SEJARAH KAMPAR DITINJAU DARI ASPEK ADMINISTRASI

Gratis

0
1
13
11 months ago
Preview
Full text
-t DAFTAR ISI Halaman PERANAN MEDIA MASSA DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER DAN PEKERTI BANGSA Ibnu Hamad I PENANGGANAN BENCANA BERBASIS KOMUNITAS (Studi Kasus Bencana Gempa Bumi di Kampung Basen Kelurahan Pubayan Kecamatan Kotagede-D.I. Yogyakarta) R. A. Anggraieni .20 PENGARUH BAURAN PEMASARAN JASA TERHADAP LOYALITAS PENUMPANG KOPSI PEKANBARU M. Nur 4j KASUS PERKAWINAN SEMARGA PADA ETNIS SIPIROK DI KABUPATEN TAPANULI SELATAN Syarifuddin Ritonga 65 GERAKAN KIRI DI INDONESIA ERA KOLONIAL Ahmad Suhelni 76 PENYALAHGUNAAN PENGAMBILAN CUTI SAKIT DI KALANGAN PEKERJA Muhamad Ali Embi 96 PERANAN PERBAIKAN LAYANAN (Service Recovery) DALAM MENINGKATKAN LOYALITAS PELANGGAN Febrina Rosinta 107 PENULARAN MODAL SOSIAL DALAM PENGEMBANGAN DIVERSIFIKASI USAHA SULAMAN BORDIR UNIQUE MOTIF DESIGN PADA KOMUNITAS PETANI DI PEDESAAN TEPIAN HUTAN Imam Santoso, Jarot Santoso dan Rin Rostikawati l2l SEJARAH KAMPAR DITINJAU DARI ASPEK ADMINISTRASI PEMERINTAHAN/KETATANEGARAAN Saifuddin Syukur Bj PEMBERDAYAAN NELAYAN MELALUI PENDEKATAN SOSIAL BUDAYA Agusnimar 148 SIKAP DAN PANDANGAN ORANG TALANG MAMAK INDRAGIRI HULU, PROVINSI RIAU Seno H. Putra .156 PARADIGMA PERENCANAAN PEMBANGUNAN DESA Nurman 161 PERANAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE DALAM TRANSPARASI LAPORAN KEUANGAN BADAN USAHA Azwir Nasir 179 PARADIGMA PERENCANAAN PEMBANGUNAN DESA Oleh: NURMAN, M. Si. S. Sosla) Abstract Related on the society progress and development, the good principles of the governance have become demands in the village development. vllage is the success key of regional development, it,s changging is still stagnant because the village's potential in advantage and quarrying is rtot optintumyet, and another sicle is human resource. young worker class) ntover to the city. To overcome this condition above, it needs to grow the paradigm of village dev'elopment plan toward the strengthening of economics institutional (entrepreneur grup, the increasing of family earnings and cooperation),the strengthening of financing. structure and infrastructure, and human resources towartl training and education. Key Words :The Paradigm of Village Development plan o)Dosen Tetap FISIPOL uIR, Pekanbaru. Magister dalam Bidang perencanaan Pembangunan Pedesaan r61 Pendahuluan Salah satu unsur yang menentukan baik tidaknya suatu tata pemerintahan desa adalah begaimana pernerintahan tlesa dapat menggali potensi dan membuat perencanaan pembangunan desa. perencanaan dan pelaksanaan pembangunan yang baik ditentukan oleh menerapkan prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance),yaitu :1. Keterbukaan (transparansi) dalam hal penyelenggaraan pemerintahan Desa 2. Tanggungjawab (akuntabilitas) penyelenggaraan Pemerintahan Desa yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. 3. Keterlibatan (partisipasi) masyarakat dalam pemabagunan 4. Penyelengaraan pemerintahan yang efektif, dinama pemerintah desa mempunyai rencana tahunan yang disusun berdasarkan partsipasi mabyarakat dalam bentuk APBDes 5. Pemerintah tanggap (responsif) teradap aspirasi yang berkembang di masyarakat. Prinsip-prinsip good governance tersebut hatus diaplikasikan dalam pelaksanaan perencanaan pembangunan desa. Oleh karena itu apa yang menjadi prinsip good governance (aspiratif, partisipatif dan akuntable) dapat dipahami dan diimplimentasikan oleh pemerintah desa, BPD dan elemen masyarakat lainnya ikut berpartisipasi baik dalam perencanaan, peleksanaan maupun dalam pengawasan. Conchelos (1985) dalam Dwipayana ,2004 :83 membagi partisipasi menjadi 2 (dua) yaitu :1. Pertisipasi dalam pengertian teknis; Mengikutsertakan masyarakat dalam aktivitas :mendefinisikan masalah, mengumpulkan data, menganalisis data dan mengimplementasikan hasinya. 