Konferensi Nasional Ilmu Komputer KONIK

 0  0  8  2018-09-16 23:04:19 Report infringing document

  Konferensi Nasional Ilmu Komputer (KONIK) 2014

PEMANFAATAN SISTEM PAKAR SEBAGAI REKOMENDASI

MEMILIH PROGRAM STUDI BERDASARKAN

ANALISA PSIKOMETRI

  3) Abstrak

  Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa, bakat seseorang bila dibina atau dilatih dengan baik akan menjadikan manusia yang dapat

  (Giftedness) adalah suatu potensi bawaan yang memerlukan binaan guna mencapai prestasi sesuai dengan prestasinya ” [7].

  Monk (2000) mejelaskan bahwa “keberbakatan

  potensi atau kemampuan kalau diberikan kesempatan untuk dikembangkan melalui belajar akan menjadi kecakapan yang nyata ” [4].

  Fenomena salah memilih Program Studi dikarenakan kurang pahamannya mahasiswa terhadap bakat yang mereka miliki. Ini akan menimbulkan kesulitan bagi mahasiswa dalam penyesuaian di lingkungan belajar, tidak dapat mengoptimalkan semua potensi dan kemampuan yang dimiliki, prestasi belajar lebih rendah dari yang seharusnya dapat dicapai, serta cenderung lambat dalam menyelesaikan studinya. Jika kasus salah memilih Program Studi ini terus dibiarkan, maka akan berpengaruh terhadap pencapaian prestasi belajar mahasiswa pada Program Studi yang dipilih. Setiap manusia memiliki bakat. Bakat (aptitude) merupakan potensi (potensial ability). Bakat yang dimiliki merupakan potensi yang perlu dikembangkan atau dilatih agar dapat mencapai prestasi. Ada berapa pendapat para ahli tentang bakat, yaitu : Kartono K (1995:2) menyatakan bahwa “bakat adalah

  Sering kita menghadapi kondisi dimana sebagian dari mahasiswa sulit memahami materi ajar yang kita (dosen) berikan. Padahal materi, modul, latihan, tugas dan quiz sudah kita berikan dengan sebaik-baiknya. Hal ini harusnya menjadi perhatian mengapa hal tersebut selalu terjadi. Perhatian tertuju pada potensi diri mahasiswa itu sendiri, dimana dari hasil dari tanya jawab yang telah dilakukan, tidak sedikit alasan dari mereka adalah merasa salah memilih Program Studi. Pada dasarnya mereka tidak dapat memberikan alasan mengapa mereka mengambil Program Studi tersebut, padahal bila dianalisa lebih lanjut, ternyata pilihan tersebut tidak sesuai dengan bakat dan minat mereka yang sebenarnya. Karena sudah terlajur kuliah untuk beberapa semester, kebanyakan mahasiswa terus melanjutkan kuliahnya, walaupun dengan kondisi memaksakan diri (tidak mampu mencapai prestasi akademik yang maksimal).

  Kata kunci : Sistem pakar, Model pohon keputusan, analisa psikometri.

  Sistem pakar merupakan sistem yang memanfaatakan teknologi informasi untuk menghasilkan analisa yang mendekati pemikiran seorang pakar. Sistem pakar yang kini banyak dikolaborasikan dengan berbagai disiplin ilmu dapat membantu dalam mengahasilkan keputusan atau output yang cepat dan tepat. Diangkat dari permasalahan yang sering terjadi pada calon mahasiswa, yaitu kesulitan dalam menentukan program studi yang akan diambil, perlu dilakukan upaya pembimbingan terhadap calon mahasiswa tersebut agar dapat menentukan program studi yang sesuai berdasarkan potensi diri yang mereka miliki. Analisa psikometri dapat menganalisa indikator IQ dan bakat. Ini merupakan teknik yang tepat untuk mengetahui dan menggali potensi diri siswa. Selain itu pemanfaatan sistem pakar yang didukung oleh teknologi informasi dapat mempermudah siswa untuk mengetahui hasil analisa IQ, dan bakat dengan mudah. Proses awal analisa psikometri dilakukan dari tahapan penyusunan konstruksi skala aitem. Dengan cara komputasi koefisien korelasi aitem total dan pengujian signifikasi hasil korelasi dengan menggunakan uji-t, diharapkan dapat menghasilkan aitem yang valid dan reliabel. Selanjutnya membangun kepakaran, perlu dilakukan analisa sistem pakar yang mencakup kegiatan pendefenisian basis pengetahun dan mesin inferensi. Alternatif pemecahan masalah akan direpresentasikan dalam model pohon keputusan (decision tree).

   aputra@gmail.com

  Terttiaavini 1)

  

  3)

