BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - BAB 1 - BAB 4.pdf

Gratis

0
0
88
5 months ago
Preview
Full text

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Bahasa Jepang merupakan salah satu bahasa asing yang jumlah pembelajarnya banyak di Indonesia. Menurut data The Japan Foundation tahun 2003 tercatat ada 430 lembaga pendidikan menengah atas (SMU), 78 lembaga universitas, dan 98 lembaga umum yang membuka jurusan bahasa Jepang. Di antara pembelajar tersebut, tidak sedikit yang mengalami kesulitan ketika mempelajarinya. Salah satu penyebabnya adalah karena bahasa Jepang memiliki kekayaan kosakata, di mana tiap kata memiliki makna dan cara penggunaan yang berbeda, namun ketika diterjemahkan, banyak kata dalam bahasa Jepang yang memiliki arti sama dalam bahasa Indonesia. Sebagai contoh, kata ( 優 し い

  ) dan (親切 shinsetsu), keduanya memiliki

  yasashii arti ‘ramah’ atau ‘baik-hati’.

  Kata (優しい yasashii) digunakan untuk menjelaskan watak, sifat, karakter dari seseorang dan menjelaskan tentang wujud, pandangan, apa yang nampak dari luar.

  Selain itu kata (優しい yasashii) juga digunakan untuk menilai watak asli dari seseorang. Sedangkan kata (親切 shinsetsu) lebih tepat jika digunakan untuk menjelaskan cara pandang seseorang terhadap orang lain yang timbul sebagai akibat dari apa yang telah dilakukan seseorang terhadap orang lainnya, tetapi kata (親切 shinsetsu) kurang tepat jika digunakan kepada sahabat atau keluarga yang masih ada hubungan darah (Yamamoto,2003:101).

  Contoh lainnya, kata (多い ooi) dan (たくさん takusan) yang sama-sama memiliki arti ‘banyak’. Kata (たくさん takusan) mempunyai arti ‘banyak’ dalam makna ‘volume’ sedangkan kata (多い ooi) mempunyai arti ‘banyak’ dalam makna ‘jumlah’, ‘bilangan’ (Yamamoto,2003:67). Terlihat dari penjelasan di atas, bahwa kedua pasang kata tersebut mempunyai arti yang sama dalam bahasa Indonesia, namun berbeda dalam pemakaiannya dalam bahasa Jepang.

  Hal-hal tersebut kadang masih membingungkan bagi seseorang yang sedang mempelajari bahasa Jepang. Demikian pula halnya dengan pengungkapan pengandaian dalam bahasa Jepang. Menurut buku Shokyuu o Oshieru Hito no

  

Tame no Nihongo Bunpou Hando bukku (Matsuoka et al,2000:220), pengandaian

  dalam bahasa Jepang dapat diungkapkan menggunakan beberapa konjungsi yaitu

  

to, ba, tara dan nara. Akan tetapi pada penulisan skripsi ini penulis hanya akan

  menganalisis konjungsi to, ba, dan tara saja karena ketiga konjungsi tersebut memiliki persamaan makna dan persamaan pemakain yang lebih dekat.

  Konjungsi adalah partikel yang digunakan untuk menggabungkan kata dengan kata, frase dengan frase, klausa dengan klausa,kalimat dengan kalimat atau paragraf dengan paragraf (Kridalaksana, 1983:90). Konjungsi berfungsi menyambungkan suatu kalimat dengan kalimat lain atau menghubungkan bagian kalimat dengan bagian kalimat lain (Sudjianto, 2004:170). Konjungsi to,ba dan

  

tara masuk dalam kelas kata(setsuzokujoshi 接 続 助 詞 ) karena tidak dapat

  mengalami perubahan bentuk , dan tidak dapat berdiri sendiri sebagai satu kata (Sudjianto, 2004:181). Konjungsi to, ba, dan tara berfungsi untuk menghubungkan anak kalimat dengan induk kalimat.

  Untuk lebih jelasnya perhatikan beberapa contoh di bawah ini.

  (1) うまく行くと、極楽へはいることさえできましょう。(KNI:101) Umakuiku / to / gokuraku /he/ hairu/ koto / sae/ dekimasu.

  Berjalan lancar/ KTO/ surga / ke/masuk / hal /bahkan / dapat.

  ‘Kalau berjalan dengan lancar bahkan bisa masuk ke surga.’ Pada kalimat (1), klausa anak kalimat (うまく行く umaku iku

  ) ‘berjalan lancar’

  極楽

  dan induk kalimat ( へはいることさえできましょう gokuraku he hairu

  koto sae dekimashou )

  ‘bahkan bisa masuk surga’ dihubungkan dengan konjungsi

  to. Konjungsi to pada kalimat ini melekat pada verba iku

  ‘pergi’. Konjungsi to pada kalimat di atas mengandung makna sebab akibat, yaitu jika berjalan dengan lancar maka masuk surga saja bisa. Dan klausa induk kalimat pada contoh (1) di atas mempunyai makna hasil yang akan dicapai. Klausa induk kalimat di atas

  ま し ょ う

  dimarkahi oleh bentuk ( mashou) yang menyatakan makna kemungkinan. じ ご く からぬけ出すのも、存外わけがないか

  (2) このぶんで登っていけば地獄 もしれません。(KNI:102).

  Kono/ bun / de /nobotte/ ikeba / jikoku/kara/nukedasu/nomo/ Ini /bagian/pada/mendaki/pergi+KB/ neraka / dari / lolos / pun / Zongai / wake /ga / nai /kamoshiremasen. diluardugaan/ alasan / PT/tidak ada/mungkin.

  ‘Kalau sudah mendaki sampai pada bagian ini mungkin bukan hal di luar

  dugaan lolos dari neraka ’ . Pada kalimat (2), klausa anak kalimat (このぶんで 登って いけ kono bunde

  nobotte ike )

  ‘sudah mendaki sampai pada bagian ini’ dan induk kalimat (地獄

  

か ら ぬ け 出 す の も 、 存 外 わ け が な い か も し れ ま せ ん ) jikoku kara nuke

dasunomo zongai wakenai kamoshiremasen )

  ‘mungkin bukan hal di luar dugaan lolos dari neraka ’ dihubungkan dengan konjungsi ba. Konjungsi ba pada kalimat ini melekat pada verba iku

  ‘pergi’. Konjungsi ba pada kalimat di atas mengandung makna persyaratan yaitu kemungkinan lolos dari neraka dengan syarat sudah sampai bagian ini. Klausa induk kalimat pada contoh (2) di atas menyatakan kemungkinan hasil yang akan di capai. Klausa induk kalimat di atas dimarkahi oleh bentuk ( か も し れ ま せ ん kamoshiremasen) yang menyatakan makna dugaan.

  (3). 雨が降ったら、でかけません。( MNN1 : 206 ) Ame / ga / futtara /dekakemasen.

  Hujan / PT /Turun + KTR / keluar negatif ‘Kalau turun hujan tidak pergi keluar’. Pada kalimat (3), klausa anak kalimat (雨が降る ame ga furu)

  ‘turun hujan’ dan induk kalimat (でかけません dekakemasen) ‘tidak pegi keluar’ dihubungkan dengan konjungsi tara. Konjungsi tara pada kalimat ini melekat pada verba furu

  ‘turun ’. Klausa induk kalimat pada contoh kalimat di atas menyatakan keputusan yang diambil sebagai akibat dari turun hujan. Konjungsi tara pada kalimat di atas mengandung makna sebab akibat yaitu apabila hujan turun maka tidak jadi pergi keluar, tetapi jika tidak turun hujan maka pergi keluar. Klausa induk kalimat di atas dimarkahi oleh bentuk (-ません –masen) yang menyatakan makna negatif.

  Contoh-contoh kalimat di atas menimbulkan pertanyaan apakah konjungsi yang ada pada contoh kalimat nomor 1 sampai dengan nomor 3 dapat saling menggantikan atau tidak, dan apakah makna setelah saling menggantikan tetap sama.

  Penulis tertarik untuk melakukan penelitian pada konjungsi to, ba, tara karena penulis dan beberapa orang yang baru saja mempelajari bahasa Jepang terkadang masih bingung ketika akan menyampaikan sesuatu dalam bentuk kondisional.

  Sebagai data primer pada penelitian ini, penulis menggunakan cerpen

  

Kumo no Ito karya Akutagawa dan Hitofusa no Budou karya Arishima, karena

  kedua cerpen tersebut selain ceritanya menarik, juga terdapat beberapa bentuk kondisional yang menggunakan konjungsi to, ba, tara. Kemudian sebagai sumber data sekunder penulis menggunakan buku Jitsuryoku Up Nihongo Noryoku Shiken karya Matsumoto dan Hoshino karena pada buku ini terdapat banyak contoh kalimat penggunaan konjungsi to, ba, dan tara.Selain itu sebagai data sekunder penulis juga menggunakan buku ajar Minna No Nihongo jilid 1 dan 2 yang banyak digunakan sebagai bahan ajar bahasa Jepang pada perguruan tinggi dan lembaga pendidikan bahasa Jepang. Penulis menggunakan contoh-contoh kalimat yang ada pada buku ini sebagai sumber data sekunder karena contoh kalimatnya yang sederhana dan mudah dipahami.

1.2 Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, permasalahan yang akan diteliti oleh penulis adalah sebagai berikut.

  1. Bagaimanakah strutur kalimat berkonjungsi to, ba,dan tara?

  2. Apakah persamaan dan perbedaan pemakaian konjungsi to, ba, dan tara serta maknanya?

  3. Apakah konjungsi to, ba, dan tara dapat saling menggantikan ?

  1.3 Tujuan Penulisan

  Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penulisan yang akan diteliti oleh penulis sebagai berikut.

  1. Mendeskripsikan struktur kalimat berkonjungsi to, ba,dan tara.

  2. Mendeskripsikan persamaan dan perbedaan pemakaian konjungsi to, ba, dan tara serta persamaan dan perbedaan maknanya.

  3. Mengetahui perihal saling menggantikan antara konjungsi to, ba, dan tara.

  1.4 Manfaat Penulisan

  Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan, baik bagi penulis sendiri maupun pembaca tentang makna serta pemakaian yang benar dari ketiga konjungsi to, ba, dan tara sehingga tidak ada lagi kerancuan dan kebingungan dalam pemakaiannya.

  1.5 Ruang lingkup

  Ruang lingkup penelitian ini yaitu kajian sintaksis pada konjungsi to, ba dan tara terbatas pada persamaan dan perbedaan struktur dan makna serta pemakaian yang tepat dari masing-masing konjungsi to, ba, dan tara yang ada pada cerpen Kumo no Ito karya Akutagawa, Hitofusa no Budou karya Arishima sebagai data primer, serta buku Jitsuryoku Up Nihongo Noryoku Shiken karya Matsumoto dan buku ajar Minna No Nihongo jilid 1 dan 2 sebagai data sekunder.

1.6 Sistematika Penulisan

  Bab I merupakan pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan, ruang lingkup penelitian, manfaat penulisan dan sistematika penulisan.

  Bab II merupakan tinjauan pustaka yang berisi tentang penelitian terdahulu, metode penelitian, dan kerangka teori. Bab III merupakan pembahasan yang berisi analisis tentang konjungsi to, ba, dan

  

tara yang ada pada cerpen Kumo no Ito karya Akutagawa dan Hitofusa no Budou

  karya Arishima sebagai data primer dan buku Jitsuryoku Up Nihongo Noryoku karya Matsumoto dan buku ajar Minna No Nihongo jilid 1 dan 2 sebagai

  Shiken

  data sekunder dengan menggunakan acuan buku teori Shokyuu o Oshieru Hito no

  

Tame no Nihongo Bunpou Handobukku (Matsuoka,2000:220), Nihongo bunkei

jiten (Sunagawa, 1998 :287)

  Bab IV Simpulan. Bab ini berisi penarikan kesimpulan dari hasil penelitian yang sudah dilakukan pada bab-bab sebelumnya. Daftarpustaka. Lampiran.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

  Penelitian mengenai konjungsi to, ba dan tara pernah dilakukan sebelumnya oleh Suci Siti Azizah mahasiswa Program Studi S1 Universitas Pendidikan Indonesia dalam skripsi yang berjudul

  “Analisis Kontrastif Ungkapan Pengandaian bahasa Jepang dan bahasa Indonesia

  ”. Penelitian ini membahas mengenai perbedaan dan persamaan ungkapan pengandaian dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia dengan data berupa kalimat pada buku-buku bahasa Jepang tingkat dasar, novel, komik, cerpen, serta artikel majalah dan koran.

  Dari penelitian tersebut, disimpulkan bahwa dalam bahasa Indonesia terdapat 16 konjungsi yang digunakan untuk menunjukkan ungkapan pengandaian yang bermakna syarat dan pengandaian. Sedangkan dalam bahasa Jepang terdapat 4 pola kalimat yang menunjukkan ungkapan pengandaian, baik yang bermakna syarat maupun pengandaian. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak semua ungkapan pengandaian dalam bahasa Jepang dapat disubsitusikan kedalam bahasa Indonesia karena adanya perbedaan makna, struktur kalimat, dan pengaruh bahasa Melayu terhadap bahasa Indonesia. (Pada penelitian ini selanjutnya penulis mengikuti teori kridalaksana yang menggunakan istilah kondisional untuk menyatakan pengandaian). Kondisional adalah bentuk verba yang menunjukkan pengandaian atau hipotesis (Kridalaksana. 1983:90).

  Dalam bahasa Indonesia, kondisional berupa persyaratan ditandai kata- kata apabila, asal, asalkan, bila, bilamana, jika, jikalau, kalau, manakala,

  

sekiranya, dalam mana, tanpa . Namun demikian, kata-kata seperti bilamana,

jikalau, manakala, dan dalam mana sudah jarang digunakan dalam bahasa lisan

  maupun tulis pada masa kini dan biasanya hanya digunakan pada karya sastra lama atau sastra melayu. Sementara itu, hubungan kondisional dinyatakan menggunakan empat macam kata yakni andaikan, andaikata, seandainya dan seumpama.

  Dalam bahasa Jepang ada empat macam bentuk pengungkapan kondisional, yaitu dengan konjungsi to, ba , tara dan nara. Dalam bahasa Jepang ungkapan kondisional baik yang menyatakan makna syarat maupun pengandaian dapat digunakan bersama ungkapan lain seperti keinginan (ingin, mau), ungkapan potensial (bisa, dapat), dan kesungguhan (sungguh-sungguh).

  Hampir semua ungkapan bahasa Jepang dapat dipadankan ke dalam bahasa Indonesia, kecuali “dalam mana” dan “manakala” yang kadang-kadang dapat diartikan “ketika”. Sedangkan “asal” dan “asalkan” hanya dapat digunakan dalam ungkapan dengan makna syarat saja.

  Bahasa Indonesia mempunyai kelompok konjungsi tersendiri untuk menyatakan ungkapkan kondisional bersyarat, sedangkan dalam bahasa Jepang semua pola kalimat kondisional dapat menyatakan kondisional bersyarat. Berikut ini adalah tabel ungkapan kondisional dan syarat bahasa Indonesia dan bahasa Jepang

Tabel 2.1 Kondisional dalam bahasa Indonesia dan contoh pemakain.

  No Kondisional dalam Contoh pemakaian bahasa Indonesia

  1 Apabila Apabila terjadi sesuatu pada benda ini, aku akan membuatmu kehilangan nyawa.

  2 Asal Asal nilai raportmu tidak kurang dari 8, kau boleh bekerja sampingan.

  3 Asalkan Aku akan menerimamu, asalkan kau mau berubah.

  4 Bila Dan bila dia tertidur, mimpi-mimpinya akan menjadi api, potongan-potongan tubuh, dan erangan mereka yang kesakitan.

  5 Bilamana Bilamana ada nasabah yang belum mempunyai KTP, maka harus menggunakan KTP orang tua atau wali.

  6 Jika Jika aku memberikan ini kepadamu,kau tidak boleh memberitahu siapa pun.

  7 Jikalau Jikalau aku tidak menghormatinya dengan formalitas seperti ini, dia pasti akan kecewa.

  8 Kalau Kalau bertemu akan aku bunuh anak itu, biar tidak membuat jengkel lagi !.

  9 Manakala Manakala hujan turun sore-sore dan mereka tidak bisa jalan-jalan, berceritalah ibunya tentang segala macam dongeng.

  10 Sekiranya Demikianlah niat hamba. Sekiranya tuan tidak keberatan hamba mohon ijin.

  11 Dalam mana Perjanjian utang piutang bisa bersifat perdagangan yang halal dalam mana sifatnya sukarela dan dilindungi oleh undang-undang.

  12 Tanpa Polisi tidak akan mampu menagkap pelaku penculikan itu tanpa informasi dari masyarakat

  13 Andaikan Andaikan waktu dapat berputar kembali, aku tidak akan melakukan hal memalukan seperti itu.

  14 Andaikata Andaikata ketahuan ada orang yang mengintip, orang itu diseret ke tengah pesta dan dibunuh dan darahnya dipergunakan berkeramas.

  15 Seandainya Seandainya suara indah Kazeem saheer digunakan untuk membaca Al- Qur’an seperti Syekh Ahmad, mungkin akan lain cerita dunia selebriti Arab.

  16 Seumpama Saya akan berpuasa tiga hari, seumpama saya berhasil lulus SMPTN.

  (Resume dari Suci Siti Azizah, 2007 : 47).

Tabel 2.2 Kondisional dalam bahasa Jepang dan contoh pemakaian.

  No Kondisional dalam Contoh pemakaian bahasa Jepang

  1 To メールを出すと、すぐ返事が来る。

  2 Ba 春が来れば桜が咲く。

  3 Tara お金があったら、旅行をします。

  4 Nara あなたが行くなら、私も行きます。 (Resume dari Suci Siti Azizah, 2007 :93).

  Dari tabel kondisional dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jepang di atas, terdapat perbedaan jumlah konjungsi yang dapat digunakan. Dalam bahasa Indonesia, konjungsi yang digunakan untuk menyatakan makna kondisional lebih banyak dibandingkan konjungsi yang digunakan untuk menyatakan kondisional dalam bahasa Jepang.

2.2 Metode Penelitian

  Metode penelitian yang penulis gunakan untuk membedakan makna dan fungsi masing-masing konjungsi to, ba, dan tara adalah metode distribusional.

  Metode distributional adalah metode analisis bahasa yang memerikan distribusi unsur-unsur fonologis, gramatikal atau leksikal dalam satuan yang lebih besar, misalnya morfem dalam kata atau frase-frase dalam klausa (Kridalaksana,1983:9). Dalam metode distributional terdapat salah satu teknik yaitu teknik subtitusi yang merupakan bagian dari metode distributional. Substitusi yaitu proses atau hasil penggantian unsur bahasa oleh unsur lain dalam satuan yang lebih besar untuk memperoleh unsur-unsur pembeda atau untuk menjelaskan suatu struktur tertentu (Kridalaksana,1983:159).

  Menurut Sutedi (2003:121) untuk menganalisis makna suatu kata, akan lebih baik dan lebih jelas hasilnya jika dilakukan dengan membandingkan dengan kata yang dianggap bersinonim, karena nantinya akan semakin jelas makna dari setiap kata tersebut sehingga kekaburan dan keraguan tentang bagaimana persamaan dan perbedaannya bisa diatasi

  Konjungsi to, ba dan tara adalah konjungsi yang memiliki kemiripan makna atau bersinonim. Sinonim merupakan beberapa kata yang maknanya hampir sama. Sinonim (類義語 ruigigo) adalah salah satu objek kajian semantik (意味論 imiron). Semantik adalah salah satu cabang linguistik yang mengkaji tentang makna (Sutedi,2003:120). Menurut Sutedi dalam bukunya Dasar-Dasar Linguistik Bahasa Jepang langkah-langkah yang harus ditempuh untuk menganalisa sinonim adalah sebagai berikut.

  a.

