Studi literatur interaksi obat pada peresepan pasien gagal ginjal kronik di instalasi rawat jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember 2013.

Gratis

7
45
147
2 years ago
Preview
Full text

INTISARI

  Mekanisme dan efek interaksi obat anatara obat antihipertensi dengan obat lain pada peresepan pasien gagal ginjal kronik di Instalasi RawatJalan RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Desember 2013 berdasarkan kajian literatur....................................................... Diagram proporsi interaksi obat antara obat antihipertensi dengan obat antihipertensi, obat antihipertensi dengan obat lain dan obat lain denganobat lain pada peresepan pasien gagal ginjal kronik di Instalasi RawatJalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember 2013............................................................

2. Direktur RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta, dr I Wayan Sudana yang telah memberikan izin kepada penulis dalam pengambilan data penelitian

  Mekanisme dan efek interaksi obat anatara obat antihipertensi dengan obat lain pada peresepan pasien gagal ginjal kronik di Instalasi RawatJalan RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Desember 2013 berdasarkan kajian literatur....................................................... Diagram proporsi interaksi obat antara obat antihipertensi dengan obat antihipertensi, obat antihipertensi dengan obat lain dan obat lain denganobat lain pada peresepan pasien gagal ginjal kronik di Instalasi RawatJalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember 2013............................................................

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Penyakit ginjal kronik merupakan adanya penurunan semua fungsi ginjal

  Seperti apa gambaran umum pola peresepan pasien gagal ginjal kronik meliputi kelas terapi (golongan dan jenis) obat, jumlah obat dan carapemberian obat di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan SenopatiBantul Yogyakarta Periode Desember 2013 ? Seperti apa kategori signifikansi klinis interaksi obat yang teridentifikasi pada peresepan pasien gagal ginjal kronik di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember 2013 yang dikaji berdasarkan studi literatur?

3. Manfaat Penelitian

  Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah sumber informasi sekaligus referensi dalam upaya pengembangan konsep pelayananfarmasi klinik di RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta dan dapat meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian, khususnya berkaitan dengankeamanan dan keselamatan pasien terutama pada aspek interaksi obat pada peresepan pasien gagal ginjal kronik. Penelitian ini diharapkan dapat mendukung dan meningkatkan peran farmasis dalam mengidentifikasi secara lebih dini terkait interaksi obat,sehingga meminimalkan kemungkinan terjadinya interaksi obat dengan efek yang membahayakan khususnya pada pasien gagal ginjal kronik diInstalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.

B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengetahui interaksi obat yang

2. Tujuan Khusus a

  Mengetahui gambaran umum pola peresepan pasien gagal ginjal kronik yang meliputi kelas terapi (golongan dan jenis) obat, jumlah obat, dan carapemberian di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember 2013. Mengetahui kategori signifikansi klinis interaksi obat pada peresepan pasien gagal ginjal kronik di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan SenopatiBantul Yogyakarta periode Desember 2013 berdasarkan studi literatur.

BAB II PENELAAH PUSTAKA A. Gagal Ginjal Kronik 1. Pengertian gagal ginjal kronik Gagal ginjal kronik menggambarkan struktur dan fungsi ginjal yang tidak

  Penyakit gagal ginjal kronik juga membawa risiko kematian yang tinggi(Fink, Greer, MacDonald, Rossini, Sadiq, Lankireddy, et al., 2012). Kegagalan sistem sekresi menyebabkan menumpuknya zat- zat toksik dalam tubuh yang kemudian menyebabkan sindroma uremia(Kamaluddin dan Rahayu, 2009).

2. Epidemiologi gagal ginjal kronik

  Di Amerika Serikatpada akhir tahun 2007 tercatat sebanyak 527.283 orang mendapat pengobatan gagal ginjal tahap akhir (End Stage Renal Disease/ESRD) di mana 368.544 orangdiantaranya mendapat terapi hemodialisis baik di rumah sakit, rumah maupun dialisis peritoneal (NKUDIC, 2010). Pada tahun 2010, di Indonesia diperkirakanterdapat 2 juta pasien yang mengalami gagal ginjal kronik dengan laju pertumbuhan kira-kira 7% pertahun (Dharmeizar, 2012).

