori.

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Bab III akan membahas tentang jenis penelitian, desain penelitian, waktu dan tempat penelitian, variabel dan data penelitian, populasi dan sampel penelitian, teknik pengumpulan data, instrumen pengumpulan data, tekuji validitas dan realibilitas teknik pengujian instrumen, prosedur analisis data, dan jadwal penelitian. A. Jenis Penelitian Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan jenis quasi experimental. Pendekatan kuantitatif merupakan kumpulan metode yang digunakan untuk menguji teori tertentu dengan meneliti hubungan antar variabel menggunakan instrumeninstrumen penelitian. Data yang dihasilkan berupa angka-angka sehingga dianalisis dengan menggunakan prosedur analisis statistik (Creswell, 2012: 5). Penelitian quasi experimental menggunakan kelompok kontrol, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen (Sugiyono, 2011: 116). Jenis quasi experimental dipilih karena melihat subjek penelitian ini adalah siswa sehingga kondisi siswa tidak dapat dikontrol secara penuh dan tidak mampu diprediksi sebelumnya. Usaha yang dilakukan peneliti adalah mencari dua kelompok yang mampu mewakili populasi untuk digunakan sebagai kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Perbedaan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen adalah ada tidaknya perlakuan khusus 40

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41 yang dilakukan didalamnya. Perlakuan yang dikenakan berupa penggunaan alat peraga penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka berbasis metode Montessori dalam proses pembelajaran Matematika. Kelompok yang dikenai tindakan dinamakan kelompok eksperimen, sedangkan kelompok yang tidak dikenai tindakan dinamakan kelompok kontrol. B. Desain Penelitian Desain penelitian ini adalah non-equivalent control group design. Dikatakan demikian karena kedua kelompok dalam penelitian tidak sejenis atau non-equivalent. Tidak sejenis dipandang dari jumlah dan karakteristik siswa di dalamnya. Desain penelitian non-equivalent control group design membandingkan 2 kelompok yang mana kelompok tersebut sama-sama diberi pre-test dan post-test tetapi hanya kelompok eksperimen saja yang diberi perlakuan (Creswell, 2012: 242). Kedua kelompok yang terbentuk diberikan pre-test untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum dilakukan penelitian. Skor pre-test dari kedua kelas dibandingkan untuk melihat kemampuan awal siswa. Langkah selanjutnya adalah memberi perlakukan khusus yaitu penggunaan alat peraga matematika berbasis Montessori kepada kelompok eksperimen, sedangkan kelompok kontrol tidak diberi perlakuan tersebut. Pembelajaran dalam kelompok kontrol berjalan seperti biasanya tanpa penggunaan alat peraga. Alat peraga matematika berbasis metode Montessori yang digunakan dalam kelompok eksperimen adalah papan penjumlahan pengurangan. Guru yang berperan dalam kelompok tersebut adalah sama (1 orang)

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42 agar dapat dipastikan bahwa tidak ada perlakuan yang menyimpang dan tiak sejalan dengan penelitian. Kedua kelompok diberikan post-test sebagai langkah akhir setelah perlakuan dilaksanakan. Post-test digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh tindakan yang diberikan pada kelas ekperimen. Desain penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.1. O1 X O2 O3 x O4 Gambar 3.1. Desain Penelitian (Creswell, 2012: 242) Keterangan : O1 = Skor hasil pre-test kelompok eksperimen O2 = Skor hasil post-test kelompok eksperimen X = Perlakuan O3 = Skor hasil pre-test kelompok kontrol O4 = Skor hasil post-test kelompok kontrol Instrumen yang digunakan untuk pre-test dan post-test kelompok kontrol ataupun kelompok eksperimen adalah sama. Huruf X melambangkan perlakuan berupa penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori yang hanya diberikan pada kelompok eksperimen saja. Kelompok kontrol tidak diberi perlakuan berupa penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori sehingga pada bagian kelas kontrol tidak muncul huruf X.

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43 C. Waktu dan Tempat Penelitian Waktu dan tempat penelitian menjelaskan kapan penelitian dilaksanakan dan dimana penelitian dilaksanakan. Waktu penelitian memaparkan tanggal dan kegiatan ketika penelitian berlangsung. Tempat penelitian menunjukkan alamat sekolah yang digunakan untuk melaksanakan penelitian. 1. Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama 10 bulan dimulai pada bulan September 2013 hingga bulan Juni 2014. Jadwal penelitian dapat dilihati pada tabel 3.1. Pengambilan data berlangsung pada bulan Februari 2014 (lampiran 1). Waktu pengambilan data ini disesuaikan dengan jadwal yang ada di sekolah. Pengambilan data dimulai tanggal 4 Februari 2014 sampai tanggal 16 Februari 2014. Perlakuan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilakukan beriringan untuk mengantisipasi terjadinya bias penelitian. Alokasi setiap pertemuan adalah 2 JP (Jam Pertemuan). Waktu pengambilan data secara terperinci dapat dilihat pada tabel 3.1. Tabel 3.1 Waktu Pengambilan Data Kelompok Kelompok Eksperimen Kelompok Ekperimen Hari, Tanggal Selasa, 4 Februari 2014 Jumat, 7 Februari 2014 PerteMan I II Selasa, 12 Februari 2014 Jumat, 14 Februari 2014 III IV Selasa, 17 Februari 2014 V Kegiatan Pengamatan kelas dan pre-test Pengenalan alat, penjumlahan bilangan dua angka Pengurangan bilangan dua angka Penjumlahan dan pengurangan dua angka (siswa secara mandiri dalam kelompok menggunakan alat peraga untuk mengerjakan soal penjumlahan dan pengurangan) Pemberian post-test Alokasi Waktu 2 JP 2 JP 2 JP 2 JP 2 JP

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kelompok Kelompok Kontrol Hari, Tanggal Senin, 3 Februari 2014 Jumat, 7 Februari 2014 Senin, 10 Februari 2014 Jumat, 14 Februari 2014 PerteMan I II III IV Senin, 16 Februari 2014 V Kegiatan Pengamatan kelas dan pre-test Penjumlahan bilangan dua angka Pengurangan bilangan dua angka Penjumlahan dan pengurangan dua angka (siswa diberikan soalsoal mengenai penjumlahan dan pengurangan) Pemberian post-test 44 Alokasi Waktu 2 JP 2 JP 2 JP 2 JP 2 JP Tabel 3.1 menunjukkan waktu pengambilan data pada penelitian ini. Pertemuan yang dilaksanakan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah masingmasing sebanyak 5 pertemuan dengan alokasi waktu total 20 jam pelajaran. Pada pertemuan pertama digunakan untuk melakukan pre-test sedangkan pertemuan terakhir untuk melakukan post-test pada setiap kelas. Pembelajaran dilakukan masing-masing sebanyak tiga pertemuan atau selama 6 jam pelajaran. Jadwal penelitian menyesuaikan jadwal pembelajaran yang ada di sekolah. Kelas I menggunakan pendekatan tematik maka penentuan materi pelajaran dapat didiskusiakan dengan guru kelas. 2. Tempat Penelitian Penelitian dilakanakan di Sekolah Dasar Kanisius Sengkan. Sekolah tersebut beralamat di Jalan Kaliurang Km 7 RT 002/10, Condongcatur, Depok Kota Yogyakarta Kode pos 55283. Sekolah ini berada di utara pasar Kolombo jalan Kaliurang. Sekolah memiliki kelas sebanyak 13 kelas. 10 kelas terdiri dari kelas I sampai kelas V dengan dua paralel dan 3 kelas untuk kelas I.

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45 D. Variabel dan Data Penelitian Variabel dalam penelitian ini adalah variabel bebas (dependent variableI), variabel terikat (independent variable), variabel kontrol dan variabel moderator. Variabel adalah semua faktor yang menunjukkan variasi (Hartanto, 2003: 5). Faktor atau atribut yang mempunyai variasi tersebut ditetapkan peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2011:64). Variabel penelitian dapat disimpulkan sebagai segala faktor yang ditetapkan peneliti untuk ditelaah dalam penelitian sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Motessori (papan penjumlahan pengurangan). Variabel bebas ialah variabel yang memepengaruhi atau menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat (Sugiyono, 2011: 64). Pernyataan tersebut sejalan dengan pernyataan Hartanto (2003: 6) yang memaparkan bahwa variabel bebas adalah faktor yang menjadi pokok permasalahan dan dapat mempengaruhi faktor lain yang ada. Penggunaan alat peraga berbasis Metode Montessori menjadi variabel bebas karena dengan penggunaan alat tersebut dipandang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar siswa. Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi variabel bebas (Sugiono, 2011:64). Penelitian ini ingin membuktikan ada tidaknya pengaruh yang ditimbulkan oleh penggunaan alat peraga terhadap prestasi belajar siswa. Perbedaan prestasi belajar

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46 siswa menjadi faktor yang menjadi tolok ukur ada tidaknya pengaruh penggunaan alat peraga. Variabel kontrol dalam penelitian ini ada tiga yaitu guru, jumlah jam pelajaran, dan materi pembelajaran. Variabel kontrol ialah variabel yang dikendalikan atau dibuat tetap dengan tujuan agar hubungan antara variabel terikat dan variabel bebas tidak dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diukur oleh peneliti (Sugiyono, 2012: 41). Variabel kontrol sengaja diatur oleh peneliti supaya kondisinya tetap. Guru bersifat tetap karena yang mengajar pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah guru yang sama. Guru yang mengajar kedau kelas biasanya mengampu di kelas IC. Guru kelas IA dan IC sudah biasa saling bertukar jam mengajar sehingga baik siswa kelas IA maupun siswa kelas IB sudah terbiasa diajar oleh kedua guru. Keadaan tersebut membuat siswa kelas IA maupun kelas IC belajar dengan suasana seperti biasa walaupun gurunya berbeda. Jumlah jam pelajaran pada penelitian ini dibuat sama. Masing-masing kelompok diberi perlakuan dengan waktu empat kali pertemuan atau 8 jam pelajaran. 6 jam pelajaran dipergunakan untuk melakukan perlakuan dan 4 jam pelajaran digunakan untuk pretest dan posttest masing-masing 2 jam pelajaran. Waktu pelaksanaan pada penelitian ini juga dibuat beriringan untuk meminimalisir kontaminasi, minimal misal perlakuakn unutk kelompok eksperimen pagi maka kontrol juga pagi, misal siang maka keduanya juga siang. Waktu penelitian tidak mungkin jika dilaksanakan dalam waktu yang sama karena gurunya juga sama. Materi pembelajaran pada penelitian ini juga diatur menjadi sama pada kelas kelompok kontrol dan kelompok eksperimen yaitu materi perkalian. Soal untuk pre-

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47 test dan post-test juga dibuat sama untuk kelompok kontrol dan eksperimen baik jumlahnya maupun bentuk soalnya. Semua hal yang memungkinkan menimbulkan kontaminasi berusaha dikontrol dalam penelitian ini, yang membedakan hanyalah adanya perlakuan menggunakan alat peraga matematika berbasis Montessori pada kelompok eksperimen sedangkan kelompok kontrol tidak. Variabel moderator yang ada pada penelitian ini berupa rerata skor pre-test (Bogardus, 2007: 12). Variabel moderator adalah variabel yang dapat memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat, variabel moderator juga disebut dengan variabel bebas yang kedua (Sugiyono, 2012: 39). Rereta skor pre-test dapat memperkuat prestasi belajar dalam kondisi siswa yang termotivasi atas hasil rerata skor pre-test miliknya sehingga keinginan belajar semakin tinggi. Rereta skor pre-test juga dapat memperlemah prestasi belajar dalam kondisi siswa yang telah puas dengan hasil rereta skor pre-test yang dimiliki sehingga siswa cenderung tidak termotivasi untuk belajar. E. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas I sekolah dasar Kanisius Sengkan sejumlah 94 siswa. Siswa kelas I di SD K Sengkan terbagi dalam tiga kelas, yaitu kelas IA, IB, dan IC. Kelas IA berjumlah 31 siswa, kelas IB berjumlah 32 siswa, dan kelas IC berjumlah 31 siswa. Riduwan (2003: 8) mengemukakan bahwa populasi merupakan objek atau subyek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan masalah penelitian. Populasi

(65) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48 penelitian adalah keseluruhan dari obyek penelitian yang dapat berpa manusia, hewan, tumbuhan, udara, gejala, nilai, peristiwa, sikap hidup, dan sebagainya sehingga dapat menjadi sumber data (Bungin, 2011: 109). Populasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan dari obyek penelitian yang memenuhi syarat tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian. Berdasar pada berbagai pertimbangan logis mengenai keterbatasan biaya, waktu, dan tenaga, peneliti melakukan penelitian dengan mengambil sampel. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas IA dan siswa kelas IC. Kelas IA sebagai kelompok eksperimen dan kelas IC sebagai kelas kontrol. Sugiyono (2012: 81) memberikan pengertian bahwa “sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”. Teknik yang digunakan untuk memilih sampel dalam penelitian ini adalah convenience random sampling. Convenience sampling adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kemudahan (Creswell, 2012: 220). Sampel ini digunakan demi kemudahan peneliti karena sampel berada dalam sekolah yang sedang digunakan peneliti sebagai tempat Program Pengalaman Lapangan (PPL). Simple random sampling merupakan teknik pengambilan data secara sederhana yang memberikan peluang sama bagi setiap unsur dalam populasi untuk dijadikan sampel (Sugiyono, 2012: 82). Teknik random dalam pemilihan sampel terlihat saat penentuan kelas yang digunakan sebagai kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Peneliti memilih sampel untuk kelompok kontrol dan kelompok eksperimen secara acak yaitu dengan mengundi.

(66) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49 F. Teknik Pengumpulan Data Cara yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data penelitian dapat disebut teknik pengumpulan data. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini ada beberapa cara, yaitu wawancara, angket, kuesioner, dan studi dokumenter/dokumentasi (Sukmadinata, 2009: 216). Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dokumentasi dan observasi. 1. Dokumentasi Data utama dalam penelitian ini diperoleh melalui dokumentasi. Dokumen yang digunakan adalah hasil pre-test dan hasil post-test. Dokumen adalah catatan peristiwa yang sudah terjadi. Catatan tersebut dapat berupa tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang (Sugiyono, 2010: 329). Dokumentasi merupakan cara untuk mencari data mengenai variabel yang berupa catatan, notulen, prasasti, transkrip, agenda, dan lainnya (Arikunto, 2012: 206). Dokumen hasil pengerjaan pretest dan hasil pengerjaan post-test siswa diolah untuk mengetahui pengaruh penggunaan alat peraga terhadap prestasi belajar siswa. Hasil pre-test dan hasil posttest berupa skor/nilai. 2. Observasi Penelitian ini menggunakan teknik observasi untuk mengumpulkan data tentang apa yang terjadi dalam kelas ketika perlakuan diterapkan. Observasi adalah cara menatap kejadian atau proses (Arikunto, 2006: 205). Peneliti dapat merasakan apa yang dirasakan oleh subyek (Moleong, 2013: 157). Observasi yang dilakukan adalah

(67) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50 observasi terstruktur yang artinya pengamatan dirancang secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan di mana tempatnya (Sugiyono, 2010: 205). Observasi dilakukan pada setiap pertemuan dan selama proses pembelajaran berlangsung. Obervasi pada penelitian ini dilakukan dengan bantuan rekan agar semakin banyak aspek yang dapat diamati dan semakin banyak pula kejadian yang dapat diamati. Data yang dikumpulkan melalu teknik observasi ini membuat penelitian menjadi kaya karena hasil penelitian bukan sekedar memaparkan hasil kuantitatif namun dilandasi dengan hasil kulitatif yang mendukung. G. Instrumen Pengumpulan Data Instrumen penelitian yang dipakai dalam penelitian ini ada dua yaitu soal tes prestasi (pre-test dan post-test) dan panduan observasi. Instrumen penelitian adalah alat ukur fenomena alam maupun sosial yang diamati (Sugiyono, 2011: 148). Datadata yang dibutuhkan dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan instrumen penelitian. 1. Tes Soal tes dalam penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan data hasil pre- test dan hasil post-test. Tes merupakan alat atau prosedur yang berfungs untuk mengukur atau mengetahui sesuatu dengan tata cara dan aturan yang telah ditentukan (Arikunto, 2007: 53). Soal yang digunakan untuk pre-test dan post-test adalah soal yang sama. Data hasil pre-test dan hasil post-test digunakan untuk melihat prestasi belajar siswa dan pengaruh penggunaan alat peraga. Tes tertulis adalah jenis tes di

