3.1 ARAHAN RENCANA TATA RUANG DAN WILAHAH KABUPATEN SOLOK (RTRW) - DOCRPIJM 4d4e57c431 BAB III3. BAB III KETERPADUAN STRATEGI PEMBANGUNAN KAB SOLOK

Gratis

0
0
169
6 months ago
Preview
Full text

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Tujuan penataan ruang wilayah Kabupaten Solok adalah untuk mewujudkan Kabupaten Solok sebagai sentra komoditas pertanian dan pengembangan sektor pariwisata yang ditunjang industri dan pemanfaatan sumber daya alam lainnya dengan memperhatikan keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup serta diselaraskan dengan RTRWP dan RTRWN.

  Rencana pola ruang wilayah kabupaten merupakan rencana distribusi peruntukan ruang dalam wilayah kabupaten yang meliputi rencana peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan rencana peruntukan ruang untuk fungsi budidaya. Kebijakan penataan ruang Kabupaten Solok, adalah : a. pengembangan organisasi ruang yang efisien melalui susunan pusat kegiatan yang berhirarki mencakup seluruh ruang wilayah Kabupaten Solok; b. pengembangan sistem jaringan prasarana yang mengintegrasikan seluruh pusat kegiatan wilayah Kabupaten Solok dan memberikan layanan sebesar- besarnya bagi permukiman yang ada pada wilayah Kabupaten Solok;

  c. pemantapan kawasan lindung di wilayah Kabupaten Solok yang telah ditetapkan dalam RTRWN dan RTRWP dan menambah kawasan lindung sesuai kewenangan daerah;

  d. pengelolaan kawasan budidaya mendukung pengembangan ekonomi melalui pengelolaan sumber daya alam berbasis pertanian, pariwisata, dan industri dengan memperhatikan keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup;

  e. perwujudan usaha untuk perubahan fungsi dari kawasan hutan ke kawasan bukan hutan untuk kawasan budidaya yang diperlukan untuk kepentingan pembangunan daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan; f. dan peningkatan fungsi kawasan untuk kepentingan pertahanan dan keamanan negara dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

  Adapun strategi penataan ruang Kabupaten Solok adalah : Strategi pengembangan organisasi ruang yang efisien melalui susunan pusat kegiatan yang berhirarki mencakup seluruh ruang wilayah Kabupaten Solok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf a meliputi:

  a. mengembangkan PKL sesuai arahan RTRWP dan mempromosikan pusat utama lainnya sesuai dengan potensinya;

  ARAHAN KEBIJAKAN DAN RENCANA STRATEGIS

INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA

3.1 ARAHAN RENCANA TATA RUANG DAN WILAHAH KABUPATEN SOLOK (RTRW)

3.1.1 TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN RUANG

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  b. menetapkan minimal 1 (satu) pusat kegiatan sebagai PPK pada masing-masing kecamatan; c. menetapkan pusat permukiman yang memiliki wilayah layanan antar nagari dan/atau lebih dari satu nagari sebagai PPL; d. dan menetapkan pusat permukiman yang memiliki tingkat layanan mendekati pusat kegiatan di atasnya, dipromosikan menjadi pusat kegiatan di atasnya.

  Strategi pengembangan sistem jaringan prasarana yang mengintegrasikan seluruh pusat kegiatan wilayah Kabupaten dan memberikan layanan bagi sebesar-besarnya permukiman yang ada pada wilayah Kabupaten Solok sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 3 ayat (2) huruf b meliputi:

  a. mendukung pengembangan jaringan jalan akses ke Kabupaten Solok sesuai kebijakan Nasional dan Provinsi serta pengembangan rintisan jalan baru ke dan/atau dari Kabupaten Solok dengan Kabupaten/Kota lain yang bersebelahan; b. mengembangkan jalan multi akses dari dan ke pusat kegiatan yang mengintegrasikan seluruh wilayah Kabupaten Solok; c. mendukung pengembangan sistem jaringan kereta api Nasional dan Provinsi yang melintasi wilayah Kabupaten Solok; d. mengembangkan sistem transportasi air di Danau Singkarak, Danau Diatas dan

  Danau Dibawah untuk mendukung kegiatan ekonomi wilayah dan pariwisata;

  e. mengembangkan sistem jaringan energi untuk memenuhi kebutuhan listrik di seluruh kecamatan; f. mengembangkan sistem jaringan telekomunikasi seluler yang melayani seluruh wilayah Kabupaten Solok dan meningkatkan jaringan telekomunikasi kabel terutama untuk layanan kegiatan industri di PKL dan PKLp;

  g. mengembangkan sistem jaringan air baku untuk memenuhi kebutuhan air minum di PKL, PKLp, PPK, dan PPL serta untuk wilayah-wilayah yang sulit air, serta mengembangkan jaringan irigasi Kabupaten Solok pada kawasan potensi pertanian lahan basah; h. mengembangkan TPA Regional bekerjasama dengan Kabupaten/Kota yang berdekatan dan membangunan serta mengembangan TPA lokal dalam memberikan pelayanan persampahan; i. mengembangkan prasarana ekonomi pada pusat kegiatan dan pusat pelayanan sesuai dengan tingkatan dan wilayah layanannya; dan j. mengembangkan prasarana sosial budaya, peribadatan, kesehatan, dan olah raga untuk menunjang kehidupan sosial budaya masyarakat yang nyaman dan berkelanjutan. Strategi pemantapan kawasan lindung di wilayah Kabupaten Solok yang telah ditetapkan dalam RTRWN dan RTRWP dan menambah kawasan lindung sesuai kewenangan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf c meliputi:

  a. mempertahankan kawasan lindung yang telah ada dan sesuai RTRWN dan RTRWP;

  b. mengembalikan fungsi lindung untuk kawasan lindung yang telah ditetapkan pada RTRWN dan RTRWP yang telah mengalami perubahan pemanfaatan non

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  lindung, sepanjang syarat dan ketentuan sebagai kawasan lindung terpenuhi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; c. mengelola dan mengembangkan potensi fungsi kawasan lindung skala

  Kabupaten sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan

  d. mengusahakan terjaganya kawasan hutan paling sedikit 30% pada setiap DAS dalam keseluruhan wilayah Kabupaten Solok. Strategi pengelolaan kawasan budidaya mendukung pengembangan ekonomi melalui pengelolaan sumber daya alam berbasis pertanian, pariwisata, dan industri dengan memperhatikan keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf d meliputi: a. mengembangkan budidaya pertanian diarahkan untuk terjaganya daerah sebagai bagian dari lumbung padi Provinsi dan Nasional serta ketahanan pangan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi lahan pertanian;

  b. mengembangkan kawasan budidaya perkebunan diarahkan untuk pengembangan ekonomi produktif wilayah yang memiliki daya dukung tinggi terhadap produktivitas dan pertumbuhan ekonomi wilayah;

  c. mengembangkan kawasan peternakan diarahkan untuk tercapainya swasembada daging dan telur, guna pengembangan ekonomi produktif yang memiliki daya dukung tinggi terhadap produktivitas dan pertumbuhan ekonomi wilayah; d. mengembangkan kawasan perikanan diarahkan untuk tercapainya kebutuhan protein, guna pengembangan ekonomi produktif yang memiliki daya dukung tinggi terhadap produktivitas dan pertumbuhan ekonomi wilayah;

  e. mengembangkan kawasan pariwisata diarahkan untuk pembangunan kepariwisataan dan menghasilkan nilai-nilai agama dan budaya setempat sekaligus menjadi bagian pengembangan ekonomi produktif wilayah yang dapat menstimulasi kegiatan ekonomi produktif di dalam kawasan wisata maupun wilayah yang lebih luas;

  f. mengembangkan kawasan peruntukan industri diarahkan untuk industri pengelolaan potensi sumber daya alam dengan mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan;

  g. mengembangkan kawasan permukiman diarahkan untuk mendukung pengembangan pusat-pusat kegiatan dan pusat pelayanan yang tersebar sebagaimana Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten Solok;

  h. mengembangkan kawasan budidaya kehutanan diarahkan untuk dapat menstimulasi kegiatan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan hutan dan peningkatan produktivitas daerah pada sektor kehutanan; dan i. mengembangkan kawasan pertambangan dengan mempertimbangkan aspek lingkungan hidup secara berkelanjutan sesuai peraturan perundang-undangan.

  Strategi perwujudan usaha untuk perubahan fungsi dari kawasan hutan ke kawasan bukan hutan untuk kawasan budidaya yang diperlukan untuk kepentingan pembangunan daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf e meliputi:

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  a. menetapkan kembali kawasan hutan yang termasuk dalam kawasan budidaya di wilayah Kabupaten Solok, sebagaimana dalam RTRWP yang telah disetujui oleh Menteri Kehutanan; dan

  b. mewujudkan pengelolaan kawasan sebagaimana dimaksud pada huruf a sebagai kawasan yang dilepaskan statusnya dari kawasan hutan, sebesar- besarnya untuk pengembangan ekonomi produktif masyarakat berbasis pertanian, pariwisata dan industri.

  Strategi peningkatan fungsi kawasan untuk kepentingan pertahanan dan keamanan dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf f meliputi:

  a. mendukung penetapan kawasan strategis nasional dengan fungsi khusus pertahanan keamanan; b. mengembangkan kawasan lindung dan/atau kawasan budidaya tidak terbangun disekitar kawasan khusus pertahanan dan keamanan; c. mengembangkan budidaya secara selektif di dalam dan di sekitar kawasan khusus pertahanan untuk menjaga fungsi pertahanan dan keamanan; dan d. turut serta menjaga dan memelihara aset-aset pertahanan/TNI.

3.1.2. RENCANA STRUKTUR RUANG KABUPATEN SOLOK

  Rencana struktur ruang wilayah Kabupaten Solok terdiri atas:

  a. rencana pengembangan sistem pusat permukiman; dan b. rencana pengembangan sistem jaringan prasarana. Kawasan peruntukkan permukiman di wilayah Kabupaten Solok meliputi :

  a. kawasan peruntukkan permukiman perkotaan dan b. kawasan peruntukkan permukiman perdesaan. Kawasan peruntukkan permukiman perkotaan di wilayah Kabupaten Solok seluas kurang lebih 1.348 Ha yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Solok khususnya pada masing – masing PKL, PKLp, dan PPK yang ada di wilayah Kabupaten Solok. Kawasan peruntukkan permukiman perdesaan di wilayah Kabupaten Solok dengan luas kurang lebih 3.690 Ha yang tersebar di masing – masing PPL di wilayah Kabupaten Solok. Pengembangan kawasan permukiman diarahkan untuk mendukung pengembangan pusat-pusat kegiatan dan pusat pelayanan yang tersebar sebagaimana Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten. Rencana kawasan permukiman di wilayah Kabupaten Solok hingga tahun 2030, terdiri atas permukiman perkotaan dan permukiman perdesaan. Guna mendukung perwujudan struktur ruang wilayah , maka sebaran kawasan permukiman perkotaan dan perdesaan di Kabupaten Solok dikembangkan seperti pada tabel 3.1.

  .

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  No Kecamatan Pusat Kegiatan Fungsi/Peran Klasifikasi permukiman

  Laing Gando

  10 Payung Sekaki Sirukam PPK Permukiman Perkotaan

  Batu banyak PPL Permukiman Perdesaan

  9 Lembang Jaya Bukit Sileh PPK Permukiman Perkotaan

  Koto Panjang PPL Permukiman Perdesaan

  8 Bukik Sundi Muara Panas PKLp Permukiman Perkotaan

  PPL Permukiman Perdesaan

  Tarung-tarung Utara Tarung-tarung Selatan

  Sungai Lasi PPK Permukiman Perkotaan

  7 IX Koto Sungai Lasi

  PPL Permukiman Perdesaan

  Pintu Rayo Saningbakar

  Singkarak PPK Permukiman Perkotaan

  X Koto Singkarak

  PPL Permukiman Perdesaan 6 Kec.

  5 X Koto Diatas Sulit Air PPL Permukiman Perkotaan

  1 Gunung Talang Arosuka PKL Permukiman Perkotaan

Tabel 3.1. Pengembangan Kawasan Permukiman pada Pusat-pusat Kegiatan di Kabupaten Solok hingga Tahun 2031

  Kp Tangah Parumahan

  4 Junjung Sirih Paninggahan PPK Permukiman Perkotaan

  PPL Permukiman Perdesaan

  Batu Palano Tigo Kajai

  3 Kubung Selayo PKK Permukiman Perkotaan

  PPL Permukiman Perdesaan

  Parak tabu lipek pageh Aia Dingin Timur

  PKLp Permukiman Perkotaan

  Alahan Panjang- Sungai Nanam

  2 Lembah Gumanti

  PPL Permukiman Perdesaan

  Kayu Jao Lubuk Selasih

  Talang PPK Permukiman Perkotaan

  PPL Permukiman Perdesaan RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Subarang bancah PPL Permukiman Koto Ib Pulai Perdesaan

  11 Pantai Cermin Surian PPK Permukiman Perkotaan

  Tanam Batu Lolo PPL Permukiman Perdesaan

  12 Hiliran Gumanti Talang Babungo PPK Permukiman Perkotaan

  Talang Timur PPL Permukiman Rantau Kimpalan Perdesaan

  13 Tigo Lurah Batu Bajanjang PPK Permukiman Perkotaan

  Tanjuan Balik PPL Permukiman Garabak data Perdesaan

  14 Danau Kembar Sp Tanjung Nan IV PPK Permukiman Perkotaan

  Paubungan Danau PPL Permukiman Diateh Perdesaan

  Sumber : RTRW Kabupaten Solok Tahun 2012 – 2031

  Rencana sistem jaringan prasarana Kabupaten Solok, terdiri atas rencana sistem jaringan transportasi sebagai prasarana utama, dan rencana pengembangan prasarana lainnya, meliputi rencana pengembangan sistem jaringan energi/kelistrikan, rencana sistem jaringan telekomunikasi, rencana sistem jaringan sumber daya air, dan rencana sistem Jaringan prasarana wilayah lainnya mencakup prasarana lingkungan, seperti air bersih, drainase, pengelolaan persampahan, air limbah, listrik, dan telepon.

  R R e e n n c c a a n n a a S S i i s s t t e e m m J J a a r r i i n n g g a a n n T T r r a a n n s s p p o o r r t t a a s s i i

  Rencana pengembangan sistem jaringan transportasi dimaksudkan untuk meningkatkan keterkaitan kebutuhan dan peningkatan transportasi antar wilayah dan antar kawasan permukiman yang dikembangkan dalam ruang wilayah Kabupaten, serta keterkaitannya dengan sistem jaringan transportasi Provinsi. Selain itu, pengembangannya juga untuk mewujudkan keselarasan dan keterpaduan antar pusat permukiman dengan sektor kegiatan ekonomi daerah.

  1 . S i s t e m J a r i n g a n J a l a n 1 . S i s t e m J a r i n g a n J a l a n

  Rencana pengembangan sistem jaringan jalan, dilakukan melalui peningkatan fungsi jaringan jalan dan pembangunan jaringan jalan baru sesuai dengan kebutuhan pengembangan untuk menunjang perwujudan struktur ruang. Peningkatan fungsi jaringan jalan dapat dilakukan melalui kegiatan peningkatan fungsi, status, maupun kelas jalan, serta kegiatan rehabilitasi atau pemeliharaan jalan. Sedangkan pembangunan jaringan jalan dilakukan pada ruas-ruas jalan yang belum terhubung, untuk mendukung pengembangan pusat-pusat kegiatan dalam sistem perkotaan di Kabupaten Solok untuk mewujudkan struktur ruang wilayah kabupaten yang optimal.

  Rencana pengembangan jaringan jalan di Kabupaten Solok perlu juga mengacu dan memperhatikan rencana pengembangan jaringan jalan yang telah ditetapkan pada

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  RTRW Provinsi Sumatera Barat, sebagai kebijakan makro dari tata ruang wilayah kabupaten. Dalam merumuskan rencana pengembangan jaringan jalan dalam rencana tata ruang perlu memperhatikan kebijakan UU No 38 Tahun 2004 tentang Jalan, PP 34 Tahun 2006 tentang Jalan, dan PP No 26 Tahun 2008 tentang RTRWN. Mengacu pada UU No 38 Tahun 2004, sistem jaringan jalan terdiri atas sistem jaringan jalan primer dan sistem jaringan jalan sekunder.

  (1) Sistem Jaringan Jalan Primer

  Sistem jaringan jalan primer merupakan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan semua wilayah di tingkat nasional, dengan menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat-pusat kegiatan. Sistem jaringan jalan primer adalah sistem jaringan jalan bersifat menerus yang memberikan pelayanan lalu lintas tidak terputus walaupun masuk ke dalam kawasan perkotaan. Pusat-pusat kegiatan adalah kawasan perkotaan yang mempunyai jangkauan pelayanan nasional, wilayah, dan lokal

  (2) Sistem Jaringan Jalan Sekunder

  Sistem jaringan jalan sekunder merupakan sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa di dalam kawasan perkotaan. Yang dimaksud dengan kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian, dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, serta kegiatan ekonomi.

  Berdasarkan kebijakan tersebut, yang akan digunakan untuk rumusan rencana pengembangan jaringan jalan di Kabupaten Solok, dapat diklasifikasikan menjadi: A. Pengembangan Jaringan Jalan yang menghubungkan antar pusat kegiatan, meliputi: jalan arteri primer, jalan kolektor primer, dan jalan lokal primer

  1. Jalan arteri primer diarahkan untuk melayani pergerakan antar kota antar provinsi, dengan kriteria sebagai berikut : a. Menghubungkan antar-PKN

  b. Menghubungkan antara PKN dan PKW;

  c. Menghubungkan PKN dan/atau PKW/PKWp dengan bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer/sekunder/ tersier dan pelabuhan /nasional;

  d. Berupa jalan umum yang melayani angkutan utama;

  e. Melayani perjalanan jarak jauh;

  f. Memungkinkan untuk lalu-lintas dengan kecepatan rata-rata tinggi; dan; g. Jumlah jalan masuk dibatasi secara berdaya guna.

  2. Jalan kolektor primer dikembangkan untuk menghubungkan antar kota dalam provinsi, dengan kriteria sebagai berikut : a. Menghubungkan antar-PKW/ PKWp;

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  b. Menghubungkan antara PKW/PKWp dengan PKL;

  c. Berupa jalan umum yang melayani angkutan pengumpul atau pembagi;

  d. Malayani perjalanan jarak sedang;

  e. Memungkinkan untuk lalu-lintas dengan kecepatan rata-rata sedang; dan; f. Membatasi jumlah jalan masuk.

  3. Jalan Lokal Primer dikembangkan untuk menghubungkan antar kota dalam kabupaten, dengan kriteria sebagai berikut: a. Menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan; antar ibukota kecamatan; ibukota kabupaten dengan PKL/PKLp; dan antar-

  PKL/PKLp.

  b. Berupa jalan umum yang melayani angkutan setempat;

  c. Malayani perjalanan jarak dekat;

  d. Memungkinkan untuk lalu-lintas dengan kecepatan rata-rata rendah; e. Jumlah jalan masuk tidak dibatasi. Lebih lengkapnya rencana pengembangan ruas jalan menurut fungsi tersebut diatas dapat dilihat pada Tabel 3.3 dan Gambar 3.2

  

A. Pengembangan Ruas Jalan “Triple Axis” Utama dan “Feeder” Wilayah

Tengah Selatan

  Dalam rencana pengembangan jaringan jalan di Kabupaten Solok, juga akan dikembangkan ruas jalan yang disebut sebagai “Triple Axes” atau 3 (tiga) poros utama dan “feeder” atau ruas-ruas penghubungnya untuk menjaga aksesibilitas pada wilayah bagian tengah dan selatan di Kabupaten Solok. Rencana pengembangan ruas jalan ini selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3.3 dan Gambar 3.3 .

  

B. Pengembangan Ruas Jalan/Jalur Evakuasi Bencana Letusan Gunung Api)

(Gunung Talang)

  Pada letusan gunung api, bencana dapat ditimbulkan oleh jatuhan material letusan, awan panas, aliran lava, gas beracun, abu gunung api, dan bencana sekunder berupa aliran Iahar. Guna menghindari dan meminimalisir dampak bencana tersebut, perlu disiapkan dan dikembangkan rencana jalur evakuasi yang terintegrasi dengan sistem jaringan jalan yang ada di Kabupaten Solok. Rencana pengembangan ruas jalan sebagai jalur evakuasi bencana gunung api di Gunung Talang dan sekitarnya, diantaranya meliputi:

  1. Peningkatan Jalan Arteri Primer (Jalan Nasional) antara Padang-Arosuka-Kota Solok

  2. Peningkatan Jalan Kolektor Primer (Jalan Provinsi) antara Lubuk Selasih – Padang Aro (Kab Solok Selatan) – Batas Prov Jambi

  3. Peningkatan Jalan Kolektor Primer (Jalan Provinsi) antara Solok - Kubang Duo - Alahan Panjang, yang menjadi akses utama dengan tujuan evakuasi:

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  a. Ke arah utara, yaitu ke arah Kota Sawahlunto dan atau Kota Solok via Sirukam dan Sungai Lasi

  b. Ke arah Selatan, yaitu ke Padang Aro (Kab Solok Selatan) via Alahan Panjang dan Surian

  4. Peningkatan ruas jalan lokal primer (Jalan Kabupaten) antara Sukarami – Batu bajanjang (no ruas 74) yang menghubungkan Kec Gn Talang dengan kecamatan Lembang Jaya. Ruas ini juga sekaligus berfungsi sebagai jalan penghubung atau “feeder” antara poros barat dengan poros timur pada ruas “Triple Axis”. Ruas jalan Sukarami – Batu Bajanjang akan menjadi akses/jalur evakuasi dengan tujuan: a. Ke Arah Utara-Timur, yaitu ke Kota Solok via Muara Panas dan Koto Anau

  b. Ke Arah Selatan-Timur, yaitu ke Alahan Panjang via Kampung Batu Dalam (Kec Danau Kembar)

  Lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3.1 Peta Rencana Jalur Evakuasi Bencana Letusan Gunung Api (Gn Talang).

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah KABUPATEN SOLOK Gambar 3.1 Peta Rencana Jalur Evakuasi Bencana Letusan Gunung Api (Gn Talang).

BAB III - 10

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

Tabel 3.2. Rencana Pengembangan Jaringan Jalan Kabupaten Solok Tahun 2031

  Kota/Simpul Pusat Kegiatan yang Keterangan No Ruas Jalan Dihubungkan (Rencana Pengembangan)

  A Jalan Arteri Primer (Jalan Nasional) Mengacu pada Kepmen 630 Tahun 2009

  1. Bts Kota Solok - Lubuk Selasih (ruas 042) Kota Solok – Kabupaten Solok jaringan jalan arteri primer 2.

  Kabupaten Solok – Kota Padang jaringan jalan arteri primer Lubuk Selasih - Bts Kota Padang (ruas 043)

  3. Bts Kab. Tanah Datar - Bts Kota Solok (ruas 009) Kab Tanah Datar - Kab Solok – Kota Solok jaringan jalan arteri primer (via Kec X Koto Singkarak,Kab Solok)

  4. Bts Kota Solok-Bts Kota Sawahlunto/MA. Kalaban Kota Solok – Kab Solok – Kota Sawahlunto jaringan jalan arteri primer (ruas 010)

  (via Kec X Koto Sungai Lasi, Kab Solok) B Jalan Kolektor Primer (Jalan Provinsi)

  Mengacu pada RTRW Prov Sumbar 2009-2029

  1. Lubuk Minturun – Paninggahan Kota Padang - Kab. Solok Pembangunan jaringan jalan kolektor primer

  2. Pasar Baru - Alahan Panjang Kab. Pesisir Selatan - Kab. Solok Pembangunan jaringan jalan kolektor primer

  3. Alahan Panjang - Kiliran Jao Kab. Solok – Kab Sijunjung Pembangunan jaringan jalan kolektor primer

  4. Solok - Kubang Duo - Alahan Panjang Kota Solok - Alahan Panjang (Kab. Solok) Peningkatan jaringan jalan kolektor primer

  5. Lubuk Selasih – Padang Aro – Batas Prov Jambi Kab Solok-Kab Solok Selatan-Bts.Prov.Jambi Peningkatan jaringan jalan kolektor primer

  6. Arteri Ibukota-Pt. Angin Lb. Saiyo (KM 20 Solok) Arteri Ibu Kota Arosuka Peningkatan jaringan jalan By Pass Arosuka

  C Jalan Lokal Primer (Jalan Kabupaten) Menghubungkan pusat-pusat kegiatan di Kabupaten Solok

  1. Kec Junjung Sirih: Sumani (Kec X Koto Singkarak) – Baing (No Antara PPK Paninggahan – PPL Parumahan Peningkatan jaringan jalan lokal primer

  Ruas 16) Antara PPK Paninggahan – PPL Marapi Utara Peningkatan jaringan jalan lokal primer

  Gando – Tambak (154)

  2. Kec X. Koto Singkarak Koto Sani – Saning Bakar (97) Antara PKLp Sumani – PPL Saningbakar Peningkatan jaringan jalan lokal primer Sumani – Terminal Sumani (170)

BAB III - 11

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Kota/Simpul Pusat Kegiatan yang Keterangan No Ruas Jalan Dihubungkan (Rencana Pengembangan)

  Singkarak – Tj Alai ( 12) Antara PKLp Sumani – PPL Pintu Rayo (Tj Peningkatan jaringan jalan lokal primer Sp IV Aripan – Tj Alai (98) Alai) Aripan – Tikalak (228) Singkarak – Sp Aripan (13)

  3. Kec. X Koto Diatas Tanjung Balit – Sulit Air (3) Antara PPK Tanjung Balit – PPL Sulit Air Peningkatan jaringan jalan lokal primer Sp IV Aripan – Tj Balit (4) Antara PPK Tanjung Balit – PPL Kuncir Peningkatan jaringan jalan lokal primer Paninjauan-Kuncir (10)

  4. Kec.IX Koto Sungai Lasi Sei Lasi – Bukit Bais (39) Antara PPK Sungai Lasi – PPL Bukit Bais Peningkatan jaringan jalan lokal primer Sungai Lasi –Indudur (99) Antara PPK Sungai Lasi – PPL Kt Lawas Peningkatan jaringan jalan lokal primer Koto Lawas – Indudur (100) Guguk Sarai – Koto Lawas (101)

  5. Kec Kubung Selayo – Gantung Ciri (20) Antara PPK Selayo – PPL Sawah Suduik Peningkatan jaringan jalan lokal primer Selayo – Gantung Ciri (20) Antara PPK Selayo – PPL Lurah Nan Tigo Peningkatan jaringan jalan lokal primer Cupak – Gantung Ciri (26)

  6. Kec Bukik Sundi Muaro Panas – Koto Anau(29) Antara PKLp Muaro Panas – PPL Koto Anau Peningkatan jaringan jalan lokal primer Muaro Panas – Parambahan (30)

  Antara PKLp Muaro Panas – PPL Kenari Peningkatan jaringan jalan lokal primer Parambahan – Dilam (104)

  7. Kec Payung Sekaki Sirukam – Supayang (41) Antara PPK Sirukam – PPL Supayang Peningkatan jaringan jalan lokal primer Tabek – Supayang (35)

  Antara PPK Sirukam – PPL Koto Ib Pulai Peningkatan jaringan jalan lokal primer Koto Tingga – Sirukam (143)

  8. Kec Lembang Jaya Batu Banyak – Bukit Sileh (51) Antara PPK Bukit Sileh – PPL Batu banyak Peningkatan jaringan jalan lokal primer Batu bajanjang- Korong Lembah (131) Antara PPK Bukit Sileh – PPL Limau Lunggo Peningkatan jaringan jalan lokal primer

  9. Kec Gunung Talang

BAB III - 12

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  12. Kec Pantai Cermin Jln kolektor primer Alahan Panjang(via Lolo)-Surian Antara PPK Surian – PPL Lolo Peningkatan jaringan jalan kolektor primer

  Antara PPK Batu Bajanjang – Garabak Peningkatan jaringan jalan lokal primer

  Antara PPK Batu Bajanjang – PPL Sumiso Peningkatan jaringan jalan lokal primer Batu Bajanjang – Sabi Air (162) Sabi Air - Garabak (207) Sumiso – Garabak (111)

  14. Kec Tigo Lurah Rangkiang Tulus – Batu Bajanjang (57) Rangkiang Tulus – Sumiso (109) Sumiso – Garabak Data (111)

  Peningkatan jaringan jalan lokal primer

  Antara PPK Talang Babungo – PPL Sungaiabu

  Talang Babungo – Suriak Alahan Tigo (60) Suriak Alahan Tigo – Sungai abu (62)

  Alahan III Peningkatan jaringan jalan lokal primer

  13. Kec Hiliran Gumanti Talang Babungo – Suriak Alahan Tigo (60) Antara PPK Talang Babungo-PPL Surik

  Peningkatan jaringan jalan kolektor primer

  (Rencana Pengembangan)

  Antara PKLp Alahan Panjang – PPL Aia Dingin

  Peningkatan jaringan jalan kolektor dan lokal primer Jalan kolektor primer Alahan Panjang (via Aia Dingin) – Surian – Padang Aro (Kab Solok Selatan)

  Antara PKLp Alahan Panjang – PPL Sungai Nanam

  Duo-Kota Solok Salimpat – Limpet Pageh (59)

  11. Kec Lembah Gumanti Jalan Kolektor Primer Alahan Panjang –Kb Nan

  Peningkatan jaringan jalan lokal primer Antara PPK Sp Tj Nan IV – PPL Paubungan Peningkatan jaringan jalan lokal primer

  Antara PPK Sp Tj Nan IV – PPL Kampuang Batu Dalam

  10. Kec Danau Kembar Ps Sp Tj Nan IV – Kp Batu (55) Kp Batu – Kp Batu Dalam (177) Sp Tj Nan IV – Air Barak (108)

  Antara PKL Arosuka – PPL Kayu Jao Peningkatan jaringan jalan lokal primer Jalan arteri primer Padang – Arosuka – Kota Solok Antara PKL Arosuka – PPL Lubuk Selasih Peningkatan jaringan jalan arteri primer

  Kayu Aro – Kayu Jao (155) Sp Kayu Jao – Pabrik Teh (167)

BAB III - 13 No Ruas Jalan Kota/Simpul Pusat Kegiatan yang Dihubungkan Keterangan

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  I Feeder antara poros Barat dengan Poros Tengah

  Kb. Nan Duo – Sirukam (89) Peningkatan jalan lokal primer

  Kb Nan Duo- Bukik Sileh(145) Peningkatan jalan lokal primer

  Kec Gn Talang – Lb Jaya – Payung Sekaki Peningkatan jalan lokal primer

  2. Arosuka (Sukarami) – Kb Nan Duo – Sirukam Sukarami – Bt Bajanjang (74)

  Muara Panas – Panyakalan (86) Peningkatan jalan lokal primer

  Kec Gn Talang – Kec Bukik Sundi Peningkatan jalan lokal primer

  1. Cupak – Muara Panas Cupak – Muara Panas (27)

  E Jalan Penghubung (Feeder) dari “Triple Axis” Utama Wilayah Tengah Selatan

  (Rencana Pengembangan) D Ruas Jalan “Triple Axis” Utama Wilayah Tengah Selatan

  Peningkatan jaringan jalan lokal primer

  Kec Sei Lasi – Kec Payung Sekaki – Kec Tigo Lurah

  3 Poros Timur (jalan lokal primer/jalan kabupaten): Sei Lasi - Bukit Bais (39) Bukit Bais – Sei Durian (38) Sei Durian – Sp.Subalin (37) Supayang – Sp Subalin (81) Sp Supayang – Sirukam (41) Sirukam - Rangkiang Lulus (42) Rangkiang Lulus – Batu Bajanjang (57) Batu Bajanjang – Sabi Air (162) Sabi Air – Garabak (207)

  Peningkatan jaringan jalan kolektor primer

  Batas Kota Solok – Kec Kubung – Kec Bukik Sundi – Kec Payung Sekaki – Kec Lembah Gumanti – Kec Hiliran Gumanti

  2 Poros Tengah (jln kolektor primer/jalan provinsi): Batas Kota Solok – Tabek – Kb Nan Duo –Sei Nanam – Alahan Panjang – Talang Babungo – Sarik Alahan Tigo- Sungai abu

  Peningkatan jaringan jalan kolektor primer

  Kec Gunung Talang-Kec Danau Kembar-Kec Lembah Gumanti – Kec Pantai Cermin – Padang Aro (Kab Solok Selatan)

  1 Poros Barat (jalan kolektor primer/jalan provinsi): Lubuk Selasih - Sp Tj Nan IV - Alahan Panjang – Surian – Batas Kab Solok ke Arah Padang Aro (Solok Selatan)

BAB III - 14 No Ruas Jalan Kota/Simpul Pusat Kegiatan yang Dihubungkan Keterangan

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  II Feeder antara poros Tengah dengan Poros Timur

  Sumber: RTRW Provinsi Sumbar 2009-2029 dan Hasil Rencana, 2010

  8. Tabek – Supayang (35) Kec. Payung Sekaki Peningkatan jalan lokal primer

  Peningkatan jalan lokal primer

  Kec Lembah Gumanti - Kec Payung Sekaki – Kec Tigo Lurah

  7. Limau Puruik-Kp Baru-Kapujan-Batu Bajanjang: Lk Bt Gadang (Llimau Puruik) – Kp. Baru (187) Kp. Baru - Kapujan (46) Kp Tangah -Kapujan(173) Sp Kapujan - Kapujan(192)

  6. Talang Babungo – Garabak (112) Kec. Hiliran Gumanti – Kec Tigo Lurah Peningkatan jalan kolektor primer

  5. Alahan Panjang– Talang Babungo (53) Kec. Lembah Gumanti - Kec. Hiliran Gumanti Peningkatan jalan kolektor primer

  (Rencana Pengembangan)

  Pinti Kayu – Sp. Pinti Kayu (201) Peningkatan jalan lokal primer

  Lubuk Muaro – Pinti Kayu Pembangunan jalan lokal primer

  Kec Pantai Cermin – Kec Hiliran Gumanti Peningkatan jalan lokal primer

  4. Pintu Rimbo/Lolo – Sp Pinti Kayu : Lolo – Pintu Rimbo (63) Ps Lolo – Lubuk Muaro (82)

  Kulemban – Sungai Abu Pembangunan jalan lokal primer

  Kec Pantai Cermin – Kec Hiliran Gumanti Peningkatan jalan lokal primer

  3. Pasar Surian – Sungai Abu : Belakang Pasar – Kulemban (219)

BAB III - 15 No Ruas Jalan Kota/Simpul Pusat Kegiatan yang Dihubungkan Keterangan

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  2 2 . . P P e e n n g g e e m m b b a a n n g g a a n n S S i i s s t t e e m m T T e e r r m m i i n n a a l l

  Rencana pengembangan terminal di wilayah Kabupaten Solok diarahkan pada pengembangan terminal penumpang regional tipe B hingga tipe C dan terminal barang. Pengembangan terminal tipe B di Kabupaten Solok didasarkan pada kriteria:

  1) Lokasi terletak di PKW/ PKWp dan/atau di PKL dalam jaringan trayek antar kota, antar provinsi (AKAP); Dalam hal ini diarahkan pada lokasi di PKL Arosuka, sebagai pusat pelayanan utama kabupaten Solok

  2) Terletak di jalan arteri/kolektor primer dengan kelas jalan minimum IIIB; 3) Jarak antara terminal regional tipe B dan/atau antara terminal regional tipe B dengan terminal regional tipe A sekurang-kurangnya 15 km; 4) Luas minimum 3 ha; 5) Mempunyai akses masuk atau keluar jalan dari terminal minimum 50 m; 6) Berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan AKDP, Angkutan Perkotaan, serta Angkutan Pedesaan.

  Sedangkan untuk pengembangan terminal tipe C didasarkan pada kriteria berikut: 1) Lokasi terletak di PPK dalam jaringan trayek antar kota, antar provinsi (AKAP); 2) Terletak di jalan arteri atau kolektor primer dengan kelas jalan minimum III C; 3) Jarak antara terminal regional tipe B dan/atau antara terminal regional tipe B dengan terminal regional tipe A sekurang-kurangnya 15 km; 4) Luas minimum 1 ha; 5) Mempunyai akses masuk atau keluar jalan dari terminal minimum 50 m; dan 6) Berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan AKDP, Angkutan Perkotaan, serta Angkutan Pedesaan.

  3 3 . . S S i i s s t t e e m m J J a a r r i i n n g g a a n n K K e e r r e e t t a a A A p p i i

  Rencana pengembangan jaringan jalur kereta api di Kabupaten Solok sesuai dengan rencana jaringan kereta api pada lintas barat Sumatera (berdasarkan RTRW Provinsi Sumbar 2009-2029). Pengembangan jaringan jalur kereta api berikut prasarananya tersebut, melintasi jalur yang menghubungkan antara : Padang (Teluk Bayur) - Lubuk Alung - Padang Panjang

  • – Solok - Sawahlunto dan Rencana pembangunan jalur short cut Pauh Limo (Padang)
  • – Solok

  4 . S i s t e m J a r i n g a n S u n g a i , D a n a u , d a n P e n y e b e r a n g a n 4 . S i s t e m J a r i n g a n S u n g a i , D a n a u , d a n P e n y e b e r a n g a n

  Rencana pengembangan jaringan transportasi sungai, danau dan penyeberangan di Kabupaten Solok diwujudkan melalui pengembangan angkutan danau untuk menunjang kegiatan pariwisata yang ada di Danau Singkarak, Danau Diatas dan Danau Dibawah.

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Selain angkutan danau, juga diarahkan pada pengembangan prasarana pelabuhan danau yang lebih ditekankan pada peningkatan dan optimalisasi fungsi pelabuhan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik bagi para wisatawan. Rencana Pengembangan sistem transportasi air di Danau Singkarak, Danau Diatas dan Danau di Bawah untuk mendukung kegiatan ekonomi wilayah dan pariwisata, dilakukan melalui:

1. Pembangunan Dermaga pelabuhan barang dan penumpang di Kawasan Danau

  Singkarak, Kecamatan X Koto Singkarak

  2. Penyediaan Kapal perintis penyeberangan danau yang melayani rute-rute yang menghubungkan simpul-simpul pusat kegiatan, meliputi: a. Kabupaten Tanah Datar dengan Kecamatan X Koto Singkarak (via Danau

  Singkarak)

  b. Paninggahan (Kec Junjung Sirih) dengan Sumani (Kecamatan X Koto Singkarak

  c. Jorong-jorong (desa) di sebelah barat Danau Diatas dan Danau Dibawah dengan jorong di sebelah timur danau, yang menghubungkan antara Kecamatan Lembah Gumanti dengan Kecamatan Danau Kembar:

3. Pembangunan dermaga pelabuhan wisata di 3 (tiga) kawasan danau, meliputi:

  a. Danau Singkarak (Kec.X Koto Singkarak)

  b. Danau Diatas (Kec Danau Kembar)

  c. Danau Dibawah (Kec Danau Kembar)

  5 5 . . R R e e n n c c a a n n a a S S i i s s t t e e m m J J a a r r i i n n g g a a n n E E n n e e r r g g i i / / K K e e l l i i s s t t r r i i k k a a n n

  Sampai dengan tahun 2008, penyediaan energi listrik yang bersumber dari PLN Cabang Solok memiliki kapasitas terbangkitkan sebesar 94.859.860 Kwh atau sekitar 94.859,86 Mwh. Berdasarkan perhitungan kebutuhan energi listrik hingga tahun 2030, diperkirakan Kabupaten Solok membutuhkan kapasitas energi listrik hingga 127.387.391 Kwh (127.387,39), sehingga terdapat sekitar defisit energi listrik sebesar 32.527,53 Mwh atau sekitar 25,53 % dari prediksi kebutuhan hingga tahun 2030.

  Arahan pengembangan sistem jaringan energi/kelistrikan di Kabupaten Solok, dilakukan melalui: a. Dengan meningkatkan pasokan listrik yang bersumber dari PLN Cabang Solok secara bertahap hingga menjangkau seluruh wilayah Kabupaten Solok

b. Peningkatan kapasitas pembangkit listrik eksisiting, meliputi

  Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di Sungaiabu (Kec Hiliran Gumanti) Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di Surian (Kec Pantai Cermin)

  c. Mengembangkan prasarana pembangkit baru dengan alternatif sumber energi yang belum dimanfaatkan secara optimal, yaitu meliputi: Potensi Pengembangan sumber energi panas bumi di Gunung Talang, untuk

  Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB), dengan potensi kapasitas 94 RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  MW. Mengacu pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN 2009-2018, akan dikembangkan transmisi 150 KV dari PLTP Gunung Talang ke Solok dengan target pada tahun 2017 Pembangunan pembangkit mikro hidro di Kec. Tigo Lurah Bajanjang, dan Kec.

  Hiliran Gumanti, serta Kec. X Koto Diatas

  d. Peningkatan jaringan distribusi listrik untuk mendukung kegiatan industri pada pusat kegiatan utama Kabupaten (Aro-Suka, Alahan Panjang, Selayo, Sumani, dan Muara Panas )

  e. Peningkatan jaringan distribusi listrik utama ke pusat kecamatan di Kab. Solok Arahan pengembangan sistem jaringan energi listrik mencakup kebijakan pengembangan sistem jaringan listrik/energi untuk meningkatkan ketersediaan energi/ listrik bagi kegiatan permukiman dan kegiatan non permukiman. Sistem jaringan energi listrik dikembangkan untuk mendukung sistem aktivitas pada sentra-sentra kegiatan dan produksi. Oleh karena itu, pengembangannya dilakukan melalui pengembangan kelistrikan yang mampu mendukung kegiatan perekonomian, pengembangan kawasan andalan, kawasan tertentu, dan kawasan tertinggal. Pengembangan sistem jaringan energi untuk peningkatan kapasitas pembangkit listrik dilakukan dengan kriteria : a. Mendukung ketersediaan pasokan tenaga listrik untuk kepentingan di kawasan permukiman perkotaan dan kawasan permukiman perdesaan; b. Mendukung pemanfaatan teknologi tinggi yang mampu menghasilkan energi untuk mengurangi ketergantungan sumber energi tak terbaharukan; c. Berada di lokasi aman dari bencana alam dan aman terhadap kegiatan lain; d. Tidak berada pada kawasan lindung.

  Sedangkan pengembangan sistem jaringan energi listrik ditetapkan dengan kriteria :

  a. Mendukung ketersediaan pasokan tenaga listrik untuk kepentingan di kawasan permukiman perkotaan dan kawasan permukiman perdesaan; b. Melintasi kawasan permukiman, wilayah sungai, laut, hutan, pertanian, dan jalur transportasi; c. Mendukung pemanfaatan teknologi tinggi yang mampu menghasilkan energi untuk mengurangi ketergantungan sumber energi tak terbarukan;

  6 6 . . R R e e n n c c a a n n a a S S i i s s t t e e m m J J a a r r i i n n g g a a n n T T e e l l e e k k o o m m u u n n i i k k a a s s i i

  Telekomunikasi merupakan prasarana penting dalam mendukung kegiatan sosial- ekonomi masyarakat, kegiatan pemerintahan serta kegiatan lainnya. Penyediaan telepon sampai saat ini masih didominasi oleh PT. Telkom Tbk melalui penyediaan beberapa Sentral Telepon Otomatis (STO) yang tersebar pada seluruh Kecamatan.

  Sistem jaringan telekomunikasi yang dikembangkan, meliputi sistem kabel, sistem seluler dan sistem satelit. Prasarana telekomunikasi dikembangkan hingga ke pelosok wilayah yang belum terjangkau sarana prasarana telekomunikasi, sehingga kebutuhan telekomunikasi dapat dipenuhi.

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Arahan pengembangan sistem jaringan telekomunikasi secara umum dapat diuraikan sebagai berikut : 1) Mempertahankan dan memelihara jaringan telekomunikasi melalui integrasi dengan sistem komunikasi lain dan dengan sistem permukiman. 2) Mengembangkan jaringan komunikasi dengan cara :

  a. Mengembangkan jaringan telekomunikasi untuk meningkatkan keterkaitan antar wilayah.

  b. Mengembangkan jaringan telekomunikasi sampai ke Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) yang merupakan Nagari dan Jorong sebagai pusat kegiatan dan pelayanan antar Nagari atau Jorong (desa), serta dalam rangka meningkatkan keterkaitan kota-desa.

  c. Mengembangkan jaringan telekomunikasi untuk mendukung pengembangan kota-kota dan kawasan strategis. 3) Mengembangkan jaringan telekomunikasi secara berkesinambungan untuk pelayanan di seluruh wilayah yang terpadu dengan sistem jaringan telekomunikasi nasional, baik berupa jaringan terestrial maupun jaringan satelit. Pengembangan jaringan telekomunikasi dengan sistem terestrial memiliki kriteria :

  a. Jaringan dikembangkan secara berkesinambungan dan terhubung dengan jaringan nasional; b. Menghubungkan antar pusat kegiatan; dan c. Mendukung kawasan pengembangan ekonomi.

  Sedangkan pengembangan jaringan sistem satelit ditetapkan dengan kriteria :

  a. Mendukung dan melengkapi pengembangan jaringan terestrial;

  b. Mendukung pengembangan telekomunikasi seluler; dan c. Pemanfaatan bersama menara untuk minimal 3 (tiga) operator setiap menara.

