Formalisasi agama : studi kasus pada religi balian dalam masyarakat adat Suku Dayak Meratus di Kalimantan Selatan 1970-1980 - USD Repository

Gratis

1
2
220
11 months ago
Preview
Full text

  

FORMALISASI AGAMA

STUDI KASUS PADA RELIGI BALIAN

DALAM MASYARAKAT ADAT SUKU DAYAK MERATUS

DI KALIMANTAN SELATAN

1970-1980

SKRIPSI

  Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra

  Program Studi Ilmu Sejarah

  

Disusun Oleh:

Nama Mahasiswa : Gusti Yasser Arafat

Nomor Mahasiswa: 024314006

  

PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2007

  Persembahan

  Skripsi ini kupersembahkan buat: Almamaterku tercinta, kebanggaanku, dan takkan terlupakkan : Fakultas Sastra Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

  Kedua orang tuaku: H. Gusti Abdul Hamid dan Hj. Rusna Yuda yang selalu memberikan yang terbaik buat putera-puteranya dan menyadarkanku akan Dunia.

  Kai dan Nini: H. Syamsul Bahri dan Hj. Noorsitah yang tak henti- hentinya mendoakanku dan menyadarkanku akan Akhirat.

  Kakakku: Gusti Muhammad Shadiq yang paling hebat. You are welcome and yes you loose your mind.

  

Kekasihku: Rong-rong yang selalu setia selamanya mendampingi hatiku.

Da Neuvre Hoctha Fo Velo Ut.

  Adik-adikku: Sarah, Anggela, Hanna, Ariska, Rini, Fensa, dan Lili. Kalian telah banyak mengisi hari-hariku, the story of my life.

  MOTTO: Tuhan Ada Dunia Fana

  Hidup Lurus

  

Halaman Pernyataan Keaslian Karya

  Skripsi ini merupakan karya sendiri dan belum pernah saya ajukan sebagai syarat untuk memperoleh gelar kesarjanaan di perguruan tinggi. Skripsi ini tidak memuat karya orang lain atau suatu lembaga atau bagian dari karya orang lain atau suatu lembaga, kecuali bagian-bagian tertentu yang dijadikan sumber.

  Penulis bertanggung jawab penuh atas kebenaran fakta-fakta berdasarkan sumber-sumber yang diperoleh dalam penulisan skripsi ini.

  Yogyakarta Penulis

  Gusti Yasser Arafat

  

ABSTRAK

  Penulisan skripsi dengan judul “Formalisasi Agama: Studi Kasus Pada Religi Balian Dalam Masyarakat Adat Suku Dayak Meratus Di Kalimantan Selatan 1970- 1980” ini berusaha mendeskripsi dan menganalisa tentang perkembangan religi Balian yang dipeluk oleh masyarakat adat suku Dayak Meratus sebagai puak dari suku Dayak ketika formalisasi agama berlangsung tahun 1970-1980 serta dampak-dampak yang diakibatkannya

  Sebagai sebuah penulisan sejarah maka metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini melalui tahapa-tahap: heuristik, pengumpulan sumber dari kepustakaan dan wawancara lisan; kritik sumber, memilah-milah dan menemukan sumber yang kredibel dan otentik; interpretasi, menafsirkan dan memaknai sumber- sumber tersebut; historiografi, penyajian dan merekonstruksi peristiwa yang dikaji.

  Kesimpulan yang didapat dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suku Dayak Meratus yang merupakan salah satu puak suku Dayak mempunyai identitasnya sendiri sebagai suatu entitas etnis, religi Balian adalah “agama” yang mempunyai konsep tersendiri yang sudah mapan meski kemudian telah terjadi pengaruh dan singkritisme di sana-sini, telah terjadi perubahan atau pengikisan nilai-nilai budaya serta beberapa dampak sosiokultural yang diakibatkan oleh formalisasi agama di Kalimantan Selatan, dan terdapat upaya perjuangan eksistensi religi Balian oleh pemeluknya yang terwujud dalam pembentukan beberapa lembaga keagamaan meskipun pada akhirnya harus melalui metode integrasi keagamaan (Hindu Kaharingan). Disamping itu terdapat juga masyarakat adat suku Dayak Meratus yang masih setia memegang teguh keyakinannya dengan tidak mengindahkan anjuran metode integrasi keagamaan.

  

ABSTRACT

  The writing of this thesis "Religion Formalization: A Study Case on Balian Religion in the Society of Dayak Meratus Tribe in South Kalimantan, 1970-1980" are

  describe

  aiming to and analyze the development of Balian religion that were held by the society of Dayak Meratus tribe, a sub-tribe of Dayak society, when governmental’s program called religion formalization conducted during 1970-1980, and also the cultural impacts of this programs.

  As a historiography, the steps of the research conducted for this thesis are the following: heuristic, collecting the sources form literature study and live interview; critics toward the sources, sorting the sources to find the one that credible and authentic; interpretation, interpreting the sources; historiography, presentation and reconstruct the events studied.

  The conclusion drawn from this research could be described as follow : as an ethnical entity, Dayak Meratus tribe have their own identity, Balian religion is a "Religion" that originally have its own established concepts though latter there are influnces from other religion and there is a sincretization toward its concepts, there have been a changes, or cultural value erotion and other sociocultural impacts caused by religions formalization program, and there’s a struggle within the Balian follower to survive their own existency. This struggle manifested in the foundation of several Balian religy institutions, though this foundations should passed through another govermental’s program called religion integration (Hindu Kaharingan), and in the rejection of Balian follower that still loyally hold Balian’s original concepts to follow those program.

KATA PENGANTAR

  Dengan mengucapkan segala puji dan memanjatkan rasa syukur luar biasa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Sempurna atas setiap cinta, jalan, pertolongan, kemudahan, rahmat dan hidayahNya, penulis berhasil mewujudkan skripsi dengan judul: “Formalisasi Agama: Studi Kasus Pada Religi Balian Dalam Masyarakat Adat Suku Dayak Meratus Di Kalimantan Selatan 1970-1980.”

  Penulis menghaturkan rasa hormat dan mengucapkan terimakasih kepada Bapak Drs. Hb. Hery Santosa, M. Hum. beserta Ibu Adriana Novijanti, selaku Ketua Program Studi Ilmu Sejarah sekaligus Pembimbing Tunggal yang sudah bersedia banyak meluangkan waktu dan kesempatan untuk membimbing dan mengoreksi skripsi ini sampai terwujud, motivasi, nasehat, hal-hal bijak, dan bertukar pikiran tentang banyak hal lintas ruang dan waktu.

  Dalam Penulisan skripsi ini penulis banyak sekali melibatkan bantuan, dukungan, bimbingan, masukan dan sumbangan pemikiran, baik itu moril maupun materil, secara langsung maupun tidak langsung dari segenap pihak. Oleh karena itu sudah sepantasnya pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan rasa terimakasih yang tak terhingga dan menjunjung hormat kepada:

  1. Bapak Dr. Fr. B. Alip, M. Pd., M. M. selaku Dekan beserta staf kerja yang sudah memberikan kesempatan serta ijin kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

  2. Bapak Drs. Silverio R. L. Aji. S. M. Hum. sebagai field soldier dan guru lapangan yang telah banyak membagi pengalaman fantastisnya buat penulis.

  3. Bapak Drs. Ign. Sandiwan Suharso yang telah memberikanku gambaran cara-cara berpikir logis dan sistematis untuk penulis.

  4. Bapak Drs. H. Purwanta, M. A. yang sudah menyumbangkan pemikiran-pemikiran filosofi hidup bagi penulis.

  5. Bapak G. Moedjanto yang mengajarkanku tentang sebuah pengabdian.

  6. Bapak Drs. Manu Joyoatmojo, Bapak Prof. Dr. P. Y. Suwarno, S. H., Bapak Drs.

  Anton Haryono, M. Hum., Bapak Paulus Suparmo, S. Ip., Romo Dr. F. X. Baskara T. Wardaya, dan Ibu Dra. Juningsih, M. Hum yang menekankanku kedisiplinan.

  7. Bapak Waluyo selaku “Rektor” Wisma A, yang susah payah menjaga dan memelihara kenyamanan Markas Besar (Mabes) Ilmu Sejarah.

  8. Mas Try di Sekretariat Fakultas Sastra yang banyak disibukkan keperluan administrasi mahasiswa Ilmu Sejarah.

  9. Bapak Dr. St. Sunardi yang memberikanku pencerahan dalam menikmati ilmu pengetahuan.

  10. Bapak Dr. Budiawan yang mengenalkanku memorical history.

  11. Bapak Drs. Yohanes H. Mardiraharjo yang mengajarkanku asyiknya bertoleransi dalam segala bentuk kemajemukan

  12. Bapak Drs. Wahana yang memberikan kuliah dengan nuansa humoris.

  13. Bapak Yohanes Setiyanto, S. S. yang mengajarkanku cara hidup baik.

  14. Ibu Nila Riwut yang sudah memberikan masukan dan meminjamkan buku-buku koleksi perpustakaan pribadinya.

  15. Pimpinan UPT. Perpustakaan dan segenap staf kerja Perpustakaan Universitas Sanata Dharma Jogjakarta yang telah banyak membantu dalam pengumpulan sumber literer.

  16. Paman Hassan selaku pegawai Kecamatan Loksado yang banyak membantu penelitian ini.

  17. Pimpinan dan staf kerja di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Loksado yang telah memberikan masukan dan data-data.

  18. Apin, Kapau, Julak Madi, Manan, Haji. Judin, Ari, Ahyar, Pandi, Ating, dan sejumlah responden yang memberikan keterangan (lisan) digunakan sebagai sumber dalam penulisan skripsi ini.

  19. Segenap warga Kecamatan Loksado dan Kandangan masyarakat adat suku Dayak Meratus yang bersedia menerima penulis untuk meneliti di daerah mereka.

  20. Guru-guruku sekolah yang telah banyak berjasa mencetak generasi-generasi mengagumkan.

  21. Sahabat-sahabatku: Markus “Renaldy”, Yosi “Bang Yos”, Eko “Mbah Darmo”, Daniel “Penjahat Kelon”, Yuda “Drunken Master”, Opet “Kutu Kopet”, Ella, Ririd, “Bunda Nana”, Eka “Britpop”, Devi, Vianey, Krisna, Bertha “Bams”, Eddi, Agus , Nanno, Mamik, Feny, Roger “Dower”, Ada, Dary, Keke, Atiek, Halim “Cino”.

  Yuhan “Bang Jo Tile”, Nanto “A’a Atto”, Elang, dan Vila. Kalian istimewa!

  22. Keluargaku tercinta di Kandangan: Datu, Kai Sapi, Kai Anggut, Paman Udin, Acil Ici, Paman Hassan, Acil Annie 1 dan 2, Incip, Acil Ijam, Ila, Ili, Acil Iris, Paman Uhit, dan Ipi.

  23. Keluargaku di Jogja Mama Yun, Tante Ie, Om Bas, Budhe Yani, Pakdhe Git, Pak Oyok, Mbah Kung, Dian Kasih, Ayu Manis, Dira ‘n Chicka, Mbak Oppie, Mbak Aik, Ibang, Ajeng, Mas Ilham dan Nana.

  24. Keluargaku di Glodogan Pak Dukuh dan Ibu, Yoga, Ipan, Mbah Ti, Mbah Kung, Ifen, Wawan Kodjrat, Nanang, Rury, Yani, Upik, Gea, Toko, Sary, Dewy, Elly, Ellia Tubruk, Danang, Babas, dan Pak Leo.

  25. Teman-temanku di workshop Dewa Aries, Tatam, H. Defa, Uji Pulis, Uji Kudung, Sarman, Syarifudin, Udin, Romili, Upik Parut, Kai Paku, Irwan, Rifki, Firman Murang, Meina, Diah, Yayan, Buval, Kaef, Acung Riswan, dan Mamas.

  26. Teman-temanku Hair, Humai, Iwit, Gandi, Adi, Tabri, Aban, Junai, A’an, A’an Jawa, Iwan gunung, Amal, Mary Amad, Mary Ahim, Taha, Babay, Om Udung, Santy, Sumy, Isan, Habibi, Yanur, Antun, Udin Asing, Rita, Atul, Masrita Itung, Yayan Araji, Rija, Febry, Rukiah, Nasir, Giping, Yuli, Dina, Idup, H. Ancah, Atat, dan Engkong.

  27. Dan masih banyak pihak lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang turut andil untuk tersusunnya skripsi ini.

  God created human perfectly not perfect human , Tuhan menciptakan manusia

  dengan sempurna bukan menciptakan manusia yang sempurna. Makna sempurna pada Tuhan berbeda dengan sempurna pada manusia. Sempurnanya Tuhan menciptakan manusia yang sempurna dengan kekurangannya sekalipun. Jadi penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan terdapat kekuarangan- kekuarangan karena khilaf dan keterbatasan. Oleh karena itu kritik dan saran membangun sangat penulis harapkan agar karya ini bisa lebih baik lagi. Akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis bercita-cita semoga hasil penelitian ini berguna bagi pembaca yang budiman.

  Yogyakarta, Penulis

  

DAFTAR ISI

  HALAMAN JUDUL.........................................................................................................i HALAMAN PERSETUJUAN………………………………………………………….ii HALAMAN PENGESAHAN…………………...……………………...…………..….iii HALAMAN PERSEMBAHAN…………………………………………...…………...iv HALAMAN MOTTO……………………………………...…………...……………….v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA………………...……………….vi HALAMAN ABSTRAK……………………………………………………………....vii HALAMAN ABSTRACK…………………………………………………………....viii KATA PENGANTAR………………………………………………………………….ix DAFTAR ISI……………………………………...………………...……...…………xiii DAFTAR TABEL……………………………………………………………….……xvi DAFTAR PETA……………………………………………………………………...xvii DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………………...xviii BAB PERTAMA : PENDAHULUAN………………………….……………….……..1

  A. Latar Belakang Masalah …………………………….………………………….1

  B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah………………………….………………10

  1. Identifikasi Masalah…………………………………….………………….10

  2. Pembatasan Masalah………………………………………….………........11

  C. Perumusan Masalah………………………………………….………………...11

  D. Tujuan Penelitian………………………………….…………………………...12

  E. Manfaat Penelitian…………………………………………….……………….13

  F. Tinjauan Pustaka……………………………………………………….………13

  G. Landasan Teori………………………………………………………………...17

  H. Metode Penelitian…………………………………………….………………..31

  1. Tahap Heuristik……………………………………………………………32

  2. Tahap Kritik Sumber………………………………………………………34

  3. Tahap Interpretasi…………………………………………………….……34

  4. Tahap Historiografi……………………………………….……………….35

  I. Sistematika Penulisan…………………………………………………………35

  BAB KEDUA : SUKU DAYAK MERATUS……………………………….………...37

  g. Upacara Manyidat Banih……………………………………………..111

  a. Upacara Mancari Padang Hanyar……………...……..………………101

  b. Upacara Mamuja Tampa……………..……………………….………103

  c. Upacara Batilah……………………………………...………………..105

  d. Upacara Marandahakan Diyang Sanyawa…………...……………….105

  e. Upacara Bamula……………………...……………….………………107

  f. Upacara Basamu Ulang………………………………………...…….109

  h. Upacara Manajak Tihang Basungkul Atau Manatapakan Tihang Banua…………………………………………………………….…...113 i. Upacara Bawanang……….………………………….……………….114 j. Upacara Mamisit Banih……………………….…......……………….117

  C. Pelaksanaan Ibadah pada Upacara-Upacara Ritual Keagamaan (Ritus)……....99

  BAB KEEMPAT : FORMALISASI AGAMA…………………..…………………..120

  A. Negara dan Formalisasi Agama………………………..….………………….120

  1. Alasan dan Tujuan dalam Konteks Nasional……………………….…….120

  a. Alasan Kriteria (Syarat) suatu Agama……………………………….121

  b. Alasan Bahaya Laten Komunis atau Politik Pembeda antara Pemerintah Orde Lama dengan Orde Baru…………………………….………….122

  c. Alasan Pengalihan Medan Konflik Massa……………………………125

  d. Alasan Pemerintah sebagai “Nabi Perubahan” untuk Kemajuan…….126

  1. Upacara-Upacara Ritual yang Berhubungan dengan Kebudayaan Huma……...…………………………………………………………….100

  6. Balian sebagai Tokoh Spiritual dalam Religi Kaharingan……………..….95

  A. Suku Dayak……………………………………………………………….……38

  3. Jumlah Populasi Masyarakat Adat Suku Dayak Meratus dan Wilayah- Wilayah yang Didiami…………………………………………..…………56

  1. Penyebutan dan Penulisan Etimologi Istilah Dayak…………………….…39

  2. Asal-Usul Suku Dayak………………………………………...……….….41

  3. Puak-Puak dalam Suku Dayak……………………………..…...…………45

  B. Puak Suku Dayak Meratus…………………………………………….……….52

  1. Penyebutan dan Penulisan Etimologi Suku Dayak Meratus…………..…...52

  2. Asal Mula Suku Dayak Meratus…………………………………………...53

  4. Rumah Komunal Balai Adat…………………………….…………………61

  5. Malaikat-Malaikat dalam Religi Kaharingan………………….……….….95

  5. Mata Pencaharian Masyarakat Adat Suku Dayak Meratus………………..68 BAB KETIGA : RELIGI BALIAN…………………………………….……………...74

  A. Religi Balian Sebagai Religi Lokal Masyarakat Adat Suku Dayak Meratus….76

  B. Bentuk Kepercayaan……………………………………………….…………..82

  1. Konsep tentang Sang Maha Kuasa dalam Religi Kaharingan………...…...85

  2. Konsep Penciptaan tentang Alam Semesta, Pengatur-Pengaturnya, Ilah-Ilah, Nabi-Nabi dan Malaikat-malaikat………………………...……..87

  3. Konsep Penciptaan Manusia Pertama………………………….……….….90

  4. Nabi-Nabi dalam Religi Kaharingan………………………………..……..93

  e. Alasan “Agama” Lokal merupakan Mesianistik Dan Populistik…….127

  2. Dalil-Dalil tentang Kebebasan Beragama (Sikap Pemerintah terhadap Agama dan Aliran Kepercayaan)…………………………………......…..128

  B. Religi Kaharingan di tengah Proses Formalisasi Agama…………..…………134

  1. Proses Pengagamaan……………………………...……………………....136

  a. Misi dan Dakwah Agama-Agama Resmi Negara (Islam dan Kristen)….............................................................................................136 1) Penyebaran (Misi) Agama Kristen……………………………….138 2) Penyebaran (Dakwah) Agama Islam……………….…….………143

  a) Kilas Balik Sejarah Perkembangan Agama Islam di Kalimantan Selatan……………………………...………………………....143

  b) Penyuluh Agama Honorer (Pah) dan Da’i……………………149

  2. Hindu Kaharingan sebagai Manifestasi Equilibrium……………………..154

  C. Jumlah dan Konsentrasi Wilayah Pemeluk Agama-Agama………….………163

  1. Jumlah Penganut Agama-Agama…………………………………..……..163

  2. Konsentarsi Wilayah………………….……………………………….….164 BAB KELIMA : PENUTUP………………………………………………..………..168 GLOSARY THESAURUS……………………………………..……………………173 DAFTAR PUSTAKA……………………..……………………………….…………176 LAMPIRAN-LAMPIRAN………………………………………………………...…185

  

DAFTAR TABEL

  Tabel 1. Beberapa penyebutan Puak Suku Dayak…………………………………….49 Tabel 2. Profil Demografi dan Topografi Propinsi Kalimantan Selatan……………...56 Tabel 3. Bubuhan, Wilayah, Faktor Pembentuk, Tutuha, Tempat Tinggal dan

  Etnis………………………………………………………………………….66 Tabel 4. Perincian Persyaratan dan Fungsi Masing-masing Balian…………………...97 Tabel 5. Pelapisan dan Peranan Sosial………....……………………………………..98 Tabel 6. Lembaga-lembaga Pendidikan Islam……………………………………….149 Tabel 7. Jumlah Desa, RT, dan Penduduk…………………………………………...164 Tabel 8. Agama-agama/kepercayaan dan Jumlah Penganutnya……………………..165 Tabel 9. Tempat-tempat Ibadah……………………………………………………...166 Tabel 10. Jumlah Tempat-tempat Ibadah di Desa-desa di Kecamatan Loksado…….167

DAFTAR PETA

  Peta 1. Kalimatan Selatan dan Wilayah Masyarakat Adat suku Dayak Meratus……...61

DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1. Data Jumlah Desa, RT dan Penduduk; Data Agama dan Kepercayaan serta Sarana Ibadah; Data Pendidikan Keagamaan…………………….186 Lampiran 2. Data Kesejahteraan Sosial Kecamatan Loksado……………………….189 Lampiran 3. Data Nama Calon Penerima Bantuan Aruh Ganal……………………..192 Lampiran 4. Data Responden……………………………………………………...…201

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sejarah kebudayaan di masa klasik sudah pernah ditulis, bahkan untuk pertama

  kalinya dikenal istilah “sejarah” atau “history” dalam bahasa Inggris. Herodotus (484- 430 SM) The Father of History atau Bapak Sejarah ini menggunakan istoria yang berasal dari bahasa Yunani yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin menjadi historia dan dalam bahasa Inggris menjadi history. The Histories Karya Agung Herodotus adalah sebuah sejarah kebudayaan yang sangat komprehensif dengan skope spasial yang tidak tanggung-tanggung luasnya (kepulauan Ionia, Asia Minor, kepulauan Aegea, hingga pulau-pulau di Utara Laut Hitam). Begitu pula Essai Sur Les Moues et

  

L’spirit des Nations (On The Customs and The Spirit of Nation) karya Voltaire (1694-

  1778), Die Culture Der Renaissance in Italien karya Jacob Burckhardt (1818-1897), De

  

Herftstij Der Middeleuwen/ The Waning of The Middle Ages karya Huizinga (1872-

  1945), Kehidupan Dunia Keraton Surakarta (1830-1939) karya Darsiti Suratman dan

  

Kebudayaan Indies karya Djoko Sukiman adalah sejarawan-sejarawan dengan karya-

karya sejarah kebudayaannya.

  Penulisan sejarah kebudayaan sudah lama ada, tapi kemudian cenderung terlupakan dan tergeser seiring guliran waktu dan pergantian zaman karena topik di luar kebudayaan semakin dominan, seperti halnya sejarah politik, sejarah perang, sejarah peristiwa besar, sejarah orang-orang besar dan lain sebagainya. Sejarah kebudayaan semakin dilupakan ketika kerajaan-kerajaan dan negara-negara mulai berdiri, karena topik lain (misalnya politik) lebih menarik dan mempunyai tujuan tertentu dalam penulisannya.

  Negeri ini tidak boleh tenggelam dalam kekhilafannya mengesampingkan jati diri identitas budayanya sendiri. Lamprectht (1856-1915) seorang sejarawan profesional menyebutkan “sejarah kebudayaan ialah sejarah dari seeleleben, kehidupan

  1

  rohaniah sebuah bangsa”. Negara juga mempunyai keterkaitan dan peranan penting dengan budaya. Jadi sudah selayaknya negara bersahabat, ramah, tidak kejam, dan netral dengan budaya. Jacob Burckhardt (1818-1897) dalam karyanya Die Culture Der

  

Renaissance in Italien menulis “Negara mempunyai hubungan dengan budaya, sebagai

  pendorong munculnya bentuk budaya dan sebaliknya, negara adalah bagian dari sistem

  2

  budaya”. Sejarah kebudayaan juga dianggap perlu untuk dikaji karena sejarah kebudayaan merupakan bagian dari sejarah umum. Joseph H. Greenberg menuliskannya sebagai berikut: “Sejarah kebudayaan adalah bagian dari sejarah umum, mengenai perkembangan-perkembangan histories bangsa-bangsa yang belum mengenal

  3 tulisan, pada waktu sekarang dan masa lampau”.

  Indonesia bukan saja negeri yang kaya akan sumber daya alamnya dan jumlah penduduknya, tapi juga kaya akan keragaman, mulai dari suku, adat-istiadat, bahasa, agama dan kepercayaan, ras dan keturunan, hingga karakter tiap-tiap orang yang mendiami bentangan Nusantara ini. Oleh karena itu mengkaji untuk menyelami lebih dalam tentang keragaman yang ada pada negeri ini menjadi menarik, terlebih pada bagian-bagian yang sering menjadi bahan perdebatan dan masih kontroversial di 1 Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogyakarta, 1994), hlm. 115. 2 3 Ibid . hlm. 117.

  Taufik Abdullah dan Abdul Surjomiharjo, Ilmu Sejarah dan Historigrafi: Arah dan Persepektif, (Jakarta: PT. Gramedia,1985) hlm. 213. kalangan peneliti dan juga bagi pemerhati budaya dan kaum intelektual, khususnya di Indonesia hingga sekarang ini. Selain itu, tulisan ini juga berupaya untuk menambah wawasan tentang khasanah budaya bangsa negeri sendiri yang hingga saat ini porsinya masih sedikit, yakni tentang sejarah kebudayaan.

  Dalam penulisan Sejarah Indonesia, terdapat dua kelompok besar, yakni Sejarah Indonesia yang ditulis dengan sudut pandang oleh orang-orang Indonesia sendiri (Indonesiasentrisme) dan sejarah Indonesia yang disajikan dengan perspektif oleh orang luar Indonesia. Penulisan Sejarah Indonesia yang Indonesiasentrime masih terbagi-bagi lagi ke dalam lokalitas kedaerahan. Salah satu yang sering terdengar dan diulas serta diperdebatkan adalah penulisan sejarah Indonesia yang Jawasentris.

  Dalam beberapa dekade ini banyak penulisan sejarah dengan sudut pandang dari Jawa atau Jawasentrisme, baik yang berupa sejarah politik, sejarah sosial hingga sejarah kebudayaan. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan kemajuan banyak terjadi di pulau Jawa. Misalnya dalam hal dunia intelektual yang maju pesat di pulau Jawa. Ilmu pengetahuan dan informasi dapat dengan mudah diakses di pulau Jawa.

  Kenyataan ini berbeda dengan di pulau Kalimantan misalnya, terlebih di daerah-daerah pedalaman di mana dunia pendidikan tidak semaju di pulau Jawa.

  Penulisan sejarah Indonesia kental dengan Jawasentrisme. Penulis-penulis sejarah Indonesia atau sejarawan Jawa nampak lebih dominan dalam mengulas sejarah Nasional Indonesia. Hal ini antara lain karena dukungan pemerintah, karena Pemerintah ikut “menikmatinya”, terlebih pada masa Pemerintahan rezim Orde Baru. Pada saat itu, banyak peristiwa sejarah yang dimanfaatkan sebagai sarana legitimasi kekuasaan.

  Penulisan sejarah lokal di Indonesia, dalam hal ini daerah-daerah di luar pulau Jawa masih sedikit porsinya. Sejarah lokal adalah sejarah yang mengambil topik pembahasan hanya pada skope spasial satu daerah saja. Kalau melihatnya secara administratif kewilayahan, sejarah lokal bermakna sejarah suatu Propinsi atau daerah

  4

  jika itu dilihat dari skala Nasional. Sejarah lokal atau sejarah daerah juga biasa disebut sebagai sejarah mikro.

  Peristiwa-peristiwa (sejarah) yang terjadi di pulau Jawa nampaknya juga lebih menonjol dalam penulisan sejarah di Indonesia. Seperti yang dimuat dalam buku

  

Sejarah Nasional Indonesia yang banyak memunculkan peristiwa-peristiwa sejarah di

pulau Jawa dengan tokoh-tokoh pergerakan dan pahlawan-pahlawan di pulau Jawa.

  Hal ini masih terbawa hingga sekarang, di mana peristiwa-peristiwa apapun akan lebih aktual dan disorot jika itu terjadi di pulau Jawa. Padahal ini bukan Negara Jawa, Negara Andalas, Negara Borneo, atau Negara Moluccas. Ini adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadi sudah selayaknya dan memang harus, sejarah Nasional Indonesia memuat sejarah lokal dari daerah-daerah di bentangan Nusantara ini.

  Selama ini banyak dijumpai karya-karya tulis tentang sejarah yang mengangkat sejarah Nasional yang agak menyisihkan cerita-cerita lokal atau daerah atau malah banyak tulisan sejarah yang berpusat tentang sejarah di pulau Jawa saja, atau dengan kata lain pulau Jawa menjadi dominan dalam banyak penulisan sejarah. Maka dalam tulisan ini berusaha untuk kembali lebih memberikan ruang yang lebih besar bagi penulisan sejarah lokal atau daerah/mikro, agar bangsa ini juga akan lebih memahami turut sertanya sejarah lokal dalam membangun sejarah Nasional.

  Sejarah-sejarah lokal menjadi tenggelam di samudera sejarah nasional. Hanya segelintir penulis dan sejarawan yang tergugah minatnya dengan sejarah lokal atau sejarah dareah. Oleh karena itu penulisan sejarah dengan topik yang kedaerahan perlu dilakukan. Kesadaran akan penulisan sejarah lokal itu perlu ditumbuhkembangkan pada 4 J. J. Kusni, “ Tentang Sejarah Lokal dan Sejarah Nasional”, dalam majalah Kalimantan Review , nomer 3 tahun II Januari- April 1993, hlm. 40. penulis-penulis sejarah. Regenerasi sejarah lokal harus terus digugah pada setiap insan pemerhati sejarah di Bumi Pertiwi ini secara turun-temurun, agar sejarah lokal tidak pupus begitu saja atau keliru kebenarannya karena tidak ada perhatian dan minat melestarikannya.

  Kalimantan umumnya dan Kalimantan Selatan khususnya selaku (Propinsi) sebagai bagian dari wilayah republik ini juga mempunyai cerita atau sejarah lokal.

  Sejarah lokal Kalimantan (Selatan) seperti halnya sejarah lokal dari daerah-daerah lain juga turut membangun Sejarah Nasional Indonesia. Sejarah lokal di Kalimantan Selatan juga harus terus dikaji dan diteliti, bukan saja sifatnya yang dinamis tapi juga karena masih ada sejarah yang samasekali belum pernah diangkat, padahal topik- topiknya banyak yang menarik untuk diteliti.

  Dalam penulisan Sejarah Lokal Kalimantan Selatan yang berhubungan dengan kebudayaan masih sangat kurang jumlahnya dan jauh lebih sangat kurang lagi pendalamannya. Hanya beberapa saja yang tertarik dan tergugah minatnya untuk menulis tentang sejarah kebudayaan di Kalimantan Selatan.

  Salah satu kekayaan ragam bangsa ini adalah suku. Suku-suku yang jumlahnya mungkin mencapai ribuan yang tersebar di segala penjuru Nusantara ini. Suku Dayak adalah salah satunya. Suku Dayak terdapat di pulau terbesar ketiga di planet ini dan terbesar pertama di Republik ini, pulau Kalimantan. Suku Dayak menjadi sorotan penelitian atau menarik untuk diteliti karena beberapa alasan, mulai dari keunikan dan khasnya adat-istiadat, budaya dan tradisinya, alam mistiknya, eksotik alamnya, hingga masalah-maslah sosial politik yang kerap dibenturkan pada suku ini.

  Suku Dayak dalam pendapat umum yang terdapat di masyarakat Indonesia bahkan di dunia adalah suku yang diidentikkan dengan beberapa hal yang buruk, seperti keterbelakangannya, terasing, tidak beradab, buas, metode santet/tenung, dan lain sebagainya. Pendapat-pendapat ini tentu saja sangat naif. Image yang dilekatkan pada suku Dayak di atas tidak berlandaskan sisi obyektifitas faktanya. Memang benar bahwa suku Dayak hidup di alam yang buas, hutan yang rimba, komunitas-komunitas kecil di perkampungan-perkampungan terpencil, memuja roh-roh alam dan leluhur, terdapat istilah ngayau atau mamat (memotong kepala manusia), hidup sederhana dan jauh dari modern civilization. Akan tetapi bukan berarti bahwa mereka (suku Dayak)

  uncivilized.

  Suku Dayak masih terbagi-bagi lagi dalam beberapa puak atau sub-suku Dayak. Tiap-tiap puak atau sub suku Dayak juga masih terpilah menjadi sub-sub suku Dayak lagi. Tiap-tiap puak suku Dayak mempunyai ciri khas tersendiri meskipun sebenarnya mereka adalah sama, satu nenek moyang, satu rumpun, yakni suku Dayak. Tiap-tiap puak suku Dayak mempunyai alasan kriteria tertentu dalam hal pembagiannya, seperti daerah yang mereka diami. Misalnya puak suku Dayak Meratus yang mendiami kawasan Pegunungan Meratus di Propinsi Kalimantan Selatan dan sebagian di Kalimantan Tengah.

  Masyarakat adat suku Dayak Meratus adalah masyarakat yang masih setia menganut kepercayaan/religi lokal mereka, meskipun juga tidak sedikit yang sudah mulai meninggalkannya dengan alasan-alasan tertentu. Mereka menyebutnya dengan istilah “agama” Balian, yang juga biasa ditafsirkan sebagai Kaharingan-nya bagi puak suku Dayak Meratus. Masalah penyebutan nama kepercayaan suku Dayak Meratus ini pun juga mempunyai perdebatan. Seperti yang kemudian muncul penamaan agama Hindu (sekte) Kaharingan sebagai wujud dari perjuangan pengakuan terhadap eksistensi penganut “agama” Balian.

  Religi Balian pada intinya adalah “agama” yang sangat dekat dengan alam. Hal ini dapat dimaklumi dan mudah dipahami karena kelangsungan hidup dan kehidupan masyarakat adat suku Dayak Meratus banyak sekali bergantung pada alam. Oleh karena itu masyarakat adat suku Dayak Meratus sungguh sangat menghargai alam. Agama dan mitos sebagai bagian dari budaya yang kerap mempunyai gejala dan peristiwa yang

  5 tidak dapat dijelaskan secara rasional tapi hanya berdasarkan pengalaman iman saja.

  Setiap sesuatu yang ada dalam religi Balian mempunyai mitosnya sendiri-sendiri. Misalnya tentang terjadinya sesuatu, asal-muasal dan lain sebagainya. Kebanyakan dari mitos-mitos tersebut erat berhubungan dengan alam di mana mereka berpijak.

  Masyarakat adat suku Dayak Meratus percaya bahwa tiap-tiap unsur dan benda apapun itu di muka bumi mempunyai nyawa atau roh, perasaan, amarah, indera, kuasa, kehendak, dan sebagainya seperti halnya makhluk hidup. Termasuk di antaranya pohon, hutan, air, sungai, tanah, gunung, dan sebagainya. Masyarakat suku Dayak Meratus juga percaya terhadap adanya roh-roh nenek moyang dan mahkluk-makhluk halus. Sehingga religi Balian dapat dikatakan sebagai kepercayaan yang mempunyai

  6 unsur animisme, dinamisme, totemisme, fetisme, dan spiritisme serta animatisme.

  Jumlah total penganut “agama-agama asli” di seluruh dunia mencapai 237.386.000 orang atau setara 3,7% dari total jumlah penduduk dunia yang berjumlah kira-kira 6,3 milyar orang. Di Negara Indonesia “agama-agama asli” banyak terdapat di pedalaman Sumatera, pedalaman Kalimantan, Papua, pedalaman Sulawesi, dan Sumba. Menurut sensus aliran kepercayaan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2003 di Indonesia setidaknya terdapat 245 Aliran Kepercayaan dengan jumlah total

5 Alo Liliweri, Gatra-Gatra Komunikasi Antarbudaya, sunt. Kamdani, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 132-133.

  6 Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antropologi Jilid I, (Jakarta: Penerbit Universitas

Indonesia, 1980), hlm. 62-65. Lihat juga Maria Susai Dhavanony, Fenomenologi Agama,

(Yogyakarta: Kanisius, 1995), hlm.24.

  7

  penghayatnya mencapat 400 ribu jiwa lebih. Di antaranya adalah: Ilmu Sejati, “agama” Buhun, Aliran Kepercayaan Mbah Suro, “agama” Parmalim, Kejawen, Aliran Mulajadi Nabolon, Purwoduksino, Budi Luhur, “agama” Pentrap, “agama” Traju Trisna, “agama” Balian atau Kaharingan, “agama” Pahkampetan, “agama” Bolin, “agama” Naurus, “agama” Basora, “agama” Tonaas Walian, “agama” Jawa-jawi Mulya, “agama” Sunda Wiwitan (“agama” Djawa Sunda/“agama” Cigugur), Penghayat Ajaran Mei Kartawinata, “agama” Tolottang, “agama” Kuring, “agama” Pancasila, “agama” Yakin Pancasila, “agama” Permai, “agama” Wetu Telu, dan masih banyak lagi.

  Bagi Pemerintah rezim Orde Baru mereka (penganut-penganut “agama” lokal/asli/suku/etnis) dianggap tidak atau belum beragama. Jadi sudah selayaknya mereka ini diberagamakan atau dipaksa memeluk agama-agama yang telah diresmikan

  8 atau diakui oleh Pemerintah.

  Pasca jatuhnya Pemerintahan rezim Orde Baru adalah saat yang tepat yang membuka peluang untuk kembali menggali dan menulis hal-hal yang dulunya dianggap sebuah dosa di zaman Orde Baru. Ini saatnya meluruskan kembali kebenaran sejarah bangsa dan negara dan membersihkan nama, citra, dan label buruk, yang telah lama melekat “di masa kegelapan” kemarin. Seiring waktu ini kembali mencuat ke permukaan tentang berbagai permasalahan yang dulu pernah “dinetralisir” oleh pemerintah rezim Orde Baru yakni tentang suatu identitas bangsa, budaya dan keyakinan

7 Anonim, “Agama Asli Nusantara”, dalam website http://id.wikipedia.org/wiki/ Agama _Asli_Nusantara.

  8 Anonim, “Fenomena Agama Asli”, dalam website http://tiranus.net/archives/ 2005/07/27 fenomena-agama-asli,

27 Juli 2005.

  Pertama kali berdiri pemerintah rezim Orde Baru telah menetapkan terdapat lima agama resmi yang diterima atau diakui di Republik ini, (setelah sebelumnya Sukarno menetapkan ada enam). Artinya bagi mereka yang merasa berpijak di Bumi Pertiwi ini, di luar dari agama yang lima yang disebutkan di atas harus meleburkan keyakinan dirinya ke dalam agama yang lima tersebut. Usaha pengagamaan (formalisasi agama) ini gencar dilakukan oleh Pemerintah rezim Orde Baru tentu saja dengan tujuan politis (salah satunya disandarkan pada alasan pemberantasan hawa Komunis yang saat itu dipandang anti Tuhan yang kemudian ditafsirkan sebagai anti

  9

  agama). Pemerintah rezim Orde Baru juga mempunyai tujuan agar dapat membuat pembedaan antara Orde Lama dengan Orde Baru yang dipimpinnya. Pada pemerintahan Orde Lama rakyat diperbolehkan menganut faham dan menjadi Komunis. Pemerintahan rezim Orde Baru mendoktrinasi bahwa Komunis itu salah, pengikut atau pemuja setan, tidak bertuhan (ateis), kafir, dosa besar, penyimpangan, aliran (kiri) sesat, musuh rakyat, harus dibasmi dan dibunuh, dan cap negatif lainnya. Selain itu, hal ini juga bertujuan untuk menguatkan legitimasi bahwa Pemerintah rezim Orde Baru layak dan pantas berkuasa karena benar dan Pemerintah Orde Lama telah salah. Dalam beberapa hal (misalnya tentang persoalan faham yang berkembang di Indonesia) Pemerintah rezim Orde Baru banyak mendiskreditkan Pemerintah Orde Lama sebagai Pemerintahan yang lalai, keliru, dan jahat.

  Proses pengagamaan (formalisasi agama) yang terjadi pada masyarakat adat suku Dayak Meratus di Kalimantan Selatan ini berlangsung antara sekitar tahun 1970- an hingga tahun 1980-an dan masih mempunyai dampak sosiokultural hingga sekarang 9 Iklim politik pasca pembubaran PKI yang juga berlanjut pada pelarangan

  

berkembangnya Komunis di Indonesia, Komunis dijadikan alasan kuat penguasa untuk

tindakan-tindakannya, seperti penyegelan dan pembredelan. Komunis menjadi istilah yang menakutkan bagi rakyat Indonesia. ini. Dari sini sudah dapat dilihat ada pemaksaan dan ketidakadilan serta ketidakmenghargainya pemerintah terhadap unsur yang sangat hakiki dalam hidup manusia, yakni keyakinan (religi). Keadaan seperti inilah yang terjadi pada masyarakat adat suku Dayak Meratus di Kalimantan Selatan. “Agama” mereka (Balian) dihadapkan dengan agama resmi yang di backing-i oleh kekuatan penguasa.

B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah

1. Identifikasi Masalah

  Masyarakat adat suku Dayak Meratus adalah suku yang menjunjung tinggi kebudayaan mereka. Mereka sudah semenjak lama menganut Religi Balian. Religi Balian sudah turun-temurun diwariskan dari jauh generasi-generasi nenek moyang mereka terdahulu hingga anak cucu berikutnya. Religi Balian sudah sedemikian melekat dan hampir tidak mungkin dapat dilepaskan pada diri mereka.

  Awalnya masyarakat adat suku Dayak Meratus sangat asing dengan pola-pola kehidupan modern, seperti misalnya bernegara, berpartai, berpolitik, bersekolah, dan lain sebagainya itu semua mereka anggap aneh. Mereka bahkan tidak tahu ada agama- agama lain yang pemeluknya tersebar di penjuru dunia. Tak ayal lagi istilah suku terbelakang dan terasing pun akhirnya melekat (dilekatkan) pada masyarakat adat suku Dayak Meratus oleh orang-orang yang mengaku dirinya berpola pikiran kehidupan modern.

  Pada masa Pemerintahan rezim Orde Baru dibawah pimpinan Presiden Soeharto, dengan segala tujuan yang kental politisnya menegaskan bahwa hanya ada lima agama resmi yang berlaku di Indonesia, yakni Buddha, Hindu, Islam, Kristen Katolik, dan Kristen Protestan. Program pengagamaan (formalisasi agama) ini diberlakukan bagi seluruh warga Negara Indonesia, tidak terkecuali masyarakat adat suku Dayak Meratus. Formalisasi bidang agama ini bagi masyarakat adat suku Dayak Meratus berakibat matinya budaya asli dan membunuh budaya leluhur nenek moyang mereka. Secara singkat hal ini dapat disebutkan sebagai proses pengukuhan legitimasi kekuasaan, politisasi kebudayaan tanpa pandang bulu dan pertimbangan. Sebagai akibat dari program Pemerintah rezim Orde Baru ini dapat dirasakan dan dijumpai sampai sekarang, bukan saja budaya tapi juga sosial.

2. Pembatasan Masalah

  Dengan kompleksitas permasalahan tentang Religi Balian pada masyarakat adat suku Dayak Meratus serta skope temporal yang cukup panjang yakni antara tahun 1970-an hingga tahun 1980-an, maka agar penelitian lebih fokus lagi, permasalahan akan dibatasi pada:

  10

  a. Masyarakat adat suku Dayak Meratus sebagai pemeluk “agama” Balian. Suku Dayak Meratus adalah puak dari suku Dayak. Posisi suku Dayak Meratus dalam suku Dayak sebagai suku induknya.

  b. Proses pengagamaan (formalisasi agama) yang dilaksanakan oleh Pemerintah rezim Orde Baru pada masyarakat adat suku Dayak Meratus antara tahun 1970-an sampai 1980-an. Kepercayaan masyarakat adat suku Dayak Meratus, “agama” Balian tidak diakui dan dinyatakan dilarang oleh Pemerintah. Alternatif lima agama resmi secara tidak langsung ditawarkan pada masyarakat adat suku Dayak Meratus.

  c. Dampak yang terjadi kemudian setelah program ini dilakukan oleh Pemerintah rezim Orde Baru. Masyarakat adat suku Dayak Meratus kehilangan identitasnya, identitas budaya asli mereka. Muncul kesepahaman bersama antara Pemerintah dengan penganut religi Balian/Kaharingan melalui konsep integrasi atau penggabungan keagamaan. Ketidakmenentuan eksistensi bagi status keagamaan 10 Juga akan menilik keadaan sebelum yang melatarbelakangi dan perkembangan setelahnya. mereka yang menolak lima religi resmi dan pengintegrasian keagamaan dan tetap setia memeluk “agama” Balian.

  C. Perumusan Masalah

  Berdasarkan uraian latarbelakang di atas terdapat beberapa pertanyaan yang muncul. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah sebagai berikut:

  1. Siapa masyarakat adat suku Dayak (Meratus) itu ?

  2. Apa latar belakang formalisasi agama itu dilaksanakan oleh Pemerintah rezim Orde Baru pada tahun 1970-an sampai 1980-an, dan bagaimana reaksi masyarakat adat suku Dayak Meratus?

  3. Bagaimana dampaknya selanjutnya bagi masyarakat adat suku Dayak Meratus dan kelangsungan dari “agama” Balian/Kaharingan itu sendiri pasca program formalisasi agama tersebut?

  D. Tujuan Penelitian

  Penulisan karya ini bertujuan untuk mendiskripsi dan menganalisa mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat adat suku Dayak (Meratus), yakni menyangkut tentang Identitas masyarakat adat suku Dayak Meratus sebagai puak atau sub suku dari suku Dayak di Kalimantan.

  Skripsi ini juga berusaha melihat perkembangan dan dilematika religi Balian serta perjuangan eksistensi oleh masyarakat adat suku Dayak Meratus sebagai pemeluknya di Kalimantan Selatan ketika formalisasi agama berlangsung pada tahun 1970-an hingga tahun 1980-an (dan tidak menutup kemungkinan untuk melihat rentang waktu di luar tahun tersebut yang mempunyai hubungan dan berkesinambungan dengan topik yang dikaji), serta dampak formalisasi agama yang dicanangkan oleh Pemerintah rezim Orde Baru tersebut. Dampak sosiokultural berupa benturan sebuah budaya asli

  (budaya Dayak dengan religi Balian/Kaharingan-nya) dengan sebuah “kebudayaan baru” (formalisasi agama dengan religi-religi besar dunia-nya) yang ditunggangi kepentingan politis Pemerintah bahkan ekonomi.

  E. Manfaat Penelitian

  Penulisan karya ini secara umum untuk menambah dan memberi sumbangan baru pada ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang sejarah, terutama sejarah lokal dan sejarah kebudayaan. Sumbangan yang dimaksud berkaitan dengan perkembangan religi Balian yang dianut oleh masyarakat adat suku Dayak Meratus di Kalimantan pada umumnya dan di Kalimantan Selatan pada khususnya pada tahun 1970-an hingga tahun 1980-an.

  Penulisan karya ini diharapkan juga dapat mengingatkan segenap Bangsa Indonesia bahwa mereka mempunyai saudara sebangsa dan setanah air yang juga mengakui isi Sumpah Pemuda tetapi jauh dari kesejahteraan, ketentaraman, dan perhatian pihak Pemerintah. Manfaat lainnya agar menyadarkan Pemerintah sebagai pemegang kendali dan aturan-aturan formal supaya lebih menghargai keragaman, memahami Bhineka Tunggal Ika secara benar dan jangan jadikan keragaman sebagai potensi perpecahan, tapi sebagai kekuatan pemersatu untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan serta kebanggaan Negeri yang besar ini.

  Selain itu penulisan karya ini diharapkan dapat mengenalkan pada mereka yang masih asing dengan salah satu budaya saudaranya sendiri, budaya masyarakat adat suku Dayak Meratus yang menganut “agama” Balian.

  F. Tinjauan Pustaka

  Penelitian dan penulisan tentang masyarakat adat Dayak Meratus ini bukan merupakan penelitian satu-satunya. Ada beberapa ilmuwan yang sudah pernah mencoba merekonstruksi tentang masyarakat adat suku Dayak (Meratus) di Kalimantan. Beberapa ilmuwan yang pernah meneliti dan menulis tentang masyarakat Dayak Meratus di antaranya adalah:

  Koentjaraningrat dengan karyanya yang berjudul Manusia dan Kebudayaan di

  

Indonesia. Koentjaraningrat hanya menyoroti tentang puak suku Dayak yang berada di

  kawasan Propinsi Kalimantan Tengah saja. Buku ini sesuai dengan judulnya, hanya melihat dari segi kebudayaannya saja dan tidak dari segi lainnya, seperti segi politik.

  Buku berjudul Negara Etnik: Beberapa Gagasan Pemberdayaan Suku Dayak karangan J. J. Kusni. Sesuai dengan sub judulnya, buku ini berisi gagasan-gagasan pemikiran untuk masyarakat suku Dayak. Buku ini memuat keterangan hubungan- hubungan politik Ibu kota dengan Daerah, misalnya masalah-masalah birokrasi. Akan tetapi buku ini sangat hambar dengan kebudayaan masyarakat suku Dayak, apalagi suku Dayak Meratus.

  Buku kompilasi tulisan-tulisan dengan judul Kebudayaan Dayak: Aktualisasi

  

dan Transformasi . Isinya merupakan kumpulan karangan dari beberapa penulis, yakni

  Fridolin Ukur, Masri Singarimbun, Sandra Moniaga, dkk. Kumpulan tulisan ini kemudian diedit oleh Paulus Florus, John Bamba, Nico Andasputra, dkk. Buku kompilasi beberapa penulis ini banyak berbicara tentang Dayak di Kalimantan Barat saja, atau dengan kata lain penulisan ini lebih terfokus pada masalah-masalah yang ada pada puak suku Dayak di Kalimantan Barat. Kalaupun juga menyinggung tentang Dayak lainnya, maka tulisan ini lebih cenderung kepada masalah-masalah suku Dayak pada umumnya.

  Buku dengan judul Manusia Daya: Dahulu, Sekarang, Masa Depan karya Mikhail Coomans. Tulisan terjemahan ini menceritakan kehidupan masyarakat suku Dayak secara umum, kecuali suku Dayak Kalimantan Timur.