Jl. Jend. Sudirman No 629 Km. 4 Palembang, 30128

Ema

   3)

Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indo Global Mandiri

  Fakultas Teknik, Universitas Indo Global

  2)

  1),

Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indo Global Mandiri

  , Rita Wiryasaputra 3)

  Sumi Amariena Hamim 2)

1. Pendahuluan

  Konferensi Nasional Ilmu Komputer (KONIK) 2014

2. Pembahasan

  mencapai prestasi maksimal dibidangnya. Tetapi masalahnya adalah “apakah semua orang bisa mengetahui bakatn ya ?”. Untuk mengetahui potensi bakat seseorang tidaklah mudah, karena ada perbedaan yang mendasar antara bakat dan minat. Terkadang minat diartikan sebagai bakat, padahal minat bukanlah bakat. Minat sangat dipengeruhi oleh lingkungan teman. Sedangkan bakat merupakan bawaan genetik seseorang. Saat ini banyak sekali jasa konsultasi psikologi yang dapat mendiskripsikan potensi bakat seseorang. Dengan mengunggulkan pemakaian teknologi dan metode yang dianggap akurat untuk membaca karaktek seseorang, namun hal ini harus sebanding dengan jasa konsultasi yang ditawarkan.

2.1. Landasan Teori 1) Analisa Psikometri

  Menurut ilmu Psikologi bakat merupakan bawaan genetik dan dapat diukur dengan menggunakan pengukuran karakter psikometri. Analisa Psikometri dilakukan dengan penggunakan alat tes semacam psikotes. Hasil dari pengukuran tersebut dapat memberikan gambaran Program Studi yang sesuai dengan bakatnya. Untuk mencapai hasil penilaian yang akurat dalam menentukan Program Studi yang tepat, tidak cukup hanya berdasarkan bakat. Bakat merupakan potensi kecerdasan yang tersembunyi yang tidak bisa diukur Menurut Ifa H Misbah (2010) menyatakan bahwa “Intelegensia tidak sama dengan IQ (inteligent quotient).

  IQ merupakan hasil pengukuran kecerdasan yang sudah dipengaruhi oleh lingkungan (latar belakang pendidikan, pola asuh, proses belajar, emosi dan motivasi) sedangkan intelegensia merupakan kecerdasan dalam bentuk potensi yang belum mendapatkan intervensi lingkungan yang dinamakan bakat

  ” [6] . Dalam analisa psikologi, pengukuran IQ dapat dilakukan dengan tes IQ. Gabungan dari tes IQ dan bakat dapat disinergikan untuk menentukan Program Studi yang sesuai dengan kemampuan dan kepribadian mereka. Teknik penyelesaian masalah yang tepat untuk penelitian ini, yaitu dengan menggunakan analisa sistem pakar. Sistem pakar merupakan metode pemecahan masalah dengan prinsip-prinsip yang hasilnya sama dengan pemikiran para ahli/psikolog. Dengan menggunakan pohon keputusan (decision tree), dapat dibuat aplikasi dengan menggunakan konsep pohon keputusan. Dengan memetakan berbagai alternatif- alternatif pemecahan masalah akan berakhir pada ujung cabang yang merupakan rekomendasi tentang Program Studi yang tepat bagi calon mahasiswa. Kesimpulan inilah yang diharapkan nantinya dapat menjadi masukkan / rekomendasi bagi calon mahasiswa. Berdasarkan permasalah diatas maka dapat disimpulkan bahwa tujuan dari penelitian ini adalah membangun Sistem kepakaran untuk untuk menentukan Program Studi yang sesuai bagi calon mahasiswa berdasarkan test IQ dan bakat.

  Menurut Saifuddin (1999) Psikometri adalah ilmu tentang teori pengukuran psikologis [1]. Ruang lingkup Psikometri adalah masalah pengembangan teori dan model tes serta pengembangan dasar-dasar evaluasi terhadap kualitas tes. Pada tahap aplikasinya, teori Psikometri memberikan landasan fundamental dalam perancangan dan pengembangan tes psikologis, sehingga metode-metode konstruksi tes berkembang maju dan dapat menghasilkan berbagai bentuk tes psikologi yang valid dan reliabel. Guna mencapai tingkat objektivitas yang tinggi, penelitian ilmiah mensyaratkan penggunaan prosedur pengumpulan data yang akurat dan terpercaya melalui analisa kuantitatif dengan melalui proses pengukuran yang tinggi validitas, reliabilitas, objektif dan juga sistematik Alur kerja dalam membuat konstruksi skala psikologi diilustrasikan pada gambar_1. Identifikasi Tujuan Ukur Menetapkan konstrak teoritik Pembatasan Domain Ukur Merumuskan aspek kepribadian