(68) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51 mana pertanyaan dan jawabannya dilakukan secara tertulis (Sudjiono, 2011: 75). Bentuk tes yang dipilih untuk penelitian ini adalah tes obyektif (pilihan ganda) yang sudah melalui proses validitas. Bentuk soal obyektif dipilih sebagai hasil diskusi bersama guru kelas I dan atas saran guru kelas bawah. Hal yang dijadikan sebagai bahan pertimbangan adalah anak kelas I SD Kanisius Sengkan masih banyak yang belum lancar membaca dan menulis. Soal tes juga harus dibacakan dan diarahkan bagian perbagian dengan pelan, sehingga jika digunakan tes dengan bentuk uraian maka hasil tes tidak murni hasil pekerjaan siswa. Soal tes pada penelitian ini berjumlah 10 butir soal dengan 4 indikator. Penentuan jumlah soal atas dasar saran dan permintaan guru kelas. Soal pre-test diberikan kepada siswa sebelum dilakukan tidakan guna melihat tingkat kemampuan awal siswa dan homogenitas data. Soal post-test diberikan kepada siswa setelah dilakukan tindakan guna mengetahui pengaruh tindakan yang diberikan dan melihat normalitas data. Tabel 3.2 di bawah ini adalah kisi-kisi soal tes prestasi yang digunakan dalam penelitian ini Tabel 3.2 Kisi-kisi Soal Pre-test dan Post-test SK KD : 4. Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai dua angka dalam pemecahan : 4.4 Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka Indikator Deskriptor Melakukan penjumlahan dua angka tanpa teknik menyimpan Penjumlahan dua angka dengan satu angka tanpa teknik menyimpan Penjumlahan dua angka dengan dua angka tanpa teknik menyimpan Nomor Aitem Jumlah 1 dan 5 2 2, 6, dan 7 3

(69) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Indikator Deskriptor Melakukan pengurangan dua angka tanpa teknik meminjam Pengurangan dua angka dengan satu angka tanpa teknik menyimpan Pengurangan dua angka dengan dua angka tanpa teknik menyimpan 52 Nomor Aitem Jumlah 4 dan 8 2 3, 9, dan 10 3 Tabel 3.2 berisi indikator, diskriptor atas indikator, nomor aitem yang mengandung indikator, dan jumlah soal. Soal penjumlahan atau pengurangan dua angka dengan satu angka berjumlah lebih sedikit dari pada soal penjumlahan dan pengurangan dua angka dengan dua angka. Perbedaan jumlah soal dikarenakan penjumlahan atau pengurangan dua angka dengan dua angka akan lebih banyak dibahas pada materi selanjutnya dan dipandang lebih bermanfaat bagi siswa nantinya. 2. Nontes Instrumen nontes yang digunakan dalam penelitian ini berupa perangkat pembelajaran (silabus dan RPP) dan lembar observasi. Instrumen nontes dipergunakan untuk memperoleh data yang lebih lengkap sehingga dapat memperkaya pembahasan. Perangkat pembelajaran berisi gambaran umum kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di kelas kontrol dan kelas eksperimen (lampiran 5). Perbedaan yang jelas pada pembelajaran di kelas kontrol dan kelas eksperimen adalah penggunaan alat peraga. Pada kelas kontrol tidak ada penggunaan alat peraga, sedangkan pada kelas eksperimen menggunakan alat peraga. Lembar observasi berfungsi mendokumenkan hal-hal insidental dalam kelas ketika penelitian berlangsung. Data dalam dokumen observasi dapat menguatkan hasil penelitian dan dapat menganalisis faktor lain yang dapat mempengaruhi variabel terikat. Lembar

(70) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 53 observasi digunakan pada kedua kelas (lampiran 20). Observasi dilakukan dengan meminta bantuan teman sejawat sehingga data yang diperoleh dapat lebih lengkap. Lembar observasi yang digunakan diperoleh dari panduan PPL. Tabel 3.3 menggambarkan lembar observasi secara rinci (sumber: Panduan PPL 2013). No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tabel 3.3 Lembar Observasi Deskripsi Hasil Pengamatan Aspek yang diamati Membuka pelajaran Penyajian materi Metode Pembelajaran Penggunaan bahasa dan waktu Aktivitas belajar siswa Pengelolaan Kelas Penggunaan Media Cara menutup pelajaran Evaluasi Aspek yang ada dalam lembar observasi ada 9 aspek. Aspek-aspek tersebut diamati selama pembelajaran berlangsung. Observer menulis semua hal yang terkait dengan aspek pada kolom diskripsi hasil pengamatan. Deskrisi hasil pengamatan tidak menginterpretasi hasil pengamatan hanya memuat apa yang terjadi pada saat pembelajaran. H. Teknik Pengujian Instrumen Bagian ini akan membahas tentang teknik pengujian instrumen penelitian dan instrumen pembelajaran yang meliputi uji validitas instrumen, uji reliabilitas instrumen dan Indeks Kesukaran (IK) setiap aitem instrumen penelitian. Uji validitas memaparkan uji validitas apa saja yang digunakan untuk menguji ketepatan

(71) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 54 instrumen untuk memperoleh data. Uji reliabilitas menjelaskan tentang kejegan aitem tes prestasi yang telah valid. IK menunjukkan taraf kesukaran setiap aaitem tes prestasi bagi siswa. 1. Uji Validitas Instrumen Validitas berasal dari kata validity yang bermakna ketepatan instrumen dalam melakukan fungsinya (Azwar, 2012: 173). Instrumen dikatakan valid apabila instrumen tersebut dapat dengan tepat mengukur apa yang hendak diukur (Widoyoko, 2009: 128). Validitas berhubungan erat dengan ketepatan dan tujuan penelitian. Suatu tes yang valid untuk satu pengukuran belum tentu valid untuk pengukuran lain (Azwar, 2012, 175). Validitas yang digunakan dalam penelitian ini ada 3 jenis, yaitu validitas isi, validitas rupa, dan validitas konstruk. Validitas isi dilakukan oleh expert judgement. Instrumen yang dikenai tindakan validitas isi meliputi instrumen penelitian dan instrumen pembelajaran. Instrumen berupa tes prestasi yang digunakan untuk pre-test dan post-test. Instrumen pembelajaran meliputi silabus dan RPP. Silabus dan RPP untuk kelompok kontrol tidak melalui uji validitas karena RPP yang digunakan merupakan RPP milik sekolah yang biasa dilaksanakan guru kelas. Lembar observasi juga tidak melalui proses pengujian instrumen karena merupakan instrumen tambahan yang sudah ada dan digunakan di program studi PGSD. Validitas muka dilakukan pada tes prestasi guna mengetahui kejelasan tes dari bentuk muka instrumen pembelajaran dan instrumen penelitian. Validitas kontstruk dilakukan pada tes prestasi untuk mengetahui validitas aitem tes secara empiris.

(72) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI a. 55 Uji Validitas isi Validitas isi menunjukkan seberapa jauh aitem-aitem instrumen dalam mencakup keseluruhan kawasan isi yang hendak dicakup (Azwar, 2012: 175). Validitas isi dapat menunjukkan sejauh mana isi suatu tes dapat tepat guna dalam mengukur hal yang akan diukur (Margono, 2010: 187). Instrumen yang melalui uji validitas isi adalah instrumen penelitian dan instrumen pembelajaran. Langkah yang digunakan dalam validitas isi adalah melalui proses expert jugment oleh tiga ahli. Ketiga ahli tersebut adalah satu dosen bidang studi Matematika yang menguasai metode Montessori dan dua guru sekolah dasar. Guru yang diminta menjadi penguji adalah guru kelas bawah yaitu guru kelas I dan kelas II dan bukan guru pengajar kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Guru tersebut dipilih menjadi penguji karena sudah berpengalaman mengajar kelas bawah lebih dari 3 tahun sehingga dipandang sudah mengetahui pembelajaran maupun materi yang tepat bagi siswa yang akan dijadiakan sampel penelitian. Proses validitas yang dilakukan ketiga ahli adalah memberikan skor dengan rentang antara 1 sampai 4. Ahli dapat memberi penilaian “baik sekali” dengan bobot 4, “baik” dengan bobot 3, “kurang” dengan bobot 2, dan “kurang sekali” dengan bobot 1. Ahli juga memberikan komentar pada kolom yang sudah disediakan. Keputusan diadakan perbaikan atau tidaknya pada instrumen yang divaliditas diambil dari hasil rata-rata skor dan komentar yang diberikan penguji. Kriterian untuk melakukan revisi dapat dilihat pada tabel 3.4.

(73) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Rata-rata ≥3 ≥3 <3 <3 56 Tabel 3.4 Kriteria Hasil Validitas Komentar Keterangan Positif Tidak Tevisi Negatif Revisi Positif Revisi Negatif Revisi Tabel 3.4 menunjukkan besar nilai rata-rata dan jenis komentar untuk mengambil keputusan ada tidaknya revisi. Kriteria skor yang digunakan dalam penelitian ini adalah 3 . Angka 3 dipilih karena angka sudah lebih dari nilai tengah pada rentang skor dan bukan nilai tertinggi. Penilaian dengan bobot 3 pada panduan skoring expert jugement juga sudah bermakna “baik”. Kriteria skor yang dipilih adalah 3, berarti jika rata-rata skor hasil validitas dari ahli pada setiap komponen penilaian lebih dari atau sama dengan 3 dengan komentar yang positif maka diputuskan untuk tidak melakukan revisi pada komponen penilaian tersebut. Contoh pengambilan keputusan adalah sebagai berikut; komponen penilaian pertama adalah kelengkapan komponen silabus, jika ketiga ahli memberikan skor pada komponen tersebut dengan rata-rata 3 dan memberikan komentar positif maka keputusan yang diambil adalah tidak melakukan revisi pada komponen kelengkapan silabus. Komentar dinilai positif atau negatif dilihat dari isi komentar yang diberikan. Komentar yang mencerminkan bahwa instrumen sudah layak digunakan disebut komentar positif. Komentar yang mencerminkan instrumen belum layak dan dipandang perlu untuk dilaksanakan disebut komentar negatif. Kriteria pada tabel 3.4 berlaku untuk validitas instrumen penelitian dan instrumen pembelajaran.

(74) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 57 Instrumen pertama yang divaliditas adalah instrumen perangkat pembelajaran yaitu silabus dan RPP. Skor hasil validitas dianalis untuk dicari rata-rata setiap kompenen penilaiannya. Tabel 3.5 berikut ini adalah hasil validitas silabus dari 3 validator. Tabel 3.5 Hasil Validitas Silabus No Validator KP1 KP2 1. Ahli 1/ dosen 4 3 2. Ahli 2/guru 3 4 3. Ahli 3/guru 3 3 Rerata 3,33 3,67 Tidak Tidak Keterangan revisi revisi Keterangan : KP (Komponen Penilaian) KP3 4 3 4 3,67 Tidak revisi Skor KP4 4 3 4 3,67 Tidak revisi KP5 3 3 4 3,33 Tidak revisi KP6 3 3 3 3 Tidak revisi KP7 4 3 4 3,67 Tidak revisi Rerata 3 3,14 3,57 Tabel 3.5 menunjukkan skor yang diperoleh dari ahli dari penilaian instrumen silabus. Rata-rata skor yang didapat dari ahli 1 sampai ahli 3 sudah lebih dari kriteria. Ahli 1 tidak memberikan komentar dalam lembar validitas. Ahli 2 dan ahli 3 memberikan komentar positif terhadap instrumen. Komentar yang ditulis pada kolom komentar umum adalah “silabus sudah sesuai” (lampiran 3). Rata-rata akor yang tinggi dan tidak adanya komentar negatif maka diputuskan bahwa instrumen silabus tidak akan diubah. Hasil validitas untuk RPP juga dianalis untuk dicari rata-rata tiap komponen penilaiannya. Kriteria hasil penilaian validitas dilandaskan pada kriteria tabel 3.4. Hasil validitas RPP dari 3 ahli yang peneliti pilih sebagai validator dapat dilihat pada Tabel 3.6.

(75) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 58 Tabel 3.6. Hasil Validitas RPP Validator Ahli 1/ dosen Ahli 2/ Guru Ahli 3/ guru Rerata Keteran gan Skor KP5 KP6 4 3 KP7 3 KP8 4 KP9 3 KP10 4 Rerata 3,6 3 4 4 3 3 3,4 3 4 3 4 3 4 3,5 3,33 Revisi 3,33 Revisi 3,33 Tidak revisi 4 Tidak revisi 3 Tidak Revisi 3,67 Tidak revisi KP1 4 KP2 4 KP3 4 KP4 3 4 4 3 3 3 3 4 3 4 3,67 Tidak revisi 4 Tidak revisi 3,33 Tidak revisi 3,33 Tidak Revisi Keterangan: KP (Komponen Penilaian) Komponen penilaian untuk RPP terdiri dari 10 komponen. Tabel 3.6 menunjukkan bahwa semua rata-rata skor hasil validitas ≥3, artinya semua komponen penilaian tidak perlu revisi jika dilihat dari perolehan skor saja. Dilihat dari komentar yang diberikan ahli 2, ada 2 komponen yang memerlukan revisi. Komponen yang direvisi yaitu komponen penilai 5 dan 6 karena ada komentar yang dipandang baik untuk dilakukan dari ahli sebagai bahan revisi. Komentar pada komponen penilaian 4 dan 5 dikemukakan oleh ahli 3. Komentar untuk komponen penilaian 4 yaitu “sertakan materi ajar”. Komentar untuk komponen penilaian 5 adalah “lebih baik dijadiakan per-pertemuan” (lampiran 3). Validitas juga dilakukan untuk instrumen penelitian berupa soal tes prestasi. Hasil dianalis untuk dicari rata-rata tiap komponen penilaiannya. Rata-rata digunakan untuk dijadikan landasan untuk melakukan revisi atau tidak. Kriteria hasil validitas tertera pada tabel 3.4. Hasil validitas soal tes prestasi dari 3 ahli yang peneliti pilih sebagai validator yang berupa skor dapat dilihat pada Tabel 3.7.

(76) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 59 Tabel 3.7 Hasil Validitas Soal Tes Prestasi Validator Ahli 1/ dosen Ahli 2/ Guru Ahli 3/ guru Rerata Keteran gan Skor KP5 KP6 4 4 KP7 3 KP8 3 KP9 4 KP10 4 Rerata 3,8 4 4 4 3 3 3,3 3 4 4 4 3 4 3,7 3 Revisi 4 Tidak evisi 3,67 Tidak revisi 3,67 Tidak revisi 3,33 Tidak Revisi 3,67 Tidak revisi KP1 4 KP2 4 KP3 4 KP4 4 4 3 2 4 2 4 4 3 4 4 Tidak revisi 3,67 Tidak revisi 3 Revisi 4 Tidak Revisi Keterangan: KP (Komponen Penilaian) Tabel 3.7 memperlihatkan skor rata-rata semua komponen penilaian mencapai target yang telah ditentukan. Ahli 1 memberi komentar pada komponen penilaian 8 yang menyatakan “bisa dibuat gambar berwarna” (lampiran 8). Ada komentar positif pada komponen 8 oleh ahli 3 yaitu “bagus, gambarnya menarik”. Pada komponen penilaian 3 dan 5 harus diubah karena ahli 3 menyarankan indikator 2 dan 4 dihapus. Ahli 3 menyatakan bahwa komponen penilaian 3 “kelas I belum ada teknik menyimpan” dan untuk komponen penilaian 5 “kelas I belum ada teknik meminjam” (lampiran 8) Indikator tersebut dihapus karena tidak sesuai dengan tingkat kognitif siswa kelas I. b. Uji Validitas muka Proses validitas setelah validitas isi adalah validitas muka. Validitas muka disebut juga face validity. Face validity mempunyai dua arti, yaitu menyangkut pengukuran atribut yang konkret dan menyangkut penilaian dari para ahli maupun konsumen alat ukur (Margono, 2010: 188). Instrumen yang diuji adalah instrument