  Rencana pengembangan sistem jaringan telekomunikasi di Kabupaten Solok, diantaranya melalui: (1) Pengembangan Sistem Komunikasi wilayah Kabupaten yang lebih diutamakan pada pengembangan jaringan komunikasi seluler yang mencakup keseluruhan wilayah Kab. Solok, yang diimplementasikan dengan pembangunan Tower BTS Bersama pada semua wilayah Kecamatan. Menara BTS Bersama penunjang Jaringan Telekomunikasi Seluler yang mencakup seluruh wilayah kabupaten

  (2) Peningkatan jaringan telekomunikasi kabel terutama untuk layanan kegiatan industri pada Pusat Kegiatan Utama Kabupaten (PKL dan PKLp), yang diimplementasikan dengan Peningkatan jaringan telekomunikasi kabel mendukung peruntukan industri di Kec. Gunung Talang, Kec. Lembah Gumanti, dan Kec. Kubung RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

Gambar 3.2. Peta Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Telekomunikasi

BAB III - 20

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Rencana pengembangan sistem jaringan sumberdaya air di Kabupaten Solok diarahkan melalui : a. Konservasi dan pengelolaan secara terpadu : Wilayah Sungai (WS)/ Daerah Aliran

  14. Junjung Sirih 10 910,59

  Sumber: Peta Infrastruktur PU Tahun 2006

  9. Sopan Ky Manang 1.160 Ha

  8. Bdr Lawas Sirukam 2890Ha

  7. Bdr Ubo 600 Ha

  6. Muara Danau 1068Ha

  5. Batang Lembang 750 Ha

  4. Bdr Kota Gaek 652 Ha

  3. Gr Panjang 834 Ha

  2. Bdr Gadang 1.525 Ha

  1. Bdr Halim 638 Ha

  No Bendung Luas Layanan (Ha) No Bendung Luas Layanan (Ha)

Tabel 3.4. Bendung dan Luas Layanannya di Kabupaten Solok

  d. Rencana pengelolaan dan konservasi bendung sebagai bangunan penampung air untuk penyediaan air baku alternatif. Berdasarkan data peta Infrastruktur PU, terdapat 9 (sembilan) bendung yang ada di Kab Solok, yaitu:

  Total 499 37.805,80 Sumber : Daftar Inventarisasi Daerah Irigasi PU Wewenang Kab Solok Tahun 2010

  13. X Koto Singkarak 37 2.852,75

  Sungai (DAS) lintas provinsi yang meliputi : Indragiri (Provinsi Sumatera Barat – Provinsi Riau), Batanghari (Provinsi Sumatera Barat – Provinsi Jambi)

  4. Payung Sekaki 16 3.531,00

  b. Konservasi dan pengelolaan secara terpadu, serta pengamanan abrasi : Danau Singkarak, dan Danau Kembar (D. Diatas dan Dibawah)

  c. Rencana pemeliharaan & pengelolaan jaringan irigasi pada Daerah Irigasi (DI) yang ada di Kabupaten Solok, meliputi Daerah Irigasi seperti pada tabel berikut:

Tabel 3.3. Sebaran Daerah Irigasi Kabupaten Solok No Kecamatan Jumlah DI (Unit) Luas Areal (HA)

  1. Pantai Cermin 17 2.403,00

  2. Lembah Gumanti 31 2.519,80

  3. Hiliran Gumanti 45 2.053,65

  3. Tigo Lurah 55 2.255,40

  7 7 . . R R e e n n c c a a n n a a S S i i s s t t e e m m J J a a r r i i n n g g a a n n S S u u m m b b e e r r D D a a y y a a A A i i r r

  6. Lembang Jaya 33 3.258,14

  7. Danau Kembar 11 479,00

  8. Gunung Talang 56 8.406,00

  9. Bukit Sundi 40 3.084,58

  10. IX Koto Sungai Lasi 61 1.204,77

  11. Kubung 23 3.352,52

  12. X Koto Diatas 64 1.494,60 RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  3 3 . .

  1 1 . .

  3 3 . . R R e e n n c c a a n n a a S S i i s s t t e e m m P P r r a a s s a a r r a a n n a a P P e e n n g g e e l l o o l l a a a a n n L L i i n n g g k k u u n n g g a a n n

  Sistem Prasarana lingkungan yang akan dikembangkan di Kabupaten Solok, terdiri atas :

  1. Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)

  2. Prasarana Pengelolaan Air Limbah

  3. Prasarana Pengelolaan Persampahan

  4. Drainase Rencana pengembangan sistem prasarana lingkungan akan mengadopsi dokumen Rencana Program Investasi Jangka Menengah (RPIJM) Kabupaten Solok 2009-2013 yang memuat rencana program pengembangan infrastruktur ke-Cipta Karya-an.

  Secara lebih rinci rencana pengembangan prasarana lingkungan tersebut, akan dipaparkan pada bagian berikut ini.

  A . S i s t e m P e n y e d i a a n A i r M i n u m A . S i s t e m P e n y e d i a a n A i r M i n u m

  Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Kabupaten Solok terdiri dari sistem perpipaan dan non perpipaan. Sistem penyediaan air minum perpipaan yang dikelola oleh pemerintah melalui PDAM, bantuan pemerintah pusat melalui WSLIC, SAB, PABPLP dan oleh masyarakat (nagari), sedangkan sistem non perpipaan yang ada merupakan merupakan bantuan pemerintah pusat melalui program WSLIC dan secara individu oleh masyarakat yang pada umumnya tidak dilayani oleh perpipaan. Pelayanan SPAM di Kabupaten Solok terbagi dalam dua pengelolaan yaitu; pertama, dikelola langsung oleh PDAM Kabupaten Solok dan kedua, dikelola oleh PDAM Kota Solok. Pada prinsipnya untuk wilayah Kota Solok sumber air berasal dari wilayah Kabupaten Solok. Kerjasama pengelolaan air minum antara Pemerintah Kabupaten Solok dengan Pemerintah Kota Solok dituangkan dalam bentuk Perjanjian kerjasama atau Memorandum of Agreement (MOA).

  Tingkat pelayanan SPAM yang ada di Kabupaten Solok saat ini sebesar 39.89% yang meliputi sistem perpipaan sebanyak 23.13% dan non perpipaan yang terlindungi sebanyak 13.71% dengan perincian seperti pada tabel berikut .

  SPAM perpipaan yang dikelola masyarakat berupa kran umum, sedangkan non perpipaan berupa sumur gali, penampungan air hujan (PAH) dan perlindungan mata air (PMA). Daerah pelayanan PDAM Kabupaten Solok pada tahun 2005 baru melayanai 21 nagari dari 74 nagari atau 10 kecamatan dari 14 kecamtan yang ada.

  Kapasitas terpasang fasilitas produksi untuk melayani air minum pada 11 unit yang ada dalam Kabupaten Solok pada tahun 2005 sebesar 177.5 L/dtk debgan kapasitas efektif 146.9 L/dtk. Hal ini disebabkan hampir seluruh broncaptering yang ada bocor dan untuk air baku yang bersumber dari air permukaan/sungai pada musim kemarau rendah, selin itu juga kondisi intake yang pada umumnya sangat tidak memungkinkan, begitu juga dengan unit instalasi pengolahan air (IPA) kondisinya sangat

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  memprihatinkan. Hal tersebut mengakibatkan banyaknya air yang hilang sehingga debit menjadi kurang.

  Untuk pendistribusian air, daerah alahan panjang, Surian, Muara Panas dan daerah sebagian Koto Baru air tersedia dalam 24 jam (bersifat kontinu) sedangkan untuk daerah Guguk, Koto Baru, Talang, Cupak dan Singkarak mengalami pergiliran air. Hal ini terjadi karena tekanan air tidak cukup sehingga dilakukan pergiliran. Air didistribusikan secara gravitasi baik yang bersumber dari mata air maupun sungai, kecuali unit pelayanan Sulit Air yang bersumber dari sungai gemuruh hasil olahan yang masuk reservoar produksi dipompakan dulu kereservoar distribusi kemudian didistribusikan ke konsumen secara gravitasi. Sementara itu ada beberapa unit pelayanan yang menggunakan bahan bakar yang menyebabkan biaya operasional menjadi tinggi.

  Selain SPAM sistem perpipaan juga ada SPAM non perpipaan komunal yang difasilitasi oleh pemerintah daerah dengan melibatkan masyarakat dalam pengelolaanny. Namun SPAM non perpipaan yang ada pada saat ini baru dapat melayani 5,48% dari total penduduk Kabupaten Solok. Berdasarkan keadaan existing dan permasalahan yang ada, maka beberapa rumusan program untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan sarana air bersih antara lain :

  1. Peningkatan akses/kemudahan masyarakat terhadap pemenuhan kebutuhan air bersih.

  2. Peningkatan kapasitas pelayanan / cakupan layanan.

  3. Pembangunan sarana dan prasarana air bersih bagi masyarakat di pedesaan.

  4. Optimalisasi sumber air dengan memanfaatkan kapasitas yang belum terpakai.

  5. Meningkatkan kualitas air hasil olahan sesuai dengan standar Menkes RI Nomor: 907/Menkes/SK/VII/2002 untuk SPAM Perpipaan PDAM.

  6. Penurunan kehilangan air pada sistem perpipaan sesuai dengan standar pelayanan bidang air minum (Kementerian PU-Ditjen Cipta Karya).

  7. Meningkatkan kontinuitas pelayanan menjadi 24 jam sesuai dengan standar pelayanan bidang air minum (Kementerian PU-Ditjen Cipta Karya).

  8. Perlindungan terhadap air baku.

  9. Meningkatkan propesional karyawan yang didukung dengan struktur yang efektif dan efisien sesuai dengan Perda Nomor: 9/2005, meningkatkan pendidikan sumber daya manusia di PDAM, SOP organisasi dan rasio karyawan terhadap pelanggan 1 : 100.

  10. Pembuatan aturan dari Pemerintah Daerah untuk pengelolaan sistem perpipaan non PDAM dan SPAM Non Perpipaan Pengembangan jaringan air bersih perpipaan diprioritaskan pada daerah-daerah yang rawan air minum dengan laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi seperti di Kecamatan Junjung Sirih dan Kecamatan Kubung. Program pompanisasi di prioritaskan pada Kecamatan X Koto Singkarak, Kecamatan Kubung dan Kecamatan

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Gunung Talang. Sementara itu untuk pembangunan sarana dan prasarana air bersih diprioritaskan pada daerah yang terbilang rawan penyakit yang akses air bersih masih sangat kurang seperti di kecamatan Lembah Gumanti, Hiliran Gumanti, Kecamatan X Koto Singkarak, X Koto Diatas dan Kecamatan Kubung. Untuk peningkatan cakupan pelayanan dengan meminimalkan kehilangan air di bangunan-bangunan diprioritaskan pada daerah-daerah yang memiliki unit pelayanan (11 Unit Pelayanan).

  B B . . P P r r a a s s a a r r a a n n a a P P e e n n g g e e l l o o l l a a a a n n A A i i r r L L i i m m b b a a h h

  Air limbah yang dimaksud adalah air limbah permukiman (municipal wasterwater) yang terdiri atas air limbah domestik (rumah tangga) yang berasal dari air sisa mandi, cuci, dapur dan tinja manusia dari lingkungan permukiman serta air limbah industri rumah tangga yang tidak mengandung Bahan Beracun dan Berbahaya (B3). Air limbah permukiman ini perlu dikelola agar tidak menimbulkan dampak seperti mencemari air permukaan dan air tanah, di samping sangat beresiko menimbulkan penyakit, seperti: diare, thypus, kolera dll. Secara umum produksi air limbah di Kabupaten Solok dihasilkan dari limbah rumah tangga, karena masih sedikit industri di Kabupaten Solok. Selain dari Limbah rumah tangga, dikabupaten Solok juga terdapat limbah yang berasal dari rumah sakit (RSUD Arosuka), dan beberapa pabrik teh serta tambang bijih besi. Namun untuk pabrik teh, limbah yang dihasilkan merupakan limbah organik sehingga belum banyak terjadi pencemaran lingkungan. Pengelolaan prasarana dan sarana air limbah pada setiap daerah mempunyai karakteristik yang berbeda, baik tingkat pelayanan, jenis dan jumlah pelayanannya. Pengelolaan sanitasi dapat dilakukan dengan 2 (dua) sistem yaitu:

a. Sistem Pengolahan Air Limbah Setempat (on-site system); b. Sistem Pengolahan Air Limbah Terpusat (off-site system).

  Sistem pengelolaan air limbah di Kabupaten Solok masih banyak menggunakan sistem pengolahan air limbah setempat (on-site system) baik itu secara individu dan di beberapa tempat secara komunal. Di sisi lain masih banyak warga masyarakat yang belum memiliki pengelolaan air limbah dan membuang limbahnya ke saluran atau sungai. Pengelolaan air limbah rumah tangga yang perlu diperhatikan adalah pada daerah permukiman yang padat dan pada perumahan-perumahan.

  Di Kabupaten Solok terdapat beberapa perumahan seperti di Kecamatan Kubung, Kecamatan Lembah Gumanti. Secara umum masyarakat diperumahan masih menggunakan sistem air limbah setempat. Sementara itu untuk limbah RSUD, sampai saat ini memang belum ada pengolahan limbah secara baik.

  Mengingat masih kurangnya pengelolaan air limbah di Kabupaten Solok, maka program-program yang dapat diusulkan antara lain :

  1. Penyehatan Lingkungan Permukiman

  2. Peningkatan sarana dan prasarana sanitasi permukiman 3. Penyadaran masyarakat akan hidup sehat.

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Berdasarkan program utama tersebut, kegiatan-kegiatan yang dapat diimplementasikan antara lain :

  1. Pembangunan pengolahan limbah khusus untuk RSUD Arosuka

  2. Pembangunan IPAL untuk beberapa wilayah yaitu pada wilayah selatan, wilayah Ibukota, dan Wilayah utara.

  3. Peningkatan sarana pengolahan air limbah setempat bagi masyarakat dipedesaan dan pengolahan air limbah secar komunal untuk daerah perkotaan.

  4. Sosialisasi tentang sanitasi lingkungan yang sehat kepada masyarakat. Untuk penanganan masalah air limbah diprioritaskan pada :

  1. Kawasan Danau Kembar (wilayah selatan) pada kecamatan Pantai Cermin, Kecamatan Lembah Gumanti, Kecamatan Danau Kembar

  2. Kawasan Arosuka/Ibukota (Wilayah Tengah) pada Kecamatan Gunung Talang dan Kecamatan Kubung serta Kecamatan Bukit Sundi. Pada kawasan ini banyak terdapat perumahan-perumahan dan RSUD serta pabrik teh

  3. Kawasan Danau Singkarak (Wilayah Utara) pada Kecamatan Junjung Sirih dan Kecamatan X Koto Singkarak

  4. Kawasan Daerah Tertinggal yaitu pada Kecamatan Tigo Lurah dan Kecamatan Hiliran Gumanti.

  C . P e n g e l o l a a n P e r s a m p a h a n C . P e n g e l o l a a n P e r s a m p a h a n

  Sistem pembuangan sampah Kabupaten Solok terutama sampah domestik sampai saat ini belum dikelola dengan baik. Pengelolaan sampah oleh Dinas/Instansi terkait hanya terbatas pada daerah-daerah perkantoran dan lingkungan pasar, sedangkan untuk daerah permukiman penanganan masalah persampahan masih dilakukan oleh masyarakat sendiri. Pengelolan yang dilakukan oleh penduduk saat ini adalah dikelompokan ke dalam tiga cara yaitu; pertama menggali lobang apabila sudah penuh akan ditimbun; kedua, sampah dikumpulkan didalam tanah galian kemudian dibakar; dan ketiga, membuang sampah secara sembarangan (ke selokan, drainase, sungai, dsb).

  Sistem pengelolaan yang ada saat ini berupa sistem door to door dan komunal. Sistem

  

door to door diterapkan untuk perumahan/pemukiman yaitu dengan cara sampah

  dibuang pada kantong plastik dan simpan pada tong/bak sampah di depan rumah dan kemudian diangkut oleh truk sampah ke TPA. Frekuensi pengangkutan sampah ke TPA untuk kawasan Kota Arosuka dilakukan 1 kali seminggu, sementara untuk kawasan Koto Baru dilakukan 2 kali sehari.

  Sementara untuk kawasan lainnya hanya melayani pasar-pasar sehingga pengangkutan dilakukan hanya saat hari pasar. Sitim komunal dilakukan untuk sampah pasar, dimana sampah yang dihasilkan saat hari pasar dari los, kios atau pedagang dikumpulkan dan diletakkan pada kontainer dan bak sampah permanen. Setelah hari pasar arm roll truck mengangkut kontainer dan dibawa ke TPA. Secara garis besar sarana dan permasalahan dalam pengelolaan sampah dapat dilihat pada tabel berikut

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Dari data diatas dapat dilihat masih kurangnya sarana persampahan yang dimiliki oleh Kabupaten Solok sehingga timbalan sampah tidak dapat terangkut keseluruhannya ke TPA. Sementara itu kondisi wilayah yang tersebar menyebabkan kebutuhan akan sarana angkutan sampah tidak memadai.

  Melihat kondisi eksisting yang ada dapat dirumuskan beberapa arahan program untuk pengelolaan persamapahan diantaranya :

  1. Perluasan cakupan layanan bidang persampahan.

  2. Pembangunan TPA Regional dan TPA Wilayah.

  3. Program pemanfaatan limbah sampah. Berdasarkan arahan program tersebut, kegiatan yang dapat menunjang program penanggulangan sampah di Kabupaten Solok antara lain :

  1. Penambahan jumlah truck sampah

  2. Pembangunan TPA di wilayah selatan Kabupaten Solok yaitu di Kecamatan Lembah Gumanti.

  3. Pembangunan TPA Regional di Ampang Kualo, dan alternatif di Kecamatan X Koto Diatas bekerja sama dengan Pemerintah Kota Solok.

  4. Penambahan jumlah truck tinja 5. Pengadaan Arm Roll.

  6. Pembangunan TPS terutama pada daerah pemukiman.

  7. Pembangunan pabrik pengolahan sampah (kompos) Penanganan diprioritaskan pada seluruh Kecamatan di Kabupaten Solok terutama pada pasar-pasar Nagari. Untuk TPA Wilayah Selatan diprioritaskan di Kecamatan Lembah Gumanti karena jumlah timbulan sampah yang bersumber dari sayuran dan buah-buahan sangat tinggi.

  D D . . D D r r a a i i n n a a s s e e

  Pembangunan saluran drainase beton di Kabupaten Solok selama ini terbatas sebagian besar berada di inti kota, Ibukota Kecamatan dan kiri kanan jalan. Pada daerah-daerah yang padat penduduknya masih kurang bangunan drainase seperti pada daerah permukiman dan perumahan, serta pada pasar-pasar di seluruh wilayah Kabupaten Solok. Saluran drainase di Kabupaten Solok pada umumnya masih memanfaatkan sungai yang ada dan saluran pengairan.

  Sementara itu drainase yang telah adap kondisinya tidak lagi memadai dan telah banyak yang rusak akibat limpasan air hujan, rembesan air tanah dan buangan air limbah yang menyatu dan akibat sering terjadinya bencana alam. Secara umum permasalahan yang terjadi selama ini antara lain:

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  1. Muka air tanah yang rendah sehingga limpahan air tanah masuk kedalam saluran drainase serta dimensi saluran yang tidak lagi mampu menampung sehingga terjadi genangan.

  2. Banyaknya sampah dan sedimentasi pada badan saluran.

  3. Operasional dan pemeliharaan drainase belum ada

  4. Peningkatan daya tampung dan pertambahan saluran drainase tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduk

  5. Kesadaran masyarakat yang rendah dan sering membuang sampah kedalam drainase

  6. Belum adanya suatu sistim yang terpadu untuk sistim drainase

  7. Biaya yang besar dalam pembangunan drainase yang belum terkafer oleh APBD Kabupaten Solok.

  Dari permasalahan yang ada pada saat ini, sesuai dengan dokumen RPIJM Kabupaten Solok, untuk 5 tahun ke depan dapat diarahkan pada beberapa program utama seperti:

  1. Program antisipsi banjir wilayah perkotaan

  2. Peningkatan kapasitas buangan air limbah

  3. Operasional dan pemeliharaan saluran pembuangan permukiman

  4. Sosialisasi dan perkuatan kelembagaan Berdasarkan arahan program tersebut, dapat dijabarkan ke dalam beberapa kegiatan pokok, diantaranya:

  1. Pembangunan saluran drainase permukiman

  2. Perbaikan dan pemeliharaan drainase

  3. Penyediaan dan perbaikan bak kontrol

  4. Penyesuaian elevasi drainase dan saluran 5. Pengangkatan sampah dan sedimentasi serta pembersihan drainase.

  6. Operasional dan Pemeliharaan jaringan drainase

  7. Sosialisasi pencegahan banjir Penanganan drainase diprioritaskan pada pembangunan saluran drainase yang terpisah dengan saluran limbah masyarakat. Karena selama ini drainase memang sangat kurang sekali dan bercampur dengan limbah masyarakat atau limbah rumah tangga, sehingga sering terjadi banjir dan diare.

  3 3 . .

  1 1 . .

  4 4 . . R R e e n n c c a a n n a a S S i i s s t t e e m m J J a a r r i i n n g g a a n n / / P P r r a a s s a a r r a a n n a a L L a a i i n n n n y y a a

  Yang termasuk ke dalam rencana pengembangan prasarana lainnya merupakan prasarana yang sifatnya mendukung kehidupan masyarakat diantaranya meliputi:

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  1. Prasarana Kesehatan

  2. Prasarana Pendidikan

  3. Prasarana Peribadatan

  4. Prasarana Olahraga

  5. Prasarana Sosial Budaya lainnya

  1. Rencana Pengembangan Prasarana Kesehatan

  Rencana pengembangan prasarana kesehatan di Kabupaten Solok didasarkan pada perhitungan proyeksi kebutuhan dengan menggunakan pendekatan standar jumlah penduduk yang akan dilayani dari masing-masing jenis prasarana kesehatan. Rencana pengembangan prasarana kesehatan di Kabupaten Solok hingga tahun 2030, diantaranya meliputi:

  a. Peningkatan pelayanan Rumah Sakit, yaitu RSUD Arosuka yang termasuk ke dalam klasifikasi tipe C menjadi tipe B b. Pengembangan/pembangunan Rumah Sakit tipe C di :

  Alahan Panjang (Kecamatan Lembah Gumanti) Sumani (Kecamatan X Koto Singkarak) Muara Panas (Kecamatan Bukik Sundi)

  c. Pengembangan dan peningkatan pelayanan prasarana puskesmas di setiap ibukota kecamatan dan atau Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) sesuai dengan apa yang telah ditetapkan dalam Rencana Struktur Ruang Kabupaten Solok

  d. Pengembangan prasarana kesehatan pendukung lainnya, meliputi Balai Pengobatan/Klinik, BKIA/Rumah Bersalin, Praktek Dokter dan Apotek sesuai dengan kebutuhan dan standar pemenuhan fasilitas kesehatan. Beradasarkan hasil perhitungan kebutuhan dan standarnya, hingga tahun 2030, Kabupaten Solok akan minimal perlu menyediakan 17 unit Puskesmas, 166 unit Balai Pengobatan/Poliklinik, 50 unit BKIA/Rumah Bersalin, 99 Tempat Praktik Dokter dan 50 unit untuk membeli obat-obatan yang berupa apotek/toko obat.

2. Rencana Pengembangan Prasarana Pendidikan

  Jumlah prasarana pendidikan di Kabupaten Solok relatif sudah tersedia di seluruh wilayah kecamatan dari tingkat sekolah dasar hingga SLTA. Sampai akhir tahun 2009, di Kabupaten Solok terdapat 151 Taman Kanak-kanak, 340 sekolah setingkat SD, 95 sekolah setingkat SLTP dan 39 sekolah setingkat SLTA. Rencana pengembangan prasarana pendidikan di Kabupaten Solok hingga tahun 2030, mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi, diantaranya meliputi:

a. Rencana pengembangan prasarana pendidikan tingkat Taman Kanak-kanak

  (TK) di pusat lingkungan perumahan/permukiman dengan minimum penduduk yang dapat mendukung sarana ini adalah 1 unit per 1.000 penduduk, radius pencapaian maksimal 1.000 m dari pusat kawasan perumahan. Berdasarkan RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  hasil perhitungan, kebutuhan Taman Kanak-kanak di wilayah Kabupaten Solok hingga akhir tahun perencanaan (2030) adalah 497 unit.

  b. Untuk prasarana pendidikan setingkat Sekolah Dasar (SD), hingga tahun 2009 mencapai 340 unit. Berdasarkan standar minimum penyediaan prasarana SD, penduduk pendukung yang dapat dilayani oleh 1 unit Sekolah Dasar adalah 1.600 jiwa penduduk dengan radius pencapaian maksimal 1.000 m. Dengan asumsi tersebut, hingga tahun 2030, Kabupaten Solok harus mempunyai SD sebanyak 310 unit. Ini berarti jumlah sarana Sekolah Dasar telah tercukupi hingga akhir tahun rencana (2030). Rencana pengembangan lebih diarahkan pada pemeliharaan dan rehabilitasi prasarana pendidikan yang ada.

  c. Rencana penambahan prasarana pendidikan setingkat SLTP di Kabupaten Solok hingga tahun 2030 sebanyak 8 unit. Berdasarkan standar minimum penyediaan prasarana pendidikan setingkat SLTP, penduduk pendukung yang dapat dilayani oleh 1 unit Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama adalah 4.800 jiwa penduduk. Hingga tahun 2030, Kabupaten Solok harus memiliki SLTP sebanyak 103 unit, sehingga memerlukan penambahan sebanyak 8 unit dari jumlah sebelumnya (Tahun 2009) yaitu 90 unit.

  d. Rencana pengembangan prasarana pendidikan setingkat SLTA di Kabupaten Solok hingga tahun 2030 sebanyak 64 unit. Pada tahun 2009, jumlah SLTA di Kabupaten Solok sebanyak 39 unit SLTA. Standar minimum penyediaan SLTA adalah 4.800 jiwa per 1 unit-nya, sehingga pada tahun 2030 kebutuhan SLTA di Kabupaten Solok adalah sejumlah 103 unit. Artinya perlu penambahan sekitar 64 unit SLTP.

  e. Rencana pengembangan prasarana pendidikan setingkat Perguruan Tinggi di Kawasan Perkotaan Arosuka (PKL Arosuka)

  3. Rencana Pengembangan Prasarana Peribadatan

  Prasarana peribadatan yang ada di Kabupaten Solok didominasi oleh Masjid, dikarenakan lebih dari 90% dari jumlah total penduduk memeluk agama Islam. Adapun jumlah bangunan ibadah umat Islam di Kabupaten Solok adalah 302 unit mesjid, langgar 865 unit, dan mushalla 296 unit.

  Sarana peribadatan yang ada pada saat ini rata – rata telah cukup untuk melayani penduduk secara keseluruhan dengan demikian berdasarkan hasil analisis proyeksi kebutuhan sarana peribadatan hingga 20 tahun mendatang belum diperlukan adanya penambahan karena sarana yang ada saat ini diperkirakan masih mencukupi. Rencana pengembangan prasarana ini diarahkan pada pemeliharaan dan rehabilitasi prasarana peribadatan yang telah ada. Guna mendukung pengembangan kawasan perkotaan Arosuka, perlu dikembangkan Mesjid Raya di perkotaan Arosuka dengan skala pelayanan untuk seluruh wilayah Kabupaten Solok.

  4. Rencana Pengembangan Prasarana Olah Raga dan Rekreasi

  Prasarana olah raga dan rekreasi sangat erat hubungannya, karena hal ini adanya fungsi yang sama antara kegiatan tersebut di wilayah perencanaan. Sarana ini

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  fungsi utamanya sebagai taman, tempat bermain anak-anak dan lapangan olah raga, juga akan memberikan kesegaran pada kota. Dikarenakan fungsinya yang sangat penting, maka sarana ini harus benar-benar dijaga seperti yang seharusnya, baik dalam besarannya maupun kondisinya.

  Untuk skala wilayah kabupaten, perlu dikembangkan prasarana olah raga berbentuk kawasan stadion atau kawasan sport center yang dapat melayani penduduk untuk seluruh wilayah Kabupaten Solok, dan diarahkan untuk dikembangkan di Kawasan Perkotaan Arosuka (PKL Arosuka).

  Sedangkan untuk skala lingkungan dapat dikembangkan taman dan lapangan olahraga pada masing-masing PPL (Pusat Pelayanan Lingkungan) di seluruh wilayah Kabupaten Solok

5. Rencana Pengembangan prasarana Sosial Budaya

  Rencana pengembangan prasarana sosial budaya di Kabupaten Solok diarahkan pada pengembangan/pembangunan Gedung Kesenian atau Gedung Serbaguna yang dapat melayani penduduk dalam skala pelayanan hingga seluruh wilayah Kabupaten Solok.

  Standar minimal penyediaan Gedung Serbaguna, mensyaratkan jumlah penduduk

  2

  pendukung adalah 30.000 jiwa, dengan luasan minimum 1.000 m . Hingga tahun 2030, rencana pengembangan prasarana ini diarahkan pada penyediaan Gedung Kesenian atau Gedung Serbaguna sebanyak 2 (dua) unit, masing-masing di j kawasan perkotaan Arosuka dan di PKLp Alahan Panjang atau dapat juga dikembangkan di Kawasan pariwisata Danau Diatas dan Danau Dibawah, yang ada di Kecamatan Danau Kembar, guna mendukung pengembangan kegiatan pariwisata di kecamatan tersebut

3.1.5. RENCANA POLA RUANG KABUPATEN SOLOK

  Rencana pola ruang untuk wilayah Kabupaten Solok, dirumuskan berdasarkan kriteria:

  a. merujuk pada rencana pola yang ditetapkan dalam RTRW Nasional, yang tertuang dalam PP No 26 Tahun 2008.

  b. merujuk pada rencana pola yang ditetapkan dalam RTRW Provinsi Sumatera Barat 2009-2029

  c. mengakomodasi kebijakan pengembangan kawasan andalan nasional yang berada di wilayah kabupaten bersangkutan; d. memperhatikan rencana pola ruang wilayah kabupaten/kota yang berbatasan;

  e. mempertimbangkan hasil dari analisis kesesuaian lahan untuk fungsi lindung sesuai dengan Keppres No 32 Tahun 1990 tentang Kawasan Lindung

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  mengacu pada klasifikasi pola ruang wilayah kabupaten yang terdiri atas kawasan lindung dan kawasan budi daya.

  Kawasan Lindung

  1. Kawasan Hutan Lindung

  Dalam menentukan alokasi ruang untuk peruntukan rencana kawasan hutan lindung di Kabupaten Solok, harus mempertimbangkan acuan penetapan luas dan sebaran kawasan hutan lindung dalam RTRW Provinsi Sumatera Barat 2009-2029.

  Luas kawasan hutan lindung yang direncanakan di Provinsi Sumatera Barat hingga tahun 2029 seluas 719.989 Ha atau sekitar 17,02% luas wilayah provinsi. Luas tersebut didasarkan pada hasil penilaian ulang (rescorring) hutan lindung. Berdasarkan rescorring tersebut maka akan terjadi pengurangan luas hutan lindung sekitar 190.544 Ha atau 20,93% dari luas hutan lindung yang ditetapkan Menteri Kehutanan melalui SK No. 422 Tahun 1999.

  Penilaian ulang terhadap hutan lindung didasarkan pada kriteria penilaian sebagai berikut : Kawasan hutan yang memiliki faktor kelerengan, jenis tanah, dan intensitas hujan dengan jumlah hasil perkalian bobotnya ≥ 175; Kawasan hutan yang memiliki kemiringan lereng ≥ 40%; dan/atau Kawasan hutan yang berada pada ketinggian ≥ 2.000 meter di atas permukaan laut.

  2. Kawasan yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya

  Beberapa tempat di Kabupaten Solok yang memiliki kemampuan untuk menyerap air tanah dengan baik, dimana lokasi tersebut sebagai hulu dari sungai-sungai yang mengalir menuju ke pantai. Saat ini, kawasan tersebut sedang dimanfaatkan untuk lahan perkebunan dan pertanian (lahan budidaya). Sebagian besar di lahan ini terjadi kegiatan intensif masyarakat sehingga terjadi pengolahan-pengolahan tanah yang mengakibatkan berkurangnya kemampuan tanah dalam menyerap dan menyimpan air. Bahkan beberapa jenis tanaman yang ditanam tidak memiliki kemampuan untuk menyimpan cadangan air tanah. Akibatnya adalah berkurangnya debit air yang dialirkan melalui sungai-sungai. Topografi wilayah Kabupaten Solok yang pada umumnya berbukit-bukit dan pegunungan dengan ketinggian lebih dari 1000 meter (dpl) memungkinkan kawasan Resapan Airtanah tersebar tidak menerus. Dilihat dari pola aliran sungai yang mengalir di wilayah Kabupaten Solok paling tidak dijumpai ada 2 (dua) daerah aliran sungai (DAS) yaitu : DAS Indra Giri dan DAS Batang Hari. Sungai utama yang cukup besar yang termasuk dalam DAS Indragiri dan mengalir sepanjang tahun adalah Batang Lembang, Batang Talang, Air Sumani dan Air Muara Pingai. Sungai – sungai tersebut mengalir ke arah utara dan berakhir bermuara di Danau Singkarak dan sebagian ke Danau Dibawah.

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Sedangkan sungai utama yang termasuk dalam DAS Batang Hari berupa Sungai Gumanti dan sungai yang ada di Kecamatan Tigo Lurah mengalir sepanjang tahun ke arah selatan atau ke arah Kabupaten Solok Selatan.

  Daerah resapan air tanah pada umumnya terdapat di daerah hulu dari DAS yang mengalir di wilayah Kabupaten Solok. Berdasarkan kondisi ini maka kawasan resapan air tanah berada pada bagian tengah dan selatan wilayah perencanaan yang meliputi Kecamatan Gunung Talang, Lembang Jaya, Payung Sekaki, Bukit Sundi, Hiliran Gumanti dan KecamatanTigo Lurah.

  Dari pengamatan lapangan kawasan resapan air tanah umumnya berada pada daerah hutan lindung, hal ini sangat baik karena alih fungsi lahan di wilayah tersebut akan sangat sulit sehingga kelestariannya akan mudah terjaga. Litologi atau batuan penyusun kawasan ini dominannya berupa batuan gunungapi tua dan muda, sedimen dan metamorfik, retakan, tanah pelapukan dari kelompok batuan tersebut akan mampu menjadi resapan air tanah dan mataair yang berada di bawahnya

  3 . K a w a s a n P e r l i n d u n g a n S e t e m p a t 3 . K a w a s a n P e r l i n d u n g a n S e t e m p a t

  Menurut klasifikasi pola ruang wilayah kabupaten, kawasan perlindungan setempat meliputi kawasan sempadan pantai, sempadan sungai, kawasan sekitar danau atau waduk, kawasan sekitar mata air, dan kawasan lindung spiritual dan kearifan lokal lainnya. Untuk wilayah Kabupaten Solok, kawasan perlindungan setempat diarahkan pada kawasan sempadan sungai, kawasan sekitar danau atau waduk, kawasan sekitar mata air.

  a a . . K K a a w w a a s s a a n n S S e e m m p p a a d d a a n n S S u u n n g g a a i i

  Untuk melindungi dan melestarikan fungsi sungai sebagai sumberdaya alam maka berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung ditetapkan bahwa kawasan sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai, termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer, yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Kriteria sempadan sungai adalah (1) sekurang-kurangnya 100 meter di kiri kanan sungai besar dan 50 meter di kiri kanan anak sungai yang berada di luar pemukiman; (2) untuk sungai di kawasan permukiman sempadan sungai diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10-15 meter; (3) daratan sepanjang aliran sungai tidak bertanggul di luar kawasan permukiman dengan lebar sempadan minimal 50 meter dari tepi sungai, sedang untuk sungai bertanggul lebar sempadan minimal 100 meter dari tepi sungai. Perlindungan terhadap sempadan sungai dilakukan untuk melindungi sungai dari kegiatan manusia yang mengganggu dan merusak kualitas air sungai, kondisi fisik pinggir dan dasar sungai serta mengamankan aliran sungai. Bagi kawasan perkotaan perlu dilakukan perubahan persepsi masyarakat yang selama ini menjadikan sungai merupakan daerah belakang rumah, sehingga sungai sampai saat ini masih dianggap identik dengan tempat sampah, menjadikan sungai sebagai beranda depan dari rumah sehingga akan selalu dapat diawasi. Sebagian besar wilayah Kabupaten Solok

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

Tabel 3.5. Sebaran Lokasi Sungai di Kabupaten Sungai No Kecamatan Nama Sungai Lokasi

  9. Kubung Air Ganting Gantung Ciri Sungai Saring Koto Hilalang Air Gawan Selayo Batang Inang Tanjung Bingkuang

  Penetapan kawasan lindung sekitar danau atau waduk dilakukan untuk melindungi danau atau waduk dari kegiatan manusia yang mengganggu dan merusak kualitas air danau/waduk, kondisi fisik pinggir dan dasar danau/waduk serta pengamanan dari kegiatan budidaya dan permukiman. Kabupaten Solok mempunyai 4 (empat) lokasi danau seperti pada tabel berikut

  b b . . K K a a w w a a s s a a n n s s e e k k i i t t a a r r D D a a n n a a u u

  Arahan penetapan kawasan sempadan sungai di Kabupaten Solok adalah bagi seluruh aliran sungai yang ada di wilayah kabupaten sesuai kriteria di atas.

  Sumber: Kab Solok Dalam Angka 2014

  12. X Koto Diatas Batang Katialo Katilo Tj Balik

  11. Junjung Sirih Air Paninggahan Paninggahan Air Muara Pingai Muara Pingai

  10. X Koto Singkarak Air Kuek Saning Bakar Air Sumani Sumani

  Sekaki

  1. Pantai Cermin Batang Lolo Lolo Batang Indarung Surian Batang Kulemban Surian Batang Kayu Manang Surian

  merupakan bagian dari dua Daerah Aliran Sungai (DAS) yang mengalr ke arah timur yatu DAS Agam Kuantan-Indragiri dan DAS Batang Hari. Untuk lebih jelasnya jumlah dan sebaran sungai yang ada di Kabupaten Solok dapat dilihat pada tabel berikut

  7. Bukit Sundi Batang Air Halim Kinari 8.

  6. Gunung Talang Batang Talang Talang Batang Barus Lubuk Selasih

  5. Lembang Jaya Batang Lembang Lembang jaya, Bukit Sundi, Kubung, X Koto Singkarak

  4. Tigo Lurah Batang Pelangki Tigo Lurah Batang Kapujan Batu Bajanjang

  3. Payung Sekaki Batang Kipat Air Luo Batang Luo Air Luo

  Sungai Pagu

  2. Lembah Gumanti Batang Gumanti Alahan Panjang Batang Hari Lembah Gumanti, Sangir dan

  IX Koto Sei Lasi Sungai Lasi Sungai Lasi Batang Pamo Pianggu Batang Lawas Lembah Gumanti dan Payung RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Kriteria penetapan kawasan sempadan sekitar danau/waduk adalah : Daratan dengan jarak 50 – 100 meter dari titik pasang tertinggi air danau/waduk; atau Daratan sepanjang tepian danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik tepian danau/waduk.

  Keputusan Mentan No.623/Kpts/Um/8/1982

  Padang Pariaman, Kab. Tanah Datar

  I 74.821 Kota Padang, Kab.

  1 Cagar Alam Barisan

  No Kawasan Luas (Ha) Lokasi Keterangan

Tabel 3.8. Kawasan Suaka Alam dan Pelestarian Alam di Kabupaten Solok

  Mengacu pada penetapan Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya dalam rencana pola ruang RTRW Provinsi Sumatera Barat, terdapat beberapa kawasan di wilayah Kabupaten Solok yang termasuk dalam klasifikasi kawasan lindung tersebut, seperti pada tabel berikut ini

  Nagari Selayo dan Nagari Gaung (Kec. Kubung) Nagari Sulit Air (Kec. X Koto Diatas) Nagari Kacang dan Koto Sani (Kec. X Koto Singkarak) Nagari Koto Anau (Kec Lembang Jaya)

  3 Kawasan Sempadan Mata Air

  2 Kawasan Sekitar Danau Danau Singkarak (Kec. X Koto Singkarak dan Junjung Sirih) Danau Diatas (Kec. Lembah Gumanti dan Danau Kembar) Danau Dibawah (Danau Kembar) Danau Talang (Gunung Talang)

  Seluruh aliran sungai yang ada di wilayah Kabupaten Solok, meliputi:

  1 Kawasan Sempadan Sungai

Tabel 3.7. Kawasan Sempadan di Kabupaten Solok No Kawasan Perlindungan Setempat Sebaran Lokasi (Kecamatan)

  Kecamatan Nama Sungai Bt Lolo Bt Indarung Bt Kulemban Pantai Cermin Bt Kayu Manang Bt Gumanti Lembah

  Gumanti Bt Hari Bt Kipat Payung Sekaki Bt Luo

Bt Pelangki Tigo Lurah

Bt Kapujan Lembang

  X Koto Singkarak dan Junjung Sirih 129,7 RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

  4 Danau Singkarak

  3 Danau Talang Gunung Talang 1,3

  2 Danau Dibawah Danau Kembar 16,9

  1 Danau Diatas Lembah Gumanti dan Danau Kembar 17,2

  No Nama Danau Kecamatan Luas (km 2 )

Tabel 3.6. Kondisi dan Sebaran Danau di Kabupaten Solok

  X Koto Diatas Bt Katialo

  X Koto Singkarak Air Sumani Air Paninggahan Junjung Sirih Air Muara Pingai

  Kubung Bt Inang Air Kuek

  IX Koto Sei Lasi Bt Lawas Air Ganting Sungai Saring Air Gawan

  Bt Pamo

  Kecamatan Nama Sungai Bukit Sundi Bt Air Halim Sungai Lasi

  Jaya Bt Lembang Bt Talang Gunung Talang Bt Barus

  Sumber: Kab Solok Dalam Angka 2014

KABUPATEN SOLOK

  dan Kab. Solok

  2 Cagar Alam Air 23.177 Kab. Solok dan Kab. Keputusan Mentan Tarusan Pesisir Selatan No.623/Kpts/Um/8/1982

  3 Suaka Alam Sulasih 6.150 Kab. Solok Keputusan Mentan Talang

  No.623/Kpts/Um/8/1982

  Sumber: RTRW Provinsi Sumbar 2009-2029, dan Hasil Rencana,2010

  Sedangkan untuk arahan penetapan hutan suaka alam di Kabupaten Solok memiliki luasan 59.372 Ha sesuai SK Menhut 442 Tahun 1999, namun terdapat usulan perubahan luas menjadi 56.028 Ha dalam RTRW Provinsi. Usulan perubahan/pengurangan luas hutan suaka alam dan wisata di Kabupaten Solok tersebut, yang paling besar perubahannya dibandingkan dengan kabupaten lain di Provinsi Sumatera Barat.

  

Tabel 3.9.

Rencana Luas dan Perubahan Luas Hutan Suaka Alam dan Wisata Provinsi

Sumatera Barat Hingga Tahun 2029 Dirinci per Kabupaten/Kota

  Luas Hutan Suaka Rencana Perubahan Luas Alam dan Wisata Luas No Kabupaten/Kota (Ha) Sk. 422 Rencana Ha % 1) % 2) th 1999 th 2029 3) A Kabupaten

  1 Agam 223.230 23.180 23.180

  2 Dharmasraya 296.113 12.532 12.532

  3 Kep. Mentawai 601.135 189.526 189.226 -300 -0,16 3,93

  4 Limapuluh Kota 333.430 13.068 14.368 -700 -4.65 9,16

  5 Padang Pariaman 132.879 28.992 28.992

  6 Pasaman 444.763 32.958 32.424 -534 -1,62 6,97

  7 Pasaman Barat 338.777

  8 Pesisir Selatan 579.495 293.629 293.629

  9 Sijunjung 313.080 38.996 38.996

10 Solok 373.800 59.372 56.028 -3.334 -5,62 43,62

  11 Solok Selatan 334.620 69.667 66.980 -2.687 -3,86 35,16

  12 Tanah Datar 133.600 19.488 19.478 -10 -0.05 0,13

  B Kota

  13 Bukittinggi 2.524

  14 Padang 69.496 16.496 16.427 -69 -0.42 0,91

  15 Padang Panjang 2.300 333 333

  16 Pariaman 7.336

  17 Payakumbuh 8.043

  18 Sawahlunto 27.345

  19 Solok 3.764 2.038 2.038

  Jumlah 4.229.730 806.275 798.631 -7.644 -0,94 100 Sumber : Hasil rencana dalam RTRW Provinsi Sumbar 2009-2029 Keterangan :

  1) Terhadap luas hutan suaka alam dan wisata per kabupaten/kota 2) Terhadap jumlah perubahan luas hutan suaka alam dan wisata provinsi 3) Angka luasan rencana dapat saja berubah setelah ada penetapan dari Menteri Kehutanan.