B. Manajemen Terapi Gagal Ginjal Kronik 1. Tujuan terapi dan sasaran terapi

  Tujuan terapi dan sasaran terapi adalah untuk menunda perkembangan gagal ginjal kronik, sehingga meminimalkan pengembangan atau keparahankomplikasi yang terkait termasuk penyakit jantung. Terapi non farmakologi dan farmakologi dilakukan untuk memperlambat laju perkembangan gagal ginjalkronik dan dapat menurunkan insiden dan prevalensi end stage renal disease (ESRD) (Dipiro, Talbert, Yee, Matzke, Wells, and Posey, 2008).

2. Strategi terapi

  Penatalaksanaan gagal ginjal kronik meliputi 4 tahap yaitu : 1. Terdapat korelasi antara proteinuria dan penurunan fungsi ginjal terutama pada glomerulonefritis kronik dandiabetes.

2. Mencegah kerusakan ginjal lebih lanjut a

  Pencegahan kekurangan cairanDehidrasi dan kehilangan elektrolit dapat menyebabkan gangguan prarenal yang masih dapat diperbaiki. Oleh sebab itu perlu ditanyakanmengenai keseimbangnan cairan (muntah, keringat, diare, asupan cairan sehari- hari), penggunaan obat (diuretik, manitol, fenasetin), danpenyakit lain (diabetes melitus, kelainan gastrointestinal, dan ginjal polikistik) (Levin et al, 2008)b.

3. Pengelolaan uremia dan komplikasinya a

  Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolitPasien dengan penyakit ginjal kronik sering mengalami peningkatan jumlah cairan ekstrasel karenan retensi cairan dan natrium. Untuk mengatasi ini, dapat diberikan: kalsium glukonas 10% (10 ml dalam 10menit secara iv), bikarbonas natrikus 50-150 secara iv dalam 15-30 menit, insulin dan glukosa 6 unit, insulin dan glukosa 50 g dalamwaktu 1 jam, kayexalate (resin pengikat kalium) 25-50 g secara p.o atau rektal.

4. Inisiasi dialisis

  Asidosis metabolik yang tidak dapat diatasi dengan obat-obatan b. Sindrom uremia (mual,muntah, anoreksia, dan neuropati) yang memburuk (Levin et al., 2008).

C. Interaksi obat 1. Pengertian interaksi obat

  Interaksi obat adalah kejadian dimana respon farmakologis atau klinis dari pemberian suatu kombinasi obat, tidak sama dengan efek yang diharapkantimbul bila dua obat diberikan secara terpisah. Interaksi obat terjadi bila efek dari suatu obat berubah dengan adanya kehadiran obat lainnya, makanan, minumanatau zat kimiawi lingkungan (Kurnia, 2007).

2. Prevalensi interaksi obat

  Di mana pasien sebanyak 4009 yang mendapatkan obat dengan kisaranjumlah obatnya (0-5) jumlah efek sampingnya 142 (4%), sedangkan pada pasien sebanyak 641 yang mendapatkan obat dengan kisaran jumlah obat (16-20) jumlahefek sampingnya 347 (54%). Meningkatnya kompleksitas dan polifarmasi obat yang digunakan dalam pengobatan memungkinkan terjadinya interaksi obat semakin besar (Shekar andBhagawan, 2014).

3. Jenis interaksi obat

  Interaksi dapat diukur pada perubahan parameter farmakokinetik meliputi konsentrasi maksimal(Cmax), konsentrasi obat di dalam tubuh persatuan waktu (AUC), waktu paruh eliminasi dan total obat yang diekskresikan lewat urin (CI) (Tatro,2007).1) Interaksi pada proses absorpsiInteraksi pada proses absorpsi terjadi ketika adanya penggunaan dua obat atau lebih pada waktu yang bersamaan sehingga laju absorpsidari salah satu atau kedua obat mengalami perubahan. Proses metabolisme obat akanmenurun dan memperlambat proses eliminasi obat sehingga dapat meningkatkan konsentrasi dan efek obat di dalam plasma (Syamsudin,2011).4) Interaksi pada proses ekskresiEkskresi obat sebagian besar terjadi lewat ginjal melalui urin dan a)Perubahan ekskresi aktif pada tubular ginjal.