(77) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 60 pembelajaran dan instrumen penelitian. Validitas muka dilakukan kepada 3 orang siswa kelas 2 dan 2 guru di SD Kanisius Sengkan. 1) Uji Validitas Muka untuk Instrumen Pembelajaran Instrumen pembelajaran diujikan kepada satu guru kelas I dan satu guru kelas II. Guru dipilih dengan alasan konsumen yang selalu menggunakan instrumen pembelajaran untuk melaksanakan tugas mengajar. Guru juga dipandang dapat memahami bagaimana instrument pembelajaran yang baik untuk digunakan. Hasil uji validitas muka kepada guru dapat dilihat secara lengkap pada lampiran 4. Rangkuman uji validitas muka atas instrument pembelajaran dapat dilihat pada tabel 3.8. Tabel 3.8 Rangkuman Hasil Validitas Muka untuk Instrumen Pembelajaran No. 1. Instrumen Pembelajaran Silabus 2. RPP Komentar Guru 1 Guru 2 Guru menyampaiakan bahwa Secara umum, silabus sudah silabus sudah baik dan runtut dan baik. Komponen sesuai. Langkah-langkah silabus sudah lengkap dan dalam silabus jelas dan mudah dipahami. mudah dipahami. Guru menganggap bahwa Penyusunan RPP sudah runtut. tampilan RPP sudah baik, Semua aspek dan komponen namun lebih baik dicetak sudah terlihat ada. Guru ulang karena hasil cetakan menyarankan untuk masih kurang jelas. memperbaiki cetakan karena terlihat kurang baik. Tabel 3.8 merupakan rangkuman validitas muka instrumen pembelajaran yang dilakukan kepada guru. Komentar yang diberikan menunjukkan bahwa tampilan silabus dan RPP sudah baik, runtut, dan mudah dimengerti. Ada komentar yang dapat

(78) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 61 dijadikan sebagai bahan revisi yaitu permasalahan cetakan darti printer yang kurang jelas. 2) Uji validitas muka untuk Instrumen Penelitian Uji validitas muka untuk instrumen penelitian dilakukan kepada guru dan siswa. Guru berasal dari guru kelas II dan kelas III SD K Sengkan. Guru dipilih karena beberapa kali bertugas dalam menyusun tes untuk siswa di sekolah. Siswa yang dipilih adalah siswa kelas II yang berjumlah 3 siswa. Peneliti memilih kelas 2 karena kelas tersebut adalah kelas yang digunakan untuk validitas konstruk atau empiris setelah dilakukan validitas muka. Siswa yang dipilih untuk validitas muka adalah siswa yang disarankan oleh wali kelas 2 karena siswa tersebut dipandang dapat mewakili tingkat kognitif siswa lainnya. Hasil validitas muka yang dilakukan adalah ketiga siswa sudah dapat mengerti apa yang harus dikerjakan (lampiran 8). Rangkuman hasil validasi muka terdapat pada tabel 3.9. Tabel 3.9 Rangkuman Hasil Validitas Muka untuk Instrumen Penelitian No. 1. Komentator Guru 1 2. Guru 2 3. Siswa1 4. Siswa2 3. Siswa3 Komentar Guru menyampaikan bahwa tampilan soal menarik. Guru memberi saran untuk memperhatikan spasi antara huruf dan gambar. Secara umum soal menarik dan mudah dipahami. Banyak gambar membuat siswa mudah memahami dan senang mengerjakannya. Guru menyarankan agar opsi jawaban disusun menurun. Siswa paham dengan perintah-perintah dalam soal. Siswa juga senang dengan gambar-gambar dalam soal. Soal mudah dimengerti sehingga siswa senang dalam mengerjakan Siswa beberapa bertanya utuk meyakinkan pemahamannya. Siswa bertanya “ini dijumlahkan to buk”, dan benar bahwa soal meminta siswa untuk menjumlahkan angka didalamnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa soal dapat dipahami siswa. Siswa terkadang salah membaca karena belum lancar dalam

(79) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI No. Komentator 62 Komentar membaca. Siswa memahami soal dari gambar dan simbol yang ada dalam setiap soal. Tabel 3.9 berisi rangkuman hasil uji validitas mukan kepada guru dan siswa. Guru menyampaikan bahwa secara umum soal menarik dan mudah dipahami siswa. Guru memberikan saran untuk membuat spasi antar gambar dan huruf agak lebar dan membuat opsi jawaban disusun secara menurun (lampiran 8). Komentar-komentar yang diberikan menunjukkan bahwa instrumen penelitian sudah baik, menarik, dan mudah dipahami siswa. c. Uji Validitas Konstruk Construct validity digunakan untuk mengetahui bahwa alat ukur yang dipakai sudah mengandung satu definisi operasional atau konsep teoritis yang tepat (Margono, 2010: 187). Soal tes prestasi yang sudah melaui validitas isi dan validitas muka diujicobakan secara empiris kepada siswa kelas 2 SD Kanisiun Sengkan. Validitas empiris dilakukan kepada siswa kelas yang baru saja menerima materi penjumlahan dan pengurangan dua angka. Instrumen soal tes prestasi terdiri dari 40 soal pilihan ganda. Instrumen tersebut mengandung 4 indikator tentang materi penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka. Tabel 3.10 berikut ini adalah kisi-kisi soal yang digunakan dalam uji validitas empiris.

(80) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 63 Tabel 3.10 Kisi-kisi Soal untuk Uji Validitas Konstruk Indikator Melakukan penjumlahan dua angka tanpa teknik menyimpan Diskriptor Penjumlahan dua angka dengan satu angka tanpa teknik menyimpan Melakukan pengurangan dua angka tanpa teknik menyimpan Pengurangan dua angka dengan satu angka tanpa teknik meminjam Penjumlahan dua angka dengan dua angka tanpa teknik menyimpan Pengurangan dua angka dengan dua angka tanpa teknik meminjam Nomor Aitem 1, 6, 8, 12, 14, 19, 21 34, dan 28 2, 3, 11, 17, 22, 23, 26, 28, 31, 37 dan 39 5, 9, 10, 13, 18, 25, 27, 30, dan 38 4, 7, 15, 16, 20, 24, 26, 29, 32, 33, 35, dan 40 Jumlah 9 11 9 11 Tabel 3.10 menjabarkan indikator-indikator dan nomor soal yang digunakan pada instrumen tes prestasi. Soal yang diujikan terdiri dari 40 soal pilihan ganda yang mana setiap butir soal mewakili indikator yang terlihat pada kisi-kisi soal. Semua soal ini diujikan kepada 66 siswa kelas 2 di SD Kanisius Sengkan, yaitu kelas IIA dan IIB. Pengambilan keputusan valid atau tidaknya instrumen soal tes prestasi didasarkan pada hasil penghitungan teknik korelasi point biserial dengan menggunakan program SPSS 20.00. Teknik korelasi point biserial merupakan cara untuk mencari korelasi antara dua variabel dimana salah satu variabelnya berbentuk kontinum dan variabel lainnya benbentuk diskrit murni (Hartono, 2012: 123). Untuk mencari koefisien korelasi point biserial digunakan rumus pada gambar 3.2. Gb. 3.2 Rumus Point-Biserial (Hartono, 2012: 123)

(81) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 64 Keterangan : r pbi = koefisien korelasi point biserial Mp = mean skor yang betul dari jawaban peserta tes Mt = mean skor total (seluruh peserta tes) SDt = standar devisiasi total p = proporsi peserta tes yang jawabannya betul q = proporsi peserta tes yang jawabannya salah “A point–biserial correlation has to be calculated and this is simply a Pearson correlation when the dichotomous variable is coded with 0 for one category and 1 for the other (actually you can use any values and SPSS will change the lower one to 0 and the higher one to 1 when it does the calculations)” (Field, 2012: 183). Penghitungan korelasi point biserial dapat menggunakan teknik korelasi Pearson dalam program SPSS dengan mengisi nilai tertinggi 1 dan nilai terendah 0. Pengujian validitas dengan menggunakan program SPSS 20.00 memudahkan untuk mengetahui keputusan tiap aitem. Signifikansi korelasi dua vairabel bisa dilihat pada tanda * atau ** pada pasangan data yang dikorelasikan dalam output SPSS. Tanda * memiliki koefisien korelasi signifikan dengan taraf kepercayaan 95% sedangkan tanda ** memiliki koefisien korelasi sangat singnifikan dengan taraf kepercayaan 99% (Taniredja & Mustafidah, 2012: 97). Hasil uji validitas dengan menggunakan program SPSS 20.00 dapat dilihat pada lampiran 12.

(82) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 65 Melihat validitas instrument dapat ditempuh juga dengan membandingkan nilai r tabel dengan nilai r hitung. Aitem dikatakan valid apabila nilai r hitung lebih besar daripada nilai r tabel. Banyak responden pada uji validitas dalam penelitian ini adalah 66 dan menggunakan taraf signifikansi 5%, maka menggunakan r tabel sebesar 0,244 (Bungin, 2011: 333). Hasil validitas konstruk dengan membandingkan r tabel dan r hitung dapat dilihat pada tabel 3.11. Tabel 3.11 Hasil Validitas Isi Menggunakan Korelasi Point-Biserial Nomor rpb Keputusan Soal 1 0,401** Valid 2 0,339** Valid 3 0,507** Valid 4 0,080 Tidak Valid 5 0,362** Valid 6 0,406** Valid 7 0,445** Valid 8 0,480** Valid 9 0,532** Valid 10 0,150* Tidak Valid 11 0,200* Tidak Valid 12 0,427** Valid 13 0,346** Valid 14 0,486** Valid 15 0,405** Valid 16 0,183* Tidak Valid 17 0,365** Valid 18 0,037 Tidak Valid 19 0,390** Valid 20 0,329** Valid 21 0,545 Valid 22 0,441** Valid 23 0,529** Valid 24 0,379** Valid 25 0,450** Valid

(83) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Nomor Soal 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 rpb Keputusan 0,492** 0,418** 0,447** 0,474** -0,024 0,369** 0,247* 0,479** 0,380** 0,297* 0,168 0,486** 0,474** 0,419** 0,296* Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid 66 Tabel 3.11 menunjukkan hasil dari uji validitas soal tes prestasi dengan membandingakan nilai r tabel dan nilai r hitung. Hasilnya adalah 33 soal yang dinyatakan valid karena nilai r hitungnya lebih besar dari nilai r tabel yang ditentunkan. Ada 7 soal yang dinyatakan tidak valid karena r hitungnya lebih kecil daripada r tabel yang telah ditentukan. Soal yang dinyatakan valid ada 33, namun tidak semua soal dipakai untuk penelitian. Penelitian dilakukan pada siswa kelas 1 sekolah dasar, sehingga guru menyarankan agar jumlah soal yang diteskan adalah 10 butir soal saja. Guru juga mengatakan apabila ulangan harian matematika juga hanya 10 soal jika bentuknya pilihan ganda dan untuk ukuran kelas 1 SD soal matematika sebanyak 10 butir cukup dikerjakan dengan waktu 2 JP atau 70 menit. Soal yang digunakan oleh peneliti sebagai instrument peneltian dapat dilihat pada tabel 3.12.

(84) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 67 Tabel 3.12 Rincian Soal Sebelum dan Sesudah Uji Validitas Konstruk Indikator Diskriptor Nomor Aitem Awal Melakukan penjumlahan dua angka tanpa teknik menyimpan Penjumlahan dua angka dengan satu angka tanpa teknik menyimpan 1, 6, 8, 12, 14, 19, 21 34, dan 28 Penjumlahan dua angka dengan dua angka tanpa teknik menyimpan Melakukan pengurangan dua angka tanpa teknik menyimpan 2. Pengurangan dua angka dengan satu angka tanpa teknik meminjam Pengurangan dua angka dengan dua angka tanpa teknik meminjam 2, 3, 11, 17, 22, 23, 26, 28, 31, 37 dan 39 5, 9, 10, 13, 18, 25, 27, 30, dan 38 4, 7, 15, 16, 20, 24, 26, 29, 32, 33, 35, dan 40 Nomor aitem yang digunakan dalam instrument penelitian 1 dan 14 3, 23, dan 26 9 dan 25 7, 15, dan 29 Uji Reliabilitas Instrumen Reliabilitas adalah sejauh mana instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik (Arikunto, 2002: 154). Reliabilitas memiliki sebutan lain seperti keterpercayaan, keajegan, keterandalan, konsistensi, dan kestabilan. Meskipun demikian, reliabilitas tetap memiliki kunci pokok yaitu sejauh mana suatu hasil pengukuran dapat dipercaya (Azwar, 2007: 4). Suatu tes dapat dikatakan memiliki keterpercayaan dan keajegan tinggi apabila tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap/ajeg (Arikunto, 2006: 56). Pada penelitian ini uji reliabilitas instrumen penelitian dihitung dengan Formula Alpha Cronbach dan dengan menggunakan program SPSS 20.00.

(85) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 68 Rumus Alpha Cronbach yang digunakan untuk menentukan reliabilitas pada penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.3. Gambar 3.3 Rumus Alpha Crobanch (Masidjo, 1995: 209) Keterangan : : koefisiensi Alpha n : banyaknya butir soal : variasi butir soal : varian total keseluruhan butir soal Langkah selanjutnya adalah membandingkan harga r dihitung dengan r tabel. Jika r hitung lebih besar dari r tabel berarti instrument dinyatakan reliabel. Koefisien reliabilitas berada dalam rentang antara -1,00 sampai 1,00. Kualifikasi koefisien reliabilitas aitem soal yang dikatakan reliabel dapat dilihat dalam tabel 3.13 (Masidjo, 1995: 209) Tabel 3.13 Kualifikasi Koefisien Reliabilitas Aitem Soal yang Dikatakan Reliabel Koefisien Korelasi Kualifikasi 0,91-1,00 sangat tinggi 0,71-0,90 tinggi 0,41-0,70 cukup 0,21-0,40 rendah

(86) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Koefisien Korelasi Negatif 0,20 69 Kualifikasi sangat rendah Kriteria tingkat reliabilitas terbagi menjadi lima kategori yaitu sangat tinggi, tinggi, cukup, rendah dan sangat rendah. Pengujian reliabilitas dalm penelitian ini menggunakan SPSS 20.00 dengan teknik alpha. Hasil analisis reliabilis menggunakan rumus Alpha Cronbach dapat dilihat pada tabel 3.14. Tabel 3.14 Hasil Perhitungan Reliabilitas Reliability Statistics Cronbach's Alpha Based on Cronbach's Standardized Alpha Items .696 N of Items .708 10 Tabel 3.13 memperlihatkan hasil perhitungan reliabilitas menggunakan SPSS 20.00, koefisien korelasi yang terlihat adalah 0,696. Hasil perhitungan tersebut kemudian dibandingkan dengan tabel kriteria koefisien reliabilitas aitem soal menurut Masidjo (2006: 209). Hasil 0.696 masuk pada kriteria reliabilitas cukup. Kriteria tersebut menegaskan bahwa instrumen soal tes prestasi memiliki keajegan yang cukup dan layak untuk digunakan.

(87) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. 70 Indeks Kesukaran (IK) Aitem Tiap butir soal memiliki tingkat kesukaran yang bermacam-macam bagi siswa. Pemilihan soal hendaknya memperhatikan tingkat kesukaran butir soal agar porsi yang diberikan untuk siswa seimbang dan sesuai dengan kognitif siswa (Sudjana, 2008: 135). Indeks kesukaran digunakan untuk mengetahui tingkat kesukaran tiap butir soal. Indeks kesukaran dapat dihitung berdasarkan rumus yang tertera pada gambar 3.4. Gambar 3.4 Rumus Indeks Kesukaran Aitem (Masidjo, 1995: 137) Keterangan: IK = Indeks kesukaran aitem B = Banyak siswa yang menjawab benar N = Banyak siswa Penghitungan indeks kesukaran untuk setiap aitem soal dihitung menggunakan rumus IK pada gambar 3.4. Hasilnya kemudian dibandingkan dengan kriteria indeks kesukaran menurut Masidjo (1995: 137). Kriteria indeks kesukaran dapat dilihat pada tabel 3.15.