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  c c . . K K a a w w a a s s a a n n s s e e k k i i t t a a r r M M a a t t a a A A i i r r ( ( S S e e m m p p a a d d a a n n M M a a t t a a A A i i r r ) )

  Dari kondisi alam yang terdapat di Kabupaten Solok banyak dijumpai mata air yang berasal dari lembah atau kaki perbukitan. Hal ini disebabkan adanya lapisan batuan yang kedap air dibawahnya yang mengalami peregangan tidak terus ke dalam melainkan ke arah lateral dan muncul di kaki tebing (lembah) atau kaki perbukitan sebagai mata air. Adanya mata air dapat dimanfaatkan menjadi cadangan sumber air bersih. Penetapan kawasan sempadan mata air dilakukan untuk melindungi keberadaan mata air sebagai salah satu sumber air permukaan dari kegiatan manusia yang mengganggu dan/atau merusak sumber air dari kegiatan budidaya dan permukiman. Kriteria penetapan sempadan mata air berupa daratan dengan jarak 50-100 meter mengelilingi mata air, dan secara fisik berupa jalur hijau yang ditanami pohon atau tanaman laut yang memiliki fungsi konservasi. Sebaran sempadan mata air di Kabupaten Solok, sebagian besar dikelola/dimanfaatkan oleh PDAM Kota Solok yang diantaranya terdapat di:

  1. Kecamatan Kubung: Nagari Selayo dan Nagari Gaung.

  2. Kecamatan X Koto Diatas : Nagari Sulit Air,

  3. Kecamatan X Koto Singkarak : Nagari Kacang dan Koto Sani

  4. Kecamatan Lembang Jaya: Nagari Koto Anau

  d d . . K K a a w w a a s s a a n n S S u u a a k k a a A A l l a a m m , , P P e e l l e e s s t t a a r r i i a a n n A A l l a a m m d d a a n n C C a a g g a a r r B B u u d d a a y y a a

  Mengacu pada penetapan Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya dalam rencana pola ruang RTRW Provinsi Sumatera Barat, terdapat beberapa kawasan di wilayah Kabupaten Solok yang termasuk dalam klasifikasi kawasan lindung tersebut, seperti pada tabel berikut ini

Tabel 3.10. Kawasan Suaka Alam dan Pelestarian Alam di Kabupaten Solok

  No Kawasan Luas (Ha) Lokasi Keterangan

  1 Cagar Alam Barisan 74.821 Kota Padang, Kab. Keputusan Mentan

  I Padang Pariaman, No.623/Kpts/Um/8/1982 Kab. Tanah Datar dan Kab. Solok

  2 Cagar Alam Air 23.177 Kab. Solok dan Kab. Keputusan Mentan Tarusan Pesisir Selatan No.623/Kpts/Um/8/1982

  3 Suaka Alam Sulasih 6.150 Kab. Solok Keputusan Mentan Talang

  No.623/Kpts/Um/8/1982

  Sumber: RTRW Provinsi Sumbar 2009-2029, dan Hasil Rencana,2010

  Sedangkan untuk arahan penetapan hutan suaka alam di Kabupaten Solok memiliki luasan 59.372 Ha sesuai SK Menhut 442 Tahun 1999, namun terdapat usulan perubahan luas menjadi 56.028 Ha dalam RTRW Provinsi. Usulan perubahan/pengurangan luas hutan suaka alam dan wisata di Kabupaten Solok tersebut, yang paling besar perubahannya dibandingkan dengan kabupaten lain di Provinsi Sumatera Barat.

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah KABUPATEN SOLOK Tabel 3.11.

  

Rencana Luas dan Perubahan Luas Hutan Suaka Alam dan Wisata Provinsi

Sumatera Barat Hingga Tahun 2029 Dirinci per Kabupaten/Kota

Luas Hutan Suaka Rencana Perubahan Luas Alam dan Wisata Luas No Kabupaten/Kota (Ha) Sk. 422 Rencana Ha % 1) % 2) th 1999 th 2029 3) A Kabupaten

  1 Agam 223.230 23.180 23.180

  2 Dharmasraya 296.113 12.532 12.532

  3 Kep. Mentawai 601.135 189.526 189.226 -300 -0,16 3,93

  4 Limapuluh Kota 333.430 13.068 14.368 -700 -4.65 9,16

  5 Padang Pariaman 132.879 28.992 28.992

  6 Pasaman 444.763 32.958 32.424 -534 -1,62 6,97

  7 Pasaman Barat 338.777

  8 Pesisir Selatan 579.495 293.629 293.629

  9 Sijunjung 313.080 38.996 38.996

10 Solok 373.800 59.372 56.028 -3.334 -5,62 43,62

  11 Solok Selatan 334.620 69.667 66.980 -2.687 -3,86 35,16

  12 Tanah Datar 133.600 19.488 19.478 -10 -0.05 0,13

  B Kota

  13 Bukittinggi 2.524

  14 Padang 69.496 16.496 16.427 -69 -0.42 0,91

  15 Padang Panjang 2.300 333 333

  16 Pariaman 7.336

  17 Payakumbuh 8.043

  18 Sawahlunto 27.345

  19 Solok 3.764 2.038 2.038

  Jumlah 4.229.730 806.275 798.631 -7.644 -0,94 100 Sumber : Hasil rencana dalam RTRW Provinsi Sumbar 2009-2029 Keterangan :

  1) Terhadap luas hutan suaka alam dan wisata per kabupaten/kota 2) Terhadap jumlah perubahan luas hutan suaka alam dan wisata provinsi 3) Angka luasan rencana dapat saja berubah setelah ada penetapan dari Menteri Kehutanan.

  4 . K a w a s a n R a w a n B e n c a n a A l a m 4 . K a w a s a n R a w a n B e n c a n a A l a m

  Salah satu klasifikasi kawasan rawan bencana alam yang teridentifikasi di Kabupaten Solok adalah bencana tanah longsor yang dapat dilihat berdasarkan potensi gerakan tanah dan bencana banjir seperti uraian berikut.

a. Bencana Tanah Longsor (Gerakan Tanah)

  Gerakan tanah merupakan perpindahan tanah yang disebabkan karena gempa bumi, kelerengan terjal maupun adanya kontak antar batuan yang mempunyai densitas berbeda. Gerakan tanah/longsoran yang terjadi di Kabupaten Solok umumnya disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah kondisi geologi, morfologi, curah hujan, bahaya gunung api dan kegempaan.

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Hasil pengamatan di lapangan daerah yang cukup banyak dijumpai gerakan tanah adalah pada daerah yang dibentuk oleh batuan Anggota Filit dan serpih Formasi Tuhur (PCks) dan batuan volkanik tak terpisahkan (Qtau). Umumnya gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan dan nendatan, berdimensi panjang antara 10 15 m, lebar antara 5 – 7 m, terdapat pada kemiringan lereng antara 40 – 50 %. Sedangkan tipe gerakan tanah yang sering terjadi berupa longsoran bahan rombakan dan batu.

  Bencana gerakan tanah pernah terjadi di Desa Anau Kadok, G. Talang pada tahun 1926 dan tahun 1987 yang mengakibatkan rusaknya lahan pertanian di daerah tersebut. Karakteristik bencana gerakan tanah tersebut dicirikan oleh adanya pergerakan suatu masa tanah/batuan dan air yang terjadi secara tibatiba dan serentak dengan kecepatan tinggi. Gerakan tanah di wilayah Kabupaten Solok dapat dikelompokkan berdasarkan dominasi sebaran batuan utamanya, sehingga sebaran batuan yang luasnya kecil dan mempunyai topografi hampir sama akan disatukan dengan dominasi batuan utamanya, sedangkan metode yang digunakan untuk menentukan tingkat kerentanan gerakan tanah digunakan metode kualitatif. Metode ini parameter yang digunakan untuk menentukan tingkat kerentanan gerakan tanah terdiri atas : bentuk muka tanah (morfologi), kondisi geologi, curah hujan dan kegempaan. Dari analisis parameter – parameter tersebut secara umum dapat dikelompokkan menjadi empat (4) kelompok, seperti pada tabel berikut

Tabel 3.12. Gerakan Tanah Wilayah Kabupaten Solok

  No Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kelompok Batuan Utamanya Jenis Gerakan Tanah Sebaran

  1 Tinggi Kelompok Formasi Tuhur (Rts), Anggota filit dan serpih Formasi Kuantan (PCks), Batuan Intrusi granit (g), Andesit

  G. Talang (Qatg), Bahan vulkanik tak terpisahkan (Qtau).

  Jenis gerakan tanah luncuran hingga runtuhan ataupun tumbang, lereng > 25 %, kekar dan sesar.

  Wilayah Kecamatan X Koto Diatas,

  X Koto Sungai Selak, Payung Sekaki, Bagian Barat Kecamatan Tigo Lurah, Gunung Talang, Kubung dan Lembang Jaya.

  2 Sedang Kelompok batuan anggota batu gamping Formasi Kuantan (PCks), Anggota Batugamping Formasi Tuhur (Rts), Anggota Filit Serpih Formasi Kuantan, Batuan Intrusi (g), Andesit Gunung Talang (Qatg), dan bahan vulkanik tak terpisahkan.

  Gelinciran – Seluncuran (bidang lapisan, kekar dan sesar).

  Zona ini terdapat pada bagian Timur Laut, Timur, Barat, dan Selatan meliputi wilayah Kecamatan

  X Koto Diatas, Bagian Barat Kecamatan Tigo Lurah, Lembah Gumanti, Kecamatan Gunung Talang dan Kecamatan Lembang Jaya.

  3 Rendah Kelompok Batuan Anggota Gelinciran – Penyebaran zona ini

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  No Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kelompok Batuan Utamanya Jenis Gerakan Tanah Sebaran

  Kabupaten Solok mempunyai satu gunung api yaitu Gunung Talang, yang sampai sekarang masih aktif. Potensi yang paling besar terhadap bencana letusan Gunung Api Talang terdapat di tiga wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Gunung Talang, Kecamatan Bukit Sundi dan Kecamatan Lembang Jaya. Dimana keberadaan wilayah tersebut berada pada lereng utara Gunung Talang. Letusan yang terjadi sebelumnya, baik yang terjadi pada Pleistosen maupun Holosen telah megeluarkan

  Kawasan lindung geologi merupakan kawasan yang memiliki keunikan baik dari jenis bebatuan, bentang alam, proses geologi maupun kawasan imbuhan air tanah. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 2008 disebutkan bahwa kawasan lindung geologi terdiri dari kawasan cagar alam geologi, kawasan rawan bencana alam geologi, dan kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah. Wilayah Kabupaten Solok mempunyai struktur geologi yang rawan terhadap terjadinya bencana alam geologi, yang dibedakan atas:

  5 5 . . K K a a w w a a s s a a n n L L i i n n d d u u n n g g G G e e o o l l o o g g i i

  Banjir di Kabupaten Solok sebagian besar disebabkan oleh curah hujan tinggi yang mengaliri sungai-sungai besar seperti Batang Bangko dan Batang Hari, serta letak kawasan tertentu pada posisi cekungan. Bahaya banjir sering terjadi di Kecamatan Kubung, Lembang Jaya, IX Koto Sungai Lasi dan Kecamatan Junjung Sirih.

  Kawasan Rawan Banjir di Kabupaten Solok terdapat pada kawasan-kawasan yang bercirikan : daerah berlereng landai, pertemuan dua sungai besar, banyak terdapat meander sungai, adanya perubahan kelerengan yang tiba-tiba, dan daerah hilir sungai yang berhulu pada kawasan berhutan gundul.

  Sumber: Hasil Analisis, 2010

  X Koto Singkarak.

  Sebaran zona ini terletak di bagian tengah Utara daerah telitian meliputi Kecamatan Bukit Sundi ke arah Utara Kecamatan

  Erosi tebing sungai (litologi bersifat lepas – lepas).

  Batuan penyusun zona ini terdiri dari bahan vulkanik tak terpisahkan (Qtau), Kipas Aluvium (Qf) dan Endapan Aluvium (Qal).

  4 Sangat Rendah

  Luncuran (bidang foliasi, kekar dan sesar). terdapat di bagian tengah dan Timur daerah kajian yang meliputi wilayah Kecamatan Kubung, X Koto Diatas dan Kecamatan Payung Sekaki.

  Batugamping Formasi Kuantan, Formasi Tuhur (Rts), Anggota Filit dan Serpih Formasi Kuantan (Pcks), Bahan vulkanik tak terpisahkan (Qtau), kipas Aluvium (Qf) dan endapan Aluvium (Qal).

b. Bencana Banjir

1. Kawasan Rawan Letusan Gunung Api

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  lahar dan material lainnya (Qyu, Qatg, Qou) yang cukup luas di Kecamatan Gunung Talang dan Kecamatan Lembang Jaya. Gunungapi Talang merupakan gunungapi aktif bertipe strato atau berlapis, memiliki lapangan fumarola yaitu Solfatara Gabuo Gadang Bawah dan Gabuo Gadang Ateh. Gunungapi ini kembar dengan pasar Arbaa yang telah padam. Di puncak tidak terdapat kawah. Tempat terjadinya letusan dan lapangan fumarola merupakan sebuah lembah sepanjang 300 m dengan lebar 30 sampai 90 meter. Terdapat dua buah danau yang mungkin dulunya kawah yaitu Danau Talang dan Danau Kecil. Mata airpanas terdapat di kaki Gunung Talang, di antara Bt. Kili, Batubarjanjang, Buah Batung dan Sapan. Letusan terakhir Gunung Talang terjadi pada tahun 2005, yang mengakibatkan rekahan sepanjang 500 meter di selatan puncak G. Talang, dan paling tidak ada tiga lobang letusan dalam segaris. Letusan pada tahun ini dipicu oleh adanya peningkatan aktifitas tumbukan lempeng di selatan Sumatera menyebabkan gempa tektonik (Mentawai) pada 10 April 2005, dengan magnitude 6,8. Selanjutnya terjadi peningkatan gejala kegempaan di G. Talang berupa gempa tektonik lokal dan gempa volkanik. Berdasarkan pengamatan Kusumadinata (1967), daerah kemungkinan bahaya yang ditimbulkan oleh gunung Talang, dapat terbagi menjadi zonasi bahaya meliputi :

  1. Daerah Bahaya (radius 4,5 km) Meliputi daerah di sekitar puncak gunung Talang (G. Betina dan G. Jantan) yang terletak sekitar radius 4,5 km dari pusat kegiatan, terutama dari bahaya bom gunungapi dan bahan padat yang dimuntahkan langsung dari pusat letusan. Daerah yang kemungkinan dilanda bahaya tersebut melipudi daerah bagian Selatan, sedangkan daerah puncak bagian Utara G. Talang, selain ancaman bahaya tersebut juga dapat berasal dari bahaya aliran lava, awan panas maupun lahar dingin. Sebaran daerah bahaya Gunung Talang, antara lain meliputi daerah-daerah sekitar aliran sungai yang berhulu di bagian puncak, meliputi BA. Muara Panas dan Batang Lembang yang meliputi daerah seluas 80 KM

  2 .

  2. Daerah Waspada (radius 10 km).

  Merupakan perluasan dari daerah bahaya yang meliputi daerah sekitar radius 10 km dari pusat erupsi. Ancaman bahaya yang berasal dari letusan Gunung Talang antara lain berupa bahaya aliran lava, awan panas dan lahar. Sebarannya meliputi daerah puncak sebelah selatan, tenggara (Danau Dibawah), daerah di bagian Utara menerus hingga Danau Singkarak meliputi daerah seluas 800 KM

  2 .

  Sedangkan menurut Hadisantono, R.D., dkk, (Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Api Talang, Sumatera Barat, Pusat Volkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Bandung) membagi kawasan rawan bencana menjadi: a. Kawasan Rawan Bencana III. RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Mempunyai radius 2 km dari pusat erupsi, daerah ini selalu terancam aliran lava, gas beracun dan kemungkinan terkena aliran awan panas. Selain itu juga terancam lontaran batu (pijar) dan hujan abu lebat.

  b. Kawasan Rawan Bencana II.

  Mempunyai radius 5 km dari pusat erupsi. Selalu rawan terhadap ancaman aliran lava dan kemungkinan awan panas. Kawasan ini juga rawan terhadap hujan abu lebat dan lontaran batu (panas).

  c. Kawasan Rawan Bencana I.

  Mempunyai radius 10 km dari pusat erupsi. Rawan terhadap aliran lahar hujan dan juga rawan terhadap hujan abu lebat dan kemungkinan terkena.

2. Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi akibat Pergeseran patahan Sumatera

  Kabupaten Solok didominasi oleh perbukitan dan pegunungan serta dijumpai gunung api Talang yang merupakan bagian dari Pegunungan Bukit Barisan. Potensi bahaya gempa di Bagian Tengah Kabupaten Solok sangat besar, hal ini mengingat daerah bagian tengah khususnya jalur patahanpatahan aktif di Kabupaten Solok yang melintasi mulai dari Kecamatan Pantai Cermin terus ke Utara melewati Kecamatan Lembah Gumanti, Danau Diatas – Danau Dibawah Kecamatan Lembang Jaya, Kecamatan Bukit Sundi, Kecamatan X Koto Singkarak terus ke Danau Singkarak sangat rentan terjadinya pergerakan.

  Jika terjadi pergerakan cukup besar dimana lempeng Samudera Hindia yang bergerak ke utara menunjam secara menyerong terhadap lempeng Benua Eurasia yang bergerak ke Selatan, dapat mengakibatkan terjadinya pelepasan energi baik di jalur penunjaman maupun di jalur patahan aktif dan menimbulkan goncangan atau gempa bumi. Kejadian ini akan menyebabkan pergerakan pada Jalur Patahan Sumatera (Semangko). Pergerakan terebut akan memicu pergerakan sesar/patahan yang ada di bagian tengah wilayah Kabupaten Solok dan juga dapat menyebabkan pergerakan tanah. Daerah-daerah yang akan terkena dampak langsung gempa bumi maupun imbasnya akibat pergeseran Patahan Sumatera meliputi :

1. Tinggi

  a. Kecamatan Pantai Cermin : hampir semua wilayah terkena gempa patahan aktif yang paling parah pada wilayah bagian tengah. Secara umum wilayah kecamatan ini sangat rentan bencana bila terjadi gempa di jalur patahan tersebut.

  b. Kecamatan Lembah Gumanti : wilayah yang paling parah jika terjadi pergerakan pada jalur patahan Sumatera berada pada bagian Barat, karena berada tepat pada segmen patahan Sumatera hingga ke Danau Diatas.

c. Kecamatan Lembang Jaya, Kecamatan Bukit Sundi, Kecamatan X Koto

  Singkarak : potensi gempa terutama di jalur patahan aktif yang melintasi bagian tengah kecamatan - kecamatan tersebut dengan arah jalur Tenggara – Barat Laut. RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

2. Sedang

  Kecamatan lain yang kena imbas jika terjadi pegeseran pada jalur patahan aktif adalah kecamatan – kecamatan Hiliran Gumanti, Kecamatan Gunung Talang, Kubung dan kecamatan Junjung Sirih.

6. Kawasan Budidaya A . K a w a s a n P e r u n t u k a n H u t a n P r o d u k s i A . K a w a s a n P e r u n t u k a n H u t a n P r o d u k s i

  Kawasan peruntukan hutan produksi dimaksudkan untuk menyediakan komoditas hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan untuk keperluan industri, sekaligus untuk melindungi kawasan hutan yang ditetapkan sebagai hutan lindung dan hutan konservasi dari kerusakan akibat pengambilan hasil hutan yang tidak terkendali.

  Kawasan budidaya hutan produksi, dibedakan menjadi hutan produksi terbatas, hutan produksi tetap, hutan produksi yang dapat dikonversi. Kawasan peruntukan Hutan Produksi Terbatas (HPT) adalah kawasan hutan yang secara ruang digunakan untuk budi daya hutan alam. Kawasan peruntukan Hutan Produksi Tetap (HP) adalah kawasan hutan yang secara ruang digunakan untuk budi daya hutan alam dan hutan tanaman. Sedangkan kawasan peruntukan hutan produksi yang dapat dikonversi (HOK) adalah kawasan hutan yang secara ruang dicadangkan untuk digunakan bagi perkembangan transportasi, transmigrasi, permukiman, pertanian, perkebunan, industri, dan lain-lain.

Tabel 3.13. Klasifikasi Kawasan Hutan Produksi

  JENIS No. DEFINISI KRITERIA KAWASAN

  1 Kawasan Hutan Kawasan yang Kawasan hutan dengan faktor-faktor lereng Produksi dipergunakan bagi hutan lapang, jenis tanah, curah hujan yang Terbatas (HPT) produksi terbatas, dimana mempunyai nilai skor 125-174 di luar hutan eksploitasinya hanya dapat suaka alam, hutan wisata dan hutan konversi dengan tebang pilih dan lainnya (SK Mentan No. 683/Kpts/Um/8/1981 tanam dan 837/Kpts/Um/11/1980)

  2 Kawasan Hutan Kawasan yang Kawasan hutan dengan faktor-faktor lereng Produksi Tetap diperuntukan bagi lapang, jenis tanah, curah hujan yang produksi tetap dinamis mempunyai nilai skor 124/kurang di luar eksploitasinya dapat hutan suaka alam, hutan wisata dan hutan dengan tebang pilih atau konversi lainnya (SK Mentan No. habis dan tanam 683/Kpts/Um/8/1981dan

  837/Kpts/Um/11/1980)

  3 Kawasan Hutan Kawasan hutan yang Kawasan hutan dengan faktor-faktor lereng Produksi bilamana diperuntukkan lapang, jenis tanah, curah hujan yang Konversi dapat dialihgunakan mempunyai nilai skor 124/kurang di luar hutan suaka alam, hutan wisata dan hutan produksi tetap, hutan produksi terbatas dan hutan produksi konversi lainnya (SK Mentan No. 683/Kpts/Um/8/1981dan 837/Kpts/Um/11/1980)

  Sumber: Keppres No 57 Tahun 1989 tentang Kawasan Budidaya

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Sebaran dan arahan penetapan kawasan hutan produksi di Kabupaten Solok berdasarkan RTRW Provinsi Sumatera Barat 2009-2029, dapat dilihat sebagai berikut.

  5 IX Koto Sungai Lasi 474,17 3.336,77 370,96 6.181,90 22,87

  Sumber: Hasil Rencana, 2010

  TOTAL 3.504,99 11.443,00 12.078,00 27.025,99 100

  14 X Koto Singkarak 0,00 0,00

  13 X Koto Diatas 1.093,81 1.393,30 2.487,11 9,20

  12 Tigo Lurah 635,85 2.794,76 3.430,61 12,69

  11 Payung Sekaki 393,20 2.094,85 3.498,63 7.986,68 29,55

  10 Pantai Cermin 0,42 0,42 0,00

  9 Lembang Jaya 48,54 48,54 0,18

  8 Lembah Gumanti 240,43 3.360,81 3.601,24 13,33

  7 Kubung 94,77 984,21 1.078,98 3,99

  6 Junjung Sirih 0,00 0,00

  4 Hiliran Gumanti 52,42 52,42 0,19

Tabel 3.14. Rencana Luas dan Usulan Perubahan Luas Kawasan Hutan Produksi di Kabupaten Solok

  Seperti halnya pada kawasan lindung, penetapan kawasan hutan produksi di Kabupaten Solok harus memperhatikan arahan penetapan kawasan peruntukan hutan produksi yang telah ditetapkan dalam RTRW Provinsi Sumatera Barat 2009-2029.

  2 Danau Kembar 158,51 158,51 0,59

  1 Bukik Sundi 1.633,87 1.633,87 6,05

Tabel 3.15. Luas Rencana Kawasan Hutan Produksi Menurut Kecamatan di Kabupaten Solok Tahun 2030 (dalam Ha) No KECAMATAN Luas Kawasan Hutan Produksi Total % HP HPK HPT

  Dengan menggunakan acuan penetapan sebaran dan luas lahan hutan produksi yang telah ditetapkan dalam RTRW Provinsi Sumatera Barat 2009-2029 tersebut, serta dengan memperhatikan hasil dari analisis kesesuaian lahan, maka rencana peruntukan luas lahan untuk kawasan hutan produksi di Kabupaten Solok menurut wilayah kecamatan, dapat dilihat pada tabel 4.13 berikut.

  

Sumber :Rencana Pola Ruang Kawasan Budidaya (Hutan Produksi) RTRW Provinsi Sumbar

2009-2029

  12.697 11.443 -1.254 -9,87

  9.075 3.505 -3.570 -61,38 Hutan Produksi yang dapat dikonversi (HPK)

  13.461 12.078 -3.383 -21,88 Hutan Produksi Tetap (HP)

  Hutan Produksi Terbatas (HPT)

  Peruntukan Hutan Produksi Luas Awal Menurut SK Menhut No 422 Tahun 1999 (Ha) Luas Akhir Menurut Usulan Perubahan/ Rencana RTRW (Ha) Perubahan Luas (Ha) Persentase Perubahan (%)

  3 Gunung Talang 365,71 365,71 1,35

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Penetapan kawasan hutan produksi ditujukan untuk mewujudkan kawasan hutan produksi yang dapat memberikan manfaat : a. Mendorong peningkatan perkembangan pembangunan lintas sektor dan sub sektor serta kegiatan ekonomi sekitarnya; b. Mampu meningkatkan fungsi lindung, menjaga keseimbangan tata air dan lingkungan serta pelestarian kemampuan sumberdaya hutan; c. Mampu menjaga kawasan lindung terhadap pengembangan kawasan budidaya; d. Mampu meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar hutan, meningkatkan pendapatan daerah, dan meningkatkan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar hutan;

  e. Meningkatkan nilai tambah produksi hasil hutan dan industri pengolahannya dan meningkatkan ekspor; atau

f. Mendorong perkembangan usaha dan peran masyarakat sekitar hutan.

  B B . . K K a a w w a a s s a a n n P P e e r r u u n n t t u u k k a a n n P P e e r r t t a a n n i i a a n n

  Pada dasarnya kawasan peruntukan pertanian mencakup kawasan pertanian lahan basah, pertanian lahan kering dan holtikultura. Penetapan kawasan peruntukan pertanian diharapkan akan mendorong terwujudnya kawasan pertanian yang dapat memberikan manfaat sebagai berikut: a. memelihara dan meningkatkan ketahanan pangan;

  b. meningkatkan daya dukung lahan melalui pembukaan lahan baru untuk pertanian tanaman pangan (padi sawah, padi gogo, palawija, kacang- kacangan, dan umbi-umbian) hortikultura, dan pendayagunaan investasi;

  c. meningkatkan perkembangan pembangunan lintas sektor dan sub sektor serta kegiatan ekonomi sekitarnya; d. meningkatkan upaya pelestarian dan konservasi sumber daya alam untuk pertanian serta fungsi lindung; e. menciptakan kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan masyarakat; f. meningkatkan pendapatan daerah;

  g. mendorong perkembangan industri hulu dan hilir melalui efek kaitan;

  h. mengendalikan adanya alih fungsi lahan dari pertanian ke non pertanian agar keadaan lahan tetap abadi; i. melestarikan nilai sosial budaya dan daya tarik kawasan perdesaan; dan/atau j. mendorong pengembangan sumber energi terbarukan.

  Peruntukan kawasan pertanian di Kabupaten Solok, dapat diklasifikasikan menjadi pertanian lahan basah dan pertanian lahan kering dengan kriteria seperti pada tabel berikut:

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

Tabel 3.16. Klasifikasi Peruntukan Kawasan Pertanian

  JENIS No. DEFINISI KRITERIA KAWASAN

  1 Kawasan Kawasan yang Ketinggian <1000 m dpl kecuali lahan yang sudah Pertanian Lahan diperuntukan bagi ditanami tanaman tahunan dan tidak mengganggu Basah tanaman pangan kelestarian tanah dan air lahan basah Mempunyai sistem dan atau potensi dimana pengembangan pengairan dan drainase pengairannya Kemiringan tanah <30 % kecuali jenis tanah dapat diperoleh regosol, litosol, rezina, dan organosol dengan secara alamiah kemiringan <15 % maupun teknis. Kedalaman efektif tanah >30 cm Bukan daerah kritis/bahaya lingkungan beraspek geologi seperti daerah patahan aktif, erosi dan longsoran

  2 Kawasan Kawasan yang Ketinggian <1000 m dpl kecuali lahan yang sudah Pertanian Lahan diperuntukan bagi ditanami tanaman tahunan dan tidak mengganggu Kering lahan kering kelestarian tanah dan air untuk tanaman Nilai skor fisik wilayah <125 palawija, dan Kemiringan tanah <40 % kecuali jenis tanah hortikultura atau regosol, litosol, rezina, dan organosol dengan tanaman tahunan kemiringan <15 %

  Kedalaman efektif tanah >30 cm Mempunyai tipe iklim A, B1, B2, C2 atau D2 menurut Oldeman Bukan Daerah kritis/bahaya lingkungan: daerah longsoran, patahan aktif, daerah krisis erosi permukaan

  Sumber: Keppres No 57 Tahun 1989 tentang Kawasan Budidaya

  Rencana pengembangan budidaya pertanian, baik itu pertanian lahan basah maupun lahan kering dan hortikultura, diarahkan untuk pemanfaatan secara intensif sebagai tanaman pangan pada lahan-lahan yang belum dimanfaatkan dan tersebar di seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Solok. Adapun rencana pengembangan kawasan pertanian lahan basah serta pertanian lahan kering dan hortikultura di Kabupaten Solok dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 3.17. Luas Rencana Kawasan Peruntukan Pertanian Menurut Kecamatan di Kabupaten Solok Tahun 2030

  Kawasan Pertanian Pertanian No KECAMATAN Total % Pertanian Lahan Kering Lahan Basah & hortikultura

  7.070,41 1.578,09

  1 Bukik Sundi 8.648,50 6,67

  25,80 496,00

  2 Danau Kembar 521,80 0,40

  3.775,20 3.729,10

  3 Gunung Talang 11.504,30 8,87

  1.520,96 3.213,46

  4 Hiliran Gumanti 6.734,42 5,19

  549,89 7.324,20

  5 IX Koto Sungai Lasi 7.874,09 6,07

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Kawasan Pertanian Pertanian No KECAMATAN Total % Pertanian Lahan Kering Lahan Basah & hortikultura

  63,35 94,40

  6 Junjung Sirih 157,76 0,12

  3.321,65 2.373,89

  7 Kubung 7.695,55 5,94

  81,50 18.940,86

  8 Lembah Gumanti 19.022,36 14,67 4.003,55 2.819,11

  9 Lembang Jaya 6.822,65 5,26

  5,33 11.924,43

  10 Pantai Cermin 11.929,77 9,20

  651,69 19.090,89

  11 Payung Sekaki 19.742,59 15,23

  1.162,03 8.073,68

  12 Tigo Lurah 9.235,72 7,12

  766,64 6.816,07

  13 X Koto Diatas 7.582,71 5,85

  3.520,38 8.640,91

  14 X Koto Singkarak 12.161,29 9,38 TOTAL 30.518,39 99.115,10 129.633,50 100,00

  Sumber: Hasil Rencana, 2010

  Dengan memperhatikan hasil dari analisis kesesuaian lahan di Kabupaten Solok, alokasi ruang untuk lahan pertanian lahan kering dan hortikultura relatif lebih besar dibandingkan pertanian lahan basah. Hingga tahun 2030, luas rencana pengembangan untuk pertanian lahan kering dan hortikultura mencapai 99.115,10 Ha, sedangkan untuk pertanian lahan basah mencapai 30.518,39 Ha. Dari rencana pengembangan tersebut, dapat dilihat bahwa alokasi peruntukan untuk kawasan pertanian yang cukup besar ada di Kecamatan Payung Sekaki dengan luas mencapai 19.742,77 Ha atau sekitar 15,23%, diikuti oleh Kecamatan Lembah Gumanti dengan luas mencapai 19.022,65 Ha atau sekitar 14,67 % dari total luas rencana lahan pertanian yang akan dikembangkan hingga tahun 2030 di Kabupaten Solok.

  C . K a w a s a n P e r t a n i a n L a h a n B a s a h C . K a w a s a n P e r t a n i a n L a h a n B a s a h

  Sebaran pengembangan kawasan pertanian lahan basah di Kabupaten Solok mencakup seluruh wilayah kecamatan dengan luas rencana mencapai 30.518,39 Ha. Berdasarkan data BPS, luas lahan sawah yang sudah diusahakan menurut jenis pengairannya tahun 2008 baru mencapai 23.555 Ha. Terdapat selisih luas lahan 6.963,39 Ha yang dapat dikembangkan menjadi lahan sawah baru. Rencana pengembangan kawasan pertanian lahan basah di Kabupaten Solok hingga tahun 2030, dapat dilihat pada tabel berikut

Tabel 3.18. Luas Rencana Kawasan Pertanian Lahan Basah Menurut Kecamatan di Kabupaten Solok Tahun 2030

  

No KECAMATAN Luas (Ha) %

  1 Bukik Sundi 7.070,41 23,17

  2 Danau Kembar 25,80 0,08

  3 Gunung Talang 3.775,20 18,92

  4 Hiliran Gumanti 1.520,96 4,98 RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  1 Bukik Sundi 1.578,09 1,59

  14 X Koto Singkarak 8.640,91 8,72

  13 X Koto Diatas 6.816,07 6,88

  12 Tigo Lurah 8.073,68 8,15

  11 Payung Sekaki 19.090,89 19,26

  10 Pantai Cermin 11.924,43 12,03

  9 Lembang Jaya 2.819,11 2,84

  8 Lembah Gumanti 18.940,86 19,11

  7 Kubung 2.373,89 2,40

  6 Junjung Sirih 94,40 0,10

  5 IX Koto Sungai Lasi 7.324,20 7,39

  4 Hiliran Gumanti 3.213,46 5,26

  3 Gunung Talang 3.729,10 5,78

  2 Danau Kembar 496,00 0,50

  

No KECAMATAN Luas (Ha) %

  5 IX Koto Sungai Lasi 549,89 1,80

Tabel 3.19. Luas Rencana Kawasan Pertanian Lahan Kering dan Hortikultura Menurut Kecamatan di Kabupaten Solok Tahun 2030

  Untuk pengembangan pertanian lahan kering, sebaran lahannya meliputi seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Solok, dengan luasan mencapai 99.115,10 Ha. Kecamatan Payung Sekaki dan Kecamatan Lembah Gumanti merupakan kecamatan dengan luasan rencana kawasan pertanian lahan kering terbesar, yaitu mencapai 19.090,89 untuk Kecamatan Payung Sekaki dan 18.940,86 Ha untuk Kecamatan Lembah Gumanti.

  D D . . K K a a w w a a s s a a n n P P e e r r t t a a n n i i a a n n L L a a h h a a n n K K e e r r i i n n g g

  Berdasarkan tabel tersebut, rencana pengembangan kawasan pertanian lahan basah yang relatif besar luasannya meliputi Kecamatan Bukik Sundi (7.070,41 Ha) , diikuti oleh Kecamatan Gunung Talang dan Kecamatan Kubung, masing-masing seluas 3.775,20 Ha dan 3.321,65 Ha.

  Sumber: Hasil Rencana, 2010

  14 X Koto Singkarak 3.520,38 11,54 TOTAL 30.518,39 100,00

  13 X Koto Diatas 766,64 2,51

  12 Tigo Lurah 1.162,03 3,81

  11 Payung Sekaki 651,69 2,14

  10 Pantai Cermin 5,33 0,02

  9 Lembang Jaya 4.003,55 13,12

  8 Lembah Gumanti 81,50 0,27

  7 Kubung 3.321,65 17,44

  6 Junjung Sirih 63,35 0,21

  No KECAMATAN Luas (Ha) %

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  No KECAMATAN Luas (Ha) %

  TOTAL 99.115,10 100,00

  Sumber: Hasil Rencana, 2010 E . K a w a s a n P e r t a n i a n H o r t i k u l t u r a E . K a w a s a n P e r t a n i a n H o r t i k u l t u r a

  Hortikultura merupakan produk andalan bagi Kabupaten Solok, dengan produksi terbesarnya ada di Kecamatan Lembah Gumanti. Jenis tanaman hortikultura terdiri dari tanaman sayur–sayuran dan buah–buahan.Tanaman sayur-sayuran yang menjadi komoditi utama adalah kentang, kubis, bawang merah, tomat dan cabe. Daerah sentra produksi tanaman sayur-sayuran yaitu Kecamatan Gunung Talang, Lembang Jaya, Danau Kembar dan Lembah Gumanti. Kecamatan Junjung Sirih, Kubung dan Pantai Cermin merupakan sentra produksi bawang merah dan cabe.

  Tanaman buah-buahan yang menjadi komoditi utama Kabupaten Solok adalah markisa, alpokat, durian, jeruk dan pisang. Kecamatan yang merupakan sentra produksi markisa dan alpokat adalah Kecamatan Payung Sekaki, Lembang Jaya, Gunung Talang, Danau Kembar, Lembah Gumanti dan Pantai Cermin Berdasarkan potensi pengembangannya, kawasan peruntukan hortikultura akan diarahkan untuk dikembangkan di sekitar daerah Sungai Nanam (Kecamatan Lembah Gumanti) yang sekaligus juga sebagai sentra agropolitan sebagai salah satu kawasan strategis Kabupaten dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi.

  F F . . K K a a w w a a s s a a n n P P e e r r u u n n t t u u k k a a n n P P e e r r k k e e b b u u n n a a n n

  Kawasan perkebunan di Kabupaten Solok dikembangkan berdasarkan fungsi kawasan dan potensi yang ada pada daerah masing-masing memiliki prospek ekonomi cepat tumbuh. Menurut jenis komoditasnya, pengembangan perkebunan meliputi kopi, kakao, karet, pala, cengkeh, kayu manis dan lain-lain. Adapun produk unggulan bidang perkebunan yang mendukung ekonomi kerakyatan yaitu : (1) Kopi; (2) Kakao; (3) Karet; (4) Cengkeh. Keempat komoditi unggulan tersebut sangat potensial dikembangkan di Kabupaten Solok, karena iklim di daerah Solok sangat mendukung untuk tanaman tersebut ditambah sangat diminati oleh para pertani. Pengembangan kawasan perkebunan diarahkan dengan pemanfaatan potensi lahan yang memiliki kesesuaian untuk perkebunan, berada pada kawasan budidaya, dan menghindarkan timbulnya konflik pemanfaatan lahan dengan kawasan lindung, kawasan hutan produksi tetap dan produksi terbatas, kawasan industri, dan kawasan permukiman. Rencana pengembangan kawasan perkebunan diarahkan pada seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Solok dengan luasan mencapai 22.894,37 Ha. Luasan terbesar untuk rencana pengembangan kawasan perkebunan terdapat di Kecamatan X Koto Diatas, dengan luas mencapai 10.258,37 Ha atau sekitar 44,81% dari total luas rencana untuk pengembangan kawasan perkebunan di Kabupaten Solok hingga tahun 2030, seperti pada tabel berikut.

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  No Kecamatan Luas (Ha) %

  13 Kec. X Koto Diatas 10.258,37 44,81

  Sedangkan usaha kegiatan perikanan tangkap di Kabupaten Solok lebih banyak dilakukan di perairan danau terutama di danau Singkarak, Danau Diatas dan Danau

  4. Pengembangan kegiatan budidaya ikan di saluran irigasi di Kecamatan Junjung Sirih, X Koto Singkarak, Lembang Jaya, Bukit Sundi dan Kubung.

  3. Pengembangan kegiatan budidaya budidaya ikan di kolam air deras di Kecamatan X Koto Singkarak dan sebagian kecil di Kecamatan Lembang Jaya.

  2. Pengembangan kegiatan budidaya ikan karamba di Kecamatan Bukit Sundi dan Kubung. Untuk budidaya ikan karamba jaring apung diarahkan untuk dikembangkan di Danau Diatas Nagari Simpang Tanjuang Nan IV Kecamatan Danau Kembar.

  1. Pengembangan kegiatan budidaya ikan di sawah di Kecamatan X Koto Singkarak, Kubung, Bukit Sundi dan Gunung Talang. Kegiatan ini banyak dilakukan pada areal persawahan yang berpengairan setengah teknis dan teknis.

  Rencana pengembangan peruntukan perikanan di Kabupaten Solok diarahkan pada budidaya perikanan air tawar dan juga perikanan tangkap perairan danau. Budidaya ikan air tawar terdiri dari budidaya perikanan sungai, danau, telaga, kolam, dan sawah serta pembibitan ikan. Jenis ikan budidaya yang dikembangkan antara lain ikan garing, mas, nila, nilem, mujair, kulari, patin, baung, gabus, dan ikan betok. Alokasi ruang untuk pengembangan kawasan perikanan budidaya di Kabupaten Solok disesuaikan sesuai potensi dari masing-masing kecamatan yang ada, diantaranya:

  Sumber: Hasil Rencana, 2010 G G . . K K a a w w a a s s a a n n P P e e r r u u n n t t u u k k a a n n P P e e r r i i k k a a n n a a n n

  22.894,37 100,00

  14 Kec. X Koto Singkarak 1.639,49 7,16 TOTAL

  12 Kec. Tigo Lurah 764,64 3,34

  1 Kec. Bukik Sundi 40,35 0,18

Tabel 3.20. Luas Rencana Kawasan Perkebunan Menurut Kecamatan di Kabupaten Solok Tahun 2030

  10 Kec. Pantai Cermin 81,43 0,36

  9 Kec. Lembang Jaya 285,35 1,25

  8 Kec. Lembah Gumanti 1.070,15 4,67

  7 Kec. Kubung 500,11 2,18

  6 Kec. Junjung Sirih 209,58 0,92

  5 Kec. IX Koto Sungai Lasi 194,55 0,85

  4 Kec. Hiliran Gumanti 24,77 0,11

  3 Kec. Gunung Talang 6.758,95 29,52

  2 Kec. Danau Kembar 139,15 0,61

  11 Kec. Payung Sekaki 927,48 4,05 RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Dibawah. Kegiatan ini lebih banyak dilakukan jika dibandingkan dengan kegiatan penangkapan ikan di perairan sungai. Kegiatan perikanan tangkap di Kabupaten Solok banyak dilakukan di sepanjang nagari yang dilewati oleh Batang Lembang. Kegiatan penangkapan ikan di sungai biasanya dilakukan untuk kebutuhan sehari-hari. Jenis penangkapan ikan di danau umumnya jenis ikan bilih, paweh/nilem, mas dan nila serta ikan lainnya.

  H H . . K K a a w w a a s s a a n n P P e e r r u u n n t t u u k k a a n n P P e e r r t t a a m m b b a a n n g g a a n n

  Pengembangan sektor pertambangan di Kabupaten Solok dihadapkan pada kenyataan bahwa di satu sisi keberadaan akan sumberdaya tambang seperti emas, perak, batubara, bijih besi cukup melimpah guna meningkatkan pendapatan daerah, namun pada sisi lain keberadaan sumberdaya tambang tersebut pada kawasan hutan lindung maupun hutan produksi. Oleh karena itu pengembangan sektor pertambangan ini di masa mendatang harus dapat menjawab tantangan bagaimana pengembangan sektor pertambangan bisa diintensifkan tanpa menimbulkan permasalahan dengan peraturan perundangan yang berlaku dan harus dipatuhi.