6. Signifikansi klinis interaksi obat

  Menurut Hansten and Horn (2002), selain terdapat kategori signifikansi klinis terdapat beberapa penjelasan mengenai interaksi obat yang meliputi ringkasanmengenai penjelasan singkat dari hasil potensi interaksi obat dan signifikansi Menurut Chelmow et al., (2014) terdapat empat kategori signifikansi klinis interaksi obat yaitu interaksi obat kontraindikasi, serius, signifikan danminor atau tidak signifikan. Pada kategori signifikansi klinis interaksi obat yang kontraindikasi obat yang tidak dapat digunakan karena dapat membahayakankeadaan pasien, interaksi obat yang serius yaitu kombinasi obat tidak dapat digunakan atau harus dihindari karena dapat membahayakan keadaan pasien.

7. Peran apoteker dalam interaksi obat

Apoteker bersama dengan dokter memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa pasien mengetahui risiko efek samping obat dan tindakan yang harusmereka lakukan dalam penggunaan obat. Dengan pengetahuan yang rinci mengenai obat, apoteker memiliki kemampuan untuk menghubungkan gejala

D. Keterangan Empiris

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian dengan judul “ Studi Literatur Interaksi Obat Pada Peresepan Pasien Gagal Ginjal Kronik Di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta Periode Desember Tahun 2013” termasuk jenis penelitian

  Penelitian ini diharapkan memberikan informasi mengenai interaksi obat peresepan pasien gagal ginjal kronik di Instalasi Rawat Jalan RSUD PanembahanSenopati Bantul Yogyakarta periode Desember Tahun 2013. Pasien gagal ginjal kronik adalah pasien di Instalasi Rawat Jalan RSUDPanembahan Senopati Bantul periode Desember Tahun 2013 yang telah didiagnosis oleh dokter dan dituliskan di rekam medis pasien mengalami gagalginjal kronik dengan komplikasi, tanpa komplikasi dan dengan penyakit penyerta.

2. Karakteristik pasien gagal ginjal kronik meliputi umur dan jenis kelamin

  Gambaran umum pola peresepan pasien gagal ginjal kronik merupakan gambaran peresepan obat pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalaniRawat Jalan di RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Desember 2013 yang meliputi kelas terapi obat (golongan dan jenis) obat, jumlah obat, dan carapemberian obat. Interaksi obat yang dikaji merupakan interaksi antara obat antihipertensi dengan obat antihipertensi, obat antihipertensi dengan obat lain dan obat laindengan obat lain.

5. Jenis interaksi obat yang diteliti adalah interaksi farmakokinetik dan farmakodinamik yang terjadi pada peresepan pasien gagal ginjal kronik

  Interaksi farmakokinetik merupakan interaksi yang terjadi antara dua obat atau lebih yang mempengaruhi proses absorbsi, distribusi, metabolisme, danekskresi salah satu obat atau lebih. Interaksi farmakodinamik merupakan interaksi antara dua obat atau lebih yang dapat menimbulkan efek obat yangaditif, sinergisme atau antagonisme.

C. Subyek dan Bahan Penelitian 1

  Kriteria inklusi dari subyek penelitian adalah pasien gagal ginjal kronik diInstalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul yang menerima resep pengobatan gagal ginjal kronik dengan komplikasi atau tidak atau denganpenyakit penyerta. Bahan penelitian yang digunakan berupa lembar rekam medis pasien yang menerima resep pengobatan gagal ginjal kronik dengan komplikasi atau tidakatau dengan penyakit penyerta di Instalasi Rawat Jalan RSUD PanembahanSenopati Bantul Yogyakarta periode Desember tahun 2013 yang ditulis oleh dokter dan perawat mengenai data pengobatan pasien.