2. Partisipasi dalam pengertian politis; pemberian kekuasaan dan kontrol kepada masyarakat melalui pilihan-pilihan untuk beraksi, berotonimo, dan berfleksi terutama melalui pengembangan dan penguatan kelembagaan. Selanjutnya, Deshler dan Snock (1985) dalam Dwipayana,2004 :kontrol masyarakat dalam kegiatan yang dilaksanakan. Tingkatan partisipasi masyarakat yang paling rendah adalah (1) Manipulasi, 2) Terapi dan (3) Informasi. 84 mengelornpokan partisipasi atas tingkat Partisipasi dikatakan manipulatif apabila kegiatan partisipasi hanyalah dijadikan alat untuk memaksa kehendak (indokrinasi) pihak luar kepada 168 mas\ arakat. Partisipasi terapi adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan pihak luar untuk "mengobati" permasalahan yang dihadapi oleh suatu masyarakat tanpa mendudukkan masyarakat tersebut sebagai subjek (pelaku) yang aktif. sedangkan partisipasi yang bersifat informative terjadi apabila pihak luar hanl'a bertindak untuk menginformasikan tentang kegiatan sepihak dan masvarakat hanya diikutsertakan di dalam memanfaatkan hasil atau masyarakat tidak punya tempat untuk memberikan ,feedtrack" apapun terhadap kegiatan tersebut. Jika kita menoleh kebelang, maka mulai dari tahun 1969, pembangunan pedesaan diprogramkan untuk membangun ekonomi Indonesia, yang disusun malalui serangkaian Rencana pembangunan Lima Tahun atau REPELITA. Pemerintah menganggap pembangunan desa sebagai elemen yang kritis dalam proses pembangunan nasional. Tujuan pembangunan desa adalah meningkatkan produktivitas dan produksi pertanian dan memperbaiki kesejahteraan masyarakat desa. Ketika Repelita I pada tahun 1969 diluncurkan, prioritas utamanya adalah melakukan definisi ulang dari kebrlakan penanian. Penekanan pertamapada usaha meraih pemenuhan sendiri (self-sufficiency) dalam produksi beras. usaha ini diharapkan akan dapat menaikan pendapatan masyarakat desa, dan dengan demikian, memperbaiki standar kehidupan masyarakat pedesaan. Data BPS tahun 2001 menunukkan bahwa mayoritas penduduk Indonesia 75 %berada di desa dan 60 vo diantarunya miskin. Kondisi ini terjadi karena tidak adanya keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat miskin dalam pembangunan di Indonesia. Akibatnya, pembangunan yang seharusnya mampu mengangkat kehidupan masyarakat miskin, karena kebijakan pembangunan yang diambil lebih menguntungkan masyarakat kaya dan ekit-elit pedesaan, justru menghasilkan kemiskinan, ketimpangan pendapatan dan pengangguran. Arif Satria dalam Winarno, 2003: 14) Lebih lanjut, Arif Satria mengungapkan bahwa proses industrialisasi yang cukup gencar, cepat dan berhasil selama kurun waktu yang dilaksanakan oleh orde baru ternyata belum mengkait ke belakang (backward linkage),yakni ke sector pertanian. Inilah yang mengakibatkan tertinggalnya masyarakat pertanian yang tidak kunjung sejahtera. Nilai tukar petani yang belum membaik, produkivitas dan efisiensi yang rendah, serta sikap mental dan budaya yang masih tradisional membawa mereka pada ketertingalan. winarno, 2003:9 menjelaskan bahwa program untuk meraih pemenuhan kebutuhan sendiri dalam produksi beras mengambil tiga metode yaitu :l) membentuk Idiologi modem mengenai cara bercocok tanam, 2) memberikan r69 kredit yang murah untuk membeli