  Kondisi geologi dan topografi Kabupaten Solok yang dominan berupa perbukitan dan pegunungan menempatkan keberadaan sebaran sumberdaya mineral umumnya berada di kawasan hutan lindung dan sedikit yang dijumpai di kawasan hutan produksi maupun hutan konversi sehingga memerlukan kehati-hatian dalam proses eksploitasi dengan memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku selain juga secara teknis memperhatikan kondisi wilayah tersebut dengan adanya keterbatasan aksesibilitas karena belum adanya infrastruktur penopang eksploitasi tersebut. Pengembangan kawasan pertambangan diarahkan untuk pengelolaan potensi sumber daya alam secara berimbang dan berkelanjutan dengan memprioritaskan aspek keseimbangan ekosistem dan pelestarian lingkungan hidup. Potensi sumberdaya mineral di Kabupaten Solok tercatat tidak kurang dari 104 bahan galian, yang mencakup bahan galian golongan b dan c dengan besaran potensi dari mulai terindikasi hingga terukur, akan tetapi mayoritas data yang ada hingga sekarang adalah hanya teridikasi saja. Berdasarkan sebaran bahan pertambangan di Kabupaten Solok maka dapat dibagi ke dalam dua usaha pertambangan, yaitu :

  1. Bahan galian batubara

  2. Bahan galian mineral, meliputi:

  a. Mineral logam, yang terdiri atas:Emas, Tembaga, Perak, Mangan, Timah Hitam, Biji besi, Air Raksa

  b. Mineral bukan logam, terdiri atas: Pasir besi, Belerang, Feldspar, Fosfat, Tawas

  c. Batuan, meliputi: Batu Gamping/Batu Kapur, Dolomit, Marmer, Granit, Andesit dan Basalt, Batu Apung (Pumice), Batu Tulis (Slate),Obsidian, Perlit, Trass, Kaolin, Lempung/Tanah Liat (clay), Rijang, Oker, Pasir Kuarsa

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Disamping itu bagian wilayah Kabupaten Solok juga termasuk dalam rencana wilayah pertambangan minyak dan gas bumi blok Bukit Barisan Barat Daya (Blok Singkarak), serta Panas Bumi (geothermal). Penetapan kawasan pertambangan diharapkan dapat memberikan manfaat diantaranya: a. meningkatkan produksi pertambangan dan mendayagunakan investasi;

  b. meningkatkan perkembangan pembangunan lintas sektor dan sub sektor serta kegiatan ekonomi sekitarnya; c. tidak mengganggu fungsi lindung; dan memperhatikan upaya pengelolaan kemampuan sumber daya alam; d. meningkatkan pendapatan masyarakat; dan meningkatkan pendapatan daerah

  e. menciptakan ke empatan ke a dan kesejahteraan masyarakat RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

Gambar 3.3. Peta Potensi Sebaran Tambang Kabupaten Solok

BAB III - 52

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  I I . . K K a a w w a a s s a a n n P P e e r r u u n n t t u u k k a a n n P P e e r r m m u u k k i i m m a a n n

  Kawasan permukiman merupakan kawasan di luar kawasan lindung yang digunakan sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian masyarakat yang berada di wilayah perkotaan dan perdesaan, dengan mempertimbangkan kelestarian lingkungan dan diupayakan tidak melakukan peralihan fungsi terhadap lahan pertanian teknis. Kawasan peruntukan permukiman harus dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan, serta tempat kerja yang memberikan pelayanan dan kesempatan kerja terbatas untuk mendukung perikehidupan dan penghidupan sehingga fungsi permukiman tersebut dapat berdaya guna dan berhasil guna. Kriteria dari pengembangan kawasan permukiman, diantaranya dapat dilihat pada tabel berikut ini

Tabel 3.21. Kriteria Pengembangan Ruang Kawasan Permukiman Klasifikasi

  Permukiman Kriteria Kawasan Pengembangan Ruang

  Permukiman perkotaan

  • Kemiringan lereng
  • Dapat dibangun akomodasi pariwisata perkotaan
  • Tidak pada daerah
  • Pemanfaatan air tanah dalam/sumur bor harus
  • Tidak pada daerah
  • Pembangunan perumahan skala besar diwajibkan
  • Tersedia air baku yang
  • Pengembangan permukiman perkotaan harus didasarkan penataan sistem prasarana dasar
  • Bebas dari bahaya gangguan setempat
  • Sistem Prasarana Drainase:
  • >Aksesibiltas dan sirkulasi transportasi
  • Tidak berada pada
  • Berorientasi langsung
  • Berada dekat dengan
  • Air Bersih Pengambilan air baku diutamakan dari air permukaan
  • Ketinggian <1000 m dpl kecuali lahan yang sudah ditanami tanaman tahunan dan tidak mengganggu
  • Penelitian pengembangan petanian lahan basah
  • Bangunan yang menunjang fungsi
RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

  banjir

  Koefisien pengaliran permukaan (run off) tidak lebih dari 25 % pada lereng atau tanah yang peka terhadap erosi harus ada rekayasa teknis sehingga kekeruhan drainase tidak mencapai 50 ppm Si02

  kawasan/kegiatan utama untuk kepentingan umum

  dengan KDB maksimum 5 %

  Diperkenankan adanya bangunan:

  Perhitungan kebutuhan air bersih rata-rata 100 liter/orang/hari Permukiman perdesaan

  Untuk meningkatkan recharge air tanah dianjurkan membuat sumur resapan terutama pada tanah yang stabil dan mempunyai daya serap tinggi

  Harus mempertimbangkan badan sungai yang ada sebagai saluran penerima Perhitungan drainase berdasarkan banjir 10 tahunan

  menyediakan lahan kuburan sesuai peraturan daerah, minimum 5% dari luas areal

  resapan air

  memperoleh izin Gubernur

  serta sarana sosial ekonomi sesuai kebutuhan

  pusat kota

  relatif landai 0 -15 %

  daerah rawan gempa

  cukup

  ke jalan arteri/kolektor

KABUPATEN SOLOK

  Klasifikasi Kriteria Kawasan Pengembangan Ruang Permukiman

  • kelestarian tanah dan

  Jalan sesuai dengan kebutuhan

  • air

  Permukiman perdesaan dan pariwisata/agrowisata

  • Mempunyai sistem memiliki kepadatan maksimum 5 rumah/Ha dan dan/ potensi KDB maksimum 5% pengembangan pengairan dan drainase
  • >Kemiringan tanah <30 % kecuali jenis tanah regosol, litosol, rezina, organosol dg kemiringan <
  • Kedalaman efektif

  tanah >30 cm

  • Bukan daerah

  kritis/bahaya lingkungan geologi (daerah patahan aktif, erosi dan longsoran

  Sumber: RTRW Kabupaten Solok Tahun 2012-2031

  Pengembangan kawasan permukiman diarahkan untuk mendukung pengembangan pusat-pusat kegiatan dan pusat pelayanan yang tersebar sebagaimana Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten. Rencana kawasan permukiman di wilayah Kabupaten Solok hingga tahun 2030, terdiri atas permukiman perkotaan dan permukiman perdesaan. Guna mendukung perwujudan struktur ruang wilayah , maka sebaran kawasan permukiman perkotaan dan perdesaan di Kabupaten Solok dikembangkan seperti pada tabel berikut

Tabel 3.22. Pengembangan Kawasan Permukiman pada Pusat-pusat Kegiatan di Kabupaten Solok hingga Tahun 2030

  

No Kecamatan Pusat Kegiatan Fungsi/Peran Klasifikasi permukiman

  1 Gunung Talang Arosuka PKL Permukiman Perkotaan Talang PPK Permukiman Perkotaan

  Kayu Jao PPL Permukiman Perdesaan Lubuk Selasih

  2 Lembah Gumanti Alahan Panjang-Sungai PKLp Permukiman Perkotaan Nanam

  Parak tabu lipek PPL Permukiman Perdesaan pageh Aia Dingin Timur

  3 Kubung Selayo PKLp Permukiman Perkotaan Batu Palano PPL Permukiman Perdesaan Tigo Kajai

  4 Junjung Sirih Paninggahan PPK Permukiman Perkotaan Kp Tangah PPL Permukiman Perdesaan Parumahan

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  5 X Koto Diatas Sulit Air PPK Permukiman Perkotaan Laing Gando

  PPL Permukiman Perdesaan

  6 Kec. Junjung Sirih 129,39 52,08 181,48 2,58

  5 Kec. IX Koto Sungai Lasi 349,39 168,61 518,00 7,36

  4 Kec. Hiliran Gumanti 97,33 43,95 141,27 2,01

  3 Kec. Gunung Talang 1.009,63 359,47 1.369,10 19,45

  2 Kec. Danau Kembar 100,53 14,82 115,34 1,64

  1 Kec. Bukik Sundi 179,60 64,60 244,20 3,47

  Permukiman Perkotaan

  No Kecamatan Luas (Ha) Jumlah %

Permukiman

Perdesaan

Tabel 3.23. Luas Rencana Kawasan Permukiman di Kabupaten Solok hingga tahun 2030

  Secara keseluruhan luas lahan untuk pengembangan kawasan permukiman di Kabupaten Solok sebesar 7.038, 40 Ha, yang terdiri atas Kawasan permukiman perdesaan dengan luas 3.690, 04 Ha dan Kawasan permukiman perkotaan seluas 1.348,40 Ha. Secara lebih lengkap alokasi ruang untuk pengembangan kawasan permukiman dapat dilihat pada tabel berikut

  Sumber: RTRW Kabupaten Solok Tahun 2012-2031

  PPL Permukiman Perdesaan

  14 Danau Kembar Sp Tanjung Nan IV PPK Permukiman Perkotaan Paubungan Danau Diateh

  13 Tigo Lurah Batu Bajanjang PPK Permukiman Perkotaan Tanjuan Balik Garabak data

  PPL Permukiman Perdesaan

  

No Kecamatan Pusat Kegiatan Fungsi/Peran Klasifikasi permukiman

  12 Hiliran Gumanti Talang Babungo PPK Permukiman Perkotaan Talang Timur Rantau Kimpalan

  11 Pantai Cermin Surian PPK Permukiman Perkotaan Tanam Batu Lolo PPL Permukiman Perdesaan

  PPL Permukiman Perdesaan

  10 Payung Sekaki Sirukam PPK Permukiman Perkotaan Subarang bancah Koto Ib Pulai

  9 Lembang Jaya Bukit Sileh PPK Permukiman Perkotaan Batu banyak PPL Permukiman Perdesaan

  8 Bukik Sundi Muara Panas PPK Permukiman Perkotaan Koto Panjang PPL Permukiman Perdesaan

  PPL Permukiman Perdesaan

  Sungai Lasi PPK Permukiman Perkotaan Tarung-tarung Utara Tarung-tarung Selatan

  7 IX Koto Sungai Lasi

  PPL Permukiman Perdesaan

  Singkarak PPK Permukiman Perkotaan Pintu Rayo Saningbakar

  6 Kec. X Koto Singkarak

  PPL Permukiman Perdesaan RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  7 Kec. Kubung 416,65 129,40 546,05 7,76

  8 Kec. Lembah Gumanti 492,35 223,30 715,65 10,17

  9 Kec. Lembang Jaya 191,79 67,87 259,66 3,69

  10 Kec. Pantai Cermin 303,14 24,22 327,35 4,65

  11 Kec. Payung Sekaki 36,23 24,73 60,97 0,87

  12 Kec. Tigo Lurah 1.460,98 78,09 1.539,07 21,87

  13 Kec. X Koto Diatas 141,46 118,62 260,07 3,70

  14 Kec. X Koto Singkarak 660,30 99,92 760,22 10,80 TOTAL

  3.690,04 1.348,40 7.038,44 100,00

  Sumber: Hasil Rencana, 2010 J J . . K K a a w w a a s s a a n n P P e e r r u u n n t t u u k k a a n n P P a a r r i i w w i i s s a a t t a a

  Kawasan peruntukan pariwisata adalah kawasan yang didominasi oleh fungsi kepariwisataan dapat mencakup sebagian areal dalam kawasan lindung atau kawasan budi daya lainnya di mana terdapat konsentrasi daya tarik dan fasilitas penunjang pariwisata.

  Kabupaten Solok sangat beruntung memiliki pesona alam yang tidak dimiliki daerah lain seperti pesona danau Diatas dan danau Dibawah, danau Singkarak dan hamparan hijau kebun teh di kawasan Kecamatan Gunung Talang serta banyak lainnya. Keunggulan komparatif di bidang pariwisata ini harus mampu dikelola dengan sebaik- baiknya untuk mendatangkan sebanyak mungkin wisatawan ke Kabupaten Solok.

  Peruntukan kawasan pariwisata di wilayah Kabupaten Solok (Gambar 4.7) dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) jenis, yaitu : Kawasan pariwisata alam; dan Kawasan pariwisata budaya

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

Gambar 3.4. Peta Rencana Pengembangan Kawasan Pariwisata Kabupaten Solok

BAB III - 57

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah KABUPATEN SOLOK J J . .

  1 1 . . K K a a w w a a s s a a n n P P a a r r i i w w i i s s a a t t a a A A l l a a m m

  Kabupaten Solok yang beriklim tropis dan sejuk mempunyai objek wisata alam yang indah dan menarik bagi wisatawan. Pariwisata merupakan salah satu sektor ekonomi yang juga dapat dikembangkan di wilayah Kabupaten Solok. Jenis kegiatan wisata yang tepat adalah wisata alam (ecotourism) sebagai bagian dari strategi untuk memanfaatkan kekayaan alam di wilayah Solok tanpa merusak lingkungan. Wisata alam yang indah dan menjadi andalan Kabupaten Solok didukung oleh keberadaan 4 (empat) buah danau yaitu, Danau Diatas, Danau Dibawah, Danau Talang dan Danau Singkarak. Arahan pengembangan wisata alam di Kabupaten Solok difokuskan pada pengembangan 3 (tiga) objek wisata alam, meliputi:

  1. Pengembangan Kawasan Pariwisata Danau Singkarak, meliputi 3 (tiga wilayah administrasi kecamatan) yang didalamnya terdapat komponen wisata : (1) Kec. X Koto Singkarak:

  a. Taman wisata/dermaga Singkarak

  b. Ketaping Indah

  c. Taluak Indah

  d. Tapian Endah Permal Kacang

  e. Panorama Tanjung Sopan Kacang,

  f. Panorama Angin berhembus Aripan,

  g. Panorama Gunung Tampa Dado,

  h. Panorama Sitinjau Lauk,

i. Villa Tarapung Puruk

  (2) Kec. Junjung Sirih

  a. Guo Barang Paninggahan

  b. Kapalo Asia dan

  c. Guo Indah (3) Kec.X Koto Diatas

  a. Gunung Merah Putih-Sulit Air,

  b. Batu Tagantung,

  c. Janjang Saribu,

  d. Bekas Lubang Tambang,

  e. Batu Tikukuak,

  f. Guo Ganting Sopi Tj. Balik,

  g. Batu Alang Siberambang dan

  h. Batu Kutu RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  2. Pengembangan Kawasan Pariwisata Danau Kembar dan sekitarnya yang mencakup 3 (kecamatan), dengan komponen wisata di dalamnya meliputi: (1) Kec. Danau Kembar:

  a. Danau Kembar Resort yang memiliki fasilitas Villa Besar 2 buah dengan 6 kamar, Kotek Kayu 2 buah dengan 2 kamar, Kotek Batu 10 buah dengan 10 kamar, Gedung Pertemuan, Kantor Pengelola, Kantin, Mushalla, Sarana bermain anak dan Dermaga. Permasalahannya saat ini adalah sarana dan prasarana belum memadai sedangkan potensi kunjungan wisatawan cukub besar dan terus meningkat

  b. Panorama Danau Kembar Simpang Tanjung Nan IX dengan luas ± 2 Ha sebagai lokasi untuk melihat Convention Hall. Kondisinya saat ini belum memadai dan akan dilengkapi sesuai dengan Master Plan.

c. Dermaga Danau Diatas, Taluak Indah danau Talang, Wisata Agro Kebu

  Markisah (2) Kec Lembah Gumanti : Danau Kembar Resort, Pantai Usak, Goa Air Dingin, Goa Bukit Boleng Sei Nanam, Panorama Bukit Cambal.

  (3) Kec. Pantai Cermin : Air Hangat, Pamancuang, dan Gunung Intan Surian, Panorama Batu Salimpai, Pancuran 7 Surian, Panorama Bukit Naris.

3. Pengembangan Kawasan Wisata di sekitar kawasan Arosuka

  (1) Kec Gunung Talang: Air Hangat Sunsang dan Garara Cupak, Kolam Renang Sei Janiah, dan Tabek Panjang Guguak, Sari manggis Resort, Rest Area Bukit Subang.

  (2) Kec. Kubung: Air Hangat Bukit Kili, Kapalao Bukit Sawah Suduik, Air Terjun Koto Hilalang, Danau Tuo dan Ala Tajun Ujung Ladang, Air Hangat Padang Belimbing, Air Tajun Gadih Mananti J J . .

  2 2 . . K K a a w w a a s s a a n n P P a a r r i i w w i i s s a a t t a a B B u u d d a a y y a a

  Pengembangan kawasan pariwisata budaya di Kabupaten Solok menurut lokasi kecamatan, diantaranya meliputi: (1) Kecamatan X Koto Singkarak, yang memiliki wisata budaya: Makam Keramat

  Aripan (Santua), Rumah Gadang Pusako Tuo, Balai adat Singkarak dan Sumani, Makam Dalam Musholla Sei. Balai, Rumah adat Tujuh Ruang, Rumah Gadang Suku Panyalai (2) Kecamatan Junjung Sirih : Batu Basurek, Rumah Gadang Muchtar Baina Dt.

  Majolelo (3) Kecamatan X Koto Sungai Lasi : Rumah Gadang 20 Ruang Sulit Air, Balairung

  Sari Sulit Air dan Tanjung Balik, Makam Syeh Batu Ampa Tj. Balik,Makam Keramat Kuncia, Makam Padri dan Sultan Manang Bukit Kandung, Balai adat Katialo dan Lubuk Panjang Paninjauan, Batu Tapak Nabi dan Tabuah Larangan

  (4) Kecamatan Lembang Jaya: Makam Rajo Koto Anau, Istano rajo Koto Anau, Balai Batu Nan Baampang Aia Duo

  RPIJM - Rencana Terpadu dan Program Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  (5) Kecamatan Lembah Gumanti: Kuburan Sipadeh Tingga dan Kuburan Belanda di Sel Nanam,Rumah Adat Lipek Pageh. (6) Kecamatan Hiliran Gumanti : Balairung Sari Talang Babungo, Kuburan Angku Badarah Putiah Talang Babungo, Tambang Sapek Sungai Abu, Padang Jinawi. (7) Kecamatan Pantai Cermin : Makam Pahlawan Surian, Tampek bakaua. (8) Kecamatan Payung Sekaki : Guo Batu Air Luo, Guo Ameh Supayang, Makam Syeh Supayang, Makam Syeh JunJungan dan Syeh Muhksin. (9) Kecamatan Gunung Talang : Masjid Tuo Kayu Jao Batang barus, Makam Syeh

  Talang di Talang, Rumah Gadang Inyiak Cupak, Rumah Gadang Tigo Niniak Guguak, Pincuran Rajo Sd Rotan. (10) Kecamatan Kubung : Masjid Tuo Tanjung Bingkuang, Makam DT. Parpatih

  Nan Saatang, Balai Adat Koto Baru, Tabuah Larangan, Goa Batu Batupang, Batu Mamanjang, Batu Tapak Inyiak Sikulambal. (11) Kecamatan Bukit Sundi: Guo Cikara,Batu Kudo-kudo,Kuburan Sawah lueh, Batu Pasidangan Angku Kuramek Dilam, Kuburan Angku Ikua Lubuk.

  K K . . K K a a w w a a s s a a n n P P e e r r u u n n t t u u k k a a n n I n n d d u u s s t t r r i i

  I Pengembangan kawasan peruntukan industri di Kabupaten Solok, diarahkan untuk

  industri pengelolaan potensi sumber daya alam untuk peningkatan nilai tambah dan produktifitas wilayah secara berkelanjutan. Pengembangan kawasan industri di Kabupaten Solok, diharapkan mampu menjadi stimulus percepatan perkembangan ekonomi daerah kabupaten dan kesejahteraan masyarakat sekitar dan wilayah lebih luas, dengan tetap memperhatikan upaya mencegah pencemaran fungsi lingkungan. Sebaran pengembangan kawasan industri pengelolaan sumber daya alam diarahkan pada kawasan sekitar pusat-pusat kegiatan utama Kabupaten, seperti pengembangan industri pengelolaan hasil pertanian di Kawasan Agropolitan Lembah Gumanti, serta pengembangan industri kecil dan kerajinan di Kecamatan Kubung dan Kecamatan Gunung Talang. Jenis komoditi hasil industri yang potensial dikembangkan di Kabupaten Solok diantaranya sirup markisa, bubuk kopi, kerupuk ubi, dsb. Sedangkan untuk industri kerajinan, diantaranya dapat dikembangkan jenis kerajinan anyaman bambu, rotan, ukiran kayu, dan lain sebagainya Berdasarkan uraian di atas, alokasi luasan dari Rencana Pola Ruang Kabupaten Solok hingga tahun 2030, dapat dilihat pada Tabel 3.24 berikut ini:

  RPI2JM - Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  7 Kec. Kubung 2.606 6.430 9.035 95 984 500 5.322 2.374 417 129 344 10.165 19.200

  TOTAL KAWASAN BUDIDAYA KAWASAN LINDUNG Sumber: Hasil Rencana, 2010 dan Perhitungan pada Peta Skala 1: 50.000

  

14 Kec. X Koto Singkarak 2.540 8.432 10.972 1.639 3.520 8.641 660 100 4.017 18.578 29.550

118.603 56.028 174.631 3.505 11.443 12.078 22.894 30.518 99.115 5.690 1.348 12.577 199.169 373.800 TOTAL KECAMATAN No

  13 Kec. X Koto Diatas 5.026 5.026 1.094 1.393 10.258 767 6.816 141 119 85 20.674 25.700

  12 Kec. Tigo Lurah 39.626 5.445 45.072 636 2.795 765 1.162 8.074 1.461 78 208 15.178 60.250

  36 25 884 29.602 36.450

  11 Kec. Payung Sekaki 6.848 6.848 393 2.095 5.499 927 652 19.091

  81 5 11.924 303 24 503 12.842 36.600

  10 Kec. Pantai Cermin 17.356 6.402 23.758

  68 16 7.432 9.990

  9 Kec. Lembang Jaya 2.558 2.558 49 285 4.004 2.819 192

  8 Kec. Lembah Gumanti 14.792 2.712 17.504 240 3.361 1.070 81 18.941 492 223 4.059 28.468 45.972

  63 94 129 52 1.113 1.662 10.250

  61 Tabel 3.24. Rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten Solok hingga Tahun 2030

  6 Kec. Junjung Sirih 2.504 6.083 8.588 210

  5 Kec. IX Koto Sungai Lasi 2.014 2.014 474 5.337 371 195 550 7.324 349 169 318 15.086 17.100

  97 44 327 7.280 26.328

  

52

25 1.521 5.213

  4 Kec. Hiliran Gumanti 19.048 19.048

  3 Kec. Gunung Talang 2.928 15.462 18.389 366 6.759 5.775 5.729 1.010 359 112 20.111 38.500

  2 Kec. Danau Kembar 757 5.061 5.818 159 139 26 496 101 15 257 1.192 7.010

  1 Kec. Bukik Sundi 1.634 40 7.070 1.578 180 65 333 10.900 10.900

  (Danau & Sungai) Jumlah

  Perdesaan Permukiman Perkotaan Badan Air

  Basah Pertanian Lahan Kering Permukiman

  (CA,TN,HSAW) Jumlah HP HPK HPT Perkebunan Pertanian Lahan

  Hutan Lindung Suaka Alam& Pelestarian Alam

BAB III −

  RPI2JM - Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

3.1.6. Peraturan Zonasi Pemanfaatan Ruang Kabupaten Solok

Tabel 3.25. Zonasi Pemanfaatan Ruang Kabupaten Solok Zona/Kawasan No Berdasarkan Pola Ruang Deskripsi Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Wilayah Kabupaten

  A Kawasan Lindung 1.

1 Kawasan Hutan Lindung kawasan hutan yang memiliki sifat khas

  Boleh dilakukan kegiatan lain yang bersifat komplementer terhadap fungsi hutan yang mampu memberikan perlindungan lindung sebagaimana ditetapkan dalam KepmenHut Nomor 50 tahun 2006. kepada kawasan sekitar maupun 2.

  Boleh dilakukan kegiatan wisata alam tanpa merubah bentang alam. bawahannya sebagai pengatur tata air, 3.

  Dilarang melakukan kegiatan yang berpotensi mengurangi luas kawasan hutan pencegah banjir dan erosi serta dan tutupan vegetasi. memelihara kesuburan tanah 4.

  Kegiatan pertambangan di kawasan hutan lindung masih diperkenankan setelah mendapatkan persetujuan dari Kementerian Kehutanan dan sepanjang tidak dilakukan secara terbuka, dengan ketentuan dilarang mengakibatkan :

a.

  Turunnya permukaan tanah;

b.

Berubahnya fungsi pokok kawasan hutan secara permanen;

c.

Terjadinya kerusakan akuiver air tanah.

  5. Penggunaan kawasan hutan untuk hutan produksi dan hutan lindung, dilakukan

  tanpa mengubah fungsi pokok kawasan hutan dengan mempertimbangkan batasan luas & jangka waktu tertentu serta kelestarian lingkungan.

  6. Pembangunan prasarana wilayah yang harus melintasi hutan lindung dapat

  diperkenankan dengan ketentuan :

a.

  Prasarana untuk pencegahan dan penanggulangan bencana alam banjir, tanah longsor, letusan gunung api, lahar dingin, dan potensi bencana lainnya.

  

b.

  Pembangunan pos – posa keamanan pada titik – titik tertentu sesuai kebutuhan pengamanan lalu lintas dan pencegahan perambahan hutan.

  62 BAB III − RPI2JM - Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  63 No

  Zona/Kawasan Berdasarkan Pola Ruang Wilayah Kabupaten Deskripsi Ketentuan Umum Peraturan Zonasi

c.

a. KDB maksimum 20% dan KLB maksimum 40% b. Perkerasan permukaan menggunakan bahan berdaya serap air tinggi.

3. Dalam kawasan resapan air, wajib dibangun sumur-sumur resapan sesuai

  2) Dilakukan sesuai ketentuan peraturan yang berlaku.

  Tidak menyebabkan terjadinya perkembangan pemanfaatan ruang budidaya di sepanjang pinggir sungai dalam wilayah sempadan sungai.

  1)

  d. Diperkenankan dibangun prasarana wilayah dan utilitas lainnya dengan ketentuan :

  c. Pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang fungsi taman rekreasi terbuka dan fungsi pengamanan sempadan.

  b. Tidak diperkenankan ada kegiatan budidaya yg mengakibatkan terganggunya fungsi sungai.

  1. Sempadan Sungai: a. Dalam kawasan sempadan sungai, jenis pemanfaatannya untuk RTH.

  3 Kawasan Perlindungan Setempat kawasan perlindungan setempat meliputi kawasan sempadan pantai, sempadan sungai, kawasan sekitar danau atau waduk, kawasan sekitar mata air, dan kawasan lindung spiritual dan kearifan lokal lainnya.

  ketentuan yang berlaku

  ditetapkan sebagai kawasan lindung masih diperkenankan namun harus memenuhi syarat :

  2. Permukiman yang sudah terbangun di dalam kawasan resapan air sebelum

  1. Dalam kawasan resapan air tidak diperkenankan adanya kegiatan budidaya.

  2 Kawasan Lindung yang Memberikan Perlindungan Kawasan Bawahannya kawasan resapan air kawasan yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan dan sebagai pengontrol tata air permukaan. Kawasan ini difungsikan untuk meresapkan dan menyimpan air hujan pada waktu musim hujan yang menjadi cadangan pada musim kemarau.

  Mengikuti ketentuan yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan.

  

d.

  Tidak menyebabkan terjadinya perkembangan pemanfaatan ruang budidaya di sepanjang jaringan prasarana tersebut.

2. Kawasan sekitar danau/waduk:

a. Tidak diperkenankan dilakukan kegiatan budidaya yang dapat merusak fungsi

BAB III −

  RPI2JM - Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Zona/Kawasan Berdasarkan Pola Ruang Wilayah Kabupaten Deskripsi Ketentuan Umum Peraturan Zonasi

  danau/waduk, kecuali untuk pembangunan/pengembangan PLTA yang memanfaatkan air dari danau b. Diperkenankan dilakukan kegiatan penunjang pariwisata alam sesuai ketentuan yang berlaku c. Pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang fungsi taman rekreasi terbuka dan fungsi pengamanan sempadan danau

3. Sempadan mata air : a. Tidak diperkenankan ada kegiatan budidaya yang dapat merusak mata air.

  b. Diperkenankan dilakukan keg penunjang pariwisata alam sesuai ketentuan.

  c. Tidak diperkenankan kegiatan budidaya terbangun di dalam kawasan sekitar mata air dalam radius 200 meter.

  d. Tidak diperkenankan melakukan pengeboran air bawah tanah pada radius 200 meter di sekitar mata air.

4. Ruang Terbuka Hijau (RTH): a. Dalam kws lindung, kawasan RTH tidak diperkenankan dialihfungsikan.

  64 No

  4 Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya kawasan ini meliputi kawasan suaka alam, kawasan suaka alam perairan lainnya, suaka margasatwa, taman nasional, taman hutan raya, taman wisata, kawasan cagar budaya dan

  1. Kawasan suaka alam & cagar alam:

  a. tidak diperkenankan dilakukan kegiatan budidaya yang mengakibatkan menurunnya fungsi kawasan suaka alam.

  b. boleh/diperkenankan dilakukan kegiatan penelitian, wisata alam dan kegiatan berburu yang tidak mengakibatkan penurunan fungsi kawasan.

  c. Pendirian bangunan dibatasi hanya untuk bangunan penunjang kegiatan pertanian, kuburan, dan rekreasi terbuka.

  b. Diperkenankan pemanfaatan ruang untuk kegiatan kuburan, hutan, dan rekreasi terbuka.

  d. Dalam kawasan ruang terbuka hijau masih diperkenankan dibangun fasilitas pelayanan sosial secara terbatas.

BAB III −

  RPI2JM - Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Zona/Kawasan Berdasarkan Pola Ruang Wilayah Kabupaten Deskripsi Ketentuan Umum Peraturan Zonasi

  ilmu pengetahuan

c. Boleh/ diperkenankan pembangunan prasarana wilayah, bangunan penunjang fungsi kawasan dan bangunan pencegah bencana alam .

2. Taman nasional: a.

  Dilarang ada keg. budidaya yang menyebabkan menurunnya fungsi kawasan.

  

b.

  Dalam kawasan taman nasional dilarang dilakukan penebangan pohon dan perburuan satwa yang dilndungi undang-undang.

  

c.

  Dalam kawasan taman nasional masih diperbolehkan dilakukan kegiatan penelitian dan wisata alam sepanjang tidak merusak lingkungan.

  

d.

  Dalam kawasan taman nasional masih diperbolehkan dilakukan pembangunan prasarana wilayah sepanjang tidak merusak atau mengurangi fungsi kawasan.

5 Kawasan Rawan Bencana

  3. Masih dapat dilakukan pembangunan prasarana penunjang untuk mengurangi resiko bencana alam & early warning system.

  4. Masih diperkenankan adanya keg budidaya lain seperti pertanian, perkebunan dan

  kehutanan serta bangunan untuk mengurangi resiko akibat bencana alam

  6 Kawasan Lindung Geologi merupakan kawasan yang memiliki keunikan baik dari jenis bebatuan, bentang alam, proses geologi maupun kawasan imbuhan air tanah, yang terdiri dari kawasan cagar alam geologi, kawasan rawan bencana alam geologi, dan kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah.

  1. Untuk kawasan yang termasuk ke dalam kawasan rawan bencana letusan gunung

  api (Gn Talang),yaitu pada cincin/ring ke 1 dan ke 2 tidak diperkenankan sama sekali untuk kegiatan permukiman.

  a. Ring 1, merupakan kawasan yang selalu terancam aliran lava, gas beracun, dan kemungkinan terkena aliran lava panas b. Ring 2, merupakan kawasan yang selalu terancam lontaran batu (pijar) dan hujan abu lebat

  2. Tidak diperkenankan adanya kegiatan budidaya permukiman.

BAB III −

  65 No

  Kawasan permukiman yg sudah terbangun di dalam kawasan rawan bencana alam harus dibatasi dan diterapkan building code; dilengkapi jalur evakuasi.

  Alam kawasan bencana alam dibedakan menjadi kawasan rawan tanah longsor, kawasan rawan gelombang pasang, dan kawasan rawan banjir 1.

  2. Penentuan lokasi dan jalur evakuasi dari permukiman penduduk. RPI2JM - Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Zona/Kawasan No Berdasarkan Pola Ruang Deskripsi Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Wilayah Kabupaten 3.

  Permukiman yang sudah terlanjur terbangun pada kws rawan bencana geologi harus mengikuti building code yang sesuai dengan potensi bencana geologi dan dibangun jalur evakuasi.

  4. Untuk kawasan yang masuk dalam Kawasan Bahaya I yaitu bahaya letusan gunung api, tidak diperkenankan sama sekali untuk kegiatan permukiman.

  5. Pada kawasan bencana alam geologi budidaya permukiman dibatasi dan

  bangunan yang ada harus mengikuti ketentuan bangunan pada kawasan rawan bencana alam geologi.

  6. Diperkenankan dilakukan budidaya pertanian, perkebunan dan kehutanan.

  5. Pada kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah tidak

  diperkenankan adanya bangunan terkecuali bangunan yang terkait dengan sistem jaringan prasarana wilayah dan pengendali air.

7. Dalam kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air tanah masih diperkenankan budidaya pertanian, perkebunan dan kehutanan secara terbatas.

  B Kawasan Budidaya 1.

1 Kawasan Peruntukan Kawasan budidaya hutan produksi,

  Pemanfaatan hasil hutan dibatasi untuk menjaga kestabilan neraca sumberdaya Hutan Produksi dibedakan menjadi hutan produksi hutan. terbatas, hutan produksi tetap, hutan 2.

  Kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi dapat dialihfungsikan untuk produksi yang dapat dikonversi kegiatan lain di luar kehutanan setelah potensi hutan tersebut dimanfaatkan dan sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

  3. Dalam kawasan hutan produksi, pembatasan pendirian bangunan hanya untuk menunjang kegiatan pengamanan kawasan dan pemanfaatan hasil hutan.

  4. Diperbolehkan dirubah fungsi menjadi hutan berfungsi lindung, sesuai ketentuan berlaku.

  66 BAB III − RPI2JM - Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  67 No

  Zona/Kawasan Berdasarkan Pola Ruang Wilayah Kabupaten Deskripsi Ketentuan Umum Peraturan Zonasi 5.

6. Diperbolehkan dibangun prasarana untuk kepentingan pemanfaatan hasil hutan dan pencegahan serta penanggulangan bencana.

  Pada kawasan budidaya pertanian lahan kering perkenankan adanya bangunan prasarana wilayah dan bangunan yang bersifat mendukung kegiatan pertanian lahan kering.

  c. Dalam kawasan pertanian masih diperkenankan dilakukan kegiatan wisata alam secara terbatas, penelitian dan pendidikan.

  b. Dalam kawasan pertanian lahan basah diperkenankan dimanfaatkan sebagai kegiatan perikanan.

  bangunan prasarana wilayah dan bangunan yang bersifat mendukung kegiatan pertanian lahan basah.

  a. Pada kawasan budidaya pertanian lahan basah perkenankan adanya

  1. Kawasan Pertanian Lahan Basah:

  3 Kawasan Peruntukkan Peruntukkan Pertanian kawasan peruntukan pertanian mencakup kawasan pertanian lahan basah, pertanian lahan kering dan holtikultura.

  2. Diperbolehkan dibangun prasarana untuk kepentingan pemanfaatan hasil hutan dan pencegahan serta penanggulangan bencana.

  yang dimungkinkan untuk berlokasi pada peruntukan lahan kawasan perkebunan, dan atau kawasan pertanian lahan basah dan kawasan pertanian lahan kering dan holtikultura.

  1. Pemanfatan lahan di kawasan ini dapat dimanfaatkan untuk kegiatan hutan rakyat

  2 Kawasan Hutan Rakyat Kawasan hutan rakyat adalah hutan yang tumbuh di atas tanah yang dibebani hak milik atau ulayat (adat) baik secara perseorangan/kelompok atau badan hukum sehingga secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup hayati beserta lingkungannya.

  Pada kawasan hutan rakyat, diperkenankan untuk pemanfaatan campuran dengan fungsi lain diantaranya perkebunan dan atau pertanian lahan kering serta hortikultura.

2. Kawasan Pertanian Lahan Kering a.

b. Diperbolehkan pemanfaatan untuk permukiman, peternakan, dan industri.

BAB III −

  RPI2JM - Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Zona/Kawasan Berdasarkan Pola Ruang Wilayah Kabupaten Deskripsi Ketentuan Umum Peraturan Zonasi c. Pengembangan sarana dan prasarana wisata agro secara terbatas.

  d.

  Pengembangan sarana dan prasarana industri agro.

e. Dapat dimanfaatkan untuk fungsi perkebunan rakyat.

4 Kawasan Peruntukkan

  2. Kawasan perkebunan yang dikelola perusahaan besar tidak diperkenankan merubah jenis tanaman perkebunan yang tidak sesuai dengan perizinan yang diberikan.

  3. Dalam kawasan perkebunan diperkenankan untuk dimanfaatkan sebagai hutan rakyat.

  4. Dalam kawasan perkebunan besar dan perkebunan rakyat diperkenankan adanya bangunan yang bersifat mendukung keg.perkebunan dan jaringan prasarana wilayah untuk kepentingan pemanfaatan hasil perkebunan serta untuk kepentingan pencegahan dan penanggulangan bencana.

  5. Diversifikasi tanaman perkebunan dapat dilaksanakan selama persyaratan teknis dipenuhi.

  68 No

  Kawasan perikanan meliputi perikanan tangkap dan budidaya perikanan. Untuk wilayah Kabupaten Solok hanya terdapat Kawasan perikanan budidaya

  1. Pada kawasan budidaya perikanan perkenankan adanya bangunan prasarana

  wilayah dan bangunan yang bersifat mendukung kegiatan perikanan; 2. Pada kawasa budidaya perikanan diperbolehkan pengembangan sarana dan prasarana perikanan.

  3. Pembatasan pemanfaatan sumber daya perikanan tidak melebihi potensi lestari.

  4. Pada kawasan perikanan yang juga dibebani fungsi wisata, pengembangan perikanannya tidak boleh merusak/mematikan fungsi pariwisata.

  5. Pemanfaatan kawasan perikanan tidak boleh mengakibatkan pencemaran

  1. Tidak diperkenankan penanaman jenis tanaman perkebunan yang bersifat menyerap air dalam jumlah banyak, terutama kawasan perkebunan yang berlokasi di daerah hulu/kawasan resapan air.

  Perkebunan Pengembangan kawasan perkebunan diarahkan dengan pemanfaatan potensi lahan yang memiliki kesesuaian untuk perkebunan, berada pada kawasan budidaya, dan menghindarkan timbulnya konflik pemanfaatan lahan dengan kawasan lindung, kawasan hutan produksi tetap dan produksi terbatas, kawasan industri, dan kawasan permukiman

  5 Kawasan Peruntukkan Perikanan

BAB III −

  RPI2JM - Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Zona/Kawasan Berdasarkan Pola Ruang Wilayah Kabupaten Deskripsi Ketentuan Umum Peraturan Zonasi lingkungan dan kerusakan lingkungan lainnya.

6 Kawasan Peruntukkan

  Pertambangan Kawasan pertambangan dibedakan atas: kws mineral &batubara; minyak dan gas bumi; kawasan panas bumi, serta air tanah di kawasan pertambangan

  1. Kegiatan pertambangan dibatasi untuk mencegah dampak lingkungan yang merugikan bagi lingkungan hidup biotik dan abiotik di dalamnya maupun disekitarnya.

  2. Pengharusan penjaminan segi-segi keselamatan pekerja dan keamanan lingkungan dalam penyediaan peralatan dan pelaksanaan kegiatan penambangan.

3. Pengharusan pemulihan rona bentang alam pasca penambangan, sesuai ketentuan yang berlaku bagi kawasan pertambangan.

  4. Pengembangan kawasan permukiman pendukung kegiatan pertambangan, harus diintegrasikan dengan pengembangan pusat – pusat kegiatan sesuai rencana pengembangan struktur ruang wilayah kabupaten.

  5. Tidak diperkenankan membangun kawasan permukiman eksklusif dalam kawasan pertambangan yang tidak diintegrasikan dengan rencana struktur ruang kabupaten.

7 Kawasan Peruntukkan

  3. Penyediaan sarana dan prasarana kawasan industri siap bangun.

  4. Diperbolehkan pengembangan kawasan permukiman baru pada kawasan

  peruntukan industri, dengan pembatasan hanya untuk permukiman yang menunjang kegiatan industri dan kegiatan buffer zone yang mampu meminimkan dampak bagi warga di kawasan permukiman dari kecelakaan industri.

  5. Diperbolehkan bagi permukiman penduduk yang sudah terlebih dulu bermukim di

BAB III −

  69 No

  Pemanfaatan kawasan industri diprioritaskan untuk mengolah bahan baku lokal menggunakan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia setempat.

  Industri 1.

  2. Pemanfaatan kawasan industri untuk menampung kegiatan aneka industri sesuai dengan karakteristik kawasan. RPI2JM - Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Zona/Kawasan No Berdasarkan Pola Ruang Deskripsi Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Wilayah Kabupaten

  kawasan peruntukan industri, tetapi dengan pembatasan kegiatan agar tidak mengakibatkan kecelakaan industri.

  1.

8 Kawasan Peruntukkan Kawasan peruntukan pariwisata adalah Pemanfaatan potensi alam dan budaya setempat sesuai daya dukung &daya

  Pariwisata kawasan yang didominasi oleh fungsi tampung lingkungan yang tidak menyebabkan rusaknya kondisi alam terutama kepariwisataan dapat mencakup yang menjadi obyek wisata alam. sebagian areal dalam kawasan lindung 2.

  Perlindungan situs warisan budaya setempat. atau kawasan budi daya lainnya di 3.

  Pembatasan pendirian bangunan non-pariwisata pada kawasan efektif pariwisata. mana terdapat konsentrasi daya tarik 4.

  Pengembangan sarana dan prasarana penunjang pariwisata. dan fasilitas penunjang pariwisata.

  5. Pengharusan penerapan ciri khas arsitektur daerah setempat pada setiap bangunan hotel dan fasilitas penunjang pariwisata.

  6. Pengharusan penyediaan fasilitas parkir.

  7. Dihimbau penggunaan tata busana adat daerah pada petugas jasa pariwisata sesuai dengan jenis jasa yang disediakan.

  1.

9 Kawasan Peruntukkan Kawasan permukiman merupakan

  Dalam kawasan permukiman dapat dimanfaatkan bagi kegiatan pariwisata, Permukiman kawasan di luar kawasan lindung yang perdagangan, jasa, industri, dan lahan kering.. digunakan sebagai lingkungan tempat 2.

  Pengharusan penerapan ketentuan tata lingkungan dan tata bangunan. tinggal atau lingkungan hunian 3.

  Pengharusan penyediaan kelengkapan, keselamatan bangunan dan lingkungan. masyarakat yang berada di wilayah 4.

  Pengharusan penetapan jenis dan penerapan syarat-syarat penggunaan perkotaan dan perdesaan, dengan bangunan. mempertimbangkan kelestarian 5.

  Pengharusan penyediaan kolam penampungan air hujan secara merata di setiap lingkungan dan diupayakan tidak bagian daerah yang rawan genangan air dan rawan banjir. melakukan peralihan fungsi terhadap 6.

  Pengharusan penyediaan fasilitas parkir bagi bangunan untuk kegiatan usaha. lahan pertanian teknis.

7. Kepadatan penghunian satu unit hunian untuk satu rumah tangga dalam kawasan

  permukiman setinggi-tingginya sama dengan standar kepadatan layak huni, tidak termasuk bangunan hunian yang terletak di dalam kawasan permukiman

  70 BAB III − RPI2JM - Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Zona/Kawasan No Berdasarkan Pola Ruang Deskripsi Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Wilayah Kabupaten tradisional.

8. Khusus untuk kawasan permukiman di Kawasan Perkotaan Arosuka (termasuk pusat pemerintahan Arosuka) ditetapkan KDB maksimum 40%.

  C Kawasan Sekitar Sistem Prasarana Nasional dan Wilayah di Kabupaten 1.

1 Sekitar Prasarana

  Di sepanjang kws sekitar sistem jaringan jalan nasional, provinsi dan kabupaten Transportasi tidak diperkenankan adanya kegiatan yang dapat menimbulkan hambatan lalu lintas regional.

  2. Di sepanjang kawasan sekitar sistem jaringan jalan nasional, provinsi dan

  kabupaten tidak diperkenankan bangunan dalam DAMIJA sesuai ketentuan yang berlaku.

  3. Bangunan di sepanjang kawasan sekitar sistem jaringan jalan nasional, provinsi

  dan kabupaten harus memilki sempadan bangunan yang sesuai dengan ketentuan setengah masing – masing jalan sesuai fungsi dan penetapan sempadannya.

  4. Pada kawasan sekitar sistem prasarana jalan Nasional dan Provinsi tidak

  diperbolehkan melakukan kegiatan isidential yang dapat menggangu kelancaran arus lalu lintas regional kecuali untuk kepentingan pembangunan jalan ataupun pembangunan prasarana umum lainnya dengan izin sesuai ketentuan yang berlaku.

  5. Pada kawasan sekitar prasarana jalan lokal primer maupun jalan strategis

  kabupaten tidak diperbolehkan melakukan kegiatan yang dapat menutup sebagian/seluruh jalan atau menghambat kelancaran lalu lintas, kecuali untuk kegiatan kepentingan umum dengan mendapatkan izin sesuai ketentuan berlaku.

  1.

2 Sekitar Prasarana Sumber

  Pemanfaatan ruang pada daerah aliran sungai dengan tetap menjaga kelestarian

  71 BAB III − RPI2JM - Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Zona/Kawasan No Berdasarkan Pola Ruang Deskripsi Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Wilayah Kabupaten

  Daya Air lingkungan dan fungsi lindung kawasan.

  2. Pemanfaatan ruang daerah aliran sungai lintas kabupaten/kota, termasuk daerah

  hulunya, yang dilakukan oleh kabupaten/kota yang berbatasan harus selaras dengan arahan pola ruang wilayah.

  3. Dilarang membangun bangunan maupun melakukan kegiatan sekitar prasarana

  sumber daya air yang dapat mengganggu, mencermarkan, dan merusak fungsi prasarana sumber daya air.

  1.

3 Sekitar Prasarana Energi

  Dilarang mendirikan bangunan dalam kawasan sempadan jaringan listrik SUTUT, SUTET, dan SUTM yang dapat mengganggu keamanan jaringan listrik maupun orang dalam bangunan tersebut.

  2. Dilarang melakukan kegiatan di sekitar prasarana pembangkit listrik maupun

  gardu induk distribusinya yang dapat membahayakan berfungsinya prasarana energi tersebut.

  3. Pada kawasan dibawah jaringan listrik SUTUT, SUTET, dan SUTM masih

  dimungkingkan/diperbolehkan kegiatan yang tidak intensif, diantaranya untuk kegiatan pertanian, perkebunan, kehutanan, RTH, perikanan, dan peternakan.

  1.

4 Sekitar Prasarana

  Tidak diperbolehkan adanya bangunan rumah dalam kawasan sekitar sistem Telekomunikasi prasarana telekomunikasi yang dapat mengganggu keamanan orang dalam bangunan tersebut.

  2. Diperbolehkan adanya bangunan rumah dengan ketentuan mempunyai radius minimum berjari – jari sama dengan tinggi menara.

  3. Dihimbau untuk menggunakan menara telekomunikasi secara bersama – sama diantara penyedia layanan komunikasi (provider).

  72 BAB III − RPI2JM - Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

3.2. ARAHAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) 3.2.1.

VISI DAN MISI PEMBANGUNAN

  Visi Kabupaten Solok Tahun 2016-2021, yaitu: “ TERWUJUDNYA MASYARAKAT KABUPATEN SOLOK YANG MAJU DAN

MANDIRI MENUJU KEHIDUPAN MASYARAKAT YANG MADANI DALAM

  NUANSA ADAT BASANDI SYARA’, SYARA’ BASANDI KITABULLAH” Penjabaran dari Visi tersebut adalah sebagai berikut :

  Kabupaten Solok : Meliputi wilayah dan seluruh isinya, artinya Kabupaten Solok dengan seluruh masyarakatnya yang berada dalam batas-batas yang telah ditetapkan.

