PENGEMBANGAN ALAT PERAGA MATEMATIKA UNTUK PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN BERBASIS METODE MONTESSORI

Gratis

0
0
161
3 weeks ago
Preview
Full text
(1)PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGEMBANGAN ALAT PERAGA MATEMATIKA UNTUK PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh : Patricia Risma Ananti NIM : 101134092 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014

(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PENGEMBANGAN ALAT PERAGA MATEMATIKA UNTUK PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Oleh : Patricia Risma Ananti NIM : 101134092 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2014 i

(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ii

(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PENGESAHAN iii

(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN PERSEMBAHAN Skripsi ini saya persembahkan kepada : 1. Tritunggal Maha Kudus dan Bunda Maria atas curahan berkat, rahmat, dan kerahiman-Nya. 2. Bapakku, Tugiyanto dan Ibuku, Lusia Winarti yang tak pernah lelah mengidungkan doa sederhana untuk perjalanan hidup dan pendidikanku hingga saat ini. 3. Paulina Mayang Pinasti, adikku yang tersayang meski tak pernah terucap dalam kata, namun pasti selalu di hati. 4. Para sahabat dan teman terkasih yang selalu ada dalam segala kondisiku. 5. Pembaca yang budiman. iv

(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI HALAMAN MOTTO Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan. (Amsal 13: 4) Gerakkan, Kerjakan, Wujudkan. (Ibuku, Lusia Winarti) v

(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar referensi, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 21 Mei 2014 Peneliti, Patricia Risma Ananti vi

(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswi Universitas Sanata Dharma: Nama : Patricia Risma Ananti Nomor Mahasiswa : 101134092 Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah yang berjudul: Pengembangan Alat Peraga Matematika untuk Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan Berbasis Metode Montessori beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk apa saja, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikan di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya dengan sebenarnya. Yogyakarta, 21 Mei 2014 Yang menyatakan, Patricia Risma Ananti vii

(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK Ananti, Patricia Risma. (2014). Pengembangan alat peraga matematika untuk penjumlahan dan pengurangan pecahan berbasis metode Montessori. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma. Kata kunci: metode penelitian dan pengembangan, metode Montessori, alat peraga, pecahan, Matematika. Penggunaan alat peraga dapat membantu siswa dalam belajar matematika. Pemaduan dengan metode yang sesuai diharapkan dapat memberikan dampak yang baik dalam proses belajar maupun hasilnya. Permasalahan pendidikan di Indonesia dicerminkan oleh rendahnya prestasi siswa. Langkah perbaikan yang dilakukan pemerintah belum menjamin kualitas pendidikan. Ditambahkan pula bahwa masih banyak alat peraga sebagai alat bantu belajar yang belum teruji secara ilmiah. Salah satu metode yang digunakan dalam belajar dengan memanfaatkan lingkungan sekitar siswa adalah metode Montessori. Penelitian ini mengembangkan alat peraga matematika berbasis metode Montessori dengan ciri menarik, bergradasi, autocorrection, dan auto education. Satu ciri tambahan yang peneliti kembangkan adalah kontekstual untuk memanfaatkan potensi lokal dari lingkungan belajar siswa. Penelitian ini dilakukan di SD Kanisius Jomegatan Yogyakarta pada siswa kelas IV tahun ajaran 2013/2014 selama delapan bulan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (R&D). Penelitian ini dibatasi sampai pada uji coba lapangan terbatas terhadap enam orang siswa. Langkah penelitian ini terdiri atas lima tahap, yaitu kajian standar kompetensi dan kompetensi dasar, analisis kebutuhan, produksi alat peraga, pembuatan instrumen penelitian, dan validasi alat peraga hingga pada uji coba lapangan terbatas. Hasil dari penelitian ini adalah prototipe alat peraga matematika berbasis metode Montessori berupa blok pecahan. Produk alat peraga yang dikembangkan telah divalidasi oleh ahli di bidangnya, yakni ahli pembelajaran Montessori, ahli pembelajaran Matematika, guru Matematika, dan enam orang siswa pada uji coba lapangan terbatas. Hasil validasi produk menunjukkan rerata skor 3,7 dan masuk kategori “sangat baik”. Hasil tes siswa yang juga menunjukkan peningkatan sebesar 207% dari pretest ke posttest setelah menjalani pendampingan menggunakan alat peraga blok pecahan. Oleh sebab itu, alat peraga ini memberikan dampak yang baik dalam proses maupun hasil belajar siswa. viii

(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRACT Ananti, Patricia Risma. (2014). Developing a set of mathematics learning media for fraction addition and substraction based on Montessori method. A thesis. Yogyakarta: Elementary Teacher Education Study Program, Sanata Dharma University. Keywords: research and development method, Montessori method, learning media, fraction, Mathematic Learning media can help students understand mathematics. Appropriate learning media and method is expected to provide good impact in learning process and results. Education problem in Indonesia was reflected on students‟learning outcomes. The government‟s improvement didn‟t ensure the education quality. It was caused by lacking the learning media validation too. One of learning methods that adopt materials around the students is Montessori method. This research aimed at developing a mathematical learning media based on Montessori method with the characteristics like interesting, gradable, autocorrected, and autoeducated. An additional characteristic was contextual to the students‟ learning environment. This research was conducted in SD Kanisius Jomegatan Yogyakarta on grade IV of school year 2013/2014 for eight months. This study adopted research and development (R&D). The media were tried out to six students. The development applied five stages, namely the study of standards of competence and basic competence, the study of need analysis, the material production, the development of research instruments, and the material validation. The results of this study was material prototype for learning fraction addition and substraction in the form of “blok pecahan”. The product resulted was validated by experts on Montessori education, Math, Math teacher, and six students. The scores of validation was 3,7, which was considered to be very good. The test results of the students also increased 207% from pretest to posttest after they learned by using blok pecahan. It is implied that this material gave a good impact to the students‟ learning process and test result. ix

(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI PRAKATA Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat serta karunia-Nya hingga skripsi dengan judul Pengembangan Alat Peraga Matematika untuk Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan Berbasis Metode Montessori dapat peneliti selesaikan dengan baik. Penyusun skripsi ini menjadi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Sekolah Dasar. Skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik tak lepas dari dukungan berbagai pihak melalui berbagai cara. Atas peran tersebut, perkenankanlah peneliti menyampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. 2. Gregorius Ari Nugrahanta, SJ., S.S., BST., M.A. selaku Kaprodi PGSD dan dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama proses penyusunan skripsi ini. 3. E. Catur Rismiyati, S.Pd., M.A., Ed.D. selaku Wakaprodi PGSD. 4. Andri Anugrahana, S.Pd., M.Pd. selaku dosen pembimbingan II yang telah membimbing dan mendampingi peneliti dalam penyusunan skripsi ini. 5. Kristina Mularsih, S.Pd. selaku kepala SD Kanisius Jomegatan Yogyakarta yang telah memberikan ijin serta dukungan selama proses pelaksanaan penelitian di SD tersebut. 6. Fr. Siti Fatimah, S.Pd. selaku guru Matematika SD Kanisius Jomegatan yang membantu serta membimbing peneliti selama proses penelitian berlangsung. 7. Suprapti, S.Pd. selaku guru kelas IV SD Kanisius Jomegatan Yogyakarta yang mendukung proses penelitian ini. 8. Para dosen selaku ahli yang telah memberikan kontribusi dalam penelitian ini. 9. Siswa SD Kanisius Jomegatan, khususnya siswa kelas IV, yang telah bekerja sama dengan baik selama proses penelitian. 10. Kedua orang tuaku, Tugiyanto dan Lusia Winarti yang selalu mendukung dalam segala kondisi. x

(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11. Adikku, Paulina Mayang Pinasti yang telah mendukung dan memberikan semangat kepada peneliti. 12. Sahabat dan teman terkasih, Mbak Ayu, Chicha, Yogik, Dinta, Aji, Tinus, dan Agus yang selalu mendukung dalam segala kondisi selama penyusunan skripsi ini. 13. Suster Benedikte sebagai Ibu Asrama yang selalu percaya akan kemampuan terpendamku. 14. Teman-teman Asrama Syantikara yang memberikan pengalaman hidup selama peneliti tinggal di Unit 2 dan UBB. 15. Teman-teman skripsi payung R and D Montessori, Wulan, Agatha, Danik, Andre, Tira, Mido, dan Kristi yang telah berjuang bersama. 16. Teman-teman PPL SD Kanisius Jomegatan, Wulan, Ari, Danang, dan Mbak Dian yang membantu selama proses penelitian. 17. Rekan seperjalananku, Deta, Mbak Rasti, Bundo, dan Patris yang telah memberikan pengalaman selama peneliti berkuliah. 18. Teman-teman kelas B, Bhe Better 2010, yang telah memberikan semangat dan dukungan untuk peneliti. 19. Segenap pihak yang telah membantu, yang tidak dapat peneliti sebutkan satu per satu. Peneliti mengharapkan adanya saran, masukan, maupun kritik demi perbaikan skripsi ini agar lebih baik. Peneliti berharap skripsi yang telah disusun ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan semua pihak demi perkembangan dunia pendidikan. Terima kasih. Yogyakarta, 21 Mei 2014 Peneliti Patricia Risma Ananti xi

(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................. ii HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. iii HALAMAN PERSEMBAHAN .......................................................................... iv HALAMAN MOTTO ........................................................................................... v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .............................................................. vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI.............................................. vii ABSTRAK .......................................................................................................... viii ABSTRACT ........................................................................................................... ix PRAKATA ............................................................................................................. x DAFTAR ISI ........................................................................................................ xii DAFTAR BAGAN ............................................................................................. xvii DAFTAR TABEL ............................................................................................ xviii DAFTAR RUMUS .............................................................................................. xx DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xxi DAFTAR GRAFIK ........................................................................................... xxii DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xxiii BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1 1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................. 5 1.3 Tujuan Penelitian .............................................................................................. 6 1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................................ 6 1.5 Spesifikasi Produk............................................................................................. 7 1.6 Definisi Operasional.......................................................................................... 8 BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................. 10 2.1 Kajian Pustaka................................................................................................. 10 2.1.1 Hakikat Belajar............................................................................................. 10 2.1.2 Pendidikan Montessori ................................................................................. 11 2.1.2.1 Sejarah Montessori .................................................................................... 11 2.1.2.2 Prinsip Pendidikan dengan Metode Montessori ........................................ 12 2.1.3 Perkembangan Anak .................................................................................... 13 xii

(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.1.4 Alat Peraga Montessori ................................................................................ 14 2.1.4.1 Hakikat Alat Peraga .................................................................................. 14 2.1.4.2 Manfaat Alat Peraga .................................................................................. 16 2.1.4.3 Alat Peraga Matematika Berbasis Montessori .......................................... 16 2.1.4.4 Alat Peraga Blok Pecahan Berbasis Metode Montessori .......................... 19 2.1.5 Pembelajaran Matematika ............................................................................ 20 2.1.5.1 Hakikat Matematika .................................................................................. 20 2.1.5.2 Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar............................................. 21 2.2 Penelitian yang Relevan .................................................................................. 26 2.2.1 Penelitian Pembelajaran Matematika tentang Pecahan ................................ 26 2.2.2 Penelitian tentang Pendidikan Montessori ................................................... 27 2.3 Kerangka Berpikir ........................................................................................... 30 2.4 Pertanyaan Penelitian ...................................................................................... 31 BAB III METODE PENELITIAN .................................................................... 32 3.1 Jenis Penelitian ................................................................................................ 32 3.2 Setting Penelitian............................................................................................. 32 3.2.1 Objek Penelitian ........................................................................................... 32 3.2.2 Subjek Penelitian.......................................................................................... 33 3.2.3 Lokasi Penelitian .......................................................................................... 33 3.2.4 Waktu Penelitian .......................................................................................... 33 3.3 Prosedur Pengembangan ................................................................................. 33 3.4 Teknik Pengujian Instrumen ........................................................................... 38 3.4.1 Uji Keterbacaan Instrumen Analisis Kebutuhan .......................................... 38 3.4.2 Uji Validitas dan Reliabilitas terhadap Instrumen Tes ................................ 38 3.4.3 Uji Keterbacaan Instrumen Validasi Produk................................................ 40 3.4.4 Uji Validasi Produk ...................................................................................... 40 3.4.5 Uji Coba Lapangan Terbatas ........................................................................ 40 3.5 Teknik Pengumpulan Data .............................................................................. 41 3.5.1 Analisis Kebutuhan ...................................................................................... 41 3.5.1.1 Kuesioner .................................................................................................. 41 3.5.1.2 Wawancara ................................................................................................ 41 3.5.1.3 Observasi ................................................................................................... 41 xiii

(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.5.1.4 Triangulasi................................................................................................. 42 3.5.2 Validasi Produk ............................................................................................ 42 3.5.3 Uji Coba Lapangan Terbatas ........................................................................ 43 3.5.3.1 Tes ............................................................................................................. 43 3.5.3.2 Kuesioner .................................................................................................. 43 3.5.3.3 Wawancara ................................................................................................ 43 3.5.3.4 Observasi ................................................................................................... 43 3.5.3.5 Triangulasi................................................................................................. 44 3.6 Instrumen Penelitian........................................................................................ 44 3.6.1 Jenis Data ..................................................................................................... 44 3.6.2 Instrumen Pengumpulan Data ...................................................................... 44 3.6.2.1 Instrumen Analisis Kebutuhan .................................................................. 44 3.6.2.2 Instrumen Validasi Produk oleh Ahli ........................................................ 45 3.6.2.3 Instrumen Uji Coba Lapangan Terbatas ................................................... 45 3.7 Teknik Analisis Data ....................................................................................... 46 3.7.1 Kuesioner ..................................................................................................... 46 3.7.2 Tes ................................................................................................................ 47 3.7.3 Wawancara ................................................................................................... 47 3.7.4 Observasi ...................................................................................................... 48 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN................................... 49 4.1 Kajian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ....................................... 49 4.2 Analisis Kebutuhan ......................................................................................... 49 4.2.1 Uji Keterbacaan Instrumen Analisis Kebutuhan .......................................... 49 4.2.1.1 Ahli Pembelajaran Matematika ................................................................. 51 4.2.1.2Ahli Bahasa ................................................................................................ 53 4.2.1.3 Guru .......................................................................................................... 54 4.2.1.4 Siswa ......................................................................................................... 55 4.2.2 Data Analisis Kebutuhan.............................................................................. 56 4.2.2.1 Data Analisis Kebutuhan oleh Guru ......................................................... 56 4.2.2.2 Data Analisis Kebutuhan oleh Siswa ........................................................ 58 4.3 Produksi Alat Peraga Blok Pecahan ................................................................ 61 4.3.1 Desain Alat Peraga ....................................................................................... 61 xiv

(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.3.1.1 Alat Peraga Blok Pecahan ......................................................................... 61 4.3.1.2 Album Pembelajaran ................................................................................. 61 4.3.2 Pembuatan Alat Peraga ................................................................................ 62 4.4 Validasi Instrumen .......................................................................................... 64 4.4.1 Validitas dan Reliabilitas Instrumen Tes ..................................................... 64 4.4.1.1 Ahli Pembelajaran Matematika ................................................................. 64 4.4.1.2 Guru .......................................................................................................... 65 4.4.1.3 Siswa ......................................................................................................... 66 4.4.2 Uji Keterbacaan Instrumen Validasi Produk................................................ 68 4.4.2.1 Ahli Pembelajaran Matematika ................................................................. 68 4.4.2.2 Ahli Bahasa ............................................................................................... 68 4.4.2.3 Guru .......................................................................................................... 69 4.4.2.4 Siswa ......................................................................................................... 69 4.5 Data Validasi dan Revisi Alat Peraga ............................................................. 70 4.5.1 Data Validasi oleh Ahli ................................................................................ 70 4.5.1.1 Ahli Pembelajaran Montessori .................................................................. 70 4.5.1.2 Ahli Pembelajaran Matematika ................................................................. 71 4.5.1.3 Guru Matematika Kelas IV ....................................................................... 72 4.5.2 Revisi Alat Peraga ........................................................................................ 73 4.6 Uji Coba Lapangan Terbatas ........................................................................... 73 4.6.1 Data dan Analisis Tes................................................................................... 74 4.6.2 Data dan Analisis Kuesioner ........................................................................ 77 4.7 Analisis Lanjut Dampak Penggunaan Alat Peraga ......................................... 77 4.7.1 Proses ........................................................................................................... 78 4.7.2 Hasil Belajar ................................................................................................. 79 4.8 Kajian Produk Akhir ....................................................................................... 81 4.9 Implikasi Lanjut .............................................................................................. 81 BAB V PENUTUP ............................................................................................... 83 5.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 83 5.2 Keterbatasan Penelitian ................................................................................... 83 5.3 Saran ................................................................................................................ 84 DAFTAR REFERENSI ...................................................................................... 85 xv

(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN ......................................................................................................... 90 xvi

(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR BAGAN Bagan 2.1 Penelitian yang Relevan ....................................................................... 29 Bagan 3.1 Langkah R and D dari Sugiyono .......................................................... 34 Bagan 3.2 Tahap Pengembangan Alat Peraga Blok Pecahan ............................... 36 Bagan 3.3 Triangulasi Data ................................................................................... 42 Bagan 3.4 Triangulasi Teknik ...............................................................................42 xvii

(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Kisi-Kisi Butir Soal .............................................................................. 39 Tabel 3.2 Kisi-Kisi Kuesioner Validasi Produk ................................................... 45 Tabel 3.3 Kategori Skor .........................................................................................46 Tabel 4.1 Kategori Skor ........................................................................................ 49 Tabel 4.2 Konversi Kategori Skor ........................................................................ 51 Tabel 4.3 Skor Keterbacaan Analisis Kebutuhan oleh Ahli Matematika ............. 51 Tabel 4.4 Komentar Keterbacaan Analisis Kebutuhan oleh Ahli Matematika ..............................................................................................52 Tabel 4.5 Skor Keterbacaan Analisis Kebutuhan oleh Ahli Bahasa ..................... 53 Tabel 4.6 Komentar Keterbacaan Analisis Kebutuhan oleh Ahli Bahasa ............ 53 Tabel 4.7 Skor Keterbacaan Analisis Kebutuhan oleh Guru ................................ 55 Tabel 4.8 Skor Keterbacaan Analisis Kebutuhan oleh Siswa ............................... 55 Tabel 4.9 Rekapitulasi Skor Keterbacaan Analisis Kebutuhan ............................ 56 Tabel 4.10 Rekapitulasi Analisis Kebutuhan Guru ............................................... 56 Tabel 4.11 Rekapitulasi Analisis Kebutuhan Siswa ............................................. 59 Tabel 4.12 Kartu Soal .......................................................................................... 63 Tabel 4.13 Skor Penilaian Instrumen Tes oleh Ahli Pembelajaran Matematika ......................................................................................... 64 Tabel 4.14 Komentar Terhadap Instrumen Tes oleh Ahli Pembelajaran Matematika ......................................................................................... 65 Tabel 4.15 Skor Penilaian Instrumen Tes oleh Guru ............................................ 65 Tabel 4.16 Hasil Uji Validitas Empiris Tes .......................................................... 66 Tabel 4.17 Indikator Tes ....................................................................................... 67 Tabel 4.18 Skor Keterbacaan Validasi Produk oleh Ahli Matematika ..................68 Tabel 4.19 Skor Keterbacaan Validasi Produk oleh Ahli Bahasa......................... 68 Tabel 4.20 Skor Keterbacaan Validasi Produk oleh Guru .................................... 69 Tabel 4.21 Skor Keterbacaan Validasi Produk oleh Siswa ................................... 70 Tabel 4.22 Rekapitulasi Validasi Produk oleh Ahli .............................................. 72 Tabel 4.23 Rekapitulasi Nilai Siswa ..................................................................... 74 Tabel 4.24 Rekapitulasi Validasi Produk oleh Siswa ........................................... 77 xviii

(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 4.25 Validasi Produk Akhir ........................................................................ 81 xix

(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR RUMUS Rumus 3.1 Nilai tes ............................................................................................... 47 Rumus 3.2 Rerata nilai ......................................................................................... 47 Rumus 3.3 Persentase kenaikan nilai .....................................................................47 xx

(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GAMBAR Gambar 4.1 Blok Pecahan ................................................................................... 622 Gambar 4.2 Kotak Penyimpanan dan Tutup Kotak ............................................ 633 Gambar 4.3 Kotak Kartu dan Kartu Soal ............................................................ 633 xxi

(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR GRAFIK Grafik 4.1 Nilai masing-masing siswa ................................................................. 75 Grafik 4.2 Perbandingan rerata skor pretest dan posttest ..................................... 76 xxii

(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN 1: INSTRUMEN ANALISIS KEBUTUHAN .............................91 1.1 Kisi-kisi Instrumen Analisis kebutuhan ......................................................... 91 1.2 Garis Besar Masalah untuk Wawancara ........................................................ 91 1.3 Rekapitulasi Keterbacaan Instrumen Analisis Kebutuhan oleh Validator .......91 1.4 Rekapitulasi Analisis Kebutuhan oleh Guru ...................................................93 1.5 Rekapitulasi Analisis Kebutuhan oleh Siswa ..................................................95 LAMPIRAN 2: DESAIN PRODUK ..................................................................97 2.1 Blok Pecahan .................................................................................................. 97 2.2 Kotak Penyimpanan ....................................................................................... 97 2.3 Tutup .............................................................................................................. 98 2.4 Kotak Kartu Soal ............................................................................................ 98 2.5 Kartu Soal ...................................................................................................... 99 LAMPIRAN 3 : INSTRUMEN VALIDASI ................................................... 100 3.1 Rekapitulasi Uji Validitas Instrumen Tes .................................................... 100 3.2 Hasil Uji Validitas Tes .................................................................................101 3.3 Reliabilitas Instrumen Tes............................................................................. 102 3.4 Rekapitulasi Keterbacaan Instrumen Validasi Produk ................................. 103 LAMPIRAN 4 : VALIDASI PRODUK OLEH AHLI .................................. 105 4.1 Rekapitulasi Kuesioner Validasi Produk oleh Validator ............................. 105 LAMPIRAN 5:UJI COBA LAPANGAN TERBATAS ................................ 106 5.1 Soal tes ......................................................................................................... 106 5.2 Kunci Jawaban ............................................................................................. 109 5.3 Rekapitulasi Nilai Pretest .............................................................................110 5.4 Rekapitulasi NilaiPosttest ............................................................................. 110 5.5 Garis Besar Masalah untuk Wawancara ...................................................... 111 LAMPIRAN 6: SURAT PERMOHONAN IJIN PENELITIAN KE SD ..... 112 LAMPIRAN 7: SURAT KETERANGAN TELAH MELAKSANAKANPENELITIAN DARI SD ...................................... 113 LAMPIRAN 8: DOKUMENTASI UJI COBA LAPANGAN TERBATAS .............................................................................................. 114 xxiii

(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 9: ALBUM PEMBELAJARAN ............................................... 115 CURRICULUM VITAE .................................................................................. 136 xxiv

(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB I PENDAHULUAN Uraian dalam bab ini berisi (1) latar belakang, (2) rumusan masalah, (3) tujuan penelitian, (4) manfaat penelitian, (5) spesifikasi produk yang dikembangkan, dan (6) definisi operasional. 1.1 Latar Belakang Penelitian Pendidikan nasional di Indonesia, dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab II pasal 3, bertujuan mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Perwujudan dari tujuan pendidikan nasional ini dilaksanakan melalui kegiatan belajar mengajar yang terjadi di institusi pendidikan dasar atau Sekolah Dasar. Di tempat inilah anak mulai dibekali dengan beragam kegiatan pengembangan kemampuan baca, tulis, hitung, mental, sosial, dan spiritual (Susanto, 2013: 72). Tidak jauh berbeda dengan Susanto, Montessori mendefinisikan sekolah sebagai lingkungan yang disiapkan bagi anak-anak agar mereka dapat berkembang secara bebas, sesuai dengan kecepatan mereka, dan tidak ada hambatan dalam menyalurkan kemampuan mereka secara spontan (Gutek, 2013: 76). Oleh sebab itu, keberadaan Sekolah Dasar sangat menunjang anak dalam mengembangkan beragam kemampuannya melalui kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar mengajar yang berlangsung di sekolah dilakukan dengan beragam cara. Misalnya saja dengan menjelaskan langsung materi kepada siswa lewat tutur kata guru. Cara lain yang bisa digunakan yaitu dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengalami secara langsung sebelum menyimpulkan suatu konsep yang baru saja dipelajari. Kecenderungan yang terjadi dalam penyampaian suatu materi adalah banyaknya tutur kata tanpa isi dan arti yang jelas. Kondisi ini menyebabkan pengetahuan yang diterima bersifat 1

(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI verbal (Nasution, 1982: 98). Padahal, bisa saja siswa diajak belajar dengan mengalami langsung dan tanpa banyak kata-kata yang disampaikan guru. Siswa belajar dengan mengalami langsung apa yang dipelajari melalui suatu perantara atau media sebagai alat bantu belajarnya. Alat bantu yang digunakan ini bisa benda-benda konkret yang tersedia di lingkungan siswa, contohnya batu, biji-bijian, atau lidi. Salah satu mata pelajaran yang dapat disampaikan dengan bantuan benda-benda konkret adalah Matematika. Penggunaan benda-benda konkret sebagai alat bantu belajar dapat diterapkan dalam mata pelajaran Matematika yang umumnya berisi konsep yang abstrak. Mata pelajaran Matematika di Sekolah Dasar (SD) mempelajari bilangan, geometri dan pengukuran, serta pengolahan data (BSNP, 2006: 106). Tujuan pembelajaran matematika salah satunya memampukan siswa untuk berpikir dengan nalar yang kritis, kreatif, dan aktif (Susanto, 2013: 183). Selanjutnya, pembelajaran yang dirancang guru bukanlah sebuah transfer pengetahuan, namun berupa kegiatan yang menjadikan siswa sebagai subjek dalam belajar (Susanto, 2013: 188). Kondisi ini dapat ditindaklanjuti dengan penggunaan alat peraga sebagai media penanaman konsep kepada siswa. Selain mampu mengaktifkan siswa, penggunaan alat peraga ini juga membantu siswa mengonstruksi pengetahuannya tentang suatu materi dalam pembelajaran matematika. Pemanfaatan benda-benda konkret seperti batu, biji-bijian, lidi, sebagai alat bantu dalam belajar mampu mendorong siswa menggali pengetahuannya. Montessori (dalam Nasution, 1982: 116) menyatakan bahwa melalui alat bantu tersebut, siswa mempelajari beragam mata pelajaran untuk membaca, menulis, berhitung, dan bahasa. Hal ini senada dengan teori perkembangan kognitif yang dikemukakan Piaget bahwa siswa Sekolah Dasar secara intelektual sedang dalam masa perkembangan operasional konkret (Sumantri & Syaodih, 2009: 2.12). Pada tahap ini, siswa mampu berpikir logis dan membangun konsep pengetahuan dengan cara memanfaatkan alat bantu belajar yang berupa benda-benda konkret. Oleh sebab itu, maksud dan tujuan penggunaan benda-benda sebagai peragaan dalam pembelajaran untuk memberikan variasi pada aktivitas belajar dan memberi banyak realitas agar berwujud dan terarah dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran (Nasution, 1982: 100). 2

(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Permasalahan pendidikan Indonesia tercermin dalam hasil salah satu evaluasi internasional yang dilakukan oleh Programme for Internasional Student Assessment (PISA) tahun 2012 dalam bidang matematika, sains, dan membaca. Indonesia berada di peringkat ke-64 dari 65 negara partisipan tes tersebut, dengan rata-rata skor matematika 375, sains 382, dan membaca 396 (Kompas, 5 Desember 2013). Padahal, skor rata-rata kemampuan matematika, sains, dan membaca yang dikemukakan oleh pelaksana evaluasi PISA, Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), sebesar 514, 501, dan 516. Rata-rata skor tersebut masih berada jauh di atas rata-rata skor capaian siswa Indonesia dalam tes ini. Capaian hasil belajar siswa ini tidak lepas dari kualitas guru dalam membentuk prestasi siswa. Hal ini didasarkan pada penelitian Tennessee Value Added Assement System (TVAAS) yang dilakukan oleh Sanders dan Rivers (1999) untuk mengetahui dampak kualitas guru pada kinerja siswa (The World Bank, 2011: 17). Penelitian TVAAS ini menunjukkan bahwa guru yang kemampuannya rendah menghasilkan siswa dengan prestasi yang rendah, sedangkan guru dengan kemampuan tinggi menghasilkan siswa berprestasi tinggi. Langkah yang dilakukan pemerintah sebagai reformasi di bidang pendidikan adalah dengan mengadakan program sertifikasi guru untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan profesionalisme guru. Sayangnya, program sertifikasi guru belum bisa menjamin kualitas pendidikan yang baik karena standar yang ditetapkan pemerintah masih rendah dan meluluskan hampir semua peserta sertifikasi (The World Bank, 2011: 8). Hal ini menyebabkan masih rendahnya prestasi siswa di Indonesia di tingkat internasional, tercermin dalam hasil evaluasi internasional dari PISA. Fakta dari penelitian PISA dan TVAAS tersebut mengungkapkan bahwa prestasi siswa hendaknya diperbaiki. Hal ini dapat dilakukan dengan memperbaiki proses belajarnya, yaitu dengan merancang pembelajaran yang membuat siswa mengalami sendiri suatu kegiatan yang membangun pengetahuannya. Misalnya saja dengan mengadakan alat peraga sebagai alat bantu belajar. Tentu saja hal ini berkaitan dengan ada tidaknya alat peraga pendidikan di lingkungan sekolah. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari empat sekolah 3

