A. Pengertian Novel - Heni Prasetiawati BAB II

Gratis

0
0
19
3 months ago
Preview
Full text

BAB II LANDASAN TEORI Setiap kajian memerlukan teori yang dianggap tepat dan sesuai dengan

  permasalahan dan tujuan yang hendak dicapai. Dalam penelitian ini karya sastra (novel) yang dikaji menitikberatkan pada masalah moral.

  Untuk mempermudah dalam penelitian ini, maka perlu adanya teori-teori yang mendukung dan relevan dengan penelitian ini. Teori-teori tersebut diantaranya meliputi hal-hal yang berkaitan dengan pengertian novel, pengertian novel anak, pengertian moral, hakikat moral dalam karya sastra, serta aspek- aspek moral dan kriterianya.

A. Pengertian Novel

  Kata novel menurut Tarigan, (1984 : 164) berasal dari kata latin

  novellus yang diturunkan pula dari kata novies yang berarti “ baru ” dikatakan

  baru karena dibandingkan dengan jenis-jenis sastra lainnya sepertiu puisi, drama, dan lain-lain, maka jenis novel itu muncul kemudian. Dalam “The

  

American College Dictionary ” dapat kita jumpai keterangan bahwa novel

  adalah suatu cerita dengan suatu alur, cukup panjang mengisi satu buku atau lebih, yang menganggap kehidupan pri dan wanita yang bersifat imajinatif.

  Sayuti, (1996 : 6-7) menyatakan bahwa novel cenderung meluas dan juga cenderung menitikberatkan pada kompleksitas. Sebuah novel jelas tidak berarti dapat selesai dibaca dalam sekali duduk. Karena panjangnya, sebuah novel secara khusus cukup untuk mempermasalahkan karakter tokoh dalam sebuah perjalanan waktu. Novel memungkinkan dapat diketahui perkembangan karakter tokoh sajalah dengan perjalanan waktu. Novel juga menyajikan adanya penyajian panjang lebar tentang tempat dan ruang.

  Menurut Suroto, (1989 : 19) Novel adalah suatu karangan prosa yang bersifat cerita yang menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dari kehidupan orang-orang (Tokoh) cerita. Luar biasa karena kejadian ini terlahir suatu konflik, suatu pertikaian, yang mengalihkan jurusan nasib mereka.

  Wujud novel adalah konsentrasi, pemusatan kehidupan dalam satu saat, dalam satu krisis yang menentukan. Novel hanya menceritakan salah satu segi kehidupan sang tokoh yang benar-benar istimewa yang mengaakibatkan terjadinya perubahan nasib.

  Novel merupakan karya sastra yang mempunyai dua unsur, yaitu : unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik yang keduanya saling berhubungan karena sangat berpengaruh dalam kehadiran sebuah karya sastra. Sebuah karya sastra itu tidak mungkin bisa lepas dari tema, cerita, penokohan, alur, dan sebagainya yang membangun karya sastra itu.

  Unsur-unsur pembangun sebuah novel secara garis besar dapat dikelompokan menjadi dua bagian, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.

  a) Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur yang dimaksud misalnya : peristiwa, cerita, plot, penokohan, tema, latar, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa dan lain sebagainya. b) Unsur ektinsik adalah unsur-unsur yang berada diluar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra.

  Unsur ektrinsik yang dimaksud antara lain adalah unsur biografi pengarang, psikologi, baik yang berupa psikologi pengarang (mencakup proses kreatifnya), psikologi pembaca, maupun penerapan prinsip psikologi dalam karya, keadaan lingkungan pengarang Wellek & Warren ( dalam Nurgiyantoro, 2007: 23-24)

  Karya sastra erat sekali hubungannya dengan unsur intrinsik dan unsur ekstinsik karena kedua unsur tersebut merupakan bagian dalam karya sastra yang tidak bisa dipisahkan bahkan bila tidak ada kedua unsur tersebut karya sastra tidak bisa hidup, karena tidak ada unsur yang membangunnya. Dari unsur intrinsik “tokoh” merupakan unsur pembangun yang sangat penting karena tokoh cerita itulah yang menjadi cerita itu dapat berjalan, namun unsur pembangun yang lain juga tidak kalah pentingnya.