D. Alat atau Instrumen

E. Tata Cara Penelitian

  Gambaran umum pola peresepan pasien gagal ginjal kronik dihitung dengan carakelas terapi obat (golongan dan jenis) obat, jumlah obat, dan cara pemberian obat dibagi dengan keseluruhan jumlah obat dikalikan 100%. Interaksi obat pada pasien gagal ginjal kronik di Intalasi Rawat JalanRSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember 2013, dilakukan pengkajian secara teoritis berdasarkan studi literatur yangmengacu pada Tatro (2007), Baxter (2010), Chelmow et al., (2014) dan d.

2. Penyajian hasil data penelitian

  Data yang diperoleh dari rekam medis pasien akan disajikan dalam bentuk tabel dan gambar. Hasil analisis data mencakup karakteristik pasien gagal ginjalkronik, gambaran umum pola peresepan pasien gagal ginjal kronik, persentase interaksi obat dan kategori signifikansi klinis interaksi obat pada peresepan pasiengagal ginjal kronik di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember tahun 2013.

G. Keterbatasan Penelitian

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian tentang studi literatur interaksi obat dengan obat pada

  Keterbatasan dalam penelitian ini adalah tidak dapat mengkonfirmasi data terkait aturan pakai, cara pemberian obat dan dosis obat yang dapat peresepan pasien gagal ginjal kronik di Instalasi Rawat Jalan RSUD PanembahanSenopati Bantul periode Desember 2013 dibagi dalam 3 bagian. Jumlah lembar reseppasien gagal ginjal kronik di Instalasi Rawat Jalan pada periode Desember tahun 2013 sebanyak 65 lembar resep yang terdiri dari 65 pasien.

A. Karakteristik Pasien Gagal Ginjal Kronik

Karakteristik pasien gagal ginjal kronik di Instalasi Rawat Jalan RSUDPanembahan Senopati Bantul periode Desember 2013 pada penelitian ini meliputi umur dan jenis kelamin.

1. Umur pasien gagal ginjal kronik

  Berdasarkan data yang diperoleh pengelompokkan umurpasien gagal ginjal kronik di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan SenopatiBantul Yogyakarta periode Desember 2013 dibagi menjadi dua kelompok umur yaitu adult dan geriatri. Diagram persentase umur pada pasien gagal ginjal kronik di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember 2013 Berdasarkan data yang diperoleh dari 65 pasien, persentase pasien gagal ginjal kronik yang paling banyak terdapat pada kelompok umur adult atau dewasasebesar 58,5% (38 pasien), kemudian diikuti dengan kelompok geriatri sebesar41,5% (27 pasien).

2. Jenis kelamin pasien gagal ginjal kronik

  Gambaran Pola Peresepan Pasien Gagal Ginjal Kronik Instalasi RawatJalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta Periode Desember Tahun 2013 Gambaran pola peresepan pada pasien gagal ginjal kronik di InstalasiRawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode DesemberTahun 2013 yang disajikan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu pertama gambaran umum pola peresepan meliputi jumlah obat tiap lembar rekam medikpasien dan cara pemberian obat. Dalam penelitian ini, obat-obatan yang paling banyak digunakan yaitu obat- obatan pada sistem kardiovaskular, obat gizi dan darah, obat hormonal, obatpenyakit otot skelet dan sendi, obat sistem saluran cerna, obat sistem saraf pusat, obat infeksi, obat sistem saluran nafas, obat antihistamin dan antialergi dan obatantiinflamasi.

3 Antiangina Golongan Nitrat

  Obat gizi dan darah merupakan peringkat kedua dalam pola peresepan obat pada pasien gagal ginjal kronik. Kelas terapi dan golongan obatgizi dan darah yang digunakan pada pasien gagal ginjal kronik di Instalasi rawat jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember 2013dapat dilihat pada Tabel V Tabel V.