(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI swasta maupun negeri di kawasan Yogyakarta, alat peraga untuk pembelajaran diperoleh melalui beberapa sumber dan cara. Alat peraga yang dimiliki sekolah dapat diperoleh dari pemerintah pusat atau pengadaan secara mandiri oleh sekolah dengan Dana Alokasi Khusus (DAK). Alat peraga untuk pembelajaran dapat pula dibuat langsung oleh gurusesuai dengan tujuan pembelajarannya. Meskipun demikian, alat peraga yang ada di sekolah belum diketahui sudah teruji secara ilmiah ataukah belum. Padahal, keberadaan alat peraga perlu diuji secara teliti melalui uji coba ilmiah, seperti saran yang dikemukakan Scriven (dalam Gall, Gall, & Borg, 2007: 591). Keberadaan alat peraga menjadi bagian lingkungan belajar siswa. Salah satu tokoh pendidikan yang cukup peduli terhadap pentingnya lingkungan belajar bagi siswa adalah Maria Montessori (1872-1952). Pemikiran Montessori (dalam Hamalik, 2007: 171), menyatakan bahwa seorang anak pada akhirnya mampu untuk mandiri, misalnya berdiri sendiri, apabila dibiarkan untuk melakukannya. Oleh sebab itu, sebaiknya anak diberi kesempatan untuk aktif sendiri (auto activity) dalam aktivitasnya sehari-hari. Menurut Lillard (2005), terdapat delapan prinsip dalam pendidikan Montessori, yaitu keleluasaan dalam bergerak, kebebasan dalam memilih material apa yang akan digunakan, adanya ketertarikan/ minat, pentingnya minat intrinsik dengan menghapuskan motivasi eksternal berupa hadiah atau hukuman, belajar bersama dengan teman sebaya, belajar sesuai konteks, pentingnya gaya interaksi guru terhadap anak, serta pentingnya keteraturan lingkungan dan pikiran. Berdasarkan hal tersebut, Montessori menekankan pentingnya lingkungan belajar bagi siswa. Alat peraga menjadi bagian yang penting dalam lingkungan belajar mereka. Alat peraga yang ada di lingkungan Montessori memiliki ciri menarik, bergradasi, auto-correction, dan auto-education (Montessori, 2002: 172-174). Unsur kontekstual sebagai ciri yang kelima. Kontekstual berarti sesuai dengan konteks atau pola hubungan di dalam lingkungan langsung seseorang (Johnson, 2010: 34). Lingkungan langsung yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah lingkungan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, alat peraga yang dikembangkan terbuat dari bahanbahan yang ada di lingkungan sekitar siswa. Ciri-ciri tersebut memperlihatkan bahwa dengan menggunakan alat peraga, siswa mampu mengoptimalkan semua 4

(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI inderanya dalam belajar karena alat peraga tersebut menarik dan bergradasi. Hal paling penting di sini bahwa dengan menggunakan alat peraga, siswa mampu membangun pengetahuannya sendiri karena siswa dapat menemukan sendiri kesalahan-kesalahnnya dalam menggunakan alat tersebut. Hasil yang akan dicapai adalah siswa akan lebih paham tentang suatu materi dari penemuannya sendiri secara mandiri. Peneliti melihat kenyataan di lapangan bahwa masih terbatasnya uji coba ilmiah terhadap alat peraga pendidikan, khususnya alat peraga matematika. Alat peraga tersebut belum diketahui secara pasti apakah telah teruji secara ilmiah ataukah belum. Latar belakang inilah yang mendorong peneliti melakukan penelitian dan pengembangan (research and development/R&D) alat peraga pembelajaran matematika. Penelitian ini sebatas menghasilkan prototipe atau bentuk dasar/asli dari produk alat peraga matematika yang telah diujikan secara ilmiah kepada ahli terkait di bidangnya, yaitu ahli matematika, ahli pembelajaran, dan ahli Montessori. Penelitian ini dilaksanakan di SD Kanisius Jomegatan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta sebagai sampel uji coba lapangan terbatas dari alat peraga yang dikembangkan. Uji coba lapangan terbatas dilaksanakan di kelas IV, semester genap tahun ajaran 2013/2014 pada mata pelajaran Matematika. Materi pembelajaran matematika dibatasi pada Standar Kompetensi “6. Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah”, khususnya pada Kompetensi Dasar “6.3 Menjumlahkan pecahan” dan “6.4 Mengurangkan pecahan”. Alat peraga matematika berbasis metode Montessori yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah blok pecahan dengan ciri menarik, bergradasi, auto-correction, dan autoeducation, serta ciri tambahan yang dikembangkan yaitu kontekstual. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Bagaimana ciri-ciri alat peraga matematika berbasis metode Montessori berupa blok pecahan yang dikembangkan untuk materi penjumlahan dan pengurangan pecahan di kelas IV tahun ajaran 2013/2014? 5

(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.2.2 Bagaimana kualitas alat peraga matematika berbasis metode Montessori berupa blok pecahan yang dikembangkan untuk materi penjumlahan dan pengurangan pecahan di kelas IV tahun ajaran 2013/2014? 1.2.3 Bagaimana dampak penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori berupa blok pecahan terhadap proses dan hasil belajar siswa pada uji coba lapangan terbatas? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Mengembangkan alat peraga matematika sesuai dengan ciri-ciri alat peraga berbasis metode Montessori berupa blok pecahan untuk materi penjumlahan dan pengurangan pecahan di kelas IV tahun ajaran 2013/2014. 1.3.2 Mengembangkan alat peraga matematika berbasis metode Montessori berupa blok pecahan yang berkualitas untuk materi penjumlahan dan pengurangan pecahan di kelas IV tahun ajaran 2013/2014. 1.3.3 Mengetahui dampak penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori berupa blok pecahan terhadap proses dan hasil belajar siswa pada uji coba lapangan terbatas. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi sekolah Sebagai tambahan khasanah pengetahuan mengenai bagaimana mengembangkan alat peraga untuk pembelajaran matematika berbasis metode Montessori. 1.4.2 Bagi guru Guru memperoleh pengalaman atas keterlibatannya dalam mengembangkan dan menguji alat peraga pembelajaran matematika berbasis metode Montessori. Guru juga dapat mengembangkan sendiri berbagai alat peraga pembelajaran yang lain berdasarkan prinsip pembelajaran berbasis metode Montessori. 6

(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.4.3 Bagi siswa Siswa kelas IV dapat mempelajari materi pecahan dengan alat peraga yang telah melalui serangkaian uji coba ilmiah. Siswa juga dapat merasakan suasana belajar yang aktif, kreatif, dan menyenangkan 1.4.4 Bagi peneliti Penelitian ini mampu memberikan pengalaman langsung kepada peneliti tentang tahap pengembangan alat peraga matematika dengan ciri alat peraga berbasis metode Montessori untuk siswa Sekolah Dasar. Selanjutnya, peneliti juga memperoleh wawasan dan bekal dalam mengembangkan berbagai alat peraga pembelajaran lain berbasis metode Montessori. 1.5 Spesifikasi Produk Alat peraga yang akan peneliti kembangkan mengadopsi dari alat peraga Montessori berupa cut-out labeled fraction circles yang terdiri atas sepuluh macam bagian pecahan, yaitu pecahan satu hingga pecahan sepersepuluh ( ). Alat yang dikembangkan dari alat peraga Montessori selanjutnya disebut dengan blok pecahan. Kelengkapan alat peraga blok pecahan meliputi blok pecahan, kotak penyimpanan beserta tutup, kartu soal, kotak kartu soal, dan album pembelajaran. Blok pecahan dibuat dengan bentuk lingkaran berdiameter 15 cm dengan bahan dasar bambu. Blok pecahan dibuat dalam beragam jenis, yaitu satu lingkaran utuh, kemudian potongan blok pecahan yang dibuat mewakili pecahan hingga . Pembuatan lingkaran pecahan ini dilakukan dalam empat tahap, yaitu penggambaran pola pada bambu, pemotongan, pengecatan, dan penulisan label pecahan. Lingkaran pecahan ini diletakkan dalam satu kotak bersekat untuk mengklasifikasikan setiap nilai pecahannya. Kotak penyimpanan alat peraga terbuat dari bahan kayu mindi atau dalam bahasa Latin disebut Melia azedarach Linn. Kotak penyimpanan dibuat dengan panjang, lebar, dan tingginya masing-masing berukuran 46,5 cm x 45 cm x 10 cm. Bagian dalam kotak penyimpanan dibuat bersekat-sekat untuk mengklasifikasikan setiap blok pecahan sesuai dengan nilainya. 7

(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kotak kartu dibuat dari bahan yang sama, yaitu kayu mindi (Melia azedarach Linn). Kotak kartu soal berukuran 10 cm x 12 cm x 5 cm. Kotak kartu ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan kartu soal. Kartu soal sendiri merupakan seperangkat kartu yang berjumlah 65 kartu, berisi soal-soal latihan penjumlahan dan pengurangan pencahan. Sebagai kontrol dari latihan soal, kartu soal dilengkapi kunci jawaban yang tertulis di bagian belakang dari muka kartu soal. Kartu soal berukuran 8 cm x 6 cm dan dicetak menggunakan kertas jenis ivory. Agar lebih memahami penjumlahan dan pengurangan pecahan, siswa diberi lembar kerja yang berisi sekumpulan soal latihan penjumlahan dan pengurangan pecahan. Album pembelajaran merupakan buku panduan penggunaan alat peraga blok pecahan. Dalam buku ini berisi materi pembelajaran, tema pembelajaran, nama alat peraga, tujuan pembelajaran, dan presentasi cara penggunaan alat peraga. Album pembelajaran berguna sebagai panduan dalam melakukan aktivitas pembelajaran menggunakan alat peraga matematika blok pecahan berbasis Montessori. 1.6 Definisi Operasional 1.6.1 Alat peraga adalah alat bantu yang digunakan dalam proses pembelajaran agar siswa lebih mudah memahami materi tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan. 1.6.2 Metode Montessori adalah metode yang dikembangkan dengan memperhatikan lingkungan belajar anak agar sesuai dengan kondisi sesungguhnya dan memiliki delapan prinsip umum dalam pembelajarannya. 1.6.3 Alat peraga berbasis metode Montessori adalah alat peraga yang penggunaannya berdasarkan metode Montessori dan dibuat dengan memperhatikan cirinya yang menarik, auto-education, auto-correction, bergradasi, dan ciri tambahan kontekstual. 1.6.4 Kontekstual adalah keadaan yang sesuai dengan lingkungan sekitar anak, yang dimanfaatkan potensi lokalnya sebagai sarana pembelajaran dan pembuatan alat peraga. 8

(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.6.5 Matematika adalah ilmu yang mempelajari bilangan operasi pemecahan masalah dengan langkah yang sistematis dan logis. 1.6.6 Pecahan adalah bagian atau porsi berukuran setara/ sama dari keseluruhan atau unit. 1.6.7 Blok pecahan adalah seperangkat alat peraga yang terdiri atas potonganpotongan bambu berbentuk lingkaran utuh hingga yang terbagi menjadi 20 bagian dengan label hingga . 1.6.8 Dampak adalah suatu pengaruh dari penggunaan alat peraga yang mendatangkan akibat positif maupun negatif. 1.6.9 Hasil belajar adalah perubahan kemampuan siswa dalam melakukan penjumlahan dan pengurangan pecahan setelah belajar dengan alat peraga blok pecahan. 1.6.10 Album pembelajaran adalah buku panduan penggunaan alat peraga Montessori yang terdiri atas materi pembelajaran, tema pembelajaran, nama alat peraga, tujuan pembelajaran, dan presentasi cara penggunaan alat peraga. 1.6.11 Siswa SD adalah siswa kelas IV SD Kanisius Jomegatan tahun ajaran 2013/2014 sejumlah enam (6) siswa, yang terdiri atas tiga (3) siswa putra dan tiga (3) siswa putri. 9

(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB II LANDASAN TEORI Bab II ini akan membahas (1) kajian pustaka, (2) penelitian yang relevan, (3) kerangka berpikir, dan (4) pertanyaan penelitian. 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Hakikat Belajar Dunia pendidikan erat kaitannya dengan kegiatan belajar. Istilah belajar didefinisikan secara beragam oleh para ahli. Slavin (dalam Trianto, 2010: 16) mendefinisikan belajar adalah perubahan dalam diri seorang individu karena adanya pengalaman, bukan karena pertumbuhan atau perkembangan fisik semenjak lahir. Lebih lanjut, Slavin menegaskan perubahan yang terjadi meliputi perubahan tingkah laku berupa pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan kebiasaan, sedangkan pengalaman adalah interaksi individu dengan lingkungan sebagai sumber belajar. Senada dengan Slavin, Hamalik (2009) mendefinisikan belajar sebagai suatu perubahan perbuatan melalui aktivitas, praktik, dan pengalaman. Belajar juga didefinisikan sebagai aktivitas yang dilakukan secara sengaja dalam keadaan sadar untuk memperoleh konsep, pemahaman, atau pengetahuan baru yang memungkinkan perubahan perilaku yang relatif tetap dalam berpikir, merasa, dan bertindak (Susanto, 2013: 4). Berdasarkan definisi dari para ahli tersebut, belajar dapat diartikan sebagai suatu aktivitas sadar untukmemperoleh pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan kebiasaan yang relatif tetap karena adanya pengalaman. Pengalaman belajar bisa terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungan sebagai sumber belajarnya. Belajar dipandang sebagai sesuatu yang aktif untuk memperoleh pengalaman, mencari informasi, mengatur dan mengorganisasikan apa yang telah diketahui untuk mencapai pelajaran baru (Djiwandono, 2006: 151). Pengalaman dalam belajar dapat terjadi karena adanya proses interaksi individu dengan lingkungan yang menjadi sumber belajarnya (Trianto, 2010: 17). Proses yang terjadi melibatkan siswa untuk berpikir dan merasakan, sehingga orang lain belum tentu dapat mengamati aktivitas berpikir dan merasa itu. Aktivitas siswa yang 10

(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mencerminkan bahwa siswa sedang mengalami proses belajar dapat diamati lewat kegiatan atau manifestasi (Winataputra, dkk, 2006: 2.4). Aktivitas nyata yang mencerminkan siswa mengalami proses belajar antara lain siswa bertanya, siswa menjawab pertanyaan, siswa melakukan pengamatan, dan membuat laporan maupun rangkuman. Belajar tidak hanya terkait dengan prosesnya, akan tetapi juga berkaitan pada hasil. Hasil belajar yang diperoleh siswa ditunjukkan dalam sejumlah aspek, yaitu pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, etis atau budi pekerti, dan sikap (Hamalik, 2011: 30). Senada dengan Hamalik, Susanto (2013) mengelompokkan hasil belajar meliputi pemahaman konsep (aspek kognitif), keterampilan proses (aspek psikomotor), dan sikap siswa (aspek afektif). Perubahan akan terlihat pada satu atau beberapa dari aspek tersebut bila siswa telah belajar. Siswa akan memperoleh suatu kemampuan yang baru sesudah mengalami kegiatan belajar. Hal ini berarti siswa mampu mencapai tujuan-tujuan belajar yang telah ditetapkan sebelumnya. Hasil belajar ini perlu diukur untuk mencerminkan sejauh mana ketercapaian tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Belajar menjadi suatu proses yang melibatkan siswa secara aktif menggunakan media maupun metode untuk mencapai hasil berupa penambahan pengetahuan siswa yang dapat diungkap melalui evaluasi (Susanto, 2013: 5). Penelitian ini mengarahkan kegiatan belajar yang menuntun peran aktif siswa, yaitu dengan menggunakan alat peraga. Siswa akan memperoleh pengalaman belajar pada saat proses belajar berlangsung. Melalui aktivitas yang dirancang dalam proses belajar, siswa menunjukkan perilaku yang sesuai sebagai hasil dari kegiatan berpikir dan merasanya. 2.1.2 Pendidikan Montessori 2.1.2.1 Sejarah Montessori Pendidikan Montessori dikembangkan oleh Maria Montessori. Maria Montessori lahir di Chiaravalle, Ancona, Italia Utara pada 31 Agustus 1872 (Magini, 2013: 7). Montessori lahir dari keluarga yang berada dan orang tua yang berpendidikan. Ayahnya, Alessandro Montessori, adalah seorang pria yang konservatif, yang masih memegang nilai-nilai tradisional tentang peran wanita 11

(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dalam masyarakat pada masa itu. Renilde Stoppani, ibu Maria Montessori, adalah sosok yang mendorong Montessori untuk mengejar cita-cita dan karirnya. Montessori menempuh pendidikan dasar hingga SMA dengan jurusan teknik di Roma. Montessori melanjutkan pendidikannya di bidang sains (Mooney, 2000: 21), kemudian dia masuk ke sekolah medis sebagai satu-satunya siswa perempuan di kelasnya. Montessori mampu menyelesaikan studinya dan lulus menjadi seorang dokter dengan nilai yang sempurna. Pekerjaan pertamanya adalah menjadi dokter muda di sebuah rumah sakit anak dan membuka klinik pribadi. Selain itu, Montessori juga bekerja sebagai asisten sosial di klinik psikiatri yang menangani orang-orang dengan gangguan jiwa dan cacat mental. Di sinilah Montessori mulai tertarik untuk mengamati anak-anak dan segala kebutuhannya, terutama anak-anak tunagrahita. Oleh sebab itu, Montessori mempelajari penelitian yang dilakukan oleh Jean-Marc Gaspard Itard dan Edouard Seguin. Fokus dari penelitian yang dipelajari Montessori ini adalah metode untuk mendidik anak-anak keterbelakangan mental dengan menggunakan stimulasi indera anak di usia muda (Crain, 2007: 98). Montessori mulai menjalankan peran sebagai pendidik bagi anak-anak yang tinggal di perumahan kumuh San Lorenzo, di pinggiran kota Roma (Crain, 2007: 99). Lalu ia mendirikan sebuah sekolah bagi anak-anak miskin yang dinamai Casa dei Bambini (Children’s House). Lingkungan sekolah diciptakan selayaknya lingkungan rumah anak. Ukuran perabotnya juga disesuaikan dengan ukuran anak-anak. Selain itu juga terdapat alat-alat peraga didaktis yang bisa digunakan oleh anak-anak. Keberhasilannya dalam mendidik anak-anak menggunakan alat peraga didaktis dan observasi mendalam pada anak-anak untuk mengembangkan ide-ide kependidikannya, membawa Montessori menjadi tokoh wanita paling terkenal kala itu. Dia juga menjadi nominasi Nobel Perdamaian sebanyak tiga kali. Montessori meninggal pada tahun 1952 di Holland, Belanda (Mooney, 2000: 22-23). 2.1.2.2 Prinsip Pendidikan dengan Metode Montessori Pendidikan dengan metode Montessori menekankan bahwa proses belajar anak diselenggarakan paling baik di lingkungan yang tertata dan terstruktur (Gutek,2013: 25). Lingkungan yang disiapkan di mana anak mampu berkembang 12

(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI secara bebas, dalam kecepatan mereka sendiri, tidak terhambat dalam pengeluaran spontan kemampuan-kemampuan mereka disebut dengan sekolah (Gutek, 2013: 76). Di tempat inilah anak diberi kebebasan untuk mencapai kemandirian fungsional, yaitu bebas dari campur tangan orang dewasa dalam melakukan aktivitasnya. Aktivitas anak di lingkungan Montessori dipandu oleh seorang direktris yang bertugas memandu proses pembelajaran tanpa melakukan campur tangan lebih jauh. Peran direktris juga melakukan pencatatan tentang profil anak dan kesiapan bahan belajar agar anak dapat memilih bahan yang sesuai dengan ketertarikannya sendiri. Hal ini menjelaskan bahwa fokus pendidikan Montessori adalah anak sebagai individu, yang melakukan kegiatan dan tugasnya secara mandiri. Menurut Lillard (2005), terdapat delapan prinsip dalam pendidikan Montessori, yaitu (1) keleluasaan dalam bergerak, (2) kebebasan dalam memilih material apa yang akan digunakan, (3) adanya ketertarikan/minat, (4) pentingnya minat intrinsik dengan menghapuskan motivasi eksternal berupa hadiah atau hukuman, (5) belajar bersama dengan teman sebaya, (6) belajar sesuai konteks, (7) pentingnya gaya interaksi guru terhadap anak, dan (8) pentingnya keteraturan lingkungan dan pikiran. Hal ini menegaskan bahwa aktivitas belajar bagi anak merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan dan menumbuhkan minat belajar, yang bisa digambarkan sebagai kegiatan learning by playing (belajar sambil bermain) (Holt, 2008: xi). Kegiatan belajar yang berbasis prinsip tersebut mampu mengaktifkan siswa dalam pembelajaran dan mengakomodasi perkembangan siswa secara mental, spiritual, serta fisik anak secara pribadi. 2.1.3 Perkembangan Anak Setiap manusia mengalami perkembangan. Perkembangannya dimulai sejak di dalam kandungan dan berlanjut setelah janin itu lahir hingga menjadi manusia dewasa. Selama masa perkembangannya, anak-anak mengalami perkembangan kognitif secara bertahap. Montessori membagi perkembangan anak menjadi beberapa tahap berdasarkan rentang usianya. Holt (2008) dan Lillard (2005) menyatakan bahwa Montessori membagi masa perkembangan anak menjadi tiga kelompok rentang usia, yaitu : 13

(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Usia 0-6 tahun Pada usia ini, anak mengalami periode perkembangan yang berkaitan dengan periode sensitif (periode peka), periode perkembangan inteligensi, periode pembelajaran tentang keteraturan, periode pembelajaran bahasa (menulis dan membaca) pada usia tiga hingga lima tahun, periode pembelajaran untuk berjalan, bersikap dan bertindak untuk kepentingan sendiri (egosentrik), memiliki energi untuk berfokus pada pengembangan diri. Periode ini juga disebut dengan periode absorbent mind. 2. Usia 6-12 Tahap usia anak ini bercirikan memiliki ketertarikan dalam bersosialisasi dengan teman sebaya, memiliki energi ekstra secara fisik, kondisi fisik lebih sehat, periode belajar yang mendalam (intellectual period). Periode belajar mendalam terlihat dari adanya ledakan kemampuan menulis dan membaca di usia enam tahun. 3. Usia 12-18 Pada tahap ini, anak memiliki kemampuan berpikir abstrak dan berimajinasi, kemampuan bersikap hormat dalam kelompok, kemampuan bekerja sama dengan rekan dalam menyelesaikan suatu proyek. Perkembangan anak usia Sekolah Dasar yang umumnya berusia 7-12 tahun berada pada periode belajar yang mendalam (intellectual periode). Rentang usia ini mencakup siswa kelas IV Sekolah Dasar berada pada tahap dan periode tersebut. Siswa kelas IV SD sudah mampu belajar secara mendalam dengan mengombinasikan kemampuan fisik maupun sosialnya. Oleh sebab itu, penelitian tentang pengembangan alat peraga ini relevan dilakukan untuk siswa kelas IV karena penggunaan alat peraga mampu membantu siswa belajar lebih mendalam untuk menarik suatu kesimpulan dari benda konkret. 2.1.4 Alat Peraga Montessori 2.1.4.1 Hakikat Alat Peraga Alat peraga identik dengan media pendidikan sebagai alat bantu belajar mengajar di dalam maupun di luar kelas (Hamalik, 1994: 11).Secara umum, media berasal dari bahasa Latin medius yang berarti „tengah‟, „perantara‟, atau „pengantar‟ (Arsyad, 2010: 3). Association of Education and Communication 14

(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Technology (AECT) mendefinisikan media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi (Arsyad, 2010: 3). Pesan atau informasi yang disampaikan menggunakan media merupakan isi ajaran dan didikan dalam kurikulum atau tujuan pembelajaran. Sebagai bagian dari media, kata “raga” dalam alat peraga memiliki arti suatu benda yang dapat diraba, dilihat, didengar, dan diamati melalui panca indera(Hamalik, 1994: 11). Alat peraga merupakan alat bantu dalam pengajaran untuk memeragakan sesuatu supaya apa yang diajarkan mudah dimengerti anak didik (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008: 24). Anitah (2009) menyatakan bahwa alat peraga adalah suatu alat yang berfungsi sebagai alat bantu dalam pembelajaran. Alat peraga yang digunakan dalam pembelajaran dimaksudkan untuk mengoptimalkan keseluruhan fungsi panca indera siswa (Widiyatmoko&Pamelasari, 2012: 52). Hal ini bertujuan agar siswa dapat berperan secara aktif dalam pembelajaran dengan cara melihat, mendengar, meraba, dan menggunakan pikiran yang logis dan realistis. Montessori juga beranggapan bahwa siswa membutuhkan seperangkat peralatan pendidikan (didactic apparatus) yang berguna untuk perkembangannya (Hainstock, 1997: 80). Alat peraga menurut Montessori merupakan kesatuan bahan-bahan yang dibentuk untuk memenuhi kebutuhan anak secara individu dan mendukung pengembangan kemampuannya (Hainstock, 1997: 80). Secara khusus, alat peraga yang dibuat oleh Montessori ditujukan untuk membantu siswa mencapai pengetahuanyang abstrak dan cara berpikir yang kreatif dengan memvisualisasikan simbol-simbol nyata (Lillard, 1996: 80-81). Oleh sebab itu, alat peraga selalu tersedia di kelas-kelas Montessori sebagai lingkungan yang terstruktur dan mendukung perkembangan siswa dalam aktivitas sehari-hari. Berdasarkan pendapat tokoh-tokoh di atas, peneliti menarik kesimpulan secara umum dari hakikat alat peraga. Alat peraga merupakan alat bantu untuk memeragakan suatu materi dalam pembelajaran dengan mengaktifkan panca indera siswa agar tujuan pembelajaran dapat tercapai, dalam hal ini pengetahuan abstrak dan kemampuan berpikir kreatif siswa. 15

(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.1.4.2 Manfaat Alat Peraga Siswa memperoleh pengalaman belajarnya dengan menggunakan bahan pengganti yang berupa alat peraga. Montessori menegaskan, bahwa semua material atau peralatan tersebut berguna untuk mendorong perkembangan anak secara intelektual dan melatih keterampilan anak (Hainstock, 1997: 82). Melalui alat peraga atau material, siswa dapat melihat secara langsung, memeragakan atau menggunakannya, dan terbentuklah konsep yang abstrak dan pemikiran yang kreatif (Lillard, 1996: 80). Manfaat lain yang dapat diperoleh dari alat peraga yang dibuat oleh Montessori antara lain memberikankontrol pada pergerakan siswa, mengembangkan kemandirian, kehendak, dan mengembangkan kebahasaannya (Lillard, 1996: 85). Selain itu, manfaat umum alat peraga yang dapat diperoleh sebagai alat bantu dalam mengajar sebagai berikut (Kustandi&Sutjipto, 2011: 26). 1. Penyajian materi semakin jelas. 2. Meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak. 3. Mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu. 4. Memberi kesamaan pengalaman pada siswa. Berdasarkan uraian tersebut, penggunaan alat peraga memang sangat diperlukan dalam pembelajaran. Keberadaannya membantu dalam proses pembelajaran, sehingga bermanfaat dalam pembentukan pengetahuan siswa. Uraian tersebut menegaskan bahwa pengembangan alat peraga dalam penelitian ini memang diperlukan dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa melalui benda-benda konkret. 2.1.4.3 Alat Peraga Matematika Berbasis Montessori Alat peraga atau material yang ada di Montessori ini disesuaikan dengan lingkungan primer yang ditemui anak sehari-hari agar anak siap untuk menghadapi lingkungan yang sesungguhnya saat dewasa nanti. Alat peraga Montessori ini dirancang secara menarik, bergradasi, mengandung pengendali kesalahan, dan memungkinkan anak untuk belajar secara mandiri (Montessori, 2002: 172-176). Alat peraga yang digunakan dalam penelitian ini juga mempertimbangkan sisi kontekstual. Hal ini berdasarkan hakikat alat peraga yang terbuat dari bahan yang ada di lingkungan sekitar siswa. 16

(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1. Menarik Pembelajaran bagi anak diarahkan untuk pengembangan panca indera. Alat peraga ini dibuat semenarik mungkin mulai dari warna, kontur permukaan yang lembut, dan beratnya, sehingga menarik minat anak untuk menyentuh, meraba, dan memegangnya. Jika anak sudah tertarik, ia akan menggunakannya secara berulang dengan beragam modifikasi dari suatu alat peraga (Montessori, 2002: 172-174).Salah satu alat yang menarik bagi siswa contohnya pink tower, dengan warna merah muda (pink) cukup menarik perhatian siswa untuk memainkannya secara berulang. 2. Bergradasi Gradasi alat peraga dalam Montessori terkait dengan warna, bentuk, dan usia anak. Alat peraga yang bergradasi ini memungkinkan digunakan dengan melibatkan panca indera anak dan bisa digunakan untuk anak-anak dari beragam usia dalam hal pembentukan konsep belajar anak. Salah satu alat yang mengandung gradasi adalah pink tower, yang terdiri atas 10 kubus dengan gradasi ukuran sisi dari yang besar hingga terkecil. Ukuran kubus terbesar sebagai dasar sebesar 10 centimeter dan akan semakin kecil dengan ukuran 1 centimeter lebih kecil. Selain ukuran sisi yang bergradasi dari yang besar hingga yang kecil, bobot kubus juga bergradasi mulai dari yang berat hingga yang ringan. Dengan begitu, anak bisa belajar tentang ukuran besar-kecil dan berat-ringan (Montessori, 2002: 174) 3. Auto-correction Alat peraga yang dibuat memiliki pengendali kesalahan, di mana anak bisa mengetahui letak kesalahan yang dibuatnya saat menggunakan alat peraga tertentu tanpa diberi tahu oleh orang lain. Misalnya pada saat menggunakan inkastri silinder sebagai alat yang digunakan untuk mengenalkan ukuran panjang-pendek, lebar-sempit, gemuk-kurus, dan dangkal-dalam. Setiap perangkat silinder tersebut memiliki anak silinder yang sudah berpasangan dengan lubangnya. Anak akan berusaha memasukkan anak silinder tersebut secara benar pada pasangan lubangnya. Anak akan terus mencoba hingga ia puas dan mampu memasukkan anak silinder secara benar pada lubang pasangannya (Montessori, 2002: 171) 17

(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Auto-education Alat peraga yang diciptakan dan digunakan hendaknya bisa mengembangkan kemampuan anak, di mana dalam belajar menggunakan alat tersebut seminimal mungkin tidak ada campur tangan orang dewasa. Bagi anak-anak, usahanya belajar menggunakan alat peraga secara berulang ini sebagai cara mendidik dirinya sendiri karena memperoleh pengalaman dari aktivitas dengan panca inderanya ini. Di samping itu, pembelajaran yang diperoleh anak bukanlah dari apa yang sudah dilakukan guru, melainkan dari apa yang sudah dilakukan anak itu sendiri (Montessori, 2002: 172-173). Contoh alat dengan ciri ini adalah sandpaper letter untuk mengajari anak belajar menulis. 5. Kontekstual Dalam prinsip pendidikan Montessori, belajar hendaknya juga disesuaikan dengan konteks (Lillard, 2005: 32). Montessori merancang peralatan di kelas dengan mengimitasinya seperti yang tersedia di lingkungan sekitar anak. Hal ini bertujuan agar siswa mengalami dengan sendirinya realita dalam lingkungannya, bukan karena orang lain(Hainstock, 1997: 83). Oleh sebab itu, ciri alat peraga yang selanjutnya adalah kontekstual. Kontekstual berarti berhubungan dengan konteks (KBBI, 1991: 522), sedangkan konteks merupakan pola hubungan di dalam lingkungan langsung seseorang (Johnson, 2010: 34). Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari (Trianto, 2010: 107). Kontekstual dalam pembelajaran memungkinkan terbentuknya pengalaman sosial, budaya, fisika, dan psikologi. Melalui penggunaan alat peraga, siswa mengalami pembelajaran yang kontekstual karena alat peraga memberikan pengalaman yang relevan dan berarti kepada siswa dalam upayanya memperoleh pengetahuan. Alat peraga dengan tambahan ciri kontekstual dalam penelitian ini bermaksud menggunakan bahan-bahan atau potensi lokal yang tersedia di lingkungan sekitar siswa. Hal ini bertujuan memunculkan makna/hubungan antara isi pembelajaran dan konteks yang ada di lingkungan siswa. Siswa tertarik dan termotivasi bekerja dengan beragam 18