  Nurgiyantoro, (2007: 165-177) menyatakan bahwa istilah “tokoh” menunjuk pada orangnya, pelaku peristiwa. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaanya dalam novel yang bersangkutan dan merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Bahkan pada novel-novel tertentu, tokoh utama senantiasa hadir dalam setiap kejadian dan dapat ditemui dalam tiap halaman buku cerita yang bersangkutan. Tokoh utama cerita merupakan tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan terus menerus sehingga terasa mendominasi sebagian besar cerita. Sedangkan menurut Sayuti, (2007:74) tokoh utama atau tokoh sentral merupakan tokoh yang mengambil bagin terbesar dari peristiwa dalam cerita. Tokoh utama atua tokoh sentral suatu fiksi dapat ditentukan dalam tiga cara: (1) tokoh itu yang paling terlibat dengan makna atau tema. (2) tokoh itu yang paling banyak berubungan dengan tokoh lain. (3) tokoh itu yang paling banyak memerlukan waktu penceritaan.

  Dari urain di atas mengenai tokoh utama dapat penulis simpulkan bahwatokoh utama merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah cerita karena sebuah cerita tidak mungkin berjalan bila tidak ada tokoh didalamnya yang berperan sebagai pelaku di dalam suatu peristiwa, dan yang disoroti secara terus menerus dari awal cerita hingga akhir cerita.

B. Pengertian Novel Anak

  Novel anak merupakan sebuah cerita fiksi yang berbentuk prosa yang relatif panjang, menyajikan tema yang komplek, karakter yang banyak, dan suasana yang beragam yang di dalamnya berisi tentang pesan-pesan moral dan ditujukan kepada anak-anak.

  Novel anak biasanya menceritakan tentang kebaikan seorang anak- anak yang di dalam novel tersebut berisi tentang pesan-pesan moral, yang diharapkan pembaca dapat mengambil hikmah dari pesan-pesan moral yang disampaikan atau diamanatkan dalam cerita tersebut. Dalam novel anak tersebut tokoh yang diperankan memiliki sifat yang baik yang bisa ditiru oleh si pmbaca, misal suka menolong, sabar, suka mengalah, tanggung jawab, pemberani, berbakti kepada orang tua, guru dan lain-lain. Tetapi ada juga novel anak yang menceritakan tentang kenakalan seorang anak yang dalam novel tersebut berisi tentang ulah-ulah yang tidak baik, misal berbohong, mencuri, penakut dan lain-lain. Hal ini hanya sebagai pelengkap atau model yang sengaja ditampilkan agar tidak diikuti oleh pembaca. Pembaca diharapkan dapat menggambil hikmah dari cerita tentang tokoh jahat tersebut.

C. Pengertian Moral

  “Ditinjau dari segi etimologi kata moral sama dengan etika karena keduanya berawal dari kata yang berarti adat kebiasaan” (Bertens, 2001:4).

  Hanya bahasa asalnya saja yang berbeda. Moral berasal dari Bahasa Latin Mos (Jamak : Mores) yang berarti “kebiasaan adat”. Sedangkan Etika berasal dari Bahasa Yunani Kuno “ethos”, dalam bentuk tunggal berarti : tempat tinggal yang biasa padang rumput, kandang, kebiasaan adat, akhlak, watak, perasaan, sikap, dan cara berpikir. Dalam bentuk jamak (ta etha) artinya adalah “adat kebiasaan” (Bertens, 2001:4-5).

  Salam (1997 : 1), menyatakan bahwa etika adalah sebuah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya. Etika adalah sebuah refleka kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujud dalam sikap dan pola perilaku hidup manusia, baik secara pribadi maupun sebagai kelompok.

  Lebih lanjut Salam (1997 : 3), mengemukakan bahwa moralitas adalah sistem nilai tentang bagaimana kita harus hidup secara baik sebagai manusia.

  Sistem nilai ini terkandung dalam ajaran berbentuk petuah-petuah atau nasihat, wejangan, peraturan, perintah dan semacamnya yang diwariskan secara turun-temurun melalui agama atau kebudayaan tertentu tentang bagaimana manusia harus hidup secara baik agar ia benar-benar menjadi manusia yang baik. Moralitas adalah tradisi kepercayaan dalam agama atau kebudayaan tentang perilaku yang baik dan buruk. Moralitas memberi manusia aturan atau petunjuk konkret tentang bagaimana ia harus hidup. Bagaimana ia harus bertindak dalam hidup ini sebagai manusia yang baik, dan bagaimana menghindari perilaku-perilaku yang tidak baik.