  Yekti Mautanti yang menulis buku berjudul Identitas Dayak: Komodifikasi dan

  

Politik Kebudayaan . Buku karangan Maunati ini masih terlalu umum, artinya tidak

menjabarkan keterangan secara spesifik pada masyarakat puak suku Dayak tertentu.

  Dengan kata lain buku ini tidak menjelaskan detail tentang keadaan masyarakat adat suku Dayak Meratus.

  Buku kompilasi tulisan-tulisan berjudul Identitas dan Poskolonialitas di

  

Indonesia . Buku yang isinya kumpulan dari beberapa karya tulis pengamat ini diedit

  oleh Budi Susanto. Salah satu penulis dalam buku ini yang mengangkat tema tentang suku masyarakat suku Dayak adalah F. Akap Pasti. Seperti yang disayangkan pada beberapa karya tulis sebelumnya, karangan ini tidak mengulas spesifik pada masyarakat adat puak suku Dayak Meratus. Tulisan Pasti hanya mengangkat pada masyarakat suku Dayak di kawasan Kalimantan Barat pedalaman.

  Bernard Sellato menyunting buku karangan Cristina Eghenter yang berjudul

  

Kebudayaan dan Pelestarian Alam: Penelitian Interdisipliner di Pedalaman

Kalimantan . Buku ini sangat indah memaparkan tentang kultur suku Dayak dan

  beberapa permasalahan di dalamnya. Akan tetapi buku ini tidak memuat keterangan tentang kehidupan masyarakat adat suku Dayak Meratus.

  Noerid Haloei Radam yang menulis buku berjudul Religi Orang Bukit: Suatu

  

Lukisan Struktur dan Fungsi dalam Kehidupan Sosial Ekonomi. Dari judulnya mungkin

  sudah dapat ditebak kalau karangan ini akan lebih berkutat pada permasalahan kehidupan sosial-ekonomi. Orang bukit adalah salah satu penyebutan dari Masyarakat adat suku Dayak Meratus. Buku ini panjang lebar menjelaskan tentang kehidupan sosial-ekonomi masyarakatnya tapi tidak sedikitpun menyenggol aspek politis Pemerintah. Di dalam buku ini terdapat penjelasan tentang sistem kepercayaan (“agama” Balian) yang ada pada masyarakat adat suku Dayak Meratus serta setidaknya mewakili penulisan etnografi masyarakat adat suku Dayak Meratus pasca Pemerintahan rezim Orde Baru meskipun masih apolitis.

  Di bawah Bayang-bayang Ratu Intan: Proses Marjinalisasi pada Masyarakat

Terasing adalah judul buku yang dikarang oleh Anna Lowenhaupt Tsing. Buku ini

  sudah cukup banyak menjelaskan tentang masyarakat adat suku Dayak Meratus sebagai puak dari suku Dayak, akan tetapi buku ini tidak banyak menjelaskan tentang “agama” Balian secara mendalam.

  Karya tulis Hairus Salim H. S. berjudul Masyarakat Suku Dayak Meratus:

  

Agama dan Emansipasi. Melalui judulnya yang menarik, buku ini sedikit banyak

  memberikan penjelasan tentang benturan dua budaya yang terjadi pada masyarakat adat suku Dayak Meratus, hanya saja ulasannya terlalu dangkal. Artinya buku tipis yang tidak lebih dari 26 halaman (termasuk halaman biodata penulisnya) sangat singkat sekali pembahasannya terlebih pada masalah agama resmi-nya. Buku ini nampaknya juga memberikan akhir atau ending yang masih dilematis. Artinya belum ada memberikan gambaran keadaan yang terjadi setelah masyarakat adat suku Dayak Meratus berhadapan dengan lima agama resmi yang diakui Pemerintah rezim Orde Baru.

  Seperti yang telah disebutkan pada bagian lain sebelum ini, bahwa tulisan yang mengangkat tentang masyarakat adat suku Dayak Meratus di negeri ini cukup langka, hanya terdapat sedikit sekali. Kebanyakan mengkaji tentang kehidupan masyarakat adat suku Dayak pada umumnya dan atau puak suku Dayak yang lain selain puak suku Dayak Meratus. Karangan itu kebanyakan juga merupakan deskriptif-naratif mengenai budayanya, setelah itu permasalahannya selesai tidak menyentuh sisi-sisi lainnya.

G. Landasan Teori

  Dalam penulisan skripsi ini yang menjadi obyek penelitian adalah Masyarakat adat suku Dayak Meratus, di mana yang diamati adalah kepercayaan mereka, yakni “agama” Balian/Kaharingan, sebagai sebuah religi. Istilah religi berasal dari bahasa latin, yakni dari dua penyebutan yang keduanya merupakan kata kerja. Fridolin Ukur dalam tulisannya yang berjudul makna religi dari alam sekitar dalam Kebudayaan Dayak: Kebudayaan Dayak: Aktualisasi dan Transformasi, menyebutkan religere berarti “melakukan sesuatu dengan bersusah payah melalui berbagai usaha dan religere

  11

  yang berarti mengikat semua.” Religare artinya adalah mengikat, atau ikatan hubungan antara manusia dengan Ilahi. Seterusnya Ukur mengungkapkan aspek yang berbeda dari religi, yakni:

  a. Dari segi objektif, religi melibatkan perlakuan yang berulang-ulang dari kegiatan tertentu manusia dan oleh sebab itu termasuk wilayah fenomena eksternal.

  b. Dari segi subyektif, religi adalah bagian yang tersembunyi dari pengalaman

  12 kehidupan batin atau psikis manusia.

  Pendapat lain juga memaknai dengan Re-eligere artinya adalah memilih kembali, atau aktifitas manusia untuk selalu memilih kembali atau berfihak kepada yang Ilahi.

  Terdapat banyak sekali pengertian tentang religi atau religion dalam bahasa Inggris.

  Para ahli memahami religi berdasarkan penelitian-penelitian yang dilakukannya terhadap suatu religi pada masyarakat tertentu. Menurut J. G. Frazer religi berasal dari sistem pengetahuan dan akal yang dimiliki manusia tidak mampu lagi menyelesaikan persoalan-persoalan dalam hidupnya oleh karena sistem pengetahuan dan akal manusia tersebut ada batasnya. Hal ini juga berkaitan dengan maju tidaknya sebuah kebudayaan 11 Paulus Florus dan John Bamba, Kebudayaan Dayak: Aktualisasi dan Transformasi, (Yogyakarta: Grasindo, 1994), hlm. 3. 12 Ibid .

  yang dimiliki oleh manusia tersebut, semakin terbelakang kebudayaannya, semakin pendek batas sistem pengetahuan dan akalnya.

  13 Frazer mengungkapkan “religi adalah

  segala sesuatu sistem tingkah-laku manusia untuk mencapai suatu maksud dengan cara menyandarkan diri kepada kemauan dan kekuasaan makhluk-makhluk halus seperti roh-roh, dewa-dewa, dsb.”

14 Marret, seorang ahli kesusasteraan Yunani dan Roma Klasik memberikan

  pemaknaan terhadap asal mula religi setelah banyak membaca karya-karya dan folklore etnografi sebagai berikut: …yaitu bahwa pangkal religi adalah suatu “emosi” atau suatu “getaran jiwa” yang timbul karena kekaguman manusia terhadap hal-hal dan gejala-gejala tertentu yang sifatnya luar biasa. Alam di mana hal-hal serta gejala-gejala itu berasal, oleh manusia purba dianggap sebagai dunia di mana terdapat berbagai kekuatan yang luar biasa. Artinya kekuatan yang tak dapat diterangkan dengan akal manusia biasa, dan yang ada di atas kekuatan-kekuatan alamiah biasa, yaitu yang supernatural. Dalam bahasa Indonesia kekuatan yang luar biasa itu dapat disebut “kekuatan gaib” atau “kekuatan sakti”, sedangkan dunia dari mana kekuatan-kekuatan gaib itu berasal dapat disebut “dunia gaib atau alam gaib”.

15 Pemahaman oleh Marret juga mempunyai kesinambungan dengan pendapat

  Frazer tentang religi. Ada saatnya manusia merasa sangat lemah ketika berhadapan dengan suatu kondisi dalam hidupnya, manusia tidak dapat menyelesaikan permasalahan karena keterbatasannya. Manusia kagum dan terpesona akan terjadinya sesuatu hal yang menurutnya itu hal yang luar biasa atau gaib dan tidak mungkin terjadi tanpa campur tangan sang Maha Hebat. Akal manusia tidak dapat menjelaskannya. Kemudian manusia mengembalikannya kepada sesuatu yang dianggapnya Maha

  13 Koentjaraningrat, op. cit., hlm. 53-54. 14 Ibid ., hlm. 54. 15 Ibid ., hlm. 61-62. Dahsyat, mempunyai kekuatan super, melebihi semua makhluk, sesuatu yang dapat mengendalikan segalanya termasuk hidupnya.

  Masih terdapat beberapa lagi pengertian tentang religi dan masing-masing mempunyai argumen dan landasan yang beralasan dan mendukungnya. Seperti Edward B. Tylor yang memandang religi sebagai keyakinan kepada adanya atau percaya akan adanya makhluk halus (being in spiritual Being). Sedangkan Emile Durkheim mengartikan: “religi sebagai keterkaitan sekalian orang pada sesuatu yang dipandang sakral yang berfungsi sebagai simbol kekuatan masyarakat dan saling ketergantungan orang-orang dalam masyarakat yang bersangkutan.”

  16 Dalam bukunya yang berjudul Religi Orang Bukit: Suatu Lukisan Struktur dan

Fungsi dalam Kehidupan sosial-Ekonomi , Noerid Haloei Radam, mengambil

  kesimpulan bahwa: Religi adalah konsepsi manusia tentang semua hal yang terkandung dalam kosmologi, kosmogoni, dan eskatologi serta aktivitas-aktivitas berkenaan dengannya yang berfungsi memantapkan kehidupan pribadi dan mengenalkan ikatan sosial. Memantapkan kehidupan pribadi masksudnya membina dan mengembangkan identitas individual dan rasa aman emodional, dan mengentalkan ikatan sosial berarti menjadikan kehidupan sekelompok orang lebih utuh serta menjadi tenaga pendorong dabn pembenaran pencapaian tujuan bersama.

17 Berkenaan dengan fungsi religi, Bronislaw Malinowski menyebutkan “religi

  memberikan tujuan dan arah keberadaan orang-orang dan selanjutnya memberikan penekanan yang kuat pada nilai kepribadian”. Jadi suatu religi bukanlah saja sekedar salahsatu unsur dari kebudayaan yang sudah ada demikian adanya, melainkan juga sebagai sebuah unsur budaya yang sifatnya aplikatif. 16 Noerid Haloei Radam, Religi Orang Bukit, Suatu Lukisan Struktur dan Fungsi dalam Kehidupan Sosial–Ekonom , ( Yogyakarta: Yayasan Ambarukmo, 2001), hlm. 5. 17 Ibid ., hlm. 17.

  Agama, menurut beberapa pakar seperti yang disunting dalam website-nya

  

Wikipedia memaparkan pemaknaan agama dari beberapa sudut pandang bahasa,

  antaralain dari bahasa Sangsekerta (berarti tradisi dan tidak bergerak); dalam bahasa Latin (berarti hubungan manusia dengan Manusia Super dan pengakuan serta pemuliaan Tuhan); dalam bahasa Eropa (berarti kepercayaan pada sesuatu yang tidak dapat dicapai dengan akal atau pendidikan saja, Pengendali alam semesta serta Pemberi kodrat ruhani kepada manusia hingga sampai sesudah mati); dalam bahasa Indonesia (berarti hubungan antara manusia dengan Yang Maha Suci, sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan); dalam bahasa Arab (berarti penghambaan, taat, paksaan,

  18 tekanan, takut, adat, balasan, siasat, dan lain-lain).

  Alo Liliweri. berpendapat bahwa ”agama dalam artian klasik merupakan seperangkat aturan yang menata hubungan manusia dengan dunia gaib, khususnya dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia lain, dan hubungan manusia dengan

  19

  lingkungannya”. Agama yang kemudian dianut oleh suatu masyarakat itu akan menjadi norma dan nilai yang diyakini, dipercayai, diimani sebagai suatu referensi dan mempunyai fungsi yang kemudian disebut dengan tugas dan fungsi agama (fungsi

  20 manifest dan latent).

  Penyebutan istilah “religi lokal” di sini merujuk kepada “agama” Balian yang dianut oleh masyarakat adat suku Dayak Meratus, atau meminjam peristilahan Zada: agama lokal yang oleh E. B taylor disebut sebagai:

  Agama dasar (kemudian disebut Deis) adalah agama yang sederhana dan dianut oleh bangsa manusia. Agama ini terdiri atas kepercayaan pada Tuhan sang Pencipta yang menjadikan dunia dan kemudian menyerahkannya pada hukum- 18 19 Anonim, , “Agama Asli Nusantara”. loc. cit. 20 Alo Liliweri, op. cit., hlm. 116.

  Ibid ., hlm. 116-117. hukum dasarnya sendiri. Yakni, suatu kode moral yang diberikan untuk membimbing manusia, dan janji akan kehidupan setelah mati, jika mereka berbuat baik dan menghindari kejahatan. Bagi kaum Deis, kepercayaan sederhana

  21 yang elegan ini merupakan keimanan makhluk manusia yang paling awal.

  Religi lokal dalam literatur lain juga disebutkan dengan istilah “agama asli”. “Agama” yang bukan datang atau muncul dari luar suku penganutnya. Oleh karena itu agama asli juga sering disebut dengan istilah “agama suku” atau “agama etnis”.

  “Agama” yang lahir dan hidup bersama sukunya dan mewarnai setiap aspek kehidupan

  22 sukunya.

  Dalam dunia kebudayaan juga dikenal istilah “agama primitif”, tetapi dalam konteks Indonesia istilah itu kemudian menjadi bernada menyindir. Istilah primitif dalam perbincangan luas masyarakat Indonesia sudah terlanjur berkonotasi negatif, seperti jauh dari kemajuan zaman bahkan tidak beradab. Literatur kebudayaan lainnya juga ada yang mengistilahkan “agama primitif” dengan “agama pagan” (menyembah berhala).

  Dengan melihat beberapa penjelasan mengenai religi di atas, dapat dilihat konsep “agama” yang terdapat pada “agama” Balian/Kaharingan (sebagai sebuah religi) pada masyarakat adat suku Dayak Meratus di Kalimantan Selatan. Pemaknaan oleh Noerid Haloei Radam tentang agama lebih dekat dengan konsep yang terdapat pada religi Balian/Kaharingan.

  Religi dan masyarakat mempunyai hubungan yang sangat erat. Religi akan menentukan model-model interaksi individu-individu dalam masyarakat dalam menjalankan kehidupannya. Durkeim mengatakan bahwa “agama sebagai kekuatan 21 Khamami Zada, “Mempertimbangakan Spirit Agama Lokal,” dalam surat kabar Suara Pembaruan , Jumat 6 September 2002. 22 Anonim,., “Fenomena Agama Asli”. loc. cit

  23

  pengikat di dalam masyarakat”. Senada dengan pendapat Robert K. Merton yang mengatakan bahwa agama bukan saja sebagai penyebab perpecahan tetapi juga bisa menjadi pemersatu. Koentjaraningrat dalam bukunya yang berjudul Beberapa Pokok

  

Antropologi Sosial, menyebutnya dengan istilah aktivitas religi terhadap kehidupan

  24

  sosial kemasyarakatan. Tipe-tipe interaksi pada penganut religi ditentukan oleh ajaran-ajaran yang terdapat dalam religi tersebut. Sebenarnya maknanya menjadi luas ketika menyebut interaksi terhadap lingkungannya yang tidak terbatas pada sesama manusia saja tapi juga dengan alam. Norma-norma yang ada dalam masyarakat seluruhnya dipengaruhi dan berhubungan dengan religi yang mereka anut. Begitu pula dengan pola hirarki kepemimpinan yang ada juga berpijak pada religi itu. Sama halnya dengan hukuman atau sanksi yang digunakan dalam masyarakat adalah hukuman dan sanksi dari religi. Religi melingkupi semua bidang dalam masyarakat (bahkan ekonomi), karena masyarakat itu menjunjung tinggi religi tersebut. Penentang berarti pendosa bukan saja bagi religi, tapi juga bagi masyarakatnya.

  Religi menentukan pola-pola interaksi antar penganut religi (masyarakat). Religi adalah salahsatu unsur dari kebudayaan, dengan kata lain kebudayaan itu salahsatu pembangunnya adalah religi. Manusia sebagai individu-individu dari masyarakat memiliki kebudayaan sehingga kebudayaan tidak bisa dilepaskan dari

  25

  kebudayaan itu. Mengenai kebudayaan itu sendiri, Ralp Linton dalam tulisannya yang berjudul The Culture Background of Personality yang diterbitkan di New York pada tahun 1945, yang kemudian di sunting T. O Ilrohmi dalam bukunya yang berjudul 23 Andrew M. Greeley, Agama: Suatu Teori Sekuler, terj. Abdul Djamal Soamole, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1988), hlm. 111. 24 Koentjaraningrat, Beberapa Pokok Antropologi Sosial, (Jakarta: Penerbit Dian Rakyat, 1977), hlm. 261. 25 Alo Liliweri, op. cit., hlm 111.

  

Pokok-Pokok Antropologi Budaya dan kemudian dikutip oleh S. Jacobus E Frans L.

  dan Concordius Kayan, menyebutkan bahwa kebudayaan mencakupi lingkup yang luas kegiatan-kegiatan manusia di dunia dan tiap masyarakat mempunyai kebudayaan tertentu sesederhana apapun bentuk kebudayaan itu, dan setiap manusia adalah

  26 makhluk berbudaya.

  Interaksi-interaksi yang ada pada masyarakat adat suku Dayak Meratus paling kentara dapat dilihat dari penyelenggaraan kehidupan sehari-hari mereka. Seperti dalam pelaksanaan upacara ritual keagamaan yang menyangkut bidang-bidang yang ada. Bidang ekonomi atau mata penjaharian masyarakat adat suku Dayak Meratus selalu berhubungan dengan “agama” Balian/Kaharingan yang mereka anut. Begitu pula dengan hubungan-hubungan sosial sesama makhluk termasuk manusia juga dipandang dari kacamata “agama” Balian/Kaharingan.

  Kepercayaan masyarakat adat suku Dayak Meratus (“agama” Balian/Kaharingan) sebagai salah satu unsur dari budaya tiba-tiba terdesak oleh salah satu unsur budaya lain yang ditunggangi oleh kepentingan kelompok, yakni penguasa dan penguasalah akhirnya yang keluar sebagai pemenang. Inilah “Hegemoni: the

  

moving equilibrium, situasi yang memungkinkan kelompok yang berkuasa menjadi

  27

  pemenang.” Kultur yang lebih besar dan berkuasa akan menekan kultur yang lebih kecil dan tidak berkuasa Unsur ini yang disebut Soerjono Soekanto sebagai “unsur

  28

  yang masuknya dipaksakan oleh suatu kekuatan.” 26 Paulus Florus, Stephanus Djuweng, John Bamba, dan Nico Andasputera, op. cit., hlm. 204. 27 Muhammad Holid, “Simbol Sebagai Arena Perjuangan Kelas”, dalam majalah Jalang , 21 Januari 2000. 28 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: CV. Rajawali, 1986), hlm.

  314.

  Dari gambaran di atas maka yang perlu diperhatikan adalah subyek untuk diidentifikasi dan dinamikanya sebagai sebuah struktur-fungsi yang bergerak (dinamis).

  Oleh karena itu masyarakat adat suku Dayak Meratus sebagai subyek harus diidentifikasi identitasnya dan dinamikanya perlu diamati struktur-fungsinya. Sehingga dalam penulisan skripsi ini terdapat dua teori untuk penjelasannya, yakni teori identitas dan teori struktural-fungsional.

  Teori identitas adalah teori yang menjelaskan tentang suatu identitas, ciri khas, atau tentang jati diri masyarakat adat suku Dayak Meratus itu (si subyek). Tokoh-tokoh yang terlibat dalam teori identitas antaralain adalah Sigmund Freud, Talcott Parson, Geoge Herbart Mead, Jurgen Habermas, Erich Fromm, dan Erik Hamburger Erikson.

  Pada pembahasan kali ini akan menggunakan teori identitas oleh Erik Hamburger Erikson dengan pertimbangan kerelevanannya dengan topik.

  Menurut Erik Hamburger Erikson sebenarnya masalah identitas sendiri masih dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yakni: identitas diri, krisis identitas, kebingungan identitas, kepanikan identitas, identitas positif, identitas positif, identitas

  29

  negatif, penutupan identitas dan moratorium identitas. “Identitas merujuk pada keseluruhan kompleks dan multidimensi di mana individu dan masyarakat saling

  30

  berkait”. Identitas merupakan penunjukkan bahwa terdapat sesuatu yang unik pada diri seseorang dalam lingkup lingkungannya. Berarti diri seseorang itu mempunyai nilai ciri yang merupakan esensi pribadinya. Dalam bukunya, Erik H. Erikson menuliskan identitas sebagai berikut:

  Identitas adalah konfigurasi integratif dari masa lampau dengan masa sekarang 29 dan dari yang di dalam dan yang di luar, ke dalam suatu keseluruhan baru:

  Erik Hamburger Erikson, Jati Diri, Kebudayaan dan Sejarah: Pemahaman dan Tanggung Jawab , terj. Agus Cremers, (Flores:LPBAJ, 2001), hlm. 22. 30 Ibid . hlm. 20.

  siapakah aku ini, siapa saya ini semenjak dahulu. Secara ilmiah identitas merupakan suatu proses, sebuah sintesis “ego” yang sebagian besar berlangsung secara tidak sadar dan yang mengintegrasikan berbagai macam diri atau aspek diri si individu ke dalam bentuk kesatuan baru, dan ke dalam perspektif diri sentral yang baru, seraya menentukan sendiri orientasi diri dengan kembali

  31

  mensintesiskan sisa identifikasi… Erikson mengemukakan bahwa identitas adalah sesuatu yang berkembang, dinamis, tidak statis. Hal ini terjadi secara berkala, mulai dari terlahir hingga dewasa.

  Preses ini adalah proses pencarian identitas dirinya yang ingin merasa diakui dirinya

  32

  sebagai pribadinya sendiri oleh orang lain, masyarakat dan lingkungannya. Kemudian secara singkatnya Erik H. Erikson memaknai “identitas semacam proses pensintesisan pribadi supraordinatif yang merangkum dan menyatupadukan sebagai integrasi

  33 terutama integrasi yang pernah dilakukan oleh “ego” selama hidupnya” .

  Dalam konteks kepercayaan “agama” Balian/Kaharingan masyarakat adat suku Dayak Meratus, identitas tersebut adalah identitas yang melekat pada setiap individu dalam masyarakat yang sudah berlangsung semenjak dahulu, semenjak kepercayaan “primitif “ ini muncul, tumbuh dan berkembang. Sebuah masyarakat yang berbudaya, yang beradab, yang mempunyai pranata nilai-nilai kehidupan sendiri, meski dunia luar menganggapnya bertolak belakang dari itu semua, karena hanya dilihat dari monopoli sempitnya pemikiran dan sudut pandang penguasa yang mempunyai tujuan tertentu.

  Identitas mereka selebihnya diperparah oleh kesewenang-wenangan Pemerintah rezim Orde Baru dalam men-cap mereka sebagai suku terasing, terbelakang, tertinggal dan keburukan lainnya. Budi Susanto menyebutkan “identitas dan politik dari Negara dan

  31 32 Ibid . hlm. 21.

  Ubed Abdillah S., Politik Identitas Etnis: Pergulatan Tanda Tanpa Identitas, (Magelang: Indonesiatera, 2002), hlm. 34-35. 33 Erik Hamburger Erikson, op. cit., hlm. 22-21. bangsa Indonesia patut untuk dikaji ulang, mengingat (selama ini) rezim (orde) baru

  34

  masih saja memperhantukan orang atau pihak-pihak tertentu.” Teori struktural-fungsional adalah teori yang menjelaskan tentang fungsi dan struktur. Teori ini juga biasa disebut dengan teori struktural-fungsional. Teori struktural-fungsional ini di klaim lebih ilmiah dan empiris, di mana hipotesisnya diuji melalui penelitian-penelitian yang sistematik seperti pengamatan (observation) dan

  35 partisipasi observasi (particivation observation).

  Dalam teori struktural-fungsional terdapat banyak tokoh yang menggawanginya, seperti August Comte, Bronislaw Malinowski, Emille Durkheim, E.

  E. Evan Pritchard, Herbert Spencer, Ibnu Khaldun, Talcott Parsons, Radcliffle Brown, Raymond Firth, Robert K. Merton, hingga Montesquieu peletak dasar sosiologi

  36

  perbandingan. Mereka mempunyai definisi dan pandangan sendiri-sendiri mengenai teori ini. Namun yang paling sering disebutkan dalam beberapa literatur tentang teori ini adalah pandangan Bronislaw Malinowski dan Radcliffle Brown, meskipun pemikiran mereka juga tidak akan pernah lepas dan selalu dipengaruhi dari

  37 pendahulunya, Emille Durkheim.

  Dalam penulisan skripsi ini akan mencoba menjelaskannya dengan menggunakan pandangan dari Bronislaw Malinowski dan A. R. Racliff Brown, serta pemikiran Talcott Parsons, dan Robert K. Merton karena dinilai lebih sesuai dan dekat

  34 F. Akap Pasti dkk., Identitas dan Poskolonialitas di Indonesia, (Yogyakarta: Kanisius, 2003), editor Budi Santoso, hlm. 8. 35 Judistira K. Gana, Ilmu-ilmu Sosial: Dasar Konsep Posisi, (Bandung: Penerbit Program Pascasarjana Universitas Padjajaran, 1996), hlm. 53-54. 36 37 Ibid ., hlm. 59.

  Ibid ., hlm. 54. dengan topik yang dibahas. Dalam teori struktur dan fungsi aliran Amerika menyebutkan bahwa: Sesuatu yang berfungsi itu ialah (1) sesuatu yang berguna, karena memiliki fungsi tertentu untuk memenuhi kebutuhan manusia, seperti perladangan dan pemasaran; (2) harus mendatangkan manfaat bagi yang melakukannya, seperti kerja untuk memperoleh uang; (3) dapat memnuhi keperluan individu untuk meneruskan relasi sosial, atau berkaitan dengan hak dan tanggung jawab dalam melangsungkan tujuan individu dan masyarakatnya; seperti perkawinan untuk membentuk keluarga baru; (4) memenuhi keperluan masyarakat, seperti agama dan poitik; (5) struktur bagi setiap individu guna menempati posisi dan melakukan peranan; seperti partai piolitik.

  38 Bronislaw Malinowski adalah tokoh yang memahami masyarakat melalui

  kebudayaan yang mengemukakan bahwa semua unsur kebudayaan (cultural straits) merupakan bagian yang penting dalam masyarakat, karena unsur tersebut memiliki fungsinya yang tertentu. Oleh karena itu setiap pola adat kebiasaan merupakan sebagian dari fungsi dasar dalam kebudayaan.

39 Selanjutnya Bronislaw Malinowski mengatakan

  “Dalam mencari kaidah-kaidah dalam masyarakat terdapat tiga masalah sebagai azas penting menurut pendekatan struktural fungsional, yaitu (1) adakah sesuatu itu berfungsi; (2) bagaimana sesuatu itu berfungsi; dan (3) mengapakah sesuatu itu berfungsi.”

40 Malinowsi melihat bahwa masyarakat adalah gabungan dari sistem sosial yang

  sistemnya memuat unsur-unsur tentang kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi.

  41 Kebutuhan dasar itu meliputi aspek-aspek yang menunjang kelangsungan kehidupan masyarakat itu.

  38 Ibid ., hlm. 54-55. 39 Ibid ., hlm 55. 40 Ibid . 41 Ibid .

  Brown menambahkan bahwa berawal dari kepercayaan akan adanya kekuatan gaib diluar manusia dan melebihi manusia itu kemudian melahirkan agama-agama dan keyakinan tertentu yang di dalamnya manusia menyandarkan dirinya untuk mendapat keselamatan dan kesejahteraan melalui melakukan serangkaian upaya pemujaan dan pemuliaan, seperti upacara-upacara ritual keagamaan.

  42 Talcott Parsons yang juga sealiran (aliran Amerika) dengan Bronislaw

  Malinowski, dalam 2 bukunya yang berjudul The Evolusion of Societies (1977) dan The

  Structure of Social Action (1968) menyebutkan sebagai berikut:

  Masyarakat itu adalah suatu sistem sosial, yang harus memenuhi empat syarat atau azas untuk setiap sistem itu berfungsi, yaitu (1) penyesuaian masyarakat dengan lingkungan; (2) anggota masyarakat harus sepakat akan ketentuan untuk memilih, mengetahui dan memahami tujuan kolektif dengan menyusun struktur tertentu; (3) penentuan anggota masyarakat agar dapat memainkan peranan dan mematuhi nilai-nilai, serta menyelesaikan konflik dalam interaksi; dan (4) terjadi integrasi dari keadaan yang ada dalam masyarakat,. Individu dan institusi dikontrol oleh unsur atau bagian tertentu agar sistem sosial terpelihara.

43 Sumbangan pemikiran Parson untuk menjelaskan pembahasan ini adalah pada

  pola adaptasi dan pencapaian integrasi, yang merupakan bagian dari pemahaman Parson tentang masyarakat sebagai suatu sistem sosial.

  44 Pola adaptasi (adaptation) bergerak dengan tujuan untuk mencapai keadaan

  yang lebih baik atau usaha untuk mencapai keadaan yang disetujui. Kata kuncinya adalah azas keseimbangan (equilibrium). Parson mengambil kesimpulan kalau sistem sosial itu cenderung bergerak menuju tatanan keseimbangan atau juga disebutnya 42 A. R. Racdliff Brown, Struktur dan Fungsi Dalam Masyarakat Primitif, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Malaysia, 1980), hlm. 175. 43 Ibid ., hlm 57. 44 Konsep keseimbangan sistem (equilibrium) Parson meneruskan fungsionalis

  

pendahulunya, sosiolog-engineer Vilfredo Pareto, sedangkan konsep integrasi sistem Parson

berkat jasa besar Durkheim.

  45

  dengan istilah stabilitas. Norma sistem yang berlaku adalah keteraturan, dengan hukum: ketika terjadi kekacauan (ketidakteraturan) dalam norma-norma itu, maka sistem akan berusaha dengan mencari jalan penyesuaian (adaptasi) untuk mencapai

  46

  keadaan yang normal. Pada dasarnya sebuah sistem yang berlaku di masyarakat mengidealkan keharmonian, dimana terdapat keseimbangan dalam masyarakat (social

  

equilibrium ). Dalam buku Sosiologi Suatu Pengantar karangan Soerjono Soekanto,

  Selo Soemardjan, mengatakan “Dengan keseimbangan dalam masyarakat dimaksudkan sebagai suatu keadaan di mana lembaga-lembaga kemasyarakatan yang pokok dari

  47

  masyarakat benar-benar berfungsi dan saling mengisi.” Parson juga memaknai pola adaptasi sebagai kebutuhan fungsional, berupa kemampuan sistem menjamin kebutuhannya dari lingkungannya dan mendistribusikan

  48 sumber-sumber itu keseluruh sistem.

  Menurut Parson, integrasi (penggabungan) yang juga merupakan kebutuhan fungsional yang berhubungan dengan masalah koordinasi dan penyatuan bagian-bagian

  49

  sistem menjadi suatu keseluruhan yang fungsional . Jadi intergrasi adalah hasil dari pencapaian setelah pola adaptasi berhasil. Dalam buku sanjuangannya terhadap guru besarnya, Durkheim yang berjudul Durkheim Contribution to the Theory of Integration

  

of Social System , Parson menulis “masalah integrasi sistem sosial, yang menyatukan

  45 Margaret M. Poloma, Sosiologi Kontemporer, (Jakarta: CV. Rajawali, 1984), hlm.

  174. 46 47 Ibid .

  Soerjono Soekanto, Sosiologi: Suatu Pengantar, (Jakarta: CV. Rajawali, 1986), hlm. 314. 48 49 Margaret M. Poloma, op. cit., hlm. 425.

  Ibid ., hlm 433. masyarakat secara secara bersama, adalah masalah paling mengasyikkan dalam karir

50 Durkhiem.”

  Dalam teorinya, Robert K. Merton melihat tidak semua unsur yang terdapat pada masyarakat itu berfungsi keseluruhan. Merton merujuk kepada adanya unsur yang mempunyai sisi bertahan dan berfungsi (function) pada bagian tertentu karena memelihara kokohnya struktur (ini disebut Merton sebagai fungsi positif), akan tetapi juga terdapat unsur yang mempunyai sisi rapuh dan tidak berfungsi (disfunction) karena membuat ketidakmapanan sistem atau akan menghancurkan struktur atau

  51 52

  menceraiberaikan kemapanan keseluruhan sistem sosial. Unsur-unsur tersebut boleh jadi berfungsi (function) pada bagian tertentu tapi bisa juga sekaligus tidak berfungsi (disfunction) bagi bagian yang lain.

  Pada konteks pembahasan mengenai masyarakat adat suku Dayak Meratus, teori struktural-fungsional digunakan untuk menjelaskan tentang sebuah unsur kebudayaan dan budaya itu sendiri yang tetap melekat dan dipertahankan oleh masyarakatnya karena unsur kebudayaan dan budaya itu masih berfungsi dan memang harus tetap akan ada untuk mendukung jalannya hidup dan kehidupan mereka. Meskipun demikian seperti yang dikatakan oleh Robert K. Merton, bahwa ada sesuatu yang pada akhirnya, mungkin karena beberapa faktor, terdapat nilai negatif dalam perspektif tertentu dan kemudian yang bernilai negatif itu berusaha ditinggalkan.

  Terakhir sebagai pencapaian titik keseimbangan (equilibrium) adalah melalui kesepakatan bersama. Meskipun ada kecenderungan ada pihak yang dikalahkan,

  50 51 Ibid ., hlm. 174-175. 52 Ibid ., hlm. 430.

  Judistira K. Gana, op. cit., hlm 58-59. dipaksa, dipinggirkan, tetapi tetap berusaha bertahan dengan jalan bersama tersebut (penyesuaian bagi pihak yang kalah). Seperti tertuang dalam teori super culture:

  Super culture sebagai kebudayaan kelompok berkuasa cenderung menggilas infer culture selaku kebudayaan kelompok yang dikuasai. Sebaliknya infer culture cenderung berusaha menyesuaikan diri dengan super culture. Tetapi

  pada suatu saat, infer culture akan mengalami culture amnesia. Oleh karenanya, para pendukung infer culture berusaha mencari identitas yang telah hilang

  53 karena proses adjustment (penyesuaian) terhadap super culture.

H. Metode Penelitian

  Penelitian ini merupakan penelitian sejarah, sehingga penelitian yang dilakukan untuk merekonstruksi tentang perkembangan religi Balian/Kaharingan pada masyarakat adat suku Dayak Meratus juga menggunakan metode sejarah. Dalam penulisan sejarah yang bersifat deskriptif-analisis diperlukan aspek perspektif, pendekatan, obyektivitas

  

54

dan subyektivitas sebagai alat-alat analitis.

  Kalau dalam ilmu hukum kriminal dikenal istilah no evidence no witnes and

  

then no crime , maka dalam ilmu sejarah juga dikenal no evidence no witnes, and then

no history . Upaya rekonstruksi sejarah itu perlu bukti, perlu saksi untuk mendukung

  prosesnya, karena sejarah adalah berdasarkan fakta, baik itu fakta keras maupun fakta lunak. Kalau tidak terdapat salah satu di antaranya maka perekonstruksian sejarah akan terhambat. Sejarah perlu alasan kejelasan rasional bukan dari mitos atau legenda (meskipun mitos atau legenda tidak dapat diabaikan begitu saja). Rekonstruksi sejarah memerlukan sumber, data-data, dokumen-dokumen, tuturan saksi atau pelaku atau korban yang terlibat, rekaman pita tape (suara), rekaman video, atau dalam bentuk apapun yang dapat memberikan keterangan mengenai peristiwa yang dikaji. Singkat 53 Stephanus Djuweng, “Dayak, Dyak, Daya’, dan Daya: Cermin Kekaburan Sebuah Identitas”, dalam majalah Kalimantan Review, nomer 1 tahun I Januari-Juni 1992, hlm. 9. 54 Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1992), hlm. 66.

  kata sejarah itu dapat diumpamakan orang yang sedang jalan yang meninggalkan bekas-bekas tapak kaki di jalan, bekas tapak-tapak kaki itu merupakan bukti dari orang jalan (sejarah). Akan tetapi tapak-tapak kaki tadi juga perlu dikritisi, perlu diteliti kebenarannya. Siapa tahu tapak-tapak kaki tersebut bukan tapak kaki, tapi tapak-tapak kaki buatan. Selanjutnya tapak-tapak kaki tersebut juga perlu untuk dimengerti dan dipahami agar diketahui arah dan tujuannya. Kemudian yang terakhir adalah menyuarakan, memberitahukan pada khazanah ilmu pengetahuan khususnya bidang sejarah tentang peritiwa sejarah tadi.

  Secara umum dalam kaidah penulisan sejarah terdapat tahapan-tahapan yang dilalui untuk perekonstruksian suatu peristiwa sejarah, yakni metode sejarah secara rinci dapat dituliskan sebagai berikut:

1. Tahap Heuristik

  55 Heuristik berasal dari bahasa Yunani heuriskein yang berarti menemukan.

  Pada tahap ini semua bentuk sumber-sumber dicari dan dikumpulkan. Pengumpulan data dilakukan dengan mencari sumber-sumber berupa buku-buku, artikel, dan laporan hasil penelitian maupun bentuk-bentuk tulisan lain yang relevan dengan topik yang dibahas. Pengumpulan sumber-sumber tertulis tersebut akan sangat banyak dilakukan di perpustakaan-perpustakaan (perpustakaan Universitas Sanata Dharma, perpustakaan di beberapa asrama mahasiswa Kalimantan di Jogjakarta, perpustakaan pribadi milik Ibu Nila Riwut dan perpustakaan Daerah Kalimantan Selatan) maupun di internet dan media-media pustaka lainnya. Selain dari kepustakaan (tertulis), sumber-sumber juga akan digali dari hasil wawancara dengan orang-orang yang terlibat (penduduk 55 G. J. Renier, History: Its Purpose and Method, (London: George Allen and Unwin Brother, 1961), hlm. 106. asli/masyarakat adat suku Dayak Meratus sebagai pemeluk religi Balian), baik itu saksi (langsung atau tidak langsung), pelaku atau korban serta penduduk sekitar seperti pemuka agama/tokoh “agama” Balian sekaligus sebagai tokoh masyarakat adat suku Dayak Meratus dan biasanya juga berkedudukan sebagai Pambakal, penganut religi Balian itu sendiri, masyarakat adat suku Dayak Meratus yang sudah meninggalkan religi Balian dan memeluk agama resmi Negara (Buddha, Hindu, Islam, Kristen Katolik, dan Kristen Protestan), peneliti-peneliti terdahulu yang pernah mengkaji tentang kebudayaan Dayak, organ-organ Pemerintah (dalam hal ini petugas-petugas di Kantor Kecamatan dan Kantor Urusan Agama) yang berhubungan dengan kependudukan mayarakat adat suku Dayak Meratus, dan dosen-dosen di Jususan Ilmu sejarah Universitas Sanata Dharma yang juga memberikan masukan keterangan- keterangan tentang kehidupan dan kebudayaan Suku Dayak. Data-data juga ada yang diperoleh dari hasil diskusi dalam pertemuan-pertemuan periodik perkumpulan mahasiswa Kalimantan Selatan di Jogjakarta.

  Pada tahapan ini pencarian data-data akan dilakukan di dua tempat. Pertama, di Jogjakarta untuk menggali sumber-sumber tertulis, seperti buku-buku, artikel-artikel, dan lain sebagainya serta menelusur data-data di internet. Kedua, di Kalimantan Selatan untuk memperoleh sumber-sumber lisan dan untuk melihat secara langsung skope spasial di sana. Seperti yang diungkapkan Profesor Dr. Jan Vansina dan Madison seperti yang dikutip oleh J. J. Kusni: “tradisi oral sebagai sumber sejarah, termasuk di

  56 dalamnya sumber-sumber seperti ritus, mitos, legenda, dan lambang-lambang”.

  Sumber-sumber lisan akan sangat diperlukan mengingat masyarakat adat suku Dayak Meratus (suku Dayak pada umumnya) pada masa klasik tidak mengenal budaya tulis- 56 J. J. Kusni, “Masa Depan dalam Sejarah Dayak dan Makna Pengenalannya”, dalam majalah Kalimantan Review, nomer 8 tahun 03 Juli- September 1994, hlm. 2. menulis, tidak memiliki susunan abjad dan peninggalan tertulis mengenai masa

  57 lampau.

  Berkenaan dengan syarat-syarat ideal yang harus dimiliki oleh seorang informan penelitian, W. Lawrence Neuman mengatakan bahwa informan tersebut harus sungguh mengetahui tentang budaya dan kedudukannya (saksi) dalam peristiwa tersebut dan sudah hidup dalam budaya tersebut dalam kurun waktu yang lama (bertahun-tahun), diri informan tersebut harus terlibat secara langsung dalam peristiwa

  58 yang terjadi agar dapat dengan jelas menginformasikan peristiwa tersebut.

  2. Tahap Kritik Sumber

  Setelah data-data diperoleh, langkah selanjutnya adalah melakukan kritik sumber, baik itu intern mapun ekstern. Kritik intern menelusuri tentang ke kekredibelitasan sumber, sedangkan kritik ekstern untuk menelusuri ke otentisitasan

  59

  sumber. Dengan demikian diharapkan sumber-sumber yang diperoleh dapat diketahui

  60

  bahwa sumber tersebut berisi hard fact atau fakta keras. Sumber-sumber tertulis seperti buku dan artikel dan lain sebagainya dicermati agar menghasilkan fakta-fakta yang jelas.

  3. Tahap Interpretasi

  Selanjutnya pada tahap ini akan menganalisa dan menafsirkan fakta yang telah diseleksi melalui kritik sumber yang telah tersusun. Tahapan ini dilakukan dengan memberikan penafsiran maupun tanggapan dari data tersebut sesuai dengan persoalan 57 58 Ibid .

  W. Lawrence Neuman, Sosial Research Methods: Qualitative and Quantitative Approach , Foueth Edition, (Needham Heights, 2000), hlm. 364. 59 Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1995), hlm. 99-100. 60 G. J. Renier, op. cit., hlm. 108. yang dibahas. Pada tahapan ini hendaknya subjektivitas dari fakta-fakta yang diperoleh dapat dikurangi.

4. Tahap Historiografi

  Dalam tahapan terakhir ini penulis akan menyajikan sebuah rekonstruksi suatu peristiwa sejarah dalam bentuk tulisan yang mudah dipahami.

I. Sistematika Penulisan

  Guna mempermudah penulisan maka skripsi ini dibagi menjadi lima bab, yaitu:

  Bab I adalah pendahuluan yang berisi uraian mengenai latar belakang masalah, identifikasi dan pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori atau kerangka konseptual, metode penelitian dan yang terakhir sistematika penulisan.

  Bab II berisi tentang gambaran umum masyarakat suku Dayak pada umumnya dan suku Dayak Meratus pada khususnya. Pada Bab ini akan dijelaskan tentang kehidupan masyarakat adat suku Dayak Meratus. Bab ini juga akan menerangkan tentang identitas suku Dayak Meratus, hubungannya dengan suku Dayak sebagai suku induknya dan hubungannya dengan suku-suku yang dekat dengannya bererta pro dan kontra identitas tentang sukunya tersebut. Selebihnya bab ini memaparkan mengenai keadaan alamnya, mata pencahariann mereka, adat-istiadat, budaya, dan tradisi yang ada pada masyarakat adat suku Dayak Meratus.

  Bab III merupakan uraian mengenai kepercayaan atau religi yang dianut oleh mayarakarat adat suku Dayak Meratus, yakni religi Balian/Kaharingan. Bab ini akan menjelaskan tentang apa-apa saja yang terkandung dalam religi Balian/Kaharingan. Seperti bentuk-bentuk ajaran kepercayaannya misalnya nama-nama Ilahnya, peribadatannya, upacara-upacara ritual keagamaanya, dan lain sebagainya.

  Bab IV akan membahas tentang formalisasi agama yang dilaksanakan oleh pemerintah rezim Orde Baru, pengertian formalisasi agama, tujuan-tujuan dan alasan- alasannya, proses-proses formalisasi agama itu berlangsung, serta dampak-dampak yang ditimbulkannya, dari aspek sosial-budaya, dan bagi kepercayaan itu sendiri, juga penganut-penganut setianya.

  Bab V sebagai bab penutup dari skripsi ini akan memaparkan kesimpulan yang dapat diambil setelah menjabarkan Bab I hingga Bab IV. Bab V berisi tentang jawaban- jawaban atas permasalahan-permasalahan yang ada Selain itu pada bab terakhir ini juga akan mengisinya dengan hal-hal bijak yang dapat diambil dari topik yang ditulis kali ini, agar dapat bermanfaat bagi sekalian umat manusia. Meskipun pada bab ini berisi tentang kesimpulan/jawaban permasalahan, tidak menutup kemungkinan adanya permasalahan baru yang memerlukan penelitian lebih lanjut.

BAB II SUKU DAYAK MERATUS Pada bab sebelumnya telah dibicarakan bahwa suku Dayak Meratus adalah puak

  dari suku Dayak atau dengan kata lain suku Dayak adalah induk dari suku Dayak Meratus. Oleh karena itu menjelaskan mengenai suku Dayak Meratus tidak dapat dilepaskan dari suku Dayak, sebagai suku induknya. Hal ini juga dimaksudkan agar tidak ada link yang hilang dalam pemaparannya dan supaya diketahui letak suku Dayak Meratus dalam peta kebudayaan suku Dayak.

  Selama beberapa dekade banyak orang yang menganggap suku Dayak itu dengan pandangan yang menyeramkan, pemburu kepala (head hunter), telinga panjang, kebal senjata tajam, santet dan hal-hal magis, nomaden, primitif, tinggal di dalam hutan-hutan lebat, tidak beradab, udik, suku terasing dan terbelakang, dan pandangan- pandangan negatif lainnya. Beberapa terbitan hasil penelitian peneliti asing tentang suku Dayak memang mencantumkan hal demikian. Tidak dapat dipungkiri bahwa kebudayaan suku Dayak awalnya banyak diangkat oleh peneliti-peneliti asing. Seperti Bock W. yang menerbitkan tulisan berjudul The Head Hunters of Borneo yang dinikmati khalayak ramai Inggris pada tahun 1881, atau Black Borneo karya Miller

  61 pada tahun 1946 yang menceritakan liarnya kehidupan orang-orang suku Dayak.

  Dalam tulisan Alfred Russel Wallace pada tahun 1902 seperti dikutip Albertus Rufinus:

  The moral character of Dyak (Dayaks) is undoubted high a statement whish will seem strange to those who have heard of them only as head hunters and pirates. The hill Dayaks of whom I am speaking, however, have never been

61 Yekti Maunati, Identitas Dayak: Komodifikasi dan Politik Kebudayaan (Yogyakarta: LKIS, 2004), hlm. 9-10.

  pirates, since they never go to sea; and head hunting is a custom originating in the pretty wars of village, with village, and tribe wild tribe.

  62

  (Ciri moral Dayak tidak diragukan lagi sebagai sebuah pernyataan yang terlihat aneh bagi yang pernah mendengar tentang mereka (Dayak) hanya sebagai para pemburu kepala dan perompak (bajak laut). Di bukit Dayak tenmpat saya sedang berbicara sekarang ini, bagaimanapun, mereka tidak pernah menjadi perompak, sejak mereka tidak pernah pergi ke laut.; dan kegiatan berburu kepala manusia adalah sebuah kebiasaan asli dalam perang antar kampung yang menakjubkan dan antar suku-suku liar). atau tulisan professor antropologi asal Amerika, William H. Davenport dalam majalah

  

Expedition: Special Issue on Borneo Vol. 1 pada tahun 1988 dengan judul “The

Dayaks: People of Borneo ” seperti yang juga dikutip oleh Albertus Rufinus:“Mereka

  adalah para pemburu kepala manusia/pengayau”.

  63 Tetapi apakah semua itu benar? Tidak adakah perkembangan/kemajuan bagi

  mereka? Sebenarnya anggapan-anggapan yang ditujukan kepada suku Dayak itu sangat relatif, relatif dari sudut pandang mana itu dilihat dan atau boleh jadi pemaknaan yang salah kaprah. Dalam perjalanan waktu suku Dayak tidaklah statis dalam beberapa hal. Dengan kata lain pada diri mereka (suku Dayak) juga terdapat perkembangan dari masa ke masa.

A. Suku Dayak

  Suku Dayak adalah salah satu suku yang mendiami pulau Kalimantan, atau juga sering lazim kenal dengan sebutan Borneo (terutama oleh orang luar Indonesia).

  Borneo adalah sebutan kuno buat pulau Kalimantan di masa klasik. Selain suku Dayak, pulau terbesar di Indonesia ini juga didiami oleh suku-suku lain, seperti suku Bugis dan suku Banjar (Melayu). Seiring dengan laju pesatnya sistem transportasi, hasil persilangan perkawinan, laju pertambahan dan perpindahan penduduk, misalnya 62 Albertus Firmus, “Manusia Dayak: Manisfestasi Perilaku dan Perbuatannya”, dalam majalah Kalimantan Review, nomer 1 tahun I Januari-Juni 1992, hlm. 2. 63 Ibid .

  melalui program transmigrasi dan pembagian lahan pekerjaan, di masa sekarang ini penghuni pulau Kalimantan sudah terdiri dari banyak sekali suku atau etnis, seperti Jawa, Cina, dan lain-lain.

