BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori Medis 1. Persalinan a. Pengertian - Awalia Rahmawati BAB II

Gratis

0
0
58
4 months ago
Preview
Full text

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori Medis

1. Persalinan

a. Pengertian

  Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi ( janin dan plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan( manuaba, 2010; h164)

  Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan ( setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit (APN, 2008; h. 37)

  Persalinan adalah rangkaian proses yang berahir dengan pengeluaran hasil konsepsi dari ibu. Proses ini mulai dengan kontraksi persalinan sejati, yang ditandai oleh perubahan progresif pada serviks, dan diahiri dengan pelahiran plasenta (varney, 2007; h.672)

  Jadi persalinan adalah sebagai suatu proses pengeluaran hasil konsepsi dimulai dengan kontrkasi sejati, yang ditandai oleh perubahan progresif pada serviks, dan diahiri dengan pelahiran plasenta yang keluar dari uterus ibu yang cukup bulan dan dapat hidup diluar kanduangan.

  11

b. Perubahan Fisiologis Persalinan

  Sejumlah perubahan-perubahan fisiologis yang normal akan terjadi selama persalinan, hal ini bertujuan untuk mengetahui perubahan-perubahan yang dapat dilihat secara klinis. Perubahan fisiologisnya antara lain : a. Perubahan tekanan darah

  Tekanan darah meningkat selama kontraksi uterus dengan kenaikan sistolik rata-rata sebesar 10-20 mmHg dan kenaikan distolik rata-rata 5-10 mmHg. Arti penting dan kejadian ini adalah untuk memastikan tekanan darah yang sesungguhnya, sehingga diperlukan pengukuran diantara kontraksi.

  Posisi tidur terlentang selama bersalin akan menyebabkan penekanan uterus terdapat pembuluh darah besar (aorta) yang akan menyebabkan sikulasi darah baik untuk ibu maupun janin akan terganggu.

  b. Perubahan metabolisme Selama persalinan baik metabolisme karbohidrat aerobik maupun anaerobik akan naik secara perlahan. Kenaikan ini sebagian besar disebabkan karena kecemasan.

  c. Perubahan suhu badan Suhu badan akan sedikit meningkat selama persalinan tetapi setelah persalinan selesai suhu tubuh akan kembali normal.

  d. Denyut jantung Denyut jantung yang sedikit naik merupakan keadaan yang normal, meskipun normal perlu dikontrol secaraa periode untuk mengidentifikasi adanya infeksi. e. Pernafasan Pernafasan terjadi kenaikan sedikit dibandingakan dengan sebelum persalinan, kenaikan pernafasan ini dapat disebabkan karena ada rasa nyeri dan kekhawatiran.

  f. Kontraksi uterus Kontraksi uterus terjadi karena adanya rangsangan pada otot polos uterus dan penurunan hormon oksitosin.

  g. Pembentukan segmen atas rahim dan segmen bawah rahim SAR terbentuk pada uterus bagian atas dengan sifat otot yang lebih tebal. SAR terbentuk dari fundus sampai ishmus uteri.

  SBR terbentang diuterus bagian bawah antara ishmus dengan serviks.

  h. Penarikan serviks Pada ahir kehamilan otot yang mengelilingi ostium uteri internum ditarik oleh SAR yang menyebabkan serviks menjadi pendek dan menjadi bagian dari SBR. i. Pembukaan ostium uteri internal dan ostium uteri exsternal

  Pembukaan serviks disebabkan oleh karena membesarnya osteum uteri exsternal karena otot yang melingkar disekitar ostium meregang untuk dapat dilewati kepala. j. Show

  Show adalah pengeluaran dari vagina yang terdiri dan sedikit lendir yang bercampur darah. k. Tonjolan kantong ketuban

  Tonjongan kantong ketuban ini disebabkan oleh adanya regangan SBR yang menyebabkan terlepasnya selaput yang menempel pada uterus.

c. Perubahan Psikologis pada persalinan

  Perubahan psikologis pada ibu bersalin wajar terjadi pada setiap orang, namun ibu memerlukan bimbingan dari keluarga dan penolong persalinan agar ibu dapat menerima keadaan yang terjadi selama persalinan.

  Beberapa keadaan dapat terjadi pada ibu dalam persalinan, terutama bagi ibu yang pertama kali melahirkan, perubahan- perubahan yang dimaksud adalah :

  a. Perasaan tidak enak b. Takut dan ragu-ragu akan persalinan yang akan dihadapi.

  c. Ibu dalam menghadapi persalinan sering memikirkan antara lain apakah persalinan akan berjalan normal.

  d. Menganggap persalinan sebagai cobaan.

  e. Apakah penolong persalinan dapat sabar dan bijaksana dalam menolongnya, f. Apakah bayinya normal atau tidak.

  g. Apakah ibu sanggup merawat bayinya atau tidak.

  h. Ibu merasa cemas. (nining, 2009; h.58-64) Tanda-tanda persalinan menurut (manuaba, 2010; h.173) antara lain :

  1) Terjadi his persalinan

  a) Pinggang terasa nyeri yang menjalar kedepan

  b) Sifatnya teratur, interval makin pendek, dan kekuatanya makin besar c) Mempunyai pengaruh terhadap perubahan serviks d) Makin beraktivitas ( jalan) kekuatan makin bertambah.

  2) Pengeluaran lendir dan darah Dengan his persalinan terjadi perubana pada serviks antara lain : a) Menimbulkan pendataran dan pembukaan.

  b) Pembukaan menyebabkan lendir yang terdapat pada kanalis servikalis lepas.

  c) Terdapat perdarahan karena kapilaer pembuluh darah pecah. 3) Pengeluaran cairan

  Pada beberapa kasus terjadi katuban pecah yang menjelang pembukaan lengkap. Dengan pecahnya ketuban diharapkan persalinan berlangsung dalam waktu 24 jam. 4) Pada pemeriksaan dalam, dijumpai perubahan serviks antara lain

  (manuaba, 2010; h.169)

  a) Perlunakan serviks

  b) Pendataran serviks

  c) Pembukaan serviks

d. Mekanisme Persalinan

  Mekanisme persalinan adalah gerakan posisi yang dilakukan janin untuk menyesuaikan diri terhadap pelvis ibu (varney, 2007; h.765).

  Terdapat delapan gerakan posisi dasar yang terjadi ketika janin berada dalam presentasi verteks sevaliks. Gerakan tersebut antara lain : a. Proses persalinan Menurut (Sarwono, 2008; h.297) persalinan dibagi menjadi 4 kala yaitu :

  1) Kala satu persalinan mulai ketika telah tercapai kontraksi uterus dengan frekuensi, intensitas, dan durasi yang cukup untuk menghasilkan pendataran dan dilatasi serviks yang progresif. Kala satu persalinan selesai ketika serviks sudah membuka lengkap (sekitar 10 cm) sehingga memungkinkan kepala janin lewat.oleh karena itu, kala satu persalinan disebut stadium pendataran dan dilatasi serviks. 2) Kala dua persalinan dimulai ketika dilatasi serviks sudang lengkap, dan berahir ketika janin sudah lahir. Kala dua persalinan disebut juga sebagai stadium ekspulsi janin. 3) Kala tiga persalinan dimulai segera setelah janin lahir, dan berahir dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban janin.

  Kala tiga persalinan disebut juga sebagai stadium pemisah dan ekspulsi plasenta.

  4) Kala empat Persalinan kala IV dimulai setelah lahirnya plasenta dan berahir dua jam setelah itu ( JNPK-KR 2008; h.95) b. Komplikasi pada persalinan

  1) Perdarahan Perdarahan dapat ditandai mulai dari perdarahan berwujud bercak, mrembes, profur, sampai syok.

  2) Infeksi dan sepsi Infeksi dan sepsi dapat ditandai mulai dari pengeluaran cairan pervaginam yang berbau, air ketuban hijau, demam, sampai syok. 3) Hipertensi dan preeklamsia/eklamsia

  Hipertensi dan preeklamsia/eklamsia ditandai mulai dari keluhan sakit/pusing kepala, bengkak, penglihatan kabur, kejang-kejang, sampai koma/tidak sadar. 4) Persalinan macet

  Persalinan macet lebih dikenal yaitu apabila kemajuan persalinan tidak berlangsung sesuai dengan batas waktu normal, tetapi kasus persalinan macet ini dapat terjadi ruptur uteri. (Sarwono,2008; h.392)

2. Preeklamsia

a. Pengertian

  Preeklamsia adalah sebagai gangguan yang terjadi pada parah kehamilan dan mengalami regresi setalah pelahiran, ditandai dengan kemunculan sedikitnya dua dari tiga tanda utama, yaitu hipertensi, edema, dan proteinuria. ( bilington, h.122).

  Preeklamsia adalah sistemik yang berkaitan denagan kehamilan, ditanai dengan hipertensi dan proteinuria pada usia kehamilan > 20 minggu. ( Laksmim, h.157)

  Hipertensi gestasional adalah kenaikan tekanan darah yang hanya dijumpai dalam kehamilan sampai 12 minggu pasca persalinan, tidak dijumpai keluhan dan tanda-tanda preekalmsi lainya. Diagnosa ahir ditegakan pasca persalinan (Fadlun dan Achmad, 2011;h.50)

  Hipertensi kronis adalah hipertensi yang sudah ada sebelum kehamilan atau didiagnosa sebelum usia kehamilan 20 minggu (Bobak, 2005; h.630)

  Superimposid preeklamsia adalah gejala dan tanda-tanda preekalmsia mucul seseudah kehamilan 20 minggu pada wanita yang sebelumnya menderita hipertensi kronis (Fadlun dan Achmad, 2011; h.50)

  Pre-eklamsia ringan adalah timbulanya hipertensi diserati proteinuria dan edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. (Sujiatini, 2009; h.58)

  Menurut Sujiyatini, Mufdilah, dan Asri H (2009;h. 61) Preeklamsia berat adalah suatu komplikasi kejamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmHg atau lebih disertai proteinuria dan/atau odema pada kehamilan 20 minggu atau lebih.