  Menurut Suseno (1987 : 19), kata moral selalu mengacu pada baik- buruknya manusia sebagai manusia. Norma-norma moral adalah tolak ukur untuk menentukan betul salahnya sikap dan tindakan dilihat dari baik- buruknya dan bukan sebagai pelaku peran tertentu dan terbatas. Ditambahkan oleh Suseno bahwa norma-norma moral adalah tolok-tolok ukur yang dipakai masyarakat untuk mengukur kebaikan seseorang. Maka dengan norma-norma moral kita betul-betul dinilai, itulah sebab penilaian moral selalu berbobot. Kita tidak dilihat dari salah satu segi, melainkan sebagai manusia.

  Daroeso (1986, 22-24) menyatakan bahwa secara etimologis kata “moral” berasal dari kata latin “mos”, yang berarti tata cara,adat-istiadat atau kebiasaan, sedangkan jamaknya adalah “mores”. Dalam arti adat-istiadat atau kebiasaan, kata “moral” mempunyai arti yang asama dengan kata yunani

  “ethos”, yang menurunkan kata”etika”.dalam bahasa Arab kata “moral” berarti budi pekerti adalah sama dengan “Ahklak”, sedangkan dalam bahasa Indonesia, kata “moral”. dikenal dengan arti “kesusilaan”. Istilah “moral” sering disamakan dengan “etika”. Etika dari kata Yunani “ethos, ethikos”.

  Dalam bahasa latin istilah “ethos, ethikos” disebut “mos” atau moralitas.Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruknya. Moralitas merupakan salah satu ciri khas manusia yang tidak dapat ditemukan pada makhluk lain. Moralitas dalam diri manusia merupakan kesadaran tentang baik dan buruk, tentang yang boleh dan dilarang, tentang yang harus dilakukan dan yang tidak pantas dilakukan. Nilai moral yang akan disampaikan pengarang, menyatu dalam alur cerita. Dalam cerita itu pembaca akan bertemudengan berbagai perbuatan cara tokoh yang dilukiskan pengarang dalam berbagai peristiwa. Dengan sendirinya pembvaca akan memahami perilaku-perilaku yang baik dan perilaku yang buruk. Melalui alur cerita itulah pengarang memberikan petunjuk, nasihat, atau pesan akhlak, perbuatan susila dan budi pekerti..

  Sementara pendapat Nurgiantoro (2007 : 321) yang menyatakan bahwa moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, pandangannya tentang nilai-nilai kebenaran, dan hal itulah yang ingin disampaikannya kepada pembaca.

  Menurut Bertens (2001 : 142-143), Nilai moral tidak terpisah dari nilai-nilai jenis lainnya. Setiap nilai dapat memperoleh suatu “bobot moral”, bila diikutsertakan dalam tingkah laku moral kejujuran misalnya merupakan suatu nilai moral, tapi kejujuran itu sendiri “kosong”, bila tidak diterapkan pada nilai lain seperti umpamanya nilai ekonomis. Kesetiaan merupakan suatu nilai moral yang lain, tapi harus diterapkan pada nilai manusiawi lebih umum misalnya cinta antara suami istri. Walaupun nilai moral biasanya menumpang pada nilai-nilai lain, namun ia tampak sebagai suatu nilai baru, bahkan sebagai nilai yang paling tinggi. Lebih lanjut Bertens (2001), mengemukakan bahwa nilai-nilai moral mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 1. Berkaitan dengan tanggung jawab kita, maksud suatu nilai moral bisa diwujudkan dalam perbuatan-perbuatan atau yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita; 2. Berkaitan dengan hati nurani, maksudnya mewujudkan nilai-nilai moral merupakan “imbauan” dari hati nurani; 3. Mewajibkan, maksudnya dengan cara demikian rupa sehingga setiap orang harus menerima semuanya; 4. Bersifat formal, maksudnya nilai-nilai moral tidak memiliki “isi” tersendiri, terpisah dari nilai-nilai lain. Tidak ada nilai-nilai moral yang “murni”, terlepas dari nilai-nilai lain.

  Dengan demikian dapat peneliti simpulkan bahwa moral adalah ajaran tentang baik buruk suatu perbuatan, sikap tingkah laku manusia yang bisa diterima oleh umum serta terikat oleh tempat dan waktu. Objek moral adalah tingkah laku manusia, perbuatan manusia, tindakan manusia, baik secara individual maupun kelompok. Perbuatan manusia dinilai secara moral bilamana perbuatan itu didasarkan pada kesadaran moral. Dalam kesadaran moral tingkah laku atau perbuatan itu dilaksanakan secara sukarela tanpa paksaan dan keluar dari diri pribadinya.