input-input modern dan (3) memberikan bimbingan intensif. Pada awal tahun 1971, pemerintah dengan cepat menciptakan lembaga baru di pedesaan seperti :Badan Usaha Unit Desa (BUUD) dan Koperasi Unit Desa (KUD) sebagai bagian usaha untuk meraih tujuan pembangunan pedesaan. Namun, kondisi objektif menunjukan bahwa BUUD/KUD semala ini belum dapat mengatasi masalah kemiskinan, pengangguran dan ketidakadilan, karena BUUD/KUD pada dasarnya hanya melayani kepentingan penduduk desa yang kaya. Dan disisi Iain nilai tukar petani yang belum juga membaik, produktivitas dan efisiensi yang rendah serta sikap mental dan budaya yang masih tradisional mambawa masyarakat desa pada ketinggalan. Tulisan ini bermaksud untuk memberikan reformasi kebijakan pembangunan yang lebih berpihak kepada masyarakat miskin pedesaan. Pembahasan a. Otonomi Desa Desa merupakan institusi yang otonom dengan tradisi, adat istiadat dan hukumnya sendiri serta relatif mendiri. Sejalan dengan kehadiran negara modern, kemandirian dan kemampuan masyarakat desa mulai berkembang. Kemandirian dan kemampuan desa menjadi daerah otonom terlihat dari lahirnya UU Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, UU Nomor 5 Tahun 1979 tentans Pemerintahan Desa dan Kelurahan, UU Nomor 22Tahun 1999 tentang Pemerintahan Desa, Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2001 tentang Pedoman Umum Pengaturan Mengenai Desa dan UU Nomor 32 Tahun 2004tentang Pemerintahan Daerah yang mencabut UU Nomor 22Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Perubahan yang mendasar dari Undang-Undang tersebut adalah adanya pemberdayaan atau peningkatan peran pemerintahan desa dari sentralistik menjadi desentralisasi dalam pelaksanaan otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab. Kewenangan desa diatur berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 1999 tentang Pedoman Umum Pengaturan Mengenai Desa. Penetapan bentuk dan susunan organisasi pembentukan desa, pencalonan, pemilihan dan penetapan kepala desa, pencalonan, pemilihan,pengangkatan dan penetapan perangkat desa, pembentukan dan penetapan lembaga kemasyarakatan desa, penetapan dan pembentukan Badan Perwakilan Desa (BPD),pencalonan pemilihan dan penetapan anggota Badan Perwakilan Desa, penyusunan dan penetapan anggaran dan t70 pendapatan dan belanja desa, pemberdayaan dan pelestarian lembag aadat, penetapan peraturan desa, penetapan kerjasama antar desa, penetapan pinjaman desa, penetapan dan pembentukan Badan usaha Milik Desa (BUMDES),pengeluaran rzin skala desa, penetapan tanah kas desa, pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, pengelolaan tugas pembantuan, pengelolaan dana atas bagi hasil perimbangan keuangan antara pusat dan daerah yang diterima oleh kabupaten dan kota. Kewenangan desa mencakup kewenangan yang sudah ada berdasarkan hak asal usul desa, kewengangan yang oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku belum dilaksanakan oleh daerah dan pemerintah dan kewengangan tugas pembantuan dari pemerintah, pemerintah propinsi dan atau pemerintah kabupaten. Paling tidak ada 22 kelompok/bidang keweangan yang dapat digali dan dikembangkan oleh desa yaitu :1) bidang perranian, 2) bidang pertambangan dan energi, 3) bidang kehutanan dan perkebunan, 4) bidang perindustrian dan perdagangan, 5) bidang perkoperasian, 6) bidang ketenagakerjaan, 7) bidang kesehatan, 8) bidang pendidikan dan kebudayaan, 9) bidang sosial, 10) bidang pekerjaan umum, 1l) bidang perhubungan, 12) bidang lingkungan hidup, 13) bidang politik dalam negeri dan administrasi