  Menurut Sarwono (2008;h. 534). Preeklamsia berat adalah preekalsmia dengan tekanan darah sistolik > 160 mmHg dan tekanan darah diastolik >110 mmHg disertai proteinurin lebih 5 gr/24 jam.

  Menurut Fadlun dan Ahcmad (2011; h.50) eklamsia adalah kelainan akut pada wanita hamil dalam persalinan atau nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang atau koma. Sebelumnya wanita ini menunjukan gejala-gejala preeklamsia berat.

  Jadi yang disebutkan dengan preeklamsia adalah hipertensi yang timbul 20 minggu kehamilan disertai dengan edema, proteinuria.

  Preekalsmia dapat dikatakan berat apabila tekanan darah sistolik >160 mmHg dan tekanan darah sistolik >110 mmHg disertai proteinuria lebih 5 g/24 jam/ atau disertai oedema.

  b. Etiologi

  Penyebab preeklamsia saat ini tidak bisa diketahui dengan pasti, walapun penelitian yang dilakukan terhadap penyakit ini sudah sedemikian maju. Semuanya baru didasarkan pada teori yang dihubung-hubungkan dengan kejadian. (Rukiyah, 2008; h.172)

  Penyebab timbulnya preeklamsia pada ibu hamil belum diketahui secara pasti. Faktor-faktor lain yang diperkirakan akan mempengaruhi timbulnya preeklamsia antara lain: primigravida, kehamilan ganda, hidramnion, mola hidatidosa, multigravida, kehamilan ganda, usia ibu kurang dari 18 tahun atau lebih dari 35 tahun ( Maryunani, 2009; hal.138)

  c. Faktor Predisposisi

  Menurut Bilington mary (2010, h.123) ada beberapa faktor resiko yang berkaitan dan perkembangan penyakit diantaranya : 1) gangguan pada pasangan atau primipaternitas.

  Karena pada pasangan yang memiliki gangguan kesehatan dan pada pasangan tinggi kecemasannya tinggi dan pola makanya tidak teratur sehingga meningkatkan tekanan darah.

  2) Riwayat preeklamsia sebelumnya 3) Peningkatan usia ibu atau peningkatan interval antara kehamilan/remaja.

  Dan bila pernikahan dibawah uisa 20 tahun dan diatas 35 tahun adalah faktor resiko tinggi termasuk usia 35 adalah faktor pemicu preeklamsia. (Bobak at all, 2005;h. 629)

  4) Riwayat keluarga (kemungkinan mencapai 25% jika ibu mengalami preeklamisa dam mencapai 40% jika saudara kandung mengalami preeklamsia. 5) Mola hidatidosa

  Pada kehamilan mola kadar HCG meningkat serta terjadi mual muntah yang berlebihan sehingga pola makan tidak teratur dan tekanan daraah meningkat. ( Varney, 2007: h.631)

  6) Penyakit ginjal Gangguan ginjal pada kehamilan disertai hipetensi adalah suhu badan yang meningkat dan gangguan mastitis, serta terjadi proteinuria. Hipertensi karena penyakit ginjal ini dapat meningkat tekanan darah. (Manuaba, 2010: h. 335)

  7) Stres, keteganggan psikososial terkait pekerjaan Kehamilan dapat membawa kegembiraan dan sebaliknya merupakan peristiwa yang penuh dengan tekanana dan tantangan, khususnya pada kehamilan yang pertama. Banyak komflik yang akan timbul seperti adanya tanggung jawab sebagai ibu, kebutuhan akan karier atau tugas sebagai istri dan ibu. Sehingga dapat meningkatkan tekanan darah karena keteganggan psikologi yang tidak terkontrol (Prawirohardjo, 2008;h.860)

  8) Penyakit sel sabit dan sifat sel sabit Kehamilan pada penderita anemia sel sabit, disertai dengan peningkatan pneumonia perdarahan ante partum, prematuritas dan kematian janain. (Prawirohardjo, 2008;h. 779)

  9) Hiperpomosistenemia (didefinisikan sebagai peningkatan konsentrasi homosistein plasma. Kondisi ini dapat disebabkan oleh mutasi genetik, defisiensi fitamin, penyakit ginjal dan penyakit lain. (Varney,2007; H.631)

d. Patofisiologi

  Pada beberapa wanita hamil, terdapat peningkatan sensitivitas vaskuler. Peningkatan ini menyebabkan hipertensi dan kerusakan vaskuler, akibatnya akan terjadi vaseospasme. Vaseospasme merupakan diameter pembuluh darah ke semua organ, fungsi-fungsi

  • – organ seperti plasenta,ginjal, hati, dan otak menurun sampai 40 60%. Gangguan plasenta menimbulkan degenerasi pada plasenta dan kemungkinan terjadi IUGR dan IUFD pada fetus. Aktivitas uterus dan sensitifitas terdapat oksitosin meningkat.

  Penurunan ginjal menurunkan GFR dan menimbulkan perubahan protein keluar melalui urinem asam urat menurun. Pada preeklamsia berat terjadi penurunan volume darah, edema berat dan berat badan naik dengan cepat.

  Penurunan perfusi hati menimbulkan gangguan fungsi hati, menyebabkan ibu hamil mengalami nyeri (Maryunani,2009; hal.141).

  Menurut Bobak at all,2005;h.631), preeklamsia berkaitan dengan perubahan fisiologis kehamilan. Adaptasi fisiologis normal pada kehamilan meliputi peningkatan volume plasma darah, vasodilatasi, penurunan resistensi vascular sistemik, peningkatan curah jantung. Sementara pada preeklamsia, volume plasma yang beredar akan menurun, termasuk perfusi ke unit janin-uteroplasenta.

  Vasospasme siklik lebih lanjut menurunkan perfusi organ dengan menghancurkan sel-sel darah merah, sehingga kapasitas oksigen maternal menurun. Vasospsme merupakan sebagian mekanisme dasar tanda dan gejala yang menyertai preeklamsia.

  Vasospasme merupakan akibat peningkatan sensitivitas terdapat tekanan peredaran darah. Selain kerusakan endotel, vasospasme arterial turut menyebabkan peningkatan parmeabilitas kapiler. Keadaan ini meningkatkan edema dan lebih lanjut menurunkan intra vaskular, mempredisposisikan pasien yang mengalami preeklamsi mudah menderita edema paru. Hubungan sistem imun dengan preeklamsia menunjukan bahwa faktor-faktor imunologi memainkan peran penting dalam perkembangan preeklamsia. Keberadaan protein asing, plasenta atau janin bisa mengakibatkan respons imunologis lanjut. Teori ini didukung oleh peningkatan insiden preeklamsia- eklamsi pada ibu baru (pertama kali terpapar jaringan janin) dan pada ibu hamil dari pasangan yang baru.

e. Tanda dan Gejala

  Tanda-tanda preeklamsia biasanya timbul dalam urutan pertambahan berat badan yang berlebihan, di ikuti edema, hipertensi, dan akhirnya proteinuria. Pada preeklamsia ringan tidak ditemukan gejala-gejala subyektif, pada preeklamsia ditemukan sakit kepala di daerah frontal, skotoma, diploma, penglihatan kabur, nyeri didaerah epigastrum, mual dan muntah-muntah (Marmi, 2011, hal;67).

  Sebagai tanda-tanda penyakit preeklamsia yang lainnya odema salah satunya, edema ialah penimbunan cairan secara umum dan berlebihan dalam jaringan tubuh dan biasanya dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki, jari tangan, dan muka. Kenaikan berat badan 1/2 kg setiap minggu masih normal tetapi kalau kenaikan berat badan 1 kg atau lebih setiap minggu beberapa kali, hal ini perlu menimbulkan kewaspadaan terhadap timbulnya preeklamsia (Marmi, 2011, hal;66).

  Edema patologis terjadi akibat peningkatan permeabilitas endotel disertai kehilangan protein dari serumen (ditandai dengan proteinuria), yang mengubah arah tekanan osmotic ketika kadar albumin serum turun dibawah 20 g/L. akibatnya, terjadi penurunan volume sirkulasi dan curah jantung, yang lebih lanjut menurunkan perfusi organ dan peningkatan hemoglobin dan hematokrit yang berkaitan dengan hasil perinatal yang lebih buruk. Edema patologis menambah beberapa gambaran preeklamsia berat, seperti nyeri epigastrium atau nyeri punggung (edema hati), sakit kepala dan konvulasi (edema serebri) dan sesak nafas (edema paru) (Bilington, 2010, hal;125-126).

f. Pemeriksaan Penunjang

  Selain anamnesa dan pemeriksaan fisik, ada juga pemeriksaan yang dilakukan antara lain : a. Pemeriksaan darah rutin serta kimia darah: urium kreatinin, bilirubin.

  b. Pemeriksaan urin: protein, reduksi, bilirubin, sedimen.

  c. Kemungkinan adanya pertumbuhan janin terhambat dengan konfirmasi USG (bila tersedia) d. Kardiotokografi untuk menilai kesejahteraan janin. (Maryunani,

  2009; h.142) Menurut Bobak at all (2005;h. 634) faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan untuk pemeriksaan penunjang preeklamsia yaitu : seperti paritas usia dan lokasi geografis. Wanita yang baru menjadi ibu atau ibu dengan pasang baru ternyata 6 sampai 8 kali lebih mudah terkena preeklamsia dari ibu multipara. Anak wanita dan saudara wanita ibu preekalmsia memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk terkena preeklamsia dalam keluarganya. Wanita yang menikah berusia <18 tahun dan > 35 tahun.