D. Hakikat Moral dalam karya Sastra

   Moral dalam karya sastra merupakan sesuatu yang ingin disampaikan

  pengarang kepada pembaca, merupakan makna yang terkandung dalam sebuah karya sastra, makna yang disarankan lewat cerita. Biasanya moral dalam karya sastra mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, pandangannya tentang nilai-nilai kebenaran, dan hal itulah yang ingin disampaikan kepada pembaca. Moral dalam cerita, menurut Kenny (dalam Nurgiyantoro, 2007 :320-321), biasanya dimaksudkan sebagai suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, dan dapat diambil atau ditafsirkan lewat cerita yang bersangkutan oleh pembaca. Ia merupakan “petunjuk” yang sengaja diberikan oleh pengarang tentang berbagai hal yang berhubungan dengan masalah kehidupan, seperti sikap, tingkah laku, dan sopan santun pergaulan. Ia bersifat praktis sebab “petunjuk” itu dapat ditampilkan atau ditemukan modelnya dalam kehidupan nyata, sebagaimana model yang ditampilkan dalam cerita lewat sikap dan tingkah laku tokoh-tokohnya.

  Diterangkan lebih lanjut oleh Nurgiyantoro (2007 : 321), bahwa sikap dan tingkah laku tokoh-tokoh cerita sesuai dengan pandangannya tentang moral. Dari cerita itu diharapkan pembaca dapat menggambil hikmah dari pesan-pesan moral yang disampaikan atau diamanatkan. Moral dalam karya sastra dapat dipandang sebagai pesan, amanat, message. Unsur amanat merupakan gagasan yang mendasari penulisan karya sastra sebagai pendukung pesan. Keterkaitan sastra dengan aspek moral sangat erat, karena mempelajari tentang masalah manusia (baik-buruknya suatu perbuatan). Pesan moral yang ditawarkan dalam karya sastra, ialah pesan moral yang berhubungan dengan sifat-sifat luhur kemanusiaan. Pesan moral tersebut kebenarannya bersifat universal. Pesan moral sastra lebih menitikberatkan pada sifat kodrati manusia yang hikiki, bukan pada aturan-aturan yang dibuat, ditentukan dan dihakimi oleh manusia.

  Sikap moral sebenarnya disebut moralitas. Moralitas adalah sikap orang yang terungkap dalam tindakan lahiriyah (mengingat bahwa tindakan merupakan ungkapan sepenuhnya dari sikap hati). Moralitas terdapat apabila orang mengambil sikap yang baik karena sadar akan kewajiban dan tanggungjawabnya dan bukan karena mencari untung. Moralitas adalah sikap dan perbuatan baik buruk tanpa pamrih (Suseno, 1987: 58).

  Dinyatakan Salam, (1997: 3) moralitas adalah sistem nilai tentang bagaimana harus hidup secara baik sebagai manusia. Sistem nilai ini terkandung dalam ajaran berbentuk petuah-petuah, nasihat, peraturan, perintah dan semacamnya yang diwariskan secara turun-temurun melalui agama atau kebudayaan tertentu tentang bagaimana manusia harus hidup secara baik agar benar-benar menjadi manusia yang baik. Moralitas adalah tradisi, kepercayaan dalam agama atau kebudayaan, tentang perilaku yang baik dan buruk. Moralitas memberi manusia aturan atau petunjuk konkret tentang bagaimana harus hidup, bagaimana harus bertindak sebagai manusis yang baik, dan bagaiman menghindari perilaku-perilaku yang tidak baik.

  Dari uraian diatas, dapat dikatakan bahwa perbuatan yang baik yang dilakukan dengan ikhlas tanpa pamrih dan tanpa perhitungan adalah moral yang serjati. Orang yang memiliki sifat seperti itu disebut orang yang mempunyai moralitas yang tinggi kerena ia sadar akan kewajiban dan bukan karena ia mencari keuntungan atau pujian dari orang lain.

  Untuk menilai tindakan manusia secara moral, diperlukan tolak ukur yang tepat. Tolak ukur ini merupakan prinsip dasar moral.

