MAKALAH PELAKSANA AN KURIKULUM PENDIDIKAN

 0  0  14  2018-09-16 23:20:27 Report infringing document

  

MAKALAH

PELAKSANAAN KURIKULUM PENDIDIKAN BERBASIS KARAKTER

UNTUK MENCETAK GENERASI EMAS

  Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Ilmu Pendidikan Dosen Pengampu: Drs. Purnomo, M.Pd

  Mirna Chrismawati (1401415086)

  Rombel 07

  

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

  PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Di zaman yang semakin modern pendidikan semakin dituntut harus memberikan pelayanan yang profesional kepada publik khususnya para pelajar dan masyarakat. Hal ini dikarenakan para pengguna jasa lembaga pendidikan semakin kritis dalam memilih lembaga pendidikan sebagai tempat yang benar-benar layak untuk menimba ilmu pengetahuan.

  Disisi lain pada zaman yang semakin modern ini berbagai permasalahan yang harus di hadapi oleh lembaga pendidikan. Pertama adalah mengimbangi kemajuan ilmu informasi tekhnologi yang semakin canggih berdasarkan tingkat kualitasnya. Perubahan yang cepat ini membawa konsekuensi bahwa program pendidikan harus dipacu secepat mungkin mengikutinya. Kedua, lembaga pendidikan dituntut menciptakan atau mengeluarkan output-output yang memiliki kualitas pengetahuan yang tinggi. Tuntutan ini membawa konsekuensi bahwa lembaga pendidikan harus benar- benar mengajarkan hal yang mendasar bagi peserta didik untuk dapat berkembang secara kreatif agar dapat merespon ketidakpastian era global atau perkembangan zaman.

  Dengan adanya permasalah di atas diperlukannya lembaga pendidikan memberikan upaya-upaya penyeimbangan dan penyelesaian masalah. Bangsa Indonesia sesuai dengan cita-cita besarnya dalam pembentukan negara seperti yang termaktub dalam pembukaan UUD RI tanggal 17 Agustus 1945 adalah menjadi negara adil dan makmur. Adil diartikan terselenggaranya hukum dengan baik dan beradab, makmur berarti tercukupinya kebutuhan sandang, pangan, papan. Artinya bahwa sesuai dengan cita-cita pembentukan negara, Indonesia dicita-citakan menjadi negara belum sepenuhnya dipenuhi, meskipun kita sadari telah terjadi kemajuan dan capaian yang telah diraih di bidang politik, keamanan, ekonomi, dan kesejahteraan rakyat. Namun kita harus tetap sadar dan lebih meningkatkan kemauan dan kemampuan kita karena ke depan masih banyak persoalan dan tantangan yang lebih kompleks yang harus diselesaikan.

  Upaya kuat seluruh anak bangsa dengan semangat nasionalisme dalam mewujudkan cita-cita harus tetap dilakukan secara sistematik, sistemik dan berkelanjutan, meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan. Meningkatkan komitmen menjadikan pendidikan sebagai sarana utama untuk menuju terwujudnya bangsa Indonesia sebagai bangsa yang mandiri dan berdaya saing tinggi.

  Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dan strategis dalam pembangunan nasional. Oleh karena itu pemerintah bertekad memberikan perhatian yang besar pada pembangunan pendidikan. Sampai saat ini, pemerintah telah mengambil berbagai terobosan kebijakan pendidikan berskala besar. Kita semua menyadari, bahwa hanya melalui pendidikanlah bangsa kita menjadi maju dan dapat mengejar ketertinggalan dari bangsa lain,baik dalam bidang sains dan teknologi maupun ekonomi. Peran pendidikan penting juga dalam membangun peradaban bangsa yang berdasarkan atas jati diri dan karakter bangsa.