  Cara penulis menerapkan metode penelitian ini yaitu mengumpulkan jitsurei yang di dalamnya terkandung konjungsi to, ba dan tara, melakukan analisa, kemudian melakukan penggantian konjungsi. Contoh penerapan;

  いた odoroita ) ‘kaget’ dihubungkan dengan konjungsi to. Konjungsi to pada kalimat di atas melekat pada verba miru

  wo miru) ‘Kandata melihat ini’ dan induk kalimat ( 驚 おどろ

  Pada kalimat (1), klausa anak kalimat (カンダタはこれを見る Kandata ha kore

  Kalau Kandata melihat ini maka terkejut.

  

KTO

/ terkejut.

  Kandata/ PT/ini / PT/melihat/

  カンダタはこれを見ると、 驚 おどろ いた。(KNI:103) Kandata / ha / kore/ wo/ miru/to,/ odoroita.

  1) Mengumpulkan contoh kalimat dan memaparkan 1.

   Membuat kesimpulan.

  Menentukan objek yang akan diteliti.

   Melakukan analisis g.

  f.

   Membuat pasangan kata yang akan dianalisis.

  e.

   Mengklasifikasikan setiap jitsurei.

  Mengumpulkan jitsurei (contoh konkrit ) d.

  c.

  Mencari literatur yang relevan.

  b.

  ‘melihat’. Pada kalimat (1) konjungsi to mengandung makna sebab akibat, karena melihat ini, maka Kandata menjadi terkejut dan ketakutan.

  2). Melakukan penggantian konjungsi. Substitusi konjungsi to dengan konjungsi ba dan tara. おどろ 2.a カンダタはこれを見ると、 驚 いた。 Kandata / ha / kore/ wo/ miru/to, / odoroita.

  

KTO

Kandata/ PT/ini / PT/melihat/ / terkejut. おどろ

  2.b カンダタはこれを見れば、 驚 いた。 Kandata / ha / kore/ wo/ mire/ba, / odoroita.

  Kandata/ PT/ini / PT/melihat/ KB / terkejut. おどろ 2.c カンダタはこれを見たら, 驚 いた。 Kandata / ha / kore/ wo/ mi /tara, / odoroita.

  

KTR

Kandata/ PT/ini / PT/melihat/ / terkejut.

  Konjungsi to pada contoh ka limat 2.a bermakna ‘waktu’ yaitu Kandata menjadi terkejut ketika melihat sesuatu. Contoh kalimat 2.b tidak tepat karena konjungsi tidak dapat dihubungkan dengan bentuk lampau. Sedangkan contoh kalimat 2.c

  ba

  di atas, konjungsi tara bermakna kondisional, yaitu seandainya Kandata melihat ini, Kandata akan terkejut.

  Persamaan : a.

  Konjungsi to dan tara di atas sama-sama bermakna kondisional. Perbedaan : a.

  Konjungsi ba kurang tepat pada kalimat di atas karena dihubungkan pada induk kalimat yang mempunyai makna lampau.

  b.

  Konjungsi to mempunyai makna tersirat yaitu waktu kejadian.

  c.

  Konjungsi tara mempunyai makna tersirat yaitu sebab-akibat.

  2. 3 Kerangka Teori

2.3.1 Konjungsi to

  Menurut Matsuoka (2000:220), Suzuki (1998:123), dan Sunagawa (1998 :287) konjungsi to dapat melekat pada verba bentuk kamus (辞書形 jisho kei), bentuk negatif (ない形 naikei), adjektiva i (い形容詞 i keiyoushi), adjektiva na ( な 形 容 詞 na keiyoushi), serta nomina ( 名 詞 meishi). Pada kasus tertentu konjungsi to juga dapat melekat pada bentuk sopan (ます masu) dan (です desu).

  Untuk cara pelekatannya, konjungsi to melekat secara langsung pada verba bentuk kamus, verba bentuk negatif, verba bentuk sopan dan adjektiva i. Pada adjektiva na terjadi perubahan na menjadi da, misalnya (元気な genki na)

  ‘sehat’ menjadi genki da. Kemudian pada nomina, terdapat penambahan da setelah nomina, misalnya (子供 kodomo) ‘anak’ menjadi kodomo da.

  Konjungsi to tidak dapat melekat pada verba bentuk lampau (過去形 ). Selain itu konjungsi to tidak dapat dihubungkan dengan induk kalimat

  kakokei

  yang mengandung makna perintah (命令 meirei) yang ditandai oleh(ください , niat (意志 ishi) yang ditandai oleh(つもり tsumori),

  kudasai,なさい nasai

  keinginan (希望 kibou) yang ditandai oleh (たい tai、おうとおもっています

  

ou to omotte imasu ), dan permintaan (依頼 irai) yang ditandai oleh(ください

kudasai , いただけませんか itadakemasenka).

Tabel 2.3 Pelekatan konjungsi to pada predikat anak kalimat.

  No Bentuk Positif Negatif Sopan Kategori Lampau Non Lampau Non Lampau Non lampau lampau lampau

  1 Verba

  X O

  X O

  X O

  2 Adjektiva i

  X O

  X O

  X O

   na

  X O

  X O

  X O

  3 Nomina

  X O

  X O

  X O (Resume dari Matsuoka (2000:220), Suzuki (1998:123), dan Sunagawa (1998 :287)).

  Keterangan : Tanda (X) menunjukkan kategori yang tidak dapat di hubungkan dengan konjungsi to.

  Tanda (O) menunjukkan kategori yang dapat dihubungkan dengan konjungsi to.

  Menurut Matsuoka (2000:220), Suzuki (1998:123) dan Sunagawa (1998 :287) konjungsi to memiliki fungsi sebagai berikut.

  1) Menjelaskan sesuatu yang terjadi secara berulang-ulang. 2) Menjelaskan hubungan ketergantungan . 3) Menjelaskan sesuatu yang terjadi secara alami. 4) Menyatakan kebiasaan . 5) Menyatakan hasil dari pengoperasian mesin. 6) Menjelaskan hubungan sebab -akibat.

  Contoh kalimat.

  (1) 3月の後半になると、桜が咲き始めます。( NBHB:220) 3gatsu / no/ kouhan / ni/naru/to / sakura/ ga/ sakihajimemasu.

  Bulan maret/PT/ pertengahan /PT /jadi /KTO/ sakura/PT/ mulai mekar

‘Kalau pertengahan bulan Maret tiba,bunga Sakura mulai mekar’.

  (2) 四つ角を曲がると、すぐかれのマンションが見えた。(NBHB:220) Yotsu kado /wo/magaru/ to, / sugu /kare/no/ manshon /ga/ mieta.

  Perempatan/PT/ belok /KTO/segera/dia/PT/tempat tinggal/PT/terlihat.

  ‘Kalau belok di perempatan, segera terlihat tempat tinggalnya’.

  (3) 窓を開けると、冷たい風が入ってきた。(NBHB:221) Mado /wo/akeru/ to / tsumetai/kaze/ga/haittekita.

  Jendela/PT/buka/KTO/ dingin /angin/PT/masuk.

  ‘Begitu jendelanya dibuka angin dingin akan masuk’.

  (4) 先生は教室に入ってくると授業を始められた。(NBHB:221) Sensei/ha/kyoushitsu /ni /haittekuru /to /jugyou /wo/hajimerareta.

  Guru/PT/kelas /PT /masuk/KTO/pelajaran/PT/ dimulai .

  ‘Begitu guru masuk ruang kelas, pelajaran dimulai’.

  (5) お金を入れてボタンを押すと、切符が出てきます. (GS:122) Okane/ wo/ irete / botan/ wo/ osu / to /kippu/ ga/ dete kimasu .

  Uang/PT /masuk/tombol/ PT/tekan /KTO/ karcis/PT / keluar.

  

‘Kalau uangnya dimasukkan kemudian tombolnya ditekan maka

karcisnya akan keluar.

  ’

  (6) その話を聞くと悲しくなった。(GS:122) Sono/hanashi /wo/kiku /to /kanashikunatta.

  Itu /pembicaraan/PT/mendengar/KTO/menjadi sedih.

  ‘ Kalau mendengar pembicaraan itu saya menjadi sedih.

  ’ Pada contoh kalimat (1) konjungsi to menjelaskan kejadian yang terjadi secara berulang-ulang dan pasti terjadi, yaitu bahwa setiap pertengahan bulan maret tiba bunga sakura mulai mekar. Konjungsi to pada contoh kalimat (2) menjelaskan hubungan ketergantungan (kalau ada P maka akan ada Q), yaitu bahwa tempat tinggalnya akan terlihat kalau belok di perempatan. Konjungsi to pada contoh kalimat (3) menjelaskan sesuatu yang terjadi secara alami, yaitu bahwa pada saat musim dingin jika kita membuka jendela maka angin dingin akan masuk ke dalam ruang. Konjungsi to pada contoh kalimat (4) menyatakan suatu kebiasaan yang biasanya terjadi atau kebiasaan yang dilakukan seseorang. Konjungsi to pada contoh kalimat (5) menyatakan hasil yang didapat dari pengoperasian suatu alat atau mesin yang umumnya terjadi. Konjungsi to pada contoh kalimat (6) menjelaskan hubungan sebab-akibat yaitu disebabkan mendengar pembicaraan itu mengakibatkan menjadi sedih.

2.3.2 Konjungsi ba.

  Menurut Matsuoka (2000:222), Suzuki (1998:124), dan Sunagawa (1998:476) konjungsi ba dapat melekat pada verba bentuk kamus (辞書形 jisho

  

kei ), bentuk negatif (ない形 naikei), nomina (名詞 meishi), adjektiva na (な形

容詞 na keiyoushi), dan adjektiva i (い形容詞 i keiyoushi).

  Untuk cara pelekatannya, konjungsi ba melekat pada predikat anak kalimat dengan cara berikut, untuk verba golongan I verba bentuk kamus diakhiri dengan vokal u, tsu, ru, bu, nu, mu, ku, gu, su menjadi vokal e, te, re, be, ne, me,

  ke, ge, se , misalnya (買う kau)

  ‘beli’ menjadi kae, verba golongan II yang diakhiri vokal iru dan eru menjadi ire dan ere misalnya (食べる taberu) ‘makan’ menjadi

  

tabere, verba golongan III kuru dan suru menjadi kure dan sure.Verba bentuk

  negatif (ない形 nai kei), akhiran na pada pada bentuk negatif berubah menjadi

  nakere misalnya ( 分 か ら な い wakaranai)

  ‘tidak mengerti’ menjadi

  

wakaranakere, sedangkan pada adjektiva i (い形容詞 i keiyoushi), akhiran i pada

  adjektiva ini berubah menjadi kere misalnya ( 安 い yasui) ‘murah’ menjadi yasukere.

  Konjungsi ba tidak dapat melekat pada verba bentuk lampau (過去形 kako kei) , verba bentuk sopan (ます形 masu kei).

  Tabel 2.4 Pelekatan konjungsi ba pada predikat anak kalimat

  No Bentuk Positif Negatif Sopan Kategori Lampau Non Lampau Non Lampau Non lampau lampau lampau

  1 Verba

  X O

  X O

  X X

  2 Adjektiva i

  X O

  X O

  X X

   na

  X O

  X O

  X X

  3 Nomina

  X O

  X O

  X X (Resume dari Matsuoka 2000:222, Suzuki 1998:124 dan Sunagawa 1998 :276). Keterangan : Tanda (X) menunjukkan kategori tersebut di atas tidak dapat dihubungkan dengan konjungsi ba. Tanda (O) menunjukkan kategori tersebut di atas dapat dihubungkan dengan konjungsi ba.

  Menurut Tomomatsu (2000:157), adjektiva na dan nomina dapat dilekati oleh konjungsi nara atau naraba.

  Contoh kalimat: 雨ならばどこも行きません。 Ame /naraba/ dokomo / ikimasen.

  Hujan /KNB/ kemanapun/ tidak pergi.

  ‘ Kalau hujan tidak pergi kemanapun.’ Meskipun dalam buku referensi terdapat konjungsi naraba akan tetapi penulis tidak menemukan contoh kalimat pada data primer dan sekunder yang menggunakan konjungsi naraba.

  Menurut Matsuoka (2000:222), Suzuki (1998:124), dan Sunagawa (1998:276) konjungsi ba memiliki fungsi sebagai berikut.

  1) Menjelaskan sesuatu yang selalu dan umumnya terjadi. 2) Menyatakan suatu perumpamaan. 3) Menjelaskan hubungan ketergantungan (jika A maka B). 4) Menderetkan kata yang bermakna sejajar. Contoh kalimat.

  (1) 春になれば桜が咲く.(GS:123) Haru/ni / nareba /sakura/ga/ saku.

  Semi/PT/menjadi+KB/sakura /PT/mekar.

  ‘Kalau musim semi tiba bunga sakura akan mekar’.

  ちりも積もれば山となる。

  (2) (NBHB:222) Chirimo / tsumoreba /yama /to /naru.

  Debupun/dikumpulkan+KB/gunung/PT/menjadi.

  ‘Debupun kalau dikumpulkan bisa jadi gunung’. (3)

  わからないことがあれば、いつでも聞いてください。(NBHB:222) Wakaranai /koto/ga/are ba /itsudemo/kiite kudasai.

  Tidak tahu/hal /PT/ada+KB/kapanpun/ silahkan tanya.

  ‘Kalauada yang tidak dipahami silahkan bertanya kapan saja’. さいのう

  (4) もない。(GS:123) 彼には、お金もなければ才能

   Kare/ha/okane/mo/nakereba /sainou /mo /nai Dia/PT/uang/pun /tidak ada+KB /kepandaian/pun/tidak ada.

  ‘Laki-laki itu uang-pun tidak punya, kepandaian-pun juga tidak ada’.

  Pada contoh kalimat (1) konjungsi ba menjelaskan sesuatu yang selalu dan umumnya terjadi, yaitu bahwa setiap musim semi tiba bunga sakura akan mekar.

  Konjungsi ba pada contoh kalimat (2) menyatakan suatu perumpamaan yang maknanya biarpun sedikit tapi kalau kita rajin mengumpulkan sesuatu lama-lama akan menjadi banyak. Konjungsi ba pada contoh kalimat (3) menyatakan hubungan ketergantungan (jika A maka B), yaitu bahwa jika tidak mengerti maka diperbolehkan bertanya kapan saja. Konjungsi ba pada contoh kalimat (4) digunakan untuk menyatakan kata yang bermakna sejajar, seperti contoh kalimat di atas yang maknanya bahwa laki-laki tersebut selain tidak punya uang juga tidak punya kepandaian sehingga tidak ada sisi baiknya.

2.3.3. Konjungsi tara

  Menurut Matsuoka (2000:223), Suzuki (1998:124), dan Sunagawa (1998:204) konjungsi tara dapat melekat pada verba bentuk kamus (辞書形 jisho

  

kei ), bentuk lampau (過去形 kako kei), bentuk negatif lampau (過去ない形 kako

nai kei ), bentuk negatif (ない形 naikei), adjektiva i (い形容詞 i keiyoushi)

  adjektiva na (な形容詞 na keiyoushi), nomina (名詞 meishi) serta bentuk sopan (ます masu) dan (です desu).

  Untuk cara pelekatannya, konjungsi tara melekat secara langsung pada verba bentuk lampau (過去形 kako kei) dan verba bentuk negatif lampau (過去な い形 kako nai kei), adjektiva na berubah menjadi bentuk lampau datta misalnya (元気な genki na)

  ‘sehat’ menjadi genki datta, adjektiva i (い形容詞 i keiyoushi) akhiran i pada adjektiva i menjadi bentuk lampau katta misalnya (安い yasui) ‘murah’ menjadi yasukatta.

Tabel 2.5 Pelekatan konjungsi tara pada predikat.

  No Bentuk Positif Negatif Sopan Kategori Lampau Non Lampau Non Lampau Non lampau lampau lampau

  1 Verba

  X O

  X O

  X O

  2 Adjektiva i

  X O

  X O

  X O

   na

  X O

  X O

  X O

  3 Nomina

  X O

  X O

  X O (Resume dari Matsuoka 2000:223, Suzuki 1998:124dan Sunagawa 1998 :276). Keterangan : Tanda (X) menunjukkan kategori tersebut di atas tidak dapat dihubungkan dengan konjungsi tara.

  Tanda (O) menunjukkan kategori tersebut di atas dapat dihubungkan dengan konjungsi tara.

  (3) 風邪ですか。じゃ薬を飲んで寝たらどう。(GS:124) Kaze /desuka/ Jya /kusuri/wo/nonde/netara /dou.

  

‘Kalau musim panas tiba,(biasanya) pergi berkemah dengan keluarga’.

  Musim panas/PT/menjadi+KTR /keluarga/PT/berkemah /PT/pergi.

  でキャンプに行った ものだ 。(GS:124) Natsu /ni /nattara / kazoku/de /kyanpu /ni /itta monoda.

  (4) 夏になったら、家族 か ぞ く

  Apakah kamu masuk angin ?jika begitu bagaimana kalau minum obat kemudian istirahat’ .

  Masuk angin/apakah / jika begitu/obat/PT/minum /tidur+KTR/bagaimana.

  ‘Kalau minum obat, sakit kepala akan sembuh.’

  Menurut Matsuoka(2000:223), Suzuki (1998:124), dan Sunagawa (1998 :276) konjungsi tara memiliki fungsi sebagai berikut.

  Obat /PT/minum+KTR/sakit kepala/PT/sembuh.

  が治 なお った。(GS:124) Kusuri /wo/nondara /zutsuu /ga/naotta.

  (2) 薬を飲んだら、頭痛 ず つ う

  ‘Kalau saya burung, (saya)ingin terbang di langit seharian’.

  Saya /PT/ burung+KTR / satu hari penuh/langit /PT/ ingin keliling terbang .

  (1) 私が鳥だったら、一日中空を飛び回りたい。(NBHB:223) Watashi/ga/toridattara,/ ichinichijyu /sora /wo/tobimawaritai.

  1) Menyampaikan suatu pengandaian yang tidak nyata. 2) Untuk menyatakan sebab-akibat. 3) Untuk menyampaikan saran. 4) Menjelaskan kebiasaan yang dilakukan. Contoh Kalimat.

  Pada contoh kalimat (1) konjungsi tara menyampaikan suatu pengandaian yang tidak nyata atau hanya berandai-andai saja. Konjungsi tara pada contoh kalimat (2) menyatakan hubungan sebab-akibat yaitu sakit kepala akan sembuh karena minum obat. Konjungsi tara pada contoh (3) digunakan untuk memberi saran agar orang yang diberi saran melakukan apa yang kita sarankan. Konjungsi

  

tara pada contoh (4) digunakan untuk menyampaikan kebiasaan yang dilakukan

dari dulu sampai sekarang.

BAB III ANALISIS

3.1 Stuktur dan Makna

  Untuk mengetahui struktur dan makna konjungsi to, ba, tara penulis menganalisis struktur dan makna dari contoh-contoh kalimat yang dikumpulkan dari data primer dan data sekunder.

3.1.1 Struktur

  Dari data yang digunakan sebagai objek analisis pada penelitian ini ditemukan bahwa pelekatan konjungsi to, ba, tara pada predikat anak kalimat dan induk kalimat adalah sebagai berikut,

  Tabel 3.1 Pelekatan konjungsi to, ba,tara pada predikat anak kalimat

  No Bentuk dan kategori Konjungsi Konjungsi Konjungsi

  to ba tara

  1. Verba, adjektiva, nomina bentuk O O O positif dan negatif non lampau

  2 Verba, adjektiva, nomina bentuk,

  X X

  X positif dan negatif lampau

  3 Verba, adjektiva, nomina bentuk O

  X O sopan Konjungsi to melekat pada verba, adjektiva i, adjektiva na, nomina bentuk biasa baik positif maupun negatif, non lampau, dan bentuk sopan. Sementara itu konjungsi ba melekat pada konjugasi verba, adjektiva i, adjektiva na, nomina bentuk positif dan negatif non lampau, namun konjungsi ba tidak dapat melekat pada bentuk lampau dan sopan. Sedangkan konjungsi tara melekat pada konjugasi verba, adjektiva i, adjektiva na, nomina bentuk biasa baik positif maupun negatif dan bentuk sopan, namun konjungsi tara tidak dapat melekat pada bentuk lampau. Berikut ini adalah tabel induk kalimat yang dapat dihubungkan dengan konjungsi to, ba dan tara

Tabel 3.2 Bentuk induk kalimat yang dapat dihubungkan dengan konjungsi to,ba dan tara.