  Manurut suseno, (1987:129-133) prinsip-prinsip moral dasar antara lain:

  1. Prinsip Sikap Baik Kesadaran inti utilitarisme ialah bahwa hendaknya jangan merugikan siapa saja, jadi bahwa sikap yang dituntut dari kita sebagai dasar dalam hubungan dengan siapa saja adalah sikap positif dan baik.

  2. Prisip Keadilan Prinsip keadilan mengungkapkan kewajiban untuk memberikan perlakuan yang sama terhadap semua orang lain yang berada dalam situasi yang sama dan untuk menghormati hak semua pihak yang bersangkutan. Keadilan menuntut agar jangan mau mencapai tujuan-tujuan, yang termasuk yang baik dengan melanggar hak seseorang.

  3. Prinsip Hormat terhadap Diri Sendiri Kebaikan dan keadilan perli diimbangi dengan sikap yang menghormati dengan diri kita sendiri sebagai makhluk yang bernilai pada dirinya sendiri., kita mau berbuat baik kepada orang lain dan bertekad untuk bersikap adil, tetapi tidak dengan membuang diri.

  Pada hakikatnya, nilai-nilai moral atau nilai baik-buruk, positf- negatif, pantas tak pantas atau sejenisnya adalah bersumber dari ajaran agama. Prinsip ajaran agama untuk mengatur kehidupan manusia. Perbedaan persoalan kehidupa manusia itu hanya untuk memudahkan pemahaman. Sebab, persoalan hidup atau kehidupan manusia tak bisa lepas dari persoalan hubungan antara manusia dan hubungan manusia dengan manusia dengan tuhan.

  Hikmah yang diperoleh pembaca lewat sastra, dalam hal ini adalah moral, selalu dalam pengertian yang baik. Maka jika dalam sebuah karya sastra ditampilkan sikap dan tingkah laku tokoh-tokoh yang kurang baik atau tidak terpuji, tidaklah berarti bahwa pengarang menyarankan kepada pembaca untuk bersikap dan bertingkah laku atau bertindak secara demikian, sikap dan tingkah laku tokoh tersebut hanyalah sebagai model, model yang kurang baik yang sengaja ditampilkan agar tidak diikitu oleh pembaca. Pembaca diharapkan dapat mengamil hikmah sendiri dari cerita tenteng tokoh jahat tersebut.

E. Aspek-aspek Moral dan Kriterianya

  Menurut Nurgiyantoro (2007 : 323), aspek-aspek moral dibedakan dalam empat macam atau jenis yaitu aspek moral tentang hubungan manusia dengan diri sendiri, manusia dengan manusia lain, manusia dengan lingkungan alam, dan manusia dengan Tuhannya.

1. Aspek moral tentang hubungan manusia dengan diri sendiri meliputi : a.

  Tanggung jawab

  Menurut Bertens (2001 : 125), Tanggungjawab berarti bahwa orang tidak boleh mengelak, bila diminta penjelasan tentang perbuatannya. Orang yang bertanggung jawab memiliki ciri-ciri sebagai berikut : (1) mau melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya, (2) berusaha tepat waktu dalam menyelesaikan tugas, (3) menjaga dan memelihara amanatnya.

  b.

  Akibat Negatif Orang Pemarah Pemarah adalah sikap seseoarrag yang biasanya lekas atau mudah marah.Seseorang dikatakan pemarah jika orang tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut : (1) sering marah-marah, (2) tidak bisa mengatasi masalah, (3) merasa dirinya “paling” dalam segala hal.

  c.

  Jujur Menurut W.J.S Poerwadarminta (2007 : 496) Jujur adalah sikap mental yang lurus hati dan terpercaya sehingga akan dihargai oleh setiap orang. Orang jujur memiliki ciri-ciri sebagai berikut : (1) apa yang dikatakan sesuai dengan kenyataan, (2) perbuatan sesusai hati nurani, (3) hatinya bersih dari perbuatan-perbuatan yang melanggar agama dan norma lainnya d.

  Optimis Menurut Alwi (2007 : 801), optimis adalah orang yang selalu berpengharapan (berpandangan) baik dalam menghadapi segala hal.

  Optimis memiliki ciri-ciri sebagai berikut : (1) selalu berpengharapan baik, (2) merasa yakin bahwa usahanya akan berhasil, (3) selalu berusaha mencapai keberhasilan.

  e.