(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI alat peraga tersebut karena sesuaifakta yang dieksplorasi sesuai dengan konteks dan saling berhubungan (Lillard, 1996: 81). Sajian pengetahuan yang melibatkan konteks nyata kehidupan dapat membantu siswa menemukan arti dalam proses belajar. Selama kegiatan belajar, siswa akan berupaya berperan aktif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Oleh sebab itu, alat peraga yang dikembangkan dalam penelitian ini menggunakan bahan-bahan yang sering dijumpai siswa, yaitu bambu dan kayu. Peneliti memilih bahan bambu dan kayu karena potensi lokal ini dekat dan dikenal oleh siswa di lingkungan sehari-harinya. Pemaduan potensi lokal dengan pembelajaran siswa akan memunculkan pengertian baru bagi siswa bahwa sarana belajar bisa berasal dari mana saja untuk memecahkan suatu permasalahan belajar. Pemanfaatan potensi lokal ini juga diharapkan mendorong ketertarikan dan motivasi siswa dalam belajar dan bekerja menggunakan alat peraga yang dikembangkan sesuai dengan materinya, yaitu penjumlahan dan pengurangan pecahan. 2.1.4.4 Alat Peraga Blok Pecahan Berbasis Metode Montessori Alat peraga matematika yang dirancang Montessori bertujuan untuk mengembangkan pemikiran matematis anak. Alat peraga ini menggambarkan jumlah dan simbol, sistem desimal, serta menggambarkan empat operasi matematika dalam bentuk nyata (Lillard, 1997: 137). Hal ini membantu pencapaian salah tujuan pembelajaran matematika di SD, yaitu memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritme. Alat peraga yang akan peneliti kembangkan mengadopsi alat peraga Montessori berupa cut-out labeled fraction circles yang terdiri atas sepuluh macam bagian pecahan, yaitu pecahan satu hingga pecahan sepersepuluh ( ). Alat peraga yang dikembangkan disebut blok pecahan dengan bentuk potongan pecahan dikembangkan dari pecahan satu hingga seperdua puluh ( ). Masingmasing dari empat ciri alat peraga berbasis metode Montessori terkandung dalam alat peraga yang dikembangkan. Ciri menarik dari blok pecahan terlihat dari warna dan bentuknya. Alat peraga blok pecahan diberi warna merah terang (merah cabai) yang menarik perhatian siswa. Alat ini berbentuk bulat untuk pecahan bulat dan berbentuk potong-potongan sesuai dengan nilai pecahannya. 19

(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Ciri bergradasi blok pecahan mengandung arti bahwa blok pecahan ini dapat digunakan untuk kompetensi dasar berbeda. Penelitian ini membatasi penggunaan blok pecahan untuk penjumlahan dan pengurangan pecahan, akan tetapi lebih lanjut blok pecahan dapat digunakan untuk pengenalan bilangan pecahan maupun untuk operasi matematis lain, yaitu perkalian dan pembagian pecahan. Ciri autocorrection dari blok pecahan ditunjukkan pada bentuk potongan blok yang berbeda-beda untuk setiap nilai pecahannya. Siswa akan mengetahui kesalahannya saat dia keliru mengambil blok dengan bentuk yang berbeda bila dia menginginkan nilai pecahan yang sama. Blok pecahan dilengkapi dengan kartu soal yang berisi soal latihan dan kunci jawaban. Dengan kartu tersebut, siswa dapat mengetahui kesalahannya dan memperbaiki dengan latihan selanjutnya. Alat peraga ini juga mengandung ciri auto-education karena dapat digunakan secara mandiri oleh siswa tanpa campur tangan orang lain. Siswa dapat dengan mudah melakukan latihan dengan alat peraga dan kelengkapannya tanpa harus ada kehadiran dan peran langsung dari guru. Ciri yang kelima sebagai ciri tambahan yaitu kontekstual terkandung dalam blok pecahan ini karena bahan dasar pembuatan alat ini menggunakan potensi lokal yang ada di lingkungan sekitar siswa, yaitu bambu dan kayu mindi (Melia azedarach Linn). 2.1.5 Pembelajaran Matematika 2.1.5.1 Hakikat Matematika Matematika dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) adalah ilmu tentang bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan. Depdiknas (2001) menyatakan bahwa matematika disebut wiskunde dalam bahasa Belanda yang memiliki arti sebagai ilmu pasti dengan penalaran yang jelas (Susanto, 2013: 184). Aspek pembelajaran Matematika di tingkat pendidikan dasar dibatasi ruang lingkupnya, meliputi bilangan, geometri dan pengukuran, serta pengolahan data (BSNP, 2006: 106). Pembelajaran matematika di sekolah Montessori diawali dengan kemampuan berhitung yang sudah dimiliki anak usia tiga tahun (Gutek, 2013: 363). Mereka mudah belajar berhitung dengan menggunakan benda-benda. Montessori menggunakan berbagai macam material dalam pembelajaran 20

(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI matematika sebagai alat bantu/penolong bagi anak untuk memahami konsep pemikiran aritmatika (Hainstock, 1997: 97). Pemikiran matematis dalam pembelajaran Montessori menekankan pengembangan pemikiran pada pemahaman urutan, rangkaian, dan abstraksi (Lillard, 1997: 137). 2.1.5.2 Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar mengarahkan siswa untuk berpikir secara logis, kritis, analitis, sistematis, dan kreatif (BSNP, 2006: 106). Salah satu tujuan pembelajaran matematika di Sekolah Dasar adalah memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritme (Susanto, 2013: 190). Pemahaman konsep terkait dengan pembentukan, penemuan, dan pengembangan pengetahuan siswa dalam pembelajaran matematika. Jean Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan atau pemahaman akan dimiliki oleh siswa bila ditemukan, dibentuk, dan dikembangkan oleh siswa sendiri (Susanto, 2013: 191). Hal ini ditegaskan oleh Montessori bahwa siswa mampu membentuk konsep abstrak mereka sendiri sesudah menggunakan berbagai material dan melakukan pengulangan dalam kegiatannya itu (Lillard, 1997: 137). Pembelajaran matematika untuk usia Sekolah Dasar bertujuan mengembangkan kemampuan pemahaman siswa dalam konsep abstrak melalui penggunaan benda-benda/material (Payne&Ridout, 2008: 10). Oleh sebab itu, pembelajaran di kelas Montessori diawali dengan benda-benda seperti tongkat angka dan kertas angka berpasir agar kecakapan dan pemahamannya berkembang secara berangsur-angsur. 1. Pengertian Pecahan Kata pecahan berasal dari bahasa Latin frangere yang berarti memecah dan selanjutnya diartikan sebagai bagian dari keseluruhan yang berukuran sama dan dituliskan dalam bentuk bilangan (Copeland, 1967: 167). Bilangan pecahan adalah bilangan yang dapat dinyatakan sebagai perbandingan antara dua bilangan cacah dan , dengan ≠ 0 (Sa‟dijah, 1998: 146-148). Penulisan dua bilangan cacah pada bilangan pecahan dipisahkan oleh garis lurus menjadi per dan dibaca . Dalam hal ini disebut dengan pembilang atau numerator atau jumlah potongan, sedangkan disebut dengan penyebut atau denominator atau nama 21

(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pecahannya (Homfray&Child, 1996: 48). Bilangan pecahan ini disebut dengan pecahan biasa karena menyatakan makna dari setiap bagian dari yang utuh (Sukajati, 2008: 6). Sebagai contoh, sebuah apel akan dimakan oleh tiga orang, maka apel tersebut dipotong menjadi tiga bagian yang sama besarnya. Oleh sebab itu, setiap orang akan menerima bagian untuk dimakan. Pecahan biasa mewakili masing-masing potongan apel. Dalam bilangan tersebut, “3” menunjukkan banyaknya bagian-bagian yang sama dari suatu keseluruhan atau utuh (denominator), sedangkan “1” menunjukkan bagian yang menjadi perhatian atau bagian yang terambil (numerator). Pecahan memiliki beberapa jenis, yaitu pecahan biasa, pecahan yang ekuivalen, pecahan paling sederhana, dan pecahan campuran (Payne&Ridout, 2008: 134). Pecahan biasa adalah pecahan yang pembilang dan penyebutnya ditulis dengan angka dan dipisahkan tanda garis horisontal. Dalam pecahan biasa, dikenal istilah proper fraction dan improper fraction. Disebut sebagai proper fraction atau pecahan yang sebenarnya bila pembilang lebih kecil nilainya daripada penyebutnya, sedangkan bila pembilang lebih besar daripada penyebutnya disebut improper fraction atau pecahan tak sebenarnya. Pecahan yang ekuivalen adalah pecahan yang bernilai sama (pecahan senilai). Pecahan paling sederhana adalah pecahan yang pembilang dan penyebutnya tidak mempunyai faktor persekutuan. Pecahan campuran adalah pecahan yang ditulis dalam bentuk angka bulat dan pecahan. Penelitian yang dilakukan mengambil materi penjumlahan dan pengurangan pecahan. Jenis pecahan yang akan banyak digunakan adalah jenis pecahan biasa dan campuran. Hal ini disesuaikan dengan materi kelas IV SD yang telah mempelajari pecahan biasa dan campuran. 2. Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan Operasi matematis yang dapat dilakukan pada bilangan pecahan meliputi operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Tahap awal pembelajaran pecahan yaitu dengan memperkenalkan bentuk pecahan dengan memeragakan konsep pecahan menggunakan bentuk-bentuk bangun datar yang diarsir atau blok berbentuk lingkaran dari kertas (Sukajati, 2008: 7). Dalam Montessori, pecahan diperkenalkan menggunakan alat peraga berupa 10 lingkaran 22

(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dengan bingkai di bagian luarnya yang bahan dasarnya dari logam atau plastik yang disebut inset (lempengan) (Payne&Ridout, 2008: 124). Masing-masing lingkaran dibagi menjadi dua bagian hingga sepuluh bagian dan setiap bagian lingkaran yang terbagi ini memiliki pegangan untuk mengambilnya dari bingkai. Setelah pengenalan pecahan, siswa berlanjut mempelajari operasi matematis pecahan. Penelitian ini difokuskan pada pembelajaran pecahan di kelas IV Sekolah Dasar dengan kompetensi dasar menjumlahkan pecahan dan mengurangkan pecahan. a. Penjumlahan Pecahan Proses penjumlahan pecahan dituliskan dan adalah bilangan bulat dan , dengan syarat ≠ 0 (Sa‟dijah, 1998: 153). Montessori mengajarkan penjumlahan pecahan dengan langkah yang sistematis. Siswa melakukan penjumlahan dengan mengambil lempengan pecahan pertama, lalu ditambahkan dengan lempengan yang kedua. Selanjutnya, dihitung jumlah lempengannya. Berikut ini adalah contoh materi di kelas IV dalam operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan (Sunardi, Hapsari, & Sardjana, 2013: 169-173). 1.) Penjumlahan antarpecahan biasa dengan penyebut sama 2.) Penjumlahan antarpecahan campuran dengan penyebut sama ( ) ( ) Penjumlahan pecahan yang berpenyebut beda dilakukan dengan menyamakan terlebih dahulu penyebutnya. Cara untuk menyamakan penyebutnya adalah dengan mencari Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dari penyebut pecahan-pecahan tersebut (Sunardi, dkk, 2013: 173). Montessori membelajarkan materi ini dengan cara mencari bentuk pecahan yang senilai, yaitu dengan 23

(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI memasang-masangkan lempengan pecahan pada pecahan-pecahan yang dijumlahkan (Payne&Ridout, 2008: 133-134). Berikut ini contoh operasi penjumlahan pecahan dengan penyebut yang berbeda. 1.) Penjumlahan antarpecahan biasa dengan penyebut berbeda 2.) Penjumlahan antarpecahan campuran dengan penyebut berbeda ( ( ) ( ( ) ) ) b. Pengurangan Pecahan Secara umum, proses penjumlahan pecahan dituliskan dengan syarat dan adalah bilangan bulat dan , ≠ 0 (Sa‟dijah, 1998: 153). Prinsip pengurangan pecahan dalam Montessori sama dengan penjumlahannya. Montessori mengajarkan pengurangan pecahan dengan langkah yang sistematis. Siswa mengambil lempengan pecahan pertama, lalu dikurangkan sejumlah pecahan yang diinginkan dengan lempengan yang kedua. Selanjutnya, dihitung jumlah lempengannya. Berikut ini adalah contoh materi di kelas IV dalam operasi pengurangan pecahan. 24

(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 1.) Pengurangan antarpecahan biasa dengan penyebut sama 2.) Pengurangan antarpecahan campuran dengan penyebut sama ( ) ( ) Pengurangan pecahan yang berpenyebut beda dilakukan dengan menyamakan terlebih dahulu penyebutnya. Cara yang menyamakan penyebutnya adalah dengan mencari KPK dari penyebut pecahan-pecahan tersebut. Montessori membelajarkan materi ini dengan cara mencari bentuk pecahan yang senilai, yaitu dengan memasang-masangkan lempengan pecahan pada pecahan-pecahan yang dikenai operasi pengurangan. Jika sudah sama, lempengan pecahan pengurang diambil dari lempengan pecahan terkurang. Berikut ini contoh operasi pengurangan pecahan dengan penyebut yang berbeda. 1.) Pengurangan antarpecahan biasa dengan penyebut berbeda 2.) Pengurangan antarpecahan campuran dengan penyebut berbeda ( ( ) ( ( ) ) ) 25

(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ( ) 2.2 Penelitian yang Relevan 2.2.1 Penelitian Pembelajaran Matematika tentang Pecahan Berikut ini akan dipaparkan beberapa penelitian dari Ullya (2010), Susilawati (2011), dan Anggorowati (2012) mengenai pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar pada materi pecahan. Ullya (2010) melakukan pengembangan bahan ajar Matematika penjumlahan pecahan berbasis Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah pecahan di kelas IV SD Negeri 23 Indralaya. Hasil dari penelitian ini yaitu bahan ajar penjumlahan pecahan yang berupa buku siswa, buku panduan guru, alat peraga dengan blok pecahan lingkaran dan mika transparan persegi, serta soal tes sudah dinyatakan baik. Hal ini dilihat dari hasil ulangan harian siswa dengan empat soal yang diberikan untuk 51 orang. Soal nomor 1 berhasil dikerjakan oleh 48 orang (97,96%), soal nomor 2 berhasil dikerjakan oleh 42 orang (85,71%), soal nomor 3 dinyatakan berhasil dikerjakan oleh 32 orang (65,31%), dan soal nomor 4 berhasil dikerjakan oleh 41 orang (83,67%). Selain itu keberhasilan juga dilihat dari ketuntasan siswa dalam mengerjakan empat tugas dari guru dengan peningkatan ketuntasan sebesar 20%. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa desain bahan ajar yang digunakan peneliti menggunakan basis PMRI mampu mengembangkan ide dan kreativitas siswa menyelesaikan permasalahan dalam proses pembelajaran penjumlahan pecahan di kelas IV SD Negeri 23 Indralaya. Anggorowati (2012) melakukan penelitian tentang penggunaan media manipulatif untuk penjumlahan pecahan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD Islam Al Furqon Bulak Surabaya pada materi penjumlahan pecahan. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan sampel siswa kelas IV SD Islam Al Furqon Bulak Surabaya sejumlah 24 siswa. Hasil dari penelitian ini antara lain (1) peningkatan aktivitas guru yang dilihat pada ketuntasan keberhasilan sebesar 14,5% dari 73,3% pada siklus I menjadi 87,8% pada siklus II; (2) peningkatan aktivitas siswa dalam menggunakan media 26

(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI manipulatif mika transparan pada pembelajaran Matematika penjumlahan pecahan yang dilihat pada ketuntasan keberhasilan sebesar 14,3% dari 73,5% pada siklus I menjadi 87,8% pada siklus II; (3) peningkatan hasil belajar siswa pada materi penjumlahan yang dilihat pada peningkatan rata-rata hasil belajar sebesar 7,61 dari 72,1 pada siklus I menjadi 77,71, sedangkan ketuntasan belajar siswa meningkat sebesar 20,8% dari 62,5% pada siklus I menjadi 83,3% pada siklus II. Jadi, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media manipulatif berupa mika transparan dapat meningkatkan aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran Matematika pada materi penjumlahan pecahan, serta mampu meningkatkan hasil belajar siswa pada materi penjumlahan pecahan. Sutrisno, Ngatiyo, dan Tampubolon (2013) melakukan penelitian tentang penggunaan teropong pecahan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD N 8 Siantan Kabupaten Pontianak. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan sampel sejumlah 24 siswa kelas V SD N 8 Siantan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan peningkatan rata-rata hasil belajar dari siklus 1, 2, dan 3. Rata-rata hasil belajar pada siklus 1 sebesar 53,33, siklus 2 sebesar 71, 87,dan siklus 3 sebesar 85,00. Kesimpulan yang bisa diambil dari hasil penelitian ini adalah nilai hasil belajar siswa kelas V SD N 8 Siantan Kabupaten Pontianak mengalami peningkatan dengan menggunakan teropong pecahan pada pembelajaran Matematika. 2.2.2 Penelitian tentang Pendidikan Montessori Berikut ini terdapat penelitian yang relevan tentang pendidikan Montessori dari Harris (2007), Koh dan Frick (2010), dan Wahyuningsih (2011). Penelitian tentang penggunaan metode Montessori dilakukan oleh Harris (2007) mengenai perbedaan hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan metode Montessori secara tradisional dan dengan musik yang diperkaya dengan instruksi Montessori. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan membandingkan dua kelompok (two-group post-test), kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen menerima perlakuan dalam bentuk pembelajaran matematika dengan musik yang diperkaya dengan petunjuk-petunjuk program Montessori, sedangkan kelompok kontrol menerima 27

(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI perlakuan dalam bentuk pembelajaran tradisional Montessori. Sampel penelitian melibatkan 200 siswa Montessori yang diambil secara acak. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa siswa yang belajar Matematika dengan musik yang diperkaya dengan petunjuk-petunjuk program Montessori memperoleh nilai Matematika yang lebih tinggi daripada kelompok siswa yang menerima pembelajaran matematika dengan cara tradisional Montessori. Hal ini juga menunjukkan bahwa kurikulum yang diperkaya dengan seni mempunyai pengaruh yang baik bagi hasil belajar siswa. Koh dan Frick (2010) melakukan penelitian untuk menyelidiki macammacam strategi guru sebagai pendukung kemandirian siswa dan motivasi internal siswa untuk sekolah. Penelitian ini adalah studi kasus di sebuah Sekolah Dasar di Indiana, Amerika Serikat, dengan subjek penelitian adalah guru kepala dan asisten guru, serta 28 siswa dari kelompok kelas usia 9-11 tahun. Teknik pengumpulan data dalam studi kasus ini dengan cara observasi kelas, wawancara, dan survey terhadap sekelompok siswa subjek penelitian. Hasil penelitian ini berupa lima buah petunjuk yang menjadi strategi guru dalam menerapkan dukungan kemandirian di kelas dan tingginya motivasi internal siswa untuk sekolah. Tingginya motivasi siswa untuk belajar di sekolah ditunjukkan dengan tidak adanya perbedaan respon yang signifikan sebelum dan sesudah observasi, yaitu sebesar 35,7% dan 32,1%. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan kemandirian dalam pembelajaran Montessori membantu siswa dalam hal penguasaan diri siswa dan kebebasan siswa. Wahyuningsih (2011) melakukan penelitian tentang pengaruh model pendidikan Montessori terhadap hasil belajar matematika siswa kelas IV SD N Jati Asih 03 Bekasi. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimental. Sampel penelitian ini sejumlah 36 siswa untuk kelompok eksperimen dan 33 siswa untuk kelompok kontrol. Hasil uji hipotesis yang dilakukan diperoleh nilai thitung = 7,35 dengan taraf signifikan 0,05, sedangkan nilai ttabel = 1,667. Karena thitung> ttabel, maka Ha diterima, sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata hasil belajar matematika siswa yang menggunakan pembelajaran model pendidikan Montessori dengan yang menggunakan model pembelajaran konvensional. Kesimpulan yang diperoleh 28

(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pada penelitian ini adalah pembelajaran dengan model pendidikan Montessori berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa. Berdasarkan studi literatur tentang penelitian-penelitian sebelumnya, belum ada penelitian pengembangan alat peraga matematika berbasis metode Montessori. Peneliti akan melakukan penelitian tentang pengembangan alat peraga berupa blok pecahan berdasarkan keempat ciri alat peraga Montessori yaitu menarik, auto-correction, auto-education, dan bergradasi, serta ciri kelima kontekstual. Ciri kontekstual peneliti tambahkan untuk memanfaatkan potensi lokal yang ada di lingkungan sekitar siswa untuk membuat alat peraga blok pecahan. Penelitian Pembelajaran Matematika tentang Pecahan Penelitian tentang Pendidikan Montessori Ullya (2010) Pengembangan bahan ajar pecahan berbasis PMRI, kemampuan penyelesaian masalah Harris (2007) Pembelajaran matematika dengan musik yang diperkaya petunjuk Montessori dan pembelajaran tradisional Montessori, hasil belajar Anggorowati (2012) Penggunaan bahan ajar manipulatif, hasil belajar Koh dan Frick (2010) Strategi guru dalam model pendidikan Montessori, motivasi Sutrisno, Ngatiyo, dan Tampubolon (2013) Penggunaan alat peraga teropong pecahan, hasil belajar Wahyuningsih (2011) Model pendidikan Montessori, hasil belajar Yang akanditeliti : Pengembangan alat peraga pecahan berbasis metode Montessori Bagan 2.1 Penelitian yang Relevan 29

(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.3 Kerangka Berpikir Siswa Sekolah Dasar yang berusia 7-12 tahun pada umumnya sudah masuk tahap operasional konkret. Tahap ini memungkinkan anak untuk belajar lebih mendalam dengan melakukan koordinasi secara optimal terhadap kemampuan fisik dan sosialnya. Pada tahap ini, anak mampu berpikir secara logis, teratur, terarah, dan mampu melakukan klasifiskasi terhadap benda-benda. Oleh sebab itu, benda-benda di sekitar anak memiliki peran yang penting juga dalam membantu anak mengonstruksi pengetahuannya. Aktivitas belajar dengan menggunakan metode Montessori memegang prinsip bahwa anak mempunyai tugas unik dalam melengkapi formasi pengetahuannya hingga masa dewasa. Dalam proses perkembangannya, anak diberi aktivitas yang bisa membangun pemikirannya itu dengan menciptakan lingkungan belajar yang disesuaikan dengan lingkungan anak yang sesungguhnya. Anak diberi kebebasan dalam beraktivitas, namun juga bertanggung jawab atas aktivitas yang dilakukan olehnya. Misalnya, mengembalikan peralatan dengan rapi ke tempat penyimpanan sesudah menggunakannya. Peran orang dewasa di sana sebagai pendamping anak, yang tidak banyak memberikan instruksi verbal kepada anak, namun hanya mengamati dan mencatat aktivitas anak. Sebagai penunjang pembentukan formasi pengetahuan anak, maka dalam pendidikan Montessori digunakan alat peraga yang disesuaikan dengan anak, dari segi ukuran, warna, dan tekstur permukaan yang lembut. Alat peraga yang digunakan ini mengandung prinsip menarik, bergradasi rangsangan indera, memiliki pengendali kesalahan (auto correction), memungkinkan anak belajar secara mandiri (auto education), dan kontekstual. Alat peraga ini berfungsi sebagai alat bantu dalam pembelajaran. Dalam penggunaannya, alat peraga ini berupaya untuk mengoptimalkan peran panca indera anak dalam kegiatan pembelajaran. Alat peraga ini digunakan untuk membantu siswa dalam memahami pesan atau materi yang terkandung suatu pembelajaran, salah satunya dalam pembelajaran matematika. Peneliti memandang perlu melakukan penelitian dan pengembangan ini karena hendak mengatasi minimnya alat peraga pendidikan yang memiliki ciri khusus di dalamnya dan teruji secara ilmiah. Penelitian ini juga dirasa perlu 30

(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI karena tahap perkembangan siswa Sekolah Dasar sedang dalam masa operasional konkret, sehingga memerlukan alat bantu yang nyata untuk membentuk pengetahuannya.Jika alat peraga dikembangkan berdasarkan metode Montessori, maka akan diperoleh alat peraga dengan ciri khusus sesuai dengan metode Montessori dan memiliki kualitas yang sangat baik. 2.4 Pertanyaan Penelitian 2.4.1 Bagaimana ciri-ciri alat peraga matematika berbasis metode Montessori berupa blok pecahan yang dikembangkan untuk materi penjumlahan dan pengurangan pecahan di kelas IV tahun ajaran 2013/2014? 2.4.2 Bagaimana bila ciri kontekstual ditambahkan dalam ciri-ciri alat peraga berbasis metode Montessori yang dikembangkan untuk materi penjumlahan dan pengurangan pecahan di kelas IV tahun ajaran 2013/2014? 2.4.3 Bagaimana kualitas alat peraga matematika berbasis metode Montessori berupa blok pecahan yang dikembangkan untuk materi penjumlahan dan pengurangan pecahan di kelas IV tahun ajaran 2013/2014? 2.4.4 Bagaimana dampak penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori berupa blok pecahan terhadap proses belajar siswa selama uji coba lapangan terbatas? 2.4.5 Bagaimana dampak penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori berupa blok pecahan terhadap hasil belajar siswa pada uji coba lapangan terbatas? 31

(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB III METODE PENELITIAN Dalam bab tiga ini akan dipaparkan bahasan mengenai (1) jenis penelitian, (2) setting penelitian, (3) prosedur pengembangan, (4) uji validitas produk, (5) instrumen penelitian, (6) teknik pengumpulan data, dan (7) teknik analisis data. 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian dan pengembangan (research and development/R&D). Research and development adalah penelitian yang digunakan untuk merancang produk dan prosedur baru, yang diuji secara sistematis di lapangan, dievaluasi, dan direvisi hingga diperoleh kriteria spesifik meliputi efektivitas, kualitas, atau standar yang sejenis (Gall, dkk, 2007: 589). Menurut Sugiyono (2008), penelitian R and D digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji efektivitas produk tersebut. Penelitian R and D dalam bidang pendidikan menghasilkan produk yang dapat meningkatkan produktivitas pendidikan, yaitu banyaknya jumlah lulusan, berkualitas, dan relevan dengan kebutuhan (Sugiyono, 2010: 412). Penelitian ini bertujuan mengembangkan alat peraga matematika berbasis metode Montessori yaitu blok pecahan untuk materi penjumlahan dan pengurangan pecahan. Penelitian ini dibatasi sampai pada uji coba lapangan terbatas untuk mengetahui apakah alat peraga ini dapat digunakan siswa dalam memahami materi penjumlahan dan pengurangan pecahan di kelas IV. Hasil dari penelitian dan pengembangan ini adalah sebuah prototipe alat peraga matematika blok pecahan berbasis metode Montessori. 3.2 Setting Penelitian 3.2.1 Objek Penelitian Objek dalam penelitian ini adalah alat peraga matematika berbasis metode Montessori yang berupa blok pecahan. Blok pecahan ini terbuat dari bambu yang dipotong dan dibentuk menjadi bagian-bagian pecahan dengan besar yang berbeda berdasarkan nilai pecahannya, mulai dari satu bagian utuh hingga pecahan 32

(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI seperdua puluh . Alat peraga dilengkapi dengan kartu soal, lembar kerja untuk latihan, dan album pembelajaran sebagai panduan dalam pembelajaran. 3.2.2 Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah sekelompok siswa kelas IV semester genap tahun ajaran 2013/2014 di SD Kanisius JomegatanYogyakarta. Jumlah siswa yang dipilih sebanyak enam (6) anak, yang terdiri atas tiga (3) siswa putra dan tiga (3) siswa putri. Pemilihan sekelompok siswa tersebut didasarkan pada pemerolehan nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada mata pelajaran Matematika. Dalam hal ini, guru menetapkan KKM sebesar 65 untuk mata pelajaran Matematika. Pemilihan siswa yang menjadi subjek penelitian juga berdasarkan rekomendasi guru dan pemeriksaan dokumen nilai siswa. Di samping itu, peneliti memberikan masukan kepada guru dalam memilih siswa tertentu berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada saat pembelajaran. 3.2.3 Lokasi Penelitian Penelitian R and D ini dilaksanakan di SD Kanisius Jomegatan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta sebagai lokasi sampel uji coba lapangan terbatas. Peneliti memilih sekolah ini sebagai sampel karena secara umum prestasi siswa di bidang akademik cukup baik, meskipun nilai akreditasi sekolah “B”. Selain itu, lokasi sekolah yang berada di kawasan Yogyakarta, khususnya di kawasan pedesaan, masih memungkinkan untuk memperoleh bahan-bahan yang dapat dimanfaatkan potensinya sebagai sumber belajar siswa. Alasan selanjutnya adalah kemampuan siswa yang beragam dan karakteristik siswa yang berbedabeda, misalnya saja nilai siswa yang berbeda satu dengan yang lain. 3.2.4 Waktu Penelitian Penelitian R and D dilaksanakan mulai bulan September 2013 hingga Mei 2014. Secara keseluruhan, penelitian ini berlangsung selama kurang lebih delapan bulan. 3.3 Prosedur Pengembangan Prosedur pengembangan alat peraga dalam penelitian R and D ini merupakan adopsi dari langkah-langkah penelitian yang dikemukakan oleh Sugiyono (2008) dan sepuluh langkah penelitian Borg dan Gall (1983). 33

(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Penelitian R and D dalam bidang pendidikan yang dikemukakan Sugiyono berangkat dari adanya potensi atau masalah di bidang pendidikan. Potensi atau masalah yang terjadi ini ditunjukkan dengan data-data empirik yang diperoleh peneliti secara langsung atau dokumentasi laporan maupun penelitian lain yang terkini. Data tersebut dikumpulkan sebagai bahan perencanaan. Produk yang akan dihasilkan lalu didesain dalam wujud gambar atau bagan sebagai pegangan pembuatan dan penilaian. Desain produk ini divalidasi atau dinilai untuk mengetahui kelemahan dan kekuatannya berdasarkan pemikiran rasional oleh para ahli atau ahli di bidangnya (Sugiyono, 2010: 414). Desain produk dibuat dalam bentuk prototipe suatu benda, dalam hal ini alat peraga, yang kemudian diujicobakan secara terbatas untuk divalidasi atau dinilai. Bila hasil penilaian menunjukkan bahwa produk atau alat peraga itu perlu diperbaiki atau direvisi lebih lanjut, maka harus dilakukan penyempuranaan. Selanjutnya, produk atau alat peraga dapat diuji coba pemakaiannya dan diproduksi secara massal bila telah melalui beberapa kali pengujian. Berikut ini gambaran alur penelitian R and D menurut Sugiyono (2010: 409). Potensi dan masalah Pengumpulan Data Desain Produk Validasi Desain Ujicoba Pemakaian Revisi Produk Ujicoba Produk Revisi Desain Revisi Produk Produksi Massal Bagan 3.1 Langkah R and D dari Sugiyono Bagan 3.1Langkah R and Ddari Sugiyono Menurut Borg dan Gall (1983), penelitian R and D terdiri atas 10 langkah utama, yaitu : 1. Penelitian dan pengumpulan data, yang berupa studi literatur, observasi kelas, dan pertimbangan lain. 34