  Maju : Artinya masyarakat yang cerdas dan atau masyarakat yang berpendidikan. Mandiri : Adalah masyarakat yang mandiri dalam kekuatan ekonomi keluarga dan mandiri dalam menciptakan kesehatan keluarga dan lingkungan yang sehat

  Kehidupan : Adalah masyarakat yang taat akan agama dan adat, masyarakat memiliki integritas, karakter dan mental sesuai dengan madani filosofi “ Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi

  Kitabullah” Dalam rangka mewujudkan Visi, maka disusun Misi yaitu rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan Visi. Rumusan misi merupakan penggambaran visi yang ingin dicapai dan menguraikan upaya-upaya apa yang harus dilakukan. Rumusan misi disusun untuk memberikan kerangka bagi tujuan dan sasaran serta arah kebijakan yang ingin dicapai dan menentukan jalan yang akan ditempuh untuk mencapai visi. Rumusan misi disusun dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan strategis, baik eksternal dan internal yang mempengaruhi serta kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang ada dalam pembangunan daerah.

  

RPI2JM - Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Tabel dibawah memperlihatkan keterkaitan antara visi dan misi yang telah ditetapkan oleh Kepala Daerah terpilih.

Tabel 3.25. Keterkaitan Visi dan Misi Kepala Daerah Visi

  Misi

  Mensukseskan Program Wajib Belajar (Wajar)

  12 Tahun Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat, Pembudayaan Hidup Bersih dan Lingkungan

  “ TERWUJUDNYA MASYARAKAT Sehat

KABUPATEN SOLOK YANG MAJU DAN

  Meningkatkan Peluang dan Akses Ekonomi

MANDIRI MENUJU KEHIDUPAN

  Masyarakat yang Lebih Luas, didukung oleh

MASYARAKAT YANG MADANI DALAM

  Sarana dan Prasarana Infrastruktur yang NUANSA ADAT BASANDI SYARA’,

  Memadai SYARA’ BASANDI KITABULLAH”

  Membangun Karakter Masyarakat sesuai Filosofi ‘Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah” Memantapkan Penyelenggaraan Pemerintahan yang baik dan bersih

Tabel 3.26. Keterkaitan Antara Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran

  

RPJMD Kabupaten Solok Tahun 2016-2021

  VISI : Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Solok Yang Maju dan Mandiri Menuju

Kehidupan Masyarakat Madani Dalam Nuansa Adat Basandi Syara’, Syara’

Basandi Kitabullah

NO MISI TUJUAN SASARAN

1 Mensukseskan Program Mewujudkan pendidikan Pemenuhan pendidikan Pra

  Wajib Belajar (Wajar) 12 Sekolah di setiap Jenjang Tahun

  Pendidikan Pemenuhan pendidikan penduduk kelompok usia 7-

  15 Tahun yang berkualitas Peningkatan Sekolah yang menerapkan SPM pendidikan Meningkatkan kurikulum pendidikan karakter dan revolusi mental sesuai ABS SBK RPI2JM - Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Meningkatkan fasilitasi pendidikan menengah Mewujudkan prestasi kepemudaan dan olah raga

  Meningkatkan prestasi pemuda dan olah raga

2 Meningkatkan Derajat

  Meningkatkan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan yang berkualitas serta upaya pencegahan dan promosi kesehatan Meningkatkan kesadaran individu, keluarga dan masyarakat dalam lingkungan sehat Meningkatkan pengendalian jumlah penduduk sesuai daya dukung dan daya tampung lingkungan Meningkatkan penanggulangan PMKS

  Mewujudkan kualitas lingkungan hidup yang lestari

  Meningkatkan kualitas lingkungan hidup berbasis tata ruang

  Mewujudkan kuantitas dan kualitas Perumahan dan Permukiman yang sehat

  Mewujudkantaraf kesehatan dan kualitas Hidup masyarakat

  3 Meningkatkan Peluang dan Akses Ekonomi Masyarakat yang Lebih Luas, didukung oleh Sarana dan Prasarana Infrastruktur yang Memadai

  Memperkuat kedaulatan pangan Terjaganya ketersediaan pangan Peningkatan diversifikasi pangan Meningkatkan keamanan pangan segar

  Mewujudkan pembangunan pertanian dan perikanan berbasis kawasan dengan fokus komoditas unggulan dan andalan

  Meningkatkan kesejahteraan petani dan pembudidaya ikan Mewujudkan pembangunan kepariwisataan

  Meningkatkan daya saing pariwisata daerah Mewujudkan produktifitas koperasi

  Meningkatkan produksi UMKM, IKM, Koperasi,

  Kesehatan Masyarakat, Pembudayaan Hidup Bersih dan Lingkungan Sehat

  Meningkatkan pemenuhan sarana dan prasarana perumahan dan permukiman yang layak RPI2JM - Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  dan UMKM Lembaga Keuangan Nagari dan Ekonomi Kreatif yang mandiri dan Profesional

  Mewujudkan infrastruktur daerah dalam rangka menunjang pembangunan ekonomi

  Meningkatkan infrastruktur dasar daerah Meningkatkan infrastruktur penunjang ekonomi daerah

  Mendorong investasi dan Perluasan Kesempatan Kerja

  Meningkatkan realisasi investasi pada sektor ekonomi unggulan Meningkatkan tenaga kerja yang profesional dan berdaya saing, serta memperluas kesempatan kerja

  4 Membangun karakter masyarakat sesuai filosofi “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah, didukung oleh Pemerintahan Nagari (Nagari Adat) Kuat dengan meningkatkan peran Tungku Tigo Sajarangan (Ninik Mamak, Alim Ulama dan Cerdik Pandai) dan lembaga sosial kemasyarakatan lainnya.

  Mewujudkan implementasi ABS-SBK ditengah-tengah masyarakat dan aparatur pemerintah daerah

  Meningkatkan implementasi masyarakat dan aparatur pemerintah yang madani, berbudaya serta berkarakter sesuai dengan ABS-SBK

  Memperkuat kelembagaan adat dan Peran Pemangku Adat

  Penguatan kelembagaan adat dan pemangku adat

5. Memantapkan

  Penyelenggaraan Pemerintahan yang baik dan bersih

  Mewujudkan birokrasi yang baik dan bersih, profesional serta pro rakyat

  Meningkatkan pelayanan publik yang prima di tingkat nagari, kecamatan dan kabupaten Meningkatkan pendayagunaan aparatur pemerintah daerah yang profesional Peningkatan kinerja pengelolaan keuangan dan aset daerah didukung oleh aparatur yang profesional Meningkatkan kinerja pengawasan penyelenggaran pemerintah daerah yang profesional RPI2JM - Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah

KABUPATEN SOLOK

  Meningkatkan sistem perencanaan dan penganggaran yang efisien dan efektif Meningkatkan pembangunan e-goverment yang didukung oleh saranba dan prasarana yang memadai serta SDM yang profesional

  Mewujudkan perlindungan, pelayanan dan pemberdayaan masyarakat dengan mengedepankan pengarusutamaan gender dan hak-hak anak

  Meningkatkan TRANTIBMAS (Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat) dan Penyelengaraan perlindungan Masyarakat Peningkatan perlindungan terhadap perempuan dan anak

  Mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan nagari dan kelembagaan nagari

  Meningkatkan fasilitasi terhadap pemerintahan nagari dan kelembagaan nagari

  Mewujudkan kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana

  Menjadikan Kabupaten Solok yang siaga bencana Berdasarkan keterkaitan antara visi, Misi, tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan diatas, maka dapat ditetapkan indikator sasaran yang akan dicapai setiap tahunnya.

3.2.2. ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN

  Strategi merupakan langkah-langkah yang berisi program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Strategi adalahsalah satu rujukan penting dalam perencanaan pembangunan daerah (strategy focussed-management). Rumusan strategi tersebut berupa pernyataan yang menjelaskan bagaimana tujuan dan sasaran akan dicapai yang selanjutnya diperjelas dengan serangkaian arah kebijakan. Arsitektur perencanaan pembangunan daerah dipisahkan menjadi dua:

  1. Perencanaan Strategik yaitu perencanaan pembangunan daerah yang menekankan pada pencapaian visi dan misi pembangunan daerah.

  2. Perencanaan Operasional yaitu perencanaan yang menekankan pada pencapaian kinerja layanan pada tiap urusan.

  Perencanaan strategik sekaligus dimaksudkan untuk menerjemahkan visi dan misi kepala daerah ke dalam rencana kerja yang actionable.Segala sesuatu yang secara langsung dimaksudkan untuk mewujudkan tujuan dan sasaran RPJMD maka dianggap strategis.

  Perencanaan strategik didukung oleh keberhasilan kinerja dari implementasi perencanaan operasional dengan kerangka sebagaimana dijelaskan dalam bagan berikut ini:

Gambar 3.5. Pemisahan Rencana Strategis dan Operasional

  Disamping Strategi, hal yang penting lainnya adalah menentukan arah kebijakan yang merupakan pedoman untuk mengarahkan rumusan strategi yang dipilih agar lebih terarah dalam mencapai tujuan dan sasaran dari waktu ke waktu selama 5 (lima) tahun. Rumusan arah kebijakan merasionalkan pilihan strategi agar memiliki fokus dan sesuai dengan pengaturan pelaksanaannya.

  − Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan komprehensif tentang bagaimana Pemerintah Kabupaten Solok melakukan upaya untuk mencapai visi, misi, tujuan dan sasaran serta target kinerja RPJMD dengan efektif dan efisien selama 5 (lima) tahun ke depan.

  Berkenaan dengan visi,misi, tujuan dan sasaran yang telah dipaparkan pada Bab sebelumnya, selanjutnya disusun strategi dan arah kebijakan yang selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 3.27. Strategi dan Arah Kebijakan Misi 1

  VISI : Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Solok Yang Maju Dan Mandiri Menuju Kehidupan Masyarakat Yang Madani Dalam Nuansa Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah MISI 1 : Mensukseskan Wajib Belajar 12 Tahun TUJUAN SASARAN STRATEGI ARAH KEBIJAKAN

  2

  3

  4

  5 Tujuan 1: Pemenuhan pendidikan Meningkatkan Menyiapkan sarana dan Mewujudkan pra sekolah pendidikan pra sekolah prasarana pendidikan pra pendidikan di

  sekolah

  semua jenjang

  Pemenuhan pendidikan Meningkatkan Menyiapkan sarana dan

  pendidikan

  penduduk kelompok usia pemenuhan hak prasarana pendidikan 7-15 tahun yang pendidikan Wajar

  9 Menggratiskan biaya berkualitas tahun (sampai lulus) pendidikan dasar. Penyediaan bantuan utk anak kurang mampu agar dapat mengikuti pendidikan dasar.

  Meningkatan pengalokasian Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)

  Meningkatkan Menyediakan pendidikan pendidikan kesetaraan kesetaraan Paket A, Paket B dan pendidikan non dan pendidikan non formal formal lainnya lainnya

  Retrival, menjemput kembali

  anak sekolah yang drop out

  Delay school, menjemput

  kembali anak sekolah yang tertunda melanjutkan pendidikan bagi tamatan SD/MI dan SLTP

  −

  −

  Meningkatkan prestasi kepemudaan dan olah raga

  Meningkatkan penataan sistem rujukan pelayanan kesehatan kepada

  Peningkatan pelayanan yang luas untuk rujukan kesehatan bagi

  Meningkatkan pelayanan puskesmas dan fasilitas ambulace 24 jam Meningkatkan pengendalian penyakit menular dan tidak menular

  Peningkatan pelayanan kesehatan dasar, pengendalian penyakit menular dan tidak menular

  Meningkatkan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan yang berkualitas serta upaya pencegahan dan promosi kesehatan

  4 Tujuan 1 : Mewujudkan Taraf Kesehatan dan Kualitas Hidup Masyarakat

  3

  2

  1

  VISI : Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Solok Yang Maju Dan Mandiri Menuju

Kehidupan Masyarakat Yang Madani Dalam Nuansa Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi

Kitabullah

MISI 2 : Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, pembudayaan hidup bersih dan

lingkungan sehat

Tabel 3.28. Strategi dan Arah Kebijakan Misi 2

  Peningkatan prestasi pemuda dan olah raga Peningkatan Organisasi kepemudaan dan cabang olah raga

  Tujuan 2 : Mewujudkan Prestasi Kepemudaan dan Olah Raga

  meningkatkan sarana dan prasarana perpustakaan daerah

  Pemenuhan fasilitasi pendidikan menengah Penyediaan bantuan untuk anak kurang mampu agar dapat mengikuti pendidikan menengah.

  Meningkatkanfasilitasi Pendidikan Menengah

  Penyusunan kurikulum pendidikan karakter dan revolusi mental dan muatan lokal

  Menyusun kurikulum pendidikan karakter dan revolusi mental sesuai ABS-SBK

  Meningkatkan kurikulum pendidikan karakter dan revolusi mental sesuai ABS-SBK

  Meningkatkan minat tenaga pendidik dalam menulis Peningkatan akreditasi SD dan SLTP menjadi akreditasi A

  Meningkatkan pemerataan Mutu Pendidikan dan kualitas pembelajaran.

  yang menerapkan SPM pendidikan Peningkatan Sekolah yang menerapkan SPM pendidikan

  4 Peningkatan Sekolah

  3

  2

  1

  Meningkatkan minat baca masyarakat

TUJUAN SASARAN STRATEGI ARAH KEBIJAKAN

  −

  Meningkatkan Pemberian pelayanan social bagi PMKS

  Peningkatan konservasi lingkungan hidup dan sumber daya alam

  Meningkatkan kualitas lingkungan hidup berbasis tata ruang

  4 Tujuan 2 : Mewujudkan Kualitas Lingkungan Hidup yang lestari

  3

  2

  1

  Pendayagunaan dan Pemberberdayaan PSKS dalam penangganan PMKS

  Meningkatkan peran dan fungsi potensi sumber kesejahteraan Sosial (PSKS) dalam penangganan PMKS

  Meningkatkan Rehabilitasi Sosial, pemberdayaan social, jaminan social dan perlindungan sosial

  Meningkatnya Penanggulangan PMKS

  masyarakat miskin masyarakat miskin Peningkatan standar pelayanan rumah sakit

  Pembentukan, Pembinaan dan Pengembangan Bina Keluarga (BKB, BKR, BKL) dan UPPKS

  Peningkatan Ketahanan dan pemberdayaan keluarga

  Pembentukan, Pembinaan dan Pengembangan Pusat Informasi Konseling- Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR)

  Meningkatkan Kelestarian dan kemandirian peserta KB Sosialisasi kesehatan reproduksi remaja dan Pendewasaan Usia Perkawinan

  Meningkatkan kualitas dan kuantitas peserta KB

  Meningkatkan pengendalian jumlah penduduk sesuai daya tampung dan daya dukung lingkungan

  Meningkatkan Jorong siaga Meningkatkan sanitasi berbasis masyarakat

  Penguatan pemberdayaan masyarakat, kerjasama dan kemitraan dalam lingkungan sehat melalui kampaye hidup sehat

  Meningkatkan kesadaran individu, keluarga dan masyarakat dalam lingkungan sehat

  Meningkatkan sarana dan parasarana serta manajemen rumah sakit

  Meningkatkan pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup Mengurangi Kerusakan Kawasan Hutan Mengurangi Lahan Kritis di dalam dan diluar kawasan hutan Melindungi Kawasan Hutan dan Memberdayakan KPHL Peningkatkan Mewujudkan harmonisasi perencanaan dan dalam pemanfaatan, pengendalian penataan dan pengendalian pemanfaatan ruang ruang pada seluruh wilayah untuk mewujudkan tata

  Peningkatan Ruang Terbuka ruang wilayah yang Hijau efisien, berkelanjutan dan berdaya saing

  Meningkatkan Peningkatan Meningkatkan upaya

  Tujuan 3:

Mewujudkan pemenuhan sarana dan pencapaian universal penanganan kawasan kumuh

kuantitas dan prasarana perumahan akses 100-0-100 dan secara terpadu kualitas

  dan permukiman yang meningkatan penyediaan

  perumahan dan

  layak prasarana dan sarana umum

  permukiman

  (PSU) kawasan perumahan

  yang layak

  dan permukiman agar terwujudnya aksesilibitas masyarakat terhadap hunian yang layak Meningkatkan dan memfasilitasi penyediaan rumah layak huni bagi MBR Meningkatkan kuantitas dan kualitas infrastruktur perdesaan Meningkatkan jumlah penduduk yang memiliki akses terhadap air minum yang layak Meningkatkan jumlah penduduk yang memiliki akses terhadap sanitasi yang layak

Tabel 3.29. Strategi dan Arah Kebijakan Misi 3

  VISI : Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Solok Yang Maju Dan Mandiri Menuju

Kehidupan Masyarakat Yang Madani Dalam Nuansa Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi

Kitabullah

MISI 3 : Meningkatkan peluang dan akses ekonomi masyarakat yang lebih luas, didukung

oleh sarana dan prasarana infrastruktur yang memadai

TUJUAN SASARAN STRATEGI ARAH KEBIJAKAN

  −

  −

  1

  2

  3

  4 Tujuan 1 : Memperkuat Kedaulatan Pangan

  Terjaganya ketersediaan pangan Peningkatan ketersediaaan pangan

  Mengembangkan ketersediaan pangan pada kondisi khusus

  Peningkatan distribusi dan aksesibilitas pangan Mengoptimalkan pendampingan distribusi pangan Meningkatkan aksesibilitas pangan

  Peningkatan diversifikasi pangan Peningkatan konsumsi pangan yangberagam dan berkualitas yang berbasis pangan lokal

  Memanfaatkan pekarangan dan mengembangkan penganekaragaman olahan pangan lokal Mengembangkan penganekaragaman olahan pangan lokal

  Meningkatkan keamanan pangan segar Peningkatan pembinaan dan pengawasan keamanan pangan segar

  Meningkatkan pengawasan mutu dan standarisasi produk pertanian Meningkatkan keamanan pangan segar asal tumbuhan dan pangan segar asal hewan

  Tujuan 2 : Mewujudkan Pembangunan Pertanian dan Perikanan Berbasis Kawasan dengan Fokus Komoditas Unggulan dan andalan

  Meningkatkan kesejahteraan petani dan pembudidaya ikan

  Peningkatan produksi dan produktifitas komoditas unggulan dan andalan pertanian secara intensifikasi dan ekstensifikasi (padi dan palawija, hortikultura, perkebunan, dan peternakan) di kawasan sentra produksi/ agropolitan

  Mencegah alih fungsi lahan Meningkatkan penyediaan dan pengembangan sarana dan prasarana produksi pertanian, dan pasca panen Meningkatkan penyediaan bibit dan benih unggul, dan pengembangan logistik bibit dan benih Meningkatkan pengendalian hama dan penyakit tanaman Meningkatkan Kuantitas dan Kualitas Benih dan Bibit Meningkatkan pemberdayaan UPT Pembibitan Meningkatkan pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan, dan penyakit zoonosis Meningkatkan kapasitas penyuluh dan peningkatan SDM petani dalam pemanfaatan inovasi dan teknologi Meningkatkan penguatan kelembagaan petani

  −

  Peningkatan produksi perikanan budidaya dan perairan umum yang berkelanjutan

  Menyediakan induk unggul dan benih ikan bermutu Meningkatkan pemberdayaan Balai Benih Ikan dan Unit Perbenihan Rakyat Meningkatkan sarana dan prasarana budidaya Memfasilitasi peningkatan produksi unit pengolah pakan ikan mandiri, dan subsidi pakan ikan Meningkatkan sarana dan prasarana perikanan tangkap

  Peningkatan nilai tambah hasil pertanian dan perikanan/ agro industri

  Meningkatkan sarana dan prasarana agroindustri Meningkatkan mutu, standardisasi, promosi, kemitraan, dan jaringan pasar produk

  Tujuan 3 : Mewujudkan Pembangunan Kepariwisataan

  Meningkatkan daya saing pariwisata daerah Peningkatan Pembangunan dan pengembangan destinasi pariwisata unggulan daerah pada Kawasan Danau Singkarak, Taman Hutan Kota Terpadu (THKT) dan Kawasan Danau Kembar

  Meningkatkan pembangunan dan pengembangan Kawasan Danau Singkarak, Taman Hutan Kota Terpadu (THKT) dan Kawasan Danau Kembar oleh Pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan kemitraan Meningkatkan pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana pariwisata Menyediakan lahan pengembangan pariwisata Meningkatkan pemberdayaan masyarakat Mengembangkan kebudayaan dan pariwisata

  Peningkatan pemasaran kepariwisataan daerah yang sinergis

  Mengembangkan kerjasama pemasaran pariwisata daerah yang sinergis antar stakeholder pariwisata dan antar kawasan Meningkatkan promosi pariwisata Mengembangkan festival/ even berbasis budaya dan atraksi

  Peningkatan pembangunan dan pengembangan industri

  Meningkatkan keragaman industri pariwisata dan ekonomi kreatif daerah

  −

  Meningkatkan pembinaan kelembagaan, manajemen dan diversifikasi produk Meningkatkan faslitasi penguatan permodalan bagi UMKM, IKM dan ekonomi kreatif Membangun dan mengembangkan tempat pemasaran Produk Unggulan Daerah di pintu masuk Kabupaten Memperluas dan meningkatkan akses pemasaran Revitalisasi pasar dan tradisional yang higienis dan tepat ukur

  Meningkatkan dan memfasilitasi pembangunan dan pengembangan infrastruktur dasar dan penunjang ekonomi Pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan di daerah perbatasan dan tertinggal

  Meningkatkan infrastruktur dasar daerah Pemenuhan kuantitas dan kualitas infrastruktur dasar dan penunjang ekonomi dalam rangka konektivitas antar wilayah (pedesaan dan perkotaan)

  Tujuan 5 : Mewujudkan infrastruktur daerah terutama dalam rangka menunjang pembangunan ekonomi

  Pengembangan usaha melalui koperasi Meningkatkan Pembinaan manajemen dan usaha koperasi Meningkatkan penumbuhan koperasi sektor riil

  Meningkatkan nilai tambah PUD, peningkatan packaging, standardisasi, dan sertifikasi produk

  Peningkatan standardisasi mutu dan sertifikasi produk

  Peningkatan produksi dan produktifitas koperasi, usaha mikro, kecil dan menengah yang berdaya saing, mandiri dan profesional

  pariwisata dan ekonomi kreatif daerah Meningkatkan kemitraan dan standardisasi usaha pariwisata

  Melanjutkan pemberian izin gratis bagi usaha sektor informal yang tumbuh bai usaha mikro dan kecil

  Pemberian kemudahan formalisasi badan usaha (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah)

  Meningkatkan produksi UMKM, IKM, Koperasi, Lembaga Keuangan Nagari dan Ekonomi Kreatif yang mandiri dan profesional

  Tujuan 4 : Mewujudkan Produktivitas Koperasi dan UMKM

  Meningkatkan kapasitas dan kuantitas SDM dan kelembagaan pariwisata yang berkarakter dan berjiwa enterpreneurship

  Peningkatan kapasitas SDM dan kelembagaan kepariwisataan daerah

  Meningkatkan fasilitasi penyediaan infrastruktur ketenagalistrikan meningkatan cakupan dan akses masyarakat terhadap ketenagalistrikan Meningkatkan Pemenuhan kuantitas Meningkatkan dan infrastruktur penunjang dan kualitas infrastruktur memfasilitasi pembangunan ekonomi daerah penunjang ekonomi dan pengembangan dalam rangka infrastruktur penunjang peningkatan ekonomi kesejahteraan masyarakat

  1

  2

  3

  4 Tujuan 6 : Meningkatkan realisasi Peningkatan realisasi Mendorong masuknya

Mendorong investasi pada sektor investasi pada sektor investasi di sektor pertanian

Investasi dan ekonomi unggulan pertanian dan pariwisata, dan pariwisata dengan Perluasan daerah serta sektor lainnya memberikan kemudahan Kesempatan

  Meningkatkan promosi dan

  Kerja

  pengendalian pelaksanaan investasi Meningkatkan tenaga Peningkatan kualitas Meningkatkan kapasitas kerja yang berkualitas tenaga kerja yang berdaya tenaga kerja sesuai pasar dan berdaya saing, saing tenaga kerja serta memperluas

  Perluasan kesempatan Meningkatkan kapasitas kesempatan kerja kerja tenaga kerja sesuai pasar tenaga kerja

Tabel 3.30. Strategi dan Arah Kebijakan Misi 4

  VISI : Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Solok Yang Maju Dan Mandiri Menuju

Kehidupan Masyarakat Yang Madani Dalam Nuansa Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi

Kitabullah MISI 4 : Membangun karakter masyarakat sesuai filosofi “Adat Basandi Syara’, Syara’

Basandi Kitabullah, didukung oleh Pemerintahan Nagari (Nagari Adat) kuat dengan

meningkatkan peran Tungku Tigo Sajarangan (Ninik Mamak, Alim Ulama dan Cerdik

Pandai) dan lembaga sosial kemasyarakatan lainnya. NO SASARAN STRATEGI ARAH KEBIJAKAN

  1

  2

  3

  4 Tujuan 1 : Meningkatkan Meningkatkan fungsi Peningkatan kegiatan Mewujudkan implementasi dan aktivitas mesjid keagamaan Implementasi ABS-

  masyarakat yang

  SBK ditengah-

  madani, berbudaya

  tengah masyarakat

  serta berkarakter

  dan aparatur

  sesuai dengan ABS-

  − SBK

  pemerintah daerah

  Penguatan Meningkatkan fungsi Memperkuat kelembagaan kelembagaan adat dan kelembagaan adat dan KAN sebagai pendukung pemangku adat pemangku adat utama Nagari Adat

Tabel 3.31. Strategi dan Arah Kebijakan Misi 5

  VISI : Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Solok Yang Maju Dan Mandiri Menuju

Kehidupan Masyarakat Yang Madani Dalam Nuansa Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi

Kitabullah

MISI 5 : Memantapkan penyelenggaraan pemerintah yang baik dan bersih (good and clean

governance)

  No. SASARAN STRATEGI ARAH KEBIJAKAN

  1

  2

  3

  4 Tujuan 1 : Meningkatkan Peningkatan pelayanan Peningkatan pelaksanaan Mewujudkan

  pelayanan publik yang yang mudah, cepat, kinerja sesuai tugas dan

  birokrasi yang

  prima di tingkat transparan dan akuntabel fungsi

  baik dan bersih,

  Nagari, Kecamatan

  profesional serta

  Peningkatan sarana dan dan Kabupaten

  Pro rakyat

  prasarana pendukung Peningkatan Kapasitas fungsi legislatif Peningkatan Pelayanan Admistrasi kependudukan dan capil Peningkatan Kualitas Pelayanan Kearsipan

  Peningkatan penyediaan Meningkatkan penyediaan dan pemeliharaan sarana dan Pemeliharaan sarana dan prasarana dan prasarana pemerintahan pemerintahan

  Meningkatkan Peningkatan mutu dan Meningkatkan pendayagunaan Pengelolaan kepegawaian pengembangan mutu dan aparatur pemerintah untuk pemenuhan pengelolaan kepegawaian daerah yang pelayanan prima

  Mengembangkan teknologi profesional informasi dalam manajemen kepegawaian

  Peningkatan kinerja Peningkatan kinerja Meningkatkan transparansi pengelolaan keuangan pengelolaan keuangan dan dan akuntabilitas keuangan dan aset daerah yang aset daerah dan aset daerah berbasis didukung oleh aparatur akrual yang profesional

  Peningkatan tertib administrasi keuangan

  −

  −

  Meningkatkan penguatan implementasi regulasi sistem perencanaan dan penganggaran Meningkatkan kapasitas aparatur perencana

  Peningkatan penyelengaraan TRANTIBMAS dan perlindungan masyarakat

  Meningkatkan TRANSTIBMAS (Ketertiban umum dan ketentraman Masyarakat) dan

  Tujuan 2 : Mewujudkan perlindungan, pelayanan dan pemberdayaan

  Menyusun Regulasi dan Penguatan Implementasi Sistem Komunikasi dan Informatika yang efektif dan efisien Peningkatan kapasitas SDM dan Kelembagaan Komunikasi dan Informatika membangun dan mengembangkan sarana dan prasarana komunikasi dan informatika

  Penyediaan sarana dan prasarana komunikasi dan informasi yang memadai dan SDM yang profesional.

  Meningkatkan pembangunan e- goverment yang didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai serta SDM yang profesional

  Peningkatan sistem perencanaan yang terpadu (dari nagari sampai Kabupaten)

  Meningkatkan kapasitas aparatur pengelola keuangan dan aset daerah

  Meningkatkan sistem perencanaan dan penganggaran yang efisien dan efektif

  Meningkatkan kapasitas dan kuantitas SDM dan sarana penunjang pengawasan Penyusunan dan implementasi regulasi sistem pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang efisien dan efektif secara transparan dan akuntabel

  Peningkatan pengawasan dan pembinaan penyelenggaraan pemerintah daerah

  Meningkatkan kinerja pengawasan penyelenggaraan pemerintah daerah yang profesional

  Menyusun regulasi dan penguatan impelementasi pengelolaan pendapatan daerah Meningkatkan intensifikasi dan ekstensifikasi pendapatan daerah meningkatkan pengawasan dan pengendalian pengelolaan pendapatan daerah Meningkatkan kapasitas dan kuantitas aparatur pengelola pendapatan daerah

  Peningkatan kinerja pengelolaan pendapatan daerah

  Meningkatkan kualitas dan kapasitas SDM dan sarana prasarana pendukung penyelengaraan TRANTIBMAS

  − masyarakat dengan mengedepankan pangarustamaan gender dan hak- hak anak

  Peningkatan kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana

  b. Mempertegas hak dan kewajiban penyelenggara/ penanggung jawab penyelenggaraan bangunan gedung.

  a. Mempertegas tanggungjawab dan kewenangan Pemerintah Kabupaten Solok dalam hal penyelenggaraan bangunan gedung.

  e. Menggairahkan kebersamaan semua unsur (pemerintah, penyelenggara/ penanggungjawab, badan kemasyarakatan, dan masyarakat umum) dalam upaya pembangunan (khususnya dalam hal penyelenggaraan bangunan gedung). Adapun kegunaan Peraturan Daerah tentang bangunan gedung ini adalah :

  a. Mewujudkan penyelenggaraan bangunan gedung di Kabupaten Solok berjalan dengan tertib, baik secara administratif maupun secara teknis; b. Mewujudkan bangunan yang fungsional dan sesuai dengan tata bangunan yang serasi dan selaras dengan lingkungannya; c. Mewujudkan tertib penyelenggaraan bangunan gedung yang menjamin keandalan teknis bangunan dari segi keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan; d. Menjamin kepastian dan ketertiban hukum dalam penyelenggaraan bangunan gedung;

  Peraturan Daerah tentang bangunan gedung Kabupaten Solok ini bertujuan untuk :

  Meningkatan kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana

  Menjadikan Kabupaten Solok yang siaga bencana

  Penyelengaraan perlindungan Masyarakat

  Tujuan 4 : Mewujudkan Kesiapsiagaan dan Penanggulangan Bencana

  Pelaksanaan fasilitasi Peningkatan kapasitas aparat dan kelembagaan nagari

  Meningkatkan fasilitasi terhadap pemerintahan nagari dan kelembagaan nagari

  Tujuan 3: Mewujudkan Penyelenggaraa n Pemerintahan Nagari dan Kelembagaan Nagari

  Fasilitasi Perlindungan perempuan dan anak Peningkatan pengarustamaan dan perlindungan perempuan dan anak

  Peningkatan perlindungan terhadap perempuan dan anak

  Mendorong penyusunan dan implementasi regulasi Penyelengaraan TRANTIBMAS (Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat) dan perlindungan Masyarakat

3.3. ARAHAN PERDA BANGUNAN GEDUNG

3.3.1. TUJUAN DAN KEGUNAAN

  −

  c. Menjadi pedoman bagi Pemerintah Kabupaten Solok untuk melakukan perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pemamfaatan atas penyelenggaraan bangunan gedung, menurut wewenang, tugas, dan tanggung jawabnya.

  d. Menjadi pedoman bagi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Solok untuk berperan dalam perencanaan, dan pengawasan atas penyelenggaraan bangunan gedung, menurut wewenang, tugas dan tanggungjawabnya.

  e. Menjadi pedoman bagi penyelenggara/ penanggung jawab penyelenggaraan bangunan untuk melakukan perencanaan dan pelaksanaan, menurut kewajiban dan haknya.

  f. Menjadi pedoman bagi masyarakat untuk melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan atas penyelenggaraan bangunan, menurut hak dan kewajibannya.

3.3.2. PENGATURAN DIDALAM PERDA BANGUNAN GEDUNG

1. FUNGSI DAN KLASIFIKASI BANGUNAN GEDUNG

  Fungsi bangunan gedung merupakan ketetapan mengenai pemenuhan persyaratan teknis bangunan gedung ditinjau dari segi tata bangunan dan lingkungan maupun keandalannya serta sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam RTRW Kabupaten dan/atau RTBL Kabupaten. Fungsi bangunan gedung meliputi:

  a. bangunan gedung fungsi hunian, dengan fungsi utama sebagai tempat tinggal;

  b. bangunan gedung fungsi keagamaan dengan fungsi utama sebagai tempat melakukan ibadah; c. bangunan gedung fungsi usaha dengan fungsi utama sebagai tempat melakukan kegiatan usaha; d. bangunan gedung fungsi sosial dan budaya dengan fungsi utama sebagai tempat melakukan kegiatan sosial dan budaya; e. bangunan gedung fungsi khusus dengan fungsi utama sebagai tempat melakukan kegiatan yang mempunyai tingkat kerahasiaan tinggi dan/atau tingkat risiko bahaya tinggi; dan f. bangunan gedung lebih dari satu fungsi.

  Bangunan gedung fungsi hunian dengan fungsi utama sebagai tempat tinggal dapat berbentuk:

  a. bangunan rumah tinggal tunggal;

  b. bangunan rumah tinggal deret;

  c. bangunan rumah tinggal susun; dan d. bangunan rumah tinggal sementara. Bangunan gedung fungsi keagamaan dengan fungsi utama sebagai tempat melakukan ibadah keagamaan dapat berbentuk bangunan masjid, bangunan mushalla, dan bangunan surau; Bangunan gedung fungsi usaha dengan fungsi utama sebagai tempat melakukan kegiatan usaha dapat berbentuk: a. bangunan gedung perkantoran seperti bangunan perkantoran nonpemerintah dan sejenisnya; b. bangunan gedung perdagangan seperti bangunan pasar, pertokoan, pusat perbelanjaan, mal dan sejenisnya; c. bangunan gedung pabrik; d. bangunan gedung perhotelan seperti bangunan hotel, penginapan dan sejenisnya;

  e. bangunan gedung wisata dan rekreasi seperti tempat rekreasi, bioskop dan sejenisnya;

  f. bangunan gedung terminal seperti bangunan stasiun kereta api, terminal bus angkutan umum, halte bus, dan g. bangunan gedung tempat penyimpanan sementara seperti bangunan gudang, gedung parkir dan sejenisnya. Bangunan gedung sosial dan budaya dengan fungsi utama sebagai tempat melakukan kegiatan sosial dan budaya dapat berbentuk: a. bangunan gedung pelayanan pendidikan seperti bangunan sekolah taman kanak kanak, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi, kursus dan semacamnya; b. bangunan gedung pelayanan kesehatan seperti bangunan puskesmas, poliklinik, rumah bersalin, rumah sakit termasuk panti-panti dan sejenisnya; c. bangunan gedung kebudayaan seperti bangunan museum, gedung kesenian, bangunan gedung adat dan sejenisnya; d. bangunan gedung laboratorium seperti bangunan laboratorium fisika, laboratorium kimia, dan laboratorium lainnya, dan e. bangunan gedung pelayanan umum seperti bangunan stadion, gedung olah raga dan sejenisnya. Bangunan fungsi khusus dengan fungsi utama yang memerlukan tingkat kerahasiaan tinggi untuk kepentingan nasional dan/atau yang mempunyai tingkat risiko bahaya yang tinggi. Bangunan gedung lebih dari satu fungsi dengan fungsi utama kombinasi lebih dari satu fungsi dapat berbentuk:

  • bangunan rumah-toko (ruko);
  • bangunan rumah-kantor (rukan);
  • bangunan sekolah-shelter;
  • bangunan kantor-shelter;
  • bangunan gedung mal-apartemen-perkantoran; dan • bangunan gedung mal-apartemen-perkantoran-perhotelan.

  2. Penetapan Fungsi Bangunan

  Fungsi bangunan gedung diusulkan oleh calon pemilik bangunan gedung dalam bentuk rencana teknis bangunan gedung sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam RTRW Kabupaten atau RTBL dan persyaratan yang diwajibkan sesuai dengan fungsi bangunan gedung. Penetapan fungsi bangunan gedung dilakukan oleh Pemerintah Daerah melalui penerbitan IMB.

  3. Klasifikasi Bangunan Gedung

  Klasifikasi bangunan gedung menurut klasifikasi fungsi bangunan didasarkan pada pemenuhan syarat administrasi dan persyaratan teknis bangunan gedung. Fungsi bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 diklasifikasikan berdasarkan:

  a. tingkat kompleksitas meliputi: 1. bangunan gedung sederhana yaitu bangunan gedung dengan karakter sederhana dan

  − memiliki kompleksitas serta teknologi sederhana dan/atau bangunan gedung yang sudah ada desain prototipenya; 2. bangunan gedung tidak sederhana yaitu bangunan gedung dengan karakter sederhana dan memiliki kompleksitas serta teknologi tidak sederhana; dan 3. bangunan gedung khusus yaitu bangunan gedung yang memiliki penggunaan dan persyaratan khusus yang dalam perencanaan dan pelaksanaannya memerlukan penyelesaian dan/atau teknologi khusus.

  b. tingkat permanensi meliputi: 1. bangunan gedung darurat atau sementara; 2. bangunan gedung semi permanen; dan 3. bangunan gedung permanen.

  c. tingkat risiko kebakaran meliputi: 1. tingkat risiko kebakaran rendah; 2. tingkat risiko kebakaran sedang; dan 3. tingkat risiko kebakaran tinggi.

  d. zonasi gempa meliputi tingkat zonasi gempa untuk tiap-tiap wilayah berdasarkan Peta Zonasi Gempa Indonesia yang ditetapkan oleh pejabat berwenang.

  e. lokasi meliputi: 1. bangunan gedung di lokasi renggang; 2. bangunan gedung di lokasi sedang; dan 3. bangunan gedung di lokasi padat.

  f. ketinggian bangunan gedung meliputi: 1. bangunan gedung bertingkat rendah; 2. bangunan gedung bertingkat sedang; dan 3. bangunan gedung bertingkat tinggi.

  g. kepemilikan meliputi: 1. bangunan gedung milik Negara/Daerah; 2. bangunan gedung milik perorangan; 3. bangunan gedung milik badan usaha; dan 4. bangunan gedung milik kaum/suku.

  4. Penetapan Klasifikasi Bangunan

  Penentuan klasifikasi bangunan gedung atau bagian dari gedung ditentukan berdasarkan fungsi yang digunakan dalam perencanaan, pelaksanaan atau perubahan yang diperlukan pada bangunan gedung. Perubahan fungsi dan/atau klasifikasi bangunan gedung harus diikuti dengan pemenuhan persyaratan administratif dan persyaratan teknis bangunan gedung baru.

  Perubahan klasifikasi gedung harus melalui proses revisi IMB. Perubahan fungsi dan/atau klasifikasi bangunan gedung harus diikuti dengan perubahan data fungsi dan/atau klasifikasi bangunan gedung dan/atau kepemilikan bangunan gedung.

  5. HAL-HAL LAIN

  Disamping hal-hal tersebut diatas, ada hal- hal lain yang berkenaan dengan pengaturan penyelenggaran bangunan gedung di Kabupaten Solok sebagaimana yang tercantum di dalam Perda No. 3 Tahun 2012 tentang Bangunan Gedung.

3.4. ARAHAN RISPAM

3.4.1. Kondisi Eksisting Air Minum Kabupaten Solok

  Sistem penyediaan air minum (SPAM) di Kabupaten Solok terdiri dari SPAM jaringan perpipaan dan bukan perpipaan. Jaringan perpipaan saat ini dilayani melalui sistem perpipaan PDAM Kabupaten Solok dan oleh lembaga yang dikelola masyarakat melalui pelaksanaan kegiatan WSLIC dan program lanjutannya PAMSIMAS. Tingkat pelayanan SPAM melalui jaringan perpipaan berdasarkan total penduduk Kabupaten Solok baru mencapai 33,37% yang mana 17,36% dilayani Jaringan Perpipaan PDAM dan 16,01% dilayani Jaringan Perpipaan Non PDAM dan melalui bukan jaringan perpipaan sebesar 67.23%.

  Pada sistem SPAM bukan jaringan perpipaan, selain dilayani oleh hidran umum PDAM, masyarakat menggunakan air baku dari mata air, sumur gali , sungai, danau dan air hujan. Berdasarkan kondisi sumber air bakunya, pada sistem jaringan bukan perpipaan terdiri dari sumber air baku terlindungi dan sumber air baku tidak terlindungi. Presentase penduduk yang memanfaatkan sumber air terlindungi sebesar 31,65%, sedangkan yang memanfaatkan sumber air tidak terlindungi sebesar 35,58%. SPAM jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan ditampilkan pada tabel berikut ini:

  

Tabel.3.31. SPAM Jaringan Perpipaan dan Bukan Jaringan Perpipaan Kabupaten Solok

Sumber: Analisis dan Perhitungan Konsultan,2015

  −

3.4.2. Rencana Pengembangan SPAM

  Berdasarkan keadaan existing dan permasalahan yang ada, maka beberapa rumusan program Pemerintah Kabupaten Solok untuk rencana pengembangan SPAM dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan sarana air bersih antara lain:

  1. Peningkatan akses/kemudahan masyarakat terhadap pemenuhan kebutuhan air bersih.

  2. Peningkatan kapasitas pelayanan / cakupan layanan.

  3. Pembangunan sarana dan prasarana air bersih bagi masyarakat di pedesaan.

  4. Optimalisasi sumber air dengan memanfaatkan kapasitas yang belum terpakai.

  5. Meningkatkan kualitas air hasil olahan sesuai dengan standar Menkes RI Nomor: 907/Menkes/SK/VII/2002 untuk SPAM Perpipaan PDAM.

  6. Penurunan kehilangan air pada sistem perpipaan sesuai dengan standar pelayanan bidang air minum (Kementerian PU-Ditjen Cipta Karya).

  7. Meningkatkan kontinuitas pelayanan menjadi 24 jam sesuai dengan standar pelayanan bidang air minum (Kementerian PU-Ditjen Cipta Karya).

  8. Perlindungan terhadap air baku.

  9. Meningkatkan propesional karyawan yang didukung dengan struktur yang efektif dan efisien sesuai dengan Perda Nomor: 9/2005, meningkatkan pendidikan sumber daya manusia di PDAM, SOP organisasi dan rasio karyawan terhadap pelanggan 1 : 100.

  10. Pembuatan aturan dari Pemerintah Daerah untuk pengelolaan sistem perpipaan non PDAM dan SPAM Non Perpipaan Penyusunan Rencana Induk SPAM Kabupaten Solok Propinsi Sumatera Barat didasarkan atas hasil pemilihan sistem SPAM. Penyusunan rencana pengembangan SPAM secara umum ada tiga tahap yaitu rencana induk pengembangan SPAM Jangka Pendek, Jangka Menengah dan Jangka Panjang.

  1. Rencana jangka pendek

  Rencana pengembangan jangka pendek periode waktu dua – lima tahun yaitu yaitu tahun 2016 sampai 2020. Rencana Induk penembangan SPAM Jangka pendek dilakukan bersamaan dengan Penyusuan RISPAM. Pengembangan SPAM Jangka Pendek dilakukan dengan Optimalisasi pada setiap kecamatan yang memiliki Unit PDAM dengan target persentase pelayanan sebesar 20% pada akhir tahun 2019 serta penurunan persentase penggunaan Bukan Jaringan Perpipaan tidak terlindungi menjadi 0% pada akhir tahun 2019.

  −

  2. Rencana jangka Menengah

  Rencana pengembangan jangka menengah periode waktu lima tahun yaitu periode tahun 2021 sampai 2025. Rencana Induk pengembangan SPAM Jangka menengah dilakukan pemenuhan kebutuhan air jaringan perpipaan PDAM penduduk sebesar 36,47% pada tahun 2021-2025, kebutuhan air minum baik domestik maupun non domestik sampai tahun 2025, kondisi sumber air baku baik kuantitas, kualitas maupun kontinuitas serta perencanaan jaringan distribusi air minum. Pada perencanaan ini akan dilakukan kegiatan keterpaduan dengan prasarana dan sarana sanitasi dan rencana pembiayaan dan pola investasi pengembangan spam serta rencana pengembangan kelembagaan penyelenggaraan SPAM. Pada perencanaan ini juga dilakukan pengembangan sistem Bukan Jaringan Perpipaan terlindungi masyarakat menjadi Perpipaan PDAM dan Perpipaan Non PDAM.

  3. Rencana Jangka Panjang

  Rencana pengembangan jangka panjang periode waktu dua puluh tahunan yaitu periode tahun 2015 sampai 2035. Rencana Induk pengembangan SPAM Jangka panjang dilakukan kegiatan pemenuhan kebutuhan air minum masyarakat dengan sistem perpipaan PDAM 62,86% dari kebutuhan air minum penduduk. Pada perencanaan ini akan dilakukan kegiatan keterpaduan dengan prasarana dan sarana sanitasi dan rencana pembiayaan dan pola investasi pengembangan SPAM. Pada perencanaan ini juga dilakukan pengembangan sistem Bukan Jaringan Perpipaan terlindungi masyarakat menjadi Perpipaan PDAM dan Perpipaan Non PDAM.