(88) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 71 Tabel 3.15 Kriteria Indeks Kesukaran Rentang Kiteria 0.81-1.00 Mudah Sekali 0.61-0.80 Mudah 0.41-0.60 Cukup 0.21-0.40 Sukar 0.00-0.20 Sukar Sekali Tabel 3.15 memperlihatkan rentang indeks kesukaran dari 0,00 sampai 1,00. Kualifikasi indeks kesukaran ada 5, yaitu sukar sekali, sukar, cukup, mudah, dan mudah sekali. Peneliti telah menghitung indek kesukaran utuk 10 aitem dalam instrument penelitian yang telah lolos uji validitas dan uji reliabilitas. Hasil perhitungan dan kriterian untuk setiap aitem dalam instrument penelitian dapat dilihat pada tabel 3.16. Penghitungan indeks kesukaran secara manual terdapat pada lampiran 12. Tabel 3.16 Penghitungan Indeks Kesukaran Aitem Tes IK Kriteria Aitem 1 0,727 Mudah 2 0,909 Mudah Sekali 3 0,742 Mudah 4 0,818 Mudah Sekali 5 0,697 Mudah

(89) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Aitem IK Kriteria 6 0,667 Mudah 7 0,833 Mudah Sekali 8 0,788 Mudah 9 0,848 Mudah Sekali 10 0,783 Mudah 72 Tabel 3.16 menunjukkan indeks kesukaran aitem yang digunakan dalam instrumen penelitian. Perhitungan menunjukkan ada 5 soal yang masuk dalam kriteria mudah sekali dan 5 aitem mudah. Kriteria yang dipilih diharapkan sesuai dengan tingkat kognitif siswa yang akan diukur. I. Prosedur Analisis Data Data-data yang diperoleh ketika penelitian harus di analisis untuk dapat menarik kesimpulan. Penelitian melakukan prosedur analisis data menggunakan bantuan program computer Ms. Exel dan SPSS 20.00. Sugiono (2011: 202) menyatakan bahwa untuk menentukan jenis statistik yang digunakan dalam analisis data penelitian harus melihat asumsi dan jenis data yang akan dianalisis. Statistik parametris memerlukan terpenuhinya beberapa asumsi, diantaranya adalah data yang akan dianalisis harus terdistribusi normal dan kelompok yang diuji harus homogen, sedangkan statistik nonparametris tidak harus memenuhi beberapa asumsi seperti pada statistik parametris. Ada beberapa tahap yang peniliti lakukan untuk

(90) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 73 menganalisis data pada penelitian ini. Prosedur yang peneliti gunakan adalah merumuskan null hypothesis, mengorganisasi data, menentukan taraf signifikansi, menguji homogenitas dan normalitas skor pre-test, menguji asumsi klasik independent t-test, menguji hipotesis dan menguji besar pengaruh. 1. Merumuskan null hypothesis Teknik analisis data yang dilakukan pertama kali adalah merumuskan null hypothesis. Hipotesis pada penelitian kuantitatif ada dua macam, yaitu Ho dan Ha (Field, 2009: 27). Rumusan masalah pada penelitian ini adalah “apakah ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori?”. Hipotesis pada penelitian ini berdasarkan rumusan masalah tersebut adalah Ho : Tidak ada perbedaan prestasi belajar atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. (Ho: Ha = 0) atau (Ho: = ) : Ada perbedaan prestasi belajar atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. (H1: 2. - -  0) atau (H1:  ) Mengorganisasi Data Data-data yang diperoleh akan melalui proses pengorganisasian dahulu. Pengorganisasian data dilakukan supaya data yang diperoleh akan lebih mudah diolah pada tahap selanjutnya. Pengelolaan data juga bertujuan untuk mengurangi bias penelitian karena data akan dikelola secara sistematis. Tahap pengorganisasian data dalam penelitian ini ada 4 yaitu:

(91) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI a. 74 Data Coding Coding atau pengkodean merupakan tahap pertama yang dilakukan dalam pengaturan data. Tahap pengkodean maksudnya pemberian identitas sehingga memiliki arti tertentu pada saat dianalisis (Bungin, 2011: 176). Pada tahap ini data mentah diberikan kode supaya memudahkan peneliti dalam pengolahan. Data yang mendapat perlakukan coding antara lain nama siswa baik pada kelas kontrol maupun eksperimen dan nama-nama ahli sebagai validator. Nama siswa diganti dengan kode “Siswa1”, “Siswa2”, “Siswa3” dan seterusnya. Nama validator juga diganti dengan memberikan kode “Ahli1/dosen”, “Ahli2/guru”, “Guru1”, “Guru2” dan seterusnya. b. Data Editing Proses pengaturan data setelah coding adalah editing. Editing merupakan proses pemeriksaan kelengkapan semua data yang telah terkumpul. Kegiatan editing menjadi penting karena pada kenyataannya data yang terhimpun kadang belum memenuhi harapan peneliti, misalkan ada data yang terlewat, tumpang tindih, berlebihan ataupun terlupakan (Bungin, 2011: 175). Proses editing pada penelitian ini adalah melihat kelengkapan jawaban siswa dan memeriksa kelengkapan jawaban validator. Pemeriksaan jawaban siswa dilakukan dengan melihat kelengkapan jawaban siswa untuk setiap nomor (dijawab semua atau tidak) dan melihat ada atau tidak kesamaan jawaban masing-masing siswa. Hasil dari proses editing adalah 100% jawaban siswa adalah lengkap dan tidak ditemui dua atau lebih jawaban siswa yang sama. Jawaban validator juga sudah lengkap, tidak ada penilaian atau komentar yang terlewatkan.

(92) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI c. 75 Data Entry Data entry merupakan proses pemasukkan data hasil dokumentasi yang telah melewati proses coding dan editing ke dalam program pengolahan data. Data entry adalah proses memasukkan data pada tabel atau pada program pengolahan data tertentu dan mengatur angka-angka serta menghitungnya (Bungin, 2011: 178). Program pengolahan data yang digunakan adalah Ms. Excel dan SPSS 20.00. Kedua program komputer tersebut sangat membantu mengurangi human error. d. Data Cleaning Data Cleaning merupakan tahap terakhir pengelolaan data. Cleaning dilakukan untuk “membersihkan” data penelitian yang telah dimasukkan pada proses data entry, misalnya menghapus data skor siswa yang hanya mengikuti pre-test atau hanya mengikuti post-test saja dan menghapus data-data ekstrim. Hasil proses cleaning adalah tidak ada data skor pre-test atau post-test yang dihapus karena semua siswa dapat mengikuti pre-test dan post-test. Data ekstrim juga tidak ditemukan, maka tidak ada penghapusan data lainnya. 3. Menentukan Taraf Signifikansi Taraf signifikansi atau significance level ialah keberanian peneliti untuk secara maksimal mengambil risiko kesalahan dalam menguji hipotesis (Bungin, 2011: 192). Taraf signifikansi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0,05 yang artinya mentolerir kesalahan sebesar 5%. Taraf kepercayaan merupakan sisi balik dari taraf signifikansi, maka untuk taraf signifikansi 5% tingkat kepercayaannya adalah 95%. Taraf signifikansi 5% lazim digunakan dalam penelitian sosial dan humaniora karena

(93) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 76 sudah dipandang cukup baik untuk menguji risiko kesalahan saat uji hipotesis (Bungin, 2011: 193). Teori yang diuraikan pada bab II dan penelitian-penelitian yang relevan merujuk pada penelitian satu pihak, namun pada kenyataannya banyak peneliti yang tetap menggunakan uji dua pihak dalam melakukan uji hipotesis (Johnson & Christenson, 2008). 4. Menguji Skor Pre-test Prosedur analisis data yang keempat adalah menguji skor pre-test. Pengujian ini bertujuan untuk melihat kemampuan awal dan kesamaan prestasi dari kedua kelompok kontrol dan eksperimen sebelum dilakukan perlakuan. Skor pre-test yang diperoleh akan di uji normalitas, uji homogenitas, dan uji independent t-test. a. Uji normalita skor pre-test Penelitian ini melakukan uji normalitas skor pre-test dengan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov untuk melakukan uji normalitas pada setiap kelompok. Uji normalitas adalah uji yang digunakan untuk mengetahui apakah data kedua kelompok terdistribusi normal atau tidak (Sudjana, 2002: 466). Kelompok sampel yang dimaksud adalah kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Rumus uji normalitas skor pre-test menggunakan Kolmogorov Smirnov dapat dilihat pada gambar 3.5. D = Maxx [Fx (X) – Snn (X)] Gambar 3.5 Rumus Kolmogorov Smirnov (Lilliefors dalam Rozalli, 2011: 23). Keterangan: Sn = distribusi sampel kumulatif

(94) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 77 Fx (X) = distribusi kumulatif normal Hipotesis untuk uji normalitas skor pre-test menggunakan Kolmogorov smirnov adalah: Ho: Sebaran data skor pre-test tidak berbeda dengan curve normal atau data skor pre-test terdistribusi normal. Ha: Sebaran data skor pre-test berbeda dengan curve normal atau data skor pretest tidak terdistribusi normal. Kriteria pengambilan keputusan: 1) Jika harga Sig. (2-tailed) ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak, artinya sebaran data skor pre-test tidak berbeda dengan curve normal atau data skor pre-test terdistribusi normal. 2) Jika harga Sig. (2-tailed) < 0,05 maka Ho ditolak atau Ha gagal ditolak, artinya sebaran data skor pre-test berbeda dengan curve normal atau data skor pre-test tidak terdistribusi normal. Pengujian normalitas juga dapat dilakukan menggunakan visualisasi grafik P-P plots (Probability-Probability plots) (Field, 2009: 134). Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan dari hasil uji normalitas skor pre-test menggunakan visualisasi grafik P-P plots adalah: 1) Jika penyebaran titik berada di sekitar garis diagonal maka data skor pre-test terdistribusi normal.

(95) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 2) Jika penyebaran titik tidak berada di sekitar garis diagonal maka data skor pretest terdistribusi tidak normal Pengujian normalitas skor pre-test akan mempengaruhi prosedur pengujian pada tahap selanjutnya. Jika data yang diperoleh terdistribusi secara normal maka dapat dilanjutkan dengan uji homogenitas skor pre-test teknik statistik parametris, namun apabila data terdistribusi secara tidak normal maka pengujian yang dilakukan selanjutnya akan menggunakan teknik nonparametris. b. Uji homogentitas skor pre-test Uji homogenitas pre-test menggunakan Lavene’s test. Uji homogenitas dilakukan untuk melihat kesamaan level prestasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Jika kedua kelompok diketahui homogen, maka dapat dilanjutkan ke prosedur analisi data ke 5 dan seterusnya. Jika kedua kelompok tidak homogen, maka rumusan masalah dicari dengan melakukan analisis selisih skor pre-test dan pos-ttest untuk masing-masing kelompok. Rumus Lavene’s test dapat dilihat pada gambar 3.5. Gambar 3.5 Rumus Lavene’s test (Nordstoke, 2011: 3) Keterangan : = banyaknya kelompok

(96) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI = Yt 79 = = rata-rata dari kelompok ke i = rata-rata dari kelompok ke Z = rata-rata menyeluruh Hipotesis untuk uji homogenitas skor pre-test adalah sebagai berikut: Ho: Tidak ada perbedaan varian antara skor pre-test kelompok kontrol dan skor pre-test kelompok eksperimen atau skor pre-test kedua kelompok homogen. (Ho: σ12 = σ22) Ha: Ada perbedaan varian antara skor pre-test kelompok kontrol dan skor pretest kelompok eksperimen atau skor pre-test kedua kelompok tidak homogen. (Ha: σ12 ≠ σ22) Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan uji homogenitas skor pre-test adalah sebagai berikut: 1) Jika harga Sig. ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak, artinya tidak ada perbedaan varian antara skor pre-test kelompok kontrol dan skor pre-test kelompok eksperimen atau data skor pre-test kedua kelompok homogen. 2) Jika harga Sig. < 0,05 maka Ho ditolak atau Ha gagal ditolak, artinya ada perbedaan varian antara skor pre-test kelompok kontrol dan skor pre-test kelompok eksperimen atau data skor pre-test kedua kelompok tidak homogen.

(97) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 80 Hasil uji homogenitas akan menentukan presedur analisis data selanjutnya. Jika data kedua kelompok memiliki data yang homogen maka analisis data dilanjutkan pada uji independent t-test untuk skor pre-test, tetapi jika data kedua kelompok tidak homogen maka dilanjutkan dengan melakukan analisis selisih skor pre-test. c. Uji Independent t-test Skor Pre-test Uji independent t-test dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan rata-rata dari hasil pre-test kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Ho: Tidak ada perbedaan rata-rata skor pre-test antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. (Ho: µ 1 = µ 2) Ha: Ada perbedaan rata-rata skor pre-test antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. (Ha: µ 1 ≠ µ 2) Krteria pengambilan keputusan yang digunakan adalah: 1) Jika harga Sig. (2-tailed) ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak, artinya tidak ada perbedaan rata-rata skor pre-test antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 2) Jika harga Sig. (2-tailed) < 0,05 maka Ho ditolak atau Ha gagal ditolak, artinya ada perbedaan rata-rata skor pre-test antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hasil uji independent t-test akan menentukan prosedur analisis data selanjutnya. Jika hasil uji independent t-test menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan rata-rata

(98) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 81 skor pre-test antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen maka pengujian dapat dilanjutkan dengan langkah ke 5 yaitu melakukan uji prasyarat analisis. Jika hasil uji independent t-test menjunjukkan ada perbedaan rata-rata skor pre-test antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen maka uji yang akan dilakukan adalah uji selisih skor pre-test dan post-test masing-masing kelompok. 5. Menguji Prasyarat Analisis Prosedur analiasis data yang ke lima adalah menguji prasyarat analisis. Uji prasyarat analisis memiliki tiga tahap, yaitu uji normalitas skor post-test, uji homogenitas skor post-test, dan independence. a. Uji normalita skor post-test Uji normalitas skor post-test merupakan salah satu uji prasyarat analisis. Uji normalitas skor post-test dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov. Hipotesis untuk uji normalitas skor post-test menggunakan Kolmogorov smirnov adalah: Ho: Sebaran data skor pre-test tidak berbeda dengan curve normal atau data skor post-test terdistribusi normal. Ha: Sebaran data skor pre-test berbeda dengan curve normal atau data skor posttest tidak terdistribusi normal. Kriteria pengambilan keputusan:

(99) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1) 82 Jika harga Sig. (2-tailed) ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak, artinya sebaran data skor post-test tidak berbeda dengan curve normal atau data skor post-test terdistribusi normal. 2) Jika harga Sig. (2-tailed) < 0,05 maka Ho ditolak atau Ha gagal ditolak, artinya sebaran data skor post-test berbeda dengan curve normal data skor post-test tidak terdistribusi normal. Pengujian normalitas juga dapat dilakukan menggunakan visualisasi grafik P-P plots (Probability-Probability plots) (Field, 2009: 134). Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan dari hasil uji normalitas skor post-test menggunakan visualisasi grafik P-P plots adalah: 1) Jika penyebaran titik berada di sekitar garis diagonal maka data skor post-test terdistribusi normal. 2) Jika penyebaran titik tidak berada di sekitar garis diagonal maka data skor posttest terdistribusi tidak normal. Jika hasil pengujian normalitas skor pre-test yang menyatakan data terdistribusi secara tidak normal maka statistik yang digunakan adalah statistik nonparametik. Uji pada statistik nonparametrik dapat menggunakan Uji Mann Whitney dan Uji Wilcoxon. Apabila data terdistribusi secara normal maka analisis yang dilakukan selanjutnya adalah independent t-test. b. Uji homogentitas Skor Post-test Uji homogenitas skor post-test kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menggunakan uji Lavene’s test. Uji homogenitas skor post-test dilakukan untuk

(100) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 melihat ada tidaknya perbedaan varian antara skor post-test kelompok kontrol dan skor post-test kelompok eksperimen. Hipotesis untuk uji homogenitas skor post-test adalah sebagai berikut: Ho: Tidak ada perbedaan varian antara skor post-test kelompok kontrol dan skor post-test kelompok eksperimen atau skor post-test kedua kelompok homogen. (Ho: σ12 = σ22) Ha: Ada perbedaan varian antara skor post-test kelompok kontrol dan skor posttest kelompok eksperimen atau skor post-test kedua kelompok tidak homogen. (Ha: σ12 ≠ σ22) Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan uji homogenitas skor post-test adalah sebagai berikut: 1) Jika harga Sig. ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak, artinya tidak ada perbedaan varian antara skor pre-test kelompok kontrol dan skor pre-test kelompok eksperimen atau data skor pre-test kedua kelompok homogen. 2) Jika harga Sig. < 0,05 maka Ho ditolak atau Ha gagal ditolak, artinya ada perbedaan varian antara skor pre-test kelompok kontrol dan skor pre-test kelompok eksperimen atau data skor pre-test kedua kelompok tidak homogen. Hasil uji homogenitas akan mempengaruhi penentuan data pada presedur analisis data selanjutnya. Jika data yang diperoleh dari uji homogenitas skor post-test dalam penelitian merupakan data yang homogen maka data yang dilihat dalam output SPSS 20.00 adalah angka pada kolom equal variance assumed. Jika data yang

(101) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 84 diperoleh tidak homogen maka yang dilihat adalah angka pada kolom equal variance not assumed. c. Independence Field (2009: 133) mengemukakan bahwa data penelitian yang bersifat independen adalah data yang berasal dari dua kelompok yang berbeda dan tidak saling mempengaruhi. Independen berarti dua sampel tidak tergantung satu dengan yang lain (Santoso, 2014: 104). Kedua kelompok sampel memiliki anggota yang berbeda. Masing-masing kelompok juga menerima perlakuan yang berbeda satu sama lain. Siswa yang menerima perlakuan di kelompok eksperimen tidak menerima perlakuan di kelompok kontrol, begitupun sebaliknya. Kelompok eksperimen menerima perlakuan berupa penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori, sedangkan kelompok kontrol tidak menerima. Kedua kelompok menerima perlakuan yang tidak sama sehingga tidak saling mempengaruhi. 6. Menguji Hipotesis Prosedur analisis data yang keenam adalah menguji hipotesis. Uji hipotesis dilakukan dengan uji independent t-test. Field (2009: 785) menjelaskan bahwa, “independent t-test a test using the t-statistic that establishes whether two means collected from independent samples differ significantly.” Uji independent t-test ini dimaksudkan untuk mencari perbedaan rerata skor post-test dari kedua kelompok yang independen. Taraf signifikansi pada uji independent t-test ini adalah one-tailed. Perhitungan independent t-test yang digunakan dalam penelitian ini adalah untuk

(102) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 85 kondisi dengan banyak anggota kedua kelompok sampel sama. Rumus independent ttest untuk banyak anggota sampel yang sama dapat dilihat pada gambar 3.7. Gambar 3.7. Rumus Independent t-test (Field, 2009: 335) Keterangan: = selisih rata-rata S12 = varian N = banyaknya subyek Hipotesis untuk independent t-test pada penelitian ini adalah: Ho: Tidak ada perbedaan rata-rata skor post-test antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen . (Ho: µ 1 = µ 2) Ha: Ada perbedaan rata-rata skor post-test antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. (Ha: µ 1 ≠ µ 2) Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan dari hasil uji independent ttest adalah: 1) Jika harga Sig. (2-tailed) ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak, maka tidak ada perbedaan rata-rata skor pre-test antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen artinya tidak ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori.