(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2. Perencanaan, meliputi penentuan keterampilan yang diperlukan dalam penelitian, menentukan tujuan yang hendak dicapai, serta menentukan desain penelitian dalam skala kecil. 3. Pengembangan draft produk, meliputi bahan pembelajaran, buku pegangan, dan alat evaluasi. 4. Uji coba lapangan awal, yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan, wawancara, dan penyebaran angket. 5. Merevisi produk berdasarkan hasil uji coba lapangan awal. 6. Uji coba lapangan dengan perluasan jumlah sekolah, antara 5-10 sekolah, dengan jumlah siswa sebanyak 30-100 anak. Kemudian data yang diperoleh dikumpulkan dan dievaluasi 7. Revisi produk secara operasional berdasarkan hasil uji coba lapangan. 8. Uji pelaksanaan lapangan, yang melibatkan lebih banyak sekolah antara 10-30 sekolah dan siswa sebanyak 40-200 siswa sebagai subjek. Pengujian dilakukan dengan angket, wawancara, dan observasi. 9. Penyempurnaan produk akhir berdasarkan saran yang dilihat dari hasil uji pelaksanaan lapangan. 10. Diseminasi dan implementasi untuk melaporkan hasil penelitian dalam pertemuan profesional dan dalam jurnal, bekerja sama dengan penerbit, dan melakukan monitor pada penyebaran produk serta kontrol kualitas. Penelitian R and D yang akan dilakukan adalah pengembangan alat peraga matematika berbasis metode Montessori berupa blok pecahan. Langkah pengembangan alat peraga ini mengadopsi dan memodifikasi langkah penelitian dari Sugiyono, serta dari Borg dan Gall. Penelitian ini dibatasi sampai pada uji coba lapangan terbatas dan menghasilkan prototipe alat peraga matematika blok pecahan berbasis metode Montessori. Langkah penelitian ini terdiri atas lima tahap, yaitu kajian standar kompetensi dan kompetensi dasar, analisis kebutuhan, produksi alat peraga, pembuatan instrumen penelitian, dan validasi alat peraga. Kelima tahap tersebut tersaji pada bagan di bawah ini yang terdiri atas langkahlangkah sistematis di setiap tahapnya. 35

(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Bagan 3.2 Tahap Pengembangan Alat Peraga Blok Pecahan Tahap I penelitian ini dimulai dengan mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar pembelajaran. Standar Kompetensi yang peneliti ambil dari 36

(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pembelajaran Matematika kelas IV, yaitu Standar Kompetensi 6 “Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah”. Kompetensi dasar yang ingin dicapai dalam penelitian adalah pada KD 6.3 “Menjumlahkan pecahan” dan 6.4 “Mengurangkan pecahan”. Tahap II penelitian ini yaitu membuat kuesioner validasi analisis kebutuhan. Tujuannya adalah untuk menguji kelayakan instrumen sebelum disebarkan di sekolah yang peneliti gunakan untuk penelitian, yaitu SD Kanisius Jomegatan Yogyakarta. Penyusunan kuesioner ini dilakukan dengan menganalisis karakter alat peraga Montessori dan karakteristik siswa. Kuesioner ini divalidasi oleh beberapa ahli, yaitu ahli pembelajaran matematika, ahli bahasa, guru, dan siswa. Setelah divalidasi oleh para ahli, peneliti melakukan analisis hasil dan melakukan revisi pada bagian yang perlu diperbaiki. Kuesioner analisis kebutuhan yang telah diuji kelayakan dan melalui tahap revisi, siap untuk disebarkan di SD penelitian. Tahap III penelitian adalah tahap pembuatan desain hingga produksi alat peraga. Pada tahap ini, peneliti membuat konsep alat peraga berdasarkan kajian SK dan KD, serta hasil analisis kebutuhan yang diberikan kepada guru dan siswa. Desain alat peraga tersebut diproduksi menggunakan bahan-bahan pembuat alat peraga yang telah terkumpul. Alat peraga ini dilengkapi dengan album pembelajaran. Pada tahap ini, album pembelajaran yang disusun berupa kerangka atau outline. Tahap IV merupakan tahap pembuatan instrumen penelitian, yaitu tes dan kuesioner validasi produk. Uji validitas tes yang berupa pretest dan posttest dilakukan untuk mengetahui kevalidan isi dan konstruksi item soal yang diujikan secara empiris kepada siswa kelas IV di SDN Sonosewu. Kuesioner validitas produk diuji kelayakan oleh para ahli dan dianalisis hasilnya untuk diperbaiki. Hasil perbaikan dari uji kelayakan instrumen dapat digunakan di lapangan pada penelitian pengembangan alat peraga. Tahap V adalah validasi alat peraga dan uji coba lapangan secara terbatas. Sebelum diujicobakan secara terbatas kepada sejumlah siswa, alat peraga divalidasi oleh ahli, yang meliputi ahli pembelajaran Montessori, ahli pembelajaran Matematika, dan guru Matematika. Hasil validasi produk menjadi 37

(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI bahan revisi untuk uji coba secara terbatas di lapangan. Produk diujicobakan secara terbatas kepada sekelompok kecil siswa yang sebelumnya telah diberi pretest. Produk divalidasi oleh siswa sesudah siswa melaksanakan kegiatan pembelajaran menggunakan alat peraga tersebut dan mengerjakan posttest untuk mengetahui kualitas alat peraga. Hasil yang diperoleh dari validasi para ahli ini menjadi bahan pertimbangan perbaikan produk untuk produksi massal. Akan tetapi, penelitian ini dibatasi sampai pada menghasilkan prototipe produk alat peraga matematika blok pecahan berbasis metode Montessori. 3.4 Teknik Pengujian Instrumen 3.4.1 Uji Keterbacaan Instrumen Analisis Kebutuhan Uji keterbacaan instrumen berfungsi untuk menguji keterhubungan butir tes dengan standar isi. Hal ini dimaksudkan agar instruksinya dapat dipahami siswa dan dilakukan sesuai dugaan atau perkiraan untuk diterapkan sebagai penilaian kelas yang sesuai standar isi (Haladyna, dkk, 2002: 326). Uji ini dilakukan terhadap responden agar dikritisi pemahamannya terhadap pernyataan yang telah dibuat dan diberi rekomendasi untuk mengembangkan instrumen (Gall, dkk, 2007: 236-237). Sebelum digunakan sebagai pengumpul data analisis kebutuhan, kuesioner diuji kelayakannya terlebih dahulu. Kelayakan instrumen diuji keterbacaannya oleh dosen PGSD Sanata Dharma, guru kelas di SD N Sonosewu, Bantul, serta oleh siswa kelas IV SD N Sonosewu, Bantul. SD N Sonosewu Bantul dipilih sebagai tempat pelaksanaan uji kelayakan instrumen dikarenakan memiliki karakteristik dan latar belakang siswa yang seragam, serta berada pada wilayah Unit Pelayanan Teknis (UPT) yang sama dengan SD Kanisius Jomegatan, yaitu Kecamatan Kasihan. 3.4.2 Uji Validitas dan Reliabilitas terhadap Instrumen Tes Validitas menggambarkan sejauh mana ketepatan dan kecermatan instrumen penelitian dalam melakukan pengukuran (Azwar, 2012: 173). Uji validitas instrumen berupa tes sebelum digunakan dalam penelitian meliputi validitas konstrak dan validitas isi (Sugiyono, 2010: 176). Instrumen yang memiliki validitas konstrak adalah instrumen yang aspek-aspek disusun 38

(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI berdasarkan teori tertentu (Sugiyono, 2010: 177). Validitas ini diuji oleh para ahli sesuai bidangnya. Selanjutnya, validitas isi instrumen menunjukkan sejauh mana aitem dalam tes mengukur kawasan isi dari kemampuan yang hendak diukur (Azwar, 2012: 175). Pengujian validitas konstrak dan isi dari instrumen tes dilakukan dengan bantuan kisi-kisi butir soal yang telah peneliti buat. Setelah diuji validitas konstrak dan isi oleh para ahli, instrumen tes diujicobakan secara empiris di lapangan kepada sekelompok siswa dari tingkat kelas yang sederajat. Ahli yang menguji instrumen tes adalah dosen matematika PGSD Universitas Sanata Dharma dan guru kelas IV SD N Sonosewu Bantul. Selanjutnya, uji validasi instrumen secara empiris dilakukan terhadap siswa kelas IV di SD N Sonosewu Bantul. Tes yang diujikan adalah tes uraian dengan tipe jawaban melengkapi sejumlah 30 butir soal. Tipe jawaban melengkapi memerintahkan peserta tes untuk memberikan isian berupa frasa, angka, atau formula (Widoyoko, 2009: 81). Materi tes yang digunakan adalah materi penjumlahan dan pengurangan pecahan yang terdapat di kelas IV. Soal sejumlah 30 butir diujikan itu pada siswa kelas IV A dan IV B yang berjumlah 56 siswa.Berikut ini kisi-kisi butir soal yang diberikan kepada siswa. Tabel 3.1Kisi-kisi butir soal SK : 6. Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah KD 6.3 Menjumlahkan pecahan No 1. 2. 3. 6.4 Mengurangkan pecahan 4. 5. 6. Indikator Melakukan penjumlahan antarpecahan biasa. Melakukan penjumlahan pecahan biasa dengan pecahan campuran. Melakukan penjumlahan antarpecahan campuran. Melakukan pengurangan antarpecahan biasa. Melakukan pengurangan pecahan biasa dengan pecahan campuran. Melakukan pengurangan antarpecahan campuran. Nomor soal 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 8, 9, 10, 11 12, 13, 14, 15 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22 23, 24, 25, 26 27, 28, 29, 30 Hasil uji coba empiris ditabulasi dan diolah menggunakan bantuan aplikasi SPSS 16.0 for Windows. Soal dikatakan valid bila r hitung lebih besar dari r tabel. Sebagai langkah penentuan validitas soal, peneliti membandingkan koefisien Pearson Correlation, r hitung dengan r tabel pada taraf signifikansi 0,05. Cara 39

(65) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI selanjutnya yaitu dengan melihat taraf signifikansi setiap butir soal. Soal dianggap valid bila taraf signifikansi (2-tailed) di bawah 0,05 (Nisfiannoor, 2009: 252-253). Selain diuji kevalidannya, butir soal juga diuji reliabilitasnya untuk mengetahui konsistensi atau keteraturan atau ketetapan hasil pengukuran suatu instrumen bila instrumen tersebut digunakan kembali sebagai alat ukur (Budi, 2006: 248). Nunnally (1960) menyatakan bahwa suatu item soal dianggap reliabel apabila memiliki koefisian Cronbach Alpa lebih dari 0,60 (Gozhali, 2009: 46). 3.4.3 Uji Keterbacaan Instrumen Validasi Produk Uji keterbacaan terhadap instrumen validasi produk dilakukan oleh para ahli yang telah ahli di bidang pembelajaran matematika, pembelajaran Montessori, serta guru kelas. Ahli pembelajaran matematika dan ahli pembelajaran Montessori merupakan dosen dari PGSD Universitas Sanata Dharma, serta validator guru Matematika kelas IV SD N Sonosewu Bantul. Uji keterbacaan instrumen juga dilakukan oleh lima orang siswa kelas IV SD N Sonosewu Bantul sebagai penilai sebelum instrumen digunakan oleh subjek penelitiandalam penilaian produk pada uji coba lapangan terbatas di SD penelitian. 3.4.4 Uji Validasi Produk Produk alat peraga matematika yang dikembangkan diuji terlebih dahulu oleh para ahli di bidangnya sebelum produk ini dujicobakan secara terbatas di lapangan. Para ahli yang melakukan validasi produk adalah ahli pembelajaran matematika, ahli pembelajaran Montessori, dan guru kelas IV SD Kanisius Jomegatan. Para ahli memberikan penilaian sesuai dengan panduan dalam kuesioner. Para ahli juga memberikan masukan secara tertulis untuk kemungkinan perbaikan yang dilakukan peneliti terhadap alat yang dikembangkan. 3.4.5 Uji Coba Lapangan Terbatas Untuk menguji kualitas produk ini, sesudah diuji oleh para ahli, alat peraga diujicobakan secara terbatas di lapangan. Alat peraga ini diujicobakan kepada sekelompok kecil siswa sejumlah enam orang, yaitu tiga siswa putra dan tiga siswa putri kelas IV SD Kanisius Jomegatan. 40

(66) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.5 Teknik Pengumpulan Data 3.5.1 Analisis Kebutuhan 3.5.1.1 Kuesioner Data analisis kebutuhan diperoleh dari penyusunan kuesioner. Kuesioner analisis kebutuhan berupa kuesioner tertutup. Kuesioner analisis kebutuhan yang telah disusun diberikan kepada guru dan siswa. Dalam penelitian ini, kuesioner diberikan kepada 10 orang guru dan seluruh siswa kelas IV SD Kanisius Jomegatan sejumlah 20 siswa. 3.5.1.2 Wawancara Wawancara dilakukan untuk mengungkap informasi secara lisan antara peneliti dengan narasumber. Wawancara dilakukan dengan kepala SD Kanisius Jomegatan Yogyakarta, guru Matematika kelas IV, dan sejumlah siswa untuk memperoleh informasi terkait dengan keberadaan alat peraga di Sekolah Dasar. Teknik wawancara yang digunakan adalah wawancara tak berstruktur. Wawancara ini dilakukan tanpa menggunakan pedoman wawancara khusus, namun yang digunakan adalah garis besar permasalahan yang ditanyakan (Sugiyono, 2010: 197). Data kualitatif dari hasil wawancara digunakan sebagai afirmasi dari data kuantitatif yang diperoleh dari kuesioner. Informasi tersebut dapat diperoleh dengan garis besar permasalahan untuk wawancara yang dilampirkan halaman 91. Garis besar permasalahan ini digunakan untuk mengumpulkan informasi terkait analisis kebutuhan guru dan siswa. Garis besar permasalahan ini dikembangkan sendiri oleh peneliti menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang relevan dan membuka kesempatan adanya jawaban terbuka dari narasumber. 3.5.1.3 Observasi Observasi dilakukan sebagai pengumpul data bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, suatu proses kerja, gejala alam, dan responden yang kecil (Sugiyono, 2010: 203). Observasi yang dilakukan sebatas mengamati aktivitas pembelajaran yang dilakukan guru. Tujuannya untuk mengetahui kebutuhan siswa maupun guru akan alat peraga pembelajaran. 41

(67) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.5.1.4 Triangulasi Triangulasi adalah penggabungan teknik pengumpulan data dan sumber data yang sudah ada (Sugiyono, 2008: 241). Triangulasi ini bertujuan untuk mencari kebenaran suatu fenomena dan meningkatkan pemahaman peneliti terhadap hal-hal yang sudah ditemukan dalam penelitian. Data yang diperoleh dari teknik triangulasi dianggap lebih konsisten, tuntas, dan pasti. Berikut ini bagan triangulasi pengumpulan data penelitian berdasarkan tiga sumber yang berbeda, yaitu guru, siswa, dan peneliti, serta triangulasi teknik pengumpulan data melalui kuesioner, wawancara, dan observasi. Guru Peneliti Siswa Bagan 3.3 Triangulasi Sumber Data Kuesioner Observasi Wawancara Bagan 3.4 Triangulasi Teknik 3.5.2 Validasi Produk Validasi produk dilakukan oleh para ahli dengan menggunakan kuesioner. Kuesioner yang digunakan berupa kuesioner tertutup dengan pilihan jawaban yang telah tersedia berupa skor 1-4 yang mengadopsi dari skala Likert. Pengisian kuesioner dilakukan dengan memilih salah satu skor sebagai penilaian atas kualitas produk yang dikembangkan. Data diperoleh dari hasil validasi yang dilakukan oleh para ahli di bidang pembelajaran matematika, pembelajaran Montessori, dan guru Matematika kelas IV di SD Kanisius Jomegatan. 42

(68) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.5.3 Uji Coba Lapangan Terbatas 3.5.3.1 Tes Teknik pengumpulan data menggunakan tes bertujuan untuk mengukur kemampuan dasar dan pencapaian atau prestasi (Arikunto, 2006: 223). Tes diberikan kepada siswa di awal (pretest) untuk mengetahui kondisi awal sebelum menggunakan alat peraga blok pecahan. Tes juga dilakukan di akhir (posttest) untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada siswa seusai menggunakan alat peraga blok pecahan untuk materi penjumlahan dan pengurangan pecahan di kelas IV. 3.5.3.2 Kuesioner Kuesioner uji coba lapangan terbatas diberikan kepada sekelompok siswa kelas IV yang telah menjalani pendampingan menggunakan alat peraga matematika blok pecahan. Kuesioner yang digunakan merupakan kuesioner tertutup dengan pilihan jawaban berupa skor 1-4 sebagai adopsi dari skala Likert. Siswa memilih salah satu skor sebagai penilaiannya terhadap kualitas produk alat peraga yang dikembangkan. 3.5.3.3 Wawancara Wawancara dilakukan kepada guru dan siswa sesudah proses pendampingan belajar dan penilaian produk dilakukan. Wawancara yang dilakukan tidak menggunakan pedoman wawancara khusus, namun berdasarkan garis besar permasalahan tentang alat peraga matematika blok pecahan berbasis metode Montessori yang peneliti kembangkan. Wawancara ini berguna sebagai bahan konfirmasi dari hasil kuesioner guru dan siswa. Garis besar permasalahan untuk bahan wawancara sebagai pengumpul informasi dapat dilihat pada bagian lampiran halaman 109. 3.5.3.4 Observasi Observasi yang dilakukan pada uji coba lapangan terbatas merupakan observasi nonpartisipan. Peneliti tidak terlibat langsung dalam kegiatan subjek yang diamati. Peneliti berperan sebagai pengamat yang independen. Peneliti mengamati aktivitas siswa dalam penggunaan alat peraga blok pecahan. Observasi dilakukan tanpa merupakan observasi tak berstruktur karena hal yang diamati 43

(69) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI akan terus berkembang selama proses pengamatan. Oleh sebab itu, tidak digunakan pedoman observasi khusus. 3.5.3.5 Triangulasi Triangulasi yang dilakukan pada uji coba lapangan terbatas adalah triangulasi sumber dan teknik pengumpulan data. Data yang terkumpul menjadi dasar bagi peneliti untuk memahami informasi yang diperoleh semakin mendalam. Triangulasi data dalam penelitian ini diperoleh melalui sumber yang berbeda (siswa, guru, dan peneliti) serta dan teknik yang berbeda (kuesioner, wawancara, dan observasi). 3.6 Instrumen Penelitian 3.6.1 Jenis Data Jenis data yang diperoleh dari penelitian adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari masukan ahli pembelajaran matematika, ahli pembelajaran Montessori, guru matematika, dan siswa kelas IV SD Kanisius Jomegatan. Data kualitatif membantu memahami sudut pandang subjek penelitian yang diolah oleh peneliti agar diperoleh penjelasan yang bermakna (Krathwoll, 2004: 546-547). Data kuantitatif diperoleh dari hasil analisis kebutuhan siswa dan guru berupa kuesioner, hasil analisis validasi produk oleh ahli berupa kuesioner, dan hasil analisis uji coba lapangan dalam bentuk tes dan kuesioner yang diberikan kepada siswa. Data kuantitatif ini didukung dengan data kualitatif yang diperoleh dari wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap subjek penelitian. 3.6.2 Instrumen Pengumpulan Data 3.6.2.1 Instrumen Analisis Kebutuhan Instrumen analisis kebutuhan berupa kuesioner yang diberikan kepada guru dan siswa. Pemberian instrumen ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan guru dan siswa akan alat peraga matematika. Kuesioner analisis kebutuhan yang digunakan adalah kuesioner tertutup, yaitu kuesioner dengan jawaban yang sudah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih jawabannya (Arikunto, 2006: 152). Kuesioner analisis kebutuhan diberikan kepada guru dan siswa di SD Kanisius Jomegatan Yogyakarta. Kuesioner analisis kebutuhan guru diberikan 44

(70) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI kepada seluruh guru kelas di SD Kanisius Jomegatan Yogyakarta sejumlah 10 orang guru. Kuesioner analisis kebutuhan siswa diberikan kepada siswa kelas IV SD Kanisius Jomegatan Yogyakarta sejumlah 20 siswa yang terdiri atas 6 siswa perempuan dan 14 siswa laki-laki. 3.6.2.2 Instrumen Validasi Produk oleh Ahli Instrumen validasi ahli digunakan sebagai alat ukur untuk mengetahui kualitas alat peraga. Instrumen validasi ahli berupa kuesioner. Kuesioner validasi produk berupa kuesioner tertutup dengan pilihan jawaban berskala sebagai modifikasi dari skala Likert. Rentang skala yang disediakan 1-4 dengan jawaban skala (1) sangat tidak setuju, (2) tidak setuju, (3) setuju, dan (4) sangat setuju. Validasi produk menggunakan kuesioner ini dilakukan oleh ahli pembelajaran matematika dan guru kelas IV SD Kanisius Jomegatan Yogyakarta. Pernyataan dalam kuesioner berjumlah 10 butir dan disusun berdasarkan kisi-kisi sebagai berikut. Tabel 3.2 Kisi-kisi kuesioner validasi produk 1 Karakteristik Alat Peraga Menarik 2 No Indikator Nomor Soal 1 2 a. b. Menunjukkan warna yang menarik Menunjukkan bentuk yang menarik Bergradasi a. b. 3 4 3 Auto-correction a. b. Memiliki rangsangan terhadap beberapa indera Menunjukkan alat peraga dapat digunakan pada kompetensi yang berbeda Mengetahui kesalahan sendiri Menemukan jawaban yang benar 4 Auto-education a. b. Berlatih secara mandiri Memahami konsep secara mandiri 7 8 5 Kontekstual a. b. Bahan mudah ditemukan di lingkungan sekitar Alat peraga dapat diproduksi oleh masyarakat sekitar 9 10 5 6 3.6.2.3 Instrumen Uji Coba Lapangan Terbatas Instrumen yang digunakan dalam uji coba lapangan secara terbatas ini berupa tes dan kuesioner. Pihak yang terlibat langsung pengujian ini adalah siswa sebanyak enam orang sebagai subjek. Tes diberikan kepada siswa sebagai pretest dan posttest. Soal tes yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya akan diambil 12 butir soal sebagai soal pretest dan posttest. Pretest diberikan di awal untuk mengetahui kondisi awal sebelum menggunakan alat peraga, sedangkan posttest 45

(71) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI diberikan di akhir untuk mengetahui pengaruh penggunakan alat peraga terhadap kemampuan siswa. Selanjutnya, kuesioner diberikan kepada siswa sebagai instrumen penilaian kualitas dari produk yang dikembangkan. Kuesioner validasi produk berupa kuesioner tertutup dengan pilihan jawaban yang sudah disediakan. Kisikisi kuesioner untuk siswa disusun sesuai dengan kisi-kisi kuesioner validasi produk oleh ahli. 3.7 Teknik Analisis Data 3.7.1 Kuesioner Hasil pengisian kuesioner tertutup pada analisis kebutuhan dianalisis secara manual. Perolehan dari setiap jawaban dipersentase. Persentase dari setiap dideskripsikan sesuai dengan hasil yang tertera. Deskripsi dari persentase hasil analisis kebutuhan bertujuan untuk mengkonfirmasi hasil analisis kebutuhan dan menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan alat peraga matematika dalam penelitian ini. Kuesioner untuk validasi produk menggunakan kuesioner tertutup dengan rentang skor yang mengadopsi skala Likert. Data tersebut diolah dengan statistik yang sesuai, yaitu statistik deskriptif. Langkah analisis data dengan statistik deskriptif, yaitu (1) pengumpulan data kasar, (2) pemberian skor untuk analisis kuantitatif, dan (3) pengonversian skor hasil analisis menjadi nilai dengan skala lima. Pengonversian nilai dilakukan pada data yang diperoleh dari pengisian kuesioner. Pengonversian nilai skala lima bertujuan untuk memperoleh nilai kualitas produk yang dikembangkan. Berikut ini adaptasi konversi nilai dari skor yang diperoleh berdasarkan kategorinya (Widoyoko, 2009: 238). Tabel 3.3 Kategori skor Interval skor ̅ ̅ ̅ ̅ Sangat Baik ̅ Baik ̅ Kurang Baik ̅ ̅ Kategori Cukup Sangat Kurang Baik 46

(72) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Keterangan : ̅ : rerata ideal ( = ) ( : simpangan baku ideal = ) 3.7.2 Tes Butir tes sejumlah 12 soal dianalisis menggunakan penskoran analitik, yaitu skor yang digunakan untuk soal-soal dengan jawaban terurai dalam urutan tertentu (Mardapi, 2008: 130). Pedoman skor untuk tes berbentuk skala rentang 15 dengan kriteria sebagai berikut. 1 : seluruh langkah tidak tepat 2 : satu dari empat langkah tepat 3 : dua dari empat langkah tepat 4 : tiga dari empat langkah tepat 5 : keempat langkah tepat Total skor yang akan diperoleh adalah 60. Dari total tersebut, dikonversi untuk diperoleh nilai akhir tes. Nilai akhir dari tes sebagai berikut : Rumus 3.1 Nilai tes Rerata nilai siswa ( ̅ ) : ̅ Rumus 3.2 Rerata nilai Persentase peningkatan nilai kondisi awal (pretest) dengan kondisi akhir (posttest) dihitung dengan : ̅ ( ̅ ) ̅ ( ) Rumus 3.3 Persentase kenaikan nilai 3.7.3 Wawancara Hasil yang diperoleh dari wawancara terhadap guru dan siswa dianalisis secara kualitatif. Tujuannya untuk mengetahui pendapat langsung dari subjek terhadap alat peraga yang dikembangkan ini. Informasi yang diperoleh dari wawancara menjadi triangulasi data antara guru, siswa, dan peneliti. 47

(73) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.7.4 Observasi Hasil observasi menjadi salah satu data pendukung dalam penelitian. informasi yang diperoleh akan dianalisis secara kualitatif dengan melakukan triangulasi teknik, yaitu menggabungkan hasil dari kuesioner dan wawancara. Oleh sebab itu, hasil observasi merupakan pendukung data sebagai dasar pemahaman hasil penelitian yang telah diperoleh. 48

(74) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab IV ini berisi uraian tentang persiapan dan pelaksanaan penelitian. Uraian tersebut meliputi (1) kajian standar kompetensi dan kompetensi dasar, (2) analisis kebutuhan, (3) produksi alat peraga, (4) validitas instrumen, (5) validasi produk, (6) uji coba lapangan terbatas, (7) analisis lanjut, dan (8) kajian produk akhir. 4.1 Kajian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tahap awal penelitian R and D dilakukan adalah mencari tahu kesulitankesulitan yang dialami oleh siswa. Peneliti melakukan kajian terhadap materi semester genap di kelas IV. Hasil dari kajian tersebut menunjukkan bahwa kesulitan terletak pada pemahaman materi pecahan. Hal ini diketahui berdasarkan informasi dari guru Matematika kelas IV sebelum penelitian berlangsung yang pada intinya menyatakan bahwa siswa masih ada yang kesulitan dalam memahami konsep abstrak dari pecahan sebagai materi lanjutan dari kelas III. Oleh sebab itu, peneliti mengambil Standar Kompetensi 6 “Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah”. Kompetensi dasar yang ingin dicapai dalam penelitian pada KD 6.3 “Menjumlahkan pecahan” dan 6.4 “Mengurangkan pecahan”. Masingmasing kompetensi dasar terdiri atas tiga indikator yang hendak dicapai. Oleh sebab itu, terdapat enam indikator secara keseluruhan yang hendak dicapai dalam penelitian R and D ini. 4.2 Analisis Kebutuhan 4.2.1 Uji Keterbacaan Instrumen Analisis Kebutuhan Uji keterbacaan instrumen kebutuhan dianalisis skor dan komentar tertulis dari penguji. Skor dianalisis dan dikonversikan untuk dikelompokkan berdasarkan kategorinya (Widoyoko, 2009: 238). Berikut ini tabel kategori skor. Tabel 4.1 Kategori Skor ̅ ̅ Interval skor ̅ ̅ ̅ Kategori Sangat Baik Baik Cukup Baik 49

(75) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ̅ Interval skor ̅ ̅ Kategori Kurang Baik Sangat Kurang Baik Keterangan : ̅ : rerata ideal = ( ) : simpangan baku ideal = ( ) Diketahui : Skor maksimal ideal =4 Skor minimal ideal =1 Rerata ideal ( ̅ ) = ( Simpangan baku ideal ( Kategori Skor : Kategori sangat baik ) ) = ( = = ) ̅ = = Kategori baik = ̅ = ̅ = = Kategori cukup baik = ̅ = ̅ = = Kategori kurang baik = ̅ = ̅ = = Kategori sangat kurang baik = = = 50

(76) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Skor yang diperoleh dikategorikan berdasarkan kriteria dalam Tabel 4.2. Tabel 4.2 Konversi Kategori skor Interval skor 3,5 – 4,00 2,9 – 3,4 2,3 – 2,8 1,7 – 2,2 1 – 1,6 Kategori Sangat Baik Baik Cukup Baik Kurang Baik Sangat Kurang Baik Konversi kategori skor ini menjadi pedoman pengkategorian skor yang diperoleh dari penilaian yang dilakukan para ahli untuk uji keterbacaan instrumen maupun sebagai pedoman penilaian kualitas produk. 4.2.1.1 Ahli Pembelajaran Matematika Ahli pembelajaran Matematika yang menguji keterbacaan instrumen analisis kebutuhan sebanyak dua orang sebagai ahli 1 dan 2. Ahli 1 dan 2 adalah dosen Matematika di Program Studi PGSD Universitas Sanata Dharma yang telah berpengalaman dalam bidangnya. Masing-masing ahli telah mengampu mata kuliah yang terkait dengan pembelajaran Matematika. Ahli 1 dan 2 memberikan penilaian dan komentar sebagai masukan perbaikan instrumen ini. Berikut ini penilaian skor dari para ahli yang kategorinya berpedoman pada Tabel 4.2. Tabel 4.3 Skor keterbacaan analisis kebutuhan oleh ahli Matematika Ahli Matemati ka 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 4 4 3 3 3 4 4 4 4 2 3 4 3 4 3 4 4 4 3 Skor Item Pernyataan Rerata Total Rerata 4 37 3,7 4 36 3,6 3,7 Kategori Sangat baik Sangat baik Sangat baik Hasil penilaian dari para ahli menunjukkan bahwa masing-masing memberikan skor rata-rata dengan kategori yang “sangat baik”. Sebagai kesimpulan penilaian dari ahli matematika, rerata skor 3,7 termasuk dalam kategori “sangat baik”. Selain diperoleh penilaian dengan skor, instrumen ini juga mendapatkomentar dari ahli. Berikut ini komentar tertulis para ahli yang peneliti sajikan pada Tabel 4.4. 51