  Rencana pengembangan SPAM ini dilakukan baik pada SPAM Ibukota Kabupaten, SPAM Ibukota Kecamatan dan SPAM Pedesaan.

3.4.3. Rencana Pengembangan Sistem Perpipaan PDAM

  Perkembangan Kabupaten Solok memberikan implikasi yang sangat besar terhadap kebutuhan produksi tambahan yang diperlukan. Dengan demikian, kebijakan dan strategi pengembangan sistem utilitas air bersih dan air minum dilakukan dengan:

  1. Penambahan tingkat cakupan pelayanan PDAM menjadi 62,86% cakupan pelayanan perpipaan PDAM yang dapat menjangkau semua penduduk terutama yang berada di unit kerja PDAM Kabupaten Solok di tahun 2019 hingga 2035 dengan rencana pengembangan yang meliputi:

a. Penambahan sambungan rumah tangga.

  −

b. Pelayanan 24 jam

  2. Mempertahankan keseimbangan kebutuhan air bersih antara kapasitas dan volume air bersih dengan jumlah pelanggan PDAM. Dilakukan dengan strategi menambah kapasitas dan volume sistem tandon (reservoir) sebagai sistem distribusi ke pelanggan PDAM.

3. Penambahan sumber mata air menjadi salah satu kebijakan dan strategi pengembangan sistem utilitas air bersih.

  a. Mengadakan survey sumber air alternatif; b. Pengurusan ijin pengambilan sumber air baku.

  4. Peningkatan wilayah pelayanan 9 unit pelayanan PDAM Kabupaten Solok dan Pengaktifan kembali Unit PDAM Kabupaten Solok yang rusak dan tidak terpakai, serta penambahan Unit PDAM baru di 7 (tujuh) buah IKK yang belum terlayani PDAM Kabupaten Solok;

  5. Pembuatan Peraturan Daerah Penggunaan Air Tanah Untuk Sumber-Sumber Air yang dimanfaatkan Oleh PDAM, serta Pemerintah Daerah menguasai sumber-sumber air dan daerah-daerah di sekitar mata air/air permukaan sebagai perwujudan perlindungan sumber air yang digunakan; a. Program penurunan angka kebocoran.

  b. Melakukan pengujian kualitas air baku, kualitas air hasil olahan setiap bulan pada setiap unit-unit PDAM Kabupaten Solok;

Tabel 3.32. Rencana Daerah Pelayanan Pengembangan Sistem Perpipaan PDAM Kabupaten Solok

  

Daerah Pelayanan PDAM

Zona Kecamatan Nagari Unit PDAM Sumber Air Batang Barus, Koto Gaek,

  Ibukota Kabupaten PDAM Unit Kayu Aro Mata Air Sungai Daeh Jawi-Jawi Guguk, Koto Kayu Aro-Sukarami PDAM Unit Guguak Mata Air Bukik Gompong Gadang Guguk

  Sungai Batanghari PDAM Unit Alahan Lembah Gumanti Alahan Panjang Panjang Sungai Batang Gimanti

  PDAM Unit Talang Mata Air Tabek Dangka Gunung Talang Cupak, Talang Prioritas I

  PDAM Unit Cupak Parambahan, Muara Panas, PDAM Unit Muara Bukit

  Mata Air Bulakan Bukit Sundi Panas Tandang,Kinari,Panyakal an, Gauang Mata Air Sei.Guntung

  PDAM Unit Pusat Kubung Kotobaru, Selayo Mata Air Tabek Kaciak

  −

  − Zona

Daerah Pelayanan PDAM

  Kecamatan Nagari Unit PDAM Sumber Air Mata Air Ulu Olo Sungai Puncak Gaga Pantai Cermin Surian

  PDAM Unit Surian Mata Air Sungai Sepian Danau Kembar Simpang Tanjung Nan 4 Unit PDAM Baru 2017 Munggu Aia Rarah Hiliran Gumanti Talang Babungo Unit PDAM Baru 2018 Mata Air Taratak

  Talang Lembang Jaya Bukik Sileh Unit PDAM Baru 2018 Mata Air Lundang

  IX Koto Sei.Lasi Pianggu Unit PDAM Baru 2017 Mata Air Sungai Danan Prioritas II

  X Koto Singkarak Singkarak, Koto Sani, Sumani, Saniang Baka, Kacang

  PDAM Unit Koto Sani PDAM Unit Kacang Mata Air Lung Mata Air Sarang Gagak

  X Koto Diatas Sulit Air PDAM Unit Sulit Air Mata Air Sei.Gemuruh Junjung Sirih Paninggahan, Muaro

  Pinggai Unit PDAM Baru 2020 Mata Air Badarun Prioritas III Tigo Lurah Batu Bajanjang

  Unit PDAM Baru 2024 Sungai Aia Karuah Payung Sekaki Sirukam Unit PDAM Baru 2025 Mata Air Lurah Randah Sumber : Analisis dan Perhitungan Konsultan 2015

3.4.4. Rencana Pengembangan Kegiatan Optimalisasi SPAM Jaringan Perpipaan PDAM

  Rencana pengembangan kegiatan optimalisasi SPAM jaringan perpipaan PDAM berupa pemanfaatan idle capacity dan program penurunan tingkat kehilangan air pada 9 (sembilan) Unit-unit PDAM Eksisting yaitu Unit Guguak-Kayu Aro, Unit Alahan Panjang, Unit Surian, Unit Muara Panas, Unit Talang, Unit Cupak, Unit Singkarak, Unit Pusat dan Unit Sulit Air yang mengacu pada permasalahan ada. Rencana pelaksanaan kegiatan optimalisasi jaringan perpipaan PDAM Kabupaten Solok dapat dilihat pada Tabel 3.33. di bawah ini :

  PENYUSUNAN RISPAM KABUPATEN SOLOK

Tabel 3.33. Rencana Pelaksanaan Kegiatan Optimalisasi Jaringan Perpipaan PDAM Kabupaten Solok Rencana Pelaksanaan Unit Zona Kecamatan Program Kegiatan PDAM

  2016 2017 2018 2019 2020 Studi Optimalisasi

  1. Peningkatan Kapasitas Produksi

  2. Inventarisasi kerusakan perpipaan transmisi dan distribusi serta meter sambungan rumah

  3. Penurunan Kebocoran

  Pelaksanaan Optimalisasi

  Unit

  1. Perbaikan Lantai Broncaptering Guguak

  2. Inventarisasi kerusakan perpipaan transmisi dan distribusi serta meter sambungan rumah

  3. Peningkatana Kapasitas Produksi Ibukota

  Prioritas Kabupaten

  4. Pengadaan dan pergantian pipa transmisi dan distribusi serta

  I Kayu Aro- pergantian Water meter SR Sukarami

  5. Pemasangan Water Meter Induk

  Studi Optimalisasi

  1. Peningkatan Kapasitas Produksi

  2. Inventarisasi kerusakan perpipaan transmisi dan distribusi serta meter sambungan rumah Unit Kayu

  3. Penurunan Kebocoran Aro

  Pelaksanaan Optimalisasi

  1. Perbaikan Lantai Bak Penampung dan Reservoir yang Bocor

  2. Inventarisasi kerusakan perpipaan transmisi dan distribusi serta meter sambungan rumah

  Unit Rencana Pelaksanaan Zona Kecamatan Program Kegiatan PDAM

  2016 2017 2018 2019 2020

  3. Peningkatana Kapasitas Produksi

  4. Pengadaan dan pergantian pipa transmisi dan distribusi serta pergantian Water meter SR

  5. Pemasangan Water Meter Induk

  Studi Optimalisasi

  1. Inventarisasi kerusakan perpipaan transmisi dan distribusi serta meter sambungan rumah

  2. Penurunan Kebocoran Unit Talang

  Pelaksanaan Optimalisasi

  1. Pengadaan dan pergantian pipa transmisi dan distribusi serta pergantian Water meter SR Gunung

  2. Pemasangan Water Meter Induk Talang

  Studi Optimalisasi

  1. Inventarisasi kerusakan perpipaan transmisi dan distribusi serta meter sambungan rumah

  2. Penurunan Kebocoran Unit Cupak

  Pelaksanaan Optimalisasi

  1. Pengadaan dan pergantian pipa transmisi dan distribusi serta pergantian Water meter SR

  2. Pemasangan Water Meter Induk

  Studi Optimalisasi

  Unit Lembah

  1. Perbaikan Sistem IPA Batang Gumanti Alahan

  Gumanti

  2. Peningkatan Kapasitas IPA Batanghari dan IPA Batang Panjang

  Gumanti

  99 BAB III −

  Unit Rencana Pelaksanaan Zona Kecamatan Program Kegiatan PDAM

  2016 2017 2018 2019 2020

  3. Penurunan Kebocoran

  4. Inventarisasi kerusakan perpipaan transmisi dan distribusi serta meter sambungan rumah

  Pelaksanaan Optimalisasi

  1. Perbaikan Sistem IPA Batang Gumanti

  2. Perbaikan Bak SPL Batang Gumanti

  3. Peningkatana Kapasitas Produksi IPA

  4. Pengadaan dan pergantian pipa transmisi dan distribusi serta pergantian Water meter SR

  5. Pemasangan Water Meter Induk

  Studi Optimalisasi

  1. Peningkatan Kapasitas Produksi IPA Puncak Gaga

  2. Inventarisasi kerusakan perpipaan transmisi dan distribusi serta meter sambungan rumah

  3. Penurunan Kebocoran

  4. Review Sistem Pengolahan IPA Puncak Gaga

  Pelaksanaan Optimalisasi

  Kubung Unit Pusat

  1. Perbaikan Lantai Broncaptering Ulu Olo dan Sungai Guntung

  2. Inventarisasi kerusakan perpipaan transmisi dan distribusi serta meter sambungan rumah

  3. Peningkatan Kapasitas Produksi IPA Puncak Gaga

  4. Perbaikan Sistem Pengolahan IPA Puncak Gaga

  5. Pengadaan dan pergantian pipa transmisi dan distribusi serta pergantian Water meter SR 100

BAB III −

  Unit Rencana Pelaksanaan Zona Kecamatan Program Kegiatan PDAM

  2016 2017 2018 2019 2020

  6. Pemasangan Water Meter Induk

  Studi Optimalisasi

  1. Peningkatan Kapasitas Produksi

  2. Optimalisasi jaringan perpipaan distribusi karena kehilangan tekan, banyaknya tapping pada distribusi utama dsb

  3. Penurunan Kebocoran

  4. Inventarisasi kerusakan perpipaan transmisi dan distribusi Unit Muara serta meter sambungan rumah

  Bukit Sundi Panas

  Pelaksanaan Optimalisasi

  1. Peningkatan Kapasitas Produksi

  2. Perbaikan Bak Spray Aerator

  3. Pengadaan dan pergantian pipa transmisi dan distribusi serta pergantian Water meter SR

  4. Pemasangan Water Meter Induk

  Studi Optimalisasi

  1. Peningkatan Kapasitas Produksi IPA Surian

  2. Inventarisasi kerusakan perpipaan transmisi dan distribusi serta meter sambungan rumah Pantai

  Unit Surian

  3. Penurunan Kebocoran Cermin

  Pelaksanaan Optimalisasi

  1. Pemindahan dan pembangunan intake dan transmisi Sei Sapan Unit Surian

  2. Perbaikan Bak SPL 101

BAB III −

  Unit Rencana Pelaksanaan Zona Kecamatan Program Kegiatan PDAM

  2016 2017 2018 2019 2020

  3. Inventarisasi kerusakan perpipaan transmisi dan distribusi serta meter sambungan rumah

  4. Peningkatana Kapasitas Produksi IPA

  5. Pengadaan dan pergantian pipa transmisi dan distribusi serta pergantian Water meter SR

  6. Pemasangan Water Meter Induk

  Studi Optimalisasi

  1. Peningkatan Kapasitas Produksi

  2. Inventarisasi kerusakan perpipaan transmisi dan distribusi serta meter sambungan rumah

  3. Penurunan Kebocoran Unit

  Pelaksanaan Optimalisasi

  Singkarak

  1. Inventarisasi kerusakan perpipaan transmisi dan distribusi Koto Sani serta meter sambungan rumah

  2. Peningkatana Kapasitas Produksi Prioritas

  X Koto

  II Singkarak

  3. Pengadaan dan pergantian pipa transmisi dan distribusi serta pergantian Water meter SR

  4. Pemasangan Water Meter Induk

  Studi Optimalisasi

  1. Peningkatan Kapasitas Produksi Unit

  2. Inventarisasi kerusakan perpipaan transmisi dan distribusi Singkarak serta meter sambungan rumah

  Kacang

  3. Penurunan Kebocoran

  Pelaksanaan Optimalisasi

  102

BAB III −

  Unit Rencana Pelaksanaan Zona Kecamatan Program Kegiatan PDAM

  2016 2017 2018 2019 2020

  1. Inventarisasi kerusakan perpipaan transmisi dan distribusi serta meter sambungan rumah

  2. Peningkatana Kapasitas Produksi

  3. Pengadaan dan pergantian pipa transmisi dan distribusi serta pergantian Water meter SR

  4. Pemasangan Water Meter Induk

  Studi Optimalisasi

  1. Review Desain terhadap Sistem Yang Ada

  2. Inventarisasi kerusakan perpipaan transmisi dan distribusi serta meter sambungan rumah

  X Koto Unit Sulit

  3. Penurunan Kebocoran Diatas Air

  Pelaksanaan Optimalisasi

  1. Perbaikan Sistem yang memakai pompa saat ini

  2. Pengadaan dan pergantian pipa transmisi dan distribusi serta pergantian Water meter SR

  3. Pemasangan Water Meter Induk

   Sumber: Analisis Konsultan, 2015

  103

BAB III −

3.4.5. Rencana Pengembangan Kegiatan Ekspansi SPAM Jaringan Perpipaan PDAM

  Rencana pengembangan kegiatan ekspansi SPAM jaringan perpipaan PDAM berupa pembangunan baru (peningkatan produksi dan perluasan sistem) unit PDAM pada 7 (tujuh) Kecamatan yang belum menjadi area pelayanan PDAM yaitu Kecamatan Junjung Sirih, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kecamatan Payung Sekaki, Kecamatan IX Koto Sungai Lasi, Kecamatan Tigo Lurah, Kecamatan Lembang Jaya dan Kecamatan Danau Kembar. Rencana pelaksanaan kegiatan ekspansi jaringan perpipaan PDAM Kabupaten Solok dapat dilihat pada Tabel 3.34. di bawah ini :

Tabel 3.34. Rencana Pelaksanaan Kegiatan Ekspansi Jaringan Perpipaan PDAM Kabupaten Solok

  RENCANA PELAKSANAAN PROGRAM / KEGIATAN DETAIL

VOLUME NO

  SAT (Output / Sub Output / LOKASI 2016 2017 2018 2019 2020 2025 2030 2035 Komponen)

  1

  2

  3

  4

  5

  6

  7

  8

  9

  10

  11

  12 I ASPEK TEKNIS `

  A Banpro PDAM

  Pembinaan Penyehatan PDAM

  1 Kab. (Bantek/Banpro/Bantuan PDA

  Solok Manajemen) M

  Pengembangan Jaringan B Perpipaan di Kawasan Perkotaan

  Pengadaan Air Bersih Tabek

  1

  1 IKAB

  Kayu Aro Nagari Batang Barus Paket

  IKK Pembangunan Bak Penampung

  1

  2 Gunung

  Air di Gor Batu Batupang Paket Talang

  Lanjutan Pipa Air Bersih Sawah

  IKK

  1

  3 Sundi Nagari Kinari, Kecamatan Bukit

  Paket Bukit Sundi Sundi Pengembangan Jaringan Air

  IKK

  1

  4 Bersih Jorong Galagah Nagari Bukit

  Paket Muaro Paneh Sundi Pembangunan Jaringan Air Bersih Dusun Kampung Batu

  IKK

  1

  5 Dalam Jorong Balai Pinang Bukit

  Paket Nagari Muaro Paneh Kecamatan Sundi Bukit Sundi Rehap Jaringan Pipa PAM

  IKK

  1

  6 Nagari Gantung Ciri Kubung Paket

  Pengadaan Instalasi Air Bersih

  IKK

  1

  7 Ke Masjid Firdaus Jorong Pasar Kuubung Paket

  IKK Pembangunan Lanjutan Air

  1 Pantai

  8 Bersih Tambang Surian Paket

  Cermin Peng. Jaringan Perpipaan di

  IKK Kawasan Perkotaan IKK

  1

  9 Lembang

  Lembang Jaya Kec. Batang Paket Jaya

  Lembang, Kab. Solok Pembangunan Jaringan Air

  IKK

  1

  10 Bersih Jorong Mandailing Lembang

  Paket Nagari Koto Laweh Jaya Pembangunan Jaringan Air

  IKK

  1 Bersih Jorong Lakuek Taratak Lembang

  11 Paket

  Baru Nagari Bukik Sileh Jaya Pengembangan Lanjutan SPAM

  IKK IX

  1

  12 Sungai Lasi Koto Paket

  RENCANA PELAKSANAAN PROGRAM / KEGIATAN DETAIL

VOLUME NO

  SAT (Output / Sub Output / LOKASI 2016 2017 2018 2019 2020 2025 2030 2035 Komponen)

  Sungai Lasi

  Peningkatan SPAM IKK

  IKK

  1 Junjung Sirih pada Jorong Junjung

  13 Paket

  Talago Nagari Paninggahan Sirih Pembangunan Air Bersih Jorong

  IKK

  1

  14 Muaro Nagari Batu Bajanjang, Tigo

  Paket Kecamatan Tigo Lurah Lurah

  Pembangunan SPAM Ibu C Kota Kecamatan (IKK)

  Pembangunan SPAM IKK

  IKK Lembang Jaya, Kec. Batang

  1

  1 Lembang

  Lembang, Kab. Solok (Kap. 20 Paket Jaya ltr/dtk)

  Pembangunan SPAM IKK

  IKK Danau Kembar, Kecamatan

  1

  2 Danau

  Danau Kembar, Kab Solok Paket Kembar

  (Kap. 20 ltr/dtk)

  1

  a. Sosialisasi Paket

  1

  b. Penyusunan UKL/UPL Paket

  1

  c. Pembebesan Tanah Paket

  1

  d. Penyusunan DED Paket

  e. Pembangunan Jaringan

  1 Perpipaan Paket

  f. Pengawasan Pembangunan

  1 Fisik Jaringan Perpipaan Paket

  1

  g. Operasional Paket

  1

  h. Pemeliharaan Paket

  Pembangunan SPAM IKK

  IKK Hiliran Gumanti, Kecamatan

  1 Hiliran

  3 Hiliran Gumanti, Kab Solok Paket

  Gumanti (Kap. 20 ltr/dtk)

  1

  a. Sosialisasi Paket

  1

  b. Penyusunan UKL/UPL Paket

  1

  c. Pembebesan Tanah Paket

  1

  d. Penyusunan DED Paket

  e. Pembangunan Jaringan

  1 Perpipaan Paket

  NO PROGRAM / KEGIATAN DETAIL RENCANA PELAKSANAAN SAT

  1 Paket

  Junjung Sirih, Kecamatan Junjung Sirih, Kab Solok (Kap. 30 ltr/dtk)

  IKK Junjung

  Sirih

  1 Paket

  a. Sosialisasi

  1 Paket

  b. Penyusunan UKL/UPL

  1 Paket

  c. Pembebesan Tanah

  1 Paket

  d. Penyusunan DED

  e. Pembangunan Jaringan Perpipaan

  1 Paket

  1 Paket

  f. Pengawasan Pembangunan Fisik Jaringan Perpipaan

  1 Paket

  g. Operasional

  1 Paket

  h. Pemeliharaan

  1 Paket

  6 Pembangunan SPAM IKK Tigo

  Lurah, Kecamatan Tigo Lurah, Kab Solok (Kap. 30 ltr/dtk)

  IKK Tigo

  Lurah

  5 Pembangunan SPAM IKK

  h. Pemeliharaan

  VOLUME (Output / Sub Output / Komponen)

  1 Paket

  LOKASI 2016 2017 2018 2019 2020 2025 2030 2035

  f. Pengawasan Pembangunan Fisik Jaringan Perpipaan

  1 Paket

  g. Operasional

  1 Paket

  h. Pemeliharaan

  1 Paket

  4 Pembangunan SPAM IKK IX

  Koto Sungai Lasi, Kec. IX Koto Sungai Lasi, Kab. Solok (Kap. 10 ltr/dtk)

  IKK IX Koto

  Sungai Lasi

  a. Sosialisasi

  1 Paket

  1 Paket

  b. Penyusunan UKL/UPL

  1 Paket

  c. Pembebesan Tanah

  1 Paket

  d. Penyusunan DED

  1 Paket

  e. Pembangunan Jaringan Perpipaan

  1 Paket

  f. Pengawasan Pembangunan Fisik Jaringan Perpipaan

  1 Paket

  g. Operasional

  1 Paket

  RENCANA PELAKSANAAN PROGRAM / KEGIATAN DETAIL

VOLUME NO

  SAT (Output / Sub Output / LOKASI 2016 2017 2018 2019 2020 2025 2030 2035 Komponen)

  1

  a. Sosialisasi Paket

  1

  b. Penyusunan UKL/UPL Paket

  1

  c. Pembebesan Tanah Paket

  1

  d. Penyusunan DED Paket

  e. Pembangunan Jaringan

  1 Perpipaan Paket

  f. Pengawasan Pembangunan

  1 Fisik Jaringan Perpipaan Paket

  1

  g. Operasional Paket

  1

  h. Pemeliharaan Paket

  Pembangunan SPAM IKK

  IKK Payung Sekaki, Kecamatan

  1

7 Payung

  Payung Sekaki, Kab Solok (Kap. Paket Sekaki 30 ltr/dtk)

  1

  a. Sosialisasi Paket

  1

  b. Penyusunan UKL/UPL Paket

  1

  c. Pembebesan Tanah Paket

  1

  d. Penyusunan DED Paket

  e. Pembangunan Jaringan

  1 Perpipaan Paket

  f. Pengawasan Pembangunan

  1 Fisik Jaringan Perpipaan Paket

  1

  g. Operasional Paket

  1

  h. Pemeliharaan Paket

  Pembangunan SPAM di D Kawasan Kumuh

  Pembangunan/Peningkatan Alahan

  1

1 SPAM di Kawasan Kumuh Panjang Paket

  Sumber: Analisis, Hasil Survey dan Perhitungan Konsultan, 2015

3.5. ARAHAN STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK)

3.5.1. VISI DAN MISI PEMBANGUNAN SANITASI

  Dalam upaya meningkatkan kualitas pengelolaan sanitasi di Kabupaten Solok, telah dirumuskan visi dan misi sanitasi yang bertujuan untuk mendukung upaya pencapaian visi dan misi yang tertuang dalam RPJMD. Visi dan misi sanitasi ini menjadi arah dalam pengembangan sanitasi Kabupaten Solok yang bersifat komprehensif dan berskala kota. Visi Pembangunan Sanitasi Kabupaten Solok adalah:

  

“Terwujudnya Kabupaten Solok Sehat Dengan Peningkatan Akses Layanan

Sanitasi Yang Berwawasan Lingkungan Tahun 2017”

  Misi Pembangunan Sanitasi Kabupaten Solok adalah:

  • Mewujudkan tata kelola pemerintahan lokal yang bersih dan berwibawa dan taat hukum.
  • Meningkatkan kehidupan yang agamais, bermoral dan berbudaya.
  • Meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan menciptakan tatanan perekonomian terpadu berbasis teknologi.
  • Menciptakan pendidikan berkualitas.
  • Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
  • • Meningkatkan infrastruktur untuk mendukung pembangunan di segala bidang.

  • Membangun kepariwisataan sebagai kekuatan ekonomi strategis.
  • Mengoptimalkan pembangunan kepemudaan, olah raga dan pemberdayaan perempuan.

  Kata ehat dalam formula Visi di atas merupakan suatu harapan serta tujuan yang akan dicapai dimasa datang dengan segala kemampuan yang dimiliki di dalam pengelolaan serta pemanfaatan sarana dan prasarana Sanitasi dan Air Minum yang ada. Pengelolaan yang dilakukan secara bersama dengan rasa tanggungjawab serta mempunyai rasa memiliki terhadap sarana dan prasarana Sanitasi dan Air Minum.

  Sedangkan Kata peningkatan akses layanan sanitasi merupakan adalah suatu pengharapan akan suatu kondisi Sanitasi yang bukan hanya sebuah angan-angan belaka akan tetapi membumi sesuai dengan standar dan indikator yang telah ditetapkan dan disepakati secara nasional.

  Sedangkan Kata berwawasan lingkungan memilliki arti bahwa setiap pembangunan sarana dan prasarana yang ada tidak hanya untuk sektor sanitasi, akan tetapi meliputi seluruh aspek pembangunan harus memperhatikan dampak terhadap keberlangsungan lingkungan. Jangan sampai pembangunan infrastruktur menimbulkan permasalahan baru yaitu penurunan kualitas lingkungan hidup yang dapat mengancam keberlangsungan aktivitas masyarakat.

  Batasan waktu tahun 2017, secara sadar disesuaikan dengan kesepakatan batasan waktu pencapaian Millenium Development Goals (MDGs), yang salah satu pointnya adalah kesepakatan untuk mengurangi separuh proporsi penduduk yang tidak dapat

3.5.2. TUJUAN, SASARAN DAN STRATEGI SANITASI

A. Sub Sektor Persampahan

  Dalam subsektor persampahan, terdapat dua tujuan yang ingin dicapai hingga tahun 2017. Kedua tujuan tersebut disampaikan di bawah ini beserta sasaran dan strategi pencapainnya.

  Tujuan Sasaran Strategi

Tabel 3.35. Tujuan, sasarana dan strategi Sanitasi Kabupaten Solok Sub Sektor Persampahan

  atau tidak memperoleh layanan sanitasi dan air minum yang sehat dan proporsi penduduk yang tidak memiliki akses pada sanitasi dasar pada tahun 2013. Kabupaten Solok memulai penyusunan dokumen PPSP pada tahun 2012 dan selayaknya dokumen perencanaan jangka menengah dimana memliki kurung waktu 5 (lima) tahun.

  Dengan demikian secara keseluruhan formulasi Visi di atas menggambarkan suatu keinginan yang besar dalam usaha mencapai masyarakat Kabupaten Solok yang sehat dan sejahtera dimasa depan dengan cara pemanfaatan air minum dan memperhatikan lingkungan yang sehat sesuai dengan standar kesehatan nasional.

  Strategi untuk keberlanjutan layanan sanitasi di Kabupaten Solok dalam hal aspek teknis dijelaskan dalam subsektor dan satu aspek sebagaimana berikut ini, yang meliputi penjelasan tujuan dan sasaran sub-sektor yang akan dicapai hingga tahun 2017 beserta strategi yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan dan sasaran tersebut.

1. Teknis dan Akses

  • Menyediakan master
  • Tersedianya master plan
  • Menyiapkan master plan pengelolaan
  • Pengurangan sampah semaksimal
  • Tersedianya informasi untuk penyusunan regulasi persampahan pada tahun 2015
  • Tersedianya fasilitas

  mungkin dari sumbernya

  • Terjadinya
  • Meningkatkan pemahaman
  • Mengembangkan dan menerapkan sistem insentif dan disinsentif dalam pelaksanaan 3R
  • Optimalisasi pemanfaatan prasarana
  • Tersedianya sistem

  • Peningkatan cakupan pelayanan dan
  • Menyediakan TPA
  • Meningkatnya cakupan

  persampahan secara terencana

  kualitas sistem pengelolaan

  dan sarana persampahan

  masyarakat akan upaya 3R dan pengamanan sampah B3 rumah tangga

  • Meningkatkan cakupan pelayanan

  • Penanganan sampah rumah dan

  infeksius

  • Menyediakan sarana
  • Tersedianya TPA sampah regional antara Kab.

  Solok dengan Kab. Solok

  persampahan

  pelayanan pengangkutan sampah dari 16,72% menjadi 70% pada tahun 2017

  pengurangan sampah (3R) sesuai dengan perencanaan pengelolaan sampah Kabupaten Solok untuk mengurangi timbulan sampah

  pengelolaanpersampahan pada akhir tahun 2014

  dan prasarana sektor persampahan

  penanganan sampah di perkotaan yang dapat melayani 70% jumlah penduduk

  pengurangan 20% volume sampah yang diangkut ke TPA pada tahun 2017

  plan pengelolaan persampahan pada akhir tahun 2014

  sampah regional antara Kab. Solok dan Kab. Solok Selatan pada akhir tahun 2016

  Tujuan Sasaran Strategi

  Selatan pada akhir tahun 2016 Tersedianya sarana dan • prasarana sektor persampahan yang memenuhi standar pelayanan

  B. Sub Sektor Drainase Lingkungan

  Dalam subsektor drainase lingkungan, terdapat satu tujuan yang ingin dicapai hingga tahun 2021 yaitu:

Tabel 3.36. Tujuan, sasarana dan strategi Sanitasi Kabupaten Solok Sub Sektor Drainase Lingkungan Tujuan Sasaran Strategi

  a. Tersedianya sistem

  • master plan • Tersedianya Penyiapan rencana induk sistem

  drainase lingkungan drainase pada tahun 2014 drainase yang terpadu antara yang terintegrasi sistem drainase utama, lokal dengan drainase dengan pengaturan dan Kota/Kabupaten pengelolaan sungai sehingga tidak ada

  Tersedianya informasi untuk Pengembangan sistem drainase • • lagi genangan yang penyusunan regulasi yang berwawasan lingkungan terjadi pada tahun drainase pada tahun 2014 (Konservasi Air)

  2017

  Tersedianya sistem drainase Pengembangan kapasitas dan lingkungan di 10 (sepuluh) pemeliharaan sarana dan kawasan prasarana drainase terbangun Meningkatnya akses Mengoptimalkan sistem yang ada • • masyarakat terhadap sarana drainase lingkungan dari 57% (jalan lingkungan, jalan Kabupaten, Pasar dan Perumahan/permukiman) menjadi 75% pada tahun 2017

  C. Sub Sektor Air Limbah

  Dalam sub sektor air limbah, terdapat dua tujuan yang hendak dicapai hingga tahun 2021. Kedua tujuan beserta sasaran serta strategi pencapaiannya dijelaskan di bawah ini.

Tabel 3.37. Tujuan, sasarana dan strategi Sanitasi Kabupaten Solok Sub Sektor Air Limbah Tujuan Sasaran Strategi

  1. Menyediakan master • • Tersedianya master plan Menyusun master plan pengelolaan plan air limbah air limbah domestik pada limbah domestik

  Tujuan Sasaran Strategi

  domestik pada akhir akhir tahun 2014 Penyediaan • pelayanan dan tahun 2014

  Tersedianya informasi • peningkatan kualitas sistem air untuk penyusunan limbah domestik untuk mencapai regulasi air limbah target Standar Pelayanan Minimum domestik pada tahun (SPM) (Kemen PU no. 14 tahun 2015 2010)

  2. Menyediakan sistem Optimalnya sistem Prioritas • pembangunan pada • pengelolaan air limbah pengelolaan lumpur tinja masyarakat daerah miskin dan rawan setempat untuk dan terdapat sarana dan penyakit yang berhubungan dengan melayani 60 % air (Waterborne disease) prasarana yang Penduduk Kabupaten mendukung dalam

  Mendorong kerjasama antar • Solok pada tahun pelayanan air limbah

  Kota/Kabupaten dalam upaya 2017 melindungi badan air dari pencemaran air limbah

  • 3. Meningkatkan Meningkatkan akses jamban sehat

  penggunaan jamban sehat menjadi 80% pada tahun 2017

  D. Sub Sektor Air Minum/Air Bersih

  Dalam sub sektor Air Minum/Air Bersih, terdapat tujuan yang ingin dicapai hingga tahun 2019 (sesuai dengan RAD AMPL Kabupaten Solok Tahun 2016-2019). Tujuan tersebut adalah:

Tabel 3.36. Tujuan, sasarana dan strategi Sanitasi Kabupaten Solok Sub Sektor Air Minum Tujuan Sasaran Strategi

  • Meningkatkan • Meningkatnya cakupan • Pembangunan dan Pemeliharaan cakupan akses air akses air minum yang SPAM Perkotaan dan SPAM minum yang layak dan layak dan berkelanjutan Perdesaan berkelanjutan dari 64,95% menjadi

  83,01%

  • Meningkatkan kinerja • Meningkatnya kapasitas • Peningkatan penyehatan kinerja teknis dan unit produksi PDAM pengelolaan PDAM
  • Menjamin • Pasokan air meningkat • Perlindungan terhadap sumber mata ketersediaan sumber dari 300 liter/detik menjadi air pasokan air yang 390 liter/detik • Peningkatan upaya pengembangan berkelanjutan dan sumber mata air baru dapat diandalkan

  E. Higiene/PHBS

  Dalam aspek PHBS Sanitasi, terdapat satu tujuan yang ingin dicapai hingga tahun 2017. Tujuan tersebut adalah:

Tabel 3.37. Tujuan, sasarana dan strategi Sanitasi Kabupaten Solok Sub Sektor PHBS Tujuan Sasaran Strategi
  • Peningkatan • Peningkatan kapasitas • Pemberdayaan masyarakat, bina keterpaduan kader kesling melalui suasana dan advokasi yang penyelenggaraan pelatihan pada akhir didukung juga dengan kemitraan
  • PHBS sampai tahun tahun 2017
  • Berperannya kelompok • Meningkatkan kemampuan masyarakat di 74 (Tujuh masyarakat untuk menolong dirinya puluh empat) Nagari sendiri dan mengembangkan upaya dalam peningkatan PHBS kesehatan bersumber daya pada akhir tahun 2017 masyarakat
  • Termanfaatkannya media • Mengembangkan media lokal pilihan lokal pilihan masyarakat di masyarakat dalam rangka lokasi prioritas dalam penyadaran PHBS penyadaran ber - PHBS pada akhir tahun 2017
  • Terselenggaranya • Mengupayakan terciptanya PHBS pendidikan kesehatan bagi masyarakat untuk mencegah kepada masyarakat timbulnya masalah kesehatan melalui upaya promotif dan preventif
  • Meningkatnya kapasitas • Integrasi kegiatan promosi PHBS di

  SKPD terkait tingkat Kabupaten, Kecamatan dan penyampaian informasi Nagari PHBS pada akhir tahun 2017

3.5.3. STRATEGI ASPEK NON TEKNIS

A. Kebijakan Daerah dan Kelembagaan

  Dengan mempertimbangkan tujuan pembangunan sanitasi Kabupaten Solok tahun 2017, dan berbagai isu strategis serta tantangan yang dihadapi Kabupaten saat ini, maka dirumuskan serangkaian strategi dalam aspek kebijakan daerah dan kelembagaan yang diarahkan pada tingkatan sistem, organisasi dan individu.

  Strategi

  Tingkat Sistem • Melakukan peningkatan penguatan kebijakan sanitasi dan penegakkannya di Kabupaten Solok

  • Mengembangkan kerjasama Pemerintah Kabupatendengan masyarakat dan swasta serta dengan Pemerintah Daerah lainnya dalam pembangunan dan pengelolaan sanitasi.
  • Mengkondisikan integrasi antara sistem perencanaan, implementasi dan monitoring dan evaluasi dalam pembangunan sanitasi di Kabupaten Solok.
  • Mengembangkan sistem pendukung penyediaan layanan sanitasi yang terintegrasi.

  Strategi

  • Mempertahankan dan mengoptimalkan program stimulus penyediaan sarana dan pra-sarana sanitasi yang bersifat memberdayakan masyarakat miskin.

  Tingkatan Organisasi • Memisahkan antara organisasi operator dan regulator

  • Memperkuat kapasitas organisasi regulator dan operator layanan sanitasi untuk dapat menyelenggarakan pelayanan sanitasi secara efektif dan efisien.
  • Mempertahankan dan meningkatkan efektivitas pelaksanaan peran
  • Mengoptimalkan pengorganisasian kelompok swadaya masyarakat
  • Peningkatan koordinasi antar SKPD dan stakeholder terkait sanitasi
  • Optimalisasi peran Pokja dalam pengelolaan sanitasi yang peka kebutuhan, jender, dan kemiskinan
  • >Memperkuat kebijakan sanitasi kabup
  • Memperkuat komitmen dalam pendanaan sektor sanitasi
  • Memperkuat lembaga yang terkait dengan sektor sanitasi (Pokja Sanitasi)

  Kelompok Kerja (Pokja) Sanitasi Kabupaten Solok dalam mengawal proses implementasi SSK secara terintegrasi.

  (KSM) pengelola sanitasi guna meningkatkan efektivitas kegiatan operasi dan pemeliharaan sarana sanitasi di tingkat masyarakat. Tingkatan Individu • Peningkatan kesadaran dan tanggungjawab dari masyarakat sebagai pelaku utama dari kegiatan sanitasi

  Diharapkan Pemerintah Kabupaten Solok dapat mengupayakan penguatan kelembagaan yang dilaksanakan dalam 3 strategi sebagai berikut:

B. Keuangan

  Strategi penguatan aspek keuangan yang diarahkan untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan sub sektor sanitasi adalah sebagai berikut :

  Sub Sektor Strategi

  Persampahan • Mendorong peningkatan pemulihan biaya persampahan

  • Mengembangkan sistem insentif dan iklim yang kondusif bagi dunia usaha (swasta)
  • Meningkatkan kemitraan pemerintah dan swasta
  • Peningkatan peran aktif masyarakat dan dunia usaha/swasta sebagai mitra pengelolaan
  • Advokasi kepada pemerintah kabupaten untuk meningkatkan prioritas pendanaan dalam pengelolaan drainase.
  • >Mendorong peningkatan prioritas pendanaan pemerintah daerah dalam pengembangan sistem
  • Meningkatkan pembiayaan melalui kemitraan pemerintah dan

  Drainase Lingkungan • Mendorong dan memfasilitasi pemerintah Kabupaten dalam pengembangan sistem drainase yang efektif

  Air Limbah • Mendorong peningkatan alternatif sumber pembiayaan yang murah dan berkelanjutan

  Sub Sektor Strategi

  swasta Air Minum/Air Bersih • Meningkatkan komitmen semua pihak terkait dalam penyediaan sarana dan prasarana air minum dalam pengalokasian anggaran baik dari APBN, APBD Provinsi dan APBD Kabupaten.

  • Mendorong pengalokasian dana CSR ke sektor air minum seperti dana CSR dari PT. Danone (Aqua)
  • Meningkatkan peran aktif dari kelompok masyarakat khususnya untuk pengelolaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana air bersih yang sudah dibangun oleh Pemerintah.

  PHBS • Memprioritaskan pencanangan Kabupaten sehat dengan peningkatan alokasi APBD II dengan menjadikan PHBS menjadi salah satu program prioritas dalam KUA dan PPAS, dan selanjutnya dalam RKA.

  • Meningkatkan komitmen penentu kebijakan anggaran untuk PHBS.
  • Memanfaatkan dana APBN dan APBD I untuk pengelolaan

  PHBS

C. Komunikasi

  Strategi penguatan aspek komunikasi yang diarahkan untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan sub sektor sanitasi adalah sebagai berikut :

  Sub Sektor Strategi

  Persampahan • Advokasi dalam rangka penyamaan persepsi kepada pengambil keputusan untuk meningkatkan prioritas pendanaan dalam pengelolaan

  • Promosi tentang pengelolaan sampah ke masyarakat khususnya ibu rumah tangga
  • Memaksimalkan peran dari sekolah-sekolah mulai dari tingkat

  SD, SMP, SMA dan Universitas dalam rangka advokasi tentang pengelolaan sampah

  • Kampanye tentang pemilahan sampah dari sumbernya
  • Memanfaatkan media-media sosial, media cetak, dan website kabupaten untuk promosi kebersihan

  Air Limbah • Meningkatkan komunikasi antar SKPD sektor air limbah sehingga adanya integrasi program dan kegiatan yang lebih komprehensif

  • Memasang iklan berupa spanduk, baliho maupun panflet tentang pengolahan air limbah yang bersih dan sehat.
  • Memanfaatkan media-media sosial, media cetak, dan website kabupaten untuk promosi kebersihan

  Drainase Lingkungan • Melakukan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat tentang pengelolaan drainase yang baik dan benar

  • Memasang baliho ditempat-tempat strategis tentang pengelolaan drainase
  • Memanfaatkan peran serta dari tokoh masyarakat untuk penyampaian informasi tentang pengelolaan drainase

  Air Minum/Air Bersih • Mengoptimalkan pelibatan sektor swasta dalam hal dukungan

  • Menciptakan iklim investasi dalam pengelolaan air minum (air minum/air bersih)
  • Kampanye tentang pemanfaatan air yang yang bersih dan sehat serta upaya penghematan air.

  • Menciptakan iklim investasi dalam pengelolaan sanitasi
  • Memanfaatkan media-media sosial, media cetak, media elektronik untuk kampanye PHBS khususnya dikalangan anak muda.

  (PHBS)

  Sub Sektor Strategi

  teknis, pendanaan dan kebijakan

  PHBS • Mengoptimalkan pelibatan sektor swasta dalam hal dukungan teknis, pendanaan dan kebijakan

D. Keterlibatan Pelaku Bisnis

  Strategi penguatan aspek keterlibatan pelaku bisnis yang diarahkan untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan sub sektor sanitasi adalah sebagai berikut:

  Persampahan • Mengoptimalkan pelibatan sektor swasta dalam hal dukungan teknis, pendanaan dan kebijakan

  • Meningkatkan koordinasi dengan dunia usaha serta melibatkan peran serta masyarakat
  • Menciptakan iklim investasi dalam pengelolaan sanitasi
  • Mendorong minat swasta dalam layanan pengelolaan persampahan
  • Meningkatkan koordinasi dengan dunia usaha serta melibatkan peran serta masyarakat
  • Menciptakan iklim investasi dalam pengelolaan sanitasi (Air
  • Mendorong minat swasta dalam layanan pengelolaan Air Limbah Drainase Lingkungan • Meningkatkan koordinasi dengan dunia usaha serta melibatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan drainase
  • Mendorong kerjasama dengan swasta dalam pengelolaan air minum selain PDAM
  • Mengotimalkan pendanaan dari swasta – CSR untuk promosi
  • Melibatkan pihak swasta dan media dalam promosi PHBS

  (persampahan) di Kabupaten Solok

  Air Limbah • Mengoptimalkan pelibatan sektor swasta dalam hal dukungan teknis, pendanaan dan kebijakan

  Limbah) di Kabupaten Solok

  Air Minum/Air Bersih • Menciptakan iklim investasi dalam pengelolaan Air Minum di Kabupaten Solok

  PHBS • Meningkatkan kerjasama dengan pihak swasta dan media dalam promosi PHBS

  PHBS

  Sub Sektor Strategi

E. Pemberdayaan Masyarakat, Aspek Jender dan Kemiskinan

  Strategi penguatan aspek pemberdayaan masyarakat, aspek jender dan kemiskinan yang diarahkan untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan sub sektor sanitasi adalah sebagai berikut :

  Sub Sektor Strategi

  Persampahan • Meningkatkan pemahaman tentang pengelolaan sampah sejak dini melalui pendidikan anak usia sekolah dan kepada masyarakat

  • Meningkatkan kapasitas masyarakat khususnya kaum perempuan dalam pengelolaan sampah
  • Mendorong pengelolaan sampah dengan metode 3R yang berbasis masyarakat
  • Melibatkan peran serta badan usaha swasta dan koperasi dalam pembangunan dan pengelolaan air limbah
  • Mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan dan pengelolaan air limbah

  Air Limbah • Fasilitasi oleh SKPD terkait perlunya pelaksanaan PHBS

  Drainase Lingkungan • Kampanye peningkatan peran masyarakat dibidang drainase

  • Mendorong masyarakat/swasta ikut berpartisipasi dalam pengelolaan drainase
  • Memaksimalkan peran dari ibu rumah tangga dalam pengelolaan air bersih dan air minum
  • Meningkatkan pembangunan SPAM Perdesaan untuk masyarakat berpenghasilan rendah
  • Mengembangkan program promosi PHBS yang menarik dan menjangkau semua lapisan masyarakat
  • Meningkatkan pengetahuan masyarakat khususnya ibu rumah tangga dalam peningkatan PHBS

  Air Minum/Air Bersih • Meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat dalam pengelolaan air bersih/air minum dan penghematan air

  PHBS • Meningkatkan kuantitas dan kualitas kader kesehatan lingkungan dalam promosi PHBS

3.6. ARAHAN RENCANA TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN

3.6.1. RTBL ALAHAN PANJANG

  Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan yang sudah disusun di Kabupaten Solok adalah Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan di Jalan Teuku Umar Kawasan Alahan Panjang. Kawasan Alahan Panjang merupakan kawasan strategis di Kabupaten Solok dan juga telah ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Lokal Promosi (PKLP) sesuai dengan RTRW Kabupaten Solok Tahun 2012-2031, serta juga telah ditetapkan sebagai Kawasan Agropolitan.

  Visi dan Misi Kawasan Alahan Panjang adalah sebagai berikut :

  

”Terwujudnya Kawasan Alahan Panjang sebagai KAWASAN URBAN ETALASE

WISATA AGRO berbasiskan fungsi utama komersial (perdagangan, jasa) dan

pariwisata dengan kegiatan pendukung utama adalah permukiman serta kegiatan

  

pendu-kung lainnya adalah pendidikan, perkantoran, dan konservasi setempat.”