1. Penyebutan dan Penulisan Etimologi Istilah Dayak

  Penyebutan kata “Dayak” itu sendiri masih terdapat perdebatan di kalangan peneliti dan ahli-ahli antropologi. Misalnya Mikhail Commans yang memaknai kata “Dayak” sebagai “manusia”, yakni manusia yang tinggalnya di hulu-hulu sungai. Senada dengan yang diartikan oleh orang-orang Iban yang menggunakan istilah “Dayak” yang berarti “manusia”, sedangkan orang-orang Tunjung dan Benuaq

  64

  mengartikannnya sebagai “hulu sungai”. J. Thomas Lindblad setuju dengan pendapat ini, menurutnya “Dayak” berasal dari kata “Dayak” dalam bahasa suku Dayak Kenyah

  65

  yang berarti “hulu sungai” atau “daerah pedalaman”. Sedangkan Victor King menilai kata “Dayak” berasal dari kata “aja” dalam bahasa Melayu yang berarti “penduduk asli” atau “pribumi”. Terdapat pula pemaknaan-pemaknaan lain tentang istilah “Dayak”, contohnya ditujukan pada karakteristik personal tertentu yang diakui oleh orang-orang Kalimantan, yakni mereka yang kuat, gagah, berani dan ulet.

  Dalam literatur tentang suku Dayak setidaknya terdapat empat penyebutan

  66

  tentang istilah ini, yakni “Daya`”, “Dyak”, “Daya”, dan “Dayak”. Tetapi penyebutan yang paling lazim dan paling kerap digunakan bagi mereka adalah suku “Dayak”.

  Penyebutan “Daya`” bermula ketika terdapat pandangan negatif atau citra buruk yang ditujukan pada suku Dayak. Sekitar abad ke 19 di pulau Kalimantan dihuni oleh 64 65 Yekti Maunati , op. cit., hlm. 60. 66 Albertus Firmus, op. cit. hlm. 8.

  Ibid . dua kelompok dominan, dan kemungkinan juga sampai sekarang, yakni kelompok Dayak dan Melayu. Dua kelompok ini mempunyai beberapa perbedaan, terutama dalam hal kebudayaannya. Suku Dayak dengan kebudayaan alamnya, tinggal di pedalaman- pedalaman hutan belantara, tinggal di rumah-rumah komunal, menganut religi asli/suku (bahkan ada yang menyebut dengan nada sindiran “primitif “dan “pagan”) yang menyembah roh-roh nenek moyang dan alam. Sedangkan kelompok etnis Melayu yang tinggal di kota-kota pesisir pantai, telah banyak berinteraksi dengan dunia luar, lebih dahulu mencicipi produk kemajuan zaman, sudah tahu tradisi tulis-menulis dan membaca (tulisan), sudah memeluk salahsatu religi dunia (Islam), dan kemudian terlihat lebih modern dibandingkan dengan suku Dayak. Pada masa kolonial penjajahan Belanda, orang-orang suku Dayak, seperti yang ditulis oleh peneliti tentang Dayak, Mill Roekaert disebutnya dengan istilah “Dajakker”, yang maknanya sama dengan

  

inlander . Lebih jauh istilah Dajakker berkembang menjadi “Dajakkera”, monyet jenis

  

67

kera yang populasinya di hutan Kalimantan.

  Situasi yang demikian berujung terpuruknya identitas tentang orang-orang suku Dayak hingga suatu ketika pada tahun 1956 para pemimpin suku Dayak se-Kalimantan Barat mengadakan konferensi untuk membahasnya di Sanggau Kapuas Kalimantan Barat. Dalam konferensi ini disepakati untuk mengubah penyebutan istilah “Dayak” menjadi “Daya`”, yang kemudian lama-kelamaan menjadi “Daya” saja, tanpa apostrop (`). Penyebutan dengan istilah etimologi “Daya” saja khususnya terjadi di wilayah

68 Kalimantan Barat. Dari sini dapat dilihat terdapat pengaburan identitas atau usaha lari

  dari kenyataan dan ada rasa malu untuk menunjukkan dirinya sebagai orang suku

  67 68 Stepanus Djuweng, op. cit., hlm. 7.

  Stepanus Djuweng, op. cit., hlm. 9. Dayak. Seperti yang diutarakan oleh antropolog dari Universitas Gadjah Mada Jogjakarta, Masri Singarimbun, dia mengatakan:

  Mengkorting “k” saja tidak cukup untuk menaikkan gengsi manusia Dayak. Itu artinya, harus ada tindakan-tindakan nyata masyarakat Dayak untuk meningkatkan kualitas eksistensinya dalam konteks kebhinekatunggalikaan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, generasi muda dan intelektual suku Dayak berpendapat, bahwa penulisan yang benar dari empat versi itu adalah “Dayak”, sebab pertama, versi ini adalah versi paling tua. Meskipun barangkali diberikan oleh orang atau bangsa lain, tetapi ia telah membentuk menjadi semacam identitas bersama bagi kelompok-kelompok pribumi non-muslim di Kalimantan. Dari situ kemudian lahirlah etnisitas. Di sisi lain, membuang huruf “k” malah tampak sebagai sikap melarikan diri dari kenyataan, atau

  69 mengingkari sejarah, lantas menimbulkan penilaian kompensasi gampangan.

  Sedangkan penyebutan dengan istilah “Dyak” banyak digunakan oleh peneliti- peneliti dari Inggris sebelum Perang Dunia II pecah, di mana penelitian-penelitian itu banyak dilakukan di daerah Sarawak (Malaysia). Sedangkan dalam naskah-naskah

  70 dalam bahasa Belanda banyak menggunakan istilah “Dajaks”.

  Penyebutan dengan istilah “Dayak” seperti yang digunakan sekarang ini merupakan upaya generasi berikutnya untuk tetap menjunjung tinggi identitas dan kebudayaan dirinya (sebagai orang suku Dayak).

2. Asal-usul Suku Dayak

  Secara umum dikenal anggapan bahwa penduduk asli pulau Kalimantan adalah suku Dayak. Anggapan ini dapat dikatakan benar, tetapi anggapan ini tentu perlu dijelaskan lagi. Misalnya dengan menilik dari sisi historisitasnya. Historisitas tentang asal mula suku Dayak ini pun juga masih banyak diperdebatkan di kalangan peneliti.

  69 70 Ibid ., hlm. 10.

  Ibid ., hlm. 8. Titik pelacakan awal dari asal mula suku Dayak dapat ditarik jauh dari zaman

71 Glasial atau zaman es. Hingga akhir masa ini beberapa pulau tidaklah begitu jauh

  jaraknya. Bahkan bentangan Nusantara ini diperkirakan masih menyatu dengan daratan benua Asia sekarang. Dengan melihat kondisi alam yang sedemikian rupa, masuk akal jika memang ada kemungkinan pernah (telah) terjadi migrasi dari daratan benua Asia yang menyatu tadi ke kawasan-kawasan sekitarnya, andaikan harus menyeberang perairan (dengan anggapan ke pulau-pulau lain di sekitarnya), cukup dengan perahu-

  72 perahu (atau apapun namanya saat itu) kecil sederhana sudah bisa menyeberanginya.

  Perahu yang digunakan oleh para imigran tersebut kemungkinan adalah perahu bercadik hasil teknologi masa perundagian yang sudah dikenal di daratan Asia sekitar

  73 tahun 1500 Sebelum Masehi.

  Dengan melihat penjelasan di atas, logis jika ada pendapat yang mengatakan bahwa suku Dayak berasal dari imigran-imigran daratan Asia, yakni Wilayah Cina (Tiongkok) Selatan, Yunnan. Dalam kurun waktu antara 3000-1500 Sebelum Masehi, selama lebih dari 1000 tahun, Pulau Kalimantan didatangi kelompok yang disebut dengan Proto-Melayu, setelah sebelumnya juga pernah didatangi orang-orang Negrid

  74

  dan Weddoid. Kedatangan kelompok-kelompok ras manusia ini di Pulau Kalimantan lewat beberapa arah. Ini yang nantinya membagi-bagi puak-puak atau sub-sub suku Dayak yang mendiami wilayah-wilayah tertentu di pulau Kalimantan. Misalnya di 71 Menurut para ahli. planet bumi mengalami Zaman Es (Glasial) dalam 4 seri, di mulai kira-kira 4.000.000. tahun lalu dan berakhir kira-kira 200.000 tahun yang lalu. 72 Mikhail Coomans, Manusia Daya:Dahulu, Sekarang, Masa Depan, (Jakarta: Gramedia, 1987), hlm 3. 73 Marchues Afen, “Lintasan Sejarah Sosial Dayak”, dalam majalah Kalimantan Review , nomer 12 tahun IV Juli September 1995, hlm 11. 74 Di masa kemudian, keterangan mengenai ras manusia jenis ini di Kalimantan tidak begitu jelas. pulau Kalimantan bagian Barat yang salah satunya dihuni oleh puak suku Dayak Kanayath, kemungkinan berasal dari imigran yang bermigrasi daratan di sisi Baratnya (Malaysia dan sebagian Sumatera sekarang), atau puak suku Dayak Ngaju di Kalimantan bagian Tengah yang juga memuat kemungkinan bermigrasi transit dari bagian Selatan (pulau Jawa sekarang). Kemudian selang waktu yang lama, kira-kira lima ratus tahun sebelum Masehi (berarti ini sudah masuk zaman Neolithikum, di mana konsidi alam, jarak, dan bentuk daratan dan perairannya menyerupai sekarang ini) juga terjadi migrasi besar-besaran dari daratan Asia ke pulau-pulau di sebelah Selatan,

  75

  berarti termasuk ke kepulauan Nusantara (Indonesia sekarang). Kelompok-kelompok

  

76

ini dikenal dengan sebutan Deutro Melayu.

  Seorang peneliti bernama Van Heine Gildern pernah melakukan penelitian tentang penyebaran kebudayaan kapak persegi mengatakan bahwa bangsa Austronesia bermigrasi dari daerah asalnya di sekitar Yunnan (Cina bagian Selatan), sungai Yang Tse Kiang, Meckhong dan Menan, melalui Malaysia bagian Barat kemudian diteruskan ke pulau Sumatera, Jawa, Bali, dan ke Kalimantan senada dengan yang diutarakan oleh

77 D. G. E Hall. Oleh karena ciri-ciri ras manusia ini mempunyai kecocokan dengan ras

  Monggoloid maka mereka dimasukkan dalam ras Monggoloid. Imigan-imigran yang berasal dari Yunnan yang behasil mencapai pulau Kalimantan dan akhirnya menetap di

  78

  sana kemudian menjadi suku Dayak. Di pulau Kalimantan mereka kemudian menyebar menyesuaikan dengan kondisi alam dan lingkungan sekitarnya (proses 75 76 Mikhail Coomans, op. cit., hlm 4.

D. G. E. Hall menyebut suku Dayak sebagai rumpun bangsa Austronesia yang bermigrasi ke kawasan Asia dan sebelah Selatannya sekitar tahun 2500 SM-1500 SM.

  77 Paulus Florus, dan John Bamba, op. cit., hlm 103. lihat juga Bisri Effendi, “Citra Dayak”, dalam majalah Desantara, edisi 07/tahun III/2003, hlm.13. 78 Ibid ., hlm. 104.

  79 geografi dan proses demografi) dalam kurun waktu lebih dari seribu tahun.

  Demikianlah akhirnya Pulau Kalimantan didiami.

  Terlepas dari teori migrasi dari daratan Asia, di pulau Kalimantan sudah terdapat penduduk aslinya yang sudah berbudaya. Pendapat ini dikuatkan dengan ditemukannya fakta artefak arkeologis. Fakta artefak arkeologis itu adalah berupa kapak perimbas. Kapak perimbas ini ditemukan di dasar Sungai Riam Kanan, Awang Bangkal. Kapak perimbas ini ditemukan oleh Toer Sotardjo pada tahun 1958. Kapak perimbas serupa yang digunakan oleh manusia purba seperti halnya Homo Wajakensis yang fosilnya ditemukan di Desa Wajak, lembah Sungai Brantas, Tulungangung, Jawa Timur atau Pithecantupus Soloensis yang fosilnya ditemukan di Desa Trinil, di lembah Sungai Bengawan Solo, Jawa Tengah. Ini menunjukkan bahwa manusia Kalimantan sudah ada sejak zaman Paleolitikum. Lebih awal dari masa itu, yakni sekitar 8000 Sebelum Masehi Pulau Kalimantan (Kalimantan Selatan) sudah dihuni. Fosilnya ditemukan di Gua Babi di Gunung Batu Buli, Desa Randu, Muara Uya, Tabalong, Kalimantan Selatan.

  Di Nanga Balan, Kapuas Hulu ditemukan beliung dan kapak persegi yang digunakan untuk bercocok tanam. Dengan mengasumsikan dolmen, sarkofagus, dan menhir populer pada masa Megalithikum, dolmen diketemukan di Sedahan Sukadana, Ketapang dan sarkofagus di Kalimantan Timur serta beberapa buah menhir di Kalimantan Utara (Malaysia), berarti pada masa itu pulau Kalimantan memang sudah dihuni dan lebih jauh, sudah berkembang kepercayaan tertentu. Satu-satunya bukti tertulis paling awal tentang kehadiran ras manusia di bumi Borneo adalah tujuh buah prasasti Yupa yang bertuliskan “Srimatah Srinarendrasya Kudunggasya Mahatmanah” 79 Yekti Maunati, op. cit., hlm 60.

  80

  yang diperkirakan berangka tahun 400 Masehi, di Kutai, Kalimantan Timur. Jadi manusia asli Kalimantan sebagai penduduk pertama pulau terbesar di Republik ini sudah ada sebelumnya, sebagai bagian dari manusia asli Nusantara.

  3. Puak-puak dalam Suku Dayak Suku Dayak adalah penyebutan umum, sebenarnya suku Dayak masih banyak terbagi-bagi dalam puak-puak atau sub-sub suku Dayak. Tiap-tiap puak suku Dayak mempunyai daerah, keahlian dan cara hidup, bahasa, bentuk kepercayaan, tradisi adat dan kebiasaan, hingga pakian dan makanan khas sendiri-sendiri, meskipun tidak sepenuhnya berbeda. Dapat dilihat dari kemiripan-kemiripan dan nila-nilai esensi di dalamnya. Misalnya senjata tradisional Mandau dan sumpit beracun, santet atau tenung yang hampir rata-rata dimiliki semua puak suku Dayak, atau religi Kaharingan yang dianutnya, yang berbeda hanya bentuk dan caranya saja. Sebagai contoh puak suku Dayak Iban yang mahir berburu atau puak suku Dayak Meratus yang pandai membaca alam yang membuatnya pandai berladang adalah contoh dari keahlian dan cara bertahan hidup puak-puak suku Dayak. Sebenarnya suku Dayak mungkin terdiri dari ratusan puak suku. Maunati menyebutkan sebanarnya terdapat lebih kurang 450 sub

  81

  suku yang tersebar di seluruh pulau Kalimantan. Riwut menyebutkan orang Dayak terdiri dari dua belas suku, dan setiap sukunya terdiri dari tujuh sub suku, yakni:

  1. Gugus Ngaju, terdiri dari empat kelompok, yaitu:

  a. Ngaju

  b. Maayan

  c. Lawangan, dan 80 81 Marchues Afen, loc. cit.

  Ibid ., 60. d. Dusun.

  2. Gugus Apo Kayan terdiri dari tiga kelompok, yaitu:

  a. Kenyah

  b. Kayan, dan c. Bahau.

  4. Gugus Iban Klemantan yang terdiri dari dua kelompok, yaitu:

  a. Klementan, dan b. Ketungan.

  5. Gugus Murut terdiri dari tiga kelompok, yaitu:

  a. Idaan/ Dusun

  b. Tidung, dan c. Murut.

  6. Gugus Punan terdiri dari tiga kelompok, yaitu:

  a. Basap

  b. Punan, dan c. Ot.

82 Dalam tiap-tiap kelompok masih terdapat sub-sub suku lagi, seperti pada kelompok

  7. Gugus Ot Danum

  Kenyah yang mempunyai 24 sub suku dan Bahau yang memiliki 26 sub suku. Jumlah Totalnya dalam bukunya, Riwut menyebutkan “ suku Dayak di kalimantan terbagi dalam tujuh suku dan 405 sub suku”.

  83

  82 Tjilik Riwut Snaman Mantikei, Maneser Patanau Tatu Hiang: Menyelami Kekayaan

Leluhur, penyunting Theresia Nila Ambun Triwati Suseno, (Palangkara Raya: Pusakalima,

2003), hlm. 484. 83 Ibid ., hlm 488.

  Beberapa peneliti menyebut dan mengelompokkan puak-puak suku Dayak dengan dasar-dasar tertentu. Misalnya oleh W. Stohr mengelompokkan puak-puak suku Dayak berdasarkan ritus kematian. Sedangkan A. H. Hudson mengelompokkan puak- puak suku Dayak dengan melihat segi bahasa yang digunakan.

  H. J. Malinckrodt, yang mengatakan bahwa sebenarnya suku Dayak bukanlah suku yang tunggal, melainkan terdiri atas beberasa suku bangsa yang dikelompokkan menjadi enam kelompok besar, yakni: 1. Suku Dayak Kenyah, Kayan, Bahau yang mendiami kawasan Kalimantan Timur.

  2. Suku Dayak Ot Danum yang mendiami kawasan Kalimantan Tengah 3. Suku Dayak Klemantan yang mendiami kawasan Kalimantan Barat.

  4. Suku Dayak Iban yang mendiami kawasan Malaysia Timur dan Sarawak

  5. Suku Dayak Murut yang mendiami kaasan Malaysia Timur dan di Kalimantan Timur sebelah Utara.

  6. Suku Dayak Punan atau suku-suku pengembara yang mendiami kawasan-kawasan di pedalaman Pulau Kalimantan.

  Malinckrodt mengelompokkan puak-puak suku Dayak berdasarkan hukum adat.

  Tokoh lain yang membuat pengelompokkan suku-suku Dayak adalah Ch. F. H. Duman. Duman mengelompokkan suku-suku Dayak menjadi tujuh suku induk, yakni:

  1. Suku Dayak Ngaju, yang terdiri dari:

  a. Suku Dayak Ngaju dengan 53 suku kecil

  b. Suku Dayak Maayan dengan 7 suku kecil

  c. Suku Dayak Lawangan dengan 31 suku kecil d. Suku Dayak Dusun dengan 8 suku kecil.

  2. Suku Dayak Apu Kayan, yang terdiri dari:

  a. Suku Dayak Kenyah dengan 24 suku kecil b. Suku Dayak Kayan dengan 10 suku kecil c. Suku Dayak Bakau, dengan 26 suku kecil.

  3. Suku Dayak Iban, yang terdiri dari 11 suku kecil.

  4. Suku Dayak Kelemantan, yang terdiri dari:

  a. Suku Dayak Darat dengan 47 suku kecil b. Suku Dayak Ketunggu dengan 39 suku kecil.

  5. Suku Dayal Murut, yang terdiri dari:

  a. Suku Dayak Murut dengan 20 suku kecil

  b. Suku Dayak Idaan/Dusun dengan 6 suku kecil c. Suku Dayak Tidung 10 suku kecil.

  6. Suku Dayak Punan yang terdiri dari:

  a. Suku Dayak Basap dengan 20 suku kecil

  b. Suku Dayak At dengan 24 suku kecil c. Suku Dayak Bukat.

  7. Suku Dayak Ot Danum dengan 66 suku kecil.

  84 Terdapat pula anggapan bahwa penduduk asli pulau Kalimantan hanya terdiri

  atas dua suku induk, yakni suku Dayak dan Punan. Pendapat ini sepertinya didasarkan pada cara bertahan hidup mereka. Suku Dayak mempunyai mata pencaharian dengan cara menanam padi atau bertani dan Punan adalah penyebutan kolektif untuk sejumlah kelompok penduduk yang bermata pencaharian berburu dan meramu serta menangkap ikan di sungai dan danau atau rawa.

  85

  84 Paulus Florus, dan John Bamba, op. cit., hlm. 104-105. 85 Ibid ., hlm. 123.

  Peneliti lain yang juga mengumpulkan pendapat-pendapat dari peneliti lain adalah Mickhael Dove. Dove mengelompokan suku Dayak berdasarkan budaya, bahasa, dan geografis yang terbagi atas tiga kelompok besar, yakni: 1. Kelompok Utara, termasuk suku Dayak Dusun dan suku Dayak Murut.

  2. Kelompok Selatan, termasuk suku Dayak Ngaju, Dayak Iban dan Dayak Kayang.

  3. Kelompok Tengah, termasuk Dayak Kenyah, Dayak Kayan, Dayak Kayang, serta

86 Dayak Iban.

  Paulus Florus yang telah menelaah hasil penghitungan jumlah puak-puak suku Dayak para peneliti (antara lain Tjilik Riwut, Donatus Dunselman, Muller, Malinckrodt, W. Stohr, Viktor King, William Schneider, Benedist Sanadin, Mikhail Commans) mengambil kesimpulan bahwa perbedaan jumlah yang terjadi karena di kalangan peneliti tidak mengadakan musyawarah untuk mufakat menentukan jumlah puak-puak suku Dayak tersebut dan keadaan semakin rumit ketika tokoh-tokoh tersebut kemudian sudah almarhum. Dalam hal ini dia mengambil angka tengah walaupun

  87 masih belum pasti yakni, puak-puak suku Dayak berjumlah sekitar 350-an.

  Beberapa penyebutan tentang puak-puak suku Dayak juga sangat beragam di luar Indonesia. Seperti yang dimuat dalam situs asing di internet seperti pada table berikut ini:

  Tabel 11. Beberapa penyebutan Puak Suku Dayak

  

Nama Suku Daerah yang Didiami Nama Suku Daerah yang Didiami

Alabio Banjarmasin Dayak Balangan Kalimantan

Aoeng Hulu sungai Mahakam Bidayuh Kalimantan Barat dan

86 87 Ibid ., hlm. 123-124.

  P. Florus, “Jurus Antropolog Profesional”, dalam majalah Kalimantan Review, nomer 7 tahun 3 April-Juni 1994, hlm. 45-46.

  Sarawak (Malaysia) Bajau Kalimantan Utara (Malaysia) Bisaya Kalimantan Utara

  (Malaysia) Bakumpai Kalimantan Tengah Bosang Kalimantan Balian Kalimantan Selatan Bulusu Kalimantan Timur Banjarese Kalimantan Selatan Dayak Bahau Kalimantan Basap Kutai (Kalimantan Timur)

  Benuaq Kutai (Kalimantn Timur) Bawo Barito Selatan (Kalimantan Tengah)

  Dayak Dosan Sanggau (Kalimantan Barat) Bayan Barito Utara (Kalimantan Tengah)

  Gerai Simpang Hulu, Ketapang (Kalimantan Barat) Kedayan Pontianak dan Sambas

  (Kalimantan Barat) Dusun Kalimantan Utara (Malaysia dan Brunei Darussalam)

  Dayak Kayan Mekaam Kutai Barat (Kalimantan Barat)

  Dayak Modang Kutai Barat (Kalimantan Barat) Dayak Lara Kalimantan Melanau Kalimantan Dayak Meratus Kalimantan Selatan Idahan Murut Sarawak Malaysia Dayak Kanayatu

  Kalimantan Barat Kayan Kalimantan Tengah Dayak Selako Sarawak (Malaysia) Kenyah Kalimantan Tengah Dayak Uud Danum

  Sintang (Kalimantan Barat) Dayak Jalai Ketapang (Kalimantan Barat)

  Poonyaboong Kalimantan dan Malaysia Kelabatic Murut Malaysia Timur, Kalimantan Punan Kalimantan Tengah Kutaian Kalimantan Timur Runggus Sabah (Malaysia) Lawangan Kalimantan Tengah Tagal Murut Sabah (Murut) Lotud Sabah (Malaysia) Taman Kapuas Hulu

  (JKalimanatn Barat) Lun Bawang Sabah dan Sarawak (Malaysia) Tidong Kalimantan Timur Maanyan Kalimantan Tengah Dayak Sumber: http://www. kitlv.nl?subject=Bornean.

  Ada juga yang membawa dasar agama atau kepercayaan dalam penyebutan tentang suku Dayak. Penyebutan istilah Dayak secara kolektif merujuk kepada orang- orang non-muslim atau non-Melayu yang merupakan penduduk asli Kalimantan pada

  88

  umumnya. Nico Andasputra menuliskan: “Manusia Dayak, demikianlah biasanya sebutan untuk penduduk asli non muslim Kalimantan, merupakan prototipe manusia

  89

  terus tumbuh dan bergelut dengan kebudayaannya.” Di Kalimantan Timur terdapat istilah orang halo, yang artinya merujuk pada penduduk yang mendiami wilayah pesisir

  

90

  pantai yang sudah memluk agama Islam. Penyebutan dengan pendasaran di atas digunakan untuk kali pertama oleh seorang ilmuwan Belanda, Dr. August Kaderland

  91

  pada tahun 1895. Penyebutan dengan pendasaran seperti di atas muncul pada akhir abad ke-19, yakni pada masa pendudukan penguasa kolonial yang kemudian mengambil alih kedaulatan suku-suku yang tinggal di daerah-daerah pedalaman Kalimantan, setelah kerajaan-kerajaan lokal berhasil diambil kedaulatannya oleh Pemerintah kolonial Belanda.

  Jumlah puak suku Dayak yang sangat banyak dan beragam jangan dipahami sebagai sebuah perbedaan besar dalam kehidupan suku Dayak. Karena sesungguhnya mereka adalah satu rumpun kebudayaan. Nico Andasputera menyebutkan:

  Karena begitu banyaknya sub suku Dayak, sukar bagi kita untuk menunjukkan kesamaan budaya antara mereka. Hanya yang dapat disebutkan adalah beberapa perwujudan kesamaan budaya Dayak, yaitu kebudayaan material (fisik) seperti 88 89 Yekti Maunati, op. cit., hlm. 80.

  Nico Andasputra, “Manusia Dayak dan Konsep Pemikirannya”, dalam majalah Kalimantan Review, nomer 1 tahun I Januari-Juni 1992, hlm. 12. 90 91 Mikhail Coomans, op. cit., hlm. 2.

  Yekti Maunati, op. cit., hlm. 59. rumah panjang, anyaman, ukiran, tembikar, alat-alat senjata: mandau dan sumpit; dan kebudayaan spiritual seperti pesta gawai, sistem religi dan pandangan tentang asal-usul manusia. Pokok-pokok kesamaan kebudayaan

  92 Dayak ini memberikan jati diri dan identitas bagi manusia Dayak.

  Dengan berputarnya waktu, terjadi perkembangan pada puak-pauk suku Dayak tersebut dan melahirkan kelompok-kelompok baru. Seperti lahirnya suku Banjar dan orang Kutai. Suku Banjar menurut Riwut, Saleh, dan juga Salim adalah bentukan dari

  93 Dayak Maanyan, Lawangan, Dayak Meratus, dan Dayak Ngaju. Sedangkan Anna

  Lau. Tsing menyebutkan bahwa etnis Banjar sesungguhnya adalah pecahan atau

  94

  turunan dari suku-suku Dayak yang besar. Bahkan di kemudian hari ditemukan penamaan dengan sebutan Dayak Banjar, Dayak Loksado, Banjar Pahuluan, Banjar Batang Banyu dan Banjar kuala sebagai pecahan dari suku Dayak Meratus.

B. Puak Suku Dayak Meratus

1. Penyebutan Istilah Etimologi Suku Dayak Meratus

  Di pedalaman Propinsi Kalimantan Selatan yang beribu kota Banjarmasin, di hulu-hulu ratusan percabangan sungai di lembah-lembah perbukitannya, di bawah

  95

  rindangnya pohon-pohon hutan tropis, terdapat satu suku “terasing”, salahsatu puak suku Dayak, yakni suku Dayak Meratus atau juga biasa disebut suku Dayak Bukit.

  Sebenarnya terdapat pendapat-pendapat lain tentang penamaan puak atau sub suku Dayak ini, antara lain oleh Raymond Kennedy dalam kepustakaan tentang masyarakat 92 Nico Andasputra, “Pesta Budaya Dayak”, dalam majalah Kalimantan Review, nomer 2 tahun I Juli-Desember 1992, hlm. 37. 93 Moh. Soehadha, “Kolonisasi Agama Lokal: Peminggiran Agama Kaharingan Beserta

Masyarakat Pendukungnya di Loksado, Kalimantan Selatan.”, makalah, (Yogyakarta: Pusat

  

Kajian Dinamika Agama, Budaya dan Masyarakat PPS IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2003), hlm. 10. 94 Anna Lowenhaupt Tsing, Di Bawah Bayang-bayang Ratu Intan, (Jakarta: Yayasan Obor, 1998), hlm. 72. 95 Istilah “terasing” yang digunakan di sini bukan dengan maksud sindiran atau ejekan. dan kebudayaan Indonesia, dia menyebutkan bahwa penduduk yang mendiami Propinsi Kalimantan Selatan dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu Ngaju dan Melayu Pesisir. Penamaan oleh H. J. Malinnkrodt, kelompok Ngaju disebutnya sebagai Ot Danum. Tjilik Riwut berpendapat bahwa suku Dayak Meratus adalah suku kekeluargaan yang termasuk puak suku Dayak Ngaju, Dayak Ngaju sendiri merupakan

  96

  keturunan dari Dayak Ot danum. Sedangkan istilah Dayak Bukit/Orang Bukit seperti yang digunakan oleh Radam tadi dipopulerkan oleh seorang misionaris W. Grabowski melalui karyanya berjudul Die Orang Bukit Oder Bergmenschen Von Mindai (1885:

  97 782-786).

2. Sejarah Asal-mula Suku Dayak Meratus

  Kontroversi tentang suku Dayak Meratus tidak sekadar penyebutan istilah etomologinya saja, melainkan juga tentang identitas etnisnya juga. Ada yang menyebutkan suku Dayak Meratus adalah penduduk asli pulau Kalimantan (khususnya Propinsi Kalimantan Selatan) ada juga yang mengatakan bahwa suku Dayak Meratus awalnya adalah penduduk pendatang atau imigran dari daerah lain. Alasan-alasan yang dilontarkan sangat beragam dan saling mendukung argumen. Mulai dari segi bahasa yang suku Dayak gunakan hingga bukti-bukti artefak arkeologis yang ditemukan.

  Peneliti-peneliti yang menggunakan bahasa sebagai identifikasi identitas suku Dayak Meratus melihat adanya persamaan yang terdapat dalam bahasa suku Dayak Meratus dengan bahasa Banjar dengan bahasa Melayu. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat suku Dayak Meratus dinilai sebagai bentuk bahasa Banjar yang kuno atau bahasa Banjar purba (archaik). Bahasa ini juga biasa disebut sebagai bahasa Banjar 96 Anonim, “Suku Dayak Bukit”, dalam website http://id.wikipedia.org/wiki/ Suku_Dayak_Bukit. 97 Hairus Salim, op. cit. 6.

  Pahuluan. Sehingga wajar jika terdapat dugaan bahwa bahasa Banjar dengan bahasa yang digunakan masyarakat suku Dayak Meratus berasal dari rumpun yang satu.

  Beranjak dari sini peneliti mengambil kesimpulan bahwa ada kemungkinan besar suku Dayak Meratus dan juga suku Banjar berasal dari migrasi orang-orang Melayu yang awalnya berasal dari Pulau Sumatera. Alasan ini mejadi kuat ketika Selat Malaka pernah diserbu oleh armada perang dari Kerajaan Cola Mandala pada tahun 1025-1026, yang kemudian menyebabkan penduduk di sekitar Selat Malaka melakukan eksodus secara besar-besaran ke beberapa wilayah di Nusanatara, termasuk ke Pulau Kalimatan bagian Selatan.

  Pendapat ini terus diperkuat ketika wilayah Malaka berhasil direbut bangsa Portugis dan orang-orang Malaka kembali bermigrasi pada tahun 1511. Ada juga dugaan kalau kedatangan orang-orang Melayu dan juga mungkin orang-orang selain Melayu tiba di bumi Borneo secara bergelombang. Pada mulanya para pendatang awal menempati wilayah pesisir dan tidak jauh ke pedalaman. Kemudian ketika gelombang- gelombang berikutnya datang semakin banyak, akhirnya kelompok yang terdahulu terdesak dan berpindah jauh ke pedalaman ke hutan-hutan dan ke pegunungan di sebelah Utara atau di sekitar Pegunungan Meratus. Juga terdapat kemungkinan bahwa jalur yang imigran-imigran tempuh berbeda-beda. Dari sinilah terjadi pengelompokkan terdapat dua suku di kawasan Kalimantan Selatan. Pertama mereka yang berdiam di kawsasan pegunungan Meratus (kelompok awal) akhirnya menjadi suku Dayak Meratus. Kedua mereka yang tiunggal di sekitar pesisir dan kota-kota di sekitarnya (kelompok yang datang berikutnya) akhirnya menjadi suku Banjar. Melalui paparan di atas diketahui kalau penduduk yang mendiami daerah pantai Pulau Kalimantan termasuk dalam golongan Deutro Melayu. Sedangkan golongan Proto Melayu adalah penduduk yang mendiami daerah pedalaman Kalimantan, termasuk di daerah Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan.

  Pendapat lain juga menyebutkan bahwa perpindahan orang-orang di pesisir ke wilayah pedalaman dan Pegunungan Meratus dikarenakan penetrasi kedatangan Pemerintah kolonial Belanda di wilayah pesisir. Pendapat ini menunjukkan bahwa asal mula suku Dayak Meratus dan suku Banjar adalah satu dan lebih cenderung mengarah ke Melayu (dari pulau Sumatera).

  Skeptisme tentang terpisahnya mata rantai nenek moyang suku Dayak Meratus (dan suku Banjar) dengan suku Dayak pada umumnya karena adanya anggapan suku Dayak Meratus beberapa tidak memiliki hubungan signifikan dengan suku Dayak, geneologis dan juga budaya. pendapat ini dinilai terlalu cepat memvonis. Padahal masih banyak hal yang harus dipertimbangkan, seperti aspek religi, bentuk tempat tinggal, dan unsur-unsur lainnya pada suku Dayak juga terdapat pada suku Dayak Meratus. Kebanyakan masyarakat adat suku Dayak Meratus tidak menerima pendapat ini, karena cenderung melecehkan originalitas eksistensi mereka atas penduduk asli bumi Borneo. Pendapat ini juga mengabaikan teori sebelumnya yang mengatakan pernah terjadi migrasi besar besaran dari daratan Asia Selatan (Propinsi Yunnan, Tiongkok) ke pulau-pulau di sebelah Selatannya, termasuk Pulau Kalimantan.

  Di sisi lain masyarakat adat suku Dayak Meratus tetap yakin bahwa mereka adalah (termasuk) manusia asli Pulau Kalimantan. Alasan mereka didasar pada beberapa bukti-bukti atau jejak-jejak peninggalan leluhur mereka dahulu, seperti kapak perimbas sebagai artefak arkeologis yang ditemukan di daerah mereka (Riam Kanan) [telah dijelaskan pada bagian sebelumnya.

  

3. Jumlah Populasi Masyarakat Adat Suku Dayak Meratus dan Wilayah-wilayah

yang Mereka Diami

  Jumlah masyarakat adat suku Dayak Meratus di Kalimantan Selatan secara tepat memang tidak diketahui. Karena pendataan akan sangat sukar dilakukan pada wilayah yang terpisah-pisah bahkan ada daerah yang belum di ketahui letaknya. Namun data- data berdasarkan sensus dan hasil beberapa penelitian dapat memberikan informasi mengenai jumlah populasi masyarakat adat suku Dayak Meratus.

  Populasi suku Dayak Meratus di Kalimantan mencapai 50.000 jiwa lebih dan sekitar 35.838 jiwa diantaranya berdiam di Propinsi Kalimantan Selatan. Di Kabupaten

  98 Barito Kuala terdapat sekitar 14.508 jiwa masyarakat adat suku Dayak Meratus.

  Berikut adalah profil demografi dan topografi Propinsi Kalimantan Selatan: Tabel 12. Profil Demografi dan Topografi Propinsi Kalimantan Selatan. o o

  

Letak Antara garis 114 19’ dan 116 33’ Bujur Timur serta

o o garis 1 21’ dan 4 10’ Lintang Selatan.

  Sekitar 37.000 kilometer Persegi.

  Luas Perbatasan Sebelah Timur : Selat Makasar.

  Sebelah Utara: Propinsi Kalimantan Timur.

Sebelah Selatan : Laut Jawa.

Sebelah Barat : Kalimantan Tengah. Dalam setahun rata-rata 2.000 sampai 2.750 mm.

  Curah Hujan

Suhu Pada musim kemarau yang biasa berlangsung antara

bulan April hingga bulan Oktober temperatur udara o biasanya sekitar 34 Celsius dan pada musim hujan yang biasa berlangsung antara bulan November hingga bulan o 99 Maret temperatur udaranya sekitar 18 Celsius.

  Di Propinsi Kalimantan Selatan di mana terdapat Pegunungan Meratus tempat populasi suku Dayak Meratus, merupakan daerah yang bergunung-gunung dengan 98 99 Anonim, loc. cit., “Suku Dayak Bukit”.

  Noerid Haloei Radam, op.cit, hlm. 65-67. hutan tropis yang lebat. Hutan tersebut adalah hutan lindung dan juga terdapat hutan produksi yang luas semuanya sekitar 21.000 kilometer persegi. Radam menuliskan: Di sebelah Barat Pegunugan Meratus terhampar daratan aluvial seluas lebih kurang 2.000 kilometer persegi. Sepanjang sungai Barito terdapat rawa monoton seluas lebih kurang 5.000 kilometer persegi, daerah berdanau-danau luas lebih kurang 1.000 kilometer persegi. Selain daratan aluvial, rawa-rawa monoton dan daerah yang berdanau-danau, terdapat juga daerah yang berpadang alang-alang seluas lebih kurang 6.000 kilomenter persegi yag menempati wilayah yang berbukit-bukit

  100 baik di sepanjang Barat maupun Timur pegunungan tersebut.

  Banyak orang-orang menyebut pulau Kalimantan umumnya dan Kalimantan Selatan adalah kota seribu sungai, karena terdapat banyak sekali percabangan anak sungai. Sungai yang utama yang terdapat di Propinsi Kalimantan Selatan adalah sungai Martapura dan sungai Nagara, mereka adalah anak sungai Barito. Cabang-cabang sungai tersebut antara lain sungai Pitap, sungai Batang Alai, sungai Amandit, sungai Tapin dan masih banyak lagi percabangan sungai lainnya. Cabang-cabang sungai tersebut masih mempunyai cabang sungai atau anak sungai lagi.

  Di sinilah wilayah tempat tinggal masyarakat adat suku Dayak Meratus. Wilayah yang didiami oleh masyarakat adat suku Dayak Meratus antara lain meliputi Awayan, Batang Alai, Batu Benawa, Balangan, Hulu Sungai Tengah (HST), Banjar, Tanah Laut, Tanah Bumbu, Kota Baru, Padang Batung, Tapin Atas, Belimbang, Sampanahan, Kalumpang Hulu, Loksado, dan beberapa wilayah lain.

  Dalam puak suku Dayak Meratus masih terdapat lagi sub-sub suku, yakni antara lain:

  1. Dayak Pitap. Dayak Pitap mendiami hulu-hulu sungai Pitap, Kecamatan Awayan, Kabupaten Balangan. 100 Ibid ., hlm. 66.

  2. Dayak Hantakan Dayak Hantakan berdiam di Kecamatan Batu Banawa, Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

  3. Dayak Loksado Dayak Loksado sesuai namanya mendiami Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (Kandangan).

  4. Dayak Piani Dayak Piani berdiam di Kecamatan Piani, Kabupaten Tapin (Rantau).

  5. Dayak Bajuin Dayak Bajuin berdiam di Kabupaten Tanah Laut.

  6. Dayak Bangkalan 101 Dayak Bangkalan berdiam di Kabupaten Kota Baru.

  Data terakhir yang ditemukan tentang jumlah populasi suku Dayak Meratus di beberapa wilayah di Kalimantan Selatan adalah sebagai berikut:

  1. Di Kabupaten Tanah Laut terdapat 585 jiwa suku Dayak Meratus.

  2. Di Kabupaten Kota Baru dan Tanah Bumbu terdapat 14.508 jiwa suku Dayak Meratus.

  3. Di Kabupaten Banjar terdapat 1.737 jiwa suku Dayak Meratus.

  4. Di Kabupaten Barito Kuala terdapat 836 jiwa suku Dayak Meratus.

  5. Di Kabupaten Tapin terdapat 112 jiwa suku Dayak Meratus.

  6. Di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), termasuk Kecamatan Loksado terdapat 3778 jiwa suku Dayak Meratus.

  7. Di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) terdapat 3368 jiwa suku Dayak Meratus.

  101 Anonim, loc. cit., “Suku Dayak Bukit”.

  8. Di Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Balangan terdapat 244 jiwa suku Dayak Meratus.

  9. Di Kabupaten Tabalong terdapat 1106 jiwa suku Dayak Meratus.

  10. Di kota Banjarmasin terdapat 7836 jiwa suku Dayak Meratus.

  102 11. Di kota Banjar Baru terdapat 1728 jiwa suku Dayak Meratus.

  Perkampungan-perkampungan yang didiami masyarakat adat suku Dayak Meratus itu meliputi: Pitap dengan anak-anak kampung Ajung, Langkap, Iyam, Kambiain, Hungil dan Hanai; Pambakulan dengan anak kampung Sarang Halang, Mindai, Miriringan, Mahau, Tandawah, Batu Parahu, Banyu Panas, Atiran; Hinas Kiri dengan anak kampung Batu Kambar, Kiyu, Datar Alai dan Juhu; Hinas Kanan dengan anak-anak kampung Apurung, Mangkiling, dan Datar Ajap; Haruyan Dayak dengan anak-anak kampung Datar Palat, Kampung Hanyar, Mabaras, Biyang, Tambui, Kundan, Papagaran, Kumuh, dan Macatur; Loksado dengan anak-anak kampung Kampung Ulang, Malaris, Haratai dan Pantai Harapan; Balawayan dengan anak-anak kampung Pamuakan, Talaga Darah, dan Talaga Hirang; Sampanahan dengan anak-anak kampung Hariang, Batu Sabigi, Panjang dan Uriih; Paramasan Dua Kali Sanga dengan anak-anak kampung Hariung, Lilikau dan Haung; Paramasan Lokbasar dengan anak-

  103 anak kampung Lahanin, Hananai, dan Baruh Angin.

  Jumlah populasi masyarakat adat suku Dayak Meratus di beberapa desa adalah sebagai berikut:

  1. Di desa Pambakulan di kawasan Hulu Batang Alai berjumlah 2.004 jiwa.

  2. Di desa Hinas iri di kawasan Hulu Batang Alai berjumlah 658 jiwa.

  3. Di desa Hinas Kanan di kawasan Hulu Sungai Labuhan Amas berjumlah 750 jiwa. 102 103 Ibid ., Noerid Haloei Radam, op. cit., hlm. 71.

  4. Di desa Haruyan Dayak di kawasan Hulu Sungai Labuhan Amas berjumlah 1.046 jiwa.

  5. Di desa Pancur Bungur di kawasan Hulu Sungai Labuhan Amas berjumlah 1.004 jiwa.

  6. Di desa Hamak di kawasan Huku Sungai Hamandit berjumlah 387 jiwa.

  7. Di desa Loksado di kawsan Hulu Sungai Hamandit berjumlah 2.515 jiwa.

  8. Di desa Dayak Pitap, di kawasan Hulu Sungai Pitap berjumlah 1.082 jiwa.

  9. Di desa Macabung di kawasan Hulu Sungai Tapin berjumlah 311 jiwa.

  10. Di desa Riam Talu di kawasan Hulu Sungai Tanah Laut berjumlah sekitar 314

  104 jiwa.

  Mayarakat adat suku Dayak Meratus di Kecamatan Loksado mendiami daerah- daerah sarat hutan-hutan lindung, lembah dan jurang, serta aliran-aliran hulu sungai Amandit di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan. Di kawasan rindang hijau dedaunan dan jernihnya air sungai inilah mereka berdiam. Meskipun sudah tidak dapat dipungkiri lagi wilayah tersebut sudah banyak yang rusak. Di Kecamatan Loksado adalah wilayah populasi komunitas Mayarakat adat suku Dayak Meratus yang cukup besar dan masih memegang teguh nilai-nilai budaya leluhur mereka (menganut religi Kaharingan). Loksado adalah salahsatu Kecamatan dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) yang beribu kota Kandangan di Propinsi Kalimantan Selatan. Luasnya sekitar 338,89 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 7.254 dan kepadatan

  

105

  penduduk 21 jiwa per kiolometer persegi. Dalam wilayah Kecamatan Loksado masih terdapat beberapa kampung/desa yang letaknya tersebar di lembah-lembah 104 105 Noerid Haloei Radam, op. cit., hlm 108-109.

  Amir Sodikin, “Melihat Dayak Meratus dan Merindukannya”, dalam surat kabar Kompas , Sabtu, 28 Juni 2003 hlm. 31. pegunuangan Meratus itu. Antara lain Kadayang, Malaris, Lok Lahung, Malinau,

  106 Tumingki, Muara Ulang, dan Haratai.

  Peta Kalimatan Selatan dan Wilayah Masyarakat Adat suku Dayak Meratus

  Sumber: Religi Urang Bukit: Suatu Lukisan Struktur dan Fungsi dalam Kehidupan

Sosial-Ekonomi , Noerid Haloei Radam.

5. Rumah Komunal Balai Adat

  Masyarakat adat suku Dayak Meratus mempunyai ciri-ciri yang khas. Salah satunya adalah mereka tinggal di rumah-rumah besar/panjang yang mereka sebut sebagai rumah balai. Mereka juga biasa menyebutnya dengan balai adat. Balai 106

  Di Kecamatan Loksado terdapat sekitar 297 balai (besar dan kecil), tetapi tidak

semuanya tercantum di pendataan Pemerintah daerah (Kecamatan Loksado), begitu juga dengan data penduduk penghuninya. merupakan rumah adat masyarakat suku Dayak Meratus. Balai-balai kebanyakan masih terdapat di daerah-daerah pedalaman. Rumah balai adat dibangun selain tempat tinggal komunal juga berfungsi sebagai tempat belajar atau pembinaan anak-anak suku Mayak Meratus dan tempat dilangsungkannya beberapa upacara adat ritual keagamaan.

  Rumah komunal/bersama (balai) ini dihuni oleh satu keluarga besar yang terdiri atas 10-30 orang yang biasanya terdiri dari lima sampai sembilan keluarga kecil.

  Jadi dalam satu bangunan rumah balai adat terdapat beberapa kepala keluarga. Tiap- tiap keluarga memiliki dapurnya sendiri-sendiri. Dapur ini mereka sebut umbun.

  Umbun juga merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu

  keluarga batih, yakni sepasang suami isteri dengan satu anak atau lebih yang masih belum kawin. Dalam satu bangun balai adat bisa mencapai tiga puluh lima umbun, tetapi kebanyakan hanya sekitar 15 sampai 30 umbun. Jadi jumlah keluarga batih dalam satu rumah balai adat dapat dilihat dari jumlah umbun (dapurnya) Namun juga ada

  

balai adat yang hanya dihuni oleh sedikit umbun bahkan hanya satu umbun saja.

  Kumpulan umbun kemudian disebut sebagai bubuhan.

  Berikut beberapa contoh nama-nama balai adat yang terdapat di perkampungan masyarakat adat suku Dayak Meratus dengan jumlah umbunnya masing-masing. Pada

  

balai adat Mandai, balai adat Mangkaun, dan balai adat Juhu hanya terdapat masing-

  masing satu umbun saja; pada balai adat Tandawah terdapat dua umbun; pada balai

  

adat Kumuh dan balai adat Macatur masing-masing mempunyai tiga umbun; balai

adat Papagaran dihuni oleh empat umbun; pada balai adat Kundan, balai adat Banyu

  panas, batu parahu, dan balai adat Muhu masing-masing terdapat lima umbun; pada

  107 balai adat Tambui terdapat 11 umbun; dan pada balai adat Kitu terdapat 12 umbun 107 Noerid Haloei Radam, op. cit., hlm. 111dan 115. Makna bubuhan tidak saja merupakan gabungan dari beberapa buah umbun atau keluarga batih tetapi maknanya lebih luas. Bubuhan juga menunjuk kepada kelompok yang terikat pada suatu peraturan adat-istiadat yang ada pada suatu wilayah tertentu. Jadi dalam satu kelompok bubuhan tidak saja terdapat sekumpulan umbun-

  

umbun /keluarga batih dari rantai keturunan keluarga yang dekat atau sama tetapi juga

bisa dari orang-orang yang mengingkrarkan dirinya masuk ke dalam bubuhan tersebut.