publik, 14) bidang otonomi desa, 15) bidang perimbangan keuangan, 16) bidang tugas pembantuan, 17) bidang pariwisata, 18) bidang pertanahan, 19) bidang kependudukan, 20) bidang kesatuan bangsa dan perlindungan masyarakat, 21) bidang perencanaan dan (22) bidang penerangan/informasi dan komunikasi. lihar wijdaja, 2003:62).untuk merealisasikan kewenangan tersebut diperlukan komitmen politik, keberanian politik, kemauan politik dan kemampuan politik loKal. Apabila hal ini terwujud, maka pertanian rakyat, perikanan rakyat, perkebunan rakyat, peternakan rakyat, industri rakyat, kerajinan rakyat, pertukagnan rakyat, pasar rakyat, perumahan rakyat dan pelabuhan rakyat dapat berkebang, sehingga kebijakan pembangunan selama ini terkesan lebih berpihak kepada masyarakay kaya dan elit-elitpedesaan dapat diatasi. b. Paradigma Perencanaan Pembangunan Desa Salah satu penyebab kegagalan pembangunan pedesaan adalah penyusunan perencanaan pembangunan desa dipandang bukan merupakan aktivitas stratsgis dan politis di dalam tata pemerintahan desa. Kondisi ini mau tidak mau harus dirubah. Pemerintah desa bersama-sama, BpD, LKMD, LPM, PKK, RT, Alim Ulama, Tokoh Masyarakat, pemuda, Tokoh t71 Adat, dan elemen masyarakat lainnya harus menempatkan proses perenacaan pembangunan desa pada posisi yang strategis. Langkah awal yang dapat ditempuh oleh pemerintah desa bersama BPD adalah mendata potensi dan menyusun perencanaan pembangunan desa secara partisipatif. Sukasmanto dalam Dwipayana,2004 :19 menjelaskan penyusunan APBD sebagai berikut :l. Musyawarah Pembangunan (MusBang) desa sebagai forum pengajuan program pembangunan dari masyarakat. 2. Unit Daerah Kerja Kecamatan (UDKK) untuk memilih jenis program yang layak dibiayai dan diajukan pemerintah desa. 3. Rapat Koordinasi Pembangunan (Rakorbang) merupakan sosialisasi program yang diajukan yang dihadiri oleh berbagai unsure masyarakat. Hasil ini oleh BAPPEDA dan SEKDA digunakan sebagai bahan penentuan program yang akan hibahas pada tahap berikutnya. Hasil pembahasan ini disebut Dukumen Rencana Proyek :a. Daftar Usulan proyek Daera (DUPDA) b. Daftar Skala Prioritas (DSP) 4. Konsultasi Regional Pembangunan (KRP) 5. Konsultasi Nasional Pembangunan (KNP) Dari penjelasan di atas pat dilihat bahwa program pembangunan yang diajukan oleh pemerintah desa melalui Musbangdes sangat kecil kemungkinannya untuk dimasukkan dalam APBD. Karena pada proses selanjutnya penyusunan program pembangunan lebih banyak ditentukan oleh kebijakan elit birokrasi kabupaten sehingga kebutuhan masyarakat menjadi sulit terwujud. Oleh karena itu, masyarakat, BPD, LSM dan elemen masyarakat lainnya ikut bertanggungjawap mengontrol dalam mengawal kebutuhan pembangunan yang diusulkan oleh masyarakat. Perencanaan strategis dibentuk melali proses dialog, konsultasi, diskusi dan sosialisasi yang melibatkan berbagai unsure pemerintah desa, BPD, LKMD, LPM, PKK, RT, Alim Ulama, Tokoh Masyarakat, Pemuda, Tokoh Adat, Akedemisi dan lain-lain. Perencanaan stratagis ini sangat penting untuk mengarahkan langkah-langkah dan agenda kepemimpinan kepala desa, pemerintahan desa dan pembangunan masyarakat'desa. Perencanaan strategis tersebut adalah rencana kerja yang digunakan sebagai pedoman atau kerangka kerja supaya semua menjadi terarah, bias dikontrol dan dinilai secara terbuka oleh siapa saja. Rencana strategis adalah milik semuapihak, tetapi yang paling dekat memiliki dan bertanggung jawab atas rencana strategis tersebut adalah 172 pemerintah desa. Pemerintah desa bertanggungjawab melaksanakan, memfasilitasi