  No Jenis induk kalimat Konjungsi Konjungsi Konjungsi

  to ba tara

  1 Bentuk keinginan, perintah,

  X X O permintaan,

  2 Bentuk ajakan

  X O O

  3 Bentuk lampau dan kalimat aktifitas O

  X O yang berurutan Konjungsi to tidak dapat dihubungkan dengan induk kalimat yang menyatakan keinginan, perintah, permintaan dan ajakan, namun konjungsi to dapat dihubungkan dengan induk kalimat bentuk lampau dan menyatakan aktivitas yang berurutan. Sementara itu konjungsi ba juga tidak dapat dihubungkan dengan induk kalimat yang menyatakan keinginan, perintah, permintaan dan menyatakan aktifitas yang berurutan, namun dapat dihubungkan dengan induk kalimat yang menyatakan ajakan. Sedangkan konjungsi tara dapat dihubungkan dengan induk kalimat yang menyatakan keinginan, perintah, permintaan, ajakan, induk kalimat bentuk lampau dan menyatakan aktifitas yang berurutan.

  Pada data yang digunakan sebagai objek analisis pada penelitian ini, pelekatan konjungsi to, ba, tara pada predikat dan induk kalimat yang dapat dihubungkan dengan ketiga konjungsi to, ba, tara,sesuai dengan teori yang digunakan pada penelitian ini.

3.1.2 Makna

  Untuk memudahkan analisis, penulis mengklasifikasikan data-data ke

  一般条

  dalam 4 makna utama, yaitu 1. ( ippan jyouken ) makna kondisional umum,

  恒常 条 件 仮 定 条 件

  2. ( koujyou jyouken ) makna kondisional pasti, 3. ( katei

  反事実的条件

jyouken) makna kondisional bersyarat, 4.( hanjijitsuteki jyouken )

makna kondisional tidak nyata.

  

一般条件

3.1.2.1 Makna kondisional Umum ( )

  Makna umum adalah makna yang digunakan untuk menyatakan suatu hal yang pada umumnya terjadi. Makna umum ini memiliki fungsi diantaranya yaitu untuk menjelaskan sesuatu yang terjadi secara berulang-ulang, menjelaskan sesuatu yang terjadi secara alami, menyatakan kebiasaan, sebab-akibat dan menyatakan waktu.

  。 (1)

  気温が低いと, 桜はなが咲かない (NBJ, 1999 :287) Kion / ga/ hikuito /sakura/hana/ga /sakanai.

  Suhu udara/PT/rendah+KTO/sakura/bunga/PT/tidak mekar.

  ‘Kalau suhu udara rendah, bunga sakura tidak mekar.’

気温が低い

  Pada data (1), klausa anak kalimat ( Kionga hikui ) ‘suhu udara rendah’

  桜はなが咲かない

  dan induk kalimat ( sakura hana ga sakanai ) ‘bunga sakura tidak mekar

  ’ dihubungkan dengan konjungsi to. Konjungsi to pada kalimat ini melekat pada adjektiva hikui ‘rendah’. Konjungsi to pada kalimat ini melekat pada verba mawasu ‘putar’. Konjungsi to digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (1) sehingga bermakna kondisional umum, yaitu

  ‘umumnya bunga sakura tidak mekar jika suhu udara rendah’. Klausa induk kalimat di atas menyatakan akibat yang terjadi.

  。

  (2) 水は 100 度になると, 沸騰する (NBJ, 1999 :287) Mizu /ha/100 /do /ni/naruto/,futtosuru.

  Air /PT/100/derajat/PT/jadi+KTO/mendidih.

  ‘Kalau suhu air 100 derajat akan mendidih.’ Pada data (2), klausa anak kalimat ( 水は 100 度になる Mizu ha 100 do ni naru )

  沸 騰 す る futtosuru

  ‘suhu air 100 derajat’ dan induk kalimat ( ) ‘mendidih’ dihubungkan dengan konjungsi to. Konjungsitopadakalimatinimelekatpada verba

  naru

  ‘jadi’.Konjungsi to digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (2) sehingga bermakna kondisional umum,yaitu pada umumnya air akan dan pasti mendidih pada suhu 100 derajat. Klausaindukkalimatpada kalimat di atas menyatakan hasil yang tercapai.

  だれでも年をとると, 昔がなつかしくなるものだ

  (3) 。(NBJ, 1999 :287) Dare demo/toshi/wo/toruto/mukashi/ga /nastsukashiku/narumonoda.

  Siapapun/usia/PT/ambil+KTO/dahulu/PT/kangen/menjadi.

  ‘Siapapun kalausudah tua akan merindukan masa lalu.’

  だれでも年をとる

  Pada data (3), klausa anak kalimat ( Dare demotoshiwotoru )

  昔がなつかしくなるものだ mukashiga

  ‘siapapun sudah tua’ dan induk kalimat (

  natsukashikunarumonoda

  ) ‘merindukan masa lalu’ dihubungkan dengan konjungsi Konjungsitopadakalimatinimelekatpada verba

  to. toru

  ‘ambil’.Konjungsi to digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (3) sehingga bermakna kondisional umum,yaitu ‘pada umumnya orang yang sudah berusia tua akan merindukan masa lalu’. Klausaindukkalimatpada kalimat di atasmenyatakan hal yang biasanya atau umumnya terjadi.

  。

  (4) 夏はあさ 4 時になると,明るくなります (NNS, 1998 :73) Natsu/ha/asa/4/ji/ni/naruto/akaruku/narimasu.

  Musim panas/PT/pagi/4/jam/PT/jadi+KTO/ terang /jadi.

  ‘Pada musim panas kalaupukul 4 pagi tiba, akan menjadi terang.’ Pada data (4), klausa anak kalimat (夏はあさ 4 時になる natsu ha asa 4 ji ni naru) ‘musim panas pukul 4 pagi’ dan induk kalimat (明るくなります akaruku narimasu) terang

  to.

  ‘menjadi ’ dihubungkan dengan konjungsi Konjungsitopadakalimatinimelekatpada verba naru

  ‘jadi’.Konjungsi to digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (4) sehingga bermakna kepastian dan sesuatu yang terjadi secara alami,yaitu setiap musim panas pada pukul 4 pagi pasti langit sudah cerah. Klausaindukkalimatpada data (4) di atas menyatakan sesuatu yang biasanya terjadi.

  (5) 年とれば、体が弱くなる。(NBJ, 1999 :477) Toshi/ toreba/karada/ga/yowaku/naru.

  Usia/ambil+KB /badan/PT/lemah/menjadi.

  ‘Kalausudah lanjut usia badan akan menjadi lemah.’

  

年とる

  Pada data (5), klausa anak kalimat ( toshi toru ) ‘lanjut usia’ dan induk

  体 が 弱 く な る

  kalimat ( karada ga yowaku naru ) ‘badan menjadi lemah’ dihubungkan dengan konjungsi ba. Konjungsi ba pada kalimat ini melekat pada verba toru

  ‘ambil’.Konjungsi ba digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (5) sehingga bermakna kondisional umum, yaitu pada umumnya orang yang sudah lanjut usia maka tubuhnya akan menjadi lemah. Klausaindukkalimatpada data (5) di atas menyatakan akibat yang terjadi.

  (6) だれでもほめられれば,うれしい。(NBJ, 1999 :477) Daredemo/homerareba/ureshii.

  Siapapun/dipuji+KB /gembira.

  ‘Siapapun kalau dipuji akan gembira.’ Pada data (6), klausa anak kalimat (だれでもほめられる daredemo homerareru) ‘siapapun dipuji’ dan induk kalimat (うれしい ureshii) ‘gembira’ dihubungkan dengan konjungsi ba. Konjungsi ba pada kalimat ini melekat pada verba homeru

  ‘dipuji’.Konjungsi ba digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (6) sehingga bermakna kondisional umum, yaitu pada umumnya setiap orang akan gembira kalau dipuji oleh orang lain.

  (7) ここは冬になったら、雪が 1 メートルぐらいつもる。(NBJ, 1999 :205)

Koko /ha/ fuyu / ni/nattara /yuki/ga /1/metoru/gurai /tsumoru.

  

Disini/PT/musim dingin/PT/jadi+KTR/salju/PT/1/meter /sekitar /tumpuk

  ‘Di sini kalaumusim dingin tiba, saljunya menumpuk setinggi sekitar 1 meter.

  ’ Pada kalimat(7), klausa anak kalimat (ここは冬になる koko ha fuyu ni naru

  ) ‘di sini musim dingin tiba ’ dan induk kalimat (雪が 1 メートルぐらいつもる yuki ga 1

  meetoru gurai tsumoru

  ) ‘salju menumpuk sekitar 1 meter’ dihubungkan dengan konjungsi tara. Konjungsi tara pada kalimat ini melekat pada verba naru ‘jadi’.

  Konjungsi tara digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (7) sehingga bermakna kondisional umum, yaitu biasanya setiap musim dingin tiba maka di daerah ini salju akan menumpuk sampai sekitar 1 meter. Klausa induk kalimat pada data (7) di atas menyatakan sesuatu yang umumnya terjadi.

  おじいさんは天気がいいと, 裏山に散歩にでかける

  (8) 。(NBJ, 1999 :288) Ojiisan/ha/tenki /ga /iito/urayama/ni/sanpo/ni/dekakeru.

  Kakek/PT/cuaca/PT/bagus+KTO/urayama /PT/jalan-jalan/PT/keluar.

  ‘Kalau cuacanya bagus kekek (biasanya) pergi jalan-jalan ke Urayama.’

  おじいさんは天気がいい

  Pada data (8), klausa anak kalimat ( ojiisan ha tenki ga ii )

  裏山に散歩にでかける

  ‘cuacanya bagus kakek akan’ dan induk kalimat ( ) ‘pergi jalan-jalan ke Urayama ’ dihubungkan dengan konjungsi to. Konjungsi to pada kalimat ini melekat pada adjektiva ii

  ‘bagus’.Konjungsi to digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (8) sehingga bermakna kebiasaan, yaitu biasanya kalau cuacanya bagus kakek akan pergi jalan-jalan. Dan klausa induk kalimat pada data (8) di atas menyatakan aktifitas yang sering dilakukan.

  (9) お酒を飲むと, いつも頭がいたくなる。(NBJ, 1999 :288) Osake / wo/nomuto/itsumo/atama/ga/itaku/naru.

  Osake/PT/minum+KTO/selalu/kepala/PT/sakit/jadi.

  ‘Kalau minum sake, selalu kepala menjadi sakit.’ Pada data (9), klausa anak kalimat (お酒を飲む osake wo nomu

  ) ‘minum sake’ dan induk kalimat (いつも頭がいたくなる itsumo atama ga itaku naru ) ‘selalu jadi kepala sakit

  ’ dihubungkan dengan konjungsi to. Konjungsi to pada kalimat ini melekat pada verba nomu ‘minum’.Konjungsi to digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (9) sehingga bermakna kebiasaan dan makna umum, yaitu apabila minum sake maka pada umumnya seseorang kepalanya akan menjadi sakit. Klausa induk kalimat pada data (9) di atas menyatakan akibat yang terjadi karena minum sake.

  い つ も 5 時 に な っ た ら 、 す ぐ 仕 事 を やめ て 、 テ ニ ス を し ま す

  (10) 。 (NBJ, 1999 :205)

  Itsumo/ 5/ ji / ni/ nattara /sugu / shigoto/ wo/ yamete /tenisu/ wo/ shimasu.

  Selalu/5/pukul/PT/jadi+KTR/segera/ kerja /PT/berhenti/tenis/PT/melakukan.

  ‘Setelah tiba pukul 5 selalu segera berhenti kerja dan bermain tenis.’ Pada data (10), klausa anak kalimat (いつも 5 時になる itsumo 5 jini naru

  ) ‘setiap pukul 5 tiba ’ dan induk kalimat (すぐ仕事をやめて、テニスをします sugu shigoto

  wo yamete, tenisu wo shimasu

  ) ‘segera berhenti kerja dan bermain tenis’ dihubungkan dengan konjungsi tara. Konjungsi tara pada kalimat ini melekat pada verba naru

  ‘jadi’.Konjungsi taradigunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (10) sehingga bermakna kebiasaan, yaitu biasanya kalau tiba pukul 5 maka (saya) akan segera berhenti kerja dan bermain tenis. Klausa induk kalimat pada data (10) di atas mempunyai makna aktifitas yang dilakukan.

  (11)葉書を出すと、すぐ返事がきました。(NNS, 1998 :73) Hagaki /wo / dasuto /sugu /henji /ga/kimashita.

  Kartu pos/PT/kirim+KTO/segera/balasan/PT/datang.

  ‘Kalau (saya) kirim kartu pos, balasannya segera tiba.’ Pada data (11), klausa anak kalimat (葉書を出す hagaki wo dasu

  ) ‘kirim kartu pos ’ dan induk kalimat (すぐ返事がきました sugu henji ga kimashita) ‘balasan segera datang

  ’ dihubungkan dengan konjungsi to. Konjungsi to pada kalimat ini melekat pada verba dasu ‘kirim’.Konjungsi to digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (11) sehingga bermakna kebiasaan, yaitu setiap mengirim kartu pos maka biasanya surat balasan akan segera diterima. Klausa induk kalimat pada data (11) di atas mempunyai makna hal yang biasanya terjadi.

  ま し た

  Klausa induk kalimat di atas dimarkahi oleh bentuk ( mashita ) yang menyatakan makna lampau.

  雨が止むと、空が晴れて明るくなりました

  (12) 。(NNS, 1998 : 73) Ame /ga/ yamuto / sora /ga / harete/akaruku/narimashita.

  Hujan/PT/berhenti+KTO/langit/PT/cerah/terang/jadi.

  ‘Kalau hujan berhenti,langit menjadi cerah dan terang.’ Pada data(12), klausa anak kalimat (雨が止む ame ga yamu

  ) ‘hujan berhenti’ dan

  空が晴れて明るくなりました

  induk kalimat ( sora ga harete akaruku narimasu ) ‘langit akan menjadi cerah dan terang’ dihubungkan dengan konjungsi to.

  Konjungsi to pada kalimat ini melekat pada verba yamu ‘berhenti’.Konjungsi to digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (12) sehingga bermakna kondisional umum, yaitu pada umummya langit akan berubah menjadi cerah dan terang setelah hujan berhenti. Klausa induk kalimat pada data (12) di atas mempunyai makna hal yang biasanya terjadi. Klausa induk kalimat di atas dimarkahi oleh bentuk (ました mashita) yang menyatakan makna lampau.

  彼は、うちへ帰ると, すぐテレビのスイッチを入れる

  (13) 。(NBJ, 1999 :291) Kare/ha/ uchi /he / kaeruto / sugu /terebi /no/suichi /wo/ireru.

  Dia/PT/rumah/PT/pulang+KTO/segera/televisi/PT/tombol/PT/memasukkan.

  ‘Dia kalau pulang ke rumah segera menghidupkan televisi.’ Pada data (13), klausa anak kalimat (彼は、うちへ帰る kare ha uchi he kaeru

  ) ‘dia pulang ke rumah ’ dan induk kalimat (すぐテレビのスイッチを入れる sugu terebi

  no suicchi wo ireru

  ) ‘segera menghidupkan televisi’ dihubungkan dengan konjungsi to. Konjungsi to pada kalimat ini melekat pada verba kaeru ‘pulang’.

  Konjungsi to digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (13) sehingga bermakna kebiasaan, yaitu biasanya dia akan segera menghidupkan televisi setelah tiba di rumah. Klausa induk kalimat pada data (13) di atas menyatakan hal yang biasanya dilakukan.

  (14)彼女は大学を卒業すると, すぐ結婚した。(NBJ, 1999 :291)

Kanojo / ha/daigaku /wo/sotsugyosuruto/sugu /kekkonshita.

  Dia(perempuan)/PT/universitas /PT/lulus +KTO/segera/menikah.

  ‘Dia setelah lulus dari universitas segera menikah.’ Pada data (14), klausa anak kalimat (彼女は大学を卒業する kanojo ha daigaku

  wo sotsugyou suru

  ) ‘dia lulus kuliah’ dan induk kalimat (すぐ結婚した sugu

  kekkon shita

  ) ‘segera menikah’ dihubungkan dengan konjungsi to. Konjungsi to pada kalimat ini melekat pada verba sotsugyo suru ‘lulus’. Konjungsi to digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (14) sehingga bermakna waktu, yaitu dia langsung menikah setelah lulus kuliah. Klausa induk kalimat di atas dimarkahi oleh bentuk (した shita) yang menyatakan makna lampau.

  (15)父は私の顔を見れば、「勉強しろ」と言います。(NNS, 1998 :74) Chichi/ha/watashi/no/ kao /wo/ mireba /[benkyoushiro]/toiimasu.

  Ayah/PT/ aku /PT/wajah/PT/lihat+KB/belajar/berkata.

  ‘Kalau ayah melihat wajah saya, selalu berkata (belajarlah!).’ Pada data (15), klausa anak kalimat (父は私の顔を見る chichi ha watashi no kao

  wo miru

  ) ‘ayah melihat wajah saya’ dan induk kalimat (「勉強しろ」と言います [benkyou shiro]to iimasu

  ) ‘berkata [belajarlah!]’ dihubungkan dengan konjungsi

  ba. Konjungsi ba pada kalimat ini melekat pada verba miru

  ‘lihat’. Konjungsi ba digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (15) sehingga bermakna kebiasaan, yaitu ‘setiap kali saya bertemu ayah, saya akan selalu disuruh belajar’. Klausa induk kalimat pada data (15) di atas menyatakan akibat.

  (16)彼は暇さえあれば、いつもテレビをみている。(NBJ, 1999 :477) Kare /ha/ himasae/ areba / itsumo/terebi /wo /miteiru.

  Dia(laki-laki)/PT/senggang/ada+KB/selalu/televisi/PT/lihat.

  ‘Dia kalau ada waktu senggang selalu melihat televisi.’ Pada data (16), klausa anak kalimat (彼は暇さえある kare ha hima sae aru

  ) ‘dia ada waktu senggang ’ dan induk kalimat (いつもテレビをみている itsumo terebi

  wo mite iru ) ‘selalu melihat televisi’ dihubungkan dengan konjungsi ba.

  Konjungsi ba pada kalimat ini melekat pada nomina aru ‘ada’. Bentuk sae ~ ba merupakan pola kalimat yang sudah menjadi kesatuan yang bermakna saitei

  

jouken . Klausa induk kalimat pada data (16) di atas menyatakan aktivitas yang

  selalu dikerjakan. Klausa induk kalimat di atas dimarkahi oleh bentuk (-ている te

  

iru ) pada verba yang menyatakan bahwa pada waktu senggang merupakan

kebiasaan.

  (17)その話を聞くと、無性に悲しくなった。(HNB, 1976 : 250) Sono/hanashi/wo/ kikuto /museinikanashiku/natta.

  Itu / bicara /PT/dengar+KTO/ sangat sedih /jadi.

  ‘Kalau mendengar pembicaraan itu menjadi sangat sedih.’ Pada data (17), klausa anak kalimat ( その話 を聞く sono hanashi wo kiku) ‘mendengar pembicaraan itu’ dan induk kalimat (無性に悲しくなった musei ni

  kanashiku natta ) ‘menjadi sangat sedih’ dihubungkan dengan konjungsi to.

  Konjungsi to pada kalimat ini melekat pada nomina kiku ‘dengar’. Konjungsi to digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (17) sehingga bermakna sebab-akibat yaitu karena mendengar pembicaraan itu maka menjadi sedih. Klausa induk kalimat pada data (17) di atas menyatakan akibat yang timbul karena mendengar berita itu. Klausa induk kalimat di atas dimarkahi oleh bentuk (-た ta) yang menyatakan makna lampau.

  (18) カンダタはこれを見ると、驚いた。(KNI, 2009 : 111) Kandata/ha /kore/wo/ miruto /odoroita.

  Kandata/PT/ ini /PT/lihat+KTO/terkejut.