Tabel 2.1 pemeriksaan darah :

  Tes Diagnostik Penjelasan Hemoglobin dan hematokrit

  

Peningkatan Hb dan Hmt berarti :

  a. Adanya hemokonsentrasi yang mendukung

diagnosis preeklamsia.

  b. Menggambarkan adanya hipovolemia penurunan Hb dan Hmt bila terjadi hemolisis. Trombosit Trombositopenia menggambarkan preeklamsia berat. Kreatinin serum, asam urat serum, nitrogen ures darah (BUN)

Peningkatannya mengambarkan :

a. Beratnya hipovolemia.

  b. Tanda menurunnya aliran darah ke ginjal.

  c. Oligouria.

  d. Tanda preeklamsia berat. Transaminasi serum Peningkatan transaminase serum menggambarkan (SGOT, SGPT) preeklamsia berat dengan gangguan fungsi hepar. Lactid acid Menggambarkan adanya hemolisis dehydrogenase Albumin serum dan Menggambarkan kebocoran endotel dan faktor koagulasi kemungkinan koagulopati.

  menurut (Joseph, 2010, hal;55).

g. Penatalaksanaan Medis

  1. Preeklamsia Ringan Penanganan preeklamsia ringan dapat dilakukan dengan dua cara tergantung gejala yang timbul yakni:

  1.1 Penatalaksanaan rawat jalan pasien preeklamsia ringan dengan cara: 1) Banyak istirahat (berbaring tidur/miring). 2) Diet cukup protein, rendah karbonhidrat, lemak dan garam. 3) Saditiva ringan; tablet Phenobarbital 3x30 mg atau diazepam 3x2 mg peroral selama 7 hari. 4) Roborantia. 5) Kunjungan ulang setiap 1 minggu. 6) Pemeriksaan laboratorium; hemoglobin, hematokrit, trombosit, urine lengkap, asam urat darah, fungsi hati, fungsi ginjal.

  1.2 Penatalaksanaan rawat tinggal pasien preeklamsia ringan berdasarkan kriteria: 1) Setelah 2 minggu pengobatan rawat jalan tidak menunjukan adanya perbaikan dari gejala-gejala preeklamsia. 2) Kenaikan berat badan ibu 1 kg atau lebih perminggu selama 2 kali berturut-turut (2 minggu).

  3) Timbul salah satu atau lebih gejala atau tanda-tanda preeklamsia berat a) Bila setelah 1 minggu perawatan di atas tidak ada perbaikan maka preeklamsia ringan dianggap sebagai preeklamsia berat.

  b) Bila dalam perawatan di rumah sakit sudah ada perbaikan sebelum 1 minggu dan kehamilan masih preterm maka penderita tetap dirawat selama 2 hari lagi baru dipulangkan. Perawatan lalu disesuaikan dengan perawatan rawat jalan (Khumaira, 2012, hal;108-109). Perawatan obstetri pasien preeklamsia ringan;

  1. Kehamilan preterm (kurang 37 minggu)

  a. Bila desakan darah mencapai normotensif selama perawatan, persalinan ditunggu sampai aterm.

  b. Bila desakan darah turun tetapi belum mencapai normotensif selama perawatan maka kehamilannya dapat diakhiri pada umur kehamilan 37 minggu atau lebih (Nugroho, 2010, hal;79).

  2. Kehamilan aterm (lebih 37 minggu)

  a. Jika serviks matang, pecahkan ketuban dan induksi persalinan dengan oksitosin atau prostaglandin.

  Jika serviks belum matang, lakukan pematangan dengan prostaglandinatau kateter Foley atau lakukan seksio sesarea (Joseph, 2011, hal;56).

  2. Preeklamsia Berat Menurut (Nugroho, 2010, hal;81-82) ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala preeklamsia berat selama perawatan maka perawan dibagi menjadi:

  2.1 Perawatan Aktif Perawatan aktif yaitu kehamilan segera diakhiri atau diterminasi ditambah pengobatan medicinal. Sedapat mungkin sebelum perawatan aktif pada setiap penderita dilakukan pemeriksaan fetal assessment (NST & USG).

  Indikasi :

  a. Ibu 1) Usia kehamilan 37 minggu atau lebih.

  2) Adanya tanda-tanda atau gejala impending eklampsia. 3) Kegagalan terapi konservatif yaitu setelah 6 jam pengobatan medikamentosa terjadi kenaikan tekanan darah atau setelah 24 jam terapi medikamentosa tidak ada perbaikan.

  b. Janin 1) Hasil fetal assessment jelek (NST & USG).

  2) Adanya tanda IUGR.

  c. Laboratorium Adanya ―HELLP syndrome‖ (hemolisis dan peningkatan fungsi hepar, trombositopenia).

  Pengobatan medikamentosa pasien preeklamsia berat yaitu: a. Segera masuk rumah sakit.

  b. Tirah baring, miring kesatu sisi. Tanda vital diperiksa setiap 30 menit, refleks patella setiap jam.

  c. Infuse dextrose 5% dimana setiap 1 liter diselingi dengan infuse RL (60-125 cc/jam) 500 cc.

  d. Antasida.

  e. Diet cukup protein, rendah karbonhidrat, lemak dan garam.

  f. Pemberian obat anti kejang diazepam 20 mg IV dilanjutkan dengan 40 mg dalam Dekstrose 10% selama 4-6 jam atau MgSO4 40% 5 gram IV pelan-pelan dilanjutkan 5 gram dalam RL 500 cc untuk 6 jam.

  Syarat pemberian MgSO4 menurut (Joseph, 2011, hal;57) : 1) Frekuensi pernafasan minimal 16x/menit. 2) Refleks patella (+). 3) Urin minimal 30 ml/jam dalam 4 jam terakhir atau 0,5 ml/KgBB/jam. 4) Siapkan ampul Kalsium Glukonas 10% dalam 10 mL.

  Antidotum ; jika terjadi henti napas, lakukan ventilasi (masker balon, ventilator), beri kalsium glukonas 1 gram (10 mL dalam larutan 10%) IV perlahan-lahan sampai pernapasan mulai lagi.

  g. Menurut (Sujiyatini, dkk, 2009, hal;61-62) diuretikum tidak diberikan kecuali bila ada tanda-tanda edema paru, payah jantung kongestif atau edema anasarka. Diberikan furosemid injeksi 40mg/IM. h. Antihipertensi diberikan bila: 1) Desakan darah sistolis lebih 180mmHg, diastolis lebih 110 mmHg atau MAP lebih 125 mmHg. Sasaran pengobatan adalah tekanan diastolis kurang 105 mmHg (bukan kurang 90 mmHg) karena akan menurunkan perfusi plasenta. 2) Dosis antihipertensi sama dengan dosis antihipertensi pada umumnya.

  3) Bila dibutuhkan penurunan tekanan darah secepatnya, dapat diberikan obat-obat antihipertensi parenteral (tetesan kontinyu), catapres injeksi. Dosis yang biasa dipakai 5 ampul dalam 500 cc cairan infuse atau press disesuaikan dengan tekanan darah. 4) Bila tidak tersedia antihipertensi parenteral dapat diberikan tablet antihipertensi secara sublingual diulang selang 1 jam, maksimal 4-5 kali. Bersama dengan awal pemberian sublingual maka obat yang sama mulai diberikan secara oral. i. Kardiotonika

  Indikasinya bila ada tanda-tanda menjurus payah jantung, diberikan digitalisasicepat dengan cedilanid D. j. Lain-lain : Konsul bagian penyakit dalam/jantung, mata.

  Obat-obat antipiretik diberikan bila suhu rectal lebih 38,5°C dapat dibantu dengan pemberian kompres dingin atau alcohol atau xylomidon 2 cc IM. Antibiotik diberikan atas indikasi (40 diberikan ampicilin 1gr/6jam/iv/hari. Anti nyeri bila penderita kesakitan atau gelisah karena kontraksi uterus. Dapat diberikan petidin HCL 50-75 mg sekali saja, selambat-lambatnya 2 jam sebelum janin lahir.

  Pengobatan obstetrik yang dibagi menjadi dua yaitu menurut (Nugroho, 2010, hal;84-85) yaitu Penatalaksanaaan pre-eklamsia bertujuan untuk menghindari kelanjutan menjadi eklamsia dan pertolongan kebidanan dengan melahirkan janin dalam keadaan optimal dan bentuk pertolongan dengan trauma minimal.

  Prinsip penatalaksanaan pre-eklamisa : 1) Melindungi ibu dari efek peningkatan tekanan darah 2) Mencegah progestifitas penyakit menjadi eklamisa 3) Mengatasi atau menurunkan resiko janin ( solusio plasenta, pertumbuhan janin terlambat ) 4) Melahirkan janin dengan cara yang paling aman dan cepat segera mungkin setelah matur dan imatur jika diketahui bahwa resiko janin atau ibu akan lebih berat jika persalinan ditunda lebih lama ( Anik M; h. 143).

  a) Penatalaksanaan preeklamisa ringan

  b) Penatalaksanaan preeklamisa berat dibagi menjadi dua unsur : 1) Sikap terhadap penyakitnya, yaitu pemberian obat- obatan atau terapi medisinalis

  Sikap terhadap penyakit preeklamisa berat : pengobatan medikamentosa. a) Penderita preekalamsia berat harus segera masuk rumah sakit untuk rawat inap.

  b) Tirah baring mirik ke stu sisi (kiri)

  c) Pemberian anti kejang/anti kovulsan magnesium sulfat (MgSO4) sebagai pencegah dan terapi kejang. MgSO4 merupakan obat pilihan untuk mencegah dan mengatasi kejang pada preeklamsia berat (Sarwono, 2008; h. 545)

