sunan giri

 0  3  7  2018-03-13 22:08:04 Report infringing document

KATA PENGANTAR

  Assalamualaikum.Wr.Wb

  Puji syukur saya (penyusun) panjatkan kepada Allah SWT, karena atas rahmat-Nya yang berlimpah, kami dapat menyusun makalah ini dengan baik sesuai dengan kemampuan kami. Tidak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan kepada kami untuk menyelesaikan makalah ini. Untuk selanjutnya kami mengharapkan semoga makalah ini dapat menambah wawasan bagi kami sendiri dan juga mahasiswa yang sedang menempuh materi ini.

  Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini jauh dari sempurna, untuk itu kami mengharapkan saran dan kritik agar makalah ini mendekati sempurna, kami sadar bahwa kesempurnaan hanya milik NYA. Akhir kata, semoga makalah yang kami susun ini berguna bagi kita semua. Amin-amin yarabbal ‘alamin. Wassalamualaikum.Wr.Wb Hormat kami, Tim Makalah

  

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang erarti sembilan orang wali”

  Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.

  Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.

  Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.

  adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain. Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai “paus dari Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha.

  BAB II PEMBAHASAN . Biografi Sunan Giri Sunan Giri adalah nama salah seorang Wali Songo dan pendiri kerajaan Giri Kedaton, yang berkedudukan di daerah Gresik, Jawa Timur. Ia lahir di Blambangan tahun 1442 Masehi. Sunan Giri adalah anak Maulana Ishaq, seorang mubaligh yang datang dari Asia Tengah. Maulana Ishaq diceritakan menikah dengan Dewi Sekardadu, yaitu putri dari penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir kekuasaan Majapahit. Sunan Giri merupakan anak hasil pernikahan dari Maulana Ishaq, seorang mubaligh Islam dari Asia Tengah, dengan Dewi Sekardadu, putri Menak Sembuyu penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir Majapahit. Namun kelahirannya tidak diterima akhirnya dipaksa untuk membuang anaknya, Dewi Sekardadu menghanyutkannya ke laut. Akan tetapi kemudian bayi tersebut ditemukan oleh sekelompok awak kapal (pelaut) dan dibawa ke Gresik. Di Gresik, dia diadopsi oleh seorang saudagar perempuan pemilik kapal, yaitu Nyai Gede Pinatih. Karena ditemukan di laut, dia menamakan bayi tersebut Joko Samudra. Ketika sudah cukup dewasa, Joko Samudra dibawa ibunya ke Surabaya untuk belajar agama kepada Sunan Ampel. Lalu, anak itu diberi gelar oleh Sunan Ampel dengan sebutan “Maulana Ainul Yaqin” karena kecerdasannya. Tidak berapa lama setelah mengajarnya, Sunan Ampel mengetahui identitas sebenarnya dari murid kesayangannya itu. Kemudian, Sunan Ampel mengirimnya dan Sunan Bonang, untuk mendalami ajaran Islam di Pasai. Beberapa tahun kemudian Sunan Giri mendirikan sebuah pesantren giri di sebuah perbukitan di desa Sidomukti, Kebomas. Dalam bahasa Jawa, giri berarti gunung. Sejak itulah, ia dikenal masyarakat dengan sebutan Sunan Giri. Pesantren Giri kemudian menjadi terkenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa, bahkan pengaruhnya sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Pengaruh Giri terus berkembang sampai menjadi kerajaan kecil yang disebut Giri Kedaton, yang menguasai Gresik dan sekitarnya selama beberapa generasi sampai akhirnya ditumbangkan oleh Sultan Agung. Setelah meninggal Sunan Giri kemudian dimakamkan di desa Giri, Kebomas, Gresik.