  Akibat Negatif Orang Penakut

  Penakut adalah sikap mental yang tidak sehat tidak berani menghadapi kenyataan atau tidak berani mempertanggung jawabkan resiko yang diakibatkan perbuatannya sendiri. Ciri-ciri penakut antara lain : (1) tidak berani menghadapi keyataan, (2) selalu berpikir tentang dampak negatif yang akan diterimanya, (3) tidak berani melakukan apa yang seharusnya dilakukan..

2. Aspek moral tentang hubungan manusia dengan manusia lain meliputi : a.

  Mengalah demi kebaikan Mengalah demi kebaikan maksudnya melakukan perbuatan atau tindakan dengan sengaja dan ikhlas agar orang lain gembira,tertawa atau terhibur dan terlepas dari unsur komersial. Orang yang suka mengalah demi kebaikan memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1) rela berkorban mesti dirinya dirugikan, (2) ikhlas, (3) tidak mengharapkan imbalan atas kebaikan.

  b.

  Berbakti kepada orang tua Berbakti kepada orang tua maksudnya melakukan perbuatan atau perkataan dengan sengaja agar orang tua bahagia. Seorang anak yang berbakti kepada orang tuamenyadari jasa yang telah mereka berikan sejak didalam kandungan hingga lahir dan berkembng menjadi dewasa. Semua itu diberikan oleh orang tua tanpa mengharapkan balasan apa-apa dari si anak. Bahkan ketika dewasa pun orang tua tidak serta merta melepasnya, tetapi tetap membantu menyelesaikan segala persoalan hidupnya c.

  Menolong orang lain

  Suka menolong yaitu sikap yang senang menolong atau membantu orang lain, baik dalam bentuk material maupun dalam bentuk tenaga dan moral. Seseorang dikatakan suka menolong apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut : (1) mau menolong siapa saja yang mengalami kesulitan, (2) tidak membeda-bedakan orang yang ditolongnya, (3) atas dasar kemauan sendiri atau tidak diperintah oleh orang lain, (4) mendahulukan kepentingan orang lain diatas kepentingan pribadi.

  d.

  Akibat Negatif Mencuri Mencuri berasal dari dari kata dasar “curi”. Orang yang mencuri itu disebut pencuri atau maling. Semua kata yang berkembang melalui kata “curi” iti termasuk dalam kategori pidana kejahatan. Menurut buku KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) tndak kejahatan itu biasanya dihukum dengan kurungan badan dalam penjara yang berat ringannya bergantung pada pertimbangan Pak Hakim.

  hhp://nenekmoyang28.blogspot.com/2008/01/mencuri.html e.

  Setia kawan atau toleransi kepada teman Menurut Alwi dkk (2002 : 1056) setia kawan atau toleransi keapda teman berarti perasaan bersatu, sependapat dan sekepentingan, solider. Seseorang yang dikatakan setia kawan atau toleransi kepada teman apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut : (1) rela mengorbankan sesuatu demi kepentingan temannya, (2) cenderung mewujudkan kebersamaan, (3) saling pengertian, (4) terus membina kerukunan dan kerja sama.

  f.

  Pemaaf

  Pemaaf adalah sikap seseorang yang mau memaafkan kesalahan orang lain dengan ikhlas.ciri-ciri orang pemaaf antara lain : (1) melupakan kesalahan orang lain, (2) sabar, (3) selalu berfikir positif terhadap setiap masalah yang dihadapi.

3. Aspek moral tentang hubungan manusia denagn lingkunagn alam.

  Hubungan manusia dengan lingkungan alam dapat dikembangkan antara lain dengan cara menjaga kelestarian alam,memelihara dan menyayangi binatang dan tidak merusak lingkungan. Penjelasan tersubut akan peneliti paparkan sebagai berikut a.

  Menjaga kelestarian alam Seseorang dikatakan menjaga kelestarian alam apabila orang tersebut selalu berupaya agar alam tetap lestari.

  Upaya-upaya tersebut misalnya : 1).

  Menjaga keseimbangan ekosistem. 2).

  Melakukan reboisasi. 3).

  Penuh perhitungan dalam pemanfaatan hasil kekayaan alam.

  b.

  Memelihara dan menyayangi binatang Seseorang dikatakan menyayangi binatang apabila orang-orang tersebut melakukuan hal-hal sebagai berikut :

  1).

  Memelihara binatang dalam arti memberi makan, minum dan sebagainya.

  2).

  Menempatkan hewan peliharaanya pada tempat atau kandang yang sesuai.

  3).

  Mau mengobati apabila hewan peliharaanya sakit. 4).