  Jika dalam satu bubuhan terdapat sekumpulan umbun-umbun yang memiliki pertalian darah (keluarga batih) atau keluarga dekat, maka bubuhan tersebut mereka sebut dengan tundun. Di masa sekarang ini istilah bubuhan juga ditujukan pada suatu kelompok, misalnya kelompok dari daerah tertentu. Contohnya kelompok orang dari Jawa, maka akan disebut bubuhan Jawa

  Rumah komunal balai adat juga merupakan tempat di mana dilaksanakan upacara ritual tertentu. Jadi rumah balai adat juga berfungsi sebagai tempat ibadahnya masyarakat adat suku Dayak Meratus. Biasanya di tengah-tengah rumah balai adat terdapat semacam altar dan tempat meletakkan sesajen. Di altar ini mereka meletakkan peralatan-peralatan upacara adat, seperti lalaya. Di dalam rumah balai adat di bagian kiri dan kanannya terdapat kamar-kamar yang tiap kamar ditempati oleh satu keluarga, tetapi ada juga kamar yang masih kosong, biasanya kamar kosong disediakan buat tamu atau saudara yang menginap di rumah balai adat. Misalnya ada sanak saudara yang mengunjungi atau kemalaman diperjalanan. Ukuran kamar dalam rumah balai adat cukup bervariasi, ada yang berukuran 3 meter persegi ada juga yang berukuran lebih besar berukuran 5 meter persegi. Di dalam rumah balai adat terdapat ruang kosong yang terbuka. Ruang kosong ini diperuntukkan bagi para lelaki perjaka yang belum kawin. Sedangkan dalam kamar-kamar ditinggali oleh satu keluarga kecil (satu batih), ayah dan ibu dan anak-anak mereka yang masih kecil serta anak gadis tetapi belum bersuami.

  Rumah balai adat masyarakat adat suku Dayak Meratus berukuran sekitar 500 meter persegi. Rumah balai adat masyarakat adat suku Dayak Meratus biasanya berdimensi panjang sekitar 30 sampai 35 meter dan lebar sekitar 15 sampai 20 meter. Rumah balai adat umumnya terbuat dari kayu dan atau bambu. Kebanyakan dinding Rumah balai adat terbuat dari potongan bambu yang dijejerkan sehingga membentuk dinding rumah. Dapat dimaklumi karena alam suku Dayak Meratus sangat kaya akan pohon bambu. Masyarakat suku Dayak Meratus lazim menyebut bambu dengan paring dan haur. Atap rumah balai adat umumnya terbuat dari sirap atau potongan kayu yang belah tipis kecil-kecil dan ada juga yang terbuat dari daun rumbia (biasanya buat dapur). Lantai rumah balai adat terbuat dari papan dari jenis kayu lanan atau ulin yang kuat. Tetapi ada juga yang terbuat dari paring atau haur (bambu). Selain dari bahan bambu atau haur dan kayu lanan ada juga yang terbuat dari kulit kayu damar. Ini biasanya bagi balai adat yang lumayan mewah.

  Rumah balai adat yang dibangun agak tinggi dari permukaan tanah dan memiliki rongga yang cukup besar di bagian bawahnya digunakan mereka sebagai kandang ternak mereka. Masyarakat adat suku Dayak Meratus biasanya beternak babi, ada juga yang memlihara kambing dan sapi serta ayam. Masyarakat adat suku Dayak Meratus biasa menyebut ternak dengan sebutan gaduhan. Jadi untuk memasuki balai

  

adat harus ada tangga. Tangga untuk menaiki rumah balai adat terdapat pada bagian

  depan dan belakangnya. Tangga tersebut mempunyai anak tangga yang tidak terlalu banyak karena tangga tersebut tidaklah terlalu tinggi, biasanya 7 sampai 12 anak tangga. Beberapa tangga rumah balai adat ada yang bisa diulur dan dingkat tetapi ada juga yang memang sudah statis menempel dari bagian atas balai ke tanah. Bagi tangga rumah balai adat yang bisa dingkat dan diulur, tangga akan dinaikkan ketika malam hari saat aktivitas orang-orang suku Dayak Meratus tidak lagi di luar rumah balai adat atau ketika menjelang tidur malam dan tangga akan diturunkan kembali ketika menjelang pagi.

  Rumah balai adat yang dibangun tinggi juga bertujuan untuk melindungi mereka dari gangguan binatang buas dan berbisa. Terlebih di masa peperangan antar suku rumah balai adat menjadi tempat perlindungan yang efekltif untuk melindungi anak-anak dan perempuan suku Dayak Meratus.

  Rumah balai adat masyarakat adat suku Dayak Meratus mempunyai dua tiang utama untuk menyangga bangunan tersebut. Tiang tersebut tertancap ke tanah dan di bagian atasnya memegang ujung bubungan atap balai. Tiang tersebut berada pada bagian depan balai dan bagian belakang balai. Tiang uatama pada bagian depan balai mereka sebut dengan tihang lalakian sedangkan tiang utama pada bagian belakang mereka sebut dengan tihang bibinian. Kedua tiang ini disebut sebagai tihang guru

  balai.

  Hewan peliharaan seperti anjing, babi, dan ayam banyak berkeliaran di sekeliling rumah balai adat, mereka dibiarkan dilepas untuk mencari makanannya sendiri. Di sekitar rumah balai adat biasanya terdapat bidang tanah lapang menyerupai lapangan kecil. Bidang tanah lapang ini mereka sebut dengan palataran. Fungsi dari

  

palataran adalah untuk menjemur padi setelah musim panen. Bidang tanah ini biasanya

  terdapat di bagian depan atau belakang rumah balai adat. Fungsi palataraan selain untuk menjemur padi, juga untuk tempat dilaksanakannya upacara-upacara adat.

  Biasanya dipilih palataran yang agak luas, agar bisa menampung banyak orang. Di beberapa palataran rumah balai adat terdapat tempat untuk meletakkan benda-benda keramat. Benda-benda keramat ini biasa mereka sebut dengan sangga. Oleh karena itu

  

palataran ini juga mereka sebut dengan palataran panyangga atau palataran sasangga.

Sangga dipercaya mereka dapat memberi berkah terhadap rumah balai adat beserta

  3 Bubuhan Juhu Alai Keturunan Saudara laki-laki paling tua

  Rumah Meratus dan Hulu

  7 Bubuhan Langkap Pitap Teritorial Orang yang dituakan

  Rumah Banjar Hulu

  6 Bubuhan Kirawang Alai Teritorial Orang yang dituakan

  Balai dan rumah Meratus dan Banjar Hulu

  5 Bubuhan Atiran Alai Keturunan Orang yang dituakan

  4 Bubuhan Namang Hapunti Alai Teritorial Orang yang dituakan Balai dan rumah Meratus dan Banjar Hulu

  Balai dan pondok diladang Meratus

  Meratus

  penghuninya dan juga orang-orang sekitarnya, dan melindungi dari gangguan-ganguan mahkluk halus jahat.

  2 Bubuhan Datar Alai Alai Keturunan Saudara laki-laki paling tua Balai dan pondok di ladang

  Balai dan rumah Meratus

  1 Bubuhan Kiyu Alai Keturunan Saudara laki-laki paling tua

  No. Bubuhan Wilayah Faktor Pembentuk Tutuha Tempat Tinggal Etnis

  Tabel 13. Bubuhan, Wilayah, Faktor Pembentuk, Tutuha, Tempat Tinggal dan Etnis.

  masyaralat adat suku Dayak Meratus sangat dihormati dan disegani. Itu karena beliau dalam kehidupan religius mereka bertindak sebagai tokoh religius. Tutuha biasanya juga seorang dukun kampung dan juga seorang balian. Pada awalnya tutuha harus mempunyai pertalian darah dengan tutuhan sebelumnya, tetapi sekarang tutuha harus mempunyai kriteria-kriteria khusus dan lebih sering untuk mempunyai ke dua syarat di atas. Berikut adalah tabel mengenai tutuha pada beberapa bubuhan beserta asalnya.

  

balai adat yang nantinya juga sebagai pemimpin sebuah bubuhan. Tutuha dalam

  Dalam satu rumah balai adat terdapat seorang tutuha yang memimpin sebuah

8 Bubuhan Pitap Teritorial Orang yang Rumah Meratus

  

Iyam dituakan dan

Banjar Hulu

  16 Bubuhan Papangka an Hamandi t Keturunan Saudara laki-laki paling tua Balai Meratus

  

Kehidupan Sosial-Ekonomi, Noerid Haloei Radam dan disesuaikan dengan penelitian

lapangan.

  Sumber: Religi Urang Bukit: Suatu Lukisan Struktur dan Fungsi dalam

  Teritorial Orang yang dituakan Rumah Banjar Hulu

  20 Bubuhan Niih Hamandi t

  Banjar Hulu

  Teritorial Orang yang dituakan Rumah Meratus dan

  19 Bubuhan Loksado Hamandi t

  18 Bubuhan Madama ng Hamandi t Keturunan Orang tua Balai Meratus

  Keturunan Saudara laki-laki paling tua Balai Meratus

  17 Bubuhan Malaris Hamandi t

  15 Bubuhan Pitukuma n Hamandi t Keturunan Orang tua Balai Meratus

  9 Bubuhan Ajung Pitap Keturunan Orang tua Balai Meratus

  Amas

Teritorial Orang yang

dituakan Rumah Meratus dan Banjar Hulu

  14 Bubuhan Kampung Hanyar Labuhan

  Keturunan Orang tua Balai Meratus

  13 Bubuhan Mabaras Labuhan Amas

  Meratus

  Keturunan Saudara laki-laki paling tua Balai dan rumah

  12 Bubuhan Miulan Labuhan Amas

  Amas Keturunan Saudara laki-laki paling tua Balai Meratus

  11 Bubuhan Mangkili ng Labuhan

  Balai Meratus

  10 Bubuhan Kambiain Pitap Keturunan Saudara laki-laki paling tua

  Rumah balai adat Kacang Parang terletak di desa Muara Ulang, pedalaman Kecamatan Loksado. Rumah balai adat Kacang Parang terletak di tempat yang cukup terpencil. Rumah balai adat Kacang Parang ditinggali oleh ketua RT desa Muara Ulang beserta keluarganya. Jalan menuju ke sana hanya bisa dengan motor, itu pun susah, biasanya bahkan hanya dengan berjalan kaki saja. Rumah balai adat Kacang Parang berada di antara hutan yang lebat di sekelilingnya dan gemericik arus sungai deras di sepanjang jalan desa itu. Sungai ini mereka beri nama sungai Panglayut. Sungai yang sering digunakan anak-anak masyarakat adat suku Dayak Meratus bacambua. Di sungai inilah masyarakat suku Dayak Meratus melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan air seperti mandi, buang air, mencuci, maunjun, malunta, maraba,

  

mahancau, malukah, maringgi, dan lain-lain. Di desa ini belum ada listrik, jadi kalau

  malam tiba titik-titik cahanya hanya bersumber dari lampu-lampu semprong, obor, lampu minyak, dan ada beberapa lilin.

  Inilah salah satu contoh rumah balai adat pada masyarakat adat suku Dayak Meratus yang menggambarkan nilai-nilai kebersamaan dan gotong-royong dalam sesama.

6. Mata Pencaharian Masyarakat Adat Suku Dayak Meratus.

  Pada masa klasik atau awalnya mata pencaharian untuk menopang hidup mereka (masyarakat adat suku Dayak Meratus) adalah meramu, berburu, dan bercocok

  108

  tanam. Ini adalah model dari sebuah bertahan hidup yang sederhana, yakni memanfaatkan keadaan alam sekitar, seperti yang juga terdapat pada kebudayaan purba di beberapa daerah lain. Sekarang ini bercocok tanam dengan berladang dan bertani adalah kegiatan ekonomi yang menonjol pada masa pencaharian masyarakat adat suku Dayak Meratus. Model yang mereka gunakan adalah ladang berpindah-pindah. Dalam disiplin ilmu antropologi ladang berpindah-pindah diistilahkan dengan shifting

  

cultivation atau slash and burn agriculture atau swidden agriculture, yang oleh

  Koentjaraningrat akan meliputi empat unsur pokok dalam cara bercocok tanam tersebut, yaitu:

  1. Membersihkan lahan, biasanya dengan cara menebang atau membakarnya. 108 Hairus Salim, op. cit. hlm. 9.

  2. Lahan tersebut ditanami satu kali atau paling banyak tiga kali tanam.

  3. Lahan yang sudah tidak digunakan akan dibiarkan sampai beberapa tahun, biasanya 10 sampai 15 tahun, hingga kemudian menjadi hutan kembali.

  4. Setelah mengalami fase ketiga di atas, lahan tersebut akan ditanami kembali.

  109

  Masyarakat adat suku Dayak Meratus menyebut kegiatan ekonomi ini dengan

  

huma atau bahuma yang kemudian di literatur Dayak disebut dengan kebudayaan

huma . Pada masyarakat adat suku Dayak Meratus bahuma memuat tahapan-tahapan

  sebagai berikut:

  1. Membersihkan belukar bawah dengan menggunakan parang. Belukar bawah maksudnya adalah termasuk rumput-rumput yang tidak terlalu besar atau tinggi, seperti ilalang dan rumput-rumput lainnya. Tahapan ini bisa dilakukan oleh kaum wanita ataupun kaum laki-laki.

  2. Setelah belukar bawah (tahap 1) sudah dibersihkan, maka langkah selanjutnya adalah menebang pohon-pohon yang relatif besar dengan menggunakan kampak atau bilayung. Tahapan ini biasa dilakukan oleh kaum laki-laki.

  3. Membakar daun atau ranting sisa-sisa pembersihan dan penebangan tadi (tahap 1 dan 2). Tahapan ini biasa dilakukan oleh akaum laki-laki.

  4. Membuat pagar dan gubuk di lahan yang sudah ditentukan batas-batas dan luasnya tertsebut. Tahapan ini juga biasa dilakukan oleh kaum laki-laki.

  5. Menyiapkan lahan untuk ditanami. Tahapan ini bisa berupa membersihkan sisa-sisa dedaunan atau ranting-ranting yang masih tertinggal di lahan. Tahapan ini biasa dilakukan oleh kaum wanita dan kaum lelaki.

  109 Noerid Haloei Radam, op. cit., hlm. 145.

  6. Membuat lubang-lubang di lahan dengan menggunakan tongkat runcing yang mereka sebut dengan tugal atau tutujak dan menanaminya dengan bibit tanaman.

  Kaum laki-laki biasanya yang memegang tugal atau tutujak untuk membuat lubang sedangkan kaum wanita yang memasukkan bibit/biji ke lubang.

  7. Setelah semua selesai, bibit dibiarkan tumbuh sampai siap dipanen, kaum laki-laki yang pergi ke hutan untuk mencari dan mengumpulkan hasil-hasil hutan dan kaum wanita beserta anak-anak menjaga lahan dari binatang pengganggu, seperti tikus dan burung pipit dan rumput-rumput liar.

  8. Ketika tanaman sudah siap dipanen, maka tibalah saat memanen. Masyarakat adat suku Dayak Meratus biasa memanen hasil lahan secaraa bersama-sama.

  9. Wujud syukur dari hasil panen yang mereka peroleh mereka tunjukkan dengan menggelar upacara ritual syukur atau pesta, seperti upacara Aruh Bawanang.

  110 10. Membersihkan lahan yang telah dipakai atau membuka lahan baru.

  Lahan-lahan yang mereka gunakan sebagai huma tidak mesti datar atau berada di bawah bukit, terdapat banyak lahan yang mengikuti lereng-lereng gunung dan perbukitan. Masyarakat adat suku Dayak Meratus sudah biasa dengan hal ini.

  Dengan pakaian-pakaian yang lusuh dan topi yang mereka sebut tupi purun (terutama kalau matahari sedang terik) dan keranjang yang mereka sebut dengan bakul

  

purun , berisi makanan untuk dimakan di ladang dan dengan sebilah mandau yang

  terselip di pinggang mereka pergi ke ladang. Jika perbekalan yang dibawa lebih banyak dan tidak muat untuk dimasukkan di bakul purun maka orang-orang suku Dayak Meratus akan menggunakan keranjang berbentuk tabung mirip tas punggung yang mereka sebut dengan butah atau lanjung. Butah terbuat dari anyaman bambu yang 110 Ibid ., hlm. 146. dipotong tipis-tipis, tetapi ada juga butah yang terbuat dari anyaman rotan. Pada bagian sisi kiri dan kanan butah terdapat tali melingkar yang terbuat dari tali bambu atau rotan yang fungsinya untuk dikaitkan di bahu ketika ingin mahambin-nya.

  Dengan melihat tahapan-tahapan di atas dapat diketahui bahwa masayrakat adat suku Dayak Meratus menyelenggarakan kegiatan berladang sangat terstruktur dan sistematis atau terencana. Dalam menjalankan tahapan-tahapan bahuma di atas, akan terdapat sedikit waktu luang atau jeda waktu di mana biasanya waktu itu adalah waktu menunggu, misalnya antara waktu menebang pohon dengan menanami lahan yang harus menunggu hujan turun (musim hujan), masa tersebut mereka sebut dengan

  

maharing raba . Waktu tersebut biasa diisi oleh masyarakat adat suku Dayak Meratus

  dengan menggelar upacara-upacara adat, seperti upacara Manyangga Banua atau Aruh

  111 Bakalang Tahun.

  Kebudayaan huma erat kaitannya dengan religi yang mereka anut (Balian/Kaharingan). Oleh karena itu unsur-unsur yang ada dalam setiap upacara tentang kebudayaan huma selalu berhubungan dengan religi yang mereka anut. Berikut adalah upacara-upacara adat tentang yang burhubugan dengan kebudayaan huma (tentang upacara-upacara ritual keagamaan mengenai kebudayaan huma lebih rinci selanjutnya akan dibahas di bab III):

  1. Upacara Mancari Padang Hanyar.

  2. Upacara Mamuja Tampa.

  3. Uapacara Batilah.

  4. Upacara Marandahakan Diyang Sanyawa.

  5. Upacara Bamula. 111 Noerid Haloei Radam, op. cit., hlm. 148.

  6. Upacara Basamu Umang.

  7. Upacara Manyindat Banih.

  8. Upacara Manajak Tihang Banua atau Upacara Manatapakan Tihang Banua.

  9. Upacara (Aruh) Bawanang.

  10. Upacara Mamisit Banih.

  Selain upacara-upacara yang berhubungan dengan kebudayaan huma di atas, upacara-upacara adat lainnya juga berhubungan erat dengan religi yang mereka anut, religi Balian/Kaharingan.

  Masyarakat adat suku Dayak Meratus adalah masyarakat yang sangat dekat dengan alam. Mereka hidup berdampingan dengan alam. Sehingga sangat wajar jika mereka sangat menghargai alam. Dari paparan sebelumnya diketahui bahwa alam tempat masyarakat adat suku Dayak Meratus berdiam merupakan hutan yang lebat dan air yang deras. dalam perjalan waktu mata pencaharian mereka sudah semakin beragam. Alam mereka kaya akan potensi yang dapat mereka gunakan untuk melangsungkan kehidupan atau dengan kata lain, singkatnya adalah dari alam itulah mata pencaharian mereka.

  Alam suku Dayak Meratus kaya akan hasil-hasil hutan. Hutan-hutan bambu yang lebat memberikan kualitas bambu yang bagus. Bambu-bambu dari Pegunungan Meratus banyak dicari dan digunakan oleh daerah-daerah di hilir sungai Kalimantan Selatan. Bambu-bambu ini mereka bawa dengan menggunakan jalur air atau sungai, yakni sungai Amandit. Bambu-bambu di sungai mereka rangkai sedemikian rupa, diikat berjejer dan ditumpang-tindihkan (bertingkat-tingkat), sehingga membentuk semacam rakit. Rakit dari bambu ini lazim mereka sebut dengan nama lanting. Setelah rakit (lanting) selesai dibuat dan bisa mengapung di air, kemudian lanting tersebut mereka bawa menyusuri sungai Amandit untuk dijual. Di sepanjang sungai di beberapa daerah yang dilalui biasanya sudah terdapat pasar-pasar bambu, seperti Palantingan (di Kandangan). Jadi mereka menjualnya bambu-bambu ke sana. Ada yang menjualnya langsung ada juga yang menjualnya melalui perantara bahkan ada yang masih menggunakan tukar barang (barter) yang lazim mereka sebut dengan bahurupan. Biasanya antara pedagang dan pembeli sudah sangat akrab, bahkan ada hubungan keluarga. Ada juga lanting yang dibawa sampai jauh ke Banjarmasin (Ibu Kota Kalimantan Selatan). Tujuannya bisa untuk dijual di sana, tetapi bisa juga seraya untuk pergi ke Banjarmasin atau digunakan sebagai alat trasnfortasi. Hanya saja waktu yang digunakan diperjalanan akan lebih lama dibanding dengan menggunakan jalur darat (dengan kendaraan bermotor: mobil atau motor).

  Di atas lanting biasanya juga dimuati oleh beberapa hasil alam lainnya. Selain bamboo, kayu, rotan juga terdapat di hutan Pegunungan Meratus. Mayarakat adat suku Dayak Meratus juga ada yang bermata pencaharian sebagai pengrajin hasil-hasil hutan seperti anyaman dari rotan yang dapat dibuat menjadi keranjang, tas, cindera mata dan lain sebagainya. Hasil-hasil alam lainnya sekarang juga semakin beragam. Mulai beragam hasil-hasil alam mereka karena sudah terdapat pola bercocok tanam berbagai macam jenis komoditas dalam bertani (bahuma) dan berkebun (bakabun). Dari bertani (bahuma) selain untuk digunakan sendiri padi dan berasnya mereka juga jual.

  Perkebunan mayarakat adat suku Dayak Meratus meliputi karet, kelapa sawit, kakau, jagung, kacang-kacangan, beberapa jenis sayur-mayur, singkong, dan masih banyak lagi.

  Karena sekarang sudah banyak dibuat jalan-jalan darat baru yang bisa dilalui oleh kendaraan-kendaraan bermotor, seperti motor dan mobil. Maka bambu-bambu, karet, rotan dan hasil-hasil alam lainnya juga banyak yang diangkut dengan menggunakan kendaraan bermotor lewat darat misalnya dengan truk. Pengangkutan menggunakan truk menjadi ramai ketika air sungai sedang tidak dalam. Ketika air sungai tidak dalam atau terlalu surut, lanting-lanting tidak dapat beroperasi karena terlalu dangkal dan banyak batang-batang kayu dan bongkahan batu-batu besar yang mengganggau dan menghalangi jalannya lanting di air. Batang-batang kayu ini lazim mereka sebut dengan rungkah. Batu-batu besar yang banyak terdapat di sepanjang aliran sungai juga akan menghalangi jalannya lanting kalau air sungai sedang dangkal.

  Sisi lain dari dibuatnya jalan-jalan baru bagi masyarakat adat suku Dayak Meratus adalah antara lain sebagai berikut:

  1. Menjadikan beberapa perkampungan masyarakat adat suku Dayak Meratus tidak lagi terisolir, setidaknya tidak terlalu terisolir, menngingat masih terdapat jalan yang tidak terlalu bagus dan belum menjangkau beberapa perkampungan.

  2. Arus trasnformtasi dari daerah satu dengan lainnya menjadi ramai terutama dari kota ke pedesaan.

  3. Tingkat perekonomian masyarakat perlahan semakin baik.

  4. Komunikasi satu dengan lainnya menjadi semakin mudah.

  5. Informasi menjadi semakin mudah diperoleh.

  6. Modernisasi dan arus globalisasi semakin cepat terjadi.

  7. Muncul mata pencaharian baru bagi penduduk, seperti dibuka warung-warung di sepanjang jalan yang sudah ramai, kios-kios bensin atau solar, jasa angkutan, jasa perbaikan kendaraan, penginapan dan lain sebagainya.

  8. Tingkat pengetahuan masyarakat menjadi meningkat.

  Pembangunan jalan yang menghubungkan perkampungan masyarakat adat suku Dayak Meratus tidak selamanya membawa dampak positif, tetapi juga terdapat sisi negatifnya. Seperti mulai dari munculnya bentuk-bentuk kejahatan baru, misalnya mulai dari penipuan, masyarakat adat suku Dayak Meratus yang masih lugu dan polos dapat dengan mudah dibodohi, hingga terkikisnya nilai-nilai budaya asli yang digerus oleh derasnya arus modernisasi dan globalisasi.

  Demikianlah gambaran mengenai masyarakat adat suku Dayak Meratus dengan segala dilematika dan kontroversial tentang dirinya sebagai sebuah identitas, bagian dari Bangsa Indonesia.

BAB III RELIGI BALIAN/ KAHARINGAN A. Religi Balian/Kaharingan sebagai Religi Lokal Msyarakat Adat Suku Dayak Meratus.

1. Penyebutan Istilah Religi Balian/Kaharingan dan Sejarahnya.

  Religi Balian yang dipeluk oleh masyarakat adat suku Dayak Meratus juga biasa disebut dan mungkin lebih dikenal dengan sebutan religi Kaharingan. Selain religi Kaharingan, religi Balian juga dikenal dengan sebutan “agama” Bahari atau “agama” Bahari Kala atau “agama” Bahari Mumunan. “Bahari “atau “bahari kala” atau “bahari

  

mumunan” berasal dari bahasa Banjar arkhaik (bahasa Banjar purba) yang maknanya

  adalah “dahulu” atau “jaman dahulu”. Biasanya tambahan “kala” dan “mumunan” menunjukkan sesuatu yang dahulu sekali, di luar ingatan manusia. Ada juga yang menambahkan kata “urang” sebelum kata “bahari”, yakni “agama” Urang Bahari/Bahari Kala/Bahari Mumunan. Arti urang adalah orang. Jadi maknanya adalah “agama” yang dipeluk oleh orang-orang zaman dahulu. Penyebutan yang demikian ini banyak dipakai oleh orang-orang tua jaman dulu juga dan beberapa masih ada yang menggunakan istilah ini. Sedangkan sekarang ini penyebutan istilah religi Balian, apalagi religi Kaharingan sudah berlaku umum di kalangan masyarakat adat suku Dayak Meratus itu sendiri, penduduk Kalimantan Selatan (etnis Banjar atau Melayu), dan penduduk dunia.

  Terdapat dua anggapan mengapa religi ini disebut sebagai religi Balian, yakni pertama karena tokoh “keagamaan” atau pemuka “agama” pada religi Balian juga disebut sebagai balian. Jadi istilah “balian” juga merujuk pada pemuka “agama” yang ada pada religi Balian. Kedua, karena masyarakat adat suku Dayak Meratus tersebut tinggal di rumah komunal atau bersama yang disebut dengan balai atau balai adat. Di mana balai itu sendiri biasa dipimpin oleh seorang balian. Kemudian muncul istilah “balian” yang merujuk kepada orang-orang yang tinggal di rumah komunal tersebut atau balai tadi.

  Di Kalimantan umumnya dan di Kalimantan Selatan khususnya juga ada yang menyebut religi Balian dengan religi Belian dan Balaian. Ini semua kemungkinan besar hanya dikarenakan perbedaan logat dari daerah yang satu dengan daerah yang lain, mengingat terdapat banyak sekali logat atau aksen bahasa pada penduduk di Kalimantan Selatan dan Kalimantan.

  Pengetahuan umum yang berkembang di Indonesia tentang “agama” orang- orang suku Dayak adalah “agama” Kaharingan. Tidak ada sumber tertullis atau literatur apapun maupun lisan yang mengetahui kapan munculnya religi ini. Bahkan oleh kalangan masyarakat adat suku Dayak sendiri. Mereka cuma tahu kalau “agama” ini diturunkan secara turun-temurun dari nenek moyang mereka. Sejak itu pulalah muncul “agama” mereka. Sumber-sumber hanya mengatakan tentang makna dari religi

  112

  Kaharingan itu saja. Kaharingan berasal dari kata “haring” yang berarti hidup. Lebih jauh disebutkan oleh Nathan Iloen: “Kaharingan berarti hidup dengan makna hidup

  113

  atau tumbuh dan berkembang dengan sendirinya tanpa campur tangan manusia. Jadi religi Kaharingan adalah “agama” murni dari Sang Kuasa yang menurunkannya langsung untuk manusia dengan tidak ada kekuatan lain yang mempengaruhinya selain sang Kuasa itu sendiri. Jadi Sangat sulit untuk mengetahui kapan muncul pastinya religi ini, kecuali tutur lisan dari generasi ke generasi yang tidak diketahui kronika waktu 112

  Tjilik Riwut Sanaman Mantikei, Maneser Panatau Tatu Hiang Menyelami Kekayaan Leluhur, (Palangkaraya: Pusakalima, 2003), hlm. 476. 113 Moh. Soehadha, “Kolonisasi Agama Lokal: Peminggiran Agama Kaharingan

Beserta Masyarakat Pendukungnya di Loksado, Kalimantan Selatan.”, makalah, (Yogyakarta:

Pusat Kajian Dinamika Agama, Budaya dan Masyarakat PPS IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2003), hlm. 2. pastinya. Tetapi yang pasti religi ini sudah ada semenjak dahulu sebelum datangnya agama-agama besar datang ke kehidupan masyarakat adat Suku Dayak, seperti yang disebutkan pada sebuah website asing di internet berikut ini:

  Far before Hindu, Islam, Christian, Catholic, came to Kalimantan the Dayak had has its own religion or belief, a belief focuses is called Kaharingan, means 'life'. For the believers of Kaharingan the above power is considered as God, the Supreme God. According to the faithers, Kaharingan it self came to Kalimantan together with the first Dayak man rules and or systems to arrange the relationship among human being, and human being with the creator, God, and among human being with the universe.

  114

  (Jauh sebelum agama Hindu, Islam, Kristen (Protestan), Katolik, masuk ke Kalimantan, suku Dayak sudah memiliki (menganut) agama atau kepercayaannya sendiri, sebuah kepercayaan yang dimaksud adalah (disebut dengan) Kaharingan, yang berarti “hidup”. Bagi para penganut Kaharingan, kekuasaan dianggap sebagai Tuhan, Tuhan Yang Maha Esa. Menurut mereka yang meyakininya (penganutnya), Kaharingan lahir dengan sendirinya bersama munculnya manusia Dayak pertama dan atau munculnya sistem yang mengatur hubungan antar manusia, dengan Tuhan dan dengan alam semesta).

  Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa agama-agama besar yang masuk ke dalam kehidupan masyarakat adat suku Dayak kemudian telah banyak mempengaruhi religi Balian/Kaharingan.

  Agama orang-orang Dayak adalah “agama” Kaharingan, ini benar. Tetapi yang harus diingat adalah, seperti yang telah diketahui sebelumnya (tertuang di bab II) bahwa suku Dayak itu sendiri bukanlah suku yang otonom bebas dari sub-sub suku. Suku Dayak masih terpilah-pilah dalam puak-puak suku, salah satunya adalah puak suku Dayak Meratus, yakni suku yang mendiami kawasan Pengunungan Meratus di Propinsi Kalimantan Selatan. Puak-puak suku Dayak ini mempunyai pandangan sendiri-sendiri tentang religi Kaharingan-nya tersebut. Meskipun begitu esensi atau inti dari setiap kepercayaan suku Dayak adalah sama dan satu, salah satunya adalah sebagai 114

  Anonim, “Bornean”, dalam website http://www.angelfire.com/biz2/BORNEO /religion.htm. kepercayaan yang sangat dekat dengan alam sekitarnya. Perbedaan-perbedaan kepercayaan yang terdapat pada puak-puak suku Dayak bukan pada konsep kepercayaannya melainkan dari beberapa penyebutan dan penamaan saja. Misalnya pada suku Dayak di Kalimantan Tengah yang menyebut balian berbeda dengan balian yang ada pada masyarakat adat suku Dayak Meratus di Kalimantan Selatan seperti dibawah ini:

  Balian adalah seorang perempuan yang bertugas sebagai mediator dan

  komunikator antara manusia dengan makhliuk lainnya yang keberadaannya tidak terlihat oleh mata jasmani manusia. tidak setiap orang, sekalipun berusaha keras, mampu melakukan tugas dan kewajiban sebagai balian. Biasanya hanya

  115 orang-orang terpilih saja.

  Contoh lainnya, pada masyarakat adat suku Dayak Meratus mengenal Aruh Bawananang sedangkan pada suku Dayak Kanayatn dikenal Naik Dango, suku Dayak di Bahau mengenal upacara Dangai yang semua upacara tersebut sama-sama melambangkan sebagai ucapan syukur atas hasil panen dan juga menghormati padi sekaligus doa agar panen berikutnya berhasil kembali (lebih jauh Gawai Dayak, Dange, Kaamantan adalah upacara suku Dayak sebagai ungkapan kebahagiaan mereka dengan

  116

  apa yang mereka telah dapatkan); pada masyarakat adat suku Dayak Meratus menyebut bubuhan sedangkan pada suku Dayak Ngaju yang berdiam di daerah aliran sungai Kapuas, Katingan, Kahayan, Sebagau, Menyata, Seruyan, serta 6 Kabupaten lain di Kalimantan Tengah menyebut dengan Babohan yang keduanya bermakna menunjuk

  117

  kepada suatu kelompok; pada masyarakat adat suku Dayak Meratus menyebut huma, 115 116 Tjilik Riwut, op. cit., hlm. 486.

  Yosep Oidillo Oendoen, Makarius Sintong, dan Yosep Dismas Aju, “Memahami

Identitas Budaya Dayak”, dalam majalah Kalimantan Review, nomer 4 tahun II Mei-Agustus 1993, hlm. 24 dan 37 117 Usop, “Tiwah: Ketika Para Dewa Turun Ke Dunia, Para Rohkh Naik Ke Surga”, dalam majalah Kalimantan Review, nomer 4 tahun II Mei-Agustus 1993, hlm 29. sedangkan pada suku Dayak yang berdiam di Long Alango, Apau Ping, Pujungan, Binuang, Baliku, Tapang Sambas, Sekadau Hilir, Krayan di Kalimantan Timur menyebut dengan uma, suku Dayak Uut Danum yang berdiam Ella Hilir, Mendukung, Serawai, Ambalau, Sintang Kalimantan Barat menyebutnya dengan umo yang

  118

  semuanya bermakna menunjuk kepada lahan pertanian mereka; pada masyarakat adat suku Dayak Meratus menyebut balai adat sedangkan pada puak suku Dayak (kecuali suku Dayak Punan pengembara) terdapat sebutan lamin, betang, lewu hante,

  

umaa’ aruu’, panjae, sao langke, dan lain sebagainya yang semuanya menunjuk kepada

119

  rumah komunal tempat tinggal suku Dayak; pada masyarakat adat suku Dayak Meratus menyebut Suwara, sedangkan pada suku Dayak Kanayatn menyebut dengan

  

Jubata (Jubanta Ne’ Patampa/ Jubata Ne’ Pajaji) , suku Dayak di Bahau dan di Kayan

  menyebut Tamai Tingai, suku Dayak Tunjung, Benua, Bentian menyebut Latala, puak

  120

  suku Dayak lain menyebut dengan Raying Hatalla, Penompa, Tahalak, yang

  121 semuanya menunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa.

  Penyebutan “agama” puak suku Dayak Meratus dengan istilah religi “Kaharingan” menjadi populer ditujukan kepada mereka setelah diselenggarakannya pemilihan umum pertama, di tahun 1955, dimana status agama yang melekat pada mayarakat adat puak suku Dayak Meratus menggunakan sebutan “agama” Kaharingan melalui perkataan dari Panglima Pang Dayak. 118

  L. Tatang dan Nico Andasputra, “Kearifan Tradisional Orang Dayak Dalam

Melestarikan Keanekaragaman Hayati”, dalam majalah Kalimantan Review, nomer 16 tahun V

Mei-Juni 1996, hlm. 4. 119 Fridolin Ukur, “Kebudayaan Dayak”, dalam majalah Kalimantan Review, nomer 2 tahun I Juli-Desember 1992, hlm 6. 120 Tjilik Riwut Snaman Mantikei, Maneser Patanau Tatu Hiang: Menyelami

Kekayaan Leluhur, penyunting Theresia Nila Ambun Triwati Suseno, (Palangkara Raya:

Pusakalima, 2003), hlm. 478. 121

  Paulus Florus, “Pesta Rakyat: Kebudayan Universal”, dalam majalah Kalimantan Review , nomer 4 tahun II Mei-Agustus 1993, hlm. 3. Untuk kepentingan pemungutan suara yang pertama bagi penyelenggaraan Pemerintah Negara Keatuan Republik Indonesia, Panglima Pang bicara, selaku pemimpin adat masyarakat Dayak Loksado pada saat itu ditanya oleh pejabat setempat tentang nama sistem kepercayaan orang-orang Dayak Loksado. Lalu Panglima Pang bicara menyebut agama orang-orang Dayak tersebut dengan

  122 istilah agama Kaharingan.

  Selain religi Kaharingan, “agama” orang-orang suku Dayak juga sering disebut dengan “agama Helu”, dengan makna yang hampir sama dengan Kaharingan itu sendiri. Masyarakat adat suku Dayak Meratus juga menyebut haring sebagai sebuah perbuatan yang terpuji dan baik. Seperti melakukan sesuatu yang berguna bagi alam dan sekitarnya serta tidak merugikan orang lain. Misalnya perkerjaan manabat batang

banyu untuk keperluan keseharian masyarakat adalah sebuah perbuatan yang haring.

  Sedangkan penyebutan dengan istilah religi huma dikarenakan kebudayaan huma dalam masyarakat adat suku Dayak Meratus tersebut sangat kental dengan kehidupan mereka. Hingga sekarang kebudayaan masyarakat adat suku Dayak Meratus atau bahkan masyarakat adat suku Dayak Meratus-nya itu sendiri diidentikkan dengan kebudayaan huma.

  Ada juga yang anggapan yang menyatakan bahwa ke-dayak-an seseorang dihubungkan dengan “agama”-nya, dengan kata lain seseorang adalah suku Dayak jika “agama”-nya Kaharingan. Seperti yang juga dijelaskan pada bab sebelumnya, kalau orang suku Dayak adalah orang yang masih memeluk “agama” Kaharingan, atau bahkan agama Kristen Protestan. Jika tidak, misalnya sudah memeluk agama Islam, maka orang tersebut sudah hilang status etnis ke-dayak-annya.

  Di masa sekarang ini jika ditanyakan kepada mereka (masyarakat adat suku Dayak Meratus) yang masih berdiam di pegunungan di balai-balai adat dan belum banyak bersosialisasi dengan penduduk kota atau orang-orang yang sudah lanjut usia, 122 Moh. Soehadha, op. cit., hlm. 2. apa “agama” kalian?, maka mereka akan menjawab agama kami adalah “agama” Balian. Lain halnya jika ditanyakan kepada mereka yang sudah banyak bergaul dengan masyarakat kota apalagi yang sudah mengenyam berbagai pendidikan formal, maka mereka akan menjawab agama kami adalah “agama” Kaharingan. Supaya mempermudah dan lebih ringkas maka dalam tulisan ini selanjutnya penyebutan religi ini disebut dengan religi Kaharingan saja.

B. Bentuk Kepercayaan.

  Masyarakat adat suku Dayak Meratus penganut religi Kaharingan meyakini adanya Tuhan sekaligus Dewa-Dewa (Ilah-ilah) bawahan, arwah-arwah, roh-roh alam dan roh-roh nenek moyang, tokoh-tokoh sakti, adanya kehidupan setelah mati, baik dan buruk/benar dan salah suatu perbuatan, dan upacara-upacara suci ritual, yang semuanya

  123

  itu berbasis pada mitos-mitos dan legenda-legenda. Beberapa unsur alam mereka percayai mempunyai roh atau penunggu serta mempunyai kekuatan. Seperti sungai, hutan, gunung, tanah, dan lain sebagainya mereka yakini ada yang menguasainya, sehingga kesemuanya itu harus dipuja-puja. Agar segala sesuatu yang berhubungan dengannya akan berjalan dengan lancar. Masyarakat adat suku Dayak Meratus biasa menyebutnya dengan istilah “Datu”. Misalnya Datu penunggu hutan gunung Halau-

  124

  halau. Bahkan makhluk hidup lainnya juga mereka percayai mempunyai makna

  125 religius. 123 Anonim, Adat Istiadat Daerah Kalimantan Selatan, (Jakarta: Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah,

  1982), hlm. 119-124. 124 Hutan gunung Halau-halau adalah salah satu hutan gunung yang dikeramatkan

oleh masyarakat adat suku Dayak Meratus. Hutan gunung angker ini konon dihuni oleh banyak

makhluk gaib dan sarat mistis. 125 Beberapa jenis tumbuhan dan binatang dalam keyakinan masyarakat adat suku Dayak Meratus. yakini mempunyai kekuatan dan unsur magis.

  Dalam disiplin imu antropologi ditemukan beberapa bentuk kepercayaan yang disebut dengan animisme, dinamisme, totemisme, fetisme, dan spiritisme serta animatisme. Religi Kaharingan banyak bersingungan dengan model-model kepercayaan di atas. Animisme secara singkat dapat dimaknai sebagai konsep kepercayaan yang menyakini terdapatnya roh-roh nenek moyang atau roh-roh orang yang sudah lama meninggal. Penganut religi Kaharingan (masyarakat adat suku Dayak Meratus) banyak mengklasifikasi dan menamai roh-roh yang meereka percayai. Terlepas dari itu semua, mereka tetap memandang bahwa alam semesta dan dunia akhirat dikuasai oleh satu kekuatan saja atau satu Tuhan atau Ilah yang Maha hebat membawahi Ilah-ilah lainnya. Dengan kata lain, meskipun juga terdapat Ilah-ilah, masyarakat adat suku Dayak Meratus mempunyai konsep monoteisme dalam sistem keyakinan mereka,.

  E. B. Tylor memaknai animisme dalam 2 arti. Arti yang pertama: “sebagai suatu sistem kepercayaan di mana manusia religius, khususnya orang primitif, membubuhkan jiwa pada manusia dan juga pada semua makhluk hidup dan benda

  126

  mati”. Arti animisme yang kedua adalah sebagai berikut: Bahwa ide tentang jiwa manusia merupakan akibat dari pemikiran mengenai beberapa pengalaman psikis, terutama mimpi, dan ide tentang makhluk- makhluk berjiwa diturunkan dari ide tentang jiwa manusia ini, oleh karena itu itu merupakan bagian dari tahap berikutnya dalam perkembangan

  127 kebudayaan.

  Pengertian yang diberikan E. B. Tylor tentang makna animisme memang agak sedikit membingungkan, dalam artian maknanya bisa meluas hingga bersinggungan dengan konsep-konsep kepercayaan lain. Namun kalau dilihat dari penjelasan

  126 Maria Susai Dhavanony, Fenomenologi Agama, (Yogyakarta: Kanisius, 1995), hlm.

  66. 127 Ibid ., hlm. 66. singkatnya sepertinya E. B. Tylor lebih menitik beratkan bahwa konsep kepercayaan animisme banyak terdapat pada religi-religi primitif atau manusia kuno.

  Seorang ahli lain juga memberikan pengertian tentang animisme. Dia adalah

  A. C. Kruyt (1869-1949), seorang pendeta agama Nasrani yang ditugaskan menyiarkan agama di Sulawesi Tengah pada orang-orang Toraja di pegunungan. Dalam bukunya yang berjudul Het Animisme in de Indischen Archipel (Animisme di kepulauan Indonesia) (1906), A. C. Kruyt banyak menulis tentang bentuk religi manusia primitif atau manusia kuno.

  128

  A. C Kruyt menyebut animisme sebagai kepercayaan manusia primitif atau manusia kuno yang yakin akan adanya suatu zat halus yang berperan dalam kelangsungan dunia ini, Kruyt menyebut zat ini dengan istilah zielestof. Zielesof banyak terdapat di sekeliling manusia dan juga terdapat di alam atau dunia para

  

zielesof . Jadi zat halus tadi juga mempunyai dunianya sendiri serta juga ikut

  berkecimpung dalam dunia manusia. Dalam pembaurannya dengan manusia di dunia manusia, zielestof bisa terdapat pada binatang, tumbuhan, benda-benda tertentu, hingga pada bagian-bagian tubuh manusia itu sendiri. Zielestof hidup, berjiwa, berkeinginan, bertindak dan sebagainya sebagaimana manusia.

  129

  Seperti yang disebutkan berikut ini: Adapun bagian tubuh manusia yang menurut keyakinan manusia kuno mengandung lebih banyak zielestof dari pada yang lain adalah: kepala, rambut, kuku, isi perut, pusat, gigi, ludah, keringat, air mata, air seni, dan kotoran manusia…Binatang yang menurut keyakinan manusia kuno mengandung lebih banyak zielestof adalah kunang-kunang, laba-laba, jangkrik, kupu-kupu, burung, tikus, ular, dan juga jenis-jenis binatang besar seperti harimau…tumbuh-tumbuhan seperti padi, nyiur, pohon aren, kampar, karet, menurut keyakinan manusia kuno mengandung zielestof lebih banyak daripada tumbuh-tumbuhan lainnya.

  130 128

  Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antropologi Jilid I, (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1980), hlm. 62. 129 Ibid ., hlm. 63. 130 Ibid ., hlm. 63. Penjelasan selanjutnya tentang bentuk konsep kepercayaan lainnya sebenarnya berusaha untuk lebih menyempitkan atau mengkhususkan lagi perbedaannya.

  Dinamisme misalnya, dinamisme merupakan bentuk konsep kepercayaan yang meyakini akan adanya suatu benda atau hanya sebatas benda yang mempunyai kekuatan atau kekuasaan atau ada sisi spesial yang dikandungnya. Contohnya adalah pohon-pohon besar tertentu yang dipercayai mempunyai tuah atau berjiwa/roh.

  Sedangkan Fetisme yang hanya mengkhususkan lagi pada benda-benda pusaka seperti halnya keris, jimat atau lainnya.

  Penyebutan totemisme berasal dari bahasa Ojibwa, suku Algonkin Amerika

  131

  Utara. Totemisme dapat dikiatakan sebagai konsep kepercayaan yang menyakini bahwa manusia mempunyai hubunugan yang sangat erat dengan lingkungan sekitarnya melalui binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan. Penganut totemisme percaya bahwa dirinya adalah satu runtut keturunan dengan suatu jenis binatang dan tumbuhuan tertentu. Penganut totemisme akan menghormati binatang-binatang atau tumbuhan totem yang mereka yakni adalah simbol perwakilan dari Sang Pelindung. Maria Susai menuliskan totemisme sebagai berikut:

  Totemisme merupakan fenomena yang menunjuk kepada hubungan organ sosial khusus antara suatu suku bngsa atau klan dan suatu spesies tertentu dalam wilayah binatang atau tetumbuhan…Hal ini dapat dilukiskan sebagai suatu system kepercayaan dan praktik yang mewujudkan gagasan tertentu dari suatu hubungan “mistik” atau ritual antara anggota-anggota kelompok sosial dan

  

132

sutau jenis binatang atau tumbuhan.

1. Konsep tentang Sang Maha Kuasa Dalam Religi Kaharingan.

  Pada dasarnya terdapat 3 Ilah besar pada Tokoh-tokoh spiritual suci dalam religi Kaharingan pada masyarakat adat suku Dayak Meratus. Pertama adalah Suwara, yakni 131 132 Maria Susai Dhavanony, op. cit., hlm. 74.

  Ibid ., hlm. 74. Ilah yang menciptakan alam semesta dan manusia sekaligus puncak dari kekuasaan yang ada di bumi dan di langit. Kedua, Sang Hiyang Nining Bahatara, yakni Ilah yang mengatur rezeki. Ada 2 macam Sang Hiyang Nining Bahatara, yaitu yang baik, dia tinggal di langit, sedang yang jahat tinggal di bumi. Terakhir adalah Sangkawanang, yakni Ilah yang mengatur/penumbuh padi. Dalam mengatur/penumbuh padi, Sangkawanang mempunyai Ilah-ilah pendudukungnya.

  Tokoh-tokoh spiritual suci pada masyarakat adat suku Dayak Meratus yang berhubungan dengan pengaturan alam semesta adalah: Tanjung, Bubuhan Aing,

  

Bapang, Sisia Banua, Indung, dan Lampung. Tokoh-tokoh spiritual suci pada

  masyarakat adat suku Dayak Meratus yang berhubungan dengan pengaturan kehidupan manusia adalah: Raja Umbayang, Kariau, Jajanang, Iringan, Angau, Dangsanak

  

Ampat , sejumlah Nabi dan Malaikat. Tokoh-tokoh spiritual suci pada masyarakat adat

  suku Dayak Meratus yang berhubungan dengan pengaturan dan pertumbuhan padi adalah: Balian Tabalong, Balian Lanjarhari, Balian Harimaung, Balian Marus, Datu

  133 Laki Dangsanak Walu, Datu Ranggan, dan Kabungsuan.

  Suwara adalah Ilah yang kedudukannya paling tinggi atau puncak dari Ilah-ilah

  yang lain, artinya Ilah-ilah lain berada pada posisi di bawahnya. Suwara didampingi oleh empat pendampingnya, mereka masing-masing adalah Jabaril yang mendampingi di bagian depan, Surapil mendampingi di bagian kanan, Iskail mendampingi di bagian kiri, dan Mikail mendampingi di bagian belakang. Mereka semua bersama Suwara berdiam di langit, yang dijaga ketat oleh Dara langit dan Muda Langit. Kedua Ilah ini bertanggung jawab mengenai siapa saja yang mengunjungi langit, karena Ilah-ilah lain

  133 Noerid Haloei Radam, op. cit., hlm. 162. juga sewaktu-waktu akan ada berkunjung ke langit, dengan keperluan macam-maca, seperti melaporkan keadaan di bumi, misalnya ada yang manyalukut/mancacak banua.

2. Konsep Penciptaan Alam Semesta, Bumi dan Langit serta Pengatur-pengatur Alam Semeseta atau Ilah-ilah, Nabi-nabi dan Malaikat-malaikat.

  Masyarakat adat suku Dayak Meratus percaya bahwa pada awalnya semuanya adalah kosong atau hampa, tidak ada apa-apa, tangai, bahkan kosong itu sendiri menjadi sulit didefinisikan untuk menjelaskan sesuatu ada dari tiada, yakni kosong atau tidak ada itu sendiri bagi Suwara (Tuhan) yang sudah ada. Bumi beserta isinya (gunung-gunung, sungai-sungai, lautan, hutan, dan lain-lain), langit dan dunia akhirat tidak ada atau belum diciptakan oleh Suwara.