(103) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 86 2) Jika harga Sig. (2-tailed) < 0,05 maka Ho ditolak atau Ha gagal ditolak, maka ada perbedaan rata-rata skor pre-test antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen artinya ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. 7. Menguji Besar Pengaruh Uji besar pengaruh dilakukan apabila kesimpulan pada hasil uji hipotesis menunjukkan adanya pengaruh penggunaan alat peraga berbasis metode Montessori terhadap prestasi belajar siswa. Uji ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruhnya. Analisis menggunakan rumus effect size. Rumus effect size dapat dilihat pada gambar 3.8. Gambar 3.8 Rumus effect size (Field, 2009: 332) Keterangan: r = effect size t = harga uji t df = harga derajat kebebasan Gambar 3.5 adalah rumus effect size, setelah nilai effect size dihitung kemudian dikategorikan berdasar kriteria yang digunakan untuk menentukan besarnya effect size. Cohen (dalam Field, 2009: 57) menyatakan kriteria besarnya effect size terbagi

(104) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 87 dalam 3 kategori. Tabel 3.17 adalah kriteria yang digunakan untuk menentukan besarnya effect size. Tabel 3.17 Kategori Effect Size Nilai effect size Kategori 0,10 – 2,29 Small effect (efek kecil) 0,30 – 0,49 Medium effect (efek sedang) 0,50 – 1,00 Large effect (efek besar) Persentase pengaruh suatu variabel dapat diketahui dengan menggunakan menghitung koefisien determinasi (R2). Rumus koefisien determinasi dapat dilihat pada gambar 3.9. R2 = r2 x 100% Gambar 3.9 Rumus koefisien determinasi (Field, 2009: 179) keterangan: R2 = koefisien determinasi r2 = effect size 8. Menguji Signifikasi Skor Pre-test dan Skor Post-test Uji signifikansi dilakukan untuk mengetahui seberapa besar signifikansi hasil skor pre-test pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Uji signifikansi dilakukan dengan menggunakan pired t-test. Hipotesis dalam uji signifikansi skor pre-test dan skor post-test kelompok kontrol adalah:

(105) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 88 Ho: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih rata-rata skor pre-test dan rata-rata skor post-test pada kelompok kontrol. (Ho: µ 1 = µ 2) Ha: Ada perbedaan yang signifikan antara selisih rata-rata skor pre-test dan ratarata skor post-test pada kelompok kontrol. (Ha: µ 1 ≠ µ 2) Kriteria pengambilan keputusan yang digunakan dalam uji signifikansi skor pre-test dan skor post-test kelompok kontrol adalah: 1) Jika harga Sig. (2-tailed) ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih rata-rata skor pre-test dan ratarata skor post-test pada kelompok kontrol. 2) Jika harga Sig. (2-tailed)  0,05 maka Ho ditolak atau Ha gagal ditolak artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih rata-rata skor pre-test dan rata-rata skor post-test pada kelompok kontrol. Hipotesis dalam uji signifikansi skor pre-test dan skor post-test kelompok eksperimen adalah: Ho: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih rata-rata skor pre-test dan rata-rata skor post-test pada kelompok eksperimen. (Ho: µ 1 = µ 2) Ha: Ada perbedaan yang signifikan antara selisih rata-rata skor pre-test dan ratarata skor post-test pada kelompok eksperimen. (Ha: µ 1 ≠ µ 2)

(106) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 89 Kriteria pengambilan keputusan yang digunakan dalam uji signifikansi skor pre-test dan skor post-test kelompok eksperimen adalah: 1) Jika harga Sig. (2-tailed) ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih rata-rata skor pre-test dan rata-rata skor post-test pada kelompok eksperimen. 2) Jika harga Sig. (2-tailed)  0,05 maka Ho ditolak atau Ha gagal ditolak artinya ada perbedaan yang signifikan selisih antara rata-rata skor pre-test dan ratarata skor post-test pada kelompok eksperimen. F. Jadwal Penelitian Penelitian yang akan dilakukan ini dijadwalkan berlangsung selama 10 bulan. Ada pun jadwal penelitian tersbut telah disusun oleh peneliti dalam tabel 3.18. Tabel 3.18 Jadwal Penelitian Waktu (bulan) No. 1. Kegiatan Sept ’13 Observasi dan wawancara untuk mengumpulkan  data awal. 2. Penyusunan proposal 3. Menyusun rancangan penelitian Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni ’13 ’13 ’13 ’14 ’14 ’14 ’14 ’14 ’14   

(107) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 90 Waktu (bulan) No. Kegiatan Sept ’13 Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni ’13 ’13 ’13 ’14 ’14 ’14 ’14 ’14 ’14 4. Pelaksanaan penelitian  5. Analisis hasil penelitian  6. Penyusunan skripsi 7. Ujian Skripsi     Tabel 3.18 memperlihatkan jadwal penelitian ini. Penelitian ini dimulai pada bulan September 2013 dan berakhir pada bulan Juni 2014. Lama penelitian ini adalah 10 bulan. Penelitian dimulai dengan penyusunan proposal penelitian dan berakhir dengan ujian skripsi. Perbaikan seperti pengadaan revisi dan yudisium dilaksanakan pada bulan Juli 2014.

(108) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB IV DESKRIPSI PENELITIAN, HASIL PENELITIAN, DAN PEMBAHASAN Bab IV membahas deskripsi penelitian, hasil penelitian dan pembahasan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. Deskripsi penelitian menjelaskan bagaimana penelitian ini dijalankan. Hasil penelitian akan menjabarkan tentang hasil analisis data yang diperoleh dalam penelitian. Pembahasan akan menjelaskan hubungan antara hasil penelitian dengan teori-teori yang telah dibahas sebelumnya. A. Deskripsi Penelitian Penelitian ini dilakukan di SD Kanisius Sengkan. Penelitian adalah penelitian quasi eksperimen maka menggunakan dua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui ada tidaknya perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. Pemilihan kelas dilakukan secara random.Kelas yang dipilih sebegai kelas kontrol adalah kelas IA dengan jumlah siswa 31 siswa, siswa laki-laki sebanyak 18 dan siswa perempuan 13. Kelas yang dipilih sebagai kelas eksperimen adalah kelas IC dengan jumlah siswa sebanyak 31 siswa, siswa laki-laki sebanyak 18 dan siswa perempuan 13. Rata-rata usia siswa adalah 7 tahun. Kelompok eksperimen adalah kelompok yang diberikan perlakuan.Perlakuan yang diberikan berupa pemberian pelajaran penjumlahan dan 91

(109) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 92 pengurangan bilangan dua angka dengan menggunakan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. Kelompok kontrol menerima materi pembelajaran yang sama tetapi tidak mendapatkan perlakuan yang sama dengan kelompok eksperimen. Kelompok kontrol menerima pembelajaran matematika seperti biasa dan tidak menggunakan alat peraga matematika. Alat peraga matematika yang digunakan adalah papan penjumlahan pengurangan. Pengumpulan data penelitian menggunakan tiga instrumen, yaitu perangkat pembelajaran, lembar observasi, dan tes prestasi. Tes prestasi berupa 10 soal pilihan ganda. Semua instrument yang digunakan sudah melalui proses validitas dan reliabilitas. Validasi isi dilakukan oleh 3 validator ahli, yaitu 1 dosen dan 2 guru. Validitas muka dilakukan kepada siswa yang sudah pernah mendapat materi penjumlahan dan pengurangan dua angka. Validitas konstruk dilakukan dengan uji empiris kepada 66 siswa kelas II SD Kanisius Sengkan. Penelitian dilakukan diantara pemberian pre-test dan post-test.Sebelum penelitian dilaksanakan, kedua kelas diberikan pre-test. Pemberian pre-test dilakukan dengan tujuan melihat kemampuan awal siswa sebelum diberi tindakkan. Soal pre-test yang diberikan untuk kedua kelas adalah sama. Pembelajaran untuk penelitian dilaksanakan setelah pemeberian pre-test kepada kedua kelompok. Pembelajaran untuk kelas kontrol berlangsung seperti biasa. Pembelajaran pada kelas eksperimen dilaksanakan dengan menggunakan alat peraga matematika berbasis metode Montessori berupa papan penjumlahan pengurangan. Ketika pembelajaran telah selesai diberikan, kedua kelas diberikan posttest. Post-test diberikan dengan tujuan melihat ada tidaknya perbedaan

(110) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 93 prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis Montessori. Tabel 4.1 adalah gambaran umum kegiatan pada kedua kelompok. Tabel 4.1 Kegiatan Pembelajaran Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen Kel. Tanggal 04/02/14 Kegiatan Guru Mengawasi jalannya pre-test bersama peneliti. Melakukan pengenalan alat peraga, melakukan demonstrasi cara penggungaan alat untuk materi penjumlahan bilangan dua angka tanpa teknik meminjam. Melakukan demonstrasi penggunaan alat peraga untuk materi pengurangan bilangan dua angka Melakukan demonstrasi penggunaan alat peraga untuk materi penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka Kegiatan Siswa Pre-test Keterangan Berjalan dengan baik Melakukan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga materi penjumlahan dua angka tanpa teknik meminjam. Siswa senang menggunakan alat peraga dan antusias untuk belajar. Melakukan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga dengan materi pengurangan bilangan dua angka. Melakukan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga untuk materi penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka Siswa mulai memahami cara penggunaan alat peraga. Mengawasi jalannya post-test bersama peneliti. Mengawasi jalannya pre-test bersama peneliti. Post-test Berjalan dengan baik Pre-test Berjalan dengan baik 07/02/14 Penyampaian materi penjumlahan bilangan dua angka. Melakukan pembelajaran, tanya jawab, mengerjakan soal tanpa alat peraga 10/02/14 Penyampaian materi pengurangan bilangan dua angka 14/02/14 Penyampaian materi penjumlahan dan Melakukan pembelajaran, tanya jawab, mengerjakan soal tanpa alat peraga apapun. Melakukan pembelajaran, tanya Siswa cukup mengerti penjelasan guru namun keadaan siswa ramai. Siswa cukup mengerti penjelasan guru dan dapat berjalan dengan lancar. Ada beberapa siswa yang belum 07/02/14 12/02/14 EKSPERIMEN 14/02/14 1702/14 KONTROL 03/02/14 Semua berjalan lancar

(111) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Kel. Tanggal 16/02/14 Kegiatan Guru pengurangan tanpa teknik menyimpan. Kegiatan Siswa jawab, mengerjakan soal tanpa alat peraga. Mengawasi jalannya pre-test bersama peneliti. Post-test 94 Keterangan mengerti penjelasan guru dan perlu pendampingan dalam pengerjaan. Berjalan dengan baik Tabel 4.1 menggambarkan proses yang dilalui ketika penelitian berlangsung. Sebelum penelitian, siswa diberikan pre-test dan sesudah penelitian siswa diberikan post-test. Materi yang disampaikan di kelompok kontrol pada pertemuan pertama adalah materi penjumlahan bilangan dua angka. Metode yang digunakan guru adalah ceramah secara klasikal. Guru juga tidak menggunakan alat peraga ataupun media pembelajaran. Guru memulai pelajaran dengan mengajak siswa bernyanyi “satu ditambah satu”. Guru menyampaikan materi dengan menuliskan soal dipapan tulis, menjelaskan secara klasikal, memberikan soal secara lisan dan memeriksa hasil pekerjaan siswa. Kondisi siswa cenderung gaduh dan guru selalu berusaha mengkondisikan siswa sebagaimana baiknya (lampiran 19). Ada beberapa siswa yang dengan mudah mengerjakan soal tetapi ada banyak siswa yang memerlukan bimbingan khusus untuk dapat mengerjakan soal. Guru menutup pembelajaran dengan memberikan evaluasi dan PR. Pertemuan kedua di kelompok kontrol tidak jauh berbeda dengan pertemuan pertama. Materi yang disampaikan guru adalah pengurangan bilangan dua angka. Guru memberikan apersepsi berupa nyanyian “ayam berkotek”. Metode yang digunakan guru adalah sama seperti ketika mengajar biasanya yaitu ceramah dan penugasan-penugasan. Guru menyampaikan materi dengan

(112) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 95 menuliskan contoh soal dan contoh pengerjaan di papan tulis. Siswa diminta memperhatikan guru ketika menyampaikan materi di depan kelas. Guru mengajarkan materi dengan memperhatikan nilai tempa bilangan dalam soal. Angka yang merupakan puluhan dikurangkan dengan angka dengan nilai tempat puluhan juga, begitu pula pengurangan angka dengan nilai satuan. Pertemuan terakhir untuk penelitian pada kelompok kontrol berisi pengulangan materi penjumlahan dan pengurangan dua angka. Guru tidak banyak menyampaikan materi, guru lebih banyak memberikan soal-soal latihan kepada siswa.guru memberikan soal kemudian memberikan waktu bagi siswa untuk menjawab. Guru berkeliling untuk melihat hasil pekerjaan siswa. Siswa yang masih kurang paham seketika langsung diberitahu cara untuk mengerjakannya. Kondisi kelas sangat gaduh karena guru sibuk berkeliling untuk memeriksa pekerjaan masing-masing siswa dan kurang memperhatikan kegiatan keseluruhan siswa. Kegiatan setiap pertemuan pada kelompok eksperimen terlihat berbeda dengan kelompok kontrol. Guru menggunakan metode pembelajaran cooperative learning pada pembelajaran yang dilaksanakan di kelompok eksperimen. Perbedaan yang lainnya adalah guru menggunakan alat peraga matermatika berbasis metode Montesssori yang dinamakan papan penjumlahan pengurangan. Papan tersebut digunakan untuk mempermudah siswa dalam memahami penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka. Pada pertemuan pertama materi yang diajarkan adalah penjumlahan bilangan dua angka. Diawal pembelajaran guru melakukan apersepsi dengan bernyanyi. Untuk membangun

(113) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 96 pengalaman belajar siswa, guru mengawali dengan memperkenalkan alat peraga papan penjumlahan pengurangan. Guru juga mengajarkan bagaimana cara menggunakan alat peraga untuk belajar penjumlahan bilangan dua angka. Kegiatan siswa adalah menyimak penjelasan guru mengenai materi pelajaran dan penggunaan alat peraga. Seusai guru menjelaskan, siswa dibagi kedalam delapan kelompok. Setiap kelompok mendapat satu set alat peraga yang berupa papan, kartu soal kotak yang berisi manik satuan, spidol, dan penghapus. Kegiatan inti diisi dengan kegiatan siswa menggunakan alat peraga dan ditutup dengan memberikan soal evaluasi kepada siswa. Kondisi siswa termasuk ramai tetapi ramai karena bekerja kelompok dengan teman untuk mengerjakan soal. Tidak ada siswa yang gaduh dan melakukan kegiatan lain yang tidak ada hubungannya dengan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran pada pertemuan kedua di kelompok eksperimen beris tentang materi pengurangan bilangan dua angka. Guru menggunakan metode pengajaran yang sama dengan metode pembelajaran pada pertemuan pertama. Alat peraga yang digunakan juga sama, yaitu papan penjumlaha pengurangan berbasis metode Montessori. Siswa terlihat semakin bersemangat dalam belajar. Mereka mulai akrab dengan alat dan mulai ingin mencoba alat dengan sendiri (lampiran 19). Kegiatan siswa adalah bekerja kelompok mengerjakan kartu soal dan tambahan soal dari guru. Guru menyimpulkan dan memberi PR di akhir pembelajaran. Hari terakhir dikelompok eksperimen juga berjalan dengan lancar.Materi yang diajarkan adalah penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka. Materi