  Apapun persoalan bangsa yang dihadapi komitmen kita untuk melaksanakan pembangunan pendidikan sesuai dengan amanat konstitusi dan berbagai peraturan perundangan-undangan yang berlaku tetap dipegang. Komitmen ini direalisasikan dalam berbagai kebijakan dan program yang diarahkan untuk mencapai tujuan meningkatnya kualitas sumber daya manusia demi tercapainya kemajuan bangsa dan negara di masa depan, sebagaimana yang kita cita-citakan bersama. Ini menjadi bagian penting yang menentukan perkembangan pendidikan di Indonesia guna mencetak generasi

  

1. Bagaimana pelaksanaan kurikulum pendidikan berbasis karakter di

  Indonesia?

  2. Apa saja kriteria generasi emas Indonesia?

  3. Bagaimana upaya membentuk generasi emas di Indonesia yang

  berkarakter?

1.3 Tujuan

  1. Untuk mengetahui pelaksanaan kurikulum pendidikan berbasis karakter di Indonesia.

  2. Untuk menyebutkan apa saja kriteria generasi emas Indonesia.

  3. Untuk menetahui upaya membentuk generasi emas di Indonesia yang berkarakter.

  PEMBAHASAN

2.1 Pelaksanaan Kurikulum Pendiddikan berbasis Karakter di Indonesia

  Sistem kurikulum pendidikan di Indonesia secara umum masih dititikberatkan pada kecerdasan kognitif. Hal ini dapat dilihat dari orientasi sekolah-sekolah dan instalasi lainnya yang masih disibukan dengan ujian, mulai dari ujian mid, ujian akhir hingga ujian nasional. Ditambah latihan-latihan soal harian dan pekerjaan rumah untuk memecahkan pernyataan persoalan di buku pelajaran yang biasanya tidak relevan dengan kehidupan realita yang dijalani pada kehidupan sehari-hari. Sedangkan kurikulum pendidikan yang berkaitan dengan pengetahuan moral dan nilai-nilai yang berkaitan dengan karakter masih sedikit penerapannya. Banyaknya kasus kriminalitas, seperti kasus pembunuhan remaja yang dilakukan oleh temannya sendiri, terbongkarnya berbagai kasus korupsi yang dilakukann oleh pejabat negara. Kasus kriminalitas tersebut dilakukan dari berbagai kalangan, baik muda maupun tua, berpendidikan tinggi maupun berpendidikan rendah, kaya maupun miskin. Dengan semakin meningkatnya kasus kriminalitas yang terjadi, menunjukkan semakin merosot pula moralitas bangsa Indonesia yang menjadi akar dari permasalahan ini.

  Oleh karena itu, saat ini Indonesia membutuhkan sistem kurikulum pendidikan yang dapat menanamkan nilai-nilai moral/ karakter yang baik pada generasi muda bangsa yang akan membawa Indonesia menuju menjadi negara yang maju, yaitu pendidikan karakter.

  Kurikulum pendidikan berbasis karakter adalah upaya mendidik dengan menanamkan nilai-nilai moral/ karakter yang baik kepada generasi bangsa. Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang tidak hanya megutamakan kualitas ilmu pengetahuan tetapi juga mengutamakan kualitas moral yang juga didukung oleh skill. Untuk menjalankan kurikulum pendidikan berbasis karakter dunia pendidikan pun juga harus diubah, sehingga dapat sesuai dan sejala dangan kurikulum pendidikan karakter yang diterapkan.

  Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda.

  Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pendidikan Nasional sudah mencanangkan penerapan pendidikan karakter untuk semua tingkat pendidikan, dari SD Perguruan Tinggi. Menurut Mendiknas, Prof. Muhammad Nuh, pembentukan karakterperlu dilakukan sejak usia dini. Jika karakter sudah terbentuk sejak usia dini, kata Mendiknas, maka tidak akan mudah untuk mengubah karakter seseorang. Ia juga berharap, pendidikan karakter dapat membangun kepribadian bangsa. Munculnya gagasan program pendidikan karakter di Indonesia, bisa dimaklumi. Sebab, selama ini dirasakan, proses pendidikan dirasakan masih belum berhasil membangun manusia Indonesia yang berkarakter. Bahkan, banyak yang menyebut, pendidikan telah gagal, karena banyak lulusan sekolah atau sarjana yang piawai dalam menjawab soal ujian, berotak cerdas, tetapi mental dan moralnya lemah. Banyak pakar bidang moral dan agama yang sehari-hari mengajar tentang kebaikan, tetapi perilakunya tidak sejalan dengan ilmu yang diajarkannya. Sejak kecil, anak-anak diajarkan menghafal tentang bagusnya sikap jujur, berani, kerja keras, kebersihan, dan jahatnya kecurangan. Tapi, nilai-nilai kebaikan itu diajarkan dan diujikan sebatas sebuah proses menghafal materi soal ujian, dan teknikteknik menjawabnya. Pendidikan karakter memerlukan pembiasaan. Pembiasaan untuk berbuat baik: pembiasaan untuk berlaku jujur, ksatria: malu berbuat curang; malu bersikap malas; malu membiarkan lingkungannya kotor. Karakter tidak terbentuk secara instan, tapi harus dilatih secara serius dan proporsional agar mencapai bentuk dan kekuatan yang ideal. Di sinilah bisa kita pahami, mengapa ada kesenjangan antara praktik pendidikan dengan karakter peserta didik. Bisa dikatakan, dunia Pendidikan di Indonesia kini sedang memasuki masa-masa yang sangat pelik. Kucuran anggaran pendidikan yang sangat besar disertai berbagai program terobosan sepertinya belum mampu memecahkan persoalan mendasar dalam dunia pendidikan, yakni bagaimana mencetak alumni pendidikan yang unggul, yang beriman, bertaqwa, profesional, dan berkarakter, sebagaimana tujuan pendidikan dalam UU Sistem Pendidikan Nasional.

  Dengan kekayaan sumberdaya alam yang dimiliki dan bonus demografi yang ada, maka bukan tak mungkin Indonesia menjadi salah satu poros utama kekuatan dunia di masa yang akan datang. Pemerintah Indonesia sendiri telah menyusun rencana jangka panjang untuk menyiapkan Indonesia menjadi salah satu kekuatan utama dunia pada peringatan 100 tahun kemerdekaan Indonesia. Salah satu cara mencapai visi itu adalah dengan menyiapkan sumberdaya manusia berkualitas untuk menjadi generasi emas yang dapat mengeksploitasi segala kekayaan yang dimiliki Indonesia untuk kesejahteraan rakyat Indonesia secara khusus dan bagi dunia secara umum.

  Untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia 2045, penting bagi dunia pendidikan melakukan perubahan pada pola pikir. Pendidikan tidak hanya sekadar dimaknai dengan transfer akademik (keilmuan) saja, melainkan dilengkapi dengan karakter. Keseimbangan akademik dan karakter inilah yang perlu disiapkan sejak sekarang. Keseimbangan penguasaan ilmu (akademik, keterampilan, dan karakter) merupakan faktor kunci dalam menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompetitif. Proses pembelajaran tidak cukup sekadar meningkatkan pengetahuan melalui ‘core subjects’, melainkan harus dilengkapi dengan kemampuan kritis-kreatif, karakter kuat, yang didukung pula dengan kemampuan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.Maka menjadi tugas dunia pendidikan di generasi sekarang untuk menyiapkan generasi mendatang yang lebih baik dan berkualitas, yakni generasi yang memiliki visi cemerlang dan kompetensi yang memadai serta memiliki karakter yang kokoh, kecerdasan yang tinggi dan kompetitif.

  Generasi emas 2045 merupakan generasi yang mampu membawa Indonesia pada perbaikan kehidupan bangsa menjadi bangsa yang bermartabat, harmonis, dan berkualitas. Untuk membangun generasi emas 2045 diperlukan asuhan, pendidikan, dan latihan yang efektif sejak dini agar kemampuan mereka tumbuh dan berkembang secara optimal. Generasi emas 2045 merupakan upaya bangsa Indonesia, serta melahirkan peserta didik yang berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, beriman, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Agar tujuan tersebut dapat terwujud, maka menurut Andri Yuga dalam membangun generasi emas 2014 pendidikan yang dilaksanakan harus merupakan pendidikan yang berkualitas dari segi kurikulum, pendidik, serta sarana dan prasarana yang menunjang dalam pelaksanaan pendidikan. Untuk membangun generasi emas 2045 kurikulum yang digunakan tidak hanya menekankan pada aspek kognitif saja melainkan lebih menekankan pada pendidikan karakter, kompetensi pendidikan dilaksanakan pendidik dengan proses pembelajaran yang aktif dan kreatif.