  ‘Kandata terkejut ketika melihat ini.’ Pada data (18), klausa anak kalimat (カンダタはこれを見る kandata ha kore wo

  miru

  ) ‘Kandata melihat ini’ dan induk kalimat ( 驚 いた odoroita) ‘terkejut’ dihubungkan dengan konjungsi to. Konjungsi to pada kalimat ini melekat pada verba miru

  ‘melihat’.Konjungsi to digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (18) sehingga bermakna sebab-akibat, yaitu ‘karena melihat ini, Kandata menjadi terkejut’. Klausa induk kalimat pada data (18) di atas menyatakan akibat yang terjadi. Predikat klausa induk kalimat di atas dimarkahi oleh bentuk (-た ta) yang menyatakan makna lampau.

  (19) そう言われると、ぼくはかえって心が落ち着く。(HNB, 1976 : 250) Sou /iwareruto /boku/ha/kaette /kokoro/ga /ochitsuku.

  Begitu/dikatakan+KTO/aku/PT/kembali/hati/PT/ tenang.

  ‘Ketikadikatakan seperti itu, sebaliknya hatiku menjadi tenang.’ Pada data (19), klausa anak kalimat (そう言われる sou iwareru

  ) ‘dikatakan seperti itu ’ dan induk kalimat (ぼくはかえって心が落ち着く boku ha kaette

  kokoro ga ochi tsuku )

  ‘hatiku kembali menjadi tenang’ dihubungkan dengan konjungsi to. Konjungsi to pada kalimat ini melekat pada verba iu ‘berkata’.

  Konjungsi to digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (19) sehingga bermakna sebab-akibat, yaitu ‘hatiku kembali menjadi tenang karena mendengar itu’. Klausa induk kalimat pada data (19) di atas menyatakan akibat yang terjadi.

  (20) たくさん食べれば、太るのは当たり前です。(NNS, 1998 :74) Takusan/ tabereba /,futoru /noha/atarimaedesu.

  Banyak / makan+KB/gemuk/ PT /wajar

  ‘Kalaubanyak makan sudah wajar kalau gemuk.’ Pada data (20), klausa anak kalimat (たくさん食べる takusan taberu

  ) ’banyak makan’ dan induk kalimat (太るのは当たり前です futoru noha atarimae desu) ‘wajar bila gemuk’ dihubungkan dengan konjungsi ba. Konjungsi ba pada kalimat ini melekat pada verba taberu

  ‘makan’. Konjungsi ba digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (20) sehingga bermakna sebab- akibat, yaitu‘akibat makan banyak, orang akan menjadi gemuk’. Data di atas masuk dalam kategori makna umum karena umumnya orang yang makan banyak akan menjadi gemuk.

  (21) 子供が元気だと、親は安心します。(NNS, 1998 :73)。 Kodomo/ ga/ genkidato /oya /ha /anshinshimasu.

  Anak /PT/sehat+KTO /orang tua/PT/tenang.

  ‘Kalau anaknya sehat orang tua akan tenang.’ Pada data (21), klausa anak kalimat (子供が元気だ kodomo ga genki da)

  ‘anak sehat ’ dan induk kalimat (親は安心します oya ha anshin shimasu) ‘orang tua tenang

  ’ dihubungkan dengan konjungsi to. Konjungsi to pada kalimat ini melekat pada adjektiva genki ‘sehat’.Konjungsi to digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (21) sehingga bermaknaumum, yaitu orang tua umumnya akan merasa tenang jika anaknya sehat. Klausa induk kalimat pada data (21) di atas mempunyai makna akibat yang terjadi. Data tersebut di atas masuk kategori makna umum karena setiap orang tua pada umumnya akan merasa tenang jika anaknya sehat.

  (22) 薬を飲んだら、熱が下がった。(NBJ, 1999 :209) Kusuri/wo / nondara / netsu /ga/sagatta.

  Obat /PT /minum+KTR/demam/PT/turun.

  ‘Kalau minum obat demamnya akan turun.’ Pada data (22), klausa anak kalimat (薬を飲む kusuri wo nomu)

  ‘minum obat’ dan induk kalimat ( 熱 が 下 が っ た netsu ga sagatta ) ‘demam akan turun’ dihubungkan dengan konjungsi tara. Konjungsi tara pada kalimat ini melekat pada verba nomu

  ‘minum’.Konjungsi tara digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (22) sehingga bermakna umum, yaitu ‘kalau minum obat maka demam akan turun’. Klausa induk kalimat pada data (22) di atas mempunyai makna hasil yang akan tercapai.

  (23) 5 月に入ったら、急に暑くなった。(NBJ, 1999 :209)

  5 gatsu /ni / haittara / kyuni /atsuku/natta.

  Bulan mei/PT/ masuk+KTR/mendadak/panas /jadi.

  ‘Kalausudah masuk bulan mei, segera menjadi panas.’ Pada data (23), klausa anak kalimat (5 月に入る 5 gatsu ni hairu)

  ‘masuk bulan Mei

  ’ dan induk kalimat (急に暑くなった kyuni atsuku natta) ‘segera menjadi panas ’ dihubungkan dengan konjungsi tara. Konjungsi tara pada kalimat ini melekat pada verba hairu

  ‘masuk’.Konjungsi tara digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (23) sehingga bermakna umum, yaitu ‘pada umumnya kalau sudah masuk bulan mei, maka suhu udara akan mulai menjadi panas’. Klausa induk kalimat pada data (23) di atas menyatakan sesuatu yang umumnya terjadi.

3.1.2.2 Makna kondisional Pasti (恒常条件)

  Makna kondisional pasti adalah makna yang menjelaskan kejadian yang pasti terjadi sebagai akibat dari suatu kejadian, seperti pengoperasian suatu alat atau mesin, penjumlahan dalam matematika, dan letak suatu benda.

  (24) このつまみを右へ回すと、音が大きくなります。(MNN, 2002 :190) Kono/tsumami/wo/ migi /he/ mawasuto / oto /ga/ookiku/narimasu.

  Ini / tombol /PT/kanan/PT/putar+KTO/suara/PT/ keras/ jadi.

  ‘Kalau tombol ini diputar ke kanan suaranya akan menjadi keras.’ Pada data (24), klausa anak kalimat (このつまみを右へ回す kono tsumami wo

  migi he mawasu

  ) ‘tombol ini diputar ke kanan’ dan induk kalimat (音が大きくなり ま す oto ga okiku narimasu

  ) ‘suaranya menjadi keras’ dihubungkan dengan konjungsi to. Konjungsi to pada kalimat ini melekat pada verba mawasu ‘putar’. Konjungsi to digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (24) sehingga bermakna syarat pasti.

  (25) 10 を2で割れば、5になる。(NBJ, 1999 :477)

  10 /wo/2/de /wareba /5/ni /naru.

10/PT/2/PT/bagi+KB/5/PT/jadi.

  ’10kalaudibagi2,hasilnya5.’ Pada data (25), klausa anak kalimat (10 を2で割れる 10 wo 2 de wareru)

  ’10 dibagi 2 ’ dan induk kalimat (5になる 5 ni naru) ‘jadi 5’ dihubungkan dengan konjungsi ba. Konjungsi ba pada kalimat ini melekat pada verba wareru

  ‘dibagi’.Konjungsi ba digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (25) sehingga bermakna pasti, yaitu bila 10 dibagi 2 maka hasilnya pasti 5.

  Klausa induk kalimat pada data (25) di atas mempunyai makna hasil yang terjadi. Data tersebut di atas masuk kategori makna pasti karena hasil pembagian di atas hasilnya sudah pasti 5.

  (26) 右へまがると, 郵便局があります。( MNN, 2002 : 192) Migi /he / magaruto /yubinkyouku/ga / arimasu.

  Kanan/PT/belok+KTO/kantor pos /PT/ada.

  ‘Kalau belok kanan ada kantor pos.’ Pada data (26), klausa anak kalimat (右へまがる migi he magaru)

  ’belok kanan’ dan induk kalimat (郵便局があります yubinkyoku ga arimasu ) ‘ada kantor pos’ dihubungkan dengan konjungsi to. Konjungsi to pada kalimat ini melekat pada verba magaru

  ‘belok’.Konjungsi to digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (26) sehingga bermakna pasti, yaitu ‘kalau belok ke kanan maka ada kantor pos’. Klausa induk kalimat pada data (26) di atas menyatakan hasil yang akan ditemukan. Data tersebut di atas masuk kategori makna pasti karena letak suatu tempat atau bangunan tidak akan berpindah dalam waktu yang singkat.

3.1.2.3 Makna Kondisional Bersyarat(仮定条件)

  Makna kondisional bersyarat adalah makna yang menjelaskan keadaan atau situasi yang memiliki kemungkinan terjadi dengan persyaratan tertentu.

  (27) 勉強しないで遊んでいると、大学にはいれないだろう.(NNS,1998: 73) Benkyoushinaide/ asondeiruto /daigaku /ni /hairenaidarou.

  

Tidak belajar /bermain + KTO/ universitas /PT/tidak bisa masuk, kan?

  ‘Kalau tidak belajar dan bermain tidak akan bisa masuk universitas.’ Pada data (27), klausa anak kalimat (勉強しないで遊んでいる benkyou shinaide

  asonde iru )

  ‘bermain tanpa belajar’ dan induk kalimat (大学にはいれないだろう

  daigaku ni hairenai darou

  ) ‘tidak akan bisa masuk universitas, kan?’ dihubungkan dengan konjungsi to. Konjungsi to pada kalimat ini melekat pada verba asobu

  ‘bermain’. Konjungsi to digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (27) sehingga bermakna kondisional , yaitu ‘jika terus bermain dan tidak pernah belajar maka dapat mengakibatkan tidak dapat masuk universitas’. Klausa induk kalimat pada data (27) di atas menyatakan kemungkinan yang akan terjadi sebagai akibat dari perbuatan sebelumnya. Data tersebut di atas masuk kategori makna kondisional bersyarat karena seandainya tidak pernah belajar maka kemungkinan besar tidak akan bisa masuk universitas.

  Kopula (だろう darou) di atas menyatakan kemungkinan besar tidak bisa masuk universitas bila hanya bermain dan tidak pernah belajar. Sehingga makna lengkapnya yaitu ‘Kalau seseorang hanya bermain saja tanpa pernah belajar, kemungkinan orang itu tidak akan bisa memasuki universitas, kan?’.

  (28) この料理は少しお酒を入れると、おいしくなります。(NNS, 1998 : 73)

Kono / ryouri /ha /sukoshi/osake/ wo/ ireruto /oishiku/narimasu.

  Ini / masakan /PT/sedikit /sake /PT /masuk+KTO/ enak /jadi.

  ‘Kalau masakan ini diberi sedikit sake akan menjadi enak.’ Pada data (28), klausa anak kalimat (この料理は少しお酒を入れる kono ryouri

  ha sukoshi osake wo ireru )

  ‘masakan ini diberi sedikit sake’ dan induk kalimat ( お い し く な り ま す oishiku narimasu

  ) ‘menjadi enak’ dihubungkan dengan konjungsi to. Konjungsi to pada kalimat ini melekat pada verba ireru ‘memasuki’. Konjungsi to digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (28) sehingga bermakna pengandaian, yaitu ‘jika masakan ini diberi sake, maka rasanya akan menjadi lebih enak’. Klausa induk kalimat pada data (28) di atas menyatakan hasil yang akan didapat. Data tersebut di atas masuk kategori makna kondisional bersyarat karena masakan tersebut akan menjadi lebih enak seandainya diberi sake.

  (29) このお茶を飲むと、元気になります。(DDN, 2002 : 158) Kono/ocha /wo/ nomuto /genkini /narimasu.

  Ini / teh /PT/ minum +KTO/ sehat/jadi.

  ‘Kalau minum teh ini akan menjadi sehat.’ Pada data (29), klausa anak kalimat (このお茶 を飲む kono ocha wo nomu) ‘minum teh ini’ dan induk kalimat (元気になります genki ni narimasu) ‘menjadi sehat

  ’ dihubungkan dengan konjungsi to. Konjungsi to pada kalimat ini melekat pada verba nomu ‘minum’. Konjungsi to digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (29) sehingga bermakna kondisional

  , yaitu ‘jika minum teh ini maka badan akan menjadi sehat’. Klausa induk kalimat pada data (29) di atas menyatakan hasil yang akan didapat jika minum teh ini. Data tersebut di atas masuk kategori makna kondisional karena seandainya minum teh maka kemungkinan badan menjadi sehat.

  (30) 外国語がじょうずだと、いろいろな仕事ができます。(DDN, 2002 : 156)

Gaikokugo /ga / jouzudato / iroirona / shigoto /ga /dekimasu.

  Bahasa asing/PT/pandai+KTO/macam-macam /pekerjaan / PT/bisa.

  ‘Kalau pandai berbahasa asing, bisa melakukan bermacam-macam pekerjaan.’ Pada data (30), klausa anak kalimat (外国語がじょうずだ gaikokugo ga jouzu da) ‘pandai berbahasa asing’ dan induk kalimat (いろいろな仕事ができます iro irona

  shigoto ga dekimasu

  ) ‘bisa melakukan bermacam-macam pekerjaan’ dihubungkan dengan konjungsi to. Konjungsi to pada kalimat ini melekat pada adjektiva jouzu ‘pandai’. Konjungsi to digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (30) sehingga bermakna kondisional, yaitu ‘seandainya pandai berbahasa asing maka akan memperoleh bermacam

  • –macam pekerjaan’. Klausa induk kalimat pada data (30) di atas menyatakan hasil yang akan diperoleh jika pandai berbahasa asing.

  (31) 彼と結婚すれば、金持ちになるだろう。(NNS, 1998 : 74) Kare /to /kekkonsureba/kanemochi/ni /narudarou.

  Dia /PT/ menikah+KB/ kaya /PT/jadi.

  ‘Kalau menikah dengan dia, (kamu) bisa jadi kaya.’ Pada data (31), klausa anak kalimat (彼と結婚する kare to kekkon suru)

  ‘menikah dengan dia’ dan induk kalimat (金持ちになるだろう kanemochi ni naru daro) ‘menjadi kaya bukan’ dihubungkan dengan konjungsi ba. Konjungsi ba pada kalimat ini melekat pada verba kekkon suru

  ‘menikah’. Konjungsi to digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (31) sehingga bermakna kondisional

  , yaitu ‘seandainya menikah dengan dia maka kemungkinan bisa menjadi kaya’. Klausa induk kalimat pada data (31) di atas menyatakan kemungkinan yang terjadi.

  今度の日曜日天気がよければ、お花見に行きましょう

  (32)

  。 (NBJ, 1999 : 479)

Kondo /no/nichiyoubi /tenki /ga /yokereba /ohanami/ni /ikimashou.

Akan datang/PT/hari minggu/cuaca/PT/bagus+KB/hanami/PT/pergi.

  ‘Kalau hari minggu depan cuacanya bagus, mari kita pergi ke hanami.’

  今度の日曜日天気がよい

  Pada data (32), klausa anak kalimat ( kondo no nichiyoubi

  tenki ga yoi )

  ‘hari minggu yang akan datang cuacanya bagus’ dan induk kalimat ( お 花 見 に 行 き ま し ょ う ohanami ni ikimashou

  ) ‘mari pergi ke hanami’ dihubungkan dengan konjungsi ba. Konjungsi ba pada kalimat ini melekat pada adjektiva yoi

  ‘bagus’. Konjungsi ba digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (32) sehingga bermakna kondisional, yaitu jika hari minggu yang akan datang cuacanya bagus maka akan pergi. Klausa induk kalimat pada data (32) di atas mempunyai makna kegiatan yang akan dilakukan jika cuacanya bagus. Klausa induk kalimat di atas dimarkahi oleh bentuk (ましょう mashou) yang menyatakan ajakan.

  (33) 手術をすれば、助かるでしょう。(NBJ, 1999 : 479) Shujutsu /wo/ sureba /tasukarudeshou.

  Operasi /PT/ lakukan+KB/tertolong, kan? ‘Seandainya dioperasi, (dia) akan tertolong, kan ?’.

  Pada data (33), klausa anak kalimat (手術をする shujutsu suru) ‘dioperasi’ dan induk kalimat (助かるでしょう tasukaru deshou)

  ‘tertolong kan?’ dihubungkan dengan konjungsi ba. Konjungsi ba pada kalimat ini melekat pada verba shujutsu

  suru

  ‘operasi’.Konjungsi badigunakan untuk mengubungkan anak dan induk kalimat data (33) sehingga bermakna kondisional, yaitu ‘seandainya dioperasi maka akan tertolong’. Klausa induk kalimat pada data (33) di atas menyatakan kemungkinan.

  (34) 雨が降ったら、でかけません。(MNN, 2002 : 206) Ame /ga / futtara /dekakemasen.

  Hujan/PT/turun + KTR/tidak pergi.

  ‘Kalau turun hujan tidak jadi pergi.’ Pada data (34), klausa anak kalimat (雨が降る ame ga furu)

  ‘turun hujan’ dan induk kalimat ( でかけ ま せ ん dekakemasen) ‘tidak pegi keluar’ dihubungkan dengan konjungsi tara. Konjungsi tara pada kalimat ini melekat pada verba furu

  ‘turun’. Klausa induk kalimat pada contoh kalimat di atas menyatakan keputusan yang diambil sebagai akibat dari turun hujan. Konjungsi tara digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (34) sehingga bermakna kondisional, yaitu

  ‘apabila hujan turun maka tidak jadi pergi keluar, tetapi jika tidak turun hujan maka kemungkinan besar pergi keluar ’.

  (35) もし遅れたら、連絡してください。(NBJ, 1999 : 206) Moshi / okuretara /renraku/shitekudasai.

  Kalau /terlambat +KTR/hubungi/tolong.

  ‘Seandainya terlambat, tolong menghubungi.’ Pada data (35), klausa anak kalimat (もし遅れる moshi okureru)

  ‘jika terlambat’ dan induk kalimat (連絡してください renraku shite kudasai) ‘tolong hubungi’ dihubungkan dengan konjungsi tara. Konjungsi tara pada kalimat ini melekat pada verba okureru

  ‘terlambat’. Konjungsi tara digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (35) sehingga bermakna kondisional, yaitu seandainya terlambat maka ada sesuatu yang harus dilakukan. Predikat klausa induk kalimat pada data (35) di atas menyatakan sesuatu yang harus dilakukan jika terlambat. Predikat kalimat di atas dimarkahi oleh bentuk ( て く だ さ い tekudasai ) yang menyatakan makna perintah.

  (36) あした、晴れたら、いいなあ。(NNS, 1998 : 75) Ashita / haretara / iina.

  Besok / cerah+KTR/ bagus.

  ‘Seandainya besok (cuaca) cerah bagus ya.’ Pada data (36), klausa anak kalimat (あした、晴れる ashita hareru)

  ‘besok cuaca cerah’ dan induk kalimat (いいなあ iinaa) ‘bagus’ dihubungkan dengan konjungsi

  tara. Konjungsi tara pada kalimat ini melekat pada verba hareru ‘cerah’.

  Konjungsi tara digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (36) sehingga bermakna kondisional, yaitu ‘seandainya besok cuacanya cerah, maka akan menyenangkan’.

  (37) もう少し給料がよかったら、いいのだが。(NBJ, 1999 : 207) Mou sukoshi/ kyuryo/ga /yokattara / ii no da ga.

  Sedikit lagi / gaji /PT/bagus+KTR/bagus , tapi...’

  ‘Seandainya gaji lebih bagus sedikit lagi, bagus ya, tapi...’ Pada data (37), klausa anak kalimat (もう少し給料がよい mou sukoshi kyuryoga

  )

  yoi

  ‘gaji lebih bagus sedikit lagi’ dan induk kalimat (いいのだが ii no da ga) ‘bagus tetapi’ dihubungkan dengan konjungsi tara. Konjungsi tara pada kalimat ini melekat pada adjektiva yoi

  ‘bagus’. Konjungsi tara digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (37) sehingga bermakna kondisional, yaitu ‘seandainya gajinya lebih bagus dari sekarang’. Konjungsi ga pada kalimat di atas mempunyai makna sebaliknya, yaitu ‘gaji saat ini belum bagus’.