  Operasionalisasi Aspek Menghimpun indikator keprilakuan Penulisan Aitem Reviuw aitem Uji coba bahasa Evaluasi Kualitatif Field Test Evaluasi kuantitatif Seleksi Aitem Estimasi Reliabilitas Validasi Konstrak Kompilasi Final Kisi-kisi (Blue Print) & Spesifikasi Skala Pensklalaan Sumber : Saifuddin Azwar (2011)

  Gambar_1. Alur Kerja dalam penyusunan Skala psikologi

  Uraian kegiatan pada tahapan kerja penyususna skala psikologi adalah [2]. [1] Identifikasi tujuan ukur, yaitu menentukan variabel ukur dalam bentuk konstrak (Dimensi perilaku) yang mendasari atribut dari analisa psikologi yang hendak diukur. [2] Pembatasan domain ukur, berdasarkan konstrak yang didefenisikan tersebut, perlu dijabarkan kembali kedalam bentuk keperilakuan yang lebih konkret yaitu bentuk Domain ukur (Indikator Prilaku). [3] Operasionalisasi Aspek, Himpunan indikator- indikator keperilakuan beserta dimensi yang diwakilinya, kemudian dituangkan dalam kisi-kisi atau blue-print dengan spesifikasi skala (format stimulus), sebagai acuan dalam penyusunan aitem. [4] Penulisan Aitem, Berdasarkan pendapat para ahli jumlah aitem yang diusulkan minimal 3 kali dari jumlah seluruh aitem. Hal ini dimaksud agar saat penyusunan skala, tidak kehabisan aitem akibat gugurnya aitem- aitem yang tidak memenuhi persyaratan. sebelum penulisan aitem, perancang skala perlu menetapkan bentuk atau format stimulus (aitem) yang hendak

  Konferensi Nasional Ilmu Komputer (KONIK) 2014

  mekanisme fungsi berpikir dan pola-pola penalaran sistem yang digunakan oleh seorang pakar (Turban, 1995) [9]. Mekanisme ini akan menganalisa suatu masalah tertentu dan selanjutnya akan mencari jawaban atau kesimpulan terbaik. Ada dua teknik yang dapat dikerjakan dalam melakukan inferensi, yaitu :

  Representasi pengetahuan adalah suatu teknik untuk merepresentasikan basis pengetahuan yang diperoleh ke

  Teknik Representasi Pengetahuan

  [4] Antarmuka Pemakai (User Interface) Fasilitas ini digunakan sebagai perantara komunikasi antara pemakai dengan komputer.

  [3] Basis Data (Data Base) Basis data terdiri atas semua fakta yang diperlukan, dimana fakta tersebut digunakan untuk memenuhi kondisi dari kaidah-kaidah dalam sistem. Basis data menyimpan semua fakta, baik fakta awal pada saat sistem mulai beroperasi, maupun fakta-fakta yang diperoleh pada saat proses penarikan kesimpulan sedang dilaksanakan. Basis data digunakan untuk menyimpan data hasil observasi dan data lain yang dibutuhkan selama pemrosesan.

  3) Best-first search , bekerja berdasarkan kombinasi kedua metode sebelumnya.

  ke level yang lebih tinggi. Proses ini dilakukan terus hingga solusinya ditemukan atau jika menemui jalan buntu.

  2) Depth-first search , Pencarian dimulai dari simpul akar

  akar terus ke level 1 dari kiri ke kanan dalam 1 level sebelum berpindah ke level berikutnya.

  1) Breadth-first search , Pencarian dimulai dari simpul

  Pencocokan fakta atau pernyataan dimulai dari bagian sebelah kanan (THEN dulu). Dengan kata lain, penalaran dimulai dari hipotesis terlebih dahulu, dan untuk menguji kebenaran hipotesis tersebut harus dicari fakta- fakta yang ada dalam basis pengetahuan. Kedua metode inferensi tersebut dipengaruhi oleh tiga macam penelusuran, yaitu Depth-first search, Breadth-first search dan Best-first search.

  b. Backward Chaining

  Pencocokan fakta atau pernyataan dimulai dari bagian sebelah kiri (IF dulu). Dengan kata lain, penalaran dimulai dari fakta terlebih dahulu untuk menguji kebenaran hipotesis.