(114) 97 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI merupakan pengulangan dari pertemuan pertama dan ketiga. Diakhir pembelajaran guru menyampaikan bahwa hari tersebut adalah hari terakhir pembelajaran dengan menggunakan alat peraga. Banyak siswa yang menyayangkan hal tersebut dan meminta guru untuk belajar dengan alat peraga lagi (lampiran 20). B. Hasil Penelitian Hasil penelitian akan membahas mengenai hasil perhitungan data yang diperoleh dalam penelitian ini. Data yang diolah diperoleh dari pemberian pre-test dan post-test. Data berupa skor pret-test dan skor post-test. Deskripsi data hasil pre-test dan post-test kelompok kontrol dan eksperimen yang diolah menggunakan program SPSS 20.00 tergambar pada tabel 4.2. Tabel 4.2 Tabel Deskripsi Data Penelitian Statistics Pre_Kontrol Post_Kontrol Pre_Eksperimen Valid 31 31 31 N Missing 0 0 0 Mean 5.42 7.94 5.81 Std. Error of Mean .253 .202 .224 Median 6.00 8.00 6.00 a a Mode 6 7 5 Std. Deviation 1.409 1.124 1.250 Minimum 2 6 3 Maximum 8 10 8 Sum 168 246 180 a. Multiple modes exist. The smallest value is shown Post_Eksperimen 31 0 8.48 .179 9.00 9 .996 7 10 263 Tabel 4.2 berisi tentang deskripsi data sksor pre-test dan skor post-test. Rata-rata hasil skor pre-test kelompok kontrol adalah 5,42 dan rata-rata skor pretest kelompok eksperimen adalah5,81. Skor terendah untuk kelompok kontrol adalah 2 dan kelompok eksperimen adalah 3. Skor tertinggi untuk pre-test dari

(115) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 98 kedua kelompok adalah 8. Rata-rata skor post-test yang diperoleh kelompok kontrol ialah 7,94 dan rata-rata skor post-test untuk kelompok eksperimen ialah 8,48. Skor terendah untuk post-test kelompok kontrol ialah 6 dan skor post-test terendah untuk kelompok eksperimen ialah 7. Skor tertinggi untuk post-test kedua kelompok adalah 10. Data mengenai hasil pre-test dan post-test kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dirangkum dalam tabel 4.3. Tabel 4.3 Skor Pre-test dan Post-test Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen Deskripsi Data Rerata (̅) Median Skor terendah Skor tertinggi Standar deviasi Kenaikan skor Kenaikan (%) Kelas Kontrol Pre-test Post-test 5,42 7,94 6,00 8,00 2,00 6,00 8,00 10,00 1,40 1,12 2,52 46,49% Kelas Eksperimen Pre-test Post-test 5,81 8,48 6,00 9,00 3,00 7,00 8,00 10,00 1,25 0,99 2,67 45,95% Keterangan: Kenaikan skor dihitung dengan rumus = rerata skor pre-test – rerata skor post-test Kenaikan dalam persen dihitung dengan rumus = x 100% Tabel 4.2 menjelaskan rata-rata, skor tertinggi, skor terendah, kenaikan skor dan persentase kenaikan skor. Kenaikan skor diperoleh dari mengurangi hasil skor post-test dengan hasil skor pre-test untuk masing-masing kelompok. Kelompok kontrol memiliki kenaikan skor 2,52 dan kelompok eksperimen memiliki kenaikan skor 2,67. Dari perbedaan angka tersebut, diketahui bahwa kelompok eksperimen memiliki kenaikan skor yang lebih tinggi.Persentase kenaikan skor diperoleh dari membagi angka kenaikan skor dengan rerata skor pre-test kemudian mengalikannya dengan 100%. Persentase kenaikan skor yang diperoleh oleh kelompok kontrol yaitu 46,49% dan kelompok eksperimen 45,96%.

(116) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 99 Peningkatan atau penurunan dapat diketahui secara lebih mudah dengan menggunakan grafrik (Sudjana, 2002: 52). Gambar 4.1 merupakan grafik yang menggambarkan data hasil pre-test dan post-test pada penelitian ini. Gambar 4.1 Grafik Perbandingan Rata-Rata Skor Pre-test dan Post-test Kelompok Kontrol dengan Kelompok Eksperimen Gambar 4.1 menunjukkan perbandingan hasil rata-rata skor pre-test dan rata-rata skor post-test kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen.Kedua kelompok sama-sama mengalami kenaikan. Kelompok kontrol mengalami kenaikan rata-rata skor sebesar 2,52 dari rata-rata hasil pre-test sebesar 5,42 menjadi rata-rata hasil post-test sebesar 7,94. Kelompok eksperimen dengan ratarata skor pre-test sebesar 5,81 dan rata-rata skor post-test sebesar8,48 mengalami kenaikan rata-rata skor sebesar 2,67.

(117) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 100 Proses analisis data pada jenis penelitian kuantitatif harus dilanjutkan sampai analisis statistik inferensial. Analisis statistik inferensial dilakukan untuk dapat menarik kesimpulan yang berlaku untuk populasi (Sugiyono, 2012: 147). Semua data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan beberapa prosedur yaitu uji homogenitas dan uji normalitas skor pre-test, uji asumsi klasik independent ttest, uji hipotesi, menguji besar pengaruhdan menguji signifikansi. Langkah pengujian tersebut dilakukan untuk menjawab rumusan masalah. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “apakah ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori?”. Hipotesis alternatifpenelitian ini adalah ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. Hipotesis nol pada penelitian ini yaitu tidak ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. 1. Hasil Uji Skor Pre-test Analisis data yang pertama kali dilakukan adalah adalah menguji skor pre- test. Pengujian skor pre-test ini bertujuan untuk melihat kemampuan awal dan kesamaan prestasi dari kedua kelompok. Pengujian pre-test dilakukan mealui tiga tahap yaitu uji normalitas, uji homogenitas, dan independent t-test. a. Hasil uji normalitas skor pre-test Data skor hasil pre-test dianalisis normalitasnya untuk melihat sebaran data. Uji normalitas dilakukan menggunakan rumusKolmogorov-Smirnov.Uji normalitas dilakukan pada skor pre-test kedua kelompok menggunakan bantuan program SPSS 20.00. Hipotesis untuk uji normalitas skor pre-test adalah:

(118) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Ho 101 : Sebaran data skor pre-test tidak berbeda dengan curve normal atau data skor pre-test normal. Ha : Sebaran data skor pre-test berbeda dengan curve normal atau data skor pre-test tidak normal. Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan dari hasil uji normalitas skor pre-test menggunakan Kolmogorov-Smirnov adalah: 1) Jika harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak, artinya sebaran data skor pre-test sesuai dengan curve normal atau data skor pre-test terdistribusi normal. 2) Jika harga Sig. (2-tailed) < 0,05 maka Ho titolak atau Ha gagal ditolak, artinya sebaran data skor pre-test tidak sesuai dengan curve normal atau data skor pre-test teristribudi tidak normal. Hasil perhitungan uji normalitas skor pre-test untuk kelompok kontrol dengan menggunakan program SPSS 20.00 dapat dilihat pada tabel 4.4. Tabel 4.4 Hasil Perhitungan Uji Normalitas Skor Pre-test Kelompok Kontrol One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test N Normal a Parameters Most Extreme Differences Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) a. Test distribution is Normal. Kel_Kontrol 31 1.00 c .000 Pretest 31 5.42 1.409 .241 .179 -.241 1.339 .055

(119) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 102 Tabel 4.4 adalah output SPSS untuk perhitungan uji normalitas skor pretest kelompok kontrol. Nilai Sig. (2-tailed) menunjukkan hasil uji normalitas. Nilai Sig.(2-tailed) menunjukkan angka 0,055 (Sig.(2-tailed) ≥ 0,05) maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak, artinya data skor pre-test terdistribusi normal. Skor pre-test untuk kelompok kontrol terdistribusi normal. Cara lain yang dapat digunakan adalah dengan melihat visualisasi grafik P-P Plots (probabilityprobability plots). Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan dari hasil uji normalitas skor pre-test menggunakan visualisasi grafik P-P Plots ialah 1) Jika penyebaran titik berada di sekitar garis diagonal ideal maka data skor pre-test terdistribusi normal. 2) Jika penyebaran titik tidak berada di sekitar garis diagonal ideal maka data skor pre-test terdistribusi tidak normal. Gambar 4.2 adalah gambar histogram (sebelah kiri) dan P-P Plots (sebelah kanan). Kedua gambar mengindikasikan bahwa data dari skor pre-test kelompok kontrol terdistribusi normal. Penyebaran titik berada di sekitar garis diagonal ideal. Gambar 4.2 Histogram (kiri) dan P-P Plots (kanan) Skor Pre-test Kelompok Kontrol

(120) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 103 Gambar 4.2 menggambarkan histogram dan P-P plots untuk kelompok kontrol. Bentuk histogram dari rendah ke tinggi dan berangsung merendah lagi.Pola histogram menggambarkan kurve normal. P-P plots menunjukkan sebaran titik berada di sekitar garis idel, maka dapat dikatakan bahwa data adalah normal. Hasil perhitungan uji normalitas skor pre-test untuk kelompok eksperimen dengan menggunakan program SPSS 20.00 dapat dilihat pada tabel 4.5. Tabel 4.5 Hasil Perhitungan Uji Normalitas Skor Pre-test Kelompok Eksperimen One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test N Mean Std. Deviation Absolute Most Extreme Positive Differences Negative Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) a. Test distribution is Normal. Normal a Parameters Kel_Eks 31 2 .000 c Pretest 31 5.81 1.25 0.16 0.16 -0.142 0.891 0.405 Tabel 4.5 adalah output SPSS untuk perhitungan uji normalitas skor pre-test kelompok eksperimen. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada kolom Sig. (2tailed). Nilai Sig.(2-tailed) menunjukkan angka 0,405 (Sig. (2-tailed) ≥ 0,05) maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak, artinya data skor pre-test terdistribusi normal. Skor pre-test untuk kelompok eksperimen terdistribusi normal. Cara yang kedua adalah dengan melihat visualisasi grafik P-P Plots maners duis (probability-probability plots). Gambar 4.3 adalah gambar histogram (kiri) dan PP Plots (kanan). Kedua gambar mengindikasikan bahwa data dari skor pre-test

(121) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 104 kelompok eksperimen terdistribusi normal. Penyebaran titik berada di sekitar garis diagonal ideal. Gambar 4.3 Histogram (kiri) dan P-P Plots (kanan) Skor Pre-test Kelompok Eksperimen Gambar 4.3 menggambarkan histogram dan P-P plots untuk kelompok eksperimen. Bentuk histogram dari rendah ke tinggi dan berangsung merendah lagi. Pola histogram menggambarkan kurve normal. P-P plots menunjukkan sebaran titik berada di sekitar garis idel,maka dapat dikatakan bahwa data adalah normal. Pengujian normalitas skor pre-test menunjukkan bahwa kedua kelompok memilik data yang sama-sama terdistribusi normal sehingga dapat dilanjutkan dengan homogenitas skor pre-test atau menggunakan statistik parametris.

(122) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. 105 Hasil uji homogenitas skor pre-test Data pre-test yang diperoleh dari penelitian dianalisis dan diuji homogenitasnya menggunakan Lavene’s test. Hipotesis untuk uji homogenitas skor pre-test adalah: Ho : Tidak ada perbedaan varian antara skor pre-test kelompok kontrol dan skor pre-test kelompok eksperimen atau skor pre-test kedua kelompok adalah homogen. (Ho : σ12 = σ22) Ha : Ada perbedaan varian antara skor pre-test kelompok kontrol dan skor pre-test kelompok eksperimen atau skor pre-test kedua kelompok adalah tidak homogen. (Ha : σ12 ≠ σ22) Kriteria yang dipergunakan dalam menarik kesimpulan dari hasil uji homogenitas skor pre-test adalah: 1) Jika harga Sig. ≥ 0,05 maka Hogagal ditolak atau Haditolak, artinya tidak ada perbedaan varian antara skor pre-test kelompok kontrol dan skor pretest kelompok eksperimen atau data skor pre-test kedua kelompok homogeni. 2) Jika harga Sig. < 0,05 maka Hoditolak atau Hagagal ditolak, artinya ada perbedaan varian antara skor pre-test kelompok kontrol dan skor pre-test kelompok eksperimen atau data skor pre-test kedua kelompok tidak homogen. Hasil perhitungan uji homogenitas dengan menggunakan program SPSS 20.00 dapat dilihat pada tabel 4.6.

(123) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 106 Tabel 4.6 Hasil Perhitungan Uji Homogenitas Skor Pre-test Levene's Test for Equality of Variances F Pretest Equal variances assumed .415 Sig. .522 Equal variances not assumed Tabel 4.6 adalah output SPSS untuk hasil perhitungan uji homogenitas skor pre-test kedua kelompok. Nilai Sig. pada kolom Lavene’s test menunjukkan hasil uji homogenitas. Nilai Sig. menunjukkan angka 0,522 ( Sig. ≥ 0,05) maka H0 gagal ditolak atau Ha ditolak, artinya data skor pre-test kedua kelompok homogen atau tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pre-test kelompok kontrol dan skor pre-test kelompok eksperimen. Hasil uji homogenitas menunjukkan data kedua kelompok homogen maka analisis data dilanjutkan dengan uji independent t-test untuk skor pre-test. c. Hasil uji independet t-test skor pre-test Uji independent t-test dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan rata-rata dari hasil pre-test kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hipotesis yang digunakan dalam dalam uji independent t-test skor pre-test ini adalah:

(124) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Ho 107 : Tidak ada perbedaan rata-rata skor pre-test antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. (µ 1 = µ 2) Ha : Ada perbedaan rata-rata skor pre-test antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. (µ 1 ≠ µ 2) Kriteria pengujian independent t-test yang digunakan adalah: Jika harga Sig. ≥ 0,05; berarti Ho gagal ditolak atau Ha ditolak, artinya 1) tidak ada perbedaan rata-rata antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. 2) Jika harga Sig. < 0,05; berarti Ho ditolak atau Ha gagal ditolak, artinya ada perbedaan rata-rata skor pre-test antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hasil perhitungan uji independent t-test dengan menggunakan program SPSS 20.00 dapat dilihat pada tabel 4.7. Tabel 4.7 Hasil Perhitungan Uji Independent t-test Skor Pre-test t-test for Equality of Means T Pretest Equal variances assumed Equal variances not assumed Df 95% Confidence Interval of the Difference Sig. (2tailed) Mean Difference Std. Error Difference Lower Upper 1.145 60 .257 -.387 .338 1.064 .289 1.145 59.156 .257 -.387 .338 1.064 .290

(125) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 108 Hasil uji independent t-test menunjukkan Sig.0,257 ≥ 0,05 yang berarti Ho gagal ditolak atau Ha ditolak. Hal tersebut dapat dimaknai bahwa tidak ada perbedaan rata-rata skor pre-test kelompok kontrol dan eksperimen maka pengujian dapat dilanjutkan dengan langkah uji prasyarat analisis. 2. Hasil Uji Prasyarat Analisis Prosedur analisis yang selanjutnya adalah menguji asumsi klasik independent t-test. Tahap yang ada pada uji analisis untuk uji asumsi klasik yaitu uji normalitas skor post-test, uji homogenitas skor post-test, dan independence. a. Uji normalitas skor post-test Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji normalitas data dengan Kolmogorov-Smirnov. Hipotesis untuk uji normlitas skor post-test adalah: Ho : Sebaran data skor post-test tidak berbeda dengan curve normal atau data skor post-test normal. Ha : Sebaran data skor post-test berbeda dengan curve normal atau data skor post-test tidak normal. Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan dari hasil uji normalitas skor post-test menggunakan Kolmogorov-Smirnov adalah: 1) Jika harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak, artinya data skor post-test terdistribusi normal. 2) Jika harga Sig. (2-tailed) < 0,05 maka Ho ditolak atau Ha gagal ditolak, artinya data skor post-test terdistribusi tidak normal.