dan mendorong semua pihak untuk mewujudkan rencana strategis yang telah disusun dan dinilai ideal untuk dilaksanakan. Inayatullah dan H.S. Wanasinghe dalam Winarno, 2003 :2I, menjelaskan bahwa strategi-strategi pembangunan desa di negara-negara dunia ketiga menganut tiga model pembangunan, yaitu :l. Model intervensi rendah atau disebut juga model produktivitas. intervensi menengah atau dinamakan model solidaritas. Model intervensi tinggi atau sering disebut sebagai model pemerataan (equality) 2. M.odel a 1. Model intervensi rendah atau model produktivitas. Upaya pemerintah ditujukkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian tanpa memandang perlu melakukan perubahan-perubahan penting dan substansial terhadap strutur sosial dan pemilikan tanah. Keterbelakangan pedesaan (rural underdevelopment) disebabkan oleh langkahnya ternologi yang dapat meningkatkan produktivitas, ketidak tahuan atau kebodohan, ketahyulan, buta aksara dan jumlah beban tanggungan merupakan fenomena umum di kalangan masyarakat desa. Strategi pembangunan adalah membantu penduduk desa yang mempunyai modal, sumber-sumber, keterampilan dan motivasi yang tinggi untuk meningkatkan produktivitas mereka. Pemerintah dituntut untuk memberikan kemudahan-kemudahan bagi mereka memperoleh input-input (modal, teknologi, keterampilan teknis termasuk pemasaran prodak yang dihasilkan).serta memberikan perhatian khusus bagi mereka yang berhasil meningkatkan produktivitas (tidak untuk konsumsi sendiri).Model intervensi rendah ini dapat dikembangkan apabila penduduk desa memiliki tanah milik sendiri yang luasnya mencukupi. Tapi jika penduduk desa bekerja mengharapkan bagi hasil/gurem atau petani kecil dan menyewa, pembangunan desa secara perlahan-lahan akan menimbulkan kemerosokan sosial dan ekonomi dalam masyarakat. Model intervensi menengah atau solidaritas. Model ini diagnosa utama yang menjadi penyebab keterbelakangan pedesaan adalah langkahnya lembaga-lembaga desa yang dapat meningkatkan peran serta aktif penduduk desa. Model ini dikembangkan melalui pengembangan kerajinan tangan pedesaan, mendorong kegiatan-kegiatan koperasi dengan membentuk dan memberikan kredit yang berasal dari masyarakat desa, membentuk koperasi-koperasi konsumen dan pemasaran yang bertujuan untuk mengurangi kegiatan-kegiatan ekonomi yang eksploitatif di daerah- n3 daerah pedesaan dan memperkuat kedudukan ekonomi produsen dan konsumen di desa. Keberhasilan pengembangan model ini lebih menekankan adanya usaha untuk melakukan perubahan lembaga-lembaga dipedesaan, modernisasi elit desa dan meningkatkan keterampilan organisasi dan hubungan manusia, sehinga model ini dianggap kurang efektif dalam mencapai tujuan pembangunan desa, karena yang mendapatkan keuntungan besar dari pengembangan model ini adalah kelas menengah pedesaan, terutama organisasi-organisasi lapangan seperti koperasi yang akan mendapatkan bantuan atau sumber-sumber yang diberikan oleh pemerintah. Pelayanan-pelayanan yang diberikan tidak dapat mendorong semangat komunitas di kalangan pemilik tanah sempit, penyewa dan buru tani, maka para petani yang memiliki lahan sempit, penyewa dan buru tani yang berpenghasilan rendah akan menjauhkan diri program-program pertanian. Model intervensi tinggi atau model pemerataan. Model ini menyatakan bahwa tidak meratanya pendapatan, kekayaan dan kekuasaan di kalangan penduduk desa merupakan penyebab utama keterbelakangan desa. Nilai-nilai, tingkah laku, lembaga-lembaga desa yang lemah dan tidak adanya teknologi yang mempu meningkatkan dan memperbaiki