  a. Forward Chaining

  [2] Mesin Inferensi (Inference Engine) Mesin inferensi adalah bagian yang mengandung

  digunakan. Format stimulus ini erat berkaitan dengan metode penskalaannya. [5] Evaluasi Kualitatif, bertujuan untuk menguji apakah aitem yang ditulis sudah sesuai dengan blueprint dan indikator perilaku yang hendak di ungkapnya, menguji apakah aitem telah ditulis sesuai dengan kaidah penulisan yang benar, dan menilai apakah aitem mengandung social desirability yang tinggi. Dalam kegiatan ini perlu dilakukn konsultasi dengan ahli psikologi. [6] Evaluasi Kuantitatif, melakukan pengujian kualitas aitem secara empirik dengan cara melakukan analisis kuantitatif terhadap parameter-parameter aitem. Pada tahap ini akan dilakukan analisis daya diskriminasi aitem dengan cara menghitung kooefisien korelasi antara distribusi skor aitem dengan distribusi skor skala itu sendiri. Komputasi ini akan menghasilkan koefisien korelasi aitem total (r

  Ada empat komponen yang membentuk sistem pakar yaitu : [1] Basis Pengetahuan (Knowledge Base) Basis pengetahuan merupakan inti dari suatu sistem pakar, yaitu berupa representasi pengetahuan dari pakar. Basis pengetahuan tersusun atas fakta dan kaidah. Fakta adalah informasi tentang objek, peristiwa, atau situasi. Kaidah adalah cara untuk membangkitkan suatu fakta baru dari fakta yang sudah diketahui.

  Menurut Sri Kusumadewi, (2003) Secara umum, sistem pakar (expert system) adalah sistem yang berusaha mengadopsi pengetahuan manusia ke komputer, agar komputer dapat menyelesaikan masalah seperti biasa yang dilakukan oleh para ahli. Sistem pakar yang baik dirancang agar dapat menyelesaikan suatu permasalahan tertentu dengan meniru kerja dari para ahli [8].

  [8] Kompilasi final, dimaksudkan untuk menyiapkan tampilan dan informasi yang menarik agar memudahkan bagi responden membaca dan menjawab instrumen yang diberikan.

  [7] Seleksi Aitem dan Validasi Konstrak Dari hasil uji evaluasi kuantitatif, dihasilkan aitem-aitem yang dinyatakan valid atau tidak valid. Namun sebelum aitem tersebut digunakan, perlu dilakukan seleksi aitem kembali oleh para panel, untuk lebih meyakinkan bahwa aitem-aitem tersebut sudah teruji dan dapat digunakan sebagai alat ukur.

  ........................ (2)

  = nilai data ke-i untuk kelompok variabel X yi = nilai data ke-i untuk kelompok variabel Y n = banyak data Kemudian, untuk menguji signifikan hasil korelasi digunakan uji-t. Adapun kriteria untuk menentukan signifikan dengan membandingkan nilai t-hitung dan t- tabel. Jika t-hitung > t-tabel, maka dapat kita simpulkan bahwa butir item tersebut adalah valid. Rumus mencari t-hitung yang digunakan adalah:

  i

  = koefisien korelasi antara variable X dan variabel Y x

  xy

  Dengan : r

   ........................ (1)

  ) dengan menggunakan rumus korelasi produk momen Pearson yaitu

  xy

2) Sistem Pakar

2.2. Analisa Informasi 1) Penyusunan konstruksi skala aitem

  Tabel_2. Penyusunan Skala item Konstrak (Dimensi perilaku) Domain Ukur (Indikator prilaku) Indikator keprilakuan Tipe tes Aspek yang diukur

  Mengukur kemampuan mengenal barang- barang kongkrit melalui proses penglihatan, khususnya mengenai barang secara diukur adalah kemampuan fleeksibilitas dalam berpikir, daya mengkombinasikan,

  Mengukur pembentukan keputusan, common sense, penekanan pada praktis-konkrit, pemaknaan realitas, dan berpikir secara berdikari/ mandiri. Mencari kata yang berbeda (B2) Mengukur kemampuan bahasa, perasaan empati, berpikir induktif menggunakan bahasa, dan memahami pengertian bahasa Mencari hubungan Kata (B3)

  Tipe objektif, dengan pola tes pilihan berganda

  Bakat Melengkapi Kalimat (B1)

  (Q11) Menulis angka berdasarkan simbol yang telah ditentukan

  (Q10) Mengatur gambar menjadi urutan yang benar dari gambar yang dimaksud Simbol angka

  Mengatur gambar acak menjadi suatu alur cerita Perakitan Objek

  (Q9) Tes menjawab dng isian

  Mengulangi urutan angka yang telah di tampilkan Hitungan (Q7) Menghitung sederetan angka Kelengkapan gambar (Q8) Mengingat kembali angka yg hilang Susunan gambar

  (Q6) Tipe Subjektif, berpola

  Balok (Q5) Menentukan pola suatu benda Rentang angka

  Menentukan tindakan berdasarkan suatu kasus Kesamaan (Q4) Membandingkan kesamaan 2 benda Rancangan

  Pemahaman pengetahuan umum Kosa kata (Q2) Mencari padanan kata yang sesuai Pemahaman (Q3)

  IQ / Intelegensia Informasi (Q1) Tipe objektif, dengan pola tes pilihan berganda

  Tahapn yang dilakukan dalam konstruksi skala aitem yaitu : [1] Identifikasi tujuan ukur. Konstrak Atribut aitem yang diukur adalah IQ adan bakat. [2] Pembatasan domain ukuran (Konstrak). Pembatasan domain ukur (indikator keprilakuan) untuk masing- masing skala dapat dilihat pada tabel_6.