  Hal pertama yang harus dilakukan dalam membangun generasi emas 2045 adalah melalui pendidikan usia dini yang sangat diperlukan untuk mengisi dan memproses usia emas sehingga terbangun landasan yang kuat untuk pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Hal ini perlu dilakukan melalui pendidikan anak usia dini dan sekolah dasar yang berkualitas. Ketepatan cara mendidik waktu usia dini menjadi modal penting bagi kelanjutan hidupnya di masa yang akan datang.Pendidikan yang berkualitas diawali dengan pembelajaran yang berkualitas. Pembelajaran yang berkualitas merupakan pembelajaran yang bukan hanya mengembangkan aspek kognitif saja, melainkan harus mengembangkan aspek afektif dan psikomotorik pula. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencipatakan pembelajaran yang berkualitas adalah dengan menggunakan model-model, media, metode, dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

  Generasi emas 2045 mewujudkan insan yang berkarakter, cerdas, dan kompetitif. Insan Indonesia berkarakter adalah insan yang memiliki sifat pribadi pengendalian diri, sabar, disiplin, kerja keras, ulet, bertanggung jawab, jujur , membela kebenaran, kepatutan, kesopanan, kesantunan, taat pada peraturan, loyal, demokratis, sikap kebersamaan, musyawarah, gotong royong, toleran, tertib, damai, anti kekerasan, hemat, konsisten.

  Insan Indonesia cerdas adalah insan yang cerdas komprehensif, yaitu cerdas spiritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual, dan cerdas kinestetis.

  Insan Indonesia kompetitif, yaitu insan yang berkepribadian unggul dan gandrung akan keunggulan, bersemangat juang tinggi, mandiri, pantang menyerah, pembangun dan pembina jejaring, bersahabat dengan perubahan, inovatif dan menjadi agen perubahan, produktif, sadar mutu, berorientasi global, pembelajar sepanjang hayat, dan menjadi rahmat bagi semesta alam.

2.3 Upaya membentuk generasi emas yang berkarakter

  Dengan kekayaan sumberdaya alam yang dimiliki dan bonus demografi yang ada, maka bukan tak mungkin Indonesia menjadi salah satu poros utama kekuatan dunia di masa yang akan datang. Pemerintah Indonesia sendiri telah menyusun rencana jangka panjang untuk menyiapkan Indonesia menjadi salah satu kekuatan utama dunia pada peringatan 100 tahun kemerdekaan Indonesia. Salah satu cara mencapai visi itu adalah dengan menyiapkan sumberdaya manusia berkualitas untuk menjadi generasi emas yang dapat mengeksploitasi segala kekayaan yang dimiliki Indonesia untuk kesejahteraan rakyat Indonesia secara khusus dan bagi dunia secara umum.

  Selama ini, sumberdaya manusia memang menjadi salah satu faktor utama maju tidaknya suatu negara. Wilson dan Ernesto menyatakan bahwa sentra utama kehidupan adalah SDM. Mereka mengatakan: “If you dig very deeply into any

  problem, you will get people. The human being is the center and yardstick of everything”. Tentunya, dalam pembangunan SDM ini harus disesuaikan pula mempunyai kecakapan hidup (life skill) namun juga kecakapan spiritual.

  Didalam membentuk pribadi suatu generasi emas 2045 di perlukan suatu nilai-nilai karakter didalamnya agar tercipta generasi penerus bangsa yang memiliki moral dan kelakuan yang berbudi luhur, adapun upaya tersebut dapat dilakukan dengan cara memasukan pendidikan karakter pada sistem pendidikan, misalnya dimasukannya pembelajaran karakter ke dalam kurikulum. Sehingga dalam mencapai target pendidikan tidak hanya berfokus pada tercapainya target kemampuan pengetahuan secara akademik namun juga berfokus pula pada pengetahuan secara psikologis dan etitude.