  Preeklamsi berat dapat ditangani secara konservatif atau aktif. Konservatif berarti kehamilan tetap dipertahankan bersama denagan pemberian pengobatan medisinal (untuk kehamilan <35 minggu tanpa disertai tanda-tanda impending eklamsia dengan keadaan janin baik). Penanganan aktif apabila ibu memiliki 1 atau lebih kriteria berikut : ada tanda-tanda impending eklamsia, ada HELLP syndrome, ada kegagalan penanganan konservatif, ada tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat, usia kehamilan >35minggu maka iu harus dirawat dirumah sakit, khususnya kamar bersalin, ibu dianjurkan untuk tidur miring kekiri dan diobservasi tanda vital serta reflek patella setiap jam, dipasang infus dexstrose 5%

  • – dimana setiap 1 liter diselingi dengan infus RL (60 125 cc/jam) 500cc, diet cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam, pemerian pengobatan medisinal anti kejang (diazeoam 20 mg IV dilanjutkan
dengan 40mg dalam dekstrose 10% selama 1-6 jam atau MgSO4 40% 5 gram IV pelan-pelan dilanjutkan 5 gram dalam RL 500cc untuk 6 jam), untuk pemerian MgSO4 perlu diperhatikan syaratnya seperti produksi urin dalam 4 jam terahir minimal 100ml (25-30 ml/jam), refleks patella positif, frekuensi nafas 16x/menit, tersedia antidotum yaitu calcium gulconate. MgSO4 tidak memiliki resiko yang besar, karena meskipun Mg dapat melewati barrier plasenta, namun hampir tidak pernah mempengaruhi keadaan janin, kecuali terjadi hipermagnesium (> 15 mEq/L) pada kala II. Melakukan terminasi kehamilan bila pasien belum impartu, dilakukan induksi persalian untuk melahirkan janin sesegera mungkin setelah matur/impartu jika diketahui bahwa resiko janin/ ibu akan lebih berat jika persalinan ditunda lebih lama. Persalinan SC dilakukan apabila syarat induksi persalinan tidak terpenuhi atau ada kontraindikasi persalinan per vaginam.

h. Faktor Resiko

  Faktor resiko terkait partner (nulipara,primigravida, kehamilan remaja, inseminasi donor, orang tua hasil kehamilan dengan preeklamsia).

  1. Faktor resiko ibu (riwayat PE sebelumnya, usia ibu tua, jarak kehamilan pendek, riwayat keluarga, ras kulit hitam, pasien yang membutuhkan donor oosit, inaktivitas fisik, riwayat hipertensi sejak ≥4 tahun yang lalu, hipertensi pada kehamilan sebelumnya).

  2. Adanya penyakit penyerta lain yaitu hipertensi kronis dan penyakit ginjal, obesitas, resistensi insulin, berat badan ibu rendah, tubuh yang pendek (short stature), migraine, diabetes gestasional, DM tipe 1, resisten protein C aktif, defisiensi protein S, antibody antifosfolipid, SLE, hiperhomosisteinemia, talasemia dan inkompatibilitas rhesus.

  3. Faktor eksogen (merokok, stress, ketegangan psikis terkait pekerjaan, makanan tidak adekuat) faktor resiko terkait kehamilan (kehamilan kembar, infeksi salur kemih, anomaly structural congenital, hidropsfetalis, kelainan kromosom, dan media hidatidosa).

  Ada beberapa kaitan dengan mekanisme imunologi yang melibatkan durasi dan besarnya paparan antigen pada sperma laki- laki. Paparan berulang terhadap ejakulat ayah dapat mencegah PE. Jika kehamilan terjadi dengan ayah yang baru, resiko lebih tinggi. Begitu juga pada perempuan yang menggunakan kontrasepsi yang menghalangi perjalanan sperma (Laksmi, dkk, 2008, hal;158-159).

i. Komplikasi

  1) Awal :

  a) Kejang meningkatkan kemungkinan mortalitas meningkat 10 kali lipat. Penyebab kematian karena kolaps sirjulasi (henti jantung, dedema pulmo, perdarahan serebral dan gagal ginjal)

  b) Kejang meningkat kemungkinan kamatian, biasanya disebabkan hipokisa, dan solusio plasenta. c) Kebutuhan atau paralisi dapat terjadi karena lepasnya retina atau perdarahan intrakranial.

  d) Perdarahan post partum e) Luka karena kejang, berupa laserasi bibir dan lidah.

  2) Komplikasi jangka panjang 40% sampai 50% pasien preeklamsia berat memiliki kemungkinan kejadian yang sama pada kehamilan berikutnya (Joseph HK,

  2010; h.54)

B. TINJAUAN ASUHAN KEBIDANAN

  1. Manajemen Asuhan Kebidanan Menurut Varney Manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan dengan urutan logis dan menguntungkan, menguraikan perilaku yang diharapkan dari pemberi asuhan yang berdasarkan teori ilmiah, penemuan, ketrampilan dalam rangkaian/tahapan yang logis untuk pengambilan keputusan yang berfokus pada klien. Manajemen kebidanan menguraikan perilaku apa yang diharapkan dari pemberian asuhan (Purwandari, 2008, hal;76).

  Asuhan kebidanan adalah penerapan fungsi dari kegiatan yang menjadi tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada klien yang mempunyai kebutuhan/masalah dalam bidang kesehatan ibu masa hamil, masa persalinan, nifas bayi setelah lahir serta keluarga berencana (PP IBI, 2006, hal; 136).

  Dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini menggunakan manajemen kebidanan yang terdiri dari tujuh langkah yaitu : Tinjauan asuhan kebidanan menggunakan kerangka berfikir varney yang terjadi dari 7 langkah yaitu pengkajian, interpretasi data

  (diagnose dan masalah), diagnosa potensial dan tindakan antisipasi segera untuk mencegahnya, penyusunan rencana tindakan dan evaluasi. Langkah I : pengumpulan data dasar.

  Pengumpulan data dasar adalah mengumpulkan data dasar yang menyeluruh untuk mengevaluasi ibu dan bayi baru lahir. Data dasar ini meliputi pengkajian riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik dan panggul sesuai dengan indiksai, meninjau kembali proses perkembangan asuhan kebidanan saat ini atau catatan rumah sakit sebelumnya, dan meninjau kembali data hasil laboratorium dan laporan penelitian terkait, data dasar yang diperlukan adalah semua data yang berasal dari sumber informasi yang berkaitan dengan kondisi ibu dan bayi baru lahir. Bidan mengumpulkan data dasar awal yang lengkap, bahkan jika ibu dan bayi baru lahir mengalami komplikasi yang mengharuskan dengan dokter sebagai bagian dari penatalaksanaan kolaborasi. Langkah II : Interpretasi Data

  Data dasar yang telah diperoleh kemudian diintrepretasikan untuk merumuskan masalah serta menentukan diagnosisnya dan juga kebutuhan asuhan kesehatan yang diperlukan. Langkah III : Mengidentifikasikan diagnosa atau Masalah Potensial

  Mengidentifikasikan masalah atau diagnosa berdasarkan masalah dan diagnosis saat ini. Dalam hal ini bidan mengambil langkah antisipasi dan melakukan tindakan kewaspadaan. Langkah IV : Identifikasi Kebutuhan ysng Memerlukan Tindakan Segera.

  Langkah keempat mencerminkan sifat kesinambungan proses penatalaksanaan, yang tidak hanya dilakukan selama asuhan primer atau kunjungan pranatal periodik, tetapi juga asuhan berkelanjutan. Mengumpulkan data baru kemudian dikaji dan dievaluasi. Bidan harus mengambil tindakan secara sepat dan tepat untuk keselamatan ibu dan bayi apabila terdapat data yang mengaruh kepada situasi kegawatdaruratan. Langkah V : Merencanakan Asuhan yang Menyeluruh

  Melakukan perencanaan yang menyeluruh yang menyeluruh berdasarkan pada hasil langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan lanjutan dari masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau di antisipasi, apabila terdapat data yang kurang lengkap maka dapat dilengkapi. Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi kondisi pasien atau masalah yang berkaitan tetapi juga berkaitan dengan antisipasi ini meliputi pendidikan kesehatan dan semua rujukan yang meliputi masalah sosial, ekonomi, agam, keluarga, budaya, maupun psikososial. Dalam kata lain, semua hal yang tentang pasien yang berkaitan dengan askep asuhan kebidanan dapat digunakan untuk merencanakan tindakan yang akan dilakukan. Suatu rencana kesehatan harus menguntungkan kedua belah pihak, baik untuk bidan maupun pasien karena pasien tersebut yang akan melaksanakan perencanaan yang telah dibuat. Oleh karena itu sebaiknya dalam menentukan rencana tindakan, bidan haruslah mendiskusikannya bersama pasien sekaligus mengkonfirmasi persetujuan pasien sebelum melaksanankannya. Langkah VI : Melaksanankan Perencanaan Langkah ini merupakan pelaksanaan serta menyeluruh. Semua rencana yang telah disepakati dapat dilakukan seluruhnya oleh bidan, jika bidan tidak dapat melakukan sendiri, bidan dapat bekerjasama dengan orang tua atau tenaga kesehatan lainya namun bidan tetap bertanggungjawab untuk mengarahkan pelaksanaannya agar benar- benar dilakukan. Apabila bidan berkolaborasi dengan dokter dan keterlibatannya dalam manajemen asuhan kolaborasi yang menyeluruh tersebut. Manajemen yang efesien akan menyikat waktu dan biaya serta meningkatan mutu dari asuhan tersebut

  Langkah IIV : Evaluasi Merupakan tindakan untuk memeriksakan apakan rencana asuhan yang akan dilakukan telah mencapai tujuan, yaitu memenuhi kebutuhan ibu meliputi identifikasi masalah, diagnosis, dan kebutuhan asuhan kesehatan. Rencana tersebut akan menjadi efektif apabila bidan mengimplementasikan semua tindakan dalam rencana. Langkah-langkah proses manajemen pada umumnya merupakan pengkajian yang memeperjelas proses pemikiran yang mempengaruhi tindakan serta berorientasi (Varney, 2007 h.27-28).