2 Mineral Seng CaCO

  Kelas terapi dan golongan obat infeksi yang digunakan pada pasien gagal ginjal kronik di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan SenopatiBantul Yogyakarta periode Desember 2013 No Kelas Golongan Nama Obat Jumlah Persentase Terapi Kasus (%)® 1 Antibiotik Sefalosporin Cefixim 5 62,5Kuinolon Ciprofloxacin 1 12,5 Levofloxacin 1 12,5 2 Antifungi Imidazol Ketoconazole 1 12.5 Total8 100 Penggunaan obat infeksi pada pasein gagal ginjal kronik untuk mencegah penyakit komplikasi. Kelas terapi dan golongan obat sistem saluran nafas yang digunakan pada pasien gagal ginjal kronik di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember 2013No Kelas Terapi Golongan Nama Obat Jumlah Persentase Kasus (%) 1 Batuk dan Ekspetoran Mukolitik Ambroxol 3 75 Ekspektoran OBH 1 25 Total4 100 i.

1. Persentase jumlah peresepan yang terdapat interaksi obat pada peresepan pasien gagal ginjal kronik

  Dalam peresepan tersebut terdapat peresepandengan interaksi obat dan peresepan tanpa interaksi obat. Persentase jumlah peresepan interaksi obat pada peresepan pasien gagal ginjal kronik akan disajikanpada Gambar 3 di bawah ini.

2. Persentase interaksi obat pada peresepan pasien gagal ginjal kronik terhadap seluruh peresepan pasien di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember 2013

  Berdasarkan padaGambar 6 di bawah ini persentase interaksi obat pada peresepan pasien gagal ginjal kronik terhadap seluruh peresepan pasien di Instalasi Rawat Jalan RSUDPanembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember 2013 adalah sebanyak 0,3%. Diagram persentase interaksi obat pada peresepan pasien gagal ginjal kronik terhadap seluruh peresepan pasien di Instalasi Rawat JalanRSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember 2013 berdasarkan kajian literatur Adanya interaksi obat walaupun dengan jumlah yang relatif kecil harus tetap diperhatikan karena dapat berpengaruh terhadap respon pengobatan yangditerima oleh pasien.

3. Proporsi interaksi obat antara obat antihipertensi dengan obat antihipertensi, obat antihipertensi dengan obat lain dan obat lain dengan obat lain pada peresepan pasien gagal ginjal kronik

  Interaksi obat antara obat antihipertensi dengan obat antihipertensi, obat antihipertensi dengan obat lain dan obat lain dengan obat lain di Instalasi RawatJalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta pada bulan Desember 15%Obat antihipertensi 22% dengan obatantihipertensiObat antihipertensi dengan obat lainObat lain dengan obat lain 63% Gambar 5. Berdasarkan polaperesepan pada pasien gagal ginjal kronik, penggunaan obat yang paling banyak yaitu obat antihipertensi, sehingga kemungkinan untuk berinteraksi dengan obatlain cukup tinggi.

4. Proporsi jenis interaksi obat pada peresepan pasien gagal ginjal kronik

  gagal ginjal kronik di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember 2013 dapat dilihat pada Gambar 6 di bawah ini. Diagram proporsi jenis interaksi obat pada peresepan pasiengagal ginjal kronik di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember 2013 berdasarkan kajian literatur (N= 130) Berdasarkan Gambar 6 dapat dilihat bahwa jenis interaksi yang paling besar yaitu interaksi farmakodinamik sebesar 85 % (110) interaksi obatdibandingkan dengan jenis interaksi farmakokinetik yaitu sebesar 15 % (20) interaksi obat.