  Adapun upaya yang dapat dilakukan oleh pendidikan dalam rangka mencapai pembangunan generasi emas 2045 yaitu:

  Pertama, penguatan peran pendidik dan peserta didik agar terjalin sinergi

  antara implementasi kegiatan transfer ilmu yang tetap mengedepankan kualitas dengan terwujudnya peserta didik yang bermoral dan memegang teguh semangat nasionalisme. Penguatan semangat nasionalisme harus dimulai dengan mengembalikan jati diri pelajar agar terbentuk pribadi yang mantap dan berakhlak mulia

  Kedua, penguatan primer. Orang tua adalah sosok yang sangat penting

  karena merekalah yang menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anak. Oleh karena itu, peran orang tua diharapkan untuk lebih memerhatikan pendidikan yang diberikan kepada anaknya dan mengenali kondisi psikologis agar menjadi sosok yang berkarakter di lingkungan masyarakat.

  Ketiga, mengoptimalkan kegiatan pengembangan diri. Kegiatan ini

  merupakan kegiatan diluar jam pelajaran sebagai bagian integral dari kurikulum sekolah. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui layanan bimbingan konseling (BK) dan kegiatan ekstrakurikuler. Layanan BK dapat dioptimalkan melalui komunikasi yang interaktif antara guru,siswa dan orang tua siswa sehingga dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan dari pengaruh negatif lingkungan. kemampuan untuk memecahkan masalah. Kegiatan seperti Pramuka, Paskibra, KIR, kegiatan olahraga dan banyak lagi kegiatan pengembangan diri yang dikembangkan oleh tiap-tiap sekolah diharapkan dapat membangkitkan semangat kebangsaan sehingga diharapkan terbentuk pribadi siswa yang memiliki jiwa pembaharu, bertanggung jawab, memiliki keberanian, disiplin, tidak mudah menyerah, dan menjadi generasi emas bagi bangsa Indonesia.

  

PENUTUP

  3.1 Simpulan

  Dalam membentuk pribadi suatu generasi emas 2045 di perlukan suatu nilai-nilai karakter didalamnya agar tercipta generasi penerus bangsa yang memiliki moral dan kelakuan yang berbudi luhur, adapun upaya tersebut dapat dilakukan dengan cara memasukan pendidikan karakter pada sistem pendidikan, misalnya dimasukannya pembelajaran karakter ke dalam kurikulum. Sehingga dalam mencapai target pendidikan tidak hanya berfokus pada tercapainya target kemampuan pengetahuan secara akademik namun juga berfokus pula pada pengetahuan secara psikologis dan etitude.

  3.2 Saran

  Kepada seluruh lembaga pendidikan yang memiliki peran penting sebagai pencetak generasi penerus yang berkualitas, diharapkan dapat menerapkan kegiatan pembelajaran yang lebih mengarah pada menciptakan kemampuan dan kualitas peserta didik baik dari segi intelektual, emosional maupun spiritualnya khususnya karakternya.

  Kepada pemerintah, dalam hal ini Dinas Pendidikan Nasional agar kiranya lebih memperhatikan lagi kelayakan fasilitas sebagai sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan pembelajaran pada lembaga-lembaga pendidikan sekolah maupun perguruan tinggi secara merata, sehingga lembaga-lembaga pendidikan yang ada diseluruh wilayah Indonesia dapat menghasilkan generasi-generasi penerus sesuai yang diharapkan.

  

  

Ramli. 2013. Grand Desain Pendidikan Karakter Generasi Emas. Medan: Balferik

Manulang

  Kemendiknas. 2010. Generasi Emas Indonesia: Menyambut Hari Pendidikan

  Nasional, dalam

diakses pada 5 April 2017.

Dokumen baru
Dokumen yang terkait

MAKALAH PELAKSANA AN KURIKULUM PENDIDIKAN

Gratis

Feedback