  Metode pendokumentasian secara SOAP menliputi : S (Subyektif) : Data riwayat kesehatan yang diperoleh wawancara dengan pasien O (Obyektif) : Data yang diperoleh dari pengkajian fisik pasien A (Assesment) : Kesimpulan dari data subyektif dan data obyektif P (Planning) : Perencanaan aushan yang akan dilakukan berdasarkan hasil evaluasi tersebut diatas (Priharjo, 2006;h.14)

  2. Tinjauan Asuahan Kebidanan dengan Pre-eklamsia.

  Pengkajian adalah pengumpulan data tentang status kesehatan klien dilakukan secara sistemis dan berkesinambungan (PP IBI, 2006;136).

I. PENGKAJIAN

  1) Data Subjektif

  a) Identitas Klien (1) Nama ibu

  Penulisan nama haruslah jelas dan lengkap, meliputi nama depan, nama tengah, nama keluarga, bila perlu nama panggilan sehari-hari agar tidak keliru dalam memberikan penanganan (Matondang, dkk, 2009;h.5)

  (2) Umur Umur pasien untuk mengetahui karena umur penting merupakan faktor predisposisi terjadinya preekalmsia.

  Pada preekalmsia berta dapat terjadi pada umur <20 >35 tahun. Umur primigravida kurang dari 16 tahun atau diatas 35 tahun merupakn batas awa dari ahir reproduksi yang sehat (Manuaba, 2007;h. 159)

  (3) Agama Untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut, karena pelaku seseorang tentang kesehatan dan penyakit sering berhubungan dengan agama (Matondang, 2009;h.6)

  (4) Pendidikan Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk mengetahui sejauh mana tingkat intelektualnya, sehingga bidan dapat memberikan konseling sesuai pendidikannya (Matondang, 2009, hal;6).

  (5) Pekerjaan Kejadian tertinggi terjadi pada golongan social ekonomi rendah (Atikah. 2010; h. 5)

  (6) Alamat Tempat tinggal pasien harus ditulis dengan jelas dan olengkap, dan nomor rumah. Nama jalan, RT, RW, kelurahan dan kecamatannya, serta apabila ada nomor teleponya. Kejelasan alamat keluarga ini amat diperlukan agar sewaktu-waktu dapat dihubungi, misalnya ada pasien menjadi sangat gawat, atau perlu diperlukan tindakan operasi segera, atau perlu pemberian obat. (Latif, 2005;h.6)

  b) Alasan Datang Pasien datang rujukan adi bidan. Bidan mempunyai tugas penting untuk melakukan rujukan pada kasus yang tidak mungkin ditolong (Manuaba, 2010; h. 273).

  c) Keluhan Utama Keluhan pasien yang berhubungan dengan preeklamsia berupa : sakit kepala, nyeri didaerah epigastrum, gangguan pernafasan, penglihatan mata kabur, mual dan muntah, gangguan kesadaran, disertai dengan edema kaki atau tangan(Manuaba, 2010;h.264) d) Riwayat kesehatan (1) Riwayat kesehatan dahulu

  Dikaji riwayat kesehatan yang lalu yang berhubungan dengan preeklamsi yang pernah/sedang diderita pasien seperti ibu dengan riwayat preeklamsi sebelumnya, penyakit ginjal, anemia, obesitas, diabetes, kehamilan kembar, infeksi saluran kemih, dan peningkatan usia ibu dapat menyebabkan terjadinya preeklamsi (Billington mary, 2010;h.123)

  (2) Riwayat kesehatan sekarang Riwayat kesehatan sekarang ditunjukan pada pengkajian penyakit yang sedang diderita pasien yang dapat menyebabkan terjadinya preeklamsia misal diabetes militus yaitu dimana kelainan metabolisme tubuh dari penderita tidak bisa mengendalikan tingkat gula dalam darahnya, sehingga terjadi kelebihan gula dalam tubuh (Sarwono, 2008;h. 852) hipertensi yaitu tekanan darah >140/90 mmHg, memiliki potensi yang menyebabkan preekalsmai (Sarwono, 2008; h. 532)

  (3) Riwayat kesehatan keluarga Riwayat penyakit diabetes militus yang juga merupakan faktor keturunan juga bisa memicu terjadinya preeklamsi, selain itu juga riwayat preeklamsia yang pernah dialami oleh keluarga juga bisa menjadi pemicu terjadinya preeklamsia berat(Cunningham,2009;h.629). e) Riwayat obstetric ibu

  1. Riwayat Menstruasi Riwayat menstruasi yang lengkap diperlukan untuk menentukan taksiran persalinan (TP). TP ditentukan berdasarkan hari pertama haid terakhir (HPHT). (Mitayani;2009.h.3). Meliputi menarchea, siklus haid, lamanya haid, banyaknya ganti pembalut perhari, dismenorchea, flour albus, data ini dapat memperoleh gambaran adakah kelainan atau tidak dengan siklus menstruasi. (Manuaba, 2010;h. 289).

  2. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu Dikaji kehamilan, persalinan, nifas yang lalu tujuannya untuk mengetahui adakah komplikasi atau tidak, jika pada kehamilan lalu ditanyakan pernah terjadi preekalmsia, merupakan indikasinya terjadi preeklamsia kembali.

  (Myles, 2009;h. 274).

  d) Riawayat kehamilan sekarang

  1. ANC Asuhan antenatal adalah upaya preventif program pelayanan kesehatan obstetrik untuk optimalisasi lauran maternal dan neonatal melalui serangkain kegiatan pemantauan rutin selama kehamilan.

  (Prawirohardjo,S,2008;h. 278). Pemeriksaan pada setiap kunjungan awal dapat mendeteksi beberapa masalah kehamilan, misalnya pada kunjungan ulang 1 umur kehamilan kurang dari 24 minggu tujuanya untuk mendeteksi ketidaknyamanan dan penanganannya.

  Kunjungan 2 dan 3 kali dilakukan pada saat umur kehamilan 24-36 minggu ini bertujuan untuk mendeteksi tanda bahaya, ketidaknyamanan dan penanganannya, kemudian mendeteksi komplikasi misalnya preeklamsipada kehamilan (Wiknjosastro, 2007;h.284).

  e) Riwayat perkawinan Kehamilan yang tidak diinginkan biasanya banyak dialmi oleh remaja yang dikarenakan seks pernikahan atau seks bebas.

  Pada kehamilan yang diluar nikah dan yang tidak diinginkan kemungkinan orangtuanya akan single perents. Dan apa bila terjadi pernikahan biasanya pernikahan tersebut akan bermasalah dengan beban perasaan tidak nyaman, stres dihantui rasa malu, merasa bersalah, depresi, pesimis, dan lain

  • –lain. (Cunningham,2006;h.951)

  f) Riwayat KB Untuk mengetahui kontrasepsi apa yang telah digunakan, lama penggunaan, efek samping, kepuasan, lama penggunaan dan alasan menggunakan kontrasepsi tersebut serta dikaji alat kontrasepsi apa yang akan digunakan selanjutnya.( Varney,2007;h.33). Salah satu efek samping dari pemakaian kontrasepsi hormonal sepseri pil-oral adalah pemicu preeklamsia. (Hartanto H, 2004; h.96) g) Pola kebutuhan sehari-hari

  1. Nutrisi Nutrisi yang tepat sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan serta kesejahteraan manusia.

  (Varney,2007;h.91). menilai apakah ibu kurang mengkonsumsi makan yang mengandung protein atau tidak, karena jika ibu kekurangan protein dapat mempengaruhi terjadinya preeklamsia berat (Mitayani, 2011;h. 19).

  2. Pola Eliminasi Mengkaji pola fungsi ekskresi. Kebiasaan BAB ( terahir, warna, konsistensi, keluhan) dan kebiasaan BAK ( terahir BAK, warna, konsistensi dan keluhan), terutama pada BAK karena pada ibu dengan preeklamsia berat terdapat gangguan pengeluaran urin yang terhambat. Jumlah urine yang keluar setiap jam harus diukur jika magnesium sulfat diberikan. Pengukuran urin yang akurat adalah dengan kateter retensi. Jumlah urine yang keluar minimal harus 120ml setiap 4 jam. Juga harus diperhatikan kadar kreatin serum jika kadar serum mendekati 1 mg, ginjal tidak lagi mengekresikan magnesium. Keracunan magnesium dapat terjadi dengan sangaat cepat dan mudah pada wanita yang mengalami gangguan ginjal (Bobak, 2005;h . 643)

  Menurut Sarwono (2008;h, 545) normalnya dalam sehari jumlah urine yang dihasilkan lebih dari 500 cc dalam 24 jam. Bila kurang dari 500 cc dalam 24 jam maka termasuk dari gejala munculnya preeklamsia.

  3. Pola aktivitas Pada ibu dengan preeklamsia mobilisasi haruslah bertahap, mulai duduk ditempat tidur bila dalam 24 jam perawatan ada perbaikan misalnya tekanan darah turun dan bila keadaan umum baik maka boleh turun dari tempat tidur. (Anik&Yulianingsih; 2009, h.150)

  4. Pola Istirahat Istirahat merupakan keadaan yang relaks tanpa adanya tekanan emosional dan bukan hanya dalam keadaan tidak beraktivitas, melaikan juga berhenti sejenak. Kebutuhan istirahat dapat dirasakan apabila semua karakteristik tersebut di atas dapat terpenuhi (Uliyah, 2009, hal;110).

  5. Personal hygiene Menggambarkan pola hygine, misalnya berapa kali ganti pakaian dalam mandi,, gosok gigi dalam sehari, dan keramas dalam satu minggu. Pola ini perlu dikaji untuk mengetahui apakah pasien menjaga kebersihan dirinya (Eny, 2009; h. 137).