2. Dakwah Sunan Giri Selama hidupnya, beliau dikenal sebagai orang yang sangat ahli di bidang agama Islam.

  Sunan Giri sangat pandai dalam menarik simpati masyarakat Jawa yang ketika itu pada umumnya masih memeluk agama Hindu dan Budha. Dengan cara yang dilakukannya itu, dakwah-dakwahnya banyak diminati masyarakat. Setelah belajar di Pasai selama 3 tahun, Sunan Giri kembali ke Jawa. Setelah tiba di Gresik Sunan Giri mendirikan pesantren di desa Sidomukti yang kemudian dikenal dengan dengan pesanren Giri. Karena pesantren terletak di dataran tinggi, maka pesantren tersebut diberi nama Pesantren Giri. Karena Giri bermakna sebagai gunung (dataran tinggi). Waktu itu pesantren Giri bisa terkenal sampai ke seluruh nusantara. Sehingga banyak murid-murid baru

  Menurut Babad Tanah Jawa murid-murid Sunan Giri itu justru bertebaran hampir diseluruh penjuru benua besar, seperti Eropa (Rum), Arab, Mesir, Cina dan lain-lain. Semua itu adalah penggambaran nama Sunan Giri sebagai ulama besar yang sangat dihormati orang pada jamannya. Di samping pesantrennya yang besar ia juga membangun masjid sebagai pusat ibadah dan pembentukan iman umatnya. Untuk para santri yang datang dari jauh beliau juga membangun asrama yang luas Cara dakwah yang dilakukan Sunan Giri dalam menyebarkan ajaran Islam yaitu dengan pendekatan humanis,arif bijaksana, yang terpenting adalah mengedepanka akhlak-akhlak terpuji sehingga agama Islam di Gresik cepat berkembang mudah terima dikalangan masyarakat ketika itu. Sunan Giri dalam berdakwah murni atas dasar Al-qur'an dan Sunnah. Sunan Giri tidak saja dikenal sebagai anggota Walisongo tetapi juga sebagai ahli politik dan tatanegara sehingga keberadaan pun berpengaruh besar dalam politik nusantara Sunan Guri dikalangan masyarakat Jawa memiliki cara atau metode dakwah yang unik dan menarik dengan kesenian berupa tembang-tembang dolanan atau mainan anak-anak yang bernafaskan Islam seperti jamuran,cublak-cublak suweng,Jithungan dan delikan juga menciptakan tembang jawa bernafaskan Islam.

  3. Keteladanan Sunan Giri

  Banyak keteladanan yang dapat diambil dari Sunan Giri, dianta keteladanan tersebut yaitu:

  1. Tegas

  Ketegasan Sunan Giri terlihat ketika beliau menyampaikan dakwah, yaitu harus berdasarkan Al-Qur'an dan Sunah Rasulullah SAW. Beliau tidak mencampurkan antara adat istiadat dengan ajaran Islam.

  2. Cerdas

  Kecerdasan Sunan Giri terbukti yang terkenal sebagai ahli politik dan tatanegara sehingga keberadaan belaiaumempunyai pengaruh besar dalam politik nusantara.

  3. Taat kepada orang tua

  Ketaatan Sunan Giri kepada orang tua terbukti ketika ayahnya untuk mendirikan pesantren sesuai dengan tanah yang diberikan kepadanya, serta menaati perintah gurunya, Sunan Ampel.

  4. Kreatif

  Dalam hal ini Sunan Giri menciptakan mainan anak-anak yang bernafaskan Islam seperti jamuran,cublak-cublak suweng,Jithungan dan delikan.

BAB III PENUTUP Sunan Giri dilahirkan pada tahun 1442. Sunan Giri membangun Giri Kedaton sebagai pusat

  penyebaran agama Islam di Jawa yang pengaruhnya sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan,

Sulawesi dan bahkan sampai Maluku.Pengaruh Giru terus berkembang sampai menjadi kerajaan kecil

yang yang disebut Giri Kedaton,setelah Ia wafat dimakamkan di desa Giri, Kebomas, Gresik

  DAFTAR PUSTAKA Dupriyadi, Dedi M. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia.

  Purwadi, Enis N. 2007. Dakwah Wali Songo. Yogyakarta: Panji Pustaka

Informasi dokumen
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2018-03-13

sunan giri

Gratis

Feedback