  生まれてくるこどもが男の子だったら、いいのだが。

  (38) (NBJ, 1999 : 212) Umarete/ kuru /kodomo/ ga/ otoko /no /kodattara/ iinodaga.

  Lahir / datang / anak /PT /laki-laki /PT/anak+KTR/bagus tapi . Pada data (38), klausa anak kalimat (生まれてくるこどもが男の子だ umarete kuru

  kodomo ga otoko no ko da )

  ‘anak yang akan lahir adalah anak laki-laki’ dan induk kalimat (いいのだが ii no da ga) ‘bagus tetapi’ dihubungkan dengan konjungsi

  tara. Konjungsi tara pada kalimat ini melekat pada nomina otoko no ko

  ‘anak laki-laki ’.Konjungsi tara digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (38) sehingga bermakna kondisional, yaitu ‘seandainya anak yang akan lahir anak laki- laki’. Konjungsi ga pada kalimat di atas mempunyai makna seba liknya, yaitu ‘anak yang akan lahir bukanlah anak laki-laki’.

  (

  39 ) あと 1000 円あれば、このコートが買えるのに。( NBHB, 2000 :223) Ato /1000/en /areba /kono/kooto /ga / kaeru /noni.

  Lagi/1000/yen/ada+KB / ini /baju /PT/bisa beli/tapi.

  ‘Seandainya ada 1000 yen lagi baju ini akan terbeli, tapi..’ Pada kalimat (39), klausa anak kalimat (あと 1000 円ある ato 1000 en aru)

  ‘ada 1000 yen lagi’ dan induk kalimat (このコートが買えるのに kono koto ga kaeru )

  noni

  ‘baju ini bisa terbeli, tapi...’ dihubungkan dengan konjungsi ba. Konjungsi

  ba pada kalimat ini melekat pada verba aru

  ‘ada’. Konjungsi ba digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (39) sehingga bermakna kondisional , yaitu seandainya ada uang 1000 yen lagi maka bajunya akan terbeli. Dan klausa induk kalimat pada contoh (39) di atas mempunyai makna bahwa bajunya tidak bisa terbeli karena uangnya kurang. Klausa induk kalimat di atas dimarkahi oleh bentuk (のに) yang menyatakan makna penyesalan.

  (40) あの時、あの飛行機に乗っていれば、私は今ここにいないはずだ。 (NBJ, 1999 : 483)

  Ano/toki /ano /hikouki/ni /notteireba /watashi /ha / ima / koko / ni/ inai / hazuda Itu/waktu /itu /pesawat/PT/naik+KB/aku/PT/sekarang/disini/PT/tdk ada/semestinya.

  ‘Waktu itu, seandainya (aku) naik pesawat itu, mestinya aku tidak ada di sini saat ini.’ Pada kalimat (40), klausa anak kalimat (あの時、あの飛行機に乗っている ano

  toki ano hikouki ni notte iru )

  ‘waktu itu, naik pesawat itu’ dan induk kalimat (私は今ここにいないはずだ watashi ha ima koko ni inai hazu da)

  ‘mestinya aku tidak ada di sini sekarang ’ dihubungkan dengan konjungsi ba. Konjungsi ba pada kalimat ini melekat pada verba notte iru

  ‘naik’. Konjungsi ba digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (40) sehingga bermakna kondisional yaitu seandainya pada waktu itu naik pesawat itu. Dan klausa induk kalimat pada contoh (40) di atas mempunyai makna kemungkinan yang terjadi.

  Fakta yang terjadi saat ini yaitu bahwa pembicara tidak naik pesawat.

  もう少し若ければ、わたしが自分で行くところだ。

  (41) (NBJ, 1999 : 483) Mousukoshi /wakakereba/watashi/ ga/jibun /de /ikutokoroda.

  Sedikit lagi /muda+KB / aku /PT /sendiri/PT/pergi.

  ‘Seandainya lebih muda sedikit,aku akan pergi sendiri.’ Pada kalimat(41), klausa anak kalimat (もう少し若い mou sukoshi wakai)

  ‘muda sedikit lagi’ dan induk kalimat (わたしが自分で行くところだ watashi ga jibun

  de iku tokoro da ) ‘aku akan pergi sendiri’ dihubungkan dengan konjungsi ba.

  Konjungsi ba pada kalimat ini melekat pada adjektiva wakai ‘muda’. Konjungsi

  ba pada kalimat di atas mengandung makna kondisional yaitu seandainya lebih

  muda sedikit. Dan klausa induk kalimat pada contoh (41) di atas mempunyai makna hal yang masih bisa dilakukan. Fakta yang terjadi saat ini yaitu bahwa pembicara usianya sekarang sudah tua.

3.1.2.4 Makna kondisional Tidak nyata (反事実的条件)

  Makna kondisional tidak nyata adalah makna yang kemungkinan kecil terjadi atau tidak akan terjadi. Makna tersebut berkebalikan dari kejadian yang sebenarnya.

  (42) もし1億円あったら、何をしたいですか。(MNN, 2002 : 206) Moshi / 1oku /en / attara /nani/wo/shitaidesuka.

  Kalau/100 juta/yen/ada+KTR /apa/PT /ingin lakukan.

  ‘Seandainya punya uang 100 juta yen apa yang ingin kamu lakukan.’ Pada kalimat (42), klausa anak kalimat (もし1億円ある moshi 1 oku en aru) ‘punya 100 juta yen’ dan induk kalimat (何をしたいですか nani wo shitai

  desuka ) ‘apa yang akan (kamu) lakukan’ dihubungkan dengan konjungsi tara.

  Konjungsi tara pada kalimat ini melekat pada adjektiva wakai ‘muda’. Konjungsi

  

tara digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (42) sehingga

  bermakna tidak nyata, yaitu seandainya punya uang 100 juta yen. Dan klausa induk kalimat pada contoh (42) di atas mempunyai makna pertanyaan. Klausa induk kalimat di atas dimarkahi oleh bentuk (たい) yang menyatakan makna keinginan.

  (43) 私が鳥だったら、一日中空を飛び回りたい。(NNS, 1998 : 75)

Watashi /ga /toridattara /ichi/nichi/ jyu / sora /wo/tobi /mawaritai.

  Aku /PT/burung+KTR/satu/hari /penuh/langit /PT/terbang/keliling.

  ‘Seumpamaaku burung (aku) ingin terbang mengelilingi langit seharian.

  ’ Pada kalimat (43), klausa anak kalimat (私が鳥だ watashi ga tori da)

  ‘aku burung’ dan induk kalimat (一日中空を飛び回りたい ichi nichijyu sora wo tobi

  mawaritai )

  ‘ingin terbang mengelilingi langit seharian’ dihubungkan dengan konjungsi tara. Konjungsi tara pada kalimat ini melekat pada nomina tori ‘burung’. Konjungsi ba digunakan untuk menghubungkan anak dan induk kalimat data (43) sehingga bermakna perumpamaan yaitu seumpama aku seekor burung. Dan klausa induk kalimat pada contoh (43) di atas mempunyai makna hal yang ingin dilakukan. Klausa induk kalimat di atas dimarkahi oleh bentuk (たい) yang menyatakan makna keinginan. Fakta yang terjadi saat ini yaitu bahwa pembicara bukanlah seekor burung seperti yang dia andai-andaikan, sehingga kenyataannya dia tidak bisa terbang mengelilingi langit.

3.2 Substitusi

  Substitusi atau teknik ganti adalah analisis bahasa dengan cara menggantikan suatu unsur dengan unsur lainnya. Dalam penelitian ini unsur yang digantikan berupa konjungsi to, ba, tara untuk mengetahui apakah konjungsi to, ba, tara bisa saling menggantikan satu sama lain.

3.2.1 Makna kondisional umum(一般条件)

  Kondisional umum adalah makna yang digunakan untuk menyatakan suatu hal yang pada umumnya terjadi. Makna umum ini memiliki fungsi diantaranya yaitu untuk menjelaskan sesuatu yang terjadi secara berulang-ulang, menjelaskan sesuatu yang terjadi secara alami, menyatakan kebiasaan, menyatakan sebab- akibat, dan menyatakan waktu.

  (1) 気温が低いと、桜はなが咲かない。 Kion / ga/ hikuito/sakura/hana/ga/sakanai.

  Suhu udara/PT/rendah+KTO/sakura/bunga/PT/tidak mekar.

  ‘Kalau suhu udara rendah, bunga sakura tidak mekar.

  Substitusi : 気温が低くければ, 桜はなが咲かない。 (O) Kion ga hikureba, sakura hana ga sakanai.

  

‘Kalau suhu udara rendah, bunga sakura tidak mekar.’

  気温が低くかったら, 桜はなが咲かない。 (O) Kion ga hikukattara, sakura hana ga sakanai.

  

‘Kalau suhu udara rendah, bunga sakura tidak mekar.’

  Pada data (1) di atas, konjungsi to dapat disubstitusikan dengan konjungsi ba dan tara karena kalimat di atas struktur dan maknanya sama. Konjungsi to, ba dan tara bisa melekat pada adjektiva i

  ‘低い hikui’. Konjungsi to pada pada kalimat di atas mempunyai makna sesuatu yang umumnya terjadi yaitu kalau suhu udara rendah maka umumnya bunga sakura tidak akan mekar. Konjungsi ba pada kalimat di atas mempunyai makna tersirat hubungan ketergantungan yaitu bunga sakura tidak akan mekar kalau suhu udaranya rendah. Konjungsi tara pada kalimat di atas mempunyai makna tersirat sebab-akibat yaitu suhu udara yang rendah akan mengakibatkan bunga sakura tidak mekar.Kalimat di atas konjungsi to dapat digantikan dengan konjungsi

  

ba dan tara karena makna kalimat di atas tidak akan berubah jika

konjungsinya saling sulih.

  (2) 水は 100 度になると, 沸騰する。(NBJ, 1999 : 287) Mizu /ha/100/do /ni/naruto /,futtousuru.

  Air /PT/100/derajat/PT/jadi+KTO/mendidih.

  ‘Kalau suhu air 100 derajat akan mendidih.’ Substitusi :

  水は 100 度になれば, 沸騰する。 (O) Mizu ha 100 do ni nareba, futtosuru. Kalau suhu air 100 derajat akan mendidih.’ 水は 100 度になったら, 沸騰する。 (O) Mizu ha 100 do ni nattara, futtosuru. Kalau suhu air 100 derajat akan mendidih.’

  Pada data (2) di atas, konjungsi to dapat disubstitusikan dengan konjungsi ba dan tarakarena kalimat di atas struktur dan maknanya sama. Konjungsito, ba,

  tara bisa melekat pada

  Verba ‘なる naru’. Konjungsi to pada kalimat di atas mempunyai makna sesuatu yang pasti yaitu air akan mendidih pada suhu 100 derajat. Konjungsi ba pada kalimat di atas mempunyai makna umumnya yaitu pada umumnya air akan mendidih pada suhu 100 derajat.Konjungsi tara pada kalimat di atas mempunyai makna tersirat sebab-akibat yaitu air menjadi mendidih sebab suhunya 100 derajat.Kalimat di atas konjungsi todapat digantikan dengan konjungsi ba dan tara karena makna kalimat di atas tidak akan berubah jika konjungsinya saling sulih.

  (3) だれでも年をとると, 昔がなつかしくなるものだ。(NBJ, 1999 : 287) Dare demo/toshi/wo/toruto/,mukashi/ga /nastsukashiku/narumonoda.

  Siapapun/usia/PT/ambil+KTO/dahulu/PT/kangen/menjadi.

  ‘Siapapun kalau sudah tua akan merindukan masa lalu.’ Substitusi :

  だれでも年をとれば, 昔がなつかしくなるものだ。 (O)

Dare demo toshi wo toreba, mukashi ga natsukashiku naru mono da.

‘Siapapun kalausudah tua akan merindukan masa lalu.’ だれでも年をとったら, 昔がなつかしくなるものだ。 (O)

Dare demo toshi wo tottara, mukashi ga natsukashiku naru mono da.

‘Siapapun kalausudah tua akan merindukan masa lalu.’

  Pada data (3) di atas, konjungsi to dapat disubstitusikan dengan konjungsi ba dan tara karena kalimat di atas struktur dan maknanya sama. Konjungsi to dan ba bisa melekat pada Verba ‘とる toru’. Konjungsi to dan ba pada kalimat di atas mempunyai makna sesuatu yang umumnya terjadi yaitu pada umumnya orang yang usianya sudah tua akan merindukan masa lalu.

  Konjungsi tara pada kalimat di atas mempunyai makna sebab-akibat yaitu usia yang sudah tua membuat seseorang akan merindukan masa lalu. Kalimat di atas konjungsi to dapat digantikan dengan konjungsi ba dan tara karena makna kalimat di atas tidak akan berubah jika konjungsinya saling sulih.

  (4) 夏はあさ 4 時になると,明るくなります。(NNS, 1998 :73) Natsu /ha/asa/4/ ji /ni / naruto /akaruku/narimasu.

  Musim panas/PT/pagi/4/jam/PT/jadi+KTO/terang /jadi

  ‘Pada musim panas kalau pukul 4 pagi tiba, akan menjadi terang.’

  Substitusi : 夏はあさ 4 時になれば,明るくなります。 (O) Natsu ha asa 4 ji ni nareba, akaruku narimasu. ‘Pada musim panas kalaupukul 4 pagi tiba, akan menjadi terang.’ 夏はあさ 4 時になったら,明るくなります。 (O) Natsu ha asa 4 ji ni nattara, akaruku narimasu. ‘Pada musim panas kalaupukul 4 pagi tiba, akan menjadi terang.’

  Pada data (4) di atas, konjungsi to dapat disubstitusikan dengan konjungsi

ba dan tarakarena kalimat di atas struktur dan maknanya sama.

  Konjungsito,ba, tara bisa melekat pada verba ‘なる naru’. Konjungsi to pada pada kalimat di atas mempunyai makna sesuatu yang pasti yaitu pada musim panas pukul 4 pagi sudah terang. Konjungsi ba pada kalimat di atas mempunyai makna umumnya yaitu pada umumnya saat musim panas pada pukul 4 pagi sudah terang.Konjungsi tara pada kalimat di atas mempunyai makna sebab-akibat yaitu pada pukul 4 pagi sudah terang karena musim panas. Kalimat di atas konjungsi to dapat digantikan dengan konjungsi ba dan

  

tara karena makna kalimat di atas tidak akan berubah jika konjungsinya

saling sulih.

  (5) 年とれば、体が弱くなる。(NBJ, 1999 : 477) Toshi/ toreba/karada/ga/yowaku/naru.

  Usia/ambil+KB /badan/PT/lemah/menjadi.

  ‘Kalausudah lanjut usia badan akan menjadi lemah.’ Substitusi : 年とると、体が弱くなる。 (O) Toshi toruto, karada ga yowaku naru. Kalausudah lanjut usia badan akan menjadi lemah.’ 年とったら、体が弱くなる。 (O) Toshi tottara, karada ga yowaku naru. Kalau sudah lanjut usia badan akan menjadi lemah.’ Pada data (5) di atas, konjungsi ba dapat disubstitusikan dengan konjungsi

  

to dan tarakarena kalimat di atas struktur dan maknanya sama. Konjungsi

to dan tara

  bisa melekat pada verba ‘とる toru’. Konjungsi to dan ba pada kalimat di atas mempunyai makna sesuatu yang umumnya terjadi yaitu pada umumnya orang yang usianya sudah tua badannya menjadi lemah.Konjungsi

  

tara pada kalimat di atas mempunyai makna sebab-akibat yaitu usia yang

tua membuat badan menjadi lemah.

  (6) だれでもほめられれば,うれしい。(NBJ, 1999 : 477) Daredemo/homerareba/ureshii.

  Siapapun/dipuji+KB /gembira.

  ‘Siapapun kalau dipuji akan gembira.’ Substitusi : だれでもほめられると,うれしい。 (O) Daredemo homeraruto, ureshii. ‘Siapapun kalau dipuji akan gembira.’ だれでもほめられたら,うれしい。 (O) Daredemo homeraretara, ureshii. ‘Siapapun kalau dipuji akan gembira.’

  Pada data (6) di atas, konjungsi ba dapat disubstitusikan dengan konjungsi

  

to dantara dan karena kalimat di atas struktur dan maknanya sama. Konjungsi

to dan tara bisa

  melekat pada verba ‘ ほ め ら れ る homerareru’. Konjungsibapada kalimat di atas mempunyai makna sesuatu yang umumnya terjadi yaitu pada umumnya orang akan gembira bila dipuji. Konjungsi to pada kalimat di atas mempunyai makna pasti yaitu setiap orang pasti gembira bila dipuji. Konjungsi tara pada kalimat di atas mempunyai makna sebab- akibat yaitu karena dipuji maka menjadi gembira. Kalimat di atas konjungsi

  

ba dapat digantikan dengan konjungsi to dan tara karena makna kalimat di

atas tidak akan berubah jika konjungsinya saling sulih.

  (7) ここは冬になったら、雪が 1 メートルぐらいつもる。(NBJ, 1999 : 205) Koko /ha/ fuyu / ni/nattara /yuki/ga /1/meetoru/gurai /tsumoru.

  

Disini/PT/musim dingin/PT/jadi+KTR/salju/PT/1/meter /sekitar /tumpuk

  ‘Di sini kalau musim dingin tiba, saljunya menumpuk setinggi sekitar 1 meter.’ Substitusi : ここは冬になると、雪が 1 メートルぐらいつもる。(O) Koko ha fuyu ni naruto, yuki ga 1 meetoru gurai tsumoru. ‘Di sini kalau musim dingin tiba, saljunya menumpuk setinggi sekitar 1 meter.’ ここは冬になれば、雪が 1 メートルぐらいつもる。(O) Koko ha fuyu ni nareba, yuki ga 1 meetoru gurai tsumoru. ‘Di sini kalau musim dingin tiba, saljunya menumpuk setinggi sekitar 1 meter.’

  Pada data (7) di atas, konjungsi tara dapat disubstitusikan dengan konjungsi

  

to dan ba, karena kalimat di atas struktur dan maknanya sama. Konjungsi to

  dan ba bisa melekat pada verba ‘なる naru’. Konjungsi tara pada kalimat di atas mempunyai makna kenyataan yang umumnya terjadi yaitu pada umumnya di daerah ini salju akan menumpuk sampai 1 meter ketika musim dingin tiba. Konjungsi to pada kalimat di atas mempunyai makna pasti yaitu setiap musim dingin tiba pasti salju menumpuk sampai setinggi 1 meter.

  Konjungsi ba pada kalimat di atas mempunyai makna sebab-akibat yaitu karena musim dingin tiba maka saljunya menumpuk setinggi 1 meter.Kalimat di atas konjungsi tara dapat digantikan dengan konjungsi to dan ba karena makna kalimat di atas tidak akan berubah jika konjungsinya saling sulih.

  (8) お じ い さ ん は 天 気 が い い と , 裏 山 に 散 歩 に で か け る 。 (NBJ,1999 :288)

Ojiisan/ha/tenki /ga / iito /urayama/ ni / sanpo /ni/dekakeru.

  Kakek/PT/cuaca/PT/bagus+KTO/urayama /PT/jalan-jalan/PT/keluar.

  ‘Kalau cuacanya bagus, kekek(biasanya) pergi jalan-jalan ke Urayama.’ Substitusi : おじいさんは天気がよければ, 裏山に散歩にでかける。(O) Ojiisan ha tenki ga yokereba, Urayama ni sanpo ni dekakeru.

  ‘Kalau cuacanya bagus, kekek (biasanya) pergi jalan-jalan ke Urayama.’ おじいさんは天気がよかったら, 裏山に散歩にでかける(O) Ojiisan ha tenki ga yokattara, Urayama ni sanpo ni dekakeru.

  ‘Kalau cuacanya bagus, kekek (biasanya) pergi jalan-jalan ke Urayama.’