(126) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 109 Hasil perhitungan uji normalitas skor post-test dengan menggunakan program SPSS 20.00 dapat dilihat pada tabel 4.8. Tabel 4.8 Hasil Perhitungan Uji Normalitas Skor Post-test Kelompok Kontrol One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Post_kont N 31 Mean 7.94 a,b Normal Parameters Std. Deviation 1.124 Absolute .185 Most Extreme Differences Positive .185 Negative -.183 Kolmogorov-Smirnov Z 1.028 Asymp. Sig. (2-tailed) .242 a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. Tabel 4.8 adalah output SPSS untuk perhitungan uji normalitas skor post-test kelompok kontrol. Nilai Sig.(2-tailed) menunjukkan hasil uji normalitas. Nilai Sig.(2-tailed) menunjukkan angka 0,242 (Sig.(2-tailed) ≥ 0,05) maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak, artinya data skor post-test terdistribusi normal. Cara lain yang dapat digunakan adalah dengan melihat visualisasi grafik P-P Plots (probability-probability plots). Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan dari hasil uji normalitas skor pre-test menggunakan visualisasi grafik P-P Plots adalah: 1) Jika penyebaran titik berada di sekitar garis diagonal ideal maka data skor post-test terdistribusi normal. 2) Jika penyebaran titik tidak berada di sekitar garis diagonal ideal maka data skor post-test terdistribusi tidak normal.

(127) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 110 Gambar 4.4 adalah gambar histogram (kiri) dan P-P Plots (kanan). Kedua gambar mengindikasikan bahwa data dari skor pre-test kelompok kontrol terdistribusi normal. Penyebaran titik berada di sekitar garis diagonal ideal. Gambar 4.4 Histogram (kiri) dan P-P Plots (kanan) Skor Post-test Kelompok Kontrol Gambar 4.4 menggambarkan histogram dan P-P plots untuk rata-rata skor post-test kelompok kontrol. Bentuk histogram dari rendah ke tinggi dan berangsung merendah lagi. Pola histogram menggambarkan kurve normal. P-P plots menunjukkansebaran titik berada di sekitar garis ideal, maka dapat dikatakan bahwa data adalah normal. Hasil perhitungan uji normalitas skor post-test untuk kelompok eksperimen dengan menggunakan program SPSS 20.00 dapat dilihat pada tabel 4.9.

(128) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 111 Tabel 4.9 Hasil Perhitungan Uji Normalitas Skor Post-test Kelompok Eksperimen One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Post_eks N 31 Mean 8.48 a,b Normal Parameters Std. Deviation .996 Absolute .214 Most Extreme Differences Positive .170 Negative -.214 Kolmogorov-Smirnov Z 1.192 .117 Asymp. Sig. (2-tailed) a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. Nilai Sig. (2-tailed) menunjukkan hasil uji normalitas. Nilai Sig.(2-tailed) menunjukkan angka 0,117 (Sig.(2-tailed) ≥ 0,05) maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak, artinya data skor post-test terdistribusi normal. Skor post-test untuk kelompok eksperimen terdistribusi normal. Cara yang kedua adalah dengan melihat visualisasi grafik P-P Plots (probability-probability plots). Gambar 4.5 adalah gambar histogram (kiri) dan PP Plots (kanan). Kedua gambar mengindikasikan bahwa data dari skor post-test kelompok eksperimen terdistribusi normal. Penyebaran titik berada di sekitar garis diagonal ideal. Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil uji normalitas skor posttest adalah data terdistribusi secara normal sehingga analisis data yang digunakan adalah statistik parametris.

(129) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 112 Gambar 4.5 Histogram (kiri) dan P-P Plots (kanan) Skor Post-test Kelompok Eksperimen Gambar 4.5 menggambarkan histogram dan P-P plots untuk rata-rata skor post-test kelompok eksperimen. Bentuk histogram dari rendah ke tinggi dan berangsung merendah lagi. Pola histogram menggambarkan kurve normal. P-P plots menunjukkansebaran titik berada di sekitar garis idel, maka dapat dikatakan bahwa data adalah normal. b. Uji homogenitas skor post-test Analisis yang selanjutnya dilakukan adalah menguji homogenitas skor post-test kelompok kontrol dengan independent t-test. Pengujian independent ttest menggunakan SPSS 20.00. Output SPSS dapat dilihat pada lampiran 16. Hipotesis untuk uji homogenitas skor post-test adalah: Ho :Tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor post-test kelompok kontrol dan skor post-test kelompok eksperimen. (1 ≠ 2) Ha :Ada perbedaan yang signifikan antara skor post-test kelompok kontrol dan skor post-test kelompok eksperimen. (1 = 2)

(130) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 113 Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan dari hasil uji homogenitas skor post-test adalah: 1) Jika harga Sig. ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak, artinya data skor post-test kedua kelompok homogen atau tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor post-test kelompok kontrol dan skor post-test kelompok eksperimen. 2) Jika harga Sig. < 0,05 maka Ho ditolak atau Ha gagal ditolak, artinya data skor pre-test kedua kelompok tidak homogen atau ada perbedaan yang signifikan skor post-test antara kelompok kontrol dan skor post-test kelompok eksperimen. Hasil perhitungan uji homogenitas skor post-test untuk kelompok eksperimen dengan menggunakan program SPSS 20.00 dapat dilihat pada tabel 4.10. Tabel 4.10 Hasil Perhitungan Uji Homogenitas Skor Post-test Levene's Test for Equality of Variances Equal variances assumed Posttest F Sig. 0.193 0.662 Equal variances not assumed Tabel 4.10 merupakan hasil perhitungan uji homogenitas skor post-test. Korfisien dalam kolom Sig.menunjukkan hasil uji homogenitas. Nilai Sig. pada

(131) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 114 kolom Lavene’s test menunjukkan angka 0,662 (Sig. ≥ 0,05) maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak, artinya data skor post-test kedua kelompok homogen atau tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor post-test kelompok kontrol dan skor post-test kelompok eksperimen. Data yang diperoleh dalam penelitian merupakan data yang homogen maka data yang dilihat dalam output SPSS20.00 adalah kolom equal variance assumed. c. Independence Prasyarat analisis yang ketiga adalan independence. Analisis prasyarat ini telah memenuhi kriteria karena data berasal dari dua kelompok yang terpisah. Kedua kelompok sampel memiliki anggota yang berbeda satu sama lain. Masingmasing kelompok juga menerima perlakuan yang berbeda. Siswa yang menerima perlakuan di kelompok eksperimen tidak menerima perlakuan di kelompok kontrol, begitu sebaliknya. Kedua kelompok menerima perlakuan yang tidak sama sehingga tidak saling mempengaruhi. 3. Hasil Uji Hipotesis Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan independent t-test. Penggunaan independent t-test didasarkan pada terpenuhinya ketiga syarat yaitu sebaran data skor post-test normal, homogen, dan diperoleh dari data yang independen. Hipotesis untuk independent t-test iniadalah: Ho: Tidak ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. (1 = 2)

(132) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Ha: 115 Ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. (1≠2) Kriteria yang digunakan untuk menarik kesimpulan dari hasil uji independent t-test adalah: 1) Jika harga Sig. (2-tailed) ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak, artinya tidak ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. 2) Jika harga Sig. (2-tailed) < 0,05 maka Ho ditolak atau Ha gagal ditolak, artinya ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. `Hasil perhitungan uji independent t-test skor post-test untuk kedua kelompok dengan menggunakan program SPSS 20.00 dapat dilihat pada tabel 4.11. Tabel 4.11 Hasil Perhitungan Uji Independent Sample t-test Group Statistics Kelas N Mean Std. Deviation Std. Error Mean Posttest 1 31 7.94 1.124 .202 2 31 8.48 .996 .179

(133) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 116 Independent Samples Test t-test for Equality of Means T Posttest Equal varian ces assum ed Equal varian ces not assum ed df 95% Confidence Interval of the Difference Sig. (2tailed) Mean Differenc e Std. Error Difference Lower Upper -2.034 60 .046 -.548 .270 1.088 -.009 -2.034 59.145 .046 -.548 .270 1.088 -.009 Tabel 4.11 memperlihatkan bahwa t hitung pada tingkat kepercayaan 95% untuk hasil post-test pada baris equal variances assumed adalah -1,145 dengan Sig. (2 tailed) = 0,257. Uji hipotesis pada penelitian ini adalah menggunakan uji satu pihak maka hasil Sig. (2 tailed) dibandingkan langsung denganp val 0,05. Diketahui Sig.(2 tailed)< 0,05 maka hasil uji hipotesis dapat disimpulkan Ho ditolak atau Ha gagal ditolak, artinya ada perbedan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. Bukti manual mengacu rumus independent t-test pada gambar 3.7 adalah sebagai berikut: ̅ ̅ √ √( ) ( )

(134) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 117 √ √ Perhitungan secara manual t-test secara manual terbukti mendekati dengan perhitungan menggunakan program SPSS 20.00. 4. Hasil Uji Besar Pengaruh Uji besar pengaruh dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori terhadap prestasi belajar siswa. Analisis dilakukan dengan menggunakan rumus effect size. Perhitungan effect size pada penelitian ini adalah: √ √ ( √ ( ) )

(135) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 118 √ √ Perhitungan effect size menunjukkan 0,25 dengan kriteria small effect. Persentase besar pengaruh penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori dapat diketahui melalui perhitungan rumus koefisien determinasi. Hasil perhitungan koefisien determinasi tampak pada tabel 4.12. Tabel 4.12 Hasil Uji Koefisien Determinasi Komponen Hasil T -2,034 Df 60 R 0,25 2 r 0,0625 R2 6,25% Kesimpulan yang bisa dijelaskan dari hasil analisis data adalah bahwa secara umum kelompok eksperimen (M = 7,94; SE = 0,202) memiliki rata-rata skor post-test yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol (M = 8,48; SE = 0,179). Perbedaan skor tersebut signifikan t(60)= -2,034, p < 0,05 dan memiliki small effect size sebesar r = 0, 25. Koefisien determinasi menunjukkan bahwa R2 = 6,25% yang berarti bahwa peningkatan prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh penggunaan alat peraga sebesar 6,25% sedangkan sisanya sebesar 93,75% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain.

(136) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. 119 Hasil Uji Signifikansi Skor Pre-test dan Post-test Uji signifikansi dilakukan untuk mengetahui seberapa besar tingkat signifikansi hasil skor pre-test dan post-test pada kelompok kontrol dan eksperimen. Uji signifikansi selisih dilakukan dengan menggunakan paired t-test. 1. Hasil Uji Signifikansi Selisih Skor Pre-test dan Post-test Kelompok Kontrol Hipotesis yang digunakan dalam mengambil keputusan pada hasil paired t-test adalah: Ho : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih rata-rata skor pre-test dan rata-rata skor post-test kelompok kontrol (H: µ 1 = µ 2) Ha : Ada perbedaan yang signifikan antara selisih rata-rata skor pre-test dan ratarata skor post-test kelompok kontrol (H: µ 1 µ 2) Kriteria pengambilan keputusan yang dilakukan dalam paired t-test adalah 1) Jika harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih rata-rata skor pretest dan rata-rata skor post-test kelompok kontrol. 2) Jika harga Sig.(2-tailed)  0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih rata-rata skor pre-test dan rata-rata skor post-test kelompok kontrol. Hasil uji signifikansi dilakukan pada masing-masing kelompok. Uji signifikansi dilakukan dengan program SPSS 20.00 menggunakan rumus paired t-test . Hasil uji signifikansi dapat dilihat pada tabel 4.13.

(137) 120 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Tabel 4.13 Hasil Uji Signifikansi Skor Pre-test dan Post-test Kelompok Kontrol Paired Samples Test Paired Differences Pair 1 Pre_Kont Post_Kont Mean Std. Devia tion -2.516 1.387 Std. Error Mean .249 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -3.025 -2.007 t -10.098 df Sig. (2tailed) 30 Tebel 4.13 menunjukkan bahwa harga Sig.(2-tailed) sebesar 0,00 sehingga dapat disimpulkan bahwa Sig.(2-tailed) < 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak. Pernyataan tersebut artinya skor pre-test dan post-test kelompok kontrol adalah ada perbedaan yang signifikan antara selisih rata-rata skor pre-test dan rata-rata skor post-test kelompok kontrol. 2. Hasil Uji Signifikansi Selisih Skor Pre-test dan Post-test Kelompok Eksperimen Hipotesis yang digunakan dalam mengambil keputusan pada hasil paired t-test adalah: Ho : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih rata-rata skor pre-test dan rata-rata skor post-test kelompok eksperimen (H: µ 1 = µ 2) Ha : Ada perbedaan yang signifikan antara selisih rata-rata skor pre-test dan ratarata skor post-test kelompok eksperimen (H: µ 1 µ 2) Kriteria pengambilan keputusan yang dilakukan dalam paired t-test adalah .000

(138) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 121 Jika harga Sig.(2-tailed) ≥ 0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak 1) artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara selisih rata-rata skor pretest dan rata-rata skor post-test kelompok eksperimen. Jika harga Sig.(2-tailed)  0,05 maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak 2) artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih rata-rata skor pre-test dan rata-rata skor post-test kelompok eksperimen. Hasil uji signifikansi dilakukan pada masing-masing kelompok. Uji signifikansi dilakukan dengan program SPSS 20.00 menggunakan rumus paired t-test . Hasil uji signifikansi dapat dilihat pada tabel 4.14. Tabel 4.14 Hasil Uji Signifikansi Skor Pre-test dan Post-test Kelompok Eksperimen Paired Samples Test Paired Differences Pair 1 Pre_E ksp Post_ Eksp Mean Std. Devia tion -2.677 1.376 Std. Error Mean .247 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper -3.182 -2.173 t df Sig. (2tailed) -10.836 30 .000 Tabel 4.14 menunjukkan bahwa harga Sig.(2-tailed) sebesar 0,00 sehingga dapat disimpulkan bahwa Sig.(2-tailed) < 0,05 pre-test maka Ho gagal ditolak atau Ha ditolak artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih ratarata skor pre-test dan rata-rata skor post-test kelompok eksperimen.

(139) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI C. 122 Pembahasan Hasil analisis data penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. Skor rata-rata kelompok eksperimen yang menggunakan alat peraga matematika berbasis metode Montessori meningkat lebih tinggi daripada skor kelompok kontrol yang tidak menggunakan alat peraga serupa ketika pembelajaran. Peningkatan rata-rata skor hasil pre-test dan rata-rata skor hasil post-test dapat dilihat pada gambar 4.1. Gambar 4.1 Grafik Perbandingan Rata-Rata Skor Pre-test dan Post-test Kelompok Kontrol dengan Kelompok Eksperimen Gambar 4.1 merupakan grafik perbandingan hasil skor pre-test danskor post-test kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Grafik menunjukkan kenaikan rata-rata skor pre-test dibandingkan rata-rata skor post-test. Kenaikan prestasi belajar siswa tersebut disebabkan oleh penggunaan alat peraga

(140) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 123 matematika berbasis metode Montessori. Alat peraga matematika berbasis metode Montessori dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan matematikanya (Montessori, 2002: 169-175). Alat peraga matematika berbasis metode Montessori membebaskan siswa untuk belajar dengan alat dan melakukan perbaikan sendiri tanpa harus dikoreksi orang lain. Hal tersebut sesuai dengan salah satu karakteristik alat peraga berbasis metode Montessori yaitu auto-corection (Montessori, 2002: 169-175). Karakteristik auto-corection membuat siswa nyaman untuk membangun pengetahuan baru secara mandiri. Kenyamanan tersebut membuat siswa senang berlama-lama belajar sehingga pengetahuan siswa terbangun dengan kuat. Ketika pembelajaran berlangsung siswa begitu senang dan terlihat tertantang untuk belajar dengan alat peraga dan memecahakan soal yang ada (observasi lampiran 20). Guru juga tidak perlu mendampingi setiap anak dalam belajar karena karakteristik auto-corection membuat anak mampu belajar sendiri. Karakteristik alat peraga berbasis metode Montessori lainnya yang berperan dalam peningkatan prestasi belajar adalah karakteristik menarik. Alat peraga matematika berbasis metode Montessori dibuat dengan semenarik mungkin (Montessori, 2002: 174). Kemenarikkan alat peraga merangsang anak untuk mau mencoba belajar dengan alat peraga tersebut. Keindahan warna-warna maupun bentuk-bentuk yang nyata dan harmonis dengan lingkungan merupakan kunci keberhasilan siswa dalam belajar karena siswa usia sekolah dasar berada pada tingkat operasional konkret.