  Sumber : Panduan pelaksanaan penelitian dan PPM edisi IX

  Knowledge, Frame-Based Knowledge, Object-Based Knowledge, Case-Base Reasoning.

  Konferensi Nasional Ilmu Komputer (KONIK) 2014

  dalam suatu skema/diagram tertentu sehingga dapat diketahui relasi/keterhubungan antara suatu data dengan data yang lain. Teknik ini membantu knowledge

  akan dibuat sistem pakarnya. Terdapat beberapa teknik representasi pengetahuan yang biasa digunakan dalam pengembangan suatu sistem pakar, yaitu Rule-Based

  engineer dalam memahami struktur pengetahuan yang

3) Program Studi

  Program Studi adalah pengelompokan sejumlah mata pelajaran yang sejenis atau memiliki ciri yang sama (mata pelajaran yang telah berkorelasi dengan satu dengan yang lainnya) (sumber : kamusbesar.com)

   [5].

  Menurut buku panduan Panduan pelaksanaan penelitian dan PPM edisi IX (2013) klasifikasi Program Studi [3] adalah sebagai berikut :

  Tabel_1. Daftar rumpun ilmu Rumpun Ilmu Rumpun Ilmu

  Matematika dan Ilmu Pengetahuan alam (MIPA)

  • Ilmu IPA

  • Matematika - Kebumian dan angkasa Ilmu Bahasa - Sub rumpun ilmu sastra (dan bahasa) indonesia dan daerah
  • Ilmu Bahasa - Ilmu bahasa Asing Ilmu Tanaman - Ilmu pertanian dan perkebunan
  • Ilmu ekonomi
  • Ilmu Manajeman Ilmu Hewani - Ilmu Peternakan - Ilmu perikanan
  • Teknologi dalam ilmu tanaman
  • Ilmu Sosiologi pertanian
  • Ilmu kehutanan Ilmu ekonomi

  • Ilmu politik
  • Ilmu sosial Ilmu Kedokteran - Ilmu kedokteran Spesialis - Ilmu kedokteran (akademik)
  • Ilmu Kedokteran hewan Ilmu sosial humaniora

  • Ilmu pengetahuan (ilmu) agama

  • Ilmu spesialis kedokteran gigi dan mulut
  • Ilmu filsafat Ilmu Kesehatan - Ilmu kesehatan umum
  • Ilmu kedokteran gigi dan akademik Agama dan filsafat
  • Ilmu seni pertunjukan
  • Ilmu keperawatan dan kebidanan
  • Ilmu kesenian
  • Ilmu seni kriya
  • Ilmu Psikologi - Ilmu Farmasi Ilmu seni, Desai dan media
  • Ilmu media
  • Desain Ilmu Teknik - Teknik sipil dan perencanaan tata ruang
  • Ilmu pendidikan bahasa dan sastra
  • Ilmu keteknikan industri
  • Ilmu pendidikan olah raga dan kesehatan
  • Teknologi kebumian
  • Ilmu perkapalan Ilmu Pendidikan - Pendidikan ilmu sosial
  • Ilmu pendidikan teknologi dan kejuruan
  • Ilmu pendidikan

  • Teknik elektro dan informatika

  • Ilmu pendidikan kesenian

  Konferensi Nasional Ilmu Komputer (KONIK) 2014 mendeteksi dan memindahkan hubungan- hubungan, serta kejelasan dan kekonsekuenan dalam berpikir. Mencari kata yang mencakup dua pengertian (B4)

  4 Semua wanita menggunakan make-up. Semua presenter menggunakan make-up. Aji bukan seorang wanita. Aji menggunakan make-up. Pernyataan yang sesuai dengan pernyataan diatas adalah a. Aji adl seorang presenter

  tabel

  Dari perhitungan t hitung , selanjutnya akan dibandingkan dengan koefisien t

  Tabel_4. Uji Validasi Aitem

  ) untuk masing-masing aitem. Hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel_4 [7] Seleksi Aitem (Estimasi Reliabilitas). Penyeleksian aitem mengunakan rumus koefisien validasi aitem. Hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel_4.