produktivitas pertanian, terbatasnya kesempatan-kesempatan dan sumbersumber yang dimiliki oleh lapisan penduduk miskin di desa merupakan gejala-gejala kemiskinan di daerah pedesaan. Untuk mengatasi kekurangan dan kelemahan di atas adalah melalui pendistribusian tanah yang bersifat rasional (adil dan merata) dan penggunaan sarana-sarana produksi (teknologi tepat guna) kepada lapisan penduduk pedesaan. Tujuan utama yang ingin dicapai dalam pengembangan model ini adalah bagaimana mempersempit atau kalau mungkin menghapuskan ketidakmerataan sosial dan ekonomi penduduk daerah pedesaan dari orang-orang atau kelompok orang-orang yang merugikan kepentingan lapiran penduduk berpenghasilan rendah. Untuk mewujudkan hal ini diperlukan komitmen politik, kemauan politik dan kesadaran politik. c. Nilai, Filsafah, Misi dan T[juan Pembangunan Desa Nilai yang ingin dicapai dalam pembanguan desa adalah kesejahteraan, kemandirian, kesetaraan, kebersamaan dan demokrasi. Dan untuk mencapai nilai tersebut dikembangkan melalui falsaafah "kami selalu berkerja keras dan hidup bersama saling berdampingan yang bersendikan demokrasi untuk membangun kesejahteraan dan kemandirian. 174 ciri khas dari suatu organisasi adalah adanya vISI bersama. Desa merupakan unit organsasi pemerintahan yang terendah memiliki visi ,menjadi desa yang sejahtera dan mandiri dalam lingkungan kehidupan masyarakat yang terbuka, demokrasi dan semarak melalui :1. Meningkatkan kualitas hidup menuju kesejahteraan masyarakat desa secara berkelanj utan dan berkeadilan. 2. Membangun tata pemerintahan yang baik dengan bersendikan pada prinsip keterbukaan, tanggung jawab, saling percaya dan partisipasi masyarakat. 3. Membangun semangat otonomi desa yang sejati dan bermakna bagi masyarakat. Sedangkan tujuan pembangunan desa adalah 1. Mengali sumber-sumber ekonomi rakyat untuk kemaslahatan warga desa. 2. Mamfasilitasi upaya-upaya peningkatan pendapatan masyarakat dan penanganan kemiskinan. 3. Muwujudkan penyelenggaraan pemerintahan dan dan pemberian pelayanan kepada masyarakat secara berkualitas dan terpercaya. 4. Mewujudkan pola hubungan kemitraan dan kebersamaa antara pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BpD) dan warga masyarakat. 5. Menigkatkan peran serta masyarakat dalam proses pemerintahan dan pembangunan. 6. Mengembangkan jaringan dan kerjasama dengan berbagai pihak dari luar untuk mendukung pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan masyarakat desa. 7. Mengembangkan kebijakan desa dan program-program pembangunan secara pertisipatif dan mendiri. d. sasaran dan rndikator Keberhasilan perencanaan pembangunan Desa l. Peningkatnya Kualitas Hidup Masyarakat Desa Secara Berkelanjutan. Indikatornya adalah :a. Tersedianya sarana irigasi yang memadai b. Meningkatnya hasil panen para petani c. Meningkatnya mata pencarian baru diluar pertanian d. Tersedianya sarana pendidikan, kesehatan, transportasi, jalan, penerangan, komunikasi secara memadai ll5 e. Tersedianya pasar desa f. Menurunnya jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan g. Menurunnya angka pengangguran penduduk desa h. Terwujudkan kepemilikan Badan usaha Milik Desa (BUM-DES) i. Tersedianya koperasi desa j. Meningkatnya peranserta wajib belajar 9 tahun 2. Terciptanya Tata Pemerintahan Desa Yang Baik Indikatornya adalah a. Meningkatnya kemampuan para pamong desa dalam mengelola pemerintahan. Administrasi perkantoran desa yang tertata dengan baik 2) Tersedianya perencanaan pembangunan desa 1) b. Meningkatnya keterbukaan penyelenggaraan pemerintahan desa. 1) Keterbukaan dalam mengambil keputusan 2) Keterbukaan dalam pengelolaan keuangan 3) Keterbukaan dalam penyalayan kepada masyarakat 4) Kesediaan pamong desa menerima kriti dan saran dari masyarakat c. Terciptanya pola hubungan kemitraan yang baik antara pemerintah desa dengan Badan Permusyawaratan Desa (BpD) 1)Kepala desa tidak mematikan BpD 2) BPD mampu merumuskan peraturan-peraturan desa dan merakukan kontrol dengan baik terhadap pemerintah desa 3) Antara BPD dan kepala desa saling percaya dan bekerjasama d. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pemerintahan dan pembangunan l)Forum-forum warga semakin semarak 2)Meningkatnya kemampuan dan keberanian masyarakat menyampaikan aspirasinya kapada BPD maupun pemerintah desa 3) Meningkatnya keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan 4)Meningkatnya kemampuan masyarakat melakukan pengawasan dan penilaian terhadap pemerintah desa dan BpD 5)Meningkatnya rasa memiliki masyarakat terhadap hasil pembangunan desa t76 6).Terbangunnya Kemandirian (otonomi) Desa Secara Kuat, Sejati dan Bermakna Bagi Masyarakat. Indikatornya :a. Meningkatnya sumber-sumber pendapatan Asli Desa b. Meningkatnya kemampuan desa memuat keputusan desa secara mandiri dan partisipatif. lihat Dwipayana,2004: 65) Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa sebagai sasaran untuk mencapai keberhasilan tersebut ialah pertama. menyentuh kehidupan modern, Kedua. orientasi usaha dari subsistem ke komersial, Ketiga. Kepemimpinan yang terorganisasi dengan baik, Keempat. pendidikan bukan sekedar tuntutan tetapi sudah menjadi kebutuhan, Kelima. Kepercayaan yang dicerminkan dari sifat kejujuran dan disiplin. Penutup Esensi otonomi daerah yang diharapkan uu tentang pemerintahan Daerah adalah bagaimana mengimplikasikan prinsip desentralisasi dalam hal peraturan, pembagian dan pemanfaatan sumber daya yang berkelanjutan serta perimbangan keuangan pusat dan daerah dalam kerangka Negara kesatuan Republik Indonesia. Itu artinya pola penyelenggaraan pemerintah daerah haruslah mengacu pada prinsip manajemen public modern yang akuntabilitas, transparan, keterbukaan, produktif, supermasih hukum, efisinsi dan efektivitas. Desa merupakan ujung tombak keberhasilan pembangunan regional, perubahannya masih stagnan (belum berkembang) karena penggalian dan pemanfaatan potensi pedesaan belum optimal, dan sisi lain sumber daya manusia yang potensial (angkatan kerja muda) lari ke kota. untuk menghadapi kondisi di atas, perlu dikembangkan paradigma perencanaan pembangunan desa melalui program penguatan kelembagaan, penguatan ekonomi (kelompok usaha, usaha peningkatan pendapatan keluarga dan koperasi),penguatan pembiayaan, penguatan sarana dan prasarana serta penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan. Salah satu penyebab kegagalan pembangunan desa adalah penyusunan perenacanaan pembangunan desa dipandang bukan merupakan aktivitas strategis dan politis di dalam tata pemerintahan desa. Kondisi ini mau tidak mau harus dirubah. Langkah awal yang dapat ditempuh oleh pemerintahan desa adalah mendata potensi dan menyusun perencanaan pembangunan desa secara parlisipatif. r77 Daftar Kepustakaan AA.GN. Ari Dwipayana dkk, 2003. Pembaharuan Desa Secara parrisipatif. Pustaka Pelajar, Yogyakarta AA. GN. Ari Dwipayana dkk, 2004. Promosi Otonomi Desa. IRE press, Yagyakarta Antlov Hans. 2003. Negara Dalam Desa Patronase Kepemimpinan Lokal. Jogjakarta Lappera Pustaka Utama B udi winarn o, 2003 .Komparasi organi sasi Pedesaan Dal am Pembangunan. Media Pressindo, Yogyakarta chambers Robert.1996. Participatory Rural Appraisal (Memahami Desa Partisipatif).Terjemahan Rapid. Yogyakarta: Kanisius. 