(77) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 4.4 Komentar Keterbacaan Analisis Kebutuhan oleh Ahli Matematika Penilai Ahli 1 Ahli 2 Nomor item 3(item pertanyaan untuk kategori menarik) Komentar Apakah alat peraga yang ada di sekitar siswa belum ada warnanya atau warna-warna natural tidak menarik? Keputusan/ perbaikan Memperbaiki kalimat pertanyaan. 7 (item pertanyaan untuk kategori auto-correction) Perlu ada tambahan penjelasan maksud “kesalahan sendiri” Mempertahankan istilah kesalahan sendiri karena bila ditambahkan penjelasan akan memperpanjang kalimat dan kalimat menjadi kurang sederhana. 1 (item pertanyaan untuk kategori auto-education) Sebaiknya menggunakan kalimat seberapa sering Bapak/Ibu menggunakan ..... 3 (item pertanyaan untuk kategori menarik) Sebaiknya menggunakan kalimat “Apakah pemberian warna pada alat peraga dapat membuat alat peraga tersebut terlihat lebih menarik?” Memperbaiki kalimat pertanyaan yang sesuai dengan alternatif pilihan jawaban, menjadi “Seberapa sering Bapak/Ibu menggunakan alat peraga ketika mengajar Matematika?” Menerima masukan dari ahli dan memperbaiki kalimat tersebut. 5 (item pertanyaan untuk kategori bergradasi) Sebaiknya menggunakan kalimat “Jika dilihat dari beratnya, manakah ....” 9 (item pertanyaan untuk kategori kontekstual) Sebaiknya menggunakan kalimat “Seberapa sering Bapak/Ibu menggunakan ....” Memperbaiki kalimat dengan menambahkan pengantar kalimat pertanyaan menjadi “Jika dilihat dari beratnya, manakah alat peraga matematika yang menurut Bapak/Ibu sesuai untuk siswa?” Memperbaiki kalimat agar sesuai dengan alternatif pilihan jawaban menjadi “Seberapa sering Bapak/Ibu menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar ketika mengajar Matematika?” Berdasarkan penilaian dari ahli 1 dan 2, serta komentar sebagai masukan, peneliti melakukan beberapa perbaikan dalam penyusunan kalimat pertanyaan. Ahli 1 dan 2 memberikan nilai dengan kriteria yang “sangat baik”, sehingga instrumen ini layak untuk digunakan. Penyusunan kalimat yang baru mempertimbangkan masukan dari para ahli yang lain sebagai validator. 52

(78) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.2.1.2 Ahli Bahasa Penguji selanjutnya adalah dosen Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Sanata Dharma sebanyak dua orang. Kedua ahli ini memberikan penilaian yang disertai dengan masukan-masukan untuk perbaikan penulisan kalimat item pertanyaan dalam analisis kebutuhan. Berikut ini hasil penilaian skor dari Ahli 1 dan 2 yang kemudian dikategorikan berdasarkan Tabel 4.2. Tabel 4.5 Skor Keterbacaan Analisis Kebutuhan oleh Ahli Bahasa Ahli Bahasa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 4 4 2 4 2 3 4 4 4 2 2 3 4 2 3 3 3 4 2 Skor Item Pernyataan Rerata Total Rerata 4 35 3,5 2 28 2,8 32 3,2 Kategori Sangat baik Cukup baik Baik Penilaian dari masing-masing ahli bahasa menunjukkan kategori “sangat baik” dan “cukup baik”. Dari rerata skor kedua ahli, diperoleh penilaian dengan skor 3,2 dengan kategori “baik”. Hal ini menunjukkan bahwa instrumen sudah layak untuk digunakan. Meskipun demikian, ada beberapa masukan dari kedua ahli yang peneliti gunakan sebagai dasar perbaikan penulisan item pertanyaan analisis kebutuhan. Tabel 4.6 Komentar Keterbacaan Analisis Kebutuhan oleh Ahli Bahasa Penilai Item 4 (item pertanyaan untuk kriteria menarik) Komentar Contoh alat peraga dari lingkungan sekitar ! Alat tersebut bisa memiliki warna? Kriteria bobot berat, sedang, ringan ? Keputusan/ perbaikan Memperbaiki kalimat pertanyaan. Ahli 1 5 (item pertanyaan untuk kriteria gradasi) 6 (item pertanyaan untuk bergradasi Kata lebih dihilangkan Menghilangkan kata lebih pada item pertanyaan. 2 (item pertanyaan untuk kriteria autoeducation) Kurang tanya “apakah” dalam kalimat pertanyaan “Apakah Bapak/Ibu menggunakan alat peraga ketika mengajar Matematika?” kurang tepat digunakan. Penulisan kalimat asing dicetak miring. Memperbaiki kalimat tanya menjadi “Seberapa sering Bapak/Ibu menggunakan alat peraga ketika mengajar Matematika?” Ahli 2 Penulisan kriteria alat peraga Memperbaiki kalimat pertanyaan dan menambahkan kriteria bobot. Memperbaiki penulisan “autoeducation dan auto-correction” menjadi “auto-education dan autocorrection” 53

(79) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Penilai Item 4 (item pertanyaan untuk kriteria menarik) Komentar Warna cerah warna apa saja? Keputusan/ perbaikan Mempertahankan item pertanyaan, yaitu “Warna yang seperti apa yang Bapak/Ibu sukai ?” dan alternatif pilihannya. 6 (item pertanyaan untuk kriteria bergradasi) “Berbagai” dalam kalimat pertanyaan “Apakah Bapak/Ibu lebih suka jika alat peraga yang sama bisa digunakan untuk berbagai kompetensi dasar yang berbeda?” “Menurut Bapak/Ibu, apakah ....” Menghilangkan kata “berbagai”, sehingga kalimat tanya menjadi “Apakah Bapak/Ibu lebih suka jika alat peraga yang sama bisa digunakan untuk kompetensi dasar yang berbeda?” 7 (item pertanyaan untuk kriteria autocorrection) 9 (item pertanyaan untuk kriteria kontekstual) Kalimat tanya yang digunakan dengan jawaban kurang sesuai. 10 (item pertanyaan untuk kriteria kontekstual) Perbedaan pada alternatif jawaban pertanyaan. Ahli berkomentar, “Apa perbedaan antara kurang setuju dengan tidak setuju?” Menambahkan pengantar kalimat tanya, “Menurut Bapak/Ibu, apakah penggunaan alat peraga dapat membantu siswa menemukan kesalahannya sendiri pada saat mengerjakan soal-soal latihan?” Memperbaiki kalimat tanya menjadi “Seberapa sering Bapak/Ibu menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar ketika mengajar Matematika?” Memperbaiki alternatif jawaban pertanyaan dari empat pilihan menjadi dua pilihan, yaitu setuju dan tidak setuju. Penilaian dari ahli Bahasa 1 dan 2 merupakan masukan bagi peneliti dalam menentukan langkah perbaikan bagi instrumen yang telah dibuat. Peneliti memperhatikan kembali penilaian dari ahli Matematika maupun guru. Oleh sebab itu, perbaikan yang peneliti lakukan tidak secara mutlak dari salah satu ahli saja, akan tetapi memperhatikan masukan dari ahli yang lain. 4.2.1.3 Guru Uji keterbacaan kalimat instrumen juga dilakukan guru di SD N Sonosewu Bantul. Guru yang terlibat sebanyak dua orang, yaitu guru kelas I dan IV sebagai ahli 1 dan 2. Kedua ahli memberikan penilaian yang baik dengan kisaran skor 3 dan 4. Ahli 2 memberikan penilaian skor 2 untuk item pertanyaan nomor 6. Secara umum, guru tidak memberikan komentar secara tertulis. Oleh sebab itu, peneliti melakukan perbaikan dengan pertimbangan para ahli yang lain. Peneliti melakukan perbaikan sebatas penulisan kalimat agar menjadi sederhana. 54

(80) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Berikut ini hasil rekapitulasi skor penilaian keterbacaan pada instrumen analisis kebutuhan. Tabel 4.7 Skor Keterbacaan Analisis Kebutuhan oleh Guru Guru 1 2 1 4 3 2 3 4 3 2 3 Skor Item Pernyataan 4 5 6 7 3 3 4 4 4 3 2 3 Rerata 8 4 3 9 3 3 10 3 4 Total Rerata 33 32 32,5 3,3 3,2 3,3 Kategori Baik Baik Baik Rerata skor sebagai hasil penilaian guru terhadap keterbacaan instrumen analisis kebutuhan masuk dalam kategori “baik”. Pengkategorian ini berpedoman pada Tabel 4.2 di halaman 51. Kategori “baik“ ini mengindikasikan bahwa instrumen sudah layak untuk digunakan. 4.2.1.4 Siswa Uji keterbacaan kalimat instrumen kepada siswa dilakukan dengan tujuan agar kalimat dalam instrumen dapat dipahami lebih dahulu oleh siswa dengan karakteristik yang sama sebelum diberikan kepada subjek penelitian. Uji keterbacaan kalimat dilakukan oleh lima orang siswa kelas IVA SD N Sonosewu Bantul. Secara umum, siswa memberikan penilaian yang baik pada instrumen ini. Hal ini terlihat pada skor yang diberikan untuk tingkat keterbacaan kalimat, yaitu berkisar pada skor 3 dan 4. Berikut ini skor tiap item yang diberikan oleh siswa. Tabel 4.8 Skor Keterbacaan Analisis Kebutuhan oleh Siswa Siswa Indikator 5 6 1 2 3 4 1 4 4 4 4 4 2 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 4 5 4 4 Total Rerata 7 8 9 10 3 4 4 4 4 39 3,9 4 3 4 4 4 4 39 3,9 4 4 3 4 4 4 4 39 3,9 4 4 4 3 4 4 4 4 39 3,9 4 4 4 3 4 4 4 4 39 3,9 39 3,9 Rerata Kategori Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Siswa tidak memberikan saran secara tertulis. Hasil penilaian siswa dilihat dari skor rerata yang diperoleh dan keseluruhannya bila dirata-rata masuk kategori “sangat baik”. Selanjutnya, peneliti mengkaji secara keseluruhan dari ahli 55

(81) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI yang lain untuk melakukan perbaikan terhadap instrumen. Hasil rekapitulasi keseluruhan dari semua ahli peneliti sajikan dalam Tabel 4.9. Tabel 4.9 Rekapitulasi Skor Keterbacaan Analisis Kebutuhan Ahli Pembelajaran Matematika Bahasa Rerata Penilaian 3,7 3,2 Kategori Sangat baik Baik Guru 3,3 Baik Siswa 3.9 Sangat baik Rerata 3,5 Baik Berdasarkan hasil penilaian keterbacaan instrumen dari seluruh ahli, dapat disimpulkan bahwa instrumen ini masuk dalam kategori “baik”. Kategori ini didasarkan pada perolehan skor rerata keseluruhan penilaian para ahli. Kesimpulannya, instrumen ini sudah layak untuk digunakan sebagai instrumen analisis kebutuhan. Lebih lanjut, peneliti menerima masukan dari ahli untuk melakukan perbaikan terhadap penulisan kalimat dan menggunakan sapaan yang sesuai bila instrumen ini diberikan untuk diisi oleh guru dan siswa. 4.2.2 Data Analisis Kebutuhan 4.2.2.1 Data Analisis Kebutuhan oleh Guru Kebutuhan guru terhadap keberadaan dan penggunaan alat peraga dianalisis menggunakan kuesioner yang berisikan 10 pernyataan khusus. Kesepuluh pernyataan tersebut mengungkapkan lima karakeristik dasar dari alat peraga yang akan dikembangkan. Hasil yang diperoleh dari pengisian kuesioner ini menjadi gambar pernggunaan alat peraga oleh guru selama mengajar dan juga sebagai bahan pertimbangan dalam pembuatan alat peraga. Berikut ini disajikan tabel rekapitulasi analisis kebutuhan oleh guru Tabel 4.10 Rekapitulasi Analisis Kebutuhan Guru No 1 2 Pertanyaan Seberapa sering Bapak/Ibu menggunakan alat peraga ketika mengajar Matematika? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Jarang e. Sangat jarang Apakah penggunaan alat peraga dapat membantu siswa memahami konsepkonsep matematika? a. Ya b. Tidak Persentase 80% 20% - 100% - 56

(82) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No 3 4 5 6 7 8 9 10 Pertanyaan Apakah, menurut Bapak/Ibu, pemberian warna pada alat peraga dapat membuat alat peraga tersebut terlihat lebih menarik? a. Ya b. Tidak Warna yang seperti apa yang Bapak/Ibu sukai untuk alat peraga? a. Warna cerah b. Warna gelap Jika dilihat dari beratnya, manakah alat peraga matematika yang menurut Bapak/Ibu sesuai untuk siswa? a. Berat ( > 3 kg) b. Sedang ( 1,5-3 kg) c. Ringan ( < 1,5 kg) Apakah Bapak/Ibu suka jika alat peraga yang sama bisa digunakan untuk kompetensi dasar yang berbeda? a. Ya b. Tidak Menurut Bapak/Ibu, apakah penggunaan alat peraga dapat membantu siswa menemukan kesalahannya sendiri pada saat mengerjakan soal-soal latihan? a. Ya b. Tidak Apakah penggunaan alat peraga dapat membantu siswa untuk menemukan jawaban yang benar dari kesalahan saat mengerjakan soal-soal latihan? a. Ya b. Tidak Seberapa sering Bapak/Ibu menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar ketika mengajar Matematika? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang d. Jarang e. Tidak pernah Apakah Bapak/ Ibu setuju jika alat peraga matematika dibuat menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar? a. Setuju b. Tidak setuju Persentase 100% 100% - 10% 40% 50% 100% - 100% - 100% - 10% 50% 40% - 100% - Berdasarkan Tabel 4.10, intensitas penggunaan alat peraga oleh guru mencapai 80%, dimana sebanyak 8 orang guru merasa sudah sering menggunakan alat peraga ketika mengajar matematika. Pembuatan alat peraga tetap harus dipertimbangkan karena masih ada 2 orang guru atau sebesar 20% yang intensitas penggunaan alat peraga dalam mengajar masih kadang-kadang. Pertimbangan tersebut terkait dengan pendapat guru yang semuanya atau sebanyak 100% menyetujui pernyataan bahwa alat peraga dapat membantu siswa memahami konsep matematika. Semua guru atau sebanyak 100% responden berpendapat bahwa alat peraga akan terlihat menarik bila diberi warna, terutama warna yang cerah. Selain warna dari segi kemenarikan alat peraga, indikator selanjutnya yang 57

(83) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dipertimbangkan dalam membuat alat peraga adalah berat alat peraga itu sendiri. Sebanyak 5 orang guru atau 50% dari keseluruhan guru menjawab bahwa alat peraga yang dibuat sebaiknya memiliki gradasi dari segi bobot, yaitu bobot yang ringan (< 1,5 kg). Akan tetapi, sebanyak 4 orang guru (40%) berpendapat bahwa alat peraga bisa saja memiliki bobot sedang (1,5 – 3 kg) bahkan bobot yang berat (3 kg). Segi gradasi alat peraga juga dilihat dari kemanfaatan alat tersebut untuk digunakan dalam kompetensi dasar yang berbeda. Indikator ini disetujui oleh seluruh guru atau 100% guru. Pertimbangan selanjutnya terkait dengan fungsi auto-correction alat peraga menegaskan bahwa alat peraga matematika memang perlu dibuat karena semua guru, yaitu sebanyak 100% dari total guru, setuju bahwa siswa mampu menemukan kesalahannya sendiri dan menemukan jawaban atas kesalahannya itu dari alat peraga yang digunakan. Alat peraga ini perlu dibuat, juga dengan mempertimbangkan bahan dasar yang kontekstual. Hasil analisis kebutuhan guru menunjukkan bahwa 10% dari mereka sudah sangat sering menggunakan bendabenda dari lingkungan sekitar untuk mengajar, 50% sering, dan 40% kadangkadang saja menggunakan benda-benda tersebut. Oleh sebab itu, seluruh guru (100%) setuju bahwa alat peraga yang dibuat menggunakan bahan-bahan dari lingkungan sekitar agar lebih kontekstual. Kuesioner analisis kebutuhan guru memberikan gambaran kepada peneliti tentang keberadaan dan penggunaan alat peraga selama pelaksanaan pembelajaran.Informasi yang diperoleh peneliti dari kuesioner dan didukung wawancara singkat dengan kepala sekolah serta guru mendorong peneliti untuk mengembangkan alat peraga untuk pembelajaran. Alat peraga yang akan dikembangkan menggunakan potensi lokal (kontekstual) dan memperhatikan berbagai karakteristik dari metode pembelajaran Montessori agar siswa mampu belajar mandiri (auto-education), mengetahui kesalahannya sendiri (autocorrection), dapat mempelajari beragam kompetensi (bergradasi), dan tentu sajaalat peraga menarik bagi siswa. 4.2.2.2 Data Analisis Kebutuhan oleh Siswa Kebutuhan siswa terhadap alat peraga dianalisis dengan kuesioner yang berisikan 10 pernyataan khusus. Kesepuluh pernyataan tersebut disusun 58

(84) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI berdasarkan lima karakteristik alat peraga yang dikembangkan sebagai indikatornya. Hasil dari analisis kebutuhan siswa ini akan menjadi bahan pertimbangan dalam pembuatan alat peraga yang dikembangkan oleh peneliti. Berikut ini peneliti sajikan tabel hasil penghitungan analisis kebutuhan yang dijawab siswa. Tabel 4.11 Rekapitulasi Analisis Kebutuhan Siswa No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Pertanyaan Seberapa sering Bapak/ Ibu gurumu menggunakan alat peraga ketika mengajar Matematika? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang d. Jarang e. Sangat jarang Apakah penggunaan alat peraga dapat membantumu memahami konsepkonsep matematika? a. Ya b. Tidak Apakah menurutmu, pemberian warna pada alat peraga dapat membuat alat peraga tersebut terlihat lebih menarik? a. Ya b. Tidak Warna yang seperti apa yang kamu sukai untuk alat peraga? a. Warna cerah b. Warna gelap Jika dilihat dari beratnya, manakah alat peraga matematika yang sesuai untuk kamu gunakan? a. Berat ( > 3 kg) b. Sedang ( 1,5-3 kg) c. Ringan ( < 1,5 kg) Apakah kamu suka jika alat peraga yang sama bisa digunakan untuk materi yang berbeda? a. Ya b. Tidak Menurutmu, apakah penggunaan alat peraga dapat membantu menemukan kesalahanmu sendiri? a. Ya b. Tidak Apakah penggunaan alat peraga dapat membantumu untuk menemukan jawaban yang benar dari kesalahan saat mengerjakan soal-soal latihan? a. Ya b. Tidak Seberapa sering Bapak/Ibu gurumu menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar ketika mengajar Matematika? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang d. Jarang e. Tidak pernah Apakah kamu setuju jika alat peraga matematika dibuat menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar? Persentase 5% 10% 72% 15% 0% 95% 5% 72% 30% 90% 10% 40% 30% 30% 72% 30% 60% 40% 80% 20% 15% 20% 25% 25% 15% 59

(85) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No Pertanyaan a. b. Setuju Tidak setuju Persentase 75% 25% Tabel 4.11 memberikan informasi bahwa sebanyak 72% siswa menjawab guru masih kadang-kadang dalam menggunakan alat peraga. Padahal, 95% siswa merasa terbantu memahami konsep matematika bila menggunakan alat peraga. Pertimbangan pembuatan alat peraga selanjutnya adalah dari segi kemenarikan alat. Sebanyak 72% siswa merasa tertarik pada alat peraga tersebut bila diberi warna dan warna yang digunakan adalah warna cerah, dipilih oleh 90% siswa. Sebanyak 40% siswa memilih alat peraga yang beratnya lebih dari tiga kilogram, sedangkan masing-masing 30% siswa memilih alat peraga yang beratnya ringan (kurang dari 1,5 kilogram) dan sedang (1,5-3 kilogram). Hal ini akan menjadi pertimbangan peneliti dalam pembuatan alat peraga nantinya. Selain memiliki gradasi atau perbedaan dari sisi beratnya, alat peraga yang hendak dikembangkan juga memiliki gradasi dalam hal fungsi penggunaannya. Sebanyak 72% siswa menyukai alat peraga yang bisa digunakan untuk materi yang berbeda. Fungsi auto-correction dari alat peraga disetujui oleh 60% siswa atau sebanyak 12 orang siswa dapat membantu mereka menemukan kesalahan sendiri. Sebanyak 80% siswa juga setuju bahwa alat peraga membantu mereka menemukan jawaban yang benar dari kesalahan pengerjaan soal latihan. Pemilihan bahan yang kontekstual dalam pembuatan alat peraga ini dilihat dari hasil kuesioner siswa yang menunjukkan sekitar 15% dan 20% dari mereka merasa bahwa guru sudah sangat sering dan sering menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar ketika belajar Matematika. Meskipun demikian, masingmasing sebanyak 25% siswa menyatakan guru masih jarang dan hanya kadangkadang saja menggunakan benda-benda yang kontekstual untuk mengajar. Bahkan, sebanyak 15% siswa merasa gurunya tidak pernah menggunakan benda yang kontekstual untuk mengajar. Hasil kuesioner analisis kebutuhan siswa dikonfirmasikan dengan wawancara beberapa siswa. Persentase setiap item pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa siswa membutuhkan adanya alat peraga untuk pembelajaran, terutama ada banyak siswa (sebesar 95%) merasa terbantu dalam belajar bila menggunakan alat peraga. Oleh sebab itu, peneliti merasa perlu untuk membuat 60

(86) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI alat peraga yang memiliki lima karakteristik tersebut, yaitu auto-education, menarik, bergradasi, auto-correction, dan kontekstual. 4.3 Produksi Alat Peraga Blok Pecahan 4.3.1 Desain Alat Peraga Peneliti mengembangkan alat peraga matematika untuk penjumlahan dan pengurangan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang telah dijelaskan sebelumnya. Alat peraga yang dibuat disebut dengan blok pecahan yang terdiri atas blok pecahan, tanda tambah dan kurang, kotak alat peraga beserta tutupnya, kotak kartu soal, dan kartu soal. 4.3.1.1 Alat Peraga Blok Pecahan Alat peraga blok pecahan dibuat dari bahan dasar bambu yang banyak diperoleh dari lingkungan sekitar. Blok pecahan berbentuk lingkaran utuh untuk menunjukkan pecahan 1. Sedangkan bentuk yang lain disesuaikan dengan ukuran setiap pecahan. Diameter untuk blok pecahan ini sebesar 15 cm. Kemenarikan alat peraga inti bisa dilihat dari warnanya yang cerah, yaitu berwarna merah cabai serta bentuknya yang beragam mulai dari bulat utuh hingga terbagi menjadi 20 bagian. Desain dari blok pecahan pecahan dapat dilihat pada bagian lampiran halaman 97. 4.3.1.2 Album Pembelajaran Album pembelajaran adalah buku panduan penggunaan alat peraga Montessori yang terdiri atas materi pembelajaran, tema pembelajaran, nama alat peraga, tujuan pembelajaran, dan presentasi cara penggunaan alat peraga.Album ini digunakan sebagai panduan penggunaan alat. Album pembelajaran ini memaparkan langkah-langkah sistematis mengajarkan penjumlahan dan pengurangan dengan blok pecahan. Pembuatan album ini diharapkan dapat membantu pembaca atau pihak lain yang belum memahami cara penggunaan alat untuk menggunakan alat peraga blok pecahan. Materi pembelajaran dibedakan menjadi dua, yaitu untuk materi penjumlahan dan pengurangan. Materi penjumlahan terdiri atas tema penjumlahan antarpecahan biasa, pengurangan antara pecahan biasa dengan campuran, dan pengurangan antarpecahan campuran. Materi pengurangan juga terdiri atas 61

(87) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI beberapa tema yang sama, yaitu pengurangan antarpecahan biasa, pengurangan antara pecahan biasa dengan pecahan campuran, dan pengurangan antarpecahan campuran. Masing-masing tema akan dikhususkan lagi dengan membedakan penyebut yang sama dan berbeda. 4.3.2 Pembuatan Alat Peraga Pembuatan alat peraga dilakukan dengan bantuan tukang kayu dan mebel. Pembuatan dilakukan oleh tukang kayu dan mebel karena peralatan yang dimiliki cukup lengkap dan mendukung pembuatan alat yang baik. Peneliti membuat desain alat peraga, diberikan kepada pihak pembuat, lalu alat peraga dibuat sesuai dengan desain. Bahan dasar pembuatan blok pecahan adalah bambu. Pembuatan lingkaran pecahan ini dilakukan dalam empat tahap, yaitu penggambaran pola pada bambu, pemotongan, pengecatan, dan penulisan label pecahan. Bambu dipotong dan dibuat lingkaran dengan diameter 15 cm dan ketebalan kurang lebih 2 mm. Blok pecahan dibuat dalam beragam jenis, yaitu satu lingkaran utuh, kemudian potongan blok hingga pecahan yang dibuat mewakili pecahan . Masing-masing potongan bambu memiliki ukuran jari-jari 7,5 cm dari diameter lingkaran bambu yang dibentuk 15 cm. Setelah dipotong sesuai ukurannya, bambu dicat sambil dikeringkan di bawah sinar matahari langsung. Pengecatan dilakukan secara merata pada kedua sisi blok bambu tersebut. Blok bambu yang catnya sudah mengering diberi label tulisan pecahannya menggunakan spidol dengan tinta hitam. Gambar 4.1 Blok Pecahan Kotak penyimpanan alat peraga terbuat dari bahan kayu mindi atau dalam bahasa Latin disebut Melia azedarach Linn. Kotak penyimpanan dibuat dengan panjang, lebar, dan tingginya masing-masing berukuran 46,5 cm x 45 cm x 10 cm. Bagian dalam kotak penyimpanan dibuat bersekat-sekat untuk 62

(88) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI mengklasifikasikan setiap blok pecahan sesuai dengan nilainya. Sekat bagian dalam kotak berukuran tebal 0,5 cm, sedangkan bagian tepi memiliki ketebalan 1 cm. Gambar 4.2 Kotak Penyimpanan dan Tutup Kotak Kotak kartu dibuat dari bahan yang sama, yaitu kayu mindi (Melia azedarach Linn). Kotak kartu soal berukuran 10 cm x 12 cm x 5 cm. Kotak kartu ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan kartu soal. Gambar 4.3 Kotak Kartu dan Kartu Soal Kartu soal dibuat sejumlah 76 kartu, berisi soal-soal latihan penjumlahan dan pengurangan pecahan. Kartu dibuat dengan delapan macam pengelompokkan materi dan diberi penomoran A1, A2, B1, B2, B3, C1, C2, dan C3. Berikut ini rincian kartu soal alat peraga yang dibuat. Tabel 4.12 Kartu Soal Label kartu A1 A2 B1 B2 B3 C1 C2 C3 Materi Pecahan senilai Pecahan sederhana Penjumlahan antarpecahan biasa Penjumlahan pecahan biasa dengan pecahan campuran Penjumlahan antarpecahan campuran Pengurangan antarpecahan biasa Pengruangan pecahan biasa dengan pecahan campuran Pengurangan antarpecahan campuran Jumlah 4 4 10 10 10 10 10 10 63

(89) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Kartu dibuat dengan desain menggunakan program Coreldraw X4. Kartu berukuran panjang 8 cm dan lebar 6 cm, dibuat dalam bentuk dua sisi. Sisi muka berisi soal, sedangkan sisi belakang berisi kunci jawaban dari soal. Sisi belakang berfungsi sebagai kontrol dari latihan soal. Desain kartu dicetak menggunakan kertas jenis ivory menggunakan digital printing. 4.4 Validasi Instrumen 4.4.1 Validitas dan Reliabilitas Instrumen Tes 4.4.1.1 Ahli Pembelajaran Matematika Pengujian instrumen tes dilakukan oleh dua orang dosen sebagai ahli pembelajaran matematika. Penilaian dilakukan pada tanggal 19 November 2013 oleh ahli 1 dan 20 November 2013 oleh ahli 2. Kedua dosen bertugas mengajar sebagai dosen Pendidikan Matematika di program studi PGSD Universitas Sanata Dharma. Kedua ahli melakukan penilaian berdasarkan panduan penilaian instrumen. Para ahli menilai kesesuaian soal yang disusun oleh peneliti dengan SK dan KD, indikator, bentuk muka instrumen, penggunaan Bahasa Indonesia, dan tata tulis instrumen. Hasil penilaian oleh ahli dapat dilihat pada bagian Lampiran 3.1. Berikut ini peneliti sajikan tabel rekapitulasi skor penilaian instrumen tes yang dilakukan oleh kedua ahli. Tabel 4.13 Skor Penilaian Instrumen Tes oleh Ahli Pembelajaran Matematika Ahli Skor Item Pernyataan 4 5 6 7 1 2 3 1 3 3 3 4 2 3 3 4 3 4 3 Rerata 8 9 10 Total Rerata 3 3 4 4 4 35 3,5 4 3 3 4 3 33 68 3,3 3,4 Kategori Sangat baik Baik Baik Rerata skor menunjukkan angka 3,4. Bila dibandingkan dengan Tabel 4.2di halaman 51, instrumen ini berada pada kategori “baik”. Oleh sebab itu, instrumen ini sudah layak untuk digunakan pada uji empiris selanjutnya. Kedua ahli pembelajaran Matematika juga memberikan komentar terhadap instrumen tes yang telah peneliti susun. Komentar ahli 1 dan 2 menjadi masukan bagi peneliti untuk memperbaiki instrumen yang telah dibuat. Tabel 4.14 berikut ini menyajikan komentar ahli dan keputusan peneliti menanggapi komentar tersebut. 64