  xy

  guna mengetahui apakah kalimat yang digunakan dalam aitem mudah dapat dipahami dengan benar sebagai mana yang diinginkan oleh peneliti. Pada penelitian ini uji coba bahasa akan dilakukan kepada 300-500 sampel. Data yang dikumpulkan akan digunakan untuk menentukan validasi dan reliabilitas suatu aitem. [6] Field test (evaluasi kuantitatif) Pada tahap ini dihitung nilai koefisien korelasi aitem total (r

  d. Andre Anggota Pramuka Tahap kedua : Aitem akan dievaluasi secara kualitatif

  c. Andre anggota Palang merah remaja yg tdk mengerti P3

  b. Andre mengerti P3K

  a. Andre bukan anggota palang merah

  5 Andre anggota Palang Merah Remaja. Sebagian Anggota Palang merah Remaja mengerti tentang P3K. Andre tidak mengerti P3K

  d. Aji bukan presenter

  c. Aji bkn seorang laki-laki

  b. Aji adalah seorang wanita

  d. Khusus : special : umum

  Mengukur kemampuan abstraksi verbal, kemampuan untuk menyatakan pengertian akan sesuatu dalam bentuk bahasa, membentuk suatu pengertian atau mencari inti persoalan, serta berpikir logis dalam bentuk bahasa

  Tahap pertama : Aitem yang telah dirancang dikonsultasikan terlebih dahulu dengan ahli psikologi.

  Hitungan Sederhana (B5) Mengukur kemampuan berpikir praktis dalam berhitung, berpikir induktif, reasoning, dan kemampuan mengambil kesimpulan

  Deret Angka (B6) Melihat cara berpikir teoritis dengan hitungan, berpikir induktif dengan angka-angka, serta kelincahan dalam berpikir Menyusun bentuk (B7) Melihat kemampuan dalam membayangkan, kemampuan mengkonstruksi (sintesa dan analisa), berpikir konkrit menyeluruh, serta memasukkan bagian pada suatu keseluruhan. retention ).

  Kubus (B8) Mengukur daya bayang ruang, kemampuan tiga dimensi, analitis, serta kemampuan konstruktif teknis

  Mengingat Kata (B9) Mengukur daya ingat, konsentrasi yang menetap, dan daya tahan.

  [3] Operasionalisasi aspek (Indikator Keprilakukan) Tahap ini dilakukan pendefenisian domain ukur. Domain ukur akan dijabarkan menjadi beberapa aspek yang akan menjadi dasar pembentukan aitem instrumen penelitian. Adapun aspek yang diukur didefenisikan pada tabel_6. [4] Penulisan aitem (review aitem). Berikut adalah sebagian contoh aitem untuk indikator Informasi yang diusulkan beserta skala pengukurannya.

  [5] Uji coba bahasa (Evaluasi Kualitatif). Evaluasi kualitatif dilakukan melalui dua tahap :

  Ahli psikologi yang membantu penelitian ini adalah Anrillia Ema, M.E.d., Psi. Adapun contoh aitem yang diusulkan diuraikan pada tabel_3.

  c. Jelek : Indah : Lukisan

  Tabel_3. Aitem dan penskalan aitem No Item Aitem

  1 Seringgit sama dengan 2 ½ Rupiah, satu ketip sama dengan

  a. 1 Rupiah b. 10 Rupiah c. 5 Rupiah d. 10 Sen

  2 Suatu keadaan tak menentu, tentang turun naiknya tingkat harga ? a. Inflasi b. Resesi c. Fluktuasi d. Devaluasi 3 SEDIKIT : BANYAK : RIBUAN = .......

  a. Tidak : mau sama : sekali

  b. Jarang: Kadang-kadang: Sering

  , deng an α = 0.05. Dari hasil perbandingan tersebut dapat tentukan aitem yang valid

2) Analisa Sistem Pakar [1] Basis pengetahuan

  Akusisi pengetahuan

  valid dan tidak valid.

  Basis pengetahuan merupakan proses untuk mengumpulkan data-data pengetahuan akan suatu masalah dari Pakar. Bahan pengetahuan dalam penelitian ini adalah

  Kesesuain hasil tes IQ terhadap tingkat pendidikan

  Kemampuan intelegensi (IQ) seseorang sangat menentukan jalur dominan tingkat pendidikan siswa. Semakin tinggi IQ seseorang, maka semakin tinggi pula kemampuan untuk berfikir dan memecahkan masalah. Dari hasil analisa ahli psikologi tingkat pendidikan yang sesuai dengan tingkat IQ seseorang dapat dilihat pada tabel_5.