  Adapun nilai-nilai yang dijadikan acuan dalam rangka pengendalian pembangunan Kawasan Alahan Panjang adalah :

  • Keberlanjutan;
  • Keterbukaan ;
  • Kesadaran;
  • Kesejahteraan ;
  • Keindahan dan kenyamanan. serta
  • Ketertiban dan keselamatan Tujuan Pembangunan Kawasan Alahan Panjang :

  1. Mengembangkan kawasan Alahan Panjang sebagai kawasan Pusat Kegiatan Lokal promosi (PLKp) dengan fungsi Pusat Perdagangan & Jasa serta Pusat Permukiman Perkotaan,

  2. Mengembangkan dan meningkatkan sarana dan prasarana kawasan perkotaan;

  3. Mengembangkan dan meningkatkan kualitas usaha jasa, perdagangan dan pariwisata agro;

  4. Melestarikan fungsi lingkungan guna mendukung pembangunan yang berkelanjutan;

  5. Meningkatkan kualitas SDM yang yang berkualitas dan berdaya saing tinggi.

  6. Meningkatkan potensi ekonomi wilayah

  TUJUAN, SASARAN DAN KEBIJAKAN PENGENDALIAN 1. PEMBANGUNAN KAWASAN ALAHAN PANJANG Berdasarkan uraian visi misi, strategi dan sasaran yang akan dicapai dalam pembangunan Kawasan Alahan Panjang khususnya di koridor Jalan Teuku Umar disusun lah indikasi program dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas bangunan dan lingkungan yang ada di kawasan tersebut sebagai berikut:

3.7. ARAHAN STRATEGI PENGEMBANGAN PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN DAERAH (RP4D)

  Kabupaten Solok sampai sekarang masih belum memiliki dokumen SPPIP, untuk itu rencana pengembangan permukiman di Kabupaten Solok merujuk kepada dokumen

  Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman

  Daerah (RP4D). Adapun hal-hal yang seharusnya di penuhi untuk pembangunan perumahan dan pemukiman antara lain adalah sebagai berikut: a. Penyediaan prasarana yang memadai, antara lain : jaringan air bersih, pembuangan limbah, pembuangan sampah, listrik dan jalur hijau b. Penyediaan sarana yang cukup memadai pula seperti : fasilitas pendidikan, fasilitas keagamaan, fasilitas kesehatan, fasilitas kebersihan, fasilitas sosial dan fasilitas rekreasi. Fasilitas - fasilitas yang diperlukan ini untuk suatu lingkungan perumahan dan pemukiman harus disesuaikan dengan kedudukannya di dalam suatu daerah. Hal ini di sebabkan karena rumah terletak dalam lingkungan perumahan sedangkan lingkungan perumahan terletak di dalam daerah permukiman. Kabupaten Solok merupakan salah satu kabupaten yang memiliki perkembangan wilayah yang cukup besar. Dalam rangka mewujudkan Kabupaten Solok sebagai kawasan perkotaan/urban, memiliki konsekwensi terhadap semakin besarnya kebutuhan perumahan dan pemukiman dari tahun ketahun.

  Maka untuk itu perlu dirumuskan kebijakan strategis pembangunan dan pengembangan perumahan dan kawasan permukiman kedalam suatu dokumen perencanaan yang matang yang dapat di jadikan sebagai acuan dalam mengambil kebijakan guna mengalokasikan ruang untuk sektor perumahan dan pemukiman di Kabupaten Solok. Penyusunan dokumen perencanaan di maksud merupakan amanat dari Undang - Undang No. 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan Dan Pemukiman pasal 15 yang mengharuskan setiap kabupaten/ kota harus menyusun Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman Daerah (RP4D).

3.7.1. TUJUAN BIDANG PERMUKIMAN DAN INFRASTRUKTUR

  Adapun visi dan misi pembangunan serta arahan kebijakan pengembangan perumahan dan permukiman di Kabupaten Solok dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 3.37 Arahan Visi dan Misi Serta Kebijakan Pembangunan Perumahan dan Permukiman Kabupaten Solok Konsep Pembangunan Kebijakan Perumahan & Visi, Misi, Tujuan dan Arah Kebijakan Kabupaten Permukiman

  Konsep pengembangan Visi Pengembangan dan Pembangunan Perumahan dan Perumahan dan Permukiman Kabupaten Solok :

  Konsep Pembangunan Kebijakan Perumahan & Visi, Misi, Tujuan dan Arah Kebijakan Kabupaten Permukiman

  Permukiman

  1. Pengembangan sistem “Terpenuhinya Permukiman Kabupaten Solok yang Layak permukiman yang Huni, Sehat dan Aman yang didukung Prasarana, Sarana sesuai dengan karakter dan Utilitas Umum (PSU), menuju Masyarakat Mandiri dan ruang kabupaten, sosial Madani” budaya masyarakat, daya dukung dan daya Untuk mewujudkan visi tersebut, maka arahan tampung serta pembangunan perumahan permukiman ditujukan untuk kesesuaian lahan serta melaksanakan 4 (empat) misi utama yaitu: kerawanan terhadap

  a. Mewujudkan perumahan dan kawasan permukiman bencana. yang layak huni Strategi yang dilakukan

  b. Mewujudkan perumahan dan kawasan permukiman antara lain : sehat dan aman yang didukung prasarana, sarana a. mengembangkan dan utilitas umum (PSU). permukiman di

  c. Mewujudkan peningkatan kualitas permukiman tidak Kabupaten Solok layak huni di Kabupaten Solok; dan meliputi permukiman d. Pembangunan permukiman yang sesuai dengan dengan kepadatan prinsip pembangunan berwawasan lingkungan, tinggi dan dan berkelanjutan dan kelestarian alam untuk memenuhi permukiman prinsip penataan ruang; daya dukung dan daya kepadatan sedang tampung serta kesesuaian lahan serta kerawanan dan kepadatan terhadap bencana rendah (sub urban);

  b. mengembangkan permukiman Tujuan : kepadatan rendah

  1. Terwujudnya permukiman yang layak huni, sehat pada di wilayah yang dan aman yang didukung prasarana, sarana dan akan dipertahankan utilitas umum (PSU) untuk mendukung peningkatan sebagai kawasan kualitas permukiman. ; konservasi dan

  2. Terwujudnya Rencana Pembangunan Dan kawasan lindung Pengembangan Perumahan dan Kawasan serta kawasan Permukiman secara terpadu sesuai dengan daya perkebunan dan dukung dan daya tampung serta kesesuaian lahan pertanian dan serta kerawanan terhadap bencana. kawasan rawan

  3. Terselenggaranya pembangunan perumahan dan bencana; permukiman yang sesuai dengan prinsip c. mendorong pembangunan berwawasan lingkungan; pembangunan secara vertikal Kebijakan : terbatas di kawasan

  A. Pemenuhan perumahan dan kawasan permukiman pusat kota untuk yang layak huni; sesuai dengan daya dukung dan mengoptimalkan dan daya tampung serta kesesuaian lahan serta meningkatkan kerawanan terhadap bencana intensitas ruang di

  B. Pemenuhan perumahan dan kawasan permukiman pusat kota dalam sehat dan aman yang didukung prasarana, sarana rangka menjamin dan utilitas umum (PSU); keseimbangan

  C. Peningkatan kualitas permukiman kumuh di antara ruang Kabupaten Solok; terbangun dan ruang

  Konsep Pembangunan Kebijakan Perumahan & Visi, Misi, Tujuan dan Arah Kebijakan Kabupaten Permukiman Strategi :

  terbuka hijau dengan tetap memperhatikan A. Strategi untuk memenuhi perumahan dan kawasan ketentuan bangunan permukiman yang layak huni meliputi : tahan gempa;

  1. Memenuhi persyaratan keselamatan bangunan;

  d. membatasi serta daya dukung dan daya tampung serta pengembangan kesesuaian lahan serta kerawanan terhadap permukiman di bencana ruang-ruang yang

  2. Menjamin kesehatan meliputi pencahayaan, ditetapkan sebagai penghawaan dan sanitasi; dan kawasan rawan 3. Memenuhi kecukupan luas minimum. bencana, kawasan

  B. Strategi untuk memenuhi perumahan dan kawasan lindung dan kawasan permukiman sehat dan aman yang didukung resapan air; prasarana, sarana dan utilitas umum (PSU) meliputi :

  e. meremajakan

  1. Mengembangkan jaringan jalan menuju perumahan kawasan dan kawasan permukiman; permukiman tidak

  2. Mengembangkan sanitasi di perumahan dan layak huni di kawasan permukiman; kawasan terisoloir;

  3. Mengembangkan jaringan drainase dan

  f. mempertahankan pengendalian banjir di perumahan dan kawasan dan meningkatkan permukiman; kualitas lingkungan

  4. Mengembangkan persampahan di perumahan permukiman yang dan kawasan permukiman; sudah tertata;

  5. Memenuhi kebutuhan air minum di perumahan dan

  g. mengembangkan kawasan permukiman; dan perumahan yang

  6. Memenuhi kebutuhan listrik di perumahan dan mendukung kawasan permukiman. pengembangan kawasan industri, perdagangan dan

  C. Strategi untuk meningkatkan kualitas permukiman jasa, dll. tidak layak huni di Kabupaten Solok meliputi :

  1. Melakukan perbaikan atau pemugaran

  2. Pengembangan permukiman tidak layak huni meliputi rehabilitasi kawasan permukiman dan renovasi; untuk menyediakan

  2. Melakukan peremajaan permukiman tidak layak perumahan dan huni dengan membangun prasarana dan sarana fasilitasnya sesuai lingkungan perumahan dan kawasan permukiman dengan jumlah baru yang lebih layak dan sesuai dengan rencana penduduk kabupaten tata ruang wilayah; sampai akhir tahun

  3. Mengembangkan lingkungan permukiman melalui perencanaan. pengelolaan dan pemeliharaan berkelanjutan Strategi yang dilakukan untuk perumahan formal dan non formal; dan antara lain : Meningkatkan kualitas permukiman.

  a. membatasi perkembangan secara horizontal untuk pengembangan perumahan, perdagangan dan

  Konsep Pembangunan Kebijakan Perumahan & Visi, Misi, Tujuan dan Arah Kebijakan Kabupaten Permukiman

  jasa di wilayah pusat kota Aro Suka; b. mendorong pengembangan perumahan secara ekstensif ke arah ke permukiman perkotaan dan pedesaan dengan intensitas yang disesuaikan dengan daya dukung lahan; c. mengembangkan kawasan perumahan sesuai dengan kebutuhan penduduk sampai dengan akhir tahun perencanaan; d. mengembangkan perumahan secara vertikal pada kawasan yang memiliki kepadatan penduduk lebih dari 400 jiwa/ha dengan tetap memperhatikan ketersediaan prasarana yang ada dan ketahanan terhadap gempa; e. meremajakan dan merehabilitasi lingkungan yang menurun kualitasnya;

  f. melestarikan kawasan dan bangunan cagar budaya.

3.7.2. STRATEGI PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DAN INFRASTRUKTUR

1. Strategi Sinkronisasi dengan Rencana Tata Ruang

  Strategi jangka panjang ini dilakukan dengan melakukan sinkronisasi dengan rencana tata ruang. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa RP4D (Rencana

  

Pengembangan Pembangunan Perumahan Permukiman Daerah) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan rencana tata ruang. Oleh karena itu, strategi- strategi yang dibuat pun harus sinkron dengan rencana tata ruang yang jangka waktu pelaksanaannya adalah jangka panjang. Faktor-faktor yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :

  a. Keterpaduan program yang bersifat lintas sektoral dan lintas wilayah dalam konteks pengembangan wilayah atau kawasan.

  b. Pendekatan bottom-up atau mengedepankan peran masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan perumahan dan permukiman.

  c. Rencana pembangunan yang dibuat harus memperhatikan potensi dan keunggulan lokal.

  d. Konsistensi pelaksanaan pembangunan perumahan dan permukiman terhadap rencana tata ruang e. Penegakan hukum yang konsekuen untuk menghindari kepentingan sepihak dan untuk terlaksananya pembagian peran yang ’seimbang’ antar unsur-unsur

  stakeholders.

  f. Keseimbangan pemenuhan kepentingan berbagai stakeholder, yaitu pemerintah, swasta dan masyarakat. Berdasarkan prinsip-prinsip pokok penataan ruang maka kebijakan pokok penataan ruang yang perlu dilaksanakan dalam mendukung pembangunan perumahan dan permukiman adalah melaksanakan upaya revitalisasi dan operasionalisasi rencana tata ruang yang berorientasi kepada pemanfaatan dan pengendalian rencana tata ruang yang ada. Hal ini dicapai melalui kegiatan-kegiatan pokok seperti:

  1) Inventarisasi perubahan fungsi lahan dan penyimpangan pemanfaatan (konflik- konflik pemanfaatan ruang); 2) Menyiapkan dukungan/instrumen pemanfaatan rencana tata ruang, seperti mekanisme insentif dan disinsentif, dan 3) Menyiapkan instrumen pengendalian pemanfaatan ruang melalui mekanisme perizinan (seperti izin prinsip, izin lokasi, IMB dan penegakan sanksi hukum atas bentuk-bentuk pelanggaran). Pada akhirnya, kebijakan penataan ruang dikembangkan untuk mewujudkan keterpaduan pembangunan kawasan yang mampu mendorong peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dan lingkungan hidup, melalui upaya pengaturan keseimbangan kawasan lindung (daerah aliran sungai, daerah resapan air, ruang terbuka hijau, hutan lindung dll), sistem pusat-pusat permukiman (termasuk didalamnya permukiman skala besar), serta arahan sistem jaringan prasarana wilayah (sistem transportasi, pengendalian banjir, penyediaan air baku, sistem pembuangan limbah) dengan melibatkan peran pemerintah, masyarakat dan dunia usaha.

  

2. Strategi Pengembangan Peraturan Perundang-undangan dan Pemantapan

Kelembagaan Perumahan dan Permukiman yang Menyelenggarakan Pembangunan Perumahan

  Pengembangan Peraturan Perundang-undangan di bidang perumahan dan permukiman itu meliputi penyusunan berbagai macam peraturan perundang-undangan dalam penyelenggaraan perumahan dan permukiman. Untuk menjalankan peraturan perundang-undangan tersebut, dibutuhkan kelembagaan yang handal dan responsif.

  Kelembagaan Perumahan dan Permukiman yang Menyelenggarakan Pembangunan Perumahan ini terdiri dari Pemerintah (Pusat, Provinsi, Kota), Badan Usaha (BUMN, BUMD, Swasta) dan Masyarakat (orang dan kelompok atau perkumpulan).

  Kelembagaan perumahan dan permukiman yang dapat melibatkan secara sinergi seluruh pelaku pembangunan harus diselenggarakan dengan berprinsip pada tata pemerintahan yang baik dan pembangunan partisipatif yang berbasis pada upaya menumbuh kembangkan keswadayaan masyarakat di dalam penyelenggaraan perumahan dan permukiman. Seluruh elemen pokok kelembagaan, seperti sumber daya manusia, organisasi, tata laksana, serta dukungan prasarana dan sarana kelembagaan harus diwujudkan sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas lokal, melalui program-program peningkatan kapasitas SDM, pengembangan organisasi dan penyusunan tata laksana yang operasional efektif. Kelembagaan yang diwujudkan, baik kelembagaan secara masing-masing maupun secara bersama, harus dikembangkan secara bertahap oleh para pelaku pembangunan, yaitu pemerintah, BUMN, BUMD dan Swasta, serta masyarakat secara perorangan atau kelompok/perkumpulan yang berkepentingan di bidang perumahan dan permukiman. Kelembagaan yang ditumbuh kembangkan harus mampu mendorong upaya-upaya pemenuhan kebutuhan perumahan dan pencapaian kualitas permukiman secara koordinatif efektif sesuai dengan program pembangunan yang ditetapkan di tiap tingkatan pemerintahan. Dengan semakin mengakarnya lembaga perumahan di tingkat lokal yang didukung sepenuhnya oleh masyarakat, diharapkan para penyelenggara akan lebih mampu menangkap aspirasi berbagai pihak terkait, dan dapat memanfaatkan secara optimal sistem sosial komunitas masyarakat yang senantiasa berkembang secara dinamis.

  

3.7.3. STRATEGI PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DI SEKTOR

PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN

1. Strategi Penyediaan Perumahan dan Permukiman

  Berdasarkan analisis yang dilakukan, diketahui bahwa pada beberapa kawasan di Kabupaten Solok masih terdapat jumlah back log yang cukup tinggi. Untuk itu, salah satu strategi jangka menengah yang dapat ditetapkan adalah menyediakan perumahan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat tersebut. Penerapan strategi ini merupakan upaya meningkatkan kondisi rumah tidak layak huni atau rumah non permanen. Selain itu, juga perlu dilakukan pengurangan terhadap rumah-rumah yang tidak layak huni.

  

2. Strategi Distribusi Penduduk yang Sesuai dengan Daya Dukung

Lingkungan

  Strategi distribusi penduduk yang tepat ini dilakukan dengan mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Pendistribusian penduduk ke kawasan-kawasan yang berkepadatan rendah dan pada kawasan-kawasan yang memiliki potensi pengembangan yang tinggi. Selain itu, dilakukan juga peningkatan kepadatan penduduk untuk mendukung sub-sub pusat utama dengan menumbuhkan kegiatan usaha yang bisa menyerap tenaga manusia. Berdasarkan program kebijaksanaan kependudukan, diasumsikan bahwa 1 rumah akan ditempati oleh 4-5 jiwa, maka dengan estimasi jumlah penduduk disesuaikan dengan analisis kebutuhan fasilitas perumahan.

  3. Strategi Perwujudan Kondisi Lingkungan yang Sehat, Aman, Harmonis dan Berkelanjutan untuk Perkembangan Permukiman Baru

  Perwujudan kondisi lingkungan yang sehat, aman, harmonis dan berkelanjutan merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi melalui penyediaan perumahan dan permukiman. Untuk itu, perumahan dan permukiman yang disediakan bagi masyarakat pun harus disertai dengan penyediaan sarana dan prasarana lingkungan yang memadai dan memenuhi standar kehidupan yang layak. Strategi ini dikhususkan untuk pengembangan permukiman-permukiman baru yang telah direncanakan seiring dengan adanya rencana pengembangan pusat-pusat pelayanan di Kabupaten Solok

  

4. Strategi Pengembangan Berbagai Jenis dan Mekanisme Subsidi

Perumahan

  Strategi dapat dilakukan dengan mengembangkan pengaturan subsidi perumahan, mengembangan subsidi pembiayaan perumahan dan mengembangan subsidi prasarana dan sarana dasar perumahan. Pengembangan subsidi ini dimaksudkan untuk memberikan bantuan serta stimulus dalam pengembangan perumahan di Kabupaten Solok. Dengan memberikan subsidi yang tepat, masyarakat diharapkan memiliki kemampuan lebih untuk memenuhi kebutuhannya akan tempat tinggal. Dalam jangka waktu menengah, strategi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam perbaikan kondisi perumahan, khususnya pada perumahan-perumahan yang memiliki kondisi yang kurang memadai.

  5. Strategi Pengembangan Partisipasi Masyarakat Masyarakat merupakan tokoh kunci dalam keberhasilan program yang dilaksanakan.

  Partisipasi masyarakat dapat diartikan sebagai keikutsertaan, keterlibatan, dan keseragaman anggota masyarakat dalam suatu kegiatan tertentu baik secara langsung maupun tidak langsung, sejak dari gagasan sampai pengambilan keputusan. Partisipasi secara langsung berarti anggota masyarakat tersebut ikut memberikan bantuan tenaga dalam kegiatan yang dilaksanakan, misalnya dalam proyek pembangunan jalan, anggota masyarakat ikut serta dalam pekerjaan membangun jalan tersebut. Sedangkan partisipasi tidak langsung berupa bantuan: keuangan, pemikiran dan material yang diperlukan.

  

6. Strategi Pengembangan Sistem Informasi Basisdata Perumahan

dan Permukiman

  Salah satu permasalahan perumahan dan permukiman di Kabupaten Solok adalah perbedaan skala/satuan maupun proses pengumpulan dan data antar instansi menyebabkan berbedanya data yang dihasilkan sehingga informasi kerap jadi kurang akurat. Untuk itu, diperlukan strategi untuk menstandarkan variabel dan unit/satuan data antar instansi, termasuk kejelasan tanggung jawab dan kewenangan pendataan dari masing-masing instansi agar tidak terjadi tumpang tindih proses pengumpulan dan pengolahan data dasar.

  

7. Strategi Pengembangan Pusat Informasi Layanan Publik dan

Pelayanan Teknis

  Pengembangan tatalaksana pembangunan perumahan dan permukiman di Kabupaten Solok dimaksudkan sebagai pengembangan Pusat informasi Layanan Publik yang dapat dengan mudah diakses oleh berbagai pihak. Pusat Informasi Layanan Publik dapat berupa pembukaan website melalui internet, membuat poster/selebaran/pamflet/brosur yang disebarluaskan ke masyarakat. Diharapkan bahwa pusat pelayanan teknis ini dapat diakses oleh seluruh pelaku, perorangan maupun badan usaha. Adapun jenis bantuan yang dapat diakses adalah advis planning yang berkaitan dengan lokasi dan rencana tapak, advis planning yang berkitan dengan konstruksi dan tata cara membangun rumah, dan advis administrasi yang berkaitan dengan sewa menyewa, kontrak alih kepemilikan dan lain-lain.

  

8. Strategi Pengembangan Tata Cara Pengawasan dan

Pengendalian

  Pengembangan tata cara pengawasan dan pengendalian pembangunan perumahan dan permukiman di Kabupaten Solok akan dilakukan berdasarkan ketentuan perundangan yang berlaku di daerah. Pengawasan pembangunan dilakukan secara berkala untuk ketertiban pembangunan dan pencapaian mutu konstruksi. Pelaporan hasil pengawasan dilakukan secara berkala kepada Pemerintah Kabupaten Solok. Sanksi terhadap pelanggaran perlu diberikan dalam kegiatan pembangunan perumahan dan Permukiman. Selain sanksi juga perlu dipikirkan tentang insentif bagi pihak-pihak yang memberikan konstribusi terhadap peningkatan kualitas lingkungan.

  

9. STRATEGI PEMBANGUNAN JANGKA PENDEK DI SEKTOR PERUMAHAN

DAN PERMUKIMAN

b. Strategi Penanganan Permukiman Tidak Layak Huni

  Salah satu permasalahan perumahan dan permukiman di Kabupaten Solok yang mendesak untuk ditangani adalah keberadaan beberapa spot permukiman tidak layak huni di wilayah Kabupaten Solok. Penanganan masalah lingkungan permukiman tidak layak huni tidak dapat dilakukan secara sepihak atau parsial, melainkan harus merupakan upaya terpadu yang saling mendukung dan saling bersinergi dalam mencapai sasaran manfaat yang optimal. Perlu ada kesamaan persepsi dalam penetapan sasaran, langkah dan waktu yang tepat untuk mengimplementasinya, dalam hal ini pemerintah perlu berperan sebagai fasilitator dan pemberdaya dari semua tindakan yang akan diambil. Masa depan suatu wilayah sangat tergantung dari keberhasilan mencapai kehidupan masyarakat yang berimbang, kemajemukan masyarakat harus dilihat sebagai kekuatan untuk menghadapi masa depan suatu wilayah yang penuh persaingan dan permasalahan yang kompleks, sehingga diperlukan perintisan pembentukan jaringan kemitraan yang saling mendukung.

  

c. Strategi Perbaikan Sarana dan Prasarana pada Kawasan

Permukiman yang Telah Terbangun

  Perbaikan sarana dan prasarana ini dikhususkan bagi kawasan-kawasan yang telah terbangun. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa sebagian besar perumahan di Kabupaten Solok saat ini memiliki sarana dan prasarana yang masih kurang memadai, khsusnya perumahan yang terbentuk secara organik dan tidak terencana (unplanned). Untuk itu, permasalahan ini adalah permasalahan mendesak yang harus ditangani dalam jangka waktu pendek, yaitu 1-2 tahun ke depan.

  Berdasarkan strategi pembangunan perumahan dan permukiman, rencana pengembangan perumahan di kawasan perencanaan adalah : 1) Pengembang perumahan disarankan menyediakan fasilitas sosial seperti : TK, SD, Pasar, Taman Bermain Anak dan Sarana Ibadah. 2) Pengembang perumahan baru disarankan membuat sumur resapan untuk setiap rumah. Sedangkan untuk skala lingkungan disediakan Boezem (penampung air hujan)

  3) Pengembang perumahan disarankan membuat pengolah limbah komunal khususnya perumahan < 10 Ha. Hal tersebut berdasarkan kebijakan tentang permukiman penduduk

  4) Bagi pengembang perumahan besar dengan luas pengembangan lahannya > 25 Ha, diharapkan mencari titik-titik lokasi sumber air. Dimana dalam pengelolaan sumber air tersebut dilakukan oleh PDAM Kabupaten Solok dengan pengembang perumahan. Lokasi-lokasi sumber air tersebut yang berada di kawasan pengembangan perumahan, sebaiknya dimanfaatkan untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) atau Fasilitas Umum (Fasum). Pengembangan kawasan perumahan khususnya perumahan kapling kecil diharuskan membangun dengan type 36 dan luas lahan minimal 90 m²

  Bagi pengembang diwajibkan untuk membangun prasarana dasar berupa jalan dan drainase pada setiap kawasan perumahan yang di bangunnya. Lokasi permukiman perkotaan diarahkan ke Aro Suka, Talang, Alahan Panjang – Sungai Nanam, Selayo, Paninggahan, Sulit Air, Singkarak, Sungai Lasi, Muara Panas, Bukit Sileh, Sirukam, Surian, Talang Babungo, Batu Bajanjang, Sp. Tanjung Nan IV dengan luas 1.348,40 Ha. Dan pengembangan permukiman pedesaan diarahkan ke Kayu Jao – Lubuk Selasih, Parak Tabu – Lipek Pageh – Aia Dingin, Batu Palano – Tigo Kajai, Kampung Tangah – Parumahan, Laing, Gando, Pintu Rayo, Saningbakar, Tarung-Tarung Utara,

  Tarung-Tarung Selatan, Koto Panjang, Batu Banyak, Subarang Bancah, Koto Lb Pulai, Tanam Batu Lolo, dan Paubungan Danau Diateh. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan rumah di Kabupaten Solok hingga tahun 2033 dibutuhkan sekitar 34.755 unit, dengan pembagian rumah tipe besar 3.793 unit, tipe sedang 11.585 unit dan tipe kecil 17.378 unit. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan rumah dan data RTRW Kabupaten Solok Tahun 2012-2031 tersedia lahan untuk permukiman 7.038,40 Ha. Sementara lahan yang dibutuhkan untuk menampung pengembangan perumahan hingga tahun 2033 hanya 810,950 Ha. Untuk lebih jelasnya luas dan lokasi yang diperuntukkan untuk perumahan dan pengembangan perumahan di Kabupaten Solok dapat dilihat pada tabel 3.28. dan gambar 6.1 berikut ini.

  

Tabel 3.38.

Rencana Arahan Pembangunan dan Pengembangan

Perumahan dan Permukiman di Kabupaten Solok

  No Kecamatan Luas (Ha) Jumlah % Permukiman Permukiman Perdesaan Perkotaan

  1 Kec. Bukik Sundi 179,60 64,60 244,20 3,47

  2 Kec. Danau Kembar 100,53 14,82 115,34 1,64

  3 Kec. Gunung Talang 1.009,63 359,47 1.369,10 19,45

  4 Kec. Hiliran Gumanti 97,33 43,95 141,27 2,01

  5 Kec. IX Koto Sungai Lasi 349,39 168,61 518,00 7,36

  6 Kec. Junjung Sirih 129,39 52,08 181,48 2,58

  7 Kec. Kubung 416,65 129,40 546,05 7,76

  8 Kec. Lembah Gumanti 492,35 223,30 715,65 10,17

  9 Kec. Lembang Jaya 191,79 67,87 259,66 3,69

  10 Kec. Pantai Cermin 303,14 24,22 327,35 4,65

  11 Kec. Payung Sekaki 36,23 24,73 60,97 0,87

  12 Kec. Tigo Lurah 1.460,98 78,09 1.539,07 21,87

  13 Kec. X Koto Diatas 141,46 118,62 260,07 3,70

  14 Kec. X Koto Singkarak 660,30 99,92 760,22 10,80

  TOTAL 3.690,04 1.348,40 7.038,44 100,00 Sumber: Hasil Rencana

3.7.4. RENCANA AKSI PROGRAM PENANGANAN DAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN

  Rencana aksi program disusun berdasarkan prioritas pengembangan kawasan, sehingga program-program pembangunan yang disusun dapat ditentukan arah pelaksanaan. Indikasi waktu pelaksanaan program dibagi menjadi jangka pendek (tahapan pertama atau 5 tahun pertama) dan jangka panjang (tahapan kedua dan seterusnya. Walaupun indikasi program ini disusun hingga akhir tahun rencana dalam kerangka waktu jangka pendek dan jangka panjang, namun dalam pelaksanaannya sewaktu-waktu masih dapat dilakukan penyesuaian pelaksanaan program selama masih sejalan dengan rencana kawasan.

  Untuk lebih jelasnya, perumusan pelaksanaan program pembangunan permukiman di kawasan priorits dapat dilihat pada table:3.39.

PERIODE LIMA TAHUNAN 2013-2031 PENANGGUNG JAWAB SUMBER

  I NO. STRATEGI PROGRAM SUB PROGRAM PROGRAM/ PEMBIAYAAN

II III

  1

  2

  3

  4

  5 Mengarahkan

  1 Pengembangan Pengembangan sistem pusat-pusat BAPPEDA, Dinas APBD PROVINSI, pengembangan kawasan Permukiman permukiman baru pada kawasan PU APBD KAB

  X X

  X X

  X X permukiman pada permukiman perkotaan dan kawasan permukiman perdesaan perkotaan dan Pembangunan perumahan swadaya BAPPEDA, Dinas APBN, APBD permukiman perdesaan di dan formal PU PROVINSI, APBD

  X X

  X X

  X X

  X X Kabupaten Solok

  KAB, SWASTA, MASYARAKAT Pengembangan Penyediaan infrastruktur Dinas PU APBD PROVINSI, Infrastruktur Kawasan permukiman menuju pusat-pusat APBD KAB Permukiman permukiman perkotaan dan

  X X

  X X

  X X Perkotaan dan perdesaan Perdesaan

  2 Mengembangkan kawasan Perencanaan Perencanaan pembangunan BAPPEDA, Dinas APBN, APBD permukiman berbasis Pembangunan Daerah permukiman dan infrastruktur PU PROVINSI, APBD

  X X

  X mitigasi bencana Rawan Bencana pendukung berbasis mitigasi KAB bencana

  Koordinasi lintas sektor dalam BAPPEDA, Dinas APBD KAB pembangunan kawasan PU

  X X

  X X

  X X

  X X permukiman rawan bencana Penetapan kebijakan dan peraturan Dinas PU, Bag. APBD KAB daerah tentang peraturan-peraturan Hukum Setda bangunan, pengaturan struktur

  X X bangunan tahan gempa dan penataan ruang dengan mitigasi bencana Peningkatan Penyiapan dan peningkatan jalur- Dinas PU, BPBD APBD PROVINSI,

  Kesiagaan dan jalur evakuasi bencana APBD KAB

  X X Penanggulangan Bencana

  BAB III-132

PERIODE LIMA TAHUNAN 2013-2031 PENANGGUNG JAWAB SUMBER

  I NO. STRATEGI PROGRAM SUB PROGRAM PROGRAM/ PEMBIAYAAN

II III

  1

  2

  3

  4

  5 Rekonstruksi dan renovasi Dinas PU, BPBD APBN, APBD bangunan-bangunan publik pada PROVINSI, APBD

pusat-pusat permukiman untuk KAB

  X X

  X difungsigandakan sebagai escape building Sosialisasi mitigasi bencana dan BPBD, Dinas PU APBD KAB kesiapsiagaan dalam menghadapi

  X X

  X X

  X X

  X X bencana Pelatihan kepada aparat yang BPBD APBD KAB mencakup pemahaman mengenai

  X X

  X X kebijakan yang mengatur tentang pengelolaan kebencanaan

  Pencegahan Dini dan Pengadaan tempat penampungan Dinas PU, BPBD APBD PROVINSI, Penanggulangan sementara dan evakuasi penduduk APBD KAB

  X X

  X Korban Bencana dari ancaman/ korban bencana alam Peningkatan Penyiapan infrastruktur pencegahan Dinas Pemadam APBN, APBD Kesiagaan dan dan penanggulangan bahaya Kebakaran, PDAM PROVINSI, APBD

  X X

  X Pencegahan Bahaya kebakaran KAB Kebakaran Penyusunan rencana induk sistem Dinas Pemadam APBD KAB proteksi kebakaran Kebakaran, Dinas

  X X

  X PU Pengembangan Penyusunan dan analisis data BAPPEDA APBD KAB data/informasi informasi perencanaan

  X X pembangunan kawasan permukiman rawan bencana

  3 Mengendalikan Pengendalian Pengawasan dan pengendalian Dinas PU, BPBD APBD KAB perkembangan Pemanfaatan Ruang pemanfaatan ruang permukiman permukiman pada pada kawasan rawan (banjir,

  X X

  X X

  X X

  X X kawasan rawan bencana gerakan tanag/longsor, letusan gunung api dan patahan) (banjir, gerakan

  BAB III-133

APBD KAB

  BAB III-134 NO. STRATEGI PROGRAM SUB PROGRAM PENANGGUNG JAWAB PROGRAM/ PELAKU SUMBER PEMBIAYAAN PERIODE LIMA TAHUNAN 2013-2031 I II III IV

  X X Penyusunan kebijakan pengendalian pemanfaatan ruang permukiman pada kawasan konservasi dan kawasan lindung

  X X

  X X Sosialisasi kebijakan pengendalian pemanfaatan ruang permukiman pada kawasan konservasi dan kawasan lindung

  Dinas PU, Dinas Perkebunan dan Kehutanan, Bag. Hukum Setda APBN, APBD

  PROVINSI, APBD KAB

  X X

  X X

  X X

  Dinas PU, Dinas Perkebunan dan Kehutanan Bag.Hukum Setda

  X X

  X X Penataan Permukiman di Dalam Kawasan Lindung Penataan permukiman kepadatan rendah di sekitar kawasan konservasi dan kawasan lindung

  BPN, Dinas Dinas PU, Dinas Perkebunan dan Kehutanan, BP DAS.

  APBN, APBD PROVINSI, APBD KAB

  X X

  X X

  X X

  X X

  X X

  Perkebunan dan Kehutanan, BP DAS. APBD KAB

  1

  X X Penyusunan kebijakan pengendalian pemanfaatan ruang permukiman pada kawasan rawan bencana Dinas PU, BPBD,

  2

  3

  4

  5 tanag/longsor, letusan gunung api dan patahan)

  Sosialisasi kawasan rawan bencana (banjir, gerakan tanag/longsor, letusan gunung api dan patahan) BPBD, Dinas PU APBD KAB

  X X

  X X

  X X

  Bag. Hukum Setda APBD KAB

  Pemanfaatan Ruang Pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang permukiman pada kawasan konservasi dan kawasan lindung Dinas PU, Dinas

  X X Pemberdayaan Komunitas

  Koordinasi lintas sektor dalam pengendalian pemanfaatan ruang permukiman pada kawasan rawan bencana (banjir, gerakan tanag/longsor, letusan gunung api dan patahan)

  BAPPEDA, Dinas PU

  X X

  X X

  X X

  X X

  4 Mengendalikan perkembangan permukiman di sekitar kawasan konservasi dan kawasan lindung Pengendalian

APBD KAB

PERIODE LIMA TAHUNAN 2013-2031 PENANGGUNG JAWAB SUMBER

  I NO. STRATEGI PROGRAM SUB PROGRAM PROGRAM/ PEMBIAYAAN

II III

  1

  2

  3

  4

  5 Pemberdayaan Koordinasi dan peningkatan BAPPEDA, BPN, APBD KAB Komunitas kerjasama lintas sektor dalam Dinas PU, Dinas pengendalian pemanfaatan ruang Perkebunan dan

  X X

  X X

  X X

  X X permukiman pada kawasan Kehutanan, BP DAS konservasi dan kawasan lindung

  Penataan Pengembalian penguasaan lahan BPN, Dinas PU, APBD KAB penguasaan, pada kawasan konservasi dan Dinas Perkebunan pemilikan, kawasan lindung dan Kehutanan,

  X X

  X penggunaan dan Satpol PP pemanfaatan tanah

  5 Mengendalikan Pengendalian Pengawasan dan pengendalian BAPPEDA, Dinas APBD KAB perkembangan Pemanfaatan Ruang pemanfaatan ruang permukiman PU, BPN

  X X

  X X

  X X

  X X permukiman pada pada kawasan sempadan sungai kawasan sempadan sungai dan sempadan danau/waduk dan danau/waduk Penyusunan kebijakan pengendalian Dinas PU, APBD KAB pemanfaatan ruang permukiman BAPPEDA, Bag.

  X X pada kawasan sempadan sungai Hukum Setda dan danau/waduk

  Pemberdayaan Pemberdayaan masyarakat di Dinas PU, APBD KAB Komunitas sempadan sungai dan sempadan BAPPEDA, Bag.

  X X

  X danau/waduk dalam pengelolaan Hukum Setda lingkungan Koordinasi dan peningkatan BAPPEDA, Dinas APBD KAB kerjasama lintas sektor dalam PU, BPN, Bag. pengendalian pemanfaatan ruang Hukum Setda, Bag.

  X X

  X X

  X X

  X X permukiman pada kawasan Pertanahan Setda sempadan sungai dan sempadan danau/waduk

  BAB III-135

PERIODE LIMA TAHUNAN 2013-2031 PENANGGUNG JAWAB SUMBER

  I NO. STRATEGI PROGRAM SUB PROGRAM PROGRAM/ PEMBIAYAAN

II III

  1

  2

  3

  4

  5 Penataan Pengembalian penguasaan lahan BPN, Satpol PP, APBD KAB penguasaan, dan peruntukan fungsi sempadan Bag. Pertanahan pemilikan, sungai dan sempadan danau/waduk Setda

  X X penggunaan dan pemanfaatan tanah

  6 Menata kawasan Pengembangan Penanganan kawasan permukiman BAPPEDA, Dinas APBN, APBD permukiman tidak layak Permukiman pada rumah tidak layak huni PU PROVINSI, APBD

  X X

  X X

  X X huni dan kawasan

  KAB sempadan sungai dan Penyusunan Penataan Ruang Dinas PU APBD PROVINSI, Pengelolaan Ruang sempadan danau/waduk Terbuka Hijau (RTH) di sempadan APBD KAB

  X X Terbuka Hijau (RTH) sungai dan sempadan danau/waduk Keswadayaan Penyiapan/pemberdayaan Kecamatan & APBD KAB Masyarakat masyarakat untuk kegiatan Kelurahan

  X X

  X penataan kawasan Pemberdayaan Koordinasi dan peningkatan BAPPEDA, Dinas APBD KAB

  Komunitas PU kerjasama lintas sektor dalam penanganan kawasan permukiman

  X X

  X X

  X X

  X tidak layak huni dan kawasan sempadan sungai dan sempadan danau/waduk Pengembangan Kemitraan/kerjasama pembiayaan BAPPEDA, Dinas APBD KAB

  Pembiayaan PU dalam penanganan kawasan permukiman tidak layak huni dan

  X X

  X X

  X X

  X X kawasan sempadan sungai dan sempadan danau/waduk

  Penataan Penataan penguasaan, pemilikan, Dinas PU, Kantor APBD KAB penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan Pelayanan Perizinan pemilikan, tanah terkait dengan legalitas Terpadu, Bag.

  X X

  X X

  X X

  X X penggunaan dan kepemilikan lahan dan legalitas Hukum Setda pemanfaatan tanah bangunan (IMB)

  BAB III-136

  BAB III-137 NO. STRATEGI PROGRAM SUB PROGRAM PENANGGUNG JAWAB PROGRAM/ PELAKU SUMBER PEMBIAYAAN PERIODE LIMA TAHUNAN 2013-2031 I II III IV

  X X

  X X

  X X

  X X

  X Penyehatan Lingkungan Permukiman: Infrastruktur Air Limbah

  Rehabilitasi/peningkatan/pembangu nan PS air limbah terpusat skala kota Dinas PU APBN, APBD

  PROVINSI, APBD KAB

  X X

  X Rehabilitasi/peningkatan/pembangu nan PS air limbah setempat dan komunal

  X X Pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa dan jaringan pengairan lainnya Rehabilitasi/pemeliharaan jaringan irigasi teknis Dinas PU, DKP APBN, APBD

  Dinas PU APBN, APBD PROVINSI, APBD KAB

  X X

  X X Penyehatan Lingkungan Permukiman: Perencanaan teknis tempat pengelolaan sampah terpadu/3R berbasis masyarakat

  DKP, Dinas PU APBN, APBD PROVINSI, APBD KAB

  X X

  X X

  X X

  PROVINSI, APBD KAB

  X X

  1

  X X

  2

  3

  4

  5

  7 Memenuhi penyediaan infrastruktur yang layak bagi kawasan permukiman Pembangunan Jalan dan Jembatan Pembangunan jalan kawasan permukiman Dinas PU APBN, APBD

  PROVINSI, APBD KAB

  X X

  X X

  X X

  X Rehabilitasi/Pemelihar aan Jalan dan Jembatan

  Rehabilitasi/pemeliharaan jalan kawasan permukiman Dinas PU APBN, APBD PROVINSI, APBD

  KAB

  X X

  X X

  X X Penyehatan Lingkungan Permukiman: Infrastruktur Drainase Perkotaan Rehabilitasi/peningkatan/pembangu nan PS drainase permukiman perkotaan

  Dinas PU APBN, APBD PROVINSI, APBD KAB

  X BAB III-138 NO. STRATEGI PROGRAM SUB PROGRAM PENANGGUNG JAWAB PROGRAM/ PELAKU SUMBER PEMBIAYAAN PERIODE LIMA TAHUNAN 2013-2031 I II III IV

  1

  X X Penyehatan Lingkungan Permukiman Penyuluhan dan pengawasan kualitas lingkungan sehat perumahan dan permukiman

  X X

  X X

  X X

  X Rehabilitasi/pemeliharaan sarana dan prasarana air minum Dinas PU, PDAM APBN, APBD

  PROVINSI, APBD KAB

  X X

  X X

  X X

  Dinas PU APBD KAB

  X Penyediaan prasarana dan sarana air minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah

  X X

  X Pemberdayaan Komunitas Koordinasi dan peningkatan kerjasama lintas sektor dalam penyediaan infrastruktur permukiman yang layak BAPPEDA, Dinas

  PU APBD KAB

  X X

  X X

  X X

  X Penguatan dan pembinaan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) dalam pengelolaan permukiman dan infrastruktur pendukung Dinas PU, Dinas

  Kesosnaker APBD KAB

  X X

  Dinas PU, BAPPEDA APBN, APBD PROVINSI, APBD KAB

  X X

  2

  PROVINSI, APBD KAB

  3

  4

  5 Infrastruktur Persampahan Peningkatan/pembangunan

  TPST/3R DKP, Dinas PU APBN, APBD PROVINSI, APBD KAB

  X X

  X X

  X X

  X X Pengendali Banjir Pembangunan reservoir pengendali banjir Dinas PU APBN, APBD

  X X

  X X

  X X Pengelolaan Air Minum

  Pengembangan SPAM di IKK dan Kawasan MBR Dinas PU, PDAM APBN, APBD PROVINSI, APBD

  KAB

  X X

  X X

  X X

  X Pengembangan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (PAMSIMAS)

  Dinas PU, BAPPEDA APBN, APBD PROVINSI, APBD KAB

  X X

  X X

APBD KAB

  BAB III-139 NO. STRATEGI PROGRAM SUB PROGRAM PENANGGUNG JAWAB PROGRAM/ PELAKU SUMBER PEMBIAYAAN PERIODE LIMA TAHUNAN 2013-2031 I II III IV

  X X Pengembangan Permukiman

  X X

  X X

  X X

  X X Pengendalian alih fungsi lahan pada kawasan irigasi teknis

  Dinas Perkebunan dan Kehutanan, BPN, Dinas PU APBD KAB

  X X

  X X

  X X

  Penyediaan dan pengelolaan lahan untuk Fasum Fasos Bag. Pertanahan Setda, Bag.

  1

  Perlengkapan, DPKA, BPN

  X X

  X X

  X X

  X

  10 Memberikan kemudahan pengembangan kawasan permukiman (perizinan, Pemberdayaan

  Komunitas Percepatan pelayanan perizinan BAPPEDA, Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu

  X

  BAPPEDA, BPN, Dinas PU

  Pengendalian Pemanfaatan Ruang Pengawasan pemanfaatan ruang kawasan permukiman

  9 Mengembangkan permukiman sesuai dengan peruntukkan pada rencana tata ruang

  X X

  2

  3

  4

  5 Monitoring dan evaluasi penyediaan infrastruktur permukiman yang layak BAPPEDA, Dinas

  PU APBD KAB

  X X

  X X Pengembangan Pembiayaan

  Kemitraan/kerjasama pembiayaan dalam penyediaan infrastruktur permukiman yang layak BAPPEDA, Dinas

  PU APBD KAB

  X X

  X X

  X X

  X X

  8 Menguatkan kelembagaan antara pemerintah pusat/daerah, pihak swasta dan lembaga swadaya masyarakat dalam pengelolaan permukiman dan infrastruktur pendukungnya

  Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Penguatan dan pengembangan kapasitas kelembagaan dalam penyelenggaraan permukiman dan infrastruktur pendukungnya BAPPEDA, Dinas

  PU APBD KAB

  X X

  X X Penguatan dan pembinaan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) dalam pengelolaan permukiman dan infrastruktur pendukung

  Dinas PU, Dinas Kesosnaker

  X X

APBD KAB

APBD KAB

APBD KAB

  BAB III-140 NO. STRATEGI PROGRAM SUB PROGRAM PENANGGUNG JAWAB PROGRAM/ PELAKU SUMBER PEMBIAYAAN PERIODE LIMA TAHUNAN 2013-2031 I II III IV

  X X Pengembangan Permukiman

  BPN, Bag. Pertanahan Setda, Bag. Hukum Setda

  X X

  X X

  X X

  X Pelibatan masyarakat, lembaga adat, LSM dalam penyelesaian konflik pertanahan

  BPN, Bag. Pertanahan Setda, Bag. Hukum Setda

  X X

  X X

  Perencanaan dan Pengembangan Kasiba/ Lisiba Berdiri Sendiri (BS) BAPPEDA, Dinas PU

  1

  X X

  X X

  X X

  X

  12 Menyiapkan Kasiba/Lisiba Berdiri Sendiri (BS) Sosialisasi Kasiba/Lisiba Berdiri Sendiri (BS)

  X X

  X X

  X X

  X X

  X X Fasilitiasi penyelesaian konflik pertanahan

  Pertanahan Setda APBN, APBD PROVINSI, APBD KAB

  Penyusunan sistem informasi pertanahan yang handal BPN, Bag.