(90) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Tabel 4.14 Komentar Terhadap Instrumen Tes oleh Ahli Pembelajaran Matematika Penilai Komentar Indikator masih dapat dikembangkan ke arah yang lebih kontekstual Ahli 1 Perilaku dapat ditambah yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, kontekstual Perintah umum tidak cocok dengan soal penjumlahan – pengurangan (indikator 4) Bisa ditambah gambar seperti pada pecahan (indikator 2, 3, dan 5) Keputusan Peneliti mempertahankan indikator karena arah kegiatan pembelajaran semakin jelas dengan “melakukan”, terutama karena penelitian ini menggunakan alat peraga yang konkret. Penliti menambahkan beberapa gambar pada soal nomor 8 dan 24. Mempertahankan item soal cerita. Mengganti kata “penjumlahan” menjadi “pengurangan” Menambahkan gambar pecahan campuran pada item soal nomor 8 dan 24 Sebelum perbaikan Ahli 2 Penggunaan kalimat petunjuk pengerjaan soal Hitung hasil penjumlahan berikut ini dengan langkah yang tepat! Setelah perbaikan Untuk soal nomor 3-15, hitung hasil penjumlahan pecahan berikut ini dengan langkah yang tepat! Untuk soal nomor 18-30, hitung hasil pengurangan pecahan berikut ini dengan langkah yang tepat! 4.4.1.2 Guru Pengujian instrumen tes juga dilakukan oleh dua orang guru kelas IV A dan B SD N Sonosewu Bantul sebagai ahli 1 dan 2. Kedua ahli melakukan penilaian berdasarkan panduan penilaian instrumen. Ahli 1 dan 2menilai kesesuaian soal yang disusun oleh peneliti dengan SK dan KD, indikator, bentuk muka instrumen, penggunaan Bahasa Indonesia, dan tata tulis instrumen. Penilaian dilakukan dilakukan pada tanggal 21 November 2013. Berikut ini peneliti sajikan hasil rekapitulasi skor penilaian dari guru dalam menilai instrumen tes sebelum digunakan dalam uji coba empiris terhadap siswa. Tabel 4.15 Skor Penilaian Instrumen Tes oleh Guru Guru 1 2 1 4 4 2 4 4 3 4 4 Skor Item Pernyataan 4 5 6 7 8 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Rerata 9 3 3 10 3 3 Total Rerata Kategori 38 38 38 3,8 3,8 3,8 Sangat baik Sangat baik Sangat baik 65

(91) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Guru sebagai ahli 1 dan 2 memberikan penilaian yang sama. Berdasarkan rerata skor dari penilaian kedua ahli yang diperoleh, maka instrumen masuk kategori “sangat baik” berdasarkan Tabel 4.2 di halaman 51 dan layak untuk digunakan. Ahli tidak memberikan komentar secara tertulis akan tetapi secara lisan, menyatakan bahwa soal ini sudah sesuai dengan indikator dan materi yang dipelajari di kelas IV. Secara umum, peneliti mempertimbangkan komentar yang diberikan dua orang dosen sebagai ahli pembelajaran Matematika dan guru kelas IV A dan IV B. Komentar tersebut peneliti gunakan sebagai bahan perbaikan instrumen tes sebelum diujikan secara empiris kepada siswa. Peneliti melakukan beberapa perbaikan, terutama pada bagian yang dikomentari oleh ahli pembelajaran matematika yang telah peneliti perbaiki pada Tabel 4.14 di halaman 65. 4.4.1.3 Siswa Uji validitas tes secara empiris dilakukan di SD N Sonosewu Bantul. Jumlah siswa yang melakukan uji soal empiris sebanyak 56 siswa, dari kelas IV A sebanyak 31 siswa dan IV B 25 siswa. Dari 30 soal yang diujikan, keseluruhan soal valid. Validitas soal diamati dari besarnya r hitung lebih dari r tabel. Hasil uji validitas butir soal dengan SPSS 16.0 for Windows dapat dilihat pada bagian Tabel 4.16. Tabel 4.16 Hasil Uji Validitas Empiris Tes nomor soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 r hitung 0,275 0,304 0,274 0,462 0,722 0,710 0,730 0,806 0,728 0,692 0,655 0,753 0,772 0,727 0,695 0,669 0,667 0,657 0,529 0,717 r tabel 0,259 0,259 0,259 0,259 0,259 0,259 0,259 0,259 0,259 0,259 0,259 0,259 0,259 0,259 0,259 0,259 0,259 0,259 0,259 0,259 Sig. (2-tailed) 0,041 0,023 0,041 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 keputusan valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid 66

(92) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI nomor soal 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 r hitung 0,774 0,803 0,788 0,763 0,826 0,851 0,774 0,767 0,848 0,853 r tabel 0,259 0,259 0,259 0,259 0,259 0,259 0,259 0,259 0,259 0,259 Sig. (2-tailed) 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 keputusan valid valid valid valid valid valid valid valid valid valid Keseluruhan soal dianggap valid karena memiliki nilai r hitung lebih besar dari r tabel yang besarnya 0,259 pada N=56 dan memiliki taraf signifikansi (2-tailed) kurang dari 0,05. Dari 30 soal valid, diambil 12 soal sebagai soal pretest dan posttest. Pengambilan 12 butir soal didasarkan pada jumlah indikator yang hendak dicapai, sehingga setiap indikator diambil 2 butir soal yang mewakili. Sebelum digunakan menjadi soal jadi dalam pretest dan posttest, kedua belas soal juga telah diuji reliabilitasnya. Skor Cronbach’s Alpha mencapai 0,922, sehingga masuk dalam kategori soal yang reliabel. Kedua belas soal dimasukkan ke dalam kisi-kisi soal sebagai berikut. Tabel 4.17 Indikator Tes SK : 6. Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah KD No Indikator 6.3 Menjumlahkan 1. Melakukan penjumlahan antarpecahan biasa. pecahan Melakukan penjumlahan pecahan biasa dengan 2. pecahan campuran. Melakukan penjumlahan antarpecahan 3. campuran. 6.4 Mengurangkan 4. Melakukan pengurangan antarpecahan biasa. pecahan Melakukan pengurangan pecahan biasa dengan 5. pecahan campuran. Melakukan pengurangan antarpecahan 6. campuran. Nomor soal 1, 2 3, 4 5, 6 7, 8 9, 10 11, 12 Kedua belas soal yang valid tadi peneliti kelompokkan bersama. Kemudian, peneliti menyusun 12 butir soal valid menjadi satu dan melihat kembali bila masih ada kesalahan atau kekurangan dalam menuliskan kata maupun tanda bacanya. Setelah itu, soal sudah siap digunakan untuk pretest dan posttest. 67

(93) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.4.2 Uji Keterbacaan Instrumen Validasi Produk 4.4.2.1 Ahli Pembelajaran Matematika Instrumen validasi produk diuji keterbacaannya oleh ahli Matematika yang merupakan dosen Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Sanata Dharma. Dosen ini berlaku sebagai ahli pembelajaran Matematika untuk memvalidasi keterbacaan item pernyataan dalam kuesioner. Dosen Matematika dipilih karena kuesioner ini berkaitan dengan pembelajaran matematika yang diterapkan dengan alat peraga. Tabel 4.18 Skor Keterbacaan Validasi Produk oleh Ahli Matematika Ahli Matematika 1 4 2 3 3 3 4 3 Indikator 5 6 7 4 3 3 8 3 9 3 10 3 Total Rerata Kategori 32 3,2 Baik Ahli memberikan penilaian dengan rerata skor 3,2. Berdasarkan Tabel 4.2, rerata skor ini sudah masuk dalam kategori “baik”. Kategori ini menunjukkan bahwa instrumen sudah layak untuk digunakan. Ahli tidak memberikan komentar secara tertulis terhadap instrumen yang telah dibuat, sehingga peneliti mempertimbangkan pendapat ahli yang lain untuk melakukan perbaikan. 4.4.2.2 Ahli Bahasa Ahli selanjutnya yang melakukan penilaian terhadap keterbacaan instrumen ini adalah dosen Bahasa Indonesia dari Program Studi PGSD Universitas Sanata Dharma. Ahli bahasa diperlukan untuk memvalidasi terlebih dahulu menilai instrumen ini karena unsur kebahasaan juga menjadi faktor penting sebagai sarana komunikasi tertulis peneliti dengan subjek penelitian melalui kuesioner. Peneliti menganalisis perolehan skor yang diberikan oleh ahli dalam kategori yang “sangat baik” dengan menggunakan pedoman Tabel 4.2. Berikut ini adalah rekpitulasi skor penilaian dari ahli bahasa. Tabel 4.19 Skor Keterbacaan Validasi Produk oleh Ahli Bahasa Ahli Bahasa 1 4 2 4 3 4 4 4 Indikator 5 6 4 3 7 3 8 4 9 4 10 3 Total Rerata Kategori 37 3,7 Sangat baik Ahli bahasa memberikan penilaian dengan rerata skor 3,7. Berdasarkan Tabel 4.2 di halaman 51, skor tersebut berada dalam kategori yang “sangat baik”. Oleh sebab itu, instrumen sudah dapat digunakan. Selain penilaian berdasarkan 68

(94) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI skor, ahli juga memberikan komentar secara tertulis. Komentar ahli adalah hendaknya peneliti memberikan penjelasan secara lisan dari pernyataan yang ada pada kuesioner. Secara keseluruhan, instrumen validasi produk ini sudah layak digunakan. Kriteria ini dapat dibandingkan dengan tabel kriteria skor yang dilampirkan pada bagian lampiran. 4.4.2.3 Guru Pengujian keterbacaan instrumen dilakukan oleh guru kelas IV A dan IV B SD N Sonosewu Bantul. Guru bertindak sebagai ahli 1 dan 2. Kedua ahli memberikan penilaian yang senada. Berikut ini tabel rekapitulasi skor penilaian keterbacaan instrumen oleh guru. Tabel 4.20 Skor Keterbacaan Validasi Produk oleh Guru Guru 1 2 1 3 3 2 2 2 3 4 4 Indikator 4 5 6 3 3 3 3 3 3 Rata-rata 7 3 3 8 3 3 9 3 3 10 2 2 Total Rerata Kategori 29 29 29 2,9 2,9 2,9 Baik Baik Baik Hasil perthitungan rerata skor ahli 1 dan 2 diperoleh angka 2,9. Hal ini menunjukkan bahwa instrumen masuk dalam kategori “baik” dan dapat digunakan. Kriteria skor ini dapat dibandingkan dengan Tabel 4.2 di halaman 51. Kedua guru memberikan komentar tertulis bahwa kata “memahami” pada item pernyataan kedua yang bunyinya “Siswa dapat memahami konsep matematika secara mandiri dengan alat peraga blok pecahan” kurang operasional. Peneliti mempertahan kata tersebut karena cakupan kata memahami lebih luas dan menggambarkan aktivitas yang akan berlangsung dengan menggunakan alat peraga. 4.4.2.4 Siswa Instrumen diujikan keterbacaannya kepada sekelompok siswa untuk mengetahui apakah pernyataan dalam kuesioner ini dapat dipahami oleh siswa. Uji keterbacaan kalimat dilakukan oleh lima orang siswa kelas IV A SD N Sonosewu Bantul. Hampir kelima siswa memberikan skor maksimal 4 untuk setiap item pernyataan pada kuesioner. Catatan tertulis yang diberikan siswa berupa kata “karakteristik” dan “kompetensi” yang belum dipahami menjadi masukan bagi peneliti. Lebih lanjut, peneliti menggunakan masukan dari ahli yang 69

(95) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI lain untuk memberikan penjelasan secara lisan bila diperlukan pada konteks yang belum dipahami pada saat pengisian kusioner validasi produk akhir. Rekapitulasi skor keterbacaan instrumen dapat dilihat pada Tabel 4.21. Tabel 4.21 Skor Keterbacaan Validasi Produk oleh Siswa Siswa 1 2 3 4 5 1 4 4 4 4 4 2 4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 Indikator 4 5 6 4 3 2 4 3 2 4 3 2 4 3 2 4 3 2 Rerata 7 4 4 4 4 4 8 4 4 4 4 4 9 4 4 4 4 4 10 4 4 4 4 4 Total Rerata Kategori 37 37 37 37 37 37 3,7 3,7 3,7 3,7 3,7 3,7 Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Secara umum, kelima siswa memberikan penilaian yang baik untuk setiap item. Masing-masing siswa memiliki rerata skor sebesar 3,7 dan secara keseluruhan rerata skor semua siswa mencapai 3,7. Bila dibandingkan dengan Tabel 4.2 di halaman 51, skor 3,7 masuk kategori “sangat baik”, sehingga menunjukkan bahwa instrumen ini layak untuk digunakan. 4.5 Data Validasi dan Revisi Alat Peraga Proses validasi produk berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama validasi produk yang dilakukan oleh ahli, dilanjutkan tahap kedua validasi produk oleh siswa dalam uji coba lapangan terbatas. Peroleh skor dianalisis dengan kategori konversi skor oleh Widoyoko (2009). Pengategorian skor dapat dilihat kembali pada Tabel 4.2 di halaman 51 sebagai pedoman penilaian kualitas produk yang tercermin dalam perolehan skor kuesioner. Para ahli yang melakukan validasi terhadap produk awal yang dikembangkan telah ahli di bidang pembelajaran Montessori, pembelajaran matematika, dan guru matematika kelas IV SD Kanisius Jomegatan. 4.5.1 Data Validasi oleh Ahli 4.5.1.1 Ahli Pembelajaran Montessori Ahli pembelajaran Montessori yang menjadi validator produk penelitian ini adalah salah seorang dosen di program studi PGSD Universitas Sanata Dharma yang mengampu beberapa mata kuliah, salah satunya adalah mata kuliah Montessori dan menjadi dosen pendamping dari Montessori Club. Validasi 70

(96) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI dilakukan pada tanggal 19 Desember 2013. Penilaian produk ini berdasarkan kriteria yang dikembangkan, yaitu auto-education, menarik, bergradasi, autocorrection, dan kontekstual. Kriteria ini dikembangkan menjadi 10 item pernyataan pada kuesioner. Berdasarkan hasil penilaian dalam validasi ini diperoleh hasil skor rata-rata 3,8. Skor rata-rata yang diperoleh ini masuk dalam kategori “Sangat baik”, sehingga alat peraga ini sangat layak digunakan tanpa revisi. Lebih lanjut, skor validasi produk oleh ahli dapat dilihat pada Tabel 4.22. Ahli memberikan komentar tentang alat peraga yang terlalu berat untuk siswa kelas IV. Peneliti mempertimbangkan bahwa kotak penyimpanan alat peraga harus kuat menopang dan menyimpan blok pecahan di dalamnya. Oleh sebab itu, peneliti tetap menggunakan bahan kayu mindi sebagai dasar pembuatan kotak penyimpanan blok pecahan dan tidak merevisi bobot kotak penyimpanan. 4.5.1.2 Ahli Pembelajaran Matematika Ahli pembelajaran yang menjadi validator produk penelitian ini adalah salah satu dosen program studi PGSD yang mengampu mata kuliah Pendidikan Matematika. Validasi dilakukan pada tanggal 19 Desember 2013. Penilaian produk ini berdasarkan kriteria yang dikembangkan, yaitu auto-education, menarik, bergradasi, auto-correction, dan kontekstual. Kriteria ini dikembangkan menjadi 10 item pernyataan pada kuesioner. Berdasarkan hasil penilaiandalam validasi ini diperoleh hasil skor ratarata 3,5. Skor yang diperoleh pada setiap item kuesioner untuk penilaian alat peraga dapat dilihat pada Tabel 4.22 di halaman 72. Skor rata-rata yang diperoleh ini masuk dalam kategori “sangat baik” dan dapat disimpulkan bahwa alat peraga ini sangat layak digunakan tanpa revisi. Komentar yang diberikan terkait dengan produk yang dikembangkan adalah mengenai bahan yang memungkinkan untuk diganti agar tidak terlalu berat. Peneliti menerima masukan tersebut, namun tidak melakukan penggantian bahan. Peneliti mempertimbangkan keamanan dan keutuhan blok pecahan yang disimpan di dalam kotak sehingga tidak dilakukan penggantian bahan kotak penyimpan. Secara lisan, ahli pembelajaran matematika menanyakan tentang bagaimana siswa dapat mengetahui urutan pecahan yang diajarkan bila dalam setiap sekat tidak diberi penanda. Pertanyaan dari ahli 71

(97) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menjadi bahan pertimbangan peneliti selanjutnya. Oleh sebab itu, peneliti menerima masukan tersebut dan memberi label kecil pada setiap sekat yang dimulai dari bilangan pecahan hingga . 4.5.1.3 Guru Matematika Kelas IV Guru Matematika sebagai validator produk penelitian ini adalah salah satu guru di SD Kanisius Jomegatan, yang mengampu mata pelajaran matematika dari kelas IV hingga kelas VI. Produk ini divalidasi oleh guru pada tanggal 9 Januari 2014. Penilaian produk ini berdasarkan kriteria yang dikembangkan, yaitu auto-education, menarik, bergradasi, auto-correction, dan kontekstual. Kriteria ini dikembangkan menjadi 10 item pernyataan pada kuesioner. Berdasarkan hasil penilaian dalam validasi ini diperoleh hasil skor rata-rata 3,8 dan masuk dalam kategori “sangat baik” pada Tabel 4.2 di halaman 51. Penilaian yang diberikan oleh guru menunjukkan bahwa alat peraga sangat layak digunakan tanpa revisi. Validator juga memberikan komentar tertulis bahwa alat peraga ini sudah baik dan menarik digunakan untuk konsep ini. Berdasarkan komentar tersebut, maka peneliti tidak melakukan revisi apapun pada produk yang sudah diproduksi ini. Penilaian dari ahli pembelajaran Montessori, Matematika, dan guru Matematika kelas IV terangkum dalam Tabel 4.22 berikut ini. Tabel 4.22 Rekapitulasi Validasi Produk oleh Ahli Validator Pembelajaran Montessori Pembelajaran Matematika Guru Matematika kelas IV Skor per item 5 6 7 1 2 3 4 4 4 4 4 4 2 3 3 4 4 4 4 4 4 4 3 Total Rerata Kategori 4 38 3,8 Sangat baik 3 3 35 3,5 Sangat baik 4 4 38 3,8 Sangat baik 37 3,7 Sangat baik 8 9 10 4 4 4 3 4 4 4 3 4 Rerata Rerata skor perolehan validasi produk alat peraga menunjukkan skor 3,7. Skor tersebut dibandingkan dengan pedoman kategori pada Tabel 4.2 di halaman 51 menunjukkan bahwa alat peraga termasuk dalam kategori “sangat baik”. Kategori ini memberi arti bahwa alat peraga tersebut berada pada kualitas yang sangat baik dan layak untuk digunakan tanpa revisi. 72

(98) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.5.2 Revisi Alat Peraga Peneliti menganalisis hasil perolehan skor penilaian alat peraga yang menunjukkan bahwa alat peraga ini berada pada kualitas yang sangat baik dan layak digunakan tanpa revisi. Dua ahli, yaitu ahli pembelajaran Montessori dan Matematika, yang memberikan komentar tentang bobot alat peraga yang terlalu berat peneliti terima, akan tetapi peneliti tidak melakukan revisi terhadap bobotnya. Seperti komentar yang diberikan oleh ali pembelajaran Matematika untuk mengganti bahan yang lebih ringan. Peneliti menerima masukan tersebut akan tetapi tidak memberikan tindak lanjut berupa penggantian bahan. Langkah ini peneliti ambil karena penggantian bahan yang lebih ringan belum menjamin ketahanan produk. Kotak alat peraga yang dibuat dengan bahan kayu mindi belum tentu bisa digantikan dengan bahan lain yang lebih ringan, seperti tripleks, karena kotak harus menyangga beban blok di dalamnya yang cukup banyak. Peneliti melakukan tindak lanjut terhadap komentar lisan ahli pembelajaran Matematika. Ahli berkomentar agar memberikan tanda/label pada masing-masing sekat agar tidak membuat siswa bingung dan keliru saat mengambil maupun mengembalikan blok. Peneliti kemudian menambahkan label pecahan untuk setiap sekatnya menggunakan kertas label kecil, sehingga terbaca dan memudahkan siswa atau siapa saja yang menggunakan alat tersebut. 4.6 Uji Coba Lapangan Terbatas Pengujian alat peraga ini dilakukan terhadap enam orang siswa kelas IV SD Kanisius Jomegatan yang terdiri atas tiga siswa putra dan tiga siswa perempuan. Siswa yang terlibat dalam uji coba lapangan terbatas ini peneliti inisialkan dengan No, Gu, Te, Je, Di, dan Ni. Pengujian berlangsung selama empat kali pertemuan bimbingan dan dua kali pertemuan untuk pretest dan posttest. Pengujian berlangsung pada tanggal 10, 16, 17, 20, 21, 22, 23, dan 25 Januari 2014. Peneliti melakukan pengelompokkan siswa putra dan putri agar lebih efektif dan efisien. Durasi setiap pertemuan kurang lebih 90 menit. Kegiatan ini dilakukan di luar jam pembelajaran formal (sepulang sekolah). 73

(99) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.6.1 Data dan Analisis Tes Produk alat peraga yang dikembangkan digunakan oleh siswa sesudah mereka diberi pretest untuk mengetahui pengetahuan awal tentang materi penjumlahan dan pengurangan pecahan. Soal berjumlah 12 butir yang disusun berdasarkan indikator pencapaiannya. Selain disusun berdasarkan indikator pencapaiannya, soal ini telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Sesudah siswa menjalani sesi bimbingan atau pendampingan dengan alat peraga ini, peneliti memberikan posttest kepada siswa. Setiap soal memiliki langkah yang harus ditulis agar diperoleh jawaban yang sesuai. Perhitungan kenaikan nilai siswa dari pretest ke posttest menggunakan Rumus 3.3 di halaman 47, yaitu: ̅ ( ̅ ) ̅ ( ) Berikut ini hasil rekapitulasi nilai siswa. Tabel 4.23 Rekapitulasi Nilai Siswa No 1 2 3 4 5 6 Nama No Gu Te Je Di Ni Rerata Nilai Pretest 20 25 20 20 25 27 22,8 Posttest 42 78 68 58 90 85 70,2 Kenaikan (%) 110 212 240 190 260 215 207 Tabel rekapitulasi nilai siswa menunjukkan bahwa telah terjadi kenaikan hingga dua kali lipat. Tabel 4.23 menunjukkan setiap siswa mengalami kenaikan nilai yang beragam. Kenaikan nilai dimulai dari 110%, 190%, 212%, 215%, 240%, hingga 260%. Kenaikan secara umum ditunjukkan dari nilai rerata pretest dan posttest siswa, yaitu dari 22,8 naik menjadi 70,2. Dilihat dari persentasenya, kenaikkan nilai siswa setelah menjalani pendampingan menggunakan alat peraga blok pecahan mencapai 207%. Keragaman kenaikan nilai masing-masing siswa disajikan pada Grafik 4.1 di halaman 75. 74

(100) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI N i l a i 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 90 85 78 68 58 Pretest 42 20 No 25 Gu 20 20 Te Je Nama Siswa 25 27 Di Posttest Ni Grafik 4.1 Nilai Masing-masing Siswa Grafik 4.1 menunjukkan perbandingan kenaikkan nilai dari masingmasing siswa. Grafik tersebut memberikan gambaran bahwa setiap siswa mengalami peningkatan nilai. Kenaikan nilai yang cukup signifikan terlihat pada nilai siswa Di yang meningkat dari 25 menjadi 90. Kenaikkan nilai siswa Di mencapai 260% (lihat Tabel 4.22) dan merupakan siswa dengan peningkatan nilai terbanyak, sedangkan siswa dengan nilai terendah mengalami peningkatan dari nilai sebesar 20 menjadi 42. Siswa dengan peningkatan nilai paling sedikit adalah siswa No sebanyak 110%, diikuti Je sebanyak 190%, Gu sebanyak 212%, Ni sebanyak 215%, dan Te sebanyak 240%. Tingginya kenaikan nilai Di dari 25 menjadi 90 atau meningkat sebanyak 260% memang sesuai dengan fakta sehari-hari selama kegiatan pendampingan. Di menunjukkan perubahan yang berangsur-angsur menjadi lebih baik. Awalnya, Di lebih banyak diam. Sedikit demi sedikit, Di mulai terlibat aktif dalam kegiatan dan mengikuti aturan tidak tertulis saat pendampingan, yaitu sistem antrian menggunakan alat peraga sehingga menyebabkan keteraturan dalam kegiatan belajar ini. Di mengerjakan latihan secara mandiri sementara teman-temannya ada yang sedang berlatih menggunakan alat peraga atau menunggu gilirannya. Sikap Di pada saat pretest juga berbeda dengan pada saat mengerjakan posttest. Pada saat pretest, Di lebih banyak melamun dan kadang mengajak temannya berbicara. Berbeda dengan keadaan saat mengerjakan posttest. Pada saat posttest berlangsung, Di dengan tekun dan tenang mengerjakan 75

(101) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI soal tanpa banyak bicara. Perubahan ini menjadi salah satu faktor yang mendukung Di memperoleh nilai yang baik. Kondisi Di berbeda dengan No. Kenaikan nilai No tidak sebesar Di. Nilai No meningkat dari 20 menjadi 42 dengan persentase sebesar 110%. Perubahan yang terjadi dalam diri No memang tidak sebaik Di. Selama pendampingan, keterlibatan No sebatas ikut dalam urutan yang telah dibuat oleh teman-temannya. No mau menggunakan alat peraga dan kartu soal untuk latihan, tetapi No jarang mengerjakan latihan-latihan soal tambahan yang diberikan. Pada saat proses pengerjaan pretest dan posttest, No terlihat tidak fokus karena selalu menatap aktivitas yang terjadi di luar kelas. Hal ini menyebabkan soal tes yang dikerjakan tidak selesai dan hanya asal diisi dengan angka, bukan dengan jawaban yang benar. Ketika posttest berlangsung, No terpengaruh temannya yang sudah selesai. No terburu-buru ingin segera pulang, sehingga soal tidak diselesaikan dengan baik. Oleh sebab itu, peningkatan nilai No tidak sebesar teman-temannya. Peningkatan umum nilai pretest dan posttest disajikan secara sederahan menggunakan grafik tunggal. Gambaran umum peningkatan nilai siswa disajikan dalam Grafik 4.2 berikut ini. 80 70,2 70 60 S k o r 50 Pretest 40 30 Posttest 22,8 20 10 0 Grafik 4.2 Perbandingan Rerata Skor Pretest dan Posttest Sajian Grafik 4.2 menggambarkan peningkatan nilai siswa dari pretest ke posttestsecara keseluruhan. Dari grafik tersebut, rerata nilai siswa mengalami peningkatan dari 22,8 ke 70,2. Secara persentase, peningkatan yang terjadi sebesar 207% seperti yang telah disajikan pada Tabel 4.23 di halaman 74. Kenaikan nilai 76

(102) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI yang terjadi cukup signifikan karena mencapai dua kali lipat (dua kali dari 100%). Hal ini dapat dikatakan bahwa alat peraga ini membantu siswa dalam memahami materi penjumlahan dan pengurangan pecahan yang diajarkan di kelas IV semester genap. 4.6.2 Data dan Analisis Kuesioner Penilaian kualitas produk pada uji coba lapangan terbatas dilakukan oleh siswa kelas IV sejumlah enam siswa.Validasi dilakukan sesudah pelaksanaan pendampingan belajar menggunakan blok pecahan, yaitu pada tanggal 29 Januari 2014. Instrumen validasi menggunakan kuesioner yang sama dengan kuesioner validasi produk oleh ahli. Berikut ini hasil rekapitulasi validasi produk yang dilakukan oleh siswa pada uji coba lapangan terbatas. Tabel 4.24 Rekapitulasi Validasi Produk oleh Siswa Siswa No Gu Te Je Di Ni 1 4 4 4 4 4 4 2 3 4 4 4 4 4 3 1 4 4 4 3 3 4 3 4 4 4 4 4 Skor per item 5 6 4 3 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 Rerata 7 4 4 4 4 4 4 8 4 4 4 4 4 4 9 3 4 4 4 4 4 10 4 4 4 4 4 4 Total Rerata Kategori 33 40 39 40 39 39 3,3 4,0 3,9 4,0 3,9 3,9 Baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik 38,3 3,8 Sangat baik Setiap siswa memberikan penilaian yang berbeda-beda. Rerata skor yang diperoleh paling rendah 3,3 dan tertinggi skor 4,0. Berdasarkan kategorinya pada Tabel 4.2 di halaman 51, rerata semua skor siswa masuk dalam kategori “sangat baik”, sedangkan skor penilaian siswa yang terendah masuk kategori “baik”. Keseluruhan rerata skor siswa sebesar 3,8. Skor 3,8 masuk dalam rentang kategori yang “sangat baik”. Berdasarkan penilaian siswa, alat peraga blok pecahan layak digunakan untuk pembelajaran pecahan. 4.7 Analisis Lanjut Dampak Penggunaan Alat Peraga Uji coba lapangan terhadap produk alat peraga Montessori berupa blok pecahan berlangsung sebanyak empat kali. Skor hasil penilaian alat peraga yang mencapai rata-rata 3,7 dengan kategori “sangat baik” perlu untuk dikonfirmasi secara deskriptif berdasarkan pendapat guru, siswa, dan peneliti sendiri. 77

(103) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Penggunaan alat peraga selama uji coba memberikan pengaruh terhadap proses belajar siswa dan hasil belajarnya. Hal ini akan disampaikan pendapat guru matematika kelas IV, siswa, dan peneliti sebagai triangulasi dari data yang sudah diperoleh. 4.7.1 Proses Proses yang dijelaskan adalah aktivitas yang dialami siswa selama proses pendampingan penggunaan alat peraga blok pecahan dalam uji coba lapangan terbatas. Selama proses itu berlangsung, ada hal-halyang ditunjukkan siswa melalui reaksinya selama menggunakan alat peraga. Reaksi berupa perilaku dan tanggapan lisan selama proses berlangsung. Pengalaman siswa diungkapkan dalam wawancara lisan di akhir proses pendampingan uji coba lapangan terbatas. Selama kegiatan pendampingan belajar sebagai uji coba lapangan terbatas alat peraga blok pecahan, peneliti menemukan perilaku yang cenderung mengarah menuju hal yang positif. Peneliti menggunakan satu set alat peraga untuk enam orang. Awalnya, mereka memang berebutan untuk menggunakan alat peraga ini. Keenam siswa berkata (dalam bahasa Jawa), “Aku dhisik, aku dhisik.” Keenam siswa tersebut saling berebut menggunakan alat peraga. Terutama pada pertemuan pertama, keenam siswa masih saling berebut dengan aku dulu, aku dulu. Peneliti melihat situasi yang kacau itu berusaha menenangkan siswa lalu menunjuk satu per satu siswa untuk belajar, sedangkan yang lain memperhatikan apa yang peneliti contohkan. Pada pertemuan selanjutnya, yaitu pertemuan kedua 16 Januari 2014, keenam siswa seperti membuat perjanjian tidak tertulis satu sama lain. Berdasarkan pengamatan peneliti selama pendampingan, ada siswa yang dengan sabar menunggu gilirannya, yaitu Di. Di mengatakan dalam Bahasa Jawa, “Yo, bar Ni terus aku,” yang artinya Di menunggu giliran setelah Ni. Selama menunggu temannya, siswa yang lain beraktivitas mengerjakan soal latihan dalam lembar kerja atau memperhatikan teman yang sedang menggunakan alat peraga. Sesudah menggunakan alat peraga, tentu saja mereka akan segera mengembalikan potongan-potongan blok pecahan ke dalam kotak penyimpanannya kembali. Keenam siswa secara teratur saling menunggu giliran dalam menggunakan alat peraga. Seperti yang dilakukan oleh Gu. Gu selalu membuat 78