  Pada data (8) di atas, konjungsi to dapat disubstitusikan dengan konjungsi

  

ba dan tara karena kalimat di atas struktur dan maknanya sama. Konjungsi to

  dan babisa melekat pada adjektiva i ‘い’. Konjungsi to pada kalimat di atas mempunyai makna kebiasaan yaitu kebiasaan yang dilakukan kakek ketika cuacanya bagus. Konjungsi ba pada kalimat di atas mempunyai makna pasti yaitu kakek pasti pergi jalan-jalan ketika cuaca bagus.Kalimat di atas konjungsi to dapat digantikan dengan konjungsi badan tarakarena makna kalimat di atas tidak akan berubah jika konjungsinya saling sulih.

  (9) お酒を飲むと, いつも頭がいたくなる。(NBJ, 1999 : 288) Osake / wo/ nomuto /itsumo/atama/ga/itaku/naru.

  Osake/PT/minum+KTO/selalu/kepala/PT/sakit/jadi.

  ‘Kalau minum sake, selalu kepala jadi sakit.’ Substitusi : お酒を飲めば, いつも頭がいたくなる。 (O) Osake wo nomeba, itsumo atama ga itaku naru. Kalau minum sake, selalu kepala jadi sakit.’

  お酒を飲んだら, いつも頭がいたくなる。 (O) Osake wo nondara, itsumo atama ga itaku naru. Kalau minum sake, selalu kepala jadi sakit.’

  Pada data (9) di atas, konjungsi to dapat disubstitusikan dengan konjungsi ba dan tara, karena kalimat di atas struktur dan maknanya sama. Konjungsi ba dan tara bisa melekat pada verba ‘飲む nomu’. Konjungsi to pada kalimat di atas mempunyai makna umum dan makna kebiasaan yaitu biasanya kalau minum sake maka kepala menjadi pusing. Konjungsi ba pada kalimat di atas mempunyai makna umum yaitu umumnya bila minum sake menyebabkan kepala pusing. Konjungsi tara pada kalimat di atas mempunyai makna sebab-akibat yaitu minum sake menyebabkan kepala menjadi sakit. Kalimat di atas konjungsi to dapat digantikan dengan konjungsi ba dan tara karena makna kalimat di atas tidak akan berubah jika konjungsinya saling sulih.

  (10) いつも 5 時になったら、すぐ仕事をやめて、テニスをします。 (NBJ, 1999 : 205) Itsumo/ 5/ ji / ni/ nattara /sugu / shigoto/ wo/ yamete /tenisu/ wo/ shimasu.

  Selalu/5/pukul/PT/jadi+KTR/segera/ kerja /PT/berhenti/ tenis /PT/melakukan.

  ‘Kalau tiba pukul 5 selalu segera berhenti kerja dan bermain tenis.’ Substitusi :

  いつも 5 時になると、すぐ仕事をやめて、テニスをします(O) Itsumo 5 ji ni naruto, sugu shigoto wo yamete, tenisu wo shimasu.

  ‘Kalau tiba pukul 5 selalu segera berhenti kerja dan bermain tenis.’

  いつも 5 時になれば、すぐ仕事をやめて、テニスをします(X) Itsumo 5 ji ni nareba, sugu shigoto wo yamete, tenisu wo shimasu.

  ‘Kalau tiba pukul 5 selalu segera berhenti kerja dan bermain tenis.’ Pada data (10) di atas, konjungsi tara dapat disubstitusikan dengan konjungsi

  

to karena kalimat di atas struktur dan maknanya sama. Konjungsi tara dan to

  bisa melekat padaverba ‘

  なる naru

  ’. Konjungsi tara pada kalimat di atas mempunyai makna kebiasaan yaitu biasanya kalau pukul 5 tiba maka akan segera berhenti kerja. Konjungsi to pada kalimat di atas mempunyai makna pasti yaitu ketika pukul 5 tiba pasti segera berhenti kerja. Kalimat di atas konjungsi taratidak dapat digantikan dengan konjungsi ba karena konjungsi ba tidak dapat digunakan pada kalimat yang mempunyai makna kegiatan yang berkelanjutan atau berurutan.

  (11) 葉書を出すと、すぐ返事がきました。(NNS, 1998 :73) Hagaki /wo / dasuto /sugu /henji /ga/kimashita.

  Kartu pos/PT/kirim+KTO/segera/balasan/PT/datang.

  ‘Kalau (saya) kirim kartu pos, balasannya segera tiba.’ Substitusi : 葉書を出せば、すぐ返事がきました。 (X) Hagaki wo daseba, sugu henji ga kimashita. Kalau (saya) kirim kartu pos, balasannya segera tiba.’ 葉書を出したら、すぐ返事がきました。 (O) Hagaki wo dashitara, sugu henji ga kimashita. Kalau (saya) kirim kartu pos, balasannya segera tiba.’

  Pada data (11) di atas, konjungsi to tidak dapat disubstitusikan dengan konjungsi ba, karena kalimat di atas induk anak kalimatnya berupa bentuk lampau ‘きました kimashita’. Konjungsi ba tidak dapat digunakan jika induk anak kalimatnya menyatakan bentuk lampau. Tetapi, konjungsi to pada kalimat di atas bisa disubstitusikan dengan konjungsi tara

  . Verba ‘出す dasu’ bisa melekat pada konjungsi tara.Konjungsi to pada kalimat di atas mempunyai makna kebiasaan yaitu biasanya balasan akan segera tiba kalau (saya) mengirim kartu pos. Konjungsi tara pada kalimat di atas mempunyai makna sebab-akibat yaitu akan segera menerima balasan jika saya mengirim kartu pos. Kalimat di atas konjungsi to dapat digantikan dengan konjungsi

  

tara karena makna kalimat di atas tidak akan berubah jika konjungsinya

saling sulih.

  (12) 雨が止むと、空が晴れて明るくなりました。(NNS, 1998 : 73) Ame /ga/ yamuto / sora /ga / harete/akaruku/narimashita.

  Hujan/PT/berhenti+KTO/langit/PT/ cerah / terang /jadi.

  ‘Kalau hujan berhenti, langit menjadi cerah dan terang.’ Substitusi : 雨が止めば、空が晴れて明るくなりました。 (X) Ame ga yameba, sora ga harete akaruku narimashita. Kalau hujan berhenti, langit menjadi cerah dan terang.’ 雨が止んだら、空が晴れて明るくなりました。(O) Ame ga yandara, sora ga harete akaruku narimashita. Kalau hujan berhenti, langit menjadi cerah dan terang. Pada data (12) di atas, konjungsi to tidak dapat disubstitusikan dengan konjungsi ba, karena kalimat di atas induk anak kalimatnya berupa bentuk lampau ‘なりました narimashita’. Konjungsi ba tidak dapat digunakan jika induk anak kalimatnya menyatakan bentuk lampau. Tetapi, konjungsi to pada kalimat di atas bisa disubstitusikan dengan konjungsi tara

  . Verba ‘止む yamu’ bisa melekat pada konjungsi tara.Konjungsi to pada kalimat di atas mempunyai makna umumnya yaitu umumnya langit akan menjadi terang jika hujan berhenti. Konjungsi tara pada kalimat di atas mempunyai makna sebab-akibat yaitu langit menjadi terang karena hujan berhenti. Kalimat di atas konjungsi to dapat digantikan dengan konjungsi tarakarena makna kalimat di atas tidak akan berubah jika konjungsinya saling sulih.

  (13) 彼は、うちへ帰ると, すぐテレビのスイッチを入れる。(NBJ, 1999 : 291)

Kare/ha/ uchi /he / kaeruto / sugu /terebi /no/suicchi /wo/ireru.

  Dia /PT/rumah/PT/pulang+KTO/segera/televisi/PT/tombol/PT/memasukkan.

  ‘Dia kalau pulang ke rumah segera menghidupkan televisi.’

  Substitusi :

  彼は、うちへ帰れば, すぐテレビのスイッチを入れる。 (X) Kare ha uchi he kaereba, sugu terebi no suicchi wo ireru.

  ‘Dia kalau pulang ke rumah segera menghidupkan televisi.’

  彼は、うちへ帰ったら, すぐテレビのスイッチを入れる。 (X) Kare ha uchi he kaettara, sugu terebi no suicchi wo ireru.

  ‘Dia kalau pulang ke rumah segera menghidupkan televisi.’ Pada data (13) di atas, konjungsi to tidak dapat disubstitusikan dengan konjungsi ba dan tara karena konjungsi ba dan tara tidak dapat di gunakan pada kalimat yang mempunyai makna kegiatan atau aktifitas yang berurutan.

  (14) 彼女は大学を卒業すると, すぐ結婚した。(NBJ, 1999 : 291) Kanojo / ha/daigaku /wo/sotsugyosuruto/sugu /kekkonshita.

  

Dia(perempuan)/PT/universitas/PT/ lulus +KTO/segera/menikah.

  ‘Dia ketika lulus dari universitas segera menikah.’ Substitusi : 彼女は大学を卒業すれば, すぐ結婚した。(X) Kanojo ha daigaku wo sotsugyousureba, sugu kekkonshita. ‘Dia ketika lulus dari universitas segera menikah.’ 彼女は大学を卒業したら, すぐ結婚した。(O) Kanojo ha daigaku wo sotsugyoushitara, sugu kekkonshita. ‘Dia ketika lulus dari universitas segera menikah.’

  Pada data (14) di atas, konjungsi to tidak dapat disubstitusikan dengan konjungsi ba, karena kalimat di atas induk anak kalimatnya berupa bentuk lampau ‘結婚した kekkonshita’. Konjungsi ba tidak dapat digunakan jika induk anak kalimatnya menyatakan bentuk lampau. Tetapi, konjungsi to pada kalimat di atas bisa disubstitusikan dengan konjungsi tara

  . Verba ‘卒業する

  sotsugyousuru

  ’ bisa melekat pada konjungsi tara. Konjungsi to pada kalimat di atas mempunyai makna ketika yaitu perempuan itu segera menikah ketika persyaratan yaitu perempuan itu menikah dengan syarat telah lulus kuliah. Kalimat di atas konjungsi to dapat digantikan dengan konjungsi tara karena struktur kalimat yang sama dan makna kalimat di atas tidak akan berubah jika konjungsinya saling sulih.

  (15) 父は私の顔を見れば、「勉強しろ」と言います。(NNS, 1998 :74) Chichi/ha/watashi/no/ kao /wo/ mireba /[benkyoushiro]/toiimasu.

  Ayah/PT/ aku /PT/wajah/PT/lihat+KB/ belajar /berkata.

  ‘Kalau ayah melihat wajah saya, selalu berkata (belajarlah!).’ Substitusi : 父は私の顔を見ると、「勉強しろ」と言います。(X) Chichi ha watashi no kao wo miruto, [benkyoushiro] to iimasu. Kalau ayah melihat wajah saya, selalu berkata (belajarlah!).’ 父は私の顔を見たら、「勉強しろ」と言います。(X) Chichi ha watashi no kao wo mitara, [benkyoushiro] to iimasu. Kalau ayah melihat wajah saya, selalu berkata (belajarlah!).’

  Pada data (15) di atas, konjungsi ba tidak dapat disibstitusikan dengan konjungsi to dan tara karena konjungsi ba pada kalimat di atas mempunyai makna tersembunyi yang tidak dapat digantikan dengan konjungsi lainnya makna tersebut adalah makna kebiasaan. Konjungsi to pada kalimat di atas mempunyai makna pasti yaitu ketika ayah melihat saya dia pasti menyuruh saya belajar. Konjungsi tara pada kalimat di atas mempunyai makna sebab- akibat yaitu saya disuruh belajar karena ayah melihat saya. Kalimat di atas konjungsi ba tidak dapat digantikan dengan konjungsi to dan tara karena makna kalimat di atas akan berubah jika konjungsinya saling sulih.

  (16) 彼は暇さえあれば、いつもテレビをみている。(NBJ, 1999 : 477)

Kare /ha/ himasae/ areba / itsumo/terebi /wo /miteiru.

  Dia(laki-laki)/PT/senggang/ada+KB/ selalu /televisi/PT/lihat.

  ‘Dia kalau ada waktu senggang selalu melihat televisi.’ Substitusi : 彼は暇さえあると、いつもテレビをみている。 (X) Kare ha himasae aruto, itsumo terebi wo miteru. ‘Dia kalau ada waktu senggang selalu melihat televisi.’ 彼は暇さえあったら、いつもテレビをみている。 (X) Kare ha himasae attara, itsumo terebi wo miteru. ‘Dia kalau ada waktu senggang selalu melihat televisi.’

  Pada data (16) di atas, konjungsi batidak dapat disubstitusikan dengan konjungsi to dan tara, karena kalimat di atas struktur dan maknanya tidak sama. Bentuk sae ~ ba merupakanpola kalimat yang sudah menjadi kesatuan yang bermakna saitei jouken. Konjungsi ba pada kalimat di atas mempunyai makna kebiasaan yaitu kebiasaan yang dilakukan ketika senggang.

  (17) その話を聞くと、無性に悲しくなった。(HNB, 1976 : 250) Sono/hanashi /wo/ kikuto /museini kanashiku/natta.

  Itu / bicara /PT/dengar+KTO/ sangat sedih /jadi.

  ‘Kalau mendengar pembicaraan itu menjadi sangat sedih.’ Substitusi : その話を聞けば、無性に悲しくなった。 (X) Sono hanashi wo kikeba, museini kanashiku natta. Kalau mendengar pembicaraan itu menjadi sangat sedih.’ その話を聞いたら、無性に悲しくなった。 (O) Sono hanashi wo kiitara, museini kanashiku natta. Kalau mendengar pembicaraan itu menjadi sangat sedih.’

  Pada data (17) di atas, konjungsi to tidak dapat disubstitusikan dengan konjungsi ba, karena kalimat di atas induk anak kalimatnya berupa bentuk lampau ‘悲しくなった kanashikunatta’. Konjungsi ba tidak dapat digunakan jika induk anak kalimatnya menyatakan bentuk lampau. Tetapi, konjungsi to pada kalimat di atas bisa disubstitusikan dengan konjungsi tara

  . Verba ‘聞く

  kiku

  ’ bisa melekat pada konjungsi tara. Konjungsi to dan tara pada kalimat di atas mempunyai makna sebab-akibat yaitu menjadi sedih karena mendengar pembicaraan itu. Kalimat di atas konjungsi to dapat digantikan dengan konjungsi tara karena makna kalimat di atas tidak akan berubah jika konjungsinya saling sulih. (18) カンダタはこれを見ると、驚いた。(KNI, 2009 : 111) Kandata/ha /kore /wo/ miruto /odoroita.

  Kandata/PT/ ini /PT/lihat+KTO/terkejut.

  ‘Kandata terkejut ketika melihat ini.’ Substitusi :

  カンダタはこれを見れば、驚いた。(X) Kandata ha kore wo mireba, odoroita.

  ‘Kandata terkejut ketika melihat ini.’ カンダタはこれを見たら、驚いた。(O) Kandata ha kore wo mitara, odoroita.

  ‘Kandata terkejut ketika melihat ini.’ Pada data (18) di atas, konjungsi to tidak dapat disubstitusikan dengan konjungsi ba, karena kalimat di atas induk anak kalimatnya berupa bentuk lampau ‘驚いた odoroita’. Konjungsi ba tidak dapat digunakan jika induk anak kalimatnya menyatakan bentuk lampau. Tetapi, konjungsi to pada kalimat di atas bisa disubstitusikan dengan konjungsi tara

  . Verba ‘見る miru’ bisa melekat pada konjungsi tara.Konjungsi to dan tara pada kalimat di atas mempunyai makna sebab-akibat yaitu Kandata terkejut karena melihat ini. Kalimat di atas konjungsi to dapat digantikan dengan konjungsi tara karena makna kalimat di atas tidak akan berubah jika konjungsinya saling sulih.

  (19) そう言われると、ぼくはかえって心が落ち着く。(HNB,1976 : 250) Sou /iwareruto /boku/ha/kaette /kokoro/ga /ochitsuku.

  Begitu/dikatakan+KTO/ aku /PT/kembali/ hati / PT/ tenang.

  ‘Ketika dikatakan seperti itu, sebaliknya hatiku menjadi tenang.’ Substitusi :

  そう言われれば、ぼくはかえって心が落ち着く。(X) Sou iwarereba, boku ha kaette kokoro ga ochitsuku. Ketika dikatakan seperti itu, sebaliknya hatiku menjadi tenang.’ そう言われたら、ぼくはかえって心が落ち着く。(O) Sou iwaretara, boku ha kaette kokoro ga ochitsuku. Ketika dikatakan seperti itu, sebaliknya hatiku menjadi tenang.’

  Pada data (19) di atas, konjungsi to tidak dapat disubstitusikan dengan konjungsi ba karena konjungsi ba tidak dapat di gunakan pada kalimat yang berkelanjutan. Konjungsi to pada kalimat di atas mempunyai makna ketika yaitu ketika dikatakan seperti itu maka hatiku menjadi tenang. Konjungsi tara pada kalimat di atas mempunyai makna sebab-akibat yaitu karena dikatakan seperti itu menyebabkan hatiku menjadi tenang.

  (20) たくさん食べれば、太るのは当たり前です。(NNS, 1998 :74) Takusan/ tabereba /,futoru /noha/atarimaedesu.

  Banyak / makan+KB/gemuk/ PT /wajar.

  ‘Kalaubanyak makan sudah wajar kalau gemuk.’ Substitusi : たくさん食べると、太るのは当たり前です。(O) Takusann taberuto, futoru noha atarimae desu. Kalaubanyak makan sudah wajar kalau gemuk.’ たくさん食べたら、太るのは当たり前です。(O) Takusann tabetara, futoru noha atarimae desu. Kalaubanyak makan sudah wajar kalau gemuk.’

  Pada data (20) di atas, konjungsi ba dapat disubstitusikan dengan konjungsi

  to dan tara, karena kalimat di atas struktur

  dan maknanya sama. Verba ‘食べ る taberu

  ’ bisa melekat pada konjungsi to dan tara. Konjungsi ba pada pada makan akan menyebabkan badan gemuk. Konjungsi to pada kalimat diatas mempunyai makna sesuatu yang pasti terjadi yaitu kalau banyak makan maka pasti gemuk. Konjungsi tara pada kalimat di atas mempunyai makna sebab- akibat yaitu badan menjadi gemuk karena banyak makan.

  (21) 子供が元気だと、親は安心します。(NNS, 1998 :73)。

Kodomo/ ga/ genkidato /oya /ha /anshin shimasu.

  Anak /PT/sehat+KTO /orang tua/PT/tenang.

  ‘Kalau anaknya sehat, orang tua akan tenang.’ Substitusi : 子供が元気であれば、親は安心します。 (O) Kodomo ga genkideareba, oya ha anshinshimasu. Kalau anaknya sehat, orang tua akan tenang.’ 子供が元気だったら, 親は安心します。 (O) Kodomo ga genkidattara, oya ha anshinshimasu. Kalau anaknya sehat, orang tua akan tenang.’

  Pada data (21) di atas, konjungsi to pada kalimat di atas bisa disubstitusikan dengan konjungsi ba dan tara. Adjektiva na ‘元気 genki’ bisa melekat pada konjungsi ba dan tara.Konjungsi to pada kalimat di atas mempunyai makna pasti yaitu setiap orang tua pasti akan merasa tenang jika anaknya sehat.

  Konjungsi ba pada kalimat di atas mempunyai makna persyaratan yaitu orang tua akan merasa tenang asalkan anaknya sehat. Konjungsi tara pada kalimat di atas mempunyai makna sebab-akibat yaitu orang tua merasa tenang sebab anaknya sehat.

  (22) 薬を飲んだら、熱が下がった。(NBJ, 1999 : 209) Kusuri/wo / nondara / netsu /ga/sagatta.

  Obat /PT /minum+KTR/demam/PT/turun.

  ‘Kalau minum obat, demamnya turun.’ Substitusi :

  薬を飲むと、熱が下がった。(O) Kusuri wo nomuto, netsu ga sagatta. Kalau minum obat, demamnya turun.’ 薬を飲めば、熱が下がった。(X) Kusuri wo nomeba, netsu ga sagatta. Kalau minum obat, demamnya turun.’