  6. Seksual Hubungan monogami atau jumlah pasangan, frekuensi, kepuasan hubungan seksual. Masalah : pemanasan tidak cukup, nyeri, takut akan menyakiti janin, kekerasan seksual (Varney, 2008;h. 33). h) Psikososial, kulturan dan spiritual

  1. Psikososial Psikososial dikaji untuk mengetahui sejauh mana respon terhadap suami dan keluarga dan ibu dalam menghadapi suatu masalah dalam proses kehamilan. Dengan adanya dukungan dari suami dan keluarga secara langsung dapat menciptakan situasi serta kondisi yang nyaman dan tenang untuk ibu, dan ibu tersebut akan merasakan aman, serta nyaman juga akan lebih semangat dalam memenuhi gizi untuk kehamilannya yang akan berakibat baik pada pertumbuhan dan perkembangan janin.

  2. Kultural Dikaji untuk untuk mengetahui pantangan maupun kebiasaanibu yang dapat merugikan dirinya ,aupun janin yang dikandungnya, serta pengambilan keputusan saat proses persalinan.

  3. Spiritual Dikaji untuk mengetahui keyakinan ibu untuk membimbing atau mengarahkan ibu dalam berdoa.

  4. Lingkungan yang berpengaruh Lingkungan tempat tinggal ini dikaji untuk mengetahui apakah ibu tinggal dalam lingkungan yang sehat, karena ibu bisa berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan bayinya.

  2) Data Obyektif

  a. Keadaan umum Mengetahui kondisi pasien, apakah dalam keadaan baik, cukup atau lemah. Pada ibu dengan preeklamsia biasanya keadaan umumnya lemah karena terjadi sakit kepala yang menetap, nyeri ulu hati, penglihatan kabur, terhuyung-huyung, bahkan mual muntah sampai tidak nafsu makan (Mitayani, 2011;h.18)

  b. Tingkat kesadaran Menurut matondang (2009,h; 24) tingkat kesadaran dapat dinilai bila pasien tidak tidur.

  c. Tanda-tanda vital (1) Tekanan darah

  Pada preeklamsia berat biasanya terjadi peningkatan tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih, diukur minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam pada keadaan istirahat (Maryunani dan Yulianingsih, 2009;h. 139), kenaikan tekanan ini disebabkan karena adanya penyempitan lumen arteriole sehingga sulit dilalui oleh suatu sel darah merah, dan apabila semua areoriola di dalam tubuh mengalami spasme/ penyempitan maka tekanan darah parier agar oksigen jaringan dapat dicukupi (Mitayani, dkk, 2011;h.67)

  (2) Nadi Frekuensi nadi normalnya 60-90nkali permenit. Takikardi bisa terjadi pada keadaaan cemas, hipertiroid dan infeksi.

  Nadi diperiksa selama satu menit penuh untuk dapat menentukan keteraturan detak jantung. (Mitayani, 2011;h.5) Pada iibu hamil dengan preekalmsia berat terjadi peningkatan tekanan daaraah dan mempengarui fungsi nadinya. (3) Suhu

  Mengetahui suhu tubuh ibu, diukur menggunakan thermometer yang diselingkapkan diketiak. Normalnya suhu tubuh ibu adalah 36,2 C-37,6

  C. Peningkatan suhu menandakan adanya infeksi (Mitayani,2011;h.5). suhu tidak mempengaruhi terjadinya preeklamsia berat. (4) Respirasi

  Pernafasan selama hamil berkisar antara 16-24 kali permenit (mitayani,2011;h.5). pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai meniali frekuensi pernafasan dan irama pernafasan pasien dalam batas normal/tidak. Apabila nafas ibu pendek/ cepat (>24 kali per menit), kemungkinan adanya edema paru dan ini merupakan salah satu tanda preeklamsia (Prawirohardjo,2006). (5) Berat badan

  Dilakukan untuk melihat apakah kenaikan berat badan ibu setiap trimesternya masih dalam batas normal/tidak.

  Kenaikan berat badan ½ kg setiap minggu dalam kehamilan masih dapat dianggap normal, tetapi bila kenaikan 1kg seminggu berturut-turut, hal ini dapat diwaspadai adanya preeklamsia. Peningkatan berat badan disebabkan adanya peningkatan air yang berlebihan dalam ruangan interstisial yang kemungkinan disebabkan oleh retensi air dan garam(Mitayani,2011;h.5)

  (6) Tinggi badan Tinggi/panjang badan pasien harus diukur pada tiap kunjungan. Pengukuran tinggi badn adalah sederhana, mudah dan apabila hasilnya dikaitkan dengan hasil berat badan akan memberikan informasi yang bermakna kepada dokter tentang status nutrisi(matondang,2009;h.32)

  (7) LILA Untuk mengetahu status gizi ibu, apabila status gizi ibu kurang, ibu menderita malnutrisi berat dapat berpotensi mengalami preeklamsia berat (Maryunani dan Yulianingsih,2009;h.139)

  (8) Status present

  a. Kepala Untuk menilai bentuk kepala, kebersihan rambut, dan adakah rambut yang rontok/tidak. Rambut rontok akan menunjukan status gizi seseorang, malnutrisi merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya preeklamsia beart(Maryunani,2006;h.139).

  b. Muka Pembengkakan wajah lokal biasanya disebabkan oleh edema, radang lokal atau akibat infeksi kelenjar- kelenjar submaksilaris(matondang,2009;h.50). melihat adanya edema pada wajah merupakan salah satu tanda gejala dari preeklmsia (Bilington mary,2010;h.50).

  c. Mata Melakukan pemeriksaan pada konjungtiva, untuk menilai adakah tanda anemia, anemia merupakan salah satu penyebab timbul preeklamsia(Maryunani dan yulianingsih, 2009;h.139). Meniali adanya ikterik/ tidak pada seklera, dan melihat adakah edema pada kelopak mata, edema kelopak mata merupakan tanda adanya preeklamsia pada ibu hamil (Prawirohardjo,2006). Edema terjadi karena adanya penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan intestinal yang mungkin karena adanya retensi air dan garam(Marmik,dkk,2011;h.67).

  d. Mulut Pemeriksaan mulut dikaji untuk mengetahui kesimetrisan, warna, karies, perdarahan dan edema pada gusi (Varney, 2007, hal;37).

  e. Hidung Untuk menilai bentuk hidung, apakah pernafasan cuping hidung, dan menilai apakah ibumengalami nafas cepat dan pendek, hal ini menandai adanya edema paru(Prawirohardjo,2006). Edema paru disebabkan karena penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan intestinal yang mungkin adanya retensi air dan garam (Marmi,dkk,2011;h.27) f. Telinga

  Inspeksi ukuran, bentuk,warna, dan untuk mengetahui apakah simetris dan terdapat serumen atau tidak.

  (Varney,2007;h.36)

  g. Leher Bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat kelainan seperti terdapat pemesaran kelenjar tyroid dan limfe atau tidak.(Varney,2007;h.37)

  h. Dada dan axilla Dilakukan untuk menilai adanya edema paru, apabila terjadi edema paru biasanya nafas ibu pendek dan cepat sehingga terlihat reteksi dinding dada(Prawirohardjo,2006). Edema paru terjadi karena penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan intestinal yang mungkin karena adanya retensi air dan garam(Marmi,dkk, 2011;h.67). i. Abdomen

  Pemeriksaan perut untuk menilai apakah perut membesar kedepan atau kesamping, keadaan pusat, pigmentasi linea alba, serta ada tidaknya striae gravidarum (Uliyah, 2009, hal;142). j. Genatalia Pemeriksaan vulva untuk menilai keadaan perineum, ada tidaknya tanda Chadwick dan adanya flour.

  Kemudian pemeriksaan ekstermitas untuk menilai ada tidaknya varises (Uliyah, 2009, hal;142) k. Ekstremitas

  Menilai adakah edema pada ekstremitas, edema pada kaki dan jari tangan merupakan salah satu tanda preeklmaisa (Prawirohardo,2006). Pada ibu dengan preeklamsia berat biasanya terjadi hiper refleksia dan klonus pada kaki (Mitayani, 2011;h.18). l. Status Obstetrikus

  a) Inspeksi Inspeksi merupakan observasi dengan menggunakan mata. Inspeksi dilakukan untuk mendeteksi tanda-tanda fisik yang berhubungan dengan status fisik. Inspeksi dimulai pada saat pertama kali bertemu pasien.(Priharjo Robert, 2008;h.25) (1) Muka :melihat adanya kloasma pada wajah

  (Hiperpigmentasi kulit pada daerah wajah dan leher) (Sarwono,2008;h.215).

  (2) Dada : Dikaji untuk mengetahui pembesaran mamae, areola hiperpigmentasi, puting susu menonjol(Varney,2007;h.37)

  (3) Abdomen : Dikaji untuk mengetahui abdomen membesar sesuai umur kehamilan atau tidak, memanjang atau melebar, ada linea nigra dan strie gravidarum(Sarwono,2008;h.217-220).

  Tujuan pemeriksaan abdomen adalah untuk menentukan letak dan presentasi janin, turunnya bagian janin yang terbawah, tinggi fundus uteri, dan denyut jantung janin (Mufdlilah, 2009, hal;17).

  b) Palpasi Palpasi dilakukan dengan menggunakan sentuhan atau rabaan. Metode ini dikerjakan untuk mendeteksi ciri-ciri jaringan organ. Dalam melakukan palpasi hanya sentuh bagian tubuh yang akan diperiksa. Lakukan secara terorganisasi dari suatu bagian kebagian yang lain. Semakin banyak pengalaman semakin trampil pula membedakan normal atau tidaknya. (Priharjo Robert, 2007; h.26). Menurut (Uliyah, 2009, hal;142-144) palpasi dilakukan untuk menetukan besarnya rahim dengan menentukan usia kehamilan serta menentukan letak anak dalam rahim. Pemeriksaan secara palpasi dilakukan dengan menggunakan metode Leopold, yakni: (a) Leopold I digunakan untuk menentukan usia kehamilan dan bagian apa yang ada dalam fundus, dengan cara pemeriksaan berdiri sebelah kanan dan menghadap ke muka ibu, kemudian kaki ibu dibengkokan pada lutut dan lipat paha, lengkungkan jari-jari kedua tangan untuk mengelilingi bagian atas fundus, lalu tentukan apa yang ada di dalam fundus. Bila kepala sifatnya keras, bundar, dan melintang.