  Tabel _5. Klasifikasi IQ dan Tingkat Pendidkan Kesesuain Rumpun Ilmu dengan Domain Ukur

  Untuk merumuskan rumpun ilmu berdasarkan Domain ukur, tahap ini merupakan hasil dari penalaran ahli Psikologi. Ahli psikologi merumuskan pontensi yang harus dimiliki seseorang untuk menentukan jurusan. Analisa ini menjadi basis pengetahuan sistem pakar. Tabel_6 merupakan hasil dari analisa yang dilakukan oleh ahli psikologi.

  Tabel_6. Kesesuain Rumpun Ilmu dengan Domain Ukur

  Gambar_2. Pohon keputusan Bisnis Rule

  Konferensi Nasional Ilmu Komputer (KONIK) 2014

  Pengetahuan yang diperoleh dari pakar dapat direpresentasikan sebagian dalam bentuk pohon keputusan. Teknik representasi pengetahuan yang digunakan adalah Case-Base Reasoning dan Inferencing dengan rule menggunakan Forward chaining. Karena kurangnya tempat penyajian untuk seluruh alternatif pemecahan masalah, dimungkinkan hanya mengambil contoh satu jalur keputusan saja, sebagaimana terlihat pada gambar_2.

  Perhitungan score

  Berdasarkan konstrak (lihat tabel_2), maka domain ukur untuk tes IQ dan bakat terdiri dari 20 indikator. Dari masing- masing indikator memiliki 5 aitem. Sehingga jumlah seluruh aitem = 200. Proses perhitungan skor untuk tes yaitu diberi nilai 1 (satu) bila benar dan 0 (Nol) bila salah.

  • Calon Mahasiswa harus menyelesaikan seluruh test sampai selesai.
  • Ouput dari Tes adalah deskripsi dari nilai masing- masing indikator dan Rekomendasi Program Studi.
  • Calon mahasiswa dapat melakukan test lebih dari satu kali.
  • Pengetahuan dapat ditambah berdasarkan hak atas knowledge enginer.
  • Rule Proses pertama yang dilakukan user adalah menjalankan Tes IQ. Hasil tes IQ disimpan pada variabel IQ. Berdasarkan nilai IQ ditentukan : Aturan T1. Membandingkan Nilai IQ dengan tingkat IQ dengan ketentuan :

  Mekanisme inferensi mengandung suatu pola pikir dan penalaran yang digunakan dalam menyelesaikan suatu masalah, dalam hal ini beberapa ketentuan yang dapat diambil menjadil suatu kesimpulan berdasarkan manifestasi yang dimasukkan oleh calon Mahasiswa adalah :

  Untuk masing-masing rumpun ilmu memiliki ciri kemampuan yang harus menonjol dari pada kemampuan lainnya.

  IF (IQ > 96) AND (

  IQ ≤ 105) THEN kerjakan Rule T21 ELSE IF (IQ > 105) AND (

  IQ ≤ 110) THEN kerjakan Rule T22

  [2] Mesin Inferensi

  Konferensi Nasional Ilmu Komputer (KONIK) 2014

  = “Ilmu Desain dan media”

  IF (B=B1) OR (B=B3) OR (B=B5) OR (B=B6) THEN next i ELSE kerjakan Rule T218 End For R

  = “Ilmu Ekonomi”

  Aturan T218

  For i = 1 to 4 do

  IF (B=B1) OR (B=B3) OR (B=B4) OR (B=B9) THEN next i ELSE kerjakan Rule T219 End For R

  = “Ilmu Sosial Humaniora”

  Aturan T219

  For i = 1 to 4 do

  IF (B=B3) OR (B=B6) OR (B=B7) OR (B=B8) THEN next i ELSE kerjakan Rule T210 End For R

  Aturan T220

  Aturan T217

  For i = 1 to 3 do

  IF (B=B3) OR (B=B7) OR (B=B8) THEN next i ELSE kerjakan Rule T211 End For R

  = “Ilmu Hewani”

  Aturan T211

  R = “Ilmu Pendidikan” Proses yang sama berlaku untuk simpul T22 dan T23

  Aturan T211.. T21n

  Pada tahap ini, rumpun ilmu (R) sudah diketahui. Dari masing-masing rumpun ilmu, terdiri dari beberapa program studi. Penentuan spesifikasi program studi tersebut berdasarkan variabel minat. Dari variabel tersebut dapat dibandingkan dan disimpulkan. Kesimpulan tersebut merupakan rekomendasi program studi bagi calon mahasiswa.

  [3] Rancangan Antar muka

  Membangun antar muka harus memperharikan unsur - unsur : Simplicity, Familiarity, Responsiveness,

  Robustness , Protection dan Easy Of Learning and easy of Use. Gambar_3 merupakan rancangan tampilan Tes

  For i = 1 to 4 do

  = “Ilmu Bahasa”

  ELSE IF (IQ > 110) THEN kerjakan Rule T23 ELSE Selesai Proses kedua yang dilakukan user adalah menjalani Tes Bakat. Hasil dari Tes Bakat disimpan pada variabel TB1...TB9. Kemudian dilakukan pengurutan secara menurun (descending) terhadap nilai-nilai tersebut.