1993. Rural Development Putting The Last Firsr. England :Longman Scientific &Technical. Dwipayana AAGN Ari &Sutoro Eko.2003.Membangun Good Governance di Desa. Yogyakarta: IRE Press. Fakrulloh Zudan Arif,dkk. 2004. Kebij akan Desentralisasi Di Persimpangan. Jakarta :CV.Cipiruy. HAW. Widjaja, 2004. Otonomi Desa. Raja Grafindo Persada, Jakarta Kerlinger Fred N. 2003. Asas-Asas Penelitian Behavioral. Terj emahan Gadj ah Mada University Press. Yogyakarta:Gadjah Mada University press. Nurcholis Hanif.2005. Teori Dan Praktik Pemerintahan Dan otonomi Daerah. Jakarta :PT.Grasendo. Taliziduhu Ndraha, I 99 1 .Dimensi-Dimensi Pemerintahan Desa. Bumi Aksara, Jakarta Jurnal Kusworo, 2004. Kajian tentang Perubahan Pemerintahan Desa Berdasarkan uu No. 32 Tahun 2004. Jurnal Administrasi Pemerintahan Daerah. Citra Media, Bandung Sufian, 2005. Strategi Pengentasan Kemiskinan dan Kebodohan di provinsi Riau Mencapai visi 2a20. Jurnal Siasat. Badan penerbit FISIPOL UIR Pekanbaru 178

Dokumen baru

Tags

Pembentukan Keluarga Ditinjau Dari Aspek Isim Ditinjau Dari Aspek Jenisnya Diajuk Kehamilan Remaja Ditinjau Dari Aspek Sos Pencemaran Air Ditinjau Dari Aspek Biolo Studi Kelayakan Ditinjau Dari Aspek Usah Hukum Dera Bagi Pezina Ditinjau Dari Aspek Aspek Pendidikan Kekerasan Pada Anak Ditinjau Dari Aspek Medis Kebijakan Pengembangan Hphkm Ditinjau Dari Aspek Kelembagaan Penataan Permukiman Nelayan Puger Ditinjau Dari Aspek Kekumuhan Keberadaan Situ Cilala Ditinjau Dari Beberapa Aspek Limnologis
Show more

Dokumen yang terkait

IDENTIFIKASI KONDISI RILEKS DARI SINYAL EEG MENGGUNAKAN WAVELET DAN LEARNING VECTOR QUANTIZATION
0
0
6
UPAYA GURU DALAM MEMOTIVASI SISWA PADA PEMBELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM DENGAN MENGGUNAKAN METODE “TIMELINE” DI MAN KOTA PALANGKA RAYA Skripsi
0
2
101
MESJID SEBAGAI SARANA KEGIATAN DAKWAH : SEJARAH SINGKAT
0
0
18
EFEKTIFITAS KEGIATAN PENGERUKAN SEDIMEN WADUK WONOGIRI DITINJAU DARI NILAI EKONOMI
0
0
11
ANALISIS KEPUASAN PASIEN DARI ASPEK PROSEDUR PELAYANAN BPJS KESEHATAN TINGKAT LANJUTAN DI POLI PENYAKIT DALAM RUMAH SAKIT ISLAM SURABAYA JEMURSARI
0
0
7
ASUPAN GULA HARIAN DARI BAHAN-BAHAN PELENGKAP MASAKAN
0
0
7
ANALISIS ASPEK STRUKTUR BIROKRASI YANG BERLANGSUNG PADA PROGRAM KELAS IBU BALITA DI WILAYAH KABUPATEN BANYUMAS
0
0
11
6 ASPEK SOSIAL DALAM PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH Abdul Mutalib Dosen Tetap Prodi Pendidikan Agama Islam STAI Muara Bulian abdulmutalibmpdigmail.com Abstract - View of ASPEK SOSIAL DALAM PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
0
0
21
1 JENIS-JENIS KEGIATAN ADMINISTRASI KESISWAAN BERDASARKAN KURIKULUM Mahdayeni
0
0
7
View of PEMBELAJARAN DENGAN MEMPERHATIKAN ASPEK KEJIWAAN PESERTA DIDIK
0
0
10
PENDIDIKAN PERDAMAIAN SEBAGAI BAGIAN DARI PROGRAM DERADIKALISASI: SEBUAH UPAYA PENCEGAHAN GERAKAN TERORISME PEACE EDUCATION AS A PART OF DERADICALIZATION PROGRAM: AN EFFORT TO PREVENT TERRORIST MOVEMENT
0
0
24
STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR MATA PELAJARAN SEJARAH SMAN 1 BINUANG
0
0
10
ECONOMIC ORDER QUANTITY DAN PURCHASING PRICE UNTUK PRODUK DEFECT DAN BACKORDER KETIKA PEMERIKSAAN DARI BUYER KE SUPPLIER
0
0
7
1 PRAKTEK PERTANGGUNGJAWABAN KEJAHATAN PERUSAHAAN (CORPORATE CRIME LIABILITY) DALAM KASUS BONGKAR MUAT BARANG DARI DAN KE ATAS KAPAL DI PELABUHAN ARTIKEL
0
0
21
BADAN HUKUM PENDIDIKAN (BHP) DITINJAU DARI PERSPEKTIF AKUNTANSI
0
0
9
Show more