  Sedangkan bokong lunak, kurang bundar, dan kurang melenting.

  (b) Leopold II digunakan untuk menentukan letak punggung anak dan letak bagian kecil pada anak. Caranya, letakkan kedua tangan pada sisi uterus, dan tentukan di manakah bagian terkecil bayi. (c) Leopold III digunakan untuk menentukan bagian apa yang terdapat di bagian bawah dan apakah bagian bawah anak sudah atau belum terpegang oleh pintu atas panggul. Caranya, tekan dengan ibu jari dan jari tengah pada salah satu tangan secara lembut dan masuk ke dalam abdomen pasien diatas simpisis pubis. Kemudian peganglah bagaian presentasi bayi, lalu bagian apakah yang menjadi presentasi tersebut.

  (d) Leopold IV digunakan untuk menentukan apa yang menjadi bagian bawah dan seberapa masuknya bagian bawah tersebut ke dalam rongga panggul. Caranya, letakkan kedua tangan di sisi bawah uterus, lalu tekan ke dalam dan gerak jari-jari kea rah rongga panggul, di manakah tonjolan sefalik dan apakah bagian presentasi telah masuk. Pemeriksaan ini tidak dilakukan bila kepala masih tinggi. Pemeriksaan Leopold lengkap dapat dilakukan bila janin cukup besar.Auskultasi dilakukan umumnya dengan stetoskop monoauraluntuk mendengarkan bunyi jantung anak, bising tali pusat, gerakan anak, bising rahim, bunyi aorta, serta bising usus. Bunyi jantung anak dapat di dengar pada akhir bulan ke-5, walupun dengan ultrasonografi dapat diketahui pada akhir bulan ke-3. Bunyi jantung anak dapat terdengar di kiri dan kanan di bawah tali pusat bila presentasi kepala. Bila terdengar setinggi tali pusat, maka presentasi di daerah bokong. Bila terdengar pada pihak berlawanan dengan bagian kecil, maka anak fleksi dan bila sepihak maka defleksi. Dalam keadaan sehat, bunyi jantung antara 120-140 kali per menit. Bunyi jantung dihitung dengan mendengarkan selama satu menit penuh. Bila kurang dari 120 kali per menit atau lebih dari 140 per menit, kemungkinan janin dalam keadaan gawat janin (Uliyah, 2009, hal;144).

  c) Auskultasi Auskultasi bertujuan untuk mengetahui punktum maksimum dan untuk mengetahui detak jantung janin. Pada pemeriksaan ini punktum maksimum engagement kepala janin, suara jantung terdengar dibawah umbilikus (Cuningham, at all, 2006)

  d) Pemeriksaan dalam :

  1. Vagina : pemeriksaan vagina bertujuan untuk mengetahui keadaan vagina apakah ada kelainan atau luka parut.

  2. Pembukaan : bertujuan untuk mengetahui pembukaan dan penipisan serviks. Primipara pembukaan terjadi setiap 1 jam 1 cm, dan multipara 1 jam 2 cm.

  3. Effacement : berfungsi untuk mengetahui effecement yang telah terjadi berapa persen.

  4. Kulit ketuban : bertujuan untuk mengetahui kulit ketuban utuh atau sudah pecah

  5. Bagian terendah : diperiksa untuk mengetahui bagian terendah .

  6. Kaput : untuk mengetahui adanya kaput atau tidak

  7. POD : POD pada persalinan normal UUK

  8. Penurunan : bertujuan untuk mengetahui penurunan kepala pada panggul

  9. Bagian menumbung : pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui adakah bagian yang menumbung.

  10. Moulage : bertujuan untuk mengetahui adanya moulage atau tidak 9JNPK-KR,h;43-44) m. Pemeriksaan penunjang

  a) Pemeriksaan darah rutin sera kimia darah : urima kreatinin, SGOT, LDH, bilirubin.

  b) Pemeriksaan urine : protein, reduksi, bilirubin, sedimen.

  c) Kemungkinan adanya pertumbuhan janin terhambat dengan konfirmasi USG (bila tersedia).

  USG merupakan suatu media diagnostik dengan menggunakan gelombang ultrasonik untuk mempelajari struktur jaringan berdasarkan gambaran ecko dari gelombang ultrasonik (Marmi,Retno, dan Ery. 2001;h.14).

  d) Kardiotokografi untuk meniali kesejahteraan janin (Anik Maryunani,2009;h.142)

II. INTERPRETASI DATA

  1. Diagnosa kebidanan Diagnosa kebidanan dibuat berdasarkan dengan analisis data yang telah dikaji dan yang telah dibuat berdasarkan dengan masalh yang dihadapi oleh pasien. Ny...Umur...tahun,....usia....minggu, G P A, janin tunggal/ganda hidup intra uteri, punggung kanan/kiri dengan preeklamsia

  2. Data dasar

  a. Data Subyektif : Adalah : Informasi yang diceritakan ibu tentang apa yang dirasakannya, apa yang sedang dantelah dialaminya. Sesuai gejala preeklamsia pada ibu misalnya pusing, bengkak pada wajah, serta mual dan nyeri pada bagian epigastrium, gangguan penglihatan (Prawirohardjo, 2006, hal;209).

  b. Data Objektif Data objektif pada ibu yaitu dari hasil pemantauan tanda vital seperti peningkatan tekanan darah, respirasi ibu kurang dari 16 kali permenit, dan pemeriksaan fisik pada ibu seperti adanya odema pada wajah, tangan ataupun pada kaki, oliguria (Prawirohardjo, 2008, hal;545).

  3. Masalah Berisi data subyektif yang mengaruh pada hal yang akan memperburuk keadaan pasien.

III. DIAGNOSE POTENSIAL

  Komplikasi yang mengacu pada timbulnya preeklamsia bisa berakibat pada ibu dan bayinya: 1) Pada ibu bisa mengakibatkan :

  Preeklamsia berat bisa mengacau pada gejalanya eklamsi dan perdarahan otak ini merupakan salah satu komplikasi adanya eklamsi dan salah atu penyebab kematian maternal. (manuaba,2010; h. 270)

  2) Pada bayi bisa membahayakan : kematian janin intrauterine yang disebabkan hipoksia dan premature serta asfiksia (Anik M.

  2009;h.142).

  

IV. Identifikasi Kebutuhan akan Tindakan Seger atau Kolaborasi dan

Konsultasi

  Sesuai dengan diagnosa potensial tindakan segera yang dilakukan yaitu dengan memberikan oxygenasi untuk mencegah dan menghentikan kejang, memperbaiki keadaan umum penderita. (Anik &Yulianingsih, 2009; h. 150). Selain itu juga dilakukan tindakan penatalaksanaan preeklamsia berta untuk mencegah timbulnya gejala eklamsia diantaranya 1) Pada Ibu :Pemberian MgSO4 dan oksigenasi.

  2) Pada bayi :Persiapan Resusitasi

V. Perencanaan

  1) Beritahu ibu dan keluarga hasil pemeriksaan. Biasanya ibu bersalin dan keluarga merasa cemas menghadapi persalinan apalagi disertai dengan preeklmasi berat. (Varney,2008.h;792)

  2) Pasang dower cateter. Untuk mengukur volume urin yang keluar guna menilai fungsi gijal dan keseimbangan pemasukan dan pengeluran cairan tubuh (Saefudin, 2006.h; 212) dan Sarwono (2008. Normalnya produksi urin lebih dari 500 cc/24 jam dan pada preeklmsia berat urin < 500 cc/24 jam. (Prawirohardjo, 2008;h.

  545). 3) Beri infus satu jalur. Dengan menggunakan dektosa 5% atau ringer laktat. Cairan intra vena diberikan pada tahap awal untuk pwersiapan mengantisipasi kalau kemudian penambahan cairan dibutuhkan (Prawirohardjo, 2008; h.397)

  4) Beri ibu untuk mencegah kejang dengan MgSO4 10 gr atau diazepam. Menurut Saefudin (2008; h.212) pasien dengan preeklamsia berat diberikan MgSO4 ataupun diazepam untuk mengatasi kejaang kejang pada preeklamsia.

  5) Beri ibu suntikan untuk mematangkan/melunakan serviks. Menurut Saefudin (2008;h. 214) jika serviks matang, lakukan induksi dengan oksitosin 2-5 IU dalam 500 ml dekstrose per infus 10 tetes/menit atau dengan prostlagandin. Dan jika serviks belum matang berikan prostaglandin atau foley kateter.

  6) Pasang O . Ventilasi tekanan positif hanya dilakukan kalau ada

  2 indikasi yang jelas, dan untuk mengatasi depresi henti nafas.

  Prawirohardjo (2008; h. 397) dan Saifudin (2006;H.212)

  7) Berikan ibu dukungan mental. Menurut Saifudin (2006;h. 112).

  Dukungan emosional pada ibu dan keluarga agar ibu dan keluarga tidak cemas dan mengurangi ketakutan dalam menghadapi persalinan. 8) Anjurkan ibu untuk makan dan minum. Untuk memberi tangan dan mencegah dehidrasi selama proses persalinan. (Saifudin, 2006; h.

  112) 9) Anjurkan ibu untuk tidak berbaring terlentang, menganjurkan ibu agar miring ke kiri.