(141) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 124 Menurut Piaget tahap operasional konkret berada pada rentang usia 7 sampai 11 tahun (Desmita, 2009: 5). Individu yang berada pada tahap operasional mulai berpikir secara logis mengenai peristiwa-peristiwa nyata dan mengklasifikasikan benda-benda dalam berbagai macam bentuk (Desmita, 2009: 101). Sinkronasi karakteristik alat peraga berbasis metode Montessori dengan karakteristik siswa sekolah dasar yang berada pada tahap operasional konkret membuat siswa menganggap bahwa alat peraga berbasis metode Montessori adalah hal yang menarik untuk dipelajari bagian per bagian dan bentuk per bentuknya. Kelompok eksperimen begitu tertarik untuk belajar dengan alat peraga. Mereka saling belajar bersama, tidak melakukan keributaan, dan ingin terus menggunakan alat untuk mengeksplorasinya (observasi lampiran 20). Hasrat yang muncul dari dalam diri siswa tersebut membuat siswa semakin bersemangat mempelajari alat peraga berbasis metode Montessori sehingga materi pembelajaran yang dibawa oleh alat peraga dapat terserap maksimal dalam otak siswa dan prestasi belajar siswa akan meningkat. Secara khusus peningkatan prestasi belajar dapat terjadi pada bidang matematika yang sifat ilmunya adalah abstrak (Soedjadi, 2000: 11). Alat peraga matematika berbasis metode Montessori dapat membantu siswa memahami konsep abstrak dari materi mata pelajaran matematika dengan konsep nyata yang dibawa oleh alat peraga itu sendiri. Ketika pembelajaran berlangsung siswa tidak terlihat kesulitan. Siswa asyik mengerjakan sampai tidak terasa waktu sudah habis. Guru tetap mempertimbangkan waktu dalam RPP sehingga siswa diberikan waktu tambahan dan pembelajaran tetap sesuai dengan yang dijadwalkan (lampiran 20).

(142) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 125 Karakteristik alat peraga matematika berbasis metode Montessori terakhir yang dapat membantu siswa meningkatkan prestasi belajar siswa adalah autoeducation.Montessori menciptakan alat peraga sesuai dengan kemampuan siswa dan kebutuhan siswa (Montessori, 2002: 172). Lingkungan yang dapat membantu siswa dalam belajar adalah lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Pentingnya lingkungan belajar yang sesuai kebutuhan siswa sama dengan teori belajar konstrukvisme yang dikemukakan Bruner. Bruner mengatakan bahwa sekolah hendaknya menyediakan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan siswa untuk melakukan eksplorasi dan menemukan hal baru (Jamaris, 2013: 149). Piaget juga sependapat dengan Bruner, Ia menyatakan bahwa kemampuan berpikir siswa diperoleh dari berbagai pengalaman pemecahan masalah sehingga siswa aktif membangun pengetahuannya sendiri (Jamaris, 2013: 151). Alat peraga berbasis metode Montessori dapat membantu siswa untuk membangun pengetahuan sendiri yang sesuai dengan kebutuhan siswa, misalnya kebutuhan untuk belajar pemecahan masalah.Terpenuhinya kebutuhan siswa untuk belajar dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam berpikir.

(143) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN Pada bab ini akan dijabarkan mengenai kesimpulan, keterbatasan penelitian dan saran. Kesimpulan berisi jawaban atas rumusan masalah. Keterbatasan penelitian berisi hal-hal yang menjadikan penelitian belum maksimal. Saran menjabarkan hal-hal yang dapat menjadikan penelitian selanjutnya lebih baik. A. Kesimpulan Rumuan masalah penelitian ini adalah “apakah ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori?”. Hipotesis penelitian ini adalah ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga berbasis metode Montessori. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa ada perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga berbasis metode Montessori. Secara umum kelompok eksperimen (M = 8,10; SE = 0,193) memiliki rata-rata skor post-test yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol (M = 8,55; SE = 0,166). Perbedaan skor tersebut signifikan t(60)=-1,772, p < 0,05 dan memiliki small effect size sebesar r = 0,212. Koefisien determinasi menunjukkan bahwa R2 = 4,5% yang berarti bahwa peningkatan prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh penggunaan alat peraga sebesar 4,5% sedangkan sisanya sebesar 95,5% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Uji paired independent t-test menunjukkan bahwa harga Sig.(2 tailed) kedua kelompok adalah 0, maka terbukti 126

(144) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 127 bahwa ada perbedaan yang signifikan antara skor pret-test masing-masing kelompok dengan skor post-test masing-masing kelompok. B. Keterbatasan penelitian Keterbatasan pertama dalam penelitian ini adalah tidak adanya post-tes kedua kepada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen sehingga tidak dapat menguji retensi perbedaan prestasi atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori terhadap prestasi belajar siswa. Post-test kedua tidak dilaksanakan karena keterbatasan waktu penelitian dan juga kelas yang dijadikan sampel tidak dapat digunakan untuk penelitian dalam waktu lama. Banyaknya alat yang dapat disediakan juga merupakan keterbatasan penelitian. Pembelajara dengan menggunakan alat peraga matematika berbasis metode Montessori idealnya setiap anak memegang satu alat, namun pada penelitian ini hanya menggunakan 8 alat peraga untuk 25 siswa. Guru juga merupakan keterbatasan penelitian yang ketiga karena pengetahuan guru mengenai alat peraga sangat terbatas sehingga pengajaran menggunakan alat peraga belum maksimal. Keterbatasan penelitian yang terakhir adalah belum ada uji validitas terhadap instrumen yang digunakan untuk melakukan validitas isi. Intrumen yang belum diuji validitas adalah instrumen yang digunakan instrumen pembelajaran. menguji validitas isi untuk

(145) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI C. 128 Saran Saran yang dapat diajukan untuk penelitian selanjutnya adalah perlu diadakan post-test kedua untuk menguji retensi perbedaan prestasi siswa atas penggunaan alat peraga matematika terhadap prestasi belajar siswa. Banyaknya alat yang digunakan dalam penelitian hendaknya sesuai dengan banyaknya siswa yang digunakan sebagai sampel agar penggunaan alat peraga lebih terasa bagi siswa. Saran selanjutnya adalah guru yang mengajar hendaknya mendapatkan pelatihan khusus mengenai metode pembelajaran Montessori sehingga pembelajaran yang terjadi dapat mendekati pembelajaran dengan metode Montessori selanjutnya. Saran yang terakhir, hendaknya dilakukan uji validitas untuk semua instrument yang digunakan dalam penelitian agar semua instrumen dapat tepat dalam mengukur hal yang ingin diukur.

(146) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI DAFTAR REFERENSI Ali, M. (2009). Pendidikan untuk pembangunan nasional. Bandung: Imperial Bhakti Utama. Anggraheni, B. B., (2010). Peningkatan kemampuan menghitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat melalui media manic-manik pada siswa kelas IV sd balangan teras boyolali tahun pelajaran 2009/2010. Skripsi. Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Anitah, S. (2010). Media pembelajaran. Surakarta: Yuma Pustaka. Arikunto. (2012). Prosedur penilaian suatu pendekatan praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Arikunto. (2006). Dasar-dasar evaluasi pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Arora, Foy, Marthin, Michael. (2011). TIMSS 2011 international result in mathematics. USA: TIMSS & PIRLS International Study Center. Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). (2006). Standar isi dan standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar sd/mi. Jakarta: Cipta Jaya Bogardus, E. (2007). Quasi-experimental retrospective study: effect of formal math study skill instruction remedial college math achievement. USA: University of Phoenix. Bungin, B. (2011). Metodologi penelitian kuantitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Creswell. J. W. (2012). Research design. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Cohen, L., Manion, L., Morrison, K. (2007). Research method for education. New York: Rouledge. Dahar, R. W. (2011). Teori teori belaajr dan pembelajaran. Jakarta: Erlangga. Dantes, N. (2008). Tinjauan pedagogik pengaruh faktor kecerdasan, kreativitas, dan potensi diri terhadap keberhasilan dalam memimpin. Bandung: Rosda. Departemen Pendidikan Nasional. (2007). Kurikulum tingkat satuan pendidikan sekolah dasar. Jakarta: Depdiknas. Desmita. (2007). Psikologi perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya. 129

(147) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 130 Desmita, (2009). Psikologi perkembangan peserta didik. Bandung: Remaja Rosdakarya. Dimyati & Mudjiono. (2006). Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Ekawati, E. (2011). Peran, fungsi, tujuan, dan kerakteristik matemarika sekolah. 20 Mei 2014. http://p4tkmatematika.org/2011/10/peran-fungsitujuan-dan karakteristik-matematika-sekolah/. Field, Andy. (2009). Discovering statistic using SPSS, thrid edition. SAGE Publication. Hadiyanto. (2004). Mencari sosok desentralisasi manajemen pendidikan di indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. Hainstock, E. G. (1997). The essential montessori. USA: Penguins Group. Hartono. (2012). Statistik untuk penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hasbullah, J. (2006). Sosial kapital: menuju keunggulan budaya manusia Indonesia. Jakarta: MR-United Press. Hayat, B. & Suhendra Y. (2010). Benchmark internasional mutu pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Jamaris, M. (2013). Orientasis baru dalam psikologi pendidikan. Bogor: Ghalia Indonesia. Johnson, B. & Larry C. (2008). Education research: third edition. USA: Sage Publication. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. (2011). Survei Internasional TIMSS. http://litbang.kemdikbud.go.id/index.php/survei-internasional-timss.30 Oktober 2013(20:15). Lestari. (2013). Efektifitas penggunaan alat peraga kertas persegi satuan pada pembelajaran matematika. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Lillard, P.P. (1997). Montessori in the classroom.New York:Shocken Books. Lillard, P. P. (1996). Montessori today. New York: Schocken Books. Lillard, P. P. (2005). Montessori: The science behind the genius. Oxford: Oxford University Press. Lopata. (1997). Montessori: the sciene behind the genius. Oxford: Oxford University Press. Magini, A.P. (2013). Sejarah pendekatan Montessori. Yogyakarta: Kanisius.

(148) 131 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Margono. (2010). Metoodologi penelitian pendidikan. Jakarta: PT. Asdi Mahasatya. Masidjo, I. (1995). Penilaian pencapaian hasil belajar siswa di sekolah. Yogyakarta: Kanisius. Montessori. (2008). The absorbent mind: pikiran yang mudah menyerap, terjemahan dari Daryanto. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Montessori, M. (2002). The Montessori method. New York: Dover Publications. Montessori, M. (2013). Metode Montessori. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Munadi, Yudhi. (2010). Media pembelajaran. Jakarta: Gaung Persada (GP) Press. Nienhuis. (2012). Nienhuis catalog english. Netherland: Industriepark. Nordstokke. (2011).The operating characteristics od the non parametric Lavene’s test for equal variances with assesment and evaluation data. Practical assesment, rearch and evaluation.10(5), p.1-8. Rozalli, N.M. (2011). Journal of statistical modeling and analytics, Vol.2 No.1, p. 2133. Malaysia: Universiti Teknologi MARA. Rinduan. (2003). Dasar dasar Statistika. Bandung: Alfabeta. Sadiman, Rahardjo, Anung, dan Raharjito. (2009). Media pendidikan: pengertian, pengembangan, dan pemanfaatannya. Jakarta: Rajagrafindo Persada. Salkind, Neil J., (2009). Teori-teori perkembangan manusia. Bandung: Nusa Media. Sudjadi. (2000). Kiat pendidikan matematika di Indonesia. Depdiknas. Sudjana, N. (2005). Penilaian hasil proses belajar mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Sudjana. (2002). Metode penelitian. Bandung: Tarsito. Sugiyono. (2010). Komputindo. Statistika parametrik. Jakarta: PT. Elex Media Sugiyono. (2011). Metode penelitian kombinasi (mixed method). Bandung: Alfabeta. Sugiyono. (2012). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan r&d. Bandung: CV Alfabeta.

(149) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 132 Suherman. (2003). Strategi pembelajaran matematika kontemporer. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. Sukmadinata, N. S. (2009). Landasan psikologi proses pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya. Suparno, P. (2001). Teori perkembangan kognitif jean peaget. Yogyakarta: Kanisius. Surya. (2006). Kapita selekta kependidikan sd. Jakarta: Universitas Terbuka. Susanto, A. (2013). Teori pembelajaran di sekolah dasar. Jakarta: Kencana. Tjalla, A. (2010). Potret mutu pendidikan Indonesia ditinjau dari hasil-hasil studi Internasional. Jakarta: FIP Universitas Negeri Jakarta. Usman, Uzer. (1989). Menjadi Guru Profesional. Bandung : Remaja Rosdakarya. Usman. (2011). Menjadi guru professional. Bandung: Remaja Rosdakarya. Wahyuningsih, I. (2011). Pengaruh pendidikan model Montessori terhadap hasil belajar matematika siswa. Yogyakarta. Widoyoko. (2012). Teknik penelitian.Yogyakarta:Pustaka Pelajar. penyusunan instrumen Yulaelawati, E. (2004). Kurikulum dan pembelajaran. Bandung: Pakar Raya.

(150) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(151) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(152) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(153) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(154) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(155) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(156) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(157) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(158) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(159) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(160) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(161) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(162) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(163) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(164) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(165) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(166) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(167) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(168) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(169) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(170) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(171) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(172) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(173) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(174) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(175) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(176) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(177) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(178) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(179) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(180) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(181) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(182) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(183) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(184) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(185) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(186) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(187) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(188) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(189) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(190) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(191) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(192) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(193) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(194) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(195) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(196) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(197) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(198) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(199) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(200) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(201) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(202) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(203) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(204) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(205) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(206) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(207) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(208) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(209) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(210) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(211) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(212) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(213) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(214) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(215) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(216) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(217) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(218) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(219) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(220) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(221) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(222) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(223) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(224) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(225) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(226) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(227) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(228) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(229) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(230) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(231) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(232) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(233) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(234) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(235) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(236) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(237) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(238) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(239) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(240) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(241) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(242) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(243) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(244) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(245) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(246) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(247) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(248) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(249) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(250) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(251) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(252) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(253) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(254) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(255) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(256) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(257) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(258) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(259) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(260) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(261) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(262) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(263) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(264) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(265) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(266) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(267) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(268) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(269) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(270) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(271) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(272) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(273) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(274) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(275) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(276) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(277) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(278) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(279) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(280) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(281) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(282) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(283) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(284) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(285) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(286) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(287) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(288) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(289) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(290) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(291) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(292) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(293) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(294) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(295) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(296) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(297) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(298) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(299) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(300) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(301) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(302) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(303) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(304) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(305) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(306) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(307) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(308) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(309) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(310) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(311) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(312) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(313) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(314) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(315) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(316) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(317) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(318) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(319) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(320) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(321) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(322) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(323) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(324) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(325) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(326) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(327) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(328) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(329) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(330) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(331) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(332) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(333) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(334) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(335) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(336) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(337) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(338) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(339) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(340) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(341) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(342) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(343) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(344) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(345) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(346) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(347) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(348) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(349) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(350) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(351) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(352) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(353) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(354) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(355) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(356) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(357) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(358) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(359) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(360) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(361) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(362) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(363) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(364)

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Pengaruh penggunaan alat peraga dakon terhadap hasil belajar matematika siswa
4
25
161
Implementasi alat peraga pembagian berbasis metode Montessori pada pembelajaran matematika materi pembagian kelas II SD Kanisius Kenalan Magelang.
4
14
253
Persepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga papan pin perkalian berbasis metode Montessori.
0
1
175
Pengembangan alat peraga pembelajaran matematika SD materi perkalian berbasis metode Montessori.
1
3
262
Perbedaan prestasi belajar IPS siswa atas penerapan metode kooperatif tipe Jigsaw II.
0
2
153
Perbedaan prestasi belajar IPS siswa atas penerapan metode kooperatif tipe Jigsaw II
0
0
151
Pengembangan alat peraga perkalian ala Montessori untuk siswa kelas II SD Krekah Yogyakarta - USD Repository
1
3
133
Pengembangan alat peraga Montessori untuk keterampilan berhitung matematika kelas IV SDN Tamanan 1 Yogyakarta - USD Repository
0
0
136
Perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori - USD Repository
0
1
292
Perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori - USD Repository
0
0
381
Pengembangan alat peraga matematika untuk pembagian bilangan dua angka berbasis metode Montessori - USD Repository
0
6
178
Pengembangan alat peraga matematika untuk penjumlahan dan pengurangan berbasis metode Montessori - USD Repository
0
0
189
Perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori - USD Repository
0
0
286
Tingkat kepuasan siswa dan guru terhadap penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori - USD Repository
0
1
300
Perbedaan prestasi belajar siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori - USD Repository
0
0
156
Show more