  Pertama-tama Suwara menciptakan bumi. Maka kemudian terciptalah bumi yang datar dan langit yang tinggi. Bumi turun ke bawah dan langit tinggi naik ke atas.

  Langit berfungsi sebagai atap dari bumi sekaligus tempat tinggal beberapa Ilah-ilah, Nabi-nabi dan Malaikat-malaikat Suwara.

  Kemudian untuk membantu menyelenggarakan alam semesta dan tata surya ciptaanNya, Suwara menciptakan pembantu-pembantunya berupa Ilah-lah, Nabi-nabi dan Malaikat-malaikatNya. Ciptaan pertamanya adalah Sang Hiyang Nining Bahatara yang akan menjadi pendamping dan pembantu utama Suwara dalam menciptakan segala sesuatu. Selain itu Suwara juga mempunyai empat pendamping (Jabari, Surapil,

  

Iskail dan Mikail ) yang diciptakan belakangan. Sang Hiyang Nining Bahatara

  merupakan Malaikat pendamping Suwara yang utama. Sang Hiyang Nining Bahatara juga yang nantinya akan membantu atau mendapat perintah dari Suwara untuk menciptakan manusia pertama. Masyarakat adat suku Dayak Meratus mempercayai penciptaan alam jagat raya berasal dari segumpal kumpulan yang di dalamnya mengandung elemen-elemen dasar alam, seperti air, udara, langit, dan lain

  134 sebagainya.

  Masyarakat adat suku Dayak Meratus membagi langit menjadi tiga, yaitu langit

  

Bawahan yang dihuni oleh roh-roh dan penunggu alam, Ilah-ilah pembantu seperti Ilah

Datu Bini Badangsanak Walu ; lalu langit Balapis Walu yang ditempati oleh Datu

Langit dan arwah-arwah para Guru Jaya; terakhir langit Ing-ingan yang merupakan

  singgasana Ilah puncak (Tuhan), Suwara. Bumi sendiri didiami oleh Ilah Datu Laki Badangsanak Walu.

  Setiap benda, bangunan, tumbuhan, binatang dan segalanya dipercaya mempunyai penunggu dan penguasanya masing-masing. Para penguasa tersebut akan disebut-sebut dalam suatu upacara yang berkaitan tentang atau yang melibatkan Ilah- ilah penguasa tersebut. Contohnya pada upacara Basamu Umang, Ilah-ilah penguasa tumbuhan, yakni Datu Bini Badangsanank Walu akan dipuja-puja agar memberikan restu dalam proses penumbuhan padi. Contoh lain, Ilah Iringan dipuja karena ia adalah Ilah yang menguasai dan memelihara perkakas rumah tangga, Ilah Jajanang dipuja karena ia adalah Ilah yang menguasai dan memelihara peralatan pertanian, dan Ilah

  

Hiyang Nar yang dipuja karena ia adalah Ilah yang menguasai api. Demikian juga

  dengan Ilah-ilah yang lain, seperti Pujut yang menguasai gunung-gunung, hutan, sungai, dan beberapa bagian alam lainnya. Ilah Sisia Banua yang memelihara pemukiman-pemukiman warga. Ilah Lampung memelihara tanah, yang nantinya akan berkaitan dengan pertanian. Bapang adalah Ilah yang menguasai matahari. Madiyang adalah Ilah yang menguasai bulan. Taruna Bintang adalah Ilah yang menguasai bintang. Jiuk dan Maratu Jiuk adalah dua Ilah yang menguasai awan dan menurunkan 134 Ibid ., hlm. 164-171. hujan, kemudian bersama Ilah Lanjarhari akan mengatur pergantian musim juga pergantian siang dan malam.

  Ketika seseorang meninggal, maka arwahnya akan menuju ke suatu tempat yang dinamakan balai Maratusi. Untuk mencapai tujuan ini tidaklah mudah, melainkan harus melewati banyak rintangan dan hambatan. Hal ini mudah bagi seseorang yang semasa hidupnya banyak berbuat kebaikan, sebaliknya sangat sulit bagi seseorang yang semasa hidupnya banyak berbuat kejahatan, kemaksiatan, dan bergelimang dengan dosa-dosa. Bagi roh-roh yang masih belum menemukan jalan menuju balai Maratusi akan masih berkeliaran di sekitar perkampungan inilah yang disebut dengan roh

  135

Pidara . Roh ini sering merasuki warga yang kelakuannya tidak jauh beda dengannya

  semasa hidup, dengan kata lain orang-orang yang hatinya tidak bersih. Bila seseorang sedang dirasuki roh Pidara ini, maka balian-balian akan dimainta untuk mengusirnya.

  Balai Maratusi akan sangat mudah dicapai oleh para balian. Roh-roh balian ini tidak disebut dengan Pidara, tetapi roh Pangguruan. Adalagi satu jenis roh lainnya, yaitu roh

  

Kariau , ini adalah roh para pemimpin desa. Roh ini juga bisa kesulitan dalam mencapai

  balai Maratusi. Ketika roh-roh ini berkeliaran, ia akan sering membuat orang-orang tersesat dalam perjalanan.

  Beberapa jenis binatang-binatang juga dianggap mempunyai roh, roh binatang disebut dengan Ingunan. Binatang-binatang itu antara lain ular, buaya, jenis burung tertentu, dan lain-lain. Setiap Bubuhan dalam masyarakat suku Dayak Meratus selalu memiliki atau memelihara Ingunan masing-masing. Ingunan juga dianggap sebagai

  136 roh pelindung.

  135 136 Ibid ., hlm. 44.

  Ibid ., hlm. 197.

3. Penciptaan Manusia Pertama.

  Setelah bumi dan langit serta pembantu-pembatu Suwara tercipta, Suwara kemudian menginginkan adanya makhluk yang menghuni bumi dari jenis lain.

  Kemudian Suwara memerintahkan Sang Hiyang Nining Hahatara untuk menciptakan makhluk yang disebut manusia. Proses pembuatan manusia pertama ini tidak berjalan mulus, beberapa kali malaikat suruhan Suwara (Sang Hiyang Nining Bahatara) ini membuatnya tetapi selalu gagal. Lalu Suwara memerintahkan Sang Hiyang Nining

  

Bahatara untuk mengambil tanah suci di dasar tiang penyangga langit, aras. Kemudian

  tanah suci tersebut diberikan setitik air kehidupan oleh Suwara supaya tanah itu bisa bernyawa. Setelah itu Suwara kemudian meniupkan angin putih atau angin jernih pada tanah yang dipegang oleh Sang Hiyang Nining Bahatara. Lalu oleh Sang Hiyang

  

Nining Bahatara tanah yang sudah diberi air kehidupan dan angin putih atau angin

jernih tersebut dibentuk untuk menjadi manusia.

  Beberapakali Sang Hiyang Nining Bahatara mencoba membentuk tanah tersebut untuk menjadi seorang manusia tetapi selalu gagal. Tanah tersebut selalu

  

rupui . Kemudian untuk yang ketiga kalinya tanah tersebut berhasil dibentuk. Akan

tetapi makhluk yang tadinya harusnya menjadi manusia pertama meminta makan darah.

  Hal ini tidak diinginkan oleh Suwara. Oleh karena itu makhluk ciptaan ini diperintahkan oleh Suwara ra kepada Sang Hiyang Nining Bahatara untuk membuangnya ke tempat yang jauh dari bumi. Makhluk ini kemudian dilempar ke tempat yang jauh ke sebelah langit. Kemudian makhluk ini selanjutnya menjadi cikal bakal setan atau roh dari iblis. Lalu Dia menguasai dunia di sebelah langit tersebut. di

  137 diceritakan Raja Hantu ini disandarkan di kayu yang diberi nama kayu sindura. 137 Moh. Soehadha, op. cit. hlm. 6. Setelah beberapa kali mencoba membuat manusia yang sempurna dan tidak meminum darah, tetapi selalu gagal, Sang Hiyang Nining Bahatara kemudian diperintahkan Suwara untuk menambahkan akar balaran dari surga pada campuran bahan pembentuk manusia tadi (tanah dari dasar tiang pengangga langit (aras), air kehidupan, angin putih (angin jernih). Kemudian Sang Hiyang Nining Bahatara kembali berusaha membuat manusia pertama. Setelah itu manusia pertama berhasil dibentuk oleh Sang Hiyang Nining Bahatara, tetapi belum bisa bergerak atau hidup. Setelah Suwara mengizinkan manusia itu bernafas, manusia pertama itu pun akhirnya berhasil diciptakan. manusia pertama yang berhasil dibuat kemudian disebut sebagai

  Limbangan yang selanjutnya bergelar Datu Adam.

  Datu Adam kemudian mendiami bumi yang telah lebih dahulu diciptakan oleh

Suwara . Datu Adam juga diberi keistimewaan oleh Suwara untuk dapat naik ke langit

  untuk berjalan-jalan di sana. Setelah lama berkelana sendirian dan merasa kesepian, turun naik bumi dan langit, Datu Adam menginginkan adanya seorang manusia lagi untuk menemaninya. Datu Adam kemudian meminta kepada Sang Hiyang Nining

  

Bahatara untuk membuatkan seorang manusia lagi. Lalu Sang Hiyang Nining Bahatara

  melaporkan permintaan Datu Adam tersebut kepada Suwara, untuk diciptakan lagi seorang manusia lagi untuk dijadikan teman untuk Datu Adam. Suwara yang merasa kasihan terhadap Datu Adam, kemudian mengabulkan permintaan Datu Adam tersebut.

  

Suwara memerintahkan Sang Hiyang Nining Bahatara untuk mencabut rusuk sebelah

  kiri Datu Adam, lalu hempaskan rusuk tadi ke dasar tiang aras, kemudian lempar rusuk

  138

  tadi ke bumi dan munculah Datu Tihawa. Lalu terciptalah Datu Tihawa untuk menemani Datu Adam. 138 Ibid . hlm. 7.

  Datu Adam senang/suka dengan Datu Tihawa. Datu Adam berniat mengawini

Datu Tihawa , tetapi Datu Tihawa menolaknya. Mereka berdua berkejaran ke sana-

  kemari yang menyebabkan semakin luasnya alam semesta. Setiap langkah mereka berdua menyebabkan selangkah bertambah luas alam semesta. Dari sana bermunculan gunung-gunung, lembah-lembah, dan jurang-jurang. Keringat yang bercucuran menghasilkan aliran-aliran sungai, dan lautan. Bulu-buluan tubuh yang berguguran berubah menjadi lebatnya hutan dan semak belukar. Sperma Datu Adam juga ikut bertetesan ke bumi dan menelurkan aneka satwa yang akhirnya mengisi dunia ini.

  Masyarakat adat suku Dayak Meratus selanjutnya menginterpretasikan bahwa semua unsur alam ini mencerminkan apa yang pada raga mereka. Contohnya angin yang bertiup melambangkan nafas, bebatuan adalah tulang, dan lain sebagainya.

  Datu Adam tiada hentinya mengejar Datu Tihawa yang berusaha menjauh dari

Datu Adam . Mereka berdua kemudian kelelahan dan kelaparan. Kemudian Sang

Hiyang Nining Bahatara menciptakan batang surga. Batang surga adalah semacam

  pohon yang sangat besar yang mempunyai banyak sekali cabang, tiap cabang mempunyai buah-buah yang berbeda-beda. Karena begitu indahnya batang surga, melihatnya saja sudah dapat membuat yang melihatnya kenyang. Jadi tidak perlu memakan buahnya karena memakan buah tersebut memang dilarang oleh Suwara..

  

Datu Adam dan Datu Tihawa kemudian berhenti berkejaran dan tertegun melihat

batang surga .

  Sementara itu di dunia sebelah langit, tersandar di batang sindura, Raja Hantu mendengar percakapan ini. Raja Hantu yang tidak suka dengan Datu Adam kemudian berusaha untuk mencelakai Datu Adam. Raja Hantu kemudian menyamar menjadi seekor ular dan menemui Datu Adam untuk merayu Datu Adam. Supaya memakan buah batang surga. Datu Adam kemudian teringat pesan dari Sang Hiyang Nining

  

Bahatara , untuk tidak memakannya karena dilarang oleh Suwara akan tetapi Datu

Adam tidak dapat menolak godaan dari Raja Hantu. Akhirnya Datu Adam memetik

  buah batang surga tadi. Datu Adam juga memberi buah batang surga pada Datu

  

Tihawa dan Datu Tihawa bersedia menerimanya. Datu Adam kemudian memakan buah

batang surga tadi. Sejak saat itu Datu Adam dan Datu Tihawa beserta keturunannya

  nanti dikutuk Suwara harus mengucurkan peluh dulu untuk mendapatkan makan.

  Buah batang surga yang mesih tertahan di kerongkongan Datu Adam kemudian mengeras dan menjadi jakun, seperti yang terdapat pada laki-laki sekarang ini. Sisa buah yang dipegangnya kemudian berubah menjadi payu dara yang kecil. Sedangkan buah batang surga yang belum sempat termakan oleh Datu Tihawa dan hanya dipegangnya kemudian mengeras dan menjadi payu dara yang besar.

  Datu Adam dan Datu Tihawa kemudian hidup di dunia sebagai suami isteri.

  Mereka mempunyai anak sebanyak 41 orang yang kemudian menjadi Nabi-nabi. Anak pertama mereka belum sempat di beri nama. Anak sulung tak bernama ini kemudian tinggal di gunung dan hutan. Dia yang kemudian menurunkan Ilah-ilah yang mengatur dan menjaga hutan dan gunung.

4. Nabi-nabi dalam Religi Kaharingan.

  Mirip dengan agama-agama besar (dan juga karena pengaruh-pengaruhnya), religi Kaharingan pada masyarakat adat suku Dayak Meratus juga mengenal sejumlah Nabi-nabi. Nabi-nabi tersebut adalah anak-anak dari Datu Adam dan Datu Tiwaha. Jumlah Nabi yang masyarakat suku Dayak Meratus percayai ada 40 orang yang setiap Nabi mempunyai tugasnya masing-masing. Semua Nabi berjenis kelamin laki-laki, mereka tidak beristeri dan tidak pula beranak-pinak. Terdapat beberapa Nabi yang menjadi balian, mereka adalah Nabi Bambang Mangkurat, Nabi Bambang Maraga,

  139 Nabi Bambang Mangkiling, dan Nabi Bambang Sinau.

  Para Nabi diberi keistimewaan keabadian, artinya mereka tidak akan pernah mati. Tugas Nabi-nabi ini berhubungan dengan pemeliharaan alam dan komponennya.

  Berikut adalah nama beberapa Nabi tersebut beserta tugas-tugasnya: a. Nabi Iberahim, Nabi ini bertugas mengatur api.

  b. Nabi Halias, Nabi ini bertugas menjaga tumbuh-tumbuhan yang buahnya dapat dimakan.

  c. Nabi Tilanjang, Nabi ini bertugas menjaga buluh.

  d. Nabi Timbulus, Nabi ini bertugas menjaga bambu.

  e. Nabi Malancar dan Nabi Jabarut, kedua Nabi ini bertugas menjaga akar-akaran.

  f. Nabi Maratam, Nabi ini bertugas menjaga pasir.

  g. Nabi Baginda Ali, Nabi ini bertugas menjaga awan dan mengatur hujan.

  h. Nabi Matimbar Batu, Nabi ini bertugas menghalau penyakit. i. Nabi Yakub, Nabi ini bertugas menjaga batu-batuan dan gunung-gunung. j. Nabi Suriapati Saindargangsa, Nabi ini bertugas gunung-gunung yang tinggi saja. k. Nabi Sulaiman dan Nabi Karun, kedua Nabi ini bertugas menjaga harta. l. Nabi Muhammad, Nabi ini betugas menjaga ladang dan tanaman-tanaman.

  Nabi yang 40 bernama Nabi Anggau. Nabi Anggau berbeda dengan kakak- kakaknya yang lain, kalau kakak-kakaknya bertugas sebagai penjaga bagian-bagian alam agar berjalan dengan baik, maka Nabi Anggau malah sebaliknya. Nabi Anggau bertugas membuat keonaran, dengan menghasut manusia, mengajaknya berbuat kemaksiatan dan kejahatan, menghancurkan pertanian warga, menyebarkan bibit 139 Noerid Haloei Radam, op. cit. hlm. 209. penyakit dan hama tanaman, kerusuhan, dan ketidaknyaman-ketidaknyamanan lainnya. Misalnya sering membuat ditabuni urang halus dan tersasar di hutan dan sulit ditemukan kecuali dengan ritual-ritual tertentu dan dibantu oleh balian-balian).

  Misalnya sering kali ketika para pencinta alam melakukan kegiatan pendakian gunung Meratus kehilangan anggotanya dan baru bisa diketemukan dengan bantuan balian-

  

balian suku Dayak. Diyakini Nabi Anggau tidak berwujud manusia, binatang,

tumbuhan, atau makhluk hidup lainnya.

5. Malaikat-malaikat dalam Religi Kaharingan.

  Keberadaan Malaikat juga diyakini oleh Mayarakat adat suku Dayak Meratus. Berbeda dengan para Nabi, tugas Malaikat hanyalah menjaga manusianya itu sendiri dan tidak menjaga atau memelihara alam. Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa terdapat 4 Malaikat yang mendampingi Suwara, 4 Malaikat ini akhirnya juga mendampingi manusia. Berikut adalah tugas ke empat Malaikat tersebut: a. Malaikat Jabaril, Malaikat ini berada di depan manusia, dia bertugas memelihara pernapasan manusia.

  b. Malaikat Mikail, Malaikat ini berada di belakang manusia, dia bertugas menjaga dari hal-hal yang berbahaya yang datang dari belakang.

  c. Malaikat Surapil, Malaikat ini berada di sebelah kanan manusia, dia bertugas mendorong untuk berbuat kebajikan.

  d. Malaikat Iskail, Malaikat ini berada di sebelah kiri manusia, ia bertugas menghalang-halangi godaan dari Nabi Anggau.

6. Balian sebagai Tokoh Spiritual dalam Religi Kaharingan.

  Balian merupakan tokoh keagamaan yang dimuliakan oleh yang lainnya karena

  mempunyai kelebihan-kelebihan serta ada juga yang berdasarkan garis keturunan dengan balian-balian terdahulu yang dianggap sakti oleh masyarakat adat suku Dayak

  140

  Meratus. Balian terbagi atas beberapa tingkatan sesuai dengan persyaratan- persyaratan yang harus dimilikinya. Balian-balian tersebut ialah: pertama, Balian Tuha, adalah orang yang mempunyai wewenang penuh dalam menjalankan suatu upacara ritual. Kedua, Balian Tangah, adalah balian yang sudah diperkenankan memimpin suatu upacara ritual. Ketiga, Balian Anum (Muda), adalah balian yang baru belajar tentang hal-hal keagamaan, seperti mempelajari mamang-mamang , cara-cara

  

baharaguan , ilmu-ilmu magis, dan lain-lain. Ketiga tingkatan balian yang disebutkan

  di atas, semuanya masih di atasi oleh satu tingkatan lagi, yaitu Guru Jaya. Dia adalah tempat bergurunya balian-balian bawahannya dan tempat pengaduan-pengaduan dalam pengambilan keputusan bersama.

  Tingkatan Guru Jaya hanya dapat dicapai oleh orang yang benar-benar mempunyai kelebihan (kesaktian) dan harus melewati banyak tahapan untuk mencapainya. Misalnya harus mampu bertahan di hutan gunung Halau-halau yang dikenal angker dalam beberapa waktu. Konon katanya di sana seorang calon Guru Jaya akan mengalami cobaan-cobaan berat dari penunggu hutan (Datu) tersebut. Menurut beberapa sumber lisan yang dikumpulkan, setelah seorang calon Guru Jaya berhasil melewati semua cobaan, godaan dan rintangan, maka selanjutnya dia akan diajarkan tentang hal-hal universal mengenai apa saja yang diperlukannya dalam memimpin nanti. Salahsatunya tentang metode pengobatan yang sarat mistis, oleh sebab itu dalam masyarakat adat suku Dayak Meratus Guru Jaya juga berperan sebagai dokter atau dukun atau tabib dalam penyembuhan penyakit atau dukun untuk hal-hal magis. Guru

  

Jaya penting artinya dalam bidang pertanian Masyarakat adat suku Dayak Meratus, 140 Tjilik Riwut Sanaman Mantikei, op. cit hlm. 486. dialah yang menentukan kapan waktu menanam yang tepat, kapan hujan mulai turun, dan lain sebagainya. Guru Jaya dianggap perantara dengan Ilah-ilah yang mereka

  141 puja.

  Guru Jaya hanya dapat dicapai oleh para Balian Tuha yang dianggap sudah

  mampu untuk melaksanakan dan mengepalai semua upacara ritual kepercayaan dan juga upacara adat. Berikut adalah perincian persyaratan dan fungsi dari masing-masing

  balian : Tabel 14. Perincian Persyaratan dan Fungsi Masing-masing Balian.

  Tingkatan-tingkatan Persyaratan Utama Fungsinya dalam Upacara Balian

Balian Anum (muda) Hafal mamang Iringan, Mengiringi mamang yang

Lampung , Tanjung, dan diucapkan Guru Jaya. Ikut

  Tabalong . Terampil batandik dibarisan belakang menabuh gendang

  Balian Tangah Hafal semua mamang Pengganti balian tuha Pujut, Putir, Kariu, Sisia mempersembahkan puji-pujian Banua, Dewata, Indung, bagi Ilah-ilah. Bapang. Mampu bapidara. Terampil menabuh gendang dengan semua irama

  Balian Tuha Hafal pidara Datu Nini Bapidara mambuka dan Anggas Muyang , Sang mengakhiri upacara bila guru Hiyang Nining Bahatara, jaya berhalangan. Sangkawanang, Mengucapkan puji-pujian bagi Pangguruan, Putir Sang Hiyang Nining Bahatara Pambahagi Tahun dan Sangkawanang Guru Jaya Hafal semua puji-pujian Mempersembahkan puji-pujian bagi semua Ilah, mampu bagi Guguhan., membuka dan 141 mawanangi padi menutup upacara religi dan Ibid ., hlm. 486.

  (mampu memimpin upacara Bawanang paling sedikit lima kali berturut-turut. komunitas. Memimpin upacara. Menyampaikan puji- pujian dan doa.

Sumber: Religi Urang Bukit: Suatu Lukisan Struktur dan Fungsi dalam Kehidupan Sosial-

Ekonomi, Noerid H. R. , disesuaikan dengan penelitian lapangan.

  Sebuah komunitas yang disebut dengan bubuhan rata-rata mempunyai seorang

  

Balian Tuha , tiga orang Balian Tangah, dan beberapa orang Balin Muda. Tetapi tidak

  semua komunitas mempunyai Guru Jaya. Terkadang dua atau tiga bubuhan yang berdekatan hanya mempunyai seorang Guru Jaya.

  Peranan sosial dalam masyarakat juga didasarkan pada tua mudanya usia, lama tidaknya usia perkawinan, dan yang pasti adalah keterampilan dan pengetahuannya dalam hal kepercayaan. Begitu juga dengan pelapisan sosial yang ada, agar lebih jelas berikut ini tabel yang menunjukkan pelapisan sosial yang besar disesuaikan dengan tingkat kealiman dalam kepercayaan.

  Tabel 15. Pelapisan Sosial dan Peran yang Dipegang

  Dasar Pelapisan Peringkat Peran Keagaman Peran Sosial- Kemasyarakatan Peran Pemerintahan Desa

  Atas Menengah Atas

  Guru Jaya Balian Tuha Juru Patati

  Kepala adat/tutuha

  Pambakal tuha Pambakal anum

  Menengah Balian Tangah

  Balian Anum Patati Panganan dan pangiwa malang dan angkingan

  Pangirak

  Juru tulis Bawah Calon balian Pemula Kelompok orang-orang awam

  Sumber: Religi Urang Bukit: Suatu Lukisan Struktur dan Fungsi dalam Kehidupan

Sosial-Ekonomi, Noerid H.R., disesuaikan dengan penelitian lapangan.

C. Pelaksanaan Ibadah pada Upacara-upacara Ritual.

  Terdapat beberapa upacara adat yang ada pada masyarakat adat suku Dayak Meratus. Secara garis besarnya, upacara-upacara tersebut dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok besar. Pertama, adalah upacara-upacara yang bercorak adat- komunitas. Kedua, adalah upacara-upacara yang berkaitan tentang perjalanan hidup manusia, mulai dari kehamilan, kelahiran, sampai pada kematian. Ketiga, adalah

  142

  upacara-upacara yang berkenaan dengan huma (pertanian). Kebudayaan masyarakat suku Dayak Meratus juga kerap disebut sebagai kebudayaan huma. Bahkan lebih jauh ada sebutan bahwa religi mereka adalah religi huma. Ini semua dikarenakan huma sangat identik dengan masyarakat adat suku Dayak Meratus, baik itu dari segi kebudayaannya terlebih pada kedekatannya dengan religi yang mereka anut.

  Upacara yang berkaitan dengan pertanian (huma) ini mempunyai makna yang dalam pada kepercayaan masyarakat adat suku Dayak Meratus, tentu saja dengan tidak memandang bahwa upaacara-upacara lainnya kurang kesakralannya. Pada upacara- upacara pertanian ini dapat dilihat deskripsi yang lebih mencakup atau mewakili unsur- unsur religi seperti yang juga terdapat pada upacara-upacara lainnya. Upacara-upacara ritual huma masyarakat adat suku Dayak Meratus mempunyai urutan-urutan yang harus dilaksanakan dengan teratur. Upacara-upacara ini juga mempunyai ketentuan-ketentuan tentang pelaksana-pelaksana upacara, tingkatan-tingkatannya, peralatan-peralatannya, dan lain sebagainya. 142 Noerid Haloei Radam, op. cit hlm. 229.

1. Upacara-upacara Adat yang Berhubungan dengan Kebudaayaan Huma

  Upacara-upacara yang sering diidentikkan dengan proyeksi dari religi Kaharingan masyarakat adat suku Dayak Meratus adalah upacara-upacara adat yang berhubungan dengan kebudayaan huma. Artinya pada upacara-upacara tersebut terkandung makna-makna religiusitas masyarakat adat suku Dayak Meratus. Oleh karena itu upacara-upacara tersebut juga dapat termasuk sebagai upacara ritual keagamaan atau ritus puak suku Dayak Meratus.

  Dalam religi Kaharingan, kebudayaan huma muncul ketika penghuni bumi menginginkan tumbuhnya padi seperti pada penghuni langit. Ketela pohon dan umbi- umbian sejenisnya adalah bahan makanan pokok bagi penghuni bumi sedangkan penghuni langit memakan padi. Suatu saat datanglah musim kering yang berkepanjangan yang melanda wilayah bumi, dan membuat tumbuh-tumbuhan (makanan) sulit tumbuh. Ini menyebabkan penghuni bumi kekurangan bahan makanan.

  Penghuni bumi (anak cucu Datu Adam dan Datu Tihawa) berusaha keras untuk dapat memperoleh makanan dari seluruh penjuru bumi, tapi tidak juga berhasil. Akhirnya penghuni bumi harus mencarinya ke “dunia lain”, yaitu ke langit.

  Penghuni langit masih mau berbaik hati memberi makan pada penghuni bumi. Penghuni langit memberikan makanan berupa nasi. Lama-kelamaan timbul keinginan penghuni bumi untuk mengetahui apa dan berasal dari mana nasi itu. Penghuni langit tidak keberatan memberitahukan bahwa nasi itu berasal dari padi. Penghuni bumi berusaha untuk dapat membawa padi tersebut untuk ditanam di bumi. Tapi selalu gagal karena ketahuan oleh penghuni langit yang melarangnya bila pulang membawa padi. Suatu ketika penghuni bumi berhasil membawa padi ke bumi, dengan menyembunyikan padi tersebut dalam alat kelaminnya, vagina.

  Padi yang ditanam di bumi ternyata tidak seperti pada padi yang ditanam di langit. Di bumi memerlukan waktu yang lama untuk dapat dipanen, berbeda dengan yang dilangit yang hanya membutuhkan waktu sehari. Penduduk bumi pun menanyakan penyebabnya pada penghuni langit. Ternyata proses penanaman di langit melalui ada upacara-upacara ritual yang di bumi tidak dilakukan. Dari sini kemudian

  143

  muncullah tradisi huma pada masyarakat suku Dayak Meratus. Jadi padi akan tumbuh dengan baik jika dilaksanakan upacara-upacara ritual seperti yang penduduk langit lakukan. Oleh karena itu pada masyarakat adat suku Dayak Meratus mengenal banyak tahapan upacara ritual dalam upaya menumbuhkan padi.

  Upacara-upacara tersebut adalah sebagai berikut: a. Upacara Mancari Padang Hanyar.

  Kalau pada puak suku Dayak Kayan terdapat istilah matap tanaa’, maka di puak suku Dayak Meratus dikenal istilah mancari padang hanyar. Tahapan pertama dalam kegiatan bahuma ini maknanya adalah mencari dan menentukan lahan untuk di-

  

huma . Lahan yang akan dipergunakan untuk bahuma harus bukan bekas kuburan,

  kalaupun sudah terlanjur ditanami maka umbun dapat tetap terus menggunakanya dengan catatan kewajibannya untuk menyediakan hewan persembahan (biasanya seekor babi atau menjangan, bisa juga kambing). Hewan persembahan diperuntukkkan bagi

  

Pidara Datu Nini . Lahan untuk bahuma juga bukan merupakan bekas dari tempat yang

  dulunya mempunyai cerita buruk atau sesuatu yang buruk tentangnya. Misalnya di tempat tersebut dulu pernah pernah terjadi pembunuhan, tempat maksiat, sering terjadi bencana atau kejadian buruk, atau kejahatan lainnya, atau juga bisa ada cerita hantu atau makhlus halus yang jahat di tempat tersebut. 143 Ibid ., hlm. 38.

  Ketika kepala umbun berkeinginan untuk membuka lahan baru untuk bahuma, dia tidak bisa langsung mencari lahan, membuka dan menanaminya. Kepala umbun harus memberitahu terlebih dahulu keinginan yntuk membuka lahan baru untuk

  

bahuma tersebut kepada tutuha bubuhan dan kapala padang untuk membantunya dan

  untuk mendapat persetujuan dari mereka. Setelah memberitahu, maka tutuha bubuhan dan kapala padang akan menentukan waktu untuk memulai mencari lahan baru untuk

  

bahuma tersebut. Setelah waktunya disetujui, kemudian kapala umbun, tutuha bubuhan

  dan juga kepala padang atau juga bisa diikuti oleh balian akan mulai mencari lahan baru untuk di-huma.

  Mereka akan memasuki hutan, menuruni gunung dan bukit, menelusuri lembah untuk menemukan lahan tersebut. perjalanan mereka bisa berhari-hari dan tidak cuma sekali, jika tidak berhasil di suatu kawasan maka akan dicoba kembali keesokan harinya ke arah yang berbeda. Dalam perjalanan ini kepala umbun biasanya menyediakan makanan dan minuman. Selain itu kepala umbun juga harus menyediakan beberapa ruas lamang lakatan.

  Ketika kepala umbun mengusulkan lahan yang ditemukan untuk menjadi lahan baru untuk di-huma maka calon lahan baru tersebut dikonsultasikan dengan tutuha

  

bubuhan atau Balian Tuha, dan harus mendapat persetujuannya. Di atas lahan itu

balian tuha akan membacakan mamang-mamang dan puji-pujian kepada Pidara Datu

Nini , kemudian kepada Pidara Datu Nini Balian, lalu kepada Ilah-ilah Tunjung, Diyang

Sanyawa, Lampung dan Pujut sambil melemparkan butiran lamang lakatan yang

  dibawa ke segala arah dan melambung-lambungkannya ke udara. Ini adalah bentuk komunikasi antara Balian Tuha dengan Ilah-ilah penguasa atau yang berhubungan dengan huma. Tujuannya adalah untuk memberitahu kepada Ilah-ilah tersebut bahwa di lahan tersebut akan dibuat lahan untuk bahuma dan agar Ilah-ilah tersebut merestuinya atau juga bisa tidak merestuinya. Setelah itu jawaban tentang lahan tersebut dari ilah-ilah yang dipuji kemudian di tunjukan dengan pertanda-pertanda alam atau juga bisa lewat mimpi. Pertanda-pertanda alam itu antara lain, banyak ular yang melintasi lahan baru tersebut (menampakkan diri), warna kuning atau merah di langit ketika senja tiba (yang tidak biasa, Balian Tuha yang mengetahuinya), banyak binatang-binatang pengganggu yang mendatangi lahan tersebut (seperti kararangga dan

  

katikih , ular, bingkarungan, halimanyar dan halilipan, atau kalajengking), perilaku

  binatang menunjukkan ingin mengusir atau menyuruh balian menjauh dari lahan tersebut (seperti hirangan yang berputar-putar di sekitar lahan sambil kancahungan atau kuriak-kuriak), mimpi bahwa terjadi bencana pada lahan tersebut (tanahnya ambles, tanaman yang ditanam di sana kering dan mati, banjir, kebakaran, Ilah-ilah yang menjelma menjadi salahsatu jenis binatang atau tumbuhan dan memberitahu

  

balian bahwa tanah tersebut tidak direstui untuk dijadikan lahan untuk bahuma,

  terdapat kecelakaan dalam kegiatan bahuma nantinya (luka kena perkakas bahuma, seperti kena sabetan parang atau layung atau tajak), dalam perjalanan pulang atau sesampainya di lahan tersebut terjadi kecelakaan (misalnya tertimpa pohon yang tumbang atau terperosok ke dalam jurang, terpeleset atau tertusuk pohon yang berduri, dan kecelakaan lainnya yang berakibat fatal dan parah.

b. Upacara Mamuja Tampa.

  Upacara Mamuja Tampa adalah upacara ritual masyarakat adat suku Dayak Meratus yang berkaitan dengan peralatan atau perkakas yang digunakan untuk bahuma.

  Perkakas tersebut antaralain adalah: parang mandau, tajak/tatajak, layung/belayung, dan kapak. Perkakas pertanian ini yang tadinya sudah tumpul karena lama tidak digunakan atau sudah rusak akan dipertajam atau diperbaiki atau dibuat yang baru.

  Setelah sebelumnya diadakan terlebih dahulu upacara Mamuja Tampa. Upacara

  

Mamuja Tampa bertujuan agar penggunaan perkakas tadi tidak membawa sial sehingga

dalam pelaksanaan kegiatan bahuma nantinya akan berhasil dan terhindar dari bencana.

  Kepala umbun yang berniat membuka lahan baru untuk bahuma akan menghubungi tukang tampa. Tukang tampa adalah orang yang bekerja sebagai pembuat perkakas besi untuk bahuma, seperti parang dan tajak. Tukang tampa dipercaya masyarakat adat suku Dayak Meratus tidak hanya mahir menempa besi untuk dijadikan perkakas, melainkan juga mempunyai kelebihan “bersahabat” dengan besi atau logam lain dan mempunyai kekuatan magis bahkan kebal terhadap besi atau panas api. Bagi perkakas yang sudah ada tetapi kondisinya sudah rusak atau perlu dilandapi, maka tukang tampa hanya perlu memperbaikinya atau mempertajamnya saja. Biasanya yang sering sudah rusak adalah hulu parangnya. Sedangkan mata parang mandau atau mata tajak sering sudah tumpul karena ketika menebas terkena batu atau batang kayu yang keras atau bisa juga karena sudah lama tidak digunakan dan membuatnya berkarat dan tidak tajam lagi.

  Pada upacara Mamuja Tampa, kepala umbun juga berkewajiban menyediakan beberapa ruas lamang lakatan. Lamang lakatan akan dipergunakan oleh tukang tampa untuk upacara Mamuja Tampa untuk dipersembahkan kepada Ilah Jajang Wasi dan juga Hiyang Nar. Tukang tampa akan membacakan mamang-mamang dan puji-pujian kepada Ilah-ilah tersebut sambil melembarkan butiran-butiran lamang lakatan tersebut ke peralatan penempaan besi. Namun tidak semua lamang lakatan dihabiskan buat di persembahkan untuk Ilah-ilah, sebagian lamang lakatan yang masih tersisa diberikan pada si tukang tampa dan sisanya lagi untuk disantap bersama-sama anggota umbun,

  tutuha bubuhan dan juga balian-balian.

  c. Upacara Batilah.

  Upacara adat Batilah adalah upacara yang dilaksanakan masyarakat adat suku Dayak Meratus sebelum balilingai. Pohon-pohon bambu yang tumbuh dan rumput- rumpat yang masih terdapat di dalam lahan untuk dijadikan lahan bahuma akan ditebang dan dibersihkan. Dengan sebelumnya mengadakan upacara Batilah. Tujuan dari upacara ini adalah agar dalam pengerjaan balilingai tidak terjadi kecelakaan atau sesuatu yang buruk menimpa si pengelola lahan huma tersebut. upacara Batilah juga bertujuan agar Ilah-ilah penguasa lahan tersebut tidak berkeberatan ketika akan di-

  lingai .

  Upacara Batilah diikuti oleh semua anggota umbun dan juga mengundang anggota bubuhan serta dihadiri balian-balian. Kepala umbun akan mempersembahkan beberapa sesajen yang berupa talaga darah, lamang lakatan dan lain-lain sambil mengucapkan mamang-mamang dan puji-pujian kepada Ilah-ilah yang bersangkutan.

  Dalah hal ini Ilah penguasa tumbuhan dan akar-akaran serta bambu, yakni Nabi Timbulus, Pujut, Tanjung dan Lampung.

  d. Upacara Marandahakan Diyang Sanyawa.

  Upacara Marandahakan Diyang Sanyawa juga biasa disebut dengan upacara

  

Katuhaan . Upacara Marandahakan Diyang Sanyawa adalah upacara untuk

  menghormati Ilah-ilah yang mendiami atau tinggal di pohon-pohon besar yang terdapat di lahan yang akan dijadikan untuk bahuma. Pohon-pohon besar dan tinggi tidak boleh langsung ditebang begitu saja. Ini adalah pantangan besar bagi masyarakat adat suku Dayak Meratus. Jika diabaikan maka mereka yakin akan terjadi sesuatu yang memudaratkan atau berdampak buruk bagi manusia.

  Pohon besar dan sudah berusia puluhan bahkan ratusan tahun bagi masyarakat adat suku Dayak Meratus dipercaya mempunyai roh penunggu atau Datu. Mereka menyebut roh/Datu tersebut dengan Diyang Sanyawa. Sedangkan pohon besar dan tinggi tempat tinggal roh-roh penunggu/Datu tersebut mereka sebut dengan balai

  

diyang sanyawa . Marandahakan Diyang Sanyawa artinya adalah menebang pohon

  besar tersebut. Dengan diselenggarakan upacara Marandahakan Diyang Sanyawa hendaknya roh penunggu/Datu atau Diyang Sanyawa akan bersedia pergi berpindah dan tidak marah karena tempat tinggalnya atau balai diyang sanyawa ditebang atau dirobohkan.

  Untuk upacara Marandahakan Diyang Sanyawa Kepala umbun berkewajiban menyediakan beberapa sesajen, yakni secawan banyu hidup, talaga darah, telur ayam kampung, kabun tujuh, lamang lakatan, lamang baras, beberapa ruas manisan habang dan manisan kuning, serta tihang bakapa. Tihang bakapala adalah tiang setinggi sekitar dua meter yang terbuat dari balok kayu ulin yang tidak terlalu besar. Pada bagian ujung yang satu dibuat runcing sehingga mudah untuk ditancapkan ke dalam tanah. Pada bagian ujung yang stunya akan diukir sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk kepala manusia. Terdapat mata, hidung, mulut, dan lainnya pada tihang bakapala ini.

  

Tihang bakapala ditancapkan ke dalam tanah pada lahan baru yang akan dijadikan

  lahan untuk bahuma. Ini juga menandakan bahwa lahan tersebut sudah ada umbun yang akan menggunakannya atau mengelolanya.

  Sebelum pohon besar atau tinggi ditebang, segala peralatan dan bahan upacara disiapkan. Tihang bakapala ditancapkan ke dalam tanah pada lahan baru. Sesajen- sesajen yang dudah disiapkan dikumpulkan dan diletakkan mengelilingi tihang

  

bakapala . Kemudian balian tuha akan memimpin membacakan mamang-mamang dan

  pujian-pujian kepada Ilah-ilah Sisia Banua, Pujut, Tanjung, Diwata, Putir Dara Diwata,

  Uhang, Ka Bapang, Putir Di Puncak, Bapang, dan Iringan. Balian-balian yang lainnya mengikuti balian tuha. Puji-pujian ini terus dibacakan sampai pohon besar dan tinggi atau balai Diyang Sanyawa selesai ditebang atau dirobohkan. Setelah itu kemudian peralatan yang digunakan untuk menebang pohon dikumpulkan dekat tihang bakapala.

  Lalu balian tuha akan berdiri dan mengelilingi tihang bakapala sambil membawa

  

kabun tujuh dan mencelupkannya ke cawan banyu hidup lalu memercikkannya ke

  sekitar tihang bakapala dan membasahi peralatan penebangan pohon tadi. Setelah itu

  

balian tuha akan mendekati talaga darah dan mencelupkan telur ayam kampung

  kedalamnya, kemudian memecahkannya lalau mengoleskannya ke perkakas penebangan pohon tadi.

  Selanjutnya upacara Marandahakan Diyang Sanyawa diakhiri dengan ber-

  

pidara- nya balian tuha sebagai tanda syukur terhadap Ilah-ilah di atas tadi. Kemudian

  beberapa ranting dan daun-daun yang masih banyak berserakan di sekitar lahan akan dibersihkan.

e. Upacara Bamula.

  Upacara Bamula adalah upacara yang lebih meriah dibanding dengan upacara sebelumnya. Selain anggota umbun dan juga bubuhan, upacara Bamula juga mengundang warga dari bubuhan-bubuhan dari balai-balai lain atau rumah-rumah lain dari keluarga lain. Upacara Bamula dilaksanakan di atas lahan yang akan ditanami tadi.

  Upacara Bamula biasa dimulai pagi-pagi sekali, ketika matahari mulai beranjak muncul di ufuk Timur.

  Para anggota umbun dan bubuhan, serta para undangan berbondong-bondong menuju tempat akan dilaksankannya upacara Bamula. Mereka memamai pakai-pakaian yang bagus-bagus layaknya pakaian ketika mau pergi ke pesta perkawinan. Hari dilaksanakannya upacara Bamula dipilih hari yang baik. Hari baik bagi masyarakat adat suku Dayak Meratus adalah hari pertama, kedua dan hari ketiga. Di mana pada hari- hari tersebut hari diciptakannya manusia, besi dan banih. Hari –hari tersebut ditandai dengan munculnya bulan atau bulan hidup pada malam hari sebelumnya. Penentuan hari dilaksanakannya upacara Bamula biasa diputuskan oleh tutuha bubuhan bersama balian -balian, terutama balian tuha.

  Di atas lahan baru tersebut kepala umbun dibantu oleh anggotra-angota umbun lainnya dan juga beberapa orang yang bersedia membantu akan membuat semacam bangunan panggung segi empat sederhana yang terbuat dari potongan-potongan bambu sebagai sisi-sisinya juga ada terbuat dari pohon manisan. Bangunan segi empat ini mereka sebut dengan nama pamataan. Tinggi pamataan sekitar setengah meter dari tanah. Lantainya yang mereka sebut dengan para-para ditutup dengan kain bubut

  

huwan . Biasanya pada bagian sisi-sisi pamataan dihiasi dcengan kain-kain warna-warni

  atau bisa juga tapih dan ada juga dengan bunga-bungaan. Di atas pamataan inilah diletakkan sesajen-sesajen yang telah dipersiapkan oleh kepala umbun.

  Sesajen-sesajen yang harus disiapkan oleh kapala umbun untuk upacara Bamula adalah kabun tujuh, wadai-wadai, hewan persembahan, lamang lakatan, lamang baras,

  

banyu hidup , dan lain-lain. Di depan pamataan sekitar 4-5 meter terdapat tiang yang

  disebut dengan tihang layar yang juga berhias. Di antara pamataan dan tihang layar terdapat delapan lubang buat ditanami padi dan satu lubang lagi di masukkan sebatang bambu buluh yang berisikan banyu hidup. Lubang-lubang ini mereka sebut dengan paumangan . Artinya sebagai tempat umang.

  Setelah semua peserta upacara berkumpul di sekitar pamataan dan tihang layar, maka upacara Bamula segera dimulai. Pertama-tama Balian Tuha akan membacakan

  

mamang-mamang dan puji-pujian pada Ilah Hiyang Kuasa. Kemudian balian tuha akan mengundang arwah-arwah dan roh-roh yang akan terlibat dalam upacara Bamula. Arwah-arwah yang diundang adalah arwah-arwah guru jaya, Ilah-ilah juga diundang untuk hadir dalam upacara Bamula. Ilah-lah yang diundang antara lain: Iringan,

  

Tanjung, Lampung, Diwata, Putir, Tabalong, Pujut Wawadun, Indun dan Bapang.

  Puji-pujian dan mamang- mamang diiringi oleh balian-balian yang lain. Akan tetapi ada pada bagian tertentu di mana balian-balian yang lain hanya berdiam dan mendengarkan Balian Tuha bapidara. Selanjutnya Balian Tuha akan maju ke depan dan mengambil kabun tujuh lalu mencelupkannya ke dalam cawan banyu hidup, kemdian memercikkannya ke permukaan tanah ke segala arah.

  Berikutnya adalah menyembelih hewan persembahan, biasanya ayam kampung. Darah hewan persembahan ini kemudian dioleskan ke sisi-sisi pamataan dan tihang

  

layar . Sisa darahnya kemudian dimasukkan ke dalam paumangan. Setelah itu kepala

umbun akan memilih benih padi/umang yang bagus sebanyak sembilan pasang untuk

  diserahkan ke Balian Tuha. Sembilan pasang umang ini kemudian di mamang-

  

mamang oleh Balian Tuha dan kemudian di masukkan dalam paumangan. Setelah

semuanya selesai barulah lahan tersebut ditanami dengan bibit padi.

f. Upacara Basamu Umang.

  Upacara Basamu Umang dilaksanakan ketika padi yang ditanam sudah besar dan mulai menunjukkan tanda-tanda mau berbuah. Oleh karena itu perawatan dan pemeriharaan terhadap tanaman perlu ditingkatkan. Umang yang ditanam pertama pada upacara Bamula dipandang sebagai induk dari semua padi yang tumbuh di lahan. Jadi

  

umang tersebut harus dijaga dari penykit, hewan pengganggu dan juga dari gangguan

Nabi Anggau.

  Umang sendiri berasal dari kata “uma” yang berarti “ibu” atau “induk”. Umang

  yang tumbuh dipercaya masyarakat adat suku Dayak Meratus adalah jerih payah Datu

  

Bini Badangsanak Walu yang menumbuhkannya. Semua padi di lahan itu tergantung

  dari umang. Jika umang-nya terkena penyakit atau terganggu atau bahkan mati maka kondisi ini akan menimbulkan gangguan bagi yang lain dan bisa menyebabkan gagal panen.

  Upacara Basamu Umang bisa dilakukan di tempatya pamataan di lahan atau juga bisa di dalam rumah balai adat. Upacara Basamu Umang yang dilakukan di

  

pamataan atau di lahan huma disebut juga sebagai Aruh Lawang Kincing. Sedangkan

Basamu Umang yang dilaksanakan di dalam rumah balai adat disebut sebagai Aruh

Balamang Balai, karena dalam upacara tesubut lamang lakatan digunakan sebagai

sesajennya.

  Peralatan dan bahan-bahan yang digunakan dalam penyelenggaraan upacara

  

Basamu Umang adalah antara lain: tihang panggulung, daun enau, wadai-wadai dari

galapung lakatan atau galapung baras , bubur beras merah dan putih, langgatan

pangganti atau kain bubut huwan, talaga darah, hewan persembahan, buah-buahan

  seperti pisang, umbi-umbian seperti talas dan singkong, biji-bijian seperti kacang- kacangan, lamang lakatan, pucuk badiri, lalaya dan sangkar amas atau maligai

  rimbunan amas .

  Peralatan dan bahan-bahan yang digunakan di atas mempunyai makna–makna tersendiri. Sesajen yang berupa makanan-makanan diperuntukkan bagi hewan-hewan pengganggu banih. Makan-makanan ini biasanya dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai beberapa jenis binatang, seperti kera, tikus kalajenking, kepiting dan lain sebagainya. Ada juga wadai-wadai yang dibentuk menyerupai bentuk bulan ,matahiari tau gunung atau bentuk-bentuk unsur alam lainnya. Selain untuk hewan-hewan pengganggu ada juga sesajen yang diperuntukkan sebagai persembahan terhadap Ilah Hiyang Kuasa. Tujuannya adalah agar Ilah-ilah penguasa memberkati tanaman dan menjaganya dari pengaruh jahat Nabi Anggau.

  Pada upacara Basamu Umang banyak kiasan-kiasan yang dipergunakan dalam penyebutan-penyebutannya. Banih tidak disebut sebagai banih tetapi dikiaskan dengan

  

ading, ading diyang, diyang panambai , diyang panjulak, diyang halin, diyang

kabungsuan, tihang rajaki, wawadun ; dan pahumaan dikiaskan dengan pulau, pulau

muhammat, kabun muhammat, tilam patadianan, tilam pananjatan, laut panajatan,

  144 bumi panajatan, laut palayaran, dan pulau palayaran.

  Setelah upacara Basamu Umang selesai dilaksanakan, makanan sisa sesajen akan disantap bersama-sama sedangkan talaga darah akan diminum oleh balian-balian dan tutuha bubuhan. Kemudian semua orang meninggalkan ladang (bagi yang mengadakkan upacara Basamu Umang jenis Aruh Lawang Kincing). Ladang tersebut tidak boleh didatangi oleh siapapun selama tiga hari termasuk oleh kepala umbun sendiri dan anggota umbun yang menggarap pahumaan tersebut. Jika ada yang harus dilakukan seperti bersih-bersih atau ada perkakas yang ketinggalan, maka itu hanya boleh dilakukan setelah tiga hari tersebut.

g. Upacara Manyindat Banih.