  Tidak menganiaya. c.

  Merusak lingkungan Seseorang dikatakan tidak merusak lingkungan apabila orang tersebut melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut :

  1).

  Tidak melakukan perburuan hewan secara liar. 2).

  Tidak meracuni ikan diperairan. 3).

  Tidak melakukan penambangan liar. 4).

  Tidak melakukan penebangan hutan secara sembarangan.

4. Aspek moral tentang hubungan manusia dengan Tuhannya.

  Hubungan manusia dengan Allah, Tuhan Yang Maha Esa sebagai dimensi taqwa pertama, karena itu hubungan inilah yang seyogyanya diutamakan dan tetap terpelihara. Sebab dengan menjaga hubungan dengan Allah, manusia akan terkendali tidak melakukan kejahatan terhadap dirinya sendiri, masyarakat dan lingkungan hidupnya dan sesungguhnya inti taqwa kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa adalah melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

  Ketaqwaan dan pemeliharaan hubungan dengan Allah, Tuhan Yang Maha Esa itu, dapat dilakukan dengan : a.

  Shalat Menurut Assayuthi (1998 : 30), Shalat adalah salah satu srana komunikasi antara hamba dengan Tuhan-Nya sebagai bentuk ibadah yang di dalamnya merupakan amalan yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dari takbiratul’ikhram dan diakhiri dengan salam, serta sesuai dengan syarat dan rukun yang telah ditentukan syara”.

  Macam-macam shalat, meliputi :

  1).

  Shalat Wajib, (shalat lima waktu), yaitu : Subuh, Dhuhur, Ashar, Magrib, dan Isya.

  2).

  Shalat Sunat, misalnya : Shalat Rawatib, Shalat Tahajud, Shalat Gerhana, Shalat Tarawih, Shalat Duha dan Shalat Hajat.

  b.

  Bersabar Sabar memiliki dua bagian : Pertama, bagian badaniah, menanggung kesukaran dengan badan dan tetap bertahan atas yang demikian. Dan ini adakalanya dengan perbuatan, seperti mengerjakan perbuatan-perbuatan yang sukar. Adakalanya dari perbuatan-perbuatan ibadah dan bukan ibadah. Adakalanya dengan penanggungan seperti sabar dari pemukulan keras, sakut parah dan luka-luka besar.

  Kemudian bagian kedua, sabar dari nafsu syahwat perut dan kemaluan, maka dinamakan ‘iffah (pemeliharaan diri). Kalau sabar itu pada musibah, maka disingkatkan saja atas nama sabar, lawannya adalah gelisah dan keluh kesah. Kalau sabar itu pada membawakan kekayaan dinamakan mengekang diri lawannya dinamakan somong dengan kesenangan (al-bathar). Kalau sabar pada peperangan dinamakan berani, lawannya pengecut. Kalau sabar itu dalam menahan amarah dinamakan lemah lembut, lawannya ialah at-tadzammur (pengutukan diri kepada yang sudah hilang). Kalau saar itu pada suatu pergantian masa yang membosankan maka dinamakan lapang dada, lawannya manggkal hati dan sempit dada. Kalau sabar itu pada menahan diri darikehidupan dunia maka dinamakan zuhud, lawannya lahap.

  c.

  Bersyukur

  Menurut Alwi dkk (2002 : 1115) bersyukur berarti berterima kasih, mengucapkan syukur kepada Allah SWT. Syukur adalah sikap dan perilaku yang menunjukan penerimaan terhadap pemberian atau anugrah dalam bentuk pemanfaatan dan pengguanaan yang sesuai dengan kehendak pemberiannya. Syukur kepada nikmat yang diberikan Allah adalah berterimakasih dalam bentuk ucapan dan perbuatan yang diinginkan Allah. Syukur kepada Allah dapat diungkapkan melalui 2 cara yaitu: 1).

  Ucapan, yaitu memuji allah dengan kalimat-kalimat pujian, yakni mengucapkan thmid (Alhamdulillahirobbil’alamin).

  2).

  Tindakan, yaitu bentuk-bentuk perbuatan manusia yang dikaitkan antara nikmat yang diterimanya dengan perbuatan yang seyogyanya dilakukan menurut tuntunan Allah. Misalnya mensyukuri nikmat mata dengan cara menggunakan mata untuk melihat alam sebagai penghayatan terhadap kebesaran Allah.

Dokumen baru

Download (19 Halaman)
Gratis

Tags