  10) Anjuran ibu untuk tidak mengejan sebelum waktunya. Karena dapat menyebabkan edema serviks dan mungkin robekan serviks (Saifudin, 2008; h.110)

  11) Lakukan pengawasan 10 antara lain : Keadaan umum, tekanan darah setiap 4 jam, nadi/30 menit, suhu/4jam, respirasi/4jam, kontraksi/30 menit dalm 10 menit Djj/30 menit, vasika urinaria, dan kemajuan persalinan/4 jam

  12) Siapkan partus dan set resusitasi 13) Siapkan hecting set

VI. Pelaksanaan

  1) Memberikan ibu dan keluarga hasil pemeriksaan bahwa ibu dalam masa persalinan dengan preeklamsia berat, sehingga harus mendapatkan penanganan lebih lanjut.

  2) Memasangkan DC (dower cateter) untuk mengukur volume urin yang keluar guna menilai ginjal dan keseimbangan pemasukan dan pengeluaran cairan tubuh dan untuk memperlancar kemajuan persalinan.

  3) Memasang infus Ringer Laktat atau infus glukosa 5 % untuk kesinambungan cairan.

  4) Memberi ibu injeksi MgSO4 4 gram secara IV sesuai glukosa 5 % untuk kesinambungan cairan.

  5) Memberikan suntikkan epidosin secara bertahap setiap 1 jam sekali selama 3 kali secara IM, berganti-gantian bokong kanan dan bokong kiri untuk mematangkan serviks. 6) Memasng O2 4-6 liter/menit. 7) Memberikan dukungan emosional pada ibu dan keluarga agar ibu dan keluarga tidak cemas dan mengurangi ketakutan dalam menghadapi persalinan. 8) Menganjurkan ibu untuk makan dan minum yang dibantu keluarga untuk menambah tenaga ibu agar tidak dehidrasi.

  9) Menganjurkan ibu agar tidak miring ke kiri, diharapkan vena kava di bagian kanan tidak tertekan oleh uterus yang membesar sehingga aliran darah keplasenta menjadi lancar(Mitayani, 2009;h. 21) 10) Menganjurkan ibu untuk tidak mengejan sebelum waktunya.

  11) Melakukan pengawasan 10 antara lain : Keadaan umum, kesadaran, tekanan darah setiap 4 jam, nadi/30 menit, suhu/4 jam, respirasi/4 jam, kontraksi/30 menit dalam 10 menit, djj/ 30 menit, vesika urenia, warna cairan ketuban jika selaput ketuban sudah pecah, kemajuan persalinan/4 jam Mempersiapkan partus set : Bak instrumen, klem kelly atau 2 klem kohort, gunting tali pusat, benag tali pusta atau klem plastik, kateter nalaton, gunting episiotomi, klem setengah kohort, 2 pasng sarung tangan DTT, gulungan kapas basah, tabung suntik 2,5/3 cc dengan jarum IM sekali pakai, de lee Menyiapkan partus set : (a) Tempat resusitasi hendaknya rata, keras, bersih, dan kering.

  Gunakan ruangan yang hangat dan terang. (b) Ambubeg + sungkup 1 buah (c) Penghisap lendir/ de lee (d) Stetoskop (e) Handuk/ kain bersih 2 buah (f) Lampu/ atau pemancar panas (g) Sarung tangan DTT (h) Bengkok (i) Barak scrot/ Obat-obatan yang penting (a) 8 ampul oksitosin 1 ml 10 u (b) 20 ml Lidokain 1% tanpa epinefrin atau 10 ml lidokain 2% (c) 3 botol RL (d) Selang infus (e) 2 kanul IV no. 16- 18 G

  (f) 2 vial larutan magnesium sulfat 40% (25 )

  g

  (g) 6 tabung suntik 2 ½ - 3 ml steril, sekali pakai dengan jarum IM (h) 2 tabung suntik 5 ml steril, sekali pakai dengan jarum IM (i) 1 10 ml tabung suntik steril, sekali pakai dengan jarum IM (j) 10 kapsul/ tablet amoksilin/ ampicilin 500 mg atau amoksilin.

  Perlengkapan ibu (a) 1 kain bersih (b) Makanan dan minuman untuk ibu (c) Beberapa kain bersih 3-5 (d) Beberapa clana dalam bersih (e) Pembalut wanita (f) Handuk (g) Sabun (h) Kain penyeka (i) Wadah untuk air (j) Beberapa selimut dan kain bersih untuk bayi (k) Kantung plastik atau kendil untuk tempat plasenta (l) Kain penyeka dan ember Persiapan penolong : (a) Sarung tangan DTT (b) Masker penutup mulut dan kaca mata (c) Clemek yang bersih dan penutup kepala Menyiapkan hecting set : (a) Kom DTT/steril (b) 1 buah naid folder

  (c) 2-3 jarum jahit tajam ( ukuran 9 dan 11) jarum kulit dan otot (d) Benag chormic ukuran 2.0 atau 3.0 (e) 1 buah pinset sirugis (f) Dock steril (g) Spuit 5 cc (h) 1 pasang sarung tangan DTT atau steril

VII. Evaluasi

  Langkah terakhir evaluasi merupakan tindakan untuk memeriksa apakah rencana perawatan yang dilakukan benar

  • – benar telah mencapai tujuan yaitu memenuhi kebutuhan ibu seperti yang diidentifikasikan pada langkah kedua tentang masalah, diagnosis maupun kebutuhan perawatan kesehatan. (Varney, 2007; h.28) 1) Melakukan kelahiran pervaginam hanya jika pervaginam berlangsung dengan cepat (dalam garis waspada pada patograf)

  2) Jika serviks matang, lakukan pemecahan ketuban, lalu induksi persalinan dengan oksitosin atau prostlagandin.

  3) Jika persalinan pervaginam tidak dapat diharapkan dalam 12 jam (pada eklamsia) dan dalam 24 jam (pada preeklamsia berat).

  Lakukan seksio sesaria.

C. Landasan Hukum

  Tujuannya adalah mempermudah bidan untuk memahami dan melaksanakan ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkan serta memberikan kejelasan batas-batas wewenang bidan dalam menjalankan citra yang baik bagi bidan. Aspek hukum ini memberikan kepastian dan perlindungan hukum agar bidan sebagai pemberi pelayanan serta masyarakat penerima pelayanan (IBI, 2006, hal;185).

  Peraturan perundang-undangan untuk bidan dan tenaga kesehatan sebagai berikut: Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 1464/MENKESH/PER/X/2010

  

BAB III

PENYELENGGARAAN PRAKTIK

Pasal 9

Bidan dalam menjalankan praktik, berwenang untuk memberikan pelayanan

  yang meliputi :

  a. Pelayanan kesehatan ibu

  b. Pelayanan kesehatan anak dan

  c. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana

  (1) Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf a diberikan pada masa pra hamil, kehamilan, masa persalinan, masa nifas, masa menyusui dan masa antara dua kehamilan. (2) Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :

  a. Pelayanan konseling pada masa pra hamil

  b. Pelayanan antenatal pada kehamilan normal

  c. Pelayanan persalinan normal d. Pelayanan ibu nifas normal

  e. Pelayanan ibu menyusui dan

  f. Pelayanan konseling pada masa antara dua kehamilan (3) Bidan dalam memberikan pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat

  (2) berwenang untuk :

  a. Episiotomi

  b. Penjahitan luka jalan rahim tingkat I dan II

  c. Penanganan kegawat daruratan, dilanjutkan dengan perujukan

  d. Pemberian tablet Fe pada ibu hamil

  e. Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas

  f. Fasilitasi atau bimbingan inisiasi menyusu dini dan promosi air susu ibu eklusif g. Pemberian uterotonika pada manajemen aktif kalatiga dan postpartum

  h. Penyuluhan dan konseling i. Bimbingan pada kelompok ibu hamil j. Pemberian surat keterangan kematian dan k. Pemberian surat keterangan cuti bersalin

  (1) Pelayanan kesehatan anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf b diberikan pada bayi yang baru lahir, bayi, anak balita dan anak pra sekolah. (2) Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan anak sebagaimana dimaksud pada ayat (10 berwenang untuk : a. Melakukan asuhan bayi baru lahir normal termasuk resutitasi, pencegahan hipotermi, inisiasi menyusui dini, injeksi vitamin K1, perawatan bayi baru lahir pada masa leonatal (0-28 hari), dan perawatan tali pusat b. Penanganan hipotermi pada bayi baru lahir dan segera merujuk

  c. Penanganan kegawat daruratan, dilanjutkan dengan perujukan

  d. Pemberian imunisasi rutin sesuai program pemerintah

  e. Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita dan anak pra sekolah

  f. Pemberian konseling dan penyuluhan

  g. Pemberian surat keterangan kelahiran h. Pemberian surat keterangan kematian.

  

Pasal 12

Bidan dalam memberikan pelayanan kesehata reproduksi perempuan dan

  keluarga berencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf C berwenang untuk : a. Memberikan penyukluhan dan konseling kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana dan b. Memberikan alat kontrasepsi oral dan kondom.

  

Pasal 18

  a. Dalam melaksanakan praktik/kerja, bidan berkewajiban untuk: 1) Menghormati hak pasien 2) Memberikan informasi tentang masalah kesehatan pasien dan pelayanan yang dibutuhkan

  3) Merujuk kasus yang bukan kewenangan atau tidak dapat ditangani dengan tepat waktu 4) Meminta persetujuan tindakan yang akan dilakukan 5) Menyimpan rahasia pasien sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan 6) Melakukan pencatatan asuhan kebidanan dan pelayanan lainnya secara sistematis 7) Mematuhi standar dan 8) Melakukan pencatatan dan pelaporan penyelenggaraan praktik kebidanan termasuk pelaporan kelahiran dan kematian b. Bidan dalam menjalankan praktik/kerja senantiasa meningkatkan mutu pelayanan profesinya, dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pendidikan dan pelatihan sesuai bidang dan tugasnya.

  c. Bidan dalam menjalankan praktek kebidanan harus membantu program pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Dokumen baru

Download (58 Halaman)
Gratis

Tags