  Manyindat banih artinya mengikat batang-batang padi sehingga menjadi

  rumpun–rumpun padi. Batang-batang padi diikat menjadi rumpun-rumpun padi hanya dengan menggunakan batang padi itu sendiri yang telah di remas-remas sehingga batang tersebut menjadi lentur menyerupai tali. Rumpun-rumpun padi yang dikumpulkan tadi kemudian diletakkan di empat penjuru sudut ladang. Rumpun- 144 Ibid ., hlm. 262. rumpuan padi yang diletakkan di empat sudut penjuru ladang tersebut dipercaya masyarakat adadt suku Dayak Meratus sebagai pagar penjaga bagi padi-padi yang lainnya. Tujuannya agar padi-padi lainya terhindar dari hantu-hantu yang bisa membuat padi menjadi ringan dan kosong dan kehilanyan barakat-nya atau harakat-nya. Hantu- hantu itu adalah antaralain Raja Urang Halus, Urang Halus, Nabi Anggau, Hantu Tanah, Hantu Kisut, Hantu Salukut/Pancacak, dan hantu angin.

  Upacara Manyindat Banih dilakukan dekat pamataan dan juga di pondok tempat jaga ladang. Peralatan dan bahan-bahan yang digunakan dalam upacara

  

Manyindat Banih adalah antara lain: sirih, kapur, lamang lakatan, kabun tujuh, talaga

darah , timbaku, dan daun ilalang. Bahan-bahan di atas merupakan simbol untuk tujuan-

  tujuan tertentu dalam pelaksanaan upacara Manyindat Banih. Lamang lakatan, talaga

  

darah , kapur dan sirih, timbaku dipersemnbahkan untuk makanan dan minuan bagi Ilah

Diyang Panambai . Ada juga lamang lakatan dan talaga darah yang disantap bersama-

  sama. Daun ilalang diikat dan digantungkan di ujung-ujung atap pondok penjagaan ladang. Tujuannya agar terlindung dari gangguan roh-roh halus jahat atau Raja Urang

  

Halus dan juga Nabi Anggau atau hantu-hantu lainnya. Daun ilalang dipercaya

  masyarakat adat suku Dayak Meratus mempunyai kekuatan magis untuk dapat menjauhkan diri tipu daya kekuatan jahat.

  Upacara dimulai dengan Balian Tuha yang bapidara di dalam pondok penjagaan ladang. Balian Tuha akan memnca mamang-mamang dan puji-pujian kepada Ilah-ilah Bapang, Indung, Diwata, Diwata Badangsanak Ampat, Diwata Badangsanak

  

Walu, Jajanang Wasi dan Putir. Setelah mamang-mamang dan puji-pujian selesai,

balian tuha akan mendekati rumpun-rumpun padi dan mengusap-ngusapnyanya satu

  persatu. Kemudian rumpun-rumpun padi itu dikumpulkan menjadi satu dan diikat bersama dengan kabun tujuh.

  Setelah upacara selesai, kepala umbun beserta anggota-anggota umbun akan membersihkan sekitar ladang tempat pelaksanaan upacara. Karena setelah itu mereka kembali harus berpantang tidak boleh mendatangi ladang selama tiga hari berturut- turut. Setelah tiga hari berpantang tidak mendatangi ladang tersebut barulah proses penuaian padi dilakukan.

h. Upacara Manajak Tihang Basungkul atau Manatapakan Tihang Banua.

  Sebelum upacara Manajak Tihang Basungkul atau Manatapakan Tihang Banua dimulai, kepala umbun beserta anggota-angota umbun akan membersihkan daerah sekitar ladang, terutama pada bagian pamataan. Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengecek kondisi bangunan pamataan. Bagi pamataan yang sudah rusak atau bahkan sudah roboh akan diganti dengan yang baru. Biasanya tiang-tiangnya sudah agak lapuk dan harus diganti. Namun ada juga pamataan yang masih bagus dan hanya perlu dibersihkan saja. begitu pula dengan tihang layar yang berada di depan pamataan,

  

tihang layar yang sudah lapuk akan diganti dengan yang baru dan jika masih kuat akan

tetap digunakan, hanya cukup dibersihkan saja.

  Pamataan dan tihang layar kemudian akan diberi hiasan, yakni dengan bunga-

  bungaan, daun-daun yang indah, seperti daun enau. Di sisi-sisi pamataan digantungi kain-kain warna-warni, begitu pula dengan tihang layar yang dililiti kain warna-warni dan ada juga yang menjuntai ke bawah. Selain pamataan dan tihang layar, peralatan yang digunakan dalam upacara ini adalah tihang basungkul. Tihang basungkul serupa dengan tihang layar, akan tetapi bagian atasnya dihiasi dengan kain penutup semacam kerudungnya.

  Seperti halnya pada upacara-upacara ritual sebelumnya, upacara Manajak

Tihang Basungkul atau Manatapakan Tihang Banua juga memerlukan sesajen-sesajen. Sesajen-sesajen ini harus disiapkan oleh pengelola ladang, yakni kepala umbun beserta anggota-anggota umbun. Sesajen-sesajen itu adalah kabun tujuh, lamang lakatan, hewan persembahan, talaga darah, dan wadai-wadai. Sesajen-sesaajen ini diletakkan di

  

pamataan di atas para-para. Sedangkan hewan persembahan diletakkan/diikat di

  bawah pamataan. Kemudian upacara Manajak Tihang Basungkul atau Manatapakan

  

Tihang Banua segera dimulai dengan diikuti oleh kapala umbun, aggota-anggota

umbun , balian balian dan bisa juga undangan dari bubuhan-bubuhan. Balian Tuha

  akan bapiraa, membacakan mamang-mamang dan puji-pujian kepada Ilah-ilah Hiyang

  

Kuasa . Ilah-ilah Hiyang kuasa yang dipuji-puji adalah Bapang, Indung, Diwata

Badangsanam Ampat, Iringan, Pujut, Jajanang Wasi, Wawadun, Raja Umbayang,

Diwata Badangsanak Walu, Datu Adam Katihan, Hiyang Wasi, Lampung , Balian

Sinau, Balian Nyaru, Tabalong, Putir, dan Putir Dara.

  Setelah puji-pujian selesai diucapkan oleh Balian Tuha, kemudian hewan persembahan disembelih. Selanjutnya darah yang mengucur desar dari leher hewan persembahan dioleskan ke tiang-tiang pamataan, tihang basungkul dan juga tihang

  

layar . Darah hewan persembahan juga dikucurkan ke dalam paumangan yang sudah

ditumbuhi padi.

  Sesajen-sesajen yang disiapkan kemudian dibagikan pada peserta upacara sambil memnggang hewan persembahan untuk disantap bersama-sama. Porsi untuk

  Balian Tuha biasanya lebih banyak dari pada porsi untuk lainnya.

i. Upacara Bawanang.

  Upacara Bawanang atau juga seriung disebut dengan Aruh (pesta) Bawanang berasal dari kata wanang, yang berarti menjalani hidup dengan tidak melanggar peraturan hidup atau larangan-larangan atau pemali yang ada dalam masyarakat adat suku Dayak Meratus. Tetapi makna wanang di sini tidak ditujukan pada manusia, melainkan ditujukan kepada padi. Semua padi yang terdapat di bumi dianggap masyarakat adat suku Dayak Meratus tidak boleh dimasak dan dimakan serta dijual sebelum di-wanang-i terlebih dahulu. Jadi tujuan dari upacara Bawanang adalah untuk me-wanang-i, agar padi menjadi suci.

  Fungsi upacara Bawanang lebih jauh adalah untuk mengmbalikan status segala hal yang bersangkutan pada upacara pertanian lainnya pada kedudukan yang seharusnya atau dengan kata lain untuk menormalkan lagi keadaan. Perilaku manusia di dunia dipandang masyarakat adat suku Dayak Meratus sebenarnya banyak menyimpang dari keharusannya. Manusia menebang pohon-pohon, menginjak-injak tanah, memotong ranting dan daun-daun, membunuh binatang-binatang dan lain sebagainya. Itu semua dipandang mereka sebagai suatu pelanggaran tetapi memang harus dilakukan untuk tetap bertahan hidup. Di sini mereka dituntut untuk menjadi bijaksana untuk tetap menghormati apa yang mereka percayai tersebut, antara lain dengan tetap menyembah kepada Ilah-lah yang telah membantu kelangsungan hidup mereka. Oleh sebab itu upacara Bawanang mempunyai makna yang lebih dalam lagi sebagai wujud dari membebaskan diri dari dosa dan kesalahan yang harus mereka akukan demi hidup dan kehidupan mereka

  Upacara Bawanang sendiri terdiri dari empat tingakatan, yakni Bawanang

  

Baampah, Bawanang Batuju Kambang, Bawanang Batangkalak, dan Bawanang

Baiyut. Tingkatan upacara Bawanang ini didasarkan pada lama waktu penyelenggaraan

  upacara tersebut.

  Upacara Bawanang dilaksanakan dengan 3 tahap runutan upacara berbeda. Pertama, adalah dengan cara Baputir. Kedua, adalah dengan cara Bariwah. Ketiga adalah dengan cara Badiwa. Pada setiap cara memerlukan peralatan yang masing- masing dan tersendiri. Pada cara Baputir peralatan yang akan dibutuhkan adalah

langgatan, patadukan, tihang pabahataraan, kabun tujuh, dan tihang panguasa.

  Kemudian pada cara Bariwah perlengkapan yang diperlukan adalah pahantuan, lalaya,

  

pucuk badiri, maligai rimbunan amas, kabun tujuh, dan tihang panggalung. Terakhir

  pada cara Badiwa mengharuskan adanya tihang lalakibibini, tihang bahatara, dan

  

langgatan raden. Perlengkapan tambahan lainnya adalah jujumun, balai bajalan,

ayang-ayang pujut . Sesajen yang akan dipetrlukan pada upacara ini adalah lamang

lakatan , talaga darah, wadai-wadai lakatan yang dibentuk sedemikian rupa sehingga

  dapat mewakili makhluk hidup yang ada di bumi (manusia, binatang peliharan, binatang perusak, dll), bagian-bagian alam (hutan, sungai, gunung, dll.), serta tata surya (matahari, bulan, bintang, dll.).

  Ada beberapa jenis sesajen yang disajikan di sini. Bubur merah dan putih dari lakatan disajikan dalam sebuah cawan. Darah hewan persembahan juga dituangkan dalam sebuah cawan. Sejumlah kulit padi, satu biji kelapa, minyak kelapa, gula aren, dan seekor ayam panggang dimasukkan dalam bakul pabayuan. Keseluruhan sesajen itu diletakkan di antara patudakan, lalaya, dan balai rimbunan amas. Sedangkan hewan-hewan persembahan akan diikatkan pada jujumun dan pahantuan. Lamang

  

lakatan tadi diletakkan didirikan di tihang pabahataraan. Sesajen disini nantinya ada

yang akan disantap bersama-sama, sama halnya pada upacara-upacara pertaian lainnya.

  Jangan dikira upacara Bawanang ini hanya sebentar, pelaksanaannya pernah memakan waktu 20 hari. Selama masih berlangsungnya upacara tersebut, maka selama itu pula ada pantangan-pantangan yang harus dilakukan oleh masyarakat adat suku Dayak Meratus. Biasanya atau normalnya pelaksanaan upacara tersebut memakan waktu 3 sampai 10 hari saja, tergantung seberapa banyak hasil padi yang mereka dapatkan dalam tahun tersebut, semakin banyak hasil maka akan semakin lama upacara Bawanang berlangsung. Pantangan yang dimaksud di sini adalah tidak boleh melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan pertanian dan berburu. Jadi masyarakat adat suku Dayak Meratus hanyalah duduk-duduk tinggal di rumah balai adat.

  Pelaksanaan upacara Bawanang dikepalai oleh ketua adat dan dibantu oleh

  

malang dan cangkingan. Mereka menyediakan peralatan-peralatan upacara. Upacara

  dihadiri oleh seluruh anggota mayarakat adat suku Dayak Meratus. Pada upacara ini akan tampak jelas kesaktian-kesaktian dari masing-masing balian. Upacara Bawanang hanya boleh dibuka dan diakhiri oleh Guru Jaya. Di mulai dengan Guru Jaya.dan

  

Balian Tuha yang duduk di atas beras. Kemudian mengucapkan pupi-pujian terhadap

Ilah-ilah, lalu Balian-balian Tangah dan Anum akan mengikutinya. j. Upacara Mamisit Banih.

  Upacara Mamisit Banih adalah upacara ritual terakhir dalam serangkaian upacara pertanian pada masyarakat adat suku Dayak Meratus. Mamisit Banih maknanya adalah memasukkan padi ke dalam diyang. Banih yang akan dimasukkan ke dalam diyang adalah banih yang harus sudah wanang.

  Pada upacara terakhir ini kepala umbun juga diwajibkan menyediakan bahan- bahan atau sesajen-sesajen dan peralatan untuk upacara ini. Sesajen-sesajen itu adalah

  

talaga darah, kain bubut huwan, bakul pabayuan, lamang lakatan, bubur baras, bubur

lakata n, minyak lanjar, sirih, kapur, rokok daun, dupa kemenyan, timbaku, kabun

tujuh dan langgatan. Tihang layar , tihang kalayangan, dan tihang basungkul juga

disediakan untuk dididiran di depan diyang.

  Upacara Mamisit Banih dilaksanakan di tiga tempat, yakni di depan diyang, di dalam balai adat dan di depan balai/di halaman balai adat. Upacara Mamisit Banih sesi pertama di depan diyang bermakna mengadakan pernghormatan atas banih yang sudah berhasil ditempatkan di tempat semestinya yakni di dalam diyang. Di depan diyang

  

balian tuha akan bapidara memnbaca mamang-mamang, puji-pujian dan doa kepada

Putir Dara, dan Datu Raja Kawasa. Selanjutnya upacara Mamisit Banih akan

  dilaksanakan di dalam balai adat. Di dalam rumah balai adat, Balian Tuha akan memuji-muji Ilah-ilah Diwata, Datu Raja Kawasa dan Sisia Banua. Kepala umbun dan anggota-anggota umbun duduk berkeliliding di dalam balai adat sambil mendengarkan

Balian Tuha bapidara . Terakhir upacara akan dilanjutkan di depan rumah balai adat.

  Di depan balai adat Balian Tuha tidak lagi bapidara atau membaca mamang-mamang dan memuji-muji Ilah-ilah. Akan tetapi Balian-balian akan batandik sambil diiringi bunyi alat musik katapung dan sarunai. Tandik-an mereka mereka sebut dengan tandik

  

bakanjar . Ini merupakan pencerminan dari kesukariaan masyarakat adat suku Dayak

Meratus atas keberhasilan panen mereka.

  Terdapat persepsi yangmengatakan bahwa sistem perladangan suku Dayak telah banyak merusak hutan melalui ssstem perladangan berpindahnya. Suku Dayak yang berladang dengan cara menebang hutan atau membakarnya kemudian eninggalkan lahan yang sudah selesai digunakan begitu saja. Anggpan ini tentu saja tidak berdasar kenyataan di sana dan tidak melihatnya secara jeli (obyektif). Lebih jauh, juga karena anggapan tersebut diciptakan sengaja oleh orang-orang tertentu yang ingin mengambil keuntungan (Pemerintah?). Pemerhati suku Dayak , John Bamba pernah membahasnya lewat artikel yang ditulisnya yang berjudul “10 Anggapan Salah Mengenai Sistem

  145

  Perladangan Orang Dayak”. Secara logika orang-orang suku Dayak tidak mungkin merusak hutan yang sejatinya adalah rumah mereka, tempat tinggal mereka, lingkungan mereka, penghidupan mereka, sumber mata pencaharian mereka, bahkan tempat tinggal 145

  John Bamba, "10 Anggapan Salah Mengenai Sistem Perladangan Orang Dayak”, dalam majalah Kalimantan Review, nomer 5 tahun II September-Desember 1993, hlm. 37. roh-roh yang mereka puja-puji. Alam juga mewakili tentang pencerminan dirinya sendiri, jadi mustahil orang-orang Dayak merusak hutan yang juga berarti merusak dirinya sendiri. Jauh sebelum Pemerintah Republik ini mengeluarkan Undang-undang No. 4 Tahun 1982 yang berbunyi “Lingkungan hidup Indonesia yang dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada Bangsa rakyat Indonesia, merupakan rahmat daripada- Nya dan wajib dikembangkan dan dilestarikan kemampuannya agar dapat tetap menjadi sumber dan penunjang bagi bangsa dan rakyat Indonesia serta makhluk lainnya, demi kelangsungan dan kualitas hidup itu sendiri”, masyarakat adat Dayak sudah menerapkan pentingnya alam bagi kehidupan makhkluk di bumi (termasuk manusia dan alam itu sendiri) di dunia ini.

  Orang-orang suku Dayak tidak pernah serakah dalam pengelolaan lahan huma, bahkan semuanya berlandaskan kebersamaan. Masyarakat adat suku Dayak Meratus menebang pohon-pohon lalu balilingai untuk membuat lahan pertanian bukan dengan/demi alasan ekonomi semata, tapi malahan demi keseimbangan alam itu sendiri agar keharmonisan antara manusia dengan alam agar tetap terjaga. Mereka juga tidak menggunakan peralatan canggih (seperti alat-alat berat) yang bisa mengubah puluhan gunung menjadi gundul atau menjadi lahan pertambangan hanya dalam

  146

  hitungan bulan. Pertumbuhan penduduk orang-orang suku Dayak pun tidak bias di jadikan alasan kerusakan hutan karena tuntutan hidupnya, karena laju pertumbuhan penduduknya kecil (lambat). Kalimantan menjadi sangat ramai manusia setalah

  147 banyaknya program tranmigrasi yang ditujukan padanya.

  146 Seperti kasus pengelolaan hutan oleh HPH yang mengekploitasi hutan Kalimantan besar-besaran tanpa memperhitungkan keseimbangan alam. 147 John Bamba, loc. cit.

BAB IV FORMALISASI AGAMA A. Negara dan Formalisasi Agama. Proses formalisasi agama atau “pengagamaan” termasuk salah satu di antara

  banyak program-program Pembangunan oleh Pemerintah Pemerintah rezim Orde Baru yang ditujukan pada masyarakat adat suku Dayak Meratus dapat diandaikan seperti keping mata uang. Formalisasi agama yang tergabung dalam program Pembangunan lainnya mempunyai 2 sisi, yakni sisi baik dan juga sekaligus sisi buruk. Alasannya mudah ditebak, karena tujuan-tujuannya tidak murni demi kemanusiaan atau sosial, akan tetapi sudah ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan lain oleh pihak tertentu (misalnya politis atau bahkan ekonomis). Sebut saja langsung Pemerintah itu sendiri, sebagai sponsor utamanya program ini. Semuanya sudah sedemikian dipolitisir, sehingga tidak mustahil di sana-sini muncul “kebiadaban” di tengah proses “pemberadaban”. Contohnya seperti halnya efek marjinalitas atau peminggiran status identitas (identitas budaya) maupun marjinalisasi di bidang pendidikan, keikutsertaan berpolitik membangun negara, peluang pekerjaan, hingga pengembangan diri pribadi yang dialami oleh masyarakat adat suku Dayak Meratus di Kalimantan Selatan (juga puak suku Dayak lainnya di pulau Kalimantan). Korbannya adalah nilai-nilai luhur budaya tradisional bangsa, kearifbijakan adat lokal divonis sebagai faktor penyebab keterbelakangan dan penghambat kemajuan disingkirkan tanpa pertimbangan matang.

1. Alasan dan Tujuan dalam Konteks (Situasi Politik)Nasional.

  Secara umum terdapat beberapa alasan yang melatarbelakangi adanya “penaklukan” atau “penjinakan” masyarakat “terasing” atau “terbelakang” atau suku- suku terpencil dengan seluruh aspek kehidupan mereka yang kesemuanya didukung kuat oleh semangat modernisme sebagai dampak dari globalisasi yang menggebu-gebu.

  Alasan pertama karena kuatnya peran negara dalam mewujudkan pembangunan dan konsep budaya bangsa Indonesia alasan kedua adalah karena semangat penyebaran agama terutama agama Islam, Kristen Katolik, dan Kristen Protestan yang secara teologis adalah agama dakwah atau misi (mission sacre/misi suci) yang tugas umatnya adalah menyiar atau menyebarkan ajaran agamanya tersebut kepada manusia sebanyak

  148 mungkin.

  Alasan dan tujuan gencarnya formalisasi agama pada masa Pemerintah rezim Orde Baru berkuasa setidaknya dikarenakan oleh: a. Alasan Kriteria (Syarat) Suatu Agama.

  Ketika Pemerintah rezim Orde Baru berdiri atau sekitar pasca tahun 1965, Negara membuat peraturan atau ketentuan bahwa hanya ada lima macam agama yang diakui oleh Negara. Kelima agama tersebut kemudian disebut sebagai agama resmi atau agama yang diakui oleh Negara. Kelima agama resmi itu adalah Buddha, Hindu, Islam, Kristen Katolik, dan Kristen Protestan. Landasan penetapan diakuinya suatu agama sebagai agama resmi Negara adalah agama tersebut harus mempunyai kitab suci yang berisi tentang ajaran agama tersebut, harus mempunyai nabi sebagai pembawa ajaran agama tersebut, harus dalam kategori monoteistik atau bertuhan yang satu atau Esa, agama tersebut harus membawakan semangat kemajuan dan harus mempunyai

  149 komunitas internasional.

  148 Paulus Mujiran, “Dialog Penyebaran Agama dan Kebudayaan”, dalam surat kabar Suara Merdeka, Senin 13 Januari 1997, hlm. 18. 149 Hairus Salim H. S., Mayarakat Dayak Meratus: Agama Resmi dan Emansipasi, ( Banjarmasin: Pusat Studi dan Pengembangan Borneo (PSPB), 2001), hlm. 12.

  Pemerintahan Negara di bawah Pemerintah rezim Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto mempunyai andil yang sangat besar dalam formalisasi agama terhadap masyarakat adat suku Dayak Meratus di Kalimantan Selatan dan Indonesia secara umum. Hal ini dikarenakan Pemerintah rezim Orde Baru juga banyak mengambil keuntungan dari program formalisasi agama ini. Sehingga sudah dapat dipastikan dalam proses formalisasi agama ini sudah kental dengan tujuan-tujuan politis (dan juga ekonomi) meskipun hal itu tidak langsung jelas kentara. Ungkapan yang sering didentumkan pada masa ini adalah “Pembangunan”. “Pembangunan” yang dimaksud bukan saja pembangunan secara fisik melainkan juga meliputi pembanguan spiritualis mayarakat Indonesia agar dapat menunjuang kelancaran jalannya Pemerintahan. Atau dengan istilah yang lebih mengena, agar dapat melegalkan berkuasanya Pemerintah rezim Orde Baru dan juga menduduukng Pemerintahannya.

b. Alasan Bahaya (Laten) Komunis atau Politik Pembeda antara Pemerintah Orde Lama dengan Orde Baru.

  Semenjak Pemerintah Orde Lama dijatuhkan dan Pemerintah rezim Orde Baru berkuasa, aliran Komunis dilarang keras oleh Pemerintah untuk hidup dan berkembang. Komunis dicap Pemerintah rezim Orde Baru sebagai penghianat dan penjahat negara, oleh karena itu harus dibasmi sampai ke akar-akarnya. Pemerintah rezim Orde Baru sukses memonopoli opini publik saat itu akan kebiadaban Komunis, salah satunya lewat peristiwa G 30 S PKI yang terkenal itu. Anggota-anggota PKI (Partai Komunis Indonesia) diberantas habis. Organisasi-organisasi yang terkait dengan

  150

  Komunis juga ikut dihancurkan. Orang-orang yang terlibat di dalamnya (Komunis) menjadi kambing hitam G 30 S PKI. Tak ayal lagi mereka langsung diburu, ditangkap, 150 Antara lain Lekra dan Gerwani. disiksa dan dibunuh oleh Pemerintah rezim Orde Baru bersama masyarakat yang sudah dipengaruhi dan terprovokasi.

  Mayarakat adat suku Dayak menjadi sasaran empuk program pengagamaan pasca peristiwa 65, di mana tidak beragama versi pemerintah diimplikasikan dengan aliran komunis. Dalam majalah Desantara disebutkan:

  Orang Dayak ditakdirkan lain. Kemampuan resistensi yang kreatif itu musnah tertimbun merasuknya kekuatan-kekuatan politik yang menumpang peristiwa 1965. Tragedi kemanusiaan untuk menghabisi komunisme Indonesia dan tentu tidak ada kaitannya dengan soal agama dimanfaatkan dengan sempurna oleh birokrasi dan militer setempat untuk mengancam siapapun yang tidak mau

  151 masuk salah satu agama resmi.

  “Peristiwa 65 dan naik tahtanya Soeharto membuyarkan impian orang Dayak

  152

  mendeklarasikan agamanya sendiri, Kaharingan.” Komunis dan semua yang terkait dengannya dipandang sebagai aliran atau faham yang mengesampingkan dan meremehkan agama. Hal ini kemudian ditafsir sebagai aliran yang anti agama atau tidak beragama. Anggapan ini seterusnya berkembang pesat menjadi anti Tuhan atau tidak bertuhan atau ateis. Jadi tidak beragama disamakan dengan tidak bertuhan. Hasilnya adalah Komunis merupakan ateis. Partai Komunis Indonesia (PKI) dan organisasi-organisasi maupun kegiatan- kegiatan yang berhubungan dengan komuinis akhirnya resmi dilarang Pemerintah dengan keluarnya Ketetapan (Tap) No. XXV/ MPRS/1966 yang berisi pelarangan terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Ajaran Komunisme, Marxisme dan Leninisme. Dalam website http://Exploitz.com/FREE In-depth report - Dayak -

  Indonesia.htm menyebutkan: 151 152 Bisri Effendi, op. cit., hlm 10.

  Ibid., hlm. 17.

  

The abortive coup of 1965 proved that independence to be fragile. With

the unity of the Republik at stake, indigenous religions were viewed as

threats and labelled atheistic and, by implication, communist. Caught in

a no-win situation, the Dayak also were told that they did not have an

agama and thus became suspect in the anticommunist fever of the late

  153 1960s.

  (Kegagalan kudeta 65 membuktikan bahwa kebebasan dirapuhkan. Dengan persatuan republik dicanangkan, religi lokal/asli ditampilkan sebagai bentuk dan label ateis, dan dengan implikasi komunis.

  Terperangkap dalam situasi yang kalah, orang Dayak juga dikatakan tidak mempunyai agama dan dengan demikian menjadi tersangka dalam wabah anti komuinis diakhir tahun 1960-an).

  Gigih Nusantara menambahkan : Sebelum tahun 1965, orang Indonesia tidak mempunyai ketakutan terhadap agama. Setelah peristiwa Gerakan 30 September atau yang lebih dikenal dengan sebutan G 30 S/PKI, Orde Baru membuat peraturan bahwa masyarakat harus memilih untuk menganut salah satu dari lima agama yang diakui oleh Negara. Di luar pilihan agama Islam, Katolik, Kristen, Hindu dan Budha, Negara tidak mengakuinya termasuk terhadap berbagai aliran kepercayaan yang tumbuh subur dalam masyarakat. Peraturan ini diberlakukan tahun 1967. Sejak saat itu

  154 dimulailah tertib beragama seperti yang dikehendaki oleh Negara.

  Doktrin yang disebarkan oleh Pemerintah rezim Orde Baru ini sukses di kalangan masyarakat karena Pemerintah gencar mengusahakannya, antara lain dengan menguasai meda-media informasi dan komunikasi atau pelarangan penerbitan tulisan yang berkaitan tentang Komunis hingga Marxis bahkan perlakuan diskriminatif terhadap ex PKI atau Komunis dan keluarganya hingga keturunannya. Dengan ini Pemerintah rezim Orde Baru ingin menunjukkan pembedaan politik Orde Baru dengan

  155 politik Orde Lama.

  153 Anonim, “Dayak”, dalam website http://www.Exploitz.com/FREE In-depth report - Dayak - Indonesia.htm. 154 Gigih Nusantara, “Belajar Bersama Toleransi Beragama”, dalam website http://www. polarhome.com /pipermail / nusantara /2002 -December/000706.htm. 155 Hairus Salim H. S., op cit, hlm. 12.

c. Alasan Pengalihan Medan Konflik Massa.

  Pada saat Pemerintah rezim Orde Baru berdiri terdapat beberapa masalah yang muncul di dalam Negeri sendiri, salah satunya adalah adanya konflik-konflik yang berkenaan tentang agama-agama besar yang berkembang di Indonesia. Seperti konflik antara kelompok muslim dengan Kristen yang menoreh pedih sejarah negeri.

  Penyerangan dan pembakaran tempat-tempat ibadah menjadi ramai di berbagai pelosok Nusantara. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal dan mengungsi meninggalkan kampung halaman. Bom meledak di sana-sini. Muncul penyebutan kota-kota rawan konflik dan kerusuhan. Dari sini Pemerintah mengambil kesimpulan bahwa isu penyebaran agama besar (dakwah dan misi) menjadi penyebabnya, karena berlomba-

  156

  lomba untuk memperbanyak umat agamanya. Meskipun terdapat dugaan bahwa kekacauan-kekacauan sekarang ini sengaja diciptakan oleh orang-orang yang

  157 mengambil keuntungan dari situ (Pemerintah sendiri?).

  Konflik-konflik seperti kerusuhan-kerusuhan yang berlatarbelakang (salahsatunya adalah) agama dinilai dapat mengamcam stabilitas politik Negara. Oleh karena itu Pemerintah perlu meredamnya dengan berbagai upaya. Salah satunya dengan mengalihkan pemicu konflik tersebut pada sasaran lain.

  Sasaran berikutnya adalah pada orang-arang yang tidak atau belum “beragama”. Jadi penyebaran agama (dakwah atau misi) hanya boleh dilakukan oleh agama-agama yang diakui oleh Negara tadi terhadap mereka yang atau belum “beragama”. Berarti menurut Pemerintah rezim Orde Baru mereka yang tidak atau belum “beragama” 156

  Tidak dipungkiri agama-agama Samawi (kecuali agama Yahudi) adalah agama Dakwah dan misi. 157 Seperti kasus konflik di Maluku yang ternyata TNI dari Battalion 731, 732, dan 733

yang telah menyewakan senjata mereka kepada pejuang muslim militan atau geng-geng Kristen

yang persenjataannya difasilitasi oleh anggota-anggota Komando Pasukan Khusus (Kopasus). adalah mereka yang tidak atau belum menganut agama yang diakui Negara, termasuk

  158 kepercayaan-kepercayaan atau “agama-agama” lokal/suku/asli.

d. Alasan Pemerintah Sebagai “Nabi Perubahan” untuk Kemajuan.

  Religi-religi atau kepercayaan dan keyakinan lokal yang dianut oleh suku- suku tertentu yang kemudian disebut sebagai belum atau tidak beragama adalah tidak modern, masih terbelakang, primitif, ketinggalan zaman, bodoh, dan kolot. Mereka kemudian disebut Pemerintah rezim Orde Baru sebagai “masyarakat terasing”.

  Berbagai cemoohan yang bernada menyinggung ditujukan pada mereka. Oleh karena itu mereka sudah selayaknya dimodernkan dan dimajukan kehidupannya. Program Pemerintah rezim Orde Baru saat itu yang kerap didengar adalah “Pembangunan di segala bidang”. Dengan demikian citra Pemerintah sebagai agen untuk kemaajuan masyarakat menjadi terangkat.

  Akan tetapi “pembangunan” disadari atau tidak (karena dicanangkan dalam banyak cara dan bentuk) juga telah banyak merugikan masyarakat itu sendiri. Dapat dimaklumi karena tujuan-tujuan yang terdapat di dalamnya kental dengan nuansa politis. Lebih jauh kemudian menilik pada sisi ekonomi di mana kekayaan alam daerahnya yang dikuras hingga “proses pembudayaan” yang berujung pada marjinalisasi penduduk asli atau pedalaman.

  Kemajuan-kemajuan seperti yang dielu-ulukan pemerintah untuk alam Dayak seperti perpindahan orientasi pemukiman dari pinggiran sungai ke dekat jalan yang dibangun pemerintah, industrialisasi di berbagai sektor, modernisasi politik dan

  158 Susan Rodgers dan Rita Smith Kipp, Indonesia Religions in Transition, (Arizona: Arizona Press, 1987), hlm. 85. via Hairus Salim H. S., op. cit., hlm. 12. birokrasi, dan kapitalisasi serta modernisasi yang ditawarkan harus membuat

  159 masyarakat adat Dayak siap dengan proyek resetlement dan pengagamaan resmi.

e. Alasan “Agama” Lokal Merupakan Wadah Gerakan Mesianistik dan Populistik.

  Di Indonesia terdapat ratusan jenis kepercayaan atau religi lokal yang terdapat di penjuru Nusantara, seperti di Irian Jaya, Kalimantan, Jawa dan di banyak daerah lainnya. Berkembangnya ajaran kepercayaan atau religi lokal ini dinilai Pemerintah rezim Orde Baru dapat menciptakan kondisi yang tidak mendukung jalannya Pemerintahan. Hal ini dikarenakan pemerintah yang menyebut bebarapa ajaran kepercayaan atau religi lokal tersebut bersifat mesianistik dan populistik. Mesianistik hampir sama konsepnya dengan kemunculan sang “Ratu Adil”, yakni menyengkut tentang pengharapan akan datangnya seorang tokoh yang dianggap pemercayanya sebagai tokoh yang atas nama Ilahi yang mampu membuat keadaan menjadi lebih baik

  160

  sesuai kehendak Ilahi. Sedangkan Populistik maknanya adalah gerakan yang menitikberatkan kekuatan pada basis partisipasi massa yang besar. Gerakan ini biasanya muncul pada tahap-tahap perubahan masyarakat yang cepat misalnya karena ketidakmerataan peluang politik, sosial dan ekonomi pada masyarakat tersebut dan cenderung akan menghancurkan struktur kekuasaan yang ada, setidaknya menyebabkan

  161

  timbulnya krisis hegemoni. Kesimpulannya adalah jika dibiarkan begitu saja atau

  162 tidak segera dijinakkan akan dapat mengancam kekuasaan politik Pemerintah. 159 160 Bisri Effendi, op. cit., hlm. 15.

  Save M. Dacun, Kamus Besar Ilmu pengetahuan, (Jakarta: Lembaga Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Golo Riwu, 2006), hlm 648. 161 Dieter Nolan, Kamus Dunia Ketiga, terj. Titi Soentoro, Aan Effendi, HArdi Ilham, Godjadi Harun, (Jakarta: Grasindo, 1994), hlm 638. 162 Hairus Salim H. S., op. cit., hlm.12-13. Menurut data dari Panitia Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (PAKEM) yang dibentuk oleh Kejaksaan Agung di Indonesia marak sekali terdapat gerakan yang bersumber dari kelompok-kelompok Aliran Kepercayan seperti di Jawa Tengah setidaknya terdapat 103 gerakan dan sekitar 96 gerakan di Sumatera Timur dan ada kecenderungan terus bertambah yang juga berarti bertambah kuat dan terorganisir

  163 dengan baik.

2. Dalil-dalil tentang Kebebasan Beragama (Sikap Pemerintah Terhadap Agama dan Aliran Kepercayaan).

  Di dalam perudang-undangan Republik Indonesia sebenarnya sejak diproklamirkan kemerdekaannya Negeri ini dari penjajahan kolonial sudah diatur tentang kebebasan beragama. Salahsatunya termuat dalam pasal 28 (e) ayat 1 dan 2 Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan (1) “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah Negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali”, dan ayat (2) “ Sertiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai hati nuraninya”.

  Dalam Penetapan Presiden (Penpres) No.1/PNPS/1969 junto Undang-Undang No.5/1969 tentang pencegahan penyalahgunaan dan penodaan agama, dalam penjelasannya pasal demi pasal dijelaskan bahwa agama-agama yang di anut oleh sebagian besar penduduk Indonesia adalah Buddha, Hindu, Islam, Kristen Katolik,

  164

  Kristen Protestan, dan Konghuchu. Akan tetapi bukan berarti bahwa agama-agama 163

  Rachmat Basuki Soeropranoto, “Aliran Kepercayaan”, dalam website http://www.indopubs. com/darchives. 164 Anonim, “Agama”, dalam website http://id.wikipedia.org/wiki/Agama. atau kepercayaan lain dilarang tumbuh dan berkembang di Indonesia oleh Pemerintah. Pemerintah bahkan dituntut untuk membantu, melindungi, perkembangan agama- agama atau kepercayaan-kepercayaan tersebut. Lebih jauh Pemerintah seharusnya juga berkewajiban untuk menjamin tiap-tiap pemeluknya untuk dapat beribadah dan menjalankan aktifitas kehidupannya.

  Dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 1969 yang berdasarkan Penetapan Presiden (Penpres) Nomor. 1 Tahun 1965 sebenarnya telah juga ditetapkan bahwa terdapat enam agama di Indonesia, yaitu Buddha Hindu, Islam, Katolik, Khonghuchu dan Kristen. Seharusnya ini sudah cukup mempunyai kekuatan hukum. Dalam penjelasan Penetapan Presiden (Penpres) itu pun menyatakan bahwa “ini tidak berarti bahwa agama-agama lain seperti Yahudi, Shinto, Taoisme, Zararustrian dilarang di Indonesia, agama-agama tersebut mendapat jaminan penuh seperti yang diberikan pada pada 29 ayat 2 dan agama-agama tersbut dibiarkan adanya, asal tidak melanggar

  165 ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam peraturan ini atau perundangan lain”.

  Namun pemikiran bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia hanya mengakui secara resmi terdapat lima agama yakni Buddha Hindu, Islam, Kristen Katolik dan Kristen Protestan masih dipegang teguh hingga zaman reformasi yang diklaim sudah ada

  166 kebebasan ini.

  Pemerintah juga mengeluarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969 yang dalam penjelasannya disebutkan bahwa agama Buddha, Hindu, Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, dan Konghuchu, adalah agama-agama yang dipeluk oleh penduduk di Indonesia. 165

  Weinata Sairin, “Minggu Advent: Menanti dan Introspeksi”, dalam surat kabar Suara Pembaruan 166 23 Desember 2005.

  Ibid . Pada tahun 1974 Menteri Dalam Negeri (Mendagri) pernah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) yang berkenaan tentang Kartu Tanda Penduduk (KTP). Salahsatu komposisi keterangan penduduk dalam kartu identitas ini adalah “baris agama”. Dalam ketentuan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri tersebut hanya menyebutkan Buddha, Hindu, Islam, Kristen Katolik, dan Kristen Protestan, sebagai option pada

  

167

  “baris agama” yang dicantumkan di sana. Masyarakat adat suku Dayak yang dituntut mendata diri melalui registrasi identitas Kartu Tanda Penduduk (KTP) merasa dipinggirkan ketika dihadapkan dengan kolom agama, yang harus mengisi dengan

  168 memilih salah satu agama resmi.

  Pada tanggal 18 November 1978 Menteri Dalam Negeri (Mendagri) kembali mengeluarkan Surat Edaran Nomor 477/74054 yang menghapus agama Konghuchu dan menegaskan kembali bahwa hanya ada lima agama resmi yang diakui Negara (Buddha, Hindu, Islam, Kristen Katolik, dan Kristen Protestan). Senada dengan dalil pendahulunya yang yakni dalam Ketetapan (TAP) MPR No. XXVI/II/MPRS/1966

  169 yang berkenaan dengan agama yang diakui oleh Negara.

  Kebijakan Pemerintah Republik Indonesia selanjunya adalah mengatur tentang kewajiban agama-agama resmi (penganut individu, organisasi dan perkumpulan- perkumpulan agama lainnya) untuk mentaati peraturan dari Departemen Agama Republik Indonesia dan departemen-departemen terkait lain dalam pencatatan dan kegiatan mereka. Seperti keputusan bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam 167

  Selanjutnya surat keputusan (SK) ini dianulir oleh Presiden Abdurrahman Wahid

atau Gus Dur karena dinggap bertentang dengan pasal 29 Undang-Undang 1945 tentang

kebebsan beragama dan hak azasi manusia (HAM). 168 169 Bisri Effendi, op. cit., hlm. 4.

  Perubahan yuridis kemudian terjadi pada saat K. H. Abdurrahman Wahid atau Gus

Dur diangkat sebagai presiden Republik Indonesia, yakni dengan dikeluarkannya Keputusan

Presiden (Kepres) Nomor 6 tahun 2000 yang mencabut larangan terhadap agama Konghuchu lalu mengakuinya juga sebagai agama resmi Negara. Negeri No. 1/1969 yang mengatur maslah pembangunan tempat ibadah, Surat Keputusan (SK) Menteri Agama No.70/1978 yang mengatur tentang pedoman penyiaran agama, dan Surat Keputusan No.77/1978) yang mengatur tentang bantuan

  170 luar negeri untuk lembaga keagamaan di Indonesia.

  Terkait dengan upaya “pemberagamaan” orang-orang yang tidak atau belum beragama yang disponsori besar oleh Negara, padahal pelarangan penyebaran agama atau pemaksaan memeluk agama terhadap pemeluk agama lain sudah ada ketentuannya pada Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri pada tahun 1979 yang melarang pemeluk satu agama mencoba mengubah keyakinan umat agama lain, termasuk melalui suap, bujuk rayu, atau distribusi materi keagamaan. Walaupun

  171 begitu negara tetap memperbolehkan warga negaranya untuk berganti agama.

  Penyebaran agama hanya boleh dilakukan pada kalangan mereka yang tidak atau belum

  172

  beragama. Di tahun yang sama Menteri Dalam Negeri (Mendagri) yang dijabat bukan dari kalangan sipil, melainkan militer, Jenderal Amir Machmud, membuat keslahan fatal dengan mengeluarkan kebijakan berkenaan dengan komposisi keterangan dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), yang menyatakan bahwa untuk “baris agama” bagi yang bukan beragama Buddha, Hindu, Islam, Kristen Katolik, dan Kristen

  173 Protestan di bubuhkan dengan tanda Strip (-).

  Meskipun sebenarnya juga dikenal istilah “Aliran Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa”, akan tetapi kedudukannya kemudian menjadi kabur di mata 170

  Anonim, “Kebebasan Beragama”, dalam website http://www. usembassyjakarta.org/ press_rel/ kebebasan_beragama1.htm. 171 172 Ibid . 173 Hairus Salim H. S. op. cit. hlm 13.

  Rangkap I Nau, “Agama Kaharingan Menurut Sejarah”, dalam website http://www.freelists. org/archives/ppi/03-2006/msg00468.htm. perundang-undangan dan hukum Indonesia (padahal mempunyai kekuatan hukum/landasan yuridisnya). “Aliran Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa” menjadi perbincangan sekitar tahun 1977 pada saat diajukannya Rancangan Garis-garis Besar Haluan Negara (RGBHN) oleh Mandataris Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Ada yang menyebutkan bahwa “Aliran Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa” itu adalah "Aliran Kebatinan". Sebenarnya Aliran Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa sudah mempunyai kekuatan hukum dan juga merupakan cerminan dalam Undang-Undang Dasar pasal 29 ayat 2 yang berbunyi “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Dalam Ketetapan (TAP) MPR Penghayat Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa juga sudah disebut. Dalam Ketetapan (TAP) MPR No. IV/MPR/1978 dan Instruksi Menteri Agama

  174 Nomor 4 tahun 1978.

  Dengan melihat pranata-pranata di atas sejatinya tidak ada istilah “agama resmi” dan “agama tidak resmi” atau “agama yang diakui” dan “agama yang tidak diakui.” Pernyataan tersebut seolah perwujudan dari ketidakbebasan rakyat dalam masalah hakiki hidup dan keyakinannya. Ini sebuah pelanggaran HAM. Dengan pernyataan tersebut pemerintah juga terkesan telah melecehkan “agama-agama” lain di luar agama resmi atau yang diakui oleh negara. Dampak jangka panjangnya adalah rakyat Indonesia sudah dikondisikan demikian lewat berbagai cara dan bentuk selama Pemerintah rezim Orde Baru berkuasa, dan pemikiran seperti itu masih tetap terpelihara hingga sekarang, seperti halnya pengeliruan peristiwa-peristiwa sejarah negeri ini. 174

  Sekarang ini Aliran Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa sudah

dicantumkan pada Ketetapan Sidang Tahunan (ST) Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) tahun 2002. Kenyataan di lapangan, di berbagai segi dan bidang di masyarakat termasuk di kancah politik selain agama-agama resmi (atau juga bahkan beberapa dari agama- agama resmi itu sendiri, terutama yang minoritas) tersebut masih sulit bernafas apalagi berkembang.

  Diskriminasi yang dilatarbelakangi oleh kemelut agama resmi atau agama yang diakui Negara berdampak pada banyak bidang, salah satunya adalah masalah pencatatan perkawianan penduduk oleh Pemerintah. Dalam peraturan Undang-Undang No. 1/1974 termuat pengakuan perkawinan oleh Negara hanya bagi warga yang memeluk lima agama resmi Negara (Buddha, Hindu, Islam, Kristen Katolik, dan

  175

  Kristen Protestan). Dalam undang undang ini juga menekankan bahwa perkawinan berdasarkan agama/kepercayaan yang seragam. Akhirnya Kantor Urusan Agama dan Pencacatan Sipil bersikap menolak pernikahan berbeda agama atau lazim dikenal kawin

  176

  campur. Pijakannya adalah pengertian agama dan kepercayaan yang diatur dalam

  pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Perkawinan hanya kepada lima agama resmi, yaitu

  177

  Islam Buddha, Hindu, Islam, Kristen Katolik, dan Kristen Protestan. Dari sini dapat dilihat pengaruhnya besar terhadap Pencatatan Sipil warga yang sebenarnya adalah pelayanan publik sebagai hak-hak sipil rakyat.

  Meskipun perundang-undangan sudah menegaskan tentang kebebasan beragama beserta peribadatannya, seperti yang termaktub dalam pasal 29 dengan 2 ayatnya dan beberapa dalil lainnya, namun masih saja terdapat sejumlah pembatasan pada berbagai jenis kegiatan keagamaan tertentu dan agama-agama yang tidak diakui. Terlebih pada agama yang penganutnya sedikit atau minoritas. Departeman Agama Republik 175

  Wahyu Effendi, “Pembaharuan Hukum Catatan Sipil dan Penghapusan Diskriminasi di Indonesia”, dalam website http://hukumonline.com/detail.asp?id =10607&cl=Kolom. 176 177 Ibid .

  Ibid . Indonesia yang hanya memberitan status resmi atau mengakui lima agama, yakni Buddha, Hindu, Islam, Kristen Katolik, dan Kristen Protestan, seterusnya mempersilahkan organisasi agama selain lima agama resmi tersebut mendaftar ke Pemerintah, tetapi melalui Departemen Pariwisata dan Kebudayaan karena hanya dipandang sebagai organisasi sosial semata, dimana pengikut-pengikut selain yang lima

  178

  harus mendaftarkan diri ke Departemen Pendidikan. Pemerintah memang memberi ruang bagi praktek Aliran Kepercayaan asli Indonesia, namun hanya sebatas sebuah manifestasi suatu budaya, dan bukan sebagai agama. Berarti juga penganut Aliran Kepercayaan itu bukan penganut agama atau tidak beragama menurut Pemerintah.

  Agus Sopian menuturkan: Maka bisa dikatakan bahwa Pemerintah Orde Baru telah memutar-balikkan makna UUD 1945. Selain itu dipaksakannya aliran kepercayaan masuk ke dalam GBHN menunjukkan bahwa Pemerintah rezim Orde Baru telah melakukan penodaan agama, melanggar ketetapan Presiden Rl no. 1 tahun 1965, dan melanggar KUHP Pasal 156-a, karena Pemerintah Orde Baru telah berbuat suatu tindakan "dengan maksud agar supaya orang tidak menganut

  179 agama apapun juga, yang bersendikan ke Tuhanan Yang Maha Esa.

B. Religi Kaharingan Di Tengah Proses Formalisasi Agama.

  Religi Kaharingan yang dianut oleh masyarakat adat suku Dayak Meratus dimasukkan Pemerintah bukan sebagai agama. Religi Kaharingan adalah korban dari program-program pembangunan yang di elu-elukan di masa Pemerintah rezim Orde Baru berkuasa. Religi Kaharingan disimpulkan tidak memenuhi persyaratan atau kriteria sebagai agama, apalagi diakui sebagai agama resmi Negara. Misalnya salah satu kriteria yang tidak dimiliki oleh religi Kaharingan adalah tidak memiliki kitab suci

  178 179 Anonim, loc. cit., “Kebebasan Beragama”.

  Agus Sopian, “Negara, Agama dan KTP”, dalam majalah Playboy Indonesia, edisi I, April 2006.

  180

  ajaran. Meskipun religi Kaharingan sudah memiliki Nabi-nabi atau Ilah-ilah, Malaikat-malaikat, pewahyuan yang langsung turun melalui tokoh agama (balian), serta juga telah memiliki konsep Tuhan yang satu atau monoteistik. Religi Kaharingan akhirnya hanya dimasukkan sebagai sekedar kepercayaan refleksi atas lingkungan dan alam, bukan termasuk kategori agama.

  Penganut religi Kaharingan mengaku bahwa diri mereka sudah beragama meskipun persepsi beragama mereka ditangguhkan untuk diakui oleh Pemerintah.. Oleh karena itu penganut religi Kaharingan (masyarakat adat suku Dayak Meratus) menurut pemerintah sudah selayaknya diagamakan. Dengan demikian diharapkan mereka akan menjadi mayarakat yang beradab. Mulailah mereka (masyarakat adat suku Dayak Meratus) kemudian menjadi sasaran pengagamaan.