  11 Memperjelas status lahan pada kawasan permukiman Penataan penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah

  2

  3

  4

  5 pemberian subsidi, pengurangan pajak, dan keringanan bunga cicilan) Pemberian insentif berupa subsidi, pengurangan pajak, dan keringanan bunga cicilan bagi MBM dan MBR

  BAPPEDA, Dinas PU APBN, APBD PROVINSI, APBD KAB

  X X

  X X

  X X

  X X Penyelesaian Konflik- konflik Pertanahan

  X

  Koordinasi dan peningkatan kerjasama lintas sektor dalam penataan penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah kawasan permukiman BAPPEDA, BPN,

  Bag. Pertanahan Setda APBN, APBD PROVINSI, APBD KAB

  X X

  X X

  X X

  X X Pengembangan Sistem Informasi Pertanahan Pengadaan sertifikasi tanah kawasan permukiman BPN, Bag.

  Pertanahan Setda APBN, APBD PROVINSI, APBD KAB, DAN MASYARAKAT

  X X

  X X

  X X

APBD KAB

APBD KAB

APBD KAB

BAPPEDA APBD KAB

PERIODE LIMA TAHUNAN 2013-2031 PENANGGUNG JAWAB SUMBER

  I NO. STRATEGI PROGRAM SUB PROGRAM PROGRAM/ PEMBIAYAAN

II III

  1

  2

  3

  4

  5 Penyusunan payung hukum sebagai BAPPEDA, Dinas APBD KAB dasar perencanaan dan TRTB, Bag. Hukum

  X X pembangunan Kasiba/Lisiba Berdiri Setda Sendiri (BS)

  Pemberdayaan Pembangunan kerjasama lintas BAPPEDA, Dinas APBN, APBD Komunitas sektor dalam pengembangan PU, Dinas TRTB PROVINSI, APBD

  X X

  X X

  X X

  X

pengembangan Kasiba/Lisiba Berdiri KAB

Sendiri (BS) Pengembangan peran serta BAPPEDA, Dinas APBD K KAB masyarakat dalam perencanaan, PU, BPMK

  X X

  X X

  X pembangunan, dan pemeliharaan Kasiba/Lisiba Berdiri Sendiri (BS) Kemitraan/kerjasama pembiayaan BAPPEDA, Dinas APBD KAB dalam pengembangan Kasiba/Lisiba PU, Dinas TRTB

  Pengembangan

  X X

  X X

  X X

  X X Berdiri Sendiri (BS) Pembiayaan

  Sumber: RP4D Kab Solok

  BAB III-141

  

3.8. ARAHAN RENCANA TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN DI

KAWASAN STRATEGIS KABUPATEN SOLOK

  Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan yang sudah disusun di Kabupaten Solok adalah Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan di Jalan Teuku Umar Kawasan Alahan Panjang. Kawasan Alahan Panjang merupakan kawasan strategis di Kabupaten Solok dan juga telah ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Lokal Promosi (PKLP) sesuai dengan RTRW Kabupaten Solok Tahun 2012-2031, serta juga telah ditetapkan sebagai Kawasan Agropolitan.

  Visi dan Misi Kawasan Alahan Panjang adalah sebagai berikut :

  

”Terwujudnya Kawasan Alahan Panjang sebagai KAWASAN URBAN ETALASE

WISATA AGRO berbasiskan fungsi utama komersial (perdagangan, jasa) dan

pariwisata dengan kegiatan pendukung utama adalah permukiman serta kegiatan

pendu-kung lainnya adalah pendidikan, perkantoran, dan konservasi setempat.”

  Adapun nilai-nilai yang dijadikan acuan dalam rangka pengendalian pembangunan Kawasan Alahan Panjang adalah :

  • Keberlanjutan;
  • Keterbukaan ;
  • Kesadaran;
  • Kesejahteraan ;
  • Keindahan dan kenyamanan. serta
  • Ketertiban dan keselamatan Tujuan Pembangunan Kawasan Alahan Panjang :

  1. Mengembangkan kawasan Alahan Panjang sebagai kawasan Pusat Kegiatan Lokal promosi (PLKp) dengan fungsi Pusat Perdagangan & Jasa serta Pusat Permukiman Perkotaan,

  2. Mengembangkan dan meningkatkan sarana dan prasarana kawasan perkotaan;

  3. Mengembangkan dan meningkatkan kualitas usaha jasa, perdagangan dan pariwisata agro;

  4. Melestarikan fungsi lingkungan guna mendukung pembangunan yang berkelanjutan;

  5. Meningkatkan kualitas SDM yang yang berkualitas dan berdaya saing tinggi.

  6. Meningkatkan potensi ekonomi wilayah

3.8.1. TUJUAN, SASARAN DAN KEBIJAKAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN KAWASAN ALAHAN PANJANG

  Berdasarkan uraian visi misi, strategi dan sasaran yang akan dicapai dalam pembangunan Kawasan Alahan Panjang khususnya di koridor Jalan Teuku Umar disusun lah indikasi program dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas bangunan dan lingkungan yang ada di kawasan tersebut sebagai berikut:

3.9. INTEGRASI STRATEGI PEMBANGUNAN KABUPATEN

3.9.1. ST RATEGI PEMBANGUNAN KABUPATEN SOLOK

  Pembangunan infrastruktur pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari kebijakan pembangunan kota yang sedang berjalan. Terkait dengan kebijakan pengembangan kabupaten, di Kabupaten Solok terdapat berbagai dokumen kebijakan pembangunan dan penataan ruang kota baik yang sifatnya legal maupun tidak. Dalam tiap dokumen tersebut, apapun kebijakan dan strateginya akan selalu merujuk pada arah pengembangan kota yang lebih baik yang tertuang dalam visi kota.

  Berdasarkan dokumen rencana yang ada di Kabupaten Solok, maka dapat disusun matriks strategi pembangunan pada skala Kabupaten Solok yang meliputi: a. RTRW Kabupaten/Kota sebagai acuan arahan spasial;

  b. RPJMD Kabupaten/Kota sebagai acuan arahan pembangunan;

  c. SPPIP sebagai acuan arahan pengembangan permukiman;

  d. RI-SPAM sebagai arahan pengembangan air minum; dan e. SSK sebagai arahan pengembangan sektor sanitasi.

3.9.2. STRATEGI PEMBANGUNAN KAWASAN

  Strategi pembangunan skala kabupaten merupakan strategi untuk pembangunan yang berlaku umum untuk seluruh kawasan di Kabupaten Solok, maka strategi pembangunan skala kawasan sifatnya memiliki lingkup wilayah yang lebih kecil. Beberapa dokumen perencanaan seperti RTBL dan RP4D memiliki lingkup yang lebih kecil, yaitu skala kawasan. Keterpaduan dokumen perencanaan kawasan yang ada di Kabupaten Solok berdasarkan fungsi kawasan dan arahan pengembangan termasuk Kawasan Strategis Kabupaten yang diidentifikasi dari RTRW Kabupaten Solok selengkapnya dijabarkan pada Tabe:3.39.

  

Tabel: 3.39

Matrik Strategi Pembangunan Kabupaten Solok

Dokumen Visi Misi Kebijakan Strategi Rencana

  RTRW Tidak ada penjelasan Terwujudnya ruang wilayah

  a. Pengembangan organisasi

  a. mengembangkan satu pusat kegiatan kabupaten yang aman, ruang wilayah kabupaten utama wilayah kabupaten (PKL) sesuai nyaman, produktif dan yang efisien melalui susunan arahan RTRWP dan mempromosikan berkelanjutan dengan pusat kegiatan yang pusat utama lainnya sesuai dengan pengembangan struktur ruang berhirarki dan mencakup potensinya; efisien yang mengintegrasikan seluruh ruang wilayah b. menetapkan minimal 1 (satu) pusat seluruh wilayah kabupaten dan kabupaten kegiatan sebagai Pusat Pengembangan pengembangan pola ruang Kawasan (PPK) pada masing-masing yang harmonis antara kawasan kecamatan; budidaya dengan kawasan lindung serta pemanfaatan

  c. menetapkan pusat kegiatan/pusat potensi sumber daya alam permukiman yang memiliki wilayah berbasis pertanian, layanan antar desa dan atau lebih dari perkebunan, pariwisata, dan satu desa sebagai Pusat Pelayanan industri.

  Lingkungan (PPL), selain yang telah ditetapkan sebagai Pusat Pengembangan Kawasan (PPK); dan

  d. menetapkan pusat permukiman yang memiliki tingkat layanan mendekati pusat kegiatan di atasnya, dipromosikan menjadi pusat kegiatan di atasnya (PKLp, PPKp, PPLp).

  b. Pengembangan sistem

  a. mendukung pengembangan jaringan jaringan dan node jalan akses ke Kabupaten Solok sesuai prasarana yang kebijakan Nasional dan Provinsi serta

  BAB III-147

  Dokumen Visi Misi Kebijakan Strategi Rencana

  mengintegrasikan seluruh pengembangan rintisan jalan baru pusat kegiatan wilayah ke/dari Kabupaten Solok dengan kabupaten dan sistem kabupaten/kota Lain bersebelahan; perdesaan hinterland-nya b. mengembangkan jalan multi akses dari dan memberikan layanan dan ke pusat kegiatan yang bagi sebesar-besarnya mengintegrasikan seluruh wilayah permukiman yang ada pada kabupaten; wilayah kabupaten

  c. mendukung pengembangan sistem jaringan KA Nasional dan Provinsi Sumbar yang melintasi wilayah Kabupaten Solok;

  d. mengembangkan sistem transportasi air di Danau Singkarak, Danau Diatas dan Danau di Bawah untuk mendukung kegiatan ekonomi wilayah dan pariwisata;

  e. mengembangkan Sistem Jaringan Energi/Listrik untuk memenuhi kebutuhan listrik di seluruh wilayah kecamatan di wilayah Kabupaten Solok;

  f. mengembangkan sistem jaringan telekomunikasi seluler yang melayani seluruh wilayah Kabupaten Solok dan meningkatkan jaringan telekomunikasi kabel terutama untuk layanan kegiatan industri pada Pusat Kegiatan Utama

  BAB III-148

  Dokumen Visi Misi Kebijakan Strategi Rencana

  Kabupaten (PKL dan PKLp);

  g. mengembangkan sistem jaringan air baku untuk memenuhi kebutuhan air minum pada pusat kegiatan utama kabupaten (PKL dan PKLp) dan untuk wilayah-wilayah yang sulit air, serta mengembangkan jaringan irigasi kabupaten (primer-Sekunder-tersier) pada kawasan potensi pertanian lahan basah; h. mengembangkan TPA Regional bekerjasama dengan Kota Padang dan kabupaten berdekatan dalam Metropolitan Padang dan sekitarnya; i. mengembangkan prasarana ekonomi pada pusat kegiatan dan pusat pelayanan sesuai dengan tingkatan dan wilayah layanannya; mengembangkan prasarana sosial j. budaya, peribadatan, kesehatan, dan oleh raga untuk menunjang kehidupan sosial budaya masyarakat yang nyaman dan berkelanjutan;

  BAB III-149

  Dokumen Visi Misi Kebijakan Strategi Rencana

  c. Pemantapan kawasan

  a. mempertahankan kawasan lindung lindung di wilayah Kabupaten yang telah ada dan sesuai RTRWN dan Solok yang telah ditetapkan RTRWP; dalam RTRWN dan RTRW b. mengembalikan fungsi lindung untuk

  Provinsi dan menambah kawasan lindung yang telah ditetapkan kawasan lindung dalam pada RTRWN dan RTRWP yang telah kewenangan Kabupaten mengalami perubahan pemanfaatan non lindung, sepanjang syarat dan ketentuan sebagai kawasan lindung terpenuhi sesuai dengan Peraturan Pemerintah No 10/2010 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan; mengembangkan kawasan lindung c. skala kabupaten sesuai dengan potensi fungsi yang ada pada kawasan; dan d. mengusahakan terjaganya kawasan hutan minimal 30% dari setiap DAS dalam keseluruhan wilayah Kabupaten.

  d. Pengelolaan kawasan

  a. mengembangkan kawasan budidaya budidaya mendukung pertanian diarahkan untuk terjaganya pengembangan ekonomi Kabupaten Solok sebagai bagian dari melalui pengelolaan sumber lumbung padi Nasional dan Provinsi daya alam berkelanjutan Sumbar melalui intensifikasi dan berbasis pertanian, ekstensifikasi lahan pertanian; perkebunan, pariwisata, dan mengembangkan kawasan budidaya b. industri perkebunan diarahkan untuk

  BAB III-150

  Dokumen Visi Misi Kebijakan Strategi Rencana

  pengembangan ekonomi produktif wilayah yang memiliki daya dongkrak tinggi terhadap produktivitas dan pertumbuhan ekonomi wilayah; c. mengembangkan kawasan pariwisata diarahkan untuk peningkatan kenyamanan hidup masyarakat sekaligus menjadi bagian pengembangan ekonomi produktif wilayah yang dapat menstimulasi kegiatan ekonomi produktif di dalam kawasan wisata maupun wilayah yang lebih luas dalam wilayah kabupaten; mengembangkan kawasan peruntukan d. industri diarahkan untuk industri pengelolaan potensi sumber daya alam untuk peningkatan nilai tambah dan produktifitas wilayah, secara berkelanjutan;

  e. mengembangkan kawasan permukiman diarahkan untuk mendukung pengembangan pusat-pusat kegiatan dan pusat pelayanan yang tersebar sebagaimana Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten;

  f. mengembangkan Kawasan budidaya kehutanan diarahkan untuk dapat

  BAB III-151

  Dokumen Visi Misi Kebijakan Strategi Rencana

  menstimulai kegiatan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan hutan dan peningkatan produktivitas wilayah kabupaten pada sektor kehutanan; g. mengembangkan kawasan pertambangan untuk pengelolaan potensi sumber daya alam secara berimbang dan berkelanjutan dengan memprioritaskan aspek keseimbangan ekosistem dan pelestarian lingkungan hidup; e. Perwujudan usaha untuk

  a. menetapkan kembali kawasan hutan perubahan fungsi dari yang termasuk dalam kawasan kawasan hutan ke kawasan budidaya di Kabupaten Solok, bukan hutan untuk kawasan sebagaimana dalam RTRWP Sumbar budidaya yang diperlukan yang telah disetujui oleh Menteri untuk kepentingan Kehutanan; dan pembangunan Kabupaten b. mewujudkan pengelolaan kawasan yang sesuai ketentuan dan telah disetujui Menteri Kehutanan peraturan yang berlaku (PP sebagai kawasan yang dilepaskan No. 10/2010 tentang Tata statusnya dari kawasan hutan, sebesar- Cara Perubahan Peruntukan besarnya untuk pengembangan ekonomi dan Fungsi kawasan Hutan)” produktif masyarakat berbasis pertanian, perkebunan, pariwisata dan industri.

  BAB III-152

  Dokumen Visi Misi Kebijakan Strategi Rencana

  RPJMD Terwujudnya

  1. Mewujudkan tata kelola

  1. Peningkatan kualitas tata

  1. Penataan Organisasi beban kerja

  Kepemerintahan Yang pemerintahan lokal yang baik, kelola pemerintahan

  2. Penilaian Kinerja secara berkala

  Baik Menuju Masyarakat bersih, berwibawa dan taat

  3. Penataan Sistem Administrasi dan tata

  Sejahtera hukum

  Laksana Pemerintahan

  2. Penataan kehidupan yang

  4. Peninjauan Instrumen Hukum Tata Kerja agamais bermoral dan dan tata Laksana Pemerintahan berbudaya

  5. Penyusunan SPM dan SOP

  3. Meningkatkan kesejahteraan

  6. Penataan Sistem Pengelolaan rakyat dengan menciptakan Keuangan dan Asset daerah. tatanan perekonomian

  7. Peningkatan Kapasitas pengelola terpadu berbasis teknologi keuangan dan asset daerah

  4. Menciptakan Pendidikan

  8. Pengawasan dan pengendalian Berkualitas pengelolaan penatausahaan keuangan

  5. Meningkatkan Derajat dan asset daerah Kesehatan Masyarakat

  2. Meningkatkan kualitas

  1. Membangun sistem dan unit pelayanan

  6. Meningkatkan Infrastruktur Penyelenggaraan pelayanan dan pengaduan masyarakat on-line dan untuk mendukung public off line pembangunan di segala

  2. Peningkatan pelayanan public bidang

  3. Peningkatan dan pengembangan sistem

  7. Membangunan informasi, pengawasan dan kepariwisataan sebagai pengendalian kekuatan ekonomi strategis

  4. Pembangunan sistem teknologi

  8. Mengembangkan informasi pembangunan (e-goverment)

  Pembangunan

  3. Meningkatkan Kualitas Kepemudaan,Olahraga dan perencanaan pembangunan

  1. Penyusunan dokumen perencanaan Pemberdayaan Perempuan daerah yang terpadu

  2. Sinkronisasi antar dokumen perencanaan

  3. Validasi data statistik SKPD.

  BAB III-153

  Dokumen Visi Misi Kebijakan Strategi Rencana

  4. Penyusunan Sistem Informasi Data Base Pembangunan Daerah

  4. Meningkatkan stabiltas

  1. Penyusunan produk hukum keamanan dan ketertiban yang implementatif serta kesadaran hukum

  2. Peningkatan peran masyarakat dalam masyarakat penyusunan dan pemahaman produk hukum

  3. Pembinaan SDM Aparat Penegak Hukum

  4. Pengembangan sistem keamanan lingkungan

  5. Peningkatan pemahaman tentang wawasan kebangsaaan.

  5. Meningkatkan mitigasi,

  1. Penataan dan Penyusunan regulasi tanggap darurat dan mitigasi, tanggap darurat, rehabilitasi rehabilitasi rekonstruksi dan rekonstruksi bencana bencana

  2. Peningkatan kualitas dan kuantitas SDM mitigasi, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi bencana

  3. Pembangunan dan penyediaan sarana dan prasarana pendukung Mitigasi, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi bencana

  1. Penguatan partisipasi masyarakat dan lembaga keagamaan

  6. Meningkatkan kualitas

  2. Peningkatan partisipasi semua lapisan

  BAB III-154

  BAB III-155 Dokumen Rencana Visi Misi Kebijakan Strategi kehidupan beragama di semua lapisan masyarakat dalam kegiatan keagamaan.

  7. Meningkatkan hubungan sosial budaya berdasarkan falsafah ABS-SBK

  1. Penguatan partisipasi masyarakat dan institusi kebudayaan

  2. Peningkatan pelestarian nilai budaya dan adat Minang Kabau

  8. Meningkatkan Produktivitas pertanian (tanaman pangan, holtikultura, perkebunan dan peternakan) perikanan, kehutanan untuk menunjang ketahanan pangan

  1. Pengembangan sistem informasi hasil produksi pertanian,perikanan dan kehutanan

  2. Memudahkan aksesibilitas pemasaran produk pertanian,perikanan dan kehutanan.

  3. Peningkatan ketahanan pangan

  9. Meningkatkan pengembangan koperasi,UMKM, Industri dan perdagangan

  10. Meningkatkan penataan kebijakan strategis pengembangan ekonomi daerah

  1. Mengembangkan industri produktif berbasis UMKM

  2. Memudahkan aksesibiltas pemasaran produk unggulan daerah melalui UMKM

  3. Peningkatan promosi dan kerjasama pengembangan potensi.

  Pembangunan dan pengembangan Kawasan Strategis dan cepat tumbuh BAB III-156 Dokumen Rencana Visi Misi Kebijakan Strategi

  11. Meningkatkan investasi Daerah

  1. Penciptaan iklim investasi yang mendukung potensi lokal

  2. Fasilitasi kemudahan pinjaman investasi

  3. Peningkatan Kualitas SDM pencari kerja

  4. Peningkatan sarana dan prasarana pelatihan kerja

  5. Peningkatan peran dan fungsi lembaga ketenagakerjaan.

  12. Meningkatkan pengelolaan Sumber Daya Alam berbasis pelestarian lingkungan.

  13. Meningkatkan jaringan infrastruktur transportasi dan perhubungan untuk mendukung aksesibilitas dan mobilitas antar wilayah, pertumbuhan ekonomi, daya saing daerah dan ketahanan pangan

  1. Pengembangan produksi ramah lingkungan

  2. Optimalisasi pengelolaan limbah

  3. Pengendalian, pengawasan dan pemantauan kebijakan lingkungan hidup

  4. Peningkatan peran serta masyarakat serta stakeholder dalam pengelolaam lingkungan

  1. Optimalisasi kualitas konstruksi jalan dan jembatan

  2. Pembangunan dan pemeliharaan Jalan dan Jembatan

  3. Pembangunan, pengembangan dan Pemeliharaan sarana dan prasarana transportasi

  Dokumen Visi Misi Kebijakan Strategi Rencana

  14. Meningkatkan infrastruktur

  1. Pembangunan dan pemeliharaan sumberdaya air jaringan irigasi dan embung

  2. Peningkatan SDM Petani Pemakai Air

  3. Pembangunan dan Pemeliharaan sungai dan danau

  15. Meningkatkan penataan

  1. Pengaturan pola penggunaan lahan dan pembangunan

  2. Penyusunan dokumen rencana tata perumahan serta kualitas ruang pemukiman lingkungan pemukiman.

  16. Mengentaskan nagari

  1. Pembangunan Infrastruktur Dasar dan tertinggal dan penurunan jaringannya angka kemiskinan

  2. Validasi Data Penggangguran dan Kemiskinan 3. Pembukaan lapangan pekerjaan.

  17. Meningkatkan Derajat

  1. Penyelenggaraan Pendidikan Usia Dini pendidikan

  2. Penerapan wajib belajar 12 Tahun

  3. Peningkatan pendidikan non formal

  4. Ekstensifikasi kurikulum pendidikan umum.

  18. Meningkatkan kualitas dan

  1. Peningkatkan kesetaraan dalam daya saing pendidikan memperoleh layanan pendidikan

  2. Fasilitasi kemudahan bagi anak-anak usia sekolah BAB III-157

  Dokumen Visi Misi Kebijakan Strategi Rencana

  19. Mengembangkan

  1. Pelaksanaan pendidikan berkarakter pendidikan berkarakter berbasiskan ABS-SBK berbasis ABS-SBK

  2. Penyelenggaraan aktivitas kebudayaan di sekolah

  20. Meningkatkan kesehatan

  1. Peningkatan kualitas pelayanan masyarakat kesehatan dasar

  2. Peningkatan kualitas perencanaan, pelaksanaan kegiatan serta pengawasan pengendalian dan penilaian terhadap program pembangunan kesehatan di semua tingkatan

  3. Peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan bagi penduduk tidak mampu/miskin

  4. Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada setiap lini

  5. Peningkatan Upaya Promosi Kesehatan

  6. Responsif terhadap krisis kesehatan akibat bencana dan kejadian luar biasa.

  7. Peningkatan dan pengembangan SDM

  BAB III-158

  Dokumen Visi Misi Kebijakan Strategi Rencana

  8. serta pemerataan penempatan tenaga kesehatan

  9. Peningkatan ketersedian dan pemerataan sarana dan prasarana kesehatan serta kualitas obat.

  1. Pembinaan generasi muda di segala

  21. Meningkatkan peran dan bidang. prestasi pemuda dalam pembangunan

  2. Peningkatan prestasi olah raga

  3. Pembinaan organisasi kepemudaan

  22. Pengarustamaan Gender Penguatan kelembagaan pengarustamaan (PUG) gender

  23. Menuntaskan Kasus KDRT Peningkatan pengawasan dan pembinaan pada rumah tangga

  24. Mengembangkan

  1. Pengembangan Destinasi Pariwisata pariwisata dan budaya Daerah. unggulan

  2. Pembangunan sarana dan prasarana wisata.

  3. Peningkatan pelestarian seni dan budaya

  4. Pengembangan dan Pembinaan kelompok seni dan budaya

  5. Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.

  6. Pembangunan Desa Wisata

  BAB III-159

  BAB III-160 Dokumen Rencana Visi Misi Kebijakan Strategi RP4D Terpenuhinya Permukiman Kabupaten Solok yang Layak Huni, Sehat dan Aman yang didukung Prasarana, Sarana dan Utilitas Umum (PSU), menuju Masyarakat Mandiri dan Madani

  3. Memenuhi kecukupan luas minimum

  1. Melakukan perbaikan atau pemugaran permukiman tidak layak huni meliputi rehabilitasi dan renovasi;

  6. Memenuhi kebutuhan listrik di perumahan dan kawasan permukiman.

  5. Memenuhi kebutuhan air minum di perumahan dan kawasan permukiman; dan

  4. Mengembangkan persampahan di perumahan dan kawasan permukiman;

  3. Mengembangkan jaringan drainase dan pengendalian banjir di perumahan dan kawasan permukiman;

  2. Mengembangkan sanitasi di perumahan dan kawasan permukiman;

  1. Mengembangkan jaringan jalan menuju perumahan dan kawasan permukiman;

  2. Menjamin kesehatan meliputi pencahayaan, penghawaan dan sanitasi; dan

  10. Mewujudkan perumahan dan kawasan permukiman yang layak huni

  1. Memenuhi persyaratan keselamatan bangunan; serta daya dukung dan daya tampung serta kesesuaian lahan serta kerawanan terhadap bencana

  3. Peningkatan kualitas permukiman kumuh di

  2. Pemenuhan perumahan dan kawasan permukiman sehat dan aman yang didukung prasarana, sarana dan utilitas umum (PSU);

  1. Pemenuhan perumahan dan kawasan permukiman yang layak huni; sesuai dengan daya dukung dan daya tampung serta kesesuaian lahan serta kerawanan terhadap bencana

  13. Pembangunan permukiman yang sesuai dengan prinsip pembangunan berwawasan lingkungan, berkelanjutan dan kelestarian alam untuk memenuhi prinsip penataan ruang; daya dukung dan daya tampung serta kesesuaian lahan serta kerawanan terhadap bencana

  12. Mewujudkan peningkatan kualitas permukiman tidak layak huni di Kabupaten Solok; dan

  11. Mewujudkan perumahan dan kawasan permukiman sehat dan aman yang didukung prasarana, sarana dan utilitas umum (PSU).

  2. Melakukan peremajaan permukiman tidak layak huni dengan membangun BAB III-161 Dokumen Rencana Visi Misi Kebijakan Strategi Kabupaten Solok prasarana dan sarana lingkungan perumahan dan kawasan permukiman baru yang lebih layak dan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah;

  3. Mengembangkan lingkungan permukiman melalui pengelolaan dan pemeliharaan berkelanjutan untuk perumahan formal dan non formal; dan Meningkatkan kualitas permukiman. RIS-SPAM Sedang dalam penyusunan Sedang dalam penyusunan Sedang dalam penyusunan Sedang dalam penyusunan SSK Terwujudnya Kabupaten

  4. Meningkatkan pengetahuan oleh kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan air limbah domestik serta masalah teknisnya

  5. Mendorong kerjasama antar Kota/Kabupaten dalam upaya melindungi badan air dari pencemaran air limbah

  4. Prioritas pembangunan pada masyarakat daerah miskin dan rawan penyakit yang berhubungan dengan air (Waterborne disease)

  3. Meningkatkan akses jamban sehat

  2. Penyediaan pelayanan dan peningkatan kualitas sistem air limbah domestik untuk mencapai target Standar Pelayanan Minimum (SPM) (Kemen PU no. 14 tahun 2010)

  1. Menyusun master plan pengelolaan limbah domestik

  5. Meningkatkan pendanaan

  3. Meningkatkan penggunaan jamban sehat menjadi 80% pada tahun 2017

  Solok Sehat Dengan Peningkatan Akses Layanan Sanitasi Yang Berwawasan Lingkungan Tahun 2017

  2. Menyediakan sistem pengelolaan air limbah setempat untuk melayani 60 % Penduduk Kabupaten Solok pada tahun 2017

  1. Menyediakan master plan air limbah domestik pada akhir tahun 2014

  3. Mengembangkan sistem pengelolaan air limbah domestik yang efektif, efisien secara bertahap dan

  2. Mendorong investasi pendanaan dari berbagai sumber dalam pengelolaan air limbah permukiman dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat dan kemitraan dengan swasta

  1. Menyiapkan peraturan perundangan dalam penyelenggaraan sistem pengelolaan Air limbah domestik

  Sub Sektor Air Limbah

  6. Fasilitasi oleh SKPD terkait perlunya pelaksanaan PHBS BAB III-162 Dokumen Rencana Visi Misi Kebijakan Strategi berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas sumber daya air dan lingkungan

  4. Mengembangkan kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia dalam pengelolaan air limbah domestik

  12. Meningkatkan menajemen pembangunan air limbah di daerah

  1. Menyiapkan master plan pengelolaan persampahan

  2. Terjadinya pengurangan 20%

  1. Menyediakan master plan pengelolaan persampahan pada akhir tahun 2014

  1. Menyiapkan dan melengkapi peraturan perundangan dalam penyelenggaraan pengelolaan persampahan

  Subsektor Persampahan

  14. Menyusun Perda pengelolaan air limbah (meningkatkan ketersediaan NSPM dalam pengembangan sistem pembuangan air limbah)

  13. Meningkatkan pengelolaan air limbah melalui pelatihan dan pendidikan SDM yang kompeten

  11. Meningkatkan pembiayaan melalui kemitraan pemerintah dan swasta

  5. Meningkatkan kesadaran masyarakat melalui fasilitasi akan pentingnya pengelolaan air limbah domestik bagi kesehatan dan perlindungan sumber daya air sektor air limbah domestik baik dari sumber dana yang berasal dari APBD Kabupaten, APBD Provinsi dan APBN

  10. Mendorong peningkatan prioritas pendanaan pemerintah daerah dalam pengembangan sistem

  9. Mendorong peningkatan alternatif sumber pembiayaan yang murah dan berkelanjutan

  8. Mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan dan pengelolaan air limbah

  7. Melibatkan peran serta badan usaha swasta dan koperasi dalam pembangunan dan pengelolaan air limbah

  8. Menyediakan peraturan perundangan pengelolaan air limbah

  7. Menjadikan pengelolaan air limbah domestik menjadi salah satu prioritas pembangunan di kabupaten Solok

  6. Meningkatkan keterlibatan masyarakat dan swasta dalam penyelenggaraan pengembangan system pengelolaan air limbah domestik

  2. Pengurangan sampah semaksimal mungkin dari sumbernya BAB III-163 Dokumen Rencana Visi Misi Kebijakan Strategi

  2. Mengurangi timbulan sampah dalam rangka pengelolaan persampahan yang berkelanjutan

  4. Mengembangkan dan menerapkan sistem insentif dan disinsentif dalam pelaksanaan 3R

  11. Mendorong koordinasi lintas sektor terutama perindustrian, pertanian dan perdagangan

  10. Meningkatkan kerjasama dan koordinasi dengan pemangku kepentingan lain

  9. Meningkatkan kinerja institusi pengelolaan persampahan serta peningkatan kualitas SDM pengelolaan persampahan

  8. Penanganan sampah rumah dan infeksius

  7. Meningkatkan cakupan pelayanan persampahan secara terencana

  6. Peningkatan cakupan pelayanan dan kualitas sistem pengelolaan

  5. Optimalisasi pemanfaatan prasarana dan sarana persampahan

  3. Meningkatkan pemahaman masyarakat akan upaya 3R dan pengamanan sampah B3 rumah tangga

  3. Meningkatkan jangkauan dan kualitas pelayanan sistem pengelolaan persampahanMemberdayakan masyarakat dan meningkatkan peran aktif dunia usaha/swasta dalam rangka mendorong investasi bidang persampahan

  9. Meningkatkan pendanaan sektor persampahan baik dari sumber dana yang berasal dari APBD Kabupaten, APBD Provinsi dan APBN

  8. Menyediakan peraturan perundangan pengelolaan air limbah

  7. Menjadikan pengelolaan persampahan menjadi salah satu prioritas pembangunan di kabupaten Solok

  6. Meningkatkan jumlah dan kapasitas SDM pengelola sektor persampahan

  5. Menyediakan sarana dan prasarana sektor persampahan

  4. Menyediakan TPA sampah regional antara Kab. Solok dan Kab. Solok Selatan pada akhir tahun 2016

  3. Tersedianya sistem penanganan sampah di perkotaan yang dapat melayani 70% jumlah penduduk

  4. Meningkatkan kemampuan manajemen dan kelembagaan volume sampah yang diangkut ke TPA pada tahun 2017

  12. Advokasi dalam rangka penyamaan persepsi kepada pengambil keputusan untuk meningkatkan prioritas pendanaan dalam pengelolaan persampahan BAB III-164 Dokumen Rencana Visi Misi Kebijakan Strategi

  10. Meningkatkan peran masyarakat dan swasta dalam pengelolaan persampahan

  1. Tersedianya sistem drainase lingkungan yang terintegrasi dengan drainase Kota/Kabupaten sehingga tidak ada lagi genangan yang terjadi pada tahun 2017

  5. Pengembangan kapasitas SDM

  4. Mengoptimalkan sistem yang ada

  3. Pengembangan kapasitas dan pemeliharaan sarana dan prasarana drainase terbangun

  2. Pengembangan sistem drainase yang berwawasan lingkungan (Konservasi Air)

  1. Penyiapan rencana induk sistem drainase yang terpadu antara sistem drainase utama, lokal dengan pengaturan dan pengelolaan sungai

  4. Meningkatkan perhatian

  3. Meningkatkan tupoksi antara lembaga regulator dan operator

  2. Menyediakan sistem drainase lingkungan di 10 (sepuluh) kawasan

  3. Meningkatkan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat yang

  11. Terselenggaranya pengelolaan persampahan skala rumah tangga di pedesaan

  2. Mengembangkan dan meningkatkan pelayanan prasarana dan sarana drainase lingkungan untuk meningkatkan kualitas kesehatan serta mencegah pencemaran lingkungan

  1. Menyiapkan dan melengkapi peraturan perundangan dalam penyelenggaraan pengelolaan drainase lingkungan

  Subsektor Drainase

  17. Peningkatan peran aktif masyarakat dan dunia usaha/swasta sebagai mitra pengelolaan

  16. Meningkatkan kemitraan pemerintah dan swasta

  15. Mengembangkan sistem insentif dan iklim yang kondusif bagi dunia usaha (swasta)

  14. Mendorong peningkatan pemulihan biaya persampahan

  13. Mendorong penyusunan perda pengelolaan persampahan dan penerapan sistem pengawasan dan penerapan sanksi hukum

  12. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan persampahan dan kebersihan

  6. Penyiapan prioritas optimalisasi sistem drainase BAB III-165 Dokumen Rencana Visi Misi Kebijakan Strategi efektif dan efisien serta bertanggung jawab

  4. Meningkatkan kemampuan pembiayaan daerah serta mendorong investasi dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat dan kemitraan dengan swasta

  11. Kampanye peningkatan peran masyarakat dibidang drainase

  2. Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk menolong dirinya sendiri dan mengembangkan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat

  1. Pemberdayaan masyarakat, bina suasana dan advokasi yang didukung juga dengan kemitraan

  Peningkatan keterpaduan penyelenggaraan PHBS sampai tahun 2017

  2. Memberdayakan masyarakat dalam bidang kesehatan melalui pendekatan secara individu, keluarga dan

  1. Menyiapkan dan melengkapi peraturan perundangan dalam penyelenggaraan pengelolaan PHBS

  Subsektor PHBS

  12. Mendorong masyarakat/swasta ikut berpartisipasi dalam pengelolaan drainase

  10. Advokasi kepada pemerintah kabupaten untuk meningkatkan prioritas pendanaan dalam pengelolaan drainase

  5. Mendorong peran aktif masyarakat dalam proses pembangunan dan pemeliharaan prasarana dan sarana drainase lingkungan pemerintah terhadap pengembangan drainase lingkungan

  9. Mendorong dan memfasilitasi pemerintah Kabupaten dalam pengembangan sistem drainase yang efektif

  8. Mendorong penyusunan perda drainase dan penerapan sistem pengawasan dan penerapan sangsi hukum

  7. Peningkatan koordinasi antar instansi terkait

  8. Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang fungsi dan manfaat saluran drainase

  7. Meningkatkan pengetahuan dan kegiatan fasilitasi terhadap masyarakat tentang fungsi dan manfaat saluran drainase

  6. Meningkatkan pendanaan sektor drainse baik dari sumber dana yang berasal dari APBD Kabupaten, APBD Provinsi dan APBN

  5. Menyediakan peraturan perundangan tentang pengelolaan drainase

  3. Mengembangkan media lokal pilihan

  Dokumen Visi Misi Kebijakan Strategi Rencana

  kelompok masyarakat masyarakat dalam rangka penyadaran

  3. Membina suasana yang PHBS kondusif bagi terciptanya

  4. Mengupayakan terciptanya PHBS bagi perubahan perilaku masyarakat untuk mencegah timbulnya masyarakat ke arah yang masalah kesehatan melalui upaya diharapkan dalam membantu promotif dan preventif mempercepat pembangunan

  5. Integrasi kegiatan promosi PHBS di kesehatan tingkat Kabupaten, Kecamatan dan

  4. Mendorong diberlakukannya Nagari kebijakan dan peraturan perundangan yang berwawasan kesehatan

  5. Mengintegrasikan kegiatan promosi kesehatan antar instansi terkait

  6. Meningkatkan kemitraan secara sinergis antara pemerintah, masyarakat dan dunia usaha

  7. Meningkatkan investasi dalam bidang promosi kesehatan Subsektor Air Minum

  1. Peningkatan cakupan dan

  1. Mengembangkan SPAM dalam rangka Tidak ada penjelasan kualitas air minum bagi pemenuhan kebutuhan pelayanan seluruh masyarakat minimal untuk memperluas jangkauan

  Indonesia; pelayanan air minum terutama untuk

  2. Pengembangan pendanaan masyarakat berpenghasilan rendah untuk penyelenggaraan yang dilakukan secara bertahap di SPAM dari berbagai sumber setiap propinsi; secara optimal;

  2. Mengembangkan aset manajemen

  BAB III-166

  Dokumen Visi Misi Kebijakan Strategi Rencana

  3. Pengembangan SPAM dalam rangka meningkatkan kelembagaan, peraturan dan efisiensi dan efektifitas pengelolaan; perundang-undangan;

  3. Meningkatkan dan memperluas akses

  4. Peningkatan penyediaan Air air yang aman melalui non perpipaan Baku secara berkelanjutan; terlindungi bagi masyarakat

  5. Peningkatan peran dan berpenghasilan rendah; kemitraan dunia usaha,

  4. Mengembangkan penyediaan air minum swasta dan masyarakat. yang terpadu dengan sistem sanitasi;

  5. Mengembangkan pelayanan air minum dengan kualitas yang sesuai dengan standar baku mutu;

  6. Mengembangkan sistem informasi dan pendataan dalam rangka monitoring dan evaluasi kinerja pelayanan air minum;

  7. Mengembangkan sumber alternatif pembiayaan melalui penciptaan sistem pembiayaan dan pola investasi;

  8. Meningkatkan peran dunia usaha/swasta & atau masyarakat (koperasi) dalam pembiayaan sarana air minum;

  9. Meningkatkan kemampuan finansial PDAM;

  10. Konservasi wilayah sungai dan perlindungan sumber air baku;

  11. Menyediakan air baku bagi daerah- daerah rawan air;

  12. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

  BAB III-167

  Dokumen Visi Misi Kebijakan Strategi Rencana

Tabel: 3.40.

  

Matrik Strategi Pembangunan Kawasan

Dokumen Rencana Kawasan Fungsi Kawasan Arahan Pengembangan

  KSK RTRW Kabupaten Solok Pengembangan Kawasan Danau Singkarak sebagai tujuan

  Kawasan Strategis Kabupaten Pada Aspek wisata dan juga sebagai tempat pengembangan perikanan

  Ekonomi Pengembangan Kawasan Danau Kembar sebagai tujuan wisata khususnya untuk wisata agropolitan Pengembangan Kawasan Ibukota Arosuka sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Solok selain sebagai pusat pemerintahan

  Pengembangan kawasan sentra pertanian hortikultura di Kabupaten Solok ini terletak di Kecamatan Lembah Gumanti. Tanaman hortikultura yang dimaksudkan berupa sayur – sayuran dan buah – buahan. Pemilihan Kecamatan Lembah Gumanti sebagai Kawasan Sentra Pertanian Hortikultura dikarenakan kecamatan ini merupakan sentra sayuran – sayuran dan sentra alpukat serta markisa.

  Sedangkan dari posisinya, Kecamatan Lembah Gumanti merupakan salah satu pusat kegiatan di Kabupaten Solok, sehingga memudahkan dalam segi pergerakan perdagangan. Selain itu keberadaan kawasan sentra pertanian hortikultura ini dapat dijadikan sebagai kawasan wisata pendidikan untuk pengenalan bentuk dan jenis sayuran serta buah – buahan juga mengetahui tentang

  BAB III-168

  Dokumen Rencana Kawasan Fungsi Kawasan Arahan Pengembangan teknik pengelolaannya.

  Kawasan Pusat Kegiatan Lokal Promosi yang meliputi Muara Panas, Alahan Panjang dan Sumani sebagai pendukung pertumbuhan ekonomi selain ibu kota Arosuka

  Kawasan Strategis Kabupaten Solok Pada

  1. Pengembangan dan pelestarian Kawasan Masjid Tuo Kayu Jao dan sekitarnya (dsk) di Kecamatan Gunung

  Aspek Sosial Budaya

  Talang

  2. Pengembangan dan Pelestarian Kawasan Masjid Raya Tanjung Bingkung dsk di Kecamatan Kubung Pelestarian Kawasan Makam Datuk Perpatih Nan 3. Sabatang dsk di Kecamatan Kubung

  4. Pengembangan Kawasan Balairung Sari dsk di Kecamatan X Koto Diatas

  5. Pengembangan dan Pelestarian Kawasan Rumah Gadang Sulit Air dsk di Kecamatan X Koto Diatas

  6. Pelestarian Kawasan Makam Syech Muchsin dsk di Kecamatan Payung Sekaki

  7. Pengembangan Kawasan Sentra Pendidikan di Koto Baru Kecamatan Kubung

  Sumber: RTRW Kabupaten Solok Tahun 2012-2031

  BAB III-169

Dokumen baru

Download (169 Halaman)
Gratis

Tags

Docrpijm 1Ad673B4D5 Bab Vbab 5 Keterpaduan Strategi Sibolga

Dokumen yang terkait

AKUNTABILTAS BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN PESAWARAN DALAM PENATAAN TATA RUANG KOTA
0
38
92
AKUNTABILTAS BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN PESAWARAN DALAM PENATAAN TATA RUANG KOTA
0
9
12
36 BAB III ANALISA DAN PEMBAHASAN 3.1 Analisa
1
1
42
PERSEPSI TOKOH MASYARAKAT TERHADAP PERBANKAN SYARIAH DI KECAMATAN SUNGAI PAGU KABUPATEN SOLOK SELATAN
0
0
46
ESTETIKA TARI PIRING DALAM SALUANG DANGDUT DI NAGARI KUNCIR KABUPATEN SOLOK
0
0
10
EVALUASI KONDISI DAN KEBUTUHAN PERALATAN PROYEK PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR JALAN PADA UPTD PERALATAN DINAS PEKERJAAN UMUM KABUPATEN SOLOK
0
0
14
PELAKSANAAN TATA RUANG KABUPATEN PRINGSEWU DALAM MENANGGULANGI BAHAYA BANJIR BERDASARKAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN PRINGSEWU
0
0
15
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penilitian - BAB III
0
1
22
KAJIAN PERKEMBANGAN PERUMAHAN TERHADAP KESESUAIAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BEKASI TAHUN 2009-2011
0
0
10
TUGAS AKHIR KINERJA RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) DALAM PEMANFAATAN RUANG DI KOTA SURAKARTA
0
1
159
KARAKTERISASI DAN EVALUASI BEBERAPA GENOTIPE SORGUM (Sorghum bicolor L) DI SUKARAMI KABUPATEN SOLOK
0
0
5
EVALUASI RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTAMOBAGU TAHUN 2014 - 2034
0
0
10
BAB III ARAHAN KEBIJAKAN DAN RENCANA STRATEGIS INFRASTRUKTUR BIDANG CIPTA KARYA - DOCRPIJM 1ff9df7763 BAB IIIBAB III
0
1
37
BAB IX ASPEK PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN BIDANG CIPTA KARYA DI KABUPATEN MESUJI - DOCRPIJM 4a9975dab3 BAB IXBAB 9
0
0
18
BAB VII RENCANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR CIPTA KARYA - DOCRPIJM 4bc7c44a14 BAB VIIBAB 7 lapkir ok
0
0
49
Show more