5. Jumlah kategori signifikansi klinis interaksi obat pada peresepan pasien gagal ginjal kronik

  Kategori signifikansi klinis 3 memiliki tingkat keparahan minor yang dapat menimbulkan efek interaksi obat ringan dan secara signifikan tidak dapat mempengaruhi status klinik pasien sehingga terapitambahan tidak diperlukan. Berdasarkan Hasten and Horn (2002), kategori signifikansi klinis 2 yaitu pemberian kombinasi obat sebaiknya dihindari, kecuali apabila manfaat darikombinasi obat lebih besar daripada risiko yang ditimbulkan, namun disarankan Kategori signifikansi klinis 3 yaitu kombinasi obat memberikan risiko yang kecil, memiliki manfaat yang lebih banyak daripada risiko yang ditimbulkanserta pasien harus dimonitoring selama penggunaan obat (Hasten and Horn, 2002).

6. Mekanisme dan efek interaksi obat antara obat antihipertensi dengan obat antihipertensi, obat antihipertensi dengan obat lain dan obat lain dengan obat lain

  Pembahasan mengenai mekanisme terjadinya interaksi dan efek yang ditimbulkan akibat adanya interaksi antara obatantinipertensi dengan obat antihipertensi, obat antihipertensi dengan obat lain dan obat lain dengan obat lain mengacu pada literatur Tatro (2007), Baxter (2010),Chelmow et al., (2014) dan Hasten and Horn (2002) dan dapat dilihat pada Tabel XV, XVI dan XVII di bawah ini. Mekanisme dan efek interaksi obat anatara obat antihipertensi dengan obat antihipertensi pada peresepan pasiengagal ginjal kronik di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Desember 2013 berdasarkan kajian literatur Interaksi farmakodinamikyaitu aditif(Baxter, 2010) dan (Chelmow Melakukan pemantauan tekanan darah pasien(Baxter, 2010).

1. Interaksi antara klonidin dan diltiazem

  Interaksi yang terjadi antara kedua obat ini merupakan interaksi secara farmakodinamik yaitusinergisme dengan signifikansi klinis dari interaksi adalah minor dengan onset tertunda dan menimbulkan efek hipotensi akut (Tatro, 2007). Penggabungan kedua obat ini yaitu β-blocker menghambat peningkatan kadar renin dalamplasma yang disebabkan oleh diuretik dan diuretik mengurangi retensi natrium dan air yang disebabkan oleh β-blocker (Syamsudin, 2011) Kombinasi kedua obat ini dapat menyebabkan kelainan elektrodiagram, 11.

19. Interaksi obat antara gemfibrosil dengan glimepirid pada peresepan terdapat 1 kasus. Interaksi antara kedua obat ini termasuk kategori signifikansi klinis 4

  Managemen yang dilakukan kepadapasien yaitu adanya monitoring kadar glukosa darah pasien dan pengaturan dosis kedua obat (Chelmow et al, 2014) dan (Zhou and Meibohm, 2013). Interaksi yang terjadi yaitu antara amlodipin yang merupakan obat golongan CCB dengan klonidinyang merupakan obat golongan antihipertensi sentral.

24. Interaksi obat pada peresepan pasien gagal ginjal kronik di Instalasi Rawat

Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember 2013 dengan jumlah kasus terbesar adalah interaksi obat antihipertensi yaitufurosemid dengan CaCO 3 (26 interaksi obat). Interaksi antara furosemid dengan CaCO merupakan interaksi farmakodinamik yaitu antagonisme

3 Kategori signifikansi klinisnya yaitu minor atau tidak signifikan (Chelmow et al ., 2014)

  Manajemen yang dilakukan pada pasien yang menggunakan furosemid dengan paracetamol yaitu dengan adanya pengaturan dosis obat dan waktupemberian kedua obat tersebut (Baxter, 2010). Interaksi antara kedua obat ini termaksud dalam kategorisignifikansi klinis 3 dan merupakan jenis interaksi obat farmakodinamik yaitu sinergisme (Hastern and Horn, 2002).