  Dalam dasawarsa tahun 1970-an hingga tahun 1980-an di pedalaman Kalimantan Selatan, di sepanjang pegunungan Meratus dilancarkan program-program Pemerintah dengan sebutan “Program Pengelolaan Masyarakat Terasing”, seperti program pemukiman kembali, registrasi KTP, Penerapan Program Keluarga Berencana

  181 (KB), pewajiban pendidikan, termasuk diantaranya pengagamaan.

  Dalam usaha mensukseskan program-program tersebut, Pemerintah menggandeng beberapa pihak seperti badan-badan atau organisasi-organisasi keagamaan hingga kesatuan dari TNI. Program-program Pemerintah ini sebagian berhasil dan ada juga yang gagal.

  180 Meskipun dikemudian hari Majelis Besar Hndu Kaharingan menerbitkan buku Panuturan. 181 Hairus Salim H. S., op. cit. hlm. 21.

1. Proses Pengagamaan.

  Proses pengagaman bagi masyarakat adat suku Dayak Meratus (pemeluk religi Kaharingan) di Kalimantan Selatan dimulai dengan dilaksanakannya “Operasi Bukit” oleh KODAM X Lambung Mangkurat sekitar awal Pemerintah rezim Orde Baru

  182

  berkuasa. Operasi Bukit ini diselenggarakan dengan mengambil lokasi sepanjang Pegunungan Meratus, tempat di mana masyarakat adat suku Dayak Meratus berdiam.

  Operasi Bukit bertujuan untuk pembinaan bagi masyarakat adat suku Dayak Meratus agar mereka menjadi “beradab”. Operasi Bukit juga bertujuan sebagai survey

  183

  Pemerintah dalam pemanfaatan dan kedudukannya nanti di sana. Selain itu militer juga bertujuan untuk mengunjukkan giginya pada masyarakat.

a. Misi dan Dakwah Agama-agama Resmi Negara.

  Terdapat beberapa sumber yang menyebutkan kapan waktu mulai berjalannya misi-misi penyebaran agama atau dakwah yang ditujukan pada masyarakat adat suku Dayak Meratus. Sumber-sumber tidak dapat menyebutkan secara pasti. Begitu pula dengan sumber lisan yang sudah banyak melupakannya.

  Sebenarnya Misionaris Kristen sudah terdapat di pedalaman Kalimantan Selatan lebih awal sebelum adanya “program pengelolaan mayarakat terasing” , yakni sekitar tahun 1960-an. Misionaris-misionaris Kristen ini dikoordinir oleh Majelis Wilayah XXI Gereja Pantekosta Indonesia Kalimantan Selatan yang kantornya bertempat di

  184

  Banjarmasin. Mereka banyak menyekolahkan anak-anak suku Dayak Meratus ke 182

  Ahmad Muttaqin, “Kolonisasi Agama Resmi Terhadap Agama Kaharingan:

Misi/Dakwah Agama-agama Resmi dan Implikasinya terhadap Eksistensi Agama Kaharingan

Dayak Loksado, Kalimantan Selatan”, makalah, (Yogyakarta: Pusat Kajian Dinamika Agama,

Budaya dan Masyarakat PPS IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2003), hlm. 1. 183 184 Salahsatunya dengan alasan ekonomi Ahmad Muttaqin, op. cit., hlm. 7.

  185

  lembaga sekolah-sekolah dan pendidikan Kristen. Sedangkan penyebaran agama dari golongan Islam jauh terlambat. Mereka datang belakangan sekitar tahun 1980-an.

  Ulama-ulama yang didatangkan ke sana berasal dari IAIN Antasari Banjarmasin. Sedangkan penyiar agama dari agama lainnya seperti Buddha dan Hindu tidak

  186

  diketahui secara pasti. Penganutnya yang sangat sedikit kebanyakan adalah keturunan dari para pendatang saja. Tidak ada berita atau sumber yang dapat menjelaskan tentang misi-misi penyebaran agama dari kedua agama tersebut. Sangat kontras jika dibandingkan dengan gencarnya misi-misi penyebaran agama oleh para ulama-ulama Islam dan misionaris-misionaris Kristen.

  Tidak dapat dipungkiri sebenarnya pasti terdapat persaingan di antara pihak- pihak yang berusaha keras menyebarkan misi agama yang diembannya. Penyebaran agama Kristen boleh dibilang cukup berhasil. Konon katanya penduduk di sana, mereka (para misionaris Kristen) disokong oleh dana yang kuat. Bahkan di antaranya langsung didatangkan dari luar negeri (Eropa dan Amerika). Dengan dana yang cukup besar misionaris Kristen mampu banyak memfasilitasi kehidupan masyarakat adat suku Dayak Meratus hingga mengirim putera-puteri Dayak untuk bersekolah ke kota di lembaga-lembaga pendidikan Kristen. Dengan demikian mudah bagi misionaris- misionaris untuk merebut hati mereka.

  Dengan berjalannya program perberagamaan maysarakat adat suku Dayak Meratus ini menurut pemerintah hendaknya mereka dapat menjadi “beradab”, supaya mereka dapat menata dan mengatur kehidupan mereka dengan baik. Terdapat pendapat miring/negatif tentang masyarakat adat suku Dayak Meratus dalam menjalani 185 186 Ibid ., hlm. 1.

  Sumber-sumber tidak mencukupi. Sumber lisan dari penganutnya sendiri tidak bisa

memberikan informasi yang jelas, Karena mereka yang jumlahnya sedikit berasal dari pendatang dan keturunannya. kehidupannya. Seperti masyarakat adat suku Dayak Meratus yang masih percaya pada hal-hal mistis, bahkan tidak bertuhan, tidak memperhatikan kebersihan, perempuan

  187 yang suka merokok, anak-anak tidak terdidik, menjijikkan, dan lain sebagainya.

  Anggapan-anggapan ini tentu saja sangat bergantung pada sudut mana melihatnya. Lebih jauh anggapan-anghapan ini sudah banyak yang dipolitisir. Artinya anggapan- anggapan tersebut sengaja diciptakan agar tindakan atau program yang akan dijalan kan Pemerintah menjadi legal dan pantas diselenggarakan.

  Proses pengagamaan masyarakat adat suku Dayak Meratus ini tidak selalu selamanya berjalan lancar. Penyebar-penyebar agama resmi yang bekerja sama dengan Pemerintah yang didatangkan ke pegunungan Meratus tidak sedikit mengalami masalah baik dengan pendduduk sekitar maupun dengan antara sesama penyebar agama resmi lainnya (penyebar agama yang berbeda), bahkan dengan masyarakat dari daerah lain. Hal ini disebabkan kaerna adanya persaingan yang diam-diam terdapat pada penyiar-penyiar agama resmi tersebut. Penyiar-penyiar agama resmi yang didatangkan dari luar daerah Pegunungan Meratus mempunyai tugas untuk dapat menyiarkan agama yang dia anut pada masyarakat adat suku Dayak Meratus sebanyak mungkin.

1) Penyebaran (Misi) Agama Kristen.

  Misionaris-misionaris Kristen yang tiba dii perkampungan mayarakat adat suku Dayak Meratus di tahun 1960-an pada awalnya juga tidak mudah langsung mengajarkan ajaran agama dan mengkritenkan penduduk di sana. Mereka biasanya memulainya dengan mengajak anak-anak suku Dayak Meratus untuk belajar melalui sekolah-sekolah minggu atau tempat belajar. Rumah adat balai biasanya menjadi 187 Ahmad Muttaqin, op. cit., hlm. 3.

  188

  tempat penyelenggaraannya. Mereka juga pandai bersosialisasi dengan masyarakat sekitar melalui kegiatan-kegiatan yang mereka adakan. Seperti mengadakan kegiatan pembersihan lingkungan sekitar perumahan penduduk, pengajaran mandi bersih menggunakan sabun dan menggosok gigi dengan pasta gigi, memotong kuku dan rambut hingga cara bersikap. Masyarakat adat suku Dayak Meratus pada awalnya 100% buta huruf dan dari budayanya sendiri tidak mengenal aksara, di sini para misionaris Kristen juga megajari mereka membaca dan menulis, terutama pada anak- anak suku Dayak.

  Dengan demikian hubungan di antaranya menjadi dekat dan jalan untuk menuju ruang hati mereka (masyarak adat suku Dayak Meratus) menjadi terbuka. Perlahan- lahan akhirnya ajaran-pajaran Kristen diperkenalkan pada mereka. Misalnya dengan mengawali segala sesuatu dengan doa dan membuat tanda salib secara Kristen. Mereka perlahan-lahan dapat menerima iman Kristen. Tidak sedikit masyarakat adat suku Dayak Meratus yang akhirnya memeluk agama Kristen. Gereja-gereja kemudian mulai dibangun di sekitar perkampungan mereka. Mereka mulai menghadiri misa-misa pagi, mengikuit kebaktian-kebaktian, dan sembahyangan di hari Minggu.

  Masyarakat adat suku Dayak Meratus banyak yang cenderuing berkonversi ke Kristen dan meninggalkan religi Kaharingan juga dikarenakan adat kebiasaan mereka lebih cocok dengan agama Kristen. Misalnya kebiasaan memelihara dan memakan babi dan anjing. Dalam Islam adat kebiasaan itu adalah sesuatu yang dilarang oleh agama.

  Selain misionaris-misionaris lokal dan dalam negeri, juga terdapat misionaris- misionaris asing yang di datangkan ke perkampungan-perkampungan masyarakat adat suku Dayak. Beberapa di antara mereka masih terdapat hingga sekarang. Berdasarkan 188

  Bahkan ada yang di alam terbuka, di bawah-bawah pohon atau di pinggir-pinggir sungai. Teks Resmi Laporan Kebebasan Beragama Internasional yang ditebitkan oleh Biro Demokrasi, hak-hak azasi dan perburuhan, menyebutkan bahwa paling pada tahun 1980-an setidaknya terdapat 350 misionaris asing Kristen yang mengemban misi Kristen di Indonesia dan kebanyakan ditempatkan di Papua, Kalimantan dan daerah- daerah lain yang masih menganut kepercayaan lokal atau animisme dalam jumlah besar..

  189

  Masuknya misi Kristen lewat misionaris-misionaris lokal )dalam negeri maupun asing) memang telah berhasil membuat sekian orang Dayak meningglkan keyakinan lama mereka, tidak lagi menyembah dan memberi sesajen-sesajen terhadap roh-roh nenek moyang dan leluhur-leluhur dan menjadi Kristen, tetapi sayangnya juga berarti terkikisnya warisan-warisan nenek moyang dan leluhur yang ikut ditinggalkan. jadi Kristen meninggalkan kebiasaan menyembah roh-roh nenek moyang dan leluhur.

  Cristtiyati Ariani mengatakan: Masuknya misi Kristen berhasil melepaskan mereka dari belenggu magis dan animisme. Tetapi perubahan itu membawa dampak kehilangan nilai-nilai budaya berharga yang diperoleh dari warisan para leluhurnya. Pada masa awal masuknya misionaris Kristen, dampak negatif itu mungkin sulit dihindari karena sebagian besar misionaris asing tidaklah memahami budaya Dayak secara tepat. Seandainya para misionaris cukup berwawasan budaya dalam kegiatan misinya, kepercayaan masyarakat setempat terhadap adanya penguasa alam yang telah dianut selama bertahun-tahun tidak perlu dianggap dihilangkan, bahkan sebaliknya bisa dimurnikan dan diperkaya.

  190 Berbagai kesulitan juga banyak dialami oleh misionaris-misionaris Kristen ini.

  Kendala pertama yang langsung dapat telihat adalah kondisi alam dan lingkungan yang cukup “seram”. Seperti diketahui perkampungan masyarakat adat suku Dayak Meratus terletak di sepanjang Peguungan Meratus yang terdiri atas jurang-jurang terjal, hutan 189 Anonim, loc. cit., “Kebebasan Beragama”. 190 Poltak Johansen dan Christriyati Ariani, “Mayarakat Dayak dan Lingkungannya”,

  dalam majalah Kalimantan Review, nomer 4 tahun II Mei-Agustus 1993, hlm. 3. rimba yang lebat, jalan-jalanyang menghubungkan ke lokasi perkampungan sangat susah dilalui bahkan beberapa perkampungan saat itu belum dihubungkan oleh jalan yang layak. Saat itu pembangunan jalan-jalan menuju ke perkampungan mayarakat adat suku Dayak Meratus tidak ada. Jalan-jalan yang menghubungkan antara kampung yang satu dengan kampung yang lain hanya jalan setapak dan tertutup rumput-rumput yang tingi-tingi. Hutan rimba yang lebat juga ditinggali oleh binatang-binatang buas dan berbisa. Sehingga bisa membahayakan bagi orang yang tidak terbiasa dengan hal demikian. Perkampungan-perkampungan mayarakat adat suku Dayak Meratus saat itu (dan beberapa sampai saat ini) juga belum ada listriknya. Sehingga penerangan di waktu gelap malam hanya seadanya dari api-api obor dan lampu-lampu minyak.

  Misionaris-misionaris Kristen harus tegar dan tabah menjalani itu semua.

  Halangan-halangan dari penghuni setempat (masyarakat adat suku Dayak Meratus yang menganut religi Kaharingan) hakikatnya tidak ada atau tidak begitu berarti.meskipun pada awalnya misionaris-misionaris mengakui bahwa tidak mudah untuk memperoleh kepercayaan dari suku Dayak. Hanya saja kendala akan muncul

  191 ketika adanya campur tangan atau pengaruh masyarakat dari desa-desa “di bawah”.

  Penduduk Desa-desa “di bawah” (Padang Batung, Rantau, Kandangan, dan lain-lain) kebanyakan sudah memeluk agama Islam. mereka merasa tidak senang dengan kehadiran orang-orang Kristen di sana. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari hasutan-hasutan hingga teror-teror.

  Kalangan dari umat Kristen Protestan menyatakan bahwa mereka mendapat kesutitan ketika ingin mendirikan tempat peribadatan (Gereja). Kendala itu dapat berupa sulitnya memperoleh persetujuan dari masyarakat sekitar untuk pendirian 191

  “Desa di bawah” adalah sebutan bagi desa-desa yang terletak di daerah lain/diperkotaan. tampat ibadah Gereja. Meskipun akhirnya masyarakat sekitar menyetujuinya, biasanya tiba-tiba datang sekelompok orang yang mengatasnamakan tetangga mayarakat sekitar (kerabat-kerabatnya) yang menentang rencana pendirian tempat ibadah Geraja itu. Mereka menyodorkan sederatan daftar tandatangan yang isi intinya menolak

  192

  didirikannya tempat ibadah Gereja tersebut. Kesulitan-kesulitan selanjutnya masih berlapis-lapis, seperti pengurusan perizinan dari Pemerintah setempat. Tampuk Pemerintahan yang dipegang oleh warga pemeluk agama mayoritas dirasa mempersulit perizinan tersebut.

  Kalau dilihat dari sudut suku Dayak secara keseluruhan maka akan ditemui sebuah identitas budaya generasi Dayak baru yang lebih terfokus kepada agama Kristen, baik Katolik mau pun Protestan sebagai hasil dari peranan Gereja yang cukup

  193

  besar sekali dalam mempengaruhi identitas budaya Dayak. Yosep Oidillo Oendoen menyebutkan: Inkulturasi antara Budaya Dayak dengan ritus Gereja cukup berhasil bila dilihat dari sudut ekspresi. Berbagai lukisan, arsitektur, dan lagu tradisional suku Dayak, banyak yang sudah digubah untuk kepentingan peribadatan, terutama di dalam Gereja Katolik. Lalu timbul suatu pertanyaan, bagaimana proses inkulturasi ini dapat dihayati generasi Dayak baru?misalnya, apakah dalam tradisi balian, dimana orang meminta bantuan roh halus untuk kesembuhan si

  194 sakit, juga terdapat transformasi budaya yang mendasar.

  Pada puak suku Dayak lainnya agama Kristen Katolik datang lebih awal lagi. Puak-puak suku Dayak di Kalimantan Timur sudah didatangi misionaris-misionaris

  192 193 Anonim, loc. cit., “Kebebasan Beragama”.

  Yosep Oidillo Oendoen, Makarius Sintong, dan Yosep Dismas Aju, “Memahami

Identitas Budaya Dayak”, dalam majalah Kalimantan Review, nomer 4 tahun II Mei-Agustus

1993, hlm 21. 194 Ibid .

  195

  asing asal Belanda pada tahun 1907. mereka berdiam di kecamatan Long Iram, sekitar lima ratus kilometer dari kota Samarinda. Pada tahun 1911 didirikan sekolah Katolik pertama disini. Diceritakan mereka banyak membantu warga di sana. Mereka juga mendirikan poliklinik dimana di dalamnya juga sudah terdapat suster-suster untuk mengobati orang yang sakit orang yang sakit (mungkin dengan tujuan mengimbangi

  196 peranan atau pengaruh balian/dukun/tabib bagi penganut religi Kaharingan di sana).

2) Penyebaran (Dakwah) Agama Islam.

a) Kilas Balik Sejarah Perkemabangan Agama Islam Di Kalimantan Selatan.

  Kilas balik sejarah perkembangan agama Islam dirasa perlu ditambahkan disini untuk dapat menjawab pertanyaan mengapa agama Islam menjadi agama yang mendominasi di Kalimantan Selatan?, bagaimana sejarah orang-orang Dayak di Kalimantan Sealatan yang akhirnya banyak yang memeluk agama Islam?, bagaimana agama Islam banyak mempengaruhi ssstem religi yang ada pada religi Kaharingan?, bagaimana hubungan/pola relasi anatar masyarakat adat suku Dayak yang notabene penganut agama Kaharingan dengan etnis Banjar yang memeluk agama Islam?, benarkah orang Dayak yang menjadi Islam sudah bukan orang Dayak lagi (identitas etnis yang didasarkan pada agama yang dianut)?, dan beberapa permaslahan lainnya.

  Dari sini nantinya akan dapat dilihat juga bagaimana perbandingan penghargaan terhadap agama Kaharingan pada masa Pemerintahan Kerajaan Banjar yang monarki dengan Republik Indonesia yang demokrasi (formalisasi agama oleh Kerajaan Banjar dengan formalisasi agama oleh Pemerintah rezim Orde Baru). 195

  Misionaris-misionaris Kristen datang ke beberapa puak suku Dayak di pulau

Kalimantan dalam waktu yang berbeda-beda misalnya pada puak suku Dayak Kenyah yang didatang misionaris-misionaris Kristen sekitar tahun 1935. 196 Mikhail Coomans, op. cit ., hlm. 118-119. Islam Kalimantan Selatan sebenarnya sudah sejak lama berkembang pesat di masyarakatnya. Sejarah perkembangan agama Islam di Kalimantan Selatan dimulai dengan berdirinya Kerajaan Banjar yang bernafaskan Islam di Banjarmasin (sekarang). Kerajaan Banjar sebenarnya sebelumnya bernafaskan agama Hindu. Kerajaan Banjar menjadi Kerajaan Islam sekitar tahun 1521, ketika Pangeran Samudera menjalin kerjasama dengan Kerajaan Demak di pulau Jawa. Di tahun yang sama Kerajaan Demak melakukan penyerbuan ke Kerajaan Majapahit yang sudah melemah. Pangeran Samudera selaku Maharaja Kerajaan Banjar diIslamkan oleh seorang juru dakwah dari Kerajaan Demak. Pangeran Samudera kemudian berganti dengan nama Islam Pangeran Suriansyah.

  Agama Islam tidak saja dipeluk oleh orang-orang dari etnis melayu (Etnis melayu merupakan inti dari suku Banjar), melainkan juga sudah menyentuh masyarakat adat suku Dayak (termasuk dari puak suku Dayak Meratus). Pengislaman suku Dayak saat itu berproses melalui :

  1. Karena wilayah kekuasaan Kerajaan Banjar termasuk meliputi wilayah tempat berdiamnya suku Dayak, jadi banyak terjalin hubungan (misalnya kerjasama) antara pihak suku Dayak dengan Kerajaan Banjar. Misalnya dalam hal kemiliteran, dimana prajurit-prajurit Kerajaan Banjar juga terdiri dari orang-orang Dayak.

  Konon katanya pasukan elit Kerajaan Banjar terdiri dari orang-orang Dayak yang sakti-sakti.

  Seperti peperangan Kerajaan Banjar melawan orang-orang Bakumpai, dimana Pangeran Samudera banyak dibantu oleh orang-orang dari suku Dayak Ngaju.

  Serangkaian penaklukan-penaklukan eksvansi wilayah juga menyebabkan agama Islam tersebar di beberapa wilayah taklukan. Seperti di daerah Daha yang penduduknya adalah orang-orang suku Dayak Maayan dan suku Dayak Meratus

  197 akhirnya diislamkan dan bersumpah setia pada Kerajaan Banjar.

  2. Penyebaran agama Islam yang banyak disiarkan oleh ulama-ulama besar klasik dan karismatik, seperti Syech Muhammad Arsyat al Banjari yang hidup antara tahun 1710 sampai tahun 1612, Syech Muhammd Nafis bin Ideris bin Husein Al Banjari yang lahir tahun 1735, Syech Abdul Malik (Haji Batu) yang meninggal pada tahun 1640, Sayyid Ahmad Iderus, seorang ulama Mekah yang rajin berdakwah di

  198

  langgar-langgar dan mesjid-mesjid Kerajaan Banjar. Ajaran tasawutf Syech Siti Jenar (Jawa) juga berkembang masyarakat Kerajaan Banjar, melalui Syech Abdul Hamid Abulung, dan beberapa ulama tasawuf lainnya.

  3. Ketika Maharaja Pangeran Samudera menjadi Islam, elit-elit Kerajaan hingga rakyat bawahan akhirnya mengikuti Raja junjungannya itu. “Perilaku Raja ini diikuti oleh elit Ibukota, masing-masing disertai kelompok bubuhannya, dan oleh elit daerah, juga diikuti warga bubuhannya, dan demikianlah seterusnya sampai

  199

  kepada bubuhan rakyat jelata ditingkat paling bawah”. Idwar Shaleh menuturkan: Demikian kita dapatakan keraton keempat adalah lanjutan dari Kerajaan Daha dalam bentuk Kerajaan Banjar Islam dan berpadunya suku Ngaju, Maayan, Bukit sebagai inti. Inilah penduduk di Banjarmasin ketika tahun 1526 didirikan. Dalam amalgamasi (campuran) baru ini telah bercampur unsur Melayu, Jawa, Ngaju, Maayan, Bukit, dan suku kecil lainnya diikat oleh agama Islam. Berbahasa Banjar dan adat istiadat Banjar oleh difusi

  200 kebudayaan yang ada dalam keraton.

  197 Marko Mahin, “Urang Banjar: Identitas dan Entitas di Kalimantan Selatan “, dalam website http://www.opensubscriber.com/message/ppiindia@yahoogroups.com/ 639466.htm 198

  A. Gazali Usman, Urang Banjar dalam Sejarah, (Banjarmasin: Lambung Mangkurat University Press, 1990), hlm. 56. 199 Alfani Daud, ”Islam dalam Mayarakat Banjar”, dalam website http://www.indomedia.com/ bpost/pudak/journal/islam.htm . 200 Anonim, “Suku Banjar”, dalam website http://id.wikipedia.org/wiki/ Suku_Banjar.

  4. Perkawinan antara orang-orang Melayu atau orang-orang Banjar yang beragama Islam dengan orang-orang dari masyarakat adat suku Dayak yang menganut religi Kaharingan atau balian. Bahkan raja-raja Banjar beberapa diturunkan dari puteri-puteri Dayak. Pangeran Marhum (raja Banjar IV) (1650-1672) menikah dengan Diang Lawai yang termasuk dalam jajaran leluhur suku Dayak Ngaju (sub suku Dayak yang menurunkan puak suku Dayak Meratus). Pangeran Hidayatullah sendiri menurut berita Cina pada tahun 1618 menikahi Puteri Chatib Banun yang berasal dari suku Dayak Ngaju dan sudah memeluk agama Islam. Demikian pula dengan isteri kedua Pangeran Samudera, Noorhayati,

  201

  yang merupakan puteri suku Dayak Maayan. Dia adalah cucu dari puteri dari tokoh Islam karismatik suku Dayak Maayan, Labia Lamaialah. Sultan Inayatullah (raja Banjar V) juga beristrikan puteri dari suku Dayak. Mereka kemudian melahirkan Sultan Agung (raja Banjar VII). Sultan Muda Abdurrahman juga beristrikan puteri dari suku Dayak dan ada berdarah

  202

  campuran Cina. Jadi raja-raja besar Kerajaan Banjar yang agung banyak dilahirkandari rahim puteri-puteri Dayak. Bahkan menurut cerita-cerita rakyat lewat tuturan lisan Pangeran Samudera sebenarnya aadalah keturunan dari suku Dayak Maayan.

  Pada masa perkembangan agama Islam ini, religi Kaharingan masih tetap ada dipeluk oleh beberapa masyarakat adat suku Dayak, meskipun kedudukan religi Kaharingan atau sebagai komunitas etno religi masyarakat adat suku Dayak di pedalaman tidak diketahui dengan pasti di Kerajaan Banjar. Dalam catatan sejarah pada pertengahan abad XVII, tepatnya pada tanggal 25 juni 1689, pada saat kapal bangsa 201 202 Alfani Daud, loc. cit.

  Ibid . Potugis yang dipimpin oleh kapten Cotigo merapat di pulau Petak, di sana masih

  203 terdapat orang-orang dari suku Dayak Ngaju yang menganut religi Kaharingan.

  Hubungan antara pemeluk kedua ajaran inipun masih terjaga dengan baik. Kedua etnis diikat oleh tali persaudaraan yang erat oleh para leluhur-leluhur mereka yang sangat mereka hormati dan junjung tinggi. Seperti tertuang dalam kitab Hikayat

  

Raja-raja Banjar yang banyak menceritakan keharmonisan antara etnis Melayu yang

  beragama Islam dengan suku Dayak yang menganut religi Kaharingan. Dalam cerita rakyat Kalimantan Selatan juga banyak menceritakan kentalnya persaudaraan mereka, misalnya melalui mitos masyarakat adat suku Dayak Meratus Dayuhan wan Intingan yang melegenda itu. Mereka berdua bersaudara, di mana Intingan adalah dagsanak

  

anum –nya Dayuhan. Mereka berdua adalah leluhur dari masyarakat adat suku Dayak

  Meratus dengan etnis Banjar. Intingan adalah leluhur masyarakat adat suku Dayak Meratus yang sudah memeluk agama Islam. sehingga sampai sekarang orang-orang yang menganut religi Kaharingan tetap menghormati orang-orang Banjar yang beragama Islam yang mereka yakini adalah keturunan dari Intingan dagsanak anum– nya Dayuhan leluhur masyarakat adat suku Dayak Meratus. Masyarakat adat suku Dayak Meratus hingga sekarang masih ada yang menziarahi Mesjid Banua Halat yang dalam mitologi mereka, Mesjid itu dibangun oleh Intingan, dagsanak anum–nya

  204 Dayuhan leluhur mereka.

  Hubungan antara masyarakat adat suku Dayak dengan keturunan-keturunan raja-raja Banjar dan masyarakat adat suku Banjar masih terjalin hingga pada saat penjajah kolonial Belanda datang ke bumi Borneo. Mereka bahu-membahu memerangi penjajah kolonial Belanda dengan membentuk aliansi-aliansi perlawanan. Tertulis 203 204 Ibid .

  Ibid . dalam sejarah orang-orang Banjar dan orang-orang dari suku Dayak bersama-sama berjuang mati-matian mengusir penjajah kolonial Belanda, misalnya dalam perang Banjar yang terkenal itu atau perang Montallat pada tahun 1861 yang menyebabkan

  205

  gugurnya dua putera Ratu Zaleha. Ksatria-ksatria dari suku Dayak itu antara lain: Panglima Batur yang berasal dari suku Dayak Siang Murung, Panglima Unggis, Tumenggung Surapati, Panglima Sogo yang berhasil menenggelamkan kapal Onrust milik Belanda pada tanggal 26 Desember 1859 di Lewu Lutung Tuwur, Panglima Ballot atau Tumenggung Marha Lahew seorang perempuan yang memerangi dan memimpin serangan benteng Fort Muara Teweh pada tahun 1864-1865, Panglima Wangklang yang berasal dari suku Dayak Bakumpai (putera Damang Kendet dengan ibu puteri Banjar dari Amuntai), Dammung Sayu pemimpin masyarakat suku Dayak Maayan yang banyak membantu keluarga raja Banjar dari pengejaran pihak penjajah kolonial Belanda (Belanda kemudian membakar perkampungan desa Dayak Maayan di desa Magantis, Babupaten Barito Timur). Di masa kemerdekaan untuk mempertahankan kemerdekaan pun masyarakat adat suku Dayak Meratus ikut andil bagian di dalamnya seperti Pertempuran Marabahan, Barito Kuala (7 Desember 1945); Pertempuran Hawang, Hulu Sungai Tengah (21 Desember 1948); Pertempuran di Negara, Palagan Nagara, Hulu Sungai Selatan (2 Januari 1949); Pertempuran Pagatan, Tanah Bumbu (6 Februari 1949); Pertempuran Serangan Umum Kota Tanjung, Tabalong (3 Juni 1949); Pertempuran Batakan, Tanah Laut (15 April 1949); Pertempuran Garis Demarkasi di Karang Jawa, Kandangan, Hulu Sungai Selatan (8 Agustus 1949); Pertempuran di Banjarmasin (9 November 1949). Pahlawan-pahlawan itu antara lain Tjilik Riwut, Mahir Mahar, G. Obos, Kapten Mulyono, Ibung Bungas, R. 205 Ibid .

  K. Sawong, Samudin Aman, masih banyak lagi. Serentetan peperangan telah diikuti, banyak ksatria-ksatria Dayak pemberani yang gugur di medan peperangan, banyak

  

huma hancur dihujani bom, dan masih banyak pengorbanan lainnya, tapi mengapa

  Negara ini hingga sekarang berat tangannya untuk mengayom warga Dayak? b) Penyuluh Agama Honorer (PAH) dan Da’i.

  Penyebaran agama Islam pada maysarakat adat suku Dayak Meratus dilakukan oleh penyuluh-penyuluh agama honorer atau biasa disebut dengan PAH.

  Penyuluh-penyuluh agama honorer dipegang langsung oleh Kantor Urusan Agama (KUA). Penyuluhan agama Islam terhadap masyarakat adat suku Dayak Meratus juga merupakan program dari Pemerintah karena dipegang langsung oleh Kantor Urusan agama yang bernaung di bawah Departemen Agama Republik Indonesia. Di Kecamatan Loksado sekarang setidaknya masih terdapat tigapuluhan lebih Penyuluh

  206 Agama Honorer yang masih aktif.

  Program-program yang dicanangkan antara lain dengan mendirikan tempat- tempat belajar Al-quran atau lazim disebut dengan Taman Pendidikan Al-quran (TPA).

  Di taman Pendidikan Al-quran anak-anak Dayak bukan saja diajarkan cara membaca dan menulis Al-quran tetapi juga cara-cara shalat, puasa berwudhlu dan lain sebagainya. Program ini sampai sekarang masih berjalan.

  Tabel 16. Lembaga-lembaga Pendidikan Islam

  No. Jenis-jenis Lembaga Pendidikan Jumlah

  1 TPA BKPRMI

  12 Buah

  2 Madrasah Idtidaiyah Swasta (MIS)

  1 Buah

  3 Pondon Pesantren

  1 Buah

  4 Majelis Ta’lim 206

  2 Buah Ahmad Muttaqin, op. cit., hlm. 3. JUMLAH 16 buah Sumber: Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Loksado Penyiar-penyiar agama Islam yang berasal dari IAIN Antasari Banjarmasin yang tergabung dalam Penyuluh Agama Honorer (PAH) nampaknya lebih mudah diterima oleh mayarakat adat suku Dayak Meratus. Salahsatu alasannya adalah karena penyuluh-penyuluh agama honorer ini banyak dibantu oleh penduduk yang berada di daerah dekat Pegunungan Meratus, seperti desa Padang Batung, Karang Jawa, Jambu, Kandangan, dan lain-lain. Daerah-daerah tersebut sudah mayoritas (hampir semua) beragama Islam sedari dulu. Mereka dengan sukarela membantu penyuluh-penyuluh agama honorer (PAH) yang ditugaskkan ke Pegunugan Meratus menyiarkan agama Islam. Seperti mengantarkan mereka ke tempat-tempat tujuan, memberi makan, hingga menyediakan tempat tinggal untuk bermalam.

  Penduduk dari sekitar Pegunungan Meratus tersebut sebenarnya juga kerap berinteraksi dengan mayarakat adat suku Dayak Meratus. Misalnya melalui transaksi perdagangan komoditas hutan yang maysarakat adat suku Dayak Meratus jual ke daerah-daerah lain. Seperti bambu, kayu manis, rotan, kayu dan lain-lain yang banyak dijual di Kandangan. Sehingga hubungan keduanya berlangsung cukup baik dan akrab. Mereka sudah terbiasa dan memahami dengan kehidupan masing-masing. Misalnya dalam hal bahasa yang logatnya hampir sama, bahkan beberapa tata krama dan norma sosial yang serupa di antara keduanya. Di antara mereka sudah banyak menjalin kerjasama dalam hal perdagangan dan usaha lainnya, misalnya transportasi darat maupun jalur sungai. Sehingga dengan membawa orang-orang dari penduduk desa- desa di sekitar Pegunungan Meratus tersebut, peyuluh-penyuluh agama honorer akan jauh lebih mudah dibanding penyiar agama resmi lainnya untuk memasuki kehidupan masyarakat adat suku Dayak Meratus dan mengajarkan ajaran agamanya pada mereka.

  Dalam prosesnya beberapa kendala pun banyak ditemui. Antaralain adalah mayarakat adat suku Dayak Meratus di pegunungan Meratus, seperti di Loksado beberapa sudah yang memeluk agama Kristen, karena penyebar-penyebar atau misionaris-misionarises Kristen telah datang lebih awal (sekitar tahun 1960-an).

  Sehingga mereka sedikit banyaknya telah memberikan resistensi terhadap penyiar- penyiar agama Islam atau penyuluh-penyuluh agama honorer ini. Bentuk-bentuknya seperti tidak memberikan izin waktu dan tempat untuk menyelenggarakan dakwah atau ceramah agama, hasutan untuk tidak mengikuti ajaran Islam kepada penduduk yang masih menganut religi Kaharingan dan lain sebagainya.

  Penyuluh-penyuluh agama honorer (PAH) disulitkan dengan beberapa kebiasaan-kebiasaan mayarakat adat suku Dayak Meratus yang bertentangan dengan ajaran Islam. Sebagai contoh, dalam religi Kaharingan memeliharan dan memakan babi dan anjing itu tidak ada larangan, sedangkan dalam Islam anjing dan babi itu diharamkan, bahkan untuk disentuh sekalipun. Terdapat beberapa lagi ajaran religi Kaharingan yang bertentangan dengan ajaran Islam. sehingga penyuluh-penyuluh agama honorer harus berusa ekstra keras untuk itu.

  Selain oleh para Penyuluh agama honorer (PAH), penyebaran-penyebaran agama Islam juga di selenggarakan oleh para da’i atau juru dakwah Islam. para da’i banyak berasal dari dareh-daerah yang sudah memeluk Islam. seperti desa-desa “di bawah” (contohnya, Kandangan), atau kota-kota di mana Islam menjadi identik dengan identitas kotanya, seperti kota Martapura yang dikenal banyak melahirkan ulama-ulama melalui pesantren-pesanteran yang tersebar di kota tersebut (contohnya pesantren Darul Ulum). Pesanteran-pesntren juga didirikan di beberapa kota di Kalimatan Selatan, hampir semua daerah di Kalimantan Selatan mempunyai pesantren. Pesantren- pesantren ini juga mempunyai peranan penting dalam usaha penyebaran Islam di Kalimantan Selatan.

  Pada Pesantren-pesantren ini, santeri-santerinya sekarang tidak saja dididik ajaran-ajaran Islam, melainkan juga dengan pengetahuan-pengetahuan umum. Muallaf- muallaf (orang yang baru masuk Islam) juga banyak didik di sini, termasuk dari orang- orang Dayak yang tadinya memeluk religi Kaharingan. Para dai bahkan juga banyak didatangkan dari tanah Jawa, seperti dari Bangil, Jawa Timur. Pendakwah-pendakwah itu biasanya disebut dengan “guru”, mereka antara lain: Guru Duan, Guru Muhyar, Guru Maslan Muslim, Guru Hidayah, Guru Saiful Islam, Guru Hamid, Guru Shaleh, Guru Syamsi Bahrun, Guru Marzuki, guru Baheran Jamil, Guru Jarkasi, Guru Ahmad, dan masih banyak lagi. Mereka berceramah mengajarkan ajaran Islam di mesjid-mesjid, langgar-langgar maupuan di majelis-majelis ta’lim yang didirikan di sana.

  Masyarakat adat suku Dayak Meratus yang memeluk agama Islam biasanya dengan beberapa alasan berikut ini, antara lain:

  1. Faktor Keturunan.

  Seseorang menjadi (beragama) Islam dalam masyarakat adat suku Dayak Meratus bisa disebabkan oleh ibu-bapaknya sudah memeluk agama Islam, sehingga dirinya secara otomatis menjadi (beragama) Islam.

  2. Faktor Lingkungan.

  Dalam lingkungan masyarakat adat suku Dayak Meratus yang sudah mayoritas beragama Islam, kemudian dalam masyarakat itu terdapat satu atau dua orang atau bahkan satu keluarga yang non muslim (misalnya, penganut religi Kaharingan), maka dia atau mereka akan cenderung akan memeluk agama Islam. Hal ini bisa disebabkan dia atau mereka dalam kehidupan di masyarakat (seperti kegiatan-kegiatan) akan merasa kada pati dihirani urang. Jika tidak memeluk agama Islam dia atau mereka akan mengalami kesulitan di berbagai hal di masyarakat mayoritas tersebut.

  3. Faktor “Agama Remi Negara”.

  Seperti diterangkan di bagian terdahulu tentang sikap Negara berkenaan dengan pengakuan agama resmi, masyarakat adat suku Dayak meratyus akan menjadi (memeluk agama Islam) ketika mengalami kendala yang berhubungan dengan agamanya ketika bersentuhan dengan urusan-urusan (formal) Negara. Misalnya dalam hal mengenyam pendidikan bagi anak-anak masyarakat adat suku Dayak Meratus, atau bahkan pengurusan pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Sekolah-sekolah di Kalimantan Selatan sangat identik dengan budaya Islam, dimana hampir di semua sekolah, mulai dari tingkat SLTP, SLTA, hingga Perguruan Tinggi yang hanya mengenali (familiar) lima agama resmi dan menganggap aneh dengan religi

  207

  Kaharingan. Kesulitan masih masih berlanjut hingga masalah memperoleh pekerjaan, terlebih di jajaran Pemerintahan, kesulitan-kesulitan akan melengkapi penderitaan penganut religi Kaharingan. Pencatatan sipil dan pernikahan nantinya juga akan susah didapatkan.

  4. Faktor Perkawinan.

  Masyarakat adat suku Dayak Meratus non-muslim yang kawin-mawin dengan orang yang sudah memeluk agama Islam, maka dia cenderung akan menjadi Islam. biasanya masyarakat adat suku Dayak Meratus non-muslim menjadi (memeluk agama) Islam ketika kawin dengan orang-orang dari etni Banjar, Jawa, ataupun dengan orang dari masyarakat adat suku DayakMeratus itu sendiri yang sudah memeluk agama Islam. 207

  Di tingkat pendidikian ini sudah ketentuan lazim bahwa perempuannya memakai jilbab atau penutup kepala di sekolah.

  5. Pengaruh Penyiaran Agama Islam.

  Bagian ini berhubungan dengan adanya penyuluh-penyuluh agama honorer (PAH) dan para da’i yang dijelaskan pada bagian terdahulu. Masyarakat adat suku Dayak Meratus yang menjadi (memeluk agama) Islam melalui dakwah-dakwah dari para penyuluh agama honorer (PAH) maupun para dai.

2. Hindu Kaharingan sebagai Manifestasi Equilibrium.

  Setelah masyarakat adat suku Dayak Meratus (dan mungkin juga puak-puak suku Dayak lainnya) dipusingkan dengan masuknya ajaran-ajaran agama baru bagi mereka melalui program-program pembangunan yang sponsor utamanya adalah Negara, muncul lagi hembusan baru yang berkaitan dengan religi yang mereka anut, Hindu Kaharingan. Sebuah integrasi atau penggabungan keagamaan antara religi Kaharingan dengan agam Hindu. Harus diakui dibanding dengan empat agama-agama resmi lainnya (Buddha, Islam, Kristen Katolik, dan Kristen Protestan,), ajaran-ajaran dan nilai-nilai yang da dalam religi Kaharingan lebih dekat dengan ajaran-ajaran dan nilai-nilai agama Hindu. Atau dengan kata lain, religi Kaharingan paling serupa dengan agama Hindu, meski tetapi tidak 100% sama.

  Agama Hindu Kaharingan berbeda dengan religi Kaharingan. Bahkan menurut Direktorat Jenderal (Dirjen) Bimas Hindu dan Buddha, I Wayan Suarjana, Hindu Kaharingan itu dulunya Hindu juga atau setidaknya (mungkin) sekte atau onderbouw dalam agama Hindu. Religi Kaharingan merupakan “agama” pertama di Kalimantan.

  Kaharingan sudah ada di masa Kerajaan Kutai berdiri di Kalimantan Timur. Sehingga kalaupun sekarang ditemui adanya pendapat-pendapat yang mengatakan bahwa adanya unsure singkretisme diantara keduanya, pendapat itu sangat beralasan. Ini merupakan

  208

  ajaran Hindu yang tertua. Senada dengan yan diutarakan oleh Drs. Oka Puniatmaja, Pimpinan Hindu Indonesia (PHDI) pada Rapat Konsulatasi dengan perwakilan Umat Kaharingan dari Kalimantan Tengah pada tanggal 16 Maret 1980 di Denpasar Bali,

  209

  bahwa “Kaharingan adalah Hindu tertua di Indonesia “. Beberapa orang dari suku Dayak Meratus yang tinggal di desa Malaris, Loksado, Kalimantan Selatan mengaku bahwa dirinya memeluk agama Hindu (Hindu Kaharingan).

  Negara ini memang hanya mengakui lima agama saja di Republik ini yakni: Buddha, Hindu, Islam, Kristen Katolik, dan Kristen Protestan. “Agama” Kaharingan tidak termasuk di dalamnya. Sebagai upaya pengakuan dan penghargaan kepada pemeluk agama Kaharingan maka diciptakanlah metode integrasi keagamaan. Karena terdapat kemiripan ajaran religi Kaharingan dengan agama Hindu, maka berdasarkan kedekatan itu agama Kaharingan diintegrasikan dengan agama Hindu. Kemudian muncullah agama Hindu Kaharingan sebagai hasil dari integrasi/penggabungan ini.

  Dengan begini religi Kaharingan juga akan terselamatkan. Akan tetapi bukan berarti terdapat ajaran agama Hindu yang merasuki ke dalam tata cata atau ajaran agama hasil

  210 integrasi ini (agama Hindu Kaharingan).

  Salah satu upaya yang diusahakan oleh penganut religi Kaharingan adalah dengan menggalang persatuan persatuan masyarakat adat Dayak (yang menganut religi Kaharingan), agar eksistensinya di Negeri ini diakui, dihargai, dihormati, dan diperlakukan sebagaimana layaknya warga Negara. Tapi sayang, perkumpulan- perkumpulan tersebut hanya didirikan di beberapa daerah saja dan dirasa kurang mewakili bagi puak-puak suku Dayak lainnya, karena mugkin faktor tempat yang 208

  Herry Mohammad, Kholis Bahtiar Bakri, dan Suhartono, “Agama Baru: Kaharingan Merindukan Pengakuan”, dalam majalah Gatra nomer 42, 3 September 2001. 209 210 Rangkap I Nau, loc. cit.

  Ibid . saling berjauhan seperti pada masyarakat adat suku Dayak Meratus di Kalimantan Selatan yang juga memeluk religi Kaharingan.

  Perjuangan masyarakat adat suku Dayak penganut religi Kaharingan erat kaitannya dengan terbentukknya Propinsi Kalimantan Tengah yang lahir atas pergulatan yang alot. Propinsi Kalimantan Tengah terlahir berkat diselenggarakannya Kongres Rakyat Kalteng di Banjarmasin 5 Desember 1956. Landasan yuridis Kalimantan Tengah di sahkan/tertuang dalam Undang-Undang Darurat No 10 Tahun 1957, tentang pembentukan Daerah Swatantra Tingkat I Kalteng. Di Propinsi ini juga berdiri “kekuatan-kekuatan“ religi Kaharingan. Banyak perjuangan-perjuangan warga Dayak penganut religi Kaharingan untuk mencapai Kaharingan seperti yang sekarang ini. Gerakan-gerakan dan organisasi-organisasi warga Dayak banyak didirikan di Propinsi ini.

  Pada tahun 1950 Masyarakat adat Dayak yang memeluk religi Kaharingan sudah mempunyai perkumpulan, yakni Serikat Kaharingan Dayak Indonesia yang disingkat SKDI. SKDI dibentuk berdasarkan hasil kongres masyarakat adat suku Dayak pemeluk religi Kaharingan di Tangkehan. Pada tahun 1953 SKDI kembali mengadakan kongres kedua di Kabupaten Kapuas, Kahayan Tengah, tepatnya di Kampung Pahandut. Kongres ini menghasilkan mosi tertanggal 22 Juli 1953. No.1/Kong/1953 dan sebuah surat yang dialamatkan kepada Kementrian Agama Republik Indonesia, co Kepala Bagian Politik dan Perkumpulan Aliran Agama, tertanggal 7-3-1954, No. 9/P- DPP-SKDI/1954, ditambah dengan surat pernyataan kongres tertanggal 9 Juli 1954 No.

  211

  2/Kong.IV/1954. Pada kongres tahun 1953 itu ini warga Dayak juga mengusung

  211 Tjilik Riwut Sanaman Mantikei, op. cit, hlm. 541. tema politik, yakni berusaha agar terbentuknya Propinsi Kalimantan Tengah melalui

  212 pemilihan umum yang akan dilaksanakan pada tahun 1955 (Pemilu 55).

  Setelah itu masyarakat adat suku Dayak membentuk perkumpulan baru yang orang-orangnya juga berasal dari SKDI. Perkumpulan itu adalah Gerakan Mandau Talawang Pancasila atau disingkat GMTPS. Gerakan yang punya andil besar untuk terbentuknya Propinsi Kalimantan Tengah. Tokoh-tokoh pendirinya antara lain adalah Sahari Andong (Tokoh masyarakat adat suku Dayak dan religi Kaharingan, dia juga ketua Umum SKDI), pimpinan Panglima C.H. Simbar atau juga dikenal dengan

  213 sebutan Panglima Uria Mapas.

  Mengenai kepengurusan di Kantor Urusan Agama, Departemen Agama Republik Indonesi pada tanggal 8 September 1959 mengeluarkan surat keputusan No.

  L/III/99/11943 yang merupakan tanggapan atas surat tanggal 1 Agustus 1959 No. Pem. 56-VI-D-3 dari Dewan Pemerintah Daerah Swantantra Tingkat I Kalimantan Tengah berkenaan dengan calon petugas pegawai Kantor Urusan Agama Propinsi Kalimantan Tengah seksi Kaharingan. Surat tentang calon petugas pegawai Kantor Urusan Agama Propinsi Kalimantan Tengah seksi Kaharingan juga dikeluarkan oleh Kepala Kantor Urusan Agama Propinsi Kalimantan Tengah pada tanggal 10 Februari 1969 No.

  214

  406/A/I/60. Gubernur KDH Tingkat I Kalimantan Sendiri pada tanggal 23 Desember 1965 mengeluarkan surat No. 437/Sos.11/1965 tentang penugasan satu orang pegawai

  215 untuk mempersiapkan bagian Kaharingan di Kantor Urusan Agama. 212 Usulan ini tidak dipenuhi Pemerintah. Pemerintyah hanya membagi sebagian pulau

Kalimantan yang termasuk wilyah kedaulatan Republik Indonesia itu dengan 3 Propinsi, yakni

  

Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Sedangkan Kalimatan Tengah

baru terbentuk tiga tahun kemudian. 213 214 Drs Rangkap I Nau. loc. cit. 215 Tjilik Riwut Sanaman Mantikei, op. cit, hlm. 545.