(104) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI urutan dengan teman yang akan menggunakan alat peraga. Gu pernah berkata, “Bar Te terus No, terus aku”. Pernyataan Gu dengan Bahasa Jawa ini menyiratkan bahwa secara berangsur-angsur siswa mengubah sikap berdasarkan kebiasaan-kebiasaan yang ditunjukkan dari peragaan yang diawali peneliti. Perilaku keenam siswa ini menunjukkan bahwa keinginan mereka menggunakan alat peraga akan terpenuhi bila secara teratur dan bersabar menunggu giliran dan pada waktunya akan menggunakan alat peraga blok pecahan.Secara berangsur-angsur, peneliti melihat adanya perilaku siswa yang berubah menjadi lebih baik. Perilaku tersebut adalah munculnya keteraturan siswa selama belajar menggunakan alat peraga blok pecahan. Hal ini senada dengan pendapat guru bahwa siswa membutuhkan pembiasaan yang baik dalam aktivitas belajar. Siswa melakukan aktivitas tersebut secara berulang, sehingga menjadi terbiasa. Pembiasaan yang baik ditunjukkan dalam penggunaan alat peraga karena terbukti siswa menjadi lebih teratur dalam melaksanakan aktivitas belajarnya. 4.7.2 Hasil Belajar Pembiasan siswa mengerjakan soal-soal latihan disertai jawaban membuat siswa semakin lancar dalam mengerjakan soal berupa penjumlahan dan pengurangan pecahan. Hal ini ditunjukkan pada hasil posttest siswa yang meningkat dari pretestnya sebesar 207%. Peningkatan ini menunjukkan bahwa alat peraga ini memiliki dampak positif untuk membantu kesulitan belajar siswa, terutama dalam belajar pecahan. Guru menilai alat peraga ini cukup bagus dan sangat membantu siswa dalam mempelajari konsep ini. Guru mengatakan, “Dalam pembelajaran, memang diperlukan alat peraga yang sifatnya konsep. Kalau sudah tentang pemahaman, maka tidak perlu. Tapi jika tidak paham, bisa kembali ke konsep memakai alat peraga” (komunikasi dengan guru, 30 Januari 2014). Pernyataan guru ini menggambarkan bahwa penggunaan alat peraga memang penting bagi siswa untuk memahami suatu konsep.Berdasarkan kegiatan pendampingan dan bimbingan tersebut, serta skor hasil tes yang dilakukan, guru berpendapat bahwa uji coba ini berpengaruh pada siswa. Guru melihat tinggi rendahnya skor siswa itu menunjukkan bahwa siswa memiliki kemampuan dasar yang berbeda-beda. Peningkatan skor dari pretest ke posttest menunjukkan bahwa alat peraga ini 79

(105) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI sangat membantu siswa untuk memahami konsep tersebut. Skor siswa yang beragam itu dikatakan oleh guru bahwa siswa sesungguhnya memiliki kemampuan untuk menyerap konsep, namun dengan daya yang berbeda. Peneliti secara umum menanyakan secara lisan kepada para siswa apakah terbantu atau tidak menggunakan alat peraga. Siswa Te menyatakan bahwa Te merasa terbantu dalam belajar (komunikasi pribadi dengan siswa, 29 Januari 2014). Te menyatakan bisa menggunakan alat peraga itu sendiri, sehingga dapat mengerjakan soal dalam lembar latihan soal. Secara klasikal, peneliti juga bertanya kepada siswa tentang bisa tidaknya alat peraga ini membantu siswa dalam belajar (komunikasi pribadi dengan siswa, 29 Januari 2014). Gu segera menjawab “Terbantu, enak”. Perkataan Gu disambung oleh Ni yang menyatakan bahwa “enak” belajar menggunakan alat peraga. Ni menambahkan bahwa dari yang tidak tahu menjadi lebih tahu tentang pecahan. Keenam siswa mengatakan bahwa mereka menjadi lebih tahu tentang pecahan dibantu dengan alat peraga tersebut. Hasil belajar yang ditunjukkan siswa menjadi bukti bahwa penggunaan alat peraga memang memiliki dampak yang baik, yaitu dengan melihat peningkatan nilai sebesar 207%. Hal ini juga didukung fakta bahwa siswa sendiri secara langsung menyatakan bahwa keenam siswa tersebut merasa terbantu belajarnya menggunakan alat peraga yang dikembangkan. Hal senada juga diungkapkan guru bahwa penggunaan alat peraga membantu siswa dalam memahami suatu konsep, meskipun pada akhirnya nilai siswa akan beragam besarnya. Keragaman nilai ini disebabkan perbedaan kemampuan siswa dalam menyerap informasi selama proses belajar berlangsung. Pendapat dari guru telah peneliti alami sendiri selama proses pendampingan berlangsung. Selama proses pendampingan, peneliti melihat ada siswa yang selalu sabar dan dengan teratur melaksanakan urutan pembelajaran dengan runtut. Siswa yang teratur melaksanakan urutan belajar ini cenderung memperoleh hasil yang baik pada saat posttest. Sebaliknya, siswa yang tidak teratur dan bertindak sesuka hati dalam proses pembelajaran pada akhirnya memperoleh nilai yang rendah pada saat posttest. 80

(106) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4.8 Kajian Produk Akhir Penilaian akhir terhadap kualitas produk alat peraga yang dikembangkan merupakan rekapitulasi skor para ahli, guru, dan siswa. Rerata skor dari masing-masing penilai dijumlahkan dan dihitung reratanya. Berikut ini rekapitulasi hasil penilaian produk dari ahli pembelajaran Montessori, Matematika, guru Matematika kelas IV, dan siswa. Tabel 4.25 Validasi Produk Akhir Validator Total Rerata Kategori Pembelajaran Montessori Pembelajaran Matematika Guru Matematika kelas IV Siswa kelas IV Rerata 38 35 38 38,3 37,3 3,8 3,5 3,8 3,8 3,7 Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat baik Tabel 4.25 menunjukkan rerata penilaian dari produk alat peraga yang dikembangkan. Rerata skor yang diperoleh dari keseluruhan ahli sebesar 3,7. Skor sebesar itu masuk dalam kategori “sangat baik”. Kategori ini dapat dilihat dari pedoman kategori skor pada Tabel 4.2 di halaman 51. Berdasarkan penilaian dari para ahli dan uji coba lapangan terbatas, alat peraga yang dikembangkan memiliki kualitas yang baik. Hal ini bisa dilihat dari hasil penilaian para ahli dan hasil uji coba lapangan terbatas. Skor rerata yang diperoleh dari penilaian produk sebesar 3,7 masuk dalam kategori “sangat baik”. Peningkatan hasil belajar yang dicapai siswa dalam uji coba lapangan terbatas sebesar 207%. Besar skor validasi produk dan peningkatan hasil belajar siswa dari pretest ke posttest menjadi patokan bahwa produk alat peraga ini layak dikembangkan lebih lanjut untuk uji pemakaian yang lebih luas. 4.9 Implikasi Lanjut Permasalahan pendidikan di Indonesia masih terkait dengan rendahnya hasil belajar siswa, menurut hasil evaluasi internasional PISA (Kompas, 5 Desember 2013). Cara menjawab permasalahan ini adalah dengan melakukan langkah yang tepat sasaran objek, yaitu siswa. Salah program reformasi yang dilakukan pemerintah adalah melakukan sertifikasi guru dengan tujuan meningkatkan kualitas pendidikan melalui peningkatan kualitas guru. Sayangnya, 81

(107) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI hasil belajar siswa masih tetap rendah, seperti yang tercermin dalam hasil evaluasi internasional tersebut. Siswa SD yang sedang dalam masa operasional konkret cocok bila melakukan aktivitas belajar yang secara langsung mengarahkan siswa ke pengalaman langsung. Tentu saja untuk mengalami sesuatu secara langsung diperlukan material maupun aktivitas yang secara nyata ada di hadapan siswa. Hal ini direalisasikan dalam penelitian R and D dengan alat peraga yang membantu proses belajar siswa. Penelitian R and D memberikan dampak positif yang lebih nyata dan tepat sasarannya. Penggunaan alat peraga sebagai alat bantu pembelajaran telah terbukti meningkatkan hasil belajar siswa pada uji coba lapangan terbatas penelitian ini.Penelitian ini tepat dilakukan karena telah terbukti berdampak baik pada hasil belajar siswa karena menggunakan aktivitas yang tepat dan alat bantu yang sesuai untuk belajar. Oleh sebab itu, masih diperlukan penelitian-penelitian yang sejenis agar permasalahan pendidikan di Indonesia dapat diatasi secara berangsur-angsur dan menjadi lebih baik. 82

(108) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI BAB V PENUTUP Bab V ini akan menguraikan (1) kesimpulan, (2) keterbatasan penelitian, dan (3) saran. 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, kesimpulan yang dapat peneliti peroleh sebagai berikut : 5.1.1 Alat peraga matematika berbasis metode Montessori berupa blok pecahan yang dikembangkan untuk materi penjumlahan dan pengurangan pecahan di kelas IV memiliki ciri-ciri (1) auto-education, (2) menarik, (3) bergradasi, (4) auto-correction, serta ciri tambahan (5) kontekstual yang memanfaatkan potensi lokal sebagai bahan pembuatan alat peraga. 5.1.2 Alat peraga matematika berbasis metode Montessori berupa blok pecahanyang dikembangkan untuk materi penjumlahan dan pengurangan pecahan di kelas IV masuk dalam kategori “sangat baik” karena mendapat rerata skor penilaian dari para ahli sebesar 3,7 dan menunjukkan kualitas alat peraga yang sangat baik sampai pada uji coba lapangan terbatas. 5.1.3 Penggunaan alat peraga matematika berbasis metode Montessori berupa blok pecahanberdampak terhadap munculnya keteraturan perilaku siswa dalam proses belajar menggunakan alat peraga dan adanya kenaikan hasil belajar siswa sebesar 207% yang dilihat dari hasil pretest ke posttest saat uji coba lapangan terbatas. 5.2 Keterbatasan Penelitian Alat peraga yang dikembangkan memiliki beberapa keterbatasan meskipun telah dinilai berkualitas sangat baik dalam penelitian ini. Keterbatasan penelitian ini sebagai berikut. 5.2.1 Keterbatasan waktu penggunaan alat peraga oleh siswa dalam uji coba lapangan terbatas. 83

(109) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5.2.2 Penelitian pengembangan ini baru sampai pada uji coba lapangan terbatas padahal bisa dikembangkan hingga uji pemakaian yang lebih luas. 5.2.3 Validasi terhadap produk baru dilakukan pada alat peraga, belum pada album pembelajaran. 5.3 Saran Saran untuk peneliti selanjutnya dalam bidang penelitian dan pengembangan alat peraga berbasis metode Montessori di antaranya sebagai berikut. 5.3.1 Mengalokasikan waktu yang cukup agar setiap siswa dapat menggunakan alat peraga sesuai dengan kebutuhan. 5.3.2 Mengembangkan penelitian hingga tahap uji coba pemakaian yang lebih luas. 5.3.3 Melakukan validasi terhadap album pembelajaran. 84

(110) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI DAFTAR REFERENSI Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (2010). Kerangka landasan untuk pembelajaran, pengajaran, dan asesmen : Revisi taksonomi Bloom. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Arifin, Z. (2013). Evaluasi pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Anggorowati, R. (2013). Penggunaan media manipulatif mika transparan dalam pembelajaran matematika materi penjumlahan pecahan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD Islam Al Furqon Bulak Surabaya. Jurnal Penelitian Guru Sekolah Dasar, 1. Diakses dari http://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal-penelitianpgsd/article/view/2043/baca-artikel Anitah, S. (2009). Media pembelajaran. Surakarta: Yuma Pustaka. Arikunto, S. (2006). Prosedur penelitian (Revisi VI ed.). Jakarta: PT Rineka Cipta Arsyad, A. (2010). Media pembelajaran. Jakarta: Rajawali Citra Pers. Azwar, S. (2012). Tes prestasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Budi, T. P. (2006). SPSS 13.0 terapan; riset statistik parameterik. Yogyakarta: CV Andi Offset. Budiningsih, A. (2008). Belajar dan pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta. Copeland, R. W. (1967). Mathematics and the elementary teacher. Philadelphia and London: W.B. Saunders Company. Crain, W. (2007). Teori perkembangan, konsep dan aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Djiwandono, S.E. (2006). Psikologi pendidikan. Jakarta: PT Gramedia. Gall, M. D., Gall, J. P., & Borg, W. R. (2007). Educational research : An introduction. Boston: Pearson. Gozhali, I. (2009). Aplikasi analisis multivariate dengan program SPSS. Semarang: Badan Penerbiti Universitas Diponegoro. Gutek, G.L. (2013). Metode Montessori : Panduan wajib untuk guru dan orangtua didik PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). (A. L. Lazuardi, Penerj.) Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 85

(111) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Hainstock, E. G. (1997). The essential Montessori. USA: Penguin Books. Haladyna, T. M., Downing, S. M., & Rodriguez, M. C. (2002, Maret). A review of multiple-choice item-writing guidelines for classroom assessment. Applied Measurement in Education, 15, 309-334. Hamalik, O. (1994). Media pembelajaran. Bandung: PT Citra Aditya Bakti. _________. (2007). Proses belajar mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. _________. (2011). Proses belajar mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. Holt, H. (2008). The absorbent mind, pikiran yang mudah menyerap. (Dariyatno, Penerj.) Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Homfray, M., & Child, P. (1996). Primary maths II. Perth: Montessori World Educational Institute. Johnson, E. B. (2010). Contextual teaching & learning : Menjadikan kegiatan belajar-mengajar mengasyikkan dan bermakna. (I. Setiawan, Penerj.) Bandung: Kaifa. Kamus, T. P. (2008). Kamus besar bahasa Indonesia (Kedua ed.). Jakarta: Balai Pustaka. Kompas. (2013, Desember 5). Skor PISA : Posisi Indonesia nyaris jadi juru kunci. Diakses dari http://www.kopertis12.or.id/2013/12/05/skor-pisa-posisiindonesia-nyaris-jadi-juru-kunci.html Koh, J. H. L., & Frick, T. W. (2010). Implementing autonomy support: Insight from a Montessori classroom. Internasional Journal of Education, 2. Diakses dari : http://www.macrothink.org/journal/index.php/ije/article/view/511/0 Kustandi, C., & Sutjipto, B. (2011). Media pembelajaran; manual dan digital. Bogor: Ghalia Indonesia. Lillard, P. P. (1996). Montessori today : A comprehensive approach to education from birth to adulthood. New York: Schocken Books. __________. (1997). Montessori in the classroom : A teacher's account of flow. New York: Shocken Books. Lillard, A. S. (2005). Montessori : The science behind the genius. New York: Oxford University Press. Margono, S. (2003). Metodologi penelitian pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. 86

(112) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Mikan, Ngadiyono, & Hardi. (2009). Pandai berhitung matematika untuk Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah kelas V. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. Montessori , M. (2002). The Montessori method. New York: Frederick A. Stokes Company. Munadi, Y. (2010). Media pembelajaran, sebuah pendekatan baru. Jakarta: Gaung Persada Press. Nasution, S. (1982). Didaktik asas-asas mengajar. Bandung: Jemmars Bandung. Nisfiannoor, M. (2009). Pendekatan statistic modern untuk ilmu social. Jakarta: Salemba Humanika. Noor, J. (2011). Metodologi penelitian : Skripsi, tesis, disertasi, dan karya Ilmiah. Jakarta: Kencana Payne, L., & Ridout, S. (2008). Mathematics : Number & algebra 6-12 years. Australia: Montessori World Educational Institute. Purwanto. (2009). Evaluasi hasil belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar . Ruseffendi, E. (1979). Dasar-dasar matematika modern untuk guru. Bandung: Tarsito. Sadiman, A. S., Raharjo, R., Haryono, A., & Rahardjito. (1984). Media pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Sa'dijah, C. (1998). Pendidikan matematika II. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Silver , H. F., Brunsting, J. R., Walsh, T., & Thomas , E. J. (2013). Pengajaran matematika : Kurikulum inti bersama (2 ed.). (A. Nugroho, Penerj.) Jakarta: PT Indeks. Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah & Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan dasar dan Menengah. (2006). Jakarta: BP. Cipta Jaya. Sugiyono. (2008). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. _________. (2010). Metode penelitian pendidikan : Pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan r and d. Bandung: Alfabeta. 87

(113) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Sukajati. (2008). Pembelajaran operasi penjumlahan pecahan di SD Menggunakan Berbagai Media. Yogyakarta: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika. Sumantri, M., & Syaodih, N. (2009). Perkembangan peserta didik. Jakarta: Universitas Terbuka. Sunardi, Hapsari, P., & Sardjana, A. (2013). Ayo belajar matematika kelas 5 SD. Yogyakarta: Kanisius. Suparno, P. (2001). Teori perkembangan kogniti Jean Piaget. Yogyakarta: Kanisius. Supratiknya, A. (2012). Penilaian hasil belajar dengan teknik nontes. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Susanto, A. (2013). Teori belajar dan pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana. Susilawati, M. (2011). Pengenalan Metode Investigasi dalam Pembelajaran Matematika pada Konsep Pecahan di SDN 11 Peguyangan Denpasar. Udayana Mengabdi, 10, 99-101. Diakses dari http://ojs.unud.ac.id/index.php/jum/article/view/2103/1292 The World Bank. (2011). Transforming Indonesia's teaching force (Vol. 2). Jakarta: The World Bank Office. Diakses dari http://siteresources.worldbank.org/EDUCATION/Resources/2782001099079877269/5476641099080063795/Transforming_Indonesia_teaching_force.pdf Trianto. (2010). Mendesain model pembelajaran inovatif-progresif : Konsep, landasan, dan implementasinya pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana. Ullya, Zulkardi, & Putri, R. I. (2010, Desember). Desain Bahan Ajar Penjumlahan Pecahan Berbasis Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) untuk Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 23 Indralaya. Jurnal Pendidikan Matematika, 4, 87-96. Diakses dari http://eprints.unsri.ac.id/846/ Wahyuningsih, I. (2011). Pengaruh model pendidikan Montessori terhadap hasil belajar matematika siswa. Skripsi. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah. Diakses dari http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/4715 Walle, J. A. (2007). Matematika Sekolah Dasar dan menengah. Jakarta: Erlangga. Widiyatmoko, A., & Pamelasari, S. (2012, April). Pembelajaran Berbasis Proyek untuk Mengembangkan Alat Peraga IPA dengan Memanfaatkan Bahan 88

(114) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Bekas Pakai. Jurnal Pendidikan IPS Indonesia, 51-56. Diakses dari http://journal.unnes.ac.id/index.php/jpii Widoyoko, S. E. (2009). Evaluasi program pembelajaran : Panduan praktis bagi pendidik dan calon pendidik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar . Yamin, M. (2007). Kiat membelajarkan siswa. Jakarta: Gaung Persada Press. 89

(115) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 90

(116) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 1 : INSTRUMEN ANALISIS KEBUTUHAN 1.1 Kisi-kisi Instrumen Analisis Kebutuhan No Karakteristik Alat Peraga 1 a. Auto education Nomor Indikator b. 2 Menarik c. d. 3 Bergradasi c. d. 4 Auto correction c. d. 5 Kontekstual c. d. Soal Menggunakan alat peraga dalam pembelajaran matematika. Memahami konsep matematika secara mandiri dengan alat peraga Pemberian warna pada alat peraga. Pemilihan warna alat peraga. 1 Bobot alat peraga Penggunaan alat peraga untuk kompetensi yang berbeda. Menemukan kesalahan sendiri Menemukan jawaban yang benar 5 Penggunaan alat peraga dari lingkungan sekitar. Alat peraga dapat dibuat menggunakan bahanbahan dari lingkungan sekitar. 9 2 3 4 6 7 8 10 1.2 Garis Besar Masalah untuk Wawancara No 1 2 3 4 5 Garis besar pertanyaan Ketersediaan alat peraga di sekolah. Cara memperoleh alat peraga. Penggunaan alat peraga di sekolah. Kriteria alat peraga yang menarik. Kegunaan alat peraga dalam pembelajaran. 1.3 Rekapitulasi Keterbacaan Instrumen Analisis Kebutuhan oleh Validator Skor No. Indikator Pertanyaan Apakah Bapak/Ibu menggunakan alat peraga ketika mengajar Matematika? a. Sangat sering 1. 2. Autoeducation Autoeducation b. c. d. e. 1 2 3 4 1 2 8 2 9 Sering Kadang-kadang Jarang Sangat jarang Apakah penggunaan alat peraga dapat membantu siswa memahami konsep-konsep matematika? a. Ya b. Tidak Saran - Sebaiknya menggunakan kalimat “Seberapa sering Bapak/Ibu menggunakan ...”.*) - Kata tanya “apakah” kurang tepat digunakan.*) Penulisan kalimat asing menggunakan dicetak miring.*) 91

(117) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Skor No. 3. 4. 5. 6. 7. Indikator Pertanyaan 1 2 3 4 Jika alat peraga Matematika berasal dari lingkungan sekitar, apakah akan lebih menarik jika diberi warna? a. Ya b. Tidak 2 3 6 Warna yang seperti apa yang Bapak/Ibu sukai untuk alat peraga? a. Warna b. Warna cerah gelap Manakah alat peraga matematika yang Bapak/Ibu sukai? a. Berat b. c. Sedang Ringan Apakah Bapak/Ibu lebih suka jika alat peraga yang sama bisa digunakan untuk berbagai kompetensi dasar yang berbeda? a. Ya b. Tidak Apakah menurut Bapak/Ibu penggunaan alat peraga dapat membantu siswa menemukan kesalahannya sendiri? a. Ya b. Tidak 1 2 8 1 10 1 1 Menarik Menarik Bergradasi Bergradasi Autocorrection Saran - Apakah alat peraga yang ada di sekitar siswa belum ada warnanya atau warnawarna natural tidak menarik?*) - Contoh alat peraga dari lingkungan sekitar! Alat tersebut bisa memiliki warna?*) Warna cerah adalah warna apa saja?*) Kriteria bobot berat, sedang, ringan?*) 9 - 2 9 - - 8. 9. Autocorrection Kontekstual Apakah penggunaan alat peraga dapat membantu siswa untuk menemukan jawaban yang benar? a. Ya b. Tidak Apakah Bapak/Ibu menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar ketika mengajar Matematika? a. Sangat sering b. Sering c. Kadang-kadang 1 10 4 7 Kata lebih dihilangkan.*) Berbagai dihilangkan.*) Perlu ada tambahan penjelasan maksud “kesalahan sendiri”.*) Menurut Bapak/Ibu, apakah .... *) Kalimat tanya yang digunakan kurang sesuai.*) 92

(118) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Skor No. 10. Indikator Kontekstual Pertanyaan d. Jarang e. Tidak pernah Apakah Bapak/Ibu setuju jika alat peraga matematika dibuat menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar? a. Sangat setuju b. Setuju c.Kurang setuju d. Tidak setuju Jumlah skor perskala Total skor Rerata Kategori 1 2 3 4 1 1 9 7 28 75 Saran Apakah perbedaan antara kurang setuju dengan tidak setuju?*) 398 3,6 Sangat baik Keterangan : Uji keterbacaan dilakukan oleh 2 ahli pembelajaran Matematika, 2 ahli Bahasa, 2 guru, dan 5 siswa. Masing-masing dilakukan pada tanggal 4 Oktober 2013, 10 Oktober 2013, dan 15 November 2013. *) komentar dari validator 1.4 Rekapitulasi Kuesioner Analisis Kebutuhan oleh Guru No Indikator 1 Auto-education Pertanyaan Responden Persentase Seberapa sering Bapak/Ibu menggunakan alat peraga ketika mengajar Matematika? 2 Auto-education a. Sangat sering 0 b. Sering 8 80% c. Kadang-kadang 2 20% d. Jarang 0 e. Sangat jarang 0 Apakah penggunaan alat peraga dapat membantu siswa memahami konsepkonsep matematika? 3 Menarik a. Ya 10 b. Tidak 0 100% Apakah, menurut Bapak/Ibu, pemberian warna pada alat peraga dapat membuat alat 93

(119) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No Indikator Pertanyaan Responden Persentase 100% peraga tersebut terlihat lebih menarik? 4 Menarik a. Ya 10 b. Tidak 0 Warna yang seperti apa yang Bapak/Ibu sukai untuk alat peraga? 5 Bergradasi a. Warna cerah 10 b. Warna gelap 0 100% Jika dilihat dari beratnya, manakah alat peraga matematika yang menurut Bapak/Ibu sesuai untuk siswa? 6 Bergradasi a. Berat ( > 3 kg) 1 10% b. Sedang ( 1,5-3 kg) 4 40% c. Ringan ( < 1,5 kg) 5 50% 100% Apakah Bapak/Ibu suka jika alat peraga yang sama bisa digunakan untuk kompetensi dasar yang berbeda? 7 Auto-correction a. Ya 10 b. Tidak 0 Menurut Bapak/Ibu, apakah penggunaan alat peraga dapat membantu siswa menemukan kesalahannya sendiri pada saat mengerjakan soal-soal latihan? 8 Auto-correction a. Ya 10 b. Tidak 0 100% Apakah penggunaan alat peraga dapat membantu siswa untuk menemukan jawaban yang benar dari kesalahan saat mengerjakan soal-soal latihan? 9 Kontekstual a. Ya 10 b. Tidak 0 100% Seberapa sering Bapak/Ibu menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar ketika mengajar Matematika? a. Sangat sering 1 10% b. Sering 5 50% c. Kadang 4 40% d. Jarang 0 94

(120) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No Indikator Pertanyaan e. 10 Kontekstual Responden Tidak pernah Persentase 0 Apakah Bapak/ Ibu setuju jika alat peraga matematika dibuat menggunakan bendabenda dari lingkungan sekitar? a. Setuju 10 b. Tidak setuju 0 100% 1.5 Rekapitulasi Analisis Kebutuhan oleh Siswa No Indikator 1 Auto-education Pertanyaan Responden Persentase Seberapa sering Bapak/ Ibu gurumu menggunakan alat peraga ketika mengajar Matematika? 2 Auto-education a. Sangat sering 1 5% b. Sering 2 10% c. Kadang-kadang 14 72% d. Jarang 3 15% e. Sangat jarang 0 0% Apakah penggunaan alat peraga dapat membantumu memahami konsep-konsep matematika? 3 Menarik a. Ya 19 95% b. Tidak 1 5% Apakah menurutmu, pemberian warna pada alat peraga dapat membuat alat peraga tersebut terlihat lebih menarik? 4 Menarik a. Ya 14 72% b. Tidak 6 30% Warna yang seperti apa yang kamu sukai untuk alat peraga? 5 Bergradasi a. Warna cerah 18 90% b. Warna gelap 2 10% Jika dilihat dari beratnya, manakah alat peraga matematika yang sesuai untuk kamu gunakan? a. Berat ( > 3 kg) 8 40% b. Sedang ( 1,5-3 kg) 6 30% 95

(121) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No Indikator Pertanyaan c. 6 Bergradasi Ringan ( < 1,5 kg) Responden Persentase 6 30% Apakah kamu suka jika alat peraga yang sama bisa digunakan untuk materi yang berbeda? 7 Auto-correction a. Ya 14 72% b. Tidak 6 30% Menurutmu, apakah penggunaan alat peraga dapat membantu menemukan kesalahanmu sendiri? 8 Auto-correction a. Ya 12 60% b. Tidak 8 40% Apakah penggunaan alat peraga dapat membantumu untuk menemukan jawaban yang benar dari kesalahan saat mengerjakan soal-soal latihan? 9 Kontekstual a. Ya 16 80% b. Tidak 4 20% Seberapa sering Bapak/Ibu gurumu menggunakan benda-benda dari lingkungan sekitar ketika mengajar Matematika? 10 Kontekstual a. Sangat sering 3 15% b. Sering 4 20% c. Kadang 5 25% d. Jarang 5 25% e. Tidak pernah 3 15% Apakah kamu setuju jika alat peraga matematika dibuat menggunakan bendabenda dari lingkungan sekitar? a. Setuju 15 75% b. Tidak setuju 5 25% 96

(122) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 2 : DESAIN PRODUK 2.1 Blok Pecahan 2.2 Kotak Penyimpanan 97

(123) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.3 Tutup 2.4 Kotak Katu Soal 98

(124) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 2.5 Kartu Soal 99

(125) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 3: INSTRUMEN VALIDASI 3.1 Rekapitulasi Uji Validasi Instrumen Tes No Komponen Penilaian 1 Skor 2 3 4 1. Kesesuaian SK, KD, dan indikator 2 2 2. Kualitas perilaku yang dituntut dalam indikator mencerminkan keutuhan perkembangan siswa 2 2 3. Kesesuaian indikator 1 dengan item soal yang diberikan 1 3 4. Kesesuaian indikator 2 dengan item soal yang diberikan 1 3 5. Kesesuaian indikator 3 dengan item soal yang diberikan 1 3 6. Kesesuaian indikator 4 dengan item soal yang diberikan 1 3 7. Kesesuaian indikator 5 dengan item soal yang diberikan 2 2 8. Kesesuaian indikator 6 dengan item soal yang diberikan 1 3 9. Bentuk muka instrumen tes yang disajikan 2 2 3 1 Penggunaan Bahasa Indonesia dan tata tulis baku pada instrumen tes Jumlah skor Total skor Rerata Kategori 10. Komentar Indikator masih dapat dikembangkan ke arah yang lebih kontekstual.*) Perilaku dapat ditambah yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-harikontekstual.*) Bisa ditambah gambar seperti pada pecahan biasa .*) Bisa ditambah gambar seperti pada pecahan biasa .*) Perintah umum tidak cocok dengan soal penjumlahan dan pengurangan. *) 48 96 144 3,6 Sangat baik Keterangan : Instrumen tes divalidasi oleh masing-masing dua orang ahli pembelajaran Matematika dan guru pada 19, 20, dan 21 November 2013. *) komentar oleh ahli. 100

(126) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 3.2 Hasil Uji Validitas Tes Total nomor1 nomor2 nomor3 nomor4 nomor5 nomor6 nomor7 nomor8 nomor9 nomor10 nomor11 nomor12 nomor13 nomor14 nomor15 nomor16 Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Total 1 56 .275 .041 56 .304 .023 56 .274 .041 56 .462 .000 56 .722 .000 56 .710 .000 56 .730 .000 56 .806 .000 56 .728 .000 56 .692 .000 56 .655 .000 56 .753 .000 56 .772 .000 56 .727 .000 56 .695 .000 56 .669 .000 101