3 Interaksi obat antara CaCO

  Interaksi antara gilmepirid dan simvastatin termaksud dalam interaksi obat Mekanisme dari interaksi kedua obat ini yaitu simvastatin meningkatkan konsentrasi glimepirid sehingga dapat menimbulkan terjadinya efekhipoglikemia (Tatro, 2007). Managemen yang dilakukan yaitu adanya monitoring terhadap kadar glukosa darah untukmewaspadai terjadinya efek hipoglikemia yang disebabkan oleh peningkatan efek glimepirid dan adanya penyesuaian dosis glimepirid dan simvastatin(Tatro, 2007).

43. Interaksi obat antara clopidogrel dengan simvastatin pada peresepan terdapat 1 kasus. Interaksi kedua obat ini termaksud kategori signifikansi klinis 5

  Interaksi antara clopidogrel dengan simvastatin memiliki onset yang lambat, tingkat keparahan moderat dan tingkat dokumentasi interaksi obatkemungkinan tidak terjadi (unlikely). Interaksi yang terjadi merupakan interaksi farmakokinetik pada proses metabolisme.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tentang “ Studi Literatur Interaksi Obat Pada Peresepan Pasien Gagal Ginjal Kronik Di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta Periode Desember 2013” dapat

  Gambaran umum pola peresepan pasien gagal ginjal kronik meliputi kelas terapi obat yang paling banyak digunakan yaitu obat antihipertensi dengangolongan obat terbanyak yaitu diuretik sebesar 30,9 %. Jumlah obat pada tiap lembar rekam medik yang paling banyak diresepkan yaitu sebanyak tigasampai 4 jenis obat dan lima sampai enam jenis obat tiap lembar rekam medik dengan persentase sebesar 41,5%.

B. Saran Berdaasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, adapun beberapa saran

  Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait analisis kasus interaksi obat secara prospektif pada pasien disertai wawancara secara terstruktur terkaitterapi yang diberikan oleh dokter pada pasien gagal ginjal kronik 2. Berdasarkan data studi literatur terkait interaksi obat pada peresepan pasien gagal ginjal kronik, dapat dijadikan pihak RSUD Panembahan Senopati Bantulsebagai pemetaan dan early warning system terkait interaksi obat yang dapat membahayakan keadaan pasien.

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN DEPRESI PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS DI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL
0
2
83
HUBUNGAN PENAMPILAN PERAN DENGAN STRES PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DI UNIT HEMODIALISA RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL
0
2
85
Evaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien di insatalasi rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Bantul.
1
2
49
Evaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien geriatri di Instalasi Rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Bantul.
0
1
50
Evaluasi peresepan antibiotika pada pasien diare dengan metode gyssens di instalasi rawat inap RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode April 2015.
0
4
213
Evaluasi interaksi penggunaan obat hipoglikemi pada pasien rawat inap di Bangsal Cempaka RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Agustus 2015.
0
1
92
Evaluasi interaksi penggunaan obat antihipertensi pada pasien rawat inap di Bangsal Cempaka RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Agustus 2015.
0
4
109
Evaluasi pelayanan informasi obat pada pasien di instalasi farmasi RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.
8
72
110
Evaluasi penggunaan obat Hipoglikemia pada pasien di instalasi rawat inap bangsal Bakung RSUD Panembahan Senopati Bantul Periode Agustus 2015.
1
6
117
Evaluasi kerasionalan penggunaan antibiotika pada pasien anak dengan demam tifoid berdasarkan kriteria Gyssens di Instalasi Rawat Inap Rsud Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Januari-Desember 2013.
2
8
201
Studi pustaka interaksi obat pada peresepan pasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Oktober-Desember 2013.
1
7
142
Evaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien geriatri di Instalasi Rawat Inap RSUD Panembahan Senopati Bantul
0
0
48
Studi pustaka interaksi obat pada peresepan pasien tuberkulosis di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Oktober-Desember 2013 - USD Repository
0
0
140
Studi literatur interaksi obat pada peresepan pasien diabetes melitus tipe 2 di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember 2013 - USD Repository
0
1
205
Studi literatur interaksi obat pada peresepan pasien hipertensi di Instalasi Rawat Jalan RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta periode Desember tahun 2013 - USD Repository
0
1
144
Show more