  Pada data (22) di atas, konjungsi tara dapat disubstitusikan dengan konjungsi

  

to karena kalimat di atas struktur dan maknanya sama.konjungsi tara tidak

  dapat disubstitusikan dengan konjungsi ba, karena kalimat di atas induk kalimatnya berupa bentuk lampau ‘下がった sagatta’. Konjungsi ba tidak dapat digunakan jika induk anak kalimatnya menyatakan bentuk lampau. Konjungsi tara pada kalimat di atas mempunyai makna persyaratan yaitu demam akan turun dengan syarat harus minum obat. Konjungsi to pada kalimat di atas mempunyai makna pasti yaitu kalau minum obat maka demam akan turun.

  (23) 月に入ったら、急に暑くなった。(NBJ, 1999 : 209) 5 gatsu /ni / haittara / kyuuni /atsuku/natta.

  Bulan mei/PT/ masuk+KTR/mendadak/panas /jadi.

  ‘Kalausudah masuk bulan Mei, segera menjadi panas.’ Substitusi : 5 月に入ると、急に暑くなった。(O)

  5 gatsu ni hairuto, kyuuni atsuku natta.

  ‘Kalausudah masuk bulan Mei, segera menjadi panas.’ 5 月に入れば、急に暑くなった。(X)

  5 gatsu ni haireba, kyuuni atsuku natta.

  ‘Kalausudah masuk bulan Mei, segera menjadi panas.’ Pada data (23) di atas, konjungsi tara tidak dapat disubstitusikan dengan konjungsi ba, karena kalimat di atas induk anak kalimatnya berupa bentuk lampau ‘暑くなった atsukunatta’. Konjungsi ba tidak dapat digunakan jika induk kalimatnya menyatakan bentuk lampau. Tetapi, konjungsi tara pada kalimat di atas bisa disubstitusikan dengan konjungsi to

  . Verba ‘見る miru’ bisa melekat pada konjungsi tara. Konjungsi tara dan to pada kalimat di atas mempunyai makna umum yaitu setiap memasuki bulan mei maka umumnya suhu udara akan segera menjadi panas. Kalimat di atas konjungsi tara dapat digantikan dengan konjungsi to karena makna kalimat di atas tidak akan berubah jika konjungsinya saling sulih.

3.2.2 Makna kondisional pasti (恒常条件)

  Makna kondisional pasti adalah makna yang menjelaskan kejadian yang pasti terjadi sebagai akibat dari suatu kejadian, pengoperasian suatu alat atau mesin, penjumlahan dalam matematika, dan letak suatu benda.

  (24) こ の つ ま み を 右 へ 回 す と 、 音 が 大 き く な り ま す 。 (MNN, 2002 :190)

  Kono/tsumami/wo/ migi /he/ mawasuto / oto /ga/ookiku/narimasu.

  

Ini / tombol /PT/kanan/PT/putar+KTO/suara/PT/ keras/ jadi.

  ‘Kalau tombol ini diputar ke kanan suaranya akan menjadi keras.’ Substitusi :

  このつまみを右へ回せば、音が大きくなります。 (O) Kono tsumami wo migi he mawaseba, oto ga ookiku narimasu.

  ‘Kalau tombol ini diputar ke kanan suaranya akan menjadi keras.’ このつまみを右へ回したら、音が大きくなります。 (O)

Kono tsumami wo migi he mawashitara, oto ga ookiku narimasu.

  ‘Kalau tombol ini diputar ke kanan suaranya akan menjadi keras.’ Pada data (24) di atas, konjungsi to dapat disubstitusikan dengan konjungsi

  ba dan tara karena kalimat di atas struktur dan

  maknanya sama. Verba ‘回す

  mawasu

  ’ bisa melekat pada konjungsi ba dan tara. Konjungsi to pada kalimat di atas mempunyai makna pasti yaitu kalau tombolnya diputar ke kanan maka suaranya menjadi keras. Konjungsi ba pada kalimat di atas mempunyai makna sebab-akibat yaitu seandainya tombol diputar ke kanan maka suara akan menjadi keras. Kalimat di atas konjungsi to dapat digantikan dengan konjungsi ba dan tara karena makna kalimat di atas tidak akan berubah jika konjungsinya saling sulih.

  (25) 10 を 2 で割れば、5 になる。(NBJ, 1999 : 477)

  10 /wo/2/de /wareba /5/ni /naru.

10/PT/2/PT/bagi+KB/5/PT/jadi.

  ‘10 kalau dibagi 2, hasilnya 5.’ Substitusi : 10 を2で割ると、5になる。 (O)

  10 wo 2 de waruto, 5 ni naru.

  ‘10 kalau dibagi 2, hasilnya 5.’ 10 を2で割ったら、5になる。 (O)

  10 wo 2 de wattara, 5 ni naru.

  ‘10 kalau dibagi 2, hasilnya 5.’ Pada data (25) di atas, konjungsi ba dapat disubstitusikan dengan konjungsi

  to dan tara

  karena kalimat di atas struktur dan maknanya sama. Verba ‘割る

  waru

  ’ bisa melekat pada konjungsi to dan tara. Konjungsi to dan ba pada kalimat di atas mempunyai makna pasti yaitu jika 10 dibagi 2 maka hasilnya pasti 5. Kalimat di atas konjungsi ba dapat digantikan dengan konjungsi to dan tara karena makna kalimat di atas tidak akan berubah jika konjungsinya saling sulih.

  (26) 右へまがると, 郵便局があります。( MNN, 2002 : 192) Migi /he / magaruto /yuubinkyouku/ga / arimasu.

  Kanan/PT/belok+KTO/kantor pos /PT/ada.

  ‘Kalau belok kanan ada kantor pos.’

  右へまがれば、郵便局があります。 (O) Migi he magareba, yuubinkyoku ga arimasu. Kalau belok kanan ada kantor pos.’ 右へまがったら, 郵便局があります。 (O) Migi he magattara, yuubinkyoku ga arimasu. Kalau belok kanan ada kantor pos.’

  Pada data (26) di atas, konjungsi to dapat disubstitusikan dengan konjungsi

  

ba dan tara, karena kalimat di atas struktur dan maknanya sama. Verba

  ‘まがる magaru’ bisa melekat pada konjungsi ba dan tara. Konjungsi to, ba dan tara pada kalimat di atas mempunyai makna pasti yaitu kalau belok kanan ada kantor pos. Kalimat di atas konjungsi to dapat digantikan dengan konjungsi ba dan tara karena makna kalimat di atas tidak akan berubah jika konjungsinya saling sulih.

3.2.3 Makna kondisional bersyarat(仮定条件)

  Makna kondisional bersyarat adalah makna yang menjelaskan keadaan atau situasi yang memiliki kemungkinan terjadi dengan persyaratan tertentu.

  (27) 勉強しないで遊んでいると、大学にはいれないだろう。(NNS, 1998 : 73)

  Benkyoushinaide/ asondeiruto /daigaku /ni /hairenaidarou.

  Tidak belajar /bermain + KTO/universitas/PT/tidak bisa masuk, kan?

  ‘Kalau tidak belajar dan hanya bermain saja tidak akan bisa masuk universitas, kan?’ Substitusi :

  勉強しないで遊んでいれば、大学にはいれないだろう。(O)

Benkyoushinaide asondeireba, daigaku ni hairenaidarou.

  ‘Kalau tidak belajar dan hanya bermain saja tidak akan bisa masuk universitas, kan?’

  勉強しないで遊んでいたら、大学にはいれないだろう。(O)

Benkyoushinaide asondeitara, daigaku ni hairenaidarou.

  ‘Kalau tidak belajar dan hanya bermain saja tidak akan bisa masuk universitas, kan?’ Pada data (27) di atas, konjungsi to dapat disubstitusikan dengan konjungsi

  ba dan tara

  , karena kalimat di atas struktur dan maknanya sama. Verba ‘遊ん でいる asondeiru

  ’ bisa melekat pada konjungsi ba dan tara. Konjungsi to, ba dan tara pada kalimat di atas mengandung makna kondisional bersyarat yaitu jika tidak pernah belajar maka kemungkinan tidak akan bisa masuk universitas.Kalimat di atas konjungsi to dapat digantikan dengan konjungsi dan tara karena makna kalimat di atas tidak akan berubah jika

  ba konjungsinya saling sulih.

  (28) この料理は少しお酒を入れると、おいしくなります。(NNS, 1998 : 73)

  Kono / ryouri /ha /sukoshi/osake/ wo/ ireruto /oishiku/narimasu.

  Ini / masakan /PT/sedikit /sake /PT /masuk+KTO/ enak /jadi.

  ‘Kalau masakan ini diberi sedikit sake akan menjadi enak.’

  Substitusi :

  この料理は少しお酒を入れれば、おいしくなります。(O)

Kono ryouri ha sukoshi osake wo irereba, osihiku narimasu.

  ‘Kalau masakan ini diberi sedikit sake akan menjadi enak.’

  この料理は少しお酒を入れたら、おいしくなります。(O)

Kono ryouri ha sukoshi osake wo iretara, osihiku narimasu.

  ‘Kalau masakan ini diberi sedikit sake akan menjadi enak.’ Pada data (28) di atas, konjungsi to dapat disubstitusikan dengan konjungsi

  ba dan tara

  , karena kalimat di atas struktur dan maknanya sama. Verba ‘入れ る ireru

  ’ bisa melekat pada konjungsi ba dan tara. Konjungsi to pada kalimat di atas mengandung makna kondisional bersyarat yaitu kalau masakan ini diberi sake maka kemungkinan akan menjadi lebih enak. Konjungsi ba dan

  

tara pada kalimat di atas mengandung makna persyaratan yaitu masakan ini

  akan menjadi lebih enak jika diberi sake. Kalimat di atas konjungsi to dapat digantikan dengan konjungsi ba dan tara karena makna kalimat di atas tidak akan berubah jika konjungsinya saling sulih.

  (29) このお茶を飲むと、元気になります。(DDN, 2002 : 158) Kono/ocha /wo/ nomuto /genkini /narimasu.

  Ini / teh /PT/ minum +KTO/ sehat /jadi.

  ‘Kalau minum teh ini akan menjadi sehat.’ Substitusi : このお茶を飲めば、元気になります。 (O) Kono ocha wo nomeba, genki ni narimasu.Kalau minum teh ini akan menjadi sehat.’ このお茶を飲んだら、元気になります。 (O) Kono ocha wo nondara, genki ni narimasu.Kalau minum teh ini akan menjadi sehat.’ Pada data (29) di atas, konjungsi to dapat disubstitusikan dengan konjungsi ba dan tara, karena kalimat di atas struktur dan maknanya sama.

  Verba ‘飲む

  nomu

  ’ bisa melekat pada konjungsi ba dan tara. Konjungsi to, ba dan tara pada kalimat di atas mengandung makna kondisional yaitu seandainya minum obat maka kemungkinan badan akan menjadi sehat. Kalimat di atas konjungsi

  

to dapat digantikan dengan konjungsi ba dan tara karena makna kalimat di

atas tidak akan berubah jika konjungsinya saling sulih.

  (30) 外国語がじょうずだと、いろいろな仕事ができます。(DDN, 2002 : 156)

  Gaikokugo /ga / jouzudato / iroirona / shigoto /ga /dekimasu.

  Bahasa asing/PT/pandai+KTO/macam-macam/ pekerjaan /PT/bisa.

  ‘Kalau pandai berbahasa asing, bisa melakukan bermacam- macam pekerjaan.’ Substitusi :

  外国語がじょうずであれば、いろいろな仕事ができます。(O) Gaikokugo ga jouzudeareba, iroirona shigoto ga dekimasu.

  ‘Kalau pandai berbahasa asing, bisa melakukan bermacam-macam pekerjaan.’

  外国語がじょうずだったら、いろいろな仕事ができます。(O) Gaikokugo ga jouzudattara, iroirona shigoto ga dekimasu.

  ‘Kalau pandai berbahasa asing, bisa melakukan bermacam-macam pekerjaan.’ Pada data (30) di atas, konjungsi to pada kalimat di atas bisa disubstitusikan dengan konjungsi ba dan tara. Adjektiva na

  ‘じょうず jouzu’ bisa melekat pada konjungsi tara. Kalimat di atas konjungsi to dapat digantikan dengan konjungsiba dantara karena makna kalimat di atas tidak akan berubah jika konjungsinya saling sulih.

  (31) 彼と結婚すれば、金持ちになるだろう。(NNS, 1998 : 74) Kare /to /kekkonsureba/kanemochi/ni /narudarou.

  Dia /PT/ menikah+KB/ kaya /PT/jadi.

  ‘Kalau menikah dengan dia, bisa jadi kaya, kan?’ Substitusi :

  彼と結婚すると、金持ちになるだろう。(O) Kare to kekkonsuruto, kanemochi ni narudarou.

  ‘Kalau menikah dengan dia, bisa jadi kaya, kan?’

  彼と結婚したら、金持ちになるだろう。(O) Kare to kekkonsuruto, kanemochi ni narudarou.

  ‘Kalau menikah dengan dia, bisa jadi kaya, kan?’ Pada data (31) di atas, konjungsi ba dapat disubstitusikan dengan konjungsi

  結婚 to dan tara

  , karena kalimat di atas struktur dan maknanya sama. Verba ‘

  する kekkonsuru

  ’ bisa melekat pada konjungsi to dan tara. Konjungsi ba pada kalimat di atas mengandung makna kondisional yaitu seandainya menikah dengan dia maka akan menjadi kaya. Konjungsi to pada kalimat di atas mengandung makna pasti yaitu jika menikah dengan dia pasti akan menjadi kaya. Konjungsi tara pada kalimat di atas mengandung makna persyaratan yaitu untuk menjadi kaya maka harus menikah dengan dia. Kalimat di atas konjungsi ba dapat digantikan dengan konjungsi to dan tara karena makna kalimat di atas tidak akan berubah jika konjungsinya saling sulih.

  (32) 今度の日曜日天気がよければ、お花見に行きましょう。

  (NBJ, 1999 : 479) Kondo /no/nichiyoubi /tenki /ga /yokereba /ohanami/ni /ikimashou.

  Akan datang/PT/hari minggu/cuaca/PT/bagus+KB/hanami /PT/pergi.

  ‘Kalau hari minggu depan cuacanya bagus, mari kita pergi ke hanami.

  ’ Substitusi :

  今度の日曜日天気がよいと、お花見に行きましょう。 (X) Kondo no nichiyoubi tenki ga yoito, ohanami ni ikimashou.

  ‘Kalau hari minggu depan cuacanya bagus, mari kita pergi ke hanami.

  ’

  今度の日曜日天気がよかったら、お花見に行きましょう。(O) Kondo no nichiyoubi tenki ga yokattara, ohanami ni ikimashou.

  ‘Kalau hari minggu depan cuacanya bagus, mari kita pergi ke hanami.

  ’ Pada data (32) di atas, konjungsi ba tidak dapat disubstitusikan dengan konjungsi to, karena kalimat di atas anak kalimatnya berupa bentuk verba

  行きましょう ikimashou

  ajakan ‘ ’. Tetapi, konjungsi ba pada kalimat di atas

  よ い

  bisa disubstitusikan dengan konjungsi tara. Adjektiva i yoi ‘ ’ bisa melekat pada konjungsi tara. Kalimat di atas konjungsi ba dapat digantikan dengan konjungsi tara karena makna kalimat di atas tidak akan berubah jika konjungsinya saling sulih. Konjungsi ba dan tara pada kalimat dia atas mengandung makna kondisional bersyarat yaitu seandainya hari minggu depan cuacanya bagus akan pergi melihat hanami.

  (33) 手術をすれば、助かるでしょう。(NBJ, 1999 : 479) Shujutsu/wo/ sureba /tasukarudeshou.

  Operasi/PT/lakukan+KB/tertolong, kan?

  ‘Seandainya dioperasi, (dia) akan tertolong, kan?’ Substitusi : 手術をすると、助かるでしょう。 (O) Shujutsu wo suruto, tasukarudeshou. Seandainya dioperasi, (dia) akan tertolong, kan?’ 手術をしたら、助かるでしょう。 (O) Shujutsu wo shitara, tasukarudeshou. Seandainya dioperasi, (dia) akan tertolong, kan?’

  Pada data (33) di atas, konjungsi ba dapat disubstitusikan dengan konjungsi

to dan tara, karena kalimat di atas struktur dan maknanya sama.

  Verba ‘手術をする shujutsusuru’ bisa melekat pada konjungsi to dan tara. Kojungsi ba, to dan tara pada kalimat di atas mengandung makna kondisional bersyarat yaitu seandainya saja di operasi maka dia akan tertolong. Kalimat di atas konjungsi ba dapat digantikan dengan konjungsi to dan tara karena makna kalimat di atas tidak akan berubah jika konjungsinya saling sulih.

  (34) 雨が降ったら、でかけません。(MNN, 2002 : 206) Ame /ga / futtara /dekakemasen.

  Hujan/PT/turun + KTR/tidak pergi.

  ‘Kalau turun hujan tidak jadi pergi.’ Substitusi : 雨が降ると、でかけません。( X) Ame ga furuto, dekakemasen. ‘Kalau turun hujan tidak jadi pergi.’ 雨が降れば、でかけません。( O) Ame ga fureba, dekakemasen. ‘Kalau turun hujan tidak jadi pergi.’

  Pada data (34) di atas, konjungsi taratidak dapat disubstitusikan dengan konjungsi to, karena kalimat di atas maknanya tidak sama. Konjungsi tara pada kalimat di atas mengandung makna kondisional bersyarat yaitu jika turun hujan maka tidak jadi pergi. Konjungsi to pada kalimat di atas mengandung makna pasti yaitu jika turun hujan maka pasti tidak pergi. Konjungsi ba pada kalimat di atas mengandung makna persyaratan yaitu akan pergi jika hujan tidak turun. Kalimat di atas konjungsi tara tidak dapat disubstitusikan dengan konjungsi to karena konjungsi to kurang tepat digunakan pada kalimat yang mengandung pengandaian yang tidak pasti terjadi.

  (35) もし遅れたら、連絡してください。(NBJ, 1999 : 206) Moshi / okuretara /renraku/shitekudasai.

  Kalau /terlambat +KTR/hubungi/tolong.

  ‘Seandainya terlambat, tolong menghubungi.’ Substitusi : もし遅れると、連絡してください。 (X) Moshi okureruto, renraku shitekudasai.Seandainya terlambat, tolong menghubungi.’ もし遅れれば、連絡してください。 (X) Moshi okurereba, renraku shitekudasai.Seandainya terlambat, tolong menghubungi.’

  Pada data (35) di atas, konjungsi tara tidak dapat disubstitusikan dengan konjungsi to dan ba karena kalimat di atas induk anak kalimatnya berupa bentuk perintah ‘連絡してください renraku shitekudasai’. Konjungsi tara pada kalimat di atas mengandung makna kondisional bersyarat yaitu seandainya datang terlambat diminta untuk menghubungi.

  (36) あした、晴れたら、いいなあ。(NNS, 1998 : 75) Ashita / haretara / iinaa.

  Besok / cerah+KTR/ bagus.

  ‘Seandainya besok (cuaca) cerah, bagus ya.’ Substitusi : あした、晴れると、いいなあ。 (O) Ashita, hareruto, iinaa.Seandainya besok (cuaca) cerah, bagus ya.’ あした、晴れれば、いいなあ。 (O) Ashita, harerereba, iinaa.Seandainya besok (cuaca) cerah, bagus ya.’

  Pada data (36) di atas, konjungsi tara dapat disubstitusikan dengan konjungsi

  to dan ba

  , karena kalimat di atas struktur dan maknanya sama. Verba ‘晴れる

  hareru

  ’ bisa melekat pada konjungsi to dan ba. Kalimat di atas konjungsi atas tidak akan berubah jika konjungsinya saling sulih. Konjungsi tara, to dan ba di atas mengandung makna kondisional bersyarat yaitu seandainya besok cuacanya cerah akan menyenangkan.

  (37) もう少し給料がよかったら、いいのだが。(NBJ, 1999 : 207) Mou sukoshi/ kyuuryou/ga /yokattara / ii no da ga.

  Sedikit lagi / gaji /PT/bagus+KTR /bagus, tapi...’