  Ibid .. Serikat Kaharingan Dayak Indonesia (SKDI) mulai memasuki kancah perpolitikan yang berarti di Negeri ini ketika menggabungkan diri dengan Sekber Golkar pada tahun 1967 untuk persipan pemilu pada tahun 1971. Program-program Golkar yang dapat diterima oleh anggota-anggota SKDI merupakan alasan SKDI dalam penggagungan ini. Hasilnya berbuah manis, Hasil Pemilu pada tahun 1971 tadi berhasil mendudukkan tiga orang perwakilan dari SKDI ( Sahari Andung, Simal Penyang, dan Liber Singai) yang menduduki DPRD Tingkat 1 Kalimantan Tengah atas nama

  216 Golkar.

  Umat religi Kaharingan pada tahun 1971 membentuk Yayasan Pembangunan Kaharingan yang sudah berbadan hukum dengan Akte Notaris tanggal 7 Desember 1971. Para pendirinya adalah Lanca Sahut, Neken Sangkal, Dugon Ginter, Kamerhan

  217 Djatrich, dan Simal Penyang. Tujuannya agar Kaharingan mampu berkembang.

  Setelah Propinsi Kalimantan Tengah terbentuk, pada tahun 1971, SKDI bertransformasi menjadi Majelis Besar Alim Ulama Kaharingan Indonesia atau disingkat MB-AUK. Melalui organisasi ini religi Kaharingan mulai merasakan angin harapan. Melalui perkumpulan ini beberapa keputusan berkenaan dengan religi Kaharingan di buat, seperti kegiatan keagamaan hingga buku-buku keagamaan yang diterbitkan. Kemudian pada tanggal 20 sampai 28 Januari 1972, tokoh-tokoh Kaharingan kembali mengadakan pertemuan, yakni Musyawarah Majelis Besar Alim Ulama Kaharingan yang menghasilkan Peraturan Tata Tertib Pelayanan Jamaat Kaharingan. Kemudian pada tanggal 26 Maret 1975, diadakan penyempurnaan

  218 Peraturan Tata Tertib Pelayanan Jamaat Kaharingan tadi. 216 217 Ibid ., 542. 218 Ibid .

  Ibid . Pada pemilu tahun 1977 Majelis Besar Alim Ulama Kaharingan Indonesia (MBAUKI) juga mempunyai wakil di DPRD Tingkat 1 Kalimantan Tengah, yakni Ketua Umum MBAUKI sendiri, Lewis K. D. R. dan Simal Satu yang juga masih duduk

  219

  dijajaran ketua MBAUKI. Pada tahun ini juga pada tanggal 19 Oktober 1977 diterima undangan dari Kepala Kejaksaan Negeri Kalimantan Tengah no. B-570/J- 3.1/10/1077 yang isinya mengajak untuk diadakannya dialog langsung tentang

  220 Kaharingan.

  Hingga saat itu Kaharingan masih belum diakui sebagai sebuah agama melainkan hanya sebagai Aliran Kepercayaan Suku. Pengakuan Kaharingan sebagai sebuah agama tercapai atas adanya integrasi Kaharingan dengan agama Hindu. Penggabungan Kaharingan dengan agama Hindu termaktub dalam surat Kementrian Agama Republik Indonesia pada tanggal 28 April 1980. No. MA/ 203/1980 yang berisi tentang Penggabungan/Integrasi Penganut Kaharingan ke dalam Agama Hindu.

  Kaharingan yang tadinya hanya dimaknai sekadar Aliran Kepercayaan “diangkat derajatnya” menjadi Agama dengan meneruskan surat tersebut ke Kepala Kanwil

  221 Departemen Agama Propinsi Kalimantan Tengah.

  Religi Kaharingan melalui integrasi dan dibentuknya Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan yang kemudian diresmikan oleh Negara dengan dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) Departeman Agama Republik Indonesia Dirjen Bimas Hindu Budha No. H/37/SK/1980 yang mengukuhkan Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan, sebagai Badan Keagamaan pada tanggal 29 April 1980. Dengan demikian Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan sudah mendapatkan landasan yuridisnya. 219 220 Ibid ., hlm. 544. 221 Ibid ., hlm. 545.

  Ibid ., hlm. 546-547. Tugasnya adalah mengelola sebaik-baiknya majelis Agama Hindu Kaharingan serta menyelenggarakan usaha-usaha majelis untuk kepentingan untuk Hindu Kaharingan dalam peningkatan sarana maupun bimbingan kehidupan beragama, memperjuangkan nasib umatnya, meningkatkan Sumber daya manusia (SDM) dengan memperhatikan bidang pendidikan misalnya dengan mendirikan lemabaga-lemabaga atau sekolah- sekolah yang bernafaskan Hindu Kaharingan, seperti mendirikan PGA Hindu Kaharingan dan Sekolah Tinggi Agama Hindu Kaharingan Tampung Penyang Palangka Raya. Lebih jauh majelis ini juga menangani pembinaan umat terhadap upacara perkawinan, kematian, upacara ritual keagaaman lain, hubungan kemasyarakatan dan kemitraannya terhadap Pemerintah. Penganut religi Kaharingan kasarnya bukanlah dihindukan apalagi dipaksa harus masuk agama Hindu. Ini dapat dilihat dari Surat Edaran yang dikeluarkan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Propinsi Kalimantan Tengah No I/E/PHD-KH/1980. Dalam Surat Edaran ini bahwa tata cara pelaksanaan upacara keagamaan yang telah dilakukan religi Kaharingan sebagai upacara agama tetap dipelihara dan dilestarikan begitu juga dengan ajaran-ajaran agamanya.

  Setelah Integrasi/penggabungan Kaharingan dengan agama Hindu yang melahirkan Hindu Kaharingan (termasuk ke dalam agama Hindu), dalam upaya mencakup semua Kaharingan yangh tersebar di Pulau Kalimantan, Perisada Hindu Dharma (PHD) Propinsi Kalimantan Tengah dan Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan (MB. AHK) di Palangkaraya, menunjuk dan menetapkan Tim Formatur berdasarkan Surat Keputusan Bersma tanggal 10 Mei 1980. No. X. 1/SKB/PHD- KT/MB. AHK/1980 yang 20 hari kemudian berhasil menyusun anggota dan pengurus PHD Propinsi Kalimantan. Kemudian pada tanggal 30 Maret 1980 di Balai Induk Kaharingan, jalan Tambun Bungai, Palangka Raya, di adakan peresmian penggabungan/integrasi dan perubahan nama Majelis Besar Alim Ulama Kaharingan Indonesia menjadi Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan.

  Permasalahan nampaknya tidak selesai setelah berbagai upaya seperti adanya dialog-dialog, musyawarah-musyawarah, hingga pengabungan/integrasi, tetapi masih berlanjut hingga sekarang baik itu di masyarkat adat Dayak yang tidak menerima Integrasi/penggabungan Kaharingan dengan agama Hindu (yang melahirkan Hindu Kaharingan) hingga permaslaahan dibirokrasi pemerintahan meski dasar hukumnya sudah ada sebelumnya. Religi Kaharingan yang sekarang sudah menjelma menjadi agama (bagi yang memperjuangkannya) dan dinaungi oleh lembaga-lembaga swadaya masyarakat Dayak, tengah berjuang keras untuk menggolkan “agama” Kaharingan menjadi agama, lebih jauh agama resmi yang diakui oleh Negara. Berbagai usaha pernah orang-orang tempuh uuntuk mendapat pengakuan tentang agama Kaharingan yang mereka peluk. Seperti yang dilakukan oleh ketua pengurus besar badan agama Kaharingan Dayak Indonesia (PB BAKDI), Lubis S. Ag., atas nama PB BAKDI dia mengirim surat menuntut Pemerintah melalaui Kominsi Naional Hak Azasi Manusia (Komnas Ham) yang juga diteruskan kepada Menteri Agama supaya “agama” Kaharingan diakui oleh Negara sebagai agama resmi sebagaimana lima agama besar

  222

  lainnya. Surat tuntutan rakyat Dayak ini berawal ketika tidak dicantumkannya “agama” Kaharingan sebagai bagian dari struktur dan organisasi di Departemen Agama di Keputusan Presiden (Kepres) Republik Indonesia Nomor 37 dan 38 Tahun 2001, yang tercantum di sana hanyalan Hindu Kaharingan saja.

  Secara strutural Agama Hindu Kaharingan yang sebenarnya berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Bimas Hindu dan Buddha, yakni melalui Majelis Besar 222 Herry Mohammad, Kholis Bahtiar Bakri, dan Suhartono, loc. cit. Agama Hindu Kaharingan berbeda dengan “agama” Kaharingan. “Agama” Kaharingan hanya berawal dari kelembagaan swadaya masyarkat. Hal ini menjadi wajar, karena menurut ketua Majelis Besar Agama Kaharingan Kalimantan Tengah, Lewis K.. D.. R., yang mengatakan “meski secara filosofi antara agama Hindu dan Kaharingan sama, operasionalnya tidaklah sama. Hindu yang ada saat ini operasionalnya budaya Bali,

  223

  bukan budaya Kaharingan”. Suarjana berpendapat berbeda, menurutnya: Sarana upacara dan unsur-unsurnya sama, walaupun bentuk pelaksanaannya berbeda. Karena disesuaikan dengan adat budaya setempat. Contohnya tentang unsur-unsur sesajen orang Kaharingan di Kalimantan Tengah, Bali, Jawa, dan Toraja yang sama. Ada beras, kelapa, buah-buahan, dan daunj sirih. Bentuk penyajiannya berbeda. Ada yang berupa nasi nasi bubur, nasi uduk, dan nasi goreng. Untuk pebnghormatan terhadap roh leluhur, di Bali dikenal

  224 istilah ngaben, sedangkan di Kalimantan Tengah disebut tiwah.

  Menurut Ketua Umum Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan Pusat Palangka Raya, Drs. Rangkap I Nau mengenai integrasi religi Kaharingan dengan agama Hindu Kaharingan:

  Agama Kaharingan sama dengan Agama Hindu Kaharingan dapat kita lihat dari perkembangan, khususnya hal-hal yang berhubungan dalam tata cara keagamaan secara de facto, seperti: 1. Kitab Suci sama tidak beda, yaitu kitab suci panaturan filosofi sama.

  2. Tempat ibadah sama, tidak beda, yaitu Balai Basarah.

  3. Buku Kandayu sama tidak berbeda.

  4. Tata cara pelaksanaan acara keagamaan seperti Tiwah, sama tidak beda.

  5. Buku-buku pelajaran agama dari tingkat taman kanak-kanak sampai dengan

  225 perguruan tinggi sama tidak ada bedanya.

  Namun sayangnya banyak juga suara-suara dari manusia-manusia Dayak dari beratus puak-puak sukunya tidak ikut terdengar. Seperti halnya puak suku Dayak Meratus yang hingga sekarang status “agama” Kaharingan-nya masih terpingggirkan 223 224 Ibid 225 Ibid .

  Drs Rangkap I Nau, loc. cit. dan hanya diberi setengah hati oleh Pemerintah. Seperti yang disebutkan dalam majalah Flamma berikut ini:

  Agama orang Dayak yang dulunya animisme dipandang bertentangan dengan Pancasila dan akal sehat sehingga dianggap patut “didisiplinkan”. Karena itu Pemerintah tidak memfasilitasi pendidikan agama orang Dayak, kecuali Dayak Kaharingan yang berhasil memaknai agamanya sebagai bagian dari agama Hindu. Bahkan organisasi-organisasi keagamaan juga melakukan serangkaian

  226 kegiatan sistematis untuk meninggalkan agama aslinya.

C. JUMLAH DAN LOKASI PEMELUK AGAMA-AGAMA.

1. Jumlah Penganut Agama-agama.

  Menurut Pengurus Besar Badan Agama Kaharingan Dayak (PB BAKDI) jumlah keseluruhan penganut religi Kaharingan di Kalimantan mencapai 1.400.000

  227

  orang. Semuanya tersebar di berbagai wilayah di empat Propinsi di pulau Kalimantan, di pedalaman-pedalaman dan di desa-desa terpencil pulau Kalimantan. Di Kalimatan Tengah saja berjumlah lebih dari 600.000 orang Dayak yang menganut religi

  228 Kaharingan.

  Di Propinsi Kalimantan Selatan, masyarakat adat suku Dayak Meratus salahsatunya terkonsentrasi di Kecamatan Loksado. Kecamatan Loksado termasuk dalam wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan (Kandangan). Letak Kecamatan Loksado sendiri berada di “atas”, di Pegunungan Meratus. Luas Kecamatan Loksado kira-kira 338,89 Km2. Perbatasan-perbatasan letak gegrafisnya adalah sebagai berikut: a. Sebelah Utara berbatasan dengan sebagian Kecamatan Telaga Langsat dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

  b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Kota Baru. 226

  Anonim, “Mengembalikan Kedaulatan Orang Dayak”, dalam majalah Flamma edisi 15. 227 228 Drs Rangkap I Nau. loc. cit.

  Ibid . c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Tapin (Rantau).

  229 d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatatn Padang Patung.

  Dari kota Kandangan jarak tempuh Kecamatan Loksado sekitar 38 Km atau sekitar 180 Km dari ibu kota Kalimantan Selatan (Banjarmasin). Jumlah penduduk di Kecamatan Loksado berjumlah sekitar 7.732 jiwa. Kecamatan Loksado mempunyai sebelas desa dengan 44 Rukun tetangga (RT).

  Tabel 17. Jumlah Desa, RT, dan Penduduk.

  No. Nama Desa-desa Jumlah RT Jumlah Penduduk

  1 Desa Halunuk

  4 RT 660 Jiwa

  2 Desa Panggungan

  4 RT 284 Jiwa

  3 Desa Lumpangi

  4 RT 838 Jiwa

  4 Desa Malinau

  4 RT 888 Jiwa

  5 Desa Hulu Banyu

  4 RT 1.079 Jiwa

  6 Desa Tumingki

  4 RT 571 Jiwa

  7 Desa Kamawakan

  4 RT 533 Jiwa

  8 Desa Lok Lahung

  4 RT 524 Jiwa

  9 Desa Loksado

  4 RT 1.019 Jiwa

  10 Desa Ulang

  4 RT 711 Jiwa

  11 Desa Haratai

  4 RT 625 Jiwa JUMLAH

  44 RT 7.732 Jiwa

  Sumber: Kantor Kecamatan Loksado

2. Konsentrasi wilayah

  Proses pengagamaan bersama dengan program-program pembangunan lainnya memang telah banyak mengubah pola kehidupan dan cara-cara pengelolaan hidup bagi masyarakat adat suku Dayak Meratus, akan tetapi konvergensi masyarakat adat suku Dayak Meratus dari religi Kaharingan ke beberapa agama besar dan resmi Negara juga 229

Profil Kantor Urusan Agama Kecamatan Loksado Tahuin 2006, hlm. 2. telah banyak mengakibatkan beberapa sisi negatif. Kondisi persaingan antar penyebar agama (misalnya antara misionaris Kristen dengan ulama-ulama dakwah) terus berlanjut sampai pada generasi seterusnya hingga sekarang dalam setiap individu umat penganut agama-agama tersebut.

  Banyak perkampungan masyarakat adat suku Dayak Meratus di Pegunungan Meratus yang sudah mempunyai gap-gap tersendiri berdasarkan agama yang mereka anut. di Kecamatanm Loksado, di desa Loksado, Malinau dan Muahara Ulang penduduknya menganut agama Kristen Protestan. Sedangkan penganut agam Islam banyak mendiami desa Lumpangi, Halunuk dan Hulu Banyu. Penganut religi Kaharingan banyak terdapat di desa Tumingki, Kamawakan, Loklahung dan Haratai. Meskipun begitu di desa-desa yang di dominasi agama resmi tertentu atau religi Kaharingan juga masih terdapat penganut agama lainnya. Seperti di desa Malinau yang juga terdapat penganut agama Islam, bahkan jumalah mereka hampir sama. Demikian juga dengan yang di desa Loksado, jumlah penganut agama Islam dan Kristen Protestan juga hampir sama. Sama halnya dengan di desa Tumingki yang jumlah penganut agama Islam dan religi Kaharingan hampir berimbang.

  Tabel 18. Agama-agama/kepercayaan dan Jumlah Penganutnya

  NO. Agama-agama/kepercayaan Jumlah Penganut

  1 Agama Islam 3.709 Orang

  2 Agama Kristen Protestan 731 Orang

  3 Agama Kristen Katolik

  55 Orang

  4 Agama Hindu

  86 Orang

  5 Agama Buddha

  21 Orang

  6 Kaharingan 3.130 Orang

  JUMLAH 7.732 Orang Sumber: Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Loksado Di desa-desa di Kecamatan Loksado sekarang juga telah terdapat beberapa bangunan tempat ibadah. Dari lokasi tempat ibadah ini dapat dilihat bahwa di ddaerah itu banyak penganut agama tempat ibadah tersebut. Contohnya di desa Hulu Banyu yang mempunyai bangunan tempat ibadah Mesjid sebanyak 3 buah, langgar atau surau sebanyak 3 buah dan 1 buah mushala, ini menandakan bahwa di desa Hulu Banyu banyak penduduknya yang menganut agama Islam; atau di desa Haratai yang mempunyai 11 buah balai adat dan desa Ulang yang juga mempunyai 11 buah balai

  

adat , ini menandakan bahwa di desa Haratai dan desa Ulang penduduknya banyak

  menganut religi Kaharingan. Sebaliknya jika di dareah itu tidak terdapat tempat ibadah agama sutau agama berarti di daerah tersebut hanya sedikit penganut agama tempat ibadah tersebut atau bahkan tidak ada sama sekali. Contohnya di desa Lumpangi yang sama sekali tidak ada mempunyai balai adat, sama halnya dengan desa Panggunan, berarti di desa Lumpangi dan desa Pangungan penduduknya sedikit atau bahkan tidak ada yang memeluk religi Kaharingan.

  Tabel 19. Tempat-tempat Ibadah

  No. Tempat-tempat Ibadah Jumlah

  1 Mesjid (Islam)

  11 Buah

  2 Langgar (Islam)

  15 Buah

  3 Mushalla (Islam)

  1 Buah

  4 Gereja (Kristen Protestan dan Katolik)

  8 Buah

  5 Balai Adat (Kaharingan)

  48 Buah JUMLAH

  83 Buah Sumber: Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Loksado Perincian tempat-tempat ibadah di desa-desa di Kecamatan Loksado dapat dilihat pada table dibawah ini Tabel 20. Jumlah Tempat-tempat Ibadah di Desa-desa di Kecamatan Loksado.

  No. Desa-desa Jumlah Tempat-tempat Ibadah

  Mesjid Langgar Mushalla Gereja Balai Adat

  1 Loksado 1 3 (2 Protestan1

  2 Katolik)

  1 - -

  4

  • 2 Lumpangi

  3 Ulang 1 2 (Protestan) - -

  14

  3

  3

  1

  • 4 Hulu Banyu

  1

  • 5 Kamawakan

  1 2(Protestan) 7 -

  6 Malinau

  1 1 1 (Katolik) 3 - 7 - Haratai - - 12 -

  8 Panggungan

  1 1 - - -

  2 4 -

  • 9 Halunuk

  1

  10 Tumingki

  1

  1 - -

  3

  11 Loklahung - -

  • 5 - JUMLAH

  11

  15

  1

  8

  48 Sumber: Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Loksado Desa-desa di luar Kecamatan Loksado, atau desa-desa “di bawah” sudah sejak lama memeluk agama Islam, seperti Padang Batung, Kandangan, dan banyak lagi, penduduknya mayoritas adalah beragama Islam. Kalimantan Selatan yang penduduknya mayoritas beragama Islam memulai sejarah Islamnya sejak Kerajaan Banjar yang bercorak Islam.

BAB V PENUTUP Penyebutan istilah suku Dayak menunjuk kepada kesatuan etnik yang disepakati

  sebagai penduduk asli pulau Kalimantan beserta keturunannya hingga sekarang dan tidak perlu menambahkan unsur-unsur agama atau kepercayaan yang diidentikkan dengan identitas ke-dayak-kan seseorang, karena akan sulit dan kabur penjelasannya. Alasan agama atau kepercayaan apapun ini juga tidak dapat berlaku universal, contohnya orang dari etnis Jawa yang mencakupi semua “orang Jawa” dengan tidak mencantumkan status agama atau kepercayaannya sebagai kriteria atau syarat sebagai orang Jawa. Terdapat banyak pendapat yang mengatakan bahwa seorang suku Dayak harus beragama atau kepercayaan tertentu, masih menjalankan upacara ritual tertentu, hingga mencerminkan kehidupan suku Dayak di masa silam.

  Masyarakat Adat suku Dayak Meratus adalah salah satu puak atau sub dari suku Dayak di Kalimantan. Masyarakat adat Suku Dayak Meratus tinggal di sekitar Pegunungan Meratus yang membentang di Propinsi Kalimantan Selatan. Puak suku Dayak Meratus juga banyak diperdebatkan tentang runutan turunan sub suku Dayak- nya (antaralain berasal dari/termasuk dalam golongan puak suku Dayak Ngaju dan Maayan). Akan tetapi yang jelas masyarakat adat suku Dayak Meratus seperti kebanyakan puak suku Dayak lainnya, adalah puak suku Dayak yang sejarah sukunya di masa lalu adalah sama atau serumpun dengan suku Dayak lainnya, dengan kata lain mereka masih terikat tali persaudaraan dari nenek moyang mereka. Aspek-aspek yang meliputi mereka hampir sama, meski tidak sama persis. Seperti halnya kebudayaan mereka yang berkesinambungan, seperti rumah tempat tinggal mereka, religi yang mereka yakini, dan masih banyak lagi.

  Religi Kaharingan pada masyarakat adat suku Dayak (seluruh puak suku Dayak) dipahami dalam berbagai bentuk yang beragam, tetapi tidak berbeda secara hakikinya. Religi Kaharingan bagi masyarakat adat suku Dayak Meratus yang juga biasa dikenal dengan religi Balian dan berbagai penyebutan lainnya adalah sutau religi yang mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa yang mereka sebut dengan Suwara.

  Suwara adalah Ilah tertinggi atau Suprem God atau Prima Causa dalam religi Kaharingan masyarakat adat suku Dayak Meratus. Suwara selaku Ilah tertinggi mempunyai sederetan pembantu-pembantunya untuk mengatur kehidupan manusia dan juga alam semesta.Religi Kaharingan juga mengenal adanya roh-roh halus, leluhur dan nenek moyang (anchestal belief) di kehidupan mereka.

  Religi ini sungguh dekat dengan alam. Semua inti-inti dalam ajarannya mengajarkan cara-cara menghormati alam, menjaga keseimbangan ritme alam, tidak merusaknya. Karena merusak alam berarti merusak diri sendiri dan kemurkaan oleh Suwara. Alam dipandang sakral karena diasumsikan sebagai sebuah amanat dari Suwara untuk melestarikannya. Bagi masyarakat adat suku Dayak Meratus, manusia yang memanfaatkan alam dengan huma untuk mempertahan kan hidup menuntut manusia itu untuk mengadakan berbagai macam upacara adat ritual untuk menghormati alam dan sekaligus penguasanya (Suwara beserta pembantu-pembantunya)

  Bagi Masyarakat adat Suku Dayak Meratus, kebudayaan berfungsi sebagai kekuatan integratif yang menyatukan seluruh pendukung kebudayan tersebut melalui semangat kebersamaan dan solidaritas untuk kelangsungan hidup komunitasnya (sukunya). Dalam sebuah kebudayaan masyarakat itu terkandung berbagai nilai (positif) yang terus berusaha dipelihara hidup dalam masyarakat tersebut, termasuk suatu religi yang termasuk (bagian) dalam unsur-unsur kebudayaan. Nilai-nilai kebudayaan yang terkandung itu akan memberikan identitas dan jati diri bagi pendukungnya, baik perorangan maupun masyarakat, dalam eksistensi dan esensinya. Nilai-nilai yang ikut menentukan Pandangan Hidup (lebensanschauung) dan pandangan

  230 tentang dunia (weltanschauung).

  Alam pikiran religiomagis yang terdapat pada masyarakat adat suku Dayak Meratus mempengaruhi segala aspek di kehidupannya, seperti mata pencaharian (melalui kebudayaan huma-nya), tempat tinggal komunalnya (balai adat), hubungan antara individu-individu dalam masyarakatnya (tokoh-tokoh yang dituakan dan dihormati seperti balian atau tutuha banua). Termasuk dilangsungkannya upacara- upacara adat ritual yang desar disemangati oleh kepercayaan atau religi mereka, Kaharingan.

  Religi Kaharingan pada masyarakat adat suku Dayak Meratus sedikit banyaknya telah terpengaruh dengan agama-agama besar lainya, terutama Islam. terlihat dari penamaan beberapa Ilahnya yang mirip dengan yang ada di agama Islam seperti sejumlah Nabi (Nabi Iberahim Nabi Halias, Nabi Yakub, Nabi Sulaiman dan Nabi Karun, Nabi Muhammad,) dan Malaikat-malaikatnya (Malaikat Jabaril, Malaikat

  

Mikail , Malaikat Surapil Malaikat Iskail). Begitu pula dengan penamaan manusia

  pertama yang diciptakan oleh Suwara, yakni Datu Adam dan Datu Tihawa, serta beberapa kemiripan lainnya. Hal ini sangat mungkin terjadi karena pembauran yang cukup intens dan cukup lama semenjak dahulu, semenjak Kerajaan Banjar yang berkuasa atas wilayah masyarakat adat suku Dayak Meratus selama beratus-ratus tahun lamanya. Ini berarti bahwa saat itu masyarakat ada suku Dayak Meratus kedudukannya 230 Nico Andasputra, loc. cit. berada di bawah kekuaaan Kerajaan Banjar yang bernafas Islam, yang berarti pula bahwa religi Kaharingan berada di bawah kekuasaan agama dan budaya Islam selama berabad-abad.

  Marakat adat suku Dayak Meratus dipandang sebagai sebagai suku terasing/terbelakang bahkan image primitif oleh golongan yang mengaku kaum developmentalis, tapi tidak membuka matanya lebar-lebar dan meremehkan kearifan dan kebijakan lokal.

  Jaman kekuasaan Pemerintah rezim Orde Baru adalah masa kegelapan bagi masyarakat adat suku Dayak umumnya dan suku Dayak Meratus khususnya. Kebijakan pemerintah meliputi segala hal dalam kehidupan mereka. Kebijakan-kebijakan yang diambil Pemerintah saat itu masyarakat adat suku Dayak Meratus sungguh tersudut, termarginalkan, dan disisihkan sebagai warga Negara Republik Indonesia.

  Dari dalil-dalil ketentuan yang dibuat oleh Pemerintah ternyata beberapa ketentuan dalam dalil-dalil tersebut justeru kontradiktif satu-sama lainnya dan Pemerintah sendiri tidak konsisten dan konsekwen dalam membuat dan menjalankan peraturan-peraturan tersebut.

  Perjuangan-perjuangan religi Kaharingan banyak terjadi di sebelah Barat Kalimantan Selatan atau sekarang sudah menjadi Propinsi tersendiri, yakni Kalimantan Tengah. Sebagai final solution, religi Kaharingan kemudian diintegrasikan atau digabungkan dengan agama Hindu. Ini adalah langkah dari upaya pejuang-pejuang HAM yang mengusung tema keyakinan hakiki masyarakat adat suku Dayak, yakni religi Kaharingan. Dengan cara demikian penganut religi Kaharingan akan mendapat pengakuan dari Negara.

  Meskipun demikkian di pedalaman Kalimantan Selatan, di kaki-kaki bukit Pegunugngan Meratus masih terdapat masyarakat adat suku Dayak (Meratus) yang tetap teguh memegang keyakinan asli mereka dan hingga sekarang Pemerintah masih tetap menganaktirikan mereka.

  Formalisasi agama atau proses pengagamaan dan pada masa Pemerintahan Orde Baru punya peran hebat dalam rangka penghancuran nilai-nilai luhur tradisi dan kebudayaan suku Dayak, khususnya mayarakat adat suku Dayak Meratus di Pegunungan Meratus di Propinsi Kalimatan Selatan.

  Mengingat permasalahan yang ada belum sepenuhnya terselesaikan dan kemungkinan munculnya beberapa permasalahan baru, maka penelitian-penelitian selanjutnya untuk topik ini akan selalu menarik untuk digali kembali.

  Glossary Thesaurus Istilah dan Bahasa Daerah Anum : muda.

  Balai adat : tempat tinggal rumah komunal masyarakata adat suku Dayak Meratus. Banua : bumi, kampung halaman tempat tinggal manusia.. Banyu hidup : jenis sesajen. Balilingai : Membersihkan lahan dari rumput-rumput kecil dan sedang. Baras : beras. Baharaguan : melakukan sesuatu. Banih : padi. Bibinian : perempuan. Bingkarungan : binatang sejenis bunglon. Bubuhan : kumpulan umbun atau juga bisa untuk menyebut kelompok suku Dayak. Bulih : boleh/diizinkan. Bubut huwan : jenis kain sesajen. Buluh : ruas bambu. Dangsanak : saudara. Ditabuni : disembunyikan.

Gaduhan : peliharaan, biasanya dalam konteks magis berarti peliharaan makhluk halus.

  Meratus yang terikat dalam satu ketentuan oleh tutuha bubuhan.

  Habang : merah. Halilipan : lipan atau kelabang.

Halimanyar : binatang penyengat sejenis lipan atau kelabang yang kaki-kaki lebih

  panjang dan tubuhnya lebih besar biasanya berwarna merah kehitam- hitaman.

  Haur : jenis bambu yang kayunya lebih liat dari bambu biasa. Hirangan : binatang sejenis monyet yang tubuh dan mukanya hitam legam. Hudah : selesai.. Huma : ladang atau lahan pertanian.

  Ikam: kamu (bahasa kasar), pian (bahasa halus).

  

Jubata (Jubanta Ne’ Patampa/ Jubata Ne’ Pajaji), Tamai Tingai, Latal, Raying

Hatalla, Penompa, Tahala : sebutan untuk Tuhan bagi berbagai puak suku

  Dayak.

  Kada : tidak atau bukan.

Kararangga : sejenis semut merah yang besar-besar dan bisa menyengat. Semut ini

biasanya tinggal di pohon-pohon.

  

Katikih : sejenis semut hitam yang besar-besar dan bisa menyengat dengan rasa nyeri

yang luar biasa. semut ini biasanya tinggal di lubang-lubang di tanah. Kancahungan : mengamuk sambil ribut. Kabun tujuh : jenis sesajen. Kuriak-kuriak : teriak-teriak.

Layung : alat pertanian masyarakat adat suku Dayak Meratus, parang yang berbentuk

huruf “L”. Lamang lakatan : lemang ketan. Lanan : jenis kayu/pohon. Lalaya : jenis sesajen. Lanjar : minyak kelapa. Lalakian : laki-laki. Lanting : rakit bambu.

Lamin, betang, lewu hante, umaa’ aruu’, panjae, sao langke : tempat tinggal rumah

komunal masyarakatat adat suku Dayak (berbagai puak suku Dayak). Mangaramputi : berdusta. Maligai rimbunan amas : jenis sesajen. Mamang : mantra. Maunjun : memancing. Malunta : menebar jaring. Maringgi : memasang jaring. Maraba : membuat sarang ikan. Mahancau : menangkap ikan dengan jaring yang lebar.

Malukah : menjebak ikan dengan alat lukah, terbuat dari anyaman bambu yang dibentuk

menyerupai tabung. Ikan bisa masuk tapi tidak bisa keluar. Mahambin : menggendong di punggung. Manabat batang banyu : membendung aliran sungai untuk dialirkan kepersawahan. Patati : mempunyai pengetahuan yang luas/penerjemah ucapan roh. Paring : jenis bambu biasa. Palataran : semacam teras rumah yang luas.

  Pengayau :Pemburu/pemenggal kepala. Mamat, dalam istilah suku Dayak Iban. Pucuk badiri : jenis sesajen. Rapun : pohon. Talaga darah : jenis sesajen.

Tatajak : alat pertanian masyarakat adat suku Dayak Meratus, kayu bulat panjang

runcing salahsatu ujungnya. Fungsinya untuk membuat lubang bibit di tanah.

  Tandik : tarian. Tapih : sarung. Tihang : tiang.

Tutuha : orang yang dituakan dihormati atau tokoh masyarakat yang biasanya juga

merangkap sebagai tokoh agama..

  Ulah : membuat. Umbun : satu keluarga batih atau juga bisa untuk menyebut dapur. Wadai : kue. Wahini : sekarang juga seketika. Awan : dan.

  

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

  Abdullah, Taufik dan Abdul Suryomiharjo. Ilmu Sejarah dan Historiografi: Arah dan Perspektif. Jakarta: PT. Gramedia. 1985.

  Anderson, Benedict. Komunitas-komunitas Imajiner: Renungan tentang Asal-usul dan

  Penyebaran Nasionalisme. terj Omi Intan Naomi. Jogjakarta: Pustaka Pelajar dan Insist Press. 1999.

  Badhawy, Zakiyuddin. Ambivalensi Agama Konflik dan Kekerasan. Jogjakarta: Lesfil.

  2002. Bakker, J. W. M. Agama Asli Indonesia. Jogjakarta: Promanuscipto. 1969. Brown, A. R. Racliff. Struktur dan Fungsi Dalam Masyarakat Primitif, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Malaysia. 1980.

  Coomans, Mikhail. Manusia Daya:Dahulu, Sekarang, Masa Depan. Jakarta: Gramedia.1987.

  Dacun, Save M. Kamus Besar Ilmu pengetahuan. Jakarta: Lembaga Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Golo Riwu. 2006.

  Dawson, Christopher. Religion and Culture.New York: ---. 1958. Dhavanony, Maria Susai. Fenomenologi Agama. Jogjakarta: Kanisius. 1995. Garna, Judistira K. Ilmu-ilmu Sosial: Dasar Konsep Posisi. Bandung: Penerbit Program Pascasarjana Universitas Padjajaran. 1996.

  Goetz, Joseph F. M. Bergounnioux. Prehistoric and Primitive Religions. London: Burn and Oates.1965.

  Florus, Paulus, Stephanus Djuweng, John Bamba, dan Nico Andasputera. Kebudayaan Dayak: Aktualisasi dan Transformasi. Jogjakarta: Grasindo. 1994.

  Eghenter, Cristina, Kebudayaan dan Pelestarian Alam: Penelitian Interdisipliner di Pedalaman Kalimantan. Sunt. Bernard Sellato. Bogor: SMK Grafika Mardi Yuana. 1999.

  Evans E. E. Theories of Primitive Religion. London: Pritchard. 1965. Erikson, Erik Hamburger. Identitas dan Siklus Hidup Manusia. terj. Agus Cremers.

  Jakarta: Gramedia. 1989. Erikson, Erik Hamburger. Jati Diri, Kebudayaan dan Sejarah: Pemahaman dan Tanggungjawab. terj. Agus Cremers. Flores: LPBAJ 2001.

  Greeley, Drew M. Agama: Suatu Teori Sekuler. Jakarta: Penerbit Erlangga. Terj. Abdul Djamal Soamole. 1988.

  Hendrospuspito, D. Sosiologi Sistematik. Jogjakarta: Kanisius. 1989. Kartodirdjo, Sartono. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 1992.

  Koentjoroningrat, Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: PT. Dian Rakyat. 1977. Koentjoroningrat. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan. 1971. Koentjaraningrat. Sejarah Teori Antropologi Jilid I. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. 1980.

  Kuntowijoyo. Metodologi Sejarah. Jogjakarta: PT. Tiara Wacana. 1994. Kusni, J. J. Negara Etnik: Beberapa Gagasan Pemberdayaan Suku Dayak. Jogjakarta: Fuspad. 2001.

  Liliweri, Alo. Gatra-Gatra Komunikasi Antarbudaya. Sunt. Kamdani. Jogjakarta: Pustaka Pelajar. 2001.

  Mangkujati, Anjarani dkk. Politik dan Poskolonialitas di Indonesia editor Budi Santoso. Jogjakarta: Kanisius. 2003.

  Mangunwijaya, Y. B., Fran Magnis suseno, dkk. Agama dan Kekerasan. Jakarta: Kelompok Studi Proklamasi. 1985.

  Mantikei, Tjilik Riwut Sanaman. Maneser Panatau Tatu Hiang Menyelami Kekayaan Leluhur, Palangkaraya: Pusakalima. 2003.

  Maryaeni. Metode Penelitian Kebudayaan. Jakarta: Bumi Aksara. 2005. Maunati, Yekti. Identitas Dayak: Komodifikasi dan Politik Kebudayaan. Jogjakarta: LKIS. 2004.

  Neuman, W. Lawrence. Sosial Research Methods: Qualitative and Quantitative Approach . Fouerth Edition. Needham: Heights. 2000.

  Nolan, Dieter. Kamus Dunia Ketiga. terj. Titi Soentoro, Aan Effendi, HArdi Ilham, Godjadi Harun. Jakarta: Grasindo. 1994.

  Nousseau, Jerome. Kayan Religion: Ritual Life and Religius Reform in Central Borneo. Leiden: Koninklijk Instituut Voortaal Lan en Volkenkunde Press. 1998.

  Radam, Noerid Haloei. Religi Orang Bukit, Suatu Lukisan Struktur dan Fungsi dalam Kehidupan Sosial–Ekonomi. Jogjakarta: Yayasan Ambarukmo. 2001.

  Rahardjo, Djoko Mudji dan Sri guritno. Budaya Masyarakat Perbatasan, Studi Antar

  Etnik di Kelurahan Gadang Kecamatan Banjar Timur Kotamadya Banjarmasin Propinsi Kalimantan Selatan. Jakarta: CV. Bupara Nugraha. 1999.

  Renier, G. J. History: Its Purpose and Method. London: George Allen and Unwin Brother Limited. 1961.

  Rodgers, Susan dan Rita Smith Kipp. Indonesia Religions in Transition, (Arizona: Arizona Press. 1987.

  Rutter, Owen. The Pagans of North Borneo. New York: ---. 1985. S, Hairus Salim H. Mayarakat Dayak Meratus Agama Resmi dan Emansipasi.

  Banjarmasin: Pusat Studi dan Pengembangan Borneo. 2001. S. Ubed Abdillah. Politik Identitas Etnis: Pergulatan Tanda Tanpa Identitas.

  Magelang: Indonesiatera. 2002. Sastraprateja, M. Agama dan Tantangan Masa Kini. Jogjakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma. 2002.

  Schadee, M. Kepercayaan Suku Dayak di Tanah Landak dan Tayan. Jakarta: Yayasan Idayu. 1979.

  Soekanto, Soejono, Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: CV. Rajawali. 1986. Sopian, Agus. “Negara, Agama dan KTP”. dalam majalah Playboy Indonesia, edisi I,

  April 2006.Supriyono, J., Fitzgerald K. Sitorus, dkk Hermeneutika Pascakolonial: Soal Identitas . editor: Mudji Sutrisno dan Hendar Puranto. Jogjakarta: Kanisius. 2004. Tsing, Anna Lowenhaupt. Di Bawah Bayang-bayang Ratu Intan: Proses Marjinalisasi pada Masyarakat Terasing. Jakarta: Yayasan Obor. 1998.

  Ukur, Fridolin dkk. Kebudayaan Dayak Aktualisasi dan Transformasi. Jakarta: Gramedia.1992.

  Usman, A. Gazali. Urang Banjar dalam Sejarah. Banjarmasin: Lambung Mangkurat University Press. 1990.

  Pasti, F. Akap dkk. Identitas dan Poskolonialitas di Indonesia. editor Budi Santoso.

  Jogjakarta: Kanisius 2003 Poloma, Margaret M. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: CV. Rajawali. 1984. Anonim. Adat Istiadat Daerah Kalimantan Selatan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.

  1982 Verhaar, John W. M. Identitas Manusia Menurut Psikologi dan Psikiatri Abad ke 20,

  Jogjakarta: Kanisius. 1989

  Internet: Daud, Alfani. ”Islam dalam Mayarakat Banjar”. dalam website http://www.indomedia. com/bpost/pudak/journal/islam.htm.

  Effendi, Wahyu. “Pembaharuan Hukum Catatan Sipil dan Penghapusan Diskriminasi di Indonesia”. dalam website http://hukumonline.com/detail.asp?id=10607&cl= Kolom.

  Mahin, Marko. “Urang Banjar: Identitas dan Entitas di Kalimantan Selatan “, dalam website http://www.opensubscriber.com/message/ppiindia@yahoogroups.com/

  639466.htm

  Nau, Rangkap I. “Agama Kaharingan Menurut Sejarah”, dalam website http://www.freelists.org/ archives/ppi/03-2006/msg00468.htm.

  Nusantara, Gigih. “Belajar Bersama Toleransi Beragama”, dalam website http://www.

  polarhome.com/pipermail/nusantara /2002-December/000706.htm.

  Rumadi, “Agenda Kebebasan Beragama”, dalam website http://www.atmajaya.ac.id/ content.asp?f =0&id=693.

  Anonim. “Agama”. dalam website http://id.wikipedia.org/wiki/Agama. Anonim. “Agama Asli Nusantara”. dalam website http://id.wikipedia.org/wikiAgama _Asli_Nusantara.

  Anonim. “Bornean”. dalam website http://www. kitlv.nl?subject=Bornean.

  Anonim. “Bornean”. dalam website http://www.angelfire.com/biz2/BORNEO/religion.

  htm.

  Anonim. Central Borneo: Etnic Identity and Social Life in a Stratified Society. London: Clarendon Press. 1998.

  Anonim. “Dayak”. dalam website http://www.Exploitz.com/FREE In-depth report-

  Dayak-Indonesia.htm

  Anonim. “Fenomena Agama Asli”. dalam website http://tiranus.net/archives/2005/ 07/27/fenomena-agama-asli/.

  Anonim. “Kalimantan Selatan”. dalam website http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan _Selatan.

  Anonim. “Mereka Juga Sodara Kita”. dalam website http://www.wordpress.org/Just_ Ducky/ Mereka_ Juga_ Sodara_Kita.htm.

  Anonim. “Suku Banjar”. dalam website http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Banjar. Anonim. “Suku Dayak Bukit”. dalam website http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak _Bukit.

  Anonim. “Kebebasan Beragama”. dalam website http://www.usembassyjakarta.org/ press_rel/kebebasan_beragama1.htm.

  Artikel/Surat Kabar/Majalah/Jurnal:

  Afen, Marchues. “Lintasan Sejarah Sosial Dayak”. dalam majalah Kalimantan Review No. 12 Tahun IV Juli September 1995.

  Andasputra, Nico. “Manusia Dayak dan Konsep Pemikirannya”. dalam majalah Kalimantan Review nomer 1 tahun I Januari-Juni 1992.

  Andasputra, Nico. “Pesta Budaya Dayak”. dalam majalah Kalimantan Review nomer 2 tahun I Juli-Desember 1992.

  Bamba, John. "10 Anggapan Salah Mengenai Sistem Perladangan Orang Dayak”. dalam majalah Kalimantan Review nomer 5 tahun II September-Desember 1993.

  Azis, Aswan. “Ternyata Ia Hanya Mengajariku Sombong”. dalam majalah Desantara edisi 07/tahunIII/2003.

  Djuweng, Stephanus. “Dayak, Dyak, Daya’, dan Daya: Cermin Kekaburan Sebuah Identitas”. dalam majalah Kalimantan Review nomer 1 tahun I Januari-Juni 1992.

  Dungau, Loly. “Jangan Paksa Mereka Beragama Resmi”. dalam majalah Desantara edisi 07/tahunIII/2003.

  Effendi, Bisri. “Ketika Agama Menjadi Lembaga Politik”. dalam majalah Desantara edisi 07/tahunIII/2003.

  Effendi, Bisri. “Dulu Kami Kafir Sekarang Beragama”. dalam majalah Desantara edisi 07/tahunIII/2003.

  Effendi, Bisri. “Citra Dayak”. dalam majalah Desantara edisi 07/tahunIII/2003. Effendi, Bisri. “Mereka Yang Terasing”. dalam majalah Desantara edisi 07/tahunIII/2003.

  Effendi, Bisri. “Kaharingan Bagaikan Jatuh Tertimpa Tangga”. dalam majalah Desantara edisi 07/tahunIII/2003.

  Florus, Paulus. “Jurus Antropolog Profesional”, dalam majalah Kalimantan Review No.7 Tahun III April-Juni 1994.

  Florus, Paulus. “Pesta Rakyat: Kebudayan Universal”. dalam majalah Kalimantan Review nomer 4 tahun II Mei-Agustus 1993.

  Firmus, Albertus. “Manusia Dayak: Manisfestasi Perilaku dan Perbuatannya”. dalam majalah Kalimantan Review nomer 1 tahun I Januari-Juni 1992.

  Ganie, Tajuddin Noor. “Konstruksi Identitas Etnis Banjar di Kalimantan Selatan”, dalam surat kabar Radar Banjar, Kamis 9 Desember 2004.

  Holid Muhammad, “Simbol Sebagai Arena Perjuangan Kelas”, dalam majalah Jalang, 21 Januari 2000.

  Jaelani, Sabran. “Kaharingan Jelas Bukan Agama”. dalam majalah Desantara edisi 07/tahunIII/2003.

  Johansen, Poltak dan Christriyati Ariani. “Mayarakat Dayak dan Lingkungannya” dalam majalah Kalimantan Review nomer 4 tahun II Mei-Agustus 1993.

  Kusni, J. J. “Masa Depan dalam Sejarah Dayak dan Makna Pengenalannya”. dalam majalah Kalimantan Review, N0. 8 Tahun 03 Juli- September 1994.

  Kusni, J. J. “ Tentang Sejarah Lokal dan Sejarah Nasioanl”, dalam majalah Kalimantan Review , nomer 3 tahun II Januari- April 1993.

  Mohammad, Herry. Kholis Bahtiar Bakri, dan Suhartono. “Agama Baru: Kaharingan Merindukan Pengakuan”, dalam majalah Gatra nomer 42 3 September 2001.

  Mujiran, Paulus. “Dialog Penyebaran Agama dan Kebudayaan”, dalam surat kabar Suara Merdeka , Senin 13 Januari 1997.

  Muttaqin, Ahmad. “Kolonisasi Agama Resmi Terhadap Agama Kaharingan: Misi/Dakwah Agama-agama Resmi dan Implikasinya terhadap Eksistensi Agama Kaharingan Dayak Loksado, Kalimantan Selatan”. makalah .

  Jogjakarta: Pusat Kajian Dinamika Agama, Budaya dan Masyarakat PPS IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. 2003.

  Oendoen, Yosep Oidillo, Makarius Sintong, dan Yosep Dismas Aju. “Memahami Identitas Budaya Dayak”. dalam majalah Kalimantan Review nomer 4 tahun II Mei-Agustus 1993

  Sairin, Weinata. “Minggu Advent: Menanti dan Introspeksi”. dalam surat kabar Suara

  Pembaruan 23 Desember 2005.

  Siswanto, Ahmad. “Mantra Itu Tak Berbeda Dengan Doa”. dalam majalah Desantara edisi 07/tahunIII/2003.

  Sodikin, Amir. “Melihat Dayak Meratus dan Merindukannya”. dalam surat kabar Kompas , Sabtu, 28 Juni 2003.

  Soehadha, Moh. “Kolonisasi Agama Lokal: Peminggiran Agama Kaharingan Beserta Masyarakat Pendukungnya di Loksado, Kalimantan Selatan.”. makalah.

  Jogjakarta: Pusat Kajian Dinamika Agama, Budaya dan Masyarakat PPS IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, 2003.

  Syachrani, Dachlan. ”Julukan Stigmatis itu Memang dari Pendeta dan Ulama, Tapi Jangan Dibesar-besarkan” . dalam majalah Desantara edisi 07/tahunIII/2003.

  Tatang, L. dan Nico Andasputra. “Kearifan Tradisional Orang Dayak Dalam Melestarikan Keanekaragaman Hayati”. dalam majalah Kalimantan Review nomer 16 tahun V Mei-Juni 1996.

  Ukur, Fridolin. “Kebudayaan Dayak”. dalam majalah Kalimantan Review nomer 2 tahun I Juli-Desember 1992.

  Usop. “Tiwah: Ketika Para Dewa Turun Ke Dunia, Para Rokh Naik Ke Surga”. dalam majalah Kalimantan Review nomer 4 tahun II Mei-Agustus 1993.

  Wetik, Freed. “Negara Jangan Urus Keimanan”. dalam majalah Desantara edisi 07/tahunIII/2003.

  Zada, Khamami. “Mempertimbangakan Spirit Agama Lokal”. dalam surat kabar Suara Pembaruan , Jumat 6 September 2002.

  Profil dan data-data dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Loksado Data-data dari Kantor Kecamatan Loksado.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Tanggung jawab guru agama dalam menanamkan akhlak terhadap remaja : studi kasus di SMP Islam Parung Bogor
0
4
115
peranan guru agama islam dalam mengatasi kesulitan siswa membaca al-Quran: studi kasus di SMP Negeri 17 Tangerang Selatan
19
138
85
Peran sentral pemangku dalam agama hindu : studi kasus pada pura raditya dharma cibinong bogor
3
49
70
Studi banding sistem hukum waris adat dengan hukum waris islam dalam konteks fiqh mawaris pendidikan agama islam : ( Studi kasus adat minangkabau)
3
47
113
Kedudukan panitera pasca amandemen UU NO.7 Tahun 1989 tentang peradilan agama : studi kasus pengadilan agama jakarta Selatan
0
4
161
Kontribusi hakim peradilan agama dalam proses pembentukan yurisprudensi : studi kasus di peradilan agama Jakarta Selatan
0
5
109
Hubungan religiusitas masyarakat pendatang dengan religiusitas masyarakat asli : studi kasus masyarakat di kelurahan Cilandak Timur Jakarta Selatan
0
6
107
Perkembangan agama Khonghucu di Indonesia pada masa reformasi(1998-2007) : studi kasus di masyarakat cina penganut agama khonghucu di tangerang
1
32
68
Makna dan fungsi sanggah dalam agama Hindu : studi kasus dalam masyarakat Hindu Jawa
0
9
67
Efektifitas metode diskusi dalam pembelajaran pendidikan agama islam : studi kasus di SMP Yapia Ciputat
2
10
79
Perubahan pelaksanaan khataman al-Qur'an dalam adat perkawinan Betawi : studi kasus di Rw 02 kelurahan Ceger Jakarta Timur
3
11
50
Pengaruh sinetron religi terhadap sikap keberagamaan siswa : studi kasus di smp negeri 1 cigombong-bogor
1
26
119
Pusat Kebudayaan Suku Dayak Kalimantan timur di Samarinda
7
37
83
Identifikasi pola peran serta masyarakat untuk pengembangan objek wisata religi Batu Qur'an studi kasus Kabupaten Pandeglang
2
6
1
Makna Simbolik pada Rumah Betang Toyoi Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah
0
3
10
Show more