(127) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI nomor17 nomor18 nomor19 nomor20 nomor21 nomor22 nomor23 nomor24 nomor25 nomor26 nomor27 nomor28 nomor29 nomor30 N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N 56 .667 .000 56 .657 .000 56 .529 .000 56 .717 .000 56 .774 .000 56 .803 .000 56 .788 .000 56 .763 .000 56 .826 .000 56 .851 .000 56 .821 .000 56 .767 .000 56 .848 .000 56 .853 .000 56 3.3 Reliabilitas instrumen tes Reliability Statistics Cronbach's Alpha Based on Cronbach's Standardized Alpha Items .922 N of Items .923 12 102

(128) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Item-Total Statistics Corrected Item- Squared Cronbach's Scale Mean if Scale Variance Total Multiple Alpha if Item Item Deleted if Item Deleted Correlation Correlation Deleted nomor2 29.6071 172.716 .253 .324 .929 nomor5 31.1250 145.384 .662 .599 .917 nomor8 30.7143 146.717 .774 .687 .912 nomor10 32.2143 161.408 .640 .564 .919 nomor13 31.2143 146.717 .735 .660 .913 nomor14 32.1964 154.379 .660 .769 .917 nomor16 30.8750 151.820 .580 .511 .921 nomor21 32.2500 148.373 .739 .686 .913 nomor23 31.1429 145.506 .747 .740 .913 nomor26 31.8214 148.295 .836 .842 .910 nomor28 31.4464 144.872 .726 .726 .915 nomor30 32.1429 146.888 .815 .872 .910 3.4 Rekapitulasi Keterbacaan Instrumen Validasi Produk No Indikator Aspek yang dinilai 1 Auto education 2 Auto education 3 Menarik 4 Menarik 5 Bergradasi 6 Bergradasi 7 Auto Siswa dapat menggunakan alat peraga secara mandiri Siswa dapat memahami konsep matematika secara mandiri dengan alat peraga Warna alat peraga membuat siswa tertarik untuk belajar matematika Bentuk alat peraga menarik bagi siswa Alat peraga dapat digunakan untuk berbagai kompetensi dasar yang berbeda Alat peraga memiliki ukuran dan berat yang sesuai dengan karakteristik siswa Penggunaan alat 1 2 2 5 Skor 3 2 4 Saran (Jika ada) 7 1 6 1 8 3 6 7 2 Kata memahami kurang operasional. *) 4 4 5 Harus diberikan 103

(129) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI No Indikator Aspek yang dinilai correction peraga dapat membantu siswa menemukan kesalahannya sendiri pada saat mengerjakan soalsoal latihan Penggunaan alat peraga dapat membantu siswa menemukan jawaban yang benar Bahan yang digunakan untuk membuat alat peraga mudah didapatkan dari lingkungan sekitar sekolah Alat peraga dapat diproduksi oleh masyarakat sekitar. 8 Auto correction 9 Kontekstual 10 Kontekstual 1 2 Skor 3 4 Saran (Jika ada) konteksnya/dijelaskan. *) 2 3 6 3 6 2 5 Harus dijelaskan konteksnya secara lisan. *) Dapat dibuat oleh siswa sendiri. *) Jumlah skor Total perolehan skor Rerata Kategori 18 90 204 312 3,46 Sangat baik Keterangan : Instrumen divalidasi oleh ahli Matematika, ahli Bahasa, guru, dan siswa pada tanggal 14, 15, dan 18 November 2013. *) komentar oleh validator 104

(130) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 4 : VALIDASI PRODUK OLEH AHLI 4.1 Rekapitulasi Kuesioner Validasi Produk No Aspek yang dinilai 1 Siswa dapat menggunakan alat peraga blok pecahan secara mandiri Siswa dapat memahami konsep matematika secara mandiri dengan alat peraga blok pecahan Warna alat peraga blok pecahan membuat siswa tertarik untuk belajar matematika Bentuk alat peraga blok pecahan menarik bagi siswa Alat peraga blok pecahan dapat digunakan untuk berbagai kompetensi dasar yang berbeda Alat peraga blok pecahan memiliki ukuran dan berat yang sesuai dengan karakteristik siswa 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Penggunaan alat peraga blok pecahan dapat membantu siswa menemukan kesalahannya sendiri pada saat mengerjakan soal-soal latihan Penggunaan alat peraga blok pecahan dapat membantu siswa menemukan jawaban yang benar Bahan yang digunakan untuk membuat alat peraga blok pecahan mudah didapatkan dari lingkungan sekitar sekolah Alat peraga blok pecahan dapat diproduksi oleh masyarakat sekitar. Jumlah skor Total skor Rerata Kategori 1 Skor 2 3 1 4 8 2 7 2 6 1 8 2 7 2 6 1 8 1 1 Komentar/saran Material berat apabila digunakan anak kelas IV SD. *) 9 1 2 7 1 8 2 42 296 341 3,78 Sangat baik Keterangan : Validasi produk dilakukan oleh ahli pembelajaran Matematika, pembelajaran Montessori, guru Matematika kelas IV SD, dan siswa kelas IV SD pada tanggal 19 Desember 2013, 9 Januari 2014, dan 29 Januari 2014. *) komentar dari ahli. 105

(131) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 5 : UJI COBA LAPANGAN TERBATAS 5.1 Soal Tes 1. Tuliskan nilai pecahan dari bagian yang berwarna gelap dan hitung hasil penjumlahannya! + Untuk soal nomer 2, hitung hasil penjumlahan pecahan berikut ini dengan langkah yang tepat ! 2. 3. ( ) ( ) Tuliskan nilai pecahan dari bagian yang berwarna gelap dan hitung hasil penjumlahannya! + ( ) Untuk soal nomer 4-6, hitung hasil penjumlahan pecahan berikut ini dengan langkah yang tepat ! 106

(132) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ( 4. ) ( 5. 6. 7. ( ( ) ( ( ) ( ) ( ) ) ) ) Tuliskan nilai pecahan dari bagian yang berwarna gelapdan hitung hasil pengurangannya! - 107

(133) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Untuk soal nomer 8-12, hitung hasil pengurangan pecahan berikut ini dengan langkah yang tepat ! 8. ( ) ( ( 9. ) ) ( ) ( 10. ( 11. ( ( ) ) ( ) ) ) 108

(134) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ( 12. ) ( ( ) ) 5.2 Kunci Jawaban 1. 2. 3. ( ( 4. ( 5. 7. 9. ( 11. 12. ( ( ( ) ) ) ) ( ) ( ( ( ( ( ) ) 10. ) ) ( 6. 8. ( ) ) ( ( ) ) ( ) ) ) ( ) ( ) ( ) ) ( ) ( ) ) 109

(135) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5.3 Rekapitulasi Nilai Pretest No Soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Total No 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 Gu 1 1 1 1 3 2 1 1 1 1 1 1 25 Skor masing-masing siswa Te Je 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20 20 Di 1 1 1 1 2 2 1 1 2 1 1 1 25 Ni 1 1 1 1 3 2 1 1 2 1 1 1 27 Keterangan : Pretest diikuti oleh enam orang siswa kelas IV SD Kanisius Jomegatan pada tanggal 10 Januari 2014. 5.4 Rekapitulasi Nilai Posttest No Soal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Total No 5 4 4 2 1 1 3 1 1 1 1 1 42 Gu 5 5 5 3 4 3 4 1 5 5 5 2 78 Skor masing-masing siswa Te Je 5 5 4 1 5 5 4 3 5 2 2 2 5 3 1 1 5 5 2 2 1 4 2 2 68 58 Di 5 3 5 5 4 2 5 5 5 5 5 5 90 Ni 5 5 5 3 5 3 5 5 5 2 5 3 85 Keterangan : Posttest diikuti oleh enam orang siswa kelas IV SD Kanisius Jomegatan pada tanggal 25 Januari 2014. 110

(136) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 5.5 Garis Besar Masalah untuk Wawancara No 1 2 3 4 5 Garis besar pertanyaan Kesan setelah menggunakan alat peraga. Kegunaan alat peraga untuk mempelajari materi. Kemandirian belajar saat menggunakan alat peraga. Kemenarikan alat peraga. Rekomendasi penggunaan alat peraga. 111

(137) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 6: SURAT PERMOHONAN IJIN PENELITIAN KE SD 112

(138) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 7: SURAT KETERANGAN TELAH MELAKSANAKAN PENELITIAN DARI SD 113

(139) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 8: DOKUMENTASI UJI COBA LAPANGAN TERBATAS Pretest (10 Januari 2014) Latihan penjumlahan pecahan biasa (16 Januari 2014) Siswa dan alat peraga (16 Januari 2014) Latihan penjumlahan pecahan campuran (20 Januari 2014) 114

(140) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI LAMPIRAN 9 : ALBUM PEMBELAJARAN Album Pembelajaran dengan Alat Peraga Mata PelajaranMatematika A. Materi Pembelajaran : Penjumlahan A.1 Tema Pembelajaran : Penjumlahan antarpecahan Biasa A.1.1 Penjumlahan antarpecahan biasa dengan penyebut sama Tujuan Mengenalkan latihan penjumlahan antarpecahan biasa dengan langsung penyebut sama Usia mulai usia 9 tahun Syarat Siswa mengenal konsep pecahan Alat Peraga Blok pecahan, kartu soal, lembar kerja Presentasi 1 1. Menyiapkan lokasi kerja dan alat peraga 2. Mengundang anak untuk bermain penjumlahan pecahan biasa dengan penyebut yang sama, “Mari ikut ibu bermain penjumlahan pecahan.” 3. Direktris mengambil satu kartu soal, misal 4. Direktris meminta anak menuliskan soal pada lembar kerja. 5. Direktris mengambil blok pecahan . 6. Direktris mengambil simbol penjumlahan dan meletakkan di samping blok pecahan . 7. Direktris mengambil blok pecahan 115

(141) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8. Direktris menghitung jumlah blok pecahan yang ada. 9. Direktris menuliskan pada lembar kerja. 10. Direktris mencocokkan jawaban pada kartu soal. 11. Direktris meminta anak untuk mencoba latihan selanjutnya. 12. Anak mengembalikan alat peraga ke tempat semula setelah selesai menggunakan. Pengendali Kunci jawaban, jumlah blok Kesalahan A.1.2 Penjumlahan antarpecahan biasa dengan penyebut berbeda Tujuan langsung Mengenalkan latihan penjumlahan antarpecahan biasa dengan penyebut berbeda Usia mulai usia 9 tahun Syarat Siswa mengenal konsep pecahan Alat Peraga Blok pecahan, kartu soal, lembar kerja Presentasi 2 1. Menyiapkan lokasi kerja dan alat peraga 2. Mengundang anak untuk bermain penjumlahan pecahan biasa dengan penyebut yang berbeda 3. Direktris mengambil satu kartu soal, misal 116

(142) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Direktris meminta anak menuliskan soal pada lembar kerja. 5. Direktris mengambil blok pecahan . 6. Direktris mengambil simbol penjumlahan dan meletakkan di samping blok pecahan . 7. Direktris mengambil blok pecahan 8. Direktris menyamakan penyebut pecahan. 9. Blok pecahan dicari kesamaannya dengan blok pecahan lain, dalam hal ini pecahan dengan penyebut yang lebih besar ( ) 10. Blok pecahan disusun hingga menyamai blok pecahan 11. Hitung jumlah blok yang tersusun pada blok , dalam hal ini menjadi 12. Direktris menghitung jumlah blok pecahan yang ada, yaitu 13. Direktris menuliskan pada lembar kerja. 14. Direktris mencocokkan jawaban pada kartu soal. 15. Direktris meminta anak untuk mencoba latihan selanjutnya. 117

(143) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 16. Anak mengembalikan alat peraga ke tempat semula setelah selesai menggunakan. Pengendali Kunci jawaban, jumlah blok Kesalahan A.2 Tema Pembelajaran : Penjumlahan antara Pecahan Biasa dengan Campuran A.2.1 Penjumlahan antara pecahan biasa dengan campuran yang berpenyebut sama Tujuan langsung Mengenalkan latihan penjumlahan antara pecahan biasa dengan campuran yang berpenyebut sama Usia mulai usia 9 tahun Syarat Siswa mengenal konsep pecahan Alat Peraga Blok pecahan, kartu soal, lembar kerja Presentasi 1 1. Menyiapkan lokasi kerja dan alat peraga 2. Mengundang anak untuk bermain penjumlahan pecahan biasa dengan pecahan campuran yang berpenyebut sama 3. Direktris mengambil satu kartu soal. 4. Direktris meminta anak menuliskan soal pada lembar kerja. 5. Direktris mengambil blok pecahan . 118

(144) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6. Direktris mengambil simbol penjumlahan dan meletakkan di samping blok 7. Direktris mengambil blok pecahan utuh sebanyak 2, dan blok pecahan 8. Direktris mengelompokkan blok pecahan utuh, lalu menjumlahkan blok pecahan biasa menjadi 9. Direktris menghitung jumlah blok pecahan, yaitu menjadi 10. Direktris menuliskan pada lembar kerja. 11. Direktris mencocokkan jawaban pada kartu soal. 12. Direktris meminta anak untuk mencoba latihan selanjutnya. 13. Anak mengembalikan alat peraga ke tempat semula setelah selesai menggunakan. Pengendali Kunci jawaban, jumlah blok Kesalahan A.2.2 Penjumlahan antara pecahan biasa dengan pecahan campuran yang berpenyebut beda Tujuan langsung Mengenalkan latihan penjumlahan antara pecahan biasa dengan pecahan campuran yang berpenyebut beda Usia mulai usia 9 tahun Syarat Siswa mengenal konsep pecahan Alat Peraga Blok pecahan, kartu soal, lembar kerja 119

(145) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Presentasi 2 1. Menyiapkan lokasi kerja dan alat peraga 2. Mengundang anak untuk bermain penjumlahan pecahan biasa dengan campuran yang berpenyebut berbeda 3. Direktris mengambil satu kartu soal. 4. Direktris menuliskan soal pada lembar kerja. 5. Direktris mengambil blok pecahan 1, lalu meletakkan blok pecahan di sampingnya 6. Direktris mengambil simbol penjumlahan dan meletakkan di samping blok pecahan campuran. 7. Direktris mengambil blok pecahan 8. Direktris mengelompokkan blok pecahan 1, lalu menjumlahkan blok pecahan biasa menjadi 9. Direktris menyamakan penyebut pecahan dengan mencocokkan blok pecahan pada blok , menjadi 10. Direktris menghitung jumlah blokm pecahan biasa 120

(146) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI menjadi 11. Direktris menghitung jumlah blok pecahan, yaitu menjadi 12. Direktris menuliskan jawaban pada lembar kerja. 13. Direktris mencocokkan jawaban pada kartu soal. 14. Direktris meminta anak untuk mencoba latihan selanjutnya. 15. Anak mengembalikan alat peraga ke tempat semula setelah selesai menggunakan. Pengendali Kunci jawaban, jumlah blok Kesalahan A.3 Tema Pembelajaran : Penjumlahan antarpecahan Campuran A.3.1 Penjumlahan antarpecahan campuran dengan penyebut sama Tujuan langsung Mengenalkan latihan penjumlahan antarpecahan campuran dengan penyebut sama Usia mulai usia 9 tahun Syarat Siswa mengenal konsep pecahan Alat Peraga Blok pecahan, kartu soal, lembar kerja Presentasi 1 1. Menyiapkan lokasi kerja dan alat peraga 2. Mengundang anak untuk bermain penjumlahan antarpecahan campuran dengan penyebut yang sama 3. Direktris mengambil satu kartu soal. 121

(147) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Direktris menuliskan soal pada lembar kerja. 5. Direktris mengambil blok pecahan 1 sebanyak satu, lalu blok , lalu tanda positif, lalu blok 1 sebanyak dua, lalu blok 6. Direktris mengelompokkan blok pecahan utuh dengan blok pecahan biasa. 7. Direktris menggabungkan blok pecahan utuh dan menjumlahkannya menjadi 1 + 2 = 3 8. Direktris menjumlahkan blok pecahan biasa menjadi 9. Direktris menggabungkan keseluruhan blok menjadi 10. Direktris menuliskan pada lembar kerja. 11. Direktris mencocokkan jawaban pada kartu soal. 12. Direktris meminta anak untuk mencoba latihan 122

(148) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI selanjutnya. 13. Anak mengembalikan alat peraga ke tempat semula setelah selesai menggunakan. Pengendali Kunci jawaban, jumlah blok Kesalahan A.3.2 Penjumlahan antarpecahan campuran dengan penyebut berbeda Tujuan langsung Mengenalkan latihan penjumlahan antarpecahan campuran dengan penyebut berbeda Usia mulai usia 9 tahun Syarat Siswa mengenal konsep pecahan Alat Peraga Blok pecahan, kartu soal, lembar kerja Presentasi 2 1. Menyiapkan lokasi kerja dan alat peraga 2. Mengundang anak untuk bermain penjumlahan antarpecahan campuran yang berpenyebut beda 3. Direktris mengambil satu kartu soal 4. Direktris menuliskan soal pada lembar kerja. 5. Direktris mengambil blok pecahan 1 sebanyak dua, lalu meletakkan blok pecahan di sampingnya 123

(149) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 6. Direktris mengambil simbol penjumlahan dan meletakkan di samping blok pecahan campuran. 7. Direktris mengambil blok pecahan 1 sebanyak dua, lalu meletakkan blok pecahan di sampingnya 8. Direktris mengelompokkan blok pecahan sebanyak dua dan dua, lalu menghitung jumlahnya menjadi empat. 9. Direktris menjumlahkan blok pecahan biasa menjadi 10. Direktris menyamakan penyebut pecahan dengan mencocokkan blok pecahan pada blok , menjadi 124

(150) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 11. Direktris menghitung jumlah blok pecahan biasa menjadi 12. Direktris menghitung jumlah blok pecahan, yaitu menjadi 13. Direktris menuliskan jawaban pada lembar kerja. 14. Direktris mencocokkan jawaban pada kartu soal. 15. Direktris meminta anak untuk mencoba latihan selanjutnya. 16. Anak mengembalikan alat peraga ke tempat semula setelah selesai menggunakan. Pengendali Kunci jawaban, jumlah blok Kesalahan 125

(151) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B. Materi Pembelajaran : Pengurangan B.1 Tema Pembelajaran : Pengurangan antarpecahan Biasa B.1.1 Pengurangan antarpecahan biasa dengan penyebut sama Tujuan langsung Mengenalkan latihan pengurangan antarpecahan biasa dengan penyebut sama Usia mulai usia 9 tahun Syarat Siswa mengenal konsep pecahan Alat Peraga Blok pecahan, kartu soal, lembar kerja Presentasi 1 1. Menyiapkan lokasi kerja dan alat peraga. 2. Mengundang anak untuk bermain penjumlahan pecahan biasa dengan penyebut yang sama. 3. Direktris mengambil satu kartu soal, misal 4. Direktris meminta anak menuliskan soal pada lembar kerja. 5. Direktris mengambil blok pecahan . 6. Direktris mengambil simbol pengurangan dan meletakkan di samping blok pecahan . 7. Direktris mengambil blok pecahan . 126

(152) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8. Direktris mengambil blok pada pecahan sebanyak pengurangnya, yaitu . 9. Direktris menghitung sisa blok. 10. Direktris menuliskan pada lembar kerja. 11. Direktris mencocokkan jawaban pada kartu soal. 12. Direktris meminta anak untuk mencoba latihan selanjutnya. 13. Anak mengembalikan alat peraga ke tempat semula setelah selesai menggunakan. Pengendali Kunci jawaban, jumlah blok Kesalahan B.1.2 Pengurangan antarpecahan biasa dengan penyebut berbeda Tujuan langsung Mengenalkan latihan pengurangan antarpecahan biasa dengan penyebut berbeda Usia mulai usia 9 tahun Syarat Siswa mengenal konsep pecahan Alat Peraga Blok pecahan, kartu soal, lembar kerja Presentasi 2 1. Menyiapkan lokasi kerja dan alat peraga. 2. Mengundang anak untuk bermain pengurangan pecahan biasa dengan penyebut yang berbeda. 3. Direktris mengambil satu kartu soal, misal . 127

(153) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Direktris meminta anak menuliskan soal pada lembar kerja. 5. Direktris mengambil blok pecahan . 6. Direktris mengambil simbol penjumlahan dan meletakkan blok pecahan 7. Direktris mengambil blok pecahan . 8. Direktris menyamakan penyebut pecahan. 9. Blok pecahan . dicari kesamaannya dengan blok pecahan lain, dalam hal ini pecahan dengan penyebut yang lebih besar ( ) 10. Blok pecahan disusun hingga menyamai blok pecahan , hasilnya . 11. Direktris mengambil blok pada pecahan sejumlah 128

(154) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI pengurangnya, yaitu . 12. Direktris menghitung sisa blok pecahan. 13. Direktris menuliskan pada lembar kerja. 14. Direktris mencocokkan jawaban pada kartu soal. 15. Direktris meminta anak untuk mencoba latihan selanjutnya. 16. Anak mengembalikan alat peraga ke tempat semula setelah selesai menggunakan. Pengendali Kunci jawaban, jumlah blok Kesalahan B.2 Tema Pembelajaran : Pengurangan antara Pecahan Biasa dengan Campuran B.2.1 Pengurangan antara pecahan biasa dengan pecahan campuran yang berpenyebut sama Tujuan langsung Mengenalkan latihan pengurangan antara pecahan biasa dengan pecahan campuran yang berpenyebut sama Usia mulai usia 9 tahun Syarat Siswa mengenal konsep pecahan Alat Peraga Blok pecahan, kartu soal, lembar kerja Presentasi 1 1. Menyiapkan lokasi kerja dan alat peraga. 2. Mengundang anak untuk bermain penjumlahan pecahan biasa dengan pecahan campuran yang berpenyebut sama 3. Direktris mengambil satu kartu soal. 129

(155) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 4. Direktris meminta anak menuliskan soal pada lembar kerja. 5. Direktris mengambil blok pecahan 1 sebanyak satu, lalu meletakkan blok pecahan di sampingnya. 6. Direktris mengambil simbol pengurangan dan meletakkan di samping blok pecahan campuran. 7. Direktris mengambil blok pecahan 8. Direktris mengelompokkan blok pecahan satu, lalu megurangkan blok pecahan biasa menjadi 9. Direktris menghitung jumlah blok pecahan, yaitu menjadi 10. Direktris menuliskan pada lembar kerja. 11. Direktris mencocokkan jawaban pada kartu soal. 12. Direktris meminta anak untuk mencoba latihan selanjutnya. 13. Anak mengembalikan alat peraga ke tempat semula 130

(156) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI setelah selesai menggunakan. Pengendali Kunci jawaban, jumlah blok Kesalahan B.2.2 Pengurangan antara pecahan biasa dengan pecahan campuran yang berpenyebut beda Tujuan langsung Mengenalkan latihan pengurangan antara pecahan biasa dengan pecahan campuran yang berpenyebut beda Usia mulai usia 9 tahun Syarat Siswa mengenal konsep pecahan Alat Peraga Blok pecahan, kartu soal, lembar kerja Presentasi 2 1. Menyiapkan lokasi kerja dan alat peraga. 2. Mengundang anak untuk bermain pengurangan pecahan biasa dengan pecahan campuran yang berpenyebut beda. 3. Direktris mengambil satu kartu soal 4. Direktris menuliskan soal pada lembar kerja. 5. Direktris mengambil blok pecahan 1 sebanyak lima, lalu meletakkan blok pecahan di sampingnya 6. Direktris mengambil simbol pengurangan dan meletakkan di samping blok pecahan campuran. 7. Direktris mengambil blok pecahan 131

(157) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 8. Direktris mengelompokkan blok pecahan lima, lalu mengurangkan blok pecahan biasa menjadi 9. Direktris menyamakan penyebut pecahan dengan mencocokkan blok pecahan pada blok , menjadi 10. Direktris menghitung jumlah blok pecahan biasa menjadi 11. Direktris menghitung jumlah blok pecahan, yaitu menjadi 12. Direktris menuliskan jawaban pada lembar kerja. 13. Direktris mencocokkan jawaban pada kartu soal. 14. Direktris meminta anak untuk mencoba latihan selanjutnya. 15. Anak mengembalikan alat peraga ke tempat semula setelah selesai menggunakan. Pengendali Kunci jawaban, jumlah blok Kesalahan B.3 Tema Pembelajaran : Pengurangan antarpecahan Campuran B.3.1 Pengurangan antarpecahan campuran dengan penyebut sama Tujuan langsung Mengenalkan latihan pengurangan antarpecahan campuran dengan penyebut sama Usia mulai usia 9 tahun Syarat Siswa mengenal konsep pecahan Alat Peraga Blok pecahan, kartu soal, lembar kerja 132

(158) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI Presentasi 1 1. Menyiapkan lokasi kerja dan alat peraga Mengundang anak untuk bermain pengurangan antarpecahan campuran dengan penyebut yang sama 2. Direktris mengambil satu kartu soal, misal 6 3. Direktris menuliskan soal pada lembar kerja. 4. Direktris mengambil blok pecahan 1 sebanyak enam, lalu blok , lalu tanda pengurangan, lalu blok 1 sebanyak lima, dan blok 5. Direktris mengelompokkan blok pecahan utuh dengan blok pecahan biasa. 6. Direktris menggabungkan blok pecahan utuh dan mengurangkannya, menjadi 6-5 = 1 7. Direktris mengurangkan blok pecahan biasa menjadi 8. Direktris menggabungkan keseluruhan blok menjadi 1 9. Direktris menuliskan pada lembar kerja. 10. Direktris mencocokkan jawaban pada kartu soal. 11. Direktris meminta anak untuk mencoba latihan selanjutnya. 12. Anak mengembalikan alat peraga ke tempat semula setelah selesai menggunakan. Pengendali Kunci jawaban, jumlah blok Kesalahan 133

(159) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI B.3.2 Pengurangan antarpecahan campuran dengan penyebut berbeda Tujuan Mengenalkan latihan pengurangan antarpecahan campuran langsung dengan penyebut berbeda Usia mulai usia 9 tahun Syarat Siswa mengenal konsep pecahan Blok pecahan, kartu soal, lembar kerja Alat Peraga 1. Menyiapkan lokasi kerja dan alat peraga 2. Mengundang anak untuk bermain penjumlahan antarpecahan campuran yang berpenyebut beda 3. Direktris mengambil satu kartu soal, misal 4. Direktris menuliskan soal pada lembar kerja. 5. Direktris mengambil blok pecahan 1 sebanyak tujuh, lalu meletakkan blok pecahan di sampingnya. 6. Direktris mengambil simbol penjumlahan dan meletakkan di samping blok pecahan campuran. Presentasi 2 7. Direktris mengambil blok pecahan 1 sebanyak empat, lalu meletakkan blok pecahan di sampingnya. 8. Direktris mengelompokkan blok pecahan sebanyak tujuh dan empat, lalu melakukan operasi pengurangan 7 – 4 = 3. 9. Direktris mengurangkan blok pecahan biasa menjadi 10. Direktris menyamakan penyebut pecahan dengan mencocokkan blok pecahan pada blok , menjadi 11. Direktris menghitung jumlah blok pecahan biasa menjadi 12. Direktris menghitung jumlah blok pecahan, yaitu menjadi 134

(160) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI 13. Direktris menuliskan jawaban pada lembar kerja. 14. Direktris mencocokkan jawaban pada kartu soal. 15. Direktris meminta anak untuk mencoba latihan selanjutnya. 16. Anak mengembalikan alat peraga ke tempat semula setelah selesai menggunakan. Pengendali Kesalahan Kunci jawaban, jumlah blok 135

(161) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI CURRICULUM VITAE Patricia Risma Ananti lahir di Gunungkidul, 14 September 1991. Sebelum menempuh pendidikan dasar, masuk ke Taman Kanak-kanak Santa Theresia Wonosari selama dua tahun, yaitu tahun 1996-19998. Pendidikan dasar ditempuh di SD Kanisius II Wonosari pada tahun 1998-2004. Pendidikan menengah pertama diperoleh di SMP Negeri 1 Wonosari terhitung dari tahun 2004 hingga 2007. Setamat pendidikan SMP, melanjutkan sekolah menengah atas di SMA Negeri 1 Wonosari tahun 2007 dan dinyatakan lulus tahun 2010. Peneliti mulai tercatat sebagai mahasiswa aktif Universitas Sanata Dharma sejak tahun 2010, khususnya pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendid ikan Guru Sekolah Dasar. Selama menempuh pendidikan di PGSD, peneliti mengikuti beberapa macam kegiatan sebagai pengembangan keterampilan di luar perkuliahan wajib. Tahun 2011, peneliti mengikuti workshop pendidikan Montessori yang diadakan Prodi PGSD. Tahun 2012, peneliti kembali mengikuti workshop yang sama sebagai panitia. Pada tahun yang sama, peneliti tergabung dalam kepanitiaan Inisiasi Prodi dalam bidang acara. Pada tahun 2013, peneliti mengikuti kegiatan ilmiah mahasiswa yang didanai DIKTI, yaitu PKM-M Batu Sapalet hingga lolos presentasi monitoring dan evaluasi. Pada tahun yang sama, yaitu tahun 2013, peneliti kembali tergabung sebagai panitia penyelenggaraEmbracing Montessori Conference oleh Association of Indonesian Montessori Schools di Universitas Sanata Dharma. 136

(162)

Dokumen baru

Download (161 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI RISET PASAR ALAT PERAGA EDUKATIF BERBASIS METODE MONTESSORI UNTUK ANAK USIA DINI.
0
7
19
UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA TEROPONG PECAHAN DI KELAS IV SDN WARANGAN I.
0
20
181
PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA PERSEGI PECAHAN PADA SISWA KELAS VA SD NEGERI GOLO YOGYAKARTA.
0
5
176
TINGKAT KEPUASAN SISWA DAN GURU TERHADAP PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI
0
0
264
PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR SISWA ATAS PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI
0
0
275
PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA UNTUK PERTUKARAN DAN PENGELOMPOKAN BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI
0
0
183
PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA BILANGAN BULAT BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI
0
0
210
TINGKAT KEPUASAN SISWA DAN GURU TERHADAP PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI
0
0
317
PENGEMBANGAN ALAT PERAGA MATEMATIKA UNTUK OPERASI BILANGAN BULAT BERBASIS METODE MONTESSORI
0
1
177
PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR SISWA ATAS PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI
0
0
344
PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR SISWA ATAS PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI
0
0
338
PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA UNTUK JENIS DAN BESAR SUDUT BERBASIS METODE MONTESSORI
0
0
167
TINGKAT KEPUASAN SISWA DAN GURU TERHADAP PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI
0
0
284
TINGKAT KEPUASAN SISWA DAN GURU TERHADAP PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI
0
0
308
TINGKAT KEPUASAN SISWA DAN GURU TERHADAP PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA BERBASIS METODE MONTESSORI
0
0
315
Show more