  ‘Seandainya gaji lebih bagus sedikit lagi, bagus ya, tapi...’ Substitusi : もう少し給料がよいと、いいのだが。 (X) Mou sukoshi kyuuryou ga yoito, iino daga. Seandainya gaji lebih bagus sedikit lagi, bagus ya, tapi...’ もう少し給料がよければ、いいのだが。 (O) Mou sukoshi kyuuryou ga yoito, iino daga. Seandainya gaji lebih bagus sedikit lagi, bagus ya, tapi...’

  Pada data (37) di atas, konjungsi tara dapat disubstitusikan dengan konjungsi , karena kalimat di atas struktur dan maknanya sama. Adjektiva i

  ba

  ‘よい yoi’ bisa melekat pada konjungsi ba. Kalimat di atas konjungsi tara dapat digantikan dengan konjungsi ba karena makna kalimat di atas tidak akan berubah jika konjungsinya saling sulih. Konjungsi tara dan ba pada kalimat di atas mempunyai makna kondisional bersyarat yaitu seandainya gajinya lebih tinggi lagi maka akan lebih bagus. Konjungsi tara pada kalimat di atas tidak dapat digantikan dengan konjungsi to karena induk kalimat pada data di atas mengandung makna pengingkaran.

  (38) 生まれてくるこどもが男の子だったら、いいのだが。(NBJ, 1999 : 212)

Umarete/ kuru /kodomo/ ga/ otoko /no /kodattara/ ii no da ga.

  Lahir/datang/anak/PT/laki-laki/PT/anak+KTR/bagus tapi .

  ‘Beruntung seandainya anak yang mau lahir laki-laki, tetapi..’ Substitusi :

  生まれてくるこどもが男の子だと、いいのだが。 (X) Umarete kuru kodomo ga otoko no ko dato, iino daga.

  ‘Beruntung seandainya anak yang mau lahir laki-laki, tetapi..’

  生まれてくるこどもが男の子であれば、いいのだが。(O)

Umarete kuru kodomo ga otoko no ko deareba, iino daga.

  ‘Beruntung seandainya anak yang mau lahir laki-laki, tetapi..’ Pada data (38) di atas, konjungsi tara bisa disubstitusikan dengan konjungsi

  男の子 ba otoko no ko

  . Nomina ‘ ’ bisa melekat pada konjungsi ba. Konjungsi

  tara dan ba pada kalimat di atas mempunyai makna kondisional yaitu

  seandainya saja anak yang lahir adalah anak laki-laki maka akan merasa beruntung. Konjungsi tara pada kalimat di atas tidak dapat digantikan dengan konjungsi to karena induk kalimat pada data di atas mengandung makna pengingkaran yaitu terdapat kata tetapi.

  あと 1000 円あれば、このコートが買えるのに。

  ( NBHB, 2000 : 223) (39)

Ato /1000/en /areba /kono/kooto /ga / kaeru /noni.

  Lagi/1000/yen/ada+KB / ini /baju /PT/bisa beli/tapi.

  ‘Seandainya ada 1000 yen lagi baju ini akan terbeli, tapi..’ Substitusi : あと 1000 円あると、このコートが買えるのに。 (X) Ato 1000 en aruto, kono kooto ga kaeru noni. Seandainya ada 1000 yen lagi baju ini akan terbeli, tapi..’ あと 1000 円あったら、このコートが買えるのに。 (O) Ato 1000 en attara, kono kooto ga kaeru noni. Seandainya ada 1000 yen lagi baju ini akan terbeli, tapi..’

  Pada data (39) di atas, konjungsi ba dapat disubstitusikan dengan konjungsi

  tara , karena kalimat di atas struktur dan maknanya

  sama. Verba ‘ある aru’ bisa melekat pada konjungsi tara. Kalimat di atas konjungsi ba dapat digantikan dengan konjungsi tara karena makna kalimat di atas tidak akan berubah jika konjungsinya saling sulih. Konjungsi ba dan tara pada kalimat di atas mempunyai makna kondisional yaitu seandainya saja ada uang 1000 yen lagi maka baju ini akan terbeli. Konjungsi tara pada kalimat di atas tidak dapat digantikan dengan konjungsi to karena induk kalimat pada data di atas mengandung makna pengingkaran dan keadaan yang berbeda dengan kenyataan saat ini.

  あの時、あの飛行機に乗っていれば、私は今ここにいないはずだ 。

  (40) (NBJ, 1999 : 483)

  Ano/toki /ano / hikouki /ni /notteireba /watashi /ha / ima / koko/ni/ inai / hazuda.

  Itu/waktu /itu / pesawat /PT/ naik+KB / aku /PT /sekarang/disini/PT/ tidak ada/semestinya.

  ‘Waktu itu, seandainya (aku) naik pesawat itu, mustinya aku tidak ada disini saat ini.’ Substitusi :

  あの時あの飛行機に乗っていると、私は今ここにいないはずだ。 (

  X) Ano toki no hikouki ni notteiruto, watashi ha ima kokoni inai hazuda. ‘Waktu itu, seandainya (aku) naik pesawat itu, mustinya aku tidak ada disini saat ini.’

  あの時あの飛行機に乗っていたら、私は今ここにいないはずだ。

  (O) Ano toki no hikouki ni notteitara, watashi ha ima kokoni inai hazuda. ‘Waktu itu, seandainya (aku) naik pesawat itu, mustinya aku tidak ada disini saat ini.’

  Pada data (40) di atas, konjungsi ba dapat disubstitusikan dengan konjungsi

  tara , karena kalimat di atas

  struktur dan maknanya sama. Verba ‘乗っている

  notteiru

  ’ bisa melekat pada konjungsi ba dan tara. Kalimat di atas konjungsi

  ba dapat digantikan dengan konjungsi tara karena makna kalimat di atas

  tidak akan berubah jika konjungsinya saling sulih. Konjungsi ba pada kalimat di atas mengandung makna tidak nyata yaitu seandainya waktu itu naik pesaawat itu mungkin hari ini sudah tiada. Konjungsi ba pada kalimat di atas tidak dapat disubstitusikan dengan konjungsi to karena konjungsi to tidak dipakai untuk menjelaskan keadaan yang berbeda dengan kenyataan saat ini. Konjungsi tara pada kalimat di atas mengandung makna sebab-akibat yaitu hari ini masih ada di sini karena waktu itu tidak naik pesawat itu.

  (41) もう少し若ければ、わたしが自分で行くところだ。(NBJ, 1999 : 483) Mousukoshi /wakakereba/watashi/ ga/jibun /de /ikutokoroda.

  Sedikit lagi /muda+KB / aku /PT /sendiri/PT/pergi.

  ‘Seandainya lebih muda sedikit, aku akan pergi sendiri.’ Substitusi : もう少し若いと、わたしが自分で行くところだ。 (X) Mou sukoshi wakaito, watashi ga jibun de ikutokoro da. Seandainya lebih muda sedikit, aku akan pergi sendiri.’ もう少し若かったら、わたしが自分で行くところだ。(O) Mou sukoshi wakattara, watashi ga jibun de ikutokoro da. Seandainya lebih muda sedikit, aku akan pergi sendiri.’

  Pada data (41) di atas, konjungsi ba dapat disubstitusikan dengan konjungsi tara, karena kalimat di atas struktur dan maknanya sama. Adjektiva

  i

  ‘若い wakai’ bisa melekat pada konjungsi tara. Kalimat di atas konjungsi

  

ba dapat digantikan dengan konjungsi tara karena makna kalimat di atas tidak

  akan berubah jika konjungsinya saling sulih. Konjungsi ba pada kalimat di atas tidak dapat disubstitusikan dengan konjungsi to karena konjungsi to tidak dipakai untuk menjelaskan keadaan yang berbeda dengan kenyataan saat ini karena usia yang sudah tua tidak akan bisa kembali muda. Konjungsi tara pada kalimat di atas mempunyai makna kondisional yaitu seandainya lebih muda sedikit maka akan pergi .

3.2.4 Makna Kondisional Tidak nyata (反事実的条件)

  Makna kondisional tidak nyata adalah makna yang kemungkinan kecil terjadi atau tidak akan terjadi. Makna tersebut berkebalikan dari kejadian yang sebenarnya.

  (44) もし1億円あったら、何をしたいですか。(MNN, 2002 : 206) Moshi / 1oku /en / attara /nani/wo/shitaidesuka.

  Kalau/100 juta/yen/ada+KTR /apa/PT /ingin lakukan.

  ‘Seandainya punya uang 100 juta yen apa yang ingin kamu lakukan.’ Substitusi :

  もし1億円あると、何をしたいですか。(X) Moshi 1oku en aruto, nani wo shitaidesuka.Seandainya punya uang 100 juta yen apa yang ingin kamu lakukan.’

  もし1億円あれば、何をしたいですか。(O) Moshi 1oku en areba, nani wo shitaidesuka.Seandainya punya uang 100 juta yen apa yang ingin kamu lakukan.’

  Pada data (42) di atas, konjungsi tara dapat disubstitusikan dengan konjungsi

  ba

  , karena kalimat di atas struktur dan maknanya sama. Verba ‘ある aru’ bisa melekat pada konjungsi ba. Kalimat di atas konjungsi tara dapat digantikan dengan konjungsi ba karena makna kalimat di atas tidak akan berubah jika konjungsinya saling sulih. Konjungsi tara dan ba pada kalimat di atas mengandung makna tidak nyata yaitu hanya mengajak orang lain untuk berandai-andai mempunyai uang100 juta yen apa yang akan dilakukan.

  Konjungsi tara pada kalimat di atas tidak dapat disubstitusikan dengan konjungsi to karena konjungsi to tidak dipakai untuk menjelaskan keadaan yang berbeda dengan kenyataan saat ini yaitu uang 100 juta yen itu hanya berupa angan-angan bukan kenyataan pada saat ini.

  (45) 私が鳥だったら、一日中空を飛び回りたい。(NNS, 1998 : 75) Watashi /ga /toridattara /ichi/nichi/ jyu / sora /wo/tobi /mawaritai.

  

Aku /PT/burung+KTR/satu/hari /penuh/langit /PT/terbang/keliling.

  ‘Seumpama aku burung (aku) ingin terbang mengelilingi langit seharian.’ Substitusi :

  私が鳥だと、一日中空を飛び回りたい。(X) Watashi ga tori dato, ichi nichi juu sora wo tobi mawaritai . ‘Seumpama aku burung (aku) ingin terbang mengelilingi langit seharian.’

  私が鳥であれば、一日中空を飛び回りたい。(X)

  Watashi ga tori deareba, ichi nichi juu sora wo tobi mawaritai .

  ‘Seumpama aku burung (aku) ingin terbang mengelilingi langit seharian.’ Pada data (43) di atas, konjungsi tara tidak dapat disubstitusikan dengan konjungsi to dan bakarena induk anak kalimat di atas menyatakan sebuah keinginan, yaitu ‘飛び回りたい tobi mawaritai’ selain itu konjungsi to juga tidak dapat digunakan pada kalimat yang mengandung makna yang berbeda dengan kenyataan saat ini. Konjungsi tara pada kalimat di atas mengandung makna perumpamaan yaitu seumpama aku seekor burung maka aku ingin terbang mengelilingi langit seharian.

BAB 4 SIMPULAN DAN SARAN

4.1 Simpulan

  Berdasarkan analisis pada bab-bab sebelumnya, penulis menarik simpulan sebagai berikut;

1. Konjungsi to melekat pada verba, adjektiva i, adjektiva na, nomina bentuk biasa baik positif maupun negatif, non lampau, dan bentuk sopan.

  Konjungsi to dapat dihubungkan dengan induk kalimat bentuk lampau, dan induk kalimat yang menyatakan aktivitas yang berurutan. Konjungsi

  to tidak dapat dihubungkan dengan induk kalimat yang menyatakan

  keinginan, perintah dan permintaan. Sementara itu konjungsi ba melekat pada konjugasi verba, adjektiva i, adjektiva na, nomina, bentuk positif dan negatif non lampau. Bentuk konjungsi ba tidak dapat melekat pada bentuk lampau dan bentuk sopan. Konjungsi ba tidak dapat dihubungkan dengan induk kalimat yang menyatakan lampau, keinginan, perintah dan permintaan. Sedangkan konjungsi tara melekat pada konjugasi verba, adjektiva, nomina, bentuk positif maupun negatif, bentuk sopan non lampau, namun tidak dapat melekat pada bentuk lampau. Konjungsi tara dapat dihubungkan dengan induk kalimat bentuk lampau, yang menyatakan aktifitas berurutan, keinginan, perintah dan permintaan.

  2. Konjungsi to, ba, tara mempunyai makna alami, berulang-ulang, umum,

  ketergantungan, kebiasaan, sebab-akibat, dan kenyataan. Akan tetapi

  Selain makna tersebut di atas, konjungsi to dan ba dapat menyatakan makna pasti. Selain itu konjungsi ba dan tara juga mempunyai makna tersirat lainnya yaitu makna perumpamaan dan kondisional tidak nyata.

  3. Konjungsi to, ba, tara dapat saling menggantikan untuk makna alami,

  berulang-ulang, umum, ketergantungan, kebiasaan, sebab-akibat, kenyataan dan makna pasti seperti hasil perhitungan atau hasil

  pengoperasian dari suatu alat atau mesin. Konjungsi ba dan tara dapat saling menggantikan untuk makna perumpamaan dan kondisional tidak

  nyata . Konjungsi ba dan tara tidak dapat dapat digantikan dengan konjungsi to untuk makna perumpamaan dan kondisional tidak nyata.

4.2 Saran

  Pengandaian dalam bahasa Jepang dapat menggunakan empat konjungsi yaitu to, ba, tara dan nara. Pada penelitian ini penulis hanya menganalisis konjungsi to, ba dan tara dengan simpulan seperti tersebut di atas. Dari hasil penelitian ini masih ada beberapa hal yang mungkin belum diungkap. Untuk melengkapi penelitian tentang bentuk pengandaian dalam bahasa Jepang ini diharapkan adanya analisis tentang konjungsi nara sehingga hasil penelitian ini dapat disempurnakan.

  要旨 インドネシアでは日本語が人気がある言語なので、多くの人に勉強されて いる。The Japan Foundation の調査によると、2003 年に高校で 430、大学で 78、それから一般の外国語学校で 98 の教育機関が日本語を開設している。 しかし、日本語は類義語がたくさんあるので、初めて勉強する人にとって 日本語は 簡単 ではな い 。た とえば 「やさし い」 と「親 切」の 場合、 「やさしい 」と「 親切」対 応する インドネシ ア語は どちらも ramah, baik-hati である。例えば,「Aさんはやさしい人です」「Aさんは親切な人 で す 」 は ど ちら も イ ンド ネ シ ア 語に 訳 し た ら “ Saudara A orang yang ramah/baik-hati”。だから、初めて日本語を勉強する人にとって語の区別 や正しい用法を選ぶのが難しいのである。

  日本語の「と」、「ば」、「たら」、「なら」という接続助詞はインド ネシア語に訳すとき kalau という接続詞が使われる。例えば

  (1)

  。

  気温が低いと, 桜はなかなか咲かない (2)

  年とれば、体が弱くなる。 (3)

  薬を飲んだら、熱が下がった。

  上記の例文の接続助詞の意味は似ている。だからどの接続助詞を使うかを 決めるのが難しい。しかし本当は接続助詞「と」、「ば」、「たら」は それぞれ意味や用法が違う。それで、筆者は接続助詞「と」、「ば」、 「たら」の研究を行った。

  研究の目的は「と」,「ば」、「たら」という接続助詞の意味と用法を ち か ん 知ることである。一つ一つの意味と正しい用法を知るために筆者は置換 と よ う そ いう方法を使った。置換とは一つの言語要素 を別の言語要素に入れ換える 方法である 。

  (1) 気温が低いと、桜はなかなか咲かない。

  置換 : 気温が低くければ, 桜はなかなか咲かない。 (O) 気温が低くかったら, 桜はなかなか咲かない。 (O)

  (2) 葉書を出すと、すぐ返事がきました。

  置換 : 葉書を出せば、すぐ返事がきました。 (X) 葉書を出したら、すぐ返事がきました。 (O)

  (3) 今度の日曜日天気がよければ、お花見に行きましょう。

  置換:

  今度の日曜日天気がよいと、お花見に行きましょう。 (X) 今度の日曜日天気がよかったら、お花見に行きましょう。(O)

  この研究の結果、接続助詞「と」、「ば」、「たら」の文の異同は以下 のとおりである。 1. 接続助詞「と」は動詞、い形容詞、な形容詞、名詞の普通形、丁寧 形、ない形につくことができる。接続助詞「と」は後件に過去の文が使え る。接続助詞「と」は依頼、指示、誘い、希望の文には使えない。 2.接続助詞「ば」は非過去形の動詞、い形容詞、な形容詞、名詞につく ことができる。接続助詞「ば」は過去形と丁寧形につくことができない。 3.接続助詞「たら」は動詞、い形容詞、な形容詞、丁寧形につくことが できる。しかし過去形につくことはできない。接続助詞「たら」は依頼、 指示、希望を表す文に使える。 4.接続助詞「と」、「ば」、「たら」は一般条件を表す場合、相互に 入れ換えることができる。 5.接続助詞「と」、「ば」は接続助詞「たら」と交換することができな い場合がある。 6.接続助詞「ば、たら」は仮定条件と反事実的条件の意味を持っている。

DAFTAR PUSTAKA

  J.W.R. Verhaar.1996. Asas- Asas linguistic Umum. Yogyakarta. Gajah Mada University Press. Sutedi, Dedi. 2004. Dasar-dasar Linguistik Bahasa Jepang. Bandung. Humaniora Utama Press Soeparno. 2002. Dasar-dasar linguistik umum. Yogyakarta. Tiara Wacana.

  Kridalaksana, Harimurti. 1983. Kamus linguistik. Jakarta. PT Gramedia. Sudjianto. Dahidi, Ahmad. 2004. Pengantar linguistik Bahasa Jepang. Jakarta. Kesaint blanc Matsumoto, fushiko. Hoshino, Muko. 1992. Nihongo Noryoku Shiken. Tokyo.

  UNICOM. Suzuki, Shinrou. 1998. Goukaku suijun nihongo kyoushi nouryouku kentei shiken . Tokyo. Bojinsha.

  yougoshu Matsuoka. 2000. Shokyu wo oshieru hito no tame no nihongo bunpo hando bokku.

  Tokyou. Kabushiki kaisha surie network. Sunagawa. 1998. Shokyuu o Oshieru Nihongo bunkei jiten.Tokyo.Kuroshio.

  Etsuko.Tomomatsu. 2000. Donna toki dou tsukau nihongo hyougen bunkei 200.Tokyo. Aruku Yamamoto Hiroko. 2003. Jissen ni nihongo shidou minaoshi hon. Tokyo .ask.

  Matsura.kenji.1994. Kamus Bahasa Jepang-Indonesia. Kyoto. Kyoto sangyo University Press. Azizah. Suci Siti. 2008. Analisis Konstrastif Ungkapan Pengandaian Bahasa Jepang dan Bahasa Indonesia . http:http://respository.upi.edu/operator/upload/s.c0551.034401_chapter2.pdf. Sinonim. Wikipedia bahasa Indonesia. nsiklopedia bebas.mht. http://elyhamdan.wordpress.com/2010/04/16/semantik-bahasa-indonesia. http://hatmanbahasa.wordpress.com/2010/02/16/morfologi-bahasa-indonesia.

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (88 Halaman)
Gratis

Tags

Bab I Pendahuluan I 1 Latar Belakang Bab I Pendahuluan Bab I Pendahuluan 1 1 Latar Belakang Bab I Pendahuluan Bab I Pendahuluan 1 1 Latar Belakang Bab I 1 Bab I Pendahuluan A Latar Belakang Bab I Bab I Pendahuluan 1 1 Latar Belakang Bab I Renja Bab I Pendahuluan 1 1 Latar Belakang Masalah Bab I Bab I Pendahuluan A Latar Belakang Bab I I 1 Bab I Pendahuluan 1 1 Latar Belakang Bab I Pendahuluan Bab 1 Pendahuluan Pdf
Show more