  IF (B=B1) OR (B=B3) OR (B=B4) OR (B=B7) OR (B=B8) THEN next i ELSE kerjakan Rule T214 End For R

  Nilai tertinggi pertama akan dibandingkan dengan nilai kesesuaian domain ukur (ketentuan berdasarkan tabel_6).

  Aturan T21.

  Membandingkan Nilai tes tertinggi_1 sampai ke tertinggi_n dengan nilai kesesuaian domain ukur, ketentuan : For i = 1 to 7 do

  IF (B=B1) OR (B=B3) OR (B=B4) OR (B=B5) OR (B=B6) OR (B=B7) OR (B=B8) THEN next i ELSE kerjakan Rule T212 End For R

  = “Ilmu Teknik”

  Aturan T212

  For i = 1 to 6 do

  IF (B=B3) OR (B=B4) OR (B=B5) OR (B=B6) OR (B=B7) OR (B=B8) THEN next i ELSE kerjakan Rule T213 End For R = “Ilmu MIPA”

  Aturan T213

  For i = 1 to 5 do

  = “Ilmu Kedokteran”

  IF (B=B2) OR (B=B3) OR (B=B4) OR (B=B9) THEN next i ELSE kerjakan Rule T217 End For R

  Aturan T214

  For i = 1 to 4 do

  IF (B=B3) OR (B=B4) OR (B=B7) OR (B=B8) THEN next i ELSE kerjakan Rule T215 End For R

  = “Ilmu Tanaman”

  Aturan T215

  For i = 1 to 4 do

  IF (B=B1) OR (B=B3) OR (B=B4) OR (B=B9) THEN next i ELSE kerjakan Rule T216 End For R

  = “Ilmu Kesehatan”

  Aturan T216

  For i = 1 to 4 do

  IQ.

  Konferensi Nasional Ilmu Komputer (KONIK) 2014 [6] Misbach, Ifa H. (2010). Dasyatnya sidik jari menguak bakat & potensi untuk merancang masa depan melalui Fingerprint Analysis . Cetakan kedua. Transmedia Pustaka

  [7] Mongks, F. J. , Knoers, A. M. P. , & Haditono, S. R. (2000).

  Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam berbagai bagiannya .

  Cetakan 14. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. [8] Sri Kusumadewi, “ Artifical intelligence (teknik dan aplikasinya)” penerbit graham ilmu,Yogyakarta 2003. [9] Turban, Efraim,1995, Decision Support System and Expert System,

  Gambar_3. Rancangan Tampilan Tes IQ 4th ed., Prentice-Hall, Inc., New Jersey, pp 472-679

  Hasil akhir dari test psikotest tersebut berupa laporan dari masing-masing nilai indikator prilaku dan rekomendasi Program Studi dapat dilihat pada gambar_4 dan gambar_5.

  Gambar_4. Rancangan Tampilan Hasil Tes IQ Gambar_5. Rancangan Tampilan Hasil Tes Bakat

3. Kesimpulan

  Hasil dari penelitian menyimpulkan bahwa : 1.

  Analisa psikometri dapat digunakan sebagai basis pengetahuan Sistem Pakar.

  2. Hasil pengujian IQ dan Bakat seseorang, dapat disinergikan menjadi dasar penentuan Program studi yang sesuai dengan potensi diri yang dimiliki calon mahasiswa.

  Daftar Pustaka [1] Azwar, Syaifuddin. (1999). Dasar-Dasar Psikometri. Pustaka

  Pelajar.Yogyakarta [2] Azwar, Saifudin. (2011). Psikologi Intelegensi. cetakan VIII.

  Pustaka Pelajar. Yogyakarta [3] Dikti. (2013). Panduan pelaksanaan penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat diperguruan Tinggi. Edisi IX.

  [4] Kartini Kartono. (1995). Psikologi Umum. Bandung : Maju Mundur [5]

  Kamusbesar.com. (diakses tgl 23 april 2014)

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
123dok avatar
Medownload saja
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2018-08-08

Dokumen yang terkait
Tags

Konferensi Nasional Ilmu Komputer Konik

Konferensi Nasional

Prosiding Konferensi Nasional Pengembang

Konferensi Nasional Matematika

Konferensi Nasional Sistem Informasi

Konferensi Nasional Matematika Xvi Konferensi Nasional Perempuan Membangun Bangsa Konferensi Nasional Appptm Di Palembang

Konferensi Nasional Sistem And Informati

Konferensi Nasional Ilmu Komputer KONIK

Gratis

Feedback